CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 01 Agustus 2012

CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1-CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1-CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1-CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1-CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1


BAGIAN 01 : PENDAHULUAN
Bagaikan anak panah lepas dari busurnya, 4 ekor kuda
mencongklang pesat memecah kesunyian senja
diperdesaan. Anak gembala yang naik diatas punggung
kerbau dan petani2 yang memanggul pacul pulang dari
medan kewajibannya, sama terkesiap kaget
memandangnya. Penunggang yang berada paling depan
sendiri, adalah seorang anak muda sekira 20-an tahun
usianya, berparas cakap seperti seorang nona cantik.
Dibelakangnya mengikuti dua orang, yang satu berumur
30 tahun yang lain antara 17 tahun. Dari wajahnya yang
seperti pinang dibelah dua, terang mereka itu adalah dua
orang bersaudura Hanya saja si anak muda itu
mempunyai ciri yang istimewa yani biji matanya bersinar
violet (ungu), beda dengan kebanyakan orang.
Lebih aneh sendiri adalah yang paling belakang.
Wajah orang itu pucat lesi seperti mayat, tapi kuncirnya
yang menjulai dibelakang batok kepala hitam mulus
gilap. Dia hanya berkaki satu dan kaki itupun tak
dimasukkan kedalam besi pijakkan kuda. Sekalipun
begitu, dapatlah dia duduk tegak diatas pelana kuda
yang mencongklang dengan pesatnya. Tak berapa lama
kemudian, keempat penunggang kuda itu sudah tiba
dimulut desa. Tiba2 si kaki satu tadi bergeliat dan
menyentak kendalinya, maka melayanglah tubuhnya
tepat jatuh dibelakang salah seorang kedua saudara,
yakni yang kakaknya. Sudah tentu kejutnya bukan
kepalang. Tapi ketika dia menoleh dan dapatkan yang
bonceng dibelakangnya adalah si kaki satu, legahlah
hatinya.
"Sin-heng, ada apa?" tanyanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ssst....., pe-lahan2 saja, Sin-heng” sahut sikaki satu,
"tempat tujuan sudah dekat, ingat, semua2nya harus
ditimpahkan pada anak she Tong itu, biar mereka
kelabakan. Kita harus pandai mainkan rol itul"
Adalah ketika dia mengatakan "anak she Tong itu",
tangan-nya menunjuk kearah anak muda yang berada
paling depan sendiri. Sehabis menyampaikan pesan,
tangannya menekan pe-lahan2 pada pelana dan
tubuhnya melayang pula kebelakang tepat jatuh diatas
pelana kudanya sendiri tadi pula. Pesat dan lincah sekali
gerakan sikaki satu itu hingga pemuda yang
menunggang kuda paling depan sendiri tak mengetahui
sama sekali. Bahkan anak muda itu sedang membenam
diri dalam suatu lamunan indah:
"Kali ini tentu akan memperoleh pahala besar. Karena
kepandaian dangkal, selama ini aku tak dapat
menampilkan diri dikalangan mereka (perserekatan anti
penjajah Ceng). Ah....., rupanya Tuhan itu maha murah,
sehingga aku dapat berkenalan dengan ketiga orang itu.
Dengan kepandaian yang dimilik oleh ketiga sahabat itu,
tentulah akan disambut dengan girang utk menjadi
anggauta perserekatan. Juga Siau-beng-siang Tio Jiang,
tak nanti memandang remeh lagi padaku, dengan begitu
dapatlah aku bergaul rapat dengan nona Tio. Ah...., ia
tentu takkan memandang rendah lagi padakul"
Kini keempat penunggang kuda itu memasuki desa.
Sebuah jalan besar terbentang di-tengah2 desa itu.
Disana sini banyak sekali rumah2 dan gedung2. Si kaki
satu keprak kudanya menghampiri anak She Tong itu
seraya bertanya: "Sdr. Tong, apakah benar Siaubengsiang
Tio Jiang tak berada dikampungnya?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ya, dia pergi dengan isterinya, tapi lain2 saudara
berada dalam desa semua. Oleh karena pemerintah Ceng
melakukan tindakan keras, jadi segala sesuatu disini
serba rahasia. Begitu nanti sam-wi (kalian bertiga) tiba,
tentulah ada orang yang menyampaikan laporan pada
Siau-beng-siang Tio Jiangl"
Si kaki satu berpaling kebelakang sembari memberi
isyarat ekor mata pada kedua kawannya agar
memperlambat jalannya kuda. Kala itu adalah tahun ke
12 dari kaisar Kong Hi memegang tampuk pimpinan
kerajaan Ceng-tiau. Kerajaan Lam Beng (Beng pelarian
didaerah selatan) sudah hancur dan pemerintah Ceng
telah berhasil menguasai seluruh Tiongkok. Tapi
sebagian patriot2 negara tetap mengadakan gerakan
subversif untuk melakukan perlawanan. Usaha2 untuk
mengkoordineer (melakukan kerja sama) antara
jaringan2 perlawanan rakyat, tetap dilakukan dengan
giat. Anti penjajah Ceng tetap dikobarkan diantara
rakyat, agar semangat mereka jangan sampai lumpuh.
GAMBAR 01
Empat penunggang kuda secepat anak panah terlepas
dari busurnya sedang dilarikan kearah pedesaan sana.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Se-konyong2 sikaki satu yang paling belakang enjot
tubuhnya dari pelana kuda dan hinggap membonceng
diatas kuda kawannya yang berada dimukanya tanpa
diketahui sipemuda cakap yang paling depan.
Tapi fihak Cengpun tetap bersiaga. Penyebaran mata2
dan jagoan2 digiatkan se-luas2nya. Pembunuhan, razzia,
pengejaran dan penyelidikan, ya pendek sedikit saja ada
tanda2 adanya anasir perlawanan, tentu akan ditumpas
sampai habis. Bahwasanya dalam suasana negara yang
aman, tak jarang terbit pertempuran kecil atau
penumpahan darah karena terjadinya clash antara
rombongan anasir2 penyinta negeri dengan kaki tangan
pemerintah Ceng, adalah jamak terjadi.
Pemuda she Tong itu sebenarnya anak seorang petani
yang tinggal disekitar sungai See-kang. Dia berotak
cerdas. Ketika berumur 15 tahun, pernah ikut belajar
silat pada seorang guru silat dan dapat mempelajari
beberapa macam permainan silat pasaran. Sekalipun
begitu, dia mempunyai angan2 yang tinggi. Begitulah dia
tinggalkan kampung halaman berkelana dan berhasil
menggabung kan diri dalam perserekatan anti Ceng yang
dipimpin oleh Siau-beng-siang Tio Jiang. Gerakan yang
dipimpin oleh Tio Jiang itu, adalah merupakan kelanjutan
dari perserekatan Thian Te Hui yang dipimpin oleh
Suhunya, Ceng Bo sianjin. Thian Te Hui mengalami
kegagalan total, organisasinya porak poranda, tokoh2nya
banyak yang bubar menyembunyikan diri dari kejaran
pemerintah Ceng. Syukur tokoh2 inti gerakan itu seperti
Kui-ing-cu, Thaysan sin-tho Ih Liok, Nyo Kong-lim, Ceng
Bo, Kang Siang Yan, Tio Jiang, Yan-chiu dkk masih tetap
bersatu. Walaupun secara ber-sembunyi2, mereka dapat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menghimpun kekuatan dan ternyata pengaruh mereka
terasa sekali didaerah Kwitang.
---oo-dwkz0tah-oo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 02 : KEGANASAN KUKU
GARUDA
Duapuluh tahun lamanya, hanya kulit tubuh mereka
yang berkerinyut dan rambut bertabur uban, namun
semangat perjoangan mereka masih tetap segar bernyala2
laksana api abadi yang tak kunjung padam.
Banyak nian perobahan2 selama itu. Tio Jiang telah
menjadi suami isteri dengan Yan-chiu dan dikaruniai
dengan 3 orang anak, 2 lelaki 1 perempuan. Pusat
gerakan mereka terletak diperkampungan rakyat dikaki
gunung Lo-hu-san, sedang puncak Giok li-nia merupakan
markas agungnya.
Sejak Ceng Bo siangjin tinggalkan pimpinan untuk
belajar keluar negeri mencari bantuan, maka atas
persetujuan orang banyak, Tio Jianglah yang diserahi
menjadi pimpinan dibantu oleh para ciangpwe sebagai
pinisepuh (tetua) yang menjadi penasehat dan
pelindung.
Dari seorang pemuda, kini Tio Jiang telah menjadi
seorang ayah dari seorang anak yang berumur 20-an
tahun.
Karena sifat2 jujur dan ksatrya dia telah dijuluki
sebagai Siau-beng-siang atau Beng Siang Kun kecil, Beng
Siang Kun adalah seorang tokoh yang jujur dan
bijaksana. Modal Tio Jiang selain ilmu silat, terutama
kejujurannya yang sangat menampil. Walaupun pemuda
Tong Ko masuk menjadi anggauta perserekatan, tapi
karena kepandaiannya dangkal dan belum memperoleh
suatu pahala apa2, jadi selama ini belumlah dia dapat
menampilkan diri. Kini dengan mengajak 3 orang kenalan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
baru yang berilmu tinggi itu, besar harapannya dia akan
mencapai yang di-idam2kan itu.
Tak antara berapa lama, Tong Ko menunjuk pada 3
buah perumahan rakyat.
"Sin enghiong, itulah tempat kediaman Siau-bengsiang
Tio Jiang sekeluargal" serunya memberitahu
kepada si kaki satu sembari turun dari kudanya. Memang
didepan pintu rumah itu tampak ada seorang nona
remaja berumur 16-an tengah bicara dan tertawa2
dengan seorang anak lelaki kecil berumur 6 atau 7
tahun.Tapi anehnya begitu melihat Tong Ko datang,
nona itu malah miringkan kepalanya pura2 tak melihat.
"Nona Tio, apakah Nyo-toa-cecu ada?" tanya Tong Ko.
Tiba2 belum lagi sinona menyahut, si kaki satu sudah
merebut ber-seru2 keras2: "Sdr. Tong, besar jasamu
membawa kami kemari!”
Habis mulutnya bersuara, tangannya bekerja, sret....,
sret...., sret..... belasan bunga api meletik diudara
menabur kearah sinona dan sibocah kecil. Gerakan itu
diluar dugaan orang dan dilakukan begitu cepat sekali
sehingga Tong Ko tak keburu membuka mulut. Cara
menimpukannya pun keliwat ganas sekali.
"Sin-heng........."
Hanya dua patah kata Tong Ko sempat meneriakkan,
tapi syukurlah nona itu pun sudah keburu terkejut.
Secepat kilat ia tarik sianak kecil terus dibawanya loncat
keatas sampai dua meteran. Plak...., plak...., plak....,
taburan benda bergemerlap yang bukan lain adalah 13
batang hui-to (passer pilau) lama menancap didinding
tembok rumah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Sdr. Tong, mengapa tak lekas turun tangan?" seru si
kaki satu kepada Tong Ko sembari susuli lagsi dengan 13
batang hui-to.
Kala itu sinona bersama adiknya tengah mengapung
diudara. Gerak timpukan si kaki satu tadi sangatlah keras
dan cepatnya hingga sampai menerbitkan suara auman
bergemuruh. Saking takutnya menjeritlah anak kecil itu.
menangis keras2. Tong Ko buru2 hendak gunakan
cambuk untuk menghadang hui-to2 itu, namun sudah tak
keburu lagi. Yang terdengar hanyalah jerit dan teriakan
ngeri dari sinona dan adiknya, disusul dengan gedebakgedebuk....
dari tubuh mereka menggelepar ditanah.
Tubuh anak kecil yg tak berdosa apa2 itu telah ditabur
dengan 6 atau 7 batang hui-to, sehingga seketika itu
juga putuslah nyawanya. Syukur sinona hanya kena
terpanggang sebatang pada bahunya. Dengan
tangkasnya, ia segera memondong sang adik dibawa lari
masuk kedalam rumah sembari berteriak-teriak: "Paman
Nyo! Lekas keluarlah, Tong Ko membawa kawanan kuku
garuda kemari. Adikku telah dibinasakan mereka!"
Kuku garuda adalah istilah untuk menyebut kawanan
kaki tangan pemerintah Ceng. Si kaki satu dan kedua
saudara Shin tadi tak mau mengejar, hanya unjuk
tertawa menyeringai. Sebaliknya Tong Ko yang tak
menyangka bakal terjadi peristiwa itu, dengan murkanya
sudah mencabut pedang dan maju menghampiri si kaki
satu.
"Orang she Sin, siapakah sebenarnya kau ini?"
bentaknya.
Si kaki satu yang masih bercokol diatas pelana
kudanya, segera membungkuk kebawah sembari ulurkan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dua buah jari tangannya untuk menyepit ujung pedang
Tong Ko. Sekali sentak, tangan Tong Ko lemah lunglai
mengucurkan darah dan tahu2 pedangnya sudah direbut
si kaki satu.
"Tuanmu besar ini digelari orang Tok-kak-han sin-mo
Sin Tok. Dan kedua sahabat ini adalah persaudaraan Sin,
Soh-hunciang Shin Leng-siau dan Cecing-long Shin Hiatji!"
sahut si kaki satu dengan tertawa sinis.
Tok-kak-han sin-mo berarti si Malaekat sakti berkaki
satu, Soh-hun-ciang artinya si Pukulan Maut, sedang Cecing-
long maknanya si Jejaka Mata Ungu. Mendengar
ketiga nama itu, tanpa terasa Tong Ko terhuyung
beberapa tindak kebelakang. Tapi tepat pada saat Itu,
dari dalam rumah terdengar suara berkerontangan keras,
disusul dengan suatu deru sambaran angin menghantam
punggungnya. Saking gugupnya Tong Ko cepat2 buang
dirinya ketanah dan bergelundungan sampai beberapa
meter. Bluk....., sebuah toya pendek menghantam keras
pada jalanan, hingga batu marmer yang menutupi
jalanan itu sampal hancur berantakan.
Ketika Tong Ko mendongak, didapatinya yang
menghantam itu adalah seorang tinggi besar gagah
perkasa sembari mencekal sebatang sam-ciat-kua (toya
berbuku 3). Hai, si kasar berangasan Nyo Kong-lim, itu
toa-cecu (pemimpin pertama) dari ke 72 markas gunung
Hoasan. Makanya datang2 dia sudah lantas hantam
kromo saja tanpa menyelediki lebih dahulu duduk
perkara yang sebenarnya.
"Nyo cecu, awas si kaki satu itu hendak
membokongmu dari belakangl" seru Tong Ko
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
memperingatkan si kasar tanpa mendendam apa yang
telah diterimanya dari toa-cecu Itu tadi.
Nyo Kong-lim berputar kebelakang dan tepat pada
saat itu si kaki satu sudah loncat dari kudanya sembari
mencekal sepasang suan-hua-pan-hou (kapak atau
beliung). Dengan memutar sam-ciatkun, Nyo Kong-lim
cepat menyambutnya. Walaupun kakinya hanya tinggal
satu, tapi gerakan orang she Sin itu lincah sekali. Untuk
sabatan sam-ciat-kun itu, tampaknya si kaki satu malah
maju memapakkan. Tapi begitu dekat, sret, tiba2 dia
loncat menghindar, sehingga Nyo Kong-lim menghantam
angin. Saking marahnya si kasar kedengaran
menggerung keras, dia turunkan tangannya untuk
menghajar kepala lawan. Tapi lagi2 si kaki satu enjot
kakinya menyelinap kesarnping sembari hantamkan
sepasang kapaknya, tring, tring! Nyo Kong-lim memiliki
tenaga pembawaan yang luar biasa kuatnya, tapi pada
saat itu bahunya terasa kesemutan, sam-ciat-kun
tertindih ditanah, dia tak kuasa untuk mengangkatnya.
Dilain fihak, demi dilihatnya kedua orang itu sudah
bertempur Tong Ko lalu bangun dan ber-gegas2 lari
kedalam rumah. Tapi kedua saudara Shin itu sudah
kedengaran berseru se-keras2nya: "Sdr. Tong, bagusl
Masuklah lekas dan bunuh habis mereka semua!"
Tong Ko terkesiap kaget. tapi pada saat itu dari dalam
rumah kedengaran suara tangisan, maka tanpa
menghiraukan racun yang ditebarkan mulut kedua
saudara durjana itu, dia terus menobros kedalam. Disitu
dilihatnya sinona tengah menangis tersedu sedan,
meratapi adiknya yang sudah sekian lama meninggal
tadi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hati Tong Ko seperti disayat sembilu rasanya. Ia
menghiburnya:
"Nona Tio, jangan keliwat berduka..........."
Se-konyong2 sinona menoleh, sepasangnya matanya
tampak membara.
"Kau, seorang bangsatl" serunya sembari mencabut
pedang dan dibolang-balingkan terus menyerang kepada
tong Ko.
Tong Ko seperti seorang gagu yang tak dapat
menyatakan kesusahannya. Jurus yang dimainkan sinona
itu adalah ilmu warisan yang diajarkan oleh ibunya si
Hui-lay-hong Liau Yan-chiu, hoan-kang-kiam-hwat atau
ilmu pedang membalikkan sungai. Nampaknya Tong Ko
tak berdaya menghindar apalagi memang kepandaiannya
masih cetek.
"Nona Tio, harap jangan turunkan tangan ganas!"
serunya.
Tapi tiba2 terdengar orang menyahutimya: "Sdr.
Tong, jangan takutl", dan menyusul dengan itu ada suatu
tenaga kuat mendorongnya kesamping sampai setengah
meter dan tring... tring, tring...., tring....., sinonapun
terdesak mundur oleh kilapan sinar bianglala.
Kiranya yang berseru dan menyerbu masuk membantu
Tong Ko itu adalah Ce-cing-long Shin Hiat-ji. Dia terjang
pedang sinona dengan sebatang jwanpian (ruyung
lemas) yang ber-kilau2-an cahayanya.
"Kecuali Giam-lo-ong (raja akhirat) mengeluarkan
amnesti (pengampunan), jangan harap hari ini kau dapat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hidup lagi" serunya sembari maju menyapukan jwanpian.
Bahu nona itu tadi sudah terluka hui-to, ketambahan
pula ia gelisah mendukakan kematian adiknya, maka
dalam gugupnya ia hanya loncat keatas meja dengan
pontang panting. Shin Hiat-ji tak kenal ampun lagi. Dia
sabatkan jwan-pian pada kaki meja, setelah berhasil
melibat terus ditarik se-kuat2nya. Tapi tak kalah
sebatnya, sinona sudah enjot kakinya untuk melambung
keatas. la jambret sebuah tiang penglari untuk dibuat
menggelantung, kemudian dengan membolang-balingkan
pedangnya dalam jurus kut-ji-thou-kang. (Kut Gwan
ceburkan diri kedalam sungai), ia meluncur turun
menerjang lawan.
"Ha...... ha.......!" Hiat-ji tertawa menghina, "ilmu
pedang hoan-kang-kiam-hwat yang menggemparkan
dunia persilatan, kiranya hanya begitu saja!"
GAMBAR 02
Nyo Kong-lim merasa kewalahan kena didesak oleh
sepasang kapak besar Shin Hia-ji. Disebelah sana
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kawannya terus menyalahkan api membakar perumahan
pedesaan itu.
Dia kebutkan jwan-pian untuk menyambut serangan.
Belum jwan-pian itu tiba, sinona sudah rasakan digempur
oleh suatu tenaga dorongan yang hebat, sehingga
membuatnya kaget bukan terkira. Semuda itu usianya,
ternyata anak muda she Shin itu sudah memiliki ilmu
lwekang yang sedemikian lihaynya. Adalah karena
mengagumi kepandaian lawan, telah membuat sinona
tertegun hingga konsentrasi (pemusatan) pikirannya
terpecah. Maka begitu kedua senjata, itu saling beradu,
terpelantinglah sinona sampai beberapa langkah jauhnya.
Tepat pada saat itu terdengarlah suara gempuran
yang dahsyat, disusul dengan robohnya segumpal pagar
tembok, sehingga batu merah dan puing sama
berterbangan kesana-sini. Untuk melindungi diri dari
tebaran batu dan puing itu, sinona putar pedangnya, tapi
berbareng itu ia rasakan betisnya sakit sekali karena
tersabat jwan-pian siorang she Shin itu. Dengan tahan
kesakitan, sinona loncat keluar rumah. Dilihatnya ada
seorang berumur 30-an tengah menggempur tembok
rumah dengan sebuah pukul besi raksasa. Tak berapa
lama kemudian, rubuhlah tembok itu.
Saat itu penduduk diperkampungan situ sudah sama
gempar terkejut. Tampak si tie-cing-long Shin-Hiat-ji
menobros keluar dan setelah memberi isyarat mata
kepada kakaknya si Shin-Leng-sian, mereka berdua lalu
menyerbu keperkampungan rakyat. Ada 3 orang lelaki
baru pulang dari sawah, terus menyongsong dengan
paculnya, tapi mana mereka dapat menandingi tenaga
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sakti dari Hiat-ji. Sekali memutar jwan-pian. 3 batang
pacul sama terlempar keudara. Dan sekali lagi jwanpian
berputar, ketiga orang itu menjerit keras rubuh ditanah.
Penduduk perkampungan sama gempar menyingkirkan
diri. Hiruk pikuk memecah kesunyian desa itu.
Nyo Kong-lim keripuhan menahan arus serangan
kapak si kaki satu. Saking marahnya, berulang kali si
kasar me-mekik2 seperti kuda meringkik. Tiba2
terdengar suatu seruan menggeledek diantara hiruk
pikuk itu: "Siapa yang berani mengadu biru jual
kebiadaban disinil"
Suara hiruk pikuk kepanikan itu sangatlah riuh
rendahnya, tapi suara orang itu melengking keras seolah2
dapat mengatasi kehirukan itu, menandakan
bahwa orang itu tentu mempunyai lwekang yang cukup
lihay. Kedua saudara Shin itupun menoleh dgn
terperanjat. Seorang lelaki setengah tua yang mukanya
garang berlari mendatangi dengan mencekal sebatang
jwan pian.
"Apakah yang datang ini Kiau To, ji-ah-ko dari Thian
Te Hui?" tegur Hiat-ji.
"Tak salahlah!', sahut orang itu agak keheranan.
Shin Hiat-ji tertawa memanjang. "Sambutlah pianku
inil" serunya. Kini baru Kiau To mengetahui bahwa anak
muda yang belum cukup 20 tahun usianya, hidung tinggi
dahi lebar dan berwajah luar biasa itu, adalah musuh.
Segera diapun sambut serangan orang dengan liok-kinpian-
hwat, ilmu ruyung ajaran gurunya, Cay Siang siansu
dari gereja Liok-yong-si di Kwiciu. Ruyung lawan ruyung,
wah, ramainya bukan buatan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Melihat tiada lain tokoh keras lagi, diam2 Soh-hunciang
Shin Leng-sian girang sekali. Dia yakin rencananya
kali ini tentu akan berhasil. Diambilnya korek geretan api,
dengan dua tiga kali loncat, dia menghampiri tumpukan
kayu lalu menyulutnya. Kala itu adalah permulaan musim
dingin, angin keras benda2 kering merinting. Maka
sekejab saja, asap ber-gulung2 membubung tinggi, api
membubung dengan besarnya. Untuk mengipasinya, Shin
Leng-siau mainkan pukul besinya, hingga menerbitkan
angin men-deru2, meniup gelagah rumput berhamburan
ke-mana2. Perumahan rakyat yang terbuat dari atap,
cepat dijilat api. Rumah2 yang terletak ditepi jalan sudah
sama terbakar. Ber-bondong2lah rakyat pedesaan situ,
tua muda laki perempuan lari berserabutan macam
gabah ditampi. Jerit pekik memekakkan telinga.
"Sdr. Tong, tugas kita sudah berhasil bagus, ayuh kita
pergil" tiba2 Sin Leng-siau berseru lantang2.
Tok-kak-sin-mo Sim Tok dan Ce-cing-long Shin Hiat-ji
menangkap pertandaan itu. Setelah mendesak lawan,
mereka lalu angkat kaki, tapi Nyo Kong-lim tak mau
lepaskan pengacau itu. Tokkak-sin-mo atau si ibIis sakti
berkaki satu se-konyong2 loncat setombak tingginya, dari
situ dia berjumpalitan berdiri dibelakang Nyo Kong-lim.
Nyo Kong-lim hanya mengetahui bahwa tiba2 saja si
kaki satu itu menghilang, hiruk pikuk jeritan orang,
dentam dgn tiang dan bambu dimakan api serta tabir
asap yang menyelumbung suasana, telah menyebabkan
dia tak mengetahui bahw si kaki stau itu sudah berada
dibelakangnya. Tahu2 dari belakang terasa ada angin
menyambar, hendak dia menghindar tapi sudah
terlambat. Sekali si kaki satu ayunkan kapaknya, maka
bahu lengan dari si kasar telah kutung. Lengan kanan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang kutung dan terlempar jatuh ditanah Itu masih erat2
mencekal sam-ciat-kun
Bagaimanapun "kerasnya" si kasar itu, namun kali itu
benar2 dia tak kuat menahan kesakitan lagi. Matanya
ber-kunang2, kepala pening dan rubuhlah dia tak ingat
diri. Darah mengalir laksana air mancur. Sejak sinona
menobros keluar darl belakang tadi, ia kesima melihati
pertempuran itu saja. Tapi kini serta tampak Nyo Konglim
terluka parah, ia segera lari menghamplri seraya
berteriak pilu: "Paman Nyo.....! Paman Nyo......!"
Saat itu api makin menjalar luas. Suara gerodakan dari
rumah2 yang rubuh membisingkan telinga. Hanya dalam
beberapa kejab saja, perdesaan situ berobah menjadi
sedemikIan rupa, telah menyebabkan sinona kehilangan
faham, tak tahu apa yang harus diperbuat, kecuali
menangis seperti anak kecil. Untunglah Kiau To yang
dapat mendengarkan jeritan nona itu tadi, segera
berhasil mencarinya. Cepat dia angkat tubuh Nyo Konglim,
lalu ditutuk jalan darah untuk menghentikan.
"Siau In, lekas ikut aku, atau kau nanti hangus
terbakar dlsinll" serunya kepada sinona sembari terus
memondong tubuh si kasar untuk dibawanya menobros
keluar dari lautan api.
Sinona mengikutinya dari belakang. Tapi baru kira 30-
an langkah, tiba2 ia teringat akan jenazah adiknya yang
masih ketinggalan berada didalam rumah.
"Paman Nyo, aku hendak menjemput adikku. Ayah
dan mamah sering mengatakan kalau engkohku tak
dapat diharapkan. Maka walaupun adikku sudah binasa,
aku tetap hendak mengambilnyal"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sudah tentu Kiau To terperanjat, karena dia tak
mengetahui kalau adik sinona itu, putera Tio Jiang yang
bungsu, telah menjadi korban keganasan kaki tangan
penjajah yang sedemikian biadabnya. Masa seorang anak
kecil yang tak tahu apa, juga dibunuhnya. Bermula dia
hendak memberi persetujuan, tapi demi dilihatnya
kedahsyatan api yang membakar perkampungan itu,
buru2 dia mencegahnya: "Siau In, sudahlahl Jangan
sampai kau sendiri juga menjadi korban lagil"
Tapi ternyata hati nona itu seperti ayah bundanya,
keras tak mudah ditaklukkan. Tahu2 ia sudat memutar
tubuh dan memberosot lari sembari ber-teriak2:
"Biarlah!"
Kejut Kiau To bukan alang kepalang. Baru dia hendak
mengejarnya, berbondong2 penduduk lari kearahnya,
hingga terpegatlah jalannya dan kini sinona sudah
menyusup masuk kedalam lautan api. Saking gelisahnya.
Kiau To sampai banting2 kakinya: Begitu rombongan
orang2 itu sudah berlalu, segera Kiau To melihat dengan
jelas bahwa perkampungan itu sudah menjadi sebuah
lautan api. Sedang dalam pada itu, Nyo Kong-lim tetap
belum sadar, hingga diapun tak dapat berbuat apa2.
Sementara sinona tadi, begitu memasuki lingkaran laut
api, matanya segera terasa pedas dihamburi gulungan
asap tebal, hingga ia tak dapat melihat jelas suatu app
lebih jauh dari satu tombak jaraknya. Bagaikan seekor
anak rusa tersesat jalan, ia lari kesana sini dengan
membabi buta. Rambut dan pakaiannya, sebagian hesar
sudah termakan letikan api. Dengan susah payah barulah
ia berhasil menemukan rumah kediamannya. Tapi baru
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hendak menobros masuk, ia sudah diseret oleh
seseorang.
"Nona Tio.....! In-moay......! Lekas menyingkir dari
sini.....!" seru orang itu.
Nona itu ternyata she Tio dan memakal nama-tunggal
In. Ia adalah puteri kesayangan dari Siau-beng-siang Tio
Jiang, tokoh yang dihormati oleh kaum persilatan patriot.
Demi diketahuinya bahwa orang itu adalah si "penjahat"
Tong Ko, ia segera mengirim dua buah tamparan kemuka
orang. Seketika itu juga kedua belah pipi Tong Ko
menjadi bengap matang biru. Tapi dari mundur, sebaliknya
anak muda itu malah mendekap tubuh sinona
untuk dibawanya lari.
Karena sejak kecil sudah mendapat latihan ilmu silat,
jadi kepandaian Tio In jauh lebih lihay dari Tong Ko.
Karena tak menduga, maka tadi ia sampai kena
dipondong Tong Ko. Kini iapun meranta se-kuat2-nya
dan mendupak lutut orang. Dupakan itu tepat sekali
mengenai mata lutut Tong Ko, hingga seketika itu juga
sinak muda mendeprok dan bergelundungan ditanah.
Bahwasanya Tong Ko mecintai Tio In, bukanlah terjadi
dalam sehari dua melainkan sudah sejak dia ceburkan
diri dalam pereserekatan orang gagah di Lo-hu-san situ.
Bahwa dia telah diperalat dan dijadikan tumpuan arus
(bulan2an kesalahan) oleh kawanan si kaki satu bertiga,
tentu sinona akan membencinya sampai mati. Ini sudah
diperkirakan. Tapi biar bagaimana tak nanti dia biarkan
nona yang dicintainya itu sampai mendapat kecelakaan
kalau menobros masuk kedalam rumah. Maka tanpa
hiraukan suatu apa lagi, dia segera loncat bangun terus
menubruk nona itu lagi, seraya berseru: "In-moay,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
turutlah omonganku, lekas tinggalkan neraka api ini dan
nanti kuterangkan lagil"
"Lepaskan aku, lekasl" seru sinona dengan hati yang
hancur. Berbareng pada saat itu ada segumpal asap
meniup datang. Hati Tio In direndam oleh kedukaan dan
kemarahan. Betapapun lihay kepandaiannya, namun ia
itu tetap seorang dara. Saking tak kuat menahan
rangsangan hawa luapan hatinya, ia jatuh pingsan.
Sebaliknya demi merasa nona itu tak meronta lagi,
Tong Ko segera memanggulnya untuk mencari jalan
lolos. Suatu perjalanan yang tak mudah bagi Tong Ko
yang dalam beberapa saat saja sudah menanggung
penderitaan bathin dan badan yang begitu hebat.
Dengan badan luka2 dan gosong2 terbakar, tenggorokan
kering dan mulut membara, akhirnya dapatlah dia
membawa Tio In keluar dari kepungan api. Berjalan
sampai setengah li jauhnya, dia berhenti sejenak untuk
menengok kebelakang. Dilihatnya perdesaan itu masih
tetap terbakar dimana nyala api sampai membuat langit
merah marong.
Tong Ko ter-longong2 sampai beberapa saat. Benar
malapetaka itu ditimbulkan oleh keganasan ketiga kaki
tangan pemerintah Ceng, tapi karena ketiga durjana itu
timpahkan kesalahan pada dirinya, tentulah rakyat
perdesaan situ akan membuat perhitungan padanya. Tak
terasa, dia menghela napas dalam2. Setelah tersadar dari
lamunannya, dia pondong Tio In menuju kesebuah
sungai kecil.
---oo^dwkz0tah^oo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 03 : MATI KEGIRANGAN
Kala itu hari sudah gelap. Rembulan mulai muncul dari
ufuk timur. Setelah minum dua teguk air. Tong Ko
menampungkan tangan,mengambil air untuk disiramkan
ketubuh Tio In. Tak berapa. lama kemudian, sinona
mulai siuman. Tapi begitu didapatinya Tong Ko berada
disampingnya, dengan gemasnya ia mengirim sebuah
jotosan, bluk....., terjerembablah Tong Ko jatuh
kebelakang.
"Bangsat macam kau ini! Sekalian saudara sama
mengira bahwa walaupun kepandaianmu cetek, tapi
kelakuanmu jujur. Malah ayahpun mengandung maksud
hendak mengambil murid padamu. Huh......, siapa tahu
kau seorang manusia yang berhati serigala, bersekongkol
dengan kawanan kuku garuda, membunuh orang
membakar desa................" sehabis memaki itu, air mata
sinona bercucuran.
Tong Ko coba berusaha untuk menggeliat bangun, tapi
karena luka2nya yang diderita tadi sedemikian rupa, dia
tak dapat berdiri. Dengan merayap dihampirinya Tio In,
lalu dengan menengadahkan muka, dia meratap: "Nona
Tio, bunuhlah aku, tak nanti aku penasaran. Tapi
kuminta janganlah kau mencap diriku sebagai manusia
berhati serigala! Se-kali2 aku bukan orang macam
begitul"
Luka yang diderita Tio In pun tak ringan. Dengan
kerahkan semangat, ia coba loncat bangun, tapi
kepalanya serasa berat dan ter-huyung2 pulalah ia jatuh,
ketanah, Namun mulutnya masih penasaran dan
menghamburkan makian se-puas2nya: "Manusia berhati
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
serigala...! Manusia berhati serigala....! Manusia berhati
serigala........... !"
Pedih Tong Ko sukar dilukiskan Dengan kuatkan diri
dia merayap maju dua tindak, lalu ulurkan tangan untuk
mencapai bahu Tio In, tapi nona itu dengan gusarnya
menerkam tangan Tong Ko lalu dipelintir dengan gerak
toa-cwan-lun (roda berputar). Gerak ini menurutkan ilmu
mematahkan tulang yang disebut hun-kin-jokut
(mengalihkan urat nadi melepas persambungan tulang).
Krek, tulang persambungan lengan kanan Tong Ko
menjadi lepas (keseleo). Buru2 Tong Ko menariknya
keras2 dan dapatlah dia memulihkan persambungan itu
lagi. Namun sakitnya bukan olah2, hingga nampai
kucurkan keringat dingin.
"In-moay, kau tak kenal peribadiku", Tong Ko
menghela napas.
"Huh, setan lanat, siapa yang sudi berbahasa kokomoaymoay
dgn kaul" Masih Tio In belum reda murkanya.
Serentak bangun, ia menendang Tong Ko hingga sampai
hampir jatuh kedalam sungai. Untunglah anak muda itu
cepat2 dapat berkutik lagi. Hanya dilihatnya Tio In
dengan langkah tak tetap tinggalkan tempat itu, hal
mana membuatnya gelisah.
---oo^dwkz0tah^oo---
Kira2 satu jam lamanya. Tong Ko rendam separoh
tubuhnya bagian bawah didalam air. Air dingin yang
merangsang kearah tulang belulang, telah membuat
semangatnya agak segar. Dia lalu hendak merayap naik,
tapi se-konyong2 dari kejauhan kedengaran derap kaki
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kuda mendatangi. Kuda itu ternyata berhenti disitu juga.
Dia melongok dari sela2 gelagah dan didapatinya ada 3
ekor penunggang kuda tengah menghampiri ketepi anak
sungai. Dan untuk kekagetannya, ternyata ketiga orang
itu adalah 3 durjana yang mencelakai dirinya, yani Tokkak-
sin-mo Sin Tok, murid tunggal dari raja iblis suku
Biau yang bergelar Ban-bok-sin-bu atau. Dukun sakti
selaksa mata. Sedang yang dua, adalah Shin Leng-siau
dan Shin Hiat-ji kakak beradik.
Buru2 Tong Ko menahan napas tak berani berkutik.
Begitu tiba ditepi sungai, ketiga durjana itu segera turun
dari kudanya dan biarkan binatang mereka minum air.
Ketika Tong Ko mengintip dari sela gelagah, dilihatnya
Cek-cing-long Shin Hiat-ji memanggul sebuah karung
kain yang besar. Karung itu kini diletakkan ditanah dan
kebetulan sekali hanya terpisah setengah meter dari
Tong Ko. Dengan hati2 sekali, Tong Ko ulurkan jarinya
untuk menyentuh dan dapatkan isi karung itu amat lunak
tapi entah benda apa.
"Shin-heng, budak ini adalah puteri kesayangan dari
Siau-beng-siang Tio Jiang. Kalau kita bawa keutara, Siaubeng-
siang tentu akan menyusulnya. Gerombolan
mereka itu memang sangat mengganggu keamanan
Kwitang. Dengan adanya tindakan kita ini, mereka tentu
akan marah seperti orang kebakaran jenggot. Apabila
kita dapat menjaringnya, tentu mudah untuk membasmi
seluruhnya. Ha...., ha.....!" tiba2 kedengaran si kaki satu
tertawa bangga.
"Kesemuanya itu karena mengandal kecerdasan Sinheng",
sahut Shin Leng-siau.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Bagaimana terperanjatnya Tong Ko, dapat
dibayangkan. Kiranya Tio In tadi telah berpapasan dgn
ketiga durjana itu dan dapat diringkusnya. Jadi yang
berada didalam karung itu, tentulah sinona. Saking
sibuknya, Tong Ko bergetar. Walaupun hanya sedikit,
tapi karena terendam dalam air, maka terdengarlah riak
air bergelombang. Buru2 dia berdiam diri lagi.
”Hai, mengapa air beriak? Jangan2 ada orang
bersembunyi! Hiat-ji,” sianak mata ungu segera berseru.
"Siau Shin, kau ini bagaimana, kan kuda kita tengah
minum air, mana ada setan belang lagi?" si kaki satu
menertawai.
Legalah hati Tong Ko, dan ketiga orang itupun tertawa
geli sendiri. Berkata Hiat-ji: "Kali ini Siau-beng-siang
tentu akan timpakan kemarahannya kepada Tong Ko
semua. Ah, kasihan Siaubeng-siang itu, Mimpipun tentu
tidak dia, kalau yang mencelakainya itu adalah puteranya
sendiri!"
Tong Ko terbelalak kaget, hendak dia mendengari lagi
cerita Hiat-ji lebih lanjut, tapi anak itu ternyata sudah
alihkan pembicaraannya. Diam2 Tong Ko merenung.
Siau-beng-siang Tio Jiang hanya mempunyai 2 orang
anak lelaki. Yang bungsu sudah dibinasakan dengan 13
hui-to oleh si kaki satu Sin Tok. Putera sulung yang
bernama Tio Tay-keng, umurnya sebaya dengan dia
(Tong Ko), tapi rupanya telah mendapat warisan
pelajaran dari ayahnya. Sebulan yang lalu, pemuda itu
sudah diutus ayahnya pergi kewilayah Hunlam utk
mengadakan hubungan kerja sama dgn para tokoh
persilatan disana. Jadi mustahil kalau bersekongkel
dengan rombongan si kaki satu itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
GAMBAR 03
Diam2 Tong Ko mendengarkan percakapan ketiga
jagoan kaki-tangan pemerintah Ceng itu sambil pelahan2
menyeret karung besar yang terapung diatas air
sungai itu kedekatnya.
Tapi mengapa mulut Hiat-ji menyebut hal itu? Hati
Tong Ko penuh -dengan tanda tanya.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang saja," kembali
kedengaran Shin Leng-siau berkata, ”budak itu berat
juga lukanya, apalagi telah ditutuk jalan darahnya oleh
Sinheng. Lekas kita carl tempat yang sesuai untuk
mengobatinya. Untuk memancing ikan besar, haruslah
umpannya yang bagus juga!"
Mereka bertiga ter-bahak2 dan kedengaranlah suara
rumput tersingkap karena Hiat-ji hendak mengambil
karungnya lagi. Setelah yakin bahwa sang kecintaan
berada didalam karung, Tong Ko seperti semut diatas
kuali panas. Menolong atau tidak, serba salah. Kalau
hendak menolong, dirinya tentu akan kepergok dan
menjadi korban juga. Namun kalau berpeluk tangan,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hatinya tak sampai. Hanya dia tak mempunyai banyak
waktu untuk menimbang lagi, karena derap kaki Hiat-ji
makin mendekati. A h, biar bagaimana juga andaikata dia
bakal binasa ditangan ketiga durjana itu, tetap dia harus
menolong Tio In. Soalnya bukan se-mata2 karena diri
sinona seorang, melainkan exces (kelanjutan) dari
peristiwa itu. Siau-beng-siang Tio Jiang tentu akan
menyusul kekota raja. Disana dia bakal tergencet oleh
kawanan jagoan2 pemerintah Ceng yang besar
jumlahnya. Apabila sampai Tio Jiang celaka, itu berarti
suatu kerugian besar dalam kubu2 gerakan menentang
penjajah Ceng didaerah Kwitang. Siapa tahu
perserekatan itu mungkin berantakan nantinya. Jadi
mengapa dia (Tong Ko) begitu sayang akan jiwanya,
demi utk kepentingan gerakan yang mulia itu?
Dilihatnya sungai itu meskipun dangkal, tapi arusnya
cukup deras. Secepat dia memperoleh akal, secepat itu
pula loncat keatas untuk menyeret karung itu kedalam
air lalu didorongnya supaya dibawa arus. Ketika Hiat-ji
berjongkok hendak mengambil karung, ternyata karung
itu sudah tiada disitu. Dan selagi dia masih ter-longong2,
tahu2 Tong Ko sudah menyergapnya.
Umur Hiat-ji itu sebenarnya masih muda belia sekali.
Tapi karena sewaktu masih bayi, dia digondol oleh
seekor induk harimau dan dibesarkan oleh induk harimau
itu dengan darah binatang, maka tenaganya luar biasa
kuatnya. Baru ketika dia berumur 10-an tahun, dia telah
dapat ditolong oleh Shin Leng-siau (engkohnya). Sejak
itu dia berguru pada Gan Lay dari Thong-ting-ou, yani
seorang tokoh nomor satu dari dunia persilatan daerah
Oupak. Jadi ilmu kepandaiannya jauh lebih lihay dari
kakaknya Leng-siau.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Jadi serbuan Tong Ko itu sebenarnya seperti anai-anai
masuk kedalam api. Namun karena Hiat-ji itu keliwat berhati2,
jadi dia tak mau melihat dulu siapa penyerangnya
itu, tapi sudah cepat2 menghindar kesamping sembari
balas menghantam. Tong Ko seketika menjadi seperti
sebuah layang2 putus tali, gentayangan jatuh
menggelepar.
Juga si kaki satu yang cepat mengetahui adanya
suasana yang mencurigakan itu segera loncat
menghampiri. Demi tubuh Tong. Ko melayang diudara
karena dihantam Hiat-ji tadi, si kaki satupun cepat
memungut sebuah batu kecil lalu ditimpukkan. Bluk.....,
jatuhlah Tong Ko tadi. Si kaki satu enjot tubuhnya loncat
memburu. Sekali ulurkan tangan, dia sudah dapat
meringkus Tong Ko. Keduanya kini sama meluncur jatuh
kedalam air. Tapi ternyata si kaki satu memiliki
kepandalan yang luar biasa. Baru menyentuh air, dia
sudah enjot kakinya melompat keatas daratan. Kemudian
dia enjot lagi kakinya melompati anak sungai selebar 2
tombak itu, lalu letakkan tubuh Tong Ko ketanah.
"Ho, kiranya saudara kami Tong Kol" serunya
menyeringai. Tepat pada saat itu, demi melihat si kaki
satu sudah turun tangan menghajar sipenyerang gelap,
Hiat-jipun segera apungkan tubuhnya dipermukaan air
sembari kait karung besar itu dengan ujung jwanpiannya.
Memang senjatanya itu luar biasa, dapat dijulur
surutkan sekehendak hatinya, ujungnya runcing macam
kait.
"Sin-heng, siapa dia?'' serunya bertanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Siapa lagi kalau bukan sdr. Tong Ko. Biarkan saja dia
nanti melapor pada Siau-beng-siang, benar tidak?" sahut
si kaki satu.
Se-konyong2 ada seorang wanita berseru: "Ai,
mengapa ada orang menyebut2 namamu?
"Entahlah, orang gagah dari mana yang kebetulan
lewat disini?" sahut seorang lelaki yang rupanya menjadi
kawan perjalanan wanita tadi. Walaupun mereka berdua
hanya ber-cakap2 seenaknya saja sebagai selingan
perjalanan, namun bagi pendengaran seorang achli tentu
mengetahui bahwa keduanya itu memiliki ilmu lwekang
yang tinggi. Orangnya masih jauh, tapi suaranya
melengking nyaring sekali.
Si kaki satu segera memberi isyarat agar Hiat-ji
membawa karungnya lagi naik keatas kuda. Sekejab lagi
terdengarlah derap kaki kuda mencongklang keras2. Si
kaki satu berada dibelakang kedua kawannya, begitu
diketahui ada dua sosok bayangan keluar dari hutan, dia
segera taburkan 13 hui-to. Kemudian dengan bersuit
nyaring, dia menerjang maju.
"Siau-beng-siang, kalau hendak mengambil anakmu
perempuan, datanglah kekota raja minta pada taylwe-kocin
(jago2 didalam keraton)!" serunya lantang2 sembari
conglangkan kudanya kaburkan diri diantara kepulan
debu,
Memang kedua orang yang baru keluar dari dalam
hutan itu, bukan lain adalah Siau-beng-siang Tio Jiang
dan isterinya Hui-lay-hong Yan-chiu. Mereka baru datang
dari lain tempat dan belum mengetahui bencana yang
telah menimpah keluarganya. Tiba disitu didengarnya
ada orang menyebut2 nama "Siau-beng-siang", dikiranya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kalau ada sementara orang gagah yang hendak datang
berkunjung ketempat kediamannya. Siapa tahu, mereka
diserang dengan hujan hui-to dan ditantang datang
kekota raja.
Meskipun kini sudah menjadi seorang ibu yang
berumur setengah tua, namun perangai Yan-chiu masih
seperti ketika gadisnya. Dengan sebat ia cabut
pedangnya terus diputar dalam jurus Kang-sim-poh-lo.
Tring..., tring..., tring..., ke 13 batang hui-to itu terpukul
jatuh semua.
"Ayuh, siapa yang mau cari nyonyahmu besar ini!"
serunya. Tapi pada lain saat ia geli sendiri atas
ucapannya itu.
"Yan-chiu, tadi kita lihat langit perdesaan kita marong
membara, orang2 tadi itu terang adalah kawanan kuku
garuda. Jangan2 Siau In dan saudara2 dirumah,
mengalami apa2 ini?" kata Tio Jiang.
"Masa ya? "bantah sang isteri seraya ayunkan langkah
kemuka. Tapi se-konyong2 terdengar ada orang berteriak2:
"Lekas....! Lekas....!"
Yan-chiu berpaling dan dapatkan yang berteriak itu
Tong Ko adanya. Memang sebelum si kaki satu berlalu,
lebih dulu dibukanya jalan darah Tong Ko. Tapi karena
segala sesuatu tadi berjalan dalam beberapa kejab saja,
jadi anak muda itu bingung terlongong2 tak mengerti
apa yang telah terjadi. Baru lewat beberapa saat
kemudian, dia dapat berteriak tadi.
"Hai, bukantah kau ini si Tong Ko?" tegur Yan-chiu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Namun Tong Ko tak menyahut pertanyaan orang,
melainkan angkat tangannya menuding kemuka:
"Lekas...., lekas....! Nona Tio telah dibawa mereka!"
"Nona yang mana?" tanya Yan-chin dengan tertawa.
Kiranya baik Tio. Jiang maupun Yan-chiu sudah tahu
kalau anak muda itu "ngesir" (ada hati) pada puterinya.
Mereka menduga tentulah pemuda itu habis bertengkar
dengan Tio In, sehingga kini dia menjadi kelabakan
begitu, macam, maka Yan-chiupun tak begitu kaget
mendengar keterangan Tong Ko tadi.
"Nona In ditawan dan diculik kuku garuda!" saking
jengkelnya Tong Ko sampai banting2 kaki. Kebenaran
saat itu Tio Jiangpun sudah datang dan menanyainya:
"Mana bisa begitu, kemana saja Nyo dan Kiau toako?"
"Entahlah, nona In diculik kuku garuda, Siau Seng
dibunuh merekal"
Melihat anak muda itu bermandikan noda darah,
pakaian compang-camping rambut kusut masai dan
bicaranya begitu gugup, Tio Jiang mulai curiga dan buru2
menegas: "Apakah kebakaran itu berasal dari
perkampungan kita? Mengapa kawanan kuku garuda
mengetahui tempat kediaman kita?"
Tong Ko tundukkan kepala dan menyahut dgn
sejujurnya: "Akulah .......yang membawanya!"
Penyahutan itu telah membuat Tio Jiang dan Yan-chin
terkesiap kaget. Bahwa puteranya bungsu telah binasa,
telah membuat hati Yan-chiu seperti disayat sembilu,
serentak ia menghardik "Tong Ko, siapakah diantara
saudara2 yang menyakiti hatimu hingga kau membalas
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dendam membawa kuku garuda untuk mencelakai rumah
tanggaku?"
Malah habis menghardik, Yan-chiu sudah lantas
ayunkan pedang kuan-wi-kiam untuk menabas kepala
sianak muda. Tong Ko meramkan mata menanti ajal.
Bukannya takut, dia malah mengharap supaya Yan-chiu
cepat membunuhnya agar dengan demikian suami isteri
lekas2 bertindak menyusul Tio In.
Trang...., tiba2 terdengar berkerontangan suara
senjata beradu, disusul dengan seruan Yan-chiu: "Jiangko,
kau ini bagaimana? "
Ketika Tong Ko membuka mata, dilihatnya dengan
wajah keren Siau-beng-siang Tio Jiang hadangkan
pedangnya pada pedang sang isteri, lalu berkata: "Yanchiu,
Tong Ko bukan manusia yang sampai hati
mengerjakan perbuatan begitu!"
Hati Tong Ko tergerak. Diam2 dia mengakui mengapa
Tio Jiang sampai begitu mendapat perindahan dari kaum
persilatan, kiranya karena sifatnya yang lurus dan bijak.
Kini Yan-chiu melesat pergi, sembari berlari la berseru:
"Ayuh, kita lekas kejar merekal"
Sebelum mengikuti tindakan isterinya, lebih dahulu Tio
Jiang memberi pesanan pada Tong Ko supaya tetap
menunggu disitu karena perlu dimintai keterangan lebih
jauh. Tong Ko mengiakan dan memberitahukan bahwa
Tio In dimasukkan dalam sebuah karung oleh kawanan
kuku garuda itu. Setelah itu, barulah Tio Jiang menyusul
isterinya menghilang dalam kegelapan malam.
Tong Ko hanya sesalkan dirinya sendiri mengapa ilmu
kepandaiannya sangat dangkal hingga tak dapat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
melakukan pengejaran. Ucapan Tio Jiang tadi, telah
memulihkan kepercayaan pada dirinya lagi. Tapi dalam
pada itu, dia merasa cemas, jangan2 ketiga jagoan
pemerintah Ceng itu sudah jauh dan tak dapat disusul
oleh kedua suami isteri itu.
Kira2 setengah jam lamanya Tong Ko diombangambingkan
oleh kegelisahan dan kecemasan. Syukurlah
tak berapa lama kemudian, Siau-beng-siang Tio Jiang
sudah datang. Tong Ko tersipu2 menyongsongnya
dengan bertanya: "Apakah nona In sudah dapat
diketemukan?"
Dengan wajah besi Tio Jiang terkam lengan Tong Ko,
dengan mata beringas dia memandang lekat2 pada anak
muda itu. Sejak kecil mula tingkah laku Tio Jiang selalu
polos jujur sesuai dengan apa yang diadiarkan oleh
suhunya (Ceng Bo siangjin). Maka ketika dalam
pertengahan umur, dia memiliki wajah yang mengunjuk
perbawa. Kalau benar2 Tong Ko itu seorang yg berhati
culas, dipandang begitu rupa oleh seorang tokoh macam
Tio Jiang, dia pasti akan pucat dan hatinya kebat kebit.
Tapi oleh karena Tong Ko berhati bersih, bukannya takut
dia malah balas menatap.
Tukar pandangan itu berlangsung sampai beberapa
kejab, baru sejenak kemudian Tio Jiang membuka mulut:
"Tong Ko tadi kau mengatakan bahwa yang membawa
Tok-kak-sin-mo Sin Tok bertiga adalah kau, benarkah
itu?"
Oleh karena merasa bahwa selama ini tak pernah
berbuat jahat, maka pikiran Tong Ko hanya pada Tio In
seorang saja. Bukannya menyahut, dia bahkan balas
bertanya: "Apakah nona In sudah tersusul?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tio Jiang menggeram, serunya: "Ketiga durjana itu
sudah lari. Siau Inpun sudah ikut mamahnya kembali ke
Giok-li-nia, sekalian orang gagah dari berbagai
daerahpun juga sudah berkumpul disana. Tong Ko,
ketika kau hendak masuk kedalam perserekatan kami,
ada orang yang mengatakan bahwa parasmu keliwat
cakap tentu tak boleh dipercaya. Tapi kuanggap karena
kau benar2 seorang manusia yang ingin berbakti kepada
negara, maka kululuskan kau kucurkan darahmu selaku
masuk perserekatan. Kau seharusnya percaya akan
diriku, kalau ada persoalan, hendaknya terus terang
memberitahukan padaku!"
Ucapan itu walaupun bernada rawan, tapi mempunyai
daya pengaruh sehingga setelah ter-longong2 sampai
sekian saat barulah Tong Ko menyahut: "Benar, memang
Sin Tok dan kedua saudara Shin itu aku yang
membawanya, tetapi .............. "
Baru mendengar kata2 Tong Ko yang dimuka itu, hati
Tio Jiang sudah mendelu sakit sekali. Tadi bersama Yanchiu
dia gunakan ilmu berlari cepat untuk mengejar
ketiga jagoan itu. Dengan mengambil jalan pendek,
dapatlah dia mendahului mereka dan bersembunyi diatas
puhun. Begitu ketiga jagoan itu tiba, segera diserbunya.
Karena tak menduga sama sekali, karung yang dibawa si
Hiat-ji itu telah dapat dirampas Yan-chiu. Ketiga kaki
tangan pemerintah Ceng itu tak bernapsu untuk terlibat
dalam pertempuran lama, cepat mereka meloloskan diri.
Ketika dibuka ternyata isi karung itu adalah Tio In.
Setelah dibuka jalan darahnya, barulah Tio In dapat
menceritakan apa yang telah terjadi dikampung
halamannya: Dengan menangis tersedu sedan, nona itu
timpahkan kesalahan pada Tong Ko. Ter-mangu2 Tio
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Jiang dan Yan-chiu saking getunnya. Yan-chiu segera
ajak puterinya balik ke Giok li-nia, sedang Tio Jiang
mencari Tong Ko. Bahwa Tong Ko ternyata mengakui dia
yang membawa pembunuh2 itu, telah membuat pikiran
Tio Jiang menjadi gelap dan baru saja mulut anak itu
mengucapkan kata2 "tetapi", Tio Jiang sudah memijat
lengannya kuat2.
"Paman Tio, harap lepaskan!" Tong Ko minta dgn
setengah meratap karena tak tahan sakitnya. Tio Jiang
kendorkan tangannya. Ditatapnya lekat2 muka anak itu
sampai beberapa jenak, baru kemudian dia berkata:
"Tong Ko, kau telah membunuh anakku bungsu, itu
masih belum seberapa. Tapi kau telah membongkar
markas rahasia kita, itulah dosa besar. Kini hendak
kubawamu ke Giok-li-nia. nanti para orang gagah
memutuskan hukumanmu, baru aku membuat
perhitungan lagi padamu. Kau menurut tidak?"
Watak Tong Kopun tak kurang kerasnya. Dia anggap
ucapan Tio Jiang itu sudah cukup dalam batas2 keadilan
yang bijaksana, maka tanpa mengucap apa2 dia
mengangguk. Begitulah setelah hampir dua jam lamanya
menempuh perjalanan tanpa mengucap sepatah
katapun, akhirnya tibalah mereka dipuncak Giok-li-nia.
Haripun sudah terang tanah, Bagi Siau-beng-siang Tio
Jiang perjalanan itu tak dirasakan sebrapa, tapi bagi
Tong Ko yang menanggung luka2 berat, tenaganyapun
habis sama sekali.
Keadaan dipuncak Giok-li-nia kala itu, jauh sudah
bedanya dengan 20 tahun berselang. Biara satu2nya
yang masih ada, hanya lah biara Cin Wan Kuan. Itu saja
pagar temboknya sudah rusak diganti pagar kayu, hingga
mirip merupakan sebuah san-ce (markas gunung). Juga
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
perumahan disitu tiada 100 buah jumlahnya. Begitu
masuk kedalam san-ce (Cin Wan Kuan), terasalah suatu
suasana yang hening sunyi. Ber-puluh2 pasang mata
sama mengawasi pada Tong Ko. Dimuka peseban Ki-gitthia
tampak berkibar sebuah bendera warna putih.
"Siapa yang meninggal?" tanya Tio Jiang dengan
terkejut. Karena rasa kejutnya itu tanpa dia salurkan
Iwekangnya keatas, hingga ucapannya itu mengguntur
kedengarannya. Sampai Tong Ko yang berada
disampingnya, telinganya menjadi kesakitan.
Dari dalam rombongan orang, tampil seseorang
sembari berseru: "Nyo toako!"
"Nyo Kong-lim?" Tio Jiang menegas.
Orang itu, yang ternyata Kiau To, menjawab dengan
pe-lahan2: "Benar. Dia bertempur dengan Sin Tok dikaki
gunung dan kena dibacok kutung lengannya. Ketika
kubawanya naik kemari, dia sudah kehabisan darah dan
tak dapat ditolong lagi!"
Diam khidmat mencekam hati sekalian orang gagah.
Terkenang akan peribadi Nyo Kong-lim yang walaupun
kasar tapi jujur ksatrya, sekalian orangpun sama2
kucurkan air mata. Se-konyong2 ditengah suasana
berkabung itu, menjeritlah Yan-chiu sembari berlari
keluar dari paseban Ki-gi-thia. Ketika masih gadis, ia
pernah minum mustika batu, ditambah dgn peyakinannya
selama 20-an tahun, ilmunya mengentengi tubuh benar2
sangat sempurna sekali. Hui-lay-hong atau si
Cenderawasih terbang, digelarkan orang karena ilmunya
mengentengi tubuh yang sakti Itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Begitu keluar, Yan-chiu segera enjot tubuhnya
melayang diatas kepala orang2 yang berkerumun itu, lalu
melayang turun di hadapan Tio Jiang dan Tong Ko. Suara
jeritannya tadi masih belum hilang kumandangnya, tapi
orangnya sudah tiba dimuka orang yang hendak
dirongrongnya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan, sampai
ditingkat bagaimana ilmu mengentengi tubuh dari Huilay-
hong itu. Dalam jaman itu, sungguh sukar dicari
keduanya. Begitu berhadapan dengan Tio Jiang dan
Tong Ko tubuhnya sempoyongan dan terus
menyongsong maju. Orang sama mengira tentu Yan-chiu
hendak melabrak Tong Ko yang menjadi pembunuh
anaknya itu, tapi ternyata ia menubruk kepada sang
suami dan pecahlah tangisnya mengirimkan sang air
mata.
"Jiang-ko, kasihan Siau Seng hanya hidup 4 tahun,
kasihan Siauw Seng hanya menjadi manusia selama 4
tahun saja!"
Sekalian orangpun pilu mendengar ratap tangis
seorang Ibu yang kematian puteranya itu. Tong Ko juga
terketuk hati nuraininya. Benar kejadian itu diluar
pengetahuannya dan memang telah diatur oleh kawanan
kuku garuda itu, namun sadar atau tak sadar, dia anggap
dirinyalah yang bertanggung jawab. Dia merasa berdosa
besar.
"Sudahlah jangan menangis! tiba2 dia berseru dengan
gagah, lalu menghampiri kearah orang banyak. Dari
salah seorang dia mencabut sebuah golok, terus hendak
disabatkan kebatang lehernya sendiri. Sekalian orangpun
tak mau mencegahnya, karena anggap dengan kedosaan
sebesar itu, sudah selayaknya Tong Ko berbuat begitu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tapi ketika mata golok menempel pada kulit lehernya,
se-konyong2 dari peseban Ki-gi-thia terdengar seseorang
berseru mencegahnya: "Tahan!" dan berbareng itu
terdengarlah sebuah benda mengaum diudara dan,
trang...., golok ditangan Tong Ko itu bukan melainkan
terlepas, pun kutung menjadi dua dan terlempar diudara.
Kejadian itu menggemparkan sekalian orang yang
melihatnya. Siapakah gerangan yang sedemikian
saktinya, dari jarak 3 tombak dapat menimpukkan
senjata rahasia, hingga golok menjadi kutung dan
terlempar diudara?
Tiba2 terdengar pula suara deru angin meniup.
Seorang wanita tua yang mencekal sebatang tongkat
besi melayang diudara dan turun dihadapan Tong Ko.
Disitu wanita tua itu memandang lekat2 pada sianak
muda.
"Subo, bilakah kau datang tadi?" Co Jiang dan Yan-ciu
serentak berseru.
Benar, wanita tua itu adalah subo (ibu guru) dari Tio
Jiang dan Yan-chiu, yakni pendekar wanita yang
namanya sangat menggetarkan seluruh gelanggang
persilatan pada jeman itu, Kang Siang Yan In Hong.
Kang Siang Yan tak menghiraukan sepasang suami
isteri itu, hanya memberi isyarat tangan supaya mereka
berdua mundur. la tetap mengawasi Tong Ko dari ujung
kaki sampai keatas kepala. Semasa mudanya, Kang Siang
Yan pernah meyakinkan ilmu lwekang sakti thay-im-lianseng
didasar pulau karang Hay-sim-kau di bawah laut.
Setelah tua, sepasang matanya memancarkan sorot berapi2,
sehingga Tong Ko serasa seperti di-iris2 dengan
pisau silet rasanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sekalian orang tak tahu apa yang hendak dilakukan
oleh wanita sakti itu jadi merekapun menantikan dengan
berdiam diri. Lewat beberapa detik kemudian, barulah
kedengaran wanita lihay itu menegur dengan suara pelahan2:
"Nak, siapakah namamu?"
Sekalipun sudah lama Tong Ko mendengar kebesaran
wanita itu, namun baru pertama kali itu dia berhadapan
muka. Dia dapatkan dalam nada ucapan siwanita tua itu
terasa suatu pancaran kasih sayang yang tak terhingga.
Sebagai orang yang sudah mengambil keputusan utk
mati, heran juga dia dibuatnya mengapa ada seseorang
yang begitu menyayang kepadanya. Namun dijawabnya
juga pertanyaan wanita tua itu dengan sejujurnya.
Mulut Kang Siang Yan berulang kali mengulangi kata2
"Tong Ko".
Setelah merenung beberapa jenak, kembali ia ajukan
pertanyaan lagi: "Kau berasal dari mana?"
"Aku orang dari desa Sam-hua-chun kota Tay-li-cin
yang terletak didekat sungai Sekang".
Lagi2 Kang Siang Yan seperti menghafalkan tempat
itu, lalu bertanya lagi dengan suara lembut: "Nak,
apakah kau lahir disana juga?" .
Melihat orang menghujani pertanyaan yang tak ada
artinya, kesallah hati Tong Ko, maka dengan
sembarangan saja dia menyahut: "Tidak, aku seorang
anak yatim piatu. Sebenarnya aku berasal dari desa Nyochun!"
Begitu pelahan Tong Ko mengucapkan jawabannya
itu, hingga hanya Kang Siang Yan seorang yang dapat
mendengarinya. Se-konyong2 tubuh Kang Siang Yan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tampak menggigil bergemetaran. Ketika ia angkat
tongkatnya, jelas kelihatan batang tongkat itu
bergetaran. Sudah tentu tak mengerti sekalian orang
dibuatnya. Mereka hanya saling berpandangan satu sama
lain karena heran atas kejadian itu.
Sebaliknya Tong Ko rasakan ada sambaran angin
keras berasal dari tongkat yang diacungkan oleh wanita
tua itu, hingga dia tersurut sampal 3 tindak. Mendadak
Kang Siang Yan tertawa keras sampai 3 kali, hingga
sampai menggetar bumi dan meretakkan batu2 gunung.
"Aku......... aku......... akhirnya......... " serunya.........
ter-putus2, dan belum kata2 selanjutnya dapat
diucapkan, berhentilah detak jantung Kang Siang Yan,
Trang......., tongkang besi yang diacungkan itu terkulai
jatuh keatas tanah. Batu digunung situ sangatlah
kerasnya, tapi begitu kejatuhan tongkat lalu
memuncratkan letikan api dan ujung tongkat itu
menyusup masuk sampai beberapa centi dalamnya.
Kembali suasana menjadi hening lelap. Ketika Tio
Jiang dan Yan-chiu buru2 menghampiri, didapatinya
wajah Kang Siang Yan bersenyum girang namun
sepasang matanya sudah pudar tak bersinar lagi. Tio
Jiang memeriksa pula (pergelangan tangan), ternyata
denyut darahnya sudah terhenti. Memang makin tinggi
ilmu kepandaian seseorang, makin besar bahaya yang
mengancam tubuhnya. Seorang tokoh yang telah
mencapai kesempurnaan macam Kang Siang Yan sewaktu2
kalau lengah, dapat terjerumus dalam bencana,
kalau tidak putus uratnya menjadi seorang invalid tentu
putus jiwanya. Soalnya terletak pada orang itu sendiri,
harus pandai mengekang setiap getaran perasaan
hatinya. Menghadapi segala apapun, se-kali2 tak boleh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
keliwat bergirang atau keliwat berduka. Kalau sampai
berbuat begitu, tenaga lwekangnya yang bergelombang
keras, menghantam urat2 nadi. Akibatnya, urat2 nadi
dan jalan darah dapat putus dan binasalah tentu.
Kematian Kang Siang Yan secara mendadak sontak tadi,
pun disebabkan karena getaran perasaan yang me-luap2.
Tio Jiang sukar untuk menjatuhkan persangkaannya.
Kalau kematian subonya dikarenakan membenci Tong
Ko, mengapa wajahnya menyungging senyum
kegirangan?
Tapi hal apakah yang menyebabkan sang subo begitu
kegirangan ini? Yan-chiu yang lebih cerdas segera
mengetahui bahwa dalam detik2 terakhir tadi sang subo
mengucapkan beberapa patah kata kepada Tong Ko.
Hanya karena keliwat pelahan jadi tiada seorangpun,
kecuali Tong Ko, yang mendengarnya.
"Tong Ko, pembicaraan apa yang kau lakukan dengan
subo tadi?" tanyanya kepada sianak muda.
Juga Tong Ko sendiri ter-heran2. Memang dia sudah
curiga mengapa baru saja pertama kali bertemu, wanita
tua itu sudah bersikap sedemikian menyayang terhadap
dirinya. Tadi dia hanya memberi penyahutan sekenanya
saja, tapi mengapa wanita itu sam pai begitu me-luap2
perasaannya hingga menemui ajal.
"Aku hanya mengatakan kalau aku kelahiran dari desa
Nyo-chun, lain tidak!" sahut Tong Ko.
---oo^dwkz0tah^oo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 04 : HUKUMAN MATI
"Ngaco! Masih berani berbohong ya?!” bentak Yanchiu
dengan murka.
Tong Ko benar2 penasaran. Maju selangkah dia
berkata dengan gagah: "Aku, Tong Ko, kepala boleh
kutung darah boleh mengucur, tapi selama hidup tak
pernah aku berdusta, Harap Liau locianpwe mengerti
akan hal itul"
Nada kata2nya keras, wajahnya tak gentar. Benar2 dia
seorang anak muda yang berhati baja.
"Kau bilang kepalamu boleh kutung? Baiklah, memang
hari ini akan kukutungi kepalantu itu!" seru Yan-chiu
sembari cabut pedang pusakanya, lalu bertanya kepada
sekalian orang: "Saudara2 sekalian, harus tidak orang
begini ini dibunuh?"
Oleh karena sudah mengetahui duduk perkaranya,
maka sekalian orang segera berseru dengan serempak:
"Harus!".
Tapi Tong Ko pun tak jeri, malah lantas tonjolkan
kepalanya menantang: "Tabaslah!"
Sebaliknya Yan-chiu malah tertegun kaget. Benar
kedosaan anak itu tak dapat diampuni lagi, tapi
sebaliknya dari minta ampun dia malah menyuruh minta
ditabas, hal ini membuatnya (Yan-chiu) terpesona
sendiri. Adalah Tio Jiang yang mengerti isi hati sang isteri
segera berkata kepada Tong Ko: "Tong Ko, meskipun
dosa-mu itu pantas dihukum mati, tapi mengingat selama
ini kaupun kecil2 juga mempunyai jasa kepada
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
perserekatan, maka kuberi keringanan supaya kau habisi
jiwamu sendiri dengan loncat turun dari puncak gunung!"
"Kalau sampai tidak mati lalu bagaimana?" tanya Tong
Ko.
Giok li-nia itu adalah sebuah puncak yang tingginya
ribuan meter. Loncat turun kebawah dan tak binasa,
adalah suatu hal yang mustahil dapat terjadi. Walaupun
ilmu kepandaiannya cetek, tapi Tio Jiang mengagumi
kejantanan anak muda itu. Maka tak ha. bislah herannya,
mengapa anak itu sampai menjadi penunjuk jalan
kawanan kuku garuda itu.
"Kalau tak mati, itulah peruntunganmu. Kuharap
selanjutnya kau dapat berobah menjadi orang baik!"
sahut Tia Jiang.
Mendengar itu, tertawalah Tong Ko dengan tawarnya.
"Kalau aku tak sampai binasa, kau adalah tuan
penolongku yang budiman, Tio pehpeh. Tapi maaf,
jangan tuduh aku tak kenal budi. Hinaan yang
dilemparkan isterimu kepadaku didepan sekian banyak
orang tadi, kelak aku pasti akan menuntut balas!"
Riuh rendahlah sekalian orang sama berisik. Yan-chiu
gontaikan pedangnya, dan ujung pedang itu sudah
melekat diulu punggung Tong Ko, namun anak muda itu
tetap bersikap tenang.
”Mah, ayah telah meluluskan dia untuk loncat dari atas
puncak, jangan kau turun tangan lagi!" tiba2 kedengaran
seorang nona berseru.
Tong Ko berpaling dan dapatkan nona itu adalah Tio
In, siapa dengan sepasang matanya yang bundar berTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
linang2 tengah mengawasi kepadanya. Teringat akan
cita2 yang dikandungnya selama ini yang ternyata
berakhir dengan kegagalan yang menyedihkan, hati Tong
Ko seperti diremas pedihnya. Cita2nya itu yalah agar dia
dapat diterima menjadi murid Siau-beng-siang Tio Jiang
d9n begitu dapatlah dia bergaul rapat dengan Tio In
untuk kemudian hari terangkap menjadi suami isteri yang
berbahagia.
Walaupun dalam keadaan seperti saat itu, dimana
semua orang sama mendakwanya sebagai kaki tangan
rombongan kuku garuda, dan dia rela menebus
kesalahannya itu dengan jiwanya, namun kalau
membayangkan betapa berbahagia cita2 yang
dikandungnya dahulu tapi yang kini ternyata hampa itu,
tak urung hatinya pilu juga.
Dengan pe-lahan2 dia ayunkan langkah ketepi batu
karang. Melongok kebawah, yang tampak hanyalah kabut
halimun yang menutup tebing curam. Fikirannya jauh
me-layang2 dan mulutnyapun menghela napas dalam2.
Kala dia hendak siap terjun, tiba2 dia teringat akan
sesuatu, pikirnya: "Walaupun sejak bertemu pertama kali
aku cinta pada nona Tio In, tapi karena, kepandaianku
begini dangkal, selama ini tak berani aku menyatakan Isi
hatiku kepadanya. Bukanlah kini aku sudah diambang
pintu kematian, mengapa tak menyatakan hal itu
kepadanya? Suara hatiku itu bersambut atau tidak, itu
bukan soal. Pokok, asal sudah kucurahkan, sebagal bekal
dialam bakal"
Ketika dia memutar tubuh, ternyata dibelakang sana
tampak ber-puluh2 pasang mata tengah mengawasi
kepadanya dengan pandangan heran. Tong Ko paksa
mulutnya tertawa, katanya kepada Tio Jiang: "Tio-peh,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sebelum mati aku hendak menyampaikan beberapa
patah kata kepada nona In!"
Tapi sebelum Tio Jiang dan Tio In menyahut, Yan-chiu
sudah menyemprotnya: "Tong Ko, belum cukupkah kau
membunuh anakku bungsu hingga kini hendak
mencelakai anak perempuanku lagi?" .
Tong Ko menghembuskan napas penasaran, ujarnya:
"Kalau memakai ukuran begitu memandang diriku,
sudahlah, kutarik saja permintaanku tadi!"
Baru Tong Ko hendak loncat kebawah, se-konyong2
ada sesosok tubuh loncat menghampiri dan berbareng itu
terdengar orang berseru "In-ji". Kiranya yang tiba
dihadapannya itu adalah Tio In, sedang yang
meneriakinya tadi adalah mamahnya. Dengan sepasang
mata yang bundar berlinang, nona itu menatap kearah
Tong Ko seraya berkata dengan suara berbisik: "Kalau
adikku tak sampai mengalaml nasib begitu mengenaskan,
mamah tentu takkan bersikap begitu kepadamu. Kau
hendak mengtakan apa, lekaslah nyatakan!"
Bahwa diantara sekian banyak orang yang sudah
membencinya, masih ada seorang Tio In yang tetap
memperhatikannya, telah membuat hati Tong Ko terhibur
sekali. Tapi oleh karena dia seorang pemuda yang tak
pandai merangkai kata2 muluk, jadi untuk beberapa saat
barulah dia dapat mengeluarkan perasaannya: "In-moay,
aku cinta padamu, apakah kau tak mengetahui?"
Mulut sinona berat untuk menyahut, melainkan
sepasang matanya yang berkicupan dan kepalanya
mengangguk, lalu loncat kebelakang lagi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ah, kirania ia juga suka padaku! Tapi apa gunanya,
sudah kasipl" kata Tong Ko didalam hati.
Oleh karena tampaknya dia ber-ayal2an tak mau
loncat turun kejurang, setengah orang pang beradat
keras segera memakinya: "Hai, binatang cilik, masih
sayang pada jiwamu ya?
Berbareng itu Tong Ko rasakan punggungnya dingin.
Ha, kiranya pedang pusaka kuan-wi-kiam milik Yan-ciu
sudah dilekatkan pada ulu punggungnya itu. Tong Ko
masih sempat melirik pada Tio In yang menelungkupi
sebuah batu, kedua bahu bergetaran karena tangisnya
meng-isak2 tubuh. Cepat dia dorongkan tangan
kebelakang untuk menghalau pedang Yan-chiu, serunya:
"Aku dapat loncat sendiri, tak usah didorong lagil"
Dengan wajah sedingin es. Yan-chiu bolang-balingkan
pedangnya menjadi suatu lingkaran sinar, hingga Tong
Ko cepat2 tarik pulang tangannya tadi itu. Namun jari
kelingking kirinya telah kena terpapas kutung. Ber-ketes2
darah segar menurun diatas batu gunung yang seputih
marmar warnanya.
"Ha...., ha...., ha....! Tak nyana bahwa Tong Ko yang
dianggap sebagai pengkhianat jahat, ternyata darahnya
juga merahl" seru Tong Ko sambil tertawa menengadah
kelangit. Habis itu dia segera ayunkan diri loncat
kebawah jurang.
Yan-chiu maju melongok dan dilihatnya anak muda itu
berjumpalitan 3 kali terus meluncur turun kebawah
jurang yang ter-tutup halimun itu. Kini barulah nyonyah
itu reda kemarahannya. Begitupun disana-sini orang
sama2 berisik membicarakan peristiwa itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Setelah itu, mereka ramai2 mengangkat jenazah Kang
Siang Yan kedalam paseban. Semua orang sama bubaran
kecuali Tio In seorang yang masih tertinggal dipuncak
situ. Ia se-olah2 terpaku kakinya ditempat Tong Ko
loncat kejurang tadi. Butir2 air matanya bercucuran turun
tepat jatuh diatas batu yang ketetesan darah Tong Ko
tadi. Darah dan air mata tercampur menjadi satu.
"Engkoh Ko, mengapa kau tak siang2 menyatakan isi
hatimu itu kepadaku?" katanya seorang diri seperti orang
mengingau. Oleh karena saat itu tiada lain orang lagi
yang berada disitu, jadi ia biarkan air matanya turun sebanyak2nya.
Entah sudah berapa lama, nona itu berdiri terpaku
ditempat itu. Tahu sudah ia bahwa dengan berserekat
sama kawanan kuku garuda, Tong Ko telah
mengakibatkan hancurkan pangkalan gerakan
menentang pemerintah Ceng, Nyo Kong-lim dan adiknya
sendiri turut berkorban jiwa.
Namun cinta itu memang aneh dan berpengaruh
besar. Iapun menyintai anak muda itu. Ini bukan dalam
waktu sehari dua saja. Tapi selama itu ia tak mau
memperlihatkan tanda2 Itu, disebabkan karena:
pertama, kepandaian Tong Ko masih sedemikian
dangkalnya sehingga pemuda itu menjadi takut untuk
menyatakan karena tahu diri.
kedua, memang sengaja la (Tio In) bersikap getas
supaya Tong Ko malu dan meyakinkan ilmu kepandaian
yang lebih tinggi.
Ah......, siapa tahu kini urusan itu menjadi kacau
balau. Dan yang paling membuatnya gegetun, pada
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
saat2 terakhir baru anak muda itu menyatakan isi
hatinya.
Hampir rembang petang, barulah Tio In ayunkan
langkahnya pe-lahan2 pulang. Oleh terjadinya peristiwa
yang menyedihkan itu. maka sekalian anggauta2
perserekatan Lo-hu-san menjadi lesu. Lebih2 Tio In, semalam2an
tak dapat tidur. Bantalnya basah kuyup
dengan air mata. Tengah malam tiba2 didengarnya diluar
jendela ada orang memanggil dengan pe-lahan2: "Inji....!
In-ji.....!"
Tahulah Tio In bahwa itu suara mamahnya, maka
dengan melipur getar bibir (menghapus kedukaan), la
buka pintu. Dan memang yang muncul itu adalah Yanchiu.
"In-ji, sebelum meninggal apa yang Tong Ko katakan
padamu?" tanya Yan-chiu dengan muka berseri senyum.
Sebagai dimanjakan, pecahlah tangis Tio In, ia
merangkul dada mamahnya seraya menjerit: "Mah!"
Sebagai wanita yang sudah banyak makan asam
garam, sepatah itu saja sudah cukup bagi Yan-chiu untuk
mengetahui keadaan sang puteri. Di-belai2nya rambut
anaknya itu, lalu berkata dengan menghela napas: "In-ji,
jangankan dia sudah hinasa, andaikata masih hiduppun,
rasanya tak layak kau serahkan hatimu pada pemuda
macam begitul"
"Entahlah, mahl" sahut Tio In tengadahkan kepala.
"Ah, karena ayahmu dan aku terlalu memanjakan
hingga kau sampai tak dapat mengetahui kejahatan
didunia ini. Sudahlah, nak, tidur sana!" kemball Yan-chiu
menghela napas lalu tinggalkan ruangan itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tio In terbenam dalam kehampaan lagi. Tiba2 terkilas
daiam pikirannya. "Ah, apa yang mamah katakan itu
memang benar. Terhadap perbuatan semacam itu,
bagaimana aku dapat mecintainya? Tapi karena kini dia
sudah meninggal, karena toh sudah tak dapat berbuat
kejahatan lagi, mengapa aku tak meninjau keadaannya?"
Tio In berbangkit menghampiri pintu. Pada lain kilas,
pikirannya membayangkan bagaimana keadaan tubuh
Tong Ko yang pasti akan hancur lebur mayatnya. Tak
terasa ia menjadi ngeri. Akhirnya ia mengambil putusan
untuk turun gunung menengoknya.
---oo^dwkz0tah^oo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 05 : SI LIMBUNG DAN SI
LINGLUNG
Sekarang marilah kita ikuti keadaan Tong Ko. Dikala
tubuhnya melayang turun kelembah curam, dia sudah
paserah nasib, sebab tentu mati. Tapi meluncur baru
beberapa tombak kebawah, diantara halimun lebat yang
menutup lembah itu terdengar ada dua orang tengah
bertengkar mulut, saling memaki dengan keras. Kiranya
tepat diatas sebuah batu raksasa yang menonjol
dilamping gunung situ, terdapat dua orang tengah
berkelahi. Yang satu seorang jangkung dan lawannya
seorang kate.
Belum lagi Tong Ko dapat melihat dengan perdata,
atau se-konyong2 dirasakannya ada suatu tenaga
dahsyat, menyampok keatas, hingga membuat luncuran
tubuhnya itu menjadi tercegah.
Ketika Tong Ko memperhatikannya, ternyata tenaga
dahsyat Itu berasal dari sebuah hantaman yang
dilancarkan oleh siraksasa.
"Apakah ajalku ini belum sampai?" pikir Tong Ko. Dan
baru benaknya memikir begitu, atau sepasang kakinya
terasa dicengkeram keras2 oleh tangan orang yang
ternyata adalah sijangkung raksasa itu.
Batu besar itu tak kurang darI 5 tombak luasnya.
Wut....., tiba2 sikate melesat kesamping seraya
menggerutu: "Toa-ko-ji (anak gede), hem...., kau pintar
mencari senjata ya? Serumpun janggutku yang panjang
ini, bulan yang lalu telah kalah main. Kalau tidak, tentu
akan kusuruhmu melihatnyal"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Siraksasa itu menggeram, maju setindak dia
hantamkan tubuh Tong Ko kearah sikate. Tong Ko
tenangkan perasaannya dan mencuri lihat kearah sikate.
Orang pendek Itu ternyata seorang tua, kepala gundul
pelontos dan janggutpun tiada barang selembar rambut.
Kalau bicara, mata dan hidungnya turut bergoyang naik
turun, aneh dan lucu sekali tampaknya. Dia ternyata tak
mau menghindar melainkan ulurkan tangannya untuk
mencengkeram lengan Tong Ko lalu ditarik kebelakang
se-kuat2nya.
Tong Ko segera rasakan ditarik oleh suatu tenaga
dahsyat hingga lengannya serasa terlepas dari bahunya.
Saking sakitnya, dia sampai mengucurkan keringat
dingin. Dan lebih celakanya lagi siraksasa tadipun
menarik lengannya (Tong Ko) yang satu kebelakang, jadi
kini anak itu dibuat barang tarikan. Hampir saja tubuh
Tong Ko robek dibuatnya.
"Hai......, kalian lepaskan dulu akul" teriaknya
kebingungan. Rupanya kedua orang aneh itu sama
terkesiap kaget hingga saling lepaskan cekalannya.
Bum......, Tong Ko menggeIepar diatas batu, hampir
sedikit saja dia menggelundung kebawah jurang lagi.
"Astagafirullah......., kiranya kau ini seorang manusia
hidup, mengapa tak siang2 bersuara?" tanya sikate dan
sijangkung dengan .serentak.
Tong Ko berbangkit dan kedua orang aneh itupun
tertawa gelak2 melihatnya.
"Begitu meluncur tadi, kalian terus mementang
lenganku, mana aku dapat bersuara lagi?" sahut Tong
Ko.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sikate berjingkrak sampai beberapa kaki tingginya lalu
ber-tepuk2 tangan, serunya: "Huh, toa-ko-ji, tadi sudah
berjanji tak menggunakan senjata, mengapa kau
gunakan anak itu sebagai senjata, kau kalah artinyal"
Siraksasa terbeliak kaget, walaupun tak terima tapi
mulutnya tak dapat membela diri. Hanya selebar
mukanya yang merah seperti kepiting direbus.
"Bah senjata Itu tiba dari langit, mungkin lo-thiankong
(Tuhan Allah) mau membantu aku, masa hal ini tak
dianggap biji. Nah, akulah yang menangl" jawab si
raksasa jangkung itu.
Mendengar kata2 mereka, tahulah Tong Ko bahwa kini
dia sedang berhadapan dengan orang limbung dan orang
linglung!
"Toa-ko-ji, jangan ribut2. Kau bilang aku yang kalah
dan aku kata kau yang keok. Baik kita cari juri yang bisa
bicara adil!" seru sikate.
"Bagus!" sahut sijangkung, tapi pada lain saat dia
tampak kerutkan alis, ujarnya: "tetapi tempat ini
ditengah awang2, tidak dilangit bukan ditanah,
bagaimana akan mencari juri?"
Sikate tertawa mengekeh lalu menuding pada Tong
Ko: "Apa dia bukan?"
Tong Ko terkesiap kaget, dilihatnya mulut sikate itu
menyeringai men-desis2 sepertI tikus mencicit, namun
dengan jelas sekali telinganya dapat mendengar setiap
patah yang diucapkan. "Buyung, cukup sepatah kau
katakan aku yang menang, nanti kuberi suatu kebaikan
yang besar sekali kepadamu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sekalipun kepandaian Tong Ko itu dangkal, tapi
pengalamannya cukup luas. Dilihatnya sijangkung tadi
masih ter-longong2 disamping, jadi terang kalau kata2
sikate tadi hanya dia sendiri yang dapat mendengarnya,
amboi, suatu ilmu lwekang coan-im-jipti (menyusupkan
suara) yang tiada taranya. Tapi dia heran memikirkan,
mengapa seorang tua yang sedemikian lihaynya, kok
limbung tak keruan begitu? Masakan dia disuruh jadi juri
tapi dlsuruh mengatakan dia yang menang!
Ya, mengapa kedua orang tak genah itu gasak2an?
Dan siapakah mereka itu? Tong Ko tak mau
sembarangan memberi penyahutan, karena dia merasa
namanya sudah jatuh. Tapi sebaliknya sikate itu
menunjukkan muka setan kepadanya, sikapnya berseri2
kegirangan. Baru Tong Ko hendak membuka mulut
menyatakan keberatan, siraksasa sudah ulurkan tangan
untuk memijat bahunya, hingga Tong Ko gentayangan
ngerusuk kedekatnya. Kiranya siraksasa itupun membisiki
kedekat telinganya: "Siaoko, jangan se-kali2 kau katakan
dia menang! Awas, nanti kulempar tubuhmu kebawah
lembah supaya hancur lebur! Ketahuilah, sikate itu tak
dapat menangkan aku, tak usah kau membantunya!"
Setelah itu, kembali sikate menyentakkan Tong Ko
kearahnya dan membisiki supaia mengatakan sijangkung
itu yang kalah. Benar2 Tong. Ko serba sulit
kedudukannya. Hendak mengatakan bagaimana dia
nantI? Apabila sijangkung telah melepaskan cekalannya,
maka kedua orang limbung itu serentak berseru:
"Buyung, katakanlah lekasl"
Diam2 Tong Ko menarik kesimpulan bahwa kedua
orang itu tentulah bukan orang baik, mereka tentu tak
mau kalah satu sama lain. Tapi menilik kedua orang itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
limbung semua, jadi tentulah tak dapat diajak bicara
genah. Tiba2 timbullah akal pada Tong Ko. Lebih dahulu
dia menyorong kedekat siraksasa dan berkata: "Sudah
tentu kaulah yang menang"
Saking girangnya sijangkung raksasa itu me-lonjak2,
sampai Tong Ko cemas sendiri melihatnya jangan2 nanti
tergelincir kebawah lembah. Tampak mata sikate
terbelalak, buru2 Tong Ko menghampiri dan berbisik pelahan2:
"Lo-cianpwe kau menangi Si jangkung itu bukan
tandinganmul"
Menjeritlah mulut sikate "buyung yang baik", dan lalu
me-nari2. Keduanya tak mengerti apa yang dikatakan
Tong Ko kepada. masing2 orang, tapi mereka sama
menganggap dirinyalah yang menang. Kala Tong Ko
masih heran memikirkan kelakuan aneh dari kedua orang
itu, tiba2 kedua belah lengannya terasa ditarik kencang.
Hal, celaka! Kiranya dia akan dibuat tarikan lagi oleh
kedua orang limbung itu. Sudah tentu kejutnya bukan
alang kepalang. Tapi belum lagi dia membuka mulut
mencegahnya, kedua orang itu terdengar berseru: "Kau
benar2 seorang anak yang baik!"
Berbareng pada saat itu, telapak tangan kiri dan
kanan, digenggam oleh tangan sikate dan suatu aliran
hawa hangat, menyalur dari telapak tangan keseluruh
tubuhnya. Dari takut Tong Kong berbalik menjadi
kegirangan luar biasa. Terang kalau sikate itu telah
memberi saluran lwekang untuk memperkuat
lwekangnya (Tong Ko). Cara bantuan macam itu,
memang lekas sekali dapat memperkokoh yang
menerima tapi sebaliknya merugikan lwekang orang yang
memberinya. Menilik kelihayan sikate itu, buru2 Tong Ko
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pusatkan semangatnya untuk menyalurkan hawa didalam
tubuhnya.
Dengan gembira ria berkatalah sikate kepada
sijangkung: '"Toa-ko-ji, ayuh kita bertanding lagi,
siapakah yang dapat membikin tenaga anak ini maju
pesat dalam waktu yang singkat? Kau tentu tak mampu,
lekas lepaskan tanganmu!"
Siraksasa jangkung keruntukan kening, serunya: "Bah,
bagaimana kau tahu aku tak mampu?l"
Dilihatinya luka pada jari kelingking kiri Tong Ko dan
berserulah si jangkung itu dengan kegirangan: "Ho......,
ho......, tak mampu?" Tiba2 digigitnya sendiri ujung
kelingkingnya, lalu kelingking itu ditusukkan pada luka
dijari Tong Ko. Aduh mah, sakitnya jangan dikata lagi.
Peluh didahi Tong Ko sampai meng-anak sungai
bercucuran.
"Siauko, jangan takut sakit. Sewaktu kecil aku pernah
makan darah ikan kakap berumur ratusan sehingga
tenagaku luar biasa kuatnya. Kebetulan kau mempunyai
luka dan akan kuberikan sedikit darahku, tentu tenagamu
akan istimewa juga!" kata sijangkung.
Kembali Tong Ko terperanjat girang, ikan kakap
berumur ratusan adalah binatang yang jarang terdapat.
Kalau toa-ko-ji itu pernah meminum darahnya dan
ditambah pula dengan ber-tahun2 meyakinkan lwekang,
wah dia (Tong Ko) tentu akan mendapat manfaat yang
hebat sekali. Rasanya lebih hebat dari minum segala
macam obat kuat atau pil dewa.
Pernah dia mendengar tentang seorang tokoh dalam
dunia persilatan daerah Hokkian, dia seorang bernama
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ciang Tay-lo, bergelar Soa-kim-kong (malaekat dungu).
Dia pernah mengikut Coxinga (The Seng Kong) melawan
pemerintah Ceng. Dengan menghancurkan pertahanan
musuh disungai Tiangkang, dia terus memimpin anak
buahnya maju sampai ke Tinkang, sehingga membuat
pemerintah Ceng kelabakan. Tapi akhirnya terpaksa
mundur ke Taiwan dan entah bagaimana kabar ceritanya
Iebih jauh.
Kalau menilik dia itu menggunakan logat Hokkian,
jangan2 itu si Soa-kim-konglahl
"Adakah ciangpwe ini seperti yang digelari orang
sebagai Soa-kim-kong Ciang Tay-lo?" tanyanya ter-sipu2.
Siraksasa deliki mata kepada sikate, serunya: "Kate,
benar tidak kataku? Bocah semacam diapun kenal juga
namaku, apa katamu lagi?"
Sikate pelembungan pipinya lalu menyembur kata2
nyaring kepada Tong Ko: "Hoi, lekas katakan, siapa aku
ini?"
Oleh karena Tong Ko tak pernah mendengar orang
persilatan bercerita tentang seorang tokoh yang
bertubuh kate, maka diapun tak dapat menyahut. Ujung
batok kepala sikate mengeluarkan keringat" lalu dengan
ilmu "coan-im-jip-bi", dia kisiki telinga Tong Ko: "Buyung,
aku ini adalah Sik Lo-sam yang termasyhur, tingkatanku
sejajar dengan guru dari kim-kong tolol itu. Huh, baru
saja kukehilangan janggut, kau sudah tak mengenali
lagi?" .
"Ai, kiranya kau ini adalah Sik Lo-sam Sik locianpwe
yang namanya termasyhur itul" terpaksa Tong Ko
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berseru, namun tak mau dia menambahkan komentar
"sejajar dengan suhu dari soa-kimkong"
"Ho, bocah gede, apa katamu?" tanya sikate kepada si
raksasa. Yang belakangan ini tak dapat menyahut apa2
lagi.
Dalam pada itu Tong Ko rasakan separoh badannya
yang sebelah kanan dan separoh yang sebelah kiri,
berlainan: Hawa tun-yang (positip murni) yang disalurkan
Sik Lo-sam melalui tangannya kanan, mengalir dengan
derasnya ketubuh. Tapi biar bagaimana juga tak dapat
mengalir keseparoh tubuhnya sebelah kiri. Jadi serasa
tubuh Tong Ko itu dibelah dua dan jadilah dia dua
macam manusia. Sebelah kiri darahnya panas,
kekuatannya besar sekali. Hawa yang terputar pada
bagian tubuh sebelah itu, merupakan dasar lwekang
yang berlainan dari tubuh sebelah kanan. Dua macam
lwekang "memasak" tubuh Tong Ko, sehingga dia sendiri
tak tahu bakal celakakah atau untungkah? Apa boleh
buat, dia hanya paserah nasib saja!
Tak berapa lama kemudian, walaupun ujung
kelingking si Soakim-kong itu masih melekat pada luka
kelingking Tong Ko, namun sudah tak mengeluarkan
darah lagi. Seperti Sik Lo-sam, orang limbung yang
bertubuh tinggi besar itu menyalurkan Iwekangnya
kepada Tong Ko. Dua2nya sama ngotot tak mau sudah.
Haripun sudah menjelang petang. Jadi dalam setengah
harian itu, Tong Ko telah menerima "bantuan" yang
besar sekali. Kalau saja bermula dia sudah mempunyai
dasar Iwekang, dia tentu bagaikan seekor ikan yang
mendapat air. Sayangnya dia berkepandaian dangkal,
jadi lama kelamaan tak tahan menerimanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ji-wi, harap lepaskanl" serunya dengan gugup.
Sungguhpun kedua orang itu limbung pikirannia, tapi
dalam soal kepandaian mereka adalah tergolong tokoh
kelas utama. Mereka segera lepaskan cekalannya. Tong
Ko lalu duduk bersila diatas permukaan batu itu untuk
meyakinkan lwekangnya. Kini benar2 dia rasakan didalam
tubuhnya itu terdapat dua macam lwekang, begitu pula
tenaganyapun seperti terpecah menjadi dua. Yang satu
berpusat disebelah kiri dan yang lain disebelah kanan.
Sekalipun dapat digunakan berbareng, tapi dua2nya
mempunyai daya guna berlainan,
Tong Ko kaget tercampur girang. Kaget, karena
memikirkan adakah keadaan itu bakal berlangsung terus.
Kelak apabila dalam latihan, tidaklah kedua macam
lwekang itu kan berbenturan sendiri? Girang, sebab ilmu
kepandaian yang sedemikian luar biasanya itu, rasanya
dikolong langit ini hanya dia seorang yang memiliki.
Kalau saja hal itu tak menjadi halangan dan dapat dilatih
dengan sempurna bukantah akan merupakan suatu
keistimewaan besar?
Dia lanjuntukan latihannya itu sampal semalam
suntuk. Keesokan harinya tatkala mataharai terbit,
dilihatnya Sik Lo-sam dan Soa kim-kong masih saling
pencelengan (saling deliki mata). Wajah mereka saling
mengunjuk sikap tak mau kalah. Begitu melihat Tong Ko
membuka mata, serempak mereka bertanya: "Siapakah
yang lwekangnya lebih jempol?"
Dikarenakan kedua orang limbung itu saling mengukur
kepandaian, jadi dia bisa mendapat keuntungangan yang
sedemikian bagusnya. Hal itu sungguh jarang terdapat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
didunia. Memikir sampai disitu, tak mau Tong Ko
mempermainkan mereka lagi, katanya:
"Oleh karena sekarang belum dapat diketahui siapa
kalah siapa menang, lebih baik diundur sampai setahun
lagi, nanti kita bertiga berjumpa lagi disini. Aku tentu
akan mengatakan yang se-adil2nya!"
"Tidak, kalau sampai waktunya kau tidak datang, kan
berabe! Kalau sekarang kau tak dapat mengatakan, kita
akan tunggui kau diatas batu ini sampal setahun untuk
menungkuli kau berlatih selama satu tahun!"
Tong Ko terkesiap. Setelah dapat kembali dari maut,
telah berapa banyak hal yang hendak dia kerjakan. Satu
tahun di "simpan", disitu, aduh mak, sakit rasanya. Tapi
menilik kesungguhan kata sikate tadi, dia tak berani
membantah.
---oo^dwkz0tah^oo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 06 : SEBUAH PERTEMUAN
Selagi Tong Ko kebingungan, tiba2 terdengar suatu
bunyi suitan yang nyaring bening, bagaikan kokok seekor
bangau. Suitan itu makin lama makin kuat, dia melongok
kebawah, tampak ada seorang pemuda tengah merayap
keatas dengan menggelantung pada tumbuhan rotan.
Begitu cepat cara dia merayap itu, hingga dalam
beberapa kejab saja setelah ayunkan tubuh, dapat dia
berdiri jejak diatas permukaan batu situ. Hai, kiranya dia
itu seorang anak sekolah yang parasnya cakap tapi agak
hitam manis kulitannya.
Pertama melihat, entah bagaimana, Tong Ko
mempunyai rasa symphati kepada anak muda itu.
Anehnya, kalau hendak naik keatas gunung mengapa
pemuda itu tak melalui jalanan gunung saja tetapi
memanjat cara begitu? Astaga, teringat dia sekarang
soalnya. Diatas, adalah puncak Giok-li-nia, markas utama
dari pusat anasir penentang penjajah Ceng. Ditilik
rupanya, pemuda itu tentu bukan orang baik,
kemungkinan besar dia tentu hendak menyelidiki markas
Giok-li-nia.
Secepat mendapat dugaan itu, secepat itu pula Tong
Ko maju menyongsong kemuka, seraya menegurnya
dengan keras: "Sahabat, kalau naik keatas mengapa tak
mau ambil jalan digunung, tetapi menggunakan cara
monyet begitu?"
Pemuda itu terkesiap, sahutnya: "Aku sedang
mencoba ilmuku mengentengi tubuh, apakah
mengganggu padamu? Mengapa kau ucapkan kata2 yang
melukai perasaan orang?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Siapakah nama sahabat ini?" tanya pula Tong Ko
yang sudah tentu tak mau percaya begitu saja. Tetapi
rupanya pemuda itupun kurang senang dibuatnya.
"Aku tak mau mengatakan padamu, coba kau hendak
berbuat apa?" sahutnya. Makin keras dugaan Tong Ko
bahwa pemuda sekolahan itu tentu seorang jahat.
Tanpa ragu2 lagi dia kirim sebuah pukulan. Tapi dia
sendiri segera terkejut, ketika didapatinya bahwa hanya
dalam semalam saja kini daya pukulannya sudah berobah
sedemikian kerasnya. Ai...... kalau anak sekolah itu tak
kuat menahan, bukantah akan jauh kedalam lembah
sana? Buru2 dia tarik pulang pukulannya, tapi dalam
pada itu sipemudapun sudah menghindar dan tahu2 dia
mengambil sebuah senjata yang aneh bentuknya, dari
atas kepala.
GAMBAR 04
Siapakah engkau sahabat? Tanya Tong Ko dengan
curiga sembari melontarkan pukulan. Akan tetapi si
pemudah sekolahan itu cepat mengeluarkan semacam
senjata aneh, senjata itu berbentuk kelintingan berduri
dan berantai. Dengan genggaman itu, dia terus balas
menyerang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kiranya senjata itu adalah sebuah rantai halus
sepanjang satu meteran. Kedua ujungnya saling
menggandeng dan ditengahnya dicanteli sebuah
kelinting, persis seperti mainan anak2 yang dipakai diatas
kopiah, hanya lebih besar dan diatas kelinting itu diberi
ujung yang tajam. Begitu disabatkan, ujung kelinting itu
mengancam telapak tangan Tong Ko. Coba tadi Tong Ko
tak menarik pulang tangannya, pastilah akan sudah
terjadi benturan yang menentukan pertempuran itu.
Adalah Soa-kim-kong Ciang Tay-lo dan Sik Lo Sam
yang melihat Tong Ko bertempur dengan anak muda itu,
segera sama2 berseru: "Kita mau ikut juga !"
Yang satu dari kiri dan yang lain dari kanan, serentak
sama menyerbu. Belum orangnya tiba, sambaran
anginnya sudah menyiak. Saking kagetnya sianak muda
itu mundur beberapa tindak dan lupalah seketika dia
kalau dibelakangnya itu adalah udara kosong. Tak ampun
lagi terjungkal dia kebawah lembah yang dalamnya
ratusan tombak itu...............
Tong Ko juga terperanjat sekali.
"Mengapa kalian berdua belum tahu hitam putihnya
sudah lantas mendorong orang jatuh kebawah?" serunya
dengan geram.
Sik Lo-sam dan Soa-kim-kong deliki mata, menyahut:
"Hai, bukantah kau sendiri yang mengatakan kalau dia
itu orang busuk?!" Tong Ko bohwat (tobat) terhadap dua
orang limbung itu. Tak habis getunnya dia memikirkan
anak muda tadi. Dia sendiri belum tahu benar siapakah
orang itu. Ya, kalau dia itu memang seorang jahat itu sih
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tak mengapa, tapi kalau tidak, bukantah berarti dia yang
mencelakainya ?
Kalau dia masih terbenam dalam keraguan, adalah
kedua orang limbung itu, sudah bertengkar lagi. Tong Ko
tak hiraukan mereka, melainkan melongok kebawah.
Tiba2 didengarnya ada suara orang mengerang. Rupanya
suara erangan sianak muda tadi. Tong Ko seorang anak
muda yang ber-sungguh2. Bukan melainkan wataknya
saja yang keras, tapipun terhadap segala apa dia tentu
mau tahu sampai jelas betul. Dia tetap merasa getun
telah menyebabkan anak muda tadi terperosok jatuh
kebawah. Menilik suara erangan tadi, jangan2 anak
muda itu masih belum binasa. Lain orang mungkin akan
mencari jalan untuk menolongnya, tapi beda halnya
dengan Tong Ko yang berpendapat begini: "Kalau dia tak
sampai terjatuh mati, masa aku dapat. Ah, seharusnya
aku menolongnya !"
Dan sehabis berpikir begitu, tanpa ditimbang lebih
jauh, dia segera ayunkan tubuh loncat kebawah. Kiranya
dalam lembah itu penuh diselimuti halimun tebal hingga
selebih pada jarak setombak, Tong Ko tak dapat melihat
apa2 lagi. Kira2 tiga empat tombak meluncur kebawah,
tiba2 tubuh Tong Ko kecantel oleh sebuah dahan puhun
siong. Dahan puhun itu me-lingkar2 kesamping sampai
beberapa tombak luasnya dan kebenaran sekali dapat
mengait tubuh Tong Ko tadi.
Tong Ko beranggapan bahwa tentulah pemuda itu
juga kecantel disitu, tapi entah dimana. Maka setelah
memulangkan napas, dia lalu berseru pe-lahan2:
"Sahabat, kau dimana ................. "
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Belum habis Tong Ko menyerukan kata2nya, tring......,
kedengaran bunyi kelinting melayang disusul dengan
munculnya sianak sekolahan tadi yang menginjak pada
sebuah dahan kecil sebesar jari tangan. Tubuhnya lemah
gemulai, makin mengunjuk gerakannya sangat lincah.
Oleh karena Tong Ko tak keburu menghindar lagi,
maka dia terpaksa berjumpalitan, tangannya menyambar
sebuah dahan terus ayunkan tubuh diatas puhun.
Ah......, tak kira kalau dia dapat berbuat begitu. Kiranya
dalam semalam saja, kini ilmunya lwekang dan
mengentengi tubuh telah bertambah maju dengan pesat
sekali.
Tapi anak sekolahan itu tak mau sudah. Setelah
meloncati dua buah dahan, dia susulkan lagi kim-leng
(kelinting) menghantam jalan darah lo-tong-hiat didada
Tong Ko.
Rantai kelinting itu karena digerakkan dengan
lwekang, dapat menjadi lurus seperti sebatang pena.
Cukup dengan dorongan beberapa dim kemuka, dada
Tong Ko pasti tertusuk dengan kelinting berduri itu.
Syukur dia berhenti sampai disitu saja dan nanya
bertanya: "Kau ini orang apa, mengapa terus2an hendak
mengambil jiwaku? Aku sudah jatuh kebawah, masakan
kau masih mengejar kemari?"
Memang Tong Ko sendiri heran pada dirinya, mengapa
dia tak tega pada anak muda itu. Sebaliknya orang yang
dipikirkan itu. begitu bertemu lantas mendamprat, dikira
kalau mau dibunuh. Ah, tentu dia salah faham, pikir Tong
Ko.
"Sahabat, kau salah terka. Karena kedua orang
limbung tadi telah mendesakmu jatuh kebawah, demi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kudengar kau mengerang, hatiku tak enak lalu buru2
turun hendak menolongmul" Tong Ko cepat2
menerangkan, sembari mengawasi lekat2 pada pemuda
sekolahan itu. Dilihatnya pakaian warna hijau dari anak
itu sudah banyak yang rompang ramping tertusuk
cabang puhun. Sampai pun pada bagian pundak kiri
kelihatan juga pakaiannya dalam.
Dilihati macam begitu, merah padam selebar muka
pemuda itu.
"Mengapa kau mengawasi begitu rupa ............. oh,
jadinya kau ini berhati baik?"
Teringat Tong Ko akan dirinya yang sering dibuat
bulan2an orang, mengatakan dirinya itu cantik seperti
seorang gadis. Tapi diam2 dia memperhatikan gerak
gerik pemuda sekolahan itupun menyerupal seorang
gadis juga. Rasa symphatinya makin besar.
"Asal kau bukan kaki tangan pemerintah Ceng, aku
takkan kecewa datang kemari menolongmu," katanya.
"Amboi, kau salah duga. Aku ini seorang kaki tangan
Ceng, nah, kau mau apa?" ujar pemuda Itu dengan
tertawa. Tangannya menjulur dan duri kelintingpun
mengancam Tong Ko. Dalam gugupnya Tong Ko
suruntukan dada, tangannya kiri menabas. Tapi belum
pukulan tiba, bagaikan seekor burung bangau tersentak
kaget, pemuda itu sudah ayunkan tubuh hinggap pada
sebuah dahan lain, kira2 setombak jauhnya. Malah disitu
dia perdengarkan suaranya ketawa mengikik. Pukulan
Tong Ko tadi, hanya mematahkan sebuah dahan. Geram
Tong Ko bukan kepalang demi mendengar pemuda itu
seorang kaki tangan pemerintah Ceng. Teringat dia akan
"kopi pahit" yang ditelannya dari rombongan sikaki satu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sin Tok, sehingga kini dirinya diasingkan oleh
perserekatan orang gagah. Dia siapkan tangan kiri, tanpa
hiraukan suatu apa lagi, dia terus menyerang lagi.
"Hai, mengapa kau juga seorang limbung?" tiba2
kedengaran pemuda itu berseru. Tapi katena tak
mendengarnya, tubuh dan pukulan Tong Ko tadi sudah
tiba malah dia susuli lagi dengan tangannya kanan. Dua
buah pukulan lwekang yang berlainan gayanya,
berbareng menghantam dan terpentallah kelinting orang
itu sampai setengah meter.
Sebenarnya Tong Ko hendak ganti serangan lagi
dengan lain jurus, tapi karena memangnya ilmu silatnya
masih dangkal, jadi sekalipun dia telah memperoleh ilmu
kesaktian yang mujijad namun temponya hanya dalam
semalam, jadi biar bagaimana dia tetap tak berdaya.
Maunya sih hendak merobah gerakan, tapi kakinya malah
terpeleset dan orangnyapun segera jatuh dihadapan
pemuda sekolahan itu.
Pemuda itu menjerit kaget. Jelas kelihatan oleh Tong
Ko bahwa kalau mau, sebenarnya pemuda itu dapat
menghantamkan kelinting durinya. Tapi untuk
keheranannya, pemuda itu malah ulurkan lengan kiri
untuk menahan lengan Tong Ko supaya tak jatuh.
Seperti diketahui lengan kiri Tong Ko itu sudah
dihembus dengan saluran lwekang Soa-kim-kong, jadi
tenaganya kuat bukan kepalang. Kebetulan lengan
pemuda itu mencekal lengan kiri Tong Ko dan tanpa
disadari, Tong Ko telah memberi reaksi meronta. Begitu
dahsyat tenaga yang ditimbulkan oleh gerakan Tong Ko
itu, hingga terpaksa pemuda itu lepaskan niatnya untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mencekal. Dan oleh karena itu, Tong Ko tetap ngerusuk
menjatuhi pemuda itu.
Tong Ko mengetahui jelas, bahwa pemuda itu tak
bersikap bermusuhan. Kuatir kalau mencelakainya, buru2
Tong Ko pentang tangannya untuk merangkul, dan
terpeluklah pemuda itu didalam dadanya. Tiba2 pemuda
itu meronta se-kuat2nya. Karena kehilangan
keseimbangan badan, mereka berdua sama jatuh
kebawah. Syukur Tong Ko dapat bergerak dengan
tangkas untuk menyambar sebuah dahan dibuat
gandulan. Demi dilihatnya pemuda sekolahan itu
meluncur disebelah bawahnya, buru2 dia turunkan
kakinya seraya berseru: "Lekas, cekal kakikul"
Pemuda Itupun menurut dan tepat dapat menangkap
kaki kiri Tong Ko. Dengan begitu, terhindarlah dia dari
jatuh kebawah lembah,
"Hai...... sungguh berbahaya!" serunya dengan lega.
Tong Ko pun kucurkan keringat dingin, ujarnya: "Kalau
tadi kau tak meronta se-kuat2 nya, tentu tak terjadi
begini".
Kembali muka sipemuda itu merah jambu, sahutnya:
"Kalau tadi kau tak main peluk, tentu tak terjadi begini!"
Tiba2 tersadarlah Tong Ko bahwa pemuda yang
ditolongnya itu adalah seorang kaki tangan pemerintah
Ceng. Pemuda itu walaupun muda usianya, tapi memiliki
kepandaian yang bagus. Mungkin dia tersesat jalan,
salah pilih. Kalau dapat dia (Tong Ko) menginsyafkan,
alangkah baiknya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Sahabat, siapakah namamu? Mengapa dapat
berhamba pada pemerintah Ceng?" tanyanya dengan
nada ber-sungguh2.
Sepasang biji mata pemuda itu ber-kicup2, sikapnya
aneh sekali.
"Entahlah, aku tak tahu sendiri. Sekali tak ber-hati2
lalu menjadi anak cucu kuku garudal"
Tong Ko terbeliak. Masakan ada orang menyebut anak
cucu kuku garuda?
"Sebenarnya bagaimanakah duduk perkaranya,
bolehkah aku mengetahuinya?" tanyanya kemudian,
"Sudah tentu boleh. Ketika aku menuju ke Lo-hu-san
hendak mencari seseorang, dilamping gunung aku
berpapasan dengan dua orang lelaki gagah dan seorang
pendek yang limbung. Sipendek itu mengatakan aku
bukan orang baik. Nah, apa dayaku?" kata sipemuda
sambil tertawa.
Mendengar keterangan itu, berserulah Tong Ko
dengan gembira: "Ha, kiranya kau bukan seorang hamba
penjajah!"
"Biarpun bukan hamba Ceng, tapi dikatakan bukan
orang baik, juga sami mawon (serupa saja)!" sahut
sipemuda pula.
"Tapi kau kan bukan kaki tangan pemerintah Ceng
benar2 toh?" Tong Ko balas tertawa. Dia malu sendiri,
mengapa saking keliwat ber-hati2 dia sudah menyangka
jelek pada orang baik. Ujarnya pula: "Sahabat, jangan
kau menertawaiku. Tadi aku sudah salah lihat, apalagi
baru saja aku mendapat fitnahan dari gerombolan taylwe
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ko-thyiu (jagoan lihay istana Ceng), si Tok-kak-sin-mo
Sin Tok dan-kawan2, makanya aku sampai kesalahan
padamu tadi."
Tanpa diminta, Tong Ko lalu tuturkan apa yang telah
dialaminya karena difitnah itu. Perkampungan rakyat
habis dibakar, Nyo Kong-lim dan putera bungsu Siaubeng-
siang Tio Jiang binasa dan akhirnya dia harus
menebus dosa disuruh loncat dari atas puncak gunung.
"Diantara sekian banyak orang, masakan tiada
seorangpun yang mempercayai kejujuranmu?" tanya
sipemuda dengan membelalakkan mata.
Tong Ko menghela napas, sahutnya: "Apa guna aku
berdebat? Siapa yang sudi percaya padaku?"
"Aku!" serentak pemuda itu menyahut tanpa ragu2.
Begitu tetap nada suaranya, hingga hati Tong Ko
tergerak. Diam2 dia memikir: "aku baru saja berkenalan
dengan dia, apalagi tadi hampir saja kucelakai dirinya,
tapi dia tetap percaya padaku. Ah....., sungguh jarang
terdapat orang macam begitu. Sedang Tio In yang
menyintai akupun rasanya belum tentu mau menaruh
kepercayaan padaku". "
"Kukuatir yang mau mempercayai diriku, hanya
saudara seorang sajalah!" buru2 Tong Ko menyanggapi.
"Ah, usah main sungkan. Ayuh, kita naik keatas
gunung atau turun. Kita harus lekas2 menetapkan
rencana tak boleh terus menerus ter-katung2 disini" kata
sipemuda.
Memang pada saat itu, Tong Ko sendiripun sudah
rasakan boyoknya (pinggang) pegal karena diganduli
oleh sipemuda. Tapi tempat itu tepat ditengah angkasa,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
langit tidak bumipun bukan. Jadi dia sendiri tak tahu
bagaimana harus bertindak, Mereka berunding, tapi tetap
tak dapat menemukan cara yang baik untuk
menghindarkan diri
Selagi keduanya dalam keputusan akal, tiba2
kedengaran ada suara cuwat-cuwit yang keras. Dalam
bebrapa kejab, entah ada berapa puluh ekor kera sama
loncat menghampiri. Pemuda itu mendadak tampak
kegirangan dan mulutnya tak henti2-nya bersuit nyaring.
Nada suitan itu menyerupai dengan cuwat-cuwit
kawanan kera tadi. Pada lain saat, kawanan kera itu
sama naik keatas puhun dan mengerumuni sipemuda.
Rupanya mereka sangat menyayanginya. Ada beberapa
ekor kera yang menggelandoti Tong Ko, hingga
membuatnya mendongkol sekali. Sudah hampir setengah
harian, dia bergelantungan pada dahan sembari kakinya
diganduli sipemuda, kini masih ditambahi beratnya lagi
dengan kera2 itu. Bukan saja makin berat, pun juga
terasa keri (geli).
Berulang kali dia memaki2, namun kera2 itu tak
menghiraukannya. Sebaliknya sipemuda itu malah
tertawa riang.
"Sahabat, rupanya kau dapat berbahasa kera,
mengapa tak lekas2 menghalau mereka?" akhirnya
saking tak kuat menahan kemengkalan hatinya, Tong Ko
menggerutu.
"Ho, bukan saja tak menghalau malah hendak kusuruh
mereka makin dekat kemari. Kawaran kera itu adalah
piaraanku, coba kau lihat, menyenangkan tidak?" jawab
sipemuda itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tong Ko heran dibuatnya, masakan ada orang piara
sekian banyak kera. Diawasinya kawanan binatang itu
dengan perdata. Bulunya mengkilap ke-perak2an,
matanya berwarna merah, tangannya luar biasa
panjangnya. Jumlahnya tak kurang dari tujuh sampai
delapan puluh ekor.
"Kalau kau tak mau menghalau mereka, aku sungguh
tak kuat bertahan lagi lo!" serunya dengan berang.
Sipemuda kembali bersuit keras dan se-konyong2
melayanglah dua ekor kera besar setinggi manusia,
hinggap pada dahan situ. Begitu kedua binatang itu tiba,
kawanan kera kecil2 sama diam.
"Tay-gin, Siau-gin, lekas panggul aku dan sahabat itu
turun gunung!" seru sipemuda.
Salah seekor segera ulurkan lenngannya menyanggapi
tubuh sipemuda terus dipanggul dipunggungnya. Sedang
yang seekor lagi, hanya mengawasi Tong Ko saja tapi tak
mau mengapa-apakannya.
"Binatang kurang ajar, orang itu adalah sahabatku,
mengapa tak lekas dipanggul! Awas, nanti kuhajar kaul"
seru sipemuda sekolahan. Rupanya kera itu mengerti dan
unjuk rupa ketakutan. Sekali ulurkan tangan, Tong Ko
sudah segera berada dipunggung bintang itu.
Pemuda itu kembali bersuit lagi dan kawanan kerapun
sama cuwat-cuwit. Kedua ekor binatang besar itu,
walaupun memanggul orang, tapi gerakannya tetap
lincah sekal. Tong Ko hanya rasakan telinganya menderu2
tersambar angin dan dalam bebrapa kejab saja,
tibalah sudah mereka dibawah gunung.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Coba, bukantah hebat kera piaraanku itu?" tanya
sipemuda setelah loncat turun dari gendongan.
"Konon kabarnya kera gin-si-kau (kera bulu perak)
hanya terdapat digunung Sip-ban-tay-san saja. Adakah
kau ini berasal dari daerah yang sejauh itu?" Tong Ko
balas bertanya.
"Ya, benar," sahut sipemuda dengan tertawa. Tong Ko
makin heran.
"Cara bagaimana kau menempuh perjalanan dengan
membawa sekian banyak kera itu?" tanyanya pula.
"Ai, benar2 aku tak memikir sampai disitu, kiranya
tentu bakal merupakan suatu tamasya yang
menggembirakan sekali. Kalini aku suruh mereka datang
kemari sendiri, sayang, sayang!"
"Tapi mengapa kau tak segera datang ke Giok-li-nia
dengan terang2an?" Tong Ko mengulang tanya.
"Giok-li-nia banyak terdapat para orang gagah
perwira, tapi tiada seorangpun dari mereka yang
berpikiran waras. Buktinya, tiada seorang yang mau
percaya akan penasaranmu. Ah, aku tak sudi kesana!"
Hati Tong Ko tergerak, segera dia menjurah memberi
hormat, ujarnya: "Budi kebaikan anda itu, Tong Ko akan
ingat se-lama2nya!"
Tapi sebaliknya pemuda sekolahan itu malah ketawa
menggigil, sahutnya "Tingkah kecut, laku kecut!"
Tong Ko terkesiap. Adanya dia tadi mengunjuk sikap
sedemikian hormatnya karena mengingat pemuda itu
rupanya seperti anak sekolahan. Tapi mengapa dirinya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dikatakan bertingkah laku kecut? Adakah dia itu bukan
seorang pelajar?
"Aku she The, bernama Ing." kata sipemuda setelah
puas ketawa.
"Hai, mengapa seperti nama seorang anak perempuan
saja!” Tong Ko balas tertawa.
Tapi sipemuda itu hanya ganda tertawa juga lalu
alihkan pembicaraan, katanya: "Jika Tong-heng tak
mempunyai urusan apa2, mengapa tak ikut aku pesiar
kepegunungan Sip-ban-tay-san. Dengan membawa
sekawanan kera. itu dalam perjalanan, kita tentu
mendapat kegembiraan besar!"
Tong Ko memberi anjuran supaya pemuda The Ing itu
teruskan niatnya untuk menjumpai perserekatan orang
gagah dari Lohusan, tapi rupanya pemuda itu tak mau.
Malah dia segera merajuk hendak lanjuntukan
perjalanannya seorang diri, jika Tong Ko tak mau ikut.
Entah bagaimana, rasanya Tong Ko seperti ada ikatan
bathin dengan The Ing itu. Berat nian dia untuk berpisah.
"The-heng, kegunung Sip-ban-tay-san aku tak
mempunyai hasrat. Kuberniat mencari suatu tempat
sunyi untuk meyakinkan ilmu kepandaian. Kelak hendak
kucari Tok-kak-sin-mo Sin Tok dan kedua saudara Shin
itu. Kalau aku dapat meringkus mereka untuk kubawa ke
Lo-hu-san, barulah aku dapat mencuci bersih namaku
lagi!" akhirnya Tong Ko berkata.
"Bagus, kita pergi saja kekota raja. Biarkan kawanan
kera Sip-ban-tay-san itu mendapat pengalaman dikota
raja!" diluar dugaan sipemuda itu malah bertepuk girang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tong Ko diam2 mengeluh, tapi apa boleh buat.
Begitulah mereka sembari berjalan sembari pasang
pembicaraan dengan asyik sekali.
Melintasi sebuah puncak gunung, tibalah mereka pada
sebuah puncak yang menjulang tinggi diangkasa. Sebuah
dataran sempit terbentang ditengah.
Ketika Tong Ko hendak nasehati supaya The Ing
jangan membawa kawanan kera itu, tiba2 didengarnya
ada derap kaki kuda mendatangi dan suara jeritan anak
perempuan. Suara itu makin lama makin dekat. Kawanan
kera sama menyongsong kebelakang, sedang kedua ekor
kera besar itu meringkik2 dengan suara yang aneh.
Kiranya sewaktu Tong Ko dan The Ing berpaling
kebelakang, disana tampak ada 3 ekor penunggang kuda
mencongklang dengan pesatnya. Penunggang iang
dimuka sendiri, bolang balingkan pian untuk
menghantam kawanan kera gin-si-kau yang
menghadangnya sehingga kera2 itu sama cuwat cuwit
lari bubar. Deru sambaran pian itu sangatlah serunya,
menandakan bahwa orang itu berilmu tinggi.
Tong Ko terkesiap kaget, demi diketahuinya bahwa
orang itu bukan lain adalah si Tok-kak-sin-mo Sin Tok,
musuh lama yang hendak dicarinya itu. Saking
girangnya, dia sampai lupa untuk mengajak The Ing, tapi
terus enjot tubuhnya lari menyerangnya.
Melihat ada seorang penyerang, Sin Tokpun
menyambut dengan pian, tapi Tong Ko dengan beraninya
segera menyambar pian itu.
Kini jelaslah sudah sikaki satu Sin Tok bahwa
penyerangnya itu adalah Tong Ko. Hem......, gila anak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu, masa berani menyanggapi pianku, pikir Sin Tok. Dia
segera kirim sebuah pukulan dan kebetulan pula tangan
kiri Tong Kopun maju menghantam. Plak......, ketika
kedua kepelan itu saling beradu, sikaki satu terkejut
bukan buatan. Didapatinya tenaga pukulan anak muda
itu hebat benar. Buru2 dia kerahkan lwekang dan karena
kurang latihan maka terpentallah Tong Ko sampai
setombak jauhnya.
Tadi The Ing masih belum mengetahui telah terjadi
hal apa. Tapi demi dilihatnya Tong Ko terpental jatuh,
buru-buru dia lari menghampiri. Tepat pada saat itu, dua
penunggang kuda yang dibelakang sikaki satupun sudah
lewat disitu. Kembali terdengar suara jeritan anak
perempuan yang kini jelas berasal dari arah penunggang
kuda yang paling belakang sendiri.
Demi Tong Ko mengawasi penunggang kuda itu,
ternyata itulah Ce-cing-long Shin Hiat-ji. Dengan sebelah
tangan memegang kendali, sebelah tangan anak Itu
mengepit seorang gadis. Ditilik dari nada jeritannya tadi,
pula dari bentuk tubuhnya, gadis itu tentulah Tio In
adanya !
Mengapa Tio In dapat dilarikan pula oleh rombongan
Hiat-ji, bukantah ia sudah dirampas balik oleh Tio Jiang
dan dibawa Yan-chiu ke Lo-hu-san ? Untuk jelasnya
baiklah kita mundur dulu pada kejadian dua hari
berselang.
Pada malam itu Tio Jiang dan Yan-chiu segera lakukan
pengejaran pada rombongan Sin Tok bertiga. Setelah
kesusul, sepasang suami isteri itu segera mainkan
pasangan ilmupedang to-hay-kiam-hwat dan hoan-kangkiam-
hwat. Yan-chiu memapas kaki belakang dari kuda
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hiat-ji. Saking kagetnya Hiat-ji segera lempar karung
yang berisi Tio In kebelakang, hingga hampir saja ujung
pedang Yan-chiu mengenai puterinya seadiri. Syukurlah
Tio Jiang dapat berlaku sebat untuk menyambar karung
itu lalu loncat mundur jauh-jauh.
Adalah karena keayalan itu, sikaki satu dan kedua
saudara Shin dapat keprak kudanya untuk lolos. Tio Jiang
dapat menolong anaknya tapi tak berhasil menghadang
ketiga musuhnya itu. Sebagaimana telah dipaparkan
diatas, Yan-chiu segera bawa Tio In naik ke Lo-hu-san
sedang Tio Jiang lalu mencari Tong Ko.
Kini diceritakan halnya sikaki satu setelah lolos jauh.
Dia tak henti-hentinya sesalkan Hiat-ji mengapa dalam
beberapa gebrak saja sudah lemparkan Tio In yang
berarti kehilangan suatu umpan bagus untuk menjebak
Tio Jiang datang kekota raja. Sebagai anak muda, darah
Hiat-jipun panas. Apalagi sewaktu kecilnya dia telah
memperoleh keajaiban (dipiara induk harimau),
tenaganya besar dan dapat pula meyakinkan ilmu silat
yang tinggi. Dengan memiliki andalan itu, dia memang
tak memandang pada orang lain lagi. Disesali oleh sikaki
satu, dia balas ketawa sinis, serunya mengejek : "Lo Sin,
mengapa kau sendiri tak mau balik bertempur tapi
sebaliknya lari tunggang langgang ?" Saking marahnya
sikaki satu sampai tak dapat berkata apa-apa.
Kalau tidak dipisah oleh Soh-hunciang Shin Leng-siau
mungkin dia sudah berkelahi dengan Hiat-ji. Tapi si Hiatji
tetap tak marah, tawar-tawar saja dia berseru : "Aku
tak percaya, hanya dikarenakan Siau-beng-siang Tio
Jiang seorang saja, kita harus ramai-ramai
menangkapnya. Oleh karena mereka sama berkumpul di
Lo-hu-san, maka aku hendak pergi kesana seorang diri.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Andaikata tak berhasil menangkap Tio Jiang, sekurangkurangnya
aku tentu berhasil menawan Tio In untuk
mengganti kerugianmu."
Habis berkata itu, dia terus cemplak kudanya dilarikan
sekeras-kera saya. Melihat adiknya hendak menerjang
kubangan naga sarang harimau di Lo-hu-san, Shin Lengsiau
buru-buru menyusul hendak mencegahnya. Juga Sin
Tok teringat bahwa kaisar Kong Hi, sangat sayang sekali
kepada anak luar biasa itu. Kalau sampai Hiat-ji
mengalami apa-apa dan dia pulang seorang diri kekota
raja, pasti sukarlah untuk memberikan pertanggungan
jawab kepada kaisar. Apa boleh buat, diapun bergegasgegas
menyusulnya.
---odwkzo0otaho---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 07 : TERTANGKAP LAGI
Setiba dikaki gunung Lo-hu-san, Hiat-ji tak segera
mendaki ke Giok-li-nia. Demi dilihatnya puncak itu
menjulang dengan megahnya, demi teringat bahwa
dipuncak situ berkumpul sejumlah besar orang gagah,
timbul juga keragu-raguannya. Tapi tadi dia sudah
sumbar-sumbar dimuka Sin Tok untuk menawan Tio In.
Kalau saja hal itu tak terlaksana, bukantah dia tak
mempunyai muka untuk bertemu orang lagi ?
Pikirnya nanti setelah hari gelap, dia hendak
mengadakan penyelidikan ke Giok-li-nia.
Diperhitungkannya bahwa apabila mengambil jalanan
besar, tentu akan berpapasan dengan kawanan regu
penjaga. Maka dia lalu mengitari puncak itu untuk cobacoba
mencarl sesuatu jalan pendek kepuncak sana. Tapi
ternyata keadaan puncak Giok-li-nia itu amat berbahaya
sekali. Hiat-ji sudah mengitari satu kali dan haripun
sudah gelap, tapi tetap dia belum menemukan jalan
pendek yang dikehendaki itu. Dengan uring-uringan dia
terpaksa duduk disebuah batu besar untuk memikirkan
daya.
Malampun makin kelam. Hiat-ji sudah ambil putusan
untuk naik kepuncak dengan ambil jalan besar saja.
Sekonyong-konyong dalam kegelapan malam itu,
terdengarlah suara tangisan seseorang. Pada lain saat
tampak sesosok tubuh yang langsing berjalan
mendatangi. Sembari berjalan, orang itu terisak-isak
menangis. Bermula Hiat-ji terperanjat sekali karena
mengira yang datang itu adalah seorang sakti dari
kalangan persilatan. Tetapi serta sudah dekat, girangnya
bukan buatan. Kiranya itulah si Tio In, jadi pucuk dicinta
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ulam tiba namanya. (Pucuk yalah daun muda, ulam
adalah daun pupus yang lebih muda lagi. Kiasan ini
berarti, mendapat sesuatu, lebih dari apa yang
diharapkan).
Sebenarnya Hiat-ji sudah segera hendak ayun
tubuhnya menyergap anak gadis itu, tapi terkilas lain
pikiran padanya, jangan-jangan orang Lo-hu-san sudah
mengetahui gerak gerik kedatangannya dan kini tengah
memasang suatu perangkap untuk menangkapnya.
Terpaksa dia sabarkan diri untuk menunggu sebentar.
"Ko-ko...., Ko-ko....!" sembari berjalan menangis itu
Tio In tak henti2nya mengucapkan nama Tong Ko.
Sebentar2 ia celingukan kesana sini, se-olah2 seperti
hendak mencari orang.
Hiat-ji menguntit dibelakangnya. Dan oleh karena
selama itu tiada lain perkembangan lagi, nyalinya pun
besar. Serunya dengan halus: "Nona In!"
Seperti telah diceritakan, kala itu Tio In sedang
mencari jenazah Tong Ko yang dikiranya tentu sudah
binasa terjun dari atas puncak itu. la tak mengetahui
sama sekali bahwa saat itu sebenarnya Tong Ko berada
diatas batu datar, tengah dibuat rebutan oleh Soa-kimkong
dan Sik Lo-sam. Sudah tentu Tio In tak dapat
menemukan jenazahnya. Maka kesana-sini ia mencarinya
terus, sembari menangis ter-lara2.
Sewaktu tiba2 mendengar orang menyebut "nona In",
bukan buatan girangnya. Itulah Tong Ko tentu, demikian
pikirnya sembari berpaling kebelakang. Perawakan Hiat-ji
hampir sama dengan Tong Ko, dalam kegelapan malam
yang pekat, Tio In yang diliputi oleh rasa girang itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
segera berseru: "Ko-ko.....!" sembari terus songsongkan
dirinya kedada Hiat-ji.
Hiat-ji memeluknya, tangannya ditaruh diatas pundak
Tio In untuk menekan jalan darah jip-tong-hiat, salah
satu jalan darah berbahaya dari tubuh manusia. Namun
tetap Tio In tak tersadar, malah susupkan kepalanya
kedada Hiat-ji seraya merajuk macam anak manja: "Koko,
kukira dalam penghidupan sekarang ini kita tak dapat
berjumpa lagi, ah, tak nyana kalau masih dapat
mengalami seperti harini!"
Hiat-ji ingin lekas2 membawa pergi sang kijang,
karena dikuatirkan apabila dirinya ketahuan bukan Tong
Ko tentulah nona itu akan berontak. Benar dia tak kuatir
nona itu bakal lolos, tapi se-kurang2nya tentu
menghambat tempo juga.
Sementara itu walaupun sang "Tong Ko" tak
menyahut, tetap Tio In belum tersadar akan
kekhilafannya, katanya pula: "Ko-ko, untuk sementara
waktu seyogyanya kau tinggalkan tempat ini dahulu
untuk mencari guru yang sakti. Kira2 nanti dua tahunan
lagi, kau kembalilah kemari untuk menebus kesalahan
dengan pahala...”
Berkata sampai. disini, Tio In tengadahkan kepalanya
dan betapalah terkejutnya, dapat pembaca bayangkan
sendiri. la ter-longong2 sampai sekian saat tak dapat
berkata apa2.
"Kau...... kau ini siapa?'
Hiat-ji tertawa, sahutnya: "Harap nona jangan takut,
aku Shin Hiat-ji, orang menjuluki sebagai Ce-cing-long!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ha......., jadi kau adalah penjahat yang turut
membinasakan adikku?I" tiba2 Tio In teringat akan nama
Itu.
"Ah, kalau siang2 kami tahu nona seorang yang
berperasaan halus, pasti kami takkan begitu ganas!"
Cepat2 Tio In menyurut kebelakang, tapi jari tengah
tangan kiri Hiat-ji sudah melekat dijalan darah jip-tonghiatnya.
Begitu ia mundur kebelakang, segera ia rasakan
bahunya kesemutan. Tahulah ia kini, kalau dirinya sudah
dikuasai musuh. Saking gusarnya, ia kalap menghantam
muka Hiat-ji se-kuat2nya. Tapi lagi2, siku tangannya
sudah dicengkeram Hiat-ji dengan jurus sian-kinna-chiu.
Kini Tio In tak berdaya lagi.
"Kau kau hendak bagaimana?"
"Hendak ajak nona pesiar kekota raja!" sahut Hiat-ji
tertawa.
Saking geramnya, Tio In semburkan ludahnya kemuka
orang. Buru2 Hiat-ji tundukkan kepalanya untuk
melindungi muka, tapi karena jaraknya sangat dekat, jadi
ludah itu tepat mengenai batok kepalanya, malah hampir
saja tepat pada jalan darah peh-hui-hiat. Sudah sejak
kecil mula, Tio In belajar silat, jadi lwekangnyapun tinggi.
Semburan ludah tadi, ia iring dengan tiupan lwekang.
Sekalipun kepandaian Hiat-ji lebih tinggi darinya, tetapi
tak urung dia merasakan kesakitan juga. Sudah tentu dia
gusar sekali.
"Siau-ya menghargakan dirimu, sebaliknya kau begitu
kurang ajar! Kalau masih melawan, tentu kuhabisi
jiwamu. Apa kau anggap aku ini tak lebih jempol dari
kekasihmu si Tong Ko itu?" bentaknya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Disamping mendapat latihan silat, pun Tio In dididik
ayahnya dengan budi perilaku yang luhur. A palagi dalam
se-hari2-nya ia selalu bergaul dengan para orang gagah
yang berwatak ksatrya, jiwa patriotnya sudah mendarah
daging dalam sanubarinya.
"Fui....., kau seorang budak Ceng yang tak punya
muka, perlu apa banyak bacot!"
Kalini Hiat-ji hanya mengangkat bahu, sahutnya
dengan mengejek: "Aneh bin ajaib, nona secerdas kau
mengapa bisa menyintai seorang Tong Ko. Apakah dia itu
tak sealiran dengan aku? Nona In, Tong Ko
berkepandaian dangkal, kalau dijajarkan dengan kau,
laksana lumpur dengan salju bedanya. Lebih baik kau
ikut aku kekota raja saja.. untuk menunggu kunjungan
ayah bundamu. Kalau mereka itu tahu diri, dapatlah kita
bersama menjadi menteri kerajaan. Bila mereka
membangkang itupun sudah takdir Ilahi, aku tetap akan
menyediakan diri agar kau tak mendapat suatu gangguan
apapun"
Kata2 Hiat-ji makin melantur tak keruan, namun Tio In
tak dapat mencari jawaban. Tanpa menunggu jawaban
orang lagi. Hiat-ji terus ringkus Tio In untuk dikempitnya.
Tio In hendak meronta, tapi tak berdaya, karena jalan
darahnya sudah tertutuk.
Girang Hiat-ji me-luap2, sehingga saking kesusunya
dia sudah dapat mengetahui bahwa si kaki satu Sin Tok
dan Shin Leng-siau tengah menyusulnya. Begitu keluar
dari gunung, segera didengarnya dijalanan sana ada
suara senjata beradu. Letikan apinya jelas kelihatan
dimalam yang kelam itu. Rupanya ada orang bertempur
dengan seru. Hiat-ji memiliki mata yang luar biasa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tajamnya. Dalam tempat yang bagaimanapun gelapnya,
dia tetap dapat melihat dengan jelas.
Dia buru2 menghampiri dan didapatinya Tok-kak-sinmo
Sin Tok tengah mainkan sepasang kapak, tengah
bertempur dengan seorang kate yang bergegaman golok.
Sedang Shin Leng-siau sedang dikeroyok oleh dua orang
muda, dan tampaknya sudah kewalahan. Keras dugaan
Hiat-ji, bahwa ketiga lawan itu tentulah orang persilatan
yang anti pemerintah Ceng, kemungkinan besar
anggauta perserekatan Lo-hu-san.
Sebenarnya sudah berpuluh tahun penjajah bangsa
Boan Ceng, menduduki wilayah Tiongkok. Rakyat
diseluruh negeripun sudah sama memelihara kuncir,
menuruti peraturan yang diundangkan oleh pemerintah
penjajah tersebut. Adalah untuk keleluasaan bergerak,
maka para kaum patriot terpaksa mengenakan juga
kuncir. Tapi apabila berada ditempat yang sepi, mereka
tentu menggulung rambut itu. Ketika orang itu tadipun
menghias rambutnya dengan cara begitu.
"Jangan takut, aku datang!" seru Hiat-ji sembari
lepaskan Tio In, lalu loncat menyerang. Belum orangnya
tiba, dia sudah gerakkan dua buah serangan. Salah
seorang pengeroyok kakaknya yang bersenjata golok,
telah kena direbut senjatanya terus ditendang keluar.
Kawannya dengan menggerung keras maju
merangsang, tapi kena didesak mundur oleh Hiat-ji.
Dalam kesempatan itu, Hiat-ji melirik kearah sikaki satu
yang rupanya difihak unggul. Teringat akan olok2 si kaki
satu kemarin, timbullah kebenciannya. Segera dia putar
sepasang golok itu lalu dilemparkan diudara. Setelah
melingkar sebentar, golok itu meluncur kearah batok
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kepala si kaki satu. Pada saat itu si kaki satu sudah
diambang kemenangan, maka betapa kejutnya ketikz
tahu2 ada sepasang golok menyambar. Tring, tring,
buru2 dia menangkis dengan kapak, tapi diam2 dia
terkejut demi diketahui betapa dahsyat kekuatan golok
itu. Timbul dugaannya kalau2 Hiat-ji yang melakukan,
tapi oleh karena gerakan anak itu tak dilihatnya, jadi tak
berani menetapkan dakwaan. Namun tetap dia menaruh
kesangsian.
Adalah karena sedikit renungan itu, gerakannya agak
ayal dan kesempatan itu digunakan oleh si kate untuk
menabasnya. Untunglah si kaki satu cukup lihay. Begitu
menggeliatkan tubuh, dia hantam tangkai golok
penyerangnya, trang....... si kate rasakan tangannya
panas kesakitan. Berbareng dengan itu, sikaki satu
teruskan membabat. Tak ampun lagi, rubuhlah sikate
tiada bernyawa lagi. Kedua orang muda tadipun segera
loncat untuk.... lari tunggang langgang.
Hiat-ji tak mau mengejarnya, melainkan menghampiri
Tio In untuk diambilnya. "Sin toako, anak perempuan Tio
Jiang, sudah berada disini!" Ujarnya dengan dingin.
Sin Tok mengawasi lekat2 dan memang benar seperti
yang dikatakan oleh anak itu. Dalam hati dia mengiri dan
mendongkol, namun lahirnya mau juga dia
menghamburkan pujian. Demikian diam2 diantara kedua
orang itu terdapat jurang permusuhan gelap.
Shin Leng-siau yang hanya mendengari saja sejak
tadi, kini segera usulkan supaya lekas2 berangkat,
karena kedua orang muda yang lolos tadi tentu akan
melapor ke Lo-hu-san. Begitulah ketiganya segera
cemplak kuda dilarikan se-kencang2nya. Tapi karena tak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
faham jalanan, maka semalam suntuk mereka melarikan
kudanya, ketika terang tanah didapatinya kalau masih
berada didaerah Lo-hu-san. Rupanya mereka tersesat
jalan. Makin cemas, makin tak dapat mereka menemukan
jalanan yang sebenarnya. Apa boleh buat, Tio In
terpaksa dibuka jalan darahnya dan disuruhnya
mengunjukkan jalan. Tetapi bukannya menerangkan
jalanan, sebaliknya nona itu malah men-jerit2 dengan
keras. Sudah tentu mereka jengkel dibuatnya, karena
biar bagaimana tak dapat membunuh "umpan" yang
berharga itu.
Terpaksa nona itu diringkus, lalu dibawa kabur lagi.
Tiba2 disebelah muka sama tampak ada sekawanan kera.
Kesanalah mereka bertiga menerjangnya. Begitulah tadi,
sikaki satu berada paling depan sendiri, begitu berhasil
merubuhkan Tong Ko, dia terus keprak kudanya kemuka.
"Tong-heng, siapa ketiga orang itu, mengapa mereka
begitu kurang ajar?" tanya The Ing.
"Itu dianya si Tok-kak-sin-mo Sin Tok, ayuh lekas
kejari" sahut Tong Ko dengan gugup.
The Ing terperanjat, tapi ketiga orang itu sudah jauh.
Kecuali memiliki ilmu mengentengi tubuh yang lihay, tak
mungkin untuk mengejarnya.
"Ah, tak, mungkin mengejarnya, lebih baik kita susul
mereka kekota, raja!" serunya.
Wajah Tong Ko tampak ber-sungguh2, ujarnya: "Theheng,
memang kita harus mengejarnya. Entah
bagaimana, nona In telah diculik lagi oleh si Ce-cing-long
Shin Hiat-ji!"
"Nona In? Siapa ia?" The Ing terkesiap kaget.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dalam saat itu, Tong Ko tak mau menerangkan
panjang lebar, maka dengan ringkas saja dia menyahut:
"Sudah lama aku saling mencinta dengan dia, jadi tak
dapat kuberpeluk tangan melihatnya diculik orang!"
Se-konyong2 wajah The Ing berobah pucat dan termangu2
sampai sekian saat.
"Kita sendiri tak nanti dapat mengejar, kecuali
menyuruh si Toa-gin dan Siau-gin!" akhirnya dia berkata
dan lalu bersuit. Sekejab saja kedua ekor kera besar itu
melayang datang.
"Bawalah rombongan kera untuk mengejar ketiga
penunggang kuda itu! Ingat, jangan melukai nona itu!"
kata The Ing sembari menunjuk kemuka.
Kedua binatang itu meringkik nyaring, sekali tubuhnya
bergerak, mereka sudah berada tiga empat tombak
jauhnya. Rombongan kera kecilpun sama cuwat-cuwit
ber loncat2an lari dengan pesat sekali. Dalam sekejab
sadia, tampak disebelah muka ber-puluh2 letikan perak
berlincahan dan pada lain saat sudah menghilang tak
kalihatan lagi.
"Sekalipun ketiga orang tadi berkepandaian tinggi, tapi
dikejar oleh kawanan kera tentulah akan tertahan untuk
beberapa waktu. Ayuh, kita lekas2 susul mereka.
Hem....., jangan kuatir Tongheng, jantung hatimu tentu
takkan kena apa?"
Jelas tampak oleh Tong. Ko bahwa ketika
mengucapkan kata2nya itu, wajah The Ing agak pucat
dan nadanya sember. Tetapi karena pentingnya urusan
itu, jadi tak sempat dia untuk menanyakan sebabnya.
Ketika keduanya tengah lari, tiba2 dari arah belakang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terdengar orang berseru nyaring: "Siapa itu, harap
berhenti dahulu!"
Nada suaranya begitu menggema hingga sampai
berkumandang keseluruh penjuru, menandakan lwekang
orang itu telah mencapai tingkat kesempurnaan. Ketika
Tong Ko dan The Ing berpaling kebelakang, sesosok
tubuh telah melayang tiba dihadapan mereka. Hai,
kiranya seorang wanita dari pertengahan umur, mencekal
sebatang pedang yang berkeliau2an sinarnya. Tapi
begitu melihat Tong Ko, wanita itu segera
membentaknya dengan murka: "Ho, kiranya kau,
bangsat!"
Berbareng dengan dampratan itu, tangan siwanita
segera gerakkan pedang menyerang Tong Ko, siapa
sudah tentu menjadi terkejut sekali. Tetapi kala dia
hendak menghindar kebelakang, tring......, terdengarlah
benturan dua batang pedang. Ketika diawasi, ternyata
disitu terdapat pula seorang lelaki yang bukan lain Siaubeng-
siang Tio Jiang adanya. Sedang wanita tadi, yakni
Hui-lay-hong Yan-chiu.
"Tentu dialah yang mengajak kuku garuda untuk
menculik Inji. Mengapa lagi2 kau mencegati?" Yan-chiu
dengan merah padam menegur suaminya.
Belum Tio Jiang menyahut, The Ing sudah
mendahului: "Kalau tak salah kalian ini tentulah sepasang
suami isteri Siau-beng-siang Tio Jiang. Begitu harum
nama kalian dikalangan persilatan, disana sini orang
sama mengindahkan, tetapi sungguh tak nyana kalau
ternyata adalah orang yang tak dapat membedakan
hitam putih!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sebenarnya bukan demikian watak perangkai Yanchiu.
Adalah karena kehilangan putera kesayangannya, ia
sampai begitu rupa membenci Tong Ko. Ini dapat
dimaklumi bagi seorang ibu. Maka begitu melihat Tong
Ko, tanpa tanya ba atau bu lagi, ia terus menyerangnya.
Apalagi tadi mereka sudah hampir dapat mencandak
rombongan si kaki satu, atau tiba2 Tong Ko menghadang
di tengah jalan. Bahwasanya Tong Ko ternyata belum
binasa, telah mendorong Yan-chiu pada kesimpulan kalau
anak muda itulah yang mengadiak rombongan Sin Tok ke
Lo-hu-san lagi untuk melakukan penculikan.
Kata2 The Ing tadi makin menambah minyak pada api
kemarahan Yan-chiu. "Kau ini siapa?" tanyanya dengan
geram.
"Kau katakan sendirilah!" sahut The lng sembari tertawa2.
"Telur busuk, siapa yang sudi kau ajak main tebak!"
dalam marahnya Yan-chiu terus balingkan pedangnya.
Melihat belum lagi wanita itu membuka serangan,
perbawanya sudah sedemikian garang apalagi pedang
yang dicekalnya itu terang bukan sembarang pedang,
maka menyurutlah The Ing dua tindak kebelakang.
"Ha, kiranya Hui-lay-hong benar2 seorang yang tak
kenal aturan. Keterangan Tong-heng tadi, memang tak
salah!" serunya dengan sengit.
"Huh, bangsa tikus buduk tentu saling mempercayai!"
balas Yan-chiu.
Melihat isterinya bertengkar, Tio Jiang segera berseru:
"Yan-chiu, sudahlah jangan buang waktu, ayuh kejar
kuku garuda yang membawa In-ji itu !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Yan-chiu mengiakan. "Untuk sementara, kuberi
kemurahan berdua!" serunya kepada Tong Ko dan The
Ing, lalu melesat menyusul suaminya.
---oodwkz^0tah^oo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 08 : ORANG ANEH DALAM
GOA
Saking marahnya wajah The Ing menjadi pucat lesi.
Dengan uring2an dia tumpahkan kemarahannya kepada
Tong Ko: "Hm...., karena gara2mu, aku telah dihina
orang. Apabila Toa-gin dan Siau-gin sampai terluka, akan
kuminta pertanggungan jawabmu!"
Tong Ko tak dapat menjawab. Lewat beberapa menit
kemudian baru dia dapat berkata: "The-heng, harap
jangan marah. Hui-lay-hong adalah kaum wanita,
mengapa kita harus berpikiran cupat seperti ia?"
The Ing tertawa, ujarnya : "Ia seorang perempuan,
apakah aku ini........" berkata sampai disini, ia seperti
kelepasan omong, lalu buru2 memandang kemuka,
serunya : "Hai, kedua suami isteri tadi sudah jauh, ayuh
kita lekas2 menyusulnya !"
Begitulah keduanya segera terbangkan kakinya. Benar
ilmu mengentengi tubuh mereka tak selihay Tio Jiang
dan Yan-chiu, namun merekapun dapat berlari dengan
pesatnya.
Sekarang marilah kita ikuti Toa-gin dan Siau-gin yang
mengepalai rombongan kera kecil untuk mengejar sikaki
satu bertiga.
Seharusnya kawanan bnatang itu tentu sudah dapat
menyusul rombongan Sin Tok, tapi anehnya sampai
hampir dua jam lebih Tong Ko dan The Ing berlari,
hingga sampai keluar daerah Lohu-san mereka tetap tak
menjumpai barang seorangpun jua. Dari sebuah jalanan
besar sampai kejalanan yang sempit kecil baik kawanan
kera maupun suami isteri Tio Jiang dan Yan-chiu, tak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tampak bayangannya. Heran Tong Ko dibuatnya. Jalanan
yang melintang dari lembah gunung itu hanya sebuah
saja, jadi tak mungkin kalau dia kesasar. Juga The Go
berpikiran serupa. Dia lalu bersuit se-keras2nya.
Suaranya melengking berkumandang, tetapi tiada
penyahutan sama sekali.
"Aneh, suitanku ini dapat terdengar sampai 7 atau 8 li
jauhnya, Toa-gin dan Siau-gin tentu mendengarnya dan
pasti akan kemari. Adakah mereka dicelakai si Tok-kaksin-
mo", katanya sambil menatap kearah Tong Ko.
Teringat akan kata2 anak muda itu "kalau binatang itu
sampai terkena apa2, akan kuminta pertanggungan
jawabmu",
Diam2 Tong Ko mengeluh. Bagaimana dia nanti akan
mengganti binatang itu?
"Kawanan kera gin-si-kau itu luar biasa tangkasnya,
rasanya pasti takkan terkena apa2," dia menghibur sang
kawan dan juga menghibur dirinya sendirl. Tiba2
terdengar suara cuwit dari arah belakang. Ketika
keduanya berpaling kebelakang, tampak ada sebuah
benda besar mengeluarkan cahaya perak tengah
mendatangi.
"Siau-gin, kau terluka ?" seru The Ing dengan
terperanjat demi benda itu sudah dekat. Juga Tong Ko
tak kurang kagetnya. Memang benda Itu bukan lain
adalah Siau-gin, Itu salah seekor kera gin-si-kau yang
besar. Disana sini bulunya tampak rebah berdiri tak
teratur, penuh berlumuran darah. Darah itu masih
merah, jadi menandakan kalau luka itu masih baru.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Begitu melihat The Ing, binatang itu terus men-cuwit2
tak henti-hentinya seraya maju menghampiri. Sepasang
matanya meneteskan dua butir air mata. The Ing cepat
memeriksa lukanya dan serentak banting2 kaki, serunya
:"Siapa yang melukai kau ?"
"Siau-gin, telah terjadi apa saja, apa kalian sudah
dapat menyusul ketiga orang itu ?" The Ing ulangi lagi
pertanyaannya.
Kera itu gerak-gerakkan kaki tangannya seraya
bercuwat-cuwit, menerangkan pada tuannya. Oleh
karena kepingin tahu; maka Tong Ko lalu menanyakan
halnya kepada The Ing.
"Kata Siau-gin, waktu mereka mengejar sampai
ditengah jalan telah dilasso oleh seorang aneh yang
memaksa mereka mengerjakan perintahnya. Toa-gin
membangkang, lalu digantung dan dirangket. Dia nekad
melarikan diri dengan berlumuran luka2 !"
"Kawanan kera itu luar biasa larinya, bagaimana dapat
ditangkap oleh orang itu ?" tanya Tong Ko.
"Akupun juga heran sendiri. Siau-gin, ayuh bawa kami
ketempat orang aneh itu I" kata The Ing kepada kera
besar itu. Kera itu berjalan kemuka, tapi baru bebrapa
tindak dia sudah berpaling kebelakang seraya cuwatcuwit.
"Ngaco, biarpun malaekat dari langit, aku tetap akan
menemunya !" bentak The Ing pada piaraannya.
Kemudian The Ing menerangkan pada Tong Ko bahwa
turut kata Siau-gin, orang itu teramat lihay karena
mempunyai sebuah pian panjang (tiang-pian)
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Luka2 dibadannya itu, disebabkan karena hajaran
pian orang Itu. Siau-gin lebih suka menderita daripada,
membawa kita ketempat bahaya itu," kata The Ing.
Tong Ko kagum juga atas kesetiaan binatang kera itu.
Sembari mengelus-elus bulu perak Siau-gin, dia bertanya
: "Siau-gin, jangan kuatir. Sekalipun kita terjerumus
dalam bahaya, tetap kita hendak mencarinya. Adakah
kau tahu kemana larinya ketiga orang itu ?"
Siau-gin membelalakkan matanya, lalu cuwat-cuwit
beberapa kali. Adalah The Ing yang menerangkan pada
Tong Ko bahwa belum berapa jauh kawanan kera itu
mengejar, tiba-tiba terpegat oleh siorang aneh itu.
"Heran, itu waktu kita tengah berbicara dengan Huilay-
hong Yan-chiu, biasanya kera itu buas sekali. Begitu
ada orang hendak menangkapnya, mereka tentu berteriak2
riuh rendah. Tapi mengapa kita sama sekali tak
mendengarnya ? Ah, sudahlah, Siau-gin, ayuh lekas
tunjukan kita kepada orang itu !"
Bermula kera itu tetap mengawasi kepada kedua anak
muda itu, seolah-olah dia enggan mengantarkan. Tapi
setelah didesak oleh The Ing, akhirnya terpaksa dia pergi
juga. Sejam lamanya berjalan, kiranya mereka menjurus
kejalan tadi, balik kembali kearah lembah. Tiba-tiba Siaugin
membiluk kesebelah kanan dan menjurus kesebuah
lembah mati (buntu). Oleh karena Tong Ko sudah agak
lama tinggal dl Lo-hu-san, jadi dia ketahui juga kalau
jalanan itu buntu adanya.
"Siau-gin, kau salah jalan !" serunya.
Tapi binatang itu tak menghiraukan, tetap berjalan
kemuka. Dia langsung masuk kedalam sebuah gua yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tiba cukup untuk dimasuhi tubuh seseorang. Didalam
situ, ternyata dikelilingi oleh puncak2 gunung yang
tinggi. Hanya ditengah-tengahnya terdapat sebuah
dataran seluas beberapa tombak. Dataran itu penuh
ditumbuhi dengan bunga warna-warni yang aneh. Dari
atas salah sebuah karang tinggi, terdapat sebuah air
terjun yang mengalir kebawah. Air terjun itu tak
seberapa besarnya, alirannyapun tak deras. Tiba diair
terjun tersebut. Siau-gin lalu menuding kemuka dan
cuwat-cuwit tak keruan.
"Tong-heng, kata Siau-gin orang aneh itu berada
dibalik air terjun. Jangan2 ini merupakan goa Cui-liantong
dart gunung Hoa ko-san ?" kata The Ing.
Cui-lian-tong gunung Hoa-ko-san adalah tempat
kediaman simonyet sakti Kau Ce-thian dalam cerita See
Yu.
"Ah, biarkan. Ayuh kita masuk sajalah !" seru Tong Ko.
Diambilnya dua buah batu sebesar kepalan tangan, lalu
bergantian tangan kanan dan kirinya melemparkan
kedalam air terjun. Air terjun yang terpecah dalam 3
pancuran itu, walaupun tak deras alirnya, tapi karena
tebaran airnya cukup tebal jadi apa yang terdapat
dibelakangnya, tak dapat kelihatan jelas.
Tong Ko memperhitungkan apabila dibalik air terjun
itu terdapat seseorang atau goanya, tentulah akan
menimbulkan sesuatu reaksi. Tapi ternyata sampai
sekian saat, keadaan tetap hening saja. Tapi selagi Tong
Ko dan The Ing keheranan, se-konyong2 dua buah batu
tadi melayang balik dari balik air. Bahkan melayangnya
jauh lebih dahsyat dari timpukan Tong Ko tadi, sehingga
waktu menobros air suaranya sangat keras sekali dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
setelah meluncur keluar lalu pecah menjadi bebrapa
potong. Dan bagaikan mempunyai mata, batu2 itu
melayang kearah kedua anak muda itu.
Sudah tentu Tong Ko dan The Ing menjadi
terperanjat. Tahulah sudah mereka bahwa didalam air
terjun itu benar2 terdapat seseorang. Dengan gugupnya,
mereka berdua segera loncat menghindar. Anehnya
ketika bebrapa potong batu itu mengenai batu karang,
ternyata suaranya berat (tidak nyaring). Ketika diperiksa
oleh keduanya, astaga, batu2 itu sama menancap masuk
kedalam karang. Bagaimana lihay lwekang orang itu,
dapat dibayangkan.
"Hai...., lihay benar ! Tentulah seorang sakti yang
menghuni didalam goa. Dia tentu marah karena
lemparan batu tadi !" seru The Ing.
Tetapi sebaliknya Tong Ko kurang puas dengan
tindakan orang yang begitu ganas itu, walaupun dia
merasa tadi telah berlaku kurang sopan. Dia hanya
mengiakan keterangan The Ing itu.
"Maka kita harus menghaturkan karcis kunjungan!"
kata The Ing, lalu berpaling diri menghantam sebuah
dahan puhun.
"The-heng, hendak apa kau?" "tanya Tong Ko dengan
heran.
”Lihat sajalah!" sahut The Ing lalu memutus dahan itu
hingga menjadi setengah meter panjangnya. Dengan jari
telunjuk dia menggurat dahan itu dengan tulisan yang
berbunyi begini:
"Kita tak saling kenal, mengapa merampas kera,
mohon berkunjung
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
The Ing.
Kini baru tahulah Tong Ko. Oleh karena dia bukan
seorang yang takut urusan, maka dimintanya supaya
namanyapun ditulis juga.
"Apa kau tak takut?" tanya The Ing. Tong Ko tak
menyahut hanya menyambar potongan kayu ditangan
kawannya itu. Dilihatnya guratan pada kayu itu hampir
setengah dim dalamnya. Diapun menggurat dengan jari
telunjuk namania sendiri lalu disertai kata "menghaturkan
hormat". Tapi didapatinya guratan The Ing lebih dalam.
Diam2 dia kagumi kepandaian kawannya itu.
Melihat kata2 "menghaturkan hormat" itu, The Ing
tampak kerutukan kening. Tong Ko yang mengerti isi hati
kawannya itu segera memberi keterangan bahwa menilik
kepandaian orang didalam goa itu sedemikian saktinya,
tiada jeleknya kalau berlaku menghormat sedikit.
Begitu menyambuti potongan dahan itu, The Ing
mundur 3 langkah kebelakang. Setelah kerahkan
semangat, dia lempar dahan itu kearah air terjun.
Memang sewaktu baru melayang, dahan itu pesat sekali
layangnya. Tapi begitu tiba dimuka air, gayanya agak
tenang dan ketika menobros, air tidak tampak tepercik
sama sekali. Makin kagum Tong Ko melihat kepandaian
sang kawan itu, dan dia lalu tunjukkan jempolnya selaku
memuji. The Ing hanya ganda tersenyum saja. Tiada
berapa lama kemudian dari balik air terjun terdengar
suara seseorang berseru. Anehnya nada suaranya, lelaki
bukan perempuan tidak.
"Apakah kedua orang yang diluar itu, laki dan
perempuan?" lengking suara itu dengan nada yang
menusuk telinga.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Belum The Ing menyahut, Tong Ko sudah mendahului:
"Tidak, kami berdua adalah kaum lelaki semua!"
"Kalau ada nyali, masuklah!" seru suara orang itu pula.
Tong Ko dan The Ing saling berpandangan. Tong Ko lalu
loncat dulu, diikuti oleh The Ing. Bermula mereka kira
kalau air terjun itu sukar diterobos, oleh karena luar
hanya kurang lebih setombak luasnya, tapi ternyata
tidak. Malah ketika sudah berada didalam dan menoleh
keluar, pemandangan diluar tampak dengan jelas.
Kiranya didalam situ terdapat sebuah goa yang tinggi
hampir tiga empat tombak dan cukup luas. Tapi disitu
tiada tampak barang seorangpun juga.
Waktu berada disitu, Siau-gin berhenti cuwat-cuwit
lalu lari kemuka. Tong Ko dan The Ing terpaksa
mengikutinya. Mereka lari sampai 30-an tombak jauhnya,
tiba2 disebelah muka tampak sebuah penerangan.
Kiranya disitu terdapat sebuah lubang pada puncak goa,
seluas 3 meteran. Dari situlah sinar matahari menobros
turun. Mendongak keatas, tampak diatas dinding goa,
tergantung sebuah jaring besar. Beratu-ratus ekor kera
kecil gin-si-kau, tampak untel2an (tumpang tindih)
didalam jaring itu.
Waktu tampak anak cucunya disiksa begitu, Siau-gin
cuwat-cuwit menggeram.
"Jangan ribut, kita temui tuan rumah!" bentak The Ing
Iagi.
Entah terbuat dari apa jaring yang luar biasa besarnya
Itu. Kera2 gin-si-kau itu bertenaga besar, kukunyapun
tajam sekali. Pagar kayu yang bagaimana kuatnya, tak
nanti dapat mengurung mereka. Tapi anehnya kawanan
kera itu seperti tak berdaya didalam jaring. Disebelah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
jaring besar itu. tubuh tinggi besar dari Toa-gin tampak
digantung dengan kaki tangannia terikat dua buah tali
halus. Siau-gin segera lari keatas. Kedua ekor binatang
itu sama menjerit-jerit dengan pilu. Tampaknya diujung
goa situ, kecuali rombongan kera, tiada seorangpun jua.
Sudah sejak kecil The Ing berkawan dengan kawanan
kera itu. Jadi seolah2 sudah terjalin suatu persahabatan
yang akrab sekali. Lebih2 terhadap Toa-gin dan Siau-gin.
Maka demi melihat Toa-gin digantung begitu rupa, bukan
kepalang marahnya The Ing. Tanpa hiraukan suatu apa
lagi, dia enjot tubuhnya loncat keatas terus menarik tali
merah pengikat itu. Pikirnya, tali yang begitu halus
tentulah sekali tarik dapat diputuskan. Tapi diluar
dugaan, bukan saja tali tak putus bahkan kalau dia tak
cepat2 lepaskan cekalannya, tentulah tangannya tersayat
oleh tali. Ketika diperiksanya, ternyata telapak tangannya
pun tampak menggurat selarik.
"Tong-heng!" serunya dengan kaget. Tong Ko
mengiakan dan menghampiri tapi berbareng pada saat
itu, dari arah sudut goa terdengar suara orang ketawa
terbahak2 seraya berkata: "Nona kecil tangannya sudah
tergurat jaring ceng-si. Untuk keluar dari sini, sungguh
tak mudahl"
The Ing terkejut bukan kepalang, bukan saja karena
kata-kata jaring ceng-si (jaring percintaan) itu, pun juga
karena dirinya dipanggil "nona kecil" itu. Sebaliknya Tong
Ko, menjadi ter-mangu2. Heran dia dibuatnya adakah
didalam goa situ terdapat seorang nona? Atau Tio Inkah?
Begitu rupa perasaan hatinya kepada nona itu, hingga
sesuatu apa tentu dihubungkan dengan diri Tio In.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kedua anak muda itu maju kemuka menuruntukan
arah datangnya suara. Amboi....., kiranya ditepi ujung
goa situ tampak duduk seseorang. Dia mengenakan
pakaian sederhana yang gerombyongan, tetapi bukan
pakaian jubah. Kepalanya memakai ikat kepala berwarna
kelabu. Hanya pada bagian mata yang dilubangi. Oleh
karena dia mengenakan dandanan, begitu macam, maka
warnanya hampir menyerupai dengan dinding goa hingga
hampir saja tak kelihatan tadi. Mungkin sedari tadi, orang
itu sudah berada disitu.
Sampai sekian saat Tong Ko dan The Ing mengawasi,
tetap mereka tak dapat menarik kesimpulan akan
kelamin orang itu, perempuan atau priakah? Terdorong
oleh keinginan tahu apa yang diserukan "nona ketiil"
mulut orang itu tadi, maka Tong Ko segera
memberanikan diri maju selangkah seraya
membungkukkan badan memberi hormat, ujarnya:
"Cianpwe tadi mengatakan kalau disini terdapat seorang
nona, entah apa nona Tiokah itu?"
Orang itu tertawa getir, sahutnya: "Apa itu nona Tio?"'
"Tio In, puteri dari Siau-beng-siang Tio Jiang!"
Mendengar itu orang itu tampak merenung sejenak,
lalu katanya: "Anak perempuan si Tio Jiang? Apa dianya
itu anak perempuan Tio Jiang?"
Waktu mengatakan "dianya itu", tangan orang aneh
itu menunjuk kearah The Ing. Tong Ko memberi isyarat
kepada The Ing yang artinya mengisiki kalau siorang
aneh itu rupanya limbung (kurang beres otaknya alias
streep). Tapi untuk keheranan Tong Ko, wajah The Ing
tampak ber-sungguh2 dan kedengaran berkata:
"Cianpwe mempunyai pandangan yang celi sekali. Aku
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
orang she The, tiada sangkutan apa2 dengan Tio Jiang,
harap cianpwe suka lepaskan kera2 piaraanku itu. Nanti
apabila keluar dari goa sini, aku berjanji tak mengatakan
kepada barang siapapun juga!"
Tong Ko tak mengerti apa yang dipercakapkan dalam
tanya jawab kedua orang itu. Pada lain saat kedengaran
orang itu berkata pula dengan nada dingin: "Bukan
pandangan celi, melainkan pendengaran yang tajam!
Begitu masuk kedalam sini tadi, segera kudengar kalian
ini adalah seorang pemuda dan seorang pemudi. Tapi
soa-siau-cu (bocah tolol) itu tadi mengatakan kalau lelaki
semua, huh....., jangan2 dia "tercocok hidung" nya
(tertipu) !"
Pada hakekatnya Tong Ko bukan seorang tolol, maka
kata-kata orang aneh yang terakhir itu telah
menyadarkannya.
"The-heng, adakah kau ini seorang wanita?!" tanya
sembari berpaling kearah The Ing. Dan mengangguklah
The Ing dengan wajah ke-merah2an.
Teringat Tong Ko sejak dia berkenalan dengan The
Ing, beberapa sudah "anak muda" itu mengunjukkan
tingkah laku yang aneh terhadapnya. Dat..., dit...., dut...,
demikian jantung Tong Ko berdetak2, namun tak tahu
dia harus berbuat apa. Dalam pada itu, tampak siorang
aneh itu pe-lahan2 berbangkit.
"Nona The, oleh karena kau telah menyentuh jaring
ceng-si, maka tiada halangan untuk melepaskan
piaraanmu gin-si-kau itu. Hanya saja kalian berdua harus
menunaikan sumpah yang telah kuikrarkan dahulul"
"Sumpah apa itu?" tanya The Ing.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Orang itu tertawa mengalun, nadanya amat rawan
sekali. Teristimewa didalam goa, suara itu menimbulkan
suatu suasana yang mengharukan sekali. Baik Tong Ko
maupun The Ing sama mengkirik bulu romanya.
Bahwa kini dirinya telah "ditelanjangi" oleh siorang
aneh, The Ing pun sudah tak malu2 lagi. Dia
menggelandot pada badan Tong Ko.
"Entah dahulu cianpwe mempunyai sumpah
bagaimana? Kalau memerlukan tenaga bantuan hopwe
(aku), hopwe tentu sanggup melakukan?"
Begitu juga Tong Ko mengulangi tanya.
Dia mengira kalau semasa mudanya, orang aneh itu
pernah bersumpah hendak melakukan sesuatu yaag
sampai kini belum terlaksana, maka dia sudah beranikan
diri untuk mewakilinya.
Orang aneh itu tertawa sinis, ujarnya: "Ah, sederhana
saja sumpahku itu. Setiap muda mudi yang datang
kemari, harus tinggal disini selama 3 tahun baru boleh
keluarl"
"Harap cianpwe jangan bergurau!" seru Tong Ko
dengan terperanjat. Sepasang mata orang aneh itu
tampak berkilau memancarkan cahaya tajam. Dia
mengadah keatas tertawa ter-bahak2.
"Siapa yang bergurau denganmu? Aku hendak
mengetahuinya, di bawah kolong langit yang sedemikian
luasnya ini, apakah masih ada apa yang disebut
"kecintaan" itu. Kalau ingin kuhapuskan sumpahku itu
pun mudah juga. Diantara kalian berdua, siapa yang sudi
binasa untuk satunya, maka yang masih hidup itu selain
boleh keluar dari goa ini pun akan memperoleh sesuatu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dari aku yang luar biasa. Nah, kuberi kalian waktu
setengah jam untuk berpikir. Setelah mengambil
keputusan, kasihlah jawaban padakul"
Habis berkata begitu, orang aneh itu lalu
mengatupkan kedua matanya dan duduk tepekur dengan
diam, laksana sebuah patung bisu yang terpasang
disudut goa. Barangsiapa yang tak meperdatakan tentu
takkan menyangkanya kalau dia itu seorang insan hidup.
Tong Ko dan The Ing sama terbenam dalam
kebimbangan. Adalah pada lain saat tampak The Ing
lepaskan kopiah pelajarnya dan menguraikan rambutnya
yang mengkilap bagus. Kedua belah pipinya bersemu
dadu, walaupun mengenakan pakaian pria, namun
nampak jelas akan kecantikan yang menampil. Diam2
Tong Ko gelisah dan tak habis herannya mengapa orang
aneh itu mengikrarkan sumpahnya yang sedemikian itu.
Dia sudah menghaturkan hatinya kepada Tio In,
bagaimana dapat dia menjadi suami isteri dengan The
Ing? Memikir sampai disitu, tak berani dia lama2
mengawasi pada The Ing.
Beberapa saat kemudian, terasa sisi badannya
tersembur oleh semacam hawa hangat. Waktu dia
menoleh, kiranya itulah wajah The Ing yang kemerah2an
segar bagai sekuntum bunga tengah mekar,
sedang mengangakan mulut hendak mengatakan
sesuatu.
"The............... "
Baru saja Tong Ko mengatakan begitu, The Ing sudah
menukasnya dengan tertawa: "Masih menyebut Theheng
(engkoh The) lagikah?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tong Kopun tertawa, katanya: "Nona The!"
The Ing tundukkan kepala sampai sekian saat, baru la
membuka mulut: "Ko-ko (engkoh Ko), apakah engkau
tiada suka?"
Tong Ko menghela napas, ujarnya: "Nona The, lama
sudah aku serahkan hatiku pada In-moay ......... "
"Tak usah kau ucapkan itu!" buru2 The Ing dekapkan
jarinya kemulut Tong Ko.
Habis itu ia lalu maju dua langkah kemuka. Setelah
berpaling kebelakang memandang sejenak pada Tong
Ko, baru ia berkata kepada orang aneh itu: "Hai,
bebaskan dia, biar aku yang tinggal, disini, terserah kau
hendak mengapakan dirikul"
"Nona The, mengapa kau berlaku demikian" Tong Ko
buru2 berseru dengan kagetnya, seraya maju menutupi
The Ing. Disitu dia memberi hormat kepada siorang
aneh, lalu berkata: "Maafkanlah, kami hendak berlalul"
Dia tarik tangan The ing terus dibawa lari keluar goa.
Tapi orang aneh itu secepat kilat sudah melesat
menghadang jalanan. "Mau berlalu?" tanyanya dengan
dingin.
"Kami masih mempunyai lain urusan, sudah tentu
hendak pergi" sahut Tong Ko yang sudah ambil
keputusan menggunakan kekerasan apabila perlu.
Orang aneh itu kembali tertawa memanjang, sekonyong2
ia tarik kerudung mukanya dan ..........
Bermula kedua anak itu mengira bahwa mereka akan
berhadapan dengan seorang yang bermuka buruk kejam,
tapi diluar dugaan, kiranya orang aneh itu adalah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
seorang wanita cantik sekira berusia 40-an tahun. Bentuk
wajahnya yang bundar telur, sepasang matanya yang
indah ditaungi oleh sepasang alis tanggal muda,
menampilkan suatu refleksi (pancaran balik) dari suatu
kecantikan yang gilang gemilang dari masa mudanya
Sayang pancaran sinar matania itu sedemikian dinginnya,
ah......, andai kata sinar wajahnya itu berseri girang,
matanya memantulkan cahaya riang, rasanya dewi Siang
Go yang bertakhta dirembulan itu, masih kalah
cantiknya!
Tong Ko tetap hendak menobros keluar. Setelah
memberi isyarat mata kepada The Ing, dia dorongkan
tangannya kanan sekuat2-nya kemuka. Tapi. baru
mendorong sampai setengah jalan, wanita itu ulurkan
lengannya menyambar siku Tong Ko. Tong Ko hendak
meronta, tetapi sikunya terasa sakit bukan kepalang,
seperti mau putus rasanya. Waktu dia menunduk untuk
memeriksanya, kiranya terlibat oleh tali sutera merah.
Masih Tong Ko hendak berontak lagi, tapi hanya dengan
menggerakkan lengannya wanita itu telah menjadikan
benang sutera itu mendiadi suatu tenaga dorongan yang
luar biasa kuatnya, hingga seketika itu tubuh Tong Ko
terjerembab kedalam goa lagi. Dan celakanya, tubuhnya
telah melanggar jaring ikan yang tergantunq diatas.
Jaring itu mempunyai daya lekat yang keras sekali,
begitu tangan Tong Ko menyentuhnya, lalu seperti
terpaku tak dapat digerakkan lagi. Tahu2 kini dia sudah
terperangkap dalam jaring itu.
"Kau hendak melarikan diri, hem......, rasakan dulu
siksaanku ini!" Wanita itu berseru geram seraya ayunkan
tangan. Sutera merah yang sehalus rambut ditangan
wanita itu melayang kearah Tong Ko. Separoh tubuh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tong Ko yang sebelah kiri lebih kuat dari yang sebelah
kanan. Dia meronta se-kuat2-nya hendak menutupkan
tangannya kiri kearah mukanya. Tapi seketika itu
tangannya terasa sakit sekali. Bagian yang tersabet
benang sutera itu, tampak ada selarik guratan darah.
Sudah tentu gusar Tong Ko tak terhingga.
"Wanita busuk, kau punya peribudi tidak?"
dampratnya.
Wanita aneh itu menengadah tertawa sinis, ujarnya:
"Peribudi? Hm, dikolong langit ini siapakah yang
mempunyai peribudi?"
Dan benang suterapun melayang pula, tepat mengenai
lengan bawah Tong Ko. Kalini bahkan lebih berat dari
yang tadi, hingga lengan bajunya putus dan guratan
pada lengan itu sampai 3 dim dalamnya. Waktu ditarik,
lengan Tong Ko mengucurkan darah. keringat dingin
membasahi tubuh. Melihat itu The Ing tak tega, buru2
dia mencekal tangan wanita itu seraya meminta dengan
meratap: "Harap cianpwe berhenti mendera. Dia
memang seorang yang beradat keras, mulutnya tak
pernah mohon kasihan, hendaknya cianpwe sudi
memberi ampun !"
Tiba2 wanita itu menghela napas, ujarnya: "Nona
yang baik, begitu dalam kau tumpahkan hatimu
kepadanya, namun dia begitu tawar terhadapmu. Tiada
hal yang paling kubenci daripada terhadap seorang pria
yang men-sia2kan cinta kasih. Mengapa kau mintakan
ampun untuknya?"
Tong Ko bermula tak mengetahui kalau The Ing itu
seorang gadis, disamping itu sebelumnyapun Tong Ko
sudah saling menyinta dengan Tio In. Maka The Ing
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dapat menerima alam pikiran Tong Ko dan tak dapat
mempersalahkannya.
"Cianpwe, dia tak men-sia2kan dirikul" ter-sipu2 ia
menerangkan.
"Hm....., memang sudah wajar kalau seorang gadis
yang tengah dimabuk asmara itu selalu melindungi sang
kekasih. Saat ini kau dibutakan oleh cintamu, hingga
rasanya kau rela juga mati untuknya. Tapi coba
renungkan, walaupun dia cakap sekali parasnya, hatinya
bagaimana? Pada saat dia tak menyintaimu lagi, dia nanti
akan berbuat bagaimana, sudahkah kau
membayangkannya?" habis menyadarkan pikiran sinona,
wanita itu kebutkan lagi benang suteranya sampai
beberapa kali. Dalam beberapa kejab saja, tubuh Tong
Ko telah menerima dera sampai tujuh delapan kali.
GAMBAR 05
Karena terjaring, Tong Ko tak berdaya menghindarkan
sabetan2 tali sutera wanita itu yang memaksanya
menikah dengan The Ing
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kecuali menutupi mukanya dengan tangan, Tong Ko
tak dapat berbuat apa2 lagi dalam jaring itu. Tujuh
delapan kali dera hajaran itu, telah membuat seluruh
tubuhnya bertabur luka yang belumuran darah. Tapi
wanita itu bukannya sudah, malah dengan kertek gigi seolah2
sedang menghadapi seorang musuh besar, kembali
mengayunkan tangannya sampai beberapa kali pula.
Sampai disini, hati The Ing benar2 tak tahan.
"Sudahlah, kalau mau pukul, pukul aku sajalahl"
serunya sembari loncat kemuka menubruk jaring itu.
"Nona The, jangan gegabah. Lekas keluar dari goa
inil" Tong Ko menjadi terkejut dan sibuk. Tetapi The Ing
tak mau menghiraukan lagi. Dia enjot kakinya loncat
keatas, setelah menyisih seekor kera yang berada
didalam jaring situ, ia lalu masuk dan memeluk Tong Ko.
Air matanya membanjir turun, butir2 ketesannya waktu
menjatuhi luka2 ditubuh Tong Ko, telah membuat anak
muda itu meringis sakit.
Si wanita aneh menjadi terbeliak kaget melihat
perbuatan The Ing, serunya: "Siaucu (budak) dengarlah!
Nona itu sangat menyintaimu, kalau kau meluluskan
untuk melangsungkan pernikahan dengannya, kau tak
usah menderita dera siksaan lagi !"
"Ngaco......! Dalam urusan sepenting pernikahan itu,
mana boleh didasarkan paksaan? Coba andaikata kau
disuruh menikah dengan seorang yang tak kau cintai,
apakah kau mau?" Tong Ko menyanggahnya.
Mendengar argumen (bantahan) yang dilontarkan
Tong Ko itu, tangan siwanita yang tengah berada diatas,
lemas lunglai mengulai kebawah lagi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aku ingin menikah dengan orang yang kucintai, tapi
orang itu tak sudi padaku!" tanpa tersadar mulut wanita
itu mengingau.
Tong Ko dan The lng heran sekali. Duapuluh tahun
berselang, siapakah insan dimaya pada yang dapat
menandingi kecantikan wanita itu? Ah, lelaki siapakah
yang begitu ganas menghancurkan hatinya?
---odwkzo0otaho----
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 09 : MELOLOSKAN DIRI
Watak perangai Tong Ko sekalipun keras, tapi
sebenarnya hati nuraninya sangat welas asih. Dia turut
belasungkawa akan nasib yang merundung wanita itu.
Tapi dipikir lebih panjang lagi, walaupun dia symphati
kepada wanita itu namun dia sendiripun berfaham
begitu, tak dapat "menukarkan" hati kepada lain orang.
Biar bagaimana, tak mungkin dia menuruti permintaan
wanita itu untuk mengawini The Ing.
"cianpwe sendiri telah mengalami bagaimana pahit
getirnya orang yang dichianati cintanya, tetapi mengapa
cianpwe berkeras mendesak aku supaya menghancurkan
hati nona In?" kembali Tong Ko lancarkan serangan lidah
yang tajam."
Tampak wajah wanita itu bermuram, ujarnya: "Huh,
apa nona In itu. Kalau benar2 kau menyintainya dengan
setulus hati, kau harus tinggal digoa sini tiap hari
menerima 81 kali cambukan. Kalau kau tahan sampai 81
hari lamanya, nah kau boleh bebas dari sini. He...., he....,
orang mengatakan bahwa demi cinta, jiwa dan raga rela
dikorbankan. Tapi aku tak percaya hal itu. Kalau benar
kau cinta pada nona In, seharusnya kau berani
menderita siksaan itu. Tapi jika tidak, haruslah kau
menurut peraturanku. Kecuali dengan jalan itu, jangan
mengharap aku suka merobah peraturanku itu.
Bagaimana, lekas katakan !"
Tanpa ragu2 lagi, Tong Ko serentak menyahut : "Tak
usah banyak bicara, hari ini juga kau boleh mulai
menyiksa diriku !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bagus, coba saja berapa lama kau dapat bertahan !"
wanita itu tertawa dingin lalu loncat menghampiri untuk
menarik The Ing keluar dari dalam jaring. Dibawanya
nona itu kebagian perut gunung. Setelah melalui jalanan
yang berliku-liku akhirnya tibalah wanita itu pada sebuah
kamar batu yang tingginya hampir satu tombak. Sebuah
ciok-pay (papan batu) yang tebalnya hampir setengah
meter, menutup pintu kamar itu.
Cukup dengan sebelah tangan kanan, wanita itu sudah
dapat mendorong papan batu itu terbuka, lalu masukkan
The Ing kedalam kamar situ. Waktu hendak berlalu,
tampak oleh wanita itu kedua kera besar piaraan The Ing
sudah berada disitu. Tanpa banyak bicara, wanita itu
segera meringkus dan lemparkan kedua binatang itu
ketempat tuannya. Papan batu ditutupnya lagi rapat2,
lalu ia tinggalkan tempat itu.
The Ing menduga bahwa wanita itu tentu akan mulai
menyiksa Tong Ko. Dengan meratap ia berseru
memintakan ampun, tapi tiada penyahutan apa-apa.
Hendak The Ing mendorong papan batu itu, tapi
sedikitpun tak bergeming. Sejak kecil The Ing sangat
dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Walaupun mereka
hidup didalam gunung belantara, namun segala
keperluannya selalu tersedia. Pengalaman pahit yang
pertama kali dideritanya selama ini, yalah ditolak Tong
Ko dan dijebluskan dalam kamar tahanan oleh wanita
aneh itu. Maka saking gemas dan sedihnya, ia menangis
gerung2.
Toa-gin dan Siau-gin menjaga disampingnya sembari
mengelus2 sang nona majikan, seolah-olah hendak
menghiburnya. The Ing tak dapat menumpahkan
kesedihan hatinya, maka dengan kuatkan hati ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mencacahkan jumlah binatang piaraannya. Untuk
kegirangannya, ternyata kawanan kera itu seekorpun
tiada yang kurang. akhirnya ia ambil putusan, oleh
karena urusan sudah menjadi sedemikian rupa, daripada
menangis lebih baik ia kerahkan kawanan kera untuk
mendobrak papan batu itu. Biar bagaimana ia tetap ingin
mendampingi Tong Ko untuk menerima dera siksaan.
Untuk memulangkan semangatnya, lebih dahulu ia duduk
mengambil napas.
Diceritakan, wanita itu ber-gegas2 menuju ketempat
Tong Ko sembari membawa benang merah sepanjang 4
tombak. Begitu masuk kedalam, ia terus mulai
menghajar Tong Ko. Benar dalam sesingkat waktu yang
terakhir ini, peyakinan Tong Ko maju pesat, tapi terhadap
benang sutera yang luar biasa dari wanita itu, benar2 dia
tak berdaya. Setiap kali sutera tiba ditubuh dan ditarik
kebelakang, kulit tubuh Tong Ko tentu terbeset,
darahnya mengucur. Kalau kebetulan, sabetan itu jatuh
dibagian tubuh yang masih utuh (belum terluka)
walaupun sakit, tapi masih dapat ditahannya. Tapi kalau
sabatan itu tepat mengenai bagian yang sudah terluka,
aduh mak, nyerinya sampai menusuk ulu hati rasanya.
Pada sabatan yang ke 60, sebenarnya Tong Ko sudah
pingsan, tapi dikarenakan dia itu seorang jantan yang
keras hati, sepatahpun tak mau dia mengerang.
Sebaliknya wanita itu bagaikan kemasukan
setan......... 61, 62, 63, mulutnya menghitung tangannya
menghajar. Tetapi waktu memasuki hitungan yang ke 70,
tiba2 dari arah luar terdengar suara seorang lelaki
berseru : "Ho......., kau mau melarikan diri ? Goa ini
adalah buntu !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Huh........., kau takut tak dapat keluar dari sini ?"
sahut sebuah suara perempuan.
Sesosok bayangan, melesat masuk kedalam goa dan
menyusul tampak seorang lelaki mengejarnya. Wanita
aneh itu lepaskan Tong Ko, lalu gerakkan suteranya
menyabet kekaki perempuan yang masuk terdahulu tadi,
terus ditarik kedekatnya.
"Kau siapa ?'
"Aku bernama Tio In." sahut nona itu.
"Siapa mamahmu ?"
Tio In terkesiap sejenak, lalu menjawab :"Hui-lay-hong
Liau Yan-chiu!"
Wanita aneh itu tertawa dingin, serunya :"Ho, kiranya
dial"
Saat itu orang lelaki yang mengejar tadipun sudah tiba
disitu. Melihat wanita aneh itu, dia segera menegurnya.
Wanita aneh itu mendongak kemuka. Dilihatnya penegur
yang berdiri dihadapannya itu adalah seorang anak muda
yang berwajah luar-biasa. Matanya cekung kedalam,
hidungnya tinggi dan sepasang matanya berwarna ungu.
"Bagus, itulah memang seharusnya!" serunya.
"Tapi, setelah menikah harus tinggal disini dulu selama
3 tahun, baru nanti boleh keluarl"
Perangai Shin Hiat-ji amat congkak. Dasar dia sangat
dimanjakan sebagai anak emas oleh pemerintah ceng,
maka makin mangkaklah sikapnya. Dari girang dia
berobah menjadi murka besar.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Perempuan busuk, jangan ngoceh tak keruan!"
serunya sembari menjotos. Tapi secepat kilat tampak
selarik sutera merah bergeliat menyambar sikunya.
Saking terperanjatnia, buru2 dia tarik pulang jotosannya,
namun tak urung jari kelingkingnya sudah kena tersabat,
sakitnya bukan kepalang.
Sret....., dia mundur sembari cabut jwan-pian. Mulut
menghambur makian, tangannya menyodokkan jwanpian
lurus kemuka untuk menutuk jalan darah ki-bun-hiat
didada siwanita. Bahwa sabatan pertama tadi dapat
dihindar wanita itu memperoleh kesan, sekalipun anak itu
masih muda belia usianya tetapi kepandaiannia cukup
tinggi. Menampak datangnya jwan-plan Itu, wanita
tersebut hanya tertawa dingin, tanpa menghindar ia
gunakan jarinya untuk menutuk.
Wanita itu tergolong pertengahan umur (40-an tahun),
tapi jari tangannya itu masih segar membulu landak. Tapi
secepat itu, pula, Hiat-ji turunkan pian untuk menutuk
jalan darah thianki-hiat.
Memang gerakan pemuda itu luar biasa cepatnya. Dia
cepat, siwanita lebih sebat lagi se-olah2 sudah
mengetahui bahwa serangan pertama dari lawan tadi
adalah serangan kosong, maka jarinyapun sudah siap
menunggu disisi jalan darahnya thian-ki-hiat. Kali ini
dapat ia menutuk tepat ujung pian yang menyambar
datang itu. jwanpian terungkat keatas dan kaki Hat-ji
terhuyung menyurut kebelakang beberapa tindak. Dan
berbareng itu, sinar merah menyambar datang. Dalam
kedudukan dimana tubuhnya masih belum berdiri jejak,
sudah tentu Hiat-ji tak dapat menghindar. Tampak tubuh
wanita itu ber-gerak2 mengitari Hiat-ji beberapa kali dan
tangan serta kaki Hiat-jipun sudah terikat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Bermula anak itu hendak meronta, tapi suatu
kesakitan yang hebat telah memaksa nya tak berani
berkutik lagi.
"Kali ini aku mengaku kalah. Entah siapa namamu ini?"
akhrinya anak yang beradat tinggi itu mendongak
kemuka.
"Usah tanyakan namaku. Mau tidak kau mengawini
nona itu dan tinggal disini sampai 3 tahun?" sahut
siwanita.
Hiat-ji melirik kearah Tio In. Dilihatnya nona itu
membeliakkan sepasang matanya yang bundar besar,
seri wajahnya merah kecemasan. Tapi justeru hal itu
makin menambah semarak kecantikannya. Diam2 Hiat-ji
menimang, 3 tahun bukan waktu yang lama. Selain
cantik, Tio In adalah puteri kesayangan Siau-beng-siang
Tio jiang. Nanti apabila dia sudah mendiadi menantunya,
dapatlah dia membujuk Tio jiang suami isteri agar
menakluk pada pemerintah Ceng. Bukantah hal itu
seperti yang dikatakan orang "sekali tepuk dua lalat"?.
"Baiklah, aku menurut!" kata Hiat-ji sambil
mengangguk.
"Ho, kau ternyata tahu diri!" ujar siwanita seraya
mengitari tubuh Hiat-ji untuk membuka ikatannya.
Sebaliknya pada saat itu, Tio In ter-mangu2 bagai
terpaku ditanah. la mencari jenazah Tong Ko dikaki Lohu-
san dan dapat diringkus Hiat-ji kemudian setelah
berjumpa dengan sikaki satu Sin Tok dan Shin Leng-siau,
ia (Tio In) hendak dijadikan umpan pemikat supaya Tio
jiang dan rombongan orang gagah Lo-hu-san mau
datang kekota raja. Tapi Hiat-ji jatuh hati kepada nona
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu. Oleh karena tak diikat, ditengah perjalanan Tio In
dapat melarikan diri.
Yang pertama mengetahui lolosnya nona itu adalah
Hiat-ji sendiri. Tanpa memberitahukan kepada kedua
kawannya, anak muda itu segera mengejarnya. Dalam
keputusan akal Tio In tampak disebelah muka ada.
sebuah air terjun. Kesitulah ia menobros dan masuk
kedalam goa tempat kediaman siwanita aneh. Hiat-ji tak
mau melepaskan dan ikut masuk. Sewaktu wanita itu
bertempur dengan Hiat-ji, Tio In diam2 bersyukur dalam
hati. Tapi serta didengarnya mulut siwanita itu maukan
supaya Hiat-ji menikah dengannya (Tio In), kejutnya tak
terkira. jangan kata Tong Ko belum meninggal, sekalipun
andaikata sang kekasih itu sudah tiada didunia lagi, tetap
ia tak sudi menikah dengan anak muda macam itu.
Demikian prasetya Tio In.
Maka kalau Hiat-ji menyetujui dengan girang, adalah
Tio In serentak mendamprat siwanita: "Ngaco!"
"Ho....., bagus! Pasangan yang tadi, silelaki yang tak
mau. Kali ini adalah giliran fihak perempuan yang
menolak! Nona ketiil, coba kau lihat, adakah yang
didalam jaring itu kekasihmu?" wanita aneh itu berpaling
kebelakang menghadapi Tio-In.
Sewaktu masuk kedalam goa situ tadi, Tio In berada
dalam keadaan gugup, jadi tak sempat ia memperhatikan
keadaan disitu. Sewaktu mendongak keatas dan
mengawasi dengan perdata siapa yang berada dalam
jaring itu, kalaupun orang itu pada saat tersebut se-olah2
merupakan manusia-darah, namun tak ragu2 lagilah Tio
In segera berseru dengan girangnya: "Ko-ko!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Saat itu Tong Ko tengah berada dalam keadaan
remang pikiran, antara sadar tak sadar dari pingsannia.
Sewaktu mendengar namanya dipanggil orang, dia
paksakan matanya memandang dan ah....., kalau saja
badannya tak berada dalam jaring, mungkin dia akan
sudah lompat menyongsongnya.
"In-moay !" serunya sembari bergeliatan.
Tio In maju menghampiri, "Ko-ko, mengapa kau
berada disini?" tanyanya dengan mesra. Melihat adegan
itu, Hiat-ji ber-api2 kemarahannya. Dia maju hendak
menyeret Tio In, tapi tepat pada saat itu dari sebelah
dalam goa sana, terdengar suara berdebum yang
dahsyat sekali. Menyusul dengan itu, tampak ada berpuluh2
cahaya perak lari mendatangi kesitu.
Itulah The Ing dengan anak buahnya kawanan kera
gin-si-kau. Setelah dapat mendongkrak rubuh papan
batu, mereka datang menyerbu. Toa-gin dan Siau-gin
merangsang siwanita aneh. Benar wanita itu dapat
menghajar pontang-panting kawanan kera hingga dalam
beberapa kejab saja sudah ada tiga empat puluhan kera
yang terluka, namun bagai air bah (banjir), kawanan
kera gin-si-kau itu patah tumbuh hilang berganti. Mereka
berpantang surut, sepuluh rubuh, duapuluh maju. Wanita
itu benar2 kewalahan juga.
The Ing cepat menghampiri kedekat jaring. Disitu
didapati ada seorang nona tengah memandang lekat2
pada Tong Ko, siapa pun juga balas menatap wajah nona
itu.
"Adakah nona ini nona Tio In?" tegur The Ing kepada
Tio In. Namun seperti belum puas, Tio In masih enak2
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
memandang sang kekasih, hingga tak mendengar
teguran itu.
The Ing perih hatinya, namun ia tak mempunyai hati
sirik. cepat dilolosnya senjata kelinting kim-leng untuk,
menyerang Hiat-ji. Setelah dapat mengundurkan anak
itu, ia enjot tubuhnya menjambret Tong Ko terus
dilemparkan kepada Tio In, serunya: "Nona In, lekas
bawa dia keluar dari sini!"
Dilempar oleh The Ing tadi, saking sakitnya Tong Ko
segera pingsan lagi. Tio In dekap tubuh sang kekasih
erat2. Hatinya sangat menerima kasih The Ing.
"Siapakah nama cicl itu?" tanyanya.
The Ing tak henti2nya mendengar jerit pekik kawanan
kera yang mengerikan, tanda bahwa mereka itu tak
dapat mengurung siwanita lebih lama lagi. Dan pada saat
itu Hiat-jipun tampak hendak siap merangsang Tio In.
Suasana pada saat itu benar2 berbahaya.
"Sudahlah jangan banyak membuang waktu, lekas lari!
Kalau berayal, tentu celaka!" sembari menyahuti
pertanyaan Tio In, The Ing menyongsong kedatangan
Hiat-ji dengan rantai kelintingnya.
Tio Inpun insyaf akan keadaan yang seruncing itu.
"Budi cici itu, takkan kulupakan seumur hidup!" ia
berseru keras2 lalu pondong tubuh Tong Ko dibawa lari
keluar. Tak antara berapa lama, dapatlah ia menobros
keluar dari air terjun. Masih terdengar deru kumandang
air terjun itu menumpahkan airnya dan suara
gemerincing senjata beradu ditingkah dengan jeritan
ngeri dari kawanan kera. Namun Tio In tak berani
hentikan larinya. Setelah 3 li jauhnya, barulah ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berhenti. Dicarinya sebuah batu besar untuk meletakkan
tubuh sang kekasih. Demi dilihatnya tubuh pemuda yang
menjadi tambatan hatinya itu bertaburan luka dan noda
darah, hati Tio In seperti disayat sembilu.
Pada lain saat, Tong Ko tersadar. Begitu tampak Tio In
disisinya, dia segera bertanya: "In-moay, bagaimana kita
dapat berada disini? Adakah aku ini sedang bermimpi?
Matikah sudah aku ini?"
Tio In tuturkan apa yang sudah terjadi barusan.
Mendengar itu, tiba2 wajah Tong Ko berobah pucat.
Serentak loncat bangun dia berseru: "In-moay, mengapa
kaulakukan perbuatan yang tak selayaknya ini?"
Tio In terkesiap, tanyanya "Kesalahan apa yang
kulakukan?"
"Nona The telah korbankan jiwanya untuk menolong
aku dan kau. Baginya, sudah tentu ia rela ikhlas, tetapi
apakah kita berpeluk tangan saja membiarkan penolong
kita dicelakai orang? Lekas balik kedalam goa sana,
lekas, lekasl Tong Ko beringas seperti orang kalap.
Tio In terbelalak, sahutnya: "Ko-ko, kalau kita balik
kesana, apakah tidak berarti mengantar kematian juga?"
Sewaktu Tong Ko dahulu masih berkepandaian cetek,
dia sudah memuja akan sifat ksatryaan dari tokoh2
pahlawan setiap jaman. Apalagi dia memang memiliki
sifat2 peribadi begitu. Maka tak mengherankanlah
kiranya kalau dia begitu bersemangat kala mengetahui
pengorbanan yang luhur dari The Ing. Sesaat lupalah dia
akan diri Tio In dan membentak-bentaknia dgn marah.
Menilik sifat Tong Ko, dalam hal itu dapat dimaklumi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tapi dasar anak perempuan, Tio In tak dapat
memahami apa, yang terkandung dalam sanubari Tong
Ko tadi. la malah menduga yang tidak2.
"Ko-ko, kau suka pada nona The bukan? Ah, itu
mudah, kau tunggu disini, biar kukesana, nanti tentu
kuserahkan nona itu kepadamu lagil" kata Tio In serya
terus berputar diri mengayun langkah.
---oo>dwkz0tah0oo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 11 : MENDAPAT ILMU
Menjelang terang tanah, tubuhnya serasa sakit bukan
kepalang. Saking tak kuatnya menahan, dia hendak
berbangkit. Tapi pada saat itu se-konyong2 terdengar
orang berseru: "Disinilah!"
Kejut Tong Ko seperti disambar petir. Kalau saja yang
datang itu Tay-keng, habislah sudah tentu riwayatnya.
Bum....., sesosok tubuh yang luar biasa tinggi dan
besarnya, dari atas wuwungan jatuh kedalam ruangan
situ. Dan berbareng pada saat itu seorang bertubuh kate
juga menobros masuk. Waktu masih melayang diudara
tangan sikate itu sudah lancarkan 3 buah serangan pada
sitinggi besar tadi.
Siraksasa itu menghindar kesana berkelit kesini. Tapi
dikarenakan ruangan situ sempit, jadi dia segera dapat
melihat Tong Ko disitu.
"Hai, kau juga berada disini?!"
Tengah dia berseru itu, sikate sudah menginjak lantai
dan buk, dia hantam pantat sibesar itu siapa dengan
berkuik kesakitan berseru keras2: "Bedebah, berani kau
menyerang orang secara membokong?"
Kini tahulah sudah Tong Ko siapa kedua orang yang
datang itu. Itulah Sik Lo-sam dan Soa-kim-kong. Diam2
dia merasa girang. Benar kepandaian kedua orang itu tak
terpaut banyak dengan Tio Jiang, tapi kalau mereka
berdua mau bersatu tentu hebat hasilnya.
"Jiwi cianpwe.......jangan berkelahi! Aku terluka berat,
lekas tolongi!" Tong Ko paksakan diri berseru. Terhadap
kedua orang limbung itu, tak perlulah kiranya dia main
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sungkan lagi. Dan benar juga kedua orang limbung itu
tertawa mengekeh.
"Ha...., ha......, bagus! Seorang separoh!" mereka
melangkah menghampiri dan tepat seperti tatkala diatas
batu besar dalam lembah, mereka masing2 lalu mencekal
tangan kanan dan kiri Tong Ko.
Terima kasih Tong Ko sukar dilukis. Diapun cepat2
kerahkan semangatnya. Hampir sehari semalam kedua
orang limbung itu menyalurkan lwekang masing2
ketubuh Tong Ko. Saking lelahnya tuhuh mereka sama
bersimbah peluh (mandi keringat). Tong Ko tak tega
melihatnya, lalu geliatkan sepasang tangannya untuk
berbangkit. Dia tak tahu sama sekali, karena ingin
dianggap menang, kedua tokoh limbung itu kerahkan
penyaluran lwekangnya, hingga hampir 7 bagian lwekang
mereka masuk ketubuh Tong Ko. Maka begitu Tong Ko
gerakkan tangannya tadi, kedua orang limbung itu
sama2 terjerembab jatuh.
Saking kagetnya Tong Ko sampai menjerit serta buru2
memapah mereka, tapi sitinggi dan sikate itu
goyang2kan tangannya seraya berseru: "Tak apa, coba
katakanlah, kepandaian siapa yang lebih unggul?"
"Cianpwe berdua sama2 memiliki ilmu yang sempurna,
hopwe sukar untuk memutusi!" sahut Tong Ko.
Kedua orang limbung itu saling berpandangan satu.
sama lain dengan melongo.
Tiba2 Soa-kim-kong Ciang Tay-lo menarik sebuah
jwan-pian warna merah dari pinggangnya: "Siaucu,
dengarlah! Pian ini adalah milik Yan-peng-gun-ong The
Seng Kong yang disebut Liong-kau-pian, lemas dan tahan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
segala tabasan. Kuserahkan ini padamu beserta imu
permainannya pat-siat-pian-hwat. Sikate itu tentu tak
dapat menandingi pemberianku ini!"
Serempak berdirilah Sik Lo-sam, serunya: "Bagus!"
Tanpa berkata apa2 lagi dia terus melesat pergi.
Bermula Tong Ko menolak pemberian Soa-kim-kong
itu, tapi setelah dipaksa oleh orang limbung itu, terpaksa
dia menerimanya juga.
"Nah...!, dengarlah: jurus pertama disebut ko-lo-ki-lo
(orang tua menunggang keledai) !" seru Sitinggi sembari
ayun tangannya. Tapi demi didapatinya tangannya sudah
kosong karena piannya sudah di berikan kepada Tong
Ko, dia meringis seperti monyet.
"Senjata pian meskipun hebat, tapi ilmu permainannya
jauh lebih berharga. Telah kukatakan kuberikan padamu,
tentu kuberikan sungguh2, huh....., mengapa kau tetap
memeganginya saja?" gerutu si Malaekat Tolol itu
panjang pendek. Tu! lihat, betapa limbung pikirannya.
Liong-kau-pian dia sendirl yang memberikannya kepada
Tong Ko, tapi kini persalahkan Tong Ko tipis
kepercayaannya.
Sudah tentu Tong Ko tak mau berbantah lalu serahkan
pian itu kepada silimbung. Begitulah sejurus demi sejurus
dia telah mainkan 8 buah jurus, yakni "Sian-cu-jui-siau";
"sian-kho-yan-hoa"; "kok-ciu-pang-wu", "thiat-kuay-maycin";
"tun-yang-hui;kiam"; "ho-ho-te-lan" dan "ciong-lihud-
si".
Limbung orangnya, tapi ternyata si Malaekat Tolol itu
memiliki suatu ilmu kepandaian yang luar biasa. Apa
yang diunjukkan tadi, sungguh2 sakti. Setiap jurus
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dipecah lagi menjadi 8 bagian jadi semua jadi
mempunyai 8 x 8 gerak perobahan yang sukar diduga
orang. Jwan-pian atau ruyung lemas itu, ada kalanya
lemas lunglai macam dahan puhun liu yang menjulai, tapi
ada kalanya menderu2 laksana seekor hay-kau-liong
(naga bertanduk satu) muncul dari dalam laut. Tong Ko
sampai ter-longong2 mengawasi. Dua jam lamanya dan
haripun sudah terang tanah, barulah si Tolol itu
mengakhiri permainannya. Intisari rahasia permainan
pian itu, satu per satu diterangkannya kepada sianak
muda.
"Ilmu permainan pian ini, kuperoleh semasa
kumendapat pian liong-kau-pian itu. Suhuku, Cui-kui
(setan arak) Jui Wi, sengaja menciptakan ilmu permainan
pian itu hasil pengolahannya dari ilmu pukulan pat-sianciang
(pukulan 8 dewa). Hampir separoh hidupku
kugunakan untuk meyakinkan ilmu itu, maka jangan
pandang remeh padanya!" kata Soa-kim-kong.
Tong Ko menurut dan memainkan pula permainan itu
satu kali. Begitulah tak terasa, 3 hari terus menerus Tong
Ko dilatih Soa-kim-kong. Karena dasarnya cerdas,
fahamlah sudah Tong Ko akan permainan pian itu.
Hari itu sudah menjelang malam pula dan berkatalah
Ciang Toa-lo: "Ho... ho..., entah kemana perginya sikate
itu, tapi rasanya tak nanti dia dapat mengungkuli
hadiahku itu, benar tidak?"
Tong Ko masih tak percaya kalau seorang tokoh
macam Sik Lo-sam mau mengikari janji tak datang lagi.
Tapi menunggu sampai tengah malam dan Ciang Toalopun
habis kesabarannya; tetap sikate itu belum
muncul.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mereka lalu keluar pintu untuk melongok keluar. Hai,
apa itu? Nun jauh disana, tampak ada segulung sinar
ber-kilau2an laksana sebuah bola api. Teng-liong
(lampion)?
Bukan, tak mirip dengan teng-liong. Secepat kilat,
benda aneh itu makin mendekati dan cahayanyapun
makin gilang gemilang menyilaukan mata dan ketika
sudah tiba hampir2 mata Tong Ko tak kuat dibukanya.
Ha...., ha...., demikian gelak tertawa sikate dan
orangnyapun sudali tampak berdiri dihadapannya. Benda
bercahaya itu, kiranya dia yang membawa.
"Bocah gede, coba lihat apa ini?" tanyanya kepada
Soa-kim-kong.
Ketika Tong Ko dan Soa-kim-kong mengawasinya,
kirania sikate itu telah membawa sebatang lian-to (golok
yang bentuknya macam sabit). Mata senjata itu putih
seperti perak yang ber-kilap2 cahayanya. Maka waktu
dimainkan oleh sikate tadi, telah menjadi segulung sinar
putih yang ber-kilau2an. Sudah tentu kedua orang itu
menjadi kaget tak terkira.
"Ay-ko-ji (kate), golok apa sih itu?" tanya si Tolol.
Sik Lo-san mendongok dengan wajah ke-bangga2-an
sambil menatap wajah yang murung dari lawannya itu.
"Inilah yang disebut It-thian-pi-lik-to !"
"Bagus, golok luar biasa! Ay-ko-ji, dari mana kau
peroleh golok itu?" mau tak mau si Soa-kim-kong
menghambur pujian.
"Huh, siapa sudi mengatakannya" sahut Sik Lo-sam
dengan wajah merah jengah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tampak perobahan wajah sikate, tahulah Tong Ko
bahwa menilik dari gerak geriknya yang aneh, tentulah
golok Itu berasal dari hasil mencuri.
"Tidak, harus mengatakan!" Ciang Tay-lo mendesak.
"ya...., ya...., bilang ya bilang," akhirnya Sik Lo-sam
mengalah, "golok ini pada 20 tahun yang lalu kucuri dari
kepala suku Thiat-theng-biau dipegunungan Sip-ban-taysan
!"
Memang dugaan Tong Ko tadi benar. Dari bentuknya
yang begitu kemilau, terang ketajaman golok itu. tak
dibawah pi-i-song-hong (sepasang pedang yap-kun-kiam
dan kuan-wi-kiam. Waktu Tong Ko menyambuti golok
mujijad itu dari tangan Sik Lo-sam, diluar dugaaan golok
itu ringan seperti tak mempunyai berat sama sekali.
Tangkai golok Itu berwarna hitam, ujung tangkai yang
diikat dengan sehelai benang sutera perak itu terdapat
beberapa tulisan yang. berbunyi "kian thian pik li to, ho
ping sam lian cu". Kian-thian pik-li-to artinya golok yang
menggoncang dunia; sedang Ho Ping sam lian cu
maksudnya dibuat pada tahun Ho Ping yang ke 3.
Ho Ping adalah perhitungan tahun pemerintahan
baginda Han Seng-te, maka menghitunglah Tong Ko,
hai......, kiranya golok itu usianya sudah 1600 tahun.
Namun keadaannya masih sedemikian gilang gemilang,
entah terbuat dari pada bahan logam apa?.
"Ay-ko-ji, aku tak dapat menandingi golokmu itu. Kau
ajarkan sekalian ilmu permainannya kepada anak itu!"
akhirnya dengan ter-bata2 Soa-kim-kong Ciang Tay-lo
mengaku kalah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sik Lo-sam tertawa bangga, girangnya seperti putus
lotre.
"Jadi kau mengaku kalah?"
”ya, aku kalah!" sahut Sce-kim-kong.
Maka bertepuklah Sik Lo-sam seperti orang getun
serunya: "Cialat, aku sendiripun tak tahu permainan
golok itu! Setelah mendapat golok itu, tak berani
kumenginjak Sip-ban-tay-san lagi. Suku Thiat-theng-biau
itu amat lihay, siapa yang berani main2 dengan merekal"
Tapi pada lain detik dia segera men-jerit2 seperti
orang gila: ”Hurah...., aku menang! Aku menang......!"
Tanpa pamitan lagi, dia terus ngacir pergi, lari berjingkrak2.
Ciang Tay-lo menghela napas. "Golok luar biasa, ya
memang luar biasa sekali Coba pinjamkan padaku, biar
kuperiksanya!"
Tong Ko mengangsurkan dan begitu menyambuti
Ciang Tay-lo lalu menebas sebatang puhun kecil yang
berada didekat situ. Golok menobros ditengah batang
puhun, tapi lewat beberapa detik barulah puhun itu
bergoyang rubuh. Dari percobaan itu dapatlah diketahui,
betapa tajamnya golok pusaka itu.
Demi melihat Soa-kim-kong suka sekali akan golok itu,
tak ragu2 lagi Tong Ko segera hendak menyerahkannya:
"Kalau cianpwe menyukai, ambillah golok itu!"
"Sungguh?" sahut Soa-kim-kong dengan kegirangan.
"Masakan aku berani mempermainkan cianpwe!"
Beberapa kali Soa-kim-kong membolang-balingkan
golok pusaka itu untuk memeriksanya. Tapi pada lain
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
saat tiba2 dia berkata: "Sungguhpun aku suka sekali
akan pusaka ini, namun tak dapat aku meminta benda
kepunyaanmu. Nah, ini kukembalikan dan selamat
tinggal!"
Berbareng dengan lontarkan golok itu kearah Tong Ko,
orang Tinggi besar yang limbung itu angkat kaki seribu.
Tong Ko hendak mengejarnya, tapi toa-ko-ji atau si
Bocah Gede itu sudah tak kelihatan bayangannya lagi.
Apa boleh buat, terpaksa Tong Ko kembali. Setelah
disimpannya dengan hati2 golok itu, dia lalu masuk tidur.
Keesokan harinya ketika terbangun, tiba2 dia merasa
ada sesuatu yang luar biasa.
---o0o---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 12 : “GOLOK YANG
MENGGUNCANG DUNIA” (Kian-thian-itgwan
pik-li-to)
Keesokan harinya ketika terbangun, tiba2 dia merasa
ada sesuatu yang luar biasa.
Kala itu hari masih belum begitu gelap, tetapi ketika
membuka mata didapatinya pada wuwungan rumah itu
tampak ada suatu cahaya yang terang benderang.
Bermula dikiranya kalau sinar rembulan yang menobros
dari lubang wuwungan, kemudian setelah di-amat2i
dengan seksama, astaga, itulah pik-li-to (golok sabit)
yang kemarin dengan hati2 ditindihinya kini berada
diatas tiang Penglari wuwungan itu. Seketika hilang rasa
kantuknya karena terperanjat. Sekali enjot tubuh, dia
loncat naik untuk mengambil golok pusaka itu. Dibalik
heran diapun merasa takjub akan kelihayan orang main2
dengannya itu. Bahwa orang telah dapat mengambil
golok pusaka yang ditindihi dibawah bantal tanpa
diketahuinya, adalah sangat mengejutkan. Tapi yang
lebih mengherankan lagi, mengapa orang lihay itu tak
mengambil golok itu saja dan hanya digantung ditiang
penglari. Apakah gerangan maksudnya?
Sampai terang tanah, tak dapat dia pecahkan kejadian
yang aneh itu. Dibungkus baik2 golok pusaka itu lalu dia
tinggalkan pondok situ. Menghadapi jalanan yang
membentang dihadapannya itu, timbullah keraguannya,
hendak kemana dia ayunkan langkah mengejar jejak Tio
In atau menuju ketempat The Ing?
Diperhitungkannya bahwa sudah 3-4 hari lamanya dia
berada didalam pondok situ, rasanya Siau-beng-siang Tio
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Jiang tentu sudah sampai diperbatasan Kwitang. Untuk
menyusul, terang tak keburu lagi. Ah......, lebih baik dia
kembali kegua sana untuk menolong The Ing. Dengan
bantuan golok. pusaka: "Kian-thian-it-gwan pik-li-to" dan
ilmu ruyung " Pat-siat-pian-hwat" yang baru
diperlajarinya itu, kemungkinan besar dapat dia
membebaskan The Ing. Nona itu telah melepas budi
besar padanya, maka sudah lebih dari pantas kalau die
menolonginya.
Kegua tempat wanita aneh itu, kini ayun kakinya
ditujukan. Ketika dahulu dia dipondong Tio In lari dari ke
gua itu, waktu itu dia tengah pingsan, jadi tak
mengetahui jalannya. Make hampir lewat tengah hari,
dan sudah melintasi dua buah puncak gunung, tetap dia
tak menemukan jejak penunjuk ketempat goa itu.
Terpaksa dia berhenti sebentar memulangkan napas.
Hai....., mengapa aku tak menuju dulu ke Giok-li-nia dan
dari sana lalu mencari goa itu? Demikian dia mendapat
pikiran.,
Tiba dikaki Giok-li-nia, terkilas pikirannya bahwa pada
saat itu dipuncak sana tentu para, orang gagah patriot
tengah merundingkan siasat perlawanan kepada
pemerintah Ceng. Ingin benar dia menyumbangkan
tenaga, namun mereka tak mau mempercayai dirinya
lagi. Tiba pada lamunan itu, dia menghela napas dalam2.
Tiba2 pikirannya melayang akan perbuatan Tio Tay-keng
yang aneh mencurigakan itu. Ya, biar bagaimana juga,
kelak dia akan berusaha untuk menelanjangi rahasia
anak itu.
Sembari merenung didalam pikirannya itu, tidak terasa
lagi kakinya sudah tiba pada jalanan dimana tempo hari,
dia bersama The Ing dan rombongan kera gin-si-kau.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ketika memandang kebawah, tampak ada tetesan darah
berceceran diatas batu yang menuju kesebelah muka.
Dari keadaannya, terang noda darah itu masih belum
kering, jadi kalau. benar ada seseorang yang terluka,
tentulah belum lama berselang, kemungkinan besar baru
kemarIn malam.
Disusurinya ceceran darah itu. Kira2 satu li jauhnya
disebelah muka, tampak ada 4 ekor kecra gin-si-kau
menggeletak ditanah, namun ceceran darah tadi masih
belum putus. sampai disitu. Kejut Tong Ko tak terkira.
Diayunkan langkahnya makin cepat untuk menyusur
kemuka. Disepanjang jalan itu, ternyata tak putus2nya
dia berjumpa dengan kera2 gin-si-kau yang sudah
menjadi bangkai. Tak lama kemudian, tibalah dia
dilembah gunung yang terdapat air terjun itu
Ya, tak salah lagi itulah tempat gua siwanita aneh.
Dengan Plan ditangan kiri dan golok ditangan kanan, dia
loncat menobros masuk kedalam air terjun. Berkat
cahaya benderang dari golok pusaka itu dapatlah dia
mengetahui keadaan dalam gua situ. Lagi2 dla disuguhi
dengan pemandangan yang aneh. Bukan saja dalam gua
situ kosong melompong tiada terdapat barang
seorangpun, juga jaring ikan yang tergantung disitu,
lenyap entah kemana. Masih Tong Ko tak puas, lalu
menuju kesudut untuk mencari wanita aneh itu, tapi juga
wanita bekas bidadari dunia itu tak kelihatan
bayangannya.
Lorong tikungan gua situ, amat banyak. Satu demi
satu. Tong Ko menyusurinya, kecuali beberapa kamar
batu, tiada barang sesuatu yang dijumpainya Didepan
sebuah kamar batu terhampar sebuah papan batu
(tempat The Ing dikurung tempo hari), dia menemukan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sebuah ikat kepala pelajar yang bukan lain adalah milik
The Ing. Tong Ko makin gelisah. Setelah sia2
mencarinya, terpaksa dia keluar lagi. Memandang kearah
air. mancur yang. mencuram dari atas karang itu, hati
Tong Ko amat gundah.
"Nona The dimana kau berada?" tanpa merasa dia
berkata seorang diri.
Sekonyong2 didengarnya ada suara berkeresekan dari
semak2 rumput disebelah. atas. Tatkala diawasinya
seperti ada dua sosok tubuh berbaring ditengah semak
rumput itu.
Ber-gegas2 dia menuju kesana, dan astag, kirania
Toa-gin dan Siau-gin sedang meregang jiwa (sekarat).
Begitu tampak sianak muda, mata kedua binatang itu
ber-kicup2 tetapi tubuhnya tetap tak dapat berkutik.
Dada dan punggungnya, masing2 terdapat sebuah
lubang luka besar. Entah bekas kena senjata apa, tapi
yang nyata luka itu masih mengucurkan darah.
"Toa-gin, Siau-gin, dimana nona The Ing?" tanya Tong
Ko kepada kera2 yang dapat mengerti bahasa orang itu.
Dia harap dapatlah sekiranya kedua kera itu memberi
barang sedikit petunjuk, tapi kedua binatang itu hanya
membeliakkan matanya sejenak, lalu menutup lagi untuk
se-lama2nya. Tak tega Tong Ko melihat mayat binatang
itu terkapar begitu saja, mengingat bahwa sudah bertahun2
lamanya menjadi piaraan The Ing. Maka
dibuatnya sebuah liang untuk menguburnya. Ketika
hendak diangkat kedalam liang, Tong Ko mendapatkan
tangan Toa-gin menggenggam secarik kain yang
dikenalnya sebagai robekan baju The Ing.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tatkala robekan kain itu dibentang, ternyata disitu
terdapat tulisan dari darah yang walaupun corak
hurufnya pencang-pencong, tapi terang adalah buah
tulisan The Ing.
"Perobahan besar timbul secara mendadak, urusan
menjadi gawat sekali. Kutahu kau pasti datang kemari.
Pergilah ke Sipban ......... beritahukan ayah bundaku,
hatiku telah menjadi milikmu" demikian bunyi tulisan itu.
Tak salah lagi, tulisan itu tentu untuknya.
Lepas darl pernyataan isi hati The Ing, Tong Ko adalah
seorang yang berbudi luhur.
Adakah The Ing Itu mencintainya atau hanya sebagal
sahabat biasa, namun Tong Ko tetap mengenang akan
budi yang dilepas nona itu dalam usaha menolong dirinya
tempo hari. Dari maksud tulisan itu, kemungkinan besar
The Ing tentu mengalami bencana. Tanpa terasa,
menangislah dia.
"Seorang lelaki tak mau sembarangan mengucurkan
air mata, betapapun penderitaan yang diterimanya".
Beberapa kali Tong Ko telah menelan hinaan dan mandi
penasaran bahkan dipaksa untuk bunuh diri, tetap dia
tak mengucurkan setetes air mata. Tapi kali ini, benar2
dia tak kuasa menahan arus air mata yang membanjir
keluar itu. Begitu sudah puas menumpahkan
perasaannya, robekan baju The Ing disimpannya lalu
meneruskan penguburan Toa-gin dan Siau-gin. Setelah
itu dia menyelidiki sekitar tempat itu kalau2 dapat
menemukan jenazah The Ing. Tapi usahanya itu tak
berhasil.
Dalam perjalanan meninggalkan lembah itu, Tong Ko
selalu terkenang akan The Ing. Orang satu2nya yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dianggap sebagai orang sendiri (mengetahui
perasaannya) adalah nona itu. Dalam waktu remang
petang dimana burung2 gagak sama beterbangan pulang
kesarangnya itu, hati Tong Ko makin terasa rawan. Untuk
melampiaskan kesesakan dadanya, hendak dia bersuit
keras2. Tetapl se-konyong2 dari balik gunung sana,
terdengar suara seseorang bergelak-tawa. Dari nadanya,
terang orang itu si Ce-cing-long Shin Hiat-ji adanya!
Tong Ko kaget tercampur girang. Kaget, karena dia
tak merasa ungkulan menghadapi Hiat-ji yang
berkepandaian tinggi itu. Girang sebab dengan
beradanya anak itu, dapatlah dia menanyakan dirinya
The Ing. Begitu menyembunyikan golok didalam baju
dan mencekal liong-kau-pian, dia menuju kearah
datangnya suara itu.
Jauh disebelah sana tampak ada setumpuk api
unggun. Serangkum bau daging bakar yang wangi,
menyampok hidung Tong Ko. Oleh karena beberapa hari
tak merasakan daharan daging, air liur Tong Ko sampai
menetes dibuatnya. Dari cahaya api unggun, tampak
Shin Hiat-ji duduk disebelah situ tengah memberakoti
sepotong paha rusa dengan nikmatnya. Duduk
dihadapannya adalah seorang tua kate yang
mengenakan pakaian aneh sekali. Juga orang kate itu
tengah kemak-kemik gerahamnya mengunyah daging
rusa. Selain mereka berdua, tiada lain orang lagi. Hanya
disisi Hiat-ji terdapat setumpuk benda hitam yang
dikenali Tong Ko sebagai jaring ikan dari si wanita dari
gua itu.
"Suhu, kalau kau orang tua tak keburu datang,
mungkin Tecu (murid) sudah celaka ditangan wanita
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
jahat itu! Ilmu kepandalannya hebat jugal" kedengaran
Hiat-ji berkata.
Sikate itu tertawa dengan nada yang memanja. Dalam
keadaan seperti itu, dia mirip sekali dengan Bi-lek-hud
(Budha) yang gendut perutnya.
"Suhu, adakah kau mengetahui siapa wanita jahat
itu?" tanya Hiat-ji pula. Sikate yang dibahasakan "Suhu"
(guru) itu goyang2 kepala, sahutnya: "Oleh karena baru
pertama kali ini aku melintasi sungai Tiangkang, maka
tentang tokoh2 persilatan didaerah Selatan sini, aku tak
paham!"
Keterangan sikate itu hampir saja membuat Tong Ko
berjingkrak bahna kagetnya. Bukan saja suara sikate itu
sekeras guntur, tapi nadanya seperti anak kecil. Kalau
orang tak melihat mukanya, tentu akan mengira kalau
anak kecil yang bicara.
"Suhu, mengapa kau orang tua juga datang ke
Kwitang sini?" kembali Hiat-ji ajukan pertanyaan.
"Pemerintah agung Ceng mengutus orang
menyampaikan surat padaku, supaya turun gunung
membantunya. Walaupun aku seorang liar, tapi tahu juga
akan rasa terima kasih. Kudengar sepak terjang si Go
Sam-kui itu mencurigakan, mengunjuk sikap hendak
memberontak. Kwisay, Kwitang serta Hun-lam berbahaya
suasananya. Oleh karena kau berada di Kwitang, maka
segera aku datang kemari mencarimu"
"Suhu, dengan kesaktianmu itu, mengapa tak
menghajar saja ke Giok-li-nia, pusat berkumpulnya
kawanan pemberontak itu? Biar mereka tahu rasal" Seru-
Hiat-ji.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sampai disini tahulah sudah Tong Ko apa yang
dimaksudkan dengan tulisan "perubahan besar timbul
dengan mendadak" itu. The Ing tentu maksudkan
munculnya. siorang tua kate itu. Ditilik dari gelagatnya,
wanita aneh dari gua itu tentu bukan tandingan siorang
tua kate, maka sampai pusaka jaring kena dirampas.
Ilmu kepandaian wanita itu cukup tinggi, tak
sembarang tokoh persilatan dapat menandinginya. Kalau
in saja sampai kalah, terang kepandaian sikate itu bukan
main dan dengan begitu The Ing tentu sudah mengalami
kecclakaan. Menuruti getaran hati, seketika itu juga dia
sudah hendak menobros keluar untuk menghadapi
mereka, tapi tiba2 orang tua kate itu kedengaran
berkata: "Hiat-ji, adatmu masih seperti anak kecil saja.
Kau sudah lama berkelana didaerah Kwitang sini, apakah
pernah mendengar tentang golok pusaka Kian-thian-itgwan
pik-li-to?"
Disinggungnya golok pusaka itulah yang membuat
Tong Ko hentikan langkahnya hendak keluar tadi.
"Belum pernah mendengarnya!" seru Hiat-ji dengan
terkejut.
"Aneh," kedengaran sikate menyahut "malam lusa tak
berapa jauh dari gunung ini kulihat ada segulung sinar
gemilang yang rupanya mirip dengan golok pik-li-to.
Menurut cerita rakyat Tibet kami sewaktu Thio Cian-seng
dari ahala Han mengunjungi daerah itu, baginda Tay
Wan telah menghadiahkan golok pusaka Kian-gun-itguan
pik-li-to yang terbuat daripada emas murni
keluaran daerah barat itu. Ai, sayang, gerakan
sipembawa golok pusaka itu sangat luar biasa cepatnya.
Waktu hendak kukejar, dia sudah menghilang. Hiat-ji,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
benar ilmu kepandaianmu sudah tinggi, tetapi belum
mencapai kesempurnaan. Asal kau dapat memperoleh
golok pusaka itu berikut ilmu permainannya yang tiada
tara saktinya, rasanya sekian banyak taylwe-ko-chiu
(jagoan istana Ceng) tak nanti dapat menandingimu"
"Suhu, dimana kau melihalnya? Ayoh, lekas kita cari!"
seru Hiat-ji sambil berjingkrak girang
Orang kate itu mengiakan Dia hanya kelihatan menepuk2
pakaiannya dan entah bagaimana tiaranya
bergerak, tahu2 dia sudah melesat tiga empat tombak
jauhnya. Larinya bagai segulung asap, pesatnya bukan
kepalang. Tiba2 dia hentikan langkahnya, berpaling
kebelakang seraya berseru. "Jaring liok-i-bang dari
wanita itu juga termasuk senjata pusaka, terbuat
daripada sutera labah2 kim-cu. Jangan lupa
membawanya?"
Hiat-ji mengiakan dan setelah mengemasi jaring itu,
dia lalu menyusul suhunya. Dalam sekejab saja kedua
orang itu sudah lenyap dalam kegelapan malam. Kini
baru Tong Ko berani unjukkan diri dari tempat
persembunyiannya. Lebih dahulu dia beresi sisa daging
rusa yang ada disitu untuk mengisi perutnya. Diam2 dia
mengagumi golok pusaka hadiah Sik Lo-sam itu. Kalau
saja dapat dia mempelajari ilmu permainannya, rasanya
dia bakal menjagoi dunia persilatan. Sik Lo-sam
mengatakan golok itu dicurinya dari gunung Sin-ban-taysan,
tetapi tak tahu bagaimana ilmu permainannya. Ah,
kebenaran sekali kalau dia pergi kegunung itu. Pertama,
untuk menjumpai ayah-bunda The Ing dan kedua
kalinya, siapa tahu kalau awak mujur, tentulah dapat
menemukan rahasia permainan golok itu Dendam
penasarannya pasti terhimpas, namanya akan dapat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
direhabiliteer (dikembalikan) pula sebagai salah seorang
pahlawan yang gagah perwira.
Tengah dia dilamun oleh cita2nya yang membubung
itu, se-konyong2 ada serangkum angin puyuh meniup,
sehingga unggun api itu tertiup naik sampai beberapa
meter tingginya. Menyusul dengan itu, apipun padam
dan disekelilingnya menjadi gelap gelita. Terang api itu
tertiup padam oleh angin puyuh, tapi mengapa? Api
unggun itu sudah sekian lama berkobar nyalanya.
Sekalipun ada angin puyuh, yang bagaimana dahsyatnya
hingga memadamkan, tentu tiada semuanya padam.
Sekurang2nya pasti masih ada sisa lelatunya yang masihhidup.
Tetapi mengapa api unggun itu padam serempak?
Tong Ko insyaf tentu ada sesuatu yang kurang wajar.
Baru saja dia berbangkit atau cari sebelah belakang
sudah terdengar deru sambaran senjata melayang
datang Tak kurang sebatnia, Tong Ko segera sabatkan
liong-kau-pian kebelakang dalam diurus "tunyang-huikiam".
Tapi sabetannya itu mengenai tempat kosong dan
dengan tangkasnya dia berputar lagi kebelakang.. Belum
sempat dia lancarkan serangannya yang kedua, terasa
ada angin meniup disisi nya. Rasanya seperti ada
sesosok tubuh menyamber disampingnya. Jurus kedua
"kok-ciu-ja-ho" dia hantamkan, namun lagi2 menyambar
angin saja. Kiranya deru angin itu sudah jauh, saat itu
tiada terdengar suara apa2 lagi.
Buru2 Tong Ko pasang geretan api. Hai, kiranya diatas
tumpukan unggun itu terdapat sebaran pasir halus,
makanya apinya sampai padam sama sekali. Waktu
sebaran pasir halus itu disingkirkan, apipun kembali
menyala. Tatkala dia menunduk untuk melakukan
pemasangan unggun itu, tiba2 dilihatnya robekan baju
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bertulisan tadi jatuh diatas tanah. Robekan baju itu tadi
disimpannya dengan hati2, mengapa bisa jatuh? Memikir
hal itu teringatlah dia akan golok pusaka pik-li-to.
Tangannya meraba kedada dan astaga, ternyata golok
itu sudah tak ada lagi!
Baru saja dia mengetahui akan kesaktian golok itu
atau kini sudah hilang lenyap. Walaupun marah, namun
tak mau dia mengejar penyerang gelap itu, karena
menginsyafi dirinya bukan tandingan musuh yang
sedemikian saktinya itu. Hanya yang dia herankan
mengapa dengan mempunyai kepandaian yang
sedemikian hebatnya itu, orang tersebut tak
menyerangnya saja secara terang2an, tetapi secara
menggelap begitu? Rasanya bukan si Hiat-ji atau sikate
yang melakukan. Adalah Sik Lo-sam karena merasa
getun menyerahkan golok itu? Ah rasanya juga tidak.
Kemungkinan besar tentulah orang yang pada malam itu
pernah mengambil dan menggantung golok itu diatas
penglari wuwungan tempo harl. Tetapi siapa gerangan
orang aneh itu? Apa maksudnya?
Dalam kemasgulannya dia menghibur diri. Dalam
keadaan masih begitu rendah kepandaiarnnya, rasanya
lebih baik tak memiliki senjata pusaka itu daripada nanti
mengundang bahaya di-kejar2 oleh kaum persilatan yang
tentu sangat mengilerkan pusaka itu. Maka dipungutnya
lagi robekan baju tadi dan serentak seperti meng-iang2
pulalah kata2 yang tertera dalam pesan robekan-baju itu:
"Ko-ko, lekas pergi ke Sip-ban-tay-san memberitahukan
ayah bundaku! Lekas, lekaslah!"
Jika benar The Ing mengalami sesuatu yang tak
diinginkan, tentulah perbuatan siorang tua kate clan Shin
Hiat-ji. Tetapi Siapakah gerangan ayah-bunda The Ing
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu? The Ing hanya pernah mengatakan dirinya
dibesarkan ditengah hutan belantara, lain tidak. Rasanya
orang tua The Ing Itu tentulah orang2 sakti yang
menyepikan diri dari pergaulan ramai.
Begitulah akhirnya dia ambil putusan menuju
kepegunungan itu.
---oo-dwkz+0+tah-oo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 13 : DI GUNUNG SERIBU
Sekeluarnya dari Lo-hu-san dia membeli seekor kuda
lalu berangkat ketempat yang dituju itu. Untuk
menghilangkan kecurigaan orang, selama dalam
perjalanan itu Tong Ko menyaru sebagai seorang
pedagang. Begitulah singkatnya saja, hari itu dia tiba
dikaki gunung Sip-ban-tay-san (Gunung seribu).
Pegunungan Sip-ban-tay-san membujur ditengah
perbatasan. propinsi Kwitang dan Kwisay, luasnya sampai
beberapa ratus li. Sesuai dengan namanya, Sip-ban-taysan
atau Gunung Seribu itu penuh dengan lembah dan
tebing curam serta puncak yang tinggi menjulang
diselimuti oleh hutan belantara. Untuk mencari dua orang
yang berupa orang tua The Ing, ibarat seperti mencari
sebatang jarum didalam lautan sukarnya. Tambahan pula
nona itu belum pernah menerangkan tentang ciri2 kedua
orang tuanya itu.
Menghadapi kesulitan itu, Tong Ko tertegun sejenak
dan lalu turun dari kudanya untuk melepaskan lelah.
Beratnya melakukan pesan seorang sahabat berbudi, biar
bagaimana dan betapapun lamanya, dia tetap hendak
mencarinya sampai dapat. Seminggu lama nya dia
menjelajahi daerah gunung itu, makhluk buas maupun
bangsa ular yang menghuni dihutan pegunungan situ,
sudah banyak yang dijumpainya, namun seorang
manusiapun belum pernah dilihatnya.
Malam itu dia tengah rebahkan diri diatas sebuah
pohon besar. Se-koayong2 didengarnya ada derap kaki
mendatangi. Tong Ko menggeliat bangun, tapi buru2
rebahkan diri lekat2 pada dahan pohon lagi. Pada lain
saat derap kaki itu makin dekat dan tampaklah 3 orang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berjalan menghampiri. Yang dimuka sendiri, bukan lain
adalah Tio Tay-keng, putera sulung Tio Jiang.
Dibelakangnya mengikuti dua orang, siorang tua kate
dan Ci-ceng-long Shin Hiat-ji!
"Tio-heng, ucapan ayahmu, rasanya tentu tak keliru
bukan?" tiba2 kedengaran Hiat-ji membuka mulut.
"Sudah tentu benar. Ayahku selalu memegang teguh
apa yang diucapkan, tak pernah dia menelan ludahnya
lagi!" sahut Tay-keng sambil tertawa.
"Bagus, Tio-heng. Bilamana usaha kita kali ini berbasil,
pemerintah Ceng tentu akan memberi pangkat besar
padamu. Kedosaan ayahmu selama ini, tentu juga akan
diberi pengampunan. Orang mengatakan bahwa tiong
(setia pada negara) dan hau (berbakti pada orang tua)
itu tak dapat dikerjakan sekaligus. Tetapi kau, Tio-heng,
ternyata membuktikan ketidak benarnya ujar2 usang
itu!"
"Ah, Shin-beng terlalu memuji" sahut Tay-keng
mengulum tawa. Mereka bertiga berjalan seenaknya saja
sambil pasang omong, hingga ketika lalu dibawah tempat
persembunyian Tong Ko, mereka tak memperhatikan
diatas pohon.
Kini barulah Tong Ko mendapat kepastian sungguh2,
bahwa Tay-keng, putera Siau-beng-siang Tio Jiang sang
patriotik itu, ternyata bersekongkol dengan kawanan
kaki-tangan pemerintah Ceng. Entah untuk tujuan apa
mereka datang ke Sip-ban-tay-san situ. Mengingat fitnah
yang dideritanya dari mereka, turut kemauan sang hati,
ingin benar Tong Ko segera loncat turun untuk
melabraknya. Namun sang kesadaran mencegahnya,
karena insyaf akan kekuatannya sendiri.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Pada waktu ketiga orang berjalan tiga-empat tombak
jauhnya dari tempat persembunyiannya. Tong Ko samar2
masih dapat menangkap kata2 mereka yang antara lain
menyebut2 "Thiat-nia", "Kit-bong-to” kepala suku Thiattheng-
biau", "Apa yang dikatakan ayahku itu, tentulah
ilmu golok It-gwan-to-hwat" dan lain lain. Timbullah
dugaan Tong Ko, bahwa kedatangan ketiga orang
kegunung situ tentulah mempunyai rencana yang tidakbaik,
Rupanya mereka itu akan mencari sumber ilmu
golok It-gwan-to-hwat yang sakti itu.
Ah...., inilah suatu kesempatan yang bagus untuk
mengikutinya. Resikonya memang besar apabila sampai
ketahuan, namun Tong Ko tak gentar menghadapinya.
Segala usaha, besar atau kecil tentu mengandung risiko,
demikianlah ia merangkai putusan dan dengan hati2 dia
loricat turun.
Tapi baru saja kakinya menginjak tanah atau
terdengar suara nada anak kecil dari siorang tua kate itu
yang melengking: "Hiat-ji, kabarnya Sip-ban-tay-san sini
banyak sekali didiami bangsa ular berbisa. Baru saja
kudengar pada jarak 3 tombak disebelah belakang ada
suara ular merayap Hati2-lahl"
Bukan main kejut Tong Ko saat itu. Pendengaran
orang tua kate itu benar2 tajam sekali. Dia mendekam
ditanah tak berani berkutik. Baru setelah ketiga orang itu
jauh. Tong Ko bangun mengikutinya. Dibawah cahaya
bulan, tampak ketiga orang itu lari dengan pesatnya.
Apaboleh buat terpaksa dia 'tancap gas' juga. Setelah
melintasi 3 buah puncak, tampak disebelah muka ada
sebuah puncak lagi yang lebih tinggi. Batu2 yang
terdapat dipuncak gunung itu ke-hitam2an warnanya.
Tiba2 ketiga orang itu berhenti disitu. Tong Ko pun buru2
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hentikan larinya, lalu bersembunyi dibalik sebuah batu
besar. Ketika dia melongok keluar, tampak siorang tua
kate itu berpaling kebelakang dan tertawa kepadanya!
Seri-tawanya cukup manis dengan ramahnya se-olah2
seperti seorang sahabat kental yang lama tak bertemu.
Ber-detak2 jantung Tong Ko serasa dibuatnya. Adakah
jejaknya telah diketahui siorang kate itu. Satu2nya
harapan, mudah2an orang tua itu hanya secara
kebetulan saja berpaling dan melihatnya. Maka diapun
tetap diam tak berani bergerak.
"Hai, buyung, apakah disini ini puncak Thiat-nia
tempat kediaman suku Thiat-theng-biau?" tlba2- orang
tua kate itu berseru.
Cialat, demikian Tong Ko mengeluh. Untuk sesaat tak
dapat dia berbuat apa2..
"Suhu,. kau bicara, dengan siapakah?” Hiat-ji bertanya
dengan heran.
"Entah siapa dia itu, tapi sudah sedari tadi dia
mengintil dibelakang kita dan sekarang bersembunyi
dibalik batu tu. Lihatlah kemaril" sahut sikate.
Hiat-ji loncat menghampiri. Tong Ko sudah mau loncat
keluar untuk menyongsongnya dengan serangan, tapi
anak bermata ungu itu sudah tiba lebih dahulu
dihadapannya dan dengan cengar-cengir segera berseru:
"Ho, kiranya kaulah si............, kukira sudah mampus,
jebul kau sianjing buduk ini masih bernyawal"
"Kau anjing buduk....., budak hina dina
dari.......pemerintah Cengl" seru Tong Ko seraya
memburu maju dengan kedua belah tangannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sudah tentu Hiat-ji tak mengetahui bahwa selama
waktu perpisahannya yang sesingkat ini, Tong Ko telah
memperoleh "masakan" ilmu lwekang yang sakti dari
kedua tokoh aneh Sik Lo-sam dan Soa-kim kong. Buru2
diu menghantam kemuka untuk membuyarkan angin
pukulan lwekang Tong Ko itu. Tapi secepat kilat, Tong Ko
sudah meloloskan liong-kau-pian, terus diserangkan
dalam jurus kou-la-kiao dan tun-yang-hui-kiam.
Memang adat Hiat-ji keliwat sombong. Sudah tahu
bagaimana kedahsyatan deru angin pukulan Tong Ko
tadi, namun dia masih membanggakan kepandaiannya.
Baru setelah matanya kabur dengan kilat merah dan
sambaran angin yang men-deru2, dia menjadi kelabakan
setengah mati. Terang pian yang dicekal Tong Ko itu
bukan pian sembarangan dan ilmu permainananyapun
luar biasa dahsyatnya. Dalam kegugupannya dia buang
dirinya berjumpalitan kebelakang. Namun sekalipun
begitu, keningnya telah tergurat dengan ujung pian,
kulitnya pecah dan sakitnya sampai menusuk keulu hati.
Waktu tangannya merabah kekening dan dapatkan
berlumuran darah, dengan menggerung keras, dia
merangsang Tong Ko.
Bahwa serangan pertama telah memberi hasil, lupalah
Tong Ko akan rasa rendah dirinya terhadap seorang jago
macam Hiat-ji. Dan lupalah pula bahwa dibelakang anak
mata ungu itu masih terdapat Tay-keng dan siorang kate
yang lihay. Sebaliknya dari melarikan diri, Tong Ko
menyusuli lagi dengan dua buah serangan. Hiat-ji pun
juga mencabut jwan-piannya. Begitulah kedua sateru itu
segera terlibat dalam pertempuran pian yang seru.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ilmu permainan pat-siat-pian-hwat (8 dewa memain
pian) yang dipelajari dari Soa-kim-kong Ciang Tay-lo itu,
mempunyai 64 gerak perobahan yang sukar diduga.
Sinar kilap merah yang ditimbulkan akibat permainan
liong-kau-pian itu se-olah2 memenuhi udara, sehingga
Hiat-ji tak dapat berbuat apa2. Kedua bertempur dalam
tempo yang cepat, maka dalam beberapa kejab saja
pertandingan sudah berjalan 20-an diurus.
Bermula Tong Ko masih dihinggapi penyakit rendah
diri dan tetap mengira bukan lawan Hiat-ji. Maka tadi dia
hanya mengandal ketekadan saja untuk maju. Tapi
setelah 20 jurus itu, dia dapatkan baik dalam ilmu
permainan pian maupun Iwekang, rasanya dapatlah dia
mengimbangi Hiat-ji. Maka timbullah semangatnya
dengan serempak dan piannyapun dimainkan makin
gencar.
Sebaliknya karena mempunyai andalan (suhunya),
Hiat-ji tak gentar. Hanya yang tak habis dibuat heran,
darimana anak itu memperoleh pelajaran ilmu pian yang
begitu lihay. Kini dia berganti siasat untuk
meaghadapinya. Tiba2 gerakan piannya berobah, baik
menangkis maupun menerang, nampaknya sangat
pelahan sekali. Namun setiap gerakannya Itu
menganduag tekanan tenaga yang berat. Benar juga
dengan perobahan itu, dalam tiga empat jurus saja, Tong
Ko sudah dibikin kalut permainannya. Liong-kaupiannya
tak mau bergerak menurut kemauannya lagi, se-olah2
tersedot oleh pian Hiat-ji. Kemana Hiat-ji gerakan
piannya, kesitulah liong-kau-pian mengikut. Insyaflah
Tong Ko, bahwa dengan cara begitu dalam beberapa
jurus lagi dia tentu akan ditekan oleh lwekang lawan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dalam gugupnya, dia segera menghantam dengan
dengan tangan kirinya, wut ...........
"Hai tak boleh bercabang", adalah ujar2 dalam
pedoman pelajaran silat. Memang belum pernah terdapat
seorang jago silat sembari memainkan pian sembari
kerahkan kekuatan untuk menjotos. Tapi keadaan itu tak
berlaku pada diri Tong Ko. Sejak dia mendapat bantuan
lwekang dari Sik Lo-sam dan Soa-kim-kong, terutama
pada waktu yang kedua kalinya yalah ketika dia
menderita luka parah, hampir 7 bagian dari lwekang
kedua tokoh aneh itu disalurkan kedalam tubuh Tong Ko.
Menjadilah Tong Ko itu seorang "bertubuh dua". Tangan
kanannya yang memain pian itu hanya menggunakan
tenaga lwekang yang terdapat pada separoh tubuhnya
bagian kanan.
Sedang tangan kirinya masih bebas dan penuh
tenaganya. Maka begitu digerakkan, hasilnya diluar
dugaan. Tadi Hiat-ji sudah memastikan kalau dia tentu
dapat memenangkan pertandingan itu. Adalah ketika dia
sedang mengincar lubang kesempatan pada dada Tong
Ko, se-konyong2 ada serangkum tenaga dahsyat
menghantam jwan-piannya hingga sampai terpental.
Karena kejutnya Hiat-ji masih mengira kalau Tong Ko
mendapat bantuan seseorang. Jwan-pian diturunkan
kebawah untuk menutuk jalan darah hiat-hay-hiat dipaha
Tong Ko. Tapi kala itu Tong Ko sudah sadar akan
keadaan dirinya yang seolah2 bertubuh dua itu. Diapun
turunkan Liong-kau-pian. Dua buah pian kini saling
berlibatan.
Hiat-ji menarik kebelakang, tapi Tong Kopun
menyentok kebelakang. Keduanya bagai terpaku ditanah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Melihat dada Hiat-ji tak terjaga lagi, Tong Ko segera
ayunkan tangan kirinya.
Terang Hiat-ji tak dapat mundur, kerna kalau dia
berbuat begitu, jwan-piannya pasti terpaksa dilepaskan.
Ini sungguh berbahaya karena Tong Ko dapat
menyabatkan liong-kau-piannya lagi. Namun tak mau
menghindar, dia hanya mempunyai dua pilihan mati atau
terluka berat.
"Suhu, tolonglah aku!" tiba2 mulut Hait-ji berteriak
minta tolong pada gurunya.
Dengan mengekeh orang kate itu menyahut: "Hiat-ji,
jangan kuatir!"
Sewaktu kata "kuatir" itu diserukan, tangan kiri Tong
Ko sudah terpisah hanya seperempat meter dari dada
Hiat-ji. Tiba2 kedua lengannya serasa kesemutan, karena
jalan darahnya thian-keng-hiat tertutuk orang. Seketika
hilanglah daya lwekang Tong Ko. Benar tangannya kiri itu
tetap mengayun kedada Hiat-ji, tapi dengan
mengerahkan Iwekang dapatlah Hiat-ji menolak
serangan itu, krek.... patahlah (keseleo) sambungan
lengan dan bahu Tong Ko. Sakitnya bukan alang
kepalang. Dalam pada itu Hiat-ji tampak loncat
kebelakang sembari menarik liong-kau-pian Iawannya.
"Pian yang bagus!" mulut Hiat-ji memuji ketika
memeriksa liong-kau-pian itu. Dicobanyalah pian itu
untuk menghantam tanah.
Tong Ko insyaf bahwa penderitaannya itu disebabkan
campur tangan sikate. Dalam kalapnya dia benturkan
kepalanya kearah Hiat-ji. Tapi anak mata ungu itu
menyeringai, tar...... disongsongnya kedatangan Tong Ko
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu dengan sabetan liong-kau-pian. Tak ampun lagi,
tubuh Tong Ko menggelepar ditanah. Masih si Hiat-ji itu
tak kenal kasihan, dia mengirim pula dua buah
cambukan, kedada dan kebahu Tong Ko. Pakaian Tong
Ko compang-camping, darah mengalir dan orangnyapun
tak ingat diri lagi.
Hiat-ji mengekeh iblis. Sementara Tay-keng
sebenarnya sudah siap sedia untuk turun tangan apabila
Hiat-ji tak berhasil membereskan Tong Ko. Karena dalam
pikirannya kalau sampai anak itu lolos dan melapor pada
ayahnya (Tio Jiang), celakalah dia tentul
"Shin-heng, biar kuhabiskan sekali jiwanya!" serunya
dengan girang kala Tong Ko rubuh. Maju kemuka dia
ayunkan pedang untuk menusuk, hai....., diluar dugaan
tubuh Tong Ko itu dapat menggelundung untuk
menghindar.
Memang walaupun terluka sampai pingsan, tapi Tong
Ko hanya menderita luka luar. Berkat kemajuan Iwekang
yang diperolehnya, dalam sekejab saja dia sudah siuman
lagi. Baru membuka mata atau sinar ujung pedang Taykeng
sudah menusuk kedadanya. Dalam sibuknya,
terpaksa Tong Ko bergelundung kesamping. Benar dia
terluput dari kematian, namun tak urung dadanya
tergores dengan ujung pedang hingga berlumuran darah.
Dengan sigapnya Tong Ko segera loncat bangun. Kini
keadaannya menyerupai seorang manusia darah. Hiat-dii
dan Tay-keng saling memberi isyarat, yang satu dari kiri
dan yang lain dari kanan, mereka menghampiri dengan
send iata terhunus, Tong Ko buru2 meleset keatas
sebuah batu. Kini dia tak takut menghadapi ancaman
maut itu, hanya yang disesalkan dengan adanya seorang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
penghianat macam Tay-keng, dikuatirkan nanti para
perserekatan orang gagah itu akan mendiadi korban
semua. Sebelum Tay-keng dilenyapkan, rasanya dia
enggan mati dulu.
Dengan kebulatan hati itu, dia kerahkan seluruh
tenaganya untuk memeluk batu besar itu yang beratnya
beratus kati. Bagian yang kasar dan runcing dari batu itu
tatkala menempel pada luka2 ditubuhnya, sakitnya bukan
olah2 darah makin mencucur deras. Namun dia kertek
gigi, dia angkat batu besar itu. Ketika Tay-keng hampir
dekat, dengan menggerung keras dan tanpa pedulikan
ancaman serangan dari Hiat-ji, Tong Ko lontarkan batu
itu kearah Tay-keng.
Bermula Tay-keng menganggap sepi akan Tong Ko
yang sudah terluka parah itu. Maka mimpipun tidak dia,
kalau anak muda yang sudah seperti kerangsokan setan
itu dapat mengeluarkan kesaktian yang begitu
menakjubkan. Wut, sedemikian hebat deru angin yang
ditimbulkan lontaran itu. Saking gugup tak keburu
menghindar, Tay-keng menangkis dengan pedangnya,
krek...., kutunglah pedang Itu menjadi dua dilanggar
oleh batu. Tay-keng dengan sebatnya Ioncat menyingkir,
namun tak urung lututnya terbentur juga oleh batu itu,
hingga tulangnya remuk. Seperti sebuah layang2, Taykeng
terlempar bebrapa meter jauhnya sebelum dia
terhampar ditanah.
Tong Ko belum puas. Dengan beringas dia hendak
menghajar Iagi pemuda penghianat itu. Tetapi pada saat
itu, Hiat-ji sudah memapakinya dengan sebuah sabatan
liong-kau-pian kearah kakinya. Sekali pian itu
disentakkan, maka Tong Ko terlempar sampai 4 tombak
jauhnya. Tanah disitu, semua terdiri dari batu2. Tubuh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tong Ko itu tak hanya sekali saja jatuhnya tapi bergulung2,
sampai beberapa kali. Kini2 benar dia
menyerupal seorang manusia darah. Menganggap bahwa
Tong Ko pasti binasa karena luka2-nya itu, Hiat-ji tak
mau mengejar. Sambil tertawa menghina dia selipkan
liong-kou-pian kepinggannya.
Se-konyong2 dari arah semak rumput terdengar suara
berkerontalan dan muncullah seseorang dengan
senjatanya sebatang garu ikan berujung tiga. Pada ujung
garu itu, dipasangi gelangan baja. Dan gelangan itulah
yang mengeluarkan bunyi kerontangan tadi. Diatas
senjata penggaru itu, melekat seekor macan tutul yang
sudah tak bernyawa. Dan tahu2 pula, bangkai macan
tutul itu dilemparkan pada Tong Ko. Seketika itu juga,
tubuh Tong Ko serasa dikerudungi oleh sebuah selimut
empuk dan hangat. Hai....., kiranya bangkai macan tutul
itu hanya terdiri dari kulit binatang itu saja. Sewaktu
Tong Ko mendongak, didapatinya bahwa penolong nya
itu adalah seorang wanita dari pertengah umur.
Wajahnya hitam manis, dandanannya macam wanita
pencari ikan. Baru2 Tong Ko hendak berbangkit untuk
menghaturkan terima kasih.
"Siao-hengte, kau sudah menjadi seorang manusia
darah, jangan ber-gerak2, rebahlah!" Wanita itu
mendahului mencegahnya. Dan dengan tangkasnya dia
guratkan ujung senjatanya itu 3 kali keatas kulit macan
tutul. "Lekas tempelkan lembaran kulit macan tutul itu
pada luka2mu. Itu dapat mencegah pendarahan. Kalau
keliwat banyak mengeluarkan darah, jiwamu pasti takkan
tertolong lagi!"
Tong Ko mengerjakan perintah itu. Kesemuanya itu
berlangsung dalam waktu beberapa detik saja, sehingga
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
walaupun Hiat-ji mengetahui akan kejadian itu, tapi
dalam saat2 itu" dia hanya terlongong2 saja. Hanya Taykenglah
yang walaupun tak dapat ber-kutik karena
terluka, sadar apa yang akan terjadi kalau Tong Ko
sampai lolos.
"Shin-heng, Mo locianpwe, janganlah anak itu sampai
bisa lolos, atau jerih payah kita selama ini akan sia2 saja
nanti!" serunya memperingatkan Hiat-ji dan siorang tua
kate.
"Jangan kuatirl" sahut Hiat-ji seraya maju menyerang
dengan liong-kau-pian. Melihat senjata yang dimainkan
anak itu adalah liong-kau-pian, berserulah siwanita tadi:
"Hai, kiranya kau ini adalah orang dari keluarga The.
Dahulu aku adalah sahabat karib dari The Ci-liong. Anak
itu terluka parah, usah kau menyiksanya lagi!"
Sebagai tokoh persilatan laut, wanita itu kenal akan
soal usul dan pemilik liong-kau-pian itu, yani The Ciliong.
The Ci-liong memberikan pian pusaka itu pada
puteranya, The Som. Oleh The som, pian itu kemudian
diberikan kepada Soa-Kim-kong Ciang Toa-lo.
”Aku orang she Shin, jangan ngacau balau tak
keruan!" Sa hut Hiat-ji yang tak mengetahui riwayat
liong-kau-pian yang dicekalnya itu. Malah sekali melesat,
dia menyelinap disisi wanita itu untuk menghajar Tong
Ko lagi,
"Ah, kita adalah orang sendiri, mengapa saling
bunuh?" Didahului dengan helaan napas, wanita itu
berseru sembari lintangkan senjata garunya menghadang
tobrosan Hiat-ji. Hiat-ji marah, dia sambar garu itu
dengan tangan kiri dan terperanjatnya bukan main ketika
didapati bahwa senjata itu terbuat dari bahan besi. Dia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menarik dan mendorong se-kuat2nya, tetapi sedikitpun
tak bergeming. Ini makin menambah keherannya dan
buru2 melepaskannya sembari menyurut kebelakang.
"Siapa namamu berani mengadu biru padaku?"
tegurnya dengan keras.
Wanita itu kedengaran tertawa, sahutnya: "Terhadap
seorang penghuni rimba, mengapa perlu menanyakan
nama? Pergilah jangan mengganggu anak itu lagi!"
Sudah tentu Hiat-ji tak mau, lalu menyerang dengan
liong-kau-pian. Dengan seenaknya saja, wanita itu
gerak2an senjata garunya yang hampir 2 meter
panjangnya itu untuk mencegah Hiat-ji merapat maju.
Tampaknya gerakaannya itu tak sesuai dengan
permainan ilmu silat, namun kemana ujung garu itu
menusuk kesitulah liong-kau-pian pasti terpapak. Hiat-ji
tak dapat berbuat apa, kecuali main mundur. Dalam
sekejab saja, sepuluh jurus telah berlangsung dan kini
barulah Hiat-ji insyaf kalau bukan tandingannya wanita
itu. Buru2 dia loncat menyingkir seraya meneriaki
suhunya: "Suhu, apa yang dikatakan Tio-heng tadi
memang benar. Kalau si Tong Ko berhasil lolos, usaha
kita tentu gagal semua dan bagaimana nanti
pertangungan jawab kita dihadapan baginda?"
Siorang tua kate itu tertawa berkelutukan. Dengan
mengibas-kibaskan bajunya dan bergontai tubuh, dia
maju kemuka. Dalam pada itu, siwanita tampak
mengawasi Tong Ko dengan kejut keheranan, tegurnya:
"Sahabat kecil, apakah kau ini Tong Ko?"
Setelah melekatkan kulit macan tutul tadi pada
badannya, "luka2 Tong Ko sudah tak mengucurkan darah
lagi. Dia sangat menerima kasih kepada pertolongan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
wanita itu. Ditegur dengan nada se-olah2 sudah
mengenalnya, ter-sipu2 Tong Ko menyahut: "Memang
wanpwe ini benar Tong Ko, entah siapakah gelaran yang
mulia dari cianpwe ini?"
"Nanti kau pasti mengetahui sendiri", ujar wanita itu
sambil tertawa. Nada kata2nya makin ramah. Berpaling
kearah Hiat-ji, berkatalah wanita itu: "Sahabat kecil ini,
justeru orang yang hendak kami cari. Baiklah kalian
jangan mengganggunya lagi dan lekaslah tinggalkan
tempat ini. Apabila suamiku sampai tiba kemari, oleh
karena perangainya tak sesabar aku, kalian pasti akan
mengalami hal2 yang tak diinginkanl" .
Huh....., gila perempuan itu. Kalau suhuku turun
tangan, suamimu nanti hanya pasti akan mendapatkan
kau sudah mendiadi bangkai, demikian pikir Hiat-ji.
Karena itu dia hanya ganda tertawa, tak mau menyahut.
Siorang kate tadi sudah berada pada jarak dua tombak
dari siwanita dan lalu menuding: "Dengan bergegaman
hi-jat (garu) itu, kalau tak salah toasoh ini tentulah tokoh
keluarga The, Ciok, Wa dan Chi yang malang melintang
dilautan bukan?"
Siwanita terkesiap mendengar nada suara sikate yang
kering melengking seperti anak kecil itu. la duga, sikate
itu tentu bukan tokoh sembarangan.
"Benar, aku orang she Ciok, nama Siao-lan, salah
seorang dari keluarga yang kausebutukan itu," sahutnya.
Sikate menengadah kelangit dan lepaskan tetawanya
yang panjang. "Dengan kepandaianmu yang dangkal itu,
bagimana toasoh hendak jual lagak dihadapanku?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Berbareng dengan ucapannya itu, sikate sudah loncat
kemuka lalu ulurkan kedua tangannya untuk menangkap
senjata hi-jat Siao-lan. Selama 20-an tahun lamanya,
Ciok Siao-lan digelari orang sebagai Lamhay hi li (gadis
pencaril ikan dari Laut Selatan). la disegani karena
senjatanya hi-jat itu. Sejak belasan tahun menyepi,
didalam rimba pegunungan Sip-ban-tay-san, ia berhasil
mendapatkan sebuah kitab pusaka. Sudah tentu kiai ia
jauh lebih lihay dari 20 tahun yang lampau. Namun tak
urung ia terperanjat dan kagum juga akan gerakan yang
secepat kilat dari siorang tua kate itu tadi.
"Ai, sahabat, bagus nian kepandaianmu itul" serunya
dengan tertawa karena ia tak berhasrat untuk
mencelakai seorang tua macam sikate itu.
"Ha, kepandaian yang sebenarnya, masih ada
dibelakang nantil" dengan tertawa aneh sikate tarik
sepasang tangannya. Seketika itu Siao-lan rasakan ada
sebuah tenaga dahsyat mendorongnya hingga dia
terlempar kebelakang, sedang hi-jatnyapun sudah
berpindah ketangan sikate.
Begitu merampas hi-jat, sikate tertawa dingin.
Sepasang tangannya diputar2 kekanan kiri dan sendiata
yang terbuat dari baja murni itu kini berobah menjadi
semacam kuwih untir-untir. Senjata itu oleh sikate lalu
dilemparkan kesamping.
"Toasoh, apa katamu?" tanya sikate dengan bangga.
"Lwekang yang sakti!" sahut Siao-lan.
"Toa-soh, kulihat kaupun hebat. Sepanjang hidupku,
aku gemar mengikat persahabatan. Kalau kau hendak
mencari ketegangan ditempat ini, akupun tak mau
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengganggu usik. Jika kau ingin keluar dari
pertapaanmu, kutanggung kau pasti akan memperoleh
kedudukan tinggi dan kemewahan hidup. Tapi serahkan
anak itu padaku".
Belum sempat Siao-lan menjawab, atau. terdengar
suara ber-kerontangan dan sebatang hi-jat melayang
kearahnya. Cepat2 ia menyambutinya. Kini hi-jat yang
tadinya sudah menjadi untir-untir itu, sudah lempang
lagi. Siao-lan berpaling kearah semak belukar dari mana
hi-jat tadi melayang, lalu tertawa, se-akan2 ia sudah
tahu siapakah yang melempangkan dan melemparkan
hijat itu.
"Lwekang sahabat memang tlnggi, tapi tetap aku
hendak mohon pengajaran barang bebrapa jurus saja!"
serunya sembari putar hi-jat.
Ada istilah persilatan yang mengatakan begitu:
"Tombak takut. bundar, pian jeri lurus". Artinya kalau
orang dapat memainkan tombak hingga menjadi sebuah
lingkaran dan dapat memainkan pian dengan gaya yang
lurus, orang itu pasti adalah seorang ko-chiu (akhli) yang
jempolan. Hi-jat yang dimainkan Siau-lan itu dapat
berobah gayanya macam sebatang tombak. Suara
putarannya men-deru2. Dari sini dapat diketahui, sampai
dimana ilmu kepandaian Siao-lan sekarang ini.
Siorang tua kate melangkah setindak kesamping.
Terhadap ancaman Siao-lan, dia tak menghiraukan.
Tetapi terhadap orang yang dalam beberapa detik saja
telah dapat melempangkan hi-jat yang sudah bengkak
bengkok itu, benar2 dia menaruh kewaspadaan. Rumput
semak2 disitu, tingginya melebihi orang, pula sangat
lebat sekali. Jadi betapapun tajamnya sang mata, tetap
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
orang kate itu tak mengetahui siapa yang bersembunyi
didalam situ.
"Toasoh, kau hendak bertanding satu lawan satu atau
dua lawan satu?" tegurnya sambil perdengarkan tertawa
sinis.
"Sudah tentu satu lawan satul" "sahut Siao-lan
sembari maju menusuk. Sikate menyambar ujung hi-jat
lalu dipelintirnya dan lagi2 hi-jat itu menjadi melengkung
bengkok pula.
Kini barulah Siao-lan benar2 tunduk akan lwekang
yang lihay dari siorang tua kate itu. la insyaf bukan
lawannya.
"Aku mengaku kalahlah. Lwekangmu memang jauh
melebihi akul" serunya sembari lepaskan cekalan
tangannya dan mundur kebelakang.
Siorang tua kate itu sangat bernapsu hendak memikat
keluar orang yang bersembunyi tadi, Ingin benar dia
mengetahui siapakah gerangan tokoh yang lihay itu.
Sejak dia tinggalkan daerah barat dan berkunjung kekota
raja, tugasnya yalah untuk membasmi 'tokoh2 persilatan
didaerah Kwitang dan Kwisay. Bahwasanya orang yang
bersembunyi itu dapat melempangkan lagi hi-jat tadi,
membuktikan kalau dia itu seorang jago yang lihay.
"Toasoh, jangan pergi dahulu!" serunya sembari
mengejar sembari mutar hi-jat itu. Loncat keatas dia
menggertak Siao-lan dengan sebuah tusukan.
Siao-lan terkejut, terus menyusup masuk kedalam
semak. Kini siorang kate yang terkesiap heran. Tadi dia
meluncur dari atas, tapi mengapa tak nampak jejak
siwanita itu sama sekali. Dan kejutnya itu makin
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
memuncak, ketika tiba2 ada dua buah angkin pelangi
(sabuk kain berwarna) meluncur keluar dari semak2 itu.
Yang sebuah, seperti ular merayap kebawah menuju
kearah Tong Ko sedang yang satu lagi, laksana seekor
naga melayang menyambar kearahnya. Yang diketahui
angkin itu kurang lebih 2 meter lebarnya, tapi mana
pangkalnya tak kelihatan karena masih berada dalam
semak. Warnanya gilang gemilang, warna yang hanya
terdapat pada kain sutera pilihan. Waktu melayang,
benda itu menerbitkan deru angin yang keras
Sebagai seorang jago lihay, segeralah siorang tua kate
itu mengetahui betapa hebat lwekang orang yang
melepaskan itu. Masa angkin sepanjang 4 tombak dapat
dibuat menyerang menurut sekehendak hatinya? Insyaf
akan bahaya, orang tua kate itu buru2 menyingkir, maka
jatuhlah angkin itu ketanah. Tapi begitu jatuh, begitu
ujungnya lalu bergerak melayang keatas lagi untuk
menyerang kepadanya. Gila, masakan sebuah kain ikat
pinggang dapat menyerupai seekor ular hidup!
Dengan gemas, siorang kate itu segera ulurkan tangan
untuk menyambarnya, pletek....... seperti meremas
sebuah bambu, begitulah bunyi kain angkin itu ketika
dicengkeram siorang kate.
Kini angkin itu menjulai kebawah, lemas lunglai seperti
kain biasa. Buru2 ditariknyalah angkin itu dari dalam
semak. Kiranya kini hanya tinggal sehelai saja, sedang
yang sehelai yang merayap kearah Tong Ko tadi, sudah
tak kelihatan berikut....... sianak muda itu!
Kini tahulah siorang tua kate itu bahwa dia sudah
"kena tercocok hidungnya" (diakali). "Hiat-ji, cara
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bagaimana siaocu tadi menghilang?" tanyanya dengan
murka. Tapi tiada penyahutan.
"Hiat-ji, apa kau tak mendengar? Bagaimana siaocu
tadi lenyap?!" dia ulangi lagi dengan ketus. Namun si
Hiat-ji tetap bungkam. Saking geramnya, sikate lalu
berputar untuk menengok dan didapatinya muridnya itu
matanya terbelalak ketakutan se-olah2 hendak dipukul
orang, tangannya kini sudah tak mencekal pian lagi,
sedang tubuhnya kaku tak dapat bergerak.
Siorang tua kate segera tahu bahwa muridnya itu
telah kena ditutuk orang, maka buru2 dihampirinya untuk
ditolong. Sewaktu ditutuk punggungnya, Hiat-ji segera
muntahkan segumpal ludah kental.
"Bangsat yang tak punya malu, beraninya hanya main
membokong saja!" begitu sudah dapat bergerak, begitu
mulut si Hiat-ji segera me-maki2. Siorang tua kate
memberi isyarat, supaya dia jangan bicara.
"Hiat-ji, kita telah diingusi orang, tak perlu ribut2!"
seru sikate sembari mengambil sebuah benda kecil dari
dalam bajunya. Benda itu hitam mulus warnanya.
Dengan jari tengah, dijentikkannya benda itu kearah
semak2. Waktu melayang benda itu berobah menjadi
selarik asap dan ketika jatuh kedalam semak2 segera
meledak dengan kerasnya. Disekeliling tempat itu segera
menjadi lautan api. Cepat siorang tua kate menarik
tangan Hiat-ji untuk diajak loncat menyingkir.
"Huh, sahabat yang suka main unjuk ekor
sembunyikan kepala, coba kau mau keluar tidak?"
serunya dengan tertawa dingin.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dalam sekejaban saja, semak yang lebat dengan
tanaman rumput setinggi orang, telah dimakan api
sampai habis. Namun sungguhpun begitu, tetap tiada
seorangpun yang tampak keluar dari situ, Siao-lan, Tong
Ko dan orang ketiga yang misterius itu tetap hilang.
Suatu hal yang meinbuat siorang tua kate termenung
dalam 12 pikiran. Sejak dia muncul dari gurun dan
datang dikota raja, ilmunya dikagumi dan dijerikan oleh
kawanan tay-lwe kochiu (jagoan istana kelas satu).
Dalam perjalanannya kedaerah selatan ini, tokoh2 dari
pelbagai aliran persilatan pernah dia temui semua. Tapi
kali ini benar2 dia ketemu dengan batunya. Seorang
misterius yang tak mau unjuk diri itu, rupanya
mempunyai kepandaian yang tangguh sekali dan seorang
yang cerdik pula!
Dengan hati2 dia maju menghampiri kemuka untuk
memeriksanya. Kiranya diujung bekas semak2 itu adalah
sebuah lambing gunung yang tiada jalanannya sama
sekali. Jadi tak murigkin kalau ketiga orang Itu lari dari
situ. Dia makin curiga. Maju pula dua langkah, tiba2
kakinya terasa memijak tanah lunak dan terus terperosok
kedalam.
Tahu akan masuk perangkap, buru2 dia empos
semangat lalu dengnan gunakan gin-kang (ilmu
mengentengi tubuh) dia melambung sampai satu tombak
tingginya. Namun sekali pun begitu, tak urung betisnya
termakan sebuah anak panah. Dengan menahan sakit,
dicabutnya anak panah (paser) itu. Ketika melongok
kebawah kiranya iubang rerangkap itu hanya sebuah
perangkap biasa yang sering dibuat oleh kaum pemburu.
Dia meluncur turun kedalam lubang perangkap itu untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
meriksanya. Pun disitu tiada terdapat sesuatu yang
mencurigakan.
Hampir setengah harian, siorang tua kate itu sibuk
seorang diri. Siorang misterius tetap tak kelihatan,
sebaliknya dia sendiri telah menderita luka. Saking
marahnya, dia mengaum bagaikan harimau kelaparan,
hingga empat penjuru lembah gunung situ sama2
menggetarkan kumandang suara. yang dahsyat. Itupun
tak menolong suatu apa.
"Suhu, lebih baik kita naik kepuncak Thiat-nia, nanti
setelah berjumpa dengan kepala suku Thiat-theng-biau,
kita rundingkan siasat lebih jauh!" akhirnya Hiat-ji ajukan
usul.
Rupanya siorang tua kate itu tiada mempunyai daya
lain. Dengan gemas dia menggerutu panjang pendek.
Pun si Tay-keng dengan ber-ingsut2 menghampiri.
Mereka berunding dengan kesimpulan bahwa dalam
perjalanan nanti harus berlaku waspada karena
menghadapi seorang musuh lihay yang tak kelihatan.
---oo^dwkz0tah^oo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 14 : DI TOLONG CIAN BIN
LONG KUN THE GO
Baik kita tinggalkan mereka untuk menengok Tong Ko.
Sewaktu melihat Siao-lan terus menerus kalah, Tong Ko
yang menggelepai ditanah tadi, resah sekali hatinya.
Tiba2 dilihatnya ada sepotong angkin sutera merayap
kearahnya. Dalam kejutnya. Tong Ko coba hendak
menyingkiri dengan bergelundungan, tetapi kala itu
telinganya seperti disusupi oleh sebuah suara melengking
yang halus sekali: "Engkoh kecil, jangan bergeraklah !"
Dalam pada Tong Ko tertegun, tubuhnya sudah dilibat
angkin itu terus ditarik masuk kedalam semak2. Begitu
masuk kedalam semak2 itu, dia terus diseret masuk
kedalam sebuah lubang perangkap. Disitu terdapat dua
orang, Siao-lan dan seorang yang bertubuh amat pendek
sekali. Oleh karena dalam lubang itu gelap, jadi tak dapat
Tong Ko melihat wajah siorang kate itu. Yang
diketahuinya, orang pendek itu menekan dinding lubang
dan serempak terbukalah sebuah goa besar. Siao-lan
tarik tangan Tong Ko untuk dibawanya masuk. Siorang
pendek tadipun menyusul masuk, lalu menutup dinding
itu.
"Ayuh, lekas lari kemuka sanal" seru orang pendek itu
dengan nada yang lantang bening.
Kira2 empat lima tombak mereka menyusur lubangterowongan
situ, mereka muncul pula dipermukaan
tanah. Dilihatnya semak2 rumput tadi sudah rata
dimakan api.
"Engkoh kecil, orang tua kate itu bergelar Liat Hwat
cousu. juga dijuluki orang sebagai Yang-im-sin-yau
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
(siluman hawa positip dan negatip). Lihay sekali,
mengapa kau berani menempurnya?" kedengaran orang
pendek itu bertanya.
Tong Ko berpaling menatapnya. Didapatinya orang itu
kira2 berusia 40-an tahun, wajahnya cakap sekali, hanya
sayang perawakannya keliwat pendek (kate), sehingga
jubahnya sampai berkeleweran ditanah. Tinggi orang itu
hanya sama dengan perut Tong Ko.
"Wanpwe tak mengetahui dia itu siapa, kecuali
seorang kaki tangan pemerintah Ceng" Tong Ko memberi
hormat menyahut.
Orang itu tertawa sejenak, ujarnya: "Dan kau sendiri
ini siapa?"
Tong Ko diam2 merenung, siapakah orang pendek itu?
Ciok Siao-lan, juga belum pernah dia mendengar nama
itu. Namun sekalipun demikian, sebagai seorang laki2,
tak mau dia berbohong. Cita2 hidupnya adalah hendak
mengusir penjajah Ceng dan membangunkan pemerintah
Beng lagi. Ini adalah suatu perjoangan suci, jadi
mengapa dia harus berbohong?
"Wanpwe adalah orang yang ingin mengenyahkan
penjajah Ceng!" sahutnya tanpa ragu2 lagi.
Orang pendek itu tertawa, sahutnya: "Begitulah
hendaknya seorang pemuda harapan bangsa itu.
Namamu Tong Ko, adakah Tong Ko yang menjadi
kenalan anakku perempuan si Ing-ji itu?"
Tong Ko seperti orang disadarkan. Diawasinya wajah
siwanita itu memang mirip dengan The Ing, maka tersipu2
dia berkata : "Benar demikianlah wanpwe ini.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sebaliknya, kalian ini bukantah The pehpeh (paman) dan
The pehbo (bibi)?"
"Ya, aku orang she The, nama Go!" ujar orang itu
sembari mengangguk.
Diam2 Tong Ko tersirap darahnya mendengar nama
"The Go" itu. Sering sudah dia mendengar cerita orang,
bahwa The Go itu bergelar Cian-bin-long-kun dan
menjadi murid kesayangan Ang Hwat cinjin, kepala
gereja Ang Hun Kiong. Sewaktu muda, dia sudah
memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Sayangnya
anak muda gagah dan cerdas itu sesat pikirannya mau
bersekongkeol dengan kawanan kaki tangan pemerintah
Ceng. Ribuan anak buah dari 72 markas gunung Hoasan,
telah dihancur leburkan tentara Ceng berkat pimpinannya
yang gemilang. Akhirnya perserekatan orang gagah
patriot yang dipimpin oleh Ceng Bo siangjin berhasil
membekuknya dan sepasang kakinyapun dibacok kutung
oleh siangjin itu.
Adakah orang pendek itu benar2 si Cian-bin-long-kun
The Go yang sudah tak berkaki itu? Sampai sekian saat
Tong Ko menimang2 untuk mencari jawaban.
"Pernahkah kau mendengar tentang namaku?" tiba2
orang pendek itu bertanya pula. Tong Ko yang tak suka
berbohong serentak mengiakan.
"Kehilangan kaki, merupakan penyesalan seumur
hidup. Engkoh kecil, apa yang orang persilatan
mengatakan tentang diriku?" The Go menghela napas.
"Terhadap perbuatan cianpwe sewaktu membasmi 3
laksa anak buah Hoasan itu, kaum hohan dalam dunia
persilatan sama mengutuk dengan geram. Tetapi serta
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
cianpwe sudah menyesal dan berhasil pula membantu
perserekatan orang gagah dibawah pimpinan Ceng Bo
siangjin untuk menemukan harta karun dalam gereja
Kong Hau Si tempo hari, sekalian orang sama menaruh
perindahan. Se-akan2 kecemaran nama cianpwe itu
sudah direhabiliteer (dikembalikan) pula !"
The Go tundukkan kepala tak berkata apa2. Adalah
Siau-lan yang menasehatinya: "Urusan yang sudah
lampau, mengapa dipikirkan lagi? Lebih baik tanyakan
saudara Tong ini, bagaimana keadaan Ing-ji?"
The Go mendongak jauh kemuka, ujarnya: "Disini
bukan tempat kita berbicara, lebih baik kita lekas pulang
dulu !"
Habis berkata begitu, dia angsurkan sebatang pian
yang bukan lain adalah liong-kau-pian, kepada Tong Ko.
Dengan demikian teranglah kalau sekali tepuk, dia
mendapat tiga lalat. Menyerang Liat Hwat cousu,
menolong Tong Ko dan masih sempat pula menutuk
jalan darah Hiat-ji untuk merampas liong-kau-piannya.
Sedemikian tangkas lincahlah gerakan siorang misterius
yang bukan lain adalah Cian-bin-long-kun The Go.
Tong Ko kagum atas kepandaian orang. Tiba2 The Go
bersuit keras dan muncullah dua ekor kera gin-si-kau
yang besar sembari mendorong sebuah ........ bola batu
besar.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
GAMBAR 7
Tiba2 The Go bersuit dan muncullah dua ekor kera
besar sembari mendorong sebuah bola batu besar, yang
ternyata menjadi “kendaraan” The Go . . . . . . . .
Pesat nian jalannya bola itu menggelinding datang.
Bola batu itu ada kira2 dua meter tingginya. Sekali
tangannya menekan ketanah, melesatlah tubuh The Go
keatas bola batu itu, dan kedua ekor kera itupun segera
mendorongnya. The Go tegak berdiri dengan tenangnya
diatas bola yang berputar dengan pesatnya.
Karena Tong Ko agak heran maka Siao-lan lalu
menerangkan: "Setelah sepasang kakinya putus, dia
telah membuat sebuah permainan. Pada ujung kaki yang
putus itu, dipasangi dengan tutup batu giok sehingga
dapat dibuat berdiri tegak diatas bola batu."
Melihat keramah-tamahan Siao-lan, timbullah rasa
suka Tong Ko. Begitulah setelah mengitari dua buah
puncak, tibalah mereka pada sebuah batu karang.
Dibawah batu karang itu terdapat 3 buah rumah pondok
yang dipagari dengan pepuhunan. Dimuka halaman
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
rumah terdapat sebuah anak sungai. Suasana disitu
tampak rindang tenang. The Go mendahului masuk
kedalam. Kiranya perabot rumah dalam pondok itu
terbuat daripada bambu semua, namun tak
mengurangkan keresepan seni keindahannya. Di-tengah2
tergantung sepasang lian (sajak) yang berbunyi begini:
"Dilautan Tang-hay konon ombaknya tiada berketentuan,
urusan didunia mengapa selalu bergolak. Digunung Pabong-
san, tiada terdapat tempat luang, namun
penghidupan tenang dengan nikmatnya."
Hati Tong Ko tersentuh dengan kata2 dalam sajak itu.
Tak berapa lama kemudian, tampaklah The Go keluar
dengan duduk didalam sebuah kursi. Dia membawa
seperangkat pakaian yang bertuliskan darah.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Ing-ji?"
katanya sembari angsuran pakaian itu kepada Tong Ko.
Tong Ko segera mengetahui bahwa pakaian itu adalah
bekas yang dipakai The Ing tempo hari. Dikenalinya
tulisan yang terdapat diatas pakaian itu serupa gayanya
dengan robekan baju yang dibawanya.
"Untuk mengetahui tempat beradaku, harap tanyakan
pada Tong Ko." Demikian bunyi tulisan darah itu. Sudah
tentu Tong Ko menjadi keheranan juga, ujarnya: "Aku
sendiripun tak tahu dimana beradanya, bagaimana la
minta paman dan bibi tanya padaku?"
"Pakaian itu dibawa pulang oleh seekor gin-si-kau.
Sewaktu menulis ini, mungkin dia mengira kalau kau
dapat memberitahukan halnya kepada kami," kata The
Go.
Tong Ko ketarik akan sikap orang yang tak menaruh
dugaan jelek kepadanya. Tapi benarkah. The Go begitu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
murah hati terhadap seseorang yang baru dikenalnya?
Bukan, bukan demikian. Sebagai seorang persilatan yang
banyak makan asam garam pergolakan hidup, pula
dengan memiliki pikiran cerdas dan pandangan tajam,
dapatlah The Go meneropong peribadi seseorang. Dia
yakin Tong Ko itu seorang pemuda yang lurus jujur jadi
dipercaya tentu takkan berbuat sesuatu yang merugikan
anak gadisnya. Sebagai seorang ayah, The Gopun serupa
juga. Dia dapat melakukan pembalasan hebat pada
orang yang mencelakai anaknya. Dan inipun berlaku juga
pada Tong Ko.
Dengan terus terang Tong Ko tuturkan
pengalamannya selama ini. Dari mulai "dijual" oleh
kawanan sikaki satu Sin Tok, kebinasaan putera Tio
Jiang, hingga dirinya dpaksa loncat turun dari puncak,
lalu pertemuannya dengan The Ing didalam lembah
kemudian terperangkapnya mereka berdua didalam goa
yang dihuni siwanita aneh itu.
Ketika mendengarkan tentang diri siwanita aneh
dalam goa itu, tiba2 berobahlah wajah The Go.
"Sio-lan, tahukah kau siapa kiranya wanita dalam goa
itu?" tanyanya kepada sang isteri.
"Entahlah, aku tak dapat menduganya!" sahut yang
ditanya.
"Adakah paman The mengenalnya?" tanya Tong Ko
dengan terperanjat. The Go hanya menghela napas
panjang dan minta Tong Ko meneruskan ceritanya.
Tong Ko terus lanjutukan penuturannya bagaimana
dia ditolong Tio In, lalu peristiwa antara Tio Jiang dan
puteranya (Tay-keng), sampai akhirnya dia memperoleh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hadiah golok pik-li-to dari Sik Lo-sam, lalu dia kembali
kegua siwanita, kemudian pertempurannya dengan Liat
Hwat cousu tadi.
"Engkoh kecil, tidakkah kau merasa bahwa wajah dari
siwanita dalam goa itu seperti pinang dibelah dua
dengan kau?" tanya The Go.
Tong Ko terbeliak. Teringat tempo hari Siau-bengsiang
Tio Jiangpun pernah mengatakan bahwa teringat
akan wajah seseorang, maka dia (Tio Jiang) tak tegah
membunuhnya. Dan kini The Go pun mengatakan ha! itu.
Tak terasa dia mengenangkan wajah wanita aneh itu
........ ya, memang raut wajah wanita itu mirip sekali
dengan dirinya. Dan mengangguklah dia selaku tanda
mengiakan pertanyaan The Go tadi.
Seketika wajah The Go makin muram, ujarnya: "Siaolan,
kukuatir kali ini Ing-ji akan mengalami nasib yang
malang!"
"Mengapa?" seru Siao-lan dengan amat terkejut.
Tapi The Go segera alihkan pertanyaan pada Tong Ko:
"Apa kata kalangan persilatan tentang perbuatanku
tempo dahulu melantarkan seorang gadis jelita?"
"Entahlah, tak pernah kudengarnya," sahut Tong Ko.
Tapi dalam pada itu Siao-lan. segera menyelutuk dengan
kagetnya: "Kau maksudkan Ing-ji jatuh ketangan Sayhong-
hong Bek Lian?"
Serentak teringatlah Tong Ko bahwa Say-hong-hong
Bek Lian itu adalah suci dari Siau-beng-siang Tio Jiang.
Tapi entah bagaimana, nona itu telah menghilang tak
berbekas.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tentu dianya. Bek Lian benci sekali padaku. Kalau
Ing-ji jatuh ketangannya, masakan ia akan mendapat
pengampunan?" kata The Go pula. Habis itu, dia
melambai pada Tong Ko seraya berkata: "Engkoh kecil,
apakah benar kau ini orang she Tong?"
Tong Ko tersirap, sahutnya: "Apakah she-ku yang
sebenarnya, aku sendiripun tak tahu. Yang kuketahui
sejak kecil mula aku dipelihara oleh keluarga she Tong....
paman The, tadi kau katakan aku ini mirip dengan Sayhong-
hong Bek Lian........."
Adanya Tong Ko mengajukan pertanyaan begitu
karena teringat tempo hari Tio Jiangpun pernah
mengatakan begitu tentang dirinya. Dan ini menimbulkan
suatu dugaan dalam hatinya. Tapi belum lagi dia sempat
melanjutkan kata2nya, The Go sudah lantas alihkan
pembicaraan kepada sang isteri, serunya: "Siao-lan, ayuh
kita segera menuju ke Lo-hu-san. Gin-si-kau itu
mempunyai hidung yang tajam, tentu dapat membawa
kita ketempat mereka berdua!"
Siao-lan ber-kaca2 air matanya. "Benar ia benci
padamu, tapi tiada sangkut pautnya dengan Ing-ji!"
katanya dengan suara sember.
Tong Ko tak mengerti apa maksudnya kata2 yang
dibawakan ke dua suami isteri itu, karena dia tak
mengetahui riwayat mereka dahulu. Sementara itu The
Go mengulangi lagi maksudnya hendak berangkat ke Lohu-
san seketika itu juga.
"Kalau jiwi pergi kesana. akupun ikut juga, sekalian
untuk mencari tahu keadaan nona In. Entah apakah
Siau-beng-siang Tio Jiang sudah berangkat menyusulnya
belum?" kata Tong Ko. Tapi hal itu dicegah The Go.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Kau masih menjadi orang yang dicurigai, mengapa
berjerih payah begitu? Lebih baik kami saja yang bantu
menyirapi berita itu untukmu dan kau boleh beristirahat
meyakinkan ilmu silat disini. Akan kuberikan padamu
kitab pusaka yang kudapatkan pada belasan tahun
berselang. Sekalipun pergi pulang aku hanya
memerlukan kira2 satu bulan lamanya, tapi mengandal
kecerdasanmu, kupercaya kau tentu akan memperoleh
kemajuan yang pesat. Nah, bagaimana pendapatmu?"
Tong Ko rasakan nasehat The Go itu memang benar.
Karena kepandaiannya masih rendah itulah maka setiap
kali dia tentu menderita dihina orang. Bahwa orang telah
begitu baik hati untuk menolongnya, dia sangat
berterima kasih sekali, The Go suruh Siao-lan ambilkan
sebuah kitab tipis. Tapi ketika Tong Ko menerimanya, dia
segera menjadi terperanjat sekali. Kiranya kitab itu
berjudul "Tat Mo cingco cap-pwe-si" atau 18 gaya
semadhi dari Tat Mo. Terang itulah karya dari guru besar
Tat Mo tentang pelajaran ilmu lwekang. Belum pernah
Tong Go menjumpai kitab pusaka semacam Itu. Saking
terharunya atas budi orang, dia segera ter-sipu2 berlutut
untuk menghaturkan terima kasih.
"Kitab ini hanya terisi 72 buah gambaran, tiada
keterangannya sama sekali. Belasan tahun lamanya,
tetap aku belum dapat meyakinkan seluruhnya. Kuharap
kau tak temaha mempelajarinya. Dapat berapa sudahlah,
jangan paksakan diri. Dipondok sini terdapat cukup
bahan makanan, pula tak nanti ada orang dapat
berkunjung kemari, tenang2 sajalah kau belajarl"
Habis berkata begitu, The Go lalu memanggil kera ginsi-
kau dan bersama Siao-lan, dia lalu tinggalkan pondok
itu. Bolak-balik Tong Ko membuka lembaran kitab itu,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
namun dia tetap tak mengerti. Sampai malam hari, dia
belum mendapat apa2. Saking lelahnya, dia tidur dengan
memeluk kitab itu.
Keesokan harinya, kembali dia mulai mempelajari kitab
itu, namun tetap seperti kemarin. Keadaan itu berjalan
sampai seminggu lamanya. Akhirnya dia ambil putusan
untuk melakukan semadhi menurut petunjuk gambar.
Tapi dalam persemadhiannya itu, hatinya serasa
bergolak. Sebentar memikirkan tak betah tinggal disitu
lebih lama lagi, sebentar hendak menyusul Tio In,
mencari The Ing di Lo-hu-san, dan pada lain saat
merenungkan tentang golok pik-li-to yang luar biasa itu.
Makin hendak menenangkan pikiran, makin gundah resah
hatinya.
Akhirnya Tong Ko insyaf, tak boleh keliwat memaksa
diri. Kitab disimpan dalam baju, mengemasi sedikit
ransum, meninggalkan sepucuk surat pada The Go lalu
dengan membawa liong-kau-pian dia berangkat menuju
ke Thiat-nia. Hendak dia mencari tahu adakah golok pikli-
to dan ilmu permainannya it-guan-to-hwat yang sakti
itu sudah jatuh ditangan Liat Hwat cousu?
---oooo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 15 : SUKU THIAT TENG BIAU
Menjelang petang, tampak ada sebuah puncak
menjulang masuk kedalam awan. Itulah puncak Thiatnia.
Dia pesatkan langkah dan tak berselang berapa
lama, tibalah dia dikaki gunung tersebut. Baru dia
hendak mulai mendaki, tiba2 dari arah belakang ada deru
angin menyambar. Setelah beristirahat kurang lebih
seminggu luka Tong Ko sudah sembuh dan karena
selama itu dia terus menerus berlatih, jadi kini
lwekangnyapun bertambah maju. Deru angin tadi terang
adalah sebuah senjata dari seorang penyerang gelap.
Dan cukup diketahuinya juga, bahwa kepandaian
penyerang itu masih rendah. Dia biarkan saja tak mau
bergerak. Adalah setelah sebelah belakang kepalanya
terasa dingin, secepat kilat tangannya menghantam dan
berbareng memutar diri sret...... tahu2 senjata gelap itu
telah dapat dijepit dalam tangannya. Dan sekali kakinya
bergerak menendang lambung, rubuhlah penyerang
gelap itu. Ketika diperiksanya, seluruh tubuh orang itu
dibungkus dengan anyaman rotan, telinganya
mengenakan sepasang anting2 besar, dandanannya aneh
sekali. Terang dia itu seorang suku Thiat-theng-biau.
Yang membuat Tong Ko terkejut adalah senjata golok
orang itu. Golok itu berbentuk lengkung seperti sabit,
mirip dengan pi-lik-to pemberian Sik-Lo-sam tempo hari.
Dalam saat2 Tong Ko tertegun itu, se-konyong2 orang
Biau itu loncat bangun terus menyambar sebuah akar
rotan dan laksana terbang dia merayap keatas puncak.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
GAMBAR 08
Dengan cepat Tong Ko memburu si orang Suku Biau
yang sedang merambat keatas bukit tandus itu, dan
menimpukkan sepotong batu . . . . . . .
Tong Ko mengejarnya. Sekalipun dia gunakan ginkang
(ilmu berlari cepat) namun jarak keduanya terpisah
tiga empat tombak jauhnya. Ini disebabkan karena orang
Biau disitu sudah biasa menggunakan rotan untuk naik
turun gunung. Hanya dalam beberapa kejab saja, sampai
sudah mereka dilamping gunung. Disitu terdengar suara
drum...... (grenderang) ditabuh dlseling dengan gelak
tawa yang keras. Hal, itulah gelak tawa siorang tua kate
Liat Hwat cousu. Kalau saja orang Biau itu berhasil
mencapai kesana, pasti dirinya (Tong Ko) celaka nanti.
Saking gugupnya Tong Ko segera menjemput sebuah
batu kecil lalu ditimpukkan kebelakang batok kepala
orang Biau itu. Tanpa berkuik lagi, tangan orang itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kendor dan tubuhnya segera meluncur turun jatuh
kebawah.
Tong Ko menyesal telah membunuh orang. Tapi apa
boleh buat, toh sudah terlanjur kelepasan tangan. Dia
lanjuntukan pendakiannya. Dari balik sebuah karang dia
melongok kemuka dan didapatinya diatas sana tampak
ada be-ratus2 orang Biau tengah me-nari2 dan bernyanyi2
dalam sebuah lingkaran. Dltengah lingkaran situ
tampak duduk seorang Biau tua yang bertubuh tinggi
besar. Disebelahnya adalah Tio Tay-keng, Hiat-ji dan Liat
Hwat cousu. Mereka tengah menenggak arak. Tampak
bibir mereka komat kamit, tapi entahlah tak kedengaran
apa yang dibicarakannya itu.
Tong Ko jengkel tak dapat mendengarkan
pembicaraan mereka itu. Kebetulan pada saat itu ada
seorang Biau berjalan lalu disitu. Dia mendapat akal.
Tanpa diketahui sama sekali, dia sergap orang itu dan
ditutuknya jalan darahnya. Maksudnya hendak melucuti
pakaian orang guna menyusup ketempat perjamuan
sana. Tapi diluar dugaan, pakaian rotan yang dipakai
orang itu, terbuat dari rotan besi keluaran istimewa dari
gunung situ. Jangan lagi hanya tangan, sedang ujung
golok dan senjata apapun tak dapat menembus rotan itu.
Benar Tong Ko dapat menutuk dengan tepat, tapi orang
itu hanya jatuh tersungkur saja tapi jalan darahnya tetap
tak kena apa2. Dan celakanya, orang itu lalu berteriak
se-keras2nya Buru2 Tong Ko menyusup masuk kedalam
sebuah goa. Keliling lamping gunung itu bentuknya mirip
dengan sarang tawon. Disitu terdapat banyak sekali
goanya.
Didalam goa situ ternyata terdapat banyak tumpukan
rumput kering dan kedalamnyalah Tong Ko lalu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menyusup. Didengarnya disebelah luar sana suara
ramai2 dan berselang beberapa lama baru lah sirap. Baru
dia hendak keluar atau tiba2 terdengar kaki orang
mendatangi, sehingga dia rebahkan diri lagi. Ternyata
yang masuk itu adalah Hiat-ji bertiga. Tong Ko makin tak
berani berkutik.
"Tio-heng, apa yang dikatakan Kit-bong-to tadi
jangan2 memang benar. Kalau ayahmu tempo dahulu
mengunjungi gunung ini. bukankah juga tak mendapat
hasil apa?" kedengaran Hiat-ji berkata.
"Memang ayahku mengatakan begitu. Tapi apa yang
dilihat oleh Mo locinpwe itu apakah bukannya golok kianthian-
it-guan pik-li-to?" sahut Tay-keng.
Iiat Hwat cousu Itu sebenarnya orang she Mo
bernama Put-siu. Dia orang Tibet, jadi namanya agak
aneh. Berkatalah dia: "Sekalipun begitu, tapi belum pasti
Kit-bong-to mempunyai banyak simpanan obat racun.
Telah kusanggupkan dia suatu pangkat kedudukan
kosong yakni menjadi tho-si (kepala) dari suku Biau di
Sip-ban-tay-san sini, tentu dia akan kegirangan sekali.
Besok hendak kutanyakan dia tentang suatu ramuan
obat racun, tentu dia akan memberitahukan!”
"Hai....., konon kabarnya dia mempunyal semacam
obat racun 'hong-sin-san'. Barangsiapa yang
memakannya dalam tempo sehari akan berobah menjadi
seperti anjing gila, menyerang kepada siapa saja yang
dijumpainya. Kalau dia itu seorang yang- berilmu silat,
tenaganya akan bertambah hebat. Dengan lawan yang
setingkat lebih tinggi kepandaiannya, tetap bisa menang.
Akhirnya, diapun akan mati sendiri!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ho...., ho.....! Andaikata yang meminumnya itu
ayahmu, rasanya dalam 3 hari saja seluruh penghuni
Giok-li-nia itu akan tumpas dibawah sepasang pedang pii-
song-hong-kiam!" Hiat-ji menyeringat iblis.
Mendengar itu, bulu roma Tong Ko sama berdiri.
Sebaliknya Tay-keng hanya ganda tertawa saja, ujarnya:
"Masakan tidak?"
Kiranya goa yang terdapat rumput kering. itu, adalah
tempat penginapan ketiga orang yang menjadi tetamu
suku Biau itu. Memang orang2 Biau itu tinggal didalam
goa2. Setelah berbicara sejenak, ketiga orang itupun
masuk tidur. Dalam pada itu, Tong Ko sibuk tak keruan.
Dia cukup mengetahui kelihayan Liat Hwat cousu yang
tentunya tajam sekali alat Inderanya. Kalau dia nekad
menobros keluar, tak boleh tidak tentu akan ketahuan.
Namun tetap berada ditempat persembunyian, dia kuatir
akan terlambat mencegah suatu malapetaka besar.
Bukantah dari nada pembicaraan
Hiat-ji dan Tay-keng tadi, mereka hendak minta obat
hong-sin-san itu kepada Kit-bong-to? Walaupun Tay-keng
"itu putera kandung Tio Jiang, namun rasanya dia tentu
akan menurut perintah si Hiat-ji untuk meminumkan obat
jahat itu kepada ayah bundanya sendiri. Dan kalau hal itu
sampai terjadi, bagaimanakah nasib kawanan orang
gagah di Giok-li-nia itu? Ah, biar bagaimana dia harus
mencegah hal itu.
Dengan keputusan itu, dia menyingkap tumpukan
rumput kering perlahan2 Diluar. rembulan remang2.
Hiat-ji bertiga tampak tidur disudut, sedang pada sudut
lain terdapat dua orang suku Biau yang mendengkur
dengan kerasnya. Tong Ko girang dibuatnya. Dengan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
adanya orang lain didalam goa situ, tentulah Liat Hwat
cousu tak bercuriga kalau disitu terdapat orang yang
bersembuayi. Kalau dia melangkah keluar, andaikata
dipergoki, tentunya hanya dikira kalau orang Biau saja.
Setelah bulat keputusan, dia segera bangkit dan
sengaja batuk2. Tay-keng menggeliat bangun dan
duduk. Hati Tong Ko tergetar, kalau ketahuan, celakalah
dia. Tapi syukurlah Tay-keng hanya duduk saja sembari
mendamprat uring2an: "Tengah malam buta begini
masih kelayapan, ayuh lekas tidur sana!"
Legah hati Tong Ko dikira sebagal orang Biau itu.
Dengan tak lampias dia mengiakan dan terus melangkah
keluar goa. Ketika tiba diambang mulut goa, dia melirik
lagi kebelakang. Disana dilihatnya Tay-keng rebah pula
dan kedengaranlah Hiat-ji membuka mulut: "Tio-heng,
dengan siapa kau bicara itu?"
"Seorang Biau, entah mau apa dia tengah malam
begini keluar?" sahut Tay-keng.
”Apa ya?"
Tay-keng mendongkol karena tak dipercaya itu,
namun tak berani dia menyalahi si Hiat-ji. "Masakan
bukan? Tu dia masih berdiri dimulut goal" serunya.
Tong Ko seperti terpaku ditempatnya. Hatinya kebat
kebit tak keruan, takut kalau2 kedua orang itu
menyusulnya. Hem..., kedengaran Hiat-ji mendengus
sembari menggeliat balikkan tubuh untuk tidur lagi.
Tanpa menoleh lagi, Tong Ko cepatkan langkahnya
keluar.
Saking girangnya bisa keluar dari sarang harimau,
Tong Ko segera tundukkan kepala melihat ketanah,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
astaga.......disamping bayangannya yang memanjang
karena ditimpa cahaya rembulan itu, tampak lagi ada
sebuah bayangan lain!
Dalam kagetnya pikiran Tong Ko membayangkan
dugaan. Yang mengikutinya itu hanya salah satu dari
ketiga orang lawannya tadi, yakni kalau bukan Tay-keng
tentulah Hiat-ji atau Liat Hwat cousu. Tapi anehnya
mengapa orang itu tak menyerangnya? Pikirannya pun
mereka berbagai Ingatan. Bukan dia takut binasa
digunung Thiat-nia situ, tapi dia menyesal mengapa tak
dapat lekas2 menuju ke Giok-li-nia saja? Di Thiat-nia situ
paling banyak dia dapat menyelidiki asal asul ilmu golok
it-guan-to-hwat, itupun kalau saja berhasil. Tapi kalau
dia menuju ke Giok li-nia, manfaatnya pasti jauh lebih
besar lagi. Ber-puluh2 orang gagah patriot akan dapat
diselamatkan dari kebinasaan akibat penghianatan putera
Tio Jiang itu. Dan itu akan berarti suatu sumbangan
besar bagi kelangsungan gerakan menentang penjajah
Ceng.
Tapi ....... ah, dengan binasanya putera bungsu Tio
Jiang dan Nyo Kong-lim, para orang gagah itu sudah
sama membenci dirinya (Tong Ko). Betapapun dia
memberi laporan diatas sumpah yang berat, tak nanti
mereka mau mempercayainya. Dilamun oleh pikiran
semacam itu, tanpa terasa Tong Ko tertegun dan termangu2
sampai sekian sa'at. Setelah tersadar,
didapatinya keadaan disekelilingnya situ tetap tenang2
saja. Dan ketika dia memandang ketanah lagi
hai..............kemana perginya bayangan tadi? Mengapa
yang terbentang ditanah itu hanya bayangan sendiri?
Juga waktu dia berpaling kebelakang, tiada barang
sebuah insanpun yang kelihatan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Heran Tong Ko men-jadi2. Ya, tak salah lagi tadi
terang dia melihat sebuah bayangan disisinya. Sejak dia
mendapat saluran Iwekang dari Sik Lo-sam dan Ciang
Tay-lo, lwekangnya maju pesat dan dengan sendirinya
pancainderanyapun tajam sekali. Tapi anehnya orang
gaib itu telah mondar mandir tanpa mengeluarkan sedikit
suarapun juga, bahkan sesilir anginpun tak terasa
meniup. Ah, masakan didunia ini terdapat orang yang
sedemikian saktinya? Dari kurang percaya akhirnya dia
menarik kesimpulan bahwa kesemuanya' itu mungkin
terbit dari pikirannya sendiri yang gugup karena takut
kepergok lawan Benar dia percaya dirinya telah
memperoleh kemajuan ilmu kepandaian yang pesat,
namun sampai dimana tingkat kemajuannya itu belumlah
dia mengetahui dengan pasti.
Begitulah setelah yakin tiada seorangpun yang
menguntitnya, dia lalu memandang keseluruh goa disitu.
Tampak di-tengah2 sana ada sebuah goa yang besar
dijaga oleh dua orang Biau yang ketiduran pulas.
Berbeda dengan lain2 goa, goa itu pintunya tertutup
dengan kerai rotan. Menduga gua itu tentulah tempat
kediaman Kit-bong-to, kepala suku Thiat-theng-biau,
maka dengan melangkahi penjaganya yang masih
menggeros pulas itu, ia masuk kedalam. Begitu
melangkah masuk, hidungnya segera tersampok dengan
bebauan yang harum sekali. Tapi keadaan dalam goa situ
gelap sekali, sampaipun dia tak dapat melihat tangannya
sendiri. Setelah sejenak memulangkan kegoncangan
hatinya, Tong Ko segera berindap2 melangkah maju.
Dalam kegelapan tangannya merabah sebuah meja.
Ketika tangannya menekan meja Itu, biar...........
seketika terang benderanglah ruang goa itu!
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mengira kalau dirinya akan dijebak orang, sebat sekali
Tong Ko segera melolos jwan-pian terus dibolangbalingkan
dalam dua jurus gerakan. Tapi ternyata dia
hanya menghantam angin karena disitu tiada terdapat
barang seorang manusiapun jua. Kini insyaflah dia,
bahwa penerangan itu adalah dia sendiri yang
menimbulkan sewaktu tangannya menekan meja batu
itu. Diperiksanya meja itu, kiranya disitu terdapat 4 butir
ya-beng-cu mutiara bercahaya terang). Mutiara2 ini
ditutupi ber-lapis2 kain hitam Tadi tanpa sengaja
tangannya telah menarik kain selubungnya, hingga
terjadi penerangan itu. Walaupun kaget, namun legah
juga hati Tong Ko sewaktu mengetahui bahwa tiada
orang yang berada disitu.
Tetapi kegirangan Tong Ko Itu hanya sekejab saja,
karena pada lain saat terdengar derap kaki orang
mendatangi. Kiranya waktu Tong Ko membolongbalingkan
piannya tadi telah menimbulkan deru
sambaran angin yang keras. Tambahan pula timbulnya
penerangan yang mendadak itu, telah membangunkan
kedua penjaga tadi. Serentak mereki masuk kedalam.
Buru2 Tong Ko meuyusup kebawah meja. Dia tetap tak
habis mengerti mengapa hanya goa ini saja yang dijaga
orang. Apakah karena adanya mustika ya-beng-cu itu?
Belum lagi dia mendapat jawaban dari dugaannya itu,
dua pasang kaki yang dibungkus dengan rotan sudah
kelihatan dimukanya, kira-kira hanya terpisah satu
setengah meter jaraknya. Tong Ko anggap sudah tiba
temponya untuk turun tangan. Liong-kau-pian dijulurkan
merayap keluar. Waktu kedua orang Biau itu
mengetahui, sudah terlambat. Ujung liong-kau-pian itu
sudah melilit pada kaki salah seorang dan sekali
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
disentakkan, maka terjerembablah orang itu menjatuhi
kawannya. Kedua penjaga itu tengel2 hendak bangun
tapi Tong Ko yang membarengi menorobos keluar segera
mengirim dua sabetan pian pada seorang dan mengirim
sebuah tendangan pada yang lain. Tak ampun lagi,
kedua orang Biau itu jatuh sungsang sumbal. Rupanya
kedua orang itu hendak berteriak minta tolong, tapi
sebat sekali Tong Ko sudah julurkan jarinya menutuk
jalan darah su-pek-hiat salah seorang dari mereka. Jalan
darah Itu terletak dibawah pelapuk mata, jadi tak
dikerudungi rotan. yang seorang lagi hendak
memberosot keluar, tapi secepat kilat Tong Ko sambar
golok orang itu terus dilekatkan dimukanya.
Bruk......., orang Biau itu ngelumpruk jatuh berlutut
ditanah meratap: "Hohan, ampunilah jiwakui"
Tong Ko girang mendengar orang Biau dapat
berbahasa Han. Setelah mendengari disebelah luar sana
tiada terdapat perobahan suatu apa, dia lalu menanyai.
Bermula hendak dia tanyakan lebih dahulu mengapa
orang Biau itu menjaga disitu. Tapi terkilas pada
pikirannya, bahwa dalam keadaan segenting itu tak boleh
dia terlalu buang2 waktu.
Lebih baik chi langsung tanyakan dimana Kit-bong-to
simpan obat2annya beracun itu. Memang sudah menjadi
watak Tong Ko sejak kecil mula, dia tak suka memikirkan
kepentingan diri sendiri. Beg;tupun dengan pertanyaan
itu, maksudnya yalah agar dia lekas2 dapat mendahulu
ambil obat berbisa itu agar Tio Jiang suami isteri tak
sampai mengalami malapetaka. Tapi justeru karena itu,
dia telah kehilangan suatu kesempatan yang bagus. Dan
untuk kesempatan itu, kelak dikemudian hari dia harus
menebusnya dengan jerih payah yang sangat. Tapi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
baiklah haI itu kami tangguhkan dahulu pada bagian
belakang dari kisah ini.
"Dimana yu-tio (kepala suku) menyimpan obat2nya?"
Orang Biau itu mengatupkan matanya sejenak lalu
menyahut: ”Tidak disinil"
"Ayuh, lekas antarkan aku kesana dan tak nanti
kuganggu jiwamu!"
Orang itu berbangkit dan Tong Ko segera
menggandeng tangannya untuk diajak pergi. Berliku-liku
jalanan yang ditempuh, melalui perkampungan goa yang
banyak sekali jumlahnya. Tong Ko sampai kehilangan
pedoman arah jalanan, tak tahu dia hendak dibawa
kemana. Tetapi karena dilihatnya orang Biau itu tak
mengunjuk tanda2 membangkang, jadi diapun tak
curiga. Memang. dia tak menyelami alam pikiran. suku
Thiat-theng-biau. Mereka itu ternyata menyayangi obat
racunnya, melebihi dari jiwanya sendiri. Sekalipun kepala
suku yang memberikan sedikit kepada lain orang,
merekapun tak puas. Bahwa per-tama2 yang ditanyakan
adalah tentang obat racun yang khas menjadi pusaka
warisan bangsanya, orang Biau itu diam2 telah mereka
suatu rencana.
Pada lain saat ketika membiluk pada sebuah tikungan,
merontalah orang itu se-kuat2nya lalu ber-teriak2 keras2.
Kaget Tong Ko bukan alang kepalang. Mimpipun tidak dia
kalau orang itu hendak mengelabuhnya. Tadi karena dia
tak bercuriga, cekalannyapun agak kendor, maka gitu
meronta dapatlah orang Biau itu terlepas terus lari
kebelang sembari ber-teriak2. "Plak", cepat Tong Ko
timpukkan golok lengkung dan tepat mengenai ulu
punggung orang itu. Tetapi karena tubuh orang itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dibungkus dengan rotan besi yang keras, jadi tak kena
apa2.
Bebrapa kejab saja, hiruk pikuklah suasana disekeliling
situ. Be-ratus obor keluar darl goa2. Tiada lain daya bagi
Tong Ko kecuali bersembunyi dibalik sebuah batu besar
Tak berselang berapa lama, muncullah Kit-bong-to
membawa ratusan orang Biau yang sama siap lengkap
dengan golok sabitnya. Mereka lalu pecah diri
berpencaran mencarinya.
Ada dua dua regu yang makin mendekati ketempat
persembunyian Tong Ko. Terhadap suku Thiat-thengbiau,
karena dirinya merasa salah, rela sudah Tong Ko
ditangkap. Tapi mengingat apabila sampai kepergok
kawanan. Hiat-ji dirinya pasti akan binasa, Tong Ko
mengambil putusan lain. Sebelum mati bercermin
bangkai (sebelum mati lebih baik berusaha dulu
menentangnya). Setelah menghimpun semangat, dia
segera enjot kakinya melayang keluar. Belum kakinya
menginjak tanah, liong-kau-pian sudah ber-putar2
menjadi sebuah lingkaran sinar merah. Tujuh atau
delapan orang Biau terjungkal mundur. tapi belum Tong
Ko dapat membuka d'alan, orang2 Biau yang lain sudah
maju mengerumuninya lagi sembarl ber-teriak2 keras
Sebenarnya Tong Ko pun tak ingin terlalu banyak
mengorbankan jiwa orang Biau, namun betapa usahanya
untuk menobros kian kemari, tetap dia gagal membuka
kepungan pagar golok sabit yang mengelilingi rapat2 itu.
Dalam pada dia gelisah kebingungan itu, tiba2 terdengar
suara suitan nyaring dan siraplah hiruk teriakan orang2
Blau itu. Kini mereka sama tegak berdiri diam. Pada lain
detik, muncullah Kit-bong-to kemuka. Setelah mengawasi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
beberapa jenak pada Tong Ko, dia berseru: "Siapakah
yang pada siang hari ini mem-bunuh2i saudara2 suku
kami? Kaukah?"
"Ya!" sahut Tong Ko dengan tegas ringkas.
Kepala suku Thiat-theng-biau itu mengangguk,
ujarnya: "Kiranya kau ini seorang jantan yang keras,
seperti juga kami suku Thiat-theng-biau. Ada apa kau
datang kemari?"
Melihat orang tak bernada gusar legalah hati Tong Ko,
sahutnya: Kit-yu-tio, ketiga orang yang datang kemari itu
adalah kaki tangan kerajaan Ceng. Apabila mereka
hendak meminta obat racun padamu, harap jangan
diberi!"
"Mengapa?"
Dalam detik itu tak dapatlah Tong Ko mencari jawaban
yang jitu, maka dengan ter-sipu2 dia menjawab:
"Tentara Ceng telah merampas wilayah kami, main
bunuh main perkosa dan berlaku se-wenang2. Rakyat
ingin benar me-ngunyah2 daging dan menguliti tubuh
mereka. Bagaimana kau hendak membantu mereka?"
Kit-bong-to goyang kepala, ujarnya: "Hal itu tiada
sangkut pautnya dengan kami. Liat Hwat consu telah
menyampaikan firman kerajaan Ceng yang mengangkat
diriku sebagai yang dipertuan dari suku Biau Sip-ban-taysan.
Jadi akupun kini seorang pembesar kerajaan!"
Bermula Tong Ko hendak membangkitkan rasa cintanegeri
pada sanubari Kit-bong-to. Tapi serta didengarnya
keterangan itu, dia tertegun diam. Belum dia sempat
merangkai jawaban atau dari arah belakang Kit-bong-to
suara tertawa kata orang: "Ucapan Kit tho-si memang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
benar seratus persen. Adalah orang she Tong itu yang
bermata tapi se-olah2 buta!"
Menyusul dengan seruan itu, muncul seorang pemuda
gagah sembari menghunus sebatang pedang. Itulah Tio
Tay-keng! Melihat dia, mata Tong Ko seperti memancar
api.
Dengan mengaum keras dia lontarkan liong-kou-pian
meniapu tubuh orang. Tay-keng menggeliat kesamping,
melolos pedang dia lalu kembangkan permainan pedang
to-hay-kiam-hwat yang termasyhur itu. Malah dua jurus
sekaligus diserangkan yani Ceng-wi-tiam-hay dan boanthian-
kok-hay, gaya kedahsyatan tiada taranya. Belum
lagi Tong Ko sempat menggerakkan piannya, dia sudah
didesak rapat.
Tong Ko balikkan sikunya robah gerakannya dalam
jurus kou-lo-ki-lu, barulah dia dapat meloloskan diri lalu
loncat kesamping.
Ketika dia siap untuk memu!ai menyerang lagi, sekonyong2
telinga nya dilengkingi oleh tiupan suara
orang: "Hai, kau juga harus mengasoh!" Seketika
pinggangnya scrasa kesemutan dan tubuhnya condong
kesamping. Kiranya separoh tubuhnya sebelah kanan tak
dapat digerakkan lag!, terang kalau kena ditutuk orang~.
Namun sebagaimana telah diketahui, tubuh Tong Ko itu
terbagi menjadi dua, "masakan" Sik Lo-sam dan
gemblengan Ciang Tay-lo. Dia memiliki dua macam
lwekang yang sakti, hanya sayangnya sampai pada saat
itu latihannya masih belum sempurna. Tubuh yang
sebelah kanan tertutuk, yang sebelah kiri masih tetap
biasa. Bermula hendak dia pindahkan pian ketangan kirl
tapi pada lain saat terkilas pada pikirannya, lebih baik dia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pura2 tak berdaya. Pertama hendak dia lihat
perkembangannya lebih jauh dan kedua kali dia cukup
mengingsyafi kelihayan Liat Hwat cousu. Biar dia
gunakan simpanan tenaganya itu untuk mengadu jiwa
dengan Tay-keng!
Begitulah dia pura2 rubuh ketanah dan benar juga
tampak Liat Hwat cou-su dan Hiat-ji menghampiri
dengan pe-lahan2.
"Sekali jaring ditebar, tiada mata lubangnya. Kalau tak
kuberesi budak ini, tentu akan menimbulkan bahaya
dikemudian haril" seru Tay-keng dengan kegirangan
Melangkah maju dia lalu tusukkan ujung pedang
ketenggorokan Tong Ko.
Adalah menjadi harapan Tong Ko agar ujung pedang
Taykeng Itu lekas2 tiba, supaya dia dapat gunakan
tenaga tangannya kiri. Tapi baru dia hendak bergerak,
terdengarlah Kit-bong-to keburu berseru: "Tio kongcu
tahan dululah!"
"Kit tho-si hendak memberi pesan apa?" tanya Taykeng
agak terkesiap.
"Anak muda ini adalah seorang jantan keras. Kupenuju
padanya, biar dia bekerja pada kami disini" sahut Kitbong-
to.
Tay-keng berobah wajahnya. Baru dia hendak
membuka mulut, Hiat-ji sudah memberi isyarat mata,
ujarnya: "Tio-heng, semalam kami telah mengemukakan
obat itu dan rupanya dia meluluskan. Baiklah kau simpan
dulu pedangmu dan cukup jaga saja padanya!"
Rupanya Tay-keng mengerti bahwa Hiat-ji dan
suhunya itu "ngesir" (dendam) pada Kit-bong-to, maka
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sembari mengangguk dia menyahut: "Kit tho-si, hal ini
perlu dirundingkan lagi!" Dia mundur selangkah, ujung
pedangnya dijulaikan kearah bawah (tanah) sembari
masih di-gerak2an pelahan-lahan. Itulah gaya sikap
gerakan Ceng-wi-tiam-hay. Asal tangannya membalik
keatas, maka dapatlah ujung pedangnya itu menusuk Kitbong-
to.
Memang ilmu silat Kit-bong-to itu tak sebrapa
tingginya, jadi sedikit pun dia tak menginsyafi "bom
waktu" yang dipasang tetamunya itu. Disamping itu dia
dimabuk kegirangan atas kedatangan ketiga tetamunya
yang membawa firman kerajaan itu. Namun karena din
sebagai kepala suku yang perintahnya selalu diturut oleh
anak buahnya, maka diapun marah mendengar
penyahutan Tay-keng tadi.
"Apa yang akan dirundingkan lagi?" serunya dengan
gusar.
Hiat-ji tertawa menyeringai, ujarnya: "Oleh karena
yutio hendak mengambil anak itu, maka sebaiknya kita
lakukan barter. Kami serahkan anak itu dan yutio berikan
kita resep pembuatan obat beracun itu."
"Ngaco!" seketika Kit-bong-to menghardik dengan
keras. Hiat-ji menggeram keras2 dan Tay-keng yang
dapat menangkap isyarat itu segera balikkan tangannya
menusuk tenggorokan kepala suku itu.
Mimpipun tidak Kit-bong-to kalau "duta kerajaan" itu
berpaling haluan secara tak di-sangka2. Dan begitu cepat
kiblat pedang itu menyambar, jangankan hendak
menghindar sedang untuk berteriak saja tak mempunyai
kesempatan lagi. Adalah pada saat2 maut merangsang
itu, tiba2 kedengaran Tay-keng menjerit keras dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terlempar jatuh kesamping, crak ....., ujung pedang Itu
hanya menggurat disamping dada kepala suku Biau yang
ditutupi rotan besi saja, jadi dia tak kurang suatu apa.
Apa yang terjadi? Ketika dia mengawasi, kiranya ujung
pian Tong Ko telah memakan segumpal daging betis Taykeng,
sehingga putera Tio Jiang yang "manis" itu
berlumuran darah kakinya. Kini Kit-bong-to tahu bahwa
Tong Ko lah yang menolong jiwanya. Dan karena kedok
ketiga "duta kerajaan" Itu telah ketahuan, dia lalu
berseru keras2 memberi komando. Bagaikan sarang
tawon dionggok, bergelombanglah orang2 Thiat-thengbiau
itu mengepung ketiga tetamunya.
Juga Hiat-ji dan Liat Hwat cousu tahu jelas apa yang
telah terjadi. Heran mereka dibuatnya mengapa anak
yang sudah ter-tutuk jalan darahnya itu dapat melakukan
serangan tiba2 sedemikian dahsyatnya. Dalam pada itu
orang2 Thiat-theng-biau sudah menyusun kepungannya
dengan rapat dan rapi sekali. Tiba2 ketika Kit-bong-to
hendak undurkan diri masuk kedalam barisannya, Liat
Hwat cousu tertawa melengking dan tahu2 tubuhnya
melayang kearah Kit-bong-to. Belum orangnya tiba
ditanah 4 buah hantaman sudah dilancarkan, buk...,
buk.., buk.., buk..., dan 4 orang Thiat-theng-biau segera
muntah darah terus rubuh binasa. Cepat bagai burung
rajawali dia mencengkeram tulang pipeh (pundak) Kitbong-
to terus diangkatnya keatas, serunya: "Barang
siapa berani bergerak, kau pasti hilang nyawamu. Lekas
perintahkan orang2mu berhenti!"
Liat Hwat mempunyai lwekang yang sempurna.
Walaupun seruannya itu pelahan2 namun kumandangnya
jauh menggema ke-mana2. Melihat kepala sukunya
ditawan dengan sendirinya orang2 Thiat-theng-biau itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sama ketakutan. Sebaliknya Kit-bong-to sendiri tetap
diam membisu.
"He...., he....," Liat Hwat tertawa mengekeh, "rupanya
kau tak kenal kelihayan. Ayuh, berikan tidak resep
obatmu itu? Kalau membangkang, kau akan segera
menjadi bangkai!"
---oooo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 16 : TIO JIANG MENOLONG
PUTRINYA
Kit-bong-to tetap membisu.
"Kalau belum pernah makan tanganku, rasanya kau
tentu tetap kepala batu ya?" kata Liat Hwat sembari
menampar dada kepala suku itu.
Huak....., darah segar menyembur dari mulut Kitbong-
to, namun dia tetap bisu laksana patung. Adalah
Tong Ko yang tak tega melihat keganasan itu, segera
berteriak: "Liat Hwat cousu, dia tak pandai ilmu silat.
Tidakkah kau merasa malu untuk menyiksanya begitu
macam?"
Liat Hwat mengekeh, serunya: "Hiat-ji, dialah yang
mengerti ilmu silat. Coba kau tekan dia, tentu tak
dianggap memalukanlah !"
Hiat-ji mengiakan lalu melangkah maju. Dari
tempatnya diatas tanah, Tong Ko menyambutnya dengan
sebuah sabetan pian tangan kiri. Sayang dia hanya
berdiri dengan kaki sebelah kiri, jadi tubuhnya terhuyung
dan sabetannya itupun tak genah arahnya.
Dengan mudahnya Hiat-ji menghindar lalu
menyengkelitnya hingga menggelepar jatuh didekat Kitbong-
to. Sewaktu Tong Ko hendak bangun lagi,
didengarnya dengan suara lemah Kit-bong-to berkata:
"Ilmu permainan........golok lengkung itu........ "
Tergerak hati Tong Ko, pikirnya: "Kedatangan Hiat-ji
bertiga ke Thiat-nia situ yang terutama yalah akan
mencari keterangan tentang ilmu golok it-guan-to-hwat
itu. Apakah bukannya kepala suku itu hendak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menyampaikan rahasia ilmu itu padaku?" Buru2 dia
mendongak mengawasi kearah Kit-bong-to; tapi kepala
suku itu ter-engah2 napasnya tak dapat bicara genah lagi
karena ditekan oleh cengkeram Liat Hwat cousu.
Dalam pada itu Tay-keng telah membalut luka
dibetisnya dan kini tampil menghampiri lagi. Dengan
Tong Ko dia menuntut penghidupan "seperti air dengan
api". Dua kali sudah dia mendapat luka ditangan Tong
Ko, maka bencinya terhadap anak muda itu sampai
menyusup kedarah daging. Begitu tiba Tay-keng segera
mengirim sebuah tendangan keras. Karena separoh
tubuh Tong Ko tertutuk, maka begitu kena tendangan,
tubuhnya segera terlempar keatas. Belum sempat dia
gerakkan pian membalas, pahanya terasa sakit sekali.
Luka sepanjang 20-an centi telah diguratkan ujung
pedang Tay-keng diatas pahanya itu.
GAMBAR 09
Sekali Tio Tay Keng ayun kakinya, tubuh Tong Ko
ditendang mencelat keatas, menyusul pedang Tio Taykeng
bekerja lagi hingga pahanya tergores luka panjang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Siaocu, kalau hari ini tak kucincang badanmu,
rasanya hatiku tentu masih mendendam!" seru Tay-keng
dengan beringas. Dan sebelum tubuh Tong Ko melayang
turun, dia susuli lagi dengan sebuah tendangan. Lagi2
tubuh Tong Ko melambung keudara.
Adalah secara kebetulan sekali, tendangan kedua dari
Tay-keng itu bahkan berobah menjadi suatu keuntungan
bagi Tong Ko. Karena tendangan itulah maka jalan
darahnya yang tertutuk itu kini menjadi terbuka. Secepat
dia turun ketanah, bagaikan banteng ketaton dia kirim 3
serangan pian. Yang dua tepat mengenai pedang Taykeng.
Kejut Tay-keng tak terkira ketika didapatinya
tenaga hantaman lawan itu luar biasa kuatnya hingga
hampir2 pedang terlepas dari cekalannya. Buru2 dia
menyurut kebelakang lalu menangkis serangan pian yang
berikutnya.
Sudah menjadi tekad Tong Ko, untuk mengadu jiwa
dengan lawannya itu. Dia tak ambil pusing lagi bahwa
disana masih ada Liat Hwat yang lihay. Ilmu permainan
pat-sian-pian (pian 8 dewa) dimainkan dengan
gencarnya, sedang tangannya kanan berserabutan
menghantam dan mencakar. Benar karena kalah
peyakinan tubuhnya kena dilukai bebrapa kali, namun
musuhpun dibuatnya sibuk bukan kepalang bingga
berulang-ulang men-jerit2 minta bantuan Hiat-ji.
Melihat kebandelan kepala suku Biau itu, Liat Hwat
ambil putusan untuk membunuhnya saja. Krek......,
begitu dia keraskan cengkeramannya lalu lemparkan
tubuh Kit-bong-to yang sudah tak bernyawa itu ketanah.
"Dengarkanlah hai....... orang2 Biau! Barangsiapa yang
melawan, Kit-bong-to adalah contohnya!" serunya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sejak kecll Kit-bong-to memiliki tenaga kekuatan yang
luar biasa. Setelah diangkat menjadi kepala suku, orang2
Thiat-theng-biau itu sangat taat dan memujanya. Bahwa
kini kepalanya itu dapat dibinasakan, merekapun menjadi
keder dan tak berani bergerak lagi. Melihat itu Liat Hwat
menjadi girang. Baru dia hendak menanyakan tentang
rahasia obat mujijat itu, tiba2 dart lamping gunung sana
terdengar jeritan seorang perempuan: "Hem....., Tokkak-
sin-mo.......! Kalau kau tak lepaskan aku, begitu
ayahku datang menyusul, masakan kau dapat
menandinginya?"
"Huh, takut apa? Kalau aku bukan lawannya, kau
sendiripun tak nanti dapat hidup, ha....,ha....., kita
sama2 mati!" kedengaran suara penyahutan.
Orang2 yang berada dalam dataran gunung situ,
terkejut mendengar percakapan sepasang laki
perempuan itu karena mereka tahu sudah bahwa kedua
orang itu adalah Tio In dan sikaki satu Sin Tok. Kalau
Tong Ko kegirangan mendengar bahwa Siau-bengsiang
Tio Jiang segera akan tiba, adalah Tay-keng yang serasa
hilang semangatnya karena ketakutan. Begitu
gerakannya agak ayal, pundaknya kena termakan ujung
pian, sakitnya bukan alang kepalang.
"Shin-heng, lekas bantui aku! Anak ini kerangsokan
setan!" serunya kepada Hiat-ji. Tapi pada lain saat,
telinga seperti disusupi suara lengkingan "jangan kuatir,
makin kau ber-pura2 terdesak, makin baiklah". Kiranya
itulah pesan Liat Hwat yang dibisikkan melalui ilmu
thoan-im-jip-bi. Kini hatinyapun mantep pula.
Adalah pada saat itu Tok-kak-sin-mo dengan mengepit
Tio In sudah muncul disitu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Girangnya sikaki satu bukan kepalang ketika didapati
konco2nya berada disitu.
"Ho, kiranya kalian berada disini, aku di-ubar2 Tio
Jiangl" serunya.
Sedang Tio In yang melihat engkohnya (Tay-keng)
sedang bertempur dengan Tong Ko segera meneriakinya:
"Ko-ko, Ko-ko!"
Bermula Tong Ko mengira kalau saat itu Tok-kak-sinmo
dan Shin Leng-siau tentu sudah membawa Tio In
kekota raja, maka sejenak dia menjadi tertegun demi
mendengar teriakan nona yang dicintainya itu.
"In-moay, apakah ayahmu segera akan tiba kemari?"
serunya.
"Secepatnya tentu dia sudah kesinil" sahut Tio In.
Memang rencana Tok-kak-sin-mo dan Shin Leng-siau
hendak membawa nona itu kekota raja untuk menjebak
Siau-beng-siang Tio Jiang.
Maka sedikitpun tak mereka sangka bahwa selekas itu
Tio Jiang dapat menerima berita lalu terus melakukan
pengubaran. Maka rencana tujuan mereka berobah,
bukannya menuju keutara tetapi kebarat laut (barat
utara). Maksudnya ialah untuk membilukkan perhatian
orang. Pada hakekatnya bagus juga siasat itu.
Memang Tio Jiang telah keliru menyusul keutara.
Tetapi oleh karena kalangan persilatan dari kedua
wilayah Kwisay dan Kwitang itu sebagian besar adalah
sahabat2 Tio Jiang, maka begitu mereka mendapatkan
jejak Tok-kak-sim-mo, dengan cepat mereka memberi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
informasi (keterangan) pada Tio Jiang berganti arah
menuju kebarat laut.
Oleh karena disepanjang jalan itu Tok-kak-sin-mo
selalu dirintangi oleh hadangan2 sahabat-sahabat Tio
Jiang, ya sekalipun kesemuanya dapat dirubuhkan,
namun sekurang2nya juga tak sedikit menghambat
waktu mereka (Sin Tok dan Shin Leng-siau). Begitulah
ketika tiba didaerah pegunungan Sip-ban-tay-san, Tio
Jiang telah dapat mencandaknya.
Sebenarnya kedua orang itu dapat melayani Tio Jiang,
tapi karena sikaki satu berusaha se-kuat2nya agar Tio In
jangan sampai kena direbut Tio Jiang lagi, maka dia tak
mau terlibat dalam pertempuran dan melainkan main lari
seribu langkah.
Begitu tampak dari kejauhan Tio Jiang mengejar, Tokkak-
sin-mo dan Shin Leng-siau segera keprak kudanya
mencongklang se-pesat2nya.
Sekalipun begitu, karena tunggangannya itu sudah
keliwat cape dilarikan siang malam tanpa berhenti dan
kedua kalinya karena jalanan digunung Sip-ban-tay-san
itu legak-leguk ber-liku2, jadi malah lambat.
Mendengar disebelah muka sana anaknya tak
henti2nya ber-teriak2, TIo Jiang tancap gas berlari
sekencang2nya. Dalam bebrapa kejab saja, jarak mereka
itu makin dekat. Sedang disebelah muka adalah
merupakan jalan buntu yang menuju kesebuah karang.
Tersipu2 kedua orang itu lompat turun dan kudanya.
Baru Shin Leng-siau memutar tubuh hendak siap
menantikan lawan, atau Tie Jiang sudah loncat
menerjangnya dengan pedang pusaka yap-kun-kiam.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sret...., sret....., mata Shin Leng-siau menjadi silau
dengan cahaya gemilang dari pedang pusaka itu dan
tahu2 bahunya kena tertusuk.
Nampak kawannya terluka, bukannya maju. menolong
sebaliknya sikaki satu dengan gayanya berloncatan kaki
satu, segera melarikan diri. Tio Jiang tak mau menghajar
Shin Leng-siau lagi, cukup dia kirim sebuah tendangan
yang telah membuat orang itu terlempar setombak
jauhnya. Yakin bahwa korbannya itu tentu menderita
luka berat, Tio Jiang berputar tubuh terus mengejar.
sikaki satu.
Sin Tok menyongsong dengan kapaknya. Untuk lekas2
menolong puterinya, Tio Jiang tak mau buang banyak
waktu. Segera dia gunakan jurus hay-siang-tiau-go,
tubuhnya tiba2 diam. Ini diartikan lain oleh Sin Tok yang
sudah kegirangan karena mengira ada kesempatan untuk
menyerang. Tapi baru dia gerakkan kapaknya, jurus haysiang-
tiau-go yang penuh dengan perobahan itu sudah
bergerak. Pedang serentak berobah menjadi separoh
lingkaran bundar, lewat disela kapak terus merangsang
muka orang.
Tok-kak-sin-mo Sin Tok adalah murid kesayangan dari
Ban-bok-sin-bu, iblis nomor satu didaerah Biau. Watak
Ban-bok-sin-bu itu sangatlah ganasnya. Dia mempuayai
banyak murid, tapi begitu dia marah2, dia mencari
hiburan dengan mem-bunuh2i muridnya. Sebelah kaki
dari Sin Tok itupun gurunya itulah yang memotongnya.
Namun karena Sin Tok bertekad untuk memiliki
kesaktian, jadi diapun tak mendengar. Makin tua adat
Ban-bok-sin-bu itu makin gila2an, sehingga dia dijuluki
sebagai iblis nomor satu dari daerah Biau-ciang. Semua
anak muridnya habis dibunuhnya, kecuali tinggal Sin Tok
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
seorang. Oleh karena Sin Tok pandai mengambil hati dan
tekun melayani, maka Ban-bok-sin-bu tak membunuhnya
dan bahkan mengangkatnya menjadi akhli warisnya.
Sin Tok telah mendapat warisan pelajaran sepertiga
bagian dari suhunya. Ban-bok-sin-bu itu sebenarnya
orang Biau, sewaktu kecil dia telah berjumpa dengaa
seorang sakti sehingga kepandaiannya tiada taranya.
Hanya sepertiga bagian saja Sin Tok mendapat
pelajaran dari sang suhu, namun dalam golongan jago2
kelas satu dari istana Ceng, dia tergolong yang
terkemuka.
Maka dapatlah dia mengetahui bahaya apa yang
dibawa oleh serangan Tio Jiang itu. Dalam gugupnya
buru2 dia pakai kapaknya untuk melindungi mukanya.
Ya, untung dia berbuat begitu dan tak mau temaha
menyerang orang. Sekalipun begitu, sewaktu kapak
beradu dengan pedang, maka kutunglah kapak besar itu
menjadi dua.
Ter-sipu2 Sin Tok loncat kesamping. Sejak sebelah
kakinya dikutungi sang suhu, Sin Tok berjerih payah
melatih diri. Hasilnya, walaupun hanya dengan sebuah
kaki namun loncatannya itu jauh melebihi dari orang
biasa. Sekali loncat dapatlah dia mencapai dua tombak
lebih jauhnya. Dan sebelum Tio Jiang sempat mengejar,
dia sudah lekatkan kutungan kapaknya itu kemuka Tio
In, serunya: "Siou-beng-siang, setindak saja kau
melangkah kemari, anak perempuanmu pasti akan tak
bernyawa!"
Terpaksa Tio Jiang hentikan langkahnya, sahutnya:
"Selembar rambut saja kau ganggu In-ji, tentu tubuhmu
akan kucincang hancur lebur!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sedangkan Tio In yang melihat ayahnya ditekan oleh
ancaman sikaki satu itu, segera berseru dengan
lantangnya: "Yah, kau ini bagaimana? Seringkali kau
tanamkan dalam sanubariku, bahwa kepentingan umum,
itu diatas kepentingan peribadi. Bangsat ini adalah kaki
tangan musuh, bukannya kau bunuh dia demi
keselamatan rahayat tetapi utamakan kepentingan anak
sendiri!"
Tio Jiang mengeluh dalam hati. Dia seorang yang
berperibadi lurus. Dipikir2 ucapan anaknya itu memang
benar. "In-ji, anggaplah bahwa ayahmu berdosa
kepadamu, namun musuhmu itupun tak nanti dapat
terlolos dari tanganku, semoga kau dapat mengasoh
dialam baka dengan tenang!" serunya sembari maju
menerjang.
Melihat siasatnya gagal, si ayah tak mempan digertak
dan sianak tak takut mati, Sin Tok wenjadi kelabakan
sendiri. Dia tak berani laksanakan gertakan dan
melainkan buru2 mundur kebelakang untuk menghindari
tusukan Tio Jiang.
Namun Tio Jiang tetap merangsang maju dengan
gerak boan-thian-kok-hay. Taburan sinar pedang
membura keatas kepala lawan. Dengan kutungan kapak,
Sin Tok tak berdaya menghalau serangan lawan. Tiba2
dia mendapat akal. Kutungan kapak dan tangkainya
ditimpukkan, tring, tring, tring, pedang menghantam dan
putuslah kutungan kapak itu menjadi empat potongan
kecil lagi.
Menyusul dengan itu. Tio Jiang turunkan ujung
pedang kemuka untuk menusuk ulu hati Sin Tok. Tapi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
baru menjulur setengah jalan, buru-buru dia tarik pulang
pedangnya.
Kiranya sikaki satu itu memang cerdik sekali. Setelah
melemparkan kapak, dengan sebat sekali dia segera
mencengkeram Tio In. Begitu pedang menusuk dia pakai
tubuh nona itu sebagai perisai.
Tanpa disadari, Tio Jiang tarik serangannya.
Sebaliknya Tio In tak setuju dengan tindakan ayahnya
itu, serunya: "Yah, mengapa kau masih ragu2? Ayuh
teruskan tusukanmu, biar aku mati tapi bangsat ini pun
turut mampus!"
Betapapun kuatnya peribadi Siau-beng-siang itu,
namun dia tetap seorang ayah yang sayang akan puteri
kandungnya. "In-ji!" keluhnya.
Sin Tok yang ganas licik dapat meneropong isi hati Tio
Jiang. Baru orang mengucapkan kata2nya yang terakhir,
secepat kilat dia ajukan tubuh Tio In kearah ujung
pedang Tio Jiang, siapa sudah tentu menjadi terperanjat
sekali dan ter-sipu2 surutkan pedangnya kebelakang.
Hanya suara ketawa sinis yang panjang dari si Iblis sakti
berkaki satu itu saja yang sejenak kedengaran, karena
orangnyapun sudah loncat jauh2 terus meluncur pergi
laksana seekor elang menggondol anak ayam.
Tersadar dari kejutnya, Tio Jiang buru2 mengejar lagi.
Tetapi berulang kali Sin Tok gunakan siasat tadi, yani
gunakan tubuh Tio In untuk menyambut serangan
pedang. Begitulah kejar mengejar secara demikian
berlangsung sampai bebrapa lama. Sin Tok terus
mendaki kepuncak, perhitungan, begitu tiba diatas
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
puncak yang menjulang tinggi itu, mudahlah dia untuk
menghadap lawan yang berada disebelah bawah.
Tanpa disadari puncak yang tengah didakinya itu
adalah puncak Thiat-nia. Dan betapalah girangnya ketika
dipuncak itu dia jumpahkan Hiat-ji dan siorang tua kate
Liat Hwat cousu atau Im-yang-sin-mo Put-siu. Hiat-ji
berlari menyongsongnya dan membisiki: "Sin-heng, bila
nanti Siau-beng-siang datang, jangan sekali2
membocorkan rahasia puteranya. Kita ada rencana
bagus!"
Benar samar2 Tio In dapat mendengar kata2 "Siaubeng-
siang" dan "puteranya" itu, namun dia tak dapat
mendengar keseluruhannya dengan jelas. Sayang,
andaikata kala itu ia dapat mendengar jelas, tentu akan
segera dapat melucuti kedok engkohnya, si Tay-keng itu.
Pada saat itu terdengar sebuah suitan disusulnya
dengan munculnya seorang berperawakan gagah
perkasa sembari mencekal sebatang pedang yang hijau
kemilau cahayanya. Itulah dianya, Siaubeng-siang Tio
Jiang!
"Yah, harap kau lerai dulu engkoh dan Tong Ko yang
berkelahi itu, entah mengapa mereka bertempur mati2an
itul" seru Tio In demi melihat kedatangan ayahnya.
Berbeda dengan nona itu, Sin Tok tahu sudah
mengapa kedua anak muda itu bertempur. Demi
mendengar seruan Tio In kepada Tio Jiang Jiang tadi,
diam2 dia mengeluh. Celaka, rahasia Tay-keng tentu
akan pecah, demikian pikirnya. Kala itu Tong Ko tengah
mendesak Tay-keng dengan serangan liong-kau-pian,
sebaliknya menuruti pesan Liat Hwat cousu, Tay-keng
tetap bertahan se-kuat2-nya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sampai pada detik itu, Tio Jiang masih anggap
puteranya itu, seperti dirinya, adalah orang yang setia
pada tanah air. Atas seruan Tio In tadi, Tio Jiang segera
melangkah maju dan sret, dia hantamkan yap-kun-kiam
ditengah kedua senjata anak muda yang bertempur itu.
Tay-keng cepat mundur, sebaliknya karena mengira
Tio Jiang datang membantu, Tong Ko tetap merangsang
maju mengejar Tay-keng. Tapi baru dia gerakkan liongkau-
pian, ujung pedang Tio Jiang telah menyodok pian
sampai terpental balik. Dan menyusul dengan itu, ujung
yap-kun-kiam diteruskan menusuk dadanya. Dalam
terperanjatnya, Tong Ko buru2 menyurut kebelakang. Tio
Jiang maju selangkah, seraya berpaling kearah
puteranya: "Tay-keng lekas turun kebawah gunungl"
Sebenarnya semangat Tay-keng sudah hilang ketika
tampak sang ayah datang. Tapi demi mendengar ucapan
ayahnya yang terang menandakan belum mengetahui
rahasianya itu, dia seperti orang yang hidup kembali dari
cengkeram maut. Tanpa menyahut lagi, dia terus putar
tubuhnya mengayun langkah.
Masih Tong Ko belum mengetahui alam pikiran Tio
Jiang. Adakah Siau-beng-siang hendak bertempur
seorang diri dengan kawanan kaki tangan Ceng itu, maka
dia suruh puteranya pergi dahulu, demikian dia coba
menarik dugaan.
"Orang she Tio, jangan pergi dahulul" serunya.
Mendengar seruan Tong Ko itu, wajah Siau-beng-siang
berobah bengis, sahutnya dengan tertawa dingin: "Aku
tak nanti ngacir!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bukan kau, melainkan Tio Tay-kengl" Tong Ko tersipu2
memberi penjelasan.
Tio Jiang mendeham geram, serunya: "Kalau hendak
menahan dia, kau harus jangan membiarkan aku hidup
dahulul"
Mendengar Tio Jiang makin nyeleweng dari
perkiraannya, Tong Ko banting2 kaki sembari meratap:
"Tia .............. "
Tetapi belum lagi dia sempit melanjut kan kata2nya,
Hiat-ji sudah menumpangi dengan tertawa: "Saudara
Tong, Siau-beng-siang Tio Jiang ketiga beranak, sudah
berada dalam genggaman kita, masakan kuatir mereka
akan terbang keangkasa? Jangan kau sibuk2, biar Taykeng
aku yang memberesinyal"
Dalam tipu siasat yang licik culas, memang Tay-keng
tajam sekali. Seketika tahu sudah dia kemana tujuan
kata2 Hiat-ji itu. Dia (Tay-keng) hendak "dikembalikan"
pada ayahnya sedang Tong Ko hendak "diambil" menjadi
orangnya Hiat-ji.
Untuk menjaga rahasia Tay-keng, Tong Ko hendak
dijadikan kambing hitamnya.
"Yah, biarlah kita berdua ayah dan anak mati
bersama!" seru Tay-keng dengan garang lantang. Dan
dengan bolang balingkan pedangnya, dia "menyerang"
Hiat-ji, siapapun lalu melayaninya secara ber-sungguh2.
Hola......, suatu permainan sandiwara yang lihay benar.
Jangan lagi Siau-beng-siang Tio Jiang seorang jujur yang
belum pernah berbuat bohong, sampaipun Tio In sendiri
yang sudah menaruh kepercayaan penuh bahwa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kekasihnya (Tong Ko) itu bukan seorang pengchianat,
tak urung pada saat itu menjadl ragu2 juga.
"Tok-kak-sin-mo, kalau benar2 kau ini seorang
perwira, ayuh lepaskan aku. Coba kau buktikan saja,
adakah kami ketiga ayah beranak ini, jeri pada
kambrat2mu golongan taylwe ko-chin (jagoan istana)
tidakl" akhirnya nona itu menantang sikaki satu.
Kini Tong Ko sudah sadar akan tipu muslihat yang
dipasang oleh Hiat-ji dkk itu. Saking gusarnya, matanya
melotot mulutnya ter-longong2 tak dapat berkata-kata
sampai sekian saat. Baru tersadarlah dia ketika pedang
Tio Jiang menyambar kearahnya. Apa boleh buat,
dengan gunakan gerak lincah dalam ilmu pian pat-sianpian-
hwat ajaran Soa-kim-kang Ciang Tay-lo, Tong Ko
menghindar kesamping. Tio Jiang makin gemas. Dengan
menggerung se-keras2nya dia lancarkan serangan Cengwi-
tian hay teramat gencarnya.
Tahu Tong Ko bahwa Tio Jiang itu ternyata masih
gelap akan keadaan yang sebenarnya jadi tetap salah
faham mengira kalau dia (Tong Ko) adalah kaki tangan
pemerintah Ceng. Pernah mulut Siau-beng-siang itu
menyatakan bahwa sudah berulangkali karena teringat
akan wajah seseorang, Siau-beng-siang tak mau
membunuhnya. Tapi rasanya kalini tentu tidak
sedemikian lagi. Ini dibuktikan dari caranya dia
melancarkaa serangannya yang begitu mengerikan itu.
Adalah pada saat2 dia meramkan mata menunggu ajal,
se-konyong dia didorong kesamping oleh suatu tenaga
kuat, sehingga terhindarlah dia dari serangan pedang.
Menyusul terdengar suara suara melengking: "Tong Ko,
kau bukan tandingnya Siau-beng-siang. Sana, bantu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hiat-ji meringkus Tio Tay-keng dan biar aku yang
memberesi disini!"
Itulah suara Liat Hwat cousu dan memang dialah yang
mendorong tubuh Tong Ko tadi. Tio Jiang ganti serangan
kearah orang kate itu, tapi dengan kebutkan lengan
bajunya dapatlah dia menyampok pedang Tio Jiang.
Kalau Tong Ko hampir pingsan saking menahan amarah
karena "dibikinkan" oleh kawanan kaki tangan
pemerintah Ceng itu, adalah Tio Jiang terkejut karena
nampak kedahsyatan tenaga orang kate itu. Kini dia tak
berani menandang ringan, bret....., terdengar lengan
baju Liat Hwat tembus berlubang dan ujung pedang
langsung menusuk ketenggorokannya.
Kini adalah giliran Liat Hwat yang kaget bukan terkira.
Jubahnya itu terbuat dari kain hwat-wan-poh keluaran
Tibet yang dijahit dengan benang emas putih (platina).
Dengan baju anti senjata itu, dia berani menyampok
pedang lawan. Maka betapalah kejutnya ketika
didapatinya lengan bajunya telah dapat ditembus oleh
pedang lawan.
"Pedang bagus!" sampai2 mulutnya mengeluarkan
pujian sembari tundukkan kepala untak menghindari
tusukan pedang. Ujung pedang menjulur lurus disisi
leper. Tiba2 Liat Hwat julangkan pundaknya keatas dan
tundukkan kepalanya kebawah. Maksud hen dak
menjepit pedang itu dengan bahu dan pipi. Berbahaya
nampaknya jurus yang diunjuk Liat Hwat itu, namun
lihaynya bukan olah2. Apabila dapat dijepit, maka, yang
kena dijepit itu adalah bagian punggung pedang itu, jadi
tak berbahaya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Melihat permainan yang aneh itu, buru2 Tio Jiang tarik
pulang pedangnya.
Syukur dia sangat berlaku sebat. Tahu bahwa
barhadapan dengan seorang tokoh sakti, Tio Jiang
mundur selangkah. Dalam kesempatan itu dia
memandang kesekeliling situ. Didapatinya Tio In tetap
diringkus Sin Tok sedang disebelah sana benar juga Tong
Ko tampak sedang "membantui" Hiat-ji mergeroyok Taykeng.
Tapi sekilas pandang dia merasa aneh melihat
permainan ketiga anak muda itu. Bukannya Tay-keng
yang dikerubut dua, tapi melainkan Tong Ko lah yang
dicecer serangan oleh Tay-keng dan Hiat-ji. Dia merasa
heran namun tak mempunyai banyak kesempatan untuk
mengikuti dengan seksama karena pada saat itu Liat
Hwat sudah menyerangnya dengan kebasan lengan baju.
Hebatnya, kebasan itu ditujukan untuk menutuk jalan
darah hwa-kay-hiat dan kian-keng-hiat lawan.
Buru2 Tio Jiang menghalau dengan pedang.
Demikianlah dalam sekejab saja, pertempuran telah
berjalan empat lima jurus.
Dalam pada itu insyaflah Tio Jiang bahwa kepandaian
lawan itu lebih tinggi dari dia, maka timbullah
keraguannya adakah nantinya dia dapat merampas
pulang anak gadisnya. Namun kebimbangannya itu tak
mengurangkan kewaspadaannya dalam memainkan ilmu
pedang to-hay kiam-hwat.
"Siapakah kau ini?" serunya bertanya.
Yang ditanya kedengaran tertawa iblis, sahutnya
"Thay-ya inilah yang digelari orang sebagai Liat Hwat
cousu. Im-yang-sin-mo, orang she Mo nama Put-siu"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Memang pernah juga Tio Jiang mendengar akan
adanya tokoh aneh macam itu didaerah Tibet. Tokoh itu
seorang pria tetapi mempunyal suara seperti orang
wanita, mempunyai ilmu kepandaian dari suatu aliran
tersendiri. Tio Jiang tak berani lengah, dimainkan
pedangnya dengan lebih gencar. Demikianlah
digelanggang situ telah terbit pertempuran dahsyat dari
dun orang tokoh terkemuka pada jaman itu. Orang2
Thiat-theng-biau yang menyaksikannya, sama kesima
tar-longong2.
Sedang disebelah sana Tong Ko mempunyai rencana
sendiri juga.
Bermula waktu didorong oleh Mo Put-siu tadi, dia agak
terkesiap. Namun dia segera mengambil suatu
keputusan. Biar bagaimana, sukar rasanya dla gunakan
lidah untuk membongkar komplotan itu. Jalan satu2nya
yalah membekuk Tay-keng lebih dahulu, lalu
memaksanya supaya mengakui perbuatannya dihadapan
Tio Jiang. Kalau hal itu berhasil, barulah dapat dia
membersihkan diri. Jadi "Disuruh" atau tidak oleh Mo
Put-siu tadi, memang diapun sudah mau lari
menghampiri ketempat Tay-keng.
Tio In yang tak mengetahui duduk perkaranya dan
hanya menyaksikan gerak gerik Tong Ko itu, hatinya
seperti diremas. Ia sudah serahkan hatinya kepada anak
muda itu dan bermula masih belum percaya kalau
kekasihnya itu sungguh seorang kaki tangan Ceng. Tapi
apa yang dilihatnya pada saat itu, menjadi "bukti" yang
berbicara. Seketika lenyaplah rasa kasihnya berganti
dengan rasa kedukaan yang hebat, ya lebih hebat lagi
daripada tatkala iIa mendengar berita kematian sang
kekasih itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Namun Tong Ko tak mendengarnya dan tetap
menyerbu Tay-keng.
Sret...., sret....., dua buah hantaman Iiong-kau-pian
dia serangkan pada Tay-keng. Walaupun hanya
bersandiwara, namun untuk mengelabuhi pandangan Tio
Jiang, hebat juga gaya pertempuran yang dilakukan oleh
Tay-keng dan Hiat-ji itu. Ketika liong-kau-pian Tong Ko
menyerang, terperanjat Tay-keng tak terkira dan hampir
saja dia kena disapu oleh pian Hiat-ji. Lintunglah Hiat-ji
tahu gelagat jelek, piannya dibilukkan untuk
menghantam Tong Ko.
Dan justeru tepat pada adegan ini berlangsung, disana
Tio Jiang tepat berpaling mengawasi. Jadi diam2 Siaubeng-
siang heran tadi, mengapa justeru Tong Ko yang
dikerubut dua. Sayang Liat Hwat keburu menyerang,
coba tidak tentu dapatlah dia mengetahui "baju aseli"
dari puteranya itu.
Memang berat bagi Tong Ko untuk melayani kedua
orang itu. Tambahan pula Tay-keng memang sangat
bernapsu sekali untuk membunuh Tong Ko, agar
rahasianya tetap tertutup se-lama2nya. Jadi
serangannyapun serba kesusu. Dan benar juga lewat 10
jurus kemudian Tong Ko sudah kewalahan. Tong Ko
gugup dan pilu. Bukan karena takut mati, tapi karena
dengan kematiannya itu, namanya tetap akan ternoda
sebagai kaki tangan pemerintah Ceng.
"Siau-beng-siang Tio Jiang, dengarlah kata2ku!"
serunya kepada Tio Jiang.
Tio Jiang yang tengah bertempur gigih dengan Liat
Hwat, sempat pula menyahut: "Binatang macam kau,
jangan bicara lagi padaku!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kepedihan Tong Ko sukar dikata. Untuk kesekian
kalinya, kembali dia menerima hinaan secara
menyakitkan. Tadi dia telah menumpahkan rasa hatinya
yang penghabisan, namun tetap tak digubris oleh Tio
Jiang.
"Fui......., mengapa ku digolongkan bangsa binatang?
Orang yang buta kenyataan macam kau, itulah yang
pantas digolongkan bangsa babi anjing!' balasnya
memaki dengan gusarnya dan sret............ dia
hantamkan piannya dengan kalap pada Hiat-ji.
Hiat-ji terkejut melihat cara serangan lawan yang
seperti kerbau gila itu. Miringkan tubuhnya kesamping
dia terus enjot tubuhnya menghibur sampai satu tombak
jauhnya.
"Tepat sekali makianmu itu saudara Tong! Memang
Tio Jiang itu manusia yang tak kenal kenyataan, tak tahu
gelagat. Dia berkeras hendak membentur pemerintah
Ceng, huh......, memang lebih hina dari bangsa anjing
dan babi!"
Demikian licin si Hiat-ji itu memutar balikkan kata2
Tong Ko tadi: Tong Ko yang tak pandai merangkai kata2
itu sampai termangu diam. Tahu2 Tay-keng menyerang
dengan. tusukan ujung pedangnya. Tong Ko hanya
mendak sedikit, cret....... , dia biarkan pundaknya
tertusuk ujung pedang tapi berbareng itu dia hantamkan
piannya keleher sipenyerang. Kalini benar2 suatu
serangan yang istimewa, sehingga karena tak sempat
menghindar leher Tay-keng telah kena digubat ujung
pian.
Tong Ko sudah seperti orang kerangsokan setan.
Begitu dapatkan hasil tanpa hiraukan luka dipundaknya,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dia segera tarik piannya se-kuat2nya. Tay-keng
terhuyung kemuka dan dengan demikian ujung
pedangnyapun menjubles makin masuk kepundak Tong
Ko. Tetap Tong Ko tak mempedulikan hal itu, begitu
lepaskan liong-kau-pian dia gunakan kepelannya untuk
menghantam batok kepala Tay-keng. Kalau saja.
hantaman itu mengenai, batok kepala Tay-keng pasti
remuk dibuatnya
"Mah, kau datang!" se-konyong2 Tio In berseru
kegirangan. Tong Ko tertegun dan berpaling mengawasi.
Sesosok tubuh melayang datang. Itulah Hui-lay-hong
Liau Yan-chiu adanya. Sembari masih melayang,
tangannya sudah bergerak menimpuk sebuah senjata
rahasia kearah tangan Tong Ko.
Seperti telah diketahui, walaupun Yan-chiu itu adalah
sumoaynya Tio Jiang, tapi berkat otaknya cerdas dan
tempo dahulu pernah meminum mustika biji kuning
dalam batu, maka ilmu kepandaiannyapun hebat.
Sebenarnya kalau dinilai, kepandaiannya lebih tinggi dari
suaminya (Tio Jiang). Sebenarnya kalau mau, dapat juga
Tong Ko menghindar senjata rahasia itu. Tapi oleh
karena Tay-keng sudah "tergenggam" ditangannya, dia
tak mau tarik pulang tinjunya tadi. Dan tahu2 jalan darah
yang-ko-hiat pada siku tangannya telah kena dimakan
senjata rahasia itu. Karena kesemutan gerakan
tangannya menjadi ayal dan kesempatan ini digunakan
oleh Tay-keng untuk menarik pedangnya sembari loncat
menyingkir.
Namun anehnya Tong Ko tak rasakan jalan darahnya
tertutup, dan begitu mengenai tangan senjata rahasia itu
segera jatuh melayang ketanah. Hai, kiranya senjata
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
rahasia itu hanya secarik kain yang dipelintir. Hebat nian
kepandaian Hui-lay-hong Liau Yan-chiu itu.
Tampak oleh Tong Ko bahwa Tay-keng kini
menghampiri mamahnya dan berbicara sejenak. Tapi
rupanya Yan-thyiu tak banyak menaruh perhatian terus
menyerang Tok-kak-sin mo Sin Tok. Hiat-ji buru2
perdengarkan kode siulan dan memberi isyarat mata
pada Tay-keng seraya loncat menghampirinya.
"Tio-heng, kita berpisah dulu nanti saja pada
pertengahan bulan depan, kita bertemu lagi digereja
Kong Hau Si Kwiciu!" serunya berbisik.
Dan tampak Tay-keng menganggukkan kepala.
---oooo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 17 : REMUK RENDAM
Luka pada pundak Tong Ko tadi masih mengucurkan
darah, sehingga dia ter-huyung2 rak dapat berdiri
dengan jejak, namun dengan sempoyongan dia tetap
maju menghampiri Tay-keng. Tapi baru melangkah
bebrapa tindak, telinganya seperti tersusup oleh suatu
suara yang bernada ramah: "Nak, mengapa kau tak
mengindahkan pesan The Go, berani gegabah keluar
sendirian? Kalau mau meloloskan diri, turutlah
perintahkul"
Heran Tong Ko dibuatnya. Dia kerlingkan
pandangannya kesekeliling tempat situ. Dalam lingkaran
seluas empat lima tombak, yang tampak hanyalah
orang2 suku Thiat-theng-biau saja. Dan didalam
lingkaran yang merupakan gelanggang pertempuran situ,
kecuali Tio Jiang yang bertempur dengan Liat Hwat, Sin
Tok lawan Yan-chiu dan Hiat-ji "berkelahi" dengan Taykeng,
tiada barang suatu orang lain lagi. Tapi betapa
bening nyaring suara bisikan tadi menyusup kedalam
telinganya, dia dapat mendengarkannya dengan jelas.
Ah, kalau bukan tokoh yang Iwekangnya sudah mencapai
tingkat kesempurnaan, tentulah tak nanti dapat
menggunakan ilmu lwekang coan-im-jip-bi begitu. Dan
rasanya kepandaian-tokoh itu tidak dibawah Liat Hwat
bahkan lebih lihay lagi!
Setelah hening sejenak kedengaran pula suara. itu.
menyusup:
"Tutuklah jalan darahmu sendiri lebih dahulu untuk
menghentikan perdarahan, ini kuberimu obat!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Berbareng dengan kata "obat" itu, punggung Tong Ko
serasa sakit dan ketika menunduk kebawah didapatinya
ada sebuah gulungan kertas kecil. Buru2 dipungutnya
dan ketika dibuka, ternyata berisi obat puder merah.
Tanpa berayal Tong Ko lakukan perintah orang gaib itu.
Menutuk jalan darah lalu mengulaskan puder merah itu
pada luka2nya. Suatu rasa nyaman menyelubungi tubuh,
rasa sakit berkurang. Hatinya sangat bersyukur sekali
kepada penolongnya yang berbudi itu. Ketika dia hendak
berpaling untuk menengok, tiba2 didengarnya Tio In
berlari mendatangi. Bermula dia hendak menjemput
liong-kau-pian yang terhampar ditanah, tapi batal
menjemput dia maju menyongsongnya: "In-moay!"
Tapi untuk kejutnya wajah Tio In berobah muram,
matanya ber-kaca2 air mata dan giginya terdengar
berkerutukan. "Dahulu masih tak kupercaya kalau kau ini
menjadi kaki tangan pemerintah Ceng. Tapi apa yang
kusaksikan hari ini, masih dapatkah kau memberi
penyangkalan?"
Dan menyusul dengan kata2 itu, tangannya meninju
kemuka. Karena tak menduga sama sekali, tinju sinona
itu tepat mengenai luka didada Tong Ko. Baru saja luka
itu berhenti mengucurkan darah atau kini kembali
menyemburkan darah segar hingga tangan Tio In pun
kelumuran darah. Tio In tertegun, tiba2 tinjunya yang
berlepotan darah itu di-usap2kan baju seraya berseru:
"Darahmu, budak Ceng, berbau busuk, mengotorkan
tanganku!"
Nona itu sebenarnya sangat mencintai Tong Ko. Tapi
ia salah sangka Tong Ko itu seorang kaki tangan
pemerintah Ceng. Namun sekalipun begitu, gelar rasa
kasih masih kuat meremas sanubari Tio In. Melihat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
keadaan Tong Ko yang terlongong2 bermandikan darah
itu, hatinya seperti di-sayat2. Ia buru2 memutar tubuh
membelakangi dan air matanya bercucuran laksana
hujan mencurah
Memang sakit yang ditimbulkan akibat hantaman Tio
In itu, bukan kepalang sakitnya.
Namun Tong Ko rasakan, sakit pada hatinya dicerca
sang kekasih itu, jauh lebih berat.
Dia ter-mangu2 sampai sekian saat. Pikirannya serasa
hampa. Fahamnya hilang ditelan penasaran. Ya, sampai
Tio In, nona yang menjadi tambatan jiwanya, pun
menuduh dia sebagai seorang kaki tangan Ceng. Orang
mengatakan bahwa empedu itu pahit. Tetapi adakah hal
yang melebihi pahitnya dari dinista seorang kekasih?
Serasa dia kehilangan bumi tempat berpijak, beringin
tempat berlindung. Rasanya kecuali The Go seorang,
didunia ini sudah tiada orang yang mau mempercayainya
lagi.
Dalam keputusan asa, dia berobah kalap.
Se-konyong2 dia tertawa berderai2 dan seperti orang
kemasukan setan menjerit dia dengan kalapnya: "Benar,
Aku seorang budak Ceng! Aku seorang budak Cengl"
Habis men-jerit2 itu, dipungutnya liong-kau-pian terus
dihantamkan kearah dua orang Thiat-theng-biau yang
seketika juga segera rubuh sungsang balik ditanah.
Dalam pada itu waktu mendengar dia tertawa keras
lagi, Tio In berputar untuk mengawasinya. Tampak akan
sepasang biji mata sinona yang bundar bening itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hati Tong Ko makin ter-sayat2. Mendongak keatas
sembari tertawa nyaring, dia ter-huyung2 maju
menghampirinya. Tio In cemas menampak sorot mata
anak muda itu ber-api2, iapun menyurut kebelakang.
Mengapa Tio In bisa lari menghampiri Tong Ko,
bukanlah tadi ia masih diringkus sikaki satu Sin Tok?
Kiranya kejadian itu adalah begini: begitu menyerbu,
Yan-chiu telah berhasil mendesak sikaki satu menjadi
kalang kabut. Masih si Sin Tok itu hendak menggunakan
siasat seperti ketika menghadapi Tio Jiang, yakni
menggunakan tubuh Tio In sebagai perisai dan senjata.
Namun, Yan-chiu bukan Tio Jiang. Selain lincah, ia juga
lebih cerdas. Mengetahui akan siasat lawan, ia segera
memperoleh daya untuk memecahkannya. Secepat kilat,
ia menyelinap kebelakang lawan dan segera menusuk.
Tahu sudah si Sin Tok itu kalau Yan-chiu bergelar Huilai-
hong atau si Burung Cenderawasih terbang melayang.
Tapi sedikitpun dia tak mengira kalau sedemikian luar
biasa gerakan nyonyah itu. Tadi dia hanya menampak
berkelebatnya sinar pedang, tapi tahu2 lawan sudah
berada dibelakangnya. Jika dia tetap membandel
memegangi Tio In, terang punggungnya akan tertusuk
pedang. Ah, terpaksa dilepaskannya nona itu, kemudian
loncat kemuka. Dan begitu terlepas dari cekalan orang,
tadi Tio In pun lantas loncat menghampiri Tong Ko.
Pada saat itu Tio In menyurut bebrapa tindak
kebelakang dan tanpa disadari, telah mendekati
ketempat Yan-chiu. Melihat anak gadisnya didesak Tong
Ko, marah Yan-chiu tak terkendalikan lagi. Memang sejak
kematian puteranya bungsu, Yan-chiu teramat bencinya
kepada Tong Ko. Adalah karena beberapa kali dicegah
sang suami, ia sudah tak jadi membunuh anak muda itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sebenarnya saat itu juga, ia kepingir, melabrak Tong Ko,
sayang ia masih harus melayani desakan Sin Tok.
Pikirannya cepat bekerja. Tio In tak memegang senjata
apa2, sedang ia (Yan-chiu) rasanya sanggup melayani
serangan kapak Sin Tok dengan cukup mengandalkan
kelincahannya saja.
Secepat memikir, secepat itu pula ia mengambil
keputusan. Dijentikkan pedang kuan-wi-kiam kearah Tio
In sana seraya berseru: "In-ji, gunakanlah jurus Kangsim-
poh-lohl"
Kang-sim-poh-loh adalah jurus yang terhebat dari ilmu
pedang Hoan-kiang-kiam-hwat. Melihat kuan-wi-kiam
melayang datang, Tio In cepat menyambarnya, sret.....,
dari samping pedang itu diputar ketengah terus
ditusukkan kedada Tong Ko. Keadaan Tong Ko pada saat
itu, antara sadar tak sadar. Dia rasakan dunia ini gelap,
tiada berkecintaan lagi. Tusukan ujung pedang Tio In itu,
pun se-olah2 tak dirasakan. Dia hanya lekatkan
pandangannya kewajah Tio In, entah apa yang kelihatan
olehnya.
Bermula Tio In girang karena tusukannya bakal
berhasil. Tapi kala ujung pedang tinggal berapa dim lagi
kedada sianak muda, tiba2 hatinya tercekat dan tertegun
sejenak. Bibirnya ber-gerak2 seperti hendak mengatakan
sesuatu. Ya, memang demikianlah. Perasaan hatinya
pada saat itu mungkin tak kalah pedihnya dengan Tong
Ko. Pemuda tambatan hatinya adalah seorang "kaki
tangan Ceng" Bukan saja lamunannya untuk mendirikan
mahligal hidup yang berhabahagia akan lenyap selama2nya.
Sejak kecil ia diasuh dengan didikan budi
pekerti menyinta tanah air. Dimisalkan, ayah bundanya
tak menghalangi perhubungannya dengan Tong Ko, ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sendiripun tak sudi lagi untuk menjadi teman hidup
seorang budak pemerintah penjajah. Namun betapapun
juga, ia tetap seorang dara yang sedang dijenjang
asmara. Laksana kuntum bunga yang tengah mekar
semerbak, ia rela menyambut kedatangan sang
kumbang. Ia berhenti setengah jalan untuk menusuk itu,
adalah karena disebabkan hal itu.
Tangannya yang masih mencekali pedang itu tampak
bergemetaran sehingga pakaian Tong Kopun turut bergoyang2.
Ini rupanya membikin sadar sianak muda yang
terus menundukkan kepala untuk memandangnya. Ketika
tampak pedang kuan-wi-kiam berkilau2an menyilaukan
mata itu, wajahnya makin 'muram. Dengan bibir
bergetar, ia berseru dengan nada yang tawar: "Tusuklah,
nona Tio! Mengapa berhenti?"
Dalam nada kata2nya itu terasa suatu kehampaan
yang mendalam. Suatu rasa tak mengacuhkan akan
segala apa lagi. Dia seolah2 menyuruh Tio In menusuk
pada lain orang, bukan menusuk pada dirinya. Ya, dia
bagaikan sebuah layang2 yang putus talinya, kehilangan
arah tujuan hidup. Tio In terkesiap, hatinya makin pilu.
Ia mengetahui bahwa sebenarnya tadi Tong Ko dapat
menangkis karena lengannya sebelah kanan tak kena
apa2. Tapi anehnya, anak muda itu malah menjulaikan
Liong-kau-piannya kebawah.
Ah .....Tong Ko ........... Tong Ko......! Demikian hati
Tio In mengeluh demikian pula kalbunya meronta dia
cinta padaku.....! Dia cinta padaku......!
Tanpa terasa kelima jarinya yang menggenggam
kuan-wi-kiam itu terlepas dan trang......, jatuhlah pedang
pusaka itu berkerontangan ditanah. Tapi berbareng
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan jatuhnya pedang itu, terdengarlah Tong Ko
tertawa keras.
"Mengapa kau tertawa?" tanya Tio In.
"Mengapa aku tertawa.....? Mengapa aku tertawa.....?
Bagaimana kutahu mengapa aku tertawa ini?" sahut
Tong Ko dengan lantang. Kemudian memutar tubuh dia
terus melangkah pergi. Tio In tegak ter-longong2
ditempatnya. Tak memungut pedang yang jatuh ditanah
tadi, pun tak mengejar, sianak muda. Juga ia sendiri,
termangu2 tak tahu apa yang direnungkannya!
Disebelah sana Yan-chiu yang bertangan kosong
menghadapi sikaki satu, telah bertempur dengan
serunya. Dalam hujan kapak yang dilancarkan Sin Tok, ia
berlincahan laksana seekor kupu2 di serang curahan
hujan. Walaupun hanya berkaki satu, namun Sin Tok
juga gesit sekali. Maka untuk merebut kemenangan,
rasanya juga tak mudah bagi Yan-chiu. Apa yang terjadi
pada diri Tio In yang ter-longong2 seperti orang
kehilangan semangat mengawasi Tong Ko berlalu itu, tak
lepas dari pandangannya. Namun iapun tak dapat
berbuat apa2.
Sedang pada partai yang lain, pun Tio Jiang tak dapat
berbuat apa2 terhadap Liat Hwat cousu. Setelah lewat
jurus yang ke 30, gerakan Tio Jiang tampak agak kendor.
Serangan pedang Tio Jiang sepintas pandang seperti
sebuah pedang kayu mainan kanak2 gayanya. Tapi bagi
Liat Hwat cousu, serangan itu digerakkan dengan suatu
tenaga lemas yang mengandung kekuatan dahsyat. Maka
dia (Liat Hwat) pun harus mengerahkan tenaga dalam
untuk menghalau serangan istimewa itu. Dilain fihak, Tio
Jiang juga rasakan kebutan lengan baju orang tua kate
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu, mengandung tenaga lwekang yang teramat
hebatnya. Jika dia tak mengundang seluruh kekuatannya,
sukarlah rasanya untuk menolak tekanan lawan itu. Maka
dia curahkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi
siorang tua kate itu, jadi terpaksa tak dapat
menghiraukan Tio In lagi.
Juga partai si Hiat-ji dengan Tio Tay-keng, walaupun
hanya pura2 saja, namun tampaknya tak kurang
serunya. Hal ini memang sengaja mereka unjukkan
begitu, untuk mengelabuhi mata Tio Jiang yang tajam
itu. Jadi terpaksa merekapun tak dapat mencegah
perginya Tong Ko. Juga rombongan orang Thiat-Thengbiau,
karena mengetahui sikap bersahabat dari anak
muda itu terhadap kepala sukunya tadi, segera memberi
jalan pada Tong Ko. Begitulah dengan tindakan limbung,
Tong Ko menuju kebawah gunung.
Adalah setelah anak muda itu berjalan jauh, barulah
Tio In tersadar. Dan pada saat itu terdengar juga
mamahnya (Yan-chiu) menerlakinya: "In-ji, lekas
ambilkan pedang itu untukku!"
Tio In cepat melemparkan pedang itu kearah
mamahnya. Sekonyong2 Yan-chiu bersuit nyaring dan
tubuhnya melambung keudara. Begitu menyambar kuanwi-
kiam ia terus membabat kebawah, Sin Tok gerakkan
kapaknya untuk menangkis, trang, kapak kutung dan
kuan-wi-kiam menyambar pundak Sin Tok, meninggalkan
sebuah luka sepanjang 20 an centi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
GAMBAR 10
Begitu Liau Yan Chiu sambar pedang yang
dilemparkan Tio In kepadanya itu, se-konyong2 ia bersuit
nyaring sambil melambungkan tubuh keatas dan pedang
membabat, "trang....." tahu-tahu kapak Sin Tok
terkuntung dan pundaknya terluka.
Tubuh Sin Tok menggigil kedinginan dan rasa dingin
itu serasa menusuk sampai keulu hati. Tiba2 kakinya
yang tinggal satu itu ditekuk dan tubuhnya segera
dibuang untuk bergelundungan kearah Tio In. Dengan
sebatnya nona ini mengirim tendangan. Rupanya sikaki
satu itu lebih suka mendapat persen tendangan Tio In
daripada merasakan tusukan kuan-wi-kiam Yan-chiu.
Benar Tio In tepat sekali menendangnya, namun sikaki
satu dengan membabi buta tetap bergelundung
menerjangnya seraya gerakkan tangan uatuk
menyambar kaki sinona. Syukur Tio In keburu loncat
menghindar jauh2 dan pada saat itupun Yan-chiu juga
sudah mengejar datang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sebenarnya Hiat-ji yang hanya bertempur pura2
dengan Tay-keng itu dapat memberi pertolongan pada
sikaki satu. Tapi dari menolong, sebaliknya anak bermata
wungu itu malah tertawa sinis melihati tingkah laku si Sin
Tok yang pontang panting seperti dikejar setan itu. Ya,
memang dia benci pada sikaki satu itu dan diam2
mendoakan supaya dia lekas mampus saja.
Dalam gugupnya sikaki satu bergelundungan
kesamping. Dalam kesempatan itu dia mencuri lihat
kearah Hiat-ji. Waktu dilihatnya wajah anak itu
mengunjuk senyum sinis, gusarnya bukan kepalang. Huh,
jangan kau bergirang dulu, anak keparat. Kalau aku mati,
Tio Jiang dan isterinya itu tentu bakal dapat berkelahi
bahu membahu untuk melancarkan ilmu pedang Hoankang-
kiam-hwat dan to-hay-kilam-hwat yang termasyhur.
Pada saat itu kaupun tentu takkan terluput dari keiratian,
demikian diam2 dia mengutuk Hiat-ji.
Dalam pada merangkai kutukan itu, dia tetap tak
berayal untuk bergelundungan kian kemari. Ternyata
gerakannya pun amat lincah sekali. Berulang kali Yanchiu
menikam dan menusuk, namun selalu dapat
dihindarinya. Ketika dia bergelundungan kedekat Taykeng,
tiba2 timbullah suatu pikiran. Begitu pentang
sepasang tangan, dia dekap kaki anak itu.
Kala itu Tay-keng tengah melancarkan sebuah pukulan
kearah Hiat-ji. Benar tadi dia mengetahui bahwa sikaki
satu itu bergeIundungan menghampiri kedekatnya, tapi
mimpipun tidak dia kalau dirinya bakal diperlakukan
begitu oleh sikaki satu. Maka tak ampun lagi, robohlah
Tay-keng.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sudah tentu Yan-chiu tak mengetahui perbuatan
puteranya yang manis itu. Maka demi menampak
puteranya sedemikian mudah dapat diringkus kakinya
oleh Sin Tok, heran juga ia dibuatnya. la mengetahui
kepandaian puteranya itu cukup tinggi. Ya....., walaupun
masih kalah setingkat dengan sikaki satu, namun biar
bagaimana tak nanti sedemikian mudahnya dapat
didekap mentah2 begitu. Dalam keherannya itu,
timbullah kecurigaan. Sayang dia tak mau merenungkan
dalam2 dan melainkan diam saja tak tahu bagaimana
harus bertindak.
"Tio-heng, maafkanlah!" sikaki satu berbisik kedekat
telinga Tay-keng. Rupanya Tay-keng itu sudah
tenggelam jauh sekali kedalam bujukan mereka. Ia
cukup mengerti apa maksud sikaki satu itu.
"Mah, tahan dahulu!" serunya sembari lepaskan
pedangnya.
Yan-chiu kesima. la tetap seorang wanita yang
mempunyai rasa keibuan. Setelah puteranya bungsu
meninggal, seluruh harapannya dicurahkan kepada Taykeng.
la mengira kalau tak hentikan serangan, puteranya
itu tentu bakal celaka.
"Tok-kak-sin-mo, bagaimana maksudmu?" akhirnya
setelah termenung beberapa jenak, ia berseru dengan
wajah merah padam.
Sin Tok tertawa iblis, sahutnya: "Bagus, aku
maukan............... "
Baru dia mengucap samuai disitu, matanya silau oleh
dua benda putih yang melayang kearahnya. Buru2 dia
menggeliat kesamping untuk menghindar. Kiranya dua
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
benda putih itu adalah dua buah batu kecil yang
ditimpukkan Tio In. Menyusul dengan timpukannya,
sinonapun sudah melayang datang terus menghantam.
Hiat-ji yang mengetahui rahasianya bakal pecah akibat
perbuatan sikaki satu itu, sambil deliki mata pada sang
kawan (Sin Tok) cepat2 menyongsong serangan Tio In
itu. Tapi dalam pada saat2 luang itu, Yan-chiu sudah
dapat bertindak dengan sebat. la mengambil putusan,
tak usah berdamai dengan mereka. Waktu Sin Tok
menggeliat menghindar timpukan batu tadi, letak
tubuhnya tepat membelakangi Yan-chiu. Kejadian itu
hanya berjalan dalam sekejap mata saja, namun hal itu
sudah cukup bagi Yan-chiu untuk melekatkan pedangnya
kepunggung orang. Hendak sikaki satu ber-putar lagi tapi
sudah tak keburu. Punggungnya terasan dingin menggigil
dan ujung kuan-wi-kiam sudah menyusup kedalam
bahunya. Yan-chiu. tak mau menarik keluar pedang itu.
"Lepaskan Tay-keng atau, sekali kugerakkan pedang,
tubuhmu pasti akan terbelah menjadi dual" serunya
menghardik.
Sebenarnya kalau Sin Tok tetap memeluk kaki Taykeng,
mungkin Yan-chiu pun akan pikir2 lagi sebelum
bertindak. Tapi kenyataan sikaki satu itu bukan seorang
ksatrya.
Dalam menghadapi pagutan maut, dia sayang akan
jiwanya. Dekapannya pada kaki Tay-keng itupun dilepas
seraya mulutnya meratap ampun: "Hujin (nyonyah),
ampunilah jiwaku!"
Melihat puteranya terlepas, girang Yan-chiu tak
terkira. Buru2 ia meneriaki puteranya itu: "Tay-keng, kau
bersama adikmu beresi anak itu!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Terpaksa Tay-keng tak berani membantah. Bersama
Tio In dia maju menyerang Hiat-ji. Yan-chiu sontakkan
pedangnya kesamping dan putuslah tulang, pi-peh-kut
dipundak Sin Tok. Darah segar menyembur keluar.
Sekalipun luka itu dapat sembuh, namun lengan
kanannya akan lumpuh tak dapat digunakan selama2nya.
Setelah itu ia loncat melayang kesamping suaminya,
seraya mengucapkan kode: "Jurus pertama!”
Tio Jiang dapat menangkap arti kode itu, bagaikan
sepasang, naga keluar dari goanya, maka kedua pedang
pusaka yap-kun dan kuan-wi itu menari2 dengan
lincahnya. Pada jurus yang kelima, tiba2 kedengaran
suara "bret....." dan rowaklah lengan baju Liat Hwat
terpapas ujung pedang Yan-chiu. Semangat Liat Hwat
serasa terbang dibuatnya. Diam2 dia mengakui betapa
kehebatan sepasang ilmupedang hoan-kang-kiam-hwat
dan to-hay-kiam-hwat itu. Dia insyaf sukar untuk
menghadapi ilmupedang sakti mereka Itu.
Sambil mengaum keras2, tiba2 tubuhnya menggeliat
kebelakang dan bum...., bum.... terdengarlah suara
ledakan keras melayang kearah Tio Jiang dan isterinya.
Dalam kalangan persilatan Liat Hwat cousu itu disegani
karena julukannya "Liat hwat sin lui" si Geledek Api yang
sakti, kiranya dia mempunyai sebuah senjata rahasia
yang teramat istimewa sekali yani semacam senjata
granat. Yan-chiu yang kurang pengalaman sembari
mendamprat terus hendak menangkisnya dengan ujung
pedang, tapi Tio Jiang buru2 berseru mencegahnya:
"Jangan, lekas mundur sajal"
Yan-chiu mengkal hatinya, tapi ia turut juga perintah
suaminya itu. Sesaat kedua suami isteri itu loncat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mundur, dua buah ledakan yang dahsyat segera
terdengar mengguncangkan bumi. Beberapa orang Biau
yang tak keburu mcnyingkir, sudah terlempar jatuh
kebawah gunung. Suatu lingkaran asap yang tebal
bertebaran menutup sekeliling tempat itu sehingga
orang2 sama tak dapat melihat satu sama lain. Syukur
tadi Yan-chiu mau dikasih tahu suaminya kalau tidak,
ngeri tentu keadaannya.
Melihat kedahsyatan senjata granat-tangan Liat Hwat
itu, sembari memimpin tangan isterinya, Tio Jiang
berseru menyuruh ke dua anaknya menyingkir. "Taykeng,
In-ji, lekas mundurl"
Yan-chiu yang cemas akan diri puterinya, beberapa
kali hendak nekad menobros kedalam kabut asap yang
tebal untuk mencarinya, tapi selalu dicegah Tio Jiang.
"Kalau mereka mendapat bahaya, sekalipun kau
menobros kesana, rasanya juga takkan menolong.
Rasanya sepasang pedang kita tadi tentu mengeluarkan
cahaya berkilau yang dapat menembus kabut asap, dan
dapat kelihata oleh mereka. Mereka tentu akan menyusul
kemari!" Tio Jiang menenangkan kecemasan hati
isterinya. Walaupun dia sendiri tak kurang gelisahnya,
namun cukup disadari bahwa untuk menobros kedalam
asap sana, juga tak berguna. Diam2 dia cemas pula
memikirkan kepentingan perjoangan mereka terhadap
pemerintah Ceng. Dengan mempunyai seorang sakti
macam Liat Hwa begitu, nyata pemerintah Ceng telah
mempunyai senjata yang ampuh untuk menindas
gerakan para orang gagah dari Lo-hu-san itu.
Hampir setengah jam lamanya barulah kabut asap itu
menipis. Mata Yan-chiu yang tajam, segera dapat melihat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bahwa ditengah gelanggang pertempuran sana tampak
Tay-keng sedang ber-putar2 seperti main udak dengan
adiknya. Kiranya mereka berdua itu saling bertempur.
Karena tebalnya asap, jadi mereka tak dapat
membedakan mana lawan mana kawan lagi. Liat Hwat
dan Hiat-ji sudah tak tampak batang hidungnya lagi.
Sementara yang masih disitu, hanyalah sikaki satu Sin
Tok yang bermandikan darah sembari tak henti2nya
mengerang2 kesakitan.
"Hai, mengapa kalian bertempur sendiri?" seru Yanchiu
dengan cemas2 girang demi diketahuinya kedua
puteranya tak kurang suatu apa. Kini barulah Tio In
melihat jelas bahwa lawannya itu adalah engkohnya
sendiri. Cepat2 ia loncat menghampiri mamahnya.
"Kemana Liat Hwat dan muridnya itu?" tanya Tio
Jiang.
"Entahlah, mungkin mereka sudah ngacir pergi!" sahut
Tio In.
"Hawa disini kotor sekali, ayuh Tay-keng, kau ikut
pada kita turun gunung!" Tio Jiang berseru kepada
puteranya. Tay-keng mengiakan. Tapi ketika mereka
berempat hendak langkahkan kakinya, se-konyong2
kedengaran Sin Tok berseru setengah mengerang: "Siaubeng-
siang, tahan dulul"
Tio Jiang berpaling, bentaknya: "Ada apa?"
Wajah Sin Tok menampilkan raut maut, serunya:
"Siau-bengsiang, bila kau dapat menolong jiwaku,
hendak kuberitahu padamu suatu rahasia besar”
Wajah Tay-keng pucat seketika. Kemana maksudnya
kata-kata sikaki satu itu dia sudah faham. Rahasia yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hendak dibawakan itu bukan lain tentu mengenai dirinya
yang sudah bersekongkol dengan kaki tangan
pemerintah Ceng itu. Mulut sikaki satu itu harus
dimusnakan dan untuk itu dia segera bertindak dengan
sebat.
"Kalau dibiarkan hidup, kau sungguh membahayakan,
ayuh lekas pergi keakhirat sana!" serunya sembari loncat
menusuk.
Yan-chiu percaya bahwa kata2 yang belum sempat
diucapkan sikaki satu itu tentu suatu rahasia yang
penting. Maka demi dilihatnya Tay-keng bertindak
sendiri, buru2 ia menereakinya: "Tay-keng, biarkan dia
omong habis dulu!"
Tapi seruan Yan-chiu itu sudah terlambat. Ujung
pedang Taydkeng sudah mencublas masuk kerongga
dada Sin Tok. Suatu jeritan seram terdengar dan
putuslah sudah jiwa sikaki satu itu.
"Tay-keng, dia seorang manusia yang takut mati.
Mungkin tadi dia hendak memberitahukan sesuatu
rahasia penting, mengapa kau buru2 membunuhnya?"
tegur Tio Jiang dengan kurang senang.
"Anak sangat benci padanya, maka tadi tak dapat
menahan diri lagi!" sahut Taydkeng.
Tio Jiang tak mencurigainya dan terus ajak lanjutukan
perdalanan. Adalah ketika mereka sudah pergi, orang2
Thiat-theng-biau itupun sibuk mengurusi mayat2 kawan
dan jenazah kepala sukunya: Se-konyong2 Liat Hwat dan
Hiat-ji menobros keluar dari salah sebuah goa. Tiba
didekat mayat sikaki satu Sin Tok, Hiat-ji ayunkan kaki
menendangnya sampai terlempar beberapa meter
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
jauhnya. "Orang she Sin kau hendak bermusuhan pada
tuanmu ini, inilah upahmu!"
Biar bagaimana, Sin Tok itu adalah kawan
gerombolannya. Kalau orang sudah menjadi bangkai,
seharus segala dendam permusuhan itu habis. Tapi tidak
demikian dengan Hiat-ji. Dari situ dapat diketahui betapa
jahat dan kejamnya anak bermata ungu itu.
Dalam pada itu, tampak wajah Liat Hwat masih
mendendam kemarahan, tegurnya dengan keras: "Hiat-ji,
mengapa tadi kau cegah kugunakan lagi senjata liathwat-
sin-lui (granat) !"
"Suhu" sahut Hiat-ji dengan mengulum tawa,
"betapakah susah payahnya suhu membuat liat-hwat-sinlui
itu, apa gunanya di-hambur2kan tanpa guna? Aku
telah berjanji dengan Tay keng untuk bertemu digereja
Kong Hau Si nanti pertengahan bulan depan ini. Suhu,
bagaimana pendapatmu tentang benda ini?" Habis
berkata itu dia angkat tangannya. Sebuah holou (fles)
merah dengan dilekati sepotong kertas yang bertuliskan
"hong sin san" (pudar bikin gila) tampak ditelapak tangan
si Hiat-ji
"Hai, darimana kau peroleh obat itu? tanya Liat Hwat.
"Tadi sewaktu bersembunyi dalam goa, kulihat disitu
ada sebuah lemari obat. Kudapati hong-sin-san berada
pada rak yang paling atas sendiri. Suhu, untuk
membasmi kawanan orang itu, hanya tergantung pada
obat inilah."
Liat Hwat tahu juga maksud muridnya itu. Setelah
berpikir sejenak, dia berkata: "Meskipun Tay-keng masuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menjadi anggauta kita, tapi belum tentu dia mau
mencelakai orang tuanya!"
Hiat-ji tertawa, ujarnya: "Suhu tak usah kuatir. Tiga
kali sudah Tay-keng ikut aku kekotaraja untuk pelesir.
Ya" dia benar sudah mabuk plesiran dan judi. Dalam
perjudian, dia sudah pinjam padaku 100 ribu tail perak.
Untuk itu dia sudah membuat surat pernyataan hutang.
Kalau dia tak menurut padaku, cukup kusuruh orang
mengantarkan surat hutang itu pada Siau-beng-siang,
tentu celakalah dia. Menilik peribadinya Siau-ber.gsiang,
biarpun anak kandung sendiri, dia tentu tak segan2
untuk membunuhnya. Hal itu cukup rasanya diinsyafi
Tay-keng, jadi mana dia berani membangkang
perintahku? Berhasilnya rencana kita ini, itulah sudah
pasti, harap suhu jangan berbanyak hati!"
Kini Liat Hwat melengking puas, serunya, memuji:
"Hiat-ji, pintar benar kau ini! Kalau Tio Jiang suami isteri
minum obat hong-sin-san itu, bukan melainkan jiwa
mereka berdua yang melayang, pun seluruh kawan2nya
di Lo-hu-san itu akan hancur binasa, ha....., ha......!"
Puas tampaknya guru dan murid itu. Mereka
menyambut rencana kemenangannya itu dengan gelak
tawa yang girang. Kemudian mereka lalu turun gunung.
---oooo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 18 : MENDAPAT PETUNJUK
DARI ANG HWAT CINJIN
Kita ikuti perjalanan Tong Ko.
Ternyata setelah tinggalkan gelanggang pertempuran
tersebut. dengan hati patah dan tubuh luka, dia turun
gunung. Beberapa kali tubuhnya terhuyung-huyung
bagaikan sebuah layang2 putus. Tapi anehnya, setiap
kali dia hampir terjerumus kebawah gunung, tentu setiap
kali itu juga terasa ada suatu tenaga kuat mendorongnya
supaya tak jadi jatuh.
Bermula Tong Ko turun menurut sepembawa kakinya,
sehingga tersesat. Baru ketika dia tersadar kalau berjalan
menyusur lembing karang yang curam, dia menginsyafi
akan tenaga bantuan secara diam2 itu. Kini tersadarlah
dia bahwa tenaga gelap itu bermaksud untuk
menolongnya. Buru2 dia berpaling kebelakang, namun
tiada seorangpun yang tampak.
Tong Ko coba memancing. Dia pura2 terhuyung
hendak jatuh kebawah dan benar juga tenaga aneh itu
mendorongnya dengan tepat sekali. Tapi ketika secepat
kilat dia berpaling kebelakang, kembali hanya tempat
kosong yang dijumpai. Ilmu orang gaib itu, benar2 sudah
mencapai tingkat kesempurnaan yang sukar dijajaki.
Begitu tiba dibawah gunung, segera dia berlutut lalu
berseru nyaring2: "Cianpwe telah memberi bantuan
sedemikian besarnya, kalau cianpwe tetap tak mau
unjukkan diri sehingga wanpwe tak mengetahui orang
yang telah melepas budi itu, wanpwe akan benturkan diri
kekarang!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sebenarnya kalau tak teringat akan dendam
penasaran yang berulang kali dideritanya itu, tak mau dia
gunakan siasat untuk memaksa orang mengunjukkan diri
begitu. Memang dengan siasat itu, dia yakin orang gaib
itu tentu akan tampil keluar untuk memberi pertolongan.
Benar juga ketika dia buktikan ancamannya dengan
benturkan diri kebatu karang, tiba2 .............. sesosok
tubuh yang gemuk melayang disebelah muka untuk
menghadangnya. Tepat sekali kepala Tong Ko
membentur sebuah daging yang empuk, tapi pada lain
saat daging itu membal (melembung) dan terlemparlah
Tong Ko sampai setombak jauhnya.
Cepat Tong Ko menggeliat bangun dan mengawasi
kemuka.
Seorang imam tua yang bertubuh tinggi besar dan
rambutnya merah, tampak berdiri menatap padanya
dengan tersenyum.
Ha......, kiranya yang dibenturnya tadi adalah perut
imam tua itu.
Melihat rambut imam itu berwarna merah, timbul
suatu dugaan pada Tong Ko.
Ter-sipu2 dia berlutut dan mengucap: "Terima kasih
banyak2 ............ "
Imam tua itu kebuntukan lengan bajunya. Serangkum
angin yang membawa tenaga kuat menyampok dan
mengangkat Tong Ko bangun.
"Usah berbanyak terima kasih. Yang mencuri golokmu
it-gwan-pik-li-to itu, adalah aku!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tong Ko terbeliak kaget. Imam sakti itu tentu aneh
sekali perangainya.
Dipikir walaupun golok pik-li-to itu suatu pusaka yang
jarang terdapat didunia, namun tak bermanfaat malah
sebaliknya mengundang bahaya baginya.
Tong Ko ambil putusan untuk menghaturkan golok itu
kepada siimam.
"Jika cianpwe suka akan golok itu, silahkan
mengambilnya!"
Siapakah gerangan imam tua berambut merah itu?
Dia bulan lain adalah Ang Hwat cinjin, itu kepala
gereja Ang Hun Kiong yang pada duapuluh tahun
berselang telah dikhianati oleh kawanan kuku garuda.
Dia memang bermaksud hendak berhamba pada
pemerintah Ceng, tapi sebagai upah, kala dia bertempur
dengan rombongan Ceng Bo siangjin, gereja Ang Hun
Kiong telah diledakkan dengan dinamit oleh Hwat Siau
dan Swat Mony, sepasang suami isteri kepala jagoan dari
pemerintah Ceng (Bacalah: Lam Beng Ciam Liong atau
Naga dari Selatan).
Dengan membawa penasaran hati, dia mengasingkan
diri digunung yang sepi untuk meyakinkan ilmu
kepandaian. Duapuluh tahun lamanya dia tekun berlatih
dan hasilnya kini menempatkan dia pada sebuah tempat
yang tertinggi dalam persilatan. Namun dia telah
membenam diri dalam kesunyian.
Makin tua rupanya dia makin masak. Dia insyaf akan
kesalahannya (akan berhamba pada Ceng) tempo
dahulu. Kini pikirannya makin luhur. Kata2 Tong Ko tadi
tepat sekali dengan seleranya. Maka tertawalah dia terTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
bahak2, katanya: "Nak, sungguh mulia hatimu. Sebelum
mendapatkan ilmu permainannya, golok sakti itu tetap
tak berguna. Kebetulan pada bebrapa bulan yang lalu.
Aku sudah bertaruh pada seseorang. Orang itu
mengejek, katanya meskipun ilmu kepandaianku tinggi,
tapi tetap tak dapat memenangkan ilmu permaianan
golok it-guan-to-hwat. Dia berani bertaruh bahwa aku
tentu tak dapat menciptakan suatu ilmu permainan yang
melebihi it-guan-to-hwat itu. Ilmu golok it-guan-to-hwat
itu sudah lama lenyap dari dunia persilatan, hanya
bentuk goloknya telah ditiru dan dipakai oleh suku Thiattheng-
biau. Untuk menciptakan ilmu permainan sesuai
dengan yang dikatakan orang itu, aku bermaksud hendak
mengambil sebuah golok orang Thiat-theng-biau. Malam
itu ketika melalui sebuah rumah pondok kulihat kau tidur
dengan berbantal sebuah golok. Kuambil dan taruhkan
golok itu keatas. tiang penglari tanpa kau ketahui. Tapi
keesokan hari, kulepaskan hasratku untuk mengambil
golok itu. Dan selama itu kuikuti jejakmu barang kemana
kau pergi. Ho, ternyata hatimu mulia, tanganmu terbuka.
Biar kupindah dahulu golok itu. Nanti setelah kuberhasil
menciptakan suatu ilmu permainan golok untuk
memenangkan pertaruhan itu, ilmu permainan berikut
golok akan kuserahkan padamu. Nah, bagaimana
pendapatmu?"
Girang Tong Ko tak terkatakan.
"Menilik ilmu kepandaian cianpwe yang sedemikian
saktinya ini, apakah cianpwe ini bukannya Ang Hwat
locianpwe, itu kepala gereja Ang Hun Kiong yang sangat
diagungkan oleh kalangan persilatan?"
Senang dipuji, itulah sudah watak pembawaan setiap
orang. Juga Ang Hwat tak terlepas dari sifat itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Merenung sejenak, dia berkata: "Kuperhatikan setiap kali
kau bertempur dengan orang, tubuhmu se-olah2
mempunyai dua macam lwekang yang berbeda satu
sama lain. Apa sebabnya?"
Tong Ko menceritakan apa yang telah terjadi dengan
dirinya.
"Benar, jika kau sempurnakan latihanmu, kau pasti
bakal merupakan bintang persilatan yang cemerlang
dikemudian hari!" kata Ang Hwat.
Demi tampak imam itu bermaksud baik, Tong Ko
segera mengambil buku pemberian The Go, katanya:
"The Go cianpwe telah memberi wanpwe sebuah buku
buah tangan Tat Mo, tapi wanpwe tak mengerti, mohon
locianpwe suka memberi petunjuk!"
Hubungan antara The Go dengan Ang Hwat cinjin itu,
bagikan seorang anak dengan ayah. Sejak berpisah
selama 20-an tahun Itu, Ang Hwat cinjin tak mengetahui
letak rimbanya sang murid itu. Baru ketika dia mengikuti
perjalanan Tong Ko secara diam2, dapatlah dia
menemukan tempat tinggal muridnya (The Go) yang
hilang itu. Tapi bahwasanya The Go telah mendapatkan
sebuah kitab pusaka yang tiada taranya itu, ia tetap
belum mengetahui. Maka buru2 disambutinya buku yang
diangsurkan Tong Ko itu.
"Coba kulihatnya sebentarl" katanya sembari
membalik halaman buku itu. Baru melihat dua buah
lukisan orang duduk bersemadhi, dia terkejut bukan
kepalang.
Setelah "bertapa" selama 20-an tahun itu, ilmu
Iwekang Ang Hwat sudah mencapai puncak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kesempurnaan. Pada hakekatnya, ilmu silat dalam
kalangan persilatan itu, sumbernya dalah serumpun
(satu). Lukisan orang duduk bersemadi itu, bagi Tong Ko
memang gelap. Menurut ukuran The Go, agak jelas
sedikit. Tapi bagi. pandangan seorang tokoh macam Ang
Hwat, itulah suatu sumber ilmu inti yang gaib. Setelah
ditelitinya pula, dia mengakui, bahwa tiada sembarang
orang dapat mengetahui rahasia kegaiban ilmu yang
tertera dalam buku itu. Buru2 dilipatnya pula buku dan
berkata: "Tempat ini tak sesuai untuk bicara. Ayuh kita
menuju ketempat kediaman The Go sana!".
Tampaknya Ang Hwat cinjin yang berada disebelah
depan itu, hanya se-enaknya saja berjalan. Setiap kali
ayunkan langkah, dia tentu berhenti sejenak. Namun
bagi Tong Ko yang mengikutinya disebelah belakang,
rasanya berat sekali jalannya.
Besoknya barulah mereka tiba ditempat The Go. Benar
juga, The Go dan Siao-lan masih belum kembali pulang.
Begitu berada dalam rumah. Ang Hwat segera
mempelajari lagi buku itu. Hampir sehari penuh, dia
memeriksa buku itu . Hingga hampir senja hari. Tong Ko
masih tetap berdiri disamping imam tua itu. Wajah Imam
itu berseri-seri lalu berbangkit dari tempat duduknya,
"Usiaku sudah lanjut, buku ini tak banyak manfaatnya
bagiku. Bila kau tekun mempelajari buku ini, cukup
memahami sampai 7 bagian saja, maka kau tentu akan
dapat bertahan sampai 300an jurus berhadapan dengan
aku!"
Girang Tong Ko melewati yang diharapkan. Ang Hwat
cinjin tak mau simpan rahasia. Apa yang diketahuinya
tadi, diturunkan, pada Tong Ko. Dasar Tong Ko berotak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terang, maka makin mendengari dia makin seperti
kelelap dalam lautan ilmu sumber kepandaian yang tiada
habisnya.
Singkatnya saja, hampir sebulan lamanya Ang Hwat
cinjin memberi petunjuk pada Tong Ko. Baru dia dapat
mempelajari dua jurus saja, tenaganya serasa bertambah
maju, ilmu lwekangnya makin hebat. Benar saya tak
lepas mengenangkan The Go yang belum juga pulang
serta The Ing yang belum ketahuan nasibnya itu, namun
dia sudah seperti orang yang kelelap dalam lautanb ilmu.
Makin maju, makin tak dapat keluar. Akhirnya dia
percaya bahwa dengan kepandaian yang dimiliki itu, The
Go pasti tak kena apa2 dan seluruh perhatiannya kini
dicurahkan untuk "mengisap" pelajaran dalam buku Tat
Mo itu.
---oooo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 19 : GEREJA KONG HIAU SI
Dan sekarang marilah kita beralih pada lain tempat,
yani kegereja Kong Hau Si yang terletak diwilayah Kwicu
sana.
Kala itu adalah tanggal pertengahan, jadi penuh
sesaklah orang datang berkunjung kegerja besar itu.
Kaisar Ceng yang menduduki takhta kerajaan, sudah
turunan yang kedua. Keadaan didalam negeri, boleh
dikata sudah aman. Perjoangan para patriot negara
hanya dilakukan secara subversif, jadi keamanan
tampaknyak tak banyak terganggu.
Seperti lazimnya, diluar gereja sana tampak ber-deret2
para penjual menjajakan dagangannya. Ramainya bukan
kepalang. Pada sebuah dasaran yang menjual barang2
cita dan kain sutera, tampak ada seorang nona yang
bermata bundar sedang mengunjukkan sehelai sutera
hijau pupus pada pemuda kawannya yang berada
disisinya.
"Koko, bagus tidak warna ini? Mamah sering
mengatakan dirinya sudah tua tak pantas bersolek. Tapi
kalau saja dia dandan, kupercaya tentu masih kelihatan
cantik. Bagaimana kalau kita belikan sutera ini untuk
beliau?"
Nona itu bukan lain adalah Tio In, sedang yang
dipanggil koko (engkoh) itu adalah Tay-keng. Saat itu
pikiran Tay-keng tidak pada kain sutera yang diunjukkan
adiknya. Dia celingukan kesana sini, se-olah2 mencari
sesuatu. Maka sekenanya saja dia mengiakan pertanyaan
adiknya tadi. Tapi dalam hati dia memaki Co In:
"Hem......, budak perempuan kurangajar, mengapa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berkeras ikut aku ke Kwiciu. Kalau Hiat-ji datang,
bagaimana nanti? Ah, bagaimana aku dapat
mengelabuhinya ya?"
Kiranya sebulan yang lalu, ketika Tio Jiang bersama
anak isterinya tiba di Giok-li-nia, sampailah padanya
suatu berita yang menggembirakan. Berita itu mengenai
diri Go Sam-kui. Penghianat yang karena jasanya
memasukkan tentara Ceng kedalam wilayah Kwiciu,
maka oleh pemerintah penjajah tersebut dia dikerunia
pangkat tinggi dan didudukkan sebagal gubernur yang
menjaga wilayah Hunlam. Tapi pada beberapa tahun
yang terakhir itu, tersiar desas-desus bahwa orang she
Go itu hendak memberontak yang membawa berita
kepada Tio Jiang itu, adalah salah seorang kepercayaan
Go Sam-kui sendiri.
Tentang keretakan antara Go Sam-kui dengan
pemerintah Ceng itu, memang sudah lama didengar oleh
Tio Jiang.
Tempo hari Tio Jiang makanya sudah mengutus Taykeng
ke Hun-lam itu, perlunya yalah disuruh menyelidiki
kebenarannya desas-desus itu. Tapi setelah mendapat
keterangan tentang cenderungnya gerak gerik Go Samkui
itu, bukannya memberitahukan kepada sang ayah,
sebaliknya Tay-keng malah melaporkan pada Shin Hiat-ji
dan kawan2.
Maka demi sekarang Tio Jiang mendapat berita itu
sendiri, dia segera mengadakan kontak dengan para
orang dari pelbagai kalangan persilatan. Benar Go Samkui
itu seorang penghianat besar, tapi dia mempunyai
puluhan ribu anak tentara. Kalau Go Som-kui kali ini
benar memberontak, itu berarti suatu kekuatan besar
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
untuk mencetuskan pemberontakan mengusir penjajah
Ceng. Sebagai seorang pejoang, Tio Jiang menyambut
berita itu dengan semangat yang me-nyala2.
Sebagai pemimpin gerakan menentang penjajah, siang
malam Tio Jiang amat sibuk, jadi dia tak sempat
memperhatikan perobahan sikap puterinya. Tapi tidak
demikian dengan Yan-chiu yang mengetahui bahwa sejak
pulang dari Sip-ban-tay-san itu, Tio In tampaknya selalu
bermuram durja. Berulang kali didapatinya sang puteri
itu ter-menung2 diatas puncak tempat Tong Ko loncat
turun kedalam lembah tempo hari itu. Sebagai seorang
ibu, tahulah Yan-chiu apa yang dikandung dalam hati
gadisnya itu. Tapi iapun tak berdaya untuk
menasihatnya.
Kebenaran saat itu, hari pertemuan yang dijanjikan
Tay-keng pada Hiat-ji, sudah tiba. Maka diapun
mengatakan kepada orang tuanya hendak pergi ke
Kwiciu. Yan-chiu suruh dia membawa Tio In agar hatinya
terhibur. Oleh karena ingin menyelidiki tempat beradanya
Tong Ko, Tio In pun setuju. Tay-keng mendongkol, tapi
tak mempunyai alasan untuk menolaknya.
Begitulah setiba di Kwiciu, mereka mengunjungi gereja
Kong Hau Si. Melihat keramaian disitu, hati Tio In agak
terhibur, tapi sebaliknya Tay-keng sibuk tak karuan.
Berulang kali Tio In mengajaknya bicara tentang ini itu,
tapi selama itu Tay-keng hanya mendengus saja malah
kadang2 tak menyahut sama sekali. Akhirnya heranlah
Tio In dibuatnya, tanyanya: "Koko, kau ini mengapa?"
Saat itu kebetulan mata Tay-keng tertumbuk pada
seseorang yang berada didalam lautan orang disebelah
sana. Orang itu tampak melambaikan tangan kepadanya,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terus berputar kebelakang. Dari potongan punggungnya,
terang orang itu Hiat-ji adanya. Maka pertanyaan Tio In
tadi, telah membuatnya terkejut seperti disengat tawon.
Tapi pada lain saat, dia sudah memperoleh daya,
sahutnya: "Dik, kau tunggu dulu disini, jangan pergi kemana2.
Aku hendak kesana sebentar!"
Habis berkata itu, dia terus berputar hendak
mengayun langkah, tapi cepat2 dijambret. oleh Tio In.
"Kau hendak kemana?" tegurnya.
"Tadi kulihat seseorang yang kalau tak salah adalah
salah seorang saudara kita di Lo-hu-san, tampak sedang
main mata dengan seorang kaki tangan musuh. Aku
hendak me-mata2inya sebentarl"
"Kalau begitu aku ikut, koko. Apakah kau membawa
pedangmu, kemungkinan kita nanti menghadapi
pertempuran!" sahut Tio In dengan girang.
Tay-keng mengeluh dalam hati. "Dik, sebaiknya kau
jangan turut saja. Kau baru pertama ini datang ke
Kwiciu, masih asing keadaan disini. Nah, jangan
senrbarang pergi ke-mana2, tunggu saja aku disini!"
"Mengapa? Mamah pernah mengatakan padaku,
bahwa kau ini tak boleh dipercaya, aku disuruh mengikuti
kau!"
Tay-keng pucat air mukanya, hatinya berdetak keras,
bantahnya terbata2: "Dalam hal apa aku.......... tak boleh
dipercaya?"
Dengan ucapan itu dia mengunjunkkan rasa cemas
sekali karena mengira perbuatannya bersekongkol
dengan Hiat-ji itu sudah ketahuan mamahnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Huh, mengapa kau begitu gelisah dikatakan begitu
saja oleh mamah? Jangan mudah ketakutan ah! Ya,
mengapa kau hendak pergi seorang diri? Tadi kutanya
apa kau membekal senjata rahasia, kaupun diam saja.
Bukantah kalau sepasang pedang pusaka kita bergabung,
akan merupakan suatu kekuatan yang sukar dicari
tandingannya? Tapi mengapa kau menolak, bukankah ini
membuktikan bahwa benar2 kau ini tak dapat
dipercaya?"
Legalah hati Tay-keng. Ternyata tadi adiknya itu
hanya menggertaknya saja agar ia diperbolehkan
mengikut. Memang demikian halnya. Barang siapa yang
berbuat salah, betapa tenang orang itu, namun tak urung
ada kalanya tentu kelihatan sikapnya. Tay-keng cukup
menginsyafi bahaya apa yang akan terjadi apabila dia
ajak adiknya itu menjumpai Hiat-ji.
"Ah, aku tadipun tak melihatnya dengan jelas. Lebih
baik mengurangkan urusan daripada cari urusan. Baik
kita jangan hiraukan orang itu lagil" akhirnya dia mencari
alasan untuk menghindari desakan adiknya.
Tio In juga dapat dibikin mengerti. Kwiciu sudah
dikuasai tentara pendudukan Ceng. Asal timbul sedikit
kegaduhan saja, tentara Ceng pasti akan mengepungnya.
Dan kalau terjadi begitu, sukarlah rasanya ia meloloskan
diri. Begitulah setelah membeli kain sutera hijau, ia ikut
sang engkoh berjalan2 lagi.
Dalam pada itu, Tay-keng tetap pasang mata mencari2
bayangan Hiat-ji. Tapi sampai begitu jauh, orang
yang dicarinya itu tak kelihatan lagi.
Pada saat itu, orang2 yang mengunjungi gereja situ
makin lama makin padat hingga sampai ber-jubel2
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dorong mendorong. Tiba2 Tay-keng melihat ada seorang
yang menghampiri kedekatnya. Setelah menatap
sejenak, orang itu mengulurkan tangannya. Tay-keng
menduga bahwa orang itu tentulah pesuruhnya Hiat-ji.
Buru2 dia acungkan tangannya kebelakang dan sesaat
kemudian, tangannya sudah menggenggam sebuah
gulungan kertas kecil. Tay-keng girang tapi baru saja dia
hendak cepatkan langkahnya sekonyong2 terdengarlah
seruan orang dari sebelah belakang: "Minggir, minggir!"
Menyusul terdengar suara tok.... tok..... bebrapa kali.
Tay-keng menoleh kebelakang dan kiranya seorang
pengemis berkaki buntung, pakaiannya compang
camping berjalan mendatangi dengan sebuah tongkat.
Wajah penyemis itu luar biasa buruknya.
Dalam arus berjenis kelas manusia itu, Tay-keng tak
sempat memperhatikan sipengemis itu. Tapi ketika
pengemis buruk itu lewat disisinya, dia (Tay-keng)
segera rasakan siku tangannya kesemutan sehingga
tanpa terasa jarinya terbuka dan jatuhlah gunyan kertas
kecil itu ketanah. Dalam kejutnya Tay-keng cepat
menyambar kebawah dan dapatlah dia menangkapnya
lagi. Mengetahui kalau membentur Tay-keng, pengemis
jembel itu unjuk ketawa seperti hendak minta maaf.
Karena hatinya sedang resah, jadi Tay-keng tak sempat
untuk bikin perhitungan dengan sipengemis siapa tampak
tok...., tok...., tok...., berjalan dengan kaki tongkat lalu
disamping Tio In, terus menyusup diantara orang
banyak.
Tay-keng cepat membuka gulungan kertas itu untuk
membacianya. Ada pepatah mengatakan "Harimau tentu
beranak harimau" artinya ayah pandai atau gagah sang
anak tentu juga demikian. Tapi rupanya axioma (dalil) itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hanya berlaku dalam arti yang sebenarnya, yaitu harimau
(binatang) itu anaknya tentu juga harimau. Sebaliknya
seorang besar, belum tentu anaknya akan selihay sang
ayah. Tio Jiang dan Tay-keng adalah contohnya. Tio
Jiang adalah seorang tokoh pejoang kemerdekaan yang
dihormati oleh semua kawan perjoangannya. Berwatak
lurus, berbubdi luhur, tendah hat!. Tay-keng seorang
anak yang dimanjakan ibunya. Dan karena selalu
dimanjakan dengan penghormatan oleh para orang
gagah -- mengingat dia itu puteranya Tio Jiang -- maka
melekatlah satu rasa tinggi hati sombong dan jumawa
mangkak. Suka pelesir, gemar arak dan judi. Bebrapa kali
dia didamprat keras oleh ayahnya, tapi bukan berobah
baik sebaliknya dia makin terjerumus dalam2. Akhirnya
relalah dia menjadi alat pekakas dari kawanan Hiat-ji.
Hampir tiga tahun dia galang gulung dengan
gerombolan Hiat-ji, hilang musnalah segala petuah dan
ajaran emas sang ayah dari lubuk sanubarinya. Dia
anggap kawanan jagoan istana itu lehih gagah dan lebih
nikmat hidupnya. Diam2 dia ingin mencapai kedudukan
seperti mereka itu. Hanya dikarenakan ayahnya itu
seorang musuh negara, jadi selama itu jalan cita2nya itu
selalu tertutup. Tanpa disadari timbullah rasa benci
kepada orang ayahnya sendiri. Dalam pertemuannya
dengan Hiat-ji digereja Kong Hau Si nanti, dia sudah
ambil putusan akan minta supaya Hiat ji mengajukan
dirinya kepada pemerintah Ceng agar dia secara resmi
diterima menjadi pembesar.
Buru2 hendak mengetahui bunyi gulungan surat tadi,
dia. Segera berpaling kepada adiknya dan berkata
dengan nada tergetar: "Dik tunggu didekat perapian
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tempat pembuangan dupa itu, aku hendak pergi dulu
sebentar!"
Diluar dugaan, Tio In tak menghalanginya lagi, malah
menyuruh supaya lekas kembali. Tay-keng lega hatinya
lalu buru2 pergi. Tapi ketika dia berpaling lagi, tampak
Tio In juga tengah membuka sebuah gulungan kertas
kecil. Heran dia dibuatnya dari mana adiknya itu
memperoleh gulungan tersebut. Namun dia tak sempat
untuk memikirkan lebih jauh dan terus membuka
gulungan kertasnya sendiri.
"3 li disebelah timur gereja, ada sebuah kakus, kita
bertemu disitu. Dari sahabatmu yang cukup kau ketahui
sendiri namanya."
Kembali rasa heran mencengkeram hati Tay-keng.
Dimana saja kan bisa bertemu, mengapa harus disebuah
kakus? Tapi karena Hiat-ji sudah menjanjikan begitu,
terpaksa dia pergi kesana juga. Benar juga disitu
terdapat sebuah kakus lama yang baunya sangat
menusuk hidung. Dengan mendekap hidung, dia masuk.
Disitu tiada tampak barang seorang manusiapun tetapi
terdapat sebuah kertas yang ditempelkan pada tembok
berbunyi begini: "Tunggu didalam sini jangan ke-mana2.
Sahabatmu." Dengan menahan bau yang amat
'semerbak' itu. Tay-keng terpaksa menunggu disitu.
Surat apa yang ditangan Tio In itu? Kiranya sewaktu
sipengemis jembel tadi lewat disisinya, tiba2 tangan nona
itu terselip sebuah gulungan kertas. Sebenarnya Tio In
hendak memberitahukan hal itu kepada engkohnya, tapi
justeru pada saat itu Tay-keng menyuruhnya tunggu dulu
disitu. Tio In sandarkan diri pada tempat perapian dupa
lalu membuka gulungan kertas itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tinggalkan adikmu dan segera menuju keruang atas
tempat menyimpan kitab2. Ada urusan penting,
kutunggu!" Surat itu tanpa tanda tangan, melainkan
terdapat sebuah cap gambar anak kecil warna merah.
Gaya tulisan hurufnya cukup gagah. Tio In terkejut,
ketika mendongak kemuka dilihatnya Tay-keng sudah
menyelinap kedalam orang banyak. Surat itu terang
untuk engkohnya, mengapa diberikan kepadanya (Tio
In)? Kelirukah pengantarnya? Tapi dipikir-pikir, masakan
sipengantar itu tak dapat membedakan seorang pria dan
wanita. Dari siapakah pengirimnya
GAMBAR 11
Sambil memandangi ruangan gereja yang bertingkat
itu, Tio In menjadi ragu2. Tapi akhirnya ia masuk juga
kesitu."Apakah saudara Tio ini yang datang?" segera
terdengar tegur seseorang
itu? Lukisan seorang anak warna merah itu, apa
artinya? Dan mengapa disuruh "tinggalkan adikmu", jadi
harus Tay-keng seorang diri yang pergikah?
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Makin mereka dugaan, makin timbul kecurigaannya
dan akhirnya ia akan tunggu sang engkoh kembali untuk
ditegurnya. Tapi tunggu punya tunggu hingga sampai
setengah jam lamanya, tetap sang engkoh itu tak muncul
kembali. Karena tak sabar lagi, akhirnya ia masuk
kedalam ruangan besar gereja dan bertanya. pada
seorang paderi dimana letak ruang penyimpan kitab2 itu.
Gereja Kong Hau Si itu terhitung salah satu gereja
besar dalam wilayah Kwiciu situ. Masuk keruang
belakang, akhirnya tibalah Tio In keruang tempat
penyimpan kitab, Kiranya ruang itu merupakan loteng
dua tingkat. Setelah meragu sejenak, Tio In lalu masuk
kedalam ruang itu. Dfsitu tiada terdapat barang seorang
pun jua, kecuali sebuah tangga yang menuju keatas.
Kembali dia bersangsi baik naik atau tidak. Kalau naik
terang ia bakal mengetahui siapakah orang yang
mengadakan janji dengan engkoh nya itu. Tapi kalau
tidak naik, pun belum tentu nanti engkohnya itu mau
memberitahukan bal itu kepadanya. Terang sipengantar
surat itu bukan orang Lo-hu-san, kalau tidak masakan
menyusuh engkohnya itu tinggalkan ia. Ah, hendak
kulihat siapa macamnya orang itu.
Demikian akhirnya Tio In melangkah naik ketangga.
Diruang atas memang benar merupakan tempat
penyimpan kitab2 gereja. Rak2an buku yang penuh
dengan deretan kitab2 memenuhi ruangan itu.
"Apa yang datang ini Tio-hengkah? Sudah ber-jam2
aku menunggu disini!" tiba2 terdengar tegur seorang.
Tio In terkesiap kaget. Agaknya pernah ia mendengar
pada suara itu, sayang orangnya teraling dengan deretan
lemari buku sehingga tak kelihatan jelas. Dengan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
membesarkan pada suaranya, ia memberi penyhutan lalu
mengitari rak buku untuk menjenguk orangnya.
Ya, memang yang menunggu dibelakang lemari buku
itu adalah Hiat-ji. Seperginya dari pegunungan Sip-bantay-
san, bersama Liat Hwat Cousu, dia langsung menuju
ke Kwiciu. Hiat-ji adalah seorang ta-lwe si-wi (bayangkari
istana Ceng), sudah tentu para pembesar didaerah
Kwiciu sama jeri padanya. Sejak meninggal kan kampung
halamannya di Tibet, Mo Put-siu alias Liat Hwat cousu itu
belum pernah bertemu tandingan, maka selama itu dia
anggap dirinya paling jempol dewek. Adalah ketika
bertempur dulu Tio Jiang suami isteri dan tak berdaya
menghadapi ilmu pedang hoan-kang-kian-hwat dan tohay-
kiam-hwat, barulah matanya melek. Maka setibanya
di Kwicu, dia lalu sekap diri untuk meyakinkan salah
suatu ilmu Im-yang-sin-kang yang paling ganas.
Peyakinan itu memerlukan waktu selama 4 kali 7 hari
atau 28 hari. Benar singkat waktunya, tapi ilmu itu harus
diyakinkan terus menerus tanpa berhenti selama dalam
waktu itu, harus sanggup menderita suatu siksaan yang
hebat. Sebenarnya ilmu itu adalah ilmu warisan yang
tergolong ilmu hitam dari aliran agama Mokau. Sedikit
saja terdapat kesalahan dalam peyakinan, maka orang
itu akan mengalami bencana hebat, menjadi seorang
invalid seIama2nya.
Tahu akan resikonya, sekalipun ilmu itu tidak tara
saktinya, namun selama itu Liat Hwat masih bersangsi
untuk meyakinkan. Adalah karena dia telah terlanjur
buka suara besar dihadapan kaisar Kong Hi sanggup
untuk membasmi anasir2 yang menentang pemerintah
Ceng, maka terpaksalah dia jalani juga peyakinan ilmu
im-yang-sin-kang yang berbahaya itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hiat-jipun tak berani mengganggu usik pada suhunya
yang tengah meyakinkan ilmu sakti itu. Begitulah
singkatnya saja, pada hari ini peyakinan Liat Hwat sudah
mencapai hari yang ke 27, tinggal sehari lagi dia tentu
sudah berhasil. Dan pada hari itu karena tiba janjinya,
maka Hiat-ji lalu menyuruh orang untuk mengantarkan
surat kepada Tay-keng.
Ketika dia menunggu diruang penyimpan kitab dari
gereja Kong Hau Si, didengarnya ada suara tindakan kaki
mendatangi. Mengira Tay-keng yang datang, dia
menegurnya dan terus hendak keluar menyambutnya.
Tapi demi didengarnya suara penyahutan itu agak aneh
nadanya, beda dengan nada suara Tay-keng, dia batal
keluar dan bersembunyi dibelakang sebuah lemari buku.
Hai, kiranya benarlah dugaannya tadi. Yang muncul itu
bukan Tay-keng melainkan adiknya yang cantik.
Hiat-ji makin curiga. Mengapa Tay-keng tak datang
sendiri? Dalam pada itu karena sampai sekian saat belum
melihat barang seorangpun juga, Tio Inpun juga curiga.
Tio In berhenti sejenak. Ia mendapat suatu siasat,
serunya: "Anda menyuruhku datang kemari, karena dia
sedang ada urusan maka menyuruh aku yang datang.
Ada, keperluan apa harap katakan padaku. Segala apa,
kami berdua kakak beradik ini tentu saling berunding.
Mengapa anda tak mau menampakkan diri?"
Sejak Hiat-ji dengan Tio In tersesat masuk kedalam
goa dan dipaksa untuk menikah oleh siwanita aneh,
timbullah rasa cinta sesungguhnya dalam hati si Hiat-ji.
Sayang itu waktu The Ing datang mengacau sehingga
nona itu berhasil lolos. Juga waktu Sin Tok berhasil
menawan nona itu untuk dibawanya kekota raja, Hiat-ji
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tetap menaruh hati pada Tio In. Pada saat itu Hiat-ji
melamun lagi. "Apakah nona ini benar2 suka padaku?
Adakah Tay-keng sudah mencium bau dan kedua kakak
beradik itu kini mau menggabungkan diri pada
rombonganku?"
Saat itu juga dia sudah segera akan unjukkan diri tapi
pada lain saat terkilaslah pada ingatannya bahwa kala
Tio In ditangkap sikaki satu tempo hari, jelas sudah
bagaimana nona itu bersitegang leher melawan mati2an.
Begitu pula bagaimana beringasnya nona itu ketika
menyerang Tong Ko yang dikiranya menjadi anggauta
rombongan Hiat-ji itu. Ah, terang nona itu tak mungkin
serupa pendiriannya dengan sang engkoh.
"Kalau benar kau disuruh kemari oleh engkohmu,
tahukah kau siapa aku ini?" akhirnya dia berseru.
Tio In merenung sebentar. Teringat ia akan lukisan
anak merah pada surat itu. Ah, biar ia coba2
menerkanya.
"Kau adalah yang digelari orang sebagai Ang Hay-ji (si
Anak Merah) bukan?"
Sinona hanya main menerka, tak tahunya kalau hal itu
membuat kejut hati Hiat-ji. Walaupun kecurigaan
menyurut, namun tetap dia tak babis herannya mengapa
Tay-Keng tak datang sendiri.
" Benar, silahkan nona datasng kemari!"
Sebenarnya Tio In seorang nona yang cukup berhati2.
Tapi mungkin karena kegirangan, saat itu ia agak
lengah untuk meneliti bahwa dalam nada suara orang itu
jelas terdapat perbedaan antara yang tadi dengan yang
sekarang. Disamping itu sedikitpun ia tak menduga
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bahwa engkohnya bakal menjumpai seorang kaki tangan
macam Hiat-ji. Maka tanpa curiga apa2, sembari
melangkah maju, ia masih bertanya: "Ang Hay-ji, kau
berada dimana?..
Melihat bahwa asal sudah membiluk sebuah deretan
Yak buku, nona itu pasti akan sudah muncul
dihadapannya, buru2 Hiat-ji ambil sebuah kitab pelajaran
agama Buddha untuk menutupi wajahnya, lalu
melangkah keluar. Melihat orang main menutupi muka,
oleh karena tak mengira kalau dia itu musuh yang
dibencinya, maka seenaknya saja Tio In menggodanya:
"Biasanya orang menutupi muka dgn sebuah harpa (pipeh),
tapi aneh mengapa kau memakai sebuah kitab suci
menutup muka, malukah?"
Tio In mengiring olok2nya dengan tertawa lepas,
sebaliknya Hiat-ji maju lagi dua langkah seraya
menyahut: "Ya, benar, aku memang malu!"
Menyusul dengan kata "malu" itu, dia buka kitab yang
menutupi mukanya itu dan astagafirulah Tio In seperti
disengat kala kejutnya, hampir2 ia tak percaya apa yang
dilihatnya. Bagi Hiat-ji, perobahan raut muka sinona itu
cukup menjadi pegangan. Secepat kilat tangan diulurkan
kemuka dan tepat menutuk jalan darah kian-keng-hiat
dibahu sinona. Tubuh Tio In terhuyung dan rubuh. Tapi
karena dikanan kirinya semua adalah rak buku, jadi
tubuhnya itupun tersandar pada rak itu.
Setelah menunggu sekian saat tiada tampak lain orang
lagi, legalah hati Hiat-ji. Melongok kejendela, dia
bertepuk tangan 3 kali dan tak berapa lama kemudian
muncullah seorang kedalam ruangan situ.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Shin toaya hendak memberi perintah apa?" seru
orang itu dengan laku menghormat sekali.
"Kusuruh kiu antarkan suratku pada Tay-keng,
mengapa kau berikan pada adik perempuannya?" tegur
Hiat-ji dengan bengis. Orang itu terbeliak kaget. Biji
matanya berkeliaran, wajahnya pucat lesi dan
mendeproklah dia kelantai untuk berlutut.
"Hamba pantas dihukum mati, tapi benar2 hamba tak
salah menerimakan surat itu," ter-bata2 orang itu
meratap ampun.
Tanpa menyahut, Hiat-ji gerakkan sebelah kakinya
yang tepat mengenai ulu hati orang itu, Hiat-ji sudah
membayangkan bahwa rencananya itu tentu berhasil dan
hasilnya pasti jauh lebih effektif (bermanfaat) dari
rencana suhunya yang hendak meyakinkan imyang-sinkang
itu. Tapi ternyata rencananya itu menjumpai suatu
kegagalan. Tio In bukan seorang nona yang tolol. Begitu
kembali ke Lo-hu-san ia tentu menceritakan
pengalamannya itu kepada Tio Jiang. Ini berarti pionnya
(Tay-keng) akan hancur. Usaha untuk melenyapkan
rombongan Lo-hu-san itu kelak pasti akan mengalami
kesulitan besar. Maka saking marahnya, Hiat-ji sudah
gunakan delapan bagian dari tenaganya untuk
menendang. Orang itu ternyata hanya seorang opas
biasa dari kantor tihu (residen) terang dia tak kuat
menahan tendangan itu. Hanya sekali dia mengerang,
mulutnya menyembur darah dan tubuhnya terkapar
binasa.
Pada detik itu Tio In sudah mempunyai pengertian
yang agak jelas, namun ia tetap tak dapat mempercayai
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bahwa engkohnya itu bersekongkol dengan kaki tangan
pemerintah Ceng.
"Ya, kalau benar dia (Hiat-ji) itu bersekongkeol dengan
engkoh, masakan sampai keliru menyampaikan surat itu?
Terang dia hendak gunakan siasat mengadu domba."
Demikian anggapan Tio In.
Rupanya masih belum reda amarah Hiat-ji dengan
membinasakan opas itu. Berpaling kebelakang dia
menatap wajah Tio In dengan mata ber-api2. Sembari
mengangkat tangannya pe-lahan2 keatas, dia berkata
dengan nada buas: "Nona Tio, karena kau telah
mengetahui rahasia ini, maka jangan salahkan aku orang
she Shin yang terpaksa tak dapat membiarkan kau hidup
lebih lama didunia inii" Tangannya itu diarahkan untuk
menghantam umbun2 kepala sinona.
"Celaka, apakah dugaanku keliru bahwa dia ini bukan
sedang main siasat mengadu domba? Tapi biarlah
kutunggunya saja. Kalau dia hanya menggertak scja,
terang dia hendak pinjam mulutku untuk mencelakai
engkohl" demikian masih Tio In menimang dalam hati.
Ah....., Tio In...., Tio In....., kau keliwat memintari
dirimu sendiri. Kalau saja tangan Hiat-ji itu turun
menghantam, sebelum mengetahui bahwa engkohmu itu
benar2 bersekongkol dengan kawanan kaki tangan Ceng,
nyawamu pasti melayang sudah!
Baru Hiat-ji hendak layangkan tinjunya, tiba-tiba
matanya tertumbuk akan sepasang mata bundar dari
sinona yang sedikitpun tak mengunjuk rasa takut.
Terhadap gadisnya Tio Jiang itu memang Hiat-ji sudah
jatuh hati benar. Hatinya lemas dan tinjunyapun pelahan2
diturunkan kemball.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Hem, benarlah dugaanku itu. Kawanan anjing,
bangsat penghianat, jangan mimpi kau dapat berhasil
memperalat aku untuk mencelakai engkohku!" demikian
diam2 Tio In memaki.
Hiat-ji serba sulit. Melepaskan Tio In berarti
rencananya gagal dan lenyap pula semua impiannya
untuk memperoleh kedudukan yang tinggi dan
penghidupan yang mewah. Namun membunuh nona
secantik itu, hatinya keliwat sayang. Sebenarnya
walaupun berusia muda, tapi si Hiat-ji itu dapat bekerja
dengan cermat dan kejam. Hanya karena kali ini.
Terbentur dengan asmara, dia sudah tak dapat
mengambil keputusan yang tegas.
Akhirnya setelah berpikir sekian lama, dia menemukan
suatu jalan yang bagus. "Nona Tio, bukan sehari dua
hatiku tercurah padamu. Tadi kau sampai rubuh itu
adalah karena terpaksa. Kita adalah orang sendiri, maka
jangan dipikir dalam hati kejadian itu" katanya coba
membujuk rayu.
Tio In tak mengira kalau anak bermata ungu itu dapat
berlaku demikian. Juga Hiat-ji telah ambil putusan,
cumbu rayu itu tak boleh hanya mengandal pada mulut
manis tapipun harus disertai paksaan. Maka sebelum Tio
In dapat menyahut, anak muda itu sudah memeluknya.
Berulang kali Tio In coba salurkan jalan darah untuk
membuka uratnya yang tertutuk itu, namun gagal.
Merah padamlah selebar mukanya karena dipeluk
orang itu. Habis memeluk Hiat-ji kembali melongok
keluar ruangan dan memberi isyarat 3 kali tepukan
tangan. Waktu ada seorang datang ke situ, Hiat-ji segera
memberi perintah: "Lekas sediakan sebuah tandu besar
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang tertutup rapat. Bawa nona ini kegedung thayhu.
Awas, jagalah hati2!"
Agar nona itu jangan sempat berusaha membuka jalan
darahnya yang tertutuk, Hiat-ji hendak menuntut lagi
jalan darah dipundak kiri. Tapi baru tangannya menjulur,
tiba2 punggungnya terasa dingin karena dilekati sebuah
ujung senjata tajam.
"Nona Tio jangan takut, ada aku disini!" kedengaran
seorang bernada wanita berseru kepada Tio In. Ketika
Tio In berpaling mengawasi, kiranya orang itu adalah
seorang wanita dari pertengahan umur, kulitnya agak
hitam dan mencekal sebatang samcat-hi-jat (garu
penusuk ikan yang berujung 3). Dilihatnya Hiat-ji tak
berani berkutik, tapi entah siapa wanita itu.
"Orang she Shin, telah sekian lama kunantikan kau
disini. Nona Tio sudah mempunyai kekasih, apa
maksudmu hendak membawanya kegedung thay-hu,
hendak memaksanya untuk menikah denganmu?"
kembali wanita itu berseru. Wanita itu bukan lain adalah
Ciok Siao-lan, istri The Go. Karena sifatnya yang melasan
dan disebabkan menjaga Hiat-ji, jadi ia belum sempat
untuk membuka jalan darah Tio In. Maksudnya, biarlah
nanti tunggu kalau sang suami datang. Dan sebab ini,
pada kebalikannya, ia bakal mengalami derita.
Mendengar nada suara Siao-lan itu cukup ramah dan
rupanya seperti hendak menunggu seseorang, legahlah
hati Hiat-ji. "Nona Tio sudah setuju menikah dengan aku.
Kekasihnya itu adalah aku ini mengapa kau mengadu
biru?"
"Ngaco be......", belum lagi Siao-lan sempat
menyelesaikan kata2nya, Hiat-ji sudah gunakan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kesempatan untuk buang dirinya kemuka hingga kini
terlepas dari ancaman, tangan menekan Iantai, kedua
kaki Hiat-ji menendang kesiku tangan Siao-lan. Saking
tak menduga serangan secara tiba2 itu, senjata garu
terlepas dari tangan Siao-lan dan terlempar keudara.
Belum Siao-lan tersadar dari kesimanya, kembali kaki
Hiat-ji bekerja dan bluk......, robohlah Siao-lan terkapar
dilantai. Dua buah jurus tendangan yang digunakan Hiatji
itu adalah menirukan gaya gumul dari orang Tibet.
Hiat-ji enjot kakinya untuk melambung keatas, begitu
pun Siao-lan juga lekas2 loncat keatas. Kini keduanya
saling berebut hi-jat yang tengah melayang turun itu.
Sebenarnya ilmu silat Siao-lan tak lemah. Tapi sejak
pada 20 tahun yang lalu ia menikah dengan The Go,
puaslah sudah rasa hatinya. Sewaktu The Go berhasil
mendapatkan kitab pelajaran Tat Mo dan tiap hari bersungguh2
meyakinkan, satu kalipun Siao-lan tak pernah
buang mata memperhatikan. Baginya, dengan
memperoleh seorang suami yang di-idam2kan itu, itu
sudah lebih dari cukup.
Dalam ilmu silatpun berlaku axioma (dalil) "barang
siapa berhenti berarti mundur".
Demikian halnya dengan Siao-lan. Kepandaian Hiat-ji
setingkat lebih atas dari ia. Ini jelas kelihatan sewaktu
keduanya sama2 loncat berebutan senjata. Hiat-ji dapat
meloncat lebih tinggi setengah meter darinya dan hijat
sudah tentu dia yang dapat merebutnya. Dan selagi
masih melambung diudara, Hiat-ji hantamkan hi-jat itu
pada lawan. Dalam sibuknya. Siao-lan terpaksa
berjumpalitan untuk menghindar. Tapi bagaikan seekor
burung elang, Hiat-ji memburunya turun sembari kirim
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dua buah serangan. Salah sebelah bahu Siao-lan telah
kena termakan ujung hi-jat. Sampai pada detik itu The
Go masih belum muncul dan ini makin menggelisahkan
Siao-lan. Dalam kebingungan ia berkelahi dengan kalap,
namun penjagaan Hiat-ji terlampau kokoh untuknya.
Dalam pertempuran yang berlangsung beberapa jurus
itu, kembali Siao-lan kena disengkelit roboh.
Pada saat itu muncullah bebrapa orang dengan
menggotong sebuah tandu.
Mereka memasukkan Tio In kedalam tandu terus
dibawa pergi. Teringat Hiat-ji bahwa dalam. pertempuran
digunung Sip-ban-tay-san tempo hari, secara gaib Siaolan
dapat meloloskan diri, jadi terang ada seorang kawan
lihay yang membantunya. Kuatir hal itu terulang lagi,
Hiat-ji undur selangkah kemudian dengan mengetuk
seluruh tenaganya dia lemparkan hi-jat itu kearah lawan.
Syukur Siao-lan dapat miringkan tubuh untuk
menghindar, tring......., hi-jat itu menyusup masuk
kedalam lantai.
Teringat Siao-lan bahwa urusan yang dipaserahkan
kepadanya oIeh The Go, masih belum selesai. Bergegas2
ia memburu keluar, tapi baik Hiat-ji maupun
tandu tadi tak tampak sama sekali. la tinggalkan gereja
Kong Hau Si situ untuk langsung menuju kegedung
thayhu (residen).
---oooo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 20 : SIASAT SHIN HIAT JI
Menengok keadaan Tay-keng, ternyata anak itu masih
taat menunggui kakus. Lama kelamaan karena Hiat-ji
tetap tak muncul, dia sangat gelisah. Tiba2 terdengar
suara tak...., tok... mendatangi dia kiranya sipengemis
jembel berkaki kayu itu lewat disitu. Pengemis itu
berhenti dimuka pintu kakus dan menuding dengan
tongkat kayunya: "Hai, mengapa kau tegak seperti
patung didalam kakus? Ayuh, lekas keluarkan tahimu dan
enyah, lo-ya hendak buang air juga!"
Sudah tentu Tay-keng marah besar. Maju selangkah
dia angkat kakinya menendang ulu hati sipengemis.
"Astaga, jadi kau hendak memukul orang?!" seru
sipengemis itu sembari lintangkan tongkatnya kemuka
dada, bluk....., menggelosolah tubuh Tay-keng ketanah,
auh....., auh....., huak...., huak...... Suara menguak itu
bukan datang dari mulut Tay-keng, melainkan dari
sipengemis jembel waktu Tay-keng terlempar jatuh
kedalam kolam tahi. Syukur Tay-keng cepat2 gunakan
tangan untuk menahan dinding kolam, sehingga
tubuhnya sampai mandi "minyak wangi". Sekalipun
begitu, tangannya berlepotan dengan benda kuning
emas yang "harum" baunya itu.
Masih Tay-keng belum sadar bahwa pengemis jembel
itu adaIah The Go yang menyaru. Dia kira karena kurang
hati2, tadi teIah terpeleset jatuh. "Bangsat jembel,"
mulutnya memaki dan siku tangannya meniodok dada
The Go.
Benar semasa mudanya The Go itu seorang durjana
culas yang licik. Tapi sejak kedua kakinya buntung, dia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
insyaf akan kesalahannya. Terhadap orang culas dan
chianat, dia teramat benci. Tay-keng pemuda bebodoran
itu harus diberi hajaran yang layak. Dia tak mau
menghindar tapi dalam pada itu diam2 dia kerahkan
lwekangnya kearah dada. Begitu siku Tay-keng
membentur dadanya, raganya seperti tersentuh Aliran
listrik yang kuat voltagenya. Lagi2 tubuh anak muda itu
terhuyung kedekat kolam kotoran.
Untunglah berkat kelincahan, Tay-keng cepat gunakan
gerak lin-eng-joan-soh (burung kenari menobros tali)
untuk loncat jauh2.
"Siapa kau ini?" serunya.
"Dan kau sendiri ini siapa?
Mengapa menunggui kakus?" balas bertanya The Go.
Mendengar nada orang seperti mengandung sesuatu
maksud, buru2 Tay-keng berkata: "Aku bernama Tio
Tay-keng, apakah cunke ini..........."
"Benar, ah kiranya orang sendiri. Cucu muridku tak
sempat, ada aku yang datangpun sama saja. Mari ikut
padaku!" sahut The Go.
"Pernah apa cunke ini dengan Shin Hiat-ji?" Tay-keng
bersangsi.
"Liat Hwat cousu itu kalau bukan muridku, siapa lagi
dianya itu? Apa kau masih belum tahu?" The Go deliki
mata.
Tay-keng terbeliak kaget, serunya: "Siapakah gelaran
cinpwe yang mulia ini?"
"Bu-kak-sian!" sahut The Go dengan ringkas. Bu-kaksian
artinya si Dewa tanpa kaki.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tadi Tay-keng telah membuktikan sendiri bagaimana
lihaynya pengemis itu. Benar tak tahu dia bagaimana
kalau dibandingkan dengan Liat Hwat, tapi yang terang
dia itu jauh lebih sakti dari Hiat-ji.
Dengan, masih setengah ragu2 dia ikut sipengemis
jembel itu. Tanpa berpaling kebelakang lagi, The Go
langsung masuk kedalam gereja Kong Hou Si.
Sebenarnya memang dia sudah berjanji pada Siao-lan
suruh membekuk Hiat-ji
Begitu dia bawa Tay-keng kesana, nanti dihadapan Tio
In, hendak dia lucuti kedok si Tay-keng itu. Habis itu, dia
hendak bawa anak itu kepada ayahnya (Tio Jiang) di Lohu-
san.
Menjelang tiba didepan pintu gereja, timbullah
kecurigaan Tay-keng.
Mengapa dia bawa aku kedalam gereja, demikian Taykeng
bertanya seorang diri.
Membarengi penuh sesak orang ber-duyun2 masuk
kedalam ruangan gereja, dia sengaja perlambat jalannya
sampai ketinggalan dibelakang, lalu memandang kearah
perapian dupa disebelah sana.
Hai......, mengapa Tio In tak tampak? Kecurigaannya
makin tebal.
Sebagai seorang bakat durjana, diapun cukup pandai.
Benar ketika sipengemis jembel itu membentur
dirinya, dia dapat cepat2 menyambar lagi gulungan
kertas yang melayang jatuh Itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tapi bukan mustahil, pengemis yang lihay itu dalam
waktu sekejab itu dapat menukar gulungan kertasnya
dengan lain macam gulungan kertas.
Ya....., siapa tahu! Liat Hwat cousu adalah seorang
guru besar dari daerah Tibet.
Namanya sangat termasyhur.
Andaikata benar dia itu masih mempunyai suhu,
mengapa Hiat-ji tak pernah mengatakan padanya (Taykeng)?
Memikir sampai disitu, buru2 dia menyelinap diantara
orang banyak. Oleh karena suasana dalam ruangan situ
sangatlah hiruknya, jadi The Go sudah tak mengetahui
akan hal itu. Baru setelah dia melalui ruang besar dan
berpaling kebelakang dia menjadi kaget demi tak
dilihatnya Tay-keng. Celaka, diam2 The Go mengeluh.
Dia yang biasanya selalu menyiasati orang, kali ini kena
di pedayai oleh seorang anak muda macam Tay-keng.
Buru2 dia balik lagi keruangan besar, tapi setelah
men-cari2 sampai lama tak dijumpai anak itu, terpaksa
dia terus menuju keloteng tempat penyimpan kitab.
Tapi disitu, kecuali mayat siopas tadi, baik Siao-lan
maupun Hiat-ji tak dijumpainya. Kali ini kecerdasan otak
The Go benar2 terbentur karang.
Turun kembali kebawah dia bertanya pada seorang
paderi dan mendapat keterangan bahwa menurut pesan
pengurus gereja, semua paderi dilarang menghampiri
ruang tempat penyimpan buku itu.
Entah karena apa, hweshio itu tak tahu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
The Go memperhitungkan bahwa Tay-keng tentu
hanya menyelinap diantara orang banyak, jadi belum
pergi jauh, maka dia mulai mencarinya.
Kiranya anak itu bersembunyi dibelakang sebuah
patung.
Kuatir kalau The Go nanti mencarinya, dia segera akan
pergi.
Tapi tiba2 dari arah belakang terdengar seseorang
berseru: "Tio-heng....! Tio-heng.....!"
Untuk kegirangannya, ternyata yang memanggil itu
adalah Hiat-ji
"Shin-heng, mengapa kau suruh aku tunggu ditempat
begituan dan sampai sekian lama kau tak datang?
Apakah Bu-kak-sian itu orang kita sendiri?" tanyanya
seraya menghampiri. Bermula Hiat-ji tak mengerti apa
yang ditanyakan kawannya itu, tapi setelah direnungkan
sejenak, baru dia insyaf.
"Celaka!" serunya sembari banting2 kaki.
"Bu-kak-sian itu bukan orang Lo-hu-san, selama ini
belum pernah aku melihatnya!" kata Tay-keng.
"Mengapa kau ngelantur begitu? Ku minta
kedatanganmu diruang penyimpan kitab, mengapa kau
datang kelain tempat? Hem...... terang ada orang yang
mengacau. Adikmu datang keruang itu dengan
membawa suratku, berarti rahasia kita ini sudah bocor.
Sekurang2nya ada seorang yang sudah mengetahui
rahasiamu!" kata Hiat-ji.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Momok yang paling ditakuti Tay-keng, adalah adiknya
sendiri. Dia kira tentu Tio In benar seperti yang
dikatakan Hiat-ji itu, sudah mengetahui kedoknya.
"Ai, bagaimana ini ya..., bagaimana ini...?" serunya
seperti orang menunggu vonnis (putusan peagadilan).
Sebaliknya diam2 kini Hiat-ji bersorak dalam hati.
Memang bermula dia masih kuatir, jangan2 Tay-keng tak
sampai hati untuk melakukan rencananya yang keji itu.
Tapi setelah terdesak dipojok itu, terang Tay-keng tentu
tak ragu2 lagi. Dengan tersenyum iblis, Hiat-ji segera
tarik tangan Tay-keng kesuatu tempat yang sepi.
"Shin-heng, rasanya aku harus mengikut kau kekota
raja. Dikedua propinsi Kwiciu itu, sudah tiada tempat
kakiku berpijak lagil" kedengaran Tay-keng seperti
meratap.
"Ah, Tio-heng" Hiat-ji tertawa dingin, "susah....,
susah..... Kau belum mempunyai pahala apa2,
bagaimana, kau bisa diterima dikota raja?"
Saking gelisahnya kepala Tay-keng basah dengan
kucuran keringat, ujarnya: "Shin-heng, kau harus
menolong Aku!"
Melihat saatnya sudah tiba, berkatalah Hiat-ji:
"Adikmu sudah kututuk dan sekarang kusuruh bawa
kegedung thay-hu. Pengemis yang menyebut dirinya Bukak-
sian itu tentu konconya siwanita yang bergegaman
hi-jat itu. Walaupun untuk sekarang kita tak tahu siapa
mereka itu, tapi nanti kau tentu akan memperoleh
keterangan dari leng-cun (ayahmu). Kini kita hanya
mempunyai sebuah rencana. Dengan rencana itu bukan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
saja kau dapat terlepas dari kesulitan, pun akan
membuat suatu pahala besar!"
"Harap Shin-heng lekas katakan rencana itul" kata
Tay-keng sembari mengusap keringatnya. Tapi sebelum
menjelaskan, lebih dahulu Hiat-ji melirik tajam2 kepada
Tay-keng.
"Tapi ah....., kalau kau tak mau jalankan rencana itu
malah akan runyam jadinya!"
"Jika tak mau menjalankan perintahmu, biarlah
mayatku mati tak berkubur!" sahut Tay-keng sembari
menunjuk pada langit dan bumi.
"Bagus!" kata Hiat-ji sembari merogoh keluar sebuah
fles dari batu kumala, "lekas pulang ke Lo-hu-san dan
usahakanlah sedapat mungkin untuk meminumkan puyer
dalam botol ini kepada ayah bundamu!"
Tay-keng menerima botol itu dengan tangan
bergemetaran.
"Shin-heng, obat apakah ini?" tanyanya dengan suara
parau.
Dengan pertanyaan itu, nyata nurani Tay-keng masih
belum buta.
Dia masih kuatir jangan2 ayah bundanya akan
meninggal secara mengenaskan sekali.
Fles obat puyer itu bukan lain adalah hong-sin-san,
yang dirampas Hiat-ji dari dalam goa Kit-bong-to. Dalam
3 hari 3 malam, binasalah orang yang meminumnya.
Sebelum meninggal, orang itu akan berobah buas seperti
anjing gila, menyerang dan membunuh siapa saja yang
dijumpai. Obat itu terbuat dari ramuan busa air ludah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
anjing gila, harimau gila, ular gila dan lain2 bisa
binatang. Oleh karena itu pembuatannya sangat sukar
sekali.
Sudah tentu Hiat-ji tak mau mengatakan terus terang
pada Tay-keng, katanya dengan tertawa: "Jangan kuatir,
bukan obat racun melain obat bius saja. Dalam 7 hari 7
malam orang akan lupa daratan, tapi setelah itu akan
pulih lagi seperti sediakala. Apabila ayah buadamu hilang
kesadarannya, segera kau boleh keluarkan perintah
bubarkan orang2 yang berkumpul di Lo-hu-san itu.
Setelah kau dirikan pahala, boleh ikut aku kekota raja,
baginda kaisar teatu akan menganugerahimu suatu
kedudukan yang tinggi. Kalau hal itu sudah terwujut,
ayah bundamupun tentu tak dapat berbuat apa-apa.
Bagaimana, baik tidak rencanaku in!?"
Tay-keng kegirangan sekali dan Hiat-jipun segera
menyuruhnya Iekas2 kembali ke Lo-hu-san.
Setelah itu, Hiat-ji lalu balik kegedung thay-hu. Baru
Tay-keng berjalan tak jauh, sekonyong-konyong dari
sebelah muka terdengar orang. berseru keras2: "Bangsat
busuk, kiranya kau berada disini!"
Astaga, si Bu-kak-sian! Kejut Tay-keng tak terkira,
terus dia berputar kebelakang dan hendak melarikan diri
tapi secepat itu si Bu-kak-sian sudah menghadang
dimukanya.
"Adikmu, kemana ia?" hardik Bu-kak-sian.
Pikir Tay-keng, supaya dapat lekas2 lolos, Iebih baik
dia berkata terus terang.
Maka diapun menyahut kalau Tio In sudah dibawa
Hiat-ji kegedung thay-hu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya The Go agak
terkesiap.
Tay-keng mengatakan kalau tadi baru saja dia
berbicara dengan Hiat-ji.
"Dan kemana wanita yang membawa senjata hi-jat
itu?" tanya The Go.
Sebenarnya Tay-keng tak mengetahui dimana
beradanya Siao-Ian, tapi untuk menyuruh The Go Iekas2
enyah dari situ, dia lalu memberi keterangan bohong:
"Wanita itu sudah ditawan oIeh Liat Hwat cosu dan
dibawa kegedung thay-hu juga. Carilah lekas kesana!"
The Go terkesiap.
Diakhir ahala Lam Beng, perserikatan bajak lautan
selatan itu terdiri dari 4 keluarga yaitu The, Ciok, Ma dan
Chi. Pengaruh mereka besar sekali. Turun termurun
mereka terikat perhubungan dan perkawinan.
Sejak kecil The Go sudah ditunangkan dengan Siaolan.
Hanya karena The Go itu seorang pemuda buaya,
maka dia sudah tak menghiraukan Siao-lan. Adalah
setelah kedua kakinya buntung, baru The Go mau juga
menerima Siao-lan sebagai isterinya.
Duapuluh tahun lamanya kedua suami isteri itu
menghuni di pergunungan Sip-ban-tay-san yang sunyi
senyap dan memperoleh seorang anak tunggal yaitu The
Ing.
Maka demi mendengar bahwa isterinya telah ditawan
Liat Hwat, untuk sekian saat dia termangu2 tak tahu apa
yang hendak diperbuatnya.
Begitulah tanpa berkata apa2, dia lalu berjalan pergi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dan Tay-keng yang tak kira bakal lolos sedemikian
mudahnya, pun lalu meneruskan perjalanannya ke Lohu-
san.
---oooo---
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
BAGIAN 21 : SAY HONG HONG BEK
LIAN
Sebagaimana kita ketahui tujuan kepergian The Go
dan Siao-Ian dari Sip-ban-tay-san itu adalah karena
hendak menolong puterinya (The Ing) yang ditawan
wanita dalam goa itu.
Keras dugaan The Go bahwa wanita aneh itu adalah
bekas kekasihnya dahulu yang dikhianatinya, yani Sayhong-
hong Bek Lian.
Karena putus asa dan dendam, Bek Lian lolos dari
dunia keramaian dan mengasingkan diri.
Juga Siao-lan sangat cemaskan keselamatan
puterinya.
Begitulah setibanya di Lo-hu-san, The Go menebas
dua batang puhun kecil seraya menghibur sang isteri:
"Tak usah cemas. Peribadi Bek Lian kucukup faham.
Walaupun Ing ji dalam bahaya, asal ia dapat melihat
gelagat tentu takkan kena apa2. Asal aku dapat
berjumpa dengan ia (Bek Lian), Ing-ji tentu akan
dilepaskanl"
Bagi Siao-lan kata2 suaminya itu adalah merupakan
undang2 yang diindahkannya. Tapi lembah tempat goa
Bek Lian itu sangat terpencil sekali letaknya.
Hampir seharian mereka mencari, tetap belum
menemukan.
Mereka percaya bahwa Tong Ko tentu tak berbohong
maka mereka tetap lanjutkan penyelidikannya. Tiba pada
sebuah puncak yang menjulang tinggi, yakni puncak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Giok-li-nia, terkenanglah The Go akan kejadian pada 20
tahun berselang.
Hatinyapun serasa tergetar.
Selagi mereka berdua tegak ter-longong2, tiba2
tampak 3 sosok bayangan berlari mendatangi dengan
pesatnya. Belum orangnya tiba, sudah terdengar salah
seorang berseru keras: "Hem.... Siau-beng-siang itu
sungguh tak tahu diri Peng-se-ong mengutus kita kemari,
tapi dia tak mengadakan sambutan apa-apa."
The Go terkejut mendengar itu. Peng-se-ong adalah
gelaran Go Sam-kui. Mengapa dia mengutus orang
kemari? Buru2 ditariknya Siao-lan untuk diajak sembunyi.
Ketika dekat, ternyata yang berjalan disebelah muka itu
adalah seorang yang mengenakan pakaian pembesar
Ceng, sikapnya ke-angkuh2an. Kawannya yang seorang
bertubuh kate, mengenakan pakaian compang camping
tetapi cukup bersih. Dibelakang punggungnya
menggendong sebuah holou (guci) besar. Bebrapa kali
dia ambil guci araknya itu dan meneguknya
berkelutukan. Tingkah lakunya menggelikan orang.
The Go terkesiap. Pernah dia mendengar bahwa dalam
kalangan persilatan daerah Hokkian ada seorang tokoh
lihay macam begitu.
Tapi entah tak tahu dia siapa namanya. Pula tak nanti
tokoh itu mau berhamba pada pemerintah Ceng.
Adakah desas desus yang mengatakan bahwa Pengse-
ong Go Sam-kui itu berniat hendak memberontak itu
benar adanya?
Sedang orang yang ketiga adalah seorang tosu
(imam).
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dari gerak geriknya, dia itu seorang yang licin.
Orang yang dandanannya seperti pembesar itu
berhenti dan berkata dengan dingin: "Orang she Tio itu
sungguh tak kenal tingginya langit. Sampai dikaki puncak
sini masih tak mengirim sambutan! Aku tak percaya kalau
Peng-se-ong sudi berserekat dengan gerombolan macam
begitu!"
The Go jemu akan sikap congkak orang itu.
Tapi pada saat itu sudah menyahutlah si kate tadi
dengon olok2nya yang tajam: "Co tayjin, mungkin
namamu yang besar itu telah membuat mereka
ketakutan dan tak berani turun gunung!"
Diam2 The Go geli juga akan sindiran si kate itu.
Tapi si Co tayjin itu sendiri rupanya tak
mendengarnya.
Adalah si imam yang tampak keruntukan kening dan
mengisiki pada Co tayjin.
Co tayjin deliki mata kepada si kate kurus itu, siapa
tak menghiraukan dan melainkan enak2 meneguk
gucinya.
The Go tetap diam saja untuk menantikan
perkembangan mereka.
Lewat sejurus kemudian, rupanya Co tayjin itu tak
sabaran lagi, dan menghamburlah makian lagi dari
mulutnya: "Oleh karena orang she Tio tak mengirim
orang, ayuh kita naik keatas saja. Nanti bila bertemu
muka, biar kudampratnya!"
Buru2 si imam menyambuti: "Tayjin memang benar.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Gerombolan orang2 persilatan macam itu, karena
mengandalkan ilmu silatnya lantas tak pandang mata
pada orang lagi, sungguh men.........."
Sebenarnya dia hendak memaki "menjemukan", tapi
pada saat itu si kurus sudah melirik kearahnya dan tiba2
berbatuk huk...., huh..., cuh......: segumpal ludah
meluncur dari mulutnya dan tepat sekali singgah kepipi si
imam. Imam itu tersentak kaget.
Bermula dia tak tahu, tapi serta tangannya mengusap
ternyata pipinya sudah berpupuran ludah kental. Raut
mukanya menampilkan kemarahan, tapi justeru begitu,
makin menggelikan kellhatannya.
"Ai ......maaf, Toya! Karena tenggorokanku terasa
gatal, tanpa dapat kucegah lagi aku telah batuk. Se-kali2
tak sengaja berlaku kurang ajar pada toya, harap jangan
gusar!" seenaknya hati saja si kate kurus itu menghibur
kemengkalan si imam.
Sudah tentu si Imam tak mandah diperlakukan begitu.
Maju selangkah dia menjotos si kate.
Diam2 The Go terkejut melihat gaya serangan si Imam
yang cukup berat itu.
"Hai, itulah pukulan lui-tin-cio (pukulan geledek).
Biarpun dia sengaja menyembunyikan tapi tetap
suaranya yang seperti geledek menyambar itu
kedengaran jelas. Jangan2 dia itu adalah kepala biara
Sam Ceng Kiong di Gunbing yang bergelar Lui-tin-sinciang
Gwan Liong totiang?" demikian The Go menimang2
dalam hati.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kelima jari imam itu dicengkeramkan sedikit dan sekali
dihantamkan kemuka, maka jari2 itu terpentang semua.
Sambaran anginnya, sedikit lebih pelahan dari halilintar,
menindih si kurus. Orang kurus itupun terkejut. Matanya
membeliak tak tahu apa yang hendak diperbuat. Nyata
batok kepala si kurus itu tentu akan hancur lebur dan
untuk itu The Go serta Siao-lan sudah siap hendak loncat
keluar menolongnya.
Se-konyong2 si kurus itu terpeleset jatuh kesamping,
gayanya macam orang mabuk, namun tepat sekali dapat
menghindari hantaman si-imam tadi. Krek......, secepat
kilat jari tengah tangan kanan si kurus itu menutuk
lambung si-imam pada jalan darah yang-ke-hiatnya. Baik
ilmunya maupun kecepatannya, telah membuat The Go
kesima. Bermula si-imam tadi hendak lancarkan
pukulannya yang kedua, tapi serta lambungnya tertutuk,
tangannya pun terkulai kesamping dan menyampok
orang ketiga yang dibahasakan "Co tayjin" tadi.
"Toya, tahan, jangan melukai Co tayjin !" seru si kurus
sembari masih sempoyongan.
Imam itu sendiri bukan kepalang kagetnya.
Dia hendak menghajar si kurus, mengapa diluar
kemauannya, pukulannya nyasar kearah Co tayjin ?
Tapi untuk menarik kembali, terang sudah tak sempat
lagi.
Plak....., tahu2 muka si Co tayjin tadi mendapat
persen.
Aduh mak, sakitnya bukan kepalang !
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Bagi The Go apa yang telah terjadi itu jelaslah sudah
kiranya.
Gaya sempoyongan yang diperlihatkan oleh si kurus
itu adalah ilmu cui-pat-sian (8 dewa mabuk) yang
sempurna. Kalau demikian teranglah si kurus itu tokoh
yang digemari sebagai "cui kui" si setan pemabukan Jui
Wi. Tokoh persilatan yang luar biasa itu, hendak
mempermainkan si-imam dan Co tayjin rupanya. Tapi
anehnya, mengapa dia turut dalam rombongan mereka ?
"Hai, mengapa kau menampar mulut Co tayjin? Co
tayjin adalah orang kepercayaan nomor satu dari Pengse-
ong. Kalau kau memukulnya, berarti memukul Pengse-
ong. Jangan tanya dosamu ya !" teriak si kurus
dengan deliki mata kearah si-imam.
Wajah si-imam menampil ketakutan yang hebat,
sedang si Co tayjin yang tengah menahan kesakitan
karena separoh mukanya benjul begap, belum dapat
berkata apa-apa, kecuali mendekapnya dengan tangan.
Berselang berapa lama, barulah Co tayjin turunkan
tangannya dan menjerit keras.
"Co tayjin, pinto telah kesalahan tangan, Co tayjin :
maaf !" tersipu2 si-imam menghampirinya seraya
meratapkan maaf.
Disamping geli melihat adegan itu, diam2 The Go juga
heran melihat kelakuan si-imam itu. Imam tersebut atau
Gwan Liong totiang, The Go belum jelas bagaimana
pribadinya. Tapi kelakuannya yang sedemikian
memalukan itu, sungguh tak patut. Jadi meskipun dia
faham ilmu pukulan lui-tin-chiu (pukulan geledek), tapi
terang dia bukan Gwan Liong totiang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Rupanya Co tayjin itu belum mencium bau permainan
si kurus tadi, maka kecuali hanya mendeham hidung, dia
tak mendamprat si-imam itu lagi. Kalau si-imam longgar
napasnya karena terbebas dari hambur makian, adalah si
kurus iang ketawa cekikikan sembari memerintah lagi :
"Co tayjin telah memberi ampun, mengapa kau tak
berlutut menghaturkan terima kasih ?"
Kini tampak si Co tayjin itu keruntukan halis, ujarnya :
"Jui tayhiap, Peng-se-ong telah tugaskan kami bertiga
kemari, untuk itu kita bertiga harus bersatu padu, jangan
bertengkar sendiri !"
"Hi, bagaimana ni ? Aku membelamu, sebaliknya kau
sesali aku ?" seru Jui Wi tayhiap.
Co tayjin alihkan pembicaraan, menyatakan bahwa
karena orang Lo-hu-san tak datang menyambut,
sebaiknya mereka naik terus keatas saja. Begitulah
mereka bertiga lalu mendaki keatas. Co tayjin disebelah
depan, si-imam mengikuti dibelakangnya sedang si kurus
tadi tetap ber-ingsut2 jalan se-enaknya saja.
Setelah mereka jauh, barulah The Go tarik Siao-lan
keluar, katanya :"Mereka orangnya Go Sam-kui dari
Hunlam, ayuh kita ikuti keatas !"
Tapi Siao-lan membantah : "Peduli apa mereka itu
orangnya Go Sam-kui atau Go liok-kui, yang penting kita
harus cari Ing-ji lebih dahulu !"
Dalam hati kecilnya, The Go ingin sekali mengetahui
apa maksud kedatangan orang-orangnya Go Sam-kui itu,
tapi karena dia tak mau mengecewakan hati isterinya
terpaksa dia menurutinya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Begitulah mereka berdua lalu melanjutkan
penyelidikannya digunung Lo-hu-san situ. Tapi sampai
keesokan harinya, tetap tak berhasil.
Sebagai seorang ibu, sudah tentu Siao-lan gelisah
bukan main, maka The Go pun coba menghiburnya.
Selagi sepasang suami isteri itu melepaskan lelah
ditepi sebuab sungai kecil, tiba2 dari arah belakang
terdengar suara ribut2.
Ketika mereka berpaling didapatinya ada seorang
tengah berlari-larian mendatangi dengan pontang
panting, seperti orang diburu setan.
Pakaiannya koyak, tapi jelas kelihatan kalau
pakaiannya itu adalah pakaian pembesar Ceng.
Ketika diperhatikan, astaga itulah Co tayjin, ...... Co
tayjin yang kemarin malam berlagak sedemikian
angkuhnya.
Sembari berlari, tak henti-hentinya dia berpaling
kebelakang sembari berteriak2: "Hohan....., ampunilah !
Hohan......, ampunilah !"
Buru-buru The Go tarik Siao-lan diajak bersembunyi
kedalam semak2.
Bluk......, kedengaran Co tayjin itu rubuh ditepi sungai
tak dapat bangun lagi.
Pada lain saat, seorang lelaki tinggi besar muncul
dengan mencekal sebatang ruyung.
Amboi, itulah si berangasan Kiau To, ji-ahko Thian Te
Hui.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sudah tentu The Go dan Siao-lan cepat dapat
mengenalinya.
Kiau To sudah angkat jwan-pian untuk menghajar si
Co tayjin, atau sekonyong-konyong muncullah seseorang
berseru mencegahnya : "Kiau-heng, jangan.....!" sembari
angkat guci araknya, bluk......, terhindarlah Co tayjin dari
gebukan ruyung itu, berkat guci arak orang itu yang
bukan lain adalah Ciu-kui Jui Wi.
Cuh......., Kiau To meludahi Co tayjin, makinya :
"Kalau tak memandang muka Jui tayhiap, tentu kamu
kuhajar babak belur. Huh......, bangsa kutu busuk mau
jual lagak pembesar. Orang Lo-hu-san tak sudi melihat
macam begitu2-an !"
Co tayjin ber-ingsut2 sampai bebrapa langkah baru
berani berbangkit.
Tepat pada saat itu, si-imam yang pandai ilmu lui-tinkangpun
tiba.
Buru2 dipapahnya Co tayjin terus diajak lari.
"Kiau-heng, bukannya menyalahkanmu, tapi apabila
Siau-beng-siang kembali, dia tentu menyesali
tindakanmu tadi !" kedengaran Jui Wi menghela napas.
"Mengapa ..... ? Apakah orang begituan tak pantas
dihajar ? Semalam, mengingat dia adalah utusan Go
Sam-kui, aku dan Ki toako telah menyambutnya dengan
hormat. Tapi tadi pagi2, sewaktu aku menjenguk
kedalam kamarnya, dia bilang sangat lelah dan suruh aku
memijatinya. Hem......., kalau mendiang Nyo Kong Lim
masih ada, dia tentu sudah menghajarnya mampus !"
Kiau To menyomel.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ya, orang macam begitu memang harus dihajar, tapi
kalini kau telah menyakiti hati dua orang tokoh penting !"
kata Jui Wi.
"Siapa mereka itu ?"
"Kaum persilatan mengatakan kalau Kiau loji itu
berangasan, dan ini memang berbukti," sahut Jui Wi
dengan tertawa, "salah seorang dari mereka adalah,
suhu dari imam itu yakni Lui-tin-sin-ciang Gwan Liong
totiang !"
Kiau To terkesiap, serunya : "Tidak, Gwan Liong
totiang adalah cianpwe yang saleh. Pernah beliau dengan
suhuku Tay Siang siansu merundingkan soal-soal
keagamaan terus menerus sampai 3 hari 3 malam. Suhu
mengatakan, Gwan Liong totiang adalah sahabatnya
yang paling karib, masakan dia mau menggubris
omongan imam itu ?"
"Ah......, kau tak mengetahui asal usulnya. Imam itu
bernama Ma Ki, anak seorang hartawan di Hunlam. Gwan
Liong totiang pernah jatuh sakit keras rebah didepan
pintu hartawan itu. Berkat pertolongan hartawan Ma itu,
tertolonglah jiwa Gwan Liong totiang. Kemudian dalam
suatu huru hara, rumah tangga hartawan Ma berantakan.
Gwan Liong totiang membalas budi, ajak Ma Ki kebiara
Sam Ceng Kuan di Kunlun dan menerimanya sebagai
murid. Gwan Liong totiang mempunyai kelemahan, yakni
bertelinga tipis (tak tahan dihina). Apabila nanti Ma Ki
mengadu, benar Gwan Lion totiang tak berani terangterangan
memusuhi kita, tapi diam2 dia tentu
mendendam !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kiau To merenung sejenak lalu berkata: "Tak apalah,
karena Gwan Liong totiang itu tak mau campur urusan
duniawi lagi. Dan siapakah orang yang kedua itu?"
Anda sedang membaca artikel tentang CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1 dan anda bisa menemukan artikel CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cersil-populer-heng-thian-siau-to-1.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post CerSil Populer : Heng Thian Siau To 1 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cersil-populer-heng-thian-siau-to-1.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar