Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 3

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 11 Mei 2012

Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 3


"Tapi aku... aku cinta padanya, suhu."
Sepasang mata yang sudah lebar itu terbelalak. "Kau...? Cinta...? Uh, betapa bodohnya. Bukankah sudah sering
kuajarkan kepadamu bahwa cinta adalah suatu kebodohan? Bahwa cinta hanya mendatangkan kesengsaraan hidup
belaka? Aku tidak berjanji apa-apa, dan kita lihat saja bagaimana kesudahannya pibu ini nanti." Dengan kasar
dia lalu menggunakan tangannya mendorong muridnya ke samping. Terpaksa Cian Ling meloncat ke pinggir dan
memandang dengan alis berkerut karena betapapun juga, ia tahu akan kesaktian gurunya dan akan keganasan ilmu
dari gurunya. Dan ia masih belum puas dengan pemuda itu, tidak ingin kehilangan Thian Sin yang begitu
menyenangkan hatinya.
Kakek itu menggerakkan tangan yang memegang tongkat dan benda itu menancap di atas tanah sampai setengahnya.
"Nah, engkau boleh mempergunakan senjatamu pedang itu, akan kuhadapi dengan tangan kosong. Ini baru adil
namanya mengingat usiaku lebih matang darimu. Majulah dan keluarkan podangmu, orang muda."
Manusia sombong pikir Thian Sin. Diapun tidak mau kalah gertak, maka dia mengeluarkan pedangnya, bukan dicabut
melainkan mangeluarkan berikut sarungnya dan diapun menancapkan pedang bersarung itu ke atas tanah. "Locianpwe,
aku datang untuk minta petunjuk, dan dalam adu ilmu haruslah terdapat kejujuran dan keadilan. Kalau locianpwe
tidak menggunakan senjata, akupun masih mempunyai tangan dan kaki untuk melayanimu."
Kakek itu semakin terbelalak, lalu tertawa. "Ha-ha-ha, engkau tabah sekali. Agaknya karena engkau telah
menguasai ilmu dari Cin-ling-pai seperti yang telah kudengar, maka engkau berani memandang ringan kepadaku, ya?
Nah, boleh mari kita mengadu tangan dan kaki. Majulah!"
"Aku yang muda dan hanya tamu, mana berani maju lebih dulu? Silakan, locianpwe!"
Sikap Thian Sin yang selalu mengalah ini sungguh merupakan tamparan bagi See-thian-ong. Biasanya, karena dia
memiliki tingkat lebih tinggi, dialah yang mengalah sebagai sikap orang yang kepandaiannya lebih tinggi. Akan
tetapi sekarang dia bertemu batunya, seorang pemuda yang bersikap mengalah kepadanya!
"Bocah sombong, sungguh engkau tidak mengenal siapa See-thian-ong!" bentaknya dan sikap Thian Sin itu berhasil
membuat kakek ini marah dan memang inilah yang dikehendaki Thian Sin. Dia tidak ingin kakek itu main-main,
melainkan memancing agar kakek itu mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk dapat diukurnya. Setelah
mengeluarkan bentakan itu, tiba-tiba saja kakek itu menerjang dan kedua lengannya yang berkulit hitam berbulu
panjang dan besar itu menyambar dari kanan kiri, kedua tangannya dengan telapakan tangan terbuka menyambar dari
kanan kiri seperti orang hendak menepuk lalat, dan yang dijadikan lalatnya untuk dihimpit oleh kedua tangan
yang lebar dan kuat itu adalah kepala Thian Sin!
"Parrrrr...!" Kedua tangan itu saling bertemu ketika Thian Sin dengan gerakan lincah sudah melangkah mundur
mengelak. Akan tetapi, bertemunya kedua tangan kakek itu selain mendatangkan suara nyaring, juga mengepulkan
asap dan tahu-tahu kedua tangan itu telah meluncur dengan serangan dahsyat dan ganas sekali, yang kanan
mencengkeram ke arah kepala lawan sedangkan yang kiri dengan jari tangan terbuka menusuk ke arah lambung!
"Hemm...!" Thian Sin berseru, kagum karena serangan itu sungguh amat ganas dan cepat, sebelum kedua tangan
datang sudah menyambar angin pukulan dahsyat. Diapun lalu mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, sengaja
menangkis kedua lengan itu dengan kedua tangannya.
"Plak! Desss...!"
"Ahh! Inikah Thian-te Sin-ciang?" Kakek itu berseru kaget ketika merasa betapa kedua lengannya yang disaluri
penuh tenaga sin-kang itu dapat terpental terkena tangkisan pemuda itu. Maklumlah dia bahwa berita yang
didengarnya tentang pemuda ini tidak kosong belaka. Tenaga Thian-te Sin-ciang tadi saja sudah membuktikan bahwa
pemuda ini memiliki tenaga kuat sekali, jauh lebih kuat daripada tenaga murid-muridnya yang paling pandai
sekalipun.
Thian Sin tidak mempedulikan seruan kakek itu dan diapun cepat membalas serangan lawan dengan ilmu Silat
Pat-hong Sin-kun dan setiap sambaran tangannya, dia kerahkan tenaga Pek-in-ciang sehingga kedua tangan itu
mengeluarkan uap putih! Dua ilmu ini dia pelajari dari Yap Kun Liong dan sekarang dia memiliki kesempatan untuk
mempergunakannya dalam praktek melawan musuh yang tangguh.
Dihujani serangan oleh pemuda itu, See-thian-ong cepat menjaga diri, mengelak dan menangkis sambil
memperhatikan gerakan orang. Dia kagum sekali karena dia tidak yakin mengenal ilmu silat itu. "Apa ini? Seperti
Pat-kwa-kun, akan tetapi bukan! Dan uap putih ini... hemm, pernah aku mendengar tentang Pek-in-ciang. Inikah
ilmu itu?"
Thian Sin mendesak terus tanpa menjawab, kemudian dia bahkan mengeluarkan ilmu-ilmu silat tinggi yang pernah
dipelajarinya. Dia mengeluarkan beberapa jurus Thai-kek Sin-kun, San-in-kun-hoat dengan tenaga Thian-te
Sin-ciang. Kakek itu semakin kagum, karena semua ilmu itu dikenalnya sebagai ilmu silat yang benar-benar amat
bermutu. Berkali-kali dia memuji dan dia sungguh-sungguh terdesak, padahal pemuda itu hanya mengeluarkan
beberapa jurus dari ilmu silat masing-masing itu. Thian Sin juga bukan seorang pemuda bodoh. Dia tahu bahwa
lawannya adalah seorang datuk yang telah memiliki kematangan ilmu silat.
Dia tidak mau dipancing seperti ketika menghadapi Pak-san-kui, yaitu dipancing untuk mengeluarkan semua
ilmu-ilmunya agar dapat dipelajari oleh datuk itu. Maka dia mencampur-campurkan semua ilmu silatnya sehingga
membuat lawannya bingung dan kagum sekali. Karena maklum bahwa dia tidak akan mampu mempelajari ilmu-ilmu silat
tinggi yang diselang-seling itu dan tahu bahwa kalau dia hanya bertahan saja, besar kemungkinan dia akan
terkena pukulan yang cukup ampuh dan berbahaya, kini See-thian-ong mengambil keputusan untuk menyudahi
pertandingan.
Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan yang parau menggetarkan bumi dan pohon-pohon di sekeliling tempat itu dan
berdiri dengan kedua kaki dan tangan terpentang lebar. Pada saat itu, Thian Sin sudah melakukan serangan
pukulan ke arah dada kakek itu. Melihat kakek itu berdiri dengan dada terbuka, dan melihat betapa menyusul
suara teriakan itu, tubuh Si Kakek mulai menggembung, tahulah Thian Sin bahwa kakek itu telah mempergunakan
ilmunya yang mujijat, yaitu yang oleh Cian Ling disebut sebagai Ilmu Hoa-mo-kang. Akan tetapi dia tidak peduli
dan memukul terus, untuk menguji sampai di mana kehebatan ilmu itu. Dia melihat betapa kakek itu sama sekali
tidak mengelak atau menangkis, bahkan menyerahkan dadanya untuk dipukul.
"Blukk...!" Pukulan tangan kanan Thian Sin yang menggunakan sepenuhnya tenaga Thian-te Sin-ciang itu tepat
mengenai dada dan telinga Thian Sin seperti mendengar suara tambur dipukul dan tangannya yang memukul itu tadi
terpental kembali seperti memukul bola yang amat keras dan kuat. Tubuhnya sendiri sampai terhuyung terbawa oleh
kembalinya tenaga Thian-te Sin-ciang melalui tangannya dan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, dia sudah
berloncatan jungkir balik mematahkan tenaga yang membalik itu.
"Ha-ha-ha, bagaimana pendapatmu dengan ilmuku, orang muda? Dapatkah engkau melawannya?" See-thian-ong tertawa
pula, puas dan girang hatinya melihat lawannya terkejut menghadapi ilmunya.
"Locianpwe, ilmumu memang hebat, akan tetapi jangan mengira bahwa aku sudah kalah." Setelah berkata demikian,
pemuda itu menerjang ke depan lagi, dan kini dia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang bagian-bagian
tubuh yang tidak terlindung oleh Hoa-mo-kang itu, seperti mata, hidung, bagian muka, lalu bagian tubuh yang
tulangnya menonjol dan tidak terlindung oleh daging, seperti tulang pundak, tenggorokan, sambungan siku, lutut
dan sebagainya.
"Ah, kau memang cerdik!" Kakek itu berseru dan repot melindungi bagian-bagian yang terserang itu. Akan tetapi
karena tubuhnya sudah menggembung, maka mudah saja baginya, dengan hanya menggerakkan sedikit tubuhnya, maka
bagian-bagian yang terserang adalah bagian yang terlindung hawa Hoa-mo-kang. Dan kini, begitu tubuhnya
terpukul, otomatis tangannya membalas serangan dari samping.
"Blunggg... desss!" Ketika tangan Thian Sin dengan kekuatan menyambar ke arah pundak untuk membikin patah
tulang pundak kiri, kakek itu miringkan tubuhnya sehingga pukulan itu mengenai dadanya, dan pada saat yang sama
tangannya sudah menampar punggung Thian Sin. Tubuh pemuda itu terpelanting dan bergulingan saking kerasnya
pukulan lawan. Akan tetapi untung baginya bahwa dia tadi sedang mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang sehingga
tubuhnyapun menjadi kebal, terlindung oleh tenaga itu. Dia tidak terluka, sungguhpun guncangan tenaga hantaman
yang keras itu sempat membuat isi dadanya tergetar dan napasnya menjadi agak sesak!
"Ha-ha-ha!" See-thian-ong tertawa girang dan bangga.
Thian Sin menjadi penasaran dan juga marah. Dia sudah menerjang lagi, menusukkan telunjuk dan jari tengah ke
arah sepasang mata lawan. Ketika lawannya miringkan tubuh, dia menghantam ke arah tenggorokan. Kakek itu
menaikkan tubuh dan miring, sehingga kembali pukulan itu luput dan mengenai dada, dan pada saat itu kakek itu
menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram tengkuk dan punggung Thian Sin dengan jalan merangkulnya seperti
seekor beruang. Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu mengeluarkan teriakan keras.
"Aughhhhh...!" Kakek itu terkejut bukan main karena begitu kedua tangannya mencengkeram, tenaga Hoa-mo-kang itu
memberobot keluar melalui kedua tangannya dan tersedot masuk ke dalam tubuh pemuda itu!
"Thi-khi-i-beng...!" teriaknya dan tiba-tiba saja tubuhnya seperti bola terisi penuh angin yang bocor,
mengempis kembali dan seluruh tenaganya lenyap sehingga dengan sendirinya tenaga sedot Thi-khi-i-beng juga
tidak berguna lagi dan terlepaslah kedua tangan yang melekat itu. Kakek itu cepat melempar tubuh ke belakang
dan sebelum pemuda itu dapat menyerangnya, dia telah bergulingan ke arah tongkatnya dan meloncat lagi, dengan
tongkat di tangan!
Mukanya berubah merah sehingga menjadi semakin hitam, dan sepasang matanya seperti mengeluarkan api. Peristiwa
tadi, dalam segebrakan ketika dia dikejutkan oleh Thi-khi-i-beng, sungguh merupakan tamparan baginya. Biarpun
dia belum dapat dikatakan kalah, namun segebrakan tadi menunjukkan bahwa fihak lawan lebih unggul! Tak mungkin
dia dapat dikalahkan oleh seorang pemuda remaja seperti itu.
"Orang muda she Ceng, engkau memiliki banyak sekali ilmu tangan kosong yang hebat-hebat, bahkan Thi-khi-i-beng
yang baru sekarang kusaksikan sendiri sempat mengejutkan hatiku. Nah, aku sudah terlanjur memegang tongkat,
mari kita main-main dengan senjata!"
Thian Sin maklum bahwa kakek itu tentu akan mengeluarkan ilmu tongkatnya yang menurut Cian Ling merupakan ilmu
simpanan kakek itu yang amat hebat di samping Ilmu Hoa-mo-kang tadi. Dia tadi sudah tahu akan Ilmu Hoa-mo-kang
yang amat dahsyat, akan tetapi dengan Thi-khi-i-beng, dia akan dapat menghadapi Hoa-mo-kang sehingga dia tidak
perlu lagi takut terhadap ilmu kakek itu. Kini, kakek itu akan mengeluarkan ilmu simpanannya, maka hal itu baik
sekali baginya untuk menguji karena sebelum dia mengambil sikap keras untuk menentang See-thian-ong ini, dia
harus lebih dulu dapat mengukur sampai di mana kelihaian lawan. Maka diapun meraih pedang berikut sarungnya
yang tadi dia tancapkan di atas tanah dan di lain detik sudah nampak sinar perak berkilauan ketika dia mencabut
Gin-hwa-kiam dari sarungnya.
"Aku akan melayani locianpwe dan mohon petunjuk," katanya dengan sikap merendah.
Akan tetapi karena tadi dalam gebrakan terakhir dia merasa dirugikan, kini meLhat sikap merendah itu bagi
See-thian-ong seperti ejekan saja, maka sambil mengeluarkan bentakan keras diapun mulai menyerang dengan
tongkatnya. Tongkat itu terbuat dari kayu biasa saja, akan tetapi begitu digerakkan oleh tangan yang besar dari
See-thian-ong, berubahlah tongkat itu menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar dan mengeluarkan bunyi
aneh, juga gerakan-gerakannya amat aneh. Tahu-tahu ujung tongkat itu telah melakukan totokan bertubi-tubi
sehingga ketika Thian Sin menangkis dan mengelaknya, ujung tongkat itu secara berantai telah melakukan tiga
belas kali totokan sambung menyambung ke arah jalan-jalan darah maut di sebelah depan tubuh lawan!
Thian Sin terkejut bukan main. Tidak keliru keterangan Cian Ling. Memang ilmu silat kakek ini menjadi luar
biasa hebatnya setelah dia memegang tongkat! Belum pernah dia melihat ilmu tongkat sehebat ini, dan ujung
tongkat itu tergetar menjadi banyak sekali. Inilah yang membuat ilmu tongkat kakek itu amat berbahaya, karena
ujungnya yang tergetar dan kelihatan menjadi banyak itu sukar diketahui mana yang aseli dan mana
bayangan-bayangannya. Hal ini membuat tongkat itu amat berbahaya. Juga Thian Sin teringat akan ilmu Siang-bhok
Kiam-sut (Ilmu Pedang Kayu Harum) yang pernah dipelajarinya dari ibu kandungnya. Siang-bhok Kiam-sut juga
memiliki dasar yang membuat sebatang pedang kayu sama ampuhnya dengan sebatang pedang pusaka. Akan tetapi
gerakannya jauh berbeda dengan ilmu tongkat kakek ini sehingga dia tetap belum dapat menyelami dan dalam
gebrakan pertama itu, dia terdesak hebat. Thian Sin berlaku hati-hati sekali, memutar pedang Gin-hwa-kiam
dengan Ilmu Thai-kek Sin-kun yang mengandung daya tahan amat kuat untuk melindungi dirinya dari ancaman
bayangan ujung tongkat yang amat cepat itu.
Melihat betapa ilmu tongkatnya yang amat dibanggakan itu kembali dapat mendesak lawan, kegembiraan
See-thian-ong bangkit lagi. Dia mulai tertawa-tawa dengan girang dan sengaja menggunakan tongkatnya untuk
mempermainkan lawan. Memang hebat sekali ilmu tongkatnya itu. Tongkat itu di tangannya itu seolah-olah hidup
dan menyambar-nyambar dari segala jurusan. Memang, dengan mengandalkan daya tahan Thai-kek Sin-kun, Thian Sin
masih dapat melindungi dirinya seperti terkurung benteng baja. Akan tetapi tidak mungkin dalam suatu
pertandingan dia hanya membela diri saja tanpa membalas serangan. Namun, setiap kali dia membalas, bahkan telah
dicobanya Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut, tetap saja setiap kali dia menyerang dia malah hampir saja celaka
kena disambar tongkat sehingga kembali dia harus cepat-cepat berlindung dalam gerakan Thai-kek Sin-kun untuk
menyelamatkan dirinya. Memang benar dia telah mempelajari Siang-bhok Kiam-sut, tetapi ketika dia
mempelajarinya, dia masih kecil dan dasar kepandaiannya belum matang sehingga ilmu itupun kurang terlatih, atau
kurang dapat dikuasai inti sarinya.
Sesungguhnya, ilmu silat apapun juga mengandung daya guna sendiri-sendiri dan hanya kematangan dalam menguasai
suatu ilmu itulah yang membuat ilmu itu menjadi berguna dan kuat. Andaikata Thian Sin sudah benar-benar
menguasai Siang-bhok Kiam-sut dengan sempurna, belum tentu dia akan merasa terdesak oleh Ilmu Tongkat Giam-lo
Pang-hoat yang dimainkan oleh See-thian-ong itu. Ilmu silat hanya merupakan dasar gerakan saja yang mengandung
unsur-unsur menyerang atau membela diri. Ketangguhan seseorang bukan tergantung sepenuhnya dari macam ilmu
silatnya, melainkan tergantung kepada dirinya sendiri, kepada kematangannya menguasai ilmu yang dimilikinya
itu. Tidak dapat dikatakan mana yang lebih kuat antara Siang-bhok Kiam-sut dan Giam-lo Pang-hoat, akan tetapi
kalau yang dimainkan Siang-bhok Kiam-sut itu Thian Sin yang masih mentah dalam ilmu itu, dan yang mainkan
Giam-lo Pang-hoat adalah See-thian-ong pencipta ilmu itu, tentu saja Thian Sin kalah jauh! Buktinya, dahulu
tokoh Cin-ling-pai yang merupakan pendiri Cin-ling-pai dan orang pertama yang menguasai Siang-bhok Kiam-sut,
dengan pedang kayu harumnya dan ilmu pedangnya itu belum pernah bertemu tanding!
Kepandaian manusia memang ada batasnya, atau lebih tepat lagi, kemampuan manusia untuk menguasai suatu
kepandaian akan ilmu pengetahuan adalah terbatas sekali. Kalau seseorang menghendaki agar dia menjadi ahli
dalam suatu ilmu, dia harus mencurahkan seluruh perhatian dan kekuatan pikirannya untuk mempelajari dan
memperdalam ilmu itu. Dan hal ini baru mungkin terjadi kalau memang pada dasarnya ada minat dan rasa cinta
terhadap ilmu tertentu itu. Jadi, syarat bagi seorang ahli membutuhkan tiga dasar, yaitu bakat, minat dan
cermat. Bakat dalam arti kata kecenderungan kemampuan alamiah terhadap ilmu tertentu itu, dan bakat ini
seolah-olah terbawa lahir oleh seseorang sehingga sebelum dia itu tahu apa-apa tentang suatu ilmu, dia telah
memiliki kemampuan yang lebih besar dibandingkan dengan orang lain apablia dihadapkan pada ilmu itu. Minat
adalah rasa cinta atau rasa suka akan ilmu yang dipelajarinya itu karena tanpa adanya minat atau rasa tertarik
atau rasa suka ini, tentu saja dia tidak akan bersemangat mempelajarinya. Kemudian yang terakhir adalah cermat,
atau ketekunan dalam mempelajarinya. Bakat memudahkan seseorang untuk mempelajari suatu ilmu, minat
mendatangkan gairah belajar, dan cermat menuntun kepada ketertiban belajar. Ketiganya ini digabungkan menjadi
satu, maka akan berhasillah seseorang menjadi ahli. Satu saja di antara ketiganya ini tidak ada, akan sukarlah
untuk menjadi ahli dalam arti kata yang sedalam-dalamnya.
Thian Sin adalah seorang pemuda yang memiliki bakat besar sekali dalam ilmu silat. Ketika masih kecil sekali,
hal ini dapat nampak. Begitu belajar, secara naluriah gerakannya sudah cekatan dan patut. Dan dia memang
mempunyai minat yang besar sekali terhadap ilmu silat. Akan tetapi, pengalamannya membuat dia dalam usia muda
sudah dijejali oleh banyak sekali ilmu silat tinggi sehingga dia tidak sempat untuk mematangkan satupun di
antara ilmu-ilmu itu. Oleh karena ketidakmatangan inilah, maka begitu dia berhadapan dengan lawan yang sudah
matang ilmunya seperti See-thian-ong ini, dia menjadi kewalahan dan terdesak terus.
Cian Ling yang sejak tadi mengikuti jalanannya pertandingan, memandang gelisah setelah melihat pemuda itu
terdesak hebat oleh tongkat gurunya. Tadi ketika dua orang itu bertanding dengan tangan kosong, berkali-kali
Cian Ling menahan seruan kagum melihat betapa pemuda itu bukan saja dapat menandingi gurunya, bahkan mampu
mendesak dan bahkan pada gebrakan terakhir gurunya itu nyaris kalah! Akan tetapi, setelah kini gurunya
menggunakan tongkatnya, ia melihat betapa Thian Sin terdesak hebat dan sinar pedang perak itu semakin lama
menjadi semakin kecil dan suram, didesak dan dihimpit oleh sinar tongkat di tangan suhunya yang terus
terkekeh-kekeh dengan senang. Ia sudah mengenal gurunya, mengenal kekejaman hati gurunya yang tidak mengenal
ampun itu. Tentu saja ia merasa amat khawatir akan keselamatan Thian Sin. Ia belum ingin kehilangan pemuda yang
amat menyenangkan hatinya itu. Melihat betapa gurunya tertawa-tawa dan mendesak terus, bahkan beberapa kali ia
melihat ujung tongkat gurunya itu menghajar pangkal lengan kiri dan paha kanan kekasihnya, Cian Ling tidak
mampu lagi menahan hatinya.
"Suhu, jangan celakai dia...!"
"Ha-ha-ha, dia belum kalah, heh-heh, bukankah begitu, orang muda?" Kakek itu mengejek. Akan tetapi dia sungguh
kecelik kalau mengira bahwa Thian Sin mengaku kalah. Pemuda ini memang sudah terkena pukulan beberapa kali,
akan tetapi dengan pengerahan Thian-te Sin-ciang, tubuhnya kebal dan hanya terasa kulit dagingnya saja memar,
akan tetapi tidak sampai menderita luka parah dan dia masih terus dapat melakukan perlawanan tanpa pernah
mengendur sedikitpun juga. Mendengar pertanyaan yang mengandung ejekan itu, dia menahan kemarahannya.
"Aku memang belum kalah, locianpwe!" katanya.
"Ha-ha-ha, agaknya kalau belum mampus engkau tidak akan merasa kalah!" Kakek itu memutar tongkatnya lebih keras
dan Thian Sin terkejut sekali karena tanpa dapat dihindarkannya lagi, dadanya kena ditotok atau didorong oleh
tongkat itu yang bergerak secara aneh sekali.
"Dukk...!" Dia tidak terluka parah karena tenaga Thian-te Sin-ciang melindunginya, akan tetapi guncangan oleh
totokan yang amat keras itu membuat napasnya seperti terhenti dan dia terpelanting.
"Thian Sin...!" Cian Ling berteriak, akan tetapi pemuda itu sudah bangkit kembali. Thian Sin maklum bahwa kalau
dia hanya menggunakan ilmu-ilmunya yang biasa, dia takkan mampu menang. Teringatlah dia akan ilmu peninggalan
ayah kandungnya. Tidak percuma selama ini, terutama ketika berada di rumah Pak-san-kui, dia mempelajari ilmu
ayahnya itu dengan tekun, terutama sekali gerakan dari Ilmu Hok-te Sin-kun. Kini, melihat kakek itu sambil
tertawa-tawa menubruknya lagi sambil memutar tongkat, tiba-tiba Thian Sin mengeluarkan pekik melengking, dan
tahu-tahu tubuhnya sudah berjungkir balik! Kedua kakinya dengan gerakan aneh menendang-nendang menyambut
tongkat, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar, tangan kanan yang memegang pedang menggerakkan
pedang membabat kaki lawan. Dia hanya menggunakan kepala saja untuk menunjang tubuhnya yang sudah berjungkir balik.
"Eh...?" Kakek itu terkejut sekali ketika tiba-tiba tongkatnya bertemu dua buah "tongkat" lain berupa kaki
pemuda itu dan merasa ada sambaran angin dahsyat menyerang dari bawah. Dia cepat meloncat, akan tetapi tidak
sempat mengelak dari hantaman tangan kiri Thian Sin. Pemuda itu tadi mencengkeram, akan tetapi melihat lawan
meloncat, lalu mengubah cengkeramannya menjadi pukulan dengan tenaga Hok-liong Sin-ciang yang dahsyat.
"Dessssss!" Perut kakek itu terkena pukulan. Memang kakek itu cepat mengerahkan sin-kang melindungi perut,
namun tenaga Hok-liong Sin-ciang itu adalah tenaga mujijat maka tubuhnya terlempar dan terbanting roboh dengan
keras sekali!
"Heiii...!" Saking kagetnya kakek itu berseru heran, akan tetapi ketika dia bangkit berdiri, mukanya menjadi
merah saking marah dan malunya. Dia telah terpukul roboh! Dan diapun pernah mendengar akan ilmu-ilmu aneh dari
Pangeran Ceng Han Houw, maka dia menduga bahwa ilmu jungkir balik tadi tentulah ilmu ayah pemuda itu.
"Itulah jurus peninggalan ayah kandungku, locianpwe!" Thlan Sin berkata dalam keadaan tubuhnya masih berjungkir
balik, merasa girang bahwa jurus ilmu-ilmu silat peninggalan ayahnya demikian ampuhnya sehingga dapat membuat
kakek tangguh itu roboh.
"Aku belum kalah!" teriak See-thian-ong dan diapun sudah menerjang lagi, lalu disambungnya dengan kata-kata
yang penuh getaran aneh, "Berjungkir balik seperti itu tentu membuat kepalamu pening!"
Tongkat itu sudah digerakkan lagi dan kini kakek itu menyerang dengan hati-hati. Thian Sin menyambut dengan
kedua kakinya dan mulailah dia melakukan ilmu silat aneh dari ayah kandungnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja
kepalanya terasa pening bukan main. Benarlah kata-kata kakek itu tadi, berjungkir balik seperti itu membuat
kepalanya terasa pening! Akan tetapi, dia segera teringat bahwa tidak biasa dia merasa pening kalau memainkan
Ilmu Hok-te Sin-ciang, dan tahulah dia bahwa kepeningan itu datang dari pengaruh ucapan kakek itu. Sebagai anak
angkat dan murid seorang sakti seperti Pendekar Lembah Naga, tentu saja Thian Sin sudah pernah digembleng oleh
ayah angkatnya itu tentang bagaimana harus menghadapi kekuatan yang tidak wajar cepat dia mengerahkan
khi-kangnya dan mengeluarkan suara melengking dan segera kepeningan kepalanya itu menjadi lenyap dan dia dapat
menyambut serangan lawan dengan baiknya, bahkan dia dapat membalas dengan serangan dari atas menggunakan dua
kakinya, dibantu oleh kedua tangannya dari bawah. Kembali kakek itu terkejut. Dia dapat merasakan getaran
tenaga khi-kang dalam lengkingan suara pemuda itu yang membuyarkan pengaruh sihirnya terhadap pemuda itu, dan
kini dia kembali kewalahan menghadapi ilmu jungkir balik yang aneh itu.
Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara aneh seperti orang membaca doa atau mantera, dan dapat dibayangkan
betapa kagetnya hati Thian Sin ketika melihat betapa tubuh lawannya itu perlahan-lahan lenyap! Mula-mula nampak
suram-suram dan makin lama bayangan kakek itu menjadi semakin tipis. Sukar baginya untuk melawan bayangan yang
hampir tidak nampak ini dan terpaksa dia meloncat dan berdiri di atas kedua kakinya lagi sambil memutar
pedangnya. Akan tetapi, kini bayangan lawan itu sudah tidak nampak lagi walaupun gerakannya masih terasa dan
tertangkap oleh pendengarannya. Thian Sin kaget dan berusaha mengerahkan khi-kang sambil membentak. Namun
sia-sia belaka, kakek itu benar-benar telah menghilang dan masih terus menghujani dengan serangan. Thian Sin
berusaha mengandalkan pendengaran telinganya untuk mengelak dan menangkis, akan tetapi tidak mungkin dia dapat
melawan orang yang pandai menghilang ini, yang memiliki ilmu tongkat demikian aneh dan lihainya. Setelah
berhasil mengelak dan menangkis beberapa kali akhirnya lehernya tertotok keras sekali. Biarpun dia sudah
mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, tetap saja dia terpelanting keras dan merasa nanar. Dia cepat
mengerahkan tenaga Thi-khi-i-beng untuk menjaga diri dan membalas pukulan lawan, akan tetapi tiba-tiba
pundaknya tertotok dan ternyata yang menotoknya itu adalah tongkat yang diluncurkan dan karena tongkat itu
tidak dipegang orang, maka tentu saja Thi-khi-i-beng tidak dapat menyerap apa-apa dan jalan darah thian-hu-hiat
tertotok dengan tepat dan keras, mengakibatkan tubuh pemuda itu menjadi lemas dan lumpuh sama sekali!
"Ha-ha-ha-ha, akhirnya engkau terpaksa harus mengakui keunggulanku, orang muda!" Kakek itu tertawa dan kini
kakek itupun dapat nampak kembali oleh Thian Sin. Pemuda ini memandang dengan sinar mata penuh penasaran.
"Locianpwe telah menggunakan ilmu siluman!" katanya memprotes.
"Ha-ha-ha, dan sekarang aku akan membuatmu menjadi siluman tanpa kepala!" kata kakek itu yang segera memungut
pedang Gin-hwa-kiam yang terlepas dari tangan pemuda itu, agaknya bermaksud untuk memenggal kepala Thian Sin.
Kakek ini melihat pemuda itu merupakan seorang lawan yang amat berbahaya dan kelak dapat mengancam
kedudukannya, maka dia mengiambil keputusan untuk membunuhnya saja.
"Suhu, tahan...!" Cian Ling sudah menjerit dan gadis ini sudah menubruk tubuh Thian Sin, melindunginya dari
ancaman gurunya. "Suhu tidak boleh membunuhnya!"
"Heh-heh, siapa yang melarangku dan mengapa tidak boleh?"
"Suhu, dia datang untuk mengadu ilmu dengan suhu sebagai orang muda minta petunjuk, bukan sebagai musuh. Adu
pibu batasnya hanya kalah atau menang, dia sudah kalah mengapa harus dibunuh? Dan ke dua, suhu tidak bisa
membunuhnya karena aku cinta padanya!"
"Ho-ho-ha-ha-ha! Cintamu hanya sedalam kulit, dan apa susahnya mencari pemuda yang lebih ganteng daripada dia?
Dan aku membunuhnya bukan karena bermusuhan, melainkan mengingat bahwa dia telah memberontak, pernah membikin
kacau di Su-couw dan di Lok-yang. Kalau aku membunuhnya, bukankah itu berarti kita akan memperoleh jasa telah
membunuh seorang pemberontak?"
"Hemm, See-thian-ong, harap locianpwe tidak bicara tentang pemberontakan! Siapakah yang memberontak? Antara
locianpwe dan aku ada persamaan bukan? Memang aku telah menyiksa si busuk Phoa-taijin itu, orang macam dia mana
ada harganya dijadikan sekutu? Akhirnya hanya akan mencelakakan sekutu-sekutu saja. Locianpwe, kalau locianpwe,
Pak-san-kui Locianpwe dan juga Lam-sin, bersama-sama dengan aku membantu kekuatan dari utara, bukankah kita
merupakan persekutuan yang lebih kuat lagi? Mendiang kakekku, Raja Sabutai di utara juga memiliki pasukan yang
kuat dan aku dapat mengumpulkan mereka kalau waktunya tiba. Akan tetapi, jangan mengira bahwa kata-kataku ini
hanya untuk melindungi nyawaku. Kalau locianpwe mau membunuhku silakan, aku bukan orang yang takut mati."
Sejenak kakek hitam tinggi besar itu tertegun. Kakek ini paling suka akan kegagahan dan kejujuran dan memang
dia sudah kagum sekali terhadap kegagahan pemuda ini. Akan tetapi dia juga khawatir akan kegagahan yang kelak
akan mengancam kedudukannya itu. Tiba-tiba dia mendapatkan pikiran yang baik sekali. Kekalahannya melawan
pemuda itu terutama sekali karena pemuda itu memiliki ilmu jungkir balik tadi, ilmu yang pernah didengarnya
menjadi ilmu simpanannya mendiang Pangeran Ceng Han Houw.
"Ceng Thian Sin, di dunia kang-ouw dikenal dengan istilah balas membalas budi dan dendam-mendendam. Nyawamu
berada di tanganku, dan kalau sekali ini aku mengembalikan nyawamu, lalu apa yang dapat kauberikan kepadaku
sebagai balasannya?"
Thian Sin adalah seorang pemuda cerdik dan diapun tahu bahwa kelemahan satu-satunya bagi para datuk ilmu silat
seperti Pak-san-kui dan juga See-thian-ong ini, kalau bukan kedudukan tinggi tentu juga ilmu silat. Akan tetapi
dia pura-pura tidak tahu dan bertanya, "Locianpwe, apakah yang dapat kuberikan kepada locianpwe? Harta milikku
hanya pedang itu, dan beberapa macam ilmu silat yang telah dikalahkan olehmu."
"Ha-ha-ha, memang ilmu apapun yang kaukeluarkan, tidak mungkin engkau dapat menandingi See-thian-ong! Akan
tetapi, di antara semua ilmu itu, aku tertarik sekali melihat ilmumu jungkir balik tadi. Nah, bagaimana kalau
engkau memberi tahu padaku tentang ilmu jungkir balik itu sebagai pengganti nyawamu?"
Thian Sin menarik napas panjang. "Ilmu itu adalah peninggalan dari mendiang ayahku, Ceng Han Houw dan merupakan
ilmu pusaka. Akan tetapi karena locianpwe dapat dikatakan orang sendiri, biarlah kuberikan kalau locianpwe
hendak mempelajarinya. Bebaskan aku, dan kitab ilmu itu akan kupinjamkan kepada locianpwe."
Girang sekali hati kakek itu. Dia bersikap memandang rendah ilmu itu padahal sebenarnya dia ingin sekali
mempelajarinya. Dengan cepat tongkatnya bergerak dan bagaikan seekor ular mematuk, ujung tongkat itu dua kali
mengenai leher dan pundak Thian Sin, dan pemuda itu seketika dapat bergerak kembali.
"Thian Sin, engkau sembuh kembali!" Cian Ling berkata dengan girang sambil memegang lengan pemuda itu.
"Dan engkaupun ikut bertanggung jawah, Cian Ling. Maka engkaupun berjasa dan engkau boleh minta upah sepuasnya
dari pemuda ini, ha-ha-ha! Nah, keluarkanlah kitab itu, Thian Sin."
Thian Sin segera mengeluarkan kitab peninggalan ayahnya itu, kitab pelajaran Ilmu Silat Hok-te Sin-kun dan
menyerahkannya kepada See-thian-ong sambil berkata, "Locianpwe, kitab ini adalah tulisan ayah sendiri dan
merupakan kitab pusaka bagiku maka aku hanya dapat meminjamkannya kepadamu selama tiga bulan saja. Setelah
lewat tiga bulan, harap locianpwe mengembalikannya kepadaku."
"Ha-ha, tentu saja. Tidak ada ilmu yang membutuhkan waktu demikian lamanya untuk kupelajari!" katanya sambil
membuka-buka kitab itu. Thian Sin memungut pedangnya dari atas tanah dan menyarungkannya kembali, lalu
mengebut-ngebutkan pakaiannya yang kotor, dibantu oleh Cian Ling.
"Apakah selama suhu mempelajari kitabnya itu dia boleh tinggal bersamaku?" Cian Ling bertanya.
Gurunya tertawa. "Tentu saja! Dia menjadi tamu kita dan engkau boleh melayaninya sepuasmu, ha-ha-ha!" Setelah
berkata demikian, sekali melompat kakek itu lenyap di balik pohon-pohon.
"Untung engkau selamat, Thian Sin," Cian Ling berkata sambil merangkulnya.
Thian Sin balas merangkul dan menarik napas panjang. "Karena bantuanmu, Cian Ling. Engkau telah menolong dan
aku berhutang budi padamu, entah bagaimana dapat membalasmu."
"Ihh, masa kau tidak tahu bagaimana harus membalasnya? Asal engkau selalu bersikap manis, dan mencintaku, biar
harus berkorban nyawa untukmupun aku rela, kekasihku."
Demikianlah, melalui Cian Ling akhirnya Thian Sin berhasil berhadapan dengan See-thian-ong bahkan telah
berhasil menguji kepandaian datuk itu. Diapun tahu bahwa kalau datuk itu tidak mempergunakan sihir, dia akan
mampu melawan dan menandinginya, bahkan mengalahkannya. Hanya ilmu sihir datuk itulah yang amat berbahaya dan
tidak dapat dilawannya, maka, jalan satu-satunya untuk dapat mengalahkan datuk barat ini hanyalah menghadapi
dan mengalahkan sihirnya. Semenjak hari itu, Thian Sin diajak pulang ke Si-ning oleh Cian Ling. Gadis ini
tinggal di Si-ning, di mana terdapat sebuah rumah besar milik See-thian-ong, di mana kakek itu tinggal bersama
selir-selirnya. Dan di sisi rumah besar itu terdapat paviliun-paviliun kecil di mana tinggal So Cian Ling di
bangunan kecil sebelah kanan sedangkan Ciang Gu Sik tinggal di bangunan sebelah kiri. Masih ada lagi beberapa
orang murid See-thian-ong yang tinggal di bangunan sebelah belakang dan mereka itu menjadi murid merangkap
pelayan-pelayan yang mengurus rumah gedung guru mereka.
Ciang Gu Sik, murid kepala yang telah lama jatuh cinta kepada Cian Ling, tentu saja merasa mendongkol, cemburu
dan panas hatinya melihat betapa pemuda putera pangeran itu menjadi tamu dan tinggal bersama dengan sumoinya
itu. Akan tetapi dia tidak dapat berbuat sesuatu karena hal itu telah disetujui oleh gurunya.
So Clan Ling semakin tergila-gila kepada Thian Sin. Selama petualangannya dengan kaum pria, yaitu semenjak dara
itu dipaksa menyerahkan dirinya kepada gurunya, dan kemudian, dengan watak yang terbentuk oleh pendidikan
gurunya ia menjadi tidak peduli akan urusan susila dan mendekati pria mana saja yang dikehendakinya, baru
sekali ini ia benar-benar jatuh cinta! Bukan cinta nafsu berahi belaka, melainkan sungguh-sungguh jatuh cinta
kepada Thian Sin dan timbul keinginan hatinya untuk selamanya tidak akan berpisah lagi dari pemuda itu. Karena
inilah, maka semua permintaan Thian Sin dilaksanakannya dengan hati penuh kerelaan dan kesetiaan. Juga, ketika
Thian Sin bertanya bagaimana dia dapat menghadapi ilmu sihir dari See-thian-ong dapat "menghilang" itu, Cian
Ling lalu berusaha sedapatnya untuk memecahkan rahasia gurunya. Dia sendiri memang sudah pernah mempelajari
ilmu sihir dari gurunya. Akan tetapi sihirnya itu hanya terbatas pada mempengaruhi pikiran orang saja. Dengan
ilmu sihirnya ini, Cian Ling dapat menundukkan laki-laki yang berani menolaknya, dan membuat laki-laki itu
bertekuk lutut dan jatuh cinta padanya. Akan tetapi ilmu sihir mempengaruhi pikiran orang lain ini akan
terbentur batu kalau berhadapan dengan orang yang kuat batinnya. Buktinya, semua ilmu sihir dari See-thian-ong
yang sifatnya mempengaruhi pikiran orang lain dan membalikkan pandangan atau pendengaran orang lain melalui
pikiran, dapat dibuyarkan oleh Thian Sin melalui pengerahan khi-kangnya. Akan tetapi, ilmu sihir membuat
dirinya lenyap dari pandangan mata lawan itu berbeda lagi dan Cian Ling sendiri belum pernah mempelajarinya.
Menurut suhunya, ilmu itu tidak mudah dimiliki orang, melainkan dapat dimiliki melalui pertapaan bertahun-tahun
dan melalui pantangan-pantangan yang amat berat. Ilmu itu termasuk ilmu hitam, yang berdekatan dengan
kekuatan-kekuatan gaib alam halus atau dengan lain kata-kata ilmu bantuan roh atau setan.
Ketika Thian Sin minta kepadanya agar gadis itu suka memberi tahu kepadanya tentang rahasia ilmu menghilang
dari See-thian-ong itu, Cian Ling mula-mula menjadi bingung sekali. "Kekasihku, sungguh mati aku sendiri tidak
pernah mempelajari ilmu itu. Ilmu itu terlalu jahat dan terlalu sulit dan cara memperoleh ilmu itu amat
mengerikan, di antaranya bahkan harus tidur satu peti dengan mayat. Mana aku berani mempelajarinya? Dan aku
tidak tahu bagaimana caranya melawan ilmu itu."
Thian Sin kecewa sekali dan dengan sikap marah dia menjawab, "Cian Ling, kalau benar engkau cinta padaku,
engkau harus dapat memecahkan rahasia ilmu itu. Aku penasaran dikalahkan suhumu hanya karena ilmu itu, maka aku
harus dapat menghadapi dan menandinginya. Kalau engkau tidak dapat memecahkan rahasia ilmu itu kepadaku, apa
artinya aku dekat denganmu?"
Karena takut kehilangan cinta pemuda itu, Cian Ling minta waktu tiga hari dan pergilah gadis ini menemui
gurunya. Dengan segala kepandaiannya merayu, Cian Ling mendekati gurunya. Mula-mula See-thian-ong
mentertawakannya.
"Heh-heh-heh, apa artinya ini, muridku yang manis? Bukankah engkau mempunyai putera pangeran itu untuk
bersenang-senang? Kenapa tiba-tiba engkau mendekati aku Si Tua Bangka?"
Cian Ling merangkul leher kakek itu. "Aih, jangan berkata begitu, suhu. Bukankah sebelum aku berdekatan dengan
pria manapun juga, suhu yang merupakan pria pertama dalam hidupku? Suhu merupakan suhuku, orang tuaku, juga
cinta pertamaku. Terlalu lama dengan pemuda itu membuat aku bosan, dan aku sudah rindu sekali kepadamu, suhu."
Dengan amat pandainya, gadis yang muda ini akhirnya membuat datuk itu menyerah ke dalam gelora nafsu yang
membuatnya menjadi buta, tidak dapat membedakan lagi mana yang sungguh-sungguh dan mana yang palsu. Dan dengan
amat cerdiknya, setelah merayu gurunya selama dua hari, membuat gurunya mabuk karena di dalam hati kecilnya
memang datuk ini amat sayang kepada Cian Ling, gadis ini membawa urusan ilmu menghilang itu dalam percakapan.
"Aku melihat ilmu menghilang dari suhu itu amat berguna dan hebat. Ah, kalau saja aku dapat memiliki ilmu
itu... betapa senangnya," kata Cian Ling ketika mereka rebah berdampingan di atas pembaringan dan Cian Ling
membelai rambut suhunya yang panjang dan sudah bercampur uban itu.
"Heh-heh, bukankah sudah kukatakan bahwa mempelajarinya amat sukar dan juga memakan waktu lama? Untuk apa ilmu
itu bagimu? Ilmu yang kuajarkan padamu sudah cukup."
"Tapi, melihat betapa suhu baru dapat menundukkan putera pangeran itu setelah menghilang, terasa olehku betapa
pentingnya menguasai ilmu itu."
"Ha-ha-ha-ha, siapa bilang bahwa hanya dengan ilmu itu saja aku dapat mengalahkannya? Hanya karena dia memiliki
peninggalan ilmu dari ayahnya, ilmu jungkir balik bernama Hok-te Sin-kun itu sajalah yang membuat dia lihai.
Akan tetapi Ilmu Hok-te Sin-kun telah mulai dapat kukuasai, tanpa ilmu menghilang sekalipun dia akan mudah
dapat kutundukkan!"
"Tapi... tapi aku ingin sekali mempunyai ilmu menghilang itu, suhu!"
"Untuk apa?"
"Bayangkan saja betapa senangnya. Dengan ilmu itu aku akan dapat memasuki rumah orang tanpa diketahui, dan
memasuki kamar-kamar para pengantin baru dan menyaksikan pemandangan yang amat bagus tanpa diketahui orang."
Ucapan gadis ini bagi orang biasa tentu akan dianggap cabul dan menunjukkan betapa hati gadis itu penuh dengan
kecabulan. Akan tetapi tidak demikianlah anggapan orang-orang di golongan sesat itu. Kakek itu tertawa
bergelak, senang sekali.
"Ha-ha-ha, sungguh jalan pikiranmu sama benar dengan jalan pikiranku. Dahulu, ketika aku haru saja berhasil
memiliki ilmu itu, akupun suka memasuki kamar pengantin baru dan menikmati pemandangan dari apa yang mereka
lakukan, dan kalau aku tertarik, aku lalu menggunakan si pengantin pria setelah membuat dia tidak berdaya.
Ha-ha-ha, engkau memang cocok dan berjodoh menjadi muridku. Tapi, mempelajari ilmu itu sungguh tidak mudah.
Mana mungkin engkau dapat bertahan untuk bertapa selama tiga tahun, menjauhi segala kesenangan, menjauhi pria?"
"Suhu, kalau aku tidak dapat mempelajari setidaknya aku harus dapat menghadapi ilmu itu. Bagaimana kalau aku
bertemu lawan yang memiliki ilmu menghliang seperti itu? Ih, betapa mengerikan kalau dipikir. Coba bayangkan,
andaikata sekarang ini ada musuh yang memiliki ilmu itu berada di dalam kamar ini dan melihat apa yang kita
lakukan!" Gadis itu bergidik.
Gurunya merangkulnya dan tertawa. "Andaikata begitu, habis mengapa? Paling-paling dia akan iri hati dan ingin,
ha-ha-ha. Dan tidak mungkin ada orang yang mampu mempergunakan ilmu itu tanpa dapat kulihat. Jangan kau
khawatir, Cian Ling."
"Tentu saja, bersama suhu, aku tidak akan takut, akan tetapi aku tidak akan terus menerus berada di dekat suhu.
Bagaimana kalau aku sedang merantau sendirian dan bertemu dengan orang yang memiliki ilmu menghilang atau ilmu
hitam lain lagi yang lihai?"
Akhirnya, setelah menggunakan segala macam bujuk rayu melalui kata-kata dan juga melalui tubuhnya yang muda,
berhasil juga Cian Ling memperoleh rahasia itu dari gurunya. Dengan hati girang ia berpisah dari suhunya dan
segera menemui Thian Sin yang sudah menanti-nantinya dengan hati mulai kesal dan curiga.
Karena ia memperoleh rahasia ilmu itu dengan mengorbankan perasaannya dan secara tidak mudah, Cian Ling juga
menjual mahal. Ia membuat Thian Sin melayaninya dan menyenangkan hati menurut kehendaknya lebih dulu sebelum ia
membuka rahasia itu. Dan ternyata rahasia itu tidaklah begitu sukar.
"Kalau engkau menghadapi ilmu menghilang atau ilmu hitam lainnya yang semacam, kau ambillah tanah dan sebarkan
atau sambitkan tanah itu ke arah suara. Kalau terkena tanah, tentu ilmu itu akan buyar dan orangnya akan nampak
lagi."
Bukan main girangnya hati Thian Sin. Akan tetapi, dia tidak memperlihatkannya kepada Cian Ling, dan dengan
sabar dia menanti sampai lewat tiga bulan. Dia hendak membiarkan See-thian-ong, seperti juga Pak-san-kui,
tersesat dalam mempelajari Hok-te Sin-kun dan kitab tulisan ayahnya yang sengaja membuat kitab dengan
rahasia-rahasia yang hanya diketahuinya sendiri. Orang yang mempelajari kitab-kitab itu tanpa mengenal
rahasianya dan melatih diri berdasarkan petunjuk-petunjuk dalam kitab itu, bukan memperoleh yang hebat
melainkan malah merusak dirinya sendiri!
Setelah lewat tiga bulan, dia menemui See-thian-ong, diantar oleh Cian Ling. Setelah menjura dengan hormat,
Thian Sin berkata. "Locianpwe, waktu tiga bulan telah lewat dan kuharap locianpwe suka mengembalikan kitab itu kepadaku."
Kakek itu tertawa. "Ha-ha-ha, kitabmu memang amat hebat. Akan tetapi, apakah engkau sudah bosan berada di sini?
Bosan dengan muridku yang manis ini? Cian Ling, kenapa engkau memperbolehkan dia hendak pergi? Apakah engkau
juga sudah bosan?"
"Suhu, aku hendak pergi merantau bersama dia!" jawab muridnya.
"Ho-ha-ha, Ceng Thian Sin. Aku telah mempelajari kitab-kitabmu, akan tetapi aku belum pernah mempraktekkannya.
Oleh karena itu, untuk membuktikan bahwa yang kupelajari itu bukan barang palsu, marilah kita berlatih sebentar
dengan ilmu itu."
Thian Sin mengerutkan alisnya. Tak disangkanya kakek ini demikian cerdik. Akan tetapi, dengan tenang dia
menjawab, "Kalau aku tidak mau melayanimu, bagaimana, locianpwe?"
"Hemm, kalau engkau tidak mau melayanikupun akan kupaksa! Engkau harus mau, dan sebelum kita bertanding lagi,
jangan harap engkau akan dapat mengambil kembali kitab-kitabmu."
"Maksud locianpwe, kitab-kitabku itu akan dijadikan semacam taruhan? Bagaimana kalau aku menang?"
"Ha-ha-ha, kau menang?" Pertanyaan ini kedengaran lucu sekali oleh datuk itu. Sebelum dia mempelajari
kitab-kitab pemuda itu, Thian Sin sudah mampu dikalahkannya, mana mungkin sekarang dapat menang? "Kalau kau
menang, tentu saja engkau boleh membawa kitab-kitabmu dan juga engkau boleh membawa pergi Cian Ling."
"Dan kalau aku kalah?" Thian Sin bertanya.
"Kalau kau kalah, engkau tidak boleh pergi lagi, harus mau menjadi pembantuku, ha-ha-ha! Senang punya murid
putera mendiang Ceng Han Houw!"
Ucapan itu terdengar sebagai hinaan terhadap mendiang ayahnya, maka muka Thian Sin berubah merah. "Locianpwe,
karena pertandingan antara kita dahulu terjadi di tempat sunyi itu, maka sekarang aku menantang locianpwe untuk
melakukan pertandingan di tempat itu. Tentu saja kalau locianpwe berani! Dan aku akan menanti di sana sekarang
juga!" Setelah berkata demikian, Thian Sin lari keluar dari tempat itu untuk pergi ke tengah hutan, di padang
rumput yang indah dan sunyi itu. Cian Ling mengejarnya sambil memanggil-manggil namanya.
Setelah kedua orang muda itu pergi, See-thian-ong mengerutkan alisnya. Tidak senang hatinya menerima tantangan
pemuda itu. Dan lebih tidak senang lagi hatinya melihat betapa muridnya itu agaknya benar-benar jatuh cinta
kepada Thian Sin. Tidak mengapa baginya kalau muridnya itu sekali waktu bermain cinta dengan pria-pria lain.
Akan tetapi dia tidak ingin kehilangan Cian Ling untuk selamanya karena selain dia amat sayang kepada muridnya
yang kadang-kadang juga menjadi kekasihnya itu, juga Cian Ling merupakan seorang pembantu yang amat boleh
diandalkan, bahkan lebih lihai daripada murid kepala di situ, yaitu Ciang Gu Sik.
"Gu Sik...!" Tiba-tiba kakek itu berseru nyaring.
Muridnya yang setia itu segera lari masuk dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya. "Teecu berada di
sini, suhu."
"Gu Sik, tahukah kau bahwa putera pangeran itu menantangku dan kalau menang dia akan membawa kembali
kitab-kitabnya dan juga sumoimu akan ikut pergi bersamanya?"
Pria muda berwajah pucat itu menarik napas panjang. "Suhu, sumoi masih terlalu muda sehingga ia lemah dan mudah
dihanyutkan oleh perasaannya, harap suka suhu memaafkannya."
"Ha, engkau selalu membela sumoimu."
"Memang teecu amat mencintanya dan teecu telah menghargai sumoi daripada nyawa teecu sendiri."
"Bukankah itu juga suatu kebodohan?"
"Memang, tapi teecu tidak berdaya..."
"Sudahlah, memang murid-muridku semua lemah! Sekarang, kumpulkan semua sutemu, juga undang para tokoh silat di
kota ini dan sekitarnya untuk datang ke hutan dekat telaga, berkumpul di padang rumput tengah. Pertandingan
sekali ini harus disaksikan banyak orang agar mereka semua melihat bahwa putera Pangeran Ceng Han Houw yang
terkenal itu dapat kutundukkan dan dia sudah berjanji kalau kalah akan menjadi pembantuku!"
Ciang Gu Sik mengerutkan alisnya. Kalau jadi pembantu, berarti pemuda itu akan terus berada di situ, dan ini
berarti bahwa dia akan kehilangan sumoinya!
"Suhu, kalau dia kalah, bukankah sebaiknya kalau dia dibinasakan saja? Ingat, suhu, memelihara macan amatlah
berbahaya. Masih kecil dan lemah memang menyenangkan, akan tetapi kalau kelak sudah besar dan kuat, bisa
berbahaya bagi yang memeliharanya."
"Ha-ha-ha, aku mengerti maksudmu. Kita lihat saja bagaimana baiknya nanti. Bagiku, dia dibunuh atau tidak bukan
soal lagi. Yang penting sekarang ini, mengalahkan dia di depan banyak orang."
"Baik, suhu. Teecu akan mengumpulkan kawan-kawan." Dan pemuda bermuka pucat itu lalu pergi dengan cepat untuk
melaksanakan perintah gurunya.
Sementara itu, Thian Sin sudah siap berada di padang rumput di tengah hutan, di mana untuk pertama kalinya dia
bertemu dan bertanding dengan See-thian-ong dan dikalahkan kakek itu dengan ilmu sihirnya. Cian Ling
menyusulnya dan setelah tiba di tempat itu, ia berkata dengan suara khawatir, "Thian Sin, engkau terlalu
ceroboh. Kenapa engkau tidak mau berunding dulu denganku? Engkau menantang suhu dan membikin suhu marah.
Berbahaya sekali, apalagi setelah suhu mempelajari kitab-kitabmu, berarti dia telah mengenal ilmu-ilmumu yang
paling kauandalkan."
Thian Sin tersenyum tenang. "Lebih baik engkau mengkhawatirkan suhumu, Cian Ling. Sekali ini, dia tidak akan
dapat menangkan aku!"
"Tapi, sungguh amat sukar untuk menangkan suhu, dan kalau kau kalah... sekali ini belum tentu aku akan dapat
menolongmu..."
"Kalau sampai aku kalah dan dia membunuhku, aku tidak akan penasaran lagi, Cian Ling. Engkau sudah cukup banyak
membantuku."
"Dan kalau engkau menang?"
"Aku akan meninggalkan tempat ini!"
"Dan engkau akan mengajak aku, bukan?"
Thian Sin menggeleng kepalanya. "Aku akan pergi sendiri, Cian Ling. Persahabatan kita sampai di sini saja.
Kelak mungkin sekali kita akan bertemu lagi."
"Tapi... aku... aku tidak mau berpisah darimu, Thian Sin... ah, aku akan merana, aku akan merindukanmu, aku
cinta padamu..."
Thian Sin menggeleng kepalanya dan tersenyum. "Cian Ling, ingatlah bahwa hubungan antara kita hanya sebagai
sahabat, sama sekali tidak pernah ada janji cinta di antara kita dan tidak ada janji bahwa hubungan antara kita
ini akan berkelanjutan. Aku mempunyai banyak tugas yang belum kuselesaikan, aku harus pergi, sendirian saja."
Wajah Cian Ling berubah agak pucat. "Aku... aku akan kehilangan..." Hampir ia menangis. Gadis ini sejak kecil
hidup di kalangan golongan sesat dan belum pernah ia merasa jatuh cinta kepada seorang pria. Hubungannya dengan
para pria sebelum ia bertemu dengan Thian Sin hanyalah hubungan jasmani yang tidak pernah menyentuh hatinya.
Akan tetapi, hubungannya dengan Thian Sin ini lain sama sekali. Bukan hanya hubungan jasmani yang mencari
kepuasan belaka, melainkan lebih mendalam, yang membuat ia ingin selalu berdekatan dengan pemuda itu.
Thian Sin tersenyum ramah kepadanya. Bagaimanapun juga, gadis ini sudah berjasa besar kepadanya. Memberinya
kenikmatan dan mengajarnya tentang kemesraan, bahkan telah menyelamatkan nyawanya ketika dia terancam maut di
tangan See-thian-ong, kemudian bahkan membantunya menemukan kunci kelemahan ilmu sihir kakek itu. Bagaimanapun
juga, dia akan selalu menganggap gadis itu sebagai seorang sahabat yang baik, seorang penolong. Akan tetapi tak
mungkin dia menerima gadis ini sebagai seorang kekasih yang selamanya akan mendampinginya. Permainan cinta itu,
bagaimanapun juga, akan membosankan.
"Tidak ada pertemuan tanpa berakhir dengan perpisahan, Cian Ling. Jalan hidup kita bersilang, dan kelak kita
tentu akan dapat saling bertemu kembali. Aku akan meninggalkan tempat ini, melanjutkan perjalanan seorang diri
saja, akan tetapi kelak kita akan saling bertemu, karena bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah dapat
melupakanmu, Cian Ling."
Sebelum gadis itu menjawab, tiba-tiba terdengar suara orang banyak datang dari luar hutan dan bermunculanlah
puluhan orang dari empat penjuru, mengurung tempat itu. Melihat bahwa yang berdatangan itu adalah para pembantu
dan murid-murid suhunya, juga diantara mereka ia melihat banyak orang-orang kang-ouw di Si-ning dan sekitarnya,
Cian Ling terkejut bukan main. Permainan apa yang akan dilakukan suhunya ini, mendatangkan semua pembantu dan
kenalan?
"Hati-hati... mereka adalah orang-orangnya suhu..." Cian Ling berbisik.
Tak lama kemudian muncullah See-thian-ong! Dia nampak gagah perkasa dengan pakaiannya yang longgar dan
sederhana. Rambutnya yang penjang itu digelung ke atas dan diikat dengan pita kuning. Wajahnya yang hitam
mengkilat itu berseri-seri dan sepasang mata yang lebar dan bersinar tajam itu nampak gembira. Memang hatinya
gembira, karena dia melihat betapa banyak juga orang kang-ouw berdatangan di tempat itu setelah menerima berita
dari muridnya. Dia gembira karena sebentar lagi dia akan dapat mengalahkan putera Pangeran Ceng Han Houw dengan
disaksikan banyak orang. Kalau saja pemuda itu bukan putera Ceng Han Houw, tentu dia tidak akan bersusah payah
mengumpulkan banyak orang saksi. Akan tetapi, mengalahkan putera pangeran itu bukanlah hal kecil, merupakan
berita besar, apalagi kalau diingat betapa pemuda putera pangeran itu memang lihai sekali, telah mewarisi
banyak ilmu-ilmu tinggi dari Cin-ling-pai! Yang ditakutinya hanyalah ilmu jungkir balik peninggalan Pangeran
Ceng Han Houw itu, akan tetapi kini dia telah menghafal dan mengenal ilmu itu. Dia tidak takut lagi bahkan
merasa yakin bahwa dia akan mampu menundukkan lawan kalau pemuda itu mengandalkan ilmu-ilmu dari kitab yang
telah dipelajarinya selama tiga bulan.
Melihat kakek raksasa itu, Thian Sin melangkah maju. Baginya, berkumpulnya banyak orang itu tidak menimbulkan
gentar, karena dia merasa yakin bahwa seorang datuk yang berkedudukan tinggi dan memiliki kesaktian seperti
See-thian-ong itu tidak mungkin sudi mengandalkan keroyokan untuk menghadapi lawan. Bahkan mungkin ada
untungnya baginya, pikir Thian Sin. Setidaknya, kakek yang tentu banyak akalnya itu karena banyak orang yang
menyaksikan, akan merasa malu untuk melakukan kecurangan-kecurangan. Dengan suara lantang dia menyambut
kedatangan kakek itu dengan kata-kata yang masih cukup sopan dan halus, namun penuh tantangan.
"Locianpwe See-thian-ong telah menepati janji! Tiga bulan lewatlah sudah dan sekali ini, aku akan mengadu ilmu
melawan locianpwe, dan kitab-kitab yang kutitipkan kepada locianpwe menjadi taruhan! Harap locianpwe suka
mengeluarkan kitab-kitabku itu agar dipegang orang lain dan siapa menang berhak menerima kitab itu."
See-thian-ong tertawa bergelak, senang hatinya karena pemuda itu tidak menyinggung di depan orang banyak betapa
dia telah meminjam kitab-kitab pemuda itu untuk dipelajarinya. Memang sengaja Thian Sin bersikap demikian untuk
melunakkan hati kakek ini sehingga kakek ini tidak akan menggunakan siasat curang. Membikin marah kakek ini
sebelum mereka bertanding, tentu akan berbahaya karena di dalam kemarahannya, mungkin kakek ini tidak akan tahu
malu lagi dan mempergunakan muslihat yang bisa membahayakan dirinya.
"Ha-ha-ha, kitab-kitab peninggalan Pangeran Ceng Han Houw ini ternyata tidak begitu hebat seperti yang kukira!
Ceng Thian Sin, sebagai putera Pangeran Ceng Han Houw dan sebagai murid Cin-ling-pai yang telah mewarisi
seluruh ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, sekarang engkau berhadapan dengan See-thian-ong! Tiga bulan yang lalu
engkau telah kukalahkan dan kuampuni nyawamu. Kalau sekali ini engkau berani maju lagi, sama saja halnya dengan
engkau mengantar nyawa dengan sia-sia. Bagaimana kalau engkau mengaku kalah, berlutut delapan kali dan atas
nama Pangeran Ceng Han Houw dan atas nama Cin-ling-pai menyatakan tunduk kepada See-thian-ong?" Ucapan ini
dikeluarkan dengan suara keras oleh kakek itu, karena memang maksudnya agar terdengar oleh semua orang.
Thian Sin menerima kata-kata itu dengan hati panas, akan tetapi dia tidak mau dipengaruhi kemarahan. Dia
memandang ke sekeliling dan melihat, betapa wajah orang-orang itu tersenyum mengejek, juga melihat betapa Ciang
Gu Sik berdiri di belakang gurunya sambil memandang kepadanya penuh kebencian, juga tersenyum mengejek. Hanya
Cian Ling seorang yang berdiri dengan muka pucat, memandang kepadanya dengan sinar mata penuh pernyataan cinta
dan juga kekhawatiran. Thian Sin menghela napas panjang. Sayang sekali, seorang dara seperti Cian Ling telah
terperosok ke dalam pecomberan seperti itu, pikirnya dan merasa heran sendiri mengapa dalam saat seperti itu
dia memikirkan keadaan gadis itu.
"Locianpwe, kalah menang dalam suatu pibu adalah hal yang wajar dan baru bisa dikatakan kalah atau menang kalau
sudah dibuktikan. Maka, harap locianpwe suka mengeluarkan kitab-kitabku itu."
"Ha-ha-ha, kitab-kitab macam ini tidak ada harganya!" Berkata demikian, kakek itu menggerakkan tangannya dan
tahu-tahu ada dua buah kitab yang melayang keluar dari lengan bajunya dan seperti dua ekor burung, kitab-kitab
itu melayang-layang, seperti hendak mencari tempat mendarat. Melihat itu, semua orang yang berada di situ
memandang kagum, dan Thian Sin maklum bahwa peristiwa itu bukanlah ilmu sihir, melainkan demonstrasi kekuatan
khi-kang dari See-thian-ong yang dengan kekuatannya yang amat besar telah menguasai kitab-kitab itu sehingga
dapat dilayangkan ke manapun dia suka.
"Harap locianpwe berikan kitab-kitab itu kepada Nona Cian Ling yang kupercaya sebagai pemegangnya," Thian Sin
berkata lagi. Kakek itu masih tersenyum lebar dan begitu dia menudingkan telunjuknya, dua buah kitab itu
melayang ke arah Cian Ling dengan kecepatan seperti dua buah peluru meriam! Cian Ling terkejut, menggunakan
kedua tangan menerima kitab. Ia berhasil menangkap dua buah kitab itu, akan tetapi saking kuatnya tenaga yang
mendorong kitab-kitab itu, wanita ini sampai terhuyung ke belakang.
"Ceng Thian Sin, engkau yang sudah mewarisi ilmu-ilmu Cin-ling-pai dan ilmu-ilmu dari mendiang Pangeran Ceng
Han Houw, nah, kau majulah dan keluarkan semua ilmu-ilmu itu!" kata See-thian ong dan kini mengertilah Cian
Ling mengapa suhunya mengumpulkan semua orang kang-ouw di daerah itu. Kiranya suhunya hendak mencari saksi
untuk memamerkan bahwa dia telah dapat mengalahkan wakil dari Cin-ling-pai dan putera Pangeran Ceng Han Houw,
untuk mengangkat namanya lebih tinggi lagi! Juga Thian Sin dapat menduga maksud hati lawannya, maka diapun
tidak mau banyak bicara lagi.
"Awas serangan!" Thian Sin membentak nyaring dan dia sudah menggerakkan tubuhnya menyerang dengan jurus dari
Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun yang baru-baru ini dipelajari dari Kakek Yap Kun Liong. Kedua tangannya yang
mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, juga ilmu yang didapatnya dari kakek sakti itu, kini mengepulkan uap
putih yang mengandung kekuatan dahsyat. Namun, kakek tinggi besar itu telah siap dengan Ilmu Hok-mo-kang yang
membuat tubuhnya menggembung, penuh dengan hawa yang dahsyat sekali sehingga dia tidak takut menghadapi
serangan-serangan berbahaya dari lawannya.
Thian Sin hanya mainkan beberapa jurus saja dari Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun, dan setelah beberapa kali mereka
saling serang dan mengadu lengan, Thian Sin sudah mengubah lagi caranya bersilat, kini dia mainkan Ilmu Silat
Thian-te Sin-ciang. Juga ilmu silat yang membuat kedua lengannya sekuat baja ini dia mainkan beberapa jurus
saja, disambung dengan San-in Kun-hoat dan Thai-kek Sin-kun dari Cin-ling-pai. Memang pemuda ini sengaja
menahan dulu dan tidak mengeluarkan ilmu simpanannya yang dipelajarinya dari peninggalan ayahnya, untuk
mengecohkan lawan dan agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Hal ini membuat lawahnya penasaran. Justeru ilmu-ilmu dari Pangeran Ceng Han Houw yang selama beberapa bulan
ini dengan tekun dipelajarinya dari kitab-kitab itulah yang ingin dia lawan dan dia kalahkan.
"Ceng Thian Sin, mana itu ilmu-ilmu yang tersohor dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw? Keluarkanlah, aku tidak takut, ha-ha-ha!"
Thian Sin memang juga sudah menanti saat ini. Begitu lawannya menantang, dia mengeluarkan pekik melengking dan
tiba-tiba saja dia sudah menyerang dengan ilmu Hok-liong Sin-ciang yang amat hebat, ilmu ciptaan Bu Beng
Hud-couw yang diwarisinya dari ayahnya. Melihat pemuda itu menyerangnya dengan jurus kelima dari Ilmu Silat
Hok-liong Sin-ciang (Ilmu Silat Sakti Menundukkan Naga), kakek itu tertawa. Dia tentu saja mengenal gerakan
ini, dan cepat dia bersiap-siap menandinginya dan sudah tahu bagaimana caranya menghadapi jurus ilmu silat ini.
Akan tetapi, ketika dia sudah bergerak dan merasa yakin akan dapat memecahkan jurus ke lima ini sambil
tersenyum mengejek, kakek itu terkejut bukan main! Jurus ini memiliki kelihaian dalam pukulan tangan kiri yang
tersembunyi dan yang mengarah lambung lawan, sedangkan gerakan kaki tangan lain merupakan pancingan dan juga
gertakan belaka. Oleh karena itu, maka dengan sendirinya dia waspada terhadap pukulan tangan kiri yang
tersembunyi dan tidak terduga-duga itu, yang juga mengandung inti tenaga dalam jurus itu. Akan tetapi
kenyataannya berbeda sama sekali! Memang tangan kiri pemuda itu melanjutkan serangan seperti yang terdapat
dalam petunjuk kitab Ilmu Hok-liong Sin-ciang itu, akan tetapi pukulan tangan kiri pemuda ini biasa saja dan
"kosong", dan begitu ditangkisnya, tiba-tiba dia merasa datangnya hawa pukulan lain dari atas, yaitu dari
tangan kanan lawan, yang datangnya berlawanan arah dengan pukulan tangan kiri, sama sekali terbalik! Dia
terkejut dan cepat dia membuang diri ke belakang, lalu bergulingan dan meloncat bangun dengan keringat dingin
membasahi dahi. Biarpun dia dapat meloloskan diri, namun sambaran hawa pukulan dahsyat tadi menyerempet
pundaknya yang merasa panas seperti terbakar api!
"Inilah ilmu peninggalan ayahku, Pangeran Ceng Han Houw!" Thian Sin membentak keras dan menyerang lagi dengan
Ilmu Hok-liong Sin-ciang! Akan tetapi kini kakek itu sudah menaruh curiga dan tidak terlalu mengandalkan
pengetahuannya tentang ilmu itu. Dan memang kini nyatalah olehnya bahwa semua jurus yang dikeluarkan oleh
pemuda itu sama sekali berbeda dengan yang telah dipelajarinya, walaupun nampaknya saja sama. Hanya ada
persamaan pada kulitnya, namun amat berbeda pada isinya. Seperti emas tulen dengan emas palsu. Tahulah dia
bahwa dia telah mempelajari kitab palsu dan marahlah See-thian-ong. Dia telah dipermainkan dan ditipu oleh
pemuda ini!
Betapapun juga, dia penasaran. Ketika Thian Sin mengubah ilmunya dengan berjungkir balik, yaitu mainkan ilmu
silat sakti Hok-te Sin-kun, See-thian-ong yang ingin memamerkan kepandaian kepada semua orang bahwa diapun
depat mainkan ilmu peninggalan Pangeran Ceng Han Houw, juga cepat berjungkir balik untuk mengimbangi permainan
lawan. Namun, kembali dia kecelik dan setelah mereka berputar-putar saling serang sampai belasan jurus,
See-thian-ong selalu bertemu dengan kenyataan bahwa ilmu berjungkir balik yang dipelajarinya inipun kosong! Dan
kesombongannya untuk memandang rendah lawan ini hampir saja merenggut nyawa datuk dari barat ini!
Ketika Thian Sin melakukan serangan dengan kaki kanannya yang seperti sebatang cangkul itu menendang dari atas
ke arah pusarnya, See-thian-ong yang mengenal jurus ini secara keliru membuat perhitungan. Menurut jurus yang
dipelajarinya, jurus ke sebelas dari ilmu Hok-te Sin-kun ini adalah jurus yang kosong, atau jurus yang hanya
indah dan kelihatan berbahaya namun tidak mengandung isi serangan, melainkan untuk memperkokoh kedudukannya
untuk melakukan jurus selanjutnya yang merupakan inti serangan. Maka diapun tidak begitu memperhatikan,
melainkan menanti datangnya jurus berikutnya, hanya berusaha untuk mendahului lawan, maka dia mengira bahwa
saat inilah yang terbaik untuk mendahului lawan. Maka begitu jurus ke sebelas mulai digerakkan oleh Thian Sin
dengan menendangkan kaki kanan ke pusar, kakek itu menggereng dan membiarkan saja kaki lawan melayang, dan
tangan kanannya lalu mencengkeram ke depan, ke arah tenggorokan lawan sedangkan tangan kirinya menahan tubuh
dan kaki kirinya juga menendang ke arah anggota rahasia lawan. Sungguh serangan yang amat berbahaya!
Akan tetapi segera kakek itu berseru kaget. Kiranya tendangan ke arah pusar yang menurut pelajaran hanya kosong
itu, kini berubah menjadi tendangan menotok ke arah pundaknya di mana terdapat jalan darah kin-ceng-hiat di
pundak kiri! Dan untuk menangkis tidak mungkin lagi karena dia sendiri sedang melakukan serangan. Untuk
mengelak lebih tidak mungkin lagi, sedangkan serangan lawan itu lebih dulu datangnya daripada serangan sendiri.
Maka jalan satu-satunya baginya hanyalah mengerahkan tenaga Hoa-mo-kang. Dari perutnya keluar suara kok-kok-kok
dan tubuhnya seketika menggembung.
"Desss...!" Jalan darah di pundaknya terlindung oleh Hoa-mo-kang sehingga tidak sampai tertotok, akan tetapi
gerakan ujung kaki Thian Sin mengandung tenaga mujijat dari sin-kang yang diperolehnya dari latihan
berjungkir-balik, maka tubuh kakek yang menggembung itu terlempar sampai lima meter dan terbanting lalu
bergulingan seperti sebuah bola besar! Terkejutlah semua orang yang hadir di situ! Merupakan berita aneh kalau
sampai See-thian-ong dikalahkan orang, dan melihat tubuh datuk itu terlempar, terbanting dan terguling-guling
sungguh merupakan kenyataan yang lebih aneh pula. Akan tetapi, kakek itu tidak percuma disebut datuk dari barat
karena dia sudah dapat meloncat bangun kembali. Wajahnya yang berkulit hitam itu mula-mula agak berkurang
hitamnya karena pucat, akan tetapi segera berubah menjadi hitam sekali ketika darah memenuhi mukanya, saking
malu dan marahnya. Tahulah dia sekarang bahwa dia benar-benar telah tertipu oleh pemuda yang kini berdiri tegak
sambil tersenyum mengejek di depannya itu, dalam jarak kurang lebih enam meter karena dia tadi terpental dan
terlempar.
"Bagaimana pendapatmu sekarang tentang ilmu peninggalan ayahku, yaitu Pangeran Ceng Han Houw jagoan nomor satu
di dunia, See-thian-ong?" Sikap Thian Sin sekarang tidak hormat seperti tadi, melainkan penuh dengan ejekan.
"Sekarang engkaulah yang harus berlutut di depan kakiku dan mengaku kalah."
Tentu saja ucapan ini membuat kemarahan dalam benak See-thian-ong menjadi semakin berkobar. Dia mengeluarkan
bentakan nyaring dan tiba-tiba saja dia sudah menubruk ke depan, tangannya memegang senjata yang amat
diandalkannya, yaitu sebatang tongkat yang segera dimainkannya dengan Ilmu Tongkat Giam-lo-pang-hoat yang
dahsyat itu. Angin bersuitan dari segala penjuru ketika dia menerjang dan mengamuk. Akan tetapi Thian Sin sudah
cepat berjungkir balik. Dia maklum bahwa tongkat itu amat lihai, maka satu-satunya cara untuk menghadapinya
hanyalah menggunakan ilmu simpanannya ini. Dengan Hok-te Sin-kun dia melawan.
Terjadilah pertandingan yang amat seru, juga amat aneh karena yang seorang melayani lawan dengan berjungkir
balik. Saking cepatnya gerakan mereka, kadang-kadang keduanya lenyap dan nampak hanya bayangan mereka saja,
membuat para penonton menahan napas. Dan kadang-kadang gerakan mereka itu lambat dan dapat diikuti pandangan
mata, namun dalam gerakan lambat itu terkandung tenaga yang dahsyat, sampai kadang-kadang terasa oleh para
penonton yang berdiri menjauh.
berjungkir balik dari Thian Sin itu memang merupakan ilmu yang amat disegani dan ditakuti See-thian-ong.
Ketika mereka berdua saling bertanding pada pertemuan pertama, datuk itu sudah merasakan kehebatan ilmu ini.
Kini, hatinya mula-mula besar karena dia merasa sudah dapat menguasai ilmu aneh itu. Siapa kira, yang
dikuasainya hanyalah ilmu palsu. Maka kini kembali dia harus menghadapi ilmu aneh yang amat lihai itu dan
akibatnya, dia kembali terdesak hebat.
Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya lenyap! Thian Sin sadar bahwa lawannya sudah
menggunakan ilmu hitam. Para penonton yang tidak terbebas dari pengaruh ilmu hitam ini, mengeluarkan suara
terkejut ketika melihat kakek itu hilang begitu saja, namun gerakannya masih dapat tertangkap oleh telinga
mereka. Thian Sin hanya mengandalkan ketajaman telinganya untuk menghindarkan diri atau menangkis, kedua
kakinya bergerak-gerak, akan tetapi tetap saja dia terdesak.
"Bukk!" Sebuah pukulan tongkat mengenai punggungnya dan tubuh pemuda itu terpelanting.
"Ha-ha-ha...!" Suara See-thian-ong terdengar tertawa bergelak dan kembali tubuh Thian Sin kena hajar tongkat,
kini mengenai pahanya. Thian Sin sudah memperhitungkan dan secepat kilat, tangannya yang berada di bawah sudah
meraih dan mencengkeram tanah, lalu dilontarkan ke arah suara ketawa itu.
"Ahhh...!" Seketika nampaklah tubuh kakek itu dan secepat kilat Thian Sin menggerakkan tubuhnya, melakukan
penyerangan dengan jurus terampuh dari Hok-te Sin-kun! Kakek itu masih belum lenyap rasa kagetnya melihat ilmu
hitamnya dipunahkan Thian Sin dan melihat gerakan jurus penyerangan itu, otomatis diapun bergerak menangkis
sesuai dengan apa yang pernah dilatihnya. Dia lupa bahwa yang dilatihnya itu adalah palsu, maka tentu saja
tangkisannya tidak tepat dan baru diketahuinya setelah terlambat.
"Desss...!" Pukulan tangan Thian Sin yang dilakukan dengan tubuh yang tadinya jungkir balik itu berputar
berdiri lagi, tepat mengenai lambung kiri kakek itu. See-thian-ong berteriak keras dan tubuhnya terbanting,
dari mulutnya tersembur darah segar, tanda bahwa dia telah terluka parah! Akan tetapi, tidak percuma dia
menjadi datuk kaum sesat, karena dia telah meloncat berdiri lagi, tubuhnya bergoyang-goyang dan agak terhuyung.
Pada saat itu, murid utamanya, yaitu Ciang Gu Sik, telah menerjang Thian Sin dengan menggunakan senjata
mautnya, yaitu senjata joan-pian dari emas. Serangannya diikuti pula oleh para murid See-thian-ong, bahkan
tokoh-tokoh kang-ouw yang menjadi tamu datuk itu ikut pula mengeroyok, tentu saja karena mereka ini ingin
berjasa dan mengambil hati Sang Datuk. Melihat ini, Thian Sin tertawa dan sekali melompat, tubuhnya sudah
melayang jauh meninggalkan tempat itu.
"Thian Sin, tunggu...!" Cian Ling hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba suhengnya dan gurunya sudah bendiri di
depannya menghadang. Melihat gurunya memandang kepadanya dengan mata mendelik dan mulut berlepotan darah, Cian
Ling terkejut dan ketakutan. Sementara itu, orang-orang kang-ouw tidak ada yang berani mengejar Thian Sin yang
sudah berlari jauh dan tidak nampak lagi.
"Murid murtad!" See-thian-ong membentak marah sekali.
"Suhu...!" Cian Ling berkata dengan mata terbelalak ketakutan melihat gurunya melangkah maju mendekatinya.
"Plakkk!" Sebuah tamparan yang keras dari tangan kiri See-thian-ong monyambar pipi kanan wanita itu, membuatnya
terpelanting keras.
"Engkau pengkhianat! Engkau telah membuka rahasia kepadanya, ya?" See-thian-ong membentak marah. "Siapa lagi
kalau bukan engkau yang membocorkan rahasiaku?"
"Suhu, aku... aku cinta padanya..."
"Tidak peduli engkau cinta padanya, engkau sudah membocorkan rahasiaku, engkau sudah mengkhianatiku, maka
engkau tidak layak lagi hidup!" See-thian-ong melangkah maju menghampiri murid yang kadang-kadang menjadi
kekasihnya itu. Cian Ling berlutut dan mengangkat muka, memandang ketakutan, ujung bibirnya pecah berdarah
bekas tamparan tadi, rambutnya kusut dan pakaiannya kotor.
"Mampuslah, murid pengkhianat!" See-thian-ong memukul dengan tongkatnya.
"Trang...!" Cian Ling menangkis dengan pedangnya yang bersinar putih! Sikapnya melawan ini sungguh luar biasa.
Di kalangan kang-ouw, kiranya jarang ada murid berani melawan gurunya, apalagi melawan dengan senjata. Akan
tetapi, See-thian-ong adalah seorang datuk kaum sesat dan di dalam golongan kaum sesat ini memang tidak berlaku
sopan santun dan tata tertib, sehingga perlawanan seorang murid terhadap gurunyapun tidaklah aneh. Apalagi
kalau dipikir bahwa selain murid, wanita muda yang cantik inipun kadang-kadang meniadi kekasih gurunya itu!
"Bagus kau melawan, jangan katakan aku yang kejam!" kata See-thian-ong dan diapun menyerang lagi lebih hebat.
Setiap serangan tongkatnya merupakan serangan maut, dan angin dahsyat menyambar-nyambar secara bertubi-tubi ke
arah tubuh Cian Ling yang juga melawan sekuat tenaga.
"Suhu, jangan bunuh sumoi...!" Tiba-tiba Ciang Gu Sik sudah meloncat ke depan dan dengan senjata ruyungnya
diapun membantu sumoinya, menangkis serangan gurunya yang selalu mengancam diri sumoinya itu. Kini kedua orang
murid itulah yang melawan guru mereka, dan biarpun kini ada Gu Sik yang membantu sumoinya menangkis
serangan-serangan guru mereka, akan tetapi tetap saja Cian Ling terdesak hebat dan beberapa kali tongkat
See-thian-ong hampir saja menyambar kepalanya dengan pukulan-pukulan maut.
See-thian-ong marah bukan main. Dia merasa sakit hati kareana dikhianati muridnya sendiri, murid yang terkasih
lagi, dan kini melihat Gu Sik membela Cian Ling mati-matian dia menjadi semakin marah. Dia tahu bahwa murid
kepala ini mencintai Cian Ling, akan tetapi tidak disangkanya bahwa cinta Gu Sik sampai membuat murid itu
berani pula menentangnya. Untuk merobohkan Gu Sik dia tidak tega, pertama karena Gu Sik tidak bersalah apa-apa
kepadanya, dan kedua, dia tahu bahwa Gu Sik adalah seorang murid yang setia dan boleh diandalkan bantuannya.
Hal ini dapat dibuktikannya dengan melihat betapa senjata ruyung dari murid kepala itu sama sekali tidak pernah
balas menyerangnya, melainkan dipergunakan untuk membantu Cian Ling, yaitu menyelamatkan sumoinya itu dari
ancaman senjata See-thian-ong.
Dihadapi dua orang murid utamanya, repot juga bagi See-thian-ong untuk dapat merobohkan Cian Ling. Apalagi
karena dia tidak ingin melukai Gu Sik. Oleh karena itu, tiba-tiba dia membentak keras dan dengan sebuah
tendangan yang amat cepat dan kuat dia membuat ruyung di tangan murid utama itu terlempar dan di lain saat
tongkatnya sudah menotok pundak Cian Ling. Gadis itu mengeluh panjang dan roboh terkulai. See-thian-ong
menggerakkan tongkatnya lagi, akan tetapi tiba-tiba Gu Sik menubruk sumoinya dan menghalangi suhunya.
"Suhu, lebih baik bunuh teecu lebih dulu!" kata Gu Sik dengan sikap berani, melindungi sumoinya.
"Hemm, Gu Sik, engkau hendak menentang suhumu pula? Hendak membela pengkhianat?"
"Suhu, teecu mencintainya."
"Karena dia cantik dan muda?"
"Tidak, karena memang teecu mencintainya dan teecu siap membelanya dengan nyawa."
"Kalau begitu, aku ubah hukumannya. Minggirlah dan aku perkenankan engkau mengambilnya sebagai isterimu."
"Terima kasih, suhu!" Gu Sik berlutut.
See-thian-ong menggerakkan tongkatnya beberapa kali. Terdengar bunyi "krek-krek" dan tulang sambungan
pergelangan tangan dan siku kedua lengan Cian Ling patah-patah dan remuk-remuk. Dengan demikian, biarpun dengan
pengobatan kedua lengan itu akan dapat bersambung lagi tulang-tulangnya, namun untuk memiliki ilmu kepandaian
tinggi sudah tidak mungkin lagi bagi Cian Ling. Sambungan siku dan pergelangan lengan merupakan bagian-bagian
terpenting dalam gerakan silat. Kalau hanya patah saja, dapat tersambung lagi dan cukup kuat tulang yang
tersambung lagi. Akan tetapi, dalam keadaan remuk seperti itu dan sambungan telah terlepas, biarpun dapat
sembuh, tak mungkin dapat menjadi kuat kembali. Cian Ling menjadi penderita cacad dan ia tidak lagi dapat
mengandalkan ilmu silatnya. Tentu saja, dibandingkan dengan wanita biasa, ia masih jauh lebih tangguh kerena
dengan gerakan tubuh dan tendangan-tendangan kakinya, ia masih akan mampu mengalahkan dua tiga orang pria
biasa.
Menerima hukuman seperti itu, yang amat mengerikan bagi seorang ahli silat, Cian Ling menangis dan pingsan! Gu
Sik lalu memondong tubuh sumoinya untuk dirawat, dan para orang-orang kang-ouwpun bubarlah, tidak ada yang
berani bicara, apalagi membicarakan kekalahan datuk itu! Hanya setelah mereka berada jauh dari tempat itu saja,
mereka berani bicara dengan suara bisik-bisik, menyatakan kekaguman dan keheranan mereka tentang pemuda putera
mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang di depan mata mereka telah mengalahkan datuk dunia barat itu.
Setelah luka-lukanya akibat hukuman suhunya sembuh oleh perawatan Gu Sik yang amat teliti, akhirnya terpaksa
Cian Ling menerima keputusan See-thian-ong bahwa ia harus menjadi isteri suhengnya itu. Ia menerimanya setengah
terpaksa, karena kalau ia menolak, ia tahu bahwa gurunya tentu tidak akan mengampuninya dan akan membunuhnya.
Melawanpun tiada artinya, dan melarikan diri dari suhunya merupakan hal yang amat tidak mungkin. Ke manapun ia
melarikan diri, akhirnya ia tentu akan tertangkap juga. Kalau saja Thian Sin mau membawanya pergi, tentu ia
tidak takut menghadapi suhunya. Akan tetapi, Thian Sin meninggalkannya, berarti Thian Sin tidak mencintanya dan
hal inilah yang merupakan sebab ke dua mengapa ia menerima keputusan itu. Dan ke tiga, karena ia melihat
kenyataan betapa Cian Gu Sik, suhengnya itu, benar-benar amat mencintainya, bukan sekedar mencinta wajah dan
tubuhnya, bukah sekedar cinta berahi seperti yang selama ini ia rasakan dari para pria yang pernah berdekatan
dengannya, melainkan cinta yang lebih mendalam lagi.
Thian Sin melarikan diri dengan hati girang. Dia telah berhasil mengalahkan See-thian-ong! Memang dia tadi
melarikan diri, karena dia menganggap belum tiba waktunya untuk membasmi See-thian-ong dan kaki tangannya. Dia
harus terus mempelajari segala macam ilmu, harus terus memupuk ilmu-ilmunya dan memperkuat diri. Setelah dia
merasa benar-benar kuat, barulah dia akan turun tangan, membasmi seluruh penjahat sampai ke akar-akarnya dan
sekaligus mengangkat diri menjadi jagoan atau pendekar nomor satu di dunia, melanjutkan cita-cita ayah
kandungnya. Kemenangannya terhadap Pak-san-kui dan See-thian-ong hanyalah merupakan kemenangan tipis, belum
mutlak. Maka dia harus terus menggembleng diri, terutama sekali dengan ilmu-ilmu peninggalan ayah kandungnya
yang belum dilatihnya secara sempurna. Untuk itu dia harus mencari tempat yang sunyi, tempat keramat dan kalau
mungkin dia harus dapat berjumpa dengan guru dari ayahnya, yaitu yang disebut Bu Beng Hud-couw! Maka, dengan
hati mantap, Thian Sin melanjutkan perjalanannya menuju ke Pegunungan Himlaya!
Kita tinggalkan dulu Thian Sin, pemuda berhati baja yang hendak menggembleng diri itu, dan mari kita mengikuti
keadaan Ciu Lian Hong, dara remaja puteri Ciu Khai Sun dan Kui Lan itu. Seperti telah kita ketahui dari bagian
depan cerita ini, keluarga Ciu telah tertimpa malapetaka yang mengerikan. Keluarga itu terbasmi oleh pasukan
pembesar yang jahat dan mengandung niat memberontak. Dalam keributan itu, Lian Hong lenyap tak meninggalkan
jejak. Apakah yang telah terjadi atas diri dara remaja yang cantik jelita dan gagah perkasa itu?
Ketika terjadi keributan, Lian Hong berada di taman bersama Thian Sin. Mereka berdua terkejut dan mengamuk
ketika melihat betapa pasukan telah menyerbu rumah keluarga Ciu. Dan dalam keributan dan pengeroyokan ini,
Thian Sin yang jauh lebih lihai itu telah lebih dulu menerjang dan memecahkan kepungan. Lian Hong juga mengamuk
dan terpisah dari Thian Sin, akan tetapi akhirnya setelah ia mengamuk dan merobohkan banyak pengeroyok, ia
berhasil juga mendekati depan rumah di mana tadi ayah ibu dan keluarganya dikeroyok. Dan ketika ia tiba di
tempat itu, ia melihat ayahnya, kedua ibunya, dan juga kakaknya, telah menggeletak mandi darah dan mereka telah tewas.
"Ibuuuuu...! Ayaahhh...!" Lian Hong menjerit dan tanpa mempedulikan keselamatan dirinya lagi ia lari
menghampiri mayat ibunya, menubruk sambil menangis dan saking hebatnya guncangan batin yang dideritanya, dara
ini terguling dan pingsan di dekat mayat keluarganya.
Tiba-tiba di antara para pengeroyok itu nampak seorang pengemis muda yang usianya tidak lebih dari tiga puluh
tahun, bertubuh jangkung dan bermuka pucat, meloncat dan menyambar tubuh Lian Hong, mengempitnya dan membawanya
lari dari situ. Melihat ini, beberapa orang pengemis lain yang ikut membantu penyerbuan itu tertawa.
"A-khun, jangan makan sendiri! Bagi-bagi untuk kami!" seorang di antara mereka berseru. Yang lain tertawa.
"Jangan khawatir!" jawab pengemis yang disebut A-khun itu dan dia terus membawa lari Lian Hong meninggalkan
tempat itu.
A-khun adalah seorang anggota Bu-tek Kai-pang yang dalam penyerbuan itu ikut membantu pasukan karena memang
dalam usahanya berhubungan dengan pemberontak, pembesar Phoa-taijin di Su-couw telah berhubungan dengan
golongan hitam. Seperti kita ketahui, Bu-tek Kai-pang adalah perkumpulan pengemis yang diketuai oleh Lam-sin,
yaitu datuk wilayah selatan. Para anggota Bu-tek Kai-pang merupakan orang-orang pilihan yang rata-rata memiliki
ilmu kepandaian tinggi, dan A-khun termasuk satu di antara mereka yang paling lihai.
Dengan cepat A-khun melarikan Lian Hong yang masih pingsan keluar kota dan membawa dara itu masuk ke dalam
sebuah kuil tua rusak yang berada di tepi jalan. Malam itu sunyi sekali dan kuil rusak itu memang tidak ada
penghuninya dan tempat itu siang tadi dipergunakan oleh orang-orang Bu-tek Kai-pang untuk berkumpul dan
bersiap-siap untuk pekerjaan penyerbuan di malam itu. Dengan hati berdebar girang dan tegang, A-khun memasuki
kuil itu. Tadi dia melihat kecantikan Lian Hong dan segera merasa tertarik sekali. Dia tahu siapa dara ini.
Puteri dari keluarga yang terbasmi dan dia merasa sayang kalau dara ini dibunuh begitu saja seperti yang
diperintahkan oleh ketua mereka yang bersekutu dengan Phoa-taijin. A-khun memang terkenal mata keranjang dan
gila perempuan cantik. Oleh karena itu, melihat kesempatan baik ini, tentu saja dia tidak menyia-nyiakan dan
bukankah keluarga Ciu telah terbasmi semua? Nona inipun harus dibunuh, akan tetapi sebelum itu..., dia
menyeringai ketika merebahkan tubuh gadis itu di atas lantai di bagian belakang kuil. Dengan tenang saja A-khun
lalu membuat api dan menyalakan lilin-lilin yang berada di atas meja tua bekas meja sembahyang sehingga ruangan
yang gelap itu kini menjadi terang.
Dengan sepasang mata bersinar-sinar A-khun memandangi calon korbannya dan menggosok-gosok kedua telapak
tangannya, diam-diam memberi selamat kepada diri sendiri karena sekali ini dia benar-benar memperoleh seorang
perawan yang mulus dan cantik! Akan tetapi dia tidak ingin memperkosa wanita yang berada dalam keadaan pingsan.
Maka, dengan lembut dia mengurut belakang kepala dan tengkuk Lian Hong. Gadis itu mengeluh, merintih dan
membuka mata. Begitu ia membuka mata dan menjadi silau oleh sinar lilin, ia terbelalak, terkejut melihat bahwa
dirinya berada di sebuah ruangan yang dindingnya tua dan retak-retak. Ketika mendengar suara di sebelah kanan,
ia menengok dan melibat sebuah wajah pucat seorang pria yang berlutut di dekatnya, ia terkejut sekali dan
hendak meloncat. Akan tetapi ia didahului oleh totokan jari tangan A-khun yang tepat mengenai jalan darah di
kedua pundaknya dan lemaslah tubuh Lian Hong.
"Apa...siapa...?"
"Nona manis, jangan takut. Engkau kubawa ke sini untuk kuajak bersenang-senang. Engkau cantik manis, aku suka
padamu..."
"Keparat busuk! Engkau... engkau seorang di antara mereka yang membunuh keluarga ibu...!" Dan teringat akan
keadaan keluarganya, hampir Lian Hong menjerit. Akan tetapi pada saat itu, ia melihat bahaya besar mengancam
dirinya, maka ia hanya memandang dengan mata terbelalak, seperti mata seekor kelinci di depan mulut harimau
yang siap menerkamnya.
"Ha-ha-ha, benar sekali. Nona manis, aku seorang tokoh Bu-tek Kai-pang yang tersohor. Dan malam ini engkau
menjadi milikku... ha-ha!" Tangan kanan pengemis itu menjangkau hendak mencengkeram dan merobek baju dari
tuburhb Lian Hong. Akan tetapi tangan itu berhenti di tengah jalan, tiba-tiba saja menjadi kaku!
"Ehhh...?" A-khun terbelalak dan mukanya menjadi semakin pucat, memandang kepada tangannya yang terasa nyeri
dan kaku, lalu mendekatkan tangan itu ke mukanya dan dia merintih ketika melihat bahwa di punggung tangannya
itu nampak sebatang jarum menancap. Sebatang jarum kecil merah! Celaka, pikirnya, sekali ini mampuslah aku!
"Binatang, berani engkau melanggar laranganku?" tiba-tiba terdengar suara halus merdu, suara halus merdu akan
tetapi bagi telinga A-khun terdengar amat menyeramkan seperti suara Malaikat Maut sehingga tubuhnya menggigil
ketika dalam keadaan masih berlutut dia memutar tubuhnya menghadap ke arah seorang wanita yang baru saja masuk
di ruangan itu tanpa diketahuinya.
"Pangcu... am... ampunkan... saya..." Dengan seluruh tubuh menggigil seperti orang yang sedang mendadak
diserang demam, A-khun menatap dan menyembah-nyembah.
Sementara itu, Lian Hong yang masih rebah tertotok memandang dengan jantung berdebar tegang dan seram. Dari
tempat ia rebah, ia memperhatikan wanita itu. Seorang nenek yang berwajah menyeramkan! Rambut di atas kepala
itu lebat sekali, akan tetapi telah putih semua, digelung agak awut-awutan di atas kepala. Kulit mukanya penuh
keriput dan bopeng, bahkan sampai ke kulit leher dihias cacad bekas penyakit cacar. Selain itu, tidak nampak
lagi kulit bagian tubuh lain karena kedua kakinya memakai sepatu boot yang tinggi, kedua tangannya memakai
sarung tangan berwarna hitam. Pakaiannya kasar sederhana, akan tetapi tidak menyembunyikan bentuk tubuhnya yang
masih ramping dan padat, tanda bahwa nenek tua ini masih memiliki kesegaran dan kekuatan tubuh. Sukar menaksir
usianya, akan tetapi melihat rambut yang putih semua dan keriput di mukanya, agaknya usianya tidak akan kurang
dari tujuh puluh tahun! Hanya sepasang matanya saja yang masih amat tajam, bahkan mencorong seperti mata
orang-orang sakti. Di punggungnya tergantung sepasang pedang bersilang, dan tangan kirinya memegang sebatang
tongkat hitam dari akar yang bentuknya seperti tubuh ular. Dari sebutan yang keluar dari mulut A-khun, Lian
Hong dapat menduga bahwa tentu nenek ini merupakan ketua perkumpulan Bu-tek Kai-pang. Ia merasa semakin serem.
Kalau anak buahnya saja seorang manusia binatang semacam A-khun, apalagi ketuanya! Teringat akan bahaya yang
mengancam dirinya, kemudian teringat akan bayangan mayat-mayat ketuarganya, Lian Hong tak dapat menahan
keluarnya air matanya. Akan tetapi ia pasrah karena kematiannya hanya berarti bahwa ia akan berkumpul dengan
keluarganya.
"Berapa lama engkau menjadi anggota Bu-tek Kai-pang?" Kembali terdengar suara lembut merdu itu, dan Lian Hong
bergidik ngeri melihat betapa bibir nenek itu hampir tidak bergerak ketika mengeluarkan pertanyaan itu,
seolah-olah suaranya langsung keluar dari dalam mulut.
"Satu... dua... tahun..."
"Apa larangan pertama dari perkumpulan kita?"
"Berkhianat terhadap perkumpulan."
"Dan ke dua?"
"Bicara tentang Pangcu..."
"Dan ke tiga?"
"Ke tiga... eh... ampunkan saya, Pangcu... saya melakukannya karena Pangcu tidak berada di sini, saya... saya
tidak tahu Pangcu akan datang..."
"Apa larangan ke tiga?" suara merdu itu tetap mendesak, dan tubuh nenek itu masih berdiri tegak tanpa bergerak,
sepasang matanya yang mencorong itu agaknya tak pernah berkedip. Mengerikan sekali.
"Larangan ke tiga... eh... memperkosa wanita... akan tetapi, Pangcu, bukankah wanita ini harus dibunuh juga?"
A-khun mencoba untuk membela diri.
Tangan kiri nenek itu bergerak sedikit dan A-khun mengeluh ketika merasa lehernya kaku dan nyeri. Dia tahu
bahwa ada jarum merah mengenai lehernya tanpa dapat dielakkannya.
"Semua anggota Bu-tek Kai-pang boleh melakukan apa saja, merampok, membunuh, akan tetapi tak seorangpun boleh
memperkosa wanita. Kau tahu mengapa tidak boleh?" kembali nenek itu bertanya, suaranya terdengar makin merdu
dan halus, akan tetapi makin menakutkan bagi A-khun.
"Karena... karena... Pangcu adalah seorang wanita pula..."
"Karena ibumu yang melahirkanmu juga seorang wanita, keparat! Dan tiada ampun bagi pria yang memperkosa
wanita!" Kembali tangan itu bergerak.
"Pangcu, ampuuuuun...!" Akan tetapi itu adalah kata terakhir yang keluar dari mulut A-khun, karena tubuhnya
sudah terjengkang roboh dan dari antara kedua matanya terdapat tanda merah yang perlahan mengeluarkan darah
hitam!
Kini nenek itu melangkah maju menghampiri Lian Hong yang masih terlentang di atas lantai dalam keadaan tertotok
lemas. Sejenak dua orang wanita itu saling bertemu pandang dan karena tidak mengharap dapat hidup lagi, Lian
Hong menentang pandang mata yang mencorong itu dengan berani. Orang ini adalah ketua para pengemis yang ikut
membantu pasukan membunuh keluarga orang tuanya, pikirnya dan sinar matanya penuh kebencian.
"Mana pemuda putera Pangeran Ceng Han Houw itu?" tiba-tiba suara merdu itu bertanya dan Lian Hong terkejut. Tak
disangka-sangkanya nenek itu akan menanyakan Thian Sin, dan baru ia teringat bahwa Thian Sin tadi juga mengamuk
bersamanya menghadapi pasukan.
"Aku tidak tahu!" jawabnya ketus.
"Ah, aku ingin sekali melawan dia. Katanya mereka itu lihai, putera Pangeran Ceng Han Houw dan putera Pendekar
Lembah Naga itu..." Nenek itu berkata dan kelihatan termenung.
"Kalau ada Tiong koko, putera Pendekar Lembah Naga, sekali pukul saja dia tentu akan membunuhmu!" Lian Hong
berseru penuh semangat ketika ia teringat kepada pemuda yang dikaguminya itu.
Nenek yang tadinya merenung dan menunduk itu, mengangkat muka dan memandang kepada Lian Hong, sinar matanya
seperti kilat menyambar. "Begitukah? Apamukah pemuda putera Pendekar Lembah Naga itu?"
Lian Hong tahu bahwa ia menghadapi kematian, maka ia hendak mempergunakan saat terakhir itu untuk membanggakan
dirinya. "Dia adalah tunanganku, calon suamiku!"
"Hemm, akan tetapi engkau harus mati bersama keluarga Ciu."
"Siapa takut mati? Aku adalah calon mantu Pendekar Lembah Naga, kematian bukan apa-apa bagi seorang gagah.
Nenek buruk tua bangka, kalau mau bunuh, lekas bunuhlah. Biar aku menyusul orang tuaku!" Lian Hong menantang.
Tangan yang bersarung tangan hitam dan memegang tongkat itu bergerak. Tiba-tiba tongkat itu melayang ke depan,
meluncur menuju ke arah mata Lian Hong! Dara ini sama sekali tidak berkedip, karena ia hendak menyambut maut
dengan mata terbuka.
"Ceppp!" Ujung tombak itu amblas ke dalam lantai, hanya satu senti saja dari pipi Lian Hong! Kiranya nenek itu
hanya menggertak.
"Tidak, engkau tidak akan kubunuh. Engkau terlalu pemberani, sayang kalau dibunuh. Eh, maukah engkau menjadi
muridku?"
Ditanya seperti itu, Lian Hong gelagapan dan tertegun. Baru saja terhindar dari maut dan kini tiba-tiba saja
nenek sakti itu menawarkan agar ia suka menjadi muridnya. Nenek itu amat sakti, dan betapapun juga, pembunuh
orang tuanya adalah pasukan yang dipimpin oleh Phoa-taijin. Kalau ia dapat menjadi murid nenek ini dan
menguasai ilmu kepandaian yang tinggi, tentu kelak ia akan dapat membalas dendam kematian orang tuanya. Dalam
keadaan seperti itu, tidak ada pilihan lain lagi bagi Lian Hong, maka iapun menjawab, "Kalau locianpwe
benar-benar hendak memberi petunjuk, tentu saja teecu akan senang sekali."
Nenek itu tertawa, suara ketawanya juga merdu dan sekali tangannya bergerak, ada angin menyambar ke arah tubuh
Lian Hong. Dara ini terkejut, akan tetapi tiba-tiba saja ia sudah dapat bergerak kembali! Dengan girang iapun
lalu berlutut di depan kaki nenek sakti itu.
"Muridku yang baik, tahukah engkau siapa aku yang menjadi gurumu ini?"
"Kalau teecu tidak salah menduga, locianpwe adalah yang berjuluk Lam-sin (Malaikat Selatan), betulkah?"
"Hemm, tahukah bahwa selama ini tidak ada orang yang bertemu denganku tapi masih dapat terus hidup? Hanya
engkau satu-satunya orang yang dapat bertemu dan bicara dengan aku dan bahkan menjadi muridku."
Diam-diam Lian Hong terkejut bukan main. Orang ini sungguh amat luar biasa, sombong bukan main, agaknya
seolah-olah menganggap dirinya benar-benar seorang malaikat, bukan manusia lagi. Akan tetapi iapun bukan
seorang dara yang bodoh, maka ia cepat berkata, "Kalau begitu, sungguh teecu memiliki keberuntungan besar dan
teecu menghaturkan terima kasih kepada subo."
"Hemm, kaukira aku menolongmu karena hendak melepas budi? Uh, jangan salah kira, ya? Aku melakukan semua ini
demi kepentinganku sendiri!" Mendengar suara merdu itu tiba-tiba ketus, Lian Hong semakin terkejut dan heran.
Akan tetapi ia tidak berkata apa-apa, hanya menganggap bahwa gurunya ini memang seorang yang memiliki watak
yang aneh.
"Hayo, kauikuti aku!" Tiba-tiba nonek itu berkata dan ternyata ia sudah mencabut tongkatnya dan sekali mencokel
dengan tongkatnya ke arah punggung Lian Hong, dara ini merasa ada hawa dingin memasuki punggungnya, seperti
diguyur air es, membuat ia cepat melonjak dan bangkit berdiri. Ketika ia melihat gurunya itu telah berjalan
pergi dan ia cepat-cepat mengikutinya.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Lian Hong ketika melihat bahwa nenek itu membawanya kembali ke
Lok-yang! Akan tetapi kekagetan ini bercampur kegirangan karena ia ingin melihat kembali keadaan keluarganya
yang terbasmi malam itu. Dan ternyata nenek itu memang membawanya kembali ke rumahnya! Akan tetapi, ketika itu
malam telah berganti pagi dan semua mayat tidak nampak lagi di situ, kecuali sisa-sisa darah yang membuat
tempat itu berbau amis dan mengerikan.
Ketika tiba di daerah rumah tinggalnya, tiba-tiba nenek itu memegang lengannya dan di lain saat tubuhnya sudah
melayang naik ke atas genteng rumah seorang tetangganya! Lian Hong merasa kagum sekali. Gurunya ini memang
sakti dan dengan memegang lengannya dapat membawanya meloncat, seperti terbang menunjukkan betapa lihai
gin-kangnya.
"Lekas, kauberitabukan kepada tetanggamu bahwa engkau akan pergi ke Heng-yang di Propinsi Hu-nan agar dua orang
pemuda itu dapat menyusulmu!" kata nenek itu ketika mereka berada di atas genteng rumah seorang tetangga
keluarga Ciu.
Lian Hong tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurunya itu, maka ia hanya memandang bingung. "Tapi... tapi
teecu ingin tahu tentang ayah ibu..." Suaranya tertahan oleh isak.
"Taati perintahku! Apa kau ingin terlihat oleh pasukan dan dibunuh, juga? Hayo kau turun dan katakan kepada
tetanggamu seperti yang kuperintahkan tadi!" bentak nenek itu dengan lirih. Lian Hong tidak tahu mengapa
gurunya memerintahkan demikian, akan tetapi perintah ini membuat ia makin percaya kepada gurunya. Dengan
perintah itu, berarti gurunya tidak bermaksud buruk, bahkan menghendaki agar dua orang pemuda itu dapat
menyusulnya. Maka iapun meloncat turun dan cepat ia menghampiri kelompok keluarga tetangganya yang berkumpul di
belakang rumah. Agaknya mereka itu masih ketakutan akan apa yang telah terjadi semalam, malapetaka mengerikan
yang menimpa keluarga Ciu, tetangga mereka. Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa kaget hati suami isteri
dan tiga orang anaknya itu ketika tiba-tiba mereka melihat munculnya Lian Hong dari arah belakang rumah mereka.
"Ciu-siocia...!" Tuan rumah berseru dengan muka pucat, karena dia maklum betapa akan berbahayanya bagi
keluarganya kalau sampai fihak tentara melihat nona itu berada di tempatnya! Sementara itu, isterinya sudah
menangis tersedu-sedu melihat nona itu, merasa kasihan sekali mengingat betapa seluruh keluarga nona itu telah
tewas secara mengerikan.
"Paman Ong, di manakah... eh, jenazah mereka...?" Lian Hong menguatkan hatinya bertanya.
"Jenazah keluargamu telah dibawa pergi oleh pasukan, nona, dan kami semua tidak berdaya, tidak ada yang berani
mencampuri... maklumlah..."
Lian Hong menahan kemarahan dan kedukaannya, mengepal tinju. "Sudahlah, sekarang aku hendak minta tolong
kepadamu, Paman Ong..."
"Maaf... nona, kami tidak berani..."
"Aku hanya ingin agar jika Kanda Cia Han Tiong, engkau tahu, seorang di antara dua pemuda tamu yang pernah
tinggal di rumah kami baru-baru ini, jika dia datang mencariku, katakanlah kepadanya bahwa aku pergi ke
Heng-yang, di Propinsi Hu-nan, bersama..."
"Cukup!" Terdengar bentakan merdu dan tiba-tiba saja, ada bayangdn hitam berkelebat menyambar tubuh Lian Hong
dan lenyap dari depan keluarga Ong yang memandang bengong itu. Tentu saja mereka menjadi ketakutan dan mengira
bahwa yang muncul tadi mungkin saja arwah dari nona Ciu, maka merekapun berlutut dan sampai lama tidak berani
mengangkat muka mereka!
Sementara itu, Lian Hong sudah dibawa pergi keluar dari kota Lok-yang oleh Nenek Lam-sin, dan dengan
menggunakan kesaktiannya, berkelebat cepat sehingga tidak sampai diketahui oleh para penjaga, mereka keluar
dari pintu gerbang, lalu melanjutkan perjalanan menuju ke selatan.
Lam-sin adalah nama yang amat terkenal di dunia kang-ouw, sebagai datuk kaum sesat dari daerah selatan. Biarpun
jarang ada orang pernah melihatnya, namun namanya sudah menggemparkan dunia kang-ouw dan di daerah selatan,
tidak ada tokoh kang-ouw yang tidak menjadi gentar mendengar nama ini. Apalagi nama ini didukung dan dijunjung
tinggi oleh perkumpulan pengemis Bu-tek Kai-pang yang merajai dunia kang-ouw di selatan. Benarkah kini manusia
sakti ini mengangkat murid kepada Lian Hong? Sesungguhnya tidak demikian. Sebagai datuk golongan hitam, tentu
saja tidak ada rasa kasihan dalam hati seseorang seperti Nenek Lam-sin ini. Seperti semua datuk kaum sesat,
bagi mereka yang ada hanyalah kepentingan dan keuntungan diri sendiri.
Setiap tindakan yang mereka lakukan selalu berdasarkan perhitungan untung rugi. Oleh karena itu, Lam-sin
mengangkat Lian Hong sebagai muridpun hanya merupakan siasatnya untuk memancing datangnya dua orang pemuda yang
baru muncul dan sudah menggemparkan dunia persilatan itu. Ia sudah mendengar dari anak buahnya akan sepak
terjang putera Pangeran Ceng Han Houw dan putera Pendekar Lembah Naga, maka ia ingin sekali dapat bertemu dan
mengadu ilmu dengan mereka. Apalagi ketika mendengar babwa ada beberapa orang anak buahnya yang tewas oleh
putera Pangeran Ceng Han Houw, datuk ini menjadi penasaran sekali. Dengan mengangkat dara itu sebagai murid,
maka ia mengharapkan akan dapat berjumpa dengan mereka. Selain itus memang ia paling benci melihat pria yang
memperkosa wanita. Inipun bukan berdasarkan keluhuran budi melainkan karena ia sendiri seorang wanita, maka ia
tidak suka bahkan membenci sekali pria yang suka memperkosa wanita.
Lian Hong yang maklum bahwa ia sendiri tentu menjadi buronan pemerintah, dan karena untuk saat itu ia sendiri
tidak tahu siapa yang akan dapat menolongnya dan apa yang dapat dilakukannya. Maka ia pasrah kepada gurunya.
Memang ada ingatan untuk mencari tunangannya, yaitu Cia Han Tiong. Akan tetapi bagaimana mungkin ia bisa
mendapatkan tompat yang amat jauh itu? Ia belum pernah tahu di mana adanya Lembah Naga, yang kabarnya amat jauh
di utara, bahkan lewat Tembok Besar utara. Bagaimana kalau ia tidak berhasil menemukan tempat itu? Dan
perjalanan sejauh itu, apalagi melalui tempat-tempat berbahaya, kiranya tak mungkin dapat ditempuhnya dengan
selamat dan berhasil. Maka, jalan satu-satunya adalah pasrah kepada gurunya, Lam-sin nenek yang sakti itu.
Kalau ia sudah mempelajari ilmu kesaktian dari nenek ini sehingga bekal kepandaian padanya cukup kuat, baru ia
akan pergi mencari Lembah Naga, di mana tinggal pamannya, yaitu Pendekar Lembah Naga, atau juga yang menjadi
calon ayah mertuanya.
Karena mempunyai cita-cita seperti ini, Lian Hong bersikap taat di sepanjang perjalanan kepada nenek itu,
berusaha untuk melayani subonya. Akan tetapi, nenek itu sungguh seorang yang luar biasa sekali. Agaknya tidak
pernah suka bertemu orang lain sehingga selama dalam perjalanan, Lam-sin memilih tempat-tempat yang sunyi dan
sukar dilalui. Kadang-kadang, kalau melalui jurang-jurang yang amat curam, Lam-sin menggandeng tangan muridnya
yang merasa ngeri dan ketakutan. Biarpun Lian Hong juga seorang dara perkasa, namun melakukan perjalanan
melalui jurang-jurang maut seperti yang dilalui nenek itu sungguh merupakan pengalaman pertama yang
menegangkan. Dan selama dalam perjalanan itu, Nenek Lam-sin jarang bicara. Kalau kemalaman, mereka tidur begitu
saja di dalam hutan! Hanya ada satu hal yang mengherankan hati Lian Hong, akan tetapi juga menguntungkan.
Biarpun nenek itu tidur di sembarang tempat, bahkan kalau malam tidurnya sambil duduk bersila, namun nenek itu
sama sekali tidak jorok. Bahkan selalu bersih, terkena kotoran sedikit saja lalu dicuci tangannya yang
bersarung tangan hitam. Dan pakaiannya selalu diganti setiap hari! Lian Hong juga diberi pakaian dua stel,
sehingga terpaksa gadis itupun mengenakan pakaian Si Nenek yang ternyata memiliki potongan tubuh yang tidak
berbeda banyak dengan dirinya. Selain ini, nenek itu ternyata amat royal kalau makan! Setiap melewati kota,
tentu Lian Hong disuruh membeli bahan-bahan masakan yang mahal-mahal seperti daging kering, ikan kering yang
bermutu tinggi dan mahal, bumbu-bumbu masak yang baik, jamur-jamur dan sayur-sayur. Semua bahan ini
dipergunakan untuk dimasak dalam hutan. Akan tetapi kalau kebetulan mereka lewat di kota pada siang atau malam
hari, tidak jarang Lian Hong harus mengunjungi restoran dan membeli bermacam-macam masakan yang mahal-mahal dan
membawanya ke tempat subonya menanti di luar kota. Semua ini masih ditambah lagi dengan arak wangi! Subonya
adalah seorang wanita yang pembersih dan suka makan!
Akan tetapi, hanya itulah saja yang diketahuinya dari nenek keriputan berambut putih itu. Lam-sin jarang bicara
dan karena sikapnya yang amat dingin ini, Lian Hong juga tidak berani banyak bertanya.
Beberapa pekan kemudian, setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, tibalah mereka di kota Heng-yang.
Kota ini berada di Propinsi Hu-nan di selatan, dan menjadi kota pusat perkumpulan Bu-tek Kai-pang di mana juga
tinggal Lam-sin. Kembali Lian Hong kagum dan terheran-heran melihat betapa gurunya itu mempunyai sebuah rumah
yang amat mewah! Bangunannya tidak begitu besar, hanya mempunyai lima buah kamar saja yang kosong, karena hanya
sebuah kamar saja yang ditempati nenek itu. Akan tetapi rumah itu penuh dengan perabot rumah yang mahal dan
halus buatannya, seperti perabot rumah istana raja saja, dengan permadani di mana-mana, meja kursi yang juga
merupakan barang seni yang halus dan mahal, di dinding penuh tergantung lukisan-lukisan dari pelukis-pelukis
kenamaan dan tulisan-tulisan indah. Juga di mana-mana terdapat pot bunga, dengan bunga-bunga segar terawat baik
yang agaknya didatangkan dari seluruh penjuru Tiongkok! Sungguh pandai sekali orang yang mengatur dan menghias
rumah itu, dan ketika kemudian Lian Hong mendengar bahwa pengaturnya adalah nenek itu sendiri, kekagumannya
terhadap nenek itu bertambah.
Ketika Lam-sin mengajak Lian Hong memasuki gedung kecil mungil itu, lima orang wanita muda yang cantik-cantik
menyambut mereka dengan penuh kehormatan. "Mereka berlima ini adalah pelayan-pelayanku, Lian Hong." Mendengar
keterangan ini, Lian Hong kaget. Mereka itu begitu muda dan cantik, dan sikap serta pakaian mereka sama sekali
tidak membayangkan bahwa mereka adalah pelayan.
"Ini adalah Ciu-siocia yang menjadi muridku, kalian harus melayaninya baik-baik." Terdengar nenek itu berkata
kepada lima orang pelayannya.
Lima orang wanita muda itu segera memberi hormat kepada Lian Hong dan serentak mereka berkata dengan sikap
ramah, "Selamat datang, Ciu-siocia!"
Lian Hong cepat berkata dengan senyum, "Cici berlima baik sekali, terima kasih. Sebagai murid subo, akupun
harus melayaninya, maka aku akan membantu pekerjaan cici berlima."
Demiklanlah, karena sikapnya yang baik, maka lima orang pelayan yang ternyata masing-masing memiliki kepandaian
silat cukup tinggi karena mendapatkan pelajaran dari Lam-sin itu merasa suka sekali kepada Lian Hong. Juga
nenek Lam-sin merasa suka dan mulai mengajarkan beberapa jurus ilmu silat tinggi kepada dara itu, dan sering
kali mengajak dara itu menemaninya berjalan-jalan keluar kota.
Nenek itu sungguh aneh sekali cara hidupnya. Yang mengenalnya sebagai Lam-sin hanyalan para pelayan dan juga
para anggauta Bu-tek Kai-pang saja agaknya. Buktinya, kalau ia pergi berjalan-jalan bersama Lian Hong, memasuki
pasar atau tempat pelesiran, tidak ada orang yang tahu bahwa nenek itu adalah Lam-sin, datuk dunia selatan yang
tersohor.
Nenek itu sering kali bertanya kepada Lian Hong tentang diri Ceng Thian Sin dan Cia Han Tiong sehingga
diam-diam Lian Hong menjadi heran sekali.
"Apakah subo pernah bertemu dengan mereka?" tanyanya.
Nenek itu menggeleng kepalanya. "Belum, dan aku ingin sekali bertemu dengan mereka dan mencoba kepandaian
mereka. Eh, menurut pendapatmu, siapa diantara putera Pangeran Ceng Han Houw dan putera Pendekar Lembah Naga
itu yang lebih lihai, Lian Hong?"
Ditanya tentang dua orang pemuda itu, Lian Hong membayangkan keadaan mereka. Hatinya terharu dan timbul
rindunya kepada Han Tiong yang diam-diam telah menarik cinta hatinya itu. "Teecu tidak tahu, subo. Mereka itu
keduanya sama lihainya, keduanya menerima latihan dari Paman Cia Sin Liong, Pendekar lembah Naga."
Lam-sin sudah banyak mendengar tentang mereka berdua dari para anak buah Bu-tek Kai-pang, terutama sekali
tentang putera Pangeran Ceng Han Houw yang kabarnya amat lihai itu. Kalau saja ingin bertemu dengan mereka,
terutama dengan putera Pangeran Ceng, tentu ia tidak akan membawa Lian Hong sebagai muridnya, melainkan sudah
dibunuhnya dara itu. Sepasang mata yang jeli dan mencorong dari nenek itu berkilat.
"Ya, aku ingin sekali bertemu dengan mereka, menguji kepandaian mereka!"
"Tapi, subo... karena teecu telah menjadi murid, teecu harap subo tidak memusuhi mereka. Mereka itu adalah
putera-putera dari Paman teecu sendiri... dan... dan Han Tiong koko adalah tunangan teecu."
"Siapa hendak memusuhi mereka? Aku hanya ingin menguji apakah benar mereka itu selihai yang dikabarkan orang."
Lian Hong tidak banyak membantah lagi. Diam-diam ia merasa kagum dan juga heran melihat gurunya ini. Nenek ini
kelihatan sudah tua sekali, mukanya penuh keriput dan rambutnya sudah putih semua, akan tetapi sepasang matanya
mencorong, jeli dan indah seperti mata orang muda, dan gerek-geriknya amat gesit, tubuhnya juga amat langsing
padat walaupun tertutup pakaian sederhana. Sungguh seorang nenek yang amat aneh, yang memiliki suara merdu,
kadang-kadang dingin sekali, kadang-kadang lemah lembut dan kadang-kadang suara itu, sinar mata itu, mengandung
kedukaan besar. Dan kadang-kadang ia bergidik melihat sepasang mata mencorong itu, karena mengandung penuh
kekejaman. Akan tetapi, di samping semua itu, ia merasa yakin akan kesaktian subonya. Oleh karena itu iapun
belajar dengan tekun, dengan harapan bahwa ia akan dapat mewarisi ilmu silat tinggi agar kelak ia dapat
membalas kematian keluarganya. Kalau ia teringat akan ayah kandungnya dan kakaknya, Lian Hong tidak dapat
menahan kesedihannya dan menangislah ia di waktu ia tidur sendirian dalam kamarnya.

***
Pada suatu hari, setelah tinggal di Heng-yang selama kurang lebih tiga bulan, Lian Hong diajak subonya untuk
pergi berbelanja ke pasar. Memang nenek itu mempunyai suatu kesukaan, yaitu makan enak yang kadang-kadang
dimasaknya sendiri, dan untuk keperluan itu ia suka pergi berbelanja sendiri ke pasar. Seperti biasa, di dalam
pasar ini tidak ada yang mengenal nenek yang diikuti seorang nona muda cantik jelita ini. Selama tiga bulan
itu, baru satu kali saja Lian Hong melihat ada orang yang mengenal Si Nenek, yaitu ketika mereka berdua
berbelanja di pasar juga. Yang mengenal nenek itu adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang usianya tentu
sudah ada lima puluh tahun lebih. Begitu melihat nenek itu, laki-laki ini lalu menjura dengan sikap amat
menghormat dan berkata, "Maaf, tidak mengira bertemu dengan locianpwe di sini. Harap locianpwe dalam keadaan
baik-baik saja."
Dan hebatnya, nenek itu hanya mengangguk sedikit dan melanjutkan perjalanan, sama sekali tidak mempedulikan
penghormatan orang. Setelah jauh, Lian Hong tidak dapat menahan diri lagi dan bertanya kepada gurunya siapa
gerangan laki-laki tadi. Dengan sikap tak acuh, nenek itu menjawab bahwa laki-laki itu adalah seorang guru
silat yang paling terkenal di Shao-koan sebelah selatan dan berjuluk Kim-liong-eng (Pendekar Naga Emas)!
Diam-diam Lian Hong terkejut. Seorang guru silat paling terkenal akan tetapi bersikap demikian merendahkan diri
terhadap gurunya! Hal ini saja sudah membuktikan bahwa nenek itu biarpun tidak dikenal oleh orang-orang biasa
karena memang selalu menyembunyikan diri, namun dikenal baik oleh tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw, bahkan
ditakuti sesuai dengan julukannya sebagai datuk kaum sesat di dunia selatan!
Pagi hari itu, Nenek Lam-sin asyik sekali memilih sayur sawi kembang yang amat segar karena baru pagi itu masuk
dari desa. Lian Hong ikut memilih dan dara ini sama sekali tidak tahu bahwa tak jauh dari situ, di antara
kumpulan banyak orang yang berbelanja di pasar, terdapat seorang pemuda yang memandang ke arah mereka dengan
mata terbelalak, penuh keheranan dan juga perhatian. Pemuda itu bukan lain adalah Cia Han Tiong!
Seperti diketahui, pemuda ini meninggalkan Lembah Naga untuk pergi mencari tunangannya yang lenyap dalam
keributan ketika rumahnya diserbu pasukan itu. Orang tuanya sendiri yang memerintahkan dia pergi menyelidiki
dan mencari Lian Hong. Tentu saja Han Tiong langsung pergi ke Lok-yang untuk menyelidiki. Dengan hati-hati dia
mulai menyelidiki, akan tatapi agaknya tidak ada orang yang tahu ke mana perginya Nona Ciu Lian Hong. Yang
mereka ketahui hanya bahwa keluarga Ciu itu terbasmi dan tewas oleh pasukan yang menuduh mereka itu keluarga
pemberontak. Harta benda keluarga itu disita pemerintah, dan jenazah keluarga itu oleh pemerintah dikubur di
kuburan para penjahat di dekat penjara! Mendengar ini, Han Tiong merasa berduka sekali. Akan tetapi ketika
secara kebetulan dia bertemu dan bertanya kepada tetangga di sebelah kanan bekas rumah keluarga Ciu yang kini
tertutup itu, dengan sikap takut-takut orang she Ong itu memberitahukan kepadanya akan pesan dari Lian Hong.
"Nona Ciu Lian Hong meninggalkan pesan kepada seorang kongcu bernama Cia Han Tiong..."
"Sayalah Ciu Han Tiong," kata Han Tiong cepat.
Orang she Ong itu mengangguk-angguk. "Sudah kuduga, kami pernah melihat kongcu ketika menjadi tamu mereka. Nona
Ciu mengatakan bahwa ia pergi ke Heng-yang di Propinsi Hu-nan."
"Apalagi pesannya?" tanya Han Tiong, jantungnya berdebar girang mendengar bahwa tunangannya itu betapapun juga
belum tewas!
"Tidak ada apa-apa lagi, begitu meninggalkan pesan, ia lenyap begitu saja!" Orang she Ong itu bergidik.
Mendengar suara orang itu dan melihat sikapnya yang ketakutan, Han Tiong mengerutkan alisnya. "Tapi... tapi ia
masih hidup, bukan?"
Dan betapa kaget hatinya mellhat orang itu menggeleng kepala. "Tidak tahu, kongcu. Entahlah, akan tetapi
setelah bicara, ia menghilang begitu saja seperti... seperti setan..."
Tentu saia hati Han Tiong terasa amat tidak enak. Akan tetapi dia tidak percaya kalau nona itu telah tewas dan
arwahnya yang meninggalkan pesan. Tidak mungkin, sungguhpun dia sendiri merasa heran bagaimana nona itu dapat
"menghilang". Dia tahu bahwa Lian Hong adalah seorang dara yang memiliki kepandaian silat yang lumayan. Mungkin
saja nona itu, dalam kekhawatirannya ketahuan pasukan, meloncat dengan cepat dan oleh orang ini disangka
menghilang. Betapapun juga, Lian Hong sudah meninggalkan pesan pergi ke Heng-yang. Dia harus pergi menyusul dan
mencarinya! Maka tanpa banyak bicara lagi dia lalu menghaturkan terima kasih dan cepat pergi ke selatan, menuju
ke kota Heng-yang di Propinsi Hu-nan.
Di kota ini dia bermalam di sebuah rumah penginapan kecil dan setelah berputar-putar selama tiga hari, akhirnya
pada pagi hari itu dia melihat Lian Hong berjalan bersama seorang nenek memasuki pasar! Han Tiong adalah
seorang pemuda yang cerdik. Dia tidak langsung menegur, melainkan membayangi dan mengamati penuh perhatian. Dia
melihat betapa sikap Lian Hong amat hormat terhadap nenek itu. Dan matanya yang tajam dapat melihat bahwa nenek
itu bukanlah orang sembarangan. Seorang nenek tua yang memiliki mata mencorong seperti itu, tubuh yang masih
segar dan padat, memiliki gerakan yang demikian gesit dan memiliki wibawa besar yang tersembunyi di bilik
kesederhanaannya, tentulah bukan orang biasa saja! Tadinya, ketika mendengar bahwa Lian Hong pergi ke
Heng-yang, dia menaruh curiga. Jangan-jangan datuk dunia selatan, yaitu yang bernama Lam-sin dan katanya juga
tinggal di Heng-yang, memegang peran dalam hilangnya Lian Hong. Maka kini dia amat berhati-hati. Siapa tahu
nenek itu adalah seorang di antara anak buah Lam-sin! Dia harus mengetahui lebih dulu di mana nenek itu akan
pergi bersama Lian Hong. Sementara ini, dia melihat bahwa Lian Hong tidak perlu dibela. Nona itu dalam keadaan
sehat dan selamat, walaupun ada kedukaan membayang di wajahnya yang jelita.
Kalau Lian Hong sama sekali tidak tahu bahwa Han Tiong berada di dalam pasar itu dan membayangi perjalanannya
bersama gurunya, sebaliknya Nenek Lam-sin telah tahu sejak tadi! Tidak percuma nenek ini berjuluk Lam-sin
(Malaikat Selatan) dan menjadi datuk kaum sesat di wilayah selatan. Ilmu kepandaiannya sudah tinggi sekali dan
sikapnya selalu waspada sehingga sedikit perubahan saja di sekitarnya ia sudah mengetahuinya sehingga adanya
pemuda yang membayanginya itu tentu saja tidak terluput dari pengamatannya. Bahkan dengan sikap yang tidak
kentara, ia sudah dapat mencuri lihat wajah pemuda itu dan dapat menduga bahwa pemuda itulah putera Pendekar
Lembah Naga, pemuda yang sering disebut-sebut oleh muridnya, yang bernama Cia Han Tiong! Bahkan sambil
berbelanja, nenek ini telah dapat mengirim isyarat rahasia kepada anak buahnya! Jangan dikira bahwa nenek itu
sama sekali tidak dikawal! Ke manapun ia pergi, tentu ada orang-orang Bu-tek Kai-pang yang siap untuk
sewaktu-waktu menerima perintah ketuanya ini. Maka, tidak sukarlah bagi Nenek Lam-sin untuk menyampaikan
perintahnya kepada anak buahnya yang mengemis di luar pasar dan segera anak buah ini sudah siap melakukan
perintah yang hanya diberikan oleh nenek itu melalui gerakan-gerakan jari-jari tangan saja.
Nenek Lam-sin bersikap biasa saja. Setelah cukup berbelanja, dibantu oleh Lian Hong, ia membawa belanjaannya
keluar dari pasar. Akan tetapi, nenek itu tidak menuju ke utara di mana gedungnya terletak, melainkan menuju ke barat.
"Eh, kenapa kita melalui jalan ini, subo?" tanya Lian Hong heran.
"Kau ikut sajalah, aku ingin mengambil jalan ini," jawab nenek itu dengan suara biasa saja sehingga Lian Hong
tidak mau membantah lagi, karena ia sudah mengenal watak subonya yang memang luar biasa itu. Akan tetapi, hati
dara ini menjadi semakin heran ketika melihat bahwa subonya mengajaknya keluar kota melalui pintu gerbang,
bahkan terus menuju ke sebuah hutan kecil di sebelah barat kota Heng-yang!
"Subo, kenapa kita memasuki hutan?"
"Diamlah, engkau akan tahu sendiri nanti," kata Nenek Lam-sin yang diam-diam memperhatikan bayangan Han Tiong
yang masih mengikuti jauh di belakang. Ia kagum sekali karena tahu bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang
tinggi sehingga biarpun sejak tadi membayangi mereka, muridnya tidak mengetahuinya. Ia sendiri kalau tidak
waspada dan sudah melihatnya sejak tadi, tentu tidak akan mendengar gerakan pemuda itu.
Mereka berdua melewati sebuah padang rumput di tengah hutan dan tak lama kemudian mereka mendengar
bentakan-bentakan riuh rendah di belakang mereka. Lian Hong terkejut sekali akan tetapi nenek itu tersenyum dan
berkata. "Mari kita melihat apa yang terjadi di belakang itu."
Lian Hong mengikuti gurunya kembali dan ketika mereka tiba di padang rumput, Lian Hong melihat banyak sekali
orang-orang berpakaian pengemis, yaitu para anggauta Bu-tek Kai-pang yang mengurung seorang pemuda yang berdiri
tegak di tengah-tengah padang rumput. Pemuda itu bukan lain adalah Cia Han Tiong! Melihat pemuda ini, tentu
saja Lian Hong menjadi terkejut, terheran, dan juga girang bukan main. Keharuan menyelimuti hatinya dan tanpa
disadarinya lagi, kedua tangannya melepaskan keranjang terisi barang belanjaan pasar tadi dan iapun sudah
menjerit dengan tangis, "Tiong-koko...!" Dan larilah gadis ini menghampiri pemuda itu yang berdiri di tengah
lapangan.
"Hong-moi...!" katanya dan menerima tubuh yang menubruknya sambil menangis tersedu-sedu itu.
"Tiong-ko... ah, Tiong-ko...!" Lian Hong menangis sesenggukan di atas dada pemuda itu, hatinya terasa perih dan
sakit sekali, karena dia teringat akan keadaan keluarganya. Baru sekaranglah gadis itu dapat menumpahkan
seluruh kedukaan hatinya. Biasanya, ia hanya diam-diam menangis di dalam kamar dan baru sekarang ada yang dapat
ia sambati. Han Tiong juga merasa terharu, mengelus rambut kepala gadis itu. "Tenanglah, Hong-moi, tenanglah.
Segalanya itu telah terjadi... agaknya Thian sudah menghendaki demikian. Aku bersyukur bahwa akhirnya aku dapat
menemukanmu."
"Lian Hong, ke sini engkau!" Tiba-tiba terdengar bentakan halus merdu dari mulut Nenek Lam-sin.
Lian Hong mengangkat mukanya dan berdiri di samping Han Tiong sambil memegang tangan pemuda itu. "Subo, inilah
Tiong-koko, dia... tunangan teecu itu..."
"Hong-moi, siapa nenek itu? Subomu...?" Han Tiong bertanya heran.
"Benar, Tiong-ko. Dia adalah... Lam-sin, penolongku juga guruku..."
Bukan main kaget hati Han Tiong mendengar bahwa nenek yang berdiri di depannya itu adalah Lam-sin, datuk kaum
sesat dunia selatan itu. Sungguh tak pernah disangkanya bahwa Lam-sin yang terkenal sekali itu, adalah seorang
nenek tua renta, dan lebih tidak disangkanya lagi bahwa Lam-sin yang menolong Lian Hong, bahkan menjadi
gurunya.
"Hemm, Lian Hong, siapa menjadi penolongmu dan gurumu? Ketahuilah, aku tidak membunuhmu dan mengangkatmu
sebagai murid hanya untuk memancing datangnya dia ini. Hei, anak muda, apakah engkau yang bernama Cia Han
Tiong, putera dari Pendekar Lembah Naga di utara?"
Han Tiong yang sudah mendengar bahwa nenek ini adalah penolong dan guru Lian Hong, dan mengingat akan nama
besar nenek ini, cepat melepas tangan Lian Hong dan menjura dengan hormat. "Harap locianpwe maaafkan kalau
sejak tadi saya telah mengikuti locianpwe, karena saya tidak tahu dan merasa heran melihat Adik Lian Hong
berjalan bersama locianpwe. Perkenankanlah saya atas nama seluruh keluarga menghaturkan terima kasih kepada
locianpwe yang telah menyelamatkan Adik Lian Hong."
"Hemm, Cia Han Tiong, aku memancingmu memasuki tempat sunyi ini bukan untuk menerima terima kasihmu. Lian Hong
tidak ada artinya bagiku. Aku memang hendak mengajak bertanding, untuk melihat sampai di mana kebenaran berita
yang kudengar bahwa putera Pendekar Lembah Naga memiliki kepandaian yang hebat!"
"Ah, locianpwe, sedikit kemampuan saya mana dapat dibandingkan dengan kesaktian locianpwe? Harap locianpwe
tidak main-main dan biarlah saya mengaku kalah sebelum bertanding." Han Tiong yang merasa tidak enak untuk
melawan penolong Lian Hong menjura dan merendah. Akan tetapi sikap ini membuat nenek itu menggerakkan alisnya
yang putih dan mulutnya menyeringai dan mengejek, pandang matanya merendahkan.
"Kiranya putera Pendekar Lembah Naga hanyalah seorang pemuda pengecut yang hilang nyalinya begitu bertemu
dengan musuh yang pandai! Cia Han Tiong, engkau sudah bersikap gagah-gagahan ketika berhadapan dengan beberapa
orang anak buahku, apakah sekarang engkau mengaku takut berhadapan dengan aku?"
Han Tiong tersenyum. Dia tahu akan watak orang-orang golongan hitam yang selalu ingin menang, sombong, dan
mengagulkan diri. Dia tidak dapat mudah dibakar, karena memang pemuda ini sejak kecilnya sudah memiliki
pembawaan yang bijaksana.
, di sini tidak ada persoalan berani atau takut. Saya menghormati locianpwe sebagai seorang tua yang
berkedudukan tinggi. Apalagi locianpwe adalah penolong dari Adik Lian Hong dan juga sudah mengangkatnya sebagai
murid. Oleh karena itu, bagaimana saya berani kurang ajar melawan locianpwe? Pula, di antara kita tidak ada
urusan apa-apa, mengapa kita harus saling serang?"
"Hemm, begitukah? Lian Hong, ke sini engkau! Engkau sudah menjadi muridku, maka engkau harus taat padaku!"
"Tidak, subo. Teecu akan ikut Tiong-koko pulang!" jawab Lian Hong.
"Begitukah? Hendak kulihat apakah engkau akan dapat meninggalkan aku!" Tiba-tiba saja nenek itu menggerakkan
tangan dan tubuhnya sudah melayang ke depan, tangan itu hendak mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Lian Hong!
Gadis ini terkejut dan cepat mengelak dengan meloncat ke belakang, akan tetapi tangan yang bersarung hitam itu
terus mengejarnya.
"Plakk!"
Nenek Lam-sin tertolak ke belakang oleh tangkisan Han Tiong dan ia tersenyum mengejek.
"Hemm, katanya engkau tidak hendak melawanku!" tegurnya.
"Maaf, locianpwe, saya tidak melawan, hanya hendak melindungi Hong-moi."
"Bagus, kalau begitu, lindungilah kekasihmu itu. Kita bertanding untuk memperebutkan Lian Hong!" Setelah
berkata demikian, nenek itu menerjang dengan gerakan cepat sekali, menyerang Han Tiong dengan dahsyat.
"Plak, plak!" Dua kali mereka beradu lengan dan akibatnya, keduanya tertolak ke belakang, tanda bahwa tenaga
sin-kang mereka seimbang. Terpaksa tadi Han Tiong menangkis karena serangan lawan itu sungguh amat dahsyat,
merupakan pukulan-pukulan maut yang harus ditangkisnya.
"Begitu lebih baik!" kata nenek itu dan kini ia mulai benar-benar menyerang. Han Tiong maklum bahwa dia tidak
dapat menghindarkan diri dari pertandingan itu. Dia merasa tidak enak sekali. Bagaimanapun juga, nenek ini
telah menyelamatkan Lian Hong. Bagaimana mungkin dia dapat melukainya apalagi merobohkannya? Akan tetapi,
begitu nenek itu melakukan serangan bertubi-tubi, dia terkejut bukan main. Setiap pukulan nenek itu mengandung
sin-kang yang amat kuat dan memiliki kecepatan seperti kilat. Tahulah dia bahwa dia menghadapi lawan yang
tangguh sekali sehingga terpaksa Han Tiong harus mengeluarkan kepandaiannya. Dia telah mengerahkan tenaga
Thian-te Sin-ciang untuk melindungi seluruh tubuhnya dengan sin-kang ini, dan untuk mengimbangi kekuatan nenek
itu. Dan untuk membela diri, dia mainkan Thai-kek Sin-kun.
Akan tetapi, makin lama, gerakan nenek itu semakin cepat. Dan ternyatalah oleh Han Tiong bahwa nenek ini
memiliki kelebihan dalam hal gin-kang. Tubuhnya berkelebatan seperti pandai menghilang saja sehingga kalau saja
dia tidak memiliki gerakan yang mantap dan kokoh, tentu dia sudah kena terpukul. Nenek itu berkelebatan di
sekeliling dirinya menyerang dari semua jurusan dengan kecepatan yang hebat. Dan lebih lagi, nenek itu pandai
mainkan ilmu pukulan Bian-kun, yaitu kedua tangannya menggunakan sin-kang yang lemas, tangannya seperti kapas
saja lunaknya, akan tetapi di dalam kelunakan ini mengandung hawa sin-kang yang dapat menembus kekuatan lawan
sehingga beberapa kali tubuh Han Tiong tergetar! Thian-te Sin-ciang yang demikian kuatnya hampir dapat
ditembusi oleh tangan kapas itu!
Cepat Han Tiong mengubah gerakannya. Dia masih mainkan Thai-kek Sin-kun untuk menjaga diri, akan tetapi untuk
dapat mengurangi kegencaran serangan lawan, terpaksa dia balas menyerang. Bukan menyerang untuk merobohkan
lawan, melainkan menyerang untuk memaksa lawan membagi perhatian sehingga tidak terus-menerus menyerang saja
akan tetapi juga mempertahankan diri. Betapapun juga, sikap Han Tiong yang tidak ingin mengalahkan ini
merugikan dirinya sendiri. Lawannya bukan orang lemah. Sebaliknya malah. Belum pernah dia berhadapan dengan
seorang lawan setangguh ini. Andaikata dia membalas dan berusaha merobohkan lawan sekalipun, belum dapat
dipastikan dia akan menang, apalagi dalam waktu singkat. Kini, dia hanya mempertahankan dan membela diri, tentu
saja dia didesak terus dengan hebatnya!
"Plakk!" Sebuah tamparan mengenai pundak Han Tiong. Pemuda itu terhuyung dan cepat dia menggerakkan jari
tangannya, menahan desakan lawan dengan ilmu It-sin-ci.
"Ihhh...!" Nenek itu mendengus dan melompat ke belakang menghadapi tusukan sebuah jari tangan yang mengeluarkan
suara mendesing itu. Maklumlah ia bahwa totokan It-sin-ci (Satu Jari Sakti) itu amat berbahaya. Akan tetapi,
ternyata Han Tiong mengeluarkan It-sin-ci tadi hanya untuk menahan desakan belaka, dan tidak melanjutkan serangannya. Pundaknya yang kena tamparan itupun tidak terluka hebat.
Kini nenek itu menerjang lagi dengan lebih hebat. Iapun sudah berganti ilmu silat dan kedua tangannya yang
dibungkus sarung hitam itu membentuk cakar seperti cakar garuda dan tubuhnya melayang-layang seperti terbang.
Jelaslah bahwa ia mainkan ilmu yang mirip dengan serangan burung garuda. Kedua tangannya mencakar-cakar dan tubuhnya berloncatan sehingga serangan-serangannya itu datang dari atas.
Han Tiong mengandalkan ilmu yang didapatkan dari Kakek Yap Kun Liong, yaitu Keng-lun Tai-pun. Ilmu ini menambah
kekokohan dari semua gerakan silatnya, dan biarpun dia diserang secara bertubi-tubi, namun dengan kokoh kuat
dia dapat membela diri. Akan tetapi, tiba-tiba saja nenek itu menggerakkan kepalanya dan benda putih yang
mengeluarkan bau harum dan suara bercuitan menyambar ke arah kepala Han Tiong! Pemuda ini terkejut sekali,
membuang tubuh atas ke belakang membiarkan rambut itu menyambar lewat. Saking kagetnya, dia kurang waspada
sehingga sebuah tendangan mengenai dadanya, membuat dia terjengkang dan terbanting roboh. Akan tetapi Han Tiong
sudah meloncat bangun lagi. Dadanya yang terlindung tenaga Thian-te Sin-ciang tidak terluka, hanya terasa sesak
sedikit karena terguncang. Dia memandang kepada nenek itu. Kini rambut putih nenek itu terurai dan rambut itu
panjang sekali, sampai pinggulnya. Kiranya nenek ini pandai mainkan rambut sebagai senjata yang amat ampuh!
Han Tiong merasa serba salah. Mempertahankan diri saja, jelas dia akan celaka karena tingkat kepandaian lawan
ini amat hebatnya. Kalau melawan sungguh-sungguh, dia merasa tidak enak. Dan nenek itu sudah menyerang lagi.
Karena bingung, Han Tiong lalu mengeluarkan sebuah dari Ilmu Hok-mo Cap-sha-ciang. Tubuhnya menyeruduk ke
depan, memapaki serangan lawan, kedua tangannya mendorong dan mulutnya mengeluarkan bentakan nyaring. Kedua
tangannya itu bergerak memutar ketika mendorong dan terjadilah pertemuan tenaga yang sama-sama kuat.
"Desssss...!" Sekali ini, nenek yang tidak mengira akan hebatnya jurus itu, terpental dan terbanting roboh!
Namun ia sudah meloncat lagi dan dengan mata mencorong berkilat-kilat iapun meloncat dan menyerang sambil
memutar rambutnya sehingga nampak gulungan sinar putih.
Han Tiong menjadi gugup. Tadi dia sudah merasa menyesal telah merobohkan nenek itu dengan jurus dari Hok-mo
Cap-sha-ciang, yaitu ilmu silat simpanannya. Karena penyesalan ini, melihat nenek itu menyerang, dia menjadi
gugup, gerakannya terlambat dan kembali dadanya kena didorong telapak tangan nenek itu.
"Bukk!" dan sekali ini Han Tiong terbanting keras setelah terpelanting! Kembali Lian Hong menahan jeritnya dan
baru lega hatinya melihat Han Tiong meloncat bangun kembali sambil mengatur nafas.
"Hi-hi-hik, begini sajakah kehebatan putera Pendekar Lembah Naga yang tersohor itu? Hemm, sekarang aku akan
menghabiskan nyawamu, orang muda!" Dengan kedua tangan dipentang, nenek itu menyerbu dengan lompatan seperti
seekor harimau kelaparan.
"Desss...!" Tubuh nenek itu terpental dan ia terkejut sekali, berjungkir balik beberapa kali baru ia berdiri
tegak dan memandang kepada orang yang telah menangkisnya tadi. Kiranya, di situ telah muncul dua orang lain,
seorang pria gagah perkasa berusia empat puluh tahun lebih dan seorang wanita cantik dan gagah yang sebaya.
"Nenek tua bangka yang sombong, tidak tahu puteraku telah banyak mengalah!" kata laki-laki yang menangkis tadi.
"Ayah...! Ibu...!" Han Tiong berseru girang ketika mengenal dua orang itu sedangkan Lian Hong memandang dengan
jantung berdebar. Kiranya yang baru datang itu adalah Pendekar Lembah Naga, Cia Sin Liong bersama isterinya,
Bhe Bi Cu. Suami isteri ini merasa tidak enak hati ketika Han Tiong berangkat mencari Lian Hong, maka merekapun
segera meninggalkan Lembah Naga dan menyusul putera mereka. Ketika Sin Liong melihat puteranya membayangi nenek
yang melakukan perjalanan bersama Lian Hong keluar dari kota Heng-yang, diam-diam dia bersama isterinya ikut
membayangi dari jauh pula. Seperti juga Han Tiong, dia telah menyelidiki di Lok-yang. Di tempat inilah dia
mendengar bahwa penyerbuan itu dibantu oleh beberapa orang pengemis yang lihai, seperti pernah dia dengar dari
Thian Sin dahulu. Maka, pendekar ini lalu melakukan penyelidikan di antana para pengemis dan dia mendengar
bahwa para pangemis itu adalah anggauta-anggauta Bu-tek Kai-pang yang berpusat di kota Heng-yang. Di kota
itulah Cia Sin Liong melakukan penyelidikan dan di sini dia dapat melihat puteranya yang kebetulan sedang
membayangi Lian Hong bersama Nenek Lam-sin.
"Han Tiong, mengapa engkau begini lemah dan selalu mengalah?" Pendekar itu menegur puteranya karena sejak tadi
dia mengikuti pertandingan itu dan tahu bahwa puteranya selalu mengalah dan tidak mau balas menyerang dengan
sepenuhnya sehingga terkena pukulan lawan.
"Ayah, locianpwe ini adalah Locianpwe Lam-sin yang telah menyelamatkan Adik Lian Hong," jawab Han Tiong.
Sementara itu, Nenek Lam-sin telah kehilangan rasa kagetnya dan kini barulah dia tahu bahwa yang menangkisnya
itu adalah Pendekar Lembah Naga yang namanya pernah menggemparkan dunia kang-ouw dan yang sudah sering
didengarnya itu. Diam-diam ia merasa gentar juga. Kepandaian puteranya itu sudah hebat dan iapun tadi merasa
heran mengapa pemuda itu tidak melawannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang baru ia tahu bahwa sesungguhnya
pemuda itu belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan demikian berarti bahwa pemuda itu memang lihai
sekali, dan andaikata melawannya dengan sepenuh hati, belum tentu ia akan dapat menang. Kalau pemuda itu saja
sudah sedemikian lihainya, apalagi ayahnya dan ibunya ini.
"Aih, kiranya aku berhadapan dengan Pendekar Lembah Naga yang terkenal itu? Selamat datang dan selamat
berjumpa, Cia-taihiap. Kami sudah lama mendengar kebesaran namamu, dan memang kami ingin sekali berkenalan."
Nenek itu berkata dan kini ia tidak merasa rendah untuk mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Cia Sin
Liong! "Sesungguhnya, aku hanya ingin menguji kepandaian putera dari Pendekar Lembah Naga, dan kunjungan
taihiap sungguh merupakan hal yang amat menggirangkan hatiku."
"Huh, siapa sudi berkenalan dengan segala datuk kaum sesat?" Bhe Bi Cu berkata dengan suara menghina. Hati
wanita yang keras ini sudah marah ketika tadi melihat kesombongan nenek ini yang mendesak puteranya, apalagi
ketika mendengar ucapan suaminya betapa puteranya ini tadi sengaja mengalah.
Cia Sin Liong tidaklah segalak isterinya, akan tetapi tentu saja diapun tidak ingin berkenalan dengan seorang
datuk kaum sesat yang tadi dilihatnya menyerang puteranya dengan dahsyat dan dengan penuh nafsu membunuh. Maka
diapun membalas penghormatan itu dan berkata dengan suara dingin.
"Kami menyusul putera kami untuk mencari Lian Hong. Setelah kini kami bertemu dengan anak itu, kami tidak ingin
mengikat persahabatan dengan siapapun juga."
Melihat sikap yang begini angkuh dari Pendekar Lembah Naga, terdengar suara orang menggereng marah. Yang
menggereng marah itu adalah para pimpinan Bu-tek Kai-pang. Ada tiga orang di antara mereka yang dianggap
sebagai pimpinan. Jumlah para anggauta Bu-tek Kai-pang hanya tinggal dua puluh empat orang saja ketika
perkumpulan ini ditundukkan oleh Lam-sin. Dan di antara yang dua puluh empat itu, tiga orang kakek pengemis itu
merupakan pimpinan atau murid utama. Sebetulnya, dahulu, sebelum Nenek Lam-sin menguasai dunia selatan dan
menundukkan perkumpulan ini, membunuh ketuanya yang berjuluk Bu-tek Sin-kai (Pengemis Sakti Tanpa Tanding),
perkumpulan ini berjumlah benyak. Lam-sin muncul, membunuh banyak anggauta kai-pang, dan membunuh ketuanya.
Yang lain-lain, yaitu sisanya yang tinggal dua puluh empat orang, dipimpin oleh tiga orang kakek ini, takluk
dan menyerah. Melihat bahwa mereka dapat menjadi pembantu-pembantunya yang baik, nenek itu menerima mereka.
Bahkan nenek itu lalu memperbaharui kai-pang itu, mengadakan aturan-aturan dan bahkan mendidik mereka dengan
ilmu silat yang ampuh. Terutama sekali tiga orang ini telah digemblengnya sehingga kepandaian mereka maju
banyak sekali.
Dan semenjak dipimpin oleh Nenek Lam-sin, perkumpulan ini benar-benar menjadi "bu-tek" (tanpa tending). Para
pengemis inilah yang membuat nama Lam-sin terkenal tanpa Si Nenek itu turun tengan sendiri. Tiga orang pimpinan
pengemis itu rata-rata berusia enam puluh tahun, dan mereka bertiga adalah ahli-ahli mainkan tongkat akar bahar
yang berada di punggung mereka itu dengan Ilmu Tongkat Hok-mo-pang, yaitu ilmu tunggal yang diturunkan oleh
Lam-sin kepada mereka semua dan yang membuat mereka itu tak pernah dapat dikalahkan lawan.
Para pengemis ini amat taat dan takut kepada ketua mereka, yang mereka tahu amat sakti. Juga mereka itu amat
mencinta Lam-sin, karena sejak ada nenek inilah nama dan derajat mereka terangkat dan kehidupan mereka menjadi
lebih maju dan makmur. Maka, tadi ketika mereka menerima isyarat dari ketua mereka, mereka lalu mengadakan
pencegatan dan pengepungan Cia Han Tiong akan tetapi tidak berani turun tangan karena belum menerima perintah
ketua mereka. Ketika ketua mereka bertanding, mereka hanya nonton dengan keyakinan penuh bahwa ketua mereka
tentu akan dapat mengalahkan pemuda lihai itu. Kini, melihat munculnya Pendekar Lembah Naga, dan melihat sikap
para keluarga Pendekar Lembah Naga itu demikian angkuh, merendahkan ketua mereka yang sudah bersikap manis,
tiga orang pimpinan pengemis itu menjadi marah sekali. Mereka menggereng untuk menarik perhatian ketua mereka
dan ketika Nenek Lam-sin memandang kepada mereka, seorang di antara mereka memberi isyarat dengan tangan minta
ijin untuk menyerang pendekar itu. Lam-sin tersenyum dan mengangguk sedikit, hampir tidak kentara.
"Cia-taihiap, kami tiga orang pimpinan Bu-tek Kai-pang minta petunjukmu!" tiga orang itu berkata dan meloncat
ke depan pendekar itu sambil mencabut senjata masing-masing, yaitu tongkat akar bahar hitam yang
melingkar-lingkar seperti tubuh ular itu.
Bhe Bi Cu hendak maju dengan muka merah, akan tetapi suaminya menahannya dan memegang lengannya, lalu pendekar
ini melangkah maju menghadapi tiga orang kakek itu. "Kami datang bukan untuk mengadu ilmu."
"Pangcu kami telah menerima penghinaan, Pangcu boleh jadi berhati lapang, akan tetapi kami tidak dapat
mendiamkannya begitu saja dan harap taihiap suka membuktikan bahwa taihiap pantas bersikap angkuh terhadap
Pangcu kami."
"Kalau kalian penasaran, majulah!" kata Cia Sin Liong yang masih berdiri tegak dan bersikap dingin. Keadaan
menjadi tegang. Bhe Bi Cu, Cia Han Tiong dan Lian Hong memandang dengan penuh perhatian, sedangkan Nenek
Lam-sin juga memandang dengan penuh perhatian. Sepasang mata nenek itu mencorong dan bibirnya yang keriputan
menahan senyum. Tiga orang pimpinan pengemis itu saling pandang sejenak, kemudian mereka mengangguk dan ada
isyarat pada pandang mata mereka. Memang mereka saling memberi isyarat untuk menyerang berbareng. Mereka itu
tentu saja sudah mendengar tentang nama besar Pendekar Lembah Naga, maka mereka berpikir hanya dengan
penggabungan tenaga saja mereka akan dapat menandingi pendekar ini. Tiba-tiba mereka membentak dengan suara
gerengan yang mengandung khi-kang sehingga tempat itu tergetar dan bagaikan tiga ekor naga, mereka sudah
menerjang dari tiga jurusan, menggunakan tongkat akar bahar mereka untuk menghantam ke bagian tubuh yang
berbahaya dari pendekar itu.
Pendekar Lembah Naga menghadapi serangan tiga orang itu tanpa memasang kuda-kuda melainkan berdiri tegak saja
dan melihat betapa seorang diantara lawan yang menyerang dari kiri menusukkan tongkatnya ke arah lambung,
pendekar ini miringkan tubuhnya dan membiarkan dua tongkat lain yang memukul ke arah leher dan dadanya, juga
membiarkan tongkat yang tadinya menusuk itu kini menghantam perutnya. Terdengar suara bak-bik-buk ketika
tongkat-tongkat itu menghantam tubuh pendekar ini, disusul suara teriakan-teriakan tiga orang yang memukul itu
karena mereka merasa betapa tongkat mereka melekat pada tubuh Si Pendekar dan tenaga sin-kang mereka tersedot
keluar dengan kuat sekali!
"Thi-khi-i-beng! Simpan tenaga kalian...!" Terdengar suara merdu Nenek Lam-sin, akan tetapi sebelum tiga orang
kakek pengemis itu sadar akan hal ini dan melepaskan pengerahan sin-kang, tiba-tiba tubuh mereka terangkat dan
terlempar ke arah ketua mereka seperti daun-daun kering tertiup angin! Lam-sin mengangkat tangan menahan mereka
hingga mereka bertiga itu dapat mendarat dengan lunak, tidak sampai terbanting keras. Muka mereka menjadi pucat
sekali. Dalam segebrakan saja mereka telah dikalahkan oleh pendekar itu yang kalau menghendaki tadi tentu sudah
dapat membunuh mereka. Karena inilah mereka menjadi ragu-ragu dan gentar hanya memandang kepada ketua mereka
yang memberi isyarat dengan pandang mata agar mereka mundur.
Biarpun selama ini Cia Sin Liong telah dapat menguasai diri dan jarang dia dapat diserang amarah, sekali ini
mukanya agak merah dan dia berkata kepada nenek itu, "Lam-sin, kami datang bukan untuk mencari permusuhan. Akan
teapi bukan berarti bahwa kami takut. Kalau engkau hendak mencari gara-gara dan penyakit, majulah!"
Akan tetapi Nenek Lam-sin bukanlah orang bodoh. Ia tahu bahwa kalau ia maju, maka hal itu berarti ia
benar-benar mencari penyakit! Pendekar itu amat tinggi ilmunya, dan biarpun belum tentu ia akan kalah namun di
situ masih ada isteri pendekar itu yang ia sangka tentu juga amat lihai, belum lagi Cia Han Tiong yang sudah ia
ketahui kelihaiannya. Tidak, kalau ia maju, biarpun ia akan dibantu oleh dua puluh empat orang pembantunya, ia
benar-benar mencari penyakit dan akan rugi sendiri. Lebib baik bersikap baik terhadap keluarga selihai ini,
setidaknya, untuk saat ini di waktu ia berada di fihak yang lebih lemah.
"Tidak, Cia-taihiap, akupun tidak ingin bermusuhan dengan keluarga Lembah Naga. Maafkan mereka ini," katanya
sambil menjura.
"Kalau begitu, kami hendak pergi sekarang!" kata Cia Sin Liong yang memberi isyarat kepada isterinya, puteranya
dan juga Lian Hong untuk pergi dari tempat itu. Lian Hong memandang kepada nenek itu dan hatinya merasa kasihan
juga. Betapapun juga, nenek itu pernah menyelamatkannya dari malapetaka yang lebih hebat daripada maut, dan
melihat betapa nenek itu sekarang terpaksa mengalah dan agaknya tidak berani, ia merasa kasihan.
"Locianpwe, terima kasih atas segala kebaikan locianpwe dan maafkan saya," katanya, kini tidak lagi menyebut subo.
Nenek itu menarik napas panjang. "Lian Hong, nasibmu baik sekali. Engkau akan hidup beruntung bersama mereka.
Pergilah," katanya dan suaranya bernada sedih.
Cia Sin Liong mengajak keluarganya pergi dan barulah di tengah perjalanan, keluarganya mendengar penuturan Lian
Hong tentang pertolongan yang diberikan oleh nenek itu yang membunuh anggauta Bu-tek Kai-pang sendiri.
Mendengar ini, Cia Sin Liong menghela napas panjang.
"Nenek itu aneh sekali. Kepandaiannya cukup hebat dan tidak berselisih banyak dengan kemampuanku, dan
gerak-geriknya seperti bukan penjahat, akan tetapi mengapa ia menjadi datuk kaum sesat?"
Pendekar ini dan sekeluarganya tidak tahu betapa sepeninggalnya mereka, nenek itu lalu memberi peringatan
kepada para pengikutnya agar mulai saat itu, para pengikutnya tidak melibatkan diri dalam permusuhan dengan
orang-orang kang-ouw yang baru. "Kini banyak orang pandai berkeliaran, kalau bertemu dengan muka baru, jangan
kalian sembarangan turun tangan melainkan beritahu kepadaku. Terutama sekali kalau bertemu dengan orang yang
bemama Ceng Thian Sin, putera Pangeran Ceng Han Houw itu!" Kemudian, nenek itu pulang ke rumahnya dan di dalam
kamarnya, nenek ini duduk termenung dan menangis! Teringat akan sikap keluarga Cia yang amat angkuh dan
memandang rendah kepadanya, ia merasa penasaran dan juga berduka.
Sementara itu, Cia Sin Liong hendak mengajak isteri, putera dan calon mantunya pulang ke Lembah Naga. Akan
tetapi, di tengah jalan, Han Tiong tidak mau melanjutkan perjalanan. Dari percakapan di sepanjang perjalanan
itu dia tahu akan niat hati orang tuanya, yaitu dia akan segera dinikahkan dengan Lian Hong. Tentu saja hal ini
adalah sesuatu yang amat diharapkan, akan tetapi pada saat itu dia belum ingin menikah lebih dulu sebelum dia
berhasil menemukan Thian Sin. Dia merasa amat tidak enak untuk menikah dengan gadis yang dia tahu juga dicinta
oleh Thian Sin itu, tanpa kehadiran adiknya yang amat disayangnya itu. Dia akan enak-enak menikah dan
berbahagia, akan tetapi bagaimana nasib Thian Sin dia masih belum tahu.
"Ayah dan ibu harap pulang dulu dan biar Hong-moi ikut bersama ayah dan ibu. Aku sendiri belum akan pulang
kalau belum bertemu dengan Sin-te. Aku harus mencarinya sampai dapat. Aku mengkhawatirkan dia, ayah!"
"Dia bukan anak kecil dan dia sudah memiliki bekal kepandaian yang cukup, perlu apa mengkhawatirkan dia?"
"Ayahmu benar, Tiong-ji. Engkau harus pulang, kalau tidak, tentu Lian Hong akan semakin khawatir dan berduka.
Kita sudah berkumpul sekeluarga sekarang, dan kita harus dapat menghibur hati Lian Hong. Mari ikut pulang dan
kita segera melangsungkan pernikahan kalian."
, ayah dan ibu. Bagaimana mungkin aku bersenang hati kalau Sin-te masih belum kuketahui bagaimam nasibnya.
Berilah waktu kepadaku, aku akan mencarinya sampai dapat, baru aku akan pulang bersamanya dan baru kita bicara
tentang pernikahan. Aku mohon kepada ayah dan ibu untuk mengijinkan aku pergi."
isteri itu saling pandang. Mereka tahu akan isi hati putera mereka. Mereka tahu betapa besar kasih sayang
putera mereka ini terhadap adik angkatnya. Dan diam-diam merekapun bangga akan cinta dan setia hati putera
mereka ini. Akhirnya Bhe Bi Cu bertanya kepada Lian Hong dengan suara halus, "Ah, Han Tiong memang keras hati.
Bagaimana pendapatmu, Lian Hong?"
Gadis itu sejak tadi menundukkan mukanya saja. Ia teringat akan Thian Sin dan terbayanglah semua peristiwa
dalam taman di waktu pemuda itu menyatakan cinta kasih kepadanya. Dan betapapun juga, ia merasa girang
mendengar sikap tunangannya yang amat menyayang adiknya itu, yang tidak hanya memikirkan kesenangan dirinya
sendiri. Oleh karena itu, dengan suara tegas iapun menjawab, "Saya kira pendapat Tiong-koko amatlah bijaksana
dan saya... dalam keadaan berkabung ini... saya... belum dapat berpikir tentang pernikahan..."
Suami isteri itu menarik napas panjang dan merasa kasihan kepada gadis yang dalam waktu seketika saja telah
kehilangan segala-galanya, orang tuanya, rumah dan harta miliknya.
"Baiklah, Han Tiong. Engkau boleh pergi mencari adikmu. Kami bertiga akan menanti kembalimu ke Lembah Naga,
mudah-mudahan bersama dengan adikmu."
berpisahlah Han Tiong dari orang tua dan tunangannya. Dia pergi mencari adiknya, sedangkan mereka bertiga
kembali ke Lembah Naga.
***
kembali mengikuti perjalanan Ceng Thian Sin. Hati pemuda ini merasa besar setelah dia berhasil mengalahkan
Pak-san-kui dan kemudian See-thian-ong, walaupun kemenangannya itu hanyalah kemenangan yang tipis saja dan yang
diakhirinya dengan melarikan diri ketika hendak dikeroyok. Belum tiba waktunya bagi dia untuk benar-benar
mengalahkan dan membasmi penjahat-penjahat itu, datuk-datuk kaum sesat itu. Akan tiba saatnya dia membasmi
seluruh penjahat dari permukaan bumi ini. Yaitu kalau ilmunya sudah sempurna sehingga dia menjadi jagoan tanpa
tanding atau jagoan nomor satu di dunia ini, seperti yang dicita-citakan ayahnya dahulu.
Dengan tekad yang bulat untuk menyempurnakan ilmu kepandaiannya, pergilah Thian Sin ke Pegunungan Himalaya. Dia
pernah mendengar dari mendiang ayahnya dahulu bahwa mendiang ayahnya mempelajari ilmu-ilmu yang ditulisnya
dalam kitab-kitab itu dari seorang manusia dewa yang kabarnya bertempat tinggal di Himalaya, akan tetapi yang
belum pernah ada orang yang menjumpainya. Ayahnya sendiri belum pernah bertemu langsung dengan maha guru yang
disebut Bu Beng Hud-couw itu, melainkan bertemu dengan badan halusnya atau bayangannya saja. Dia harus dapat
bertemu dengan Bu Beng Hud-couw, atau setidaknya menghubungi badan halusnya. Dan untuk itu, dia harus pergi ke
Himalaya, untuk menyempurnakan ilmu-ilmu peninggalan ayahnya dan menemui pertapa-pertapa sakti yang dapat
memberi petunjuk selanjutnya kepadanya.
Setelah melakukan perjalanan merantau di daerah Pegunungan Himalaya dan menghadapi bahaya-bahaya maut, bukan
hanya bertemu dengan binatang-binatang buas, akan tetapi juga terancam kelaparan dan kedinginan yang amat
hebat, akhirnya pada suatu hari Thian Sin diserang angin badai yang amat hebat sehingga dia amat tergesa-gesa
mencari tempat perlindungan dan dari bawah, dilihatnya sebuah mulut guha di atas puncak. Dengan susah payah,
melawan angin yang seolah-olah hendak menerbangkannya ke jurang, angin besar yang membuat pohon-pohon raksasa
tumbang, Thian Sin berhasil mencapai guha itu dan setelah dia berada di dalam guha, maka selamatlah dia dari
serangan angin yang masih menghembus lewat di depan mulut guha sambil mengeluarkan suara mengerikan.
Lewat kurang lebih satu jam, setelah angin badai itu mereda, barulah Thian Sin memperhatikan guha yang telah
menyelamatkannya itu. Guha itu cukup lebar, ada empat meter lebarnya, dan dalamnya tidak kurang dari lima
meter. Dia masuk ke dalam dan ternyata guha itu membelok ke kiri. Ketika dia masuk terus ke kiri, di sudut guha
itu, dalam cuaca yang remang-remang, nampaklah olehnya sesosok tubuh yang kurus kering sedang duduk bersila
dengan kedua kaki di atas kedua paha dan kedua tangan terletak di atas lutut. Dia terkejut dan mendekat. Orang
itu tidak bernapas lagi! Ketika dia menyentuh lengan yang hanya tulang terbungkus kulit itu, terasa dingin
seperti biasa tubuh mayat! Orang ini telah mati! Akan tetapi, kalau sudah mati, kenapa tidak roboh dan masih
dapat duduk bersila dengan punggung demikian lurus tegak? Dan kulit lengan itupun masih lemas, belum kaku,
belum beku. Cepat Thian Sin meraba pergelangan tangan orang itu. Urat nadinya tidak berdetik lagi. Dia masih
penasaran dan meraba dada sambil mengerahkan semua perasaan halusnya. Jantung orang itu masih bekerja, walaupun
amat lemah dan lambat! Orang ini belum mati, sungguhpun tiga perempat mati.
Thian Sin segera mengambil guci kecil berisi arak yang terdapat dalam bungkusan pakaian dan bekalnya. Dibukanya
tutup guci dan ditempelkannya bibir guci arak ke bibir kakek itu, dan dengan lembut diangkatnya dagu orang itu
agar menengadah. Mula-mula bibir itu mengeras dan seperti melawan, akan tetapi ketika tetes pertama dari arak
itu mengenal bibir, tiba-tiba saja bibir itu menyedot dan... guci arak itu menempel pada bibir dan isinya
seperti disedot oleh tenaga yang amat kuat sehingga sebentar saja isinyapun habis, semua memasuki perut orang
itu melalui mulutnya! Thian Sin terkejut dan maklumlah dia bahwa yang disangka mayat seperempat hidup ini
ternyata adalah seorang yang pandai! Maka setelah menurunkan guci kosongnya, diapun lalu menjatuhkan diri
berlutut di depan kakek itu.
"Harap Locianowe suka memafkan teecu atas kelancangan teecu," katanya menghormat.
Kakek itu berdahak lalu terbatuk-batuk kecil dan tubuhnya bergerak. Matanya terbuka dan sepasang mata yang
mencorong memandang ke arah Thian Sin, lalu terdengar suaranya yang pelan dan kaku, suara orang yang sudah
puluhan tahun tidak pernah bicara, "Aih, engkau telah menggagalkan aku memasuki keadaan abadi. Ah, bukan
salahmu, melainkan salahnya badan ini yang tidak dapat menahan bau arak. Ha-ha-ha-ha, agaknya inilah karmaku...
hemmm..."
Hampir semua orang bicara tentang karma. Segala sesuatu yang terjadi menimpa dirinya, yang terjadi berlawanan
dengan yang diharapkannya, lalu dihiburnya dengan pendapat bahwa itu sudah menjadi karmanya atau sudah
nasibnya. Apakah sesungguhnya yang dimaksudkan dengan karma itu? Menurut penjelasan kitab-kitab tulisan orang
jaman dahulu, karma adalah hukum sebab akibat. Segala akibat mempunyai sebabnya, dan segala macam perbuatan
manusia sudah pasti akan mendatangkan akibat, cepat atau lambat. Itulah hukum karma. Semua perbuatan baik tentu
akan berakibat baik, perbuatan jahat akan berakibat jahat bagi yang melakukannya. Atau dengan kata lain, siapa
menanam dia akan menuai dan akan makan buah daripada hasil tanamannya sendiri.
Akan tetapi sungguh sayang. Seperti juga segala macam pelajaran kebatinan atau filsafat lainnya di dunia ini,
pengetahuan tentang hukum karma inipun hanya menjadi pengetahuan mati belaka, menjadi teori yang hanya dipakai
untuk bahan perdebatan dan membanggakan pengetahuan saja. Orang sudah tahu bahwa menanam pohon perbuatan jahat
akan memetik buah yang buruk, namun orang tetap saja setiap saat menanam pohon perhuatan yang jahat-jahat! Jadi
jelas bahwa pengetahuan mati tidak ada gunanya. Dunia sudah penuh dengan segala ajaran ayat-ayat yang suci dan
yang menuntun manusia ke arah jalan baik, namun manusia tetap saja bergelimang kejahatan.
Karma adalah mata rantai yang tiada habisnya. Sebuah sebab menimbulkan akibat, dan akibat ini berubah menjadi
sebab yang mendatangkan akibat lain lagi. Demikian seterusnya dan kita terbelenggu oleh rantai karma atau sebab
akibat... Putusnya rantai ini adalah pada kita sendiri! Seseorang menghina saya. Itu dapat saja menjadi sebab
yang mengakibatkan saya marah dan memakinya. Akibat ini, yaitu saya marah dan memakinya, dapat menjadi sebab
lain yang mendatangkan akibat lain lagi, yaitu si orang itu marah-marah dan mungkin memukul saya. Dan mulai
terjadilah lingkaran yang tiada putusnya dari hukum karma itu, rantai yang sambung-menyambung dan mengikat
kita. Akan tetapi, kalau orang itu menghina saya dan saya hanya mengamati saja penuh perhatian, penuh
kewaspadaan, tidak terjebak dalam permainan si aku, dan tidak menimbulkan reaksi, maka mata rantai itupun pytus
dan tidak berkelanjutan. Jadi, kesadaran setiap saat, pengamatan setiap saat terhadap diri sendiri dan terhadap
segala sesuatu yang terjadi setiap saat di sekeliling kita, inilah yang penting. Bukan pengetahuan tentang
hukum karma lalu bersandar kepadanya.
Pengetahuan tentang memetik buah dari perbuatan sendiri inipun dapat menyesatkan. Dapat mendorong kita untuk
melakukan perbuatan baik dengan pamrih agar kelak dapat memetik buahnya yang baik atau lezat. Kalau sudah
begini, kalau perbuatan yang kita namakan perbuatan baik itu dilakukan dengan sengaja agar kelak memperoleh
hasil yang menyenangkan, apakah perbuatan itu dapat disebut perbuatan baik lagi? Bukankah itu hanyalah
perbuatan palsu, hanya merupakan suatu usaha untuk memetik sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan? Tidak
ada perbuatan baik yang dilakukan dengan sengaja, dengan kesadaran bahwa yang dilakukannnya itu adalah baik.
Hanya sinar cinta kasih sajalah yang melahirkan perbuatan baik, perbuatan yang wajar, tidak disengaja untuk
berbaik-baik, melainkan perbuatan yang didasari oleh cinta kasih. Dan cinta kasih ini selalu menimbulkan rasa
belas kasih kepada sesama. Di mana ada cinta kasih, di situ semua perbuatan yang dilakukan pasti bersih
daripada keinginan untuk memperoleh kesenangan bagi diri sendiri, baik kesenangan lahir maupun kesenangan
batin.
"Locianpwe, teecu mohon petunjuk..." kata Thian Sin dengan girang karena dia merasa yakin telah bertemu dengan
orang pandai. "Teecu Ceng Thian Sin merasa berbahagia sekali dapat bertemu dengan locianpwe di sini, harap
locianpwe sudi memperkenalkan diri."
Kakek itu menarik napas panjang melonjorkan kedua kakinya yang agaknya terasa pegal-pegal. "Ah, apa artinya
nama? Kalau orang-orang macam aku masih mencari nama, perlu apa mengasingkan diri di tempat seperti ini. Orang
muda, engkau sudah menyeret aku kembali ke dunia penuh perasaan ini, dan aku merasa lapar sekali, perutku minta
diisi. Apa engkau membawa makanan untukku?"
"Ah, ada, lociahpwe." Thian Sin cepat membuka bungkusannya dan mengeluarkan roti kering yang dibawanya bersama
daging kering. Kakek itu segera menyambar roti dan daging kering lalu makan dengan lahapnya, dipandang oleh
Thian Sin yang merasa kagum karena kakek itu dapat menghabiskan seperempat potong saja. Diapun menyerahkan guci
air yang diminum oleh kakek itu dengan lahap. Setelah kenyang, baru kakek itu bicara.
"Kedatanganmu yang tiba-tiba ini mendatangkan dua hal bagiku, orang muda. Pertama, engkau mendatangkan
kehidupan lagi bagi tubuh yang hampir mati ini, dan ke dua, engkau menarik kembali semangatku dari alam yang
amat nikmat. Akan tetapi biarlah, memang agaknya aku masih harus bertahan beberapa lama lagi. Apa maksudmu,
seorang pemuda remaja seperti engkau datang ke tempat sunyi seperti ini?"
"Locianpwe, terus terang saja, teecu merantau ke Pegunungan Himalaya ini untuk mematangkan ilmu, dan selain
mencari guru-guru yang pandai, juga teecu ingin sekali bertemu dengan seorang locianpwe yang berjuluk Bu Beng
Hud-couw."
Kakek itu tertawa. "Bu Beng Hud-couw? Ha-ha, akupun bernama Bu Beng, dan entah ada berapa ribu pertama di
daerah ini menggunakan nama Bu Beng. Orang-orang macam kita sudah tidak mengenal nama, maka disebut Bu Beng
(Tanpa Nama)."
Mendengar ini, Thian Sin mengerutkan alisnya dan merasa kecewa, juga penasaran. "Akan tetapi, locianpwe, yang
disebut Locianpwe Bu Beng Hud-couw itu benar ada, beliau adalah guru dari mendiang ayah teecu, bahkan teecu
telah mempelajari ilmu-ilmu ciptaan beliau. Teecu ingin berjumpa dan menghadap beliau untuk memperoleh
penjelasan tentang ilmu-ilmu itu."
"Oho, sungguh menarik. Coba kauceritakan lebih jelas lagi, barangkali aku akan dapat menolongmu."
Mendengar ini, dengan hati girang Thian Sin lalu bercerita tentang Bu Beng Hud-couw seperti yang pernah dia
dengar dari ayahnya, dan tentang ilmu-ilmu yang diwariskannya. Kakek itu mengagguk-angguk, lalu berkata,
"Tentang ilmu silat, aku orang tua tidak tahu banyak. Akan tetapi tentang kemunculannya seperti yang dialami
oleh mendiang ayahmu, ah, hal itu mudah saja. Setiap orangpun dapat saja mengalaminya kalau memang kemauannya
cukup keras."
"Locianpwe, kalau begitu teecu mohon petunjuk agar teecu dapat bertemu dengan Sukong."
Kakek itu tertawa lagi dan nampak betapa mulutnya sudah tidak punya gigi sebuahpun, akan tetapi tadi dia masih
mampu makan roti dan daging kering! "Mudah saja... ha-ha, memang engkau berjodoh denganku, orang muda. Aku bisa
mengajarimu bagaimana agar engkau dapat memanggil yang bernama Bu Beng Hud-couw itu! Tapi, untuk apa engkau
hendak memanggilnya?"
"Untuk minta penjelasan tentang ilmu-ilmu yang diciptakannya dan yang sedang teecu pelajari."
"Apakah engkau tidak dapat mempelajarinya dengan baik?"
"Teecu sudah mempelajarinya, dan teecu kira sudah benar, hanya teecu belum puas kalau belum memperoleh petunjuk
langsung dari beliau, seperti yang pernah dialami oleh mendiang ayah teecu."
"Bagus, bagus! Mudah saja, ha-ha-ha, mudah saja." Dia berhenti sejenak, lalu bertanya lagi, "Berapa usia Bu
Beng Hud-couw itu?"
"Entahlah, menurut ayah, beliau adalah manusia dewa yang tak dapat mati, usianya tentu sudah tiga ratus tahun
lebih."
Kakek itu tertawa geli. "Mana ada manusia yang tidak bisa mati? Dewa sekalipun bisa mati! Tapi tidak
mengapalah. Nah, mulai sekarang, engkau boleh menggunakan bagian depan guha ini, bersamadhi dan mengerahkan
seluruh perhatianmu, memusatkan kepada bayangan Bu Beng Hud-couw, dan mengulangi mantra, seperti yang akan
kuajarkan kepadamu."
"Tapi teecu belum pernah melihatnya, bagaimana dapat membayangkannya?"
"Bodoh, siapa pernah melihatnya? Bayangkan saja seorang kakek yang sepantasnya berusia tiga ratus tahun dan
sepatutnya disebut Bu Beng Hud-couw, tentu dia akan muncul."
Demikianlah, mulai saat itu, Thian Sin bertapa di dalam gua di puncak, menerima petunjuk dari kakek tanpa nama
yang kurus kering itu. Bersamadhi dengan tekunnya, mencurahkan segenap perhatian, ditujukan kepada banyagan
seorang kakek yang sepatutnya menjadi Bu Beng Hud-couw, dan bibirnya terus sampai ke hatinya, membisikkan
mantram terus-menerus, diulang-ulang.
Mantra adalah pengulangan kata-kata yang dianggap suci atau yang dianggap mengandung arti yang mendalam. Dan
suara yang diulang-ulang ini memang mengandung pengaruh yang amat hebat bagi batin manusia. Setiap orang dapat
membuktikannya sendiri pengulangan suara yang terus-menerus, apalagi pengulangan kata-kata yang dianggap suci,
mendatangkan pengaruh yang amat hebat, yang dapat membius dan melumpuhkan batin, membuat batin menjadi hening,
dan mempunyai daya kekuatan yang menyihir diri sendiri. Dalam keadaan hening seperti ini, seluruh perhatian
Thian Sin diarahkan kepada bayangan seorang kakek yang diharap-harapkan. Seperti yang pernah dialami oleh
mendiang ayahnya, Ceng Han Houw, dua puluh tahun yang lalu, kini Thian Sin juga dapat "bertemu" dengan seorang
kakek yang dianggapnya sebagai Bu Beng Hud-couw, yang memberi petunjuk kepadanya dalam mempelajari ilmu-ilmu
Hok-liong Sin-ciang dan Hok-te Sin-kun, juga samadhi dengan jungkir balik.
Selama enam bulan Thian Sin menggembleng diri di dalam guha itu, bukan hanya menyempurnakan latihannya atas
ilmu-ilmu peninggalan ayah kandungnya, akan tetapi juga melatih diri dengan ilmu-ilmu yang pernah dilihatnya
dari pengalamannya ketika melawan Pak-san-kui dan See-thian-ong. Di samping ini, diapun menerima petunjuk dalam
menghimpun kekuatan sihir oleh kakek penghuni gua itu yang merasa suka kepada Thian Sin yang pandai mengambil
hati.
Enam bulan lewat dengan amat cepatnya dan pada suatu pagi, Thian Sin berpamit dari kakek pertapa yang tidak
dikenal namanya itu, meninggalkan guha turun dari puncak. Akan tetapi, kalau orang melihatnya enam bulan yang
lalu dan membandingkannya dengan keadaannya pada pagi hari ini, orang itu tentu akan terheran-heran. Thian Sin
yang menuruni puncak di pagi hari ini sungguh jauh berbeda dengan Thian Sin enam bulan yang lalu. Memang dia
masih tampan sekali, masih rapi pakaiannya, masih gagah aikapnya. Akan tetapi ada perbedaan pada pandang
matanya yang mencorong itu, ada sesuatu yang menyeramkan dan aneh pada pandang matanya dan ada sesuatu yang
berbeda pada mulutnya yang selalu tersenyum, karena senyumnya itu bukan senyum yang hangat, melainkan senyum
dingin, senyum seperti orang memandang rendah atau mengejek. Gerak-geriknya lebih halus daripada enam bulan
yang lalu, sikapnya lebih tenang dan matang, kini penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Dan ketika dia
menuruni puncak itu, larinya cepat seperti terbang saja!
Tujuan pertama adalah mengunjungi neneknya, yaitu Sang Ratu Khamila, ibu kandung dari ayahnya. Paman dari
ayahnya, yaitu yang kini menjadi raja, Raja Agahai, adalah seorang yang bertanggung jawab atas kematian ayah
bundanya. Raja Agahai adalah seorang di antara musuh-musuh besarnya yang harus dibalasnya lebih dulu! Maka,
tanpa ragu-ragu lagi berangkatlah Thian Sin menuju ke daerah di sebelah utara Tembok Besar itu. Dia tidak mau
melewati Lembah Naga, melainkan mengambil jalan memutar dari barat, melalui Propinsi Tibet, Ching-hai dan
Kan-su. Daerah yang amat luas, melalui banyak padang pasir dan pegunungan, hutan-hutan lebat. Perjalanan yang
amat jauh dan sukar, namun ditempuhnya dengan seenaknya saja.
Di manapun dia berada, setiap kali bertemu dengan penjahat-penjahat yang melakukan perbuatan jahat, Thian Sin
tidak pernah tinggal diam. Dia tentu turun tangan dan memberi hajaran yang amat keras, bahkan amat kejam kepada
para penjahat. Dia menyiksa, membikin cacad, membunuh secara yang amat kejam dan mengerikan kepada
penjahat-penjahat yang ditemukannya dalam perjalanannya. Karena itu, maka sebentar saja namanya menjadi amat
terkenal sekali dan mulai muncullah julukan Pendekar Sadis! Dan Thian Sin memang pantas disebut Pendekar Sadis.
Di luarnya, dia kelihatan sebagai seorang pelajar yang halus dan sopan santun, juga ramah-tamah gerak-gerik dan
tutur- sapanya, amat tampan wajahnya. Juga suara suling yang ditiupnya amat halus dan merdu, mudah menggugurkan
hati gadis yang manapun juga. Akan tetapi, kalau dia sudah turun tangan terhadap penjahat, celakalah penjahat
itu, karena penjahat itu akan mengalami malapetaka mengerikan, kalau tidak mati, setidaknya tentu cacad dan
tersiksa hebat!
Pada suatu hari, tibalah Thian Sin di kota Si-ning, yaitu kota besar di Propinsi Ching-hai, setelah sepekan
lamanya dia berpesiar di Telaga Ching-hai atau yang juga disebut Telaga Koko Nor yang amat luas dan indah. Di
telaga itu, ketika dia pesiar sepekan lamanya, diapun menghajar banyak penjahat sehingga namanya menjadi
semakin terkenal. Bahkan ketika dia melanjutkan perjalanan ke Si-ning, berita tentang nama Pendekar Sadis sudah
mendahuluinya dan para penjahat dan bahkan para orang kang-ouw di daerah Si-ning sudah mendengarnya belaka dan
nama itu sudah menimbulkan kegemparan.
Dalam usahanya menentang para penjahat, memang Thian Sin tidak mau berlaku setengah-setengah, juga dia tidak
perlu menyembunyikan diri, sungguhpun dia jarang mau memperkenalkan nama aslinya. Pada pagi hari itu, setelah
memperoleh sebuah kamar di rumah penginapan di kota Si-ning, Thian Sin lalu keluar berjalan-jalan. Seorang
pemuda tampan seperti seorang siucai yang lemah lembut dan sopan. Takkan ada yang mengira bahwa pemuda tampan
ini adalah Si Pendekar Sadis yang namanya membuat semua penjahat panas dingin dan juga merah mukanya saking
marah dan dendamnya.
Ketika dia berjalan melalui sebuah gedung po-koan (bandar judi) di mana diadakan perjudian, ada sesuatu yang
menarik hatinya dan membuatnya menahan langkahnya, kini melangkah perlahan-lahan dan memandang penuh perhatian.
Biasanya, Thian Sin tidak pernah mempedulikan rumah-rumah perjudian seperti itu. Dia tahu bahwa bandar-bandar
judi adalah orang-orang yang suka bermain curang, menipu uang para penjudi. Akan tetapi dia tidak peduli karena
kalau ada orang menjadi korban judi yang curang, maka hal itu adalah kesalahan si orang itu sendiri. Sekarang,
dia tertarik karena melihat seorang kakek yang mukanya pucat dan wajahnya membayangkan kegelisahan besar,
setengah memaksa dan menarik-narik lengan seorang gadis cilik memasuki po-koan itu. Gadis itu usianya paling
banyak lima belas tahun, berwajah manis akan tetapi kelihatan ketakutan dan agaknya hendak menolak diajak
masuk. Akan tetapi kakek itu membujuk dan membentaknya, dan dari percakapan mereka, Thian Sin dapat mendengar
bahwa kakek itu adalah ayah dari si dara remaja. Hatinya tertarik sekali dan mencium sesuatu yang tidak wajar.
Maka, setelah dua orang itu memasuki rumah perjudian, diapun lalu menyelinap di belakang rumah besar itu dan di
lain saat dia sudah meloncat melampaui pagar tembok di belakang rumah judi, lalu menyelinap ke dalam dengan
kecepatan seperti bayangan setan saja.
"Ayah, aku takut..." Dara remaja itu berbisik ketika ia diajak ayahnya memasuki rumah perjudian itu.
"Hussshhh... tidak apa-apa, jangan takut."
"Ayah, aku takut, biar aku pulang saja. Ah, di sana banyak orang, semua laki-laki..."
"Siapa bilang? Ada juga wanitanya yang main judi. Eh, anakku, apakah engkau tidak mau menolong ayahmu? Kalau
engkau tidak menolongku, tentu aku celaka dan masuk penjara..."
Dibujuk oleh ayahnya, anak perempuan itu memberanikan diri dan membiarkan dirinya digandeng ayahnya memasuki
rumah di samping bukan ruangan besar di mana berkumpul banyak orang yang sedang asyik berjudi sehingga tidak
ada yang memperhatikan masuknya kakek dengan anak perempuan itu.
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki muda yang kurus dan mukanya seperti tikus, matanya juling. Dia tersenyum
melihat kakek itu dan menegur, "Eh, engkau sudah kembali, A Piang? Dan ini... ia inikah anakmu?" Senyumnya
menyeringai dan matanya makin menjuling.
"Benar, di mana cukong?" tanya A Piang kepada seorang tukang pukul rumah judi itu.
"Terus saja, dia sudah menanti di dalam kamarnya," kata Si Juling menyeringai.
Kakek yang bernama A Piang itu lalu menarik tangan anaknya diajak ke belakang dan tak lama kemudian dia sudah
mengetuk pintu sebuah kamar. Di depan kamar terdapat dua orang yang sedang duduk berjaga-jaga dan tidak peduli
ketika mereka melihat bahwa yang datang adalah A Piang bersama seorang anak perempuan yang kelihatan ketakutan.
"Siapa di luar?" terdengar suara berat di dalam kamar.
"Saya... saya A Piang..." Kakek itu menjawab.
"Hemm, sudah habis-habisan mencariku, ada apa?" tanya suara itu tanpa menyuruhnya masuk atau membuka pintu.
"Saya datang... eh, mengantar anak perempuan saya..."
Hening sejenak. Lalu terdengar suara itu berseru kepada seorang diantara dua penjaga itu. "A Siong, bagaimana
anaknya itu? Cukup berhargakah?"
Seorang di antara dua penjaga itu memandang kepada gadis itu, lalu menjawab, "Lumayan juga, loya. Masih muda
sekali!"
"Bagus. Masuklah, A Piang, kamarku tidak dikunci," terdengar suara itu.
Sambil menarik tangan puterinya, A Piang mendorong daun pintu dan mereka memasuki sebuah kamar yang besar dan
mewah, kamar yang berbau asap tembakau karena hartawan pemilik rumah judi itu sedang menghisap huncwe (pipa
tembakau) yang mengeluarkan asap tebal. Dia seorang pria berusia kurang lebih empat puluh tahun, bajunya yang
tebal dan indah itu terbuka kancingnya karena agak panas di dalam kamar itu sehingga nampak kulit dadanya yang
berbulu. Sepasang matanya lebar dan berkilauan, apalagi ketika dia memandang kepada gadis itu.
"A Piang berapa banyak hutangmu kepada bandar?" Laki-laki itu bertanya, akan tetapi matanya terus menatap gadis
itu dengan penuh perhatian.
"Empat puluh lima tail... loya..."
"Hemm, dan engkau hendak gadaikan anakmu ini untuk berapa banyak dan untuk berapa hari?"
"Saya... saya sudah memberi tahu pembantu loya... saya butuh enam puluh tail... dipotong hutang dan sisanya
saya hendak pakai untuk mencoba peruntungan saya lagi... dan biarlah anak saya bekerja sebagai pelayan di sini
selama satu bulan..."
"Sebulan? Dan anakmu sudah mau?"
Kakek A Piang menoleh kepada anaknya yang menunduk. "Kui Cin... kau dengar sudah... kautolonglah ayahmu, kau
hanya bekerja di sini satu bulan lalu kujemput pulang, nak. Kaudengarlah dan taati semua perintah loya ini...
maukah engkau menolongku, nak? Kalau tidak, tentu ayahmu akan masuk penjara..."
Kui Cin, gadis itu, mengangguk. Tentu saja ia mau menolong ayahnya. Kalau cuma bekerja sebagai pelayan, apalagi
hanya satu bulan, tentu saja ia sanggup. Sejak kecil ia sudah biasa bekerja keras. "Baiklah, ayah, asal sebulan
kemudian ayah menjemputku di sini."
"Nah, anak saya sudah mau, loya. Ia anak yang berbakti dan baik..."
"Bagus, jadi aku harus menambah lima belas tail. Nih, terimalah!" Majikan rumah judi itu lalu menyerahkan
sejumlah uang yang diterima dengan jari-jari menggigil oleh Kakek A Piang. "Tapi, anakmu tentu sudah tahu bahwa
bekerja di sini. Ia harus mentaati semua perintahku. Ia tidak boleh membantah dan harus melakukan segala
pekerjaan yang kuperintahkan. Mengerti?"
"Mengerti, loya, mengerti. Engkau akan taat, bukan, Kui Cin?"
"Baiklah, ayah. Aku akan bekerja keras di sini."
"Nah, pergilah, dan mudah-mudahan rejekimu baik sekali ini dan bisa menang, A Piang!" kata majikan itu. A Piang
lalu menepuk pundak puterinya beberapa kali dan pergilah dia keluar dari dalam kamar itu. Daun pintu ditutupkan
lagi dari luar oleh para penjaga dan A Piang yang sudah gila judi itu tidak membawa sisa uang itu pulang,
melainkan langsung saja memasuki ruangan lebar di mana terkumpul banyak orang yang sedang berjudi itu.
Semenjak jaman purba sampai sekarang, perjudian merupakan semacam penyakit yang amat berbahaya bagi manusia.
Ada pula yang menganggap perjudian sebagai permainan, sebagai kesenangan atau iseng-iseng saja yang sama sekali
tidak membahayakan. Akan tetapi, segala macam kesenangan yang dapat menyesatkan manusia selalu dimulai dengan
iseng-iseng. Dari iseng-iseng ini lalu lambat laun menjadi kebiasaan yang tak mudah dilepaskan... Oleh karena
dalam kesenangan berjudi ini terdapat permainan dengan harapan-harapan sendiri, dan ada hubungannya dengan
keuntungan berupa uang secara langsung, maka besar sekali pengaruh dan kekuatannya untuk membuat orang menjadi
mabok dan lupa segala.
Perjudian merupakan permainan dari pengumbaran nafsu manusia yang paling besar, yaitu nafsu tamak ingin
memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Orang yang kalah berjudi selalu akan berusaha untuk mengejar
kekalahannya itu dengan bayangan-bayangan kemenangan sebesarnya sehingga kekalahannya dapat diraihnya kembali.
Orang yang sedang menang berjudi selalu akan berusaha untuk menambah kemenangannya itu sebanyak mungkin. Dan di
dalam perjudian ini, ketamakan dan kebesaran si aku dikembangbiakkan menjadi amat luas. Di antara teman baik,
saling membayar makanan dalam jumlah agak besarpun akan dilakukan dengan senang hati dan rela, namun di dalam
perjudian, biarpun jumlah sedikit saja sudah cukup untuk membuat dua orang teman baik itu menjadi cekcok dan
bentrok, tidak mau saling mengalah. Judi memupuk iri hati dan kekejaman, memperkuat dan memperbesar si aku,
memupuk nafsu ingin menang sendiri. Betapa banyaknya sudah contoh-contoh dalam kehidupan masyarakat,
keluarga-keluarga yang berantakan karena kepala keluarganya kegilaan judi. Orang-orang yang tadinya hidup jujur
dan setia, dapat berubah menjadi curang dan jahat setelah dia menjadi penjudi, tentu saja kalau dia sudah
menjadi korban dan menderita kalah terus-menerus.
A Piang adalah seorang duda yang hanya mempunyai seorang anak, yaitu Kui Cin. Dia dan anaknya berdagang
kecil-kecilan di pasar dan kehidupan mereka sebenarnya sudah dapat dibilang cukup, bahkan hasil perdagangan
kecil-kecilan itu lebih untuk dimakan dan dipakai. Akan tetapi, celaka sekali, A Piang terpikat oleh perjudian
dan beberapa bulan kemudian, dia telah menjadi setan judi yang malas untuk bekerja lagi. Kui Cin berusaha
sedapat mungkin untuk mengingatkan ayahnya dan mengurus pekerjaan mereka. Akan tetapi, kekalahan demi kekalahan
menimpa diri A Piang dan akhirnya, semua dagangannya habis di meja judi tanpa dia dapat berbelanja lagi.
Perdagangan itu terhenti dan kini, perabot-perabot rumah mulai tanggal satu demi satu, sampai akhirnya rumahpun
digadaikan!
Mula-mula dimulai dengan kemenangan-kemenangan kecil bagi A Piang. Dan memang demikianlah biasanya racun mulai
menguasai manusia dalam perjudian. Kemenangan merupakan pancingan beracun. Setelah merasakan enaknya
kemenangan, merasakan masuknya uang mudah, orang menjadi malas untuk bekerja, karena bekerja memeras keringat,
hasilnya tidak seberapa, sedangkan menang berjudi, sambil bersenang-senang memperoleh uang yang amat mudah.
Setelah makin lama makin besar kekalahannya, makin besar pula nafsu menguasai diri A Piang untuk memperoleh
kembali segala apa yang telah hilang itu, yang telah kalah. Apapun juga akan dilakukan untuk memperoleh modal
berjudi lagi, karena dia selalu membayangkan dalam setiap awal perjudian bahwa sekali itu dia akan menang
besar. Namun berkali-kali hasilnya merupakan kebalikan. Dia kalah terus. Sampai akhirnya dia terlibat hutang
dengan bandar judi dan bingung ketika ditagih oleh tukang pukulnya karena sudah tidak memiliki apa-apa lagi.
"Kalau sudah tidak punya apa-apa kenapa berani berjudi terus dan berani hutang?" Demikian tukang pukul
mengancamnya. "Kalau engkau tidak mampu mengembalikan hutangmu yang empat puluh lima tail itu, engkau anak
dipukuli setengah mati, kemudian dilaporkan dan dijebloskan dalam penjara!" Tukang pukul itu tidak segera
menyiksanya karena mengingat A Piang merupakan seorang langganan lama dari rumah perjudian itu.
"Aku... aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi, semua sudah kujual, bahkan rumahku yang kosong sudah
kugadaikan..." A Piang meratap.
"Engkau bisa pinjam dulu dari seseorang keluargamu."
"Aku tidak mempunyai keluarga..."
"Mustahil orang tidak mempunyai keluarga!"
"Aku hanya hidup berdua dengan seorang anak perempuanku... ah, kasihanilah aku, berilah kesempatan..."
"Seorang anak perempuan? Berapa usianya?" Tiba-tiba tukang pukul itu tertarik.
"Empat belas... lima belas tahun."
"Bagus, engkau dapat menggadaikan anakmu itu kepada cukong kita!" kata si tukang pukul mata juling itu.
Sepasang mata A Piang terbelalak. "Apa? Menggadaikan anak perempuanku? Jangan bicara sembarangan engkau!"
"Siapa bicara sembarangan? Engkau bisa menggadaikannya untuk selama satu bulan, atau menyewakan selama sebulan
kepada majikan perjudian, dan engkau bisa mendapatkan sedikit modal untuk berjudi."
"Apa... apa maksudmu?"
"Mudah saja. Engkau menyewakan anakmu itu agar... eh, bekerja melayani majikan, dan engkau akan memperoleh uang
dari majikan."
"Melayani majikan? Menjadi pelayan? Benarkah, apakah loya mau menerima sebagai pelayan untuk selama satu bulan?
Berapa dia mau memberikan untuk itu?"
"Berapa kau butuh?"
"Hutangku empat puluh lima, kalau dia mau menambah lima belas lagi untuk modal judi, biarlah anakku bekerja
sebulan di sini... anakku tentu mau menolongku, dia anak baik..."
"Kalau begitu, bawalah besok pagi-pagi anakmu itu ke sini menemui loya, aku akan melaporkannya. Dan kalau
berhasil, jangan lupa padaku, A Piang."
Demikianlah awal mulanya mengapa A Piang mengajak anak perempuannya pergi menemui majikan rumah perjudian itu.
Semalam dia membujuk anaknya dan akhirnya Kui Cin mau juga untuk menolong ayahnya. A Piang bukanlah seorang
anak kecil. Dia sudah dapat menduga apa yang tersembunyi di balik semua itu. Akan tetapi dasar hati ayah ini
sudah kecanduan judi, dan di dunia ini tidak ada apa-apa lagi yang penting kecuali berjudi mengejar
kekalahannya, maka dia pun tidak begitu peduli. Bahkan ada timbul pikiran bahwa kalau anak perempuannya disuka
oleh majikan rumah judi itu, tentu dia akan enak! Siapa tahu dia malah akan diangkat menjadi kuasa rumah
perjudian itu!
Memang mengerikan sekali akibat seorang yang gila judi. Dan hal ini bukan dongeng belaka. Bahkan banyak sudah
terjadi orang rela menjual isterinya, anaknya dan siapa saja. Mau mempergunakan uang siapa saja, untuk berjudi.
Banyak pula yang berusaha mengelak, berusaha melepaskan kebiasaan berjudi, namun tidak dapat. Timbul pertanyaan
besar dalam benak para penjudi yang sudah melihat akan bahayanya perjudian dan ingin melepaskannya namun tidak
mampu, yaitu : Bagaimanakah caranya agar terbebas dari penyakit judi ini? Hendaknya diketahui benar bahwa
kegemaran berjudi bukan datang dari luar, melainkan dari diri sendiri, dari dalam batin. Timbul karena adanya
harapan dan keinginan untuk menangkan banyak uang, untuk memperoleh uang secara mudah, untuk dapat memperoleh
kembali kekalahan-kekalahan yang lalu. Judi hari ini adalah kelanjutan dari judi kemarin dan yang lalu. Sekali
batin telah waspada dan sadar, maka batin akan dapat membikin putus tali lingkaran setan itu. Melepaskan
ingatan akan kalan dan menang. Kalau terdapat pikiran bahwa akan berjudi sekali lahi, sekali lagi saja lalu
berhenti, maka dia tidak akan dapat berhenti! Begitu melihat kepalsuannya lalu berhenti! Sampai di situ,
sekarang juga, saat ini juga, dan tidak mengingatnya lagi, atau menatapnyam, mengamati diri sendiri penuh
kewaspadaan, maka kebiasaan itupun akan terhentilah. Bukan melarikan diri dari kebiasaan. Melarikan diri
percuma saja karena kebiasaan itu dapat dilakukan di manapun juga. Yang penting, terbebas dari kebiasaan ini,
dengan jalan menghadapinya dengan penuh kewaspadaan, mengamatinya sehingga nampak seluruhnya, latar
belakangnya, sebab-sebabnya.
Kui Cin adalah seorang anak perempuan yang baru berusia hampir lima belas tahun. Ia masih terlalu murni dan
polos, tidak tahu bahwa manusia merupakan mahluk yang amat kotor dan jahat, yang pandai menyembunyikan segala
kekotorannya ditopengi kebersihan. Ia mengira bahwa tuan yang berada di dalam kamar ini telah menolong ayahnya,
dan iapun siap untuk melakukan pekerjaan betapa beratpun untuk membalas budi.
"Siapa namamu?" terdengar pria itu bertanya. Kui Cin sejak tadi berdiri sambil menunduk, dan kini ia
memberanikan diri menjawab lirih.
"Nama saya Kui Cin, loya."
"Coba angkat mukamu dan pandang aku."
Kui Cin merasa malu-malu dan takut. Lebih baik dia disuruh bekerja berat daripada menerima perintah ini. Akan
tetapi iapun segera mengangkat mukanya memandang wajah yang bermata tajam itu. Wajah seorang pria yang
kelihatan galak, dengan kumis melintang dan mulut tersenyum menyeringai, dan sepasang mata liar seperti
menelanjanginya.
"Ke sinilah kau, Kui Cin."
Gadis itu melangkah maju, kedua kakinya agak gemetar. Entah mengapa, ia seperti mendapat firasat buruk,
seolah-olah merasa ada bahaya mengancamnya. Setelah tiba dalam jarak dua meter dari orang yang duduk di atas
pembaringan itu, ia berhenti dan menunduk.
"Majulah mendekat."
"Di... di sini saja, loya..."
"Eh, baru diperintah mendekat saja sudah hendak membantah, ya? Apalagi kalau disuruh melakukan pekerjaan
berat!" Orang itu membentak. Kui Cin terkejut dan seperti didorong dari belakang, iapun melangkah maju beberapa
tindak sampai ia berdiri dekat di depan laki-laki itu.
"Engkau manis...!" kata orang itu sambil menyentuh dagunya.
"Ah, loya...!" Kui Cin berkata dengan suara gemetar.
"Sayang pakaianmu agak kotor. Kui Cin, kau buka dan tanggalkan semua pakaianmu itu!"
Dara itu terbelalak dan mukanya berubah merah. Lalu ia mundur dan menggeleng-geleng kepalanya. "Tidak...! Tidak
mau...!"
Orang itu melepaskan huncwenya dari mulutnya dan menggoyang-goyang huncwe sambil tersenyum. "Hemm, ingat engkau
harus mentaati semua perintahku. Ingatkah engkau janjimu tadi?"
"Tapi... tapi... saya akan mentaati semua perintah untuk bekerja. Pekerjaan apapun akan saya lalukan, bukan...
bukan ini..."
"Taat tetap taat, dan inipun pekerjaan namanya. Hayo tanggalkan semua pakaianmu, ini perintah pertama!"
"Tidak...! Tidak...!"
"Hemm, apakah engkau lebih suka melihat aku memaksamu dengan kekerasan? Ingat, engkau sudah disewakan selama
sebulan. Selama satu bulan engkau adalah milikku dan engkau harus mentaati apapun yang kuperintahkan. Tahu?
Hayo ke sini dan tanggalkan seluruh pakaianmu!"
"Tidak...! Ohh, ayaaahh...!" Kui Cin lalu melarikan diri menuju ke pintu. Akan tetapi baru saja pintu terbuka,
tukang pukul tinggi besar sudah menghadangnya dan Kui Cin didorong kembali ke dalam kamar, pintu lalu ditutup
dan tukang pukul itu berdiri di situ dengan sikap mengancam.
"Tutup pintunya dan jaga di luar. Anak ini minta main kucing-kucingan!" kata si majikan sambil tertawa dan
meletakkan huncwenya di atas meja. Kemudian sambil tertawa dia maju mencoba untuk menangkap Kui Cin. Gadis ini
menjerit dan mengelak, lalu berlari ke sana-sini dalam kamar itu. Agaknya hal ini menambah kegembiraan dan
gairah majikan itu, karena permainan seperti itu sudah sering dilakukannya. Dia senang mengejar-ngejar sampai
akhirnya, karena kamar itu tidak terlalu luas, gadis itu akan dapat ditangkapnya juga dan dia sendiri yang
membuka pakaiannya satu demi satu. Menghadapi perlawanan seperti ini menambah gairahnya. Kui Cin menjadi pucat
mukanya dan ia berusaha lari terus dan mengelak dari tubrukan-tubrukan itu, membuat pengejarnya semakin
gembira. Jeritan-jeritannya, teriakannya memanggil ayahnya tidak terdengar oleh telinga ayahnya yang sedang
menghadapi meja judi dan ruangan itupun sudah cukup bising dengan suara orang. Hanya dua orang penjaga di luar
pintu itu saja yang mendengar jeritan-jeritan kecil itu, seolah-olah suara yang sudah sering mereka dengar itu
merupakan pendengaran yang mengasyikkan dan menggembirakan pula.
Biasanya, tidak akan lama gadis yang dikejar-kejar majikan mereka itu akan mampu mengelak terus. Mereka itu
yang berdiri di luar pintu tentu akan segera mendengar gadis itu menjerit, mendengar suara kain dirobek-robek,
dan dilanjutkan dengan pendengaran suara gadis itu merintih-rintih dan menangis, dan suara-suara lain yang
cukup menimbulkan gairah mereka.
Akan tetapi, kini jeritan-jeritan itu tiba-tiba berhenti dan mereka mengira bahwa gadis itu telah terpegang,
seperti seekor tikus yang tadinya dikejar-kejar kini telah diterkam kucing yang mengejarnya. Mereka menanti,
tentu akan terdengar kain robek-robek, akan tetapi, tidak terdengar hal itu, malah kini terdengar suara majikan
mereka mengeluarkan jerit mengerikan. Dua orang tukang pukul itu terkejut sekali, mata mereka terbelalak! Di
dalam kamar itu telah berdiri seorang pemuda tampan yang berpakaian seperti seorang siucai, pakaiannya indah
dan rapi, rambutnya ditutup sebuah topi pelajar yang indah, dan tangan kirinya memegang sebatang kipas yang
dipakainya mengipasi tubuhnya, dan mulutnya tersenyum. Ketika mereka mengerling, gadis itu meringkuk di sudut
kamar seperti seekor kelinci ketakutan, pakaiannya masih utuh akan tetapi tubuhnya menggigil ketakutan,
sedangkan majikan mereka itu meringkuk di atas pembaringan dalam keadaan ketakutan pula, agaknya tadi telah
dilemparkan ke atas pembaringan karena orang itu meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang menjendol
di bagian dahinya. Melihat dua orang tukang pukulnya masuk, majikan po-koan itu memperoleh kembali
keberaniannya. Dia tadi terkejut bukan main karena pada saat dengan hati girang dia berhasil menangkap Kui Cin,
merangkulnya dan mencengkeramnya seperti seekor kucing menerkam tikus, siap untuk mencabik-cabik pakaiannya,
tiba-tiba muncul pemuda itu. Muncul seperti iblis karena tidak tahu dari mana masuknya. Melihat pemuda itu
seorang siucai lemah, dia berusaha memukul, akan tetapi sekali tampar saja, dia seperti disambar geledek dan
tubuhnya terlempar ke atas pembaringan, kepalanya terbentur dinding dan kepalanya menjadi pening. Dia terkejut,
kesakitan dan ketakutan, akan tetapi begitu melihat dua orang penjaganya masuk, dia berseru, "Tangkap penjahat
ini! Bunuh dia!"
Dua orang penjaga itu sudah mencabut golok masing-masing dan menubruk dari kanan kiri, mengirim bacokan dan
tusukan yang dahsyat ke arah pemuda itu. Mereka adalah penjaga-penjaga pilihan yang pada pagi hari itu bertugas
jaga di depan kamar majikan mereka, dan pemuda ini dapat memasuki kamar tanpa mereka ketahui. Hal ini saja
sudah membuat mereka penasaran dan marah, maka begitu menerima perintah, mereka hendak merobohkan pemuda itu
dengan sekali serang. Akan tetapi, entah bagaimana mereka sendiripun tidak mengerti, tiba-tiba saja mereka
merasa kedua kaki mereka lumpuh dan tak dapat dihindarkan lagi keduanya roboh terguling!
"Hemm, tukang-tukang pukul memiliki tangan yang amat kejam!" Pemuda itu mencokel dengan kakinya dan sebatang
golok yang tadi terlepas dari tangan tukang pukul melayang ke atas, disambarnya dengan tangan kanan, kemudian
nampak sinar berkilat beberapa kali disusul teriakan-teriakan mengerikan dari dua tukang pukul itu. Darah
bercucuran membasahi lantai. Kui Cin dan majikan rumah judi itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat
ketika melihat betapa dua orang tukang pukul itu mengaduh-aduh dan bergulingan di atas lantai, mandi darah
mereka sendiri yang bercucuran dari kedua lengan mereka yang sudah buntung karena tangan mereka sudah terpisah
dari lengan! Pemuda itu telah membuntungi kedua tangan dua orang tukang pukul itu!
Pemuda itu membalikkan tubuhnya, menghadapi majikan rumah judi sambil tersenyum, dan anehnya, golok yang
membuntungi empat buah tangan tadi sama sekali tidak bernoda darah! Hal ini saja sudah membuktikan betapa
hebatnya gerakan golok itu, demikian cepatnya membuntungi pergelangan tangan! Dan terdengar ucapannya yang
halus dan seperti orang bersajak.
"Memetik buah daripada kejahatannya sendiri, itu sudah adil namanya! Engkau ini cukong mata keranjang, entah
sudah berapa banyak gadis tak berdosa yang kauperkosa di tempat terkutuk ini?" Dan dengan langkah perlahan
pemuda itu menghampiri majikan itu yang menjadi ketakutan dan berlutut menyembah-nyembah di atas pembaringan.
"Taihiap... ampunkan saya... ampunkan saya... engkau boleh mengambil berapapun banyak uangku, tapi jangan...
jangan membunuhku..."
Dan seorang di antara dua tukang pukul yang tadi merintih-rintih itu tiba-tiba berseru dengan suara penuh
ketakutan. "Pendekar... Pendekar Sadis...!"
Mendengar ini, majikan itu menjadi semakin ngeri ketakutan. "Celaka, mati aku..." tubuhnya menggigil, celananya
mendadak menjadi basah. Memang orang yang ketakutan setengah mati dapat saja terkencing seketika. Dia sudah
sering mendengar tentang nama yang baru saja muncul di dunia kang-ouw ini, sebagai nama seorang pendekar
pembasmi kejahatan yang amat kejam. Dan tadi dia sudah melihat betapa orang ini membuntungi kedua tangan dua
orang tukang pukulnya begitu saja, dengan darah dingin!
"Ampun... ampunkan..." Dia meratap. Akan tetapi Thian Sin, pemuda itu, hanya tersenyum.
"Betapa seringnya engkau sendiri mendengarkan ratapan minta ampun dari gadis-gadis yang kauperkosa, dan
pernahkah engkau mengampunkan mereka? Engkau malah semakin bergairah dan semakin senang kalau mereka itu
minta-minta ampun, menangis dan meronta-ronta, bukan? Nah, hukumanmu harus kauterima!" Golok itu menyambar,
didahului tamparan tangan kiri yang mengenai pundak majikan rumah judi itu. Tubuh majikan itu terjengkang,
golok itu menyambar dan majikan itu menjerit, tubuhnya berkelojotan di atas pembaringan, dari celananya di
antara kedua pahanya bercucuran darah karena alat kelaminnya telah disambar golok dan buntung! Tentu saja kecil
sekali harapan hidup lagi bagi orang ini.
"Kau keluarlah dari sini dan pulanglah." kata Thian Sin kepada gadis itu yang masih menggigil ketakutan dan
karena dua orang tukang pukul dan majikannya itu kini menjerit-jerit, dengan tenang Thian Sin melemparkan golok
ke atas tanah dan keluar dari dalam kamar, tidak mempedulikan lagi gadis cilik itu dan dengan sikap
tenang-tenang saja dia melangkah menuju ke ruangan judi!
Sebelum tiba di ruangan itu, dia sudah disambut oleh lima orang tukang pukul yang mendengar jeritan-jeritan
tadi. Melihat seorang pemuda asing keluar dari dalam kamar, lima orang itu menjadi curiga dan membentak, "Siapa
engkau? Apa yang terjadi?" Dan seorang diantara mereka telah lari ke dalam kamar di mana dia melihat majikannya
berkelojotan dan dua orang rekannya merintih-rintih. Dan gadis cilik itu sudah menyelinap pergi. Maka diapun
berteriak-teriak dan lari kembali sambil mencabut senjata.
"Loya telah dibunuh orang dan dua orang teman kita dilukai!" teriaknya.
"Setiap perbuatan jahat akan berakibat dan akibatnya akan menimpa diri sendiri! Mereka telah menerima hukuman
dari perbuatan mereka sendiri!" kata Thian Sin dengan suara lembut dan bibir masih tersenyum. "Apakah kalian
berlima ini juga tukang-tukang pukul?"
"Bunuh penjahat ini!" teriak seorang di antara mereka dan lima orang tukang pukul itu sudah mencabut golok
masing-masing dan serentak mereka menyerang Thian Sin. Pemuda ini tentu saja memandang rendah kepada segala
tukang pukul kasar seperti itu. Dengan tenang-tenang saja dia mengelak ke kanan kiri sehingga golok-golok itu
menyambar-nyambar merupakan sinar-sinar menyilaukan, akan tetapi di lain saat terdengar teriakan susul-menyusul
dan lima orang tukang pukul itupun sudah roboh semua. Dan, sebelum mereka sempat bangun berdiri, Thian Sin
sudah menyambar sebatang golok dan seperti tadi, dia menggerakkan goloknya membuntungi semua tangan mereka.
Keadaan sungguh menyeramkan. Tangan-tangan yang buntung berserakan di tempat itu dan lantai banjir darah yang
bercucuran dari lengan-lengan buntung itu. Lima orang tadi merintih-rintih dan kembali ada yang sadar bahwa
mereka berhadapan dengan pendekar yang namanya baru-baru ini mereka dengar.
"Pendekar Sadis...!"
"Pendekar Sadis...!"
Akan tetapi Thian Sin tidak mempedulikan itu semua, membuang goloknya dan memasuki ruang judi. Gempar di situ.
Semua perjudian berhenti dan para tamu mau penjudi ketakutan, ada yang bersembunyi di kolong meja, ada yang
mepet tembok dengan tubuh gemetaran. Dan sebentar saja Thian Sin sudah dikepung dan dikeroyok oleh belasan
orang pegawai rumah perjudian itu. Thian Sin mengamuk, merampas pedang dan dengan pedang ini dia merobohkan
mereka satu demi satu, dan sengaja menghukum mereka dengan membuntungi tangan, atau hidung, atau telinga.
Pendeknya tidak ada seorangpun dari mereka yang tidak mengalami hukuman yang mengerikan. Dalam waktu singkat
saja pertempuranpun berhenti dan yang ada hanya orang-orang yang merintih-rintih dan memegangi bagian tubuh
mereka yang terluka atau buntung. Dengan pedang di tangan, Thian Sin memandang ke sekeliling, lalu terdengar dia membentak halus.
"Mana yang bernama Kakek A Piang? Majulah ke sini!"
A Piang yang sejak tadi mepet di tembok dengan tubuh gemetar, kini melangkah maju dengan kedua kaki menggigil.
Sejenak Thian Sin memandang kakek ini, alisnya berkerut. "Seorang ayah yang menjual anak sendiri untuk berjudi,
sudah selayaknya kalau dibikin mampus. Akan tetapi, aku mengingat anakmu maka engkau hanya menerima hukuman
agar menjadi peringatan bagimu selama hidup!" Pedangnya bergerak seperti kilat dan kakek itu menjerit lalu
mendekap kepalanya sebelah kiri yang sudah tidak bertelinga lagi itu. Daun telinga kirinya terlepas dan darah
mengucur deras. Thian Sin lalu melangkah ke meja judi, mengambil sekepal uang perak, memasukkannya ke dalam
kantung uang yang terdapat di situ, menyerahkannya kepada A Piang dan berkata lagi, "Bawa uang ini untuk modal
bekerja, dan ajak anakmu pindah keluar kota! Awas, kalau engkau masih berani berjudi, lain kali lehermu yang
kubiking buntung!"
A Piang tidak dapat mengeluarkan suara karena seluruh tubuhnya menggigil, dengan tangan kanan menerima kantong
uang dan tangan kiri mendekap telinga kirinya, dan dia hanya mengangguk-angguk lalu berjalan keluar.
"Semua orang boleh pergi!" kata pula Thian Sin dan para penjudi dengan penuh rasa takut lalu berlarian keluar.
Thian Sin mengambil beberapa potong uang emas dan perak, menyimpannya dalam bungkusannya sendiri karena dia
teringat bahwa bekalnya tinggal sedikit, kemudian dengan pedang rampasan itu dia menghancurkan semua alat judi
yang berada di situ. Dia tidak mempedulikan betapa para tukang pukul tadi dengan tertatih-tatih berlarian
keluar untuk memanggil pasukan penjaga keamanan. Ketika pasukan tiba di situ, Pendekar Sadis sudah tidak nampak
lagi, sudah kembali ke dalam kamarnya di rumah penginapan dan mengaso. Thian Sin merasa puas dengan apa yang
telah dilakukannya. Sebenarnya dia tidak mau mempedulikan rumah-rumah perjudian, atau rumah rumah pelacuran
karena orang-orang yang datang berkunjung ke situ adalah orang-orang yang mencari penyakit dan tidak perlu
ditolong atau dipedulikan. Akan tetapi, karena Kui Cin tadilah maka secara kebetulan saja dia mengamuk d rumah
judi itu.
Perbuatan Ceng Thian Sin yang dijuluki orang Pendekar Sadis itu sungguh menggemparkan seluruh kota itu. Kota
Si-ning mempunyai wilayah yang luas dan menjadi pusat dari golongan liok-lim dan kang-ouw. Menjadi pusat pula
dari para penjahat yang melakukan operasi di daerah Si-ning. Seperti terjadi di kota-kota besar lainnya, juga
di Si-ning, semua rumah-rumah pelacuran, rumah-rumah perjudian dan tempat-tempat maksiat lainnya, semua
dikuasai oleh para penjahat.
Biarpun rumah-rumah judi itu mempunyai majikan masing-masing akan tetapi para hartawan ini membayar semacam
"pajak" kepada para kepala penjahat yang berkuasa dengan mendapatkan semacam "perlindungan". Dan tentu saja
para kepala penjahat dan para cukong ini mempunyai hubungan rapat dengan para pejabat, karena hal seperti ini
menjadi pertanda akan keadaan negara yang sedang lemah. Kalau para penjahat dan para pejabat sudah bersekutu,
dapat dibuyangkan bagaimana keadaan kehidupan rakyat jelata. Tidak ada lagi tempat berlindung bagi rakyat. Si
pelindung berubah menjadi si penindas. Pagar makan tanaman. Satu-satunya jalan hanya tunduk kepada yang lebih
kuat. Hukum rimba berlakulah. Yang punya uang mempergunakan uang untuk menyogok yang berkuasa, yang tidak punya
uang mempergunakan ketaatan untuk mencari selamat. Keluh kesah ditekan dalam-dalam di dalam perut.
Perbuatan Thian Sin merupakan peristiwa besar. Baru sekarang ada kekuatan baru yang berani menentang mereka
yang sedang berkuasa. Para penjahat mengadakan pertemuan. Mereka tahu bahwa pemuda itu adalah pendekar baru
yang mulai terkenal, yaitu Pendekar Sadis. Dan mereka tahu pula bahwa pemuda itu memasuki Si-ning sebagai
pelancong dan kini masih beristirahat di dalam sebuah rumah penginapan kecil di sudut kota.
Kota Si-ning dikuasai oleh lima orang kepala penjahat dan di antara mereka, yang dianggap sebagai saudara tua
adalah jagoan yang terkenal lihai bernama Ji Beng Tat berjuluk Hui-to (Si Golok Terbang). Mendengar akan
peristiwa yang terjadi Hok-khi Po-koan yang termasuk sumber penghasilannya, Hui-to Ji Beng Tat marah sekali dan
dia sudah mengumpulkan empat orang kawan-kawannya untuk berunding.
"Kita serbu saja ke rumah penginapan itu. Kalau kita berlima maju bersama, tak mungkin dia dapat lolos!" kata
seorang di antara mereka yang bertubuh kecil dan agak bongkok, akan tetapi Si Kecil Bongkok ini lihai sekali
ilmu silatnya, terutama senjata rahasianya berupa jarum-jarum beracun.
"Nanti dulu, kita harus berhati-hati," kata Hui-to Ji Beng Tat. "Menurut berita yang kuterima dari barat,
Pendekar Sadis ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Bahkan gerombolan Panji Tengkorak dari Yu-shu
kabarnya telah dibasmi olehnya. Kita harus mempergunakan siasat halus, kalau gagal barulah kita mempergunakan
kekerasan."
"Aku mendengar bahwa Pendekar Sadis tidak menolak bujuk rayu wanita cantik. Bagaimana kalau kita mempergunakan
Si Bunga Bwee Merah? Ang Bwe-nio tentu akan dapat menundukkan hatinya. Kalau berhasil membujuk rayunya, dan
memberinya minum obat bius, tentu kita akan dapat menangkapnya dengan mudah," kata orang ke tiga yang berwajah
tampan dan matanya membayangkan sifat mata keranjang.
"Tapi, Pendekar Sadis lihai sekali, aku khawatir gagal," kata orang pertama Si Kecil Bongkok.
"Ha-ha-ha, jangan khawatir. Ang Bwe-nio tak mungkin gagal merayu pria. Ingat saja dua orang pendekar
Siauw-lim-pai itu, merekapun dengan mudah jatuh dalam rayuan Ang Bwe-nio. Kalau sudah berada dalam pelukannya,
pria mana yang menolak untuk menerima minuman yang dihidangkannya?" kata pula Si Tampan.
"Sebaiknya kitapun harus bersiap-siap di dekatnya dan membiarkan Ang Bwe-nio mencoba kelihaiannya, sehingga
kalau gagal, kita dapat segera turun tangan," kata Ji Beng Tat dan semua rekannya menyetujui ini. Pemilik rumah
penginapan segera dihubungi dan diam-diam para tamu lain di rumah penginapan itu telah dipersilakan keluar dan
tanpa diketahui oleh Thian Sin, dialah satu-satunya tamu yang berada di rumah penginapan itu.
Thian Sin dapat menduga bahwa perbuatannya di po-koan itu tentu akan berakibat. Dan diapun sudah siap
menghadapi segala kemungkinan, kalau perlu dia akan membasmi para penjahat yang berani untuk menuntut balas.
Kalau malam ini tidak terjadi sesuatu, besok dia akan melanjutkan perjalanannya ke utara, mencari neneknya.
Sore itu, setelah mandi, dilayani oleh seorang pelayan yang bersikap amat hormat, pelayan itu berkata,
"Taihiap, kami semua telah mendengar akan sepak terjang taihiap di po-koan itu. Kami semua merasa kagum sekali,
bahkan majikan kami bermaksud untuk menjamu taihiap malam ini."
"Ah, tidak perlulah. Aku tidak mau merepotkan orang," jawab Thian Sin yang memang tidak suka menerima
sanjungan. Dia tahu benar bahwa sanjungan jauh lebih berbahaya daripada celaan. Dengan celaan dia akan dapat
melihat kekurangan dirinya sendiri dan dapat bersikap waspada, sebaliknya, sanjungan akan membuat orang mabuk
dan lupa akan kewaspadaan, membuat orang menjadi lengah.
Akan tetapi baru saja dia selesai berganti pakaian dan hendak keluar mencari makanan malam, tiba-tiba majikan
rumah penginapan itu mengunjunginya, memberi hormat dengan membongkok-bongkok amat menghormat, "Taihiap, kami
merasa terhormat sekali bahwa rumah penginapan kami yang kecil ini telah menerima kunjungan taihiap. Seorang
pendekar besar seperti taihiap telah sudi bermalam di dalam kamar rumah penginapan kami, hal itu akan menjadi
reklame yang amat baik. Oleh karena itu, perkenalanlah kami menjamu taihiap dengan sedikit arak kehormatan dan
kami ingin memperkenalkan keponakan wanita kami kepada taihiap untuk melayani taihiap makan minum."
"Ah, membikin repot saja..." kata Thian Sin, akan tetapi hatinya sudah tergerak ketika tuan rumah penginapan
itu sambil membungkuk-bungkuk dan tiba-tiba dia bertepuk tangan. Sebarisan pelayan terdiri dari lima orang
membawa baki terisi masakan-masakan yang masih mengepul panas dan guci-guci arak datang dan memasuki kamar
Thian Sin. Dengan cekatan mereka membersihkan meja dalam kamar itu dan mengatur hidangan. Kemudian mereka
membungkuk dan meninggalkan kamar itu. Dari luar nampak seorang wanita muda dan diam-diam Thian Sin terkejut.
Tak disangkanya bahwa keponakan majikan rumah penginapan ini demikian cantiknya. Pakaiannya sederhana saja,
bedaknya juga tipis-tipis, akan tetapi wanita yang usianya sekitar dua puluh lima tahun itu benar-benar cantik
dan manis sekali. Sepasang matanya lebar dan bening, penuh daya pikat, bibirnya yang merah basah tanpa pemerah
itu seperti menantang, senyumnya dikulum dan membuat sudut pipinya membentuk lekuk yang mungil. Dengan langkah
lemah gemulai ia menghampiri dan tersipu-sipu malu ketika pamannya, majikan rumah penginapan itu
memperkenalkan. "Taihiap, inilah keponakan saya, bernama Ang Bwe-nio dan kami semua, termasuk keponakan saya,
merasa kagum kepada taihiap yang sudah melakukan pekerjaan besar yang menggemparkan itu. Silakan, taihiap, biar
keponakan saya menemani taihiap." Setelah berkata demikian, pemilik rumah penginapan itu lalu menjura dan
pergi.
Sejenak mereka hanya berdiri saling berpandangan. Thian Sin tersenyum dan wanita itupun tersenyum dan berkata,
"Taihiap, silakan makan."
Thian Sin tersenyum dan mengangguk, lalu duduk di atas bangku menghadapi meja yang penuh hidangan itu. Ang
Bwe-nio, wanita cantik itu, dengan gerakan lemah gemulai dan manis sekali lalu menuangkan arak ke dalam cawan
Thian Sin. "Silakan minum arak dan makan hidangannya, taihiap..."
"Bagaimana aku enak makan kalau engkau berdiri saja di situ, nona? Pula, sungguh tidak senang makan sendirian
saja. Mari, kautemani aku makan. Duduklah, nona."
"Ah, mana pantas? Aku mewakili paman sebagai tuan rumah..." kata Ang Bwe-nio dengan sikap manis dan
kemalu-maluan, wajahnya yang cantik manis itu berubah merah, matanya mengerling tajam dan mulutnya mengulum
senyum malu-malu.
Thian Sin semakin tertarik. Memang pemuda ini berwatak romantis walaupun tak dapat dibilang mata keranjang.
Tidak semberangan wanita dapat menarik hatinya, walaupun dia selalu awas dan suka memandang wajah yang cantik
manis.
"Marilah, tidak apa-apa, nona. Bukankah di sini hanya ada kita berdua saja? Mari, kalau kau tidak mau temani
aku makan minum, akupun tidak dapat menerima suguhan ini."
"Aih, mengapa taihiap begitu...?" Dengan gerakan manja wanita itu mendekat dan hendak mengambil cawan untuk
diberikan kepada Thian Sin, akan tetapi Thian Sin memegang lengannya dan dengan lembut menariknya sehingga
wanita itu terduduk di sampingnya, di atas sebuah bangku. Thian Sin lalu menuangkan secawan arak sampai penuh.
"Nah, mari kita sama-sama minum untuk perkenalan ini."
Dengan tertawa malu-malu Ang Bwe-nio lalu mengangkat juga cawan araknya dan merekapun minum arak bersama. Ang
Bwe-nio lalu mengambilkan makanan dengan sumpit, dengan gerakan tangan cekatan dan manis sekali, menaruh
potongan-potongan daging ke dalam mangkok di depan Thian Sin. Pemuda inipun tidak mau kalah, mengambil
daging-daging kecil dimasukkan ke dalam mangkok depan wanita itu. Merekapun lalu makan minum, tanpa kata-kata,
hanya kadang-kadang saling pandang dan Ang Bwe-nio tak pernah berhenti tersenyum malu-malu. Sedikit minyak yang
terdapat pada daging mengenai bibirnya, membuat bibir itu nampak semakin segar kemerahan.
"Siapakah nama nona tadi? Kalau tidak salah dengan she Ang..."
"Namaku Ang Bwe-nio, taihiap. Dan nama taihiap siapakah? Aku hanya mendengar sebutan orang yang mengerikan,
Pendekar Sadis..."
Thian Sin tersenyum. "Memang benarlah. Aku Pendekar Sadis, hanya sadis terhadap diri penjahat saja. Dan namaku
sendiri... ah, aku sudah melupakan nama itu. Engkau sebut saja aku Pendekar Sadis."
"Eh, mana bisa begitu?" Wanita itu tertawa manja.
"Nona, aku merasa heran. Mengapa pamanmu menyuruh seorang gadis sepertimu menemani aku?"
"Aku... aku bukan gadis, aku... seorang janda..."
"Ahhh...!" Hati Thian Sin berdebar girang. Tadinya dia merasa curiga terhadap sikap pemilik rumah penginapan
itu. Tidak sepatutnya seorang gadis disuruh melayani seorang pria, seolah-olah gadis itu bukan seorang
terhormat saja. Akan tetapi kalau janda, dia mengerti juga! "Kiranya nyonya seorang janda... hemm, masih begini muda..."
"Usiaku sudah dua puluh lima tahun, taihiap. Sudah tua..."
"Siapa bilang usia sekian sudah tua? Engkau memang sungguh cantik manis!"
"Sudahlah, lelaki memang pandai merayu. Lebih baik taihiap makan, nih potongan daging pilihanku," wanita itu
dengan sikap menarik sekali sudah menyumpit sepotong daging dan mengulurkan tangannya, membawa potongan daging
di ujung sumpit itu ke dekat mulut Thian Sin! Tentu saja pemuda ini tertarik sekali dan sambil tertawa dia
menerima suapan itu, menggigit daging dari ujung sumpit Ang Bwe-nio. Diapun membalas dan tak lama kemudian
keduanya sudah saling menyuapkan daging ke mulut masing-masing. Sikap mereka menjadi semakin berani, dan ketika
Ang Bwe-nio menahan tangan Thian Sin yang hendak melolohnya dengan daging lagi, mereka saling berpegang tangan
dan jari-jari tangan mereka saling mencengkeram.
"Bwe-nio, engkau cantik sekali!" Thian Sin memuji sambil mengelus kulit lengan itu melalui bajunya yang tipis.
"Dan engkau sungguh gagah dan tampan, taihiap..." Bwe-nio balas memuji, pujian yang jujur karena memang
sesungguhnya ia amat kagum kepada pemuda yang menyenangkan ini. Sayang bahwa ia "dalam tugas" sehingga ia tidak
dapat mencurahkan seluruh kekagumannya itu kepada pemuda perkasa ini. Ia tidak berani mengkhianati mereka yang
menyuruhnya menundukkan pemuda berbahaya ini.
Thian Sin sudah setengah mabuk, bukan mabuk arak karena dengan kekuatan dalamnya yang luar biasa, dia dapat
menahan pengaruh arak yang bagaimana keraspun. Akan tetapi dia mabok akan kecantikan dan rayuan wanita itu.
Betapapun lihainya, pemuda ini dapat dibilang masih hijau dalam pengalamannya dengan wanita, dan memang dia
memiliki kelemahan terhadap wanita. Maka melihat sikap yang demikian memikat dan penuh daya tarik dari Ang
Bwe-nio, pemuda ini jatuh dan merasa tertarik sekali. Apalagi melihat wanita itu demikian beraninya, dengan
jelas memberi tanda-tanda bahwa wanita itu takkan menolak untuk bermain cinta dengannya. Pada saat itu, sambil
tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi mutiara yang putih dan rapi, Ang Bwe-nio kembali menyumpit sepotong
daging dan hendak menyuapkannya ke mulut Thian Sin. Akan tetapi, Thian Sin sekali ini menarik mukanya ke belakang.
"Eh, kenapa taihiap?"
"Bwe-nio, sekali ini aku hanya mau menerima suapanmu kalau engkau melakukannya dengan mulut, bukan dengan
sumpit," kata Thian Sin berani sambil menatap tajam wajah yang cantik itu.
Sebetulnya Ang Bwe-nio bukanlah seorang wanita yang asing dengan kemesraan-kemesraan dalam permainan cinta,
akan tetapi ia demikian pandainya sehingga mendengar permintaan Thian Sin ini, ia dapat bersikap seperti
seorang wanita baik-baik yang tak pernah mendengar permintaan seperti itu. Wajahnya menjadi kemerahan
tersipu-sipu malu. Ia mengerling dan cemberut, berkata sambil bersikap malu-malu dan takut-takut, "Iiiihhh...
taihiap... mana bisa begitu...?"
"Kenapa tidak bisa? Engkau mempunyai mulut, bukan? Mulut yang manis sekali malah..."
"Aihhh... aku... aku... ah, malu dan takut... aku tidak mengerti..."
"Bwe-nio, engkau bukan anak kecil lagi, engkau seorang janda, tentu tahu apa yang kumaksudkan. Kalau engkau
tidak mau menyuapkan dengan mulut, akupun tidak akan mau menerima pemberianmu."
"Aihhh... taihiap..." Ang Bwe-nio mengeluh, akan tetapi kemudian iapun menggigit potongan daging itu dengan
giginya yang putih, lalu mengajukan mukanya dengan bersuara "mmmmm" dan menutup kedua matanya. Melihat ini,
Thian Sin terangsang hebat dan dirangkulnya wanita itu, diambilnya daging itu dari mulut Bwe-nio dengan
mulutnya. Tentu saja dua mulut itu bertemu dalam sebuah ciuman yang mesra dan hangat dan penuh nafsu. Dan di
lain saat mereka telah saling peluk, saling rangkul dan saling cium. Ang Bwe-nio mengeluarkan suara
rintihan-rintihan kecil dari dalam lehernya dan memejamkan kedua matanya, akan tetapi membalas belaian dan
ciuman pemuda itu dengan penuh gairah.
Akan tetapi, semua itu sebenarnya hanya permainan belaka darinya, karena dengan cerdik sekali, selagi Thian Sin
menciumi seluruh bagian tubuhnya, diam-diam wanita cantik ini mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari balik
kutangnya, dan selagi Thian Sin membenamkan mukanya di dadanya, wanita ini menaburkan bubuk putih ke dalam
cawan arak pemuda itu!
"Kita pindah ke pembaringan..." Thian Sin berbisik di dekat telinga kiri wanita itu, suaranya tersendat-sendat
penuh nafsu.
"Baik, taihiap, aku... aku mau... aku akan memberikan segala-galanya kepadamu, aku cinta padamu... ohhh... tapi
nanti dulu... aku haus, mari kita minum dulu..."
Thian Sin tersenyum dan melepaskan rangkulannya. Dia melihat wanita itu mengisi cawannya yang tinggal
setengahnya itu sampai penuh. "Minumlah, taihiap, setelah itu baru kita..." Pandang matanya penuh daya pikat.
"Katamu tadi engkau haus, engkau minumlah." Thian Sin hendak meminumkan arak di cawannya itu kepada Bwe-nio,akan tetapi wanita itu nampak ketakutan dan menolak.
"Tidak, aku sudah terlalu banyak minum arak, sudah pusing kepalaku, aku mau minum air teh saja..." Wanita itu
lalu menuangkan air teh ke dalam mangkok. Ia tidak tahu bahwa pada saat itu, Thian Sin memandang kepadanya
dengan sinar mata yang aneh dan penuh wibawa, bibir pemuda itu berkemak-kemik dan kedua tangan pemuda itu
diarahkan kepadanya.
Setelah menuangkan air teh, wanita itu mengangkat mangkok tehnya dan tersenyum menghadapi pemuda itu.
"Taihiap.... kokoku yang tampan... marilah, mari kita minum dulu, setelah itu baru... ehmmm..." Ia tersenyum
lebar dan sepasang mata yang indah jeli ini berkedip penuh arti. Senyumnya makin melebar ketika ia melihat
pemuda itu minum arak dari cawan itu, ditenggaknya sampai habis, ia sendiripun hanya mencucuk sedikit air teh
itu. Bwe-nio menahan ketawanya ketika melihat Thian Sin melepaskan cawan araknya, bangkit berdiri, terhuyung
memegangi dahi lalu menghampiri pembaringan sambil berkata lirih, "Ke sinilah... sayang, ke sinilah..." Dan
tergulinglah pemuda itu ke atas pembaringan, terlentang dalam keadaan tidur pulas atau pingsan!
Bwe-nio menghampiri pembaringan, memandang kepada wajah pemuda itu yang memejamkan mata, lalu ia menunduk dan
mencium bibir pemuda itu. "Sayang... kau ganteng... terpaksa aku harus membunuhmu, kalau tidak, aku sendiri
terbunuh..." Wanita itu lalu mengeluarkan sebatang pisau belati yang runcing tajam dari pinggangnya, kemudian
mengayunkan pisau itu ke arah ulu hati pemuda yang sedang tidur terlentang itu.
"Wuuuuuttt... cesss...!" Sepasang mata yang indah itu terbelalak ketika melihat betapa pisau belatinya
"menembus" tubuh pemuda itu dan mengenai kasur! Dan tubuh itu ternyata hanya seperti bayangan saja, tidak
berdaging dan kini perlahan-lahan bayangan itupun lenyap.
"Sungguh tak kusangka, wajah secantik itu, tubuh seindah itu, dihuni oleh hati yang palsu."
Mendengar suara ini, Ang Bwe-nio terkejut setengah mati dan hampir ia menjerit ketika ia menengok. Ia melihat
Thian Sin masih duduk di atas bangku dekat meja dan kini dengan tenangnya minum arak dari cawannya! Mimpikah
ia? Jelas bahwa tadi pemuda itu mabuk dan rebah di atas pembaringan dalam keadaan terbius. Lalu siapa tadi yang
rebah kemudian "menghilang"? Dan bagaimana pemuda itu masih duduk di situ dan sama sekali tidak terpengaruh
obat biusnya yang amat manjur itu? Obat biusnya itu telah teruji, jangan hanya seorang saja, biar diminum oleh
tiga empat orangpun tentu mereka akan terbius semua. Dan tadi ia sudah memasukkan semua isi bungkusan ke dalam
cawan dan isi cawan itu sudah ditenggak habis oleh Thlan Sin!
Tentu saja Ang Bwe-nio tidak tahu bahwa Ceng Thian Sin pernah mempelajari ilmu sihir dari kakek pertapa di
Pegunungan Himalaya dan bahwa pemuda itu tadi tentu saja telah dapat mengetahui bahwa gadis cantik itu membawa
sebatang pisau di pinggangnya. Ketika Thian Sin memeluknya dan menciuminya, pemuda yang berilmu tinggi ini
sudah dapat merasakan adanya ganjalan pada perutnya, ganjalan yang terdapat di pinggang Bwe-nio dan dia sudah
dapat meraba-raba, yaitu ketika dia membelai dan meraba-raba tubuh wanita itu. Maka tahulah dia bahwa wanita
itu membawa pisau itu, biarpun kelihatannya dia dimabuk bafsu berahi, namun dia selalu waspada dan dapat
melihat ketika Bwe-nio menaruh obat bubuk ke dalam cawan araknya. Maka, ketika Bwe-nio menuangkan air teh ke
dalam mangkok, kesempatan itu dipergunakan untuk mengerahkan kekuatan sihirnya. Bwe-nio terkena sihir dan
wanita ini melihat Thian Sin mabuk dan terhuyung ke pembaringan, padahal sebenarnya pemuda itu masih duduk di
dekat meja.
"Bagus sekali! Jadi engkau merayuku dan pura-pura mencinta dengan hati mengandung kepalsuan, ya? Hendak
membunuhku?" Thian Sin bangkit berdiri, pandang mata dan suaranya dingin seperti menusuk jantung terasa oleh
Ang Bwe-nio. Wanita itu menjadi ketakutan, ia melepaskan pisaunya dan menjatuhkan diri berlutut di atas lantai.
"Taihiap... ampunkan aku..."
Thian Sin menyambar pisau yang amat tajam itu dan tersenyum. "Mengampunkanmu? Hemm... engkau ini wanita cantik
yang berhati palsu dan jahat. Hampir saja aku mati olehmu dan engkau masih mengharapkan ampunan dariku? Tidak,
wanita macam engkau sudah sepatutnya mampus!"
Dua kali pisau menyambar dan nampak sinar berkelebat di dekat leher Bwenio. Wanita itu menahan jeritnya ketika
mendengar suara berkerincingan dan ternyata dua anting-antingnya telah putus oleh sambaran sinar itu. Wajahnya
menjadi semakin pucat. Tahulah ia bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya dan melawanpun
tidak akan ada artinya sama sekali.
"Ampun, taihiap..." Suaranya bercampur isak dan tubuhnya menggigil seperti orang diserang demam.
"Mudah saja mengampunimu, akan tetapi katakan, siapa yang menyuruhmu? Apakah pemilik rumah penginapan ini?
Bukankah dia itu pamanmu?"
"Bukan... bukan dia, dia hanya terpaksa, seperti aku... diapun bukan pamanku. Aku diperintah oleh lima orang
yang menguasai dunia hitam di daerah ini, yang dikepalai Hui-to Ji Beng Tat..."
"Dapatkah engkau memanggil mereka berlima itu ke sini? Aku ingin sekali tahu mengapa mereka menggunakan engkau
untuk merayu dan merobohkan aku, bahkan membunuhku."
"Dapat... dapat taihiap...!" Bwe-nio berkata dan timbul harapan di dalam hatinya. Memang tadinyapun ia sudah
ingin menjerit untuk memanggil mereka. Ia tahu bahwa mereka berlima itu sudah siap berkumpul di rumah
penginapan itu, untuk berjaga-jaga kalau ia gagal. Dan sekarang benar saja, ia telah gagal. Akan tetapi, ia
tadi tidak berani menjerit karena kalau ia melakukan hal itu, sebelum mereka berlima datang, tentu ia akan
dibunuh lebih dulu oleh Pendekar Sadis ini. Teringat akan semua perbuatan yang telah dilakukan oleh pendekar
ini sudah merasa ngeri bukan main. Kini, mendengar betapa pendekar itu ingin bertemu dengan lima orang kepala
itu, hatinya girang dan timbul harapannya. Mungkin saja ia dapat menyelamatkan diri kalau lima orang itu sudah
muncul menghadapi pendekar ini.
"Panggil mereka baik-baik, seolah-olah engkau telah berhasil dengan usahamu. Awas, kalau engkau bertindak
curang, aku akan membunuhmu sekarang juga," kata Thian Sin dan pemuda ini telah merebahkan diri di atas pembaringan, pura-pura terbius.
Kalau saja ia tidak merasa yakin benar akan kelihaian pemuda itu, ingin rasanya Ang Bwe-nio lari dari pintu
yang hanya tertutup saja daun pintunya tidak terkunci itu. Akan tetapi, ia tahu bahwa kalau ia melakukannya hal
ini, tentu sebelum tiba di pintu ia akan roboh dan tewas secara mengerikan. Ia hanya mengangguk dan menelan
ludah untuk menenangkan hatinya yang berdebar keras, kemudian ia bertepuk tangan tiga kali berturut-turut.
Thian Sin mendengar langkah-langkah kaki dari luar menghampiri pintu itu, dan tak lama kemudian daun pintu
kamarpun terbuka. Lima orang memasuki kamar itu, dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar bermuka brewok.
Melihat betapa di pinggang orang brewok ini terdapat sebuah kantong berisi pisau-pisau kecil, Thian Sin yang
melihat dari balik bulu matanya itu dapat menduga bahwa tentu orang inilah yang dijuluki Hui-to (Golok
Terbang).
"Bagus, Bwe-nio, agaknya engkau sudah berhasil. Kenapa tidak kaubereskan sekali?" kata Si Golok Terbang ketika
melihat pemuda itu rebah tak bergerak di atas pembaringan.
Akan tetapi Ang Bwe-nio dengan muka pucat menggeleng-geleng kepala. "Tidak... tidak berhasil... dia... dia..."
Pada saat itu, Thian Sin meloncat dari atas pembaringan dan dengan beberapa lompatan saja dia sudah berada di
pintu. Tentu saja lima orang itu terkejut bukan main, cepat mencabut senjata masing-masing. Akan tetapi
pendekar itu tertawa dan menutupkan pintu, lalu menguncinya, dengan tenang sekali.
"Bagus, kalian berlima audah datang di sini. Nah, kita bisa bicara dengan baik." Thian Sin menghampiri dengan
sikap tenang, tidak peduli lima orang itu bersiap-siap menyerangnya, lalu dia duduk di atas bangku dekat meja,
mengisi cawan dengan arak dari guci dan meminumnya.
"Nah, kita sekarang bisa bicara. Ang Bwe-nio ini telah berusaha untuk merayuku dan membunuhku, akan tetapi ia
telah gagal. Dan menurut pengakuannya, kalian berlimalah yang memerintahnya melakukan percobaan itu. Nah, apa
yang kalian bilang sekarang?"
"Pendekar Sadis, ia boleh jadi gagal, akan tetapi kami berlima tidak akan gagal," kata Hui-to Ji Beng Tat
dengan geram.
"Begitukah? Dengan golok terbangmu itu? Engkau tentu Hui-to Ji Beng Tat. Kenapa kalian hendak membunuhku?"
"Karena engkau telah mengacau wilayah kami!"
"Hemm, tahukah kalian siapa aku?"
"Pendekar Sadis!"
"Ya, pembasmi para penjahat dan sekarang kalian telah datang untuk menyerahkan nyawa. Bagus sekali, aku tidak
perlu susah-susah mencari kalian lagi."
"Keparat sombong!" teriak kepala penjahat yang bertubuh kecil bongkok dan tiba-tiba saja di sudah menggerakkan
tangannya, menyerang dengan jarum-jarum beracun yang disambitkan dari jarak dekat. Thian Sin tahu bahwa sinar
hitam itu adalah jarum-jarum kecil yang mungkin sekali beracun, akan tetapi dia memang telah bersikap waspada
sejak tadi. Dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang dia melindungi tubuhnya dan tangannya menyambar ke
depan muka untuk melindungi mukanya dari sambaran jarum-jarum itu. Semua jarum runtuh ke atas lantai, terkena
tangan dan juga yang mengenai tubuhnya. Melihat ini, Si Kecil Bongkok terkejut setengah mati, akan tetapi kini
pendekar itu telah bangkit dan melangkah menghampirinya. Si Kecil Bongkok yang tadi telah mencabut pedangnya,
menyambutnya dengan tusukan kilat. Namun, Thian Sin tidak mengelak, bahkan tangan kirinya menyambar ke depan
menangkap pedang itu. Pedang itu ditangkap begitu saja! Melihat ini, tentu saja Si Kecil Bongkok menjadi girang
dan berusaha menarik pedangnya untuk melukai tangan lawan yang memegang pedang. Akan tetapi, pedangnya seperti
terjepit baja, sama sekali tidak dapat digerakkan. Kemudian, sekali Thian Sin mengerahkan tenaga Thian-te
Sin-ciang, terdengar suara "krek" dan pedang itu telah patah-patah! Melihat ini, Si Kecil Bongkok terbelalak
ketakutan.
Pada saat itu, Hui-to Ji Beng Tat dan tiga orang kawannya yang lain tidak tinggal diam saja, mereka sudah
menerjang maju dan menyerang Thian Sin dari lima jurusan. Tempat itu sempit, akan tetapi Thian Sin sama sekali
tidak menjadi gugup. Kedua tangannya bergerak memutar dan senjata empat orang itupun beterbangan terlepas dari
pegangan masing-masing. Mereka itu adalah kepala-kepala penjahat yang tingkat kepandaiannya masih jauh sekali
dibandingkan dengan Thian Sin, maka tentu saja ditangkis dengan kedua lengan yang penuh dengan tenaga Thian-te
Sin-ciang, mereka itu tidak mampu mempertahankan senjata masing-masing. Thian Sin lalu mencabut pisau tajam
yang dirampasnya dari Ang Bwe-nio tadi, pisau yang dimaksudkan untuk membunuhnya. Sebelum lima orang itu dapat
menyerangnya lagi, tubuhnya bergerak ke depan, pisau itu berubah menjadi sinar berkilat menyambar leher Si
Kecil Bongkok. Si Kecil Bongkok ini berusaha mengelak, namun kurang cepat dan tahu-tahu tubuhnya terjengkang
roboh dan kepalanya tertinggal di tangan kiri Thian Sin! Kiranya pemuda ini tadi sudah membabat leher lawan dan
menjambak rambutnya sehingga begitu leher itu terbabat putus tubuhnya terjengkang dan kepalanya tertinggal di
tangannya, dijambak rambutnya! Sungguh mengerikan sekali melihat tubuh tanpa kepala itu, dengan leher berlubang
dan menyemburkan darah, sedangkan kepala Si Kecil Bongkok itu dengan mata melotot tergantung pada rambutnya
yang riap-riapan dan dicengkeram tangan kiri Thian Sin!
Ang Bwe-nio menjerit dan terbelalak dengan muka pucat, lalu dengan lemas ia menjatuhkan diri duduk di atas
pembaringan. Sementara itu, empat orang kepala penjahat menjadi amat marah sekali di samping rasa ngeri. Dengan
nekad mereka sudah menyerbu dengan senjata mereka. Akan tetapi, dengan amat tenang Thian Sin melayani mereka,
tangan kiri mencengkeram kepala Si Kecil Bongkok tadi, tangan kanan menggunakan pisau kecil untuk menangkis.
Sekali menangkis, pisaunya sudah melesat dari bawah dan menerobos di antara pertahanan lawan dan kembali pisau
itu menyambar leher. Orang ke dua berusaha menangkis, namun tangkisannya tembus dan leher itupun terbabat oleh
pisau kecil dan tubuhnya terjengkang, kepalanya terlempar, akan tetapi sebelum jatuh ke atas tanah, sudah
disambar oleh tangan kiri yang memegang kepala pertama tadi.
"Bwe-nio, kaupeganglah dulu kepala-kepala ini!" Thian Sin berseru dan melemparkan dua buah kepala itu ke atas
pembaringan di mana Bwe-nio sedang duduk ketakutan.
"Ayaaaaauuuwww...!" Bwe-nio menjerit dan dengan muka pucat dan mata terbelalak, seluruh tubuhnya menggigil
ketika ia memandang kepada dua buah kepala yang matanya melotot lebar memandangnya itu. Tilam tempat tidur itu
sudah berlepotan darah yang keluar dari kepala itu.
Tiga orang yang lain masih mati-matian melawan Thian Sin. Namun, satu demi satu, dua orang lagi kehilangan
kepala mereka melayang ke atas pembaringan, membuat Ang Bwe-nio hampir pingsan melihatnya. Tinggal Hui-to Ji
Beng Tat yang masih nekad melakukan perlawanan menggunakan golok besarnya. Diapun sudah ketakutan dan terdesak
oleh pisau kecil yang seperti beterbangan haus darah dan mencari kepala itu. Tiba-tiba Hui-to Ji Beng Tat
mengeluarkan teriakan keras dan tubuhnya sudah mencelat ke arah pintu. Tangan kirinya bergerak dan sinar terang
berturut-turut menyambar ke arah Thian Sin. Itulah golok terbang atau hui-to yang membuat namanya terkenal di
daerah itu.
Akan tetapi, senjata-senjata terbang itu tidak ada artinya bagi Thian Sin. Dengan menangkis dengan tangan
kirinya, semua golok itu runtuh dan pada saat itu, Hui-to Ji Beng Tat telah mempergunakan kesempatan untuk
melarikan diri. Dia sudah berhasil membuka daun pintu, akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan Thian Sin,
"Pengecut, hendak lari ke mana kau?" Dan pemuda ini sudah melemparkan pisau rampasannya yang meluncur cepat sekali.
"Creppp...!" Pisau itu menancap sampai dalam sekali, sampai ke gagangnya, di tengkuk Hui-to Ji Beng Tat. Kepala
penjahat ini terpelanting, akan tetapi sebelum tubuhnya roboh, Thian Sin sudah meloncat di belakangnya,
menangkap gagang pisau kecil, menggerakkannya sedemikian rupa sehingga ketika tubuh itu roboh, kepalanya
tertinggal di tangannya karena lehernya sudah putus!
Ang Bwe-nio sudah tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi ketika kepala yang ke lima itu menggelinding di atas
pembaringan. Seperti mayat hidup ia hanya dapat memandang kqada Thian Sin yang kini melangkah menghampirinya
sambil tersenyum. Pisau di tangan pemuda itu sama sekali tidak terkena darah, demikian pula pakaiannya,
sedikitpun tidak terkena darah. Hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya pemuda ini.
"Nah, sekarang tiba giliranmu, Bwe-nio!" kata Thian Sin menghampiri dan tubuh wanita itu menggigil, mulutnya
sudah tidak dapat mengeluarkan suara lagi saking takutnya.
"Wajahmu cantik akan tetapi hatimu jahat. Ingin aku melihat jantungmu, apakah berbulu atau tidak!" Berkata
demikian, Thian Sin membuat gerakan seperti hendak menusuk.
Ang Bwe-nio menjerit. "Ampun... jangan... bunuh aku..."
"Hemm, engkau begitu sayang nyawamu? Akan tetapi kalau kubiarkan kau hidup, tentu engkau akan menggunakan
kecantikanmu untuk merayu dan mencelakakan laki-laki saja. Kalau begitu, biar kubiarkan kau hidup, akan tetapi
kecantikanmu harus lenyap!" Tiba-tiba nampak sinar berkelebat, darah mengucur dan Ang Bwe-nio menjerit-jerit
sambil mendekap hidungnya. Batang hidung yang kecil mancung itu telah buntung dan lenyap, hanya lubang
mengerikan saja yang nampak di tempat hidungnya berdiri. Sambil mendekap mukanya yang berdarah, wanita itu
berlari keluar dari kamar itu, tidak peduli lagi apakah ia akan dibunuh kalau lari keluar. Sambil tersenyum,
Thian Sin membawa lima buah kepala itu pada rambut mereka, dan diapun keluar dari dalam kamar yang sudah banjir
darah yang keluar dari leher lima batang tubuh tanpa kepala itu.
Pemilik rumah penginapan dan para pembantunya berada di ruangan depan rumah penginapan itu, dan mereka
terbelalak melihat Ang Bwe-nio berlari-lari keluar menutupi muka dengan kedua tangan dan darah bercucuran
diantara sela-sela jari tangannya. Dan mereka itu terkejut ketika melihat pemuda tampan itu keluar pula dan
membawa lima buah kepala! Pemilik rumah penginapan menjerit dan berusaha melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba
sebuah kepala melayang terbang mengejarnya.
"Dukkkk!" Kepala yang terbang melayang itu menghantam kepala pemilik rumah penginapan yang roboh dan pingsan
karena kepalanya menjadi benjol dibantam kepala lain itu. Thian Sin tertawa dan melemparkan kepala yang lain di
atas meja penerima tamu, kemudian diapun pergi dari situ tanpa mempedulikan apa-apa lagi.
Peristiwa ini amat menggemparkan dan nama Pendekar Sadis makin terkenal.
Semua orang bergidik menyaksikan kekejaman yang luar biasa ini dan terutama sekali para penjahat menjadi kecil
nyalinya. Nama Pendekar Sadis menjadi semacam momok yang menakutkan bagi dunia hitam, dan di samping mereka itu
berjaga-jaga agar jangan sampai bertemu dengan pendekar itu, juga banyak penjahat yang mengadakan perundingan
bagaimana untuk menghadapinya dan membalas semua kekejaman yang telah dilakukan oleh pendekar itu terhadap para penjahat.
***
Ada perbedaan besar antara mendiang Raja Sabutai dan Raja Agahai yang kini mengepalai beberapa bangsa Nomad
itu. Raja Sabutai dahulu dicintai rakyatnya karena raja yang gagah perkasa itu juga mencinta rakyatnya,
menggembleng rakyatnya, menjadi rakyat yang gagah dan raja itu selalu berusaha untuk meningkatkan kehidupan
rakyatnya bahkan bercita-cita membawa rakyatnya ke dalam kebesaran dengan menundukkan raja-raja bangsa lain,
bahkan pernah hampir saja berhasil mengalahkan Kerajaan Tiongkok di selatan. Dan biarpun kekuasaannya muntlak
dan seluruh rakyatnya cinta dan taat kepadanya, Raja Sabutai tidak pernah bersikap sewenang-wenang terhadap
rakyatnya dan tidak pernah mengejar kesenangan diri sendiri dan mengorbankan rakyatnya.
Tidak demikian dengan Raja Agahai. Raja ini adalah seorang yang lemah, malas dan juga hanya mengejar kesenangan
diri sendiri saja, menjadi hamba nafsu, senang bermewah-mewah dan senang mengumpulkan harta kekayaan dan
membiarkan diri terseret ke dalam pemuasan nafsu berahi dengan memaksa gadis-gadis bangsanya menjadi selirnya
yang selalu bertambah itu. Tentu saja dia tidak mendapat hati dalam batin rakyatnya. Diam-diam, rakyatnya
membencinya, akan tetapi rakyatnya tidak berani berbuat apa-apa, karena Raja Agahai mengandalkan pasukannya.
Raja ini memanjakan pasukannya dan biarpun dia tidak mempedulikan rakyatnya, namun dia bersikap royal terhadap
pasukannya. Oleh karena ini, dia ditaati oleh pasukannya yang juga mencontoh perbuatannya dan menindas rakyat
dengan tindakan sewenang-wenang. Dengan demikian, terdapat perpisahan antara rakyat dan tentara. Tidak seperti
di jaman Raja Sabutai dahulu, di mana tentara dan rakyat menjadi kesatuan yang tak terpisahkan. Ketika itu,
tentaranya kuat karena dukungan rakyat, sedangkan rakyatnya merasa aman tenteram karena merasa memiliki
pelindung, yaitu pasukan kerajaan. Kini, rakyat memandang pasukan seperti orang memandang penjahat, dengan rasa
takut-takut karena biasanya, setiap berdekatan atau berkenalan dengan tentara, berarti mereka akan menemui kesulitan dan kekerasan, atau setidaknya mereka tentu akan terganggu dan menderita kerugian.
Raja Agahai memerintah rakyatnya dengan tangan besi melalui pasukan-pasukannya. Pasukan-pasukannya itu kini
seperti tentara bayaran saja, yang menjadi tentara karena menghenraki kehidupan yang layak dan kekuasaan yang
melebihi rakyat biasa, bukan sekali-kali menjadi tentara karena panggilan tugas membela negara dan bangsa.
Keadaan seperti itu tentu saja membuat kerajaan kecil ini menjadi lemah dan kekuasaannya terhadap suku-suku
bangwa lain tidak lagi seperti dahulu ketika masih dipimpin Raja Sabutai. Kini, suku-suku bangsa lain mulai
bangkit, apalagi karena suku bangsa Mancu pedalaman mulai membentuk diri menjadi bangsa yang kuat sehingga
kekuasaan suku bangsa yang dipimpin oleh Raja Agahai mulai terdesak. Akhirnya, Raja Agahai terpaksa mencari
tempat menetap di dekat perbatasan selatan, tidak dapat lagi berpindah-pindah seperti dahulu.
Puteri Khamila, bekas permaisuri Raja Sabutai, sering kali mengingatkan adik misan suaminya ini, akan tetapi
Raja Agahai malah menjadi marah. Karena permaisuri mendiang Raja Sabutai ini merupakan satu-satunya orang yang
berani mencelanya, menegur dan menentangnya, apalagi ketika pada suatu hari Puteri Khamila menentang secara
terang-terangan ketika Raja Agahai dengan kekerasan memaksa seorang pelayan wanita sang puteri untuk menjadi
selirnya, maka Raja Agahai lalu menyuruh tangkap Putri Khamila. Puteri yang usianya sudah enam puluh lima tahun
itu dipenjarakan!
Para komandan tua dan pembesar yang mengingat akan kebaikan sang puteri tua ini, merasa tidak setuju, akan
tetapi tak seorangpun berani menentang keputusan Raja Agahai. Juga rakyat yang mencinta sang puteri ini hanya
dapat membelanya. Hanya baiknya, para pejabat yang mengurus penjara, masih ingat akan kebaikan permaisuri Raja
Sabutai ini, maka sang puteri inipun diperlakukan dengan baik sehingga tidak terlalu menderita sengsara. Pada
waktu itu, Puteri Khamila telah dipenjarakan selama dua tahun! Puteri yang sudah tua ini siang malam hanya
berdoa untuk mengharap kedatangan puteranya, yaitu Pangeran Oguthai atau Ceng Han Houw, yang tidak pernah
didengar beritanya selama belasan tahun itu. Tak seorangpun yang berani mengabarkan kepadanya bahwa pangeran
yang ditunggu-tunggunya itu, putera tunggalnya yang amat dicintanya, telah tewas oleh pengeroyokan pasukan
kerajaan di selatan, yang dibantu pula antara lain oleh pasukan yang dikirim roleh Raja Agahai.
Juga politik Raja Agahai terhadap Kerajaan Beng di selatan sekarang menjadi amat lunak. Mengharapkan bantuan
pasukan Beng-tiauw untuk menghadapi persaingan dengan bangsa Mancu dan suku-suku bangsa lainnya, ia rela untuk
menyatakan takluk kepada Kerajaan Beng dan mengirim upeti setiap tahun, karena sebagai imbalannya, dia juga
menerima barang-barang indah dari selatan, yaitu kerajaan itu.
Dalam keadaan seperti itulah ketika Ceng Thian Sin tiba di kerajaan kecil itu! Pada waktu itu, karena hubungan
baik antara kerajaan itu dan Kerajaan Beng, maka banyak juga orang-orang Han dari selatan berdatangan ke situ
untuk berdagang. Mereka ini membawa barang-barang dari selatan, kain-kain sutera dan sebagainya, menjualnya
atau lebih tepat menukarnya dengan barang-barang berharga dari utara, seperti kulit-kulit binatang,
rempah-rempah, akar-akar obat yang berharga, dan sebagainya lagi. Perdagangan ini amat ramai dan kerajaan kecil
itu hampir setiap hari didatangi banyak pedagang yang datang menyeberang Tembok Besar. Hal ini amat
menguntungkan Thian Sin karena dia dapat dengan mudah memasuki pintu gerbang kerajaan kecil itu tanpa dicurigai sedikitpun.
Marah sekali hati Thian Sin ketika dia mendengar berita bahwa neneknya telah dipenjara! Di waktu kecil, ayahnya
mengajarkan bahasa suku bangsa itu kepadanya, dan kini tibalah waktunya dia memanfaatkan pengertian ini. Dengan
kepandaiannya berbahasa daerah, dia dapat menghubungi banyak orang dan mendengar bahwa neneknya ditahan dalam
sebuah rumah penjara. Bukan dicampurkan dengan orang-orang penjara lainnya, melainkan mendiami sebuah rumah,
akan tetapi rumah itu dijaga siang malam dengan ketat. Sang puteri selalu tinggal di dalam rumah itu, tidak
pernah diperbolehkan keluar sehingga melewatkan penghidupan yang amat kesepian, hanya dilayani oleh dua orang
pelayan yang sudah tua pula.
Thian Sin maklum bahwa tidak mungkin dia melawan Raja Agahai secara berterang. Dia hanya seorang diri saja dan
raja itu dilindungi oleh ribuan orang tentera. Pula, kalau dia menyelundup dan melawan Raja Agahai dengan
berterang, andaikata dia berhasil membunuhnya juga, tentu akibatnya amat tidak baik bagi neneknya. Maka diapun
segera mempergunakan akal. Dia melihat betapa semua pejabat dan pegawal pemerintah kini mudah sekali makan
sogokan. Sebelum memasuki kerajaan itu, dia sudah mempersiapkan diri dan membawa bekal untuk keperluan itu.
Make diapun lalu mempergunakan perak untuk menyogok para penjaga rumah penjara Sang Puteri Khamila.
Pada waktu itu, orang-orang Han yang berdatangan di negeri itu dipandang dengan hormat, tentu saja karena Raja
Agahai telah menyatakan tunduk kepada Kerajaan Beng. Oleh karena itu, permintaan Thian Sin kepada para penjaga
dengan memberi sogokan, agar dia boleh menghadap sang puteri tua, tidak mendatangkan kecurigaan melainkan
keheranan.
"Sobat, mau apakah engkau hendak menghadap sang puteri?" tanya komandan jaga.
"Aku membawa beberapa macam barang dagangan, sutera-sutera dan permata yang tentu akan disukai oleh seorang
puteri."
"Ah, akan tetapi sang puteri tidak akan datang membelinya! Beliau berada dalam penahanan, tidak mempunyai uang
untuk membeli barang mahal," bantah si penjaga dengan heran.
"Tidak bisa belipun tidak mengapalah. Ketika masih kecil, aku pernah melihat sang puteri yang cantik dan agung,
dan kini aku ingin sekali bertemu kembali dan menghadap beliau, sekedar untuk menawarkan dagangan sambil
melihat sekali wajah beliau."
"Ah, orang muda. Beliau sekarang sudah tua dan lemah. Akan tetapi, asal jangan terlalu lama dan jangan sampai
ketahuan orang luar, baiklah, kau boleh menghadap. Biar kulaporkan dulu apakah beliau bersedia menerimamu."
Kepala jaga itu lalu masuk dan melaporkan. Puteri Khamila merasa heran sekali mendengar bahwa ada seorang Han,
seorang pedagang muda yang mohon menghadap untuk menawarkan barang dagangan. Ia tidak mempunyai uang, dan pula,
untuk apa ia membeli barang-barang indah? Akan tetapi, Puteri Khamila bukan seorang bodoh. Kalau ada orang Han
yang ingin berjumpa dengannya, tentu membawa sesuatu yang penting. Maka, iapun memperkenankan orang muda itu
datang menghadap.
Ketika Thian memasuki ruangan rumah itu, jantungnya berdebar tegang. Rumah itu sunyi sekali dan ketika dia
dipersilakan masuk ke dalam ruangan belakang, dia melihat seorang nenek tua berambut putih duduk di atas sebuah
kursi. Mudah saja mengenal neneknya. Biarpun baru satu kali dia melihat neneknya, yaitu ketika dia masih kecil
dan diajak ayahnya mengunjungi nenek ini, namun dia tidak dapat melupakan wajah yang cantik dan agung itu.
Nenek itu sudah tua, rambutnya sudah putih semua, kulit mukanya keriputan, akan tetapi kulit itu masih halus
dan sikapnya kelika duduk di kursi itu seperti sikap seorang ratu duduk di atas singgasana saja. Begitu agung,
yang berada di situ hanya dua oran pelayan yang duduk bersimpuh di kanan kiri kursi.
Ketika dengan perlahan Thian Sin melangkah masuk dan sepasang mata yang membayangkan kedukaan itu menatap
wajahnya, kedua tangan nenek itu mencengkeram lengan kursi dan matanya terbelalak, mengeluarkan sinar akan
tetapi diliputi keraguan.
"Siapakah engkau...?" Suara itu agak gemetar dan penuh harap dan puteri itu berbahasa Han yang cukup baik, "dan
apa maksudmu datang menemui aku?"
Thian Sin merasa terharu sekali dan dia berkata dengan halus, "Apakah saya dapat bicara dengan bebas dan
leluasa dengan paduka?"
Puteri Khamila memandang ke arah daun pintu yang sudah ditutupkan kembali itu, lalu mmgangguk. "Jangan
khawatir, dua orang pelayan ini adalah orang-orang setia dan para penjaga itu betapapun juga tidak berani
melakukan pengintaian. Bicaralah!"
Thian Sin melangkah maju, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu sambil berkata dengan hati terharu,
"Nenek yang baik, saya adalah Ceng Thian Sin, putera dari Pangeran Ceng Han Houw atau Pangeran Oguthai."
"Oohhh... ah, sudah kuduga... ah, wajahmu begitu sama dengan dia...! Ah, cucuku, ke sinilah... ke sinilah..."
Thian Sin maju mendekat dan nenek itu lalu merangkul dan mendekap kepalanya sejenak. Akan tetapi ia segera
dapat menguasai hatinya, mendorong halus kepala pemuda itu dari rangkulannya, memandang wajah itu sampai lama
lalu berkata, "Ah, betapa bahayanya... bagaimana engkau dapat menyelundup ke sini, cucuku? Ah, ketika engkau ke
sini dahulu, engkau masih kecil... tapi wajahmu mirip benar dengan ayahmu. Engkau tahu, selama ini aku...
aku..."
"Saya sudah tahu segalanya, nek."
"Dan mana ayahmu? Ibumu? Kenapa selama ini mereka tiada berita?"
Thian Sin mengepal tinjunya. Neneknya belum tahu akan malapetaka yang menimpa ayah bundanya itu, dan hatinya
makin sakit terhadap Raja Agahai. "Maaf, nek, saya membawa berita buruk sekali. Ayah dan ibuku... mereka sudah tewas..."
"Ahhh...?" Nenek itu bangkit berdiri dan menutupi mulut dengan kedua tangannya agar menjeritnya tidak keluar,
matanya terbelalak dan mukanya pucat sekali, lalu ia terhuyung dan tentu akan jatuh kalau saja Thian Sin tidak
cepat meloncat dan merangkul neneknya. Nenek itu menangis sambil menyandarkan mukanya di dada cucunya, menangis
terisak-isak sampai baju pemuda itu menjadi basah oleh air mata. Thian Sin diam saja, tidak mengeluarkan
kata-kata, karena dia maklum bahwa menghibur neneknya di saat itu tidak ada gunanya sama sekali. Bahkan dia
membiarkan neneknya menangis sepuasnya. Dan memang, Puteri Khamila mengeluarkan semua perasaan dukanya yang
ditahan-tahan di waktu itu. Harapannya hanya satu, yaitu kedatangan puteranya untuk membebaskannya dan membikin
beres kerajaan yang dikotori oleh Agahai itu. Akan tetapi siapa tahu, putera dan mantunya telah tewas, maka hancurlah semua harapannya.
Akhirnya nenek itu dapat mengeluarkan suara keluh-kesah dalam tangisnya, "Oguthai... anakku, betapa tega engkau
meninggalkan ibumu... lalu siapakah yang akan datang untuk membuat perhitungan kepada Agahai, siapa yang akan membebaskan rakyat kita dari si lalim itu..."
"Jangan khawatir, nek. Saya mewakili ayah ibu datang ke sini justeru untuk keperluan itulah. Sayalah yang akan
menghancurkan Agahai berikut kaki tanganya, karena kematian ayah ibu juga sebagian adalah perbuatan Agahai dan kaki tangannya."
Seketika nenek itu menjadi marah dan lupa akan kedukaannya. "Ahh, keparat! Si bedebah yang tak mengenal budi!
Dia sudah diangkat menjadi raja, kini bertindak kejam! Ceritakanlah, bagaimana terjadinya sampai ayah bundamu tewas?"
Nenek itu duduk kembali, tangisnya sudah berhenti dan ia mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Thian Sin
bercerita tentang kematian ayah bundanya yang dikeroyok oleh banyak pasukan, yaitu pasukan Beng dibantu oleh orang-orang Agahai dan orang-orang dari beberapa tokoh datuk kaum sesat.
"Saya telah mempelajari limu sebanyak-banyaknya, nek. Dan sekarang tibalah waktunya bagi saya untuk membasmi
musuh-musuh yang telah menewaskan ayah ibu, dan pertama-tama saya akan membasmi Agahai!"
"Akan tetapi, engkau hanya seorang diri dan kedudukannya amat kuat, dia memanjakan pasukan sehingga pasukannya
amat taat kepadanya. Tak mungkin engkau menentang secara berterang begitu saja..."
"Karena itulah saya menjumpai nenek, untuk mohon petunjuk."
"Bagus, itu namanya bekerja dengan teliti dan tidak sembrono. Nah, dengarlah baik-baik, cucuku. Biarpun
kekuasaanku telah habis sama sekali, akan tetapi sesungguhnya sebagian besar dari pejabat tua masih setia
kepadaku, dan hanya karena takut kepada Agahai sajalah mereka itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ada seorang
panglima tua yang dahulu amat setia kepada kakekmu, dan sekarang dia hanya diberi jabatan sebagai menteri
urusan hiburan. Dia itu amat bijaksana dan cerdik. Kau pergilah kepadanya dan bekerja sama dengan dia, tentu
dia mempunyai jalan yang baik. Tunggu, kubuatkan surat untuknya."
Nenek itu lalu menuliskan huruf-huruf di atas saputangan putih dan memberikan surat itu kepada Thian Sin.
Setelah diberi tahu tentang nama dan tempat tinggal menteri hiburan itu, dan setelah diberi nasihat-nasihat
oleh neneknya, juga diberi sebuah kalung peninggalan Raja Sabutai yang dikalungkan di leher Thian Sin, pemuda
itu lalu keluar meninggalkan rumah tahanan itu dengan hati lapang dan penuh harapan. Tadinya dia sendiri memang
bingung dan tidak tahu bagaimana dia akan dapat membalas dendam kepada Raja Agahai, akan tetapi kini terbukalah jalan yang luas baginya.
Dengan mudah dia dapat mengunjungi Abigan, yaitu menteri urusan hiburan, seorang tua yang dahulu pernah menjadi
panglima yang setia dari Raja Sabutai. Hanya karena bekas panglima ini terkenal dan dikagumi para tentara sajalah maka Agahai masih memakainya dan diberi kedudukan yang tidak penting, yaitu menteri urusan hiburan. Dia
mengurus apabila kerajaan mengadakan pesta-pesta, menyambut tamu-tamu dan sebagainya.
Ketika menerima kunjungan Thian Sin, tadinya Abigan mengira bahwa Thian Sin seorang pemuda biasa dari selatan
yang datang bertamu ke kerajaan kecil ini, akan tetapi begitu Thian Sin menyerahkan surat dari Nenek Khamila,
menteri itu terkejut. Apalagi membaca surat perkenalan itu yang menyatakan bahwa pemuda ini adalah putera
tunggal Pangeran Ceng Han Houw atau Pangeran Oguthai, dia terkejut, terharu dan juga girang. Segera diajaknya
Thian Sin ke sebelah dalam, pemuda ini diberi kamar dan kedatangannya dirahasiakan. Dengan cepat Abigan
mengadakan kontak dengan kawan-kawan yang sehaluan, yaitu yang menentang Raja Agahai dengan diam-diam. Mereka
berdatangan ke rumah menteri hiburan ini dan diperkenalkan dengan Thian Sin. Mereka lalu mengadakan rapat
rahasia dan mengatur rencana untuk "memasukkan" Thian Sin ke dalam istana, bahkan diberi akal agar pemuda itu
mendapat kepercayaan dari Raja Agahai.
Thian Sin memperoleh banyak keterangan tentang Raja Agahai dalam rapat itu. Dia mendengar bahwa raja itu
sebenarnya hanya seorang yang lemah, dan yang menguasai raja itu adalah seorang Koksu yang bernama Torgan,
seorang Mancu yang amat cerdik dan juga pandai ilmu silat dan ilmu gulat. Torgan inilah yang mengatur
segala-galanya dalam pemerintahan. Torgan ini pula yang membikin mabuk Raja Agahai dengan segala macam
kesenangan, terutama wanita-wanita. Selir paksaan dari Raja Agahai amat banyak, tak terhitung lagi banyaknya.
Akan tetapi, dari sekian banyaknya selir, baru seorang saja yang berhasil mempunyai keturunan, seorang anak
laki-laki yang baru terlahir sebulan yang lalu. Dan di antara para selirnya, yang paling dikasihi adalah
seorang selir berbangsa Biaw, justeru bukan selir yang melahirkan anak. Semua ini dipelajari Thian Sin.
"Kebetulan sekali, minggu ini pesta besar-besaran oleh keluarga raja untuk merayakan usia sebulan dari pangeran
tunggal itu," kata Menteri Abigan. "Ini merupakan kesempatan baik untuk memperkenalkan Ceng-kongcu kepada Sri
Baginda. Akan tetapi, sebagai apa? Sebagai seorang pedagang muda? Kurang tepat dan tentu akan menimbulkan
kecurigaan Koksu Torgan yang bermata tajam dan amat cerdik itu. Andaikata sebagai anak keluargaku dari Mancu
dan menyamar sebagai pemuda Mancu, bahasa Ceng-kongcu tentu akan ketahuan, karena kaku. Ah, kita harus berhati-hati, terutama sekali terhadap Torgan yang cerdik. Jangan sampai sebelum tujuan tercapai, kita gagal di tengah jalan."
"Aku ada akal!" kata Thian Sin. "Bukankah di istana, akan diadakan pesta untuk merayakan kelahiran pangeran?
Nah, bagaimana kalau taijin memperkenalkan aku sebagai seorang pemain sulap?"
"Tukang sulap? Apakah kongcu dapat bermain sulap? Hati-hati, Torgan seorang yang pandai sekali, tidak mudah ditipu."
"Harap cu-wi lihat, kalau kedua tanganku berubah menjadi ular seperti ini, apakah dia belum percaya bahwa aku
seorang tukang sulap?" Tiba-tiba Thian Sin menggerakkan kedua lengannya dan... semua orang yang hadir dalam
rapat itu berseru kaget karena kedua lengan pemuda itu benar-benar telah berubah menjadi ular yang menggerakkan lidah keluar masuk dan menggeliat-geliat mengerikan.
"Bagus! Sulap yang mengagumkan!" kata Abigan dengan kagum.
Thian Sin tertawa, menurunkan kedua lengannya lagi dan lenyaplah ular-ular itu. "Ini hanya sulap biasa saja.
Aku masih mampu mainkan suling dan menyanyikan sajak-sajak dan tentang permainan sulap lain, masih banyak
macamnya. Misalnya ketrampilan tangan seperti ini!" Thian Sin memegang kedua sumpitnya dan dengan sumpit itu
dia melemparkan mangkok yang penuh sayuran ke atas. Mangkok itu melayang ke atas disusul oleh mangkok ke dua
yang juga penuh sayur. Dan dia menerima dengan dua batang sumpit itu. Dua batang sumpit itu tepat menerima dua
buah mangkok sayur, menyangga di bawahnya dan dengan gerakan pergelangan tangannya, dia membuat dua mangkok itu
berputar-putar di atas sumpit tanpa sedikitpun ada kuah sayur yang tumpah. Dan beberapa kali dia melemparkan
dua buah mangkok itu ke atas dan diterima oleh ujung sumpit. Tentu saja semua yang melihat kepandaian ini
bertepuk tangan memuji. Mereka sudah sering melihat pemain sulap memperlihatkan ketrampilan seperti ini, akan
tetapi tidak dengan mangkok yang berisi sayur dengan kuahnya.
Thian Sia menghentikan demonstrasinya. "Selain sulap, juga aku dapat menghibur raja dengan permainan suling dan
bernyanyi." katanya sambil tersenyum.
Melihat kepandaian putera Pangeran atau cucu dari mendiang Raja Sabutai ini, Menteri Abigan menjadi girang,
kagum dan juga terharu, usaha pangeran ini pasti berhasil, pikirnya. Demikian pula para rekannya yang menaruh
kepercayaan besar kepada pangeran keturunan Raja Sabutai yang dikenal sebagai Ceng-kongcu ini.
Mereka lalu mengadakan perundingan dan mengambil keputusan bahwa langkah-langkah mereka diatur seperti berikut.
Pertama, tentu saja memperkenalkan Ceng-kongcu kepada Raja Agahai sebagai penghibur dalam pesta dengan permainan sulap, suling dan nyanyi sajak. Ke dua, mereka semua akan diam-diam mengerahkan pengikut-pengikut
masing-masing untuk bersiap-siap turun tangan apabila pemuda itu berhasil membunuh Raja Agahai, yaitu dengan mengepung istana dan melucuti atau membasmi semua pasukan pengawal. Ke tiga, mereka akan menyelidiki siapa para perwira dan anak buahnya yang dahulu ikut mengeroyok Pangeran Ceng Han Houw.
***
Keluarga Raja Agahai mengadakan pesta untuk merayakan kelahiran pangeran pertama yang sudah sebulan usianya.
Berbeda sekali keadaan pesta yang diadakan raja ini dengan Raja Sabutai dahulu. Kalau Raja Sabutai berpesta,
sebagai seorang raja dan juga seorang tokoh besar dunia kang-ouw di dunia utara sebagian besar undangannya
adalah tokoh-tokoh kang-ouw pula. Akan tetapi, Raja Agahai hanya mengundang kepala-kepala suku bangsa dan juga
wakil-wakil dari pasukan penjaga tapal batas di Tembok Besar yaitu pasukan Beng-tiauw. Ada pula orang-orang Han
yang biasa hilir mudik ke kerajaan ini, membawa dagangan-dagangan, dan menjadi langganan keluarga raja, menjadi
tamu pula. Selain para undangan, juga para pembantu Raja Agahai yang tinggi kedudukannya, hadir bersama isteri
masing-masing. Di antara mereka tentu saja terdapat penasihat raja, yaitu Koksu Torgan. Bahkan Koksu Torgan
inilah yang mengatur penjagaan dengan ketat. Kedua matanya yang lebar dan liar itu, di bawah sepasang alis
tebal tiada hentinya memandang ke kanan kiri, menyelidiki para tamu dengan penuh kecurigaan sehingga siapapun
juga yang bertemu pandang dengan koksu ini akan merasa kikuk dan tidak nyaman hatinya.
Raja Agahai sendiri dengan senyum bahagia duduk bersanding dengan para isterinya yang rata-rata masih muda-muda
dan cantik-cantik, aken tetapi isterinya atau selirnya yang berbangsa Biauw itu, yang memang amat cantik dan
yang usianya paling banyak baru sembilan belas tahun, duduk paling dekat di sebelah kiri Sang Raja. Kecantikan
selir ini memang menyolok sekali, bukan hanya wajahnya yang cantik jelita dan manis, akan tetapi bentuk
tubuhnya amat menggairahkan, ditambah lagi sikapnya yang memang menarik, bukan dibuat-buat, melainkan karena
memang sudah pembawaannya wanita ini memiliki sikap yang menarik dan merangsang. Selir yang beruntung
mendapatkan keturunan itu, duduk di sebelah kanan Sang Raja, tentu saja karena melahirkan seorang putera,
sekakigus kedudukannya naik dan ia dipandang sebagai isteri yang paling berjasa. Anak kecil berusia satu bulan
itu ditidurkan di sebuah pembaringan kecil, dijaga dua orang inang pengasuh. Dan tak jauh dari situ, di atas
meja besar, dikumpulkanlah semua barang hadiah atau sumbangan dari para tamu, sumbangan yang lebih ditujukan
kepada Raja Agahai daripada kepada anak kecil berusia sebulan itu.
Setelah semua tamu datang berkumpul, Menteri Abigan yang sejak pagi sekali sudah sibuk mengatur pesta itu yang
menjadi bagiannya atau tugasnya, menghadap Raja Agahai dan berkata. "Sri baginda, tukang sulap yang akan
menghibur pesta ini telah siap menanti."
"Ha-ha-ha, bagus sekali, suruh dia datang menghadapku lebih dulu sekarang. Aku ingin melihat dan bertemu
dengannya."
Menteri Abigan memberi isyarat kepada pembantu-pembanttinya, dan tak lama kemudian, Thian Sin diiringkan
beberapa orang petugas menuju ke panggung di mana keluarga raja itu duduk berkumpul.
"Ah, dia masih muda dan tampan sekali, Abigan!" kata raja itu ketika melihat seorang pemuda bangsa Han memberi
hormat di depannya dengan sikap yang selain hormat, juga amat ramah, dengan senyum yang menarik.
"Banyak terima kasih atas pujian Sri baginda yang mulia, dan semogalah menjadi berkah bagi hamba!" kata Thian
Sin dengan suara yang diatur bersajak, dan juga dia mengucapkannya dengan suara seperti orang berdeklamasi!
Mendengar Thian Sin mengeluarkan kata-kata yang indah dalam bahasa daerah, dengan suara merdu seperti bernyanyi
pula, raja dan para selir menjadi tertarik. Raja Agahai tertawa gembira.
"Bagus! Bagus sekali, engkau pandai berbahasa daerah, tentu saja kabarnya engkau pandai bersajak, menyanyi dan
bermain sulap, tentu saja pandai segala bahasa. Eh, orang muda yang pandai, coba katakan, menurut pendapatmu,
nama apakah yang patut kami berikan kepada putera kami ini?"
Thian Sin sudah memperoleh keterangan segala-galanya mengenai keadaan keluarga itu, bahkan pilihan nama untuk
putera raja itu, yang belum diumumkan, telah bocor dan dapat diketahui olehnya melalui para pembantu Menteri
Abigan. Dia mendengar bahwa Raja Agahai hendak memberi nama Temuyin kepada puteranya. Sungguh merupakan suatu
kesombongan karena nama ini adalah nama raja terbesar dalam sejarah bangsa Mongol, karena Temuyin ini adalah
nama kecil dari Raja Jenghis Khan!
Mendengar ini, Thian Sin mengambil sikap sungguh-sungguh. "Nama untuk putera paduka, ditentukan oleh para
dewata, seorang manusia biasa seperti hamba, mana berani lancang menerkanya?" katanya kemudian dengan nada
suara indah. Kemudian, pemuda ini mengerahkan tenaga sakti ilmu sihirnya, memandang kepada raja dan
melanjutkan. "Akan tetapi, Sri Baginda yang mulia. Hamba melihat cahaya di sekitar tubuh putera paduka, ah,
benar... cahaya cemerlang menyilaukan mata, dan cahaya seperti itu hanya dimiliki oleh raja besar pertama dari
bangsa Mongol yang gagah perkasa tiga abad yang lalu..."
Raja Agahai tadi memandang sepasang mata yang mencorong dari pemuda itu, lalu dia ikut menoleh ke arah
pembaringan puteranya dan... dia terbelalak melihat betapa benar saja ada cahaya terang meliputi seluruh tubuh
puteranya itu! Cahaya yang mencorong menyilaukan mata! Kemudian, mendengar ucapan bahwa cahaya seperti itu
hanya dimiliki raja besar pertama dari bangsa Mongol pada tiga abad yang lalu, hatinya girang bukan main.
Karena raja pertama yang dimaksudkan itu, siapa lagi kalau bukan Raja Besar Jenghis Khan yang di waktu kecilnya
bernama Temuyin? Dan memang dia hendak memberi nama Temuyin kepada puteranya, disamakan dengan nama raja besar itu!
"Bagus... bagus... memang engkau seorang yang amat pandai. Eh, siapakah namamu, orang muda yang cerdas dan
pandai?"
"Nama hamba adalah Hauw Lam, Sri Baginda." jawab Thian Sin tanpa memberi she atau nama keturunan pada nama itu.
Akan tetapi Raja Agahai tidak memperhatikan, atau mengira bahwa pemuda ini she Hauw bernama Lam. Dia tidak
berpikir lebih panjang bahwa nama itu berarti Anak Laki-laki Berbakti.
"Baik, kami girang sekali engkau mau menghibur pesta ini, Hauw Lam. Nanti setelah tiba waktunya, engkau boleh
menghibur para tamu dengan permainanmu."
Pada saat itu, tiba-tiba saja muncul Koksu Torgan. Dengan sinar matanya yang tajam dia memandang kepada pemuda
tampan yang bercakap-cakap dengan rajanya itu, dan melihat rajanya tertawa-tawa gembira, kemudian melihat sinar
mata yang mencorong dari pemuda itu, koksu ini mengerutkan alisnya yang bercampur uban dan cepat menghampiri.
Melihat datangnya Sang Koksu, Raja Agahai tertawa. "Ah, Koksu, kebetulan engkau datang. Lihat, pemuda tukang sulap ini sungguh seorang yang hebat dan menyenangkan sekali. Dia akan menghibur para tamu, memeriahkan pesta ini dengan pertunjukan sulap dan permainan suling dan sajak."
Hanya koksu inilah satu-satunya orang yang tidak bersikap sangat hormat kepada raja, tidak berlebih-lebihan seperti sikap orang lain karena dia yakin benar akan pengaruh dan kekuasaannya. Dengan alis berkerut dia memandang wajah pemuda itu tanpa menjawab ucapan raja.
"Siapakah yang memperkenalkan pemuda ini kepada Paduka?" Dia balik bertanya akan tetapi masih terus mengamati Thian Sin.
"Menteri Abigan yang membawanya," kata Raja.
"Hamba yang melihat kebagusan permainannya dan hamba yang memperkenalkannya kepada Sri Baginda, Koksu," kata menteri tua itu dengan hormat.
Koksu itu mengeluarkon suara dari hidung, seperti orang mendengus. "Hemm, kami tidak mengenal pemuda ini dan
karenanya tidak percaya kepadanya. Akan tetapi kami mengenalmu, Menteri Abigan. Tentu engkau sudah mengerti
bahwa segala yang dilakukan pemuda ini menjadi tanggung jawabmu, tanggung jawab seluruh keluargamu kalau sampai
dia melakukan yang tidak baik!" Setelah berkata demikian, koksu ini sekali lagi menatap tajam wajah Thian Sin,
kemudian menjura kepada raja dan meninggalkan panggung itu. Diam-diam Thian Sin mencatat dalam hatinya bahwa
orang itu amat berbahaya dan perlu segera disingkirkan. Akan tetapi ada suatu hal lain yang mendebarkan
hatinya, yaitu selir bangsa Biauw itu. Selir muda dan cantik ini, selama dia tadi menghadap kaisar, memandang
kepadanya dengan sinar mata yang jelas mengandung kekaguman dan kemesraan! Senyum itu! Kerling mata itu! Begitu
penuh daya pikat dan begitu penuh janji. Tahulah Thian Sin bahwa selir muda dari raja tua itu menaruh hati
kepadanya. Inipun merupakan jalan yang amat baik, pikirnya sambil diam-diam tersenyum puas.
Sikap koksu tadi agaknya mengurangi kegembiraan Sang Raja yang memberi isyarat kepada Menteri Abigan untuk
mengajak Thian Sin mundur dari situ. Setelah mereka mundur dari situ, melalui seorang pembicara, raja lalu
mengumumkan nama dari puteranya, yaitu Pangeran Temuyin! Tentu saja pengumuman ini disambut dengan tepuk
tangan, ada yang memuji pilihan yang tepat itu, ada pula yang diam-diam mencela bahwa tidak pantaslah seorang
raja kecil seperti Agahai ini menamakan puteranya Temuyin, nama pendiri Dinasti Goan yang telah tumbang itu.
Akan tetapi tentu saja tidak ada yang berani mencela.
Setelah pengumuman itu, pestapun dimulailah. Thian Sin sendiri juga dijamu oleh Menteri Abigan dan pemuda ini
makan minum sepuasnya. Di tengah-tengah perjamuan itu, para tamu saling bicara sendiri dan keadaan menjadi
bising, apalagi ditambah dengan adanya suara musik yang dimainkan orang untuk memeriahkan suasana pesta.
Berbeda dengan kalau mendiang Raja Sabutai mengadakan pesta di mana selalu diadakan pertunjukkan silat, kini
yang dipertunjukkan adalah tari-tarian dari para penari-penari muda yang cantik dan genit, suasana menjadi
meriah sekali ketika di antara para tamu yang sudah terlalu banyak minum arak itu ada yang ikut pula menari
bersama para penari genit itu. Terdengar suara ketawa di sana-sini dan suasana menjadi amat gembira. Setelah
beberepa tarian dimainkan, akhirnya Menteri Abigan sebagai pengatur acara hiburan, mengumumkan dengan suara lantang.
"Hadirin yang terhormat, kini Sri Baginda Raja yang kita cintai berkenan menghibur cu-wi (anda sekalian) dengan
menampilkan seorang muda yang ahli bermain sulap, meniup suling dan membuat sajak. Inilah dia, pemuda yang cerdas dan menarik, Hauw Lam!"
Terdengar tepuk sorak ketika Thian Sin muncul ke atas panggung, dan ternyata yang bertepuk sorak itu adalah
keluarga raja yang dipelopori oleh selir suku bangsa Biauw itu! Thian Sin menjura ke arah tempat duduk raja dan
keluarganya sambil tersenyum manis. Wajahnya yang tampan itu agak merah, karena selain dia tadi minum arak agak
banyak juga diapun sebetulnya merasa canggung harus berhadapan dengan demikian banyaknya orang sebagai seorang pemain panggung. Dia merasa seolah-olah dia telah menjadi seorang badut!
"Cu-wi yang terhormat," kata Thian Sin dengan lagak menarik, suaranya seperti orang bernyanyi. "Hari ini adalah
hari keramat dan kepada keluarga Sri Baginda yang amat berbahagia kami mengucapkan selamat! Saya sebagai
seorang pengembara, hanya dapat menyumbangkan seekor burung dara!" Setelah mengeluarkan kata-kata bersajak ini,
dengan suara yang menarik sekali, tiba-tiba Thian Sin berseru. "Lihatlah, seekor burung dara terbang ke
angkasa!" Dan tiba-tiba saja, seperti keluar dari lengan bajunya, di tangan kanannya yang diangkat
tinggi-tinggi itu terdapat seekor burung dara putih menggeleparkan sayapnya dan ketika dilepaskan, burung itu
terbang ke udara sampai tinggi dan lenyap.
"Aku tidak melihat burung dara!" Tiba-tiba terdengar suara mengguntur dan Thian Sin cepat menengok. "Jangan
mengeluarkan permainan menipu! Tidak ada kulihat burung dara!" Kiranya yang bicara itu adalah Koksu Torgan yang
memandang kepada Thian Sin dengan sepasang matanya yang tajam dan berpengaruh itu. Tahulan Thian Sin bahwa
orang ini adalah lawan yang cukup berbahaya, yang tidak terpengaruh oleh daya sihirnya tadi. Akan tetapi, Thian
Sin adalah seorang pemuda yang cerdik sekali. Dia menjura dengan hormat kepada orang tua itu dan tersenyum
ramah.
"Ah, maafkan saya, Koksu. Paduka adalah Koksu Torgan yang bijaksana, mengatakan tidak tahu burung dara berada
di mana!" Lalu Thian Sin menghadapi semua tamu dan bertanya dengan suara ramah dan lagak yang lucu. "Mohon
tanya kepada cu-wi yang mulia, apakah tadi ada seekor burung dara?"
"Ada...! Ada...!" Terdengar jawaban di sana-sini yang disusul oleh yang lain, bahkan para selir raja sendiripun berteriak mengatakan ada.
Thian Sin menghadapi Koksu Torgan sambil membentang lengan dan mengangkat bahu seolah-olah tidak berdaya
melawan pendapat banyak orang. "Maaf, Koksu, kalau tadi Koksu belum melihat burung-burung dara, sekarang hamba
persembahkan untuk Anda!" Tiba-tiba Thian Sin membuat gerakan dengan tangannya dan berteriak nyaring, "Inilah
seekor burung bangau botak untuk Koksu!" Dan sungguh mengherankan, di tangannya telah terdapat seekor burung
bangau besar yang kepalanya botak, dan pemuda itu mengulurkan tangannya, menyerahkan burung jelek itu kepada
Sang Koksu. Tentu saja sekali ini Thian Sin mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencoba "kekuatan" koksu itu
dan ternyata koksu itu terpengaruh. Matanya terbelalak melihat burung bangau yang hendak mematuknya itu, maka dia undur tiga langkah.
"Ilmu setan...!" gumamnya dan diapun terus menjauh.
"Sayang, bangau, begini buruk rupamu sehingga Sang Koksu tidak menghendakimu! Nah, terbanglah melayang, kembali
ke sarang!" Dan bangau itupun terbang ke atas lalu lenyap! Semua orang bersorak dan bertepuk tangan memuji,
sedangkan koksu itu memandang dengan penuh kecurigaan. Didekatnya Menteri Abigan dan koksu ini berbisik
kepadanya.
"Menteri Abigan, dari mana engkau menemukan bocah setan ini?"
"Bocah setan mana...? Ah, dia bukan bocah setan, melainkan seorang pemuda yang pandai dan menarik sekali,
Koksu."
"Bodoh! Dia itu amat berbahaya!" Koksu berkata lirih dan diam-diam Menteri Abigan merasa terkejut sekali. Koku
ini sungguh amat cerdik dan berbahaya dan dia mengkhawatirkan keselanatan cucu Puteri Khamila itu.
Akan tetapi yang dikhawatirkan itu nampak tenang-tenang dan gembira saja. Memang hati Thian Sin merasa tenang
karena kini dia telah menguji kekuatan batin Sang Koksu dan dia mengerti bahwa biarpun dia tidak akan mampu
menguasai koksu itu sepenuhnya, namun koksu itu bukan ahli sihir dan juga tidak perlu mengkhawatirkan kekuatan
batinnya. Betapapun juga, melihat Sang Koksu berbisik-bisik dengan Menteri Abigan, kemudian koksu itu memanggil
komandan jaga seolah-olah memberi perintah sesuatu, dan melihat betapa penjagaan semakin diperketat, tahulah
dia bahwa koksu itu menaruh curiga kepadanya dan dia tidak boleh turun tangan pada saat itu, karena tentu akan
menghadapi pengeroyokan ratusan orang pengawal.
Maka Thian Sin lalu memainkan mangkok-mangkok dengan sepasang sumpit seperti yang pernah dia perlihatkan kepada
Menteri Abigan dan rekan-rekannya dan permainan inipun mendapatkan sambutan tepuk tangan.
"Cu-wi, sekarang saya hendak memperlihatkan permainan yang menarik. Kalau tidak salah, saya tadi melihat ada
kacang goreng di antara hidangan itu, bukan? Nah, sekarang, biarlah saya menjadi sasaran dan cu-wi semua yang
duduk di sebelah depan, boleh menyambitkan kacang itu kepada saya. Semua kacang itu akan saya sambut dengan
kedua tangan!"
Terdengar seruan-seruan tidak percaya dari para tamu. Akan tetapi karena mereka tertarik, maka ada beberapa
orang mulai menyambitkan beberapa buah kacang kepada pemuda itu. Dan benar saja. Pemuda itu menyambut
kacang-kacang itu dengan kedua telapak tangan dikembangkan keluar. Anehnya, kacang-kacang itu beterbangan ke
arah dua telapak tangan itu, ke bagian tubuh manapun mereka menyambit. Melihat ini, semua tamu menjadi tertarik
dan beterbanganlah kacang-kacang yang banyak sekali seperti hujan ke arah tubuh Thian Sin. Dan sungguh
mengherankan sekali, semua kacang itu beterbangan hanya menuju ke arah kedua telapak tangannya dan jatuh di
depan kaki Thian Sin sehingga sebentar saja di situ telah bertumpuk banyak kacang goreng! Hal ini amat
menggembirakan sehingga beberapa orang selir raja ikut pula menyambit! Terutama sekali selir bangsa Biauw itu
yang menyambit dengan sikap yang menarik sekali dan dengan senyum simpul penuh daya pikat!
"Plakkk!" Tiba-tiba ada sambitan yang keras mengenai telapak tangan kiri Thian Sin dan pemuda itu melirik.
Kiranya yang menyambitnya adalah koksu. Tahulah dia bahwa koksu ini memang memiliki kelebihan dariapda orang
lain, akan tetapi dia tidak khawatir. Karena sambitan koksu itupun tersedot oleh kekuatan yang dikerahkannya
pada dua telapak tangannya, maka diapun dapat mengukur tenaga koksu itu. Sebaliknya, diam-diam Sang Koksu
terkejut bukan main. Dia adalah orang yang berpengalaman, baik dalam hal sastera maupun silat. Maka kini diapun
menduga bahwa pemuda ini bukan pemuda sembarangan. Selain pandai sihir, pemuda inipun pandai ilmu silat tinggi!
Makin curiga hatinya. Tidak mungkin kalau seorang pemuda dengan ilmu kepandaian seperti itu hanya menjual kepandaiannya dengan menjadi seorang tukang sulap penghibur tamu! Tentu ada niat tertentu sembunyi dalam
pertunjukkannya ini! Dia tadi sudah mengerahkan pasukan pengawal untuk memperketat penjagaan, terutama sekali untuk menjaga keselamatan rajanya.
"Cukup...! Cukup...! Sayang sekali kalau makanan dibuang-buang begitu saja!" kata Thian Sin sambil tertawa
dan... kacang-kacang yang masih melayang membalik ke arah para penyambitnya. Akan tetapi tenaga membalik ini tidak terlalu kuat sehingga tidak sampai melukai yang menyambit, melainkan membuat mereka tertawa-tawa karena kacang-kacang itu ada yang mengenai kepala, muka dan tubuh mereka.
"Sekarang saya hendak memainkan suling. Harap cu-wi jangan mentertawakan, permainan suling saya ini hanya
permainan dusun, dan untuk selingan saya akan membacakan sajak!"
Semua orang menghentikan ketawa mereka dan keadaan menjadi sunyi, seolah-olah semua orang terpesona oleh daya
pikat yang keluar dari pemuda ini. Semua orang termasuk keluarga raja, seolah-olah dengan sungguh-sungguh
hendak mendengarkan permainan suling dan pembacaan sajak dari pemuda yang makin lama makin menarik hati mereka
itu. Mereka tidak lagi melihat Thlan Sin sebagai orang Han, karena biarpun pemuda itu memakai pakaian Han, akan
tetapi pemuda itu bicara bahasa daerah dengan lancar sekali dan sama sekali tidak kaku seperti orang-orang Han lainnya.
"Pertama-tama, perkenankan saya memainkan lagu 'Sebatangkara'." Dan mulailah dia meniup sulingnya. Sejak kecil,
Thian Sin memang suka bermain suling dan dia berbakat sekali. Bakat meniup suling ini menjadi makin sempurna
dengan tenaga khi-kang yang dimilikinya sehingga ketika meniup, bukan sekedar tupan angin belaka, melainkan
tiupan yang mengandung tenaga khi-kang yang kuat. Dia meniup lagu yang sedih dengan sulingnya, maka
terdengarlah suara suling yang melengking tinggi rendah mengalun dan menggetarkan jantung para pendengarnya.
Para pendengar itu seolah-olah dapat menangkap keluh-kesah, rintihan dan ratap tangis yang memilukan terkandung
dalam lengkingan suara suling yang mengalun itu. Suasana menjadi sunyi, semua semua orang tenggelam ke dalam
perasaan, hanyut dalam buaian suara suling, bahkan tak terasa lagi, beberapa orang selir raja menyentuh-nyentuh
bawah mata mereka dengan saputangan. Dengan nada yang makin merendah seperti tangis yang kehabisan suara dan
napas, akhirnya suling berhenti dan sebelum semua orang yang dihanyutkan perasaannya itu normal kembali,
terdengarlah pemuda itu menyanyi, lagunya seperti yang dimainkan suling tadi, kata-katanya satu-satu dan jelas,dengan suara yang menggetar penuh perasaan pula.
"Bagai awan tunggal di angkasa
terbawa angin semilir lembut tanpa tujuan tiada pangkalan sebatangkara tanpa harapan ayah bunda tewas bersama dikeroyok anjing serigala dendam membara membakar dada haruskah diam seribu kata biar diri banjir air mata
atau menjadi kilat bercahaya menggelepar gegap-gempita membersihkan noda dan dosa hutang dibayar budi dibalas
Semua orang menjadi terharu mendengar nyanyian ini, apalagi karena dinyanyikan penuh perasaan. Para selir raja
memandang bengong dan tak terasa lagi ada yang menangis, menyembunyikan mata dan hidung di balik
saputangan-saputangan sutera harum. Para tamu juga terpesona, sejenak terdiam. Mereka adalah orang-orang utara
dan mereka tidak merasa heran tentang orang-orang yang mati dikeroyok anjing serigala. Akan tetapi kepedihan
dan kedukaan hati seorang anak yang agaknya ditinggal mati ayah bundanya yang dikeroyok anjing serigala, baru
sekarang ini terasa menusuk hati mereka. Menteri Abigan memandang dengan wajah pucat. Cucu Puteri Khamila itu
terlalu berani! Nyanyiannya itu terlalu mendekati kenyataan, terlalu mengandung sindiran. Untung agaknya Raja
Agahai tidak sadar dan dialah yang pertama-tama bertepuk tangan memuji yang segera dituruti oleh semua orang.
Pecahlah sorak-sorai dan tepuk tangan memuji kepandaian pemuda itu. Akan tetapi ada satu orang yang tidak
bertepuk tangan, dan orang ini adalah Koksu Torgan! Tentu saja Thian Sin juga tidak lengah dan diam-diam dia
mengikuti gerak-gerik koksu ini.
Dia melihat betapa di tengah-tengah tepuk sorak itu, Torgan menghampiri Raja Agahai dan bicara dengan asyik
kepada raja itu yang mendengarkannya dengan alis berkerut dan pandang mata penuh selidik ke arah Thian Sin.
Pemuda ini mengerahkan kekuatan pendengarannya dan mendengar bisikan-bisikan koksu itu kepada rajanya.
"Harap Paduka hati-hati. Pemuda itu pandai sihir, pandai silat dan sastera. Jelas dia bukan orang biasa dan
kedatangannya yang menyamar sebagai tukang sulap ini tentu mengandung maksud yang tidak baik. Hamba akan
mengawasi dia!" Demikian antara lain dia mendengar bisikan koksu itu kepada rajanya.
Akan tetapi Thian Sin mengambil sikap tidak peduli dan dia sudah siap meniup lagi sulingnya, akan tetapi
sekarang dia meniup dan mainkan lagu-lagu yang gembira sehingga wajah para tamu kembali cerah, terbawa oleh
suara suling itu. Setelah menghentikan tiupan sulingnya, Thian Sin lalu menyanyikan lagu itu dengan kata-kata
yang memang sudah dirangkai dan dihafalkan sebelumnya.
Kuhaturkan nyanyian ini sebagai doa dan puji kepada Pangeran Temuyin
semoga berbahagia abadi bagaikan cahaya bulan bertahta di angkasa
bebas dari rintangan awan yang lewat di bawahnya akan tetapi... ya Tuhan
"Ada yang tidak beres...! Tiba-tiba pemuda itu menghentikan sajaknya dan mengeluarkan seruan ini dengan mata
terbelalak memandang ke arah tempat ayunan di mana pangeran yang masih bayi itu diletakkan. Kemudian, pemuda
ini lari menghampiri tempat itu, dan karena perbuatannya ini begitu tiba-tiba, bahkan Koksu Torgan sendiri
tidak menduganya dan tahu-tahu pemuda itu telah tiba di dekat ayunan itu, menjenguk ke dalam.
"Heii... mundur, jangan mendekati Pangeran!" Koksu Torgan berteriak sambil meloncat menghampiri dan para
pengawal juga sudah memburu ke tempat itu. Akan tetapi Thian Sin dengan gerakan begitu cepatnya, sehingga tidak
nampak oleh siapapun telah menjamah pundak bayi itu dan pemuda ini berseru.
"Celaka... Pangeran telah diracuni orang...!" Tentu saja ucapannya ini mendatangkan kejutan luar biasa. Raja
Agahai sendiri meloncat menghampiri, demikian pula semua isterinya atau selirnya, tidak ketinggalan selir suku
bangsa Biauw yang cantik jelita itu.
Semua orang memandang kepada bayi itu dan terkejutlah mereka. Bayi itu pucat sekali dan matanya mendelik,
napasnya senin-kemis terengah-engah! Ibunya menjerit-jerit dan suasana menjadi panik. Dalam keadaan berjubel
dan panik itu, tiba-tiba selir bangsa Biauw itu merasa pinggulnya dibelai dan dicubit tangan nakal. Ia terkejut
sekali dan cepat menoleh dan ia melihat wajah tampan itu tersenyum. Ternyata Thian Sin telah berada di
belakangnya dan jelaslah bahwa pemuda ini yang tadi mencubit dan membelai bukit pinggulnya. Wajah selir ini
menjadi merah sekali dan ia menahan senyumnya, matanya yang jeli itu mengerling penuh teguran. Thian Sin
tersenyum dan kembali jari-jari tangannya mengelus punggung dan pinggul. Selir itu agaknya takut ketahuan
orrang, lalu menjauhi Thian Sin dan mendesak mendekati ayunan.
"Jangan dikerumuni Sang Pangeran! Harap semua mundur, hamba dapat menyembuhkannya...!" Tiba-tiba Thian Sin
berseru dan dengan sikap halus dia menyuruh semua orang mundur. Ketika Koksu Torgan agaknya tidak mau mundur,
Thian Sin lalu menyentuh lengan dan pundak koksu itu sambil mendorong halus dan berkata, "Maaf, Koksu. harap
mundur karena Sang Pangeran sakit keras dan hamba akan berusaha menyembuhkannya!"
"Minggir kau, setan!" Koksu Torgan marah dan mengibaskan tangan Thian Sin dan mendorongnya. Thian Sin terhuyung
ke belakang, lalu mengambil sikap seperti orang tak berdaya dan mengembangkan kedua lengan, menggeleng-geleng kepala.
Koksu Torgan dan Raja Agahai menjenguk ke dalam ayunan itu. Sang Raja melihat pembantunya memeriksa dengan
teliti, dan bertanya, "Bagaimana keadaannya?"
"Ah, sungguh aneh sekali. Bukankah tadinya beliau segar bugar? Hamba sendiri tidak tahu mengapa beliau bisa
begini..." kata Koksu itu bingung melihat keadaan Sang Pangeran. "Sebaiknya dipanggil tabib..."
"Tabib tua akan dapat menolongnya!" Tiba-tiba Menteri Abigan yang juga sudah berada di situ berkata.
"Tidak, sebaiknya tabib muda saja," kata Koksu. Di istana terdapat dua orang tabib dan tabib muda lebih akrab
dengan koksu, sedangkan tabib tua dianggap bersikap tidak acuh, bahkan lebih banyak bersamadhi.
"Tapi tabib tua adalah ahli tentang racun!" kata Menteri Abigan.
"Siapa bilang Sang Pangeran keracunan?" bentak Koksu Torgan.
Akan tetapi raja sudah terpengaruh oleh ucapan Menteri Abigan, maka teriaknya, "Pengawal, panggilkan tabib tua, cepat!"
Pengawal berlari-lari dan tak lama kemudian, di antara isak tangis ibu pangeran itu, sang tabib tua yang
berpakaian seperti pendeta telah memeriksa bayi itu. Tentu saja tabib ini adalah sahabat baik Menteri Abigan,
seorang tokoh tua yang juga tidak menyetujui cara-cara Raja Agahai memerintah dan sebelumnya memang tabib tua
ini telah dihubungi Menteri Abigan untuk membantu. Setelah memeriksa beberapa lama tabib tua itu menarik napas
panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Sang Raja merasa khawatir bukan main.
"Bagaimana dengan anakku?" Tiba-tiba Raja Agahai tidak sabar lagi, bertanya dengan nada suara membentak.
"Ampun, Sri Baginda. Sang Pangeran ini keracunan, akan tetapi bukan sembarang racun. Yang keracunan adalah
jiwanya karena terkena gangguan ilmu hitam. Ada roh jahat yang mengganggu dan hamba tidak berdaya
melawannya..."
"Omong kosong!" Tiba-tiba Koksu Torgan berseru. "Ini tabib muda sudah hamba panggil, biarlah dia memeriksa!"
Dalam keadaan panik tentu saja Sang Raja tidak menolak semua uluran tangan dan tabib mudapun mulai memeriksa
denyut nadi dan detik jantung.
Tabib ini memang seorang yang pandai, walaupun tidak sepandai tabib tua yang berpengalaman. Dia memandang heran
dan berkata, seperti kepada diri sendiri. "Ada hawa aneh menguasai tubuhnya... tapi beliau ini sebenarnya tidak
sakit... hamba harus memeriksa lebih teliti lagi..."
"Hemm, pengaruh ilmu hitam adalah perbuatan setan. Mana ada tabib manusia biasa melawan setan mengerikan? Lihat
baik-baik, ada bayangan setan menguasai Sang Pangeran, apakah kau tidak dapat melihatnya?" Ucapan ini terdengar
jelas sekali oleh telinga tabib muda itu, walaupun tidak terdengar orang lain dan tabib muda itu terkejut,
cepat memandang ke arah bayi dan... hampir saja dia menjerit ketika melihat adanya bayangan muka raksasa yang
menakutkan di atas bayi itu. Dia meloncat mundur, matanya terbelalak, tubuhnya manggigil.
"Eh, kau kenapa?" Koksu Torgan membentak.
Tabib muda yang sudah dikuasai oleh kekuatan sihir yang diucapkan Thian Sin dengan pengiriman suara melalui
khi-kang itu, menggigil dan berkata gagap, "Hamba... hamba tidak sanggup... melawan..."
Tentu saja sikap dan ucapan tabib muda ini mengejutkan semua orang dan tangis ibu pangeran itu makin keras.
Juga Sang Raja kini menjadi pucat dan bingung. Pada saat yang memang sudah dinanti-nanti oleh Thian Sin ini,
dia berkata, "Sri Baginda, kalau paduka menghendaki kesembuhan Pangeran, perkenankan hamba yang menyembuhkan beliau."
Raja Agahai baru teringat kepada tukang sulap ini dan dengan girang dan penuh harapan dia lalu menghampiri dan
menarik lengan pemuda itu, disuruhnya berdiri, "Hauw Lam, kalau engkau bisa menyembuhkannya, kami sungguh berterima kasih kepadamu."
"Tapi... tapi hamba takut kepada Koksu..."
"Takut apa?" bentak Koksu Torgan marah. "Kalau memang engkau dapat menyembuhkan pangeran, hayo cepat lakukan jangan banyak cerewet!"
Akan tetapi Thian Sin tidak menjawab, melainkan berkata kepada Sang Raja, "Hamba mohon agar semua orang mundur
dan membiarkan hamba sendiri dengan Sang Pangeran. Kalau dikerumuni orang, hamba khawatir hamba takkan berhasil menyembuhkan beliau."
Mendengar ini, tentu saja Raja Agahai lalu memerintahkan dengan suara lantang agar semua orang mundur, bahkan
dia sendiripun lalu mundur kembali ke tempat duduknya. Suasana menjadi tegang. Para tamu yang tadinya
berkerumun, kembali ke tempat duduk masing-masing. Suasana menjadi sunyi dan legang. Koksu Torgan sendiri
terpaksa mundur, dan berdiri di pinggir dengan muka merah dan mata penuh perhatian ditujukan kepada Thian Sin
untuk mengikuti setiap gerak-geriknya. Diam-diam dia memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk bersikap
waspada dan panggung itupun dikurung pengawal. Sebenarnya bukan panggung yang dikepung, melainkan pemuda yang
masih dicurigai oleh koksu itu.
Setelah semua orang mundur, Thian Sin lalu menghampiri ayunan itu. Tentu saja dia hanya berpura-pura saja
memeriksa, karena bayi itu berada dalam keadaan demikian adalah karena perbuatannya. Tadi dia telah melakukan
totokan halus pada pundak bayi. Caranya menotok jalan darah adalah cara yang dipelajarinya dari kitab ayahnya,
maka amat sukar bagi orang lain untuk mengetahuinya, apalagi menyembuhkannya. Dan biarpun totokan halus itu
tidak sampai membahayakan nyawa anak itu, namun cukup untuk membikin kacau jalan darahnya sehingga anak itu
berada dalam keadaan pingsan, dan kalau tidak cepat mendapatkan pertolongan, dipulihkan lagi jalan darahnya,
tentu saja dapat mengakibatkan kematiannya.
Thian Sin memondong bayi itu keluar dari ayunan, membawanya ke tengah-tengah panggung. Hal ini memang disengaja
agar semua orang melihatnya dan agar mendatangkan kesan yang lebih mendalam. Akan tetapi, Koksu Torgan menjadi
semakin curiga dan diam-diam dia mempersiapkan anak buahnya, kalau-kalau pemuda itu akan menculik atau
melarikan Sang Pangeran.
Ketika memondong pangeran itu, diam-diam Thian Sin sudah memulihkan totokannya, akan tetapi dia tahu bahwa dia
harus bersandiwara kalau memang hendak menimbulkan kepercayaan raja. Maka sambil membebaskan anak itu,
diam-diam diapun menekan urat gagunya sehingga biarpun anak itu sudah normal kembali, namun masih belum dapat
menangis.
Thian Sin kini meletakkan anak yang terbungkus selimut itu ke atas lantai panggung! Semua orang melihat betapa
anak itu tidak mendelik lagi dan kaki tangannya sudah mulai bergerak-gerak! Sang Ibu dan juga Sang Raja girang
sekali, akan tetapi terdengar Thian Sin berkata, suaranya terdengar menyeramkan karena mengandung khi-kang.
"Sang Pangeran dipengaruhi roh jahat...! Dan aku akan menandingi setan jahat itu, aku akan mengusirnya! Kalau
roh jahat itu sudah terusir, barulah Sang Pangeran akan dapat menangis dan berarti Sang Pangeran sembuh benar-benar!"
Suasana menjadi tegang kembali walaupun tadinya semua orang sudah merasa lega dan girang melihat Sang Pangeran
sudah dapat bergerak-gerak dan tidak mendelik lagi. Kini semua orang memandang setiap gerak-gerik Thian Sin,
seperti tersihir dan mereka meremang mendengar pemuda itu akan berkelahi melawan setan atau roh jahat!
Setelah mengeluarkan kata-kata yang menyeramkan tadi, Thian Sin lalu mengeluarkan suling dan meniup suling itu
dengan suara melengking-lengking mengerikan. Semua orang terbelalak dan hanya Menteri Abigan saja yang dapat
menduga bahwa pemuda itu bersandiwara, sungguhpun dia sendiri tidak mengerti apa yang telah menimpa diri Sang
Pangeran. Juga Koksu Torgan tidak membiarkan dirinya terpengaruh dan dia tetap memandang dengan penuh
kecurigaan dan kewaspadaan.
Setelah merasa cukup untuk mencari kesan yang mendalam, terutama untuk membuat raja dan keluarganya tunduk
kepadanya, suara sulingnya makin menurun dan akhirnya berhenti sama sekali. Dan tiba-tiba, seperti diserang
oleh lawan yang tidak nampak, tubuh Thian Sin terjengkang! Dia meloncat sambil berseru nyaring. "Iblis jahat,
siapa takut padamu?" Dan terjadilah "perkelahian" yang membuat semua orang memandang dengan terbelalak dan
tengkuk mereka terasa dingin dan meremang. Pemuda itu benar-benar sedang "berkelahi" melawan sesuatu yang tidak
kelihatan. Dan kadang-kadang terdengar suara seperti ledakan dan nampak asap mengepul ketika lengan pemuda itu
bertemu dengan lengan atau benda lain. Kadang-kadang pemuda itu terhuyung, bahkan roboh, akan tetapi
kading-kadang pemuda itu juga seperti mendesak lawan. Thian Sin bersilat sembarangan, akan tetapi kadang-kadang
mengerahkan sin-kang untuk menciptakan suara ledakan beradunya kedua telapak tangannya sehingga mengeluarkan
uap seperti asap!
Akhirnya dia berhenti bergerak, terengah-engah. "Iblis jahanam, kembalilah kepada orang yang menyuruhmu!"
katanya, seolah-olah bicara dengan lawannya yang melarikan diri. Dan diapun membungkuk, memondong bayi itu dan
seketika bayi itu menangis! Tentu saja menangis karena Thian Sin membebaskan totokan urat gagunya dan sekalian
mencubit pahanya!
Terdengar sorak kegirangan ketika bayi itu menangis dan kini Thian Sin membawa bayi itu kepada Sang Raja yang
menyambut dengan mata basah! Bahkan ibu pangeran itu tersedu-sedu dan semua orang memandang kepada Thian Sin
seperti memandang kepada seorang pahlawan! Akan tetapi Thian Sin berbisik kepada raja.
"Sri Baginda, apakah Paduka ingin mengetahui siapa yang menyuruh roh jahat itu mengancam Sang Pangeran?"
"Katakan siapa!" Raja berkata dengan marah sambil mengepal tinju.
"Biarkan hamba bicara dengan Paduka, akan tetapi jangan ada yang ikut mendengarkan rahasia ini," bisik Thian
Sin. Raja Agahai lalu menarik tangan pemuda itu, diajaknya ke pinggir dan tentu saja tidak ada yang berani
mendekati mereka, bahkan Koksu Torgan hanya memandang dari jauh saja. Para selir raja masih kegirangan
menimang-nimang Sang Pangeran yang sudah sembuh sama sekali itu. Para tamu melanjutkan pesta dalam suasana
gembira dan semua orang membicarakan pemuda yang hebat itu.
Sementara itu Thian Sin berbisik-bisik, "Harap Paduka bersikap tenang dan jangan memperlihatkan kemarahan
sebelum orangnya tertangkap. Paduka tentu akan terkejut sekali melihat adanya musuh dalam selimut. Ketahuilah,
Sri Baginda, yang melakukan perbuatan biadab itu adalah orang-orang kepercayaan Paduka sendiri, yaitu Koksu
Torgan."
"Ahhh...!" Raja Agahai terkejut sekali dan mukanya berubah pucat. "Mana mungkin...?"
Thian Sin tersenyum. "Tentu saja Paduka tidak dapat percaya begitu saja. Hamba sama sekali tidak melakukan
fitnah, karena Paduka dapat membuktikan sendiri. Dan Koksu Torgan tidak bekerja sendiri, melainkan bersekongkol
dengan seorang isteri Paduka sendiri..."
"Hehhh...! Be... benarkah...? Hauw Lam, kalau engkau bukan penyelamat anakku, sekarang juga engkau sudah
kubunuh!" Raja itu berkata dengan kemarahan yang ditahan-tahan.
"Hamba tahu, Sri Baginda. Dan hamba sama sekali tidak melakukan fitnah. Isteri Paduka yang bersekongkol adalah
yang berbaju ungu itu..."
Raja Agahai semakin marah. "Berani engkau menuduh demikian kepada selirku tercinta dan pembantuku yang paling
setia?"
"Dapat dibuktikan, Sri baginda. Kalau tidak ada bukti, biar leher hamba taruhannya. Tadi, di waktu orang-orang
berjubel, hamba melihat sendiri betapa selir Paduka itu diam-diam menyerahkan benda kepada Koksu..."
"Benda apa? Benda apa, keparat!" Raja Agahai sudah marah sekali.
"Hamba tidak tahu benar, akan tetapi nampaknya sebuah peniti berbentuk burung hong merah..."
Wajah raja itu pucat kembali. Burung hong merah? Peniti? Memang selirnya yang tercinta memiliki benda ini, yang
selalu dipakainya pada bajunya yang sebelah dalam untuk menutupkan baju dalam itu di bagian dada. Betapa dia
ingat dan mengenal sekali benda itu karena sering dia membukanya! Timbul keraguannya, karena dari mana pemuda
ini mengerti tentang benda itu kalau tidak melihat sendiri? Dan benda yang dipakai di sebelah dalam itu tidak pernah nampak dari luar.
"Be... benarkah...?"
"Sri baginda, kenapa tidak memanggil koksu? Hamba yakin benda itu masih berada di dalam saku bajunya." Kemudian
disambungnya berbisik, "Sri baginda harap tenang dan sabar. Kalau hal ini diketahui umum, berarti akan
mencemarkan nama Paduka sendiri. Lebih baik sementara Paduka jangan melakukan tindakan terhadap isteri Paduka, agar orang luar tidak mengetahui persoalan ini. Dan isteri Paduka hanya terpengaruh sihir dan ilmu hitam koksu itu."
Raja Agahai mengangguk dan suaranya nyaring ketika dia membentak dan memanggil, "Koksu...!"
Koksu Torgan sejak tadi mengamati pemuda yang bercakap-cakap berdua saja dengan raja itu. Ketika melihat
perubahan muka raja, diam-diam dia khawatir dan menduga-duga, apa gerangan yang mereka bicarakan. Akan tetapi,
ketika raja memanggilnya, dia terkejut dan cepat-cepat menghampiri. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika
raja memerintahkan pengawal untuk menggeledahnya! Koksu Torgan terbelalak, seolah-olah tidak percaya akan
pendengarannya sendiri ketika raja itu berkata kepada para pengawal pribadi raja itu, "Geledah dia!"
Akan tetapi, kalau dalam keadaan biasa dia tentu akan memukul mati para pengawal yang berani menjamahnya, kini
dengan adanya perintah raja, tentu saja dia tidak berani berkutik, melainkan berlutut dengan sebelah kaki dan
membiarkan dua orang pengawal menggeledah saku-saku bajunya. Menyaksikan pemandangan yang aneh ini, semua selir
raja juga memandang bingung, juga para pengawal kebingungan. Di antara para tamu, hanya yang duduknya dekat
panggung saja yang melihat hal itu, sedangkan mereka yang duduknya agak jauh tidak melihatnya. Sementira itu,
Thian Sin memandang sambil tersenyum, akan tetapi siap untuk turun tangan kalau-kalau koksu itu akan melawan.
Koksu Torgan sendiri tentu saja dengan tenang membiarkan dirinya digeledah, sambil menahan marah karena dia
dapat menduga bahwa perbuatan raja ini tentu ada hubungannya dengan pemuda Han itu. Dia merasa tenang karena
tidak merasa menyembunyikan sesuatu, tidak merasa bersalah sedikitpun juga. Akan tetapi betapa kaget dan
herannya ketika di antara barang-barangnya sendiri yang dikeluarkan dari saku-saku bajunya, terdapat sebuah
benda yang sama sekali tidak dikenalnya. Sebuah peniti indah berbentuk burung hong merah!
Melihat ini, maka raja menjadi marah sekali. Itulah peniti selirnya yang tercinta, selir suku bangsa Biauw itu!
Peniti yang biasanya menempel di baju dalam selirnya di bagian dada, kini berada dalam saku baju koksu itu!
Hampir saja raja tidak dapat menahan kemarahannya, akan tetapi dia teringat akan pesan Thian Sin dan maklum
bahwa kalau dia tidak dapat mengendalikan kemarahannya, tentu rahasia yang mencemarkan namanya akan bocor.
Maka, dengan muka merah itu, dia memberi perintah dengan suara ditekan sehingga tidak begitu keras, "Tangkap
jahanam ini!"
Koksu Torgan terkejut bukan main. "Tapi... Sri Baginda...!"
Thian Sin sudah melangkah maju, tersenyum dan berkata, "Koksu Torgan, apakah engkau hendak melawan perintah raja?"
Torgan memandang kepada Thian Sin, maklum bahwa orang inilah yang menjadi biang-keladinya, maka kemarahan
membuat dia lupa diri, lupa bahwa dia berada di depan rajanya. Dia mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya
dan dia sudah menubruk maju dan menyerang Thian Sin dengan kecepatan dan kekuatan yang cukup dahsyat! Akan tetapi, Thian Sin sudah siap. Dia tahu bahwa orang ini bukan seorang lawan yang lunak, maka diapun cepat menangkis sambil mengerahkan tenaga, maka bertemulah dua lengan yang diisi penuh dengan tenaga sin-kang itu.
"Dessss...!" Thian Sin diam-diam kagum akan kekuatan lawan yang dapat membuat dia merasa terdorong ke belakang
dan kedudukan kakinya tergeser. Akan tetapi, Torgan sendiri terpental lalu terhuyung ke belakang. Empat orang
pengawal raja lalu menubruk untuk menangkap dan membelenggunya sesuai dengan perintah raja tadi. Akan tetapi
bekas koksu itu meronta dan kaki tangannya bergerak dan... empat orang pengawal itu terlempar dan terbanting
dengan keras. Para pengawal lainnya cepat maju mengepung, dan Thian Sin berkata, "Harap kalian mundur, biarkan
aku yang menangkap pemberontak ini!"
Sementara itu, Raja Agahai marah bukan main melihat Torgan melawan itu. Dengan mata mendelik raja membentak,
"Torgan! Beranikah engkau hendak menentang perintahku? Apakah engkau hendak melawan dan memberontak?"
Torgan memandang ke kanan kiri. Dia sudah terkurung dan tahulah dia bahwa melawan berarti membunuh diri,
Apalagi pemuda yang berada di depannya itu benar-benar memiliki kepandaian hebat, diapun lalu menjatuhkan diri
berlutut. "Hamba tidak melawan, hanya merasa penasaran. Hamba difitnah..."
"Hemm, hal itu masih akan dapat diusut lebih lanjut. Tangkap dia!" kata raja kepada para pengawal. Dan sekali
ini Torgan tidak melawan dan membiarkan kedua tangannya dibelenggu para pengawal. Semua orang terkejut bukan
main, tidak tahu apa yang telah terjadi maka koksu itu ditangkap atas perintah raja sendiri di tempat pesta
itu! Sementara itu, Menteri Abigan yang diam-diam girang sekali akan hasil usaha cucu Puteri Khamila ini, cepat
berlutut kepada raja.
"Sri Baginda, tidakkah sebaiknya hamba mengakhiri saja pesta ini?"
Raja Agahai yang masih amat marah itu mengangguk, kemudian dia memandang kepada selirnya yang tercinta itu
dengan hati penuh kemarahan, cemburu dan juga masih belum terbebas dari rasa heran yang amat sangat. Selagi
Menteri Abigan mengumumkan ditutupnya pertemuan dan pesta itu, Thian Sin mendekati raja dan berbisik,
"Sebaiknya kalau Paduka mengajak semua keluarga ke dalam istana dan hamba sanggup untuk membuat selir itu
mengaku tanpa banyak menimbulkan keributan."
Raja Agahai mengangguk. Kini dia percaya penuh kepada pemuda ini. Dengan singkat dia lalu memerintahkan agar
semua keluarganya kembali ke dalam istana. Puteri atau selir bangsa Biauw itu tadi belum melihat apa yang
terjadi. Seperti para selir lain, ia sendiri juga masih terheran-heran, mengapa koksu ditangkap oleh raja dan
mengapa raja marah-marah seperti itu. Maka, bersama keluarga raja, selir yang cantik inipun lalu masuk kembali ke dalam istana. Raja Agahai mengajak Thian Sin untuk masuk pula ke dalam istana, Menteri Abigan dan rekan-rekannya memandang dengan senyum kemenangan.
***
Selir bangsa Biauw itu memandang dengan matanya yang indah terbelalak penuh keheranan ketika melihat Thian Sin
berada dalam kamar raja itu. Ia tadi menerima panggilan raja melalui dayang pelayan dan ia tidak merasa heran
oleh panggilan ini. Memang raja amat mencintanya dan sering kali ia menerima panggilan pada siang hari, tidak hanya pada malam hari saja. Akan tetapi ketika ia memasuki kamar itu dan melihat pemuda tukang sulap yang amat menarik hatinya tadi berada pula di situ, ia terkejut dan terheran-heran schingga ia menahan langkahnya,ragu-ragu apakah ia herus terus masuk atau tidak.
"Leng Ci, ke sinilah!" Raja memanggilnya, akan tetapi suara raja demikian kakunya sehingga membuat wanita Biauw
yang bernama Leng Ci itu terkejut dan ketakutan. Ia melangkah maju sambil memandang wajah raja dengan penuh
keheranan. Melihat raja marah, iapun segera menjatuhkan diri berlutut dengan penuh hormat, apalagi di situ
terdapat orang luar. Kalau sedang berdua saja, tentu ia tidak banyak melakukan upacara penghormatan ini,
melainkan langsung merangkul dan merayu raja untuk menghibur hati raja yang agaknya sedang dalam gundah.
"Leng Ci, apakah engkau sudah merasa akan kesalahanmu?" Tiba-tiba raja bertanya dan wanita itu menjadi makin terkejut.
Leng Ci mengangkat muka memandang wajah raja. Tubuhnya gemetar, dan suaranya juga gagap ketika ia menjawab dengan pertanyaan pula, "Apa... apa... maksud Paduka? Hamba tidak mengerti..."
Raja sudah bangkit dari kursinya dengan marah, akan tetapi Thian Sin yang duduk di kursi lain segera bangkit
dan berkata halus, "Ingat, Sri baginda, harap tenang. Perkenankan hamba yang bertanya. Ingatkah, ia tidak dalam
keadaan wajar melainkan dikuasai oleh pengaruh jahat." Sebelumnya tadi memang Thian Sin memberitahukan raja
bahwa wanita itupun berada di bawah pengaruh kekuasaan koksu yang mempergunakan ilmu hitam, sehingga wanita itu
tidak sadar apa yang dilakukannya! Tentu saja semua ini adalah karangannya sendiri saja. sebetulnya, Thian Sin
yang tadi ketika mencubit pinggul Leng Ci, mempergunakan kepandaiannya untuk dalam keadaan berdesakan panik itu
mencuri peniti burung hong merah itu tanpa diketahui oleh pemiliknya. Kemudian ketika dia mencegah koksu
mendekati bayi, diapun berhasil memindahkan peniti itu ke dalam saku baju Sang Koksu tanpa diketahui oleh orang itu pula.
Raja menghela napas panjang. "Baiklah... baiklah..."
Thian Sin kini menghadapi Leng Ci yang masih berlutut. Wanita itu mengangkat muka memandang kepadanya dan
betepa herannya melihat pemuda itu tersenyum, kemudian mengejapkan sebelah mata kepadanya! Pemuda itu sungguh
berani sekali, akan tetapi karena ketika itu berdiri membelakangi raja, tentu saja Agahai tidak melihat
perbuatan ini. Sedangkan Leng Ci menduga-duga apa yang sedang terjadi dan mengapa pula pemuda itu berani
bersikap demikian kepadanya.
"Nyonya," Thian Sin mulai bicara dengan suara halus, namun terdengar sungguh-sungguh. "kenalkah nyonya akan
benda ini?" tanyanya sambil membuka tangan kanan, memperlihatkan peniti yang tadi diterimanya dari raja.
Leng Ci memandang benda itu dan tiba-tiba tangan kirinya meraba dada. "Aihhh... bagaimana bisa berada di situ...? Itu... itu penitiku..."
"Nah, peniti bajumu ini terdapat oleh Sri Baginda berada di dalam saku baju koksu, nyonya."
Wajah Ceng Li menjadi pucat seketika dan matanya terbelalak tidak percaya. "Ah, mana mungkin...?"
"Kenyataannya demikian, masih mau mungkir?" Tiba-tiba Raja Agahai membentak dan wanita itu makin ketakutan.
"Hamba... hamba tidak tahu..."
"Nyonya, jangan takut. Mengakulah saja." Sambil berkata demikian, Thian Sin mencurahkan padang mata yang
mengandung penuh kekuatan sihir kepada wajah yang cantik itu. "Engkau disuruh oleh Koksu untuk membakar kertas
jimat hu di bawah ayunan Sang Pangeran, benar tidak?"
Leng Ci menundukkan mukanya dan mengangguk sambil menjawab lirih, "Benar..."
Raja Agahai mengepal tinju akan tetapi diam saja dan mendengarkan terus.
"Kemudian, dia menyuruhmu memberikan peniti kepadanya dalam pesta sebagai tanda bahwa engkau telah berhasil
melakukan perintah itu, bukan? Benar tidak?"
"Be... benar..."
"Engkau mau melakukannya karena engkau dibujuknya, dan karena engkaupun merasa iri dengan lahirnya seorang
pangeran dari isteri raja yang lain. Engkau mau melakukan karena engkau tidak menyangka buruk terhadap niat
Koksu, bukan? Dia mengatakan bahwa kalau engkau menuruti perintahnya, engkau kelak akan bisa mempunyai keturunan. Benar tidak?"
"Benar..."
Thian Sin menghadapi raja. "Nah, Paduka mendengar sendiri. Selir Paduka ini tidak bersalah. Ia bertindak bukan
atas kehendak sendiri, melainkan tepengaruh sihir. Koksu yang bersalah, karenanya dia patut diberi hukuman yang berat!"
"Dia harus dihukum, sekarang juga!" teriak Raja Agahai dengah penuh kemarahan.
"Akan tetapi, hamba harap Paduka mengampuni isteri Paduka ini hanya melakukan hal itu di luar kesadarannya.
Bahkan sampai sekarangpun ia masih berada dalam cengkeraman kekuatan sihir dari Koksu. Kalau Paduka tidak
percaya, cobalah Paduka pandang dengan teliti, bukankah ada bayangan Koksu di atas kepalanya?"
Raja Agahai memandang kepada selirnya yang tercinta itu dan dia terbelalak. Tanpa diketahuinya, Thian Sin telah
mengerahkan kekuatan sihirnya dan kini raja itu melihat ada bayangan di atas kepala selirnya. Bayangan koksu!
Maka dia mengangguk-angguk dan menjadi semakin marah kepada koksu, juga merasa serem.
"Lalu bagaimana baiknya? Apa yang harus kami lakukan terhadap dirinya agar ia terlepas dari cengkeraman kekuasaan itu."
"Hamba sanggup mengobatinya seperti hamba mengobati Sang Pangeran. Akan tetapi, melawan iblis lebih ringan dari
pada melawan koksu. Dia akan melawan sekuatnya untuk melepaskan sang puteri, oleh karena itu perkenankan hamba
mengobatinya di dalam kamar tertutup selama sehari semalam."
"Baik, bawalah dia ke kamarmu yang akan kami sediakan, dan obatilah sampai sembuh. Kalau ia sudah sembuh, baru
kami akan memutuskan, apa yang harus kami lakukan untuknya." Raja Agahai sendiri merasa bimbang apakah dia
harus menjatuhkan hukuman terhadap selirnya itu. Selir itu paling cantik dan paling menggairahkan, dia masih
sayang kepadanya, apalagi keterangan Thian Sin menimbulkan keraguan hatinya. Raja mengutus dayang untuk
mengantarkan Thian ke dalam sebuah kamar tamu terbaik di dalam istana. Dan ketika Thian Sin menggandeng lengan
selir itu, sang selir bangkit berdiri dan ikut dengan pemuda itu seperti boneka berjalan karena wanita itu
sendiri juga masih bingung apa yang telah menimpa dirinya sehingga terjadi hal-hal yang dianggapnya amat aneh itu.
Raja Agahai lalu memanggil semua pembantunya. Para menteri dan panglima berkumpul dan di dalam persidangan ini,
Raja Agahai mengumumkan hukuman mati kepada Koksu Torgan. Tentu saja para pembesar itu, kecuali Menteri Abigan
dan para rekannya, terkejut bukan main. Mereka semua masih belum mengerti mengapa koksu ditangkap atas perintah
raja sendiri di dalam pesta itu, dan kini malah raja memutuskan hukuman mati kepada koksu! Tentu saja, sebagian
di antara para teman Torgan merasa terkejut dan penasaran. Mereka semua tahu bahwa Torgan adalah seorang yang
amat setia kepada Raja Agahai dan menjadi pembantu terbaik dan terpercaya.
Tentu saja beberapa orang pembesar segera mengajukan protes dan pertanyaan, mengapa dijatuhkan hukuman mati
kepada koksu. Raja Agahai berkata, "Kalian semua telah melihat betapa putera kami telah mengalami gangguan roh
jahat, yang hampir saja menewaskannya. Untung ada pemuda sakti itu yang menyelamatkan nyawanya. Dan tahukah
kalian siapa yang melakukan perbuatan jahat itu? Bukan lain adalah Koksu Torgan!"
"Ahhh...!" Semua pembesar terkejut, bahkan Menteri Abigan sendiri terheran-heran dan kagum sekali terhadap cucu
Puteri Khamila itu, bagaimana siasatnya sampai berhasil sejauh ini. "Ampun, Sri Baginda. Harap Paduka suka
memeriksa dengan seksama sebelum menjatuhkan keputusan. Siapa tahu ini hanya fitnah belaka," kata mereka.
"Hemm, kami telah melihat dengan mata kepala sendiri. Ada bukti dan ada saksi. Torgan telah berkhianat dan
bermaksud memberontak. Dia telah menggunakan sihir menguasai seorang di antara isteri kami, membakar hio di
bawah ayunan pangeran, dan sampai sekarangpun isteri kami itu masih dalam kekuasaan sihirnya dan sedang diobati
oleh Hauw Lam."
Perintah raja tak dapat dibantah lagi dan hari itu juga, Torgan menerima hukuman penggal kepala, dan seperti
biasa, kepalanya dipancangkan di tempat umum untuk menjadi peringatan bagi mereka yang berhati bengkok, yaitu
mereka yang hendak menentang kekuasaan raja.
Sementara itu, setelah membawa selir bangsa Biauw yang bernama Leng Ci itu ke dalam sebuah kamar tamu mewah
yang diperuntukkan dia, Thian Sin menutup dan memalang daun pintu kamar, kemudian diapun melepaskan kekuatan
sihirnya atas diri wanita itu. Wanita itu sadar dan terkejut mendapatkan dirinya berada di dalam kamar tamu,
dan wajahnya menjadi merah sekali ketika ia melihat Thian Sin berada di situ, duduk dan memandang kepadanya.
Biarpun wanita itu merasa jantungnya berdebar dan mukanya merah, akan tetapi bukan karena marah, sungguhpun ia
mengambil sikap seperti orang marah.
"Kenapa aku berada di sini? Biarkan aku keluar!" Ucapannya ini dengan nada membentak dan marah.
Thian Sin tersenyum. "Mau keluar? Silakan. Sri Baginda telah menanti untuk menjatuhkan hukuman berat padamu.
Lupakah engkau bahwa perhiasan pakaian dalammu berada di dalam saku baju Koksu?"
Mendengar ini, teringatlah Leng Ci akan segala persoalan yang menimpa dirinya, mukanya pucat dan matanya
terbelalak memandang kepada pemuda itu. "Ahhh... apa yang terjadi? Bagaimana mungkin hal itu telah terjadi?"
"Koksu menguasaimu dengan sihir sehingga engkau membantu Koksu untuk membunuh pangeran. Dan engkau telah
mengakui semua hal itu kepada Sri Baginda tadi."
Muka itu semakin pucat. "Ah, mana mungkin begitu? Aku... aku tidak pernah membantu Koksu, aku tidak pernah
melakukan hal itu..."
"Karena engkau tidak sadar, berada di bawah kekuasaan sihir Koksu. Engkau tadi sudah mengakui semua hal kepada
Sri Baginda dan semestinya engkau dihukum berat, mungkin hukuman mati."
"Ahhh...!" Wanita cantik itu nampak ketakutan sekali. "Tapi... tapi mengapa aku berada di kamar ini
bersamamu...?"
"Aku telah menyelamatkanmu dari hukuman mati. Aku yang minta kepada Sri Baginda agar engkau tidak dihukum
karena engkau hanya diperalat oleh Koksu. Aku menyanggupi Sri Baginda untuk membebaskan engkau dari pengaruh
sihir itu, dan kini engkau telah terbebas dan engkau telah teringat dan sadar kembali. Kalau tidak ada aku,
Nona Leng Ci, engkau sekarang tentu telah menjadi setan tanpa kepala."
"Aihhh..." Leng Ci menggerakkan tangannya dan otomatis tangannya itu memegang lehernya. Sepasang mata yang
indah itu memandang kepada Thian Sin, rasa takut dan ngeri masih membayangi mukanya dan dengan suara mengandung
rasa takut ia berkata, "Ah, kalau begitu... engkau telah menyelamatkan nyawaku... tapi... tapi bagaimana
selanjutnya? Apakah Sri Baginda mau mengampuniku...?"
Thian Sin tersenyum. "Aku yang menanggung, engkau takkan diganggu oleh Sri Baginda. Akan tetapi, setelah aku
menolongmu dan sekarang aku menjamin keselamatanmu, lalu imbalan atau hadiah apa yang hendak kauberikan
kepadamu?"
Wanita itu melangkah maju menghampiri. Wajahnya serius sekali. Hal ini adalah menyangkut kehidupannya,
keselamatannya dan setelah ia teringat akan segala yang telah terjadi, maka harapan satu-satunya ia gantungkan
kepada pemuda ini yang agaknya dapat mempengaruhi raja dan merupakan satu-satunya orang yang mungkin dapat
menyelamatkannya.
"Kongcu... tolonglah saya... imbalannya apa saja yang kongcu kehendaki, pasti saya akan berikan! Perhiasan?
Akan saya serahkan semua milik saya."
Thian Sin tersenyum. "Perhiasan? Agaknya aku bisa memperoleh yang lebih banyak dari raja. Tidak, nona manis,
aku tidak butuh perhiasan."
"Lalu apa yang dapat kuserahkan? Aku tidak punya apa-apa lagi...!" Leng Ci berkata dengan bingung dan rasa
khawatirnya bertambah.
Thian Sin tersenyum, girang hatinya melihat wanita itu dicekam ketakutan hebat.
"Nona Leng Ci, ketika belum terjadi sesuatu dan aku diperkenalkan kepada raja, aku melihat sinar matamu ketika
memandangku, gerak bibirmu ketika tersenyum padaku, kemudian ketika kuraba dan kubelai pinggulmu engkau sama
sekali tidak marah atau berteriak, apakah artinya semua itu?"
Menerima pertanyaan seperti ini, pertanyaan yang langsung menyerang perasaan hatinya, seketika wajah yang
tadinya pucat itu kini berubah merah sekali. Sesaat ia lupa akan rasa takutnya dan dengan sikap menarik sekali
ia cemberut, matanya mengerling penuh tantangan mesra, dan bibirnya memperlihatkan ejekan-ejekan yang membuat
bibir itu makin menggairahkan, lalu katanya lirih, "Habis, engkau mengartikan bagaimana? Aku tidak tahu..."
"Bukankah itu berarti bahwa engkau tertarik kepadaku? Bahwa kalau aku yang juga amat tertarik dan jatuh cinta
padamu mengulurkan tangan kepadamu dan mengajakmu saling menumpahkan kasih sayang dan bermain cinta, engkau
akan menerimanya dengan girang?"
Menghadapi kata-kata yang luar biasa beraninya, yang membuka segalanya tanpa pura-pura lagi itu, Leng Ci
menundukkan mukanya dan ia merasa malu sekali. Malu bercampur tegang karena memang harus diakuinya bahwa ia
amat tertarik kepada pemuda tampan yang amat pandai mengambil hati orang ini.
"Ihhh... siapa jatuh cinta...?" Hanya ini yang dapat diucapkannya sambil tunduk dan dari bawah, kedua matanya
mengerling demikian tajamnya melebihi sepasang pedang pusaka yang langsung menembus jantung Thian Sin.
"Nona Leng Ci, kalau saya menolong nona, menyelamatkan nona dari ancaman hukuman mati, dan sekarang melindungi
nona dari raja, hal itu bukan sekali-kali karena saya mengharapkan balasan. Melainkan karena saya memang
tertarik dan jatuh cinta kepadamu yang cantik menarik ini. Tentu saja ada harapan di dalam hati ini agar nona
juga dapat membuka perasaan hati nona yang kalau saya tidak salah taksir, juga tertarik kepada saya. Nah,
sekarang bagaimana? Maukah engkau menyambut uluran tanganku ini? Akan tetapi, penyambutan yang suka rela,
dengan sepenuh perasaan, bukan karena terpaksa, bukan pula karena hanya sekedar membalas jasa..." Sambil
menghentikan kata-katanya dan memandang dengan sinar mata penuh ajakan, Thian Sin mengembangkan kedua lengannya
ke depan, ke arah wanita itu.
Biarpun wajahnya merah sekali dan kepalanya masih ditundukkan, malu sekali dan tidak dibuat-buat, namun Leng Ci
melangkah maju dan masuk ke dalam pelukan Thian Sin, membiarkan kedua lengan itu melingkari tubuhnya dan iapun
tidak menolak ketika pemuda itu menariknya sehingga ia terduduk di atas pangkuan pemuda itu.
"Engkau senang begini?" tanya Thian Sin. "Bukan hanya untuk membalas budi?" Wanita itu tersenyum manis dan
sepasang matanya mengeluarkan cahaya mesra, akan tetapi tubuhnya gemetar dan ia berkata, "Tapi... tapi... Sri
Baginda..."
Thian Sin melepaskan rangkulannya dan menurunkan wanita itu, lalu bangkit berdiri.
"Ah, kiranya dalam keadaan begini engkau masih teringat kepada Sri Baginda? Jadi engkau mencinta raja dan tidak mau mengkhianatinya?"
"Bukan, bukan, kongcu! Siapa mencinta tua bangka itu? Dia memaksaku menjadi selir, setelah pasukannya membasmi
perkampungan kami, bahkan orang tuaku tewas dalam serbuan itu. Aku dipaksanya menjadi selir, dan hanya untuk
menyelamatkan diri dan untuk menikmati kehidupan mulia dan mewah saja aku bersikap manis kepadanya. Siapa sih
yang sudi berdekatan dengan tua bangka mata keranjang itu? Akan tetapi... aku teringat dia karena takut.
Bagaimana kalau dia mengetahui hubungan kita?"
"Aku tertarik dan suka padamu, dan aku berani menempuh bahaya untuk mendapatkan cintamu. Kalau engkau takut,
kembalilah sana kepada raja!"
"Tidak... tidak, kongcu... ah, tentu saja aku lebih suka padamu. Biarlah kalau engkau mau melindungiku, aku
akan mentaati segala kehendakmu, biar aku mati hidup bersamamu." Wanita itu menubruk dan merangkulnya. Melihat
wanita ini telah menjadi jinak, Thian Sin tersenyum.
"Bagus! Nah, mulai sekarang ini, engkau harus taat kepadaku, mengerti?"
Wanita cantik itu mengangguk dan menahan isaknya ketika Thian Sin mendekap dan menciumnya, bahkan membalas
peluk cium itu dengan hangat. Thian Sin memondongnya dan segera keduanya tenggelam dalam buaian natsu berahi
yang amat panas. Semenjak pergi meninggalkan So Cian Ling, wanita terakhir yang menjadi kekasihnya, telah lebih
dari setengah tahun Than Sin tidak pernah berdekatan atau berhubungan dengan wanita. Dia menggembleng diri
bertapa dan memperdalam ilmunya selama berbulan-bulan dan menahan nafsunya. Sedangkan Leng Ci adalah seorang
wanita muda yang selama ini harus melayani seorang pria tua yang sebenarnya dibencinya dan baru sekarang selama
hidupnya dia bertemu dan berhubungan dengan seorang pria muda tampan yang menarik hatinya. Oleh karena itu,
tidaklah mengherankan apabila pertemuan antara mereka seperti seekor ikan kekeringan bertemu dengan air danau
yang segar, di mana ikan itu dapat berenang sepuasnya.
Dengan dalih "mengobati" Leng Ci, Sin dapat bersenang-senang sepuas-puasnya dengan wanita itu, bahkan Raja
Agahai sendiri tidak berani mengganggunya. Raja itu hanya dapat bertanya dari luar pintu saja menanyakan
keadaan selirnya tercinta.
"Sedikit lagi Sri Baginda," jawab Thian Sin dari dalam. "Harap Paduka bersabar dan jangan diganggu..."
"Tapi, Torgan telah dihukum mati. Bagaimana dia dapat mengganggu lagi?" bantah Sang Raja yang sudah merasa
rindu kepada selirnya itu.
"Justeru itulah!" jawab Thian Sin cepat, "Rohnya yang jahat itu membalas dendam dan mempertahankan pengaruhnya
atas diri selir Paduka."
Dengan alasan ini, Thian Sin dapat berdiam berdua saja dengan wanita itu, bahkan para dayang yang melayani
mereka, mengantar makan minum dan sebagainya, hanya diperbolehkan sampai di pintu saja dan tidak terus masuk,
mereka itu hanya dapat melihat selir raja itu rebah terlentang di balik kelambu!
Tentu saja semua ini hanyalah permainan Thian Sin yang dibantu oleh Leng Ci. Kini wanita itu sepenuhnya
berpihak kepadanya, tunduk dan taat karena memang wanita itu sudah jatuh cinta betul-betul kepada Thian Sin.
Dan di waktu malamnya, Thian Sin meninggalkan Leng Ci di dalam kamar, menyuruh wanita itu mengunci semua pintu
dan jendela, sedangkan dia sendiri keluar melalui jendela dan mengadakan pertemuan dengan Menteri Abigan dan
rekan-rekannya yang mempersiapkan segala untuk kepentingan rencana pemberontakan mereka menentang Raja Agahai.
Dengan cerdiknya, Menteri Abigan mulai menyadarkan para panglima dan pembesar akan kelaliman Agahai, dan
melalui beberapa orang panglima yang berpihak kepada komplotan ini mulai memindah-mindahkan tugas penjagaan
sehingga pada saat yang sudah direncanakan, para pengawal yang menjaga istana adalah sebagian besar orang-orang
mereka!
Tiga hari kemudian, setelah rencana mereka matang, Thian Sin memberi tahu kepada para dayang di luar pintu agar
mereka memberi tahu kepada Raja Agahai bahwa dia kini sudah siap menerima kunjungan raja dan bahwa selir raja
itu sudah sembuh sama sekali.
Tentu saja berita ini amat menggirangkan hati Raja Agahai yang pada pagi hari itu sudah mulai kehabisan
kesabarannya menanti-nanti. Betapapun juga, ada rasa cemburu di dalam hatinya mengingat betapa selirnya yang
tercinta, yang cantik jelita dan manis itu, telah berada di dalam kamar berdua saja dengan tukang sulap muda
dan tampan itu selama dua malam tiga hari. Maka, begitu mendengar berita dari para dayang, Raja Agahai cepat
bergegas mendatangi kamar itu dan mengetuk pintu kamar.
Karena keinginan tahu yang amat besar, ditambah dengan rasa rindu terhadap selirnya, maka Raja Agahai menjadi
lengah dan dia setengah berlari menuju ke kamar tamu itu tanpa minta perlindungan para pengawal pribadinya. Dia
sudah tidak sabar lagi, selain ingin segera melihat dan mengetahui keadaan kekasihnya, juga ingin segera dapat
memeluk kembali.
"Silakan masuk!" terdengar suara Thian Sin, "Daun pintu tidak terkunci." Raja Agahai mendorong daun pintu dan
memasuki kamar itu, sedangkan para dayang yang duduk di luar pintu sudah menjatuhkan diri berlutut ketika raja itu muncul.
Ketika Raja Agahai memasuki kamar itu dan daun pintu kamar ditariknya tertutup kembali dan dia melangkah maju
menembus tirai sutera hijau itu, dia melihat sesuatu di dalam cuaca remang-remang dalam kamar, sesuatu yang
membuat dia terbelalak dan langkah kakinya seketika terhenti. Dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya itu,
maka digosok-gosoknya matanya dan dia kini melangkah lagi maju menghampiri untuk dapat melihat lebih jelas
lagi. Akan tetapi, penglihatan itu tidak berubah, masih seperti tadi, yaitu Thian Sin duduk di tepi pembaringan
dan selirnya, Leng Ci yang cantik jelita dan manis, selirnya yang tercinta itu, dengan pakaian dalam yang tipis
yang kusut, seperti juga rambutnya, duduk di atas pangkuan pemuda itu! Seperti seekor kucing manja, wanita itu
duduk di atas pangkuan, bergantung kepada leher pemuda itu dengan kedua lengannya yang berkulit halus,
mengangkat mukanya dekat dengan muka pemuda itu dan memandang penuh kemesraan! Dan Thian Sin, seolah-olah tidak
melihat kedatangan raja itu, lalu menunduk dan di lain saat keduanya sudah berciuman dengan mesra sekali, dan
raja itut melihat betapa kedua lengan selirnya merangkul semakin ketat. Mereka berciuman lama sekali dan baru
Thian Sin menghentikan ciumannya ketika mendengar sang Raja membentak.
"Keparat! Apa artinya ini?" Raja Agahai yang tadinya menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Thian Sin yang
dianggap penyelamat puteranya dan pembongkar rahasia pengkhianatan Torgan, kini masih meragu. Siapa tahu apa
yang dilakukan pemuda itu adalah dalam rangka pengobatan dan penyembuhan selirnya!
Thian Sin mengangkat muka memandang, tersenyum mengejek. Leng Ci yang masih duduk di atas pangkuan pemuda itu
dan masih merangkul lehernya, juga menengok dan Sang Raja terheran. Belum pernah dia melihat selirnya itu
berwajah sedemikian cantiknya, dengan sepasang mata yang redup dan sayu, entah karena kehausan ataukah
kepuasan, akan tetapi sepenuhnya selirnya itu membayangkan seorang wanita yang sedang dalam puncak berahi.
Thian Sin mengecup bibir Leng Ci lalu berkata, "Manis, si tua bangka telah datang, kau istirahatlah dulu, dan
lihat apa yang akan kulakukan padanya." Leng Ci tersenyum, mengangguk, lalu turun dari atas pangkuan dan duduk
di tengah-tengah pembaringan. Baju dalamnya tersingkap dan nampak bukit buah dadanya yang biasanya amat
dikagumi oleh Raja Agahai. Akan tetapi, wajah Agahai telah berubah sebentar pucat dan sebentar merah saking
kaget dan marahnya mendengar ucapan Thian Sin tadi.
"Hauw Lam! Apa artinya ini?" Kembali dia membentak.
Thian Sin turun dari pembaringan dan melangkah maju dengan sikap tenang akan tetapi mulutnya tersenyum mengejek
dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong yang menakutkan Sang Raja.
"Artinya, Agahai, sudah jelas. Yaitu bahwa Leng Ci telah menjadi kekasihku, bahwa kini tibalah saat terakhir
dari kejayaan dan kelalimanmu. Selama ini engkau telah buta, tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan!"
Mendengar kata-kata kasar dan melihat sikap yang sama sekali berubah ini Raja Agahai terkejut bukan main. Dia
memandang dengan mata terbelalak.
"Apa artinya ini...? Siapa... siapa engkau...?"
"Hemm, raja lalim, manusia jahat dan busuk, engkau sungguh tolol. Si Torgan itu lebih cerdik, akan tetapi dia
telah kau hukum mati. Ha-ha, sungguh engkau manusia yang paling busuk di dunia ini. Selirmu Leng Ci sama sekali
tidak pernah berhubungan dengan aku, menjadi kekasihku. Dan Torgan tidak pernah berbuat apa-apa terhadap
anakmu. Akulah yang telah membuat anakmu sakit dan melemparkan fitnah kepada Torgan. Mengertikah engkau
sekarang, Agahai?"
Tentu saja Raja Agahai menjadi terkejut dan marah bukan main. "Tapi... mengapa? Apa yang terjadi?" Raja itu
berteriak bingung.
"Kepadamu aku mengaku bernama Hauw Lam dan memang aku adalah seorang hauw-lam (putera berbakti). Dahulu, pernah
aku datang mengunjungi tempat ini, sebagai seorang anak berusia sepuluh tahun dan ketika itu namaku adalah Ceng
Thian Sin..."
Raja Agahai mundur selangkah. "Apa... kau? Ceng... Ceng Thian Sin...!"
"Ha-ha-ha, baru engkau teringat sekarang?"
"Thian Sin! Engkau... cucu keponakanku sendiri...!"
"Tak perlu bersandiwara lagi, Agahai. Ayah bundaku tewas karena pengeroyokan, dan engkau juga memegang peran
dalam pembunuhan itu. Engkau mengirim pasukan pilihan untuk ikut mengeroyoknya. Engkau hutang nyawa ayah
bundaku!"
Mendengar ini, baru Raja Agahai sadar bahwa dirinya terancam bahaya. Cepat dia membalikkan tubuhnya hendak
keluar dari kamar itu. Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Thian Sin telah berdiri di
depannya, menghadang antara dia dan pintu. Marahlah Agahai. Betapapun juga, dia bukan seorang pria lemah.
Dicabutnya pedang dari pinggangnya.
"Pengkhianat busuk!" bentaknya dan pedangnya menyambar. Akan tetapi, dengan tenang saja Thian Sin menggerakkan
tangannya menyambut pedang itu, mencengkeram pedang dengan tangan kirinya.
"Kraakkk!" Pedang itupun patah-patah, seolah-olah terbuat daripada benda yang lunak saja.
Agahai memandang dengan mata terbelalak dan kini wajahnya menjadi pucat.
"Pengawal...!" teriaknya dengan lantang memanggil para pengawal pribadinya. Akan tetapi tidak ada jawaban sama
sekali. Sunyi saja di luar kamar itu, hanya terdengar suara beradunya senjata agak jauh dari situ, dan suara hiruk-pikuk orang berkelahi.
Thian Sin tersenyum. "Semua pengawal dan pembantumu pada saat ini sedang diserbu dan dibasmi. Engkau harus berhadapan dengan aku tanpa bantuan siapapun!"
Raja Agahai menjadi ketakutan dan karena ingin meloloskan diri, dia menjadi nekat. Sambil mengeluarkan suara
seperti seekor srigala kelaparan, dia meloncat dan menerkam pemuda itu dengan kedua tangan menyerang dari kanan kiri.
"Plakk!" Thian Sin menampar, tidak mengerahkan tenaga terlalu besar dan raja itu terpelanting, pipi kanannya
bengkak dan membiru. Sejenak Agahai nanar dan matanya liar, seperti mata seekor harimau yang tersudut. Thian
Sin berdiri dengan bertolak pinggang, menghadang di depan pintu, tersenyum, namun senyum yang mengandung
kebencian mengerikan.
Agahai sudah bangkit lagi dan mundur-mundur, seperti hendak melakukan ancang-ancang untuk menyerang lagi. Akan tetapi, raja yang cerdik dan licik ini tiba-tiba meloncat ke belakang, ke arah pembaringan! Thian Sin terkejut,
akan tetapi Raja Agahai telah dapat menerkam tubuh Leng Ci, menarik dan mencekik leher wanita itu.
"Kalau kau maju, ia akan kupatahkan batang lehernya!" Dia mengancam kepada Thian Sin, sedangkan Leng Ci
meronta-ronta tak berdaya. "Hayo buka pintu dan minggir, biarkan aku lewat!" Diam-diam Thian Sin kagum juga
akan kecerdikan raja itu, akan tetapi tiba-tiba dia tertawa. Suara ketawanya demikian mengerikan dan aneh
karena memang dia mengerahkan tenaga khi-kang dalam suaranya. Raja Agahai memandang dengan heran dan merasa
aneh, akan tetapi inilah kesalahannya. Begitu dia memandang dengan perasaan tertarik, dia sudah terperangkap dan berada dalam pengaruh kekuasaan ilmu sihir yang dikerahkan pemuda itu.
"Ha-ha-ha, Agahai, apakah engkau sudah gila? Lihat baik-baik apa yang kaucengkeram itu? Yang kaucekik hanya sebuah bantal!"
Agahai terkejut dan cepat dia memandang kepada Leng Ci yang tadi diringkus dan dicekiknya. Dan hampir dia
berteriak kaget dan penuh kekecewaan karena ternyata benar, yang diringkusnya itu bukan lain hanyalah sebuah
bantal! Kemarahan yang meluap-luap membuat dia mengangkat "bantal" itu dan melemparkannya dengan tenaga sepenuhnya ke arah dinding.
Kini Thian Sin yang terkejut bukan main. Tentu saja yang diringkus oleh raja itu sama sekali bukan bantal,
melainkan tubuh Leng Ci yang denok! Dan ketika tubuh itu dilemparkan oleh raja, Thian Sin yang tidak
menyangkanya sama sekali tidak mampu lagi mencegah. Terdengar suara keras ketika tubuh itu terbanting dan
menghantam dinding. Ketika tubuh itu terjatuh ke lantai, sudah tidak bergerak lagi dan dari kepala yang
mengalirkan darah, dari kedudukan leher yang terkulai, tahulah Thian Sin bahwa mata indah yang terbuka lebar
itu tidak melihat apa-apa lagi. Leng Ci telah tewas dengan kepala retak!
"Agahai, manusia busuk! Manusia keparat kau! Kaubunuh ia... ah, kaubunuh Leng Ci...!" Thian Sin marah sekali.
Dia belum pernah jatuh cinta dalam arti kata yang sesungguhnya sehingga permainannya dengan Leng Ci itupun tak
dapat dikatakan cinta, melainkan lebih terdorong oleh nafsu berahi belaka. Akan tetapi, melihat Leng Ci yang
sama sekali tidak berdosa itu harus tewas dalam keadaan demikian menyedihkan, dan semua itu karena ulahnya,
sehingga Leng Ci dapat dibilang mati karena dia, hal ini membuat Thian Sin merasa berduka dan marah sekali.
Diterjangnya Raja Agahai. Raja ini mencoba untuk membela diri dan berteriak-teriak memanggil pengawal-pengawal.
Namun tidak ada seorangpun pengawal yang datang, dan diapun tentu saja tidak berdaya sama sekali menghadapi
tamparan-tamparan Thian Sin. Terdengar suara keras berkali-kali dan ketika raja itu terpelanting dengan muka
yang bengkak-bengkak dan berdarah. Thian Sin masih menyusulkan tendangan-tendangan yang membuat raja itu
jungkir balik dan jatuh bangun. Akan tetapi pemuda ini tidak menggunakan tenaga saktinya, karena dia tidak mau
membunuh Agahai begitu saja. Dia masih belum selesai berurusan dengan raja ini, maka betapapun marah dan
menyesalnya atas pembunuhan terhadap diri Leng Ci, dia tidak membunuh raja itu, hanya menyiksanya dengan
tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan. Yang membuat pemuda ini menyesal adalah, bahwa terbunuhnya Leng Ci
sesungguhnya karena dia. Raja itu membunuhnya tanpa sengaja, mengira bahwa yang dicengkeramnya tadi benar-benar
bantal sehingga dilemparkan bantal itu saking kecewanya.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dan Thian Sin menghentikan pemukulan-pemukulannya terhadap raja itu ketika
melihat bahwa yang muncul adalah Ratu Khamila, neneknya. Kiranya sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh
Menteri Abigan dan rekan-rekannya, bekas Ratu Khamila yang dipenjara ini dibebaskan dan dibawa ke istana,
setelah para pasukan pemberontak menguasai istana dan para pengawal Raja Agahai yang setia, sebagian besar
dibinasakan dan sebagian pula yang menyerah lalu ditangkap. Istana dibersihkan dari pengikut-pengikut Agahai
dan kini istana dikuasai oleh pasukan penjaga pemberontak. Setelah itu, barulah Ratu Khamila dibebaskan dan
dijemput, dibawa ke istana. Dan ratu ini, bersama Menteri Abigan dan beberapa orang panglima dan pengawal,
datang ke kamar Thian Sin di mana pemuda itu sedang menghajar Raja Agahai.
Raja Agahai yang melihat munculnya Ratu Khamila dan beberapa orang menteri dan panglima, maklum bahwa dia
terancam. Dia belum tahu apa yang terjadi di luar tidak tahu bahwa para pengawalnya sudah terbasmi. Namun,
melihat kenyataan bahwa tidak ada seorangpun pengawal yang muncul ketika dia berteriak-teriak minta tolong,
diapun sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. Maka kini melihat munculnya Puteri Khamila, tahulah dia
bahwa permainan telah berakhir dan bahwa dia telah kalah. Pemuda itu adalah putera tunggal Pangeran Oguthai
atau Pangeran Ceng Han Houw dan pemuda itu sudah tahu bahwa dia ikut dalam pengeroyokan pangeran itu dan
isterinya sampai mati. Tiada harapan lagi baginya, maka diapun tidak banyak tingkah lagi.
"Agahai, sudah tahukah engkau akan dosa-dosamu?" kata Ratu Khamila dengan suara halus namun penuh teguran. Ratu
ini tidak merasa begitu sakit hatinya ketika ditawan seperti ketika ia mendengar bahwa puteranya tewas oleh
pengeroyokan yang sebagian dilakukan orang-orangnya Agahai.
Agahai yang sudah putus asa itu tertawa. "Hemm, kalian lihat saja nanti kalau pasukan-pasukanku bergerak dan
menghancurkan kalian semua!"
Seolah-olah menjawab kata-kata Agahai, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan teriakan-teriakan banyak orang yang datangnya dari luar istana. Dan seorang pengawal datang tergopoh-gopoh, melapor kepada Menteri Abigan, didengarkan oleh Thian Sin dan juga oleh Agahai.
"Taijin, di luar istana penuh pasukan dan rakyat. Mereka itu berteriak-teriak menuntut penjelasan akan apa yang
terjadi di dalam istana. Suasana buruk sekali, di antara mereka itu terjadi perpecahan. Agaknya masih banyak di
antara mereka yang mendukung dia!" kata pengawal itu sambil menuding ke arah Agahai dengan penuh kebencian.
Mendengar ini, Agahai tertawa bergelak. Wajahnya menyeramkan sekali. Wajah yang bengkak-bengkak dan matang
biru, berdarah-darah pula, dan kini wajah itu terangkat dan bergoyang-goyang ketika tertawa, seperti iblis dalam dongeng.
Tiba-tiba Thian Sin menangkap leher bajunya, menotoknya sehingga raja itu tidak mampu bergerak lagi, lalu
menyeretnya keluar. "Silakan mengikuti saya ke menara istana, saya akan bicara dengan mereka!" Mendengar ini,
Ratu Khamila mengangguk dan juga para menteri dan panglima itu mengikuti dari belakang. Thian Sin membawa bekas
raja itu naik ke loteng menara dan tak lama kemudian nampaklah dia bersama raja itu di atas menara, di panggung
atas bersama Ratu Khamila dan para menteri yang setia. Melihat ini, pasukan dan rakyat yang berjubel di luar
istana, semua memandang ke arah panggung menara itu.
Teriakan-teriakan yang simpang-siur terdengarlah.
"Hidup Puteri Khamila...!"
"Hidup Raja Agahai...!"
Dari teriakan-teriakan ini saja jelaslah bahwa memang telah terjadi perpecahan, di antara rakyat dan pasukan.
Keadaan sungguh gawat dan ada ancaman perang saudara. Biarpun dia sudah tertotok dan tidak berdaya, Raja Agahai
tersenyum mendengar teriakan-teriakan yang jelas menyanjungnya itu, dan masih ada secercah harapan di wajahnya.
Akan tetapi, ketika Thian Sin menariknya agar lebih tinggi berdiri sehingga seluruh orang yang berada di bawah
melihatnya dengan jelas, melihat mukanya yang bengkak-bengkak, penghias kepalanya yang khas sebagai raja itu
sudah tidak ada lagi dan rambutnya awut-awutan, ada rasa khawatir pula di dalam hatinya.
"Rakyatku, pasukanku, dengarlah!" Tiba-tiba terdengar suara Puteri Khamila, suaranya halus namun cukup nyaring
sehingga terdengar oleh semua orang dan keadaan menjadi sunyi karena semua orang yang berada di bawah ingin
sekali mendengar apa yang hendak dikatakan oleh bekas ratu ini.
"Kalian semua tentu masih ingat kepada putera tunggalku, putera tunggal mendiang Raja Sabutai yang kalian
cinta, yaitu Pangeran Oguthai, bukan?"
Terdengar sorakan menyambut pertanyaan ini. Tentu saja tiada seorangpun di antara mereka yang tidak tahu siapa
adanya Pangeran Oguthai yang pernah berkunjung bersama isteri dan puteranya, dan betapa pangeran yang sakti dan
membuat semua orang bangga itu menolak ketika hendak diminta membantu pemerintahan Raja Agahai.
Puteri Khamita mengangkat kedua tangannya ke atas dan semua orangpun diamlah. Keadaan menjadi sunyi kembali,
"Sekarang dengarlah baik-baik, rakyatku. Kalian tentu tahu betapa Agahai yang menjadi raja, telah
menyalahgunakan kekuasaan, merampasi anak gadis dan isteri orang, mengejar kesenangan untuk dirinya sendiri
tanpa mempedulikan rakyatnya. Lihat, betapa kita telah menjadi lemah dan yang lebih celaka lagi, Agahai tidak
segan-segan untuk bertindak khianat dan curang. Aku yang menentang dan menasihatinya agar dia menghentikan
penyelewengannya, telah dia tahan sebagai seorang penjahat! Akan tetapi, hal ini tidak menyakitkan hatiku. Yang
lebih menyakitkan adalah bahwa dia telah menyuruh pasukan, bersekongkol dengan pasukan Beng dari selatan, untuk
mengeroyok dan membunuh Pangeran Oguthai dan isterinya!"
Semua orang terkejut, baik yang pro maupun yang anti kepada Agahai. Tak disangkanya raja mereka itu melakukan
hal yang kejam ini.
"Untung bahwa putera Pangeran Oguthai, yang pernah berkunjung ke sini ketika masih kecil, dapat lolos dari
pengkhianatan itu. Dan kalian hendak tahu siapa pemuda ini? Dia inilah Ceng Thian Sin, putera tunggal Pangeran
Oguthai! Dialah keturunan langsung dari mendiang Raja Sabutai!"
Puteri Khamila meneriakkan ucapan ini, walaupun bertentangan dengan suara hatinya. Hanya ia sendiri yang tahu
bahwa Thian Sin sama sekali bukan keturunan Sabutai melainkan keturunan Kaisar Beng-tiauw!
Mendengar ini, semua orang bersorak-sorai! Kemudian Thian Sin yang maju dan dengan suara lantang, diapun
berkata, "Saudara-saudara sekalian! Setelah mendengar keterangan Puteri Khamila yang menjadi nenekku, apakah
masih ada yang membela Agahai lagi? Dia seorang raja lalim! Dia malah telah membunuh Koksu Torgan yang
membantunya! Dan dia baru saja membunuh selirnya yang berbangsa Biauw itu! Dan kedatanganku di sini selain
untuk membalas kematian ayah bundaku, juga untuk menyelamatkan rakyat orang tuaku dari cengkeraman raja lalim
macam Agahai ini! Nah, katakanlah, siapa yang hendak membelanya? Para panglima telah berpihak kepada kami dan
istana telah kami duduki. Siapa hendak membelanya?"
Tidak ada yang menjawab. Semua orang maklum bahwa memang raja mereka itu tidak sebaik mendiang raja yang lalu,
dan telah melakukan hal-hal yang membuat rakyat tidak puas dan membuat mereka menjadi bangsa lemah yang
tersudut.
"Nah, kalau begitu, aku menyerahkan kepada kalian apa yang harus kita lakukan dengan Agahai yang telah membunuh
ayahku Pangeran Oguthai, dan yang telah melakukan penindasan terhadap kalian. Apa yang harus kita lakukan?"
"Bunuh dia!"
"Bunuh Agahai raja lalim!"
"Jangan ampunkan dia!"
Teriakan itu makin lama makin banyak disusul oleh yang lain-lain dan akhirnya hampir semua di antara
orang-orang itu berteriak-teriak untuk membunuh Agahai. Mendengar ini, menggigil seluruh tubuh Agahai dan
habislah harapannya. Dan inilah yang dikehendeki oleh Thian Sin. Dia lalu mengangkat tubuh Agahai tinggi-tinggi
dan terdengarlah suaranya yang lantang.
"Kalau begitu, kuserahkan kepada kalian! Terserah apa yang akan kalian lakukan dengan binatang busuk ini!" Dan
sekali menggerakkan kedua lengan melayanglah tubuh Agahai ke bawah dan pada saat itu diapun membebaskan
totokannya. Terdengar jerit mengerikan, jerit dari mulut Agahai yang tidak merasa ngeri karena melayang ke
bawah melainkan ngeri melihat ratusan pasang tangan seperti cakar-cakar harimau hendak mengkoyak-koyak
tubuhnya. Dan memang tubuhnya terkoyak-koyak ketika dia disambut oleh orang-orang yang mendendam kepadanya itu.
Semua orang ingin memukulinya, menendangnya, menjambaknya sehingga akhirnya tubuhnya terkoyak-koyak habis, dan
hanya darah dan potongan daging-daging saja yang tinggal setelah semua orang memuaskan nafsu dendam mereka
terhadap raja lalim itu.
Bersama dengan tewasnya Agahai, tewas pulalah para pembantunya dan para panglima yang dahulu memimpin pasukan
dan ikut mengeroyok Pangeran Ceng Han Houw. Thian Sin menyaksikan sendiri hukuman pancung kepala terhadap
pasukan dan komandannya itu, akan tetapi ketika para panglima yang setia kepadanya hendak menangkapi keluarga
Agahai, Puteri Khamila melarangnya.
"Betapapun juga, Agahai adalah keluarga mendiang Raja Sabutai, dan karena hanya dia yang berdosa, maka biarlah
keluarganya dibebaskan daripada hukuman." Thian Sin tidak membantah keputusan neneknya ini, karena diapun sudah
puas menyaksikan semua pengeroyok ayah bundanya telah dijatuhi hukuman mati.
Bahkan setelah tujuannya datang ke tempat ini telah terlaksana, yaitu membalas dendam atas kematian orang
tuanya terhadap Raja Agahai, Thian Sin tidak ingin tinggal lebih lama lagi di tempat itu. Para menteri dan
panglima yang tahu bahwa putera Pangeran Ceng Han Houw itu adalah seorang pemuda yang sakti, mengajukan usul
kepada Puteri Khamlia agar pemuda itu dapat menjadi raja, menggantikan Agahai dan hal itu dianggap sudah
sepatutnya dan sah karena walaupun pemuda itu mempunyai seorang ibu bangsa Han, namun dia adalah keturunan
langsung dari Raja Sabutai. Tentu saja hanya Puteri Khamila yang tahu bahwa pemuda itu sama sekali tidak
mempunyai darah Raja Sabutai sedikitpun juga! Namun usul ini amat berkenan di hati Sang Puteri, maka iapun
mencoba untuk membujuk kepada Thian Sin untuk menerima usul itu. Akan tetapi, dengan tegas Thian Sin
menolaknya, kemudian bahkan memperingatkan kepada para menteri agar mengangkat Ratu Khamila sebagai ibu suri
dan juga sebagai pejabat raja sebelum memilih pengganti raja, dan kemudian menyerahkan kepada kebijaksanaan
Ratu Khamila untuk memilih raja.
Tentu saja Ratu Khamila menjadi kecewa sekali. Akan tetapi cucunya itu berkata dengan suara tegas, "Harap nenek
mengerti bahwa masih banyak hal yang harus saya selesaikan, dan terutama sekali membalas dendam kepada
musuh-musuh yang telah membunuh ayah bundaku. Selain itu, juga saya sedikitpun tidak berminat untuk menjadi
raja, maka terserahlah kepada nenek untuk menentukan siapa yang patut untuk menjadi seorang raja yang baik."
Akhirnya Ratu Khamila terpaksa menyetujui dan pada hari Thian Sin meninggalkan tempat itu, Ratu Khamila
mengumumkan bahwa yang diangkat menjadi calon raja tetap saja adalah putera Agahai sebagai pangeran
satu-satunya yang menjadi keturunan keluarga Raja Sabutai. Akan tetapi, sebelum anak itu besar, Ratu Khamila
sendiri yang memegang jabatan wakil raja.
***
Bukan hanya Thian Sin seorang, melainkan hampir semua manusia di dunia ini selalu haus akan kepuasan, selalu
mengejar-ngejar sesuatu yang dibayangkannya sebagai hal yang menyenangkan. Pengejaran akan sesuatu yang
menyenangkan ini, kalau berhasil, memang dapat mendatangkan kepuasan. Akan tetapi, apakah artinya kepuasan?
Dapat kita rasakan sendiri bahwa kepuasan hanya terasa selewat saja. Pengejaran akan sesuatu, baik "sesuatu"
itu merupakan benda ataupun gagasan, sudah pasti disebabkan karena si pengejar, yaitu si aku atau pikiran yang
membayangkan, membayangkan adanya kesenangan yang didapat pada sesuatu yang dikejar-kejar itu. Kepuasan adalah
terpenuhinya keinginan itu, lalu dilanjutkan dengan kenikmatan kesenangan yang didapat itu. Namun, seperti juga
kepuasan yang hanya dapat dinikmati sejenak saja, demikianpun kesenangan ini tidaklah bertahan lama. Segera
tempatnya diduduki oleh kebosanan akan sesuatu yang tadinya dikejar-kejar itu, dan pikiran yang tak pernah
mengenal puas akan membayangkan kesenangan dalam pengejaran sesuatu yang lain lagi, yang dianggap lebih
berharga, lebih nikmat, lebih berbobot dan sebagainya. Sesuatu yang pertama tadi, yang dikejar-kejarnya
setengah mati, kalau perlu berebutan dengan orang lain, akan menjadi sesuatu yang sama sekali tidak menarik.
Bukan karena sesuatu yang pertama itu telah merosot atau berubah mutu dan nilainya, melainkan si aku yang tidak
memberinya nilai lagi, karena si aku telah tertarik oleh sesuatu yang ke dua.
Dan kitapun terseret dan hanyut oleh keinginan yang tiada akan habisnya selama kita masih hidup. Mata ini tidak
pernah memandang apa yang ada di dalam jangkauan kita, melainkan selalu memandang jauh ke depan. Yang berada di
tangan takkan pernah dapat dinikmatinya dan yang dianggap indah, menyenangkan dan nikmat selalu adalah yang
berada jauh di depan, yang belum terjangkau. Dan semua ini disebut dengan kata-kata indah, yaitu cita-cita! Ada pula yang menamakan kemajuan.
Padahal, keindahan itu terdapat dalam keadaan sekarang ini, yang berada di depan kita, yang kita rasakan setiap
saat. Karena tidak pernah mengamati yang "ini", selalu mencari-cari dan memandang kepada yang "itu", maka hanya
yang begitu sajalah yang indah, sedangkan yang begini sama sekali tidak nampak lagi. Kita sudah demikian mabuk
oleh cita-cita, oleh angan-angan kosong, oleh gambaran-gambaran yang kita buat sendiri, sehingga kehidupan kita
tidak pernah bersentuhan dengan kenyataan. Kita keenakan bermimpi membayangkan yang indah-indah, yaitu yang
belum ada dan dengan demikian kita seolah-olah buta akan keindahan yang terkandung di dalam apa yang sudah ada.
Inilah sebabnya mengapa kita selalu menganggap bahwa buah mangga di kebun orang lain nampak lebih nikmat
daripada buah mangga di kebun sendiri, bunga mawar di kebun orang lain nampak lebih indah dan harum daripada
bunga mawar di kebun sendiri. Dapatkah kita hidup tanpa membanding-bandingkan, tanpa membentuk gambaran gagasan
khayal, sehingga tidak timbul iri hati dan tidak mengejar-ngejar bayangan yang kita namakan cita-cita dan
ambisi? Dapatkah kita menikmati kehidupan sekarang ini, yang sudah ada ini, dalam keadaan bagaimanapun juga?
Susah dan sengsara itu BARU MUNCUL kalau kita membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Sebutan kaya
miskin, pintar bodoh, makmur sengsara, dan perbandingan ini jelas menimbulkan iba diri dan penyesalan, di
samping menimbulkan pula kebanggaan dan ketinggian hati. Dapatkah kita hidup saat demi saat, mencurahkan
seluruh perhatian kita terhadap sekarang ini, apa yang ada ini?
Setelah meninggalkan neneknya, Thian Sin melanjutkan perantauannya. Dia menunggang seekor kuda pilihan,
pakaiannya seperti seorang sastrawan yang kaya raya. Dan memang pada waktu itu, Thian Sin membekal banyak
pakaian indah dan juga banyak uang, pemberian bekal dari neneknya. Orang yang bertemu dengan pemuda ini di
tengah jalan, tentu akan menyangka bahwa dia seorang sastrawan muda yang kaya raya atau putera seorang pembesar
yang berkedudukan tinggi. Seorang pemuda yang halus, tampan sekali, berpakaian indah, pandai memainkan suling
dan pandai bersajak, sikapnya ramah-tamah dan sopan seperti layaknya seorang terpelajar. Akan tetapi, kalau
orang itu melihat bagaimana sikap pemuda ini kalau berhadapan dengan penjahat maka dia akan bergidik dan merasa
serem. Pemuda itu ternyata berubah sama sekali. Wataknya menjadi ganas dan kejam bukan main.
Ketika Thian Sin melihat Tembok Besar, teringatlah dia kepada Jeng-hwa-pang. Dia tahu bahwa sisa para anggauta
Jeng-hwa-pang masih ada yang berada di tempat lama, akan tetapi Jeng-hwa-pang sendiri sudah bubar dan musuh
besarnya yang ikut mengeroyok ayah bundanya yaitu Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam, kini tidak berada di situ.
Akan tetapi, mungkin sekali di antara mereka ada yang mengetahui di mana adanya kakek itu sekarang, maka diapun
membelokkan kudanya menuju ke perkampungan Jeng-hwa-pang yang terletak di antara hutan-hutan dan pegunungan
itu.
Daerah ini merupakah daerah yang berbahaya, penuh dengan hutan-hutan liar dan di pegunungan sekitar Tembok
Besar ini sudah terkenal dengan hutan-hutan besar yang dihuni oleh binatang-binatang buas, juga di sini banyak
tumbuh pohon-pohon raksasa dan tumbuh-tumbuban yang aneh. Karena dia sendiri adalah seorang yang dibesarkan di
Lembah Naga, maka Thian Sin sudah biasa dengan tempat-tempat yang liar macam itu. Dia tidak berani melakukan
perjalanan di waktu malam, tahu betapa berbahayanya hal itu. Setelah terpaksa bermalam di dalam pohon besar di
tengah hutang pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Thian Sin melanjutkan perjalanannya menuju perkampungan
Jeng-hwa-pang yang seingatnya berada di luar Tembok Besar sebelah timur.
Selagi dia menjalankan kudanya dengan hati-hati di dalam hutan, tiba-tiba dia mendengar suara hiruk-pikuk dan
teriakan-teriakan ketakutan dari beberapa orang yang datangnya dari dalam hutan besar di depan. Thian Sin cepat
menggerakkan kudanya meloncat ke depan dan membalap ke dalam hutan itu, ke arah datangnya suara.
Dia menghentikan kudanya dan meloncat turun, menalikan kendali kudanya pada sebatang pohon, kemudian Thian Sin
berlari menuju ke tempat di mana dia melihat lima orang sedang berteriak-teriak mengepung sebuah lubang jebakan
di dalam tanah, di tengah-tengah hutan itu. Mereka tentu pemburu-pemburu yang telah berhasil menjebak seekor
binatang buas. Dia mendengar geraman-geraman yang menggetarkan tanah yang diinjaknya dan diam-diam dia
terkejut. Tentu binatang yang amat kuat dan mengerikan yang telah terjebak itu, pikirnya.
Suaranya bukan seperti harimau, melainkan lebih mirip suara biruang. Akan tetapi tentu seekor biruang yang
besar sekali yang telah tertangkap itu. Dia hanya mengintai dan melihat betapa lima orang itu mempergunakan
tombak-tombak mereka untuk menusuk-nusuk ke dalam lubang. Akan tetapi mereka itu takut-takut dan sering kali
meloncat mundur sambil berteriak kaget dan ketakutan. Dan Thian Sin melihat betapa ada dua batang tombak yang
patah-patah ketika dipakai menusuk ke dalam lubang! Dia terkejut. Binatang itu tentu kuat bukan main, pikirnya.
Dan melihat betapa sebatang tombak dapat dipakai menyerang ke dalam lubang, dia dapat menduga bahwa lubang itu
tidak terlalu dalam dan amatlah berbahaya kalau binatang itu dapat meloncat keluar.
"Cepatlah, kami hampir kewalahan!" Tiba-tiba seorang di antara mereka berteriak sambil menoleh ke belakang.
Thian Sin memandang dan baru dia tahu bahwa jauh dari situ ada lima orang lain yang sedang sibuk memperdalam
sebuah lubang jebakan lain. Lubang ini sudah cukup dalam karena lima orang itu tidak nampak berada di dalam
lubang dan hanya nampak galian-galian yang dilempar-lemparkan keluar lubang. Apa yang mereka kehendaki dengan
lubang baru itu? Namun, melihat betapa lima orang itu agaknya mencegah binatang yang terjebak keluar dari
lubang pertama, Thian Sin dapat menduga bahwa tentu mereka itu membuat lubang lain yang lebih dalam ini untuk
berusaha menjebak binatang yang buas itu ke dalam lubang ke dua ini! Dan tentu saja caranya dengan memancing
binatang itu mengejar mereka. Suatu perbuatan yang amat berani dan berbahaya! Dan dugaannya memang benar. Kini
lima orang penggali lubang baru itu sudah naik dan cepat menutupi lubang itu dengan kayu dan daun-daun,
kemudian mereka membantu lima orang teman mereka untuk menggoda binatang itu yang menjadi semakin marah.
"Kita mulai sekarang!" kata seorang di antara mereka yang agaknya menjadi kepala kelompok pemburu itu. "Kalian
cepat di seberang lubang dan menggodanya, memancingnya agar mengejar, biar aku sendiri yang menahannya."
"Tapi... berbahaya sekali untukmu, twako..."
"Tidak, aku dapat lari dan naik ke pohon itu." kata si pemimpin yang tubuhnya besar ini sambil menunjuk ke arah
sebatang pohon besar tak jauh dari lubang jebakan itu.
Setelah menerima perintah, sembilan orang itu lalu meninggalkan lubang, berlari-lari dengan cepat mengelilingi
jebakan batu dan berdiri di seberang jebakan baru ini sambil mengacung-acungkan tombak mereka. Si pemimpin kini
sendiri saja, menggunakan sebatang tombak mencegah keluarnya binatang dari dalam lubang jebakan sebelum para
pembantunya tiba di seberang jebakan.
"Twako, pergilah!"
"Larilah!" teriak mereka dengan khawatir.
Pemimpin pemburu yang bertubuh tinggi besar itu mempergunakan sebatang tombak yang bergagang besi, panjang dan
berat, dan dengan tombak itu dia memukul ke bawah, mencegah binatang itu yang agak hendak merangkak keluar dari
dalam lubang. Akan tetapi, tiba-tiba tombak yang dipukulkan itu tertangkap oleh binatang itu, terjadi
tarik-menarik dan pada saat itulah para pembantunya berteriak-teriak menyuruhnya lari. Kepala pemburu ini
mengenal bahaya, akan tetapi tiba-tiba saja tombak itu didorong dengan kuat dari bawah dan ujung tombak, yaitu
gagangnya yang tumpul, menghantam dadanya.
"Dukk...!" Pemburu ini terpental dan terjatuh, napasnya agak terengah-engah dan dia menggunakan kedua tangan
memegang dan mencengkeram ke arah dadanya yang terasa nyeri sekali. Dan diapun tahu akan bahaya, cepat dia
merangkak dan mencoba untuk bangun. Biarpun gerakannya kaku karena dadanya nyeri, namun dia dapat juga bangkit
dan mencoba untuk lari ke arah pohon. Akan tetapi pada saat itu, terdengar gerengan dahsyat dan seekor binatang
yang besar sekali telah melompat keluar dari dalam lubang jebakan! Thian Sin terkejut bukan main melihat seekor
orang hutan yang besar dan kelihatan amat kuat itu. Seekor orang hutan yang marah, nampak moncongnya meringis
dan memperlihatkan giginya bartering yang mengerikan. Kedua lengannya panjang sekali dan penuh dengan bulu yang
kasar. Jarang Thian Sin bertemu orang hutan sebesar ini dan biarpun di sekitar Lembah Naga terdapat orang hutan
yang besar, akan tetapi tidak sebesar ini. Dia dapat menduga bahwa bulu-bulu kasar tebal itu melindungi tubuh
si Orang Hutan, membuatnya kebal terhadap senjata tajam.
Kini orang hutan itu lari mengejar si kepala pemburu! Thian Sin terkejut, dan juga menyesal akan kebodohan
kepala pemburu itu. Mana mungkin lari ke pohon terhadap seekor orang hutan? Tentu tadinya kepala pemburu itu
mengandalkan tombaknya, dan agaknya berpikir bahwa dari atas pohon dia dapat mencegah orang hutan itu naik
mengejarnya dengan menusuk-nusukkan tombak. Betapa bodohnya! Kini, melihat gerakan orang hutan itu dan melihat
larinya si kepala pemburu, dia tahu bahwa sebelum sampai di pohon, orang itu tentu akan tersusul dan akan
mengalami kematian yang mengerikan. Melihat ini, timbul semangat pendekar dalam batin Thian Sin. Diapun lalu
meloncat dan dengan beberapa loncatan saja dia sudah dapat menghadang orang hutan itu, memotong pengejarannya
terhadap si kepala pemburu. Semua pemburu sudah pucat mukanya melihat kepala mereka tadi dikejar dan hampir
terpegang oleh binatang buas itu dan kini, melihat munculnya seorang pemuda tampan berpakaian sasterawan
berdiri dengan tenangnya menghadapi binatang itu, mereka semua merasa terkejut, terheran dan juga khawatir
sekali.
Sementara itu, si kepala pemburu sudah meloncat dan merayap ke atas pohon dengan muka pucat dan keringat dingin
membasahi seluruh mukanya. Ketika dia sudah berada di atas cabang pohon dan menengok, diapun melihat pemuda itu
dan dia memandang dengan mata terbelalak.
Sedangkan para pemburu lainnya, dengan hati ngeri membayangkan betapa orang hutan itu akan membunuh pemuda itu,
maka merekapun berteriak-teriak, "Orang muda, lekas lari ke sini...! Cepat...!"
Akan tetapi, betapa heran hati mereka melihat pemuda itu tersenyum saja dan memandang kepada orang hutan yang
marah itu dengan sikap tenang. Orang hutan ini agaknya juga merasa heran. Semua orang yang bertemu dengan dia
tentu melarikan diri atau langsung menyerangnya. Akan tetapi orang ini berdiri tenang saja dan ketika bertemu
pandang, binatang ini menggeram dan mengalihkan pandang matanya. Tak tahan dia menatap mata yang mencorong itu
terlalu lama. Kemudian, binatang ini menggereng dan meloncat ke depan, menyerang dengan gerakan yang amat
cepatnya. Binatang itu besar sekali, tentu ada satu setengah orang beratnya dan gerakannya begitu cepat
jaranglah ada orang yang dapat menyelamatkan diri dari serangannya itu. Sepuluh orang pemburu itupun menahan
napas dan memandang penuh kengerian karena mereka sudah membayangkan betapa tubuh pemuda yang tak berapa besar
itu akan terkoyak-koyak oleh dua lengan yang berbulu, panjang dan amat kuat itu.
Thian Sin juga maklum akan kuatnya binatang ini, maka dia cepat mengelak dengan loncatan ke kiri. Binatang itu
menggereng, agaknya merasa heran dan semakin marah melihat betapa manusia ini dapat menghindarkan diri dari
terkamannya. Maka sambil melempar tubuh ke kiri dengan gerakan refleks yang amat cepat, seolah-olah masih
merupakan rangkaian dari serangannya yang pertama tadi, dia menubruk lagi. Serangan ke dua ini lebih cepat
daripada tadi, kecepatan yang tak mungkin bisa dikuasai oleh manusia, kecepatan yang memang alamiah karena
kehidupan binatang ini yang selalu memaksanya berloncatan dari dahan ke dahan. Biarpun Thian Sin kembali sudah
meloncat untuk mengelak, namun dia masih kalah cepat dan sebuah lengan panjang berbulu tahu-tahu sudah
menyentuh pundaknya dan kalau sampai jari-jari tangan yang kuat itu mencengkeram pundaknya, tentu setidaknya
dia akan terluka. Maka Thian Sin lalu mengerahkan tenaga dan memutar lengannya menangkis, sedangkan tangan
kirinya membalas dengan hantaman keras ke arah perut binatang itu.
"Dukkk... Desss...!" Tangkisannya itu bertemu dengan lengan yang amat kuatnya, namun cukup membuat terkaman
tangan ke arah pundaknya itu meleset, dan pukulannya bertemu deengan perut yang seperti penuh dengan angin,
sehingga kuat bukan main. Orang hutan itu terjengkang, akan tetapi agaknya sama sekali tidak merasa nyeri dan
cepat binatang itu sudah meloncat lagi, menyerang lagi dengan kedua lengannya yang panjang. Kini dia marah
bukan main, menyerang bertubi-tubi dengan gerakan kedua lengan panjang itu lucu dan tidak karuan, namun amat
dahsyat, mulutnya menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi besar bertaring, kadang-kadang mendesis-desis dengan
air liur muncrat dan kadang-kadang dari lehernya keluar suara menggereng yang seolah-olah menggetarkan tanah
dan pohon-pohon di sekitar tempat itu.
Serangan-serangan yang amat ganas itu dihadapi dengan tenang oleh Thian Sin. Pemuda ini maklum bahwa binatang
itu hanya memiliki kecepatan dan kekuatan alamiah saja, namun tidak memilki akal untuk berkelahi dengan baik.
Maka, mudah baginya untuk mempermainkan binatang itu dan kalau dia menghendaki, tidak sukar baginya untuk
membunuhnya dengan menyerang bagian-bagian yang lemah dari binatang itu. Dua kali dia memukul dan menendang,
membuat orang hutan itu terjengkang dan bergulingan. Akan tetapi binatang itu memiliki kekebalan yang luar
biasa, sudah bangkit lagi dan menyerang lebih ganas.
Sepuluh orang yang tadinya ketakutan dan khawatir akan keselamatan Thian Sin, memandang bengong saking herannya
menyaksikan keadaan yang tak pernah mereka duga. Keadaan itu malah sebaliknya. Pemuda itu mampu mempermainkan
orang hutan yang telah membuat kewalahan dan ketakutan tadi. Mengertilah mereka bahwa pemuda itu adalah seorang
pendekar yang berilmu tinggi.
"Taihiap, harap jangan bunuh dia!"
"Kami hendak menangkapnya hidup-hidup!"
"Kalau dia mati, kami tentu takkan diampuni!"
Mendengar seruan orang-orang itu, Thian Sin menahan tangannya yang sudah siap merobohkan orang hutan itu.
Tusukan dengan jari tangan pada matanya, atau tendangan di antara selangkang kakinya, atau pukulan tangan
miring pada tengkuknya, tentu akan merobohkan binatang ini. Akan tetapi seruan orang-orang itu membuatnya
terheran, apalagi kalimat terakhir itu. Kalau binatang itu mati, mereka takkan diampuni? Apa artinya seruan
itu? Thian Sin merasa penasaran, akan tetapi diapun menghentikan niatnya merobohkan orang hutan ini. Dia
teringat akan lubang jebakan yang baru saja digali mereka itu, maka kini dia menghadapi amukan orang hutan itu
sambil mundur sampai tiba di tepi perangkap baru yang tertutup ranting dan daun-daun. Orang hutan yang sudah
beberapa kali terkena pukulan dan tendangan itu, marah sekali dan terus menerjang dengan dahsyat. Thian Sin
mengelak dengan locatan ke kiri dan pada saat tubuh orang hutan itu menyambar lewat, dia memberi dorongan
dengan tendangan kaki pada pinggul binatang itu. Binatang itu terdorong ke depan dan tak dapat dihindarkan
lagi, dia terjatuh ke atas ranting dan daun penutup perangkap. Dia mengeluarkan gerengan kaget dan marah, juga
ketakutan ketika tubuhnya terpelanting dan terjerumus ke dalam lubang, binatang itu berteriak-teriak, berusaha
meloncat, akan tetapi tidak mungkin dia dapat keluar dari dalam lubang.
Thian Sin mengebut-ngebutkan pakaiannya untuk membersihkannya dari debu. Sepuluh orang itu datang berlari, dan
setelah mereka menjenguk ke dalam lubang perangkap dan melihat orang hutan itu marah-marah dan tak berdaya di
dalam lubang, mereka lalu menghadapi Thian Sin. Laki-laki tinggi besar itu dengan sikap hormat lalu menjura
kepada pemuda ini, dengan pandang mata penuh kekaguman.
"Taihiap telah menyelamatkan bukan hanya nyawa saya yang tadi terancam, akan tetapi juga nyawa kami semua.
Kalau tidak ada taihiap yang gagah perkasa, tentu nasib kami akan sama dengan nasib seorang kawan kami yang
berada di lubang jebakan itu." Dia menuding ke arah perangkap pertama sambil menarik napas panjang.
Thian Sin menengok ke arah lubang itu. "Jadi ada teman kalian yang sudah menjadi korban?" Dia menghampiri dan
menjenguk ke dalam. Benar saja, di dasar lubang itu nampak tubuh seorang laki-laki yang sudah tidak karuan
bentuknya, dikoyak-koyak, bahkan sebuah lengan terlepas dari pundaknya.
"Hemm, apakah yang telah terjadi? Siapakah kalian ini yang tidak mau membunuh orang hutan yang telah membunuh
seorang teman kalian? Dan apa artinya bahwa aku telah menyelamatkan kalian? Siapa mengancam kalian?"
Sepuluh orang itu memandang ke kanan kiri dan nampaknya ketakutan untuk menjawab dan Si Tinggi Besar itu bahkan
berkata lirih, "Tidak apa-apa, taihiap... kami... telah salah bicara tadi... kami menghaturkan terima kasih atas bantuan taihiap menangkap orang hutan itu."
Melihat sikap ini, Thian Sin mengerutkan alisnya dan diapun melangkah ke arah lubang jebakan di mana orang
hutan itu masih mengeluarkan suara teriakan-teriakan marah. "Baiklah, kalau begitu akan kukeluarkan lagi orang hutan itu."
Tiba-tiba orang tinggi besar itu berseru, "A Pin... jangan...!"
Namun, seorang yang bernama A Pin itu, seorang di antara mereka, telah menggerakkan tangan kanannya dan sinar
hijau menyambar ke arah tubuh belakang Thian Sin. Pemuda sakti itu maklum akan adanya sambaran senjata lembut
ke arahnya, maka diapun membalik dan melihat sinar hijau itu, tahulah dia bahwa dia diserang oleh orang tinggi
kurus itu dengan jarum-jarum halus. Thian Sin mengibaskan lengan bajunya yang lebar dan jarum-jarum itu runtuh
semua ke atas tanah. Akan tetapi A Pin yang tinggi kurus itu telah mencabut sebatang pedangnya dan dengan
pedang yang ujungnya kehitaman itu, Thian Sin terkejut. Seperti juga jarum-jarum halus tadi, pedang inipun
mengandung racun yang amat hebat. Hal ini diketahuinya dari baunya. Ketika serangan itu datang, Thian Sin
menggerakkan tangannya dan di lain saat, pedang itu telah terampas olehnya dan tubuh penyerangnya telah
terlempar ke dalam lubang! Orang itu menjerit dengan suara mengerikan lalu tersusul hiruk-pikuk di dalam
lubang, teriakan-teriakan menyayat hati dari A Pin dan geraman-geraman marah dari orang hutan. Sembilan orang
lainnya terbelalak dengan muka pucat sekali. Mereka tahu apa yang sedang terjadi, tahu bahwa teman mereka
sedang dikoyak-koyak oleh orang hutan itu. Teriakan-teriakan mengerikan itu hanya sebentar saja dan suasana di
dalam lubang menjadi sunyi lagi, kecuali geraman binatang itu yang tidak berapa hebat lagi, seolah-olah orang
hutan itu telah merasa puas memperoleh seorang korban lagi kepada siapa dia dapat melampiaskan kemarahannya.
Thian Sin memeriksa ujung pedang itu, menciumnya, kemudian melemparkan pedang itu ke atas tanah. "Hemm, kalian
ini orang-orang Jeng-hwa-pang?" tiba-tiba dia membentak.
Sembilan orang itu terkejut dan menggeleng-geleng kepala. Si Tinggi Besar berkata gugup, "Tidak... bukan,
taihiap, Jeng-hwa-pang sudah tidak ada..." Dia saling memandang dengan teman-temannya, lalu melanjutkan, "kami
hanyalah pemburu-pemburu biasa..."
Thian Sin tersenyum, senyum yang hanya merupakan topeng bagi perasaan mengkal di hatinya. "Tak perlu kalian
menyangkal. Melihat jarum-jarum dan pedang itu, aku tahu bahwa kalian adalah orang-orang Jeng-hwa-pang. Lupakah
kalian kepadaku, putera dari Pangeran Ceng Han Houw yang beberapa tahun yang lalu pernah membasmi
Jeng-hwa-pang?"
Mereka semakin kaget, memandang dengan mata terbelalak dan kemudian Si Tinggi Besar menjatuhkan dirinya
berlutut, diikuti oleh teman-temannya. Sekarang merekapun ingatlah kepada pemuda ini.
"Ampun, taihiap... ampunkan kami yang bermata buta, tidak mengenal taihiap. Memang kami adalah bekas-bekas
anggauta Jeng-hwa-pang, akan tetapi sungguh mati, sekarang Jeng-hwa-pang tidak ada lagi dan kami hanya
sekumpulan pemburu..."
"Sikap kalian aneh, seperti ada yang kalian takutkan. Dan temanmu yang menyerangku tadi agaknya juga terdorong
oleh rasa takut. Hayo, ceritakan semua, kalau tidak, kalian akan kulempar satu demi satu ke dalam lubang ini.
Hendak kulihat, siapa yang lebih kalian takuti, aku ataukan yang lain itu."
Mendengar ancaman ini dan melihat kesaktian Thian Sin, apalagi mengingat bahwa pemuda ini adalah putera
mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang mengganggap Jeng-hwa-pang sebagai musuh besar, mereka menjadi takut
sekali. Si Tinggi Besar, setelah memandang ke empat penjuru dengan sikap takut-takut, lalu bercerita.
Sisa para anggauta Jeng-hwa-pang ada sekitar tiga puluh orang. Mereka berkelompok dan karena tidak mempunyai
tempat tinggal lain, setelah rasa takut mereka hilang terhadap pemuda-pemuda yang membasmi sarang mereka,
akhirnya mereka kembali ke sarang lama dan di sini mereka membawa keluarga mereka dan membentuk perkampungan.
Akan tetapi mereka telah jera dan tidak mau lagi melakukan pekerjaan jahat, tidak mau mengganggu para pelancog
dan para pedagang, juga tidak mau mengganggu perkampungan-perkampungan atau dusun-dusun lain. Mereka hidup
sebagai pemburu-pemburu karena selain rata-rata, sebagai bekas anggota Jeng-hwa-pang, mereka memiliki
kepandaian silat dan memiliki tubuh kuat, juga di sekitar daerah itu terdapat banyak binatang buruan.
Mereka hidup aman dan tenteram selama bertahun-tahun, keluarga mereka berkembang-biak dan perkampungan itu
menjadi cukup makmur. Kaum prianya memasuki hutan dan berburu, sedangkan para wanitanya mengerjakan sawah
ladang di sekitar perkampungan, yaitu tanah bekas hutan yang mereka babat. Akan tetapi, semenjak dua tahun
terakhir ini terjadilah perubahan ketika muncul seorang laki-laki yang bernama Su Lo To, seorang peranakan Han
dan Rusia Kozak. Orang ini bertubuh tinggi besar, matanya agak kebiruan dan biarpun rambutnya agak hitam
seperti orang Han, akan tetapi kulitnya putih dan bulu-bulu tubuhnya juga putih. Su Lo To ini tiba di
perkampungan itu, jatuh cinta dengan seorang gadis perkampungan itu dan merekapun lalu menikah. Akan tetapi,
kemudian Su Lo To memperlihatkan belangnya dan diapun menjagoi di perkampungan itu. Kiranya orang ini memiliki
kepandaian yang cukup tinggi sehingga semua bekas anggota Jeng-hwa-pang yang berani mencoba untuk menentangnya,
dirobohkannya. Bahkan dia tidak takut akan keahlian orang-orang Jeng-hwa-pang itu tentang racun, karena Su Lo
To inipun seorang ahli tentang racun! Dan tenaganya seperti gajah! Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian
Su Lo To mengangkat diri sendiri menjadi pemimpin mereka. Memang benar bahwa Su Lo To tidak menyeret mereka ke
dalam kejahatan, akan tetapi orang ini merupakan seorang pemimpin yang lalim. Dia memaksa orang-orangnya untuk
bekerja berat, dan sebagian dari hasil buruan diambilnya sendiri. Maka sebentar saja dia telah dapat membangun
sebuah rumah besar dan hidup mewah di antara kehidupan sederhana dari para penghuni perkampungan itu. Dan bukan
ini saja. Semakin lama Su Lo To semakin bersikap sewenang-wenang dan wanita mana saja yang disukainya, mau
tidak mau harus datang kepadanya dan melayaninya! Pendeknya, Su Lo To hidup sebagai raja kecil yang memeras
orang-orangnya dan mempergunakan tangan besi. Semua orang takut kepadanya, karena Su Lo To ini amat kejam.
Beberapa orang telah tewas olehnya karena melakukan kesalahan atau pelanggaran perintahnya.
Laki-laki tinggi besar yang memimpin teman-temannya untuk menangkap orang hutan itu tadinya adalah orang yang
dianggap sebagai pemimpin kelompok itu. Orang ini bernama Gak Song dan sudah dikalahkan oleh Su Lo To, lalu
diangkat menjadi wakilnya. Gak Song amat setia kawan terhadap teman-temannya, maka biarpun dia diangkat menjadi
wakil Su Lo To, namun dia secara diam-diam membela kawan-kawannya. Akan tetapi, akhirnya Su Lo To mau juga
mengganggu pembantu atau wakilnya ini, Gak Song mempunyai seorang mantu perempuan yang baru saja dikawini
puteranya. Mantu perempuan ini datang dari dusun lain yang agak jauh dari tempat itu, dan termasuk seorang
wanita yang cantik dan manis. Kecantikan mantu perempuan inilah yang mendatangkan malapetaka bagi keluarganya,
karena, seperti mudah diduga, Su Lo To tertarik kepadanya! Akan tetapi, terhadap wakilnya, Su Lo To merasa
tidak enak hati juga untuk mempergunakan kekerasan. Dan timbullah akalnya yang busuk!
Selama beberapa bulan ini, di sebuah hutan besar tak jauh dari daerah perburuan mereka, terdapat seekor orang
hutan yang anat ganas dan kuat. Karena mereka merasa kewalahan untuk menghadapi orang hutan ini, bahkan telah
kehilangan seorang teman menjadi korban orang hutan, maka para pemburu lalu meninggalkannya dan menjauhi hutan
itu. Dan Su Lo To juga tidak memaksa anak buahnya untuk menghadapi bahaya itu. Akan tetapi, setelah dia melihat
mantu Gak Song, tiba-tiba dia memerintahkan agar Gak Song dan anak buahnya, termasuk puteranya sendiri, pergi
menangkap orang hutan itu hidup-hidup!
"Orang hutan itu merupakan binatang yang cerdik," demikian katanya kepada Gak Song. "Aku ingin menjinakkannya
dan kemudian menjadikannya semacam keamanan rumah. Maka diapun harus dapat ditangkap dalam keadaan hidup!"
Gak Song dan kawan-kawannya tidak berani membantah lagi karena membantah berarti akan membuat kepala itu marah
dan celakalah mereka kalau Su Lo To sudah marah. Terpaksa mereka berangkat dan memasang jebakan dengan menggali
lubang. Akhirnya, setelah menanti dengan sabar dan menggunakan segala akal untuk memancing orang hutan itu
datang, mereka berhasil menjebak dan orang hutan itu terjerumus ke dalam perangkap.
"Demikianiah, taihiap, selanjutnya taihiap melihat sendiri apa yang terjadi dan tanpa bantuan taihiap, tidak
mungkin kami akan berhasil. Kalau tidak menjadi korban orang hutan itu, tentu sebaliknya kami akan menerima
hukuman dari ketua kami sendiri."
Thian Sin mengangguk-angguk. "Tapi, bagaimana seorang temanmu dapat berada di dalam perangkap itu?"
"Kami semua mempergunakan tombak untuk mencegah orang hutan itu yang berusaha untuk keluar dari lubang. Sayang
bahwa lubang itu terlalu dangkal sehingga tanpa dicegah dengan tombak, orang hutan itu tentu akan dapat keluar
lagi. Dan binatang itu hebat sekali. Tusukan tombak tidak melukainya, dan dia bahkan berhasil menangkap
sebatang tombak dan menarik tombak itu, membuat teman kami terjungkal ke dalam lubang dan kami tidak dapat
menyelamatkannya lagi," Gak Song menarik napas panjang. "Dan... teman kami yang menyerang taihiap tadi mencari
mati sendiri, dia melakukannya karena takut kepada ketua kami. Maka, harap taihiap sudi memaafkan kami dan
dapat mengerti keadaan kami yang tersudut ini..."
Thian Sin mengangguk-angguk. "Dan bagaimana kalian akan dapat menaklukkan orang hutan di dalam perangkap itu
dan membawanya kepada pemimpin kalian?"
"Kami tadi tidak berani mempergunakan racun, takut kalau-kalau membunuhnya. Sekarang, dia tidak berdaya di
dalam lubang, kami akan melaporkan kepada pemimpin kami dan kalau perlu kami akan membuat binatang itu
kelaparan sehingga mudah ditangkap."
Pada saat itu terdengar jerit suara wanita. Semua orang menengok dan nampaklah seorang wanita muda berlarian
sambil menangis dan menjerit-jerit memanggil nama dua orang di antara mereka.
"Su Bwee...!" teriak seorang muda, seorang di antara mereka yang cepat berlari maju menyambut wanita itu.
Mereka berpelukan dan wanita itu menangis sesenggukkan. Wanita muda itu manis dan pakaiannya, juga rambutnya,
awut-awutan, mukanya pucat dan matanya basah karena tangis.
"Apa yang terjadi?" Thian Sin bertanya kepada Gak Song yang memandang dengan alis berkerut.
"Ia mantuku, baru beberapa bulan menikah dengan puteraku... entah apa yang telah terjadi, taihiap..." Sambil
berkata demikian, laki-laki tinggi besar ini melangkah maju menghampiri dua orang yang saling berpelukan itu.
Thian Sin juga melangkah maju.
"Su Bwee, berhentilah menangis dan ceritakan, apa yang telah terjadi maka engkau menyusul ke tempat berbahaya
ini sambil menangis?" kata Gak Song.
Mendengar suara Gak Song, wanita muda bernama Su Bwee itu lalu mengangkat mukanya dari dada suaminya, menoleh
ke arah ayah mertuanya, kemudian sambil menangis iapun lalu menjatuhkan diri berlutut menubruk kaki ayah mertuanya.
"Ayah... bunuhlah saja saya..." tangisnya. Mendengar ratapan anak mantunya, Gak Song memandang dengan mata
tebelalak, lalu diapun membentak, suaranya berwibawa.
"Bangkitlah, jangan seperti anak kecil dan ceritakan apa yang telah terjadi!"
Su Bwee menceritaken dengan suara tidak jelas karena betapapun ia menahannya, tetap saja ia bicara sambil
menangis sesenggukan. "Setelah ayah dan suami saya pergi... ketua kedatangan seorang tamu... dan untuk menjamu
tamu itu... saya dan beberapa orang wanita muda disuruh melayani mereka makan... kemudian... ketua memaksa
saya... uh-hu-huuh... dia... dia menyeret saya ke dalam kamarnya dan... dan... uh-huu-huuh..." Wanita itu tidak
dapat melanjutkan ceritanya karena ia sudah terguling dan roboh pingsan. Agaknya ia telah menempuh jarak jauh
mencari suami dan ayah mertuanya itu sambil menangis dan berlari-larian, maka ia kehabisan napas dan juga
kesedihan yang amat besar menghimpit perasaannya. Biarpun ceritanya tidak jelas, namun semua orang dapat
menangkap dan membayangkan apa yang telah terjadi, apa yang telah dilakukah oleh pemimpin mereka, Su Lo To,
kepada Su Bwee ini.
Suaminya, pemuda yang menjadi putera Gak Song itu, mengepal tinju dan memejamkan kedua matanyat seolah-olah
hendak mengusir bayangan yang nampak olehnya, betapa isterinya dipaksa dan diperkosa oleh Su Lo To. Sedangkan
Gak Song marah sekali. Laki-laki tinggi besar ini berdiri tegak, kedua tangan dikepal dan diapun lalu berteriak
dengan geramnya.
"Su Lo To, manusia jahanam! Berani menghinaku seperti ini?"
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ketawa, disusul suara parau. "He-he, kaulihat saja, sute, bagaimana aku
akan menghukum mereka yang berani menentangku!" Dan muncullah dua orang laki-laki dari antara pohon-pohon di
depan. Melihat bahwa yang datang itu adalah Su Lo To dan seorang laki-laki setengah tua lainnya, semua orang
terkejut dan nampak jelas betapa mereka itu ketakutan. Thian Sin melihat betapa gerakan kaki kedua orang itu
cukup gesit dan ketika dia mengenal orang ke dua, wajah pemuda ini berubah, matanya terbelalak dan mulutnya
ternganga. Bahkan beberapa kali mengedipkan matanya, seolah-olah tidak percaya akan penglihatannya sendiri.
Betapa dia tidak akan terkejut dan heran ketika mengenal laki-laki yang bukan lain adalah Torgan, bekas koksu
dari Raja Agahai! Bukankah bekas koksu itu telah dihukum mati, dipenggal di lehernya dan kepalanya malah
digantungkan di depan pintu gerbang untuk menjadi peringatan bagi orang lain? Kenapa orang yang telah mati itu
tiba-tiba dapat muncul di sini? Apakah arwah atau setannya? Thian Sin memandang lagi, kini dia khawatir
kalau-kalau dia terkena pengaruh sihir. Akan tetapi, tetap saja orang yang dipandangnya itu adalah Torgan.
Sementara itu Gak Song yang sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi begitu melihat munculnya Su Lo To yang
telah mengganggu dan memperkosa mantunya timbul kenekatan hatinya.
"Su Lo To manusia setan, biar aku mengadu nyawa denganmu."
Gak Song mempergunakan tombaknya untuk menyerang. Melihat serangan yang cukup hebat dan dilakukan dengan hati
yang penuh kemarahan ini, Su Lo To tertawa. Laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun ini tubuhnya
gendut agak pendek, mukanya buruk sekali, kulit mukanya kasar hitam dan matanya besar sebelah, mulutnya lebar
dan ketika tertawa, nampak giginya yang berwarna kuning menghitam. Ketika mata tombak Gak Song sudah dekat
dengan perutnya, tiba-tiba Su Lo To menggerakkan tangannya. Tubuhnya miring dan sekali sambar, dia sudah
berhasil menangkap tombak itu, menariknya dengan semakin kuat, kakinya melangkah maju dan sekali diayun, dia
sudah menendang dan Gak Song tak dapat mengelak lagi, terkena tendangan dan jatuh terjengkang. Pada saat itu,
puteranya, suami Su Bwee, yang juga marah dan nekat, juga menerjang dan menusukkan tombaknya. Kembali Su Lo To
tertawa, dengan mudah saja dia menangkis sehingga terdengar suara keras dan tombak di tangan pemuda itu patah.
Sebelum lawannya yang muda itu sempat mengelak, sebuah tendangan mengenai pahanya dan pemuda itu terlempar dan
terbanting jatuh di dekat ayahnya.
"Ha-ha-ha, ayah dan anak yang tiada guna, kalian berani melawan aku? Ha-ha, sudah bosan hidup, ya?"
Tiba-tiba terdengar gerengan yang dahsyat sekali. Su Lo To terkejut dan menengok ke arah lubang jebakan itu dan
diapun mengerti, lalu tertawa girang. "Aha, si liar itu sudah terperangkap? Bagus, bagus, biarlah kuberi hadiah
pertama dia agar mudah menjadi jinak!" Lalu dia melangkah menghampiri Gak Song dan puteranya. "Hemm, kalian
berani melawan aku, ya? Biarlah kalian yang akan menjadi mangsa pertama dari orang hutan itu!"
Semua orang menjadi ketakutan sehingga mereka sudah menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh menggigil. Mereka
tahu apa yang hendak dilakukan oleh Su Lo To. Gak Song dan puteranya itu tentu akan dilempar ke dalam lubang
perangkap agar dibunuh oleh orang hutan!
Akan tetapi, sebelum Su Lo To menggerakkan tangannya atau kakinya untuk melempar dua orang itu ke dalam lubang
perangkap, tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu seorang pemuda telah berdiri di depannya. Pemuda itu
adalah Thian Sin. Seorang pemuda tampan berpakaian sastrawan yang berdiri tenang dan tersenyum ramah kepadanya.
"Apakah engkau yang bernama Su Lo To?" tanya Thian Sin dengan suara halus.
Su Lo To mengernyitkan alisnya dan memandang tajam. Baru sekarang dia melihat adanya seorang pemuda asing di
antara orang-orangnnya.
"Benar, aku bernama Su Lo To, engkau siapa, orang muda? Bagaimana engkau bisa berada di sini?"
"Suheng! Dialah pemuda setan itu, putera Pangeran Ceng Han Houw yang kuceritakan padamu! Jangan lepaskan dia!"
Tiba-tiba Torgan berseru sambil meloncat maju pula, mendekati Su Lo To dan memandang kepada Thian Sin dengan
sikap marah.
Thian Sin tersenyum. "Aha, kiranya dua ekor srigala busuk telah berkumpul di sini, dan kalian adalah suheng dan
sute! Torgan dan Su Lo To memang cocok untuk menjadi saudara, sepasang manusia jahat yang tak boleh kubiarkan
hidup begitu saja!"
Memang orang itu adalah bekas koksu Torgan. Bagaimana dia dapat muncul secara tiba-tiba di sini? Bukankah dia
telah dihukum pancung sampai mati? Tidak demikianlah sesungguhnya. Torgan ini terlalu cerdik untuk membiarkan
dirinya mati begitu saja. Kalau dia tidak mengamuk dan melawan adalah dia tahu bahwa melawan di depan raja
berarti memberontak dan dia tidak mungkin akan dapat menyelamatkan diri lagi kalau begitu. Maka, biarpun dia
memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, dia tidak mau melawan dan membiarkan dirinya ditangkap dan dibelenggu.
Akan tetapi masih ada bekas kaki tangannya yang berhasil menyelamatkannya dengan jalan menggantikan kedudukan
dengan orang lain yang mirip dengan wajahnya. Dengan jalan mengancam dan menyuap petugas, akhirnya Torgan
berhasil lolos dan membiarkan seorang korban, seorang lain yang mirip dengan dirinya dan sudah dibikin tak
berdaya oleh sihirnya, untuk menjadi korban hukuman menggantikan dirinya. Yang dipancangkan di menara itu
bukanlah kepalanya, melainkan kepala orang lain yang mirip sekali dengan dirinya! Dan dia sendiri lalu
melarikan diri dan datang kepada Su Lo To, suhengnya yang telah menjadi pemimpin bekas orang-orang
Jeng-hwa-pang itu. Mereka ini adalah kakak adik seperguruan yang pernah menjadi penjahat-penjahat di Tibet.
Kemudian, para pendeta Lama di Tibet mengalahkan mereka dan mengusir mereka. Keduanya lari dan Torgan lebih
pandai dari pada suhengnya karena Torgan bisa menjadi orang kepercayaan Raja Agahai dan dijadikan pembantunya
yang amat dipercaya. Sedangkan Su Lo To yang hanya lihai dalam ilmu silat dan racun, tetapi tidak secerdik
sutenya, hanya menjadi pemimpin bekas anak buah Jeng-hwa-pang.
Mendengar ucapan Thian Sin, tentu saja Su Lo To menjadi marah bukan main. "Keparat sombong!" Su Lo To membentak
dan ketika tangannya bergerak, tombak rampasan tadi meluncur seperti anak panah cepatnya ke arah Thian Sin.
Akan tetapi, dengan mudah saja Thian Sin melangkah ke kiri dan tombak itu meluncur lewat dan dengan suara keras
mengerikan tombak itu menancap pada batang pohon sampai setengahnya!
"Hayo kalian maju, keroyok dan bunuh pemuda ini!" bentak Su Lo To kepada anak buahnya, yaitu teman-teman Gak
Song yang masih ada tujuh orang itu. Akan tetapi tujuh orang yang masih berlutut itu hanya memandang dengan
muka pucat. Tidak ada seorangpun yang berani bergerak. Mereka semua tahu siapa pemuda ini, maka biarpun mereka
amat takut kepada Su Lo To, namun tidak ada seorangpun yang mau mengeroyok Thian Sin.
Sementara itu, Gak Song dan puteranya juga sudah bangun dan memandang kepada Su Lo To dengan marah, akan tetapi
juga girang melihat Thian Sin sudah maju. Mereka percaya bahwa pemuda itu sajalah yang akan mampu menanggulangi
ketua mereka yang kejam itu.
"Hemm, tidak ada seorangpun yang mau mentaati perintahku, ya? Baik, tunggu saja, setelah kubereskan dia,
kalianpun akan kumasukkan ke dalam lubang perangkap itu seorang demi seorang bersama dua orang keparat itu!"
katanya menuding ke arah Gak Song. Hatinya makin panas melihat betapa wanita muda yang manis itu telah saling
rangkul dengan suaminya. Su Lo To suka sekali kepada wanita itu dan tadi, melihat wanita itu lenyap dari
kamarnya ketika dia sedang bercakap-cakap dengan Torgan, dia dapat menduga ke mana perginya wanita yang telah
diperkosanya itu. Dia memang sudah mengambil keputusan untuk mengenyahkan Gak Song dan puteranya agar dia dapat
dengan bebas memiliki wanita itu. Tak disangkanya dia malah akan menghadapi pemberontakan anak buahnya dan
bertemu dengan seorang pemuda asing yang menentangnya.
"Suheng, hati-hati, dia itu lihai sekali!" Torgan berkata dan ucapan ini membuat Su Lo To menjadi semakin marah
dan penasaran. Dia tahu bahwa kepandaian sutenya itu sudah tinggi sekali dan hanya sedikit selisihnya dengan
kepandaiannya sendiri, maka pujian sutenya terhadap lawan ini sungguh tidak sedap didengar.
"Sute, apakah engkau sekarang sudah menjadi seorang penakut?" bentaknya dan melihat adanya sebuah batu besar,
sebesar perut kerbau bunting di depannya, dia lalu melangkah dan dengan kedua lengannya dia memeluk batu itu.
Batu yang amat besar dan yang takkan dapat terangkat oleh lima enam orang itu, dehgan mudah diangkatnya ke atas
lalu dilontarkannya ke arah Thian Sin. Melihat kekuatan ini, diam-diam Thian Sin kagum juga. Dia tidak berani
mengelak begitu saja karena maklum bahwa kalau dia mengelak, batu besar itu dapat melukai orang-orang lain.
Maka diapun mengerahkan sin-kangnya dan menerima sambaran batu besar itu dengan kedua tangannya. Semua orang
memandang dengan mata terbelalak, dan mengira bahwa pemuda itu terancam bahaya maut oleh sambaran batu itu.
Akan tetapi, dengah mudah dan enaknya Thian Sin mempermainkan batu itu di atas kepalanya, melempar-lemparkan ke
atas beberapa kali dan kemudian, setelah melihat tempat kosong, dia melemparkan batu itu ke arah kiri. Batu
berdebuk keras menimpa tanah dan menimbulkan getaran keras, menggelundung kemudian terhenti ketika menabrak
pohon besar. Batang pohon itu patah dan tumbang!
Melihat betapa pemuda itu mampu menghadapi serangan dahsyat tadi, semua anak buah Gak Song merasa gembira, akan
tetapi sebaliknya, Su Lo To menjadi semakin marah. "Bagus, kiranya engkau mempunyai sedikit ilmu kepandaian,
ya? Nah, sambutlah seranganku ini!" Su Lo To sudah maju menerjang ke depan, kedua lengannya yang pendek besar
itu bergerak aneh dan angin pukulan dahsyat menyambar dari kanan kiri, didahului oleh bunyi berkeretekan, bunyi
tulang-tulang di buku-buku jari orang itu. Mengerikan sekali.
Thian Sin yang sudah dapat menduga bahwa orang ini mengandalkan tenaga yang besar, menghadapinya dengan senyum
tak pernah meninggalkan bibirnya. Dengan mudah saja dia mengelak dengan langkah ke belakang. Pada saat itu,
Torgan juga sudah menyerangnya dari samping dan bekas koksu ini mempergunakan sebatang pedang.
"Singgg...!" Pedang menyambar lewat ketika Thian Sin mengelak. Pemuda ini mengelak sambil mengibaskan ujung
lengan bajunya ke kanan pada saat Su Lo To sudah menubruk maju lagi.
"Plakk!" Ujung lengan baju pemuda itu menampar dan bertemu dengan ujung jari Su Lo To.
Ujung lengan baju dari sutera itu pecah sedikit, akan tetapi sebaliknya, Su Lo To menyeringai kesakitan karena
merasa betapa ujung jari tangannya seperti ditusuki jarum-jarum panas! Tahulah dia kini mengapa sutenya memuji
orang ini, dan ternyata memang pemuda ini merupakan lawan yang tangguh. Maka diapun lalu mencabut senjatanya,
yaitu sebatang golok yang tadi tergantung di punggungnya. Golok tipis lebar yang berkilauan saking tajamnya.
Ketika golok digerakkan, bersama dengan gerakan pedang Torgan, nampaklah dua gulungan sinar yang terang
berkelebatan mengurung tubuh Thian Sin! Melihat ini, Gak Song dan teman-temannya yang kesemuanya mengerti ilmu
silat, terkejut bukan main. Seperti juga ketua mereka, ternyata pendatang baru yang disebui sute oleh ketua
mereka itu ternyata lihai sekali. Mereka tentu saja mengkhawatirkan keselamatan Thian Sin yang tidak memegang
senjata, harus menghadapi pedang dan golok yang sedemikian lihainya. Dan kalau pemuda itu gagal dan kalah,
berarti mereka semua akan menghadapi kematian yang mengerikan. Hal ini membuat Gak Song menjadi nekad.
"Mari kita bantu taihiap!" berkata demikian, diapun mencari tombak dan para pengikutnya juga bangkit dan siap
melawan sampai mati.
"Mundurlah kalian, biar kuhadapi sendiri dua ekor monyet ini! Jangan khawatir, aku belum membutuhkan bantuan!"
Ucapan Thian Sin ini mengejutkan, mengherankan akan tetapi juga menggirangkan hati Gak Song dan para temannya.
Mereka lalu mundur kembali dan menonton. Mereka melihat Thian Sin masih berdiri tegak, diancam oleh dua
gulungan sinar yang menyambar-nyambar seperti dua setan maut yang hendak mencabut nyawanya. Tiba-tiba terdengar
Su Lo To membentak keras dan sinar goloknya menyambar dan mulailah dia membuka serangan, diikuti oleh sutenya
yang juga amat membenci pemuda yang telah membuatnya terjungkal dari kursi kedudukannya di kerajaan yang
dipimpin oleh Raja Agahai itu. Kebencian Torgan jauh lebih besar daripada kebencian Su Lo To terhadap pemuda
itu yang dianggapnya hanya merupakan seorang pengacau saja.
Thian Sin maklum bahwa tingkat kepandaian dua orang ini sudah cukup tinggi dan tidak boleh dipandang ringan
akan tetapi pada saat itu, Thian Sin telah menjadi seorang pendekar sakti yang memiliki banyak ilmu-ilmu
peninggalan ayah kandungnya, dia merupakan seorang tokoh persilatan yang sukar dicari tandingannya. Bahkan
kalau diadakan ukuran, mungkin ayahnya sendiri tidak akan mampu menandinginya! Kiranya, dengan ilmu manapun
yang dimilikinya, Thian Sin akan mampu menandingi dan mengalahkan kedua orang lawan yang mengeroyoknya dengan
senjata tajam di tangan itu. Akan tetapi, semenjak dia keluar atau turun dari tempat pertapaannya di Himalaya,
baru sekaranglah dia berhadapan dengan dua orang lawan yang tangguh. Oleh karena itu, dia melihat terbukanya
kesempatan baik baginya untuk menguji ilmu peninggalan ayahnya yang telah dilatihnya secara masak, di bawah bimbingan Bu Beng Hud-couw sendiri, seperti yang dibayangkan dan dilihatnya di dalam pertapaannya itu.
Oleh karena itu, diapun segera menghadapi serangan-serangan dua orang itu dengan Ilmu Silat Hok-liong
Sin-ciang. Dan memang hebat bukan main ilmu silat yang hanya terdiri dari delapan belas jurus ini. Begitu dia
menggerakkan kaki tangannya menurut jurus ilmu ini dan mengerahkan sin-kang yang terkumpul melalui siulian
menurut ajaran kitab-kitab ayahnya, ada getaran-getaran aneh keluar dari kedua tangannya dan begitu dia
menggerakkan kedua tangan, ada hawa pukulan yang menyambar keluar dan dapat menahan gulungan sinar pedang dan
golok itu. Gerakan kedua tangannya mengeluarkan hawa yang membuat pedang dan golok itu tidak mampu
mendekatinya, apalagi menyentuh tubuhnya! Dua orang lawannya beberapa kali mengeluarkan seruan heran dan kaget,
dan hal ini menjadi bukti bagi Thian Sin bahwa ilmunya itu sudah mencapai tingkat sempurna. Maka puaslah
hatinya. Dia menggerakkan tangannya menurut jurus-jurus Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang dan baru tiga jurus saja
dia keluarkan, kedua orang lawannya itu tidak dapat bertahan lagi dan terus terhuyung ke belakang!
"Hemm, dua ekor monyet banyak lagak. Hadapilah yang ini!" Thian Sin membentak dan kini dia ingin mencoba
ilmunya yang ke dua yaitu Hok-te Sin-kun dan tiba-tiba saja tubuhnya berjungkir-balik! Dua orang lawannya yang
sudah menyerang lagi itu terkejut dan menjadi bingung ketika tiba-tiba ada dua buah kaki yang menghadapi
mereka, dengan gerakan-gerakan aneh sekali dan sebelum mereka tahu apa yang telah terjadi, ujung kedua sepatu
itu telah menendang dan membuat golok dan pedang mereka terlepas dan tiba-tiba saja dari bawah, ada jari tangan
menotok lutut dan merekapun terpelanting dan jatuh!
Dua orang itu merasa terkejut dan juga heran bercampur penasaran dan takut! Belum pernah selama hidup mereka
yang puluhan tahun itu mereka pernah bertemu dengan lawan sehebat ini. Mereka sudah meloncat bangun lagi dan
keduanya cepat menggerakkan tangan. Jarum-jarum dan paku-paku beracun bertaburan keluar dari tangan mereka,
menyambar ke arah tubuh Thian Sin. Akan tetapi, pemuda itu hanya tersenyum saja, tangan kirinya mencabut kipas
dan dengan beberapa kali gerakan kipasnya, semua jarum dan paku beracun itu runtuh. Bahkan bagian bawah, yang
mengenai paha dan kaki seperti mengenai baja saja dan runtuh tanpa menimbulkan luka. Dan sambil tersenyum Thian
Sin melangkah maju, terus menghampiri mereka. Dua orang itu memandang pucat, hendak lari merasa malu dan juga
merasa tidak ada gunanya, hendak melawan merasa takut!
"Engkau hendak melempar orang ke dalam lubang perangkap itu? Nah, aku ingin melihat kalian berdua masuk ke
dalamnya dan menjinakkan orang hutan itu. Hayo masuk, ataukah harus kulemparkan ke sana?" Thian Sin berkata,
suaranya halus dan mulutnya tersenyum, tangannya masih menggerakkan kipasnya mengebut ke arah lehernya yang
sedikit berkeringat.
Su Lo To dan Torgan memandang dengan muka pucat, dan keduanya menggeleng kepala. Mereka belum gila untuk mau
memasuki lubang perangkap di mana terdapat seekor orang hutan yang liar dan haus darah itu. Akan tetapi, mereka
tahu bahwa pemuda itu mengancam, maka mereka tidak tahu harus berbuat bagaimana. Tiba-tiba Thian Sin berseru,
"Baiklah, kalau begitu aku yang akan melempar kalian ke sana!"
Kipasnya menyambar dengan cepat, mengeluarkan angin karena digerakkan ke arah muka mereka, dan jari-jari tangan
kanan Thian Sin juga bergerak seperti hendak menusuk ke arah kedua mata mereka dengan kecepatan kilat. Dua
orang yang sudah merasa jerih itu dan yang hanya ingin membela diri, cepat mengangkat kedua tangan untuk
menangkis, akan tetapi tiba-tiba mereka merasa tubuh mereka terdorong dan terlempar tanpa dapat dihindarkan
lagi. Kiranya Thian Sin tadi menggerakkan kipas dan tangan untuk menarik perhatian mereka ke atas, sedangkan
kakinya mengerahkan sin-kang dan menendang ke arah mereka, tendangan yang tidak mendatangkan luka melainkan
membuat tubuh mereka terlempar, tepat masuk ke dalam lubang perangkap itu.
Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi kaget, ngeri dan juga girang. Akan tetapi, segera terdengar
suara hiruk-pikuk yang menyeramkan di dalam lubang parangkap itu. Suara orang hutan yang memekik-mekik diseling
seruan-seruan dua orang yang terlempar ke dalam lubang itu. Thian Sin, Gak Song dan beberapa orang temannya itu
segera menghampiri lubang dan dari atas mereka melihat perkelahian yang amat seru dan mati-matian antara orang
hutan dan dua orang lihai itu. Orang hutan itu memang kuat dan buas sekali, pakaian dua orang itu sudah
robek-robek dan tubuh mereka luka-luka, akan tetapi sekali ini, orang hutan itu berhadapan dengan dua orang
yang amat lihai. Dan karena lubang itu terlalu sempit untuk tempat berkelahi, maka mereka bertiga itu lebih
tepat bergumul daripada berkelahi mempergunakan pukulan-pukulan. Akhirnya, setelah menderita luka-luka akibat
gigitan dan cakaran binatang buas itu, dua orang lihai itu berhasil menangkap sebuah kaki dan sebuah tangan,
kemudian mereka mengerahkan tenaga menarik. Terdengar orang hutan itu memekik nyaring sekali, berusaha meronta,
akan tetapi akhirnya terdengar suara keras dan tubuh orang hutan itu robek dan pecah menjadi dua potong! Dua
orang itu melemparkan potongan tubuh orang hutan keluar dari lubang. Semua orang meloncat mundur dan tak lama
kemudian, dua orang itupun melayang keluar dari dalam lubang jebakan itu, pakaian mereka penuh dengan darah
orang hutan dan muka merekapun berdarah, sungguh menyeramkan sekali keadaan mereka.
Thian Sin tersenyum ketika menghadapi mereka. "Bagus, kalian telah berhasil menjinakkan orang hutan itu. Akan
tetapi jangan harap dapat lolos dari tanganku."
Dua orang itu saling pandang dan nampak terkejut. Mereka tadinya mengira bahwa setelah mereka dilemparkan ke
dalam lubang itu dan berkelahi mati-matian melawan orang hutan sampai memperoleh kemenangan, pemuda itu akan
membebaskan mereka.
Karena merasa jerih, tanpa malu-malu lagi Su Lo To berkata, "Taihiap... harap suka ampunkan kami..."
"Hemm, mudah saja bagiku untuk mengampuni kalian. Akan tetapi, Torgan, apakah kau kira arwah ayah bundaku dapat
mengampunimu? Bukankan engkau yang menganjurkan kepada mendiang Raja Agahai untuk ikut mengeroyok dan membunuh
orang tuaku? Dan engkau, Su Lo To, biarpun antara kita tidak terdapat permusuhan, akan tetapi agaknya mantu
Paman Gak Song tidak akan dapat mengampunimu begitu saja! Juga para wanita yang pernah kaupermarmainkan, dan
saudara-saudara yang pernah kausiksa atau kaubunuh. Nah, demi mereka itulah aku harus bertindak kepada kalian.
Selama ada aku di dunia ini, semua penjahat tentu akan membuat perhitungan denganku!"
Dua orang yang sudah merasa jerih itu, setelah saling memberi isyarat dengan pandang mata, tiba-tiba saja
meloncat dan melarikan diri, yang seorang ke kanan dan seorang pula ke kiri. Mereka itu agaknya hendak berlaku
cerdik, melarikan diri dengan terpencar agar seorang di antara mereka depat lolos! Melihat ini, Thian Sin sudah
meloncat dan mengejar Torgan, sekali loncat saja dia sudah berhasil menyusul dan sebuah tamparan yang mengenai
pundak Torgan membuat orang itu terguling dan tak dapat bangkit kembali. Thian Sin langsung mengejar ke arah
larinya Su Lo To. Orang itu sudah berlari agak jauh, akan tetapi dengan gerakannya yang luar biasa cepatnya,
tak lama kemudian Thian Sin sudah dapat mengejarnya. Begitu mendengar gerakan dari belakang dan tahu bahwa
pemuda sakti itu telah mengejar dan menyusulnya, tiba-tiba Su Lo To membalik dan mengirim serangan dengan
nekat. Dia membalik dan menubruk, mempergunakan kedua tangannya untuk menerkam seperti gerakan seekor binatang
buas menerkam mangsanya. Agaknya, karena maklum bahwa dia tidak akan mampu menandingi ilmu silat pemuda itu, Su
Lo To mengambil keputusan nekat untuk dapat menangkap pemuda itu. Sekali dapat ditangkapnya, dengan tenaganya
yang besar, dia akan dapat menghancurkan pemuda itu!
Akan tetapi, Thian Sin menangkap kedua pergelangan tangan lawan dan begitu dia mengerahkan tenaganya, terdengar
suara "krek, krek!" dan patahlah tulang-tulang pergelangan kedua tangan itu! Thian Sin menendang dan
lawannyapun roboh tak mampu bangkit lagi, hanya merintih karena terasa nyeri bukan main pada kedua pergelangan
tangannya! Gak Song dan teman-temannya sudah datang ke tempat itu sambil menyeret tubuh Torgan yang sudah tidak
berdaya. Pukulan atau tamparan pada pundaknya tadi selain membuat pundaknya remuk juga membuat dia merasa
lumpuh pada separuh tubuhnya.
Setelah melemparkan tubuh Torgan di dekat tubuh Su Lo To, Gak Song menjura kepada Thian Sin dan berkata, "Kami
merasa bersyukur sekali bahwa taihiap telah mampu menundukkan mereka. Selanjutnya apakah yang hendak taihiap
lakukan terhadap dua orang ini?"
Thian Sin tersenyum. "Aku tidak pernah mau mengampuni orang jahat. Torgan adalah musuh orang tuaku, dia harus
mati. Akan tetapi karena antara Su Lo To dan kalian ada perhitungan sendiri, maka terserah kepada kalian.
Kuserahkan Su Lo To kepada kalian untuk diadili!"
"Biar kubalaskan sakit hati isteriku!" Putera Gak Song berteriak dan dia sudah mencabut goloknya, lalu mengayun
golok itu ke arah leher Su Lo To yang sudah tidak mampu mengelak lagi.
"Plakk!" Golok itu terlepas dari tangan pemuda itu ketika Thian Sin menangkisnya dan pendekar ini lalu
mengambil golok tadi sambil tersenyum memandang kepada putera Gak Song yang terbelalak heran dan kaget.
"Bukan begitu caranya menghukum orang jahat. Terlalu enak baginya kalau hanya langsung dipenggal lehernya. Dia
ini merusak wanita, suka memperkosa wanita, nah beginilah hukumannya untuk itu!" Nampak sinar berkelebat
sedemikian cepatnya sehingga tidak ada yang tahu apa yang terjadi ketika Thian Sin sudah menarik kembali
goloknya. Hanya ketika Su Lo To berteriak dan merintih-rintih sajalah, lalu melihat darah membasahi celana
orang itu maka semua baru tahu dan merasa ngeri sekali bahwa pendekar itu telah menggunakan goloknya untuk
membuntungi alat kelamin Su Lo To! Hanya seorang ahli yang amat mahir sajalah yang dapat melakukan itu tanpa
melukai kedua paha atau perut. Tentu saja Su Lo To merasakan kengerian yang menusuk-nusuk jantung dan tubuhnya,
berkelojotan.
"Dan dia sudah membunuh orang-orang yang tidak berdosa, tentu hal itu dilakukannya dengan kedua tangannya,
bukan? Nah, beginilah hukumannya!" Kembali nampak sinar golok berkelebat dan kini yang menjadi sasaran adalah
kedua tangan Su Lo To yang tahu-tahu telah menjadi buntung! Darah bercucuran dari kedua lengan yang kehilangan
tangan itu dan tubuh Su Lo To makin keras berkelojotan, mukanya penuh keringat dan matanya melotot, mulutnya
mengerang-erang dan membusa. Semua orang menjadi ngeri sekali menyaksikan ini, bahkan mantu Gak Song yang
tadinya merasa sakit hati terhadap orang itu telah roboh pingsan dalam rangkulan suaminya. Gak Song sendiri
menjadi pucat wajahnya. Belum pernah dia melihat keganasan dan kekejaman orang seperti yang dilakukan Thian Sin
itu!
"Nah, biarkan dia begitu sampai mati! Itu baru sepadan dengan kejahatannya. Dan sekarang aku akan menghukum
musuh ayah dan ibuku!" Dia menghampiri Torgan yang sudah menjadi pucat sekali menyaksikan nasib kawan atau
suhengnya itu. "Torgan, apa yang hendak kau katakan sekarang?"
Baru sekarang Torgan mengenal apa artinya rasa takut. Dia merasa ngeri sekali melihat suhengnya dan hampir dia
tidak percaya bahwa seorang pemuda sehalus itu, yang bersikap ramah dan manis lemah lembut, berpakaian
sastrawan, dapat memiliki sifat yang sedemikian kejamnya. Saking takutnya, dia tak mampu lagi berkata-kata,
hanya memandang dengan muka pucat akan tetapi penuh dengan keringat dingin.
"Engkau tidak mau bicara? Padahal, di depan Raja Agahai, mulutmu inilah yang paling busuk dan jahat, dan tentu
mulutmu pula yang menganjurkan agar Raja Agahai ikut mengirim pasukan untuk mengeroyok orang tuaku. Nah,
pertama-tama mulutmu yang harus dihukum!" Golok itu berkelebat dan seketika darah muncrat dari bagian muka di
mana tadinya mulut Torgan berada.
Mulut itu sendiri telah hilang, yaitu kedua bibirnya dan sebagian dari giginya lenyap terbabat golok sehingga
di bagian itu hanya nampak sebuah lubang hitam berdarah. Torgan mengeluarkan rintihan dari tenggorokannya dan
semua orang memandang dengan hati ngeri.
"Engkaupun harus menghadap arwah orang tuaku dalam keadaan tersiksa!"
Golok itu berkelebatan lagi dan nampak darah muncrat-muncrat ketika kedua telinganya, hidung, kedua tangan dan kedua kaki Torgan terbabat buntung semua. Tubuh Torgan kini juga berkelojotan seperti tubuh Su Lo To dan Gak Song sendiri sampai membuang muka tidak tahan menyaksikan mereka itu.
Thian Sin juga tahu akan kengerian mereka, maka dia kini menghampiri Gak Song dan kawan-kawannya lalu berkata,
"Baik sekali bahwa kalian sebagai bekas anggota Jeng-hwa-pang telah bertobat dan tidak melakukan kejahatan
lagi. Karena kalau aku mendapatkan kalian masih seperti dahulu, tentu kalian akan mengalami nasib yang sama
dengan mereka berdua ini."
Gak Song menjatuhkan diri berlutut dan diturut oleh semua temannya. "Kami menghaturkan terima kasih atas
pertolongan taihiap," Suaranya menggetar, tanda bahwa hatinya masih gentar dan ngeri menyaksikan hukuman yang
amat kejam itu.
"Dan kalian harus tahu bahwa wanita muda ini sama sekali tidak bersalah, oleh karena itu, kalau sampai kelak
aku medengar bahwa suaminya membencinya karena peristiwa perkosaan itu, aku akan menghukumnya dengan berat!"
Putera Gak Song cepat merangkul isterinya dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Taihiap, saya mencinta isteri saya dan saya tahu bahwa ia sama sekali tidak bersalah. Saya tidak menyalahkan
dia, bahkan saya merasa kasihan kepadanya."
"Bagus kalau begitu. Nah, sekarang siapa yang tahu di mana adanya Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam? Dia juga
merupakan musuh keluargaku, dan harus kucari sampai dapat!"
Mendengar pertanyaan ini, Gak Song berkata dengan suara sungguh-sungguh, "Kami semua sungguh tidak tahu pasti
di mana adanya orang itu, akan tetapi kami pernah mendengar kabar angin bahwa dia kini bersekutu dengan
Pek-lian-kauw tak jauh dari kota raja. Tentu saja dia sudah mendengar tentang taihiap, maka dia ingin mendekati
sekutunya ketika melakukan pengeroyokan terhadap Pangeran Ceng Han Houw."
"Apa maksudmu? Sekutunya? Siapakah mereka?"
"Ada dua orang yang dahulu diperbantukan oleh Kerajaan Beng untuk mengeroyok ayah bunda taihiap. Mereka itu
adalah dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang, bernama Hek-bin Mo-kai dan Lo-thian Sin-kai. Hanya itulah yang kami
ketahui, taihiap."
Thian Sin mengangguk-angguk. "Terima kasih, Paman Gak. Nah, aku pergi sekarang!" Sekali dia berkelebat, pemuda
itu sudah tidak nampak lagi di depan mereka. Semua orang menjadi terkejut dan juga kagum bukan main.
Sementara itu, dua tubuh yang sudah tidak keruan rupanya itu masih berkelojotan dan dari tenggorokan mereka
terdengar suara rintihan-rintihan yang tidak jelas. Melihat ini, Gak Song menjadi tidak tega. Biarpun Su Lo To
pernah melakukan banyak kejahatan dan menindas dia dan semua temannya, namun melihat tubuh itu berkelejotan dan
tersiksa, dia tidak tega. Cepat dia menyambar dua batang tombak dan dengan gerakan kuat dia menancapkan
tombak-tombak itu ke dada dua orang itu, menembus jantung dan punggung. Tewaslah kedua orang itu seketika juga
dan Gak Song lalu memimpin orang-orangnya untuk mengubur dua mayat itu di dalam lubang, bersama mayat teman
mereka yang menjadi korban orang hutan, juga bangkai orang hutan itu, lalu menutup lubang jebakan itu dengan
tanah. Setelah itu, beramai-ramai mereka kembali ke perkampungan mereka dengan hati terasa lapang, karena
mereka melihat masa depan yang cerah setelah Su Lo To tidak ada.

***
Perkumpulan pengemis Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) adalah sebuah perkumpulan pengemis yang
besar di kota raja dan daerahnya. Dahulu, ketika perkumpulan itu didirikan oleh Hwa-i Sin-kai, perkumpulan ini
merupakan perkumpulan pengemis yang mengutamakan kegagahan, bahkan tidak segan-segan untuk menentang para
pejabat pemerintah kalau para pejabat itu menindas rakyat. Bahkan perkumpulan Hwa-i Kai-pang terkenal sebagai
perkumpulan yang membela rakyat jelata. Hwa-i Sin-kai sendiri tewas dikeroyok pasukan pemerintah ketika dia
dituduh menjadi pemberontak (baca Pendekar Lembah Naga).
Ketika itu, Hwa-i Kai-pang bahkan condong menentang pemerintah yang berada di bawah pimpinan Kaisar Ceng Tung.
Akan tetapi, setelah Hwa-i Sin-kai tewas dan Kaisar Ceng Tung sendiri juga sudah tidak ada lagi, pemerintahan
dipegang oleh Kaisar Ceng Hwa, terjadilah perubahan besar. Hwa-i Kai-pang didekati dan mendekati pemerintah,
apalagi setelah perkumpulan ini dipegang oleh Hek-bin Mo-kai dan Lo-thian Sin-kai yang haus akan kedudukan dan
kemuliaan, perkumpulan itu terkenal sebagai perkumpulan yang pro pemerintah. Dan biasanya, kemuliaan dan
kekayaan suka menyeret manusia ke dalam lembah nafsu yang tak mengenal puas. Kesenangan selalu mendatangkan, di
samping kepuasan sesaat saja, juga keserakahan dan kehausan akan kesenangan yang lebih besar dan lebih besar
lagi. Makin kita memanjakan nafsu mengejar kesenangan, makin dalam lagi kita terperosok ke dalam lembah
kehausan ini. Makin dituruti, nafsu menjadi semakin kuat menguasai kita sehingga kita sudah bukan menjadi
manusia lagi, melainkan menjadi hamba nafsu yang hidup hanya sekedar menjadi permainan nafsu belaka.
Sudah jelaslah bahwa menuruti nafsu saja membuat kita menjadi manusia yang tiada guna, menjadi hamba nafsu yang
akhirnya akan menyeret kita ke lembah kehancuran, baik jasmani maupun rohani. Bukan hanya terdapat dalam
pelajaran kitab-kitab suci ataupun filsafat-filsafat belaka yang kesemuanya itu hanya teori belaka, akan tetapi
dapat kita saksikan dan hayati sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari. Akan tetapi, bagalmana pengekangan
nafsu-nafsu seperti yang dianjurkan oleh hampir semua pelajaran kebatinan?
Siapakah yang mengekang atau mengendalikan nafsu? Yang mengendalikan adalah aku yang melihat bahwa menuruti
nafsu adalah buruk, maka aku ingin agar dapat menguasai dan mengendalikan nafsu, agar menjadi baik. Aku melihat
bahwa menuruti nafsu membawa kepada kesengsaraan, maka aku ingin mengendalikan nafsu, menguasainya agar tidak
terjerumus, agar memperoleh keamanan dan keselamatan yang berarti aku akan menikmati keadaan yang menyenangkan.
Kalau kita mau mendalami hal ini, akan nampaklah bahwa nafsu adalah kita sendiri, pikirkan kita sendiri, nafsu
adalah si aku yang ingin senang, sedangkan yang ingin mengendalikan nafau adalah aku pula, maka tidak ada
bedanya antara nafsu dan yang ingin mengendalikan nafsu! Semua itu adalah permainan si aku yang ingin senang
selalu. Terjadilah konflik antara keadaaan aku yang ingin memuaskan nafsu dan aku yang ingin mengendalikan dan
menguasai nafsu. Dan hal ini malah akan menjadi pupuk bagi nafsu itu sendiri. Mengendalikan saja tidak akan
mematikan nafsu, hanya akan menyeilmuti saja untuk sementara. Dan di dalam konflik pengekangan ini, kita
membuang energi yang amat besar dan amat banyak. Akibatnya, nafsu tidak akan lenyap dan kita kehilangan energi dan menjadi tumpul, lemah.
Yang terpenting adalah pengamatan terhadap diri sendiri, terhadap nafsu kalau timbul, terdapat
keinginan-keinginan untuk menguasainya, keinginan untuk begini dan begitu yang kesemuanya tentu menuju ke arah
satu, yaitu ingin bebas, ingin aman, ingin selamat, yang sebenarnya hanyalah topeng-topeng halus dari satu
keinginan, yaitu keinginan untuk senang. Pengamatan yang dilakukan oleh si pengamat, masih sama saja, berada
dalam satu lingkaran setan, karena si pengamat adalah si aku pula, si nafsu untuk memperoleh keadaan yang lebih
menyenangkan juga. Jadi, yang ada hanyalah pengamatan saja, tanpa aku si pengamat. Dalam pengamatan ini
terdapat kewaspadaan dan kesadaran yang menimbulkan pengertian yang mendalam. Dan hanya pengertian mendalam
inilah yang akan menimbulkan tindakan yang mendatangkan perubahan.
Setelah kini menjadi perkumpulan yang dilindungi oleh pemerintah, apalagi di kota raja di mana perkumpulan itu
dapat berhubungan langsung dengan para pembesar tingkat tertinggi, Hwa-i Kai-pang menjadi amat berpengaruh dan
kekuasaannya terasa oleh penduduk. Kai-pang ini amat disegani oleh semua golongan. Setiap orang pengemis baju
kembang selalu diterima sebagai seorang yang dihormati dan disegani, padahal sesungguhnya adalah merupakan
orang yang ditakuti dan dibenci, dan mudah bagi setiap orang pengemis baju kembang untuk memperoleh sumbangan
dari toko-toko dan pedagang-pedagang, maupun orang-orang.
Tidak ada sumbangan yang diberikan dengan hati rela oleh siapapun juga. Selama suatu pemberian itu terjadi
karena diminta, dan selama pemberian itu disebut pemberian atau sumbangan atau dermaan dan sebagainya, maka di
dalam pemberian itu sudah pasti terkandung suatu sebab yang melahirkan pemberian itu. Mungkin sebab itu
merupakan pamrih memperoleh pujian, atau sekedar memuaskan hati sendiri, atau karena takut, maka sudah pasti
bahwa sumbangan yang biasanya dinamakan sumbangan suka rela itu dilakukan orang dengan hati yang sama sekali
tidak rela! Hanya pemberian yang dilakukan dengan dasar cinta kasih sajalah yang bahkan pemberiannya tidak
tidak menganggapnya pemberian atau sumbangan lagi, melainkan merupakan suatu kewajaran dan yang tidak
diingat-ingat lagi.
Orang-orang Hwa-i Kai-pang mudah dikenal dari pakaian mereka. Pakaian yang tambal-tambalan seperti lajimnya
pakaian pmgemis, akan tetapi sama sekali tidak butut atau kotor, melainkan pakaian yang ditambal-tambal,
sengaja ditambal-tambal dan terbuat daripada kain yang bersih dan baru. Dan mereka ini yang menjadi semacam
"pelindung" dari toko-toko dan rumah-rumah penduduk. Memang benar bahwa sejak mereka berkuasa, di kota raja
boleh dikatakan tidak ada lagi pencoleng yang berani beroperasi karena mereka akan berhadapan dengan Hwa-i
Kai-pang yang amat kuat. Para pencuri, pencopet dan pencoleng pergi untuk beroperasi di kota-kota atau
dusun-dusun lain yang jauh dari kota raja. Akan tetapi, tidak adanya kaum pencoleng itu bukan berarti bahwa
kehidupan rakyat di kota raja menjadi aman. Sama sekali tidak! Karena, para "pelindung" itu sendirilah yang
kini menjadi pengganti para pencoleng itu. Hanya bedanya, kalau para pencoleng itu melakukan pekerjaan mereka
dengan cara mencopet, mencuri atau menggertak dengan kasar, sebliknya para "pelindung" itu melakukannya dengan
halus, dengan dalih melindungi, sumbangan dan sebagainya. Namun, apa bedanya bagi rakyat yang menderita rugi
karenanya? Sama saja! Pelindung yang seharusnya melindungi rakyat dari gangguan luar itu kini malah menjadi
pengganggu sendiri, seperti pagar makan tanaman.
Inilah ciri dan penyalahgunaan kekuasaan dan hal ini terjadi semenjak jaman kuno sampai sekarang, di seluruh
dunia. Kalau toh ada perbedaannya, maka perbedaan itu hanya terletak pada caranya saja. mungkin kasar, mungkin
pula halus. Namun pada hakekatnya kekuasaan disalahgunakan untuk mencari kemuliaan diri sendiri, kemakmuran
diri sendiri dan kesenangan diri sendiri. Karena kekuasaan merupakan senjata mutlak untuk memperoleh
kesenangan, maka tidak mengherankan kalau seluruh manusia di dunia ini lalu memperebutkan kekuasaan, dan
perebutan kekuasaan ini melahirkan permusuhan, dari permusuhan pribadi, sampai permusuhan golongan, antara
saudara, antara suku sampai kepada antara bangsa dan negara! Setelah kita melihat dengan jelas bahwa kekuasaan
itu merusak kehidupan, maka satu-satunya jalan bagi kita hanyalah melepaskan tangan dan tidak ikut
memperebutkan kekuasaan lagi!
Para penjaga keamanan kota kini boleh tinggal enak-enak dan bersenang-senang. Bahkan para perajurit penjaga
tidak perlu lagi berkeliaran dari toko-toko untuk minta sumbangan karena mereka itu sudah dijamin oleh
orang-orang Hwa-i Kai-pang! Betapapun juga, kini kota raja nampak aman dan tenteram dan Hwa-i Kai-pang
seolah-olah menjadi semacam pasukan istimewa yang menjamin keamanan di dalam kota raja. Tentu saja hal ini
hanya kelihatannya saja, karena banyak penghuni yang mengeluh dan merasa diperas dan ditekan oleh orang-orang
berbaju kembang itu.
Pada suatu hari, di tanah lapang dekat dengan pasar sebelah selatan kota raja, banyak orang berkerumun dan
kadang-kadang mereka itu bertepuk tangan dan bersorak memuji. Seorang laki-laki berusia kurang lebih empat
puluh tahun bersama seorang gadis berusia tujuh belas tahun sedang membuka pertunjukkan silat untuk menarik
perhatian orang-orang. Mereka adalah penjual-penjual koyo, yaitu obat luka, penyambung tulang dan obat
memulihkan otot-otot yang keselio, juga menyembuhkan sakit pegal linu dan sebagainya. Permainan silat tukang
obat itu, terutama sekali permainan silat puterinya yang manis menarik perhatian dan memancing tepuk tangan
memuji tadi. Pada akhir pertunjukkan, Si Ayah membuka baju atasnya, kemudian dengan bertelanjang dada dan
punggung, dia menghadap ke empat penjuru.
"Untuk membuktikan keampuhan koyo kami, biarlah saya akan memperlihatkan betapa koyo itu dapat menyembuhkan
luka bekas pukulan dengan cepat."
Puterinya mengambil sebatang toya kuningan, dan dengan toya ini, mulailah dara itu mengayun toya dan memukuli
tubuh ayahnya, pada punggung dan dadanya. Nampak tanda-tanda matang biru pada dada dan punggung itu dan para
penonton merasa ngeri juga. Biarpun pukulan-pukulan keras itu agaknya tidak sampai melukai sebelah dalam tubuh,
namun jelas bahwa kulit punggung dan perut serta dadanya menjadi matang biru. Atas isyarat ayahnya, dara itu
menghentikan pukulan-pukulannya dan tukang obat itu lalu berjalan berkeliling mendekati para penonton melihat
keadaan kulit punggung dan dadanya itu dari dekat. Setelah itu, dibantu oleh puterinya dia lalu menempelkan
koyo-koyo pada luka-luka itu. Sambil membiarkan koyo-koyo itu bekerja, kini si dara kembali memperlihatkan
kemahirannya bermain toya. Toya yang dimainkan dengan cepat itu kelihatannya berubah menjadi banyak sekali,
menyambar-nyambar di sekeliling tubuh si dara manis. Para penonton memuji dan bertepuk tangan.
Setelah dara itu menghentikan permainan silatnya, ayahnya lalu membuka koyo-koyo itu dan semua penonton kembali
memuji karena memang benar sekali, warna biru-biru pada kulit dada dan punggung itu lenyap sudah.
"Cu-wi telah menyaksikan kemanjuran koyo ini! Cu-wi perlu menyediakan koyo seperti ini di rumah, untuk menjaga
kalau-kalau cu-wi sendiri, atau anak-anak cu-wi, terjatuh dan terluka atau membengkak. Harganya murah saja
karena koyo ini adalah buatan kami sendiri, maka cu-wi tidak dapat memperolehnya di toko-toko dan kami tidak
setiap hari lewat di kota raja ini..."
Dara itu membawa baki terisi bungkusan koyo dan berjalan berkeliling. Banyak penonton yang membeli koyo, bukan
hanya karena mereka sudah menyaksikan sendiri kemanjuran obat itu, melainkan juga karena kagum akan kemahiran
ayah dan anak itu bersilat, dan karena dara yang manis itu memang menarik hati. Sebentar saja seluruh
persediaan koyo itu telah habis dibeli orang! Dara itu menjadi girang dan berkali-kali ia menjura dan
mengucapkan terima kasih sambil tersenyum manis, juga penjual koyo itu mengucapkan terima kasih kepada para pembeli.
"Cu-wi sekalian telah begitu baik hati untuk membantu kami membeli koyo kami sampai habis. Untuk kebaikan cu-wi
ini, biarlah kami mainkan beberapa jurus ilmu silat lagi," kata si tukang koyo.
Akan tetapi tiba-tiba para penonton itu mundur dan membuka jalan bagi dua orang pengemis baju kembang. Semua
orang merasa khawatir karena biasanya kalau ada pengemis Hwa-i Kai-pang mencampuri sesuatu urusan, tentu akan
timbul keributan. Mereka itu adalah dua orang pengemis yang usianya masih muda, baru tiga puluh tahun lebih dan
melihat sikap mereka, jelas nampak bahwa mereka itu sudah biasa berbuat ugal-ugalan dan biasa pula ditakuti
orang sehingga mereka memasuki lingkaran itu dengan tersenyum mengejek.
Seorang di antara mereka yang pipi sebelah kirinya ada bekas luka memanjang dari hidung ke telinga kiri,
melangkah maju memasuki lingkaran itu dan menghampiri si penjual koyo yang memandang dengan heran karena dia
sebagai orang luar tidak mengenal para pengemis Hwa-i Kai-pang, lalu berkata dengan suara galak, "Hei, tukang
penjual koyo! Apakah engkau sudah mendapat ijin dari Hwa-i Kai-pang untuk berdagang di sini dan memamerkan
sedikit kepandaian ilmu silatmu?"
Menerima pertanyaan yang kasar dan nadanya merendahkan ini, tukan obat yang sudah berpengalaman itu maklum
bahwa pengemis-pengemis ini memang mau mencari keributan. Dia adalah seorang pendatang, seorang tamu, maka dia bersikap sabar.
"Maaf, karena tidak mengerti peraturan, maka kami membuka pertunjukan untuk menjual koyo guna menyambung biaya perjalanan kami."
"Huh, enak saja bicara!" kata pengemis ke dua yang mukanya hitam dan kasar. "Siapapun juga, sebelum mendapatkan
ijin dari pemerintah atau dari Hwa-i Kai-pang, tidak boleh sembarangan membuka pertunjukan di sini!"
"Kami telah terlanjur karena tidak tahu akan peraturan itu, harap maafkan. Lain kali kami akan minta ijin lebih
dulu," kata tukang penjual obat itu dengan sikap merendah.
"Mana ada aturan begitu? Sudah mengeduk uang baru minta maaf. Hayo serahkan setengah dari pendapatan kalian
kepada kami, baru bisa bicara tentang maaf!" kata Si Muka Codet.
Tukan obat itu mengerutkan alisnya, dan dara itu yang merasa penasaran sudah berkata dengan suara keras, "Mana
bisa? Keuntungan kamipun tidak ada setengahnya, bagaimana dapat diminta setegahnya?"
"Aha, nona, siapa tidak tahu bahwa koyo kalian ini hanya terbuat dari tahi kerbau dan tanah lumpur? Kalian
membuat koyo tanpa modal dan biarpun membayar kepada kami setengahnya sekalipun, kalian masih kebagian
keuntungan yang cukup banyak!" kata Si Muka Hitam sambil tersenyum cengar-cengir secara kurang ajar sekali.
Mendengar ini, kemarahan tukang obat itu tak dapat ditahannya lagi, "Harap ji-wi tidak main-main. Kami ayah dan
anak melakukan perjalanan merantau dan mengandalkan biaya perjalanan dengan menjual obat. Kami bukanlah
pemeras-pemeras yang mengambil keuntungan terlalu banyak. Karena kami tidak mengenal peraturan di sini, maka
kami telah melanggar dan harap ji-wi suka memaafkan. Biarlah kami memberi sekedar sumbangan kepada ji-wi."
Berkata demikian, tukang obat itu yang belum tahu dengan pengemis macam apa ia berhadapan, telah menyerahkan
beberapa potong uang kecil kepada mereka.
"Plakk!" Si Codet menampar tangan itu sehingga beberapa potong uang kecil itu terlempar.
"Hemm, siapa main-main? Engkaulah yang main-main dan kurang ajar menghina kami, memberi kami beberapa potong
uang kecil. Apa kaukira kami ini orang-orang kelaparan? Dan memang aku mau main-main, yaitu main-main dengan
puterimu ini. Biarlah jumlah yang setengahnya dari uang pendapatan itu kauganti saja dengan puterimu ini yang
harus melayani kami berdua selama satu malam. Akur, bukan?"
Inilah penghinaan yang sudah jauh melewati batas! Tukang obat itu adalah seorang kang-ouw yang banyak merantau
di dunia kang-ouw, maka mendengar ucapan ini, tahulah dia bahwa yang bersembunyi di balik pakaian pengemis ini
adalah orang-orang jahat yang bermoral bejat. Maka diapun melompat maju dan bertolak pinggang. "Sobat, aku
orang she Liang bukanlah seorang pengecut yang tidak berani membela kehormatan dengan nyawa. Kalian sengaja
hendak menghina kami, nah, majulah, jangan dikira aku takut berhadapan dengan penjahat-penjahat bertopeng
pengemis macam kalian ini!"
Dua orang pengemis itu melotot. "Eh, monyet! Berani engkau menghina Hwa-i Kai-pang?" Sudah biasalah bagi
orang-orang yang mengandalkan nama perkumpulan, sedikit-sedikit menyinggung kepada perkumpulannya di mana dia
bersandar. "Apakah engkau sudah bosan hidup?" bentak Si Codet dan diapun sudah menyerang dengan pukulan keras
ke arah muka tukang obat itu. Akan tetapi, tukang obat itu mengelak dan balas memukul ke arah lambung. Si Codet menangkis.
"Dukk...!" Dua lengan bertemu dan akibatnya mereka sama-sama terhuyung dan merasa lengan mereka nyeri. Ini
menandakan bahwa tenaga kedua orang ini berimbang. Si Codet yang merasa sebagai jagoan dan selama ini di kota
raja belum pernah ada orang berani menentangnya, merasa penasaran dan menyerang lagi dengan cepatnya. Seperti
para anggauta Hwa-i Kai-pang lainnya, dia juga mengandalkan ilmu silatnya, Ta-houw Ciang-hoat (Ilmu Silat
Memukul Harimau). Gerakannya memang dapat cepat sekali dan setiap pukulannya mengandung tenaga yang cukup kuat.
Tukang obat itu harus mengeluarkan semua kepandaian untuk mengimbangi serangan-serangan lawannya yang ternyata
tangguh itu. Mereka saling serang dan keadaan mereka seimbang, walaupun tukang obat itu merasa sibuk juga
menghadapi ilmu silat yang lihai itu.
Melihat betapa temannya belum juga mampu mengalahkan Si Tukang Obat, Si Muka Hitam menyerbu ke depan. Akan
tetapi, dara itu berseru marah. "Pengecut jangan main keroyok!" Dan iapun menerjang ke depan menyambut Si Muka
Hitam. Karena maklum betapa lihainya para pengemis ini, tukang obat itu berseru kepada puterinya agar mundur.
"Cin-ji, mundurlah, biarkan aku menghadapi mereka!"
Akan tetapi, tentu saja dara itu tidak mau mundur dan dengan cepat ia sudah menyerang Si Muka Hitam yang
melayaninya sambil tertawa-tawa. Dan memang benarlah, kepandaian dara itu masih terlampau rendah untuk
menandingi Si Muka Hitam, apalagi ia kalah tenaga. Setiap tangkisan Si Muka Hitam itu, lengannya terasa nyeri
sekali dan ia terhuyung. Akhirnya, sebuah tendangan dari Si Muka Hitam mengenai lutut dara itu yang membuatnya
terpelanting roboh. Kakinya terkilir dan dara itu tidak dapat berdiri lagi.
"Ha-ha-ha, malam nanti kupijiti kakimu yang terkilir, manis!" kata Si Muka Hitam yang kini cepat membantu
temannya menghadapi Si Tukang Obat yang sudah terdesak. Melawan Si Codet seorang saja dia sudah terdesak,
apalagi setelah Si Muka Hitam maju. Mulailah Si Tukang Obat menerima pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan
yang membuatnya babak bundas dan jatuh bangun. Namun, dia masih terus melawan sungguhpun setiap kali dia
bangkit, hanya untuk menjadikan dirinya menjadi bulan-bulanan tendangan dan pukulan belaka.
"Ha-ha-ha, nah cobalah sekarang obati luka-lukamu dengan koyo itu! Ha-ha-ha!" Si Muka Hitam tertawa-tawa.
"Hayo kau ikut bersama kami!" Si Codet maju dan menangkap lengan dara yang masih duduk di atas tanah karena
kakinya terkilir dan ia tidak mampu bangkit berdiri. Ketika lengannya ditangkap, dara itu meronta-ronta sambil
menangis. Akan tetapi, semua orang yang tadinya menjadi penonton, kini mundur dan tidak ada seorangpun yang
berani melerai, apalagi menolong dara dan ayahnya itu.
Dunia sudah kacau, dunia sudah gila binatang buas berkedok manusia merajalela di kota raja seenaknya tanpa ada yang berani merintanginya
Semua orang terheran-heran melihat seorang pemuda tampan berpakaian sasterawan, membawa kipas dan mengebut-ngebutkan kipas mengusir panas, membaca sajak dengan suara merdu, mendekati tempat dua orang pengemis
Hwa-i Kai-pang itu bereaksi. Dua orang pengemis inipun melihat Si Pemuda dan mereka menjadi marah sekali.
"Heh, engkau inilah yang agaknya sudah gila. Hayo pergi, atau kupatahkan tulang-tulangmu bersama kipasmu!"
bentak Si Muka Hitam yang sudah merasa lelah memukuli Si Tukang Obat dan kini agaknya hendak mencari sasaran lain untuk memamerkan kekuatannya.
Akan tetapi Thian Sin, pemuda itu, tidak mempedulikan Si Muka Hitam, melainkan menghampiri dara yang sudah dilepaskan oleh Si Codet yang kini juga memandang marah kepada Thian Sin yang dianggapnya mencampuri urusannya.
Thian Sin tidak mempedulikan dua orang pengemis itu, melainkan menggunakan kipasnya yang ditutup untuk menotok ke arah kaki kiri dara itu.
"Tuk-tukk!" Dua kali dia menotok dan dara itu merasa betapa kakinya sembuh kembali! Maka cepat iapun bangkit berdiri dan memandang heran kepada pemuda itu.
Thian Sin menjura kepada dara itu. "Nona, dua ekor anjing belang ini telah memukuli ayahmu dan bersikap kurang
ajar kepadamu, mengapa engkau diam saja, nona. Engkau adalah seorang gadis yang pandai ilmu silat, mengapa
dihina orang diam saja? Hayo kauhajar dua ekor anjing belang yang kurang ajar ini!" Berkata demikian, tanpa
dilihat orang lain, Thian Sin mengedip kepada dara itu. Entah apa yang menyebabkan dara itu seketika menjadi
percaya sekali kepada Thian Sin. Mungkin melihat sikap aneh dari pemuda ini, dan mungkin pula melihat betapa
dongan totokan kipasnya saja pemuda itu sudah mampu membuat kakinya yang terkilir menjadi sembuh kembali. Akan
tetapi dara itu sudah meloncat ke depan menyerang kepada pengemis muka codet.
"Cin-ji... hati-hati...!" Ayahnya yang babak-belur itu memperingatkan karena dia tahu bahwa puterinya itu sama
sekali bukan tandingan pengemis-pengemis yang lihai itu. Akan tetapi betapa kaget hatinya melihat betapa pukulan tangan dara itu dengan tepat mengenai leher pengemis muka codet.
"Plakkk!" Pukulan itu cukup keras sehingga kepala Si Codet itu sampai miring dan tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Bagus nona! Itu anjing belang muka hitam minta bagian!" seru Thian Sin dengan suara gembira. Semua orang yang
melihat peristiwa ini menjadi terheran-heran, juga tukang obat sendiri. Kini, mendapatkan semangat baru karena
hasil pukulannya tadi dan mendengar dorongan pemuda sasterawan, dara itu menyerang dengan tendagan kaki ke arah perut Si Muka Hitam.
"Desss...!" Si Muka Hitam terjengkang dengan mata terbelalak dan muka merah, memegangi bagian perutnya yang
tertendang karena terasa nyeri. Si Codet dan Si Muka Hitam sudah bangkit lagi, mata mereka terbelalak karena
tanpa ada yang tahu, mereka tadi tentu saja tidak membiarkan dirinya ditampar dan ditendang oleh nona itu, akan
tetapi sungguh luar biasa, setiap kali mereka hendak menggerakkan tangan atau kaki untuk menangkis atau
mengelak, tubuh mereka mogok dan tidak dapat digerakkan sehingga tentu saja pukulan dan tendangan gadis itu
selalu tepat mengenai sasaran dan tubuh mereka terpelanting atau terhuyung, mereka mampu bergerak lagi!
Dara itu menjadi gembira bukan main melihat betapa setiap pukulan dan tendangannya mengenai sasaran. Maka dia
terus menyerang kedua orang pengemis itu bergantian, dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan
sekuatnya. Akibatnya, tubuh kedua orang pengemis itu jatuh bangun seperti ketika ayahnya dihajar tadi.
Sementara itu, tentu saja semua itu disebabkan oleh Thian Sin yang mempergunakan kepandaiannya sehingga kedua
orang pengemis itu tidak berdaya. Dan mulutnya terus memberi anjuran kepada dara itu, "Terus, nona. Hantam
terus! Atau lebih baik gunakan kaki saja. Mereka itu tidak pantas bersentuhan dengan tanganmu, lebih baik
gunakan sepatu menghajar muka mereka!"
Dan dara itu pun menurut. Agaknya Thian Sin melihat bahwa dara itu memiliki ilmu tendangan yang baik sekali,
maka dia memberi anjuran demikian. Dan kini, orang-orang melihat betapa kedua kaki dara itu bergantian
menyambar-nyambar dan setiap kali menyambar, tentu mengenai muka kedua orang pengemis sehingga hidung dan mulut
mereka berlumuran darah! Dua orang pengemis itu kini mencabut pedang masing-masing. Akin tetapi, tetap saja
setiap kali tendangan tiba, mereka tidak mampu bergerak dan akhirnya, setelah muka mereka bengkak-bengkak dan
berdarah, keduanya lari meninggalkan tempat itu.
"Heiii, ini pedang kalian tertinggal!" Thian Sin berseru dan mengambil dua batang pedang mereka yang memang
tadi terlepas dari pegangan dan mereka tinggalkan. Sekali mengayun tangannya, Thian Sin melepaskan dua batang
pedang itu yang menyambar seperti dua batang anak panah ke arah dua orang pengemis itu.
Terdengar dua orang pengemis itu menjerit dan mendekap telinga kiri mereka yang telah buntung disambar pedang
mereka sendiri dan kini mereka melarikan diri seperti dikejar setan saking merasa ngeri takutnya!
Thian Sin cepat menghampiri tukang obat. "Paman, cepat kau ajak puterimu keluar dari kota ini. Cepat sebelum
mereka ini datang. Biarkan aku menghadapi mereka!"
Tukang obat itu tadi telah maklum bahwa pemuda inilah yang membantunya, dan diapun dapat menduga bahwa pemuda
ini adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali. Maka diapun memberi hormat dan mengajak
puterinya berlutut di depan Thian Sin.
"Taihiap telah menolong kami, mohon tahu siapa nama taihiap yang mulia."
Thian Sin tersenyum dan membangkitkan mereka, "Bangunlah dan pergilah cepat. Namaku, tidak ada artinya, kelak
kalian akan tahu sendiri. Sudahlah, paman. Pergilah cepat kalau paman ingin melihat puterimu selamat."
Tukang obat itu kembali menghaturkan terima kasih, kemudian membawa barang-barang mereka dan pergi bersama
puterinya yang merasa berterima kasih dan kagum sekali kepada Thian Sin. Pemuda ini tidak pergi, malah duduk di
atas tanah dengan tenang. Melihat ini, orang-orang yang merasa takut akan pembalasan para pengemis, sudah
meninggalkan tempat itu, takut terbawa-bawa. Dan beberapa orang memberi nasihat kepadanya agar cepat pergi.
Akan tetapi pemuda itu menggeleng kepala dan tertawa. "Aku memang menanti mereka," katanya seenaknya lalu
pemuda ini bernyanyi-nyanyi gembira. Orang-orang menjadi semakin khawatir, akan tetapi karena takut tersangkut,
akhirnya mereka pergi dan hanya berani nonton dari jarak jauh saja.
Tak lama kemudian, muncul lima orang pengemis yang usianya kurang lebih lima puluh tahun bersama Si Muka Hitam
yang kepalanya sudah dibalut dan telinganya yang buntung tertutup kain pembalut. Si Muka Hitam tidak bicara
hanya menuding ke arah Thian Sin. Lima orang pengemis itu meloncat dengan gerakan ringan sekali dan mereka
telah berdiri mengepung Thian Sin. Sikap mereka itu hati-hati sekali dan dari gerakan mereka tahulah Thian Sin
bahwa kepandaian mereka jauh lebih tinggi daripada tingkat dua orang pengemis yang dihajarnya melalui kaki nona penjual koyo tadi. Akan tetapi dia masih enak-enak saja, tersenyum-senyum memandang kepada mereka.
"Inikah manusianya yang berani menghina anggauta Hwa-i Kai-pang?" bentak seorang di antara mereka.
"Manusia bosan hidup!" teriak yang ke dua.
"Bocah setan, hayo mengaku siapa namamu sebelum kami mengantarkanmu ke neraka jahanam!" tertak orang ke tiga.
Thian Sin masih berdiri sambil tersenyum, menurunkan kedua tangannya yang tadi bertolak pinggang dan kini dia
menggerak-gerakkan kedua tangannya sambil menengadah dan bersajak dengan suara merdu, kepalanya juga
bergerak-gerak menurutkan irama kata demi kata yang keluar dari mulutnya.
Yang lemas mengalahkan yang kaku yang halus mengalahkan yang kasar
yang lunak mengalahkan yang keras yang lemah mengalahkan yang kuat
Siapa bilang Hwa-i Kai-pang menyalahgunakan kekuatan yang macam ini harus dihadapi dengan kaku, kasar, keras, kuat dan berani
Lima orang itu menjadi marah sekali, akan tetapi juga terheran-heran melihat ada seorang pemuda yang begini
berani menantang Hwa-i Kai-pang di kota raja! Baru mengingat akan kekuasaan dan pengaruh Hwa-i Kai-pang sudah
membuat partai-partai persilatan besar tidak berani bersikap sembarangan, apalagi hanya seorang manusia saja.
Belum lagi diingat bahwa perkumpulan ini dilindungi oleh pemerintah sehingga menentang Hwa-i Kai-pang bisa
berhadapan dengan pasukan keamanan pemerintah!
"Hayo mengaku siapa namamu agar engkau tidak mampus sebagai manusia tanpa nama!"
"Huh, manusia ini agaknya sudah gila dan tidak berani mengakui nama sendiri!"
Thian Sin tersenyum, lalu menjawab dengan suara tetap merdu seperti orang bernyanyi.
"Namaku memang tidak berharga namun kalian anjing-anjing hina
terlampau rendah untuk mengenalya Inilah penghinaan yang sudah dianggap keterlaluan oleh lima orang pengemis itu. Mereka itu adalah lima orang
anggauta Hwa-i Kai-pang yang tingkatnya sudah cukup tinggi, yaitu anggauta tingkat tiga yang sudah merupakan
pengurus-pengurus perkumpulan itu. Bukan hanya itu saja, juga mereka ini telah menjadi satu pasukan yang
disegani dalam Hwa-i Kai-pang, yaitu Ngo-lian-tin (Barisan Lima Teratai). Di dalam Hwa-i Kai-pang, selain
terdapat ilmu silat tongkat yang merupakan inti dari ilmu tongkat para pimpinan perkumpulan itu, yaitu yang
dinamakan Ta-houw Sin-pang (Ilmu Tongkat Sakti Memukul Harimau) yang juga dapat diubah menjadi Sin-ciang
(Tangan Sakti), juga terdapat semacam ilmu tongkat yang bernama Ngo-lian Pang-hoat (Ilmu Tongkat Lima Teratai).
Para pengurus Hwa-i Kai-pang semua menguasai Ilmu Tongkat Lima Teratai ini, akan tetapi hanya mulai dari
tingkat tiga sajalah yang mampu mempergunakan ilmu tongkat itu untuk membentuk Ngo-lian-tin, yaitu semacam
barisan atau kerja sama dari lima orang yang mempergunakan Ngo-lian Pang-hoat untuk mengeroyok lawan dengan
kerja sama yang amat teratur, baik dan tangguh sekali.
Mendengar penghinaan Thian Sin yang memaki mereka sebagai anjing-anjing hina yang terlampau rendah untuk
mengenal namanya, lima orang itu tak dapat menahan kemarahan mereka lagi. Tongkat di tangan mereka bergerak
disusul gerakan tubuh mereka dan dengan gerakan indah namun gagah sekali mereka itu telah mengepung Thian Sin
dari lima jurusan, dengan tongkat yang digerakkan secara berantai dan saling "mengisi" sehingga merupakan
kekuatan yang dahsyat. Namun, Thian Sin masih tersenyum saja. Hatinya gembira bukan main bahwa akhirnya dia
dapat berhadapan dengan orang-orang Hwa-i Kai-pang. Sebetulnya, dia tidak mempunyai urusan dengan Hwa-i
Kai-pang dan yang dicarinya adalah dua orang tokoh besarnya yang kini menjadi ketuanya. Akan tetapi mengingat
bahwa mereka ini adalah anak buah dari dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang yang menjadi musuhnya itu, maka hatinya
gembira untuk melayani mereka.
"Mari, mari, ingin kulihat bagaimana kalian membadut dengan tongkat-tongkat butut itu!" katanya dengan nada
penuh ejekan.
Tiba-tiba lima orang itu mengeluarkan seruan keras dan tongkat mereka sudah menyambar, menusuk dari lima
penjuru. Gerakan mereka memang cepat dan kuat, dan yang diserang adalah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan
cara menyerangnya juga bertubi-tubi, susul-menyusul sehingga merupakan kerjasama yang baik dan serangan itu
amatlah berbahaya bagi lawan. Thian Sin maklum akan hal ini, akan tetapi karena dia hendak mempermainkan
mereka, diapun mempergunakan kegesitannya, mengelak dan menangkis setiap tusukan tanpa berusaha merusak tongkat
mereka, bahkan dia memperlihatkan diri seperti orang terdesak. Tiba-tiba tongkat-tongkat yang luput menusuk
tubuhnya itu membuat gerakan aneh dan tahu-tahu lima batang tongkat itu telah membentuk sebuah kurungan yang
menghadangnya dan menutup semua jalan keluarnya, karena tongkat-tongkat itu malang-melintang saling tindih dan
saling sambung membuat sebuah ruang di tengah-tengah di mana Thian Sin berdiri. Pemuda itu seolah-olah telah
terkurung atau tertangkap oleh lima batang tongkat itu! Thian Sin menekan tongkat-tongkat itu dan meloncat ke
atas, akan tetapi tongkat-tongkat itu melayang mengikutinya dan tahu-tahu seperti hendak "meringkus" kedua
kakinya. Melihat ini, Thian Sin berjungkir-balik, menghalau tongkat-tongkat itu dengan kedua tangan dan
meminjam tenaga mereka untuk meloncat lagi ke depan, sehingga dia terlepas dari kepungan tongkat. Akan tetapi,
lima orang itu bergerak cepat, berloncatan lagi dan tahu-tahu dia telah terkurung lagi!
Diam-diam Thian Sin merasa kagum. Memang indah sekali dan juga tangguh sekali gerakan dari Ngo-lian-tin ini,
dan tongkat mereka ini memang sudah mencapai tingkat yang cukup kuat sehingga jago-jago silat biasa saja jangan
harap akan mampu melawan mereka. Bahkan pendekar yang sudah pandaipun akan bingung menghadapi kepungan
tongkat-tongkat yang dapat bergerak otomatis dan amat rapi bekerja sama ini. Ketika kembali dia terkepung oleh
tongkat-tongkat yang saling tindih itu, dia mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Hei, jembel-jembel busuk. Aku muak dengan main-main ini. Dengarlah, aku akan menyerah asal kalian membawaku
menghadap ketua kalian!"
"Menghadap ketua kami sebagai mayat!" bentak seorang di antara mereka dan tanpa merusak "kurungan" itu, dia sudah menarik tongkatnya dan menggunakan tongkatnya menusuk ke arah pusar pemuda itu yang nampaknya sudah terkurung dan tidak mampu bergerak lagi.
Thian Sin tersenyum dan mendiamkan saja bawah perutnya ditusuk. Dia hanya menurunkan sedikit tubuhnya dan menerima tusukan tongkat itu dengan perutnya sambil mengerahkan sedikit tenaga.
"Krekkk!" Dan tongkat yang bertemu dengan perutnya itupun patah-patah menjadi tiga potong saking kerasnya pengemis yang memegangnya tadi menusuk. Terkejutlah pengemis itu, juga empat orang kawannya. Mereka menarik tongkat masing-masing dan kini kembali mereka menyerang, ada yang memukul kepala, ada yang menusukkan tongkatnya, semua itu dilakukan dengan beruntun, juga pengemis yang kehilangan tongkatnya itu menerjang dengan
pukulan tangannya.
Terdengar suara keras patahnya tongkat-tongkat itu dan ternyata empat batang tongkat itu semua patah-patah,
sedangkan pengemis yang menghantamkan tangannyapun berteriak kesakitan karena tulang jari tangannya juga patah!
Kini mereka berlima yang masih berdiri mengepung Thian Sin memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.
Pemuda itu tersenyum tenang.
"Bagaimana? Apakah kalian masih belum puas dan hendak main-main terus? Ataukah mau membawaku menghadap ketua
kalian sebagai tawanan?"
Lima orang pengemis itu bukanlah orang-orang bodoh. Mereka sudah tahu bahwa sesungguhnya pemuda ini adalah
seorang yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali. Kekalahan mereka merupakan tamparan bagi mereka, maka kalau
mereka dapat membawa pemuda ini sebagai tawanan, hal itu bukan hanya berarti menebus kekalahan yang memalukan
itu, akan tetapi juga mereka tidak akan mendapat kemarahan dari ketua mereka. Dan betapapun lihainya pemuda
ini, kalau sudah berhadapan dengan dua orang ketua mereka, akan dapat berbuat apakah?
"Sebagai tawanan katamu? Jadi engkau mau untuk kami tangkap, kami ikat dan kami bawa kepada ketua kami?" tanya
pengemis berhidung pesek yang agaknya menjadi pemimpin mereka berlima.
Thian Sin berpikir bahwa agaknya tidak akan mudah baginya untuk bertemu dengan dua orang musuh besarnya itu.
Biarpun dia dapat memancingnya, namun yang akan keluar tentulah para pembantunya dan dua orang itu sebagai
orang yang berkedudukan tinggi, ketua Hwa-i Kai-pang yang agaknya telah menjadi perkumpulan yang besar dan
berpengaruh sekali di kota raja, agaknya tidak akan sembarangan keluar dari sarang dan untuk mencari mereka ke
sarang merekapun bukan merupakan hal mudah karena menurut penyelidikannya, kai-pang itu kini dekat dengan
pemerintah dan tentu saja akan bisa memperoleh bantuan pasukan penjaga, dan kalau sudah demikian, akan semakin
sukarlah baginya untuk dapat berhadapan dengan mereka. Maka diapun mengambil keputusan cepat.
"Baik, kau boleh bawa aku sebagai tawanan, boleh mengikat kedua tanganku kalau perlu," jawabnya. Lima orang
pengemis itu menjadi girang. Mereka lalu mempergunakan tali yang kuat untuk mengikat kedua pergelangan Thian
Sin ke belakang tubuhnya. Baru saja ikatan yang amat kuat itu selesai, Thian Sin sudah berkata.
"Akan tetapi, jangan kalian main-main. Lihat, aku akan dapat melepaskan diri dengan mudah kalau kalian main
gila." Dan sekali dia menggerakkan kedua tangan... ternyata kedua tangannya itu telah terlepas dari ikatan tali
tanpa membuat tali itu putus! Tali itu jatuh ke atas tanah begitu saja. Tentu saja lima orang pengemis itu
terkejut bukan main dan muka mereka menjadi pucat sekali. Mereka tidak tahu bahwa pemuda ini tadi telah
mempergunakan kekuatan sihirnya sehingga biarpun mereka merasa telah membelenggu kedua tangan itu, sebenarnya
kedua tangan pemuda itu sama sekali tidak terikat, maka dengan mudah Thian Sin dapat membebaskan kedua
tangannya. Bagi pemuda ini diikat atau tidak sama saja karena biarpun kedua tangannya terikat secara
sungguh-sungguh sekalipun, dengan mudah dia akan dapat membikin putus tali-tali itu.
"Tidak... kami tidak main-main..." kata Si Hidung Pesek.
"Nah, ikatlah lagi baik-baik kalau begitu dan antar aku menemui ketua kalian."
Lima orang pengemis itu lalu mengikat lagi kedua pergelangan tangan Thian Sin ke belakang tubuhnya, kemudian
pemuda ini lalu mereka giring menuju ke sarang mereka. Di sepanjang perjalanan, banyak orang menonton
iring-iringan ini. Tidak aneh melihat orang-orang Hwa-i Kai-pang menganiaya orang. Akan tetapi sekali ini lain.
Pemuda itu tidak kelihatan berduka atau ketakutan. Sebaliknya malah, lima orang pengemis yang menggiringnya
itu, yang oleh banyak orang terkenal sebagai tokoh-tokoh tinggi Hwa-i Kai-pang, berjalan di depan dan belakang
pemuda itu dengan wajah muram dan pendiam, nampak serius sekali, sedangkan si pemuda yang menjadi tawanan
mereka itu tersenyum-senyum, bahkan kelihatan bernyanyi-nyanyi kecil! Tentu saja hal ini membuat semua orang
menjadi terheran-heran dan ada yang mengira bahwa pemuda tampan yang berpakaian mewah itu tentu telah menjadi gila!
Tempat yang menjadi pusat atau sarang Hwa-i Kai-pang sekarang jauh berbeda dengan dahulu sebelum perkumpulan
pengemis itu dekat dengan kekuasaan kaisar. Tempat itu berada di luar pintu gerbang sebelah timur, merupakan
bangunan yang cukup besar, terdiri dari rumah-rumah kecil mengelilingi bangunan besar yang menjadi tempat
tinggal dua orang ketua mereka. Dan di sekeliling perumahan itu terdapat pagar tembok yang tinggi dan tebal,
seperti keadaan sebuah benteng saja. Pintu tembok itupun tebal dan dijaga ketat oleh pengemis-pengemis yang
lagaknya seperti penjaga di pintu gerbang istana saja, setiap orang pengemis memegang sebuah tongkat.
Diam-diam Thian Sin merasa girang bahwa dia telah mempergunakan siasat membiarkan dirinya ditawan ini. Harus
diakuinya bahwa biarpun dengan mudah dia akan dapat melewati tembok itu dan menyerbu ke dalam, namun belum
tentu dia akan bisa mencari dua orang ketua itu kalau mereka menyembunyikan diri atau melarikan diri. Dengan
akalnya yang sekarang, dia malah akan dibawa menghadap mereka, jadi dia tidak perlu mencari lagi! Jantungnya
berdebar tegang ketika dia dibawa melalui lorong di mana terdapat pengemis-pengemis yang berjaga-jaga.
Beberapa orang pengemis tua memandang heran dan ada yang bertanya kepada lima orang tokoh pengemis yang
menangkap pemuda itw. Mereka menjawab dengan singkat bahwa pemuda itu adalah tawanan mereka yang hendak mereka
hadapkan kepada ketua. Jawaban ini saja sudah dapat dimengerti oleh para rekan mereka itu bahwa tangkapan itu
adalah orang penting maka harus dihadapkan dengan ketua sendiri. Betapapun juga, para tokoh Hwa-i Kai-pang dari
tingkat tiga ke atas menjadi tertarik dan merekapun ikut pula mengawal pemuda itu memasuki bangunan besar untuk
menghadap ketua. Mereka semua ingin mendengar dan melihat karena mereka dapat menduga bahwa pemuda itu tentulah
orang yang penting maka oleh lima orang rekan itu dibawa menghadap ketua.
Pada waktu itu, Hwa-i Kai-pang merupakan perkumpulan yang kuat. Para anggauta pimpinan terdiri dari dua orang
ketuanya, para murid tingkat dua yang jumlahnya ada enam orang, yaitu murid-murid kepala yang digembleng oleb
dua orang ketua itu sendiri, lalu lima belas orang murid yang ilmu silatnya lebih rendah daripada murid-murid
kepala, akan tetapi lima belas orang murid tingkat tiga ini telah membentuk Ngo-heng-tin yang tangguh dan
biasanya merupakan inti kekuatan Hwa-i Kai-pang kalau menanggulangi urusan yang memerlukan kekerasan. Kini,
melihat adanya seorang pemuda yang tampan dan kelihatan gagah menjadi tawanan dan diajukan kepada ketua, hal
yang jarang terjadi, semua murid tingkat dua dan tiga yang kebetulan berada di tempat itu segera berkumpul dan
ikut pula menghadap. Tentu saja murid-murid lain yang lebih rendah tingkatnya tidak berani ikut memasuki
ruangan di mana terdapat ketua mereka. Murid-murid tingkat rendah ini tidak berani menghadap tanpa dipanggil.
Pada waktu itu, yang kebetulan berada di sarang ada tiga orang murid tingkat dua dan sepuluh orang murid
tingkat tiga, atau dua Ngo-lian-tin berikut yang menawan Thian Sin.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang luas, karena ruangan ini selain merupakan ruangan untuk persidangan para
pimpinan, juga merupakan sebuah lian-bu-thia di mana mereka biasa berlatih silat.
Thian Sin yang dibawa memasuki ruangan ini memandang dengan penuh perhatian. Dia melihat betapa ruangan yang
luas itu cukup mewah, dihias dengan lukisan-lukisan dan di sudut terdapat rak-rak terisi segala macam senjata.
Biarpun keistimewaan para pengemis ini adalah memainkan tongkat, namun sebagai ahli-ahli silat tinggi mereka
juga melatih diri dengan senjata lain sehingga mereka tidak akan merasa asing apabila berhadapan dengan lawan
yang mempergunakan lain macam senjata. Di sudut ruangan itu nampak dua orang kakek yang tengah duduk berhadapan
dengan santai dan bercakap-cakap. Sebagai ketua perkumpulan yang intinya adalah ilmu silat, maka dua orang
ketua ini tidak pernah dikawal dan kini mereka duduk berdua saja di ruangan itu dan baru mereka mengangkat muka
memandang ketika para murid datang menghadap membawa seorang pemoda yang tidak mereka kenal.
Thian Sin memperhatikan dua orang kakek itu. Yang seorang bertubuh kurus sekali, seperti tulang dibungkus kulit
saja, mukanya penuh keriput dan pucat, nampak sudah tua sekali dan kiranya kakek ini tidak akan kurang dari
tujuh puluh tahun lebih, mukanya hitam seperti pantat kwali, sungguh merupakan kebalikan dari muka kakek
pertama, akan tetapi anehnya, kakek bermuka hitam ini mempunyai kulit tangan yang putih. Melihat keadaan
mereka, Thian Sin dapat menduga bahwa tentu kakek tua renta itu adalah Lo-thian Sin-kai sedangkan yang kedua
adalah sutenya yang bernama atau berjuluk Hek-bin Mo-kai. Jantungnya berdebar karena tegangnya dan juga marah.
Jadi dua orang inilah yang telah membantu Kerajaan Beng untuk mengeroyok dan ikut membunuh ayah bundanya!
Tiga belas orang tingkat dua dan tiga itu berlutut di atas lantai menghadap dua orang kakek yang masih duduk di
atas kursi itu. Akan tetapi ketika lima orang pengemis itu mendorong Thian Sin untuk berlutut, pemuda ini tetap
berdiri saja sambil memandang ke arah dua orang kakek itu dengan sinar mata tajam penuh selidik.
"Apa artinya ini? Siapakah bocah yang kalian bawa ini?" Hek-bin Mo-kai menegur dengan suara tidak senang
melihat sikap pemuda itu yang demikian angkuh. Biarpun pemuda itu tampan dan gagah, memakai pakaian mewah
seperti seorang pelajar tinggi, akan tetapi berhadapan dengan dua orang ketua Hwa-i Kai-pang dengan sikap
demikian angkuh sungguh merupakan suatu sikap yang kurang ajar.
Si Hidung Pesek, pemimpin dari Ngo-lian-tin itu, cepat memberi hormat, "Harap ji-wi pangcu sudi memaafkan kami.
Pemuda ini telah membuat kacau di lapangan dekat pasar, membela penjual koyo yang berani membuka dagangan tanpa
ijin kita, bahkan pemuda ini telah memukul dan membuntungi telinga dua orang anak buah kita. Maka kami lalu
datang dan kami menangkapnya untuk kami bawa menghadap ji-wi pangcu dan mohon keputusan ji-wi pangcu terhadap
dirinya."
Mendengar laporan itu, Hek-bin Mo-kai yang wataknya berangasan itu menjadi marah. Terutama dia mendongkol
mendengar ada orang berani membuntungi telinga kedua orang anak buah Hwa-i Kai-pang. "Hemm, urusan sepele
begini saja kalian tidak dapat memutuskan sendiri dan harus minta keputusan kami? Tolol! Dia telah mengacau,
dia telah menghina anak buah kita, mau apa lagi? Kalau dia membuntungi telinga anak buah kita, nah, buntungi
kedua telinganya dan cokel kedua mata itu yang seperti mata setan!"
Mendengar perintah ini, para tokoh yang lain mengangguk-angguk setuju, akan tetapi lima orang pengemis yang
tadi menggiring Thian Sin masuk saling pandang dengan muka pucat. Si Hidung Pesek menjadi serba salah maka
diapun tak dapat berlagak telah menangkap pemuda itu lagi. "Tapi... tapi... pangcu, dia... dia itu lihai sekali
dan kami tidak akan dapat melaksanakan perintah itu."
Kini dua orang ketua itu mengangkat muka memandangnya penuh keheranan, juga merasa marah dan terkejut. "Apa?
Dan kalian bukankah telah meringkusnya dan menyeretnya ke sini?" yang bertanya ini adalah Lo-thian Sin-kai,
suaranya halus dan sikapnya hati-hati, kini memandang penuh kecurigaan kepada lima orang anak buahnya itu, juga
kepada Thian Sin.
"Mohon maaf sebesarnya dari ji-wi pangcu," Si Hidung Pesek berkata, suaranya gemetar. "Sesungguhnya... kami
berlima telah dikalahkan oleh pemuda ini... dan dia... dia sendiri yang minta agar dibelenggu dan dibawa
menghadap ji-wi pangcu."
Dua orang ketua Hwa-i Kai-pang itu terkejut bukan main. Kiranya pemuda ini dapat mengalahkan Ngo-lian-tin! Akan
tetapi mengapa lalu menyerah dan minta ditangkap? Apa yang tersembunyi di balik sikap aneh ini? Kini kedua
orang ketua itu bangkit dari tempat duduk mereka, memandang tajam kepada Thian Sin.
"Orang muda, siapakah engkau?" Lo-thian Sin-kai bertanya, suaranya halus. "Apa maksudmu mengacau anak buah kami
lalu minta dihadapkan kepada kami?"
Dengan kedua tangan masih terbelenggu ke belakang tubuhnya, Thian Sin menjawab sambil tersenyum, akan tetapi
sepasang matanya mencorong seperti hendak membakar kedua orang pengemis tua itu! "Kalian adalah Lo-thian
Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai, benarkah?"
"Benar!" bentak Hek-bin Mo-kai. "Dan siapakah engkau, pemuda sombong?"
"Ha-ha-ha!" Thian Sin tertawa girang setelah mendapatkan kepastian bahwa dua orang inilah musuh besar yang
dicari-carinya. "Kuberitahukan namakupun kalian tidak akan mengenalnya. Akan tetapi kalian tentu mengenal nama Pangeran Ceng Han Houw dan isterinya yang bernama Li Ciauw Si, bukan?"
Seketika pucat wajah kedua orang kakek pengemis itu mendengar disebutnya nama ini. Semenjak mereka berdua ikut
mengeroyok dan membunuh pangeran itu bersama isterinya, mereka dapat mengangkat nama Hwa-i Kai-pang sebagai
perkumpulan yang tidak lagi dimusuhi oleh kerajaan, bahkan dianggap berjasa dan memperoleh kekuasaan dan
pengaruh. Akan tetapi, sering kali mereka bermimpi buruk karena mereka tahu bahwa pangeran itu adalah seorang
yang amat sakti dan isterinya adalah keluarga dari Cin-ling-pai. Kalau saja Cin-ling-pai berusaha membalas
kematian itu! Mereka sering merasa ngeri dan ketakutan, maka mereka lebih banyak bersembunyi dan berlindung di
balik kekuasaan kaisar. Setelah lewat bertahun-tahun dan tidak ada usaha dari fihak Cin-ling-pai untuk
mengganggu mereka, hati mereka mulai tenang sungguhpun mereka lebih menikmati kedudukan mereka itu dengan
bersenang-senang di dalam sarang yang terjaga kuat itu daripada berkeliaran di luar. Maka, sungguh amat
mengejutkan hati mereka ketika pemuda ini bicara tentang Pangeran Ceng Han Houw dan isterinya!
"Siapakah engkau? Apa maksudmu bicara tentang orang yang sudah mati?" tanya Hek-bin Mo-kai sambil berusaha
menyembunyikan getaran suaranya di balik bentakan marah yang tidak sangat berhasil.
"Pandanglah baik-baik. Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai. Aku adalah putera tunggal mereka!" Dia berhenti
sebentar, menikmati kekagetan yang membayang di wajah-wajah yang pucat itu. "Dan tak perlu kiranya kujelaskan
mengapa aku datang mencari kalian, bukan?"
Dua orang ketua Hwa-i Kai-pang itu terbelalak, akan tetapi mereka bukanlah orang lemah. Apalagi di situ
terdapat tiga belas orang murid-murid mereka yang boleh diandalkan, dan juga bukankah pemuda itu dalam keadaan
terbelenggu kedua tangannya?
"Bentuk dua Ngo-lian-tin dan bekuk pemuda ini!" bentak Hek-bin Mo-kai, memerintah kepada sepuluh orang murid
tingkat tiga itu. Biarpun lima orang yang tadi menggiring Thian Sin pernah merasakan kelihaian pemuda ini dan
mereka merasa gentar, namun kini mereka berada di kandang sendiri. Di situ terdapat dua orang guru dan ketua
mereka, juga teman-teman mereka yang lihai, maka timbul pula keberanian mereka, bahkan mereka hendak
mempergunakan kesempatan ini untuk membalas kekalahan mereka tadi. Cepat mereka lari ke rak senjata dan
menyambar tongkat-tongkat yang banyak terdapat di situ, kemudian bersama Ngo-lian-tin yang kedua, mereka sudah
membentuk barisan lima teratai dan mengurung Thian Sin.
Pemuda ini masih belum melepaskan belenggu kedua tangannya. Dia berdiri menghadapi pengepungan dua barisan
Ngo-lian-tin itu dengan tenang sekali dan masih tersenyum-senyum saja. Kepada Si Hidung Pesek dia berkata,
"Sekali ini aku tidak akan mengampuni kalian." Dan dia masih saja belum melepaskan diri dari belenggu kedua
tangannya, seolah-olah dia hendak menunjukkan bahwa untuk menghadapi kedua barisan Ngo-lian-tin itu dia tidak
membutuhkan kedua lengannya!
Melihat hal ini, tentu saja Si Hidung Pesek melihat keuntungan dan cepat dia memberi aba-aba kepada
teman-temannya unluk cepat bergerak. Maka mulailah Ngo-lian-tin pertama itu bergerak menyerang sedangkan
Ngo-lian-tin ke dua juga mendesak dan membantunya.
Thian Sin mempergunakan kecepatan gerak tubuhnya untuk mengelak dan berloncatan ke sana-sini, dan sungguhpun
kedua tangannya masih terbelenggu, namun dia kelihatan seenaknya dan mudah saja menghindarkan semua sambaran
tongkat. Akan tetapi, kini sepuluh batang tongkat panjang itu bekerja sama dan diapun terkurung oleh gulungan
sinar tongkat yang makin lama makin menyempit dan akhirnya tubuhnya sudah tertutup rapat oleh tongkat-tongkat
itu dari segenap penjuru. Akan tetapi sambil tertawa, Thian Sin meloncat lurus ke atas untuk membebaskan diri
dari kepungan tongkat-tongkat itu. Sepuluh orang itu bergerak dengan cepat, tahu-tahu tubuh Thian Sin di udara
telah tertahan dan terjepit oleh tongkat-tongkat itu! Keadaan Thian Sin seolah-olah sudah tidak berdaya lagi
karena tubuhnya tertahan di udara oleh tongkat-tongkat itu yang malang-melintang dan menghimpitnya. Terdengar
Hek-bin Mo-kai tertawa senang menyaksikan hal ini.
Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar suara melengking tinggi dan tubuh Thian Sin meronta, kedua kakinya
bergerak-gerak dan terpelantinglah sepuluh orang itu, tongkat mereka beterbangan jauh ke kanan kiri menimpa
dinding-dinding ruangan yang luas itu, sedangkan sepuluh orang yang terpelanting itupun mengaduh-aduh karena
beberapa di antara mereka terkena tendangan kaki Thian Sin yang kini sudah turun kembali sambil
tersenyum-senyum.
Hek-bin Mo-kai maklum akan kelihaian pemuda itu, maka diapun mengeluarkan seruan nyaring, memerintahkan tiga
orang murid kelas dua untuk mengeroyok. Tiga orang pengemis tua ini adalah murid-murid kepala yang telah
memiliki tingkat kepandaian tinggi. Mereka lalu menerjang maju sambil menggerakkan tongkat mereka. Melihat
gerakan ini dan mendengar suara angin pukulan tongkat mereka, Thian Sin maklum bahwa tiga orang ini telah
memiliki kepandaian tinggi, apalagi di situ terdapat dua orang ketua Hwa-i Kai-pang yang sudah mulai memutar
tongkat masing-masing pula. Sambil tertawa Thian Sin lalu menggerakkan kedua tangannya dan putuslah tali
pengikat pergelangan tangannya tadi. Sekali dia menggerakkan kedua tangan yang memegang tali, maka tali itu
seperti seekor ular saja menyambar ke depan. Terdengar pekik mengerikan ketika tiga orang pengemis, termasuk Si
Hidung Pesek, terjengkang roboh dengan kepala pecah terkena tali yang disambitkan Thian Sin itu. Tentu saja
semua orang terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa pemuda itu sedemikian lihainya sehingga sambitan tali
bekas belenggu tangannya saja sudah berhasil membunuh tiga orang anggauta Ngo-lian-tin yang lihai!
Dan mulailah Thian Sin mengamuk! Dia dikeroyok lima, yaitu oleh dua orang ketua Hwa-i Kai-pang yang dibantu
oleh tiga orang murid utama mereka. Lo-thian Sin-kai adalah seorang tokoh Hwa-i Kai-pang yang paling lihai
karena dia telah mewarisi ilmu-ilmu dari Hwa-i Sin-kai pendiri dari Hwa-i Kai-pang. Dia memiliki semua ilmu
silat kai-pang itu, pandai sekali memainkan tongkat, baik dengan Ilmu Ngo-lian Pang-hoat mampun Ta-houw
Sin-pang, dan selain itu, juga dia memiliki tenaga yang kuat sekali. Sutenya, Hek-bin Mo-kai, juga amat lihai
dan hanya kalah sedikit saja dibandingkan dengan suhengnya itu. Maka, dibantu oleh tiga orang murid utama
mereka, tentu saja lima orang ini merupakan lawan yang amat tangguh dan amat berbahaya. Mereka itu merupakan
inti kekuatan yang paling tinggi sebagai pucuk pimpinan Hwa-i Kai-pang. Akan tetapi sekali ini mereka bertemu
dengan Thian Sin sehingga ketangguhan mereka itu sama sekali tidak ada gunanya.
"Hemm, sejak dahulu sampai kini kalian adalah pengecut-pengecut hina yang hanya berani kalau mengandalkan
pengeroyokan," Thian Sin berkata sambil menghadapi terjangan mereka yang bertubi-tubi itu dengan tangan kosong
saja. Dia tidak begitu mempedulikan tiga orang murid utama itu, karena yang diincarnya adalah dua orang ketua
Hwa-i Kai-pang yang pernah mengeroyok dan ikut membunuh ayah bundanya.
"Wuuuttt...!" Sinar tongkat menyambar dari kanan dengan amat hebatnya karena tongkat ini ditusukkan dengan
pengerahan tenaga oleh Hek-bin Mo-kai yang maklum bahwa dia dan suhengnya dibantu murid-muridnya harus dapat
membunuh pemuda putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw ini kalau tidak mereka sendiri yang akan tewas. Maka
serangannyapun selalu dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.
"Plakk!" Thian Sin menangkap tongkat itu, tidak mempedulikan pukulan tiga batang tongkat dari arah belakangnya
yang dilakukan oleh tiga orang murid utama Hwa-i Kai-pang itu. Dia hanya mengerahkan sin-kangnya untuk
melindungi tubuh belakangnya. Terdengar suara keras ketika tiga batang tongkat itu mengenai punggung, pinggul
dan leher belakang atau tengkuknya, dan tiga batang tongkat itu membalik, membuat tiga orang penyerangnya
berteriak kaget dan kesakitan karena telapak tangan mereka terobek dan berdarah! Sementara itu, Thian Sin yang
sudah berhasil menangkap tongkat Hek-bin Mo-kai itu lalu melangkah maju dengan cepat sekali, tangan kanan
menangkap tongkat, tangan kiri menyambar ke depan untuk mencengkeram dada lawan yang dibencinya ini. Hek-bin
Mo-kai tadi telah berusaha menarik kembali tongkatnya, namun sia-sia belaka dan melihat serangan pemuda itu,
dia cepat melangkah mundur dan terpaksa dia melepaskan tongkatnya. Pada saat itu, Lo-thian Sin-kai telah
menyerang pula dengan tongkatnya yang menghantam ke arah kepala Thian Sin. Melihat serangan yang amat hebat
ini, Thian Sin yang telah merampas tongkat Hek-bin Mo-kai, menggunakan tongkat itu untuk menangkis sambil
mengerahkan tenaga sekuatnya.
"Krakkk!" Tongkat di tangannya patah menjadi dua, demikian pula tongkat di tangan Lo-thian Sin-kai! Ketua
pertama dari Hwa-i Kai-pang ini terkejut bukan main, apalagi pada saat itu, Thian Sin berseru keras dan
potongan tongkatnya tadi telah dilontarkan ke depan. Hek-bin Mo-kai sedang lari untuk mengambil senjata baru
dari rak, dan Thian Sin yang mengira bahwa kakek muka hitam itu hendak melarikan diri, telah mempergunakan
kepandaiannya menyambitkan potongan tongkat di tangannya.
"Aughhh...!" Hek-bin Mo-kai berteriak dan roboh, paha kirinya tertusuk potongan tongkat sampai tembus! Melihat
ini, Lo-thian Sin-kai terkejut dan marah, lalu menubruk ke depan pada saat Thian Sin menyambitkan tongkatnya
tadi dan menggunakan kedua tangannya sambil mengerahkan sin-kang yang amat kuat untuk menghantam ke arah dada
dan lambung pemuda itu. Inilah jurus yang paling hebat dari Ta-houw Sin-ciang-hoat. Jangankan manusia, bahkan
harimau yang kuat sekalipun akan tewas seketika terkena hantaman yang dapat menghancurkan isi dada dan perut ini.
Thian Sin yang sedang menyambitkan potongan tongkat itu, melihat hantaman ini, akan tetapi dia tidak peduli dan membiarkan dada dan lambungnya dipukul!
"Plak! Plak! Krekkk...!" Tubuh Lo-thian Sin-kai terpelanting dengan tulang pundak kanan kiri remuk, sedangkan
tubuh Thian Sin hanya terguncang sedikit saja. Kiranya ketika menerima pukulan pada dada dan lambungnya itu,
Thian Sin menerima pukulan lawan sambil balas menghantam dengan ketukan jari-jari tangannya ke arah kedua pundak lawan yang membuat tulang-tulang kedua pundak itu patah. Sengaja Thian Sin tidak membunuhnya, melainkan merobohkan kedua orang kakek itu lebih dulu.
Tentu saja robohnya dua orang ketua ini membuat tiga orang murid utamanya terkejut dan gentar bukan main. Namun
mereka tidak diberi kesempatan lagi. Thian Sin bergerak cepat sekali dan dengan beberapa kali serangan saja,
tiga orang itu telah roboh dan tewas! Tujuh orang murid tingkat tiga yang tadinya sudah mengepung, kini maju
mengeroyok, ditambah lagi dengan para anggauta pengemis yang datang mendengar keributan di ruangan itu.
Terjadilah pengeroyokan, namun Thian Sin mengamuk dan dalam waktu singkat telah merobohkan dan menewaskan
beberapa orang murid-murid rendahan sehingga tubuh-tubuh yang telah menjadi mayat itu malang melintang di
ruangan itu. Melihat ini, kedua orang ketua Hwa-i Kai-pang terkejut dan ketakutan, akan tetapi mereka itu tidak
mampu meninggalkan lantai di mana mereka roboh tadi. Lo-thian Sin-kai telah remuk kedua pundaknya sehingga
untuk bangun saja dia tidak mampu, sedangkan Hek-bin Mo-kai yang pahanya tertusuk tongkat itupun tidak mampu
bangkit. Mereka berteriak-teriak beberapa kali untuk minta tolong kepada anak buah mereka agar mereka dibawa
melarikan diri, namun setiap orang pengemis yang mencoba mendekatinya tentu dirobohkan oleh Thian Sin.
Akhirnya, para pengemis itu maklum bahwa melawan pemuda ini sama dengan membunuh diri, maka sisanya, kurang
dari setengahnya, lari ketakutan meninggalkan sarang mereka dan ada yang cepat melapor kepada komandan pasukan
penjaga keamanan kota raja di benteng.
Melihat sisa para pengeroyoknya melarikan diri, Thian Sin tidak mau mengejar. Yang dicarinya adalah dua orang
ketua itu dan kini mereka telah roboh tak mampu bergerak lagi. Sambil tersenyum dia menghampiri mereka setelah
dia menendang tubuh Hek-bin Mo-kai sehingga tubuh orang ini terlempar di dekat suhengnya. Mereka berdua hanya
dapat memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata mengandung kebencian dan juga rasa serem. Belum pernah
mereka bertemu dengan seorang pemuda yang selihai ini, yang mengingatkan mereka akan kelihaian mendiang Pangeran Ceng Han Houw.
"Hemm, kiranya engkaulah yang disebut Pendekar Sadis!" akhirnya Lo-thian Sin-kai berkata. Dia tidak
mengharapkan depat hidup lagi, akan tetapi diapun tidak takut mati. Betapapun juga Sin-kai yang gagah perkasa
dan lihai, dan ketika mereka itu ikut mengeroyok dan membunuh Pangeran Ceng Han Houw, merasa berada di fihak
benar karena pangeran itu dianggap seorang pemberontak dan seorang yang amat jahat, dan sudah pernah mengacau
dunia kang-ouw pula.
Thian Sin tersenyum. "Salah kalian sendiri, sudah mendengar aku datang mencari kalian, kalian tidak mau
bersembunyi. Ha-ha, sekarang bagaimama? Coba ceritakan begaimana kalian dahulu ikut mengeroyok dan membunuh ayah bundaku."
"Ayahmu seorang penjahat, seorang pemberontak yang kejam!" bentak Lo-thian Sin-kai.
"Dan engkau tidak kalah jahatnya dengan ayahmu!" Hek-bin Mo-kai juga memaki.
Thian Sin hanya tersenyum. "Apakah kalian tidak jahat? Apakah anak buah kalian yang melakukan pemerasan di kota
raja tidak busuk? Memang, melihat kebusukan orang lain, betapapun kecilnya, amatlah mudah, sebaliknya,
kebusukan sendiri segede gajah takkan pernah kalian lihat!"
"Tidak perlu banyak cakap lagi, kami sudah kalah, mau bunuh kami, bunuhlah!" bentak Lo-thian Sin-kai.
"Kami adalah laki-laki sejati yang tak takut mati!" Hek-bin Mo-kai juga berkata, sambil menyeringai menahan sakit.
"Bagus! Gagah perkasa tak takut mati, akan tetapi pengecut hina, beraninya hanya mengandalkan pengeroyokan
banyak orang, dahulu terhadap ayah bundaku dan sekarang terhadap diriku."
"Bocah setan yang sombong tak perlu banyak mulut lagi!" Hek-bin Mo-kai membentak. Thian Sin tersenyum lebar dan
tangannya bergerak ke bawah, dua kali jari tangannya menotok ke arah dada dan leher Hek-bin Mo-kai. Dan kembali
dia bergerak melakukan penotokan yang sama terhadap tubuh Lo-thian Sin-kai.
Mula-mula kedua orang kakek itu tidak merasakan sesuatu, hanya ada hawa dingin menyelinap ke dalam bagian tubuh
yang tertotok jari tangan pemuda itu. Akan tetapi, mulailah terasa gatal-gatal dan dingin, lalu rasa gatal itu
semakin menghebat disertai rasa perih seperti ditusuk-tusuk jarum! Kedua orang kakek itu berusaha
mempertahankan diri, akan tetapi rasa nyeri yang tidak begitu hebat namun makin lama makin terasa itu mulai
menggerogoti perasaan mereka. Rasa gatal sukar dapat dipertahankan orang, apalagi rasa perih yang sedikit demi
sedikit menusuk-nusuk perasaan itu. Rasa nyeri yang hebat sekali dapat mematikan rasa, atau dapat membuat orang
pingsan karenanya. Akan tetapi rasa gatal-gatal disertai perih sedikit demi sedikit itu menyerap makin hebat
dan keduanya tidak dapat mengerahkan sin-kang karena tenaga mereka telah punah oleh totokan itu. Mereka
berusaha mempertahankan diri tanpa mengeluh, dan keduanya sampai menggigit bibir mereka. Akan tetapi rasa nyeri
makin hebat dan bibir mereka pecah-pecah oleh gigitan sendiri. Darah mengalir membasahi mulut mereka. Sungguh
keadaan mereka amat mengerikan. Muka mereka penuh dengan keringat dan tubuh mereka menggeliat-geliat, dan
akhirnya keduanya tidak dapat bertahan lagi dan mulailah mereka mengeluh. Mula-mula hanya rintihan-rintihan
saja, masih mereka tahan, akan tetapi tak lama kemudian mereka sudah menangis dan meraung-raung minta mati! Dan
Thian Sin berdiri sambil bertolak pinggang, tersenyum menyaksikan dua orang lawan yang disiksanya sedemikian hebat itu. Dia tadi telah menotok mereka dengan pengerahan tenaga sin-kang yang dipelalarinya dari kitab ayahnya, dan dia telah membuat mereka itu keracunan sedikit demi sedikit.
Raungan-raungan kedua orang kakek itu masih terdengar, sungguhpun semakin lama semakin lemah dan pada saat itu,terdengar suara hiruk pikuk di luar, lalu tak lama kemudian banyak perajurit penjaga keamanan kota raja yang mengurung tempat itu menyerbu ke dalam! Melihat betapa dua orang kakek yang menjadi musuhnya itu telah mulai sekarat dan nyawa mereka tak mungkin dapat tertolong lagi, Thian Sin tertawa bergelak dan tubuhnya meloncat ke
atas, menerobos genteng.
Beberapa orang anggauta kai-pang dan perajurit yang berjaga di atas genteng, terkejut melihat munculnya pemuda
itu yang menerobos genteng. Mereka mencoba untuk menyerang, dan akibatnya mereka sendiri yang terlempar dan
jatuh tunggang-langgang di atas genteng, ada pula yang terus menggelinding ke bawah dan tentu saja mengalami
kematian terbanting dari atas genteng, ternyata pemuda itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Bekas
amukannya yang ada, yaitu kematian banyak sekali anggauta kai-pang dan beberapa orang perajurit, dan yang amat
mengerikan adalah kematian dua orang ketua kai-pang itu. Wajah mereka masih menyeringai, mata mereka terbelalak
dan wajah itu masih membayangkan rasa nyeri yang luar biasa, akan tetapi nyawa mereka telah melayang.
Gegerlah ibu kota atau kota raja dengan terjadinya peristiwa yang mengerikan ini, dan semakin terkenallah nama
Pendekar Sadis karena kini semua orang sudah dapat menduga, melihat dari cara-cara kematian yang disebabkannya,
bahwa yang mengamuk itu tentu bukan lain Pendekar Sadis yang banyak disohorkan orang akhir-akhir ini.
Bukan hanya sampai di situ saja sepak terjang Thian Sin di kota raja. Dia memang sudah berhasil membunuh
Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai, dua orang di antara para pengeroyok dan pembunuh ayah bundanya. Akan
tetapi dia belum puas karena dia belum berhasil menemukan orang yang lebih dibencinya dari pada yang lain,
yaitu Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam. Seperti diketahui, Tok-ciang Sian-jin ini adalah seorang tokoh
Jeng-hwa-pang yang juga ikut pengeroyok dan membunuh ayah bundanya. Dan bahkan lebih dari itu, orang ini adalah
yang terpandai di antara mereka yang mengeroyok ayah bundanya. Dan sampai kini dia belum juga berhasil
membalas, bahkan belum tahu di mana adanya Tok-ciang Sian-jin yang dicari-carinya itu. Maka, Thian Sin lalu
mendatangi para tokoh kang-ouw, terutama sekali para penjahat di sekitar kota raja. Maksudnya untuk mencari
keterangan dan menyelidiki di mana adanya Tok-ciang Sian-jin, akan tetapi caranya menimbulkan kegemparan hebat
di kota raja. Terhadap para tokoh dunia hitam ini, Thian Sin bersikap luar biasa kejamnya. Dia menangkap,
menyiksa, membunuh, memaksa kepada mereka itu untuk membuka rahasia di mana adanya Tok-ciang Sian-jin. Dan
untuk itu dia tidak segan-segan melakukan kekejaman yang mendirikan bulu roma terhadap para penjahat itu. Makin
terkenallah nama Pendekar Sadis dan ditakuti oleh kaum penjahat melebihi iblis sendiri. Belum pernah ada tokoh
atau datuk sesat sekalipun lebih mengerikan dan lebih ditakuti oleh kaum sesat seperti Pendekar Sadis ini.
Thian Sin amat membenci kepada penjahat karena diangapnya bahwa penjahat-penjahat itulah yang telah merusak
hidupnya, telah mencelakakan orang-orang yang dicintanya dan karena itu, dia telah mengambil keputusan untuk
memusuhi semua penjahat di dunia ini! Ada kalanya dia memasang mata di pasar dan tempat-tempat ramai dan kalau
dia melihat ada penjahat yang melakukan pencopetan saja, dia tidak segan-segan untuk turun tangan dan
mematahkan tulang lengan pencopet itu. Bahkan di waktu malam dia sering keluar dan sekali dilihatnya ada
pencuri, tentu pencuri itu akan dibuntungi tangannya! Pemerkosa jangan harap dapat hidup kalau bertemu
dengannya, karena Thian Sin segera akan menghukumnya secara mengerikan, yaitu membuntungi alat kelaminnya!
Belum ada sebulan dia datang ke kota raja, keadaan kota raja menjadi gempar. Bukan hanya para penjahat yang
ketakutan setengah mati, bahkan penduduk kota raja juga merasa gelisah dan ngeri. Siapapun adanya dia, setiap
orang sudah tentu tidak akan luput daripada kesalahan, dan dia tentu merasa ngeri untuk dilihat dan dihukum
oleh seorang seperti Pendekar Sadis ini.
Pada suatu senja, Thian Sin kembali ke dalam kuil tua di mana dia menyembunyikan diri karena dia tahu bahwa
pasukan kota raja selalu mencarinya. Sudah beberapa kali dia bertemu dengan penyelidik-penyelidik dari kota
raja itu, akan tetapi selalu dia dapat membuat mereka tidak berdaya. Untuk dapat beristirahat dengan tanpa
banyak gangguan, dia lalu mencari penginapan di luar kota raja dan akhirnya dia menemukan sebuah kuil tua yang
dikabarkan orang sebagai kuil tua kosong yang banyak hantunya. Sungguh kebetulan, pikirnya.
Kalau kuil itu berhantu, tentu tidak ada orang yang akan berani mendekatinya. Dari penduduk di kampung-kampung
sekitar kuil yang berada di tempat sunyi di lereng pegunungan sebelah utara kota raja ini, dia mendengar bahwa
siapapun yang berani datang ke kuil ini, apalagi di malam hari, tentu akan bertemu dengan hantu dan kabarnya
sudah ada beberapa orang yang mati dengan mengerikan di tempat itu. Mati menggantung diri, atau digantung
hantu, tak ada yang dapat tahu dengan pasti. Pendeknya, di sebelah belakang kuil itu terdapat sebuah tengkorak
manusia yang masih tergantung di batang pohon. Hanya tinggal kepala dan leher saja yang tergantung, sedangkan
tulang-tulang bagian lainnya telah runtuh dan bertumpuk di bawah pohon itu tanpa ada yang berani mengganggunya.
Kepercayaan akan tahyul membuat orang yang memiliki kepandaian tinggi sekalipun menjadi penakut. Orang yang
lihai boleh jadi tidak takut menghadapi pengeroyokan banyak lawan tangguh dan bahkan tidak gentar menghadapi kematian. Akan tetapi, karena kepercayaan tahyul yang telah berakar di dalam hati mereka, ditanamkan sejak kecil, membuat mereka atau orang yang tinggi ilmu silatnya sekalipun dapat lari tunggang langgang. Mereka itu merasa serem.
Akan tetapi Thian Sin sama sekali tidak merasa takut. Dia telah sering menghadapi hal-hal menyeramkan, yaitu
ketika dia bertapa di dalam gua dan mempelajari ilmu sihir dari kakek pertapa di Pegunungan Himalaya. Kalau memang ada hantunya, biarlah aku berkenalan dengan hantu itu, pikirnya, siapa tahu dia akan dapat mempelajari ilmu yang lebih hebat lagi dari hantu itu!
Maka, beberapa malam yang lalu, ketika dia untuk pertama kali mendatangi tempat itu, dia melakukan pengintaian.
Tidak ada apa-apa di situ, sunyi saja. Akan tetapi ketika dia sedang duduk beristirahat di dalam kuil itu,
tiba-tiba dia mendengar suara melengking yang aneh. Seketika bulu tengkuknya meremang, akan tetapi dia
melawannya dan dengan mengusap tengkuknya, rasa meremang pun lenyaplah. Dia lalu berindap-indap menuju ke arah
suara yang datangnya dari belakang kuil di mana terdapat pohon yang ada tengkoraknya tergantung itu. Dia
melangkah maju menghampiri karena malam itu gelap, cuaca hanya diterangi oleh sinar bulan yang sepotong. Ketika
dia sudah dekat untuk dapat melihat tengkorak itu, dia mendapat kenyataan bahwa suara itu memang datang dari
arah tengkorak itu dan kembali bulu tengkuknya meremang ketika dia melihat tengkorak itu bergoyang-goyang!
Padahal pada saat itu tidak ada angin sama sekali! Kalau bukan Thian Sin yang menghadapi penglihatan dan
pendengaran seperti itu, agaknya tentu sudah melarikan diri karena sepandai-pandainya manusia, kalau harus
menghadapi sesuatu yang tidak dimengertinya dan yang berada di luar kemampuannya sebagai manusia, apalagi
setelah segala yang didengarnya sejak kecil tentang ketahyulan yang menyeramkan, tentu dia sudah ketakutan.
Akan tetapi, biarpun bulu tengkuknya terasa dingin, kepalanya terasa berat dan seperti membengkak besar, Thian
Sin kembali mengusap tengkuknya dan dia malah maju menghampiri!
Agaknya "hantu" itu menjadi penasaran melihat pemuda ini tidak ketakutan seperti orang-orang lain yang pernah
melihat dan mendengarnya, maka suara melengking itu menjadi semakin nyaring menyeramkan, dan tengkorak yang
bergantungan pada pohon itu juga bergoyang-goyang lebih keras lagi, seolah-olah hendak terbang dan menubruknya.
Thian Sin tidak berhenti dan terus menghampiri, dan pada saat itu, terdengar teriakan parau menyeramkan dari
atas pohon dan dari atas itu melayanglah sesosok tubuh tinggi besar hitam seolah-olah bayangan itu hendak
menyerbu Thian Sin. Pemuda ini menghentikan langkahnya dan siap sedia menyambut terkaman bayangan tubuh tinggi
besar yang tidak kelihatan jelas dalam keremangan cuaca itu, akan tetapi... tubuh itu berhenti di tengah udara
dan tergantung-gantung. Kiranya bayangan tubuh manusia yang bergantung diri atau digantung orang! Thian Sin
meloncat dan tangannya menyambar, maksudnya untuk menolong orang yang tergantung itu dan sekali tangannya
bergerak, tali yang menggantung orang itu putus dan diapun sudah memondong tubuh itu ke bawah. Akan tetapi
ternyata tubuh itu hanyalah sepotong kayu besar yang diberi pakaian! Mengertilah dia bahwa ada yang
mempermainkannya dan kalau ada yang main hantu-hantuan maka tentu yang main-main itu adalah manusia! Karena
suara itu datang dari atas pohon, maka Thian Sin lalu meloncat lagi, kini menerjang ke tengah daun-daun pohon
yang rindang itu. Ada pedang menyambutnya, akan tetapi dengan gerakan tangannya, Thian Sin dapat membuat pedang
itu terpukul ke samping dan orang yang memegang pedang itu tidak kuat menyambut terjangan Thian Sin. Sambil
mengeluarkan teriakan orang itu terjatuh dari atas pohon! Suara berdebuk keras membuktikan bahwa orang itu
tidak mempunyai ilmu gin-kang yang baik dan tubuhnya telah terbanting keras ke atas tanah. Thian Sin
mengikutinya dan melompat turun, lalu menghampiri tubuh yang menggereng kesakitan itu. Kirinya dia seorang
laki-laki setengah tua yang mengerang kesakitan dan napasnya empas-empis karena tadi dia telah terkena pukulan
tangan sakti Thian Sin yang mengenai dadanyap ditambah lagi dia terbanting roboh ke atas tanah yang mematahkan beberapa tulang iganya.
"Hemm, mengapa kau menakut-nakuti orang?" Thian Sin membentak.
Orang itu sukar sekali menjawab karena dia menderita sakit bukan main dan napasnya tinggal satu-satu,
"...agar... tempat ini menjadi tempatku... tanpa diganggu orang... dan... dan... orang-orang yang ketakutan...
meninggalkan barang-barangnya..." Orang itu tidak dapat bicara terus karena kepalanya terkulai dan tewas.
Pukulan Thian Sin tadi memang hebat sekali, dilakukan karena menduga bahwa ada lawan tangguh bersembunyi di
dalam pohon. Thian Sin menarik napas panjang dan sejenak dia berdiri termenung. Orang ini mati karena kesalahan
sendiri, dan pula, memang orang itu bukan orang baik-baik, agaknya menakut-nakuti orang selain untuk membuat
orang takut datang ke tempat itu, juga agaknya untuk memperoleh barang-barang orang yang lari ketakutan.
Betapapun juga, orang ini telah berjasa baginya, telah memberikan sebuah tempat persembunyian yang baik sekali.
Maka malam itu juga Thian Sin menggali lubang dan mengubur jenazahnya.
Rasa takut memang selalu mempengaruhi kehidupan manusia. Hampir seluruh manusia di dunia ini hidup dalam
cengkeraman rasa takut yang dapat juga dinamakan kekhawatiran, kegelisahan, dan sebagainya. Pendeknya, rasa
takut akan sesuatu. Tentu saja perasaan ini mempengaruhi kehidupannya, karena setiap tindakan yang didasari
oleh rasa takut tentu merupakan suatu tindakan yang tidak wajar dan palsu. Dapatkah kita hidup bebas dari rasa
takut? Apakah sesungguhnya perasaan takut akan sesuatu ini? Kalau kita mau mengamatinya dengan waspada, maka
kita akan dapat melihatnya bahwa rasa takut timbul dari permainan pikiran kita sendiri yang membayangkan
sesuatu yang tidak ada, sesuatu yang belum tiba, sesuatu yang dibayangkan akan ada dan akan menyusahkan diri
kita. Kalau tidak ada pikiran yang membayang-bayangkan keadaan yang belum ada ini, maka rasa takutpun tidak
akan ada. Orang yang takut akan penyakit menular yang sedang mengamuk tentu belum terkena penyakit itu, orang
yang takut akan kehilangan pekerjaan tentu belum kehilangan pekerjaan, orang yang takut akan kematian tentu
belum mati. Demikian pula, orang yang takut akan setan tentu belum bertemu dengan yang ditakutinya itu. Maka
dari itu, apabila menghadapi setiap persoalan, setiap peristiwa, kita membuka mata dengan waspada tanpa
membayangkan hal-hal yang belum terjadi, tindakan kita tentu akan lebih tepat. Seperti halnya Thian Sin, ketika
menghadapi segala penglihatan dan pendengaran itu, dia tidak membayangkan hal-hal yang mengerikan, melainkan
dengan waspada dia mengamati, maka dia terbebas dari rasa takut dan dapat menanggulangi keadaan yang bagaimanapun juga.
Ada yang mengatakan bahwa kita takut setan karena kita tidak mengertinya, karena kita tidak mengenalnya.
Benarkah itu? Kalau kita mau menyelidiki, maka rasa takut akan setan itu sama sekali bukan timbul karena kita tidak mengenalnya.
Orang yang tidak pernah mengenal setan, yang tidak pernah mendengar cerita tentang setan, anak-anak yang belum
pernah mendengar sama sekali tentang setan, tidak mungkin akan takut! Sebaliknya, yang kita takuti adalah
karena kita sudah tahu tentang setan, sudah mendengar tentang setan, bahwa setan itu menakutkan, mengerikan,
menyeramkan dan sebagainya. Maka, takutlah kita, karena pikiran kita membayangkan hal-hal yang menakutkan itu!
Sederhana sekali, bukan? Maka sekali lagi, dapatkah kita hidup bebas dari rasa takut?
Senja itu Thian Sin kembali ke tempat persembunyiannya yang sunyi itu. Seperti biasa kalau dia hendak
beristirahat di tempat ini, dia tidak langsung memasuki kuil. Dia tahu bahwa pada waktu itu, dia telah menanam
banyak sekali bibit permusuhan dan pasti banyak orang pandai yang akan mencarinya dan mencelakainya. Oleh
karena itu, dia selalu hati-hati dan ketika dia tiba di tempat sunyi itu, diapun tidak langsung memasuki kuil
tua. Dia mengambil jalan memutar, lebih dulu mengelilingi kuil itu untuk melihat kalau-kalau ada orang
bersembunyi. Ketika dia mulai memutari kuil, tiba-tiba dia mendengar suara isak tangis perlahan yang datangnya
dari arah belakang kuil di mana terdapat pohon besar yang menakutkan itu. Hemm, apakah ada orang gila lain lagi
yang hendak menakut-nakutinya, pikirnya. Ataukah ada orang pandai yang datang untuk membalas segala
perbuatannya terhadap orang-orang jahat selama beberapa pekan di kota raja ini? Dengan hati-hati Thian Sin lalu
pergi ke belakang kuil, dan diapun terheran-heran melihat ada sesosok tubuh wanita berlutut di bawah pohon
besar itu, tak jauh dari tengkorak yang masih tergantung, dan menangis terisak-isak!
Hemm, apakah ini? Perangkap? Thian Sin bersikap hati-hati sekali dan dengan kepandaiannya, dia berloncatan jauh
dan mengelilingi pohon itu dari jauh untuk melihat kalau-kalau kehadiran wanita itu merupakan perangkap
untuknya. Akan tetapi sunyi saja. Tidak ada orang lain kecuali wanita itu sendiri yang masih menangis. Maka
diapun tidak curiga lagi dan cepat menghampiri, lalu setelah berdiri dekat diapun menegur halus.
"Siapakah engkau? Mengapa kau menangis di sini?"
Wanita itu nampak terkejut dan mengangkat muka memandang. Thian Sin melihat sebuah wajah yang cukup manis,
dengan usia kurang dari tiga puluh tahun dan wanita itu segera bangkit berdiri dan menghadapi Thian Sin dengan
sikap marah. "Kenapa engkau menggangguku? Pergilah! Urusanku tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Pergi!"
Akan tetapi tentu saja Thian Sin tidak mau pergi, bahkan dia mengerutkan alisnya dan berkata, "Hemm, engkaulah
yang menggangguku, engkaulah yang harus pergi dari sini. Tempat ini adalah tempatku. Kau siapa dan apa maksudmu..."
"Persetan denganmu!" bentak wanita itu, yang segera menerjang dan memukulnya! Thian Sin melihat gerakan orang
yang paham ilmu silat, bahkan pukulannya cukup cepat dan keras. Dia menangkap lengan yang memukulnya itu dan
sekali memutarnya, tubuh wanita itu terpelanting jatuh. Akan tetapi, dengan nekat wanita itu bangkit lagi dan
menyerang lagi, kini menendang dengan tendangan cepat dan kuat ke arah pusar. Thian juga menangkap kaki itu dan
mendorongnya sehingga wanita itu jatuh terbanting lebih keras lagi!
Wanita itu menangis lagi. "Hu-huuuh... kau... kamu manusia kejam... !" Dan iapun menghampiri pohon di mana sudah terpasang selendangnya, sehelai selendang yang diikatkan ujungnya di cabang, dekat tempat tengkorak bergantung, kemudian wanita itu meloncat, memegang selendang yang tergantung itu dan memasang ujungnya pada lehernya, kemudian melepaskan kedua tangannya sehingga lehernya tergantung!
Thian Sin terkejut sekali, akan tetapi dia berdiri dan tetap tersenyum. Ah, wanita itu tentu hanya hendak menggertak saja, pikirnya. Wanita seperti itu tentu bisa saja mempergunakan akal, pura-pura gantung diri untuk menarik perhatiannya, atau mungkin juga ada udang di balik batu. Siapa tahu wanita itu hendak menjebaknya. Maka diapun diam saja, bahkan bersedakap dan berdiri memandang sejenak, kemudian membalikkan tubuhnya dan memasuki kuil!
Wanita itu sejak menggantung diri tadi memandang kepada Thian Sin dengan sinar mata tajam dan kini tubuhnya
berkelojotan, lidahnya terjulur keluar, matanya melotot, akan tetapi ia tetap tidak mau mempergunakan kedua
tangannya untuk menahan selendang. Kalau dikehendakinya, tentu saja ia dapat mempergunakan tangannya untuk
menahan selendang dan melepaskan lehernya dari gantongan itu. Akan tetapi agaknya keputusannya sudah bulat dan
ia memilih mati di tempat gantungan itu, berdekatan dengan tengkorak orang yang dahulu telah menggantung diri
sampai mati di situ dan yang arwahnya kabarnya menjadi setan di tempat itu.
Setelah tubuh itu tidak berkejojotan lagi, barulah Thian Sin berloncatan keluar dari kuil menuju ke pohon itu.
Dengan mudah saja dia menurunkan wanita itu dari tempat gantungan, memondongnya memasuki kuil di mana telah
dinyalakan sebatang lilin. Dia biasa tidur di lantai yang ditilami jerami kering dan seilmut. Direbahkannya
tubuh itu ke atas selimut dan dia memeriksanya. Memang wanita itu telah pingsan. Cepat dia mengurut leher itu,
menotok beberapa jalan darah dan memaksa bibir itu terbuka dan dituanginya beberapa teguk air dari guci airnya.
Tak lama kemudian wanita itu membuka mata, mengeluh dan nampak bingung.
"Su... sudah matikah...?" akan tetapi ia melihat wajah Thian Sin dan cepat ia memukul sambil meloncat bangun.
Thian Sin menangkap tangan itu.
"Tenanglah. Aku menyelamatkanmu dari kematian dan engkau malah hendak memukulku?"
"Kenapa kau menurunkan aku? Kenapa tidak membiarkan aku mati. Ah, aku ingin mati saja! Aku ingin mati...
huh-huuuhh..." dan wanita itupun menangis lagi, mengguguk.
Thian Sin merasa kasihan. Tadinya dia merasa curiga, akan tetapi setelah melihat betapa wanita itu
sungguh-sungguh hendak membunuh diri, dia merasa kasihan dan timbul keinginannya untuk menolong wanita yang
merasa berduka dan lebih baik memilih mati itu.
"Katakanlah kepadaku, mengapa engkau ingin mati? Kalau ada rasa penasaran, beritahukan padaku dan aku akan menolongmu."
Wanita itu menghentikan tangisnya dan memandang kepada wajah Thian Sin, lalu menangis lagi. "Tak mungkin..."
isaknya. "Biarpun engkau dapat mengalahkan aku, akan tetapi seorang pemuda pelajar macam engkau ini mana
mungkin dapat menandingi Toan-ong-ya?" Diapun menangis lagi.
Diam-diam Thian Sin tertarik. Dia sudah pernah mendengar nama ini. Toan-ong-ya adalah seorang pangeran tua yang
kabarnya tidak aktip lagi dalam pemerintahan, akan tetapi orang itu terkenal sebagai seorang pangeran yang kaya
raya, memiliki ilmu silat cukup tinggi, dan terutama sekali, amat dermawan dan dikenal baik oleh para tokoh
persilatan. Pangeran tua yang dikabarkan kaya raya dan gagah itu bagaimana kini dapat membuat seorang wanita
muda yang manis ini menderita dan ingin membunuh diri?
"Ceritakanlah, jangankan Toan-ong-ya, biarpun raja neraka sekali, kalau kuanggap cukup memenuhi syarat untuk
dibasmi, akan kubunuh dia!" katanya dengan nada suara yang serius dan halus, namun mengandung ancaman yang mendirikan bulu roma.
Wanita itu masih menangis, membuat Thian Sin menjadi jengkel juga. "Ceritakanlah dan aku akan membantumu. Kalau
engkau tidak mau, nah, pergi dari sini dan kalau kau mau bunuh diri, silakan, akan tetapi jangan di tempatku sini!"
Wanita itu menghentikan tangisnya, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Sin.
"Benarkah taihiap sudi menolongku, membalaskan dendam sakit hatiku yang sedalam lautan?"
"Ceritakanlah apa yang terjadi," potong Thian Sin.
"Pangeran terkutuk itu telah membunuh ayahku, suamiku, lalu memperkosaku dan memaksaku menjadi selirnya. Aku
tak tahan lagi dan hendak membunuhnya untuk membalas kematian ayahku dan suamiku, akan tetapi dia terlalu kuat
bagiku dan aku malah dihinanya... sampai aku melarikan diri dan pergi ke tempat yang terkenal ada hantunya ini untuk membunuh diri..."
Thian Sin mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tidak mau menelan dan menerima saja cerita sepihak macam ini.
"Mengapa ayahmu dan suamimu dibunuh oleh pangeran itu?"
Wanita itu lalu bercerita yang kadang-kadang diselingi isak. Ia bernama Louw Kim Lan, sudah beberapa tahun
lamanya menjadi isteri dari seorang pemburu she Gak yang pekerjaannya memburu binatang buas berdua dengan
ayahnya. Mereka berburu di hutan-hutan sebelah utara kota raja dan mereka telah mendapatkan seorang langganan
yang baik, yaitu keluarga Pangeran Toan itulah. Pada suatu hari, ketika Kim Lan membawa kulit binatang hutan
untuk dikirimkan ke rumah Toan-ong-ya, kebetulan sekali pangeran tua itu sendiri yang menerimanya dan agaknya
pangeran yang terkenal kaya raya dan dermawan akan tetapi juga terkenal suka bermain-main dengan wanita-wanita
cantik itu agaknya tertarik kepada Kim Lan yang manis.
Kim Lan dibujuk dan diancam, bahkan Sang Pangeran itu mempergunakan kekerasan untuk menahannya di dalam
istananya dan akhimya Kim Lan tak dapat melawan dan terpaksa harus menyerahkan diri kepada pangeran tua yang
juga adalah seorang ahli silat tinggi yang amat lihai itu. Suaminya dan ayahnya yang sudah lama menjadi teman
berburu suaminya, jauh sebelum ia menikah dengan pemburu itu, malam-malam datang menyelidiki dan dalam
pertempuran melawan Toan-ong-ya, keduanya roboh tewas. Selanjutnya, Kim Lan diambil sebagai selir oleh pangeran
itu. Ketika malam tadi Kim Lan mencari kesempatan untuk membunuh pangeran itu dengan racun ia ketahuan dan
biarpun ia diampuni, namun ia diusir pergi dari istana.
"Demikianlah, taihiap. Apa dayaku sebagai seorang wanita lemah? Biarpun aku mengerti sedikit ilmu silat, akan
tetapi mana mungkin aku menandingi Toan-ong-ya? Baru melawan para pengawalnya saja aku tidak akan mampu. Karena
putus harapan dan penasaran, aku mengambil keputusan untuk mati dan menyusul ayah dan suamiku saja!" Kim Lan
mengakhiri penuturannya dan menangis lagi.
Thian Sin sudah mengerutkan alisnya dan mengepal tinju tangannya. "Baik, malam ini juga Toan-ong-ya akan
kubunuh, akan tetapi engkau harus ikut untuk membuktikan kebenaran ceritamu!" katanya. Wanita itu terkejut dan
menggeleng kepala.
"Tidak... tidak... mana aku berani ke sana?"
"Jangan takut, ada aku yang akan melindungimu. Aku berjanji, takkan ada orang yang dapat mengganggumu seujung rambutmu pun. Mari!"
Dengan terpaksa, akan tetapi juga penuh harapan, wanita yang bernama Kim Lan itu lalu berlari menuju ke dalam kota raja. Ketika mereka tiba di pintu gerbang kota raja, Thian Sin memondongnya dan membawanya melompati tembok kota raja yang tinggi itu, membuat Kim Lan menahan napas dan juga kagum bukan main. Setelah mereka turun di sebelah dalam tembok itu, Kim Lan berkata. "Ah, sekarang aku percaya bahwa taihiap tentu akan dapat membantuku menghadapi pangeran terkutuk itu!"
Thian Sin tidak menjawab, melainkan menurunkan Kim Lan dan mereka melanjutkan perjalanan menuju ke istana pangeran itu. Suasana sudah sunyi karena waktu telah mulai menjelang tengah malam. Dengan mudahnya mereka tiba di sebelah belakang tembok yang mengurung istana Pangeran Toan itu. Di sini, kembali Thian Sin memondong tubuh Kim Lan dan meloncat ke atas pagar tembok, lalu mereka, atas petunjuk Kim Lan, turun ke dalam taman di belakang istana. Dari sini, Kim Lan menjadi penunjuk jalan. Dengan berindap-indap mereka memasuki bangunan yang besar dan megah itu, melalui pintu-pintu rahasia kecil yang dikenal baik oleh Kim Lan. Setelah memeriksa dengan berindap-indap, akhirnya mereka tiba di luar sebuah ruangan tamu di belakang, di mana pangeran itu suka menerima tamu-tamunya yang penting atau sahabat-sahabat baiknya. Dan ruangan itu masih terang, berarti bahwa Sang Pangeran masih berada di situ, dan terdengarlah lapat-lapat suara orang bicara di balik pintu ruangan itu.
"Dia berada di dalam ruangan menamu tamunya..." Kim Lan berbisik di dekat telinga Thian Sin.
Thian Sin mengangguk dan balas berbisik, "Aku akan naik dan mengintai dari atas, engkau harus dapat membuktikan
ceritamu kepadaku tadi, baru aku akan turun tangan." Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Thian Sin
telah lenyap dari depan wanita itu. Ditinggal seperti ini, Kim Lan terkejut dan gelisah. Akan tetapi ia percaya
bahwa pemuda itu pasti mengintai dari atas dan ia harus dapat meyakinkan hati pemuda itu akan kebenaran
ceritanya tadi, dan kalau pemuda itu turun tangan, ia yakin bahwa musuh besarnya pasti akan dapat terbunuh dan
dendamnya akan terbalas secara memuaskan sekali! Ia memberi kesempatan beberapa waktu agar pemuda itu dapat
menemukan tempat pengintaian yang baik. Setelah lewat beberapa waktu, barulah ia mendorong pintu ruangan itu
dan masuk ke dalam ruangan. Perbuatannya ini mengejutkan tiga orang laki-laki yang sedang duduk menghadapi meja
dan bercakap-cakap di dalam ruangan itu. Mereka menghadapi cawan dan guci arak dan beberapa macam makanan
kering. Tadinya pangeran tua itu mengira bahwa ada pelayan lancang yang memasuki ruangan, akan tetapi ketika
dia melihat siapa yang masuk, alisnya berkerut dan dia bangkit berdiri dengan muka merah karena marah.
"Hemm, perempuan rendah budi! Engkau berani datang lagi ke sini?" bentaknya. Dari atas atap yang sudah dia
lubangi, Thian Sin mengintai. Dia melihat bahwa yang berdiri dan membentak itu adalah seorang laki-laki yang
usianya sudah lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi dan masih gagah, nampak berwibawa namun sikapnya halus
sebagai tanda bahwa kakek ini adalah seorang terpelajar tinggi. Mudah baginya untuk menduga bahwa orang inilah
yang dimaksudkan oleh Kim Lan, yaitu Toan-ong-ya, Pangeran Toan yang terkenal itu. Dari teguran itu maklumlah
dia bahwa memang benar pangeran itu mengenal baik kepada Kim Lan. Dia melihat Kim Lan menjatuhkan diri berlutut.
"Ong-ya... saya tidak percaya paduka begini kejam! Sesudah membunuh ayahku, suamiku, dan setelah sekian lama saya melayani paduka, kini paduka hendak mengusirku begitu saja!"
"Hemm, engkau tak mungkin lupa akan perbuatanmu yang hina! Engkau hampir berhasil membunuhku dengan meracuni minumanku, dan engkau mengatakan aku yang kejam? Hayo pergi dari sini, jangan engkau injak lagi tempat ini!"
"Tapi... tapi saya mencoba meracuni paduka karena paduka telah membunuh ayahku dan suamiku..."
"Ayahmu dan suamimu mencari mampus sendiri! Sudahlah, pergi kataku!"
Dari atas, Thian Sin mendengar ini semua dan percayalah dia akan kebenaran cerita Kim Lan. Pangeran itu tidak
menyangkal telah membunuh ayah dan suami wanita itu, dan Kim Lan juga sudah mengaku telah mencoba meracuni Sang
Pangeran, persis seperti yang diceritakan oleh wanita itu kepadanya tadi. Marahlah Thian Sin. Membunuh ayah dan suami orang, memperkosa isteri orang, dan hal ini dia tidak sangsi lagi melihat bahwa Kim Lan begitu berbakti dan mencinta suaminya sehingga mau meracuni pangeran itu, dan sekarang hendak mengusir wanita itu begitu saja.
Jelas bahwa pangeran itu bukan seorang baik-baik!
Dia melihat bahwa dua orang tamu pangeran itu ternyata adalah dua orang laki-laki yang nampak gagah perkasa,
yang seorang bertubuh tinggi besar berpakaian seperti petani, sikapnya polos dan gagah, sedangkan yang kedua
adalah seorang berjubah hwesio berkepala gundul, berusia sebaya dengan petani itu, yaitu kira-kira empat puluh
tahun. Namun dia tidak peduli. Kalau mereka akan mengeroyoknya, terserah, pikirnya. Maka diapun segera
menerobos atap dan melayang turun ke dalam ruangan itu.
"Yang berkedudukan mempergunakan kekuasaannya untuk menindas orang, yang kaya-raya mempergunakan hartanya untuk memperbudak orang, yang kuat mempergunakan kepandaiannya untuk bersikap sewenang-wenang, seorang pangeran membunuh dan memperkosa orang seenak perutnya sendiri. Ahah, sungguh dunia sudah penuh dengan manusia-manusia jahat yang harus dibasmi!"
Sementara itu, melihat munculnya seorang pemuda yang menerobos masuk dari atas, maklumlah Pangeran Toan bahwa
orang ini tentulah sekutu dari Kim Lan, maka dia sudah mencabut pedangnya dan menudingkan pedang itu ke arah muka Thian Sin sambil membentak, "Siapakah engkau yang berani memasuki rumah orang tanpa ijin?"
Thian Sin tersenyum. "Hemm, biarpun engkau seorang pangeran yang kaya raya, apa kaukira boleh membunuh orang
tanpa ijin?" Lalu sambil melangkah maju dia menyambung, "Kenalilah, aku adalah wakil orang-orang yang kaubunuh." Tangannya sudah bergerak menampar ke depan dengan cepat dan kuat.
Melihat ini, sang pangeran cepat menggerakkan pedangnya membacok ke arah tangan yang menampar itu. Akan tetapi
tamparan itu memang hanya serangan pancingan saja dari Thian Sin. Ketika pedang membacok, dia membuka tangannya
dan menerima pedang itu dengan tangan terbuka! Melihat kenekatan lawan ini, Sang Pangeran sendiri sampai
terkejut karena tangan itu akan buntung bertemu dengan pedangnya. Akan tetapi dia kecelik, karena pedang itu
terhenti dan sudah digenggam oleh tangan Thian Sin dan begitu pemuda ini menarik dan mengirim tendangan ke arah
lengan yang memegang pedang, Sang Pangeran tidak mampu mempertahankannya lagi dan pedang itu telah dapat
dirampas oleh lawan! Selagi pangeran itu terkejut dan terheran, menjadi bengong karena selama hidupnya belum pernah dia menghadapi
kelihaian seperti itu, Thian Sin sudah berseru, "Sekarang terimalah hukumanmu!" Pedangnya menyambar seperti kilat.
"Tranggg...!" Pedangnya bertemu dengan tongkat yang dipegangnya oleh hwesio itu. Kiranya hwesio itu telah menangkis pedang dengan tongkatnya dan dari getaran pedangnya, Thian Sin tahu bahwa hwesio ini tidak boleh dipandang ringan.
"Omitohud... harap jangan terlalu ganas, orang muda!" kata hwesio itu.
"Persetan dengan kamu! Aku tidak ada urusan denganmu!" bentak Thian Sin sambil terus menerjang Sang Pangeran yang sudah melangkah mundur. Hwesio itu menerjang dengan tongkatnya untuk melindungi, akan tetapi tiba-tiba pedang itu membalik dan berkelebat menyambar ke arah leher hwesio itu, lalu bertubi-tubi menyerangnya. Hwesio itu terkejut sekali dan sambil memutar tongkatnya diapun meloncat ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Thian Sin untuk menubruk ke depan dan sebelum Sang Pangeran dapat mengelak, pedang itu telah menyambar seperti kilat.
Sang Pangeran mengeluarkan jeritan mengerikan dan nampak darah muncrat dari bawah perutnya karena pedang itu
telah menyambar ke arah alat kelaminnya! Pangeran itu terhuyung lalu roboh dan berkelojotan, kedua tangannya mendekap ke arah bagian yang terbabat pedang tadi.
Peristiwa ini sedemikian cepatnya sehingga hwesio dan petani itu sejenak memandang bengong dan dengan muka
pucat. Kemudian mereka berdua marah bukan main. "Penjahat kejam, apa yang kaulakukan?" bentak mereka dan
keduanya lalu menyerang Thian Sin dengan gerakan yang amat kuat dan cepat. Hwesio itu menyerang dengan
tongkatnya, sedangkan orang yang berpakaian petani itu telah menyerangnya dengan sebatang golok. Gerakan Si
Petani ini tidak kalah tangkas dan kuatnya dibandingkan dengan hwesio itu. Melihat gerakan mereka, Thian Sin
terkejut juga karena dia mengenal gerakan dari ilmu silat partai Siauw-lim-pai. Dia mengelak ke kanan kiri dan
tongkat bersama golok itu telah menjadi gulungan sinar yang terus mengejarnya. Thian Sin tahu bahwa lawannya
tangguh dan bahwa dia harus bertindak cepat kalau tidak mau keburu datang pasukan pengawal. Dari luar sudah
terdengar ribut-ribut. Maka diapun cepat mainkan Thai-kek Sin-kun, kedua kakinya bergerak dengan
langkah-langkah yang hebat dan tahu-tahu tangannya sudah berhasil mendorong kedua orang lawan itu sampai mereka terhuyung ke belakang. Dua orang itu terkejut bukan main karena mereka juga mengenal Thai-kek Sin-kun, akan tetapi mereka tidak mengenal tenaga serangan yang amat dahsyat tadi.
"Kau... kau Pendekar Sadis!" teriak orang yang berpakaian petani.
"Omitohud... yang ini tidak patut dinamakan pendekar, melainkan Penjahat Sadis!" kata Si Pendeta.
"Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian!" kata Thian Sin dan cepat dia menyambar tubuh Kim Lan yang berdiri
di sudut dengan wajah khawatir, lalu hendak berlari keluar.
"Penjahat kejam jangan lari!" bentak Si Petani dan diapun sudah meloncat dengan cepatnya menerjang Thian Sin sambil menggerakkan goloknya.
"Plakk! Tranggg...!" Golok itu terlempar dan Si Petani itu jatuh terpelanting ketika Thian Sin menyambutnya
dengan pukulan Pek-in-ciang. Melihat pukulan yang mengeluarkan uap putih itu Si Hwesio yang tadinya juga
mengejar, terkejut dan cepat dia menolong temannya yang roboh pingsan, memeriksanya dan baru merasa lega ketika
melihat bahwa temannya itu tidak tewas, melainkan terguncang hebat oleh pukulan itu sehingga menjadi pingsan.
Hwesio ini juga mengenal pukulan Pek-in-ciang, semacam pukulan sakti yang kabarnya hanya dimiliki oleh pendekar
Yap Kun Liong, seorang locianpwe yang bertapa di Bwee-hoa-san dan yang kabarnya sudah tidak mencampuri lagi urusan dunia.
Para pengawal berserabutan masuk, akan tetapi Thian Sin dan Kim Lan sudah tidak nampak lagi bayangannya. Mereka
lalu menolong pangeran itu, akan tetapi terlambat karena pangeran itu telah tewas dengan anggauta kelaminnya terbabat buntung!
Dengan hati penuh duka hwesio dan petani itu membantu keluarga pangeran itu untuk berkabung dan kematian Pangeran Toan ini benar-benar mengejutkan semua orang dan bahkan sempat menggegerkan dunia kang-ouw, terutama para tokoh persilatan di sekitar kota raja. Pangeran ini dikenal sebagai seorang yang amat akrab dengan tokoh-tokoh kang-ouw, terkenal sebagai seorang budiman dan dermawan. Memang dia terkenal pula sebagai
Anda sedang membaca artikel tentang Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 3 dan anda bisa menemukan artikel Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 3 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/kho-ping-hoo-pendekar-sadis-3.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 3 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 3 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 3 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/kho-ping-hoo-pendekar-sadis-3.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar