Cerita Dewasa Silat : Ang Hong Cu 2

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Kamis, 17 Mei 2012

Cerita Dewasa Silat : Ang Hong Cu 2.
Baca juga
Berikut Cerita Dewasa Silat : Ang Hong Cu 2 selengkapnya...

"Tuk-tuk-tuk!"

Sunyi sejenak, lalu terdengar suara Hay Hay dari dalam. “Ya, siapa di luar?"


Mendengar suara yang ramah gembira ini, Siok Bi tersenyum girang. Ia rnenyentuh rambutnya dengan tangan kanan, untuk melihat apakah letak rambutnya beres, mengebutkan ujung bajunya, lalu menjawab, suaranya merdu.


"Hay Kongcu, aku Siok Bi yang datang berkunjung."


Daun pintu terbuka dan Hay Hay berdiri di ambang pintu, memandang gadis itu dengan senyum dan pandang mata kagum. " Aih, engkau semakin tambah manis dan jelita saja, Siok Bi!”


Wajah yang lembut itu menjadi kemerahan dan iapun melangkah masuk kamar tanpa rikuh lagi. "Hemm, engkau murah sekali dengan pujianmu, kongcu. Wanita bisa mabok oleh rayuanmu!"


Hay Hay juga masuk kamar tanpa menutup daun pintu. Hal ini nampak benar oleh Siok Bi dan kembali ia semakin kagum. Pemuda ini benar-benar berbeda dengan para pria lain yang tentu akan cepat-cepat menutupkan daun pintu seperti seekor harimau yang melihat seekor kambing memasuki kandangnya!


"Siapa memuji dan merayu? Aku bicara sebenarnya saja, Siok Bi. Kalau engkau tidak percaya bahwa engkau jelita dan manis, coba kau bercermin!"


Siok Bi tersenyum manis. "Tidak usah kausuruh, sebagai seorang wanita normal, setiap hari aku sudah bercermin, kongcu, sedikitnya dua tiga kali atau lebih akan tetapi tak pernah aku melihat diriku seperti yang kaupuji-puji. Sungguh engkau baik sekali, kongcu, dan selama hidupku belum pernah aku bertemu seorang pemuda sehebat kongcu…… "

"Wah-wah, siapa kini yang memuji-muji? Siok Bi, sebenarnya apa maksud kunjunganmu ini? Apakah ada hubungannya dengan berita tentang Ang-hong-cu?"


Siok Bi menoleh ke arah pintu. "Kongcu, tidakkah sebaiknya kalau daun pintu kamar itu ditutup dulu?"


"Eh? Engkau tidak khawatir, Siok Bi?”


"Apa yang harus kukhawatirkan?"


"Kalau-kalau aku melakukan hal-hal yang tidak baik, atau kalau sampai ada orang lain melihat engkau berada di sini dan…….."


"Aku tidak perduli dengan pendapat orang lain, kongcu. Dan tentang kemungkinan engkau melakukan hal-hal yang kau maksudkan itu, aku…… aku akan merasa berbahagia sekali kalau kau sudi……. "


Mendengar ini, jantung di dalam dada Hay Hay berdebar keras. Dia tersenyum dan menutupkan daun pintu, akan tetapi berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa dia tidak boleh jatuh dalam rayuan gadis ini, seorang gadis pelayan rumah judi yang agaknya memiliki kedudukan cukup terpandang di perkumpulan itu.Tentu bukan seorang perawan yang masih hijau, pikirnya, walaupun mungkin juga bukan seorang wanita penghibur atau wanita pelacur, melihat sikapnya yang lembut walaupun cukup berani.

Akan tetapi baru saja dia mau menutup daun pintu dan membalik, tiba-tibasaja dua buah lengan yang lembut itu telah merangkulnya dan gadis itu telah menciumnya dengan penuh rasa kagum dan mesra sampai Hay Hay gelagapan. Akan tetapi, kemesraan itupun membakar hatinya dan diapun membalas dengan penuh perasaan. Ketika api gairah itu terasa membakar, Hay Hay cepat melepaskan rangkulannya.


"Cukup, Siok Bi. Duduklah dan cetitakan apa maksudmu berkunjung ini!"


Kalau tadi Siok Bi hampir terlena dalam rangkulan itu, tenggelam ke dalam kemesraan karena baru sekali inilah ia berangkulan dan berciuman dengan seorang laki-laki dengan suka rela, dengan sepenuh perasaan cinta dari hatinya, kini iapun sadar dan terkejut mendengar suara yang penuh wibawa itu.

Dengan kedua kaki agak gemetar dan tubuh masih panas dingin, Siok Bi menjatuhkan dirinya di atas pembaringan, napasnya agak terengah. "Aih, Hay Kongcu……. Belum……. belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan seorang pria seperti kongcu yang sungguh seorang jantan sejati! Kedatanganku ini membawa banyak urusan, kongcu. Pertama, aku hendak mengembalikan ini.” Ia membuka buntalan dan ternyata itu adalah caping mi1ik Hay Hay yang tadi tertinggal di rumah judi. Hay Hay menerima caping itu sambil tertawa.

"Ha-ha, terima kasih. Ini sahabatku yang setia dalam perjalanan selama ini.” Dia menerima caping dan menyimpannya di atas meja.

“Urusan ke dua, kongcu, adalah mengenai pesanmu agar aku menyelidiki tentang Ang-hong-cu itu. Sudah kutanyakan kepada semua orang. Memang ada juga yang pernah mendengar akan nama Ang-hong-cu, akan tetapi tokoh itu terkenal beberapa puluh tahun yang lalu, setidaknya belasan tahun yang lalu dan selama ini tidak lagi terdengar namanya. Bahkan belum pernah ada orang yang melihat wajahnya. Akan tetapi, dari seorang pembantu yang baru saja pulang dari kota raja, aku mendengar bahwa di kota raja ada seorang yang membual bahwa dia adalah seorang keturunan Ang-hong-cu."

"Ahhh……! Sapakah orang itu? Siapa namanya dan di mana tinggalnya?"


"Akupun sudah bertanya akan hal itu. Kebetulan sekali pembantu baru itu mengetahuinya. Namanya dia tidak tahu, hanya mengenalnya sebagai Tang-ciangkun (perwira Tang), seorang perwira yang bekerja di pasukan pengawal istana "

"She Tang ?" Hay Hay bertanya dan jantungnya berdebar kencang.

"Benar, kongcu. Akan tetapi orang itu hanya mendengar bahwa Tang-ciangkun suka membual di luaran bahwa dia adalah keturunan Ang-hong-cut itu saja. Benar atau tidak, tak ada yang mengetahuinya."

"Bagus, itu sudah cukup, Siok Bi. Besok aku akan segera pergi ke kota raja dan menyelidiki orang she Tang yang menjadi perwira pasukan pengawal di istana itu. Beritamu ini sungguh cukup penting dan amat berharga bagiku. Dan masihkah ada urusan lain lagi?"

"Ada, kongcu. Mengenai dirimu…….. " dan tiba-tiba saja Siok Bi menangis. Hay Hay memandang tajam dan dia mendapat kenyataan bahwa tangis ini bukan dibuat-buat, bukan sandiwara, melainkan tangis karena duka.

"Siok Bi, tenanglah. Apakah yang kau susahkan? Sejak pertemuan pertama, aku sudah diam-diam merasa heran mengapa seorang gadis seperti engkau sampai terperosok menjadi seorang pelayan rumah judi……"

Mendengar ucapan itu, Siok Bi menangis semakin sedih, bahkan menjatuhkan diri menelungkup di atas pembaringan dan terisak-isak. Hay Hay merasa kasihan sekali. Dia duduk di tepi pembaringan dan menekan pundak gadis itu, mengelus rambutnya.

"Tenangkan hatimu dan bicaralah, aku akan menolongmu sedapatku kalau memang engkau membutuhkan pertolongan."

Gadis itu bangkit dan dengan muka basah air mata ia memandang kepada Hay Hay. "Be……. benarkah, kongcu……? Benarkah engkau sudi menolongku….... ? Sudi mengangkat aku dari lumpur kehinaan ini……?”

Hay Hay tersenyum dan menggunakan jari-jari tangannya mengusap air mata dari pipi yang kini ditinggalkan bedak akan tetapi ternyata kulitnya memang putih mulus dan halus itu. Dia mengangguk. "Tentu saja, Siok Bi."

"Ah, kongcu……. !" Siok Bi menubruk, merangkul dan menangis di dada Hay Hay. Jantung di dalam dada itu kembali berdebar keras, tangannya balas mendekap akan tetapi Hay Hay dapat bertahan untuk tidak tergelincir ke dalam jurang birahi.

"Tenanglah, nah, duduklah yang baik dan berceritalah." katanya dan diapun bangkit berdiri, lalu pindah duduk di atas kursi, baju di bagian dadanya basah oleh air mata ketika gadis itu tadi menangis di dadanya.

Siok Bi menyusuti air matanya dengan sehelai saputangan yang sudah menjadi basah. Ia menenangkan dirinya, dengan memejamkan mata dan Hay Hay kembali mendapat kenyataan bahwa gadis ini memang pernah mempelajari ilmu silat, bahkan cara untuk bersamadhi dan memperkuat batin. Dia hanya memandang sambil tersenyum. Tak lama kemudian Siok Bi membuka matanya dan kini pandang matanya terang, tidak layu seperti tadi.

Ia menarik napas panjang, "Maafkan kelakuanku tadi, kongcu. Bagi kongcu, tentu sikapku tadi bukan sikap seorang gadis yang sopan dan bersusila. Memang aku telah menjadi seorang gadis yang tak tahu tnalu, kongcu, terseret oleh keadaan diriku," Siok Bi lalu menceritakan riwayatnya dengan singkat. Ketika ia berusia tiga belas tahun, ayahnya yang sudah menduda gila judi dan habis-habisan sehingga akhirnya dia dijual oleh ayahnya kepada Hartawan Coa yang merupakan orang terkaya di Shu-lu, juga menjadi kepala dari golongan hitarn di daerah itu. Ternyata Hartawan Coa suka kepadanya, karena Siok Bi selain cantik juga amat cerdas. Gadis remaja ini diperlakukan dengan baik, bahkan dilatih segala macam kepandaian, termasuk ilmu silat tinggi. Ketika ia sudah dewasa, ia terpaksa melayani Hartawan Coa yang mengambilnya sebagai seorang di antara selirnya yang amat banyak. Mulai saat itu, Siok Bi selain menjadi selir, juga menjadi orang kepercayaan, dan menjadi kepala para pelayan yang berada di rumah judi itu.

"Nah, demikianlah riwayatku, kongcu. Aku hidup bergelimang kehinaan, dan hatiku selalu merana semenjak aku dijual oleh ayah kepada Coa Wan-gwe. Dan ayahpun menderita, menyesal dan dia meninggal dunia karena penyesalannya ketika aku dipaksa menjadi selir Coa Wan-gwe.”

Hay Hay mengangguk-angguk. Betapa banyaknya nasib gadis-gadis keluarga miskin, terutama yang berwajah cantik manis seperti Siok Bi ini. Banyak penggoda datang, berupa hartawan-hartawan yang haus akan bunga cantik yang baru mekar, menggunakan uang mereka untuk membeli gadis-gadis itu. Masih baik nasib gadis cantik miskin yang mempunyai orang tua yang mempunyai harga diri, akan tetapi kalau orang tuanya mata duitan, sungguh celaka. Gadis itu akan menjadi semacam barang dagangan, dijual kepada hartawan untuk menjadi alat memuaskan nafsunya. Terlalu banyak keluarga yang tidak menghargai anak perempuan, dianggapnya anak perempuan hanya menjadi beban orang tua saja. Pikiran yang sungguh jahat!

"Lalu apa yang dapat kulakukan untukmu, Siok Bi? Biarpun aku merasa kasihan mendengar nasibmu, akan tetapi apa yang dapat kulakukan?" ,


"Tolonglah aku, kongcu. Tolonglah aku agar aku dapat bebas dari cengkeraman Coa Wan-gwe…… " Gadis itu memohon.


"Hemm, kalau engkau memang tidak suka lagi menjadi selir dan pembantu hartawan Coa itu, kenapai engkau tidak melarikan diri saja? Engkau bukan seorang wanita lemah, Siok Bi dan kulihat engkau mendapat kebebasan bergerak. Dengan mudah sekali engkau akan dapat melarikan diri meninggalkan kota Shu-lu ini ke tempat jauh!"

Gadis itu menggeleng kepala. "Tidak mungkin, kongcu. Ah, engkau tidak tahu akan kekuasaannya. Dia memiliki banyak tukang pukul dan aku tentu dapat ditangkapnya dengan cepat dan menerima hukuman yang amat kejam. Tidak, kongcu. Melarikan diri bukanlah jalan yang baik."


"Kalau begitu, katakan saja terus terus terang bahwa engkau ingin bebas dan hidup sendiri."

Gais ini menundukkan mukanya dan menarik napas panjang. "Pernah kukatakan hal itu kepadanya dan apa akibatnya? Aku dihukum cambuk sepuluh kali dan dia mengatakan bahwa aku telah menjadi miliknya karena sudah dibeli dari mendiang ayahku. Kalau aku ingin bebas, aku harus menebus diriku yang katanya kini harganya sudah menjadi lima puluh tail emas!"


"Wah, kenapa demikian banyak? Apakah dulu ayahmu menjualmu dengan harga seperti itu?"

Siok Bi menggeleng. "Hanya beberapa tail emas, akan tetapi dia memperhitungkan bunganya yang tinggi selama lima tahun ini…….”


Hay Hay mengerutkan alisnya dan melirik ke arah buntalan uang emasnya. Lebih dari cukup untuk menebus diri Siok Bi! “Siok Bi, kalau engkau sudah berhasil bebas dari Hartawan Coa, lalu ke mana engkau hendak pergi? Bukankah ayahmu telah meninggal dunia? Apakah engkau mempunyai keluarga lain?"

Siok Bi kembali menggeleng kepalanya. "Hanya seorang paman di kota raja, akan tetapi dia tentu tidak sudi menerima aku yang sudah bergelimang lumpur. Akan tetapi……. ada seorang pemuda…..” gadis itu berhenti dan matanya memandang kepada Hay Hay dengan penuh duka.


Hay Hay tersenyum. "Aha! Kiranya engkau sudah mempunyai pillhan seorang kekasih? Bagus seka1i kalau begitu!"


Siok Bi nampak tersipu. "Bukan begitu, kongcu. Sesungguhnya, ada seorang pemuda yang dahulu suka berjudi. Dia sebetulnya seorang pemuda yang baik dan dia……. dia amat mencintaku. Ketika aku memberi nasihat agar dia berhenti berjudi, diapun menurut, berhenti tak pernah berjudi lagi dan kini dia bekerja, dagang kecil-kecilan. Dia amat mencintaku dan dia tentu akan menerimaku sebagai calon isterinya dengan hati bahagia……"

"Dan engkau tentu juga mencintanya, bukal?" .


"Sayang…….. sayang dia bukan engkau, kongcu…….! Ah, kenapa aku harus mengharapkan yang bukan-bukan? Aku kasihan dan suka padanya, akan tetapi terus terang saja, tidak mencintanya. Bagaimanapun juga, hidupku akan lebih terhormat dan terjamin kalau dapat menjadi isterinya."


Mendengar pengakuan yang jujur itu, Hay Hay merasa terharu. Gadis ini jatuh cinta padanya! Gadis ini tersesat ke jalan hitam bukan atsa kehendaknya, melainkan terpaksa, dan ia berusaha untuk kembali ke jalan yang bersih. Agaknya, hanya dialah yang mampu menolongnya, menebusnya.


“Baiklah, Siok Bi. Kemenangkanku di meja judi itu cukup untuk menebus dirimu. Aku akan menemui Coa Wan-gwe dan aku akan menebus dirimu dengan lima puluh tail emas!"

"Hay Kongcu…….. !” Siok Bi menjerit kecil dan menubruk pemuda itu dengan hati penuh kebahagiaan sehingga keduanya berguling ke atas pembaringan. Siok Bi merangkul dan mencium, penuh perasaan terima kasih dan penuh kepasrahan diri.


"Kongcu…….” bisiknya di antara ciumannya, "sampai mati aku tidak akan mampu membalas budimu….. maka ...hanya tubuhku inilah yang kumiliki, kuserahkan padamu untuk membalas budi dengan segala keiklasan….. ! Hay Kongcu……… aku kagum padamu, aku cinta padamu……. "Gadis itu merintih ketika Hay Hay dengan halus mendorongnya lalu pemuda itu bangkit duduk. Tadinya diapun terseret gelombang nafsu dan membalas ciuman dan belaian gadis itu, namun kesadarannya membuat dia melihat betapa buruknya kalau dia lanjutkan. Seolah-olah dia menolong dengan pamrih imbalan yang demikian rendah! Dia bukan hendak membeli tubuh Siok Bi, melainkan kebebasannya!

"Siok Bi, sadarlah! Aku kagum dan suka pula padamu, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa aku lalu ingin memperoleh imbalan darimu. Ingat, engkau sudah bersiap-siap menempuh jalan bersih bersama pemuda yang mencintamu. Maka, sejak saat ini, engkau harus menahan semua perasaanmu dan harus pula menjadi seorang calon isteri yang setia! Kalau begitu, baru engkau dapat mengharapkan akan membentuk rumah tangga bahagia dengan pemuda itu."



Wajah gadis itu menjadi merah dan ia segera meloncat turun dari atas pembaringan, membereskan pakaiannya, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hay Hay.

"Kongcu, aku menghaturkan banyak terima kasih dan juga mohon maaf atas kelancanganku tadi." Gadis itu semakin kagum, akan tetapi juga jerih karena kini ia merasa bahwa pemuda ini bukanlah manusia biasa! Tidak mungkin ada pria, apa lagi masih muda, yang mampu bertahan seperti itu, padahal keduanya sudah saling peluk dan saling berciuman di atas pembaringan dalam sebuah kamar! Padahal ia sudah siap menyerahkan diri dengan suka rela! Dan pemuda itu demikian pandai merayu, demikian pandai bercumbuan! Selama hidupnya, belum pernah Siok Bi mengalami hal seperti itu.

Hay Hay menyentuh kedua pundaknya dan menariknya berdiri, Hay Hay memandang wajah yang manis itu, tersenyum, kemudian memberi ciuman mesra pada dahi yang halus itu.

"Siok Bi, tidak perlu berterima kasih dan tidak perlu minta maaf. Uang itu hanyalah uang rumah judi, bukan uangku. Dan tentang maaf, terus terang saja, akupun amat suka kepadamu, dan alangkah akan mudahnya dan senangnya kalau aku menuruti bisikan nafsu. Akan tetapi, orang harus lebih dahulu sadar, waspada dan memperhitungkan segala perbuatan, bukan membuta karena nafsu. Kalau kita menuruti nafsu sekarang, nanti kita berdua akan merasa menyesal sekali. Terutama engkau, Siok Bi. Di sudut hatimu tentu akan timbul penyesalan karena engkau telah berkhianat terhadap cinta pemuda itu. Nah, katakan ke mana aku harus menyerahkan uang itu kepada Hartawan Coa. Aku ingin urusan selesai sekarang juga."'


"Ah, jangan sekarang, kongcu. Besok pagi saja, karena malam ini Hartawan Coa tidak berada di rumah. Dia bermalam di rumah penginapan ini!"


"Ehhh? Di sini? Kenapa……. ?" Hay Hay bertanya heran.


Gadis itu mengerutkan alisnya. "Aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi dia sudah seringkali begitu, bermalam di mana saja dan itu tandanya bahwa dia memperoleh seorang korban baru, seorang gadis yang baru saja di dapatnya!”


Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar dan terdengar suara seorang laki-laki, suara yang parau dan dalam, “Di mana kamar untukku? Harus yang paling baik!”


“Tentu saja, tentu saja…… tai-ya. Di sana, di kamar paling kiri, sudah kami persiapkan……”

Siok Bi menaruh telunjuk ke depan mulutnya. "Sttt, itu dia…….!" bisiknya.


Hay Hay lalu membuka daun pintu dan keluar dengan tenang. Dia sempat me1ihat seorang laki-lakl tinggi besar bermuka hitam bopeng! Dia terbelalak. Kiranya pemilik rumah judi, pemimpin dan kepala dari para bandar curang itu, bukan lain adalah hartawan yang sudah ada janji rahasia dengan isteri Gui Lok, pemilik rumah penginapan dan rumah makan Hok-lai-koanl Dia me1ihat pria tinggi besar itu memasuki kamar terbesar di sebelah kiri, dan dua orang tukang pukul atau jagoan yang bertubuh kokoh kekar berjaga di luar kamar itu! Isteri Gui Lok itu, yang bernama Kim Hwa, si cantik genit, berjanji akan mengantarkan puteri tirinya setelah lewat jam duabelas malam ke kamar itu! Mempergunakan obat bius pula! Dia harus mencegah terjadinya peristiwa terkutuk itu. Kasihan Ai Ling, gadis pendiam yang bagaikan bunga baru mekar itu harus dipetik secara paksa, direnggut oleh Hartawan Coa yang rakus ini! Diapun cepat masuk lagi ke dalam kamarnya.


"Kiranya si tinggi besar muka bopeng itukah Hartawan Coa?" katanya kepada Siok Bi. Pantas saja gadis jelita ini merasa menderita. Wanita muda mana yang suka menjadi selir seorang laki-laki seperti itu yang kelihatannya kasar dan bengis? Siok Bi mengangguk.

"Siok Bi, engkau pulanglah. Besok akan kubereskan persoalanmu. Aku akan menemui dia di rumahnya dan menebus dirimu, kemudian kuantar engkau ke rumah calon suamimu."

Siok Bi merasa gembira sekali. "Terima kasih , Hay Kongcu, terima kasih……..!” Ia menghampiri dan merangkul lagi, akan tetapi tiba-tiba dia menahan diri dan menatap wajah pemuda itu. Dua pasang mata saling bertaut. "Bolehkah aku……. , kongcu…….. ?" Hay Hay tersenyum, mengangguk dan menerima ciuman hangat gadis itu, sebuah ciuman yang tidak lagi dicekam nafsu birahi, melainkan ciuman yang mengandung rasa haru, sukur dan terima kasih yang amat besar. Kemudian gadis itu melepaskan rangkulannya disertai isak tertahan, lalu keluar dari dalam kamar itu. Akan tetapi Hay Hay menangkap lengannya.


“Jangan, jangan lewat situ, lebih baik jangan terlihat bahwa engkau berada di sini." katanya dan dia membuka jendela, lalu membantu Siok Bi meninggalkan kamarnya lewat jendela yang menembus ke dalam kebun yang gelap.


Setelah Siok Bi, Hay Hay menutup daun jendela dari luar karena dlapun meninggalkan kamarnya untuk melakukan pengintaian dalam usahanya menyelamatkan Al Ling dari ancaman bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut!


Dl dalam sebuah kamar di rumah yang letaknya tepat di belakang rumah penginapan, bahkan bergandeng dengan penginapan itu. Hay Hay menemukan orang yang dicarinya, yaitu Ai Ling. Kamar gadis itu cukup rapi dan bersih dan ketika Hay Hay tiba di luar kamar, ternyata Kim Hwa, ibu tiri gadis itu telah berada di dalam kamar! Kalau Ai Ling berpakaian sederhana saja, pakaian tidur yang longgar, sebaliknya Kim Hwa mengenakan pakaian yang indah seolah-olah ia hendak bepergian. Mukanya juga dirias dengan pesolek sekali. Hay Hay teringat akan janji wanita genit itu untuk berkunjung ke kamarnya lewat tengah malam, dan mukanya menjadi merah. Agaknya wanita genit itu memang bersolek untuk berkunjung ke kamarnya dengan maksud yang tidak sukar untuk ditebak. Sungguh kasihan sekali ayah kandung Ai Ling mengawini seorang wanita seperti Kim Hwa. Bukan saja selalu siap untuk melakukan penyelewengan dan berjina dengan laki-Iaki lain, akan tetapi bahkan tidak ragu-ragu untuk menjebloskan puteri tirinya ke dalam lembah kehinaan, menjadikannya korban dan mangsa srigala berwajah manusia seperti Hartawan Coa!



"Ai Ling, kenapa engkau tidak mau makan? Makanlah, agar jangan masuk angin. Engkau tahu, kita mempunyai banyak pekerjaan dan kalau engkau jatuh sakit, kami akan sibuk bukan main."


"Aku tidak nafsu makan dan kepalaku agak pening," Ai Ling mengeluh, "biaraku
akan tidur saja, tentu besok juga sudah sembuh."


"Mana bisa tidur dengan perut kosong? Kalau begitu, biar kau minum saja obat masuk angin. Manjur sekali obatku, pemberian Sinshe Tung. Biar kuambilkan sebentar"' Kim Hwa lalu keluar dari dalam kamar itu dengan menyeret sandalnya. Ai Ling menarik napas panjang dan duduk di tepi pembaringan. Tiba-tiba muncul seorang pemuda di dalam kamar itu. Ai Ling yang sedang melamun, terkejut bukan main ketika melihat bahwa yang muncul seperti setan itu adalah pemuda yang tadi pagi sarapan di rumah makan dan dilayaninya, pemuda tampan yang amat ramah dan menyenangkan hatinya. Saking kagetnya, hampir ia menjerit, akan tetapi Hay Hay cepat menaruh telunjuknya di depan mulut.


"Sssttt, tenanglah nona dan jangan berisik. Aku datang untuk membebaskanmu dari ancaman bahaya!"


"Apa….. apa maksudmu, kongcu ...? Aku tidak mengerti….. " Gadis itu masih takut-takut dan bingung.


"Sstt, dengarlah baik-baik. Ibu tirimu bermaksud mengorbankan engkau kepada Hartawan Coa, dan obat yang ia berikan itu adalah obat bius. Karena itu, ingat baik-baik, kalau ia datang memberikan obat, katakan saja bahwa engkau tidak suka dan agar ia sendiri yang minum obat itu. Mengerti?"


Gadis itu mengangguk dan masih bingung. " Akan tetapi…… "


"Ikuti saja petunjukku kalau engkau mau selamat." bisik Hay Hay dan pada saat itu terdengar bunyi sandal diseret. Sekali berkelebat, tubuh Hay Hay sudah lenyap karena dengan cepat dia sudah, menyelinap ke balik pembaringan itu, tertutup kelambu dan lemari pakaian.


Daun pintu kamar terbuka dari luar dan masuklah Kim Hwa dengan langkahnya yang
gemulai. Ia membawa sebuah cawan terisi cairan merah yang berbau harum.

"Nah, ini obat masuk angin. Minumlah, Ai Ling sayang, agar tubuhmu terasa segar dan besok kau dapat bekerja dengan rajin. Minumlahl.” Ia menyerahkan cawan itu dan Ai Ling memandang cawan itu dengan alis berkerut. Ia masih merasa heran akan kemunculan Hay Hay dan semua ucapan pemuda itu. Akan tetapi, apa yang ia dengar dari pemuda itu bukan hal yang tidak boleh jadi! Ia tahu bahwa diam-diam ibu tirinya ini tidak suka kepadanya, apalagi ketika pada suatu hari ia pernah menegur ibu tirinya yang suka bercanda secara keterlaluan dan berlebihan dengan pegawai-pegawai pria. Ia bahkan berani menduga bahwa ibu tirinya itu tentu mempunyai hubungan gelap dengan beberapa orang pegawai. Maka, tidak akan mengherankan kalau ibu tirinya mempunyai tipu muslihat busuk dan menjerumuskannya ke pelukan Hartawan Coa. Ia bergidik dan melihat betapa cawan itu seperti mengandung racun!


"Tidak, aku tidak mau minum. Aku mau tidur saja, harap kau suka minum saja sendiri obat itu!" katanya, teringat akan pesan Hay Hay.


Kim Hwa terbelalak. Sungguh ia merasa aneh sekali mengapa ucapan puterinya itu mempunyai kekuatan mendorongnya sehingga timbul suatu keinginan aneh dalam dirinya, yaitu untuk minum "obat" dalam cawan itu! Tentu saja cawan itu berisi obat pemberian Hartawan Coa yang ia campur dengan anggur merah.


"Apa? Kuminum sendiri………..?" ia berkata penuh keraguan, setengah berbisik. Melihat sikap ibu tirinya ini, Ai Ling juga merasa heran dan teringat akan pesan pemuda aneh ltu, iapun menjawab.


"Benar, lebih baik kaumlnum sendiri obat itu!"


Dan kini terjadi keanehan dalam sikap Kim Hwa. "Baik, kuminum saja sendiri, kuminum sendiri…….. " dan sepertl dalam mimpi, iapun lalu minum obat dalam cawan itu sampal habis!

Setelah minum obat itu, Kim Hwa melepaskan cawan kosong yang jatuh berkerontang di atas lantai, ia berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang dan kedua matanya dipejamkan. Ai Ling memandang khawatir. Obat itu adalah obat yang mengandung bius, membuat orang kehilangan kemauan, juga mengandung obat perangsang sehingga orang yang minum obat ini dalam keadaan tidak sadar akan menjadi hamba nafsu birahinya sendiri. Kim Hwa mengeluh, lalu tanpa pamit ia keluar dari kamar itu, diikuti pandang mata Ai Ling yang masih bingung dan khawatir.


Hay Hay muncul lagi, dipandang oleh Ai Ling yang masih menaruh curiga kepadanya. Akan tetapi pemuda itu tidak rnelakukan sesuatu yang tidak pantas, bahkan Hay Hay cepat berkata kepadanya, “Ai Ling, cepat kauberitahukan kepada ayahmu bahwa ibu tirimu mengadakan pertemuan dengan Hartawan Coa di dalam kamar terbesar di rumah penginapan Hok-lai-koan. Suruh ayahmu pergi sendiri menangkap basah isterinya yang menyeleweng itu dan jangan takut! Aku akan melindunginya. Kim Hwa itu harus dihukum, Ai Ling, demi keselamatan ayahmu dan engkau sendiri. Cepat!" Dan kembali Hay Hay berkelebat lenyap dari dalam kamar. Sejenak Ai Ling bengong dan bulu tengkuknya meremang. Apakah pemuda itu bukan manusia melainkan setan yang pandai menghilang? Ataukah dewa yang hendak menolong ia dan ayahnya? Ia tidak merasa heran mendengar betapa ibu tirinya menyeleweng, mengadakan pertemuan dalam kamar hotel dengan Hartawan Coa. Akhirnya ia turun dan pergi kekamar ayahnya.

Bagaikan seorang yang kehilangan ingatannya, Kim Hwa melalui pintu tembusan
menuju ke ruangan rumah penginapan Hok-lai-koan. Yang dlingatnya hanya dua hal. Pertama mengantarkan Ai ling ke kamar Hartawan Coa, dan kedua pergi mengunjungi pemuda ganteng yang menarik hati, yang menginap di kamar nomor tujuh belakang. Akan tetapi, tubuhnya terasa demikian ringan dan ia tidak ingat lagi mengapa ia menjadi begitu, kepalanya juga ringan dan kosong!



Ketika tiba-tiba Hay Hay muncul, ia tidak terkejut dan tersenyum genit. Apalagi ketika Hay Hay berbisik, "Manis, aku sengaja menjemputmu! Mari kita pergi ke kamarku sayang !"

Kim Hwa tertawa kecil dengan sikap genit lalu membiarkan dirinya digandeng oleh pemuda yang menarik hatinya itu dani a malah menyandar dan mereka berdua berjalan sambil bergandeng tangan.


Hay Hay tidak membawa wanita itu ke kamarnya melainkan diajaknya menghampiri kamar besar di mana terdapat dua orang jagoan yang berjaga. Malam sudah larut, menjelang tengah malam dan suasana sunyi. Dua orang jagoan itu duduk di atas kursi, agak melenggut. Mereka tenang saja karena siapa yang akan berani mati mengganggu majikan mereka?


"Mari Ai Ling, marilah sayang……..” Suara ini mengejutkan dua orang jagoan itu. Akan tetapi ketika mereka mengangkat muka, mereka melihat sekelebatan seorang pemuda bergandeng tangan dengan seorang wanita cantik. Anehnya, begitu mereka memandang, pemuda itu lenyap dan yang nampak adalah dua orang wanita muda yang sedang menghampiri mereka sambil saling bergandeng tangan. Ketika lampu gantung menerangi wajah mereka, dua orang jagoan ini cepat berdiri dan menyeringai senang. Mereka sudah tahu bahwa majikan mereka menanti datangnya isteri pemilik rumah penginapan itu yang akan mengantarkan puterinya, dan ternyata kini mereka benar-benar muncul! Melihat betapa gadis manis itu seperti orang mabok, tahulah mereka bahwa gadis itu telah minum obat bius, dan isteri pemilik rumah penginapan yang cantik genit itu senyum-senyum kepada mereka. Kedua orang “wanita” ini menghampiri pintu dan mengetuk tiga kali. Dua orang jagoan itu tidak menghalangi mereka, hanya saling pandang dan tersenyum-senyum penuh arti.


"Siapa mengetuk pintu?" terdengar suara yang parau dan dalam, suara Hartawan Coa yang memang sejak tadi belum tidur dan dengan tidak sabar menanti datangnya Kim Hwa yang berjanji akan mengantar Gui Ai Ling, si perawan jelita.


"Saya Kim Hwa, tai-ya, saya mengantarkan Ai Ling. Harap buka pintunya!"


Mendengar suara ini, tentu saja Hartawan Coa menjadi girang dan dia cepat membuka daun pintu. Mula-mula ia terkejut melihat bahwa yang berdiri di depan pintu adalah seorang pemuda yang tidak dikenalnya dan Kim Hwa, isteri pemilik rumah penginapan yang genit itu, akan tetapi ketika dia berkedip dan mendengar suara Kim Hwa, "Saya Kim Hwa dan Ai Ling datang seperti yang saya janjikan, tai-ya," dan dia membuka mata, ternyata yang berdiri di depannya adalah Kim Hwa dan Ai Ling, gadis yang membuatnya selalu menelan air liur itu!


"Ahhh, engkau sudah datang, manis!"katanya sambil menggandeng tangan Ai Ling. "Mari masuk, manis!" Ai Ling menurut saja digandeng masuk, dan Kim Hwa tersenyum.

"Bersenang-senanglah tai-ya dengan Ai Ling, saya harap tai-ya tidak lupa kepada saya." -
Hartawan Coa yang sudah tidak sabaran itu, hanya mengangguk dan menutup kembali daun pintu tanpa menguncinya karena bukankah di luar sudah ada dua orang pengawalnya, jagoan-jagoan yang dapat dipercaya menjaga di situ semalam suntuk? Kim Hwa lalu melenggang pergi.


"Eih, nyonya muda. Hendak ke mana? Apakah tidak mau menemani kami di sini sebentar menghilangkan dingin dan kantuk?" seorang di antara dua penjaga itu menegur dan menggoda.


Kim Hwa hanya tersenyum. "Lain kali saja, aku mempunyai keperluan lain." Dan iapun mempercepat langkahnya. Setelah tiba di tempat gelap, ternyata bahwa "Kim Hwa" ini bukan lain adalah Hay Hay yang tadi mempergunakan kekuatan sihirnya untuk membuat mata dua orang jagoan dan juga mata Hartawan Coa melihatnya seperti Kim Hwa, sedangkan Kim Hwa sendiri yang sudah berada di bawah pengaruh obat bius itu mereka lihat sebagai Gui Ai Ling!


Hay Hay mengintai tak jauh dari situ. Tidak lama dia mengintai karena segera dia melihat seorang. laki-laki gendut berlari-lari melalui pintu tembusan dari rumah Gui Lok, menuju ke rumah penginapan itu. Dia bukan lain adalah Gui Lok, pemilik rumah penginapan dan rumah makan Hok-lai-koan. Agak jauh di belakangnya dia melihat pula Ai Ling berjalan dengan muka khawatir.


Gui Lok yang menerima pelaporan puterinya bahwa isterinya mengadakan pertemuan gelap dengan laki-laki di dalam kamar hotelnya, tentu saja menjadi marah sekali dan dia langsung menuju kekamar besar, kamar istimewa termahal di rumah penginapannya itu. Ketika tiba di depan kamar, dua orang tukang pukul mencoba untuk menghadangnya, akan tetapi si gendut Gui Lok berteriak lantang.


"Ini rumah penginapanku sendiri! Siapa berhak melarang?" Dua orang tukang pukul itu tentu saja tahu bahwa Gui Lok pemilik rumah penginapan i tu, maka merekapun merasa sungkan, juga mereka terbelalak heran bukan main melihat Ai Ling berada di belakang si gendut itu! Bukankah tadi mereka melihat sendiri betapa gadis itu diantar oleh ibu tirinya memasuki kamar majikan mereka dan kini sedang dalam pelukan majikan mereka ? Bagaimana kini tahu-tahu gadis itu berada di luar kamar tanpa pengetahuan mereka? Apakah tadi mereka bermimpi? Padahal mereka tidak pernah tidur. Bagaimanapun juga, melihat adanya gadis itu, hati mereka tidak khawatir. Kalau gadis itu tidak berada di dalam kamar majikan mereka, apa yang mereka khwatirkan? Biarkan si gendut itu membikin ribut, kalau majikan mereka yang kini tentu sendirian saja keluar, tentu si gendut itu yang akan mendapat kemarahan! Kiranya majikan mereka sedang tidur sendirian di kamar itu!


Melihat dua orang penjaga itu tidak menghalanginya lagi, Gui Lok lalu menghampiri daun pintu kamar itu dan menggedor-gedor dengan keras. "Buka pintu! Kim Hwa, engkau tidak perlu sembunyi! Aku sudah tahu bahwa engkau berada di dalam bersama laki-laki lain! Engkau perempuan busuk, pelacur hina, isteri yang menyeleweng tak tahu malu!"

Karena Gui Lok dilanda kemarahan hebat, maka dia berteriak-teriak seperti orang gila. Tentu saja teriakannya yang keras itu membangunkan semua tamu dan sebentar saja, semua kamar di rumah penginapan itu terbuka dan para tamu sudah keluar dari dalam kamar untuk menonton pertunjukan menarik itu. HayHay juga keluar dari kamarnya, bersama para tamu ikut pula menonton. Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Ai Ling yang nampak khawatir, dia berkedip dan menganggukkan kepala, seolah memberi jaminan kepada gadis itu agar tidak usah takut karena ada dia yang akan melindunginya. Dan anehnya, melihat pemuda itu, hati Ai Ling menjadi agak tenteram, tidak lagi ketakutan seperti tadi.

"Hayo buka, kau perempuan laknat, pelacur hina tak tahu malu! Dorr-dorr-dorr!!"

Cui Lok terus menggedor pintu dengan kemarahan meluap, apa lagi melihat munculnya banyak tamu. Semua orang melihat dan mengetahui betapa isterinya telah menyeleweng. Betapa malunya dia kalau tidak dapat membikin perhitungan dengan isterinya itu!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya mereka yang sedang bermesraan di dalam kamar itu. Baru saja Hartawan Coa dan Kim Hwa mendapatkan kenyataan yang mengejutkan hati mereka berdua, Kim Hwa mulai ditinggalkan pengaruh obat bius dan ketika ia sadar lalu mendapatkan dirinya dalam pelukan Hartawan Coa, hampir saja ia menjerit. Bukankah seharusnya ia berada dalam pelukan pemuda tampan yang pandai merayu itu? Kenapa kini ia berada dalam rangkulan Hartawan Coa yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, penuh bulu kasar, mukanya hitam dan bopeng? Bukankah seharusnya Ai Ling yang berada di pelukan hartawan ini? Akan tetapi ia seorang wanita yang cerdik. Walaupun ia tidak mengerti mengapa bisa begini, namun ia pandai bersandiwara dan dengan manja ia lalu mempererat rangkulannya dan mengeluarkan suara rintihan manja. Sementara itu, Hartawan Coa juga sudah tidak lagi terpengaruhi kekuatan sihir yang dilepaskan Hay Hay tadi, dan kini dia melihat bahwa yang dipeluk dan digumulinya sejak tadi bukanlah gadis yang dirindukannya itu, melainkdn isteri Gui Lok, nyonya muda yang cantik dan genit itu! Diapun terkejut mengapa bisa terjadi perubahan ini! Padahal tadi, jelas dia melihat bahwa yang dibimbingnya masuk adalah Ai Ling dan gadis itu tadi menurut saja tanpa melawan karena berada dalam pengaruh obat bius. Akan tetapi, mengapa kini mendadak berganti orang? Bagaimanapun juga, hartawan ini memang cocok dengan Kim Hwa dan biarpun dia terheran, dia tidak begitu perduli lagi setelah merasakan kehangatan tubuh dan kepandaian Kim Hwa merayu dan melayaninya. Diapun mendekap semakin kuat dan keduanya tenggelam ke daam gelombang nafsu yang tak pernah mengenal puas. .

Mereka berdua sedang terlena di ambang kepulasan karena lelah ketika tiba-tiba mereka dikejutkan oleh geduran pada daun pintu kamar itu! Mendengar teriakan suaminya, tentu saja Kim Hwa terkejut setengah mati dan iapun cepat melepaskan diri dari rangkulan Hartawan Coa dan tergesa-gesa mengenakan pakaiannya. Ia lari ke jendela, hendak membuka jendela kamar itu, akan tetapi betapa heran dan khawatirnya ketika ternyata daun jendela itu macet, sama sekali tidak dapat dibukanya. Tentu saja ia menjadi panik. Melihat ini, Coa Wan-gwe lalu menghampiri jendela dan diapun mencoba untuk membukanya. Sia-sia belaka. Biarpun hartawan ini memilik tenaga yang besar, namun daun jendela itu sama sekali tidak dapat dibukanya, macet. Hal ini tidaklah aneh karena macetnya daun jendela itu bukan sewajarnya, melainkan karena perbuatan Hay Hay.

"Sudahlah, tidak perlu gelisah. Biar aku yang bertanggung jawab!" kata hartawan itu, teringat akan kedudukan dan kekuasaannya. Apa artinya seorang Gui Lok baginya?

"Tapi……… tapi suamiku di depan kamar! Dia akan marah…….. "


"Huh, coba saja apa yang dapat dia lakukan kepadaku! Coba dia marah kepadaku kalau berani kusuruh hajar dia sampai mampus! Hartawan itu makin besar hatinya karena bukankah di depan pintu itu selalu ada dua orang pengawal yang menjaga keselamatannya?

Mendengar ucapan hartawan itu, hati Kim Hwa tidak menjadi lega, bahkan semakin khawatir. Diraihnya lengan hartawan itu dan ditahannya ketika ia hendak keluar dari kamar.

"Kau akan dapat menyelamatkan diri dengan mudah, dia tidak berani mengganggumu, akan tetapi bagaimana dengan aku? Harap jangan tinggalkan aku di sini……….!"

Coa Wan-gwe mengerutkan alisnya dan mengibaskan lengannya sehingga wanita itu terpelanting ke atas pembaringan. "Huh, jangan banyak tingkah kamu! Salahmu sendiri! Bukankah engkau berjanji akan mengantarkan Ai Ling kepadaku di kamar ini? Akan tetapi, engkau sendiri yang datang menggantikan anakmu. Perempuan tak tahu malu!"

Kim Hwa terkejut dan tidak berani bicara lagi, hanya memandang dengan mata terbelalak ketika hartawan itu membuka daun pintu kamar itu dan melangkah keluar dengan mengangkat dada. Gui Lok yang berada di depan kamar itu, sudah siap untuk marah-marah, akan tetapi begitu melihat Hartawan Coa, nyalinya menjadi kecil dan dia hanya memandang bengong seperti berubah menjadi arca.

"Hemm, Gui Lok! Mau apa engkau lancang menggedor pintu kamarku? Bukankah kamar ini sudah kusewa? Kautahu, rumah penginapan ini dapat kubeli, juga kepalamu dapat kubeli. Mengerti?"

Mendengar bentakan hartawan ini, seketika keberanian dan kemarahan Gui Lok menguncup dan kakinya gemetar.

"Maaf, tai-ya, tapi…….. tapi isteriku………."

"Peduli apa dengan isterimu! Aku tidak memanggilnya ke sini! Tanyakan saja kepada isterimu sendiri! Tapi kau…….. yang sudah berani menggangguku, menggedor pintu kamarku secara kurang ajar, tidak dapat kumaafkan begitu saja. Kau perlu dihajar!" Tangan yang besar dari hartawan itu menyambar dan sebuah pukulan mengenai kepala Gui Lok.

"Plakk!" Si perut gendut itu terpelanting dan jatuh. Hartawan Coa melangkah maju, siap menendangi kepala Gui Lok yang dianggapnya telah kurang ajar dan membikin malu kepadanya di depan begitu banyak orang. Maka, di depan para tamu yang sudah jadi penonton, dia hendak menghajar Gui Lok agar namanya kembali terang dan disegani orang.

Kaki yang besar dan dilindungi sepatu kulit yang tebal dan keras itu menyambar ke arah kepala Gui Lok.

"Dukkk!" Akibatnya, bukan kepala itu yang tertendang dan Gui Lok mengeluh kesakitan, sebaliknya malah Hartawan Coa memekik kesakitan, mengangkat kaki yang menendang, memeganginya dan kaki yang sebelah lagi jingkrak-jingkrak. Serasa patah-patah tulang kakinya ketika tadi dia menendang, kakinya itu bertemu dengan sebuah kaki lain, yaitu kaki Hay Hay. Melihat ada seorang pemuda sederhana yang tadi menyambut tendangannya dengan tangkisan kaki, yang menyebabkan kakinya terasa nyeri setengah mati, Hartawan Coa menjadi marah bukan main.


"Hajar dia! Bunuh dia!" teriaknya kepada dua orang pengawal yang sejak tadi hanya menjadi penonton. Ketika mereka melihat majikan mereka menghajar Gui Lok, mereka diam saja. Sama sekali tidak mereka sangka bahwa akan ada orang yang berani melindungi Gui Lok dan bahkan membuat kaki majikan mereka kesakitan.


"Pemuda lancang, berani kau menentang majikan kami?" Dua orang tukang pukul itu meloncat ke depan, menghadapi Hay Hay yang berdiri tegak sambil tersenyum tenang.

"Ha-ha, kalian ini dua ekor anjing yang setia kepada majikan, sungguh pandai mengonggong! Nah, lanjutkan gonggonganmu agar semua orang melihat kalian!"

Kini semua orang yang telah keluar dari kamar masing-masing dan menonton keributan itu, terbelalak heran ketika melihat betapa dua orang tukang pukul yang tadi bersikap galak, kini tiba-tiba saja mereka menjatuhkan diri berdiri di atas kaki dan tangan seperti binatang berkaki empat, dan mereka berdua segera menggonggong seperti dua ekor anjing yang sedang marah! Tentu saja gonggongan mereka tidak seperti anjing, dan mereka yang menonton, tadinya terbelalak keheranan dan mengira dua orang itu main-main atau mendadak menjadi gila. Akan tetapi keadaan yang lucu itu membuat mereka tidak dapat menahan ketawa mereka. Bahkan Hartawan Coa sendiripun lupa akan kenyerian kakinya dan diapun berdiri bengong memandang kepada anak buahnya. Apakah kedua orang pengawalnya itu mendadak menjadi gila? Sementara itu, Gui Lok yang tadi terhindar dari hajaran yang lebih hebat, sudah bangkit berdiri dan diapun melihat peristiwa aneh itu sehingga sejenak lupa kepada isterinya yang menjadi biang keladi keributan itu.


Hay Hay tersenyum dan menghampiri dua orang tukang pukul yang masih merangkak-rangkak itu, kemudian kaki kirinya bergerak dua kali dan dua orang tukang pukul itu sudah kena ditendang, terlempar dan terbanting jatuh. Agaknya setelah jatuh, baru mereka sadar akan keadaan diri mereka. Cepat mereka meloncat dan sudah mencabut golok dari pinggang. Lalu dengan kemarahan meluap karena mereka merasa dibikin malu di depan banyak orang, mereka lalu menerjang dan menyerang Hay Hay dengan bacokan golok dari atas ke bawah, ke arah kepala pemuda itu.

Semua orang melihat dengan hati ngeri betapa dua batang golok itu dengan tepat mengenai kepala pemuda itu dan dengan mudahnya, seperti agar-agar saja, kepala itu terbelah menjadi tiga potong oleh dua bacokan itu. Akan tetapi, tidak ada darah keluar ketika tubuh yang terbelah menjadi tiga buah itu terkulai jatuh, mengeluarkan suara bising. Akan tetapi ketika mereka semua memandang, termasuk dua orang tukang pukul itu, terdengar seruan heran melihat bahwa yang terbabat buntung mejadi tiga potong itu sama sekali bukan tubuh orang melainkan sebuah bangku panjang yang kini menjadi tiga potong! Pantas saja mengeluarkan suara bising! Ke mana larinya pemuda aneh itu tadi?

Kiranya, pemuda itu telah berdiri di belakang dua orang tukang pukul itu. Kini, tiba-tiba kedua tangannya menjambak rambut dua orang tukang pukul itu dari belakang dan sekali dia menggerakkan kedua tangan mengadu dua buah kepala itu, dua orang pengawal itu mengeluh, goloknya terlepas dan ketika Hay Hay melepaskan kedua tangannya, mereka terkulai lemas seperti karung basah dan jatuh pingsan!


Melihat ini, semua orang kagum dan juga terheran-heran. Hartawan Coa yang tadinya memandang bengis, kini menjadi pucat sekai. Apalagi ketika pemuda itu menghampirinya. "Coa Wan-gwe, engkau pulanglah dan bawa dua ekor anjingmu ini. Sebentar nanti aku akan datang berkunjung ke rumahmu, ada urusan penting yang hendak kubicarakan denganmu."


Sekali ini Hartawan Coa tidak banyak cakap lagi. Dia maklum bahwa menghadapi pemuda ini, dia tidak berdaya. Dia harus mengerahkan semua pengawalnya kalau mau menghadapi dan menentang pemuda aneh ini. Dia lalu menendang-nendang dua orang pengawalnya. Mereka siuman dan terheran-heran, akan tetapi segera teringat akan keadaan mereka, maka ketika majikan mereka memberi isarat, merekapun seperti dua ekor anjing ketakutan, lalu mengikuti Hartawan Coa meninggalkan rumah penginapan, bahkan melupakan golok mereka.


Sementara itu, begitu hartawan itu pergi, Gui Lok menyerbu ke dalam kamar. Dia melihat isterinya masih duduk ketakutan di atas pembaringan.


“Perempuan lacur! Tak tahu malu!" bentaknya dan diapun menjambak rambut isterinya. Rambut itu terurai dan diseretnya tubuh wanita itu keluar kamar.


"Lihat semua! Lihat baik-baik perempuan ini. Ia bernama Kim Hwa dan dari pecomberan kuangkat ia menjadi isteriku, akan tetapi kini ia melakukan penyelewengan dengan laki-laki lain! Ia tiada bedanya dengan seekor babi betina, biar dibersihkan dan ditempatkan di manapun, diberi tempat yang bersih dan baik, tetap saja babi betina ini memilih pecomberan. Nah, mulai saat ini, ia bukan isteriku lagi dan kuusir ia. Pergilah kamu, perempuan laknat! Ketika kaukupungut, engkau tidak mempunyai apa-apa, sekarang engkau pergilah dan boleh kaumiliki pakaian dan perhiasan yang menempel ditubuhmu!"

Kalau saja mereka hanya berduaan, tentu Kim Hwa akan minta-minta ampun dan mempergunakan segala daya kecantikannya, segala ilmunya merayu untuk melemahkan hati suaminya dan agar dirinya diampuni. Akan tetapi apa hendak dikata, peristiwa itu terjadi didepan puluhan pasang mata yang menjadi penonton dan disana sini ia mendengar cemoohan dan celaan kepada dirinya, maka sambil menutupi mukanya dan menangis, iapun lari keluar dari rumah penginapan yang tadinya menjadi miliknya itu. Beberapa bulan kemudian orang sudah mendapatkan dirinya menjadi kembang dari sebuah rumah pelacuran dari sebuah kota besar dekat kota raja!



Sebelum Gui Lok dah puterinya, Gui Ai Ling, sempat menghaturkan terima kasih kepadanya, Hay Hay sudah cepat menghilang dari kamar itu pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, sambil membawa buntalan uang emasnya.


Dan pagi-pagi sekali itu, dia sudah berada di depan pintu gerbang pekarangan gedung Hartawan Coa! Ternyata pekarangan itu telah penuh dengan pasukan pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari dua lusin orang bersenjata lengkap! Mereka itu telah diperingatkan oleh Hartawan Coa agar berjaga dengan ketat dan terutama sekali menjaga kalau ada muncul seorang pemuda berpakaian sederhana yang memakai caping lebar. Hartawan Coa yang semalam mengalami kekagetan itu, setibanya di rumah mengumpulkan para pembantunya dan dia menjadi semakin terkejut dan khawatir ketika menerima laporan bahwa pemuda yang bercaping lebar, pemuda yang itu-itu juga, telah pula mengacau rumah judi, bahkan telah menggondol puluhan tail emas yang dimenangkan dalam permainan dadu di mana pemuda itu menggunakan ilmu yang aneh seperti sihir. Dan diapun teringat betapa dua orang pengawalnya juga disihir sehingga menggonggong seperti anjing, kemudian betapa tubuh pemuda itu kelihatan terpotong-potong,akan tetapi ternyata yang terpotong itu hanya bangku panjang! Jelas, pemuda yang itu-itu juga, pikirnya. Maka diapun mengerahkan seluruh pasukan pengawal untuk melakukan penjagaan di pekarangan, di sekeliling rumah gedungnya, bahkan ada yang berjaga di dalam gedung dan di atas atap! Barulah dia merasa aman dan dapat tidur pulas.


Ketika Hay Hay muncul pagi-pagi sekali, hartawan itu masih belum bangun. Ketika para penjaga itu melihat munculnya seorang pemuda yang memakai caping lebar, berdiri di depan pintu gerbang, segera mereka menjadi panik. Tentu saja mereka itu gentar sekali karena mereka sudah mendengar cerita kawan-kawan mereka tentang sepak terjang pemuda itu di rumah judi, juga cerita dua orang tukang pukul yang menderita pengalaman pahit di rumah penginapan. Betapapun juga, karena kini di pekarangan itu dan di dalam rumah terdapat kepala-kepala pengawal yang merupakan orang-orang berkepandaian silat tinggi, mereka tidak menuruti hati yang gentar. Dengan memberanikan hati, mereka lalu mengikuti pimpinan mereka menyambut kedatangan pemuda itu.


Kepala pengawal yang kini berjaga dirumah gedung Hartawan Coa ada tiga orang. Yang pertama adalah seorang jagoan dari kota raja bernama Thio Kang berjuluk Tiat-ci (Si Jari Besi), terkenal sebagai seorang yang memiliki tangan seperti besi, dapat menusuk papan tebal dan batu sampai tembus dan selain itu, pandai pula bermain sepasang pedang. Tiat-ci Thio Kang ini adalah seorang jagoan yang berasal dari kota raja, bahkan pernah menjadi jagoan di istana kaisar! Kini menjadi jagoan nomor satu dari Coa Wan-gwe, bergajih besar. Jagoan ini berusia kurang lebih lima puluh lima tahun, bertubuh jangkung kurus kering, sikapnya tinggi hati, sikap seorang yang percaya akan kemampuan diri sendiri dan memandang rendah orang lain. Jagoan ke dua berjuluk Hek-houw (Harimau Hitam) bernama Ji Sun. Hek-houw Ji Sun ini, sesuai dengan julukannya, berperawakan kokoh, tinggi besar berkulit hitam dan dia memiliki ilmu silat harimau yang menubruk dan mencengkeram, tangkas sekali, di samping ahli bermain golok dan perisai. Usia jagoan nomor dua ini sekitar empat puluh lima tahun. Adapun jagoan nomor tiga bernama Phang Su, ju!ukannya Kang-thouw-cu (Si Kepala Baja) dan tubuhnya pendek gemuk bundar. Kepalanya yang besar dan bundar itu terkenal sekali amat kuat, kebal dan dapat membobolkan tembok, sesuai dengan julukannya. Selain keahlian mempergunakan kepala sebagai senjata, juga Kang-thouw-cu Phang Su pandai memainkan sebatang rantai besi yang berat.


Tiga orang kepala pengawal ini tentu saja sudah mendengar akan sepak terjang seorang pemuda bercaping lebar yang mengacau di rumah judi dan di rumah penginapan bahkan telah mengganggu majikan mereka. Akan tetapi, mereka adalah jagoan-jagoan besar, terutama sekali Tiat-ci Thio Kang, tentu saja memandang rendah kepada pengacau yang katanya mau datang berkunjung ke gedung majikannya itu. Apa yang perlu ditakutkan? Dia mengandalkan kepandaian sendiri yang sukar dicari tandingnya, hampir belum pernah kalah. Selain itu, masih ada dua orang pembantunya yang juga amat lihai, dan ada pula hampir lima puluh orang pengawal di rumah itu! Setanpun takkan mampu masuk ke dalam rumah itu tanpa ketahuan penjaga yang sudah ditempatkan di seluruh lingkungan rumah itu. Dan kalau pemuda itu benar-benar berani datang, dia tentu akan menghadapi kehancuran di sini! !


Akan tetapi, tidak urung jantungnya berdetak tegang ketika mendengar laporan anak
buahnya bahwa pagi-pagi itu, pemuda bercaping lebar telah datang dan berada di luar
pintu gerbang!


"Tahan dia di luar pintu gerbang, aku akan menemuinya sendiri!" kata Tiat-ci Thio Kang dan dia lalu mempersiapkan diri, memasang siang-kiam pedang pasangan di punggung, kemudian mengajak dua orang pembantunya untuk keluar menemui pemuda itu. Hek-houw Ji Sun dan Kang-thouw-cu Phang Su juga sudah siap siaga dengan senjata masing-masing. Mereka bertiga, diikuti puluhan orang pengawal, bersenjata lengkap seolah-olah mereka itu bukan hendak menyambut seorang pemuda, melainkan seperti hendak maju perang melawan banyak musuh!


Hay Hay yang mengintai dari balik caping lebarnya, diam-diam tersenyum melihat munculnya tiga orang yang nampaknya gagah, diiringkan oleh puluhan orang pengawal yang kesemuanya bersenjata lengkap! Dia tidak merasa heran karena tentu Hartawan Coa sudah siap siaga menanti kedatangannya dan dia dapat menduga bahwa dia akan menghadapi kekerasan dari pihak Hartawan Coa yang tentu saja merasa penasaran dan marah atas terjadinya dua peristiwa yang merugikan uangnya dan namanya, yaitu dirumah judi dan di rumah penginapan.


Dengan sikap angkuh Tiat-ci Thio Kang memberi isarat kepada Hek-houw Ji Sun sebagai wakil pembicara, untuk menegur pemuda itu. Si Harimau Hitam ini selain pandai bicara, juga orangnya tinggi besar dan suaranya lantang berwibawa. Hek-houw Ji Sun mengerti dan diapun maju dua langkah mendekati Hay Hay.


"Orang muda, siapakah engkau dan apa maksumu pagi -pagi begini da tang kesini?"


Hay Hay mendorong caping bagian depan ke belakang. Caping itu merosot turun dari kepalanya dan tergantung di pungguungnya, menutupi buntalan yang berada di punggung. Kini wajahnya nampak jelas, wajah yang periang, mulut yang selalu tersenyum nakal, hidung yang mancung, mata bersinar-sinar dan kadang-kadang mencorong aneh. Hay Hay tersenyum, lalu memandang ke arah orang-orang itu mencari-cari, lalu dia menggeleng kepala.



"Hemm, tidak kulihat dia berada di sini! Aku mencari Hartawan Coa. Harap kalian sampaikan kepada majikan kalian itu bahwa aku bernama Hay Hay ingin bertemu dengan Hartawan Coa karena ada urusan penting sekali hendak kubicarakan dengan dia."

"Hemm, orang muda, Tidak mudah bertemu dengan majikan kami. Tidak sembarang
orang boleh bertemu dengan beliau, dan karena majikan kami masih tidur, maka sampaikan saja urusanmu itu kepada kami. Kami akan melaporkan dan kalau memang majikan kami berkenan menerimamu, tentu engkau dapat menghadap."


Hay Hay tertawa. "Wah, seperti hendak menghadap seorang kaisar saja! Majikan kalian itu bukan raja, bukan pula orang berpangkat tinggi. Dia hanyalah hartawan yang memiliki rumah-rumah judi, dan kulihat dia semalam tidak begitu tinggi hati, bahkan mau bermalam di rumah penginapan umum dan tidur bersama isteri pemilik rumah penginapan! Mengapa sekarang tiba-tiba saja dia tidak mau menerimaku? Ingat, kedatanganku ini akan memberi untung kepadanya, akan menyerahkan uang lima puluh tail emas!"


Mendengar ucapan itll, tiga orang jagoan itu saling pandang. Betapa beraninya pemuda ini! Setelah memenangkan perjudian sebanyak lima puluh tail emas lebih, agaknya kini dia membawa harta itu ke sini! Mata mereka segera ditujukan ke arah punggung pemuda itu di mana terdapat buntalan yang nampaknya berat.


"Serahkan saja lima puluh tail emas itu kepada kami! Memang sudah sepatutnya engkau mengembalikan uang yang kaurampas dari rumah judi itu, dan mohon maaf kepada majikan kami!" kata pula Hek-houw Ji Sun.


Hay Hay tersenyum. "Serahkan kepada kalian? Wah, mana bisa? Kalian adalah orang-orang yang paling tidak dapat dipercaya di dunia ini! Sudahlah, tidak ada gunanya membuang banyak waktu bicara dengan orang-orang seperti kalian ini. Bangunkan saja Hartawan Coa kalau dia masih tidur, dan katakan bahwa aku datang untuk bicara dengan dia dan aku akan menyerahkan uang lima puluh tail emas."


Tiat-ci Thio Kang memberi isarat kepada pembantunya yang ke dua, yaitu Kang-thouw-cu Phang Su. Si gundul yang pendek berperut gendut ini lalu melangkah maju.

"Bocah sombong, serahkan saja lima puluh tail emas itu kepada kami, dan engkau
berlututlah, menyerah!" bentaknya dan tangannya menyambar. Kedua lengan yang pendek itu menyambar dari kanan kiri, mengirim pukulan dan totokan susul menyusul. Gerakannya yang cepat dan mengandung angin pukulan yang kuat itu menunjukkan betapa si pendek gendut ini memang bertenaga besar dan memiliki ilmu kepandaian yang sudah tinggi. Namun sekali ini dia bertemu dengan Hay Hay!


Kelihatan pemuda ini tidak bergerak sama sekali, akan tetapi serangan kedua tangan Si Kepala Baja itu tidak mengenai sasaran, demikian halus dan cepatnya gerakan Hay Hay ketika kakinya membuat geseran dan tubuhnya hanya miring sedikit dan mundur selangkah. Aneh bagi mereka yang nonton, karena nampaknya si gundul pendek yang menyerang dan luput, akan tetapi mengapa si gundul itu berteriak kesakitan dan kedua lengannya seperti mendadak menjadi lumpuh? Kang-thouw-cu Phang Su memang terkejut dan merasa kesakitan karena kedua sikunya seperti disengat kalajengking dan kedua lengan itu tergantung lumpuh selama beberapa detik. Dia tidak tahu mengapa begitu, akan tetapi Tiat-ci Thio Kang, seorang ahli totok yang pandai, dapat mengerti bahwa pemuda itu telah menotok kedua siku pembantunya itu.


"Ih, engkau kenapa sih? Datang-datang menyerang orang, lalu menjerit-jerit sendiri seperti babi disembelih?" Hay Hay sengaja mengejeknya sehingga Kang-thouw-cu Phang Su menjadi merah mukanya dan kemarahannya memuncak. Dia kini merendahkan tubuhnya, kepalanya dipasang di depan dan sikapnya seperti se- ekor kerbau yang siap mempergunakan tanduknya dan bahkan kedua kakinya menggaruk-garuk tanah di depannya. Sungguh sikap ini. lucu sekali dan agaknya si gundul pendek ini memang mendapatkan ilmunya dari gerakan seekor kerbau marah! Hidungnya mengeluarkan suara mendengus, akan tetapi yang menarik perhatian Hay Hay adalah kepala yang gundul licin itu. Dia melihat betapa kepala itu kini mengkilap, seperti diminyaki dan digosok, dan agak kemerahan! Tahulah dia bahwa orang ini tidak boleh dipandang ringan dan agaknya memiliki ilmu serangan dengan kepalanya yang sudan terlatih baik dan kepala itu tentu mengandung tenaga yang amat dahsyat!

Benar saja dugaannya. Tiba-tiba si gundul pendek gendut itu mengeluarkan gerengan aneh dan tubuhnya lalu menerjang ke depan, dengan kepala lebih dulu, seperti terjangan seekor kerbau! Hay Hay tidak mau menyambut kepala itu dengan tangan atau badannya, karena dia tidak ingin membunuh orang. Pertemuan tubuhnya dengan kepala itu membahayakan nyawa lawan karena kalau sampai kepala itu terluka sedikit saja di bagian dalamnya, maka si pendek itu akan tewas! Maka, diapun lalu cepat mengelak sambil melompat ke kanan belakang. Akan tetapi, kembali Kang-thouw-cu Phang Su sudah membalikkan tubuh dan menerjangnya lagi. Sungguh seperti sikap seekor kerbau. Hay Hay melompat lagi, kini dia tiba di dekat sebatang pohon sebesar pinggangnya. Sengaja dia membelakangi pohon itu dan kini kembali lawannya sudah menerjang dari depan, lebih hebat dari pada tadi. Dia menanti sampai kepala itu dekat sekali, lalu tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas melewati kepala lawan.


"Brakkkkk!" 'Kepala itu menghantam batang pohon dan seketika pohon itu tumbang, batangnya patah dan remuk terkena terjangan kepala yang gundul itu! Hay Hay memandang kagum. Memang seperti yang telah dia duga. Lawannya memiliki kepala di mana terkumpul tenaga yang dahsyat. Tentu saja dia akan mampu menerima terjangan kepala itu dengan perut atau dada atau tangannya, akan tetapi akibatnya akan terlalu hebat kemungkinan besar kematian bagi orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak pernah bermusuhan dengan dia itu. Kembali Kang-thouw-cu Phang Su sudah menerjang ke depan, sepasang matanya melirik juling, persis kerbau marah atau kerbau gila. Kembali Hay Hay sengaja bergerak lambat. Begitu kepala itu menyeruduk, Hay Hay miringkan tubuhnya dan kepala itu lewat dekat sekali dengan perutnya, hanya dua sentimeter saja jaraknya dan secepat kilat menyambar, tangan Hay Hay bergerak.

"Plakkk!" Tangan itu menghantam tengkuk, tidak terlalu keras akan tetapi cukup membuat Kang-thouw-cu Phang Su terjungkal dan bergulingan sambil mengaduh-aduh, kedua tangan sibuk menjangkau tengkuk yang terkena tamparan tadi. Kalau Hay Hay menambah sedikit lagi saja tenaganya, tentu si gundul pendek itu tidak akan mampu mengeluh lagi.



Kang-thouw-cu Phang Su biasanya amat mengandalkan diri sendiri. Maka, biarpun lehernya terasa seperti akan patah-patah dan kepalanya berkunang, dia masih cepat melompat bangkit lagi dan memandang kepada Hay Hay yang tersenyum lebar itu dengan pandang mata merah. Seperti hendak ditelannya bulat-bulat pemuda di depannya yang sudah membuat dia malu itu.


"Wuuuttt!" Tangan kanannya sudah memegang rantai baja yang tadi dilibatkan di pinggangnya. Rantai ini terbuat dari baja, panjangnya satu setengah meter dan cukup berat sehingga ketika diputar-putar, terdengar suara angin bersiutan. Tanpa banyak cakap lagi, dia sudah menerjang ke depan dengan serangan rantainya ke arah kepala Hay Hay. Dengan mudah saja Hay Hay merendahkan tubuh dan rantai itu lewat di atas kepala. Akan tetapi, sekali putaran rantai itu sudah menyambar lagi ke arah kakinya, dan Hay Hay kembali mengelak dengan loncatan sehingga rantai itu menyambar ke bawah kaki. Kini rantai berputar dan menyerang ke arah pinggangnya!


Melihat datangnya rantai yang menyambar ke arah pinggangnya, Hay Hay tidak mengelak lagi, melainkan melindungi pinggang dengan sin-kang. Rantai itu datang melibat pinggangnya, cepat dan kuat sekali sehingga pinggangnya sudah dilibat dua kali. Kini, dengan wajah giI:ang membayangkan kemenangan di depan mata, untuk menebus beberapa kali kekalahannya tadi, Kang-thouw-cu Phang Su mengerahkan seluruh tenaga yang ada dan menarik! Dia ingjn membuat pemuda itu tersungkur dj depan kakinya. Akan tetapi, dia merasa seolah-olah tangannya menarik sebuah karang yang amat besar dan berat. Sedikitpun tubuh Hay Hay tidak terbetot, apa lagj sampaj roboh tersungkur! Kang-thouw-cu merasa penasaran sekali. Kembali dia menarik dan menarik, makin lama semakin kuat, menahan napas yang membocor sana-sini sampaj terdengar suaranya ah-ah-uh-uhh!


“Brooottt!" Saking penasaran dan kuatnya dia menarik dan menahan napas, ada angin membocor dari bawah! Beberapa orang sempat tertawa karena geli dan wajah Kang-thouw-cu menjadi semakin merah.


"Wah, tak tahu malu…….. !" Hay Hay menggunakan jari tangan kanan untuk menjepit hidungnya. "Bau……. bau……. ! Pergilah!" Kakinya menendang.


"Desss……. !" Perut gendut itu kena ditendang dan tubuh itupun terlempar, terbanting dan bergulingan. Si gendut merasa mulas sekali dan diapun tidak mampu bangkit kembali, hanya menekan-nekan perut yang terasa mulas dalam keadaan setengah pingsan!

Melihat rekannya tak mampu melawan lagi, Hek-houw Ji Sun marah bukan main. Kekalahan rekannya ini berarti merupakan sesuatu yang memalukan dirmya juga. Dia masih belum percaya bahwa rekannya itu kalah melawan pemuda mi. Akan tetapi kenyataan itu tidak membuat dia jerih.


"Bagus! Pemuda sombong, kiranya engkau memiliki juga sedikit kepandaian! Pantas engkau berani membuat kekacauan di kota Shu-lu mi!" Dia meloncat ke depan, berhadapan dengan Hay Hay. "Kalau engkau mampu menandingi Hek-houw Ji Sun, barulah aku mengakui kehebatanmu!"


"Sungguh di sini banyak harimaunya! Ada harimau gundul, ada harimau hitam, dan entah harimau apa lagi. Akan tetapi sayang, harimau-harimau di sini agaknya udah ompong dan kehilangan kukunya, sehingga hanya pantas untuk menakut-nakuti kanak-kanak saja. Hek-houw Ji Sun, aku tidak mencari permusuhan deIgan kalian atau dengan siapapun juga. Aku hanya ingin bertemu dengan Hartawan Coa, mengapa kalian menghalangi dan mencari keributan dengan aku?"


Hek-houw Ji Sun mendelik dan dia lal mengeluarkan suara gerengan yang mengejutkan hati Hay Hay juga. Banyak anak buah para jagoan itu sendiri sampai terkulai seperti mendadak kaki mereka lumpuh ketika gerengan yang merupakan auman itu menggetarkan jantung mereka. Tahulah Hay Hay bahwa orang ini mahir sekali mempergunakan suara untuk menyerang lawan. Semacam ilmu khi-kang yang disalurkan lewat suara untuk menyerang! Pantas dia menjadi juru bicara teman-temannya. Hay Hay tidak pernah memandang rendah lawannya. Akan tetapi, serangan melalui auman harimau itu lewat tanpa mempengaruhinya. Kalau hanya serangan seperti itu saja tidak ada artinya bagi Hay Hay. Kalau dia mau, dia dapat membalas dengan serangan melalui suara yang seketika akan melumpuhkan lawan!


Seperti kebanyakan para jagoan tukang pukul yang biasa mengandalkan kekerasan dalam hidup mereka, juga Hek-houw Ji Sun ini terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, memandang remeh orang lain. Biarpun dia tadi melihat betapa rekannya kalah oleh Hay Hay dengan mudah, namun dia masih belum mau mengakui kehebatan lawan dan kini dia menyerang dengan tangan kosong, mengandalkan keampuhan ilmu silatnya yang dia beri nama Hek-houw sin-kun (silat sakti Harimau Hitam). Begitu gerengannya lenyap dan tinggal gemanya saja, dia sudah menyerang. Tubuhnya melompat seperti seekor harimau menubruk, kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangan itu membentuk cakar, mencengkeram ke arah leher dan ubun-ubun kepala lawan!


Hay Hay sudah waspada. Dia cepat mengelak dan membiarkan tubuh lawan lewat. Kalau dia mau, alangkah mudahnya untuk menyambut serangan itu dengan serangan balasan, akan tetapi dia tidak ingin menghilangkan muka lawan ini. Memang ilmu silat dari Hek-houw Ji Sun itu hebat sekali. Cepat dan juga mengeluarkan angin pukulan yang kuat, dan jari-jari tangan itu sanggup merobek benda yang kuat dan keras, apalagi hanya kulit dan daging tubuh manusia! Namun, semua serangannya selalu dapat dielakkan oleh Hay Hay. Beberapa kali dia menubruk dan selalu gagal. Karena itu, dia lalu menyerang dari jarak dekat. Kedua tangannya, seperti cakar harimau, menyambar-nyambar dengan kuat sekali.


Hay Hay terpaksa menangkis ketika tangan kiri lawan dengan cepat bukan main mencengkeram ke arah lambung kanannya. Tangan kanannya menangkis lengan lawan, akan tetapi tangan yang tertangkis itu cepat membalik dan kini mencengkeram lengan kanan Hay Hay dekat siku. Lengan itu kena dicengkeram dan Hek-houw Ji Sun sudah merasa girang sekali karena tentu lengan itu akan dapat dia cengkeram sampai patah dan buntung! Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika jari-jari tangannya merasa betapa lengan yang dicengkeramnya itu licin sekali, seperti batangan baja yang diminyaki sehingga cengkeramannya meleset dan hanya merobek lengan baju!



Breettt!" Tangan Hay Hay cepat sekali meraih baju orang dan sekali renggut, baju di
bagian perut dan dada dari Hek-houw Ji Sun terobek lebar sehingga nampak perut dan
dadanya yang berkulit hitam!


"Salahmu sendiri, engkau merobek lengan bajuku, maka akupun harus merobek bajumu baru lunas!" kata Hay Hay. Diam-diam Hek-houw Ji Sun terkejut. Kalau dia tadi merobek lengan baju, hal ini tidak disengajanya karena dia gagal mencengkeram patah lengan pemuda itu. Sebaliknya, pemuda itu sengaja merobek bajunya. Kalau pemuda itu menghendaki, tentu bukan bajunya yang dirobek, melainkan perut dan dadanya! Baru dia tahu benar bahwa ilmu silat dan gerakan pemuda ini memang hebat bukan main, maka dia tidak mau mengalami seperti rekannya tadi dan cepat dia sudah melompat ke samping, menyambar golok dan tameng (perisai) yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

"Orang muda, keluarkan senjatamu! Mari kita bertanding senjata!" tantangnya dengan garang.

Hay Hay tersenyum. Dia melihat betapa lengan bajunya yang kanan sudah robek, maka dia menggunakan tangan kiri untuk merenggut putus robekan itu. Kini ada robekan kain dari lengan bajunya, hanya sehelai kain yang panjangnya sete ngah meter.


"Baik, Hek-houw Ji Sun, inilah senjataku!"


Semua orang terbelalak, dan wajah Ji Sun yang hitam menjadi semakin hitam karena darah naik banyak ke kepalanya. Dia telah dipandang rendah, dihina bah kan oleh musuhnya yang masih muda itu Bagaimana mungkin ada orang berani menghadapi golok dan perisainya yang sudah terkenal kehebatannya itu hanya dengan sepotong kain yang pendek? Pemuda ini mencari mampus! Juga semua orang memandang dengan heran, tidak percaya bahwa pemuda itu akan berani menghadapi sepasang senjata itu dengan sepotong kain!


"Orang muda, aku bukan seorang yang suka mempergunakan kellCikan untuk mencari kemenangan. Keluarkan senjatamu agar engkau tidak mati konyol dan orang akan mentertawakan aku!"


"Aih, engkau menantang berkelahi dengan senjata dan ini adalah senjataku! Engkau tidak percaya? Hemm, dengan senjataku yang istimewa ini aku sanggup mengalahkan sepuluh ekor harimau, apa lagi baru seekor! Majulah, Hek-houw Ji Sun dan hati-hatilah agar jangan sampai engkau kalah dalam waktu kurang dari sepuluh jurus!"


Sepasang mata Ji Sun terbelalak, mendelik saking marahnya, "Bagus. Bocah sombong! Kalau aku kalah olehmu kurang dari sepuluh jurus, aku akan berlutut dan menyembahmu!"

"Begitukah? Baik!" Belum juga Hay Hay menutup mulut, sudah ada sinar golok menyambar dengan kecepatan kilat. Hay Hay cepat mengelak sambil mundur dan diam-diam harus mengakui bahwa gerakan Hek-houw Ji Sun ini lebih hebat dibandingkan gerakan Kang-thouw-cu Phang Su dengan rantai bajanya tadi.


Memang hebat permainan golok dan perisai itu. Golok itu berkelebatan menyambar-nyambar, sedangkan tubuh Hek-houw Ji Sun praktis bersembunyi di balik perisai! Sukar sekali bagi lawan untuk menyerang tubuhnya, sedangkan dia dengan enaknya dapat mengincar lawan dan melakukan serangannya dari bawah atau samping perisai yang terbuat dari baja tebal dan kuat!


Akan tetapi, kini dia menghadapi seorang lawan yang jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya, bahkan gurunya sendiri sekalipun belum tentu akan dapat menandingi pemuda ini! Dengan mudah sekali Hay Hay dapat menghindarkan diri dari setiap sambaran golok, padahal dia seolah-olah tidak pernah mengelak lagi. Tahu-tahu sambaran golok itu luput. Hal ini karena dia telah mempergunakan ilmu langkah-langkah sakti Jiauw-pou-poan-san. Akan tetapi, biarpun sambaran goloknya selalu tidak pernah menyentuh lawan, Hek-houw Ji Sun menyerang terus bertubi-tubi dan dia tetap bersembunyi di balik perisainya. Diam-diam Hay Hay maklum betapa lihai dan cerdiknya lawan ini. Agaknya, Hek-houw Ji Sun kini mengetahui benar akan kelihaian lawan, maka dia teringat akan janimya dan andaikata dia harus kalah sekalipun, dia harus dapat mempertahankan diri sampai sepuluh jurus! Dan ini hanya dapat dia lakukan dengan serangan bertubi-tubi sambil bersembunyi di balik perisainya! Dan kini dia sudah menyerang selama tujuh jurus! Tinggal tiga jurus lagi dan dia dapat bertahan sampai sepuluh jurus!


"Wirrr……… !" Golok itu kembali menyambar. Sekali ini tubuh Hek-houw Ji Sun hampir mendekam di atas tanah, ditutupi perisai dan golok itu menyambar di atas kakmya yang nampak terjulur di bawah perisai, golok menyambar ke arah kaki Hay Hay. Kembali hal ini menunjukkan kecerdikan Ji Sun. Dia agaknya tahu bahwa kelihaian pemuda itu yang selalu dapat menghindarkan diri dari sambaran goloknya terletak pada geseran-geseran dan langkah-langkah kaki. Oleh karena itu, kini dia menyerang kaki pemuda itu, sambil bersembunyi di balik perisainya sehingga dia sudah berani memastikan dalam hatinya bahwa tentu dia akan mampu mempertahankan sampai lebih dari sepuluh jurus! Katakanlah dia tidak akan menang melawan pemuda ini, akan tetapi kalau dia sudah mampu mempertahankan diri selama lebih dari sepuluh jurus, berarti dia sudah dapat membersihkan mukanya karena pemuda itu seperti kalah bertaruh!


Sama sekali Hek-houw Ju-sin tidak tahu bahwa Hay Hay memang sengaja mengalah. Kalau pemuda itu menghendaki, dengan dasar tingkat ilmu kepandaiannya yang jauh lebih tinggi, dalam dua tiga jurus saja agaknya dia sudah akan mampu melumpuhkan semua perlawanan Hek-houw Ju-sin! Hay Hay memang sengaja membiarkan lawannya menyerangnya secara bertubi-tubi sambil memperhatikan permainan golok dan perisai itu, mencari titik kelemahan. Kalau dia mau mengerahkan sin-kangnya, dengan tangan kosong saja agaknya dia akan mampu memukul pecah perisai itu, atau kalau dia mau mempergunakan kekuatan sihirnya, juga mudah baginya untuk menundukkan lawan. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal itu, menanti sampai Ji Sun menyerangnya selama delapan jurus. Kemudian, meliha tbetapa kaki kiri lawan itu terjulur keluar dari lindungan perisai, secepat kilat buntungan lengan baju itu menyambar ke arah pergelangan kaki itu, seperti seekor ular kain itu membelit kaki. Hek-houw Sun terkejut bukan main, menggerakkan goloknya untuk membacok putus kain itu, akan tetapi pada saat itu, Hay Hay telah menarik kain itu dengan tiba-tiba sambil mengerahkan tenaganya dan…… tubuh Hek-houw Ji Sun yang tinggi besar itu terlempar ke atas. Biarpun tubuhnya sudah melambung ke atas, kaki kirinya masih saja terlibat kain, dan sekali sentakan kebawah, tubuhnya meluncur lagi ke bawah, dan sebelum menghantam tanah, kembali Hay Hay menggerakkan tangan dan demikianlah, tubuh itu diputar-putar oleh Hay Hay, makih lama semakin cepat sepertl kitiran dan akhirnya, Hay Hay melepaskan kain dan tubuh itupun meluncur sampai jauh dan terbanting ke atas tanah. Hek-houw Ji Sun sudah kehilangan golok dan perisainya yang terlepas ketika diputar-putar tadi, dan begitu tubuhnya terbanting ke atas tanah, diapun cepat meloncat bangun. Semua orang sudah merasa kagum melihat betapa si tinggi besar hitam yang sudah dipurat-putar seperti itu dan terbanting jatuh, begitu jatuh sudah dapat bangkit kembali. Juga Hay Hay memandang terbelalak. Betapa kebal tubuh orang itu, pikirnya. Akan tetapi dia lalu tersenyum melihat betapa tubuh itu terhuyung-huyung, lalu jatuh terkulai dan tidak bergerak lagi karena pingsan. Kiranya, Hek-houw Ji Sun hanya bangkit sebentar saja. Kepalanya terasa pening, pandang matanya berputar-putar dan dia roboh pingsan. Karena penglihatan ini memang menggelikan, di antara para anak buah yang berada disitu, banyak yang menahan senyum geli melihat tingkah jagoan kedua ini.



"Keparat......!" Tiat-ci Thio Kang membentak keras dan dia sudah menghadapi Hay Hay, mengamati wajah dan seluruh tubuh pemuda itu. Seorang pemuda yang biasa saja, pikirnya, namun mampu merobohkan Hek-houw Ji Sun dalam sembilan jurus!

"Orang muda, sebenarnya siapakah engkau, darimana dan apa maksudmu datang membikin kacau di sini?" Lagaknya tinggi, dan memang Tiat-ci Thio Kang terkenal seorang yang tinggi hati. Dia adalah jagoan yang datang dari kota raja, suka memandang rendah orang lain.


Hay Hay tersenyum. "Sudah kukatakan bahwa namaku Hay Hay, aku seorang perantau dan aku datang bukan untuk membikin kacau, melainkan untuk bertemu dan bicara dengan Hartawan Coa. Kenapa engkau dan kawan-kawanmu menghalangiku? Kalian yang membikin kacau, bukan aku!"


"Hemm, lagakmu sombong, Hay Hay. Kalau engkau mampu mengalahkan sepasang pedangku dan jari tanganku, barulah engkau boleh menghadap majikan kami.Nah, rasakan kelihaian Tiat-ci Thio Kang!" Berkata demikian, dia menggerakkan tangan dan nampak kilatan sinar sepasang pedang yang sudah dicabutnya dari punggung dan kini dia sudah memasang kuda-kuda sambil melintangkan kedua pedang di atas kepala, membentuk sebuah gunting.


Hay Hay mengangguk-angguk. "Memang kalian ini orang-orang yang tinggi hati dan biasa mengandalkan kepandaian silat untuk menggunakan kekerasan memaksakan kehendak."

"Tidak usah cerewet! Kalau engkau tidak berani, berlututlah dan menyerahkan kembali emas yang limapuluh tail itu kepadaku!"

Hay Hay sudah kehabisan kesabaran. Dia tidak mau melayani orang-orang sombong ini, maka diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihirnya dan berkata lantang. "Tiat-ci Thio Kang, engkau membawa-bawa dua ekor ular berbisa di tanganmu itu untuk apakah?"

Tiat-ci Thio Kang terkejut. "Hah? Ular berbisa……..?" Dia menurunkan kedua tangannya dan melihat sepasang pedangnya. Matanya terbelalak dan mulutnya mengeluarkan bentakan aneh, lalu dia membuang jauh-jauh dua ekor ular cobra yang dipegangnya! Dua ekor ular itu sudah mengembangkan lehernya dan agaknya siap hendak mematuknya! Untung dia cepat membuangnya, kalau tidak, sekali patuk saja dia akan tewas! Semua orang yang melihat betapa Tiat-ci Thio Kang tiba-tiba membuang sepasang pedangnya, menjadi heran sekali.


Hay Hay mengambil sepasang pedang itu dan dengan kedua tangannya, dia menekuk dua batang pedang itu. Terdengar suara "krekk! krekk!"dan dua patang pedang itu patah-patah. Pemuda itu seolah mematahkan dua batang ranting kecil yang lemah saja! Dibuangnya patahan dua batang pedang itu ke atas tanah..


Tiat-ci Thio Kang terbelalak. Ketika dia membuang dua ekor ular itu, dia meJihat betapa dua ekor ular itu terjatuh ke atas tanah lalu berubah menjadi dua batang pedangnya sendiri! Dan dia melihat pula betapa dua batang pedangnya itu dipatah-patahkan oleh pemuda yang luar biasa itu!


"Bagaimana, Tiat-ci Thio Kang, apakah engkau belum juga mau mengundang majikanmu untuk keluar menemui aku?" tanya Hay Hay yang mengharapkan agar perkelahian terhenti sampai sekian saja. Akan tetapi, watak Tiat-ci Thio Kang amat tinggi hati. Biarpun dia melihat kenyataan yang aneh ketika sepasang pedangnya berubah menjadi ular berbisa, kemudian sepasang pedang itu dipatah-patahkan lawan, hal yang membuktikan betapa lihainya lawan, dia masih belum mau menyerah kalah dan masih penasaran. Dia tidak percaya bahwa seorang pemuda sederhana seperti itu akan dapat mengalahkannya, dan mampu menandingi jari-jari tangannya!


"Pemuda iblis! Kalau engkau tidak mempergunakan sihir dan ilmu setan, mari kita mengadu kekuatan sebagai laki-laki!"


"Maksudmu, mengadu kekuatan bagaimana?" Hay Hay bertanya.


"Lihat jari-jari tanganku ini!" Thiat-ci Thio Kang mengangkat kedua tangannya ke depan, memperlihatkan jari-jari tangannya yang warna kulitnya berbeda dengan warna kulit bagian tubuh lain. Kulit jari tangan itu agak membiru dan mengkilat.


"Sudah kulihat. Jari-jari tanganmu itu seperti tahu!" kata Hay Hay sambil tersenyum
mengejek.

Thio Kang marah sekali. Akan tetapi dia menahan diri dan berkata, "Bagus! Mari kita mengadu kekuatan. Jari tanganku yang seperti tahu ini boleh di adu dengan dadamu yang seperti agar-agar itu! Kalau sekali tusuk dengan kedua jari telunjukku ini aku tidak mampu menembus dadamu, aku mengaku kalah!"


"Bagus, bagus! Pertandingan yang menarik. Jari tahu melawan dada agar-agar! Baik,
Thiat-ci Thio Kang, aku menerima tantanganmu.tapi harus kubuka bajuku agar tidak sampai kotor oleh jari tanganmu." Berkata demikian, Hay Hay melepaskan kancing bajunya dan ketika dia membuka bajunya, nampak kulit dadanya yang putih.


Diam-diam Tiat-ci Thio Kang sudah mengerahkan sin-kangnya, menggunakan Ilmu
Jari Besi sehingga jari-jari tangannya menjadi keras, terutama sekali kedua jari
telunjuknya di mana dia memusatkan tenaga dalamnya. Mereka sudah saling
berhadapan. Hay Hay berdiri tegak dan santai, sedangkan Tiat-ci Thio Kang berdiri dengan kaku, memasang kuda-kuda.


"Aku sudah siap!" kata Hay Hay dan begitu dia bicara, Tiat-ci Thio Kang sudah mengeluarkan suara bentakan nyaring dan tiba-tiba saja kedua lengannya meluncur ke depan, kedua jari telunjuknya menusuk ke arah dada kanan kiri! Cepat dan kuat sekali tusukannya itudan semua orang yang sudah pernah melihat jagoan ini menggunakan dua jari tangannya menusuk batu sampai berlubang dan papan sampai tembus, membayangkan betapa dada pemuda itu akan berlubang dan mengucurkan darah.


"Krekkkk!" Dua jari telunjuk itu dalam saat yang sama bertemu dengan dada yang terbuka itu dan akibatnya, tiba-tiba Tiat-ci Thio Kang menekuk pinggangnya, membungkuk dan menggenggam jari telunjuk di kedua tangan, mukanya pucat dan mulutnya merintih-rintih, mukanya penuh dengan keringat dingin. Rasa nyeri yang menusuk-nusuk jantung datang dari kedua jari telunjuknya yang tulangnya patah-patah! Dia mencoba untuk mempertahankan, namun akhirnya dia terkulai dan roboh pingsan!



Hek-houw Ji Sun dan Kang-thouw-cu Phang Su sudah dapat memulihkan diri. Melihat jagoan pertama itu roboh pingsan, mereka lalu memberi aba-aba kepada puluhan orang pengawal untuk mengeroyok Hay Hay.


"Tangkap dia!"


"Bunuh dia!"


Para pengawal itu bergerak lambat. Mereka ragu-ragu dan merasa agak jerih melihat betapa tiga orang jagoan itu semua sudah roboh oleh pemuda sederhana ini, roboh dengan mudahnya! Pada saat itu, terdengar bentakan seorang wanita.


"Tahan semua senjata! Semua orang mundur!'


Mendengar suara yang mereka kenal ini dan melihat munculnya Siok Bi. Gadis cantik manis yang selain menjadi pengawal pribadi Hartawan Coa, juga menjadi seorang kekasihnya itu, para pengawal menahan gerakan mereka. Tentu saja mereka mentaati gadis itu yang biarpun ilmu kepandaiannya tidak setinggi tiga orang jagoan yang telah kalah, namun memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dari mereka.


"Kalian mundur dan tidak boleh mengeroyok tamu ini! Selain kalian tidak akan menang, juga majikan kita berkenan hendak menerimanya. Dia memang datang untuk bertemu dengan majikan kita dan diterima sebagai tamu!"


Siok Bi memberi isarat kepada Hay Hay, akan tetapi ia menjura dan berkata, "Tai-hiap dipersilakan masuk."


Hay Hay juga memberi hormat dan menjawab, "Terima kasih, nona."


Mereka berdua berjalan memasuki gedung itu, diikuti pandang mata semua pengawal yang kini memandang jerih dan kagum. Tak mereka sangka bahwa pemuda bercaping lebar yang sederhana itu memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebatnya. Bukan hanya ilmu silat yang aneh dan tinggi, akan tetapi juga kekebalan tubuh dan ilmu sihir! Diam-diam, tiga orang jagoan itu, kini Thio Kang telah siuman, bergidik membayangkan apa akan jadinya dengan mereka andaikata pemuda itu bersungguh-sungguh hendak mencelakakan mereka. Tentu sekarang mereka bertiga telah menjadi mayat.


Sementara itu, Siok Bi mendampingi Hay Hay memasuki gedung yang besar sekali itu. Para pengawal menjaga di setiap tikungan dengan tombak di tangan. Akan tetapi mereka berdiri tegak tak bergerak karena melihat bahwa pemuda asing itu ditemani oleh Siok Bi yang mereka kenal dan percaya.


"Aku girang sekali engkau memenuhi janji, tai-hiap…….” Siok Bi berbisik ketika mereka lewat di bagian yang jauh dari penjaga.


Hay Hay tersenyum. "Aku tidak pernah melanggar janji, apa lagi terhadap seorang gadis cantik jelita seperti engkau, nona Siok Bi!" Gadis itu menahan senyum dan merasa terharu sekali. Pemuda ini memang hebat. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu menyenangkan hati! Aih, kalau saja ia dapat hidup di samping pria ini untuk selamanya! Biar dikurangi sepuluh tahun usianya, ia rela!


Mereka berhenti di depan pintu yang tertutup, pintu sebuah kamar yang besar. Siok Bi mengetuk pintu dengan ketukan lirih tiga kali.


"Ah, engkaukah itu, Siok Bi? Bagaimana, apakah dia sudah datang?" terdengar suara dari dalam kamar, suara besar Hartawan Coa.


"Sudah, tai-ya, bahkan dia kini sudah berada di sini bersama saya. Bolehkah dia masuk menghadap?"

Hening sejenak, kemudian terdengar suara Hartawan Coa. "Suruh dia masuk!" Daun pintu didorong terbuka oleh Siok Bi. Hay Hay melihat sebuah kamar yang mewah sekali. Kamar yang luas dan penuh dengan prabot yang serba mahal, indah dan mewah. Hartawan Coa sedang menghadapi meja penuh hidangan yang masih mengepulkan uap panas! Itukah sarapan pagi? Bukan main! Hidangan untuk sarapan pagi saja mengalahkan sebuah pesta orang biasa! Hartawail itu agaknya sedang sarapan, dilayani oleh tujuh orang gadis yang rata-rata berwajah cantik, bertubuh langsing dan bersikap genit. Di sebelah dalam agak ke sudut, terdapat sebuah pembaringan yang besar, yang cukup untuk tidur sepuluh orang.


Agaknya hartawan itu sudah selesai sarapan, karena pada saat itu, para gadis sedang menyingkirkan hidangan-hidangan yang masih panas itu. Ketika Hartawan Coa melihat Siok Bi masuk bersama seorang pemuda yang capingnya lebar dan tergantung di punggung, menutupi buntalan yang cukup besar, dia memandang penuh perhatian. Inilah pemudayang semalam melindungi Gui Lok, mengalahkan dua orang pengawalnya dan membikin malu padanya di depan umum! Dan kini pemuda ini berani muncul, bahkan menurut laporan Siok Bi tadi, pemuda ini mengalahkan semua jagoannya dan tentu akan merobohkan puluhan orang pengawal kalau tidak segera diundang masuk. Siok Bi mengatakan bahwa pemuda tu datang bukan untuk membikin kacau, melainkan untuk menyerahkan uang seanyak lima puluh tail emas! Dan diapun sudah mendengar bahwa pemuda ini pula yang telah mengeduk lima puluh tail emas dari rumah judi, mengalahkan semua bandar judi yang tangguh. Biarpun hatinya diliputi keraguan dan juga perasaan takut, terpaksa dia menyetujui ketika Siok Bi menyatakan hendak mengundang saja pemuda itu masuk agar dapat bicara baik-baik. Menghadapi seorang pemuda yang selihai itu memang lebih baik degan cara damai. Bahkan, akan amat menguntungkan kalau pemuda selihai itu mau menjadi kaki tangannya!


"Duduklah, orang muda yang gagah perkasaa" kata Hartawan Coa. Para pelayan
wanita segera mengundurkan diri kamar itu hanya tinggal Hartawan Coa, Hay Hay dan Siok Bi bertiga saja. Para pengawal kini menggerombol di luar kamar itu, siap melindungi majikan mereka kalau diperlukan.


"Terima kasih, Coa Wan-gwe,” kata Hay Hay sederhana dan diapun menurunkan buntalannya dari atas punggung, meletakkannya di atas meja dan dia sendiri lalu duduk di atas bangku dekat meja. Siok Bi juga duduk di antara mereka, dengan wajah berseri dan kedua pipi merah, matanya yang indah itu bersinar-sinar karena ia tahu bahwa pemuda itu menepati janji, membawa lima puluh tail emas itu untuk membeli kebebasannya! Semalam ia sudah memberi kabar kepada pemuda yang mencintainya itu, agar pagi ini siap menantinya di depan gedung, siap pergi bersamanya untuk menjadi suami isteri, memulai hidup baru yang cerah!



"Orang muda, semalam engkau berkata kepadaku untuk datang berkunjung. Dan sekarang, pagi-pagi engkau benar datang berkunjung dan mengatakan kepada para pengawal bahwa engkau datang membawa lima puluh tail emas untuk diberikan kepadaku. Benarkah itu dan apakah maksudmu? Apakah engkau hendak mengembalikan lima puluh tail emas yang kaubawa dari rumah judi itu?"


Melihat sikap hartawan jtu, Hay Hay tersenyum. Tentu saja hartawan ini bersikap angkuh karena pada saat itu, dia menjadi tuan rumah dan selain itu, juga di luar kamar ini terdapat puluhan orang pengawal. Selain itu, juga di dekatnya terdapat Siok Bi yang tentu dianggapnya sebagai seorang pengawal yang setia. Dan memang sesungguhnya Siok Bi seorang pengawal yang setia, kalau saja ia tidak merasa begitu sengsara menjadi kekasih hartawan yang tidak dicintanya itu.


"Coa Wan-gwe, rumah judi itu milikmu, bukan? Dan pernahkah engkau mengembalikan uang kekalahan dari para penjudi selama ini? Beberapa ratus ribu tail saja yang dimenangkan rumah judi itu dari para penjudi?"


Hartawan itu tersenyum. "Dalam perjudian, menang dan kalah merupakan hal yang biasa, bukan?"


"Benar begitu. Karena itu, kemenanganku di rumah judimu juga bukan hal aneh, kenapa sekarang kau mengharapkan aku mengembalikan uang kemenanganku dari rumah judi itu?"

Hartawan yang tinggi besar dengan muka hitam bopeng itu tertawa. "Ha-ha-ha, akupun tidak mengharapkan, hanya aku mendengar engkau hendak memberikan lima puluh tail emas kepadaku. Benarkah itu, dan apa maksudmu dengan itu?"


"Aku hendak menebus kebebasan nona Siok Bi!" Wajah yang tadinya tertawa itu tiba-tiba menjadi kaku, dan matanya terbelalak ketika dia menoleh dan memandang kepada Siok Bi. Gadis ini mehundukkan mukanya yang berubah merah, akan tetapi lalu diangkatnya mukanya itu dan dia menentang pandang mata Coa Wan-gwe dengan berani. "Dulu tai-ya membeliku dari mendiang ayah, kalau sekarang ada yang hendak menebusku kembali, anehkah itu?" Siok Bi berkata dengan suara yang tegas.

"Tapi…… tapi……….. uang tebusan itu banyak sekali sekarang!" kata Coa Wan-gwe yang merasa sayang kepada Siok Bi untuk dua hal. Pertama, sebagai seorang di antara kekasihnya Siok Bi tetap merupakan seorang kekasih istimewa, tidak genit seperti para wanita lain sehingga kadang menjemukan, dan ke dua gadis ini memiliki ilmu silat yang cukup lihai sehingga dapat menjadi pengawal pribadi yang boleh diandalkan. Rumah judi itu maju pesat setelah Siok Bi menjadi pengurusnya.

"Aku tahu, tai-ya. Pernah tai-ya mengatakan bahwa harga diriku sudah mencapai lima puluh tail emas, bukan?" kata Siok Bi!" kata Hay Hay sambil mendorong


"Nah, untuk itulah aku datang, Coa Wan-gwe. Ini adalah lima puluh tail emas itu, untuk menebus kebebasan diri nona Siok Bi!" kata Hay Hay sambil mendorongkan buntalan emas itu ke arah tuan rumah.


Sepasang alis yang tebal itu berkerut dan Hartawan Coa menoleh kepada Siok Bi. Teringatlah dia betapa selama sudah hampir sebulan ini Siok Bi selalu menjauhkan diri darinya, dengan dalih tidak enak badan dan sebagainya!


"Ah, kiranya engkau jatuh cinta kepada pemuda ini dan hendak menikah dengan dia?" tanyanya.

"Jangan salah mengerti, Wan-gwe." kata Hay Hay cepat, sedangkan Siok Bi menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin menolongnya agar dia bebas dari sini dan dapat memilih jodohnya sendiri.Engkau tidak perlu tahu siapa yang dipilihnya, yang jelas bukan aku. Nah, bagaimana jawabanmu, Coa Wan-gwe?”


Hartawan itu merasa serba salah. Uang lima puluh tail emas memang banyak, bagi kebanyakan orang. Bagi dia, tidak ada artinya. Dia tidak ingin uang sebanyak itu, karena uangnya sudah jauh lebih banyak lagi. Dia juga sayang kepada Sjok Bi. Terutama sekali, dia tidak rela harus mengalah kepada pemuda yang pernah membuat dia malu ini. Akan tetapi tnenentang kehendak pemuda lihai ini? Diapun ragu-ragu! Tiba-tiba dia tersenyum, memperoleh pendapat yang dianggapnya baik dan menguntungkan. Banyak wanita di dunia ini, yang lebih cantik menarik dari pada Siok Bi dan yang mudah dia dapatkan kalau dia menghendaki.


"Aku tidak berkeberatan kalau Siok Bi hendak menikah dengan seorang pria pilihan
hatinya. Akan tetapi aku tidak rela kehilangan seorang pembantu yang cakap. Begini saja, orang muda. Bagaimana kalau engkau menggantikan kedudukannya? Bukan hanya kedudukannya sebagai pemimpin rumah judi, bahkan kuserahkan kepadamu semua pimpinan para pasukan keamanan dan pengawal! Kuangkat engkau menjadi pembantu utama dan berapa saja gajih yang kau kehendaki, akan kupenuhi! Bagaimana?"

Wajah pemuda itu berubah merah. Kurang ajar, pikirnya. Dia hendak dijadikan antek hartawan ini! "Coa Wan-gwe, urusan itu adalah urusan antara kita berdua dan boleh kita bicarakan nanti. Sekarang, beri dulu keputusan mengenai kebebasan nona Siok Bi!"


Tidak ada pilihan lain bagi Hartawan Coa untuk mempertimbangkannya lagi kecuali menyetujui. Dia tahu betapa bahayanya menentang pemuda ini, apa lagi setelah kini Siok Bi berpihak kepadanya! Kalau terjadi keributan, dapat dipastikan bahwa Siok Bi yang akan dibebaskan oleh pemuda itu tentu akan membantunya.


Dia menarik napas panjang dan menyentuh buntalan uang emas. "Baiklah, aku menerima lima puluh tail emas ini untuk penebus kebebasan Siok Bi. Mulai saat ini engkau bebas, Siok Bi."


Mendengar ini, Siok Bi mengeluarkan seruan lirih dan ia sudah menjatuhkan diri
berlutut di depan Hay Hay dan merangkul kaki pemuda itu. "Ah, tai-hiap, terima kasih…… terima kasih atas budimu yang takkan kulupakan selama hidupku……. " Suaranya mengandung isak. Hay Hay tersenyum dan sekali tarik, dia sudah memaksa gadis itu bangkit berdiri lalu merangkulnya. Dengan lembut sekali, diciumnya dahi gadis itu, lalu kedua pipinya sehingga ada air mata yang memasuki mulut melalui hisapan bibirnya. "Siok Bi, engkau memang pantas menemukan kebahagiaan. Nah, semoga engkau hidup berbahagia bersama suamimu dan ini aku tidak dapat memberi apa-apa kecuali bekal ini, agar engkau dan suamimu dapat memulai hidup baru dan memiliki modal."



Hay Hay mengambil sebuah guci arak, menaruhnya di atas meja di depan Coa Wan-
gwe di dekat buntalan emas, lalu dia meraih buntalan emas lima puluh tail itu dan menyerahkannya kepada Siok Bi.


Cadis itu terbelalak. "Tapi…….. tapi……..” Ia memandang ke arah Hartawan Coa yang agaknya telah berubah menjadi arca atau tidak melihat atau tidak peduli bahwa buntalan emas itu diambil oleh Hay Hay dan sebagai gantinya, di depanya kini berdiri sebuah guci arak itu, telah kosong pula.


"Bawalah, Siok Bi, disertai doaku. Ini milikmu! Ingat, bukankah engkau yang telah berhasil menyelidiki tentang Ang-hong-cu itu? Nah, bawalah dan cepat kau pergi dari sini!"

Cadis itu menahan isak, lalu merangkul Hay Hay dan tanpa memperdulikan Coa Wan-gwe yang berada di situ dan duduk seperti arca, Siok Bi mencium bibir pemuda itu dengan sepenuh perasaan hatinya, penuh kemesraan, kehangatan, keharuan dan rasa sukur yang tak terukur dalamnya. Kemudian, sambil menahan isak iapun menerima buntalan emas itu dari tangan Hay Hay, berbisik, "selamat tinggal, sampai jumpa pula, tai-hiap." Ia lalu keluar dari kamar dengan langkah yang cepat.


"Selamat jalan, sampai jumpa pula, Siok Bi," Hay Hay berkata lirih sambil tersenyum. Masih terasa kehangatan dan kelembutan bibir gadis itu akan tetapi dia segera mengusir lenyap kenangan indah itu.


"Coa Wan-gwe, sebaiknya kita bungkus dulu emas ini dan suruh orangmu menyimpannya, baru kita bicara." katanya kepada hartawan yang tadi duduk seperti arca itu. Dia kini seperti baru sadar dari tidur.


"Ah, benar sekali, sebaiknya kusuruh simpan dulu." katanya sementara itu Hay Hay mengambil kain tilam meja yang lebar dan membungkus guci itu.


Coa Wan-gwe bertepuk tangan dan muncullah dua orang gadis pelayan yang cantik genit. Tepukan tangan tadi adalah tepukan khas untuk memanggil dua orang selir terkasih ini.


"Simpan buntalan emas ini di dalam almari dulu, dan jangan bilang kepada siapapun bahwa di situ disimpan emas lima puluh tail." katanya. Dua orang gadis itu lalu mengambil buntalan guci dari atas meja, membawanya ke almari di sudut dan menyimpannya. Mereka lalu meninggalkan kamar lagi ketika mendapat isarat dari majikan mereka. Biarpun mereka itu selir, akah tetapi kedudukan mereka tidak lebih sebagai pelayan yang melayani majikan mereka, bukan sebagai isteri.


"Nah, sekarang kita berada berdua saja dalam kamar ini, Coa Wan-gwe. Terus terang saja, kalau aku menjadi pembantumu, dalam waktu beberapa bulan saja tentu engkau akan jatuh bangkrut dan seluruh harta bendamu akan habis!"


"Mengapa begitu?" tanya hartawan itu terkejut.


"Pertama, karena aku tidak suka melihat orang menjadi korban perjudian. Kedua, karena aku selalu menentang perbuatan jahat dan kejam yang dilakukan orang-orangmu atas perintahmu. Ke tiga, karena aku tidak suka melihat orang bersikap sewenang-wenang, memaksa wanita muda untuk menjadi miliknya. Dan ke empat, aku tidak dapat tinggal diam saja melihat orang-orang hidup melarat dan tidak dapat makan, dan hartamu tentu akan kubagi-bagikan kepada mereka!"

Sepasang mata hartawan itu terbelalak. "Wah, wah, kalau begitu, tidak jadi saja! Aku tidak mau mempunyai pembantu seperti itu!" Hartawan Coa menjadi marah, lalu bangkit berdiri. "Orang muda, segera kau pergi tinggalkan rumahku jni dan jangan lagi mengganggu aku!"


"Kalau aku tetap mengganggumu, kau mau apa?"


Hartawan itu masih belum mau menyerah dan tiba-tiba dia menyambar sebuah tali yang tersembunyi di antara kain-kain sutera yang menghias kamar itu. Terdengar suara kelenengan di luar dan daun pintu kamar itu terbuka. Tiga orang gadis pelayan cantik yang bertubuh kuat mncul, bersama tiga orang jagoan yang tadi sudah dirobohkannya! Tiga orang jagoan itu nanlpak gentar sekali walaupun mereka cepat datang mendengar kelenengan yang berarti tanda bahaya bagi majikan mereka itu. Di luar pintu masih berdiri puluhan orang pengawal, siap dengan senjata di tangan.


"Nah, engkau masih berani menggangguku?" bentak hartawan itu.


Hay Hay tersenyum. Hartawan Coa ini harus diberi hajaran yang cukup keras untuk melunakkan hatinya yang keras.


"Hemm, kau mengandalkan para pengawalmu? Engkau tidak tahu bahwa setiap waktu, para tukang pukul dan pengawalmu itu dapat saja berbalik memusuhimu, dan mungkin engkau akan dibunuh oleh mereka."


"Tidak mungkin! Mereka adalah para pembantuku yang setia!"


"Setia? Karena terpaksa dan karena uang, seperti halnya nona Siok Bi tadi. Kau……. !” Hay Hay menggapai seorang di antara tiga gadis itu. "Kau ke sinilah dan beri satu kali tamparan pada pipi Hartawan Coa!"


Semua orang terkejut, juga Hartawan Coa. Akan tetapi sungguh aneh. Gadis itu yang tadinya terbelalak kaget mendengar perintah itu, kini melangkah maju menghampiri Hartawan Coa.


"Plakk!" Tangannya menampar dan pipi hartawan itu telah ditamparnya!


Tidak begitu nyeri, akan tetapi Hartawan Coa menjadi terkejut dan marah bukan main. Sebentar pucat dan sebentar merah mukanya. "Tangkap perempuan kurang ajar ini!"

Hay Hay melangkah maju. "Siapa berani menangkapnya? Kalau aku tidak memberi perintah, tak seorangpun boleh mengganggunya!" Dan aneh, mendengar teriakan Hay Hay ini, tak seorangpun berani maju, biarpun Hartawan Coa berkali-kali memberi perintah.



"Kau! Majulah dan tampar pipi hartawan ini agar dia tidak berteriak-teriak Jagi!" kata Hay Hay pada gadis ke dua. Gadis itupun tadinya terbelalak, akan tetapi ia melangkah maju dan tangannya menampar. Hartawan itu hendak menangkis, namun kalah cepat.

"Plakk!" Untuk kedua kalinya pipinya kena ditampar oleh gadis kesayangannya yang biasanya amat patuh kepadanya.


"Tiat-ci Thjo Kang, jarimu sudah patah, maka pergunakan kakimu menendang pantat Hartawan Coa! Hayo cepat, jangan keras-keras, biar dia tahu rasa saja!"


Tentu saja mendengar ini, Tiat-ci Thio Kang mempertahankan diri sekuatnya untuk menentang perintah yang berlawanan dengan kemauan hatinya itu. Akan tetapi, entah apa yang mendorongnya untuk melangkah maju dan kakinya terayun.


"Bukk!” Hartawan Coa jatuh tersungkur dan bangkit sambil meringis dan menggosok pinggulnya yang tertendang. Kini mukanya pucat dan matanya terbelalak ketakutan memandang kepada Hay Hay.


"Bagaimana? Haruskah aku lanjutkan? Kalau aku memerintahkan mereka itu menyembelihmu, sekarang juga akan mereka laksanakan, Wan-gwe!"


"Tidak……. Tidak……..! Hentikan permainan setan ini !" katanya meratap ketakutan


“Kalau begitu, perintahkan mereka itu mundur."


"Mundur! Kalian semua mundur, terkutuk kalian!" Hartawan Coa membentak dan mereka semua segera keluar dari dalam kamar, menutupkan daun pintu kamar dengan khawatir melihat betapa majikan mereka marah-marah.


"Nah, Wan-gwe. Begjtulah kalau engkau memelihara harimau-harimau liar. Sekali waktu mereka akan membalik dan mencelakai dirimu sendiri. Sekarang, aku minta agar engkau tidak lagi menggunakan kekayaan dan kekuasaanmu untuk berbuat sewenang-wenang. Kalau aku mendengar engkau masih melanjutkan perbuatanmu yang jahat, aku akan segera kembali ke kota ini dan akan kuperintahkan anak buahmu membunuhmu, atau mungkin juga keluargamu sendiri akan kuperintahkan mereka membunuh dan menyiksamu lebih dulu!"


"Aku…… aku tidak berani lagi…….. "


"Engkau tidak akan mengganggu lagi Gui Lok dan puterjnya, Gui Ai Ling yang kau inginkan itu?"


"Tidak, tidak..... tidak lagi."


"Dan engkau tidak akan menyuruh orang-orangmu mencaru Siok Bi untuk kauganggu ?" .

"Tidak, aku tidak berani."


"Bagus, akan tetapu jangan mencoba-coba untuk membohongi dan menipuku. Kalau perlu, aku dapat menyuruh siapa saja atau apa saja untuk menghukum dan membunuhmu. Lihat tombak dan pedang di sudut kamar itu. Aku dapat memerintahkan mereka itu untuk membunuhmu!"


Sekali ini, dalam pandang mata yang tadinya ketakutan dari hartawan itu, berkilat sinar tidak percaya, walaupun mulutnya tidak berani mengatakan hal itu.


"Engkau tidak percaya, Coa Wan-gwe? Nah, lihat baik-baik! Pedang dan tombakmu itu sendiri akan menyerangmu!"


Tiba-tiba mata hartawan itu terbelalak dan mukanya yang hitam itu menjadi berkurang hitamnya karena pucat sekali. Dia melihat betapa pedang yang berada dalam sarungnya dan tergantung di tembok, kini meninggalkan sarung dan melayang-layang, bersama dengan tombak yang juga meninggalkan rak senjata. Kedua senjata itu melayang-layang ke atas lalu keduanya meluncur ke arah dirinya! Dia terkejut ketakutan dan melompat, menjauhi, akan tetapi ke manapun dia mundur, dua batang senjata itu terus mengejarnya, tombak itu seperti hendak menusuk-nusuk perutnya dan pedang yang tajam itu mengancam untuk membacok lehernya! Tentu saja dia mandi keringat dingin.

"Tidak……..! Tidak……..! Jangan………. ah, ampunkan aku……… ampunkan……….. " dia jatuh berlutut dan tidak berani mengangkat lagi mukanya, tidak berani melihat dua senjata yang seperti hidup dan mengancamnya itu.


"Mereka sudah kuperintahkan kembali ke tempat masing-masing, Wan-gwe."


Hartawan Coa mengangkat mukanya dan benar saja. Dua buah senjata itu sudah berada di tempat masing-masing, tidak bergerak dan mati seperti biasanya. Dia mengeluh dan menghapus keringat dengan ujung lengan bajunya.


"Nah, kaulihat sendiri, Wan-gwe. Sedangkan benda mati saja dapat berkhianat padamu, apa lagi manusia hidup. Sekali waktu, bisa saja pelayanmu sendiri meracunimu atau membunuhmu selagi engkau tidur. Karena itu, bertobatlah dan tinggalkan semua perbuatan jahat, baru Tuhan akan mengampunimu."


Hartawan itu masih berlutut dan dia mengangguk-angguk. "Baik, baik…… aku minta ampun, aku bertobat…….. tidak berani lagi…..”


Ketika dia mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ! Ketika para pelayan dan pengawal memasuki kamar, mereka menemukan hartawan itu masih berlutut dalam keadaan seperti tidak bersemangat lagi! Hay Hay sama sekali tidak tahu bahwa sepeninggalnya, dia tidak hanya membuat hartawan itu menjadi bertobat, bahkan lebih dari itu dan sangat menyedihkan. Hartawan Coa menjadi seperti orang gila yang selalu ketakutan, takut terhadap isterinya, anak-anaknya, pelayan, bahkan takut kepada benda-benda dalam kamarnya. Dia selalu berteriak-teriak bahwa mereka semua hendak membunuhnya. Akhirnya, karena dia selalu marah-marah dan minta agar semua benda disingkirkan dari kamarnya, maka kamar itu menjadi gundul dan kosong. Bahkan dia tidur begitu saja di atas lantai karena takut kalau segala macam ranjang, kelambu, meja kursi, bantal guling, di tengah malam akan membunuhnya! Hartawan Coa menjadi seperti orang gila. Akan tetapi, kota itu menjadi tenang dan para penduduknya bernapas lega karena setidaknya, seorang yang tadinya amat ditakuti dan mengganggu ketenangan hidup mereka telah mati kutu.


***



Malam yang gelap karena malam itu gelap bulan. Langit hanya dihiasi laksaan bintang, atau jutaan atau bahkan lebih. Tak terhitung! Biarpun tidak ada bulan, namun sinar lemah dari bintang-bintang itu bergabung dan mampu pula mengurangi kepekatan malam, bukan menjadi gelap gulita lagi melainkan remang-remang.


Akan tetapi, kompleks bangunan dalam lingkungan istana sama sekali tidak pernah gelap! Banyak sekali lampu-lampu gantung besar kecil, beraneka warna dan bentuk, menerangi bagian dalam dan luar istana. Bahkan di taman-taman bunga yang teratur indah terdapat lampu penerangan.


Malam itu sunyi karena hawa malam itu amat dinginnya. Musim semi telah mulai, akan tetapi sisa musim salju masih meninggalkan hawa dingin yang menyengat tulang. Karena dinginnya, maka biar di lingkungan istana sendiri, malam itu sunyi. Para penghuninya, yaitu kaisar dan semua keluarganya, juga para dayang, para selir, para pelayan dan bahkan para pengawal, lebih suka berada di dalam bangunan dari pada di luar! Di udara terbuka, sungguh hawa dingin tak tertahankan. Para pengawal luar yang melakukan penjagaan di luar kompleks bangunan, lebih suka berkelompok di dalam gardu-gardu penjagaan di mana mereka dapat menghangatkan tubuh di dekat arang membara, atau perapian yang mereka buat untuk sekedar menghangatkan badan melawan hawa dingin. Para penjaga menjadi malas untuk meronda, karena meronda berarti meninggalkan gardu, memasuki tempat terbuka di mana mereka akan disambut oleh dekapan hawa yang amat dingin.


Pula, siapakah yang akan berani mengganggu ketentraman istana? Berarti mencari mati konyol! Maling? Sebelum mendapatkan sesuatu, dia sudah akan mati kedinginan! Malam itu, malam yang dingin sunyi para penjaga menjadi lengah.


Namun, bagi seseorang yang sedang dimabok cinta dan dendam birahi, yang sedang menderita rindu, pekerjaan berkencan dengan seorang kekasih yang dirindukan merupakan kewajiban yang dilakukan dengan sepenuh hati, dengan nekat dan kalau perlu mengorbankan diri! Apa lagi hanya hawa dingin di malam sunyi itu, biar harus menghadapi rintangan yang lebih berat sekalipun, seorang yang sedang merindukan pertemuan dengan kekasihnya takkan mundur selangkahpun!


Demikian pula bagi pria yang kini sedang menanti di dalam taman bunga sebelah barat istana itu. Dia bersembunyi di balik rumpun bunga yang tumbuh lebat di sebelah kiri depan pondok indah itu. Pondok yang bercat merah dan diberi nama "Sarang Madu" di depannya, nama itu tertulis indah di papan yang tergantung di depan pondok. Nama ini diberikan kaisar karena dia merasa seolah-olah berada di sarang madu kala sedang bersenang-senang dengan para selir dan dayang yang muda-muda dan cantik jelita di pondok merah itu. Nama Sarang Madu itu ada riwayatnya. Ketika itu, pondok merah ini baru saja selesai dibangun dan belum ada namanya. Ketika kaisar dan para selir tercinta sedang bersenang-senang di situ, kaisar melihat sebuah sarang lebah tergantung di dahan pohon dekat pondok. Sarang lebah itu sudah penuh madu, nampak ada madu menetes-netes turun. Kaisar segera menyuruh pengawal untuk mengusir lebah-lebahnya dan menurunkan sarang lebah itu. Ternyata penuh dengan madu! Tentu saja kaisar menjadi gembira sekali, bersama para selir dan dayang minum madu yang manis. Karena peristiwa itulah maka pondok itu diberi nama Sarang Madu. Bukan hanya karena madu itu memang manis. Akan tetapi berpesta pora dengan para dayang dan seli yang cantik-cantik itu memang amatlah manisnya!


Dan bagi pria yang kini bersembunyi di dekat pohon Sarang Madu itu, memang pondok itu merupakan sarang madu yang amat manis baginya. Semua kenangan manis, indah dan menggembirakan berada di dalam pondok itu sejak dia bertemu dan berhubungan dengan Hwee Lan!


Pria itu kini menyelinap dekat tembok pondok yang lebih melindungi dirinya dari hembusan angin lembut dan kini sinar lampu gantung yang halus menyentuhnya. Dia seorang laki-laki muda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun, berpakaian sebagai seorang perwira dan dia nampak gagah sekali dalam pakaian yang cemerlang ini. Sebuah pedang tergantung di pinggangnya, dan topi bulunya nampak bersih. Bulu itu kelihatan putih sekali di atas rambutnya yang hitam panjang. Wajahnya tampan menarik, dan jantan. Wajah yang disuka oleh kaum wanita. Tubuhnya jangkung dengan pinggang ramping, tubuh yang juga menjadi idaman wanita. Pendeknya, pemuda berusia dua puluh lima tahun ini amat menarik bagi wanita. Seorang yahg tampan, gagah dan memiliki kedudukan baik. Seorang perwira pengawal! Dan dari pangkatnya ini saja, perwira pengawal dalam istana, mudah diduga bahwa dia bukan seorang pemuda lemah, melainkan seorang pemuda gemblengan yang memiliki kegagahan dan ilmu silat tinggi.

Perwira muda ini bernama Tang Gun. Baru dua tahun dia menjadi perwira di dalam istana, dipilih oleh kaisar sendiri karena dia telah berjasa, membantu pasukan pengawal membasmi perampok yang berani memberontak dan mengganggu ketenangan kaisar ketika kaisar berburu binatang di hutan. Pemuda yang gagah perkasa dan yang pekerjaannya sebagai seorang pemburu itu berhasil membantu para pengawal, bahkan dialah yang berhasil membunuh kepala perampok. Mendengar tentang kegagahan pemuda ini, kaisar memanggilnya dan karena gembiranya kaisar lalu menganugerahkan pangkat perwira pengawal kepadanya. Bukan pengawal luar, melainkan pengawal dalam istana, pangkat yang hanya diberikan kepada orang-orang yang benar-benar dipercaya oleh kaisar!


Tang Gun tadinya hidup berdua saja dengan ibunya yang sudah berusia empat puluh tiga tahun. Hidup berdua dalam keadaan miskin karena ibunya adalah seorang janda dan kehidupan mereka hanya mengandalkan hasil buruannya. Kalau dia berhasil membunuh seekor dua ekor kijang atau beberapa ekor kelinci, dagingnya lalu dibuat daging kering oleh ibunya, kulit dan daging kering itu dijual dan di tukar dengan beras, terigu dan bumbu-bumbu masak, juga untuk membeli pakaian. Mereka hidup di tempat terpencil, di dekat hutan.


Sejak kecil, Tang Gun memang suka mempelajari ilmu silat. Dari kawan-kawannya, para pemburu, dia belajar silat dan mencari guru-guru silat yang pandai. Karena tekunnya dan tidak mengenal lelah, juga rajin mencari guru yang pandai. Akhirnya dia menjadi seorang pemuda gemblengan yang pandai silat dan menjadi jago di antara para pemburu.

Ibunya selalu mengatakan bahwa sejak dia masih kecil sekali, ayah kandungnya telah meninggalkan mereka. Menurut ibunya, ayah kandungnya itu she Tang dan ibunya menyerahkan sebuah benda yang berbentuk ukiran seekor kumbang dari emas dan batu mirah. Si Kumbang Merah atau Ang-hong-cu, demikianlah julukan ayah kandungnya. Demikian menurut ibunya. Dia tidak pernah mengenal ayahnya, hanya tahu bahwa ayahnya she Tang dan berjuluk Ang-hong-cu, menurut ibunya seorang yang amat sakti dan kalau dia kelak melihat seorang pria yang mempunyai tanda mainan seperti yang dimilikinya, maka itulah ayahnya!



Tang Gun sudah mencari keterangan di dunia kang-ouw tentang Ang-hong-cu. Akan
tetapi, dengan kecewa dia mendengar bahwa sudah bertahun-tahun dunia kang-ouw tidak lagi mendengar nama Ang-hong-cu. Seolah-olah Si Kumbang Merah itu telah lenyap atau mungkin juga sudah mati! Maka, Tang Gun menjadi putus asa dan tidak mencari lagi. Ketika dia masih menjadi seorang pemburu biasa, kenyataan bahwa dia tidak berayah lagi, bahkan dia tidak tahu dimana ayahnya, sudah mati atau belum, tidak merupakan hal yang perlu dirisaukan benar. Dia hanya seorang pemburu miskin. Siapa yang akan memperhatikan dirinya dan siapa yang ingin mengetahui siapa ayahnya?

Akan tetapi, setelah dia menjadi seorang perwira pengawal di istana, hal itu menjadi amat penting! Dia kini seorang yang berkedudukan dihormati dan disegani, bahkan dekat dengan keluarga kaisar! Maka, untuk mengangkat dirinya, terutama di kalangan pasukan dan juga di dunia persilatan mulailah dia mengaku bahwa dia adalah putera dari Ang-hong-cu yang dikabarkan memiliki kesaktian hebat itu! Berita yang dibangga-banggakan inilah yang akhirnya sampai ke telinga Hay Hay lewat Siok Bi.

Sejak remaja, karena dia memiliki wajah tampan menarik, tubuh yang kokoh kuat sehingga dia nampak gagah dan jantan, Tang Gun disukai banyak wanita. Dan diapun sadar akan ketampanannya, sadar bahwa banyak wanita menyukainya. Oleh karena itu, biarpun ibunya yang menjanda itu mendesaknya untuk segera menikah, Tang Gun selalu menolak. Dia merasa rugi kalau harus menikah. Pertama, untuk menikah dia harus memiliki uang dan dia seorang yang miskin. Setelah menikah, berarti tanggungannya bertambah, tadinya hanya dua orang menjadi tiga orang, belum lagi kalau isterinya melahirkan anak. Ke dua, setelah dia beristeri, tentu akan berkurang rasa suka para wanita terhadap dirinya. Jauh lebih senang kalau dia masih bebas, dia dapat berpacaran dengan wanita manapun yang suka padanya dan disukainya.


Maka, mulailah Tang Gun dikenal sebagai seorang pemuda yang mata keranjang, selalu diburu wanita dan dia berganti-ganti pacar! Betapapun juga, dia tidak pernah melakukan pelanggaran. Tidak pernah dia memperkosa wanita, tidak pernah pula dia mempermainkan isteri orang. Dia hanya menyambut uluran cinta seorang gadis atau seorang janda muda.


Setelah berusia dua puluh tiga tahun dan diangkat menjadi perwira pengawal dalam istana, nafsu berahi yang selama ini memperhamba batin dan badannya terkekang dan tidak mudah dapat disalurkan. Dia kini telah menjadi seorang perwira pengawal dalam istana. Tentu saja dia tidak boleh sembarangan mengumbar nafsu seperti ketika dia masih tinggal di dusun. Dia harus menjaga namanya dan kini dia tinggal di kompleks perumahan para perwira yang berada di lingkungan istana, walaupun di bagian luar, namun masih berada di belakang tembok yang mengelilingi istana. Dia tinggal bersama ibunya, dalam sebuah rumah yang cukup indah walaupun sedang saja. Ada pula dua orang pelayan, laki-laki dan wanita, yang menjadi pelayan rumah mereka. Dia hanya dapat mencari hiburan dan bersenang-senang kalau dia sedang memperoleh giliran cuti dan dia pergi ke rumah pelesir yang jauh berada di sudut kota, menyamar sebagai seorang pemuda biasa. Akan tetapi kalau dia sedang bertugas, dan berada di rumah, dia tidak dapat berkutik. Sebagai seorang perwira pengawal, apa lagi pengawal di dalam istana, dia harus selalu sopan dan menjaga kesusilaan. Sebagian besar para perwira pengawal, juga para prajurit pengawal, yang mengawal sebelah dalam istana, apa lagi yang mengawal bagian keluarga puteri kaisar, adalah para thai-kam (laki-laki kebiri). Dia sendiri tidak diharuskan menjadi thai-kam karena kaisar percaya kepadanya.

Karena tugasnya menjadi komandan pengawal dalam istana, maka seringkali Tang Gun memimpin rombongan pengawal melakukan perondaan di waktu malam. Bahkan sering pula dia mendapat giliran berjaga di dalam taman yang berhubungan dengan tempat para puteri. Maka, sering pula dia melihat kaisar kalau Sribaginda ini sedang berjalan-jalan di dalam taman atau sedang bersenang-senang dengan para selir dan dayang di pondok-pondok indah. Tentu saja dia selalu bersikap hormat, berlutut dan menundukkan mukanya, tidak berani mengangkat muka memandang Sribaginda dan para wanita cantik itu.


Akan tetapi, karena dia mata keranjang, ketika matanya tidak dapat melihat namun hidungnya dapat mencium keharuman yang keluar dari pakaian para wanita, telinganya dapat menangkap suara tawa merdu sekali, sepatah dua patah kata yang keluar dengan halus lembut seperti nyanyian merdu, jantungnya terguncang hebat. Dan lambat laun, setelah hampir dua tahun dia terbiasa dengan kesempatan seperti itu, mulailah dia berani bermain mata. Biarpun kepalanya ditundukkan, namun matanya mengerling ke atas. Makin kagumlah dia ketika meiihat wanita-wanita cantik jelita dalam pakaian yang serba indah itu. Tadinya, dia hanya mampu melihat bagian tubuh di bawah saja. Dari kaki-kaki mungil sampai ke lutut yang tertutup suteta beraneka warna. Kini dia dapat melihat wajah para pemilik kaki mungil itu. Dan ternyata dia tidak menemukan wanita yang angkuh dan tinggi seperti dalam dongeng tentang puteri-puteri dan keluarga kaisar. Melainkan wajah-wajah cantik jelita dan manis yang memandang kepadanya dengan penuh gairah! Mata yang jeli itu, mulut yang segar kemerahan itu, menunjukkan dengan jelas sekali betapa mereka itu kehausan! Tang Gun yang sudah banyak bergaul dengan wanita, dapat melihattanda-tanda yang menunjukkan bahwa kebanyakan dari para wanita muda itu, para selir dan dayang dari Kaisar, memandang kepadanya dengan penuh birahi!


Memang demikianlah keadaan para wanita muda dan cantik itu. Mereka melihat seorang perwira pengawal yang muda, tampan, ganteng, gagah dan jantan. Apa lagi mereka mendengar dari para thai-kam yang selalu bermuka-muka terhadap mereka bahwa Tang-ciangkun (Perwira Tang) ini, yang pernah menyelamatkan kaisar, adalah seorang perwira yang benar-benar jantan dan laki-laki tulen, bukan thai-kam! Tentu saja hal ini membuat mereka tertarik dan mereka selalu timbul birahi dan gairah setiap kali melihat perwira itu.


Memang seperti itulah keadaan para wanita muda yang menjadi penghuni istana raja di manapun juga. Seorang kaisar sudah lajim mempunyai banyak sekali selir dan dayang, sampai puluhan orang banyaknya. Hal ini tentu saja merupakan keadaan yang tidak seimbang. Puluhan orang selir dan dayang itu adalah wanita-wanita yang masih muda, bagaikan bunga-bunga di taman yang sedang segar-segarnya, sedang mekar indah dan membutuhkan banyak sekali siraman dan curahan kasih sayang dan kemanjaan pria. Sebaliknya, kaisar yang sudah setengah tua itu tentu saja tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan badan dan batin mereka. Kaisar hanya mampu memberikan kedudukan dan kemewahan saja. Para wanita itu mendambakan perhatian, pencurahan kasih sayang yang lebih sering dan lebih banyak. Mereka itu rata-rata merasa kesepian, seperti burung-burung dalam kurungan. Maka, tidaklah mengherankan dan bukan semata karena watak mereka yang genit kalau mereka itu segera tertarik kepada Tang Gun yang muda, tampan, gagah dan memiliki kerling mata tajam dan senyuman menggairahkan hati mereka itu.



Akan tetapi bagi Tang Gun, yang paling membuatnya tergila-gila adalah seorang selir kaisar yang bernama Hwee Lan. Mula-mula, pertemuannya dengan Hwee Lan merupakan hal yang kebetulan saja dan tidak disengaja. Pada suatu malam, bebarapa bulan yang lalu, malam terang bulan yang amat indah. Tang Gun yang kebetulan dinas jaga, memimpin para pengawal dalam istana dan membagi-bagi tugas jaga, merasa iseng dan diapun memasuki tarman istana bagian barat yang indah. Sambil meronda, diapun sekalian menikmati malam yang amat indah itu. Malam yang hawanya tidak begitu dingin, terang bulan pula dan karena ketika itu bunga-bunga di taman sedang mekar, maka keadaan taman itu sungguh amat indah, romantis dan penuh dengan keharuman bunga.


Tiba-tiba dia dikejutkan oleh gerakan dan suara orang di belakang pondok Sarang Madu yang merah itu. Menduga terjadi sesuatu yang mencurigakan, diapun menyelinap di antara semak-semak dalam taman dan mengintai dari balik batang pohon. Kiranya yang berada di antara bunga mawar yang ditaman di bagian belakang pondok itu adalah seorang diantara para selir yang paling jellta! Selir itu memang amat menarik dan mempesona hati Tang Gun setiap kali melihatnya, dengan kulit muka yang bukan hanya putih mulus seperti para selir lain, melainkan putih bercampur warna merah segar, seperti kulit bayi yang montok. Dan selir yang usianya paling banyak delapan belas tahun itu ditemani seorang dayang pelayan yang juga usianya masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun, cantik pula. Namun, dibandingkan dengan selir itu, kecantikan dayang ini tidak ada artinya lagi.


“A Sui, malam begini indah, taman penuh bunga, udara begini sejuk dan harum. Aih, betapa indahnya malam ini………." Tang Gun yang mengintai, merasa jantungnya berdebar penuh kagum. Suara itu, demikian merdu, dan kata-kata itu demikian halus dan indah.


Dayang itu tersenyum. "Aduh, kata-kata nona Hwee Lan selalu amat indah, seperti nyanyian, seperti sajak…. " dayang itu memuji.


"Memang aku suka bersajak, A Sui, apa lagi dalam suasana yang begini indah….. " selir cantik itu mengangkat muka memandang ke arah bulan purnama. Wajah itu sepenuhnya tertimpa sinar bulan, nampak putih kemerahan, seperti disepuh emas sehingga Tang Gun yang mengintai terpesona. Belum pernah selama hidupnya dia melihat wanita secantik selir itu. Dan namanya Hwee Lan!


Dayang itu bertepuk tangan memuji. "Kalau begitu, mengapa nona tidak membuat sajak tentang malam yang indah ini? Saya akan berbahagia sekali mendengarkannya, nona." Sikap dayang itu amat bersahabat, karena walaupun kedudukannya sebagai dayang yang melayani selir itu, sebagai pelayan pribadi, namun dayang inipun termasuk seorang di antara para dayang cantik yang menerima "kehormatan" dari kaisar, yaitu pernah dan sewaktu-waktu menemani dan melayani kaisar di kamar tidurnya. Oleh karena itu, walaupun kedudukan mereka berbeda, namun keduanya merasa senasib dan seperti madu saja.


Hwee Lan kembali merenung memandang bulan, lalu beberapa kali dia menarik napas
panjang. "A Sui, di malam terang bulan seperti ini selalu mengingatkan aku akan masa remaja ketika aku belum dibawa ke dalam istana, bergembira ria bersama teman-teman di kampung. Dan malam sepertl ini selalu mengingatkan aku akan keadaanku sekarang. Aku akan mencoba bersajak, akan tetapi hanya untuk telinga kita berdua saja, A Sui."

Suasana menjadi hening. A Sui, juga Tang Gun yang bersembunyi, menanti dengan penuh pesona. Bahkan kembang-kembang di taman itu seperti menanti pula, dari semilir angin lembut mendadak berhenti, seperti memberi kesempatan kepada si jelita untuk mengalunkan suaranya yang merdu. Hwee Lan masih berdiri, demikian lembut seperti sebatang pohon yang-liu muda, memandang bulan, kemudian terdengarlah suaranya, lirih dan lembut seperti desahan bayu di antara daun pohon cemara.


"Malam syahdu penuh pesona

Mencipta sajak memuja asmara

Bulan gemilang bayu berdendang

Taman mengharum mengapa hati

bimbang?

Mawar merah cantik jelita ,

Tiada belaian, sepi menderita

Siapa perduJi mawar sengsara

Apa guna segala ratap hampa

Mawar jndah menangis sendirj

Akhirnya layu........ kering...... mati ...!"


Sajak itu diakhiri dengan isak tangis tertahan. A Sui segera bangkit berdiri, merangkul Hwee Lan dan ikut pula menangis, akan tetapi disertai kata-kata menghibur.


"Sudahlah, nona, Tidak perlu membiarkan duka berlarut-larut menggerogoti hati. Memang beginilah nasib wanita-wanita seperti kita......... "



"Wahai Mawar Merah nan suci

ada taman sepotong hati

dengan pupuk kesetiaan sejati

dan siraman air cinta murni

bersedia menampung jika sudi!"


Dua orang wanita itu terkejut dan menengok ke arah pohon besar di belakang pondok. Ketika melihat munculnya Tang Gun, Hwee Lan tidak menjadi ketakutan. Wajahnya berubah kemerahan dan kedua kakinya gemetar ketika perwira yang tampan itu menghampiri. Mereka berdiri dan saling pandang, sedangkan A Sui sambil menahan senyumnya mundur ke belakang nonanya. Dua orang wanita ini sudah sering kali membicarakan ketampanan dan kegagahan Tang Gun.


"Kiranya Tang-ciangkun………. !" kata Hwee Lan, suaranya merdu dan lirih, agak gemetar karena jantungnya berdebar penuh ketegangan.


“SeJamat malam, Tuan Puteri dan maafkan kalau hamba mengganggu. Hamba tadi meronda lalu mendengar……….. "



"Sudahlah, ciangkun. Engkaukah yang menjawab sajakku tadi?"


Betapa beraninya wanita ini, piker Tang Gun, betapa hausnya!


"Benar, Tuan Puteri, dan ampunkan hamba……. "


"Benarkah apa yang kaukatakan dalam sajak tadi? Engkau bersedia menampung mawar layu, bersedia menyirami dan menyegarkannya kembali?"


"Hamba bersedia, dengan sungguh hati dan dengan segala kebahagiaan dan kehormatan, Tuan Puteri……… "


Kini seluruh tubuh Hwee Lan gemetar dan ia menoleh ke sekelilihg. Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain di situ, ia melangkah maju, memegang tangan perwira itu dan berkata lirih, "Mari kita bicara di dalam pondok, ciangkun. Tidak baik kalau diketahui orang. A Sui, engkau menjaga di luar."


A Sui tersenyum gembira dan mengangguk, membayangkan bahwa iapun sudah pasti akan mendapat bagian karena bukankah rahasia mereka berdua berada di telapak tangannya? Tang Gun menjadi berani dan diapun menggenggam tangan yang kecil hangat dan lunak itu dan mereka bergandeng tangan memasuki pondok Sarang Madu.

Mudah dibayangkan apa yang terjadi malam itu di pondok Sarang Madu. Dua orang muda yang dilanda dan dicengkeram nafsu birahi itu sepenuhnya menyerah dan menjadi permainan nafsu mereka sendiri yang tak pernah mengenal puas. Dan keduanya terkulai dan menyerah. Bagi Hwee Lan yang sejak perawan dibawa ke dalam istana, selama ini hanya mengenat kaisar yang setengah tua sebagai satu-satunya pria yang menggaulinya, kini bertemu dengan Tang Gun yang muda, gagah, tampan dan jantan, tidaktah mengherankan kalau ia tergila-gila. Sebaliknya, biarpun Tang Gun sudah banyak bergaul aengan wanita, namun selama ini diapun belum pernah bertemu dengan wanita secantik dan sepanas Hwee Lan, maka diapun tergila-gila dan keduanya saling melekat dan merasa bahwa mereka tak mungkin dapat saling kehilangan atau saling berpisah!

Tang Gun yang cerdik maklum bahwa keselamatan dia dan kekasihnya berada di tangan A Sui. Kalau dibiarkan hal itu lewat begitu saja, tentu dia dan kekasihnya akan menjadi permainan dayang itu dan dapat diperas habis-habisan. Oleh karena itu, atas persetujuan Hwee Lan yang juga melihat ancaman bahaya ini, Tang Gun mempergunakan ketampanannya untuk merayu A Sui. Dan dayang inipun hanya seorang gadis yang tidak jauh bedanya dengan Hwee Lan, haus akan belaian dan kasih sayang pria, apa lagi kalau prianya setampan dan segagah Tang Gun. Iapun menyerah dalam dekapan Tang Gun. Maka amanlah hubungan mereka karena kesemuahya terlibat.

Nafsu tak pernah merasa puas. Bahkan makin dituruti, nafsu menjadi semakin ganas, semakin kelaparan dan selalu .menghendaki lebih! Maka, pertemuan antara Tang Gun dan Hwee Lan yang ditemani A Sui yang berakhir dengan permainan cinta gelap sepanjang malam itu tidak berhenti sampai di situ saja. Pertemuan demi pertemuan diatur dan diadakan antara mereka, makin lama semakin sering seperti orang kecanduan!

Dua bulan telah lewat dan pada malam yang amat dingin itu, Tang Gun tidak undur oleh dinginnya hawa udara dan dia sudah menanti kekasihnya di dekat pondok Sarang Madu. Malam itu adalah malam yang penting sekali bagi mereka bertiga, karena malam itu mereka sudah mengambil keputusan untuk melarikan diri dari dalam istana! Atau lebih tepat, Hwee Lan akan dibantu kekasihnya melarikan diri keluar istana. Sejak sore tadi Tang Gun yang menjadi komandan pengawal telah mengatur sedemikian rupa sehingga ada jalan terbuka yang tidak dijaga. Dan agaknya hawa udara yang dingin membantu mereka para pengawal lebih suka bersembunyi di dalam gardu penjagaan menghangatkan diri. Karena ia sendiri juga terlibat, maka tentu saja A Sui juga ikut pula melarikan diri.


Tang Gun bukan seorang bodoh. Dia tidak berani melarikan dua orang wanita yang sudah menjadi kekasihnya itu ke rumahnya yang maslh berada di dalam lingkungan istana. Tidak, dia tidak setolol itu. Dengan bantuan keuangan dari Hwee Lan, menjual barang-barang perhiasan yang mahal, Tang Gun telah membeli sebuah rumah di kota Yu-sian, jauh di sebelah barat kota raja. Rencana mereka, kalau dua orang wanita itu sudah dilarikan ke Yu-sian, kemudian setelah keributan karena pelarian mereka itu mereda, Tang Gun akan melepaskan jabatannya dan mnyusul ke Yu-sian di mana mereka akan hidup baru, dengan berdagang menggunakan modal yang sudah mereka kumpulkan.

Tak lama kemudian, muncullah dua orang wanita muda itu, membawa buntalan. Tang Gun menyambut mereka dengan rangkulan, mereka berciuman mesra, lalu ketiganya menyelinap diantara pohon-pohon dan rumpun bunga di taman, melarikan diri melalui jalan yang sudah di atur oleh Tang Gun. Sesuai rencana, mereka dapat keluar dari lingkungan istana tanpa diketahui orang. Seorang paman, sanak ibunya, telah menanti di luar tembok istana dengan sebuah kereta. Dua orang wanita itupun naik ke dalam kereta. Setelah mereka berangkulan sejenak dengan Tang Gun di dalam kereta untuk mengambil selamat berpisah, kereta lalu di1arikan dan Tang Gun menyelinap kembali ke dalam tembok istana, kembali ke gardu penjagaan seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

Pada keesokan harinya, barulah para selir dan dayang menjadi ribut karena mereka tidak melihat adanya Hwee Lan dan A Sui. Setelah melapor kepada Tang-ciangkun dan komandan ini mengerahkan semua anak buahnya mencari-cari di dalam konlpleks istana tanpa hasil, barulah laporan disampaikan kepada kaisar tentang menghilangnya selir dan dayang itu.

Bagi kaisar, kehilangan seorang selir dan seorang dayang tidak ada artinya karena dalam sehari saja dia mampu mendapatkan sepuluh orang penggantinya yang lebih muda dan cantik. Akan tetapi yang membuat kaisar marah adalah karena peristiwa itu merupakan tamparan dan merupakan hal yang memalukan. Seolah-olah larinya mereka itu memberi kesan bahwa para selir dan dayang merasa tidak beruntung hidup di dalam istana. Karena itu, kaisar memanggil Tang Gun dan mernarahinya.



"Tang Gun! Engkaulah yang menjadi komandan jaga, komandan pengawal di bagian dalam istana. Bagaimana sampai engkau dan pasukanmu kebobolan dan tidak tahu adanya dua orang wanita yang meloloskan diri dari istana?"


Tang Gun berlutut dan memberi hormat sampai dahinya menyentuh lantai. "Mohon seribu ampun, Sribaginda. Hamba telah mengerahkan seluruh pasukan pada malam tadi untuk berjaga-jaga, bahkan hamba sendiri melakukan ronda. Akan tetapi, malam tadi hawa udara demikian dinginnya sehingga para pengawal banyak yang berlindung di dalam gardu, Bahkan para pengawal di bagian luar istanapun banyak yang berada di dalam gardu sehingga tidak ada seorangpun yang melihat dua orang wanita itu keluar dari dalam istana. Hamba menerima salah, dan hamba siap menerima hukuman dari paduka, bahkan hamba akan menerima andaikata hamba dihukum mati, buang atau dihentikan dari jabatan hamba sekalipun."


Ucapan terakhir itu bukan hanya untuk pemanis bibir atau untuk pengakuan salah belaka. Tang Gun akan bersukur sekali kalau memang dia dihentikan dari jabatannya karena dia akan dapat segera menyusul kekasihnya, ke kota Yu-sian.


Akan tetapi, kaisar mengampuninya karena kaisar masih teringat akan jasa perwira muda itu. Kaisar lalu memerintahkan Tang Gun untuk menghubungi para komandan pasukan pengawal di dalam dan di luar istana untuk melakukan penyelidikan dan mencari dua orang wanita yang lolos dari istana itu. Untuk merangsang mereka, kaisar menjanjikan kenaikan pangkat dan hadiah besar kepada siapa yang dapat berhasil membawa kembali dua orang wanita itu ke istana. Semua ini dilakukan kaisar bukan karena dia sayang kepada dua orang wanita itu, melainkan karena dia ingin menghapus kesan buruk dan akan menghukum mereka.


Tentu saja usaha ini sia-sia. Tidak mudah mencari dua orang wanita yang sudah pergi jauh itu, apa lagi ada Tang Gun yang selalu mengelabuhi dan menyesatkan arah penyelidikan dan pengejaran.


***


Malam itu kembali Tang Gun berdinas jaga. Dia duduk termenung di dalam gardu jaga. sebulan telah lewat semenjak kekasihnya pergi melarikan diri. Selama itu, baru satu kali dia sempat menengok ke kota Yu-sian, dengan dalih mencari jejak mereka yang melarikan diri, sekalian cuti. Hatinya lega bahwa Hwee Lan dan A Sui telah tiba di tempat tujuan dengan selamat. Kedatangan mereka sebagai penduduk baru, dengan pamannya sebagai tuan rumah, tidak menimbulkan kecurigaan. Akan tetapi, hanya sehari semalam saja dia dapat melepaskan rindunya kepada Hwee Lan dan A Sui.


Dia harus cepat mengundurkan diri dari jabatannya, pikirnya. Akan tetapi tidak sekarang, karena sekarang akibat pelarian itu masih menjadi buah bibir, juga kaisar masih belum melupakan peristiwa itu dan seringkali menanyakan berita pencarian dua orang wanita itu.

Tang Gun merasa gelisah. Dua orang kekasihnya di Yu-sian itu terlalu cantik. Mereka masih muda dan mereka sampai nekat melarikan diri dari istana adalah karena mereka merasa kesepian dan ingin menikmati hidup bersama dia. Sekarang, kembali mereka kesepian di Yu-sian dan hal itu amat berbahaya kalau dibiarkan berlarut-larut. Siapa tahu akan muncul. penggoda di sana, seorang pemuda yang ganteng! Hatinya dipenuhi rasa cemburu dan dia semakin gelisah.


Dia bangkit dan memesan kepada anak buah yang berada di pintu agar waspada. Dia sendiri lalu meninggalkan gardu, memasuki taman. Dia ingin mencari angin dan hawa sejuk untuk menenangkan hatinya. yang gelisah. Tanpa disengaja, langkah-langkah kakinya membawanya menuju taman barat dan tibalah di depan pondok Sarang Madu. Dia berhenti sejenak dan membayangkan semua pengalaman yang amat menyenangkan di pondok itu bersama Hwee Lan dan A Sui. Terkenanglah dia kepada mereka dan timbul perasaan rindu.


"Tang-ciangkun……. " Suara merdu seorang wanita yang memanggilnya itu membuat Tang Gun tersentak kaget. Hampir dia berseru memanggil nama A Sui ketika melihat munculnya seorang gadis berpakaian dayang dari balik semak-semak. Teringat bahwa A Sui telah pergi bersama Hwee Lan, dia menahan suaranya dan memandang penuh perhatian. Kiranya wanita itu adalah A Cui, seorang dayang lain, pelayan dari selir ke lima kaisar. Karena banyaknya dayang di istana, tentu saja Tang Gun tidak mengenal mereka semua dan biarpun dia tahu bahwa wanita yang manis inipun seorang dayang, dia tidak tahu siapa namanya.


"Ada apakah? Siapakah engkau dan mengapa memanggilku di sini?" tanyanya, pura-pura alim. Kalau saja tidak pernah terjadi peristiwa larinya Hwee Lan dan A Sui, tentu sikapnya berbeda dan dia akan lebih ramah dan manis terhadap dayang ini.


"S'ttt, Ciangkun, aku A Cui dan aku akan membicarakan urusan penting denganmu. Mari kita masuk ke dalam pondok dan bicara di dalam " kata wanita itu sambil melepas kerling tajam disertai senyum manis menentang.


Pada saat itu, Tang Gun sedang berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan setiap kecurigaan tentang menghilangnya selir kaisar dan dayangnya itu dari dirinya, maka biarpun dengan hati menyesal, terpaksa dia tidak berani melayani tantangan yang menggairahkan itu.


"Aih, nona A Cui. Jangan main-main. Mana aku berani?" katanya menolak.


"Tang-ciangkun, tak usah berpura-pura. Aku mau bicara tentang rahasia pondok Sarang Madu. Hayolah!" Ia melangkah menuju ke pintu depan pondok.


Tang Gun mengerutkan alisnya. "Rahasia pondok Sarang Madu'?" jantungnya berdebar tegang. " Apa maksudmu?"


"Maksudku …….. hemm, apa lagi kalau tidak mengenai Hwee Lan dan A Sui? Nah, maukah engkau ikut masuk? Atau engkau lebih suka kalau aku membicarakan urusan itu dengan orang lain?"


Seketika pucat wajah Tang Gun mendengar ucapan itu.Tak perlu di jelaskan lagi,sudah cukup jelas,sudah terlalu jelas bahwa dayang ini mengetahui semua rahasia pelarian Hwee Lan A Sui! Maka,tanpa banyak cakap lagi,dia lalu melangkah masuk mengiringkan wanita itu kedalam pondok Sarang Madu.



Setelah mereka tiba di dalam pondok Tang Gun segera bertanya lirih,”A Cui, apakah sebetulnya yang kau inginkan?”


A Cui membalik dan mendekati Tang Gun,matanya mengerling tajam dan mulutnya tersenyum. “Perlukah engkau bertanya lagi,orang muda yang tampan? Aku tidak membutuhkan apa-apa kecuali apa yang di butuhkan Hwee Lan dan A Sui dan aku tidak menginginkan apa-apa darimu kecuali apa yang telah kauberikan kepada mereka.” Wanita itu lalu melingkarkan kedua lenganya ke leher Tang Gun.Dua buah lengan itu melingkari leher sekuat dua ekor ular dan yang terdengar kemudian hanya dengus dan rintih,disusul napas tersendat-sendat dalam kegelapan di pondok Sarang Madu itu.

Baik A Cui maupun Tang Gun tidak tahu betapa sejak tadi ada sepasang mata tajam mencorong yang mengntai perbuatan mereka, sejak mereka saling jumpa di luar pondok. Pemilik mata ini adalah seorang laki-laki setengah tua, berusia sekitar lima puluh lima tahun, bertubuh sedang masih tegap, pakaiannya istana, tentu saia Tang Gun tidak mengenal mereka semua dan biarpun dia tahu bahwa wanita yang manis inipun karena ia adalah Tang Bun An, atau yang berjuluk Ang-hong-cu Si Kurnbang Merah! Seperti telah kita ketahui, Tang Bun An pergi ke kota raja untuk memulai hidup baru karena dia merasa sudah tua dan bosan dengan kehidupan petualangan seperti yang selama ini dialaminya. Dia terlalu banyak musuh, bahkan akhir-akhir ini dia dikejar-kejar orang-orang pandai sekali, termasuk puteranya sendiri yang bernama Tang Hay. Dia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja dan mencari kedudukan, untuk dapat mengembalikan kedudukan dan kemuliaan yang pernah dimiliki ayah kandungnya dahulu, yaitu mendiang Tang Siok yang menjadi pejabat tinggi di kota raja. Dia harus mampu meraih suatu kedudukan yang lebih tinggi dari pada yang pernah dimiliki ayahnya dan satu-satunya jalan untuk dapat memperoleh kedudukan tinggi itu hanyalah membuat jasa, kalau mungkin langsung terhadap Kaisar! Biarpun dia pandai ilmu silat dan mengerti juga ilmu sastra, namun tanpa memlliki hubungan yang baik dengan para pejabat tinggi, akan sukarlah memperoleh kedudukan. Apa lagi bagi seorang setua dia.

Ketika berada di kota raja, Tang Bun An segera mendengar berita yang amat menarik hatinya, yaitu tentang adanya seorang perwira pengawal muda yang menyebar berita bahwa perwira itu adalah putera dari Ang-hong-cu! Hal ini dirasakannya amat aneh. Bukankah selama ini namanya dianggap jahat dan buruk, dibenci oleh para pendekar dan ditakuti di dunia kang-ouw? Bahkan andaikata dia mempunyai anak kandung, seperti halnya Tang Hay, maka anak itu tentu akan malu mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Akan tetapi kenapa orang ini, seorang perwira pengawal pula, menyebarkan berita bahwa dia putera Ang-hong-cu. Seolah-olah hal itu membanggakan hatinya? Tadinya dia hanya tersenyum saja mendengar berita itu, dan dianggapnya perwira itu seorang pemuda yang tolol dan suka membanggakan diri meminjam ketenaran orang lain. Akan tetapi setelah dia mendengar bahwa perwira muda itu bernama Tang Gun, dia terkejut! She Tang? Dunia kang-ouw sudah mengenal nama julukan Ang-hong-cu, akan tetapi tidak ada atau amat jarang sekali orang mengetahui bahwa Ang-hong-cu memiliki she (nama keturunan) Tang!


Berita itu amat menarik hati Tang Bun An. Apa lagi ketika dia mendengar bahwa perwira bernama Tang Gun itu bekerja sebagai seorang komandan pengawal dalam istana, sebuah kedudukan yang diterimanya sebagai hadiah dari kaisar karena Tang Gun pernah menolong rombongan kaisar dari gangguan pemberontak dua tiga tahun yang lalu! Ah, siapa tahu, dari orang yang mengaku puteranya inilah datang kesempatan baginya untuk meraih kedudukan! Dan memang dia harus dapat mendekati istana, tempat tinggal kaisar kalau dia ingin memperoleh pangkat yang tinggi.


Demikialah, setelah melakukan penyelidikan tentang keadaan istana, Tang Bun An lalu mempergunakan ilmu kepandaiannya dan dengan tidak betapa sukar dia berhasil melewati pagar tembok dan masuk ke dalam taman bunga di bagian barat, dan kebetulan sekali dia dapat melihat dan mendengar pertemuan antara perwira Tang Gun dan seorang dayang. Dia belum sempat menyelidiki perwira yang mengaku puteranya itu, maka tadinya dia tiak tahu siapa perwira yang mengadakan pertemuan dengan seorang dayang istana itu. Akan tetapi setelah mendengar dayang itu menyebut "Tang-ciangkun" dia terkejut dan juga merasa gembira sekali. Tak salah lagi, pikirnya. Inilah perwira yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu itu! Dan dari penerangan yang tidak begitu cerah, cukup baginya untuk bernapas lega. Setidaknya orang muda itu tidak mengecewakan untuk menjadi puteranya. Jangkung, tegap, tampan dan gagah. Apa lagi setelah dia mendengar percakapan antara mereka, hatinya bangga. Pemuda yang mengaku puteranya ini ternyata seorang pria yang disukai wanita! Buktinya, dayang itu juga memikat cintanya, dan mempergunakan semacam rahasia pondok Sarang Madu sebagai alat untuk memeras agar perwira muda itu suka memuaskan nafsu birahinya! Diam-diam Tang Bun An tersenyum bangga, dan melihat pemuda itu mengikuti si dayang memasuki pondok, diapun cepat meloncat ke atas genteng untuk melakukan pengintaian. Di dalam kamar pondok itu hanya diterangi dua buah lilin, namun cukup bagi mata Tang Bun An yang tajam dan terlatih baik.


Mula-mula dia hendak melihat apakah orang yang mengaku puteranya itupun cukup jantan melayani wanita dalam bercinta. Akan tetapi, ketika dia mengintai dari atas dan mula-mula hanya terdengar bunyi dengus napas dan rintihan disusul pernapasan yang tersendat-sendat, dia terbelalak! Perwira muda yang mengaku puteranya itu, sama sekali tidak mencumbu rayu, tidak membelai mesra, melainkan mencekik leher gadis itu menggunakan ikat pinggang dayang itu sendiri! Betapa gilanya! Sayang kalau gadis muda semanis itu dibunuh begitu saja! Kalau perwira muda itu telah menikmatinya, mau di bunuh atau tidak dia tidak akan perduli. Akan tetapi jelas bahwa mereka itu baru saja saling bertemu, mengapa perwira itu membunuhnya tanpa membelai atau mencumbu sedikitpun? Akan tetapi dia menahan diri, tidak mau mencampuri karena ia ingin sekali tahu perkembangan selanjutnya. Keadaan perwira muda yang mengaku puteranya itu tentu saja baginya jauh lebih menarik dan lebih penting daripada nyawa seorang gadis dayang istana!


Melihat cara perwira itu membunuh dayang, yang memakan waktu cepat sekali, Tang Bun An dapat menduga bahwa perwira muda itu sedikit banyak memiliki tenaga yang lumayan juga.



Kini Tang Gun melepaskan ikat ping gang dayang itu, mengikat ujung ikat pinggang ke atas tihang dan menggantung mayat dayang itu pada lehernya, mengatur sedemikian rupa sehingga sekali lihat saja orang akan menduga bahwa dayang itu mati membunuh diri dengan cara menggantung. Dia membalikkan sebuah bangku di bawah mayat. Dengan cermat dia mengukur dan memperhitungkan. Kalau gadis itu membunuh diri, tentu mempergunakan bangku itu untuk berdiri dan mengikat ujung ikat pinggang ke tihang, mengikatkan ujung yang lain di lehernya kemudian menendang bangku itu sehingga tubuhnya tergantung dan mati tercekik. Tepat sekali. Setelah merasa puas, dia lalu menup padam api lilin dan keluar dari dalam pondok, menutupkan daun pintu pondok itu. Kemudian, dengan tenang diapun kembali ke pos penjagaan seperti tidak pernah terjadi sesuatu.


Pada keesokan harinya, kembali istana kaisar menjadi gempar ketika mayat A Cui ditemukan dalam keadaan menyedihkan. Ia mati tergantung dalam Pondok Sarang Madu, lidahnya terjulur panjang, matanya melotot dan tubuhnya kaku! Akan tetapi karena keadaannya jelas menunjukkan bahwa ia telah menggantung diri sampai mati, maka tidak ada persoalan lain kecuali mengurus mayatnya dan selanjutnya tidak ada apa-apa lagi.


Biarpun dia telah berhasil membunuh A Cui yang mengetahui rahasianya tanpa meninggalkan jejak, tetap saja hati Tang Gun merasa tidak tenteram. Dia dapat menduga bahwa kalau sampai A Cui mengetahui rahasia itu, berarti A Sui, dayang yang menjadi pelayan Hwee Lan itulah yang bermulut panjang dan membocorkan rahasia. Mungkin hanya untuk pamer dan membanggakan diri bahwa ia telah berhasil menjadi kekasih perwira Tang yang banyak dikagumi para puteri itu! Yang membuat dia gelisah, siapa saja yang sudah mengetahui akan rahasia itu? Apakah hanya kepada A Cui saja A Sui bercerita? Ataukah celotehnya didengar lebih banyak dayang lagi? Celakalah kalau begitu! Dia harus cepat pergi ke kota Yu-sian untuk minta keterangan A Sui, dan dayang yang panjang mulut itu perlu ditegur, atau bahkan dihajar agar lain kali tidak berani lagi berlancang mulut menyebarkan rahasia yang seharusnya dipegang teguh karena amat berbahaya kalau sampai terdengar oleh istana.


Pada keesokan harinya, Tang Gun mohon diri dari kaisar untuk keluar dari istana dalam usahanya menyelidiki sendiri kehilangan selir Hwee Lan dan pelayannya, A Sui. Untuk itu, dia minta cuti selama sebulan. Tentu saja permohonannya dikabulkan karena kaisar juga masih merasa amat penasaran dengan menghilangnya selir dan dayangnya itu, dan memang merupakan tanggung jawab Tang Gun sepenuhnya sebagai perwira pengawal dalam istana untuk dapat menangkap selir yang melarikan diri itu.


***


Kedatangan Tang Gun di kota Yu-sian dilakukan secara diam-diam. Bagaimanapun juga, dia tidak berani secara terang-terangan memperlihatkan diri kepada umum ketika dia mengunjungi ke kasihnya, yaitu Hwee Lan dan A Sui yang kini sudah membuka sebuah toko kain di kota itu. Dia datang pada malam hari, melalui genteng rumah seperti seorang pencuri! Akan tetapi kedatangannya itu disambut dengan mesra dan manis oleh Hwee Lan dan A Sui yang sudah merasa rindu sekali kepada pria ini.


Akan tetapi, kemesraan itu diliputi mendung. Tang Gun juga merasa rindu kepada mereka, nampak diam dan murung. Tentu saja hal ini membikin dua orang wanita itu menjadi khawatir.


"Koko, apakah yang menyebabkan engkau nampak murung dan tidak senang?" Hwee Lan merangkul dan duduk di atas pangkuan kekasihnya. Tang Gun menghela napas.

" Aku telah membunuh dayang A Cui ..."


"A Cui....... ?" A Sui terkejut sekali mendengar bahwa kekasih majikannya, juga kekasihnya sendiri itu, telah membunuh A Cui, seorang dayang istana yang menjadi sahabat baiknya.


"Membunuh A Cui? Kenapa......?" Hwee Lan juga berseru kaget dan ia turun dari atas pangkuan kekasihnya, akan tetapi masih merangkulnya dan mengamati wajah yang tampan itu dengan khawatir .


"Ia telah mengetahui rahasia kita, dan ia memerasku untuk melayaninya. Karena itu, aku lalu membunuhnya." Diceritakannya peristiwa dalam taman itu kepada dua orang wanita yang mendengarkan dengan wajah berubah pucat.


"Dan kalau sampai A Cui mengetahui rahasia kita itu, sudah pasti bahwa seorang di antara kalian yang telah membocorkannya dan menceritakannya kepada A Cui. Hayo, siapa yang telah bicara dengan A Cui? Mengaku saja!"


Hwee Lan memandang kekasihnya yang sudah bangkit berdiri itu dengan mata terbelalak, lalu ia menggeleng kepalanya. "Tidak, aku sama sekali tidak pernah bicara tentang hubungan kita kepada siapapun juga. Aku cukup mengetahui betapa berbahayanya kalau hal itu kulakukan. Akan tetapi A Sui.......! Engkau........., tentu engkau yang telah bicara dengan A Cui, bukan? Aku tahu bahwa engkau adalah sahabat karib A Cui!" Bekas selir kaisar yang cantik jelita itu kini memandang kepada pelayannya.

A Sui menjadi semakin pucat. Ia menundukkan mukanya, kemudian ia berlutut di atas lantai dan menangis. "Ampun.... saya kira........ hal itu tidak ada bahayanya, karena ia...... ia adalah seorang sahabat baik yang biasanya setia..... dan........"


"Goblok! Engkau lancang mulut!" Tang Gun dengan marah lalu menggerakkan kakinya menendang.

"Bukk!" Tubuh selir yang mungil itu terlempar dan menabrak dinding lalu terbanting jatuh. Ia menangis dan pipinya yang tertabrak dinding membiru, mulutnya berdarah.


"Kau...... kau akan membikin celaka kita semua!" Tang Gun membentak lagi dan kemarahannya masih berkobar.


"Ampun....... ampunkan saya........."



Bekas dayang itu merintih ketakutan. Sebelum Tang Gun turun tangan lagi menghajar atau mungkin membunuh bekas dayang yang menjadi kekasihnya itu, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dibarengi suara seorang laki-laki, "Tang Gun, apakah engkau hendak membunuh pula wanita ini seperti engkau membunuh dayang A Cui?"


Tentu saja tiga orang itu terkejut, terutama sekali Tang Gun. Dia membalikkan tubuhnya dan ternyata di ruangan itu telah berdiri seorang laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali. Seorang pria yang usianya sudah lima puluh lima tahun, pakaiannya rapi, tubuhnya sedang dan setua itu masih nampak tampan menarik. Melihat bahwa pria itu hanya orang biasa saja, tidak membawa senjata, Tang Gun bersikap garang.


Sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka pria itu, ia membentak lantang, "Heh, siapakah engkau yang datang memasuki rumah kami tanpa diundang?" Biarpun suara dan sikapnya garang, namun hatinya berdebar tegang mendengar betapa pria ini telah tahu akan rahasianya yang ke dua, yaitu membunuh A Cui!


Pria setengah tua itu tersenyum me mengejek dan sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam. "Aku adalah utusan kaisar yang datang untuk menangkap kalian bertiga dan membawa kalian kembali ke istana!"


Wajah Tang Gun seketika pucat mendengar ucapan ini. Akan tetapi melihat betapa orang itu hanya seorang diri saja dan tidak bersenjata, diapun menjadi nekat. Dia harus membunuh orang ini kalau ingin selamat. Secepat kilat dia sudah mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang dengan tusukan pedangnya ke arah dada orang itu.


"Singgg....!" Pedang berdesing saking cepat gerakannya, namun hanya meluncur lewat karena orang itu sudah dapat mengelak dengan amat mudahnya. Akan tetapi begitu dia dengan lompatan ke kanan, Tang Gun sudah cepat membalikkan tubuh dan pedangnya menyambar ganas, kini membacok ke arah leher, dan gerakan pedang ini di susul tendangan kaki kirinya ke arah bawah pusar lawan. Hebat serangan ini karena Tang Gun telah memainkan jurus Li-kong-sia-ciok (Li Kong Memanah Batu), gerakannya selain cepat juga mengandung tenaga yang dahsyat. Namun, ternyata lawannya adalah seorang yang lihai sekali. Dia tidak pernah mimpi bahwa lawannya itu adalah orang yang sejak dia kecil dia cari-cari, yaitu ayah kandungnya sendiri yang berjuluk Ang-hong-cu!

Ang-hong-cu Tang Bun An menghadapi serangan dahsyat itu dengan amat tenang. Dia melangkah mundur sehingga bacokan tidak mengenai lehernya, dan ketika tendangan itu menyambar lewat, tangannya cepat bergerak menyentuh bawah kaki dan sekali dia menggerakkan tenaga ke arah tumit itu, tubuh Tang Gun terlempar dan terjengkang ke belakang!

"Brukkk!" Tubuh Tang Gun terbanting, akan tetapi orang muda inl sudah cepat meloncat bangun lagi dan menyerang lebih ganas. Dia kini dapat mengerti bahwa lawannya amat pandai, maka dia menjadi nekat. Dia harus dapat mengalahkan orang itu, atau dia akan celaka! Pedangnya menyambar-nyambar, berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung, yang menyambar-nyambar bagaikan maut kelaparan mencari nyawa. Namun, tingkat ilmu kepandaian silat yang dikuasai Tang Gun jauh berada di bawah tingkat Ang-hong-cu yang selain ilmunya tjnggi, juga sudah memiliki pengalaman luas, maka semua sambaran pedangnya tidak pernah mengenai sasaran. Bahkan kalau Si Kumbang Merah itu menghendaki, dalam beberapa jurus saja. Tang Gun tentu sudah roboh dan dikalahkan. Agaknya, mengingat bahwa perwira muda ini adalah puteranya sendiri, seperti yang diakui oleh Tang Gun dan yang dipercayanya pula, agaknya Si Kumbang Merah ingin menguji sampai di mana ketangguhan orang yang mengaku anaknya itu.

Setelah puas mempermainkan Tang Gun dengan elakan-elakan yang membuat tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berkelebatah di antara sinar pedang, tiba-tiba Si Kumbang Merah mengeluarkan seruan nyaring.


"Heiiiittt!" Kedua tangannya bergerak, yang kiri menotok ke arah siku kanan lawan, yang kanan mencengkeram pundak dan di lain saat, tubuh Tang Gun telah menjadi lemas dan pedangnya dengan mudah berpindah tangan! Si Kumbang Merah menyusul dengan totokan ke arah jalan darah thian-hu-hiat dan tubuh perwira itupun terkulai lemas, tidak mampu bergerak lagi!


Dua orang wanita itu menjadi ketakutan sampai hampir terkencing-kencing.


Namun, Si Kumbang Merah tersenyum ramah dan berkata kepada mereka,"Hayo kalian berdua ikut bersamaku. Kereta sudah menanti di luar. Jangan sampai aku harus mempergunakan kekerasan terhadap kalian dua orang nona manis!"


Hwee Lan dan A Sui tidak berani membantah puJa waJaupun mereka ketakutan dan maklum bahwa malapetaka menanti mereka. Ang-hong-cu menarik tubuh Tang Gun bangun. Lalu memapahnya keluar, menggiring dua orang wanita itu yang berjalan dengan tubuh menggigil ketakutan. Ternyata di luar sudah tersedia sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda! Ang-hong-cu yang membayangi Tang Gun dan mengetahui tempat persembunyian perwira dengan dua orang kekasihnya itu, sudah mempersiapkan kereta untuk memboyong para tawanan itu kembali ke kota raja!


Setelah tiga orang itu berada di dalam kereta, Tang Gun tertotok lemas dan dua orang wanita itu menangis lirih, Ang-hong-cu lalu melarikan keretanya menuju ke kota raja. Penangkapan terhadap tiga orang itu merupakan peristiwa yang aneh karena tidak ada orang lain yang mengetahuinya! Dua orang wanita itupun merasa tidak berdaya, hanya mampu menangis ketakutan karena mereka dapat membayangkan bahwa mereka tentu akan menerima hukuman. Orang yang mereka percaya kini telah duduk setengah rebah didalam kereta, tidak mampu bergerak lagi dan hanya mampu memandang kepada
mereka dengan sinar mata putus asa dan ketakutan.


***



Cepat laksanakan penangkapan itu kalau benar engkau mampu melakukannya! Selama ini, seluruh pasukan pengawal tidak mampu menangkap dua orang perempuan itu. Maka, Tang Bun An, kalau engkau melanggar janji kesanggupanmu dan mengecewakan kami, kalau engkau gagal melakukan penangkapan, kami akan memberikan hukuman berat! Sebaliknya, kalau engkau memenuhi janji, yaitu dalam waktu sehari akan mampu menghadapkan dua orang wanita itu dan biangkeladinya yang membuat mereka minggat dari istana, kami akan mengangkat kamu menjadi kepala seluruh pasukan pengawal, baik yang di dalam maupun yang di luar istana!" Demikianlah kata kaisar ketika Tang Bun An diperkenankan menghadapnya. Tang Bun An menyatakan kesediaannya untuk menangkap dan menyeret dua orang wanita, yaitu selir Hwet. Lan dan dayang A Sui, kembali ke istana dalam waktu satu hari saja. Bahkan juga dia bersedia menangkap orang yang telah melarikan dua orang wanita itu dari dalam istana. Mendengar ini, tentu saja semua pengawal menjadi terkejut dan heran. Bagaimana mungkin orang setengah tua ini akan mampu menangkap buronan itu dalam waktu sehari saja, pada hal para pengawal yang pandai telah gagal sama sekali?


Tentu saja hal itu tidaklah terlalu mengherankan kalau saja mereka ketahui bahwa ketika Tang Bun An menghadap kaisar, tiga orang jtu telah menjadj tawanannya dan dia sembunyikan dalam sebuah kuil tua di dalam hutan sebelah utara kota raja!


Dengan sikap hormat dan gagah Tang Bun An menolak ketika kaisar menawarkan bantuan pasukan pengawal. Diapun berangkat dan tepat pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah kembali ke istana membawa tiga orang tawanan itu yang telah dibelenggu kedua tangan mereka, dan dirantai kaki mereka.. Semua orang tentu saja menjadi bengong dan terkejut bukan main melihat bahwa komandan pengawal muda itu menjadi tawanan, apa lagi ketika mereka mendengar bahwa yang melarikan Hwee Lan dan A


Sui adalah Tang Gun, perwira pengawal yang amat dipercaya kaisar itu. Gegerlah seluruh penghuni istana mendengar bahwa Tang Gun tidak hanya melarikan selir dan dayangnya itu, akan tetapi juga dia yang telah membunuh A Cui yang disangka mati membunuh diri di Pondok Sarang Madu.


Kaisar sendiri tentu saja menjadi marah bukan main. Dengan muka merah dan mata melotot dia mendengarkan pengakuan tiga orang tawanan itu, kemudian dengan suara lantang kaisar menjatuhkan hukumannya. Hwee Lan dan A Sui dijatuhi hukuman menjadi nikouw (pendeta wanita), mencukur gundul rambut mereka dan selanjutnya mereka diharuskan menjadi nikouw, hidup di kuil untuk menebus dosa selama hidup mereka. Adapun Tang Gun, mengingat akan jasanya yang pernah dilakukannya terhadap kaisar, perwira pengawal ini dihukum buang setelah menerima cambukan sebanyak lima puluh kali!


Tentu saja Tang Bun An menerima hadiah seperti yang dijanjikan kaisar. Dia diangkat menjadi komandan seluruh pasukan pengawal! Suatu kedudukan yang tinggi!


Akan tetapi tentu saja kedudukan itu tidak diterimanya dengan begitu mulus dan mudah. Seorang di antara para menteri, yaitu menteri bagian keamanan, memperingatkan kaisar bahwa menerima seseorang untuk menjadi komandan pasukan pengawal istana, tidak semestinya dilakukan semudah itu.


"Ampun, Sribaginda," demikian antara lain menteri itu mengemukakan pendapatnya. "Memang sudah terdapat bukti akan kesetiaan dan jasa dari Tang Bun An dan sudah sepantasnya kalau dia menerima anugerah dari paduka. Akan tetapi, akan lebih bijaksana kiranya kalau dia diuji lebih dulu. Bagaimanapun juga, tingkat kepandaian seorang komandan haruslah lebih tinggi dari pada tingkat semua perwira pasukan itu sehingga tidak akan menimbulkan perasaan iri di antara para prajurit maupun perwira! Juga hal ini akan mempertebal ketaatan para anak buah terhadap komandannya."

Kaisar dapat menerima pendapat ini dan demikianlah, sebelum menerima pengangkatannya sebagai seorang panglima, kepala seluruh pasukan pengawal istana, Tang Bun An diharuskan melewati ujian. Pengujinya adalah seorang yang amat disegani di seluruh pasukan pengawal, yaitu Coa-ciangkun (Perwira Coa) yang tadinya menjabat kepala pasukan pengawal dan kini harus menjadi orang ke dua setelah Tang Bun An! Coa Ciangkun ini terkenal memiJiki tenaga gajah dan juga ilmu silatnya tinggi, maka boleh dibilang dia merupakan jagoan istana nomor satu yang selama ini sukar dicari tandingannya! Dia baru berusia empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar menyeramkan.

Kaisar sendiri tertarik ketika melihat sikap Tang Bun An yang sedikitpun tidak menyatakan ketakutan ketika dikabarkan bahwa dia akan diuji oleh Coa Ciangkun yang terkenal itu. Maka, kaisar berkenan hendak menyaksikan sendiri ujian atau adu kepandaian itu. Mendengar bahwa kaisar sendiri hendak menyaksikan, legalah hati Tang Bun An. Kalau junjungan itu sendiri menyaksikan, sudah pasti perwira Coa itu tidak akan berani melakukan kecurangan dan tentu adu kepandaian itu akan berlangsung dengan jujur dan adil. Hal ini melegakan hatinya yang tadinya merasa ragu-ragu dan khawatir kalau-kalau dia akan dicurangi. oleh para pembesar istana yang tentu akan merasa iri hati kepadanya. Dan diapun maklum betapa lihainya para jago istana sehingga kalau sampai dia dikeroyok, hal itu akan berbahaya juga baginya.


Pada hari dan waktu yang sudah ditentukan, sebuah lian-bu-thia (ruang berlatih silat) telah dipersiapkan dan kaisar sudah hadir bersama beberapa orang selir dan dayang yang suka akan ilmu silat. Juga para pembesar militer hadir untuk menilai hasil ujian itu.


Setelah memberi hormat dengan berlutut di depan kaisar, Tang Bun An dan lawannya menuju ke tengah ruangan. Tang Bun An memandang kepada calon lawan itu dengan penuh perhatian. Seorang raksasa berusia empat puluh tahun dan biarpun tubuhnya tinggi besar, namun gerak-geriknya nampak gesit. Seorang lawan yang tangguh, pikirnya, akan tetapi sedikitpun dia tidak merasa gentar. Dia percaya kepada kemampuan dirinya. Sekelebatan saja dia tahu bahwa menghadapi lawan seperti itu, amat bodoh kalau dia harus mengadu tenaga. Jelas bahwa orang itu memiliki tenaga yang amat kuat, baik tenaga otot maupun tenaga dalam. Maka, satu-satunya cara untuk menghadapinya hanyalah mengandalkan kecepatan dan dia merasa yakin akan dapat mengatasi lawannya dalam hal kecepatan. Memang dia terkenal sekali sebagai seorang ahli gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat dan karena mengandalkan gin-kang inilah maka selama puluhan tahun ini, tidak ada yang mampu menangkap Ang-hong-cu!



Pertandingan ujian itu segera dimulai dan mentaati perintah kaisar yang mengkhawatirkan kalau dua orang yang amat berguna baginya itu mengalami cidera, pertandingan dilakukan dengan tangan kosong.


Begitu mereka bergebrak saling serang, tahulah Si Kumbang Merah bahwa lawannya memang amat tangguh, dan memiliki ilmu silat yang pada dasarnya adalah aliran silat Siauw-lim-pai. Akan tetapi, gerakannya bercampur dengan silat dari utara dan barat, dan yang amat merepotkannya adalah kekuatan yang dahsyat dari lawan itu. Biarpun dia sendiri memiliki sin-kang yang kuat, namun setelah beberapa kali mencoba tenaga lawan dan mengadu tenaga, lengannya terasa agak nyeri karena dia kalah muda, dan tulang-nya kalah kuat! Maka, mulailah Si Kumbang Merah Tang Bun An mempergunakan kecerdikannya. Tubuhnya berkelebatan amat cepatnya dan benar seperti dugaannya.biar si raksasa itupun memiliki gerakan yang cepat, namun jauh kalah cepat dibandingkan dia. Coa Ciangkun mulai merasa pening karena lawannya lenyap, berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di sekeliling dirinya! Lawannya itu bagaikan seekor kumbang yang beterbangan mengitarinya, membuat Coa Ciangkun kini terdesak dan repot sekali.


Setelah lewat lima puluh jurus dan membuat lawan benar-benar pening, dengan kecepatan kilat ketika tubuhnya berkelebat di belakang lawan, tang Bun An mempergunakan ujung kakinya meendang cepat mengarah tekukan lutut kedua kaki Coa-ciangkun. Tidak keras tendangan itu, namun karena yang ditendang adalah bagian yang lemah, maka tanpa dapat dipertahankan lagi, kedua kaki perwira raksasa itupun tertekuk dan dia berlutut!


Tang Bun An yang cerdik tidak ingin mendapatkan musuh, maka cepat dia menjura kepada perwira itu sambil berkata, "Ciangkun, engkau sungguh hebat, maafkan aku."


Perwira Coa bangkit berdiri dan balas menjura. Hatinya kagum. Orang ini amat lihai, pikirnya, akan tetapi pandai pula merendahkan diri. Biarpun dia tadi kalah, namun lawannya sengaja tidak membikin malu padanya.


Dia tahu bahwa kalau lawan yang amat lihai itu menghendaki, dia dapat dikalahkan dalam cara yang lebih keras lagi.


Kaisar merasa puas dan para pembesar militer juga menyatakan kekaguman mereka. Semua orang tahu belaka bahwa pria setengah tua yang ganteng dan simpatik itu. memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan boleh diharapkan menjadi komandan pengawal yang boleh dipercaya.


Mulai hari ini, resmilah Tang Bun An menjadi Tang-ciangkun, dan kedudukannya bahkan jauh lebih tinggi dari pada Tang Gun. Lalu bagaimana dengan nasib Tang Gun? Bagi dua orang kekasihnya sudah jelas. Hari itu juga mereka digunduli dan diserahkan kepada para nikouw pengurus kuil, dan dua orang wanita muda itu dipaksa menjadi nikouw, setiap hari kerjanya hanya berdoa dan mempelajari kitab-kitab agama untuk menebus dosa mereka! Sedangkan Tang Gun sendiri, dengan punggung yang masih penuh babak belur dan terasa perih, lehernya dikalungi papan berlubang, dan dia dikawal oleh dua orang petugas penjara, dibawa keluar dari kota raja dalam perjalanannya ke tempat pembuangan, jauh ke utara,di mana terdapat tempat pembuangan dan di sana para terhukum itu dijadikan pekerja rodi, memperbaiki tembok dari Tembok Besar yang rusak, melayani pasukan penjaga dan lain-lain pekerjaan kasar, sampai mereka itu mati atau habis masa hukumannya.


Pada malam harinya setelah Tang Gun dikawal dua orang petugas penjara keluar dari kota raja, Tang Bun An gelisah di dalam kamarnya. Dia terkenang kepada Tang Gun, terkenang akan percakapan antara Tang Gun dan Hwee Lan di dalam kuil, sebelum mereka dia serahkan kepada kaisar. Dua orang itu bertangisan dan dalam keluh kesahnya itulah dia mendengar Tang Gun berkata dengan suara penuh duka.


"Aih, aku telah melupakan pesan ibuku, dan seperti juga ibuku, aku menjadi korban nafsu. Ibuku pernah bercerita bahwa karena terbuai oleh nafsu, ibuku telah menyerahkan diri kepada seorang pria. Ibuku mengandung dan pria itu pergi begitu saja. Ibu melahirkan aku dan hidup merana dan itu semua. adalah korban nafsu yang hanya beberapa waktu saja! Aku lupa akan pengalaman ibu, dan akupun tergoda oleh nafsu sehingga kita melakukan hubungan dan kini akibatnya sungguh pahit, sama sekali tidak sepadan dengan kesenangan sejenak yang kita nikmati.......”

“Akan tetapi, koko. Kita saling mencinta...... ," bantah Hwee Lan.


"Hemm, benarkah itu? Kalau kita saling mencinta, tentu kita tidak akan melakukan hubungan yang akibatnya hanya mencelakakan kita sendiri. Kita saling mencelakakan. Yang mendorong hubungan kita bukanlah cinta, melainkan nafsu birahi! Sungguh tepat peringatan ibu. Kita harus senantiasa waspada terhadap nafsu kita sendiri karena nafsu kita yang akan menyeret kita ke lembah kesengsaraan. Kalau kita lengah, nafsu menerkam kita. Untuk kenikmatan yang hanya beberapa saat kita rasakan, mungkin akan menyeret kita ke lembah kesengsaraan selama hidup!"


Pemuda itu menangis dan merintih-rintih memanggil ibunya! Itulah yang selalu mengiang di dalam telinga Si Kumbang Merah pada malam hari itu. Dia sendiri tidak tahu siapa ibu pemuda itu, namun dia percaya bahwa Tang Gun adalah puteranya. Sudah terlalu banyak wanita dia permainkan sehingga dia tidak ingat lagi, wanita yang mana yang menjadi ibu pemuda itu! Dan diapun tidak mempunyai hasrat untuk mengetahuinya. Bagaimanapun juga, Tang Gun adalah anak kandungnya! Dia tidak memiliki rasa cinta kepada pemuda itu, akan tetapi, mengingat bahwa Tang Gun tidak bersalah kepadanya, dan juga tidak mengecewakan menjadi puteranya, pandai menjatuhkan hati wanita, maka hatinya merasa tidak tega.


Demikianlah, pada keesokan harinya ketika Tang Gun dan dua orang pengawalnya tiba di jalan sunyi di lereng sebuah bukit, tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian serba hitam dan memakai kedok hitam pula. Tanpa banyak cakap, si kedok hitam ini menyerang dua orang pengawal itu. Mereka mencabut golok melakukan perlawanan. Namun percuma saja, hanya dalam beberapa jurus keduanya sudah terjungkal tewas dan si kedok hitam menendangi mayat mereka sampai terlempar ke dalam jurang yang amat dalam. Setelah itu, masih tanpa bicara, si kedok hitam membikin pecah "kang" (alat papan berlubang mengalungi leher), mematahkan semua rantai, kemudian menyerahkan sebuah buntalan kain kuning kepada Tang Gun. Buntalan kain itu ternyata berisi uang emas! Tang Gun terheran-heran dan si kedok hitam meloncat pergi. Pemuda itu hanya dapat berteriak, "Kedok hitam, aku Tang Gun tidak akan melupakan pertolonganmu ini selama hidupku!"

Si Kedok Hitam itu tentu saja bukan lain adalah Si Kumbang Merah Tang Bun An. setelah menolong dan membebaskan putera kandungnya dan memberi emas yang cukup untuk bekal hidup pemuda itu, dia lalu kembali ke kota raja dan hatinya merasa lega dan puas. Tang Gun seorang anak keturunannya yang patut dibanggakan! Hanya sayang ilmu silatnya tidak begitu tinggi, tidak seperti Hay Hay atau Tang Hay itu. Teringat akan Tang Hay, diam-diam Si Kumbang Merah bergidik. Anak itu luar biasa sekali. Amat lihai dan memiliki ilmu sihir yang mengerikan pula. Dan timbul kekhawatiran di dalam hatinya bahwa anak kandungnya yang satu itu sekali waktu akan dapat menemukannya! Akan mampukah dia menandingi anaknya itu? Akan mampukah dia menyelamatkan dirinya?

"Aku tidak perlu takut!" Akhirnya dia mengeluh. Bukankah tidak seorangpun di antara mereka, juga Tang Hay sendiri tidak, mengetahui bahwa dia kini telah menjadi seorang panglima di istana? Panglima, komandan seluruh pasukan pengawal yang amat kuat! Apa artinya musuh-musuh dari golongan para pendekar itu? Dalam kedudukannya sekarang, mereka takkan mampu berbuat sesuatu!

Dan mulailah Si Kumbang Merah Tang Bun An menikmati kehidupannya yang baru. Seorang panglima yang ditakuti dan disegani, yang memiliki kekuasaan di istana, luar dan dalam. Dialah pengatur semua penjagaan, dialah yang bertanggung jawab akan keamanan dan keselamatan istana, akan keamanan dan keselamatan kaisar sekeluarganya! Dia berkedudukan.tinggi dan terhormat, juga hidup dalam kemewahan. Sebentar saja dalam gedungnya yang megah dimeriahkan dengan adanya belasan orang pelayan wanita yang muda-muda, yang cantik-cantik. Bahkan karena pengalamannya dalam urusan wanita, Si Kumbang Merah memilih gadis-gadis yang cantik dan dengan segala macam sifat dan pembawaan, ada sesuatu yang khas dan menjadi daya tarik bagi setiap para pelayan itu. Dipilihnya dengan teliti sehingga sebentar saja para pejabat tinggi di kota raja mendengar atau melihat sendiri bahwa panglima baru ini mempunyai gadis-gadis pelayan yang hebat, yang tidak kalah dibandingkan dengan para dayang di istana kaisar!

***

Sudahkah Si Kumbang Merah Tang Bun An merasakan bahagia dalam hidupnya? Apakah dia kinj sudah puas dengan keadaan hidupnya yang baru, di mana dia bergelimang dengan kehormatan, kekayaan dan kemuliaan? Orang-orang menghormatinya, rumahnya besar dan djlayanj pelayan-pelayan wanita yang muda-muda lagi cantik, dijaga pasukan pengawal dan hidup sebagai seorang pembesar yang otomatis menjadi bangsawan yang kaya raya. Bahagiakah hidupnya? Senang memang. Namun, kesenangan bukanlah kebahagiaan. Kesenangan hanya merupakan keadaan sepintas saja, selewat saja, bahkan ada kesenangan yang umurnya amat pendek. Setelah saat senang itu lewat, maka muncullah kebosanan dan kekecewaan. Kesenangan hanya sekedar pemuasan nafsu kejnginan. Setelah tercapai, maka kepuasan itupun hanya sekelumit dan ! baru terasa bahwa apa yang dicapainya itu, kesenangan yang diidamkannya itu, tidaklah sebesar ketika dikejarnya.

Kesenangan hanyalah muka yang lain dari kesusahan, ada suka tentu ada duka, ada puas tentu ada kecewa. Kesenangan hanya merupakan permainan perasaan yang dikuasai nafsu. Adapun kebahagiaan bukanlah keadaan badan, melainkan keadaan jiwa! Keadaan jiwa yang bebas dari pada cengkraman nafsu. Jiwa yang tidak lagi terbungkus dan tertutup nafsu, jiwa yang sudah terbuka, sudah bersatu dengan Tuhan! Dan hanya kekuasaan Tuhan saja lah yang akan mampu membersihkan jiwa dari kurungan nafsu! lkhtiar manusia melalui pikiran dan akal budi tidak mungkin menundukkan nafsu, karena pikiran dan akal budipun sudah bergelimang nafsu. Tidak mungkin nafsu menundukkan nafsu. Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu membersihkan jjwa yang bergelimang nafsu, atau jiwa yang tertutup oleh kekuasaan gelap, kekuasaan nafsu yang memikat manusia dengan segala macam bentuk kesenangan badani atau kesenangan pikiran dan hati.

Panca indera, pikiran, hati dan akal budi hanyalah alat pelengkap hidupnya jiwa dalam badan. Namun sungguh sayang, karena badan diperalat nafsu dan daya rendah, maka jiwa seperti tertutup dan terbungkus. Bagaimana mungkin kita membersihkan jiwa kita, betapa mungkin kita menundukkan nafsu kalau "kita" ini sudah bergelimang dengan nafsu? Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu membersihkan jiwa kita, dan satu-satunya ikhtiar yang dapat kita lakukan hanyalah menyerah kepada Tuhan Yang Maha Kasih! Penyerahan yang berarti keimanan yang mutlak, penyerahan total, dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan.

Orang seperti Si Kumbang Merah Tang Bun An adalah manusia yang tidak mau mengenal Tuhan, tidak mau mengakui bahwa ada Yang Maha Kuasa di alam semesta ini. Dia mengira bahwa dirinya adalah sang penentu bagi dirinya sendiri, baik buruk berada di telapak tangannya. Orang seperti inilah yang akhirnya akar terpeleset, tersesat ke dalam lembah ke-jahatan, tanpa merasa bahwa dia tersesat. Baru kalau sudah tertimpa malapetaka sebagai akibat dari perbuatannya sendiri, orang seperti ini mengeluh, mencari-cari sasaran untuk dijadikan biang keladi malapetaka itu, untuk dijadikan kambing hitam melempar kesalahannya. Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Tuhan, selalu menyombongkan diri sendiri kalau berhasil, dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain kalau gagal. Sebaliknya, orang yang percaya kepada kekuasaan Tuhan, dalam keadaan berhasil dengan rendah hati dia berterima kasih atas berkah Tuhan, dalam keadaan gagal dia mohon pengampunan atas segala kesalahannya kepada Tuhan.

Si Kumbang Merah Tang Bun An hanya sebentar saja merayakan kemenangan dan keberhasilannya, seolah-olah mabok dalam keberhasilannya. Namun, segala kesenangan yang diraihnya melalui nafsu yang dilampiaskan tanpa batas lagi, hanya sebentar saja terasa nikmat olehnya. Dalam waktu beberapa bulan saja dia sudah mulai merasa bosan! Belasan orang pembantu wanita, gadis-gadis cantik jelita dan manis itu sudah kehilangan daya tarik baginya, bagaikan sekumpulan bunga yang sudah tidak menarik lagi bagi seekor kumbang yang sudah menghisap madu bunga-bunga itu sampai sepuasnya. Mulailah matanya menjadi jalang mencari-cari bunga lain!

Si kumbang Merah yang tadinya merasa bosan dengan cara hidupnya yang liar, dan merindukan kekuasaan dan kedudukan yang akan mendatangkan kemuliaan dan kemewahan, kini setelah memperoleh semua itu, bahkan rindu akan cara hidupnya yang lalu! Dan sekali ini, dia tidak perlu lagi mencari-ca:ri ke kota-kota atau dusun-dusun seperti dahulu lagi. Kini wanita-wanita cantik seolah-olah berserakan di depan hidungnya! Betapa tidak? Dia adalah panglima yang mengepalai pasukan pengawal istana, baik di dalam maupun di luar istana. Oleh karena itu, para thai-kam pengawal yang selalu berjaga di sebelah dalam istana, di bagian para puteri, juga menjadi anak buahnya. Dan di dalam istana bagian para puteri itu terdapat banyak wanita pilihan, wanita-wanita tercantik di seluruh negeri! dan mulailah si kumbang merah beraksi. Tang Bun An, biarpun usianya sudah lima puluh lima tahun, namun dia menjadi seperti muda kembali, menjadi seekor kumbang merah yang beterbangan di antara bunga-bungan yang sedang mekar dengan indahnya di taman istana, hinggap dari satu ke lain kmbang untuk menghisap madu manis sepuas hatinya!

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tentu saja dengan mudah Si Kumbang Merah menyelinap ke dalam kamar seorang selir atau dayang tanpa di ketahui orang lain. baginya, tidak peduli wanita itu selir kaisar, atau bahkan puteri kaisar, atau dayang, asal muda dan cantik, tentu akan di rayunya. dia memang pandai merayu wanita, rayuan maut yang membuat setiap orang wanita menjadi lemas dan bertekuk lutut, menyerahkan diri tanpa melawan lagi, bahkan dengan suka rela, dengan kehausan seorang wanita yang menjadi isteri atau selir kaisar dengan puluhan orang saingan! Dalam waktu beberapa bulan saja, hampir seluruh selir dan dayang telah membiarkan diri dihisap oleh Si kumbang Merah. Bahkan banyak pula gadis puteri kaisar yang menyerah!

Namun, Si Kumbang Merah Tang Bun An adalah seorang pria yang berpengalaman dan cerdik sekali. Dia tidak lagi berani melakukan paksaan atau pemerkosaan terhadap wanita di dalam istana seperti dahulu seringkali dia lakukan ketika dia masih liar sebagai Ang-hong-cu yang ditakuti orang. Tidak, dia tidak ingin mengorbankan kedudukannya. Dia berlaku hati-hati dan hanya merangkul wanita yang menanggapi rayuannya sehingga selalu terjadi hubungan yang suka sama suka. Dia kini dapat menjaga pula agar jangan sampai ada puteri kaisar yang masih gadis menjadi hamil karena perjinaan mereka. Dan diapun tidak mau jatuh cinta seperti Tang Gun yang dianggapnya bodoh. Hubungannya dengan para wanita itu hanyalah hubungan nafsu semata, saling meminta dan memberi, setelah itu, habis sudah, tidak ada kaitan dalam hati.

Tidak lama kemudian, para selir dan dayang yang menjadi kekasihnya telah rnenjadi sekutunya. Mereka itu beramai-ramai selalu melindungi dan menyembunyikan rahasia Si Kumbang Merah. Bagi mereka, Tang-ciangkun yang satu ini sungguh merupakan seorang pria yang amat menyenangkan! Dan, mereka semua tahu bahwa sekali rahasia itu terbuka, bukan hanya panglima jantan itu yang , celaka, akan tetapi mereka semuapun akan menjadi korban. Mereka masih teringat akan nasib selir Hwee Lan ,dan dayang A Sui, dan mereka tidak ingin menjadi nikouw! Karena hampir semua selir dan dayang terlibat, maka Si Kumbang Merah merasa aman. Bunga-bunga harum itu bukan hanya menyerahkan madu manis kepadanya, bahkan melindunginya pula.

Betapapun juga, masih ada juga satu hal yang kadang mengkhawatirkan hati Si Kumbang Merah, yaitu permaisuri! War,...it berusia empat puluh tahun lebih yang masih nampak cantik dan amat berwibawa ini merupakan ganjalan dan juga merupakan ancaman bahaya bagi dia dan semua kekasihnya di dalam harem kaisar itu. Permaisuri ini anggun dan juga angkuh. Sebagai seorang pria yang berpengalaman dia maklum bahwa tidak mungkin merayu dan menundukkan hati seorang wanita seperti permaisuri itu. Kalau saja tarikan mulutnya tidak sekeras itu, atau pandang matanya tidak setajam dan sedingin itu, mau rasanya dia mencoba merayu sang permaisuri. Walaupun usianya sudah empat puluh tahun lebih, namun ia juga merupakan seorang wanita yang amat menarik, setangkai bunga yang sama sekali belum layu. Namun, Ang-hong-cu Tang Bun An tidak berani mencoba hal ini karena sekali gagal, dia akan celaka. Walaupun dia mampu melarikan diri andaikata terjadi sesuatu, yang jelas dia akan kehilangan kedudukannya dan akan menjadi seorang buruan pemerintah. Berat!

Kekhawatiran Ang-hong-cu memang tidak meleset. Diam-diam, permaisuri yang juga memiliki kecerdikan itu telah dapat "mencium" bau rahasia ketidakberesan yang terjadi di dalam istana bagian puteri itu. Biarpun para selir dan dayang, juga para thai-kam (pria kebiri) pengawal yang bertugas di sana semua membantu Ang-hong-cu, namun ada beberapa orang thai-kam yang menjadi orang-orang kepercayaan sang permaisuri! Mereka inilah yang membocorkan rahasia itu kepada permaisuri!

Ketika permaisuri mendengar bahwa banyak selir dan dayang yang telah “mengotori" istana dengan perbuatan jina mereka dengan Panglima Tang, diam-diam permaisuri marah bukan main.

"Hemm, pelacur-pelacur itu ....!” ia mengepal tangannya. "Awas, akan kubongkar semuanya!"

Sang permaisuri tidak berani melapor begitu saja kepada suaminya, yaitu kaisar , tanpa adanya bukti yang nyata. Kaisar harus dapat menangkap basah mereka itu, dan hal itu tentu saja dapat diatur , dengan bantuan para thai-kam pengawal yang menjadi para pembantunya yang setia!

Demikianlah, diam-diam permaisuri yang cerdik ini telah mengatur siasat bersama para pembantunya yang setia. Dan bagaikan seekor laba-laba betina, ia telah menenun sarang yang penuh jebakan dan perangkap. Hal ini dilakukan penuh rahasia sehingga sama sekali tidak mencurigakan Si Kumbang Merah dan para wanita yang menjadi kekasih Ang-hong-cu itu.

Pada suatu malam, seperti biasa Si Kumbang Merah berada di kamar seorang selir kaisar. Selir itu masih muda, tidak lebih dari tiga puluh tahun usianya, cantik jelita dan amat menarik, juga merupakan seorang di antara para selir yang tersayang oleh kaisar. Seperti biasa pula, dayang selir itu yang juga sudah menjadi kekasih Si Kumbang Merah, melayani mereka berdua yang berpesta pora di dalam kamar. Ang-hong-cu Tang Bun An demikian mabok kesenangan sehingga setelah lewat tengah malam, diapun sudah tertidur nyenyak dalam kamar itu, dalam pelukan kekasih-kekasihnya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa gerak-geriknya sejak memasuki bagian puteri itu telah diamati oleh para thai-kam pengawal yang menjadi mata-mata permaisuri.

Untunglah bahwa selama ini Ang-hong-cu bersikap baik dan royal sekali kepada para pengawal. Para thai-kam pengawal yang tidak menjadi mata-mata permaisuri, masih setia kepada Ang-hong-cu. Panglima Tang ini merupakan seorang atasan yang royal dengan hadiah, bahkan suka pula mengajarkan satu dua jurus ilmu silat tinggi kepada mereka. Maka, sebelum jerat yang dipasang sang permaisuri mengena, pintu kamar selir itu telah digedor dari luar oleh beberapa orang pengawal yang setia kepada Ang-hong-cu.

"Ciangkun........, caingkun.......cepat buka pintu !" kata mereka.

Tentu saja Si Kumbang Merah terkejut, apa lagi ketika dia membuka pintu dan mendengar laporan seorang anak buahnya yang setia. "Ciangkun, celaka sekali. Entah apa yang terjadi, tahu-tahu Sribaginda datang berkunjung, dan anehnya, semua jalan keluar telah dijaga oleh para pengawal kepercayaan Sang Permaisuri! Agaknya rahasia ciangkun telah ada yang membocorkan. Cepat, mereka akan menuju ke sini!"

Setetah berkata demikian, para pengawal itu cepat mengundurkan diri karena tentu saja mereka tidak ingin terlibat. Mendengar laporan itu, selir dan dayangnya sudah menangis dengan wajah pucat dan tubuh gemetar ketakutan. Akan tetapi Si Kumbang Merah tenang saja, lalu menutupkan pintu kamar itu, dan merangkul selir itu, berbisik.

"Kau pura-pura sakit, berselimut!” Dan kepada dayang itu, diapun berkata, "Engkau merawat majikanmu, memijat-mijat kakinya dan laporkan bahwa sejak sore tadi, majikanmu merasa pening dan badannya lesu. Kalian berdua bersikap tenang saja, dan pura-pura kaget kalau ada yang menggedor pintu. Mengerti?"

Setelah berkata demikian, Si Kumbang Merah mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku bajunya dan mulailah dia berhias muka. Sebentar saja, mukanya telah berubah menjadi muka seorang wanita setengah tua! Dayang itu membantunya dengan pakaian yang lusuh dan tua, dan kini diapun telah menjadi seorang wanita tua yang berwajah lembut! Dan sekali berkelebat, dia sudah keluar dari jendela kamar itu. Daun jendela ditutup kembali oleh sang dayang.

Tak lama kemudian, benar saja pintu kamar itu digedor dari luar, keras sekali. "Cepat buka pintu! Perintah Sribaginda!" terdengar teriakan itu.

Karena perasaan takut, selir itu menggigil ketakutan, mukanya pucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya. la bersembunyi ke dalam selimut, dan dayangnya segera membuka daun pintu itu, dengan perasaan takut yang ditahan-tahan pula. Setelah daun pintu dibuka dan ia melihat Sribaginda Kaisar di ambang pintu, dayang itu lalu menjatuhkan diri berlutut.

Kaisar tidak memperhatikan dayang itu, melainkan memandang ke seluruh kamar dengan sinar mata penuh selidik, lalu bertanya, "Apa yang dilakukan majikanmu?"

"Ampun..... , nyonya...... nyonya sedang sakit, sejak sore tadi terus tiduran ......, hamba mrawatnya......... "

Mendengar ini, kaisar cepat melangkah mendekati pembaringan, lalu menyingkap kelambu. Dia melihat selir terkasih itu rebah terlentang, mukanya pucat, tubuhnya menggigil.

"Engkau sakit..... ?" Kaisar meraba dahi dan lehernya dan mendapat kenyataan betapa tubuh itu panas dingin dan basah oleh keringat. "Ah, engkau benar sedang sakit. Tidurlah, besok biar diberi obat oleh tabib istana," Kaisar menutup kembali kejambu dan keluar dari kamar itu dengan wajah bersungut-sungut. Permaisuri tadi menyindirkan bahwa mungkin kini terulang kembali peristiwa Hwee Lan, dan kaisar dipersilakan untuk berkunjung ke kamar selir itu lewat tengah malam. "Kalau tidak ada pria di sana, tentu pria itu telah melarikan diri dan harus dicari sampai dapat, Jangan sampai nama baik paduka menjadi ternoda aib oleh peristiwa tak tahu malu seperti itu." Demikian sang permaisuri berkata. Dengan hati dipenuhi perasaan cemburu, kaisar lalu melakukan pemeriksaan lewat tengah malam, membawa pasukan pengawal yang dipilih oleh permaisuri. Akan tetapi, ternyata kamar itu kosong dan selir terkasih yang dituduh menyimpan .kekasih itu malah rebah dalam keadaan sakit!

"Geledah seluruh kamar di sini, cari dan tangkap kalau sampai terdapat seorang asing!" Demikian perintah kaisar yang merasa penasaran, lalu dia sendiri hendak mencari permaisuri di dalam kamarnya, untuk menegur permaisurinya itu kalau memang ternyata tidak ditemukan sesuatu. Untuk itu, dia telah membuang waktu dan tidak tidur, semua untuk percuma saja!

Akan tetapi, di kamar permaisuri terjadi hal yang amat aneh. Ketika permaisuri sedang rebah sambiltersenyum-senyum penuh kemenangan, membayangkan betapa selir itu tentu ditangkap dan dijatuhi hukuman, dan dayangnya terkasih sedang memijati kakinya sambil mengantuk, tiba-tiba saja nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di kamar itu telah berdiri seorang wanita setengah tua. Dayang itu hendak berteriak, akan tetapi wanita itu telah meraba tengkuknya dan iapun menjadi lemas tak mampu berteriak atau bergerak lagi. "wanita itu lalu merenggut gelang yang dipakai oleh dayang itu, memasukkannya ke dalam saku bajunya. Kemudian dia menghampiri permaisuri yang juga sudah bangkit duduk dan memandang dengan mata terbelalak.

Melihat permaisuri itu hendak menjerit pula, nenek yang bukan lain adalah Si Kumbang Merah cepat berbisik, "Harap jangan berteriak kalau paduka sayang akan nyawa paduka! Dengar baik-baik, hamba adalah seorang laki-Iaki..... sstt, paduka tidak perlu takut. Hamba tidak akan mengganggu paduka, dan malam ini paduka harus rnelindungi hamba. Hamba akan berada di sini, dan paduka katakan kepada sribaginda bahwa hamba adalah seorang ahli pijat yang sengaja paduka panggil ke sini. Ingat, kalau paduka membuka rahasia, hamba ketahuan kalau hamba laki-Iaki, hamba akan membuat pengakuan bahwa hamba adalah kekasih paduka."

Sepasang mata itu terbelalak, apa lagi pada saat itu tangan Si Kumbang Merah bergerak cepat dan tahu-tahu kalung yang berada di lehernya telah dirampas oleh “nenek" itu.

"Kalung ini, seperti juga gelang dayang ini, akan menjadi bukti bahwa hamba telah menjadi kekasih paduka yang paduka selundupkan ke dalam kamar ini."

"Kau..... kau tak tahu malu, hendak melempar fitnah kepadaku! Siapakah engkau sesungguhnya?"

"Tidak perlu paduka tahu, hamba hanya minta agar malam ini dilindungi dan besok diperbolehkan keluar dengan aman atau...... nama baik paduka akan ternoda. Semua orang akan percaya kepada hamba, dan semua selir akan suka bersumpah bahwa hamba adalah kekasih paduka!"

"Ihhh..... ! Kau.... kau.... jahanam yang menodai istana, berjina dengan para selir dan dayang itu! Engkau Tang-ciangkun!" Wanita bangsawan itu tiba-tiba menjadi pucat. "Kau jangan kau berani menggangguku! Aku akan menjerit, aku akan bunuh diri, aku.... "

"Jangan khawatir. Hamba tidak akan mengganggu paduka. Hambapun tidak pernah mengganggu para selir dan dayang. Bahkan hamba menolong mereka yang kehausan ......”

"Tutup mulutmu yang kotor!"

"Sekali lagi, kalau paduka membuka rahasia hamba, maka hamba pasti akan bersumpah menjadi kekasih paduka. Mungkin hamba akan dihukum mati, akan tetapi nama paduka akan menjadi cemar sampai tujuh turunan!"

Pada saat itu terdengar suara di luar dan Si Kumbang Merah cepat membebaskan totokan pada dayang itu dan berbisik, “Engkau sudah mendengar semuanya. Hayo kau tidur di sudut sana, dan kau akui bahwa aku adalah seorang ahli pijat yang dipanggil oleh majikanmu!"

Dayang itu hanya mampu mengangguk-angguk dan cepat dia merebahkan diri di sudut kamar itu dan pura-pura tidur. Ia takut bukan main, akan tetapi iapun tahu bahwa seperti juga majikannya, ia telah berada dalam cengkeraman pria yang menyamar sebagai wanita itu, pria yang ia tahu adalah Tang Ciangkun! Gelangnya telah dirampas dan kalau pria itu tertangkap lalu membuat pengakuan bahwa dia telah menerima gelang itu sebagai hadiah dari kekasih, tentu ia akan celaka, akan di gunduli dan di paksa menjadi ni-kouw!

Ketika kaisar memasuki kamar permaisurinya dengan wajah muram dan bersungut-sungut karena hatinya tidak senang, dia merasa heran melihat seorang wanita setengah tua memijati pinggul permaisurinya. Dapat di bayangkan betapa marah rasa hati permaisuri itu ketika “nenek” itu memijati pinggulnya dengan tekanan-tekanan kedua tangannya, hangat dan mesra. akan tetapi terpaksa ia menekan kemarahannya, dan harus diakuinya bahwa tekanan-tekanan itu memang pijitan seornag ahli dan otot-otot pinggul dan punggungnya terasa nyaman!

Wanita setengah tua itu cepat berlutut ketika kaisar memasuki kamar dan mendekati pembaringan.

“Hemm, siapakah wanita ini?” Kaisar bertanya kepada permaisurinya yang sudah bangkit dan memberi hormat pula kepadanya.

Si Kumbang Merah yang masih berlutut itu sudah bersiap-siap untuk meloncat dan melarikan diri kalau permaisuri itu membuka rahasianya. Akan tetapi, hatinya lega ketika permaisuri itu menjawab dengan suara sambil lalu.

"Ah, ia adalah seorang ahli pijat dari luar istana yang kabarnya amat pandai. Karena hamba merasa lelah dan tidak enak badan, maka hamba memanggilnya ke sini dan memang ia pandai sekali."Permaisuri lalu menggandeng tangan kaisar, dibawanya duduk di atas kursi kesukaan Sribaginda, di dekat meja. Dengan lembut ia lalu bertanya, "Bagaimanakah dengan penyelidikan paduka?"

"Hemm, tidak kutemukan siapa-siapa di kamarnya. Malah ia rebah dalam keadaan sakit! Engkau agaknya hanya menduga yang bukan-bukan saja!"

Permaisuri itu lalu memberi hormat dan berkata dengan suara lembut.

"Kalau begitu, ampunkan hamba. Sesungguhnya hamba selalu merasa khawatir kalau sampai terulang kembali peristiwa seperti yang dilakukan oleh Hwee Lan. Hamba khawatir, kalau sampai nama besar paduka ternoda."

"Hemm, jangan bicara dulu kalau belum ada bukti yang nyata. Engkau hanya mengganggu pikiranku saja, dan aku menjadi lelah karena kurang tidur. Ah, benarkah ia pandai memijit? Biar kau suruh ia memijati tubuhku yang lelah sekali," kata Kaisar sambil menuding ke arah wanita setengah tua yang masih berlutut di atas lantai.

Tentu saja permaisuri merasa khawatir sekali, akan tetapi iapun tidak berani membantah karena khawatir kalau rahasia nenek itu ketahuan. Maka, terpaksa ia lalu membereskan pembaringan dan setelah membantu kaisar rebah di atas pembaringan, ia lalu menyuruh nenek itu memijati tubuh kaisar .

Akan tetapi, Si Kumbang Merah sama sekali tidak merasa khawatir. Dia adalah seorang ahli silat tinggi, pandai ilmu menotok jalan darah dan sudah hafal akan kedudukan otot-otot dan urat-urat, tahu benar cara pengobatan dengan urut dan pijit. Maka, tanpa ragu-ragu iapun lalu memijati tubuh kaisar, dimulai dari kedua kaki, terus naik ke pinggul, punggung, kedua lengan dan leher.

Lega rasa hati permaisuri ketika mendengar Sribaginda mengeluarkan kata-kata memuji dan merasa keenakan, bahkan tak lama kemudian Sang Kaisar telah tertidur amat nyenyaknya!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, permaisuri menyuruh Si Kumbang Merah menghentikan pijitannya. "Engkau boleh pergi sekarang, biar diantar keluar oleh pengawal kepercayaanku," katanya. Si Kumbang Merah tersenyum, memberi isarat berkedip kepada permaisuri dan dayangnya, lalu memberi hormat dan mengikuti dua orang thai-kam pengawal yang telah diberi perintah oleh permaisuri itu. Dengan aman, karena dikawal oleh dua orang thai-kam pengawal kepercayaan permaisuri, dia telah keluar dari daerah terlarang itu.

Sejak terjadinya peristiwa itu, Si Kumbang Merah semakin leluasa mengaduk-aduk daerah terlarang itu, bagaikan seekor kumbang yang dengan bebasnya beterbangan di antara bunga-bunga pilihan di taman istana, menghisap madu dari satu ke lain kembang sesuka hatinya! Permaisuri sama sekali tidak berdaya, bahkan permaisuri itu sudah merasa berterima kasih bahwa Si Kumbang Merah tidak memaksa ia untuk rnenjadi kekasihnya pula! Akan tetapi dayangnya tidak terlepas dari sengatan kumbang rnerah yang nakal itu.

Kini bahkan para thai-kam pengawal yang tadinya setia kepada permaisuri, semua telah tunduk di bawah kekuasaan Si Kumbang Merah dan tentu saja hal inipun terjadi melalui sang permaisuri yang tidak berdaya di bawah ancaman Si Kumbang Merah yang telah rnenguasainya dengan menyimpan kalung dan beberapa barang perhiasan lainnya. Benda-benda ini merupakan senjata ampuh, mernbuat sang permaisuri bertekuk lutut tidak berdaya karena sekali saja Si Kumbang Merah memperlihatkannya kepada orang lain dan mengatakan bahwa dia menerima dari sang permaisuri sebagai hadiah tentu istana, bahkan seluruh negeri akan geger! Tentu nama permaisuri itu akan terseret ke dalam lumpur sebagai seorang permaisuri yang menyimpan seorang kekasih gelap!

* * *

Kita tinggalkan dulu Si Kumbang Merah Tang Bun An yang sedang mabok kesenangan dan menjadi seperti ayam jantan tunggal di antara ayam ayam betina di harem kaisar! Dia telah kembali kepada kehidupannya yang dulu lagi, walaupun terdapat banyak perbedaan. Dahulu, dia suka merusak wanita, memperkosa, membunuh, meninggalkannya setelah wanita itu mengandung, di dalam hati dia mentertawakan wanita yang pada dasarnya menimbulkan rasa dendam kebencian kepadanya. Kini, dia agaknya hanya menuruti nafsu, mencari senang tanpa rasa benci kepada wanita-wanita itu.

Kita tinggalkan dulu tokoh itu dan mengikuti perjalanan seorang di antara puteranya, yaitu Tang Cun Sek. Pemuda yang usianya sudah tiga puluh tahun itu setelah melarikan diri dari Cin-ling-san, lalu mengembara. Dia seorang pemuda yang tinggi besar dan gagah, wajahnya yang berkulit putih itu nampak tampan. Sepasang matanya tajam mencorong, sikapnya halus dan dia seorang yang pendiam. Seperti kita ketahui, Tang Cun Sek juga mengalami nasib yang sama dengan para keturunan Si Kumbang Merah. Ibunya menyerahkan diri karena rayuan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) itu. Setelah ibunya mengandung, maka Si Kumbang Merah meninggalkan ibunya, dan tidak pernah muncul lagi. Ibunya menikah lagi dengan seorang hartawan Thio, menjadi selirnya. Sebagai anak tiri hartawan Thio, Cun Sek hidup cukup baik, menerima pendidikan dan tidak sampai ter lantar . Namun, dasar dia memiliki watak yang kotor, ketika dia berusia enam belas tahun dia bergaul dengan para pemuda yang tidak karuan dan dia berani berjina dengan dua orang selir ayah tirinya sendiri. Dia tertangkap basah dan diusir . Tang Cun Sek pergi setelah berhasil mencuri banyak emas dari gudang harta ayah tirinya.

Akan tetapi, dia amat cerdik sehingga akhirnya, dia berhasil menyelundup ke Cin-ling-pai dan menjadi murid dan anggota perkumpulan para pendekar itu. Bahkan bukan itu saja, dia mampu merayu dan menundukkan hati kakek Cia Kong Liang sehingga dia disayang dan dari kakek itu dia menerima banyak ilmu silat tinggi dari Cin-ling-pai. Demikian pandainya dia mengambil hati orang tertua dari Cin-ling-pai itu sehingga dia bukan saja disayang, akan tetapi juga oleh kakek itu dicalonkan sebagai ketua Cin-ling-pai yang baru. Namun, usahanya menguasai kedudukan ini digagalkan oleh Cia Kui Hong, gadis lihai dan cerdik itu. sehingga dia bukan saja tidak dapat terpilih menjadi ketua baru Cin-ling-pai, bahkan menderita malu. Maka, diapun minggat meninggalkan Cin-ling-pai sambil membawa pergi pedang pusaka Hong-cu-kiam, yaitu pedang pusaka dari Cin-ling-pai.

Demikianlah, Cun Sek tidak berani berhenti berlari cepat. Selama berbulan-bulan dia terus menjauhi Cin-ling-san karena dia maklum bahwa mungkin sekali pihak Cin-ling-pai akan melakukan pengejaran karena dia melarikan pedang pusaka.

Hampir empat bulan telah lewat sejak dia melarikan diri dari Cin-ling-pai dan pada suatu pagi dia tiba di sebuah kota. Kota Tian-cu-an merupakan sebuah kota yang cukup besar. Musim panas telah tiba dan hawa udara lumayan panasnya biarpun matahari belum naik terlalu tinggi.

Tang Cun Sek yang semalam tinggal di sebuah kuil To-kauw (Agama To) yang berada di luar kota, memasuki kota dengan sikap tenang. Dia memiliki banyak uang, sisa dari emas yang dahulu dicurinya dari rumah ayah tirinya, maka dia bersikap tenang, dapat membeli pakaian dalam perjalanan itu dan kini dia memasuki kota Tian-cu-an sebagai seorang pria muda yang berpakaian rapi dan bersih, membawa buntalan kain kuning dan sikapnya seperti seorang terpelajar. Pedang Hong-cu-kiam yang tadinya merupakan pedang pusaka Cin-ling-pai dan menjadi milik Cia Hui Song, ketua Cin-ling-pai, kini tersimpan di dalam buntalan pakaian itu. Pedang pusaka Hong-cu-kiam adalah sebatang pedang yang dapat digulung saking tipis dan lenturnya.

Ketika hidungnya mencium bau masakkan sedap yang keluar dari sebuah rumah makan, Cun Sek merasa perutnya lapar sekali. Dia lalu memasuki rumah makan yang masih belum banyak pengunjungnya itu, dan memesan bubur ayam kepada seorang pelayan. Ketika dia sedang makan bubur ayam yang sedap dan panas, pendengarannya yang tajam mendengar percakapan yang dilakukan oleh tiga orang laki-laki yang duduk di meja sebelah belakang. Mereka bercakap-cakap dengan suara lirih, namun cukup jelas bagi pendengaran Cun Sek yang tajam.

"Kita harus berhati-hati sekali. Iblis betina itu lihai bukan main."

"Tentu saja lihai, kalau tidak mana mungkin sute (adik seperguruan) sampai tewas di tangannya."

"Hemm, biarpun begitu, kalau kita bertiga maju, mustahil kita tidak akan dapat membinasakan iblis betina itu," kata orang ke tiga dengan suara penasaran.

"Sstttt !" Kawannya agaknya memberi isarat sambil memandang ke arah Cun Sek dan tiga orang itu tidak melanjutkan percakapan mereka dan pada saat itu, pelayan datang membawa pesanan mereka. Cun Sek melanjutkan makan bubur seolah-olah tidak pernah mendengar percakapan bisik-bisik tadi. Akan tetapi diam-diam dia memperhatikan. Tiga orang itu berpakaian seperti orang-orang dari dunia persilatan. Usia mereka antara tiga puluh sampai empat puluh tahun dan dari gerak gerik mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli dalam ilmu silat. Tubuh mereka nampak kokoh dan gerak gerik merekapun sigap, pandang mata mereka tajam. Bahkan di balik jubah mereka nampak gagang pedang.

Kalau saja mereka tadi tidak menyebut iblis betina, tentu Cun Sek tidak tertarik dan tidak mau perduli, karena diapun tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi disebutnya iblis betina membuat dia tertarik. Siapakah yang mereka maksudkan dengan iblis betina itu dan mengapa seorang wanita disebut iblis? Karena dia memang tidak mempunyai tujuan tertentu dan banyak waktu terluang, maka karena hatinya tertarik, dia mengambil keputusan untuk membayangi tiga orang itu dan melihat sendiri siapa sebenarnya iblis betina itu dan wanita macam apa sampai dijuluki iblis betina.

Demikianlah, ketika tiga orang itu meninggalkan rumah makan, tanpa mereka ketahui, mereka dibayangi oleh Cun Sek. Tiga orang itu keluar dari kota melalui pintu gerbang selatan. Begitu keluar dari pintu gerbang, mereka lalu mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke sebuah bukit yang tidak jauh dari kota Tian-cu-an, sebuah bukit yang nampak subur penuh hutan lebat.

Ketika tiga orang itu tiba di luar sebuah hutan di lereng bukit itu, mereka berhenti dan seorang di antara mereka bersuit nyaring. Segera terdengar jawaban, yaitu suitan-suitan yang sama dari berbagai penjuru dan tak lama kemudian dari balik semak belukar, balik pohon-pohon, bahkan ada yang melayang turun dari atas pohon, bermunculan banyak sekali orang yang kesemuanya mengenakan seragam hitam.Diam-diam Tang Cun Sek terkejut. tiga orang laki-laki tadi biarpun mungkin lihai, namun belum merupakan lawan yang terlalu tangguh. Akan tetapi dengan munculnya dua puluh orang lebih ini yang kesemuanya berpakaian hitam-hitam dan sikap mereka bengis dan kejam, sungguh mereka ini merupakan pasukan kecil yang berbahaya. Makin tertarik hatinya. Demikian banyaknya orang laki-laki hendak mengeroyok seorang wanita? Kalau begitu, wanita yang di sebut iblis betina itu tentu luar biasa lihainya.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, Cun Sek melayang naik ke atas pohon besar yang amat lebat daunnya, tepat di atas sekumpulan orang itu dan dia dapat mendengarkan dan melihat dengan jelas. Ada dua puluh empat orang berpakaian seragam hitam, dipimpin oleh seorang pria berusia empat puluh tahun yang mukanya penuh dengan cambang, kumis dan jenggot. Matanya melotot bengis dan mendengar bahwa orang-orang menyebutnya pangcu (ketua), maka mudah diduga bahwa si brewok itu adalah ketua dari gerombolan orang berseragam hitam itu. Dan melihat sikap ketua gerombolan seragam hitam itu terhadap tiga orang yang datang dari kota Tian-cu-an tadi, dapat diduga bahwa mereka merupakan sekutu. Antara ketua dan tiga orang itu nampak hubungan yang saling menghargai, berbeda dengan sikap para anggauta kelompok seragam hitam yang bersikap amat hormat kepada ketua mereka dan juga kepada tiga orang itu.

Karena sejak muda berada di Cin-Iing-pai dan sudah lama tidak berkecimpung di dunia kang-ouw, maka Tang Cun Sek sama sekali tidak tahu bahwa dia telah bertemu de-ngan tokoh-tokoh kangouw yang Kenamaan! Gerombolan seragam hitam yang pada saat itu berkumpul disitu adalah para anggauta pilihan dari perkumpulan Hek-tok-pang (Perkumpulan Racun Hitam)! Dari nama perkumpulan ini saja mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli dalam penggunaan racun berbahaya di samping mereka memiliki pula ilmu silat kaum sesat yang amat berbahaya. Nama Hek-tok-pang mendatangkan perasaan takut pada semua orang yang suka melakukan pelayaran di sepanjang Sungai Kuning, karena mereka itu yang tinggal dilembah Huang ho, merupakan perkumpulan yang mengangkat diri sendiri sebagai penguasa di sepanjang Huang-ho. Mereka suka menuntut pajak atau sumbangan dari para pedagang yang menggunakan perahu, dan mereka tidak segan-segan untuk membunuh siapa saja yang berani menentang mereka. Ketua mereka, yaitu pria yang tinggi besar dan brewok itu bernama Cu Bhok dan terkenal memiliki ilmu silat golok yang amat dahsyat.

Adapun tiga orang yang oleh Cun Sel dibayangi dari kota Tian-cu-an itu pun bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka bertiga itu tadinya berempat dan terkenal dengan julukan mereka Kwi-san su-kiam-mo (Empat setan Pedang dari Kwi-san). Orang pertama bernama Giam Sun, lalu yang ke dua adik kandungnya bernama Giam Kun. Orang ke tiga bernama Thio Su It, dan yang keempat bernama Yauw Kwan. Akan tetapi, karena yang termuda telah tewas di tangan "iblis betina", maka kini mereka hanya tinggal tiga orang saja.

Cun sek yang mengintai dari atas pohon melihat mereka itu mengadakan perundingan di bawah pohon. Ketua Hek-tok-pang itu bersama tiga orang pria yang dibayanginya tadi bercakap-cakap di bawah pohon sedangkan dua puluh empat orang anggauta Hek-tok-pang lalu menyebarkan diri di sekitar tempat itu, siap untuk melakukan perlindungan dan penjagaan agar jangan sampai ada orang luar mendengarkan percakapan ketua mereka dengan tiga orang tokoh sekutu mereka itu. sungguh tak seorangpun di antara mereka yang pernah menduga bahwa sejak tadi sudah ada seorang yang nongkrong di atas pohon dan melihat semua kegiatan mereka, bahkan mendengar semua percakapan yang berlangsung di bawah pohon itu.

"Pangcu," kata seorang di antara tiga orang Kwi-san Su-kiam-mo, yaitu orang pertama yang bernama Giam Sun itu, "Sebelum kita menyerbu ke Bukit Teratai Emas itu, lebih dulu kita harus mengetahui jelas akan kedudukan kita dan sifat kerja sama kita. Pangcu maklum bahwa kita bersama menentang iblis betina itu dengan berbagai alasan, yaitu kami karena terbunuhnya seorang sute kami, dan pangcu karena iblis betina itu pernah merugikan Hek-tok-pang. Akan tetapi kami kira bukan itu yang menjadi alasan terpenting."

"Benar sekali ucapanmu, kawan'.' kata ketua Hek-tok-pang itu dengan suaranya yang berat. "Selama ini di antara kita tidak pernah ada persekutuan walaupun juga tidak pernah kita saling bertentangan. Kita mengambil jalan masing-masing dan tidak saling mengganggu. Akan tetapi iblis betina itu muncul dan jelas bahwa ia hendak menjagoi, tidak memandang mata kepada pihak lain. Betapapun lihainya, ia hanya seorang perempuan dan kami tentu saja tidak sudi tunduk kepada seorang wanita! Kalau ia tidak dibasmi, tentu hanya akan merendahkan nama besar kita sebagai laki-laki yang gagah perkasa."

Tiga orang itu mengangguk-angguk setuju. "Akan tetapi, kita harus berhati-hati. Kalau tidak salah perhitungan kami, ia mempunyai banyak pembantu yang pandai. Kalau nanti kita berhasil memancing mereka keluar dari sarang mereka di Kim-lian-san (Bukit Teratai Emas). Harap pangcu dan para saudara Hek-tok-pang menghadapi para pembantunya. Adapun kami sendiri akan menghadapi iblis betina itu."

Setelah mengadakan perundingan, empat orang ini diikuti oleh dua puluh empat anggauta Hek-tok-pang lalu menuruni lereng dan kini mereka menuju ke sebuah bukit lain yang bersambung dengan bukit itu. Sebuah bukit yang lebih besar dan lebih liar karena penuh dengan hutan-hutan lebat, di mana nampak bagian-bagian yang berbatu, akan tetapi ada pula bagian yang ditumbuhi pohon-pohon raksasa dan semak belukar penuh duri yang amat liar dan tempat itu tidak pernah didatangi manusia. Bahkan para pemburu binatang hutanpun agak segan untuk berburu binatang di Bukit Teratai Emas, karena hutan itu memang amat berbahaya. Apa lagi sejak kurang lebih setahun yang lalu ada desas desus bahwa bukit itu dihuni segerombolan iblis yang amat lihai dan jahat! Bahkan kini penduduk dusun yang tadinya mencoba memperbaiki nasib dengan membangun dusun di situ dan bertani, beramai-ramai meninggalkan dusun mereka dan pindah ke tempat lain yang lebih aman setelah berkali-kali mereka diganggu oleh iblis-iblis yang amat jahat!

Dengan hati semakin tertarik, Cun Sek membayangi serombongan orang itu dari jauh. Dia merasa semakin penasaran. Jelaslah bahwa serombongan orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang hendak menentang orang yang mereka sebut iblis betina. Tentu seorang wanita yang lihai, yang agaknya juga memi1iki anak buah dan mungkin wanita itu dan anak buahnya bersarang di bukit yang bernama Bukit Teratai Emas itu. Tentu akan ramai, pikirnya, dan tanpa ada keinginan mencampuri urusan itu, dia hanya membayangi untuk menjadi penonton. Semenjak meninggalkan Cin-ling-pai, dia memang tidak mempunyai tujuan tertentu. Satu-satunya tujuan perjalanannya hanyalah mencari ayah kandungnya, yaitu seorang tokoh yang menurut ibunya amat lihai dan berjuluk Ang-hong-cu. Selama ini dia sudah bertanya-tanya, namun biar ada pula orang-orang kang-ouw yang pernah mendengar nama Si Kumbang Merah, namun tak seorangpun mengetahui di mana adanya tokoh yang telah lama tidak pernah muncul di dunia kang-ouw itu.

Akhirnya, menjelang tengah hari, rombongqn itu tiba di lereng Bukit Teratai Emas. Mereka tadi mendaki dengan amat hati-hati, dan setelah tiba di lereng yang terjal, tak begitu jauh lagi dengan puncak .yang nampak tertutup pohon-pohon raksasa, mereka berhenti. Cun Sek menyelinap dekat dan mengintai dari balik semak belukar.

Dia melihat betapa kini para anggauta Hek-tok-pang jtu menyebar bubuk hitam di antara semak-semak kanan kiri jalan setapak. Selain bubuk hitam yang disebarkan pada daun dan durj semak-semak, juga ketua mereka menebarkan benda-benda kecil runcing seperti paku berwarna hitam di atas tanah. Bukan sembarang paku, melajnkan benda bulat kecil yang mempunyai banyak duri seperti ujung paku pada permukaannya sehingga ketika disebar di atas tanah, maka ada saja duri runcing yang mencuat ke atas sehingga siapa saja yang lewat di jalan setapak itu tentu akan menginjak benda itu dan karena benda itu runcing sekali, maka mungkin saja dapat menembus sepatu dan melukai kulit telapak kaki! Dan tahulah Cun Sek bahwa benda runcing itu tentu mengadung racun berbahaya, juga bubuk hitam yang ditaburkan itu tentu racun yang amat jahat! Hatinya menjadi tegang, dan diam-diam harus diakuinya bahwa orang-orang ini merupakan lawan yang amat curang dan berbahaya sekali.

Setelah menebarkan bubuk hitam pada semak-semak dan benda-benda runcing pada jalan setapak, mereka semua lalu menuruni lereng dan kini di sebelah bawah, tak jauh dari tempat yang ditebari racun itu, mereka mengumpulkan ranting dan daun kering, lalu membakar setumpuk daun dan ranting kering! Dan mereka semua bersembunyi di kanan kiri, dekat api yang mereka buat itu, setiap orang siap dengan senjata di tangan!

Cun. Sek mengangguk-angguk. Orang-orang ini sungguh licik. Agaknya mereka tidak berani menyerbu naik, maka mempergunakan siasat ini. Mereka membakar tempat itu untuk memancing pihak musuh menuruni puncak, dan sebelum tiba di tempat yang mereka bakar, tentu pihak musuh akan melalui jalan setapak yang telah penuh dengan benda dan bubuk beracun. Celakalah kiranya pihak musuh yang berada di puncak itu, pikirnya. Akan tetapi dia tidak ingin mencampuri. Bukan urusannya. Dia hanya ingin menjadi penonton dan ada kenikmatan tersendiri di dalam hatinya menonton peristiwa yang menegangkan hati ini.

Tepat seperti yang di duga oleh Cun Sek, tak lama kemudian dari tempat sembunyinya dia melihat lima orang laki-laki berlarian dari atas, turun dari puncak menuju ke tempat kebakaran. Mreka adalah lima orang laki-laki yang mempunyai ilmu meringankan tubuh yang lumayan, terbukti dari cara mereka berlari cukup cepat walaupun melalui jalan setapak yang cukup sukar dengan adanya batu-batu yang berserakan. Kalau tidak hati-hati maka kaki mereka terpeleset dan kalau sampai terjatuh di atas jalan setapak berbatu-batu itu, akan membuat kulit mereka babak belur.

Makin dekat lima orang itu datang ke jalan setapak yang di pasangi racun, makin kencang debar jantung Cun Sek karena tegang. Sedikitpun dia tidak ingin memperingatkan lima orang itu. Dia tidak ingin berpihak, karena dia tidak mengenal kedua pihak itu. Apakah lima orang itu akan mampu menghindarkan diri dari ancaman malapetaka?

Sementara itu, lima orang yang datang dari puncak itu, setelah mereka tiba dekat api yang nampak dari atas, tentu saja mempercepat larinya dan kini mereka memasuki jalan setapak yang telah ditaburi benda berduri tadi. Dan berturut-turut terdengar mereka itu berteriak kaget, akan tetapi agaknya benda runcing yang menembus sepatu mereka dan melukai telapak kaki, mengandung racun yang amat hebat sehingga sekali berteriak, tubuh mereka terguling dan tentu saja mereka jatuh menimpa benda-benda runcing beracun itu. Dan begitu terjatuh, mereka tidak dapat bergerak lagi, merintih pun tidak mampu dan nampak beberapa bagian tubuh mereka menjadi hitam!

Dari tempat persembunyiannya, Cun Sek bergidik. Luar biasa ampuhnya racun hitam itu! Lima orang itu begitu terjatuh, seketika tewas dan mayat mereka malang melintang menutup jalan setapak.

Pada saat itu, Cun Sek melihat lima bayangan orang berlari cepat menuruni puncak. Sebentar saja lima sosok bayangan itu telah tiba di situ dan dia melihat bahwa mereka adalah lima orang wanita yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, rata-rata memiliki wajah cantik dan, tubuh yang ramping padat. Diapun diam saja, hanya memandang penuh perhatian karena dari gerakan mereka itu, dia dapat menduga bahwa mereka lebih lihai dari pada lima orang pertama yang menjadi korban racun. Apakah mereka akan mampu meloncati tempat yang menjadi perangkap maut itu?

Lima orang itu menghentikan lari mereka dan mereka terbelalak memandang ke arah lima orang yang telah tewas dan malang melintang di jalan setapak itu. Mereka mengamati ke arah tanah dan saling berbisik. agaknya mereka maklum bahwa lima orang pria itu menjadi korban benda-benda kecil beracun yang bertebaran di atas jalan setapak.

"Ikut aku!" kata seorang di antara mereka dengan nada memimpin. la lalu mencabut pedang, menggunakan pedangnya untuk membacok putus dua batang ranting pohon. Teman-temannya meniru perbuatannya dan kini masing-masing memegang dua buah kayu ranting yang besarnya selengan tangan mereka, kemudian, didahului oleh pemimpin mereka, lima orang wanita itu menggunakan dua batang kayu untuk menyeberangi jalan setapak yang penuh dengan benda-benda runcing beracun itu tanpa menyentuhkan kaki ke atas tanah. Akan tetapi begitu mereka melewati jalan setapak itu, melangkahi lima sosok mayat yang malang melintang dan mereka tiba di seberang jalan berbahaya itu, mereka mengaduh-aduh dan lima orang wanita itupun terpelanting jatuh dari atas dua batang tongkat yang tadi mereka pergunakan untuk menyeberang sebagai pengganti kaki.

Cun Sek tidak merasa heran. Lima orang wanita itu ternyata memang dapat menghindarkan kaki mereka tertusuk benda runcing dan keracunan, namun mereka tidak tahu bahwa semak-semak di kanan kiri jalan itu telah disebari bubuk hitam beracun. Ketika mereka lewat, tangan mereka terkena daun-daun yang sudah mengandung racun, maka ketika tiba di seberang, mereka merasa betapa kedua tangan mereka gatal dan panas. Rasa gatal dan panas itu menjalar ke seluruh tubuh dan lima orang wanita itu bergulingan, menggunakan kedua tangan untuk mencakari tubuh sendiri sehingga pakaian mereka koyak-koyak dan mereka berlima itu sampai telanjang bulat, namun tidak berhenti menggaruk dan tubuh mereka segera penuh dengan guratan merah dan hitam. Mereka itu tewas dalam keadaan tersiksa sekali, tidak seperti lima orang pria tadi yang tewas seketika. Lima orang wanita itu sebelum tewas menderita siksaan rasa gatal dan panas yang menjalar dari tangan mereka yang terkena bubuk racun sampai ke seluruh tubuh!

Kembali Cun Sek bergidik ngeri. Sungguh hebat sekali! Sungguh bukan main kejamnya orang-orang Hek-tok-pang itu! Akan tetapi dia tetap hanya menjadi penonton dan tinggal tidak berpihak. Akan tetapi kini dia semakin tertarik. Agaknya yang menjadi korban racun itu, lima orang pria dan lima orang wanita, hanyalah anak buah saja. Agaknya rombongan yang masih bersembunyi itu menunggu musuh mereka yang tadi mereka sebut-sebut, yaitu iblis betina! Dan Cun Sek sendiripun ingin sekali, tahu bagaimana macamnya iblis betina itu dan bagaimana lihainya sehingga dua puluh delapan orang itu bersembunyi dengan senjata di tangan, agaknya siap untuk mengeroyok musuh yang ditunggu-tunggu itu.

Ketika Cun Sek memperhatikan tiga orang yang dibayanginya dari kota tadi, tiba-tiba dia melihat mereka itu menuding ke arah puncak bukit dan sikap mereka tegang. Diapun cepat memandang ke arah puncak dan nampaklah sesosok bayangan seperti terbang cepatnya lari menuju ke tempat itu. Dia merasa betapa hatinya tegang sekali. Agaknya itulah orang yang mereka nanti-nanti, yang disebut iblis betina! Tentu orangnya menakutkan, seperti iblis, mungkin sudah nenek-nenek, yang lihainya bukan main. Akan tetapi, semakin dekat sosok tubuh itu, semakin terbelalak lebar mata Cun Sek! Apalagi setelah wanita itu tiba di dekat jalan setapak yang beracun, dan memandangi mayat lima orang pria dan lima orang wanita di seberang jalan, Cun Sek melongo.

Ia seorang wanita yang usianya sekitar tigapuluh tahun. Pakaiannya serba indah dan mewah sehingga nampak ganjil sekali seorang wanita berpakaian seindah itu berada di dalam hutan! Dan cantiknya! Bentuk tubuhnya! Seorang wanita yang sudah matang dan penuh daya tarik, menggairahkan! Kalau saja tidak nampak gagang sepasang pedang di balik pundaknya, tentu tidak akan ada orang dapat menduga bahwa wanita cantik yang lemah-gemulai ini adalah seorang ahli silat yang amat pandai! Wajah itu bulat dan kulitnya putih kemerahan masih ditambah cantik oleh bedak dan pemerah pipi dan bibir. Pandang matanya amat tajam, dan kerlingnya demikian memikat sehingga akan sukar ditemukan pria yang akan mampu bertahan kalau disambar kerling mata seperti itu.

Begitu melihat wanita itu, seketika timbul rasa sayang dan suka dalam hati Cun Sek dan tanpa ditanya lagi, otomatis hatinya sepenuhnya berpihak kepadanya! Oleh karena itu, melihat wanita itu agaknya ragu-ragu dan hendak menyeberang melalui jalan setapak yang mengandung ancaman maut itu, tanpa disadarinya sendiri dia lalu berseru,

"Hati-hati, nona! Jangan lewat jalan itu, tanah dan semak-semaknya telah ditaburi racun jahat!"

Tiba-tiba wanita itu meloncat ke samping, tinggi sekali dan bagaikan seekor burung terbang, tubuhnya sudah melayang dan hinggap di atas cabang pohon, terus diayunnya tubuhnya itu sehingga melayang ke atas lagi, hinggap lagi di cabang lain dan demikian seterusnya sehingga dalam waktu beberapa detik saja ia telah hinggap di atas cabang pohon di depan Cun Sek! Cun Sek memandang terbelalak kagum bukan main. Wanita itu ternyata bukan saja cantik manis, akan tetapi juga memiliki ginkang yang demikian hebatnya sehingga nampaknya seperti seekor burung yang amat indah, yang kini berdiri di atas cabang sambil memandang kepadanya dengan sinar matanya yang jeli indah dan mulutnya yang tersenyum manis.

"Siapakah engkau dan mengapa engkau memperingatkan aku tentang bahaya racun itu?" Wah, bukan hanya wajahnya cantik tubuhnya menggairahkan, sinar mata dan senyumnya memikat, juga suaranya amat merdu.

Tanpa menyembunyikan kekaguman dari pandang matanya, Cun Sek menjawab sambil tersenyum. "Tadinya aku memang hanya menjadi penonton, tidak akan mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Akan tetapi, melihat engkau yang begini cantik jelita terancam bahaya maut yang demikian mengerikan, aku merasa tidak tega dan tanpa kusadari aku telah berteriak memberi peringatan." Di dalam hatinya dia masih merasa heran mengapa yang muncul seorang wanita yang demikian cantiknya. Bukankah yang dinanti oleh orang-orang di bawah itu adalah seorang iblis betina?

Kini, dua puluh delapan orang itu sudah bermunculan dari tempat persembunyian mereka dan kini mereka sudah siap dengan senjata di tangan. Terdengar raksasa brewok tadi berteriak sambil mengacungkan golok besarnya ke arah pohon.

"Iblis betina, turunlah! Mari kita membuat perhitungan!"

"Tok-sim Mo-li (Iblis Betina Berhati Racun), bersiaplah engkau untuk menebus nyawa sute Yauw Kwan!" orang pertama dari Kwi-san Su-kiam-mo juga berteriak sambil menudingkan pedangnya ke arah wanita yang masih di atas cabang pohon itu.

Kini Cun Sek semakin kaget. Kiranya benar wanita ini yang disebut Iblis Betina. Wah, bagi dia, wanita ini lebih pantas disebut bidadari kahyangan! Semua penilaian melahirkan pendapat yang palsu, karena penilaian selalu didasari perhitungan untung rugi si penilai. Kalau yang dinilai itu menguntungkan, berarti menyenangkan, tentu dinilainya baik, sebaliknya kalau merugikan atau tidak menyenangkan dinilainya buruk. Para anggota Hek-tok-pang telah dirugikan oleh Tok-sim Mo-li, banyak anggauta yang tewas di tangan wanita itu, tentu saja menganggap wanita itu jahat sekali, bahkan kecantikan wanita itu tidak lagi menarik karena telah timbul kebencian dan dendam dalam hati mereka. Seperti itu pula perasaan tiga orang di antara Kwi-san Su-kiam-mo yang menaruh dendam karena sute mereka tewas di tangan wanita itu. Akan tetapi sebaliknya, Cun Sek sama sekali tidak pernah merasa dirugikan oleh wanita itu, dan melihat kecantikan wanita itu, dia menilainya sebagai seorang wanita yang menarik dan patut dibela! Orang seperti Cun Sek ini tentu saja hanya menilai seseorang dari kulitnya. Dia lupa bahwa kecantikan hanya setipis kulitnya, hanya merupakan pembungkus belaka, pembungkus tengkorak dan rangka yang sama pada setiap orang manusia. Dan sungguh sayang sekali. Kita pada umumnya lebih suka memperhatikan dan memperindah badan dari pada batin kita. Kita mencuci badan kita setiap hari, dua tiga kali, akan tetapi ingatkah kita untuk mencuci batin kita? Mencuci batin berarti ingat kepada Tuhan dan menyerah dengan seluruh pemasrahan, karena hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan mampu membersihkan batin kita yang dipenuhi kekotoran.

Tentu saja Cun Sek tidak tahu siapa sebenarnya wanita cantik itu. Kalau dia sudah mengenalnya benar, tentu dia akan semakin terkejut. Wanita ini bernama Ji Sun Bi, yang di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Tok-sim Mo-li. Dari julukan ini saja sudah diketahui bahwa ia adalah seorang wanita yang hatinya beracun, berarti memiliki watak yang amat jahat. Ia pernah menjadi murid, juga kekasih, dari mendiang Min-sa Mo-ko, seorang datuk sesat yang pernah menjadi tokoh Pek-lian-kauw. Tok-sim Mo-li ji Sun Bi ini mewarisi ilmu-ilmu yang dahsyat dari gurunya, dan selain lihai dan cantik manis, juga ia memiliki suatu penyakit, yaitu gila laki-laki! Ia seorang penjahat cabul yang selalu timbul birahinya melihat seorang pria muda yang tampan dan ganteng. Oleh karena itu, begitu melihat Cun Sek yang tinggi tegap dan tampan, tentu saja hatinya seketika tertarik sekali. Apalagi ketika pemuda itu begitu berjumpa sudah berpihak kepadanya, dan berusaha menyelamatkannya dari ancaman bahaya!

Kurang lebih setahun yang lalu, Ji Sun Bi bersama mendiang gurunya, Min-san Mo-ko, membantu gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh mendiang Lam hai Giam-lo dan seorang bangsawan Birma bernama Kulana. Akan tetapi pemberontakan itu dapat dihancurkan oleh pasukan Menteri Cang Ku Ceng, yang dibantu oleh para pendekar gagah perkasa.Hampir semua tokoh pemberontak tewas. Hanya ada beberapa orang saja yang berhasil menyelamatkan diri, di antaranya termasuk Tok-sim Mo-li li Sun Bi. Ketika terjadi pertempuran, Ji Sun Bi bertanding melawan Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-1ing-pai yang sudah digembleng oleh Pendekar Sadis dan isterinya, yaitu kakek dan neneknya sendiri. Ji Sun Bi terdesak hebat dan pada saat terakhir, ia dapat membuang dirinya ke bawah tebing. Kui Hong mengira bahwa Ji Sun Bi yang jahat tentu tewas karena tebing itu amat curam. Akan tetapi ternyata tidak! Ji Sun Bi sudah memperhitungkan ketika ia melempar diri ke bawah tebing itu. Ia maklum benar bahwa di bawah tebing, tepat di bawah ia melempar tubuh, terdapat sebuah danau kecil yang dalam. Maka, ketika ia tiba di bawah, bukan batu atau tanah yang menerima tubuhnya, melainkan air! Dan biarpun ia hampir pingsan ketika terbanting ke air danau, namun ia dapat menyelamatkan dirinya dan tidak tewas!

Tok-sim Mo-1i Ji Sun Bi segera melarikan diri dan bersembunyi sampai berbulan-bu1an, takut ka1au ada pengejaran dari para pendekar. Dan di dalam perantauannya sambil sembunyi-sembunyi ini Ji Sun Bi bertemu dengan seorang pria muda yang membuatnya gembira bukan main. Siapakah pria muda itu? Dia bukan lain adalah Sim Ki Liong, seorang di antara para pembantu utama dalam pemberontakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo itu! Pemuda itu adalah seorang di antara mereka yangberhasil menye1amatkan diri dan pemuda itu amat lihainya, bahkan tingkat kepandaiannya lebih lihai dari Ji Sun Bi sendiri, dan yang 1ebih dari segalanya, pemuda itu adalah bekas kekasih atau seorang di antara para kekasih wanita cabul itu!

Ketika dua orang bekas rekan dan kekasih itu berjumpa, tentu saja mereka merasa gembira bukan main. Bukan saja gembira dalam melepas kerinduan masing-masing, akan tetapi terutama sekali gembira karena mereka kini merasa kuat. Dengan kerja sama di antara mereka tentu saja mereka merasa kuat dan mampu melakukan hal-hal besar!

Sim Ki Liong adalah seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang tampan dan sikapnya halus lagi sopan. Dia sesungguhnya putera dari mendiang Sim Thian Bu, seorang seorang tokoh sesat yang tewas di tangan suhengnya sendiri, yaitu Siangkoan Ci Kang. Sim Ki Liong yang cerdik itu kemudian berhasil menyusup ke Pulau Teratai Merah dan karena dia memang pandai mengambil sikap, dia berhasil menarik perhatian Pendekar Sadis dan isterinya yang berkenan mengambil dia sebagai murid! Sebagai murid terkasih dari Pendekar Sadis dan isterinya, tentu saja Sim Ki Liong menjadi lihai bukan main! Akan tetapi, ketika Cia Kui Hong berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah. Sim Ki Liong yang tergila-gila kepada Kui Hong itu seperti membuka kedok sendiri. Dan diapun lalu melarikan diri, minggat dari Pulau Teratai Merah sambil membawa pedang pusaka pulau itu, yaitu pedang pusaka Gin-hwa-kiam!

Kemudian, Sim Ki Liong ikut bergabung dengan gerakan pemberontakan Lam-hai Giam-lo, menjadi seorang di antara para pembantu yang dipercaya di samping Ji Sun Bi. Ketika gerombolan pemberontak itu diserbu oleh para pendekar dan pasukan pemerintah, seperti juga Ji Sun Bi, Sim Ki Liong yang ternyata amat cerdik itu berhasil pula menyelamatkan diri.


Demikianlah, setelah Ji Sun Bi berjumpa dengan Sim Ki Liong, tentu saja keduanya merasa girang bukan main. Keduanya lalu memilih Kim-lian-san (Bukit Terati Emas) itu sebagai tempat tinggal dan dengan kerja sama mereka, sebentar saja mereka berdua sudah mampu membangun tempat itu sebagai sarang dari perkumpulan yang mereka bangun bersama, yang mereka beri nama Kim-lian-pai (Perkumpulan Teratai Emas)! Tentu saja ketuanya adalah Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi menjadi wakil ketua. Mereka berdua lalu menundukkan tokoh-tokoh sesat di sekitar daerah itu, memaksa mereka untuk mengakui kekuasaan Kim-Iian-pai. Kalau ada tokoh atau golongan yang tidak mau mengakui, maka Ji Sun Bi lalu turun tangan mengalahkan tokoh itu atau mengobrak-abrik gerombolan yang melawan. Dalam waktu beberapa bulan saja, hampir seluruh tokoh kang-ouw dan gerombolan penjahat sudah dapat ditundukkan! Mereka berdua lalu memilih pemuda-pemuda atau para pria yang memiliki kepandaian, juga wanita-wanita yang tangkas, untuk menjadi anggota Kim-Iian-pai. Mereka berdua melatih mereka sehingga tak lama kemudian, Kim-lian-pai telah menjadi sebuah perkumpulan yang anggotanya berjumlah lebih dari seratus orang dan rata-rata mereka memiliki kepandaian silat yang cukup tangguh. Nama besar Kim-Iian-pai mulai dikenal dunia kang-ouw. Kelompok-kelompok yang mengakui kekuasaan Kim-lian-pai tentu saja mulai menyumbangkan hasil kekayaan atau kejahatan mereka kepada perkumpulan baru itu.

Baik Sim Ki Liong maupun Ji Suri Bi tidak mempunyai niat untuk mengulangi apa yang dilakukan oleh gerombolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo. Tidak, mereka sudah cukup berpengalaman dan cerdik. Melawan pemerintah merupakan perbuatan yang tolol. Kekuatan pemerintah tidak mungkin dapat dilawan. Mereka hanya ingin mendirikan perkumpulan yang kuat dan berkuasa karena dari dunia kang-ouw, mereka dapat mengharapkan sumbangan yang akan membuat perkumpulan mereka cukup kuat untuk hidup mewah. Selain itu, juga kalau mereka kuat, para pendekar tidak akan berani mengganggu mereka. Di samping itu semua, juga Sim Ki Liong yang menjadi ketua Kim-lian-pai mempunyai suatu cita-cita, yaitu membalaskan dendam sakit hatinya kepada pendekar Siangkoan Ci Kang yang telah membunuh ayahnya. Dengan adanya perkumpulan kuat yang dipimpinnya, tentu tidak akan sukar baginya untuk mencari di mana adanya musuh besar itu.


Di samping memupuk kekuatan untuk perkumpulannya, Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi tidak menghentikan kesenangan mereka. Dua orang ini memang cocok sekali, memiliki kesukaan yang sama, yaitu kalau Sim Ki Liong tiada bosannya mencari gadis-gadis cantik untuk menemaninya, juga Ji Sun Bi tak pernah merasa puas dengan pria-pria tampan yang hampir setiap hari berganti-ganti melayaninya! Hampir semua anggota Kim-lian-pai yang bertubuh kekar dan berwajah tampan, pernah dikeram dalam kamar wakil ketua yang cantik itu. Namun, watak Ji Sun Bi memang pembosan. Biar di puncak itu sudah ada Sim Ki Liong dan banyak anggota perkumpulan yang pria, namun ia masih suka berkeliaran turun dari bukit untuk melampiaskan nafsunya dengan pria-pria baru!

Demikianlah, perbuatannya itu yang mendatangkan keributan pada hari itu. Ia bertemu dengan Yauw Kwan, pemuda berusia dua puluh lima tahun yang merupakan anggota termuda dari Kwi-san Su-kiam-mo, empat orang tokoh kang-ouw yang kenamaan. Bertemu dengan pemuda yang gagah dan tampan ini, Ji Sun Bi segera merayunya. Yauw Kwan dengan mudah jatuh ke dalam pelukan wanita cabul itu. Akan tetapi celakanya, Yauw Kwan yang belum banyak pengalaman itu benar-benar jatuh cinta kepada Ji Sun Bi dan tidak ingin berpisah lagi. Bahkan dia membujuk Ji Sun Bi agar suka menjadi isterinya. Seperti biasa, setelah bermesraan dengan Yauw Kwan selama beberapa hari lamanya, Ji Sun Bi mulai bosan dan sikap Yauw Kwan yang rewel, yang hendak memaksanya agar suka menjadi isteri pemuda itu, membuat Ji Sun Bi menjadi marah. Ia menganggap pemuda itu banyak rewel dan akan merepotkan saja, maka ia memaki-maki dan mengusir Yauw Kwan. Pemuda itu terkejut, marah dan tahu bahwa wanita itu hanya mempermainkannya. Terjadi perkelahian dan Yauw Kwan melarikan diri membawa luka parah. Akhirnya dia tewas dalam rangkulan tiga orang suhengnya setelah menceritakan tentang Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang menjadi wakil ketua Kim-lian-pai di puncak Kim-lian-san.


Bukan hanya dengan Kwi-san Su-kiam-mo saja Ji Sun Bi membuat permusuhan. Juga dengan Hek-tok-pang. Perkumpulan Hek-tok-pang ini adalah perkumpulan para nelayan. Mereka itu ahli racun dan dengan kepandaian mereka itu, mereka menangkap ikan, menggunakan bubuk racun yang tidak begitu keras. Akan tetapi selain mencari ikan, juga mereka dikenal sebagai penguasa di sepanjang sungai Huang-ho dan dengan kekerasan menuntut sumbangan dari para saudagar yang perahunya lewat. Juga bajak-bajak sungai tunduk kepada mereka dan suka memberi bagian hasil kejahatan mereka.



Mendengar akan perkumpulan ini, Ji Sun Bi mewakili Kim-lian-pai untuk menundukkan perkumpulan itu. Akan tetapi, ketuanya, Hek-tok pangcu Cui Bhok, tidak sudi tunduk kepada seorang wanita yang mewakili sebuah perkumpulan baru. Dia membuat perlawanan dan mengerahkan anak buahnya. Dihadapi puluhan orang anggota Hek-tok-pang, tentu saja Ji Sun Bi kewalahan, akan tetapi ketika terjadi perkelahian, ia sempat menyebar maut di antara para anggota Hek-tok-pang. Tidak kurang dari tujuh orang tewas, dan banyak yang terluka. Inilah yang membuat Hek-tok Pangcu Cui Bhok merasa sakit hati. Maka dengan dibantu oleh dua puluh empat anggotanya yang pilihan, dia bergabung dengan tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo dan pada hari itu melakukan penyerbuan ke Kim-lian-san.


Ketika dua puluh delapan orang itu mengepung pohon bcsar di mana ia danCun Sek berada, Ji Sun Bi tersenyum dan matanya mengerling ke arah pemuda gagah perkasa yang kini juga sudah berdiri di atas cabang pohon itu. Diam-diam ia mengagumi tubuh yang kokoh kekar itu dan Ji Sun Bi menelan ludah seperti seekor harimau kelaparan melihat segumpal daging yang segar.


"Sobat yang gagah perkasa, siapakah namamu?" tanya Ji Sun Bi dengan suara merdu. Cun Sek semakin kagum. Wanita ini memang hebat. Di bawah itu ada dua puluh delapan orang yang lihai menanti. dan menantangnya, akan tetapi ia masih bersikap demikian tenang dan enak-enakan saja seolah-olah tidak ada ancaman apapun. Diapun mengimbangi dan bersikap santai dan tenang. Sambil mengamati wajah cantik manis itu, diapun menjawab sambil tersenyum ramah.


"Namaku Tang Cun Sek, dan siapakah engkau, nona? Mengapa pula mereka itu memusuhimu?"

"Namaku Ji Sun Bi," jawab wanita itu sambil memperlebar senyumnya sehingga kini nampak deretan giginya yang putih bersih. "Mereka di bawah itu adalah orang-orang tolol. Aku menjadi wakil ketua Kim-lian-pai yang berada di puncak Kim-lian-san ini, dan kami ingin agar mereka itu tunduk dan membantu kami. Eh, mereka malah melawanku! Saudara Tang Cun Sek, kalau menurut pendapatmu, bagaimana? Apakah aku harus membunuh mereka semua?"


Cun Sek semakin kagum. Wanita ini bukan khawatir bahkan mengatakan dapat membunuh mereka semua, seolah-olah dua puluh delapan orang di bawah itu tidak ada artinya baginya. Akan tetapi, dia memikirkan pertanyaan itu dengan serius.


"Kalau engkau ingin menundukkan mereka, apa gunanya kalau mereka dibunuh semua? Kalahkan saja pemimpin mereka, dan yang lain-lain akan menakluk dengan sendirinya." Dia mengerutkan alis dan memandang ke bawah. "Alangkah baiknya kalau engkau mampu menarik mereka menjadi pembantu. Mereka itu pandai sekali mempergunakan racun. Lihat, sepuluh orang yang menjadi korban itu, sungguh mengerikan. Siapakah mereka?"

"Mereka adalah para anggota perkumpulan kami."


"Wah, kalau begitu lebih penting lagi untuk menundukkan mereka agar mereka mau membantumu sehingga kerugianmu kehilangan sepuluh orang anggota itu dapat ditebus."

Ji Sun Bi mengangguk-angguk. Memang tepat pendapat pemuda ini. Kim-lian-pai merupakan perkumpulan baru yang sedang menyusun kekuatan. Kalau Hek-tok-pang dapat ditundukkan dan membantu, berarti Kim-lian-pai akan menjadi semakin kuat. Kalau mereka semua dibunuh, tidak ada untungnya bagi Kim-lian-pai.


"Saudara Tang Cun Sek, tadi engkau sudah menolongku, memperingatkan aku tentang racun. Maukah sekarang engkau membantuku menghadapi mereka? Atau kelirukah penilaianku bahwa engkau seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?"


Cun Sek tersenyum. "Terus terang saja pernah aku mempelajari ilmu silat, akan tetapi dibandingkan denganmu, tentu saja aku masih kalah jauh!"


"Hi-hik, aku tahu bahwa orang yang merendahkan diri itu justeru merupakan lawan yang berbahaya. Tong kosong nyaring bunyinya sebaliknya tong yang penuh tidak berbunyi!"

"Aih, jadi engkau hanya menganggap aku ini sebagai sebuah tong saja?"


"Apa salahnya menjadi tong?"


"Kalau tong beras atau tong anggur memang cukup berguna, akan tetapi tong sampah?" kelakar Cun Sek yang timbul kegembiraannya melihat sikap wanita yang lincah jenaka dan genit.


"Tong sampah juga berguna sekali.Akan tetapi siapa menyamakan engkau dengan tong? Engkau seorang pemuda yang begini gagah perkasa dan ganteng. Hanya aku ingin melihat apakah engkau mampu menghadapi seorang di antara mereka."


Cun Sek merasa ditantang kejantanannya. Kalau tadi dia tidak perduli dan tidak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, kini dengan mudah saja dia berpihak. Tentu saja dia memilih pihak wanita yang cantik menarik ini!


"Iblis betina! Kalau engkau tidak mau turun, terpaksa kami memaksamu turun bersama antekmu itu!" terdengar lagi suara dari bawah dan tiba-tiba dari bawah nampak sinar berkelebat ketika dua batang hui-to (pisau terbang) meluncur ke arah Cun Sek dan Ji Sun Bi. Pisau-pisau terbang itu dilempar oleh Thio Su It, orang ke tiga dari Kwi-san Su-kiam-mo yang memiliki keahlian menggunakan pisau ini sebagai senjata rahasia.

Sebelum Ji Sun Bi menggerakkan tubuhnya, Cun Sek lebih dulu menggerakkan kedua lengannya, kedua tangannya menyambar ke bawah dan ternyata dia telah menyambut dua batang pisau itu! Kalau saja yang melemparkan pisau itu orang Hek-tok-pang, tentu dia tidak akan berani menyambut dengan tangan begitu saja karena ada bahaya keracunan. Akan tetapi yang menyambitkan pisau adalah seorang di antara tiga orang yang dibayangi dari kota tadi, maka dia berani menyambutnya. Tanpa berkata apapun, Cuk Sek memandang ke bawah dan melihat seorang anggota Hek-tok-pang mengacung-acungkan goloknya, diikuti oleh seorang anggota lain dan mereka berdua mendekati batang pohon di mana dia dan Ji Sun Bi berada. Dia lalu melemparkan dua batang pisau terbang tadi ke bawah, akan tetapi membidik ke arah pundak kedua orang itu. Dua sinar menyambar turun, dibarengi suara mencuit nyaring dan dua orang anggota Hek-tok-pang itupun roboh sambil berteriak kesakitan. Pundak mereka telah tertusuk pisau terbang tanpa mereka mampu mengelak saking cepatnya pisau-pisau itu menyambar. Melihat ini, Ji Sun Bi merasa girang bukan main. Dengan mesra dan lembut dia memegang tangan Cun Sek dan berbisik dengan suara merdu.



"Bagus sekali! Kiranya engkau seorang yang amat lihai. Saudara Tan Cun Sek yang gagah, mari kaubantu aku menundukkan mereka dan selanjutnya aku akan menjadi sahabatmu yang manis sekali. Engkau akan kuhadapkan pangcu kami dan engkau akan dapat menjadi pembantu kami yang utama. Coba kauperlihatkan kepandaianmu dan kaukalahkan ketua Hek-tok-pang itu!"


Cun Sek tersenyum. Memang lebih enak memihak wanita cantik ini daripada mereka yang berada di bawah. Pula, dia sendiri perlu memperoleh kedudukan yang kuat untuk memulai hidup baru. Dan agaknya, kalau dia bersekutu dengan wanita yang lihai ini, bukan saja kedudukannya kuat, akan tetapi Juga dia memperoleh kehangatan dan kemesraan yang tentu akan amat menyenangkan.


Dia memandang ke bawah. Ketua Hek-tok-pang itu memang kelihatan menyeramkan. Seorang raksasa brewok yang kasar dan dia tahu juga amat lihai, apa lagi dengan racun-racun berbahaya. Namun, tentu saja dia tidak merasa takut, dan diapun mengangguk. "Baiklah, aku memang ingin sekali mencobanya. Mari kita turun dan kita hadapi mereka!" Berkata demikian, Cun Sek lalu melayang turun dari atas pohon itu seperti seekor burung garuda besar menyambar. Dengan senyum girang Ji Sun Bi memandang dan dari cara pemuda itu melayang turun saja dengan mudah ia dapat menduga bahwa memang pemuda itu bukan orang biasa, melainkan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Tak disangkanya, dalam menghadapi musuh yang telah menewaskan sepuluh orang anak buahnya ini ia akan bertemu dengan seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan suka membantunya! Iapun segera melayang turun untuk mendampingi pemuda itu menghadapi musuh-musuhnya.


Tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo dan Hek-tok Pangcu juga terkejut melihat cara dua orang itu melayang turun. Mereka tidak tahu bahwa Cun sek, adalah orang luar yang kebetulan saja bertemu dengan iblis betina itu dan mengira bahwa Cun sek tentu rekan dari Tok-sim Mo-li yang pandai. sebelum mereka mengerahkan anak buah untuk mengeroyok, lebih dahulu Tok-sim Mo-Ji Ji Sun Bi berkata dengan nada suara mengejek. Tentu saja ia tahu mengapa orang-orang itu datang menyerbu Kim-lian-san, akan tetapi, ia sengaja ingin agar Cun sek mendengarkan percakapan mereka agar pemuda itu tahu akan duduknya perkara dan bagaimana selanjutnya sikap Cun sek, apakah tetap ingin membantu padanya atau tidak, ingin sekali ia mengetahuinya.


"Haii, kalian ini apakah orang-orang gila yang tiada hujan tiada angin berani menyerbu Kim-lian-san dan telah membunuh sepuluh orang anggota Kim-lian-pai kami?"


Mendengar pertanyaan itu gerombolan orang yang tadinya sudah siap mengeroyok, menunda gerakan mereka. Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang kasar itu menggereng seperti seekor singa terluka, matanya melotot merah dan dia lalu berteriak lantang. "Tok-sim Mo-li, tidak perlu engkau berpura-pura dan bertanya lagi. Engkau pernah menyerbu tempat tinggal kami di lembah Huang-ho dan menewaskan banyak anak buah kami, dan sekarang engkau masih bertanya lagi mengapa kami datang menyerbu. Tentu saja untuk membalas dendam dan membunuhmu!"


Wanita itu tersenyum lebar, manis sekali. "Hek-tok Pangcu, aku datang ke tempatmu
untuk memperkenalkan Kim-lian-pai kami dan minta kepadamu agar mengakui kekuasaan kami, akan tetapi engkau malah mengerahkan orang-orangmu sehingga terpaksa aku turun tangan memberi hajaran. Kalau aku menghendaki, pada waktu itu juga aku dapat membunuh kalian semua. Akan tetapi kami Kim-lian-pai bukan bermaksud memusuhi golongan lain, akan tetapi hendak mengajak kerja sama. Engkau dan orang-orangmu secara curang telah membunuh sepuluh orang anggota kami, biarlah hal itu sebagai imbangan kematian anak buahmu di tanganku tempo hari. sekarang, kalau engkau suka menyerah dan suka membantu kami"


"Tidak sudi! Aku tidak akan menyerah sebelum orang mengalahkan aku!" bentak ketua Hek-tok-pang itu.


"Baiklah. Ada sahabatku ini. Tang Cun sek, yang akan mengalahkanmu. Dan kalian ini, bukankah tiga orang dari Kwi-san su-kiam-mo? Ada apakah kalian juga ikut-ikutan datang menyerbu ke tempat tinggal kami?"


Giam Sun, orang tertua dari mereka, melangkah maju, mukanya merah padam dan matanya melotot. "Iblis betina, kami datang untuk minta tebusan nyawa sute kami, Yauw Kwan! Masihkah engkau pura-pura bertanya lagi?"


"Aih, Yauw Kwan? Pemuda bodoh yang tak tahu diuntung itu? Dia hendak memaksaku untuk menikah! Tentu saja aku tidak mau terikat dengan pernikahan tolol itu. Kami bertengkar, lalu berkelahi. Dalam perkelahian itu dia kalah dan roboh, tewas. Apa pula yang harus diributkan? Dia tewas dalam perkelahian yang adil dan tidak penasaran. Dan sekarang kalian bertjga datang hendak mengeroyokku? Lebih baik kalian insaf dan menyadari kesalahan sute kalian, dan bekerja sama dengan kami dari Kim-lian-pai…. "


Tak perlu banyak cakap! Engkau atau kami yang harus mampus!" bentak Giam Sun marah.

"Aha, begitukah ? Kalian hendak main keroyok? Ataukah sebaliknya kalau kita bertanding seperti orang-orang gagah? Kalau begitu biar sahabatku Tang Cun sek ini yang lebih dulu menghadapi ketua Hek-tok-pang."


Hek-tok Pangcu Cui Bhok memang sudah tidak sabar mendengar percakapan antara Ji Sun Bi dan Giam Sun tadi. sejak tadi dia sudah memandang kepada Cun Sek dengan mata merah. Pemuda itu memang bertubuh tinggi tegap, akan tetapi selanjutnya tidak mendatangkan kesan apa-apa maka diapun memandang rendah. Biarpun calon lawan itu tinggi tegap, namun nampak kecil ringkih dibandingkan tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa. Agaknya, sekali tangkap saja dia akan mampu mematahkan tulang punggung pemuda itu. Kini, mendengar ucapan si iblis betina, tanpa banyak cakap lagi diapun menerjang dan menyerang Cun Sek dengan goloknya yang lebar dan panjang!



“Singgg……!”Golok itu menyambar lewat dekat kepala Cun Sek ketika pemuda ini mengelak dengan lincah sekali. Gerakan ketua Hek-tok-pang itu memang cepat sekali dan hal ini saja membuktikan betapa besar tenaganya sehingga dia mampu memainkan golok yang amat berat itu bagaikan sebatang senjata yang amat ringan saja. Namun, kecepatan itu bagi Cun Sek masih nampak lambat. Pemuda yang pernah memperajari banyak macam ilmu silat, bahkan dengan beruntung telah dapat menguasai pula ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai ini memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dari tingkat lawan. Oleh karena itu, bacokan golok yang pertama tadi dapat dielakkannya dengan amat mudahnya. Bahkan ketika dia mengelak ke samping, dia masih sempat mengirim pukulan ke arah lambung lawan.


"Wutttt !" Ketua Hek-tok-pang itu terkejut bukan main. Dia yang menyerang dengan goloknya, malah kini dia yang terancam bahaya. Pukulan itu mendatangkan angin yang amat kuatnya sehingga terpaksa dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan hampir terpelanting jatuh!


Terdengar orang bertepuk tangan. Kiranya Ji Sun Bi yang bertepuk tangan memuji.
"Hebat, engkau hebat, saudara Tang Cun Sek!" Wanita itu memuji dengan kagum dan juga girang bukan main. Tak disangkanya bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian sehebat itu sehingga dalam segebrakan saja hampir dapat membuat ketua Hek-tok-pang itu roboh! Akan tetapi, hal itu terjadi karena Hek-tok Pangcu memandang rendah lawannya sehingga dia sama sekali tidak memperhatikan pertahanan diri. Kini dia marah bukan main. Akan tetapi di samping marah, juga dia penasaran dan lebih waspada karena dia mulai dapat menduga bahwa lawannya ini ternyata jauh lebih lihai daripada nampaknya.

Tiba-tiba Hek-tok Pangcu Cui Bhok mengeluarkan gerengan yang amat dahsyat. Itulah ilmu khi-kang yang disalurkan melalui suara dan lawan yang tidak memiliki tenaga sakti yang kuat, akan dapat dilumpuhkan oleh serangan suara ini yang disebut Sai-cu Ho-kang (Auman Singa). Seperti yang suka dilakukan binatang buas seperti beruang, singa, harimau dan lain-lain. Seekor singa dapat melumpuhkan calon korban hanya dengan auman yang menggetarkan jantung calon korbannya atau lawannya, bahkan banyak sudah manusia yang menjadi korban binatang buas, belum apa-apa sudah lumpuh dan tidak mampu melarikan diri begitu mendengar auman binatang buas itu.

Kini, Hek-tok Pangcu itu agaknyapun mempergunakan ilmu semacam itu. Suara aumannya menggetarkan jantung. Akan tetapi yang dihadapinya adalah seorang pemuda gemblengan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Cun Sek juga merasa betapa auman itu menggetarkan jantungnya, namun dengan pengerahan sin-kangnya, dia mampu menolak pengaruh itu dan hanya tersenyum mengejek. Pada saat auman berhenti, golok besar itu telah menyambar-nyambar dan berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata. Agaknya raksasa brewok itu telah menggunakan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan serangan. Tiba-tiba, tangan kirinya bergerak dan nampak uap hitam menyambar ke arah Cun Sek!



Inilah yang dinanti-nanti oleh Cun Sek. Dia tahu bahwa Hek-tok-pang merupakan perkumpulan ahli racun dan tentu saja ketuanya pandai sekali memainkan senjata beracun. Maka, begitu tangan itu bergerak dan nampak uap hitam, tahulah dia bahwa lawannya sudah menyebar bubuk racun yang amat berbahaya dan yang sudah rnenewaskan lima orang wanita anggota Kim-lian-pai tadi. Diapun cepat mengumpulkan pernapasannya, lalu dia meniup ke arah asap atau uap hitam Itu. Uap hitam itu membuyar dan bahkan tiga orang Kwi-san Sun-kiam-mo berloncatan menyingkir agar jangan terkena uap hitam yang menyebar. Demikian pula Ji Sun Bi meloncat mundur ke belakang.

"Hek-tok Pangcu bukan seorang laki-laki jantan, belum apa-apa sudah mengandalkan uap beracun!" Cun Sek mengejek. Kini uap itu sudah menjauhi dirinya, terpukul dan terdorong oleh tiupan mulutnya tadi.


Raksasa brewok itu marah sekali. Goloknya mengeluarkan suara berciutan dan berubah menjadi segulung sinar yang menerjang dengan dahsyatnya ke arah Cun Sek.


Pemuda ini maklum betapa berbahayanya serangan itu, maka diapun cepat meraba bawah jubahnya. Tiba-tiba saja nampak sinar emas yang mencorong dan tahu-tahu di tangannya sudah nampak sebatang pedang yang mengeluarkan sinar emas. Itulah Hong-cu-kiam, pedang pusaka Cin-ling-pai yang bersinar emas dan yang amat tipis sehingga dapat digulung dan disembunyikan di bawah jubah, bahkan dapat dipakai sebagai sabuk! Ketika dia mengintai di atas pohon, dia mengambil pedang itu dari buntalannya dan memakainya sebagai sabuk, sedangkan kini buntalan pakaiannya itu dia gantungkan di pohon.


Melihat ini, Ji Sun Bi terkejut dan kagum akan tetapi alisnya berkerut karena ia teringat bahwa pedang itu mirip benar dengan pedang Hong-cu-kiam, pedang pusaka dari Cin-ling-pai! Apalagi ketika Cun Sek memainkan pedangnya untuk menyambut serangan golok besar dari lawannya maka Ji Sun Bi yang tadinya kagum, kini terkejut dan matanya terbelalak! la adalah seorang tokoh sesat yang sudah banyak pengalaman, dan ia mengenal ilmu gaya Cin-ling-pai itu! Pemuda itu adalah murid Cin-ling-pai! Padahal, orang-orang Cin-ling-pai adalah para pendekar yang memusuhi golongannya. Akan tetapi, Ji Sun Bi kini hanya bersikap waspada saja dan diam-diam ia memutar otak untuk mencari siasat apa yang akan ia lakukan nanti untuk menghadapi Tang Cun Sek yang mungkin sekali adalah seorang tokoh Cin-ling-pai yang termasuk musuh besarnya itu! Masih teringat benar ia ketika terjadi perang antara gerombolan pemberontak pimpinan Lam-hai Giam-lo di mana ia menjadi seorang pembantu utamanya, iaberhadapan dengan Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-ling-pai dan hampir saja ia tewas di tangan gadis itu! Cin-ling-pai adalah musuh besarnya! Akan tetapi sebelum ia menghadapi Cun sek sebagai musuh, ia akan mempergunakannya lebih dahulu sebagai pembantu menghadapi pihak musuh yang menyerbu Kim-lian-san ini. Memang, tidak sukar baginya untuk mengirim tanda ke puncak, minta bala bantuan. Akan tetapi ia merasa malu kepada sim Ki Liong, ketua Kim-lian-pai kalau untuk menghadapi pengacau-pengacau itu ia harus minta bantuan sang ketua!



Tepat seperti yang diduga dan diharapkan oleh Ji Sun Bi, pedang Hong-cu-kiam di tangan Cun sek membuat raksasa brewok itu menjadi kalang kabut dan terdesak hebat! setelah lewat tiga puluh jurus saja, Hek-tok Pangcu Cui Bhok hanya mampu menangkis saja, tidak mampu lagi menggunakan goloknya untuk balas menyerang. Bahkan diapun tidak sempat mempergunakan tangan kiri untuk melakukan serangan dengan senjata rahasianya. Demikian hebatnya gulungan sinar emas itu mendesaknya! Akan tetapi, Cun Sek memang tidak ingin membunuh ketua Hek-tok-pang ini. Dia sudah mengambil keputusan untuk bekerja sama dengan Tok-sim Mo-li, dan dia tahu bahwa orang seperti ketua Hek-tok-pang ini bersama anak buahnya akan merupakan pembantu yang amat berguna.

"Haiiittt…. !" Tiba-tiba Cun Sek merobah ilmu pedangnya dan dia mengeluarkan sebuah jurus dari Siang-bhok-kiamsut, ilmu pedang yang amat hebat dan langka dari Cin-ling-pai! Ilmu ini sebenarnya merupakan ilmu simpanan, dan untung bagi Cun Sek dia sempat mempelajari beberapa jurus pilihan ilmu pedang itu dari kakek Cia Kong Liang yang menjanjikan bahwa kalau dia sampai dapat menjadi ketua Cin-ling-pai, barulah dia berhak mempelajari seluruh ilmu pedang ini. Namun, jurus yang dikeluarkan itu sudah lebih dari cukup. Terdengar suara nyaring ketika golok besar itu terlepas dari tangan ketua Hek-tok-pang. Cui Bhok, ketua itu mengeluarkan seruan kaget dan tangan kirinya memegang tangan kanan yang luka berdarah tergores ujung pedang lawan merupakan guratan memanjang sampai ke siku, dan lengan bajunya juga robek. Pada saat itu, Cun Sek sudah menodongkan pedangnya ke dadanya, membuatnya tidak berdaya sama sekali!

"Nah, pangcu, kuharap engkau mengerti bahwa di antara kita tidak ada permusuhan. Kim-lian-pai bermaksud baik. Beberapa orang anggotamu telah tewas di tangan toa-nio (nyonya) ini, akan tetapi engkau sudah membalas dengan membunuh sepuluh anggota Kim-lian-pai. Berarti engkau tidak kehilangan muka dan sudah tidak ada perhitungan lagi, bukan? Sekarang, kalau engkau mau menyatakan tunduk kepada Kim-lian-pai, aku akan menganggap engkau sebagai sahabat dan tidak akan membunuhmu."

Cui Bhok biarpun kasar, namun dia bukan seorang yang tolol. "Baik, aku maklum bahwa aku berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih pandai. Kalau Kim-lian-pai mempunyai banyak pembantu selihai engkau, sudah sepatutnya kalau Hek-tok-pang berlindung di bawah pengaruh dan kekuasaannya. Aku menyerah! Hayo, kalian lepaskan senjata kalian dan berlutut!"


Dua puluh empat orang anggota Hek-tok-pang itu melepaskan golok mereka dan semua berlutut tanda menyerah. Melihat ini, tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo menjadi marah sekali.

"Bagus kiranya Hek-tok Pangcu Cui Bhok hanyalah seorang pangecut besar!" teriak Giam Sun dan bersama dua orang sutenya, dia sudah mencabut senjatanya dan mereka bertiga berloncatan ke depan. " Akan tetapi kami bertiga menuntut balas atas kematian sute kami! Tok-sim Mo-li, majulah engkau untuk menerima kematian di tangan kami!"

Tok-sim Mo-li- Ji Sun Bi mengerling ke arah Cun Sek, dan dengan sikap manja dan suara merdu ia berkata, "Saudara Tang Cun Sek, relakah engkau melihat aku mati di tangan tiga orang yang hendak mengeroyokku ini?"


Cun Sek tersenyum dan melintangkan pedang Hong-cu-kiam di depan dadanya. "Jangan khawatir, nona. Aku tidak membiarkan mereka main keroyokan dan aku yakin bahwa Hek-tok Pangcu juga akan membuktikan kebenaran tekadnya untuk bekerja sama dengan Kim-lian-pai!"


Mendengar ini, Hek-tok Pangcu Cui Bhok melihat kesempatan untuk membuat jasa pertama. Dia seorang yang cerdik dan tahu bahwa yang paling menguntungkan adalah kalau berpihak kepada golongan yang lebih kuat. Maka,tanpa memperdulikan luka guratan bekas pedang Cun Sek pada tangan kanannya, dia sudah menggerakkan golok besarnya yang tadi sudah dipungutnya.


"Kwi-san Su-kiam-mo terlalu sombong! Biar aku Cui Bhok mencoba sampai di mana kelihaian pedang mereka yang begitu disombongkan!"


Kwi-san Su-kiam-mo yang kini tinggal tiga orang itu maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh dan mereka harus mengadu nyawa. Mereka adalah orang-orang yang sudah terlanjur memandang diri mereka sebagai orang-orang gagah dan menganggap bahwa ilmu pedang mereka selama ini tidak ada tandingannya. Maka, kematian sute mereka membuat mereka marah dan sakit hati sekali, karena terutama sekali hal ini menghancurkan bayangan mereka tentang ketangguhan diri mereka berempat. Giam Sun mengeluarkan teriakan melengking dan bersama adiknya diapun sudah menggerakkan pedang menerjang ke depan.


Giam Sun menyerang Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi, dan adiknya, Giam Kun menyerang Cun Sek, sedangkan orang ketiga, yaitu Thio Su It, menyerang ketua Hek-tok-pang. Serangan mereka disambut dan terjadilah perkelahian yang hebat, seru dan mati-matian.

Sementara itu, dua puluh empat orang anggota Hek-tok-pang menjadi penonton. Tanpa perintah ketua, mereka tidak berani ikut-ikutan turun tangan, walaupun mereka memusatkan perhatian kepada perkelahian antara ketua mereka dan Thio Su It, dan merekapun siap dengan golok di tangan untuk membantu ketua mereka apabila mereka diperintah atau apabila mereka melihat ketua mereka terdesak dan terancam bahaya.

Sambil melayani Giam Kun yang menyerangnya dengan sengit, diam-diam Cun Sek memperhatikan Ji Sun Bi yang diserang oleh orang pertama dari tiga orang jagoan itu. Diapun memandang kagum. Wanita itu selain cantik manis, juga amat lihai dan kini wanita itu telah memainkan sepasang pedang secara amat indah. Bagaikan menari saja ia melayani lawan yang menggunakan pedang. Sepasang pedang di tangan wanita itu menyambar-nyambar, cepat sekali sehingga membentuk dua gulungan sinar yang melingkar-Iingkar dan menutup semua jalan penyerangan lawan! Indah akan tetapi juga cepat dan mengandung tenaga yang amat kuat. Legalah hati Cun Sek karena melihat sepintas lalu saja diapun merasa yakin bahwa wanita itu tidak akan kalah menghadapai lawannya. Maka diapun lalu mencurahkan seluruh perhatiannya kepada lawan yang mendesaknya dengan serangan-serangan ampuh. Harus diakuinya bahwa lawannya memang memiliki ilmu pedang yang lihai dan berbahaya. Tidak mengherankan kalau orang-orang ini memakai julukan kiam-mo (setan pedang) karena memang ilmu pedang mereka amat berbahaya.



Namun, tingkat kepandaian Giam Kun masih jauh sekali dibandingkan tingkatkepandaian Tang Cun Sek. Setelah menghadapi belasan jurus serangan lawan,Tang Cun Sek sudah dapat mengukur sampai di mana ketangguhan Giam Kun dan mulailah dia memutar pedang Hong-cu-kiam untuk membalas. Dan begitu dia memainkan pedangnya dengan cepat, Giam Kun terkejut dan dia merasa repot sekali menghadapi serangan yang bertubi-tubi datangnya itu. Dia tidak lagi mampu membalas, hanya memutar pedang sekuat tenaga untuk melindungi tubuhnya. Ketika Cun Sek melirik untuk melihat keadaan Ji Sun Bi, ternyata wanita itupun sudah mendesak lawannya yang terhuyung-huyung! Cun Sek tersenyum dan diapun tidak mau kalah. Dia harus dapat memperlihatkan kepandaiannya dan jangan sampai dikalahkan oleh wanita yang menarik hatinya itu. Diapun mempercepat gerakan pedangnya.


Terdengar teriakan beruntun dan Cun Sek secepat kilat mencabut pedangnya yang tadi
menancap di dada lawan, hampir berbareng dengan gerakan pedang Ji Sun Bi yang juga mencabut pedangnya dari leher lawannya. Mereka itu secara berbareng saling memutar badan dan saling pandang, keduanya tersenyum melihat bahwa perlumbaan itu ternyata berakhir dengan,tiada yang lebih cepat atau lebih lambat. Mereka merobohkan lawan dalam detik yang sama.


Kini tinggallah Thio Su It yang masih bertanding melawan ketua Hek-tok-pang. Ternyata tingkat kepandaian mereka seimbang walaupun Hek-tok Pangcu Cui Bhok mulai mendesaknya. Melihat betapa kedua orang suhengnya telah roboh, tentu saja Thio Su It menjadi terkejut, berduka akan tetapi juga gentar sekali. Dia maklum bahwa dia tidak mungkin dapat menyelamatkan dirinya, maka dengan nekat dia lalu melawan terus. Kenekatannya inilah yang membuat dia menjadi lawan yang tangguh.


Melihat betapa Hek-tok Pangcu bersungguh-sungguh melawan Thio Su It, hati Ji Sun Bi sudah merasa girang bukan main. Orang ini boleh dipercaya dan boleh diharapkan untuk menghadapi tokoh Cin-ling-pai itu, pikirnya. Tiba-tibaia menggerakan tangan kirinya dan sinarhalus yang hitam menyambar ke arah dua orang yang sedang berkelahi itu. Thio Su It mengeluarkan seruan lirih dan dia terhuyung. Pada saat itu, ujung golok di tangan Cui Bhok mengenai pundaknya dan diapun roboh dan dalam waktu beberapa detik saja tubuhnya berubah hitam dan diapun tewas seketika. Golok besar itu mengandung racun yang amat hebat!


Kini tiba-tiba Ji Sun Bi merobah sikapnya yang tadi tersenyum-senyum kepada Cun Sek. "Pangcu, bantu aku menangkap mata-mata ini. Dia seorang pendekar tokoh Cin-ling-pai, musuh golongan kita!"


Mendengar ini, Hek-tok Pangcu Cui Bhok terkejut sekali, akan tetapi dia segera meloncat ke dekat Cun Sek sambil menodongkan golok besarnya sambil memberi isyarat kepada dua puluh empat orang anak buahnya. Mereka itu segera mengepung Cun Sek, sedangkan Ji Sun Bi sendiri berdiri di samping Cui Bhok, sepasang pedangnya di tangan dan ia memandang kepada Cun Sek yang terheran-heran itu dengan senyum mengejek.

"Wah, saudara Tang Cun Sek, tidak perlu lagi engkau berpura-pura. Engkau seorang tokoh Cin-ling-pai, katakan apa maksudmu datang ke tempat kami ini. Apakah engkau datang sebagai mata-mata, sebagai musuh? Katakan terus terang sebelum kami turun tangan karena aku tidak akan segan membunuhmu sebagai seorang murid Cin-ling-pai yang selama ini menjadi musuh besar kami."


Tentu saja Tang Cun Sek terkejut bukan main melihat perubahan ini. Namun, dia amat cerdik dan sebentar saja otaknya yang bekerja cepat, itu sudah dapat memaklumi keadaan, dan dia dapat menduga apa yang menyebabkan wanita cantik itu kini berbalik memusuhinya. Tentu Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi ini pernah bermusuhan dengan pihak Cin-ling-pai dan tadi, ketika dia mengeluarkan pedang Hong-cu-kiam dan memainkan ilmu silat. Cin-ling-pai, wanita cantik itu mengenalnya dan tidak mengherankan kalau wanita itu menaruh curiga kepadanya.

Tang Cun Sek tertawa. "Ha-ha-ha-ha, kiranya Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang cantik jelita dan lihai, tidak mampu mengenal sahabat dan juga masih belum terlalu cerdik sehingga tidak mampu membedakan mana kawan mana lawan, ha-ha-ha!"


Ji Sun Bi mengerutkan alisnya dan sepasang matanya yang jeli itu berkilat, akan tetapi ia masih belum tersenyum. "Tang Cun Sek, apa alasannya engkau menganggap aku tidak mengenal sahabat dan tidak cerdik?"


"Pertama, sesudah aku membantu menarik Hek-tok-pang menjadi sekutu dan membunuh tiga orang musuh yang hendak membunuhmu ini, engkau masih mencurigaiku. Ini namanya tidak mampu mengenal sahabat! Dan ke dua, kalau benar aku ini mata-mata Cin-ling-pai dan hendak memusuhimu, bukankah kesempatanku amat baik tadi dengan membantu mereka mengeroyokmu? Apa kaukira akan mampu menandingi kami kalau aku tadi membantu mereka? Nah, bukankah itu menunjukkan bahwa engkau kurang cerdik dan salah menilai orang?"


Kini Ji Sun Bi tersenyum dan mengangguk-angguk. la lalu menoleh kepada Hek-tok Pangcu Cui Bhok dan berkata lembut, "Pangcu, mundurlah dan kita harus dapat percaya keterangannya itu." KetuaHek-tok-pang itupun mengangguk-angguk dan memberi isarat kepada dua puluh empat orang anak buahnya untuk mundur.


Ji Sun Bi lalu menghampiri Cun Sek. Sejenak mereka saling pandang dan keduanya saling kagum. "Tang Cun Sek, keteranganmu tadi memang dapat kami terima, akan tetapi untuk lebih meyakinkan hati kami sebelum engkau kami hadapkan kepada Pangcu kami, ceritakanlah mengapa engkau yang memiliki ilmu silat Cin-ling-pai dan memegang pedang pusaka Cin-ling-pai, tiba-tiba saja kini berpihak kepada kami!"


Sebetulnya Cun Sek segan menceritakan riwayatnya, akan tetapi dia maklum bahwa kerja sama dengan orang-orang seperti mereka itu merupakan suatu keuntungan baginya, terutama sekali akan memudahkan dia untuk mencari dan menemukan ayah kandungnya, yaitu Ang-hong-cu! Apalagi yang berada di situ hanyalah Ji Sun Bidan Cui Bhok,sedangkan para anak buah Hek-tok-pang sudah disuruh menjauhkan diri. Dengan singkat namun jeJas dia lalu menceritakan betapa sejak kecil dia sudah mempelajari ilmu silat dan setelah dewasa, dia ingin menambah pengetahuannya itu dengan masuk menjadi anggota Cin-ling-pai.



"Hanya beberapa tahun aku menjadi anggota Cin-ling-pai, namun aku beruntung dapat mempelajari ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai dari ketua lama. Akan tetapi, aku gagal menjadi ketua baru dan aku melarikan diri dari Cin-ling-pai sambil membawa Hong-cu-kiam yang dihadiahkan ketua lama Cia Kong Liang kepadaku." Tentu saja bagian terakhir ceritanya itu dia berbohong karena pedang pusaka itu bukan hadiah pemberian melainkan hasil pencurian!

Ji Sun Bi minta kepada ketua Hek-tok-pang untuk memerintahkan anak buahnya mengubur jenasah sepuluh orang anggota Kim-lian-pang yang tewas keracunan, dan membersihkan kembali tempat yang mereka taburi racun. Setelah itu, maka Ji Sun Bi menjadi petunjuk jalan dan merekapun naik ke puncak Kim-lian-san. Dalam perjalanan ini, barulah orang-orang Hek-tok-pang melihat betapa besar bahayanya kalau mereka menyerbu ke atas. Perjalanan itu mengandung banyak sekali tempat rahasia, jebakan-jebakan yang mengerikan. Tanpa petunjuk jalan, sebelum tiba di puncak, mereka semua tentu akan menjadi korban perangkap yang banyak dipasang di sepanjang jalan menuju ke puncak. Bahkan Hek-tok Pang-cu Cui Bhok sendiri bergidik dan diam-diam dia girang bahwa dia telah dikalahkan oleh Tang Cun Sek sehingga dia menaluk. Apa lagi ketika banyak anggota kim-lian-pang mulai menyambut, berJaJar di sepanjang jalan, laki-laki dan wanita-wanita yang kesemuanya berwajah tampan dan cantik, bersikap gagah dan jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang. Baru kemudian dia tahu bahwa jumlah anggota Kim-lian-pang berjumlah seratus orang lebih, sebagian ada yang bertugas di bawah gunung dan tersebar ke kota-kota dan dusun-dusun sekitar daerah itu bertugas sebagai mata-mata.


Baik Cui Bhok maupun Tang Cun Sek merasa heran dan kagum sekali ketika mereka diajak Ji Sun Bi menghadap orang yang disebut pangcu atau ketua dari perkumpulan Kim-lian-pang. Sama sekali mereka tidak pernah membayangkan bahwa pangcu itu hanyalah seorang pemuda yang masih amat muda, tidak akan lebih dari dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun saja usianya! Cun Sek memperhatikan orang yang menerima kedatangan mereka dengan berdiri dari tempat duduknya dan yang mengamati mereka dengan pandang mata tajam menyelidik itu.


Dia seorang pria muda yang bertubuh sedang, gerak-geriknya halus dan sopan, pakaiannya seperti seorang terpelajar, wajahnya tampan dan sepasang matanya mencorong penuh wibawa!


Ji Sun Bi segera memperkenalkan dua orang tamu itu setelah dia, memberi bisikan
kepada Cui Bhok agar memerintahkan anak buahnya yang ikut memasuki ruangan luas itu berlutut semua. Sambil tersenyum Ji Sun Bi mendekati ketua Kim-lian-pang yang menjadi rekan, kekasih, juga ketuanya itu dan ia sendiri menjabat wakil ketua.


"Pangcu, dia itulah Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang sudah menaluk kepada kita dan membawa dua puluh empat orang anak buahnya menaluk dan siap untuk bekerja sama dengan kita."


Orang muda tampan itu memandang kepada Cui Bhok dengan sinar mata penuh selidik, alisnya berkerut dan dia berkata dengan halus, "Hemm….. , aku mendengar bahwa sepuluh orang anak buah kita tewas karena racun yang disebarkan mereka?"


Diam-diam Tang Cun Sek merasa kagum. Kiranya peristiwa di lereng tadi telah diketahui oleh ketua ini, tentu ada mata-mata yang melapor lebih dahulu keatas sebelum mereka tiba di situ.


"Benar, mereka tewas karena kurang waspada," jawab Ji Sun Bi.


Biarpun bagi Cui Bhok, keadaan ketua Kim-lian-pang itu kurang menyakinkan, hanya seorang muda yang nampaknya tidak begitu hebat, namun mengingat bahwa pemuda itu adalah ketua Kim-lian-pang dan Tok-sim Mo-li yang demikian lihainya hanya menjadi pembantunya, diapun tidak berani memandang rendah.


"Saya Hek-tok Pangcu Cui Bhok menghadap pangcu dari Kim-lian-pang dan saya bersedia untuk bekerja sama dengan Kim-lian-pang!" katanya sambil memberi hormat.


"Hemm….. " Kim-lian Pangcu Sim Ki Liong tersenyum dingin, namun suaranya terdengar halus ketika dia berkata kepada Cui Bhok yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya brewok menyeramkan itu. "Hek-tok Pangcu, penyerahan diri dan kerja sama membutuhkan kesetiaan dan kesetiaan haruslah di buktikan. Anak buahmu telah membunuh sepuluh orang anak buah Kim-lian-pang, pada hal enci Ji Sun Bi hanya membunuh tujuh orang anak buah Hek-to-pang. Dengan demikian, Hek-to-pang masih berhutang tiga nyawa kepada Kim-lian-pang. Nah, apa yang akan kaulakukan untuk membuktikan kesetiaanmu?”

Mendengar pertanyaan ini, wajah yang kasar penuh brewok itu berubah menjadi pucat,
lalu merah padam dan matanya terbelalak. Cui Bhok tahu apa yang di maksudkan ketua Kim-lian-pang yang masih sangat muda itu dan dia merasa penasaran. Bagaimanapun juga, kalau ketuanya hanya seorang pemuda ingusan seperti ini, dia harus melihat bukti dulu bahwa ketua yang amat muda ini pantas untuk menjadi atasannya sebelum dia melaksanakan segala perintahnya. Diapun tertawa bergelak. Ha-ha-ha, sungguh tuntutan yang wajar dari seorang ketua besar sebuah perkumpulan yang besar pula! Akan tetapi, Pangcu, bagaimanapun juga, saya juga harus melihat bukti bahwa Pangcu adalah seorang yang pantas untuk saya taati. Mohon petunjuk!" katanya dan pria tinggi besar ini segera memasang kuda-kuda, tidak mencabut senjata karena dia maklum bahwa dia berada di sarang harimau dan kedudukannya amat berbahaya. Dia hanya ingin menguji kelihaian ketua yang amat muda itu, lain tidak. Dia sama sekali tidak ingin menentang, karena dia sudah takluk kepada orang muda yang membantu Tok-sim Mo-li tadi.

Mendengar ucapan ketua Hek-tok-pang itu, Sim Ki Liong tersenyum dan wajahnya yang tampan itu nampak cerdik dan licik sekali. Tang Cun Sek memandang dengan hati tegang akan tetapi juga gembira. Ketua yang masih muda itu tadi hanya memandang acuh saja kepadanya, dan kini ketua itu ditantang atau diuji oleh Cui Bhok. Suatu kesempatan baik baginya untuk melihat sendiri sampai di mana kelihaian ketua ini. Dia sudah mengukur kepandaian Cui Bhok, dan dari perlawanan ketua itu terhadap Cui Bhok, dia akan dapat mengukur sampai di mana kelihaiannya. Kalau melihat betapa Tok-sim Mo-li, yang tadi dia lihat pula kehebatannya, hanya menjadi pembantu ketua Kim-lian-pang, maka dapat diduga bahwa kepandaian ketua yang masih amat muda ini tentu hebat bukan main.



Sim Ki Liong tersenyum bangkit dari kursinya melihat Cui Bhok sudah siap siaga di tengah ruangan yang luas itu. Para anak buah Hek-tok-pang yang masih berlutut juga semua memandang dengan hati tegang. Mereka setuju dengan sikap ketua mereka. Kalau hendak menaluk kepada seseorang, maka mereka harus melihat sendiri bagaimana lihainya orang itu!


"Cui-pangcu, permintaanmu wajar pula. Aku akan membuktikan bahwa aku memang
patut kautaati. Nah, mulailah!" katanya dan dia berdiri seenaknya saja di depan Cui Bhok yang bertubuh kokoh kekar itu, berbeda dengan tubuh Sim Ki Liong yang sedang saja sehingga nampak kecil lemah di depan raksasa itu.


Cui Bhok tidak membuang waktu lagi, lalu tiba-tiba dia mengeluarkan suara mengaum seperti singa, disusul bentakannya, "Kim-lian Pangcu, lihat seranganku!" Tubuhnya menerjang dengan dahsyatnya, kedua tangannya membentuk cakar singa, kuku jari-jari tangannya nampak menghitam tanda bahwa kuku itu mengandung racun yang amat berbahaya. Sekali terkena goretan kuku hitam itu akan mengakibatkan luka melepuh yang sukar disembuhkan kalau tidak memakai obat pemunah racun buatan ketua Hek-tok-pang itu!



Namun, serangan bertubi yang berupa cakaran-cakaran dan cengkeraman itu dengan mudah dapat dihindarkan oleh Sim Ki Liong, hanya dengan gerakan kedua kakinya saja, kemudian dia membalas dengan tamparan lembut namun mengandung tenaga yang dahsyat sehingga hampir saja pundak ketua Hek-tok-pang terkena tamparan. Biarpun luput, hanya menyerempet sedikit saja, namun cukup membuat Cui Bhok terhuyung. Tentu saja raksasa ini terkejut dan mulai merasa kagum karena hanya dalam beberapa jurus saja, bahkan baru satu kali pemuda itu menyerang, dia sudah hampir dirobohkan. Namun dia masih kurang puas, kurang yakin dan kembali dia menyerang, lebih ganas dari yang tadi.

Sementara itu, Cun Sek terbelalak! Dia melihat dengan jelas betapa serangan balasan itu, tamparan yang lembut itu, dan gerakan kaki itu, adalah ilmu silat San-in Kun-hoat (Silat Awan Gunung), sebuah ilmu pilihan dari Cin-ling-pai!


Menghadapi serangan yang ganas dari ketua Hek-tok-pang, Sim Ki Liong lalu
mengeluarkan bentakan nyaring, kedua tangannya bergerak dari kanan kiri, menangkis sekaligus menyerang. Begitu kedua tangan Hek-tok Pangcu Cui Bhok bertemu dengan kedua tangannya itu, dia berteriak kaget, kedua tangannya itu terdorong keras ke belakang dan sebelum dia sempat menghindarkan diri, ada angin pukulan dari kanan kiri menyambar kearah kedua pundaknya dan diapun roboh terguling, kedua pundaknya terasa nyeri seolah-olah tulangnya retak-retak! Dia terkejut, akan tetapi juga kagum dan taluk. Dia bangkit berdiri lalu menjura dengan sikap hormat karena dia mendapat bukti betapa lihainya ketua Kim-lian-pang yang masih amat muda itu.


"Thian-te Sin-ciang (Tangan Sakti Langit Bumi)…. !" Tak terasa lagi mulut Cun Sek berseru ketika dia melihat gerakan kedua tangan Sim Ki Liong tadi. Mendengar ini, Ki Liong cepat membalik dan sepasang matanya mencorong, memandang ke arah Cun Sek. Akan tetapi pada saat itu Cui Bhok sudah berkata dengan suara kagum. !.


"Biarpun masih amat muda, ternyata Kim-lian Pangcu sungguh memiliki kepandaian yang amat hebat. Saya mengaku kalah dan taluk, dan saya akan memperlihatkan kesetiaan saya kepada pangcu!" Berkata demikian, tiba-tiba raksasa ini bergerak cepat sekali ke arah para anggotanya yang masih berlutut. Terdengar teriakan berturut-turut dan empat orang anak buahnya roboh dan tewas dengan muka menghitam. Mereka telah diserang dengan cakaran maut oleh ketua mereka sendiri. Yang menjadi korban adalah dua orang yang tadi terluka oleh Cun Sek, dan dua orang lain yang tingkatannya paling rendah dalam Hek-tok-pang. Semua anak buah Hek-tok-pang terkejut dan ketakutan, akan tetapi hati mereka lega ketika ketua mereka tidak menyerang lagi. Cui Bhok lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil menghadap Sim Ki Liong.


"Nah, pangcu. Itulah bukti kesetiaan kami. Dengan tewasnya empat orang anak buah saya, maka kini kami yang rugi seorang dibandingkan dengan Kim-lian-pang."


Sim Ki Liong tersenyum dan mengangguk-angguk. "Bagus, engkau memang pantas untuk kami terima sebagai sekutu dan pembantu, Cui Pangcu!" Dia lalu bertepuk tangan menyuruh pengawal atau anak buahnya untuk menyingkirkan empat mayat itu, dan menyuruh anak buahnya untuk menjamu para anggota Hek-tok-pang yang kini tinggal dua puluh orang itu. Kemudian ia menyuruh para pelayan untuk menambah arak dan mengeluarkan hidangan untuk menyambut Cui Bhok pada saat itulah dia memandang kepada Cun Sek dan bertanya kepada Ji Sun Bi.


"Siapakah dia ini yang mengenal Thian-te Sin-ciang?"


Ji Sun Bi tersenyum. "Tadi belum sempat aku memperkenalkan dia. Tentu saja dia mengenal ilmu silatmu yang berasal dari Cin-ling-pai, pangcu, karena dia adalah seorang tokoh Cin-ling-pai!"


"Ehhh……?"Sim Ki Long terkejut sekali, akan tetapi dengan sikap gagah dia tidak memperlihatkan kekagetannya, melainkan matanya saja yang memandang tajam kepada Cun Sek, kini mengandung kecurigaan. "Mau apa seorang tokoh Cin-ling-pai datang ke sini?" Pertanyaan ini mengandung terguran kepada Ji Sun Bi.


Sebelum Ji Sun Bi menjawab, Cun Sek mendahuluinya. "Maaf, pangcu. Aku tidak sengaja datang ke sini melainkan diajak oleh Tok-sim Mo-li untuk diperkenalkan kepada pangcu."

Mendengar ini Ji Sun Bi tersenyum, dan cepat dia menjelaskan. "Pangcu, ketahuilah bahwa ketika aku turun dari puncak untuk menghadapi Hek-tok-pang, aku diperingatkan akan lorong beracun yang dibuat Hek-tok-pang oleh saudara Tang Cun Sek ini. Bukan itu saja, bahkan dialah yang menundukkan dan menaklukkan Hek-tok Pangcu, dan dia membantu pula ketika aku dikeroyok oleh tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo. Melihat kelihaiannya dan mengenal gerakan silatnya dan pedangnya yang jelas dari Cin-ling-pai, tadinya akupun curiga dan terkejut. Akan tetapi setelah dia menceritakan keadaannya, kupikir sebaiknya kalau dia kuajak ke sini agar berkenalan dengan pangcu.



Bagaimanapun juga, kepandaian pangcu dan dia datang dari satu sumber, bukan?"


Sim Ki Liong mulai tertarik dan dia kini memandang kepada Cun Sek penuh perhatian, namun kecurigaannya sudah menipis. "Saudara Tang Cun Sek, terus terang saja, Cin-ling-pai kami anggap sebagai musuh kami. Maka, harap kaujelaskan mengapa engkau tidak memusuhi kami, bahkan ingin berkenalan denganku."


Cun Sek menarik napas panjang, "Tidak kusangkal bahwa aku adalah seorang murid Cin-ling-pai, bahkan aku mewarisi ilmu-ilmu Cin-ling-pai dari ketua lama Cia Kong Liang sendiri. Akan tetapi, ketika aku gagal untuk menjadi ketua Cin-ling-pai yang baru, maka kuanggap Cin-ling-pai sebagai musuh. Aku melarikan diri dari sana dan biarpun banyak ilmu dari sana kukuasai, namun aku tidak menganggap diriku sebagai seorang Cin-ling-pai," Cun Sek mengepalkan tinju, masih mendongkol kalau mengingat kekalahannya di Cin-ling-pai.

"Demikianlah keadaanku, pangcu. Oleh karena itu, pangcu tidak perlu khawatir, aku bukan seorang anggota Cin-ling-pai lagi, bahkan akupun membenci Cin-ling-pai! Aku melarikan diri dari Cin-ling-pai, dan dalam perjalanan untuk mencari jejak ayahku yang sejak dalam kandungan belum pernah kumelihatnya. Kebetulan aku lewat di bawah bukit dan melihat rombongan orang Hek-tok-pang, lalu aku membayangi mereka dan kubantu Tok-sim Mo-li."


Sim Ki Liong mengangguk-angguk."Kalau engkau gagal menjadi ketua Cin-ling-pai, lalu siapa yang menjadi ketuanya yang baru?"


Dengan suara gemas Cun Sek menjawab, "Gadis liar itu, Cia Kui Hong!"


Mendengar ini, Sim Ki Liong terbelalak memandang, kemudian dia tertawa bergelak. Lenyaplah sikap lembut dan sopan ketika dia tertawa dengan mulut terbuka, lalu mulut itu ditutup sehingga suara ketawanya hanya sampai di tenggorokan.


"Ha-ha-ha, he-he-hek, Cia Kui Hong? Ia menjadi ketua Cin-ling-pai?" dia tertawa lagi. "Dara itu yang telah menggagalkanmu?"


"Hemm, Cja Kui Hong! Lagi-lagi gadis setan itu yang menjadi penghalang. Ia musuh kita bersama!" kata pula Ji Sun Bi dengan gemas.


Kini Tang Cun Sek yang memandang dengan sinar mata heran kepada dua orang itu. Tentu saja dia tidak tahu betapa Sim Kj Liong juga sampai terlempar keluar dari Pulau Teratai Merah tempat tinggal gurunya, yaitu Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, gara-gara kedatangan Cia Kui Hong, cucu luar pendekar sakti itu. Sedangkan Ji Sun Bi tentu saja tidak pernah dapat melupakan pengalaman pahitnya ketika ia membantu gerakan mendiang Lam-hai Giam-lo dan ketika gerombolan pemberontak itu diserbu para pendekar, ia sendiri bertanding melawan Cia Kui Hong dan hampir saja ia tewas ketika ia terjatuh ke dalam tebing!


"Pangcu, apakah engkau sudah mengenal Cia Kui Hong?" tanya Cun Sek.


Ki Liong masih tertawa dan Ji Sun Bi yang menjawab. "Tentu saja kenal baik! Cia Kui Hong itu masih terhitung murid keponakannya!"


Cun Sek terbelalak bingung. Pemuda ini? Usianya masih begitu muda dan menjadi paman guru Kui Hong? Paman guru dari mana? Tak mungkin pemuda ini murid kakek Cia Kong Liang pula.


Melihat kebingungan tamu itu, kini Ki Liong yang melanjutkan keterangan Sun Bi. "Ketahuilah, Tang-toako, aku adalah murid Pendekar Sadis Ceng Thian Sin di Pulau Teratai Merah!"


"Ahhh…. ! Sungguh hal ini sama sekali tidak pernah disangka oleh Cun Sek.


Tentu saja dia tahu siapa itu Pendekar Sadis! Dan diapun mengerti sekarang. Memang, Kui Hong adalah cucu pendekar Sadis, cucu luar, maka kalau pemuda ini murid Pendekar Sadis, memang Kui Hong dapat dianggap sebagai murid keponakannya. Akan tetapi….., kalau begitu………bagaimana pula pangcu menganggap Kui Hong sebagai musuh?"

"Ia yang menjadi gara-gara sehingga aku terpaksa pergi meninggalkan Pulau Teratai Merah untuk selamanya, tidak perlu kujelaskan persoalannya," kata ketua itu yang tentu saja merasa tidak enak mengingat akan pengalamannya di Pulau Teratai Merah itu. Ketika Kui Hong berkunjung ke Pulau Teratai Merah, tempat tinggal kakek luarnya, seketika Ki Liong jatuh jatuh cinta dan tergila-gila kepada gadis itu. Dia berusaha merayu, namun bukan saja ditolak oleh Kui Hong, bahkan gadis itu marah-marah dan menyerangnya. Peristiwa itu diketahui suhu dan subonya, maka dia merasa malu dan malam itu juga dia melarikan diri meninggalkan Pulau Teratai Merah, sambil membawa benda-benda berharga, bahkan juga pedang pusaka Gin-hwa-kiam dia bawa lari! Dia bermaksud untuk mencari musuh besar pembunuh ayahnya, yaitu Siangkoan Ci Kang, akan tetapi sampai sekarang usahanya itu belum juga berhasil.


"Dan bagaimana dengan engkau, Tok-sim Mo-li? Bagaimana engkau juga mengenal Cia Kui Hong dan memusuhinya?" tanya Tang Cun Sek, merasa girang mendengar keterangan ketua itu yang ternyata murid Pendekar Sadis sehingga dia tidak merasa heran kalau ketua itu memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebat. Ketua itu dan dia memiliki dasar ilmu silat yang sama, yaitu dari Cin-ling-pai walaupun mereka berdua masing-masing memiliki pula ilmu-ilmu lain.


Ji Sun Bi menghela napas panjang dan Ki Liong yang menjawab, "la pernah bertanding dan dikalahkan oleh Cia Kui Hong, bahkan hampir saja ia tewas ketika terjatuh ke dalam jurang tebing yang curam."

Ji Sun Bi cemberut dan mukanya berubah merah, sepasang matanya berkilat.
"Lain kali akan kubunuh gadis setan itu!"

Pertemuan itu dilanjutkan dengan pesta makan minum untuk menghormati persekutuan baru itu Cun Sek diterima dengan tangan terbuka oleh Ki Liong dan semenjak hari itu, Cun Sek merupakan pembantu utama dari pasangan Ki Liong dan Sun Bi, bahkan diapun mulai hari itu menjadi seorang kekasih baru dari Ji Sun Bi yang tak pernah merasa puas dengan laki-laki itu. Tentu saja Kim-lian Pangcu maklum akan hal ini, akan tetapi dia memang tidak pernah merasa cemburu dan memberi kebebasan sepenuhnya kepada Ji Sun Bi untuk berhubungan dengan pria manapun juga, seperti juga Ji Sun Bi tidak perduli dengan wanita mana ketua itu berhubungan! Maka terdapatlah hubungan segi tiga yang amat akrab dan aneh antara Ji Sun Bi, Sim Ki Liong, dan Tang Cun Sek. Namun, tiga sekawan ini merupakan kesatuan yang amat berbahaya karena ketiganya memiliki ilmu kepandaian tinggi! Apalagi setelah kini Hek-tok-pang menjadi sekutu mereka pula. Perkumpulan Teratai Emas itu menjadi semakin kuat dan semakin terkenal. Mereka melebarkan sayap kekuasaan mereka ke kota-kota lain, tidak bergerak sebagai pemberontak, bahkan sebaliknya. Mereka menyusup ke dalam gedung-gedung para pejabat dan mendekati para pejabat dengan sogokan-sogokan. Mereka menalukkan tokoh-tokoh dunia persilatan dengan mengalahkan para pemimpinnya, bukan menanam permusuhan dan kebencian karena setelah berhasil mengalahkan, mereka lalu mendekati dan menarik bekas lawan itu menjadi sekutu mereka. Maka, makin kuatlah Kim lian-pang di bawah pimpinan Sim Ki Liong yang dibantu dengan setia oleh Ji Sun Bi dan Tang Cun Sek itu.

Mulailah mereka menyebar anak buah Kim-lian-pang yang semakin banyak jumlahnya itu, selain untuk menyebar pengaruh, juga untuk mulai melakukan penyelidikan tentang dua orang tokoh persilatan, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Si Kumbang Merah Ang-hong-cu. Yang pertama untuk sang ketua, dan yang ke dua untuk Tang Cun Sek.

* * *

Pek Han Siong melangkah lesu. Pemandangan alam di sekitar pegunungan itu sebetulnya amat indahnya pada pagi hari yang cerah itu. Namun, tiada keindahan di luar diri bagi seseorang yang menanggung derita di dalam dirinya. Keindahan bukan terletak di luar, melainkan di dalam diri. Kalau batin sedang terlanda duka, apapun yang dilihat oleh mata akan nampak tidak indah lagi. Dan pada saat itu, Pek Han Siong sedang dilanda duka.

Cintanya terhadap Siangkoan Bi Lian ditolak! Gadis itu fHenolak cintanya. Dia dapat menghargai kejujuran dan keterusterangan Bi Lian, namun kenyataan itu sungguh membuat hatinya seperti ditusuk. Pedih perih karena kecewa. Apalagi, penolakan cinta gadis itu dinyatakan di depan suhu dan subonya. Dia tahu betapa mereka amat menyayangnya, maka diapun ditarik sebagai calon mantu. Akan tetapi, apa hendak dikata, Bi Lian yang terlibat langsung dalam urusan perjodohan itu menolak! Diapun tidak dapat menyalahkan Bi Lian.. Bagaimana dapat menyalahkan seorang gadis karena tidak mencintanya?

HanSiong menjatuhkan diri duduk di atas akar pohon. Tubuhnya terasa penat.
Semalam suntuk dia tidak pernah berhenti, berjalan saja walaupun lambat, tak tentu arah tujuan sampai pada pagj hari itu dia tiba di pegunungan itu yang tidak dia ketahuinya namanya. Tubuhnya lemas karena sudah dua hari dia tidak makan, hanya minum air, itupun kalau kebetulan dia melewati sebuah sumber air bersih.

Membiarkan tubuhnya duduk mengaso tetap saja tidak dapat menghilangkan kedukaanya, bahkan kini pikirannya melayang-layang, mengenangkan keadaan dirinya, semua peristiwa yang terjadi dan hatinya terasa semakin tertekan. Sejak kecil dia tidak pernah merasakan bahagia, kecuali mungkin ketika dia tinggal di kuil Siauw-lim-si dan menjadi murid suami isteri sakti yang menjadi guru-gurunya, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu.

Duka timbul dari pikiran yang penuh dengan perasaan iba diri. Pikiran mengenang masa lalu yang penuh dengan kegagalan, membayangkan masa depan yang penuh kesuraman, maka pikiran atau si aku merasa iba kepada diri sendiri, merasa nelangsa dan sengsara. Maka datanglah rasa duka, duka menghilangkan kewaspadaan, melenyapkan arti hidup. Hidup bukanlah sekedar membiarkan diri diseret ke dalam lamunan, membiarkan diri dipermainkan pikiran! Hidup adalah kenyataan apa yang ada, tidak perduli kenyataan itu menyenangkan atau menyusahkan. Yang senang , atau yang susah itu adalah pikiran, si-aku yang selalu menghendaki keenakan dan menghindarkan ketidak enakan. Kenyataan hidup adalah seperti apa adanya, dan menerima kenyataan apa adanya inilah seni paling indah, paling agung dan paling murni dari kehidupan. Menerima kenyataan seperti apa adanya, tanpa menilai! Tanpa mengeluh Melainkan menyerahkan kepada Tuhan! Tuhan Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Kasih! Hanya Tuhan yang akan mampu membimbing kita, lahir maupun batin. Kewajiban kita dalam hidup hanyalah untuk mempergunakan segala alat yang ada pada tubuh ini sebagaimana mestinya. Panca-indera untuk bekerja seperti yang telah ditentukan dalam tugas masing-masing, termasuk pikiran yang sesungguhnya merupakan alat untuk berpikir, untuk bekerja, untuk dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Pikiran bukan alat untuk menyeret kita ke dalam lamunan kosong tentang suka duka. Kita tidak mungkin dapat membersihkan pikiran yang bergelimang dengan daya-daya rendah, pikiran yang penuh nafsu, pikiran yang penuh dengan keinginan untuk mengejar enak sendiri. Tak mungkin, karena "kita" yang ingin membersihkan ini juga pikiran itu sendiri! Dan selalu keinginan pikiran hanya bersumber pada satu pamrih, yaitu mengejar keenakan untuk diri sendiri. Dapat saja pikiran menciptakan akal bermacam-macam seperti sebutan muluk-muluk, bertapa, mengasingkan diri, mengheningkan cipta dan segala macam cara lagi untuk membersihkan batin. Namun, semua itu adalah pekerjaan pikiran, pekerjaan si-aku, usaha dari nafsu pula karena pikiran itu sendiri bergelimang nafsu, dikemudikan nafsu. Di balik semua usaha itu terdapat satu pamrih, yaitu sifat dari nafsu, ialah untuk mengejar keenakan bagi diri sendiri! Karena itu, tidak mungkin kita membersihkan pikiran, tidak mungkin nafsu mengendalikan atau mengalahkan nafsu. Semua ini hanya akal-akalan saja, akalnya si akal-pikir!

Satu-satunya kenyataan adalah bahwa yang dapat merubah segalanya itu, yang dapat membersihkan jiwa dari cengkeraman nafsu, yang dapat menempatkan semua alat tubuh luar dalam kepada kedudukan dan tugas mereka masing-masing secara utuh dan benar, hanyalah KEKUASAAN TUHAN! Dan kekuasaan Tuhan akan bekerja kalau si -aku, yaitu hati dan akal pikiran kita tidak bekerja! Dan kekuasaan Tuhan akan bekerja kalau kita menyerah kepadaNya, menyerah dengan penuh ketawakalan, kepasrahan dan keiklasan, menyerah dengan kesabaran. Kehendak Tuhanpun jadilah! Itu satu-satunya kenyataan yang mutlak. Dalam kepasrahan lahir batin ini, kita akan menerima semua kenyataan hidup sebagai kehendak Tuhan, dan karenanya kita menghadapinya tanpa keluhan, tanpa celaan. Bukan berarti kita lalu acuh dan mandeg. Sama sekali tidak! Kita pergunakan semua alat tubuh luar dalam untuk berusaha! Tuhan yang akan memberi bimbingan dan tuntunan. Kalau sudah begini, apapun yang terjadi, tidak menimbulkan penasaran atau keluhan, apa lagi duka. Selain ingat dan waspada. Ingat kepada Tuhan dan kekuasaanNya yang mutlak, menyerah, dan waspada terhadap setiap gerak langkah kita dalam hidup, waspada terhadap pikiran kita, terhadap ucapan kita, terhadap perbuatan kita, seperti kewaspadaan seorang yang memegang kemudi kendaraan. Dan Tuhan Maha Kasih!

"Muridku, Han Siong. Engkau akan terjun ke dunia ramai.dan akan menghadapi segala macam pengalaman hidup. Ingatlah selalu bahwa hidup tidaklah seperti yang kita kehendaki. Hidup adalah hidup, merupakan kesatuan dari segala macam peristiwa. Diumpamakan rasa, maka hidup itu terdiri dari semua rasa, manis, ya pahit, masam, gurih, asin, pedas dan sebagainya lagi. Jangan engkau lalu menghendaki agar hidup ini manis lalu. Bagaimana mungkin engkau dapat menikmati rasa manis kalau belum merasakan pahit, getir, asin, pedas dan lain-lainnya itu? Karena itu bersiaplah engkau.
Jangan terkulai hanya oleh suatu peristiwa atau keadaan, karena apa yang terjadi, itu hanya sebagian kecil saja dari hidupmu! Bangkitlah dan senyumlah, terimalah segala peristiwa dengan tabah, jadikanlah segala pengalaman sebagai guru. Tuhan besertamu kalau engkau tabah dan selalu pasrah kepada kekuasaanNya!"

Entah mengapa. Ketika dia sedang merasa tertekan itu, merasa betapa dirinya, seolah-olah semakin tenggelam ke dalam! lautan duka, tiba-tiba saja bayangan gurunya yang terakhir, yaitu Ban Hok Lojin, seorang diantara Delapan Dewa, seperti tampak di depannya. Kakek yang bertelanjang dada itu, gendut seperti arca Jilaihud, dengan wajah yang selalu terseyum lebar, dan ucapan gurunya itu bergema di telinganya. Seketika bangkitlah semangat dan batin Han Siong. Dia merasa seperti disiram air dingin. Betapa bodohnya, membiarkan diri tenggelam ke dalam kedukaan yang hanya dibikinnya sendiri. Pikirannya berubah menjadi tangan kejam yang mencengkeram dan meremas-remas hati dan perasaannya sendiri. Dia bangkit. Wajahnya tersenyum, matanya yang tadinya sayu itu kini berkilat dan mencorong, dan pada saat itu, dia mendengar betapa perutnya berkeruyuk dengan nyaring!

"Ha-ha-ha!" Dia tertawa, tertawa bebas lepas seperti orang gila. "Ha-ha-ha, engkau tolol! Ha-ha, engkau tolol! Terima kasih, suhu, terima kasih!" Dia lalu menepuk-nepuk perutnya yang kempis. "Maafkan aku, perut. Aku sampai lupa kepadamu. Baiklah, mari kita mencari makanan untukmu!"

Han Siong melompat dan menuruni bukit itu. Akan tetapi tiba-tiba dia harus berhenti karena di depannya muncul lima orang dengan senjata pedang di tangan dan sikap mereka mengancam!

"Keparat, bersiaplah untuk menerima pembalasan kami!" bentak seorang di antara mereka. Tentu saja Han siong menjadi terbelalak kaget dan heran. Dia memandang penuh perhatian kepada mereka. Seorang pria setengah tua, yang bicara itu, berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi tegap, gagah dan wajahnya membayangkan kegagahan namun diliputi duka dan kemarahan. Pakaiannya sederhana, akan tetapi serba putih, demikian pula pakaian empat orang lainnya, pakaian berkabung! Orang kedua amat menarik perhatian. Ia seorang gadis yang usianya kurang lebih delapan belas tahun, wajahnya yang putih halus itu berbentuk bundar, cantik dan bersih, matanya jeli dan bibirnya tipis, rambutnya panjang dibiarkan berjuntai ke belakang dalam bentuk dua buah kuncir hitam tebal dan panjang sampai ke pinggul Gadis inipun memegang sebatang pedang. Tiga orang lainnya adalah pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun, ketiganya bersikap garang dan gagah, juga seperti orang pertama dan gadis itu, mereka berpakaian serba putih dan wajah mereka diliputi kedukaan dan kemarahan.

"Heii, nanti dulu!" teriaknya ketika mereka itu serentak sudah menyerangnya tanpa peringatan lebih dulu. Hal ini hanya menunjukkan bahwa mereka itu benar-benar sudah marah sekali kepadanya dan amat membencinya. Dan gerakan pedang merekapun ganas dan cepat, mengandung tenaga yang cukup kuat. Ilmu pedang yang sumbernya dari selatan, dikombinasikan dengan tendangan-tendangan menyusul tusukan atau sabetan pedang. Teriakannya tidak mendapat tanggapan dari mereka, bahkan lima orang itu menyerang dengan hebatnya. Terpaksa Han Siong menggerakkan tubuhnya, berloncatan ke sana sini dan melihat mereka terus mendesak, dia lalu memainkan Kwan Im Sin-kun (Silat Sakti Kwan Im) yang lemah lembut namun tubuhnya bagaikan sehelai kapas saja yang sukar untuk dibabat pedang karena selalu babatan atau tusukan itu luput. Tubuhnya menjadi demikian ringan, akan tetapi juga cepat sehingga sampai belasan jurus, serangan lima orang itu tak pernah mengenai sasaran.

"Heii, nanti dulu! Mari kita bicara dulu!" teriak Han Siong penasaran. Karena dia tidak mengenal mereka, tentu saja dia tidak mau membalas, khawatir dia akan melukai mereka dan hal ini tentu akan menambah kebencian mereka yang belum diketahui sebabnya. Ingin dia menggunakan ilmu sihir untuk menundukkan mereka, akan tetapi diapun khawatir kalau-kalau mereka akan merasa terhina dan tersinggung sehingga kembali hal itu akan menambah kebencian mereka kepadanya. Dia akan menggunakan lain usaha, yaitu memperkenalkan diri karena dia menduga bahwa tentu mereka itu keliru mengenal orang. Mereka bukan perampok, dan tidak nampak seperti orang-orang jahat.

Begitu mendapat kesempatan, tubuhnya tiba-tiba melayang naik ke atas pohon, mengejutkan lima orang pengeroyok itu yang tiba-tiba kehilangan lawan dan mereka semua kini memandang ke atas, ke arah pemuda itu yang telah berdiri di atas cabang pohon. Pandang mata mereka kagum akan tetapi juga penuh kebencian.

"Heii, apakah ngo-wi (kalian berlima) terlalu banyak minum arak dan mabok?

Aku Pek Han Siong selama hidupku baru sekali ini melihat ngo-wi, apalagi bermusuhan. Mengapa tiada hujan tiada angin ngo-wi menyerang aku demikian ganas dan kejam?"

Mendengar ini, lima orang itu saling pandang, dan pria setengah tua tadi berseru lantang, "Sobat, coba sekali lagi katakan. Siapa namamu?"

Han Siong tersenyum. Tahulah dia kini bahwa memang mereka itu keliru menyangka orang, atau keliru mengenal orang. "Namaku Pek Han Siong, dan selama hidupku, belum pernah aku bertemu dengan ngo-wi."

"Engkau , bukankah engkau Kim-lian Pangcu? Wajah dan bentuk tubuhmu
mirip sekali!" kata orang tua itu lagi.

"Ayah, kita baru melihatnya satu kali, itupun tidak jelas benar. Agaknya kita
telah salah mengenal orang!” kata gadis itu.

Han Siong kini tertawa. "Ha, ha, ha, paman yang baik. Orang macam aku ini mana bisa menjadi pangcu (ketua)? Apa lagi ketua perkumpulan Teratai Emas, bahkan Teratai Tembagapun tidak! Aku seorang perantau, tidak memiliki kedudukan apapun."

"Wahh…… kalau begitu maafkan kami, orang muda. Ih, kalian berempat ini mengapa tidak memberitahu? Aku sudah tua, mungkin pandanganku sudah kurang awas, akan tetapi kalian……. " omelnya kepada puterinya dan tiga orang itu.

Han Siong sudah melompat turun dan gayanya melompat membuat lima orang itu berseru kagum. Mereka seperti melihat seekor naga atau seekor garuda melayang turun dari atas pohon itu dan ketika kedua kakinya tiba di atas tanah, sama sekali tidak terdengar suara!

Kini lima orang itu, diawali oleh pria setengah tua, menyambut Han Siong dengan kedua tangan diangkat ke depan dada sebagai tanda penghormatan. Han Siong cepat membalas penghormatan mereka. Karena mereka kini tidak lagi memusuhinya, diapun tidak berani bicara main-main.

"Paman, seperti kukatakan tadi, aku Pek Han Siong sebelum saat ini belum pernah bertemu dengan ngo-wi. Apa sebabnya ngo-wi tiba-tiba menyerangku? Mohon penjelasan, paman, agar hatiku tidak tegang dan penasaran lagi."

Pria itu menengok ke kanan kiri, lalu berkata,"Disini daerah kekuasaan musuh, taihiap. Terlalu lama di sini kita bisa dikepung musuh. Marilah ikut dengan kami ke tempat tinggal kami, taihiap, dan di sana kami akan menceritakan semua dengan jelas."

Biarpun dia tersenyum dan merasa tidak enak disebut taihiap (pendekar besar), akan
tetapi Han Siong yang merasa penasaran dan ingin tahu itu mengangguk dan mengikuti mereka menyusup ke dalam hutan. Dia tertarik melihat ada tanda gambar seekor burung rajawali putih di atas baju mereka berlima, di dada kiri. Tentu mereka ini dari sebuah perkumpulan, pikirnya.

Akan tetapi kalau tadinya dia mengira akan diajak pergi ke sebuah rumah perkumpulan besar di sebuah kota terdekat, dia kecelik. Dia bukan di ajak ke kota, melainkan ke sebuah bukit dan mereka mengajaknya masuk ke dalam sebuah guha besar yang tersembunyi! Biarpun demi kesopanan dia diam saja, namun dalam hatinya timbul pertanyaan. Siapakah mereka ini dan perkumpulan apa yang memiliki tempat di sebuah guha tersembunyi? Mereka ini seperti orang-orang buruan saja, seperti pelarian!

Ternyata di dalam guha itu terdapat tikar bersih yang terhampar di atas lantai guha. Guha itupun cukup besar, cukup untuk menampung puluhan orang! Akan tetapi, sunyi saja di situ, tidak ada orang lain kecuali mereka berenam.

"Silakan duduk, taihiap. Maafkan tidak ada bangku atau kursi, terpaksa duduk di atas lantai."

"Tidak mengapa, paman…. " kata Han Siong dengan tenang, walaupun hati nya semakin tertarik karena keadaan mereka itu jelas tidak sewajarnya.

Setelah mereka duduk bersiJa di atas tikar, mulailah pria setengah tua itu bercerita. Dia bernama Ouw Lok Khi, ketua dari perkumpulan Pek-tiauw-pang (Perkumpulan Rajawali Putih). Dia sudah menduda, dan mempunyai seorang anak perempuan yaitu Ouw Ci Goat, gadis berusia delapan belas tahun yang wajahnya bulat putih dan manis itu. Perkumpulan Rajawali Putih mempunyal anak buah yang cukup banyak, ada empat puluh orang lebih dan perkumpulan ini selain mempelajari ilmu silat, juga membuka usaha pengawalan. Nama mereka cukup dikenal sebagai orang-orang yang menentang kejahatan dan mencari nafkah secara halal. Akan tetapi pada suatu hari, Ouw Lok Khi didatangi oleh seorang utusan dari Kim-lian-pang yang menuntut agar perkumpulan Pek-tiauw-pang mengakui kekuasaan Kim-lian-pang dan suka bekerja sama, membagi “rejeki”, yaitu membagi sebagian dari usaha perkumpulan itu kepada Kim-lian-pang sebagai semacam upeti atau pengakuan kekuasaan. Tentu saja Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi menolak dan menganggap permintaan itu keterlaluan. Perkumpulannya sudah berdiri selama belasan tahun, bagaimana mungkin sekarang harus mengakui kekuasaan sebuah perkumpulan yang baru saja muncul dan yang didirikan di Bukit Kim-lian-san, agak jauh dari kotanya, yaitu di Hok-lam?

Akibat penolakan itu, muncullah seorang pemuda yang mewakili ketua Kim-lian-pang menantang untuk mengadu kepandaian. Karena marah, Ouw Ci Goat menandingi pemuda dari Kim-lian-pang itu. Namun Ci Goat kalah jauh, bahkan ketika Ouw Lok Khi sendiri maju, diapun hanya mampu bertahan belasan jurus saja lalu roboh dan kalah. Setelah mengalahkan mereka ayah dan anak, utusan Kim-lian-pang itu kembali membujuk agar Ouw Pangcu suka taluk dan menyerah. Akan tetapi, ketua Pek-tiauw-pang ini tidak sudi menyerah. Juga puterinya dan semua anak buah Pek-tiauw-pang tidak sudi menyerah dan tidak sudi membagikan hasil kerja mereka kepada perkumpulan itu.



“Karena kami tetap menolak, beberapa kali Kim-lian-pang mengirim jago-jagonya untuk menyerang kami. Dan memang mereka memiliki banyak orang pandai, terutama sekali dua orang pembantu ketua, pemuda dan wanita iblis itu! Kami tetap melakukan perlawanan dan kami tidak mau menyerah biarpun mereka mengancam akan membunuh kami semua. Akhirnya, tujuh hari yang lalu, benar saja serombongan orang dari Hek-tok-pang, yaitu perkumpulan jahat yang sudah menjadi anak buah mereka, menyerbu asrama kami di tepi kota Hok-lam. Kami mengadakan perlawanan mati-matian, akan tetapi mereka mempergunakan racun dan habis binasalah anak buah Pek-tiauw-pang! Tinggal kami berlima yang hidup….. " Ketua Pek-tiauw-pang itu tidak menangis, akan tetapi jelas nampak betapa wajahnya penuh kedukaan dan penasaran. Juga Ci Goat tidak menangis, akan tetapi ia mengepal tinju.


"Kami akan melawan terus sampai mati!" kata gadis itu penuh semangat.


"Akan tetapi, mengapa tadi paman sekalian mengeroyok aku?" Han Siong bertanya.


"Ketika orang-orang Hek-tok-pang itu menyerbu, kami sempat melihat tiga orang pimpinan Kim-lian-pang. Mereka tidak ikut turun tangan, akan tetapi sempat ketuanya menawarkan perdamaian dengan kami. Akan tetapi kami untuk terakhir kalinya menolak dan diapun lalu mengerahkan orang-orang Hek-tok-pang itu. Ketuanya itulah yang mirip dengan taihiap. Kami memang sedang mengintai dan menanti saat baik kalau ada pemimpin mereka keluar, kami akan menyergap dan membunuhnya. Ketika taihiap muncul, kami mengira taihiap adalah ketua Kim-lian-pang yang bernama Sim Ki Liong itu."

“Siapa ….??', Han Siong bertanya, kaget mendengar nama itu.


"Namanya Sim Ki Liong!"


"Orangnya masih muda, sekitar dua puluh dua tahun?"


"Benar sekali, apakah….. taihiap sahabatnya…. ?" tanya Ci Goat dengan suara mengandung kekhawatiran. Han Siong menoleh dan dua pasang mata bertemu, bertaut dan gadis itu menundukkan mukanya. Jelas nampak kedua pipi yang putih halus itu kemerahan.

"Sama sekali tidak bersahabat, nona, bahkan pernah kami saling bermusuhan! Dia pernah membantu pemberontakan seorang datuk sesat terhadap pemerintah. Dia memang lihai sekali dan sayang bahwa ketika gerombolan itu diserbu, dia sempat melarikan diri. Dan siapakah dua orang pembantunya yang lihai itu?"


"Seorang pemuda yang amat lihai pula bernama Tang Cun Sek," kata Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi. Han Siong mengerutkan alis dan menggeleng kepala, tidak mengenal nama itu.


"Dan seorang wanita iblis, yaitu Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi…. " kata Ci Goat.


"Aih, kiranya siluman betina itu?" kembali Han Siong terkejut. "la dulu juga membantu gerombolan pemberontak, kiranya berhasil menyelamatkan diri. Ah, kalau mereka yang memimpin, tentu Kim-lian-pang merupakan perkumpulan yang kuat dan juga jahat!"


Mendengar bahwa pemuda perkasa ini pernah bermusuhan melawan dua orang di antara para pimpinan Kim-lian-pang, hati lima orang sisa anggota Pek-tiauw-pang yang sudah terbasmi hampir habis itu menjadi girang dan timbul kembali harapan mereka untuk dapat membalas dendam. Ouw Lok Khi langsung saja berlutut dan menghadap pemuda itu sambil berkata, "Pek Taihiap, mohon taihiap sudi menolong kami….”


Terkejut juga Han Siong melihat orang tua itu berlutut. Cepat dia memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya duduk kembali. “Pangcu, harap jangan begitu. Tanpa kauminta sekalipun, kalau aku melihat dua orang jahat itu merajalela, pasti aku akan menentang mereka."


"Aih, kalau taihiap sudi turun tangan, sudah pasti mereka akan dapat kita hancurkan. Mari kita menyerbu sarang mereka di puncak Kim-lian-san, Pek-taihiap!" kata pula ketua Pek-tiauw-pang itu penuh semangat, sedangkan puterinya dan tiga orang pembantunya juga mengangguk dan penuh semangat. Mereka berlima sudah siap untuk membalas dendam dengan taruhan nyawa mereka. Akan tetapi Han Siong tetap tenang dan menggerakkan tangan menyatakan tidak setuju.


“Pangcu, sungguh tidak bijaksana kalau kita menuruti hati yang mendendam saja. Dendam, kebencian menghilangkan kewaspadaan dan akhirnya bahkan menyeret kita ke dalam kehancuran. Seperti yang kauceritakan tadi, Kim-lian-pang kuat sekali, selain dipimpin tiga orang yang lihai, juga dibantu Hek-tok-pang dan memiliki pula anak buah yang banyak. Kita hanya enam orang ini mana mungkin mampu menandingi begitu banyak lawan? Belum lagi diingat bahwa sarang perkumpulan sejahat itu tentu penuh dengan jebakan dan perangkap rahasia."


"Aku tidak takut!" tiba-tiba Ci Goat berseru sambil mengepal tinju.



Han Siong tersenyum dan memandang kagum kepada gadis itu. "Kegagahanmu mengagumkan dan kuhargai, nona. Akan tetapi, dalam menghadapi lawan yang kuat dan besar jumlahnya, kita tidak mungkin hanya mengandalkan keberanian saja. Keberanian karena dendam membuat kita nekat dan tanpa perhitungan dan aku tidak ingin membiarkan kita semua mati konyol."


Ouw Lok Khi mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. “Sekarang baru aku melihat kebenaran ucapanmu, taihiap. Memang kami sudah menjadi gila oleh dendam sehingga kami tidak memperhitungkan bahaya dan kemungkinan kalah. Karena engkau berada di pihak kami, maka kami menyerahkan semua cara menghadapi musuh kepadamu."

Han Siong mengangguk dan menerima penyerahan pimpinan ini tanpa sungkan lagi karena dia tahu bahwa orang-orang yang sedang diamuk dendam kebencian itu bukan merupakan pimpinan yang baik. "Kalau kita hendak menentang gerombolan jahat yang lihai itu, setidaknya kita harus mempunyai jumlah pembantu yang cukup berani dan gagah, dan yang jumlahnya seimbang dengan jumlah mereka."


Halitumudah, taihiap. Banyak perkumpulan yang merasa sakit hati terhadap Kim-lian-pang, namun mereka itu tidak berani bergerak karena merasa tidak kuat menghadapi kekuatan Kim-lian-pang. Aku akan menghubungi mereka, di antaranya banyak terdapat sahabat baikku, dan akan kubujuk mereka agar suka bekerja sama. Beberapa buah perkumpulan persilatan tentu mau membantu. Menurut perkiraanku, jumlah anak buah Kim-lian-pang tidak melebihi seratus lima puluh orang dan kita akandapat mengumpulkan lebih banyak lagi.”


Han Siong mengerutkan alisnya. Banyak juga anak buah yang sudah dikumpulkan Sim Ki Liong, pikirnya. "Apakah tidak mungkin kita minta bantuan pasukan keamanan pemerintah?"

"Ah, itu sama saja dengan bunuh diri!" kata Ouw Lok Khi dengan muka muram. "Kalau kita melapor, kita malah akan ditangkap lebih dulu! Ketahuilah, taihiap, gerombolan Kim-lian-pang itu cerdik dan licik sekali. Mereka mendekati para pimpinan pemerintahan daerah dengan jalan menyuap dan menyogok, mengambil hati mereka, bahkan Kim-lian-pang menunjukkan jasanya dengan membasmi gerombolan penjahat. Kim-lian-pang sendiri tidak pernah melakukan kejahatan. Mereka hanya menundukkan semua perkumpulan dan memaksa para pimpinan perkumpulan untuk taluk dan membagi hasil rejeki. Mereka memungut pajak dari manapun yang menghasilkan banyak uang, dengan dalih menjaga keamanan mereka. Toko besar, perusahaan dan bahkan rumah-rumah penginapan. Tidak, kita tidak mungkin dapat mengharapkan bantuan pasukan keamanan yang tentu akan berpihak kepada mereka."


Han Siong mengerutkan alisnya. Kiranya Sim Ki Liong kini cerdik sekali, tidak mau mengulang kesalahan mendiang Lam-hai Giam-lo yang memberontak terhadap pemerintah. Kini Sim Ki Liong malah mendekati pemerintah atau mendekati pejabat korup yang suka disogoknya agar mereka berpihak kepadanya! Memang jalan satu-satunya untuk mengumpulkan tenagaatau pasukan adalah seperti yang diusulkan Ouw Pangcu tadi, yaitu mengumpulkan orang-orang yang mendendam kepada Kim-lian-pang.


"Baiklah, Ouw Pangcu. Engkau kumpulkan orang-orang yang mau kita ajak menyerbu Kim-lian-pang. Sesudah mereka siap, kita kepung puncak itu dan kauajukantantangan kepada Sim Ki Liong untuk mengadu kepandaian di lereng. Aku akan menghadapinya dan pada saat aku bertanding dengan para pimpinan itu maka kaukerahkan pasukan kita untuk menyerbu ke atas. Akan tetapi harus berhati-hati terhadap jebakan dan perangkap."

"Sebaiknya kita pergunakan api untuk memaksa mereka semua keluar sehingga kita tidak perlu harus menerjang jebakan dan perangkap berbahaya." kata Ouw Lok Khi yang kini sudah tenang, tidak lagi didesak dendam yang membuatnya nekat. Han Siong mengangguk girang.


"Tepat sekali siasatmu itu, pangcu. Nah, mari kita mulai bekerja. Aku akan mempersiapkan diri, karena engkau membutuhkan waktu untuk mengumpulkan tenaga bantuan, sebaliknya kalau aku menanti dalam rumah penginapan di kota terdekat." Han Siong bangkit berdiri.


Ketua Pek-tiauw-pang itupun cepat bangkit. "Taihiap, sebaiknya kalau taihiap tinggal bersama kami. Biarpun asrama kami di Hok-lam telah dihancurkan oleh Kim-lian-pang, namun kami dapat tinggal di rumah seorang murid kami ini." Dia menunjuk kepada seorang di antara tiga orang anggota Pek-tiauw-pang itu. "Dia memiliki rumah besar dan kita semua dapat tinggal untuk sementara di sana."


"Benar sekali, Pek-taihiap," kata pria berusia tiga puluh tahun itu. "Rumah kami cukup besar dan kami dapat menyediakan sebuah kamar untuk taihiap." orang itu bernama Thio Ki dan sikapnya ramah.


Karena merasa bahwa memang lebih baik kalau dia tidak berpisah dari lima orang itu, Han Siong menyetujui dan berangkatlah mereka meninggalkan gua dalam hutan itu, pergi ke kota Hok-lam. Akan tetapi mereka bersepakat bahwa gua yang tersembunyi itu akan dijadikan markas baru untuk kegiatan mereka melakukan penyerbuan terhadap Kim-lian-pang karena tempat itu baik sekali, merupakan gua dalam hutan di bukit yang tidak berjauhan dari Kim-lian-san.


***

Beberapa hari saja setelah dia tinggal di rumah Thio Ki, Han Siong merasa benar bahwa dia amat dihormati dan diperhatikan. Terutama sekali Ouw Ci Goat. Gadis itu sendiri yang melayaninya, mencucikan pakaiannya, membersihkan kamarnya. Perhatian gadis itu terhadap dirinya sungguh membuat dia merasa sungkandan malu. Berkali-kali dia melarang gadis itu mencucikan pakaiannya, namun Ci Goat memaksanya.



"Taihiap adalah tamu agung kami, bagaimana harus mencuci pakaian sendiri? Pula, aku seorang wanita, sudah selayaknya kalau mencucikan pakaian taihiap. Harap jangan sungkan, taihiap, bukankah kita telah bersahabat dan taihiap merupakan penolong kami?"

Bukan hanya perhatian dengan cara melayaninya saja, akan tetapi beberapa kali dia memergoki gadis itu memandangnya dengan pandang mata yang aneh, pandang mata yang sayu dan seperti orang terpesona, dan kalau tanpa djsengaja dia menengok sehingga mereka bertemu pandang, gadis itu tersipu dan menundukkan mukanya dengan cepat, akan tetapi dia masih sempat melihat sepasang pipi yang tadinya putih halus itu berubah kemerahan. Sungguh aneh sekali!


Dua hari kemudian, mereka hanya berdua saja di rumah itu. Ouw Lok Khi dan tiga orang muridnya juga anak buahnya, pergi untuk melanjutkan usahanya mengumpulkan baja bantuan. Thio Ki memang tinggal seorang diri di rumah itu. Ayah ibunya dan juga isterinya telah dia ungsikan ke dusunsemenjak dia terlibat permusuhan dengan Kim-lian-pang, dan semua pelayan disuruh pulang. Hanya Ci Goat yang ditinggal di rumah untuk melayani keperluan Han Siong yang mereka hormati.


"Taihiap, silakan makan pagi." Kata Ci Goat setelah ia mempersiapkan makan pagi di meja ruangan makan. "Ayah dan tiga orang suheng sejak pagi sekali tadi telah pergi berkunjung ke Ki-lam untuk mengumpulkan teman. Silakan taihiap makan sendiri."


"Ah, mari kita makan bersama, nona. Engkaupun belum makan pagi bukan?”


"Harap jangan sebut aku nona, tidak enak rasanya….seolah kita ini saling merasa asing…..”

"Tapi engkaupun menyebut taihiap padaku, nona."


"Engkau memang seorang pendekar sakti, pantas disebut taihiap. Akan tetapi aku…. ah, sebut saja namaku. Namaku Ci Goat."


“Aku mau menyebutmu adik Ci Goat kalau engkau juga mau merubah sebutan kepadaku. Panggil saja aku toako (kakak)."


Gadis itu tersenyum dan kembali kedua pipinya berubah merah. "Baiklah….., toako." katanya sambil menunduk. "Silakan makan pagi, toako."


"Kita hanya berdua saja di rumah ini, apa salahnya kalau kita makan bersama, Goat-moi (adik Goat)? Hayolah, bukankah engkau sendiri bilang bahwa kita ini bukan orang asing?"

Biarpun masih tersipu, akhirnya Ci Goat mau juga diajak makan bersama. Setelah duduk berhadapan dekat, hanya terhalang meja makan, barulah Han Siong mendapat kenyataan bahwa gadis ini biarpun sederhana sekali, wajahnya tanpa bedak dan gincu, namun wajah itu sungguh bersih dan manis. Juga sikapnya amat sederhana, tidak banyak cakap, jarang tertawa, bahkan wajahnya diliputi awan duka. Akan tetapi mulut itu selalu membayangkan senyum ramah, senyum di kulum yang membuat wajahnya nampak manis selalu. Juga ketika ia bicara dan Han Siong memperhatikannya, gadis itu memiliki gigi yang berderet rapi dan putih bersih.

"Goat-moi, setelah kita sekarang menjadi sahabat yang akrab, kiranya sudah sepantasnya kalau aku mendengar lebih banyak tentang dirimu dan ayahmu. Maukah engkau menceritakan riwayat dan keadaanmu sampai engkau kehilangan tempat tinggal seperti sekarang ini?" tanya Han Siong ketika mereka sudah selesai makan dan dia membantu gadis itu membersihkan meja, menyingkirkan sisa makanan dan mencuci mangkok.

Gadis itu menarik napas panjang. "Tidak banyak yang dapat kuceritakan, twako, dan yang dapat diceritakan hanya Soal-soal yang menyedihkan saja.Aku kehilangan ibuku ketika berusia kurang dari sepuluh tahun. Sejak itu aku hidup berdua dengan ayah dan para suheng, dan aku dididik oleh ayah, mempelajari ilmu silat dan ilmu baca tulis sekedarnya. Setelah remaja, aku membantu pekerjaan ayah, kadang-kadang aku membantu pengawalan kiriman barang bersama para suheng. Semua terjadinya malapetaka yang disebabkan oleh Kim-Iian-pang itu. Hampir semua anggota perkumpulan kami binasa, hanya tinggal kami berlima. Juga dalam perkelahian itu aku telah kehilangan….. calon suamiku…. "


Ahhh…. ! Sungguh menyedihkan! Kasihan sekali engkau, Goat-moi!" kata Han Siong, terkejut dan juga ikut bersedih.


Gadis itu menarik napas panjang. "Jangan engkau salah duga, twako. Kematiannya bagiku tiada bedanya dengan kesedihan melihat para suheng lain yang juga tewas. Tunanganku itu juga seorang suhengku, murid dari ayah. Terus terang saja, perjodohan itu atas kehendak ayah dan bagiku, dia itu seperti para suheng yang lain. Aku bahkan selalu termenung dan sukar membayangkan dia menjadi suamiku kelak. Sudahlah,dia sudah tidak ada dan semoga dia mendapatkan tempat yang penuh damai."


Han Siong tidak berani banyak bicara lagi, takut kalau mengusik kenangan yang menyedihkan. Akan tetapi dia maklum bahwa gadis ini tidak mencinta tunangannya yang tewas itu, dan kalau ia mau dijodohkan dengannya, hal itu hanya karena ia mentaati perintah ayahnya saja. Diam-diam dia menaruh hati iba kepada gadis yang manis ini, yang telah begitu percaya kepadanya sehingga menceritakan semua tentang dirinya.

"Toako, sekarang tiba giliranmu. Akupun ingin sekali mendengar riwayatmu, tentu hebat. Maukah engkau menceritakan kepadaku, toako?" tanya gadis itu dan mereka kini duduk di belakang rumah, di atas bangku dalam taman yang bermandikan cahaya matahari pagi.



"Tidak ada yang menarik, Goat-moi. Ayahku juga seorang pangcu, ketua dari Pek-sim-pang di daerah Kong-goan, amat jauh dari sini, jauh di barat sana. Sejak kecil aku mempelajari ilmu silat, dan sekarang ini aku sedang melakukan perjalanan untuk meluaskan pengalaman dan memperbanyak pengetahllan. Kebetulan saja aku lewat di sini dan bertemu dengan kalian berlima." Han Siong memang tidak suka banyak bercerita tentang dirinya, dan agaknya hal ini terasa pula oleh Ci Goat, maka gadis itupun tidak mendesak. Hanya ada satu hal yang agaknya sejak tadi mengganjal di hati Ci Goat, dan kini dengan memberanikan diri, dengan kedua pipi berubah kemerahan ketika ia menatap wajah pemuda itu, ia berkata,


"Toako, kurasa usiamu jauh lebih tua daripada aku yang berusia delapan belas tahun." Jelas bahwa ucapan ini memancing keinginan tahunya tentang usia pemuda itu.


Han Siong tersenyum. "Tentu saja aku jauh lebih tua, adik Goat. Aku sudah berusia dua puluh dua, hampir dua puluh tiga tahun."


"Ah, kalau begitu tentu engkau sudah berkeluarga, taako." kata gadis itu, cepat dan sambil lalu, seolah acuh.


Mendengar pertanyaan ini, Han Siang merasa betapa hatinya tertusuk karena dia teringat kepada Siangkaan Bi Lian, gadis yang dicintanya dan yang telah menolaknya! Ci Goat, telah, berterus terang kepadanya, diapun sudah sepantasnya berterus terang, sekalian memperoleh kesempatan untuk menyalurkan rasa penasaran dan kekecewaannya. "Seperti juga engkau, tadinya aku sudah ditunangkan oleh guru-guruku, akan tetapi pertunangan itu gagal………”


Gadis itu terbelalak, memandang dengan matanya yang jeli, dan bayangan senyum menghilang dari ujung bibirnya. “ Ia….ia Juga…. Mati….?”


Han Siang menggeleng kepala dan menghela napas. "Ia menolak untuk berjodoh denganku."

"Ahhh…. !" Gadis itu mengeluarkan suara keluhan lirih, "tak mungkin ...tak mungkin…..”


Han Siong mengangkat muka, memandang dengan sinar mata heran. "Apanya yang tidak mungkin, Goat-moi?"


"Bagaimana mungkin seorang gadis menolak engkau untuk menjadi jodohnya…. !" Tiba-tiba gadis itu berhenti bicara dan menundukkan mukanya yang kemerahan, karena ia merasa betapa ia telah kelepasan bicara, begitu saja mengeluarkan suara hati melalui mulutnya.

Han Siong tersenyum pahit, lalu diapun meninggalkan gadis itu, menuju ke kamarnya. Malam itu Han Siong tak dapat tidur, gelisah. Percakapan dengan Ci Goat tadi membongkar kenangan lama, membuat wajah Bi Lian selalu terbayang di depan mata, mendatangkan rasa rindu yang hebat. Ketika Ci Goat menawarkan makan malam, dia mengatakan bahwa dia tidak lapar dan minta kepada gadis itu untuk makan malam sendiri. "Taruh saja di atas meja, nanti kalau aku lapar, aku akan mengambilnya sendiri, Goat-moi." katanya dengan lesu.


Agaknya Ci Goat juga melihat sikap pemuda yang lesu itu, maka iapun tidak berani lagi mengganggunya. Tadi ketika makan siangpun pemuda itu hanya makan sedikit dan tidak banyak bicara.


Malam telah larut. Han Siong masih rebah termenung, tidak dapat pulas. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara di belakang rumah. Dia menjadi curiga dan cepat dia turun dari pembaringan, mengenakan sepatunya dan berindap keluar dari kamarnya, cepat menuju ke belakang rumah. Kiranya yang menimbulkan suara itu adalah Ci Goat! Gadis itu keluar dari rumah menuju kekebun di belakang, membawa buntalan.

Han Siong menahan diri tidak menegur, hanya membayangi dengan perasaan heran Apa yang akan dilakukan gadis itu pada malam hari begini?


Ci Goat berhenti di dekat bangku panjang di mana pagi tadi mereka duduk bercakap-cakap, lalu ia meletakkan buntalan di atas bangku dan membukanya. Kiranya buntalan itu terisi alat-alat untuk bersembahyang, seperti hio-swa (dupa biting) dan lain-lain. Dan gadis itu lalu meletakkan semua persiapan sembahyang ke atas bangku, menyalakan hio dan bersembahyang! Dan gadis itu mengucapkan kata-kata permohonan dengan suara bisik-bisik, merasa yakin bahwa tidak mungkin ada orang yang akan mendengar suaranya yang lirih. Kebun itu sunyi dan kosong, dan andaikata ada orang didekatnyapun tidak akan dapat menangkap kata-kata doa yang diucapkan sambil berbisik. Ia salah perhitungan! Orang biasa mungkin tidak dapat menangkap kata-kata bisikan itu, namun pendengaran Han Siong lain daripada orang biasa. Biarpun jarak antara dia yang berada di balik batang pohon tidak terlalu dekat dengan gadis itu, namun di tempat yang sunyi itu, dia mampu menangkap kata-kata doa gadis itu dengan jelas! Dan gadis itu berdoa untuk dia! Gadis Itu bersembahyang untuk dia. Antara lain yang didengarnya adalah kata-kata yang membuatnya terharu sekali.


" …..ya Tuhan, Tuhan dari Bumi dan Langit, dengarlah permohonan saya ini. Kalau sampai terjadi perkelahian dengan Kim-lian-pang, lindungilah toako Pek Han Siong, berilah kemenangan padanya atau andaikata dia kalahpun, lindungilah dia. Jangan sampai aku kehilangan dia pula, ya Tuhan, karena dialah satu-satunya orang yang menjadi tumpuan harapanku, dialah satu-satunya orang yang kucinta dengan seluruh jiwa ragaku….. "


Han Siong tidak dapat mendengarkan terus. Dia sudah berkelebat pergi, jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas. Gadis itu jatuh cinta padanya! Sampai di dalam kamarnya, kembali dia termenung. Sekali ini bukan membayangkan wajah Bi Lian. Yang terbayang adalah wajah Ci Goat, gadis yang bersembahyang untuk keselamatannya, gadis yang takut kehilangan dia, yang mencintanya dengan jiwa raganya!



Pada keesokan harinya, dia bersikap biasa, akan tetapi sekarang baru dia mengerti akan pandang mata gadis itu yang tadinya dianggap aneh. Pandang mata gadis itu ternyata penuh dengan sinar kagum dan cinta! Hal ini membuat dia merasa rikuh sekali, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan merasa semakin kasihan kepada gadis itu. Kalau saja Ci Goat tahu bahwa hatinya telah melekat kepada bayangan Bi Lian dan bahwa tidak mungkin ada gadis lain di dunia ini dapat menjatuhkan cinta hatinya! Dia hanya mencinta Bi Lian seorang, dan andaikata dia dapat mencinta gadis lain, tentu tidak seperti cintanya kepada Bi Lian.


Dalam waktu sepekan, siaplah sudah pasukan yang dikumpulkan oleh Ouw Pangcu. Mereka itu adalah orang-orang gagah dari beberapa perkumpulan silat yang pernah menerima penghinaan dari Kim-lian-pang. Jumlah mereka tidak kurang dari dua ratus orang! Dan tentu saja mereka yang bersedia membantu adalah para anggota perkumpulan silat yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, dipimpin oleh ketua atau guru masing-masing. Tentu saja para pimpinan inipun lihai, setingkat dengan ilmu kepandaian Ouw Pangcu dan jumlah mereka ada enam orang.


Enam orang ini dipertemukan dengan Han Siong dan mereka semua merasa kagum kepada pemuda itu ketika mereka mendengar betapa Han Siong adalah seorang diantara para pendekar yang pernah membasmi gerombolan pemberontak yang dipimpin mendiang Lam-hai Giam-lo. Mereka mengadakan perundingan dan menyusun siasat.

Pada hari yang ditentukan, Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi berdiri di lereng Bukit Kim-Jian-san dekat puncak, dan beberapa orang anak buahnya melepas anak panah berapi ke arah puncak, setelah beberapa kali melepas panah berapi yang diantaranya ada yang membakar daun-daun kering dekat puncak, Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi lalu mengeluarkan teriakan nyaring sambil mengerahkan tenaga khikang.


"Haiii, para pimpinan Klm-Jian-pang! Kalau kalian memang gagah perkasa, turunlah dari puncak dan mari kita bertanding sampai seribu jurus!"

Sampai tiga kali dia mengulang teriak annya itu, kemudian dia bersama semua pasukan yang telah siap di tempat itu, bersembunyi. Hanya Han Siong seorang yang menanti di lapangan rumput di lereng bukit itu, dengan sikap waspada dan hati-hati.


Tak lama kemudian, nampak bayangan orang berkelebat dari atas dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pria muda yang tampan dan gagah. Tadinya Han Siong mengira bahwa ketua Kim-lian-pang, yaitu Sim Ki Liong yang muncul sendiri. Akan tetapi setelah dia memperhatikan, yang muncul itu adalah seorang pria muda berusia kira-kira tiga puluh tahun yang tidak dikenalnya. Pria ini tinggi besar, wajahnya berkulit putih dan tampan gagah, matanya mencorong aneh. Pria ini bertangan kosong, namun sikapnya yang tenang itu, tanpa senjata, dan pemunculannya yang tiba-tiba bagaikan setan, sudah menunjukkan bahwa dia seorang lawan yang tangguh.


Pria itu bukan lain adalah Tang Cun Sek. Para pimpinan Kim-lian-pang marah bukan main melihat serangan anak panah berapi itu. Walaupun anak panah yang diluncurkan itu tidak sampai mencapai puncak dan tidak mengenai perumahan Kim-lian-pang, namun cukup mengejutkan,


apalagi ada beberapa batang anak panah berapi yang sempat mengakibatkan kebakaran ketika mengenai daun-daun kering di atas tanah. Anak buah Kim-lian-pang terpaksa harus cepat-cepat memadamkan kebakaran itu sebelum menjalar dan membakar hutan di dekat puncak. Ketika mereka mendengar tantangan yang diteriakkan Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi, Tang Cun Sek segera berkata kepada Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi bahwa dia akan menghadapi ketua Pek-tiauw-pang itu.


"Hemm, aku yakin dia tidak datang sendirian. Tentu banyak kawannya, dan tentu dia membentuk pasukan yang kuat. Kalau tidak, mana dia berani bersikap seperti itu?" kata Ji Sun Bi yang berhati-hati.


"Akupun menduga demikian,” kata Sim Ki Liong. "Tang-toako, engkau keluarlah dan sambut tantangan itu, kami mengikuti dari belakang dan aku akan mempersiapkan anak buah lebih dulu untuk bertahan kalau-kalau mereka berani menyerang ke atas dan kita harus dapat membasmi mereka."


Tan Cun Sek menyanggupi lalu diapun berlari turun dari puncak. Ketika dia melihat seorang pemuda berdiri seorang diri di lapangan rumput itu, diapun cepat menghampiri dan mereka kini sudah berdiri saling berhadapan dan saling pandang dalam jarak kurang lebih empat meter saja. Bagaikan dua ekor ayam aduan, mereka itu saling pandang dengan sinar mata penuh selidik, seperti hendak menyelidiki keadaan lawan masing-masing. Watak Cun Sek yang tinggi hati membuat dia belum apa-apa sudah memandang rendah kepada calon lawan itu.


"Mana dia ketua Pek-tiauw-pang yang berteriak menantang tadi?" tanyanya. "Kenapa dia bersembunyi dan siapakah engkau?"


Han Siong tersenyum. "Memang akulah yang mewakilinya untuk menghadapi para pimpinan Kim-lian-pang. Di mana adanya ketua Kim-lian-pang? Biarkan dia turun sendiri untuk menandingiku."


"Keparat, engkau hanya datang mengantar nyawa. Tidak perlu Kim-lian Pangcu yang maju sendiri, sudah cukup aku untuk menghajarmu, kalau perlu membunuhmu!" kata Tang Cun Sek sambil melangkah maju.


"Sayang, sungguh sayang, seorang muda yang gagah seperti engkau, ternyata hanya menjadi kaki tangan iblis-iblis seperti Sim Ki Liong dan J i Sun Bi. Engkau tentu yang bernama Tang Cun Sek, bukan? Hemm, apa saja yang kau dapat dari mereka? Janji muluk, harta dan juga kecabulan Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi itu, bukan?"



Mendengar ucapan ini, seketika wajah Cun Sek menjadi merah sekali. Ucapan itu memang tepat menelanjanginya, maka dapat dibayangkan betapa rasa malu membuat dia marah bukan main.


"Tutup mulutmu, keparat busuk!" Bentaknya dan dia sudah menerjang dengan dahsyat. Kedua tangannya bergerak cepat dan kuat sekali, mendatangkan tenaga yang amat hebat karena dia sudah mengerahkan tenaga dan mainkan ilmu silat Thian-te Sin-ciang yang merupakan satu di antara ilmu-ilmu yang ampuh dari Cjn-ling-pai.


Menghadapl serangan yang dahsyat jni, tentu saja Han Sjong tidak berani memandang ringan. Dari angin pukulan itu saja diapun maklum bahwa benar seperti telah diduganya, lawan ini bukan lawan yang ringan. Diapun cepat mengelak. Akan tetapi, gerakan Cun Sek memang cepat sekali, karena begitu pukulannya luput, tubuhnya sudah membalik dan kembali dia sudah melakukan serangan yang sambung menyambung.


Han Siong berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan serangan-serangan itu sambil memperhatikan gerakan lawan. Diam-djam diapun terkejut dan heran. Jelas bahwa pemuda ini menjadi pembantu dua orang muda yang amat jahat, dan sepantasnyalah kalau pemuda ini juga seorang tokoh sesat. Akan tetapi mengapa gerakan silatnya demikian bersih? Bahkan ilmu silatnya sendiri jauh kalah bersih dibandingkan ilmu silat yang dimainkan penyerangnya itu. Dia menerima ilmu-ilmunya dari suhu dan subonya, dan memang kedua orang gurunya itu pernah membuat pengakuan bahwa mereka adalah keturunan datuk-datuk sesat sehingga ilmu merekapun tidak bersih. "Betapapun juga, yang menentukan bersih kotornya suatu ilmu adalah pemikainya," demikian suhunya pernah berkata. "Sudah menjadi kewajibanmu untuk membuat ilmu-ilmu silat kita menjadi ilmu yang bersih, dengan menghilangkan sifat-sifat yang curang dan licik, menghilangkan penggunaan hawa beracun, dan terutama sekali, mempergunakannya untuk menentang kejahatan dan membela keadilan dan kebenaran!" dan selama ini, dia mentaati pesan gurunya itu, bahkan setelah dia menerima gemblengan dari Ban Hok Lojin, maka ilmu-ilmu dari guru nya dapat disempurnakan dan dibersihkan.


Setelah mempelajari gerakan lawan sampai belasan jurus, barulah Han Siong membalas dan mengingat akan kelihaian lawan, diapun langsung saja memainkan ilmu silat Pek-hong Sin-ciang yang didapatkannya dari Ban Hok Lojin. Begitu dia memainkan ilmu silat ini, maka terkejutlah Cun Sek. Angin menyambar-nyambar bagaikan badai, dan ketika lengannya bertemu dengan lengan lawan, dia terdorong sampai terhuyung ke belakang!


Karena terkejut, setelah berdiri tegak. kembali, dia tidak segera menyerang lagi, melainkan memandang dengan mata mendelik, penuh rasa penasaran dan marah karena malu.


“Singgg…..!” Ketika tangan kanannya meraba pinggang, tiba-tiba berkelebat sinar emas dan pedang pusaka Hong-cu-ciam telah berada di tangan kanannya.


“Keparat!” Dia membentak sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah Han siong. "sebelum kubunuh engkau, katakanlah siapa namamu agar jangan engkau mati tanpa nama!"

Han siong tersenyum. Pemuda bernama Tang Cun sek ini bukanlah orang yang dicarinya. Yang ingin dilawannya adalah sim Ki Liong, akan tetapi bagaimanapun juga, pemuda di depannya ini merupakan seorang pembantu yang amat lihai dari sim Ki Liong. Bahkan mungkin tidak kalah dibandingkan dengan Ji Sun Bi. Maka harus ditundukkan, apalagi pedang yang berada di tangannya itu jelas bukan pedang biasa, melainkan sebatang pedang pusaka yang ampuh. Dari sinarnya saja dia sudah tahu bahwa pedang tipis yang tadi menjadi sabuk itu amat berbahaya. Padahal, dia sendiri sudah tidak memiliki pedang, karena pedang pusaka Kwan-im Po-kiam pemberian gurunya yang juga menjadi tanda ikatan jodoh telah dia kembalikan kepada suhu dan subonya. Biarlah, dia ingin menguji dulu sampai di mana kelihaian lawannya itu.


“Hemm, namaku Pek Han Siong, kawan. Lebih ku sayangkan lagi bahwa pedang pusaka sebaik itu akan kaupergunakan untuk kejahatan!”


Cun Sek belum pernah nama Pek Han Siong, maka nama itu tidak ada artinya apapun baginya. Juga dia melihat lawannya itu masih belum mengeluarkan senjata. Sebagai seorang yang amat menghargai diri sendiri, Cun Sek merasa penasaran sekali. Dia tentu saja tidak mau di anggap pengecut menyerang orang tanpa senjata dengan pedang pusakanya, maka dia menantang.


"Pek Han Siong, tidak perlu banyak cakap. Keluarkan senjatamu!"


Han Siong menggeleng kepalanya. "Aku tidak memegang senjata, dan kalau engkau mengira aku takut menghadapi pedangmu, engkau keliru. Aku akan melawan pedangmu dengan tangan kosong."


"Manusia sombong, jangan salahkan aku kalau tubuhmu akan terbabat menjadi beberapa potong. Lihat pedang!" Terdengar suara berdesing dan nampak sinar emas menyambar ke arah lehernya. Han Siong kagum sekali. Pedang itu merupakan pusaka ampuh, akan tetapi juga digerakkan oleh tangan ahli. Dia cepat mempergunakan ginkangnya untuk meloncat dan mengelak. Namun, pedang itu bergerak terus dengan amat cepatnya sehingga Han Siong terpaksa harus berloncatan ke sana-sini. Dia semakin kagum. Tentu saja ilmu pedang lawan itu hebat karena Cun Sek memainkan ilmu pedang dari Cin-ling-pai yang mengandung unsur iimu pedang Siang-bhok-kiamsut yang amat tinggi tingkatnya.. Walaupun dia tidak menguasai sepenuhnya Siang-bhok-kiamsut, namun cukuplah untuk membuat dia menjadi seorang ahli pedang yang amat lihai.

Namun, sekali ini Cun Sek berhadapan dengan seorang lawan yang memiliki tingkat lebih tinggi dalam ilmu silat. Han Siong masih lebih pandai, baik dalam ilmu silat maupun lebih kuat dalam ilmu sin-kang dan gin-kang. Maka, biarpun Cun Sek menyerangnya bertubi-tubi, tubuh Han Siong berkelebatan dan selalu terhindar dari sambaran pedang, bahkan kini Han Siong mulai membalas dengan serangan , yang tidak kalah ampuhnya, walau hanya mempergunakan tangan dan kaki. Dengan Pek-hong Sin-ciang, Han Siong bahkan beberapa kali membuat Cun Sek terdesak dan terhuyung. Bahkan pernah pedang pusaka Hong-cu-kiam di tangannya hampir terlepas ketika lengan kanannya terkena tendangan kaki Han Siong. Kini Cun Sek mulai terdesak.



"Haiiitttt...... !" Cun Sek yang menjadi penasaran sekali, dengan nekat memutar tubuh setelah tadi menghindarkan diri dari tendangan kaki kiri Han Siong, lalu sambil berputar, pedangnya menusuk ke arah perut lawan.


"Hemmm..... huhhh!!" Han Siong membentak dan tangan kirinya mendorong dari samping. Dengan tangan kosong, dengan telapak tangannya, Han Siong mendorong pedang yang luar biasa tajamnya itu.

"Plak!" Pedang itu terpukul menyerong dan pada saat itu, tangan kanan Han Siong sudah menampar ke arah kepala lawan. Cun Sek terkejut bukan main. Telapak tangan lawan itu mampu menangkis pedangnya, dan kini tiba-tiba ada angin menyambar ke arah kepalanya. Dia miringkan tubuh dan menarik kepalanya ke belakang. !


"Plakk!" Pundaknya terkena srempetan telapak tangan Han Siong dan Cun Sek terpelanting. Dia terkejut, lalu bergulingan menjauh sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. Ketika dia meloncat bangun, ternyata lawannya tidak mengejar, melainkan berdiri tegak sambil memandang kepadanya dengan senyum. Mulailah Cun Sek merasa jerih karena dia maklum bahwa dia menghadapi lawan yang memiliki ilmu kesaktian. Pada saat itu nampak bayangan berkelebat dan ternyata Sim Ki Liong sudah berdiri di situ.

Sim Ki Liong dan Pek Han Siong berdiri saling pandang dengan sinar mata mencorong. Mereka memang sebaya dan bentuk tubuh mereka juga sama. Keduanya sama tampan, hanya sikap Ki Liong lebih halus, kehalusan yang menyembunyikan keliaran yang terkendali, dan mata Ki Liong kadang-kadang mencorong aneh dan kejam, sedangkan Han Siong sebaliknya selalu bersikap tenang sekali.


Ki Liong segera mengenal Han Siong dan diapun mengangguk-angguk.


"Hemm, kiranya engkau yang datang membikin ribut. Pek Han Siong, ternyata sekarang engkau telah menjadi jagoan yang mewakili Pek-tiauw-pang. Berapakah dia membayarmu? Apakah dibayar dengan puterinya yang cantik itu?"


Kalau orang lain yang menerima ejekan dan penghinaan ini, tentu akan menjadi marah. Namun, Han Siong adalah Seorang pemuda gemblengan. Dia hanya tersenyum dan menjawab dengan halus pula.


"Sim Ki Liong, engkau tahu siapa engkau dan siapa aku. Setelah gagal membantu pemberontakan mendiang Lam-hai Giam-lo dan engkau beruntung dapat melo1oskan diri, kini engkau melakukan kejahatan baru dengan menguasai semua perkumpulan yang kauperas, mempengaruhi para pejabat daerah dan bersekutu dengan orang-orang jahat. Engkau melakukan pembunuhan semena-mena. Dan engkau tahu bahwa aku selalu, sejak menentang Lam-hai Giam-lo sampai sekarang, selalu akan menentang segala macam bentuk kejahatan! Aku bukan sekedar wakil Pek-tiauw-pang, melainkan wakil seluruh masyarakat yang menderita karena kejahatanmu. Aku sudah mendengar bahwa engkau bersekutu dengan Tok-sim Mo-li. Di mana ia sekarang? Mengapa tidak keluar sekalian?" Berkata demikian, Han Siong menendang sebuah batu sebesar kepalan tangan yang berada di depan kakinya. Batu itu meluncur ke arah semak-semak dan tiba-tiba saja batu itu tertangkis dan runtuh. Dari balik semak-semak muncullah Tok-sim Mo-li Ji Sun bi, diikuti oleh tiga orang pria berusia lima puluh tahun lebih yang kesemuanya berjubah pendeta, dengan rambut panjang digelung ke atas seperti tosu (pendeta Agama To).


Melihat munculnya wanita cantik ini, senyum di bibir Han Siong melebar. "Nah, sekarang baru lengkap, semua biang keladi kekacauan telah berkumpul di sini!" Ucapan ini dikeluarkan agak keras karena memang merupakan isarat bagi Ouw Pangcu dan kawan-kawannya untuk mulai dengan penyerbuan mereka ke puncak Kim-lian-san.


"Pek Han Siong, selamat berjumpa dan selamat jalan ke neraka!" kata Ji Sun Bi sambil mencabut sepasang pedangnya. "Sekaranglah saatnya kami membalas dendam atas kekalahan kami dahulu!"

Sim Ki Liong yang sudah maklum akan kelihaian Pek Han Siong, tidak malu-malu lagi untuk mencabut pula senjatanya, yaitu Gin-hwa-kiam yang berkilauan seperti perak.

Melihat betapa tiga orang muda yang jahat dan lihai itu sudah mencabut senjata masing-masing, dan dia tahu bahwa seperti juga Cun Sek, Ki Liong memegang sebatang pedang pusaka ampuh, Han Siong lalu mengerahkan tenaga saktinya sepasang matanya memancarkan cahaya aneh dan suaranya terdengar melengking tinggi penuh wibawa ketika dia berkata “Kalian bertiga hendak mengeroyokku? Baik, akupun siap untuk melayani kalian satu lawan satu. Lihat, aku telah menjadi tiga orang seperti kalian!"

Tiga orang muda itu terbelalak, terkejut bukan main melihat betapa tubuh Han Siong itu terpecah menjadi tiga dan kini di depan mereka berdiri tiga orang Pek Han Siong! Ji Slin Bi maklum akan kekuatan sihir yang dipergunakan Han Siong dan memang ia sudah siap untuk menghadapi kemungkinan itu, maka ia cepat berseru sambil menoleh ke belakang.

"Sam-wi Su-siok (Paman Guru Bertiga), tolong bantulah kami!" Ji Sun Bi adalah murid mendiang Min-san Mo-ko, seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw yang selain pandai ilmu silat, juga pandai ilmu sihir. Ji Sun Bi sendiri tidak mempelajari ilmu sihir selengkapnya, hanya ilmu guna-guna untuk menjatuhkan hati pria saja. Akan tetapi, karena gurunya, ia mempunyai hubungan dengan Pek-lian-kauw. Ketika Ki Liong menjadi ketua Kim-lian-pang dan ia menjadi pembantu utama dan wakil ketua, maka dalam usaha mereka untuk memperkuat Kim-lian-pang, Ji Sun Bi menemui beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw dan berhasil membujuk tiga orang pendeta Pek-lian-kauw yang terhitung sute (adik seperguruan) mendiang Min-san Mo-ko, untuk membantu Kim-lian-pang. Tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu menyanggupi dan mereka berada di sana untuk membantu gerakan gerakan Kim-lian-pang yang mendatangkan untung besar itu. ketika Han Siong muncul, kebetulan mereka berada di puncak sehingga mereka dapat ikut pula turun menghadapi lawan.


“Jangan khawatir!” terdengar seorang diantara mereka berseru ketika Ji Sun Bi minta bantuan. Mereka pun tadi melihat betapa pemuda itu mempergunakan sihir yang amat kuat sehingga mereka sendiripun terpengaruh dan mereka melihat betapa tubuh pemuda Itu berobah menjadi tiga.



Mereka bertiga itu maklum bahwa kekuatan sihir pemuda itu memang hebat. Tanpa menggabungkan kekuatan, mereka tidak akan mampu menandinginya, maka mereka lalu duduk bersila, bergandeng tangan dan mengerahkan kekuatan mereka. Seorang di antara mereka, yang berada di sudut kki, segera mengeluarkan kata-kata yang juga melengking tinggi berwibawa.


"Pemuda itu hanya seorang! Yang dua hanya bayangan dan kami perintahkan agar dua bayangan itu lenyap!" Mereka lalu mengeluarkan suara mengaung-ngaung seperti suara anjing meratapi bulan ditengah malam, suara yang menyeramkan dan mengeluarkan getaran kuat.


Ki Liong, Cun Sek dan Sun Bi memandang kepada Han Siong dan benar saja, dua di antara tubuh Han Siong itu perlahan-lahan lenyap, tinggal seorang lagi saja. Akan tetapi, mendadak menjadi tiga lagi, lalu yang dua lenyap lagi. Tahulah mereka bahwa telah terjadi pertempuran kekuatan sihir antara Han Siong dan tiga orang tosu Pek-lian-kauw.

Han Siong sendiri sebetulnya mampu menandingi kekuatan sihir tiga orang Pek-lian-kauw itu. Akan tetapi, suara mereka sungguh amat mengganggunya dan kalau dilanjutkan, dalam keadaan adu tenaga sihir itu lalu dia dikeroyok tiga, keadaannya berbahaya juga. Oleh karena itu, ketika tiga orang itu mulai menggerakkan pedang, diapun menyimpan kekuatan sihirnya dan dirinya berubah menjadi satu lagi.


Ki Liong sudah menggerakkan pedang Gin-hwa-kiam dan sinar perak menyambar ke arah Han Siong. Pemuda ini cepat mengelak dengan loncatan ke kiri. Dia disambut oleh Ji Sun Bi dengan sepasang pedangnya, sedangkan di belakangnya Cun Sek juga sudah menggerakkan pedang Hong-Cu-kiam untuk mengeroyok.


Han Siong melihat gerakan mereka dan tahu bahwa sekali ini, dia menghadapi bahaya. Tiga orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan ketiganya memegang senjata. Kalau dia Ingin menyelamatkan diri, mudah saja baginya untuk melarikan diri dari tempat itu. Akan tetapi, dia harus dapat menahan mereka ini agar Ouw Pangcu dan kawan-kawannya dapat menyerbu sarang Kim-lian-pang di puncak. Kalau dia melarikan diri, tentu tiga orang ini akan mengamuk dan mungkin Ouw Pangcu dan semua kawannya akan terbasmi dan dibantai!


Tiba-tiba dia mengeluarkan bertakan nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke arah ji Sun Bi. Wanita ini terkejut melihat tubuh Han Siong bagaikan seekor burung garuda menyambar dari atas. Ia menyambutnya dengan bacokan sepasang pedangnya yang membuat gerakan menggunting dari kanan kiri! Berbahaya sekali gerakan Ji Sun Bi ini terhadap tubuh Han Siong yang sedang melayang dan menyambar turun. Namun, hal ini sudah di perhitungkan oleh Han Siong. Melihat wanita itu menggerakkan sepasang pedangnya, diapun lalu membuat gerakan dengan tubuhnya sehingga tubuh yang meluncur turun itu tiba-tiba terlempar ke atas membuat poksai (salto) dengan amat cepatnya. Tentu saja serangan Ji Sun Bi luput dan kini tubuh Han Siong telah turun di belakang wanita itu. Ji Sun Bi adalah seorang ahli silat yang lihai. Dengan cepat ia memutar tubuhnya, pedangnya juga ikut berputar, yang kanan membabat leher lawan sedangkan yang kiri menyusul dengan tusukan ke arah perut!


Han Siong sudah siap menghadapi ini.Dia merendahkan tubuh sehingga pedang yang menyambar leher itu lewat dl atas kepala, lalu dia menggeser kaki kedepan, tangan kanannya membuat gerakan mendorong dengan pengerahan tenaga sinkang ke arah tangan Sun Bi yang menusukkan pedang sambil miringkan tubuh menghindarkan tusukan.

"Lepaskan!" bentaknya dan bentakan inipun mengandung wibawa memerintah yang amat kuat. Tanpa dapat dicegah lagi, pedang itu terlepas dari tangan Sun Bi dan sudah pindah ke tangan, kanan Han Siong. Sun Bi terkejut dan cepat ia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan menjauh. Akan tetapi ternyata Han Siong tidak menyusulkan serangan melainkan bermaksud merampas sebatang pedang saja. Kini Cun Sek dan Ki Liang sudah menyerang lagi dari kanan kiri. Han Siong mengelak dan membalas dengan pedang rampasan, juga dengan tamparan tangan kiri. Dia tidak berani menggunakan pedang itu untuk menangkis. Biarpun pedang rampasan dari Sun Bi tadi bukan pedang biasa, melainkan sebatang pedang yang baik sekali walaupun terlalu ringan baginya, namun kalau di pergunakan untuk menangkis pedang sinar emas dan pedang sinar perak dari dua orang muda itu, besar sekali kemungkinan akan patah.


Ji Sun Bi yang marah sekali karena sebatang pedangnya terampas, kini sudah maju pula menyerang. Segera Han Siong merasa terdesak bukan main. Dia terpaksa mengeluarkan seluruh ilmu gin-kangnya untuk mengelak ke sana-sini dan hampir tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk membalas serangan. Bahkan ketika terpaksa dia menangkis Hong-cu-kiam yang menyambar dahsyat dari belakang, ujung pedang rampasan itu patah, seperti telah di khawatirkannya.

Sementara itu, tiga orang tosu itu masih duduk bersila dan kini mereka pun membantu pengeroyokan dengan serangan suara mereka! Mereka itu membuat suara yang seperti tadi, seperti anjing-anjing melolong, mengerikan dan menyanyat hati. Tentu saja hanya Han Siong yang merasakan gangguan ini, karena memang di tujukan kepadanya. Kalau saja dia tidak sedang dikeroyok tiga lawan tangguh ini sehingga seluruh perhatiannya harus dicurahkah untuk menyelamatkan diri menghadapi serangan mautt itu, tentu dia akan mampu melawan suara yang amat mengganggu itu. Karena serangan suara ini, makin repotlah Han Siong.


Akan tetapi, sorak sorai dibarengi api dan asap mengepul dari puncak membuat hatinya lega. Kiranya Ouw Pangcu sudah berhasil menyerang dengan anak panah berapi yang membakar sarang itu, siasat yang dipergunakan untuk memancing keluar seluruh anak buah Kim-lian-pang dan Hek-tok-pang.


Tiga orang pengeroyok itu terkejut melihat kepulan asap dari puncak. Akan tetapi, meninggalkan Han Siong yang sudah terdesak itu mereka enggan karena kalau pemuda lihai ini tidak dirobohkan lebih dulu, tetap saja keadaan mereka terancam.



"Mari kita habiskan dia dulu sebelum menyerang yang lain!" kata Sim Ki Liong dan diapun mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.


Murid Pendekar Sadis ini memang lihai bukan main dan di bandingkan Han Siong, selisihnya hanya sedikit saja. Maka, desakannya yang diikuti dua orang lawannya membuat Han Siong kembali terhuyung. Terpaksa Han Siong menggerakkan pedang buntungnya menangkis sinar perak yang menyambar ke arah kepalanya.


“Trakkk!” Pedangnya kembali patah dan kini hanya tinggal sedikit sisanya. Dia membuang gagang pedang itu dan pada saat itu, ujung sepatu kaki kanan Ki Liong sempat menyambar ke arah pahanya dan diapun terpelanting! Namun, dengan amat cekatan, ketika sinar perak dan sinar emas menyambar, dia sudah melesat lagi ke samping sehingga terhindar dari bahaya maut. Tangannya kini sudah memegang sebatang ranting pohon yang dipatahkannya ketika dia meloncat menghindarkan diri tadi Sebatang ranting lebih berguna daripada pedang rampasan tadi yang kaku. Ranting yang lentur itu, mudah sekali menerima penyaluran tenaga sinkang dan tidak mudah dipatahkan pedang pusaka. Mulailah Han Siong melawan lagi mati-matian. Dia belum mau melarikan diri, hendak memberi kesempatan kepada Ouw Pangcu sampai bcrhasil menumpas perkumpulan jahat itu. Tendangan yang mengenai pahanya tadi tidak menimbulkan luka karena dia tadi sudah melindungi pahanya dengan kekebalan sin-kang, dan kini akibatnya hanya mendatangkan rasa nyeri sedikit. Biarpun demikian, tetap saja gerakannya menjadi agak canggung dan dia semakin terdesak! tetutama sekali suara melolong-lolong dari tiga orang tosu itu sungguh membuat dia semakin bingung.

Tiba-tiba nampak bayangan biru berkelebat dan tahu-tahu di situ sudah muncul lagi seorang pemuda yang berpakaian biru-biru dengan garis pinggir kuning. Kepala dan mukanya tertutup sebuah caping lebar dan di punggungnya terdapat sebuah buntalan kain kuning. Begitu tiba, pemuda ini tertawa bergelak dan menghampiri tiga orang tosu itu, tangannya membawa sebatang pendek ranting pohon.


“Ha-ha-ha, pantas saja suaranya gaduh sekali. Kiranya ada tiga ekor anjing menggonggong berebut tulang di sini! Nah, ini kuberi tulangnya, boleh kalian tiga ekor anjing memperebutkannya!" Diapun melemparkan sepotong kayu tadi ke arah tiga orang tosu dan sungguh luar biasa sekali. Tiga orang tosu yang tadi bersila dan bergandeng tangan sambil mengeluarkan suara melolong untuk menyerang Han Siong, kini tiba-tiba saja merangkak-rangkak dan saling memperebutkan kayu itu dengan mulut mereka, presis tiga ekor anjing memperebutkan tulang. Ketika kepala mereka saling bertumbukan, barulah mereka sadar dan mereka saling pandang dengan mata terbelalak.

"Apa...... apa yang terjadi...?” Mereka bertiga berseru dan mendengar suara ketawa, mereka menengok dan melihat seorang pemuda berpakaian biru, memakai caping lebar, berdiri sambil tertawa geli, mentertawakan mereka. Tahulah mereka bahwa pemuda ini yang menjadi gara-gara, yang entah dengan ilmu apa telah memaksa mereka bertiga berlagak seperti tiga ekor anjing!


"Keparat, engkauJah seekor anjing!" bentak seorang di antara meteka, setengah balas memaki untuk membalas penghinaan tadi dan setengah juga mempergunakan tenaga sihirnya.

Diam-diam pemuda itu mengerahkan kekuatan sihirnya yang hebat dan diapun berkata, "Benar sekalir Aku seekor anjing raksasa yang akan makan kalian tiga orang pendeta Pek-lian-kauw! Huk-huk-hukk!"


Tiga orang pendeta Pek-lian-kauw itu terbelalak memandang kcpada pemuda itu yang tiba-tiba berubah dalam pandangan mata mereka seperti seekor anjing raksasa yang besarnya seperti sebuah rumah gedung, mulutnya terbuka selebar pintu gerbang dengan giginya yang besar-besar. Mereka menjadi pucat seketika, tubuh mereka gemetaran dan seperti dikomando saja, mereka lalu membalikkan tubuh dan lari tunggang langgang jatuh bangun, bahkan ada yang terkencing-kencing saking ngerinya karena merasa seolah-olah napas anjing raksasa telah mendengus-dengus di tengkuk mereka.

Pemuda itu tertawa bergelak, penuh kegembiraan. Tiba-tiba Han Siong yang sejak tadi melihat -kehadiran dan perbuatan pemuda berpakaian biru bercaping lebar itu, segera berseru dengan gembira, "Hentikan main-mainmu itu, Hay Hay dan cepat bantulah aku!"


Pemuda yang disebut Hay Hay itu menoleh dan melihat betapa Han Siong terdesak oleh tiga orang pengeroyoknya, diapun tertawa lagi, "Ha-ha-ha, Sin-tong (anak ajaib), di mana pedang pusakamu yang ampuh itu? Engkau dikeroyok tiga orang lawan yang menggunakan senjata, bahkan ada pedang pusaka di situ, dan engkau bertangan kosong saja. Salahmu sendiri.


"Sudahlah, bantu aku dan nanti baru kita ngobrol!" kata Han Siong lagi dengan mendongkol. Dia begitu terdesak dan dalam bahaya, orang ini malah mengobrol dan bersendau-gurau.

Pemuda itu memang Tang Hay atau lebih terkenal di antara tenlan-temannya dengan sebutan Hay Hay saja. Seorang pemuda yang sebaya dengan Han Siong, usia mereka sama, dua puluh dua tahun lebih, wajahnya juga tampan, dadanya bidang tubuhnya sedang dan tegap. Matanya bersinar-sinar selalu, namun kadang mencorong penuh wibawa, dan mututnya tak pernah ditinggalkan senyum manis. Pemuda ini seorang yang amat romantis, juga pengagum keindahan termasuk kecantikan wanita sehingga di manapun dia selalu memuji-muji wanita sehingga dikenal sebagai Pendekar Mata Keranjang walaupun kegenitannya itu mempunyai batas yang kuat sehingga belum pernah dia melanggar, belum pcrnah dia menggauli wanita, baik dengan perkosaan maupun dengan suka rela. Kedekatannya dengan wanita tidak melebihi saling rangkul dan saling cium saja.

Tanpa disengaja Hay Hay yang dalam perjalanan mencari ayahnya yaitu Ang-hong-cu, tiba di tempat itu dan melihat pertempuran itu. Dia sedang menuju ke kota raja karena dia sudah mendengar bahwa biarpun tidak ada seorang juga yang mengetahui di mana adanya si Kumbang Merah, jai-hwa-cat yang sudah lama sekali namanya dikenal orang akan tetapi akhir-akhir ini tidak ada kabar ceritanya lagi, namun di kota raja muncul seorang perwira muda disebut Tang-ciangkun yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Biarpun tipis, namun berita ini setidaknya merupakan suatu hal yang perlu diselidiki. Siapa tahu perwira muda Tang itu benar dapat membawa dia kepada jejak Ang-hong-cu! Maka, ketika melihat ada perkelahian di situ, diapun tidak perduli dan akan melewatinya begitu saja, apalagi dia belum melihat jelas dan tidak tahu siapa yang sedang berkelahi. Akan tetapi, dia tertarik oleh suara melolong-lolong yang mengandung getaran aneh dan berwibawa itu. Sebagai seorang yang sudah mempelajari ilmu sihir secara cukup mendalam, dia dapat merasakan ketidakwajaran dalam suara itu dan menduga bahwa suara itu mengandung kekuatan sihir! Maka, diapun tertarik dan mendekat. Setelah mendekat, barulah dia melihat bahwa yang dikeroyok tiga dan terdesak, masih diserang oleh suara mengandung kekuatan sihir pula, bukan lain adalah Pek Han Siong!



Pek Han Siong pernah menuduhnya memperkosa adik kandungnya, yaitu Pek Eng sehingga Han Siong memusuhinya dan mereka telah bertanding dengan hebatnya. Namun akhirnya Han Siong mengetahui bahwa yang memperkosa adik kandungnya sama sekali bukan Hay Hay, melainkan Si Kumbang Merah yang ternyata menurut pengakuan Hay Hay adalah ayah kandung Hay Hay sendiri! Karcna kenyataan itu, maka permusuhan antara merekapun lenyap dan tidak ada saling dendam di antara mereka. Bahkan sesungguhnya, ada hubungan yang amat dekat antara kedua pemuda ini. Sejak kecil, Han Siong di anggap sebagai Sin-tong (anak ajaib) oleh para lama di tibet merasa yakin bahwa Han Siong adalah seorang calon Dalai Lama! Maka, anak ini di perebutkan dan akan di bawa ke tibet oleh para pendeta Lama. Untuk menyelamatkannya, maka Han Siong di sembunyikan dan sebagai gantinya, orang tuanya mengambil Hay Hay yang ketika itu seorang anak tanpa ayah ibu. Maka, terjadilah hal-hal yang amat menarik seperti di ceritakan dalam kisah Pendekar Mata Keranjang. Setelah keduanya menjadi pemuda dewasa, dalam cara masing-masing, dalam cara hidupnya masing-masing keduanya menjadi pemuda gemblengan yang pandai ilmu silat, bahkan keduanya juga pandai ilmu sihir walaupun dalam hal sihir menyihir ini, tingkat Hay Hay jauh lebih tinggi.

Kini Hay Hay tidak mau main-main lagi, apalagi setelah dia melihat dengan penuh
perhatian dan mengenal dua orang diantara para pengeroyok itu.


"Wah-wah-wah, bukankah itu Sim Ki Liong murid murtad dari locianpwe Pendekar Sadis di Pulau Teratai Merah? Dan itu yang seorang lagi Ji Sun Bi, si cantik manis yang berhati penuh racun? Hayaa, pantas sekali engkau terdesak,Han Siong. Kiranya para pengeroyokmu adalah dua orang yang teramat jahat. Dan siapa pula yang seorang lagi itu? Heiii! Bukankah itu Hong-cu-kiam yang dibawanya? Dan ilmu silatnya itu! Han Siong, apa kau lupa lagi dan tidak mengenal ilmu silat Cin-ling-pai? Dia seorang tokoh Cin-ling-pai!"

Hay Hay sudah meloncat ke dalam medan perkelahian itu. Dia sendiri tidak pernah menggunakan senjata. Cun Sek yang terkejut dan juga marah melihat betapa pemuda bercaping lebar yang baru muncul ini mengenal pedang dan ilmu silatnya, sudah menyambutnya dengan tusukan pedang yang cepat dan kuat sekali, mengarah dada Hay Hay. Tanpa disadarinya, ucapan Hay Hay tadi memang sengaja menarik perhatian Cun Sek, dia sudah terjatuh ke dalam pengaruh sihir Hay Hay! Melihat tusukan pedang Hong-cu-kiam itu Hay Hay miringkan tubuhnya dan berkata dengan suara nyaring.


“Pedangmu itu buntung, mana bisa untuk menyerangku?"

Cun Sek terbelalak. Dia memandang pedangnya tiba-tiba saja sudah menjadi sebatang
pedang buntung yang pendek! Hanya beberapa detik dia termangu, namun ini sudah
cukup bagi Hay Hay. Sekali totok ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang, Hong-cu-kiam telah berpindah tangan!



Barulah Cun Sek sadar dan dia menjadi marah sekali. "Kembalikan pedangku!" bentaknya sambil menerjang dengan tangan kosong. Akan tetapi Hay Hay menggerak-gerakkan pedang Hong-cu-kiam, nampak sinar emas bergulung-gulung mengelilingi tubuh Cun Sek yang menjadi bingung dan khawatir sekali. Bret-bret-bret..... ! Potongan kain berhamburan dan Cun Sek merasa tubuhnya dingin-dingin dan ketika dia memandang, ternyata sinar pedang emas itu telah menelanjanginya! Pakaian luarnya robek-robek dan dia berdiri di situ hanya dengan sebuah celana kotor pendek yang menutup tubuh bawahnya! Hay Hay tertawa-tawa dan kini. dia menujukah pedangnya untuk menyerang Ki Liong!


Ki Liong dan Sun Bi sejak tadi sudah kaget setengah mati ketika melihat munculnya Hay Hay, pemuda yang pernah membuat mereka gentar ketika pemuda ini muncul pula dalam rombongan para pendekar yang membasmi gerombolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo. Keduanya maklum pula bahwa kemunculan Hay Hay yang diluar dugaan ini akan menghancurkan semua rencana mereka, bahkan kini mereka berada dalam bahaya besar. Hal ini segera terbukti ketika dengan amat mudahnya Hay Hay telah merampas pedang pusaka Hong-cu-kiam dari tangan Cun Sek yang sudah dibuat tidak berdaya!

Cun Sek merasa terkejut dan malu bukan main. Dia lalu menjadi nekat dan sambil mengeluarkan suara menggeram seperti seekor harimau terluka, diapun menubruk dengan nekat ke arah Hay Hay. Akan tetapi, Hay Hay menyambutnya dengan sebuah tendangan dan tubuh Cun Sek terjengkang lalu terbanting keras ke atas tanah. Karena pemuda itu tadi memegang Hong-cu-kiam dan memiliki ilmu silat Cin-ling-pai, tentu saja Hay Hay tidak mau membunuhnya dan hanya merobohkannya tanpa melukai berat.

Setelah merobohkan Cun Sek, Hay Hay kembali membalik dan menyerang Ki Liong. Murid Pendekar Sadis ini yang maklum akan kelihaian Hay Hay, menangkis dengan Gin-hwa-kiam.

"Trakkkk!" Kedua pedang bertemu dan melekat! Ki Liong terkejut dan menarik pedangnya, akan tetapi Hong-cu-kiam yang lemas itu ternyata telah melibat. Ujung Hong-cu-kiam membelit pedang Gin-hwa-kiam seperti seekor ular saja!


"Han siong, cepat kau ambil pedangnya. Pedang itu tidak pantas berada di tangannya. Kita kembalikan kelak ke Pulau Teratai Merah!" kata Hay Hay kepada Han siong sambil mempertahankan pedang lawan itu dengan libatan pedangnya.


Ji Sun Bi maju menghalang dan menusukkan pedangnya kepada Han siong untuk mencegah pemuda ini mengeroyok Ki Liong. Akan tetapi kini, setelah berhadapan dengan Ji Sun Bi sendiri, Han siong tentu saja memandang ringan wanita itu dan dengan mudah dia membiarkan pedang yang menusuknya itu lewat dan dari samping tangannya menyambar.


"Plakk!" Pundak Sun Bi terkena tamparan tangan Pek-hong sin-ciang dan ia pun mengeluh lalu roboh terkulai

Han Siong kini menerjang Ki Liong yang masih sibuk menarik Gin-hwa-kiam dari libatan Hong-cu-kiam. Tangan kiri Han Siong mencengkeram ke arah tangan murid Pendekar Sadis itu dan tangan kanannya mencengkeram ke arah pelipis! Menghadapi serangan dahsyat ini, terpaksa Ki Liong melepaskan pedangnya dan berjungkir balik ke belakang. Pedangnya kini sudah berpindah ke tangan Han Siong.


"Ha- ha -ha, bagaimana, Han Siong? Kita bunuh saja tiga ekor ular berbisa ini?"


"Jangan, Hay Hay. Kita bukan pembunuh keji! Kita tangkap saja mereka dan…….. "


Tiba-tiba nampak seorang pria raksasa meloncat ke depan mereka dan dia mengebutkan sebuah kain. Asap atau debu hitam berhamburan dan terdengar pula suara ledakan yang menimbulkan asap hitam tebal.


"Han Siong, mundur! Debu itu beracun!" teriak Hay Hay yang menyambar lengan Han Siong dan mengajaknya melompat jauh ke belakang. Asap hitam menjadi tabir dan membuat mereka tidak dapat melihat ke depan. Akan tetapi Hay Hay melihat kain yang dikebut-kebutkan itu dan dia berbisik.


"Kita serang kain itu dengan pukulan jarak jauh. Mari!" Keduanya mengerahkan tenaga sin-kang dan mendorong dari tempat mereka berdiri ke arah kain itu. Angin dahsyat menyambar ke arah kain itu dan terdengarlah jerit parau mengerikan di dalam asap hitam yang gelap itu, lalu keadaan menjadi sunyi.


Setelah asap hitam lenyap ditiup angin, mereka hanya melihat pria raksasa tadi menggeletak tanpa nyawa di situ dengan muka berubah hitam dan kain itu masih. Menutupi mukanya. Ki Liong, Cun Sek dan Sun Bi telah lenyap tanpa meninggalkan jejak. Kiranya pria raksasa itu adalah Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang menolong tiga orang pemimpinnya sedangkan bahan peledak yang mengeluarkan asap hitam tadi dilepas oleh tiga orang tokoh Pek-lian-kauw untuk menolong teman-temannya.


"Hemm, mereka telah lolos! Biar kucari dan kukejar mereka!” kata Hay Hay.


“Tidak perlu lagi” kata Han Siong. “lebih baik kita membantu mereka yang sedang membasmi anak buah Kim-lian-pang yang jahat. Anak buah Hek-tok-pang itu masih berbahaya dikhawatirkan terjatuh banyak korban di antara para penyerbu.”


"Kim-lian-pang? Hek-tok-pang? Aku tidak tahu apa yang terjadi." Hay Hay yang baru datang memang tidak tahu dan bertanya heran.


"Kim-lian-pang anak buah Sim Ki Liong dan Hek-tok-pang anak buah dia yang tewas ini. Sudahlah, nanti saja keterangan lebih lanjut. Aku harus membantu mereka!" kata Han Siong yang segera meloncat pergi dari situ.


"Aku membantumu!" kata Hay Hay sambil mengejar. Tentu saja dia percaya penuh bahwa yang dibela oleh Han Siong pasti berada di pihak yang benar. Dia sudah mengenal watak Sin-tong ini, seorang pendekar muda gemblengan yang selalu menentang kejahatan. Apa lagi tadi dia sudah membuktikan sendiri bahwa pihak lawan pemuda itu adalah orang-orang yang dia tahu amat jahat, terutama Ji Sun Bi. Dan tentu saja dia mengenal baik siapa Ji Sun Bi! Bagaimana tidak mengenalnya? Bahkan wanita cantik yang cabul itu dapat dibilang merupakan gurunya dalam bercumbu dan berolah cinta! Wanita pertama kali yang saling peluk dan saling cium dengannya adalah Ji Sun Bi! Kalau saja batinnya tidak kokoh kuat, tentu dia sudah kehilangan perjakanya oleh wanita itu. Dan hampir saja dia diperkosa ketika Ji Sun Bi dibantu mendiang gurunya, Min-san Mo-ko yang membuat dia tidak berdaya dengan sihir. Untung muncul Pek Mau Sanjin, mendiang kakek sakti yang kemudian menjadi gurunya dalam hal ilmu sihir. Dia sudah mengenal. Ji Sun Bi dengan baik dan mengenangkan peristiwa itu saja, sudah tentu dia tidak tega untuk. membunuhnya! Wanita pertama yang mengajarnya tentang permainan asmara!


Perhitungan dan siasat yang dipergunakan Ouw Pangcu memang tepat. Dia dan kawan-kawannya menghujankan anak panah berapi ke puncak dan hal ini memancing semua anak buah Kim-lian-pang dan Hek-tok-pang untuk turun dari puncak, meninggalkan sarang mereka lalu mengamuk dengan penuh kemarahan. Apa lagi setelah mereka lihat betapa pimpinan mereka mengepung seorang pemuda lihai. Hek-tok Pangcu memimpin anak buahnya mengamuk dan tepat seperti di khawatirkan Han Siong, dua, puluh orang Hek-tok-pang dan pemimpin mereka ini merupakan lawan berat yang membuat para penyerbu kewalahan. Akan tetapi karena pihak para penyerbu jauh lebih banyak jumlahnya, dan para penyerbu itu juga terdiri dari para anggota perkumpulan silat yang rata-rata pandai ilmu silat, maka pertempuran berlangsung dengan hebatnya dan di kedua pihak telah jatuh korban belasan orang banyaknya.


Munculnya Han Siong dan Hay Hay dalam pertempuran itu pada saat yang amat tepat. Begitu dua orang pemuda sakti ini terjun ke dalam pertempuran, hanya mempergunakan kaki tangan karena mereka telah menyimpan pedang pusaka yang mereka rampas tadi, tidak ingin mempergunakan pedang pusaka yang bukan milik mereka itu untuk membunuh orang, maka kocar-kacirlah pihak lawan. Semua anak buah Hek-tok-pang roboh dan tewas, dan sebagian besar anak buah Kim-lian-pang juga roboh, sebagian kecil melarikan diri dan ada yang terjun ke dalam jurang untuk menyelamatkan diri.

Dipimpin oleh Ouw Pangcu, para penyerbu lalu naik ke puncak Kim-Iian-san, dan dua orang pemuda perkasa itulah yang menjadi pelopor di depan. Merekalah yang meruntuhkan semua penghalang dan jebakan, dan memunahkan segala macam racun yang disebar dengan membakar rumpun semak belukar di sepanjang lorong dan jalan setapak yang menuju ke puncak. Akhirnya mereka tiba di puncak, di sarang Kim-lian-pang dan ternyata yang tinggal disarang itu hanyalah isteri para anggota dan anak-anak mereka. Ouw Pangcu cepat memberi aba-aba agar tak seorangpun boleh mengganggu mereka! Sikap ini saja sudah membuat Han Siong dan Hay Hay merasa senang sekali, dan mereka tidak merasa menyesal telah membantu gerakan yang dipimpin oleh Ouw Pangcu yang bijaksana itu.





Semua harta benda yang berada di sarang Kim-lian-pang, oleh Ouw Pangcu lalu dibagikan kepada keluarga para anggota Kim-lian-pang, dan dia menyuruh mereka semua turun bukit, kemudian dibakarnya sarang. itu, disaksikan oleh semua penyerbu yang bersorak sorai penuh kemenangan dan kepuasan karena mereka semua merasa sakit hati kepada Kim-lian-pang dan kini mereka telah berhasil membalas dendam dan membasmi perkumpulan jahat itu.


Setelah api berkobar membakar sarang gerombolan Kim-lian-pang dan para penyerbu itu bersorak-sorak, tiba-tiba terdengar suara Ouw Pangcu lantang. "Saudara sekalian, tanpa bantuan dari pendekar besar Pek Han Siong, tidak mungkin kita dapat membasmi gerombolan jahat itu. Mari kita berterima kasih kepada Pek Taihiap!" Berkata demikian, Ouw PangCu segera menjatuhkan diri berlutut menghadap Pek Han Siong, diikuti oleh puterinya yang gagah tadi juga ikut bertempur dengan gagah dan mati-matian. Mendengar ini, semua anggota penyerbu yang terdiri dari para anggota bermacam perkumpulan segera menjatuhkan diri berlutut dan menghadap pemuda itu. Hanya Han Siong dan Hay Hay saja yang berdiri, sedangkan semua orang berlutut. Melihat ini, Hay Hay tersenyum dan berseru dengan nyaring.


“Hidup pendekar gagah Pek Taihiap!”


Mendengar ini semua orang yang berlutut juga berseru, “Hidup Pek Taihiap! Hidup Pek Taihiap!”

“Ih, engkau gila!” Han Siong memaki Hay Hay yang masih cengar-cengir menggodanya, kemudian Han Siong menghampiri Ouw Pangcu dan mengangkat bangun ketua itu dan juga puterinya. Dia ingin membalas kepada Hay Hay, maka katanya dengan lantang.

“Ouw Pangcu dan saudara sekalian harap bangun dan jangan berterima kasih kepadaku saja. Tanpa bantuan pendekar sakti Tang Hay ini, mana aku mampu mengalahkan para pimpinan Kim-lian-pang? Dia inilah yang telah membantuku dan dia yang berjasa besar dalam pertempuran ini. Hidup Pendekar Mata Keranjang Tang Hay!"


Tentu saja semua orang merasa heran dan juga geli mendengar julukan itu. Pendekar Mata Keranjang! Maka, merekapun tidak berani menirukan sorakan Han Siong tadi, khawatir kalau menyinggung hati pemuda berpakaian biru dan bercaping lebar itu. Ouw Pangcu cepat maju memberi hormat kepada Tang Hay.


"Terima kasih atas bantuan taihiap!" katanya, diturut pula oleh Ci Goat, puterinya. Hay Hay memandang kepada Ci Goat dan tersenyum.


"Aih, tidak kusangka bahwa diantara banyak orang gagah ini terdapat pula seorang nona yang gagah perkasa. Han Siong, perkenalkan aku kepada mereka!"


Han Siong tersenyum mengejek. Pemuda yang satu ini memang payah, pikirnya. Tak dapat dia menyangkal bahwa Hay Hay memiliki ilmu kepandaian yang tinggi,bahkan dia sendiri merasa sukar untuk dapat menandinginya, juga memiliki watak gagah dan bertanggung jawab, seperti yang pernah dibuktikannya dengan mengakui Ang-hong-cu sebagai ayahnya. Akan tetapi satu hal yang membuat dia merasa kecewa, pemuda ini memiliki sifat Mata keranjang yang sudah tidak ketulungan lagi. Bagaikan seekor kumbang yang tak pernah mau melewatkan setangkai kembang yang indah bermadu. Begitu melihat wanita, terus saja tertarik! Memang,harus diakuinya bahwa pada kenyataannya, pemuda ini tidak pernah mengganggu wanita dalam arti kata yang sedalamnya, melainkan hanya iseng saja dan hanya tertarik untuk berdekatan. Namun tentu saja mudah orang menjatuhkan kesalahan kepadanya kalau terjadi sesuatu dengan gadis yang didekatinya.


"Ouw Pangcu dan adik Ci Goat, dia ini adalah seorang pendekar sakti bernama Tang Hay dan berjuluk….. "


"Aih, tidak ada julukan bagiku, Han Siong, tidak seperti engkau yang dijuluki Sin-tong sejak kecil!" Hay Hay mencela. Ucapannya ini tentu saia hanya untuk bergurau, dan dia maupun Han Siong tidak menyadari bahwa sendau gurau ini ternyata berakibat panjang. Seorang di antara mereka yangtadi ikut menyerbu, terbelalak mendengar sebutar Sin-tong untuk ke dua kalinya ini, akan tetapi diapun diam saja.


"Hay Hay, ini adalah Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi dan ini adalah nona Ouw Ci Goat, puterinya." Han Siong memperkenalkan. .


"Ouw. Pangcu, sungguh beruntung aku dapat berkenalan dengan ketua Pek-tiauw-pang," kata Hay Hay dengan sikap sopan.


"Aihh, Tang-taihiap. Pek-tiauw-pang kini hanya tinggal namanya saja. Tadinya, yang bersisa dari pembunuhan yang dilakukan Kim-lian-pang hanya tinggal aku, anakku ini dan tiga orang murid. Akan tetapi, kini tiga orang murid itupun gugur dalam pertempuran tadi. Tinggal aku dan puteriku ini, maka mulai saat ini, aku adalah Ouw Lok Khi biasa, bukan 1agi seorang pangcu (ketua). Aku sudah terlalu tua untuk membangun lagi Pek-tiauw-pang yang sudah terbasmi habis."


"Ah, kurasa tidak perlu paman Ouw berputus asa. Bukankah di sini masih ada nona Ouw yang gagah perkasa dan cantik jelita, lagi masih muda belia? Dengan bantuannya, apa sukarnya bagi paman untuk membangun lagi perkumpulan?" Hay Hay berkata dengan ramah. Dia melihat sepasang mata yang jeli itu terbelalak mendengar pujian bagi dirinya, akan tetapi terbelalak heran atas keberanian orang, bukan karena marah!


"Sudahlah, aku sudah menerima kalah. Mari, ji-wi taihiap, marilah ji-wi (kalian) singgah dulu di rumah muridku Thio Ki yang telah diserahkan kepada kami. Karena diapun gugur, maka rumahnya kini menjadi tempat tinggal kami untuk sementara."



Han Siong hendak menolak, dan hal ini nampak oleh Hay Hay yang bermata tajam, maka Hay Hay cepat mendahuluinya. "Baiklah, paman, dan nona. Terima kasih atas undangan itu. Mari, Han Siong, kita singgah dulu di rumah paman Ouw untuk mempererat persahabatan." Tentu saja dengan ucapan seperti itu, Han Siong merasa dilumpuhkan dan tidak berani menolak. Bagaimana dia berani menolak kalau persinggahan itu dimaksudkan untuk mempererat persahabatan? Dia hanya mengerling tajam kepada Hay Hay yang menyeringai lebar karena maklum bahwa kawannya itu mendongkol. Dia merasa heran mengapa dalam pertemuan sekali ini dengan Han Siong, setelah semua rasa curiga dan kemarahan lenyap di antara mereka, dia merasa amat akrab dengan Han Siong, seolah-olah mereka adalah dua orang sahabat lama.


Setelah menyerahkan pengurusan para jenazah muridnya dan teman-teman lain kepada para sahabatnya yang ikut dalam penyerbuan, Ouw Lok Khi dan Ouw Ci Goat lalu mengajak dua orang pemuda perkasa itu ke rumah Thio Ki yang juga gugur. Tiga jenazah murid Pek-tiauw-pang, termasuk jenazah Thio Ki, setelah dirawat, lalu dimasukkan peti dan dibawa ke rumah itu, dijajarkan di serambi depan.


Malam itu, banyak kenalan datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada ketiga jenazah dalam peti kemas dan pada keesokan harinya, tiga peti jenazah itupun di kuburkan dengan upacara sederhana. Selama itu Hay Hay tanpa rikuh lagi selalu mendekati Ci Goat dan mengajak gadis itu bercakap-cakap dengan sikap ramah dan akrab sekali! Berbeda dengan Han Siong yang selalu menjauhkan diri dari gadis itu karena dia merasa selalu merasa tidak enak berdekatan dengan gadis yang dia ketahui telah jatuh cinta kepadanya itu. Bahkan melihat gadis itu nampak murung ketika orang-orang mulai menimbuni lubang kuburan tiga orang murid Pek-tiauw-pang itu dengan tanah, ketika gadis itu duduk di bawah pohon untuk berlindungi dari sengatan matahari, Hay Hay mendekatinya dan masih sempat berkelakar, untuk memancing percakapan.

Hay Hay juga duduk di atas sebuah batu, dalam jarak tiga meter dari gadis itu dan tanpa rikuh-rikuh dia mengamati wajah gadis yang bulat dan berkulit putih mulus itu. Wajah itu nampak muram dan sinar matanya mengandung kedukaan. Pandang mata orang biasa saja sudah mengandung getaran yang akan terasa oleh orang yang dipandang, apa lagi pandang mata Hay Hay yang matanya memiliki kekuatan sihir yang hebat walaupun dia tidak mempergunakan kekuatannya pada saat itu. Gadis itu mengangkat muka dan pandang matanya bertemu dengan mata Hay Hay yang tidak menyembunyikan sinar kekagumannya. Melihat betapa mata pemuda itu memandang kepadanya dengan kagum, Ci Goat mengerutkan alisnya. Akan tetapi ia teringat akan ucapan Han Siong yang menjuluki pemuda ini dengan julukan aneh, yaitu Pendekar Mata Keranjang! Dan. Melihat pandang mata itu, tidak aneh kalau dia dijuluki mata keranjang! Ia tidak berani marah, mengingat bahwa pemuda ini juga seorang penolong besar yang membuat ia dan ayahnya berhasil membalas dendam dan menghancurkan perkumpulan kim-lian-pang dan antek-anteknya. Maka ia hanya menundukkan kembali mukanya dengan cepat dan muka yang putih itu berubah kemerahan.


“Heiii, nona Ouw, mengapa bermuram durja? Betapa sayangnya kalau bulan purnama tertutup awan dan matahari terhalang mendung, dunia akan menjadi gelap dan kehilangan serinya! Nona, kenapa berduka pada hal pagi seindah dan secerah ini?"


Kedua pipi yang putih halus itu menjadi semakin merah. Ia diumpamakan bulan dan matahari! Sungguh kata-kata rayuan maut yang akan dapat membuat wanita tergetar dan berlonjak kegirangan penuh bangga. Akan tetapi Ouw Ci Goat tersipu malu dan melirik ke arah Han Siong yang berdiri dekat mereka yang sedang melakukan pemakaman. Hatinya khawatir. Ia jatuh cinta kepada Han Sion dan kini Pendekar Mata Keranjang mengeluarkan kata-kata yang merayunya. Andaikata bukan pendekar ini yang mengeluarkan kata-kata rayuan itu, tentu akan dijauhinya, tidak diperdulikannya. Akan tetapi Hay Hay adalah seorang pendekar yang berjasa juga seperti Han Siong, dan harus diakuinya bahwa mendengar ucapan manis seperti madu dari seorang pemuda yang demikian gagah perkasa dan gantengnya, sungguh merupakan belaian lembut pada hatinya. Untuk mencegah pemuda itu melanjutkan rayuannya, iapun menjawab dengan sikap, pandang mata, dan nada suara yang serius, bahkan hatinya yang sedang diliputi kedukaan itu membuat kedua matanya basah air mata.


"Taihiap, bagaimana mungkin aku tidak berduka? Aku kehilangan semua saudara anggota Pek-,ti,auw-pang yang juga menjadi murid-murid ayah, menjadi saudara-saudara seperguruanku. Mereka semua tewas, bahkan tiga orang yang terakhirpun hari ini tewas. Malapetaka besar telah menimpa keluarga kami. Tentu saja aku berduka sekali, taihiap."


Hay Hay tersenyum, "Aih, nona Ouw, sungguh sayang menghamburkan air mata dan meremas hati sendiri. Berduka akan membuat wajahmu yang seperti bulan purnama itu menjadi kerut merut, dan akan membuat engkau yang muda belia ini menjadi cepat tua. Nona yang baik, aku ingin bertanya, siapa yang kautangisi, siapa yang kausedihkan itu?"


Gadis itu memandang heran. Matanya yang agak kemerahan karena tangis itu agak terbelalak dan Hay Hay rnemandang kagum. Indahnya mata itu!


"Taihiap, aneh sekali pertanyaanmu itu. Tentu saja yang kutangisi, adalah tiga orang suheng yang tewas itu, semua saudara seperguruanku yang telah tewas oleh para penjahat Kim-lian-pang!"


"Kenapa menangisi mereka yang sudah mati? Apakah kalau ditangisi, mereka akan merasa senang di sana ataukah kalau disedihkan, mereka akan hidup kembali?"


Gadis itu semakin terkejut dan heran. "Tentu saja tidak! Pertanyaanmu sungguh aneh sekali, taihiap. Orang di seluruh dunia ini tentu akan bersedih dan menangis kalau kematian orang-orang yang dekat dengan mereka!"


"Ah, jadi kalau begitu engkau bersedih dan menangis karena umum melakukannya? Jadi tangismu itu hanya ikut-ikutan saja? Mari kita bicara tentang kesedihanmu, perasaanmu sendiri, bukan kesedihan orang-orang lain, nona yang baik. Nah, mari kita selidiki. Apakah engkau bersedih untuk mereka? Rasanya tidak mungkin. Mereka telah mati dan engkau tidak tahu keadaan mereka. Yang jelas, mereka tidak menderita lagi dan tidak ada alasan untuk mengasihani mereka. Bahkan, mereka itu mati sebagai orang-orang gagah, sebagai pendekar yang menentang kejahatan. Sepantasnya engkau malah bangga dengan kematian mereka, bukan berduka. Tidakkah benar demikian, nona!"



"Aku…… aku tidak tahu…… aku menjadi bingung. Rasanya….. pendapatmu itu benar, akan tetapi tak mungkin aku berbangga dan tidak berduka. Orang-orang akan menganggap aku tidak wajar…..”


"Justeru sebaliknya! Tangismu ini, kalau kaukatakan untuk menangisi mereka yang mati, sama sekali tidak wajar bahkan pura-pura! Mari kita membuka mata melihat kenyataan, nona. Coba jenguk perasaan hatimu sendiri. Lihat baik-baik apa yang kaurasakan. Benarkah engkau menangis dan bersedih karena kasihan kepada mereka yang mati? Ataukah engkau bersedih dan menangis untuk dirimu sendiri, karena engkau merasa kehilangan dan merasa kasihan kepada dirimu sendiri? Beranikanlah hatimu dan amatilah baik-baik!"


Gadis itu tertegun. Selama hidupnya, baru sekali ini ia mendengar pendapat yang seperti itu. Bukan, bukan pendapat, melainkan pembukaan kenyataan yang tidak dapat ia bantah lagi. Memang benar, ia menangis dan berduka karena merasa kasihan kepada dirinya sendiri, kepada nasib dirinya, sama sekali bukan menangisi mereka yang mati. Ia berduka karena ia kehilangan saudara dan sahabat baik, karena ia merasa ditinggalkan. Hal ini sekarang nampak jelas.


"Aku…….. aku menjadi bingung.....kata-katamu memang benar, Taihiap. Akan tetapi, apakah aku tidak boleh menangis dan harus bergembira menghadapi kematian para suhengku?"

Hay Hay tersenyum. "Tidak ada yang menyuruhmu menangis atau tertawa, nona, juga tidak ada yang melarangmu untuk menangis atau tertawa. Tangis dan tawa adalah pencurahan dari keadaan hati dan tidak ada orang lain yang mampu mengatur keadaan hatimu. Yang penting, engkau harus yakin benar apa yang kau tangiskan atau tawakan, agar tangis dan tawamu tidak menjadi palsu."


Gadis itu termenung, wajahnya kosong dan polos dan tiba-tiba Hay Hay tertawa bergelak sehingga gadis itu menjadi semakin heran dan menatap wajah yang tampan itu.

"Ha-ha-ha, coba rasakan , baik-baik, nona. Semenjak kita bercakap-cakap, engkau sama sekali tidak berduka lagi, tidak menangis lagi! Itu menjadi bukti jelas bahwa duka hanyalah permainan pikiran sendiri belaka! Pikiran mengenang hal-hal yang amat tidak menguntungkan diri sendiri. Tadi pikiranmu mengenang tentang kehilangan saudara-saudaramu sehingga timbul iba diri dan pikiranmu seperti meremas-remas hati sendiri, muka timbullah duka. Begitu pikiranmu terisi perhatian untuk percakapan kita tadi, kenangan itu pun hilang dan dukapun lenyap tanpa bekas! Biang keladi susah senang hanyalah kenangan pikiran, didasari rugi untung bagi diri pribadi, keduanya saling berlomba menguasai diri. Akan tetapi, kalau harus memilih, kenapa tidak memilih tersenyum dari pada menangis. Kalau engkau menangis, wajahmu yang cantik itu penuh kerut merut, matamu kemerahan, hidungmu merah dan engkau menyeret orang lain untuk menangis pula. Sebaliknya, kalau engkau tersenyum…..hemm, cobalah senyum, nona dunia akan ikut tersenyum bersamamu. Dan wajahmu yang cantik itu akan menjadi semakin manis kalau engkau tersenyum!"


Ci Goat tidak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak tersenyum dan Hay Hay terpesona. Manisnya kalau tersenyum gadis itu! Akan tetapi, segera senyum itu lenyap dan Ci Goat berkata lirih, agak cemberut.


"Taihiap harap jangan mempermainkan aku. Kalau ayahku melihat betapa aku senyum-senyum pada saat mereka mengubur jenazah tiga orang suhengku, tentu ayah akan marah, menganggap aku tidak sopan, tidak mengenal aturan, tidak sayang kepada suheng-suhengku bahkan mungkin aku akan dianggap gila! Apa yang harus kujawab kalau ayah atau orang lain bertanya mengapa aku tersenyum-senyum dalam keadaan berkabung seperti ini?"


"Katakan saja bahwa engkau bergembira bahwa tiga orang suhengmu tewas sebagai
orang-orang gagah yang menentang kejahatan. Katakan bahwa engkau gembira karena telah menemukan dirimu sendiri seperti apa adanya, tidak berpura-pura, berani melihat kcnyataan hidup!" Hay Hay tersenyum dan kini Ci Goat juga tersenyum. Gadis ini merasa betapa dadanya lapang dan lega, tidak lagi tertindih duka yang ternyata hanya dibuat oleh angan-angan pikirannya sendiri! Ia merasa bebas lepas dan nyaman!


Pada saat itu, Han Siong mendekati mereka. "Wah, ada apa ini kalian amat gembira dan senyum-senyum. Goat-moi, hati-hatj jangan sampai terbuai oleh rayuan maut Si Pendekat Mata Keranjang!"


"Ha-ha-ha. Sin-tong! Mana mungkin ia dapat terbuai rayuan? Hatinya sudah melekat pada seseorang, cintanya hanya ditujukan kepada seseorang!"


Tentu saja Ci Goat tersipu malu, ingin membantah akan tetapi karena di situ hadir Han Siong, iapun tidak dapat mengeluarkan kata-kata melainkan "Ihh, taihiap…”


"Hay Hay, siapakah seseorang yang kau maksudkan itu?" tanyanya ingin tahu karena dia menduga bahwa tentu Hay Hay ngawur saja, hanya untuk mengoda Ci Goat.

"Hemm, jangan kau pura-pura tidak tahu! Siapa lagi kalau bukan Sin-tong Pek Han Siong?"

Han Siong terbelalak, terkejut dan heran. Juga Ci Goat terkejut, akan tetapi ia lalu lari dari situ menuju ke tempat di mana ayahnya dan orang-orang lain sedang menimbuni tiga makam dengan tanah, dengan muka berubah merah sekali.


"Hay Hay, bagaimana engkau bisa tahu? Ataukah engkau ngawur saja?” tanya Han Siong sambil mendekati Hay Hay, matanya memandang penuh selidik.


"Tahu apa?" Hay Hay pura-pura tidak tahu untuk mengoda.


"Tahu bahwa ia mencintaku!"



"Ha-ha, yang matanya tidak buta tentu tahu! Cara ia memandang kepadamu saja sudah jelas, belum lagi kalau ia bicara kepadamu tentu lebih jelas lagi. Pandang mata seorang wanita yang jatuh cinta mudah sekali diketahui rahasia hatinya. Ada kalanya sinar matanya bersinar penuh kagum, penuh harap, penuh penantian. Ada kalanya sinar matanya itu redup seperti orang mengantuk, penuh tantangan, penuh penyerahan, nampak malu-malu, mengandung kegenitan…. ah, pendeknya, jelas sekali. Kalau bicara, tentu suaranya akan menggetarkan lagu cinta, disertai senyum dikulum penuh arti, dan andaikata ia hendak menyembunyikan perasaan cintanyapun akan nampak jelas pada pandang matanya dan pada suaranya. Ah, dia jatuh cinta tidak ketulungan lagi kepadamu Sin-tong, dan engkau bahagia sekali. Ia seorang gadis yang cantik manis, gagah perkasa, mudah menerima kebijaksanaan dan…… hemm, wanita seperti itu pasti penuh gairah dan panas!" Hay Hay tertawa dan Han Siong mengerutkan alisnya, wajahnya menjadi muram. Akan tetapi, diam-diam dia heran mendengar ucapan Hay Hay itu yang jelas membuktikan bahwa Hay Hay memang seorang ahli wanita! Untuk menutupi kemuramannya dia tersenyum.


"Hay Hay, engkau sungguh seorang mata keranjang yang ahli wanita. Bagaimana pula engkau bisa tahu tentang penuh gairah dan panas itu?"


Hay Hay tertawa. "Mudah saja, sudah ada tanda-tandanya. Lihat saja sinar matanya, seperti ada apinya. Lihat saja tarikan mulutnya. Bibir itu penuh gairah dan menantang. Dan bentuk tubuhnya! Hemm, ia seorang wanita pilihan, Han Siong. Sebaiknya engkau cepat memetik bunga yang sedang mekar cerah dan harum semerbak itu!"


Han Siong , menarik napas panjang. "Engkau benar, Hay Hay. Memang ia jatuh cinta kepadaku, dan inilah yang membuat aku pusing. Aku tidak ingin menyakitkan hatinya, akan tetapi aku….aku tidak mungkin dapat membalas cintanya!"


Kini Hay Hay tertegun, akan tetapi, dia lalu tersenyum. "Wahai sobat, kiranya engkau sudah jatuh cinta kepada wanita lain?"


Kembali Han Siong terkejut dan mengamati wajah Hay Hay dengan tajam, seolah hendak menjenguk isi hatinya. Kenapa pemuda ini tahu segala? “Hemm, bagaimana lagi engkau bisa tahu akan hal itu?"


"Ha-ha-ha, engkau memang masih hijau dalam soal asmara, sobat! Kalau ada seorang pemuda menolak cinta seorang gadis sehebat nona Ouw Ci Goat, tentu pemuda itu tidak waras atau miring otaknya! Karena kulihat engkau ini bukan pemuda yang kurang waras atau miring otaknya, maka satu-satunya sebab penolakanmu sudah pasti bahwa engkau telah jatuh cinta kepada wanita lain!"


Han Siong memandang kagum. Hebat anak ini, pikirnya. Otaknya demikian cerdas dan walaupun sikapnya ugal-ugalan dan ceriwis. namun harus diakui bahwa apa yang diucapkannya memang benar. Dia menarik napas panjang dan kembali dia teringat kepada Bi Lian, gadis yang dicintanya.


"Engkau memang benar, Hay Hay. Dan setelah secara hebat dan tepat engkau mengetahui keadaan hati kami, aku ingin minta pertolonganmu. Kau ceritakanlah kepada Ci Goat bahwa aku tidak mungkin dapat menerima cintanya karena aku telah mempunyai pilihan hati gadis lain."


Hay Hay tersenyum. "Wah, tugas berat itu! Kenapa enckau tidak mau berterus terang saja kedanya?”


"Ih, kau ini bagaimana? Ia belum pernah mengaku cinta, bagaimana aku akan menceritakan bahwa aku tidak dapat menerima cintanya? Pula, aku tidak ingin menyakiti hatinya, dan engkau yang ahli asmara ini tentu akan bisa mencari akal agar ia dapat menerima kenyataan ini dengan tabah dan dapat mengerti penolakanku."


Hay Hay menepuk mulut sendiri. "Dasar mulut usil! Sekarang tertimpa tugas yang berat."


"Hemm, katakan saja bahwa engkau tidak mampu melakukan itu, tidak perlu sungkan dan mencari alasan!" kata Han Siong, cemberut.


"He-he-he, siapa bilang tidak mampu? Pekerjaan begitu saja, menghadapi wanita, uhh, sepele bagiku!"


“Nah, jadi engkau mau, bukan?" kata Han Siong, kini tersenyum.


Hay Hay terbelalak. "Setan! Engkau memancing kesanggupanku dengan mengatakan aku tidak mampu, ya? Engkau penuh akal bulus dan tipu muslihat, Han Siong!" kata Hay Hay tertawa.


"Aku hanya mencontoh engkau!"


"Baiklah, aku menyerah. Aku yang akan menyampaikan kepadanya walaupun hatiku akan hancur lebur jadi debu melihat seorang gadis menangis karena patah hati. Akan tetapi, untuk itu, engkau harus bersabar dan selama beberapa hari kita tinggal di rumah keluarga Ouw. Berjlah waktu sepekan untukku.”


"Sepekan? Biar sebulanpun boleh. Engkau tinggal di rumah mereka, dan aku melanjutkan perjalananku."


"Enaknya! Kalau begitu, akupun tidak akan sudi! Engkau harus menemani aku di rumah itu sampai aku selesai dengan tugasku. Bagaimana?"


Kembali Han Siong menarik napas panjang. "Baiklah, Mari kita ke sana, agaknya sudah selesai penguburan itu dan kini tinggal sembahyang sebagai penghormatan terakhir." Mereka bergandeng tangan sebagai dua orang sahabat yang akrab sekali menuju ke makam baru yang rupanya sudah selesai ditimbuni tanah itu



Memang Hay Hay dan Han Siong saling merasa suka dan akrab, merasa seolah ada pertalian hubungan di antara mereka. Betapa tidak? Sejak terlahir di dunia ini, keduanya memang mempunyai hubungan akrab sekali, jalan hidup mereka saling kait-mengait secara aneh. Memang bukan sanak bukan kadang, akan tetapi sejak lahir sampai menjadi besar. Hay Hay menempati hidup Han Siong dan seolah dia menjadi Han Siong ke dua! Sejak bayi dia dipakai menjadi pengganti Han Siong yang disembunyikan orang tuanya dan dia mengalami banyak seka1i hal hebat karena dia disangka Han Siong. Dan setelah dewasa, mereka berdua sama lihainya, memiliki tingkat kepandaian yang berimbang, bahkan keduanya selain menjadi murid orang-orang sakti dan menerima gemblengan ilmu silat, juga keduanya mahir ilmu sihir!


Ketika semua orang selesai bersembahyang di depan tiga buah makam itu untuk memberi penghormatan terakhir, tiba-tiba terdengar suara kelenengan kecil yang nyaring. Semua orang menengok ke arah suara itu dan melihat tiga orang pendeta Lama yang berjubah merah dengan langkah lebar menuju ketempat itu. Melihat mereka itu Han Siong dan Hay Hay saling pandang, dan Hay Hay tersenyum. Keduanya sudah mengenal baik para pendeta Lama yang sejak mereka masih kecil berusaha untuk menemukan dan menculik Sin-tong, yaitu Pek Han Siong. Tak salah lagi, pikir mereka, munculnya tiga orang pendeta Lama itu tentu ada hubungannya dengan urusan lama itu, maka keduanya siap siaga dan waspada. Mereka memperhatikan tiga orang pendeta Lama itu. Seperti pada umumnya, tiga orang pendeta Lama itupun bertubuh jangkung. Orang pertama tinggi besar seperti raksasa, dengan kaki tangan yang kokoh kuat, sepasang matanya bundar dan amat tajam, mukanya membayangkan kekuatan dan keberingasan, dan memikul sebatang tongkat panjang yang dipasangi kelenengan perak kecil yang mengeluarkan bunyi nyaring kalau dia bergerak, dan di ujung lain dari tongkatnya, tergantung sebuah buntalan yang cukup besar. Raksasa berkulit hitam ini agaknya menjadi pimpinan walaupun usianya sebaya dengan dua orang temannya, yaitu kurang lebih enam puluh tahun. Lama yang kedua berkulit putih, tubuhnya tinggi kurus dan matanya seperti terpejam selalu saking sipitnya dan dia tidak kelihatan membawa senjata apapun. Akan tetapi kalau orang melihat ke arah pinggangnya, orang itu akan merasa ngeri melihat betapa sabuk di pinggang orang tinggi kurus ini adalah seekor ular hidup! Adapun pendeta yang ke tiga juga bertubuh jangkung, namun agak bongkok sehingga dia seperti seekor onta. Kulitnya kuning dan wajahnya kekanak-kanakan, kecil mengkerut. Di punggungnya tergantung sepasang cakar harimau yang sudah diberi gagang, sepanjang pedang.


Ouw Pangcu atau sekarang lebih tepat disebut namanya saja, yaitu Ouw lok Khi karena dia tidak menjadi ketua lagi mengingat betapa semua anak buahnya telah tewas, tinggal dia dan puterinya seorang, segera maju menyambut tiga orang pendeta itu. Dia sendiri merasa heran melihat munculnya tiga orang pendeta, akan tetapi karena yang menyelenggarakan pemakaman untuk tiga orang muridnya adalah dia, maka dia merasa sebagai tuan rumah dan menyambut tiga orang hwesio itu dengan sikap ramah ramah dan sopan.


“Selamat datang, sam-wi lo-suhu ( tiga bapak guru)! Kami sedang melakukan pemakaman dan sembahyangan untuk tiga orang murid kami yang tewas di tangan gerombolan penjahat.Tidak tahu, apakah keperluan sam-wi (kalian bertiga) datang berkunjung ke tempat pemakaman ini?"


"Omitohud...... , semoga yang benar selalu mendapat perlindungan dan berkah! Pinceng (saya) bertiga sengaja datang untuk memberi hadiah penghibur bagi kalian yang berduka, juga untuk menyembahyangkan agar arwah ketiga orang ini mendapatkan tempat yang damai abadi. Nah, sekarang terimalah hadiah penghibur yang kami bawa ini!" Berbareng dengan habisnya ucapan itu, pendeta Lama yang bertubuh raksasa bermata lebar itu menggerakkan tongkatnya dan buntalan itupun melayang turun ke depan kaki Ouw Lok Khi. Buntalan itu begitu jatuh ke tanah lalu terlepas dan terbuka dan semua orang memandang ngeri melihat bahwa isi buntalan adalah tiga buah kepala orang yang masih segar, leher yang buntung itu masih berdarah, agaknya baru saja tiga buah kepala itu dipenggal dari tubuhnya!

"Ohh..... !" OuW Lok Khi terhuyung mundur dengan mata terbelalak dan muka pucat. Hay Hay dan Han Siong yang sudah siap siaga telah berloncatan kedepan. Sekali lihat saja mereka berdua mengenal tiga buah kepala itu.


"Ini kepala para tosu Pek-lian-kauw ahli sihir itu!" seru Hay Hay.


Pendeta Lama yang tinggi besar itu tertawa, dan dua orang temannya berdiri seperti patung, hanya menonton. "Ha-ha, benar sekali, orang muda. Bukankah mereka ini yang menyusahkan kalian? Eh, orang muda yang baik, apakah engkau yang bernama Pek Han Siong?"


Sebelum Hay Hay menjawab, Han Siong yang sudah mempunyai dugaan buruk terhadap semua pendeta Lama, segera menjawab, "Akulah yang bernama Pek Han Siong! Tidak tahu, sam-wi lo-suhu mempunyai keperluan apakah dengan aku?"


Tiga orang pendeta Lama itu memandang kepada Han Siong dengan penuh selidik, kemudian, melihat sinar mata mencorong pemuda itu yang agaknya seperti penuh tantangan, pendeta Lama yang tinggi besar itu lalu berkata ramah. "Bagus, setelah sekian lamanya kami mencari, kebetulan bertemu di sini. Saudara sekalian, dari juga engkau Pek Han Siong, ketahuilah bahwa kedatangan kami ini mempunyai iktikad baik. Buktinya, kami telah membunuh tiga orang tosu yang telah mengacau di sini dan menimbulkan banyak korban.Terus terang saja, kami senang bertemu dengan Pek Han Siong dan kami ingin membicarakan suatu hal yang amat penting. Akan tetapi sebelum itu, biarlah kami akan membuat sembahyangan dulu agar roh ketiga orang yang mati ini akan mendapat tempat yang tenang abadi." Setelah berkata demikian, pendeta Lama yang agak bongkok mengeluarkan alat sembahyang dari saku jubahnya yang lebar, dupa dan tempat dupa gantung, dan sebagainya. Kemudian, disaksikan oleh semua orang, tiga orang pendeta Lama itu melakukan sembahyang dengan upacara yang aneh bagi mereka yang menyaksikan karena upacara sembahyang untuk kematian yang dilakukan para pendeta Lama ini amat berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh para hwesio. Mereka mengelilingi tiga buah makam itu, mengucapkan doa dan mantram dengan nada dan lagu yang asing. Bagaimanapun juga, Ouw Lok Khi merasa bersukur dan berterima kasih kepada tiga orang pendeta itu.



Setelah tiga orang pendeta Lama itu menyelesaikan upacara sembahyang mereka lalu menghampiri Pek Han Siong dan Hay Hay yang sejak tadi menonton upacara itu dengan penuh perhatian. "Hati-hatilah, Han Siong. Aku merasa curiga kepada mereka. Kurasa mereka datang karena engkau, dan ada hubungannya dengan dirimu sebagai Sin-tong."

Han Siong setuju dengan pendapat Hay Hay itu dan sejak tadi dia memang sudah merasa curiga dan sjap siaga. Kini, pendeta yang bertubuh raksasa itu berkata sambil memberi hormat kepadanya.


"Saudara muda Pek Han Siong, kami bertiga mohon agar engkau suka menerima kami yang ingin bicara dengan engkau tanpa kehadiran orang lain, untuk urusan yang teramat penting.

Hay Hay dan Han Siong saling pandang, kemudian Han Siong menjawab.


"Aku tidak berkeberatan untuk bicara dengan sam-wi lo-suhu, akan tetapi aku lebih dulu ingin tahu siapa sebenarnya sam-wi ini." Han Siong yang cerdik agaknya cukup berhati-hati sehingga dia lebih dulu ingin agar Hay Hay juga mendengar siapa adanya mereka sebelum dia mengadakan Pembicaraan sendirian saja bersama tiga orang pendeta asing itu.

Mendengar ini, tiga orang pendeta itu juga saling pandang, kemudian orang pertama yang tinggi besar itu menjawab, "Ketahuilah, saudara muda Pek, kami adalah tiga orang, pendeta dari Tibet. Nama pinceng (aku) adalah Gunga Lama."


“Pinceng bernama Janghau Lama," kata pendeta tinggi kurus yang matanya amat
sipit dan bersabuk ular hidup.


"Dan pinceng bernama Pat Hoa Lama," kata pendeta bongkok yang di punggungnya membawa senjata sepasang cakar harimau. Dari namanya saja dapat diketahui bahwa yang dua orang pertama adalah orang-orang Tibet aseli, sedangkan orang ke tiga adalah peranakan Tibet/Han.


Ouw Lok Khi yang merupakan seorang berpengalaman, diam-diam juga merasa curiga melihat tiga orang pendeta Tibet begitu datang lalu ingin bicara dengan Pek Han Siong. Maka, diapun mendahului mereka, setelah mereka memperkenalkan diri, dia maju dan memberi hormat.


"Sam-wi Losuhu, kami berterima kasih sekali kepada sam-wi dan untuk memperlihatkan rasa terima kasih kami, kami mengundang sam-wi untuk menjadi tamu kami dan di sanalah sam-wi dapat bicara dengan leluasa tanpa terganggu dengan Pek- taihiap. Mari, silakan, sam-wi Lo-Suhu, Pek-taihiap dan tang-taihiap."


Diam-diam dua orang pendekar muda itu bersukur akan sikap hati-hati dari bekas ketua Pek-tiauw-pang itu. Tiga orang pendeta itu tertegun, akan tetapi setelah saling pandang, mereka mengangguk dan tanpa benyak cakap mereka semua lalu bubaran, meningga1kan kuburan untuk kembali ke rumah masing-masing. Tiga orang pendeta itu ikut bersama Ouw Lok Khi dan Ouw Ci Goat, juga Han Siong dan Hay Hay berjalan mengikuti mereka, dan mereka berdua berjalan paling belakang.


"Hay Hay, kurasa mereka tidak berniat buruk walaupun aku akan berhati-hati sekali menghadapi mereka. Engkau jangan lupa tugasmu!"


"Tugas.... ? Ah, nona Ouw maksudmu? Jangan khawatir. Kita membagi tugas, engkau bicara dengan tiga orang pendeta Lama itu dan aku bicara dengan Ouw Ci Goat. He-he, tugasku lebih menyenangkan, berdekatan dan bercakap-cakap dengan gadis cantik manis, sedangkan engkau...... heh-heh!"


"Dasar mata keranjang kau!" Han Siong mengomel akan tetapi Hay Hay hanya tertawa saja, walaupun di dalam hatinya, dia harus mengakui bahwa tugasnya jauh lebih berat. Dia harus menyampaikan kenyataan yang amat tidak menyenangkan bagi Ci Goat, dan dia harus mencari akal yang jitu agar gadis itu dapat menerima berita yang disampaikannya dengan tabah.


* * *


"Ci Goat, aku ingin bicara denganmu, bolehkah?"


Gadis itu terkejut. Ia sedang termenung seorang diri di kebun belakang rumah barunya, rumah yang merupakan peninggalan dari suhengnya, yaitu mendiang Thio Ki. Ia sedang termenung dan terkenang akan percakapannya dengan Hay Hay yang pandai merayu, kemudian terkenang akan ucapan pemuda itu yang di depan Han Siong secara terus terang mengatakan keyakinannya bahwa ia mencinta Han Siong! Betapa malu rasa hatinya ketika itu, akan tetapi diam-diam iapun bersukur bahwa Hay Hay telah mengetahui akan isi hatinya dan mewakilinya menyampaikan hal itu kepada Han Siong! Kini ia tinggal menanti bagaimana reaksi dari Han Siong setelah mendengar bahwa ia mencintanya. Diam-diam ia merasa berterima kasih kepada Hay Hay yang perayu akan tetapi tidak kurang ajar itu. Ketika ada suara memanggilnya, Ia tersentak kaget dan menoleh. Kiranya Hay Hay yang memanggilnya. Kedua pipinya menjadi kemerahan, apalagi mendengar betapa pemuda ini menyebut namanya begitu saja, padahal biasanya menyebutnya nona!


“Ah, kiranya Tang-taihiap.....” katanya sambil bangkit berdiri dari atas bangku yang didudukinya tadi.


Hay Hay tersenyum dan agaknya dia pandai membaca hati orang dengan melihat sikapnya. "Jangan kaget kalau aku menyebut namamu begitu saja, Ci Goat.


Setelah kita menjadi kenalan dan sahabat baik, rasanya janggal kalau aku harus menyebutmu nona, apa lagi engkau menyebut taihiap kepadaku, sebut saja toako (kakak), bukankah engkau juga menyebut begitu kepada Han Siong?"



Kedua pipi itu semakin merah sehingga nampak menggairahkan seperti buah tomat! Manisnya melebihi, madu! "Baiklah......toako. Eb. tentu saja boleh bicara dengan aku. Silakan duduk..... "


Bangku itu terlalu pendek. Kalau dia harus duduk di situ bersama Ci Goat, tentu mereka harus duduk berdempetan. Tentu akan senang sekali duduk begitu dekat, akan tetapi Hay Hay maklum bahwa tentu gadis itu yang akan merasa risi dan rikuh. Maka diapun duduk saja di atas batu depan bangku itu, dalam jarak dua tiga meter.


"Kau duduklah, Ci Goat. Aku ingin mengobrol denganmu karena sahabatku Han Siong lebih senang mengobrol dengan tiga orang pendeta Lama itu dari pada dengan aku atau engkau!"

Ci Goat mengerutkan alisnya dan memandang kepada Hay Hay dengan sinar mata jelas membayangkan kekhawatiran. "Tang-taihiap..... eh, toako, siapakah sebenarnya tiga orang pendeta itu dan apakah maksud mereka hendak menemui dan bicara dengan Pek-toako? Kemunculan mereka yang tiba-tiba sungguh mencurigakan!"


Sikap gadis ini yang mengkhawatirkan keadaan Han Siong menambah jelas bagi Hay Hay bahwa gadis ini memang telah jatuh cinta kepada Anak Ajaib itu. Dia tidak pernah dapat melupakan bahwa Pek Han Siong adalah Sin-tong (Anak ajaib) yang menurut pendapat pera pendeta Lama di Tibet, Anak Ajaib adalah seorang anak yang sudah ditakdirkan dan dipilih menjadi seorang Dalai Lama!


"Jangan khawatir, Ci Goat. Apapun yang menjadi maksud mereka, tiga orang pendeta Lama itu tidak akan mampu mencelakai Han Siong. Selain dia sendiri memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, masih ada aku di sini yang selalu siap untuk membantunya andaikata dia terancam bahaya."


Jelas nampak betapa wajah yang tadinya diliputi kekhawatiran itu kini berseri tanda bahwa hatinya lega. "Oh, terima kasih, taihiap..... eh toako."


"Sudahlah, Ci Goat, jangan kita membicarakan orang lain. Aku mengajak engkau mengobrol tentang diri kita sendiri, tidak membicarakan orang lain."


Kini Ci Goat dapat tersenyum. Ia sudah mulai mengenal watak pendekar yang ganteng ini. Watak yang perayu, mata keranjang akan tetapi tetap sopan dan tidak kurang ajar walaupun agak "berani"! Pemuda seperti ini tidak cocok kalau ditanggapi dengan serius, sebaiknya ia bersikap ramah dan main-main pula.


"Tang-toako, engkau ingin bicara tentang apakah?”


"Tentang cinta!"


Sepasang mata itu terbelalak dan Hay Hay terpesona. Gadis ini memang sudah cantik, dengan wajahnya yang putih mulus dan bulat seperti bulan purnama dan senyumnya yang memikat. Akan tetapi begitu sepasang mata itu terbelalak, muncul sepasang bintang yang amat indahnya!


"Apa..... apa maksudmu.... ?” Gadis itu bertanya dengan suara lirih dan muka berubah merah seketika.


Hay Hay tertawa. "He-he, adik Ci Goat yang manis, kenapa engkau begitu tersipu dan terkejut mendengar kata cinta? Apa sih salahnya orang muda bicara tentang cinta?, Engkau sudah cukup dewasa, dan akupun bukan anak-anak. Tidak ada salahnya kalau orang-orang muda seperti kita bicara tentang cinta."


“Tapi....tapi, apa maksudmu?”


Senyum Hay Hay semakin melebar. Dia tahu mengapa gadis itu tersipu. Tentu disangkanya bahwa dia akan menyatakan cinta kepada gadis itu! Ah, betapa mudahnya mengaku cinta kepada gadis-gadis muda cantik, apalagi yang seperti Ci Goat ini. Akan tetapi, pengakuan cinta nya akan merupakan kebohongan besar kalau hal itu dia lakukan. Tidak, dia belum pernah jatuh cinta walaupun entah sudah berapa puluh kali dia tertarik dan suka sekali kepada gadis cantik jelita. Bahkan setiap orang gadis selalu menarik hatinya, menimbulkan rasa suka. Akan tetapi jatuh cinta ? Rasanya belum pernah! Perasaannya terhadap wanita-wanita seperti Ji Sun Bi atau Siok Bi merupakan dorongan nafsu berahi yang dibangkitkan oleh sikap kedua orang wanita itu. Dan memang ada gadis-gadis yang amat dikaguminya, dan disukanya, seperti misalnya Siangkoan Bi Lian dan Cia Kui Hong, akan tetapi diapun tidak tahu apakah dia mencinta seorang di antara mereka atau tidak. Dia ingin bebas, tidak terikat cinta dengan seorang wanita tertentu. Enak bebas, sehingga dia akan bebas pula mengagumi kecantikan setiap orang wanita yang dijumpainya tanpa merasa bahwa dia mengkhianati cintanya terhadap wanita tertentu itu!


"Jangan khawatir, adik manis. Aku tidak bermaksud yang bukan-bukan, hanya aku ingin bicara tentang cinta itu sendiri denganmu, mengingat bahwa engkau adalah seorang wanita yang tentu berbeda pandanganmu tentang cinta, dibandingkan pendapat seorang pria seperti aku."


"Aku masih tidak mengerti, toako. Akan tetapi bicaralah, dan aku akan mencoba untuk mengerti apa yang kaumaksudkan," kata gadis itu tabah karena iapun yakin bahwa pendekar ini tidak akan bicara yang bukan-bukan. Pendekar ini sendiri yang pernah menyatakan bahwa ia jatuh cinta kepada Pek Han Siong, maka tidak mungkin kalau kini dia akan begitu tega untuk menyatakan cinta kepadanya!


"Begini, Ci Goat. Terus terang saja, sampai berusia dua puluh dua atau tiga tahun sekarang ini, aku belum pernah merasakan jatuh cinta. Aku tidak tahu apa cinta itu dan bagaimana rasanya orang jatuh cinta. Tentu saja aku hanya dapat mengirakan saja yang belum tentu benar. Sekarang aku ingin mendengar dari mulut seorang wanita, bagaimana sesungguhnya rasanya orang jatuh cinta?"

Ci Goat tersenyum. Pemuda ini memang aneh luar biasa! Mengajak ia berbincan-bincang tentang cinta, bukan untuk mengaku cinta. Ia sendiripun baru sekali jatuh cinta yaitu sekarang ini jatuh cinta kepada Pek Han Siong dan ia lalu mengenangkan segala perasaan yang dirasakannya selama ia jatuh cinta ini. Ia ingin jujur kepada Hay Hay yang ketika mengajukan pertanyaan itu kelihatan demikian sungguh-sungguh, tidak berkelakar lagi.


"Rasanya jatuh cinta? Hemm, aku sendiripun tidak yakin apakah pendapatku ini benar, koko. Akan tetapi.... agaknya orang yang jatuh cinta itu selalu terkenang kepada orang yang dicintanya. Kalau siang jadi kenangan, kalau malam jadi impian. Ingin. selalu dekat, ingin selalu bersamanya, ingin melihat dia berbahagia, ingin memiliki dan dimiliki selamanya, ingin........ ah, hanya itulah yang kuketahui."


Hay Hay memandang dan ada rasa iba di dalam hatinya. Gadis ini jelas telah jatuh cinta kepada Han Siong, maka dapat mengatakan itu semua dan ketika mengatakan perasaan cinta itu, matanya melamun kosong dan jelas bahwa pada saat bicara perasaannya juga ikut bicara! Kasihan, gadis ini menjatuhkan benih cinta di atas tanah yang sudah ada tanamannya, sehingga benih itu akan sia-sia dan tidak dapat tumbuh!

"Ah, bagus sekali! Hampir tidak ada bedanya dengan yang kubayangkan, Goat-
moi, (adik Goat)! Aku setuju sekali dan agaknya memang demikianlah perasaan
hati orang yang sedang jatuh cinta. Sekarang aku ingin sekali tahu bagaimana pendapatmu, seorang wanita, terhadap keadaan seorang pria yang gagal dalam cintanya."

"Gagal dalam cintanya? Apa yang kaumaksudkan, toako?"


"Begini, adikku. Ada seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang gadis, jatuh cinta setengah mati! Akan tetapi kemudian dia mendapat kenyataan bahwa gadis yang dicintanya mati-matian itu ternyata telah mencinta seorang pemuda lain! Cintanya hanya bertepuk tangan sebelah! Lalu menurut pendapatmu, apa yang harus dilakukan oleh pemuda yang gagal dalam cintanya itu? Apakah dia harus bunuh diri di depan gadis itu? Ataukah dia harus membunuh kekasih gadis yang dicintanya itu?"


Gadis itu mengerutkan alisnya dan sinar matanya berkilat seperti orang marah, tanda bahwa ia sama sekali tidak setuju dengan pendapat itu.


"Ihhh! Kenapa harus membunuh diri atau membunuh kekasih gadis itu? Itu adalah perbuatan yang bodoh dan jahat!” jawabnya hampir berteriak.


Hay Hay menyembunyikan senyum dari mulut dan matanya. Dia memandang dengan sikap penasaran. "Lhoh! Kenapa bodoh dan jahat, Goat-moi? Bukankah pemuda itu menjadi sakit hati karena cintanya ditolak dan gadis itu memilih pemuda lain?"


"Hati boleh sakit, akah tetapi pikiran harus tetap waras! Mana ada cinta yang dipaksakan oleh sepihak kalau pihak lawan tidak menyambutnya? Cinta harus timbul dalam hati kedua pihak, baru jadi! Kalau gadis itu menolak cintanya karena telah mencinta pemuda lain, maka gadis itu tidak bersalah dan tidak bersalah pula kekasihnya. Mengapa harus dibunuh? Dan pemuda yang putus cinta lalu membunuh diri adalah seorang yang bodoh dan totol!! Di dunia ini masih banyak sekali terdapat gadis-gadis yang mungkin lebih cantik dari pada yang dicintanya, yang siap untuk menyambut cintanya itu. Eh, toako... apakah..... apakah engkau pemuda itu? Maafkan aku.... "


Hay Hay tertawa dan dari suara ketawanya saja tahulah Ci Goat bahwa bukan Hay Hay pemuda itu, maka hatinya terasa lega. "Sukurlah kalau bukan engkau, Tang-toako!" sambungnya.

"Kita hanya ngobrol saja tentang cinta dan liku-likunya, tidak menyinggung seseorang. Pendapatmu tadi memang tepat dan agaknya cocok sekali dengan pendapatku sendiri."

"Tang-toako, bagaimanapun juga..... aku merasa kasihan sekali kepadanya. Aku tahu siapa yang kaumaksudkan dan aku merasa kasihan sekali. Sungguh luar biasa sekali, bagaimana ada seorang gadis yang dapat menolak seorang seperti dia untuk menjadi suaminya .....! Ah, betapa dia mencinta gadis itu, akan tetapi gadis bodoh itu menolak cintanya...... apakah ia telah mencintai orang lain?"


Melihat gadis itu seperti bicara kepada dirinya sendiri, Hay Hay mengerutkan alisnya dan memandang dengan penuh perhatian. "Heiii, Goat-moi, apa yang kaubicarakan itu? Siapa yang kaumaksudkan dengan pemuda itu?"


"Aih, engkau masih pura-pura tidak tahu, toako? Sebagai seorang sahabat baiknya, engkau tentu sudah tahu bahwa yang kumaksudkan adalah toako Pek Han Siong. Tunangannya itu menolak untuk menjadi istrinya."


Tentu saja Hay Hay tidak tahu akan hal ini, akan tetapi dengan cerdik dia mengangguk. "Ah, benar, tentu saja aku tahu akan hal itu, hanya tak kusangka bahwa dia sudah bercerita tentang hal itu kepadamu, maka aku tadi tidak menyangka bahwa engkau maksudkan dia. Sekarang sebaiknya kita tidak membicarakan orang lain dan kita melanjutkan obrolan kita tentang cinta."


Gadis itu tersenyum. "Bicaralah, toa-ko. Agaknya engkau memang seorang yang memperhatikan tentang cinta."


"Tentu saja, adik manis. Apa artinya hidup tanpa cinta? Dan kalau kita pikir secara mendalam, tanpa adanya cinta, engkau dan aku tidak akan terlahir di dunia ini!" Hay Hay tertawa ,dan biarpun mukanya berubah merah mendengar ucapan yang penuh arti itu, mau tidak mau Ci Goat juga tertawa.


"Persoalan cinta apa lagi yang akan kau kemukakan, toako?" Ia mulai tertarik
oleh percakapan tentang cinta ini, hal yang tentu saja amat menjadi perhatiannya karena ia sendiripun sedang dilanda cinta. "


"Masih persoalan yang tadi, akan tetapi peranannya dibalik. Sekarang seorang wanita yang jatuh cinta kepada seorang pria, akan tetapi ternyata bahwa pria itu tidak dapat menerima cintanya, atau menolak cintanya karena pria itu telah mempunyai pilihan hati, telah mencinta seorang gadis lain. Nah, kalau demikian keadaanya, lalu apa yang harus dilakukan gadis itu?"



Sejenak gadis itu memandang wajah Hay Hay dan pemuda inipun balas memandang. Dua pasang mata saling memandang dan Hay Hay melihat betapa sinar mata itu meredup, wajah itu memucat dan betapa bola mata yang bening itu menjadi basah. Biarpun mulut gadis itu masih tersenyum, namun senyum itu membuat dia merasa, jantungnya disayat, membuat dia ingin nierangkul dan menghiburnya karena dia tahu bahwa gadis itu telah mengerti, bahwa gadis itu merasa betapa hatinya ditusuk-tusuk. Suaranya gemetar dan mata itu menunduk, bibir itu menggigil ketika akhirnya ia berkata.

"Tang-toako... tolonglah.... tolong engkau saja yang mengatakan, apa yang harus dilakukan gadis itu dalam keadaan seperti itu? Bunuh diri? Atau mencukur gundul rambutnya, menjadi nikouw (pendeta wanita)? Katakanlah, toako, dan aku akan mempertimbangkannya...... "


"Bunuh diri? Menjadi nikouw? Hanya gadis tolol dan bodoh yang akan melakukan hal itu, Goat-moi! Seperti kaukatakan tadi. Cinta tidak mungkin hanya bertepuk sebelah tangan. Cinta tidak mungkin dapat dipaksakan! Kalau memang pemuda itu tidak dapat membalas cintanya karenanya telah mencinta gadis lain, berarti ia tidak berjodoh dengan pemuda itu! Dali ia tidak perlu terlalu berduka atau putus asa. Dunia bukan sebesar buah appel! Di dunia ini masih ada jutaan pemuda yang mungkin lebih segala-galanya dari pada pemuda yang tak dapat membalas cintanya itu! Gadis itu harus dapat melupakan pemuda itu, hidup bebas dan mentertawakan saja kegagalan cintanya, menganggapnya sebagai suatu pengalaman hidup! Habis perkara!"


Akan tetapi Hay Hay melihat betapa gadis itu menahan-nahan air matanya, betapa bibir itu gemetar dan suara itu, sukar sekali keluarnya seolah, lehernya tercekik ketika Ci Goat bertanya, "Toako....apakah dia masih mencinta gadis yang telah menolaknya itu? Sepasang mata itu kini seperti mata kelinci yang ketakutan, seperti mata yang penuh harap akan pertolongan, dan air yang tadi menggenang di pelupuk mata, kini mulai menetes turun, dua butir seperti mutiara perlahan menuruni kedua pipl yang agak pucat itu.

Hay Hay merasa terharu sekali, merasa lehernya seperti dicekik dan dia tidak mampu mengeluarkan suara. Akan tetapi, walaupun dia tidak tahu benar akan hubungan Han Siong dengan gadis kekasihnya itu, dia mengambil keuntungan untuk berterus terang bahwa Han Siong tidak dapat menerima cinta Ci Goat, maka dia lalu mengangguk. Anggukan tanpa kata yang amat tajam membabat putus tali harapan Ci Goat dan mukanya dengan kedua tangannya.


Hay Hay memandang dengan hati seperti diremas. Melihat betapa gadis itu mengguguk dan air mata mengalir keluar melalui celah jari-jari kedua tangan yang menutupi muka, di luar kesadarannya dia lalu bangkit dan menghampiri Ci Goat, duduk di sampingnya di atas bangku, merangkul pundaknya dan berkata lembut. "Sudahlah, Ci Goat, kuatkan hatimu.... tenangkan pikiranmu...... "


Sentuhan lembut dan kata-kata halus itu seperti membuka bendungan di hati Ci Goat. la menjerit dan merangkul, lalu menangis dengan tak terbendung lagi, sesenggukan di atas dada Hay Hay! Pemuda ini memeluk, membenamkan mukanya pada kepala yang penuh rambut halus itu, tangannya mengelus pundak dan kepala, penuh rasa sayang dan iba seperti menghibur seorang adiknya sendiri. Karena hatinya diliputi keharuan yang mendalam, Hay Hay kehilangan kewaspadaannya dan dia tidak tahu bahwa pada saat itu, tiga pasang mata mengamatinya dari jauh. Tiga pasang mata yang mencorong tajam dan penuh kekuatan sihir! Mata tiga orang pendeta Lama yang agaknya sudah selesai melakukan pembicaraan dengan Han Siong dan kini mereka meninggalkan rumah yang kini menjadi tempat tinggal Ouw Lok Khi.


"Hemm, pasangan yang cocok. Wanitanya cantik, prianya tampan dan gagah!" kata Pat Hoa Lama.


"Omitohud !" kata Janghau Lama. "Apakah engkau tergerak dan merasa iri melihat adegan itu, sute?"


"Aih, ji-suheng (kakak seperguruan ke dua)! Bagaimana engkau dapat berkata seperti itu? Pinceng hanya mengatakan bahwa mereka itu pasangan yang cocok dan.....”

"Ssttt, jangan ribut dan jangan bertengkar.” Gunga Lama mencela dua orang adik seperguruannya. "Kita tadi melihat betapa lihainya pemuda itu. Hemmm...... suatu kesempatan baik sekali, dua orang pemuda itu harus dipisahkan dulu, baru kita dapat membawa Sin-tong tanpa halangan ke Tibet!"


"Bagaimana caranya, toa-suheng (kakak seperguruan terbesar)?" tanya kedua orang adik seperguruan itu.


"Ssttt, serahkan pada pinceng. Mari kita cepat pergi dari sini!"


Sementara itu, setelah menumpahkan segala kedukaan hatinya melalui tangis yang tidak terbendung lagi, sampai baju di bagian dada Hay Hay basah kuyup, bahkan air mata itu membasahi pula kulit dadanya, Ci Goat baru merasa lega. Tangisnya kini hanya tinggal isak saja.


Kesempatan ini dipergunakan oleh Hay Hay untuk mengelus rambut kepalanya. "Nah, sudah habiskah air matamu, Goat-moi? Bagus, semua kesedihan kosong itu harus dilarutkan dengan banjir air mata, biar habis tak berbekas lagi. Lebih baik engkau menangis sepuasmu begitu dari pada engkau membunuh diri seperti gadis tolol, atau menjadi nikouw. Wah, kepalamu akan menjadi gundul, rambutmu yang indah ini akan lenyap dan tentu engkau akan kelihatan lucu sekali, lucu dan jelek!"


Ucapan i tu seperti mengusir sisa isak di dada Ci Goat. la segera melepaskan diri dan menarik tubuhnya ke belakang, memandang kepada pemuda itu dengan mata merah dan agak membengkak karena tangis. Akan tetapi mulutnya membentuk senyum pahit.


"Terima, kasih, toako, terima kasih. Sungguh engkau merupakan sahabat dan seperti seorang kakak yang baik hati. Katakanlah, apakah dia.... Pek-toa-ko, tahu bahwa engkau datang menceritakan semua ini kepadaku?"



Hay Hay mengangguk. "Dialah yang minta tolong kepadaku agar aku menyampaikan kepadamu bahwa tidak mungkin baginya untuk menerima dan membalas cintamu.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Dewasa Silat : Ang Hong Cu 2 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Dewasa Silat : Ang Hong Cu 2 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cerita-dewasa-silat-ang-hong-cu-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Dewasa Silat : Ang Hong Cu 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Dewasa Silat : Ang Hong Cu 2 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Dewasa Silat : Ang Hong Cu 2 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cerita-dewasa-silat-ang-hong-cu-2.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

Anonim mengatakan...

lanjutan ceritanya mana....????

Poskan Komentar