Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 20 Juli 2012

Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1-Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1-Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1-Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1-Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1

Jilid: 01
Bab 1
TEMPAT ini adalah sebuah kuil kuno.
Kuil itu terletak di suatu tempat yang jauh dari keramaian
manusia dan sudah lama terbengkalai.
Tapi di mata orang persilatan, kuil bobrok itu demikian rahasia,
demikian misterius, seram dan mengerikannya sehingga mendirikan
bulu roma setiap orang.
Ternyata setiap tengah malam tiba, dari dalam kuil itu selalu
berkumandang suara nyanyian yang begitu aneh dan mengerikan.
Kalau dibilang nyanyian itu indah, ternyata iramanya begitu aneh
memekikkan telinga.
Mengatakan seram dan memedihkan, nadanya ternyata tak
sedap didengar, ibaratnya jeritan setan, atau teriakan kuntilanak,
seperti pula lolongan serigala malam.
Pokoknya suara nyanyian itu sedemikian anehnya sehingga
membuat orang tak tahu bait lagu apakah yang sebenarnya sedang
dinyanyikan, sehingga dengan demikian, kuil itupun diliputi oleh
suasana serba rahasia dan misterius.
Setiap kali orang mendengar irama nyanyian itu, segera
merasakan suatu kekuatan gaib yang membuat orang sukar
melawan, membuat orang terbuai dalam lamunan, terpesona,
terkesima dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Selain itu, suara nyanyian itupun mengambang di angkasa raya
dan menggema tak menentu. Ketika tersiar sampai berli-li jauhnya
membuat orang sukar untuk membedakan dari arah manakah suara
itu berasal dan di manakah sumber dari suara tersebut.
Sekalipun demikian, suara nyanyian itu tak akan mampu untuk
mengelabuhi kawanan persilatan. Mereka semua tahu bahwa suara
3
ini sudah menggetarkan hati setiap umat persilatan semenjak enam
belas tahun berselang. Waktu itu banyak jago dari pelbagai
perguruan dikirim untuk menyelidiki tempat tinggal dari pembawa
lagu aneh itu, tapi baik dari pihak kaum lurus maupun dari golongan
kaum sesat selalu gagal untuk memperoleh hasil dan pulang dengan
hasil yang nihil.
Ttba-tlba, pada tiga belas tahun berselang, irama nyanyian itu
lenyap tak berbekas. Siapa tahu sepuluh tahun kemudian nyanyian
misterius itu mengambang kembali di tempat itu, bahkan dalam
waktu singkat tiga tahun sudah lewat. Penduduk di sekitar tempat
itu yang sudah berotak sederhana, menaruh perasaan jeri dan
hormat yang amat sangat terhadap nyanyian itu, sebab nyanyian
aneh semacam itu sudah berlangsung hampir tiga tahun lamanya.
Mereka semua beranggapan: Pastilah tangisan malaikat dari
kahyangan yang turun ke bumi untuk memperingatkan kepada
semua orang, bahwa tak lama lagi bakal terjadi bencana alam atau
bencana peperangan yang akan melanda sekeliling tempat ini.
Itulah sebabnya semua orang merasa tak pernah tenteram.
Menyusul munculnya kembali suara nyanyian aneh itu, dunia
persilatan yang selama ini berada dalam keadaan tenang, tiba-tiba
saja menjadi geger dan tegang. Jago-jago lihai dari sembilan partai
besar bersama-sama mengutus orang-orangnya untuk melakukan
penyelidikan. Maka berbondong-bondong datanglah kawanan jago
persilatan ke tempat itu. Penyelidikan dan pengalaman yang
dilakukan siang malam akhirnya menemukan bahwa suara nyanyian
tersebut berasal dari dalam kuil yang bobrok tapi angker itu.
Dua tahun belakangan ini, meski tak sedikit jagoan lihay dari
dunia persilatan yang menyerbu ke dalam kuil dan berusaha
menangkap pembawa lagu itu, tapi ibaratnya menimpuk anjing
dengan pakpoa, begitu pergi tak pernah kembali lagi. Sejak itu
kabar beritanya lenyap tak berbekas dan orangnya tak pernah
muncul kembali di dalamdunia persilatan.
Tentu saja nasib beberapa orang itu kebanyakan menemui
bencana daripada kemujuran. Mereka tewas secara misterius.
4
Akibatnya, pandangan orang persilatan terhadap kuil bobrok itu
pun segera berubah. Timbul suatu perasaan seram dan takut di
hati mereka terhadap kuil itu, dan tak seorangpun yang berani
melakukan penyelidikan lagi atas kuil tersebut.
Maka teka-teki yang penuh rahasia itu, dengan membawa
rahasia dunia persilatan yang tiada taranya, sampai detik ini belum
pernah tersingkap secara jelas.
Malam itu adalah suatu malam yang sangat gelap. Kabut tebal
menyelimuti permukaan tanah, angin dingin berhembus kencang,
hanya beberapa titik cahaya bintang di angkasa yang memancarkan
sedikit cahaya yang redup.
Kentongan kedua baru lewat, tiba-tiba di depan kuil bobrok yang
terpencil, menyeramkan dan mengerikan itu muncul seorang
pemuda berusia dua puluh tahunan. Agak lama sudah ia berdiri di
depan kuil angker itu.
Kemudian “Aaaih,” dia menghela napas sedih.
Pemuda itu sangat murung, juga kesepian. Dia seperti
membawa perasaan murung yang sangat dalam. Setiap malam tiba
dia selalu berdiri melamun di depan kuil itu. Sudah satu bulan lebih
dia berbuat demikian.
Entah udara sedang cerah atau sedang turun hujan badai dan
kilat menyambar, dia selalu hadir di sana dan mendengarkan suara
nyanyian yang misterius dan aneh itu. Tapi ia tak pernah berani
untuk melangkah masuk ke dalam kuil itu barang satu langkahpun.
Mungkin dia pun merasa takut dan kuatir terhadap keselamatan
jiwanya.
Waktu itu, dia sedang mendongakkan kepalanya memandang
bintang yang bertaburan di angkasa. Kemudian memperdengarkan
suaranya helaan napas panjang yang amat berat.
Cahaya bintang yang redup menyoroti wajahnya. Itulah
selembar wajah yang membuat orang merasa keder, bukan lantaran
5
jelek atau menyeramkan, sebaliknya karena wajah yang tampan itu
membawa keangkuhan serta sikap dingin yang menggidikkan hati.
Alis matanya tajam bagaikan pedang, matanya tajam bagaikan
sembilu. Ia memiliki bibir yang tipis berbentuk busur, ini
melambangkan kekerasan hati serta watak kepalanya yang besar,
namun sorot matanya yang tajam itu justru membawa sinar
pembunuhan yang tebal, seakan-akan dia adalah orang yang begitu
dingin dan kejam.
Pemuda serba aneh itu kembali memperdengarkan suara helaan
napas beratnya yang mengenaskan. Menyusul kemudian, bagaikan
orang mengigau dia bergumam seorang diri:
“Ku See-hong, wahai Ku See-hong, kau memiliki dendam
berdarah yang lebih dalam dari samudra, tapi... kau demikian tak
becus. Sudah belasan tahun lamanya kau berkelana dalam dunia
persilatan yang penuh dengan tipu muslihat, tapi sedikitpun tanpa
hasil.
Kini kau tahu telah bertemu dengan manusia aneh yang tiada
taranya ini, mengapa kau malah menjadi ketakutan setengah mati?
Sekalipun akibatnya akan merenggut nyawamu, tapi kaupun harus
tunjukkan keberanianmu serta semangat juangmu antara mati dan
hidup, bila kau tak berani bertaruh maka kau akan selalu
terombang-ambing dalam dunia persilatan tanpa hasil apa-apa.
Akhirnya kau akan mampus dan menjadi seorang manusia berdosa
yang paling tidak berbakti, kepada orang tua di dunia ini....
Mengertikah kau?"
Ketlika selesai bergumam, titik-titik air mata tiba-tiba meleleh
keluar dan membasahi wajah Ku-See hong, si pemuda aneh itu.
Jelas ia terbayang kembali akan semua pengalaman pahit yang
telah dialaminya sewaktu kecil dulu. Ini membuat hatinya amat
pedih dan menyesal.
Setelah menghela napas panjang lagi dengan pedih kembali
pemuda itu bergumam.
6
“Ku See-hong, wahai Ku See-hong. Jangan lupa bahwa kau
pernah bersumpah berat kepada langit untuk membalas dendam
sakit hati ayah ibumu dan mencincang tubuh pembunuh itu menjadi
berkeping-keping....”
Ketika bergumam sampai di situ, dari balik matanya yang jeli
segera memancar keluar suatu tekad yang besar, bersinar mata
dingin keji dan mengerikan. Dia menghembuskan napas panjang
lalu berdiri mematung dan tidak berbicara lagi....
Kentongan ketiga hampir tiba, pemuda aneh Ku See-hong yang
membungkam itu mendadak menampilkan sesuatu tekad yang
bulat. Pelan-pelan dia berjalan menuju ke arah kuil kuno itu. Jelas
dia telah mengambil keputusan untuk mempertaruhkan nyawa dan
pergi beradu nasib. Sebab lebih baik mati di dalam kuil daripada
harus hidup di dunia bebas tanpa mendapatkan hasil apa-apa.
Mendadak pada saat itulah suara nyanyian yang aneh dan
misterius itu berkumandang lagi dalam kuil.
Suara nyanyian yang melengking dan tajam itu berkumandang
nyaring di tengah hembusan angin barat laut yang kencang, begitu
mengerikan dan seramnya suara tersebut, membuat bulu kuduk
orang pada bangun berdiri.
Irama nyanyian yang aneh itu penuh mengandung tenaga gaib
yang mampu membetot sukma orang, sekalipun seorang jago yang
memiliki tenaga dalam amat sempurna, juga susah untuk melawan
pengaruh nyanyian tersebut.
Tapi kenyataannya, Ku See-hong sama sekali t idak terpengaruh
oleh suara nyanyian itu… bukankah hal ini menunjukkan sesuatu
keanehan?
Ku See-hong memang seorang pemuda yang berbakat bagus.
Gemblengan selama hampir satu bulan di depan kuil itu membuat
timbulnya sesuatu kebiasaan terhadap pengaruh irama iblis
tersebut, sekalipun saat ini diapun terpengaruh juga oleh irama
tersebut.
7
Namun dalam lelapnya kesadaran dia masih memiliki tenaga
yang kuat untuk meronta diri, bahkan otaknya yang cerdas berhasil
menghapalkan nada irama nyanyian yang aneh itu.
Semenjak setengah bulan berselang, irama nyanyian yang aneh
itu sudah berhasil dihapalkan olehnya, malahan ia bisa
membawanya sendiri untuk bersenandung, sekalipun bait syairnya
masih tidak diketahui olehnya.
Itulah sebabnya, berhubung Ku See-hong sudah hapal dengan
irama nyanyian itu, maka ketika itu dia sudah tidak terpengaruh lagi
oleh tenaga gaib dari ilmu pembetot sukma tersebut.
Angin barat laut yang dingin berhembus semakin kencang,
suaranya yang memilukan hati.
Dari balik sorot mata Ku See-hong terpancar keluar sinar
kebulatan tekadnya yang tebal. Dengan membusungkan dada, dan
melangkah lebar, dia berjalan menghampiri kuil itu. Sinar matahari
yang tajam dengan cepat menyapu sekejap sekeliling ruang kuil
yang bobrok itu.
Tampak bangunan kuil tersebut sangat besar dan luas. Dinding
pekarangan yang mengitari bangunan itupun mencapai ratusan kaki
luasnya. Ruang kuil itu menjulang tinggi di angkasa dan saling
sambung-menyambung, tapi berhubung sudah dimakan usia, pintu
gerbangnya sudah ambruk dindingnya banyak yang retak dan
berlubang, bahkan rumput ilalang tumbuh setinggi lutut.
Pemandangannya amat mengerikan sekali. Bila seseorang bernyali
kecil, dia tak akan berani, untuk mendatangi tempat semacam ini di
tengah malambuta begini....
Sementara itu, angin barat laut yang kencang masih berhembus
lewat tiada hentinya.
Pohon siong dengan ranting yang gundul dan bayangan batang
yang kurus bagaikan setan yang sedang mementangkan cakarnya.
8
Betul Ku See hong bernyali besar, tapi selama satu bulan terakhir
ini sudah terlalu sering ia mendengar jeritan ngeri yang
menyayatkan hati dari kawanan jago silat yang memasuki kuil itu.
Maka tak urung t imbul juga perasaan bergidik dalam hatinya.
Semakin dipandang kuil itu, semakin terasa olehnya betapa seram
dan menakutkannya pemandangan di sekeliling sana, apalagi
ditambah bunyi ranting yang terhembus angin, semakin menambah
seramnya suasana.
“Ciiit…. Ciiit….”
Serentetan jeritan tajam mendadak bergemas memecahkan
keheningan.
Dengan perasaan terperanjat buru-buru Ku See-hong mundur
sejauh tiga langkah ke belakang.
Dengan cepat dia mengalihkan sinar matanya ke dalam ruang
kuil yang gelap gulita itu, ternyata ada beberapa ekor kelelawar
hitam yang sedang terbang keluar.
Setelah mengetahui suara apakah itu, Ku See-hong segera
menghembuskan napas panjang, rasa tegang yang semula
menyelimuti wajahnya lambat laun menjadi tenang kembali.
Selangkah demi selangkah kembali dia berjalan masuk ke dalam.
Sekarang dia sudah mulai melangkah di atas jalan setapak yang
berhiaskan batu hijau.
Mungkin karena sudah terlampau lama kuil tersebut terbengkalai
maka di atas batu-batu hijau itu sudah tumbuh lumut yang amat
tebal, ditambah lagi kegelapan malam mencekam seluruh jagad,
seandainya seorang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang
sempurna, mungkin baru selangkah saja berjalan akan terpeleset
jatuh ke tanah.
Jalan beralas batu hijau yang menghubungkan pintu gerbang
dengan ruangan tengah itu lebih kurang puluhan kaki jauhnya.
Ketika baru selesai melalui jalan berlumut itu, sekujur badan Ku
See-hong sudah basah kuyup oleh keringat.
9
Tiba-tiba… ia mendongakkan kepala memandang papan nama di
atas ruang tengah kuil itu, hampir saja ia menjerit kaget saking
terperanjatnya.
Ternyata di atas papan nama itu tertera beberapa huruf besar
yang berwarna merah darah, tulisan itu berbunyi:
“SIAPA MASUK BAKAL MAMPUS”
Di kedua belah sisi papan nama itu masing-masing tergantung
dua butir tengkorak manusia. Siapa saja pasti akan merasa
terperanjat sekali bila menjumpai benda tersebut untuk pertama
kalinya.
Sinar matanya yang dingin menyeramkan kembali dialihkan
memandang sekeliling tempat itu. Kemudian dengan kening
berkerut melangkah naik ke atas undak-undakan batu.
Tampak ruangan tengah kuil itu gelap gulita dan menggidikkan
hati. Sarang laba-laba berada di mana-mana, debu setebal
beberapa inci menghiasi lantai. Dengan langkah tegap Ku See-hong
masuk ke dalam ruang tengah itu. Di sana ia saksikan patung arca
sudah banyak yang hancur dan rusak, banyak di antaranya yang
kutung tangan atau kakinya dan pakaianpun compang-camping,
keadaannya sangat mengenaskan.
Angin dingin yang berhembus lewat dalam ruangan semakin
mendirikan bulu roma orang, apalagi memandang patung-patung
arca dalam ruang tengah yang menyeramkan itu. Ini semua
membuat suasana sedemikian menggidikkan hati sehingga sukar
dilukiskan dengan kata-kata.
“Keeekkk…” terhembus angin dingin, tiba-tiba pintu sebelah di
depan ruangan itu terhembus hingga menutup sebagian. Suara
menutupnya pintu yang memanjang dan memendek itu kedengaran
amat menusuk pendengaran.
Walaupun paras muka Ku See-hong sedikitpun tidak
memperlihatkan rasa takut atau ngeri padahal hatinya sudah
merasa tidak tenang semenjak tadi.
10
Dengan membesarkan nyalinya dan penuh diliputi ketegangan
dia berjalan masuk ke dalam kuil yang mirip rumah setan itu. Di
serambi yang gelap dan suatu hembusan aneh yang mirip jeritan
setan akhirnya melintaskan juga setitik perasaan ngeri di atas
wajahnya.
“Sreet. Sreet…” mengikuti suara langkah kakinya yang
membawa bunyi gemerasak, jantungnya terasa berdenyut makin
kencang.
“Weeess,” segulung angin dingin berhembus lewat.
“Aaahh…!” Ku See-hong memperdengarkan jeritan kaget.
Dengan kaki gemetar dia mundur tujuh-delapan langkah lagi ke
belakang.
Kiranya waktu itu dia sudah sampai di depan sebuah bangunan
loteng yang sangat lebar. Di atas undak-undakan di sebelah kiri
dan kanan masing-masing berdiri tegak sesosok tulang belulang
manusia yang masih utuh. Di tengah tengkorak itu membawa
sebuah benda perak yang bercahaya tajam.
Dalam lirikan matanya yang sedang menegang itu, anak muda
tersebut merasa seakan-akan kedua sosok mayat itu adalah mayat
hidup yang sedang melotot ke arahnya dengan sinar mata
kemarahan.
Tapi setelah mengetahui kalau tengkorak itu sudah lama mati,
diam-diam Ku See-hong baru menghembuskan napas panjang,
meski jantungnya masih berdenyut dengan kerasnya sebab kuil ini
dalam kenyataannya jauh lebih mengerikan daripada berita yang
tersiar di luaran.
Setelah menenangkan sebentar hatinya, pemuda itu baru
menengok ke arah papan nama di atas pintu gerbang itu. Di sana
tercantumempat huruf merah darah yang berbunyi:
“PEK KUT YU HUN” (Tulang tengkorak sukma gentayangan).
11
Di kedua belah sisi papan nama tadi, masing-masing tergantung
sebuah kepala tengkorak. Ku See-hong segera bergumam seorang
diri,
“Pek-kut-yu-hua,… Pek-kut-hun…. Apakah yang dimaksudkan
adalah tumpukan tulang-belulang manusia yang mati dalam kuil
ini…?”
Bergumam sampai di situ, dia lantas melirik sekejap ke dalam.
Sayang suasana di dalam ruang itu gelap-gulita, susah dilihat jelas.
Maka dengan cepat dia mengambil keputusan di dalam hati dan
melangkah naik ke atas undak-undakan batu itu.
Tiba-tiba terdengar bunyi desingan lirih, kemudian terlihatlah
benda berwarna perak di tangan tengkorak yang berada di sebelah
kiri itu mengayun ke bawah dengan membawa suara desingan angin
yang amat tajam.
Sreet, cahaya perak itu langsung menusuk ke ulu hati Ku Seehong.
Bukan saja serangan ini dilancarkan dengan kekuatan yang amat
besar, jurus serangannya juga garang dan keji, dengan kecepatan
yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Mimpin pun Ku See-hong tidak menyangka kalau tengkorak
tersebut bakal menyergap secara tiba-tiba. Dalam terperanjatnya
cepat dia merendahkan badan sambil berputar arah secara lihay dan
manis, ia menghindarkan diri dari sergapan maut tersebut.
Siapa tahu baru saja ia menghembuskan nafas lega. “Kraaak,”
lagi-lagi terdengar suara desingan keras.
Kali ini, tengkorak yang berdiri kaku di sebelah kanannya mulai
bergerak. Cahaya di tangannya itu secepat sambaran kilat
menghantam ke arah jalan darah Ciok-sun-hiat di belakang batok
kepala Ku See-hong.
Saking terkesiapnya, paras muka si anak muda itu berubah
hebat. Keinginannya untuk hidup membuat badannya tanpa sadar
miring ke samping kemudian tangan kanannya membalik sambil
12
melempar ke belakang. Cahaya perak yang mengancam tiba itu
segera menyambar ke arah t iang.
Siapa tahu belum sampai jurus serangan dari Ku See-hong itu
digunakan sampai matang, cahaya perak tadi tiba-tiba menyusup ke
belakang, kemudian dari sisi kiri dengan membawa berpuluh-puluh
titik cahaya tajam menyambar lagi mengancam dua belas jalan
darah penting di tubuh anak muda tersebut.
Perubahan jurus serangan, melancarkan pukulan, semuanya
dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, sama sekali tidak
terpaut jauh bila dibandingkan dengan jago nomor satu dari dunia
persilatan.
Dalam terkesiapnya Ku See-hong segera jongkok dan
menggulingkan diri ke bawah undak-undakan batu. Setelah itu
dengan cepat dia melompat bangun lagi, dengan napas terengah
dan keringat bercucuran dia berdiri memucat di situ.
Anehnya, begitu Ku See-hong sudah melompat turun dari undakundakan
batu tadi, tengkorak yang ada di sebelah kiri dan kanan
itupun segera balik kembali pada posisinya semula.
Ku See-hong yang keras kepala tak mau menyerah kalah dengan
begitu saja. Sekali lagi dia melompat naik ke atas undak-undakan
batu itu. Tapi seperti yang pertama tadi, kembali dia mengalami
serangan demi serangan yang amat gencar.
Tak sampai sepertanak nasi lamanya, ia gagal untuk menembusi
tempat tersebut. Kesemuanya ini dengan cepat membuat hatinya
menjadi kecut dan sedih sekali.
Tapi pemuda itu memang cukup cerdas. Setelah gagal dengan
tujuh kali percobaannya pikirannya pun segera terbuka. Rupanya
kedua sosok tengkorak itu memang sudah mendapat latihan yang
khusus untuk menyergap musuh-musuh yang datang dari luar.
Apabila kakinya tidak melangkah di atas undak-undakan batu itu,
secara otomatis kedua sosok tengkorak itu juga tak akan bergerak,
dan dengan sendirinya tak akan menyerang pula dirinya.
13
Berpikir sampai di situ, Ku See-hong siap-siap mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya untuk menyeberangi ruangan tersebut,
ketika ia mendongakkan kepalanya, tiba-tiba dijumpai pada
beberapa kaki di atas pintu gerbang itu terlihat berjajar tiga buah
rantai tipis yang menjulur ke bawah. Jarak antara rantai yang
pertama dengan rantai lainnya adalah tiga jengkal lebih.
Tentu saja, dengan kecerdasan otak yang dimiliki Ku See-hong,
tidak sulit baginya untuk menduga bahwa benda tersebut adalah
semacam senjata rahasia pembunuh yang berbahaya sekali. Maka
rencananya untuk menyeberang dengan mengerahkan ilmu
meringankan tubuh pun segera mengalami kegagalan total.
Untuk sesaat lamanya anak muda itu berdiri tertegun dengan
perasaan kecewa dan putus asa. Semua harapan di dalam hatinya
juga turut musnah tak berbekas.
Sampai lama sekali, sekilas rasa girang baru melintas di atas
wajah anak muda itu, ia berhasil menemukan suatu akal yang
sangat bagus.
Sambil berpekik nyaring, secepat sambaran kilat, Ku See-hong
melompat naik ke atas undak-undakan batu itu.
“Srrreeet…” tengkorak yang berada di sebelah kanan itu segera
memutar senjata peraknya sedemikian rupa sehingga menciptakan
serangkaian bianglala berwarna perak, kemudian langsung menusuk
ke iga kiri anak muda itu, serangannya garang sekali.
Sedari tadi Ku See-hong telah memperhitungkan sampai ke situ,
di kala kakinya sedang menginjak di atas ubin batu itu, badannya
segera menjatuhkan diri ke tanah dan berguling cepat menyusup ke
arah dalam ruangan.
Detik terakhir menjelang tubuh Ku See-hong tiba di depan pintu
ruangan itulah, mendadak dari atas pintu menyambar datang sekilas
cahaya tajam yang menyilaukan mata, tahu-tahu sebuah pintu
berpisau yang tajam telah meluncur ke bawah dan siap mencabikcabik
tubuh pemuda tersebut.
14
Tak terlukiskan rasa kaget Ku See-hong menghadapi kenyataan
itu. Hampir saja ia merasa kehilangan sukma lantaran
terperanjatnya. Entah dari mana datangnya kekuatan, sekuat
tenaga dia melejit ke samping.
“Blaaam…!” diiringi suara yang sangat keras, pintu berpedang
yang terdiri dari belasan buah pedang tajam itu langsung menancap
di atas lantai yang mengakibatkan timbulnya percikan bunga api.
Ku See-hong mendengus tertahan… kaki kirinya yang terlambat
menghindar segera termakan tusukan sebilah pedang.
Sebuah mulut luka yang besar muncul di atas badannya, darah
segar bercucuran membasahi seluruh badannya. Coba sedikit ia
terlambat menghindar, niscaya tubuhnya sudah tertembus oleh
tusukan pedang-pedang itu.
Dengan cepat Ku See-hong melompat bangun lalu memandang
pintu pedang itu dengan termangu-mangu. Lama, lama sekali ia
baru menghela napas panjang, pekiknya di hati:
“Hampir saja aku mampus di ujung pedang-pedang itu. Coba
kalau mampus, dendam berdarahku tak akan terbalas untuk
selamanya.”
Teringat tentang dendam berdarah itu, kobaran api kebencian
yang kuat segera muncul dalam hatinya dan membakar badannya.
Sekulum senyuman dingin yang kejam tersungging di ujung
bibirnya, sinar mata yang memancar pun merupakan sinar merah
berapi-api yang penuh dengan rasa benci dan dendam yang dalam.
Tapi setelah Ku See-hong dapat melihat jelas suasana dalam
ruang dalam, sekali lagi ia bergidik, bahkan bersin beberapa kali.
Kobaran api dendam dan rasa benci yang membara dalam dadanya
itu seakan-akan terguyur oleh sebaskom air dingin, kontan lenyap
tak berbekas.
Ternyata di dalam ruangan itu penuh berserakan tulang
tengkorak manusia. Ada yang sedang berduduk, ada yang
berbaring, ada pula yang berdiri, bentuknya aneh sekali. Ditambah
15
lagi rambutnya yang hitam dengan gigi putih yang menyeringai
keluar, membuat wajah mereka kelihatan begitu menakutkan dan
seramnya hingga menggidikkan hati siapapun.
Ku See-hong merasakan dirinya seakan-akan berada di dalam
neraka. Hatinya tercekat, bergidik dan ketakutan.
“Ciiit… ciiit…” serentetan bunyi aneh yang memekikkan telinga
berkumandang datang dari arah belakang.
Dengan cekatan Ku See-hong berpaling ke belakang, tapi dengan
cepat ia menjerit kaget:
“Aaaah….”
Dengan ketakutan ia mundur beberapa langkah ke belakang.
Ternyata lebih kurang satu kaki dari Ku See-hong terdapat
sebuah peti mati. Waktu itu penutup peti mati tersebut sedang
pelan-pelan membuka sendiri….
Menyusul kemudian, dari balik peti mati itu pelan-pelan muncul
sebuah tangan aneh yang tinggal tulangnya melulu. Tangan aneh
tadi mencakar kesana-kemari dengan serawutan.
Jantung Ku See-hong kembali berdebar keras. Dengan pancaran
sinar mata yang aneh dan takut dia awasi peti mati itu tak berkedip,
terasa kakinya menggigil keras dan lemas sekali. Kalau bisa dia
ingin menjatuhkan diri untuk duduk di lantai.
“Blaaam…!” t iba-tiba suatu benturan keras kembali terjadi.
Pintu di mana Ku See-hong lewat ketika melangkah masuk ke
dalam ruangan tadi mendadak menutup dengan sendirinya, bahkan
menutup rapat-rapat sehingga setitik cahayapun tak Nampak.
Suasana di tempat itu menjadi gelap gulita hingga kelima jari
tangan sendiripun susah dilihat. Udara menjadi sesak dan lamatlamat
Ku See-hong mengendus bau busuknya bangkai yang amat
menusuk hidung.
16
Untung Ku See-hong memiliki ketajaman mata yang melampaui
orang lain, walau berada di tengah kegelapan, ia masih dapat
melihat peti mati itu dengan jelas.
“Kreeek… kreeek…. Serentetan suara aneh yang menusuk
pendengaran kembali menggema dalamruangan itu.
Penutup peti mati tersebut kini sudah terangkat tinggi-tinggi ke
udara, kemudian….
“Blaaam!” diiringi suara keras penutup peti mati itu sudah
terlempar jatuh ke tanah.
Bersama dengan membukanya penutup peti mati itu, sesosok
tengkorak hidup pelan-pelan bangkit berdiri dari balik peti mati.
Tengkorak itu jauh berbeda dengan tengkorak-tengkorak lainnya.
Dia mempunyai rambut yang sangat panjang dan mata yang cekung
ke dalam, tapi anehnya ternyata mata itu memancarkan cahaya
hijau yang berkilauan.
Dalam takutnya Ku See-hong merasa sangat ngeri. Ia tidak
percaya kalau di dunia ini terdapat tengkorak hidup, tapi kenyataan
telah berada di depan mata, tidak percayapun tak mungkin.
Dalam pada itu, tengkorak hidup itu sudah bangkit dari peti
matinya dan melangkah keluar, kemudian selangkah demi selangkah
lamban tapi tetap menghampiri Ku See-hong.
Pada saat itulah, ruangan yang gelap gulita dan sebenarnya tiada
hembusan angin itu mulai dipenuhi oleh deruan angin yang sangat
keras dan tajam.
Munculnya angin inipun sangat aneh seolah-olah berhembus
keluar dari balik dinding di sekitar ruangan itu. Makin lama angin itu
berhembus semakin kencang. Suara deruan angin pun makin keras
dan memekikkan telinga.
Sekarang tengkorak hidup itu sudah berada lebih kurang empat
jengkal dari Ku See-hong. Sepasang lengan panjangnya yang
tinggal tulang itu sudah diluruskan ke depan mencengkeram tubuh
17
pemuda itu. Segulung bau amis yang amat menusuk hidung segera
menerpa tiba.
Ku See-hong yang berdiri begitu dekat dengan tengkorak itu
dapat melihat dengan jelas bagaimana bagian dada dari tengkorak
itu cuma terdiri dari tulang-tulang iga yang berjajar lurus, sementara
di dalamnya kosong melompong tak berisi apa-apa. Ini
membuktikan kalau tengkorak itu benar adalah sesosok tengkorak
hidup.
Bagaimanapun besarnya nyali pemuda itu tak urung dia menjerit
kaget juga. Selangkah demi selangkah dia mundur terus ke
belakang.
Anehnya, ternyata mayat hidup itupun mempercepat langkahnya
mengejar kemanapun dia pergi.
Tiba-tiba, kaki Ku See-hong terkait oleh seonggok tulang
belulang. Sambil menjerit kaget tubuhnya segera terpelanting dan
terlempar sejauh beberapa kaki dari tempat semula.
Rupanya tempat di mana ia terjatuh barusan adalah sebuah peti
mati juga. Ketika itu, penutup peti mati itu sedang terangkat ke
atas, sesosok tengkorak lain sedang menjulurkan tangannya yang
aneh untuk mencengkeramtubuh anak muda itu.
Ku See-hong ketika itu benar-benar ketakutan setengah mati
sehingga sukma pun terasa bagaikan mau terbang meninggalkan
raganya. Ia memperdenarkan suara auman yang agak gemetar.
Suara itu seperti jeritan kaget, seperti juga teriakan ngeri, namun
sepasang matanya masih mengawasi kedua sosok tengkorak hidup
itu tanpa berkedip.
Dalam pada itu gerak pengejaran yang dilakukan kedua sosok
tengkorak hidup itu makin lama semakin cepat… dalam waktu
singkat mereka sudah berada empat jengkal di hadapan Ku Seehong.
Dengan ketakutan pemuda itu kembali mundur ke belakang.
18
Tiba-tiba… kaki Ku See-hong tergaet kembali oleh sesuatu benda.
Rupanya membentur lagi pada sebuah peti mati. Dengan cepat dia
berpaling, tapi sesosok tengkorak hidup tahu-tahu sudah muncul
kembali di hadapan matanya.
Pemuda itu benar-benar ketakutan setengah mati. Matanya
sampai terbelalak lebar sedang tubuhnya berdiri kaku seperti mayat.
Tengkorak-tengkorak hidup itu sama sekali tidak berlaku sungkan
kepadanya. Lengan bertulang putihnya itu secara lurus disodok ke
muka, menusuk dada pemuda itu, tapi gerakannya lambat sekali.
Segulung bau amis yang menusuk hidung segera berhembus
lewat.
Mendadak Ku See-hong tersadar kembali dari lamunannya. Ia
menyaksikan kuku tengkorak hidup yang tajam itu sudah menempel
di atas pakaian bagian dadanya.
Ku See-hong menjerit keras, secepatnya dia membuang diri ke
belakang dan mundur cepat-cepat.
Belum lagi kakinya berdiri tegak, kembali segulung bau amis
kembali datang, dan dua sosok tengkorak hidup lainnya dengan
yang satu di kiri dan yang lainnya di kanan sedang memutar kukukukunya
yang panjang dan tajam mencengkeram ke atas bahunya.
Hampir pecah nyali Ku See-hong menghadapi ancaman tersebut,
buru-buru dia melompat lagi beberapa kaki ke belakang dengan
badan gemetar. Kali ini saking paniknya ia sampai tak mampu
menguasai diri dan terjatuh ke tanah, dadanya terengah-engah.
Meski dalam kegelapan sukar untuk mengetahui paras mukanya,
tapi bisa diduga muka itu tentu sudah berubah menjadi pucat pias
seperti mayat.
Yang berada di hadapan Ku See-hong sekarang bukan hanya tiga
sosok tengkorak hidup saja tapi tengkorak-tengkorak yang semula
tiduran atau duduk itu sekarang telah berlompatan bangun sambil
menarik sepasang lengannya, pelan-pelan mereka mendesak ke
depan.
19
Api setan menari-nari di udara, warna hijau menyeramkan yang
mencorong dari balik lekukan mata tengkorak-tengkorak yang
kosong itu menambah seramnya suasana.
Tapi waktu itu hembusan angin yang maha aneh tersebut telah
menjadi tenang kembali, menyusul suara jeritan dan teriakan aneh
yang menyeramkan bergema amat memekikkan telinga.
Rasa putus asa memenuhi seluruh benak Ku See-hong. Ia
membenci segala-galanya, ia membenci kepada Thian yang tidak
memberi keadilan kepadanya, membenci karena dendam sakit hati
ayah-ibunya belum terbalas. Tapia pa gunanya membenci bila
elmaut sudah berada di ambang pintu?
Sesosok tengkorak hidup telah mendesak ke hadapan Ku Seehong.
Sreeet… diiringi desingan tajam sepasang lengan tengkorak
itu menyambar ke bawah bersama-sama. Hanya kali ini gerak
serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat.
Harapannya untuk hidup yang semula masih berkobar di dada Ku
See-hong, kini sudah lenyap tak berbekas. Tanpa berpikir panjang
lagi dia menjatuhkan diri berguling ke samping untuk
menyelamatkan diri, setelah itu dengan cepat dia melompat bangun.
Tiba-tiba, di tengah ruangan yang sunyi senyap itu
berkumandang suara gelak tertawa setan yang dingin dan
memekakkan telinga.
“Heeehhh… heeehhh… heeehhh…. Heeehhh… heeehhh…
heeehhh….”
Suara tertawa itu lamban, berat dan dalam meski amat pelan tapi
saling susul menyusul hingga membuat seluruh ruangan bergetar
dengan kerasnya.
Ku See-hong hanya merasakan seluruh tubuhnya seperti
tersayat-sayat oleh pisau tajam mengikuti gelak tertawa yang
menggema barusan itu. Sekujur tulang badannya seakan-akan
tergetar lepas dan hancur berantakan hingga tak ada wujudnya lagi.
20
Bagaikan orang gila Ku See-hong berteriak keras, tubuhnya
secepat kilat menubruk ke depan dan malahan menghampiri salah
satu di antara tengkorak-tengkorak hidup itu.
Bila seseorang dihadapkan pada ancaman maut, ada kalanya
mereka tidak melakukan perlawanan dan pasrah pada takdir yang
telah mengaturnya, tapi lebih banyak orang yang berjuang sampai
titik darah penghabisan melawan malaikat elmaut.
Dalam keadaan terancamoleh bahaya ini, Ku See-hong bukannya
pasrah sebaliknya justru timbul suatu kekuatan untuk memberontak
yang kuat sekali. Dia ingin mengerahkan segenap kekuatan yang
dimilikinya untuk meloloskan diri dari neraka yang menyeramkan itu.
Sekalipun harapan tersebut nampaknya sangat tipis, toh bukan
berarti tak dapat dicoba, sebab bagaimanapun juga lebih baik
berusaha daripada pasrah kepada nasib.
Entah dari mana datangnya kekuatan, sepasang lengan Ku Seehong
dengan membawa segulung kekuatan yang dahsyat, bagaikan
ambruknya bukit karang, langsung disodokkan ke tubuh sesosok
tengkorak hidup yang sedang menubruk datang itu.
“Blaaammm…! ” ketika tengkorak hidup itu termakan oleh
serangan tersebut, tubuhnya hanya bergetar sedikit, kemudian
sambil tertawa seram selangkah demi selangkah maju kembali
untuk mengejar korbannya.
Keadaan Ku See-hong pada waktu itu sudah mirip orang gila,
telapak tangan kirinya membacok ke belakang, telapak tangan
kanannya mendorong. Maka angin puyuh menderu-deru di
sekeliling tubuhnya.
Kembali sesosok tengkorak hidup terhajar telak oleh pukulan
beruntun tangan kiri kanannya, namun sama sekali tidak
mendatangkan hasil apa-apa.
Gelak tertawa aneh yang mengerikan menggema semakin keras,
api setan yang berwarna hijau berkedip-kedip di balik kegelapan,
seramnya bukang kepalang.
21
Ku See berteriak keras, sepasang lengannya diputar sekenanya,
bahkan kadangkala sepasang kakinya ikut melancarkan tendangan
berantai, pokoknya setiap kali ada bayangan hitam mendekatinya,
serangan segera dilancarkan secara ngawur.
Akhirnya ia mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dari
kurungan tengkorak-tengkorak hidup itu. Tanpa berpikir panjang
dia lantas putar badan dan melarikan diri secepatnya.
Dalam ruangan gelap gulita sukar melihat kelima jari tangan
sendiri ini, dia sendiri tak tahu kemana akan pergi, pemuda itu cuma
tahu lari dan lari terus secara membabi buta.
Mendadak Ku See-hong merasa ada segulung angin dingin
berhembus datang dari arah belakang yang membuat tubuhnya
terpelanting dan jatuh berjumpalitan di udara, menyusul kemudian
ia merasakan badannya seakan-akan sedang meluncur jatuh ke
bawah dengan kecepatan luar biasa.
“Habis sudah riwayatku kali ini!” pekiknya diam-diam.
Dia sadar bahwa tubuhnya yang besar itu sedang terjerumus ke
dalam sebuah liang yang tak diketahui berapa dalamnya.
Ku See-hong menggerakkan tangannya kesana kemari secara
ngawur dengan maksud mencari pegangan, tapi usahanya selalu
gagal, maka akhirnya ia memperdengarkan jeritan anehnya yang
memekakkan telinga. Inilah jeritan atau rontaan terakhir dari
seseorang menjelang datangnya elmaut.
Daya luncur tubuhnya serta deruan angin yang terpancar keluar
membuat kesadaran pemuda itu lambat laun menjadi makin kabur.
Tapi jeritan kesakitan yang keras itu masih berkumandang keluar
dari mulutnya.
“Blaaamm…!” satu benturan nyaring menggema di udara.
Ku See-hong merasakan tubuhnya terjatuh di atas sebuah benda
yang lunak sekali.
22
Dalam sekejap mata tubuhnya seakan-akan dikurung oleh
banyak sekali benang yang tipis tapi kuat. Dia bagaikan seekor ikan
besar yang terjebak di dalam jala, mau berkutik pun tak ada
gunanya.
Rasa kaget yang luar biasa tadi sesungguhnya membuat
kesadarannya hampir punah. Tapi sekarang, setelah dia tidak
mendengar lagi suaranya deruan angin yang tajam itu, maka
matanya pelan-pelan dipentangkan kembali.
Pemandangan pertama yang masuk dalam pandangannya adalah
tubuh sendiri yang terkurung di dalam jaring raksasa itu.
Hampir saja dia tidak percaya kalau dirinya masih hidup, tapi
ketika rasa girang itu meluap dalam hati, rasa sakit dan sedih
menyelimuti pula benaknya. Betul dia berhasil lolos dari
cengkeraman tengkorak-tengkorak hidup itu, tapi ia toh akan mati
kelaparan juga dalamjaring ini?
Dengan sorot matanya yang tajam Ku See-hong mencoba untuk
mengawasi ruang bawah tanah yang aneh itu. Butiran permata
kelihatan berhamburan di atas dinding batu di sekeliling tempat itu,
cahaya tajam yang berkilauan itu membuat benda dalam ruang
bawah tanah itu dapat terlihat jelas.
Diam-diam ia menghela napas panjang sehabis melihat
kesemuanya itu, dia tak menyangka kalau di dunia ini masih
terdapat banyak sekali keanehan yang mencengangkan hati.
Kiranya ruang bawah tanah di mana ia berada sekarang
mempunyai kedalaman kira-kira lima-enampuluh kaki sehingga
bentuknya persis seperti sebuah sumur kuno yang sangat besar.
Jaring yang menjaring tubuhnya sekarang tergantung pada
ketinggian kurang lebih sepuluh kaki dari permukaan tanah.
Sedangkan jala raksasa itu sendiri tergantung pada tiga batang
tiang besi yang masing-masing lima kaki t ingginya. Tiang tersebut
dibuatnya sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk
mengembang-kempiskan jala di bawahnya.
23
Pada dasar ruang bawah tanah itu terdapat sebuah sumur kuno
berwarna hitam yang satu kaki luasnya. Letak sumur itu persis di
bawah jala raksasa itu. Ketika Ku See-hong mengawasi bagian yang
lain, maka tanpa sadar dia menjerit kaget.
Apa yang sesungguhnya dia saksikan? Di sudut lain dari ruang
bawah tanah itu tergeletak tulang tengkorak manusia yang
berserakan di mana-mana.
Dengan suara pedih ia lantas bergumam seorang diri:
“Aaaii…. Lewat beberapa hari lagi tentu aku pun akan berubah
menjadi sesosok tengkorak seperti itu.”
Teringat akan kematian, tanpa terasa beberapa titik air mata
jatuh bercucuran membasahi pipinya. Ia bukan takut mati, tapi
merasa sedih karena setelah mati, sudah pasti dendam berdarah
ayah-ibunya tak akan terbalas lagi. Tapi berada dalam keadaan
demikian, apa pula yang bisa dia lakukan?
Menjerit kepada langit, langit tidak menjawab berteriak ke bumi,
bumi tiada berpintu, terpaksa dia harus berdiam diri untuk
menunggu datangnya maut yang akan merenggut nyawanya.
Suasana keheningan dan kesepian mencekam seluruh ruangan
bawah tanah. Dalam keadaan sunyi senyap begini, dia merasakan
kesedihan, ketakutan dan kengerian.
Kini Ku See-hong mulai merasa agak mendendam terhadap
manusia aneh yang berada dalam kuil itu, ia menganggap manusia
aneh tersebut terlalu keji, sadis dan tidak berperikemanusiaan. Tapi
berpikir lebih jauh, tanpa terasa dia harus menegur pula kepada diri
sendiri:
“Semua kejadian ini toh berlangsung karena kesalahanku sendiri,
bagaimana mungkin aku bisa menyalahkan cianpwe yang berada
dalam kuil ini?
Dia kan bersemedi dan mengasingkan diri di dalam kuilnya, tak
pernah melakukan kepada orang luar, sedangkan di depan kuil pun
sudah tertera tulisan – Siapa berani masuk bakal mampus? Aku
24
sudah tahu barang siapa masuk ke dalam kuil ini pasti akan mati,
tapi nyatanya aku nekad masuk juga. Lantas kalau bukan diri
sendiri yang disalahkan, apakah orang lain yang musti disalahkan?”
Setelah berhenti sejenak, gumamnya lebih jauh:
“Aaaaii, yang lebih menggemaskan adalah ketidak-becusanku
sendiri, mana tak punya ilmu silat yang lihay, dendam berdarah
sedalam lautan tak bisa dibalas lagi.”
Ku See-hong yang sedang bergumam dan menyesal kepada diri
sendiri itu sama sekali t idak menyangka kalau waktu itu ada
sepasang mata yang cekung lagi mengawasi gerak-geriknya dari
balik kegelapan sana.
Terdengar Ku See-hong sekali lagi menghela napas pedih,
gumamnya lebih jauh:
“Menurut pendapatku locianpwe yang tinggal dalam kuil ini bisa
berwatak begitu aneh dan dingin tak berperasaan pasti disebabkan
ia mempunyai pengalaman lagi yang demikian memedihkan hatinya
sehingga dia merasa putus harapan. Aaaii, apalagi kalau kudengar
suara nyanyiannya yang begitu memedihkan hati, meski aku masih
belum memahami bait lagunya, tapi aku tahu bait tersebut pasti
merupakan suatu nyanyian yang sangat meremukkan perasaan.”
Setelah berhenti sebentar, mencorong sinar aneh dari balik mata
Ku See-hong, katanya lebih jauh, “Mungkin cianpwe ini seperti pula
aku, mempunyai dendam kesumat yang lebih dalamdari samudra.”
Sesudah mengerutkan dahinya, sekali lagi dia menghela napas
panjang.
“Aaaai… andaikata ia dapat menyelamatkan jiwaku dan
mengajarkan ilmu silat kepadaku. Thian di atas dan hati sanubariku
sebagai saksi, aku Ku See-hong pasti akan menyelesaikan keinginan
hatinya….”
Bergumam sampai di situ, Ku See-hong segera menggelengkan
kepalanya berulang kali.
25
“Tidak, tidak. Sudah pasti persoalannya tidak menyangkut
masalah dendam sakit hati,” katanya kembali, “Dalam dunia
persilatan dewasa ini, siapakah yang sanggup melawan kehebatan
dari locianpwe ini? Seandainya ia mempunyai musuh, sudah pasti
musuh-musuhnya itu sudah habis semua terbunuh olehnya….”
Sewaktu Ku See-hong bergumam sampai di situ, sepasang sorot
mata bercahaya hijau yang berada di balik kegelapan itu kembali
menatapnya tajam-tajam, sedangkan dalam hati kecilnya dia
berpikir:
“Dugaan bocah itu tepat sekali, siapakah manusia di dalam dunia
persilatan dewasa ini yang berani mengganggu seujung rambut
lohu? Aaaaii, tapi….”
Manusia di balik kegelapan itu kembali melenyapkan diri tanpa
menimbulkan sedikit suarapun.
Sementara itu Ku See-hong masih duduk termangu-mangu
seperti orang bodoh, lalu sekali lagi menghela napas sedih.
Akhirnya dia duduk bersila di dalam jala dan mengatur pernapasan.
Rasa ketakutan yang menterornya semalaman membuat pemuda
itu merasa sedemikian penatnya sehingga tanpa disadari dia telah
terlelap tidur.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Ku See-hong
dibangunkan dari tidurnya oleh serentetan suara gemuruh yang
aneh sekali.
Dalam kejut dan terkesiapnya, buru-buru Ku See-hong bangun
berduduk, kemudian mengawasi sekeliling tempat itu dengan sorot
mata tajam. Akan tetapi tiada sesuatu keanehan yang berhasil
dijumpainya.
Tapi suara gemuruh tersebut kian lama kian bertambah besar,
suara pantulan yang dihasilkan dari dalam ruang bawah tanah
itupun seakan-akan terjadi pergolakan keras yang mengakibatkan
timbulnya suara deruan angin yang mirip suara guntur. Anehnya,
26
ternyata dalam ruang bawah tanah itu sama sekali tidak terasa
adanya hembusan angin.
Tiba-tiba Ku See-hong menjerit kaget. Ternyata ia telah
menemukan bahwa suara keras yang terdengar tadi berasal dari
dalam sebuah sumur kecil di dasar ruang bawah tanah itu.
Dengan wajah terkejut bercampur tercekat Ku See-hong
mengawasi sumur kecil itu tanpa berkedip.
Dalam pada itu suara gemuruh tersebut makin lama semakin
cepat dan gencar. Ibaratnya semburan lahar di kepundan gunung
berapi, menyusul kemudian terjadinya gempa hebat dalam ruangan
yang membuat segala sesuatunya bergoncang keras.
Sedemikian besarnya kekuatan itu seakan-akan seluruh jagad
akan menjadi musnah, begitu menggetarkan perasaan orang
membuat sukma serasa terombang-ambing di tengah samudra.
“Bluuup. Bluuup. Bluuup!” letupan demi letupan yang beruntun
terjadi di udara.
“Aaaah… suara ini adalah suara api!” pekik Ku See-hong dengan
suara tertahan. “Inilah api gas dari dalam perut bumi. Aduuuh,
celaka! Habis sudah riwayatku, kali ini aku pasti akan mampus
dengan tubuh tak berwujud lagi.”
Di tengah suara letupan demi letupan yang menggelepar di udara
itulah, bagaikan sebuah gunung berapi kecil, dari balik sumur kecil
itu menyembur keluar kobaran api yang menjilat-jilat setinggi enamtujuh
kaki tingginya, bahkan mengikuti suara letusan-letusan yang
beruntun itu, kobaran api kian lama kian bertambah dahsyat.
Ku See-hong yang berada di dalam jala ibaratnya seekor anak
kijang yang dipanggang. Dia dipanggang hidup-hidup dari bawah
secara keji.
Sekalipun jilatan api besar itu tidak sampai membakar tubuh Ku
See-hong, namun hawa panas yang luar biasa besarnya itu cukup
memberikan penderitaan dan siksaan yang hebat baginya.
27
Berada dalam jala, Ku See-hong bergelindingan kesana kemari
seperti monyet makan terasi, bahkan tiada hentinya
memperdengarkan suara rint ihan kesakitan yang hebat.
Dengan sekuat tenaga Ku See-hong meronta dan menggetarkan
jala itu keras-keras dengan harapan bisa merobek jala itu dan terjun
ke dalam kobaran api, sehingga dapat mati dengan cepat.
Siapa tahu jala raksasa itu justru terbuat dari serat ulat sutera
yang dipintal bersama emas. Meski lunak dan empuk, tapi kuatnya
bukan kepalang. Sudah barang tentu harapannya tak bisa
terpenuhi.
Ku See-hong yang masih muda belia ini terpaksa harus menerima
siksaan berat yang tak akan pernah dialami orang lain. Jilatan api
yang membara menyerang dan menyengat badannya terus menerus
tanpa hentinya.
Tapi anehnya, kobaran api yang menyembur keluar itu demikian
kerasnya sehingga sama sekali tidak mengandung asap. Kalau
tidak, mungkin sedari tadi si anak muda itu sudah mati sesak oleh
asap yang tebal.
Kulit badan di sekujur tubuh Ku See-hong telah terpanggang
sehingga berubah warnanya menjadi merah membara. Panas, perih
dan sakitnya luar biasa, tapi rambut dan bajunya sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda hangus atau ikut terbakar. Kenyataan ini
memang sedikit agak aneh.
Napas Ku See-hong mulai terengah-engah, aliran darah di
sekujur badannya mengalir semakin keras dan mendidih hebat. Dia
bergulingan kesana kemari berusaha mengurangi penderitaannya.
Tapi usaha tersebut hanya sia-sia belaka, sebab sengatan hawa
panas yang menyerang badannya kian lama kian bertambah
dahsyat.
Kobaran api yang tak berperasaan, makin lama membara
semakin dahsyat. Suhu udara makin meninggi dan hawa panas
menyesakkan napas.
28
Ia sudah tidak sanggup lagi untuk merasakan penderitaan yang
sedemikian hebatnya itu. Akibatnya setelah memperdengarkan
jeritan ngeri yang memilukan hati semacam jeritan menjelang
kematian, sekujur badannya bergulingan kesana kemari dengan
sekarat.
Ku See-hong merasa darah dalam tubuhnya seakan-akan telah
mongering. Sekujur tulang belulangnya seperti mau retak dan
hancur berkeping-keping karena kepanasan, di sana-sini sudah
mulai bermunculan bagian tubuh yang hangus dan menyiarkan bau
busuk. Lama kelamaan….
Sekarang hidung Ku See-hong dengan tajam dapat mengendus
bau daging yang hangus. Baunya bukan kepalang lagi, sekuat
tenaga, dia bergulingan lagi kesana kemari berusaha meronta dan
melepaskan diri dari siksaan, tapi lambat laun rontaannya itu makin
lamban… makin lamban dan akhirnya berhenti sama sekali.
Siapa tahu pada saat itulah, di kala jiwanya sudah kritis dan
berada di ujung tanduk, mendadak dari sumur kecil itu meledakkan
segumpal kobaran api yang maha besar, menyusul kemudian diiringi
serangkaian suara gemerutukan, jilatan api panas itu lenyap tak
berbekas dan suasana pun pulih kembali dalam keheningan.
Hawa panas dalam ruang bawah tanah itupun dengan cepat
membuyar kemana-mana, dalam waktu singkat suasana seram
kembali menyelimuti sekeliling tempat itu.
Dada Ku See-hong naik turun tiada hentinya. Sepasang matanya
menjadi merah membara, mulutnya memperdengarkan suara
rintihan kesakitan, sedang kesadaran otaknya sudah makin kabur.
Dalam keadaan antara sadar dan tak sadar ini, Ku See-hong
hanya bisa berpikir di hati:
“Oooh, Thian, mengapa Kau tidak cepat-cepat biarkan aku mati
saja? Mengapa Kau harus menggunakan cara sekeji ini untuk
menyiksa diriku? Apakah nyawaku benar-benar sedemikian tidak
berharganya…?”
29
Tiba-tiba telinga Ku See-hong mendengar suara mengalirnya air.
Dengan cekatan dia meronta dan bangun berduduk. Dengan sorot
mata ngeri diawasinya sumur kecil itu tak berkedip.
Pada waktu inilah, jala raksasa yang mengurung Ku See-hong itu
seakan-akan dikendalikan oleh seseorang. Pelan-pelan meluncur ke
bawah, langsung masuk ke dalam sumur kecil itu. Ku See-hong
segera tahu bahwa siksaan yang lebih keji telah berada di ambang
pintu, tapi saat itu jangankan melawan, tenaga untuk meronta
sudah tidak dimilikinya lagi, apalagi ia masih terkurung di dalam jala
tersebut. Terpaksa dia hanya bisa pasrah, membiarkan nasib buruk
macam apapun menimpa dirinya.
Titik-titik air mata kembali meleleh keluar membasahi wajah
pemuda itu. Kejadian mengenaskan yang pernah dialaminya di
masa kecil dulu sekarang terbayang kembali dalam benaknya. Ia
merasa seakan-akan menyaksikan seorang lelaki dan seorang
perempuan yang bermandi darah sedang meratap, meronta di
dalam neraka.
“Aduuuhh…. Dingin sekali!”
Ku See-hong menjerit dengan mengenaskan, sekujur badannya
gemetar keras karena kesakitan.
Waktu itu, jala tersebut telah diceburkan ke dalam sumur kuno
yang amat dalam itu. Ternyata air dalam sumur adalah air yang
dinginnya bagaikan es.
Padahal kulit badan di sekujur tubuh Ku See-hong sedang
merasa kesakitan hebat lantaran digarang dengan api, begitu
direndam di dalam air yang dinginnya bagaikan es ini, kontan saja
penderitaan yang dialaminya itu membuat dia tak sanggup menahan
diri.
Tragisnya jala yang tak berperasaan itu justru menyusut semakin
kecil pada waktu itu. Menyusut sedemikian rupa sehingga luasnya
hanya cukup bagi pemuda itu untuk berdiri kaku. Maka dari itu
sekalipun Ku See-hong tak kuat menahan siksaan air dingin yang
menyayat badan, ia sama sekali tak berdaya untuk meronta.
30
Lambat laun darah yang mengalir di dalam tubuh Ku See-hong
makin membeku. Sekujur tubuhnya tegak kaku dan mengeras
seperti batu, napasnya semakin lirih sedangkan sorot matanya mulai
kabur dan termangu-mangu seperti orang bodoh.
Dia hampir mati kedinginan, untuk sesaat tubuhnya sama sekali
tak mampu berkutik lagi.
Di kala kesadaran Ku See-hong sudah hampir mulai punah,
pelan-pelan jala raksasa dikerek naik lagi ke atas dan meninggalkan
permukaan ruang bawah tanah itu setinggi sepuluh kaki.
Sungguh kasihan Ku See-hong, sepasang matanya terpejam
rapat-rapat, sekujur badannya kaku karena kedinginan, tubuhnya
berdiri kaku tak mampu berkutik, mukanya pucat pias sama sekali
tak berdarah. Keadaannya waktu itu tak jauh berbeda dengan
sesosok mayat.
Suasana dalam ruang bawah tanah itu pulih kembali dalam
keheningan yang luar biasa, suasana seram dan menggidikkan hati
mulai menyelimut i sekeliling tempat itu.
Mendadak dari atas langit-langit ruang bawah tanah itu
berkumandang kembali suara pekikan aneh yang menyeramkan.
Suara itu bagaikan tangisan setan atau lolongan serigala, pokoknya
begitu seramnya suara itu sehingga sukar dilukiskan dengan katakata.
Suara pekikan itu menggetarkan seluruh ruangan bawah tanah
seperti ada berpuluh ribu ekor kuda yang lari bersama saja,
membuat perasaan orang tercekam dalam keadaan yang luar biasa.
Menyusul pekikan nyaring itu, dari langit-langit ruang bawah
tanah yang tingginya lima enam puluh kaki itu melayang turun
sesosok bayangan manusia. Tubuhnya begitu enteng seperti bulu.
Dengan ringannya, bagaikan sukma gentayangan dia melayang
turun ke atas tiang di mana jala itu tergantung.
31
Manusia aneh bagaikan sukma gentayangan ini mempunyai
rambut yang terurai awut-awutan, mukanya putih seperti mayat.
Keadaannya sangat menyeramkan.
Mata kirinya cacad sebelah dan tinggal sebuah lubang yang
kosong, lengan kanannya kutung, sedangkan sepasang kakinya
sebatas lutut ke bawah sudah membusuk dan tak karuan
keadaannya, sehingga kelihatan tulang tengkoraknya yang
berwarna putih. Keadaan tersebut sangat mengerikan, membuat
orang menjadi tak tega untuk memandang lebih jauh.
Manusia aneh itu menghembuskan napas panjang, lalu
mengeluarkan tangan kirinya yang kurus kering tinggal kulit
pembungkus tulang itu untuk menghantam pelan ke ujung tiang di
ujung sebelah depan.
“Pluuuk…!” benturan nyaring terjadi.
Mendadak jala itu menyebar dan membentang lebar sehingga
tubuuh Ku See-hong yang kaku itu terjatuh dan roboh terkapar di
atas jala. Ia masih belum bisa berkutik sama sekali.
Tidak Nampak gerakan apa yang digunakan tahu-tahu manusia
aneh itu sudah berada di sisi Ku See-hong. Gerakan tubuhnya
ibarat sukma gentayangan, membuat ia kelihatan semakin
mengerikan. Pada hakekatnya belum pernah ada jago silat dalam
dunia persilatan yang memiliki ilmu sakti sedahsyat itu.
Dengan sebuah matanya yang hijau bercahaya, manusia aneh itu
mengawasi sekejap sekujur badan Ku See-hong. Sekulum
senyuman segera menghiasi wajahnya yang menyeringai aneh itu.
Mungkin senyuman tersebut baru pertama kali ini diperlihatkannya
setelah lenyap selama berpuluh tahun lamanya.
Tiba-tiba senyuman manusia aneh itu lenyap kembali, wajahnya
berubah kembali menjadi dingin menyeramkan, membuat orang
merasakan hatinya bergidik bila berjumpa dengannya.
32
Kemudian manusia aneh itu merentangkan kelima jari tangannya
lebar-lebar. Dengan gerakan aneh secara beruntung dia totok
dalam nadi penting Jin dan Tok-meh di tubuh anak muda itu.
Kemudian didudukkannya Ku See-hong di atas jala. Lengan
kirinya pelan-pelan diangkat dan dengan lima jari yang terbentang
lebar dia ancam jalan darah Sing Cong, Leng-siu, Sin-hong, Pohlong,
dan Yu-bun. Lima buah jalan darah penting di badan pemuda
itu.
“Sreeet… sreeet…!”
Lima gulung cahaya putih memancar keluar dari ujung jari
manusia aneh itu dan menyambar secara telak ke setiap jalan darah
tadi. Begitu jalan darahnya terserang secara telak, sekujur badan
Ku See-hong gemetar keras, tapi dengan cepat menjadi kaku
kembali.
Kelima jari tangan manusia aneh itu kembali beralih ke arah lima
jalan darah Tong-kok, Sang-si, Im-tok, Bong-gi, Tiong-cu, lima buah
jalan darah penting di bagian tubuh yang lain.
“Ceeesss,” lima gulung cahaya putih kembali memancar keluar
dari kelima jari tangannya dan menyambar kelima buah jalan darah
tersebut secara telak. Seperti keadaannya tadi, Ku See-hong
gemetar lagi beberapa kali kemudian kaku kembali seperti semula.
Begitu secara beruntun manusia aneh itu melancarkan beberapa
kali serangan cahaya putih dan menghajar semua jalan darah
penting di sekujur badan pemuda itu.
Beberapa waktu kemudian, manusia aneh itu baru bangkit
berdiri, menghembuskan napas panjang dan dari dalam sakunya
mengeluarkan sebutir pil berwarna merah yang dicekokkan ke
dalam mulut Ku See-hong.
Di kala semua pekerjaannya telah selesai, kembali manusia aneh
itu berpekik nyaring, lengan kirinya berputar membentuk sebuah
gerak lingkaran, lalu seperti bulu ayam badannya dengan enteng
melayang kembali naik ke atas langit-langit.
33
Pada saat tubuh manusia aneh itu melayang keluar dari ruang
bawah tanah, jala raksasa tadi pelan-pelan mengecil kembali
sebagaimana keadaan tadi. Tubuh Ku See-hong disekap kembali
tegak lurus hingga sama sekali tak sanggup berkut ik lagi.
“Blaaamm…!” dari atas dinding ruangan yang licin, tiba-tiba
meluncur sebatang toya besar berwarna hitam, kemudian….
“Blaaam…!” menghajar keras-keras di atas tubuh pemuda itu.
“Weesss,” dari arah lain kembali muncul sebatang toya yang
secara cepat dan keras menghantam pula punggung pemuda itu
keras-keras.
“Blaaam!” Benturan keras kembali terjadi.
Namun ketika itu Ku See-hong masih belum sadar dari
pingsannya, sekalipun sepasang toya itu menghajar punggungnya
keras-keras, ia tidak merasakan sakit sedikitpun juga, malah
sebaliknya jala raksasa yang tergantung di tengah udara itu
berputar setengah lingkaran.
Rupanya alat rahasia penggerak toya itu sudah dijalankan.
Seperti titiran air hujan, pukulan demi pukulan berhamburan ke atas
badan Ku See-hong dan menimbulkan serangkaian irama yang
nyaring.
Anehnya, kedua toya itu tidak menghajar di satu tempat saja,
melainkan atas bawah tak menentu. Daya pukulan dari setiap
pukulan toya itu kerasnya bukan kepalang, ini bisa dilihat dari
desingan angin yang dibawa dalamsetiap ayunan toya tersebut.
Andaikata orang biasa yang termakan pukulan itu, jangan heran
kalau orang itu tak akan sanggup untuk bangun lagi selamalamanya.
“Aduuuhh…!” pekikan kesakitan bergema memecahkan
keheningan dalamruangan itu.
Saking sakitnya oleh pukulan toya itu, Ku See-hong sampai
tersadar dari pingsannya. Padahal daging badannya yang terbakar
oleh api, kemudian terendam dalam air tadi, masih sakitnya bukan
34
kepalang. Bisa dibayangkan bagaimana akibatnya bila dihajar
kembali oleh ayunan toya yang demikian kerasnya itu.
Siksaan semacam itu betul-betul kejam dan tak
berperikemanusiaan. Jangankan tubuh Ku See-hong yang hanya
terdiri dari darah daging, sekalipun terbuat dari baja pun lamakelamaan
tak akan tahan juga. Tak heran kalau ia menjerit-jerit
kesakitan seperti babi yang mau disembelih.
Tapi sekujur tubuh Ku See-hong sudah terbelenggu dalam
pengepresan jala raksasa itu hingga sama sekali tak berkutik, sama
sekali tak bisa meronta. Dia hanya pasrah dan membiarkan hujan
toya yang tidak berperasaan itu menghajar tubuhnya habis-habisan.
Jerit kesakitan dan suara pukulan toya bercampur aduk menjadi
satu membentuk serangkaian irama yang aneh. Ku See-hong betulbetul
tidak tahan lagi, dia mulai menjerit-jerit seperti tangisan setan
di tengah malam buta. Dalam suasana hening semacam ini,
teriakan-teriakan itu kedengaran mengerikan dan mendirikan bulu
roma siapapun.
Hampir semua kulit badannya sudah pecah dan terluka. Darah
kental membasahi seluruh badan anak muda itu, kulit wajahnya
mengejang keras menahan penderitaan yang luar biasa, rambutnya
awut-awutan seperti setan, keadaan seperti itu tak ubahnya seperti
sukamgentayangan yang baru disiksa dalamneraka.
Ku See-hong menggigit bibirnya menahan semua siksaan dan
penderitaan yang telah dilimpahkan Thian kepadanya itu.
Lebih kurang sepeminum teh kemudian, agaknya sepasang toya
itu sudah merasa puas dengan pukulan-pukulannya. Mendadak
gerak serangan itu terhenti dengan sendirinya. Begitu pukulan
berhenti, jala raksasa itu pun membentang lebar.
Sesudah mengalami siksaan serta hajaran setiap waktu, Ku Seehong
sungguh merasakan tubuhnya lelah tak bertenaga lagi.
Dengan lemas dia berbaring di atas jala sambil terengah-engah.
Selang sejenak kemudian, dengan air mata bercucuran dia baru
termenung sambil melamun.
35
Entah dosa besar apa yang kulakukan dalam kehidupanku di
alam dunia masa lalu? Mengapa Thian telah melimpahkan siksaan
ala neraka ini kepadaku?
Berpikir sampai di situ ia merasa matanya berat sehingga tanpa
disadarinya, dia tertidur kembali.
Tapi… siapa pula yang menyangka kalau Ku See-hong ketika itu
sesungguhnya sedang melatih semacam ilmu silat yang tiada
keduanya di kolong langit?
Untuk menjadi seorang yang sukses, bukan kecil perjuangan
yang dibutuhkannya. Betul Ku See-hong mengalami siksaan dan
penderitaan yang berat saat ini, … tapi hasil yang berhasil diraihnya
di kemudian hari membuat ia akan merasa bahwa pengorbanannya
saat itu sangat berharga sekali.
Satu hari lewat tanpa terasa, di kala Ku See-hong masih terlelap
dalam t idurnya, tiba-tiba kembali berkumandang suara gemuruh
yang sanggat mememekikkan telinga. Dengan perasaan kaget dia
tersadar kembali dari tidurnya.
Sesudah ada pengalaman satu kali, dia tahu bahwa tubuhnya
kembali akan menerima siksaan dari semburan api dari bawah
ruangan sana. Dengan dahi berkerut tapi sinar mata memancarkan
kebulatan tekadnya, sambil menggertak gigi keras dia siap
menerima siksaan tersebut.
Semburan api kembali memancar keluar dari dalam sumur.
Kobaran api yang tak berperasaan mulai memanggang anak muda
itu tanpa ampun. Tapi kali ini dia tidak menjerit-jerit lagi. Bukan
berarti badannya tidak merasa sakit lagi, sebaliknya justru siksaan
yang dialaminya kali ini seratus kali lipat jauh lebih dahsyat. Sebab
dia tahu kalau nasibnya sudah ditetapkan demikian, kemudian pada
akhirnya tak akan lolos dari kematian, jeritan-jeritan menjelang saat
kematiannya hanya akan memperlihatkan kelemahan sendiri, maka
dia hanya menahan penderitaan itu dengan mulut membungkam.
Tak lama kemudian semburan api telah padam, menyusul air
sumur yang dingin merendam sekujur badannya. Bagaimanapun
36
kerasnya watak Ku See-hong, setiap kali setelah menerima siksaaan
air dingin, dia pasti jatuh tak sadarkan diri dan kedinginan sampai
membeku badannya.
Lalu hujan pukulan toya pun menghajar seluruh badannya
sampai penuh dengan luka dan darah kental bercucuran dari manamana.
Semburan api, rendaman air dan pukulan toya, tiga macam
siksaan dahsyat itu hampir selama 7 hari lamanya menyiksa tubuh
Ku See-hong. Setiap hari pemuda itu tentu akan merasakan satu
kali kenikmatan tersebut.
Ketika tujuh hari sudah lewat, keadaan Ku See-hong sudah tidak
mirip dengan manusia lagi. Napasnya sangat lemah, sinar matanya
pudar, sekujur badannya lemas dan tak bertenaga, dia sudah tak
mampu menggunakan tenaganya lagi. Menerima siksaan api, air
dan pukulan, tiga macam siksaan ala neraka ini, dia boleh dibilang
hampir saja selalu tak sadarkan, bahkan nyaris tak akan bisa
bangun lagi untuk selama-lamanya.
-oo0dw0oo-
Jilid: 02
SETELAH lewat tujuh hari tujuh malam, tiba-tiba Ku See-hong
berangsur-berangsur menjadi sadar kembali.
“Haaah!” dengan kejut bercampur keheranan dia berseru
tertahan, bagaikan sedang mengigau, dia bergumam, “Kenapa aku
belum mati? Kenapa aku bisa berbaring di sini?”
Ternyata ketika itu Ku See-hong sudah tidak berbaring di atas
jala lagi, melainkan berbaring di atas sebuah pembaringan kuno.
Dengan cepat dia melompat bangun, kemudian dengan sorot mata
yang tajam dan dingin menyapu sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian gumamnya lebih jauh:
37
“Heran, bukankah badanku sudah tersiksa oleh semburan api,
rendaman air dingin dan pukulan toya sehingga tidak berbentuk
manusia lagi? Mengapa aku tidak merasakan kesakitan apa-apa
sekarang?”
Buru-buru Ku See-hong menundukkan kepalanya dan memeriksa
sekujur badannya, tapi lagi-lagi dia menjerit kaget.
“Mengapa sekujur badanku tidak meninggalkan bekas luka apaapa?
Bahkan tampak putih bersih, dan halus? Jangan-jangan aku
lagi bermimpi?”
Dari balik sinar mata Ku See-hong pelan-pelan muncul sebercak
sinar gembira, dia merasa gembira sekali karena dapat hidup
kembali bahkan sinar kehidupannya makin lama semakin kuat.
Akhirnya dia mengangkat tangan kanannya dan menampar
mulutnya keras-keras untuk membuktikan bahwa apa yang
dialaminya sekarang bukan berada dalamalam impian.
-odwoo-
Bab 2
PLOK! Sebuah tamparan yang pelan tapi mantap membuat
ujung bibirnya segera mengucurkan darah, itulah rasanya darah
yang amis dan membawa rasa asin.
Kesemuanya ini menunjukkan kalau dia masih hidup, tapi Ku
See-hong tidak berteriak ataupun bersorak kegirangan, malah
otaknya menjadi dingin dan tenang. Otaknya berputar keras untuk
menemukan alasan di mana terletak keanehan yang telah
dialaminya selama ini. Mendadak….
Serentetan suara tertawa dingin yang menyeramkan dan
berbunyi tinggi melengking bagaikan hembusan angin dingin dari
gudang salju, berkumandang dalam ruangan itu. Menyusul
kemudian, terdengar seorang berkata dengan suara yang dingin
merasuk tulang: “Bocah muda, kau sudah sadar?
Heehh…heehh…heehh… Kemari, sebelum meninggal lohu ada
beberapa persoalan hendak disampaikan kepadamu.”
38
Ucapan itu berhawa dingin dan diucapkan sepatah demi sepatah
bagaikan jeritan setan, suaranya menusuk pendengaran dan
membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri.
Sepasang sorot mata Ku See-hong yang tajam bagaikan sembilu
itu segera dialihkan ke arah pintu lain dalam ruangan itu, wajahnya
sama sekali tanpa emosi, sahutnya pelan: “Locianpwe, boanpwe Ku
See-hong segera akan datang menjumpaimu.”
Ku See-hong sudah tahu bahwa selembar jiwanya telah ditolong
oleh manusia aneh dalam kuil itu, bahkan dia mengerti, semua
siksaan bagaikan dalam neraka yang dialaminya tadi tak lebih hanya
suatu percobaan yang diberikan manusia aneh itu kepadanya. Maka
dia tidak membenci manusia aneh itu, dia hanya merasa watak
manusia aneh itu sedemikian anehnya sehingga agak rahasia dan
misterius.
Dari balik ruangan kembali terdengar suara manusia aneh itu
bergema, tapi suaranya masih begitu dingin bagaikan es dan sama
sekali t idak membawa nada manusia.
“Bocah cilik. Ehmm… Ku See-hong, kau adalah satu-satunya
manusia dalam dunia dewasa ini yang bisa bertemu muka dengan
lohu, untuk ini kau bisa merasa amat bangga.”
Mendengar ucapan tersebut, Ku See-hong mengernyitkan alis
matanya, ia merasa ucapan manusia aneh itu terlampau latah dan
angkuh, dengan nada tak puas segera serunya:
“Locianpwe, sewaktu kau masih berkelana di dalam dunia
persilatan, apakah belum pernah ada orang yang bisa berjumpa
denganmu?”
Tiba-tiba manusia aneh itu memperdengarkan suara tertawa
panjangnya yang mengerikan. Suara itu tinggi melengking dan
memekikkan telinga membuat pemuda itu merasakan badannya
gemetar karena kaget. Selesai tertawa dengan suara dingin
menyeramkan orang itu berkata lagi,
39
“Semenjak kematian lohu pada dua puluh tahun berselang,
belum pernah ada orang yang bisa bertemu muka lagi dengan
lohu.”
Mendengar ucapan tersebut, kontan saja bulu kuduk Ku Seehong
pada berdiri semua, bila ucapannya benar, bukankah berarti
manusia aneh itu adalah sukma gentayangan atau sebangsa
manusia halus?
Mungkin benar demikian, sebab ucapannya juga terasa bukan
suara manusia biasa.
Tanpa terasa Ku See-hong terbayang kembali akan tengkoraktengkorak
hidup yang berada dalam Pek Kut Yu Hun itu. Rasa kaget
dan ngeri segera berkecamuk dalam dadanya, tanpa terasa
sepasang kaki dan sekujur badannya menggigil keras.
“Hmm… Manusia yang tak becus,” damprat manusia aneh itu
dengan suara dingin, “Apakah bedanya antara manusia dan setan?
Coba lihat begitu ketakutannya kau mendengar perkataanku
barusan, bagaimana mungkin kau bisa membalaskan sakit hati
ayah-ibu-mu?”
Dampratan tersebut ibaratnya suara Guntur yang menggelegar di
siang hari bolong. Seketika itu juga membuat Ku See-hong tertegun
dan menjadi malu sendiri. Tanpa memperdulikan lagi apakah orang
itu manusia atau setan, dengan cepat dia menyelinap ke dalam
ruangan itu seraya berseru,
“Locianpwe… Ku See-hong akan datang!”
“Kreeekk… kreeekk…” suara pintu yang nyaring menggema
memecahkan keheningan.
Dengan sorot mata tajam Ku See-hong dapat memandang ke
dalam sana, dengan cepat (matanya)menangkap (satu) kaki yang
tinggal tulang kerangka berwarna putih itu.
Tak terlukiskan rasa terkejutnya pemuda itu… pelan-pelan sorot
matanya dialihkan ke atas, dengan cepat dia menangkap seraut
wajah yang menyeringai mengerikan.
40
Waktu itu, manusia aneh tersebut sedang mementangkan
mulutnya sambil mengerutkan kulit wajahnya, kemudian, “Heeehh…
heehh…” memperlihatkan senyumnya yang mengerikan.
Bagaimanapun besarnya nyali Ku See-hong, tak urung bergidik
juga hatinya setelah menyaksikan tampang (wajah) itu. Seluruh
badannya kembali gemetar keras, rasa kaget, gugup dan tegang
segera menyelimuti wajahnya yang tampan itu. Meski demikian, dia
enggan untuk memperlihatkan rasa takutnya di hadapan orang itu.
Dengan langkah lebar ia berjalan ke dalam ruangan, menjura seraya
berkata nyaring:
“Boanpwe Ku See-hong, datang menghunjuk hormat buat
cianpwe.” Sehabis berkata, dia lantas bertekuk pinggang dan
menjura dalam-dalam kepada orang itu.
Suara pembicaraan manusia aneh itu berubah menjadi agak
halus dan hangat, pujinya:
“Punya nyali. Benar-benar punya nyali…. Tidak malu untuk
menjadi pemegang pucuk pimpinan dalam dunia persilatan pada
masa mendatang….”
Ku See-hong merasa amat terkejut mendengar ucapan tersebut,
sebab dari balik perkataan manusia aneh itu, lamat-lamat dia dapat
menangkap maksud yang lebih mendalam lagi di balik perkataan itu.
Bukankah dia mengartikan bahwa selanjutnya dialah yang akan
menentukan mati hidup orang-orang persilatan…?
Waktu itu, di hati kecil Ku See-hong sudah tidak tercekam oleh
perasaan takut lagi, dengan hormat ia berkata:
“Cianpwe terlalu memuji, boanpwe tak berani untuk
menerimanya.”
Manusia aneh itu mendengus dingin,
“Hmmm…. Kau adalah satu-satunya manusia yang pernah kupuji
sepanjang hidupku, apakah kau masih belum puas…?” katanya
dingin, “Untuk sementara waktu, duduk dulu di atas bangku itu….”
41
Ku See-hong berpaling mengikuti arah yang ditunjuk manusia
aneh itu, tapi ketika sorot matanya menangkap benda yang
dimaksudkan, ia menjadi melongo.
Yaa, kursi apaan itu? Pada hakekatnya tidak lebih adalah suatu
benda berbentuk segi empat yang terdiri dari tumpukan tulang
tengkorak manusia.
Tapi Ku See-hong tidak menjerit, wajahnya juga tidak
menunjukkan sikap aneh, malah dengan berlapang dada segera
duduk di atas tengkorak kepala manusia itu.
Dengan cepat ia merasakan munculnya segulung hawa dingin
yang sangat aneh muncul dari atas tulang tengkorak itu dan
langsung menyergap ke atas ubun-ubunnya. Ini, membuat seluruh
badannya menjadi kedinginan setengah mati.
Tapi aneh sekali….
Tiba-tiba Ku See-hong merasakan timbulnya segulung hawa
aliran panas dari dalam pusarnya dan langsung menyusup ke
seluruh bagian tubuhnya itu.
Dalam waktu singkat hawa dingin yang menyusup masuk lewat
pantatnya tadi dapat teratasi, bahkan hawa dingin itu segera
menjadi lenyap tak berbekas.
Menerang sinar hijau dari balik mata si manusia bermata tunggal
itu. Diawasinya semua perubahan pada diri Ku See-hong tanpa
berkedip, kemudian kepalanya manggut-manggut berulang kali.
Tapi pada saat itulah, di atas pantat Ku See-hong tiba-tiba terjadi
lagi suatu perubahan yang sangat aneh.
Sekarang dia merasa seakan-akan sedang duduk di atas pelat
besi yang sedang panas membara. Sekujur tubuhnya gemetar
keras, hawa darah dalam tubuhnya mendidih dan bergolak keras,
seakan-akan sedang digarang oleh semburan api saja. Tersiksanya
bukan kepalang….
42
Ku See-hong tahu, dia sedang dicoba oleh manusia keji itu,
mengapa pula dia harus memperlihatkan rasa ketakutannya.
Karena itu sambil berusaha keras menahan penderitaan yang luar
biasa, ia tetap duduk di situ sambil menahan diri. Dalam waktu
singkat sekujur badannya sudah basah kuyub bermandikan keringat.
Di kala Ku See-hong sudah mulai merasa hampir tidak tahan oleh
serangan hawa panas yang menyerang datang secara gencar itu,
suatu kejadian aneh t iba-tiba kembali terjadi.
Mendadak Ku See-hong merasakan mengalir keluarnya segulung
hawa dingin bagaikan es dari dalam pusarnya dan secepat kilat
mengalir ke seluruh bagian tubuhnya. Dengan munculnya hawa
dingin itu, dengan cepat dia merasakan betapa hawa panas yang
meyiksa tubuhnya tadi tersapu lenyap hingga tak berbekas. Kini
badannya menjadi segar dan nyaman kembali.
Mimpipun Ku See-hong t idak menyangka kalau di dalam
pusarnya telah terdapat dua macam tenaga aliran yang sama sekali
berlawanan. Diam-diam Ku See-hong menghela napas panjang,
hampir tertegun pemuda itu karena menghadapi keanehan yang tak
terduga tersebut.
Tiba-tiba … manusia aneh itu membentak keras, tangan kirinya
yang kurus kering itu terayun ke depan dan secara beruntun
melepas tiga buah serangan berantai ke tubuh pemuda itu.
Di mana serangan itu dilancarkan, gulungan hawa pukulan yang
sangat dahsyat segera menghembus kencang di dalam ruangan itu.
Bagaikan bukit karang yang berguguran, angin puyuh yang
mahadahsyat itu dengan cepat menggulung ke atas badan Ku Seehong.
Sedemikian dahsyatnya tenaga serangan ini. Seakan-akan dunia
mau kiamat saja rasanya.
Menghadapi serangan yang demikian gencarnya itu, paras muka
Ku See-hong segera berubah hebat. Dia tidak mengira kalau
manusia aneh itu bakal melancarkan serangan mematikan ke
arahnya, apalagi setelah menyaksikan tenaga serangan orang yang
43
begitu kencang bagaikan sebuah jala besar yang menggulung t iba
dari empat arah delapan penjuru itu. Hampir pecah nyali anak
muda tersebut.
“Habis sudah riwayatku! Habis sudah riwayatku!” pekik Ku Seehong
di dalam hatinya “… tak kusangka setelah berhasil lolos dari
siksaan api, air dingin dan pukulan toya, akhirnya aku toh akan mati
pula di ujung tangan manusia aneh yang keji ini.”
Beberapa titik air mata tanpa terasa bercucuran keluar
membasahi pipinya. Pemuda itu tidak meronta, tidak pula
menghindar, dia hanya memejamkan matanya, pasrah kepada
nasib. Padahal sekalipun dia ingin menghindarkan diri juga
percuma, sebab tak nanti ia akan berhasil untuk menghindarkan diri
dari serangkaian serangan gencar yang luar biasa itu.
Hawa pukulan yang kuat dan dahysat dengan cepatnya
mengurung seluruh badan Ku See-hong dari mana-mana, agaknya
sebentar lagi pemuda itu akan terhajar telak oleh serangan dahsyat
itu….
Pada detik yang paling akhir itulah, mendadak Ku See-hong
merasakan hawa murni yang berada di dalam tubuhnya bergolak
sangat keras, menyusul kemudian muncul segulung hawa murni
yang aneh menyebar ke seluruh badannya dan menyusup ke luar
lewat pori-pori badannya dan menyongsong datangnya serangan
itu….
“Blaaammm…! ”
Di tengah benturan keras yang amat memekikkan telinga, Ku
See-hong hanya merasakan hawa darah di dalam badannya
mengalami suatu pergolakan yang keras sekali. Menyusul
kemudian….
“Blaaamm! Blaaamm! Blaaamm!”
Ledakan demi ledakan menggelegar secara beruntun di udara
dan menggetarkan seluruh angkasa. Hawa pukulan yang berhembus
datang dari empat penjuru itu, seketika membuyar dan lenyap tak
44
berbekas. Ku See-hong menjadi terbelalak matanya karena terkejut
menghadapi serentetan kejadian yang sangat aneh itu. Untuk
beberapa saat lamanya dia hanya bisa duduk di atas tengkorak
kepala manusia itu sambil termangu.
Mendadak manusia aneh itu mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya itu penuh mengandung
perasaan girang gembira dan bangga. Kemudian sambil berhent i
tertahan katanya:
“Ku See-hong, kau memang tidak menyia-nyiakan harapan lohu.
Sekarang kau telah berhasil melatih ilmu khikang Kan-Kun Mi-Siu
yang tiada keduanya dalamdunia persilatan dewasa ini.”
Setelah mendengar ucapan itu, Ku See-hong baru seperti
tersadar kembali dari lamunannya. Dengan cepat ia menjatuhkan
diri berlutut dan menyembah sebanyak tiga kali di depan manusia
aneh itu.
“Suhu di atas, maafkanlah tecu karena tak tahu jika kau orang
tua secara diam-diam telah mewariskan ilmu sakti tersebut
kepadaku. Budi kebaikan yang amat besar ini entah dengan cara
apa tecu harus membayarnya?”
Paras muka manusia aneh itu berubah menjadi dingin bagaikan
es… dengan suara serak katanya:
“Siapa yang menjadi gurumu? Selama hidup lohu tak pernah
menerima murid. Bila kau berani memanggil suhu lagi kepadaku,
jangan salahkan kalau aku akan segera merenggut nyawamu itu.”
Mendengar perkataan itu, Ku See-hong menjadi tertegun, tapi
dengan sikap yang tetap menghormat katanya:
“Sekalipun di antara kita berdua tiada ikatan nama sebagai guru
dan murid, tapi secara diam-diam cianpwe telah mewariskan ilmu
maha sakt i kepada boanpwe. Budi kebaikan yang tiada taranya ini
tak akan kulupakan untuk selamanya. Suatu ketika aku Ku Seehong
pasti akan membalasnya.
45
“Andaikata cianpwe bersedia pula untuk mengutarakan pesoalan
yang belum dapat diselesaikan, sekalipun boanpwe harus terjun ke
lautan api… aku juga tak akan menampik bahwa meski badan bakal
hancur lebur, boanpwe tetap akan menjalankannya sampai selesai.”
Hasil percobaan yang dilakukan oleh manusia aneh dengan
serangan mautnya tadi membuat Ku See-hong memahami
sepenuhnya apa yang telah terjadi. Terbukti sudah bahwa semua
siksaan keji yang dialaminya selama berada dalam ruang bawah
tanah, adalah hasil perbuatan dari si manusia aneh itu. Rupanya dia
berbuat demikian karena ingin mewariskan suatu kepandaian yang
luar biasa kepadanya.
Bila dilihat dari kenyataan yang berhasil dialaminya barusan,
semakin terbukti kalau sejenis kepandaian sakti yang luar biasa
hebatnya telah berhasil dimilikinya sekarang.
Selama hidup belum pernah dia menerima kebaikan dari orang
lain. Tidaklah heran budi kebaikan seorang aneh yang mewariskan
kepandaian sakti kepadanya itu membuat dia merasa amat terharu
dan berterima kasih.
Ia tahu, meskipun di luar manusia aneh itu tampak dingin, sadis
dan tidak berperasaan, sesungguhnya sangat menyayangi dan
memperhatikan dirinya, bahkan Ku See-hong yang pintar itu,
setelah melihat tubuh cacad manusia aneh itu segera dapat
menduga bahwa dia masih mempunyai banyak sekali masalah
dendam kesumat yang tak terselesaikan, dia tentu memiliki pula
pengalaman tragis yang membuatnya merasa sedih dan hancur
perasaannya, sehingga wataknya berubah menjadi demikian
anehnya.
Setelah mendengar perkataan Ku See-hong yang penuh dengan
luapan terima kasih itu, titik air mata tampak berlinang membasahi
wajah manusia aneh itu. Sekujur badannya menggigil keras… jelas
perasaannya telah dibuat terharu sekali.
Tak tak lama kemudian paras mukanya telah berubah kembali
menjadi dingin dan menyeramkan, ujarnya dingin:
46
“Ku See-hong, masalah yang menyangkut diriku, sampai matipun
aku tak ingin dicampuri orang lain…. Lohu mewariskan ilmu silat
kepadamu lantaran aku hendak menuruti sumpahku sendiri. Aku
pernah bersumpah: Barang siapa dapat memasuki kuil ini dan
berjumpa dengan lohu, maka akan kuserahkan empat buah
persoalan kepadanya.”
“Seandainya boanpwe tidak berulang kali mendapat perhatian
serta bantuan dari cianpwe, sedari tadi aku sudah tewas di dalam
ruang depan sana. Bagaimana mungkin bisa sampai bertemu
dengan cianpwe? Budi kebaikan ini tak akan kulupakan untuk
selamanya.”
Sekali lagi manusia aneh itu merasa terperanjat. Dia tak
menyangka kalau pemuda itu selain cerdik juga teliti dan cermat,
apalagi terlebih penting ia adalah seorang yang bersedia untuk
melakukan pekerjaan baginya.
Tiba-tiba manusia aneh itu berkata dengan sedih:
“Ku See-hong… persoalan yang menyangkut soal pribadiku tak
ingin lohu utarakan kepada siapa pun, sebab aku tak ingin
dicampuri oleh orang lain. Tapi ada empat persoalan yang akan
kuserahkan kepadamu, kemudian lohu akan meninggalkan dunia ini
dengan tenang. Setelah aku mat i nanti, aku tak akan ambil peduli
bagaimana jalan pikiranmu nanti.”
Entah mengapa terhadap manusia aneh yang ditakuti dan
disegani oleh segenap umat persilatan di dunia ini, pemuda tersebut
menaruh semacam perasaan yang akrab. Maka ketika mendengar
kalau manusia aneh itu tak lama akan meninggalkan dunia fana,
suatu perasaan sedih tiba-tiba muncul dalam hatinya.
Ku See-hong tahu bahwa manusia aneh ini memiliki watak yang
sangat aneh, bila terlampau berdebat dengannya, mungkin bisa
mengakibatkan timbulnya perasaan tak senang di kedua belah
pihak. Karena itu dengan hormat dia berkata:
47
“Entah persoalan apakah yang hendak cianpwe serahkan
kepadaku? Katakan saja, boanpwe akan mendengarkannya dengan
seksama.”
Manusia aneh itu termenung sebentar kemudian dengan suara
dingin katanya:
“Pertama. Aku akan memaksa orang yang dapat berjumpa
dengan diriku untuk mempelajari tiga macam ilmu sakti yang lohu
miliki. Kepandaian pertama adalah ilmu khikang yang dinamakan
Kan-kun Mi-siu… untung saja kepandaian tersebut telah berhasil kau
pelajari.”
“Apakah yang dinamakan ilmu khikang Kan-kun mi-siu tersebut?”
tanya Ku See-hong terperanjat.
“Kan-kun Mi-siu adalah sejenis ilmu silat yang luar biasa
dahsyatnya.”
Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan:
“Barang siapa berhasil mempelajari ilmu silat semacam itu, maka
ia sudah akan mampu untuk menjagoi seluruh dunia persilatan.
Bahkan ilmu Boan-yok-Kang dari kalangan Buddha serta pelbagai
ilmu khikang aliran agama To yang mana pun tak dapat menandingi
kehebatan dari kepandaian tersebut.”
Ku See-hong yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa
terperanjat, benarkah ilmu sakti yang telah dipelajarinya sekarang
adalah ilmu maha sakti seperti yang diucapkan?
Terdengar manusia aneh itu berkata lebih lanjut:
“Ciri khas dari ilmu Kan-kun Mi-siu kang-khi ini adalah barang
siapa telah mempelajarinya, hawa murni yang dimilikiya akan
mencapai kesempurnaan. Sekalipun kekuatan tubuhnya sangat
hebat, namun tiada tanda apa-apa dipandang dari luar malah
sebaliknya bagaikan seseorang yang lemah dan tak bertenaga untuk
menangkap seekor ayam pun, tapi begitu mendapat serangan dari
luar, secara otomatis dari dalam tubuhnya akan muncul suatu
tenaga pantulan yang kuat untuk melindungi badannya. Bahkan
48
yang lebih istimewa lagi, setiap kali hawa murninya kena digetarkan
satu kali, tenaga Im-Yang yang dihasilkan oleh ilmu Kan-kun Mi-siu
tersebut akan menimbulkan suatu gerakan saling hisap-menghisap
yang akan mengakibatkan tenaga dalam yang dimilikinya setingkat
lebih sempurna.”
Makin mendengar Ku See-hong merasa semakin keheranan. Dia
dibikin setengah percaya setengah tidak oleh kata-kata tersebut.
Tiba-tia manusia aneh itu berkata dengan serius:
“Ilmu sakti ini diciptakan pada jaman Cun Ciu Cian Kok dulu….
Ilmu ini tercantum dalam sejilid kitab pusaka Cang-ciong-pit-kip
yang ditulis oleh Ngo-Cun-siu seorang perdana menteri dari Negeri
Go.
Berhubung demikian hebat dan saktinya kepandaian ini, boleh
dibilang hampir semua umat persilatan di dunia ini mengincar dan
menginginkannya bahkan dengan menggunakan pelbagai cara dan
siasat berusaha untuk menyelidiki jejak kitab pusaka ini. Maka bila
kau telah terjun kembali ke dalam dunia persilatan dan kebetulan
ada orang yang tahu bahwa kau pandai mempergunakan
kepandaian sakti tersebut, besar kemungkinan akan berakibat
datangnya bencana besar. Aaaaih…. Mungkin inilah yang
dinamakan nasib.”
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See-hong,
ujarnya dengan seram,
“Bila kawanan cecunguk itu tidak mencari gara-gara denganku
mungkin saja keadaan masih agak baik, kalau tidak, pasti akan
kusuruh mereka menemui ajalnya secara mengerikan.”
Diam-diam manusia aneh itu berseru tertahan, pikirnya:
“Heran, mengapa watak orang ini bisa persis seperti aku?
Aaaai… mungkinkah Thian telah mengatur kesemuanya ini untuk
merubah nasib dunia persilatan?” Berpikir sampai di situ, dengan
wajah sedingin es manusia aneh itu berkata lagi;
49
“Kepandaian kedua yang akan kuajarkan adalah semacam ilmu
gerakan tubuh (langkah ajaib) yang sakti dan luar biasa.”
Ia berhenti sebentar kemudian melanjutkan,
“Cuma aku hendak memberi tahu kepadamu lebih dulu, di kala
kuberi pelajaran nanti, aku hanya akan mengajarkan satu kali,
mengerti atau tidak terserah pada daya ingatanmu sendiri, selain itu
kau pun tak boleh bertanya lagi….”
Diam-diam Ku See-hong bertekad, bagaimanapun juga dia pasti
akan mempelajari ilmu silat itu sampai bisa.
Kembali manusia aneh itu berkata,”Ilmu sakt i yang ketiga adalah
satu jurus ilmu pukulan yang luar biasa hebatnya.”
Ia memandang sekejap ke wajah Ku See-hong, kemudian
melanjutkan:
“Sekalipun hanya terdiri dari satu jurus sesungguhnya memiliki
tiga macam perubahan yang sukar dimengerti. Bila tidak dialami
(dimengerti), rahasia itupun hanya akan kuterangkan satu kali. Bisa
menguasai atau tidak tergantung pada kemampuanmu sendiri.”
Diam-diamKu See-hong kembali berpikir,
“Manusia aneh ini benar-benar anehnya bukan kepalang.
Mengapa dia hanya akan memberi pelajaran rahasia ilmu silatnya
satu kali saja? Bertanya pun tak boleh, apa sebenarnya yang dia
inginkan? Apalah artinya jika ilmu pukulan yang diajarkan cuma
satu jurus belaka?”
Tampaknya manusia aneh itu memahami apa yang dipikirkan Ku
See-hong, katanya dengan dingin:
“Bukan lohu enggan memberi pelajaran kepadamu, adalah ilmu
tersebut amat tak sanggup untuk diwariskan. Mungkin dengan
tubuhku yang cacad sekarang sudah tak sanggup lagi untuk
mempergunakan kepandaian sakti itu, malah besar kemungkinan
sebelum selesai kudemonstrasikan, jiwaku sudah keburu melayang
lebih dulu.”
50
Paras muka Ku See-hong menjadi merah padam karena jengah.
Bisiknya di hati, “Sungguh memalukan.”
Terdengar manusia aneh itu berkata lebih jauh,
“Persoalan yang kedua adalah memaksa kau untuk
mendengarkan serangkaian cerita…. Bagaimanapun juga cerita ini
harus selalu teringat dalam hatimu. Sementara aku sedang
bercerita, kaupun tak boleh menimbrung atau menanyakan ini itu.”
Ku See-hong segera berpikir lagi:
“Cerita tersebut bisa dipandang sebegitu serius olehnya, sudah
pasti kisah pengalamannya yang tragis. Aku pasti akan
mengingatnya baik-baik di dalam hati.” Berpikir demikian, dengan
suara lantang dia lantas berkata
“Harap locianpwe legakan hati. Sekalipun boanpwe tidak becus,
kisah cerita ini pasti akan kuingat terus di dalamhati.”
Sekilas rasa sedih telah menyelimuti wajah manusia aneh itu, tapi
sehabis mendengar perkataan dari Ku See-hong itu, diam-diam
diapun manggut-manggut.
“Persoalan ketiga adalah, memaksamu untuk belajar
membawakan suatu nyanyian. Sampai mati pun kau harus
mempelajari nyanyian ini, tapi setelah berhasil mempelajarinya,
setiap tengah malam kau harus membawakannya satu kali. Aku
rasa kau pasti tak akan menyia-nyiakan harapan lohu, bukan?”
Tiba-tiba Ku See-hong berkata:
“Nyanyian yang akan locianpwe ajarkan kepadaku itu, apakah
lagu yang seringkali locianpwe bawakan itu?”
Manusia aneh itu manggut-manggut. Dengan badan gemetar
sahutnya, “Benar, lagu itulah yang kumaksudkan. Lagu itu bernama
Cong-ciang-Heng (DendamSejagad).”
Ia termenung beberapa saat lamanya, kemudian melanjutkan:
51
“Lohu akan memberitahu kepadamu, lagu ini mengandung suatu
rahasia besar tentang dunia persilatan. Selama ini banyak jago
persilatan yang menggunakan pelbagai akal dan siasat untuk
menangkap lohu. Tujuan mereka tak lain adalah memaksa lohu
untuk menerangkan bait syair dari lagu ini. Karena itu, bila kau
telah mempelajarinya nanti, kau hanya boleh menyanyikannya.
Tapi sampai matipun tak boleh mengungkapkan rahasia dari bait
syair lagu tersebut.”
Ku See-hong kembali manggut-manggut.
“Boanpwe pasti tak akan membocorkannya kepada siapapun.”
Sekulum senyuman kembali tersungging di atas wajah manusia
aneh yang dingin itu, tapi hanya sebentar saja telah lenyap kembali.
Katanya kemudian dengan dingin,
“Not lagu dari nyanyian ini dikombinasikan dengan semacam ilmu
yang maha sakti. Bila kau membawakannya satu kali maka tenaga
dalammu akan bertambah sempurna setingkat. Cuma… dalam satu
hari membawakannya berulang kali, banyak hawa murnimu yang
justru akan hilang, bukan saja tak ada manfaatnya, sebaliknya
malah ada kerugian. Maka kau harus mengingat baik-baik pesan
ini….
Aiiihh…. Nyanyian ini sukar dipelajari, entah dapatkah kau
menguasainya dalamwaktu singkat?”
“Soal ini tak perlu locianpwe risaukan,” kata Ku See-hong sambil
tertawa, “Dalam waktu sebulan belakangan ini, dengan menahan
pengaruh gaib yang terpancar dari nyanyian tersebut, boanpwe
telah berhasil menguasai sepenuhnya. Asal cianpwe mengutarakan
bait syairnya, hal ini sudah lebih dari cukup.”
“Sungguhkah perkataamu?” tanya manusia aneh itu dengan
wajah terperanjat.
“Buat apa boanpwe bohong? Atau sekarang juga akan boanpwe
bawakan satu kali.”
Dengan penuh emosi, manusia aneh itu berkata lagi,
52
“Waktu yang tersedia, saat ini lebih berharga dari emas. Kalau
kau telah menguasainya, aku pun ikut merasa gembira.”
Tampaknya manusia aneh itu seperti telah melepaskan sebuah
batu besar yang mengganjal hatinya selama ini. Pikirnya:
“Bocah ini begini cerdasnya, apa yang kuharapkan mungkin
sekali dapat tercapai seluruhnya. Untung Thian dapat memberikan
manusia semacam ini kepadaku. Meski akhirnya aku mati, aku bisa
mati dengan perasaan tenang tanpa kuatir. Aku berpikir pasti dia
dapat menyelesaikan semua persoalanku dengan sempurna tanpa
kekurangan…. Tapi kalau dilihat dari wajahnya yang membawa
hawa pembunuhan, sudah pasti pemuda ini berhati keras dan keji.
Tapi itupun tak menjadi masalah. Lamat-lamat dapat kutemukan
kegagahan di balik mukanya itu. Sudah pasti orang yang
dibunuhnya adalah kawanan pencoleng yang berhati keji.”
Berpikir sampai di situ, dengan dingin dia lantas berkata:
“Persoalan keempat adalah memaksa kau untuk mengangkat
seseorang menjadi gurumu dan memohon kepadanya untuk
memberi pelajaran semacam ilmu pukulan kepadamu.”
Buru-buru Ku See-hong berkata:
“Locianpwe, siapakah guru yang harus kujumpai itu? Ilmu
pukulan apakah yang harus kumohon darinya?”
“Gurumu itu adalah seorang perempuan. Dia sangat membenci
diriku, mungkin ia tak akan menerima dirimu, juga tak akan
mengajarkan ilmu pukulan tersebut kepadamu. Tapi bagaimanapun
juga kau harus pergi mengadu nasib. Kalau dia menginginkan
tulang belulangku, maka beritahu kepadanya secara terus terang
bahwa aku sudah mati di dalam kuil ini.
Aaai… akulah yang salah. Tempo dulu akulah yang telah menyianyiakan
dirinya sehingga membuat dia begitu marah, dan merasa
amat menderita….”
53
Ketika berbicara sampai di situ, selintas rasa menyesal muncul di
wajah manusia aneh itu. Gumamnya kembali:
“Soat Kun, aku tidak seharusnya mengesampingkan rasa cintamu
yang tulus dan suci itu, akibatnya aku baru disiksa hingga macam
begini oleh perempuan rendah itu…. Sekarang aku baru tahu kalau
cintamu itu suci dan tiada terhingga, tapi aku telah kehilangan dia,
kehilangan untuk selamanya….”
“Aaaai…. Waktu itu aku sudah salah mencintai perempuan
rendah itu, tapi pepatah kuno berkata: Sekali salah melangkah
menyesal sepanjang masa, apa boleh buat? Sekarang aku cuma
bisa menderita sedih dan amat menyesal….
“Aaai…. Putriku, wahai putriku. Aku yakin perempuan rendah itu
tak akan mengatakan kalau kau adalah anakku. Oh, betapa
menggemaskannya hal ini?
Lan Hiang… Oooh Lan Hiang, sampai di akhirat pun aku akan
mengingat terus perbuatanmu yang teramat keji itu….”
Semakin membayangkan, manusia aneh itu semakin mendendam
dan akhirnya saking gemasnya tanpa disadari ucapan tersebut telah
diutarakan keluar….
Ku See-hong tahu, sudah pasti manusia aneh itu sedang
membayangkan kenangan lamanya yang mengenaskan, maka
betapa terperanjatnya dia sesudah mendengar teriakan itu. Tapi Ku
See-hong juga merasa kebingungan, dia tidak habis mengerti
kejadian tragis apakah yang pernah dialami manusia aneh
tersebut….
Rupanya manusia aneh itu menyadari akan kesalahannya, buruburu
ia menenangkan kembali hatinya dan berkata lagi dengan
dingin,
“Ku See-hong, bila kau berhasil menjumpainya, andaikata dia
benar-benar menerimamu dan enggan mewariskan ilmu pukulannya
kepadamu, maka katakanlah kepadanya: Lohu telah menyesal,
sekalipun semasa hidup tak dapat menerima cinta kasihnya, tapi di
54
alam baka dia akan mencintainya sepanjang masa dan
mengenangnya selalu…. Perkataan ini muncul dari hati sanubariku
menjelang saat kematian, peduli dia mau memberi pelajaran atau
tidak, sampaikan suara hatiku ini kepadanya agar dia tahu.”
“Locianpwe, sebenarnya siapakah orang itu?” tanya Ku See-hong.
“Dia adalah seorang tokoh sakti dari dunia persilatan dewasa
ini…. Seng-sim Cian-li (Perempuan Cantik Berhati Suci) Hoa Soatkun.
Sedang ilmu pukulan yang harus kau pelajari darinya itu adalah
ilmu pukulan Hay-jin-ciang (Pukulan Unggas Laut) yang amat
menggetarkan seluruh kolong langit itu.”
Diam-diam Ku See-hong merasa terkesiap, ternyata guru yang
harus diangkatnya adalah seorang tokoh sakti yang sudah
termasyhur namanya dalam dunia persilatan pada lima puluh tahun
berselang, Seng-sim Cian-li Hoa Soat-kun. Lantas siapakah manusia
aneh yang berada di hadapannya sekarang…? Mungkinkah dia
adalah salah seorang tokoh juga yang telah tersohor dalam dunia
persilatan semenjak lima puluh tahun berselang?
Sekalipun Ku See-hong mengetahui cukup banyak tentang namanama
jago tersohor dalam dunia persilatan, tapi ia tak bisa
menduga siapa gerangan manusia aneh tersebut.
Beberapa kali Ku See-hong ingin membuka suara untuk bertanya
kepadanya, tapi setelah menyaksikan sebuah mata tunggal si
manusia aneh yang memancarkan sinar tajam itu, dengan cepat
kata-kata yang sudah siap diutarakan itu segera ditelan kembali.
Mendadak manusia aneh itu menatap wajah Ku See-hong dengan
matanya yang hijau menyeramkan, kemudian bentaknya:
“Ku See-hong…. Dapatkah kau melakukan keempat buah
persoalan yang barusan lohu ucapkan ini? Seandainya kau tidak
mampu, cepat katakan!”
55
Ku See-hong merasakan betapa tajamnya sorot mata manusia
aneh itu, seakan-akan hendak menembusi hatinya saja. Tapi ia
tidak gentar, malah sahutnya dengan angkuh,
“Sekalipun boanpwe bodoh, boanpwe masih dapat mengingatingat
keempat buah persoalan dari locianpwe itu dengan nyata. Aku
tak akan menyia-nyiakan harapan locianpwe itu, jika sampai
mengingkarinya, biar aku dikutuk oleh Thian.”
“Ucapan seorang lelaki sejati….” Bentak manusia aneh itu.
“Bagaikan kuda yang dicambuk,” sambung Ku See-hong.
Manusia aneh itu segera mendongakkan kepalanya dan
menghembuskan napas panjang. Sikap menyeramkan yang
diperlihatkan semula segera berubah menjadi tenang kembali.
Agaknya ia merasa sangat puas, sebab apa yang menjadi ganjalan
di dalam hatinya selama ini akhirnya ada juga yang akan
menyelesaikannya.
Manusia aneh itu termenung beberapa saat lamanya, paras
mukanya lambat laun juga berubah sedingin es, kemudian katanya:
“Kehidupan lohu sudah tinggal tak seberapa lama lagi, sekarang
aku akan mengutarakan lebih dulu rahasia dari bait syair lagu
tersebut, kemudian akan kuajarkan dua macam ilmu silat. Setelah
itu baru mengisahkan cerita tersebut.”
“Boanpwe siap mendengarkan,” Ku See-hong manggut-manggut
mengiakan.
Mendadak dari sakunya, manusia aneh itu mengeluarkan tiga
butir pil berwarna merah, kemudian katanya dingin:
“Pil ini adalah semacam pil mustajab yang lohu buat berdasarkan
catatan dalam sejilid kitab pusaka. Obat ini dibuat dari kombinasi
beberapa macam bahan obat yang berkhasiat luar biasa. Boleh
dibilang inilah satu-satunya obat pembawa tenaga yang tiada
keduanya di dunia ini. Sekarang telanlah lebih dulu, sebab hal
mana akan sangat membantumu untuk menyelesaikan tugas yang
lohu berikan kepadamu.”
56
“Locianpwe,” bisik Ku See-hong, “Kau sendiri…., boanpwe
percaya masih sanggup menyelesaikan persoalan ini. Harap kau
legakan hatimu….”
Sebenarnya Ku See-hong hendak berkata: “Locianpwe, sekarang
kau sudah lemah dan mendekati ajal, telanlah ketiga butir pil itu
untuk dirimu sendiri, daripada sebelum ketiga persoalan yang lain
sempat diucapkan, nyawamu sudah keburu pergi.”
Rupanya manusia aneh itu sudah dapat menebak jalan pikiran Ku
See-hong…, dengan suara dingin ia lantas berkata,
“Mengapa tidak cepat-cepat kau telan? Buat apa mesti
menampik lagi? Lohu yakin masih mampu untuk menyelesaikan
pesanku sebelum mati dengan mata meram.”
Ku See-hong tak berani membantah lagi, dia menurut dan segera
menelan pil itu ke dalam mulutnya.
Bau semerbak segera tersiar di dalam mulutnya. Begitu obat itu
tercampur dengan air ludah, segera hancur dan mengalir masuk ke
dalam tenggorokannya. Ia seketika merasa badannya menjadi
segar dan nyaman, kecerdasan otaknya terasa lebih tajam. Jelas
obat tersebut memang benar-benar merupakan sejenis obat
mustajab.
Ku See-hong mana tahu kalau ketiga butir pil itu sesungguhnya
telah membantu tenaga dalamnya sebesar sepuluh tahun hasil
latihan…?
Dengan wajah yang pedih dan suaranya yang sedih manusia
aneh itu segera membacakan bait syair dari nyanyian “Dendam
Sejagad” itu:
DENDAM kesumat membentang bagai jagad
Bukit tinggi berhutan lebat di sisi kuil
Sungai besar di depan kuil berombak besar
Dendam kesumat sepanjang abad
57
DENDAM kesumat membentang bagai jagad
Burung gagak bersarang di rumput kala senja
Cinta kasih berlangsung dari muda sampai tua
Memetik kampak membuat lagu: Nadanya dendam
Menitik air mata darah untuk siapa?
Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa
DENDAM kesumat membentang bagai jagad
Ji koan pernah berbuat salah
Menyandang golok menunggang kuda, apalah gunanya?
Salju terbang air laut semuanya hambar.
DENDAM kesumat membentang bagai jagad
Curah hujan membuyarkan awan
Air mengalir akhirnya surut
Dendam kesumat tak akan pernah luntur…..
Ketika manusia aneh itu selesai mengungkapkan syair dari lagu
DENDAM SEJAGAD… titik air mata darah tampak bercucuran dari
matanya yang tunggal. Inilah penampilan dari rasa sedih yang
kelewat batas, membuat ia tampak murung, termangu-mangu dan
terjerumus dalamlamunan.
Ku See-hong memang seorang pemuda yang cerdik, semua bait
syair yang diucapkan manusia aneh itu dengan cepat terukir dalamdalam
di benaknya. Sekalipun dia merasa agak keheranan dan tidak
habis mengerti dengan arti dari kata-kata itu, namun diapun tahu
bahwa bait lagu itu menikt ikberatkan pada soal dendam dan benci.
Tidak heran kalau rasa benci dan dendam manusia aneh itu
diibaratkan sejagad…..
Mendadak, dengan paras muka sedingin salju dan nada yang
menyeramkan manusia aneh itu berkata:
58
“Ku See-hong, aku rasa sehabis kau mendengar bait syair dari
lagu tersebut, kau pasti akan menaruh curiga mengapa dendam
kesumatku sejagad, bukan? Yaa… sampai mati lohu akan teringat
selalu dendan dendam kesumat ini, akupun akan teringat terus
dengan kekejaman yang pernah kualami. Asal… usia langit umur
bumi ada akhirnya, dendam kesumat dalam hatiku tiada masa
berakhir….”
“Aku tahu locianpwe pasti mempunyai kejadian masa lalu yang
amat memedihkan hati, itulah sebabnya dendammu sejagad, tapi
boanpwe tidak menganggap apa-apa terhadap diri cianpwe, aku
hanya merasa dendam cianpwe agak mendalam ketimbang orang
lain.”
Dengan wajah sedih manusia aneh itu menghela napas panjang,
“Aaai… perkataanmu ada benarnya juga, dendam lohu memang
selapis lebih mendalam bila dibandingkan dengan orang lain.
Aaai… tahu akan menyesal di saat ini, mengapa harus berbuat di
masa lalu? Sekalipun harus mati, aku pun tak perlu menyesal….”
Ku See-hong yang mendengar perkataan itu, diam-diam merasa
terperanjat. Manusia aneh ini memang luar biasa, setiap patah
katanya bahkan mengandung maksud yang mendalam, sayang
sekali manusia secerdas ini tak lama lagi akan meninggalkan dunia
ini. Sementara itu, manusia aneh tersebut telah berkata lagi
sesudah berhenti sebentar:
“Ku See-hong, lohu telah melakukan kesalahan besar dan
terjerumus ke dalam keadaan yang tak tertolong lagi, sedang kau
masih muda dan mempunyai masa depan cerah, kau harus baikbaik
bertindak dalamhidupmu nanti….”
Setelah menghela napas panjang, terusnya:
“Lohu hendak memperingatkan dirimu, kau harus ingat: Pelukan
yang lembut dan hangat adalah kuburan buat seorang ksatria….”
Sekali lagi Ku See-hong dibuat terperanjat, pikirnya kemudian,
59
Pelukan yang lembut adalah kuburan bagi ksatria…. Aaai….
Benar, sakit hati manusia aneh itu sudah pasti menyangkut soal
cinta hingga meninggalkan dendam. Aaai…. Benar, manusia
seperti dia pun terlibat oleh soal cinta, siapa lagi yang bisa terlepas
dari soal tersebut? Sungguh mengherankan, mengapa hanya
masalah cinta dapat membuat seseorang yang berwatak keras
terjerumus dalamkeadaan seperti ini?
Terdengar manusia aneh itu menghela napas sedih, lalu bertanya
lagi:
“Ku See-hong, sudah ingatkah kau dengan bait syair dari lagu
itu…?”
Buru-buru Ku See-hong memberi hormat, jawabnya: “Boanpwe
telah mengingatkannya di hati.”
“Dalam bait lagu itu penuh mengandung banyak rahasia besar,
lohu tak bisa memberi penjelasan kepadamu tentang rahasia
tersebut, dan tergantung pada nasibmu di masa mendatang.
Sekarang akan kuajarkan dua macam kepandaian yang lain
kepadamu. Cepat pusatkan semua perhatianmu dan dengarkan
baik-baik kepandaian yang akan kuajarkan kepadamu itu.”
Buru-buru Ku See-hong memusatkan pikirannya menjadi satu
dan membuka telinganya lebar-lebar.
Sekarang ia sudah tahu bahwa manusia aneh itu memiliki ilmu
silat yang tiada tandingannya di dunia ini. Soal baru ini, ia berhasil
mempelajari beberapa jurus ilmu silatnya untuk menjagoi dunia
persilatan di masa mendatang pasti bukan merupakan suatu
kesulitan lagi.
--oodwoo--
Bab 3
BERPIKIR sampai di situ, tanpa terasa lagi timbul suatu semangat
yang besar dalam hatinya.
60
Apa yang ia duga memang tidak salah, kepandaian rahasia akan
diajarkan manusia aneh itu kepadanya memang merupakan suatu
kepandaian sakti yang diimpikan oleh setiap umat persilatan.
Dengan suara keras manusia aneh itu lantas berkata:
“ILmu gerakan tubuh yang akan kuajarkan kepadamu sekarang
dinamakan ilmu silat Mi-khi Biau-Tiong. Perhatikan baik-baik rahasia
dari ilmu ini:
Satu bulat,
dua puncak,
tiga memukul,
empat terkulai,
lima mengangkat.
Yang dimaksud BULAT adalah: Badan. Tekukkan lengan,
pinggul, lutut, semua harus melingkar baru terasa kuat.
Yang dimaksud PUNCAK adalah: tangan, kepala, lidah untuk
mencapai puncak, lamban tapi bertenaga penuh.
Yang dimaksud MEMUKUL: Dada. Gerakan untuk memukul harus
bebas tanpa hambatan dan luwes.
Yang dimaksud TERKULAI adalah: bahu, sikut, udara harus
terkulai.
Yang dimaksud MENGANGKAT adalah mengatur pernapasan.
Lima unsur ini tak boleh berkurang satu pun, makin dilatih akan
semakin sempurna.
Untuk menggerakkan tubuh dengan hati menggerakkan hawa,
napas harus panjang bagaikan napas kura-kura, lama kelamaan
tenaga akan muncul dan terhimpun dalam pusar, tidak menggumpal
membuyar, tidak melamban tidak memutus… pinggang sebagai
poros, hawa sebagai roda, berganti gerakan seperti aliran awan
61
melangkah, lirih seperti kucing mencabut badan berganti bayangan,
semuanya berubah tiada habisnya.”
Ku See-hong yang mendengarkan rahasia itu menjadi amat
terperanjat. Selain rahasia itu panjang dan dalam artinya, juga sulit
dimengerti. Ini menunjukkan kalau ilmu tersebut tidak mudah
untuk dilatih, apalagi dia hanya berkesempatan untuk mendengar
satu kali saja. Berpikir sampai di situ, lamat-lamat peluh dingin
membasahi seluruh badannya.
Manusia aneh itu menghembuskan napas panjang, lalu bertanya:
“Ku See-hong, apakah rahasia ilmu Mi-khi Biau-Ciong yang
kuajarkan tadi telah kau pahami?”
“Terima kasih atas cinta kasih cianpwe, boanpwe telah
memahami keseluruhannya,” jawab Ku See-hong cepat.
Manusia aneh itu merasa gembira sekali, pikirnya: “Bocah ini
benar-benar amat cerdik.”
Walaupun dalam hati kecilnya berpikir demikian, di luar ia
berkata lagi dengan wajah sedingin es:
“Sekarang lohu akan mempraktekkan sendiri ilmu langkah
tersebut. Kau harus perhatikan dengan seksama, yang perlu akan
keistimewaan dalam melakukan langkah itu.”
Berbicara sampai di sana, tubuhnya lantas berkelebat ke depan
dan tahu-tahu sudah berdiri di atas tanah dengan sepasang kaki
kecilnya yang tinggal tulang belulang itu.
Mendadak… seringan bulu manusia aneh itu berkelebat lewat
seperti segulung angin saja. Kemana dia berlalu, di situ tahu-tahu
badannya sudah lenyap.
Ternyata ilmu langkah yang didemonstrasikan itu mempunyai
suatu gerakan yang rahasia sekali. Pada hakekatnya tak akan
dipahami oleh manusia sembarangan.
Tanpa berkedip barang sekejappun Ku See-hong mengawasi
terus langkah kaki manusia aneh itu. Di antara langkah-langkah
62
kakinya yang kacau balau tersebut seolah-olah seperti mengandung
unsur Ngo-heng dan Pat-kwa, sungguh amat susah dipahami.
Gerakan tubuh itupun cepat seperti sambaran kilat yang
membuat kepala orang menjadi pusing sekali. Keindahan dan
kesaktiannya sukar ditemukan, tandingannya di dunia ini.
Tiba-tiba Ku See-hong mendengar suara dengusan napas
manusia aneh itu terengah-engah seperti kerbau. Jelas, untuk
melakukan ilmu langkah itu, dia sudah kehilangan banyak tenaga.
Tiba-tiba…. Manusia aneh itu kembali mendengus dingin….
Sekali lagi ia mempraktekkan ilmu langkah tubuh itu.
Betapa terharunya Ku See-hong setelah menyaksikan manusia
aneh tersebut dengan tanpa sayang mengorbankan tenaga yang
banyak, melakukan demostrasi sekali lagi. Buru-buru dia
memusatkan pikirannya untuk memperhatikan dengan seksama.
Dengan napas manusia aneh itu makin lama semakin memburu,
keringat sebesar kacang kedelai bercucuran dengan derasnya.
Suatu ketika orang itu menghela napas sedih dan berhenti bergerak,
tubuhnya segera jatuh terduduk di atas tanah.
Ku See-hong menjerit kaget, cepat ia menubruk ke depan sambil
memayang tubuhnya.
“Locianpwe…!” teriaknya cemas. “Locianpwe… kau… kau…
kenapa kau…?”
Waktu itu paras muka manusia aneh itu tersebut telah berubah
semakin pusat menyeramkan. Dadanya naik turun tak menentu,
napasnya terengah-engah dan payah sekali.
“Ku See-hong…” bisiknya dengan suara gemetar.
Hal 50-51
“Kau… apakah kau sudah memahami kesaktian dari ilmu Mi Khi
Bian Ciong ini? Titik berat
Hal. 50-51
63
Adalah mengetahui asal-usul manusia aneh itu serta dendam
kesumat yang terpendamdalamhatinya.
Tiba-tiba paras muka manusia aneh itu berubah menjadi
menyeringai seram, teriaknya:
“Ku See-hong, kau jangan memandang rendah diriku! Apa yang
telah kuucapkan masih bisa kuselesaikan sebagaimana mestinya,
dengan demikian aku baru bisa meninggalkan dunia ini dengan
mata meram. Ayo, cepat bombing aku naik ke atas.”
Ku See-hong menurut dan memayang manusia aneh itu naik ke
atas pembaringan, tapi pelbagai persoalan berkecamuk di dalam
benaknya. Dia merasa meski manusia aneh itu dingin tak
berperasaan, sesungguhnya dalam hati kecil orang itu tersimpan
suatu ketulusan hati dan kebajikan yang mulia. Dia mengingin
kalau dirinya bisa menegakkan keadilan bagi umat persilatan dan
melenyapkan semua kejahatan dari muka dunia.
Dalam dunia persilatan dewasa ini banyak sekali manusiamanusia
kerdil yang mencari nama untuk kepentingan pribadi,
banyak pula manusia munafik yang berlagak bajik padahal manusia
aneh ini sangat membenci segala bentuk kejahatan, apalagi sifatnya
memang suka membunuh, tak heran kalau banyak orang jahat yang
tewas di tangannya, tidak heran juga kalau sepanjang masa
hidupnya banyak mengalami penderitaan dan peristiwa tragis….
Sejak kecil Ku See-hong sudah kehilangan orang tuanya. Oleh
suatu pukulan batin yang keras, wataknya mengalami perubahan
yang sangat besar. Ditambah lagi belasan tahun hidup
bergelandangan dalam dunia persilatan, tak sedikit kejadian busuk
dan rendah yang pernah dialaminya. Tidak heran kalau ia sangat
mengalami keadaan dunia yang sesungguhnya.
Kobaran api dendam t iba-tiba membakar dalam rongga dadanya.
Tanpa disadari diapun menaruh pandangan yang sempit terhadap
umat persilatan di dunia ini. Ia bersumpah bila suatu hari berhasil
mempelajari ilmu silat yang maha sakti, diapun akan melakukan
pembunuhan secara besar-besaran dalamdunia persilatan.
64
Itulah sebabnya ketika dia masuk ke dalam kuil dan mengalami
pelbagai penderitaan dan siksaan, pemuda itu sama sekali tidak
mendendamkan kepada manusia aneh itu. Seakan-akan dia
beranggapan bahwa wajarlah bila manusia-manusia persilatan yang
berusaha memasuki kuil itu menemui ajalnya secara tragis.
Setelah mengatur napas sebentar, tiba-tiba manusia aneh itu
berkata lagi:
“Ku See-hong, kemungkinan besar lohu sudah tak sanggup untuk
bertahan lebih lama lagi. Aaai….”
Sesudah menghela napas, ia menghembuskan napas panjang
dan berkata:
“Seandainya kuajarkan dahulu jurus serangan itu kepadamu,
besar kemungkinan aku benar-benar tak sanggup untuk
mengisahkan cerita itu lagi kepadamu, padahal selama hidup apa
yang telah kuucapkan tak pernah dirubah lagi… tapi kali ini mau tak
mau terpaksa aku harus menuruti maksud hatimu. Akan
kuceritakan kisah cerita itu lebih dulu, kemudian baru memberi
latihan ilmu pukulan kepadamu sampai mati.”
“Maksud locianpwe itu memang tepat, sekarang silahkan kau
bercerita lebih dulu, boanpwe pasti akan mengingatnya terus di
dalam hati….”
Paras muka manusia aneh itu kembali berubah menjadi dingin
menyeramkan, katanya dengan nada seram:
“Ku See-hong, di kala lohu sedang mengisahkan ceritera nanti,
kau dilarang untuk menimbrung, mengerti?”
Mendengar perkataan itu, diam-diam Ku See-hong berpikir:
“Ia benar-benar sangat aneh, wataknya juga aneh sekali, apalagi
kalau dilihat sikapnya yang mudah berubah itu, bila seseorang yang
tidak terlalu memahami wataknya, pasti akan dibikin ketakutan
setengah mati. Dalam keadaan begini, mana mungkin dia berniat
untuk mendengarkan kisah ceritanya lagi?”
65
Berpikir sampai di situ, Ku See-hong lantas berkata:
“Locianpwe tak usah kuatir, boanpwe tak akan menimbrung
selama kau berceritera.”
Dalam waktu singkat pelbagai perubahan terjadi di atas wajah
manusia aneh itu. Akhirnya dengan wajah yang memedihkan dia
menceritakan kisah yang cukup menggetarkan sukma itu.
“Lima puluh tahun berselang, dalam dunia persilatan muncul
seorang manusia pintar yang tidak diketahui ident itas maupun asalusulnya.
Waktu itu usianya belum begitu besar, tapi ilmu silatnya
telah mencapai puncak kesempurnaan…. Dalam dunia persilatan
waktu itu tak seorangpun sanggup melawan kelihaiannya itu.
Waktu itu suasana dalamdunia persilatan amat kacau. Kau sesat
dan golongan hitam merajalela, manusia-manusia munafik pun
bermunculan di mana-mana.
Kebetulan pemuda itu adalah seorang manusia yang membenci
segala kejahatan. Ketika dilihatnya dunia persilatan sudah berada di
jalan menuju ke hari kiamat, maka timbullah suatu niat yang luar
biasa dalam hatinya untuk menyelamatkan dunia persilatan dari
kehancuran, menegakkan keadilan dan kebenaran serta melakukan
pembunuh yang tak kenal ampun terhadap kaumsesat dunia.
Dalam setengah tahun yang amat singkat inilah, secara beruntun
dia telah membunuh jago-jago lihay yang tak terhitung banyaknya
dalam dunia persilatan… meratakan tiga belas propinsi di utara dan
selatan sungai besar….
Tujuh puluh empat tempat sarang penyamun dibumi hanguskan
dengan tanah. Para jago liok-lim maupun kaum iblis menjadi
ketakutan dan melarikan diri terbirit-birit.
Waktu itu dia bercita-cita setinggi langit, apalagi sebagai seorang
anak muda yang berdarah panas, maka diapun memberi sebuah
julukan untuk dirinya sendiri, yakni Bun-ji Koan-su (Pendekar Sakt i
Berbudi Halus).
66
Orang bilang, semakin tinggi pohon itu semakin mudah
terhembus angin, semakin besar nama orang itu semakin gampang
didatangi bencana.
Apalagi Bun-ji Koan-su adalah seorang yang berwatak aneh dan
bertindak menuruti perasaan sendiri. Di kala membunuh orang,
cara yang digunakan amat keji dan tidak mengenal ampun.
Desutan serta adu domba dari pelbagai jago kaum sesat ini
menyebabkan suasana dalam dunia persilatan semakin bertambah
kalut. Maka pandangan orang persilatan terhadap Bun-ji koan-su
pun mulai berubah. Dia mulai dipandang sekejam ular berbisa dan
berhati busuk.
Bun-ji Koan-su sendiri sama sekali tak acuh terhadap pandangan
yang tak adil dari umat persilatan terhadap dirinya itu, pokoknya
semua iblis dan kaum sesat yang masih melakukan kejahatan,
dibunuhnya semua tanpa ampun.
Oleh sebab itulah, nama Bun-ji Koan-su makin lama semakin
jelek dan akhirnya dituduh orang sebagai gembong iblis yang
berhati kejam.
Sekalipun demikian, berhubung ilmu silat yang dimilikiya amat
lihay, hingga waktu itu tiada seorang manusiapun yang dapat
menandingi, maka semua orang hanya berani marah, tak berani
banyak berbicara, sekalipun berulang kali kaum sesat menggunakan
cara yang keji dan terkutuk untuk mengerubutinya, tapi dia masih
tetap membunuh tak kenal ampun. Maka ketika itu tak ada orang
yang berani mencari gara-gara dengannya, kalau tidak sudah pasti
pengeroyokannya mati semua terbunuh.
Tapi justru karena perbuatannya ini, dengan cepat memancing
kemarahan dari umat persilatan lainnya. Mereka segera menyebar
Bu-lim-tiap dan Liok-lim-ciam untuk mengerubutinya. Tapi yang
mengherankan justru ilmu silat yang dimiliki Bun-ji Koan-xu makin
lama semakin lihay, semua pengerubutan itu berhasil dikalahkan
sehingga tercerai-berai.
67
Pikiran semua orang mulai cemas, gelisah dan tak tenang.
Banyak di antaranya malah merasa tak nyenyak tidur, tak enak
makan.
Sementara itu para jago dari pelbagai partai besar pun menaruh
semacam perasaan curiga terhadap ilmu silat yang dimiliki Bun-ji
Koan-su.
Setelah melalui penyelidikan yang seksama, akhirnya baru
diketahui, rupanya Bun-ji Koan-su memiliki semacam ilmu khikang
yang aneh dan maha sakti.
Ilmu khikang tersebut bisa menimbulkan suatu perubahan Im-
Yang di dalam badannya sehingga semakin keras dia menerima
serangan, semakin hebat pula kemajuan yang berhasil dicapai
dalam tenaga dalamnya. Karena itu, kemajuan yang berhasil
dicapai Bun-ji Koan-su boleh dibilang melebihi orang lain dan sangat
mengerikan sekali.
Ku See-hong yang mendengarkan kisah itu menjadi amat tertarik
sekali. Dia tahu, yang dinamakan Bun-ji Koan-su tersebut sudah
pasti adalah manusia aneh di hadapannya ini… tapi diapun
membenci kepada umat persilatan. Dia merasa orang-orang itu
mempunyai pandangan yang tidak adil terhadap manusia aneh ini.
Ketika Ku See-hong mendengar bahwa Bun-ji Koan-su memiliki
sejenis ilmu khikang yang maha sakti, hatinya segera bergetar
keras.
Manusia aneh itu telah berkata kepadanya bahwa dia telah
mempelajari pula ilmu khikang Kan-kun Mi-siu tersebut, itu berarti
setiap kali badannya terhajar oleh pukulan orang, tenaga dalamnya
akan semakin cepat mengalami kemajuan. Mungkinkah pada suatu
ketika dia akan berhasil mencapai tingkatan yang amat dahsyat
seperti apa yang dimiliki Bun-ji Koan-su tempo dulu?
Berpikir sampai di situ, kejut dan girang segera berkecamuk
dalam hatinya, dia tak menyangka kalau ilmu sakti semacam itu
berhasil dimilikinya.
68
Setelah mengatur napas sekian lama, dengan wajah dingin
membesi, orang aneh itu melanjutkan kembali kisahnya.
“Orang persilatan tahu bahwa ilmu khikang yang dilatih oleh Bunji
Koan-su tersebut adalah semacam ilmu khikang maha dahsyat
yang diciptakan oleh seorang manusia pintar pada jaman Cun Ciu
Cian Kok dulu. Orang itu tak lain adalah perdana menteri Negeri Go
yang bernama Ngo Cu Siau.
Oleh tokoh yang amat pintar ini, kepandaian tersebut kemudian
ditulis dalam sejilid kitab pusaka yang disebut Cang Ciong pit-kip.
Dari sini semua orang pun lantas tahu kalau Bun-ji Koan-su telah
berhasil mendapatkan kitab Ciang Ciong pit-kip yang digilai setiap
umat persilatan itu. Maka dunia persilatan pun kembali mengalami
suatu persoalan yang amat hebat.
Akibatnya bukan saja niat kawanan jago itu untuk membunuh
Bun-ji Koan-su semakin besar, setiap orang pun bernafsu sekali
untuk merampas kitab pusaka Cang Ciong pit-kip itu, terutama dari
pihak kaum sesat dan golongan hitam. Dengan pelbagai tipu
muslihat mereka berusaha untuk melenyapkan duri dalam mata ini.
Ketika Bun-ji Koan-su mengetahui bahwa umat persilatan adalah
manusia-manusia rakus yang tidak mengenal malu, hatinya menjadi
amat sedih sekali. Hasratnya untuk menegakkan keadilan dan
kebenaran dalamdunia persilatan pun menjadi hilang lenyap.
Setelah dikejar dan didesak terus menerus oleh kawanan jago
persilatan, terpaksa dia mengambil keputusan untuk hidup
mengasingkan diri dan tidak melakukan perjalanan lagi dalam dunia
persilatan.
Tentu saja, ia tidak takut terhadap kejaran dan desakan oleh
orang-orang persilatan, dia hanya tak ingin melakukan pembunuhan
yang lebih banyak lagi terhadap umat persilatan. Jadi sebenarnya
hal ini t imbul dari niatnya yang baik.
Tapi justru karena perasaan yang mulia inilah membuat dia
sendiri justru mengalami nasib yang tragis.
69
Ketika berbicara sampai di situ, beberapa titik air mata segera
jatuh bercucuran membasahi wajahnya. Ini menunjukkan betapa
sedih dan emosinya dia.
Ku See-hong menjadi tertegun dan tak habis mengerti, dia tidak
paham mengapa kemuliaan hati manusia aneh tersebut bisa
berakibat timbulnya tragedi tersebut? Sebenarnya apa yang dia
maksudkan?
Dengan wajah yang semakin menyeramkan manusia aneh itu
berkata lebih lanjut:
“Sejak waktu itu, Bun-ji Koan-su mulai berpesiar ke tempattempat
yang indah untuk menghibur hatinya, tapi musuh besarnya
tersebar di mana-mana. Kemanapun dia pergi di sana pasti muncul
kawanan jago yang berusaha membalas dendam kepadanya. Tapi
dengan hati yang penuh welas asih dia hanya menghindar dan
berusaha tidak ribut dengan mereka, apalagi menerbitkan
pembunuhan lagi. Dengan wataknya yang keras, sesungguhnya
amat sulit baginya untuk melakukan tindakan yang lemah tersebut.
Suatu hari, ketika ia sedang berpesiar ke propinsi Szechwan, tibatiba
dijumpainya ada dua orang pemuda yang sedang terluka parah
dan hampir mati tergeletak di pinggir jalan. Menyaksikan keadaan
dari kedua orang pemuda itu cukup mengenaskan, Bun-ji Koan-su
lantas berusaha keras untuk menyelamatkan jiwa kedua orang itu
dengan menggunakan tenaga dalamnya.
Ketika kemudian mereka tahu bahwa penolongnya adalah Bun-ji
Koan-su yang amat tersohor itu, mereka berdua pun segera
merengek dan memohon kepadanya agar menerima mereka sebagai
muridnya.
oooOOOooo
Bab 4
TAHUN itu, meskipun Bun-ji Koan-su berusia tigapuluh tahunan,
tapi sudah bosan hidup dalam dunia persilatan. Dia memang ingin
70
sekali mencari orang yang berbakat baik untuk diwarisi segenap
ilmu silat yang dimilikinya.
Ketika ia sudah mengetahui asal-usul kedua orang itu, bahkan
mengetahui kalau mereka berbakat baik, maka Bun-ji Koan-su
memutuskan untuk menerima mereka berdua sebagai muridnya dan
mewariskan pelbagai ilmu sakti kepada mereka.
Tapi berhubung Bun-ji Koan-su tidak memiliki tempat tinggal
yang tetap, dan lagi suka berpesiar ke tempat yang
berpemandangan indah, maka dia pun selalu membawa serta kedua
orang muridnya ini kemana pun dia pergi. Setiap ada kesempatan
dia pun memberi petunjuk ilmu silat kepada kedua orang pemuda
itu.
-oo0dw0oo-
Jilid 03
DENGAN kecerdasan yang dimiliki kedua orang pemuda itu,
sekalipun harus mempelajari ilmu silat yang amat sulit, ternyata asal
diberi petunjuk mereka segera mengerti. Apalagi sikap mereka
terhadap Bun-ji Koan-su pun sopan dan menurut sekali, tak heran
kalau Bun-ji-koan-su tak sayang untuk mewariskan segenap ilmu
silat yang dimilikinya itu kepada mereka.
Malahan dia pun berhasrat untuk mewariskan juga ilmu khikang
yang sakti dan tiada taranya itu kepada mereka berdua.”
Ketika berbicara sampai di sini, manusia aneh itu menggertak
giginya kencang sehingga berbunyi gemerutukan, sekujur badannya
gemetar keras, dari balik mata tunggalnya terpancar keluar sinar
tajam yang mengerikan. Jelas kalau perasaannya waktu itu diliput i
oleh rasa gusar dan dendamyang hebat.
Ku See-hong bukan orang bodoh, ketika menyaksikan sikap
seram dari manusia aneh itu, kemudian dicocokkan pula dengan
kejadian yang pernah dialaminya sewaktu hendak memanggil suhu
kepadanya tadi, dengan cepat ia dapat mengambil kesimpulan
71
bahwa kedua orang pemuda ini pasti sudah melakukan
pengkhianatan sehingga berakibat fatal bagi gurunya itu.
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa Ku See-hong bertanya,
“Locianpwe, apakah Bun-ji koan-su telah mewariskan ilmu khikang
tersebut kepada mereka? Siapakah nama kedua orang itu?”
Sampai sekarang Ku See hong masih berlagak seolah-olah tidak
tahu kalau manusia aneh itu adalah Bun-ji koan-su pribadi. Dia
menanyakan nama pemuda itu karena dia telah berhasrat untuk
membalaskan dendam bagi Bun-ji koan-su di kemudian hari.
Manusia aneh itu sangat dipengaruhi oleh emosi dalam hatinya,
dia lupa kalau tadi pernah memerintahkan kepada Ku See-hong
untuk tidak menimbrung, jawabnya dengan sinis:
“Huuuh, kawanan kurcaci macam dia juga pingin mengincar ilmu
sakti, kalau bukan rejekinya…”
Mendadak paras muka manusia aneh itu berubah hebat,
bentaknya keras-keras:
“Ku See-hong, lohu melarang kau banyak bertanya, mengapa kau
berani menimbrung?”
Diam-diam Ku See-hong merasa kegelian, karena tidak sadar dia
telah bertanya, sedang manusia aneh itupun sudah memberi
separuh jawaban kepadanya, mungkin seandainya jawaban itu
sudah diberikan secara komplit dia benar-benar akan marah besar.
Berpikir demikian, buru-buru anak muda itu berseru:
“Oooh… maaf. Maaf locianpwe, lain kali boanpwe pasti tak akan
menimbrung jalan ceritamu lagi.”
Sudah barang tentu manusia aneh itupun dapat memahami
maksud ucapan dari Ku See-hong tadi, tapi dasar wataknya
memang aneh maka jawaban yang diberikan setengah jalan itupun
sengaja dia lakukan demikian, sekalipun di dalam hati kecilnya dia
sendiripun merasa kegelian.
72
Yaa, kalau diri manusia berwatak aneh telah saling berjumpa,
meski di dalam hati kedua belah pihak mengakui lawannya sebagai
guru dan murid, namun di luaran mereka bersikap sebaliknya
memang begitulah keanehan yang sering terjadi di dunia ini.
Selang beberapa saat kemudian, dengan wajah dingin manusia
aneh itu melanjutkan kembali kata-katanya:
“Boan-ji koan-su dengan membawa kedua orang muridnya
melanjutkan pesiarnya kemana-mana dan melewati kehidupan
seperti dewa.
Suatu hari, di kala Bun ji koan su membawa kedua orang
muridnya berpesiar ke selat Sam shia di bukit Wu-san, tiba-tiba
terjadi suatu musibah yang merupakan suatu peristiwa yang paling
menyakitkan hati Bun ji koan su sepanjang hidupnya.
Rupanya ketika tiba di selat Sam shia di bukit Wu-san, secara
tiba-tiba Bun ji koan su telah berjumpa dengan seorang tokoh sakt i
yang berilmu t inggi dan bernama besar dalam dunia persilatan, Thi
kiam kim ciang Ceng Ih lwe (pedang baja pikulan emas yang
menggetarkan jagad) dengan membawa sekawanan jago lihay
mengadakan penghadangan dirinya.
Bun-ji koan-su sudah amat jemu sekali terhadap segala bentuk
pembunuhan yang terjadi dalam dunia persilatan, maka terhadap
kawanan jago lihay yang dipimpin oleh Thi kiam kim ciang ceng ih
lwe tersebut, dengan rendah hati dia memohon kepada lawannya
agar jangan mengobarkan pertarungan yang bisa berakibat
banyaknya korban yang akan berjatuhan.
Tapi Thi kiam kim ciang Ceng Ih Iwe mendesak terus menerus
bahkan mengejek dan menghina Bun-ji koan-su.
Sesabar-sabarnya Bun-ji koan-su, dia tetap adalah seorang
manusia, bagaimana mungkin dia sabar terhadap ejekan dan
cemoohan dari lawannya itu? Maka dengan hawa nafsu membunuh
yang berkobar, Bun-ji koan-su membuka serangannya. Suatu
pertempuran sengit yang t iada taranya pun dengan cepat berkobar
di sana.
73
Dalam pertempuran itu, hampir saja selembar nyawa Bun-ji
koan-su lenyap di ujung tangan Thi kiam kim ciang Ceng Ih Iwe
tersebut.”
Ku See hong yang mendengar ceritera itu diam-diam merasa
amat terkesiap, tanpa terasa ia bertanya lagi dengan cemas:
“Locianpwe, ilmu silat yang dimiliki Bun-ji koan-su begitu lihay,
mengapa ia bisa menderita kerugian?”
Manusia aneh itu kembali mendengus dingin, dia tidak menjawab
pertanyaan dari Ku See hong, melainkan melanjutkan kembali
ceriteranya itu.
“Ternyata menghadapi semua jurus serangan yang dilancarkan
Bun ji koan su tersebut, seolah-olah Thi kiam kim ciang ciang ih-lwe
sudah mempunyai perhitungan yang matang. Setiap kali
menghadapi serangan yang gencar dan dahsyat, dia selalu bisa
menghindarkan diri secara gampang dan sederhana, malah jurus
serangan balasan yang digunakan semuanya merupakan jurus-jurus
tandingan untuk mematahkan ancaman Bun-ji koan-su.
“Menghadapi keadaan seperti ini, Bun-ji koan-su benar-benar
merasa terkejut bercampur heran, padahal semua jurus serangan
yang digunakan berasal dari sejilid kitab pusaka ilmu silat yang
bernama Cang-ciong-pit-kip. Sekalipun ilmu silat Thi kiam kim ciang
Ciang Ih huang sedemikian dahsyatnya, juga tak akan sedahsyat
itu. Maka timbul suatu perasaan curiga dalamhatinya.
Selama ini, kepandaian silat yang dimilikinya hanya pernah
diwariskan kepada dua orang murid kesayangannya, setengah jurus
pun belum pernah dibocorkan ke dalam dunia persilatan, atau
mungkin ada persoalan dengan kedua orang murid kesayangannya
itu?
Bun-ji koan-su segera memanggil kedua orang muridnya dan
mendesak kepada mereka untuk mengaku, apakah mereka telah
membocorkan rahasia ilmu silat yang dimilikinya?
74
“Siapa yang pernah berbuat salah harusnya tentu gelisah, siapa
yang berkentut mukanya tentu merah.
Siapa tahu setelah dipaksa dan didesak terus-menerus, akhirnya
mereka mengaku juga. Ternyata kedua orang murid kesayangannya
itu, bukan lain adalah murid kesayangan dari Thi kiam kim ciang
Ceng Ih huang. Mereka adalah dua orang manusia paling berbakat
yang pernah ditemui dalam dunia persilatan waktu itu. Agaknya
mereka memang sengaja diutus untuk mencuri belajar ilmu silat
yang dimilikinya agar bisa membasmi Bun-ji koan-su di suatu ketika
dan merampas kitab pusaka Cang-ciong-pit-kip miliknya.
Sungguh tak terlukiskan rasa sedih dan kesal yang dialami Bun-ji
koan-su waktu itu. Diapun menjadi begitu mendendam kepada
seluruh umat persilatan yang berada di dunia ini karena kelicikan
dan kebusukan hati mereka yang telah mempergunakan cara keji,
rendah dan terkutuk semacam itu untuk menghadapinya.
Di dalam marahnya, dia segera mengeluarkan seluruh
kepandaian silat maha sakti yang dimilikinya untuk melakukan
pembunuhan serta pembantaian secara besar-besaran.
Siapa tahu pada saat itulah kedua orang murid pengkhianat itu
juga ikut terjun ke arena pertempuran, bahkan bersama kawanan
jago silat yang lain mereka bersama-sama mengerubuti Bun-ji koansu
seorang.
Agaknya sebelum masuk menjadi anggota perguruan Bun-ji
koan-su, kedua orang murid pengkhianat itu sudah merupakan jago
muda yang kenamaan di dalam dunia persilatan. Ilmu silat yang
mereka miliki boleh dibilang termasuk kelas satu dalam dunia
persilatan. Yang seorang bernama Thi bok sia kiam (pedang sakt i
kayu baja) Cu Pok, sedangkan yang lain bernama Jian bun kiam
ciang (telapak tangan emas pembabat nyawa) Tu Pok-kim….”
Setelah mendengar kedua nama tersebut, Ku See-hong
mengingatnya dalam-dalam di hati. Dia sudah bertekad akan
mencari kedua orang pengkhianat tersebut, untuk di kemudian hari
membuat pembalasan.
75
Ketika menyebutkan nama dari kedua orang murid pengkhianat
tersebut, orang aneh itu juga turut berhenti sebentar, sinar mata
tunggalnya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi wajah Ku See
hong tak berkedip, tapi dengan cepat hatinya menjadi sangat lega.
Lanjutnya kemudian lebih jauh:
“Ilmu silat mereka berdua sesungguhnya sudah amat lihay,
apalagi dalam setahun belakangan ini mendapat petunjuk yang
seksama dari Bun-ji koan-su, hal mana membuat ilmu silatnya
mendapat kemajuan yang sedemikian pesatnya sehingga sama
sekali tidak berada di bawah kepandaian Thi kiam kim ciang Ceng
Ih-huang yang memang lihay itu.
Oleh sebab itu, di bawah kerubutan dari beberapa orang jago
tangguh yang luar biasa lihaynya itu, Bun-ji koan-su merasakan
tekanan-tekanan yang sangat berat sehingga merasa kepayahan
sekali.
Pertempuran itu boleh dibilang merupakan pertempuran sengit
pertama yang pernah dialami Bun-ji koan-su sepanjang hidupnya.
Meski begitu ilmu silat yang dimiliki Bun-ji koan-su memang benarbenar
telah mencapai puncak kesempurnaan yang tak terkirakan.
Kedua belah pihak telah melibatkan diri dalampertarungan sengit
selama sehari semalam lamanya, sedemikian sengitnya pertarungan
tersebut seakan-akan bumi ikut berguncang dan langit ikut berobak,
kehebatan serta kesengitannya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Akhirnya dalam pertarungan itu Bun-ji koan-su berhasil
membantai tiga puluhan orang jago lihay termasuk juga Thi-kiam
kim-ciang Ceng Ih-huang sendiripun tak berhasil meloloskan diri dari
bencana. Dia tewas di ujung telapak tangannya Bun-ji koan-su, juga
pertempuran sengit yang menggetarkan sukmapun sudah
mendekati pada akhir.
Thi-bok sin-kiam Cu Pok dan Jian-hun kim-ciang Tu Pok kim
rupanya telah menyadari bahwa keadaan yang menguntungkan bagi
mereka sudah lewat. Kedua-duanya segera berlutut di hadapan
Bun-ji koan-su dan menggunakan selembar bibirnya yang pandai,
76
berusaha meminta pengampunan. Mereka mengatakan telah
dipaksa oleh orang persilatan untuk melakukan perbuatan
mengkhianati perguruan yang amat terkutuk itu dan merasa amat
menyesal dan bertobat bahkan kata mereka bersedia untuk
menebus dosa dan kesalahan yang telah mereka lakukan.
Menurut kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan, orang
bilang Bun-ji koan-su bermuka dingin berhati kaku, kejam dan sama
sekali tak berperasaan…
Tapi bagaimanapun keji dan tak berperasaannya dia, bagaimana
mungkin tega untuk membunuh dengan tangan sendiri terhadap
murid-murid didikannya? Waktu itu perasaannya benar-benar amat
sedih, tersiksa dan sangat menderita.
Setiap kali Bun-ji koan-su mengerahkan tenaga dalamnya untuk
bersiap-siap membinasakan kedua orang pengkhianat tersebut,
hatinya selalu menjadi lemah kembali dan merasa tak tega.
Sementara kedua orang pengkhianat itupun sudah menangis
tersedu-sedu dengan amat sedihnya, membuat siapa saja yang
melihat hal itu turut menjadi iba dan muncul perasaan kasihan.
Maka hati Bun-ji Koan-su pun menjadi lunak kembali. Dia hanya
mendamprat serta menasihati kedua orang pengkhianat tersebut
kemudian mengusirnya dari perguruan.
Waktu itu dia pun bersumpah kepada langit, sepanjang hidup
tidak akan menerima murid lagi. Diapun mempunyai suatu harapan
dan keinginan.
Dia hendak mewariskan ketiga macam ilmu rahasia maha
saktinya kepada seorang manusia yang berbakat, tapi dia tak akan
menerima budi pembalasan dan orang itu. Diapun tak akan
mengakui dirinya sebagai guru orang itu. Itulah sebabnya pelbagai
peraturan yang aneh dan hampir tidak mendekati perikemanusiaan
telah bermunculan, sesungguhnya hal tersebut merupakan akibat
dari kesedihan Bun-ji koan-su sejak menerima dua orang murid
yang akhirnya berkhianat.
77
Ketika berbicara sampai di situ dari balik sinar mata tunggal
manusia aneh itu segera terpancar keluar rasa sedih dan
permintaan maaf, diawasi Ku See-hong lekat-lekat.
Sementara Ku See-hong sendiripun sedang berpikir: Oooh…
rupanya karena alasan inilah maka dia enggan disebut sebagai suhu
olehku.
Setelah berhenti sebentar manusia aneh itu kembali melanjutkan
kata-katanya:
“Setelah Bun-ji Koan-su membunuh Thi-kiam-kim-ciang-ceng Ihhuang,
lalu dengan sadar welas kasih melepaskan kedua orang
murid pengkhianat pergi. Tindakan ini boleh dibilang merupakan
suatu tindak kesalahan yang paling besar. Tapi karena kesalahan
tersebut akhirnya ia harus menanggung akibatnya sampai detik
terakhir dari kehidupannya.
Waktu itu perasaan Bun-ji Koan-su benar-benar putus asa,
kecewa dan tidak bersemangat lagi. Kendatipun dia masih berpesiar
ke seantero jagad, namun sudah tiada kegembiraan lagi untuk
menikmati keindahan alam sekitarnya.
oooOOOooo
SEJAK Bun-ji Koan-su terjun ke dalam dunia persilatan, waktu itu
ada seorang pendekar perempuan yang cantik dan romantis selalu
mengejar dirinya walau sampai di ujung langit pun untuk
menyatakan perasaan cinta kasihnya.
Pendekar perempuan itu bukan saja memiliki wajah yang cantik,
lagipula berhati suci bersih dan cerdik sekali.
Tapi dasar wataknya memang aneh, ternyata Bun-ji Koan-su
sama sekali tidak menanggapi luapan cinta kasih dari pendekar
perempuan itu, malahan dengan kata-kata yang tajam dan pedas ia
telah menyakiti perasaan gadis itu.
78
Ketika gadis itu melihat kekasihnya berhati dingin, tak
berperasaan bahkan menyakit i hatinya dengan kata-kata tajam dan
pedas, tahulah dia bahwa semua cinta kasih yang diperlihatkannya
selama ini tidak memperoleh tanggapan sebagaimana mestinya.
Ketika itu dia menjadi sedih dan putus asa… dari cinta ia menjadi
benci dan menggunakan pedangnya siap untuk membunuh orang
yang dicintainya itu.
Suatu pertempuran sengitpun segera berkobar antara Bun-ji
Koan-su melawan pendekar perempuan itu. Kalau dibicarakan
sesungguhnya kejadian ini memang aneh dan sukar dipercaya.
Ternyata ilmu silat yang dimiliki gadis itu sedemikian lihay dan
saktinya sehingga boleh dibilang sama sekali tidak selisih jauh bila
dibandingkan dengan Bun-ji Koan-su sendiri.
Kenyataan ini tentu saja membuat Bun-ji Koan-su menjadi kaget,
tercengang dan keheranan, mimpi pun dia tak menyangka kalau
gadis tersebut memiliki kepandaian yang sebegitu lihaynya. Lambat
laun dia mulai menyadari bahwa di atas langit sebetulnya masih ada
langit, di atas manusia masih terdapat manusia lain.
Pertempuran sengit antara gadis itu melawan Bun-ji Koan-su
berlangsung hampir seratus jurus lebih, boleh dibilang gadis itu
merupaakan seorang musuh yang paling tangguh di dalam
hidupnya.
Setelah bertarung hingga seribu dua ratus enam puluh jurus
kemudian, akhirnya Bun-ji Koan-su dengan mempergunakan satu
jurus serangan yang paling lihay dan rahasia secara menyerempet
bahaya, berhasil menggetar putus pedang si nona dengan sentilan
jarinya. Kemudian dengan tak berperasaan sedikitpun juga dia
berkata:
“Meski bunga yang berguguran yang air yang mengalir tak
berperasaan, jika kau masih saja mengejar diriku terus menerus…
aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu. Pedang ini
merupakan sebuah contoh yang paling baik untukmu.”
79
Sungguh tak terlukiskan rasa sedih dan hancurnya perasaan
gadis itu, setelah mendengar ucapan keji yang tidak berperasaan
dari orang yang dicintainya itu, dia malah sama sekali tidak
menangis, setitik air mata pun tidak meleleh keluar, tapi aku tahu
betapa sedih dan terluka hatinya oleh ucapan tersebut.
IA segera memungut kutungan pedangnya dari atas tanah,
kemudian dengan wajah memancarkan rasa dendam dan benci,
katanya sambil menggigit bibirnya kencang-kencang:
‘Bun-ji koan-su, aku Seng-sim cian-li Hoa Soat-kun benar-benar
mencintaimu dengan setulus hati, tak nyana kalau hatimu sekeji dan
tidak berperasaan seperti ini. Tunggu sajalah, lima puluh tahun
kemudian aku pasti akan menciptakan semacam ilmu pukulan yang
tiada taranya di dunia ini yakni Hay-jin-ciang untuk membunuh
dirimu di ujung telapak tanganku….’
Ketika itu, Bun-ji koan-su segera mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak, sahutnya dengan sinis:
‘Baik, haaahh… haaahh… haaahh… Seng-sim cian-li Hoa Soatkun,
aku pasti akan menunggu kedatanganmu pada lima puluh
tahun kemudian, pasti akan kuberi kesempatan kepadamu untuk
membuktikan apakah ilmu pukulan Hay-jin-ciang ciptaanmu itu
sanggup merobohkan aku.’
Setelah mendengar perkataan itu sekujur badan Seng-sim cian-li
Hoa Soat-kun gemetar keras. Setelah membuang sebagian dari
potongan pedangnya, dengan membawa perasaan yang sedih dan
hati yang hancur luluh, dia berlalu dari sana. Sejak itu pula dalam
dunia persilatan telah kehilangan kabar berita tentang dirinya….”
Berbicara sampai di situ, beberapa titik air mata tampak jatuh
berlinang dari mata tunggal manusia aneh itu. Wajahnya
menunjukkan perasaan menyesal yang tak terkirakan. Ku See-hong
kembali berpikir di dalam hatinya:
“Aaai… berbicara yang sesungguhnya dia memang t idak patut
melakukan tindakan begitu keji dan tidak berperasaan kepada calon
guruku yang kedua itu, yaaa… kalau dilihat dari keadaannya,
80
mungkin bukan suatu pekerjaan yang gampang bagiku untuk
memohon pelajaran Hay-jin-ciang tersebut darinya.”
Dalam pada itu, kesehatan dan kondisi badan manusia aneh itu
kian lama kian bertambah jelek, diapun rupanya juga sadar kalau
waktu hidup baginya di dunia ini sudah tidak terlalu banyak lagi.
Buru-buru perhatiannya dipusatkan kembali menjadi satu, kemudian
melanjutkan:
“Pada waktu itu Bun-ji koan-su cuma tertawa belaka, sambil
membawa kutungan pedang yang lain dia melanjutkan kembali
perjalanannya seorang diri untuk berpesiar di pelbagai tempat
kenamaan di dunia ini. Hampir dua puluh tahunan dia berpesiar
dengan aman dan tenteram tanpa terjadi suatu kejadian apapun.
Suatu tahun, ketika musim gugur telah tiba, yaitu pada dua puluh
tahunan berselang, meski Bun-ji koan-su telah berusia limapuluh
tahunan, akan tetapi berhubung ia memiliki kepandaian untuk
merawat muka, maka kelihatannya dia masih seperti seorang
sastrawan yang berusia tiga puluh tahunan. Hari itu Bun-ji koan-su
sedang berpesiar di suatu tempat yang sangat indah. Karena jauh
dari penginapan, ketika malam telah menjelang tiba, sedangkan
waktu itu pemandangan alam sangat indah, dia telah lupa untuk
beristirahat, melainkan melanjutkan perjalanannya terus.
Berada di suatu tempat yang beralam begini indah, ternyata Bunji
koan-su telah lupa akan waktu yang makin larut malam….
Pada saat itulah mendadak dari kejauhan sana berkumandang
suara dentingan harpa yang merdu merayu menggema di udara dan
masuk ke dalam pendengaran Bun-ji koan-su.
Mendengar suara dentingan harpa itu, timbul perasaan ingin tahu
dalam hati Bun-ji koan-su. Dia ingin tahu siapa gerangan orang
yang bermain harpa di saat senja di tempat semacam itu.
Akhirnya di bawah sebatang pohon, ia menyaksikan ada seorang
gadis berbaju putih bersih bagaikan salju sedang memetik harpa
dengan jari jemarinya yang halus dan ramping.
81
Gadis itu mengenakan baju tipis berwarna puth yang berkibarkibar
ketika terhembus angin malam. Rambutnya yang panjang
terurai sepundak berombak-ombak mengikuti hembusan angin.
Kecantikannya ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan.
Pelan-pelan Bun-ji-koan-su berjalan maju ke depan. Aaaai…!
Hampir saja dia menjerit kaget begitu melihat wajah si nona.
Perasaan hatinya yang sudah tenang selama limapuluh tahunan
lebih itu segera mengalami goncangan yang amat keras. Hampir
saja dia tak mampu untuk menguasai diri.
Apa yang menyebabkan dirinya menjadi begitu?
Kecantikannya…? Yaaa, kecantikan dari gadis itu telah membuatnya
menjadi terpesona dan hampir saja kehilangan sukma.
‘Enghiong memang sukar untuk melewati pelukan gadis’, orang
kuno sering berkata demikian.
Ternyata gadis itu memang cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan. Ia memiliki mata jeli, hidung yang mancung serta bibir
yang kecil mungil, kulit badannya putih bersih bagaikan salju, mana
halus putih lembut lagi. Boleh dibilang hampir semua keindahan
yang dimiliki seorang gadis cantik dimiliki pula oleh gadis tersebut,
pokoknya kecantikan wajah gadis ini sukar dilukiskan dengan katakata.
Padahal Bun-ji-koan-su bukan seorang lelaki yang gampang
tertarik oleh kecantikan seorang gadis, apalagi dia memiliki tenaga
dalam yang sempurna, tapi kenyataannya dia dibuat seperti orang
yang kehilangan sukma, hampir saja dia tak mampu untuk
menguasai diri.
Tiba-tiba gadis itu mendongakkan kepalanya, lalu dengan
sepasang matanya yang jeli melirik sekejap ke arah Bun-ji-koan-su.
Setelah tersenyum manis, dengan wajah tersipu-sipu dia
menundukkan kembali kepalanya dengan cepat.
Senyuman tersebut sungguh membuat Bun-ji koan-su merasa
sukma dan semangatnya bagaikan terbang bersama meninggalkan
raganya. Ternyata senyuman gadis itu jauh berbeda dengan
82
senyuman gadis biasa, baik matanya, alis matanya, bibirnya
maupun sepasang lesung pipinya telah menciptakan suatu
perpaduan yang amat sempurna, bahkan dari setiap bagian terkecil
dari tubuhnya pun seakan-akan memiliki daya pikat yang amat
besar.
Bagaikan beribu-ribu kuntum bunga indah yang mekar bersama,
terciptalah suatu keindahan serta daya tarik yang tak terlukiskan
dengan kata-kata. Kecantikan gadis itu pokoknya tak terlukiskan
dengan kata-kata.
Bun-ji koan-su sebenarnya adalah seorang seorang lelaki berhati
keras yang tangguh dan tahan uji, akan tetapi pada waktu itu telah
berubah menjadi seekor domba yang amat jinak dan penurut.
Dengan langkah yang pelan dan hati-hati ia berjingkat-jingkat
mendekati gadis tersebut, seakan-akan kuatir kalau sampai
mengejutkan hatinya.
Setelah tiba di sisi sang nona, dia baru menegur dengan suara
lembut:
“Nona benar-benar seorang seniman yang amat menawan hati.
Bermain harpa di tempat berpemandangan alam semacam ini
sungguh menunjukkan betapa mengertinya nona akan seni. Bila
aku, Bun-ji koan-su, telah datang mengganggu ketenanganmu,
harap nona sudi untuk memaafkan.”
Gadis berbaju put ih yang cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan itu pelan-pelan mendongakkan kepalanya, sambil
memutar sepasang biji matanya, dia berkata:
“Mengapa siangkong harus berkata demikian? Kalau kulihat
perbuatanmu yang berpesiar di waktu senja semacam ini, engkaulah
seorang seniman sejati, bisa berkenalan dengan seorang seniman
macam siangkong, hal ini sungguh merupakan….”
Mimpipun Bun-ji koan-su tidak menyangka kalau dia akan
berhasil merebut perhatian si nona cantik itu sedemikian cepatnya.
Maka, Bun-ji koan-su benar-benar terpikat oleh kecantikan wajah
gadis tersebut. Ia mulai memperbincangkan pelbagai persoalan dari
83
ujung langit utara sampai selatan, barat sampai timur tanpa ada
hentinya…
Si nona itu sendiri tampaknya juga jatuh hati kepadanya dalam
pandangan yang pertama, dengan senyuman yang tersipu dan
lirikan mata yang jeli ia menanggapi pembicaraan tersebut, bahkan
tanpa terasa semalam suntuk mereka bergadang di sana.”
Ketika bercerita sampai di sana, manusia aneh itu segera
memperlihatkan mimik wajah yang sukar dilukiskan dengan katakata,
dia seperti girang seperti juga merasa benci, tapi seperti juga
merasa menyesal akan perbuatannya di masa lalu sehingga harus
mengalami nasib yang tragis seperti apa yang dialaminya sekarang.
Ku See-hong sendiri diam-diam juga berpikir:
“Rupanya dia benar-benar sudah terpikat oleh kecantikan
wajahnya, mungkin siluman perempuan itupun orang yang diutus
oleh orang persilatan untuk mencelakai dirinya. Tapi anehnya, gadis
itu sedemikian cantiknya, lagi pula tiada dendam sakit hati dengan
Bun-ji koan-su, mengapa pula ia harus mencelakai dirinya? Mungkin
di balik kesemuanya itu masih terkandung rahasia besar lainnya.”
Manusia aneh itu menghela napas sedih, setelah termenung
sebentar, ia berkata lebih jauh:
“Walaupun Bun-ji koan-su telah berusia limapuluh tahun, tapi
setelah mengadakan hubungan batin hampir selama sebulan
lamanya dengan gadis itu, akhirnya merekapun menikah menjadi
suami istri dan hidup berbahagia.
Gadis itu bernama Ceng Lan-hiang….
Dia berkata kepada Bun-ji koan-su bahwa dirinya tak pandai
bersilat. Bun-ji koan-su benar-benar telah menunjukkan cinta
kasihnya yang paling suci dan murni kepada gadis itu, tentu saja dia
tak akan mencurigai apa yang dia katakan itu, apalagi di dalam
gerak-geriknya Ceng Lan-hiang menunjukkan sikap yang amat
lemah dan seperti patut dikasihani, hal mana semakin membuat dia
84
tak pernah melayangkan pikirannya untuk memikirkan hal-hal
lainnya.
Dalam setahun kehidupan mereka, Ceng Lan-hiang menunjukkan
sikap yang paling lembut dan halus terhadap Bun-ji koan-su, diapun
sangat setia dan pandai melayani suami. Cinta mereka berdua
ibaratnya lem perekat yang saling melekat, seakan-akan tiada
sesuatu kekuatanpun di dunia ini yang bisa memisahkan mereka
berdua.
Di dalam waktu setahun yang teramat singkat itu, Bun-ji koan-su
merasa bagaikan hidup di sorga. Ceng Lan-hiang pun telah
berbadan dua. Beberapa bulan kemudian malah melahirkan seorang
putrid yang cantik baginya.”
Ketika berbicara sampai di situ, manusia aneh itu kembali
berhenti sebentar, dari balik mata tulangnya tampak air bercampur
darah jatuh bercucuran membasahi pipinya, waktu itu perasaannya
benar-benar amat sedih dan terluka, apalagi bila teringat kembali
dengan putrinya yang tercinta, dia lebih-lebih merasa hatinya
hancur dan tertekan sekali.
Ketika Ku See-hong mendengar sampai di situ, apalagi setelah
menyaksikan mimik wajah manusia aneh tersebut, dia tahu nasib
tragis yang menimpa Bun-ji koan-su segera akan menjelang t iba.
Dengan perasaan sedih dan hancur, manusia aneh itu termenung
beberapa saat lamanya, kemudian melanjutkan kembali katakatanya:
“Orang bilang, kehidupan yang bahagia itu tidak langgeng….
Ketika hasil hubungan cinta antara Bun-ji koan-su dengan Ceng Lanhiang
telah tiga bulan lahir di dunia ini, yakni pada sembilan belas
tahun berselang, suatu peristiwa yang tragis pun telah menjelang
tiba.
Peristiwa itu benar-benar merupakan suatu peristiwa yang
menyedihkan, membawa dendam, sakit hati dan mengerikan.
85
Suatu pagi, Ceng Lan-hiang dengan wajah pucat pias seperti
mayat, keringat dingin membasahi sekujur badannya dan napas
tersengal-sengal, lari masuk ke dalam kamar baca Bun-ji koan-su
dengan langkah sempoyongan. Waktu itu Bun-ji koan-su sedang
membaca sejilid buku di dalam kamar bacanya. Betapa terkesiapnya
dia setelah menyaksikan keadaan yang menimpa diri Ceng Lanhiang….
Buru-buru dia memeluk tubuh istrinya sambil bertanya dengan
cemas:
“Lan-hiang, kenapa kau….?”
Sambil mengejang-ngejang keras menahan suatu penderitaan
yang luar biasa, dengan sedih Ceng Lan-hiang berkata:
“Oleh karena aku mencuri belajar ilmu silat yang kau miliki dari
kitab catatanmu, aku merasa peredaran darah di dalam badanku
bagaikan tersumbat dan mengalir terbalik. Sekarang telah
menyerang ke delapan buah nadi penting di tubuhku, mungkin…
mungkin… itulah yang dinamakan ‘jalan api menuju neraka’ oleh
orang persilatan….”
“Kau menderita jalan api menuju neraka…?” jerit Bun-ji koan-su
dengan kaget dan terkesiap. “Oh, bagaimana baiknya sekarang?”
Waktu itu, kesadaran Ceng Lan-hiang berangsur-angsur telah
menghilang, tubuhnya menjadi lemas terkulai di tanah, mukanya
makin pucat bagaikan mayat. Keadaannya mengenaskan sekali.
Dengan ilmu penyembuhan luka yang dimiliki Bun-ji koan-su,
dengan cepat dia menotok beberapa buah jalan darah serta nadi
penting di tubuh Ceng Lan-hiang dengan harapan bisa menahan
berbaliknya aliran darah yang menyerang organ tubuh penting
lainnya sehingga masa bekerjanya dapat diundurkan.
Bun-ji koan-su amat menyayangi istrinya, dia tahu, dengan
totokan ilmu Hud-hiat-hoat yang dipelajarinya dari kitab pusaka
Ceng-ciong-pit-kip tersebut, meski delapan nadi pentingnya telah
tertotok, itupun hanya bisa memperpanjang waktu kambuhnya
86
selama dua tiga hari saja. Bila sampai waktunya tidak berhasil
menemukan sebatang rumput mestika Peng-lian Leng-cau, maka
nadi di dalam tubuh istrinya pasti akan pecah dan akibatnya dia
pasti akan tewas secara mengenaskan.
Menyaksikan istrinya merintih kesakitan, Bun-ji koan-su
merasakan hatinya sangat pedih bagaikan diiris-iris dengan pisau,
apalagi mendengar suara rintihan yang memilukan hati itu ibarat
ada berpuluh-puluh batang panah tajam yang menghujam ke uluhatinya.
Dia merasa lebih tersiksa dan menderita….
oooOOOooo
Bab 5
BUN-JI KOAN-SU telah bermandi keringat karena gelisahnya,
dengan nada menegur tapi penuh rasa sayang dia berkata:
“Lan-hiang, mengapa kau harus berbuat tolol? Jika kau suka
belajar ilmu silat, aku toh bisa mengajarkannya untukmu, tanpa
dasar ilmu silat yang baik mana boleh berlatih secara sembarangan?
Coba lihat, bagaimana jadinya bila sampai mengalami jalan api
menuju neraka? Sekarang, bertahanlah selama satu dua hari, aku
akan naik ke bukit Toa-soat-san untuk mencari sebatang rumput
Peng-lian-leng-cau, bila kau makan rumput tersebut maka lukamu
itu akan sembuh dengan sendirinya.”
Dengan suara yang lirih dan lemah Ceng Lan-hiang segera
berkata:
“Kau jangan pergi, aku lebih suka mat i di sisimu, hatiku sudah
puas bila kau mencintaiku sepenuh hati. Aku telah belajar silat
secara diam-diam, kau bersedia memaafkan diriku bukan…?”
Suara bisikannya itu penuh mengandung perasaan cinta kasih
antara suami istri, cukup menggetarkan perasaan siapapun.
Bun-ji koan-su menjadi amat sedih sekali, dengan air mata
bercucuran katanya:
87
“Lan-hiang, aku yakin masih berkemampuan untuk mengobati
luka dalam jalan api menuju neraka yang kau derita itu. Jika kau
benar-benar telah mati, akupun tak ingin hidup terus di dunia ini
seorang diri, sekarang waktu yang tersedia sudah tak banyak lagi.
Aku harus segera naik ke bukit Tay-soat-san untuk mencari rumput
Peng-lian leng-cau tersebut.”
Sambil menahan rasa sedih dan pedih yang tak terlukiskan
dengan kata-kata, Bun-ji koan-su mulai mengembangkan ilmu
meringankan tubuhnya melakukan perjalanan siang malam menuju
ke bukit Tay-soat-san. Dengan bersusah payah pula dia mendaki ke
atas puncak Thian-soat-hong serta mendapatkan sebatang Peng-lian
leng-cau.
Tapi, ketika ia bersiap-siap untuk berangkat pulang inilah, tibatiba
di atas bukit Tay-soat-san telah muncul beberapa rombongan
jago lihay dunia persilatan. Mereka segera mengurung Bun-ji koansu
rapat-rapat….
Kemunculan yang secara tiba-tiba dari kawanan jago persilatan
itu memang sedikit agak aneh.
Mimpipun Bun-ji koan-su tidak menyangka kalau di atas puncak
bukit Soat-san telah menanti sekelompok besar jago lihay dunia
persilatan yang bersiap-siap untuk mengurungnya.
Ketika menyaksikan kejadian itu, Bun-ji koan-su merasa
gelisahnya bukan kepalang. Bayangkan saja, istrinya yang tersayang
sedang mengalami jalan api menuju neraka, jiwanya sangat
terancam sekali, sedang pengepungan dari kawanan jago persilatan
itu sedemikian ketatnya, bila pertarungan sampai terjadi berlarutlarut
sudah bisa dipastikan jiwa istrinya tak akan ketolongan lagi.
Rasa cemas, gelisah dan marah berkecamuk dalam benak Bun-ji
koan-su. Akhirnya dengan kobaran hawa amarah yang meluap, dia
segera melancarkan pembunuhan secara besar-besaran dengan
menggunakan semua jurus sakti yang paling keji dan mematikan.
Dalam waktu singkat, enam tujuh orang jago lihay telah berhasil
dibunuh sampai mat i.
88
Sesudah bentrokan terjadi, Bun-ji koan-su baru benar-benar
merasa amat terkesiap, sebab kawanan jago persilatan yang terlibat
dalam pengepungan di atas bukit Soat-san kali ini hampir meliput i
segenap jago kelas satu yang berada dalam dunia persilatan, baik
berasal dari golongan put ih maupun dari golongan hitam.
Hampir dua ratusan orang yang berkumpul di sekitar bukit, itu
berarti hampir segenap inti kekuatan yang berada di dunia
persilatan terlibat langsung dalamkejadian itu.
Jumlah anggota terbanyak yang terlibat dalam pertarungan itu
adalah jago-jago dari Cian-Khi-Tui (Pasukan Seribu Penunggang
Kuda) dan Thi-Kiong-Pang (Perkumpulan Busur Baja) yang
merupakan perkumpulan terbesar dalam dunia persilatan.
Pangcu dari Kim-to-pang (Perkumpulan Golok Emas) suami istri
pun turut hadir pula dalam pertarungan itu.
Menyaksikan kesemuanya itu, Bun-ji koan-su merasa kagetnya
setengah mati, dia tahu sulit baginya untuk kabur dari kepungan
begitu banyak jago lihay pada hari itu. Dalam keadaan begini,
terpaksa Bun-ji koan-su menggertak gigi dan memberi perlawanan
dengan gigih. Sepasang tangan memang sulit untuk menghadapi
empat buah tangan, apalagi kawanan jago yang terlibat dalam
pertarungan itu sebagian besar adalah kawanan jago yang amat
tersohor namanya di dalamdunia persilatan.
Pada mulanya hanya kawanan jago dari golongan hitam dan
sesat yang mengerubutinya seorang, kemudian para jago yang
menamakan dirinya jago-jago dari sembilan partai besar dunia
persilatan serta para kawanan manusia munafik yang berlagak sok
mulia pun turut serta melibatkan diri dalam pengeroyokan itu.
Bun-ji koan-su semakin gelisah, sedih bercampur marah. Dia
cukup menyadari situasi yang sedang dihadapinya, diapun tahu
kehadirannya dalam dunia persilatan sangat tidak diinginkan oleh
segenap umat persilatan lainnya.
Berbicara sampai di situ, dari balik mata tunggalnya itu segera
terpancar keluar sinar kebencian dan dendam kesumat yang tiada
89
taranya, sepasang giginya sampai gemerutukan menahan gejolak
emosi dalam hati kecilnya.
Ku See-hong yang mendengar itupun merasakan darah panas di
dalam tubuhnya bagaikan sedang mendidih, api kegusaran berkobar
di dalam dada, pada saat ini dia benar-benar merasa amat benci
terhadap segenap umat persilatan yang ada di dunia ini. Sorot mata
penuh api dendam dan kebencian terpancar juga dari balik
matanya….
Aaiiihh. Di kemudian hari dunia persilatan akan mengalami
pembantaian lagi secara besar-besaran, darah segar akan
menggenangi permukaan bumi, mayat akan bergelimpangan di
mana-mana, sebab Bun-ji koan-su angkatan ke-dua telah lahir di
situ.
Dengan wajah yang menyeramkan, manusia aneh itu
melanjutkan kembali kisahnya:
Dari dua ratus jago persilatan yang hadir di arena, kecuali Kim-to
pangcu suami istri beserta anak buahnya yang tidak melibatkan diri
dalam pertarungan itu, yang lainnya hampir boleh dibilang telah
terlibat langsung dalam pertarungan yang sangat memalukan itu.
Senjata rahasia, pedang tajam, tombak panjang, golok besar,
busur baja serta beraneka jenis senjata lainnya secara keji, licik dan
ganas berkelebatan mengarah ke tubuh Bun-ji koan-su.
Menghadapi kerubutan yang begitu ketat dan ganas, Bun-ji koansu
sendiri pun segera mengembangkan kelihayannya. Bagaikan
seekor banteng terluka, dia menerjang ke kiri menghajar ke kanan,
kemana saja dia sampai, jeritan ngeri yang menyayatkan hati
segera berkumandang memecahkan keheningan.
Batok kepala beterbangan, darah segar berhamburan, kutungan
lengan, kutungan kaki berceceran menodai permukaan salju nan
putih.
90
Sedemikian sengitnya pertarungan itu mengakibatkan suasana
menyeramkan di sekeliling arena, sungguh membuat berdirinya bulu
kuduk orang.
Setelah melangsungkan pertarungan sengit selama hampir satu
hari penuh, meskipun secara beruntun Bun-ji koan-su berhasil
menewaskan lima enampuluh orang jago lihay, akan tetapi dia
sendiripun bermandi darah karena luka-luka yang dideritanya itu.
Rambutnya terurai awut-awutan, bagaikan malaikat bengis saja
serasa kalap dia melakukan pembunuhan serta pembantaian secara
besar-besran.
Dalam keadaan begini, mendadak….
Serentetan suara irama harpa yang merdu merayu tapi serasa
membetot sukma berkumandang di atas udara bukit bersalju yang
sedang diselimuti hawa pembunuhan yang mengerikan itu.
Begitu menangkap suara permainan harpa yang merdu merayu
serentetan kawanan jago persilatan yang sedang mengerubuti Bunji
koan-su itu menghentikan serangannya dan mengundurkan diri ke
belakang.
Anehnya, kawanan iblis, kaum sesat, jago golongan putih serta
angota sembilan partai besar, yang di hari-hari biasa selalu angkuh
dan susah diatur itu sekarang bersikap amat menghormat, malahan
mereka segera menyingkir ke samping dan memberi sebuah jalan
lewat.
Walaupun Bun-ji koan-su mengetahui kalau irama harpa tersebut
dipancarkan oleh seseorang dengan mengerahkan tenaga dalam
yang sempurna, tapi tidak seharusnya kawanan jago persilatan
memperlihatkan sikap yang begitu menghormat kepada pemetik
harpa itu seandainya tidak terdapat sesuatu rahasia lainnya.
Dalam waktu singkat, dari bawah bukit salju melayang turun
seorang perempuan cantik berbaju put ih, yang di kedua belah
sisinya diapit oleh dua orang sastrawan yang amat gagah dan
tampan. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang itu
betul-betul luar biasa sempurnanya.
91
Ketika Bun-ji koan-su telah melihat jelas siapa gerangan
perempuan yang datang itu, bagaikan disambar geledek di siang
hari bolong, ia menjadi pucat dan berdiri dengan sempoyongan,
hampir saja dia jatuh tak sadarkan diri.
Hatinya bagaikan diiris-iris dengan pedang tajam yang beriburibu
buah banyaknya, hatinya merasa hancur berantakan dan
mengucurkan darah segar. Pada saat itulah dia baru mengetahui
betul apakah arti kehidupan yang sebenarnya.
Ternyata perempuan cantik berbaju put ih itu bukan lain adalah
Ceng Lan-hiang… istri Bun-ji koan-su yang disangka lemah dan
bertenaga dan sedang menghadapi sekarat akibat jalan api menuju
neraka….
Sedangkan dua orang sastrawan tampan yang mendampinginya
itu bukan lain adalah kedua orang murid dari Bun-ji koan-su yang
telah diampuni jiwanya itu. Thi-bok-sin-kiam Cu Pok, serta Jian-huakim-
ciang Tu Pok Kim.
Sekulum senyuman yang seram tapi bangga tersungging di ujung
bibir Thi-bok-sin-kiam Cu Pok, setelah memandang sekejap ke
wajah bekas gurunya, dia berkata:
“Bun-ji koan-su… hari ini tentunya kau bisa mampus dengan hati
yang lebih jelas, bukan? Heeehh… heeehh… heeehh… untuk lebih
jelasnya, aku orang she Cu akan menerangkan lebih jelas lagi agar
kau bisa mampus dengan pikiran yang terang.
Ceng Lan-hiang adalah putri tunggal guruku Thi-kiam-kim-ciang
Ceng Ih-huang. Heeehh… heeehh… heeehh… hutang nyawa bayar
nyawa, hari ini aku khusus datang kemari untuk menagih hutang
darah darimu.”
Setelah mendengar perkataan itu, tak terkirakan rasa sesal Bun-ji
koan-su. Dia amat membenci dan mendendam perempuan itu, dia
pun mendendam terhadap segenap umat persilatan yang berada di
dunia ini.
92
Kasih sayang Ceng Lan-hiang selama setahun ini… cumbu rayu
mereka di kala malam telah tiba… ternyata semuanya hanya palsu
dan pura-pura.
Ooohh… Betapa memalukan dan terkutuknya perempuan ini.
Sekarang dia baru sadar bahwa dirinya telah terjebak oleh siasat
Bi-jin-ki (siasat perempuan cantik) yang sengaja diatur oleh umat
persilatan untuk menjebaknya. Aaai Bun-ji koan-su… wahai Bun-ji
koan-su… kau telah bertindak salah. Selama hidup kau tak akan
mencuci bersih perasaan dendam yang tak terlukiskan besarnya ini,
kau sudah terjerumus dalam keadaan yang mengerikan.
Bun-ji koan-su sungguh merasa marah dan mendendam, sambil
membentak keras tiba-tiba ia menerjang ke muka….
Mendadak… pada saat itulah terdengar dua buah suara tertawa
dingin yang menyeramkan berkumandang memecahkan
keheningan….
Thi-bok-sin-kiam Cu Pok dan Jian-hun-kim-siang Tu Pok-kim,
bagaikan dua sukma gentayangan segera menerkam ke muka
menyongsong kedatangannya.
Waktu itu tenaga dalam yang dimiliki Bun-ji koan-su telah
mengalami kerugian besar, sekujur badannya penuh dengan luka
bacokan dan luka pukulan, sesungguhnya ia sudah hampir tak
sanggup mempertahankan diri.
Dalam kondisi badan semacam itu, mana ia mampu
mempertahankan diri dari serangan gabungan kedua orang murid
durhaka tersebut?
Dalam waktu singkat, ia sudah termakan telak oleh beberapa
pukulan yang dilancarkan kedua orang murid pengkhianat tersebut,
akan tetapi ia masih tetap bertahan secara gigih dan memberikan
perlawanan sekuat tenaga.
Criiing… serentetan suara dentingan nyaring menggelegar
memecahkan keheningan….
93
Bun-ji koan-su merasakan ada sebilah pedang yang tajam dan
dingin menerobos masuk ke dalam tubuhnya. Ternyata orang yang
melancarkan tusukan maut itu bukan lain adalah Ceng Lan-hiang,
istrinya yang tercinta….
Pada waktu itu seluruh wajah wanita itu diliputi oleh hawa nafsu
membunuh yang mengerikan. Sambil mempermainkan sebilah
pedang yang berkilauan tajam, sebentar-sebentar dia
menyarangkan tusukannya ke tubuh Bun-ji koan-su sehingga dalam
waktu singkat telah bermandikan darah.
Dari balik mata Bun-ji koan-su segera terpancar keluar sinar
kebencian dan dendam yang sangat tebal. Ditatapnya Ceng Lanhiang
lekat-lekat, kemudian dengan darah yang bercucuran dari
ujung bibirnya, dia berseru:
“Lan-hiang, kau… kau benar-benar akan membunuh suamimu
sendiri?”
Dengan wajah yang sinis dan bengis, hawa pembunuhan
menyelimuti seluruh wajahnya, Ceng Lan-hiang berkata tanpa
perasaan:
“Hmm! Siapa yang kesudian menjadi istrimu? Selama hampir
setahun aku terus menahan rasa muak dan benciku untuk
menemani kau si bangkotan tua. Tiap detik tiap menit kalau bisa
ingin kudahar dagingmu, kuhirup darahmu hmm… jika hari ini tidak
kucincang tubuhmu menjadi berkeping-keping, sukar rasanya untuk
menghilangkan rasa dendam dan benciku yang tertanamdi hati.”
Sehabis mendengar ucapan tersebut, perasaan Bun-ji koan-su
benar-benar sudah hancur lebur. Sebenarnya dia masih mempunyai
setitik harapan, yaitu putrid yang mereka lahirkan atas dasar
hubungan cinta selama ini, masakah dia t idak tersisa rasa cinta
barang setitikpun dalam hatinya setelah menjadi suami istri selama
hampir satu tahun lamanya?
Dengusan tertahan bergema, sebuah lengan Bun-ji koan-su telah
terpapas kutung oleh bacokan pedangnya.
94
“Aduuh…!” kembali terdengar jerit kesakitan berkumandang
memecahkan keheningan, sebiji mata Bun-ji koan-su kembali
tercungkil oleh sambaran pedangnya hingga terlepas.
Ceng Lan-hiang sungguh kejam, keji dan berilmu t inggi…
mendadak pedangnya bergetar keras, berlaksa-laksa titik cahaya
tajam segera memancar ke empat penjuru, kemudian sepasang kaki
Bun-ji koan-su sebatas lutut telah terpapas kutung.
Dengan kesakitan dan penuh penderitaan ia segera bergulingan
di atas permukaan salju.
Mendadak…
…. Di saat yang kritis inilah Kim-to-pangcu suami-istri, Wi-Ceng
Kiu-Gak (Golok Sakti Menggetarkan Jagad) dan Liok-Ih-Li
(Perempuan Baju Hijau) Hong Po Yan, yang sejak pertarungan mulai
berlangsung hanya berdiri berpeluk tangan belaka, menerjang ke
muka secepat sambaran kilat.
Mereka berdua masing-masing melancarkan sebuah pukulan
dahsyat ke depan, dua gulung angin puyuh yang maha dahsyat
dengan cepat menggulung tubuh Bun-ji koan-su dan melemparnya
ke dalam jurang yang tak terkirakan dalamnya.
Pertarungan berdarah di atas bukit Soat-san yang amat seru dan
menegangkan hatipun berakhir sampai di situ. Bun-ji koan-su yang
lihay sejak itu lenyap dari peredaran dunia persilatan.
Sejak kematian Bun-ji koan-su, dunia persilatan pun tak pernah
ada seharipun tenang.
Peristiwa berdarah, pembunuhan kejam, satu demi satu
berlangsung dalam dunia persilatan….
Yang pertama-tama tertimpa musibah setelah kejadian itu adalah
perkumpulan yang paling besar dalam dunia persilatan waktu itu…
Kim-to-pang.
Perkumpulan besar itu dibasmi orang secara keji hingga hancur
musnah dan lenyap dari dunia persilatan.
95
Kim-to pangcu suami istri, Wi-Ceng-Kiu-Gak Ku Kiam-cong dan
Liok-Ih-Li Hong Po Yan ditemukan mati secara mengenaskan.
Kematian mereka konon mengerikan sekali, lengan kutung kaki
terpotong, usus berceceran dan otak berhamburan, suatu
pembunuhan yang benar-benar teramat keji.
Menyusul kemudian, para jago lihay kaum lurus dari sembilan
partai besar yang tidak turut serta di dalam pertempuran berdarah
di bukit Soat-san juga satu demi satu lenyap secara misterius dan
tidak diketahui nasibnya…
Mendadak Ku See-hong berteriak keras:
“Locianpwe… Locianpwe… Perbuatan dari siapakah ini? Cepat
katakan, perbuatan kejam dari siapakah ini? Aku hendak membalas
dendam! Aku hendak membalas dendam! ”
Ketika menyaksikan sikap Ku See-hong macam orang kesurupan
itu, manusia aneh itu merasa kaget sekali. Segera tegurnya dengan
suara dingin:
“Ku See-hong! Apakah orang tuamu adalah Wi-Ceng-Kiu-Gak Ku
Kiam-cong serta Liok-Ih-Li Hong Po Yan?”
Air mata segera jatuh berlinang membasahi wajah Ku See-hong,
sahutnya dengan sedih sekali:
“Oooh Locianpwe, aku benar-benar adalah putra mereka berdua
yang tidak berbakti… cepatlah katakan kepadaku, siapakah musuh
besar orang tuaku? Dalam dunia dewasa ini hanya kau seorang
yang tahu akan rahasia ini.”
Mencorong sinar aneh dari balik mata tunggal manusia aneh itu.
Dengan tubuh gemetar keras, sahutnya pedih:
“Selama hidup, lohu tak pernah berhutang budi kepada
siapapun… tapi aku hanya berhutang budi sedalam lautan kepada
orang tuamu…”
“Aaaii…. Dalam pertempuran berdarah di atas bukit salju,
seandainya mereka berdua tidak menghantam Bun-ji koan-su
96
sehingga tercebur ke dalam jurang, dia pasti telah dicincang sampai
hancur berkeping-keping oleh bacokan pedang perempuan rendah
itu….”
“Locianpwe, tolong beritahu kepadaku siapakah pembunuh kejam
itu…? Siapakah pembunuh keji itu?!” jerit Ku See-hong.
Mendadak manusia aneh itu melotot besar, dengan pandangan
dingin ia membentak:
“Ku See-hong, hanya mengandalkan beberapa jurus kepandaian
yang kau miliki sekarang, apakah kau sudah mampu untuk
membalas dendam?
Jika kau sampai berbuat demikian, maka tak bisa disangkal lagi
kau hanya akan menghantarkan kematian dengan sia-sia belaka,
mana dendam tak berbalas, kaupun akan menjadi manusia berdosa
yang sangat tidak tidak berbakti. Tahukah kau…? Tugasmu
sekarang selain harus membalaskan dendam bagi kematian kedua
orang tuamu, kaupun harus menegakkan kembali keadilan serta
kebenaran dalamdunia persilatan!”
Setelah mendengar perkataan dari manusia aneh itu, bagaikan
diguyur dengan sebaskom air dingin, Ku See-hong lantas berpikir:
“Benar, sebelum aku berhasil mempelajari ilmu silat yang sangat
lihay, mana aku punya kekuatan untuk membalaskan dendam sakit
hati ini…?”
Terdengar manusia aneh itu menghela napas panjang, lalu
berkata kembali:
“Tak lama lagi lohu akan kembali ke alam baka. Aku tak bisa
mewariskan lagi segenap ilmu silat yang kumiliki kepadamu,
aaaii….”
“Secara rahasia locianpwe telah mewariskan ilmu maha sakti
kepadaku, budi kebaikanmu tak terlukiskan dengan kata-kata, mana
aku berani untuk menuntut pelajaran ilmu silat yang lainnya lagi.”
97
Manusia aneh itu memandang sekejap wajah Ku See-hong, dari
wajahnya segera terpancar keluar rasa sayangnya bagaikan seorang
ayah terhadap anaknya, kemudian berkata lagi pelan:
“Ku See-hong, sehabis mendengarkan kisah cerita ini, kau
sebagai seorang bocah pintar tentunya sudah menduga bukan
siapakah diriku ini…? Aaai. Tentunya kau juga tahu bukan, apa
sebabnya aku berwatak seaneh sekarang ini?”
Ku See-hong tahu, manusia aneh itu tak ingin menyinggung
kembali kejadian masa lampau yang penuh dengan kesedihan itu,
dia hendak beranggapan bahwa Bun-ji koan-su telah tewas dibunuh
oleh kawanan jago persilatan pada dua puluh tahun berselang.
Dengan sinar mata yang dingin bagaikan es, Ku See-hong
memandang sekejap ke arah manusia aneh itu, kemudian ujarnya
dengan suara bersungguh-sungguh:
“Locianpwe…, boanpwe sudah tahu siapakah dirimu itu, tapi aku
juga tahu kalau kau pasti mempunyai suatu kejadian masa lampau
yang luar biasa, maka watakmu baru berubah menjadi seaneh ini.
“Sejak kecil boanpwe sudah dit inggal mati oleh ayah ibuku.
Sepanjang tahun berkelana dalam dunia persilatan, tanpa berhasil
meraih sesuatu apapun, jika locianpwe tidak melimpahkan cinta
kasihnya kepadaku serta mewariskan ilmu silat yang maha sakt i
kepadaku, tak mungkin boanpwe bisa jadi seperti sekarang ini. Budi
kebaikan sebesar ini sudah pasti harus dibalas. Oleh karena itu
dalam hati kecil boanpwe telah mengambil keputusan, bila aku telah
melakukan perjalanan ke dalam dunia persilatan nanti pasti akan
kuselesaikan semua pekerjaan locianpwe yang selama ini belum
terselesaikan.”
Padahal manusia aneh itupun sangat berharap Ku See-hong bisa
membantunya untuk menyelesaikan segala persoalan yang belum
sempat diselesaikannya dulu.
Sejak dia bertemu dengan Ku See-hong, ia telah bertekad untuk
menitipkan tugas dan harapannya itu kepada sang pemuda. Itulah
sebabnya mengapa ia tak sayang untuk menyalurkan hawa murni
98
yang dimilikinya itu ke dalam tubuh Ku See-hong, agar ia bisa
melatih ilmu Kan-kun Mi-siu yang maha dahsyat tersebut,
sedangkan ia dengan sisa tenaga yang tak seberapa harus
menyelesaikan hidupnya sebelumsaatnya tiba….
Sebagai seorang manusia yang berwatak aneh apa yang
dilakukannya hanya dikerjakan secara diam-diam. Jadi apa yang
sesungguhnya telah terjadi, sama sekali tidak diketahui oleh Ku Seehong
sendiri.
Sekulum senyuman lega segera tersungging di ujung bibir
manusia aneh itu. Senyuman itu dianggap sebagai persetujuannya
kepada sang pemuda untuk melakukan apa saja yang diinginkan.
Kembali Ku See-hong bertanya:
“Locianpwe, boanpwe pun memberanikan diri untuk mengajukan
suatu permintaan kepadamu. Meski semasa hidupmu aku tidak
mengakuimu sebagai suhu, tapi setelah kau mati, boanpwe tetap
akan menganggap dirimu sebagai guruku yang pertama.”
Paras muka manusia aneh itu masih tetap tidak berubah, dia
hanya membungkam seribu bahasa, sebagai tanda menyetujui pula
permintaan dari Ku See-hong.
Ketika pemuda itu menyaksikan sikap manusia aneh itu lambatlaun
menjadi semakin ramah, diapun melangkah lebih ke depan,
katanya kembali:
“Boanpwe berharap agar cianpwe bersedia untuk
memberitahukan nama asli cianpwe kepadaku….”
Paras muka manusia aneh itu segera memancarkan sekilas
cahaya yang sangat aneh, mulutnya tetap membungkam dalam
seribu bahasa, sedangkan pikirannya terjerumus dalam lamunan
yang berkepanjangan.
Melihat manusia aneh itu diam saja, Ku See-hong segera berkata
lebih lanjut:
99
“Locianpwe, apakah kau juga mempunyai seorang keturunan?
Sekalipun ibunya telah berkhianat dan jalan serong, tapi sebagai
putri seorang manusia, dia harus memiliki nama warga yang
sesungguhnya, kalau tidak dia akan dianggap sebagai seorang anak
haram. Mengenai keturunan dari locianpwe, boanpwe pasti akan
berusaha untuk memberi tahu kepadanya, bahkan akan kuceritakan
pula kisah cerita tersebut kepadanya….”
Setelah mendengar ucapan itu, titik air mata segera jatuh
berlinang membasahi wajah orang aneh itu, tampaknya dia merasa
sangat terharu sekali.
Dengan wajah mengejang keras karena pengaruh emosi,
katanya:
“Lohu she Him, bernama Ci-seng.”
Diam-diam Ku See-hong menghembuskan napas panjang,
pikirnya di dalamhati:
“Oooh Thian. Dalam dunia persilatan dewasa ini mungkin hanya
aku seorang yang mengetahui nama asli dari Bun-ji koan-su.”
Dengan sikap yang sangat menghormat, buru-buru Ku See-hong
berkata:
“Terima kasih banyak locianpwe atas kesediaanmu untuk
memberitahukan nama besarmu.”
Tiba-tiba manusia aneh itu merogoh ke dalam sakunya dan
mengeluarkan sepotong kutungan pedang, lalu ujarnya dengan
nada yang amat pedih:
“Ku See-hong, lohu tit ip kepadamu, seandainya kau telah
berjumpa dengan gurumu Seng-sim Cian-li Yap Soat Kun,
ceritakanlah keadaan lohu yang sebenarnya kepada dia. Katakanlah
bahwa harapanku yang paling akhir adalah meminta kepadanya
untuk menerimamu sebagai muridnya. Bila ia tak mau mengajarkan
ilmu Hay Jin Ciang tersebut, maka bagaimanapun juga kau harus
mencari akal untuk mencuri belajar ilmu pukulan Hay Jin Ciang-nya
itu.
100
Pada lima puluh tahun berselang, ilmu silat yang dimiliki Sengsim
Cian-li Yan Soat Kun, tak berada di bawah kepandaian lohu…,
apalagi setelah dia diburu oleh api dendam. Ilmu pukulan
ciptaannya itu pasti hebat dan tiada keduanya di kolong langit….
Kau harus ingat, musuh besarmu yang paling besar di kemudian
hari telah berhasil mendapatkan sejilid kitab pusaka Ban-Sia Cinkeng
yang penuh berisikan aneka macam ilmu sesat jika di kemudian hari
kau ingin menangkan dia, maka kau harus bisa mempelajari ilmu
Hay-Jin-Ciang lebih dulu sebelum niatmu bisa diwujudkan.”
Tak terkira rasa terima kasih Ku See-hong setelah mendengarkan
perkataan itu, katanya:
“Perhatian serta cinta kasih locianpwe tak akan boanpwe lupakan
untuk selamanya, boanpwe pasti tak akan sampai mengecewakan
hati locianpwe….”
Tiba-tiba manusia aneh itu menghela napas sedih. Sambil
membelai kutungan pedang pendek itu dengan tangan kirinya, ia
berkata kembali:
“Bawalah serta kutungan pedang ini, dan gunakanlah benda itu
sebagai tanda mata dari persembahanmu kepada gurumu yang
akan datang. Bila kau mampu maka berusahalah untuk
menyambung kembali pedang ini menjadi satu agar sukma lohu di
alam baka tidak selalu murung dan merasa tak tenang.”
Sambil menerima kutungan pedang itu dengan kedua belah
tangannya, sahut Ku See-hong:
“Boanpwe pasti akan berusaha keras untuk memenuhi keinginan
dari locianpwe….”
Waktu itu air muka manusia aneh tersebut bertambah suram dan
gelap, tapi sebagai seorang yang berkeras kepala, dia masih tetap
berusaha untuk mempertahankan diri dengan mengandalkan sedikit
sisa tenaga yang dimilikinya.
Kepada pemuda itu, kembali dia berkata:
101
“Ku See-hong, kitab pusaka Cang-ciong pit-kip tiada taranya itu
tidak berada di saku lohu, tapi tetap tersimpan di tempat semula.
Rahasia tempat itu tercantum dalam bait-bait lagu DENDAM
SEJAGAD….
Barang mestika hanya akan didapat oleh mereka yang berjodoh.
Lohu tak bisa memberi petunjuk kepadamu atas tempat
penyimpanan itu, jika kau memang berjodoh maka kunci rahasia
tersebut pasti akan kau pahami. Benarkah kau dapat
memecahkannya atau tidak, lihat saja pada rejekimu di kemudian
hari….”
Ku See-hong manggut-manggut.
“Barang must ika yang ada di dunia ini memang hanya diperoleh
oleh mereka yang berjodoh, boanpwe tak dapat terlalu memaksa,
kalau tidak bisa berakibat kerugian bagi diri sendiri.”
Diam-diam manusia aneh itu mengangguk, dia mengagumi
karakater Ku See-hong yang tangguh, meski masih muda usia tapi
pengetahuannya terhadap masalah itu luas sekali.
Setelah menghela napas sedih, ujarnya:
“Saat ini, lohu ibaratnya sebuah lentera yang hampir kehabisan
minyak, waktu sudah tak pagi lagi…. Sekarang juga lohu akan
menggunakan sisa tenaga yang kumiliki untuk mewariskan keempat
tiga jurus tangguh tersebut kepadamu. Kemungkinan besar lohu tak
dapat memainkan sampai ke jurus yang ke-tiga, tapi aku harap kau
bisa memusatkan segenap perhatianmu untuk mempelajarinya
dengan seksama.”
Ku See-hong tahu jurus sakti yang akan diwariskan manusia aneh
itu kepadanya pasti terhimpun segala inti kekuatan dari pelbagai
jurus silat yang berada di dunia ini, maka ia tak berani betrayal,
segenap perhatiannya tercurahkan menjadi satu untuk
memperhatikannya dengan seksama.
Kembali manusia aneh itu berkata:
102
“Jurus serangan ini dinamakan Hoo-Han Seng-Huan (Sungai
Langit Bintang Bertaburan). Di dalamnya terkandung tiga gerak
perubahan yang maha sakti:
Gerakan yang pertama khusus menyerang tubuh bagian atas
musuh yang disebut sebagai Thian (langit). Gerakan kedua khusus
menyerang bagian tengah musuh yang dinamakan Jin (manusia).
Sedangkan gerakan ketiga khusus menyerang bagian bawah musuh
yang dinamakan Tee (tanah). Bila digabungkan menjadi satu antara
langit, manusia dan tanah… maka akan berakibat luar biasa
ibaratnya sungai langit yang terbentang dan bintang kecil yang
bertaburan di angkasa.”
Ku See-hong yang mendengarkan penjelasan itu merasa seperti
pahamt idak paham, diam-diam ia menghela napas panjang.
Terdengar manusia aneh itu melanjutkan kembali kata-katanya:
“Seandainya kau bisa memahami arti serta makna dari jurus
serangan ini, kemudian menggunakannya secara sempurna… tidak
banyak jago dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup untuk
menghindarkan diri dari serangan dahsyat tersebut.”
Mendengar keterangan tersebut, tanpa terasa Ku See-hong
lantas berpikir:
“Benarkah jurus serangan tersebut sedemikian lihaynya?”
Sinar tajam yang terpancar dari mata tunggal manusia aneh itu
makin lama semakin memudar, tubuhnya pun mulai gemetar keras,
pelan-pelan kelopak matanya mulai terkatup rapat.
Menyaksikan kejadian itu Ku See-hong segera berteriak keras:
Locianpwe…!”
Tiba-tiba manusia aneh itu tersentak kaget dan tersadar kembali,
dari balik matanya yang tunggal segera terpancar serentetan cahaya
tajamyang aneh, dengan suara lemah dia berbisik:
“Ku See-hong, cepat bombing lohu ke atas tanah… harus cepat!”
103
Ku See-hong juga tahu bahwa kekuatan hidup manusia aneh itu
sudah mendekati akhir. Dengan gerakan secepat kilat dia lantas
membimbing bangun tubuhnya dan diberdirikan di atas tanah.
Tubuh manusia aneh itu berdiri kaku di atas tanah, sementara
telapak tangan tunggalnya secepat kilat melakukan suatu gerakan
serabutan yang kalut dan membingungkan.
Ku See-hong terkesiap, ia tahu manusia aneh itu sedang
menggunakan jurus sakti itu, maka semua perhatiannya buru-buru
dipusatkan menjadi satu kemudian dengan seksama diikutinya
semua gerakan tangan yang aneh dari manusia aneh tersebut.
Pada saat Ku See-hong sedang memperhatikan gerakan tangan
manusia aneh itulah, mendadak Ku See-hong merasakan ada
bayangan berkelebat lewat di depan matanya, tahu-tahu jari tangan
manusia aneh itu sudah menghantam di atas jalan darah tubuhnya,
kesadarannya segera terhentak seperti hilang sejenak.
Jalan darah di tubuh Ku See-hong kembali bergetar keras,
kesadarannya kembali pulih seperti sedia kala, ketika dia mencoba
untuk menengok ke tengah arena, lengan dari manusia aneh itu
masih bergerak secara aneh sekali.
Mendadak Ku See-hong merasakan jalan darah di atas pusarnya
seperti dihantam orang lagi secara pelan, sekali lagi dia merasakan
kesadarannya seperti hilang, lalu jalan darah di tubuhnya bergetar
keras dan kesadarannya pulih kembali.
Sementara itu, gerakan tangan manusia aneh itu masih saja
melakukan suatu gerakan aneh. Ku See-hong hanya merasakan
bayangan hitam kembali berkelebat lewat di hadapan matanya,
sebuah jari tangan tahu-tahu sudah menghajar ke atas jalan darah
Thian-ki-hiatnya.
Menyusul kemudian terdengar suara dengusan berkumandang
memecahkan keheningan, sekujur badan manusia aneh itu gemetar
keras lalu berdiri kaku di tempat semula. Jari tangannya masih tetap
menunjuk ke arah jalan darah Thian-ki-hiat di tubuh Ku See-hong.
104
Menyaksikan kejadian itu, Ku See-hong segera menjerit kaget.
Teriaknya keras-keras:
“Locianpwe! Locianpwe!”
Tangannya dengan cepat menggoyang-goyangkan tubuh
manusia aneh itu, tapi dia tetap berdiri kaku di tempat semula tanpa
berkutik barang sedikitpun juga, jelas nadinya sudah tergetar putus
dan nyawanya kembali ke alam baka.
Yaa, seorang jago tangguh yang luar biasa kelihayannya itu telah
meninggal dunia di kala dia telah melancarkan jurus ketiga dari Ho
Han Seng Huan tersebut. Dia telah menggunakan sisa tenaga yang
dimilikinya untuk melaksanakan tugasnya yang terakhir.
Bun-ji koan-su yang berwatak aneh, berilmu silat tinggi,
bertangan keji, berhati kejam, berwajah dingin dan cukup membuat
gemparnya kawanan jago persilatan itu, telah meninggalkan dunia
yang fana ini tanpa menimbulkan sedikit suara pun.
Waktu itu rembulan sudah bersembunyi di balik mega, bintang
yang bertaburan di angkasa pun sudah lenyap dari pemandangan
dirgantara, waktu menunjukkan kentongan ke t iga….
Sebutir bintang melesat menembusi angkasa yang gelap,
berkedip sebentar di udara lalu hilang lenyap tak berbekas.
Seperti juga kehidupan Bun-ji koan-su di dunia ini, hanya sekilas
pandangan saja tahu-tahu sudah lenyap kembali dari kehidupan
dunia.
000dw000
Bab 6
ANGIN dingin di luar kuil berhembus kencang, seakan-akan Thian
turut berduka akan perginya manusia aneh itu.
105
Ku See-hong tahu bahwa Bun-ji koan-su telah kembali ke alam
baka. Titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, tapi ia
tetap berusaha menahan diri, ia berusaha untuk t idak menangis.
Tapi kesedihan yang mencekam perasaannya waktu itu tak
terlukiskan dengan kata-kata, sekalipun menangis tersedu-sedu juga
belum tentu bisa menghilangkan rasa sedih yang mencekam
perasaannya waktu itu.
Tiada kesedihan di dunia ini daripada perpisahan antara yang
mati dengan yang hidup. Diam-diam Ku See-hong berdiri sedih,
lama… lama sekali dia baru bergumam:
-oo0dw0oo-
Jilid: 04
“SUHU, sekarang kau telah tiada..., mulai, sekarang aku akan
menyebut dirimu sebagai suhu.
“Semua tugas yang kau serahkan kepadaku serta semua
persoalan yang tak bisa kau selesaikan di dalam hidupmu pasti akan
kulaksanakan, musuh besar yang mencelakaimu, murid-murid
durhaka yang telah menghianatimu, serta semua manusia munafik
yang pernah membuat sengsara dirimu pasti akan kubantai semua
sampai mampus.
Suhu, kembalilah ke alam baka dengan tentram, beristirahatlah
kau dengan tenang. Sekalipun kau telah meninggalkan dunia yang
fana ini, tapi semua kejadian di dunia ini, semua sejarah hidupmu
selama ini akan terkenang terus di hati setiap orang, tiap hari, tecu
pasti akan menyanyikannya sebanyak tiga kali untuk memperingati
dirimu selamanya."
Ketika berbicara sampai, di situ, tiba-tiba sinar mata Ku See-hong
tertuju pada jari tangan dari Bun-ji-koan-su tersebut, hatinya
menjadi amat terkesiap, pikirnya:
106
"Aduh celaka, jurus Hoo-Han-Seng-huan yang diajarkan suhu
hingga kini masih belum juga kupahami, bagaimana caranya aku
melakukan gerakan itu?”
Berpikir sampai di sini, peluh dingin segera bercucuran
membasahi seluruh badan Ku See hong. Dia teringat kembali
dengan pesan gurunya yang minta kepadanya untuk mempelajari
jurus Hoo-han-seng-huan tersebut dengan seksama.
Tapi, di dalam kenyataannya sekarang, dari tiga gerakan yang
diajarkan kepadanya itu, satu juruspun belum berhasil dia pahami,
perubahannya bagaimana dan bagaimana caranya melancarkan
serangan, sama sekali t idak diketahui olehnya... lalu bagaimana
baiknya sekarang?
Diam-diam Ku See hong menegur kebodohan sendiri.... Buruburu
dia memusatkan segenap perhatiannya untuk berusaha
mencari dan menelusuri jejak bayangan jurus itu di dalam
benaknya. Tapi makin dipikir dia merasa semakin kaget, semakin
kaget dia merasa makin gelisah, dirasakan olehnya jurus Hoo-hanseng-
huan itu benar-benar sangat rahasia, sakti dan sukar
dimengerti....
Bagaimanakah gerakan tangan suhunya Bun-ji koan-su yang
aneh serta bagaimana melancarkan serangan aneh tersebut, makin
berpikir semakin membuat pikirannya menjadi bingung dan tidak
habis mengerti.
Ternyata dia merasakan gerak tarian tangan yang dilakukan oleh
Bun-ji koan-su itu pada hakekatnya sudah terlepas dari jurus-jurus
serangan ilmu silat pada umumnya, begitu kalut begitu
membingungkan sama sekali tidak beraturan..., tapi di balik
ketidakberaturan tersebut justru tersimpan segala macam kelihayan
dan kesaktian yang luar biasa.
Tadi dua kali jalan darah di tubuh seakan-akan tertotok, ia
merasakan kesadarannya seperti lenyap tak berbekas, tapi, dengan
cepat kesadarannya telah pulih kembali, namun belum lagi sadar
penuh, sekali lagi, dia seperti kehilangan pikiran lagi...
107
Dengan termangu-mangu Ku See-hong memperhatikan tubuh
Bun-ji koan-su yang kaku itu, lalu lengannya mencoba untuk
digerakkan menurut apa yang teringat. Sekali demi sekali hal
tersebut diulangi terus menerus secara berulang. Tapi ia merasa
makin digerakkan, gerakan tangannya makin menyimpang dari cara
yang sesungguhnya, bahkan sama sekali tidak mirip dengan apa
yang pernah dilakukan Bun-ji koan-su.
Lebih kurang setengah jam kemudian, Ku See-hong telah
mengulangi kembali latihannya sampai seratus kali lebih, tapi ia
tetap gagal untuk memahami kelihayan serta intisari dari jurus
serangan itu.
Waktu itu dia sudah keletihan, sampai sekujur badannya basah
kuyup oleh keringat, napasnya tersengal-sengal seperti kerbau....
Akhirnya setelah gagal berulang kali, dengan sedih dia menghela
napas panjang, gumamnya:
"Aku benar-benar amat tolol, sudah begitu lama aku berusaha
untuk memutar otak tapi selalu gagal untuk menemukannya
kembali. Aaaai..., aku benar-benar pantas untuk mampus. Dengan
menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya, suhu bersusah payah
memainkan ketiga jurus serangan itu, bahkan begitu selesai
memainkannya diapun menutup usia, sedang aku tak berhasil
memenuhi harapannya, jangankan menguasai seluruh jurus
serangan itu, bahkan kesan terhadap satu gerakan di antaranya pun
tak ada...."
Berpikir sampai di situ, Ku See hong merasa putus asa, kecewa
dan sedih sekali. Tanpa terasa dua titik air mata jatuh bercucuran
membasahi pipinya, dia menghela napas panjang berulang kali.
Mendadak Ku See-hong berseru tertahan, lalu gumamnya:
"Heran. Padahal suhu telah tiada, mengapa jenazahnya masih
berdiri kaku di situ? Aaai..., aku sebagai muridnya harus dan
berkewajiban untuk menguburnya secara baik-baik, aku tak bisa
membiarkan jenasahnya terbengkalai dengan begitu saja.”
108
Bergumam sampai di situ Ku See-hong lantas berusaha untuk
membimbing bangun jenasah dari suhunya Bun-ji koan-su.
Siapa tahu walaupun dia telah berusaha dengan sepenuh tenaga,
ternyata jenasah gurunya itu sama sekali tak bergerak. Kenyataan
ini segera membuat Ku See-hong menjadi kebingungan setengah
mati dan tidak habis mengerti. Untuk sesaat lamanya dia menjadi
termangu-mangu di tempat.
Saudara yang budiman, perlu diperhatikan bahwa berdiri kakunya
jenasah Bun-ji koan-su di tempat itu sesungguhnya mengandung
suatu rahasia yang besar sekali. Hal ini akan diterangkan pada akhir
cerita ini, jadi maaf bila hal tersebut akan dirahasiakan dulu untuk
sementara waktu.
Demikianlah, sesudah termangu-mangu sekilas waktu, akhirnya
Ku See-hong mengambil kesimpulan sendiri.
“Mungkin suhu berbuat demikian karena dia ingin berada terus di
tempat ini….”
Ku See-hong memang keras kepala dan angkuh, ketika tidak
berhasil memahami gerak jurus dari Hoo-han-seng-huan tersebut,
maka dia bertekad untuk berusaha mencarinya sampai dapat.
Tujuh hari tujuh malam lamanya dia berusaha untuk melatih.
Sambil mencari, dia sampai lupa makan lupa tidur, tapi alhasil dia
tetap gagal untuk memecahkan rahasia dari kepandaian itu,
malahan makin dilatih semakin bingung, makin didalami ia merasa
semakin kalut pikirannya.
Malam itu kembali dia berusaha dengan sepenuh tenaga, tapi
hasilnya tetap nihil.
Sambil menghela napas sedih dia berlutut di depan jenasah Bunji
koan-su lalu dengan air mata bercucuran katanya sedih:
“Suhu… Sukmamu di alam baka tentu tahu muridmu yang bodoh
sudah siang malam melatih jurus sakti Hoo-han-seng-huan tersebut
dengan mati-matian, tapi memang bakatku jelek, otakku juga
109
bodoh, sampai sekarang aku belum berhasil juga memahami makna
dari jurus serangan itu.
“Sekarang, tecu akan meninggalkan kau orang tua untuk mencari
guruku yang kedua serta mempelajari ilmu sakti Hay Jin Ciang untuk
memenuhi harapan suhu. Tecu bersumpah di hadapan jenasah kau
orang tua, dalam tiga mendatang akan kugunakan sepasang
tanganku ini untuk mengucurkan darah segar musuh besarmu serta
menyayat kulit badan musuhmu. Semua sampah masyarakat serta
manusia laknat yang berada dalam dunia persilatan dewasa ini akan
kuberi balasan yang setimpal.”
Ketika berbicara sampai di situ pelan-pelan Ku See-hong bangkit
berdiri, di atas wajahnya yang dingin terlintas kebulatan tekadnya
yang kukuh, sorot matanya memancarkan cahaya kebuasan serta
kebengisan yang mengerikan sekali.
Apalagi ketika Ku See-hong terbayang kembali semua musibah
yang telah menimpa Bun-ji koan-su selama hidupnya, kesengsaraan
yang telah menyiksa batinnya, tanpa terasa perasaannya bergolak
keras, sambil menengadahkan kepalanya dia segera membawakan
lagu Dendam Sejagad yang telah diajarkan Bun-ji koan-su
kepadanya itu:
DENDAM kesumat membentang bagai jagad,
Bukit tinggi berhutan lebat di sisi sebuah kuil.
Sungai besar di depan kuil berombak besar,
Dendam kesumat sepanjang abad
DENDAM kesumat membentang bagai jagad,
Burung gagak bersarang di rumput di kala senja
Cinta kasih berlangsung dari muda sampai tua.
Memetik kampak membuat lagu: Nadanya dendam
Menitik air mata darah untuk siapa?
Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa.
110
DENDAM kesumat membentang bagai jagad.
Ji koan pernah berbuat salah.
Menyandang golok menunggang kuda, apalah gunanya?
Salju terbang air laut semuanya hambar.
DENDAM kesumat membentang bagai jagad.
Curah hujan membuyarkan awan.
Air mengalir akhirnya surut.
Dendam kesumat tak akan pernah luntur….
Suatu dorongan perasaan sedih yang amat besar serta gejolak
emosi yang hebat, menelurkan suatu irama nyanyian yang keras,
berat dan menunjang mengalun di seluruh angkasa, kemudian
menggema sampai ke tempat yang jauh sekali.
Saking sedihnya membawakan lagu “Dendam Sejagad” tersebut,
tanpa sadar air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajah Ku
See-hong. Pelan-pelan dengan membawa perasaan yang berat dan
duka dia berjalan keluar dari kuil itu dan meninggalkan Bun-ji koansu
yang meninggal dengan membawa penderitaannya itu.
Waktu saat itu menunjukkan kentongan ketiga.
Angin kencang di luar kuil masih berhembus dengan hebatnya,
udara terasa dingin menusuk tulang, pohon bergoyang tertiup
angin. Suasana ketika itu terasa seram, dingin dan memedihkan.
Dari dalam ruang tengah, Ku See-hong pelan-pelan berjalan
keluar. Dengan mata basah oleh air mata, ia mendongakkan
kepalanya memandang ke angkasa.
Langit sangat gelap karena malam masih belum lewat, tiada
rembulan hanya ada beberapa titik bintang yang memancarkan
cahaya yang lemah.
Waktu itu di luar kuil sedang berdiri termangu tiga sosok
bayangan manusia.
111
Mereka masih terpesona oleh pengaruh irama lagu Ku See-hong
yang dibawakan dengan nada penuh rayuan maut yang membetot
sukma. Di bawah bayangan pohon orang-orang itu cuma melongo
dan berdiri kaku persis seperti patung arca.
Ku See-hong mendongakkan kepalanya memandang awan yang
bergerak di angkasa, dalam benaknya tanpa terasa terbayang
kembali bayangan tubuh Bun-ji koan-su. Akhirnya ia tak kuasa
menahan diri dan mendongakkan kepalanya sambil berpekik
nyaring. Pekikan tersebut kian lama berkumandang kian nyaring,
tapi di balik suara yang nyaring terbawa nada yang sedih dan
memedihkan hati, sungguh terasa tak sedap didengar.
Ketika mendengar suara pekikan nyaring yang mengalun di
angkasa itu, ketiga sosok bayangan manusia di luar kuil itu
merasakan hatinya bergetar kemudian tersadar kembali dari
lamunan. Enam buah mata yang tajam serentak dialihkan ke atas
tubuh Ku See-hong yang berada di luar kuil tersebut.
Tanpa sadar ketiga orang itu mundur beberapa langkah ke
belakang dengan kaget, dari mimik wajah mereka yang menyeringai
seram, bisa diketahui sampai di manakah rasa kaget dan ngeri yang
mencekamperasaannya itu.
Ku See-hong tidak melihat hadirnya ketiga sosok bayangan
manusia di luar kuil itu. Dengan langkah yang pelan-pelan dia
berjalan keluar kuil.
Tiga sosok bayangan manusia yang berada di luar kuil itu
sesungguhnya adalah jago-jago lihay golongan hitam yang sadis
dan berbahaya… walaupun demikian mereka cukup mengetahui
sampai di manakah kekejaman serta kebuasan pemilik kuil yang
misterius itu. Maka sewaktu mereka melihat semunculnya Ku Seehong
dari dalam kuil itu, disangkanya dialah pemilik kuil yang
misterius serta berbahaya itu. Tanpa terasa sekujur tubuh mereka
gemetar keras.
Ku See-hong mendongakkan kepalanya. Sekarang dia baru
mengetahui akan kehadiran ketiga sosok bayangan manusia itu.
112
Sinar aneh yang tajam segera memancar keluar dari balik matanya,
dengan wajah hambar dia segera berhenti.
Ketiga sosok bayangan manusia itupun sudah melihat wajah Ku
See-hong dengan jelas sekarang, rasa kaget bercampur tercengang
cepat melintas di atas wajahnya, perasaan takut yang semula
mencekamhati mereka kini hilang lenyap dengan begitu saja.
Sambil tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, ketiga
sosok bayangan manusia itu segera berkelebat maju ke depan dan
mendekati Ku See-hong. Betul rasa di hati mereka sudah banyak
berkurang, akan tetapi satu dua bagian rasa ngeri masih terselip di
hati masing-masing.
Paras muka Ku See-hong sendiripun berubah hebat setelah
menyaksikan gerakan tubuh lawan yang begitu enteng, dia tahu
ketiga orang itu sudah pasti adalah jago kelas atas dalam dunia
persilatan.
Di bawah sinar bintang, tampak orang tiga itu masing-masing
mengenakan baju hitam yang panjang dengan potongan badan
yang lurus jangkung seperti tengkorak. Rambutnya yang panjang
dibiarkan terurai di pundak, bibirnya tajam dengan kening yang
sempit, masing-masing berwajah serampersis bagaikan iblis.
Diam-diamKu See-hong berpikir di dalamhatinya:
“Heran, mengapa tiga orang manusia yang bertampang bagaikan
iblis ini bisa menyiarkan hawa sesat yang begini tebal secara
mengerikan? Mana wajah seram menyeringai lagi dengan
mengerikan, sungguh membikin hati orang merasa kebingungan…
dan tak tahu siapa gerangan diri mereka itu?”
Sementara dia masih berpikir, manusia aneh berwajah pucat
yang berada di sebelah kiri itu segera mementangkan mulut lebarlebar
dan memperdengarkan gelak tertawa panjang yag
menyeramkan.
113
Setelah itu dengan nada yang dingin menggidikkan hati dia
menegur: “Bocah keparat, siapa kau? Cepat sebutkan nama
anjingmu untuk menerima kematian.”
Betapa mendongkol dan kesalnya Ku See-hong setelah
mendengar perkataan itu, ia segera mendengus dingin.
“Hmm… Kalian tiga orang mahluk, tiga bagian tidak mirip
manusia, tujuh bagian mirip setan, sesungguhnya siluman aneh
yang datang dari mana? Kurang ajar benar perkataan kalian itu?
Hmm aku tak lebih cuma seorang Bu-beng-siau-cut (prajurit tak
bernama) dalamdunia persilatan, mau apa kalian?”
Makhluk berwajah murung dan sedih, sedikitpun tidak membawa
hawa kehidupan, yang berdiri di tengah itu, segera tertawa
terkekeh-kekeh dengan seramnya, suara makhluk itu dingin
bagaikan es, bagaikan hembusan angin dingin yang datang dari
kutub.
Begitu selesai tertawa seram, dia lantas berkata dengan suara
mengerikan:
“Bocah keparat, enak benar kalau berbicara, rupanya kau
memang benar-benar adalah seorang prajurit tak bernama di dalam
dunia persilatan, heeehh… heeehhh… heeehhh… kami adalah Lengcuan-
sam-pok (Tiga Bayangan Iblis dari Leng-cuan) yang nama
besarnya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan, aku sendiri
Siang-khi-kui-pok (Siluman Iblis Pembawa Kesedihan) Phu Im-sat
hendak mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu bila kau tidak
menjawab dengan sejujurnya, heeehhh heeehhh heeehhh malam ini
juga akan kusuruh kau mampus tanpa liang kubur di sini.”
Sudah belasan tahun lamanya Ku See-hong berkelana dalam
dunia persilatan, tidak sedikit jago persilatan kenamaan yang
diketahui olehnya, maka dari itu betapa tercekatnya perasaan
pemuda tersebut setelah mengetahui kalau ketiga makhluk seram
ini bukan lain adalah Leng-cuan-sam-pok yang amat tersohor akan
kebengisannya itu…. Meski begitu, paras mukanya sama sekali tidak
menunjukkan perubahan apa-apa.
114
Ternyata Leng-cuan-sam-pok adalah jago kelas satu dari
golongan hitam yang termasyhur sekali namanya dalam dunia
persilatan. Watak mereka amat kejam, tak kenal ampun dan
membunuh orang tanpa berkedip.
Mencorong sinar menggidikkan dari balik mata Ku See-hong,
serunya dengan dingin:
“Leng-cuan-sam-pok adalah sampah masyarakat di dalam dunia
persilatan dewasa ini, apa yang kalian andalkan sehingga begitu
berani berlagak di hadapanku? Sungguh tak tahu malu. Orang lain
mungkin jeri kepada kalian tapi aku orang she Ku, adalah seorang
manusia yang punya tulang, tak nant i aku bakal jeri kepadamu.
Sebelum pertanyaan kalian ajukan, terlebih dulu akan
kuberitahukan kepadamu, lebih baik jangan bertanya, sebab tak
nanti aku akan menjawab pertanyaan kalian barang setengah patah
katapun. Mengerti?”
Ku See-hong bukan orang yang bodoh, baru saja Siang-khi-kuipok
Phu-im-sat bertanya sampai di situ, dia sudah mengetahui apa
yang hendak mereka tanyakan.
Makhluk pertama menonjol bergigi taring dan bermata bengis
bagaikan binatang liar yang berdiri di sebelah kanan itu segera
berteriak aneh, bentaknya:
“Bocah keparat, berapa butir sih batok kepala yang kau miliki?
Begitu berani memandang hina Leng-cuan-sam-pok! Hmmm,
ketahuilah malam ini kau sudah menjadi burung dalam
cengkeraman kami, jangan harap kau bisa terbang lagi ke angkasa.”
Siang-khi-kui-pok Phu-im-sat menyambung pula:
“Bocah keparat, bukankah barusan kau masuk ke dalam kuil itu?
Apa yang kau jumpai di situ?”
Ku See-hong adalah seorang pemuda yang keras kepala, angkuh
dan ketus hatinya sudah mendongkol sekali ketika menyaksikan
ketiga orang mahkluk aneh itu membentak-bentak dirinya maka
115
sambil tertawa dingin dengan nada yang merasuk tulang, serunya
menghina:
“Bila kalian menganggap punya nyali, tak ada salahnya untuk
masuk dan selidiki sendiri, dengan cepat kalian akan mengetahui
ada apanya di sana. Hmmm. Cuma aku lihat, kalian anjing-anjing
geladak yang beraninya cuma menganiaya yang lemah saja ini,
masih belumpunya keberanian untuk berbuat demikian.”
Makhluk aneh berwajah pucat yang berada di sisi sebelah kiri,
Jin-sat-kui-pok (Siluman Iblis Berwajah Pucat) Jin Khi segera
membentak menggelegar:
“Bocah keparat, diberi arak kehormatan kau tidak mau, justru
arak hukuman yang kau cari. Hmmm, sekarang juga akan kusuruh
kau merasakan kelihayanku.”
Seusai berkata, secepat sambaran kilat Jin-sat-kui-pok menerjang
maju ke depan. Sepasang kakinya bergeser dan berputar secepat
angin, lalu sambil menerjang ke depan lawan, sepasang cakar
setannya dipentangkan lebar-lebar. Dengan membawa suara
desingan tajam yang memekikkan telinga, ia cengkeram jalan darah
Cian-cin-hiat di atas bahu Ku See-hong.
Ku See-hong tertawa dingin, badannya memendam ke bawah,
lalu menggunakan ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong yang amat
sempurna itu, secara menyakinkan dia meloloskan diri dari sergapan
tersebut.
Menyaksikan kelihayan Ku See-hong di dalam menghindarkan diri
dari ancaman tersebut, Jin-sat-kui-pok merasa terperanjat sekali,
kembali ia membentak keras, ejeknya sinis:
“Bocah keparat, tak nyana kau memiliki juga ilmu silat kucing
kaki tiga yang hebat!”
Di tengah bentakan, sepasang cakar setannya berputar
menggulung-gulung, angin puyuh yang maha dahsyat segera keluar
dari balik telapak tangannya itu dan menyapu ke seluruh badan
lawan.
116
Di tengah desingan angin tajam yang memekikkan telinga, tiga
puluh enam buah jalan darah pent ing di tubuh Ku See-hong sudah
terbungkus di balik gulungan hawa tajam yang menggidikkan hati
itu.
Betul pada waktu itu Ku See-hong telah mempelajari ilmu
gerakan tubuh yang amat sempurna, tapi setelah menghadapi angin
serangan sedemikian dahsyatnya itu, tak urung dia menjadi
tertegun juga sehingga lupa untuk menghindarkan diri.
Jin-sat-kui-pok yang menyaksikan Ku See-hong cuma berdiri saja
tanpa berniat untuk menghindar, dalam sangkaannya pemuda itu
takabur dan mencemooh dirinya. Ini semua membuat hawa
amarahnya berkobat makin hebat, sepasang matanya yang aneh
memancarkan cahaya tajamyang bengis dan mengerikan.
Dengan cepat hawa pukulannya ditingkatkan menjadi sepuluh
bagian. Angin serangan yang tajam semakin menggelegar bahkan
membawa deruan angin dahsyat bagai gulungan ombak di tengah
samudra. Semua hembusan dahsyat itu bersama-sama menggulung
ke atas badan Ku See-hong.
Setelah tersengat oleh desingan angin pukulan musuh yang
tajam, Ku See-hong baru tersentak bangun dari kagetnya. Tapi
waktu itu keadaan sudah terlambat, angin pukulan yang maha
dahsyat dan menyesakkan napas itu sudah mendesak di sekeliling
tubuhnya.
Habis sudah riwayatku kali ini. Habis sudah riwayatku kali ini…
pekik Ku See-hong dalamhati.
Baru saja ingatan itu berkelebat lewat dari benaknya, mendadak
Ku See-hong merasakan munculnya segulung hawa panas dan
segulung hawa dingin dari dalam pusarnya yang segera menyelimut i
sekujur badannya.
Pada saat angin serangan musuh yang maha dahsyat itu hampir
mengenai badannya, mendadak hawa murni yang telah menyebar
ke dalam tubuhnya itu segera menyusup masuk lewat pori-pori
badannya dan segera menyelimuti seluruh badannya.
117
“Blaaam! Blaaam!” Beberapa kali letusan keras segera
menggelegar di angkasa.
Jin-sat-kui-pok hanya merasakan segulung angin pukulannya
seperti menghajar di atas segumpal kapas yang sama sekali tak
berkekuatan, dia menjadi amat terperanjat. Tubuhnya yang
berperawakan aneh segera mundur beberapa langkah dengan
sempoyongan.
Diam-diam Ku See-hong merasa amat bangga dengan hasil yang
berhasil dicapainya itu, pikirnya:
“Aaah… tak kusangka kalau ilmu khikang Kan-kun-mi-siu yang
diajarkan suhu ternyata sedemikian hebatnya.”
Kenyataan ini membuat keberanian Ku See-hong makin besar.
Betul ia tidak pandai mempergunakan jurus serangan untuk melukai
musuh, tapi untuk melindungi keselamatan sendiri, rasanya hal ini
bukan suatu persoalan lagi.
Di antara Leng-cuan-sam-pok, ilmu silat yang dimiliki Siang-khikui-
pok Phu Im-sat, terhitung paling tinggi, pengetahuannya juga
paling luas. Ketika dilihatnya tenaga pukulan dari Jiu-sat kui-pok
yang sanggup menghancurkan batu karang itu ternyata tidak
mendatangkan hasil apa-apa ketika menghajar di tubuh lawan,
diam-diam ia merasa tercekat sekali.
Bahkan dia yang sangat berpengalaman di dalam dunia
persilatan pun, ternyata tak bisa menebak ilmu silat apakah yang
dimiliki oleh Ku See-hong tersebut.
Ternyata di dalam kepandaian sakt i atau hawa khikang macam
apapun yang ada di dunia ini, bila sampai terhajar oleh serangan
lawan, tentu akan menghasilkan tenaga pantulan yang maha
dahsyat.
Sebaliknya hasil dari Kan-kun-mi-siu adalah melenyapkan tenaga
serangan lawan dengan begitu saja tanpa wujud. Semakin besar
tenaga tekanan yang datang dari luar, goncangan yang dialami Ku
See-hong dalam peredaran darahnya akan semakin besar pula.
118
Akibatnya bukan saja tak sampai merugikan diri sendiri, malah
sebaliknya mempercepat daya kemajuan yang dicapai oleh tenaga
dalam itu sendiri.
Siang-khi-kui-pok Phu Im sat memperdengarkan gelak
tertawanya yang rendah berat dan mengerikan, kemudian katanya
dengan dingin:
“Orang she Ku, jika hari ini kau bersedia menjawab pertanyaan
kami, Leng-cuan-sam-pok pasti akan menyusahkan dirimu lagi,
bahkan dalam perjalananmu selanjutnya dalam dunia persilatan,
semua orang dari golongan hitamtak akan menyusahkan dirimu.”
Leng-cuan-sam-pok yang kejam bengis dan tak pakai aturan,
ternyata sudah mengucapkan kata-kata yang demikian sungkannya
terhadap seorang prajurit yang tak bernama dari dunia persilatan,
sesungguhnya kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu
keanehan.
Ku See-hong yang cerdik tentu saja juga tahu kalau Leng-cuansam-
pok telah dibikin gentar oleh hawa khikang Kan-kun-mi-siu
yang dimilikinya itu, justru karena tahu lihaynya maka mereka baru
mengurangi kebuasan serta kekejiaan mereka.
Ku See-hong segera tertawa dingin, kembali katanya dengan
nada menghina:
“Leng-cuan-sam-pok, kalian berani memasuki kuil ini berarti
kalian segera akan tewas secara mengerikan, memangnya kalian
anggap masih bisa lolos dari tempat ini dengan selamat? Terlalu
banyak kejahatan yang kalian bertiga lakukan selama ini, aku orang
she Ku tak akan mengampuni jiwa kalian, hayo cepat serahkan
nyawa anjing kalian bertiga!”
Ketika berbicara sampai di situ, suara Ku See-hong berubah
makin keras dan mengerikan ditambah lagi wajahnya yang dingin
menyeramkan, tanpa terasa membuat Leng-cuan-sam-pok yang
berhati bengis itu berkesiap sekali dibuatnya.
119
Ketika selesai berbicara Ku See-hong tak berani turun tangan
lebih dulu, sebab sekarang boleh dibilang setengah jurus pun tidak
ia miliki. Bila sampai dia turun tangan melancarkan serangan lebih
dulu, selain siasatnya bakal terbongkar, gertak sambalnya juga akan
konangan, malah bisa jadi selembar wajahnya ikut melayang.
Maka dari itu dia hanya mengawasinya Leng-cuan-sam-pok
dengan sepasang matanya yang dingin menyeramkan serta
memancarkan cahaya yang menggidikkan hati itu.
Leng-cuan-sam-pok agak bergidik juga menghadapi tantangan
dari pemuda itu. Sesungguhnya mereka adalah kawanan manusia
licik yang berotak tajam. Entah mengapa sikap Ku See-hong yang
berwibawa membuat hati mereka makin menciut. Diam-diam hawa
murninya segera disalurkan ke seluruh badan untuk bersiap-siap
menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Begitulah, empat sosok bayangan manusia segera berdiri saling
berhadapan di tengah suasana hawa pembunuhan yang
menyelimuti seluruh angkasa.
Pohon peng-yang yang terhembus angin menimbulkan suara
gemerisik yang memekikkan telinga, suasana di sekeliling tempat itu
makin lama diliputi suasana semakin tegang dan menakutkan.
Berapa saat lamanya keempat orang itu berdiri saling
berhadapan, diam-diam Ku See-hong merasa amat gelisah, dia tahu
bahwa dirinya tidak melancarkan serangan lebih dulu, akhirnya
sandiwara itu pasti akan terbongkar.
Berpikir demikian, Ku See-hong segera mendongakkan kepalanya
dan berpekik nyaring, suara pekikannya yang keras serasa
membelah seluruh angkasa.
Kakinya mempergunakan ilmu gerakan Mi-khi-biau-tiong untuk
bergerak maju bagaikan sambaran setan. Dengan suatu kecepatan
yang luar biasa dia melayang ke depan, tangannya bergerak aneh
dan segera mempraktekkan jurus Hoo-han-seng-huan, yang
berulang kali sudah dilatihnya tanpa mendatangkan hasil itu.
120
Ketika Leng-cuan-sam-pok menyaksikan gerak maju Ku See-hong
sangat aneh dan sakti, hati mereka terkesiap, kemudian sambil
membentak keras, enam gulung tenaga pukulan yang dilancarkan
dengan mempergunakan segenap tenaga murni yang mereka miliki
itu, dengan menciptakan berpuluh-puluh jalur hawa sakti yang
mengerikan, bagaikan sebuah jaring langit jala bumi menggulung
datang dari empat arah delapan penjuru dan menggulung sekujur
badan Ku See-hong.
Leng-cuan-sam-pok diam-diam merasa bergidik juga bila
mengingat kehebatan musuhnya itu. Mereka mengira Ku See-hong
hendak melancarkan serangan mematikan, maka begitu turun
tangan, masing-masing pihak segera melepaskan dua gulung tenaga
pukulan yang dahsyat bagaikan gulungan angin puyuh untuk
menghadang gerak maju pemuda itu.
Tampak desingan angin tajambagaikan gulungan ombak besar di
tengah samudra menyapu ke depan berbarengan, kedahsyatannya
sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Paras muka Ku See-hong yang tampan itu segera berubah hebat,
gerakan Ho-han-seng-huan yang digunakannya tadi sesungguhnya
tak lebih cuma pancingan belaka… tak tahunya justru telah
memancing datangnya serangan mematikan dari ketiga orang
lawannya itu.
Blaaam! Blaaam! Blaaam....!” letusan letupan beruntun segera
menggelegar di angkasa dan menggoncangkan seluruh permukaan.
Ku See-hong hanya merasakan peredaran darah dalam tubuhnya
bergoncang keras, kuda-kudanya tergempur dan terseret oleh
tenaga pukulan yang maha dahsyat itu. Tubuhnya mundur sejauh
empat lima langkah ke belakang sebelum bisa berdiri tegak.
Ia sanggup menyambut serangan gabungan dari Leng-cuan-sampok
yang maha dahsyat serta semuanya tertuju pada bagian tubuh
yang mematikan tanpa cidera, sesungguhnya kejadian ini sudah
cukup menggetarkan perasaan musuh-musuhnya.
121
Dasar wataknya memang tinggi hati dan keras kepala, sesudah
bergetar mundur oleh serangan musuh, ia menjadi naik darah.
Sambil membentak gusar tubuhnya meluncur maju lagi ke muka,
dengan suatu gerakan yang sangat aneh sepasang lengannya masih
saja digerakkan memainkan jurus Hoo-han-seng-huan.
Setelah berulang kali anak muda itu menunjukkan gerakan yang
aneh, suatu perasaan aneh segera muncul dalam hati Leng-cuansam-
pok, pikirannya tanpa terasa:
“Aneh betul bocah keparat ini mengapa dia cuma bergerak
macam tarian setan saja? Pada hakekatnya sedikitpun tidak mirip
dengan suatu jurus serangan. Memalukan, tadi nyaliku hampir saja
pecah dibuatnya karena ketakutan.”
Sekalipun di hati kecilnya mereka berpikir demikian, namun
gerakannya tak berani berayal, tiga sosok bayangan manusia
mendadak berkelebat lewat dengan gerakan yang aneh.
Jin-sat-kui-pok mementangkan cakar setannya lebar-lebar,
diiringi desingan angin serangan yang dahsyat segera
mencengkeram ke atas batok kepala lawan.
Waktu itu, betul Ku See-hong memainkan jurus Hoo-han-senghuan,
akan tetapi ia tak pernah mampu mempergunakan jurus
serangan ini secara sesungguhnya. Akibat dari hal itu, melukis
harimau tidak jadi, yang muncul adalah anjing.
Sementara pemuda itu masih belum tahu bagaimana caranya
mempergunakan serangan tersebut secara tepat… sepasang cakar
setan dari Jin-sat-kui-pok Jin-kai telah mencengkeram erat nadi
pada pergelangan tangan kirinya serta jalan darah cian-cing-hiat di
atas bahu.
Ku See-hong terperanjat sekali, buru-buru dia mempergunakan
ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong untuk berkelit ke samping.
Tapi sayang keadaan sudah terlambat, Ku See-hong hanya
merasakan bahu kanannya terasa sakit sekali seperti diiris-iris
dengan pisau, tahu-tahu bahu itu sudah tersambar lima buah jalur
122
luka panjang oleh cakar setan lawan yang tajam. Darah segar
segera muncrat keluar membasahi seluruh bajunya.
Setelah berulang kali mengamati gerak-gerik musuhnya yang
aneh, agaknya waktu itu Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat telah
memahami apa gerangan yang sedang dihadapi.
Serentetan suara tertawa anehnya yang melengking memekikkan
telinga bagaikan lolongan serigala itu segera menggema di angkasa.
Dengan suatu gerakan cepat ia mendesak ke muka, kemudian
jengeknya dengan suara dingin:
“Bocah keparat, kepandaian silatmu tak becus ternyata
kepandaian berbicaramu hebat, heeehh… heeehh… heeehh…
jangan harap pada malam ini kau bisa lolos dari kepungan cakar
setan yang telah disebarkan Leng-cuan-sam-pok di sekeliling tempat
ini, heeehh… heeehh….”
Sementara mulutnya memperdengarkan suara tertawa setan
yang dingin menyeramkan dan tak sedap didengar itu, tubuhnya
bagaikan sukma gentayangan pelan-pelan menghampiri Ku Seehong.
Sepuluh jari tangannya yang tajam mirip cakar setan
dipentangkan lebar-lebar dan siap menerkam mangsanya.
Kobaran api amarah dan dendam mencorong keluar dari balik
mata Ku See-hong yang jeli, dia membentak keras, sepasang
lengannya diputar secara aneh lalu menubruk lagi ke depan.
Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat berpekik aneh, tubuhnya yang
kurus kering t inggal kulit pembungkus tulang itu melintas dengan
gerakan aneh, lalu secepat kilat berputar ke sisi kiri Ku See-hong.
Cakar setannya yang tajamdengan cepat menyambar ke bawah.
Ku See-hong merasakan bahu kirinya sakit sekali bagaikan diiris
dengan pisau, lima buah bekas luka yang memanjang sekali lagi
muncul di atas bahunya akibat sambaran dari Siang-khi-kui-pok
tersebut, saking sakitnya dia mundur sampai sejauh dua t iga
langkah lebih.
123
Di pihak lain, Siong-cing-kui-pok (Siluman Iblis Bermata Bengis)
Sin Jian-siau telah menggerakkan sepasang lengan iblisnya untuk
menyerang ke depan.
“Sreet! Sreet!” desingan angin tajam yang memekikkan telinga
menggema di angkasa.
Ku See-hong merasakan kakinya gemetar keras, lalu mendengus
tertahan, baju bagian punggungnya tercabik-cabik hancur, kulitnya
robek besar tersambar oleh sepasang cakar setan Siong-cing-kuipok
yang tajam, darah segar berceceran membasahi seluruh
badannya.
Jin-sat-kui-pok tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu,
lengannya diputar kemudian, Wees dia melepaskan sebuah pukulan
tinju ke depan. Setelah itu sepasang telapak tangannya kembali
diayunkan ke depan dengan kecepatan bagaikan kilat. Segulung
tenaga pukulan yang sangat kuat ibaratnya gulungan ombak
dahsyat di tengah samudra, dengan membawa daya kekuatan yang
mampu menghancurkan batu karang, segera menggulung Ku Seehong.
Padahal Ku See-hong baru dapat berdiri tegak, melihat
datangnya angin pukulan yang demikian dahsyatnya itu, ia menjadi
amat terkejut.
“Blaaamm…!” suatu ledakan keras kembali terjadi. Ku See-hong
kembali terhajar oleh serangan itu sehingga terpental ke arah lain.
Di pihak sana, Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat sudah tahu kalau Ku
See-hong memiliki semacam ilmu silat yang aneh sekali. Tanpa
suatu kepandaian yang lihay, sulit untuk merenggut nyawa si anak
muda tersebut.
Maka secara diam-diam lantas ia menghimpun tenaga
beracunnya yang telah dilatih selama puluhan tahun itu. Perawakan
tubuhnya yang sebenarnya kurus kering itu, tahu-tahu
menggelembung seperti membengkak secara tiba-tiba.
124
Bersamaan itu pula, tulang belulang yang berada di dalam
tubuhnya juga gemerutukan keras. Setelah berkumandang
serentetan bunyi ledakan yang nyaring itu, badannya yang kurus
kering tahu-tahu menyusut pula sehingga lebih pendek separuh
bagian.
Jin-sat-kui-pok dan Siong-cing-kui-pok juga tidak tinggal diam,
serentak mereka salurkan pula tenaga beracunnya untuk bersiapsiap
melancarkan serangan mematikan.
Kemudian, tiga orang iblis dari Leng-cuan sam-pok yang bengis
dan berhati keji itu pelan-pelan berjalan mendekati Ku See-hong.
Mereka segera menyebarkan diri membentuk posisi segitiga.
Keadaan Ku See-hong pada waktu itu sudah mengenaskan sekali.
Sekujur badannya penuh dengan luka, darah segar menodai
badannya, rambut yang panjang terurai kalut, bajunya sobek dan
compang-camping, keadaannya mengenskan sekali. Ketika itu
dengan wajah yang mengejang serta sorot mata yang
memancarkan kebengisan, ia melototi ketiga orang itu penuh
kemarahan.
Angin musim gugur berhembus lewat dan menggoyangkan
pepohonan, bayangan pohon yang bergerak-gerak seakan-akan
berubah menjadi cakar setan yang sedang dipentangkan, bunyi
deruan yang kencang seolah-olah jeritan iblis yang mengerikan.
Sedemikian seram dan menakutkannya suasana di sekeliling tempat
itu, membuat bulu roma orang pada bangun berdiri.
Bayangan tubuh Leng-cuan-sam-pok yang terbias sinar bintang,
memanjang di atas permukaan tanah, sudut kepungan mereka kian
lama bertambah kecil.
Ku See-hong berusaha memutar otaknya mati-mat ian untuk
memecahkan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut. Akan tetapi
bagaimana pun juga, dia selalu gagal untuk memahami gerakan
tangan dari Bun-ji koan-su tersebut.
Sekarang ia sudah menyaksikan, lengan-lengan kurus dari Lengcuan-
sam-pok membengkak besar, kulitnya pelan-pelan berubah
125
pula menjadi merah membara seperti baranya api. Selain itu diapun
menemukan, tiap kali mereka melangkah maju ke depan, sebuah
bekas telapak kaki yang dalam segera muncul di atas permukaan
tanah, padahal diapun tahu permukaan tanah di situ lebih keras
daripada batu karang.
Kalau dilihat dari tindakannya yang diambil Leng-cuan-sam-pok di
mana mereka telah mengeluarkan pukulan beracunnya, dapat
diketahui bahwa orang-orang itu sudah bertekad hendak
membinasakan Ku See-hong di ujung pukulan beracun mereka yang
mengerikan itu. Dari sini dapat diketahui pula sampai di manakah
kekejaman serta kebusukan hati mereka.
Diam-diamKu See-hong berpekik di dalamhatinya:
“Suhu, oooh suhu. Bantulah tecu, bantulah diri tecu agar cepat
memahami rahasia jurus Hoo-han seng-huan tersebut, kalau tidak,
tecu bakal mampus di ujung tangan ketiga orang setan iblis itu.”
Dalam pada itu, Leng-cuan-sam-pok sudah berada lebih kurang
lima depa di hadapan Ku See-hong.
Mendadak….
Tiga makhluk aneh tersebut sama-sama berpekik aneh, suaranya
yang keras dan menyeramkan itu menggelegar membelah
kesunyian malam.
Enam buah telapak tangan yang merah membara dan berbau
amis, secepat kilat mengayunkan ke depan dan melontarkan enam
gulungan kobaran bara beracun yang berwarna hijau. Diiringi
desingan tajam yang luar biasa bagaikan gulungan ombak di tengah
samudera langsung menghajar ke depan. Serangan itu ganas,
kejam, dan hebat, seperti air bah yang menjebolkan bendungan,
langsung menghajar tubuh lawan.
Ku See-hong terperanjat sekali, apalagi setelah menyaksikan
kabut hijau berbau amis yang disertai tenaga pukulan yang maha
dahsyat itu muncul dari pelbagai sudut yang aneh dan menggencet
tubuhnya di tengah arena itu.
126
Blaaamm! Blaaamm! Blaaamm! Benturan keras menggelegar
secara beruntun.
Ku See-hong merasakan hawa darah di dalam tubuhnya bergolak
sangat keras, benaknya bagaikan kosong melompong dan …
“Bluuum” tubuh Ku see-hong tergeletak jatuh di tanah.
Melihat Ku See-hong sudah terhajar telak oleh serangan mereka
yang beracun, Leng-cuan-sam-pok segera tertawa terbahak-bahak
dengan seramnya. Suara mereka keras seperti jeritan setan iblis dan
seram bagaikan lolongan serigala liar. Di balik gelak tertawanya
yang panjang berat dan memekikkan telinga tadi, terselip pula rasa
bangga dan gembira yang tak terkirakan.
Dalam keadaan sadar tak sadar, mendadak Ku See-hong seperti
terbayang kembali bayangan tubuh Bun-ji-koan-su yang sedang
menggerakkan tangannya secara aneh diiringi gerakan tubuh yang
luar biasa, kemudian dalam kilatan cahaya tajam, jalan darah di atas
tubuhnya seakan-akan tertotok.
Ku See-hong yang tergeletak kaku di tanah, mendadak
memperdengarkan teriakan keras yang memekikkan telinga:
“Haaah! Aku sudah memahami jurus Hoo-han-seng-huan! Aku
sudah memahami jurus Hoo-han-seng-huan tersebut!”
Menyusul teriakan tersebut, Ku See-hong dengan suatu gerakan
yang sangat aneh segera melompat bangun dari atas tanah.
Leng-cuan-sam-pok hanya tertawa tergelak terus dengan
bangganya. Mereka baru tertegun setelah melihat tubuh Ku Seehong
melompat bangun secara tiba-tiba. Dengan cepat lengan
mereka diputar membentuk satu gerak lingkaran.
Di tengah kegelapan, terlihatlah gulungan angin dingin yang
mirip pusaran angin berpusing di atas bumi, menggulung ke muka
dan menyapu Ku See-hong.
Ku See-hong menggerakkan kakinya dan menerobos masuk ke
balik gulungan angin berpusing yang maha dahsyat itu. Secara
aneh, mendadak seluruh badannya melengkung dan melejit,
127
tubuhnya melompat tinggalkan permukaan tanah, lalu seperti udang
bago dia meletik tiga depa ke udara.
Bersamaan itu juga, sepasang lengan Ku See-hong berputar
kayun secara aneh, suara letusan demi letusan yang nyaring
menggema di angkasa. Selapis cahaya tajam yang berkilauan
segera terhias di seluruh angkasa.
Sepasang lengannya direntangkan ke kiri kanan, dua gulung
angin pukulan yang putih bersih seperti kemala mendadak meluncur
ke arah Jin-sat-kui-pok serta Siong-gan-kui-pok dan menghajar jalan
darah penting di atas dadanya.
Inilah gerakan kedua dari ilmu Hoo-han-seng-huan yang disebut
Jin-hay-hu-seng (Lautan Manusia Timbul Tenggelam).
Terdengar dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati
berkumandang memecahkan keheningan.
Dua sosok tubuh yang tinggi besar itu mencelat sejauh dua kaki
lebih dan… “Bluuuk” terbanting di atas tanah.
Sebuah mulut luka yang besar sekali muncul di atas dada Jin-satkui-
pok serta Siong-gan-kui-pok. Darah segar seperti pancuran
segera berhamburan di mana-mana.
Begitulah, dua orang gembong iblis yang kejam dan tersohor
dalam dunia persilatan, akhirnya tewas di ujung telapak tangan Ku
See-hong setelah mempergunakan jurus J in-hay-hu-seng dari ilmu
Hoo-han-seng-huan yang telah menggetarkan seluruh dunia
persilatan itu.
Mimpipun Ku See-hong tidak menyangka bahwa serangannya
dengan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut sanggup membinasakan
Jin-san-kui-pok serta Siang-gan-kui-pok tanpa memberi kesempatan
bagi lawannya banyak berkutik.
Dia mengira dirinya masih berada di alam impian, untuk sesaat
lamanya dia berdiri termangu-mangu di situ sambil mengawasi dua
sosok mayat yang terkapar dalam keadaan mengerikan di
hadapannya itu.
128
Sejak meloncat bangun dari tanah sampai mengeluarkan jurus
tangguh untuk membunuh dua orang gembong iblis itu, serentetan
gerakan tersebut dilakukan Ku See-hong dalam waktu yang amat
singkat.
Waktu itu, Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat sudah dibikin pecah
nyalinya oleh kelihayan lawan, tiba-tiba jeritnya:
“Hoo-han-seng-huan?!”
Tiba-tiba secepat hembusan angin kencang dia membalikkan
badan dan melompat sejauh empat kaki dari situ, kemudian tanpa
membuang waktu lagi dia melarikan diri terbirit-birit dari situ.
Ku See-hong yang mendengar Siang-khi-kui-pok menjeritkan
kata Hoo-han-seng-huan juga amat terkejut, dengan cepat ia
tersadar kembali dari lamunannya, tapi ketika itu Siang-khi-kui-pok
sudah berada tujuh kaki dari tempat semula.
Pada saat itulah….
Mendadak dari atas pohon Pek yang lebih kurang enam kaki di
depan Ku See-hong berkumandang suara bentakan yang amat
nyaring, Jcin…”Sreeet” segulung angin pukulan tajam mendesis.
Dari atas puncak pohon yang delapan kaki tingginya itu,
meluncur keluar sesosok bayangan tubuh yang ramping dan kecil.
Lalu dengan gerakan yang cepat dia sudah meluncur ke bawah dan
melayang turun persis di hadapan Siang-khi-kui-pok.
Waktu itu, keadaan Siang-khi-kui-pok ibaratnya anjing yang baru
kena digebuk, ketika melihat datangnya bayangan manusia dari
tengah udara, ia segera meraung keras, dengan menghimpun
segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dua gulung angin pukulan
segera dilontarkan ke muka.
Bayangan manusia yang ramping itu kembali membentak
nyaring, sepasang telapak tangannya melancarkan selapis bayangan
telapak tangan yang rapat bagaikan jaring laba-laba. Lalu tubuhnya
melejit kembali di udara, dua bayangan kaki menyusul tiba. Gerakan
129
tubuhnya yang lincah dan gerakan jurus serangannya yang indah,
sungguh merupakan suatu perpaduan yang serasi.
Mendadak….
Jeritan ngeri yang memilukan hati kembali berkumandang
memecahkan keheningan.
Selembar nyawa Siang-khi-kui-pok segera melompat keluar dari
tubuh kasarnya dan menyusul nyawa Jin-sat-kui-pok serta Siong-jinkui-
pok yang sudah keluar dari raganya lebih dulu itu. Sedangkan
tubuh kasarnya mencelat sejauh empat lima kaki sebelum tergeletak
untuk selamanya di sana.
Diam-diam Ku See-hong merasa terperanjat juga setelah
menyaksikan kemampuan bayangan manusia itu sewaktu
membunuh Siang-khi-kui-pok.
Baru saja ingatan terbersit melintas lewat, mendadak pemuda itu
mengendus bau harum semerbak berhembus lewat di depan
tubuhnya. Bayangan tubuh yang ramping tadi, bagaikan selembar
kapas yang terhembus angin, dengan entengnya melayang turun
tepat di hadapan Ku See-hong.
Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang sempurna serta gerak
serangan bagaikan sambaran setan ini menggidikan hati Ku Seehong,
dengan wajah berubah hebat dia mundur tiga empat langkah
ke belakang dengan perasaan was-was.
Agaknya si anak muda itu sudah dibikin keder oleh kehebatan
orang itu.
Tiba-tiba….
Suara cekikikan yang merdu merayu kembali berkumandang di
angkasa. Suara tertawa itu begitu merdu dan begitu merayu
sehingga cukup mempesonakan hati orang.
Sedangkan pemuda itu masih melongo, suara tertawa itu
mendadak berhenti lalu kedengaran seseorang mendamprat dengan
suara yang dingin seperti es:
130
“Bocah tolol, kau anggap sudah ketemu setan di siang hari
bolong…? Coba pentang dulu matamu lebar-lebar….”
Di bawah sinar bintang terlihat seorang gadis cantik yang tinggi
semampai bergaun biru dan berambut panjang telah berdiri di
hadapannya.
Gadis itu memang cantik sekali bak bidadari dari kahyangan,
selain matanya jeli bagaikan bintang timur, hidungnya mancung,
bibirnya kecil mungil, kulit badannya juga putih mulus bagaikan
susu murni. Akan tetapi, waktu itu dia berdiri dengan wajah
sedingin es, mata mendelik besar dan hawa nafsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya. Hal ini membuat gadis tersebut
ibaratnya sekuntum bunga mawar yang berduri….
Sejak kecil Ku See-hong sudah mengalami musibah yang
mengenaskan, sepanjang tahun di hidupnya mengembara dalam
dunia persilatan dan dicemooh orang banyak, penderitaan serta
kesengsaraan yang dideritanya itu membuat ia memiliki watak yang
aneh serta pandangan yang sempit.
Terutama sekali terhadap kaum wanita, entah mengapa, dalam
hati kecilnya bisa timbul perasaan benci yang tebal. Sekalipun
terhadap perempuan yang bagaimanapun cantiknya, dia juga tak
pernah merasa terpikat apalagi tertarik.
Apalagi setelah selama beberapa hari ini ia mendengar kisah
cerita Bun-ji koan-su yang mengisahkan tragedi serta pengalaman
pahit yang dialaminya selama hidup, kesemuanya itu membuat
pandangannya terhadap perempuan bertambah ekstrim, dia
memandang perempuan seakan-akan ular yang amat berbisa sekali.
Begitulah Ku See-hong yang sombong dan tinggi hati, mana
tahan setelah mendengar caci maki si nona cantik berbaju biru itu?
Sambil mendengus gusar dari matanya segera terpancar keluar
sinar mata yang menggidikkan hati.
“Nona!” serunya ketus, “Begitu datang lantas mencaci maki
orang apakah tidak merasa kalau perbuatanmu akan menurutkan
martabatmu di depan orang?”
131
Berkedip-kedip sepasang mata si nona cantik berbaju biru yang
jeli itu, serunya:
“Kau maksudkan aku?”
Sambil berkata begitu, dengan jari tangannya yang lentik dia
tuding ke ujung hidung sendiri sehingga keadaannya tampak konyol.
Ku See-hong mendengus dingin, dengan nada sinis serunya:
“Hmm. Bila kau menganggap dirimu itu amat cantik sehingga
merasa perlu untuk memasang aksi dan menarik perhatian di
hadapanku, maka kukatakan kepadamu terus terang, kau telah
salah mengincar manusia. Aku orang she Ku tidak bakal terpikat
oleh tingkah lakumu yang konyol itu. Hmm…. Di sini hanya ada kau
dan aku, kalau bukan kau yang kumaksudkan memangnya aku lagi
berbicara dengan orang lain?”
Kehormatan si nona benar-benar merasa tersinggung setelah
mendengar caci maki dan cemoohan seorang pria yang diucapkan
secara terang-terangan di depan matanya itu. Apalagi dia adalah
seorang gadis cantik yang biasanya selalu disanjung serta dipuji-puji
orang.
Tapi anehnya nona cantik berbaju biru itu tidak menjadi marah
setelah mendengar cemoohan tersebut, malah sebaliknya, sekulum
senyuman manis segera menghiasi wajahnya yang cantik.
Sambil memutar biji matanya yang jeli katanya lagi dengan suara
merdu:
“Mengapa sih kau musti galak-galak begitu? Aku cuma bergurau
saja apalah salahnya?”
Tapi setelah berhenti sejenak, mendadak dengan kening berkerut
dia mendamprat lagi:
“Lelaki busuk, coba kalau aku tidak bermaksud untuk
mengajukan beberapa buah pertanyaan kepadamu, sedari tadi aku
sudah membunuh dirimu, lebih baik sedikitlah tahu diri.”
132
Paras mukanya ketika itu diliputi oleh hawa nafsu membunuh
yang tebal, sepasang alis matanya berkenyit dan wajahnya dingin
seperti es, keadaannya sungguh mengerikan sekali.
Ku See-hong menjadi tercengang sekali oleh perubahan sikap
orang, diam-diampikirnya:
“Perempuan ini benar-benar aneh sekali, marah senang, susah
diduga. Perubahan wataknya juga tak menentu sudah pasti dia
bukan seorang perempuan baik-baik.”
Berpikir sampai di situ, selapis hawa dingin yang kaku segera
menyelimuti wajah Ku See-hong, bentaknya dengan gusar:
“Hei, apa maksudmu memaki aku sebagai lelaki bau? Hmm.
Kalau kau berani memaki lelaki bau, lelaki bau terus, jangan
salahkan kalau aku orang she Ku tak akan berlaku sungkan lagi
kepadamu….”
“Apakah kau tidak ingin dimaki orang sebagai lelaki bau?” seru
gadis cantik berbaju biru itu lagi sambil tertawa cekikikan, “… tapi
suhuku selalu menyuruh aku menyebut kalian sebagai lelaki bau,
malah katanya, makin ganteng tampang orang itu, semakin pantas
kalau mereka dibunuh… masa ucapan guruku tidak benar?”
Mendengar perkataan itu, Ku See-hong merasakan hatinya
bergetar keras, pikirnya:
“Masa di dunia ini terdapat manusia yang begitu aneh serta
begitu sempit pikirannya sehingga murid sendiripun diajarkan untuk
membunuh pria-pria tampan di dunia ini? Aaa… Mungkin gurunya
juga seseorang yang pernah mengalami kegagalan di dalam soal
cinta?”
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Ku See-hong,
kemudian setelah mendengus dingin katanya:
“Nona, perkataan gurumu itu tentu saja salah besar. Kalau ingin
membunuh orang harus dibedakan dulu mana yang baik dan mana
yang jahat, mana boleh memandang rendah nyawa orang lain?
Hmm. Bila kau berani sembarangan membunuh orang yang baik,
133
aku orang she Ku yang pertama-tama akan mencarimu untuk
membuat perhitungan.”
Senyuman yang semula menghiasi wajah gadis cantik berbaju
biru itu kembali lenyap tak berbekas, kemudian dengan wajah
dingin bagaikan es ia berkata:
“Hm… Kau lagi membicarakan soal teori apa? Memangnya ingin
menasehati aku? Aku mau tanya, dari mana kau pelajari jurus Hoohan-
seng-huan tersebut? Di dapat dari mencuri? Kalau tidak
mengaku terus terang, jangan menyesal kalau kubunuh dirimu biar
mati secara mengenaskan.”
Naik pitam Ku See-hong sesudah mendengar ucapan itu, dengan
suara menggelegar segera bentaknya:
“Perempuan sialan, dengan dasar apa kau ingin menyelidiki asalusulku…?”
Sekulum senyuman manis segera menghiasi kembali ujung bibir
nona cantik berbaju biru itu, bentaknya:
“Kau ingin tahu? Ilmu silat-lah dasarku.”
Tubuhnya direndahkan lalu telapak tangannya secepat sambaran
kilat diayunkan ke depan, angin pukulan yang tajam bagaikan pisau
menderu-deru di udara dan langsung menghantam ke tubuh anak
muda tersebut.
Baik soal ilmu pukulan maupun soal ilmu gerakan tubuh,
semuanya dilakukan secara sempurna dan luar biasa hebatnya.
Ketika itu, Ku See-hong telah berhasil memahami jurus Hoo-hanseng-
huan yang diwariskan gurunya Bun-ji koan-su kepadanya.
Begitu melihat datangnya serangan maut dan si nona berbaju biru
itu, kontan saja timbul kesan yang jelek sekali terhadap lawannya
itu. Maka di kala serangan maut itu sudah berada di depan mata,
alis matanya segera berkenyit, sinar mata dingin yang menggidikkan
hati mencorong keluar, sambil menengadah dia berpekik keras.
134
Berbareng dengan menggemanya suara pekikan tersebut, tibatiba
sepasang telapak tangannya digetarkan kian kemari, di tengah
desingan angin tajam tercipta sebuah lingkaran cahaya yang amat
menyilaukan mata.
Menyusul terpancarnya cahaya berkilauan yang berlapis-lapis
tadi, tubuhnya mendadak miring ke samping, seluruh tubuhnya
melintang lima depa di udara. Dalam posisi yang aneh kemudian
sepasang kakinya dijejakkan ke udara dan melayang kembali ke
tanah.
Pada saat dasar kakinya telah menempel di tanah, tubuh bagian
atas Ku See-hong yang miring itu menerobos masuk ke tengah
gulungan angin pukulan dahsyat yang dilancarkan oleh gadis cantik
berbaju biru itu….
“Sreeet…” desingan angin tajamserasa membelah di angkasa.
Segulung cahaya putih yang amat menyilaukan mata, bagaikan
sambaran kilat cepatnya langsung menerobos ke depan dan
menyerang jalan darah Thian-khi-hiat di tubuh gadis berbaju biru
itu.
Gerakan yang barusan dipergunakan bukan lain adalah jurus
ketiga dari Hoo-han-seng-huan yang bernama Tee-jin-hun-gak
(Sukma Gentayangan Di Dasar Neraka).
Gadis cantik berbaju biru itu sebenarnya adalah murid
kesayangan seorang tokoh sakti dunia persilatan yang termasyhur
namanya di dunia ketika itu. Kelihaian ilmu silatnya boleh dibilang
luar biasa sekali, sehingga cuma beberapa gelintir manusia saja
yang sanggup menghadapi ancaman serangannya.
Tapi, ketika ia menyaksikan datangnya serangan dahsyat dari Ku
See-hong itu, kontan saja paras mukanya berubah hebat. Sambil
membentak keras, selendang sutera di atas bahunya itu meluncur
ke depan dengan membawa desingan angin tajam… “Sreet! Sreeet!”
gulungan itu langsung menyongsong datangnya cahaya putih
tersebut.
135
Tubuhnya sementara itu juga tak berani bertindak gegabah,
dengan mempergunakan suatu gerakan yang indah dia segera
berputar lalu melayang ke samping.
Perlu diketahui, tiga gerakan aneh yang sakti di dalam jurus Hoohan-
seng-huan tersebut sesungguhnya merupakan hasil ciptaan dari
Bun-ji koan-su setelah mempelajari dan menyelidiki secara tekun isi
kitab pusaka Cang-ciong-pit-kip tersebut.
Jurus serangan itu boleh dibilang lihay sekali dan mencakup
seluruh intisari ilmu silat yang berada di dunia ini… cuma sayangnya
pada waktu itu Ku See-hong belum berhasil menguasai serta
memahami makna yang sesungguhnya dari ketiga buah gerakan itu,
sehingga boleh dibilang kehebatannya belum mencapai
sebagaimana mestinya.
Sekalipun demikian, akan tetapi ketika ia gunakan kepandaian
maha dahsyat tersebut ternyata hasilnya betul-betul luar biasa dan
sama sekali di luar dugaan.
“Breeet…!”
Kedua selendang sutera yang berada di sepasang bahu nona
cantik berbaju biru itu terpapas kutung menjadi tiga-empat bagian,
sementara ikat pinggangnya yang berwarna biru juga turut putus
menjadi dua bagian….
Mimpipun nona cantik berbaju biru itu tak pernah menyangka
kalau gerak menghindar yang sesungguhnya dilakukan dengan
kecepatan yang luar biasa itu, ternyata belum berhasil menghindari
serangan lawan.
Kontan saja sepasang alis matanya berkenyit, hawa nafsu
membunuh menyelimuti wajahnya, mencorong sinar tajam yang
dingin dan menggidikkan dari balik matanya yang jeli itu. Ditatapnya
wajah Ku See-hong tanpa berkedip.
Sejak seribu tahun yang lalu, tiga gerakan dalam jurus Hoo-hanseng-
huan tersebut sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan.
136
Belum pernah ada seorang manusia pun yang berhasil meloloskan
diri dari ancaman tersebut dalam keadaan selamat.
Jadi sesungguhnya, keberhasilan si nona cantik berbaju biru itu
meloloskan diri dari ancaman maut jurus itu tanpa menimbulkan
luka, adalah merupakan suatu kejutan bagi umat persilatan.
00d=w00
Bab 7
TENTU saja, keberhasilan si nona itu pun separuhnya
dikarenakan jurus serangan yang dipergunakan oleh Ku See-hong
pada hari ini, belum mencapai pada kekuatan yang sebenarnya.
Kalau memang demikian, lantas apa sebabnya selama hampir
seribu tahun lamanya ini belum pernah ada seorang jago
persilatanpun yang sanggup memecahkan jurus Hoo-han-seng-huan
tersebut?
Sesungguhnya, bila jurus serangan ini dipergunakan, maka akan
muncullah beberapa ciri khas yang luar biasa dan aneh sekali, yaitu
di kala menggerakkan tangannya di udara, selalu akan muncul
kilatan cahaya yang berkilauan… seluruh tubuh si penyerang itu
seakan-akan diselimut i oleh kilauan cahaya yang tajam sekali
bagaikan sinar matahari, sehingga sukar bagi orang lain untuk
menduga gerakan macam apakah yang sedang dilakukannya itu.
Selain daripada itu, di dalam setiap gerakan jurus itu, meski
terdapat beberapa macam perubahan yang berbeda, tapi
kecepatannya sedemikian hebatnya sehingga serangkaian gerakan
tersebut boleh dibilang dilakukan hampir pada saat yang
bersamaan.
Sejak dulu sampai sekarang, tak seorang jago silat pun di dunia
ini yang tahu sebenarnya terdapat berapa macam perubahan di
balik setiap gerakan dari jurus Hoo-han-seng-huan tersebut. Orang
lebih-lebih tak tahu sampai di manakah keanehan maupun kesakt ian
dari gerakan jurus tersebut.
137
Ketika Ku See-hong melancarkan serangan dengan
mempergunakan jurus Tee-jin-hun-gak tadi, sebetulnya dia hanya
bermaksud untuk menakut i-nakuti gadis itu saja.
Di luar dugaan, tenaga serangan yang dahsyat bagaikan
gulungan ombak samudra itu ternyata benar-benar terpancar
keluar, malahan pada mulanya dia masih tak berani percaya kalau
serangannya itu sanggup menahan sergapan maut dari nona cantik
itu.
Maka ketika dilihatnya nona cantik berbaju biru itu benar-benar
terdesak hebat sehingga menjadi mengenaskan sekali keadaannya…
untuk sesaat ia menjadi tertegun dan berdiri kaku di tempat.
Gadis cantik berbaju biru itu membentak keras, tubuhnya
melayang ke muka dengan gerakan yang enteng seperti kapas,
telapak tangannya yang putih bagaikan kemala, secara beruntun
melancarkan tujuh delapan buah serangan berantai, kemudian
kakinya menutul permukaan tanah dan melayang ke udara. Dari
suatu sudut yang aneh secara tiba-tiba melepaskan empat buah
tendangan berantai.
Setelah dibikin marah oleh serangan musuhnya, serangan
balasan dari gadis cantik berbaju biru itu menjadi sangat keji dan
sama sekali tidak terkandung belas kasihan.
Jurus-jurus serangan itu dilancarkan berangkai dan tiada
hentinya, sekaligus semua ancaman itu dikeluarkan, bahkan
kesempurnaan dari jurus serangannya itu boleh dibilang jarang
ditemui di kolong langit.
Secara beruntun Ku See-hong mendengus beberapa kali,
tubuhnya sudah terkena dua buah pukulan dan lututnya kena
ditendang satu kali, kesemuanya ini membuat pemuda itu kesakitan,
dan jatuh terduduk di atas tanah.
Melihat Ku See-hong sudah terjatuh ke tanah, nona cantik
berbaju biru itu baru tertawa cekikikan.
138
“Haaahh… haaahh… haaahh… orang she Ku, rupanya kulit
badanmu benar-benar tebal dan kuat seperti baja, dipukul keras
pun tak sampai mampus tapi… nonamu bertekad hendak
menghajarmu sampai babak belur malam ini sehingga merangkak di
tanah.”
Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan:
Jilid: 05
“KECUALI sekarang juga kau berlutut di depan nonamu dan
menyembah tiga kali, mungkin saja nona masih bersedia
mengampuni jiwamu.”
Ku See-hong yang berulang kali dipaksa mencium tanah, benarbenar
merasa marah sekali, saking mendongkolnya dia sampai
menggertak giginya keras-keras.
“Lonte busuk!” akhirnya dia membentak gusar.
“Aku orang she Ku memang tak sanggup menangkan dirimu, kau
juga boleh bunuh boleh cincang tubuhku, tapi jika kau berani
mempermainkan aku atau mencoba untuk mencemooh aku… Hmm!
Aku akan memaki tiga keturunanmu!”
Mendengar perkataan itu, si nona cantik berbaju biru itu
mengernyitkan alis matanya, sinar merah mencorong keluar dari
matanya yang jeli, tapi sejenak kemudian telah lenyap tak berbekas.
Kembali ujarnya sambil tertawa cekikikan:
“Orang she Ku, rupanya kau punya semangat. Cuma… bila
malam ini kau tak mau menjawab pertanyaan nonamu, hmm! Akan
kupermainkan dirimu seperti joged monyet!”
“Lonte busuk! Aku akan beradu jiwa denganmu!” bentak Ku Seehong
dengan kening berkerut.
139
Kembali tangannya bergerak aneh, rupanya ia sudah bersiap-siap
untuk mempergunakan tiga gerakan dari jurus Hoo-han-seng-huan
lagi.
Setelah merasakan kerugian yang cukup besar di tangan pemuda
itu, si nona cantik berbaju biru itu bertindak lebih cerdik, sebelum
pemuda itu sempat melancarkan serangannya, secepat angin
badannya menyelinap ke belakang Ku See-hong. Kemudian sambil
membentak keras, telapak tangan kirinya tiba-tiba diayunkan ke
depan.
“Ploook!” terdengar suara benturan nyaring menggema
memecahkan keheningan.
Di atas pipi Ku See-hong segera muncul lima buah bekas jari
tangan yang merah membara, menyusul kemudian lima jari tangan
kanannya yang dipentangkan lebar-lebar langsung menyambar baju
Ku See-hong dan membantingnya ke depan.
Ku See-hong segera merasakan keseimbangan badannya hilang,
tubuhnya lantas berguling tiga kali di atas tanah dan akhirnya jatuh
terjerembab mencium tanah. Selain hidungnya bocor, mukanya
bengkak ditambah lagi rambutnya terurai dan badannya belepotan
darah, keadaannya benar-benar mengenaskan sekali.
Melihat pemuda itu sudah mencium tanah, sambil menutup
bibirnya dengan jari tangan yang lentik, nona cantik berbaju biru itu
segera tertawa cekikikan. Pelan-pelan dia berjalan ke samping anak
muda itu, kemudian sambil ulurkan tangan kirinya dia berkata:
“Orang she Ku, tulangmu sudah pada rontok, belum? Mari, nona
membangunkan dirimu.”
Cemoohan dan hinaan yang berulang kali dilimpahkan si nona
kepadanya, membuat Ku See-hong yang tinggi hati itu menjadi naik
darah, matanya merah membara kalau bisa dia ingin sekali
membacok tubuhnya sehingga hancur berkeping-keping, Apalagi
setelah meyaksikan tingkah laku serta ucapan si nona yang
setengah mengejek, darah terasa sirap keluar.
140
“Lonte busuk!” bentak Ku See-hong dengan geramnya. “Jika
malam ini aku orang she Ku dapat keluar dari sini dalam keadaan
hidup, di kemudian hari pasti akan kusayat kulit badanmu, sekarang
aku minta kau… kau… enyah dari sini…!”
Saking gusarnya Ku See-hong sampai merasa tak sanggup
melanjutkan kata-katanya, seluruh badannya tampak gemetar
keras.
Ketika mendengar perkataan itu, nona cantik berbaju biru itupun
kelihatan agak tertegun, tapi setelah termangu beberapa saat
lamanya, sikap itu pulih kembali seperti sediakala.
Ia tertawa ringan, lalu katanya dengan merdu:
“Aduh mak, bagaimana sih kamu ini? Dengan bersungguh hati
orang sudah membantumu, kenapa kau malah menjadi marahmarah
hebat? Baiklah, anggap saja aku yang bersalah, kalau ingin
menghajar aku, nah, hajarlah aku sepuas hatimu.”
Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajahnya kelihatan
polos, manja dan membawa sifat kekanak-kanakan, kesemuanya ini
membuat gadis itu tampak bertambah cant ik dan menarik.
Untuk sesaat lamanya Ku See-hong berdiri melongo sehingga tak
tahu apa yang musti dilakukan, tapi rasa bencinya kepada gadis itu
sudah merasuk ke tulang sumsum. Dia menganggap gadis itu
adalah seorang gembong iblis perempuan yang berhati keji
bagaikan ular berbisa dan membunuh orang tanpa berkedip.
Maka dengan wajah hijau membesi, dia mendengus dingin:
“Hmmm… Sikapmu yang suka berlagak itu hanya bisa dipakai
untuk menggaet anjing-anjing geladak yang sudah buta matanya
atau mengidap penyakit edan. Hmmm…. Jika kau berani banyak
berbicara lagi, jangan salahakan kalau aku orang she Ku akan mulai
memaki dirimu lagi.”
Nona cantik berbaju biru itu mengerutkan dahi dan menghela
napas sedih, katanya dengan lembut:
141
“Kenapa sih kau begitu tidak percaya denganku? Sebenarnya aku
merasa benci sekali terhadap orang lelaki macam kalian itu, tapi
sekarang entah apa sebabnya, setelah bertemu denganmu, aku
sepertinya tidak begitu benci lagi.”
Sepasang matanya yang jeli mongerling ke wajah Ku See-hong
berulang kali. Di balik kejelian matanya itu terkandung rasa cintanya
yang mendalam, apalagi wajahnya memang cantik, sesungguhnya
cukup membuat hati orang terpikat.
Ku See-hong merasakan jantungnya berdebar keras, suatu
perasaan aneh yang hangat dan belum pernah dirasakan
sebelumnya. Secara lamat-lamat muncul dari dasar hatinya
perasaan aneh yang susah dilukiskan dengan kata-kata itu, boleh
dibilang belumpernah dirasakannya semenjak dilahirkan.
Ketika dilihatnya Ku See-hong hanya membungkam diri tanpa
mengucapkan sepatah katapun, dengan manja si nona cantik
berbaju biru itu kembali berkata:
“Sebetulnya aku diutus oleh guruku untuk menyelidiki seorang
musuh besarnya pada malam ini. Tapi belakangan ini suara
nyanyian anehnya yang tiba-tiba terputus sampai beberapa hari
mendadak berkumandang kembali. Hal ini menimbulkan rasa
keheranan di hatiku….
“Barusan, aku melihat kau muncul dari dalam kuil itu. Bahkan aku
lihat kau sama sekali tidak berpengaruh oleh daya pikat irama
pembetot sukma itu, maka aku menjadi keheranan bercampur
kaget. Menanti kau bertarung melawan Leng-cuan sam-pok dan
mempergunakan jurus Hoo-han-seng-huan milik si orang aneh
tersebut, aku baru berani memastikan bahwa kau pasti mempunyai
hubungan yang luar biasa sekali dengan manusia aneh itu… Aaaih,
apakah kau bersedia untuk memberitahukan kepadaku tentang
beberapa masalah?”
Ku See-hong yang mendengar perkataan itupun merasa terkejut
sekali, ia tahu musuh besar gurunya terlalu banyak, bila dia terlalu
sering mempergunakan ilmu sakti dari Bun-ji koan-su tersebut,
142
maka akhirnya orang persilatan pasti tahu kalau dia adalah
muridnya.
Aaai… Padahal ia belum begitu menguasai tentang jurus-jurus
silat tersebut, bagaimana baiknya sekarang? Hmmm. Bukankah
suhu seringkali menyuruh aku mempergunakan jurus Hoo-han-senghuan
tersebut untuk membunuh musuh? Musuh besar gurunya
begitu banyak, lebih baik dibunuh saja mereka yang berani datang
mencarinya, apa lagi yang musti ditakuti?
Ketika Ku See-hong berpikir sampai di situ, selapis hawa nafsu
membunuh yang mengerikan segera melintas di atas wajahnya.
Terdengar nona cantik berbaju biru itu kembali menghela napas
panjang, katanya lagi:
“Aku tahu kau tak akan menjawab pertanyaanku itu, tapi akupun
tak tega mempergunakan cara yang keji untuk memaksamu. Aaai…
Aku benar-benar merasa serba salah.”
Ku See-hong merasa sangat tidak puas dengan perkataan itu, ia
segera mendengus dingin, katanya ketus:
“Siapa menang siapa kalah masih sukar untuk ditentukan,
sekalipun aku orang she Ku diancam dengan golok di tengkuk, tak
nanti keningku akan berkerut, apalagi merengek minta diampuni.
Jika kau ingin mempergunakan cara yang lebih keji lagi, mengapa
tidak kau cobakan kepadaku?”
Nona cantik berbaju biru itu lama sekali tidak menampilkan
perubahan apa-apa setelah mendengar perkataan itu, dia cuma
berdiri termenung di situ, keningnya berkerut, agaknya banyak
persoalan yang sukar dipecahkan olehnya.
Bintang bertaburan di angkasa, suasana terasa kelabu…. Tanpa
terasa Ku See-hong berdiri termenung di tempat dan terkenang
kembali kejadiannya di masa lampau.
Gadis cantik berbaju biru itupun berdiri termangu di sana
bagaikan sedang mengigau dalam impian, dia bergumam lirih:
143
“Dia pasti bukan anak muridnya Bun-ji koan-su, kalau dia adalah
murid kesayangannya, ilmu silat yang dimilikinya pasti lihay sekali.
Apalagi locianpwe yang berwatak aneh itu sudah bersumpah tak
akan menerima murid lagi, mana mungkin dia akan menerima
pemuda ini sebagai ahli warisnya?
Tapi kalau dilihat orang she Ku ini, kelihatannya ia benar-benar
sangat aneh dan rahasia sekali, siapa pula yang mengajarkan jurus
Hoo-han-seng-huan tersebut kepadanya? Tampaknya dia seperti
memilki pula sejenis kepandaian yang aneh sekali dalam tubuhnya.
Kepandaian itu tampaknya mampu untuk menahan serangan dari
siapapun. Kalau dilihat dari tenaga dalamnya saja, dia sudah cukup
mampu menjadi jago kelas satu dalam dunia persilatan, tapi
mengapa ia tidak mengerti soal jurus silat? Aaai… kejadian ini
sungguh membingungkan hati orang, apakah mungkin manusia
aneh yang berdiamdi kuil ini bukan Bun-ji koan-su?”
Walaupun nona cantik berbaju biru itu tampaknya seperti orang
yang binal dan tak berotak, sesungguhnya kecerdasan otaknya luar
biasa sekali, jadi orang pun sangat teliti.
Mendadak….
Ku See-hong merasakan nadi penting pada pergelangan tangan
kanannya dicengkeram oleh sebuah tangan yang halus dan lembut,
menyusul kemudian terdengar seseorang berkata dengan suara
yang dingin bagaikan es:
“Orang she Ku apakah kau adalah ahli waris dari Bun-ji koan-su?
Cepat katakan berterus terang!”
Ku See-hong segera merasakan sekujur badannya menjadi
kesemutan, peredaran darahnya berjalan terbalik yang
mengakibatkan seluruh tenaga serta kekuatannya seakan-akan
lenyap tak berbekas.
Dasar keras kepala dan berwatak angkuh, kendatipun mengalir
terbaliknya darah di dalam tubuhnya menyebabkan Ku See-hong
merasa amet menderita dan kesakitan, tapi dia hanya menggertak
144
gigi saja sambil menahan diri. Ku See-hong menjengek sinis,
dengan wajah menghina dia tertawa dingin tiada hent inya:
“Sejak tadi aku orang she Ku sudah tahu kalau kau adalah
seorang perempuan rendah yang tak tahu malu, ternyata dugaanku
tidak salah. Hmmm! Tidak gampang untuk memaksa aku berbicara,
lebih baik matikan saja hatimu itu!”
Si nona cantik berbaju biru itupun berdiri dengan wajah sedingin
es, alis matanya berkenyit dan ia tertawa dingin tiada hentinya.
“Heeehh… heeehh… heeehh… akan nonamu lihat kau bisa
bertahan sampai kapan!”
Tangan kanannya yang mencengkeram nadi Ku See-hong segera
digoncangkan keras-keras, ini membuat Ku See-hong kesakitan
setengah mati. Saking sakitnya, peluh dingin jatuh bercucuran
membasahi seluruh badan Ku See-hong, mulut luka yang tadi
tersambar cakar Leng-cuan sam-pok tersebut, terasa sakitnya bukan
kepalang.
Ilmu sakti membalikkan aliran darah manusia yang jauh bertolak
belakang dengan keadaan manusia biasa ini betul-betul amat keji
dan kejam. Jangan toh tubuh Ku See-hong terdiri dari darah dan
daging, sekalipun terdiri dari baja kuat pun tak akan tahan.
Tak sampai setengah perminum teh kemudian, ia sudah tak
kuasa menahan diri lagi, isi perutnya terasa sakit bercampur gatal,
seakan-akan ada beribu-ribu batang anak panah yang menembusi
hatinya. Peluh dingin jatuh bercucuran membasahi sekujur
badannya, sementara mulutnya mulai merintih.
Sistem membalikkan peredaran darah manusia yang diterapkan
di tubuh Ku See-hong ini sesungguhnya lihay sekali. Yang paling
penting adalah ketepatannya mengarah sasaran jalan darah di
tubuh orang. Entah musuh berilmu tinggi atau tidak, asal sudah
terkena serangan maka segenap tenaga perlawanannya akan
musnah tak berbekas, saat itulah dengan mengandalkan aliran hawa
murni yang ada dalam tubuhnya mengendalikan peredaran darah di
145
tubuh lawan, agar aliran darah lawan mengalir terbalik dan
menyerang isi perut.
Kepandaian yang bisa memutar balikkan peredaran darah
manusia ini terdiri dari beberapa macam, tapi kegunaannya sama,
meski caranya berbeda.
Salah satu di antaranya dinamakan Hud-hiat-ni-hiat (Mengayun
Jalan Darah Membalikkan Peredaran Darah). Kepandaian ini
mempergunakan ilmu totokan jalan darah yang khusus untuk
menyumbat jalan darah penting di tubuh manusia. Barang siapa
terkena totokan itu, maka darah yang beredar dalam tubuh dan
delapan nadinya akan terbalik menyerang ke hati. Cuma cara ini
reaksinya agak lamban.
Macam yang lain adalah kepandaian yang dipergunakan nona
berbaju biru itu, kepandaian tersebut dinamakan Cui-khi-jian-hiat
(Menyumbat Hawa Menghancurkan Darah), ilmu yang dipergunakan
adalah ilmu cengkeraman Kina-jiu-hoat, sedang yang diancam juga
jalan darah penting di tubuh lawan.
Setelah jalan darah penting lawan kena dicengkeram, biasanya
dia akan mempergunakan tenaga dalam yang dimilikinya untuk
menyumbat peredaran darah lawan agar aliran darah itu berbalik
menyerang isi perut. Cuma cirinya, orang yang tidak memiliki
tenaga dalam yang amat sempurna, jangan harap bisa
mempergunakan cara semacam ini.
Ku See-hong merasakan kesakitan yang luar biasa sekali, kulit
mukanya sampai mengejang keras karena harus menahan
penderitaan, sementara sorot matanya memancarkan sinar
kebencian dan dendam menatap wajah gadis berbaju biru itu tanpa
berkedip.
Mendadak….
Ku See-hong mendengus tertahan… mendadak tangan kanannya
melepaskan diri dari cengkeraman gadis berbaju biru itu, kemudian
tangan kirinya dengan suatu gerakan yang sangat aneh langsung
melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah gadis berbaju biru itu.
146
Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat gadis
berbaju biru itu menjadi terperanjat sekali, mimpipun ia tak
menyangka kalau Ku See-hong bisa meloloskan diri dari
cengkeraman Kina-jiu-hoatnya, apalagi menghadapi serangan yang
datangnya sangat aneh dan tangguh tersebut.
Dalam kejutnya gadis berbaju biru itu segera memutar lengan
kirinya sambil dikebutkan ke depan, serentetan titik cahaya bintang
yang berkilauan bagaikan serentetan bunyi letusan yang berantai
bergema memecahkan keheningan.
Dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat itu dengan
cepatnya saling bertemu antara yang satu dengan lainnya.
“Blaaamm…!” suatu ledakan keras yang memekikkan telinga
segera bergema memcahkan keheningan. Angin pukulan yang
sangat kuat itu segera menimbulkan desingan angin tajam yag
menyambar ke empat penjuru, keadaan mengerikan sekali.
Akibat dari bentrokan kekerasan itu, tubuh Ku See-hong hanya
tergetar sedikit dan mundur dua langkah, mencorong sinar gembira
dari balik wajahnya, tidak seperti tadi bermuram durja.
Ketika menyambut tenaga pukulan dari Ku See-hong tadi, gadis
berbaju biru itupun diam-diamberseru:
“Wouw… hebat betul tenaga pukulan orang ini! ”
Ku See-hong segera mendongakkan kepalanya dan berpekik
amat nyaring, telapak tangan kanannya segera diayunkan ke
depan… “Weess!” sebuah pukulan dahsyat langsung dibabat ke
tubuh gadis berbaju biru itu.
Gerak serangan yang dilancarkan inipun dilakukan dengan suatu
gerakan yang sangat aneh dan luar biasa, di mana angin
pukulannya dilepaskan, angin pukulan yang bagaikan gulungan
ombak raksasa di tengah samudra langsung menggulung ke muka.
Melihat datangnya ancaman tersebut gadis berbaju biru itu
berkerut kening, lengan kirinya yang halus dengan cepat
menciptakan gerakan satu lingkaran busur sementara telapak
147
tangan kanannya secepat sambaran petir meluncur ke muka dengan
gerakan sakti.
Segulung hawa pukulan yang lembut dan halus, tanpa
menimbulkan sedikit suara pun menyongsong datangnya ancaman
tersebut.
“Blaaamm…!” suatu ledakan keras yang disertai dengan pancaran
hawa murni ke empat penjuru segera menyelimuti seluruh angkasa
di sekeliling tempat itu.
Sepasang bahu Ku See-hong bergetar keras, tapi kakinya sama
sekali tidak bergeser dan tetap tegak di tempat semula, mukanya
tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun.
Gadis berbaju biru itu makin terkesiap setelah menyambut
serangan dari Ku See-hong untuk kedua kalinya, dengan cepat dia
berpikir:
“Heran, kenapa serangan yang dilancarkan orang ini makin lama
semakin hebat? Padahal di dalam melepaskan serangan tadi,
kugunakan tenaga dalamku sebesar enam bagian. Nyatanya sama
sekali tak dapat melukai dirinya. Bukankah ia sama sekali tak
mengerti akan jurus silat ketika pertarungan dilangsugkan tadi?
Kenapa dua kali serangan yang terjadi sekarang ini seluruhnya
menggunakan jurus-jurus tangguh yang belum pernah kujumpai
dalam dunia persilatan?”
Dalam pada itu, sekulum senyuman dingin telah tersungging di
ujung bibir Ku See-hong, ujarnya dengan angkuh:
“Nona betul-betul seorang tokoh sakti yang berilmu tinggi,
tenaga dalam yang kau milikipun amat sempurna, harap kau sambut
kembali sebuah pukulanku ini!”
Berbicara sampai di situ, pelan-pelan Ku See-hong mengangkat
telapak tangan kirinya, jari tangan dilengkungkan dan…
“Hiiaaat…!” diiringi bentakan keras, telapak tangan kanannya
diayunkan ke muka dengan cepat, menyusul kemudian telapak
tangan kirinya juga didorong sampai ke tengah jalan. Angin pukulan
148
yang maha dahsyat, ibaratnya gumpalan awan di angkasa dengan
cepat menyelimut i seluuh tempat dan menggulung tiba dengan
hebatnya.
Gadis berbaju biru itu amat terperanjat, bagaikan angin puyuh
tubuhnya berputar kencang, hawa pukulan yang lembut segera
memancar keluar dari sekeliling tubuhnya. Di tengah gulungan
angin pukulan yang berpusing, tiba-tiba berkumandang suara
benturan nyaring…
“Bluuuk! Bluuuk! Bluuuk! Tahu-tahu hawa pukulan kedua belah
pihak sama-sama lenyap tak berbekas.
Terkesiap sekali gadis bebaju biru itu menghadapi kemampuan
Ku See-hong yang luar biasa itu, sebab: penambahan tenaga dalam,
perubahan gerakan, serta kemunculan jurus serangan dari si anak
muda itu hakekatnya melanggar kebiasaan dunia persilatan.
Atau mungkin dia adalah seorang manusia licik yang berakal
busuk, pandai merahasiakan diri serta berilmu silat tinggi? Berpikir
demikian, mencorong sinar pembunuhan dari balik matanya yang
jeli, ujarnya kemudian dengan suara dingin:
“Orang she Ku, rupanya kau adalah manusia licik, berakal busuk
dan pandai merahasiakan diri. Hmm, malam ini jangan harap kau
bisa lolos dari cengkeraman nonamu!”
Kemudian diiringi hentakan keras serunya kembali:
“Orang she Ku, sambut lah sebuah serangan dari nonamu!”
Di tengah seruannya, dengan menghimpun tenaganya sebesar
sepuluh bagian, gadis berbaju biru itu mengayunkan sepasang
tangannya ke depan.
Serangan ini dilancarkan dengan menghimpun tenaga dalamnya
sebesar sepuluh bagian, tentu saja hebatnya luar biasa. Begitu
pukulan dilepaskan, tenaga pukulan yang dahsyat seperti angin
puyuh segera menggetarkan pepohonan siong yang berada
beberapa kaki jauhnya dari sana.
149
Hampir sekujur badan Ku See-hong diselimuti oleh tenaga
pukulan yang dahsyat bagaikan ambruknya bukit Tay-san itu, boleh
dibilang tak setit ik celah kosongpun yang berhasil ditemukan.
Di kala Ku See-hong melancarkan serangan untuk ketiga kalinya
tadi, sesungguhnya isi perut pemuda itu sudah digetarkan oleh
serangan lawan, tapi dasar keras kepala, dia segan menunjukkan
kelemahan di hadapan orang. Buru-buru hawa murninya disalurkan
untuk mengendalikan gejolak hawa murni di dalam hatinya
kemudian setelah pusatkan pikirannya, dia bersiap-siap melancarkan
kembali serangannya. Maka tergetarlah perasaannya setelah
mendengar perkataan dari gadis itu.
Tapi pihak musuh tidak memberi kesempatan lagi baginya untuk
berpikir panjang, tenaga pukulan yang menggetarkan hati itu sudah
menggulung tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran petir. Kali
ini sepasang telapak tangan Ku See-hong juga ditolak keluar dengan
sejajar dada.
Ku See-hong hanya merasakan tenaga tekanan yang menimpa
tubuhnya kali ini ibaratnya bukit Tay-san yang menindih kepala.
Sekujur badannya tergetar keras oleh tenaga tekanan hawa pukulan
itu sehingga hawa darahnya bergolak keras. Seketika itu juga
badannya terlempar ke udara dan melayang sejauh dua kaki lebih
dari tempat semula, tapi ia masih sempat melayang turun di atas
tanah dengan selamat tanpa menderita luka apapun.
Tertegun gadis berbaju biru itu sehingga untuk beberapa saat
lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, dia benarbenar
mengira sudah bertemu dengan setan. Dengan tenaga
pukulannya yang mencapai sepuluh bagian itu, batu berada seratus
langkah di hadapannya pun akan hancur menjadi bubuk, kenapa
pemuda itu tidak menderita luka apa-apa? Kepandaian macam
apakah itu?
Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak gadis
berbaju biru itu, sementara tubuhnya diiringi bentakan nyaring
segera menerjang ke hadapan Ku See-hong, sepasang telapak
150
tangannya bagaikan kupu-kupu yang menari di antara aneka bunga,
menimbulkan pusaran angin berpusing yang amat kencang.
Dengan cepat gerakan tubuhnya juga ikut berkembang,
perubahan yang aneh bermunculan berulang-ulang, angin pukulan
tajam bagaikan pisau. Serangan yang dilancarkan juga semuanya
mengancam bagian-bagian mematikan di tubuhnya, serangan itu
begitu ganas, buas dan keji.
Pada mulanya Ku See-hong benar-benar kena didesak sehingga
harus berputar kian kemari dengan repotnya, dia harus
mempergunakan ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong yang sangat
lihay itu untuk berkelit dan menghindar kesana kemari, tapi
kemudian jurus sakti mulai bermunculan, makin bertarung semakin
mantap. Kenyataan ini segera menimbulkan pelbagai kecurigaan
dan tidak habis mengerti buat orang lain.
Sesungguhnya akibat dari pertarungan yang dikobarkan si nona
berbaju biru itu serta ejekan dan cemoohan yang dilontarkan
olehnya pada malam ini, hakekatnya telah menggali sumber ilmu
silat maha sakti yang bakal dimiliki oleh Ku See-hong di kemudian
hari.
Ternyata, di kala Ku See-hong terkena ilmu Cui-khi-jian-hiat dari
si nona berbaju biru sehingga mengakibatkan jalan nadinya
tercengkeram dan merasakan siksaan akibat mengalir terbaliknya
peredaran darah…. Pemuda yang keras hati ini segera memeras
otaknya dan berusaha untuk menemukan cara untuk memecahkan
keadaan tersebut. Diapun lantas mengasah otaknya dan berusaha
untuk memecahkan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.
Siapa tahu, begitu otaknya berputar, Ku See-hong segera
menemukan bahwa jurus serangan itu hampir boleh dibilang
mengandung pelbagai gerakan jurus silat yang sangat tangguh,
setiap gerakannya mengandung arti yang dalam dan perubahan yan
tak terhitung jumlahnya.
Pada dasarnya Ku See-hong memang seorang lelaki yang tergilagila
oleh ilmu silat, setelah mengetahui rahasia tersebut ia menjadi
151
terkesima dan segera terlelap dalam pemikiran yang mendalam.
Untuk sesaat lamanya diapun melupakan penderitaan akibat dari
aliran darahnya yang membalik….
Setelah termenung beberapa saat, akhirnya Ku see-hong berhasil
memahami pula beberapa jurus serangan aneh dari balik ketiga
gerakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.
Mendadak si anak muda itupun merasakan munculnya segulung
aliran hawa panas dan dingin dari dalam pusarnya. Seketika itu juga
aliran darahnya yang membalik segera menjadi tenang kembali.
Maka Ku See-hong lantas mengeluarkan ilmu gerakan aneh yang
barusan dipecahkan itu untuk meronta lepas dari cengkeraman
gadis berbaju biru itu.
Perlu diketahui, Bun-ji koan-su Him Ci Seng adalah seorang
manusia yang berotak brilian dan lihay. Semenjak lima puluh tahun
berselang ia sudah amat lihay, apalagi setelah memperoleh kitab
pusaka Cang-ciong pit-kip serta memahami isi dari kitab tersebut.
Dua puluh tahun berselang, dia mengalami suatu musibah yang
merupakan tragedi paling besar dalam hidupnya. Dalam keadaan
sedih dan putus asa, sepanjang hari dia hanya memperdalam ilmu
yang diperolehnya dari kitab Cang-ciong pit-kip tersebut untuk
menghabiskan waktu senggang. Setiap waktu dia selalu melatih ilmu
tenaga dalam tingkat tingginya. Oleh sebab itu, kesempurnaan
tenaga dalam yang dimilikinya sekarang beberapa kali lipat lebih
dahsyat dibandingkan dengan lima puluh tahun berselang ketika ia
baru pertama kali terjun ke dunia persilatan dulu.
Ketika Ku See-hong masuk ke dalam kuil kuno itu, dalam sekilas
pandangan saja ia sudah tertarik kepada pemuda itu, dia bertekad
untuk melatih si anak muda itu agar menjadi sekuntum bunga aneh
dalam dunia persilatan pada seratus tahun belakangan ini.
Maka Bun-ji koan-su lantas mempergunakan semburan api dari
inti bumi, guyuran air sejuk dari sumber bawah tanah dan pukulan
tongkat untuk menembusi semua nadi penting di seluruh tubuh Ku
See-hong agar dia bisa memperoleh keadaan bagaikan berganti
tulang saja.
152
Selain kemudian ia wariskan ilmu Kan-kun Mi-siu khikang yang
luar biasa itu kepadanya, selanjutnya Bun-ji koan-su juga tak segansegannya
menggunakan cara Tiong-giok-tay-hoat untuk
menyalurkan segenap tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan
tahun ke tubuh Ku See-hong yang berakibat dia harus mati
kekeringan.
Sebaliknya gadis berbaju biru itupun memiliki serangkaian ilmu
silat yang lihay sekali. Sejak pertarungan pertama kali tadi, ia sudah
dibuat terkejut oleh kemampuan Ku See-hong, ia merasa tenaga
pukulan musuh makin lama semakin tangguh jurus serangan yang
dipakai juga makin lama semakin aneh. Yang lebih terkesiap lagi
adalah daya tahan Ku See-hong terhadap tenaga serangan,
walaupun setiap pukulan mautnya selalu berhasil menghajar telak di
tubuh lawan, namun si anak muda itu masih tetap sehat wal’afiat
tanpa kekurangan sesuatu apapun. Kenyataan tersebut segera
menimbulkan berbagai pikiran dalam benaknya.
Mungkinkah Ku See-hong adalah jelamaan dari sukma
gentayangan atau setan iblis?
Ku See-hong sendiri, walaupun diam-diam, merasa terperanjat
sekali oleh kepandaian sakti yang dimiliki gadis berbaju biru itu, tapi
dia yakin memiliki beberapa macam kepandaian sakti yang dapat
melindungi keselamatan jiwanya hingga t idak sampai mati dibunuh.
Maka di samping ia layani serangan-serangan musuh yang
gencar dan dahsyat, diam-diam dia pun berusaha mengupas jurusjurus
ampuh yang lebih mendalam dari gerakan Hoo-han-seng-huan
tersebut.
Setiap kali ia berhasil memahami satu jurus serangan, segera
dipraktekkan terhadap gadis berbaju biru itu, yang mana memaksa
gadis tersebut harus mengerahkan tenaga yang amat besar untuk
meloloskan diri.
Sekarang, bukan saja Ku See-hong sama sekali tidak mendendam
terhadap gads berbaju biru itu, sebaliknya ia merasa berterima kasih
153
sekali kepadanya, dia bersedia melangsungkan terus pertarungan
sengit itu selama mungkin.
Dalam pada itu waktu sudah menunjukkan kentongan keempat,
suasana di depan kuil kuno itu tetap diiputi oleh keseraman,
kengerian dan keheningan. Di tengah bunyi pohon yang terhembus
angin, tertiup juga pusaran angin kencang yang menderu-deru.
Di tengah berkobarnya pertempuran sengit itu, dari arah timur
mendadak muncul sesosok bayangan manusia yang meluncur
datang dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
Sungguh cepat sekali gerakan tubuh orang itu, Hanya dalam
sekejap mata saja, seperti sukma gentayangan ia sudah tiba di
bawah sebatang pohon. Sepasang matanya yang tajam mengawasi
tak berkedip gadis baju biru dan Ku See-hong yang sedang
bertanding sengit. Sinar aneh memancar keluar dari balik matanya.
Mendadak orang di bawah pohon itu mendongakkan kepalanya
dan berpekik nyaring, suaranya nyaring seperti pekikan naga yang
menjulang hingga ke udara dan memecahkan keheningan malam.
Sungguh teramat sempurna tenaga dalam yang dimiliki orang itu,
hal mana bisa dibuktikan dari suara pekikannya yang nyaring itu.
Baru saja pekikan itu berkumandang, pekikan lain bersahutsahutan
dari empat penjuru dan bergema tiada hentinya. Kalau
didengar dari suaranya jelas jumlah mereka t idak sedikit.
Dalam waktu singkat suara pekikan yang bergema dari empat
penjuru itu bergema makin lama semakin mendekati, menyusul
kemudian empat sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar
biasa bermunculan dari empat arah delapan penjuru dan menuju ke
samping bayangan manusia tadi….
Sejak kedatangan bayangan manusia yang pertama tadi, gadis
berbaju biru itu sudah merasa. Tiba-tiba sepasang telapak
tangannya melancarkan sebuah serangan dengan jurus yang aneh
sekali, yang mana memaksa Ku See-hong mundur tujuh delapan
langkah dari posisi semula. Kemudian sambil memutar biji matanya
dan tersenyum manis kepada Ku See-hong, katanya lembut:
154
“Orang she Ku, kau jangan melulu gunakan aku seorang untuk
teman latihan, tuh lihat. Sudah ada banyak jago yang datang
menggantikan aku, berilah kesempatan bagiku untuk beristirahat.”
Gadis berbaju biru itu adalah seorang gadis yang amat cerdik,
tentu saja diapun tahu kalau Ku See-hong telah memanfaatkan
kesempatan pertarungan itu untuk melatih ilmu silatnya.
Justru karena itu, gadis berbaju biru itu tidak melancarkan
serangan yang mematikan terhadap dirinya, kalau tidak… dengan
kepandaian yang dimiliki Ku See-hong sekarang ini, masih bukan
tandingan dari gadis tersebut.
Ku See-hong merasakan hatinya bergetar keras setelah
mendengar perkataan itu. Diam-diam pikirnya:
“Tabiat dari gadis ini sungguh aneh dan sukar diraba, sebentar ia
bersikap bermusuhan sebentar lagi ia bersikap bersahabat. Entah
apa maksud hatinya yang sebenarnya? Kalau didengar dari
perkataannya barusan, rupanya ia sudah tahu kalau kugunakan
kesempatan dalam pertarungan tadi untuk mengupas kepandaian
silatku.”
Setelah berpikir sampai di situ, dengan wajah tetap dingin
bagaikan salju, Ku See-hong tertawa dingin, katanya:
“Terima kasih banyak atas maksud baik nona, seandainya
pendatang itupun bermaksud untuk mencari gara-gara dengan aku
orang she Ku, tentu saja akan kugunakan diri mereka sebagai kelinci
percobaan.”
Baru selesai dia berkata, dari balik kegelapan terdengar
seseorang berseru sambil tertawa dingin:
“Budak setan, kau betul-betul seorang perempuan liar yang tidak
beres perangainya. Lagi-lagi kau menggaet lelaki gentong nasi pada
malam ini, heeehh… heeehh…. Malam ini lohu pasti akan mengirim
kau untuk berpulang ke akhirat.”
Ku See-hong segera mendengus gusar, katanya dengan nada
menghina:
155
“Saudara, caramu berbicara sangat kasar dan tak tahu diri,
tampaknya kau sudah bosan hidup.”
Gelak tertawa nyaring bagaikan gembrengan bobrok yang
berdentang menggema di angkasa, kemudian terdengar seseorang
berkata dengan suara menyeramkan:
“Kalau begitu, kau tentunya seorang yang bertulang keras. Baik,
lohu akan mencoba kemampuanmu.”
Berbareng dengan selesainya perkataan itu, dari balik kegelapan
berjalan keluar seorang kakek tua berjubah panjang, berperawakan
pendek kecil dan bermuka panjang. Ia bertangan kosong, jenggot
putihnya sepanjang setengah jengkal dan menatap sekujur badan
Ku See-hong dengan sinar mata tajam.
Di belakang kakek kecil bermuka panjang itu mengikuti empat
orang lelaki berbaju ringkas yang masing-masing menggondol
sebilah pedang di punggungnya.
Sesudah mengetahui jelas siapa gerangan yang datang, gadis
berbaju biru itu segera tertawa terkikik-kikik.
“Aku kira siapa yang telah datang? Rupanya lagi-lagi kalian anak
monyet dari Lam-hay-huan-mo-kiong. Apakah lelaki busuk itu yang
memerintahkan kalian untuk datang menangkapku?”
Kakek ceking bermuka panjang itu mendehem beberapa kali,
kemudian sahutnya sambil tertawa,
“Aaah, terlalu sungkan, asal nona Im Yan cu bersedia balik
kembali ke rangkulan sau-kiongcu kami, tentu saja kami tak akan
menyusahkan dirimu, kalau tidak terpaksa akan kami taklukkan
dirimu dengan mempergunakan kekerasan.”
Paras muka Im Yan cu atau gadis berbaju biru itu segera
berubah menjadi dingin seperti es. Dengan kening berkerut dan
hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya, ia berkata
dengan dingin:
156
“Kau boleh pulang dan beritahu kepada lelaki busuk itu, jangan
dianggap karena bapaknya adalah saudara seperguruan dari guruku
lantas dia mau main paksa. Huuuh, jika nonamu sampai naik pitam,
tidak sungkan lagi akan kubasmi kalian semua dari muka bumi.”
Kakek ceking bermuka panjang itu tertawa dingin, katanya:
“Baik soal wajah maupun dalam hal kedudukan, bagaimanakah
dari siau-kongcu kami yang tidak pantas untuk mendampingimu?
Hmmm! Apakah kau sudah jatuh hati kepada lelaki goblok itu?”
Sembari berkata dengan sorot matanya yang tajam penuh
kebencian, kakek ceking itu berpaling ke arah Ku See-hong.
Sebagai seorang pemuda yang cerdik, setelah mendengar
pembicaraan tersebut Ku See-hong segera mengetahui hubungan
apakah yang terjalin antara Im Yan cu, si gadis cant ik itu dengan
orang-orang tersebut.
Selain dari pada itu diapun merasakan hatinya amat terkesiap,
sebab semenjak lima puluh tahun berselang, istana Huan-mo-kiong
di Lam-hay sudah amat tersohor namanya di dalam dunia
persilatan. Anggota Huan-mo-kiong tak pernah melakukan
perjalanan di antara Tionggoan. Konon ilmu silat merekapun
terhitung suatu kepandaian manunggal yang memiliki jurus-jurus
serangan yang luar biasa anehnya.
Sementara itu, Im Yan cu telah mengerling sekejap ke arah Ku
See-hong dengan sinar mata yang lembut dan penuh perasaan cinta
kasih, kemudian kepada kakek ceking tadi katanya sambil tertawa:
“Kalau benar, mau apa kau? Nonamu memang benar-benar telah
jatuh hati kepadanya, kau boleh segera pulang dan laporkan
persoalan ini kepada sau-kiongcu kalian.”
Mendadak….
Serentetan suara dingin yang menyeramkan berkumandang
memecahkan keheningan. Dengan suatu gerakan tubuh yang
sangat cepat bagaikan sambaran kilat kakek ceking itu melayang ke
samping Ku See-hong, kemudian kedua jari telunjuk dan jari tengah
157
tangan kanannya dengan kecepatan tinggi menotok jalan darah Ciciat-
hiat di tubuh pemuda itu, sementara kelima jari tangan kirinya
mencengkeram ke arah urat nadi lawan. Serangan ini bukan saja
dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, dan lagi arah serangan
adalah dua buah jalan darah pent ing di tubuh lawan….
Dalam terperanjatnya, secepat kilat Ku See-hong membalikkan
badannya, telapak tangan kanan dibalik kemudian langsung
membabat pergelangan tangan kakek ceking tersebut.
Ilmu silat yang dimiliki kakek ceking itu memang luar biasa sekali,
dengan cepat pergelangan tangan kanannya ditarik ke belakang
menghindarkan diri dari bacokan tangan Ku See-hong, kemudian
secara tiba-tiba ia menerjang ke depan dengan sodokan jari dan
sodokan sikut. Dua serangan dilancarkan berbareng, kemudian
menyusul pula kaki kanannya melayang ke depan menghajar jalan
darah toa-hek-hiat di bawah pusar Ku See-hong.
Sejak pertarungan serunya melawan Im Yan cu tadi, sudah
banyak jurus serangan aneh yang berhasil dipahami Ku See-hong.
Dengan cekatan dia miringkan badannya ke samping menghindari
sikutan kakek ceking itu, kemudian bukannya mundur dia malah
maju lebih ke depan. Kedua jari tengah dan telunjuk tangan
kanannya diayunkan ke muka menotok badan kakek ceking itu,
sementara kaki kanannya diangkat dan menendang ke muka,
dengan ujung kakinya dia menotok jalan darah Hu-lian-hiat di atas
badan lawan.
Dalam istana Huan-mo-kiong di Lam-hay, kakek ceking tersebut
mempunyai kedudukan yang tinggi sekali, ilmu silat yang dimilikinya
pun belum pernah menemui tandingan. Tapi tidak disangka olehnya
kalau Ku See-hong memiliki ilmu silat sedemikian lihaynya. Saking
kaget dan terkesiapnya dia sampai mundur dua langkah ke
belakang.
Im Yan cu yang menonton jalannya pertarungan tersebut, diamdiam
menganggukkan kepalanya, selintas rasa girang yang sangat
aneh menghiasi wajahnya.
158
Walaupun beberapa jurus serangan yang dilakukan oleh kedua
orang itu dalam melangsungkan pertarungan jarak dekat tak
tampak kehebatannya, tapi dalam pandangan mata seorang yang
ahli, justru jauh lebih seru dan berbahaya daripada pertarungan
apapun.
Pertempuran itu pada hakekatnya merupakan suatu pertempuran
yang mempengaruhi mati hidup mereka. Sedemikian cepatnya
perubahan jurus tersebut, hingga pertarungan tersebut hanya
berlangsung dalam beberapa detik saja….
Di kala si kakek ceking itu mundur ke belakang, lelaki berbaju
hitam yang berdiri di empat penjuru itu ada dua di antaranya yang
segera meloloskan pedang dan menyerang.
Di antara kilatan cahaya tajam yang berkilauan, tampak dua bilah
pedang itu menyerang jalan darah penting di seluruh badan Ku Seehong.
Dengan cepat Ku See-hong menggerakkan kakinya sambil
berputar untuk meloloskan diri dari ancaman pedang itu, kemudian
sambil membentak keras tangan kirinya diayun ke depan.
“Weeess…” sebuah pukulan dahsyat dibacokkan ke tubuh lelaki
baju hitam yang berada di sebelah kanan, segulung angin puyuh
yang disertai dengan desingan angin tajam langsung meluncur ke
depan dengan kecepatan luar biasa.
“Blaaamm…” diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, lelaki
kekar itu terbawa oleh angin serangan yang maha dahsyat tersebut
sehingga mencelat sejauh dua kaki lebih dari tempat semula. Darah
segar muncrat keluar dari mulutnya, setelah kaki tangannya
gemetar keras, tewaslah orang itu dalam keadaan mengenaskan.
Termangu-mangu Ku See-hong menyaksikan peristiwa itu, dia
tak menyangka kalau ayunan telapak tangannya yang begitu
sederhana ternyata berhasil membinasakan musuhnya.
00d~w00
159
Bab 8
SUARA bentakan gusar menggelegar memecahkan keheningan.
Lelaki yang satunya itu segera menggerakkan pedangnya
menciptakan bertitik-titik cahaya bintang yang berkilauan, secara
ganas dia menusuk punggung Ku See-hong keras-keras.
Begitu mendengar suara desingan tajam bergema dari belakang,
dengan cepat Ku See-hong berpaling. Ternyata ujung pedang yang
berkilauan itu sudah tinggal tiga inci dari atas badannya.
Dalam gelisah dan cemasnya telapak tangan kirinya segera
dilontarkan ke belakang kemudian badannya berputar kencang,
tangan kanannya dengan gerakan yang cepat tapi aneh
mencengkeram pergelangan tangan kanan lelaki tadi. Dalam suatu
perputaran yang diikuti dengan getaran, pedang tersebut tahu-tahu
sudah berpindah tangan.
Gerakan tubuh Ku See-hong ketika menghindarkan diri tadi
merupakan gerakan yang sakti dari Mi-khi-biau-tiong, sedangkan
jurus serangan yang digunakan untuk merampas pedang lelaki
tersebut merupakan suatu jurus serangan yang belum lama berhasil
dipahami olehnya.
Lelaki berbaju hitam itu hanya merasakan pergelangan tangan
kanannya menjadi sakit, tahu-tahu pedangnya sudah berpindah ke
tangan musuh. Tanpa terasa dengan perasaan terkesiap dia mundur
ke belakang.
Selisih waktu yang dibutuhkan Ku See-hng untuk membunuh
seorang musuh dan merampas pedang seorang lawannya boleh
dibilang singkat sekali, sebab itulah si kakek ceking yang berilmu
silat sangat lihay pun tidak sempat memberikan pertolongannya.
Mencorong sinar mata bengis dan buas dari balik mata kakek
ceking itu, sambil tertawa seram dengan penuh kegusaran, katanya:
“Tampaknya ilmu silatmu hebat juga. Hmmm! Cuma sayang kau
telah membunuh seorang anggota Huan-mo-kiong dari Lam-hay,
jangan harap kau bisa hidup lebih lama lagi di dunia ini.”
160
Walaupun Im Yan cu merasa girang karena ilmu silat yang
dimiliki Ku See-hong telah memperoleh kemajuan yang pesat,
namun diapun merasa terperanjat sekali karena pemuda itu telah
membunuh seorang anak murid dari Huan-mo-kiong.
Dia cukup mengetahui akan kebuasan serta kekejaman orangorang
Lam-hay, itu berarti dalam pengembaraannya dalam dunia
persilatan di kemudian hari, Ku See-hong akan banyak menemui
kesulitan di tangan anak murid istana Huan-mo-kiong.
Ku See-hong yang baru pertama kali mencoba kehebatan ilmu
silatnya, menjadi girang sekali setelah menyaksikan
keberhasilannya. Mendengar perkataan itu, sambil tertawa seram,
ujarnya:
“Apa sih hebatnya dengan Huan-mo-kiong dari Lam-hay? Aku
orang she Ku akan selalu menantikan pembalasan dendam dari
kalian.”
Selama puluhan tahun belakangan, belum pernah pihak Huanmo-
kiong mengalami penghinaan sebesar apa yang dialaminya
sekarang ini, maka di kala menyaksikan sikap sinis Ku See-hong
terhadap orang-orang Huan-mo-kiong, kontan saja kedua orang
lelaki berbaju hitam lainnya menjadi naik pitam.
Sambil membentak keras, pedang mereka disertai dengan
desingan angin tajam yang menyayat badan, bagaikan dua ekor ular
sakti langsung membacok ke tubuh Ku See-hong.
Mencorong sinar mata pembunuhan yang mengerikan dari balik
mata Ku See-hong, diiringi pekikan nyaring yang memekikkan
telinga, badannya menerjang maju secara aneh. Sepasang
lengannya membentuk gerakan bayangan busur dari samping
badan, lalu sambil membentak sepasang tangan kiri kanannya
dibacok menyilang. Dua gulung angin pukulan yang berat dan dalam
bagaikan samudera, secara terpisah menyerang kedua orang lelaki
berbaju hitam itu.
Gerak serangan yang dilancarkan pemuda itu semuanya aneh
dan luar biasa cepatnya. Kekuatan daya serangan tersebut ibaratnya
161
ombak samudra yang menggulung di tengah topan, kehebatannya
sungguh mengerikan.
Walaupun kedua orang lelaki berbaju hitam itu memiliki dasar
ilmu silat yang bagus, namun bagaimana mungkin bisa menahan
serangan dahsyat yang sangat mengerikan itu. Di tengah dua kali
jeritan ngeri yang menyayatkan hati, dua orang lelaki yang tinggi
besar itu terlempar sejauh dua kaki lebih oleh tenaga serangan yang
maha dahsyat itu sehingga tubuhnya sama sekali tak berkutik lagi
untuk selamanya. Jelas mereka telah tewas di ujung angin pukulan
Ku See-hong yang sangat lihay itu.
Hawa pembunuhan yang sangat mengerikan ini sudah jelas
merupakan suatu ancaman yang cukup mengerikan perasaan siapa
saja.
Tak terlukiskan rasa gusar si kakek ceking ketika dilihanya sudah
tiga orang anak buahnya yang tewas di tangan musuh dalam
sekejap mata. Sambil membentak gusar tubuhnya bagaikan pusaran
angin puyuh segera menerjang ke depan, tangan kiri memainkan
jurus Tui-po-cu-lan (Mendorong Ombak Menahan Riak), sementara
tangan kanan memainkan jurus Heng-toan-san-gak (Memutuskan
Bukit Karang), satu jurus dengan dua gerakan serta tenaga yang
berbeda bersama-sama meluncur ke muka.
Begitu angin serangan dilepaskan, angin puyuh yang tajam
seperti sebuah jala yang tak berwujud, langsung menggulung tiba.
Kedahsyatannya cukup menggetarkan perasaan siapa saja.
Walaupun Ku See-hong telah mempelajari beberapa macam
kepandaian sakti yang penuh rahasia dari Bun-ji koan-su, meski
pertarungannya selama beberapa kali dalam semalaman menambah
rasa kepercayaannya pada diri sendiri, tapi ia sendiri sama sekali
tidak mengerti sebetulnya sudah berapa banyak kepandaian yang
berhasil dia pahami dan berapa banyak pula yang bisa dia
pergunakan.
Hawa murninya segera dihimpun ke dalam pusar, menyaksikan
serangan yang dilancarkan pihak lawan sangat kuat dan dahsyat,
162
dia sedikitpun tak berani bertindak gegabah. Tangan kirinya pun
melepaskan segulung tenaga pukulan yang lembut untuk
memancing serangan langsung pihak musuh, sementara tubuhnya
melayang lima jengkal ke samping menghindarkan diri dari ancaman
itu. Lalu badannya melambung, sepasang kakinya secara beruntun
melancarkan tendangan kilat mengancam jalan darah W-too-hiat
serta Ki-lian-hiat di bawah perut lawan.
Begitu serangan menggulung tiba, tenaga pukulan serasa
menekan di dada, lalu tulang kakipun terasa sakit sekali bagaikan
disyat-sayat dengan pisau.
Diam-diamKu See-hong merasa terperanjat, segera pikirnya:
“Tubuhku terlindung oleh aliran tenaga aneh yang amat hebat,
sedangkan kakiku sama sekali tidak. Entah bagaimana jadinya bila
kakiku sampai terkena serangan…?”
Mendadak dia menarik kembali sepasang kakinya, lalu badan
sedikit bergetar. Badannya sudah jumpalitan di tengah udara dan
melayang mundur sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.
Kakek ceking itu mendengus dingin dengan nada yang
menyeramkan, sambil berebut maju ke depan, sepasang telapak
tangannya melancarkan bacokan berulang kali. Gulungan tenaga
pukulannya seperti gulungan ombak di tengah samudera meluncur
datang berlapis-lapis.
Mencorong sinar buas dari balik mata Ku See-hong karena
marah, sambil menggertak gigi tangan kiri kanannya secara aneh
melancarkan pukulan-pukulan berantai. Ternyata kedahsyatannya
pun mengerikan sekali, setiap serangan yang dilepaskan tentu
membawa desingan angin tajam yang mampu untuk
menghancurkan batu nisan.
Sebagaimana diketahui, secara resmi Ku See-hong belum pernah
mempelajari serangkaian ilmu pukulan. Jurus-jurus serangan yang
dipergunakannya sekarang kebanyakan adalah merupakan kupasankupasan
yang berhasil ditemukannya sendiri dari tiga gerakan jurus
Hoo-han-seng-huan tersebut.
163
Akan tetapi, nyatanya serangan yang dipergunakan secara
mengawur hanya berdasarkan perasaan saja itu, justru telah
berubah menjadi serangkaian ilmu pukulan yang ganas, buas dan
lihaynya bukan alang-kepalang….
Pada waktu itu, dia telah mendapatkan tenaga murni warisan
Bun-ji koan-su yang telah dilatih selama puluhan tahun, kemudian
mempelajari pula ilmu Khikang Kan-kun Mi-siu yang maha sakti
tersebut, kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang
boleh dibilang mengalir tiada hentinya seperti air dari gunung, kuat,
lancar dan tiada berputusan….
Kenyataan ini bukan saja jauh di luar dugaan si kakek ceking
tersebut, sekalipun Ku See-hong juga merasakan rasa kaget dan
tercengang. Ia tak mengira kalau di dalam tubuhnya terdapat
tenaga dalam yang begini sempurnanya. Akan tetapi, diapun tahu
bahwa kesemuanya ini adalah warisan berharga yang disalurkan
Bun-ji koan-su kepadanya.
Kiranya sampai detik itu Ku See-hong masih belum tahu kalau
tenaga murni yang dipunyai Bun-ji koan-su telah disalurkan semua
ke dalam tubuhnya hingga mengakibatkan tokoh maha sakti itu
tewas akibat kekeringan.
Demikianlah serangan demi serangan yang dilancarkan Ku Seehong
kian lama kian bertambah kuat, dibandingkan dengan
serangan si kakek ceking yang makin lama semakin gencar
menciptakan suatu keadaan yang seimbang. Dengan demikian
pertempuran yang melibatkan kedua orang inipun makin lama
semakin sengit.
Beberapa gebrakan kemudian, tenaga pukulan mereka berdua
sudah meliput i wilayah seluas dua kaki lebih. Daun kering dan
ranting kecil yang berserakan di tanah sudah ikut melayang-layang
di udara, deruan angin pukulan yang dahsyat semakin memekikkan
telinga.
Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertempuran seru
yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan.
164
Im Yan cu yang berilmu silat sangat tinggi pun, saat itu dibikin
kaget bercampur tercengang setelah menyaksikan kejadian itu. Dari
tadi sampai sekarang dia mengawasi terus kepandaian silat yang
dimiliki Ku See-hong, yang membuatnya terperanjat adalah kungfu
yang dimiliki Ku See-hong tersebut kian detik kian bertambah maju
pesat. Kenyataan semacam ini benar-benar merupakan suatu
peristiwa yang aneh sekali, hal mana membuat si nona yang cerdik
pun dibikin kebingungan dan tidak habis mengerti.
Ketika baru pertama kali berputar tadi, Ku See-hong masih
kelihatan asing sekali dengan jurus-jurus serangannya. Sambil
bertarung menghadapi musuh, diam-diam dia memutar otak untuk
memikirkan perubahan-perubahan selanjutnya guna menghadapi
ancaman lawan. Tapi lambat laun serangan-serangan yang
dipergunakan olehnya makin lama semakin dahsyat, jurus-jurus
serangannya pun semakin aneh dan sakti, maka seluruh
perhatiannya pun segera dipusatkan ke tubuh lawan, otomatis
tenaga serangannya juga semakin bertambah kuat dan hebat.
Sebenarnya kakek ceking itu seorang jago kawakan yang sudah
pernah mengalami beratus-ratus kali pertempuran seru. Akan tetapi
belum pernah dia jumpai seorang musuh tangguh yang begitu
anehnya seperti Ku See-hong.
Tanpa terasa hawa murninya dihimpun kembali, lalu turun
tangan dengan sepenuh tenaga. Mendadak saja tenaga serangan
yang terpancar keluar dari balik telapak tangannya semakin kuat.
Pukulan demi pukulan yang dilancarkan ibarat bacokan kampak
yang membelah bukit, desingan angin tajam semakin menderuderu.
Dalamhati kecilnya dia lantas berpikir:
“Entah siapakah suhu bocah ini? Mungkinkah seperti suhu
kiongcu kami dan Im Yan cu yang merupakan seorang tokoh sakti
dari dunia persilatan? Tapi masih ada jagoan mana lagi dalam dunia
persilatan dewasa ini yang memiliki kepandaian silat jauh melebihi
kiongcu kami, Han-thian It-kiam (Pedang Sakti Dari Langit) Cia Cukim?”
165
Sambil melayani suatu pertempuran yang seru dan gencar, tiada
hentinya kakek ceking itu memutar otak untuk menduga-duga asalusul
perguruan dari Ku See-hong.
Tapi mana ia sangka kalau Ku See-hong sesungguhnya adalah
murid terakhir dari Bun-ji koan-su, si manusia berbakat dari dunia
persilatan yang selama seratus tahun belakangan ini tiada
tandingannya di kolong langit?
Sudah barang tentu hubungan seperti ini tak akan diduga oleh
siapapun juga, kecuali bila Ku See-hong menggunakan jurus Hoohan-
seng-huan tersebut.
Ku See-hong sendiripun diam-diam merasa amat terperanjat
ketika dilihatnya serangan yang dilancarkan pihak lawan makin lama
semakin gagah dan tenaga pukulannya makin lama semakin
dahsyat, pikirnya:
“Heran, kakek ceking yang sedikitpun t idak menarik ini mengapa
bisa memiliki tenaga pukulan yang sedemikian dahsyat dan
hebatnya?”
Berpikir sampai di situ, Ku See-hong lantas mengambil keputusan
untuk menghadapi dengan jurus sakt i Hoo-han-seng-huan yang
terdiri dari tiga gerakan itu.
Di pihak lain, sementara itu si kakek ceking juga bersiap-siap
menggunakan jurus serangan yang mematikan untuk
membinasakan lawannya.
Terdengar suara bentakan nyaring menggelegar memecahkan
keheningan, tiba-tiba tulang belulang di sekujur badan si kakek
ceking itu memperdengarkan suara gemerutuk yang memekikkan
telinga. Setelah melompat ke udara mendadak tubuhnya berhenti
tak bergerak, tangan kanannya secara aneh melancarkan tiga buah
pukulan dahsyat ke arah Ku See-hong.
Tampak serentetan cahaya berkilauan seperti sinar bintang
menggulung dengan hebatnya ke arah depan. Segulung hawa
166
pukulan yang kuat, bagaikan gulungan ombak dahsyat di tengah
samudra langsung meluncur ke depan….
Satu ingatan dengan cepat melintas di dalam benak Ku Seehong,
itulah gerakan pertama dari jurus Hoo-han-seng-huan yang
disebut Thian-ciu-cian-im (Langit Mendung Awan Menggulung).
Pekikan nyaring yang menggetarkan angkasa tiba-tiba
berkumandang dari mulut Ku See-hong, kemudian lengannya
berputar secara aneh. Di antara perputaran tadi, cahaya tajam yang
berkilauan segera memancar keluar dari sekujur badannya.
Bagaikan sukma gentayangan saja, secara aneh Ku See-hong
menerjang ke muka dan meluncur masuk ke balik gulungan angin
pukulan tersebut.
“Sreeett,” serentetan cahaya putih secepat kilat meluncur ke
depan.
Menyusul kemudian, kakek ceking itu memperdengarkan pekikan
ngeri yang memilukan hati menjelang saat kematiannya.
Sebuah batok kepala yang sudah hancur dan penuh berlepotan
darah menggelinding di atas tanah, darah segar bercucuran
membasahi seluruh permukaan tanah, sungguh mengerikan sekali
kematiannya.
Menyaksikan akibat dari serangannya itu, untuk sesaat lamanya
Ku See-hong menjadi tertegun, mimpipun dia tak menyangka kalau
jurus Thian-ciu-cian-im (Langit Mendung Awan Menggulung) yang
dipergunakannya itu memiliki daya kekuatan yang begini
dahsyatnya.
Im Yan cu sendiripun dibikin sampai terbelalak matanya dengan
mulut melongo sampai lama sekali dia baru bisa menghembuskan
napas panjang.
Kekejaman dan kebrutalan Ku See-hong di dalam melancarkan
serangannya menimbulkan perasaan bergidik dalam hati kecilnya,
apalagi dalam satu malaman saja, ia telah membinasakan beberapa
orang jago lihay kelas satu di dalamdunia persilatan.
167
Pada saat itulah, mendadak….
Dari kejauhan sana berkumandang suara pekikan panjang yang
amat memekakkan telinga. Suara pekikan itu rendah tapi berat,
menggetarkan perasaan Im Yan cu maupun Ku See-hong yang
berada di sana.
Menyusul kemudian, tampaklah sesosok bayangan manusia entah
dari mana datangnya, tahu-tahu sudah berdiri lebih kurang tiga kaki
di hadapan Ku See-hong tanpa menimbulkan suara barang
sedikitpun juga.
Orang itu mengenakan pakaian serba hitam, mukanya corengmoreng
dengan beraneka warna hingga kelihatan jelek sekali. Dia
berdiri kaku di situ tanpa bergerak maupun mengucapkan sepatah
kata.
Bukan saja dandanan orang itu tampak sangat aneh lagipula arah
kedatangannya juga sukar diduga, hingga mendatangkan suatu
perasaan aneh yang menyeramkan bagi siapapun yang melihatnya.
Bergidik hati Im Yan cu setelah menyaksikan sorot mata orang
yang amat tajam, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki manusia
aneh ini amat lihay, bahkan dia sendiripun belum mampu untuk
menandinginya….
Tapi siapakah dia? Benarkah dalam dunia persilatan masih
terdapat manusia aneh yang begini lihaynya?
Sekali lagi Im Yan Cu mengamati paras muka manusia aneh itu
dengan seksama, akhirnya dia baru tahu kalau manusia aneh itu
hanya mengenakan selembar topeng kulit manusia. Tak heran kalau
mukanya begitu jelek dan mengerikan.
Ku See-hong sendiripun segera mempertinggi kewaspadaannya
ketika melihat akan kemunculan lawan yang begitu mendadak.
Perasaan halusnya telah berkata bahwa orang itu datang karena
hendak mencari dirinya.
Benar juga, dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan
pisau belati, manusia aneh bertopeng itu mengawasi sekejap mayat168
mayat yang terkapar di tanah akibat termakan oleh tiga gerakan
jurus Hoo-han-seng-huan dari Ku See-hong tadi, yakni: Jian-sat-kuipok,
Tu-cing-kui-pok, serta si kakek ceking.
Pada mulanya sinar mata itu masih memperlihatkan keraguraguannya,
tapi sejenak kemudian telah berubah dengan sinar buas
yang teramat mengerikan. Diawasinya wajah Ku See-hong itu tanpa
berkedip.
Im Yan cu yang lebih berpengalaman segera dapat merasakan
sesuatu yang tak beres pada manusia aneh itu. Ia dapat melihat
betapa besarnya hasrat manusia aneh itu hendak membunuh Ku
See-hong. Tanpa terasa ia lantas berpikir:
“Ilmu silat yang dimiliki manusia aneh bertopeng ini bukan
kepalang lihaynya, aku jelas tak sanggup untuk menandinginya.
Andaikata ia benar-benar akan menyerang dengan keji terhadap Ku
See-hong, kendatipun dia memiliki khikang pelindung badan yang
sangat aneh, kuatirnya dia tetap tak akan tahan juga.”
Berpikir sampai di situ, diam-diam Im Yan cu menghimpun
tenaga dalamnya untuk mempersiapkan diri. Tak terlukiskan rasa
tegang yang mencekam perasaannya sekarang, dia sendiripun tidak
mengerti apa sebabnya dia bisa ikut-ikutan menjadi sedemikian
tegangnya.
Bagaimana dengan Ku See-hong sendiri? Tentu saja diapun tidak
terkecuali, malah selain rasa tegang, diapun merasakan hatinya
sangat tidak tenteram.
Kemunculan manusia aneh bertopeng itu seketika merubah
suasana di sekitar tempat itu menjadi lebih tegang dan mengerikan,
mengikut i berlalunya sang waktu, suasana yang istimewa dan serba
mencekamitu kian lama terasa kian bertambah tebal….
Mendadak manusia aneh bertopeng itu tertawa dingin dengan
suaranya yang menggidikkan hati, kemudian kepada Ku See-hong
tegurnya dengan nada ketus:
169
“Kaukah yang membinasakan ketiga orang yang terkapar di atas
tanah itu?”
Yang dimaksudkan adalah ketiga orang yang tewas oleh jurus
Hoo-han-seng-huan dari Ku See-hong itu.
Kendatipun Ku See-hong merasakan sesuatu rasa takut yang
sangat aneh di dalam hati kecilnya semenjak berjumpa dengan
manusia aneh bertopeng itu, tapi keangkuhan serta kekerasan
kepalanya membuat ia pantang menyerah dengan begitu saja.
Dengan wajah dingin bagaikan es dia mendengus ketus, lalu
jawabnya dengan sinis:
“Betul, akulah yang menghantar keberangkatan mereka, mau
apa kau…?”
Tercekat perasaan manusia aneh bertopeng itu sehabis
mendengar perkataan tersebut, diam-diam pikirnya:
“Aneh, kenapa dia bisa memiliki keberanian sebesar ini?”
Berpikir demikian, manusia aneh itu bertopeng itu segera
mendengus dingin, lalu katanya:
“Siapakah kau? Apa hubunganmu dengan Bun-ji koan-su si
makhluk tua itu? Sekarang dia berada di mana?”
Secara beruntun dia mengajukan tiga buah pertanyaan, yang
mana membuat Ku See-hong benar-benar merasakan hatinya amat
terperanjat, tapi dia pun merasa gusar sekali, sebab dia menyebut
gurunya sebagai seorang makhluk tua.
Ku See-hong sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu,
malahan dengan dingin dia balik bertanya:
“Lantas siapa pula kau? Buat apa kau ajukan pertanyaan tersebut
kepadaku?”
Sekali lagi manusia aneh bertopeng itu merasa terkesiap tapi di
luaran dia tetap berkata dengan dingin:
170
“Kau tak usah mengurusi siapa aku. Sebelum ajalmu tiba nanti
kau bakal mengetahui dengan sendirinya.”
“Kalau begitu pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan pun
jangan harap bisa memperoleh jawaban yang sebenarnya dari
diriku.”
Manusia aneh bertopeng itu segera tertawa seram:
“Heeehh… heeehh… heeehh… buat apa mesti menunggu
jawabanmu lagi?” ejeknya, “Dari mimik wajahmu ketika berkata
tadi, aku telah memperoleh jawaban yang sesungguhnya.”
Mendengar perkataan itu, diam-diam Ku See-hong berpikir lagi:
“Orang ini betul-betul jahat dan busuk, tapi siapakah orang ini?”
Sementara itu, manusia aneh bertopeng itu sudah berkata lagi
dengan suara yang menyeramkan:
“Heeehh… heeehh… heeehh… Kan-kun Mi-siu khikang, ilmu
gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong-sin-hoat, tiga gerakan jurus Hoohan-
seng-huan, rupanya sudah kau pelajari semuanya?”
Mendengar ucapan ini, Ku See-hong merasakan hatinya semakin
terkesiap, “Mungkinkah aku telah bertemu dengan setan?” Demikian
ia membatin, “Kalau tidak apa sebabnya ia bisa mengetahui seluruh
kepandaian rahasia perguruanku?”
Im Yan cu juga tampak tercengang bercampur kaget setelah
mendengar perkataan itu. Dari penuturan suhunya ia pernah
mendengar tentang ketiga macam kepandaian sakti andalan Bun-ji
koan-su tersebut. Mungkinkah Ku See-hong adalah muridnya? Dan
mungkinkah ketiga macam ilmu silat maha sakti tersebut telah
berhasil dipelajarinya?
Satu ingatan dengan cepat melintas pula di dalam benak Ku Seehong,
ia jadi teringat kembali dengan pesan dari Bun-ji koan-su:
“Ilmu Khi-kang Kan-kun-mi-siu-kang-khi adalah ilmu sakti yang
paling top dalam kepandaian silat, jika kepandaian sakti ini sampai
171
diketahui oleh umat persilatan maka kehidupanmu di dunia ini akan
berubah menjadi sangat berbahaya, ingat… ingat…!”
Teringat akan hal itu, Ku See-hong segera berlagak pilon,
bagaikan tidak memahami perkataan orang, dia lantas berseru:
“Hei, apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti!”
Manusia aneh bertopeng itu terkekeh-kekeh menyeramkan,
katanya:
“Heeehh… heeehh… heeehh… tidak kusangka kalau kau pun
seorang manusia licik yang pandai berlagak pilon, kalau begitu akan
kuhantar keberangkatanmu malam ini juga!”
Baru selesai dia berkata, Im Yan cu telah menerjang maju
dengan gerakan lincah, sambil tertawa dingin segera tegurnya:
“Hei, kau ingin menjadi seorang nelayan beruntung yang tinggal
memungut hasil? Hmm, tidak akan segampang itu, dia adalah
musuh besarku, malam ini aku hendak mencincangnya sendiri
menjadi berkeping-keping, aku tidak memperkenankan siapapun
untuk mencampuri urusan ini.”
Setelah menyaksikan gerakan tubuh dari Im Yan cu tadi, manusia
aneh bertopeng itu tertawa dingin, kemudian setelah mendengus
tegurnya:
“Siapakah kau? Berani benar berbicara besar di hadapanku,
hmmm… nant i, kau boleh sekalian turut berangkat bersamanya!”
Im Yan cu tertawa terkekeh-kekeh dengan merdunya. Suara
tertawanya indah dan lembut bagaikan kicauan burung nuri,
suaranya penuh mengandung daya pikat yang membetot sukma.
Agak tertegun manusia aneh bertopeng tersebut oleh gelak
tertawa orang, dengan cepat dia berpikir:
“Heran, kenapa bocah perempuan ini bisa demikian miripnya
dengan sumoayku? Di tengah kemerduan suara tertawanya,
terdapat semacam daya pikat yang sanggup menggetarkan sukma
orang?”
172
Sementara itu, perasaan Ku See-hong lambat laun telah menjadi
tenang kembali. Dia hendak membiarkan kedua orang itu bertarung
sendiri lebih dulu, kemudian secara diam-diam ia baru akan
ngeloyor pergi meninggalkan tempat itu.
-oo0dw0oo-
Jilid: 6
Im Yan cu telah berhenti tertawa.
Dengan muka yang dingin kaku tanpa emosi katanya ketus:
“Nonamu bernama Im Yan cu, mau apa kau?”
Ucapan si manusia aneh bertopeng pun berubah menjadi jauh
lebih halus dan lembut, dia lantas bertanya:
“Tolong tanya nona, siapa nama gurumu? Buat apa musti saling
berbentrok dengan kekerasan?”
“Hmmm. Kau masih belum berhak untuk menanyakan soal
guruku, bila punya kepandaian silahkan saja turun tangan, selama
hidup guruku cuma mempunyai seorang saudara seperguruan dan
seorang musuh besar, dengan semua jago persilatan di dunia ini
beliau tak ada sangkut pautnya, mengerti…?”
Ku See-hong yang mendengar perkataan itu juga merasa
keheranan, diam-diam ia lantas berpikir: “Heran, kenapa tabiat
gurunya juga begitu aneh dan kukoay-nya? Dalam dunia seluas ini
cuma dua orang saja yang dikenalnya, mungkin musuh besar yang
dia maksudkan tadi adalah guruku Bun-ji koan-su….”
Manusia aneh bertopeng sendiripun tak berhasil menebak asalusul
perguruan Im Yan cu meski dia cerdik dan luas
pengetahuannya, maka sambil tertawa dingin dengan suara
menyeramkan katanya:
173
“Baik. Kalau begitu, jangan salahkan jika aku turun tangan keji
kepadamu….”
“Tak usah sok dulu,” ejek Im Yan cu sambil tertawa merdu,
“Siapa tahu kalau kekejian nonamu berpuluh-puluh kali lipat lebih
hebat daripada dirimu?”
Di tengah pembicaraan tersebut, telapak tangan kanannya
segera diayunkan ke depan, “Weeess…” segulung angin pukulan tak
berwujud yang lembut langsung meluncur ke depan dan
menghantam jalan darah pent ing di dada manusia aneh tadi.
Semenjak tadi Im Yan cu sudah tahu kalau manusia aneh
bertopeng itu memiliki ilmu silat yang amat lihay, maka begitu turun
tangan dia lantas mempergunakan jurus sakti yang ganas dan
mematikan.
Manusia aneh bertopeng itu memang seorang jagoan, yang
pandai melihat serangan orang, mendadak dia membalikkan
tubuhnya dan melayang mundur sejauh beberapa langkah dari
tempat semula, tangan kirinya kemudian menyambar ke muka dan
secepat kilat mencengkeram bahu Imyan cu.
Dengan cekatan Im Yan cu mengigos ke samping, lalu sambil
membalikkan tangannya melancarkan serangan dengan jurus Huitim
cing-tam (Membersihkan Debu Berbicara Santai) dia balas
mencengkeram nadi penting di atas tangan kiri manusia aneh
tersebut.
Sungguh cepat gerak serangan dari manusia aneh bertopeng itu.
Perubahan yang dilakukan juga amat aneh dan sakti, baru saja
kebasan tangan Im yan cu menyambar ke depan, ia telah merubah
serangan cengkeramannya menjadi babatan.
Pergelangan tangannya sgera direndahkan ke bawah, setelah
melepaskan diri dari sambaran tangan Im yan cu, jari tangannya
setegang tombak langsung menjojoh jalan darah Ciang-keng-hiat di
atas bahu Im yan cu. Jurus serangan ini lihay sekali, belum lagi
ujung jarinya mengenai di sasaran, segulung desingan angin tajam
telah meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
174
Sekalipun Im Yan cu berilmu silat sangat tinggi, diapun tak berani
bertindak gegabah, cepat badannya miring ke belakang lalu dengan
enteng melesat mundur sejauh beberapa kaki. Manusia aneh
bertopeng itu tertawa seram, dengan sorot mata setajam sembilu
dia tatap sekejap wajah Ku See-hong, kemudian dengan gerakan
tubuh yang cepat seperti sambaran petir ia menerjang maju ke
muka.
Ku See-hong amat terkesiap, segenap tenaga dalam yang
dimilikinya segera dihimpun menjadi satu, secepat kilat sebuah
pukulan dilontarkan ke muka.
Di tengah desingan angin pukulan yang memekikkan telinga,
bagaikan gunung yang ambrol, gulungan tenaga pukulan yang
maha dashyat dengan cepat meluncur ke depan.
Sekali lagi manusia aneh berkerudung itu memperdengarkan
suara tertawa dinginnya yang menggetarkan sukma, sepasang
ujung bajunya dikebaskan ke muka bersamaan dengan gerak maju
tubuhnya.
Seketika itu juga, segenap tenaga pukulan yang dilancarkan Ku
See-hong dengan sepenuh tenaga itu seakan-akan terjerumus ke
dalam bungkusan selapis hawa pukulan yang lembut dan empuk,
kemudian dalam waktu singkat lenyap tak berbekas.
Im Yan cu segera membentak keras ketika menyaksikan manusia
aneh bertopeng itu menerjang ke arah Ku See-hong, sepasang
telapak tangannya diayunkan ke depan, segulung tenaga pukulan
yang amat berat dengan cepat mengancam jalan darah penting di
belakang punggung manusia aneh itu….
Sambil tertawa seram, telapak tangan kiri manusia aneh
bertopeng itu tiba-tiba ditarik ke belakang, kemudian tubuhnya
berputar satu lingkaran dengan suatu gerakan aneh, setelah itu
telapak tangan kanannya mendadak dimuntahkan keluar. Segulung
desingan angin tajam secepat kilat menggulung ke tubuh Ku Seehong
dengan hebatnya.
175
Tenaga pukulan yang dilontarkan itu bagaikan gulungan ombak
dahsyat di tengah samudara yang berlapis-lapis, seolah-olah
menggulung tiada habisnya dan tiada hentinya.
Mencorong sinar buas dari balik mata Ku See-hong, sekali lagi dia
melontarkan sepasang telapak tangannya ke depan, gulungan angin
yang maha dashyat bagaikan gulungan ombak di tengah samudra
dengan cepatnya meluncur ke muka.
“Blaaamm…” satu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga
menggelegar memecahkan kehengingan, ketika dua gulung angin
pukulan itu saling bertumbukan antara yang satu dengan yang
lainnya, terjadilah putaran angin berpusing yang kencang….
Dalam desingan angin yang tajam inilah dengan sempoyongan
Ku See-hong mundur sejauh enam tujuh langkah ke belakang. Noda
darah pelan-pelan meleleh keluar daru ujung bibirnya, rambut yang
panjang menjadi kacau balau tak karuan, mukanya pucat
mengenaskan, ditambah pula bajunya yang terkoayk-koayk dan
bernoada darah, membuat keadaannya benar-benar mengerikan.
Tiba-tiba…. “Blaaam!” suatu benturan keras yang memekikkan
telinga kembali menggema di udara….
Ku See-hong mendengus tertahan, tubuhnya tahu-tahu mencelat
sejauh tiga kaki ke udara dan “Plaaak!” roboh terkapar di atas
tanah.
Im Yan cu menjerit kaget, kemudian teriaknya dengan penuh
kemarahan:
“Makhluk aneh, kau berani bertindak keji dengan pergunakan
ilmu To-im-ciat-yang (Memancing Hawa Im, Menyambut Hawa
Yang) untuk mencelakai dirinya!”
Di tengah teriakan tersebut, telapak tangan Im Yan cu segera
direntahkan sambil mengembangkan serangakaian seranganserangan
gencar yang dahsyat dan mengerikan.
Manusia aneh bertopeng itu tertawa terkekeh-kekeh dengan licik
dan seram.
176
“Heeehh… heeehh… heeehh… Nona Im,” demikian ia berkata,
“Bukankah barusan kau berkata hendak membunuhnya dengan
tanganmu sendiri…? Sekarang aku telah pergunakan ilmu To-imciat-
yang untuk meneruskan tenaga pukulanmu untuk
membunuhnya, bukankah tindakanku ini amat indah dan
menguntungkan dirimu? Kenapa kau malah menjadi marah-marah
besar?”
Ternyata di kala Im Yan cu melancarkan sebuah pukulan dahsyat
untuk menyerang manusia aneh bertopeng tadi, tangan kirinya telah
mengeluarkan ilmu sakti To-im ciat-yang uantuk menyalurkan
tenaga serangan dari gadis itu untuk balik menyergap diri Ku Seehong.
Padahal di kala Ku See-hong dan manusia aneh berkerudung itu
beradu tenaga tadi, isi perutnya sudah mengalami goncangan keras
sehingga darah segar muntah keluar dari mulutnya, apalagi setelah
termakan oleh serangan dahsyat yang dilancarkan Im Yan cu,
kontan saja pemuda tersebut tak kuat menahan diri.
Pandangan matanya menjadi gelap, benaknya menjadi kosong
melompong dan akhirnya robohlah dia t idak sadarkan diri.
Im Yan cu amat menguatirkan keselamatan jiwa Ku See-hong,
maka di dalam melancarkan serangan-serangannya sekarang,
hampir semuanya digunakan jurus-jurus tangguh yang mengerikan.
Tapi manusia aneh bertopeng itu memang lihay sekali,
bagaimanapun dahsyatnya serangan yang dilancarkan pihak lawan,
manusia aneh itu masih bisa menghindarkan diri dengan enteng dan
santai.
Im Yan cu mengerutkan dahinya rapat-rapat, paras mukanya
berubah menjadi amat menyeramkan, sambil membentak nyaring
dengan kesepuluh jari dipentangkan dia lepaskan sepuluh gulung
desingan angin tajam yang menderu-deru.
Sungguh dahsyat ancaman tersebut, dalam waktu singkat dua
belas buah jalan darah penting di tubuh bagian atas manusia aneh
177
tersebut sudah terjebak di tengah gulungan angin serangan si nona
yang teramat hebat itu….
Tiba-tiba mencorong sinar mata tajam yang menggidikkan hati
dari balik mata manusia aneh bertopeng itu, ujung bajunya segera
dikebaskan ke muka melancarkan serangkaian angin pukulan tajam
untuk menolak datangnya ancaman kesepuluh jalur desingan angin
serangan dari Im Yan cu.
“Blaaamm! Blaaamm! Blaaamm…!” serentetan bunyi ledakan
yang keras bergema memenuhi angkasa, dalam sekejap mata
tenaga serangan kedua belah pihak sama-sama sudah lenyap tak
berbekas.
Im Yan cu membentak keras, telapak tangan kanannya segera
dibabat ke depan, sedangkan telapak tangan kirinya dengan
membawa desingan angin tajam langsung menghantam dada
manusia aneh bertopeng itu.
Si manusia aneh bertopeng itu merupakan seorang jago lihay
yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan, setelah didesak
berulang kali oleh serangan Im Yan cu yang makin dahsyat,
akhirnya sifat buas dan bengisnya segera timbul kembali.
Sambil tertawa dingin sepasang lengannya diputar membentak
satu lingkaran lalu dengan gerakan membacok dan menangkis
sepasang kakinya berbareng melayang ke depan menendang tubuh
bagian bawah dari Im Yan cu.
Merah padam selembar wajah Im Yan cu karena jengah, dalam
gusarnya mendesis muak kemudian tubuhnya berkelebat ke
samping menghindarkan diri dari tendangan berantai tersebut.
Kemudian telapak tangan kanannya tiba-tiba membalik ke atas,
dari serangan pukulan segera dirubahnya menjadi serangan
mencengkeram, dengan cepat ia cengkeram urat nadi penting di
tubuh lawan, sementara kelima jari tangan kirinya menyentil ke
muka dan menotok jalan darah Seng-hiat, Wi-ciat dan Hu-tu-hiat,
tiga buah jalan darah penting di tubuh manusia aneh itu.
178
Sejak melancarkan serangan, berubah jurus sampai meneter
lawannya, boleh dibilang Im Yan cu melakukan kesemuanya itu
dengan cepat serta kelihayan yang mengerikan.
Manusia aneh bertopeng itu segera tertawa dingin, sambil
miringkan badan dan berputar kencang, sepasang telapak
tangannya diputar melancarkan gulungan angin pukulan yang
segera memunahkan ancaman lawan yang datang secara bertubitubi
itu.
Kedua gulung ujung bajunya yang lebar bagaikan dua ekor ular
yang lincah sambil membalik dan menggulung dengan cepat dan
tajam membelenggu sepasang nadi penting di atas pergelangan
tangan Im Yan cu.
Mendadak tubuh Im Yan-cu berputar kencang secara aneh, sakti
dan dahsyat, ibaratnya gulungan ombak di tengah samudra. Di
tengah putaran tubuh yang aneh dan kencang itulah, aliran hawa
sakti yang bergulung-gulung aneh memancar ke tubuh manusia
aneh bertopeng itu dengan t iada hentinya.
Mendadak….
Im Yan cu membentak keras, tubuhnya tiba-tiba melayang dan
menerjang maju ke muka, telapak tangan, jari tangan serta kakinya
melancarkan jurus-jurus sakti secara berbarengan. Dengan begitu
dahsyatnya semua ancaman tersebut ditujukan ke tubuh manusia
aneh bertopeng itu.
Demikianlah, jika dua orang tokoh sakti dari dunia persilatan
terlibat dalam suatu pertempuran sengit, maka akibatnya terjadilah
suatu pertempuran maha seru yang melibatkan segenap kepandaian
sakti yang mereka miliki….
Tampak bayangan manusia beterbangan kian kemari, angin
pukulan menderu-deru bagaikan angin puyuh, bukan saja membuat
pasir dan batu kerikil beterbangan di angkasa, daun dan ranting pun
ikut berguguran ke atas tanah….
179
Tenaga dalam yang dimiliki manusia aneh bertopeng itu memang
benar-benar sangat lihay, bukan cuma jurus serangannya yang aneh
dan sakti, perubahannya begitu banyak sehingga membuat orang
susah untuk menanggulanginya.
Lapisan demi lapisan angin pukulan yang bersusun seperti bukit,
bagaikan hujan badai yang disertai angin kencang menyapu arena
sedemikian hebat dan mengerikannya suasana waktu itu, hingga
cukup membetot sukma.
Im Yan cu tidak gentar barang sedikitpun juga, dengan lincah
dan gesit tubuhnya melompat kian kemari meloloskan diri dari
ancaman, kemudian tak kalah hebatnya dia lepaskan pula seranganserangan
dahsyat yang semuanya mempergunakan jurus-jurus sakt i
yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan.
Dengan kekuatan yang hampir seimbang ini, maka meski
pertempuran sudah berlangsung empat lima ratus jurus, keadaan
tetap seri, sedang di hati masing-masing pun saling mengagumi
akan kelihayan ilmu silat lawannya.
Sementara itu, rembulan telah muncul dari balik bukit dan
memancarkan sinar keperak-perakannya menyoroti seluruh jagad.
Tapi suasana dalam hutan di depan kuil kuno itu tetap suram dan
menyeramkan, karena diiputi oleh kabut yang sangat tebal.
Pertempuran yang berlangsung antara manusia aneh bertopeng
melawan Im Yan cu sudah mencapai pada bgian yang paling
tegang, menang kalah sebentar akan ketahuan, tapi kedua orang
itupun semakin mendekati jurang pemisah antara mati dan hidup.
Sebab kepandaian silat yang dipergunakan kedua orang itu
sekarang adalah serangan-serangan yang mempergunakan hawa
murni tingkat tinggi yang paling sempurna sekali, salah bertindak
berarti jiwanya akan melayang meninggalkan raga.
Dari balik biji mata si manusia aneh bertopeng yang tajam, telah
mencorong keluar serentetan cahaya buas yang penuh kebencian.
Dia mendengus dingin, mendadak jari tangannya menyentil ke
depan, “Crit! Cring!” di tengah desingan tajam yang memekikkan
180
telinga, dalam waktu singkat ia telah mengancam enam buah jalan
darah penting di tubuh Im Yan-cu.
Menyusul kemudian tubuh manusia aneh bertopeng itu segera
melambung ke udara bagaikan burung elang, tangan dan kaki
bersamaan melancarkan serangan. Dalam waktu singkat ia telah
melepaskan enambuah pukulan dan tiga buah tendangan berantai.
Serangan inipun dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa
serta jurus serangan yang ampuh, lihay, ganas dan buas. Benarbenar
cukup mendirikan bulu kuduk orang.
Paras muka Im Yan-cu dingin bagaikan es, matanya melotot
penuh kegusaran, sambil membentak nyaring, jari tangannya yang
lembut dan put ih itu digerakkan berulang kali melancarkan
beberapa kali sent ilan jari.
Desingan angin tajam segera menderu-deru, dengan dahsyat
ancaman tersebut menahan serangan jari tangan si manusia aneh
berkerudung yang sedang menggulung datang.
Siapa tahu pandangan matanya mendadak menjadi kabur,
telapak tangan dan tendangan kaki manusia aneh berkerudung itu
kembali bermunculan dari empat arah delapan penjuru dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat, sedemikian dahsyatnya
ancaman itu sehingga sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Di tengah kurungan angin pukulan serta bayangan tendangan
lawan, sepasang telapak tangan Im Yan cu bergerak kian kemari
bagaikan kupu-kupu menghisap madu. Dalam waktu singkat dia
lancarkan pula sembilan buah pukulan dahsyat.
Hawa serangan yang maha dahsyat sgera melanda seluruh
jagad, di tengah amukan angin pukulan yang tajam tadi, dengan
enteng dan lincahnya Im Yan cu berlompatan kian kemari.
Mendadak… pada saat itulah si manusia aneh berkerundung itu
membentak keras, menyusul kemudian serangan mematikan yang
amat dahsyat berhamburan kemana-mana. Tampaklah sepasang
181
tangannya bergetar kian kemari secara aneh, setiap pukulan
dilancarkan dua serangan dahsyat segera melanda di udara.
Selain daripada itu, dalam setiap gerak serangan yang
dipergunakannya itu, hampir semuanya dilancarkan melalui suatu
sudut yang aneh sekali. Pukulan yang berantai seolah-olah
datangnya secara berbarengan pada saat yang sama. Kehebatan
dan kelihayan jurus serangannya itu, boleh dibilang tak pernah
dijumpai sebelumnya di dunia ini.
Begitu serangan tersebut dilontarkan oleh manusia aneh
berkerudung tadi, udara di sekeliling tempat itu segera dliput i
gelombang hawa tekanan kian lama kian bertambah besar, daerah
seluas dua kaki serasa penuh dengan tekanan udara yang kuat.
Sementara di tengah berpusing segulung angin tajam yang
menyayat badan.
Berbarengan dengan dipancarkannya serangan mematikan dari
Im Yan cu juga dilancarkan pada saat yang bersamaan.
Tampak tubuh Im Yan cu yang menyentuh tanah mendadak
melambung kembali ke udara. Kemudian secara tiba-tiba badannya
menyusut kecil di udara, sementara sepasang lengannya
dipentangkan lebar-lebar. Seluruh gaunnya yang berwarna biru
bergetar menciptakan sususan-susunan gelombang yang aneh.
Tiba-tiba….
Im Yan cu merapatkan tangannya lalu melurus ke depan. Seluruh
badannya bagaikan sebatang anak panah yang tajam, secepat kilat
meluncur ke arah manusia aneh berkerudung itu.
Pada saat ujung jari tangannya sudah mencapai enam depa dari
tubuh manusia aneh itu… mendadak sekujur tubuhnya bergetar
keras, kemudian meluncur ke bawah.
Sedetik sebelum badannya menempel tanah, secara aneh
sepasang lengannya itu dipentangkan lebar-lebar.
Suatu daya yang mengerikan pun segera terbentang di depan
mata.
182
“Sreeet! Sreeet! Sreeet!”
Serentetan cahaya tajam berkilauan memenuhi udara, lalu
terdengar manusia aneh berkerudung itu mendengus tertahan.
Menyusul kemudian berkumandang pula serentetan bunyi
pekikan aneh yang amat memilukan hati….
Dengan sekujur badan gemetar keras, manusia aneh
berkerudung hitam itu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya
dan sekejap kemudian sudah jauh meninggalkan tempat itu. Jelas di
bawah serangan aneh dari Im Yan cu, manusia aneh berkerudung
itu sudah menderita luka dalam yang tidak ringan….
Memandang sampai bayangan tubuh manusia berkerudung itu
lenyap dari pandangan mata, Im Yan cu baru menghela napas
panjang, gumamnya:
“Aaai… entah siapakah manusia aneh berkerudung itu? Begitu
lihay ilmu silat yang dimilikinya dan sakti jurus serangan yang
dipergunakannya, entah dia berasal dari perguruan mana….?”
Coba kalau tidak kugunakan ilmu sakti dari perguruan: HAY JIN
CIANG (Ilmu Pukulan Unggas)… sudah pasti aku akan tewas
termakan serangan terakhir itu… yaa, ilmu pukulan Hay-jin-ciang
sungguh hebat sekali, sayang suhu cuma mewarisi satu jurus saja
kepadaku.”
Mendadak Im Yan cu berpaling, lalu menjerit kaget:
“Hei, dia lari ke mana?”
Yang dimaksudkan adalah Ku See-hong. Waktu itu di sekitar sana
sudah tidak nampak lagi bayangan tubuh dari anak muda tersebut,
entah sejak kapan ia sudah pergi meninggalkan tempat itu.
Im Yan cu kembali menghela napas panjang.
00d0w00
Bab 9
183
“MANUSIA she Ku ini pun betul-betul manusia aneh,” demikian ia
bergumam lirih, “Sudah jelas ia terhajar telak sehingga terluka
parah, kenapa bayangan tubuhnya tahu-tahu sudah lenyap tak
berbekas? Masa ia telah berhasil melatih semacam ilmu yang tahan
pukulan?”
Tiba-tiba dengan gemas dia bergumam lagi: “Lelaki she Ku itu
amat misterius sekali, aaai…. Entah mengapa, sejak bertemu muka
dengannya, aku jadi seperti tidak membenci orang lelaki lagi,
bahkan….”
Bergumam sampai di situ, tanpa terasa sepasang pipinya
berubah menjadi merah dadu, apalagi di bawah timpaan sinar
mentari, dia tampak lebih cantik dan mempesonakan hati.
Kembali Im Yan cu bergumam:
“Luka dalam yang dideritanya akibat pukulan itu parah sekali,
lagipula ia seperti mempunyai hubungan dengan Bun-ji koan-su….
Kalau membiarkan seorang manusia yang cetek pengalaman macam
dia berkelana seorang diri di dalam dunia persilatan, hal ini benarbenar
berbahaya sekali. Orang persilatan kebanyakan licik dan
berhati busuk, dia… kendatipun memiliki ilmu silat lihay juga tak
baik….”
Im Yan cu mendongakkan kepalanya memandang sekejap
matahari yang berada di awang-awang, tubuhnya segera bergerak
dan lenyap kembali dari depan kuil kuno yang penuh keseraman itu.
Rupanya setelah Ku See-hong kena terhajar oleh tenaga pukulan
Im Yan cu yang disalurkan manusia aneh berkerudung ke tubuhnya,
lewat ilmu Too-im-ciat-yang tersebut, hawa darah di dalam
tubuhnya segera mengalami gejolak keras yang menyebabkan ia
jatuh tak sadarkan diri.
Tapi tak lama kemudian ai telah sadar kembali. Ketika itu
kentongan kelima sudah lewat, sedang Im Yan cu sedang terlibat
dalam pertarungan yang amat seru melawan manusia aneh
berkerudung itu. Diam-diam Ku See-hong menghela napas panjang.
Ia tahu entah pihak manapun yang bakal menang, kedua-duanya
184
tidak menguntungkan baginya, maka menggunakan kesempatan
baik tersebut, secara diam-diam dia lantas ngeloyor pergi dari situ.
Luka dalam yang diderita Ku See-hong kali ini sungguh teramat
parah. Hawa murni di dalam tubuhnya seakan-akan sudah kena
terhajar sampai buyar tak karuan, hawa darahnya segera mengalir
terbalik, jalannya menjadi gontai dan sempoyongan hampir roboh,
namun kesadarannya belum hilang. Suatu tekad yang besar muncul
dalam hatinya dan sambil menahan sakit dia melakukan perjalanan
ke depan.
Makin jauh dia berjalan, luka parah yang dideritanya semakin
parah, terasa hawa panas di dalam dadanya menerjang ke atas,
sepasang kakinya seakan-akan sudah t idak menuruti perintahnya
lagi.
Dalam keadaan begini, akhirnya dia menghela napas dan merasa
harus beristirahat sebentar, tapi ingatan tersebut justru segera
membuyarkan tekad di dalam hatinya.
Walau begitu, perjalanan yang dilakukan tanpa arah tujuan itu
telah membawa dirinya menembusi beberapa buah bukit. Sekarang
dia telah berada tak jauh dari sebuah tanah perkuburan yang luas
dan lebar.
Tampak kuburan itu sangat kacau balau keadaannya dan sama
sekali tak terawat. Batu nisan banyak yang hancur, gundukan tanah
banyak yang berlubang. Meski di tengah siang hari bolong, namun
suasana di sekitar tempat itu terasa seramdan mengerikan sekali.
Dengan ujung bajunya dia menyeka keringat yang membasahi
wajahnya, kemudian setelah memperhatikan sekejap pemandangan
di sekeliling tempat itu, dengan susah payah dia menyeret sepasang
kakinya dan pelan-pelan memasuki tanah pekuburan tersebut.
Sambil berjalan, tiada hentinya Ku See-hong bergumam: “Luka yang
kuderita sekarang teramat parah, mungkin masihkah ada suatu
penemuan aneh lagi yang bakal kujumpai? Aaai, lebih baik mati di
tempat ini saja.”
185
Batu nisan yang berserakan dan gundukan tanah yang berjajar
mendadak menimbulkan suatu perasaan pedih dalam hatinya, diamdiam
ia berpikir seorang diri:
“Aaai… walaupun menjadi jagoan sepanjang masa, setelah mati
kerangka tubuhnya juga akan terlantar di dalam tanah pekuburan.
Orang hidup saling mengejar harta dan nama, sepanjang hari
membanting tulang bekerja keras, padahal apalah gunanya semua
perjuangannya itu bila hayat telah meninggalkan badan?”
Ingatan tadi begitu melintas dalam benaknya, semua
kegagahannya serasa punah tak membekas tekad yang selama ini
mempertahankan tubuhnya, kontan membuyar, kakinya
sempoyongan, hampir saja ia jatuh terjerembab ke atas tanah.
“Koak koak koak…” bunyi burung gagak menambah suramnya
suasana….
Di atas beberapa batang pohon siong tak jauh dari Ku See-hong,
terbang melayang empat lima ekor burung gagak. Ketika
mendengar pekikan burung yang menusuk telinga itu, mendadak Ku
See-hong merasakan hatinya bergetar keras.
Kejadian demi kejadian yang memedihkan hatinya di masa lalu
kembali muncul di dalam hatiya. Ia teringat kembali dengan ayahibunya
yang mati secara mengenaskan, dia teringat pula Bun-ji
koan-su yang sampai mat i tetap membawa dendam….
Beberapa orang itu telah melimpahkan budi dan kasih sayang tak
terlukiskan dengan kata-kata kepadanya, tapi meninggalkan pula
dendam berdarah yang lebih dalam dari samudra untuk ia
selesaikan….
Terbayang sampai di situ dia baru merasa terkesiap. Diam-diam
tegurnya kepada diri sendiri:
“Ku See-hong, wahai Ku See-hong…. Nyawamu sih kecil, tapi
dendam kesumat orang tuamu harus dibalas, apalagi Bun-ji koan-su
telah mewarsikan tiga macam ilmu kepadamu. Sampai detik-detik
186
kematiannya, ia masih menitipkan harapannya yang besar
kepadamu.
Betul dengan watak aneh dari ia orang tua, sampai saat
terakhirnya dia tidak meminta apa-apa kepadamu, tapi betapa
besarnya dia menitipkan harapn tersebut kepadamu, betapa
besarnya harapan dia orang tua agar kau bisa menyelesaikan
keinginannya. Apalagi kau telah bersumpah di depan jenasahnya
tapi sekarang, kau telah meremehkan nyawamu sendiri, kau
gampang berputus asa, maunya mengambil keputusan pendek…
Wahai Ku See-hong, manusia macam apakah dirimu ini…?”
Begitu ingatan tersebut berkelebat lewat di dalam benaknya,
muncul kembali semangat untuk melanjutkan hidup di dalam
hatinya, semangatnya ikut berkobar pula. Sambil mendongakkan
kepalanya ia memandang pesoan awan di angkasa, angin musim
gugur yang dingin berhembus lewat dan mengibarkan ujung
bajunya. Dalam benaknya seali muncul bayangan dari Bun-ji koansu,
telinganya serasa mendengung kembali pesan terakhir dari
gurunya. Darah panas di dalam dadanya tiba-tiba bergelora dan
mendidih, semua kemasgulan dan kemurungan yang mengganjal
dadanya terasa menyesakkan napas, tak kuasa lagi ia mendogakkan
kepalanya dan berpekik panjang.
Suara pekikannya itu nyaring seperti pekikan naga…. Tinggi,
keras menembusi awan dan menggema dalam lembah. Suaranya
memantul dan mendengung t iada hentinya. Namun di balik pekikan
tadi justru terbawa suasana sedih, pedih dan murung.
Tiba-tiba, pekikan nyaring itu terputus sampai di tengah jalan,
terdengar Ku See-hong mendengus tertahan….
Sebagaimana diketahui, luka dalam yang diderita pemuda itu
sama sekali belum sembuh, tapi sekarang harus mengerahkan sisa
tenaga yang dimilikinya untuk berpekik panjang, hala mana
menyebabkan jalan darahnya mengalmi luka yang semakin parah,
lagi tentu saja kondisi badannya menjadi semakin buruk. Akhirnya
dia tak tahan dan muntah darah segar, kemudian tubuhnya roboh
187
ke tanah dan jatuh tak sadarkan diri. Tubuhnya tepat roboh di
samping sebuah kuburan di bawah sebatang pohon pen yang lebar.
Entah berapa lama sudah lewat mendadak Ku See-hong merasa
pipinya menjadi dingin, tubuhnya gemetar keras dan segera
tersadar kembali dari pingsannya.
Ketika ia membka kembali matanya, tampak awan hitam
menyelimuti seluruh angkasa dan menutupi cahaya sang surya, kilat
menyambar-nyambar, guntur menggelegar, ternyata hujan sedang
turun dengan derasnya…..
Sekujur badan Ku See-hong basah kuyub oleh air hujan, dengan
cepat sinar matanya dialihkan ke arah sebuah gardu bobrok lebih
kurang dua kaki dari sana. Dengan cepat badannya jumpalitan di
udara dan meluncur ke arah dalam gardu bobrok tadi.
Setelah tiba di dalam gardu, Ku See-hong baru menjerit tertahan
karena kaget.
“Haaah? Heran, kenapa luka parahku secra tiba-tiba bisa
membaik sendiri…?”
Pemuda itu merasa pergolakan hawa darah di dlaam dadanya
telah menjadi tenang kembali, badannya tidak terasa sakit seperti
tadi.
Rupanya ia telah memperoleh warisan hawa murni dari Bun-ji
koan-su yang telah mencapai puluhan tahun hasil latihan itu. Di
samping memiliki pula ilmu Kan-kun-mi-siu-kang yang maha sakti
tersebut.
Berhubung dia tidak segera mengatur pernapasan setelah
menderita luka dalam yang amat parah itu. Kemudian harus
melakukan pula perjalanan yang jauh sebelum akhirnya
memaksakan diri untuk berpekik nyaring… kesemuanya ini
menyebabkan dia jatuh pingsan.
Tapi justru karena pingsan, pemuda itu malah mendapat cukup
banyak waktu untuk beristirahat. Lambat laun gejolak hawa murni di
188
dalam dadanya juga menjadi tenang kembali, kesadaran pun
berangsur pulih kembali.
Demikianlah, setelah berhasil menenangkan perasaannya, Ku
See-hong baru bergumam:
“Kenapa aku begini tolol, tak tahu mengatur napas untuk
mengerahkan tenaga dalam…? Tanah pekuburan ini sangat luas dan
terpencil letaknya, mungkin tiada orang yang bakal sampai ke sini,
kenapa tidak kugunakan kesempatan ini untuk menyembuhkan sisa
lukaku, kemudian sekalian memperdalam jurus Hoo-han-seng-huan
yang maha sakt i itu?”
Ternyata semenjak terjadinya pertarungan sengit di depan kuil
kuno kemarin, bukan saja Ku See-hong telah menambah
pengetahuan serta pengalamannya dalam menghadapi musuh,
lagipula dia berhasil juga mendalami banyak sekali kepandaian sakt i.
Semua yang berhasil diperolehnya itu membuat pikirannya
semakin terbuka untuk mendalami kepandaian silat yang dimilikinya,
otomatis menimbulkan pula semangatnya untuk memperoleh
kemajuan. Dia berharap dari ketiga gerakan jurus Hoo-han-senghuan
tersebut dia dapat memperoleh kepandaian sakti yang lebih
banyak lagi.
Dalam soal ilmu silat, maka yang menjadi kunci rahasianya
adalah pengertian tentang dasar ilmu tersebut. Bila dahsyatnya
dasar tersebut sudah dipahami maka selanjutnya segala sesuatunya
pun akan lebih lancar lagi.
Ketika Bun-ji koan-su mewariskan jurus Hoo-han-seng-huan
tersebut kepadanya tempo hari, saat itu keadaannya ssudah payah
sekali. Apa yang bisa dilakukannya tak lebih hanya melakukan
gerakan secara garis besarnya saja, namun berhubung ilmu itu
mengandung makna yang lebih mendalam, maka Ku See-hong tak
lebih cuma ditinggal sekilas kenangan saja.
Menanti ia sungguh-sungguh bertarung dengan jago kelas satu
dari dunia persilatan, dan bikin kocar-kacir tak karuan, sang pemuda
yang keras hati ini baru menghimpun semua semangat dan
189
tenaganya untuk berusaha mengenang kembali semua kesan yang
telah diperolehnya itu. Untung dia memiliki kecerdasan yang tinggi
serta daya tangkap yang hebat, jadinya ia malah berhasil
memahami makna dari jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.
Setelah itu, dia terlibat kembali dalam suatu pertarungan yang
seru melawan Im Yan cu. Dalam pertarungan ini lebih besar lagi
hasil yang berhasil diraihnya. Banyak rahasia ilmu silat yang di harihari
biasa mungkin sulit dipecahkan, ternyata berhasil dipahami
olehnya dalamsemangat dan perjuangan yang amat hebat itu.
Otomatis, pelbagai cara mempelajari ilmu silat serta pelbagai
jurus silat yang lihay pun berhasil dipecahkan.
Kemajuan pesat yang berhasil diraih dalam waktu singkat ini,
tanpa terasa menimbulkan pula daya tarik bagi Ku See-hong untuk
menyelidiki serta mendalami ilmu silatnya lebih jauh, sebab dia
sadar andaikata kepandaian silatnya tak becus, maka tanggung
jawab yang berada di atas bahunya juga sukar untuk diwujudkan.
Saat itu, dalam hati Ku See-hong telah muncul suatu harapan
yang sangat kuat, apa yang dia ingin lakukan tanpa segan-segan
segera dilaksanakan. Dengan cepat pemuda itu duduk bersila di atas
meja batu dalam gardu bobrok itu, lalu menurut i pecahan rahasia
ilmu silat yang berhasil dipahaminya, dia mulai mengerahkan hawa
murninya untuk mengatur pernapasan….
Dengan dibuangnya semua pikiran dari dalam benaknya serta
pemusatan perhatiannya ke satu titik, dengan cepat pemuda itu
mendapatkan tubuhnya makin lama semakin segar.
Dalam waktu singkat Ku See-hong merasa hawa murni di dalam
tubunya makin lama semakin terhimpun menjadi satu, kemudian
muncul segulung aliran tenaga yang sangat aneh dari pusar
menerjang naik ke atas dan menyebar ke seluruh badannya. Baru
satu lingkaran hawa murninya hanya mengelilingi badan, ia sudah
berada alam keadaan lupa diri.
Lewat seperminum teh kemudian, dari seluruh badan Ku Seehong
segera muncul suatu perubahan yang sangat aneh. Dari
190
sekeliling badannya tiba-tiba muncul selapis kabut yang mengelilingi
seluruh badannya. Kabut putih itu menyerupai awan putih di
angkasa yang melapisi semua badannya.
Di dalam keadaan demikian, walaupun ada hembusan angin
tajam yang menerpa badannya, gumpalan kabut putih tetap
menggumpal dan sama sekali t idak membuyar.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya kabut putih yang
sangat indah itu seakan-akan terhisap kembali semuanya ke dalam
tubuh Ku See-hong, menyusul kemudian diapun membuka matanya
kembali….
Memandang gundukan tanah pekuburan yang tersebar di manamana
serta memandang pepohonan yang bergoyang terhembus
angin, tanpa terasa pemuda itu menghela napas sedih.
Kiranya hujan telah berhenti waktu itu, awan hitam telah
membuyar dan udara pun telah kembali. Sang surya telah
tenggelam di langit barat meninggalkan bianglala senja yang sangat
indah….
Senja telah menjelang, berarti malampun segera tiba.
Bunyi jangkrik mulai melagukan irama dendam, angin pun
berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan rumput serta dedaunan,
tanah pekuburan itu terasa makin kelabu dan sepi….
Setelah melakukan semadi untuk mengobati lukanya, gejolak
hawa darah di dalam tubuh Ku See-hong bukan saja telah menjadi
tenang kembali, lagi pula badan serta semangatnya menjadi segar
kembali, hawa murni yang terhimpun di dalam badannya terasa
penuh. Sinar matanya lebih tajam dan jelas tenaga dalamnya
kembali telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat….
Perlu diketahui: Kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Bun-ji
koan-su sesungguh sudah tiada tandingannya lagi di dunia ini.
Dengan ilmu Tiong-giok-tay-hoat dari kalangan Buddha, secara
diam-diam ia telah menyalurkan segenap kekuatannya itu ke tubuh
Ku See-hong yang menyebabkan ia menemui ajalnya karena
191
kekeringan… hal semacam ini boleh dibilang belum pernah terjadi di
dunia ini.
Betul hawa murni yang diterima Ku See-hong tidak menyeluruh,
sehingga tidak membawa tingkatan hawa murninya mencapai
tingkatan paling top seperti yang dimiliki Bun-ji koan-su… akan
tetapi paling tidak ia telah memperoleh tiga sampai empat bagian
dari semua tenaga tersebut.
Walaupun tenaga tadi belum sampai menyusup semua ke dalam
nadinya dan bisa dimanfaatkan sepenuhnya, tapi dikombinasikan
dengan Kan-kun-mi-siu khikang yang diperolehnya itu membuat
setiap kali pemuda itu termakan pukulan dari luar atau selesai
melakukan semedi satu kali, hawa murni tadi lebih banyak yang
terhisap ke tubuh dan bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Keadaan semacam ini boleh dibilang luar biasa sekali, atau
dengan perkataan lain, hal mana sesungguhnya merupakan suatu
rejeki yang amat besar bagi pemuda itu. Selama berada dalam kuil
dulu, Ku See-hong sudah terlatih memiliki keberanian yang melebihi
orang lain, maka sekarang, walaupun berada di tanah pekuburan
yang menyeramkan, diapun sama sekali tidak merasa takut.
Waktu itu, segenap pikiran dan semangatnya dikumpulkan
menjadi satu, segenap ingatan maupun pikiran yang lain terbuang
jauh-jauh dari benaknya, apa yang dipikirkan sekarang hanyalah
mendalami ketiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut serta
berusaha untuk mengupas pelbagai jurus ilmu sakti lainnya yang
terdapat di balik jurus-jurus serangan itu….
Pada dasarnya Ku See-hong memang seorang pemuda yang
cerdas, begitu segenap pikiran dan perhatiannya dikumpulkan
menjadi satu, kembali ada banyak jurus serangan serta kunci silat
lainnya yang berhasil ditelaah olehnya, dan sekarang dia betul-betul
mengerti bahwa jurus Hoo-han-seng-huan tersebut sesungguhnya
adalah suatu kepandaian maha sakti yang tiada taranya di dunia ini.
Di balik jurus serangan itu bukan saja mengandung intisari
kepandaian yang luas dan dalam, dalam setiap gerak serangannya
192
juga mengandung unsur kekuatan tak terduga…. lagipula memiliki
makna yang tak terkirakan hebatnya.
Dalam kejut dan girangnya, Ku See-hong makin terbuai dalam
pelajarannya, segenap perhatian, pikiran maupun perasaannya
hanya terpusatkan pada kepandaiannya itu, sehingga hampir saja
dia melupakan segala sesuatu lainnya….
Rembulan telah bersinar terang di ujung langit, dalam waktu
yang amat panjang ini, Ku See-hong telah berhasil memahami
serangkaian ilmu silat yang belum tentu dapat dimiliki atau dipahami
oleh umat manusia lainnya dalam jangka waktu puluhan tahun….
Waktu itu rembulan bersinar terang di angkasa dan
memancarkan cahaya keperak-perakan, pelan-pelan Ku See-hong
melangkah keluar dari dalam gardu bobrok itu mendongakkan
kepalanya dan memandang cuaca. Ia tahu, waktu itu kentongan
kedua sudah lewat.
Mendadak….
Ku See-hong berdiri tegak bagaikan sebuah batu karang, semua
pikiran dan tenaganya terpusat menjadi satu, setelah itu diiringi
suara bentakan yang keras dan memekikkan telinga, sepasang
telapak tangannya diayunkan ke depan. Dari kesepuluh jari
tangannya, yang terpentang lebar terpancarlah desingan angin
tajam yang memekikkan telinga. “Sreeett! Sreeett! Sreeett!”
desingan demi desingan tajam menyambar membelah angkasa.
Dari ujung jari Ku See-hong tiba-tiba memancarkan keluar
sepuluh jalur cahaya putih yang tak berwujud, yang menyambar
dengan kecepatan luar biasa masing-masing menyerang dua batang
pohon di hadapannya.
“Pleetaak… pleeetak… blaaamm… blaaamm…!” setelah bergema
suara keras itu, pohon siong yang besar dan luar biasa tingginya itu
mendadak patah menjadi dua bagian dan roboh ke bawah.
Melihat kepandaian yang dicobanya berhasil dengan sukses,
timbul semangat yang menyala-nyala dalam hatinya, sekali lagi
193
pemuda itu memutarkan membalikkan sepasang telapak tangannya,
menyusul kemudian terdengar suara bentakan keras menggelegar di
angkasa. Dua gulung tenaga pukulan tak berwujud yang maha
dahsyat, diiringi suara gemuruh yang memekikkan telinga, dua
batang pohon lagi tumbang ke tanah.
Ku See-hong semakin bersemangat, sekali lagi dia melontarkan
sepasang tangannya ke depan. Gulungan angin pukulan ibaratnya
gulungan air yang baru jebol dari bendunga, dengan kecepatan
yang luar biasa menggulung ke atas dua batang pohon lain. Di
mana angin pukulan itu berhembus lewat, kedua batang pohon itu
tak lebih cuma bergoyang pelan tanpa menunjukkan reaksi lainnya.
Mendadak Ku See-hong mendongakkan kepalanya dan
memperdengarkan gelak tertawa panjang yang memekikkan telinga.
Di balik suara tertawa tersbut, terkandung luapan rasa bangga yang
tak terhingga, nampak jelas betapa girangnya perasaan anak muda
itu….
Di saat gelak tertawa Ku See-hong masih berkumandang itulah…
segulung angin tajam berhembus lewat, tiba-tiba daun dan ranting
pohon besar itu berguguran ke atas tanah, menyusul kemudian
terdengar suara gemuruh yang sangat keras bergema di angkasa….
Dua batang pohon yang sangat besar itu tahu-tahu tumbang ke
atas tanah mulai sebatas pinggang, dari bekas-bekas potongan itu
kelihatan bubuk halus beterbangan kemana-mana. Rupanya isi
pohon itu sudah dibikin hancur lumat oleh pukulan tangannya.
Tiba-tiba Ku See-hong berhenti tertawa, lalu dengan wajah
sedingin es gumamnya lirih:
“Semangat, tenaga dan kekuatan merupakan tiga unsur yang
saling mempengaruhi, jika terjadi jalinan hubungan antara ketiganya
akan jadilah Huan-pu-kui-tin, tenaga pukulan berisi tampak
bagaikan tak berisi. Itulah pertanda kalau puncak kesempurnaan
telah tercapai…. Huan-pu ki-tin… Huan-pu kui-tin…. Betulkah
kepandaianku telah berhasil kucapai hingga puncak
kesempurnaannya?”
194
Bergumam sampai di situ, Ku See-hong merasa kegirangan
sehingga hampir saja melupakan segala-galanya, segera teriaknya
keras-keras:
“…Sungguhkah kesemuanya ini? Sungguhkah kesemuanya ini?
Mengapa secepat ini aku berhasil mencapainya…? Kenapa…?”
Dengan usaha yang sangat mudah ia berhasil menggunakan apa
yang berhasil dikupas dalam kepandaian itu menjadi suatu
kenyataan, lagi pula menurut keadaan yang terlihat itu, hal mana
justru merupakan gejala dari suatu keadaan yang dinamakan Huanpu
kui-tin. Dalam kejut dan girangnya tak heran kalau dia menjadi
sangsi, benarkah hal tersebut merupakan suatu kenyataan?
Benarkah dia berbakat bagus dan memiliki kecerdasan yang luar
biasa?
Dalam termenungnya itu, pelbagai pikiran cepat muncul di dalam
benaknya, tapi setelah semua alasan itu diteliti lebih lanjut, terasa
olehnya bahwa semua persoalan cukup dijadikan sebagai alasan
mengapa ia bisa mencapai kesuksesan dengan begitu cepatnya….
Tiba-tiba Ku See-hong teringat kembali dengan saat-saat
menjelang kematian Bun-ji koan-su, keadaan gurunya yang loyo dan
lemas seperti lentera kehabisan minyak itu… Mendadak satu ingatan
terlintas dalambenaknya, dengan cepat dia berpikir:
“Ketika Bun-ji koan-su dikerubut i beratus orang jago di atas
puncak bukit Soat-san, meski ia dibuat cacad dan tubuhnya terjatuh
ke dalam jurang, nyatanya ia tak sampai mati. Kemudian selama
belasan tahun lamanya diapun sanggup membunuh jago-jago lihay
yang mengunjungi kuilnya secara misterius. Dari sini terbuktilah
kalau ilmu silatnya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali.
Tapi setelah berjumpa dengan diriku, mengapa dia lantas berubah
menjadi kakek loyo yang sudah hampir mendekati ajalnya? Janganjangan….”
Berpikir sampai di situ, tiba-tiba Ku See-hong berseru:
“Betul…! Betul…!”
195
“Sudah pasti hawa murni suhu yang selama ini merupakan
kekuatan yang memelihara kehidupannya telah disalurkan kepadaku
secara diam-diam, kalau tidak, mengapa secepat itu aku berhasil
menguasai ilmu Kan-kun Mi-siu khikang yangmaha dahsyat itu?
Oooh suhu… wahai suhu. Mengapa tidak kau katakan hal itu
kepadaku?
“Begitu besar budi kebaikan yang kau limpahkan kepadaku,
bagaimana caranya aku membalas semua budi kebaikan tersebut?”
Ku See-hong merasakan darah panas di dalam tubuhnya
bergelora keas dan mendidih, air mata tanpa terasa jatuh
bercucuran membasahi wajahnya.
Mendadak….
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See-hong, dengan
tekad yang bulat dia berseru:
“Suhu! Kau bersikap begitu baik kepadaku, budi kebaikanmu
keada tecu lebih dalam dari samudra, untuk selanjutnya tecu pasti
akan mengingat selalu di dalam hati, aku pasti akan berusaha untuk
membalaskan dendam sakit hatimu, aku pun akan membalas budi
kebaikanmu.”
Dalamwaktu singkat, kentongan ketiga kembali menjelang t iba.
Ketika Ku Se-hong teringat kembali tragedi yang menimpa Bun-ji
koan-su, dia merasa terdorong oleh emosi yyang meluap, sehingga
tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan membacakan lagu
“Dendam Sejagad” yang merupakan suara hati dari Bun-ji koan-su
itu.
Dendam Sejagad
DENDAM kesumat membentang bagai jagad.
Bukit tinggi berhutan lebat di sisi sebuah kuil.
Sungai besar di depan kuil berombak besar.
Dendam kesumat sepanjang abad.
196
DENDAM kesumat membentang bagai jagad.
Burung gagak bersarang di rumput di kala senja.
Cinta kasih berlangsung dari muda sampai tua
Memetik kampak membuat lagu: Nadanya dendam.
Menitik air mata darah untuk siapa?
Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa.
DENDAM kesumat membentang bagai jagad.
Ji-koan pernah bebuat salah.
Menyandang golok menunggang kuda, apalagh gunanya?
Salju terbang air laut semuanya hambar.
DENDAM kesumat membentang bagai jagad.
Curah hujan membuyarkan awan.
Air mengalir akhirnya surut.
Dendam kesumat tak akan pernah luntur….
Irama lagu bernada iblis yang membetot sukma itu menjulang
tinggi ke angkasa dan terbawa angin sampai di tempat kejauhan.
Kesunyian yang mencekam dan irama lagu yang memedihkan hati
teralun di angkasa dan mendengung tiada hentinya.
Ketika selesai membawakan lagu tersebut, seluruh wajah Ku Seehong
telah basah oleh air mata. Dengan termangu-mangu dia
memandang jagad yang luas, dia ingin menemukan bayangan Bun-ji
koan-su, tapi tak dapat.
Udara tampak bersih, bintang berkedip-kedip menyinari angkasa,
Bun-ji koan-su adalah sebuah bintang di ujung langit sana, meski
orangnya telah tiada, namun kenangan serta lagunya yang penuh
perasaan akan berada terus di dunia, dan Ku See-hong akan selalu
membawakannya….
197
Entah sudah berapa lama Ku See-hong mengamati udara,
akhirnya sambil menghela napas sedih, dia duduk kembali di meja
batu dalam gardu dan bersemedi kembali.
Sebetulnya Ku See-hong memang seorang yang gila ilmu, setelah
keberhasilannya mengupas pelbagai kepandaian sakti ia tak pernah
membuang waktunya dengan sia-sia. Dia selalu memusatkan pikiran
dan perhatiannya untuk menyelidiki kepandaian sakti. Setiap
kentongan ketiga sudah tiba diapun membawakan lagu “Dendam
Sejagad” dengan suara lantang untuk mengenang gurunya yang
telah tiada dan berdoa bagi arwah Bun-ji koan-su Him Ci-seng yang
telah tiada.
Tanpa terasa, Ku See-hong sudah berdiam selama tiga hari tiga
malam di tengah tanah pekuburan yang sepi, seram, dan terpencil
itu.
Latihan semedi dari Ku See-hong pun makin lama semakin
sempurna. Setiap kali duduk bersemedi, dia hampir membutuhkan
waktu selama seharian penuh. Hari-hari itu, ketika ia mulai
bersemedi di pagi hari, dalam sekejap mata, mata telah menjelang
tiba kembali.
Hari itu, ketika Ku See-hong baru sadar dari semedinya, tiba-tiba
ia mendengar seseorang tertawa cekikikan, buru-buru anak muda
itu membuka matanya dan menengok ke arah mana berasalnya
suara tertawa itu. Sinar mata tajam yang menggidikkan hati
memandang keluar dari balik matanya.
Pada saat itulah, mendadak terdengar bentakan nyaring…
“Hei orang she Ku, sambutlah ini!”
“Weeess…” hembusan angin kencang meluncur t iba.
Ku See-hong segera menyaksikan ada sesosok bayangan tubuh
yang tinggi besar meluncur datang ke arahnya dengan kecepatan
luar biasa.
Waktu itu Ku See-hong sudah mengenali suara siapakah itu,
sepasang alis matanya segera berkenyit tangan kanannya segera
198
disentilkan ke depan, desingan angin tajam yang memekikkan
telinga dengan dahsyatnya menghantambayangan hitam tadi.
“Blaaamm…!” benturan keras bergema di udara.
Menyusul kemudian terdengar suara jeritan ngeri yang
memilukan hati berkumandang memenuhi angkasa, termakan oleh
angin pukulan Ku See-hong yang amat tajam tadi, bayangan hitam
tersebut segera terbabat menjadi dua bagian. Darah segar
berhembus kemana-mana dan menyiarkan bau amis yang menusuk
hidung.
Ketika Ku See-hong telah melihat jelas siapa gerangan bayangan
hitam itu, dengan suara keras dan penuh kegusaran ia lantas
membentak nyaring:
“Im Yan cu, kau perempuan rendah yang berhati keji, mengapa
kau pergunakan nyawa orang sebagai bahan gurauan? Kau iblis
perempuan berhati busuk, malam ini aku orang she Ku pasti akan
mencabut selembar jiwamu!”
Di bawah sinar rembulan, tampaklah di atas sebuah gundukan
tanah pekuburan berdiri seorang gadis yang cantik jelita; dia bukan
lain adalah Im Yan cu.
Ketika mendengar suara makin dari anak muda tersebut, Im Yan
cu segera tertawa cekikikan, katanya:
“Hei, kenapa sih kau ini? Kenapa sikapmu kepadaku selalu begitu
galak? Memangnya aku telah salah membunuh?”
Ku See-hong menjadi tertegun, sorot matanya yang tajam
dengan cepat memandang sekejap sekeliling tempat itu, tapi
dengan cepat hatinya menjadi amat terperanjat.
Pemandangan yang terbentang di depan matanya ketika itu
betul-betul seram, ngeri dan cukup mendirikan blu roma.
Ternyata di sekeliling tanah pekuburan itu tergeletak bersosoksosok
mayat yang bergelimpangan di sana-sini, ada yang tergeletak
199
kaki di atas tanah ada pula yang terkapar di atas gundukan tanah
pekuburan keadaannya benar-benar mengerikan.
Bentuk tubuh merekapun amat seram dan luar biasa ngerinya,
ada yang kepalanya putus, ada yang anggota badannya terpapas,
ada pula yang isi perutnya berhamburan… bau amis darah tersebar
dari empat penjuru.
Menyaksikan pemandangan seperti itu, diam-diam Ku See-hong
bergidik dan merasakan bulu romanya pada bangun berdiri. Sebagai
pemuda yang cerdik, dengan cepat dia mengetahui apa yang
menyebabkan kematian jago-jago persilatan itu.
Ternyata Ku See-hong sudah empat malam berdiam di dalam
komplek tanah pekuburan itu, tiap malam pada kentongan ketiga
dia selalu membawakan lagu “Dendam Sejagad” dengan keras dan
lantang, hal mana membuat para jago persilatan yang sedang
keheranan dan mencari-cari apa sebabnya lagu seram yang
membetot sukma itu tiba-tiba lenyap dari dalam kuil bobrok
tersebut, berduyun-duyun datang ke situ.
Maka di kala pada malam ke-empat suara nyanyian tersebut
bergema lagi dari tanah pekuburan tadi, berduyun-duyun kawanan
jago persilatan itu berdatangan ke sana.
Begitulah, sewaktu Ku See-hong sedang bersemedi pagi tadi, tak
sedikit jago persilatan yang sedang menyelidiki asal nyanyian itu
sampai di sana, salah seorang di antaranya adalah ImYan cu.
Padahal waktu itu Ku See-hong sedang melatih semacam ilmu
tenaga dalam tingkat tinggi, asal ia mendapat gangguan atau
serangan yang datang dari luar, maka akibatnya pemuda itu akan
mengalami “jalan api menuju neraka”. Masih mendingan kalau cuma
terluka parah, bisa jadi selembar jiwanya akan turut melayang.
Pada mulanya jago-jago persilatan itu masih belum berani
mendekati Ku See-hong, kemudian setelah melihat jelas bahwa
orang itu tak lebih hanya seorang pemuda tampan, serentak
merekapun melancarkan sergapan maut ke arahnya.
200
Maka demi melindungi selembar jiwa Ku See-hong, Im Yan cu
segera melakukan pembantaian secara besar-besaran.
Waktu itu Ku See-hong sudah berada dalam keadaan lupa diri,
sekalipun langit ambruk dia juga tak akan merasa, sudah barang
tentu diapun tidak tahu kalau di sampingnya sedang berlangsung
suatu pertarungan sengit yang benar-benar mengerikan.
Demikianlah, walaupun Ku See-hong merasa agak ngeri
menyaksikan kekejaman Im Yan cu dalam melangsungkan
pembantaian, namun karena dia merupakan tuan penolongnya
dalam peristiwa kali ini, maka pemuda itu buru-buru menjura
memberi hormat seraya katanya dengan lantang:
“Nona Im, aku orang she Ku merasa berterima kasih sekali atas
pertolongan yang kau berikan kepadaku sehingga aku lolos dari
bencana pada malam ini. Untuk budi kebaikan itu, di kemudian hari
aku pasti akan berusaha untuk membalasnya, selain itu akupun
minta maaf akan kekasaranku karena ketidaktahuanku tadi.”
Mendadak paras muka Im Yan cu berubah menjadi dingin seperti
es, setelah mendengus dingin, katanya dengan ketus:
“Hmmm! Siapa yang kesudian menerima pembalasan budimu itu?
Huuuh… Aku membunuh orang-orang itu tak lain karena aku
berpikir demi kepentinganku sendiri.”
Mendengar perkataan itu, Ku See-hong menjadi tertegun,
pikirnya: “Tabiat dari perempuan ini benar-benar aneh sekali, baru
saja berbicara dengan wajah berseri, tiba-tiba saja berubah kembali
menjadi dingin tak berperasaan….”
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata dengan lantang:
“Aku Ku See-hong selama hidup tak pernah menerima budi
kebaikan orang dengan begitu saja. Pokoknya barang siapa pernah
melepaskan budi kepadaku maka hal ini pasti akan kuingat selalu di
dalam hati, sekalipun badan harus hancur, suatu ketika budi itu
pasti akan kubayar.”
201
Im Yan cu tertawa dingin dengan nada sinis, ujarnya dengan
ketus:
“Huuuh… pura-pura berlagak sok tahu budi. Hmm! Sungguh
menjemukan!”
Mendengar ucapan tadi, mencorong sinar tajam dari balik mata
Ku See-hong, katanya pula dengan gusar:
“Im Yan cu, aku orang she Ku adalah seorang lelaki sejati yang
bisa membedakan mana budi dan mana dendam, apa yang
kuucapkan tak akan kuingkari untuk selamanya. Aku bukan manusia
rendah yang ada ucapan tanpa wujudnya.”
Tiba-tiba Im Yan cu tertawa cekikikan, lalu katanya pula dengan
suara dingin:
“Sungguh beruntung sekali aku, Im Yan cu dapat berkenalan
dengan seorang Kuncu, seorang lelaki sejati seperti kau, tapi nanti
kau akan menyesal dengan perkataanmu tadi. Nah, sekarang aku
hanya ingin memohon sesuatu kepadamu, sanggupkah kau untuk
melakukannya?”
Agak terperanjat Ku See-hong setelah mendengar perkataan itu,
tapi dengan tegas dia menjawab:
“Apa permintaan nona silahkan diutarakan secara berterus
terang, asal aku orang she Ku sanggup melakukannya, pasti akan
kulakukan dengan sepenuh tenaga.”
Paras muka Im Yan cu dingin kaku tanpa emosi, katanya dengan
suara dingin:
“Nonamu cuma menghendaki batok kepalamu itu, bersediakah
kau untuk memenggalnya dan diberikan kepadaku?”
Suaranya dingin kaku tanpa emosi dan lagi amat tegas, sama
sekali tidak dibuat-buat ini membuat Ku See-hong merasa terkesiap
dan segera terbungkamdalam seribu bahasa.
202
Dari balik sorot mata Im Yan cu segera terpancar keluar
serentetan cahaya yang sangat aneh. Diawasinya perubahan mimik
wajah si anak muda itu, kemudian ejeknya dingin:
“Bagaimana? Kau merasa menyesal? Hmm! Tadi saja, lagaknya
besar dan omongnya segede gajah.”
Dari atas wajah Ku See-hong pun terpancar keluar serentetan
cahaya yang aneh sekali, katanya pelan:
“Bila nona menghendaki batok kepala ini, aku orang she Ku tidak
akan menampik, cuma akupun hendak mengajukan satu permintaan
kepadamu, dapatkah kau memberi kelonggaran waktu selama tiga
tahun kepadaku?”
Bila sudah sampai waktunya nanti, batok kepalaku ini pasti akan
kuserahkan sendiri kepadamu, tapi jika kau bersikeras menghendaki
batok kepalaku pada saat ini, terpaksa aku akan persilahkan kau
untuk memenggalnya sendiri.”
Ketika selesai mengupcakan perkataan itu, dari balik mata Ku
See-hong pun terpancar keluar serentetan cahaya aneh yang
menggidikkan hati, ia menatap wajah Im Yan cu tanpa berkedip.
Im Yan cu segera tertawa ringan katanya:
“Baik, daripada membangkang lebih baik menurut saja, sekarang
juga nonamu akan memenggal batok kepalamu.”
“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Ku See-hong membentak keras,
“Aku sorang she Ku hendak mengajukan satu pertanyaan
kepadamu.”
Kemudian setelah berhenti sebentar terusnya lagi:
“Siapakah gurumu? Suhuku Bun-ji koan-su ada dendam sakit hati
macam apa dengan dirimu?”
Dihadapkan oelh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ku
See-hong itu, Im Yan cu menjadi tertegun. Ternyata dia sendiripun
tidak tahu dendam sakit hati seperti apakah yang terjalin antara
gurunya dengan Bun-ji koan-su.
203
Maka setelah tertegun beberapa saat lamanya, dengan suara
dingin dia berkata:
“Nama guruku tak akan diketahui oleh orang-orang persilatan…
aku rasa kaupun tak perlu tahu, bagaimanapun juga kau toh sudah
mendekati ajalnya, buat apa kau banyak ertanya? Sedangkan
mengenasi dnedam sakti hati yang terjalin antara suhuku dengan
Bun-ji koan-su, bahkan aku sendiripun tidak tahu, dari mana aku isa
menerangkannya kepadamu?”
Mendengar perkataan tersebut, mendadak Ku See-hong
mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan gelak tertawa
panjang yang keras dan membetot sukma. Suara tertawanya itu
penuh mengandung kesedihan, kepedihan dan kekosongan…
Begitu keras dan melengkinganya suara tertawa itu, selain
membumbung jauh ke angkasa, juga menimbulkan getaran keras di
sekeliling tempat itu, membuat suasana di dalam komplek tanah
pekuburan itu menjadi lebih seramdan menggidikkan hati.
Im Yan cu sendiri pun dibuat berubah wajahnya setelah
mendengar gelak tertawa itu, diam-diam pikirnya:
“Baru beberapa hari tidak bersua dengannya, kenapa tenaga
alamnya bisa memperoleh kemajuan yang sedemikian pesatnya?
Jika dia sampai menggunakan jurus-jurus yang mematikan nanti,
sudah pasti aku harus menggunakan banyak tenaga untuk
menghadapinya….”
Sementara dia masih termenung dan berpikir sampai ke situ,
mendadak suara tertawa yang keras itu berhenti sama sekali.
Suasana menjadi sepi dan hening….
Sesudah berhenti tertawa paras muka Ku See-hong berubah
menjadi dingin dan kaku tanpa emosi, sorot matanya memancarkan
cahaya tajam yang menggidikkan hati, membuat orang merasa
tercekat rasanya, kemudian dengan suara yang dingin ia berkata:
“Im Yan cu, sebagai seorang murid, sudah menjadi kewajibanmu
untuk membalaskan dendam bagi sakti hati gurumu, cuma kalau toh
204
kau sendiri juga tak tahu dari mana timbulnya perselisihan antara
gurumu dengan guruku, sudah barang tentu kau juga tak bisa
menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah di dalam
peristiwa ini. Aku orang she Ku anjurkan kepadamu, lebih baik
janganlah melakukan pembalasan dendam secara membabi buta.”
“Betul aku orang she Ku pernah berhutang budi kepadamu, tapi
akupun tak ingin mati tanpa diketahui sebab musababnya, oleh
sebab itu hutang ini sudah pasti aku orang she Ku bayar kepadamu.
Jika kau berkeras kepala juga dan ingin membalas dendam saat ini,
silahkan saja andalkan kepandaianmu untuk melakukannya.”
Im Yan cu mengerling sekejap dengan sepasang biji matanya
yang jeli, lalu sambil tersenyumkatanya:
“Ku See-hong, kenapa sih kau marah-marah seperti lagi sewot?
Kalau kau enggan menyerahkan batok kepalamu, yaa sudahlah,
kenapa musti mengucapkan teori yang panjang lebar seperti itu?”
Ku See-hong segera merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya:
“Perempuan ini betul-betul sangat aneh… girang, marah tak
menentu, sesungguhnya permainan busuk apa lagi yang hendak dia
lakukan terhadap diriku…?”
Bagaikan segulung hembusan angin, dengan enteng Im Yan cu
melayang turun ke atas tanah, kemudian dengan langkah yang
lemah gemulai dia berjalan menghampiri Ku See-hong, sekulum
senyuman menghiasi wajahnya membuat hati orang berdebar.
“Ku See-hong,” demikan dia berkata dengan merdu dan manja,
“entah mengapa, sedari berjumpa denganmu, aku selalu ingin
marah-marah saja atau ingin menghajar dirimu, kalau sudah begitu
hatiku baru terasa gembira rasanya, anggap saja kejadian tadi
seperti asap yang lenyap di angkasa, sekarang, bagaimana kalau
kau temani aku untuk bergebrak lagi beberapa jurus?”
Nadanya polos dan bersifat kekanak-kanakan, sepasang matanya
yang bulat besar juga memancarkan cahaya lembut yang penuh
dengan cinta kasih, langkah yang lembut ditambah potongan
205
badannya yang tinggi semampai, membuat orang menjadi
terpesona dibuatnya.
Sejak kecil, dari dalam hati Ku See-hong telah muncul suatu
perasaan aneh, yakni membenci kaum wanita…. Senyuman Im Yan
cu yang mengandung nafsu membunuh serta perubahan wataknya
yang tak menentu, kesemuanya itu mendatangkan perasaan antipati
dalam hatinya.
Maka dia lantas mendengus dingin setelah mendengar perkataan
itu, ujarnya dengan dingin:
“Im Yan cu, kau tak usah jual tampang di hadapanku, soal
berkelahi aku orang she Ku juga tidak mempunyai kegembiraan
tersebut. Budi kebaikan yang kuterima hari ini pasti akan kubalas di
kemudian hari. Nah, sekarang aku ingin mohon diri lebih dahulu.”
Selesai berkata, Ku See-hong segera membalikkan badan dan
berjalan pergi dari situ. Dia benar-benar tak ingin berkumpul dengan
perempuan semacam ini.
Im Yan cu mengerdipkan sepasang matanya lalu tertawa,
senyuman itu sungguh mempesona. Hati lelaki mana saja yang
bertemu dengannya sudah pasti akan terpikat dan jatuh hati.
00d0w00
Bab 10
TAPI sekarang, setelah mendengar ucapan Ku See-hong yang
dingin kaku itu dia menjadi tertegun dibuatnya, hampir saja dia
mengira si anak muda itu buta atau tak tahu perasaan.
Maka ketika dilihatnya Ku See-hong akan pergi dari situ, paras
mukanya segera berubah hebat, bentaknya:
“Berhenti kau!”
Pelan-pelan Ku See-hong membalikkan badannya, lalu
mencorong sinar tajam dari balik matanya, dengan dingin dia
berkata:
206
“Nona Im, kau masih ada urusan apa lagi? Cepatlah katakan,
kalau tidak, maaf kalau aku orang she Ku tak dapat lebih lama lagi
menemani kau.”
-oo0dw0oo-
Jilid 7
SEAKAN-AKAN menerima suatu penghinaan yang amat besar,
mendadak Im Yan cu mendengus karena mendongkol, kemudian air
matanya jatuh bercucuran membasahi wajahnya.
Tergetar keras perasaan Ku See-hong setelah menyaksikan gadis
itu mengucurkan air matanya, dia berpikir:
“Mungkin dalam hatinya terdapat suatu persoalan yang amat
memedihkan hatinya, aku sebagai seorang lelaki sejati, tidak
seharusnya bersikap demikian kepadanya sehingga membuat dia
menjadi mendongkol. Aaai… watak setiap orang sebetulnya baik
semua, cuma watak gadis ini agak aneh saja, siapa tahu kalau
keanehannya itu dipengaruhi oleh gurunya…?”
Setelah berhasil menjelaskan sendiri kesulitan orang, sikapnya
pun turut berubah menjadi lebih lembut dan halus, katanya pelan:
“Nona Im, kau mempunyai rahasia apakah yang menyulitkan
dirimu? Silahkan kau katakan, bila aku orang she Ku bisa
melakukannya pasti akan kubantu sedapat mungkin.”
“Banyak urusan!” bentak Im Yan cu. “Pergi kau dari sini, makin
jauh semakin baik, hayo pergi!”
Ucapan yang terakhir itu ternyata sudah mendekati setengah
menjerit, meski demikian, namun suara hatinya ketika itu justru
merupakan kebalikan dari teriakannya tadi, betapa tak inginnya dia
membiarkan Ku See-hong pergi meninggalkan tempat itu.
207
Ku See-hong yang tidak memahami perasaan perempuan dan
seluk beluknya wanita segera menghela napas panjang, gumamnya:
“Perempuan, wahai perempuan… kau memang makhluk yang
sukar untuk dihadapi.”
Selesai bergumam, tubuhnya segera melayang ke tengah udara
dan di tengah desingan angin tajam, tubuh Ku See-hong yang
gagah perkasa itu sudah lenyap dari pandangan mata.
Memandang bayangan punggung Ku See-hong yang lenyap di
balik kegelapan itu, Im Yan cu yang cantik jelita bagaikan bidadari
itu tak dapat menahan luka di hatinya lagi, tak bisa dicegah diapun
menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.
Seorang gadis remaja yang baru mekar perasaan cintanya selalu
memang panas dan bergairah, ketika ia bertemu dengan seorang
lelaki yang mencekoki perasaannya, maka diapun berusaha
mengesampingkan sifat malunya untuk menunjukkan perasaan cinta
yang berkobar terhadap lawan jenis yang ditujunya itu.
Akan tetapi di kala mendapatkan sikap yag jauh di luar
kehendaknya, bahkan pihak lawan menunjukkan sikap segannya,
maka gadis itupun merasa harga dirinya tersinggung, tak hran kalau
Im Yan cu merasakan haitnya benar-benar amat pedih.
Bila seorang gadis lemah yang tak punya orang tua dan hidup
sebatang kara macam dia tidak memiliki sifat yang keras dan iman
yang teguh, biasanya dia akan mengambil keputusan pendek bila
menghadapi pukulan batin semacam ini.
00dw00
Waktu itu, kentongan kedua telah menjelang. Langit bersih dan
jagad terasa hening….
Rembulan memancarkan sinar lembutnya dari angkasa dan
menyinari jalan pegunungan yang sepi.
208
Pada saat itulah nampak sesosok bayangan manusia dengan
kecepatan luar biasa sedang berkelebat lewat. Ilmu meringankan
tubuh yang dimiliki orang ini telah mencapai pada puncak
kesempurnaan yang luar biasa.
Pada mulanya dia sendiripun tak tahu kalau dirinya memiliki ilmu
meringankan tubuh sedemikian lihaynya. Tatkala dia merasakan
kalau ilmu ginkangnya telah mencapai ke tingkatan seperti itu, maka
secara menggila diapun mengerahkannya sekuat tenaga, sebab
dengan begitu rasa sesal di dalam hatinya baru dapat
terlampiaskan.
Angin berhembus lewat menggoyangkan pepohonan, bayangan
manusia itu dengan enteng dan cepat berkelebat lewat, selain suara
gemerisiknya dedaunan yang terhembus angin, di sekeliling sana
amat sepi, hening dan tenang.
Dengan berlarian secepat sambaran petir itu, dalam waktu yang
singkat Ku See-hong telah melewati belasan buah puncak bukit.
Mendadak….
Dia menghentikan diri di atas tebing curam, tepat di hadapan
sebuah jeram yang luasnya delapan sembilan kaki, lalu
mendongakkan kepalanya dan menghembuskan napas panjang. Ia
merasa semua kekesalan dan kemurungan yang mengganjal dalam
dadanya selama ini dapat dilampiaskan keluar bersamaan dengan
hembusan napas itu, dadanya terasa lega sekali.
Pelan-pelan Ku See-hong berjalan ke muka dan melengok ke
dasar jeram tersebut, ternyata dalamnya mencapai dua puluhan
kaki. Air terjun tumpah ke bawah dari puncak bukit dan menumbuk
di atas batu-batu cadas di dasar jeram. Percikan air muncrat ke
empat penjuru dan menimbulkan suara ‘ting tang ting’ yang merdu,
hembusan angin yang menggoyangkan dedaunan menciptakan pula
serangkaian perpaduan suara yang lembut dan syahdu.
Mendadak…. Serentetan jeritan ngeri yang memilukan hati lamatlamat
berkumandang datang dari kejauhan sana.
209
Suara tersebut berkumandang secara beruntun dan merupakan
jeritan sekarat menjelang tibanya ajal, selain itu terdengar pula
serentetan suara tertawa dingin yang amat seram, keras dan
mengerikan hati. Perpaduan suara yang beraneka ragam itu
menciptakan suatu irama nada yang mengerikan di tengah
kegelapan malam itu dan cukup mendirikan bulu roma siapapun
yang mendengarnya.
Perasaan Ku See-hong yang tajam dengan cepat dapat
menyadari kejadian apakah yang telah berlangsung di situ…. Suatu
pembunuhan berdarah karena luapan dendam.
Dengan tenang dia berdiri tegak di tempat semula, sementara
sepasang matanya yang memancarkan cahaya tajam pelan-pelan
menyapu sekeliling jeram itu dan memeriksa asal mulanya suara
jeritan tadi. Namun kecuali aliran air sungai serta hembusan angin
yang mendesis, suasana di sekeliling tempat itu masih tetap sepi,
hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Jeritan ngeri serta gelak tertawa menyeramkan yang bergema
tadi, meski berlangsung secara beruntun, tapi oleh karena suara itu
menggema secara tiba-tiba, lagipula sekejap mata kemudian segala
sesuatunya telah menjadi tenang kembali, maka Ku See-hong
menghentikan pencariannya dan diam-diam berpikir:
“Pembunuhan berdarah semacam itu, mengapa bisa berubah
menjadi tenang kembali dalam waktu singkat? Kalau begitu ilmu
silat yang dimiliki orang itu sudah pasti lihay sekali atau mungkin
korbannya adalah orang-orang yang tak pandai berilmu silat.”
Berpikir sampai di situ, Ku See-hong segera beranjak dan
melangkah pergi ke arah mana berasalnya suara itu, kemudian
melakukan pencarian dengan seksama.
Dengan menelusuri jeram tersebut ia berjalan lebih kurang
seratus kaki lebih mendadak sorot matanya menemukan sesuatu.
Di sebelah kanan jeram, dia menemukan sebuah jembatan kecil
yang terbuat dari kayu jembatan itu berdiri dari sebuah balok kayu
yang dipalangkan dari tebing seberang ke tepi tebing sebelah sini.
210
Di ujung jembatan sebelah depan sana, di balik rimbunnya
dedaunan tergantung sebuah lentera merah yang tergantung tinggi
dan bergoyang ketika terhembus angin.
Ku See-hong mengerutkan dahinya, suatu pemandangan yang
mengerikan seakan-akan terlintas dalambenaknya.
Jeram yang menganga di bawahnya amat dalam, sedang
jembatan itu tergantung di atas awang-awang, meski lebarnya dua
jengkal tapi bawah jeram tersebut merupakan gulungan air dengan
ombak yang dahsyat serta arus yang deras, bila seseorang tidak
bernyali dia akan pusing kepalanya bila berdiri di situ jangankan
lewat, berdiripun tak berani.
Maka setelah menyaksikan bentuk jembatan itu Ku See-hong
segera tahu kalau orang yang menghuni di sana sudah pasti jago
persilatan yang mengerti ilmu silat.
Dalam sekejap mata, Ku See-hong telah berjalan menuju ke
bawah tebing seberang. Ketika ia mencoba untuk memperhatikan
keadaan di sekitarnya, tampaklah di samping jembatan tersebut
terdapat sebuah hutan. Di balik hutan terdapat sebuah rumah kecil
yang terbuat dari batu, sinar lentera tampak keluar dari balik rumah
tersebut.
Lentera merah yang terlihat tadi, tergantung di atas rumah batu
itu. Ku See-hong segera menghimpun tenaga dalamnya, kemudian
sambil menyingsingkan baju dia melompat ke depan dan mengintip
ke dalam rumah tadi.
Paras mukanya mendadak berubah hebat, untung saja selama
berdiri di kuil kuno dulu sudah biasa terlatih untuk menghadapi halhal
yang menyeramkan, kalau t idak….
Kiranya di dalam rumah batu itu, di samping meja tergeletak dua
sosok mayat. Sekilas pandangan tampak kedua sosok mayat itu
memiliki perawakan tubuh yang tinggi kekar. Mereka mengenakan
baju ringkas berwarna emas dengan sebuah golok besar bergaris
emas yang memancarkan sinar tajam tersoreng di pinggangnya.
211
Batok kepala kedua orang itu sudah dibikin gepeng sehingga
paras mukanya sukar terlihat lagi.
Setelah menyaksikan dandanan dari kedua orang lelaki itu wajah
Ku See-hong segera diliputi oleh kabut hitam, pikirnya:
“Kalau dilihat dari dandanan mereka, tampaknya kedua orang itu
mengenakan dandanan dari anggota perkumpulan Kim-to-pang
yang dulu didirikan oleh kedua orang tuaku, semenjak ayah ibu mati
terbunuh, seluruh perkumpulan Kim-to-pang juga bubar tak
karuan….”
Terbayang kembali kematian kedua orang tuanya yang dibunuh
orang secara mengerikan, tanpa terasa titik ar mata jatuh berlinang
membasahi wajahnya. Dengan cepat pikiran dan perasaannya juga
terjerumus dalamkepedihan yang bukan kepalang.
Cahaya lentera dalam ruangan itu masih menyoroti tubuh kedua
sosok mayat itu. Ini semua membuat tanah pebukitan yang hening
dan sepi itu terasa makin mengerikan dan menggidikkan hati.
Ku See-hong tertegun beberapa saat lamanya, kemudian
menghela napas sedih. Sepasang matanya memperhatikan kedua
sosok mayat itu sekejap, lalu sambil menelusuri undak-undakan
batu di sisi kiri rumah kecil itu, menuruti tebing tadi.
Suaana di bawah tebing amat sepi dan hening, bintang-bintang
di angkasa juga bertaburan menyiarkan cahaya yang redup, di
bawah tebing merupakan sebuah tanah persawahan yang luas, di
belakang sawah adalah bangunan rumah yang rapat menyerupai
sebuah perkampungan. Cahaya lentera tampak memancar keluar
dari antara bangunan rumah itu.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Ku See-hong. Dia
sedang berpikir, betulkah di dalam perkampungan itu berdiam para
pengikut setia ayah ibunya yang tergabung dalam Kim-to-pang?
Benarkah mereka mengasingkan diri di sana sambil berusaha untuk
melanjutkan perjuangan perkumpulannya?
212
Makin lama Ku See-hong merasakan hatinya semakin tidak
tenang. Setelah mendengar jeritan ngeri yang bergema tadi,
kemudian menyaksikan suasana mengerikan yang terbentang di
depan mata, suatu firasat jelek tiba-tiba saja muncul dalamhatinya.
Dengan cepat dia menyeberangi tanah persawahan itu. Tampak
di sebelah kiri sana terbentang sebuah sungai yang lebarnya dua
kaki. Air mengalir dengan derasnya, sedang di sebelah kanan
tampak tanah perbukitan menjulang tinggi ke angkasa di bawah
pantulan cahaya rembulan, menciptakan suatu pemandangan yang
indah.
Di depan sana berdiri sebuah bukit yang tinggi. Di kaki bukit
berdiri sebuah bangunan perkampungan, ketika berjalan makin
dekat tampaklah bangunan loteng dan gardu semakin jelas.
Di luar halaman perkampungan itu berdirilah sebuah dinding
perkampungan yang tingginya beberapa kaki, pintu gerbang yang
berwarna hitam pekat didirikan menghadap ke arah selatan.
Waktu itu pintu terbuka lebar, di atas pintu tertancap dua bilah
golok emas yang menyilang. Di bawah pancaran sinar remblan
tampak cahaya emas yang berkilauan.
Ku See-hong berhenti sebentar di depan pintu. Kemudian
mengulur tangannya untuk menepuk gelang pintu keras-keras.
Ketika gelang pintu yang terbuat dari emas itu saling beradu
terdengarlah bunyi dentingan yang amat merdu.
Tapi, suasana di dalam ruangan tetap sepi, bahkan keheningan
tersebut erbawa pula suasana yang menyeramkan. Ku See-hong
merasa hatinya makin berat, keningnya berkerut kencang, baru saja
kakinya melangkah masuk ke balik pintu, bau amis darah yang
sangat tebal dengan cepatnya menyelimuti di seluruh angkasa.
Apa yang terbentang di depan matanya hampir saja membuat
anak muda itu tertegun, benar-benar suatu pemandangan yang
amat menggidikkan hati.
213
Di dalam halaman di balik pintu gerbang bercat hitam itu
berbaringlah tiga puluhan sosok mayat. Kalau dilihat dari dandanan
maupun keadaan mereka, tak bisa disangkal lagi orang-orang itu
memang berasal dari satu rombongan dengan kedua orang lelaki
kekar yang dijumpainya tadi.
Tubuh mereka tidak dijumpai luka barang sedikitpun juga, tapi
kepalanya sudah dihajar orang sampai hancur berantakan. Mayat
mereka bergelimpangan tak karuan, agaknya sebelum dibunuh
mereka telah terlibat dalamsuatu pertarungan yang sengit.
Cahaya rembulan yang lembut menyinari noda darah di atas
tanah. Cahaya lampu yang redup terpancar keluar dari balik
ruangan menambah keseraman suasana tempat itu.
Paras muka Ku See-hong berubah menjadi sangat berat, kalau
dilihat dari bekas luka di atas mayat-mayat itu, dapat diketahui
bahwa pembunuhan yang keji itu benar-benar memiliki ilmu silat
yang maha dahsyat, dan lagi sudah pasti bukan satu orang. Paling
tidak ada dua atau tiga orang yang terlibat.
Dari antara jago-jago lihay dalam dunia persilatan yang pernah
dijumpainya belakangan ini, hanya Im Yan cu serta manusia aneh
berkerudung itu saja yang memiliki kepandaian sehebat itu.
Lalu siapakah orang-orang itu? Kenapa membunuh begitu banyak
orang? Apalagi orang-orang yang dibunuhnya itu seperti anggota
setia dari Kim-to-pang?
Pelan-pelan Ku See-hong berjalan masuk ke dalam ruang tengah,
mendorong pintu ruangan dengan tangan kirinya….
“Kraaakkk…” suara mencicit yang tajam memecahkan
keheningan yang mencekamseluruh bangunan tersebut.
Pintu ruangan telah terbuka lebar tapi di dalamnya tak nampak
sesosok bayangan manusia pun. Kembali dia menelusuri ruangan itu
dengan langkah pelan, lalu keluar lewat pintu sebelah kiri.
214
Di luar ruangan merupakan sebuah beranda, bangunan di sana
indah dan menawan. Di luar beranda nampak sebuah jalan kecil
beralaskan batu putih yang jauh menjorok ke dalam.
Tiba-tiba Ku See-hong menyaksikan pula di kedua belah sisi jalan
kecil itu, terkapar dua sosok mayat lelaki bercambang yang
memakai jubah berwarna kuning emas, golok emas yang tergantung
di pinggangnya baru tercabut separuh, tubuhnya yang tidak
ditemukan luka, cuma kepalanya yang basah oleh darah. Noda
darah itu meresap sampai jauh ke dalam tanah di tepi jalan itu.
Kembali Ku See-hong berjalan belasan langkah menelusuri jalan
itu, di sana ia temukan pula dua sosok mayat gemuk yang memakai
jubah berwarna kuning pula. Dua bilah golok emas yang berbentuk
aneh mencelat jauh sekali dari sisi mayat itu. Rambutnya penuh
noda darah dan kepala merekapun hancur tak ada wujudnya.
Beberapa langkah lebih ke depan, terlihat pula sesosok mayat
dari seorang kakek berjenggot panjang serta empat orang lelaki
bercambang. Tubuh merekapun tidak dijumpai luka, tapi kepalanya
penuh dengan noda darah.
Di ujung jalan kecil itu, di dalam gardu persegi enam tampak
enam tujuh sosok mayat terkapar tak karuan bentuknya, ada yang
tua, ada yang muda, ada yang kurus ada pula yang gemuk, tapi
kematian mereka mengerikan sekali.
Kendatipun Ku See-hong bernyali besar, tak urung hatinya dibikin
bergidik juga setelah menyaksikan peristiwa itu, juga bergidik oleh
kelihayan ilmu silat yang dimiliki pembunuh itu, juga bergidik oleh
kekejian lawannya.
Selain daripada itu, muncul juga suatu perasaan marah dan sedih
dalam hatinya, sebab orang-orang itu mirip sekali dengan anggota
Kim-to-pang yang didirikan ayah-ibunya.
Ku See-hong tidak percaya kalau di dalam halaman itu sudah
tiada seorang manusiapun, maka dia melanjutkan pemeriksaannya
ke depan.
215
Setelah melewati gardu persegi enam sampailah dia di sebuah
halaman luas. Tapi apa yang terlihat membuat darahnya mendidih,
giginya digertak kencang-kencang dan sinar matanya memancarkan
pancaran cahaya yang menggidikkan hati.
Dia merasa benci, benci yang tak terkirakan. Dia mendendam
terhadap kebuasan pembunuh itu. Kekejaman orang itu benar-benar
tak terlukiskan dengan kata-kata.
Ternyata di dalam halaman tersebut berserakan mayat yang
jumlahnya mencapai tiga empat puluh sosok dalam keadaan
mengerikan… ternyata pembunuh kejam itu membunuh tanpa pilih
bulu, baik anak kecil ataupun kaum wanita tak ada yang berhasil
lolos dari pembunuhan biadab itu.
Perasaan Ku See-hong ketika itu penuh diliputi oleh peraaan
sedih dan marah.
Dari balik sorot matanya yang tajam terpancar keluar sinar
kemarahan yang menggidikkan hati, diam-diam ia bersumpah akan
membalaskan dendam bagi kematian orang-orang itu, dia akan
menggunakan cara yang sama kejinya, sama biadabnya dan sama
buasnya untuk membalas dendamkepada pembunuh brutal itu.
Hal 19-20 robek….
Tiba-tiba muncul seorang kakek dalam keadaan terluka yang
sangat mengerikan.
“Kalian pembunuh kejam yang berhati binatang sekalipun lohu
berubah menjadi setan pun tetap akan menggaet nyawa kalian,
kau… kau…!”
Setelah mengucapkan kata-kata itu dengan penuh emosi, seluruh
tubuh kakek kurus itu gemetar keras dan gontai kesana kemari,
wajahnya yang menyeringai menyeramkan segera menunjukkan
kesakitan hebat, sehingga kata-kata selanjutnya tak sanggup
dilanjutkan lagi.
216
Betapa girangnya Ku See-hong menyaksikan kakek kurus itu
belum mati, dengan cepat dia melompat ke muka dan
menghampirinya.
Kakek kurus itu mengira Ku See-hong hendak melancarkan
serangan mematikan ke arahnya, dengan cepat dia membentak:
“Kau manusia berhati binatang, lohu akan beradu jiwa
denganmu!”
Berbicara sampai di situ dia lantas menghimpun sisa tenaga
dalam yang dimilikinya, dengan jari-jari tangan yang hitam pekat
dan kurus kering ia sambar musuhnya, jari-jari tangannya yang
direntangkan bagaikan cakar besi, ibaratnya sepuluh bilah pedang
tajam langsung mencengkeramtubuh Ku See-hong.
Terkesiap juga hati Ku See-hong menghadapi ancaman tersebut,
sebab jurus serangan yang dipergunakan kakek itu selain aneh juga
cepatnya bukan kepalang sehingga membuat orang tak tahu
bagaimana caranya menghindarkan diri.
Ia tak berani membendung ancaman tersebut dengan kekerasan,
maka dengan mengerahkan ilmu Mi-khi-biau-tiong ia berkelit ke
samping secara gesit dan aneh.
Agaknya isi perut kakek ceking itu sudah mengalami luka yang
cukup parah, batok kepalanya pun terkena sebuah pukulan yang
mematikan, kesadarannya sekarang tak lebih karena memperoleh
tunjangan hawa murninya yang sempurna, sehingga dengan
mengandalkan sehembus napas yang belum membuyar ia tetap
mempertahankan diri.
Sekarang setelah serangannya gagal mencapai sasaran dan sisa
hawa murninya membuyar ia tak sanggup untuk mempertahankan
diri lagi, tubunya roboh terkapar ke atas tanah, napasnya
tersengkal-sengkal, namun sorot matanya yang belum membuyar
itu masih mengawasi wajah Ku See-hong dengan penuh kebencian.
Ku See-hong tahu bahwa kakek ini telah salah menganggap
dirinya sebagai seorang pembunuh, buru-buru serunya:
217
“Lo-pek… lo-pek, jangan marah dulu, boanpwe bukan seorang
pembunuh, melainkan seorang perawat jalan belaka.”
Sementara itu, si kakek kurus itu sudah dapat melihat jelas kalau
pendatang itu adalah seorang pemuda yang tampan, apalagi setelah
mendengar suara dari Ku See-hong, dengan cepat ia tersadar
bahwa si anak muda itu bukanlah pembunuh berhati binatang
seperti apa yang diduganya semula.
Walaupun begitu, hati kecilnya merasa terkesiap sekali, sebab
dengan suatu gerakan yang begitu mudah pemuda itu telah berhasil
menghindarkan diri dari serangan mematikannya yang dahsyat itu,
padahal seingatnya hanya beberapa gelintir manusia saja dalam
dunia persilatan yang mampu melakukan hal itu.
Dengan gelisah Ku See-hong segera bertanya:
“Lopek, lopek, apakah kau hendak memberitahukan kepada
boanpwe, siapa-siapa saja pembunuh keji yang telah melakukan
pembantaian secara brutal itu?”
Sepasang mata si kakek kurus yang mulai sayu itu mendadak
menatap wajah Ku See-hong tanpa berkedip, agaknya dia sedang
berusaha untuk menemukan kembali kenangan serta ingatannya
yang sudah mulai membuyar itu.
Ku See-hong sendiripun meraa amat curiga sewaktu dilihatnya
orang kakek kurus itu hanya membungkam sambil mengawasi
wajahnya tanpa berkedip, pikiran dan prasaannya menjadi kalut
sekali, sebab dia kuatir kakek itu mati dengan begitu saja, sehingga
pembunuhan brutal ini sama sekli tak diketahui olehnya.
Dengan nada gelisah kembali Ku See-hong bertanya:
“Lopek, lopek, apakah kau masih bisa berbicara? Cepat katakan,
boanpwe akan membalaskan dendam bagi kalian.”
Tiba-tiba selintas perasaan aneh menghiasi wajah si kakek kurus
yang mengenaskan itu, bibirnya bergetar dan muncullah serentetan
perkataan yang amat lemah:
218
“Si… siapa… siapa namamu?”
Ku See-hong merasa girang sekali ketika dilihatnya kakek itu
masih dapat berbicara, dengan cemas katanya:
“Boanpwe she Ku, bernama See-hong…. Lopek, cepat kau
katakan, siapakah pembunuh itu?”
Mimik wajah kakek kurus itu berubah semakin misterius dan
aneh, dengan suara gemetar dia berkata:
“A… apakah… apakah di atas lengan kirimu, di antara lekukan
sikutmu terdapat sebuah tahi lalat berwarna merah?”
Tak terlukiskan rasa kaget Ku See-hong sesudah mendengar
perkataan itu. Ia tak habis mengerti mengapa kakek itu bisa tahu
kalau di antara lekukan sikutmu terdapat tahi lalat berwarna merah,
padahal sejak berusia dua tahun dulu, kedua orang tuanya sudah
mati terbunuh secara mengenaskan, sedangkan dia sendiri
dibesarkan oleh mak-inangnya di mana orang tua inipun meninggal
dunia sewaktu dia berusia delapan tahun…. Praktis tiada sanak
keluarganya lagi sejak waktu itu.
Tapi, dari manakah orang tua ini bisa mengetahui ciri tersebut
dengan begitu jelas?
Sementara itu, tatkala si kakek kurus itu melihat rasa kaget
bercampur rasa tercengang menghiasi wajah pemuda itu, tahulah
dia bahwa dugaannya memang benar. Tiba-tiba saja dari balik sorot
matanya yang sudah mulai memudar itu muncul serentetan cahaya
yang aneh sekali.
“Nak…” dia berkata gemetar, “Siapa… siapakah orang tuamu?
Dapatkah kau memberitahukan kepadaku?”
Melihat kakek itu menanyakan nama orang tuanya, secara tibatiba
Ku See-hong yang pintar segera menyadari sesuatu. Dia tahu si
kakek kurus beserta orang-orang yang telah tewas terbunuh itu
kemungkinan besar adalah bekas-bekas anggota perkumpulan Kimto-
pang yang masih setia kepada orang tuanya.
219
Air mata segera jatuh bercucuran membasahi wajah Ku Seehong,
serunya dengan suara keras:
“Lopek, apakah kalian bekas anggota perkumpulan Kim-to-pang?
Boanpwe… boanpwe… ayahku bernama Ku Kiam-cong, sedang
ibuku bernama Lik-ih-li (Perempuan Berbaju Hijau) Hoangpo Yan….”
Sekujur badan kakek kurus itu gemetar semakin keras, dua titik
air mata darah jatuh bercucuran membasahi pipinya. Dengan penuh
emosi dia berseru:
“Sau pangcu, kau… kau tidak membunuh bukan? Apakah lohu…
apakah lohu sedang bermimpi?”
“Lopek jangan memanggil aku sau-pangcu, aku tak sanggup
menerima panggilanmu itu,” kata sang anak muda amat emosi
sekali air matanya jatuh bercucuran semakin deras.
“Lohu tak lain adalah tongcu dari ruang Sin-tong dalam
perkumpulan Kim-to-pang yang didirikan ayahmu dulu. Orang
menyebutku San-tian-han-jiau, Cakar Dingin Sambaran Kilat
Sangkoan Ik.
Sungguh beruntung sekali lohu dapat bersua muka denganmu
sebelum menutup mata untuk selamanya… pangcu suami istri dapat
mempunyai seorang anak seperti kau, berada di alam bakapun
arwah mereka dapat beristirahat dengan tenang….”
“Empek Sangkoan, masih sanggupkah kau untuk
mempertahankan diri?” tanya Ku See-hong dengan cemas, “Katakan
dulu siapa pembunuh keji itu? Terangkan pula segala sesuatu
alasannya.”
Dengan suatu gerakan yang amat cepat Ku See-hong
membangunkan tubuh San-tian-han-jiu Sangkoan Ik, sementara air
matanya jatuh bercucuran dengan amat derasnya. Ia hanya bisa
mengawasi kakek yang setia kepada perkumpulannya ini dengan
teramat sedih.
Sorot mata kasih sayang memancar keluar dari balik mata Si
Cakar Dingin Sambaran Kilat Sangkoan Ik, kemudian ia berkata:
220
“Nak, musuh-musuh besarmu hampir semuanya berilmu silat
sangat lihay, cara kerjanya pun amat buas, kejam dan tidak
mengenal ampun. Setelah kau ketahui siapakah pembunuhnya
nanti, aku minta kau jangan membalas dendam secara membabi
buta. Ingatlah Pangcu hanya mempunyai kau seorang untuk
melanjutkan keturunannya, bila kau sampai mengambil tindakan
yang gegabah bagaimana pula tanggung jawabmu nanti kepada
orang tuamu di alam baka…?”
“Ketika kau baru lahir dulu, siang malam lohu selalu membopong
dirimu, apalagi lohu memang tidak mempunyai keturunan, aku telah
menganggap kau sebagai anak kandungku sendiri, itulah sebabnya
aku harap kau bisa baik-baik menjaga diri….”
Ketika berbicara sampai di situ, San-tian-han-jiu merasakan
darah di dalam rongga dadanya bergolak keras, tanpa terasa
ucapannya terpotong sampai di separuh jalan dan tak sanggup
untuk melanjutkan lebih jauh….
Setelah mendengar keterangan itu, Ku See-hong juga baru tahu
apa sebabnya kakek itu bisa tahu kalau di lekukan sikutnya terdapat
sebuah tahi lalat berwarna merah, kiranya sedari ia masih bayi dulu
kakek ini sudah mempunyai hubungan yang akrab sekali dengan
dirinya.
Kenyataan ini seketika menimbulkan gejolak emosi di dalam
dadanya, sambil sesenggukan menahan isak tangisnya, dia berkata:
“Empek Sangkoan, Hong-ji akan menurut i perkataanmu, Hong-ji
telah berhasi mempelajari beberapa macam ilmu sakti dari guruku
Bun-ji koan-su Him Ci-seng, aku yakin kemampuanku masih dapat
dipergunakan untuk membunuh musuh-musuh besarku itu.”
Sinar mata tercengang memancar keluar dari balik mata San-tian
han-jiau Sangkoan Ik, serunya agak gemetar:
“Nak, apakah manusia berbakat setan Bun-ji koan-su HimCi-seng
masih hidup di dunia ini?”
221
“Setelah suhu mewariskan tiga macam kepandaian sakti kepada
Hong-ji, ia telah pergi meninggalkan dunia yang fana ini,” sahut
pemuda itu dengan wajah amat sedih.
Tadi, ketika San-tian han-jiu mendengar pengakuan dari Ku Seehong
yang mengatakan bahwa dia adalah muridnya Bun-ji koan-su,
mula-mula dianggapnya dia sudah salah mendengar, maka
pertanyaan tersebut diulangi sekali lagi.
Tapi sekarang, setelah tahu dengan pasti bahwa Ku See-hong
memang benar-benar adalah muridnya Bun-ji koan-su, tak
terlukiskan rasa girang di dalam hatinya. Itu berarti dendam
kesumat mereka ada harapan untuk dilampiaskan.
“Nak…” seru Sangkoan Ik dengan penuh emosi, “Kau… rejekimu
sungguh amat besar, oooh… Sekalipun harus mati, lohu akan mati
dengan mata meram.”
Berbicara sampai di situ, suaranya makin lama makin lemah,
seluruh badannya gemetar keras menahan penderitaan yang luar
biasa, kulit mukanya mengejang keras, sementara wajahnya
berubah menjadi pucat pias seperti sesosok mayat.
“Empek Sangkoan…!” jerit Ku See-hong dengan amat sedihnya,
“Sadarlah… sadarlah dahulu, siapa-siapakah musuh besar kita?
Kau… kau belum mengatakannya.”
San-tian-han-jiau berkerut kening dan pelan-pelan memejamkan
matanya, tapi ia segera membuka kembali matanya. Darah dalam
jantungnya waktu itu telah membeku dan tak sanggup untuk
mengalir ke dalam seluruh badannya lagi. Setelah termenung
beberapa waktu, dia baru dapat berbicara dengan suara parau yang
sangat lemah:
“Nak, musuh besar pangcu adalah… Perkumpulan Thi-kiong-pang
serta… serta Cian-khi-pang… masih ada dalang lain yang berdiri di
belakang layar. Di kemudian hari orang itu pasti akan berhasil kau
temukan….
222
Sedangkan orang-orang yang membunuh segenap sisa anggota
Kim-to-pang pada malam ini adalah… Huan-mo kiangcu dari Lamhay,
Han-thian It-kiam (Pedang Sakti dari Han-thian) Cia Cu-kim
sekalian….”
“Dendam ini menyangkut soal hubungan sakit hati guru ayahmu
de… dengan ayah dari Han-thian-it-kiam. Juga menyangkut sebuah
‘benda’ kepercayaan milik aliran Lam-hay-bun. Saa… sayang benda
itu… telah mereka rampas kembali. Kemungkinan besar Lam-hay
Huan-mo-kiong akan melakukan penyerbuan lagi ke daratan
Tionggoan, mereka… mereka adalah manusia-manusia yang
berbahaya, buas dan berilmu tinggi.
Besar kemungkinan mereka akan menerbitkan kembali badai
bencana di seluruh dunia persilatan…. Lohu sungguh merasa tak
punya muka untuk… untuk berjumpa muka dengan kedua orang
tuamu… aku menyesal tak mampu melindungi benda itu dengan
sebaik-baiknya….”
Tapi setelah berbicara sampai di situ, di atas wajah Han-jiau santian
Sangkoan Ik yang pucat pias, tersungging sekulum senyuman
yang amat lembut.
Begitulah, diiringi senyuman tadi akhirnya dia telah meninggalkan
dunia yang fana ini untuk mendapatkan ketenangan selamanya….
Dengan meninggalnya Sin-tong tongcu dari perkumpulan Kim-topang
ini, maka berakhir pula segenap jago lihay perkumpulan Kimto-
pang yang masih tersisa di dunia ini.
Kenyataan semacam ini benar-benar merupakan suatu kenyataan
yang sangat tragis….
Ku See-hong, pemuda keras kepala yang mempunyai hati teguh
ini tidak menangis tapi air mata jatuh bercucuran dengan amat
derasnya membasahi seluruh wajahnya, padahal kepedihan yang
mencekam perasaannya sekarang sungguh tak terlukiskan dengan
kata-kata.
223
= (Soal benda yang dipersengketakan antara pihak Huan-mokiong
dari Lam-hay dengan Kim-to-pang akan diungkap di belakang
cerita ini)=
Mendadak….
Dari balik mata Ku See-hong yang basah oleh air mata, terpancar
keluar cahaya yang menggidikkan hati, keningnya berkerut lalu
mendengus dingin dengan nada yang amat sinis. Tubuhnya melejit
ke tengah udara dan melayang secepat kilat, tahu-tahu dia sudah
berada di luar halaman bangunan tersebut.
Di tengah keheningan malam dan di bawah cahaya rembulan
yang redup, di sebelah selatan tanah perbukitan itu tampak ada
empat sosok bayangan manusia sedang berlarian dengan kecepatan
luar biasa, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah
lenyap dari pandangan mata.
Sekulum senyuman sinis yang menggidikkan hati segera
tersungging di ujung bibir Ku See-hong, dia percepat gerakan
tubuhnya untuk menjejar dari belakang.
Dalam waktu singkat Ku See-hong telah berhasil menyusul
keempat sosok bayangan manusia di depan itu, jaraknya tinggal
lima enam kaki belaka. Dengan suara menggeledek pemuda itu
segera membentak:
“Empat saudara yang berada di depan, harap tunggu sebentar!”
Agak terkesiap keempat sosok bayangan manusia itu tatkala
mendengar suara bentakan yang menggeledek tersebut. Sementara
mereka tertegun, Ku See-hong yang berada di belakangnya telah
melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang mengerikan menerjang
ke tengah-tengah antara keempat sosok bayangan manusia itu.
Walaupun serangan itu dilancarkan dari jarak lima kaki, tapi oleh
karena tenaga dalam yang dimiliki Ku See-hong belakangan ini telah
memperoleh kemajuan yang pesat, maka angin pukulan tersebut
bagaikan amukan ombak dahsyat di tengah samudra, menggulung
ke depan.
224
Agaknya ilmu silat yang dimiliki keempat sosok bayangan
manusia itupun tidak lemah. Tampak mereka mengegos ke samping
dengan cekatan sekali, masing-masing mempergunakan gerakan
yang aneh tapi sakti, kemudian sambil membentak, bayangan
manusia berkelebat lewat dan berbalik menerjang ke arah Ku Seehong.
Angin pukulan bayangan kaki segera memenuhi seluruh angkasa.
Berkobarlah suatu pertarungan yang amat seru di tempat itu.
Serangan gabungan yang dilakukan keempat orang ini sungguh
luar biasa sekali, angin pukulan datang berlapis, tendangan keji
menderu-deru seperti angin puyuh, semua ancaman tersebut
datang dari arah delapan penjuru dan bersama-sama tertuju ke
tubuh anak muda itu.
Paras muka Ku See-hong berubah hebat sesudah menyaksikan
jurus serangan yang dipergunakan musuhnya. Bahna nafsu
membunuh segera berkobar, sambil berpekik nyaring dia
membentak:
“Kawanan tikus dari Lam-hay Huan-mo-kiong, serahkan nyawa
kalian!”
Pekikan nyaring dan bentakan keras segera bergema bercampur
aduk menjadi satu….
Ku See-hong melakukan suatu gerakan busur yang bercahaya
tajam dengan tangan kanannya, kemudian tubuhnya menerjang ke
muka secara tiba-tiba, segulung desingan angin tajam yang disertai
kilatan cahaya menyerang orang yang berada di sebelah kiri itu.
Jeritan ngeri yang memilukan hati sgera berkumandang
memecahkan keheningan, tahu-tahu batok kepala orang itu sudah
terbacok hancur menjadi berkeping-keping dan tewas seketika itu
juga.
Tiga orang sisanya betul-betul tahu diri, serentak mereka
perdengarkan suara pekikan yang aneh sekali, kemudian dengan
memisahkan diri ke tiga penjuru yang berbeda, seperti anjing-anjing
225
yang kena digebuk, mereka kabur terbirit-birit meninggalkan tempat
itu.
Sorot mata Ku See-hong memancarkan sinar merah yang berapiapi
karena gusar, menyusul dua kali lompatan ke muka, jari
tangannya digetarkan. Lima gulung desingan cahaya putih segera
memancar ke empat penjuru.
Lagi-lagi berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan
hati. Orang yang kabur menuju ke arah barat itu tahu-tahu sudah
terkena serangan dan tewas seketika.
Sementara Ku See-hong melakukan pembunuhan di situ, dua
sosok bayangan manusia yang lain telah manfaatkan kesempatan
itu sebaik-baiknya untuk menyelamatkan diri. Tahu-tahu bayangan
tubuh mereka bedua sudah lenyap tak berbekas.
Senyum sinis yang mengerikan segera tersungging di ujung bibir
Ku See-hong, dengan mempergunakan suara yang dingin seperti
salju, dia berkata lantang:
“Manusia-manusia laknat dari Lam-hay Huan-mo-kiong, ingat
saja pembalasanku nanti. Ehmm… secara keji dan buas kalian telah
membasmi perkumpulan Kim-to-pang kami, membantai setiap
anggota perkumpulan kami secara keji dan brutal, tak seorang pun
yang kalian biarkan hidup. Baik… ingat saja baik-baik, suatu ketika
aku pun akan mempergunakan cara yang sama seperti apa yang
kalian lakukan hari ini untuk membantai kalian semua.”
“Mulai detik ini, aku Ku See-hong bersumpah akan membunuh
habis kalian anjing-anjing keparat dari Lam-hay Huan-mo-kiong, aku
akan membunuh terus sampai semua orang-orangmu punah,
sampai istana Huan-mo-kiongmu rata dengan tanah, bila aku tidak
mewujudkan sumpah yang kuucapkan pada hari ini biar langit dan
bumi mengutuk diriku….”
Selesai mengucapkan sumpahnya itu, Ku See-hong
memperlihatkan sorot mata berapi-api yang penuh disertai rasa
benci dan dendam yang amat tebal dan menusuk tulang seakan226
akan kalau bisa dia ingin membasmi semua musuhnya yang ada di
dunia ini.
Setelah berdiri termangu beberapa saat lamanya, pemuda itu
lantas menengadah dan berpekik nyaring. Suara pekikan tersebut
melengking tinggi dan memanjang di tengah udara….
Di balik suara pekikan tersebut, penuh terkandung rasa sedih dan
marahnya yang membara. Seakan-akan badai dunia persilatan yang
penuh berbau anyir darah sudah berada di ambang pintu.
Berbareng dengan selesainya suara pekikan tadi, mendadak Ku
See-hong melejit ke depan dan berangkat menuju ke istana Huanmo-
kiong di Lam-hay….
00d-w00
Bab 11
DI TENGAH lautan Lam-hay yang amat luas, tersebar berpuluhpuluh
pulau kecil. Kepulauan tersebut telah terlepas sama sekali
dengan daratan.
Huan-mo-kiong terletak di sebelah timur lautan Lam-hay di atas
sebuah pulau misterius dan menyeramkan, para nelayan di sekitar
sana selalu menaruh perasaan ngeri dan was-was terhadap pulau
itu. Oleh sebab itu belum pernah ada orang yang berani melakukan
penyelidikan terhadap keadaan pula tersebut.
Ilmu silat aliran Lam-hay sudah termasyhur dalam dunia
persilatan karena keanehan dan kesaktiannya Hun-mo-kiongcu
pemilik pulau Huan mo-to tersebut, yakni Han-thian it-kiam (Pedang
Sakti Langit Dingin) Cia Cu-kim, sudah termasyhur sekali namanya
di seantero jagad.
Dulu, ayah Cia Cu-kim yang bernama Hu-hay it-kiam (Pedang
Sakti Laut Seberang) Cia Long-po pernah memimpin anak muridnya
menyerbu ke daratan Tionggoan, membantai umat persilatan dan
berusaha menanamkan pengaruh mereka di sana.
227
Waktu itu tak seorang jagoanpun dari sembilan partai besar
dunia persilatan yang sanggup membendung serbuan mereka itu.
Ketika dalam dunia persilatan bertambah gawat dan tampaknya
segera akan terjatuh ke tangan Hu-hay it-kiam Cia Long-po beserta
begundalnya, untung saja ada dalam dunia persilatan, seorang
pendekar yang berilmu tinggi… dia tak lain adalah guru Ku Kiamcong,
pedang nomor wahid dalamdunia persilatan Thio-pek-siong.
Mereka berdua berjanji akan melangsungkan duel pedang di
dalam istana Huan-mo-kiong, untuk menentukan masa depan
berjuta-juta umat persilatan di daratan Tionggoan, serta ketentuan
apakah orang-orang dari Lam-hay Huan-mo-kiong akan berhasil
menguasai daratan Tionggoan atau tidak.
Dalam suatu pertarungan sengit yang kemudian berlangsung
dalam istana Huan-mo-kiong, antara Bu-lim-tit-it-kiam Thio Peksiong
melawan Ku-hay-it-kiam Cia Long-po, secara mengejutkan
sekali Thio Pek-siong berhasil menangkan lawannya.
Sebagai umat persilatan yang menjunjung tinggi setiap perkataan
yang diucapkan, terpaksa Hu-hay-it-kiam Cia Long-po harus
menyerahkan pedang mestika alirannya, yaitu pedang Huan-mokiam
kepada Bu-lim-tit-it-kiam Thio Pek-siong serta berjanji untuk
tak akan muncul kembali dalamdaratan Tionggoan.
Sejak saat itu, pedang pendek Huan-mo-kiam disimpan oleh Bulim-
tit-it-kiam Thio Pek-siong. Menjelang saat kematiannya, ia telah
menyerahkan pedang pendek Huan-mo-kiam itu kepada muridnya
Ku Kiam-cong (ayah dari Ku See-hong).
Sayang pada dua puluh tahun berselang perkumpulan Kim-topang
telah musnah di tangan orang… Sebelum meninggal dunia, Ku
Kiam-cong telah menyerahkan pedang pendek itu kepada Sin-tong
tongcunya yakni San-tian-han-jiau Sangkoan Ik.
Hu-hay-it-kiam Cia Long-po sendiri menjelang saat
menghembuskan napasnya yang penghabisan, telah berpesan pula
kepada putranya Han-thian-it-kiam Cia Cu-kim, seandainya
golongan mereka memiliki kekuatan yang cukup, maka pedang
228
pendek Huan-mo-kiam tersebut harus berusaha untuk direbut
kembali.
Han-thian it-kiam Cia Cu-kim, adalah seorang manusia licik dan
berotak cerdas, dia pun mempunyai ambisi yang sangat besar.
Setelah kematian ayahnya dia mulai menyusun rencana untuk
‘melalap’ daratan Tionggoan, serta membalas dendam bagi sakit
hati ayahnya.
Maka, diapun secara diam-diam mulai menghimpun sampahsampah
masyarakat di dalam dunia persilatan untuk berpihak
kepadanya, kemudian menjadikan Huan-mo-kiong di Lam-hay
sebagai sarang perompak.
Han-thian it-kiam Cia Cu-kim yang menutup diri selama lima
puluh tahunan, benar-benar telah berhasil memiliki serangkaian ilmu
silat yang luar biasa sekali hebatnya, selain itu gembong-gembong
iblis yang berhasil dihimpun olehnya juga tak terhitung jumlahnya,
hal mana membuat ambisi iblis tua ini untuk menguasai seluruh
dunia persilatan semakin berkobar-kobar.
Sasaran pertama yang menjadi incarannya sudah barang tentu
perkumpulan Kim-to-pang yang menyimpan pedang pendek Huanmo-
kiam.
Sebab bila pedang pendek Huan-mo-kiam tersebut belum diambil
kembali, maka menurut peraturan, pihak Huan-mo-kiong yang
turun-temurun, semua anggota perguruan tersebut dilarang
menginjakkan kakinya lagi di daratan Tionggoan.
Di sinilah pangkal sebab mengapa para anggota setia dari
perkumpulan Kim-to-pang yang masih tersisa mengalami nasib yang
mengenaskan sekali.
Langit berawan, ombak bergulung-gulung terhembus angin
kencang.
Sebuah sampan kecil berlayar menembusi gulungan ombak,
memercikkan bunga air dan melaju ke muka. Di atas sampan itu
duduk seorang pemuda yang tampan. Sepasang matanya
229
memancarkan cahaya dingin yang menggidikkan hati, ia sedang
memandang ke tempat kejauhan, memandang setitik hitam di ujung
langit situ….
Siapakah pemuda ini? Dia tak lain adalah Ku See-hong.
Cahaya matahari telah memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru
dan memantul di atas permukaan langit. Langit nan biru, suasana
nan hening, mendatangkan perasaan nyaman bagi siapapun juga.
Segulung angin laut berhembus lewat membawa udara yang asn
dan amis. Sampan Ku See-hong dengan seelmbar layar persegi
tiganya menembusi ombak berlayar dengan tenangnya ke depan.
Gelombang laut tidaklah begitu besar, hanya angin laut
berhembus sepoi menimbulkan gulungan kecil yang satu demi satu
saling berkejaran.
Sejauh mata memandang hanya lautan yang luas terbentang di
depan mata dan bersatu dengan langit di ujung sana,
mendatangkan perasaan yang lapang dan luas bagi siapapun yang
memandangnya.
Kadangkala satu dua ekor burung manyar terbang merendah dan
meliuk-liuk menukik kesana kemari, mendatangkan perasaan damai
di hati semua orang….
Ku See-hong mendayung terus sampannya dengan penuh
bersemangat, setiap dayungan mmbuat perahunya meluncur ke
depan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, apalagi
terhembus oleh angin lembut, membuat lajunya sampan itu
melebihi larinya sang kuda.
Dalam waktu singkat, matahari yang indah telah melepaskan
sinar keemas-emasannya yang memabukkan, pelan-pelan
menembusi air samudra yang hijau dan menyorot ke arah
kedalaman lautan.
Pemandangan alam yang terbentang waktu itu begitu cantik
sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata, mungkin hanya orang
yang berada di tempat kejadian saja yang dapat merasakannya.
230
Lambat laun, di ujung langit kejauhan sana muncul setitik hitam
yang kecil, tampaknya pulau Huan-mo-to sudah berada di depan
mata.
Pelan-pelan tapi pasti, pulau itu makin lama semakin mendekat,
sekarang Ku See-hong telah dapat menyaksikan segala sesuatu
yang berada di atas pulau tersebut. Lalu perahu pun makin lambat
sementara suara ombak yang memecah di tepian pantai semakin
terdengar jelas.
Akhirnya ia mencapai tepi pantai berpasir yang lembut.
Dengan gesit Ku See-hong melompat turun ke daratan, sebuah
pantai berpasir yang berbentuk bukit kecil terbentang di depan
mata. Setelah melewati bukit berpasir itu, di atasnya baru
merupakan permukaan tanah biasa. Di atas tanah tertera selapis
batu kerikil yang lembut tampaknya batuan itu digunakan sebagai
bahan untuk membendung tanah agar t idak terjadi tanah longsor.
Dengan mengembangkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat
sempurna, Ku See-hong berlarian di balik pepohonan yang tumbuh
di tepi jalan menuju ke ujung jalan berlapis batu, kemudian
membelok ke sebelah kanan, tiba-tiba pemandangan alam yang
terbentang di hadapannya berubah.
Pepohonan yang tumbuh di sisi jalan makin tipis dan jarang, tapi
di antara sela-sela pohon dengan pohon, tumbuh aneka rumput dan
bunga yang indah. Memandang dari kejauhan, yang terlihat hanya
warna merah, kuning, hijau yang berwarna-warni, lamat-lamat
terendus pula bau harum semerbak yang memabukkan.
Waktu itu, kegelapan malam sudah mulai menyelimuti seluruh
jagad. Suatu malam yang sepi telah menjelang tiba, walaupun
rembulan belum muncul dari balik awan, namun kerlipan bintang
yang berkerlip di angkasa memancarkan cahaya yang redup, itulah
sebabnya semua pemandangan alam di sekelliling tempat itu dapat
terlihat dengan jelas.
Tanpa terasa Ku See-hong telah memperlambat langkahnya, dari
balik matanya terpancar keluar sinar tajam yang menggidikkan,
231
dengan cekatan dia mengawasi sekejap sekeliling tempat itu,
ternyata pulau Huan-mo-to yang begitu luas, sama sekali tak
tampak sesosok bayangan manusiapun. Keheningan yang amat
mengerikan mencekam seluruh jagad, hanya lamat-lamat saja
kedengaran suara ombak yang memecah di tepian.
Walaupun dendam kesumat berkobar di dalam dadanya,
walaupun dia datang ke Huan-mo-kiong untuk membalas dendam,
namun perasaannya saat ini berat sekali.
Dia cukup tahu akan kemampuan orang-orang Huan-mo-kiong
yang rata-rata berilmu tinggi, dia juga tahu akan kekejaman mereka
serta alat-alat rahasia mereka yang berbahaya, kesemuanya ini
menimbulkan perasaan tidak tenang dalam hatnya, membuat
hatinya kebat-kebit tak karuan.
Berada dalam keadaan begini, dia sangat berharap bisa bersua
muka dengan seseorang, bisa terjadi pertarungan yang sengit,
daripada harus menghadapi keheningan yang mengerikan… tapi
justru lamat-lamat terkandung hawa pembunuhan yang
mengerikan. Padahal sejak Ku See-hong melangkahkan kakinya ke
atas pulau Huan-mo-to, dia sudah tahu kalau keadaannya lebih
banyak mara bahayanya daripada rejeki.
Mendadak….
Ku See-hong menghentikan langkahnya dengan wajah berubah,
sorot mata aneh terpancar keluar dari balik matanya, ternyata lebih
kurang dua puluh kaki di hadapan sana terbentang sebuah hutan
bunga Tho yang amat luas, di belakang hutan tersebut muncul
bangunan-bangunan yang tinggi, megah dan kokoh.
Yang aneh adalah di sekeliling bangunan seperti bangunan
keraton itu, terpancar keluar semacam asap put ih, yang mirip asap
bukan asap, kabut bukan kabut, warnanya keemas-emasan
bercampur hijau tua yang menyelimut i sekeliling bangunan.
Kabut itu menggumpal menjadi satu tanpa membuyar, hal ini
membuat orang merasa sulit untuk melihat jelas bentuk dari
bangunan itu.
232
Sementara Ku See-hong masih termenung sambil berdiri
termangu-mangu, mendadak dari balik hutan bunga tho itu
meluncur keluar sesosok bayangan putih bagaikan burung walet
menembusi ombak, dalam sekejap mata ia telah melayang turun di
hadapan muka Ku See-hong.
Agak berubah paras muka Ku See-hong setelah menyaksikan
kelihayan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bayangan putih itu.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, dia awasi orang
itu, tapi keningnya segera berkerut dan wajahnya menunjukkan
setitik cahaya keheranan.
Ternyata dua kaki di hadapan Ku See-hong telah berdiri seorang
gadis berbaju putih yang berwajah cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan, rambutnya yang hitam panjang, terurai ke bawah
berkibar terhembus angin. Di bawah sepasang alis matanya yang
lentik bagaikan bulat sabit, tampak sepasang biji mata yang sayu
dan memancarkan sinar kemurungan, sedang mengawasi wajah
pemuda itu tak berkedip.
Gadis cantik jelita seperti bunga ini, meski menunjukkan sikap
tanpa emosi yang kaku namun wajahnya yang cantik jelit itu
memancarkan sinar keanggunan yang suci bersih, membuat siapa
saja yang berjumpa dengannya segera menaruh kesan baik. Dengan
muka dingin dan kaku, diam-diam Ku See-hong berpikir dalam
hatinya:
“Heran, mengapa di dalam istana Huan-mo-kiong yang
menyerupai sarang perampok ini bisa terdapat gadis cantik yang
begini anggun? Hmm! Kebanyakan perempuan hanya suci di luar,
padahal hatinya keji seperti seekor ular berbisa…”
Kesannya terhadap kaum wanita memang amat jelek sekali serta
memiliki sesuatu cara pandang yang picik. Betul kesannya terhadap
gadis berbaju putih ini baik, namun pandangannya yang sempit
membuat pemuda itu segera terpengaruh oleh pandangannya itu.
Tiba-tiba terdengar gadis berbaju putih itu berkata dengan suara
yang amat lembut:
233
“Sauhiap, kau datang dari mana? Siapa namamu? Ada urusan
apa kau datang ke istana Huan-mo-kiong?”
Ku See-hong tahu bahwa gadis itu telah mengira dirinya sebagai
tamu pihak Huan-mo-kiong. Tanpa terasa ia mendengus dingin,
dengan sorot mata memancarkan cahaya menggidikkan dan suara
sedingin salju, katanya dengan cepat:
“Aku bernama Ku See-hong, datang ke pulau Huan-mo-to ini
untuk membunuh semua manusia laknat yang bergabung dalam
istana Huan-mo-kiong ini.”
Paras muka nona berbaju putih itu segera berubah hebat, sejak
dilahirkan belum pernah ia dengar ada orang berani mendatangi
pulau Huan-mo-to untuk membalas dendam, apalagi
mengemukakan maksud kedatangannya secara begitu terangterangan.
Pada mulanya ia masih mengira pemuda ini sudah gila, tapi
setelah menyaksikan wajah yang gagah dan dingin membawa hawa
pembunuhan tersebut, tanpa terasa ia tertegun juga. Setelah hening
sejenak, akhirnya gadis itu berkata lagi:
“Ku sauhiap, tahukah kau setiap anggota Huan-mo-kiong
memiliki ilmu silat yang sangat lihay dengan tindakan yang keji dan
tidak mengenal ampun? Setiap orang yang berani mendatangi pulau
Huan-mo-to belum pernah ada yang bisa pulang dalam keadaan
selamat?”
Mendadak Ku See-hong mendongakkan kepalanya dan tertawa
seram:
“Haaahh… haaahh… haaahh… Huan-mo-kiong tidak lebih cuma
tempat kelompok manusia-manusia rendah yang terdiri dari sampah
masyarakat dunia persilatan, setelah aku orang she Ku berani
datang kemari untuk mencari balas, tentu saja akupun tak akan
takut menghadapi segala macamtipu muslihat dari kalian semua.
Kini cepat laporkan kepada gembong iblis terkutuk Han-thian itkiam
Cia Cu-kim, katakan kalau keturunan dari Kim-to-pangcu
234
datang kemari untuk menuntut kembali keseratus lembar nyawa
anggota kami yang dibunuhnya pada sebulan berselang!”
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/07/cerita-dewasa-panas-silat-dendam.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Dewasa Panas Silat : Dendam Sejagad 1 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/07/cerita-dewasa-panas-silat-dendam.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar