Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 2 KPH Tamat

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 11 Mei 2012

Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 2 KPH Tamat seri kedua dari Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 1 KPH. Selamat Membaca...

Akan tetapi semua anggauta dan pengikut amat hormat dan taat kepadanya karena memang orang ini memiliki ilmu
kepandaian yang amat tinggi, bukan hanya dalam ilmu silat akan tetapi juga ilmu gaib. Sian-su ini dikabarkan
memiliki kepandaian seperti dewa, dapat menghilang, dapat mendatangkan tujuh dewa yang dipuja-puja itu. Bukan
itu saja, bahkan dalam upacara-upacara diadakan pesta yang oleh Sian-su dinamakan pesta pembebasan nafsu
badaniah! Di dalam pesta seperti ini, mereka membiarkan diri hanyut dalam seretan gelombang nafsu berahi yang
melanda mereka di mana mereka boleh melampiaskan nafsu berahi mereka sepuasnya dengan siapapun juga asal tidak
ada unsur pemaksaan. Menurut ajaran Sian-su itu, nafsu itu akan meliar dan kalau diberi penyaluran sewajarnya
tanpa ada perbuatan paksa, akhirnya nafsu itu akan habis sendiri kekuatannya dan tidak lagi mencengkeram
jasmani kita sehingga jasmani kita cukup memenuhi syarat untuk menjadi jasmani yang bersih dan dihuni oleh jiwa
yang bersih pula dan yang kelak akan diterima menjadi kesayangan Dewa Kematian. Tentu saja pelajaran yang
diberikan ini merupakan pelajaran palsu yang amat berbahaya dan sama sekali tidak dapat dibuktikan
kebenarannya. Yang jelas dapat dinyatakan adalah bahwa nafsu keinginan dalam bentuk apapun juga timbul dari
pada si aku yang ingin senang, dan nafsu ini bersifat seperti api yang apabila diberi hati, apabila dituruti
akan seperti api yang diberi bahan bakar. Makin banyak diberi bahan bakar, makin bernyala dan makin menjadi,
makin membesar dan tidak akan padam lagi. Mengendalikan nafsupun tidak akan ada gunanya. Mematikan nafsu dengan
kekerasan kemauanpun percuma karena yang mematikan dengan kekerasan itu adalah kemauan si aku pula yang ingin
senang, yang menganggap bahwa kalau dapat mematikan nafsu itu akan lebih senang dari pada kalau dikuasai nafsu.
Sering kali terjadi konflik dalam batin sendiri.
Di satu pihak keinginan atau nafsu itu timbul, di lain pihak keinginan untuk mematikanpun timbul. Konflik ini
merupakan api dalam sekam yang nampaknya saja padam, namun sesungguhnya masih membara dan sewaktu-waktu akan
dapat berkobar lagi kalau penutupnya kurang kuat atau terbuka. Nafsu itu sendiri merupakan enersi yang hebat.
Nafsu itu sendiri amat penting bagi kehidupan. Hanya cara penggunaannya yang menentukan apakah ia merusak
ataukah mendatangkan manfaat. Dan cara yang baik dan benar ini timbul dengan sendiri melalui kewaspadaan dan
kesadaran dari pengamatan diri pribadi. Pengamatan diri pribadi akan menimbulkan kebijaksanaan dan dengan
sendirinya timbul ketertiban yang tidak diatur lagi oleh si aku yang ingin senang. Pengamatan diri pibadi ini
dapat terjadi setiap saat, yang berarti ada perhatian dan waspada sepenuhnya terhadap gerak-gerik kita, baik
gerak-gerik hati, pikiran, kata-kata maupun perbuatan. Bukan mengamati sambil menilai karena penilaian itu juga
merupakan hasil pekerjaan si aku! Jadi, kita harus sungguh-sungguh waspada akan segala kepalsuan yang terjadi
setiap saat, bukan hanya kepalsuan yang terjadi di luar diri, melainkan terutama sekali kepalsuankepalsuan yang
terjadi di dalam batin kita sendiri. Dengan umpan kesenangan dalam pemuasan nafsu berahi ini, Sian-su berhasil
menarik minat banyak orang untuk menjadi pengikut perkumpulan agamanya.
Tentu saja diapun memilih-milih orang, terutama sekali dipilih orang-orang yang berkedudukan, yaitu para
bangsawan, hartawan, dan juga orang-orang yang memiliki ilmu silat atau yang menamakan diri mereka
pendekarpendekar. Dan kerena sifat dari pesta-pesta agama ini, para pengikut itu sendiri merahasiakannya dari
orang luar karena bagaimanapun juga, setiap orang manusia itu mempunyai naluri akan penyelewengannya sendiri
dan merasa malu kalau penyelewengannya diketahui orang. Demi kesenangan yang telah mencandu, mereka itu dengan
sendirinya memerangi perasaan salah ini dengan berbagai alasan pelajaran keagamaan seperti yang diajarkan oleh
Sian-su. Hanya pada hari-hari tertentu saja mereka berdatangan ke tempat itu, dan hanya para anggauta inilah
yang tahu jalannya, malalui jalan rahasia yang hanya terbuka untuk mereka, yaitu tempat pemujaan di
tengah-tengah pegunungan yang tidak nampak dari luar dan hanya dapat dicapai malalui jalan terowongan rahasia
itu. Sudah lebih dari dua tahun perkumpulan agama itu bersarang di situ, akan tetapi tidak ada yang
mengetahuinya kecuali para anggauta atau pengikut. Para pengikut ini telah banyak menyerahkan uang sumbangan
kepada perkumpulan, akan tetapi mereka tahu pula bahwa uang itu dipergunakan untuk memajukan perkumpulan dan
terutama sekali untuk menyenangkan mereka.
Pesta-pesta itu, dengan hidangan-hidangan yang lezat, membutuhkan uang. Juga untuk memelihara para anggauta
atau murid-murid wanita yang cantik-cantik, muda dan pandai menari itupun membutuhkan uang. Apa lagi untuk
membangun "istana" mereka yang berada di puncak bukit tersembunyi itu, membuat pondok-pondok untuk tujuh dewa,
semua membutuhkan uang yang amat banyak. Karena itu mereka tidak merasa sayang untuk menyumbangkan harta benda.
Tentu saja mereka yang sudah percaya penuh kepada kebjaksanaan Sian-su itu sama sekali tidak mau percaya akan
desas-desus bahwa perkumpulan mereka itu melakukan kejahatankejahatan akhir-akhir- ini. Mereka menganggapnya
sebagai kabar bohong dan fitnah belaka. Mereka tidak tahu bah-wa nafsu ketamakan orang yang mereka sebut
Sian-su itu makin lama semakin menjadi dan untuk membuat pondok-pondok dan benda-benda dari emas tulen itu
membutuhkan banyak sekali uang. Dan untuk memenuhinya, orang itu telah mempergunakan kepandaiannya sendiri dan
kepandaian anak buahnya untuk melakukan pencurian-pencurian. Juga untuk memperlengkapi persediaan mereka akan
wanita-wanita cantik, maka perkumpulan ini mulai pula melakukan penculikan-penculikan atas diri wanita-wanita
muda dan cantik.
Bahkan, tin-dakan Sian-su sudah sedemikian berani untuk memenuhi "pesanan" dari pemujanya, dan pada ma-lam hari
itu dia telah memenuhi pesanan dari pemuda bangsawan Phang yang tergilagila kepada nyonya Cia Kok Heng! Akan
tetapi, yang tahu akan hal ini hanyalah pemuda Phang itu dan Sian-su sendiri dan tentu saja untuk jasa ini
pemuda Phang yang kaya raya itu tidak sayang untuk memberi hadiah sumbangan yang amat besar! Perkumpulan agama
ini mempunyai anak buah yang tidak terlalu banyak, hanya kurang lebih empat puluh orang, terdiri dari berbagai
golongan, akan tetapi rata-rata mereka memiliki ilmu silat yang lumayan. Mereka ini adalah anak buah dan juga
murid-murid Sian-su yang memiliki dasar ilmu silat berbagai aliran. Tidak semua dari mereka dari golongan
penjahat, bahkan banyak pula yang terdiri dari orang baik-baik yang tertarik akan agama itu dan kemudian
menjadi pengikut lalu diangkat menjadi murid dan anak buah. Se-perti juga Sian-su, setelah menjadi anak buah
perkumpulan agama itu dalam melaksanakan tugas mereka semua menggunakan pakaian seragam dan juga topeng tengkorak.
Mengapa mereka mempergunakan pakaian dan topeng tengkorak? Hal ini adalah untuk menyata-kan pujaan mereka
terhadap Dewa Kematian. Tengkorak merupakan lambang kematian, dan kebetulan sekali mereka mendapatkan sarang di
Guha Tengkorak yang sungguh merupakan tempat yang amat cocok untuk perkumpulan agama mereka. Anak buah
perkumpulan itu telah disumpah setia terhadap Sian-su dan disamping sumpah ini yang diperkuat oleh kepercayaan
mereka terhadap Dewa Kematian, juga mereka takut sekali terhadap Sian--su yang mereka tahu memiliki ilmu
kepandaian yang amat tinggi. Maka, mereka tahu bahwa berkhianat atau melanggar pantangan berarti kematian yang
mengerikan bagi mereka, baik di tangan Sian-su ataupun juga di tangan Dewa Kematian yang tentu akan menyiksa
mereka di alam baka! Sian-su yang berilmu tinggi itu dapat mencengkeram dan menguasai semua anak buah atau
muridnya, juga menguasai semua wanita pelayan dan penari, menguasai para pengikut dengan menggunakan ilmu
sihirnya dan ramu-ramuan obat pembius dan perangsang yang dicampurkannya dalam minuman.
Perlahan-lahan namun pasti, pengaruhnya meluas dan anggautanya bertambah, para pengikutnya juga bertambah.
Melihat betapa pesta itu berobah menjadi tempat pemuasan nafsu tanpa mengenal batas kesopanan lagi, bahkan di
antara pasangan-pasangan yang menari-nari dan berpelukan sambil berciuman itu ada yang sambil tertawa-tawa
sudah bergandengan tangan menuju ke sudut-sudut di mana terdapat kasur-kasur kecil dengan pakaian si wa-nita
sudah tidak karuan lagi, Thian Sin menjadi muak. Dia sendiri adalah seorang pemuda yang romantis. Namun dia
memandang hubungan antara pria dan wanita sebagai sesuatu yang indah, sesuatu yang merupakan pencurahan dari
pada kasih yang bukan hanya merupakan pemuasan nafsu berahi belaka. Apa lagi kalau dilakukan secara demikian
kasar, di depan orang banyak, tanpa sedikitpun memperdulikan kesusilaan dan sopan san-tun, tentu saja
perasaannya tersingung dan dia menjadi tidak senang. "Taihiap, marilah... apakah taihiap tidak ingin
bersenang-senang? Mari kulayani, taihiap... aku sengaja mengelak dari siapapun juga untuk melayanimu... "
Tiba-tiba ada lengan kecil berkulit halus merangkulnya dan hidungnya mencium bau semerbak harum. Thian Sin
menengok dan melihat bahwa yang merangkulnya adalah gadis yang tadi menerima sumbangannya. Pada saat itu hati
Thian Sin sedang kesal dan murung, marah yang ditahan-tahan. Maka, sikap gadis ini membuatnya marah, apa lagi
ketika gadis itu tanpa malu-malu lagi lalu menciumnya dan menarik--narik lengannya. "Pergilah!" bentaknya dan
sekali dorong, gadis itu terpelanting dan jatuh sampai beberapa meter jauhnya. Diapun melihat betapa para
anggauta perkumpulan itu, yang sejak tadi tidak ikut pesta melainkan berdiri dan berjaga, memandang kepadanya
penuh perhatian dan begitu dia mendorong jatuh gadis itu, lima orang di antara me-reka segera berloncatan dan
sudah mengurungnya. Thian Sin berdiri tegak dan bersikap tenang, mak-lum bahwa bagaimanapun juga akhirnya dia
tidak akan dapat lolos dari pertempuran. "Ceng-taihiap, sebagai tamu, taihiap telah melangqar peraturan dan
melakukan penghinaan terhadap murid-murid kami yang terkasih," terde-ngar suara Sian-su yang ternyata sudah
berada pula di situ. Tangannya menunjuk ke arah gadis yang tadi jatuh, yang kini sudah berdiri dan memegangi
siku tangan kirinya yang berdarah, kemudian gadis itu melangkah pergi dengan kepala menunduk. "Sian-su, aku
memang muak melihat semua ini dan aku telah menolakya, habis kalian mau apa?" tanyanya sambil memandang kepada
lima orang yang mengurungnya dan mengambil sikap menyerangnya itu. Dia melihat bahwa di antara lima orang ini
terdapat tosu penghuni kuil itu yang dikenalnya dari kebiasaannya memiringkan kepala.
"Siancai... agaknya taihiap hendak mengandalkan kepandaian menentang kami. Ataukah taihiap hendak meramaikan
pesta ini dengan pertunjukan ilmu silat?" "Terserah apa yang hendak diartikan, akan tetapi yang jelas, aku akan
pergi dari tempat kotor ini!" kata Thian Sin.
Dia sudah membalikkan tubuhnya hendak pergi melalui anak tangga dari mana dia datang tadi, akan tetapi lima
orang itu dengan sekali loncatan telah menghadang di depannya. "Ah nanti dulu, taihiap. Tidak semudah itu untuk
pergi meninggalkan tempat ini tanpa seijin kami. Kalau taihiap hendak memperlihatkan ilmu silat, baiklah. Biar
aku melihat sendiri sampai mana kehebatan ilmu Pendekar Sadis yang terkenal itu." Lalu dia memberi isyarat
kepada lima orang itu dan berkata, "Tangkap dia!" Lima orang itu adalah lima orang pembantu utama dari Sian-su
merupakan murid-murid kepala yang paling lihai di antara semua anggauta atau murid dan di antara lima orang ini
memang terdapat tosu penghuni kuil yang tentu saja bukan bertapa di kuil itu melainkan bertugas sebagai penjaga
dan pengintai. Biarpun ketua mereka memberi perintah lisan agar menangkap Pendekar Sadis, akan tetapi dari
isyarat dengan tangan itu mereka maklum bahwa mereka disuruh membunuh musuh yang berbahaya ini. Maka, begitu
tangan mereka bergerak, lima orang bertopeng siluman tengkorak itu sudah mencabut pedang mereka dari balik
jubah di mana senjata mereka itu disembunyikan. Melihat ini, Thian Sin tersenyum. "Majulah, kalau kalian
menghendaki demikian!" Dia masih berdiri tegak, tidak mau mengeluarkan pedang Gin-hwa-kiam yang tersembunyi di
balik bajunya. Lima orang bertopeng tengkorak itu tiba-tiba menggerakkan pedang mereka dan mulailah mereka
menyerang bergantian secara bertubi-tubi dan teratur. Pedang mereka berkelebatan menyilaukan mata tertimpa
sinar lampu-lampu di sekeliling tempat itu dan setiap gerakan mereka itu selain cepat juga kuat sekali.
Hal ini tentu saja diketahui Thian Sin dan pemuda inipun bersikap waspada, mempergunakan kecepatan tubuhnya
untuk mengelak dan kadang-kadang dia menggunakan tangannya untuk menangkis. "Plak! Plakk!" Ketika tangan
kirinya dengan gerakan cepat menangkis dua batang pedang, si pemegang pedang terhuyung mundur dan mereka
terkejut sekali. Dengan tangan telanjang pemuda itu mampu menangkis pedang dengan kekuatan sedemikian dahsyat,
maka hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya Pendekar Sadis. Sedangkan Sian-su sejak tadi nonton di
pinggiran sambil merangkul pinggang ramping gadis yang tadi melayaninya. Beberapa kali dia mengangguk-angguk
dan pandang matanya menjadi semakin kagum. Dari beberapa jurus saja tahulah dia bahwa Pendekar Sadis ini
benar-benar amat lihai sekali. Alangkah baiknya dan betapa menguntungkan kalau dia bisa menariknya sebagai
pembantu utamanya! Kini, yang menjadi pembantu utamanya adalah lima orang murid kepala ini, akan tetapi agaknya
mereka ini tidak akan menang melawan Pendekar Sadis, walaupun mereka semua memegang pedang dan Pendekar Sadis
hanya bertangan kosong saja. Pertandingan itu menarik perhatian mereka yang sedang berpesta. Akan tetapi,
mereka yang tidak mengenal ilmu silat, para bangsawan dan hartawan yang sedang mabok berahi, tidak
memperdulikan pertandingan itu dan melanjutkan kesenangan mereka, berpasang-pasangan dan melanjutkan permainan
mereka di sudut-sudut ruangan yang luas itu menyendiri berduaan saja. Mereka yang mengenal ilmu silat, terutama
para pengikut yang berasal dari golongan pendekar, menjadi tertarik dan biarpun mereka masih merangkul pinggang
pasangan masing-masing, mereka mendekat dan menonton dengan penuh perhatian.
Para anak buah perkumpulan itupun sudah mengurung tempat itu dan bersiap-siaga, bahkan ada sepuluh orang yang
berderet dengan busur dan anak panah siap diluncurkan. Semua ini tidak terlepas dari pandang mata Thian Sin.
Dia maklum bahwa dia akan mengha-dapi pengeroyokan dan karena dia belum tahu sampai di mana kelihaian Sian-su,
juga para pendekar yang mabok berahi itu, maka keadaannya cukup berbahaya. Apa lagi dia berada di pusat tempat
rahasia itu yang banyak mengandung perangkap-perangkap. Maka diapun tidak mau menjatuhkan tangan maut. Tepat
seperti yang diduga oleh Sian-su, kini Thian Sin memperlihatkan ke-pandaiannya dan lima orang itu, walaupun
semua-nya bersenjata, terdesak hebat. Setiap tangkisan itu membuat mereka terhuyung dan semua serangan mereka
tidak ada gunanya sama sekali, kalau tidak terpental oleh tangan pemuda itu, tentu hanya mengenai tempat kosong
saja, se-baliknya setiap tamparan tangan pemuda itu, baru angin pukulannya saja membuat mereka kewalahan.
Tiba-tiba Thian Sin berteriak, "Pergilah kalian!" Dan kaki tangannya bergerak cepat sekali. Terdenqar suara
berkerontangan dan nampak lima ba-tang pedang terlempar ke sana-sini sedangkan lima orang itupun terjengkang
dan terpelanting ke kanan kiri! Mereka tidak terluka parah, akan tetapi senjata mereka terlepas dari tangan dan
tubuh mereka terpelanting, ini sudah merupakan bukti cukup bahwa mereka telah kalah! Sian-su, pendeta siluman
itu, kini melepaskan rangkulan dari pinggang ramping kekasihnya, dan sekali melompat dia sudah berhadapan dengan Thian Sin.
"Siancai, siancai...! Pendekar Sadis memang benar tangguh, cukup pantas untuk menjadi lawan-ku! Mari kita
main-main sebentar, taihiap!" Thian Sin melihat perobahan pada sikap para pengikut agama yang datang mendekat.
Melihat betapa Sian-su sendiri yang maju, agaknya mereka-pun merasa penasaran dan di antara mereka bah-kan ada
yang sudah melepaskan rangkulan mereka kepada gadis pasangan mereka masing-masing dan mereka bersikap
mengancam. Akan tetapi pada saat itu, pendeta siluman itu sudah menerjangnya dengan pukulan yang cukup dahsyat.
Sebelum tangannya tiba, sudah ada angin pukulan yang dahsyat menyambar dan ini saja menunjukkan bahwa pendeta
siluman itu memiliki tenaga sin-kang yang kuat sekali. Thian Sin juga tidak mau main-main lagi dan dia sudah
mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk menangkis. Thian-te Sin-ciang (Tangan Sakti Langit Bumi) ini adalah
penghimpunan sin-kang yang luar biasa kuatn-ya, yang membuat kedua tangan pemuda itu mampu menangkis senjata
tajam tanpa terluka, me-rupakan satu di antara sekian banyak ilmu luar biasa yang dikuasainya. Kini, menghadapi
lawan yang diketahuinya amat tangguh, Thian Sin tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan ilmunya ini untuk
menandingi tenaga dalam lawannya. "Dukk!" Pertemuan dua tenaga sakti yang amat hebat itu terasa oleh semua
orang yang menjadi penonton. Ada getaran hebat menyambar ke sekeliling tempat itu. Thian Sin sendiri merasa
betapa tubuhnya terguncang yang memaksa dia melangkah mundur dua tindak, akan tetapi Siansu itu sendiri juga terhuyung ke belakang.
"Hebat...!" Sian-su memuji, bukan pujian kosong karena dia benar-benar merasa kagum dan semakin besar
keinginannya untuk dapat menarik pemuda sehebat ini sebagai sekutunya atau pembantunya. Tentu kedudukannya akan
menjadi ma-kin kuat kalau dia dapat menarik pemuda ini menjadi sekutunya. Kini dia menyerang lagi dan dia
mengerahkan gin-kangnya. Diam-diam Thian Sin terkejut bukan main.
Kiranya siluman ini adalah seorang ahli gin-kang yang hebat! Kim Hong tentu tertarik sekali melihat ini, karena
Kim Hong sendiri adalah orang ahli gin-kang yang sukar di-cari bandingnya. Dan agaknya, pendeta siluman ini
benar-benar hebat sekali ilmunya meringankan tubuh sehingga tubuhnya berkelebatan sepert terbang saja. Thian
Sin harus mengakui bahwa biarpun belum tentu siluman ini dapat menandingi Kim Hong dalam hal ilmu meringankan
tubuh, namun dia sendiri masih kalah setingkat oleh pendeta siluman ini! Maka diapun lalu mainkan Ilmu Thai-kek
Sin-kun, ilmu yang memiliki dasar amat kuat sehingga biarpun diserang dari jurusan manapun dengan kecepatan
yang bagaimanapun, dengan ilmu ini dia dapat menjaga diri dan bahkan balas menyerang dengan tidak kalah
hebatnya. Dengan ilmu silat ini, maka boleh dibilang kemenangan pendeta siluman itu dalam hal kecepatan dapat
dipunahkan. Setelah lewat lima puluh jurus, agaknya pendeta siluman itu sudah puas dan kagum sekali. Dalam lima
puluh jurus dia tidak mampu mengalahkan pemuda ini bahkan kalau dilanjutkan, belum tentu dia akan menang. Maka
tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tangannya menampar ke arah kepala Thian Sin. Pemuda itu
menangkisnya.
"Plakk! Brettt...!" Ujung lengan baju Thian Sin terobek karena begitu tertangkis, pendeta si-luman itu merobah
tangannya menjadi cengkeraman yang bergerak ke bawah mencengkeram pergelangan tangan Thian Sin, akan tetapi berkat tenaga Sin-ciang, cengkeraman itu meleset dan hanya merobek ujung lengan baju.
"Ha-ha-ha, lengan bajumu robek, taihiap!" Sian-su berkata sambil mengangkat robekan itu ke atas dan memandang
penuh rasa puas karena robekan lengan baju itu dapat dijadikan bukti bahwa dia telah menang setingkat.
Akan tetapi, pandang mata Thian Sin ke arah jubahnya membuat dia menunduk dan melihat ke arah dadanya dan
terkejutlah dia melihat betapa kain jubah di bagian dadanya berlubang dan kini robekan kain putih itu berada di
tangan Thian Sin! Kalau saja tidak ada topeng tengkorak yang menutupi, tentu akan nampak wajah itu merah
sekali. Saking merasa malu, pendeta siluman itu menjadi marah dan diapun sudah menyerang lagi dengan ganas.
Thian Sin menyambutnya dengan tenang dan untuk kedua kalinya, ketika lengan mereka beradu, pendeta siluman itu
terhuyung ke belakang sedangkan Thian Sin hanya terdorong mundur dua langkah saja. Hal ini membuat pendeta
siluman itu mengambil keputusan untuk mempergunakan ilmu sihirnya. Dia berdiri tegak dan menggerakkan kedua
tangan ke atas kepala, bertepuk tangan di atas kepalanya. Ketika kedua telapak tangan itu bertemu, terdengar
suara seperti ledakan nyaring dan nampak asap mengepul dari kedua tangan itu. "Ceng Thian Sin, berani engkau
melawanku? Lihat, siapakah sebenarnya aku? Aku adalah Thian-liong-ong (Raja Naga Langit)yang menjelma!" Memang
hebat kekuatan sihir pendeta siluman itu. Biarpun sihirnya ditunjukkan kepada Thian Sin, akan tetapi semua
orang yang berada di situ melihat betapa bentuk Sian-su kini telah berobah. Tubuhnya menjadi tinggi besar dan
pakaiannya seperti pakaian raja, yang hebat adalah kepalanya karena kepala yang biasanya memakai topeng
tengkorak itu kini berobah menjadi kepala naga! Benar-benar seperti gambar atau patung. Raja Naga Langit! Di
antara mereka yang melihat ini segera menjatuhkan diri berlutut saking takutnya. Akan tetapi, Thian sin yang
tadi merasa ada-nya kekuatan mujijat yang menyerang panca inderanya, cepat mengerahkan batin dan mempegunakan
tenaga batin untuk melawan dan tentu saja dia sebagai orang yang pernah mempelajari ilmu sihir di Himalaya
tidak terpengaruh setelah dia mengerahkan tenaga batinnya, dan bagi pandang matanya, pendeta siluman itu tetap
sama saja dengan tadi! Ingin dia mentertawakan lawan dan menghinanya, mengatakan bahwa ilmu main sulap itu
hanya dapat mengelabui kanak-kanak saja. Akan tetapi Thian Sin adalah seorang yang cerdik sekali.
Dia tahu bahwa banyak orang yang tidak berdosa d tempat ini, yang menurut semua kehen-dak pendeta siluman ini
karena kekuatan sihir atau mungkin juga obat dalam minuman. Mereka ini tidak berdosa dan sepatutnya kalau
dibebaskan dari pengaruh pendeta siluman ini. Akan tetapi, kalau dia mempergunakan kekerasan, mungkin dia akan
gagal. Dia sudah mengukur ilmu silat lawan itu yang benar-benar tangguh. Dia yakin tidak akan kalah terhadap
Sian-su, akan tetapi kalau para pembantunya maju mengeroyok, juga kalau para pendekar yang menjadi pengikut
agama itu ikut pula turun tangan, mungkin sekali dia akan celaka. Apa lagi kalau diingat bahwa dia belum
berhasil membebaskan orang-orang yang tidak berdosa, juga bahwa dia masih berada di pusat sarang musuh yang
berbahaya, maka kekerasan bukanlah jalan untuk mencapai kemenangan.
Thian Sin lalu menunduk dan menjura seolah-olah memberi hormat kepada "dewa" itu, lalu berkata dengan suara
membela diri, "Terpaksa saya harus melawan menghadapi siapapun juga kalau keselamatan dan nyawa saya terancam."
"Ceng Thian Sin, siapa bilang bahwa nyawamu terancam? Sian-su bermaksud baik denganmu, berniat untuk mengajakmu bekerja sama!" berkata "Raja Naga Langit" itu dan bagi pendengaran semua orang kecuali Thian Sin, suara itupun berbeda dengan suara Sian-su.
Kembali Thian Sin menjura dengan hormat. "Kalau benar demikian, tentu saja saya bersedia untuk berdamai dan
bicara."
"Bagus! Bagus sekali!" Manusia berkepala naga itu lalu bertepuk tangan, terdengar ledakan keras disusul asap
mengepul dan ketika asap menghilang, di situ telah berdiri Sian-su dengan sikapnya yang tenang.
eng-taihiap, kami telah mendengar ucapanmu tadi dan kami merasa gembira sekali. Mari, silahkan duduk dan mari
kita bicara dengan baik-baik." Dia mempersilahkan dan mengajak Thian Sin duduk kembali. Pesta dilanjutkan dan
melihat betapa pemuda itu tidak suka menyaksikan adegan-adegan cabul di situ, Sian-su lalu mengajaknya menuruni
anak tangga dan bicara di sebuah ruangan lain. Belasan orang anak buah Sian-su ikut pula mengawal, tentu dengan
maksud untuk mengeroyok apa bila pemuda itu memberontak.
Setelah mereka duduk, Sian-su lalu memberi "kuliah" kepada Thian Sin tentang pelajaran di dalam agamanya yang
baru, yang bendak membebaskan manusia dari pada rasa takut akan kematian, dan menjanjikannya kesenangan setelah
mati nanti, juga menceritakan bahwa semua kecabulan yang dilihat pemuda itu adalah suatu cara untuk menundukkan
nafsu dengan jalan membiarkan nafsu-nafsu itu menggelora dan kemudian mati sendiri. Thian Sin mendengarkan
dengan setengah hati saja, akan tetapi dia pura-pura tertarik sekali dan menanggapinya sambil
mengangguk-angguk.
"Kami memberikan kesenangan dunia akhirat kepada para pengikut kami," demikian pemimpin agama itu mengakhiri
kuliah dan penjelasannya tentang agamanya.
"Dan imbalan apakah yang harus diberikan oleh para pengikut?" -Thian Sin bertanya dengan sikap seolah-olah dia
tertarik sekali untuk menjadi pengikut pula.
"Siancai...! Untuk pekerjaan suci, kami tidak memiliki pamrih untuk kepentingan diri- sendiri. Kami tidak
menuntut imbalan, kecuali kesetiaan. Kalu para pengikut hendak menyumbang demi kemajuan agama kita, dan untuk
membuat pembangunan-pembangunan, hal itu adalah suka rela. Akan tetapi, walaupun kami tahu bahwa Ceng-taihiap
adalah seorang yang kaya raya, buktinya melihat sumbanganmu tadi, namun kami bukan mengharapkan bantuan harta darimu."
"Habis, bantuan apa?"
"Bantuan kerja sama dalam bentuk tenaga dan kepandaian silat taihiap. Hendaknya taihiap ketahui bahwa usaha
kami ini banyak mendapat tentangan dari agama-agama lain dan sudah sering kali kami mereka cari dan mereka
bermaksud membasmi kami. Oleh karena itu, taihiap bukan kami anggap sebagai pengikut biasa, melainkan sekutu
kami, sebagai seorang di antara kami dan kalau taihiap dapat memenuhi harapan kami ini, percayalah bahwa dengan
segala kemampuanku, taihiap akan menjadi orang pertama sesudah aku untuk berkenalan secara langsung dengan Dewa Kematian."
"Ahhh...!" Thian Sin pura-pura merasa girang sekali. "Aku akan girang sekali!" "Akan tetapi, untuk itu kami
harus benar-benar dapat dipercaya kepadamu, dan ini ada syaratnya."
"Syaratnya?"
"Menurut pelaporan anak buah kita, ada lima orang pendekar dari agama lain yang sedang menyelidiki tempat kita
ini. Mereka merupakan bahaya bagi kita, maka aku minta kepadamu untuk menghadapi mereka dan membasmi mereka.
Sanggupkah engkau, Ceng-taihiap?" Thian Sin mengangkat muka dan memandang tajam, bertemu dengan pandang mata
lawan yang penuh selidik. Dia berhadapan dengan orang yang cerdik pula.
"Sian-su, aku masih dalam taraf percobaan, bagaimana engkau sudah begitu percaya kepadaku? Apakah engkau tidak
khawatir kalau aku berkhianat setelah aku tiba di luar tempat ini?" Wajah di balik topeng tengkorak itu tertawa.
"Apa boleh buat kami harus menghadapi resiko itu! Kalau taihiap benar-benar mau bekerja sama dengan kami, kami
merasa beruntung sekali. Sebaliknya, andaikata taihiap berbalik pikir, kamipun tidak bisa berbuat apa-apa. Akan
tetapi belum tentu taihiap akan mampu menemukan kembali tempat rahasia kami, dan di sini banyak terdapat
perangkap-perangkap rahasia yang akan mampu membendung serbuan ratusan orang. Selain itu, andaikata mereka
mampu menyerbu masuk, kamipun dapat saja setiap waktu meloloskan diri, pin-dah mencari tempat lain, membawa
semua barang suci dan berharga, dan terpaksa kami harus meninggalkan para wanita itu dalam keadaan sempurna."
Karena ada penekanan kata-kata aneh dalam kalimat terakhir, Thian Sin curiga. "Dalam keadaan sempurna bagaimana
maksudmu?"
Pendeta siluman itu menggerakkan pundak. "Yaahh, menyerahkan mereka kepada Dewa Kematian sebagai korban, apa
lagi? Kami terpaksa, karena membawa mereka yang lemah untuk melarikan diri tidaklah mungkin, dan membiarkan
mereka hidup-hidup tertawan musuh juga amat berbahaya bagi kami."
"Engkau akan membunuh puluhan orang gadis itu?" Hampir Thian Sin berteriak.
"Ahhhh, nanti dulu, taihiap. Bukan membunuh, melainkan mengorbankan mereka kepada Dewa Kematian. Mereka akan
mendapatkan kesenangan di sana, dan Dewa Kematian akan berterima kasih sekali kepada kami..." Thian Sin tidak
bertanya lagi. Dia maklum apa artinya itu. Wanita-wanita itu merupakan sandera! Dengan lain kata-kata pendeta
siluman ini hendak menyatakan kepadanya bahwa apa bila dia berbalik pikir dan kelak mengakibatkan perkumpulan
agama itu diserbu, wanita-wanita itu akan dibunuhnya. Tentu saja ini merupakan ancaman kepadanya agar dia tidak
mengkhianati Sian-su, dan dia tahu bahwa ancaman itu bukan hanya ancaman kosong belaka!
"Baiklah, Sian-su, aku akan membuktikan bahwa aku memang ingin bekerja sama karena aku mulai tertarik oleh
agama baru ini."
Thian Sin menjadi tamu terhormat di sarang perkumpulan agama Jit-sian-kauw itu, mendapat sebuah kamar yang
indah dan mewah. Dia menolak ketika ditawari gadis untuk menemaninya, dan malam itu dia tidur nyenyak untuk
melepaskan lelah dan mengumpulkan tenaga. Dia tahu bahwa semua gerak-geriknya diamati dan diintai, maka diapun
tidak mau melakukan sesuatu yang mencurigakan. Pada keesokan harinya, diapun sama kali tidak tahu bahwa Kim
Hong telah menyusulnya dan mencarinya, bahkan kemudian gadis itu terjebak dan tertawan di dalam sarang rahasia
Jit-sian-kauw itu. Pada sore harinya dia diberi tahu oleh Sian-su bahwa lima orang yang memusuhi Jit-sian-kauw
itu telah tiba di dekat puncak bukit. Mereka itu tidak menyelidiki dari bagian depan tebing Guha Tengkorak,
melainkan dari belakang dan karena sarang Jit-sian-kauw itu terkurung jurang yang dalam, maka lima orang
pendekar itu tidak tahu bahwa tempat yang mereka cari-cari itu sebetulnya sudah amat dekat, hanya terhalang
jurang, yaitu di puncak yang dikelilingi jurang itu. Tidak mungkin menyeberangi jurang itu, dan tidak mungkin
pula menuruni jurang yang demikian dalam dan curamnya. Mereka berkeliaran di daerah itu, memeriksa dan
mencari-cari.
Thian Sin melakukan pengintaian. Dia sendirian saja dan dia kini telah mengenakan pakaian dan topeng dari
anggauta Jit-sian-kauw! Biarpun dia sendirian saja, namun dia mengerti bahwa Siansu dan kaki tangannya tentu
membayanginya dan mungkin kini sedang mengintai pula dari tempat-tempat tersembunyi untuk mengikuti sepak
terjangaya yang bertugas mengusir lima orang musuh perkumpulan ini. Akan tetapi jantung dalam dada Thian Sin
berdebar tegang ketika dia mengenal siapa adanya tosu tua yang memimpin rombongan itu. Tosu berusia kurang
lebih enam puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berpakaian jubah kuning, dengan pedang di punggung,
wajahnya putih itu, bukan lain adalah Liang Hi Tojin, seorang tokoh tingkat dua dari partai persilatan
Bu-tong-pai! Liang Hi Tojin ini adalah orang ke dua dari Bu-tong-pai, terkenal sebagai seorang pendekar yang
sejak mudanya menjadi pembela keadilan dan kebenaran, seorang ahli pedang yang amat lihai. Dan agaknya, empat
orang lainnya itu, yang nampakaya gagah perkasa, tentulah murid-murid keponakannya. Tentu rombongan dari
Bu-tong-pai yang datang menyelidiki Jit-sian-kauw ini, bukan semata-mata karena perbedaan paham keagamaan,
melainkan tentu karena orang-orang Bu-tong-pai itu mendengar akan kejahatan yang dilakukan Siluman Guha
Tengkorak dan kini didorong oleh jiwa kependekaran mereka datang untuk menentang Jit-sian-kauw. Tentu saja
Thian Sin merasa serba salah. Bagaimana mungkin dia memusuhi Liang Hi Tojin, seorang pendekar tua Bu-tong-pai
yang telah dikenalnya dengan baik? Akan tetapi, kalau dia mengkhianati Sian-su, lalu bagaimana nasib kurang
lebih tiga puluh orang wanita yang berada di dalam cengkeraman siluman-siluman itu di di luar kehendak mereka,
karena mereka telah dikuasai oleh sihir dan obat bius? Kalau dia memperkenalkan diri mengajak lima orang
pendekar Bu- tong-pai ini membalik dan memberontak, apakah dia akan mampu? Memasuki terowongan itu saja sudah
merupakan bahaya yang besar dan sebelum mereka berhasil, siluman-siluman itu dapat melarikan diri dari jalan
rahasia tersendiri dan meninggalkan puluhan wanita itu dalam keadaan tewas. Tidak, dia harus bersandiwara,
menuruti kehendak Sian-su dan menanti saatnya yang baik dan tepat untuk memberi pukulan besar-besaran.
Tosu tua tinggi kurus itu memang Liang Hi Tojin dari Bu-tong-pai, dan empat orang pria yang berusia antara tiga
puluh sampai empat puluh tahun, yang nampak gagah perkasa itu adalah murid keponakannya, yaitu murid
Bu-tong-pai yang termasuk sebagai murid-murid kepala. Biarpun tingkat kepandaian mereka masih dua tingkat di
bawah tingkat Liang Hi Tojin, namun mereka itu sudah dapat digolongkan pendekar-pendekar yang lihai pada masa
itu. Mereka itu turun gunung untuk mengunjungi Louw Ciang Su di Tai-goan, akan tetapi mereka hanya melihat peti
matinya saja! Tentu saja para tokoh Bu-tong-pai ini menjadi terkejut dan marah ketika mendengar bahwa Louw
Ciang Su, sebagai seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, telah tewas oleh Siluman Guha Tengkorak. Itulah
sebabnya, mereka langsung melakukan penyelidikan ke daerah Guha Tengkorak dan karena mereka sudah mendengear
bahwa pasukan keamanan dari Tai-goan dan para pendekar telah gagal ketika mencari siluman itu dari depan tebing
Guha Tengkorak, mereka lalu melakukan penyelidikan dan pencarian dari belakang tebing.
"Bagaimana mungkin ada manusia dapat bersembunyi di tempat seperti ini?" terdengar Liang Hi Tojin berkata
kepada empat orang murid keponakannya setelah mereka melihat keadaan di belakang tebing Guha Tengkorak itu.
"Bukit di depan itu merupakan puncak yang dikelilingi jurang yang tidak mungkin didatangi manusia." "Akan
tetapi, susiok, teecu kira justeru karena sulitnya dicapai orang inilah maka merupakan tempat yang amat baik
bagi penjahat untuk menyem-bunyikan diri," kata seorang murid keponakannya.
"Tentu ada suatu rahasia yang dapat membawa orang menyeberang ke puncak bukit itu," kata murid kedua. "Siancai,
siancai, siancai...! Kalau memang ada, tentu tidak akan mudah mencarinya di tempat se-luas ini." Thian Sin
memuji ketelitian mereka. Memang tidak akan mudah. Dia sendiri tiba di belakang tebing ini melalui jalan
rahasia yang rumit, yang merupakan "lubang tikus" dan menembus di lereng jurang, tertutup pohon-pohon dan
semak-semak, di dekat tepi jurang. Dia tadi merayap di lereng jurang itu melalui akar-akar pohon dan kini
mengintai di balik pohon besar. Karena merasa sudah waktunya untuk turun tangan dan agar jangan sampai
menimbulkan kecurigaan pada Sian-su yang dia tahu tentu sedang mengamatinya, dia lalu keluar dari tempat
sembunyinya dan berlompatan ke depan lima orang itu! Dapat dibayangkan betapa kagetnya lima orang gagah dari
Bu-tong-pai ketika mereka melihat munculnya seorang berjubah putih dengan gambar tengkorak merah darah di dada
dan memakai topeng tengkorak yang menyeramkan. "Siancai...! Inikah Siluman Guha Tengkorak yang telah membunuh
Tujuh Pendekar Tai-goan itu?" Liang Hi Tojin bertanya dan empat orang murid Bu-tong-pai itu telah mencabut
pedang masing-masing dari punggung mereka dengan gerakan yang cepat dan indah.
Thian Sin tidak mengeluarkan suara. Apa yang dapat diucapkannya? Tugasnya hanyalah menge-nyahkan mereka, maka
diapun lalu menerjang ke depan dan menyerang tosu tua itu dengan pukulan dari samping mengarah pelipisnya.
Melihat pukulan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat itu, tahulah tokoh Bu-tong-pai ini bahwa siluman itu
memang lihai sekali. "Siancai sungguh siluman jahat sekali!" Dan diapun cepat meloncat mundur untuk mengelak
sambil mencabut pedangnya. Empat orang muridnya sudah menerjang dengan pedangnya masing-masing dan Thian Sin
segera dikurung dan dikeroyok. Permainan pedang Bu-tong Kiam-sut memang hebat dan berbahaya sekali. Sinar
pedang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar dari pelbagai jurusan, menggulungnya dan kalau Thian Sin tidak
memiliki gin-kang yang hebat dan langkah-langkah ajaib dari Thai-kek Sin-kun, tentu dia akan terancam bahaya
dikeroyok oleh mereka. Terutama sekali pedang di tangan Liang Hi Tojin amat lihainya. Pedang itu mengeluarkan
suara berdesing-desing dan sinarnya berkilauan menyambar-nyambar. Thian Sin tidak berani mencabut
Gin-hwa-kiamnya karena mungkin pedang itu akan dikenal oleh Liang Hi Tojin. Maka terpaksa diapun mengerahkan
Thian-te Sin-ciang untuk kadang-kadang menangkis kalau elakan-elakannya kurang cukup untuk dapat menyelamatkan
diri dari sambaran lima batang pedang itu.
Liang Hi Tojin dan empat orang muridnya terkejut bukan main melihat betapa siluman itu menangkis pedang mereka
dengan tangan kosong saja! Padahal, pedang mereka adalah pedang pilihan, terbuat dari baja yang amat keras dan
baik. Tahulah mereka bahwa siluman ini benar-benar amat lihai sekali dan merekapun tidak merasa heran sekarang
bahwa Tujuh Pendekar Tai-goan tewas di tangan siluman ini.
Liang Hi Tojin menyerang makin hebat karena marah dan karena dia beranggapan bahwa siluman selihai dan sejahat
ini harus dilenyapkan dari permukaan bumi agar rakyat terbebas dari pada ancaman malapetaka yang ganas dan
jahat. Thian Sin merasa kewalahan juga. Kalau dia mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya seperti Thikhi-i-beng
misalnya, sin-kang yang dapat menyedot tenaga lawan, atau Thian-te Sin-ciang atau Thai-kek Sin-kun, tentu kakek
Bu-tong-pai itu akan mengenal ilmu-ilmu dari Lembah Naga dan Cin-ling-pai itu. Kalau dia menggunakan ilmu
peninggalan mendiang ayah kandungnya, yaitu ilmu-ilmu pukulan yang dahsyat Hok-liang Sin-ciang atau Hok-te
Sin-kun, akibatnya bisa berbahaya sekali dan belum tentu lima orang itu akan mampu menahannya. Padahal, tentu
saja dia tidak ingin membunuh lima orang tokoh Bu-tong-pai ini. Maka dia hanya mempergunakan Ilmu Silat
Pat-hong Sin-kun, ilmu yang dipelajarinya dari kakek sakti Yap Kun Liong dan mengerahkan tenaga Thian--te
Sin-ciang untuk menangkisi pedang-pedang itu. Dia menanti saat yang baik dan tepat untuk me-lakukan serangan
terakhir seperti yang sudah di-rencanakannya ketika dia mengintai mereka tadi. Perlahan-lahan dia mundur ke
belakang menuju ke bawah sebatang pohon yang daunnya lebar, sele-bar tangan dengan ujung runcing dan daun itu
kaku pula, cukup baik dijadikan senjata. Tiba-tiba dia meloncat, mencabut beberapa helai daun dari ranting yang
terendah dan begitu tubuhnya turun, dia menyambitkan daun-daun itu ke depan sambil membentak dengan suara
nyaring, "Pergilah!" Berturut-turut tangannya bergerak, dengan pengerahan sin-kang yang amat kuat, lima helai
daun itu seperti anak panah saja meluncur secepat kilat menuju ke arah lima orang lawannya. Terdengar
teriakan-teriakan kesakitan dan empat orang murid Bu-tong-pai itu melepaskan pedang mereka ketika sebatang daun
menyambar dan menancap di pergelangan tangan kanan mereka sepert anak panah atau senjata piauw (pisau terbang)
dengan kecepatan yang tak dapat dielakkan lagi. Sedangkan Liang Hi Tojin masih dapat menggunakan lengan kirinya
menangkap daun yang menyambar pergelangan tangan kanannya itu, dan berbeda dengan empat daun yang lain, daun
yang menyambar ke arah pergelangan tangan Liang Hi Tojin itu tidaklah begitu cepat dan kuat sehingga dengan
mudah dapat ditangkap oleh tosu ini. Liang Hi Tojin memandang sekilas kepada daun di tangannya kemudian dia
berkata, "Ambil pedang, mari kita pergi!" Empat orang murid itu cepat mengambil pedang masing-masing dengan
tangan kiri, kemudian bersama tosu itu mereka berloncatan meninggalkan tempat itu. Thian Sin tertawa dan
memandang sampai mereka lenyap di balik semak-semak. "Bagus, taihiap. Sungguh senang hatiku melihat engkau
menghajar mereka, sayang tidak membunuh saja mereka itu agar kelak tidak mendatangkan penyakit." Thian Sin
menoleh dan melihat pendeta siluman ketua Jit-sian-kauw telah berada di situ. Tentu saja dia tadi mendengar
gerakannya, ketika orang ini muncul dengan ringan sekali akan tetapi dia pura-pura tidak tahu membiarkan orang
itu merasa bangga bahwa gin-kangnya sedemikian hebatnya, terlalu hebat bagi Pendekar Sadis untuk dapat
mengetahui kedatangannya. Kemudian dia menarik napas panjang dan berkata, "Sian-su, kalau mereka itu memusuhi
kita, sudah cukup kalau kita hajar dan mereka akan jera untuk mengganggu kita lagi. Membunuh mereka, berarti
hanya akan memperdalam permusuhan belaka, membuat kita semakin repot menghadapi usaha mereka untak balas dendam
kelak." "Ha-ha-ha, engkau benar, taihiap. Ah, sungguh beruntung mempunyai seorang sahabat seperti engkau untuk
bekerja sama," kata pula Sian-su dengan girang. Mereka lalu kembali ke sarang Jit-sian-kauw. Thian Sin merasa
girang sekali bahwa dia dapat mengelabuhi pendeta siluman itu. Dia tadi telah melakukan siasatnya dengan baik
sekali. Dia tahu bahwa biarpun di sana terdapat sekutunya yang paling baik, yaitu Kim Hong, akan tetapi belum
tahu Kim Hong dapat mencari tempat rahasia- ini. Maka dia membutuhkan bantuan dan melihat lima orang
Bu-tong-pai itu, dia melihat bantuan yang amat baik dan cukup kuat. Maka ketika dia mengintai tadi, diam-diam
dia menggunakan sehelai daun untuk digurat-gurat dengan duri, membuat beberapa buah huruf di atas daun. Daun
itu disimpannya dalam saku jubahnya dan ketika dia menyerang lima orang itu, daun yang ada huruf-hurufnya itu
dia sambitkan ke arah Liang Hi Tojin dengan pengerahan tenaga yang sedikit saja. Untung bahwa tokoh Bu-tong-pai
itu cukup cerdik untuk dapat melihat kejanggalan ini dan menerima daun itu lalu mengajak empat orang murid
keponakannya yang telah terluka pergelangan tangannya.
Tulisan di atas daun itu berbunyi demikian : SIAP MENYERBU BERSAMA, TUNGGU BERITA. ANG LIAN TO (PULAU TERATAI
MERAH). Dia sengaja memakai nama Ang-lian-to yang tentu akan dikenal oleh Liang Hi Tojin yang sudah mengenalnya
dan tahu bahwa dia dan Kim Hong tinggal di sebuah pulau kosong yang bernama Ang-lian-to (Pulau Teratai Merah).
Dan agaknya tosu itu memang mengenalnya, buktinya tosu itu mengajak empat orang muridnya untuk mundur. Padahal,
sesuai dengan watak pendekarnya, sebelum dia sendiri roboh, tidak mungkin tosu itu akan melarikan diri dari
pertempuran. Thian Sin merasa lega dan gembira, merasa bahwa dia telah berhasil mengelabui ketua Jit-sian-kauw.
Akan tetapi, pendekar ini sama sekali tidak tahu bahwa di balik topeng tengkorak itu, Sian-su tersenyum-senyum
dan mentertawakannya. Dia tidak tahu bahwa ada kejutan yang amat tidak menyenangkan baginya. Biarpun dia melihat
sendiri betapa Pendekar Sadis telah mengusir lima orang musuh itu dan melukai empat orang murid Bu-tong-pai
dengan cara yang amat mengagumkan dan menggiriskan hatinya, yaitu hanya dengan mempergunakan daun, namun ketua
Jit-sian-kauw itu belum yakin begitu saja. Dia masih belum mau percaya begitu saja. Dia masih belum yakin benar
akan kesetiaan Thian Sin. Oleh karena itu, dia masih mempersiapkan suatu ujian yang amat berat bagi pemuda itu.
Malam hari itu, ketika Thian Sin sudah merebahkan diri dan mencari akal untuk melihat kesempatan, tiba-tiba dia
terbangun dengan kaget. Ada suara di telinganya, dekat sekali di telinganya, yang berbisik dengan suara dengan
suara mengandung kekuatan mujijat. "Ceng Thian Sin, engkau telah berada dalam kekuasaan Sian-su. Engkau harus
mentaati semua kehendaknya agar hatimu dapat merasa senang dan tenteram! Nah kau rebahlah, kau tidurlah, tidur
yang nyenyak...!" Thian Sin yang sudah bangkit duduk itu perlahan-lahan merebahkan diri kembali, dan memejamkan
matanya, lalu dia mengatur pernapasannya seperti orang tertidur. Tak lama kemudian, suara itu terdengar lagi,
"Ceng Thian Sin, bangkitlah dan turunlah dari tempat tidurmu." Bagaikan patung hidup, Thian Sin lalu turun dari
pembaringan. "Pergilah ke pintu kamar, bukakan daun pintu dan biarkan seorang sahabat masuk!" Thian Sin berjalan
ke pintu dan membuka daun pintu. Di depan pintu itu telah berdiri seorang yang bertopeng tengkorak dan berjubah
putih pakaian seragam para anggauta Jit-sian-kauw yang membawa sebuah baki terisi cawan arak. Thian Sin tidak
tahu apakah orang ini sang ketua sendiri ataukah orang lain, akan tetapi dia percaya bahwa ketua itu tidak begitu
ceroboh untuk membiarkan dirinya dekat dengan dia tanpa terlindung. Tentu ini hanya seorang anggauta biasa saja.
"Taihiap, harap suka minum arak dalam cawan ini," kata orang itu sambil menyerahkan cawan arak. Thian Sin hendak
menolaknya, akan tetapi dia segera teringat bahwa dia sedang berada da-lam keadaan "tersihir", maka diapun diam
saja, hanya memandang dengan mata kosong dan ber-diri seperti patung. Suara itu lalu terdengar lagi, kini nadanya
mengandung kelegaan hati, "Ceng Thian Sin, ambil cawan itu dan minum araknya sampai habis!" Kini Thian Sin
mengambil cawan itu dan menempelkannya ke bibirnya. Dari baunya saja dia maklum bahwa arak itu dicampuri obat
bius, akan tetapi tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menuangkan araknya ke dalam mulut sampai habis. Akan tetapi lebih
dulu dia menggunakan kekuatan sihir dalam pandang matanya kepada sepasang mata di balik topeng itu dan melihat
mata itu sejenak tercengang lalu melembut, tanda bahwa dia telah berhasil menguasai orang itu yang ternyata
hanyalah seorang anggauta biasa saja. Dengan kekuatan sihirnya dia membisikkan bahwa orang itu telah melihat dia
minum arak itu sampai habis ditelannya. Padahal arak itu hanya disimpan di mulutnya saja. "Sekarang kembalilah ke
tempat tidur dan rebahkan dirimu," bisik suara di dekat telinganya yang dia tahu adalah suara Sian-su yang
menggunakan ilmu mengirim suara dari jauh menggunakan tenaga khi-kang yang amat kuat. Angauta itupun lalu membawa
pergi cawan kosong dan menutupkan pintu kamar, sedangkan Thian Sin merebahkan dirinya di atas pembaringan,
diamdiam membuang arak di mulutnya yang dimuntahkan di dalam tangannya dan dibuang di atas lantai di belakang
pembarirngan. Hal ini dilakukannya dengan cepat lalu dia merasa yakin bahwa tidak ada mata orang lain yang
mengikuti gerak-geriknya. "Ceng Thian Sin, mulai saat ini engkau akan selalu percaya sepenuhnya taat, hormat dan
tunduk kepadaku, kepada Sian-su, ketua dari Jit-sian-kauw yang akan mendatangkan kesenangan dunia akhirat bagimu!
Camkan ini, harus selalu setia dan taat kepada Sian-su!" Kalimat terakhir itu diulangi sampai belasan kali dengan
kekuatan yang amat hebat sehingga Thian Sin harus mengerahkan tenaga sin-kang pula untuk melawannya agar jangan
sampai terpengaruh.- Tentu saja pengalaman itu membuat Thian Sin tidak dapat tidur pulas. Dia harus bertindak
cepat karena kalau terlalu lama, keadaannya bisa semakin berbahaya. Dia tidak tahu bahwa malam itu, Sian-su telah
mempersiapkan percobaan terakhir kepadanya, percobaan yang teramat berat dan di sini Sian-su hendak mengambil
kepastian apakah pendekar itu akan dianggap kawan ataukah lawan. Setelah merasa yakin bahwa dia tidak diamati,
Thian Sin lalu turun dari pembaringannya dan dengan langkah seperti langkah kucing, sama sekali tidak menimbulkan
suara, dia mendekati jendela lalu pintu kamarnya untuk mengintai keluar. Ada dua orang penjaga di luar, seorang
di luar jendela dan seorang lagi di luar pintu. Dengan hati-hati dia membuka daun pintu. Anggauta Jit-sian-kauw
itu memandang dan Thian Sin menggapai, berkata lirih, "Twako, ke sinilah, aku mau bicara penting..." Karena
ketika memandang dan menggapai, juga ketika mengeluarkan kata-kata Thian Sin sudah mempergunakan kekuatan sihir
melalui mata, gerakan tangan dan suaranya, penjaga itu biarpun ragu-ragu, tidak dapat menahan kakinya melangkah
dan memasuki kamar. Secepat kilat tangan kanan Thian Sin bergerak dan tanpa mampu mengeluarkan suara atau
melawan, penjaga itu terkulai lemas karena dia telah pingsan tertotok. Dengan hati--hati Thian Sin merebahkan
orang itu di atas lantai kamarnya, kemudian dengan berindap-indap dia keluar dari pintu kamar, memutar dan
meyergap penjaga yang duduk di luar jendela. "Apa... uhhh...!" Penjaga itu tadinya terkejut dan hendak melawan,
namun dalam ke-adaan seperti itu Thian Sin telah menggunakan kepandaiannya, maka mana mungkin penjaga itu mampu
melawannya. Diapun roboh pingsan sebe-lum sempat berteriak dan Thian Sin sudah memondong tubuhnya dan membawanya
masuk ke dalam kamar, melepaskannya di atas lantai bersama penjaga pertama. Kemudian, dengan cepat Thian Sin
menelikung kedua orang itu, diikatnya dengan tali ikat pinggang mereka sendiri, dijadikan satu dan mulut
merekapun disumbat dengan kain baju mereka sendiri. Karena dia tahu bahwa dua orang itu memiliki kepandaian yang
lumayan, maka dia mengikat kaki tangan mereka kuatkuat, juga menyumbat mulut mereka dan menalikan kain sumbatan
itu melilit kepala, dan menambahkan totokan pada beberapa bagian tubuh mereka. Dia merasa yakin bahwa sebelum
pagi hari, mereka tidak akan siuman dan andaikata sudah siuman sekalipun, mereka takkan mampu bergerak dan tidak
dapat mengeluarkan suara. Setelah melakukan ini, dia lalu mendorong tubuh yang sudah menjadi satu itu ke bawah
pembaringannya sehingga tidak nampak dari luar. Kemudian dia bersiap-siap untuk melakukan penyelidikan sendiri
dan dengan gesit dia menyelinap keluar dari dalam kamarnya, menutupkan daun pintu kamar dan keluar. Dia sudah
tahu di mana adanya kamar-kamar para wanita penari. Dia bermaksud mencari isteri mendiang Cia Kok Heng dan hendak
menyelidiki keadaan wanita itu karena dia merasa yakin bahwa ada sesuatu yang memaksa wanita itu berbohong
kepadanya ketika ditanyainya. Dan dia akan menggunakan kekuatan sihirnya membuyarkan kekuatan sihir yang
mencengkeram para wanita penari dan mengorek rahasia kejahatan Siluman Guha Tengkorak dari mereka. Akan tetapi,
baru saja dia keluar dari kamarnya, terdengar suara canang bertalu-talu dan disusul suara hiruk-pikuk kaki
orang-orang berlarian. Than Sin terkejut dan cepat dia kembali ke dalam kamarnya, menyangka bahwa tentu
perbuatannya ketahuan dan dia harus bersiap siaga menghadapi pengeroyokan kalau perlu. Dia mengintai dari balik
jendela dan melihat para anggauta perkumpulan itu berlari-lari dari segala jurusan menuju ke bangunan besar yang
menjadi tempat tinggal Sian-su. Tak lama kemudian, suara canang itupun berhenti dan nampaklah Sian-su bersama
serombongan anggautanya melangkah lebar menuju ke kamarnya! Thian Sin menanti dengan jantung berdebar. Jelaslah
bahwa perbuatannya telah ketahuan! Akan tetapi dia pura-pura tidur miring di atas pembaringannya, dengan seluruh
urat ayaraf menegang, siap menerjang keluar, menghadap ke pintu dan menutupi mukanya dengan lengan tangan,
mengintai dari bawah lengan. Dapat dibayangkan betapa tegangnya hati pendekar itu ketika pintu kamarnya
perlahanlahan terbuka dari luar! Dia sampai merasa seolah-olah jantungnya hendak meloncat keluar dan suara detak
jantungnya seperti suara tambur. Akan tetapi, suara Sian-su tidak terdengar marah, bahkan ramah sekali ketika
berkata, "Cengtaihiap, bangunlah!" Thian Sin sudah merasakan perobahan dalam suara itu, suara yang sifatnya
memerintah. Akan tetapi dia pura-pura tidak merasakan hal ini, dan diapun menurunkan lengannya, dan membuka mata.
Dilihatnya bahwa mata itu tidak memancarkan kekuatan sihir, maka diapun mengerti bahwa sekali ini Sian-su hendak
menghadapi dia dalam keadaan sadar. Bukankah semalam suara Sian-su telah menanamkan pesan kepadanya bahwa dia
harus setia dan taat? Baiklah, dia akan bersikap taat. "Ah, Sian-su, malam-malam begini ada apakah? Aku mendengar
suara canang dan mendengar suara kaki berlari-lari, setelah suara canang berhenti akupun tidur lagi." "Canang itu
dipukul untuk mengumpulkan anggauta karena ada laporan dari pengamat di luar bahwa ada serombongan orang yang
menyerbu tempat kita." Reaksi Thian Sin cepat dan wajar, kewajaran sikap seorang yang setia! Dia sudah meloncat
turun dari pembaringan dan mengepal tinju. "Kita harus basmi mereka!" Dilihatnya betapa sepasang mata di balik
topeng itu memancarkan sinar puas dan gembira melihat sikapnya ini, dan Sian-su berkata, "Tidak perlu
tergesa-gesa. Mereka itu tidak akan mampu menemukan tempat kita, taihiap." "Siapakah mereka?" "Ha-ha, mereka itu
adalah orang-orang dari Hong-kiam-pai yang dipimpin oleh Im Yang Tosu." Diam-diam Thian Sin terkejut. Dia
mengenal Im Yang Tosu, tokoh dari Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi. "Apakah taihiap belum mengenal
Hong-kiam-pang?" Thian Sin menggeleng kepalanya. "Hong-kiam-pang atau Hong-kiam-pai adalah perkumpulan silat yang
mengutamakan ilmu pedang mereka, berpusat di kuil Thian-hong-bio di lembah Fen-ho di luar kota Tai-goan. Mereka
dipimpin oleh Im Yang Tosu dan Bu Beng Tojin. Ha-ha, mereka berani memusuhi kita, akan tetapi biarlah, tak
mungkin mereka dapat menemukan tempat kita ini. Cukup dengan beberapa orang pengamat saja untuk mengamati
gerak-gerik mereka di luar tebing Guha Tengkorak, sedangkan kita akan melanjutkan pesta pengangkatan seorang
anggauta atau murid baru." Thian Sin merasa tidak senang, akan tetapi tidak diperlihatkannya pada wajahnya yag
tetap tenang. Sinar matanya ketika memandang kepada Sian-su penuh dengan kekaguman, kehormatan dan kesetiaan,
sesuai seperti apa yang dikehendaki oleh pendeta siluman itu. "Murid baru wanita?" Pendeta siluman itu tertawa.
"Benar, seorang murid baru yang istimewa, taihiap dan terus terang saja, belum pernah kita mempunyai anggauta
wanita seperti ini." Thian Sin merasa agak heran dan juga timbul kecurigaannya, ada perasaan tidak enak
menyelinap dalam hatinya. Dia mencoba untuk menduga-duga, akan tetapi tidak berhasil memecahkan teka-teki ini.
Siapakah wanita yang dimaksudkan oleh pendeta siluman ini? Hampir dia menduga bahwa jangan-jangan yang
dimaksudkan adalah Kim Hong. Akan tetapi dia membantah sendiri dugaannya ini. Kim Hong terlampau cantik untuk
dapat terjebak. Memang besar kemungkinan Kim Hong menyelidiki dan memasuki sarang ini untuk mencari dan
menolongnya, akan tetapi Kim Hong tentu maklum akan besarnya bahaya kalau membiarkan dirinya terjebak. Tidak, Kim
Hong tidak mungkin membiarkan dirinya dijebak seperti dirinya. "Marilah, taihiap, mari kita menemani mereka yang
sudah sejak tadi mulai dengan pesta malam ini. Ada seorang pengikut baru, seorang pembesar yang memiliki
kedudukan penting di kota raja. Dari dialah kita dapat mengharapkan sumbangan yang besar untuk menyelesaikan
bangunan pondok suci untuk tujuh dewa yang mulia. Untuk menghormati kehadirannya dan untuk meresmikan
pengangkatan anggauta baru yang juga akan menjadi pilihanku sebagai murid terbaik dan tersayang, taihiap." Thian
Sin mengikuti pendeta siluman itu naik ke dataran puncak bukit di mana telah berkumpul para pengikut yang kemarin
malam pernah dilihat oleh Thian Sin. Dan di antara mereka kini terdapat seorang pria berpakaian mewah yang
bermuka merah, usianya sudah enam puluh tahun akan tetapi sikapnya masih genit. Ada tiga orang pelayan wanita
yang bergaun tipis melayani orang ini dan Thian Sin dapat menduga bahwa orang inilah yang disebut oleh Sian-su
tadi sebagai pengikut baru yang terhormat, seorang bangsawan tinggi dari kota raja. Seperti juga kemarin malam,
para penari wanita melakukan upacara dan Lu Sui Hwa atau isteri Cia Kok Heng kini ikut pula di antara para
penari, nampak cantik dan agung, paling menarik di antara mereka walaupun mukanya agak pucat dan matanya sayu.
Thian Sin masih menghadapi semua ini dengan tenang. Akan tetapi ketika tiba giliran anggauta atau murid baru itu
mendaki anak tangga menuju ke dataran itu, tiba-tiba Thian Sin mengepal tinjunya dan wajahnya berobah pucat. Dia
mengenal Kim Hong yang kini menghampiri Sian-su, Kim Hong yang mengenakan pakaian gaun tipis putih! Dengan mata
terbelalak Thian Sin melihat betapa Kim Hong melangkah seperti boneka berjalan menghampiri Sian-su. Dia masih
meragukan apakah Kim Hong tidak bersandiwara? Akan tetapi kemudian dia teringat bahwa biarpun Kim Hong memiliki
kepandaian ilmu silat yang tidak mungkin kalah dibandingkan dengan pendeta siluman itu, namun kalau pendeta
siluman itu mempergunakan ilmu sihir, tentu Kim Hong akan celaka. Dan agaknya kini gadis itu sudah berada di
bawah pengaruh sihir. Agaknya untuk upacara ini, ketua Jit-sian-kauw itu menggunakan cara lain. Mungkin saja
karena tadi sudah mengatakan untuk mengangkat anggauta baru itu menjadi pilihannya sebagai murid tersayang, maka
kini upacaranyapun berbeda dengan yang sudah-sudah. Setelah Kim Hong menjatuhkan diri berlutut di depan ketua
agama itu, Sian-su lalu memberkahi gadis itu dengan kedua tangannya di atas kepala Kim Hong, kemudian dengan
gerakan halus membangunkan gadis itu, memegang tangannya dan menuntunnya ke dekat pondok-pondok emas kecil. Akan
tetapi di situ sekarang telah dihamparkan sebuah kasur dan kini Sian-su membimbingnya dan menyuruhnya terlentang
di atas kasur. Kim Hong melakukannya tanpa ragu sedikitpun dan tubuh yang menggairahkan itu, dengan terbungkus
gaun yang tipis sekali, kini telah terlentang di atas kasur dengan kedua kaki lurus dan kedua lengan disilangkan
di depan perut. Tujuh orang wanita yang membawa kelinci, pisau dan lain-lain telah maju berlutut dan Sian-su kini
dengan gerakan perlahan seolah-olah hendak memperlihatkan pertunjukan yang amat menarik, mulai membukai kancing
depan gaun itu! Dan memang pertunjukan itu amat menarik karena para tamu yang hadir menghentikan minum dan
memandang dengan mata melotot dan pandang mata penuh nafsu! Kalau pada murid biasa, darah kelinci hanya
dikucurkan di atas kepala, maka pada murid pilihan ini, darah kelinci akan dikucurkan di atas badan yang
telanjang! Ketika kancing bagian atas membuka gaun dan memperlihatkan dada kekasihnya, Thian Sin sudah tidak
dapat menahan dirinya lagi. Dengan teriakan melengking panjang dia meloncat ke tempat itu, lalu mengeluarkan
bentakan yang penuh dengan kekuatan sihir untuk membuyarkan pengaruh sihir atas diri Kim Hong, "Kim Hong
sadarlah! Engkau berada di tangan musuh-musuh kita!" Teriakan ini memang hebat bukan main dan seketika Kim Hong
terbelalak dan sadar. Akan tetapi ia masih bingung dan kepalanya terasa pening sehingga ketika pada saat itu
Sian-su menggerakkan tangan menotoknya dari jarak yang dekat, ia tidak mampu mengelak dan Kim Hong yang sudah
bangkit duduk itu roboh kembali dalam keadaan tertotok. Sementara itu, para anak buah Jit-sian-kauw sudah
menerjang Thian Sin. Memang semua perlakuan terhadap Kim Hong tadi disengaja oleh Sian-su dalam usahanya unuk
menguji kesetiaan Thian Sin. Ujian terakkir yang tentu saja amat berat bagi Thain Sin dan pendeta siluman yang
amat cerdik itu tahu bahwa andaikata Pendekar Sadis berpura-pura, maka kepurapuraannya itu tentu akan terbongkar
kalau menghadapi kekasihnya terancam. Bagaimanapun juga, ketua Jit-sian-kauw ini masih sangsi dan merasa
ragu-ragu apakah benar Pendekar Sadis dapat ditundukkannya dengan kekuatan sihir karena diapun sudah mendengar
bahwa selain memiliki kepandaian silat yang amat tangguh, juga pendekar itu kabarnya memiliki kepandaian ilmu
sihir pula. Kalau pendekar itu tetap taat dan setia kepadanya ketika melihat keadaan Kim Hong, maka dia dapat
merasa yakin bahwa dia telah benar-benar dapat menguasai Thian Sin dan dapat menarik pendekar itu menjadi
pembantunya yang amat menguntungkan. Dan kalau pendekar itu hanya pura-pura, maka tentu rahasianya akan
tebongkar, dan untuk itu dia sudah mempersiapkan anak buahnya yang telah berjaga di situ sejak tadi, mengamati
gerak-gerik Pendekar Sadis. Itulah sebabnya, ketika Thian Sin mengeluarkan suara melengking dan membentak,
belasan anak buah Jit-sian-kauw telah menghadang dan mengoroyoknya, didahului oleh sambaran beberapa batang anak
panah dari samping. Lima batang anak panah yang dilepas oleh pasukan anak panah dari samping itu disusul pula
oleh lima batang yang lain. Akan tetapi, lima batang anak panah pertama itu runtuh semua ketika Thian Sin
menggerakkan tangan kiri dengan mengerahkan sin-kang sehingga ada hawa pukulan menyambar dan meruntuhkan lima
batang anak panah itu sebelum senjata itu menyentuh tubuhnya, kemudian, sambil meloncat ke depan, dia memapaki
lima batang yang lain dan kedua tangannya menangkapi lima batang anak panah ini dan langsung melontarkannya ke
arah lima orang anggauta pasukan panah itu. Terdengar teriakan-teriakan kasakitan ketika tiga orang di antara
mereka itu roboh dengan dada tertusuk anak panah mereka sendiri, sedangkan dua orang yang lain mampu
menghindarkan diri dengan elakan. Akan tetapi, belum sempat Thian Sin menerjang ke arah Sian-su, dia telah
dikepung dan dikeroyok oleh belasan orang anak buah Jit-sian-kauw yang bertopeng tengkorak. Mereka semua telah
mengeluarkan bermacam senjata dan menyerang dari semua jurusan dengan maksud membunuh karena Sian-su telah
memberi isyarat untuk membunuh lawan yang amat tangguh ini, yang ternyata sama sekali tidak pernah terpengaruh
oleh sihirnya dan yang ternyata hanya purapura saja menyerah itu. Kini Thian Sin benar-benar mengamuk! Melihat
kekasihnya terancam penghinaan seperti itu, kemarahannya memuncak dan Pendekar Sadis mem-perlihatkan
kelihaiannya. Dia tidak mau mengeluar-kan pedangnya, melainkan menyambut hujan senjata itu dengan kedua tangan
kosong saja. Akan tetapi tangan kosong yang bagaimana! Seperti sepasang naga mengamuk saja kedua tangan Thian Sin
itu ketika dia menghadapi pengeroyokan anak buah Jit-sian-kauw. Dia mengeluarkan semua ilmu yang dikuasainya
untuk menghajar para anggauta Jit-sian-kauw itu. Biarpun mereka itu terdiri dari orang-orang yang berkepandaian
tinggi, namun di tangan Pendekar Sadis mereka itu tiada bedanya seperti segerombolan anak-anak kecil saja.
Seorang anggauta yang agaknya memiliki dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, menggunakan sebatang toya. Ilmu toya
Siauw-lim-pai terkenal kuat sekali, didasari dengan gerakan yang mengandung tenaga lwee-kang sehingga ujung toya
itu tergetar dan kelihatan menjadi banyak. Dengan gerakan mantap dan penuh tenaga, sambil membentak nyaring,
pemegang toya ini menusukkan toyanya ke arah dada Thian Sin. Akan tetapi karena ujung toya itu ter-getar sukarlah
untuk diduga apakah benar dada yang diserang itu, ataukah tenggorokan atau pusar, atau juga lambung kanan kiri.
Ada semua kemungkinan itu dan inilah lihainya permainan toya itu. Namun, Thian Sin menghadapinya dengan tenang
saja, bahkan menanti sampai toya itu mencium tubuhnya dan ternyata ujung toya itu mendarat pada lambungnya yang
kiri. Begitu ujung toya mencium bajunya di lambung, Thian Sin menggerakkan tangan kirinya yang dimiringkan dan
yang mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang sepenuhnya itu, membacok ke bawah ke arah toya. "Krakkk!" Dan toya itu
patah-patah menjadi tiga potong, kemudian sebelum pemegang toya yang merasa betapa telapak tangannya berdarah dan
terkupas kulitnya itu sempat menguasai keadaannya, kaki Thian Sin sudah menendang orang dan orang itupun
terlempar dan terbanting roboh, tidak mampu bangkit kembali. Thian Sin masih ingat bahwa besar sekali
kemungkinannya para anggauta Jit-sian-kauw ini bergerak di bawah pengaruh sihir atau setidaknya juga kepercayaan
yang membuta terha-dap Sian-su sehingga mereka itu tidak sadar bahwa mereka telah membantu seorang yang amat
jahat. Mungkin sekali para anggauta ini adalah orang baikbaik yang telah terseret karena pandainya Sian-su
mengambil hati dan menundukkan mereka. Karena itu, maka Pendekar Sadis ini masih merasa kasihan untuk membunuh
mereka dan tendangannya tadipun terarah dan terkendalikan sehingga biarpun orang itu tidak mampu bangkit lagi,
namun tidak menderita luka yang dapat merenggut nyawaya, hanya patah tulang dan salah urat saja. Anggauta yang
memegang toya itu terkenal di antara kawan-kawannya sebagai satu di antara lima murid utama dari Sian-su, maka
melihat dia dalam segebrakan saja roboh, para pengeroyok itu menjadi gentar. Akan tetapi merekapun menyerbu
dengan berbareng, tidak lagi berani maju satu- satu. Thian Sin mengerling dengan ujung matanya dan melihat betapa
Sian-su masih berdiri, dan hanya nonton pertempuran itu, sedangkan Kim Hong sudah rebah miring tak bergerak,
dalam keadaan tertotok. Hatinya menjadi gelisah. Ingin dia cepat-cepat menyerang Sian-su dan menyelamatkan Kim
Hong, apapun juga yang terjadi. Hal ini membuat dia menjadi semakin marah kepada para anggauta yang mengepungnya.
Ketika dia melihat tosu penghuni kuil, yang dikenalnya dari kebiasaannya memiringkan muka, kemarahannya
memuncak. Dia tidak memperhatikan serangan yang datang bagaikan hujan itu, melainkan memutar tubuhnya dan
melesat ke arah tosu itu sambil membentak, "Tosu palsu keparat!" Tubuhnya disambut oleh banyak senjata, akan
tetapi gerakan tangannya yang mendorong dengan ilmu mujijat Hok-liong Sin-ciang itu sedemikian hebatnya
sehingga lima orang yang senjatanya langsung bertemu dengannya itu terjengkang seperti dilanda angin ribut,
tosu yang memakai topeng setan itu sudah menusukkan pedangnya ke arah dada Thian Sin. Akan tetapi sebelum ujung
pedangnya mengenai dada lawan, angin pukulan dari Hok-liong Sin-ciang sudah lebih dulu menyambutnya dan tosu
ini mengeluarkan pekik mengerikan ketika tubuhnya terjengkang dan terbanting sedemikian kerasnya sehingga
diapun tak berkutik, pingsan dan hampir mati kalau saja tadi Thian Sin tidak menahan tenaganya! Gegerlah
keadaan di ruangan atas itu. Beberapa orang tamu yang memiliki kepandaian silat sudah melangkah maju hendak
membantu pihak tuan rumah, akan tetapi Sian-su memberi isyarat dan mereka itu hanya berkumpul di belakang
Sian-su, dengan senjata di tangan. Sikap mereka sudah jelas hendak melindungi dan membantu Sian-su kalau
Pendekar Sadis berusaha menyerang ketua agama ini! Mereka itu rata-rata telah berjanji setia kepada Sian-su,
tentu saja dengan keyakinan sepenuhnya bahwa mereka akan menikmati kesenangan dunia akhirat! Pengeroyokan
semakin ketat, akan tetapi Thian Sin kini sudah menjadi marah betul dia ingin segera menyerang Sian-su dan
membebaskan Kim Hong, dan ulah para anggauta Jit-sian-kauw ini dengan menghalanginya, maka tiba-tiba dia mengeluarkan pekik nyaring dan membiarkan dirinya menjadi sasaran banyak senjata.
Akan tetapi, bukan dia yang terluka atau berteriak kesakitan, sebaliknya malah belasan orang itu kini
terbelalak dan berteriak-teriak minta dilepaskan. "Lepaskan aku...! Lepaskan aku...!" "Lepaskan... aaahhh...!"
Belasan orang itu membetot-betot senjata mereka yang menempel pada tubuh Pendekar Sadis, akan tetapi makin kuat
mereka membetot, semakin kuat pula senjata itu melekat! Thian Sin telah mempergunakan ilmu mujijat
Thi-khi-i-beng, yaitu ilmu sin-kang yang sudah sampai di puncak keku-atannya sehingga dapat menyedot tenaga
sin-kang lawan melalui senjata atau tangan yang menempel di tubuhnya. Tenaga dalam mereka itu membanjir keluar
melalui gagang senjata masing-masing dan terasa tersedot oleh kekuatan yang luar biasa besarnya!
Melihat keanehan ini, Sian-su dan para pengikutnya memandang dengan mata terbelalak dan pendeta siluman itu
merasa tengkuknya meremang. Belum pernah selama hidupnya dia berhadapan dengan seorang yang seperti itu
lihainya-. Dia pernah mendengar tentang ilmu menyedot te-naga lawan ini, akan tetapi menganggapnya ilmu itu
hanya dibesar-besarkan saja dan semacam do-ngeng. Akan tetapi sekarang, walaupun tidak meng-alaminya sendiri,
dia telah menyaksikan betapa anak buahnya menjadi korban ilmu mujijat itu. Dia sendiri mengerti bagaimana
sebaiknya meng-hadapi ilmu menyedot yang berbahaya itu, akan tetapi dia melihat keadaan yang lebih baik dari
pada harus mati-matian mencoba untuk menunduk-kan Pendekar Sadis dengan kekerasan. "Hyaaaattt...!" Tiba-tiba
Pendekar Sadis me-mekik dan belasan orang yang tadinya tersedot olehnya dan yang mulai pucat mukanya dan lemah
gerakan mereka untuk meronta terlempar ke kanan kiri dan jatuh terbanting di atas lantai, mengeluh dan tidak
kuat untuk berdiri lagi. Mereka ini harus mengumpulkan tenaga dan hawa murni untuk memulihkan kekuatan. Dengan
mata mencorong seperti mata seekor naga sakti, Thian Sin kini melangkah mnaju perlahan-lahan. Para anggauta
Jit-sian-kauw yang belum roboh masih mengepungnya dan ikut bergerak melangkah, akan tetapi tidak berani terlalu
dekat, muka mereka pucat dan jelas terbayang wajah mereka betapa hati mereka jerih menghadapi pendekar yang
luar biasa ini. "Berhenti, Ceng Thian Sin!" Tiba-tiba Sian-su membentak. Thian Sin tersenyum mengejek. "Tidak
perlu menggertakku dengan ilmu sihirmu yang tidak manjur, siluman!"
"Berhenti atau pedangku akan menembus jantungnya!" Tiba-tiba Sian-su menggerakkan sebatang pedang dengan ujung
pedang itu sudah menempel pada kulit putih di dada Kim Hong yang terbuka, tepat di antara dua bukit dadanya.
Melihat ini, seketika Thian Sin menghentikan langkahnya dan matanya mengeluarkan kilat. Topeng tengkorak itu
tersenyum lebar, penuh ejekan. "Hemm, kau lihat, aku masih menguasaimu, Pendekar Sadis. Memang engkau hebat dan
gagah perkasa, akan tetapi belum tentu aku kalah olehmu."
"Pendeta jahanam! Kalau memang engkau laki-laki sejati dan jantan tulen, jangan mengancam orang yang sudah
tidak berdaya karena kecurang-anmu! Hayo lawan aku sebagai laki-laki, atau kaubebaskan Kim Hong lalu melawannya
tanpa kecurangan!"
"Ha-ha-ha, menggunakan tenaga sedikit mungkin untuk mencapai kemenangan, itu adalah sikap cerdik dan bijaksana.
Kalau engkau berkeras, aku akan bunuh wanita ini lebih dulu, berarti aku sudah menang separuh. Kecuali kalau engkau menyerah..."
"Hemm, engkau hendak memaksaku untuk mengancam nyawa Kim Hong. Baik, kalau aku menyerah lalu apa yang hendak
kaulakukan? Tidak urung engkau akan membunuh kami berdua juga!" Thian Sin mengepal tinjunya.
"Dari pada melakukan kebodohan itu, menyerahkan diri untuk akhirnya kaubunuh juga bersama Kim Hong, lebih baik
aku membiarkan kau membunuh Kim Hong lalu engkau... hemm.. Pendekar Sadis akan hidup lagi, akan menjadi paling
sadis antara semua kesadisannya yang pernah dilakukannya untuk menyiksamu!" Tanpa disadarinya, pendeta siluman
itu merasa betapa tengkuknya meremang dan jantungnya berdebar. Sungguh mengerikan mendengarkan ucapan dari
pemuda tampan itu dan dia dapat merasakan bahwa ucapan itu bukanlah ancaman belaka. Orang ini harus dienyahkan,
harus dibasmi. Kalau tidak, selama hidupnya akan terancam.
"Aku bukan orang bodoh, Pendekar Sadis. Aku berjanji, kalau engkau menyerahkan diri tanpa melawan, aku tidak
akan membunuh kalian." "Katakan, apa yang hendak kaulakukan terha-dap kami kalau aku tidak melawanmu dengan
kekerasan!"
"Apa yang akan kami lakukan adalah urusan kami. Akan tetapi kalau engkau menyerah tanpa - kekerasan, aku atas
nama Jit-sian-kauw, atas nama Dewa Kematian, aku bersumpah untuk tidak membunuh Toan Kim Hong dan Ceng Thian
Sin!" Diam-diam Thian Sin mengerti bahwa kalau dia menyerah, berarti dia mempertaruhkan nyawanya dan nyawa Kim
Hong. Akan tetapi, dia per-caya bahwa pendeta siluman itu tidak mungkin- akan berani melanggar sumpahnya
setelah bersum-pah demi nama Jit-sian-kauw dan Dewa Kematian, apa lagi disaksikan oleh semua pengikutnya.
"Sumpahmu disaksikan oleh para tamu yang hadir saat ini!" kata Thian Sin menekan. "Benar, disaksikan oleh
para tamu terhormat. Kami bukan golongan pengecut yang suka melanggar janji!" kata Sian-su dengan suara dibikin
gagah. "Baik, aku menyerah." Thian Sin berpendapat bahwa yang paling penting untuk saat itu adalah keselamatan
dan keamanan mereka berdua. Soal nanti selanjutnya, biarlah, tentu akan ada jalan lain. "Akan tetapi, engkau
harus menyingkirkan dulu Kim Hong dari sini dan biarkan ia mengaso dan jangan mengganggunya selama sehari
semalam! Kalau engkau tidak mau berjanji seperti itu, sam-pai mati aku tidak mau menyerah dan kita lihat saja,
siapa yang akan binasa dalam pertempuran di antara kita!" Ketua Jit-sian-kauw itu mengerti bahwa kalau pemuda itu
mau menyerah, semata-mata adalah karena pemuda itu tidak ingin melihat Kim Hong mati. Dan dia sendiripun tidak
berniat untuk membunuh Kim Hong. Sama sekali tidak. Dia mempunyai rencana sendiri terhadap diri Kim Hong. Dia
sudah mendengar bahwa dara itu memiliki ilmu silat yang tidak kalah lihainya dibandingkan dengan Pendekar Sadis.
Oleh karena itu, biarlah dia kehilangan Pendekar Sadis sebagai pembantu, asal berhasil membuat gadis lihai itu
sebagai pembantunya, juga kekasihnya yang baru. Kecantikan Kim Hong sudah menarik hatinya dan diapun da-pat
menguasai gadis itu dengan ilmu sihir, tidak seperti Pendekar Sadis yang kebal ilmu sihir. "Baiklah, Pendekar
Sadis. Aku berjanji bahwa selain aku tidak akan membunuh kalian berdua, juga nona Toan Kim Hong akan dirawat
baik--baik, dibiarkan beristirahat dan tidak akan mengganggunya selama sehari semalam. Nah, aku berjanji,
disaksikan semua tamu terhormat!" Thian Sin melihat betapa Kim Hong yang masih lemas tertotok itu diangkut pergi
oleh empat orang penari wanita setelah pendeta siluman itu memberikan perintahnya. Diapun lalu melemaskan
tubuhnya. "Aku menyerah." "Kami masih sangsi akan ketulusanmu, maka kami terpaksa akan membelenggu kaki
tanganmu." kata Sian-su. Thian Sin mengangguk dan diapun tidak memberontak dan mandah saja ketika dua orang
anggauta Jit-sian-kauw mendekatinya dan membelenggu kedua tangannya ke belakang, juga kedua kakinya. Tiba-tiba,
sehelai saputangan ditutupkan mukanya. Thian Sin mencium bau keras dan diapun tak sadarkan diri oleh obat bius yang amat kuat.
***
Orang-orang Hong-kiam-pang merasa marah dan sakit hati sekali ketika mendengar bahwa dua orang murid mereka
yang terkenal, yaitu Cia Kok Heng dan Kwee Siu, tewas di dalam langan Siluman Gaha Tengkorak. Mereka lalu
mengadakan rapat darurat, memanggil semua tokoh murid mereka dan rapat itu dipimpin oleh dua orang pemimpinnya
yaitu Im Yang Tosu yang menjadi ketuanya dan Bu Beng Tojin yang menjadi pembantu utama atau wakil ketuanya. Im
Yang Tosu adalah seorang tosu berusia hampir tujuh puluh tahun, tubuhnya kurus dan pendek, akan tetapi wajahnya
masih nampak segar dan gerakannya juga masih lincah. Tosu ini adalah tokoh Kun-lun-pai, maka tentu saja berhak
untuk menjadi ketua Hong-kiam-pang yang menjadi cabang dari Kun-lun-pai. Ilmu kepandaiannya tinggi dan wataknya
keras walaupun telah berpuluh tahun dia menjadi pendeta Agama To. Wakilnya yang berjuluk Bu Beng Tojin adalah
seorang pendeta yang bertubuh tinggi kurus, bermata tajam dan bersikap lemah lembut dan pendiam. Akan tetapi
dia merupakan seorang pembantu yang baik sekali, bahkan hampir semua urusan luar dari Hong-kiam-pang berada
dalam pengawasannya. Seperti juga Im Yang Tosu, tentu saja Bu Beng Tojin ini mahir Ilmu Pedang Hong-kiam-sut,
akan tetapi berbeda dari Im Yang Tosu yang mang menjadi murid yang pandai dari Kun-lun-pai, sebaliknya Ba Beng
Tojin ini bukan murid Kun-lun-pai, melainkan ahli dalam pelbagai cabang ilmu silat berbagai aliran. Akan
tetapi, setelah diuji oleh Im Yang Tosu sendiri, ternyata kepandaian Bu Beng Tojin ini cukup lihai, bahkan
hanya sedikit di bawah tingkat Im Yang Tosu, oleh karena itu maka dia dipercaya dan diangkat sebagai pembantu
utama atau boleh dibilang juga wakil ketua. Dalam banyak urusan, usul-usulnya selalu baik dan dapat diterima.
Dalam menghadapi Siluman Guha Teng-korak sekalipun, Im Yang Tosu menyerahkan ke-pada wakilnya itu untuk
mengatur bagaimana baiknya untuk membalas kematian dua orang murid mereka. "Sesungguhnya memang serba susah."
kata Bu Beng Tojin dalam rapat itu ketika ditanyai pendapatnya. "Perkumpulan kita selalu berusaha menjauhkan
diri permusuhan. Akan tetapi dua orang murid kita tewas dan tentu saja kita tidak dapat membiarkan kematian itu
lewat tanpa terbalas. Cuma ada satu hal yang harus diselidiki dengan teliti, apakah benar kedua orang murid
kita itu tewas di tangan orang yang berjuluk Siliman Guha Tengkorak itu." Suhengnya, Im Yang Tosu, menarik
napas panjang. "Siancai...! Pinto sendiri tidak menghendaki adanya permusuhan antara Hong-kiam-pang dengan
pihak manapun juga dan di dunia ini banyak terdapat orang jahat yang memenuhi pemukaan bumi. Tidak mungkin
kalau Hong-kiampang lalu harus memusuhi dan berusaha membasmi semua penjahat itu. Maka kitapun tidak pernah
mencampuri urusan Siluman Guha Tengkorak selama dia tidak mengganggu kita. Akan tetapi, Tujuh Pendekar Tai-goan
adalah murid-murid kita, dan terutama sekali Cia Kok Heng dan Kwee Siu yang langsung adalah murid-murid pinto
sendiri. Tak dapat disangkal lagi bahwa tentu Siluman Guha Tengkorak yang membunuh mereka. Bukankah isteri Kok
Heng juga telah diculiknya?" Bu Beng Tojin juga menarik napas panjang. "Tidak ada akibat tanpa sebab, dan
itulah hukum alam! Mungkin isteri Kok Heng terlalu cantik maka ia terculik, dan dua orang murid kita itu tewas
karena mereka menggunakan kekerasan. Lalu sekarang apa yang suheng kehendaki dalam menghadapi umsan ini?"
"Bukan hanya demi nafsu mendendam, sute, akan tetapi juga untuk membersihkan nama kita dan membersihkan dunia
ini dari gangguan siluman itu. Kita harus serbu Guha Tengkorak dan membasmi siluman itu. Untuk ini, pinto
serahkan siasatnya kepadamu." Bu Beng Tojin mengangguk-angguk. "Jangan khawatir, suheng. Aku akan membawa anak
murid kita dan menyelidiki keadaan Guha Tengkorak. Suheng tenang-tenang sajalah di sini menanti berita dari
kami." Demikianlah, pada malam hari bulan purnama itu, Bu Beng Tojin membawa para anak murid Hong-kiam-pang
yang terkumpul sebanyak dua puluh lima orang menuju ke daerah Guha Tengkorak dan melakukan penyelidikan. Semua
guha dimasuki dan diobrak-abrik. Akan tetapi mereka tidak menemukan sesuatu kecuali guha-guha kosong yang sunyi
dan menyeramkan. "Kalian semua menjaga di depan guha, dan sebagian melakukan penyelidikan sambil meronda. Pinto
sendiri diam-diam akan menyelinap ke belakang bukit, siapa tahu siluman itu akan melarikan diri dari jalan
rahasia di belakang bukit. Kalian tidak boleh meninggalkan tempat ini sebelum pinto datang." Demikian Bu Beng
Tojin berpesan kepada para murid Hong-kiam-pang, agaknya hendak menggunakan siasat menggeprak dari depan
membiarkan musuh lari lewat pintu belakang dan dia sudah menanti di sana untuk menyergapnya! Para murid
Hong-kiam-pang itu dengan pedang telanjang di tangan, berjaga-jaga dengan penuh kewaspadaan. Mereka percaya
akan kelihaian ji-suhu mereka, akan tetapi bagaimanapun juga, mereka merasa ngeri juga di tempat yang sunyi
menyeramkan ini. Apa lagi kalau mereka ingat betapa Tai-goan Ji-hiap, Tujuh Pendekar Tai-goan yang kesemuanya
amat lihai itu tewas di tangan siluman ini! Dan ji-suhu mereka itu pergi begitu lamanya. Sampai lewat tengah
malam belum juga kakek itu kembali dan mereka tidak berani meninggalkan tempat itu seperti yang dipesan oleh
ji-suhu mereka. Padahal, selagi berjaga, mereka mendengar suara-suara aneh, seperti dengung suara musik suling,
yang-kim dan canang dipukul, dari tempat jauh sekali, kadang-kadang seperti terdengar keluar dari jurang-jurang
terbawa angin. Padahal mereka tahu bahwa di sekitar tempat itu tidak ada dusun, dan suara musik itu juga bukan
musik dusun, melainkan musik halus yang biasanya hanya terdapat di kota besar. Tentu saja hal ini membuat
mereka semakin ngeri karena suara itu agaknya datang dari alam lain yang didatangkan oleh siluman-siluman!
Tentu saja para anak murid Hong-kiam-pang ini tidak pernah menduga sama sekali bahwa suara musik itu memang
keluar dari jurang karena jurang-jurang itu merupakan "jendela" dari tempat rahasia yang berada di balik bukit
guha-guha itu, di dalam bukit yang bertebing tinggi itu. Mereka tidak pernah menyangka bahwa di balik guha-guha
itu sedang dilangsungkan pesta gila-gilaan, pesta yang penuh kecabulan di mana nafsu berahi diumbar dan
dilampiaskan begitu seja dengan liar tanpa mengenal malu-malu lagi. Juga pada malam hari itulah Thian Sin
terpaksa menyerahkan diri karena ingin menyelamatkan Kim Hong. Akan tetapi dia lengah dan tidak memperhitungkan
kecerdikan ketua Jit-sian-kauw itu. Ketika dia membiarkan dirinya dibelenggu, yakin bahwa tidak ada belenggu
yang akan mampu menahannya, dan selagi dia mencurahkan perhatiannya kepada para pembelenggunya, tanpa
disangkanya dia telah diserang oleh Sian-su dengan menggunakan saputangan yang mengandung obat bius yang amat
kuat sehingga dia pingsan. Malam itu semakin larut dan suasana menjadi makin sunyi. Di luar daerah Guha
Tengkorak itu makin sunyi melengang, sedangkan di dalam tempat rabasia dari perkumpulan Jit-sian-kauw itupun
sudah mulai sunyi karena para tamunya sudah mulai membawa pasangan mereka, masing-masing ke tempat monyendiri
untuk dapat berasyik-masyuk tanpa terganggu. Lampulampu sudah dipadamkan dan diganti dengan lampu-lampu yang
terbungkus kain berwarnawarni sehingga suasana menjadi amat romantis dan coook untuk para pasangan itu
melampiaskan nafsu berahi masing-masing sesuka hati mereka. Ganti-berganti pasanganpun terjadilah dan pesta
gila itu akan berlangsung sampai matahari terbit pada keesokan harinya, setelah tubuh mereka tidak mengijinkan
lagi untuk melanjutkan pesta-pora pelampiasan nafsu itu. Teriakan yang amat mengejutkan para murid
Hong-kiam-pang itu terjadi lewat tengah malam. Mereka mengenal suara ji-suhu mereka di balik bukit,
"Anak-anak... ke sinilah dan cepat bantu pinto!" Demikian ji-suhu mereka itu berteriak-teriak dan mereka
mendengar suara desir angin pukulan, tanda bahwa ji-suhu mereka itu sedang berkelahi. Dan kalau sampai ji-suhu
mereka itu berteriak minta bantuan, itu tentu berarti bahwa lawannya sunguh seorang yang luar biasa lihainya.
Berbondong-bondong dua puluh lima orang itu berlari ke arah tempat itu dan di bawah sinar bulan purnama yang
sudah mulai condong ke bawat itu mereka melihat ji-suhu mereka benar-benar sedang bertanding melawan seorang
laki-laki yang memakai topeng tengkorak dan berpakaian serba putih dengan bagian dada ada lukisannya tengkorak
darah. Siluman Guha Tengkorak! Dan mereka melihat betapa ji-suhu mereka kini sedang mengadu tenaga sin-kang
dengan siluman itu, dua pasang tangan mereka itu saling lekat dan saling dorong! Para murid itu berhenti dan
memandang dengan bingung. Mereka semula maklum bahwa kalau ji-suhu mereka sedang mengadu sin-kang seperti itu,
mereka tidak boleh mengganggu. Selain tenaga sin-kang mereka masih belum mencapai tingkat setinggi tingkat
suhunya, juga campur tangan mereka dapat membahayakan keselamatan ji-suhu mereka sendiri. Maka mereka hanya
mendekat dan mengepung saja, siap dengan pedang di tangan untuk membantu kalau keadaan mengijinkan. Tiba-tiba
terdengar Bu Beng Tojin mengeluarkan bentakan nyaring. Dia mendorong dan... lawannya itu roboh terpental dan
terpelanting. Melihat ini, para murid Hong-kiam-pang cepat menubruk ke depan dan hendak menggerakkan pedang
mereka untuk menyerang tubuh orang bertopeng yang sudah roboh itu. "Tahan! Biarkan pinto menangkapnya!" teriak
Bu Beng Tojin mencegah para murid itu dan kakok ini lalu menubruk ke depan, monotok beberapa jalan darah
lawannya yang seketika menjadi lemas dan lumpuh. "Keluarkan belenggu dan belenggu kaki tangannya. Jangan sakiti
atau bunuh dia, biar kita membawanya menghadap suheng!" Bukan main girangnya hati para murid Hong-kiam-pang
melihat betapa orang bertopeng tengkorak itu telah roboh pingsan. Mereka membelenggu dan menelikungnya seperti
seekor babi hendak disembelih dan beramai-ramai mereka menggotong orang tawanan ini turun dari tebing. Bu Beng
Tojin melarang mereka membuka topeng yang menutupi muka orang itu. "Inikah yang dinamakan Siluman Guha
Tengkorak, ji-suhu?" tanya mereka kepada Bu Beng Tojin ketika mereka beramai pulang dengan hati gmbira karena
kemenangan itu. "Siapa lagi kalau bukan dia? Dia lihai sekali, hampir pinto kewalahan menghadapinya. Untung
pada saat terakhir kalian muncul sehingga perhatiannya tertarik dan sedikit banyak dia merasa terkejut dan
khawatir sehingga hal itu mengurangi tenaga sin-kangnya, memungkinkan pinto untuk mengalahkannya. Pantas dia
mampu merajalela dan mengacau karena memang ilmu kepandaiannya luar biasa lihainya." "Susiok, kenapa kita tidak
bunuh saja iblis ini agar arwah toa-suheng dan ji-suheng dapat menjadi tenang?" seorang pemuda berkata dengan
sikap penasaran. Pemuda ini adalah murid Im Yang Tosu ketua Hong-kiam-pang. Ketua ini mempunyai lima orang
murid, dan murid pertama dan ke dua adalah mendiang Cia Kok Heng dan Kwee Siu. Pemuda itu adalah murid ke tiga,
maka dia menyebut susiok kepada Bu Beng Tojin. "Bersabarlah, kita tunggu saja keputusan dari gurumu." jawab Bu
Beng Tojin. Malam sudah hampir terganti pagi ketika mereka tiba di kuil mereka, disambut oleh para murid lain
yang menjadi tegang dan gembira, juga ingin tahu sekali ketika mendengar bahwa Bu Beng Tojin telah berhasil
menawan Siluman Guha Tengkorak! Bu Beng Tojin melemparkan tubuh siluman itu ke atas lantai ruangan depan. Para
murid Hongkiam-pang mengepung tempat itu dan sebagian lagi melapor ke dalam. Karena Im Yang Tosu sedang
samadhi, maka mereka tidak berani mengganggu dan menanti sampai tosu tua itu selesai samadhinya, sementara itu
mereka mendengarkan Bu Beng Tojin menceritakan pengalamannya. "Memang menggelisahkan sekali menanti malam tadi,
sendirian di balik bukit itu. Akan tetapt pinto yakin bahwa penjahat itu tentu akan keluar juga. Kita telah
mempergunakan siasat mengancam di depan pintu dan membiarkan harimau lolos dari belakang. Kalau pinto membawa
semua murid ke belakang, tentu dia tidak akan berani keluar. Pinto sendiri barsembunyi dan membiarkan dia
mengira bahwa semua orang menyerbu dari depan. Akhirnya, diapun berkelebat keluar dari balik semak--semak yang
pinto kira tentu merupakan jalan rahasianya. Nah, pinto lalu menyergapnya dan pinto sama sekali tidak mengira
bahwa dia memang lihai bukan main sehingga pinto tidak segera memangil kalian. Akan tetapi, masih untung bahwa
akhirnya pinto berhasil..." Tiba-tiba Bu Beng Tojin menghentikan kata-katanya dan menoleh ke luar dengan sikap
kaget sekali. Semua orang cepat menoleh dan juga terkejut karena tiba-tiba saja seperti munculnya setan, di
pekarangan itu telah berdiri seorang yang berpakaian putih-putib dengan sulaman tengkorak darah di dadanya, dan
mukanya juga mengenakan topeng tongkorak! Keadaan orang itu persis dengan siluman yang telah ditelikung dan
kini rebah miring di atas lantai, hanya orang yang baru datang ini tubuhnya agak lebih kecil. Tiba-tiba siluman
yang baru datang ini dengan kecepatan kilat, sama sekali tidak tersangkasangka, menyambitkan sesuatu ke arah
siluman yang terbelenggu. "Tak! Tak!" Dua buah benda hitam menyambar dan mengenai punggung dan leher siluman
yang terbelenggu itu. Siluman ini nampak berkelojot sedikit lalu diam dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa
hati Bu Beng Tojin dan para murid Hong-kiam-pang ketika melihat bahwa siluman tawanan itu agaknya telah tewas
karena mukanya pucat sekali dan napasnyapun terhenti! Bu Beng Tojin marah bukan main. "Keparat jahanam engkau!"
Dan tosu yang bertubuh tinggi kurus ini sekali bergerak sudah meloncat ke depan, dan langsung menyerang siluman
yang bertubuh kecil itu. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika siluman itu berkelebat dan
sejenak lenyap dari pandang matanya, lalu tiba-tiba siluman itu yang telah berada di sebelah kirinya mengirim
tamparan ke arah lehernya. "Plakkk!" Bu Beng Tojin menangkis dan dia lebih kaget lagi. Tubuhnya terdorong
mundur oleh tangkisan itu dan kembali siluman itu telah menyerang dengan tendangan kilat yang memaksa tosu itu
untuk meloncat mundur. Kini para murid Hong-kiam-pang sudah berloncatan datang, dan mereka serentak menggunakan
pedang untuk menyerang. Tadinya mereka memang bingung dan termangu-mangu melihat munculnya seorang siluman lain
lagi itu, akan tetapi kini mereka sadar bahwa yang disebut Siluman Guha Tengkorak tentu merupakan gerombolan
yang mempunyai banyak anggauta dan semuanya mengenakan pakaian dan topeng seperti itu. Maka merekapun sudah
menerjang dengan marah. Akan tetapi, siluman itu memang lincah bukan main dan memiliki gin-kang yang luar
biasa. Tubuhnya berkelebat ke sana-sini seolah-olah dapat menyelinap di antara sambaran pedang-pedang itu. Ia
sama sekali tidak gugup biarpun dikeroyok banyak orang, bahkan ketika Bu Beng Tojin sendiri juga sudah terjun
dan menyerangnya. "Siancai... ternyata siluman ini berani mengacau di tempat pinto!" Terdengar bentakan halus
dan disusul suara mencicit seperti tikus terjepit, ada sinar menyambar amat dahsyatnya. "Eh...!" Siluman itu
mengeluarkan seruan kaget, akan tetapi biarpun pedang yang digerakkan oleh Im Yang Tosu itu amat hebat, ia
masih semmpat melempar tubuhnya ke belakang dan dengan cara membuat poksai (salto) sampai lima kali, ia
barhasil menghindarkan diri dari serangan sinar pedang yang bertubi-tubi itu. Akan tetapi, kakek tua itu
sungguh lihai bukan main permainan pedangnya karena sinar pedang itu bergulung-gulung dan dapat mengirim
serangan secara terus-menerus dan sambung-menyambung. Diam-diam ketua Hong-kiam-pang itupun terkejut setengah
mati. Baru sekarang ini permainan pedangnya gagal selalu biarpun dia sudah mengeluarkan jurus-jurus pilihan.
Siluman itu gesit bukan main dan gerakannya lebih cepat daripada sambaran sinar pedangnya! Sementara itu, Bu
Beng Tojin sudah meloncat mendekati siluman yang terbelenggu dan sekali renggut dia telah melepaskan topeng
tengkorak yang dipakai oleh siluman itu. Nampaklah wajah yang tampan dari Ceng Thian Sin! "Pendekar Sadis...!"
teriak Bu Beng Tojin dengah suara terkejut dan heran. "Dia adalah Ceng Thian Sin, Pendekar Sadis...!" Berkata
demikian, dia meloncat ke belakang. Semua orang terkejut. Para anak buah Hong-kiam-pang sudah mendengar tentang
Pendekar Sadis dan tentu saja mereka terkejut sekali mendengar bahwa orang yang menyamar sebagai Siluman Guha
Tengkorak itu adalah Pendekar Sadis! Bahkan Im Yang Tosu sendiri terkejut bukan main mendengar seruan
pembantunya itu sehingga serangannya terhadap siluman kedua yang tadinya gencar menjadi berkurang. Kesempatan
ini digunakan oleh siluman ke dua itu untuk meloncat ke samping, menjauh dan terdengar seruannya nyaring.
"Thian Sin, mari pergi!" Para anak buah Hong-kiam-pang yang ingin sekali menyaksikan sendiri wajah siluman yang
oleh Bu Beng Tojin dikatakan sebagai Pendekar Sadis itu, mendekati dan merubung Thian Sin yang sudah mulai
menggerakkan kedua matanya. Sambitan dua buah kerikil hitam yang mengenai jalan darahnya tadi sudah
membebaskannya dari totokan, akan tetapi karena pengaruh obat bius masih membuatnya nanar, maka baru sekarang
dia mulai sadar benar-benar. Begitu mendengar suara yang amat dikenalnya itu, yang mengajaknya pergi, dia
merasa seolah-olah kepalanya disiram air dingin dan seketika dia menjadi sadar sepenuhnya. Dalam sedetik saja
tahulah dia bahwa dia dalam bahaya, bahwa kedua kaki tangannya terbelenggu. Cepat dia mengerahkan tenaga
Thian-te Sin-ciang ke dalam kedua kaki tangan dan sekali dia mengerahkan tenaga itu dan menggerakkan kaki
tangan, terdengar suara keras dan semua belenggu itupun patah-patah! Para anak buah Hong-kiam-pang terkejut dan
merekapun tadi ragu-ragu apa yang harus mereka lakukan setelah melihat kenyataan bahwa yang menjadi Silumah
Guha Tengkorak adalah Pendekar Sadis! "Siancai...! Pendekar Sadis menjadi Siluman Guha Tengkorak dan membunuhi
murid Hong-kiampang? Pinto harus membuat perhitungan!" Im Yang Tosu berseru marah dan kakek ini sudah menerjang
lagi ke arah siluman ke dua dengan dahsyat, dibantu oleh murid-muridnya, sedangkan Bu Beng Tojin juga sudah
mencabut pedangnya dan menyerang Thian Sin. "Totiang, telah terjadi kesalahpahaman besar..." Thian Sin yang
sudah meloncat bangun dan cepat mengelak ketika pedang di tangan Bu Beng Tojin menyambar, mencoba untuk
membantab dan menjelaskan. "Siluman busuk, tutup mulut!" bentak Bu Beng Tojin yang juga sudah marah dan dia
mempercepat permainan pedangnya, dibantu pula oleh para murid Hong-kiam-pang. "Thian Sin, tidak perlu
berbantahan. Lari...!" Siluman ke dua itu kembali berteriak dan dengan gerakan kilat dia sudah merobohkan
seorang pengeroyok dengan tendangannya, kemudian dia meloncat dan pergi meninggalkan tempat itu, diikuti oleh
Thian Sin. "Kejar! Tangkap...!" Bu Beng Tojin berteriak dan semua orang Hong-kiam-pang yang merasa marah dan
penasaran itu melakukan pengejaran. Namun, mereka tidak mampu menyusul Thian Sin dan temannya yang sudah
mengerahkan gin-kang mereka dan melarikan diri secepatnya. Setelah para pengejar tidak nampak lagi, barulah
mereka berdua berhenti dan siluman tengkorak yang bertubuh ramping itu membuka topengya-. "Kim Hong...!" "Thian
Sin...!" Mereka berdua saling rangkul dan saling cium dengan hati penuh kerinduan dan juga kegembiraan melihat
bahwa keduanya akhirnya dapat bertemu dalam keadaan selamat. Setelah puas melampiaskan rasa rindu dan gembira
hati masing-masing, Thian Sin menggandeng tangan Kim Hong dan mengajaknya duduk di atas batu besar. "Nah,
sekarang ceritakan bagaimana engkau tiba-tiba dapat muncul di sini dan menyamar sebagai Siluman Guha Tengkorak
pula," kata Thian Sin sambil mengelus punggung tangan kekasihnya. Kim Hong lalu menceritakan semua
pengalamannya semenjak ia pergi mencari jejak dan menyusul Thian Sin ke daerah Guha Tengkorak sampai ia
terjebak dan tertawan karena terpengaruh oleh kekuatan sihir dari Sian-su atau ketua dari perkumpulan
Jit-sian-kauw atau Siluman Guha Tengkorak. Seperti kita ketahui, dara ini berada dalam keadaan tidak sadar
ketika ia tersihir dan hendak dijadikan auggauta baru dalam upacara pengangkatan angauta baru, bahkan ia
terpilih sebagai calon jodoh dari Sian-su sendiri! Ketika ia bertemu dengan Thian Sin di dalam sarang Siluman
Guha Tengkorak, ia sama sekali tidak dapat mengenal Thian Sin karena ia berada di dalam keadaan tersihir,
bahkan ketika Thian Sin mengamuk, iapun tidak tahu dan hanya memandang dengan bingung saja. Akan tetapi, ketika
ia hendak dibawa pergi, diam-diam Thian Sin mengerahkan segala kekuatan batinnya, menggunakan kepandaian
sihirnya untuk membebaskan dara itu dari pengaruh sihir dan biarpun perlahan-lahan, ketika ia dibawa pergi, Kim
Hong mulai sadar! "Aku tidak tahu apa yang terjadi dan ketika aku sadar, aku telah berada di dalam sebuah kamar
yang indah, dilayani oleh tiga orang gadis cantik sebagai dayang. Ketika aku teringat bahwa aku telah terjebak
dan tertawan, aku bangkit dan melihat bahwa di luar kamar itu terdapat beberapa orang pria yang memakai pakaian
dan topeng Siluman Guha Tengkorak. Aku hendak mengamuk, akan tetapi pada saat itu pintu kamar terbuka dan di
luar kamar nampak laki-laki tinggi yang agaknya menjadi kepala gerombolan itu..." "Itulah ketua Jit-sian-kauw
atau yang disebut dengan sebutan Sian-su!" kata Thian Sin. "Iblis itu menunjuk kepadamu yang kulihat pingsan,
sambil menodongkan pedangnya di lehermu. Dia mengancam bahwa kalau aku memberontak, dia lebib dulu membunuhmu,
dan diapun katanya sudah mengancammu kalau engkau memberontak, dia akan lebih dulu membunuhku. Karena engkau
tidak berdaya dan dia berjanji bahwa dia tidak akan membunuh kita berdua, aku bersabar diri dan engkaupun
dibawa pergi. Aku menjaga kesehatanku dengan makan setelah yakin bahwa makanan itu tidak dicampuri obat bius.
Aku mulai percaya bahwa agaknya Sian-su itu tidak berniat buruk dan benar-benar hendak bersahabat dengan kita."
"Hemm, dia menipumu. Dia menghendaki engkau menjadi isteri dan pembantunya." Kata Thian Sin gemas. "Akupun
mendengar akan hal itu malam tadi. Seorang wanita berlari-lari masuk ke kamarku sambil menangis. Beberapa orang
penjaga bertopeng tengkorak yang berada di luar kamar hendak menangkapnya, akan tetapi aku meloncat dan
menghardiknya. Agaknya mereka itu takut dan membiarkan wanita itu berlutut di depan kakiku." Cerita Kini Hong
makin menarik hati Thian Sin yang tidak dapat menahan keinginan tahunya lalu bertanya, "Apakah ia itu isteri
mendiang Cia Kok Heng?" Kim Hong mengangguk membenarkan lalu gadis ini melanjutkan ceritanya. Wanita cantik
yang usianya dua puluh tujuh tahun itu mula-mula menangis mengguguk sambil merangkul kedua kaki Kim Hong. Kim
Hong mula-mula merasa heran dan menyangka bahwa ini tentu akal bulus dari parkumpulan gerombolan iblis itu
untuk menjebak atau menipunya. "Enci, siapakah engkau dan kenapa engkau menangis?" akhirnya Kim Hong bertanya,
memegang kedua pundak wanita itu dan menariknya bangkit duduk. Disengaja olehnya menekan pundak itu dan ia
mendapat kenyataan bahwa wanita itu tidak pandai ilmu silat, dan hal ini membuat hatinya lega karena setidaknya
ia yakin bahwa wanita ini tidak akan mampu menyerangnya secara menggelap. Wanita itu menyusut air matanya dun
menahan isak tangisnya. "Lihiap... aku adalah seorang wanita yang paling sengsara di dunia ini..." Kembali ia
menangis. Kim Hong mengerutkan alisnya. "Enci, bagaimana engkau tiba-tiba saja menyebutku lihiap? Bagaimana
engkau tahu bahwa aku adalah seorang ahli silat, seorang pendekar wanita?" Wanita itu memandang keluar, ke arah
orang-orang bertopeng tengkorak itu dan ia berbisik. "Mereka itu bercerita tentang Pendekar Sadis yang
tertawan, juga tentang dirimu yang katanya merupakan sahabat pendekar itu dan lihai sekali, maka aku sengaja
nekat lari ke sini... aku ingin memberitahukan hal penting sekali..." "Nanti dulu, enci. Siapakah engkau dan
bagaimana engkau bisa sampai ke tempat seperti ini?" "Aku adalah satu di antara wanita-wanita yang berada di
sini, seperti mereka ini." Ia menunjuk ke arah gadis-gadis cantik yang menjadi dayang dan yang memandang heran
dan tidak mengerti. "Namaku Lu Sui Hwa den seperti juga mereka, aku adalah wanita yang diculik. Ada yang datang
ke sini karena bujukan, karena dibeli, karena diculik dan aku telah diculik. Mereka semua ini terbius dan
tersihir, tidak tahu lagi apa yang mereka lakukan. Akan tetapi aku tidak dibius lagi, tidak disihir lagi
setelah aku dibebaskan dari pengaruh sihir oleh Pendekar Sadis, tapi... tapi akupun terpaksa mentaati kehendak
mereka, melayani mereka... diperkosa, dipermainkah... ahh..." Wanita itu mendekap mukanya dan air mata mengalir
dari celah-celah jari tangannya. "Tapi, kalau engkau sadar dan tidak terbius, mengapa engkau mau menurut saja,
enci?" Kim, Hong menegur dan mengerutkan alisnya. "Apa dayaku? Suamiku telah mereka bunuh, dan mereka telah
menculik dua orang anak-anakku. Mereka mengancam bahwa selama aku menurut, anak-anakku tidak akan dibunuh...
maka aku... demi kedua anakku, aku terpaksa menyerah... hu-hu-huhhh..." "Apakah engkau nyonya Cia Kok Heng, ibu
kandung Cia Liong dan Cia Ling?" Tiba-tiba Kim Hong bertanya dan wanita itu menurunkan kedua tangannya,
memandang kepada pendekar itu dengan muka pucat dan mata terbelalak. Mulutnya ternganga dan sejenak ia tidak
mampu menjawab, hanya memandang dengan sinar mata penuh harapan. Akhirnya ia dapat juga membuka mulut dan
bicara. "Benar... benar... mana mereka? Bagaimana mereka...?" "Tenangkan hatimu. Aku menyelamatkan mereka dari
tangan iblis-iblis itu, kini mereka berada di tangan yang aman." Tiba-tiba wanita itu berlutut dan mencium kaki
Kim Hong. "Terima kasih... ah, terima kasih kepada Thian... terima kasih, lihiap..." Empat orang anggauta
Siluman Guha Tengkorak kini berloncatan masuk ke dalam kamar itu dan hendak menyeret pergi Lu Sui Hwa atau
nyonya Cia Kok Heng. "Pergi engkau dari sini, perempuan bandel!" Akan tetapi, kini Kim Hong tidak dapat menahan
kesabarannya lagi. Tubuhnya berkelebat dan kaki tangannya bergerak. Hanya terdengar suara orang mengaduh
berturut-turut diikuti tubuh empat orang itu terlempar ke kanan kiri dan mereka roboh tanpa dapat bangkit
kembali karena mereka sudah tewas oleh pukulan dan tendangan Kim Hong yang dilakukan dengan kemarahan meluap
tadi. "Enci, ceritakan apa yang ingin kaukatakan tadi? Pemberitahuan penting apa?" Kim Hong mendesak cepat.
"Pendekar Sadis... dia dibawa oleh mereka... menurut pembicaraan mereka yang dapat kudengar, Pendekar Sadis
yang pingsan itu diberi pakaian dan topeng Siluman Tengkorak kemudian hendak diserahkan kepada Hong-kiam-pang
agar diadili dan dibunuh oleh perkumpulan yang mendendam kepada Siluman Guha Tengkorak... aku dapat mendengar
segalanya karena aku tidak dibius dan mereka percaya aku tidak akan berani membocorkan rahasia..." "Perempuan
keparat!" Terdengar bentakan-bentakan dan lima orang bertopeng masuk. Akan tetapi Kim Hong menyambut mereka dan
melayani serbuan lima orang yang menggunakan senjata tajam itu. Kini Kim Hong tidak lagi ragu-ragu karena tahu
bahwa Thian Sin tidak berada di situ dan bahwa janji Siluman Guha Tengkorak sama sekali tidak dapat dipercaya.
Begitu kaki tangannya bergerak, gadis cantik yang pernah menjadi datuk kaum sesat di selatan dengan julukan
nenek Lam-sin ini, dalam belasan jurus saja telah membunuh empat orang lawan dan ia sudah menotok seorang
anggauta gerombolan yang tubuhnya kecil, kemu-dian ia melompat keluar kamar sambil membawa tawanannya. "Enci,
aku akan pergi menolong Thian Sin..." Akan tetapi pada saat itu ia mendengar suara keras disusul jeritan
mengerikan. Cepat ia monengok dan terkejutlah ia. Kiranya Lu Sui Hwa atau nyonya Cia Kok Heng, ibu dari kedua
orang anak itu, telah roboh dengan kepala pecah di dekat tembok. Ternyata ibu muda yang putus asa karena selain
suaminya terbunuh juga dirinya telah ternoda itu membunuh diri. Kim Hong memandang dan menggigit bibirnya.
"Enci, pergilah dengan tenang. Aku akan meng-hancurkan gerombolan iblis ini dan akan menyela-matkan
anak-anakmu." Ia berbisik, kemudian menerjang keluar. Belasan orang anak buah perkumpulan itu mencoba untuk
menghadangnya, akat tetapi dengan tamparan tangan dan tendangan ka-kinya, Kim Hong dapat membuat mereka semua
cerai-berai dan membawa tawanannya meloncat ke atas genteng. "Hayo tunjukkan jalan keluar kalau engkau tidak
ingin kucokel keluar matamu!" desis Kim Hong sambil meraba mata orang dengan telunjuknya. "Baik... jangan...
lihiap... akan kutunjukkan..." Tawanannya itu mengeluh dengan suara gemetar dan tubuh menggigil ketika merasa
betapa biji matanya diraba-raba jari! "Harap turun ke dekat menara itu, di sana ada jalan rahasia..." Kim Hong
membawa tawanannya meloncat turun ke dekat menara. Dua orang anggauta gerombolan yang berjaga di situ
menyerangnya dengar golok dan pedang, akan tetapi hanya dalam dua gebrakan saja Kim Hong telah membuat mereka
terpelanting dan roboh pingsan. Atas petunjuk tawanan itu, ia berhasil memasuki terowongan rahasia dan akhirnya
ia dapat keluar dari jalan rahasia itu sampai di balik tebing. Jalan ini adalah jalan yang diambil oleh Thian
Sin ketika dia sebagai "utusan" Sian-su mengusir lima orang Bu-tong-pai. "Tunjukkan di mana adanya tempat
orang-orang Hong-kiam-pang!" kembali Kim Hong membentak dan orang itu kelihatan semakin ketakutan. "Tidak...
saya... tidak berani..." "Engkau lebih berani membangkang terhadap perintahku?" Kim Hong membentak dan sekali
jari tangannya menotok orang itu lalu bergulingan di atas tanah sambil mengaduh-aduh. Dalam kegelisahannya akan
nasib Thian Sin dan kemarahannya terhadap gerombolan itu, apa lagi setelah melihat Lu Sui Hwa membunuh diri,
Kim Hong pada saat itu seperti telah berobah menjadi nenek Lam-sin lagi. Jalan darah yang ditotoknya itu adalah
jalan darah yang membuat orang menderita rasa nyeri yang amat hebat sehingga seolah-olah seluruh tubuhnya
bagian dalam dikeroyok ribuan semut api yang menggerogoti dagingnya! "Ampun... ampunkan saya...!" Orang itu
terengah-engah dan bergulingan. "Kautunjukkan tempat itu?" Dengan suara dingin Kim Hong bertanya. Orang itu
menangis saking nyerinya dan mengangguk-angguk. Barulah Kim Hong membebaskannya dari totokan yang menyiksa itu
kemudian berkata, "Hayo cepat tunjukkan!" Dengan terpaksa orang itu menunjukkan kuil yang menjadi markas
perkumpulan Hong-kiampang dan Kim Hong yang menyeret tubuh orang itu berlari seperti terbang cepatnya karena ia
tidak ingin terlambat. Ketika ia tiba di luar pekarangan kuil ia merasa lega melihat Thian Sin masih dalam
keadaan selamat dan banyak anggauta Hong-kiam-pang berkumpul di ruangan depan. Cepat ia lalu melucuti pakaian
luar dan topeng orang itu dan tergesa-gesa memakai pakaian itu dan juga mengenakan topeng Siluman Tengkorak.
"Demikianlah, Thian Sin," Kim Hong mengakhiri ceritanya. "Aku berhasil membuat mereka terkejut dan membebaskan
totokanmu dengan dua sambitan batu kerikil yang sudah kupersiapkan. Sekarang ceritakan pengalamanmu." "Terima
kasih, Kim Hong. Engkau telah menyelamatkan lagi nyawaku," kata Thian Sin sambil menciumnya. "Tentang
pengalamanku, sebaiknya kuceritakan dalam perjalanan saja. Sekarang yang perlu kita harus cepat-cepat menyerbu
Guha Tengkorak untuk membasmi mereka sebelum mereka sempat melarikan diri atau membunuh wanita itu." Kim Hong
menyetujui dan sepasang pendekar sakti ini lalu mengerahkan gin-kang mereka untuk lari menuju ke Guha
Tengkorak. Di sepanjang perjalanan, Thian Sin menceritakan pengalamannya dengan singkat. "Sian-su keparat itu
memang benar hendak memegang janjinya, yaitu tidak akan membunuh kita berdua, akan tetapi dia hendak meminjam
tangan orang-orang Hong-kiam-pang untuk membunuhku, kemudian dengan ilmu sihir dan obat bius-nya dia tentu akan
berusaha untuk menguasai dirimu agar engkau suka membantu pekerjaannya yang terkutuk itu!" kata Thian Sin
mengakhiri penuturannya. "Akan tetapi bagaimana engkau bisa berada di tangan orang-orang Hong-kiam-pang yang
haus darah itu?" "Hushh, jangan kausebut haus darah. Mereka telah kehilangan tujuh orang murid, tidak aneh
kalau mereka mendendam kepada Siluman Guha Tengkorak. Apa lagi kalau mereka ketahui bahwa gerombolan Siluman
Guha Tengkorak memang sangat jahat dan keji, tentu sebagai pendekar-pendekar mereka itu akan menentang
mati-matian. Dan aku yang berpakaian dan bertopeng seperti ini, tentu takkan mereka ampuni." "Akan tetapi
bagaimana engkau sampai terjatuh ke tangan mereka?" "Sudah kukatakan tadi, aku dalam keadaan pingsan oleh obat
bius. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku dan tahu-tahu aku telah berada di sana sampai kau datang.
Tentu ini sia-sat Sian-su yang menyerahkan aku kepada Hiong-kiam-pang sebagai seorang Siluman Guha Tengkorak,
dengan maksud agar orang-orang Hong-kiam-pang membunuhku." "Sian-su keparat itu sungguh licik, curang, keji dan
amat jahat. Kalau bertemu dengannya, aku pasti tidak akan memberi ampun padanya!" Kim Hong berkata dengan nada
suara marah. "Akan tetapi engkau harus berhati-hati, karena dia memiliki ilmu sihir yang cukup kuat. Jangan
lengah dan pergunakan semua ilmu penolak sihir seperti yang pernah kuajarkan kepadamu kalau dia
mempergunakannya," pesan Thian Sin dan Kim Hong mengangguk. Ia memang telah mempelajari cara-cara penolakan
sihir dari kekasihnya itu dan kalau ia sampai pernah jatuh dalam pengaruh sihir dari ketua Siluman Guha
Tengkorak, adalah ka-rena ia tidak menyangka sama sekali, tertipu oleh tosu kuil itu dan juga karena memang
siluman itu memiliki kekuatan sihir yang amat kuat.



***



Di dalam tempat rahasia ini perkumpulan Jit-sian-kauw itu, Sian-su mengumpulkan semua anak buah dan juga para
tamunya. Sepasang mata di balik topeng itu nampak gelisah. "Para anggauta dan juga para saudara sekepercayaan
semua yang mulia! Tempat pemujaan kita terancam bahaya besar! Pendekar Sadis dan pembantunya telah berkhianat
dan tentu mereka itu akan datang mengacau di sini. Oleh karena itu, aku perintahkan kepada semua anggauta untuk
bersikap waspada, menjaga semua jalan masuk dan memasang semua jebakan-jebakan. Dan kepada para saudara
sekepercayaan, saya ha-rap sukalah mengeluarkan sedikit tenaga membantu mempertahankan tempat pemujaan kita
yang keramat." Dengan cekatan Sian-su lalu membagi-bagi tugas di antara anak buahnya yang tinggal tiga puluh
orang lebih banyaknya itu, memerintahkan para gadis itu bersembunyi di ruangan dalam dan tidak memperbolehkan
mereka keluar. Tosu Siok Cin Cu yang menjadi pembantu utamanya, dengan pakaian Siluman Tengkorak, mewakilinya
untuk mengatur para anak buah dalam melakukan penjagaan. Kemudian Sian-su membujuk para tamunya yang
ber-kepandaian untuk ikut melakukan penjagaan. Dinatara para tamunya itu terdapat sepuluh orang yang memiliki
kepandaian silat tinggi dan mereka ini yang merasa betapa pusat kepercayaan mereka terancam oleh musuh, dengan
senang hati mau membantu Sian-su. Kepercayaan yang membuta sering kali menyesatkan orang dan membuat manusia
lupa bahwa segala macam agama atau kepercayaan diciptakan untuk manusia. Agama atau kepercayaan lain diadakan
untuk menuntun manusia ke jalan yang dianggap benar dan baik. Jelaslah bahwa manusia-nya yang penting dan
kepercayaan itu merupakan pelengkap dalam kehidupan, sebagai alat pene-rangan dan penuntun. Namun, betapa
banyaknya kepercayaan yang membuta membuat para pemeluknya lupa bahwa manusianya yang penting dan mereka itu
bahkan lebih mementingkan agama atau kepercayaannya, dan manusianya sendiri lalu menjadi alat belaka yang mudah
saja dikorbankan demi kepercayaan atau agama itu. Dan yang memegang peran dalam hal ini adalah para
pemimpinnya, para pendetanya yang mempergunakan nama agama untuk memenuhi ambisi pribadinya. Para pemeluk itu
mau saja diseret ke dalam kancah permusuhan dan kebencian, bunuh-membunuh, rela berkorban untuk membunuh atau
terbunuh, semua dilakukan demi nama mempertahankan agama atau kepercayaan seperti yang digembargemborkan oleh
para pemimpinnya. Terjadilah keadaan yang sama sekali terbalik. Bukan lagi agama untuk manusia melainkan
manusia untuk agama, bukan lagi agama sebagai alat manusia melainkan manusia menjadi alat agama. Demikian pula
dengan para tamu dari ketua Jit-sian-kauw ini. Merekapun menyerahkan kepercayaan secara membuta dan di dalam
penyerahan kepercayaan ini memang selalu terdapat hal-hal yang dianggap menguntungkan atau menyenangkan sebagai
pendorong. Mereka, para pemeluk agama Jit-sin-kauw ini, telah menikmati ke-senangan jasmani berupa pesta-pora
pemuasan nafsu--nafsu berahi, akan tetapi juga kesenangan batiniah yang berupa harapan bahwa kalau sudah mati
kelak mereka akan memperoleh kesenangan karena sudah disediakan suatu tempat yang baik untuk mereka oleh Dewa
Kematian yang telah mereka pujapuja dan beri korban. Kini, mereka rela untuk membela kepercayaan mereka, bahkan
rela un-tuk mati kalau perlu, dengan keyakinan bahwa kematian itu akan berakhir dengan kesenangan bagi mereka.
Para tamu ini sama sekali tidak tahu bahwa ketika mereka ikut berjaga dengan sibuk untuk mempertahankan "tempat
pemujaan keramat" itu, di sebelah dalam kamar rahasianya, Sian-su yang dibantu oleh orang kepercayaannya, yaitu
Siok Cin Cu, sedang sibuk sendiri membenahi barang-barang berharga yang amat berharga, semua dimasukkan ke
dalam dua buah peti sampai penuh! "Siok Cin Cu, kita harus dapat menyelamat-kan dua peti ini lebih dulu.
Pendekar Sadis dan wanita itu tidak boleh dipandang ringan. Engkau tahu ke mana harus menyembunyikan peti-peti
ini kalau keadaan memaksa." "Baik, Sian-su, jangan khawatir. Akan tetapi sudah demikian berbahayakah keadaannya
sehingga Sian-su perlu berkemas dan berkhawatir?" tanya tosu Siok Cin Cu itu di balik topengnya. "Berbahaya
sekali sih belum, akan tetapi kita perlu waspada. Para anak buah dan para tamu dengan bantuan jebakan-jebakan
mungkin akan dapat menahan Pendekar Sadis dan temannya. Akan tetapi aku khawatir bahwa Hong-kiam-pang tidak
akan mau sudah dan mereka akan berusaha untuk menemukan tempat kita. Im Yang Tosu agaknya berkeras hati benar
untuk menggempur kita." Siok Cin Cu menarik napas panjang. "Agaknya kita telah salah tangan membunuh Tujuh
Pendekar Tai-goan itu, Sian-su, sehingga menjadi berlarut-larut memancing permusuhan dengan Hong-kiam-pang."
"Tidak salah tangan sama sekali. Pertama, mereka itu menentang kita. Ke dua, ada gejala-gejala bahwa di antara
mereka itu megetahui rahasiaku. Mereka memang perlu dibinasakan untuk mencegah datangnya bahaya yang lebih
besar." Percakapan mereka terhenti ketika terdengar suara hiruk pikuk di luar. Mereka saling pandang dan dua
pasang mata di balik topeng itu tampak gelisah. Akan tetapi Sian-su menenangkan diri dan berkata, "Siok Cin Cu,
engkau membawa peti ini sebuah dan aku sebuah. Engkau mengambil jalan kiri dan aku ke kanan. Engkau tahu di
mana kita dapat bertemu di luar tempat ini." "Sian-su... hendak meninggalkan tempat ini? Apakah tidak menahan
musuh dulu?" "Sstt, diamlah. Yang penting menyelamatkan dua peti ini baru kita pikirkan untuk menghantam musuh
yang berani masuk ke sini. Mari, cepat!" kata Sian-su menyerahkan sebuah di antara dua peti hitam itu kepada
Siok Cin Cu. Tosu ini menerima peti, mengangguk dan segera meloncat pergi dari kamar rahasia itu, bersimpang
jalan dengan ketuanya. Memang telah terjadi pertempuran semenjak di terowongan. Seperti kita ketahui, Thian Sin
dan Kim Hong menuju ke balik tebing untuk menyerbu sarang Jit-sian-kauw itu dari belakang, melalui jalan
rahasia, yang telah mereka berdua ketahui. Akan tetapi sebelum menuju ke situ, Thian Sin mengajak Kim Hong
untuk lebih dulu memasuki sebuah hutan kecil tak jauh dari situ. "Eh, kita ke mana?" tanya Kim Hong yang
seperti juga kekasihnya telah menanggalkan pakaian dan topeng tengkorak. "Sudah kuceritakan kepadamu bahwa aku
pernah terpaksa mengusir lima owang tokoh Bu-tongpai dan aku berhasil memberi tahu mereka tentang keadaanku dan
minta kepada mereka untuk menanti di hutan ini. Nah, itu mereka!" kata Thian Sin ketika melihat Liang Hi Tojin
keluar dari sebuah gubuk kecil bersama empat orang murid Bu-tong-pai. Cepat Thian Sin dan Kim Hong menghampiri
mereka. "Siancai, siancai... sungguh tidak sabar kami menanti-nanti berita darimu, Ceng-taihiap," kata Liang Hi
Tojin sambil menjura ke arah dua pendekar itu. "Dan Toan-lihiap juga sudah datang, sungguh membesarkan hati!"
Thian Sin dan Kim Hong yang sudah mengenal tokoh ke dua dari Bu-tong-pai ini segera membalas penghormatan
mereka berlima. "Saya menanti saat baik dan kesempatan, totiang. Dan sekaranglah saat baik itu tiba." "Kita
menyerbu Guha Tengkorak? Tapi... kami tidak pernah menemui jalan masuk." "Jangan khawatir, kami sudah tahu
jalannya." kata Kim Hong. "Mari ngo-wi (kalian berlima) ikuti kami." Berbondong-bondong merekapun berangkat
dengan penuh semangat. Orang-orang Bu-tong-pai ini bukan hanya ingin membalas kematian Louw Ciang Su murid
Bu-tong-pai, seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, akan tetapi juga mereka merasa bertugas untuk membasmi
gerombolan Siluman Guha Tengkorak yang telah melakukan pengacauan dan kejahatankejahatan kejam itu. Setelah
menemukan jalan masuk rahasia melalui terowongan itu, Thian Sin masuk lebih dulu, diikuti oleh Kim Hong.
Barulah, di belakang dua orang pendekar ini, Liang Hi Tojin dan empat orang murid keponakannya berjalan masuk
dengan pedang siap di tangan mereka. Sebagai seorang yang pernah dipertaya oleh Sian-su, Thian Sin pernah
melalui terowongan ini dan rahasia jebakan terowongan ini tidak disembunyikan darinya, maka sedikit banyak dia
tahu di mana adanya jebakan-jebakan itu. Sebaliknya, ketika melarikan diri dari tempat itu, Kim Hong membawa
seorang tawanan yang telah memberi tahu kepadanya adanya jebakan-jebakan sehingga ia bersikap hati-hati dan
juga dalam keributan itu, terowongan tidak terjaga dan tidak ada anggauta gerombolan yang menggerakkan alat
rahasia jebakan. Ketika tiba di sebuah tikungan terowongan, tiba-tiba Thian Sin berseru, "Awas anak panah!" Dan
hampir berbareng dengan ucapannya, dari depan dan belakang menyambar puluhan batang anak panah ke arah mereka!
Akan tetapi, orang-orang Bu-tong-pai itu sudah siap dengan pedang mereka dan dengan memutar pedang, anak panah
yang menyambar mereka runtuh ke atas tanah. Kim Hong dan Thian Sin menggunakan gerakan tangan mereka menangkis,
dan dua batang anak dapat ditangkap oleh Thian Sin yang cepat menggerakkan tangan. Dua batang anak panah itu
meluncur ke atas dan terdengarlah jeritan orang disusul jatuhnya sesosok tubuh yang tadinya bersembunyi di
bagian atas dan menggerakkan alat-alat yang meluncurkan anak-anak panah itu. Orang itu tewas dengan leher dan
dada tertembus dua batang anak panah yang dilemparkan oleh Thian Sin tadi. Mereka melanjutkan perjalanan dengan
hati-hati tanpa memperdulikan orang yang sudah tewas itu. Mereka melangkahi mayat itu dan dengan hati-hati
Thian Sin terus melangkah maju, diikuti oleh yang lain. Terowongan itu tidak begitu gelap, agak remang-remang
karena ada cahaya matahari yang masuk melalui beberapa celah-celah yang berada di langit-langit torowongan.
"Berhenti...!" Tiba-tiba Thian Sin berbisik dan semua orang berhenti. Tidak nampak sesuatu yang mencurigakan di
situ, akan tetapi mereka melihat Pendekar Sadis memberi isyarat agar mereka berhenti, sedangkan dia sendiri
melangkah ke depan sambil melirik ke sana-sini dengan penuh kewaspadan. Tiba-tiba terdengar bunyi berderit dan
lantai yang diinjaknya itu terbuka, sedangkan di dalam sumur di bawah itu nampak batu-batu meruncing menanti di
bawah! Akan tetapi, Thian Sin sudah mengeluarkan suara melengking dan tubuhnya mencelat ke kanan, ke arah batu
karang besar dan sekali tangannya menyambar, dia telah menangkap seorang laki-laki bertopeng tengkorak dan
tubuh orang itupun dilemparkannya ke dalam sumur, sedangkan dia sendiri sudah meloncat lagi ke tempat semula di
mana teman-temannya berdiri memandang dengan mata terbelalak ke dalam sumur. Orang yang terlempar itu
mengeluarkan suara pekik mengerikan dan tubuhnya disambut oleh batu-batu karang yang seperti golok itu dan
tewas seketika. Lantai itu masih terbuka dan terpaksa mereka bertujuh lalu melompati sumur itu dan melanjutkan
perjalanan lagi ke depan. Tidak ada lagi jebakan yang menghadang perjalanan mereka, akan tetapi begitu mereka
keluar dari pintu rahasia, mereka sudah diserbu oleh para anak buah Siluman Guha Tengkorak yang dibantu oleh
sepuluh orang tamu pemeluk kepercayaan baru itu sehingga terjadilah perkelahian yang amat seru. Liang Hi Tojin
mengamuk dan empat orang murid keponakannya juga mempermainkan pedang mereka, dikeroyok oleh para anggauta
gerombolan Jit-sian-kauw yang dibantu oleh sepuluh orang tamu. Melihat betapa sepak terjang Liang Hi Tojin dan
empat orang murid Bu-tong-pai itu cukup tangkas dan kuat, Thian Sin dan Kim Hong lalu sama-sama meloncat ke
arah dalam. "Engkau dari kiri, aku dari kanan!" kata Thian Sin dan nona itu mengangguk mengerti apa yang
dikehejndaki kekasihnya. Mereka berdua sudah tahu di mana adanya kamar Sian-su, dan memang ada dua jalan yang
menuju ke kamar itu, sebuah kamar yang mewah dan di mana hampir setiap malam terjadi kecabulan. Pada saat itu,
seorang yang berpakaian dan bertopeng Siluman Tengkorak sedang bergegas melarikan diri keluar dari lorong
sambil membawa sebuah peti hitam. Orang ini bukan lain adalah Siok Cin Cu, tosu pembahtu utama Sian-su yang
bertugas menyelamatkan sebuah peti berisi barang perhiasan itu. Diam-diam tosu ini merasa heran, mengapa
Sian-su tidak lebih dulu menyambut dan menahan serbuan lawan melainkan lebih mementingkan untuk menyelamatkan
barang-barang berharga itu. Akan tetapi karena dia sendiri maklum betapa lihainya Pendekar Sadis, tugas ini
tentu saja menggembirakan hatinya. Dia tidak perlu menghadapi lawan yang mengerikan itu dan lebih enak
menyelamatkan diri membawa peti perhiasan yang dia tahu amat berharga ini. Andaikata Sian-su gagal, dia sendiri
masih mempunyai sebuah peti yang akan cukup untuk dimakan selama tujuh turunan dalam keadaan mewah! Ketika dia
belari melalui lorong itu, tiba-tiba dia melihat seorang wanita cantik berdiri di depan. Dia mengira bahwa
tentu seorang di antara para gadis dayang dan penari yang keluar dari tempat mereka dikurung. Melihat wanita
cantik ini, Siok Cin Cu tersenyum di balik topengnya. Bagaimana kalau dia membawa wanita cantik itu bersamanya?
Selain untuk teman di perjalanan juga untuk menghibur hatinya! "Hei, berani engkau keluar dari ruangan itu?
Hayo kau ke sini dan ikut bersamaku....!" Akan tetapi tiba-tiba Siok Cin Cu menghentikan kata-katanya setelah
dia datang dekat dan mengenal wanita ini yang bukan lain adalah Toan Kim Hong! Kim Hong berdiri dengan senyum
manis dikulum. Ucapan yang keluar dari balik topeng itu dikenalnya dengan baik dan senyumnya makin melebar
menghias bibirnya yang merah basah dan manis ini. Ia lalu bertolak pinggang menghadang di tengah lorong. "Aihh,
kiranya si pertapa Siok Cin Cu yang suci itupun mempunyai jubah dan topeng tengkorak? Totiong, tentu engkau
tidak lupa kepadaku, bukan? Aku tidak pernah dapat melupakanmu dan budi totiang ketika membawaku ke susiok
totiang itu sampai sekarang belum juga sempat kubalas!" Kim Hong berkata dengan nada manis dan ramah, akan
tetapi sepasang matanya yang mencorong itu mengeluarkan sinar dingin yang membuat Siok Cin Cu merasa bulu
tengkuknya meremang. Akan tetapi dia bukan seorang lemah. Dia adalah pembantu utama dari Sian-su dan dia telah
memiliki ilmu kepandaiin tinggi. Karena maklum bahwa bicara banyak tiada gunanya dan bahwa wanita ini adalah
teman dari Pendekar Sadis, maka sebelum pendekar itu sendiri muncul dia harus dapat merobohkan wanita ini. Maka
dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah menggerakkan tangan kanannya untuk mencabut senjatanya,
yaitu sebatang pedang dari pinggangnya, lalu dia menubruk ke depan dengan serangan kilatnya! Tangan kirinya
masih memeluk peti hitam di dekat dadanya. "Singgg...! Wuuuutt...!" Tusukan pedang itu luput ketika Kim Hong
dengan seenaknya mengelak akan tetapi tusukan itu dilanjutkan dengan sabetan sebagai serangan selanjutnya.
Gerakan tosu ini memang cukup cepat. Namun, tentu saja dia hanya merupakan lawan yang lunak dari Kim Hong yang
pernah menjadi datuk berjuluk nenek Lam-sin ini. Sambil tersenyum mengejek, Kim Hong kembali mengelak. Ia tidak
cepat turun tangan terhadap tosu ini karena perhatiannya tertarik kepada peti hitam yang dipeluk si kakek.
Tentu terisi benda penting maka hendak dilarikan oleh tosu ini, pikirnya. Oleh karena itu, timbul niat di
hatinya merampas peti ini dan memeriksa apa isinya, baru ia akan menghajar tosu palsu ini. "Hyaaaatt...!"
Kembali Siok Cin Cu menyerang dengan gerakan pedangnya yang berkelebat seperti kilat menyambar itu. Kim Hong
cepat mengelak ke kiri dan ketika pedang itu menusuk ke arah matanya, ia miringkan kepala dan menggunakan
tangan kiri untuk menjepit ujung pedang itu dengan ibu jari, telunjuk dan jari tengah, sedangkan kaki kanannya
menendang ke arah muka lawan dengan gerakan kilat. "Brettt!" Tosu itu berteriak kaget, bukan hanya karena
pedangnya seperti terjepit baja dan topeng tengkoraknya robek terkena ujung sepatu gadis itu, akan tetapi
terutama sekali karena pada saat itu tangan kanan gadis itu sudah bergerak dan merampas peti hitamnya! Setelah
berhasil merobek topeng sehingga nampak wajah Siok Cin Cu yang agak pucat dan berhasil pula merampas peti
hitam, Kim Hong tertawa dan dengan tubuh membuat jungkir balik tiga kali, ia meloncat ke belakang lalu duduk
sembarangan di atas lantai, membuka peti hitam itu. Wajahnya berseri, matanya terbelalak dan mulutnya tersenyum
girang ketika ia melihat isi peti yang berkilauan, terdiri dari perhiasan-perhiasan emas perak penuh batu
permata yang mahal-mahal itu. Dengan wajah pucat Siok Cin Cu memandang. Dia tahu bahwa nona itu lihai bukan
main dan kalau berkelahi secara berhadapan, belum tentu dia akan menang. Maka, melihat betapa gadis itu kini
terpesona oleh perhiasan di dalam peti seperti seorang anak kecil tertarik oleh mainan yang bagus, diam-diam
dia lalu mengambil jalan memutar, mengitari gadis dalam ruangan itu dengan pedang siap di tangan. Setelah tiba
di belakang Kim Hong, tiba-tiba dia meloncat, menubruk dan menggerakkan pedangnya untuk melakukan serangan maut
yang kiranya tak akan mungkin dihindarkan oleh gadis yang sedang duduk di lantai dan tertarik oleh
perhiasanperhiasan itu. Akan tetapi, tanpa menoleh Kim Hong menggerakkan tangan yang sedang memegang tusuk
konde kumala tadi ke belakang dan gerakan tosu itu terhenti di tengah udara! Tubuh yang sedang mengangkat
pedang hendak membacok itu tiba-tiba terhenti, seperti tertahan oleh kekuatan dahsyat, pedangnya terhenti di
atas kepala lalu terlepas dan jatuh ke atas lantai, kedua lututnya terkulai dan tertekuk lalu tubuhnya jatuh
berlutut, kedua tangan mendekap dada di mana tusuk konde itu amblas dan memasuki dadanya tepat menusuk jantung.
Diapun roboh dan hamya berkelojotan sebentar. Tewaslah Siok Cin Cu tanpa dapat bersambat lagi, matanya terbuka
memandang kosong ke arah peti hitam yang terbuka di depan Kim Hong. Kim Hong meloncat bangun dan menutupkan
kembali peti hitam, lalu membawa peti itu dan berloncatan menuju ke kamar pusat di mana ia mengharapkan akan
dapat bertemu dengan orang yang amat dibencinya, yaitu Sian-su atau Siluman Guha Tengkorak, ketua dari
Jit-siankauw. Akan tetapi ia telah kalah dulu oleh Thian Sin. Seperti juga halnya tosu Siok Cin Cu, Sian-su
atau Siluman Guha Tengkorak itu melarikan diri membawa sebuah peti hitam yang dipeluknya. Akan tetapi baru saja
dia meninggalkan kamarnya dan tiba di ruangan sembahyang, tiba-tiba dia berhenti berlari dan memandang ke depan
dengan mata terbelalak. Pendekar Sadis telah berdiri di situ sambil bertolak pinggang dan menentang pandang
mata dengan senyum mengejek dan mata mencorong penuh kemarahan! Dapat dibayangkan betapa kaget hati Siluman
Guha Tengkorak melihat pendekar ini. "Ah, Ceng-taihiap...!" katanya dengan suara yang ramah sekali, suara yang
mengandung kekuatan sihir untuk menundukkan hati lawan. "Aku selalu memegang janji, tidak membunuh engkau atau
Toan-lihiap..." "Basus, memang engkau tidak melanggar janji. Dan akupun tidak akan membunuhmu, hanya ingin
menangkapmu dan menyerahkanmu kepada para tosu Hong-kiam-pang dan Bu-tong-pai." "Pengkhianat kau!" bentak
Sian-su dan diapun sudah menerjang den memukulkan tangan kanannya ke arah kepala Thian Sin. "Darrr...!" Thian
Sin terkejut juga melihat sinar terang dan bunyi ledakan ketika ada benda menghantam dinding di belakangnya.
Pukulan Sian-su tadi dielakkannya dan ternyata Sian-su itu tidak hanya memukul, melainkan juga melepaskan
sesuatu dari kepalan tangannya ke arah kepalanya yang membentur dinding dan meledak, membuat dinding itu
berlubang sebesar kepala orang. Kalau benda itu mengenai kepalanya dan meledak, tentu kepalanya yang akan
pecah! Sian-su sudah menerjang lagi dengan penuh kemarahan dan karena tangan kirinya masih memeluk peti hitam,
dia menggunakan pukulan tangan kanan secara beruntun dua kali dibantu oleh tendangan kakinya satu kali. "Dukk!
Dukk! Desss...!" Thian Sin sengaja menangkis dua kali pukulan dan satu kali tendangan itu sambil mengerahkan
tenaga keras lawan keras. Tubuhnya tergetar oleh pertemuan tenaga itu, akan tetapi juga Sian-su terdorong ke
belakang sampai dua langkah dan terhuyung. Thian Sin tersenyum mengejek. "Ha-ha-ha, Siluman Guha Tengkorak!
Sekarang keluarkanlah semua kepandaianmu. Mari kita lihat siapa di antara kita yang lebih kuat!" Siluman itu
hanya menggeram dan kini dia sudah menerjang lagi karena Thian Sin menghalang di depannya. Tangan kanannya
bukan memukul melainkan mencengkemm dan melihat betapa gerakan tangan itu berputar disertai bunyi suara
mencicit nyaring, tahulah Thian Sin bahwa lawannya menggunakan ilmu pukulan yang amat keji, dan mungkin
merupakan tok-ciang (tangan beracun). Akan tetapi, tentu saja Pendekar Sadis tidak takut, bahkan gentar
sedikitpun tidak menghadapi cengkeraman ini. Diam-diam dia sudah merasa heran mengapa lawannya tetap memeluk
peti hitam itu, padahal dalam pertemuan tenaga tadi saja siluman itu tentu sudah maklum bahwa tenaga siluman
itu kalah kuat. Kalau bukan peti yang isinya amat berharga tentu siluman itu akan melepaskannya agar dapat
menyerang dengan leluasa dan memper-gunakan seluruh kepandaiannya. "Wuttt... plakk...!" Tangan yang
mencengkeram ke arah ubun-ubun itu dielakkan oleh Thian Sin, akan tetapi dibiarkan mengenai pundaknya dan dia
telah menyambutnya dengan pengerahan tenaga Thi-khi-i-beng! "Aihhhh...!" Sian-su memekik terkejut bukan main
ketika cengkeramannya yang mengenai pundak itu mengakibatkan tenaganya membanjir keluar, tersedot oleh kekuatan
yang amat dahsyat dan pada saat itu, petinya telah terampas oleh Thian Sin. "Thi-khi-i-beng...!" serunya dan
tiba-tiba tenaga cengkeramannya itu menghilang dan pada saat itu, dua jari tangan kirinya mencuat ke depan, ke
arah kedua mata Thian Sin. Memang hebat juga ketua Jit-sian-kauw ini. Agaknya dia telah mengenal baik
Thi-khi-i-beng dan tahu bagaimana caranya untuk menghadapinya. Dia telah menghentikan aliran tenaga sin-kangnya
sehingga tidak sampai tersedot lagi`dan jari tangan kirinya yang menusuk ke arah sepasang mata lawan itu tentu
saja tidak dapat dihadapi dengan Thi-khi-i-beng, karena sin-kang yang bagaimana hebatpun tidak mungkin dapat
disalurkan melalui biji mata! Thian Sin maklum akan berbahayanya serangan lawan itu, maka diapun sudah meloncat
ke belakang sambil membawa peti hitam. Akan tetapi, gerakannya itu memberi kesempatan kepada lawannya untuk
meloncat ke kiri dan tiba-tiba saja siluman itu lenyap di balik sebuah tiang besar. "Siluman keparat hendak
lari ke mana engkau?" Thian Sin membentak dan mengejar, akan tetapi di belakang tiang ini tidak ada apa-apanya
dan si-luman itu lenyap tanpa meninggalkan jejak. Thian Sin menjadi penasaran sekali. Dia merasa yakin bahwa
siluiman itu tidak meninggalkan tempat itu melalui lain jalan. Tadi hanya nampak meloncat ke belakang tiang ini
dan lenyap. Maka diapun lalu menggerakkan tangan kanannya menampar ke arah tiang sambil mengerahkan tenaga.
"Brakkkkk...!" Tiang yang tebal sekali itu, dua kali ukaran manusia tebalnya, pecah berantakan dan kiranya
sebelah dalam tiang itu ber-lubang dan tiang itu adalah tiang palsu, bukan balok kayu melainkan papan yang
dibentuk seperti tiang dan di dalamnya berlubang. Setelah pecah berantakan, nampak labang itu ke bawah. Thian
Sin maklum bahwa itulah jalan rahasia yang dilalui oleh lawannya, maka tanpa ragu-ragu lagi sambil masih
mengempit peti hitam, diapun meloncat ke dalam lubang yang ternyata tidak berapa dalam itu. Dia tiba di sebuah
ruangan bawah dan terus meloncat ke arah pintu yang membawanya ke sebuah ruangan lain yang penuh dengan cermin.
Cemin-cermin kecil yang bersambung-sambung itu mencerminkan dirinya menjadi banyak sekali. Tiap kali dia
bergerak, Thian Sin melihat semua bayangannya itu ikut bergerak sehingga dia merasa seperti dikepung oleh
banyak sekali orang, ada tiga puluh banyaknya, semua merupakan bayangannya sendiri. Akan tetapi sebagai seorang
ahli silat, tentu saja gerakan-gerakan itu membuatnya terkejut dan waspada. Setelah yakin bahwa semua bayangan
itu adalah bayangannya, barulah dia berani melanjutkan langkahnya, meneliti dan memeriksa cermin-cermin yang
merupakan pintu-pintu tanpa kunci itu. Tentu saja, gerakannya memeriksa cermin-cermin itu, diikuti terus oleh
semua bayangannya. Tiba-tiba Thian Sin meloncat ke kiri dan tujuh buah pisau terbang menyambar lewat, yang
sebuah sempat menyerempet bahunya, merobek baju dan melukai kulitnya. Dia cepat menengok dan mencaricari dengan
matanya, akan tetapi yang ikut bergerak-gerak hanya bayangan-bayangannya saja. Tidak ada bayangan orang lain.
Dia berhenti dan matanya saja yang melirik ke sana kemarim, ke dalam cermin-cermin itu. Namun, yang nampak
hanya dirinya sendiri. Tadi dia merasa sukar menangkap gerakan orang yang menyambitkan hui-to (pisau terbang)
karena pandang matanya terpengaruh oleh semua gerakan bayangannya sendiri sehingga kalau ada bayangan orang
lain, tentu gerakan orang itu dapat menyelinap dan tersembunyi oleh gerakan semua bayangannya sendiri itu.
Thian Sin menjadi penasaran dan marah. Peti hitam itu ditaruhnya ke depan, menghantam ke arah pintu bercermin
di depannya sambil mengerahkan tenaga. "Brakkk...!" Cermin itu hancur berkeping-keping dan di balik cermin
terdapat dinding bata yang kuat. Akan tetapi pada saat dia memukul tadi, dia melihat sinar berkelebatan dari
arah kanannya dan cepat dia menggulingkan tubuhnya. Kembali tujuh batang hui-to lewat dan karena dia tahu bahwa
yang menyerangnya secara menggelap itu dari kanan datangnya, diapun lalu menubruk ke kanan ke arah cermin.
"Brakkk...!" Cermin-cermin inipun hancur akan tetapi di belakangnya tidak terdapat siapasiapapun, kecuali
dinding batu. Kini Thian Sin mengerti. Kalau dia diam saja dan semua bayangannya ikut diam, lawan tidak
bergerak, akan tetapi kalau tubuhnya bergerak dan semua bayangannya tentu saja juga bergerak, kesempatan ini
dipergunakan oleh lawannya untuk turun tangan karena gerakannya tentu akan kabur dengan gerakan semua bayangan
itu. Kini dia pura-pura bergerak lagi dan diam-diam dia memperhatikan sekelilingnya. Benar saja, kini dia
melihat bayangan lain, bukan bayangannya sendiri dari arah kirinya. Begitu melihat bayangan yang lain dari pada
bayangannya sendiri, Thian Sin memekik dan tubuhnya mencelat ke kiri, kedua kakinya menendang dengan dahsyatnya
ke arah cermin di mana tadi dia melihat gerakan yang bukan bayangannya. "Bresss...!" Terdengar suara orang
mengaduh dan daun pintu di balik cermin itu pecah berantakan. Thian Sin melihat berkelebatnya orang yang
meloncat ke depan dan melarikan diri. Cepat dia menyambar peti hitam dan melakukan pengejaran, akan tetapi
Sian-su, orang itu yang biarpun terkena tendangannya akan tetapi ternyata masih terlalu kuat untuk roboh itu,
telah lenyap lagi melalui jalan rahasia yang tidak diketahuinya. Karena merasa tidak sanggup mengejar lawan
yang menggunakan jalan rahasia itu, dan mengkhawatirkan keadaan orang-orang Bu-tong-pai yang menghadapi
keroyokan banyak orang Thian Sin dengan hati kecewa lalu berjalan kembali ke tempat semula. "Thian Sin...!"
Ternyata Kim Hong yang memanggilnya itu dan gadis inipun membawa sebuah peti hitam yang serupa benar dengan
peti yang dibawanya. "Apa yang kaubawa itu?" Thian Sin bertanya. "Kurampas dari Siok Cin Cu, tosu keparat
pembantu ketua siluman. Dia telah kubunuh dan peti ini terisi harta yang agaknya hendak dilarikannya. Dan peti
di tanganmu itu?" "Kurampas dari Sian-su, tosu kepara pembantu ketua siluman. Dia telah kubunuh dan peti itu
terisi harta yang agaknya hendak dilarikannya. Dan peti di tanganmu itu?" "Kurampas dari Sian-su, sayang dia
dapat melarikan diri melalui jalan rahasia yang tidak kukenal. Entah apa isinya..." Thian Sin menurunkan peti
itu dan membuka tutupnya. Mereka memandang silau. "Hemm, isinya sama dengan isi peti ini," kata Kim Hong.
"Agaknya siluman itu bersama pembantunya sudah bersiap-siap hendak melarikan diri membawa harta benda hasil
kejahatan mereka, seorang membawa sebuah peti penuh perhiasan." "Sudahlah, mari kita bantu orang-orang
Bu-tong-pai menghadapi para anak buah siluman..." "Kaubantulah mereka. Aku sendiri akan membebaskan para gadis
yang tertawan sebelum terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka." "Baik, dan sebaiknya engkau bawa dua peti
ini bersamamu. Engkau tentu masih ingat bagaimana untuk membebaskan orang dari pengaruh sihir dan bius?" Gadis
itu mengangguk. "Menotok dua belas Keng-siang-meh dan mengurut tujuh Ki-keng-meh, lalu mengguyur mereka dengan
air dingin." Thian Sin mengangguk dan mengelus dagu kekasihnya. "Bagus, engkau memang hebat. Nah, aku pergi."
Diapun lalu lari meninggalkan tempat itu untuk keluar membantu lima orang tokoh Butong-pai yang dikeroyok oleh
banyak anak buah Silumah Guha Tengkorak dan para tamunya itu. Kim Hong juga meninggalkan tempat itu, membawa
dua buah peti hitam yang diikatnya menjadi satu menggunakan tirai sutera yang terdapat di ruangan itu dan
pergilah ia ke ruangan dalam untuk mencari gadis-gadis yang ia duga tentu dikumpulkan di suatu tempat.
Dugaannya memang tepat. Ia menemukan hampir empat puluh orang wanita yang rata-rata masih muda dan
cantik-cantik, dengan wajah yang pucat dan pandang mata kosong, duduk berkumpul di sebuah ruangan besar. Ada
empat orang bertopeng menjaga di depan ruangan, membawa golok dan memandang beringas ketika ia datang membawa
dua buah peti hitam itu. Empat orang penjaga ini segera mengenalnya sebagai gadis tawanan yang memberontak dan
melarikan diri, maka tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menerjang maju. Melihat berkelebatnya empat batang
golok itu, Kim Hong menggerakkan tangan yang memegang sutera pengikat dua peti hitam. Sinar hitam yang lebar
melayang, menyambut empat batang golok itu dan gerakan ini diikuti oleh kedua kaki Kim Hong yang menendang
empat kali beruntun. Akibatnya, empat batang golok yang bertemu dengan peti-peti hitam itu terlempar, disusul
tubuh empat orang itu yang terlempar pula, membentur dinding dan terbanting roboh, tak dapat bangun kembali
karena ketika menendang tadi, Kim Hong mengerahkan tenaga pada kedua kakinya dan sekali tendang saja remuklah
isi perut empat orang itu. Kim Hong mendorong daun pintu ruangan itu terbuka dan puluhan orang gadis itu
memandang kepadanya dengan sinar mata ketakutan. Beberapa orang di antara mereka bahkan maju dengan sikap
menantang. "Siapa kamu? Tidak boleh ada yang masuk ke sini kecuali ada ijin dari Sian-su!" kata seorang di
antara mereka. Kim Hong mengangkat muka memandang dan ia tahu bahwa gadis yang usianya baru tujuh belas tahun
lebih ini dan yang berwajah amat cantik adalah kekasih Sian-su atau setidaknya merupakan gadis yang paling
disuka oleh ketua siluman itu. Akan tetapi, di balik sikapnya yang genit dan binal, juga pandang mata gadis itu
kosong dan sayu tanda bahwa gadis ini penuh oleh hawa jahat atau sihir yang mempengaruhi dan wajahnya yang
pucat itupun menandakan bahwa ia telah banyak terkena obat bius. Semua gerakannya itu tidak wajar dan gadis
inipun telah kehilangan kepribadiannya. "Siapakah engkau?" Kim Hong bertanya dengan suara mengandung wibawa.
Akan tetapi gadis itu tidak nampak takut, bahkan melangkah maju dan mengangkt dagunya dengan sikap tinggi hati.
"Aku bernama Thio Siang Ci dan aku adalah murid terkasih dari Sian-su. Pergilah sebelum aku memanggil pengawal
dan menangkapmu!" Kim Hong tersenyum dan menurunkan dua buah peti yang dibawanya, lalu tiba-tiba saja tubuhnya
bergerak ke depan. Akan tetapi ia kecelik kalau menyangka bahwa gadis itu sebagai murid dan kekasih Sian-su
tentu lihai ilmu silatnya. Ternyata gadis itu sama sekali tidak pandai ilmu silat, dan sama sekali tidak dapat
menangkis atau mengelak ketika ia menotoknya menjadi lumpuh seketika. Terdengar jeritan-jeritan kaget dan marah
dari para wanita itu. Akan tetapi Kim Hong tidak perduli dan cepat digerakkan jari-jari tangannya menotok jalan
darah di tempattempat tertentu pada tubuh Thio Siang Ci itu dan mengurut jalan darah Ki-keng-meh. Gadis itu
nampak tertidur pulas dan Kim Hong lalu meloncat dan mengambil sepanci air yang berada di sudut ruangan, lalu
menyiramkan air itu pada kepala Thio Siang Ci. Gadis itu adalah pengantin yang telah diculik oleh Silumah Guha
Tengkorak, yaitu puteri dari Thio Ki, kembang dusun Ban-ceng. Pada malam ia menjadi pengantin bersama The Si
Kun, muncul siluman itu membunuh suaminya dan menculiknya. Siluman itu, atau Sian-su, tertarik oleh
kecantikannya dan semenjak malam itu, di bawah pengaruh sihir dan bius, Thio Siang Ci menjadi kekasihnya.
Begitu kepala dan mukanya terguyur air dingin, Thio Siang Ci gelagapan, terbangun dan seperti baru sadar dari
mimpi buruk, ia bangkit dan memandang ke sekelilingnya. Matanya yang sudah tidak kosong lagi pandangannya itu
terbelalak, mukanya pucat ketakutan melihat ke arah banyak gadis yang kini sudah serentak bangkit dengan marah
itu. "Di mana aku...? Apa... apa yang terjadi...?" Dan agaknya ia teringat, karena tiba-tiba saja ia mendekap
mukanya dengan kedua tangan dan menangis mengguguk, memanggil-manggil ayahnya. Sementara itu, gadis-gadis yang
hampir empat puluh orang banyaknya itu sudah bangkit berdiri dan sebagian dari mereka yang berwatak pemberani,
terdorong oleh kesetiaan mereka yang tidak wajar terhadap Sian-su, sudah maju hendak menyerang Kim Hong dengan
cakaran dan gebukan. Kim Hong maklum bahwa mereka itu adalah wanita-wanita tak berdosa yang kehilangan
kepribadiannya, maka iapun cepat bergerak berkelebatan di antara mereka dan robohlah mereka itu satu demi satu
karena telah tertotok oleh pendekar wanita sakti ini. Yang lain-lain, yang ketakutan, kini berlutut dan tidak
berani melawan. Kim Hong lalu bekerja dengan sibuk dan cepat, menotoki wanita-wanita itu dan mengurut jalan
darah mereka. Kemudian ia mengguyur kepala mereka dengan air yang diambilnya dari kamar mandi sehingga ruangan
itu menjadi becek dan basah. Akan tetapi kini keadaan dan suasana menjadi berobah sama sekali. Wanita-wanita
yang sudah sadar akan dirinya itu lalu menangis sehingga suasana menjadi riuhrendah dengan tangis mereka
seolah-olah di tempat itu terdapat perkabungan. Kim Hong adalah seorang pendekar wanita yang memiliki kekerasan
hati seperti pria dan tidak lagi mengenal kecengengan. Melihat wanita-wanita menangis dengan cengeng ini,
hatinya terasa mengkal dan iapun sudah bangkit bediri dan berkata dengan suara nyaring, "Kalian semua diamlah
jangan menangis! Apa lagi yang perlu ditangisi? Kalian telah terseret ke tempat neraka ini, baik melalui
bujukan beracun maupun diculik, dan kalian hidup dalam cengkeraman pengaruh ilmu sihir dan obat bius. Akan
tetapi, hari ini aku Toan Kim Hong dan sahabatku Ceng Thian Sin datang untuk membasmi gerombolan siluman ini
dan membebaskan kalian. Berkemaslah dan bawa barang-barang kalian masing-masing, kita akan keluar dari neraka
ini dan kalian akan kembali ke keluarga kalian masing-masing!" Mendengar ini, bermacam-macam sambutan para
wanita itu. Ada yang menangis mengguguk ada yang tersenyum-senyum gembira, ada pula yang ketakutan karena
meragukan apakah keluarga mereka akan sudi menerima mereka kembali. Sebagian besar adalah mereka yang menangis
ketakukan dengan penuh keraguan dan kegelisahan ini. Kim Hong agaknya maklum pula akan hal ini, maka iapun lalu
berkata lagi. "Jangan khawatir, kami akan menjelaskan kepada keluarga kalian! Dan andaikata keluarga kalian
begitu kejam untuk tidak menerima kembali kalian, kalianpun akan dapat hidup sendiri karena kami akan
membagi-bagi semua harta peninggalan Siluman Guha Tengkorak ini di antara kalian sehingga kehidupan kalian akan
terjamin!" Ucapan ini tentu saja merupakan hiburan dan dengan dipimpin oleh Thio Siang Ci, mereka semua
menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Kim Hong sambil menghaturkan terima kasih sehingga bersimpang-siurlah
ucapan terima kasih mereka. "Sudah... sudahlah, aku tidak mempunyai waktu untuk segala macam upacara ini!" Kim
Hong menggerak-gerakkan tangan dengan sikap hilang sabar. "Di luar masih tedadi pertempuran dan aku harus
membantu untuk membasmi para siluman itu. Marilah, cepat, kita harus keluar dari sini!" Para wanita itu kini
sibuk berkemas dan merekapun berbondong-bondong keluar meninggalkan ruangan itu, mengikuti Kim Hong yang
mengajak mereka keluar ke tempat di mana terjadi pertempuran. Bahkan dengan bantuan wanita-wanita ini, Kim Hong
dapat menghindari jebakanjebakan rahasia. Para wanita ini biarpun tadinya hidup dalam keadaan tersihir dan
terbius, mereka tidak kehilangan ingatan mereka dan mereka tadinya hanya hidup seperti dalam alam mimpi,
kehilangan kepribadian dan mereka itu diberi minuman-minuman yang selain melumpuhkan kemauan sendiri, juga
merangsang nafsu-nafsu mereka sehingga mereka hidup seolah-olah menjadi hamba nafsu yang harus melayani
kebutuhan Sian-su, para anak buahnya dan para tamu dan semua itu dilakukan dengan rela sebagai bakti mereka
terhadap para dewa, terutama Dewa Kematian yang mereka puja. Sementara itu, di luar daerah Guha Tengkorak
terjadi pula kesibukan lain. Serombongan orang yang memegang pedang, dengan muka marah sekali
berbondong-bondong menuju ke balik tebing Guha Tengkorak. Jumlah mereka ada tiga puluh orang, kesemuanya
merupakan orangorang yang bersikap gagah dan dipimpin oleh dua orang tosu. Mereka adalah orang-orang
Hongkiam-pang yang dipimpin sendiri oleh Im Yang Tosu dan Bu Beng Tojin, ketua dan pembantu utamanya. Seperti
kita ketahui, para murid Hong-kiam-pang dan pemimpinnya ini marah sekali ketika mendapat kenyataan bahwa
Siluman Guha Tengkorak yang telah membunuh tujuh orang anggauta atau murid mereka itu adalah Pendekar Sadis
Ceng Thian Sin. Kemarahan mereka makin memuncak ketika Pendekar Sadis ditolong oleh seorang bertopeng tengkorak
lainnya dan bersama siluman itu melarikan diri. Ten-tu saja mereka melakukan pengejaran dan mereka itu
berpencar. Akan tetapi mereka kehilangan jejak Pendekar Sadis dan temannya di luar daerah Guha Tengkorak.
Karena dua orang pemimpin mereka dapat berlari lebih cepat dan dalam pengejaran itu meninggalkan mereka, maka
mereka kehilangan dua orang pimpinan dan mereka termangu-mangu menanti di depan deretan Guha Tengkorak, tidak
tahu harus berbuat apa karena mereka tidak da-pat menemukan jalan masuk dari guha-guha itu. Setelah matahari
naik tinggi dan mereka menanti dengan kesabaran yang hampir habis, tiba-tiba muncullah Bu Beng Tojin memanggul
tubuh Im Yang Tosu yang terluka! Tentu saja para murid Hong-kiam-pang menjadi terkejut sekali. Akan tetapi hati
mereka lega ketika melihat bahwa luka yang diderita oleh Im Yang Tosu itu tidaklah hebat, hanya luka kulit
daging saja karena pundak kanannya tertusuk sebuah pisau. Bu Beng Tojin tadi memanggulnya karena ketua
Hong-kiampang ini jatuh pingsan! "Pinto mencari-cari sampai ke belakang tebing, akan tetapi pinto kehilangan
jejak silumansiluman itu," kata Bu Beng Tojin menceritakan kepada murid-murid Hong-kiam-pang. "Agaknya subeng
juga mencari sampai di sana dan entah apa yang terjadi, tahu-tahu aku mendapatkan suheng sudah menggeletak
pingsan dengan sebuah pisau tertancap di pundaknya. Maka pinto lalu cepat-cepat membawanya ke sini untuk
merawatnya." Bu Beng Tojin sendiri yang merawat luka Im Yang Tosu dan akhirnya ketua Hong-kiam-pang ini siuman.
Dia mengeluh dan bangkit duduk, lalu teringat akan apa yang terjadi dan menarik napas panjang. "Sungguh
berbahaya sekali Pendekar Sadis yang menyamar sebagai siluman itu..." katanya. "Apa yang telah terjadi, suheng?
Aku menemukan suheng dalam keadaan pingsan di sana, lalu suheng kubawa ke sini untuk dirawat." Im Yang Tosu
memandang kepada pembantunya itu. "Untung sute datang, dan agaknya musuh lari dan tidak sempat membunuhku
melihat sute datang. Aku mengejar sampai di belakang tebing dan melihat bayangan memasuki semak-semak belukar
lalu lenyap. Aku sudah memeriksa dan mencari akan tetapi tidak berhasil menemukan sesuatu. Ketika aku mulai
menjadi bosan mencari dan hendak pergi, aku mendengar suara dari balik batu karang. Cepat aku mendekati dan
ternyata ada rumpun alang-alang yang terkuak dan di balik rumpun alang-alang ini terdapat sebuah lubang. Pada
saat itu, berkelebat bayangan di sebelah dalam lubang yang gelap dan tiba-tiba saja ada pisau menyambar. Aku
kurang cepat mengelak dan pisau itu mengenai pundakku. Karena lukanya hanya luka daging, tak mungkin aku roboh
karena itu, akan tetapi tiba-tiba aku mencium bau keras dam akupun tidak ingat apa-apa lagi. Agaknya iblis itu
manggunakan racun atau obat bius...!" Bu Beng Tojin bangkit berdiri dam mengepal tinju mendengar penuturan
suhengnya ini. Mukanya merah padam, dan dia nampak marah sekali. "Sungguh keterlaluan Pendekar Sadis itu! Kita
harus membuat perhitungan, sekarang juga! Akupun melihat lubang itu, suheng dan agaknya itulah jalan yang
menuju ke sarang mereka! Mari kita serbu sekarang juga!" "Tapi, susiok, bukankah suhu sedang terluka dan perlu
beristirahat?" bantah seorang murid. "Aku tidak apa-apa, luka ini tidak ada artinya. Mari kita serbu dam basmi
iblis kejam itu!" Im Yang Tosu juga berkata marah, bangkit semagatnya oleh sikap pembantunya. Demikianlah,
mereka berdua lalu memimpin tiga puluh orang murid Hong-kiam-pang itu, berbondong-bondong pergi menuju ke balik
tebing Guha Tengkorak. Karena dua orang pimpinan Hong-kiam-pang itu kini sudah menemukan jalan tembusan
rahasia, yang merupakan terowongan membawa mereka ke sarang Jit-sian-kauw, maka mereka dapat memasuki
terowougan itu dengan sikap hati-hati sekali. "Bagaimanapun juga, kita harus berhati-hati," kata Bu Beng Tojin
ketika mereka mulai memasuki terowongan dan dia berjalan paling depan. "Orang yang telah mampu melukai suheng,
biarpun secara menggelap, amatlah berbahaya." Di sepanjang jalan terowongan, mereka menemukan jebakan-jebakan
yang sudah tidak bekerja dan rusak dan beberapa kali Bu Beng Tojin mengeluarkan seruan marah, "Keparat, sungguh
jebakan yang kejam sekali!" terdengar dia berkata. Mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya tibalah mereka di
pusat sarang gerombolan itu dan begitu mereka berloncatan keluar dari mulut terowongan, mereka tercengang
memandang ruangan itu. Pendekar Sadis berdiri di tengahtengah ruangan bersama lima orang gagah dari
Bu-tong-pai, dan di sekeliling ruangan yang luas itu nampak berserakan tubuh orang-orang yang memakai jubah dan
topeng tengkorak! Ada pula yang berpakaian biasa, yaitu para tamu yang membantu gerombolan itu menghadapi
orangorang Bu-tong-pai yang dibantu oleh Thian Sin! Ketika Thian Sin meninggalkan Kim Hong dan lari keluar, dia
melihat betapa lima orang Bu-tongpai itu masih mengamuk. Akan tetapi mereka terkurung rapat dan mulai terdesak.
Untung ada Liang Hi Tojin di situ, tokoh ke dua dari Bu-tong--pai yang hebat sekali permainan pedangnya
sehing-ga untuk sementara, berkat kelihaian Liang Hi Tojin, kepungan itu dapat dibendung dan belum ada orang
Bu-tong-pai yang terluka walaupun mereka telah lelah sekali dan sibuk mempertahankan diri. Pada saat Thian Sin
hendak maju, ada orang yang merangkul kakinya. Thian Sin memandang ke bawah. Orang itu adalah seorang pemuda
yang berpakaian mewah. Agaknya dia tidak ikut berkelahi akan tetapi keserempet senjata tajam karena pahanya
terluka dan dia kelihatan ketakutan setengah mati. "Maafkan aku... ampunkan aku... ah, taihiap, ampunkan aku
dan kelak aku akan memberimu uang sebanyak yang kauminta. Emas, perak, apa saja... asal taihiap suka membawa
aku keluar dari tempat ini..." Dan orang itu menangis ketakutan. Thian Sin mengenal orang ini sebagai seorang
di antara para tamu, yaita pemuda mewah yang dia lihat menerima janda Cia Kok Heng ketika janda muda itu
diangkat menjadi anggauta baru, kemudian janda itu oleh Sian-su diberikan kepada pemuda mewah ini yang
menggaulinya secara tak tahu malu. Kini dia dapat menduga bahwa tentu ada apa-apa antara pemuda kaya ini dengah
Sian-su dan bukan tidak mungkin janda itu diculik oleh gerombolan Siluman Guha Tongkorak atas pesanan pemuda
ini. "Ampun sih mudah! Akan tetapi akuilah apakah benar engkau yang memesan janda Kok Heng itu untuk
kauperkosa?" Pemuda itu memang pemuda bangsawan dan hartawan she Phang dari Tai-goan. Pada saat itu dia berada
dalam ketakutan yang luar biasa, maka mendengar ucapan itu, tanpa pikir panjang lagi diapun mengaku saja.
Pokoknya, apapun yang per-nah dilakukannya akan diakui tanpa malu-malu lagi asal dia dibebaskan dan tidak
dibunuh. Hati-nya sudah ketakutan melihat betapa orang-orang Bu-tong-pai itu mengamuk dan membunuhi banyak
orang berkedok tengkorak dan begitu Thian Sin muncul, diapun mengenalnya sebagai pemuda yang diperkenalkan
sebagai Pendekar Sadis, maka biarpun dengan merangkak-rangkak, dia menghampiri dan minta ampun. "Benar,
taihiap... tapi ampunkan saya..." "Desss...!" Tendangan yang dilakukan oleh Thian Sin mengenai dagu pemuda she
Phang itu. Tulang rahangnya patah-patah dan pemuda itu menangis, melolong-lolong. Thian Sin sudah menghampiri
dengan langkah lebar dan sekali dia menurunkan kaki kanannya, dia telah menginjak pecah kepala orang she Phang
itu seperti orang menginjak kepala ular saja. kemudian Thian Sin terjun ke dalam arena perkelahian dan begitu
dia terjun, tentu saja keadaan menjadi berobah sama sekali. Setiap gerakan kaki tangannya disusul oleh teriakan
mengerikan dan seorang pengeroyok terjengkang dan tewas. Dalam beberapa gebrakan saja dia telah merobohkan enam
orang pengeroyok dan hal ini tentu saja membuat para anak buah gerombolan itu menjadi gentar sekali dan
sebaliknya membuat lima orang Bu-tong-pai bertambah semangat. Demikianlah, ketika rombongan orang-orang
Hong-kiam-pang tiba di tempat itu, mereka hanya melihat Pendekar Sadis dan lima orang Bu-tong-pai, sedangkan
semua anggauta gerombolan Siluman Guha Tengkorak berikut para tamu yang ikut membantu mereka telah rebah malang
melintang ada yang tewas dan ada pula yang luka-luka. "Pendekar Sadis, iblis jahat, kau harus menebus kematian
murid-murid kami!" Im Yang Tosu yang memandang kepada pendekar itu dengan marah meloncat ke depan. Akan tetapi
Thian Sin meloncat ke belakang dan berkata dengan suara nyaring. "Im Yang Tosu, sabarlah dan dengarlah dulu
penjelasanku!" Akan tetapi tiba-tiba Bu Beng Tojin sudah menggerakkan pedangnya dan menyerang Thian Sin dengan
dahsyat sambil berteriak, "Tak usah banyak cerewet lagi, dosamu sudah bertumpuk!" Serangan itu dahsyat, akan
tetapi Thian Sin dapat mengelak dengan sigapnya tanpa membalas melainkan berseru, "Tahanlah, totiang...!" "Ceng
Thian Sin, dosamu sudah bertumpuk, mau bicara apa lagi? Pinto sendiri yang menangkapmu sebagai Siluman Guha
Tengkorak, dan dalam tawanan kami engkaupun ditolong oleh seorang auggauta gorombolon Siluman Guha Tengkorak!
Sekarang engkau mau pura-pura lagi ?" Berkata demikian, Bu Beng Tojin dengan kemarahan meluap-luap sudah
menerjang lagi dengan pedangnya, mengirim serangan maut yang amat berbahaya. Agaknya kakek pendeta ini sakit
hati benar karena kematian tujuh orang muridnya, maka kini dia menyerang seperti orang yang mata gelap. Kembali
Thian Sin mengelak cepat sehingga pedang itu bercuit lewat di atas kepalanya. "Tahan dan biarkan aku bicara,
totiang!" Thian Sin berseru. "Sute, biarlah kita dengar apa yang hendak dikatakan Pendekar Sadis alias Siluman
Guha Tengkorak ini!" kata Im Yang Tosu. "Perlu apa mendengarkan ucapannya yang palsu, suheng? Bukankah baru
saja dia telah melukai dan nyaris membunuh suheng?" bentak Bu Beng Tojin yang tak dapat menahan kemarahannya,
sepasang matanya berapi-api dan mukanya merah sekali. "Susiok, suhu minta kita mendengarkan dia bicara dulu.
Untuk menyerangnya nanti juga masih belum terlambat," kata seorang murid Im Yang Tosu dan saudara-saudaranya
telah mengurung Pendekar Sadis dengan pedang terhunus. "Tidak perlu bicara lagi dengan iblis kejam ini!" bentak
Bu Beng Tojin yang kembali menerjang dan menyerang Thian Sin. Pendekar ini mendongkol bukan main, akan tetapi
karena dia teringat bahwa kemarahan tokoh ke dua dari Hong-kiam-pang ini adalah karena sakit hati mengingat
muridnya tewas di tangan Siluman Guha Tengkorak, maka diapun menahan kedongkolan hatinya den mengelak ke kiri
dengan cepat. Akan tetapi, tiba-tiba ada angin bercuitan dan sinar terang menyambar dari kiri. "Siancai, dosamu
memang terlalu banyak, Pen-dekar Sadis!" itulah suara Im Yang Tosu yang sudah menyerangnya, terbangun
semangatnya oleh kemarahan sutenya. Dan murid Hong-kiampang juga mulai bergerak menyerang Thian Sin. Tentu saja
pendekar ini terkejut sekali dan cepat dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik menghindarkan sambaran
pedang Im Yang Tosu yang amat lihai. "Trang-trang-trang...!" Ketika Bu Beng Tojin menyerang lagi, tiba-tiba
pedangnya bertemu dengan pedang di tangan Liang Hi Tojin, tokoh ke dua dari Bu-tong-pai. Keduanya merasa betapa
tangan mereka tergetar dan Bu Beng Tojin terkejut lalu melompat ke belakang, memeriksa pedangnya yang ternyata
tidak rusak lalu dia menudingkan pedangnya kepada Liang Hi Tojin. "Bagus! Apakah pendeta Bu-tong-pai sekarang
berpihak kepada gerombolan penjahat?" bentaknya. "Siancai! Bu Beng toyu dari Hong-kiam-pang, hendaknya bersikap
tenang dan sabar. Setiap persoalan dapat dibicarakan dan siapa yang bersalah wajib dihukum. Akan tetapi pinto
sendiri sangat ingin tahu mengapa justeru Ceng-taihiap yang dituduh sebagai Siluman Guha Tengkorak, padahal dia
yang telah membasmi gerombolan ini?" "Toyu harap jangan mudah tertipu oleh kelicikannya!" Bu Beng Tojin berseru
marah. "Sejak dahulu siapa yang tidak mendengar nama Pendekar Sadis yang amat kejam? Dan sekarang, pinto
sendiri yang menangkap basah, ketika dia berpakaian dan bortopeng sebagai Siluman Guha Tengkorak. Agaknya
dengan licik dia telah bersandiwara, menipu toyu dan kawan-kawan dari Bu-tong-pai, berpura-pura memusuhi
Siluman Guha Tengkorak. Lebih baik toyu bantu kami untuk menangkapnya!" Berkata demikian, Bu Beng Tojin sudah
hendak menyerang lagi. Suasana menjadi tegang karena para murid- Hong-kiam-pang kembali terpengaruh oleh ucapan
susiok mereka, bahkan Im Yang Tosu juga memandang kepada Liang Hi Tojin dengan mata bersinar marah. "Betapapun
juga, kami dari Hong-kiam-pang semua menyaksikan bahwa memang benar Pendekar Sadis pernah kami tangkap sebagai
Siluman Guha Tengkorak dan dibebaskan oleh seorang anggauta gerombolan penjahat ini!" katanya. Pada saat itu,
tiba-tiba pintu sebelah dalam terbuka dan muncullah Kim Hong yang membawa dua buah peti hitam diikuti oleh
empat puluh orang gadis-sadis muda cantik yang masih kelihatan berduka itu. Gadis ini cepat meloncat ke depan
ketika melihat Thian Sin dikurung oleh orangorang Hong-kiam-pang dan ia sempat mendengar ucapan Im Yang Tosu
tadi. "Tahan...!" serunya dengan nyaring sehingga semua orang menengok dan memandang kepadanya. "Memang akulah
orangnya yang telah menolongnya dari tangan orang-orang Hongkiam-pang yang haus darah dan yang ceroboh sekali
dalam tindakan mereka! Memang kami telah menyamar sebagai anggauta gerombolan Siluman Guha Tengkorak, akan
tetapi hal itu kami lakukan untuk dapat membasmi gerombolan ini seperti yang telah kami lakukan hari ini!"
"Bohong!" Tiba-tiba Bu Beng Tojin berseru marah. "Gadis ini adalah teman baik Pendekar Sadis, tentu saja hendak
membelanya! Kalau toh mereka berdua menentang gerombolan ini, agaknya untuk merampas harta kekayaannya.
Buktinya, benda apakah yang dibawa oleh nona ini?" Bu Beng Tojin menunjuk dengan pedangnya ke arah dua peti
hitam yang dibawa oleh Kim Hong itu. Gadis itu tersenyum. "Totiang, agaknya engkau terlalu curiga dan memandang
bahwa orangorang lain kecuali para pendeta adalah orang-orang yang jahat. Tanyakan saja kepada gadisgadis ini,
siapa yang membebaskan mereka dari cengkeraman Siluman Guha Tengkorak kalau bukan kami? Dan tentang dua peti
ini, memang isinya adalah harta benda yang amat banyak!" Berkata demikian, Kim Hong sengaja membuka dua peti
hitam itu dan semua orang terbelalak memandang kepada dua peti yang isinya penuh dengan benda-benda yang
berkilauan, emas perak dan batu-batu permata yang sukar dinilai harganya. Melihat ini, Liang Hi Tojin
mengerutkan alisnya dan memandang kepada Pendekar Sadis. "Taihiap, pinto sendiri tidak mengerti apa artinya
peti berisi harta itu?" Sebelum Thian Sin menjawab dan memang pendekar ini masih bingun dan belum siap menjawab
pertanyaan ini, Kim Hong telah berkata nyaring. "Totiang, harta kami ada puluhan kali lebih banyak daripada isi
kedua peti ini. Apa artinya harta ini bagi kami berdua? Kami sengaja merampasnya dari tangan Siluman Guha
Tengkorak dan pembantunya yang agaknya hendak melarikan dua buah peti harta ini keluar sarang. Dan kami sudah
mengambil keputusan mengenai harta ini. Gadis-gadis ini telah banyak menderita, mereka diculik dan dibujuk oleh
gerombolan jahat. Kini, mereka akan kami pulangkan ke keluarga masing-masing dan harta ini akan kami bagi-bagi
untuk mereka, juga untuk keluarga Tujun Pendekar Tai-goan yang telah tewas. Bagaimana pendapatmu, Liang Hi
Tojin?" "Siancai... sungguh merupakan pikiran yang baik sekali!" Liang Hi Tojin memuji. "Ceng-taihiap, harap
maafkan keraguan pinto tadi." Tokoh Bu-tong-pai ini menjura kepada Thian Sin yang hanya tersenyum dan memandang
ke arah kekasihnya dengan kagum dan terima kasih. "Dan bagaimana dengan pendapat para pimpinan Hong-kiam-pang?"
Kini Thian Sin bertanya kepada Im Yang Tosu dan Bu Beng Tojin. "Kalau memang benar seperti apa yang pinto
dengar tadi, memang tepat sekali kalau harta itu dibagi-bagi kepada bekas para korban," jawab Im Yang Tosu.
"Dan bagaimana pendapatmu, Bu Beng totiang?" Thian Sin bertanya kepada Bu Beng Tojin yang masih kelihatan marah
dan penasaran itu. Pendeta ini mengerutkan alisnya. "Kami adalah orang-orang yang mengutamakan kebenaran dan
selalu akan menentang kejahatan. Kalau memang benar Pendekar Sadis bukan Siluman Guha Tengkorak, tentu saja
kamipun setuju. Akan tetapi kami masih tidak mengerti bagaimana Pendekar Sadis sebagai orang yang menentang
Siluman Guha Tengkorak, memakai pakaian anggauta gerombolan itu dan menyerang kami, bahkan tadi telah melukai
suheng!" Sepasang mata pendeta ini memandang dengan penuh tantangan dan rasa penasaran. Thian Sin tersenyum.
"Tidak aneh, totiang. Ketika itu, aku telah tertawan dan terbius oleh Siluman Guha Tengkorak dan agaknya aku
sengaja diberi pakaian dan topeng anggauta gerombolan mereka, kemudian sengaja aku diserahkan kepada
Hong-kiam-pang yang mendendam kepada Siluman Guha Tengkorak atas kematian tujuh orang muridnya." "Tapi kenapa
engkau menyerang pinto?" Bu Beng Tojin bertanya, mendesak penasaran. "Dan pinto sendiri yang menawanmu,
disaksikan oleh semua anak murid Hong-kiam-pang!" "Huh, kalau dia dalam keadaan sadar mana mungkin engkau dapat
menawannya?" Tiba-tiba Kim Hong berkata dengan suara galak dan dingin. Akan tetapi Thian Sin mengangkat tangan
memberi isyarat agar kekasihnya itu menahan kemarahannya. "Bu Beng totiang, sudah kukatakan bahwa aku dalam
keadaan tidak sadar dan terbius. Kalau aku kelihatan menyerangmu, hal itu tentu hanya akal dari Siluman Guha
Tengkorak saja untuk mengelabui mata orang-orang Hong-kiam-pang. Ingat, siluman itu adalah seorang yang mahir
menggunakan ilmu sihir! Dan tetang orang yang melukai Im Yang totiang, aku sama sekali tidak melakukannya
karena aku dan Kim Hong sibuk menyerbu ke dalam sarang gerombolan ini. Agaknya tentu siluman itu pula yang
melakukannya, mungkin ketika hendak melarikan diri, ketahuan oleh Im Yang totiang dan menyerangnya." Im Yang
Tosu mengangguk-angguk. "Sute, agaknya keterangan dari Ceng-taihiap itu benar semua. Sayang bahwa siluman itu
tidak dapat berhadapan dengan pinto sendiri." Dia menoleh ke kanan kiri melihat semua orang bertopeng tengkorak
itu malang melintang. "Apakah taihian telah berhasil merobohkan siluman itu yang menjadi kepala gerombolan?"
"Sayang, dia berhasil meloloskan diri, totiang. Akan tetapi aku bertekad untuk mencarinya terus dan baru
berhenti kalau sudah dapat membekuknya." Kim Hong dan Thian Sin, dengan disaksikan oleh Liang Hi Tojin, Im Yang
Tosu dan Bu Beng Tojin, membagi-bagi harta benda itu kepada para gadis bekas korban gerombolan. Juga bagian
untuk Cia Liong dan Cia Ling, diserahkan kepada Im Yang Tosu untuk mengurus dan menyerahkannya. Juga pada gadis
itu lalu diantar oleh para anggauta Hong-kiam-pang untuk dikembalikan ke tempat tinggal masing-masing. Sebelum
mereka meninggalkan tempat itu, mereka semua berlutut dan menangis, menghaturkan terima kasih kepada Thian Sin
dan Kim Hong. "Im Yang totiang," kata Thian Sin. "Mengingat bahwa mendiang saudara Cia Kong Heng adalah seorang
murid Kun-lun-pai sebelum menjadi anggauta Hong-kiam-pang, maka aku harap totiang sudi menaruh kasihan kepada
putera dan puterinya dan dapat menyuruh orang mengantar mereka ke Kun-lun-pai agar menjadi murid di sana. Harta
bagian mereka dapat dipergunakan untuk perawatan mereka dan untuk bekal mereka setelah dewasa karena mereka
sudah kehilangan ayah bunda." Im Yang Tosu mengangguk-angguk dan mereka semua lalu meninggalkan tempat itu.
Thian Sin lalu membakar sarang itu dan menghancurkan semua benda, termasuk tempat pemujaan yang juga menjadi
tempat maksiat atau pesta-pesta cabul itu.
***
Sampai hampir sebulan lamanya Thian Sin dan Kim Hong melakukan penyelidikan dan mencari jejak kaburnya Siluman
Guha Tengkorak, ketua dari Jit-sian-kauw. Perkumpulan itu sendiri, yang merupakan gerombolan penjahat kejam,
telah dapat dibasmi. Akan tetapi kalau kepalanya itu masih berkeliaran, maka dunia terancam bahaya besar. Di
balik topeng tengkorak itu tersembunyi seorang manusia yang benar-benar berhati iblis, yang loba akan harta
benda dan kedudukan, yang haus akan kesenangan cabul, dan terutama sekali amat berbahaya karena selain ilmu
silatnya tinggi, juga pandai ilmu sihir. Maka, sudah bulat tekad dalam hati Thian Sin dan Kim Hong untuk
mencari sampai ketemu dan membasmi Siluman Guha Tengkorak itu. Akan tetapi, siluman itu seperti telah
menghilang ditelan bumi, sama sekali tidak meninggalkan jejak! Dan setelah menanti sebulan sambil menyelidiki
dengan teliti, siluman itu tidak pernah terdengar beraksi. Namun, Pendekar Sadis dan kekasihnya itu adalah dua
orang pendekar yang biarpun masih muda, telah memiliki pengalaman yang luas di dunia kang-ouw, terkenal pandai
dan cerdik sekali sehingga tentu saja mereka tidak tinggal diam dan telah melakukan penyelidikan yang amat
teliti, mengambil kesimpulan-kesimpulan dan pertimbangan-pertimbangan yang matang.
Sementara itu, Im Yang Tosu telah menyuruh seorang muridnya untuk mengantarkan Cia Liong dan Cia Ling ke
Kun-lun-pai dan bersama mereka, dibawakan pula bagian harta mereka untuk bekal kelak kalau mereka sudah dewasa.
Dan pada suatu hari, kurang lebih sebulan semenjak gerombolan Siluman Guha Tengkorak ditumpas, Hong-kiam-pang
mengadakan pesta. Karena Pendekar Sadis dan kekasihnya masih tinggal di sebuah hotel di Tai-goan, mereka
berduapun menerima undangan. Pesta yang diadakan oleh Hong-kiam-pang itu selain untuk merayakan hari ulang
tahun ketua Im Yang Tosu yang sudah genap berusia tujuh puluh tahun, juga untuk mengadakan sedikit perobahan
dalam susunan pengurus perkumpulan itu. Im Yang Tosu sudah merasa terlalu tua untuk menjadi ketua
Hong-kiam-pang dan kedudukannya sebagai ketua akan diserahkan kepada Bu Beng Tojin. Hal ini sebetulnya adalah
wajar saja karena bukankan selama ini Bu Beng Tojin telah menjadi pembantu utama dari ketua itu? Akan tetapi,
menurut desas-desus orang luaran, tentu akan terjadi perdebatan karena Hong-kiam-pang dianggap sebagai cabang
dari Kun-lunpai, sedangkan Bu Beng Tojin sama sekali bukanlah murid Kun-lun-pai, walaupun hal ini bukan berarti
bahwa dia asing akan ilmu silat dari Kun-lun-pai.
Tokoh ini memang seorang ahli dalam berbagai macam ilmu silat, termasuk Kun-lun-pai dan karena inilah maka Im
Yang Tosu percaya dan kagum kepadanya. Karena Hong-kiam-pang merupakan sebuah perkumpulan silat yang cukup
ternama di daerah Tai-goan, maka dalam kesempatan itu, banyak juga jago-jago silat dan tokoh-tokoh kang-ouw
yang datang berkunjung untuk menghaturkan selamat kepada Im Yang Tosu yang berulang tahun dan kepada Bu Beng
Tojin yang diangkat menjadi ketua Hong-kiam-pang baru. Sejak pagi, berbondong-bondong para tamu mendatangi kuil
Hong-kiam-pang itu dan mereka dipersilahkan duduk di pekarangan samping yang luas dari rumah perkumpulan yang
ada kuilnya itu. Sebuah panggung yang tingginya hampir dua meter dan cukup luas dibangun, dan dua orang
pimpinan Hong-kiam-pang sudah nampak duduk di atas kursi di panggung itu. Para anak buah Hong-kiam-pang yang
gagah-gagah dan berpakaian serba baru menyambut para tamu, ada pula yang bertugas mengeluarkan arak dan
melayani para tamu dengan sikap ramah, gagah dan cekatan.
Thian Sin nampak datang sendirian dan dia disambut oleh murid kepala dan dibawa naik ke panggung melalui anak
tangga, menghadap dua orang pimpinan Hong-kiam-pang. Pendekar ini memberi hormat dan memberi selamat kepada Im
Yang Tosu dan berkata, "Semoga Im Yang totian diberkahi usia panjang oleh Thian dan selalu sehat lahir batin."
Im Yang Tosu mengucapkan terima kasih dan Bu Beng Tojin mengerutkan alisnya karena pendekar itu sama sekali
tidak memberi selamat kepadanya. Walaupun secara resmi dia belum diangkat dan pengangkatan itu akan dilakukan
nanti, namun tentu pendekar ini, seperti para tamu lain sudah mendengar akan pengangkatannya dan banyak yang
sudah memberi selamat. Maka diapun diam saja hanya memandang kepada pendekar ini dengan alis berkerut. Thian
Sin maklum pula akan sikap ini dan dia hanya tersenyum melihat tosu yang keras hati ini dan yang agaknya tak
pernah dapat melenyapkan kebenciannya kepada dirinya. Dia lalu dipersilahkan duduk di bagian kursi kehormatan,
yaitu belasan buah kursi yang berderet di tepi panggung.
Di kursi kehormatan ini terdapat pula Thian To Sianjin, tokoh Kun-lun-pai yang mewakili perkumpulan itu
menghadiri pesta yang diadakan oleh Hong-kiam-pang. Thian To Sianjin ini adalah seorang tosu Kun-lun-pai
tingkat tiga dan usianya sudah enam puluh tahun lebih, sikapnya tenang dan ramah. Dia sudah mengenal baik
kepada Thian Sin, maka begitu pemuda ini duduk di dekatnya, dia sudah menegur ketika pendekar itu memberi
hormat. "Selamat bertemu, Ceng-taihiap. Kenapa taihiap hanya datang sendirian saja, dan mana Toanlihiap?" Hanya
orang yang sudah kenal baik dan akrab sajalah yang berani menanyakan isteri atau kekasih seperti yang diucapkan
oleh tokoh Kun-lun-pai kepada Thian Sin itu, Thian Sin tersenyum dan menjawab lirih. "Ia nanti tentu datang,
locianpwe. Mungkin ada urusan sedikit yang membuatnya datang terlambat." Thian Sin memang seorang pendekar yang
berwatak halus dan pandai membawa diri sebagai seorang yang terpelajar. Terhadap para tokoh tua, dia tidak
segan-segan untuk menyebutnya dengan sebutan locianpwe untuk mengangkat dan menghormati tokoh itu dan
merendahkan diri sendiri, walaupun tingkat kepandaiannya tidak kalah oleh tokoh ini.
Setelah waktu yang ditentukan tiba dan para tamu sudah memenuhi tempat itu, Im Yang Tosu lalu bangkit berdiri.
Tosu tua ini masih memiliki suara yang nyaring ketika dia menghaturkan selamat datang dan terima kasih kepada
para tamu yang telah memenuhi undangan Hong-kiampang dan mengucapkan selamat kepadanya yang telah berusia tujuh
puluh tahun. Kemudian dia melanjutkan dengan pengumumannya yang ditunggu-tunggu oleh beberapa orang dengan hati
berdebar. "Cu-wi yang terhormat, pinto telah berusia tujuh puluh tahun dan sudah tiba saatnya bagi pinto untuk
mengundurkan diri dan hanya tekun bersamadhi. Akan tetapi Hong-kiam-pang yang dapat dibilang masih muda, harus
hidup terus. Akan tetapi sebuah perkumpulan tak mungkin hidup tanpa pimpinan dan setelah pinto mengundurkan
diri, maka pinto akan menyerahkan pimpinan Hong-kiam-pang kepada sute pinto, yaitu Bu Beng Tojin." Tiba-tiba
nampak kegelisahan di antara para murid Hong-kiam-pang.
"Suhu...!" Im Yang Tosu menoleh dengan alis berkerut. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bersikap
gagah telah naik ke atas panggung, lalu memberi hormat kepada Im Yang Tosu. "Suhu, bukan sekali-kali teecu
bermaksud kurang sopan dan membantah keputusan suhu. Akan tetapi teecu mewakili para murid suhu yang juga
menjadi murid Kun-lun-pai, menyatakan suara hati kami." Im Yang Tosu kelihatan tidak senang dan dia membentak,
"Sui Lok, apa maksudmu mengganggu pernyataanku?" "Suhu, perkumpulan kita adalah cabang dari Kun-lun-pai dan
suhu sendiri adalah seorang tokoh Kun-lun-pai sebagai pendiri Hong-kiam-pang. Kami tahu bahwa susiok Bu Beng
Tojin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan menjadi pembantu dan kepercayaan suhu. Akan tetapi, mengingat
bahwa susiok Bu Beng Tojin bukanlah murid Kun-lun-pai, maka kami merasa berat untuk menerima beliau sebagai
ketua..." "Sui Lok, apakah engkau menganggap bahwa kedudukan ketua itu sebaiknya dioperkan kepadamu saja?"
Tiba-tiba Bu Beng Tojin yang sudah bangkit dan mendekati suhengnya dan memandang kepada murid keponakan itu
dengan sinar mata marah. "Biarpun suheng merupakan tokoh Kun-lun-pai, akan tetapi Hong-kiam-pang adalah sebuah
perkumpulan yang bebas dan terlepas dari induk perkumpulan manapun. Katakanlah bahwa Ilmu Hong-kiam-sut
memiliki sumber dari Kun-lun-pai, akan tetapi ilmu itu terus diperkembangkan dan sama sekali bukan cabang dari
Kun-lun-pai. Suheng telah memilihku, dan aku sendiri sudah bertahun-tahun mengurus Hong-kiam-pang. Seorang
ketua haruslah anggauta perkumpulan dan hendak kulihat, siapakah di antara para anggauta Hong-kiam-pang yang
lebih mahir Ilmu Pedang Hong-kiam-sut dari pada aku. Yang merasa lebih pandai, silakan maju!"
"Tapi susiok..." Sui Lok yang mewakili saudara-saudara seperguruannya itu hendak membantah, akan tetapi Im Yang
Tosu segera menengahi. "Sui Lok dan semua murid-muridku, hendaknya tidak ada yang membantah apa yang telah
menjadi keputusanku. Ketahuilah bahwa dalam hal memperkembangkan ilmu pedang kita, sute Bu Beng Tojin telah
banyak membantu dan memberi saran. Pinto sendiri, sebagai pencipta dan pendiri Hong-kiam-pang, belum tentu
mampu menandinginya dalam hal ilmu pedang perkumpulan kita. Nah, siapa lagi yang lebih pantas memimpin
Hong-kiam-pang kecuali dia? Tentang Kun-lun-pai, agaknya... memang benar pendapat sute. Tadinya kita menganggap
perkumpulan kita sebagai cabang Kun-lun-pai hanya karena mengingat bahwa pinto adalah seorang murid
Kun-lun-pai. Akan tetapi, mengingat betapa para anggauta dan murid Hong-kiampang terdiri dari bermacam aliran,
maka tidak tepatlah kalau dikatakan bahwa Hong-kiam-pang adalah cabang Kun-lun-pai."
Mendengar betapa pendiri Hong-kiam-pang sendiri agaknya berkeras membela Bu Beng Tojin, para murid
Hong-kiam-pang menjadi gelisah dan bingung, sedangkan Sui Lok sendiri lalu menoleh ke arah Thian Sin yang duduk
di dekat Thian To Sinjin dan dia melihat pendekar itu masih tersenyum-senyum tenang saja. "Suhu, karena di sini
terdapat supek Thian To Sinjin sebagai wakil Kun-lun-pai, biarlah teecu mohon petunjuk beliau saja!" akhirnya
Sui Lok berkata dengan suara nyaring. Para tamu yang mendengar perbantahan itu tidak ada yang berani
mencampuri, akan tetapi diam-diam mereka merasa tegang dan gembira karena dapat menduga bahwa di dalam
pengangkatan ketua baru ini agaknya terdapat suatu kericuhan atau mungkin juga perebutan kekuasaan. Karena Sui
Lok menyebut namanya, kini semua mata ditujukan kepada tokoh Kun-lun-pai itu.
"Siancai...! Kami sebagai tamu sebetulnya tidak seharusnya mencampuri urusan dalam. Akan tetapi karena nama
kami disebut, biarlah kami mengemukakan pendapat kami sebagai wakil Kun-lun-pai." Kakek itu berkata lantang
dengan sikap yang gagah. "Sebuah perkumpulan tentu saja ditentukan oleh pendirinya, dan karena Hong-kiam-pang
didirikan oleh sute Im Yang Tosu, maka terserah kepadanya kalau hendak memisahkan perkumpulan ini dari
Kun-lun-pai. Hanya kami peringatkan bahwa kalau tidak mau disebut sebagai cabang Kun-lun-pai, selanjutnya sama
sekali tidak boleh menyebut-nyebut nama Kun-lun-pai dan segala sepak terjang para murid Hong-kiam-pang bukan
lagi menjadi tanggung jawab Kun-lun-pai. Hanya itulah yang perlu pinto jelaskan." Kakek itu lalu duduk kembali.
Bu Beng Tojin dengan muka merah lalu berkata, suaranya lantang, "Baik sekali! Memang sejak dahulu tidak ada
hubungan apa-apa antara Hong-kiam-pang dan Kun-lun-pai. Kami mempunyai anggaran dasar dan peraturan sendiri.
Kami menerima murid-murid dari berbagai aliran, bukan hanya dari aliran Kun-lun-pai. Nah, sebagai seorang ketua
baru, sejak detik ini pinto menyatakan bahwa Hong-kiam-pang bukan cabang Kun-lun-pai dan segala sepak terjang
Hong-kiam-pang tidak ada sangkut pautnya dengan Kun-lun-pai!" "Bu Beng Tojin, perlahan dulu!" Tiba-tiba
terdengar suara yang lebih nyaring lagi, membuat semua orang memandang dan ternyata Thian Sin telah berdiri di
depan Bu Beng Tojin dan Im Yang Tosu, di atas panggung. Melihat majunya pendekar ini, Sui Lok lalu cepat
mengundurkan diri dan bercampur dengan saudara-saudaranya. Semua orang menjadi semakin tegang dan gembira.
Urusan menjadi makin terbelit dan banyak pihak yang tersangkut, apalagi mereka yang mengenal pemuda gagah itu
sebagai Pendekar Sadis, menjadi bertanya-tanya di dalam hati apa hubungan Pendekar Sadis dengan pengangkatan
ketua Hong-kiam-pang itu.
"Pendekar Sadis! Engkau yang banyak dibenci karena kekejaman dan sepak terjangmu, ada urusan apa engkau sebagai
orang luar hendak mencampuri urusan dalam Hong-kiam-pang kami?" Bu Beng Tojin membentak dengan mata melotot marah.
"Memang banyak yang membenciku, Bu Beng Tojin, akan tetapi yang membenciku adalah para penjahat karena aku
selalu menentang kejahatan. Dan apa urusanku, kaudengarkan saja." Thian Sin lalu menghadapi Im Yang Tosu,
sepasang matanya mencorong dan suaranya mengandung getaran kuat sekali. "Im Yang totiang, sadarlah dan ingatlah
baik-baik, sudah sepenuh hatimukah maka totiang mengangkat Bu Beng Tojin sebagai penggantimu, menjadi ketua
baru Hong-kiampang? Ingat baik-baik dan sadarlah!" Semua orang terkejut melihat kekasaran Thian Sin dan melihat
betapa kakek tua itu terbelalak dan mukanya berobah pucat.
"Apa...? Pengangkatan ketua baru? Ah, tentu saja... hal it tergantung kepada pemilihan para anggauta..."
"Suheng! Bukankah suheng telah mengangkatku sebagai ketua baru? Aku, Bu Beng Tojin, yang suheng tetapkan untuk
menjadi ketua baru menggantikan suheng!" Juga dalam suara Bu Beng Tojin ini terkandung kekuatan yang hebat.
Wajah Im Yang Tosu nampak semakin pucat dan napasnya terengah-engah. "Ah, ya... itu benar, sute Bu Beng Tojin
yang akan menjadi ketua... tapi... tapi tergantung kepada para anggauta..." Kakek itu menjadi bimbang ragu.
"Suheng...!" bentak Bu Beng Tojin.
"Im Yang totiang!" Thian Sin juga berseru. Im Yang Tosu kelihatan semakin bingung dan pucat, bahkan tubuhnya
terguncang dan tergetar, seperti orang yang terserang demam. Pada saat itu nampak Thian To Sinjin dari
Kun-lun-pai bangkit dari kursinya, menghampiri ketua Hong-kiam-pang itu dan menuntun tangannya. "Sute, engkau
lelah, sebaiknya mengaso dulu." Dan diapun menarik sutenya itu kembali ke tempat duduknya. Anehnya, Im Yang
Tosu kelihatan menurut saja seperti seorang anak kecil! Tidak ada yang tahu bahwa tadi ketua Hong-kiam-pang ini
tertarik ke sana-sini di antara dua orang yang menggunakan kekuatan sihir, yang seorang hendak mempengaruhinya
dan yang seorang hendak membebaskannya. Hanya Thian To Sinjin saja yang agaknya dapat menduga akan hal itu maka
dia cepat menariknya kembali untuk duduk dan beristirahat.
"Ha-ha-ha, sebaiknya begitu. Beristirahatlah dengan tenang, Im Yang totiang dan biarkan aku membereskan
persoalan ini!" kata Thian Sin.
"Pendekar Sadis! Engkau sebagai orang luar, sungguh tidak patut sekali mencampuri urusan dalam dari
Hong-kiam-pang! Engkau telah melanggar aturan sopan santun di dunia persilatan!" Bu Beng Tojin berteriak marah.
"Bu Beng Tojin, aku memang bukan anggauta Hong-kiam-pang, akan tetapi aku adalah sahabat baik Hong-kiam-pang
yang tidak rela melihat Hong-kiam-pang diselewengkan."
"Mulut busuk! Apa maksudmu?" bentak Bu Beng Tojin. Akan tetapi Thian Sin tidak menjawab bentakan ini melainkan
menghadapi para tamu dan juga pihak tuan rumah. "Cu-wi yang mulia, para anggauta Hong-kiam-pang yang tercinta!
Kita semua tahu bahwa Hong-kiam-pang adalah perkumpulan orang-orang gagah, para pendekar yang menentang
kejahatan. Oleh karena itu, tidak sepatutnya kalau sebuah perkumpulan orang gagah diketuai oleh seorang
penjahat besar seperti Bu Beng Tojin ini!" Ucapan ini sungguh hebat bukan main. Bukan hanya semua tamu yang
terbelalak, bahkan para anggauta Hong-kiam-pang menjadi pucat wajahnya dan juga Im Yang Tosu sendiri yang pada
saat itu telah tenang kembali, bangkit dari tempat duduknya. "Ceng-taihiap, apa maksudmu dengan ucapan itu?"
tanyanya nyaring, agaknya penasaran mendengar pembantunya disebut penjahat besar!
Melihat sikap suhengnya, para murid Hong-kiam-pang dan para tamu yang agaknya berpihak kepadanya, walaupun dia
sendiri menjadi pucat, Bu Beng Tojin lalu tertawa, "Ha-ha, sudah nampak belangnya Pendekar Sadis sekarang,
menuduh dan memfitnah membuta tuli. Siapa bilang bahwa aku Bu Beng Tojin yang selama ini dengan jujur memimpin
Hong-kiam-pang menjadi penjahat besar?" Akan tetapi, Thian Sin tidak terpengaruh oleh ucapan itu dan dia masih
memandang kepada semua yang hadir. "Cu-wi yang mulia, juga Im Yang totiang yang terhormat, biarlah aku
memperkenalkan." Dia lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka Bu Beng Tojin. "Inilah dia orang yang menyebut
dirinya Sian-su, inilah dia Siluman Guha Tengkorak yang telah memimpin gerombolan penjahat kejam yang kita
telah basmi!" Ucapan ini lebih mengejutkan lagi.
"Ceng-taihiap, harap jangan menuduh sembarangan saja!" Im Yang Tosu bahkan berteriak marah. Bu Beng Tojin
sendiri tadi menjadi pucat sekali wajahnya, akan tetapi dia mengambil sikap tenang, bahkan tersenyum lebar.
"Ah, sungguh tuduhan yang menggelikan sekali! Pinto sendiri yang membantu pembasmian gerombolan itu, bagaimana
engkau dapat menuduh demikian, apakah engkau sudah menjadi gila?" "Ceng-taihiap, buktikan kebenaran tuduhanmu
itu!" Im Yang Tosu yang sudah bangkit berdiri itupun menuntut. Tuduhan itu amat hebat baginya. Kalau tuduhan
itu tidak benar, berarti Pendekar Sadis sudah menghina Hong-kiam-pang. Dan kalau benar, hal itu tentu merupakan
tamparan yang memalukan sekali bagi Hong-kiam-pang! "Baik, akan kucoba kubuktikan walaupun hal itu tidak mudah
karena Siluman Guha Tengkorak memang seorang penjahat yang amat keji, licik, curang, lihai ilmu silatnya dan
juga lihai ilmu sihirnya. Cu-wi yang mulia, ketika pertama kali aku berkenalan dengan kejahatan siluman ini,
aku melihat mendiang saudara Kwee Siu sekarat oleh luka-lukanya ketika bertanding melawan siluman ini. Dan
ucapan terakhir yang keluar dari mulutnya adalah sebutan "susiok". Tadinya aku tidak mengerti apa dan siapa
yang dimaksudkan sampai akhirnya aku mendapat kenyataan bahwa dia hanya mempunyai seorang saja susiok di dunia
ini dan susioknya adalah Bu Beng Tojin. Tentu dia mengenal orang bertopeng tengkorak yang membunuhnya, mengenal
gerakan silatnya maka dia meninggalkan sebutan susiok itu yang sayang pada waktu itu belum kuketahui artinya."
"Huh, tuduhan kosong! Bisa jadi Kwee Siu menyebut namaku karena hendak minta tolong dan ingat kepadaku!" Bu
Beng Tojin mencela dan semua orang juga menganggap bahwa alasan itu terlalu lemah untuk menjadi bukti kebenaran
tuduhannya bahwa Bu Beng Tojin adalah Siluman Guha Tengkorak.
"Masih ada bukti lain," kata pula Thian Sin. "Ketika aku tertawan oleh Siluman Guha Tengkorak dalam keadaan
pingsan terbius, tahu-tahu aku tertawan oleh orang-orang Hong-kiam-pang dan menurut keterangannya, yang
menangkap aku dalam pakaian siluman itu adalah Bu Beng Tojin. Hal ini jelas menunjukkan bahwa dia adalah
Siluman Guha Tengkorak itu sendiri karena kalau aku berada dalam keadaan pingsan, bagaimana dari tangan siluman
itu aku dapat pindah ke tangan Bu Beng Tojin? Sebaliknya, kalau aku sadar seperti yang dikatakannya kepada
muridmurid Hong-kiam-pang, agaknya tidak akan begitu mudah baginya untuk dapat menawanku! Hal itu dapat
dibuktikan sendiri!" "Huh, alasan dan bukti apa itu? Pendekar Sadis, semua anggauta Hong-kiam-pang sudah
menyaksikan bahwa engkau memakai jubah dan topeng tengkorak. Tentu engkaulah Siluman Guha Tengkorak itu, dan
setelah rahasiamu ketahuan, engkau lalu berpura-pura dan membalik untuk membersihkan diri. Cih, sungguh tak
tahu malu!" Bu Beng Tojin sudah mencabut pedangnya dan hendak menyerang Thian Sin, akan tetapi pada saat itu,
Im Yang Tosu melangkah maju dan mencegahnya. "Sabar dulu, sute." Lalu kakek ini menghadapi Thian Sin.
"Ceng-taihiap, sungguh pinto bingung dan tidak mengerti permainan apa yang taihiap mainkan saat ini. Akan
tetapi harus pinto akui bahwa semua alasan yang taihiap ajukan tadi tidak cukup kuat untuk membuktikan
kebenaran tuduhan taihiap yang amat berat itu. Tidak mungkin kami menerima begitu saja keterangan sepihak tanpa
bukti yang mutlak atau tanpa adanya saksi yang membenarkan keterangan taihiap tadi." i
"Saksi-saksi? Ah, totiang benar juga. Memang ada saksi yang kuat!" Thian Sin berkata. "Inilah saksi-saksinya!"
Tiba-tiba terdengar suara merdu melengking dan semua orang menengok. Kiranya di sudut panggung itu telah
berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan gagah. Kim Hong tersenyum manis kepada Bu Beng Tojin. Tosu ini
mendengus. "Huh, saksi macam apa ini? Perempuan ini adalah Toan Kim Hong, kekasih dari Pendekar Sadis, tentu
saja omongannya akan senada dengan pacarnya. Siapa bisa percaya saksi macam ini?" Suaranya penuh tantangan dan
sikapnya mencemooh. "Siluman Guha Tengkorak, jangan tekebur dulu. Lihat siapa mereka ini!" Kim Hong menggapai
ke belakangnya dan dari anak tangga di belakang panggung muncullah tiga orang gadis yang cantik dan yang
memandang ke arah Bu Beng Tojin dengan mata penuh kebencian. Melihat Thio Siang Ci, bekas kekasihnya, pengantin
yang diculiknya dan dipaksanya menjadi kekasihnya itu, bersama dua orang gadis lain yang juga termasuk
dayang-dayang yang disukainya, wajah Bu Beng Tojin menjadi pucat. Akan tetapi dia masih sempat mengejek dan
mencemooh. "Siapa perempuan-perempuan itu? Pinto tidak mengenal segala macam pelacur!" i
"Siang Ci, Siok Lan dan Kim Tui, coba katakan, siapa pendeta itu?" Kim Hong bertanya kepada tiga orang gadis
itu dengan suara halus. Thio Siang Ci yang lebih dulu menjawab, telunjuk tangan kirinya yang gemetar menuding
ke arah Bu Beng Tojin dan terdengar suaranya agak gemetar akan tetapi mantep. "Dialah Sian-su yang menculikku itu!" "Benar, dia itu Sian-su ketua Jit-sian-kauw!" kata Siok Lan, gadis ke dua.
"Aku berani sumpah, dialah Sian-su!" kata Kim Tui pula.
"Bohong! Fitnah gila! Apa buktinya?" Bu Beng Tojin berteriak marah. "Apakah kalian bertiga dapat mengatakan
buktinya dan tandanya bahwa dia itu Sian-su?" Kim Hong bertanya pula. "Di dadanya terdapat daging tumbuh
sebesar telur ayam yang berambut panjang!" kata Siang Ci lalu menundukkan muka dan air matanya mengalir karena
ia merasa malu sekali. "Ada ukiran ular melingkari pinggangnya," kata pula Siok Lan yang juga menunduk malu.
"Di kedua pahanya ada gambar tengkorak," Kim Tui menyambung. "Fitnah keji! Bohong! Pelacur-pelacur yang harus
mampus!" Tiba-tiba Bu Beng Tojin menggerakkan kedua tangannya dan ada empat sinar terang menyambar ke arah Kim
Hong dan tiga orang gadis itu. Akan tetapi dengan gerakan lincah dan tenang, Kim Hong dapat menyambut empat
buah hui-to (pisau terbang) itu dengan kedua tangannya, memandang ke arah pisau-pisau itu sambil tersenyum lalu
melemparkan sebatang kepada Im Yang Tosu.
"Totiang, bukankah pisau terbang yang pernah melukai totiang itu seperti ini dan begitu pula cara melemparnya?"
tanya Kim Hong manis. "Kalau fitnah keji, mengapa mencak-mencak? Tunjukkan saja bahwa semua keterangan itu
bohong dengan memperlihatkan bagian tubuhmu yang disebut-sebut tadi, Sian-su!" kata Thian Sin mengejek. Im Yang
Tosu menerima pisau yang dilemparkan oleh Kim Hong, memandangnya sejenak, kemudian dengan alis berkerut dan
muka pucat dia membanting pisau itu ke atas lantai sampai pisau itu amblas lenyap menembus papan lantai
panggung. Lalu dia menghampiri Bu Beng Tojin, memandang dengan muka pucat. "Sute, pinto tahu bahwa engkau
pandai menggunakan segala senjata, juga pisau itu. Pinto sendiri masih belum percaya akan semua tuduhan itu.
Karena itu, sute, buktikanlah bahwa tuduhan semua itu palsu dan bohong. Buka bajumu dan perlihatkan dada dan
pinggangmu!"
"Gila! Suheng, apakah suheng membiarkan orang menghinaku sampai seperti ini?"
"Sute, baru namanya penghinaan kalau tuduhan itu tidak terbukti dan percayalah, pinto tidak akan tinggal diam
melihat engkau dihina orang. Maka, bukalah bajumu."
"Tidak, suheng. Aku tidak sudi dihina! Orang-orang harus percaya kepadaku!"
"Sute, kalau engkau tidak mau, terpaksa aku sendiri yang akan membukakan bajumu." Dengan halus ketua
Hong-kiam-pang itu lalu melangkah maju dan meraba kancing baju sutenya untuk dibuka. Dia memang masih belum
percaya akan semua tuduhan tadi, bahkan mengharapkan sutenya bersih agar nama Hong-kiam-pang juga ikut bersih.
Bayangkan saja kalau tuduhan itu benar, berarti selama bertahun-tahun ini dia mempercaya seorang penjahat, dan
namanya, juga nama Hong-kiam-pang, akan berlumur lumpur kehinaan.
"Awas, totiang...!" Thian Sin memperingatkan, akan tetapi sudah terlambat. Pada saat Im Yang Tosu menggunakan
kedua tangannya untuk membuka kancing baju sutenya, tiba-tiba Bu Beng Tojin menggerakkan tangannya menghantam
ke arah leher suhengnya itu. Im Yang Tosu hanya dapat miringkan tubuhnya.
"Desss...!" Pukulan itu mengenai pundak kiri dan tubuh kakek itu terjengkang, mulutnya menyemburkan darah segar
dan tubuhnya terkulai. "Hemmm, siluman jahat!" bentak Thian To Sinjin tokoh Kun-lun-pai yang cepat meloncat ke
depan menyerang Bu Beng Tojin. Sementara itu, para murid Hong-kiam-pang cepat mengangkat tubuh suhu mereka yang
pingsan ke belakang panggung. Terjadilah perkelahian yang seru antara Thian To Sinjin dan Bu Beng Tojin.
Pukulan mereka mengandung angin yang amat kuat sehingga terdengar suara bercuitan dan angin menyambarnyambar
sedangkan panggung di mana mereka bertanding itu berderak-derak dan terguncang.
Semua tamu menjadi panik, akan tetapi karena mereka itu sebagian besar adalah ahli-ahli silat, mereka masih
tetap di tempat sambil menonton perkelahian hebat di atas panggung itu. Bu Beng Tojin ternyata memang hebat
sekali. Tokoh tingkat tiga dari Kun-lun-pai itu adalah orang yang berilmu tinggi, akan tetapi menghadapi Bu
Beng Tojin, dia mulai terdesak. Setiap kali lengan mereka bertemu, Bu Beng Tojin membentak dan bentakan ini
menambah tenaga pada lengannnya. Thian To Sinjin merasa lengannya tergetar dan juga jantungnya terguncang oleh
bentakan lawan. Hanya dengan ilmu silat sakti dari Kun-lun-pai dia dapat bertahan sampai tiga puluh jurus, akan
tetapi karena dia terus terdesak, tiba-tiba kakek ini menyambar tongkatnya yang tadi dia tancapkan di atas
lantai. Dengan tongkat itu Thian To Sinjin menghadapi Bu Beng Tojin! Akan tetapi, Bu Beng Tojin mencabut
pedangnya dan perkelahian dilanjutkan dengan lebih seru lagi karena keduanya mempergunakan senjata dan setiap
serangan merupakan serangan maut yang dahsyat. Akan tetapi, kembali Thian To Sinjin terdesak dan kini para
murid Hongkiam-pang yang menjadi marah melihat suhu mereka terpukul, sudah naik ke atas panggung dan melakukan
pengeroyokan. Mereka belum yakin benar bahwa susiok mereka itu adalah Siluman Guha Tengkorak, akan tetapi
melihat susiok mereka memukul suhu mereka secara keji, mereka menjadi marah dan mengeroyok. Akan tetapi, Bu
Beng Tojin mengamuk dan tendangan kakinya merobohkan empat orang murid keponakan. Melihat ini, tiba-tiba Thian
Sin meloncat ke depan. "Saudara-saudara sekalian, locianpwe Thian To Sinjin, silahkan mundur. Dia ini adalah
makananku!" Thian To Sinjin maklum bahwa dia tidak akan mudah menang melawan tosu siluman itu, dan dia tahu
akan kelihaian Pendekar Sadis, maka diapun meloncat mundur diikuti oleh para murid Hong-kiam-pang.
Kini Thian Sin berdiri berhadapan dengan Bu Beng Tojin yang memegang pedang. Tosu itu memandang dengan mata
beringas sedangkan Thian Sin tersenyum-senyum saja. "Nah, Sian-su, sekarang Pendekar Sadis berhadapan satu
lawan satu dengan Siluman Guha Tengkorak! Betapapun, aku akan membalas budimu kemarin dulu, yaitu aku tidak
akan membunuhmu, hanya akan melucuti kedokmu dan menyerahkanmu kepada Hong-kiam-pang!" "Keparat jahanam
engkau!" bentak tosu itu dan pedangnya sudah membabat dahsyat. Namun dengan cekatan sekali Thian Sin mengelak
sambil balas memukul dengan tangan kiri yang juga dapat dielakkan oleh lawannya yang tangguh. Terjadilah
perkelahian yang amat hebat, pedang melawan tangan kosong dan gerakan mereka sedemikian cepatnya sehingga dua
bayangan tubuh itu seperti saling libat menjadi satu, sukar diikuti pandang mata. Para penonton memandang kagum
dan juga pandang mata mereka menjadi kabur. Gulungan sinar pedang di tangan Bu Beng Tojin telah menggulung
tubuh keduanya dan hanya kadang-kadang nampak pedang, kepalan tangan atau ujung sepatu mencuat dengan
dahsyatnya.
Semua orang, kecuali Kim Hong, menonton dengan jantung berdebar tegang. Kim Hong berdiri dan bertolak pinggang
dengan sikap tenang, bahkan bibirnya tersenyum karena ia tahu pula bahwa kekasihnya itu tidak akan kalah.
Terdengar lagi bentakan-bentakan aneh dari Bu Beng Tojin yang menggetarkan jantung mereka yang mendengarnya,
akan tetapi Thian Sin tidak terpengaruh sama sekali, bahkan terdengar dia mengejek, "Ha-ha, keluarkan semua
ilmu silumanmu, Sian-su!" Ada lima puluh jurus mereka berdua lenyap terbungkus sinar pedang dan tiba-tiba
terdengar Thian Sin mengeluarkan suara bentakan yang melengking nyaring dan membuat semua orang memandang pucat
karena bentakan Pendekar Sadis itu sungguh kuat sekali seperti membetot jantung. Teriakan ini disusul dengan
teriakan Bu Beng Tojin, teriakan kaget dan pedangnya terlempar ke atas lantai menjadi dua potong! Kiranya
pedang itu telah dihantam oleh tangan miring Thian Sin yang mengandung penuh tenaga Thian-te Sin-ciang! Akan
tetapi, Bu Beng Tojin masih terus mengamuk dengan tangan kosong dan memang kakek ini memiliki kepandaian yang
tangguh. Bagaimanapun juga, setelah dia bertangan kosong, nampak bahwa dia bukan lawan yang terlalu berat bagi
Pendekar Sadis. Dia seperti dipermainkan saja, kadang-kadang pendekar itu mendorongnya dari samping sampai dia
terhuyung, lalu menjegal kakinya sehingga dia hampir jatuh dibarengi suara ketawa-ketawa Thian Sin yang
mengejeknya.
"Brettt...!" Tiba-tiba jubah Bu Beng Tojin terkoyak lebar dan robekannya berada dalam cengkeraman tangan Thian
Sin. "Sian-su, perlihatkan kutil di dadamu!" Thian Sin mengejek dan semua orang memandang dengan mata
terbelalak, ingin sekali melihat apakah benar ada tanda-tanda seperti yang disebut oleh tiga orang gadis tadi
pada tubuh yang masih tertutup baju dalam itu. Tentu saja Bu Beng Tojin menjadi marah. Matanya menjadi merah
dan melotot dan gerakannya semakin liar. "Brettt...!" Kini baju dalamnya terobek dan terdengar semua orang
mengeluarkan seruan tertahan melihat bahwa di dada kakek itu, di antara kedua buah dadanya, terdapat tonjolan
daging sebesar telur ayam dan di tempat itu ditumbuhi belasan helai rambut! Dan di seputar pinggangnya yang
agak gendut itu terdapat lukisan seekor ular yang melilit pinggangnya, dengan kepala di perut. Dengan wajah
beringas tosu siluman itu melihat ke arah dada dan perutnya dan wajahnya berobah pucat. Terdengar suara ketawa
di sana-sini dan semua murid Hong-kiam-pang memandang dengan mata melotot.
"Celaka... celaka...!" Im Yang Tosu yang sudah siuman dan juga melihat kenyataan ini menjadi pucat pula dan
terkulai, pingsan!
"Ha-ha-ha, kiranya memang benar engkau adalah Siluman Guha Tengkorak! Nah, aku berani bertaruh potong leher
bahwa di kedua pahamu tentu ada gambar tengkoraknya!" kata Thian Sin. Bu Beng Tojin atau Siluman Guha Tengkorak
itu tidak melihat jalan lain, seperti seekor harimau yang tersudut, diapun menubruk lagi sambil menggeram,
persis seekor harimau marah.
"Desss...!" Tubuhnya disambut tamparan Thian Sin yang mengenai lehernya. Kakek itu terpelanting dan kepalanya
terasa pening, akan tetapi dia tidak tewas karena memang Pendekar Sadis tidak ingin membunuhnya, melainkan
hendak menyerahkannya kepada Hong-kiam-pang. Tosu siluman itu bangkit dan menerjang lagi.
"Bresss...!" Kini sepatu kaki Thian Sin menyambutnya dan kembali dia terjengkang dan ketika dia bangkit,
mulutnya berdarah dan bibirnya pecah.
"Thian Sin, jangan habiskan sendiri, beri aku sedikit!" Tiba-tiba Kim Hong berseru dan tubuhnya berkelebat,
tahu-tahu gadis manis itu telah berada di samping Thian Sin. Thian Sin tersenyum dan menggelengkan kepala, akan
tetapi Kim Hong mendorong dadanya sehingga pemuda itu terpaksa terlompat ke belakang, hampir jatuh dari
panggung. Hal ini memang disengaja dan para tamu tertawa gembira menyaksikan kelakar dua orang itu. Melihat
majunya Kim Hong, Bu Beng Tojinn menjadi nekat. Ada sedikit harapan dalam benaknya. Tadi menghadapi Pendekar
Sadis, dia tidak berdaya. Akan tetapi dia mempunyai harapan untuk mengalahkan gadis ini, kalau tidak dengan
ilmu silat, dengan ilmu sihir. Kalau dia dapat menundukkan, dia akan selamat, pikirnya. Dia akan menggunakan
gadis ini sebagai tawanan, sebagai sandera agar dia dapat melarikan diri! Maka be-gitu pening kepalanya hilang,
dia sudah menubruk ke depan, menggunakan kedua lengannya yang panjang untuk merangkul. Semua orang terkejut
me-lihat ini, apa lagi karena Kim Hong bersikap tenang saja. Akan tetapi, sebelum tangan itu menyentuhnya,
tanpa menggerakkan tubuh, gadis itu menggerakkan kepalanya dan sinar hitam menyam-bar ke depan ketika gelungnya
terlepas dan ram-butnya yang panjang menyambar bagaikan cambuk baja. "Plakkk!" Rambut panjang harum itu
bagaikan cambuk baja melecut muka Bu Beng Tojin.
"Aduhhh...!" Tosu itu mengeluh dan matanya terpejam, pipinya berdarah seperti digaris dengan ujung pedang saja.
Akan tetapi, Kim Hong tidak mau memberi kesempatan lagi padanya. Gadis ini sudah melangkah maju dan kembali
rambutnya menyambar-nyambar, melecut-lecut muka, leher dan tubuh atas yang telanjang itu sampai semua kulit itu
nampak pecah-pecah dan merahmerah mengeluarkan darah. Sungguh hebat dan mengerikan sekali rambut yang
dipergunakan sebagai senjata ini, seperti pedang saja. Bu Beng Tojin menutupi mukanya dari ancaman rambut, dan
tubuhnya menjadi bulan-bulanan kedua kaki Kim Hong. Akhirnya, kakek itu terhuyung-huyung dan tidak kuat berdiri
lagi.
"Kim Hong, jangan bunuh dia! Serahkan kepada Hong-kiam-pang!" teriak Thian Sin.
Kim Hong tersenyum lalu untuk akhir kalinya kaki kirinya menendang dan tubuh tosu siluman itu terlempar dan
jatuh berdebuk di atas lantai di depan kedua kaki Im Yang Tosu yang duduk di atas kursinya dengan muka pucat.
Melihat orang yang pernah menjadi sutenya dan pembantunya ini rebah terlentang di depannya dengan tubuh
berdarah-darah dan napat empas-empis, Im Yang Tosu lalu membungkuk, tangan kanan kakek itu mencengkeram ke arah
celana sutenya.
"Breettt...!"
Celana itu terobek dan nampaklah gambar dua tengkorak pada kedua paha itu.
"Keparat, engkau Siluman Guha Tengkorak...!" teriak Im Yang Tosu dengan suara parau, tangannya menyambar pedang
dan sekali pedang bergerak, dia telah menusukkan pedang itu dengan pengerahan tenaganya ke dalam dada Bu Beng
Tojin. Tubuh itu berkelojot, akan tetapi Im Yang Tosu juga roboh terguling dan ternyata kakek ini juga telah
menghembuskan napas terakhir. Dia tadi menderita luka pukulan yang hebat dan pengerahan tenaganya ketika
menusuk tadi membuat dia tidak kuat bertahan dan nyawanyapun melayang, hal yang sesungguhnya meringankan
penderitaan batinnya karena kakek ini tentu akan merasa malu dan menyesal sekali kalau dia dalam keadaan hidup
melihat kenyataan pahit bahwa pembantunya adalah seorang penjahat keji.
Para murid Hong-kiam-pang yang sudah marah itu demikian berduka melihat suhu mereka tewas dan puluhan batang
pedang mencacah hancur tubuh Bu Beng Tojin! Sementara itu, Thian Sin mendekati Kim Hong dan mereka berdua
saling pandang dan saling tersenyum puas. Berhasil baiklah usaha mereka menentang Siluman Guha Tengkorak,
sungguhpun dalam usaha itu berkali-kali mereka nyaris celaka, bahkan nyaris tewas. Mereka lalu menghadap ke
arah semua orang di situ dan membungkuk. Thian Sin berkata lantang,
"Cu-wi yang terhormat, kami mohon diri karena kami telah menyelesaikan tugas kami!"
Mereka bergandeng tangan dengan mesra, lalu bersama-sama meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata kagum
oleh semua orang.
Sampai di sini, pengarangpun mohon diri dari para pembaca dengan harapan semoga dapat segera berjumpa kembalidalam cerita serial Pendekar Sadis atau dalam cerita-cerita karangan lain.

TAMAT
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 2 KPH Tamat dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 2 KPH Tamat ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cerita-silat-dewasa-siluman-gua_11.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 2 KPH Tamat ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 2 KPH Tamat sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 2 KPH Tamat with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cerita-silat-dewasa-siluman-gua_11.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar