Cerita Ngentot : Pedang Tanduk Naga 2

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 27 Juli 2012

Cerita Ngentot : Pedang Tanduk Naga 2-Cerita Ngentot : Pedang Tanduk Naga 2-Cerita Ngentot : Pedang Tanduk Naga 2

"Coba terangkan imam itu." kata Hok To Beng.
Setelah mendengar keterangan dari Gin Liong, Hok To
Beng tertawa gelak2, serunya:
"Ho sungguh tak kira kalau imam hidung kerbau itu juga
tergerak nafsunya, Dari ribuan li dan melintasi gunung,
menyebrang laut, dia perlu kan juga datang ke Tiang-peksan
!"
"Lo-koko, siapakah lotiang itu ?"
Sambil mengelus-elus jenggot, Hok To Beng menatap
Gin Liong, serunya:
"Siau-hengte, pernahkah engkau mendengar tentang
keempat tokoh Bu-lim Su-ik ?"
Gin Liong mengangguk.
"Suhu pernah menceritakan kepadaku," katanya,
"keempat Bu-lim Su-ik dan lo-koko bertiga Swat-thian Samyu
itu merupakan tujuh tokoh dunia persilatan yang disebut
Ih Iwe-jit-ki."
Hok To Beng terbahak-bahak : "Ah, hal itu sudah usang.
sesungguhnya aku tak layak termasuk dalam Jit-ki (tujuh
tokoh aneh) itu."
"Toa-suheng, imam itu apakah bukan yang toa-suheng
katakan sebagai Hun Ho totiang dari pulau Hong-lay-to itu
?" Lan Hwa menukas.
"Siapa lagi kalau bukan imam hidung kerbau itu." Hok
To Beng mengangguk.
"Adakah lo-koko pernah bertemu dengan Thian-lam Ji-gi
?"
Hok To Beng tersenyum: "Mungkin tak berjodoh karena
sudah dua kali aku ke selatan tetapi tak pernah berjumpa
dengan kedua tokoh sakti dari Thian-lam itu."
Gin Liong kerutkan dahi: "Lo-koko, apakah engkau tak
menganggap bahwa kakek yang membawa kaca wasiat itu
bukan salah seorang dari Thian Lam Ji-gi ?"
Hok To Beng merenung sejenak, "Sukar untuk
mengatakan secara pasti," katanya sesaat kemudian," tetapi
peristiwa itu sudah menggemparkan dunia persilatan.
Kurasa peristiwa itu tentu akan segera terungkap !"
Kemudian ia menanyakan apakah Gin Liong dan Lan
Hwa sudah selesai makan.
"Baik, mari kita segera mencari kedua kutu busuk itu,"
kata Hok To Beng setelah kedua anak-muda itu
mengangguk.
Segera mereka bertiga keluar dari kamar seorang jongos
segera menyambut dan menanyakan apakah ketiga tetamu
itu hendak keluar jalan2.
"Hari masih sore, kita akan melanjutkan perjalanan lagi,"
sahut Hok To Beng. Kemudian ia membayar rekening dan
ongkos memberi makan kedua kuda.
Pada saat mereka bertiga baik kuda, tiba2 jongos
bergegas keluar menghampiri Hok To Beng.
"Tuan, kedua kawan tuan itu sudah berlalu," kata jongos
itu.
"Siapa ?" Hok To Beng heran.
"Yang tuan tanyakan kedua tetamu tinggi besar,
memakai jubah dan kopiah kulit, mata besar dan mulut
lebar tadi..."
Melihat gerak-gerik si jongos, Hok To Beng tertawa,
sehingga jongos itu melongo.
"Kemanakah perginya kedua orang itu ?" tegur Lan
Hwa.
"Ke barat sana !" si jongos menunjukkan jarinya ke barat
"Hayo kita berangkat," seru Hok To Beng setelah
menghaturkan terima kasih kepada jongos itu.
Banyak sekali orang persilatan yang datang dan pergi
dari kota itu. Setiba diluar kota, Hok To Beng berpaling dan
hendak bicara tetapi ketika melihat wajah Gin Liong dan
Lan Hwa mengerut kegelisahan, ia tahu apa yang
dipikirkan kedua anak muda itu.
"Siau-hengte." seru Hok To Beng tertawa," jangan kuatir
kalau tak dapat mengejar Liong-Ii locianpwe itu, Setiap
orang yang hendak menuju ke selatan, tentu harus berhenti
di teluk Taylian menunggu perahu, Kalau kita agak cepat
berjalan, kemungkinan kita dapat tiba lebih dulu disana."
Kemudian Hok To Beng berkata pula kepada Gin Liong:
"Kalau Ban Hong Liong-li tak berada di Taylian, akan
kuminta tacimu untuk menemani engkau ke Kanglam."
Mendengar itu Lan Hwa tertawa gembira, Kebalikannya
diam2 Gin Liong kerutkan dahi.
"Adik, mari kita melanjutkan perjalanan lagi," kata Lan
Hwa seraya loncat kepunggung kudanya. Gin Liongpun
juga loncat keatas kudanya, sedangkan Hok To Beng-pun
sudah berdiri di pantat kuda.
Kedua kuda tegar itu segera mencongklang pesat, Tetapi
tiba2 mereka mendengar suara gemuruh dari belakang,
Ketika berpaling dilihatnya berpuluh-puluh orang persilatan
yang menunggang kuda, menerobos keluar dari kota,
Mereka berteriak-teriak hendak menangkap pencuri kuda.
Di jalan itu tiada tampak lain orang lagi kecuali Gin
Liong bertiga, Sudah tentu dia marah mendengar teriakan
kawanan penunggang kuda itu, ia hentikan kudanya,
Melihat itu Lan Hwapun hentikan kuda dan berputar ke
belakang.
Tiba2 terdengar desing tajam dari sebatang anak panah
pertanyaan yang meluncur ke udara.
Melihat itu Hok To Beng tertawa, katanya kepada Gin
Liong:
"Siau-hengte, mereka adalah anak buah dari Macantertawa
Oh Thian Pa dari gunung Thian-po-san. Berhatihatilah
dengan Kau-kin-tiang-pian (cambuk dari urat naga)
mereka."
Waktu memandang dengan penuh perhatian, Gin Liong
memang melihat berpuluh kawanan penunggang kuda itu
masing2 mencekal sebatang cambuk sepanjang satu tombak
lebih.
Saat itu kawanan penunggang kuda membentuk diri
dalam bentuk seperti busur, dan lari kencang menyerbu ke
arah Gin Liong bertiga. Sambil berdiri diatas pantat kuda
hitam mulus, Hok To Beng melambaikan pipa ke udara dan
berseru nyaring:
"Saudara dari markas Som-lim-say, dengarkanlah ! Aku
Hok To Beng, suruhlah pemimpin barisanmu tampil bicara
dengan aku."
Saat itu kawanan penunggang kuda hanya terpisah duapuluhan
tombak, Tampaknya mereka tak mempunyai
pemimpin.
Melihat itu Gin Liong dan Lan Hwa segera mencabut
pedang. Tetapi saat itu berpuluh-puluh penunggang kuda
sudah mengepung, Wajah mereka memberingas dan
serempak mengayunkan cambuknya kearah Gin Liong
bertiga.
"Tring, tring, tring. . . . dengan tangkas Gin Liong dan
Lan Hwa segera memutar pedang untuk membabat
berpuluh-puluh cambuk itu. Ketika beradu dengan pedang
Tanduk Naga, berpuluh-puluh Kau-kin-tiang-pian atau
cambuk-urat-naga berhamburan putus..
Sedang Hok To Beng dengan tertawa gelak2
mengayunkan pipanya untuk menyapu serangan cambuk.
Terdengar pekik jeritan kejut. dan kesakitan dari
berpuluh-puluh penunggang kuda itu ketika cambuk mereka
terlempar jatuh, Dan menyusul terdengar beberapa tubuh
mereka terjungkal dari kuda.
Kembali dari arah kota kecil itu menggemuruh suara
kuda berlari, Hampir seratus penunggang kuda menerobos
keluar dan mencongklang pesat.
Dua ekor kuda berbulu hijau dan merah, dan berada
paling depan dinaiki oleh sepasang lelaki perempuan yang
mengenakan pakaian ringkas atau pakaian orang persilatan
warna kuning emas.
Dibelakang kedua orang itu, empat lelaki berpakaian
warna putih perak menunggang empat ekor kuda putih.
Rupanya keenam penunggang kuda itulah yang menjadi
pemimpin dari barisan kuda yang jumlahnya hampir seratus
ekor.
Melihat itu Hok To Beng bahkan tertawa gelak2 dan
berseru: "Hai, berhentilah kalian, lihatlah pemimpin kalian
suami isteri telah datang!"
Sambil berkata Hok To Beng ayunkan pipanya dan
rubuhlah seorang lawannya lagi, terjungkal jatuh dan
kudanya.
Berpuluh-puluh penunggang kuda yang menyerang Gin
Liong bertiga itu, sesungguhnya sudah kewalahan. Melihat
saycu atau pemimpin mereka datang, timbullah
semangatnya lagi.
Yang sudah kehilangan cambuk, berteriak-teriak
memberi bantuan semangat kepada kawan-kawannya yang
masih mencekal cambuk, serangan merekapun makin
gencar.
"Tring, tring, tring . . . ."
Terdengar dering benda keras beradu. Gin-Liong terkejut
dan berpaling. Dilihatnya seorang lelaki tua bermata bundar
bibir tipis, pakaian compang camping, tengah mengobatabitkan
sebatang tongkat bambu wulung, menghantam
kawanan penunggang kuda yang tengah menyerang Gin
Liong bertiga.
Seketika gemparlah kawanan penunggang kuda. Mereka
menjerit dan memekik, berhamburan menyingkir pergi.
"Hong koko, orang2 itu memang menjengkelkan sekali.
Hajarlah mereka !" tiba2 terdengar Lan Hwa berseru.,
Gin Liong terkejut. Segera ia mengetahui bahwa lelaki
tua yang berpakaian seperti pengemis itu adalah Hong-tiansiu
atau si Gila yang bergelar Keng-joh-hui-heng atau
Terbang-diatas-rumput.
Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: "Gila, jangan
keliwat keras yang memukul, tuh Oh Thian-Pa sudah
datang !"
Tepat pada saat itu terdengarlah suara seseorang berseru
gopoh: "Harap lo-cianpwe berdua suka berhenti. Wanpwe
Oh Thian Pa akan menghaturkan maaf."
Suara itu diserempaki dengan tibanya dua penunggang
kuda, Oh Thian Pa yang bergelar Siau-bin-hou atau si
Macan-tertawa, bertubuh tinggi besar dan mengenakan
pakaian kuning emas. Alisnya tebal, mata besar, wajah
empat persegi, kulitnya putih bersih tiada tumbuh kumis.
Seorang yang memberi kesan baik.
Isteri dari Oh Thian Pa bernama Toknio-nio atau
Wanita-beracun, Mengenakan pakaian kuning emas dan
membawa pedang emas. wajahnya cantik.
Sedang keempat ekor kuda putih yang mengiring
dibelakang, masih berada tiga-puluhan tombak jauhnya,
Seratus ekor barisan kuda itu, berhenti dan berjajar-jajar.
Begitu tiba dihadapan Hok To Beng dan Hong-tian-soh,
suami isteri Oh Thian Pa segera loncat turun dari kudanya.
Gin Liong dan Lan Hwapun menyimpan pedang lalu
turun dari kuda dan berdiri di belakang kedua jago tua.
"Wanpwe suami isteri Oh Thian Pa dan Pik Li-hoa
menghaturkan hormat kepada locianpwe berdua, Entah
anak buah kami melakukan kesalahan apa terhadap lo
cianpwe berdua, wanpwe mohonkan maaf."
Mendengar pemimpinnya minta maaf, kawanan
penunggang kuda itu serentak berjongkok ditanah dan
minta ampun kepada kedua pemimpin mereka,
"Ah, Oh saycu terlalu merendah diri." kata Hok To
Beng, "peristiwa ini hanya suatu kesalahan fahamsaja..."
"Oh Thian Pa, jangan pura2 tak tahu," cepat Hong-tiansoh
menukas, "anak buahmu hendak merebut kedua ekor
kuda dari Setan Asap dan adik perempuannya !"
Melihat gelagat kurang baik, cepat2 Hok To Beng
memukulkan pipanya ke tongkat bambu wulung Hong-tiansoh.
"Mengapa ?" si Gila terkejut.
"Hong koko, kedua ekor kuda ini kemungkinan memang
milik mereka." cepat Lan Hwa mendahului.
"Sekalipun kuda mereka tetapi mengapa mereka begitu
ngotot turun gunung mengejar sampai kemari ?" tukas
Hong tian-soh.
Gin Liong kerutkan dahi, ia merasa Hong- tian-soh itu
lebih gila lagi wataknya dari Hok To Beng.
Tetapi ternyata bukan saja tak marah, kebalikannya Oh
Thian Pa dan Pik Li-hoa tertawa.
Kemudian Oh Thian Pa membentak anak buahnya yang
masih bersimpuh di tanah itu suruh mereka lekas
menggabung dalam barisannya berpuluh-puluh penunggang
kuda tadi, pun segera berbangkit dan menuntun kudanya
menuju kedalam barisan.
"Sungguh berwibawa! Sungguh menyeramkan!" seru
Hong-tiah- soh.
Macan-tertawa hanya ganda tertawa dan mengucapkan
beberapa kata merendah. Kemudian ia memandang kearah
kedua kuda dari Gin Liong dan LanHwa.
Gin Liong tahu bahwa kedua ekor kuda hitam mulus dan
hitam berkaki putih itu sebenarnya milik Oh Thian Pa yang
dicuri oleh kedua orang Mongol tadi. Maka segera ia
mengatakan kepada Hok To Beng supaya kuda itu
dikembalikan saja kepadaOh Thian Pa.
Hok to Beng setuju tetapi Lan Hwa menentang: "Salah
mereka mengapa sampai dicuri orang, Dan kita
mengambilnya dari pencuri itu."
Tiba2 Hong-tian-soh deliki mata:
"Apa? Kalau memang kita merampas dari pencuri itu,
kuda itu milik kitalah !"
Tok-mo-cu atau Wanita-berbisa Pik Li-hoa agaknya
mempunyai kesan baik terhadap Mo Lan Hwa, Maka
berkatalah ia kepada suaminya:
"Karena nona itu merebut dari si pencuri kuda, biarlah
kuda itu diambinya."
Oh Thian Pa setuju dan menyerahkan kuda itu kepada
Gin Liong serta Lan Hwa, Lan Hwa memandang Pik Lihoa
dengan tertawa.
"Dihadiahkan atau diberi sama saja, Kelak siaumoay
sudah bosan, akulah yang akan mengembalikan kuda itu
kepada pemiliknya," kembali Hong-tian-soh menyeletuk.
Pun Hok To Beng juga menambahkan bahwa apabila
urusan sudah selesai, kedua kuda itu tentu akan
dikembalikan lagi kepada Oh Thian Pa.
Setelah peristiwa itu selesai, Oh Thian Pa minta agar
Hok To Beng bertempat singgah di markas gunung Thianpo-
san. Tetapi Hok To Beng mengatakan lain kali saja. Oh
Thian Pa pun membawa anak buahnya pulang ke gunung.
Hok To Beng memperkenalkan Gin Liong kepadaHongtian-
soh. Gin Liong memberi hormat kepada kakek gila itu.
Melihat Gin Liong seorang pemuda cakap dan gagah,
kemudian memandang ke arah Lan Hwa, Hong-tiansohpun
tertawa gembira.
"Aha, siau-hengte ibarat mustika dari dalam telaga dan
siaumoay sebagai mutiara dari dalam laut, Sungguh
merupakan pasangan yang serasi sekali...." Hong-tian-soh
menyeletuk lagi.
Melihat si Gila itu hendak mengoceh tak keruan, cepat2
Hok To Beng menukas:
"Gila, tahukah engkau bahwa guru dari siau-hengte ini
tokoh angkatan muda yang kepandaiannya lebih tinggi dari
kita berdua ?"
"Siapa ?"
"Pelajar-berwajah-kumala Kiong CuHun!"
Hong-tian-soh agak terbeliak kaget dan memandang Gin
Liong lekat-, Tiba2 ia teringat sesuatu, serunya:
"Setan-asap, semalam aku bertemu dengan Ban Hong
Liong-li yang tergila-gila pada Kiong Cu Hun itu !"
"Dimana?" serentak Gin Liong berseru.
Hong-tian-soh kerut dahi, ia heran mengapa Gin Liong
begitu tegang, Hok To Beng segera menerangkan:
"Siau-hengte hendak mencari Ban Hong Liong-li."
"Huh, kalau mau kejar, cepat-cepat sajalah, Budak itu
luar biasa ilmu ginkangnya..."
"Hong koko, dimanakah engkau berjumpa dengan
Liong-li locianpwe itu ?" Gin Liong makin tegang.
"Dia tengah berlari sekencang-kencangnya. Heran,
mengapa dia menempuh perjalanan pada waktu tengah
malam," berhenti sejenak, Hong-tian-soh melanjutkan pula:
"Asal sebelum matahari terbenam engkau dapat
mencapai Hong-shia, mungkin engkau dapat mengejar Ban
Hong Liong-li"
Saat itu matahari sudah condong ke barat Gin Liong
makin gelisah.
"Toa-suheng, mari kita berangkat !" seru Lan Hwa.
"Kalau mau berangkat, silahkan berangkat dulu. Aku
dan Setan Arak berjanji pada toa-su-hengmu untuk bertemu
disini," sahutHongtian-soh.
Hok To Bengpun mengatakan bahwa setelah urusan
selesai, ia bersama Hong-tian-soh tentu segera menyusul.
"Disepanjang jalan, tinggalkan tanda rahasia Pipa-emas."
"Atau tanda tongkat pemukul anjing itu juga boleh,"
Hong-tian soh menyelutuk, "bukankah seratus orang yang
melihat diriku tentu akan mengatakan kalau aku seorang
tukang peminta nasi."
Diam2 Mo Lan Hwa girang karena kedua tokoh itu tak
ikut pergi, Demikian keduanya segera naik kedua ekor kuda
hitam, Dalam waktu yang singkat mereka sudah melintasi
sebuah daerah pegunungan salju.
Sejam kemudian mereka sudah melalui beberapa desa
dan saat itu disebelah depan tampak jalan besar yang
menuju ke kota Hong-shia.
Penuh orang berjalan di jalan besar itu. Kebanyakan
mereka adalah pedagang2. Saat itu matahari sudah
condong kearah barisan puncak gunung disebelah barat.
"Adik, tahukah engkau gunung apa itu ?" tanya Lan
Hwa.
Sambil memandang ke gunung yang menjulang tinggi ke
angkasa, Gih Liong gelengkan kepala, mengatakan tak
tahu.
Lan Hwa kerutkan dahi. Dia heran mengapa Gin liong
tak tahu apa2 sama sekali. Bagaimana akan mencari orang
ke Kanglam yang begitu luas.
"ltulah puncak Mo-thian-ni. Benggolan kaum Hitam
diluar perbatasan yakni ketujuh saudara Tio, bersarang di
gunung itu," LanHwa menerangkan.
"Adik, pelahan dulu," sesaat kemudian Lan Hwa berseru
ketika melihat pada jarak satu li di sebelah muka tampak
mendatangi belasan penunggang kuda yang berpakaian
seperti orang persilatan. Karena debu amat tebal maka
sukar diketahui wajah mereka.
Rupanya kawanan penunggang kuda itu tahu juga akan
Gin Liong dan Lan Hwa. Penunggang kuda yang menjadi
pemimpin rombongan itu segera hentikan kudanya. Dan
saat itu Gin Liongpun sudah tiba didepan mereka.
Tanpa berkata apa2, seorang penunggang kuda
menerobos dari rombongannya dan terus lepaskan pukulan
jarak jauh kearah Gin Liong. Sudah tentu pemuda itu
terkejut dan cepat condongkan kepala kudanya lalu balas
menghantam.
"Bum . . . ."
Terdengar dengus orang tertahan, orang itu dibawa
mundur oleh kudanya dan terpelanting jatuh ke tanah,
berguling-guling dan menjerit-jerit. . .
Rombongan penunggang kuda itupun cepat mencabut
senjatanya hendak menyerang. Tetapi kuda hitam kaki
putih dari Lan Hwa tiba2 meringkik berloncatan melingkarlingkar
dengan garang sekali.
Belasan ekor kuda dari rombongan itu terkejut dan
meringkik ketakutan lalu lari berserabutan keempat penjuru.
Tetapi sebagai gantinya, Gin Liong dan Lan Hwa segera
melihat seorang penunggang kuda melintang di tengah
jalan. Penunggangnya seorang lelaki berwajah hitam,
mukanya penuh brewok, hidung dan mulut besar, alis tebal
menaungi sepasang mata yang bundar besar.
Orang itu dingin2 memandang kedua anak.
"Adik, dia adalah Bong-kim-kong Tio Tik Lok, jago
nomor empat dari ketujuh saudara Tio," bisik Lan Hwa.
Tiba2 dari samping kanan dan kiri terdengar teriakan
gempar dan menyusul rombongan penunggang kuda tadi
segera mengepung Gin Liong, Lan Hwa dan Bong-kimkong.
Gin Liong makin gelisah, Dia hendak cepat2
melanjutkan perjalanan. Tak mau dia terlihat dalam
pertempuran yang tak berguna itu.
"Minggirlah !" serunya seraya mencongklangkan kuda
menerjang Bong-kim-kong dan ayunkan tangan kanannya
menghantam.
Bong-kim kong atau Malaekat-buas Tio Tik Lok tertawa
gelak2. ia kepitkan kedua kakinya ke perut kuda dan
melambungkan kuda itu loncat sampai satu tombak
tingginya lalu ayunkan tongkat Long-ya-pang menghantam
pantat kuda Gin Liong.
Pukulannya luput, Gin Liong terkejut. Cepat ia memacu
kudanya loncat ke muka.
Melihat Gin Liong terancam bahaya, Lan Hwapun
segera membalutkan pedangnya ke pinggang Malaekatbuas,
Tetapi jago keempat dari Tujuh saudara Tio itu
tertawa keras, lintangkan kuda seraya balikkan tongkatnya
ke pinggang nona itu.
"Budak, karena engkau tahu namaku, maka serangan ini
takkan mencabut nyawamu !"
Lan Hwapun terkejut karena serangannya gagal. Cepat ia
menyadari bahwa ketujuh penjahat dan gunung Mo-thiannia
itu memang pandai sekali bertempur dengan
menunggang kuda. Kalau mau menundukkan Malaekatbuas,
lebih dahulu harus memaksanya turun dari kuda.
Begitu tongkat Long - ya - pang tibu, nona itupun loncat
turun ke tanah.
Segulung sinar merah berkelebat membabat kaki depan
dari kuda Bong-kim-kong, Bong kim-kong menjerit kaget,
menarik kendali sehingga kuda berdiri tegak menjulangkan
kaki depannya ke atas, Lalu dengan jurus Menjolok-bulandidasar-
laut, Bong-kim-kong menyodokkan tongkat ke
pedang Lan Hwa.
Melihat babatannya tak berhasil Lan Hwa marah sekali,
ia memutar pedang untuk memapas siku lengan kanan
lawan.
Bong-kim,-kong terkejut dan tegakkan lagi tubuhnya.
Kudanya ikut berputar-putar sehingga menghampiri ke
tempat Gin Liong.
"Hayo, engkaupun harus turun !" tiba2 Bong-kim-kong
membentak dan menyapukan tongkatnya ke tubuh Gin
Liong.,
Wut. pemuda itu ayun tubuhnya melambung ke udara
sampai beberapa tombak, Sambil bergeliatan di udara ia
berseru: "Taci, menyingkirlah agak jauh !"
Serempak dengan teriakan itu. segulung sinar merah
yang menyilaukan mata segera berhamburan memancar di
udara, Belasan rombongan penunggang kuda begitu melihat
sinar itu serentak memekik keras.
Bong-kim-kong pucat seketika, ia tak sempat berbuat
apa2 lagi kecuali buang tubuh berguling jatuh dari kudanya.
Gin Liong tak mau melukai kuda orang, ia loncat turun
dari kudanya, Melihat itu dengan menggerung keras, Bongkim-
kong loncat menghantamkan tongkat long-ya-pang
kearah kepala Gin Liong.
Baru saja kaki Cin Liong menginjak tanah atau tahu2
kepalanya sudah terancam. ia marah sekali, Dengan sebuah
gerak berputar, ia sudah menyelinap di samping Bong-kimkong
lalu secepat kilat membabatkan pedang Tanduk Naga
ke lengan orang.
Serasa terbanglah semangat Bong-kim-kong melihat
gerak yang luar biasa dari anak muda itu. Cepat ia lepaskan
long-ya-pang lalu enjot tubuhnya sampai dua tiga meter ke
belakang, Dan karena kuatir pemuda itu akan
menyerangnya lagi maka lebih dahulu ia songsongkan
kedua tangannya kearah Gin Liong.
Gin Liong makin panas, ia balas menghantam dengan
tangan kiri, Bum . . . . Debu berhamburan angin menderuderu
dan tubuhpun tertatih-tatih, Bong-kim-kong Tio Tik
Lok, jago nomor empat dari persaudaraan Tio yang
menguasai gunung Mo-thian-nia, saat itu terhuyung-huyung
beberapa langkah ke belakang dan jatuhlah ia terduduk di
tanah. ia gagal untuk menguasai keseimbangan tubuhnya,
Serentak terdengarlah pekik kejut dari belasan anak buah
Bong-kim-kong yang serempak mengangkat senjata
masing2. Tetapi tak seorangpun yang berani menolong
Bong-kim-kong. karena tempat Bong-kim-kong duduk di
tanah itu hanya terpisah dua meter dari Mo Lan Hwa yang
tegak berdiri sambil lintangkan pedangnya.
Tampak jago keempat dari persaudaraan Tio itu duduk
lunglai di tanah dan pejamkan mata menunggu ajal.
Melihat sikap berpuluh anak buah Bong-kim-kong yang
memberingas itu, marahlah Lan Hwa. ia merasa terhina
karena dipandang oleh belasan anak buah Bong kim-kong.
Dia menafsirkan pandang mata anak buah Bong-kim-kong
itu menuduh bahwa ia (Lan Hwa) seorang nona yang licik
dan curang karena hendak membunuh seorang lawan yang
sudah tak berdaya.
"Huh," ia mendengus lalu masukkan pedangnya kedalam
sarung dan sekali menggeliat ia sudah tiba di samping Gin
Liong.
Gin Liongpun sarungkan pedang dan mengajak nona itu
segera melanjutkan perjalanan lagi. Keduanya segera loncat
ke kuda masing2, Tetapi baru hendak melarikan kudanya,
tiba2 belasan anak buah Bong-kim-kong itu bersorak sorai
dengan gembira.
Ketika Gin Liong dan Lan Hwa memandang kedepan,
ternyata lebih kurang dua li jauhnya tampak berpuluh puluh
penunggang kuda tengah mencongklang cepat sekali, Orang
yang sedang berada di jalanan, buru2 lari ketakutan
menyingkir ke tepi jalan.
Yang didepan tiga ekor kuda bulu hitam putih dan
merah. Penunggangnya seorang lelaki dan dua orang
perempuan. Ketiga ekor kuda lari secepat angin dan
beberapa kejab mereka sudah berada setengah li dari tempat
Gin Liong.
Penunggang kuda hitam, seorang lelaki mengenakan
pakaian dan mantel hitam. Bertubuh perkasa, muka lebar,
dada bidang tetapi kulit hitam seperti pantat kuali,
pinggangnya menyanding sepasang pukul besi berbentuk
segi-delapan. Warnanya kuning emas dan beratnya tak
kurang dari berpuluh-puluh kati.
Rupanya dia tengah memberingas marah sehingga
tampaknya makin menyeramkan.
Penunggang kuda putih seorang nona cantik berumur
dua-puluhan tahun. wajahnya bulat telur alis melengkung
seperti busur. Bibirnya merah semerah bunga mawar,
Rambutnya yang panjang menjulai diatas bahu,
Mengenakan baju dari sutera warna biru, demikian juga
celana kun, Diatas seekor kuda putih, nona itu tampak
makin menonjol kecantikannya.
Sedang yang naik kuda bulu merah, seorang dara
berumur lima belasan tahun. Mata bundar, wajahnya
kemerah-merahan segar Rambutnya dibelah dua kuncir.
Mengenakan pakaian warna merah, sikapnya masih
kekanak-kanakan dan sepintas pandang memberi kesan
bahwa dia seorang bujang.
Rombongan anak buah Bong-kim-kong tadi makin
menggemuruh soraknya, Melihat itu Lan Hwa segera
berkata bisik2 kepada Gin Liong:
"Adik, hati-hatilah, penunggang kuda hitam itu adalah
jago nomor lima dari persaudaraan Tio. Namanya Tio Tek
Piu bergelar Thia-lo-han (Arhat besi). Seorang limbung
yang keras kepala sekali."
Berhenti sejenak, Lan Hwa melanjutkan:
"Dan nona yang naik kuda putih itu adalah saudara
ketujuh dari persaudaraan Tio, ilmu pedang dan ilmu
ginkangnya, cemerlang sekali, ilmu kepandaiannya lebih
unggul dari keenam engkoh2-nya. Orang memberi gelaran
kepadanya Mo-thian-giok-li (Bidadari dari gunung
Mothian), Namanya Tio Li Kun dan baru berumur duapuluh
empat tahun."
Sengaja Mo Lan Hwa memberi tekanan dengan nada
keras waktu mengucap umur 24 tahun itu.
"Budak diatas kuda merah itu, centil dan ketus sekali,
Orang memberinya nama Cabe Rawit Siau Hoan
kepadanya."
Saat itu ketiga kuda itupun sudah hampir tiba. Bidadarigunung-
Mo-thian Tio Li Kun yang naik kuda putih,
menatap Gin Liong dengan lekat.
Begitu ketiga ekor kuda itu tiba, maka kuda hitam Gin
Liong dan kuda hitam kaki putih dari Mo Lan Hwa segera
meringkik keras sehingga ketika kuda pendatang itu terkejut
berputar-putar.
Melihat engkohnya nomor empat Bong-kim-kong duduk
di tanah, secepat kilat si cantik Tio Li Kun terus apungkan
tubuh melayang kearah Bong-kim-kong.
Gin Liong terkejut Gerakan si cantik Li Kun itu
menyerupai sekali dengan ilmu lari cepat Angin-meniupkilat-
menyambar yang dimilikinya.
"Siapa yang memukul jatuh engkohku ini ?" teriak
sebuah suara kasar.
Ketika berpaling, Gin Liong dapatkan si limbung Thiatlo-
han memandangnya dengan mata berapi-api sambil naik
seekor kuda hitamdan tak henti-hentinya berputar, Sret, dia
terus mencabut sepasang palu besi dan dibolang-balingkan
dengan keras.
Gin Liong tertawa dingin, Sesaat ia hendak membuka
mulut tiba2 si Cabe rawit Siau Hoan menuding kearahnya:
"Ngo-ya, itulah orangnya...."
"Tutup mulutmu, Siau Hoan," tiba2 terdengar sebuah
bentakan halus.
Gin Liong dan Mo Lan Hwa berpaling. Ternyata si nona
cantik yang tengah berjongkok menolong Bong-kim-kong,
deliki mata dan membentak bujang Siau Hoan.
Ketika melihat Gin Liong berpaling memandangnya,
muka si cantik Li Kun tersipu-sipu merah dan cepat dan
cepat2 tundukkan kepala, mengangkat bangun Bong-kimkong.
"Budak, engkaupun harus turun dari kuda !" Gin Liong
terkejut Ketika berpaling, dilihatnya Thiat-Lo-han hendak
menyerangnya.
Kuda hitam meringkik dahsyat Mengangkat kaki depan
keatas tegak berdiri sambil berputaran dengan indah
terhindarlah binatang itu dari hantaman Thiat-lo han Tio
Tik Piu.
Jago kelima dari persaudaraan Tio terkejut sekali ketika
serangannya luput. Tetapi pada saat ia hendak menyerang
lagi, tiba2 Gin Liong sudah melontarkan sebuah hantaman
dahsyat sehingga senjata Thiat-lo-han terlempar lepas dari
tangannya, melayang sampai tiga tombak jauhnya.
Thiat-lo-han memekik-mekik seperti orang kebakaran
jenggot Betapa ingin ia dapat meraih senjatanya itu,
Sesosok bayangan merah berkelebat dan dengan gerak
yang indah sekali, Mo-thian-giok-li Tio Li Kun telah
menyambar tangkai pukul besi itu lalu dilemparkan kepada
engkohnya: "Terimalah !"
Seketika terdengarlah sorak sorai yang menggemuruh
dari sekalian anak buah gunung Mo-thian-nia.
Menyambuti senjata pukul besinya, Thiat-lo-han tertawa
gelak2.
Melihat peristiwa itu marahlah Gin Liong, Segera ia
kerahkan seluruh tenaga ke lengan-nya.
"Lo ngo, menyingkirlah!" tiba2 terdengar Bong-kim-kong
membentak keras.
Thiat-lo-han Tio Tek Lok memandang kearah
engkohnya nomor empat dan adik perempuannya nomor
tujuh lalu kisarkan kudanya ke samping untuk memberi
jalan.
Keenam penunggang kuda yang menghadang di tengah
jalan pun buru2 menyingkir. Demikian pula dengan
kelompok anak buah yang datang bersama Thiat-lo-han dan
Mo-thian-giok-li tadi, pun menyingkir ke-tepi jalan.
"Taci, mari kita berangkat !" Gin Liong berseru kepada
Lian Hwa. kedua muda mudi itupun segera
mencongklangkan kudanya dengan pesat.
Mendengar Gin Liong menyebut Lan Hwa dengan
panggilan "taci", seketika merekah setitik harapan dalam
hatiMo-thian-giok-li Tio Li Kun. ia tersenyum girang.
Saat itu matahari sudah condong ke barat dan tertutup
oleh puncak gunung Mo-thian-san yang menjulang tinggi.
Sekonyong-konyong hidung Gin Liong terbaur
serangkum angin wangi, ia tergetar dan berpaling, Tampak
ditepi sebelah kiri jalan, tengah berjajar sekelompok barisan
kuda dari gadis cantik.Mereka mengenakan pakaian merah
semua dan menyanggul pedang di punggung.
Kuda hitam mulus meringkik terus menerjang ke muka,
Barisan nona2 cantik itu cepat menyingkir ke samping
jalan.
Tak berapa lama disebelah muka tampak tembok dari
kota Hong-shia. Seperminum teh lamanya, tibalah Gin
Liong berdua di pintu kota itu.
Pintu kota yang besar dan tinggi dijaga oleh beberapa
prajurit Mereka terkejut melihat kedatangan Gin Liong dan
Lan Hwa. Saat itu lampu2 rumah dan jalan mulai dipasang.
Sambil menunggang kuda, Gin Liong memandang kian
kemari, ia berharap dapat melihat Ban Hong Liong-li
berada diantara orang2 yang berada di jalan itu.
"Adik, marilah kita cari rumah penginapan dulu, Baru
nanti kita menyelidiki jejak Ban Hong Liong-Ii locianpwe,"
kata Lan Hwa.
Gin Liong setuju.
Tiba2 dari kerumunan orang disebelah belakang
terdengar sebuah lengking teriakan:
"Liong koko, Liong koko !"
Gin Liong terkejut dan berpaling, Beberapa puluh
tombak jauhnya, tampak seorang dara baju putih dan
punggung menyelip pedang, tengah menerobos dari
kerumun orang dan bergegas menghampiri Gin Liong.
Melihat dara itu bukan kepalang girang Gin Liong,
serentak ia berseru gopoh:
"Adik Lan !" serunya seraya memutar kuda
menyongsongnya.
Orang2 yang berada di jalan terkesiap memandang kedua
muda mudi itu. Ada yang menduga kalau keduanya engkoh
dan adik, ada pula yang menyangka tentu sepasang kekasih.
Begitu tiba, Gin Liong terus loncat turun dari kuda dan
mencekal tangan sumoaynya, Ki Yok Lan.
"Lan-moay, bilakah engkau tiba disini ?" tanyanya.
Melihat Gin Liong, serentak teringatlah Yok Lan akan
suhunya yang telah meninggal dicelakai orang itu. Air
matanya bercucuran membasahi kedua pipi. Betapa ingin ia
rebahkan kepala ke dada sukonya dan menangis sepuaspuasnya.
"Siang tadi," sahutnya, seraya mengeluarkan sapu dan
menghapus airmatanya.
"Pada hari itu setelah siuman aku segera lari ke ruang
depan mencarimu. Aku bertemu dengan ji-susiokcou dan
seluruh paderi yang sudah pulang dari makam, Saat itu
baru kuketahui bahwa suhu telah meninggal dunia dan
engkau turun gunung..."
Bercerita sampai disitu, airmata Yok Lan membanjir
deras.
Gin Liongpun berlinang-linang namun ia kuatkan hati
untuk mencegah airmatanya.
Pada saat ia hendak berkata menghibur su-moaynya,
tiba2 kuda hitam mulus meringkik keras sehingga Yok Lan
melonjak kaget, Ketika mengangkat muka, baru ia tahu
kalau orang2 yang berada disekitar tempat itu tengah
memandang dirinya dan Gin Liong, Yok Lan tersipu-sipu
merah wajahnya.
Memandang ke arah Gin Liong, dilihatnya sukonya itu
tengah memandang kian kemari seperti mencari orang.
Serentak teringatlah Yok Lan akan nona baju merah yang
menunggang kuda hitam berkaki putih tadi.
"Liong koko, kemanakah nona yang berjalan bersama
engkau tadi ?" serunya bertanya.
Merah wajah Gin Liong mendengar pertanyaan itu.
segera ia menerangkan bahwa nona itu bernama Mo Lan
Hwa yang digelari orang sebagai Salju-merekah- merah.
"Aneh, mengapa tiba2 ia lenyap," kata Gin Liong seraya
mengusap airmatanya.
"Liong koko, mungkin dia mengambek," kata Yak Lan.
Seketika Gin Liongpun tersadar. Tentulah Lan Hwa
pergi dengan marah. Seketika ia teringat akan janjinya
bertemu dengan Hok To Beng dan Hong-tian-soh di
penyeberangan Taylian (Dairen). Bagaimana nanti akan
mengatakan kepada kedua orang itu apabila Lan Hwa tak
ikut serta.
Melihat sukonya gelisah, Yok Lan tak enak hati,
serunya: "Liong koko, kutunggu kau di hotel Ko Liong,
Susullah nona itu, ia tentu marah kepadamu."
Sesungguhnya tak enak perasaan hati Gin Liong
terhadap Yok Lan. Tetapi karena saat itu tak sempat
memberi keterangan maka ia menyetujui saran sumoaynya,
"Baiklah sumoay, kau tunggu saja di hotel itu, aku akan
menyusulnya," serunya lalu melarikan kudanya ke utara.
Walaupun sangat gopoh tetapi Gin Liong tak berani
melarikan kudanya keras2. Setelah keluar dari pintu utara.
malampun makin gelap, Rembulan mulai muncul.
Beberapa saat kemudian, ia masih belum melihat
bayangan Lan Hwa. Yang tampak disebelah muka hanya
gunduk2 perumahan dan pedesaan, Diam2 ia meragu
apakah keliru arahnya.
Tiba2 ia mendengar suara ringkik kuda dari sebelah barat
kota Hong-shia. serentak berserulah ia: "Kuda hitam kaki
putih...!"
Serentak ia larikan kuda hitam mulus kearah tempat itu,
Beberapa waktu kemudian, ia tiba dijalan yang merentang
kearah barat.
Jalan itu sunyi senyap, Kuda hitam mulus jari secepat
angin, Kota Hong-shiapun sudah tertinggal jauh beberapa li
dibelakang.
Memandang ke muka, tampak gunung Mo-thian-san
menjulang tinggi ke langit Diam2 Gin Liong heran
mengapa Mo Lan Hwa mendaki ke gunung itu.
Setengah jam kemudian, kaki gunung Mo-thian-san
sebelah timur hanya sejauh tiga li jauhnya.
Dikaki gunung itu terbentang sebuah hutan batu yang
berbentuk aneh. Pohon siong yang pendek dan pohon2 lain
yang gundul daunnya. Tetapi Lan Hwa tak tampak sama
sekali.
Menyadari bahwa gunung Mo-thian-san itu menjadi
sarang dari ketujuh persaudaraan Tio, diam2 Gin Liong
meningkatkan kewaspadaan.
Jalanan menyusur sepanjang kaki gunung, melingkar ke
selatan. Kuda bulu hitam masih keras larinya dan tak
tampak letih.
Tiba2 di sebelah muka jalan. muncul beberapa benda
hitam.
"Apakah kawanan anak buah Mo thian-nia sedang
meronda !" pikir Gin Liong.
Ketika terpisah setengah li, barulah Gin Liong tahu
bahwa benda2 hitam ini ternyata beberapa orang yang
tengah bergegas menempuh perjalanan. Mereka orang2
desa yang hendak menuju ke kota.
Gin Liong hentikan kuda, bertanya seraya memberi
hormat.
"Tolong tanya, apakah paman sekalian berpapasan
dengan seorang nona baju merah menunggang seekor kuda
bulu hitam ?"
Orang2 itu menggelengkan kepala, Salah seorang yang
berumur tua, menjawab: "Kami orang desa setiap pagi tentu
pergi ke kota. Sejak tadi tak pernah melihat nona itu."
"Aneh, kemanakah gerangan perginya ?" gumam Gin
Liong seorang diri.
Tiba2 angin malam sayup2 seperti mengantar lengking
bentakan orang marah, Dan sesaat kemudian terdengar
gemerincing suara senjata beradu.
Gin Liong cepat berpaling memandang ke-arah suara itu.
Tetapi kaki gunung sebelah timur tetap sunyi senyap,
Hanya pohon2 siong yang bergoncang tertiup angin.
"Apakah karena hendak bersembunyi nona itu telah
kesasar masuk kedaerah terlarang dari kawanan gunung
Mo-thian-nia dan kepergok dengan anak buah mereka lalu
bertempur ?" kembali Gin Liong menimang-nimang.
Segera ia larikan kudanya menyusur jalan kearah suara
itu. Tiba2 ia mendengar ringkik kuda berkumandang makin
jelas, Asalnya dari kaki gunung sebelah timur laut.
Gin Liong segera memacu kudanya dan larilah kuda
hitam mulus itu secepat angin.
Dari ujung gunung sejauh beberapa li, seekor kuda hitam
mencongklang menuju kearah Gin Liong.
Melihat kuda hitam itu, kuda Gin Liong serentak
melonjak keatas lalu mencongklang lebih cepat, Gin Liong
girang sekali karena tahu bahwa kuda hitam yang
mendatangi itu adalah kuda Kay-swat atau kuda hitam kaki
putih.
Cepat ia hendak berteriak memanggil Lan Hwa tetapi
secepat itu pula ia batalkan maksudnya karena melihat
bahwa yang berada diatas kuda hitam kaki putih itu jelas
bukan LanHwa.
Beberapa saat kemudian kedua kuda itu makin
mendekati Tahu bahwa Lan Hwa telah tertimpa bencana,
Gin Liongpun bersiap-siap,
Saat itu Gin Liongpun melihat sebuah jalan kecil yang
mencapai dimuka gunung, Segera ia menduga bahwa dari
jalan kecil itulah Lan Hwa telah menyelinap dan masuk ke
daerah terlarang dari kawanan gunung Mo-thian-san.
Tiba disebuah hutan, kuda hitam meringkik dan
berputar-putar tak mau berlari lagi. Gin Liongpun segera
hentikan kudanya, Memandang kemuka, ia melihat di
tengah jalan kecil ditengah hutan, melintang beberapa tali
kendali kuda. Dan diatas puncak pohon dipasang jaring.
Saat itu hutan sunyi senyap, Kuda bulu hitam kaki putih
yang tiada penunggangnya itupun meringkik dan berputarputar
ketika tiba di muka hutan.
Gin Liong menduga, tali kendali dan pelana kuda Lan
Hwa tentu telah dirampas orang, Gin Liong marah.
Mencabut pedang Tanduk Naga, ia memutarnya seraya
menerjangkan kuda kemuka.
Begitu menerobos keluar dari hutan, sebatang anak
panah mendenging tiba, Gin Liong cepat menabas anak
panah itu dengan pedang Tanduk Naga.
Kembali anak panah yang kedua meluncur di udara dan
tepat tiba dibelakang kedua kuda. Kuda hitam mulus dan
kuda hitam berkaki putih lari makin pesat dan tak berapa
lama tiba di jalanan batu, Jalan dan batu itu mendaki keatas
dan terus masuk kedalam lembah.
Kedua samping jalan batu itu merupakan lereng gunung
yang curam. Sedang diatasnya penuh dengan batu2 yang
aneh bentuknya, Makin masuk ke dalam makin berbahaya
keadaannya.
Gin Liong tetap larikan kudanya masuk kedalam lembah
sempit itu. Segera terdengar suitan nyaring berkumandang
di udara, Dan menyusul turunlah hujan anak panah yang
deras kearah Gin Liong dan kudanya.
Gin Liong makin marah melihat cara2 yang licik dan keji
itu. ia memutar pedang Tanduk Naga sederas hujan, sedang
kedua ekor kuda lari seperti terbang.
Kira2 berpuluh tombak jauhnya, terdengar pula suitan
nyaring dan kembali hujan anak panah gelombang kedua
mencurah kearah Gin Liong. Tetapi dengan pedang Tanduk
Naga dan kedua kuda sakti itu, dapatlah Gin Liong
terhindar dari bahaya dan saat itu telah memasuki lembah.
Jalanan makin sempit dan makin berbahaya Kali ini
terdengarlah suara tambur dari lamping gunung. Lalu
terdengar pula suara menggemuruh.
Gin Liong hentikan kudanya dan menengadah
memandang keatas, diatas karang tinggi pada lamping
gunung, tampak sosok2 bayangan hitam berhamburan kian
kemari dan pada lain saat terdengarlah suara yang sangat
gemuruh. Beratus-ratus batang pohon besar berhamburan
menggelinding dan lamping gunung.
Kali ini Gin Liong terkejut Demi menjaga keselamatan
jiwanya terpaksa ia larikan kuda kembali keluar dari
lembah.
Penjaga pos pada kedua lamping gunung ditepi jalan,
berteriak gempar ketika melihat Gin Liong muncul keluar,
Ternyata di mulut lembah saat itu tampak berpuluh puluh
orang sedang meletakkan beberapa tali kendali kuda.
Begitu melihat Gin Liong muncul, mereka serempak
menghunus senjata dan menghadang di tengah jalan.
Dengan menggembor keras. Gin Liong putar pedang
Tanduk Naga, membabat putus tali kendali yang direntang
ditengah jalan itu.
Ketika para penjaga hendak menyerbu, kuda bulu hitam
mulus sudah meluncur berpuluh tombak jauhnya, Kuda
hitam kaki putihpun mengikuti jejak kawannya.
Melihat kuda kaki putih itu, serentak timbul pula
kegelisahan Gin Liong karena mencemaskan nasib Lan
Hwa, ia memutuskan untuk menyerbu ke gunung.
Diamatinya keadaan lembah gunung itu memang
berbahaya sekali, ia memperhitungkan bahwa pada tempat2
yang berbahaya tentu tak begitu dijaga ketat, Maka ia
segera larikan kudanya di sepanjang kaki gunung menuju ke
barat laut.
Tiba disebuah tempat yang berbahaya, ia berhenti dan
turun dari kudanya. Saat itu baru ia mengetahui bahwa
kedua ekor kuda itu seperti mandi keringat, Gin Liong
sayang kepada kuda itu, Dielus-elus kepalanya beberapa
kali dan kedua ekor kuda itupun seperti mengerti bahasa
manusia, terus lari menuju ke gundukan batu yang tinggi.
Saat itu rembulan sudah ditengah Cakrawala terang
benderang Mo-thian-hong atau puncak gunung Pencakar
Langit, menjulang tinggi menyusup ke dalam awan.
Bermandikan cahaya rembulan, gunung itu tampak
perkasa.
Dengan beberapa loncatan, Gin Liong tiba dimuka
sebuah karang yang tegak melandai, sepanjang karang itu
penuh dengan pohon rotan dan batu2 yang menonjol.
serentak ia enjot tubuh melambung ke udara.
Dengan setiap kali hinggap pada batu karang atau pohon
untuk menggunakannya sebagai landasan melambung lagi
ke atas, akhirnya berhasillah ia tiba di puncak karang.
Tetapi belum lagi ia berdiri tegak, tiba2 terdengar sebuah
bentakan keras:
"Hai, siapa itu !"
Sebatang anak panah segera meluncur. Gin Liong
terkejut. Untung ia masih dapat miringkan tubuh
menghindari anak panah itu.
Lima tombak disebelah muka, muncul seorang lelaki
baju biru yang memutar golok dan lari menyerbu Gin
Liong, Sedang seorang lelaki mencekal anak panah dan
busur tengah tegak berdiri dimuka sebuah genderang
tembaga.
Gin Liong segera menyongsong penyerbu itu, Setelah
menghindari tabasan golok, secepat kilat ia menyelinap
kebelakang dan menutuk punggung orang itu, Bluk, golok
terlepas dan orangnyapun rubuh.
Cepat pula Gin Liong loncat menyerang penyerang
bergolok itu, menjerit dan rubuh, Gin Liong tertawa dingin,
Secepat kilat ia menyerbu kearah orang yang bersenjata
panah.
Orang itu terkejut, cepat ia hendak memukulkan busur
pada genderang, Gin Liong cepat menerkam lengan orang
itu. Tetapi pada saat ia mencengkeram lengan orang
busurpun sudah membentur genderang dan menimbulkan
bunyi yang berkumandang nyaring.
Gin Liong marah. Sekali ayunkan kaki, tubuh orang
itupun terlempar sampai dua tombak jauhnya.
Tetapi genderang telah terlanjur berkumandang dan pada
lain saat sebatang panah api meluncur ke udara, panah api
itu berarti dari sebuah puncak di sebelah muka. Di udara
anak panah api itu meletup dan menghamburkan bunga api.
Dalam beberapa kejap, terdengarlah suara pekik teriakan
yang dahsyat, menyusul tampaklah seratusan buah lentera
bergerak-gerak disegenap penjuru gunung.
Gin Liong tahu bahwa jejaknya telah diketahui, namun
dia tetap tertawa dingin dan lari menuju ke puncak.
Pos penjagaan segera mengetahui gerak gerik Gin Liong,
sebatang anak panah berapi meluncur ke udara dan
muncullah tiga orang menghadang jalan.
Gin liong berputar arah menuju ke sebuah puncak lain,
Tetapi kembali melayang sebatang panah berapi dan
muncul empat orang menghadang jalan.
Gin Liong menggeram. Dengan sekuat tenaga ia berlari
kearah puncak yang tertinggi.
Suara teriakan berhenti, lentera2-pun tak lagi
berguncang-guncang. Tujuh orang yang sedianya
menghadang Gin Liong, terpaksa hentikan langkah.
Rupanya seluruh anak buah gunung Mo-thian-nia
tercengang melihat ilmu ginkang Gin Liong yang luar biasa,
Tiba2 terdengar suitan orang. Sesosok tubuh berpakaian
gerombyong, muncul dari puncak yang pendek tadi dan
berlarian menuju ke arah Gin Liong.
Gin Liong terkejut ia duga orang itu tentu salah seorang
anggauta dari persaudaraan Tio. Ketika Gin Liong tiba di
sebuah jalan melintang, orang itupun sudah tiba di tanah
lapang sebelah muka.
Dibawah sinar rembulan, dapatlah Gin Liong
mengetahui bahwa pendatang itu seorang tua berumur
antara tujuh puluhan tahun, Gin Liong duga orang itu tentu
lotoa atau saudara yang tertua dari persaudaraan Tio.
Saat itu Gin Liong sudah tiba di tanah lapang
demikianpun dengan orang tua itu.
Berpuluh-puluh orang baju biru bersorak-sorai membawa
lentera dan mengepung tanah lapang.
"Hai, budak liar dari mana itu berani tengah malam buta
masuk ke gunung ini !" seru orang tua itu seraya
menghantam," terimalah dulu pukulanku ini!"
Begitu tiba, orang tua itu harus gunakan jurus Lat-biat -
hoa - san atau Menghantam-gunung Hoa-san, menghantam
kepala Gin Liong.
Gin Liong cepat menghindar dan menyelinap ke
belakang orang itu. Tetapi orang tua itupun dengan tangkas
berputar tubuh dan menghantam bahu kiri Gin Liong.
Gin Liong marah sekali, ia tangkiskan tangan kiri, Bum,
orang tua itu terhuyung-huyung sampai tiga langkah
kebelakang.
Sekalian anak buah gunung Mo-thian-san tercengang
menyaksikan peristiwa itu. Bahkan Gin Liong sendiri juga
kesima mengapa persaudaraan Tio yang begitu termasyhur,
ternyata hanya begitu saja kepandaiannya.
"Budak, sambutlah sekali lagi !" seru orang tua itu seraya
menghantam lebih dahsyat.
Kembali Gin Liong menangkis dengan tangan kiri, Bum,
kembali orang tua itu terhuyung.
"Bunuh!" terdengar pekik sorak dari sekeliling lapangan
dan serempak para anak buah kawanan baju biru itu
serempak mencabut senjata dan siap menyerbu.
Bluk, lelaki tua itu jatuh terduduk di tanah, Tiga sosok
bayangan menerobos keluar dari barisan baju biru, lari
menghampiri si orang tua.
Tetapi sejenak menyalurkan napas, orang tua itupun
segera melonjak bangun. Lalu tertawa gelak2.
Ketiga orang tadi terkejut dan buru2 balik kembali
kedalam barisannya.
Tiga ratus anak buah gunung Mothian-nia yang saat itu
sudah mengepung Gin Liong, bersorak gembira ketika
melihat orang tua itu tak kurang suatu apa.
Orang tua itu hentikan tertawanya, mencabut tongkat
besi yang terselip pada pinggangnya dan berseru nyaring:
"Aku situa ini. Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian. sudah
berpuluh-puluh tahun mengembara dalam dunia persilatan,
belum pernah ada orang yang mampu membuat aku jatuh
terjungkir balik...."
Ia tertawa gelak2 lagi dan berseru kepada Gin Liong:
"Budak, engkaulah orang yang pertama..." ia menutup
kata dengan sebuah loncatan kemuka seraya memutar
tongkatnya menghantam pinggang Gin Liong.
Mendengar nama orang tua itu bukan dari persaudaraan
Tio, Gin Liong tak mempunyai selera untuk menempurnya
lagi. serentak ia loncat menyingkir tiga tombak dan berseru:
"Berhenti, lekas panggil saycu keluar !"
"Apabila engkau mampu menangkan tongkat-ku ini,
saycu pasti akan keluar," sahut orang tua Gu itu, ia terus
memutar tongkat dan maju menyerang Gin Liong.
Gin Liong marah. Ia bergeliatan menyusup kedalam
gulungan sinar tongkat.
Di bawah penerangan seratus buah lentera, tiba2
terdengar Gin Liong berseru:
"Lekas panggil saycu-mu !"
Bentakan itu disusul dengan melayangnya tongkat
kearah kawanan anak buah gunung Mo-thian-nia. Dengan
sebuah pukulan, Gin Liong berhasil menghantam tongkat
Cu Ceng Hian sehingga terlepas dari tangannya.
Ketika kawanan anak buah itu hiruk pikuk menyingkir
dari ancaman tongkat, beberapa sosok tubuh lari
menghampiri ke gelanggang pertempuran. Kembali
terdengar sorak sorai menyambut kedatangan orang itu.
Tetapi Cu Ceng Hian sudah tak menghiraukan suatu
apa. Seperti orang gila, dia segera menyerang Gin Liong
dengan tangan kosong.
"Cu Ceng Hian berhenti. Aku hendak menghadapi budak
itu lagi!" seru pendatang itu.
Gin Liong cepat dapat mengenali orang yang loncat
kehadapannya itu sebagai si Thiat-lo han.
Saat itu Gin Liong berhasil mencengkeram tangan
Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian. Tetapi orang tua itu
masih penasaran, Tiba2 ia ayunkan kaki menendang bawah
perut Gin Liong.
Melihat orang tua itu begitu keras kepala, Gin Liong
marah lalu mendorongnya ke muka. Cu Ceng Hian
terhuyung-huyung seperti layang2 putus tali dan tepat
menyongsong kedatangan Thiat-lo-han.
"Celaka...." teriak Thiat-lo-han yang kasar dan
berangasan Tetapi benturan tepat tak dapat dihindarkan,
Bluk, kembali Cu CengHian harus terbanting ke tanah lagi.
"Huh, salahmu, salahmu, bukankah aku sudah suruh
engkau menyingkir Nah, akhirnya kita benturan sendiri !"
seru Thiat-Io-han bersungut-sungut.
Melihat ituGin Liong hampir tak kuat menahan gelinya.
Kali ini Cu Ceng Hian benar2 menderita. Tubuhnya
gemetar, keringat dingin mengucur dan ia terduduk di tanah
tak dapat bangun,
"Cu tua," seru Thiat-lo-hian simuka hitam sambil
menyeringai" jangan engkau penasaran kepadaku tetapi
salahkan budak itu karena telah mendorong tubuhmu
begitu deras, Lihatlah, akan kupukulnya untuk
membalaskan penasaranmu !"
Habis berkata si muka hitam Thiat-lo-han terus berputar
tubuh dan berseru nyaring:
"Budak liar, apa engkau tak mengerti aturan
menghormat orang tua ? Mengapa engkau mendorong si
tua Cu ?"
Tring ia benturkan sepasang senjatanya yaitu pukul besi
segi-delapan, lalu melangkah ke tempat Gin Liong.
Tiba2 dari luar gelanggang terdengar derap lari empat
orang menuju ke tempat pertempuran itu, serentak suasana
hening karena berpuluh-puluh anak buah Mo-thian-san itu
tak berani buka suara lagi.
Si limbung Thiat-lo-han hentikan langkah dan berpaling.
Demikianpun Gin Liong, Segera ia melihat empat orang,
tiga lelaki dan seorang wanita, tegak berdiri pada jarak lima
tombak dari gelanggang.
Lelaki yang berdiri ditengah, berumur sekitar 45-46
tahun, Mengenakan jubah warna emas dan topi dari kulit
harimau tutul. Alis melengkung seperti pedang, mata
menyala, hidung pesek, bibir tipis dan jenggotnya menjulai
sampai ke dada, sepintas pandang menyerupai seorang
hartawan, bukan orang persilatan
Dia adalah pemimpin dari golongan tokoh2 silat aliran
hitam dari Saywa (luar perbatasan), bernama Tio Tok Beng,
gelar Siau-yau-ih-su atau pertapa bebas.
Berdiri disebelah kirinya, seorang lelaki beralis lebat,
mata tajam, hidung panjang dan jenggotnya tebal menjulai
ke dada. Umurnya sekitar 41-42 tahun. Berpakaian ringkas
warna hijau, kopiah kulit bajing, punggungnya menyanggul
sepasang senjataHou-jiu-kong-kau atau sepasang kait baja.
Dia adalah jago nomor tiga dan persaudaraan Tio,
bernama Tio Tok Giam gelar Say-ni-tun. Sepasang kaitnya
sangat dimalui oleh seluruh kaum Lioklim atau Rimba
Hijau, istilah untuk menyebut dunia penyamun.
Dibelakang kedua orang itu adalah Mo-thian-giok-li atau
Bidadari dari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun.
Disampingnya, adalah engkohnya si Bong-kim- kong.
Melihat bahwa yang menyelundup keatas gunung itu
bukan lain pemuda cakap siang tadi, Tio Li Kun tertegun
dan memandang lekat pada Gin Liong.
"Toako," seru si limbung Thiat-lo-han demi melihat Tio
Tek beng, "yang memukul suko santai jatuh dari kuda
adalah budak ini !"
Su-ko yang dimaksud ialah engkoh nomor empat atau
Bong-kim-kong. Sudah tentu Bong-kim-kong merah
mukanya dan cepat berseru marah: "Toako sudah tahu!"
Melihat engkohnya marah, si limbung Thiat-lo-han
menyengir dan tak berani buka suara lagi.
Gin Liong segera mengetahui bahwa yang disebut toako
itu tentulah lelaki yang dandanannya mirip orang hartawan
itu. Cepat ia memberi hormat, serunya:
"Aku yang rendah ini Siau Gin Liong bersama Hoa cici
kebetulan melalui gunung ini. Karena kuda membinal Hoa
cici sampai dibawa kedaerah terlarang dan jatuh dalam
perangkap anak buah markas Mo-thian-nia. Mengingat
kami tak sengaja telah memasuki daerah terlarang dan
gunung ini, maka kumohon saycu suka membebaskan taci
itu, sebelumnya kuhaturkan banyak terima kasih."
Tampak Tio Tek Beng agak tertegun seperti tak tahu
akan peristiwa itu. Kemudian ia berpaling memandang
kearah Cu Ceng Hian yang masih duduk ditanah, serunya:
"Dimana taci siauhiap telah terjatuh dalam perangkap ?"
"Sebelah timur dari mulut lembah ini," sahut Gin Liong.
Tio Tek Giam, jago ketiga, segera berseru: "toako,
menurut laporan dari pos timur bukit, seorang dengan naik
kuda hitam telah masuk kedalam lembah, Karena barisan
panah tak mampu merintangi, terpaksa dilakukan hujan
balok..."
"Yang masuk kedalam lembah itu, adalah aku sendiri !"
seru Gin Liong.
Tio Tek Giam kerutkan dahi, serunya. "Tanpa menurut
peraturan kaum persilatan terus menerobos masuk ke
markas. Tidak menghiraukan segala peringatan yang
diberikan . . ."
Mendengar itu Tio Li Kun gelisah, Kuatir kalau sampai
terbit salah faham, maka cepat2 ia menukas ucapan
engkohnya:
"Sam-ko, kuda dari Siau sauhiap itu seekor kuda
istimewa yang luar biasa pesatnya, Mungkin Siau sauhiap
hendak buru2 menghadap toako..."
"Kuda memang tak kenal aturan, tetapi masakan
demikian juga penunggangnya !" dengus Tio Tek Giam.
Tio Li Kun terkejut ia kuatir Gin Liong tentu marah.
Dan memang benar, Gin Liong berteriak keras seraya
loncat ke muka dan menuding Tio Tek Giam:
"Tutup mulutmu ! Siapa yang engkau katakan tak tahu
aturan itu ?"
Tio Tek Giam jago ketiga dari gunung Mo-thian-san
deliki mata dan membentak:
"Memukul suteku sampai jatuh dari kuda, tengah malam
menyelundup ke gunung, melukai saycu dari puncak timur,
jelas bukan hendak mencari orang tetapi hendak mencari
onar."
Ia berhenti dan tertawa mengekeh: "Kalau saat ini tak
mau mengatakan terus terang, jangan harap engkau dapat
tinggalkan tempat ini."
Mendengar itu Gin Liong menengadahkan kepala dan
menghamburkan kemarahannya dalam sebuah tertawa
yang nyaring dan panjang.
Para anak buah terkesiap bahkan Bong-kim-kong dan
Thiat-lo hanpun tergetar hatinya lalu bersiap-siap turun
tangan.
Diantara kelima persaudaraan Tio yang berada disitu,
hanya Tio Li Kun seorang yang berobah cahaya mukanya,
Dia bingung melihat toakonya diam saja. Padahal ia tak
tahu bahwa sebenarnya toakonya itu sedang
memperhatikan dengan tajam anak muda yang gagah itu.
"Jangankan ratusan anak buah kalian, pun semua alat2
perangkap dari gunung Mo-thian-san ini, tak mungkin
mampu menahan kepergianku." seru Gin Liong.
"Budak bermulut besar...!" teriak Tio Tek Giam seraya
dorongkan kedua tangannya yang telah disaluri dengan
tenaga penuh,
Gin Liong pun menggembor dan ayunkan tangannya
menghantam.
Terdengar suara benturan keras dan tubuh jago ketiga
dari gunung Mo-thian-nia itu terhuyung-huyung beberapa
langkah kebelakang. Tio Li Kun melengking dan loncat
menyanggupi tubuh engkohnya. Dipandangnya Gin Liong
dengan sorot mata tajam.
Tio Tek Beng saudara tertua dari ketujuh jago gunung
Mo-thian-san terkejut, Dilihatnya Gin Liong masih tegak
berdiri dengan wajah tenang.
Ia tak mengira sama sekali bahwa hanya dengan pukulan
sebelah tangan, pemuda itu dapat melemparkan Tio Tek
Giam.
Tio Tek Giam sendiri cepat2 menyalurkan napas, Tetapi
ia dapatkan dirinya tak terluka sama sekali,Mau tak mau ia
memandang jitmoaynya Tio Li Kun dengan terlongong,
"seperti hendak mengatakan: "Eh, mengapa aku tak
menderita luka apa2 !"
"Budak, terimalah palu besiku ini lagi !" tiba2 si limbung
Thiat-lo-han berseru seraya loncat dan menghantam dengan
kedua palu besinya.
Yang kiri menghantam lambung Gin Liong, palu besi
yang kanan menghantam kepala pemuda itu. sekaligus ia
lancarkan dua jurus serangan.
Gin Liong hanya tertawa dingin, Sekali bergeliat ia
sudah menyelinap dibelakang orang limbung itu. Tetapi dia
tak mau menyerangnya.
Si limbung Thiat-lo-han terlongong-longong karena
sasarannya tiba2 hilang. Dia baru terkejut ketika engkohnya
nomor empat yakni Bong-kim-kong berteriak: "Lo Ngo,
dibelakangmu...!"
Thiat-lo-han gelagapan dan cepat memutar sepasang
palu besi dihantamkan ke belakang, seraya berseru angkuh:
"Aku memang sudah tahu...."
Tetapi alangkah kejutnya ketika Gin Liong tak berada
dibelakang.
"Kurang ajar, engkau sembunyi di belakang lagi...." kali
ini dia tak mau berputar tubuh melainkan lontarkan palu
besi sebelah ke belakang.
Entah bagaimana terhadap orang limbung itu Gin Liong
tak sampai untuk turun tangan, Begitu ia loncat ke belakang
si limbung dan baru saja berdiri tegak, tiba2 palu besi sudah
menyambar ke mukanya. Dalam kejut Gin Liong pijakkan
kaki ke tanah dan melambung sampai tiga tombak ke udara.
Mo thian-giok-li Tio Li Kun berteriak kaget.
Seluruh anak buah gunung Mo-thian sanpun memekik
gempar.
Masih di tengah udara, Gin Liong sempatkan diri untuk
melihat apa yang terjadi, Ternyata palu besi yang dilontar si
limbung Thiat-lo-han tadi karena luput mengenai Gin
Liong, melayang kearah Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian
yang masih duduk ditanah.
Tongkat-halilintar mendelik ketika melihat mukanya
akan disambar palu besi. Cepat ia gunakan ilmu Kiu-te-sippat-
kun atau Delapan belas kali berguling guling di tanah.
Dia berhasil bergelundungan sejauh tiga tombak, Lalu
hantamkan kedua tangannya ke tanah dengan meminjam
tenaga pukulan itu tubuhnya melambung dua tombak ke
udara. Berhasillah ia menghindar palu besi dengan indah
sekali.
Bum . . . . palu besi itu tepat menghantam tempat bekas
diduduki Cu Ceng Hian tadi. Tanah muncrat, pasirpun
berhamburan ke empat penjuru.
Ketika melayang turun ke tanah, Cu Ceng Hian berdiri
dengan wajah pucat, keringat mengucur deras.
Mendengar teriakan gempar tadi, si limbung Thiat-lo-han
mengira kalau timpukan palu besinya mengenai Gin Liong.
Cepat ia berpaling dan . . .
"Hua, hua, hua . . . ." si limbung memekik-mekik seperti
orang kalap ketika melihat apa yang terjadi.
"Lo-naynay datang !" tiba2 kelompok anak buah Mothian-
san sebelah selatan berseru. serentak merekapun
menyingkir kesamping untuk memberi jalan.
Siau-yau-ih-su Tio Tek Beng, Say-ni-tun Tio Tek Giam
serentak terkesiap, Thiat-Io-hanpun berhenti memekikmekik.
Tio Li Kun dan Cong-kim-kong lari menyambut!
Gin Liong hanya memandang dengan penuh keheranan,
jauh di sebelah selatan, tampak tiga sosok bayangan berlari
pesat seperti terbang.
Yang dimuka, seorang wanita tua berumur 80-an tahun,
wajahnya ramah, memegang sebatang tongkat perak.
Dibelakangnya, seorang pemuda berumur 26-27 tahun,
berwajah cakap dan mengenakan pakaian sutera putih.
Pemuda itu adalah engkoh keenam dari Tio Li kun.
Namanya Tio Tek Cun bergelar Siau-bun-hou.
Sedang yang seorang lagi seorang budak perempuan
yang lincah dan masih kekanak-kanakan Berpakaian warna
merah tua.
Begitu wanita tua itu tiba maka ratusan anak buah
gunung Mo- thian-san segera bersorak riuh: "Lo-naynay,
terimalah hormat kami..."
Wanita tua itu tersenyum seraya mengangkat tangannya
memandang ratusan anak buah Mo-thian-san, lalu memberi
anggukan kepala.
Tio Li Kun dan Bong-kim kong serta merta berseru :
"Mah . . ."
Demikian pula dengan Tio Tek Beng dan Tio Tek Giam.
Mereka bergegas menghampiri dan memberi hormat
kepada mamahnya dan Cu CengHian demikian juga.
Si Limbung Bong-kim kong lalu menghampiri wanita tua
itu dan berseru: "Mah mengapa engkau tak membaca kitab
saja tetapi datang kemari ?"
Wanita tua itu berpaling memandang puteranya yang
tolol, tertawa ramah:
"Kudengar kalian sedang ribut2 dengan orang, Maka
kuajak adikmu Tek Cun dan Siau Hoan menjenguk
kemari."
Kemudian wanita itu berpaling dan bertanya kepada
puteranya yang paling tua:
"Beng-ji, apakah yang terjadi disini?" Tio Tek Beng
segera memberi keterangan bahwa malam itu seorang nona
telah tersesat masuk ke daerah terlarang gunung Mo-thiansan
dan tertangkap, sekarang adiknya datang ke sini.
"Mah, itulah Siau sauhiap," cepat Tio Li Kun menukas
seraya memeluk tubuh ibunya dan menunjuk Gin Liong.
Gin Liong mempunyai kesan baik terhadap wanita tua
yang berwajah ramah itu. Waktu dirinya ditunjuk Tio Li
Kun, ia terus berjalan menghampiri wanita tua itu.
Terkesiap wanita tua itu demi melihat seorang pemuda
berwajah cakap dan terang, menghampiri ke tempatnya. ia
mempunyai kesan baik lalu memandang Tio Li Kun, puteri
tunggalnya, Dilihatnya puterinya tersipu-sipu merah
mukanya. Diam2 wanita tua itu girang hatinya, ia
tersenyum.
"Budak perempuan, bukan saja engkau, tetapi mamah
pun ingin lekas2 melaksanakan harapanmu," katanya dalam
hati.
Rupanya Tio Tek Beng tahu akan gerak-gerik adik
perempuannya, segera ia berpaling dan mengisiki Tongkathalilintar
Cu Ceng Hian. Orang she Cu itu mengangguk
lalu melangkah masuk ke-dalam barisan anakbuahnya.
"Boanpwe Siau Gin Liong menghaturkan hormat
kehadapan locianpwe," seru anak muda itu manakala sudah
tiba dihadapan wanita tua.
"Ah, harap Siau sauhiap jangan pakai banyak
peradatan," kata wanita tua seraya tertawa gembira.
Kemudian mata nyonya Tio tua itu menelusuri tubuh
Gin Liong dengan penuh perhatian, seolah-olah seperti
seorang mertua yang sedang menaksir-naksir seorang
menantu.
Si limbung Thiat lo-han maju selangkah dan berkata:
"Mah, yang memukul suko jatuh dari kuda adalah
pemuda ini."
Melihat dirinya dilaporkan pada mamahnya, sudah tentu
Bong-kim-kong marah. ia mendengus geram: "Hai. sute,
mana palu besi milikmu!"
"Huh, inilah," seru si limbung seraya menunjukkan
kedua palu besinya. Tetapi ketika melihat palu besinya itu
berlumuran lumpur, baru2 ia membersihkan dengan ujung
bajunya seraya menggerutu: "Huh, si Cu tua itu hanya
mengambilkan palu besi ini tetapi tak mau membersihkan."
Melihat tingkah laku dan ucapan si limbung, Gin Liong
tak kuasa menahan gelinya.
Tio Li Kun tersipu-sipu malu, ia mengira Gin Liong
menertawakan dirinya karena pemuda itu sudah dapat
mengetahui isi hatinya.
Rupanya nyonya Tio tua amat sayang kepada puteranya
yang limbung itu, ia tak mau mendampratnya melainkan
berpaling memandang Gin Liong lagi.
"Siapakah nama yang mulia dari suhu Siau sauhiap ?"
tanyanya,
Dengan sikap menghormat Gin Liong memberitahu
nama gurunya, Karena nyonya Tio tua itu sudah
mengundurkan diri dari keramaian hidup dan tekun
membaca kitab suci, ia girang mendengar guru Gin Liong
itu juga seorang paderi, Liau Ceng taysu.
Tiba2 Gin Liongpun teringat akan kematian yang
mengenaskan dari suhunya. Ingin sekali ia cepat2 menuju
ke Hong-shi untuk menemui Ban Hong Liong-li.
Serentak ia menyatakan kepada nyonya Tio tua bahwa ia
masih mempunyai suatu urusan penting sehingga tak dapat
tinggal lebih lama disitu. ia minta agar Mo Lan Hwa
dibebaskan.
"Setelah urusan selesai, boanpwe tentu akan
mengunjungi gunung ini lagi untuk mengaturkan hormat
kepada locianpwee dan minta maaf kepada para saycu
disini." katanya. Sebagai penutup, ia membungkukkan
tubuh memberi hormat.
Mendengar sikap Gin Liong begitu berduka atas
kematian suhunya tahulah nyonya Tio bahwa pemuda itu
seorang yang berbudi luhur. Diam2 wanita tua itu makin
puas.
Demi mendengar Gin Liong hendak buru2
menyelesaikan urusannya, walaupun tahu Tio Li Kun tentu
akan kecewa, tetapi nyonya Tio tak mau mempersulit
pemuda itu.
"Beng ji, dimanakah taci Siau sauhiap sekarang ?"
tanyanya kepada Tio Tek Beng.
"Mah, soal itu harus ditanyakan kepada Cu hun-saycu.
Toako tak tahu nona Siau berada di mana," tiba2 Tio Li
Kun menyeletuk.
Mendengar itu Gin Liong tampil ke depan dan
menjelaskan: "Taci Hoa itu bukan orang she Siau. Dia she
Mo, namanya Lan Hwa."
Mendengar itu Tio Tek Cun yang sejak datang tak
pernah buka suara, serentak maju ke muka dan berseru:
"Siau sauhiap, Mo Lan Hwa itu apakah bukan siau -
sumoay dari Pipa-emas Hok To Beng?"
"Ya, benar memang nona itu," seru Gin Liong berseri
girang.
Tetapi ketujuh saudara Tio serentak berobah mukanya,
Tio Tek Cun serentak berpaling mencari Cu Ceng Hian,
Kebetulan orang she Cu itu tengah bergegas muncul dari
barisan anakbuahnya.
"Mo Lan Hwa?" seru Tio Tek Cun.
Cu Ceng Hian tertegun.
"Nona yang keliru memasuki daerah terlarang itu adalah
siau-sumoay dan Pipa-emas Hok To Beng ialah nona Mo
Lan Hwa..." seru nyonya Tio tua pula.
Cu Ceng Hian tenangkan diri dan memberi keterangan:
"Tadi ji-saycu Tin Kwun Tong kebetulan datang ke gunung
timur, Demi melihat nona itu berada dalam jaring, ia
berteriak menyebut "siau-moay" lalu membuka jaring itu
sendiri dan mengajak si nona pulang ke markas.
"Mah, aku hendak pulang memeriksanya," bergegas Tio
Tek Cun berkata lalu lari menuju ke puncak di sebelah
muka.
Melihat ke tujuh saudara Tio itu agak gugup ketika
mengetahui Mo Lan Hwa itu adik seperguruan dari Pipaemas
Hok To Beng, Gin Liong segera memberi penjelasan:
"Adalah karena kudanya binal maka taci Hwa sampai
masuk daerah terlarang dan terjerumus dalam jaring
perangkap, Soal itu tak dapat menialahkan siapa2..."
"Mungkin Siau sauhiap belum jelas akan keadaan yang
sebenarnya. Nona Mo itu sangat disayang sekali oleh ketiga
tokoh Swat-thian Sam-yu. Mereka menurut saja apa yang
nona itu minta. Apabila peristiwa ini sampai terdengar oleh
Swat-thian Sam-yu, wah, runyam juga, Pipa-emas dan
Kakek Pemabuk, masih dapat dilayani, Tetapi si gila Hongtian-
soh itu paling sukar dihadapi. Dia paling sayang
kepada siau-sumoaynya nona Mo Lan Hwa," Siau-yau ihsu
Tio Tek Beng cepat menjelaskan.
"Maka setiap orang yang tahu akan hubungan mereka,
tak ada yang berani mengganggu nona Mo," ia
menambahkan pula.
Gin Liong termenung. Tiba2 ia melihat wajah Tio Li
Kun tidak senang tadi, Iapun mendapat kesan bahwa nona
jelita itu lebih anggun wajahnya dari Ki Yok Lan.
Rupanya si limbung Thiat-lo-han tak puas mendengar
keterangan toakonya, ia membenturkan sepasang palu
besinya dan mendengus marah:
"Hm, apa itu Pipa-emas, Pipa-perak dan Swat-thian Samyu.
Begitu berjumpa dengan aku si Thiat-lo-han ini tentu
akan kuhajar dengan sepasang palu besiku ini !"
"Tolol, jangan menggila. Mari kita lekas pulang untuk
menjenguk nona Mo itu. Sudahlah, apabila peristiwa ini
terdengar Swat-thian San-yu akulah yang akan
menghadapinya," kata nyonya Tio tua.
Kemudian dengan wajah yang ramah, nyonya tua itu
mengajak Gin Liong ke markas karena Mo Lan Hwa sudah
berada disana.
Gin Liong meragu. ia teringat akan sumoaynya, Ki Yok
Lan. yang menunggu di hotel dalam kotaHong-shia.
"Apakah Siau sauhiap masih ada urusan lain lagi ?"
tanya Tio Tek Beng.
Dengan terus terang Gin Liong menerangkan tentang
sumoaynya yang menunggu di hotel kota Hong-shia,
Apabila besok pagi2 ia tak datang, sumoaynya tentu
gelisah.
"Menginap di hotel apakah sumoay Siau sauhiap itu ?"
tanya Tio Tek Giam.
"Hotel Ko Liong." sahut Gin Liong.
Mendengar itu Tio Tek- Giam segera minta kepada
toakonya supaya melepas burung dara pembawa surat,
memberitahu kepada ketua cabang di kota Hong-shia
supaya besok pagi2 mengirim orang menemui nona Ki dan
memberitahukan bahwa Siau Gin Liong berada di markas
persaudaraan Tio di gunung Mo-thian-san.
Tio Tek Beng menyetujui Gin Liong menghaturkan
terima kasih kepada persaudaraan Tio atas bantuan mereka.
Demikianlah nyonya Tio dengan diiringi oleh putera
puterinya dan seluruh anak buah gunung Mo-thian-san
segera membawa Gin Liong menuju ke markas besar.
Markas itu terletak dalam lembah. Terdiri dari beberapa
bangunan gedung yang indah, setelah melalui beberapa
bangunan dan lorong akhirnya masuklah mereka kedalam
sebuah gedung. Disitu telah menunggu para menantu dari
nyonya Tio tua.
Ternyata memang Mo Lan Hwa sudah menunggu dalam
ruang itu. pertemuan itu amat menggembirakan sekali.
Tengah mereka bercakap-cakap, tiba2 masuklah si
limbung Thiat-lo-han terus langsung menunjuk kepada Mo
Lan Hwa:
"Mah, nona ini mengendarai kuda menerobos penjagaan
anak buah kita, Kelak dia tentu akan menjadi seorang
nyonya gila !"
"Lo Ngo, mengapa engkau begitu kurang adat terhadap
nona Mo !" seru nyonya Tio tua seraya gentakkan
tongkatnya ke lantai, "hayo, lekas minta maaf kepada nona
Mo !"
Melihat mamahnya marah, si limbung Thiat-lo-han
termangu-mangu. ia segera minta maaf kepada Mo Lan
Hwa.
Nyonya Tio tuapun segera menyuruh menyediakan
hidangan untuk menghormat kedua tetamunya.
Gin Liong tahu bahwa nyonya Tio tua itu dahulu adalah
pendekar wanita Lok-yang li-hiap yang termasyhur ia
makin menaruh hormat kepada nyonya tua itu.
Demikian pula dengan nyonya Tio tua. Tahu bahwa Gin
Liong itu murid dari Pelajar-muka-tertawa Kiong Cu Hun,
ia semakin berkenan dalam hati.
Diam2 putera2 juga tahu bahwa mamahnya itu amat
setuju dengan Gin Liong. Bahkan si limbung Thiat-lo-han
yang suka bicara secara blak-blakan pun tahu kalau
mamahnya suka kepada pemuda itu.
"Mah, kulihat engkau malam ini sangat gembira sekali,
mulut terus terbuka tertawa-tawa saja. Kalau memang suka,
mengapa tak memungut budak laki itu sebagai putera
angkat ?"
Mendengar itu gemparlah suasana perjamuan. Semua
mata mencurah kearah si limbung.
Si limbung melongo.
Sekonyong-konyong dengan muka berseri tawa, Gin
Liong berbangkit dan melangkah kehadapan nyonya Tio
tua lalu memberi hormat:
"Mah, terimalah hormat dari Liong-ji," katanya seraya
terus berlutut dan menghaturkan hormat sampai empat kali.
Nyonya Tio tua sangat gembira sekali sehingga ia
tertawa mengucurkan airmata.
Nyonya itu segera minta Gin Liong bangun dan berdiri
disampingnya. Putera2nya gembira sekali dan memberi
selamat kepada mamahnya.
Demikian upacara pengangkatan putera itu berlangsung
dalam suasana yang menggembirakan.
Saat itu hari sudah menjelang terang tanah dan Gin
Liongpun segera minta diri hendak kembali ke kota Hongshia.
"Ah, engkau masih muda belia, belum berpengalaman
dalam dunia persilatan. Aku sungguh kuatir engkau seorang
diri berkelana dalam dunia persilatan itu." kata nyonya Tio
tua.
"Mah, sudah lama aku tak keluar dari gunung. Aku ingin
menemani Liong-te turun ke dunia persilatan," tiba2 si
cantik Tio Li Kun berkata.
Tio Tek Beng segera mendukung: "Jika demikian mamah
baru legah pikirannya."
Mendengar itu nyonya Tio tua mengangguk setuju.
"Mah, aku juga kepingin bersama-sama Liong te..." seru
si limbung Thiat-Io han.
Tetapi nyonya Tio menolak.
Mendengar mamahnya setuju, Tio Li Kun girang sekali.
Segera ia suruh pelayan menyediakan kuda.
"Adik Liong, turunlah dulu mencari kedua ekor kuda
kita, Aku dan taci Li Kun akan menunggumu di mulut
lembah," kata Mo Lan Hwa.
Tiba2 Tio Tek Cun masuk dengan membawa sehelai
kertas, serunya: "Toako, celaka !"
"Mengapa, Liok-te?" seru Tio Tek Beng.
Tio Tek Cun menyerahkan surat kepada toa-konya lalu
berpaling kearah Gin Liong:
"Liong-te, sumoaymu itu apa bukan dara yang berumur
17 tahun."
"Ya, kenapa?" tanya Gin Liong.
Sambil menunjuk kearah surat yang dipegang toakonya,
Tio Tek Cun berkata cemas:
"Menurut surat dari ketua cabang kita di Hong-shia,
semalam seorang dara baju putih yang bermalam di hotel
Ko Liong telah berkelahi dengan Hun-tiap Sam-long, salah
seorang tokoh dari kedelapan Thiat-san Patkoay, Pagi tadi
jongos hotel mengatakan bahwa dara baju putih sudah
menghilang."
Setelah selesai membaca surat, berkatalah Tio Tek Beng:
"Rupanya nona Ki tentu ditawan oleh penjahat cabul itu."
Mendengar itu merah padamlah muka Gin Liong,
Segera ia menghampiri ke harapan nyonya Tio dan mohon
diri.
Setelah memberi hormat, ia terus melesat keluar.
"Liong-te, tunggu," seru Tio Tek Beng, Gin Liong
hentikan langkah, "Harap Liong-te jangan gegabah, Thiatsan
itu sangat berbahaya, Kedelapan Thiat-san Pat-koay
itupun teramat ganas sekali..."
"Baiklah, harap toako jangan kuatir," kata Gin Liong,
"sekalipun Thiat-san itu sebuah neraka, aku tentu dapat
mengobrak abriknya."
Habis berkata Gin Liong terus melesat pergi "Liong-ji,
hati-hatilah," nyonya Tio seraya menyuruh Tio Li Kun
segera menyusul pemuda itu, "lekas kalian berdua
menemani Liong ji."
Tio Li Kun dan siau Hoan girang sekali. Sambil menarik
tangan Mo Lan Hwa, Tio Li Kun berseru kepada Tio Tek
Cun : "Liok-ko, mah kita segera berangkat."
Mereka bertiga segera melesat keluar.
Melihat liong-te dan jit-moaynya pergi, si limbung Thiat-
Io hanpun minta ijin kepada mamahnya.
Karena kuatir Gin Liong tak cukup tenaganya. nyonya
Tiopun mengijinkan si limbung Thiat-lo-han ikut.
Tek Cun naik kuda merah dan sijelita Tio Li Kun naik
kuda putih, Sedang Mo Lan Hwa mengikuti dibelakang
kuda putih itu. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya
Gin Liong pun tiba dengan naik kuda hitam dan kuda
hitam kaki putih.
Mereka segera berangkat turun gunung, Rupanya Gin
Liong terburu-buru sekali hendak mengetahui berita
sumoaynya, ia mencongklangkan kuda hitamnya dan
meninggalkan ketiga kawannya di belakang.
Tiba di kota Hong-shia.Mo Lan Hwa bertiga tak melihat
bayangan Gin Liong lagi, Mereka segera mencari rumah
penginapan Ko Liong.
Ternyata Gin Liong memang sudah berada disitu, Gin
Liong menerangkan bahwa laporan kepala cabang itu
memang benar, Ki Yok Lan sudah lenyap.
Mereka berempat segera meninggalkan kota Hong-shia.
Tetapi mereka dikejutkan oleh munculnya si limbung Thiat
lo-han. Si limbung tertawa-tawa girang sekali karena dapat
bertemu dengan keempat anak muda itu.
"Hai, siapa yang suruh engkau menyusul ?" tegur Tio Li
Kun.
"Mamah," sahut si limbung, "bukankah kalian hendak
menuju ke gunung Thiat-san ? Hayo, aku yang menjadi
penunjuk jalan."
Tengah hari mereka tiba di Pak-kwan. Si limbung
menggerutu panjang pendek karena perutnya lapar,
Akhirnya Gin Liong setuju untuk beristirahat mengisi perut
disebuah rumah makan.
Si Limbungpun segera pesan beberapa macam hidangan
yang lezat. Dalam pada itu Gin Liong memperhatikan
bahwa para tetamu rumah makan itu kebanyakan adalah
orang2 persilatan dan kaum pedagang.
"Orang tua itu memang aneh sekali. Beberapa hari yang
lalu katanya berada di sebuah lembah gunung Tiang-peksan,
kemarin sudah lari lagi ke Tay-sip-kiau . .. ." kata
seorang tetamu.
Gin Liong tertarik perhatiannya dan melirik. Disebelah
meja di tengah ruangan, penuh diduduki orang2 persilatan.
Ada yang tua ada yang muda. Dan yang bicara itu adalah
seorang lelaki pertengahan umur, berwajah merah.
"Keadaan orang tua itu memang aneh, Asal jangan
mengganggu cermin pusakanya, dia pun diam saja. Tetapi
kalau cermin itu di ganggu, baru dia akan membunuh."
Kemudian orang itu berkata kepada siorang tua: "Tio
lopeh, kalau pergi ke sana kita hanya melihat-lihat saja,
jangan sekali2 ikut turun tangan."
Yang dipanggil paman Tio itu tertawa : "Peristiwa itu
sebenarnya sudah diketahui oleh dunia persilatan. Hanya
saja, sampai saat ini belumlah seorangpun yang tahu siapa
sesungguhnya orang tua pembawa cermin itu. Yang mati
tempo hari ialah si Pengemis-jahat-kaki-telanjang, paderi
Hoa dan nenek buta Tongkat-burung-bangau."
Ia menghela napas, kemudian melanjutkan "Kabarnya
saat ini Kim-piau Ma Toa Kong dari partai Tiam-jong-pay,
Bu Tim cinjin dari Kiong-lay-pay dan seorang lotiang dari
Kong-tong-pay menuju ke Tay-sip-kiau."
Tertarik hati Gin Liong akan percakapan itu. Asal
menuju ke Tay-sip-kiau, ia tentu dapat menemukan orang
itu, Tetapi saat itu ia harus ke gunung Thiat-san untuk
membebaskan sumoay nya.
Pembicaraan orang2 yang berada di meja tengah itu,
kebanyakan berkisar tentang diri orang tua pembawa
cermin Gin Liong dapatkan Mo Lan Hwa dan kawan2,
juga mendengarkan dengan penuh perhatian. Hanya si
limbung Thiat-lo-han yang masih enak2 melahap ayam
panggang dan arak.
Tiba- Gin liong terkejut karena melihat Siau-bun-hou Tio
Tek Cun tengah memandang kebelakang tubuhnya dengan
mata berapi-api. Ketika Gin Liong berpaling dilihatnya tak
jauh dari tempat duduknya, dua orang paderi dan imam
sedang duduk menghadapi pinggang dan cawan arak yang
sudah kosong, Rupanya mereka sudah kenyang makan
minum.
Si paderi mengenakan jubah hitam, punggungnya
menyanggul sebatang senjata macam sekop yang diikat
dengan gelang. Alis tebal mata besar,Matanya berkilat-kilat
jahat.
Si imam mengenakan jubah bersulam patkwa,
menyanggul pedang pada punggungnya, Sepasang matanya
yang jelalatan menandakan dia seorang yang licik dan
ganas.
Kedua paderi dan imam itu memandang tak berkedip
kearah Mo Lan Hwa. Mulutnya berkomat-kamit seperti
menelan air liur.
Sudah tentu Gin Liong marah tetapi karena ia tak ingin
menimbulkan onar, maka memberi isyarat mata kepada
Tek Cun supaya bersabar.
"Hm..." walaupun menurut tak urung Tek Cun
mendengus geram untuk menyalurkan kemarahannya.
Mendengar itu Thiat-lo-han berpaling, Tetapi saat itu
Gin Liong cepat menuang arak pada keempat kawannya.
Melihat arak, Thiat lohan lupa malah. Segera ia
menyambar dan terus meneguknya
Tio Tek Cun serta mertapun segera menghaturkan arak
kepada Mo Lan Hwa. Nona itu diam2 memperhatikan
sikap Tek Cun yang begitu hangat dan mesra kepadanya.
Diam2 Gin Liongpun memperhatikan bahwa sejak
kemarin malam, memang Tek Cun sangat menaruh
perhatian istimewa terhadap Lan Hwa, ia membayangkan
bahwa kedua muda mudi ini memang merupakan sejoli
yang amat cocok sekali. Apabila keduanya dapat terangkap
jodoh, wah, iapun ikut gembira.
Memikir sampai disitu, diam2 Gin Liong seperti terlepas
dari suatu tindihan asmara.
Bidadari-Mo thian-san Tio Li Kunpun memperhatikan
betapa mesra engkohnya Tek Cun itu bersikap terhadap
Lan Hwa. Pun ia memperhatikan bahwa dalam soal itu
ternyata Gin liong malah mendukung. Dengan demikian
timbullah harapan makin besar hati bidadari dari gunung
Mo-thian-san itu terhadap Gin Liong.
Tetapi dikala membayangkan betapa girang Gin Liong
memikirkan sumoaynya, diam-diam hati Tio Li Kun agak
rawan.
Setelah seusai makan dan membayar rekening, mereka
dapatkan kedua paderi itu sudah pergi.
"Kedua paderi dan imam itu tentu murid2 perguruan
agama yang bejat," kata Gin Liong.
"Kita masih mempunyai urusan penting yang harus
dikerjakan lebih baik, jangan cari perkara lain,"
"tiba2 si jelita Tio Li Kun menyeletuk.
"Hai, urusan apa ?" tiba2 si limbung Thiat-lo-han
berseru.
"Bukan urusanmu !" tukas Tio Li Kun.
Gin Liong segera mengajak kawan-kawannya berangkat.
Kelima kuda mereka lari secepat angin. Baru melintasi dua
buah puncak gunung, kuda hitam yang dinaiki Gin Liong
meringkik keras. Ternyata tak jauh di sebelah muka,
tampak dua ekor kuda sedang berjajar menghadang jalan.
Siapa lagi kalau bukan kedua paderi dan imam yang makan
di rumah makan tadi.
"Kedua manusia itu rupanya memang sudah bosan
hidup," kata Tek Cun.
"Aku saja yang mengantar mereka pulang ke akhirat,"
tiba2 si limbung Thiat-lo-han berseru, mencabut sepasang
palu besi.
Paderi dan imam itu tertawa gelak2, serunya: "Aha,
ternyata Budha telah memberi kemurahan kepada kami
berdua untuk mendapatkan apa yang kita ingini"
Mereka mencabut senjata dan memutar-mutar jual
kegarangan.
Kuda hitam, kuda hitam kaki putih dan kuda putih tiba2
meringkik keras dan menerjang kemuka dan wut, wut, wut,
ketiga ekor kuda itupun loncat ke udara melayang
melampaui kepala kedua paderi dan imam,
Kedua paderi dan imam itu pucat wajahnya menjerit dan
tundukkan kepala, Keringat dingin mengucur deras.
"Hai, lihatlah pusakaku !" teriak si limbung Thiat-lo-han
seraya melemparkan kedua palu besi kearah kedua orang
itu.
Paderi dan imam makin menjerit kaget dan loncat dari
kuda, berguling-guling ke tepi jalan.
Bum, sepasang palu besi itu menghantam tanah,
menimbulkan debu dan pasir yang menutupi pemandangan.
Tar, tar . . . . kembali terdengar cambuk menggelegar di
udara, Kedua paderi dan imam itu terkejut tetapi mereka
tak dapat menghindar dari cambuk lagi. Cambuk si limbung
Thiat-lo-han dan Tek Cun masing2 telah menghajar kepala
kedua paderi dan imam itu sehingga mereka berkunangkunang
matanya, menjerit-jerit lari menghampiri kuda, lalu
melarikan diri.
Tetapi kembali mereka harus berhadapan dengan dua
orang penghadang. Hanya saja, kali ini mereka tidak
terkejut ketakutan melainkan tertawa gembira sekali.
Kedua penghadang itu bukan lain adalah Mo Lan Hwa
yang naik kuda hitam kaki putih serta Tio Li Hwa yang
naik kuda putih.Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun memainkan
pedangnya dengan gencar dan tengah mengancam kedua
paderi dan imam itu.
Jika tadi dalam rumah makan mereka begitu bernafsu
sekali melihat Mo Lan Hwa yang cantik, Saat itu mereka
rontok nyalinya ketika melihat ilmu permainan pedang
kedua jelita yang begitu hebat.
"Li-posat, ampunilah jiwa kami . . . ." belum selesai
mereka berkata, dua sinar pedang melayang dan menjeritlah
mereka karena kepala mereka terbang dari tubuhnya.
"Ho, mereka sudah pulang ke akhirat, tetapi kita belum
tahu namanya. Bagaimana kalau kelak kita akan
menyambangi mereka?" sambung Thiat-lo-han menggerutu.
"Sudahlah ngo-ko," seru Tek Cun, "lain kali jangan
mengeluarkan pusakamu lagi, jangan sekali-kali suka
melemparkan senjatamu. Kalau lawan dapat menghindar
dan menyerangmu, bukankah engkau akan menghadapi
kesulitan ?"
Si limbung turun dari kuda, memungut sepasang palu
besinya dan tanpa berkata terus lompat keatas punggung
kudanya lagi.
Dikala baru saja matahari terbenam, mereka tiba di desa
Ban hok-cung.
Walaupun sebuah desa, tetapi Ban-hok-cung amat ramai.
Demikian pula pada waktu malam, ramai sekali.
Tek Cun memilih sebuah rumah penginapan besar dan
memilih tiga buah ruang, Ruang tengah ditempatinya
bersama Gin Liong, Kamar samping kanan oleh Tio Li Kun
dan Lan Hwa. Sedang kamar kiri ditempati si limbung
Thiat-Io-han sendiri.
Malam itu mereka berlima tidur dengan kenangan
masing2.
Gin Liong gelisah memikirkan pembunuh suhunya,
keselamatan sumoaynya dan tempat beradanya Ban Hong
Liong-li.
Siau-bun-hou Tio Tek Cun gelisah dirangsang getar2
asmara. Sudah dua tahun ia memendam asmara kepada Mo
Lan Hwa.
Bidadari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun gulak-gulik
tak enak tidur karena memikirkan Gin Liong, pemuda yang
telah mencuri hatinya, kini pemuda itu berada dekat sekali
tetapi bagaimanakah ia dapat mengutarakan perasaan
hatinya.
Mo Lan Hwapun menyesali nasibnya, Dia marah karena
Gin Liong bersikap dingin kepadanya, Karena dendam
cemburu, maka ia sampai hati merancang rencana sehingga
sidara cantik Ki Yok Lan jatuh ke tangan orang jahat, Kini
ia menyesal dan menangis.
Keesokan harinya ketika melihat mata Mo Lan Hwa
membendul bekas menangis, Gin Liong heran dan tak enak
hati.
Tek Cun ingin menghibur tetapi tak tahu bagaimana cara
memulai kata-katanya. Demikian pula dengan Tio Li Kun.
Waktu makan pagi hanya si limbung Thiat-lohan yang
kurang tidur nyenyak semangatnya segar, makan paling
banyak sendiri.
Singkatnya, mereka telah tiba di gunung Thiat-san. Tiga
penjuru gunung itu merupakan laut sehingga sukar untuk
mendaki keatas. Secara terang-terangan datang berkunjung
melalui pintu muka, tentu sukar diterima. Dan hal itu
hanya akan mengejutkan lawan saja. Maka diputuskan
akan naik pada waktu malam, Setelah menolong Ki Yok
Lan, baru nanti membasmi kawanan penjahat gunung itu.
Untuk menghilangkan kecurigaan musuh, mereka
mereka mengambil jalan kecil di sebuah desa. Petang hari
mereka sudah tak jauh dari kaki gunung. Dan pada waktu
malam itu mereka memasuki sebuah desa kecil yang terdiri
hanya beberapa buah rumah. Saat itu sepi sekali, penduduk
disitu sudah tidur.Mereka berhenti di sebuah rumah batuan
dan mengetuk pintu. Seorang kakek tua berumur 70-an
tahun membuka pintu. Tok Cun menyatakan bahwa dia
bersama beberapa saudaranya hendak minta tolong
meniupkan kuda.
Melihat kelima tetamunya itu bersikap sopan dan
menghormat, orang tua itu mempersilahkan mereka masuk.
Lima orang pemuda muncul dengan membawa lentera.
"Bawalah kelima ekor kuda tetamu kita ini ke belakang
dan beri makan secukupnya," kata orang tua itu.
Setelah menghaturkan terima kasih, kelima pemuda
itupun segera pergi dalam malam gelap, Setelah berunding
sejenak, mereka segera gunakan ilmu lari, dan tak berapa
lama tiba di kaki gunung sebelah utara.
Gunung Thiat-san mempunyai bentuk seperti seorang
raksasa hitam. Sejenak merenung, diam2 Gin Liong
teringat akan peringatan Swan yau-ih-sa Tio Tek Beng
bahwa gunung Thiat-san itu amat berbahaya sekali.
Kemudian mereka mulai mendaki. Gin Liong dan Tek
Kun di muka, Lan Hwa dan Li Kun di tengah, sedang si
limbung Thiat-Io-han di belakang.
Mereka tiba disebelah karang terjal yang menjulang
tinggi. Udara berselimut kabut tebal sehingga sukar melihat
diatas jarak empat puluh tombak.
Untuk menghindari serangan senjata gelap, mereka satu
demi satu melambung ke atas puncak. Pertama tama yang
enjot tubuh ke udara adalah Gin Liong. Karena
pengalaman di gunung Mo-thian-nia, begitu tiba dipuncak
karang itu segera ia bersembunyi dibalik segunduk batu.
Baru tiba dibelakang batu, hidungnya sudah terdampar
bau yang harum, Ketika berpaling ternyata si jelita Tio Li
Kun sudah berada di sampingnya Keduanya saling
mengangguk tertawa.
Setelah itu baru Mo Lan Hwa. Tek Cun dan terakhir si
limbung Thiat-lo-han.
Sampai pada jarak dua-puluhan tombak di sebelah muka,
hanya gunduk2 batu yang aneh bentuknya, suara ombak
mendebur yang terdengar.
Mereka segera berjalan ke muka, Li Kun tetap mengikuti
di belakang Gin Liong, Tek Cun mengikuti di belakang Mo
Lan Hwa dan si limbung yang mengekor di belakang
sendiri.
Tak berapa lama mereka tiba dimuka sebuah puncak
kecil. Mendaki puncak itu, suasana amat menyenangkan.
Penuh dengan pohon2 hijau, kabut berair yang
menyegarkan muka, Makin masuk ke depan, keadaan
gunung makin berbahaya dan makin terdengar jelas debur
ombak laut.
Karena malam gelap, tanpa sengaja mereka telah tiba
disebuah lembah. Lembah itu penuh dengan rumput dan
bunga2 tintan. Rupanya telah dibangun oleh kawanan
gunung Thiat-san menjadi sebuah tempat yang indah.
"Liong-te." kata Tek Cun, "kalau tak salah kita sudah
berada di tengah2 gunung Thiat-san. Rasanya markas
mereka sudah tak berapa jauh."
"Liong-te." tiba2 pula si jelita Li Kun berkata,"
mungkinkah terjadi suatu perobahan dalam markas mereka
?"
Belum Gin Liong menjawab, Tek Cun sudah
mendahului: "Kurasa tidak, Selama dalam perjalanan kita
tak melihat bekas2 pertempuran."
Mo Lan Hwa mendengus tak puas: "Tetapi mengapa
selama dalam perjalanan kita tak bertemu barang seorang
manusia ?"
Karena tubuhnya tinggi besar dan ilmu ginkangnya agak
rendah, maka begitu tiba, napasnya terengah-engah dan
keringat bercucuran deras.
"Keparat, Thiat-san Pat-koay mungkin sudah mampus !"
ia mengomel panjang pendek.
Tek Cun berempat terkejut ia hendak memberi
peringatan agar engkohnya kelima itu jangan bicara Keras2.
Tetapi tiba2 terdengar suara tertawa seram, mengalun di
udara.
Jika Gin liong terkejut dan marah karena merasa
jejaknya telah diketahui musuh, tidaklah begitu dengan si
limbung Thiat-lo-han yang malah menantang:
"Ngo-ya telah datang, hayo suruh Pat-Koay keluar
menerima kematiannya !"
Malam sunyi, suara teriakan Thiat-lo-han itu
berkumandang jauh, sampai ke langit Tiba2 terdengar suara
orang tertawa gelak2. Gin liong berlima terkejut. Jelas dari
nada tertawanya dapat diketahui bahwa orang itu memiliki
ilmu tenaga-dalam yang hebat. Tentu salah seorang
anggauta dari kedelapan Pat-koay.
"Budak, kalian datang terlambat ?" Rajawali-gundullengan-
besi sudah lama menunggu disini!" seru orang itu
pula lalu tertawa.
Tring, karena marah, si limbung benturkan sepasang palu
besinya dan berteriak: "Kalau sudah lama menunggu,
mengapa tak lekas keluar !"
"Budak bermulut besar, apa engkau kira kami Pat-koay
ini sungguh2 takut kepada kalian bertujuh?" sahut orang itu
lalu berseru memberi perintah: "Barisan obor kanan kiri..."
Dari samping kanan dan kiri segera terdengar gelombang
teriakan yang menggemparkan. Menyusul hampir seratus
buah obor segera menyala.
Lebih kurang tiga-puluh tombak disebelah kanan dan
kiri, tampak beratus-ratus anak buah gunung Thiat-san yang
mengenakan pakaian hitam. Yang seratus orang memegang
obor dan sisanya mencekal senjata golok.
Dan ketika Gin Liong berlima memandang ke muka,
ternyata diantara gunung2 batu sejauh tiga-puluh tombak,
tegak delapan lelaki berwajah seram. Ada yang berkepala
gundul, yang berambut panjang berwajah pucat, bertubuh
gemuk, kurus kering dan tinggi pendek serba menyeramkan.
Dibelakang berpuluh tombak dan kedelapan manusia
aneh atau Pat-koay itu, tampak dinding tembok markas
mereka yang tinggi.
Dengan mata berapi-api buas, kedelapan orang itu secara
pelahan-lahan maju menghampiri ke tempat Gin Liong
berlima.
"Liong-te, mereka itulah Pat-koay." Li Kun melesat ke
samping Gin liong dan membisiki.
Yang didepan dari rombongan Pat-koay itu kepalanya
gundul, rambut putih, hidung bengkok, umurnya 70-an
tahun, mengenakan jubah yang panjang sampai menyapu
tanah. Dia adalah Rajawali-gundul-lengan-besi Gui Se
Leng, jago pertama dari Pat-koay.
Dibelakang dua orang, yang satu rambut dan jenggotnya
kelabu, matanya tinggal satu, alis panjang mengenakan
pakaian warna kelabu, namanya Li Ko Ceng bergelar Tokgan-
liong atau Naga-mata-satu, Dan yang satunya adalah
seorang paderi bermata besar, alis tebal, dada penuh rambut
lebat Toa To hwesio atau paderi perut Besar demikian
nama gelarannya.
Dua orang di belakangnya lagi, yang satu bermuka
pucat, mengenakan baju dari kain kasar, Dia adalah jago
keempat dari Pat-koay. julukannya Hwat-kiang-si atau
Mayat Hidup, Dan yang seorang, beralis naik, mata cekung
mengenakan pakaian hitam. Dia adalah Ngokoay atau jago
kelima, bergelar Hek-bu-siang atau setan hitam.
Disamping kiri dari kelima Pat-koay itu, seorang lelaki
yang rambutnya terurai ke belakang, pakaian compang
camping, Dia adalah Lak-pian-seng atau Manusia Kotor.
Sebelah samping kanan, seorang wanita yang dandanannya
menyolok selain Hoa-ciau-hong atau Bunga-mengundangkumbang
demikian gelaran wanita cabul itu.
Dan paling belakang sendiri seorang lelaki berumur 30-
tahun lebih, mengerjakan pakaian warna meraih mukanya
berbedak, rambut kelimis, tubuhnya kurus. Dia adalah
Hun-tiap-sam-long atau pemuda Kupu-berbedak, yang baru
dua jam berselang kembali ke gunung.
Demi melihat Gin Liong dan Mo Lan Hwa yang pernah
dilihatnya didalam kota Hong-shia seketika berobahlah
wajah Hun-tiap Sam-long, ia segera tahu maksud
kedatangan kelima pemuda itu. Maka dia tak berani unjuk
diri di muka melainkan berada di belakang rombongannya.
Saat itu rombongan Pat-koay sudah tiba pada jarak tujuh
tombak. Serentak Bidadari gunung Mo-thian-san Tio Li
Kun menunjuk ke arah Hun-tiap Sam-long.
"Liong-te, yang dibelakang sendiri itu adalah Hun-tiap
Sam-long . . ."
Gin Liong serentak berteriak gusar: "Penjahat cabul,
serahkan jiwamu . . . ." - ia terus meluncur maju untuk
menyerang.
"Liong-te, jangan . . . ," teriak Tio Li Kun. Tetapi
terlambat, Gin Liong sudah menyerbu diantara Hek - bu -
siang dan wanita cabul Hoa -ciau-hong.
Yang dipandang sebagai lawan berat oleh Pat-koay,
hanialah Tek Cun dan si jelita Li Kun dari ke tujuh
persaudaraan Tio. Gin Liong dan Mo Lan Hwa tak
dipandang mata.
"Budak, berhenti . . . !" bentak Rajawali-gundul-lenganbesi.
Tetapi saat itu Gin Liong sudah berada di depan Hek -
bu - siang danHoa-ciau-hong.
Hek-bu-siang cepat tutukkan jarinya yang kurus ke
pinggang Gin Liong. Tetapi tanpa menghiraukannya, Gin
Liong menyelinap dan meneruskan serbuannya kepada Hun
tiap Sam long.
Apabila Hek-bu-siang tercengang adalah Hoa-ciau-hong
sudah menghantam muka Gin Liong.
"Enyah !" bentak Gin Liong segera balas menghantam
bahu kiri wanita itu, Dan serempak iapun terus menyelinap
ke arah Hun-tiap Sam-long.
Melihat gerakan yang begitu tangkas dari Gin Liong,
Hun-tiap Sam-long menjerit dan buru2 loncat ketempat Toa
To hweshio, Tetapi Gin Liong lebih cepat Sekali loncat ia
ayunkan tangannya ke ubun2 kepala orang.
"Liong-te, jangan dibunuh !" teriak Tio Li Kun.
Rupanya Gin Liong tahu apa yang dimaksud si jelita itu.
Cepat ia turunkan tangan untuk mencengkeram dada Huntiap
Sam-long.
Paderi Perut Besar mengurung dan cepat menghantam
punggung Gin Liong. Tetapi pemuda itu hanya tertawa
dingin, mendorong tubuh Hun-tiap Sam-long lalu berputar
tubuh dan mendorongkan tangan kanannya.
Terdengar letupan keras diiring oleh jeritan aneh ketika
tubuh dari paderi itu terlempar berguling sampai tiga
tombak jauhnya.
Tek Cun berempatpun sudah loncat ke belakang Gin
Liong Sedang si Manusia - kotor segera lari menghampiri
Toa To hweshio paderi itu duduk sandarkan tubuh pada
kaki Manusia-kotor, Pandang matanya berkunang2, mulut
menganga terengah-engah keras.
Suasana serentak sunyi senyap, Thiat-san Pat-koay
terkejut memandang Gin Liong, Mereka tak menyangka
kalau pemuda tak terkenal itu memiliki tenaga-dalam yang
sedemikian saktinya. Hanya sekali hantam, Toa To
hweshio, pemimpin ketiga dari kawanan Pat-koay telah
terlempar sampai tiga tombak.
"Penjahat cabul yang tak tahu malu. Lekas bilang,
dimana sumoayku engkau sembunyikan !" bentak Gin
Liong seraya menuding Hun-tiap Sam-long..
Rajawali-gundul bertambah angkuh:
"Budak bermulut tajam, jelas engkau hendak jual jiwa
bekerja pada persaudaraan Tio untuk merampok gunung
ini, mengapa engkau cari alasan segala macam . . ."
"Bangsat tua, tutup mulutmu !" bentak Tek Cun,
mencabut trisula pendek terus menyerang.
Serangan Tek Cun itu cepat disambut oleh Hua - ciau -
liong yang sejak tadi marah melihat tingkah laku Gin Liong
dan Tek Cun. Tetapi wanita cabul itupun segera disongsong
oleh Mo Lan Hwa yang membabat lambungnya Tiba2 Toa
To hweshio loncat berdiri terus menggerung dan menyerang
Gin Liong. Melihat Tek Cun sudah melayani Hoa-ciauhong,
Mo Lan Hwa segera beralih menyerang kepala Toa
To hweshio.
Tetapi paderi perut Besar itu tak mau menangkis atau
menghindar melainkan tetap ulurkan tangannya hendak
meraih leherMo LanHwa.
"Tring..."
Mo Lan Hwa terkesiap, Ternyata gundul Toa To
hweshio itu sekeras baja, Dan dalam pada itu tangan si
paderipun hampir tiba di leher si nona.
-ooo0dw0ooo-
Bab 5
Lima nyonya menantu
Gin liong terkejut Cepat ia meluncur maju menyambar
siku lengan paderi itu:
"Bangsat gundul, engkau cari mati . . . "
Tay To hweshio atau paderi perut Besar terkejut juga
melihat serangan anak muda itu. Dengan nekad ia
tundukkan kepala lalu membentur dada Gin Liong.
Dalam kesempatan itu Mo Lan Hwapun segera
menggeliat ke tempat Li Kun yang tegak dengan pedang
melintang.
Tetapi Gin Liong tak mau melayani kenekadan paderi
itu, Cepat ia menyelinap kesamping dan menyusup ke
belakang si paderi lalu mengirim sebuah tendangan.
Karena serudukannya luput, paderi itu meluncur ke
muka, Dan kaki Gin Liong mempercepat laju tubuhnya
menyusur ke tempat Thiat-lo-han.
Si limbung Thiat-lo-han menyengir Cepat ia mengangkat
tinjunya yang besar untuk dihantamkan kebatok kepala
paderi itu.
Hwat-kiang-si dan Hek-bu-siong terkejut sekali, Dengan
memekik keras mereka serempak hendak menerjang Thiat-
Io-han.
Prakk . . . .
Terlambat Tinju si limbung yang besarnya hampir sama
dengan buah kepala, telah terlanjur menimpali kepala Tay
To hweshio, Batok kepala paderi Perut Besar yang keras,
akhirnya hancur berantakan juga terhunjam tinju si limbung
Thiat-lo-han.
Rubuhlah paderi itu. sepasang tangannya yang berbulu
lebat mencengkeram tanah keras2. Rupanya paderi itu
tengah meregang jiwa dengan penasaran.
Sudah tentu Rajawali-gundul-lengan-besi Gui Se Leng,
kepala dari Pat-koay, marah sekali. Dengan menggerung
keras ia segera menerjang Thiat-lo-han.
Tetapi serempak dengan itu, terdengar pula jeritan ngeri.
Rajawali-gundul terkejut dan berpaling. Ah . . .
Tampak Siu-bun-hou Tek Cun dengan mencabut
trisulanya yang pendek dari dada wanita cabul Hoa ciau -
ling. Bluk, wanita cabul itu lepaskan pedang dan terkulai
rubuh, Darah mengalir dari dadanya
Melihat itu bukan kepalang marah Hun tiap sam long,
dengan meradang dahsyat ia telah menerobos dari sela2
Tok-gan liong serta menerjang Tek Cung.
Tetapi cepat2 Gin Liong menyambar lengan Hun tiap
sam long sehingga dia menjerit kesakitan.
Melihat itu Rajawali gundul Gui Se Liang segera
lepaskan pukulan Lat hiat Hoa-san atau menghantam
gunung Hoa san kepada Gin Liong, sedang tangan kirinya
serempak menyambar siku lengan pemuda itu.
Sekaligus ketua dari Pat-koay itu melancarkan serangan
yang dahsyat.
Bidadari dari gunung Mo-thian, Tio Li Kun terkejut,
buru2 ia loncat menusukRajawali gundul.
Lak pian-seng atau si Manusia kotor kebutkan lengan
bajunya dan sebuah kipas besi telah menyembul di
tangannya. Secepat ditaburkan, secepat itu pun ia terus lari
menerjang Tio Li Kun.
Setelah dapat menangkap si penjahat cabul Hun-tiap
sam-long, sudah tentu Gin -Liong tak mau melepaskannya.
Cepat ia loncat membawa Hun-tiap sam long sampai dua
tombak jauhnya.
Pada saat Gin liong tegak itulah, sebuah pekikan dahsyat
dari sesosok bayangan biru sudah menerjangnya.
Gin Liong terkejut dan berpaling. Tampak Pat-koay
nomor dua ialah Naga-mata-satu, rambutnya meregang
tegak, biji matanya yang tinggal satu bersinar buas, golok
hian-to yang berkilat-kilat tajam mendesing kearahnya.
Dalam pada itu pukulan Rajawali-gundul tadipun
mengancam kearah kepala Gin Liong.
Melihat itu memancarlah hawa pembunuhan pada dahi
Gin Liong, Dengan membentak keras ia mendorong tubuh
Hun-tiap-sam-long. Kemudian cepat berputar tubuh,
membentak keras seraya menangkis pukulan Rajawaligundul
yang termasyhur memiliki Thiat pi atau lengan besi.
Tiba2 terdengar jeritan melolong yang amat ngeri sekali
Ternyata karena tubuh Hun-tiap-sam-long didorong
ketempat Naga-mata-satu, si Naga-mata-satu tak sempat
lagi untuk menarik atau menghentikan gerakan goloknya
yang hendak disabetkan padat Gin Liong.
Golok bunto adalah sebuah golok yang amat tipis dan
tajam luar biasa. Tak ampun lagi tubuh Hun-tiap-sam-long
telah terbelah menjadi dua, darah menyembur dan isi
perutnyapun berhamburan keluar.
Krak...
Saat itu terjadilah benturan antara tangan Gin Liong dan
tangan Rajawali-gundul.
Sepasang bahu Gin Liong bergetar tetapi Rajawaligundul
tergempur kuda2 kakinya sehingga terhuyunghuyung
mundur sampai tiga langkah.
Terdengar pekik melengking segumpal asap merah
meluncur dan Mo Lan Hwa menghadang si Naga-mata
satu, Pat-koay nomor dua yang telah salah tangan
membunuh Hun-tiap-sam-long.
Gin Liong menyempatkan diri untuk memandang ke
sekeliling, Dilihatnya si limbung Thiat-lo-han tengah
bertempur melawan Hek-bu-siong. Si jelita Tio Li Kun
tengah melayani Lak-pian-seng si Manusia-kotor, Tek Cun
bertanding lawan Hi-kiang-si atau si Mayat-hidup. Keenam
orang yang bertempur dalam tiga partai itu, tampak sedang
bertempur mati-matian.
Sedangkan beratus-ratus anak buah Pat-koay tampak
berjajar-jajar di sekeliling gelanggang bertempur dengan
membawa obor, Mereka terlongong-longong menyaksikan
pertempuran yang dahsyat itu.
Tiba2 dari tengah lereng gunung disebelah muka,
terdengar lima buah letusan bunga api. Percikan bunga api
itu menimbulkan pemandangan indah di malam yang gelap.
Tetapi lokoay Rajawali - gundul serentak berobah seri
wajahnya, Beratus - ratus anak buahnyapun segera bersorak
nyaring lalu berhamburan lari menuju ke gunung di muka
itu.
Gin liong segera tahu bahwa tentu ada pula kawanan kojiu
(tokoh sakti) yang menyerbu gunung.
Tiba2 Rajawali gundul tertawa nyaring dan seram.
Selekas berhenti, ia menghardik sekeras-kerasnya :
"Berhenti semua !"
Serentak pertempuranpun berhenti, Hek-bu siong, Hwatkiang-
si, Lak-pian-seng dan Naga-mata-satu segera
berhamburan loncat ke belakang Rajawali-gundul. Wajah
mereka tampak tegang sekali dan memandang ke arah
gunung disebelah muka.
Pun Tek Cum, Thiat-lo-han. Tio Li Kun dan Mo lan
Hwapun segera meluncur ke muka Gin Liong, Mereka tat
tahu apa yang terjadi.
Dengan mata berkilat-kilat, Rajawali-gundul membentak
Tek Cun:
"Siau bun-hou, kami dari gunung - Thiatsan tak merasa
mempunyai dendam permusuhan kepadamu Tetapi
mengapa ketujuh saudaramu malam ini menyerang gunung
kami? Apa maksudnya, katakanlah !"
Tek Cun kerutkan dahi dan menyahut marah sekali:
"Kedatangan kami bersaudara bersama Siau sauhiap
kemari, tak lain hendak meminta kembali nona Ki yang
telah dirampas Hun-tiong-sam-long di rumah penginapan
kota Hong-shia ...."
"Kalau mau minta orang mengapa tak secara terangterang
datang ke gunung ?" tukas si Naga-mata-satu dengan
marah.
Karena dirinya tak di tanya. Thiat-lohan merasa terhina.
ia marah. sebelum Tek Cun menyahut ia sudah mendahului
membentak dengan deliki mata:
"Ke gunung mau cari siapa ? sepanjang jalan aku tak
ketemu dengan seorang manusiapun juga. Kukira sekalian
sudah mati semua." .
Naga-mata-satu tak dapat menjawab, dari malu ia
menjadi marah, bentaknya:
"Budak kecil yang bermulut besar..." golok bian-to
berhamburan mencurah kearah Thiat-lo-han.
Tahu kalau engkohnya yang nomor lima tak dapat
menandingi kesaktian Naga-mata-satu. Bidadari-gunung-
Mothian Tio Li Kun segera melengking seraya taburkan
pedangnya menyongsong golok bianto.
Naga-mata-satu tertawa gelak2 :
"Bagus, bagus ! Dengan membunuh kalian bertujuh Jithiong,
tentu bakal menjadi enghiong (jago)!"
Tiba2 permainan golok bian-to dirobah, Golok itu
bergeliat membolak-balik seperti seekor ular, Naga-matasatu
telah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya
untuk menyerang
Si cantik Tio Li Kun hanya tertawa dingin. ia salurkan
hawa murni ke batang pedang dan menggunakan cara
kekerasan untuk menangkis dan adu benturan senjata. Dia
sengaja tak mau menghindar maupun menarik pedangnya.
Dengan kelincahannya yang mengagumkan, si cantik Tio
Li Kun dengan pedangnya itu benar2 menyerupai seorang
bidadari yang sedang bermain-main dalam taman bunga.
Lama kelamaan mata si Naga-mata-satu yang tinggal
sebuah itu mulai berkunang-kunang. Makin lama ia makin
merasa gentar, Saat itu baru ia membuktikan bahwa si jelita
Tio Li Kun yang disohorkan memiliki kepandaian silat dan
ilmu pedang sakti itu, ternyata memang benar.
Lak-pian-seng atau si Manusia-kotor yang menyaksikan
pertempuran itu dari samping, diam2 pun merasa gentar
dalam hati. Saat itu baru ia menyadari bahwa tadi ternyata
si cantik itu memang sengaja tak mau mendesak kepadanya.
"Jite, mundurlah !" melihat Naga-mata-satu tak dapat
bertahan, cepat Rajawali-gundul berseru memangginya.
"Jit-moay, mundurlah !" Thiat lo-han si limbung pun tak
mau kalah suara, ia menyuruh adiknya yang nomor tujuh.
Mendengar teriakan itu, kedua pihakpun berhenti
bertempur.
Sementara di gunung sebelah muka, terdengar letusan2
keras dan pekik jeritan pembunuhan.
"Siau bun-hou, sebenarnya berapa banyak orangmu yang
datang kemari ?" teriak Rajawali-gundul Gui Se Ling
kepada TekCun.
Tek Cun mendengus marah.
"Sekali lagi kukatakan, bahwa kami hanya datang
berlima. Orang2 yang di gunung sebelah muka itu, bukan
orang kami."
Melihat sikap dan wajah kelima pemuda itu, Rajawaligundul
percaya bahwa mereka memang tak bohong, Segera
ia berpaling memberi perintah kepada Hwat kiang si dan
Hek bu-siong supaya lekas ke gunung disebelah muka.
Kedua orang itupun segera lari pesat menuju ke gunung
disebelah mula, Mereka bercuit aneh dan nyaring. Segera
terdengar teriak sambutan dari gunung di muka, Rupanya
mereka girang karena mendapat bala bantuan.
Pun lebih dari separoh anak buah gunung Thiat- san
yang segera tinggalkan tempat itu menuju ke gunung di
muka.
Melihat itu Gin Liong makin gelisah, ia mencemaskan
Ki Yok Lan
Rupanya Mo Lan Hwa tahu apa yang dipikirkan Gin
Liong, Segera ia menuding Rajawali-gundul dengan ujung
pedang dan berseru:
"Lekas bawa kami ketempat nona Ki. Kalau tidak,
jangan sesalkan aku bertindak kejam."
Rupanya sejak kalah dengan Tio Li Kun tadi, si Nagamata-
satu tetap malu dan mendongkol, Melihat Mo Lan
Hwa berani menuding dan membentak Rajawali-gundul, ia
tak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Tutup mulutmu, budak hina . . . "
"Sejak berumur delapan tahun terjun kedunia persilatan,
sampai sekarang belum pernah ada orang yang berani
memaki aku, Salju-bertebar-merah seorang budak hina !"
Ia menutup kata-katanya dengan tebarkan pedang kearah
Naga-mata-satu.
Mendengar nona itu ternyata Salju-bertebar merah Mo
Lan Hwa, seketika Rajawali-gundul, Naga-mata-satu dan
Lak-pian-seng berobah wajahnya.
"Harap nona suka berhenti," cepat Rajawali gundul
berseru.
Mo Lan Hwapun hentikan pedangnya, "Jite, mari lekas
pergi, yang datang di gunung sebelah muka itu mungkin
Swat-thian Sam-yu !"
Ketua Pat-koay itu terus melambung ke udara dan
melayang sampai beberapa tombak jauhnya, ia hendak
menuju ke gunung di muka.
Mendengar nama Sam-yu, Naga-mata-satu dan Lakpian-
seng tergetar hatinya. Segera keduanya mengikuti jejak
Rajawali-gundul, menuju ke gunung di muka.
Demikian keadaan dalam lembah pun tampak sibuk
sekali. Anak buah gunung Thiatsan berbondong-bondong
menyerbu ke gunung di sebelah muka.
Keadaan di gunung itu makin kacau, Jerit lolong, pekik
teriak, susul menyusul memecah kesunyian malam.
Gin Liong sibuk juga. Dia tak menghiraukan apa yang
terjadi di gunung sebelah muka. Yang penting ia harus
menyelamatkan sumoaynya.
"Liongte," tiba2 Tek Gun berkata, "selagi mereka kacau
balau, mari kita masuk kemarkas mereka."
Tetapi ketika memandang kearah markas gunung Thiatsan,
mereka terkejut.
"Markas Thiat-san dibakar orang !" serempak mereka
berseru kaget.
Markas kawanan Pat-koay telah dimakan api. anak
buahnya menjerit dan berteriak-teriak kacau balau.
"Celaka, apakah nona Ki masih berada dalam markas
mereka," tiba2Mo Lan Hwa berseru cemas,
Gin Liong terkejut, Tetapi karena Hun-tiap-sam-long
sudah mati, sukar untuk mencari keterangan.
Saat itu letusan2 terdengar makin meluas, Hampir
seluruh lembah dan gunung telah dimakan api.
Tiba2 dari arah belakang terdengar suitan nyaring yang
penuh bernada kemarahan. Cepat Gin Liong berlima
berpaling kebelakang. Tampak Rajawali gundul. Nagamata-
satu dan Lak pian-seng berlari-lari mendatangi seperti
orang gila. Rambut mereka terurai kusut, pakaian lusuh.
Mereka lari menuju ke markas yang tengah dibakar api.
Seorang lelaki pun tengah berlari mengejarnya. Rupanya
dia adalah penyerang dari gunung di sebelah muka.
"Adik Liong, mari kita ikuti mereka, Mungkin nona Ki
masih berada dalam markas," kata Mo Lan Hwa.
Gin Liong mengangguk. Mereka berlima segera
mengejar dibelakang mereka.
Markas seperti berobah menjadi lautan api. Keadaan
sekitar gunung itu terang benderang seperti siang hari.
Dinding tembok markas dibangun setinggi lima tombak,
terbuat dari batu yang kokoh, Diatas tembok dipasangi
pagar kayu yang ujungnya diberi pisau tajam.
Tetapi kelima pemuda itu tak menjumpai rintangan apa2
ketika mereka loncat keatas pagar tembok itu. Tampak
markas itu penuh dengan bangunan2 rumah, Yang paling
besar, sebuah bangunan bertingkah Di tengahnya terdapat
sebuah ruang besar.
Api berasal dari belakang markas dan saat itu tengah
meranggas kebagian muka.
Setelah melihat keadaan markas itu sunyi senyap, Gin
Liong memberi isyarat untuk bergerak, ia mendahului
melayang turun, Tetapi baru kakinya tiba di tanah, tiba2
terdengarMo LanHwa menjerit tertahan.
Gin Liong terkejut dan cepat berpaling, Ternyata Mo
Lan Hwa dan Tio Li Kun sudah menyerbu kederetan
rumah disebelah kiri.
Bekas tempat yang ditempuh kedua nona itu tampak tiga
anak buah Pat-koay sedang terkapar tidur nyenyak.
Si limbung Thiat-Io han yang sudah loncat turun
bersama Tek Cun, terus langsung menghampiri ketiga anak
buah itu dan mencongkel tubuh mereka dengan kakinya,
Tetapi rupanya ketiga orang itu tidur pulas sekali.
"Ah, mungkin mereka telah ditutuk jalan darahnya oleh
orang yang melepas api," kata Gin Liong.
Tek Cun segera membuka jalan darah mereka. Seketika
menjeritlah dan melonjak bangunlah ketiga orang itu.
Bahkan terus hendak menabas dengan goloknya,
Tetapi ketika melihat sikap kelima pemuda itu tenang2
saja, merekapun tertegun.
"Apakah kalian bertemu dengan orang sakti?" tegur Gin
Liong.
Melihat Gin Liong seorang yang cukup sopan, ketiga
orang itupun segera memberi keterangan: "Entahlah, kami
hanya merasa dihembus angin dan tahu2 rubuh tak
sadarkan diri lagi."
Gin Liong berlima diam2 terkejut, jelas malam itu
markas gunung Thiat-san telah kedatangan seorang tokoh
yang sakti.
"Apakah paman bertiga mengetahui jit-saycu Hun-tip
sam-long dikala pulang ke gunung, membawa apa saja ?"
tiba2Mo LanHwa bertanya.
"Kami tak melihat Jit saycu pulang," kata mereka.
Rupanya percuma saja bertanya dengan ketiga orang itu.
Gin Liong dan kawan-kawannya segera loncat ke atas
rumah dan lari menuju ketempat kebakaran.
Saat itu api makin besar, Anak buah Pat-koay
berbondong-bondong menuju ke markas belakang.
Gin Liong berunding dengan keempat temannya dan
memutuskan untuk menangkap beberapa anak buah markas
yang tahu tentang keadaanHun-tiap-sam-long.
Mereka segera menuju ke markas belakang. Tampak
beratus-ratus anak buah "Thiat-san hanya berteriak-teriak
kalap menyaksikan lautan api tanpa dapat berbuat apa2.
Demikian pula Rajawali-gundul, Naga-mata-satu dan Lakpian-
seng hanya bingung tak keruan menyaksikan
markasnya dimakan api.
Tiba2 dari jendela tingkat kedua dari sebuah bangunan
disebelah kiri, tampak menyala terang.
Gin Liong tertarik Cepat ia lari menuju ke rumah tingkat
itu. Tek Cun berempat pun segera mengikuti Gin Liong
loncat ke atas wuwungan sebuah rumah tetapi masih
kurang tujuh tombak tingginya dari tempat yang menyala
itu. Setelah mengempos semangat, Gin Liong segera enjot
tubuhnya ke udara. Ditengah udara ia bergeliatan
merentang kedua tangan dan langsung melayang ke-arah
jendela ruang bertingkat itu.
Tiba2 jendela terbuka dan dua kepala wanita muda
menyembul keluar, Gin Liong pun menuju ke jendela itu.
Dalam pada itu karena takut terjadi apa2 pada Gin Liong,
Mo LanHwa dan Tio Li Kunpun menyusul.
Kedua wanita itu terkejut dan melarikan diri karena
takut Gin Liong cepat mengejar mereka, Kedua wanita itu
segera jatuhkan diri berlutut dan menangis.
"Jangan takut, kami hendak bertanya kepada kalian,"
Mo Lan Hwa berkata dengan ramah, ia tahu kedua wanita
itu tak mengerti ilmu silat.
Dengan tubuh gemetar mereka mengangguk
"Kali ini Hun-tiap-sam-long jit-saycu pulang dengan
membawa seorang gadis. Tahukah kalian dimana nona
itu?" tanya Mo Lan Hwa.
"O, nona Ki tidak berada dalam markas," sahut salah
seorang yang lebih tua.
"Dimana ?" seru Gin Liong.
Wanita itu menghampiri jendela lalu menunjuk sebuah
puncak gunung di sebelah tenggara dan memberi
keterangan:
"Karena takut pada li-saycu Hoa-ciau-hong, maka jitsaycu
Hun-tiap-sam-long telah menempatkan nona Ki di
puncak itu. Salah seorang kawan kami ditugaskan untuk
membujuk agar nona Ki mau meluluskan menikah dengan
jit-saycu."
Gin Liong girang, Setelah menghaturkan terima kasih
segera ia ajak kedua nona melayang turun lagi ketempat
Tek Cun dan Thiat-lo-han menunggu, Mereka berlima
segera menuju ke puncak itu.
Tetapi tiba2 pada saat itu Rajawali-gundul, Hek-bu-siong
dan Lak-Pian-seng berlima menghadang jalan.
"Serahkan jiwa kalian berlima !" teriak Rajawali- gundul
seraya menyerang dengan kalap.
Karena hendak cepat2 menuju ke puncak di sebelah
tenggara, Gin Liong tak bernafsu untuk melayani lebih
lama. Segera ia songsongkan kedua tangannya, Terdengar
letupan keras dan Rajawali-gundulpun terhuyung-huyung
mundur. Atap rumah yang dipijaknya berhamburan pecah.
Naga mata-satu cepat loncat untuk memapaki tubuh
Rajawali-gundul.
Beberapa anak buah Thiat-sanpun segera berdatangan ke
tempat itu. Tetapi pada lain saat dari pagar tembok markas
yang tinggi, meluncur lima sosok tubuh kecil yang terus lari
menghampiri ke tempat Gin Liong.
Gin Liong terkejut. Kelima sosok tubuh kecil itu tak lain
adalah kelima ensoh atau taci ipar dari Tek Cun. Mereka
mengenakan pakaian ringkas dan masing2 menyanggul
pedang pada belakang bahunya.
Toasoh atau taci ipar yang paling besar, mengenakan
baju warna kuning muda. Ji - soh atau yang nomor dua
mengenakan baju biru, ensoh yang ketiga baju wungu
muda, yang ke empat baju hijau. Sedang isteri si limbung
Thiat-lo han yang juga ikut datang, memakai baju hijau tua.
Jika Gin Liong heran, tidaklah demikian dengan Thiat-
Io-han yang tertawa karena melihat isterinya datang.
"Ensoh sekalian, mengapa kalian kemari ?" tegur Tio Li
Kun.
"Mamahlah yang menyuruh kami menyusul karena tak
tega dan kuatir kalian akan mendapat kesulitan dari Patkuay,"
sahut ensoh yang tertua.
"Hai, Siau Bun hou, apakah wanita2 busuk itu tak
mempunyai hubungan dengan engkau ?" teriak Rajawali
gundul marah.
Mendengar ensohnya dihina, Tek Cun marah dan terus
hendak menyerang tetapi tiba2 ensoh yang nomor tiga
sudah mendahului:
"Bangsat tua, engkau memang sudah bosan hidup !"
Wanita baju wungu muda itu mencabut pedang lalu
menusuk dada Rajawali-gundul.
"Perempuan busuk, aku akan menerima beberapa jurus
seranganmu lagi !" Hek-bu siong cepat loncat menyongsong
dengan gunakan senjata Kou-hun-pay atau perisai
pemburu-jiwa untuk menangkis.
"Ho, engkau berani maju lagi ?" wanita itu
menggelincirkan pedang ke samping lalu membabat lutut
Hek-bu-siong.
Setitikpun Hek-bu-siong tak mengira wanita itu memiliki
permainan pedang yang sedemikian cepat dan aneh,
Dengan memekik aneh ia segera menyurut mundur sampai
setombak.
Sam-soh tidak mau mengejar melainkan memandang
Hek-bu-siong seraya mendampratnya:
"Tadi di gunung sebelah muka sudah kuampuni jiwamu,
sekarang engkau masih berani unjuk tingkah lagi."
Kemudian wanita itu beralih memandang pada Rajawaligundul
dan berseru:
"Ah, tak kira Pat-koay dari gunung Thiat-san yang begitu
termasyhur ternyata hanya kawanan manusia yang tak
berguna !"
Lo-koay Rajawali-gundul pucat wajahnya, Karena
menahan kemarahan gerahamnya sampai bergemerutukan.
sedangkan ji-koay si Naga-mata-satu menengadahkan
muka, tertawa geram:
"Perempuan hina yang bermulut lancang, aku hendak
menguji sampai dimanakah kepandaianmu itu !"
Habis berkata ia terus putar golok bianto dan menyerang
maju.
"Jite, kembalilah !" cepat Rajawali-gundul mencegah. ia
tahu bahwa kekuatan pihak lawan lebih unggul.
Naga-mata-satu hentikan langkah, Dengan mendengus
geram ia memandang kearah Gin Liong dan kawankawannya.
Toa-soh atau taci ipar yang paling besar, tertawa hambar,
serunya: "Lo-koay, mengapa engkau begitu marah, Kalau
tidak karena beberapa saudaramu bermata keranjang
merampas wanita, sekalipun engkau mengirim undangan,
belum tentu kami akan datang ke gunung Thiat-san ini,
apalagi bermaksud hendak merebut markasmu."
Lo-koay atau Pat-koay nomor satu, deliki mata: "Siapa
yang kami rampas ? Apa buktinya ? Dimanakah orang itu ?"
"Mau bukti? ikutlah aku !" teriak Gin Li-ong yang tak
kuasa lagi menahan kemarahannya ia terus mendahului lari
kemuka, Tio Li Kun dan kawan segera mengikutinya.
Melihat itu terpaksa Lo-koay dan kawan-kawannyapun
segera menyusul.
Saat itu api makin besar sehingga langit seolah berobah
merah warnanya. Anak buah gunung Thiat-san menjeritjerit
hiruk pikuk namun tak berdaya untuk menolong
hancurnya lima deret bangunan gedung besar dari bahaya
api.
Setelah keluar dari markas, Gin Liong lari menuju ke
tenggara dan dalam beberapa kejab tiba dibawah puncak
gunung, ia segera mendaki ke atas puncak.
Lo-koay berlima berusaha untuk mendahului mencapai
puncak, Mereka hendak menggerakkan alat2 rahasia untuk
mencelakai kawanan anak muda itu, Tetapi ternyata kalah
cepat. Gin Liong dan kawan2 sudah tiba lebih dulu di
puncak yang merupakan hutan pohon siong dan hutan
bambu, Hutan2 itu pun telah dimakan api. Gin Liong, Tio
Li Kun dan Mo Lan Hwa menerjang ke hutan itu, Pada
sebuah batu besar, mereka menemukan lima orang baju
hitam terkapar malang melintang di tanah.
Gin Liong terkejut, Diam-2 ia menduga tempat itupun
telah didatangi oleh tokoh sakti yang belum diketahui itu.
Ketika menghampiri ternyata kelima orang itu bukan mati
melainkan tidur mendengkur keras.
Memandang ke muka Gin Liong melihat didalam hutan
siong seperti memancar sepercik api penerangan ia segera
mengajak kedua nona untuk menuju ke tempat itu.
Sebuah rumah batu berbentuk persegi panjang lampunya
terang benderang, pintu terbuka tetapi dalam rumah itu
tampak sunyi. Pada ujung sebelah kiri dari rumah itu,
terdapat dua orang baju hitam lagi yang terkapar tidur di
tanah.
Gin Liong melangkah masuk. ia terkesiap heran karena
dalam rumah itu hanya terdapat sebuah meja dan sebuah
tempat tidur, lampu masih menyala terang di atas meja.
Sedang tempat tidur tampak acak-acakan. Seorang
perempuan muda tampak tidur dilantai muka ranjang itu.
Gin Liong makin gelisah karena tak dapat menemukan Ki
Yok Lan.
Saat itu Tek Cun dan saudara-saudaranya pun tiba,
Mereka juga tertegun melihat keadaan rumah itu.
Tak lama kemudian Lo-koay berlimapun tiba, Bermula
Lo-koay menduga pasti ketujuh saudara Tio atau Jit-hiong
yang membakar markas gunung Thiatsan. Tetapi saat itu
setelah melihat sikap Gin Liong dan kawan-kawannya serta
perempuan muda yang tertidur di lantai, iapun ikut
terkesiap.
Li Kun membangunkan perempuan muda itu dengan
membuka jalan darahnya yang tertutuk.
"Mengapa engkau berada disini !" bentak Rajawaligundul
kepada perempuan muda itu.
Pucatlah wajah perempuan itu melihat Lo-koay marah,
Dengan gemetar ia memberi keterangan bahwa Jit-koay
Hun-tiap-sam-long yang menyuruhnya jaga disitu.
Tiba2 Naga-mata-satu membentak: "Jangan ngaco belo,
perempuan hina !" - ia terus loncat ke muka perempuan itu
dan hendak menghantamnya.
"Bangsat, engkau cari mati !" teriak Gin Liong seraya
ayunkan tangannya, Segelombang angin keras segera
melanda dadaNaga-mata-satu.
Naga-mata-satu mendengus geram, Cepat ia balikkan
tangan untuk balas menghantam. Terdengar letupan dan
diiring dengan jeritan ngeri tubuh Naga-mata-satupun
terlempar keluar pintu.
Hwat-kiang-si loncat hendak menolong tetapi tak keburu,
Naga-mata-satu terlempar tiga tombak dan jatuh di hutan
bambu, Huak, ia muntah darah. sejenak meregang jiwa,
akhirnya putuslah napasnya.
"Aku hendak mengadu jiwa dengan engkau budak!" Lo
koay Rajawali-gundul dengan marah serentak
mendorongkan kedua tangannya kearah Gin Liong.
Gin Liongpun marah. Dengan menggembor keras ia juga
dorongkan kedua tangannya. Angin yang timbul dari kedua
gerakan tangan Rajawali-gundul dan Gin Liong
menimbulkan getaran yang dahsyat sehingga genteng terasa
berguncang keras, semua orang menahan napas.
Rajawali-gundul terdampar ke dinding, kepala pecah dan
napasnyapun berhenti. Melihat itu, Hek-bu-siong dan Lakpian-
seng segera melarikan diri. Demikian pula Hwat-kiangsi.
Mereka tahu percuma saja melawan kawanan anak
muda itu.
Gin Liong terlongong-longong sendiri. ia tak mengira
bahwa dua kali pukulannya telah menimbulkan akibat yang
sedemikian mengerikan ia heran mengapa sekarang
tenaganya begitu dahsyat.
Dalam pada itu Mo Lan Hwa memberi pertolongan
kepada perempuan tadi, Ternyata perempuan itu menderita
luka parah, Setelah diurut jalan darahnya perempuan
itupun dapat memberi keterangan walaupun suaranya amat
lemah sekali: "Nona Ki telah dibawa oleh seorang imam !"
"Imam yang mana"?" teriak Gin Liong, Tetapi bujang
perempuan itu makin pucat wajahnya, Melihat itu Gin
Liong cepat bertanya pula: "Apakah seorang imam berjubah
kelabu, berjenggot panjang ?"
Bujang itu paksakan diri membuka mata dan
memandang Gin Liong, Tetapi ia tak dapat berkata lagi
karena kepalanya segera melentuk dan putuslah jiwanya.
Dari pandang mata bujang perempuan itu Gin Liong
mendapat kesan kalau bujang itu mengiakan
pertanyaannya.
"Rupanya yang kuduga itu memang benar." katanya
sesaat kemudian,
"Liong-te, kenalkah engkau kepada imam itu ?" tanya
Tek Cun.
"Ya." sahut Gin Liong, "aku pernah berjumpa
dengannya di sebuah lembah salju di gunung."
"Engkau maksudkan Hun Ho siantiang ?" seru Mo Lan
Hwa.
Kukira dalam dunia persilatan dewasa ini seorang imam
berjenggot bagus dan berjubah kelabu, kecuali Hun Ho
siantiang rasanya tak ada lain orang lagi," sahut Gin Liong.
Tiba2 Tio Li Kun berseru girang: "Jika benar demikian,
nona Ki bakal mendapat rejeki besar, ilmu pedang Hun Ho
siantiang menjagoi dunia persilatan, apabila nona Ki dapat
menerima pelajaran dari Hun Ho sian tiang, tentu kelak dia
akan menjadi seorang pendekar pedang wanita yang
cemerlang."
"Kalau begitu marilah kita lekas tinggalkan tempat ini.
Kalau sebelum terang tanah kita dapat mencapai tempat
penyeberangan di Dairen, kemungkinan kita akan dapat
berjumpa dengan Hun Ho sian-tiang bersama ketika kokoku,
"Mo LanHwa juga gembira.
Demikian mereka segera beramai-ramai turun gunung,
Ternyata kuda dari kelima nyonya menantu keluarga Tio
ditambatkan di hutan. Kesepuluh orang itu segera naik
kuda menuju ke sebuah desa yang terletak sepuluh li
jauhnya.
Saat itu hampir menjelang dini hari, Ayam mulai
berkokok bersahut-sahutan. Cepat sekali mereka tiba di desa
itu. Hanya Tek Cun dan Thiat-Io-han yang masuk ke desa,
sedang yang lain menunggu diluar desa.
"Jit moay." kata Toa-soh kepada Tio Li Kun. "mamah
sudah rindu dengan Ngo-te, setelah urusan disini selesai,
suruhlah dia pulang."
Tetapi Tio Li Kun mengatakan sebaiknya toa-sohnya itu
mengatakan sendiri kepada Ngo-ko atau si Thiat-lo-han.
Gin Liong merasa tak enak dalam hati. Adalah karena
urusannya sampai merepotkan sekian banyak orang.
Andaikata ia tak berjumpa dengan Mo Lan Hwa tentu saat
itu ia sudah dapat menyusul Ban liong liong-li.
Melihat wajah pemuda itu mengerut, kedua gadis cantik.
Mo LanHwa dan Tio Li Cun, serempak bertanya:
"Adik Liong, apakah ada suatu yang hendak engkau
katakan?"
Dengan terbata-bata Gin Liong menjawab: "Kurasa
urusan ini memang sudah selesai, Karena urusanku....
sesungguhnya tak harus membikin repot saudara2
sekalian...."
Mendengar itu kelima ensoh segera menghampiri dan
toasohpun serentak berkata:
"Liong-te, engkau adalah adik kami yang paling bungsu.
Sudah seharusnya kami membantumu. Apalagi mamah tak
tega kalau engkau berkelana seorang diri."
Tengah mereka bicara dari arah desa tampak Tek Cun
dan Thiat-lo-han mengendarai kuda dengan diikuti oleh
ketiga ekor kuda yakni kuda hitam bulu mulus, kuda hitam
berkaki putih dan kuda Siau-pik milik Tio Li Kun.
"Hayo, kita lekas berangkat !" teriak si limbung Thiat-lohan
dengan bersemangat.
Toa-soh tertawa, serunya: "Aya, sudahlah, jangan
mengurusi mereka,Mari kita pulang..."
Thiat-lo-han terbelalak dan menggerung: "Siapa yang
suruh ?"
"Mamah !"
Thiat-lo-han lemas seperti gelembung karet yang habis
anginnya, ia memandang Gin Liong, Mo Lan Hwa, Tio Li
Kun dan Tek Cun dengan pandang kecewa.
Kelima pemuda itu segera naik kuda dan ber seru: "Ngoko
dan kelima ensoh, selamat tinggal."
Demikian mereka segera mencongklangkan kudanya dan
tak sampai sejam kemudian tibalah di kota penyeberangan.
Begitu masuk ke kota, Mo Lan Hwapun menjerit kaget
seraya menunjuk kesebatang pohon besar : "Ah, lo-koko
sudah tiba di sini."
Memang pada pohon itu terukir sebuah lukisan pipa
emas, Segera mereka menuju ke selatan. Di tempat
penyeberangan penuh orang, Barang2 menumpuk di tepi
laut, Di tengah laut tampak beberapa kapal dan perahu2.
Pada tumpukan peti setinggi tujuh tombak Gin Liong
melihat sebuah lukisan pipa yang menghadap ke arah
selatan.
"Ah, rupanya lo-koko sekalian sudah datang dan sudah
menyeberangi lautan" katanya.
Mo Lan Hwa bersungut-sungut: "Mengapa mereka tak
mau menunggu kita ?"
Tek Cun mengatakan hendak menyewa sebuah perahu
besar karena hari itu anginnya besar. Tetapi Gin Liong
mencegahnya, ia mengatakan hendak menyelidiki ke dalam
kota dulu barangkali ada Ban Hong liongli. Bahkan
mungkin ketiga suheng dariMo Lan Hwa.
Mo Lan Hwa juga mempunyai pikiran begitu. ia
mengusulkan akan pergi bersama Tio Li Kun kedalam kota
sedang Gin Liong yang melakukan penyelidikan disekitar
tempat penyeberangan
"Dan engkoh Tek Cun yang menyewa perahu" katanya,
"dengan begitu kita dapat menghemat waktu."
Mendengar si cantik menyebutnya "engkoh Tek Cun"
diam2 Tek Cun girang sekali.
Demikian mereka segera membagi tugas, Dengan naik
kuda bulu hitam, Gin Liong menuju ke tempat
penyeberangan. Tiba2 ia mendengar orang ramai
membicarakan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Pusaka dunia persilatan hanya layak berada di tangan
orang yang berbudi luhur. Orang tua yang tangannya
berlumuran darah semacam itu, tak seharusnya memiliki
cermin pusaka Te-kin . . "
Gin Liong terkejut Ketika memandang dengan seksama
ia melihat enam orang persilatan dengan pakaian ringkas
dan membekal senjata tengah mengobrol. Yang bicara
adalah seorang tua berumur lima puluhan tahun.
Kawannya yang beralis tebal berseru dengan suara
nyaring:
"Belum satu bulan saja sudah berpuluh-puluh jago- silat
baik dari aliran Hitam maupun Putih yang mati di tangan
orang tua itu. Kabarnya di Tay sik-kiau dia telah
membunuh tokoh Bu Tim cinjin dari partai Kiong-lay-pay
dan sepasang tokoh Bu-siang-kiam dari partai Kong-tongpay."
Gin Liong terkejut entah apakah Ma Toa Kong masih
berada di Tay-sik-kiau. Kalau dia juga sudah mati,
bagaimana keadaan guha Thian-kiu jiok baru dapat ia
ketahui setelah ia pulang ke kuil Leng-hun-si.
Lanjutkan perjalanan ke muka, dari kerumunan orang di
sebelah kiri, tampak beberapa orang persilatan juga tengah
membicarakan tentang orang tua yang membawa cermin
pusaka itu.
"orang tua itu sering berpindah tempat, entah apakah
maksudnya?" kata seorang lelaki pertengahan umur yang
menyanggul pedang.
"Dua hari dua malam meninggalkan Tay-sik-kiau dia
lalu lari ke gunungHoksan di seberang laut ini."
Memang Gin Liong sendiri juga heran. Siapakah
sesungguhnya orang tua bertubuh kurus itu ? Apakah dia
memang hendak mencuri pusaka ataukah hanya hendak
mempermain-mainkan orang persilatan saja ?
Seorang tua berambut putih berkata: "Soal ini memang
sudah menarik perhatian para ketua partai persilatan.
Mereka pun telah mengirim para ko-jiu (jago sakti) untuk
mengikuti jejak orang tua itu dan menyelidikinya. Kabarnya
Tujuh-tokoh-aneh-dari-dunia (lh-Iwe-jit-ki) yang sudah
lama tak muncul di dunia persilatan, juga diam2 ikut
campur dalam peristiwa itu"
Makin tergerak hati Gin Liong, Pikirnya, apakah bukan
karena orang tua pembawa cermin pusaka itu maka lo-koko
Hok To Beng bergegas menyeberangi laut ini ?
Tiba2 terdengar suara kuda meringkik. Ternyata Tek
Cun dengan mengendarai kuda bulu coklat tengah
mendatangi.
Karena sampai sekian lama tak memperoleh keterangan
tentang Hun Ho sian-tiang dan Ban Hong liong-li. akhirnya
Gin Liongpun tinggalkan tempat itu dan larikan kudanya
menyongsong Tek Cun.
Saat itu kedua gadis Mo Lan Hwa dan Tio Li Kunpun
juga muncul dan mendatangi.
"Memang benar, tua-suheng bersama kedua lo-koko
sudah melintasi laut," seru Mo Lan Hwa agak gopoh, "dan
menurut keterangan seorang jongos hotel, memang ada
seorang wanita muda cantik lewat dimuka hotel terus
menuju ke tempat penyeberangan Wanita itu tidak singgah
makan Entah apakah dia Ban Hong lo cianpwe atau bukan
?"
"Ya, ya, memang Ban Hong lo cianpwe," kata Gin
Liong, "ah, tak kira dia begitu cepat sekali Kemungkinan
dia menempuh perjalanan siang malam untuk pulang ke
daerah Biau."
Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun menghibur pemuda itu
supaya tak perlu cemas, Tentu mereka akan dapat
menyusul BanHong liong-li.
Ternyata Tek Cun sudah dapat menyewa sebuah perahu
besar yang lengkap menyediakan makanan dan minuman.
Anak perahu memandang sepasang muda mudi itu
dengan rasa kagum. Tak lama seorang tua berambut putih
bergegas keluar dari pintu ruang perahu dan
mempersilahkan keempat anak muda itu naik.
Keadaan perahu itu amat bersih, Juga makanan yang
dihidangkan cukup lezat, Setelah makan mereka mandi lalu
masing2 masuk kedalam kamar untuk beristirahat.
Walaupun berbaring ditempat tidur tetapi Gin Liong tak
dapat tidur, ia masih memikirkan su-moaynya. walaupun
sudah ditolong oleh Hun Ho sian-tiang tetapi untuk
mengambil dan mengantarkannya, tentu makan waktu. Hal
itu berarti harus menangguhkan perjalanan untuk menyusul
Ban Hong liongli.
Pada malam hari, angin bertambah kencang sehingga
perahu agak bergoncang keras, Gelombang mendampar
hampir masuk ke geladak perahu. Gin Liong bangun dan
melakukan pernapasan Ternyata ia merasa sehat tak sampai
mabuk laut, Tetapi dari kamar sebelah ia mendengar suara
orang merintih. Cepat ia keluar dari kamar dan ternyata Tio
Li Kun yang mengeluarkan suara rintihan sakit itu. ia
hendak masuk tetapi agak ragu, Lebih baik ia meminta Mo
Lan Hwa saja yang masuk, tetapi berulang kali dipanggil,
Mo Lan Hwa tetap tak menyahut, kamarnya sunyi senyap.
Mencari ke kamar lain, ternyata Tek Cun juga tak ada, pada
hal Li Kun makin merintih keras, akhirnya terpaksa Gin
Liong memberanikan diri masuk.
"Cici, engkau kenapa ?" tegurnya. Melihat Gin Liong,
diam2 berdeburlah hati si jelita, wajahnya yang pucat
bertebar warna merah
"Ah, tak apa2...." katanya, lalu berusaha duduk.
"Cici tak enak badan, tak perlu duduk," Gin Liong
mencegahnya.
Si jelita membuka sepasang matanya yang indah dan
menatap Gin Liong dengan gelengkan kepala: "Aku hanya
merasa pening dan ingin muntah...."
Tiba2 kata2 Li Kun itu terputus oleh setiap gelombang
besar yang mendampar perahu. Perahu oleng dan Li
Kunpun sampai terperosok jatuh ke lantai.
Gin Liong terkejut, Cepat ia memeluk tubuh jelita itu, ia
dapatkan tubuh Li Kun lemas sekali seperti tak bertulang.
Diluar dugaan, kedua tangannya yang memeluk tubuh Li
Kun itu tepat menjamah dibagian dada sijelita. Gin Liong
seperti terbang semangatnya.
"Cici, engkau bagaimana ?" tegurnya, Tetapi jelita itu
diam saja, Ketika memandang kebawah ternyata mata Li
Kun mengatup rapat, mulut yang mungil dan sepasang
alisnya yang melengkung bagai bulan tanggal satu, makin
mempercantik wajahnya yang saat itu seperti orang tidur.
Gin Liong makin bingung, ia kira Li Kun tentu pingsan.
Terpaksa ia lekatkan telinganya ke hidung si jelita, Ternyata
pernapasan Li Kun kedengaran lemah, Bibirnya merekah
merah, pipinya yang halus menyiarkan bau harum,
menampar hidung Gin Liong.
Rambut yang indah, bertebaran hinggap di pipi Gin
Liong sehingga membuat pemuda itu benar2 terbang
semangatnya, jantungnya mendebur keras, darah tersirap
serasa berhenti Kedua tangan yang memeluk tubuh jelita
itupun gemetar.
Memandang wajah si nona, tampak jelita itu makin
cantik, Serentak terbayang, bagaimana mesra sekali Tio Li
Kun bersikap kepadanya, betapa cantiklah gadis itu
sesungguhnya . . . .
Tiba2 terlintas wajah Ki Yok Lan pada pelupuknya, Gin
Liongpun tergetar hatinya, Dan serentak itu iapun segera
malu dalam hati, semangatnya tenang kembali. Segera ia
meletakkan Tio Li Kun keatas ranjang pula.
Tiba2 si jelita mengerang pelahan dan memeluk Gin
Liong, susupkan kepalanya kedada pemuda itu dan terisakisak.
Sudah tentu Gin Liong makin gugup. ia belas
memeluk Li Kun dan duduk disampingnya.
"Cici, engkau...?" serunya tetapi ia tak tahu bagaimana
harus menghiburnya.
"Adik Liong..." hanya sepatah kata yang Li Kun dapat
mengatakan karena ia terus memeluk pemuda itu makin
erat.
Gin Liong makin resah, Bukan ia tak tahu bagaimana
perasaan si jelita kepadanya, tetapi bayangan sumoaynya
yang halus pendiam bagai seorang dewi, selalu memenuhi
kalbunya, Tak pernah sedetikpun ia dapat melupakan.
Apalagi suhunya pernah memberi pesan bahwa asal usul
Ki Yok Lan itu sangat menyedihkan sekali maka Gin Liong
supaya berusaha melindunginya. Begitu pula berulang kali
suhunya secara halus memberi petunjuk kepada Ki Yok
Lan bahwa hendaknya Ki Yok Lan kelak dapat
menganggap sebagai suami isteri dengan Gin-Liong.
Teringat akan hal itu, tergetarlah hati Gin Liong, ia
menunduk memandang wajah Tio Li Kun Tampak wajah
jelita itu berlinang airmata sehingga menimbulkan rasa
sayang, Tanpa terasa Gin Liong segera mengusap airmata
nona itu, Tetapi airmata sijelita laksana sumber air yang
terus menumpah tak henti-hentinya.
Saat itu pikiran Gin Liong sudah sadar, ia tak boleh
menyiksa perasaan Li Kun lebih lanjut Tetapi ia tak sampai
hati untuk menolaknya secara getas, ia tak ingin menjadi
pembunuh hati anak gadis.
Akhirnya ia memutuskan hendak memberi penjelasan
secara halus, Bahwa ia sangat mengindahkan Tio Li Kun
tetapi terpaksa tak dapat menerima cintanya, Pada saat dia
hendak mengatakan tiba2 ia kehilangan faham tak tahu
bagaimana harus memulai.
Tetapi pada saat itu Tio Li Kun sudah tak kuat menahan
gejolak hatinya . . Pelahan-lahan ia ajukan kepalanya,
menyongsongkan sepasang bibir yang semerah bunga
mawar.
Gin Liong gugup: "Cici, jangan . . " Tiba2 mulut Gin
Liong tak dapat melanjutkan kata2 karena mulutnya
tertutup oleh sepasang bibir si jelita, semangat Gin Liong
serasa terbang melayang-layang ke suatu alam yang belum
pernah ia nikmati sepanjang hidupnya.
Demikian sepasang muda mudi yang sedang dimabuk
asmara itu telah terbuai dalam lautan sari madu, Keduanya
telah tenggelam kedasarnya....
Badai dan gelombang masih mengamuk dilautan.
Bahkan makin dahsyat, sedahsyat itu pula badai yang
melanda kehangatan cinta- dan kedua muda mudi itu.
Beberapa saat kemudian tiba2 terdengar suara helaan
napas, Gin Liong terkejut, Segera ia meletakkan tubuh Li
Kun terus loncat keluar ruang. Tetapi keadaan di perahu itu
tetap sunyi senyap KamarMo Lan Hwa dan Tek Cun tetap
kosong tiada orangnya.
Gin Liong terus menuju ke geladak, Tiba- ia hentikan
langkah dan merapat pada papan.
ia melihat Mo Lan Hwa dan Tek Cun berdiri pada pintu
ruang perahu dan tengah memandang ke laut, Tek Cun
kerutkan alis dan menengadah memandang kelangit.
Tiba2 kedengaran Mo Lan Hwa menghela napas serunya
rawan:
"Engkoh Tek Cun, harap jangan bersedih Mo Lan Hwa
takkan melupakan perasaan hatimu yang tertumpah
kepadaku, Sejak saat ini aku pasti akan menganggapmu
sebagai engkohku sendiri."
Tek Cun juga menghela napas.
"Kuharap engkaupun jangan bersedih. Kurasa Liong-te
pasti akan mencintaimu dengan segenap hati."
Mo LanHwa gelengkan kepala.
"Ah, tak mungkin, Dalam pandangannya, aku ini
seorang gadis yang manja dan liar, Kesan yang kuberikan
kepadanya memang kurang baik", katanya.
"Sekarang adalah karena aku maka nona Ki sampai
menderita kesulitan, Adik Liong tentu akan membenciku.
Engkoh Cun, apakah engkau tak memperhatikan betapa
dingin sikapnya kepadaku?"
Airmata bercucuran membasahi pipiMo Lan Hwa.
"Jangan engkau berbanyak hati". kata Tek Cun, "saat ini
dia sedang gelisah memikirkan keselamatan sumoaynya.
Apabila nona Ki sudah dapat diketemukan dan sudah
memperoleh keterangan dari Ban Hong liong-li cianpwe
serta menghimpaskan dendam kematian suhunya, dia pasti
akan memperhatikan engkau."
"Setelah ia berhasil membalas sakit hati suhunya, aku
akan segera meninggalkannya dan mengasingkan diri di
sebuah kuil dipegunungan sunyi. Seumur hidup aku akan
mengabdi Buddha sampai pada akhir hayatku.."
Mendengar kata2 itu Tek Cun ikut terharu dan tak dapat
mengeluarkan kata2 lagi, ia lalu mengajak jelita itu masuk.
Gin Liong terkejut. Cepat ia masuk kedalam kamar dan
terus rebah di tempat tidur, Benar2 dia seperti orang yang
kehilangan diri, Mo Lan Hwa mencintainya dengan
segenap jiwa raga,Tio Li Kun telah menyerahkan
kehangatan bibirnya dan Ki Yok Lan tetap menunggunya
dengan penuh harapan. ia benar2 bingung, Bagaimana
nanti kalau ia berjumpa dengan Ki Yok Lan.
Entah selang berapa lama, ia mendengar derap langkah
orang di geladak, Ah, ternyata hari sudah pagi, Anak buah
perahu sibuk melakukan pekerjaannya.
Tek Cun sudah berdiri di geladak ketika Gin Liong
keluar Tak lama kemudian Mo Lan Hwa dan Tio Li
Kunpun menyusul keluar.Kedua jelita itu sama
mengenakan pakaian baru. Li Kun berbaju biru muda,
celana kembang dan mantel biru benang perak, menyanggul
sebatang pedang, mengulum senyum berseri.
Sedang Mo Lan Hwa mengenakan pakaian serba merah
sehingga wajahnya yang cantik makin tampak menonjol.
Rambutnya terurai panjang, menyanggul sebatang pedang.
Kedua jelita itu berjalan seiring. sekalian anak perahu
terbeliak dan terlongong-longong memandangnya.
Mereka seperti melihat sepasang bidadari turun dari
khayangan, Yang seorang bagai sekuntum mawar yang
gemilang.
Melihat Li Kun, agak merah wajah Gin Li-ong. Tetapi
ketika melihat Lan Hwa, ia tersipu2 rawan.
Sambil menunjuk ke deretan puncak gunung Li Kun
bertanya kepada anak perahu: "Gunung apakah itu?"
"Gunung Hok-san."
Gin Liong terkejut ia meminta keterangan benarkah
untuk menuju ke pulau Hong-lay-to harus melalui
pegununganHok-san itu.
"Benar." sahut pemilik perahu, "harus melalui puncak
Hok-san yang sebelah utara, walaupun luasnya hanya 30-an
li tetapi gunung itu berbahaya sekali keadaannya Tak dapat
menggunakan kuda tetapi harus jalan kaki."
Karena terlambat selangkah, Mo Lan Hwa tak dapat
melihat orang tua pemilik cermin pusaka ketika berada di
gunung Tiang-pek-san. Kali ini ia tak mau melewatkan
kesempatan lagi.
"Karena sudah melewati Hok-san. mengapa kita tak
melihat-lihat keadaannya," kata nona itu.
Gin Liong diam saja dan Tek Cunpun tak membeli suatu
tanggapan sedang Tio Li Kun, asal Gin Liong pergi,
sekalipun ke sarang naga, ia tetap akan mengikuti.
Tak berapa lama, perahu berlabuh dan ke-empat pemuda
itupun turun bersama kudanya, Mereka hanya berhenti
makan dikota Mopeng, setelah itu terus melanjutkan
perjalanan ke Hoksan, Tengah hari merekapun sudah tiba
di puncak Hok-san sebelah utara.
"Liok-ko. menilik keadaannya, memang tak mungkin
kita mendaki dengan naik kuda," kata Gin Liong setelah
memandang kepuncak itu.
"Kita mendaki dulu, kalau memang tak dapat dengan
naik kuda, kitapun jalan," kata Mo Lan Hwa.
Ternyata keempat ekor kuda mereka itu kuda yang hebat
semua. Setelah melalui beberapa tempat yang penuh batu
aneh, akhirnya mereka tiba di sebuah lembah yang terletak
dibawah kaki gunung.
Jalan kearah lembah itu sempit dan lembah penuh
dengan gunduk2 batu yang tinggi dan runcing serta rumput
yang subur.
"Mungkin disebelah muka itu adalah mulut lembah, kita
turun saja disini." kata Gin Liong.
Setelah turun, kuda mereka dilepaskan di sebuah aliran
air kecil Dan keempat pemuda itupun segera menuju ke
mulut lembah sempit.
Keadaan dalam lembah memang berbahaya dan sulit
dilalui penuh dengan batu2 yang aneh dan runcing serta
rumput, rotan yang lebat, Gin Liong ragu2 tetapi Tek Cun
mengatakan bahwa lembah itu memang yang disebut Hiutkoh
atau lembah sempit
Mereka lalu gunakan ilmu lari cepat untuk memasuki
lembah, Lembah itu tak kurang dari lima enam li
panjangnya Kedua samping dinding karangnya setinggi
ratusan tombak,Makin kebagian dalam makin berbahaya.
Tiba-2 dari balik segunduk batu aneh di tengah gerumbul
pohon siong pendek, muncul tiga sosok tubuh, Sekali loncat
mereka melayang kearah Gin Liong berempat Dalam
sekejab mata mereka sudah tiba hanya terpisah sepuluhan
tombak dari tempat Gin Liong.
Ketiga orang itu terdiri dari seorang tua berumur lebih
kurang tujuh puluh tahun dan dua orang lelaki pertengahan
umur yang berpakaian ringkas.
Ketiga lelaki itu tampak marah. Tanpa melihat pada Gin
Liong berempat, mereka terus lari keluar lembah.
Gin Liong heran melihat gerak-gerik ke tiga orang itu.
Tetapi iapun tak mau menghiraukan dan mengajak
kawannya melanjutkan masuk kedalam lembah.
Pada saat tiba disebuah gerumbul hutan yang penuh
dengan batu2 aneh, sekonyong-konyong terdengar suara
orang berseru Bu-liung siu-hud. Dan muncullah enam orang
imam. Yang tiga berjubah kelabu, yang tiga berjubah hitam.
wajahnya angkuh, masing2 menyanggul pedang dibelakang
bahunya.
Yang dimuka dua orang imam tua, rambutnya putih,
umur diantara lima puluh tahun, sebelah kirinya seorang
imam tua, bertubuh kurus mengenakan jubah hitam.
Sebelah kanan juga seorang imam tua berjubah kelabu,
bermuka bopeng, Dibelakang mereka, dua orang imam
pertengahan umur yang berwajah seram.
Imam tua jubah hitamsegera berseru.
"Pinto bernama Biau liang, menerima perintah dari
kedua tianglo perguruan kami untuk membawa murid
perguruan kami Jing Hun dan Jing Gwat, Hian Leng
totiang dari partai Kiong-lay-pay beserta Kong Beng dan
Ceng Beng berdua toyu..."
Sejak ke enam imam itu muncul dengan jual lagak, Mo
Lan Hwa sudah mengkal, Mendengar si imam tua Biau
Liang jual omongan garang, Lan Hwa segera
membentaknya:
"Kalau mau mengatakan apa2, lekaslah katakan, jangan
jual nama dan gelaran !"
Imam tua berwajah bopeng tertawa dingin:
"Li-pohsat ini, masih muda usia tetapi keras sekali
ucapannya, berani omong sembarangan terhadap Biau
Liang lotiang dari partai Kong-tong-pay"
"Siapakah engkau ? Mengapa engkau berani banyak
mulut" bentak Tek Cun.
Merahlah muka imam tua itu.
"Pinto adalah Hian Leng lotiang dari Kiong lay-pay,"
serunya dengan marah.
"Hm, kiranya kawanan manusia yang tak ternama," Mo
Lan Hwa mendengus.
Karena marahnya, imam tua itu menengadahkan muka
dan menghambur tertawa keras.
Imam tua Kong Beng yang berada dibelakang Hian Leng
totiang, segera memekik keras dan maju menghantam si
nona.
"Kawanan tikus, engkau cari mampus" teriak Tek Cun
seraya maju dan mendahului untuk menyambar tangan
imam Kong Beng.
Tujuan Gin Liong kelembah itu adalah hendak mencari
Ma Toa Kong dan sekalian mencari tahu apakah Swatthian
Sam Yu juga datang ke lembah itu. Untuk mengejar
waktu, ia tak mau terlibat dalam perkelahian.
"Liok-ko, jangan melukainya," cepat ia mencegah Tek
Cun.
Tetapi Tek Cun sudah terlanjur mencengkeram lengan
imam itu. Mendengar permintaan Gin liong ia segera
mendorong imam itu: "Enyah !"
Imam Kong Beng terhuyung-huyung beberapa langkah
dan jatuh terduduk di tanah.
Hian Leng dan Biau Liang terkejut Tak kiranya hanya
sekali bergerak, pemuda itu telah mampu mendorong rubuh
imam Kong Beng, murid pilihan dari partai Kiong-lay-pay.
Kedua imam itu tak berani memandang rendah kepada
kawanan pemuda itu lagi.
"Sicu sekalian ini dari perguruan mana dan siapakah
nama suhu sicu yang mulia ? Harap lekas katakan, siapa
tahu kemungkinan antara perguruan kita masih terdapat
hubungan," cepat Biau Liang berseru dengan nada sarat.
Karena harus mengejar waktu, Gin Liong mengatakan
kalau dirinya dan kawan2 itu tidak termasuk murid dari
suatu partai persilatan.
"Kami mohon tanya, mengapa totiang menghadang
perjalanan kami " tanyanya kemudian
Imam Biau Liang tertawa dingin, tubuhnya gemetar
karena menahan kemarahan.
"Perguruan pinto dan partai Kong-tong-pay masing2
telah mengutus dua orang tiang-lo untuk memimpin para
murid datang kemari mencari jejak orang tua pemilik
cermin pusaka, Untuk menghimpaskan dendam kematian
dari Bu Tim sute serta kedua Bu-song-kiam It Jeng toyu dari
partai Kong-tong-pay. Pinto bersama Biau Liang toyu telah
ditugaskan menjaga tempat ini, siapapun juga, baik dari
kalangan Hitam maupun Putih, tak dibenarkan masuk ke
dalam lembah Hiap-koh sini. Jika ada yang berkeras masuk,
heh, heh..." seru imam Hian Leng dari Kiong-lay-pay.
"Kalau berkeras masuk, lalu bagaimana ?" akhirnya Gin
Liong geram juga atas sikap kawanan imam yang
mengandalkan jumlah banyak itu.
"Berarti hendak bermusuhan dengan partai Kong-tongpay
dan Kiong-lay-pay" seru Biau Liang seraya deliki mata.
Tring, Mo Lan Hwa cepat mencabut pedang dan
melengking: "Sebagai alasan hendak membalas dendam
tetapi pada hakekatnya kalian hendak mengincar cermin
pusaka itu sendiri dan mencegah lain2 partai persilatan tak
dapat masuk dalam lembah ini."
Berhenti sebentar untuk tertawa, si cantik berseru pula:
"Kalian hanya dapat menggertak orang yang bernyali
kecil, Tetapi kalian sial telah bertemu dengan aku. Coba
saja hendak kulihat sampai di mana kemampuan kalian
hendak merintangi rombonganku !"
Imam Ceng Hun yang berada di belakang imam Biau
Liang mencabut pedang dan loncat ke muka seraya berseru
keras:
"Besar sekali mulutmu, budak perempuan ! Akupun
ingin menguji sampai di mana tingginya ilmu pedangmu
sehingga engkau berani bermulut sebesar itu !"
Tek Cun cepat mencabut trisula pendek dan membentak:
"Kawanan kunang2, engkau berani menerjang api, huh,
sungguh tak tahu diri."
Pemuda itu terus gerakkan senjatanya untuk
menyongsong pedang imam Ceng Hun.
Imam itu belum pernah mengenal kelihayan senjata
trisula, Cepat ia merobah gerak pedangnya dalam jurus
Toa-peng-can-ki atau Burung rajawali merentang-sayap,
membabat lengan TekCun.
Pemuda itu tertawa dingin, kebaskan trisula melingkar,
ia membentak: "Lepaskan !"
Tring, terdengar gemerincing tajam diiringi pancaran
sinar kemilau ke udara, Pedang dari imam Ceng Hun telah
terlepas dari tangannya.
Ceng Hun terkejut semangatnya serasa terbang dan cepat
ia membuang tubuh ke belakang, berguling sampai
setombak jauhnya.
Kuatir Tek Cun akan menyusuli serangan, imam Ceng
Gwatpun membentak dan menyerang anak muda itu.
Kini Mo Lan Hwa yang menghadang. Ujung pedang
nona itu segera menusuk ke bahu Ceng Gwat, Imam itu
marah sekali, Dengan mendengus dingin, ia menghindar
lalu balas menusuk dada si nona,
Mo Lan Hwa tersipu-sipu merah, Cepat ia membentak
dan secepat kilat tubuhnya berputar, pedang menabas,
Terdengar jeritan ngeri. Sambil menyurut mundur, imam
Ceng Gwat mendekap telinganya yang berdarah, Ternyata
sebelah daun telinga kiri imam itu telah hilang.
Wajah Biau Liang si imam dari Kong-tong-pay, pucat
seperti kertas, Tiba2 ia tertawa keras, mencabut pedang lalu
bergegas lari menuju ketempat Mo LanHwa.
Gin Liong menyadari bahwa tak mungkin lagi ia dapat
menghindari pertempuran ia memutuskan untuk
mengakhiri pertempuran itu secepat mungkin.
"Telah lama kudengar bahwa ilmu pedang dari partai
Kong-tong-pay itu tiada tandingannya dalam dunia
persilatan. Hari ini sungguh beruntung sekali aku dapat
berjumpa dengan totiang, Sukalah totiang bermurah hati
untuk memberi pelajaran kepadaku," serunya dengan
tertawa hambar, serentak ia mencabut pedang.
Ditingkah sinar matahari, pedang itu memancarkan sinar
warna merah, Pedang Tanduk Naga kembali muncul
hendak mengunjuk kesaktian.
Seketika pucatlah wajah Biau Liang tojin, ia cepat dapat
mengenal pedang itu sebagai pedang Tanduk Naga. pedang
pusaka yang termasyhur dari daerah Biau, ia hentikan
langkah.
Walaupun tahu bahwa Gin Liong itu memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi, tetapi selama ini belum pernah Tio
Li Kun melihat pemuda itu bertempur dengan orang,Maka
cepat ia loncat kesisi Gin Liong dan berkata dengan bisik2:
"Liong-te, harap menyingkir ke samping, biar aku saja
yang menghadapinya."
Habis berkata jelita itu terus mencabut pedangnya.
Imam Hian Leng dan Biau Liang kembali terkesiap,
Mereka tahu bahwa pedang pendek yang berada di tangan
nona cantik itu tentu juga sebuah senjata yang hebat.
Saat itu Tio Li Kunpun sudah melangkah maju
menghampiri imam Biau Liang.
Sebagai sute dari Biau It cinjin ketua partai Kong-tongpay,
Biau Liang sangat dihormati oleh anak murid Kong
tong-pay. Dengan ilmu pedangnya yang sakti. Biau Liang
selalu bersikap angkuh tak memandang mata pada orang.
Sudah tentu saat itu ia tak mau unjuk kelemahan
terhadap seorang nona, Apalagi dilihat oleh imam Hian
Leng dari partai Kiong-lay-pay dan dua orang muridnya.
"Jika li-sicu berminat hendak adu ilmu pedang dengan
pinto, pintopun bersedia melayani" kata imam Biau Liang,
"tetapi pedang itu tak bermata, Begitu melancar tentu tak
dapat terhindar dari melukai orang, jika terjadi peristiwa
semacam ini, harap jangan mengatakan pinto menghina
orang yang lebih muda."
Tio Li Kun hanya tertawa hambar dan tetap melangkah
maju, sedikitpun ia tak mengacuhkan peringatan tokoh
Kong-tong-pay itu.
"Huh, batang kepala sendiri belum tentu dapat
melindungi masakan masih sibuk mengurus lain orang,"
dengusMo Lan Hwa.
Mendengar itu serasa meledaklah dada imam Biau
Liang, Serentak pedang ditaburkan dalam tebaran sinar
yang segera menimpali tubuh Mo Lan Hwa.
Melihat ilmu permainan imam dari Kong-tong pay itu,
Tek Cun dan Mo Lan Hwa diam-diam terkejut Ternyata
imam Kong-tong-pay itu memiliki ilmu pedang yang hebat
sekali jauh lebih lihay dari imam Ceng Hun, Ceng Gwat
berdua.
Tetapi si jelita Li Kun tetap tenang saja. Tubuhnya
bergeliatan dengan lemah gemulai dan berlincahan seindah
kupu2 terbang diatas kuntum bunga. Tiba2 ia memekik
nyaring sehingga kumandangnya sampai menembus jauh
kedalam awan.
Pandang mata Biau Liang serasa kabur dan serangan
pedangnyapun menemui angin kosong, Serentak ia
mendengar pekik si jelita yang berada di belakangnya, ia
berteriak kaget dan cepat balikkan tangannya menabas
kebelakang, sedang tubuhnya meluncur deras ke muka.
Ternyata hilangnya Tio Li Kun itu karena ia melambung
ke udara. ia memang tak bermaksud hendak melukai orang.
Gerakannya itu hanya sekedar untuk menggertak saja.
Ketika Biau Liang meluncur ke muka iapun segera
bergeliatan di udara dan mengejar di belakang lawan.
Setelah mencapai tiga tombak, cepat2 Biau Liang cinjin
berputar tubuh ke belakang, Sepasang matanya berkilat-kilat
mencari tempat beradanya lawan.
Tetapi pada saat ia berputar tubuh tadi Tio Li Kunpun
sudah melayang kebelakangnya, Sudah tentu Biau Liang
tak melihat nona itu. Tetapi cepat ia menyadar, apa yang
terjadi. Dengan memekik keras ia balikkan pedang
menghantam ke belakang.
Melihat Biau Liang masih berkeras kepala, marahlah Li
Kun. Dengan bersuit nyaring ia gunakan jurus Hay te-juiciam
atau didasar laut mencari jarum. Cepat laksana kilat ia
membabat pedang siimam.
Tring, terdengar dering yang tajam sekali diiringi dengan
pekik kejut dari Biau Liang yang terus loncat mundur
setombak jauhnya. Ternyata pedangnya telah terbabat
kutung oleh pedang si jelita.
Sebelum imam itu sempat menenangkan diri, Mo Lan
Hwapun sudah melesat dan secepat kilat menutuk tubuh
imam itu.
Biau Liang masih tercengang karena pedangnya putus,
atau sudah diserang lagi oleh Mo Lan Hwa. ia tak keburu
menghindar lagi, bluk, jatuhlah ia ke tanah.
Melihat itu imam Hian Leng cepat membentak dan maju
menerjang, Demikian pula dengan keempat imam yang
lain, Mereka menggembor kalap dan terus lari menyerbu.
Tetapi Gin Liong, Lan Hwa dan Tek Cun sudah siap
menyambut.
Tek Cun menghadang imam Ceng Hun dan Ceng Gwat,
Mo Lan Hwa mencegat imam Kong Beng dan Ceng Beng.
Sedang Gin Liong segera menyerang imam Hian Leng.
Tio Li Kun masih berdiri tiga tombak di luar gelanggang,
Sambil lintangkan pedang ia memandang langit. Tiba2 ia
berseru memberi peringatan kepada kawan-kawannya
bahwa hari sudah menjelang petang dan lembah masih
belum diketahui berapa dalamnya.
Tio Li Kun cepat bergerak, Tring, terdengar dering
senjata yang keras disusul dengan suara erang tertahan
imam Hian Leng lepaskan pedang dan terjungkir tujuh
langkah ke belakang.
Gin Liongpun cepat menutuk jalan darah imam tua itu,
Kemudian kedua muda mudi itu menghampiri ke tempat
Lan Hwa dan TekCun.
Melihat Hian Leng dan Biau Liang tojin kena tertutuk,
buyarlah semangat keempat imam yang lain, Berputar
tubuh mereka terus melarikan diri.
Gin Liong berempat tak mau melepaskan Mereka
berhamburan melayang ke udara dan terus meluncur
menghadang di muka keempat imam itu. Keempat itu
makin gugup, Mereka berputar dan lari balik, Tetapi
dengan cepat Gin Liong dan kawan2 telah dapat menutuk
rubuh mereka.
Keenam imam itu dibawa ke belakang sebuah batu besar
dan diletakkan disitu, Setelah itu Gin Liong dan kawan2
segera hendak melanjutkan langkah masuk kedalam
lembah. Tetapi alangkah kejut mereka ketika melihat di
muka sebuah hutan, lebih kurang tiga-puluh tombak dari
mulut guha, telah penuh dengan rombongan orang
persilatan yang terdiri tak kurang dari empat lima puluh
orang. Tua. muda, imam dan paderi, Mereka memandang
terkejut kearah Gin Liong.
"Tak perlu menghiraukan mereka," kata Tek Cun seraya
menyarungkan trisula, Merekapun melanjutkan masuk
kedalam lembah, Ketika berpaling kebelakang, Gin Liong
melihat rombongan orang persilatan tadipun berhamburan
lari masuk kedalam lembah.
Setelah melewati dua buah hutan bambu, lembahpun
berkelok kesebelah kiri, Dan setelah melalui ujung puncak,
mereka melihat sebuah air terjun raksasa yang mencurah
kedasar lembah, membentuk sebuah telaga kedalam 30-an
tombak.
Ada suatu pemandangan yang cepat menarik perhatian.
Bahwa air telaga itu ternyata memantulkan sinar yang
gilang gemilang menyilaukan mata.
Gin Liong cepat dapat mengetahui bahwa sinar kemilau
itu adalah sinar cermin yang ditingkah cahaya matahari.
"Hai lihatlah, itulah cermin pusaka dari si orang tua !"
teriak Gin Liong seraya menunjuk ke muka, Kemudian ia
memandang kesekeliling tetapi tak melihat orang tua itu.
Cermin itu diletakkan diujung atas dari batu runcing
yang tepat berada di tengah2 curahan air terjun, Entah
bagaimana cara orang tua itu meletakkannya.
Gin Liong dan kawan2 hentikan langkah dan
memandang ke sekeliling. Tiba2 mereka terkejut sekali
ketika melihat diantara gerumbul semak dan batu yang
berada di sebelah muka, terkapar malang melintang belasan
sosok mayat manusia.
Keadaan mayat2 itu menyedihkan sekali. Ada yang
kakinya hilang, lengan buntung, mulut berlumuran darah,
Mereka terdiri dari orang tua, rahib wanita ada pula yang
dandanan seperti sasterawan.
Diam2 Gin Liong nyeri melihat keganasan orang tua
pemilik cermin itu.
"Hm, sungguh kejam sekali orang tua itu," Mo Lan Hwa
juga penasaran, "huh, kemanakah dia bersembunyi ? Biar
dia bagaimana saktinya, tetapi aku ingin menempurnya
juga !"
"Cici, jangan marah, "seru Gin Liong," turut yang
kulihat ketika didalam rumah gubuk yang lalu, dia hanya
memiliki cermin pusaka itu saja dan tak punya senjata
lainnya".
Berpaling ke belakang, ia melihat rombongan orang
persilatan itu pun berhenti padat jarak tiga-puluhan tombak,
Dia heran mengapa mereka tak mau melanjutkan maju ke
muka lagi.
"Liongte, menurut keterangan imam Hian Leng dan Biau
Liang tadi, mereka masih ada empat orang tianglo yang
berada disini, tetapi mengapa tak kelihatan ?" tiba2 Tio Li
Kun berkata.
"Hm, mungkin sudah mampus," gumamMo Lan Hwa.
Tetapi serempak dengan ucapan nona itu tiba2 dari balik
sebuah batu besar di sebelah kiri terdengar suara orang
tertawa mengekeh.
"Siapa !" bentak TekCun, terus melayang ke tempat itu.
"Liok-ko, jangan..." cepat Gin Liong mencegah karena ia
tahu akan kesaktian orang tua pemilik cermin pusaka, iapun
segera loncat menyusul Tek Cun, Mo Lan Hwa dan Tio Li
Kun juga mengikuti.
Baru tiba dimuka batu besar dan belum lagi dapat berdiri
tegak, seorang imam tua telah loncat keluar dari balik batu
itu dan terus lepaskan hantaman.
Walaupun sudah bersiap tetapi jarak begitu dekat dan
pukulan dilancarkan secara tiba tiba sekali, Tek Cun
terkejut dan cepat cepat dorongkan tangannya kemuka.
Gin Liong terkejut ketika melihat kesaktian tenaga
pukulan imam tua itu. ia kuatir Tek Cun tak mampu
bertahan. Dengan menggembor keras, iapun segera
menghantam.
Tetapi tepat pada saat Gin Liong lepaskan pukulan, dari
balik batu besar itu muncul pula seorang imam tua lagi yang
sambil berteriak keras juga lantas lepaskan hantaman
kearah pukulan Gin Lang.
Terdengar letupan keras diiring dengan debu dan batu
bertebaran dihembus angin, imam tua kurus yang pertama
muncul tadi serta Tek Cun sama2 terhuyung-huyung
mundur, imam kurus itu termakan pukulan Gin Liong
sehingga terhuyung ke belakang, punggungnya membentur
batu besar itu.
Mo Lan Hwa menjerit kaget seraya loncat menyambar
tubuh Tek Cun pemuda itu muntahkan segumpal darah
segar. Tio Li Kunpun menghampiri lalu membawa
engkohnya duduk ditanah.
Gin Liong melihat peristiwa itu.
"Hm, terimalah pukulanku sekali lagi..!" serunya seraya
maju tiga langkah lalu ayunkan tangannya.
Imam tua yang muncul belakang itu mempunyai raut
muka seperti kuda, ia tahu pemuda itu memiliki tenaga
yang sakti, Cepat ia kerahkan tenaga-dalam dan
menyongsong dengan pukulan juga.
Terdengar letupan lagi dan langkah kaki si imam
bermuka kuda yang terhuyung-huyung kebelakang. Setelah
muntah darah, iapun rubuh terkapar.
Pada saat itu dua sosok tubuh loncat ke luar lagi dari
balik batu besar. Dua orang imam tua berambut putih itu
segera menolong imam bermuka kuda.
Yang mengenakan jubah hitam dan berumur enam
puluhan tahun, berwajah persegi, alis tebal dan mata tajam
segera loncat menghampiri ketempat si imam kurus yang
terluka tadi.
Gin Liongpun juga memandang kearah Tek Cun.
Dilihatnya pemuda itu kerutkan dahi, pejamkan mata.
wajahnya pucat lesi, mulut masih membekas noda darah,
Mo Lan Hwa memberinya minum sebutir pil warna hijau,
Sedang Tio Li Kun duduk di belakang engkohnya,
melekatkan telapak tangannya ke punggung Tek Cun
hendak memberi saluran tenaga-dalam.
Makin meluaplah kemarahan Gin Liong. ia marah
kepada kawanan imam tua yang dalam kedudukan sebagai
tiang-lo telah menyerang seorang anak muda tanpa
bertanya suatu apa lebih dulu,
Tiba2 pula Gin Liong teringat mengapa orang tua
pemilik cermin pusaka itu tak tampak ? Apakah orang tua
itu juga sudah mati dibunuh keempat imam tua yang ganas
itu ? Dan jangan2 korban2 yang jatuh berserakan di tanah
itu juga keempat imam itu yang membunuhnya.
Gin Liong memandang sesosok mayat yang berada di
dekatnya,
"Hai, Ma Toa Kong !" serentak ia memekik kaget dan
terus loncat menghampiri Ternyata perut Ma Toa Kong
telah robek sepanjang delapan inci, ususnya berhamburan
keluar.
Gin Liong cepat beralih memandang ke arah empat
imam tua itu dan membentak: "Kim-piau Ma Toa Kong,
apakah kalian yang membunuh ?"
Imam tua berjubah kelabu yang berada di samping imam
bermuka kuda, pelahan-lahan berbangkit dan deliki mata
lalu tertawa dingin:
"Ya. memang toya yang menyempurnakan ia engkau
mau apa ?"
Gin Liong tertawa keras untuk menghamburkan
kemarahannya.
"Bagus, akupun akan menyusulkan engkau ke akhirat."
serunya seraya mencabut pedang Tanduk Naga. Tiba2 ia
mendengar suara erang pelahan. Ah. ternyata suara itu
berasal dari mulut Ma Toa Kong.
Gin Liong cepat berjongkok dan memegang pergelangan
tangan Ma Toa Kong. Ternyata detak jantungnya masih
berjalan lemah.
Segera ia menutup luka Ma Toa Kong dengan
pakaiannya lalu lekatkan telapak tangan ke-perutnya untuk
memberi penyaluran tenaga dalam, Walaupun wajahnya
pucat seperti kertas tetapi bibir Ma Toa Kong mulai
bergerak-gerak.
"Ma lo cianpwe, bagaimana engkau rasakan ?" seru Gin
Liong.
Ma Toa Kong hendak mengucap kata2 tetapi tenaganya
lemas sekali, ia pejamkan mata lagi, Tak berapa lama
terbuka lagi dan bibirnyapun bergerak-gerik. Beberapa saat
kemudian kedengaran ia dapat menghela napas dan
memandang Gin Liong:
"Ah . . . tak kira . . . bukan di . . . guha Kiu-kiok-tong . . .
. tetapi . . . aku mati disini . . ."
"Ma lo cianpwe bagaimana meninggalkan guha Kiukiok-
tong ?" seru Gin Liong cepat.
Dengan napas terengah-engah Ma Toa Kong paksakan
diri berkata:
"Pada waktu itu . . . gurumu masuk guha, . . lama tak
keluar . . . pertama It Ceng . . . kuatir Ban Hong liong-li
keluar . . . . yang pertama-tama lalu . . . kemudian . . . .
semua pergi . . . ."
Tiba2 dari jauh terdengar suara orang berseru memanggil
: "Ma susiok . . . ." Nampak sosok bayangan berlarian
mendatangi ketempat Ma Toa Kong. Mereka dua lelaki
berpakaian hitam, bertubuh gagah perkasa dan masing2
menyanggul golok besar.
Gin Liong duga kedua orang itu tentu orang Tiam-jongpay-
Mungkin karena mendengar ia menghardik keempat
iman tua tadi, kedua orang itupun segera bergegas
mendatangi.
"Ma susiok, siapakah yang membunuh engkau ?" kedua
orang itu menangis.
Dua butir airmata menitik dari pelupuk mata Ma Toa
Kong, kemudian berkata : "Hong Tim. .. dan . . . Ceng . . .
." - ia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena saat
itu lidahnya kaku.
Melihat itu Gin Liong cepat salurkan tenaga-dalam lagi
ke tubuh Ma Toa Kong, Tetapi percuma, Ma Toa Kong
telah putus jiwanya, Gin Liong meluap darahnya.
Berpaling ke belakang dilihatnya Mo Lan Mwa berdiri
dengan lintangkan pedang menjaga Tio Li Kun dan Tek
Cun yang tengah duduk menyalurkan pernapasan. Sedang
imam tua bermata tikus, berada dua tombak dari mereka,
imam tua berjubah hitam pun tengah berjalan
menghampiri.
Gin Liong segera dapat menduga apa yang telah terjadi.
Ketika Tio Li Kun sedang merawat engkohnya yang terluka
dan dia sedang menolong Ma Toa Kong, kedua imam itu
tentu berusaha hendak turun tangan.
Segera ia berseru nyaring : "Hai, siapakah diantara kalian
yang bernama Hong Tim lo-to, lekas kemari terima
kematian !"
Sambil berkata, pemuda itu loncat ke tengah gelanggang,
imam yang bermata kecil seperti mata tikus dan bermuka
persegi segera berhenti terkejut melihat ilmu meringankan
tubuh dari Gin Liong yang begitu hebat.
Gin Liong berhenti setombak dihadapan kedua imam itu
dan menghardik lagi: "Siapa? Siapa yang bernama Hong
Tim ?"
Setelah tenangkan semangat kedua imam itu
menguarkan pandang kearah jago2 persilatan yang berada
dalam lingkungan dua puluh tombak disekelilingnya.
Merahlah muka mereka, Kemudian menatap Gin Liong,
kedua imam itu tertawa dingin.
Tiba2 kedua orang yang menangis disisi mayat Ma Toa
Kong tadi, serentak berbangkit mencabut golok dan
menggerung: "Keparat Hong Tun, bayarlah jiwa susiokku !"
Keduanya melalui Gin Liong dan terus langsung
menyerbu siimam mata tikus, Gin Liong terkejut ia tahu
kedua orang itu tentu bukan tandingan Hong Tim, Tetapi ia
tak leluasa untuk mencegah kedua orang yang hendak
membalaskan dendam kematian susioknya.
Ternyata imam bermata seperti mata tikus itu memang
Hong Tim. Segumpal jenggotnya yang putih tampak
berguncang-guncang dibawa tertawanya. Tahu2 dia sudah
loncat melayang dua tombak jauhnya.
"Tikus2 kecil, kalian berdua cari kematian sendiri, jangan
salahkan aku Hong Tim toya berhati kejam !" habis berkata
imam tua itu terus mencabut pedangnya.
Melihat sikap siimam yang begitu congkak, marahlah
Gin Liong, Segera ia berseru menyuruh kedua orang itu
berhenti
Tetapi sudah terlambat. Kedua orang itu tak mau
menghiraukan lagi dan terus menyerbu laksana harimau
melihat darah
Tiba2 seorang imam tua berjubah hitam, loncat
menyongsong dan lepaskan hantaman kearah kedua orang
itu:
"Tikus kecil, terimalah pukulanku dulu."
Melihat itu Gin Liong marah sekali. Cepat ia ayunkan
tangannya kearah imam jubah hitam atau imam tua Ceng
Hian.
Terdengar jeritan ngeri dan tubuh imam tua Ceng Hian
itupun terlempar sampai empat tombak jauhnya,
membentur sebuah batu besar.
Melihat itu imam kurus yang baru saja selesai
menyilangkan tenaga cepat loncat untuk menanggapi tubuh
Ceng Hian, Tetapi ketika memeriksanya ternyata imam tua
CengHian sudah putus nyawanya.
Pada saat itu berpuluh jago2 silat yang berada dua puluh
tombak dari tempat Gin Liong berdiri, tiba2 bersorak keras.
Gin-Liong berpaling dan tampak wajah jago2 silat itu
terkejut memandang kearah belakangnya. Menurut arah
pandang mereka, Gin Liong segera mengetahui bahwa
lelaki berpakaian ungu tadi sudah dibelah dua oleh pedang
imam tua Hong Tim. Dan saat itu Hong Tim meneruskan
pedangnya ke arah lelaki berpakaian hitam.
Saat itu Gin Liong menyadari bahwa teriakan jago2 silat
tadi adalah sebagai peringatan kepadanya bahwa kedua
orang murid keponakan dari Ma Toa Kong terancam
bahaya.
Gin Liong tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Serentak ia mencabut pedang Tanduk Naga dan terus
loncat membabatHong Tim.
Melihat kedahsyatan gerak Gin Liong dan pedang
Tanduk Naga, imam tua Hong Tim terkejut sekali, Buru2 ia
loncat mundur beberapa langkah.
Tetapi Gin Liong sudah terlanjur diamuk amarah,
Terutama setelah tahu bahwa imam tua Hong Tim itulah
pembunuh dari Ma Toa Kong, Dengan mengaum laksana
harimau melihat darah, ia menerjang maju dan menusuk
perut Hong Tim.
imam kurus meletakkan mayat imam Ceng Hian lalu
loncat menerjang Gin Liong: "Bangsat, kembalikan jiwa jisuhengku..."
Serangan imam kurus itu disertai dengan hud tim atau
kebut pertapaan yang berbulu kawat perak, menyabet
lambung Gin Liong.
Lelaki baju hitam yang hendak diserang Hong Tim tadi
karena melihat kawannya, lelaki baju ungu mati begitu
mengenaskan, marah dan kalap, ia segera menyerang imam
kurus dengan sebuah tabasan golok.
Dengan demikian serangan imam kurus kepada Gin
Liongpun tertahan, Dan Gin Liong dapat melanjutkan
tusukannya keperutHong Tim.
Hong Tim cepat menangkis dengan pedang tetapi begitu
berbentur dengan pedang Tanduk Naga, pedangnyapun
putus, Sebelum Hong Tim sempat menghindari ujung
pedang Tanduk Naga sudah bersarang di perutnya.
Darah mengucur deras, Hong Tim lepaskan pedangnya,
mendekap perut dan terhuyung-huyung kebelakang dan
rubuh ke tanah. Ususnya berhamburan, kematiannya
sengeri kematian Ma Toa Kong.
Setelah berhasil membunuh Hong Tim, Gin Liongpun
berpaling. Dilihatnya imam kurus sedang bertempur seru
dengan lelaki baju hitam, imam kurus dengan permainan
kebut hud-timnya yang cepat dan dahsyat dapat mendesak
lawan sehingga orang itu mandi keringat, permainan
goloknyapun makin kacau, Tetapi rupanya dia sudah kalap
dan hendak mengadu jiwa, Dengan nekad ia balas
melakukan serangan sehingga mampu juga mendesak imam
kurus.
Dalam pada itu, imam tua bermuka seperti kuda yang
tengah pejamkan mata memulangkan tenaga tadi,
membuka mata dan dengan menggerung ia ayunkan kedua
tangannya.
Benda halus macam sutera perak mendesis-desis kearah
Siau-bun-hau Tek Cun yang saat itu masih pejamkan mata
memulangkan tenaga.
Mo LanHwa menjerit kaget dan cepat loncat ke samping
Tek Cun seraya memutar pedangnya dalam sebuah
lingkaran untuk melindungi anak muda itu.
Melihat itu Gin Liong marah sekali, sambil meraung ia
loncat ke udara dan bergeliatan untuk meluruskan tubuh.
Ketika ia hendak melepaskan hantaman tiba2Mo Lan Hwa
menjerit kaget pedangnya terpental jatuh dan nona itupun
jatuh terjungkir balik ke belakang.
Gin Liong terkejut, ia tahu bahwa nona itu tentu terkena
senjata rahasia berbentuk seperti sutera perak tadi. Cepat ia
ayunkan kaki keatas dan berjumpalitan Dengan kaki di atas
dan kepala di bawah ia melayang ke arah tempat Mo Lan
Hwa.
Pada saat ia hendak menyambar tubuh Mo Lan Hwa
tiba2 matanya terpancar oleh cahaya keras yang
dipancarkan dari kaca wasiat tadi. Seketika pandang
matanya silau, ia tak dapat melihat benda disekelilingnya
lagi, Empat penjuru terasa gelap gelita,
Untung Gin Liong masih sadar pikirannya. ia bergeliatan
dan melayang turun ke tanah, Tetapi ia terkejut sekali
ketika matanya tetap gelap tak dapat melihat apa2.
Serempak pada saat itu ia mendengar pula suara
mendesis-desis halus menuju ketempatnya, ia tahu bahwa
musuh telah menyerangnya dengan senjata rahasia, Cepat
ia putar pedang Tanduk Naga dan berhasil membuyarkan
benang2 perak itu jatuh ke tanah.
Tiba2 para jago silat diluar gelanggang kembali berteriak
pula, Gemuruh dan gempar. Bahkan mereka bukan
melainkan bersorak tetapi pun menyisih ke belakang,
membuka sebuah jalan.
Gin Liong cepat berpaling untuk melihat. Tetapi ia tetap
tak dapat melihat apa2, matanya tetap gelap, ia hanya
mendengar di antara suara hiruk pikuk itu samar2 terdengar
suara kibaran pakaian beberapa orang yang tengah
mendatangi.
Imam bermuka kuda, karena melepaskan senjata rahasia
sutera perak yang selembut bulu kerbau. telah kehabisan
tenaga-dalam, Luka dalamnya kambuh lagi, berulang kali ia
muntah darah
Saat itu terdengar si cantik Tio Li Kun melengking kaget,
Rupanya setelah selesai menyalurkan tenaga, Tio Li Kun
tahu apa yang terjadi pada diri Mo Lan Hwa. Cepat ia
loncat memeluk tubuh Mo Lan Hwa, Wajah Mo Lan Hwa
pucat lesi, matanya meram dan dahinya mengerut menahan
kesakitan. Memandang kesebelah muka, hati Tio Li Kun
makin tergetar keras. Dilihatnya Gin Liong terlongong2
memandang kearah jago2 silat yang tengah hiruk dan sibuk
menyisih kesebelah samping.
Tio Li Kun segera hendak menegur tetapi tiba2
dilihatnya tiga orang tua lari menerobos ke luar dari
kerumun jago2 silat itu- Yang paling depan umurnya lebih
kurang delapan puluh tahun, berambut pendek berjenggot
panjang, putih seperti perak, wajahnya lebar, alis tebal mata
bundar. Mengenakan pakaian dari kain kasar, Tangannya
mencekal sebatang pipa hun-cwe, gembung pula sebesar
kepalan tangan orang, memancarkan sinar keemas2 an.
Di sebelah kiri dari orang tua itu, seorang tua yang
sikapnya seperti orang sinting, Dia membawa sebatang
tongkat bambu wulung dan pakaiannya compang-camping
seperti pengemis.
Di sebelah kanan orang tua tadi, juga seorang lelaki tua
berumur lebih kurang delapan puluh tahun, Rambut dan
jenggotnya putih, matanya kuyu seperti seorang pemabok.
Mulutnya besar dan lebar sekali, Mengenakan pakaian
warna kelabu yang memanjang menutupi kedua kakinya,
punggungnya memanggul tiga buah buli2 arak yang
berkilat-kilat menyilaukan.
Ketiga orang tua itu lari pesat sekali, Tio Li Kunpun
cepat mengenali ketiga orang itu sebagai Swat-thian Samyu.
Maka ia segera menggolek-golekkan kepala Lan Hwa
dan memberitahu: "Adik Hwa, adik Hwa, lihatlah, ketiga
suhengmu datang."
Mendengar itu Mo Lan Hwa paksakan diri membuka
mata. Setelah melihat memang ketiga suhengnya datang, ia
pejamkan mata pula.
Saat itu pandang mata Gin Liongpun sudah sembuh. ia
dapat melihat kedatangan Swat-thian Sam-yu itu, Cepat2 ia
berseru : "Lo-koko berdua, harap segera kemari !"
Melihat Gin Liong, Hok To Beng dan Hong-tian-soh
(siorang tua sinting) tertawa gelak2. Tetapi wajah mereka
cepat mengerut gelap ketika melihat Mo Lan Hwa
menggeletak ditanah dipeluk Tio Li Kun. Cepat mereka lari
menghampiri. Lebih terkejut pula mereka ketika memeriksa
keadaan sumoaynya itu.
Hok To Beng sibuk memanggil-manggil sumoaynya
tetapi nona itu tetap diam saja. Didapatinya lengan Mo Lan
Hwa membengap, jelas nona itu tentu terkena senjata
rahasia yang amat beracun.
"Siapa yang berani mencelakai sumoay dengan senjata
rahasia beracun itu !" Hong-tian-soh berbangkit dan
berteriak keras.
Sebelum Gin Liong memberi keterangan, Mo Lan
Hwapun paksakan diri membuka mata dan menuding
kearah siimam potongan muka kuda.
Menurutkan arah yang ditunjukkan si nona, Hong-tiansoh
segera membentak keras:
"Hai, kurcaci tua dari mana berani menggunakan senjata
rahasia yang begitu ganas !"
Dengan mengangkat tongkat bambu wulung, Hong-tiansohpun
segera lari kearah siimam muka kuda yang masih
duduk di tanah.
Ketika Cui-sian-ong atau Dewa Pemabuk merentang
mata, segera ia berseru: "Hai, sinting, jangan menghajar, dia
Ih Tim tianglo dari partai Kiong-lay-pay."
Hong-tian-soh sudah terlanjur angot gilanya. Sudah tentu
ia tak menghiraukan peringatanDewa Pemabuk.
"Tak peduli dia tianglo dari partai mana, yang penting
harus dihajar dulu !" seru orang sinting itu, ia tetap
lanjutkan larinya ketempat imam tua itu.
Mendengar keterangan Dewa Pemabuk, Hok To Beng
terkejut dan berpaling ikut mencegah: "Sinting . ... "
Tetapi terlambat Terdengar suara bambu menghantam
benda keras disusul dengan jeritan ngeri. Batok kepala dari
Ih Tim tianglo partai persilatan Kiong-lay-pay telah hancur
lebur, berhamburan keempat penjuru.
Baik Hok To Beng maupun Dewa Pemabuk berobah
wajahnya seketika. Mereka menganggap peristiwa
pembunuhan itu, akan menimbulkan akibat besar, Partai
Kiong-lay-pay pasti akan mencari balas kepada Swat-thian
Sam-yu.
Tidak demikian dengan Gin Liong. pemuda itu tak puas
melihat kekuatiran kedua tokoh itu. Sejenak ia keliarkan
pandang kearah sosok2 mayat yang menjadi korban
keganasan keempat imam tua dari Kiong-lay-pay itu.
Baru ia hendak berkata, tiba2 Hong-tian-sohpun sudah
berteriak keras lagi: "Hai, masih ada seorang kurcaci tua
lagi !"
Habis berkata ia terus mengangkat tongkat bambunya
hendak dikemplangkan ke kepala imam kurus yang tengah
bertempur dengan orang yang berpakaian hitam tadi.
Kali ini Hok To Beng berbangkit dan berteriak marah:
"Hai, sinting, itu Ceng Cin tianglo dari Kong-tong-pay !"
Mendengar itu imam kurus terkejut Cepat menggembor
keras dan menyelinap ke samping. Ketika berpaling
kejutnya bukan kepalang, Cepat2 ia ayunkan kebut hudtimnya.
"Bagus, ha, ha, ha," teriak Hong-tian-soh yang tanpa
merobah gerak jurusnya, tetap ayunkan tongkat bambu
mengemplang kepala imam itu.
Waktu mengetahui bahwa yang menyerangnya itu si
sinting dari Swat-thian Sam-yu, berobahlah wajah Ceng Cin
tianglo, ia tahu bahwa jurus Pang-ta-lian-hoa yang
dimainkan tokoh sinting itu penuh perobahan yang sukar
diduga. Dengan menggembor keras. Ceng Cin segera buang
tubuhnya bergelundungan ke tanah dengan ilmu Kiu-te-sippat-
kun.
Rupanya Hong-tian-soh tak mau mengejar Berpaling
memandang kearah lelaki baju hitam yang masih tegak
terlongong. ia membentak :
"Karena bertempur mati-matian di tempat ini, engkau
tentu bukan manusia baik !"
Habis berkata orang sinting itu terus ayunkan tongkat
bambunya, ke pinggang orang.
Karena hendak diserang, lelaki baju hitam itupun
menangkis dengan goloknya, Melihat itu Gin Liong cepat
berteriak:
"Hong koko, dia bukan..."
Tetapi belum selesai Gin Liong berseru, golok lelaki baju
hitam itupun sudah mencelat ke udara, Untung karena
mendengar peringatan Gin Liong, Hong-tian-soh segera
hentikan tongkatnya, Memandang kepada orang itu ia
tertawa mengekeh lalu berputar tubuh dan melangkah ke
tempat Mo Lan Hwa lagi dan berjongkok. Rupanya sayang
sekali dia akan sumoaynya.
Saat itu Dewa pemabuk berhasil mendapat sebuah botol
kecil dari kumala putih, Setelah menuangkan pil dari botol
itu, terus disusupkan ke mulut Mo LanHwa.
Tek Cunpun sudah kuat berdiri tetapi semangatnya
masih lelah, Dalam kesempatan ituHok To Beng suruh Gin
Liong berkenalan dengan Dewa Pemabuk, Demikian pula
dengan Tio Li Kun dan Tek Cun.
Ternyata Swat-thian Sam-yu juga naik perahu bersamaan
waktunya dengan Gin Liong, Tetapi karena penumpangnya
banyak, perahu agak pelahan jalannya hingga Gin Liong
dan rombongannya tiba lebih dulu setengah jam.
Jago2 persilatan dari berbagai aliran makin banyak tiba
di tempat itu, Tetapi mereka tak berani mendekat dan
hanya berdiri dua-puluh tombak jauhnya, Mereka kasak
kusuk dengan kawan2nya. Dengan munculnya Swat-thian
Sam-yu di tempat itu, tak seorangpun yang berani
melanjutkan perjalanannya ke muka.
Sejenak memandang kesekeliling, Hok To Beng kerutkan
dahi, lalu bertanya kepada Gin Li-ong: "Orang tua itu
mengapa tak tampak ?"
Memandang kearah cermin pusaka di tengah telaga, Gin
Liong juga menyatakan keheranannya: "Sejak kami datang,
orang tua itu tak pernah kelihatan."
"Lalu siapa yang membunuh korban2 itu ?" seru Hongtian-
soh seraya memandang sosok2 mayat yang berserakan
di tanah,
Gin Liong kerutkan alis, Tiba2 ia teringat akan kematian
Ma Toa Kong.
"Kemungkinan mati di tangan keempat imam tua itu !"
akhirnya ia menyahut.
Sudah tentu Swat-thian Sam-yu terkejut. Mereka
mendesuh dan serempak berpaling ke arah imam tua Ceng
Cin.
Tampak imam tua Ceng Cin tengah memondong mayat
CengHian dibawa lari keluar dari lembah itu.
"Hm, hari ini kurcaci tua itu mendapat kemurahan,"
dengusHong-tian-soh geram.
Mo LanHwa sudah dapat bangun.
"Bagaimana ? Apakah lenganmu sudah tak sakit ?" seru
ketiga Swat-thian Sam-yu.
Dengan manja sekali Mo Lan Hwa mengatakan kalau
sudah sembuh, ia singsingkan lengan baju dan tampaklah
sebatang sutera perak selembut bulu kerbau menyusup
kelengan nona itu.
Dewa Pemabuk mengambil buli2 araknya meneteskan
dua tetes arak ke bulu perak itu lalu mencabutnya.
"Untung Ih Tim loto sudah menderita luka-dalam,
sehingga tenaganya berkurang, Kalau tidak sutera perak itu
tentu akan menyusup lebih dalam lagi ke tulang," kata Tio
Li Kun.
Dewa Pemabuk merentang mata dan bertanya siapakah
yang melukai Ih Tim loto itu.
Gin Liong mengaku bahwa dialah yang melukai imam
tua itu karena melihat imam itu mengganas Tek Cun
dengan pukulan yang dahsyat ia menunjuk ke arah Tek Cun
yang wajahnya masih pucat.
Dewa Pemabuk mendesis, Rupanya ia seperti kurang
percaya kalau seorang anak semuda Gin Liong mampu
melukai Ih Tim yang berkepandaian tinggi.
"Lalu siapakah yang membunuh Ceng Hian loto ?"
tanyanya pula.
"Juga siaute" kata Gin Liong, "karena dia berlaku curang
menyerang dari belakang.
Sudah tentu Dewa Pemabok makin terkejut Dengan
matanya yang redup menatap Gin Liong.
"Siau-hengte" serunya dengan sikap serius, "begitu keluar
dari perguruan, engkau sudah mengikat permusuhan
dengan dua partai persilatan. Kemungkinan engkau akan
menghadapi bermacam macam kesulitan nanti."
Gin Liong hanya tertawa hambar, "Dalam terjun
kedunia persilatan siaute hanya berpijak pada kebenaran
dan keadilan Memberantas yang lalim dan jahat, menolong
yang lemah dan benar. Apapun bahaya yang akan
menimpali pada diri siaute, siaute tak dapat menghindari
lagi."
Dewa Pemabuk terkesiap, Setelah berbicara beberapa
saat lagi, diam2 ia mengagumi pendirian dan sikap Gin
Liong yang perwira.
"Bagus, bagus, siau-hengte." bahkan Hong-tian-soh si
Sinting menepuk-nepuk bahu Gin Liong "tak kecewa
engkau menjadi adik dari aku si Sinting ini Hong-tian-soh.
Berani dan perwira, Tak gentar menghadapi ancaman, tak
menindas yang lemah dan tak melakukan pekerjaan yang
melanggar hukum Allah, Aha, aku si sinting Hong-tian-soh,
sekarang sudah mempunyai adik sealiran."
Habis berkata tokoh sinting itu tertawa gelak2 dengan
gembira sekali.
Walaupun menahan sakit karena ditepuk-tepuk bahunya
itu, terpaksa Gin Liong harus tersenyum.
Tio Li Kun dan Tek Cun tergerak hatinya mendengar
pernyataan si sinting yang begitu perwira. Mereka tak
mengira kalau tokoh yang tampak seperti orang sinting
ternyata mempunyai pendirian seorang pendekar besar.
Melihat Gin Liong tertawa meringis, Mo Lan Hwa
berseru : "Hong koko, engkau boleh saja bergembira tetapi
dengan menepuk-nepuk bahu begitu, orang harus meringis
kesaktian untuk memuaskan kegembiraan hatimu."
Hong-tiang-soh menyadari dan cepat hentikan
tangannya.
Tiba2 terdengar suitan nyaring dari arah puncak gunung
yang jauh dari situ, Gin Liong terkejut Demikian pula
dengan sekalian tokoh yang berada disitu. Mereka
serempak memandang kearah suara suitan itu.
Suitan itu seolah menembus udara, memenuhi lembah
dan makin lama makin dekat ke lembah.
Sekonyong-konyong dari arah dua-puluh tombak
jauhnya terdengar suara orang berteriak keras: "Lekas- lari,
orang tua pemilik kaca wasiat itu datang !"
Mendengar itu para jago silat yang berkumpul diluar
lembah segera desak mendesak berebut lari. Mereka seperti
akan diserang bencana.
Gin Liong kerutkan alis, Dari berbagai tempat yang jauh
mereka datang, bukankah karena hendak melihat orang tua
pemilik kaca wasiat itu ? Mengapa sekarang orang tua itu
datang, mereka malah melarikan diri ? Pikir Gin Liong
penuh keheranan.
Suitanpun berhenti dan beberapa jago silat yang sudah
membiluk di puncak gunung sebelah muka itupun berhenti
Mereka berpaling memandang ke telaga, cemas dan sangsi.
Tiba2 sebuah suara suitan yang aneh dan parau,
mengiang di telinga Gin Liong. Gin Liong terkejut dan
cepat berpaling.
Hong-tian-son meregang rambutnya, muka menengadah
dan mulut ternganga, Tengkuk lehernya menjulur ke muka.
Ah, dialah yang bersuit aneh itu.
Luka Tek Cun baru saja baik, Mendengar suitan aneh
itu, wajahnya pucat dan keringat dinginpun mengucur lagi,
Melihat itu Gin Liong, Tio Li Kun cepat loncat ke samping
Tek Cun dan serempak memegang punggung Tek Cun.
Tampak Hok To Beng dan Dewa pemabuk serius sekali
wajahnya. Kedua tokoh itu tengadahkan muka untuk
menanti jawaban dari suitan aneh yang dipancarkan Hongtian-
soh tadi.
Memandang ke puncak gunung sebelah muka, Gin
Liong tak melihat lagi rombongan jago2 silat yang berdiri
disitu, Rupanya karena mendengar suitan Hong-tian-soh,
mereka ketakutan melarikan diri.
Setelah bersuit, Hong - tian - soh merentang mata dan
memandang ke puncak sebelah muka, Tiba2 suitan nyaring
tadi terdengar pula, jelas berasal dari balik puncak gunung
yang tingginya beratus-ratus tombak,Menyusul muncul dua
sosok tubuh warna kelabu dan putih meluncur turun bagai
dua buah bintang jatuh dari langit.
Baik Gin Liong maupun Swat-thian Sam-yu terkesiap
melihat kesempurnaan ilmu meringankan tubuh dan kedua
pendatang itu.
Seiring dengan suitan berhenti, kedua sosok tubuh itupun
sudah mencapai tengah2 lereng gunung. Tetapi kumandang
suitannya masih berkumandang jauh ke angkasa.
Saat itu Gin Liong dapat melihat bahwa kedua
pendatang itu terdiri dari seorang lelaki dan seorang wanita.
"Sepasang lelaki dan wanita," serunya, Swat-thian Samyu
terkejut Mereka sendiri belum dapat melihat jelas kedua
pendatang itu. Terutama Dewa Pemabuk, Dia sampai
mendesuh kejut karena heran atas ketajaman mata anak
muda itu.
Dalam pada itu kedua pendatang itupun sudah tiba di
kaki gunung dan lari menghampiri kearah lembah.
Swat-thian Sam-yu memperhatikan bahwa walaupun
tampaknya pelahan tetapi sesungguhnya kedua pendatang
itu lari cepat sekali
Pada lain saat tiba2 Gin Liong berteriak kaget: "Sumoay,
sian-suang . .. . !" iapun terus loncat dan lari menyongsong
kedatangan bayangan putih itu.
Mendengar itu berdebarlah hati si jelita Tio Li Kun.
Apabila tokoh yang disebut sian-tiang telah datang, dia
tentu dapat membuka rahasia siapa sesungguhnya suhu dari
Tio Li Kun itu.
Beda dengan engkohnya, Tek Cun, Pemuda itu gembira
sekali, ia merasa hari itu benar2 luar biasa sekali karena
dapat berjumpa dengan empat tokoh dari Ih-lwe-jit-ki atau
Tujuh tokoh aneh dalam dunia.
Sedangkan Mo Lan Hwa merasa cemburu karena
mendengar Gin Liong begitu girang sekali menyambut
kedatangan sumoaynya.
Saat itu Swat-thian Sam-yu dapat mengetahui jelas
bahwa salah seorang pendatang itu bukan lain adalah Hun
Ho sian-tiang bersama seorang gadis cantik baju putih yang
umurnya sekitar 16-17 tahun, Ketiga tokoh itu segera dapat
menduga bahwa gadis baju putih itu tentu sumoay dari Gin
Liong,Mereka tertawa ikut gembira atas pertemuan itu.
Terpisah tujuh tombak jauhnya, Gin Liong berhenti dan
memberi hormat kepada Hun Ho sian tiang.
"Liong koko . . " teriak gadis baju putih dengan penuh
haru. ia berlinang-linang airmata melihat Gin Liong.
"Harap siau-sicu tak memakai banyak peradatan," begitu
tiba di hadapan Gin Liong, Hun Ho siantiang mencegah
anak muda yang hendak membungkuk tubuh
menghaturkan hormat ia ulurkan tangan untuk mencekal
tangan Gin Liong, Seketika Gin Liong merasa seperti
terangkat ke atas dan terus melayang kearah Swat-thian
Sam-yu.
"Bertahun-tahun tak berjumpa, toheng bertiga masih
segar bugar seperti yang lalu" seru Hun Ho sian-tiang yang
menyusul tiba di hadapan Swat-thian Sam-yu.
Hok To Beng dan Dewa pemabuk tertawa dan serempak
menegur: "Imam hidung kerbau, angin apakah yang
meniup engkau sampai ke lembah ini ?"
"Bukan angin tetapi keinginan nafsu hati yang serakahlah
yang membawanya kemari" tiba2 Hong-tiang-soh
menyelutuk tertawa.
Sambil mengurut-urut jenggotnya, Hun Ho sian-tiang
tertawa:
"Ah, Hong toheng masih gemar berolok-olok. Ketika
pergi ke gunung Tiang-pek-san mencari tanaman obat,
kebetulan kita saling bertemu dan secara kebetulan pula
berjumpa dengan orang tua pemilik kaca wasiat tadi bukan
sengaja khusus mencarinya . . . "
"Dan kali ini ? Apakah kedatanganmu kemari juga
hendak mencari daun obat ?" tukasHong-tian-soh.
"Tadi kalau tak mendengar suitan yang memecah
angkasa dari mulut Hong to-heng, mungkin saat ini aku
sudah tinggalkan gunung Hok-san ini sahut Hun Ho siantiang.
Swat-thian Sam-yu dan Gin Liong tertawa, Dalam pada
itu si cantik Tio Li Kun, Mo Lan Hwa dan Tek Cunpun
menghampiri dan memberi hormat kepada Hun Ho siantiang,
Melihat Tio Li Kun, HunHo sian-tiang segera tertawa:
"Nona Tio, apakah suhumu Ceng Hun suthay baik2 saja
?" tegurnya.
Merah wajah Li Kun, Dia gugup mendapat pertanyaan
itu tetapi karena tak dapat ditutupi lagi akhirnya ia
menyahut juga.
"Berkat restu sian-tiang, suhu tak kurang suatu apa."
Swat-thian Sam-yu terkesiap, Mereka memang pernah
mendengar kabar orang bahwa kepandaian si cantik Li Kun
jauh di atas saudara2 nya, Saat itu baru mereka mengetahui
bahwa suhu dari si cantik itu ternyata rahib Ceng Hun,
murid pewaris dari Bong-.san loni atau rahib tua dari
gunung Bong-san salah seorang dari Bu-lim Su-ik atau
Empat-luar-biasa dalam dunia persilatan.
Jangankan Swat-thian Sam-yu, bahwa Tek Cun engkoh
nomor enam dari si jelita Li Kun sendiri, juga terlongonglongong
heran. walaupun sebagai saudara tua, tetapi ia tak
tahu bahwa adiknya itu ternyata murid dari rahib tua Bongsan
lo ni. Dia kira kalau kepandaian adiknya itu berasal dari
mamahnya.
Karena lama tak berjumpa maka pertemuan antara Swatthian
Sam-yu dengan Hun Ho sian-tiang itu amat
menggembirakan sekali Mereka ber cakap2 dengan riang
dan asyik.
Melihat Ki Yok Lan. Tek Cun benar2 terkesiap, ia tak
menyangka bahwa sumoay yang sering diucapkan oleh Gin
Liong itu ternyata seorang gadis yang agung dan cantik,
wajahnya yang cantik berseri, makin memancarkan
kecantikan yang syahdu dalam pakaiannya yang berwarna
putih. Sepintas pandang menyerupai seorang bidadari.
ia memperhatikan bahwa adiknya, Mo Lan Hwa dan Ki
Yok Lan dalam waktu yang singkat tampak akrab sekali,
Tetapi diam2 iapun memperhatikan juga bahwa pada wajah
adiknya, Tio Li Kun tampak memancarkan sinar cemburu.
Sedang wajah Mo Lan Hwa mengunjuk rasa putus asa.
Sedang Ki Yok Lan sendiri tampak tenang dan wajar.
Secara tak disadari, ia telah membuat perbandingan
untuk menilai ketiga gadis cantik itu.
Ki Yok Lan, berwajah agung cantik dan alim. Memberi
kesan bahwa dia seorang dara yang berhati bersih dan suci.
Mo Lan Hwa cantik berseri, meriah dan gagah sehingga
orang tak berani main2 kepadanya Seorang dara yang
bersemangat
Adiknya, Tio Li Kun, cantik laksana sekuntum bunga
mekar di pagi hari, Memiliki sikap yang berwibawa, cerdas
tetapi angkuh.
Diam2 Tek Cun mencemaskan adik perempuannya itu.
jika Tio Li Kun tak mau berlapang dada, menerima dan
memberi dalam soal asmara, dikuatirkan dia akan
menderita.
Tiba2 suara tertawa gelak2, menghentikan pikiran Tek
Cun yang tengah melamun itu. Ah, ternyata Hun Ho siantiang
bersama Swat-thian Sam yu telah menuju ke tepi
telaga.
"Liok-ko, mari kita kesana juga," tiba2 Gin Liong
mengajak, Tek Cun mengiakan dan segera kedua pemuda
itu menuju ke tepi telaga juga, Melihat itu ketiga gadispun
mengikuti pula.
Rombongan Swat-thian Sam-yu beristirahat di sebuah
tempat yang jauh dari hamburan air terjun.
"Imam hidung kerbau" tiba2 Hong-tian-soh bertanya,
"apakah engkau tak menduga bahwa orang tua pembawa
kaca wasiat itu bukan salah seorang dari Thian lam Ji-gi ?"
Hun Ho sian-tiang gelengkan kepala pelahan sahutnya:
"Kedua tokoh Thian-lam Ji-gi itu sudah lama menutup
pintu tak mau bertemu orang. Tahun muka baru mereka
menyudahi persemedhiannya"
Berhenti sejenak, Hun Ho siantiang melanjutkan pula:
"Ketika Siau sicu hendak memberi hormat kepadaku di
tanah lapang lembah salju gunung Tiang pek-san, dari
rumah pondok itu tiba2 memancar sepercik sinar dan
menyusul segulung asap putih melintas di atas kepala si
pengemis jahat dan Hoa hweshio, Kedua orang itu menjerit
ngeri. Ketika kuburu keluar hutan. ternyata asap itu sudah
lenyap."
"Imam hidung kerbau" Dewa Pemabuk tak percaya,
"jangan membual, Dengan ilmu meringankan tubuh Kihong-
hui-heng-sut yang sakti itu, masakan orang tua
pembawa kaca wasiat itu mampu lolos dari pengawasanmu
?"
Hun Ho sian-tiang menghela napas panjang, "Ketika aku
melambung ke udara, kulihat berpuluh sosok tubuh kaum
persilatan yang bersembunyi di sekeliling hutan itu,
berhamburan lari ke segenap penjuru, Sukar bagiku untuk
mengejar yang mana."
Hok To Beng memandang kearah kaca wasiat di telaga
dan bertanya:
"Menurut pandanganmu apa maksudnya orang tua itu
meletakkan kaca wasiat di tempat yang sedemikian
berbahaya ?"
Hun Ho sian-tiang kerutkan alis.
"Rupanya orang tua itu bermaksud hendak membunuh
orang yang berhati temaha, Sejak dia muncul, entah sudah
berapa banyak jiwa kaum persilatan yang binasa di
tangannya."
Berhenti sejenak Hun Ho sian-tiang melanjutkan pula:
"Menurut dugaanku, dengan menaruh kaca wasiat di
tengah telaga, dia bermaksud hendak memancing nafsu
keinginan orang agar jago2 silat itu saling bunuh
membunuh sendiri dan dunia persilatan berkurang
jumlahnya manusia2 yang berhati temaha."
"Huh, apakah itu bukan berarti hendak menciptakan
suatu pembunuhan besar-besaran ?" teriak Hong-tian-soh
tak puas, "jika tiada kaca wasiat itu orang tentu takkan
timbul nafsu temahanya."
Kemudian tokoh sinting dari Swat-thian Sam yu itu
menggeram: "Lebih baik menghancurkan kaca itu agar
jangan menimbulkan peristiwa berdarah !"
Habis berkata ia terus menjemput sebuah batu kecil dan
hendak dilontarkan. Sudah tentu Hok To Beng, Dewa
Pemabuk terkejut, membentak dan mencengkeram tangan
si sinting.
-ooo0dw0ooo-
Bab 6
Tiga durjana
Hun Ho sian-tiangpun berkata dengan wajah serius:
"janganlahHong toheng bertindak gegabah. Kaca wasiat itu
adalah benda peninggalan seorang paderi suci pada jaman
dulu. Benar2 sebuah benda pusaka dalam dunia persilatan,
kegunaan kaca itu bukan melainkan hanya mencari benda2
pusaka yang tertanam dalam tanah saja..."
"Kemungkinan orang tua itu bersembunyi di sekeliling
tempat ini !" tiba2 Hok To Beng menyelutuk.
Hong-tian-soh keluarkan biji matanya dan
menggentakkan tongkat bambunya ke tanah lalu berseru
keras2:
"Tindakanku tadi, bukankah suatu siasat untuk
memancing supaya dia keluar dari tempat
persembunyiannya ?"
Tetapi sekeliling penjuru tenang2 saja, Tiada
penyahutan, Keadaan itu memberi kesan kepada sekalian
orang bahwa orang tua pemilik kaca wasiat itu memang tak
berada di sekeliling situ. Kalau tidak, dia pasti akan keluar
untuk menemui Hong-tian-soh.
Akhirnya Hun Ho sian-tiang menghela napas "Karena
jelas toheng sekalian tak menginginkan kaca itu, lebih baik
kita lekas2 tinggalkan tempat ini agar terhindar dari
kekeruhan."
Sekalian orang termenung diam, Saat itu matahari sudah
condong ke barat. Di telaga itu secara kebetulan, Gin Liong
telah menemukan Ma Toa Kong, berjumpa dengan Swatthian
Sam-yu dan bertemu pula dengan sumoaynya Ki Yoklan
sertaHu Ho sian-tiang. Dia gembira sekali.
Kini tinggal satu tujuan lagi ialah mengejar jejak Ban
Hong liong-li untuk meminta keterangan siapakah
sesungguhnya yang telah membunuh suhunya.
Setitikpun Gin Liong tak mengandung hasrat untuk
memiliki kaca wasiat itu, ia masih mempunyai lain tugas
penting, Ketika ia hendak menghaturkan terima kasih
kepada Hun Ho sian-tiang yang telah menolong
sumoaynya, tiba2 orang tua itu menengadahkan
memandang ke langit.
"To-heng" katanya, hari sudah menjelang petang, mari
kita pergi"
Swat-thian Sam-yu mengangguk dan mengikuti langkah
Hun Ho sian-tiang. Gin Liong berlima baru mengetahui
bahwa Hun Ho sian-tiang mengundang Swat-thian Sam-yu
ke pulau Hong-lay-to.
Sambil mengurut jenggotnya yang indah, Hun Ho siantiang
berkata kepada Ki Yok Lan:
"Lan-ji, kebetulan sekali ditempat ini engkau dapat
menemukan suhengmu, Lebih baik kalian pergi bersamasama."
Kemudian dengan wajah serius, tokoh itu memberi
pesanan kepada Yok Lan: "Harap engkau ingat baik2
pelajaran itu dan berlatihlah dengan tekun, Kelak tentu
berhasil."
Dengan berlinang-linang airmata, Ki Yok Lan segera
berlutut menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan
orang tua sakti itu.
"Bangunlah !" seru Hun Ho siantiang seraya kebutkan
dengan jubahnya, Tahu2 tubuh Yok Lan terangkat berdiri.
Melihat itu diam2 Gin Liong girang sekali, ia tahu
bahwa sumoaynya telah diterima sebagai murid tak resmi
oleh HunHo sian-tiang.
Swat-thian Sam-yu juga memberi pesan kepada Gin
Liong dan Yok Lan agar berhati-hati dan waspada dalam
perjalanan ke selatan itu.
Demikian keempat tokoh sakti itu segera berpisah
dengan rombongan anak muda dan menuju ke puncak
gunung sebelah kiri.
Setelah mereka lenyap dari pandang mata, Gin Liong
pun bertanya kepada Tek Cun:
"Liok-ko, apakah engkau masih kuat untuk
menggunakan ginkang ?"
Tek Cun mengatakan hendak mencobanya. Tetapi ketika
berjalan, Yok Lan cepat dapat melihat bahwa pemuda itu
terlalu maksa diri.
"Liok-ko," seru Yok Lan," biarlah aku bersama Liong
koko memapahmu berjalan, Lukamu baru sembuh, tak
boleh terlalu banyak menggunakan tenaga."
Tetapi Tek Cun menolak: "Lebih baik kucobanya dulu,
Apalagi diluar lembah masih ada kuda kita, Asal jangan
terlalu cepat, aku masih dapat mengimbangi kalian."
Pada saat itu Tek Cun mendapatkan dalam diri Yok Lan
sifat2 kehalusan budi, kesungguhan hati, kejujuran dan
kepolosan. Suatu sifat yang tak dimiliki adiknya, Tio Li
Kun.
Waktu berjalan, Gin Liong menyempatkan diri untuk
berpaling. Di tengah telaga tampak sinar kaca wasiat itu
masih memancar terang.
Kemudian waktu tiba ditempat pertempuran antara Hian
Leng dan Biau Liang, ternyata ke-enam imam tua yang
ditutuk jalan darahnya itu sudah tak kelihatan berada disitu
lagi.
"Hm, kawanan imam hidung kerbau itu memang tak
tahu diri. Kepandaiannya begitu rendah tetapi berani
menghadang kita," Mo Lan Hwa mendengus.
Gin Liong hanya tertawa ketika mendengar jelita itu juga
menggunakan sebutan "imam hidung kerbau" seperti yang
dilakukan Swat thian Sam-yu terhadap Hun Ho sian tiang.
Huak, tiba2 Tek Cun muntahkan segumpal darah segar
dan terhuyung-huyung rubuh ke tanah. Mo Lan Hwa yang
berada paling dekat, cepat loncat menyanggupinya. Tek
Cun gemetar tubuhnya dan lunglai tak bertenaga.
Sudah tentu Gin Liong beramai-ramai sibuk memberi
pertolongan Mereka membantu supaya Tek Cun yang saat
itu rebah dipangkuan Mo Lan Hwa dapat duduk tegak,
kemudian Gin Liong segera menyalurkan tenaga-dalam ke
pinggang Tek Cun, sedang ketiga gadis itu menjaga
disamping kanan kirinya.
Setelah wajah Tek Cun tampak merah barulah Tio Li
Kun menyuruhnya supaya menyalurkan pernapasan untuk
menyambut saluran tenaga-dalam dan Gin Liong.
Tiba2 terdengar suara langkah orang berlari dari arah
lembah. Li Kun, Yok Lan terkejut dan serentak berpaling.
Tiga sosok tubuh muncul dari bagian dalam lembah dan
dengan gerak yang amat cepat mereka telah melintasi hutan
menuju kearah rombongan anak2 muda itu.
"Taci Kun, kurasa mereka tentu bermaksud tak baik,"
kata Lan Hwa.
"Bagaimana tandanya ?" tanya Li Kun seraya berbangkit
dan memandang kearah ketiga pendatang itu.
Lan Hwa sejenak memandang dengan seksama lalu
berkata lagi : "Taci Kun, lihatlah sinar mata mereka yang
begitu berkilat-kilat seperti mencari sesuatu..."
"Ya, lebih baik kita berhati-hati," kata Li Kun, "menilik
sinar mata dan ginkang mereka, tentulah bukan jago silat
sembarangan Apabila sampai bertempur, supaya hati2."
Kemudian ia minta Lan Hwa dan Yok Lan menjaga Tek
Cun. Dia sendiri yang akan menghadapi ketiga pendatang
itu.
Ketiga sosok bayangan itu dengan cepat telah tiba,
sebenarnya Li Kun sudah mau duduk kembali dan
menghiraukan mereka tetapi tiba2 mereka berseru: "Hai,
berhenti !"
Karena disekeliling tempat itu tiada lain orang lagi, Li
Kun dan Lan Hwa tahu kalau seruan orang itu ditujukan
kepada mereka berdua, Kedua nona itu marah dan cepat
berputar tubuh.
Ternyata ketiga pendatang yang lari mendatangi itu
terdiri dari orang lelaki yang berbeda umurnya satu sama
lain.
Yang disebelah tengah, seorang tua berambut dan
jenggot putih, beralis panjang menjulai ke bawah. Matanya
hanya satu dan mulut perot, Mengenakan pakaian warna
biru dan memegang sebatang tongkat berkepala naga.
Sambil memerotkan mulut, matanya yang tinggal satu itu
berkilat2 memandang rombongan anak2 muda.
Yang sebelah kanan berumur empat puluh lima - empat
puluh enam tahun. rambut dan jenggotnya kelabu,
mulutnya lancip, hidung besar dan kedua telinganya hilang,
wajahnya hitam, mata bundar mengenakan kain hitam dan
memegang sebatang kait baja yang dilumuri racun. Seram
dan menakutkan orang.
Yang sebelah kiri seorang lelaki berumur tiga-puluhan
tahun lebih, Alisnya seperti daun liu, mata seperti bunga
tho dan kulitnya putih seperti salju, Rambutnya berminyak,
pipi berbedak dan rambut memanjang sampai ke bahu,
Mengenakan baju sutera kembang dan menyanggul
sebatang pedang pedang bengkok, sepintas menyerupai
seorang banci, menimbulkan kesan yang memuakkan.
Ketiga pendatang itu dengan wajah gusar memandang
kedua nona LanHwa dan Li Kun.
"Cici, ketiga orang itu mungkin Ce-tang Sam sat"
"Bagaimana engkau tahu ?" tanya Li Kun.
"Pernah kudengar dari toa-suheng tentang pakaian,
wajah dan umur mereka, Apalagi tokoh yang ketiga, laki2
bukan, perempuanpun bukan.
Saat itu Ce-tang Sam-sat sudah tiba tiga tombak di depan
mereka,
Toa-sat atau tokoh kesatu dari Ce-tang Sam sat yang
bergelar Boan-liong-kun atau Tongkat-naga melingkar,
tertawa mengekeh,
"Heh, heh. menilik pakaianmu, kalian ini tentu datang
dari Kwan-gwa..."
Mendengar itu Mo Lan Hwa marah dan cepat menukas:
"Tutup mulutmu ! Apa pedulimu dengan asal usulku ?"
Ji-sat atau tokoh nomor dua yang bergelar Toh-beng-kau
atau Kait-pencabut nyawa, menyeringai lalu membentak
keras:
"Budak hina, jangan banyak omong ! Lekas serahkan
kaca wasiat itu agar jangan menimbulkan kemarahanku."
Sudah tentu Li Kun dan Mo Lan Hwa marah bukan
main, Gin Liong yang tengah duduk bersila pejamkan
mata, pun sejenak membuka mata memandang ketiga
pendatang itu lalu pejamkan mata lagi.
Ki Yok Lan serentak bangun dan terus menyahut:
"Kalian salah alamat, Kaca wasiat itu berada di atas batu di
tengah telaga"
Belum Yok Lan selesai bicara, ketiga durjana itu sudah
tertawa gelak2: "Ha, ha, kalau menilik wajahmu, engkau ini
seorang budak perempuan yang halus tapi tak kira kalau
mulutmu begitu tajam."
Merah wajah Yok Lan. Baru pertama kali itu ia
mendengar orang memaki dirinya, Mo Lan Hwa tak kuasa
menahan kemarahannya lagi, Sambil menuding pada Banliong-
kun ia memaki:
"Engkau anjing tua, jelas bermulut tajam. tak tahu malu
dan berkulit tebal!"
Toa-sat Ban-liong-kun marah dan membentak "Budak
hina, engkau berani memaki aku . ." Tetapi sebelum dia
bertindak, Sam-sat atau tokoh nomor tiga yang seperti
orang banci itu segera melesat maju dan melengking:
"Budak hina, kalau tak mau menyerahkan kaca wasiat,
kalian tentu akan kucincang."
Habis berkata ia terus melepaskan sebuah hantaman
kearah Mo Lan Hwa. Mo Lan Hwa membentak dan
menangkis. Tetapi seketika itu wajahnya pucat dan menjerit
kaget. Pada lain saat ia terhuyung2 ke belakang sambil
mendekap dadanya Huak . . ia muntah darah.
Peristiwa itu berlangsung cepat sekali sehingga Li Kun
tak sempat menolong, Yok Lan cepat loncat untuk
menyanggupi tubuh Mo Lan Hwa. Tetapi nona itu sudah
tak kuat berdiri lagi, ia duduk bersila dan dengan paksakan
diri menuding kedadanya, Yok Lan dapat menangkap
maksudnya. ia segera mengambil pil dari baju Lan Hwa dan
dimasukkan ke mulut nona itu.
Tiba2 terdengar suara gemuruh disusul batu-batu dan
pasir bertebaran, asap dan debu bergulung2.
Memandang kemuka, Yok Lan dapatkan Li Kun dan
Sam-sat masing2 mundur tiga langkah, Wajah si jelita
tampak membeku dingin dan dahinya memancar hawa
pembunuhan. Dengan melengking ia segera mencabut
pedang dan pelahan2 maju menghampiri kearah ketiga
durjana itu.
Sam-sat tertawa mengikik.
"Nona kecil, kalau engkau mampu menangkan aku,
kepalaku boleh engkau potong, Tetapi kalau engkau kalah,
engkau harus menurut kuajak pulang menjadi isteriku"
Sam-sat atau tokoh ketiga yang bergelar Go kau-kiam si
Pedang-bengkok segera mencabut pedang go-kau-kiam.
"Kawanan tikus, engkau cari mati...!" bentak Li Kun
seraya loncat menyerang dengan jurus Tiang-ho-hong-ping
atau sungai Tiang-ho menutup salju... segulung sinar perak
segera membabat ke dada Sam-sat.
Sam-sat tahu kalau ilmu pedang nona jelita itu lihay.
Dengan tertawa ia mengisar langkah ke samping lalu
tusukkan ujung pedang ke pinggang sinona.
Pada saat itu dengan tertawa mengekeh, toa-sat Boanliong-
kiam dan ji- sat Toh-beng-kau masing2 lari
menghampiri Gin Liong dan Tek Cun.
Melihat itu berobahlah wajah Yok Lan. Gin Liong dan
Tek Cun sedang menyembuhkan lukanya, jangan lagi
diserang, cukup di dorong pelahan2 dengan tongkat saja,
kedua anak muda itu tentu akan rubuh, mungkin akan
terjadi suatu akibat yang berbahaya dalam penyaluran
napas mereka.
"Berhenti, atau akan kupaksa kalian mundur." bentaknya
kepada kedua durjana itu, seraya mencabut pedang Cengkong-
kiam.
Tetapi Boan-liong- kiam dan Toh-beng-kiam tertawa
gelak2. Mereka tak mengacuhkan peringatan Yok Lan lagi
dan tetap melangkah maju.
Li Kun terkejut mendengar suara tertawa mereka ia
menyempatkan diri untuk berpaling. Tetapi walaupun
terdesak, sam-sat Go-kau-kiam tak mau melepaskan si
jelita. Li Kun marah sekali, Dengan melengking ia
lancarkan tiga buah serangan pedang sehingga sam-sat
kelabakan.
Tetapi pada saat itu tiba2 toa-sat dan ji-sat hentikan
tawanya, Yang satu mengangkat tongkat dan yang satu
mengangkat kait untuk mengemplang Gin Liong dan Tek
Cun.
Melihat itu Yok Lan pun bertindak. Dengan sebuah
loncatan ia segera lancarkan jurus Liong-hok-song-hou atau
Naga-mendekam-sepasang-harimau. Pedang berhamburan
menjadi beratus2 sinar perak bagai seekor naga marah.
Keatas menghantam tongkat boan-liong-kiam, kebawah
menangkis toh-hun-kau. Ujung pedang menusuk tangan
kedua lawan.
Toa-sat dan Ji-sat banyak pengalaman dalam
menghadapi musuh2 tangguh, Entah sudah berapa banyak
jago2 lihay yang jatuh ditangan mereka. Tetapi selama itu
belum pernah mereka melihat ilmu pedang seaneh dan
sedahsyat yang dimainkan Yok Lan. Mau tak mau kedua
durjana itu berteriak keras dan menyurut mundur.
Yok Lan sendiripun terkejut dalam hati, ia melancarkan
salah sebuah jurus ilmu pedang ajaran Hun Ho siantiang,
Hasilnya ternyata sedemikian hebat.
Begitu kedua durjana itu mundur, Yok Lan pun tak mau
mengejar Tampak kedua durjana itu pucat wajahnya,
keringat dingin bercucuran membasahi tubuh mereka,
Mereka memandang sinona dengan terkejut heran. Mereka
benar2 tak menyangka bahwa seorang nona yang masih
begitu muda belia ternyata memiliki ilmu pedang yang
sedemikian luar biasa. Kecongkakan dari kedua durjana itu
lenyap seperti awan dihembus angin, Tampak wajah
mereka seperti kunyuk kepedasan.
"Cici, jangan membunuh." tiba2 Yok Lan berteriak,
Tetapi terlambat Terdengar jeritan ngeri disertai dengan
hamburan darah dari sam-sat yang lepaskan pedang dan
rubuh ketanah.
Melihat itu, toa-sat yang nyalinya sudah pecah, timbul
pula kemarahannya Dengan menggembor keras ia dan ji-sat
terus lari menyerbu Li Kun. Tetapi jelita itu tak gentar
Dengan melengking keras, ia segera menyambut kedua
durjana itu.
"Berhenti" tiba2 terdengar bentakan sedahsyat halilintar.
Yok Lan tergetar dan berpaling, Tampak dengan wajah
gusar Gin Liong sudah berdiri disamping. Toa-sat, ji-sat dan
Li Kunpun terkejut mendengar bentakan keras itu. Mereka
serempak berpaling,
Melihat Gin Liong sudah selesai menyalurkan tenagadalam,
Li Kun serta merta loncat ke hadapannya, katanya:
"Mereka bertiga adalah Ce-tang-sam-sat yang
bersimaharajalela, mengganas dan melakukan perbuatan2
jahat jangan kita biarkan mereka lolos."
Habis berkata ia terus menyimpan pedang dan bersama
Yok Lan menghampiri ke tempat Mo Lan Hwa yang masih
duduk bersila di tanah.
Melihat sam-sat mati kedua durjana itu marah. Lebih-2
ketika mendengar kata2 Li Kun mereka seperti orang
kebakaran jenggot Kedua durjana itu tertawa keras.
"Tutup mulut kalian!" bentak Gin Liong seraya maju.
Toa-sat dan ji-sat tergetar sehingga menyurut mundur,
Sambil menuding, Gin Liong berseru : "Apakah maksud
kalian menyerang rombonganku? Kalau tak mau bilang
sejujurnya, jangan harap kalian mampu tinggalkan tempat
ini !"
"Budak sombong !" teriak toa-sat seraya maju
menghantam bahu pemuda itu, Gin Liong tertawa dingin,
ia gerakkan tangan kiri untuk menangkis. Krak, toa-sat
mendengus tertahan dan mundur sampai tiga langkah,
Sedang Sin Liong tetap berdiri tegak di tempat
Melihat itu ji-sat terlongong-longong, Tetapi rupanya
Toa-sat masih belum jera, Begitu berdiri tegak ia terus
mencabut tongkat boan liong-kun terus diayunkan kearah
kepala Gin Liong.
Gin Liong mendengus, Dengan gerak yang luar biasa ia
sudah menyelimpat ke belakang lawan. Toa-sat ayunkan
tongkatnya menghantam kebelakang, tetapi Gin Liong
sudah loncat keudara dan turun dibelakangnya lagi.
Melihat itu ji-sat segera memutar kaitnya, menyambar
Gin Liong yang baru saja berdiri, Yok lan yang berada di
sisi Mo Lan Hwa selalu mengikuti pertempuran itu, ia
menjerit kaget ketika melihat Gin Liong terancam bahaya.
Mendengar jeritan itu, Gin Liong terkejut, secepat kilat
ia mendekam ke tanah dan senjata kait itupun meluncur di
atas punggungnya.
Gin Liong makin marah. setelah menekuk ke dua lutut ia
melambung ke belakang ji-sat, Sekali membentak ia
menyerempaki dengan menghantam punggung orang itu,
duk . .
Seketika ji-sat muntah darah dan terus melesat kemuka
toa-sat. Toa-sat buru2 menarik tongkatnya dan melangkah
maju. Tetapi ji-sat sudah terhuyung2 dan muntah darah
lagi, lepaskan senjata kaitnya dan terus rubuh ke tanah,
Kedua kakinya menelikung dan jiwanyapun melayang.
Melihat itu toa-sat menjerit kalap: "Aku akan mengadu
jiwa dengan engkau . . " tongkat boan-liong-kun diputar
laksana hujan mencurah, maju menyerang Gin Liong,
Melihat kekalapan toa-sat, Yok Lan ngeri dan serentak
berbangkit. Tetapi Gin Liong tak gentar ia mainkan tatalangkah
Liong-li-biau untuk menghindar lalu mencabut
pedang pusaka Tanduk Naga.
Toa-sat, sudah terlanjur diamuk kekalapan. ia tak peduli
lagi bagaimana pedang yang berada di tangan anak muda
itu. Dengan menggembor keras ia tetap menyerang.
Tring, tring, tring, terdengar beberapa kali dering senjata
beradu keras, diiring dengan hamburan bunga api dan
kutungan baja berterbangan ke udara.Walaupun tahu kalau
tongkatnya telah terpapas kutung namun toa-sat tetap tak
hentikan serangannya, ia menyerang dengan jurus Ko jiuboan-
kin atau pohon-tua-melingkar- akar, menyerang lutut.
Tring, kembali pedang Tanduk Naga berkelebat
memapas kutung tongkat itu. Namun toa-sat tetap nekad
dan menusuk perut Gin Liong. Tetapi kembali pedang
Tanduk Naga membelah tongkat lawan menjadi dua
kutung, Keadaan toa-sat saat itu benar2 seperti orang gila,
wajahnya makin menyeramkan, matanya yang tinggal satu
itupun merah berdarah, rambutnya yang putih meregang
tegak dan napasnya terengah-engah keras.
Gin Liong tegak ditempatnya sambil lintangkan pedang
didada untuk melindungi diri. Rupanya ia tak mau
membunuh orang tua mata satu yang sudah tak berdaya itu.
Ditangan toa-sat kini hanya tinggal memegang kutungan
tongkat sepanjang setengah meter, Dia berdiri dimuka Gin
Liong pada jarak tujuh langkah, Dia memandang Gin
Liong dengan mata kemerah-merahan.
Beberapa saat kemudian ia mendengus marah dan
berseru geram: "Budak, karena engkau mengandalkan
pedang pusaka, aku masih penasaran dan tak mau
menyerah."
Gin Liong kerutkan alis dan menggeram: "Engkau
hendak mengajak bertanding dengan cara apa, aku bersedia
melayanimu semua !"
Toa-sat rentangkan matanya yang tinggal satu lebar2,
serunya menggeledek:
"Aku hendak mengajakmu bertanding ilmu pukulan."
Habis berkata ia terus melontarkan tongkatnya yang
tinggal dua jari ke tanah, Setelah mengejang kedua
tangannya, iapun pelahan lahan maju menghampiri Gin
Liong.
Yok Lan pernah merasakan betapa kuat tangan toa-sat
tadi. Ketika melihat durjana bermata satu itu hendak
mengadu kepalan dengan Gin Liong, iapun gelisah.
Tiba2 Li Kun dan Lan Hwa loncat ke sisi Yok Lan.
Ternyata Lan Hwa sudah sembuh. Sekarang ketiga nona
jelita itu berdiri berjajar Demi melihat keadaan di
gelanggang pertempuran, Li Kun merasa heran mengapa
Gin Liong tak mau cepat2 menyelesaikan toa-sat.
Saat itu toa-sat sudah tiba lima langkah dihadapan Gin
Liong, Dia berhenti dan memandang Gin Liong dengan
pandang berkilat-kilat Gerahamnya bergemurutukan keras
menahan kemarahannya yang meluap-luap.
Tetapi Gin Liong tetap tenang2 saja. Tetapi diam2 iapun
kerahkan tenaga-dalam ke lengan kirinya.
Melihat sikap si anak muda yang begitu tenang, diam2
toa-sat memaki dalam hati: "Bangsat engkau terlalu
memandang rendah diriku !"
Tetapi ia masih memegang gengsi, sebelum menyerang
ia masih menegur: "Hai, mengapa eng kau tak bersiap ?"
"Silahkan engkau turun tangan sajalah !" sahut Gin
Liong dengan nada tawar.
Toa-sat segera mengiakan Setelah bersiap, lalu dengan
menggembor keras ia dorongkan kedua tangannya.
Gin Liong tahu akan kelihayan orang. ia tak berani
memandang rendah, pada saat toa-sat bergerak iapun agak
mengendapkan tubuh kebawah dan tangan kirinya yang
sudah disiapkan tadipun segera menyongsong kemuka.
Jarak amat dekat maka pukulan kedua orang itupun
hampir berbenturan Bum, terdengar bunyi letupan keras
diiringi deru angin yang menghamburkan batu, debu dan
pasir keempat penjuru, Dalam kepulan debu yang
bergulung debu yang tebal terdengar berulang suara
mengerang tertahan.
Tubuh toa-sat bergelundungan ke tanah sampai tiga
tombak jauhnya, sedangkan lengan Gin Liong bergetar
keras dan tubuh ikut bergoncang sampai beberapa saat baru
ia dapat berdiri tegak lagi. Ketika menggerakkan tangan
kirinya, ia rasakan agak sakit.
Terkena pukulan sakti dari Gin Liong, toa-sat bergulingguling
sampai tiga tombak lebih, baru berhenti, Secepat
kilat ia terus melenting bangun dan duduk. Pakaian
compang camping, berlumuran tanah,Maya berbinar-binar,
kepala pusing, segala benda diempat penjuru dirasakan
berputar-putar, Lama sekali baru ia dapat melihat jelas Gin
Liong masih tegak berdiri ditempat semula.
Dengan paksakan diri segera ia berseru: "Hai budak
kecil, tinggalkan namamu dan perguruanmu. Asal masih
belum mati, kelak aku tentu akan mencarimu untuk
menghimpas hutang hinaan yang engkau berikan kepadaku
hari ini..."
Gin Liong tertawa dingin, serunya:
"Aku Siau Gin Liong, tak punya perguruan tak punya
partai persilatan, Siapa suhuku, engkaupun tak perlu
bertanya, Kapan saja engkau hendak mencari balas
kepadaku, asal engkau sebarkan berita di dunia persilatan,
aku tentu akan menemui mu."
Habis berkata ia terus melangkah menghampiri ketempat
Li Kun bertiga.
Dengan paksakan diri pula, mulut toa-sat mengiakan lalu
pejamkan mata untuk menyalurkan napas, Tetapi tiba2 ia
terjungkal kebelakang dan tak sadarkan diri.
Gin Liong tak menghiraukan. Setelah tiba di tempat Li
Kun dan Yok Lan, ia memandang ke arah Tek Cun dan
Lan Hwa yang masih duduk pejamkan mata.
"Rupanya luka yang diderita liok-ko dan cici Lan tak
dapat sembuh dalam waktu singkat. Kita harus membawa
mereka ke tempat yang aman. Kalau kita melanjutkan
perjalanan, lukanya tentu kambuh dan akibatnya sukar
dilukiskan." kata Gin Liong. Memandang ke langit,
ternyata matahari sudah berada di belakang puncak barat
dan lembahpun sudah meremang gelap.
Li Kun mengusulkan untuk mencari sebuah desa. Dan
Yok Lanpun serempak mengatakan dia dan Li Kun yang
memapah Lan Hwa. Gin Liong yang memapah Tek Cun
Demikian ketika tiba di luar lembah, Gin Liong bersuit
keras. Beberapa saat kemudian terdengar suara kuda
meringkik.
"Bagus, kuda bulu hitam patuh sekali kepadamu" seru Li
Kun.
"Ah, aku hanya coba2 saja, tak kira kalau kuda itu begitu
menurut" kata Gin Liong.
Tetapi belum sempat mereka menuju ketempat suara
kuda itu tiba2 terdengar suara derap kuda lari yang
gemuruh, Empat ekor kuda mencongklang pesat kearah
lembah. Gin Liong cepat memeluk tubuh Tek Cun,
demikian pula Li Kun dan Yok Lan segera memondong
Lan Hwa. Rupanya Tek Cun lebih parah, ia terus menerus
pejamkan mata.
Ternyata yang berlari mendatangi itu empat ekor kuda
milik mereka, Kuda hitam berkaki putih yang dinaiki Lan
Hwa, kuda merah milik Tek Cun, kuda hitam mulus milik
Gin Liong dan kuda bulu kuning dari Li Kun.
Kuda bulu merah terus menghampiri Tek Cun dan
menjilat-jilat pakaian tuannya seperti ikut sedih karena
tuannya terluka, Melihat itu tergeraklah hati Yok Lan. ia
mengelus-elus kepala kuda itu.
Sumoay, kuda merah ini memang lebih halus sifatnya,
engkau naik dia sajalah," kata Gin Liong yang terus
membawa Tek Cun bersama naik kuda bulu hitam.
Demikian setelah sama naik kuda, mereka pun segera
berangkat Dalam waktu singkat mereka telah melintasi dua
buah puncak gunung lalu mulai mendaki sebuah gunung
yang membujur luas.
Dari atas lereng gunung, Gin Liong dapat melihat di
bawah kaki gunung sebelah selatan terdapat sebuah kota.
"Cici, disebelah depan kemungkinan kota Hok san-shia"
katanya kepada Li Kun.
Tio Li Kun mengiakan dan segera mengajak
rombongannya menuruni gunung menuju ke kota itu. Tak
berapa lama mereka tiba di jalan besar yang tiba dikota
Hok-san-shia.
Jalan sepi orang sehingga dengan leluasa mereka dapat
mencongklangkan kudanya, Tak berapa lama gedung2
bertingkat dari kota Hok-san-shia mulai tampak,
Tiba2 dari arah muka tampak dua penunggang kuda
mencongklang pesat, menimbulkan kepul debu yang tebal
sehingga sukar diketahui wajah mereka,
Gin Liong dan rombongannya dengan cepat dapat
mengejar kedua penunggang itu. Rupanya kedua
penunggang itu tahu kalau dibelakangnya akan dilanggar
oleh rombongan penunggang kuda maka mereka berdua
segera menyisih ke tepi jalan.
Saat itu Gin Liong sempat memperhatikan wajah
mereka, Yang naik kuda bulu kuning, seorang wanita
berumur 27 - 28 tahun, Mengenakan pakaian ringkas dari
kaum persilatan punggung menyanggul sebatang pedang,
sepasang mata yang ditaungi oleh alis yang melengkung
indah makin menonjolkan kecantikan wajahnya yang
berpotongan bulat telur dan berbedak tipis.
Sedang yang naik kuda kembang, seorang yang
dandanannya seperti sastrawan, berumur sekitar 35-an
tahun, rambut lebat alis tebal dan wajah cakap, Mencekal
cemeti kuda yang bertabur mutiara, sikapnya gagah.
Sasterawan dan wanita muda itu menarik kendali kuda
dan berpaling. Gin Liong menduga keduanya tentu
sepasang suami isteri.
Ketika rombongan Gin Liong lewat disisi mereka, tiba2
kedua penunggang kuda itu berteriak kaget : "Nona Kun,
Nona Kun !"
Tio Li Kun terkejut dan cepat hentikan kudanya,
Demikian pula Gin Liong dan Yok Lan. Sasterawan dan
wanita muda itu segera menghampiri.
Saat itu Li Kun baru mengetahui bahwa ke dua
penunggang kuda itu bukan lain adalah Hut-soh-su-Seng
atau Sasterawan-tali-terbang Suma Tiong dan isterinya Lok
Siu Ing.
"Nona Kun, mengapa liok-saycu dan nona itu ?" melihat
Tek Cun dan Lan Hwa. Suma Tiong segera menegur
cemas.
"Terluka . . " sahut Li Kun tersenyum. Lok Siu Ing
kerutkan dahi serunya:
"Kalian tak boleh melanjutkan perjalanan dan harus
lekas2 singgah di desa untuk berobat, Desa kami tak jauh
dari sini" ia menunjuk ke sebelah timur.
Lebih kurang lima li jauhnya, tampak gerumbul pohon
yang menggunduk hitam.
"Ah, harap nona jangan berkata begitu. Kalau tempo
hari tak mendapat bantuan dan engkoh nona, kami berdua
suami-isteri-tentu sudah mati di tangan musuh" kata Suma
Tiong, Sejenak memandang ke muka dan belakang, ia
segera meminta Li Kun. "Harap nona suka ikut ke desa
kami dulu baru nanti bicara lagi"
Hutan pohon liu itu merupakan kampung kediaman
Suma Tiong, Rumah2 sudah menyalakan lampu. Suma
Tiong langsung menuju ke sebuah gedung yang berpintu
hitam dan diterangi oleh empat buah lentera besar.
Beberapa orang tampak bermunculan keluar untuk
menyambut kedatangan rombongan Gin Liong.
Suma Tiong segera mengajak rombongan tetamunya
masuk ke ruang besar dan isterinya segera memerintahkan
bujang untuk menyiapkan kamar2. Demikian dengan sibuk
dan akrab kedua suami isteri itu menyambut rombongan
tetamunya dan menempatkan Tek Cun serta Lan Hwa
masing di sebuah kamar terpisah, setelah itu mereka sibuk
menjamu rombongan tetamu dengan hidangan yang lezat
dan arak wangi.
Dalam kesempatan itu mereka menjelaskan tentang hal
ihwal Tek Cun dan Lan Hwa sampai menderita luka. Pun
tentang orang tua aneh pemilik kaca wasiat juga
dibicarakan
Malamnya diputuskan Yok Lan tidur menjaga Lan Hwa
dan Li Kun menjaga engkohnya,
Waktu telentang di ranjang, pikiran Gin Liongpun mulai
gelisah lagi, ia tak tahu sampai kapan luka Tek Cun dan
Lan Hwa akan sembuh. Sejak turun gunung untuk
menyusul Ban Hong liong-li dan menanyakan tentang
pembunuh dari suhunya ia selalu mendapat rintangan dari
peristiwa yang dihadapinya.
Bila terus menerus begitu, entah sampai kapan ia dapat
menyusul jejak Ban Hong liong-li. Makin merenung makin
gelisah dan akhirnya Gin Liong memutuskan, ia tak mau
terhambat oleh urusan apa saja dan akan langsung
melanjutkan perjalanan untuk menyusul Ban Hong Liongli.
Sekonyong-konyong di tengah suasana malam yang
sunyi, terdengar suara orang tertawa gelak2. Gin Liong
terkejut dan cepat bangun, Suara tertawa itu makin lama
makin dekat, ia duga tentu orang jahat hendak mengganggu
desa itu atau dirinya. Cepat ia membuka jendela, loncat
keluar dan terus ayunkan tubuh melayang keatas
wuwungan rumah.
Langit bertabur bintang kemintang, rembulan pudar dan
salju tipis mulai berhamburan mencurah dari langit. Angin
berhembus membawa hawa dingin, Empat penjuru sunyi
senyap.
Tiba2 terdengar suara orang tua yang parau
berkumandang di telinganya:
"Hai, budak, apakah engkau masih berani datang ke
lembah Hok-san lagi ?"
Gin Liong tergetar hatinya dan tanpa tersadar menyurut
mundur setengah langkah, Mengeliarkan pandang matanya
ia segera melihat diujung hutan sebelah luar desa, tegak
sesosok bayangan kurus kecil yang tengah melambaikan
tangan kepadanya.
Gin Liong tercengang, ia tak kenal siapa orang itu dan
tak tahu apa maksudnya mengapa orang itu memangginya
datang, Menilik potongan tubuhnya, orang itu menyerupai
seorang wanita. Tetapi kalau mendengar nada suaranya
yang parau seperti seorang yang sudah lanjut usianya.
Tiba2 timbul pikiran lain. Di tengah malam sepi orang
itu berani masuk ke desa dan memperdengarkan suara tawa
yang nyaring, Mengapa ? Apakah bukan karena hendak
mencari Suma Tiong suami isteri dan mengira ia itu Suma
Tiong ?
Ketika mengobarkan pandang Gin Liong terkesiap,
Lentera yang menerangi rumah2 di pedesaan itu padam
semua, sepintas pandang memberi kesan bahwa penduduk
telah mengetahui akan kedatangan musuh dan sedang
bersiap2. Tetapi mengapa mereka tak tahu sama sekali akan
masuknya orang itu ke dalam desa ? Bukankah hal itu
menunjukkan bahwa mereka tak bersiap dan berjaga2.
Setelah merenung beberapa jenak, baru Gin liong
menyadari Teringat ia bahwa panggilan orang tua
kepadanya dengan menyebut "budak kecil" dan
melambaikan tangan kepadanya jelas bukan ditujukan
kepada Suma Tiong suami isteri, melainkan kepada dirinya.
Tiba pada pemikiran, itu, seketika marahlah ia. Ketika ia
hendak berseru menegur, tiba2 telinganya terbaur pula oleh
suara tertawa dingin yang bernada menantang.
Dilihatnya bayangan tubuh kecil itu, berloncatan dengan
santai antara dahan pohon yang satu kelain dahan pohon.
sikapnya jumawa sekali.
Gin Liong tak kuat menahan kemarahannya lagi,
Seketika ia lupa pada apa yang diputuskan tadi didalam
kamar, Dengan mendengus dingin, dia segera ayun
tubuhnya ke tempat orang kecil itu.
Melihat Gin Liong lari menghampiri orang bertubuh
kecil itu berputar diri terus lari ke arah utara.
Mengejar sampai diluar desa, baru Gin Liong tersadar,
pikirnya: "Tadi dia tertawa begitu keras dan panjang, Tetapi
mengapa Suma Tiong suami isteri, Yok Lan dan Li Kun tak
tampak bergerak muncul ?"
Menyadari kalau dirinya telah terpancing ia segera
berhenti, iapun segera menyadari bahwa kata2 orang tua
yang ditujukan kepadanya tadi termasuk ilmu Menyusup
suara tingkat tinggi maka timbullah keheranannya Dalam
dunia persilatan hanya beberapa saja jumlah tokoh
persilatan yang menguasai ilmu itu. Lalu siapakah dia ?
Begitu menampakkan diri, orang bertubuh kecil itu
segera mendengus dingin, suaranya penuh bernada
mencemoh. Dan langkahnyapun mulai kendor.
Gin Liong mulai menyadari bahwa orang itu memang
sengaja hendak mempermainkan dirinya, serentak naiklah
darah mudanya, serentak ia mempercepat larinya untuk
mengejar.
Kembali terdengar orang bertubuh kecil itu tertawa
gelak2. iapun kencangkan larinya lagi menuju ke arah
gunung sebelah utara.
Gunung Hok-san makin tampak jelas, Betapa tingginya,
betapa jauhnya, Berulang kali orang bertubuh kecil
berpaling ke belakang seperti kuatir Gin Liong tak
melanjutkan pengejarannya.
Karena tak mampu mengejar, Gin Liong makin marah.
ia tambahkan tenaganya lagi untuk lari sekencang mungkin,
Tetapi beberapa waktu kemudian, tetap orang bertubuh
kecil itu masih tetap jauh dimuka sehingga sukar untuk
melihat wajahnya.
"Hm, sekalipun engkau lari ke neraka, akan tetap
kukejarmu juga !" dengus Gin Liong dalam hati, Habis itu
ia segera merobah ilmu larinya dengan suatu ilmu lari cepat
atau ginkang yang luar biasa ialah ilmu lari Angin-puyuh.
Seketika tubuhnya berobah seperti segulung asap yang
terbang menderu-deru seperti angin.
Kali ini si orang bertubuh kecil agak terkejut Cepat ia
kebutkan kedua lengan bajunya, serempak tubuhnya
terangkat beberapa jari dari tanah dan sekali berayun
kemuka, larinya seperti kilat menyambar.
Saat itu orang bertubuh kecil dan Gin Liong sama2
menggunakan ilmu meringankan tubuh yang jarang
terdapat di dunia persilatan, Dibawah sinar rembulan
remang, yang tampak hanya dua gulung asap berkejaran,
bukan lagi sosok2 tubuh manusia.
Gin Liong terkejut juga ketika melihat kecepatan lari
orang tak dikenal itu jelas orang itupun menggunakan
imbangan dari ilmu lari yang digunakannya, Kalau ia
menggunakan ilmu lari Angin-puyuh adalah orang itu
menggunakan ilmu lari Angin-terbang-diatas-tanah, Jelas
bahwa ilmu lari cepat orang tak dikenal itu jauh melebihi
dari Hok To Beng, tokoh kesatu dari Swat-thian Sam-yu.
Tak berapa lama tibalah mereka di kaki gunung Hok-san
sebelah selatan, jarak antara kedua orang itu makin jauh.
Gin Liong makin menggeram dan makin tak tahu apa
maksud orang itu hendak memancingnya ke gunung Hoksan.
ia tak tahu pula siapakah orang itu, kawan atau lawan.
Setelah melintasi puncak bukit, orang itu terus lari masuk
kedalam hutan di pedalaman,Melihat itu Gin Liong gugup,
Kuatir akan kehilangan jejak orang itu. serentak ia bersuit
nyaring dan terus kerahkan seluruh tenaga-dalam untuk lari
lebih cepat.
Suitan itu bergema jauh sampai seperti menyeluruh ke
segenap daerah gunung dan hutan. Dan saat itu Gin
Liongpun sudah melintasi puncak bukit, terus lari kedalam
hutan, Tetapi dilihatnya, saat itu siorang bertubuh kecil
sudah tiba dipuncak yang melintang disebelah muka. Gin
Liong makin marah, Sejak turun dari gunung Hwe-sianhong,
baru pertama kali itu ia mendapat saingan berat
dalam ilmu lari cepat.
Orang bertubuh kecil itu tiba2 berpaling ke-belakang
memandang Gin Liong dengan pandang kata berkilat-kilat
tajam sekali.
Gin Liong terkesiap. Kini ia menyadari ilmu tenagadalam
orang itu amat tinggi sekali, jauh melebihi kelompok
tujuh tokoh jagad atau Ih-lwe-jit-ki yang termasyhur itu.
Kini sadarlah Gin Liong bahwa ia sedang berhadapan
dengan seorang sakti, ia tak berani memandang rendah dan
harus mempertinggi kewaspadaan.
Tak berapa lama merekapun tiba di luar mulut lembah.
Orang itu terus saja masuk kedalam lembah, Kemudian
tiba2 pula orang itu tertawa gelak2. Nadanya luar biasa
keras, mengandung keangkuhan, kegembiraan dan
kecongkakan, Dan serentak pada saat berhenti tertawa
orang bertubuh kecil itupun menghilang dari pandang mata.
Gin Liong terkejut sekali, serentak ia hentikan lari dan
memandang kedalam lembah, Dalam kesunyian malam
yang ditingkah rembulan suram, tampak lembah itu makin
seram, penuh dengan barisan semak belukar, pohon2 dan
batu karang yang curam.
Angin malam yang berhembus keluar dari lembah,
bersuit-suit tajam macam barisan setan meringkik-ringkik.
Air-terjun terdengar makin bergemuruh, macam gunung
rubuh.
Melihat itu timbullah rasa gentar dalam hati Gin Liong,
ia memperhatikan dengan jelas bahwa orang bertubuh kecil
tadi telah lenyap ke!empat tadi siang ia bertempur melawan
Ce-tang Sam-sat, Timbul pertanyaan dalam hatinya,
Adakah orang itu seorang gerombolan dari ketiga Samsat
itu?
Ah, karena sudah terlanjur mengejar sampai disitu, ia
harus tetap melanjutkan pengejarannya. Dengan siapkan
tinju yang sudah disaluri tenaga-dalam, ia segera melangkah
ke dalam lembah Segenap perhatian tertumpah pada
pandang matanya yang dicurahkan kesetiap tempat yang
gelap.
Asal melihat bayangan siorang bertubuh kecil, segera ia
akan menghajarnya, Tetapi sampai sebegitu jauh, belum
juga ia melihat sesosok bayanganpun juga.
Membiluk ke tikungan puncak, air-terjun di dasar
lembah tampak seperti leburan perak yang mencurah ke
bawah tanah. Tetapi di permukaan telaga penampung airterjun
itu, ia tak melihat lagi sinar kaca yang memancar
keudara.
Beberapa langkah lagi, butir2 air dari udara makin
gencar dan deras, Terpaksa dia hentikan langkah. Saat itu ia
baru melihat jelas bahwa kaca wasiat yang terletak di atas
batu runcing di tengah telaga sudah tak ada, ia duga siang
tadi selekas ia bersama rombongannya tinggalkan tempat
itu, orang tua aneh itupun tentu terus mengambil kaca
wasiatnya.
Buktinya, ketiga durjana Ce-tang Sam-sat menuduh
dialah tentu yang mengambil kaca wasiat itu, jika benar
demikian, tentulah orang tua aneh itu masih berada di
sekitar telaga, Tetapi mengapa ketika si sinting Hong-tiangsoh
berteriak keras merintangnya. orang tua itu tak mau
menampakkan diri ? Apakah dia takut kepada Hong-tiansoh
?
Ah, tetapi peristiwa yang terjadi di tanah lapang dalam
hutan tempo hari, dimana tokoh2 seperti Pengemis-kakitelanjang,
dan hweshio terbunuh mati, serta Hun Ho
siantiang yang didesak untuk segera datang, menandakan
bahwa orang itu jauh lebih sakti dari si sinting Hong-tiansoh.
Tetapi mengapa ia tak keluar menyambut tantangan
Hong-tian-soh ? Oh, mungkinkah dia kenal dengan Hun Ho
siantiang dan bersahabat dengan salah seorang dari Swatthian
Sam-yu sehingga dia sungkan untuk unjuk diri ?
Kalau begitu apakah dia benar2 tokoh Thian-lam Ji gi atau
sepasang pendekar budiman dari Thian-lam ? Tetapi Hun
Ho sian-tiang mengatakan bahwa Thian-lam Ji-gi saat ini
sedang menutup diri untuk memperdalam ilmunya.
Sejenak keliarkan pandang, kejut Gin Liong bukan
kepalang, Sosok2 tubuh jago silat yang terkapar di tepi
telaga tampak seperti bergerak2 kerut wajahnya.
Gih Liong pusatkan perhatian dan mengendapkan
pikirannya yang merana, Akhirnya ia menyadari bahwa apa
yang dilihatnya itu hanya pantulan sinar rembulan yang
mencurah kepermukaan telaga, berbalik menimpah muka
mayat2 itu. Bukan karena wajah mereka bergerak-gerak
masih sebagai orang hidup,
Dalam kesunyian suasana malam yang kelam, samar2
Gin Liong seperti menangkap suara pakaian ditebar
hembusan angin. Gin Liong terkejut dan cepat berpaling.
Tampak lembah di sebelah belakang masih diselubungi
suasana seram seperti tadi. Keadaannya sunyi senyap tak
ada orang yang muncul disitu.
Tetapi jelas ia mendengar suara pakaian orang ditebar
hembusan angin. siapakah orang itu ?
Cepat ia tengadahkan kepala memandang ke atas dan
segera ia mendengus dingin. Diatas puncak sebelah kiri,
tampak tiga sosok bayangan tubuh orang sedang meluncur
turun. Salah satu diantaranya ialah orang bertubuh kecil
tadi,Mereka jelas meluncur ke dalam lembah.
Gin Liong tekan kemarahannya, Selekas ketika orang itu
tiba di tempatnya iapun segera membentak keras:
"Sudah lama aku menunggu disini, Apakah kalian kira
aku takut karena harus menghadapi keroyokan kalian ?"
Habis berkata ia terus maju menyerbu mereka.
Mendengar seruan Gin Liong itu, rupanya ketiga
pendatang itu terkejut Mereka serempak berhenti.
Dalam lari menghampiri itu, Gin Liong memandang
tajam kearah ketiga orang itu.
Yang berdiri ditengah, seorang tua berumur lebih dari 70
tahun. Alisnya yang sudah memutih memanjang masuk
kedalam rambut samping, Rambutnya pun sudah putih
mengkilap seperti perak, mukanya merah segar, sepasang
matanya tajam berwibawa. Tulang kedua keningnya
menonjol, menandakan betapa tinggi ilmu tenaga-dalam
yang dimilikinya.
Mengenakan pakaian tiang-shan (panjang) dari kain
belacu kasar. Ketiaknya mengempit sebatang tongkat besi
yang berkilat-kilat hitam legam. Ternyata kakinya tinggal
yang sebelah kanan, Dia berdiri dengan satu kaki itu.
Orang tua itu bukan lain adalah tokoh yang paling
termasyhur diwilayah Lulam yaitu Ik Bu It bergelar si Kaki-
Satu-bertongkat besi.
Disisi kanan kakek berkaki satu itu, ternyata seorang
nenek yang hanya berlengan satu dan mencekal sebatang
tongkat Peng thiat- ciu thau-ciang (tongkat bertangkai
kepala burung alap2). wajahnya dingin dan angkuh.
Nenek itu bukan lain adalah Tuk-pi Ban thaypoh atau si
Lengan-satu-nenek Ban yang pernah menggegerkan dunia
persilatan beberapa puluh tahun yang lalu karena dengan
tongkat berkepala burung alap2 itu, ia dapat menyapu
rubuh banyak tokoh-2 silat yang sakti.
Nenek Ban itu adalah isteri kakek Kaki-satu bertongkal
besi Ik Bu It. Kalau isterinya berlengan satu, suaminya
berkaki satu. Keduanya berjalan dengan tongkat.
Di belakang kedua suami isteri tua itu baru sosok orang
yang bertubuh kecil tadi, ialah yang memancing Gin Liong
datang ke lembah itu. Ketika Gin Liong melekatkan
pandang mata ia agak terkesiap.
Ternyata orang bertubuh kecil yang hebat ilmu larinya
itu hanya seorang dara yang berumur enam belas - tujuh
belas tahun, wajahnya berpotongan bundar telur, sepasang
alisnya melengkung seperti bulan tanggal satu.
Mata bundar terang laksana bintang kejora. Hidungnya
yang mancung menaungi sepasang bibirnya yang merekah
merah delima,Mengenakan baju warna hijau muda dengan
celana kun warna putih, Pada kedua bahunya tampak
menyanggul dua batang pedang yang bertangkai warna
hijau.
Walaupun hanya berbedak tipis sekali, tetapi kulitnya
tampak memancar warna putih halus, Dari pancaran
keningnya menunjukkan bahwa dia masih seorang anak
dara yang kekanak2an dan manja, menimbulkan kesan
bahwa dia itu seorang anak perempuan yang nakal.
Dara baju hijau itu adalah puteri satu-satunya dari kedua
suami isteri Ik Bu It.
Namanya Ik Siu Ngo.
Saat itu kedua orang tua dan anak gadisnya tengah
memandang Gin Liong dengan perasaan terkejut juga Gin
Liong bersangsi setelah melihat mereka bertiga. Ia segera
hentikan terjangannya dan tegak sejauh tiga tombak dari
tempat mereka
Melihat Gin Liong seorang pemuda yang cakap dan
gagah, makin terkejutlah hati Ik Bu It si kakek berkaki satu,
Hampir ia tak percaya bahwa anak yang masih semuda itu
ternyata memiliki ilmu tenaga-dalam yang sedemikian
hebatnya, juga tak ketinggalan rasa kejut yang
menghinggapi nenek Ban, sebaliknya ketika melihat wajah
Gin Liong, merahlah selebar muka si dara Siu Ngo.
Gin Liong berdiri dengan sikap seperti orang menyesal.
ia menyadari kesalahannya, ia mendapat kesimpulan bahwa
dara itu memang bukan orang yang memikatnya datang ke
lembah itu.
Melihat Gin Liong memandang lekat2 pada gadisnya,
marahlah si nenek Ban, ia berpaling ke belakang dan
membentak puterinya: "Budak perempuan, hayo, kasihlah
hajaran pada budak hina itu"
Siu Ngo terkesiap dan bersangsi.
Sebenarnya Gin Liong mempertimbangkan hendak
minta maaf kepada kedua suami isteri tua itu. Tetapi ketika
melihat sikap dan tingkah si nenek yang begitu angkuh,
diam.2 ia menggeram dalam hati.
Rupanya Kakek Kaki-satu-bertongkat-besi Ik Bu It tahu
bahwa Gin Liong itu seorang pemuda yang berisi. Maka ia
segera mencegah puterinya yang masih ragu2 itu: "Budak
perempuan, tunggu..."
Belum selesai kakek Ik bicara, nenek Ban
menghunjamkan tongkatnya ke tanah dan menggembor
keras: "Budak itu menurut perintahmu atau perintahku ?"
Ia memandang dengan marah kepada suaminya, Kakek
Ik merah mukanya tetapi tak mau menyahut sepatahpun
juga.
Mendengar pembicaraan itu, Gin Liong segera tahu
bahwa kedua kakek nenek itu adalah sepasang suami isteri
serta puterinya.
"Lekas, kasih sedikit hajaran pula budak liar itu !" nenek
Ban memberi perintah lagi, seraya menudingkan tongkat ke
arah Gin Liong.
Gin Liong marah karena diperlakukan begitu "Apakah
begitu mudah untuk memukul aku?" serunya seraya
menatap Ban thaypoh dan si dara cantik Ik Siu Ngo.
Ban thay-poh menggeram sedang si dara Siu Ngo sudah
terus loncat melengking dan ayunkan tangan kanan dan
kirinya, Yang satu menutuk kepala, yang lain menutuk
perut. cepatnya bukan kepalang.
Gin Liong terkejut melihat gerakan si dara cantik yang
begitu tangkas, ia tak berani memandang rendah dan cepat
menggerakkan tubuh berputar seperti angin puyuh, Tahu2
ia sudah berada di belakang si dara tetapi tak mau turun
tangan.
Walaupun sidara Siu Ngo telah mewarisi kepandaian
kedua orang tuanya tetapi ia belum sempurna latihannya
dan kurang pengalaman.
Saat itu ia merasa matanya berkunang dan pemuda yang
hendak diserangnya itu tiba2 lenyap dari hadapannya,
Karena serbuannya luput iapun terlongong.
"Burung cendrawasih berpaling kepala !" tiba2 nenekBan
gentakkan tongkat ke tanah seraya berseru keras.
Siau Ngo tersadar. Dengan melengking cepat ia
mengeliatkan pinggangnya yang ramping berputar tubuh,
Ternyata Gin Liong memang berdiri dibelakangnya.
Kembali dara itu terkesiap, Rupanya baru pertama kali itu
ia berhadapan dengan seorang manusia yang memiliki
gerak secepat setan.
"Budak tolol !" kembali nenek Ban berteriak marah,
"pertama kali keluar sudah membikin malu. Setelah
Cendrawasih-berputar-kepala, harus dilanjutkan dengan
jurus Awan-musim semi muncul, Tangan kanan menyapu
bahu orang jari tangan kiri menutuk jalan darah di dadanya
!"
Dengan deliki mata nenek itu kembali memekik marah:
"Mengapa masih berdiri seperti patung, Hayo kembali
kemari, lihat mamah menghajarnya!"
Sudah tentu Gin Liong makin marah. Masakan dirinya
hendak dijadikan bulan2 percobaan latihan. Tetapi ia tak
sempat bertindak apa2 karena saat itu si dara sudah loncat
menerjang.
Gin Liong mendengus, Sekali bergerak ia sudah
menyelimpat ke belakang dara itu lagi, Tetapi kali ini
tidaklah ia sesantai tadi, Belum kaki berdiri tegak, terdengar
dara itu melengking dan menaburkan kedua tangannya.
Tangan kanan menutuk kepala, tangan kiri menutuk dada.
Gin Liong terkejut juga. ia merasa tindakan Siu Ngo itu
ganas tetapi tepat sekali, ia ingin hendak mencekal tangan si
dara tetapi entah bagaimana tubuhnya telah mencelat
kebelakang sampai beberapa langkah.
Melihat itu nenek Ban tertawa gelak2. Karena mendapat
hasil, Siu Ngopun menyerang lagi, Tetapi cepat nenek Ban
lintangkan tongkat mencegahnya.
"Budak, menyingkirlah, Lihat mamah akan memberinya
hajaran yang lebih keras !"
Habis berkata ia terus memutar tongkat dalam jurus
Heng-soh-cian-kun. Tongkat seketika berhamburan menjadi
segulung sinar yang menderu-deru menyambar Gin Liong.
Melihat mamahnya turun tangan, Siu Ngo pun loncat
mundur dan berdiri mengawasi. sedangkan ayahnya, kakek
Kaki-satu-bertongkat-besi pun berdiri dengan penuh
perhatian, ia tahu bahwa sekalipun istrinya turun
gelanggang, tetap takkan mampu menghajar anak muda itu.
Melihat tingkah laku si nenek, timbullah sifat dari
kanak2 Gin Liong. ia marah, iapun tahu bahwa jurus Hengsoh-
cian-kun atau Membabat-seribu-laskar yang
dilancarkan si nenek itu merupakan serangan yang sukar
dihadapi jurus itu dapat menjadi serangan yang sungguh
tetapipun dapat juga hanya sebagai serangan kosong.
Maka dengan menggembor keras, Gin Liong goyangkan
tubuh namun masih tetap berdiri ditempatnya.
Rupanya si nenek sok tahu. Melihat tubuh Gin Liong
bergerak cepat ia menyentaknya:
"Bagus budak, lihat bagaimana kupatahkan pahamu !"
serunya, Tongkat tiba2 dirobah dalam jurus Liat-biat hoasan
atau menghantam-hancur-Hoasan, menghantam ke
belakang.
Gin Liong tersenyum, Cepat ia loncat kesamping dan
bersembunyi dibelakang sebuah batu besar.
Siu Ngo tercengang sedang ayahnya hanya berseri tawa.
Ketika belakangnya tiada orang, kejut nenek Ban bukan
kepalang. Wajahnya serentak berobah, Dengan memekik
keras, ia gunakan jurus Heng-soh-ngo gak atau Menyapu
lima-gunung, ia hantamkan tongkat ke belakang lagi.
Ketika berputar tubuh dan tak melihat Gin Liong,
mulailah ia bingung. Keringat dingin bercucuran, serentak
ia menaburkan tongkatnya dilain jurus Su- hay-tehng-hun
atau Empat-lautan timbul-awan.
Tongkat berkepala ukiran burung alap2 itu segera
menyambar2 laksana badai menderu dan mencurah
bagaikan hujan deras, Menghantam ke kanan, menyapu ke
kiri, ia merasa anak muda itu seolah mengelilinginya. Debu
dan pasir bertebaran memenuhi empat penjuru.
Melihat lsterinya ngamuk tak keruan itu, kakek Ik Bu It
segera berseru kepada puterinya. "Hai, budak perempuan,
lekas kasih tahu mamah mu, apakah budak itu masih
berada dibelakangnya?"
"Mah, dia tak berada dibelakangmu," akhirnya Siu Ngo
berseru dengan nada kekanak-kanakan.
Mendengar itu si nenek segera hentikan tongkatnya,
menuding Siu Ngo dan berseru tegang: "Dimana budak
itu?"
Nenek ini keliarkan pandang matanya ke empat penjuru,
rupanya ia hendak mencari Gin Liong, Demi melihat wajah
suaminya tersenyum gembira, ia segera deliki mata dan
membentaknya. "Tua bangka, dimana budak itu ?"
Dengan berseri tawa, kakek Ik Bu It segera menunjuk ke
sebuah batu besar kira-2 setombak jauhnya dan berseru
pelahan:
"Karena ketakutan budak itu bersembunyi dibalik batu
itu !"
Tiba2 terdengar suara tertawa gelak2 dan muncullah Gin
Liong dari balik batu itu dan melangkah menghampiri.
Melihat itu merahlah wajah si nenek, Tetapi pada lain saat
iapun ikut tertawa.
"Budak kecil, engkau sungguh nakal, Kali ini kuberimu
ampun." serunya sesaat kemudian.
Melihat mamahnya sudah tak marah lagi, si dara Siu
Ngo gembira sekali, segera ia lari menghampiri.
Kakek Ik Bu It tertawa gembira pula, serunya: "Ha, ha,
peribahasa mengatakan kalau tidak berkelahi tentu tidak
kenal. Rupanya siauhiap ini datang dari daerah Kwan-gwa
(luar perbatasan). Maukah engkau memberitahukan
namamu dan mengapa datang kemari ?"
Jika tadi Gin Liong keras kepala dan liar, saat itu tampak
ramah dan menghormat. Segera ia memberi hormat dan
memperkenalkan dirinya, ia mengatakan kalau datang dari
gunung Tiang-pek-san. Ketika tiba di gunung Hok-san,
kebetulan ia berjumpa dengan kedua suami isteri tua itu.
"Ah, kiranya kita ini orang sendiri, Siau hiap ini sahabat
dari Suma tayhiap."
"Mohon tanya nama locianpwe berdua yang mulia dan
maafkanlah tingkahku yang liar tadi." Gin Liong meminta
maaf.
Dengan terus terang kakek itu segera memperkenalkan
dirinya, kemudian isteri dan puterinya.
Gin Liong serta merta memberi hormat kepada nenek
Ban. Nenek itu tertawa gembira.
"Siau siacu, jangan enak2 memukul baru minta maaf, ya.
Tadi karena tingkahmu, aku sampai ngos-ngosan napasku."
Mereka tertawa mendengar ucapan nenek itu. Setelah
bercakap-cakap beberapa saat barulah Gin Liong tahu
bahwa ketiga ayah beranak itu haru saja tiba di tempat itu,
Gin Liong segera menuturkan tentang orang bertubuh kecil
yang telah memikatnya datang sampai disitu.
Mendengar penuturan itu, kakek Ik Bu It menyadari
bahwa orang tua pemilik kaca wasiat telah berlalu, maka
iapun memutuskan untuk kembali pulang saja.
"Apabila siau siauhiap pulang, tolong sampaikan
hormatku kepada Suma tayhiap suami isteri. Dan harap
siauhiap hati2 dalam perjalanan" kata kakek itu.
Demikian Gin Liong segera berpisah dengan kedua
suami isteri dan puterinya itu, ia lari menuju ke luar
lembah. Diam2 ia mengkal karena lelah dipermainkan oleh
orang bertubuh kecil itu.
Selepas dari tikungan puncak gunung, kembali ia melihat
suatu pemandangan yang membelalakkan matanya,
Sepuluh tombak di sebelah muka pada gunduk2 batu yang
berserakan tampak tegak siorang bertubuh kecil tadi.
Tetapi karena sudah mendapat pengalaman dari suami
isteri Ik Bu It, kali ini Gin Liong tak berani sembarangan
bertindak. Sejenak ia memperhatikan dan memang orang
itu ialah siorang bertubuh kecil yang telah memikatnya ke
dalam lembah tadi. Seketika meluaplah kemarahannya,
dengan memekik keras ia segera lari menghampiri.
Tetapi ketika hampir dekat, seketika tergetarlah hatinya
dan iapun hentikan langkahnya.
Orang bertubuh kecil yang saat itu berdiri pada jarak
setombak di sebelah muka, ternyata adalah orang tua kurus
yang dilihatnya berada dalam rumah pondok di lembah
salju gunung Tiang pek san tempo hari.
Saat itu orang tua aneh itu mengenakan jubah hitam,
rambutnya kusut masai. Pada wajahnya yang dingin dan
angkuh memancar sinar welas asih.
Setelah menenangkan semangat, Gin Liong segera maju
tiga langkah mengangkat tangan dan membungkukkan
tubuh memberi hormat.
"Murid Siau Gin Liong dengan hormat menghadap
locianpwe."
Habis berkata ia terus hendak berlutut menjalankan
penghormatan. Tetapi tiba-2 segulung hawa kuat menguap
dari bawah lutut merintangi gerakannya hendak berlutut.
Menyusul terdengar suara orang tua itu berseru dengan
nada ramah:
"Gin Liong tak usah banyak peradatan, Kita bicara
sambil berdiri saja."
Gin Liong memberi hormat pula lalu bangkit.
"Mohon locianpwe memberi petunjuk, mengapa
locianpwe memerintahkan aku datang ke lembah ini."
Wajah orang tua yang berseri ramah tiba2 mengerut
dingin dan angkuh lagi, ujarnya dengan nada serius:
"Musibah dalam dunia persilatan segera akan tiba,"
katanya, "tampaknya tugas untuk mengatasi bencana itu
terletak di bahumu. Mulai besok pagi bahkan mungkin
nanti, tentu engkau akan di hadang oleh kawanan manusia
yang berhati temaha, jika engkau dapat menghadapi dengan
selayaknya, bahaya itu tentu akan surut. Tetapi kalau
engkau tidak hati2, tentu akan menimbulkan bencana darah
yang tak terperikan akibatnya."
Habis berkata orang tua itu sejenak memandang ke arah
lembah, Mulutnya mengulum senyum. Kemudian ia
mengeluarkan kaca wasiat, seketika memancarlah sinar
gilang gemilang menerangi seluruh lembah.
Teganglah hati Gin Liong melihat kaca wasiat itu.
Dipandangnya orang tua kurus itu dengan penuh
keheranan.
Sambil memegang kaca, berkatalah orang tua kurus
dengan nada bersungguh:
"lnilah benda dari paderi sakti yang disebut Goa-po-tekia.
Bukan saja dapat digunakan untuk menentukan letak
benda berharga dalam tanah, pun kaca wasiat ini
mengandung ilmu yang tak ternilai hebatnya."
Berhenti sejenak, orang tua kurus itu memandang Gin
Liong dan berkata pula:
"Sekarang hendak kuberikan kaca ini kepadamu, harap
engkau baik2 menjaganya jangan sampai jatuh orang jahat."
Habis berkata, sepasang matanya tampak berkilat2
tajam, Melihat wajah Gin Liong mengerut serius, wajah
orang tua kurus yang dingin segera merekah seri tertawa.
"Adakah engkau dapat menyelami ilmu yang terkandung
dalam kaca ini, tergantung sampai dimana jodoh dan
rejekimu dengan benda itu."
Orang tua kurus itu menyorongkan kedua tangannya ke
muka dada dan dengan suara bengis berseru:
"Gin Liong, mengapa tak lekas berlutut menerima kaca
wasiat dan Seng-ceng !"
Tahu bahwa menolakpun percuma saja, Gin Liong
terpaksa berlutut memberi hormat.
"Murid Siau Gin Liong dengan sungguh hati menerima
pemberian kaca dari Seng-ceng (paderi sakti), Sejak saat ini
murid akan menjalankan titah Seng-ceng untuk menyebar
kebaikan, berkelana dalam dunia persilatan, menjunjung
kebenaran membasmi kejahatan melakukan dharma
kebajikan. Kecuali terhadap orang yang keliwat jahat murid
takkan membunuh orang..."
Tiba2 orang tua kurus itu tertawa menukas: "Soal
membunuh orang, terserah pada pertimbanganmu."
"Murid akan melakukan dengan sepenuh hati." Orang
tua kurus itu menghela napas: "Hati manusia tak pernah
layu, nafsu keinginannya tak pernah puas, Sekali tersesat,
sampai mati tak mau sadar, Jika engkau menghendaki
manusia budak nafsu itu supaya sadar, mungkin akan
menghabiskan waktumu saja."
Habis berkata ia memandang sejenak kearah deretan
pohon siong yang tumbuh lima tombak jauhnya, kemudian
menyerahkan kaca wasiat kepada Gin Liong. Dengan
kedua tangan Gin Liongpun menyambuti dan
menyimpannya dalam baju.
Tiba2 terdengar suara orang tertawa seram. Asalnya dari
arah deretan pohon siong itu. Gin Liong tergetar, cepat ia
berdiri dan berputar tubuh.
Dari balik deretan pohon siong sejauh lima tombak,
muncul dua orang. Seorang tua dan seorang imam tua,
Kedua berumur delapan puluhan tahun.
Orang tua itu berwajah persegi, mulut besar alis
gompyok, sepasang bola matanya seperti kelinting, jenggot
putih menjulai sampai ke perut.Mengenakan jubah panjang
yang tepinya disalut sutera kuning emas.
Siimam tua bermuka tirus, mulut lancip, mata sipit dan
tubuh tinggi, memegang sebatang hud tim jubahnya dari
sutera biru, memakai kain pinggiran sutera kuning emas,
punggungnya menyanggul sebatang pedang.
Siimam tua dan siorang tua mulut lebar melangkah maju
sambil tertawa seram, Gin Liong kerutkan alis.
Orang tua kurus yang berada di belakang Gin Liong
tertawa gelak2, serunya:
"Yang di sebelah kiri itu kepala dari pulau Cui-leng-to.
Yang sebelah kanan Long Ya cinjin. Keduanya termasyhur
sebagai durjana jahat. Coba saja bagaimana cara engkau
hendak menasehati mereka supaya kembali ke jalan yang
benar."
Suara Orang tua kurus itu makin lama makin jauh. Dan
ketika Gin Liong berpaling ternyata orang tua kurus itu
sudah berada pada jarak dua puluh tombak jauhnya dan
pada lain saat terus menyusup ke dalam hutan bambu.
Sudah tentu Gin Liong bingung.
"Locianpwe, apakah locianpwe tak mau beritahu nama
locianpwe kepada murid ?"
Telinga Gin Liong segera terngiang suara orang tua itu:
"Tak usah memikirkan hal itu kelak engkau tentu tahu
sendiri."
Gin Liong terkesiap, Sambil memandang bayang orang
tua kurus yang lenyap ke dalam hutan bambu ia mendesah:
"Ah, orang tua itu benar2 aneh sekali."
Tetapi ia segera dikejutkan oleh suara tertawa mengekeh
dan kedua orang yang sudah tiba di belakangnya, segera ia
berbalik tubuh pula. Kedua pendatang itu sudah berada
setombak di hadapannya.
Kepala Cui-leng-to mengekeh:
"Heh, heh, budak, setan tua itu takut mati dan melarikan
diri, Sampai pecah sekalipun kerongkonganmu, tak
mungkin dia akan mendengar teriakanmu."
Long Ya cinjinpun ikut tertawa seram.
"Budak, lekas serahkan kaca wasiat itu kepadaku,
mungkin aku dapat berbuat kebaikan untuk tak
membunuhmu."
"Heh, heh, budak" kembali kepala Cui-leng-to mengekeh
lagi, "serahkan kepadaku, jangan kepada imam hidung
kerbau ini."
Ia terus ulurkan tangan kanannya yang kurus kering
mirip cakar baja ke muka.
"Berikan kepadaku" Long Ya cinjin juga ulurkan
tangannya meminta.
Melihat tingkah laku kedua orang itu, Gin Liong merasa
muak. Dan mendengar kata2 mereka yang begitu temaha,
marahlah Gin Liong.
"Atas dasar apa ?" bentaknya, Dipandangnya kedua
orang itu dengan mata berkilat-kilat.
Kepala Cui-leng-to tertawa gelak2. Tetapi Long Ya cinjin
marah dan terus menerkam dada Gin Liong, Pemuda itu
tertawa dingin, serentak ia hendak menyambar pergelangan
tangan cinjin itu tetapi tiba2 kepala Cui-leng-to atau Cuileng-
to-cu menyentaknya.
"Anak jadah, engkau berani . ." Cepat laksana kilat dia
mendorong lengan Long Ya cinjin ke samping.
Gin Liong terkejut dan menyurut mundur selangkah,
tepat pada saat itu, kedua orang itupun menggembor keras,
Long Ya cinjin mengangkat lengannya untuk menghindari
tangan Cui-leng-to-cu, tangan kiri maju untuk
mencengkeram leher baju Gin Liong.
Cui-leng-to-cu juga menurunkan lengan kanan maju
setengah langkah dan ulurkan tangan kiri untuk
mencengkeram dada Gin Liong,
Kedua orang itu bergerak luar biasa cepatnya dan disertai
dengan tenaga penuh. Gin Liong terkejut dan segera
gunakan gerak tata langkah Liong-li-biau untuk menghindar
dan loncat sampai tiga tombak jauhnya.
Cui-leng tocu tertawa seram. Entah dengan gerak
bagaimana, ia sudah membayangi Gin Liong, sedangkan
tangan kirinya tetap mengancam lambung Gin Liong.
Long Ya cinjin lebih lihay lagi. Dengan tertawa seram ia
menyerang dari samping, kebut hud tim ditaburkan kedada
Gin Liong.
Melihat itu Cui leng-to-cu terkejut juga. Kalau Long Ya
cinjin berhasil menampar dada Gin Liong, kaca wasiat
tentu akan menumpah keluar. Dan apabila disusuli dengan
gerakan hudtim sekali lagi, kaca wasiat itu tentu akan jatuh
ke tangan cinjin itu, maka dengan menggembor keras, ia
segera menghantam bahu kiri Long Ya cinjin.
Melihat kaca yang jelas sudah akan jatuh ke tangannya
hendak digagalkan kepala pulau Cui-leng to, marahlah
Long Ya cinjin.
"Anjing tua, engkau cari mampus" bentaknya seraya
gerakkan tangan kiri untuk menangkis dan tangan kanan
untuk membabat kedua lutut kaki orang.
Tetapi Cui-leng-to-cu tertawa gelak2, sekali kebutkan
lengan jubah, tubuhnya melambung sampai tiga tombak ke
udara.
"Tua bangka buduk, engkau hendak merebut kaca wasiat
itu ? Hm, mari kita adu jiwa dulu " serunya sambil julurkan
tangan kanan untuk mencengkeram belakang kepala Long
Ya cinjin.
Long Ya cinjin marah, cepat ia balikkan tubuh dan
menampar dengan kebut hudtim, Cui-leng to-cu tertawa
gelak2. ia bergeliatan kebutkan kedua lengan baju di udara
dan gunakan ujung kaki kanan untuk mendupak kepala
orang.
Demikian kedua orang itu saling bertempur kematimatian
sendiri, Long Ya cinjin menghantam dengan tangan
kiri dan memutar kebut hudtimnya gencar sekali,
sedangkan kepala dari pulau Cui-leng-to mainkan lengan
bajunya yang dikebutkan dan ditamparkan laksana
gelombang laut yang dahsyat sekali.
Mereka muncul bersama, menghampiri bersama dan
meminta kaca wasiat dari Gin Liongpun bersama. Akhirnya
mereka bersama pula berbaku hantam, seru dan dahsyat.
Sedangkan Gin Liong malah berada tiga tombak dari
tempat pertempuran itu, melihat kedua orang itu bertempur
mengadu jiwa, ia kesima. Tetapi pada lain saat ketika
teringat bahwa kedua orang itu hendak meminta kaca
wasiat, marahlah Gin Liong.
Tepat pada saat itu, kedua orang itupun tampak
berputar-putar dan tiba2 pula menyerbu Gin Liong.
Cui-leng-to-cu mendahului untuk mengangkat tangan
kanan dan menghantam Gin Liong. Kemudian Long Ya
cinjinpun tiba dengan tangan kiri mencengkeram dada anak
muda itu.
Gin Liong menggembor keras, Dengan jurus Liat-hunsong-
hou atau dengan-kekuatan-menyiak-sepasangharimau.
"Bum...." sepasang tangan yang menghantam kekanan
dan kiri itu tepat mengenai tangan kedua orang itu. Cuileng-
to-cu menjerit kaget lalu menyurut kesamping
selangkah terus loncat lagi setombak jauhnya, Long Ya
cinjin mendesuh pelahan dan terhuyung-huyung sampai
delapan langkah ke belakang. Tetapi Gin Liong sendiri juga
bergetar bahunya, kedua lengannya terasa linu kesakitan
Cui- leng-to-cu berobah wajahnya dan terlongonglongong,
Long Ya cinjingpun tercengang. Keduanya tak
pernah menyangka bahwa pemuda itu ternyata memiliki
tenaga-sakti yang mengejutkan orang.
Tetapi Gin Liong juga kaget dalam hati, ia menyadari
bahwa kedua durjana itu memang hebat sekali
kepandaiannya, ia tak berani memandang rendah lagi.
Serentak ia segera kerahkan tenaga-dalam dan ketika
melihat kedua durjana itu masih termangu-mangu,
timbullah pikirannya untuk menyadarkan mereka supaya
kembali ke jalan yang benar.
"Kalian tentulah tokoh2 sakti yang mengasingkan diri
tinggal diseberang laut. Bukankah lebih baik menghapus
keinginan2 yang jahat dan lanjutkan tindakan kalian untuk
mencari ilmu penerangan hatin yang tinggi..."
Kedua orang itu cepat tertawa keras menukas ucapan
Gin Liong, Sudah tentu Gin Liong marah.
"Soal itu mengapa perlu engkau seorang budak kecil
yang harus memberi nasehat ? Sudah lima puluh tahun
lamanya entah sudah berapa ribu kali kudengar ucapan2
kosong semacam itu," seru kepala pulau Cui-leng-to.
Sepasang gundu mata Long Ya cinjin berkeliaran seperti
teringat sesuatu lalu tertawa parau.
"Budak kecil, ketahuilah, kenal pada gelagat dan dapat
mengetahui suasana, barulah dapat menjadi seorang gagah,
Engkau budak, jika mau mengangkat aku sebagai guru dan
menyerahkan kaca wasiat itu, kita guru dan murid dapat
bersama2 mempelajari ilmu sakti yang tertera pada kaca
wasiat itu. Kelak tentu akan menguasai dunia persilatan..."
Belum Long Ya cinjin selesai berkata, Cui-leng-to-cu
sudah tertawa gelak2, serunya:
"Tua bangka, pikiranmu sungguh murni sekali,
ucapanmupun enak didengar. Apakah engkau tak tahu
bahwa aku memang bermaksud hendak mengambil budak
itu sebagai murid pewarisku !"
Mendengar kedua orang itu seenaknya sendiri mengoceh
tak keruan hendak mengambil dirinya sebagai murid,
marahlah Gin Liong. ia kecewa dan putus asa. Untuk
menasehatkan kedua orang itu tak ubah seperti meniup
seruling di hadapan seekor kerbau belaka.
Seketika meluaplah kemarahan Gin Liong dan serentak
iapun maju menghampiri
Tanpa menghiraukan Cui-leng-to-cu lagi, Long Ya cinjin
terus berseru lagi kepada Gin Liong:
"Berhenti engkau ! Engkau harus tenang dan jangan
gugup, Kita berdua tentu dapat membasmi anjing tua dari
Cui-leng-to itu"
Sudah tentu marah Cui-leng-to-cu bukan kepalang
sehingga rambutnya meregang tegak, dengan meraung
keras ia segera menampar muka Long Ya cinjin.
Rupanya Long Ya cinjin sudah bersiap. sesaat Cui-lengto-
cu menggerakkan tangan, iapun cepat mendahului untuk
menutuk perutnya. Oleh karena jelas kedua tokoh itu
hendak saling membasmi maka setiap gerak yang
dilancarkan tentu merupakan jurus maut yang mengerikan.
Tiba2 terdengar suara ayam berkokok, Gin Liong
menyadari bahwa hari segera akan terang tanah, ia harus
lekas2 kembali ketempat Suma Tiong, kalau tidak Yok Lan
dan kawannya tentu akan bingung mencari dirinya.
"Hari segera terang tanah, aku masih mempunyai lain
urusan tak dapat menemani kalian lagi" serunya kepada
kedua tokoh yang sedang bertempur itu, kemudian ia terus
berputar tubuh dan lari ke luar lembah.
"Hai, budak, jangan lari tinggalkan kaca itu" kedua tokoh
itu berhenti bertempur dan berteriak seraya loncat
berhamburan mengejar Gin Liong, Begitu tiba di tanah,
mereka melambung ke udara lagi dan tiba lima tombak di
belakang Gin Liong.
Ketika berpaling, terkejutlah Gin Liong. ia segera
kerahkan tenaga untuk mempercepat larinya. Tetapi kedua
tokoh durjana itu tak mau melepaskan Gin Liong,
Merekapun tancap gas untuk mengejar
Sesaat Gin Liong berpaling, tampak Long Ya cinjin
dengan memegang kabut hudtim dan pedang berputar
melayang di udara lalu meluncur kearah Gin Liong. Sambil
meluncur, cinjin itu membentak "Hai budak, tinggalkan
batok kepalamu !"
Gin Liong makin marah, ia hendak mempertunjukan
kepada cinjin itu bahwa ia dapat lari lebih cepat, ia
kerahkan tenaga-dalam lagi untuk merubah dirinya menjadi
segulung asap yang menderu-deru meluncur keluar lembah.
Long Ya cinjin terkejut dan meluncur turun, Cui-lengtocupun
kesima, laju larinya menurun dan orangnyapun
segera berhenti. Hanya segulung asap warna kuning yang
meluncur ke mulut lembah dan pada lain saat pemuda
itupun sudah lenyap dari pandang mata.
Gin Liong menggunakan ilmu lari Angin-puyuh yang
hebat, setelah mendaki puncak dan melintasi hutan,
beberapa saat kemudian ia tiba disebuah tanah datar. Ketika
berpaling, ia tak melihat kedua pengejarnya lagi. Segera ia
percepat larinya menuju ke desa tempat kediaman Suma
Tiong,
Tak berapa lama tibalah ia dimulut desa, Desa sunyi
senyap, setelah masuk ke halaman dengan hati2 iapun
menyerupai masuk kedalam kamar, duduk bersila diatas
ranjang dan mulai menyalurkan pernapasan.
Tak berapa lama ia mendengar derap langkah orang
berjalan di halaman, Ternyata hari sudah terang tanah dan
para bujang2 sudah mulai bekerja, iapun segera turun dan
mandi kemudian menghampiri ke kamar Tio Li Kun.
Gin Liong terkejut sekali melihat wajah nona itu makin
pucat dan lemah.Melihat si anak muda terkejut, Li Kunpun
hampir mengucurkan airmata, ia segera berputar tubuh dan
menuju ke kamar Tek Cun. Gin Liong bergegas
menyusulnya.
"Taci Kun, lekaslah engkau tutuk jalan darah liok-ko,"
kata Gin Liong demi melihat keadaan Tek Cun makin
payah.
Tio Li Kun melakukan perintah, Gin Liong-pun
memeriksa luka Tek Cun. Ternyata wajahnya sudah
tampak segar dan napasnyapun teratur, sudah lebih sehat
daripada kemarin.
"Taci Kun, apakah semalam engkau tak tidur?" tegur Gin
Liong, Li Kun tak menjawab kecuali bercucuran airmata.
Gin Liong makin gugup, ia menghampiri dan menghibur
nona itu: "Sudahlah taci, jangan sedih. Beberapa hari lagi
luka liok-ko tentu sembuh."
Tiba-2 Li Kun memeluk tangan Gin Liong dan berkata
dengan rawan: "Adik Liong, kurasakan makin lama engkau
makin menjauhi aku."
Nona itu mulai terisak, jelas ia amat bersedih hati,
sesungguhnya Gin Liong seorang pemuda yang berhati
lembut. Tetapi karena dalam hatinya sudah terisi dengan
sumoaynya, apalagi suhunya telah meninggalkan pesan,
maka terpaksa ia tak dapat menerima persembahan hati Li
Kun.
Tetapi karena itu ia dipeluk si jelita, hatinyapun tergerak
dan tanpa disadari iapun membelai-belai rambut si jelita
seraya menghiburnya : "Ah, janganlah berpikir terlalu
banyak."
"Adik Liong, harapanku janganlah engkau memandang
diriku hanya sebagai pohon liu yang tumbuh di tepi jalan..."
Rupanya Gin Liong tahu bahwa Li Kun hendak
memperingatkannya tentang peristiwa yang terjadi dalam
ruang dalam perahu yang lalu. Maka cepat ia menukas:
"Kutahu taci seorang gadis yang luhur hati, hanya Thian
yang tahu bagaimana perasaan hatiku kepada taci.
Sudahlah, jangan memikir yang tidak2 dan hanya
mengganggu kesehatan taci saja."
Kemudian sambil mengelus-elus bahu si jelita, ia
menambahkan pula: "Yok Lan sudah sejak kecil belajar
ilmu bersama aku. Hati budinya halus dan lembut, harap
taci Li Kun suka melindunginya..."
"Jangan kuatir adik Liong" cepat Li Kun menukas, "aku
anak yang paling bungsu, tentu akan kuperlakukan adik
Lan sebagai adik kandungku sendiri."
Tergetar hati Gin Liong dengan rasa bahagia maka iapun
segera berbisik mesra: "Jika demikian kelak kita akan
bersama-sama menjelang hari bahagia."
"Sungguhkah itu, adik Liong ?"
Gin Liong tertawa mengangguk, ia segera mengusap
airmata Li Kun yang tak henti-hentinya mengucur itu,
Kemudian Gin Liong mengajaknya untuk menjenguk
keadaan Mo Lan Hwa.
Ketika masuk ke kamar, tampak Yok Lan menyambut
dengan wajah berseri, ia duduk di tepi ranjang menunggu
Lan Hwa ia hendak bangun untuk menyambut tetapi Li
Kun mencegahnya.
"Adik Hwa, lukamu masih belum sembuh, jangan
paksakan diri bangun" kata Li Kun.
Memperhatikan mata Li Kun membenjul bekas
menangis, Lan Hwa bertanya: "Taci Kun, engkau habis
menangis ?"
Li Kun tersipu-sipu merah, sesaat ia tak dapat menjawab.
"Apakah luka Tek Cun koko makin parah?" tanya Lan
Hwa cemas.
"Mungkin liok-ko harus beristirahat beberapa hari lagi
baru sembuh" akhirnya Li Kun memberi jawaban
sekenanya.
Yok Lan mengatakan ia ingin menjenguk Tek Cun, Gin
Liong mencegah mengatakan kalau Tek Cun sedang tidur.
Saat itu bujang muncul dengan membawa dua mangkuk
kuah Jin-som-lian-cu: "Nyonya besar mengutus hamba
mengirim kuah ini untuk Liok ya dan nona Mo."
"Taci Kun, mari kita antarkan kepada liok ko", kata Yok
Lan, Kedua nona itupun segera keluar.
Kini tinggal Gin Liong berdua dengan Lan Hwa,Melihat
luka nona itu masih payah, Gin Liong segera menghampiri,
mengangkat tubuh nona itu dan memberinya bantal yang
tinggi. Kemudian ia mengambil mangkok jin-som dan
meminumkan ke mulut LanHwa.
Gemetar tubuh Lan Hwa, gemetar pula hatinya karena
duduk merapat dengan Gin Liong, pemuda yang mencuri
hatinya. Tepat pada saat itu muncullah Yok Lan, Lan Hwa
dan Gin Liong tertegun. Tetapi Yok Lan seorang dara yang
polos, setitikpun ia tak cemburu atau marah bahkan segera
menghampiri dan membujuk: "Taci Hwa, kuah jin-som itu
harus dihabiskan agar taci lekas sembuh."
Terharu hati Lan Hwa mendengar kata2 dara itu, ia
segera meneguknya habis. Dalam pada itu diam2 ia
bersumpah, rela mengorbankan diri daripada
menghancurkan hati seorang dara berhati emas seperti Yok
Lan, Lan Hwa menangis dalam hati.
Setelah membaringkan Lan Hwa ditempat semula lagi,
Yok Lan segera mengikuti Gin Liong keluar untuk makan
pagi. Tak lama Li Kunpun pun datang, Tiba2 suami isteri
Suma Tiong bergegas masuk, wajahnya mereka tampak
tegang.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Ngentot : Pedang Tanduk Naga 2 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Ngentot : Pedang Tanduk Naga 2 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/07/cerita-ngentot-pedang-tanduk-naga-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Ngentot : Pedang Tanduk Naga 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Ngentot : Pedang Tanduk Naga 2 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Ngentot : Pedang Tanduk Naga 2 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/07/cerita-ngentot-pedang-tanduk-naga-2.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar