Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 07 Agustus 2012

Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1-Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1-Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1-Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1-Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1

Cuaca cerah, udara terang, tiada badai, tidak ada ombak di
tengah sungai atau danau, namun demikian gelombang ombak
tetap mendampar, yang di belakang mendorong ke depan, air tetap
mengalir tak ter-putus2. Demikian pula suasana Kangouw (sungaitelaga),
mengejar nama, berebut rejeki, yang kuat mencaplok yang
lemah kelaliman, kesadiaan kejahatan tetap merajalela, liku
kehidupan dunia persilatan penuh diliputi muslihat, kapan insan persilatan
pernah mengenyam kehidupan aman dan damai?
Sepanjang musim semi tahun ini suasana Kangouw atau dania
persilatan memang agak tenteram, namun keadaan ini tidak
bertahan lama, karena kabar yang mengejutkan tiba2 membikin
keadaan yang aman tenteram menjadi gempar dan bergolak.
Kabar pertama yang mengejutkan adalah lenyapnya Tong-Thianjong,
tertua keluarga Tong di Sujwan yang terkenal dengan ilmu
senjata rahasia dan racunnya. Kabar kedua yang menggemparkan
adalah hilangnya Un It-hong, tertua keluarga Un di Ling lam yang
terkenal dengan obat bius dan wewangian yang memabukkan,
Keduanya menghilang secara beruntun tak keruan parannya .
Konon periatiwa ini terjadi pada permulaan tahun lalu, soalnya
keluarga yang kehilangan ketuanya ini tutup mulut dan
merahasiakan hal itu sehingga urusan baru bocor setelah berselang
tiga bulan kemudian, sudah tentu berita ini menjadi topik
pembicaraan setiap insan persilatan.
Keluarga Tong di Sujwan berada di utara, se-mentara keluarga
Un di Ling-lam ada di selatan- Sebetulnya kejadian hilangnya ketua
dari kedua keluarga ini betapapun tiada sangkut pautnya satu sama
yang lain- Soalnya peristiwa ini berlangsung sebelum dan sesudah
tahun baru, sehingga orang mau tidak mau menganggap kejadian
itu suatu kebetulan, apalagi kabar yang tersiar luas di dania
persilatan bersimpang siur sehingga umum merasa urusan ini agak
miaterius.
Kabarnya setelah kedua tokoh ini hilang secara aneh, orang2 dari
kedua keluarga ini menemukan sebutir mutiara sebesar kacang di
bawah bantal mereka. Menemukan mutiara di bawah bantal
sebetulnya bukan suatu hal yang aneh, cuma mutiara yang mereka
temukan ini terukir sebuah huruf "LING" (perintah atau firman)
sebesar kepala lalat bewarna merah menyolok. Dan karena adanya
huruf "LING" yang terukir di atas mutiara inilah menjadikan urusan
menarik perhatian orang banyak.
"cin-cu-ling" (firman mutiara), hampir setiap insan persilatan
tiada yang pernah dangar nama ini di Kangouw. Lambang
seseorang ataukah golongan?
Soal ini simpang siur dan tiada scorangpun yang bisa
menjelaskan secara gamblang dan pasti. .
Yang terang cin-cu-ling menyebabkan dua orang tertua dari
keluarga besar yang tersohor di dania persilatan lenyap. Kini tiga
bulan sudah lalu, soal ini masih ramai dibicarakan orang, namun
kejadian masih terselubung, bagai batu kecemplung laut, sejauh itu
masih menjadi teka-teki.
Yang terang orang2 dari kedua keluarga ini masih terus mencari
dan menyelidiki.
cin-cu-ling memang menimbulkan gelombang besar di dania
persilatan untuk beberapa lamanya tapi lambat laun hal inipun
dilupakan orang.
Thay goan-tang merupakan pegadaian terbesar di kota Kayhong,
letaknya dijalan besar di timur kota. Huruf "Tang" (gadai ) bagai
poster raksasa menghias tembok tinggi yang melintang di depan
rumah setinggi dua tombak. Begitu masuk, pintu angin lebar dari
papan tebal mengadang dijalan- pintu angin inipun dihiasi huruf
gadai yang melebihi besar manusia sehingga keadaan di dalam tidak
kelihatan dari luar. Memangnya siapa yang tidak malu
menggadaikan barang miliknya kalau tidak kepepet karena
"tongpes" alias kantong kempes?
Hari sudah lewat lohor, keadaan rumah gadai Thay-goan sudah
sepi, pada saat itulah seorang pemuda memasuki pintu pegadaian
itu. Pemuda ini berjubah hijau, usianya likuran tahun, mukanya
cakap. alia tegak. mata besar bersinar tajam, sikap-nya ramah dan
halus mirip seorang pelajar, tapi sebuah buntalan panjang tiga kaki
melintang di punggungnya, tidak mirip payung, mungkin senjata
yang selalu dibawanya untuk membela diri.
Pemuda jubah hijau langsung menuju ke loket terdekat, sebentar
dia berdehem, lalu bersuara lembut. "Mana petugasnya"
Seorang laki2 tua berkaca mata berlari2 dari sebelah dalam,
sekilas diawasinya pemuda jubah hijau ini, lalu berseri tawa sambil
menyapa: "Siangkong (tuan) hendak menggadai barang apa."
Pemuda jubah hijau manggut2, tangan mero-goh kantong dan
mengeluarkan sebutir mut iara terus diangsurkan- Mutiara ini
sebesar telur burung puyuh, lapat2 bersemu kuning, sinarnya
mencorong benderang, orang awampun tahu bahwa benda ini
adalah barang mestika yang tak ternilai harganya.
Petugas tua ini menerima serta di-timang2 di telapak tangan, lalu
tanyanya: "Mau digadaikan berapa, Siang kong?"
"Lima ribu tahil perak." sahut pemuda jubah hijau.
Sebetulnya nilai mutiara ini sedikitnya laksaan tahil, tapi petugas
ini tak berani sembarangan bertindak, dengan seksama dia amat2i
mut iara serta memeriksanya dengan lebih teliti. Akhirnya ditemukan
sebuah ukiran huruf "LING" warna merah di atas mutiara yang
menguning terang itu Seketika jantungnya berdetak keras seperti
hendak meloncat keluar dari rongga dadanya.
Sekilas tampak berubah air muka petugas tua ini, Tapi kejap lain
rona mukanya berobah pula seperti kegirangan- sudah tentu semua
perubahan ini tak lepas dari pengamatan si pemuda jubah hijau.
Tapi pemuda itu anggap tidak tahu saja.
Sengaja petugas tua ini memeriksa dan menimang2 sekian
lamanya, habia itu baru berkata dengan tertawa lebar: "Mutiara
Siangkong ini tak ter-nilai harganya, hanya digadai lima ribu tahil
saja...."
"Ya, baiklah kugadaikan," ujar pemuda jubah hijau.
"Tapi lima ribu tahil juga bukan jumlah yang kecil, maka ........."
"Lho, kenapa, kau t idak mau terima?"
"Tidak. tidak. kami buka pegadaian, mana tidak terima gadai?
Soalnya lima ribu tahil, kami tiada uang kontan sebanyak itu, dan
lagi mutiara ini harus di unjukkan dulu kepada majikan kami."
"Boleh saja," ujar si pemuda, "silakan undang majikanmu."
"Sebagai langganan, mari silakan Siang kong duduk didalam dan
minum secangkir teh, segera kusuruh orang mengundang majikan,"
sembari bicara dia membuka pintu di ujung sana, lalu menyambut
dengan munduk2: "silakan duduk. Siang kong."
Si pemuda tidak sungkan dengan tegap ia masuk ke dalam.
Petugas tua menyilakan duduk. seorang kacung menyuguhkan
secangkir teh.
Petugas tua mengembalikan mutiara dengan ke dua tangannya,
katanya. "Siangkong, simpan dulu mutiara ini, setelah berhadapan
dengan majikan boleh kau perlihatkan kepada beliau." lalu ia bisik2
kepada si kacung sekian lamanya, kacung itu mang-gut2 terus
berlari keluar.
"Majikan tinggal di pintu selatan, sebentar be-liau akan datang,
Entah siapakah she Siang kong"
"Aku she Ling" sahut si pemuda. "Siangkong kelahiran mana?"
"Ing-ciu," agaknya dia sungkan bicara, maka jawabannya
pendek2 saja.
"Tempat bagus," ujar si petugas tua. Si pemuda hanya
tersenyumsaja.
Pembicaraan terputus sampai sekian saja, sipetugas lalu
mengeluarkan pipa cangklong dan mengiaap tembakaunya. Kira
setanakan nasi kemudian, tampak dari luar datang seorang laki2
setengah baya berpakaian ketat warna biru, laki2 ini beralis tebal,
mukanya kasar kereng, badannya tegap kuat. Kacung cilik tadi
tampak ber-lari2 di belakangnya.
Lekas si petugas tua menurunkan pipa sambil berdiri, serunya
tertawa: "Nah, sudah datang." Si Pemuda ikut berdiri.
Sementara laki2 setengah baya sudah beranjak masuk. matanya
langsung menatap si pemuda jubah hijau, sekedar menyapa pada si
petugas, katanya: "Apakah saudara ini yang hendak
menggadaikan?"
Si petugas manggut2, sahutnya: "Ya, ya inilah Ling-siangkong
dari Ing-ciu." Kepada si pemuda segera ia memperkenalkan: "Inilah
murid terbesar majikan kami The Si- kiat The-toaya, belakangan
majikan jarang mencampuri urusan perusahaan, semuanya Thetoaya
inilah yang memberes-kannya."
" Kiranya The-ya," si pemuda memberi salam.
The Si- kiat membalas hormat, katanya: "Tidak berani, cayhe
diperintahkan guru kemari untuk mengundang saudara ke sana
untuk bicara."
" cayhe hanya menggadai barang saya," sahut si pemuda.
Umumnya gadaian hanya mengenal barang tanpa kenal orang,
kalau harganya cocok boleh di bayar, kalau tidak boleh ditolak.
The Si- kiat tertawa, ujarnya: " Guruku berkata, mutiara yang tak
ternilai harganya hanya digadai lima ribu tahil, menurut aturan,
jumlah ini merupakan nilai yang besar, maka kedua belah pihak
perlu bicara langsung, oleh karena itu harap saudara sudi terima
undangan ini."
Si pemuda tertawa tawar, katanya: "Kalau demikian, terpaksa
aku terima undangan ini."
"Marilah, kutunjukkan jalannya," ujar The Si-kiat terus melangkah
keluar lebih dulu. Si pemuda mengikut di belakang meninggalkan
rumah gadai ini.
Mereka jalan beriring, The Si- kiat membawa-nya berputar
menyusuri dua jalan raya panjang dan ramai. Kira2 setengah li
kemudian, mereka mem-belok ke sebuah lorong lebar yang beralas
batu besar dan bersih mengkilap. pohon2 tua dan tinggi berderet di
kedua pinggir jalan-.
Entah sengaja atau tidak The Si-kiat seperti hendak menjajal si
pemuda, begitu memasuki lorong ini langkahnya tiba2 dipercepat,
kelihatannya langkahnya lambat tidak ter-gesa2, namun tubuhnya
bergerak bagai terbang, orang biasa umpama berlari sekencang2nya
juga takkan biaa menyusulnya.
Pemuda jubah hijau mengikut di belakang, langkahnya juga
lamban saja seperti tidak ingin berlomba lari, berlangsung seperti
tidak terjadi apa2, na-mun jaraknya dengan The Si-kiat tetap sama,
hanya beberapa kaki, sedikitpun tak pernah ketinggalan-
Jalanan batu mengkilap ini panjangnya ada dua li, sepanjang
jalan ini The Si-kiat melangkah dengan amat pesatnya, hanya
sekejah saja sudah tiba di depan sebuah gedang besar dan
berhenti. Dia kira sipemuda tentu ketinggalan jauh dibelakang, tak
tahunya waktu dia berpaling, ternyata si pemuda dengan sikap
wajar juga berhenti di belakangnya, -Keruan ia kaget, batinnya: "Di
antara murid Siau-lim-pay dari kaum preman, aku diberi julukan Sinhing
thay-po (malaikat jalan pesat), kecuali orang mengerahkan
tenaga dan menggunakan Ginkang, rasanya tidak sembarang orang
bisa menyusul diriku, tapi bocah ini amat lihay juga Ginkangnya.
sedikitpun tidak mau ketinggalan di belakang." Segera dia menghela
napas panjang serta berkata dengan tertawa: "Sudah sampai"
Si pemuda angkat kepala, dilihatnya gedang besar memakan
tanah yang amat luas, rumahnya ber-lapia2 memanjang ke
belakang, bentuknya megah serta mewah. Kedua pintu besar yang
bercat hitam sudah terbentang lebar, di depan pintu berdiri dua
laki2 muda berpakaian jubah hijau, sikapnya gagah dan kereng.
Kiranya adalah Kim-ing-ceng yang tersohor di kalangan persilatan-
Locengcu atau pemilik perkampungan tua ini bernama Kim Kaythay,
dia pula yang menjabat ciangbunjin dari murid preman Siaulim-
pay. Kaumpersilatan sama memanggilnya Kim- ting, Kim loyacu.
"Kim-ting" (hianglo emas tempat dupa) adalah julukan Kim
loyacu, konon dulu dua dijuluki It-kun-cui-kim-ting (sekali pukul
menghancurkan Hianglo), tapi karena kelima huruf ini kurang enak
dibaca, maka orang lebih suka memanggilnya Kim-ting saja. Dan
lagi Kim-ting secara kiasan juga mengandang arti dapat dipercaya
katanya.
Di bawah iringan The Si-kiat, si pemuda terus memasuki pintu
besar, melewati pekarangan luas dan panjang, memasuki pintu
kedua, di sini terjaga oleh dua pemuda baju hijau. begitu The Si-kiat
datang, segera mereka membungkuk hormat dan menyapa: "Suhu
sudah menunggu di ruang barat, silakan Toasuheng bawa tamu ke
kamar barat."
The Si-kiat mengiakan saja terus membelok ke arah kiri, setelah
menyusuri serambi panjang yang ber-belok2, mereka tiba di kamar
di sebelah barat.
Itulah sebuah kamar tersendiri yang berjendela kaca, sekeliling
kamar dipagari tanaman bunga aneka warna, gunung2an dan kolam
ikan, pajangan di sini sangat permai, terang ditangani seorang ahli.
Undak2an di depan pintu kamar berdiri pula dua laki2 jubah
hijau, kiranya mereka adalah murid Kim- loyacu.
Mengikuti langkah The Si-kiat, si pemuda langsung memasuki
kamar bunga itu, tampak di atas sebuah kursi besar membelakangi
dandang sebelah timur sana duduk seorang laki2 tua berkepala
botak. berjenggot putih bermuka merah, sorot matanya bersinar
tajam. begitu melihat muridnya membawa si pemuda masuk. segera
dia unjuk tawa serta berdiri menyambut.
Setelah dekat The Si-kiat berhenti serta berkata pada tamunya:
"Inilah guru kami."
Si Pemuda maju melangkah, kedua tangan terangkap memberi
hormat, katanya lantang: "Sudah lama kudengar nama besar Kimloyacu,
atas undangan ini, Wanpwe amat bersyukur dan
beruntung." Lekas The Si-kiat berkata lirih kepada gurunya: "Suhu,
inilah Ling-siangkong . "
Kim Kay-thay bermata panjang, dengan seksama dia awasi
pemuda jubah hijau ini, sudah tentu yang menarik perhatiannya
adalah buntalan panjang di belakang punggung si pemuda, bagi
seorang ahli tentu segera tahu bahwa buntalan ini berisi pedang
panjang.
Sambil mengawasi orang, tangan kanan Kim- loyacu terangkat
sambil berkata: "Tamu agung, tamu agung Silakan duduk. Silakan
duduk"
Si pemuda juga tidak sungkan2, dia duduk di kursi depan orang.
Seorang pemuda lain berbaju hijau lantas menyuguhkan minuman-
Kim Kay-thay berdehem kecil, lalu berkata dengan tertawa:
"Ling-siangkong, siapakah nama leng-kapmu .........."
"cayhe bernama Kun-gi."
"Tinggal di mana?"
"Di Ing- Ciu," sahut si pemuda alias Ling Kun-gi.
Kim Kay-thay manggut2, katanya: "Lohu dangar Ling-siangkong
punya sebutir mutiara hendak digadaikan lima ribu tahil perak?
Bolehkah kuperiksa?"
Ling Kun-gi merogoh kantong dan mengeluar-kan mutiara yang
terikat benang emas dan di- angsurkan-
Kim Kay-thay menerimanya serta mengamati-nya dengan teliti,
katanya kemudian: "Lohu ingin mohon sedikit keterangan dari Lingsiangkong,
entah sudikah menerangkan?"
Ling Kun-gi tertawa tawar, ujarnya: "Kim-loyacu ingin tanya soal
apa?"
Tajam tatapan mata Kim Kay-thay, katanya: "Apakah Lingsiangkong
tahu asal-usul mutiara ini?"
"Inilah barang peninggalan leluhur kami," jawab Ling Kun-gi. Jadi
mut iara itu adalah warisan leluhurnya.
"Siapakah nama gelaran ayah Ling-siangkong?" tanya Kim Kaythay.
"Ayah almarhum sudah meninggal sejak beberapa tahun, Kimloyacu
tanya soal ayah, apa-kah beliau ada sangkut pautnya dengan
mut iara ini?"
"Lohu hanya tanya sambil lalu saja, Ling-kongcu membekal
pedang ke mana2, tentunya kaupun dari kalangan persilatan?"
"cayhe hanya belajar beberapa jurus pukulan dan ilmu pedang,
baru saja mulai berkecimpung di Kangouw."
Sekilas terpancar sinar terang dari kedua biji mata Kim Kay-thay
yang sipit, katanya sambil manggut2: "Ling-siangkong gagah dan
cakap. tentunya dari keluarga persilatan ternama juga."
"Ayah almarhum dan ibu sama2 tak mahir ilmu silat, kepandaian
rendah yang cayhe miliki kuperoleh dari didikan guru."
"o, entah siapa nama crelaran guru Ling-siangkong?"
"Guruku tidak punya gelaran, namanya juga tidak ingin diketahui
orang lain."
Kim Kay-thay mengelus jenggot, katanya: "Guru Ling-siangkong
mungkin seorang tokoh persilatan lihay dan aneh tabiatnya."
"Dari mutiara wariaan keluarga kami ini, Kim- loyacu tanya asalusul
dan riwayat hidupku, apakah engkau menaruh perhatian atau
curiga terhadap mu-tiara milikku ini"
Sejenak Kim Kay-thay melengak. katanya ke-mudian sambil
tertawa: " Ling-siangkong jangan salah paham."
"Apa yang ingin Kim- loy acu ketahui sudah kujawab terus
terang. kini cayhe juga ingin tanya satu hal, entah Kim- loy acu sudi
memberi penjelasan t idak?"
Kim Kay-thay tetap tersenyum simpul, katanya: "Boleh Lingsiangkong
katakan."
"Kukira Kim- loyacu tentu pernah melihat mu-tiara yang mirip
dengan mutiara milikku ini?" kata Ling Kun-gi.
Sedikit berubah air muka Kim Kay-thay, ka-tanya tertawa: " Lingsiangkong
adalah kaum persilatan, tentunya juga sudah mendangar
peristiwa cin-cu-ling di kalangan Kangouw?"
"Ya, cayhe datang ke Kayhong memang ingin cari tahu tentang
cin-cu-sing yang menggemparkan dania persilatan itu."
Terunjuk rasa heran pada wajah Kim Kay-thay, tanyanya:
"Apakah Ling-siangkong sudah tahu?"
Menegak alis Ling Kun-gi, katanya sambil ter-tawa keras. "Itu
terserah kepada Kim- loyacu. apakah sudi mengunjukkannya kepada
cayhe"
Tak urung berubah juga roman muka Kim Kay-thay, katanya: "
Ucapan Ling-siangkong tidak beralasan, darimana lohu biaa
mempunyai cin-cu-ling itu?"
"Waktu cayhe berangkat, sudah kudangar bahwa Lok-san Taysu,
pimpinan ruang Yok-ong-tian di Siau lim-si mendadak hilang, di
tempatnya tertinggalkan sebutir cin-cu-ling, Hongt iang ketua Siaulim-
si sudah serahkan cin cu-ling itu kepada Kim-loyacu,
memangnya kabar ini hanya berita angin belaka?"
Dingin sikap Kim Kay-thay, katanya: "Semula kukira guru Lingsiangkong
adalah tokoh aneh yang mengasingkan diri dan jarang
berkecimpung di dunia persilatan- .... "jelas nadanya penuh
sindiran-
Ling Kun-gi tertawa lebar, katanya: "Guruku memang suka
mencampuri urusan tetek-bengek, sejak tiga puluh tahun yang lalu
sampai sekarang, tabiat ini tak pernah berubah."
Sekilas terpancar perasaan aneh pada wajah Kim Kay-thay,
tanyanya prihatin: "Siapakah sebetulnya gurumu?"
"Tadi sudah cayhe jelaskan, guruku tidak punya gelar, kalau Kimloyacu
ingin tahu, boleh selidiki dari permainan beberapa jurus
pukulanku"
Kim Kay-thay naik pitam, katanya kereng: "Jadi maksud
kedatanagnmu bukan ingin menggadai mutiaramu itu?"
"Sama2," ujar Ling Kun-gi tertawa: "Kim-loyacu mengundangku
kemari, tentunya juga bukan ingin bicara soal nilai gadai mutiaraku,
bukan?"
"Sombong benar kau anak muda" dangus Kim Kay-thay. Sudah
banyak tahun tiada orang berani bertingkah dihadapan Kim-loyacu,
tak heran dia naik pitam.
Ling Kun-gi tertawa lebar, katanya: "Setua umur guruku,
selamanya tak ada yang terpandang olehnya, cayhe adalah ahli
waris guruku satu2nya, memangnya siapa pula yang bisa
terpandang dalam mataku?"
Berubah gusar wajah Kim Kay-thay, serunya tertawa: "Bagus
sekali, Lohu ingin tahu murid siapa kau sebetulnya?" lalu ia letakkan
mut iara itu diatas meja, katanya pula: "Kalau Ling siangkong tidak
menggadaikan mutiara ini, silahkan ambil kembali."
"Memang betul ucapan Kim-loyacu." Kata Ling Kun-gi, segera
tangan di ulur mengambil mutiara itu terus dimasukkan ke kantong
bajunya. Berkilat biji mata Kim Kay-thay, serunya berat: "Si-kiat"
"Tecu siap" sahut The Si-kiat membungkuk.
Kim Kay-thay berpesan: "Tujuan Ling-siang-kong adalah gurumu,
boleh kau minta belajar beberapa jurus padanya, dari permainannya
nanti, mungkin aku bisa mengenal perguruannya. "
"Tecu mengerti," sahut The si- kiat, lalu dia menjura kepada Ling
Kun-gi, katanya: "Ling-siangkong ingin memberi petunjuk. mari
silakan bergebrak di luar, di sana lebih luas."
"Menjajal kepandaian bukanlah main tombak di atas kuda, cukup
dua-tiga langkah saja cukup, kalau bergebrak di sini Kim- loyacu
tentu bisa dapat menyaksikan lebih jelas."
The Si-kiat tertawa dingin, katanya: "Kalau Ling-siangkong
berpendapat demikian, bolehlah gebrak di sini saja." kembali dia
menjura serta menambahkan: "Silakan Ling-siangkong memberi
pelajaran,"
Sambil mengawasi orang Ling Kun-gi mengulum senyum lebar,
katanya: "Selamanya cayhe tidak pernah menyerang lebih dulu,
harap The-ya tidak usah sungkan-" terang dia sangat meremehkan
The Si-kiat.
The Si-kiat adalah murid tertua Kim-t ing Kim-loyacu, di antara
murid2 preman Siau-lim-pay, dia merupakan jago yang
berkepandaian tinggi, kini ia dipandang hina sedemikian rupa oleh
Ling Kun-gi yang masih muda belia dan pupuk bawang lagi, sudah
tentu hatinya geram setengah mati, namun dia hanya mendengus,
katanya: "Baiklah bila aku berlaku kasar" diam2 dia menghirup
napas panjang dan mengerahkan tenaga, tangan kanan melindungi
dada, serangan segera siap dilancarkan.
"Si-kiat," tiba2 Kim Kay-thay membentak. "tunggu sebentar."
Lekas The Si-kiat membatalkan dan menarik kuda2nya, sahutnya
membungkuk: "Ada pesan apa, suhu?"
"Betapapun Ling siang kong adalah tamu kita, jangan se-kali2
berlaku kasar padanya," kata sang guru.
Berlaku kasar artinya tidak boleh mencabut nyawanya tapi boleh
kau beri ajaran setimpal biar kapok.
"Tecu mengerti," sahut The Si-kiat. ia membalik badan dan
telapak tangan kiri terbuka, kepalan tangan kanan melingkar di
depan dada, serunya: " Ling-siangkong, hati2lah" begitu telapak
tangan kiri bergerak. tahu2 kepalan tangan kanan mendahului
menggenjot pundak Ling Kun-gi, yang dilancarkan adalah ilmu coanhoa-
kun (pukulan menyelinap bunga)... .
Ling Kun-gi pun tidak menyingkir, ia tunggu kepalan The si- kiat
hampir mengenai pundaknya, mendadak sedikit miringkan badan,
kaki kiri melangkah setengah tindak. di mana tangan kiri terangkat,
dia tepuk pundak kanan The si-kiat, serangan balasan ini datang
lebih dulu malah. Justru yang dimainkan ini aneh dan lucu
tampaknya, walau tepukannya enteng seperti tidak menggunakan
tenaga, tapi pukulan The Si-kiat mengenai tempat kosong,
gerakannya sukar dihentikan lagi, dia terhuyung ke depan lima
langkah.
Berubah air muka Kim Kay-thay karena gerakan Ling Kun-gi mirip
sekali dengan Tui-liong-jip-hay (dorong- naga masuk laut), salah
satu jurus cap-ji-kim-liong jiu dari perguruannya, cuma Ling Kun-gi
melancarkan jurus ini dengan tangan kiri, jadi berlawanan dengan
kebiasaancap-
ji-kim-liong-jiu (dua belas jurus tangkap naga) adalah salah
satu dari 72 ilmu silat Siau-lim-pay. Termasuk 12 tingkatan teratas
dari deretan ilmu lihay Siau-lim-pay, ilmu ini diciptakan oleh cikal
bakal Siau-lim-pay yaitu Bodhi Dharma setelah dia menyelami Ih
Kin-keng, kecuali murid2 Hou-hoat atau pembela biara, ilmu ini tidak
pernah di ajarkan kepada murid2 preman-
Sebagai murid tertua dan berkepandaian paling tinggi di antara
murid2 Kim Kay-thay, ternyata dalam gebrak permulaan saja dirinya
sudah kecundang, sudah tentu The Si-kiat malu bukan main, mulut
menggerung, tiba2 badannya berputar cepat, berbareng kedua
tangan menyerang secara membadai.
Karena sudah kecundang, maka jurus permainan selanjutnya
tidak kepalang tanggung lagi, ia melancarkan Hak hou cio hoat (ilmu
pukulan penakluk harimau) dari Siau lim-pay. Ilmu ini cukup
terkenal dalam bu-lim dengan kekuatan dan kekasarannya, begitu
dikembangkan perbawanya ternyata bukan olah2 hebatnya, setiap
gerakan jurus tangannya membawa deru angin kencang seperti
badai mengamuk, kekuatannya cukup menghancurkan pilar batu.
Tak tahunya Ling Kun-gi melayaninya seperti tidak terjadi apa2,
sikapnya adem ayem, kedua kaki tetap berdiri di tempat tak
bergeser sedikitpun, hanya badannya saja yang bergontai kian
kemari, namun setiap serangan lawan dapat dihindarinya dengan
mudah.
Dirangsang amarah, tentu saja serangan The Si-kiat semakin
bersemangat dan tumplek seluruh kepandaian silatnya, jurus ketiga
adalah Jiu kip-pau-tan (tangan merogoh ulu harimau), jari2nya
berbalik merogoh ke bawah dari bawah pergelangan tangan yang
lain, bagai kilat tahu2 serangannya mengincar ulu hati Ling Kun-gi.
Begitu cepat dan ganas serangan ini. Jarak keduanya dekat lagi,
pula badan Ling Kun-gi masih miring ke samping karena
menghindari jurus kedua tadi, gerakannya jadi sukar berubah dan
tak mungkin berkelit lagi. Diam2 The Si- kiat mendengus hina,
tenaga dia kerahkan ketangan kanan, gerakanpun dipercepat.
Tatkala jari tangannya menyentuh baju Ling Kun gi itulah,
mendadak terasa pergelangan tangan kanan mengencang sakit,
tahu2 tangan orang sudah mencengkeram pergelangan tangannya.
keruan hatinya mencelos kaget, baru saja dia hendak meronta,
namun sudah terlambat.
Kejadian berlangsung begitu cepat dalam sekejap saja, Ling Kungi
tetap mengulum senyum. sedikit dia gerakkan tangan kiri. badan
The Si-kiat yang tinggi tegar itu tiba mencelat dan terbanting jatuh..
Sebagai murid preman angkatan kedua dari Siau-lim-pay.
kepandaian The Si-kiat sebetulnya tidak lemah, di tengah udara dia
sempat mengarahkan Jian-kin-tui, kedua kakinya hinggap di atas
tanah dan berhasil mempertahankan diri. Sehingga tidak jatuh
namun mukanya yang sudah merah kelam menjadi semakin gelap
seiring malu, katanya dengan tertawa tawa: " Ling-siangkong
memang hebat." Segera dia hendak menubruk maju lagi.
Betapa tajam pandangan Kim Kay-thay, dari jurus kedua yang
dimainkan Ling Kun-gi ini dia sudah yakin bahwa ilmu itu adalah cap
ji-kim-liong-Ciu, tipu yang dinamakan Ih-kim-ko-Yong (hendak
ditangkap sengaja menurut saja), cuma bedanya dia tetap
melancarkan jurus secara terbalik, dengan tangan kiri, keruan
hatinya terkesiap. diam2 ia membatin: "Mungkinkah dia murid
beliau?" Tanpa menunggu The Si-kiat bergerak lebih lanjut, cepat ia
membentak: "Si-kiat berhenti"
Mendangar seruan gurunya, lekas The Si-kiat meluruskan kedua
tangan, sahutnya mengangkat kepala:
"Suhu, ini ......". dia ingin bilang "Tecu belum kalah."
Namun Kim Kay-thay segera menyela: "Tak usah dilanjutkan, kau
bukan tandingan Ling-lote. "
The Si-kiat tak berani banyak bicara, namun batinnya tidak
terima dan penasaran sekali.
Kim Kay- thay tidak hiraukan sikap muridnya, ia berdiri dengan
muka berseri ia berkata kepada Ling Kun-gi: " Ling-lote, silakan
duduk."
Dari Ling-siangkong mendadak dia menyebutnya Ling-lote
(saudara Ling), nadanyapun jauh lebih ramah dan hormat.
Diam2 The Si-kiat menggerutu dalam hati, namun dia juga dapat
mengira gurunya berpengalaman luas, dari dua gebrakan tadi, tentu
beliau sudah tahu asal-usul Ling-siangkong ini.
Ling Kun-gi tersenyum penuh arti, tanpa bicara ia kembali ke
tempat duduk semula.
Mengawasi Ling Kun-gi, berkatalah Kim Kay-thay dengan tulus:
"Ingin kutanya suatu hal, entah sudikah Ling-lote memberitahu?"
Dari nada ucapannya jelas berubah jauh sekali pandangannya
terhadap anak muda ini, walau dirinya lebih tua, sedikitpun ia tak
berani angkuh lagi. "Kim-loyacu ingin tanya apa?" jawab Ling Kun
gi.
"Gurumulah yang ingin kutanyakan, apakah beliau seorang
beribadat?"
Ling Kun-gi hanya tertawa, katanya: "Tadi sudah kukatakan,
guruku tidak punya gelar dan tidak mau disebut namanya, terpaksa
tak bisa kujawab pertanyaan Kim loyacu."
"Tidak apa, kalau Ling-lote tidak mau memberitahu, akupun tidak
memaksa," sebentar Kim Kay-thay merandek lalu bertanya pula
dengan tatapan tajam: "Jadi Ling-lote kemari lantaran cin-cu-ling
itu"
"Betul," Ling Kun-gi mengangguk.
"Bolehkah Ling-lote bicara sedikit lebih jelas?"
"Baiklah akan kujelaskan- Akhir tahun yang lalu, secara
mendadak ibuku menghilang. ."
"o," Kim Kay-thay bersuara kaget, "apa-kah ibumu juga orang
persilatan?"
"Tidak. ibu sedikitpun t idak mahir ilmu silat."
"lbumu tidak bisa silat?" seru Kim Kay-thay penuh keheranan.
"Aneh sekali, jadi Ling-lote, kira hilangnya ibumu ada sangkut
pautnya dengan cin-cu-ling?"
"Aku sendiripun tidak tahu, tapi begitulah kata guruku. Loh-san
Taysu, pimpinan Yok-ong-tian di Siau-lim-si mendadak lenyap. di
tempatuya konon ditinggalkan sebutir cin-cu-ling, maka cayhe
disuruh ke sini menemui Kim-loyacu untuk mencocokkan apakah
cin-cu-ling itu mirip dengan mutiara warisan keluargaku atau tidak?"
"Peristiwa hilangnya Loh-san suheng amat dirahasiakan, hanya
beberapa orang saja dari pihak Siau-lim-si yang mengetahui, boleh
dikatakan tiada seorang kangouwpun yang tahu, bahwa Ling-lote
kemari atas perintah gurumu, baiklah tak perlu kumain sembunyi
lagi, Waktu Loh-san Suheng hilang, di tempat tinggalnya memang
ditemukan sebutir cin-cu-ling, karena para paderi Siau-lim-si jarang
yang keluyuran di Kangouw, maka tugas mencari jejak Loh-san
Suheng ini oleh ciangbun Hong-t iang diserahkan kepadaku, maka
mut iara itupun kini berada ditanganku"- Sampai di sini dia berdiri
dan menambahkan, "Harap Ling-lote tunggu sebentar, biar
kuambilkan mutiara itu."
"Kim- loyacu boleh silakan," sahut Ling-Kun gi sambil berdiri. .
Bergegas Kim Kay-thay masuk ke dalam, tak lama kemudian
keluar pula sambil menenteng sebuah bungkusan kain warna
kuning, ia duduk kembali di kursinya terus membuka bungkusan
kain kuning itu, isinya adalah sebuah kotak persegi kecil dari kayu.
Dengan hati2 dia buka kotak kecil itu, lalu mengeluarkan sebutir
mut iara sebesar telur burung dara, katanya: " Ling-lote, inilah cincu-
ling itu." Ling - Kun-gi menerimanya serta meng-amat2i dengan
seksama, mutiara inipun bolong tengahnya dan disisipi benang
emas, sebelah atasnya ada ukiran huruf "Ling" warna merah
menyolok, bentuknya mirip sekali dengan mutiara warisan
keluarganya, cuma besar kecilnya saja yang berbeda, sampaipun
ikatan benang emas itu satu sama lain juga sama. Ling Kun-gi
angkat kepala dan bertanya:
"Apakah Kim- loyacu sudah mendapatkan hasil penyelidikan yang
diharapkan?"
Kim Kay-thay menggeleng kepala, katanya tertawa getir: " Walau
Ling-lote tidak mau katakan asal-usul perguruan, bahwa gurumu
suruh kau ke Kayhong untuk menemuiku, itu pasti ada hubungan
intim ada diantara kita. maka biarlah kuterus terang, anak murid
preman Siau-lim si tersebar luas di-mana2, dan banyak diantaranya
yang membuka Piaukiok, cabang kitapun tersebar ke segala
pelosok. dalam jangka tiga bulan ini sudah kuberi instruksi kepada
mereka untuk menyelidikinya secara ketat. di samping mengadakan
sergapan bilamana yang dianggap mencurigakan, namun bukan saja
jejak Loh-san Suheng tetap tidak ditemukan, soal cin-cu-ling inipun
nihil hasilnya, cuma aku jadi ingat akan suatu hal"
Sambil mengelus jenggotnya, tiba2 dia berhenti.
"Kim loyacu ingat akan hal apa?" tanya Ling Kun-gi.
Kim Kay-thay tidak segera menjawab, dia merenung sebentar,
lalu balas bertanya: "Apakah ibumu pandai menggunakan racun?"
Ling Kun-gi tertegun, sahutnya tertawa: "Tadi sudah kukatakan,
ibu bukan kaum persilatan, sudah tentu beliau tidak bisa
menggunakan racun."
"Kalau demikian apakah ibumu pandai tata rias atau..
pengobatan?"
Tanpa pikir Ling Kun-gi menjawab, "ibu t idak tahu soal obat2an-"
"Aneh kalau begitu," Kim Kay-thay, "sebetulnya tiada alasan
mereka menculik ibumu."
Ling Kun-gi tampak bingung, tanyanya: "cayhe tidak tahu, apa
maksud ucapan Kim-loyacu."
"Itu dasarnya pada analisa dari tiga peristiwa yang baru2 ini
terjadi di Kangouw. Tapi ibumu bukan kaum persilatan, tidak tahu
obat2an, juga tidak mengerti soal racun, namun juga lenyap tak
keruan parannya, kini gurumu suruh kau kemari menemuiku pula,
kalau gurumu anggap soal ini ada sangkut pautnya dengan cin-culing,
tentu urusan tidak akan meleset sama sekali analisaku tadi
menjadi harus diragukan-"
"Bagaimana analisa Kim-loyacu, bolehkah diterangkan?" tanya
Ling Kun-gi.
"Setelah Loh-san Suheng lenyap. tersiar pula berita di kalangan
Kangouw bahwa ketua keluarga Tong di Sujwan dan keluarga Un di
Linglam juga lenyap secara aneh, keluarga mereka juga menemukan
cin-cu-ling di kamarnya, ini membuktikan bahwa ketiga orang
ini pasti dikerjai orang dari suatu golongan-"
"Kenapa mereka tidak meninggalkan cin-cu-ling dikala ibuku
lenyap?" tanya Ling Kun-gi.
"Tiga orang yang lenyap itu, keluarga Tong di Sujwan adalah ahli
dibidang ilmu senjata rahasia dan racun, keluarga Un di Ling lam
tersohor karena obat2 bius, sedang Loh-san Suheng menguasai ilmu
obat2an, karena itu aku menduga, bahwa ketiga orang ahli dibidang
masing2 ini sengaja diculik dan tidak terlepas dari dua kemungkinan
. ... ..."
"Dua kemungkinan apa?" tanya Ling Kun-gi tak sabar.
"Pertama, di antara komplotan orang2 itu pasti terdapat salah
seorang tokoh penting yang terluka oleh sesuatu racun jahat,
mungkin sudah diobati berbagai macam obat dan tetap tak
sadarkan diri. oleh karena itu terpaksa mereka menculik kedua ahli
racun dan obat bius dari keluarga Tong dan Un itu, demikian pula
Loh san Suheng yang ahli dalam bidang pengobatan, dugaan ini
menjurus pada darma bakti demi keselamatan jiwa orang, jadi
mereka diculik untuk menolong jiwa manusia."
"Lalu bagaimana dugaan yang menjurus ke kejahatan?"
"Itulah dugaan kedua, komplotan ini mempunyai maksud2
tertentu dengan ambisi besar, bahwa ketiga orang ini diculik untuk
alat pemeras kepada keluarga Tong dan Un agar menyerahkan
catatan rahasia dari ilmu masing2 yang sudah turun temurun sejak
leluhur mereka."
"Lalu apa pula tujuan mereka menculik Loh--san Taysu?" tanya
Ling Kun-gi.
Kim Kay-thay menghela napas, katanya: "Kak-tam-wan buatan
Siau-lim-si dapat mengobati segala macam racun, resep
pembuatannya sudah turun temurun sejak ratusan tahun lumanya,
hanya pimpinan di Yok-ong-thian saja yang tahu akan resep ini,
bahwa Loh-san suheng juga mereka culik, tujuannya sudah tentu
untuk membuat Kak-tam-wan. Ini sih urusan kecil, sebab kecuali
tiga orang ini bukan mustahil mereka juga menculik tokoh2 lain
yang ahli dalambidang ini? Hal inilah jauh lebih mengerikan-"
" Kenapa?" Ling Kun-gi menegas.
"Ini membuktikan bahwa komplotan ini sedang merancang suatu
muslihat yang besar. Mereka khusus menculik orang2 ahli di bidang
racun, obat bius dan obat2an, tujuannya tentu hendak- membuat
suatu obat yang mengerikan untuk mencelakai jiwa kaum
persilatan" Sampai di sini nadanya jadi lebih tandas: "Gerak-gerik
komplotan ini serba misterius dan sangat rahasia, kalau mereka
tidak meninggalkan cin-cu-ling, bukankah kita lebih sukar lagi untuk
menyelidiki hal ini?" mendadak sorot matanya menjadi berkilau,
tanyanya: "Apakah Ling-lote tahu asal-usul dari mutiara warisan
keluargamu itu?"
"Entah, sejak kecil mutiara ini sudah selalu berada dibadanku,"
Ling Kun-gi menjelaskan-
"Gutumu juga tidak pernah menjelaskan"
"Tidak." jawab Ling Kun-gi, tiba2 dia berdiri serta menjura:
"Terima kasih atas petunjuk dan kete-rangan Kim- loy acu, sekarang
cayhe mohon diri saja."
"Harap Ling-lote duduk lagi sebentar, masih ada suatu hal perlu
kusampaikan-"
"Kim-loyacu masih ada petunjuk apa?."
"Menurut apa yang kuketahui, kecuali keluarga Tong dan Un, di
kalangan Kangow masih ada satu keluarga yang pandai dan ahli
juga menggunakan racun- ........"
" Keluarga mana," tanya Ling kun-gi.
"Llong-bin-san-ceng (perkampungan gunung naga tidur), tapi
mereka jarang bergerak di kalangan Kangouw), maka jarang orang
tahu akan kehadiran mereka, menurut apa yang kuketahui,
komplotan cin-cu-ling agaknya belum bertindak terhadap Liong-binsan-
ceng, tidak ada ruginya Ling-lote memperhatikan juga soal ini."
"Terima-kasih atas petunjuk ini" habis menjura Kun-gi panggul
buntalannya serta melangkah Keluar. Ter-sipu2 kim Kay-thay
mengantar sampai undakan. lalu dia suruh The si-kiat antar
tamunya sampai diluar pintu. Sudah puluhan tahun The Si kiat
mendapat bimbingan gurunya, dia tahu bahwa pemuda she Ling ini
punya asal usul yang bukan sembarangan, setelah Ling Kun-gi
pergi, lekas dia kembali kekamar dan bertanya pada gurunya:
"Suhu, apakah engkau sudah tahu asal usulnya?"
Prihatin air muka Kim Kay-thay, katanya sungguh2 "Dua jurus
yang dia tunjukan tadi adalah tipu2 dari cap-ji-kim-liong-jiu, cuma
dia bergerak secara kidal, kalau dugaan gurumu tidak meleset,
kemungkinan dia adalah ......."
The Si-kiat terperanjat, serunya: "Maksud suhu, dia murid
Susiokco?" Kim Kay-thay tidak bicara lagi, dia hanya manggut2.
Konon 50 tahun yang lalu pernah muncul seorang maling
pendekar. Maling pendekar maksudnya dia mencuri untuk pihak
yang lemah, bukan saja dia memberantas kelaliman dan kejahatan,
iapun membantu kaum miskin dan lemah melawan yang kuat dan
batil, karena dia bekerja secara terbuka dan terang2an, ilmu silatnya
teramat tinggi lagi, biasanya jejaknya sukar ditemukan, hanya
sering mendengar namanya tapi tidak pernah melihat orangnya,
sudah tentu jarang ada orang yang tahu asal-usulnya. Maka orang
banyak lantas memberi julukan It-tin-hong (angin lalu) kepadanya.
Maksudnya dia pergi datang seperti angin lalu.
It-tin-hong punya tabiat aneh, yaitu dia pandang kejahatan
sebagai musuh kebuyutan, pejabat korup dan kikir, buaya darat dan
tuan tanah yang memeras rakyat jelata semua disikatnya habis2an.
Kaum persilatan dari golongan hitam yang sudah berlepotan darah
kedua tangannya karena kejahatan yang kelewat batas juga
diganyang olehnya, mending kalau hanya dipunahkan ilmu silatnya,
bagi yang berdosa di luar batas, kalau tidak terluka parah tentu jiwa
melayang.
Entah bagaimana kemudian jejaknya menghilang dari kalangan
Kangouw, It tin- hong lenyap tak karuan paran, ternyata ia telah
cukur rambut dan menjadi pendeta di kuil Siau-lim-si di Hoalam,
setelah jadi Hweslo gelarannya adalah Tay-thong.
Sekejap mata 20 tahun telah berlalu, umumnya ajaran agama
mengutamakan welas asih dan bijaksana, setelah dia insyaf tindak
kekerasannya dan patuh kepada ajaran agama, tak terduga pada
suatu hari seorang musuh yang pernah dipunahkan ilmu silatnya
dapat mengenali dia bahwa Tay-thong Hwesio adalah It-tin-hong.
Tata tertib siau lim si amat keras, begitu para Hweslo dalam kuil
agung itu tahu bahwa Tay-thong Hweslo adalah It-tin-hong yang
dosanya bertumpuk2, mereka anggap kehadirannya dibiara besar
itu menodai dan merusak kesucian agama mereka, maka t imbul
keributan dan pertentangan, ada yang mengusulkan supaya
punahkan saja ilmu silatnya serta mengusirnya pergi dari kuil. sudah
tentu Tay-thong Hweslo marah, katanya:
"Kalau sang Budha tidak meluluskan aku meletakkan golok
pembunuh, akupun tidak pingin menjadi seorang Budhis lagi, tapi
ilmu silat yang kumiliki tidak melulu kupelajari dari siau-lim-si saja,
kalian tidak berhak memunahkan ilmu silatku. Soal apa yang pernah
kupelajari di Siau- lim-si ini, setelah meninggalkan Siau-lim-si pasti
tidak akan kugunakan lagi."
Begitulah akhirnya Tay-thong Hweslo meninggalkan Siau- lim-si.
Sudah tentu ada juga para Hweslo yang ingin menahan dan
merintangi kepergiannya, tapi selama dua puluhan tahun
menggembleng diri di biara agung itu, pelajaran silat yang
diyakinkan sudah teramat tinggi, tiada seorangpun yang mampu
menahannya.
Sejak itu, muncul pula di kalangan Kangouw seorang pendekar
aneh yang menyebut dirinya Tay-thong Hwesio, sifanya tidak
pernah berubah, kejahatan dipandangnya sebagai musuh, ilmu silat
yang dimainkan sudah tentu ada yang berasal dari Siau-lim-pay,
cuma setiap jurus yang dia gunakan dengan tangan kiri, jadi jurus
permainannya terbalik dan berlawanan dengan silat Siau-lim-pay.
Maka orangpun memberinya nama Hoan-jiu-ji-lay (Buddha Kidal).
Itulah peristiwa tiga puluh tahun yang lalu. Maka bicara soal
tingkatan, Hoan jiu-ji-lay masih terhitung Susiok dari It-wi Taysu,
Hongtiang siau-lim-si sekarang, juga dengan sendirinya Susiok dari
Kim-ting Kim Kay thay.
Hari belum gelap. namun rumah2 penduduk Kayhong sudah
sama pasang lampu. Lalu lintas masih ramai dijalan raya. Tampak
diantara sekian yang mengayun langkah itu ada seorang pemuda
baju hijau memanggul buntalan panjang melintas jalan menuju ke
ujung jalan sana, di mana terdapat sebuah gang kecil yang sempit,
di mulut gang sempit ini berdiri seorang, tak terlihat wajahnya.
Umumnya orang2 yang berdiri di mulut gang kalau bukan begal,
tentu juga bukan orang baik2 yang sedang mengincar mangsanya.
Begitu melihar pemuda jubah hijau menghampiri orang itu segera
memeluk kedua tangan di depan dadanya, kedua biji matanya
dengan nanar mengawasi gerak-geriknya, lekas sekali si pemuda
sudah mendekat dan lewat di mulut gang, dalam sekejap orang
itupun sudah menemukan apa2 yang diincar dari badan pemuda
jubah hijau, ternyata pemuda jubah hijau mengenakan ikat
pinggang atau sabuk yang terbuat dari kain sutera warna kelabu. .
tepat di ujung kiri pinggangnya dihiasi sebutir mutiara dengan
seutas benang mas. Mut iara itu sebesar telur burung dara.
Maka orang itu tidak sangsi lagi, bergegas dia melompat keluar
serta mengejar dua langkah, katanya sambil unjuk tawa lebar:
"Siangkong, inilah surat untukmu."
Si pemuda melengak dan berhenti, dengan tajam ia menatap
muka orang di depannya.
Dengan gugup orang itu menyetahkan sepucuk surat kepada si
pemuda terus tinggal pergi dengan langkah tergopoh2.
Pemuda jubah hijau ini ialah Ling Kun-gi, sekian lamanya ia
melongo mengawasi sampul surat ditangannya, walau merasa
heran, akhirnya dia buka sampul itu dan membaca isi surat yang
tertulis di atas secarik kertas kuning, bunyinya demikian: "Serahkan
kepada si mata satu di luar Ho-sing-bio di Hek-kang."
Ling Kun-gi tertegun membaca surat ini, cepat otaknya berpikir:
"Jelas surat ini salah alamat, mungkin orang tadi salah mengenali
aku." Waktu ia angkat kepala, orang yang menyerahkan surat tadi
sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.
Mau tak mau tergerak juga hati Ling Kun-gi, batinnya: " Dari
nada surat ini, agaknya seorang persilatan hendak mengirim
sesuatu barang. Memangnya aku sedang menyelidiki cin cu-ling,
kenapa tidak kupergi ke Hek-kang menunggu di luar Ho-sio-bio
untuk melihat apa yang akan terjadi di sana"
Tapi segera dia berpikir pula:" Dalam surat sudah dijelaskan
untuk menyerahkan entah barang apa kepada seorang yang buta
sebelah matanya di luar Ho-sin-bio. Liu apa gunanya ku pergi ke
sana. toh aku tidak punya barang yang dimaksud? Sedangkan surat
pengantar ini sudah terjatuh ke tanganku, orang yang harus
menyerahkan barang tak mungkin menuju ke alamat yang
ditentukan tanpa membawa surat ini."
Sampai di sini tiba2 dia menduga kalau orang tadi telah salah
menyerahkan sampul surat ini kepada dirinya, pasti orang yang
seharusnya menerima sampul surat ini berperawakan mirip dirinya,
kenapa tidak kutunggu saja di sini, kalau nanti ada orang yang mirip
diriku datang kemari? Bukankah lebih baik kalau dia yang
menyerahkan barang itu ke Ho-sin-bio?
Dengan bibirnya dia basahi sampul surat serta menutup rapat
pula sampul surat itu, kini ganti dia yang berjaga di ujung gang
sempit tadi, buntalan panjang dipunggungnya dia turunkan dan
diletakkan di kaki tembok yang gelap. Tak lupa dia meraih
segenggam tanah kering lalu mengusap muka sendiri dengan debu
tanah itu lalu ia berdiri bertopang dinding dan menunggu dengan
sabar.
Tak lama kemudian, betul juga dari ujung jalan raya sebelah
barat sana muncul sesosok bayangan orang, ternyata iapun
memanggul sebuah buntalan panjang, perawakannya tinggi lencir,
karena jarak masih jauh, tak terlihat jelas wajahnya. Langkahnya
tampak tenang2, tidak gugup dan mantap, se-akan2 dijalan raya itu
hanya dia sendiri yang berjalan-
Sekejap saja si baju biru ini sudah tiba di ujung gang. Kini Ling
Kun-gi dapat melihat jelas, laki2 ini berusia empat- lima likuran,
wajahnya memang cakap. cuma sikapntya angkuh, dingin dan kaku.
Ling Kun-gi tunggu orang berjalan sampai di mulut gang dan
segera memburu maju serta berkata: "Siangkong, inilah surat
untukmu" Dengan kedua tangan dia angsurkan sampul tadi.
Langkah si baju biru merandek. dengan sebelah tangan dia
terima sampul itu tanpa berpaling, sekenanya tangan yang lain tiba2
menggablok ke belakang.
Tak pernah terpikir oleh Ling Kun-gi orang akan menyerang
dirinya dengan cara ganas ini, ada niat menangkis, tapi cepat sekali
otaknya bekerja, pikirnya: "Dia ingin membunuhku untuk menutup
mulutku, maka aku jangan menangkis."
Diam2 ia kerahkan hawa murni untuk melindungi Hiat-to dan
terima pukulan keras orang.
"Blang", walau tidak berpaling, namun gerakan tangan orang
mengincar sasaran secara tepat, pukulannya tepat mengenai dada
Ling Kun-gi. Dengan mengeluarkan keluhan tertahan Ling Kun-gi
terjengkang roboh. Tanpa berhenti atau meneliti korbannya si baju
biru terus beranjak ke depan tanpa menoleh.
Diam2 Ling Kun-gi tersirap darahnya setelah menerima pukulan
keras laki2 baju biru ini, pikirnya: "Tak nyana pukulannya ini
mmggunakan Jong-jiu-hoat dari aliran Lwekeh."
Sudah tentu tak pernah terpikir oleh si baju biru kalau ada orang
menguntit dirinya, dengan langkah berlenggang dia terus beranjak
ke depan, setiba di pintu utara, di depannya mengadang tembok
kota yang beberapa tombak tingginya.
Sekali kaki menutul, si baju biru segera melayang naik laksana
luncuran anak panah ke atas tembok kota yang tinggi, sekali kaki
menutul pula dengan enteng, badannya melayang turun keluar
tembok kota.
Dari tempatnya Ling Kun-gi diam2 kaget memyaksikan
kepandaian orang, batinnya: "Bagi jago kosen Bulim bukan soal
untuk melompat setinggi empat-lima tombak, tapi orang ini masih
begini muda, namun sudah memiliki kepandaian setinggi ini" Karena
merasa curiga, bertambah besar pula hasratnya untuk menguntit
laki2 baju biru untuk me-nyaksikan barang apa pula yang hendak di
antar ke Ho-sin-bio
Segera iapun melayang ke atas tembok kota, dari tempat
ketinggian dilihatnya sesosok bayangan meluncur di kejauhan sana
secepat terbang, arahnya ke utara. Ling Kun-gi tidak berani ayal, dia
menghirup napas panjang dan melayang turun sambil
mengembangkan Ginkang terus menguntit laki2 baju biru dari
kejauhan-
Kira sepuluh li kemudian, di depan sana adalah sebuah bukit
kecil, kiranya itulah Hek-kang atau bukit tandus hitam. Setiba di
bawah bukit, gerakan laki2 baju biru menjadi lambat, kembali dia
berjalan dengan langkah lebar, lambat tapi mantap. terus menanjak
ke atas bukit.
Dlam2 Ling Kun-gi geli, pikirnya: "Orang ini pandai berpura2 dan
ber-muka2, sungguh terlalu angkuh dan sombong." Setelah tiba di
Hek-kang, sudah tentu sebentar lagi akan sampai di Ho sin-bio.
Ingin Ling Kun-gi mengetahui barang apa yang hendak
diserahkan kepada orang buta satu itu? Maka jaraknya tidak boleh
terlalu jauh. Untung semakin dekat puncak bukit, tetumbuhan
pohon juga lebih lebat, sebat sekali Ling Kun-gi menyelinap masuk
ke dalam hutan, dari balik bayang2 pohon dengan cepat dia
meluncur ke atas bukit. cepat sekali dilihatnya bayangan tembok
merah dan ujung wuwungan, sebuah kelenteng terselubung di balik
lebatnya pepohonan di atas sana, ternyata dirinya berada di
belakang kelenteng, jadi Ho sin-bio ini di bangun menghadap utara.
Ling Kun-gi t idak tahu siapa dan bagaimana asal-usul orang buta
sebelah yang akan menerima barang, maka dia tidak berani
gegabah, dengan mengembangkan Ginkang dia berlompatan di
pucuk pohon terus berputar dari arah kanan menuju ke depan-
Ho-sin-bio terdiri dari tiga lapis bangunan ke-lenteng, waktu Ling
Kun-gi tiba di sebelah kanan, betul juga dilihatnya seorang tua buta
sebelah mata berpakaian hitam telah berdiri menunggu dengan laku
hormat di luar kelenteng. . Tak lama kemudian laki2 baju birupun
muncul dengan langkah pelan2.
Ter-sipu2 laki2 tua mata satu menyongsong maju, sambil
munduk2 dia menyambut dengan tawa lebar, katanya: "Atas
perintah Ho-sin-ya, sejak tadi hamba sudah menunggu disini"
Laki2 baju biru berkata dingin: "Mata kirimu picaku ternyata mata
kananmu masih awas"
Si mata satu munduk2 lagi, katanya tertawa: "Ya, ya, hamba
picak mata kanan bukan mata kiri."
"Bagus sekali" kata si baju biru, tangan merogoh kantong dan
mengeluarkan sebuah bungkusan kertas terus diangsurkan,
katanya: "Barang ini amat penting, kau harus ber-hati2"
Si mata satu menyambut dengan kedua tangannya, sahutnya
tetap munduk2: "Ya, hamba tahu"
"Baiklah, setiba kau di Hoay-yang, ada orang memberi petunjuk
padamu kemana kau harus antar barang ini."
"Hamba mengerti" orang tua mata satu menjawab.
Laki2 baju biru mendengus kereng, dimana dia jejak kedua
kakinya, tlba2 badannya melambung tinggi ke udara, bayangan
tubuh secepat kilat meluncur turun ke bawah bukit.
Ling Kun-gi sembunyi di tempat yang cukup dekat, maka
percakapan mereka di dengarnya dengan jelas, batinnya " Entah
apa isi bungkusan kertas itu. begitu besar perhatian mereka, sampai
harus dikirim secara rahasia lagi, si mata satu adalah pesuruh,
namun dia sendiri juga belum tahu ke mana dan kepada siapa dia
harus serahkan barang itu?" lalu dia berpikir lebih lanjut: "Kalau
laki2 baju biru tadi tidak menerima surat rahasia dariku tadi, iapun
tak tahu ke mana dan kepada siapa dia harus serahkan barang yang
terbungkus di kertas itu?"
Dari sini lebih mudah diraba, kalau bukan barang pusaka yang
tak ternilai harganya, tentu bungkusan itu berisi suatu barang yang
amat rahasia dan penting artinya. Setelah hati merasa curiga, sudah
tentu Ling Kun gi tidak abaikan kejadian ini, dia bertekad
menyelidiki hal ini sampai terang duduk persoalannya meski harus
menempuh bahaya dan macam2 kesulitan-
Di kala dia menerawang tindak lanjut diri sendiri, sementara si
mata satu sudah beranjak pergi dengan langkah tergesa-gesa.
Dari langkah orang Ling Kun-gi dapat menilai kepandaian silat
orang ini tidak seberapa tinggi, kalau dibanding laki2 baju biru tadi,
jaraknya terlampau jauh. Untuk menguntit seorang keroco seperti
laki2 tua mata situ ini bagi Ling Kun-gi merupakan kerja sepele.
Tapi Ling Kun-gi cukup cerdik dan teliti, dari pengalaman malam
ini yang penuh liku2 dia ingat bahwa komplotan orang ini serba
misterius, diduganya bungkusan itu sangat penting dan amat besar
artinya, teramat ganjil kalau diserahkan dan dipercayakan kepada si
mata satu yang berkepandaian silat begitu rendah, maka ia
menduga secara sembunyi pasti masih ada orang lain yang
berkepandaian tinggi melindunginya. oleh karena itu dia tidak berani
gegabah, setelah si mata satu pergi jauh dan menelit i sekelilingnya
memang t iada orang lain yang bersembunyi, barulah dia berkelebat
keluar hutan, menyusul ke bawah gunung.
Si mata satu menempuh perjalanan dengan langkah cepat, Ling
Kun-gi tetap menguntit dari kejauhan- Supaya tidak menimbulkan
perhatian orang, maka mut iara yang dia ikat dipinggang kiri seperti
pesan gurunya dia simpan dalamkantong baju.
Malam itu si mata satu menempuh tujuh li perjalanan, setelah
hari terang tanah, ia sampai di Kip-sian dan langsung masuk kota.
Tak jauh di belakangnya Ling Kun-gi juga ikut masuk kota,
agaknya si mata satu sudah apal jalanan dalam kota ini, di pinggir
jalan dia minum dulu semangkuk bubur kacang serta makan
beberapa kue untuk mengganjal perut, lalu menuju ke ujung jalan
dan memasuki hotel Hin-liong, sebuah penginapan kecil.
Setelah semalamsuntuk menempuh perjalanan, Ling Kun-gi duga
orang perlu istirahat, maka ia-pun masuk ke warung yang letaknya
di seberang hotel, disini dia sarapan pagi. Diam2 dia perhatikan
setiap orang yang hilir mudik, dilihatnya seorang laki2 yang bertopi
bulu dengan pakaian abu2 datang dari sana dan langsung masuk ke
dalam hotel Hin-liong. Dari langkahnya yang enteng, Ling Kun-gi
tahu kalau orang ini adalah seorang jagoan, kalau hari sudah
seterang ini baru masuk penginapan, tentu diapun menempuh
perjalanan di waktu malam.
Berdegup jantung Ling Kun-gi, pikirnya: "Mungkinkah orang ini
sekomplotan dengan si mata satu?"
Setelah perut kenyang dan membayar rekening makanan, Ling
Kun-gi juga masuk ke hotel Hin-liong di seberang, biasanya yang
menginap di hotel sekecil ini adalah tukang kereta atau kuli
angkutan yang membawa barang dari tempat jauh, begitu hari
terang tanah mereka lantas berangkat, maka keadaan hotel
sekarang terasa sepi.
Melihat ada tamu datang, pelayan menyambut dengan sikap
hormat: "Tuan tamu, kau akan..."
"Menginap." sahut Ling Kun-gi.
Pelayan kegirangan, katanya sambil munduk2: "Ya, ya, silakan
tuan ikut hamba." lalu ia bawa Ling Kun-gi ke dalam.
Sambil jalan Ling Kun-gi bertanya kepada si pelayan: " Hotel
kalian ini apa ramai dikunjungi tamu."
"Tarip hotel kami murah, maka ramai juga tamu2 yang suka
menginap di sini," sahut pelayan- "Kalau setiap pagi ada tamu
masuk hotel seperti tuan sekarang. penghasilan hotel kami tentu
bertambah besar."
Sementara itu mereka sudah sampai di depan sebuah kamar,
pelayan membuka pintu serta bertanya sambil melangkah masuk: "
Kamar ini bagaimana tuan?"
Sebentar Ling Kun-gi celingukan, lalu menjawab: "Ya, bolehlah.
Biasanya apakah jarang tamu yang menginap di pagi hari?"
"Orang yang menginap pagi tentu semalam suntuk menempuh
perjalanan, belakangan ini keamanan dijalan banyak terganggu,
sudah tentu jarang orang mau menempuh perjalanan malam hari
......" mendadak dia cekikikan, serta menambahkan: "Pagi hari ini,
termasuk Siang kong kami telah kedatangan tiga tamu"
Ling Kun-gi mengiakan secara tak acuh tanyanya seperti tidak
ambit perhatian: "Mereka tinggal kamar mana?"
"Hotel kami hanya memiliki enam kamar, diseberang sana adalah
ruang umum, kamar tuan nomor t iga, dua tamu yang lain
menempati kamar satu dan dua."
Ling Kun-gi membatin: "Jadi si mata satu menempati kamar ke
satu, lelaki baju abu2 tinggal di kamar nomor dua."
Sementara itu pelayan telah keluar dan kembali membawa sepoci
air teh, katanya tertawa sam-bil menyuguh: ."Tuan, silakan
minum?"
Sengaja Ling Kun-gi menggeliat dan menguap. katanya: "Aku
ingin t idur, tutuplah pintu dari luar, tak usah kau layani aku lagi."
Pelayan mengiakan terus keluar sambil merapatkan pintu.
Ling Kun-gipasang kuping sebentar, didengarnya laki2 baju abu2
di sebelah agaknya belum tidur, pikirnya: "Kalau orang ini bukan
sekomplotan dengan si mata satu, tentu iapun seperti diriku sedang
menguntit si mata satu."
Setelah meneguk habis secangkir teh, tanpa buka pakaian dia
rebahkan diri. Dengan bekal kepandaian silatnya, umpama dia tidur
pulas, asal kedua orang di kamar sebelah ada sedikit ulah pasti tidak
dapat mengelabui kupingnya, karena untuk keluar hotel mereka
harus lewat depan kamarnya betapapun derap langkah mereka
tetap bisa didengarnya. Maka dengan hati lega ia pejamkan mata
sebentar saja sudah pulas.
Tak terduga belum lama dia tertidur, tiba2 didengarnya orang di
kamar sebelah mengumpat marah2: " Keparat, cukup licin juga
kau."
Kata2nya tidak keras, menyerupai orang berguman, tapi cukup
mengejutkan Ling kun-gi dari pulasnya, bergegas dia duduk serta
pasang kuping, didengarnya laki2 di kamar sebelah mendorong
jendela terus melompat keluar . . .. "Mungkinkah si mata satu sudah
merat?" demikian batin Ling Kun-gi.
Ketiga kamar berjajar in masing2 ada jendela belakang, waktu
masuk kamar tadi Ling Kun-gi sudah memeriksanya, di luar jendela
adalah sebuah gang sempit, agaknya lelaki baju abu2 sudah
mengejar lewat gang dibelakang itu.
Bergegas Ling Kun-gipun turun dari ranjang dan buka jendela, ia
melompat keluar, betul juga dilihatnya jendela di kedua kamar
sebelah sudah terpentang lebar, jadi si mata satu sudah merat dan
dikejar lelaki baju abu2. Diam2 Ling Kun-gi malu diri, kalau lelaki
baju abu2 tidak mengumpat, diri-nya tentu juga kena dikelabui, dari
sini terbukti bahwa pengalaman dirinya masih terlalu cetek untuk
bekal kelana di Kangouw.
Lekas dia kembali ke kamar menjemput buntalannya terus buka
pintu. Melihat Ling Kun-gi keluar, lekas si pelayan menyongsong
maju, tanyanya keheranan: " Katanya tuan mau tidur, kenapa buru2
berangkat malah?"
"Sudan tidur sejenak. masih ada urusan- Nah, inilah uang
rekeningku, masukkan juga rekening kamar ke satu," ternyata
sebelum pergi lelaki baju abu2 di kamar kedua meninggalkan uang
di atas meja, tapi si mata satu menginap dengan gratis.
Karena sudah dengar si baju biru berpesan "Ada orang
menunggumu di Hoay-yang," maka Ling Kun-gi t idak perlu buru2,
dari sini ke Hoay-yang sudah dekat, maka dia menempuh perjalanan
ke selatan dengan langkah seenaknya. Kira2 tengah hari ia tiba di
Liong-ki.
Liong-ki adalah sebuah kota kecil, hanya ada sebuah warung
bakmi yang terletak di ujung jalan raya, maka pejalan kaki atau
orang yang menempuh perjalanan jauh suka mampir di warung bakmi
ini.
Karena saatnya orang makan, maka meja warung kecil ini penuh
sesak. Waktu Ling Kun-gi memasuki warung ini, sekilas dia menjadi
tercengang, maklumlah warung kecil, hanya ada enam meja dengan
masing2 empat kursi, setiap meja diduduki tiga atau empat orang.
Sekilas matanya menjelajah maka dilihatnya di meja sebelah timur
sana duduk seorang diri si mata satu, dia pesan sepoci arak dan
semangkok kuah sayur asin, dengan lahapnya dia tengah melahap
makanannya. Lelaki baju abu2 terlihat duduk di meja dekat pintu,
mungkin takut dikenali orang, maka topi bulu di atas kepalanya
ditarik serendah mungkin sampai menutup muka, tapi Ling Kun-gi
tetap mengenalinya.
Baru saja Ling Kun-gi masuk pintu, pelayan sudah
menyambutnya dan menunjuk tempat duduk yang masih kosong,
setelah menyuguh secangkir teh dia tanya mau pesan makanan apa,
Ling Kun-gi minta sepoci arak dan beberapa macam masakan-
Setelah pelayan mengundurkan diri, Ling Kun-gi coba mengawasi
orang sekelilingnya, semua adalah kaum pedagang yang kebetulan
lewat dan mampir, hanya si mata satu dan laki2 bertopi bulu itu
termasuk kaum persilatan- Pada saat itulah dilihatnya dari luar
masuk pula seorang berjubah hijau pupus.
Perawakan orang ini tinggi kurus, kulit mukanya kuning ke
hijau2an, begitu melangkah masuk sorot matanya menjelajah ke
seluruh ruangan, akhirnya dia pilih tempat duduk dekat pintu keluar,
tiga jari tangan kirinya mengetuk meja, mulutpun berkaok keras:
"Hai, pelayan"
Kelihatan ketukan ketiga jari tangan di atas meja enteng saja,
tapi piring mangkuk yang berisi makanan diatas meja seketika
berloncatan semua.
Si baju abu2 tengah menunduk menikmati hidangannya, selebar
muka dan dadanya menjadi basah kuyup oleh kuah makanannya
sendiri yang muncrat.
Keruan tidak kepalang marah si baju abu2, topi bulu dia angkat
keatas, tangannya mengusap muka, bentaknya marah, sambil
mendelik kepada laki2 baju hijau: "Saudara tidak lihat kalau aku
sedang makan di sini? kenapa main kasar begini rupa?"
Tidak terunjuk sedikit perobahan mimik wajah laki2 baju hijau,
sahutnya dingin, "Kalau kau anggap aku kasar, kenapa tidak pindah
ke meja lain saja?"
Bukan saja tidak minta maaf malah dirinya disuruh pindah
kemeja lain, keruan si baju abu2 naik pitam?, hardiknya murka:
"Kau main tepuk meja, sampai makanan muncrat mengotori
badanku, memangnya aku yang salah?"
"Kusuruh kau pindah ke meja lain, memangnya aku juga
salah?"jengek laki2 baju hijau pupus.
Mendengar ada keributan, semua tamu yang hadir sama
berpaling ke arah sini.
Mencorong biji mata si baju abu2, katanya tertawa lebar:
"Saudara bertingkah dan main kayu, agaknya sengaja hendak cari
perkara padaku?"
"cari perkara?" dengus laki2 baju hijau. " Kau setimpal?"
Lelaki baju abu2 berjingkrak berdiri, dari kantong kain yang
terselip dipahanya dia lolos sebilah Yap-hap-to, bentaknya: "Mari
keluar, aku ingin belajar kenal kepandaianmu."
Laki2 baju hijau tetap bersikap dingin dan menghina: "Kau berani
main senjata dengan aku? Memangnya kau sudah bosan hidup?"
"Entah siapa yang bosan hidup?" jengek si baju abu2.
"Aku sudah memperingatkan, kau sendiri yang ingin mampus,
maka jangan aku yang disalahkan-" sembari bicara tiba2 laki2 baju
hijau sedikit angkat tangan kirinya, selarik sinar hijau t iba2 melesat
ke arah tenggorokan si baju abu2, bukan saja luncurannya cepat,
tidak bersuara lagi.
Pada waktu yang sama, tampak dari arah samping sana
meluncur pula sebuah cangkir arak. "Tring", dengan tepat
membentur sinar hijau itu sehingga sinar hijau melayang ke
samping laki2 baju abu2 dan "crat" terpaku di atas tembok.
Waktu semua hadirin berpaling ke sana, Itulah sebatang panah
kecil sepanjang dua dim berwarna hijau, dasar cangkir tertembus
bolong, dan tergantung di atas panah yang terpaku di dinding.
Beringas si baju abu2, bentaknya: "Berani kau melukai orang
dengan panah gelap." Mendadak ia menubruk maju, tangan kiri
terus mencengkeram ke pundak laki2 baju hijau.
Sibaju hijau menjengek. sekali tangan kiri membalik, belum lagi
orang lain melihat gerakannya, tahu2 si baju abu2 tersentak mundur
dua langkah. punggung tangan kirinya ternyata tergores luka, darah
yang meleleh berwarna hitam, kulit dagingnya hangus berwarna
hijau. Seketika ia megap2, ternyata dia tak sanggup bwrsuara lagi,
pelan2 badannya roboh tersungkur.
Kejadian berlangsung dalam waktu yang amat singkat. tanpa
hiraukan korbannya, laki2 baju hijau malah melotot dan berpaling ke
arah Ling Kun-gi, tanyanya dingin, "Kaukah yang menimpuk cangkir
itu?"
"Betul," sahut Ling Kun-gi, "aku tak senang melihat kau
membokong orang."
"Anak muda," laki2 baju hijau mendengus "Jangan kau turut
campur."
Ling Kin-gi berdiri pelan2, sekilas matanya melirik kearah si baju
abu2, tanyanya: "Bagaimana keadaan saudara itu?"
"Setanakan nasi lagi, jiwanya takkan tertolong," kata laki2 baju
hijau.
"Kau mencelakai jiwanya?" tanya Ling Kun-gi gusar.
Menyeringai lebar laki2 baju hijau, jawabnya: "Betul, dia terkena
racun jahat, sudah tentu jiwanya takkan tertolong lagi."
Ling Kun-gi menarik muka, tanyanya dingin: "Mana obat
penawarnya?"
"Benar, memang ada obat penawarnya padaku."
"Lekas keluarkan," desak Ling Kun-gi
Si baju hijau tergelak, katanya: "Sungguh lucu, kalau harus
memberi obat penawarnya, buat apa tadi kukerjai dia?"
"Utang jiwa bayar jiwa, utang uang bayar uang setelah kau
mencelakai dia, maka harus keluarkan obat penawarnva,
memangnya hanya karena adu mulut, kau lantas mencabut
jiwanya?"
"Dia memang pantas mampus," jengek si baju hijau.
"Keluarkan obat penawarnya?" bentak Ling Kun-gi.
Laki2 baju hijau hanya melirik saja kepada Ling Kun-gi, katanya
dingin: "Janganlah kau cari kesulitan sendiri, usiamu masih muda,
kalau jiwa melayang percuma, apakah tidak sayang?"
Melotot gusar biji mata Ling Kun-gi, bentak-nya: "Jiwa manusia di
buat main2, hayo, keluarkan obat penawarnya." .
"Anak muda,"^ ujar laki2 baju hijau manggut2, "agaknya kau
memang usil, ketahuilah obat penawarnya ada di dalam kantongku,
kalau kau mampu boleh mengambilnya sendiri."
"Baiklah kalau begitu," pelan2 Ling Kun -gi menghampiri..
Laki baju hijau menyeringai di mana tangan kanan terangkat,
"Wut" tiba2 ia layangkan kepalannya ke muka si pemuda. Tujuan
Ling Kun-gi hendak menawannya hidup2, melihat tangan orang
menggenjot tiba, tangan kiri segera menapak maju mencengkeram
pergelangan tangan lawan- Gerakan mencengkeram ini
mengandung beberapa perubahan yang lihay, gerakan laki2 baju
hijau juga tidak kalah aneh dan lihaynya, baru kepalan kanan
sampai di tengah jalan, terus ditarik balik, sementara tangan kiri
segera ganti mencengkeram tulang iga Ling Kun-gi. Lekas Kun-gi
turunkan tangan kanan, gerakan mencengkeram dia ubah
mengebas turun- Tangan mereka segera beradu, keduanya sama
bertolak mundur selangkah.
Terasa oleh Ling Kun-gi tangan si baju hijau sekeras baja
sedingin es, pegangannya seperti mencengkeram tongkat besi yang
keras, keruan hatinya terkejut.
Begitu mundur laki2 baju hijau ternyata tidak segera merangsak
pula, katanya dingin sambil mengulap tangan: "Anak muda, kau
sendiri yang paksa aku turun tangan, sekarang lekas kau pulang
mengurus keberangkatanmu ke alambaka."
"Ah, kenapa?" tanya Ling Kun-gi tak acuh"
Hidupmu tinggal 12 jam lagi, setelah itu jiwamu bakal melayang,
sekarang masih keburu kalau kau pulang ke rumah," ujar laki2 baju
hijau.
Menegak alis Ling Kun-gi,jengeknya sambil menatap tajam: "Kau
gunakan racun atas diriku?"
"Kau sendiri yang menyentuh tanganku."
"Jadi tanganmu beracun?" sekilas mencorong sorot mata Ling
Kun-gi. "Berulang kali kau menggunakan racun mencelakai orang,
hari ini terpaksa aku tak bisa melepaskanmu pergi..." Habis
kata2nya tiba2 ia melangkah maju, kelima jari tangan kirinya
laksana cakar terus mencengkerambahu kanan si baju hijau.
Melihat orang sudah keracunan masih bergerak cekatan dan
menyerang, bukan kepalang kejut si baju hijau. Terutama usia Ling
Kun-gi masih begini muda, tapi serangan dan sikapnya begini
berwibawa seperti jagoan angkatan tua layaknya, sudah tentu dia
tidak mau lengannya terpegang, cepat ia putar tubuh sam-bil
merendahkan pundak. ia meluputkan diri dari serangan tangan kiri
Ling Kun-gi.
Ling Kun-gi tetap menggunakan tangan kiri. sementara tangan
kanan melindungi dada, gerakan- menggunakan Kim-na-jiu
(gerakan memegang dan memuntir), yang diincar adalah Hiat-to
penting tubuh lawan, serangan aneh dan lain daripada yang lain-
Dari gerakannya yang begitu tangkas, siapapun pasti maklum
bahwa dia pasti didikan seorang guru yang.
Beruntun laki2 baju hijau berkelit tiga kali, pikirnya setelah
merangsak beberapa jurus, racun di badan Ling Kun-gi pasti sudah
bekerja, tak perlu dia melayani orang lebih lanjut. Tapi pada jurus
ke empat ia merasa tak mampu berkelit lagi, terpaksa dia ulurkan
lengan kiri sendiri malah. Sekali pegang Ling Kun-gi lantas pencet
pergelangan tangan laki2 baju hijau, terasa yang dipegang itu
dingin dan keras, tak ubahnya memegang besi.
Waktu dia awasi, dilihatnya tangan kirinya sudah berubah warna
menjadi kehijauan, kelima jari orang setajam pisau seruncing duri
landak. nyata tangannya memang terbuat dari besi baja. Kiranya
lengan kiri orang ini memang tangan palsu yang terbuat dari besi,
malah dilumuri racun lagi.
Ling Kun-gi kerahkan tenaga dan pegang tangan besi orang,
jengeknya dingin: "Ternyata kau pakai senjata lengan besi dan
beracun lagi. sungguh kejam kau."
Si baju hijau meronta sekuatnya, namun pegangan orang
sedikitpun tidak bergeming, keruan hatinya mencelos, tanpa bicara
tangan kanannya tiba2 menggenjot ke dada Ling Kun-gi. Tak
terduga Ling Kun-gi juga angkat kepalannya memapak genjotan
lawan, "Blang", kepalan lawan kepalan, sibaju hijau tergentak
mundur selangkah.
Gusar dan gelisah si baju hijau, sembari membentak. tubuhnya
malah menumbuk maju, tangan kanan bergerak turun naik, dalam
sekejap mata, tangan kanannya sudah menyerang tiga kali.
Ketiga jurus ini rapat dan cepat laksana kilat, tak urung Ling Kungi
terdesak mundur dua langkah, tapi pegangan tangan kirinya tetap
tidak terlepas sehingga si baju hijau ikut terseret maju dua langkah,
Mendapat sedikit kesempatan, Ling Kun-gi segera balas
merangsak. iapun menyerang berantai tiga jurus, jari menutuk
telapak tangan menabas serangannya semua merupakan jurus2
yang mematikan, karena sebelah tangannya memegang lengan
lawan, maka kedua orang hanya bergerak dari jarak. dekat,
masing2 hanya menggunakan sebelah langan-
Beberapa gebrak jarak dekat ini kelihatan masing2 tidak
menunjukkan ilmu2 silat yang mengejutkan, tapi bagi seorang ahli
pasti dapat merasakan betapa hebat dan bahayanya, karena matihidup
hanya terpaut serambut saja. Betapa cepat serangan dan
betapa tangkas pula perubahan gerak serangan masing2, semua
hanya berlangsung dalam sekejap mata belaka.
Mungkin karena memandang rendah lawan, si baju hijau tak
pernah pikir bahwa lawannya yang masih begini muda ternyata
membekal ilmu silat kelas tinggi. Dan yang lebih mengejutkan lagi
adalah pemuda ini tak gentar menghadapi racun jahatnya, orang
lain cukup keserempet saja, dalam sekejap racun akan menjalar,
tapi Ling Kun-gi masih terus memegangi lengan besinya yang
beracun tanpa kurang apa2 dan tetap segar bugar, oleh karena itu
tanpa terasa dia menjadi kerepotan dicecar oleh serangan Ling Kungi
yang ber-tubi2.
Untunglah pada detik gawat itu, mendadak sebuah suara dingin
kereng membentak. "Berhenti"
Mendengar bentakan itu, lekas sibaju hijau membentak tertahan:
" Lepaskan"
Ling Kun-gi menghentikan, serangan tangan kanan, tapa tangan
kiri tetap memegang tangan besi si baju hijau, lalu tanyanya: "Siapa
itu?"
Sibaju hijau meronta sekuat tenaga, dampratnya gusar: "Lekas
lepaskan"
"Setelah kau memberi obat penawarnya, segera kulepaskan
tanganmu."
Karena usahanya tidak berhasil, si baju hijau menjadi gugup,
"Wes" tangan kanan tiba2 menepuk ke dada Ling Kun-gi.
Ling Kun-gi berdiri tegak tanpa bergeming. namun baju didepan
dadanya mendadak melembung seperti layar berkembang, maka
tepukan sibaju hijau seperti mengenai benda empuk. laksana
menepuk permukaan air, seperti kosong tapi masih berisi, seperti
mengenai sesuatu tapi mirip mengenai tempat kosong, hakikatnya
dia tidak kuasa mengerahkan tenaganya, keruan tidak kepalang
kejutnya.
Tiba2 Ling Kun-gl kipatkan tangan kirinya, sementara tangan
kanan tegak menabas punggung, pergelangan tangan kanan lawan,
berbareng dia membanting si baju hijau ke atas tanah. Sudah tentu
si baju hijau mati kutu, "Blang," dengan keras badannya terbanting
dan tidak mampu bergerak lagi.
Menatap sibaju hijau, Ling Kun-gi mengan-cam dengan nada
keren: "Serahkan tidak obat penawarnya? "
Dari kumandangnya suara bentakan "Berhenti" seseorang,
sampai si baju hijau menyerang serta dibanting oleh Ling Kun-gi,
semua, itu berlangsung hanya beberapa detik saja. Maka
terdangarlah orang yang bersuara tadi kembali berseru memuji:
"Gerakan bagus"
Ling Kun-gi angkat kepalanya, dilihatnya se-orang berjubah biru,
entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu sambil meng
gendang kedua tangan, Usia laki2 ini sekitar 25 tahun, wajahnya
cakap bersih, memondang buntalan panjang di punggungnya,
berdiri sambil bertolak pinggang, wajahnya tidak mengunjuk
sesuatu perasaan hatinya, sikapnya angkuh. Si baju biru ini ternyata
adalah orang yang pernah ditemuinya di kota Kayhong beberapa
hari yang lalu.
Sementara itu, si baju hijau sudah berdiri dengan sikap patuh dia
memberi hormat kepada si baju biru, katanya: "Hamba menghadap
majikan muda,"- Kiranya si baju biru adalah putera majikannya.
Si baju biru mendengus dengan suara hidang, katanya: "Kau
membuat onar lagi di sini?"
"Hamba tidak berani," sahut si baju hijau ter-sipu2.
Sorot mata si baju biru menatap Ling Kun-gi, katanya dingin:
"Agaknya kita pernah berjumpa entah dimana??"
"Selamanya cayhe belum pernah berkelana di Kangouw," sahut
Ling Kun-gi.
"Siapa nama tuan?" tanya si baju biru.
Tidak menjawab Ling Kun-gi malah balas bertanya: "Dia ini
pembantumu?"
si baju biru naik pitam, alis menegak. wajahnya diliputi nafsu
membunuh, jengeknya: "Betul, nah dalam hal, apa dia berbuat
salah terhadap-mu?"
Sikap Ling Kun-gi tidak kalah congkak, ujarnya: "Masuk rumah
makan ini, pembantumu lantas cari perkara dengan orang, main
serang dengan panah beracun lagi, untunglah kena kutimpuk
dengan cangkir sehingga tidak mengenai sasaran, tak terduga
dengan tangan besinya yang beracun dia main kasar lagi, kukira
hanya sedikit perselisihan, kenapa harus menamatkan jiwa orang
lain, bukankah perbuatannya terlalu keji, maka kuahrap dia suka
mengeluarkan obat penawarnya."
cemberut dingin wajah si baju biru, katanya sambil melirik sibaju
hijau: "Apa betul demikian halnya?"
si baju hijau tidak berani bersuara, maka si baju biru
menambahkan- "Lekas serahkan obat penawar kepadanya."
Tidak berani membangkang, lekas sibaju hijau merogoh kantong
mengeluarkan botol kecil porselin gepeng, ia menuang sebutir pil
terus diangsurkan- Ling Kun gi menerimanya, lalu manggut2 kepada
si baju biru dan berkata: "Terima kasih banyak."
"Dia kawanmu?" tanya si baju biru mengawasi laki2 baju abu2
yang menggeletak di lantai.
"Selamanya belum pernah kukenal," sahut Ling Kun-gi tertawa,
lalu dia berpaling: "Pelayan, ambilkan segelas air putih."
cepat pelayan membawakan air putih yang diminta, Ling Kun-gi
lantas pencet dagu laki2 baju abu2 sehingga mulutnya terpentang,
pil itu terus dijejalkan ke mulutnya serta dilolohkan beberapa teguk
air.
Dikala keributan berlangsung tadi, secara diam2 si mata satu
sudah berdiri membayar rekening terus bergegas tinggal pergi.
Sambil mengawasi Ling Kun-gi, si baju biru berkata pula: "
Kepandaian tuan memang hebat, entah dari perguruan aliran
mana?"
Ling Kun-gi tertawa tawar, sahutnya: "cayhe, Ling Kun-gi, tidak
punya golongan atau aliran segala."
"Um," si baju biru mendengus kurang senang, tiba2 dia membalik
badan serta berkata: "Hayo pergi"- cepat sibaju hijau mengikut di
belakangnya.
Dalam hati Ling Kun-gi berkata: "Ternyata inilah yang melindungi
si mata satu sepanjang perjalanan ini."
Mendadak dia sadar, dirinya telah perkenalkan diri, kenapa tidak
balas tanya nama orang. Dalampada itu si baju abu2 sudah
merangkak bangun, katanya sambil menjura kepada Ling Kun-gi:
"Terima kasih atas pertolongan Siang kong."
Ling Kun-gi balas memberi hormat, katanya tertawa: "Saudara
tidak usah sungkan-".
Lalu si baju abu2 memanggil pelayan, katanya: "Rekening
Siangkong ini biar kubayar sekalian, siaanya bolehlah kau ambil." -
Si pelayan terima uang sembari munduk2 dan mengucapkan banyak
terima kasih.
Kembali si baju abu2 menjura, katanya: "cayhe masih ada
urusan, tidak boleh tertunda di sini, maaf aku mohon diri lebih
dulu."
orang ter-gesa2 mau pergi setelah jiwanya di tolong, tapi tidak
tanya nama penolongnya, jelas dia kuatir kalau Ling- Kun-gi balas
tanya namanya. Diam2 Kun-gi membatin: "Mungkin kau tidak tahu,
si baju biru dan pembantu2nya adalah sekomplotan dengan si mata
satu dan secara diam2 melindunginya sepanjang jalan-" - Tapi hal
ini tak enak dia utarakan, ia hanya tertawa tawar, katanya:
"Saudara ada urusan, boleh silakan saja."
Si baju abu2 menjura pula terus putar badan dan keluar.
Mengantar kepergian bayangan punggung orang, seketika terasa
oleh Ling Kun-gi buntalan kertas yang dibawa si mata satu pasti
penting artinya. Setelah menghabiskan dua cangkir arak pula,
sementara si baju abu2 juga sudah pergi cukup jauh, maka lekas
iapun berdiri terus menuju ke luar kota. Dia tahu setelah di warung
tadi dia mendemonstrasi-kan kepandaiannya, mungkin si baju biru
sudah curiga dan menaruh perhatian terhadap dirinya, maka gerakgerik
dirinya selanjutnya tentu kurang leluasa, maka setelah t iba di
luar kota, tanpa pikir dia terus menyelinap masuk ke dalam hutan
dengan gerakan cepat dan enteng.
Pada saat badannya meluncur ke dalam hutan itulah, tiba2 ia
mendengar hardikan nyaring merdu: "Siapa, hayo berdiri?"
Begitu suara berkumandang, di depan muncul sesosok bayangan
hijau, berbareng hidung dirangsang bau wangi, sebuah tangan
halus putih tahu2 mendorong ke arah dadanya.
Belum lagi jelas melihat bayangan orang, secara refteks Ling
Kun-gi gerak tangan kiri menangkap pergelangan tangan yang
menyelonong ke arah dadanya ini.
"Eh" itulah teriakan kejut seorang gadis, tangan yang halus
itupun tergetar serta ditarik mundur, sementara mulutnya lantas
mendamprat: "Bu jangan bernyali besar, hayo lepaskan" Sepatu
yang ujung-nya melengkung tahu2 menendang tanpa bersuara.
Semua kejadian itu berlangsung begitu cepat sesingkat Ling Kungi
menerobos ke dalam hutan-
Begitu mendengar suara nyaring merdu, berbareng merasakan
tangan yang dipegangnya halus dan licin, sesaat dia melongo dan
segera lepas tangan, ber-bareng ia melompat mundur. Waktu dia
mengawasi tampak diantara semak pohon sana berdiri seorang
gadis jelita berpakaian kuning. Kedua pipinya tampak bersemu
merah, kedua biji matanya melotot gusar lagi membentak sambil
menuding dirinya: "Bajingan tengik, apakah matamu buta?"
Sesaat Ling Kun-gi terlongong mengawasi gadis jelita ini, secara
semberono terobosan di sini dan pegang tangan pula, sebetulnya
dia ingin minta maaf, serta mendengar caci maki orang, diam2 ia
mendongkol, pikirnya: "Waktu aku menyelinap kemari tadi tak
kelihatan bayangan orang, jadi dia menapakku waktu melihat aku
masuk. dia sendiri yang menyerang lebih dulu baru terpaksa
kupegang tangannya, kalau tidak, bukankah dadaku terpukul
olehnya? Kalau dipikir, bukan aku yang salah?" Tanpa terasa ia
tersenyumgeli sendiri
Melihat orang cengar-cengir mengawasi dirinya, hati si gadis
semakin dongkol, namun wajahnya semakin jengah, kini diapun
dapat melihat jelas orang yang berdiri di hadapannya ternyata
seorang pemuda gagah dan berwajah cakap. cuma senyumannya
itu rada kurang ajar? Kejap lain si nona sudah cemberut lagi,
katanya dengan bibir menyungkit:
"Bajingan kurang ajar, apa yang kau gelikan? Memangnya kau
sudah bosan hidup?" Dingin pancaran sorot mata Ling Kun-gi,
suaranyapun kaku: "Nona memaki siapa?"
Si nona baju kuning bertolak pinggang, makinya sambil
menuding Ling Kun-gi: "Memakimu, sekali pandang lantas kutahu
kau ini bukan orang baik2.
Dimaki tanpa alasan Ling Kun-gi menjadi berang, jengeknya:
"Nona tahu aturan tidak? Cayhe yakin tidak pernah berbuat salah,
kau sendiri yang muncul tiba2 lantas menyerangku dan memakiku
tanpa alasan, memangnyu aku yang salah?"
"Mau bicara soal aturan?" si nona semakin galak.. "Matamu tidak
buta, kenapa main terobosan kemari?"
"Aku sudah mengalah, kuharap nona tahu sopan santun, hutan
ini toh bukan milik nona, umpama orang dilarang masuk,
sepantasnya kau bicara lebih dulu . . . ."
Merah muka si nona, dia makin dongkol, katanya: "Kularang kau
masuk, maka kau tidak boleh masuk,"
" Kenapa tidak boleh masuk?" Ling Kun-gi menegas. "Tidak apa2,
kau terobosan, maka kau harus kuhajar."
"cayhe tidak sepandengan nona." jengek Ling Kun- gi, ia putar
badan terus tinggal pergi.
Si nona semakin marah, bentaknya sambit membanting kaki,
"Berdiri di tempatmu"
Ling Kun gi membalik badan, alisnya menegak. suaranya kereng:
" Apa pula kehendak nona?"
"Kau menghinaku, lantas tinggal pergi begini saja?" damprat si
nona.
"Siau Yan," tiba2 sebuah suara merdu bak bunyi kelintingan
berkumandang dari sebelah dalam hutan sana, "kau sedang ribut
dengan siapa?"
Si nona baju kuning Siau Yan, tampak kegirangan, serunya:
"Syukurlah engkau datang Sio-cia, lekas kemari." - Dari dalam hutan
tampak melangkah keluar sesosok bayangan semampai berpakaian
warna merah apel, itulah seorang gadis jelita yang menggiurkan.
03
Terbeliak pandengan Ling Kun-gi, nona ini berperawakan
ramping, kulitnya putih halus, raut wajah bundar telur, alis lentik
laksana bulan sabit dengan biji mata bening cemerlang
memancarkan sinar keagungan yang tak terlawan oleh siapapun.
Tiba2 wajah Ling Kun-gi menjadi panas jengah, baru sekarang
dia maklum duduknya perkara, kenapa nona Siau Yan ini berjaga di
luar hutan, kiranya nona cantik ini sedang buang air di dalam hutan-
Setelah si nona cantik mendekat, Siau Yan memberi hormat,
katanya aleman: "siocia, bajingan ini kurang ajar"
Si jelita menarik muka, bentaknya: "Siau Yan, jangan memaki
orang" Matanya yang bening tajam mengawasi Ling Kun-gi,
kalanya: "Aku sudah dengar, kau lebih dulu menyerang dia, betul
tidak?"
"siocia, dia .... karena dia .... " Seru Siau Yan tergagap.
"Jangan ceriwis, lekas minta maaf kepada Siang kong ini,"
perintah si jelita.
Siau Yan melengak. wajahnya merah padam debatnya: "Siocia
dia yang menghinaku, main pegang segala .... "
"Jangan banyak omong, hayo minta maaf kepadanya"
Ber-kedip2 lagi sinar mata Siau Yan, sejenak dia awasi si nona,
lalu berpaling kepada Ling Kun-gi, akhirnya seperti menyadari apa2,
tiba2 ia cekikikan sambil menutup mulut dengan tangannya, lalu
mendekat ke depan Ling Kun-gi serta menjura dan berkata dengan
nada menggoda: "siocia suruh aku minta maaf kepada Siang kong."
Sebesar ini belum pernah Ling Kun-gi bergaul dengan kaum
hawa, mukanya menjadi merah dan membalas hormat, katanya:
"Nona tak usah kecil hati, anggap saja tak pernah terjadi."
Siau Yan cekikikan sambil melirik. katanya: "Lha kalau sejak tadi
kau bilang demikian, kan t idak perlu kita perang mulut."
Ling Kun-gi hanya tertawa saja, ia putar badan hendak tinggal
pergi. Tiba2 didengarnya suara merdu tadi berteriak:
"Siangkong ini harap tunggu sebentar" Senyaring bunyi
kelint ingan teriakannya. jelas yang ber-suara adalah nona jelita itu.
Tanpa terasa merandek langkah Ling Kun-gi dan memandang ke
sana, katanya sambil merangkap kedua tangan: " Entah nona ada
petunjuk apa?"
Siau Yan segera menyela "siocia memanggilmu, sudah tentu ada
urusan-"
"Siau Yan, jangan banyak mulut," bentak sijelita, lalu berkata
pula lirih kepada Ling Kun-gi: "Kulihat Siangkong berkepandaian
tinggi, entah siapa nama terhormat Siang kong?"
"cayhe Ling Kun-gi" Kun-gi memperkenalkan diri. "nona. ......."
"siocia kami she Bun . . .. . . ." sela Siau Yan tertawa sambil
melirik majikannya.
Ling Kun-gi memberi hormat pula, katanya " Kiranya nona Bun,
maaf cayhe kurang adat."
siau Yan ter-pingkal2, dan katanya pula "Bicaraku belum habis,
Siocia bernama Hoan kun, jadi punya satu bagian yang sama
dengan nama Siangkong. sungguh kebetulan bukan?"
Merah selebar muka sijelita. "Siau Yan" Seruannya seperti ingin
mencegah, tapi dalamhati se-benarnya merasa senang.
Pada saat itulah tiba2 dari tempat jauh sana bergema lengking
suitan keras. Seketika berubah roman Bun Hoan-kun, katanya
terperanjat: "Agaknya paman sedang memanggilku, bagaimana
baiknya."
siau Yan berkata: "Mungkin Ji cengcu akan kemari, menurut
pendapat hamba, lekas siocia dan Siangkong sembunyi ke dalam
hutan saja."
Sudah terbuka mulut Bun Hoan-kun, tapi urung bicara, namun
matanya memandang Ling Kun-gi penuh arti.
Kelihatan gugup dan takut2 sikap kedua nona ini, tapi Ling Kungi
tetap berditi ditempatnya, ta-nya: "Kenapa cayhe harus ikut
sembunyi?"
Tiba2 Bun Hoan-kun menghela napas, katanya rawan- "Tabiat
paman amat buruk." Sorot matanya memandang ke tempatjauh,
lalu menam-bahkan: "Semoga paman tidak menuju kesini."
Belum selesai bicara, suitan melengking tadi kembali mengalun di
udara, dari suara suitan yang keras dan memekik telinga ini, jelas
bahwa jarak- nya sudah jauh lebih dekat.
Hilang senyuman manis yang menghias wajah Bun Hoan-kun
tadi, sikapnya tampak gugup dan takut, katanya: "Ling -siangkong,
tiada waktu lagi, lekas ikut aku sembunyi." Segera ia berputar,
namun langkahnya tidak bergerak, ia berpaling mengawasi Ling
Kun-gi.
Sebetulnya Kun-gi merasa heran dan curiga, namun melihat sikap
dan mimik Bun Hoan-kun begitu gugup se-akan2 harus dikasihani,
ia menjadi tak tega hati, katanya mengangguk: "Baiklah, biar cayhe
ikut sembunyi sebentar di dalamhutan-"
Penuh rasa terima kasih tatapan mata Bun Hoan-kun, pipipun
bersemu merah, ter-sipu2 dia putar tubuh dengan setengah berlari
masuk ke dalam hutan. Sedikit merandek akhirnya Ling Kun-gi ikut
melangkah ke sana.. Siau Yan mengikut di belakang mereka.
Tidak lama setelah ketiga orang ini menyelinap sembunyi ke
dalam hutan, maka tampak dari kejauhan datang dua bayangan
orang bagai terbang. Diam2 Ling Kun-gi membatin dalam hati: "
Entah siapa kedua orang ini? Dari langkah mereka yang enteng,
terang memiliki Ginkang yang luar biasa."
Tengah pikirannya melayang, tiba2 terasa telapak tangan nan
halus lembut pelan2 menarik tangan kirinya, terdengar bisikan Bun
Hoan-kun di tepi telinganya: "Ling-siangkong, pamanku segera tiba,
lekas kau berjongkok."
Belum pernah Ling Kun gi bersentuh tubuh dengan gadis belia,
bau harumpun merangsang hi-dung, seketika jantungnya berdebur
keras, tanpa terasa dia berjongkok ke dalam semak2. Tapi dia tetap
mengintip keluar sana.
Itulah seorang tua kurus berjubah panjang warna kuning kelam,
berikat pinggang kain sutera, berusia lima puluhan, roman mukanya
merah, de-ngan tulang pipi menonjol, sorot matanya tajam berkilau,
punggungnya menyandang sebilah pedang.
Di belakang laki2 tua mengintil ketat seorang -pemuda berjubah
kuning muda, kelihatan baru ber-usia dua puluhan tahun, alis lentik,
mata berkedip bagai bintang, wajahnya sungguh cakap. bibir tipis
merah delima, sayang hidungnya sedikit bengkok. Tetapi dia benar2
terhitung laki2 yang -bagus. Di pinggang si pemuda tergantung
sebilah pedang panjang dengan hiasan ronce benang merah
diaagangnya, kelihatan gagah dan menarik sikapnya.
Di kala Ling Kun-gi mengawasi orang, terasa oleh Ling Kun-gi
bukan saja jari2 tangan Bun Hoan-kun yang menarik tangannya tadi
tidak di-lepaskan, malah pegangan orang semakin erat dan sedikit
gemetar.
Sorot mata si orang tua yang tajam berkilau menyapu pandang
keseluruh penjuru, sebelah tangannya mengelus jenggot kambing
dibawah dagu-nya, katanya sambil batuk2 kecil: "Bukankah Hoan-rji
berdua tadi menuju ke sini?" . . .
Hormat dan patuh sekali tampaknya sikap sipemuda, sahutnya:
"Betul paman, mungkinkah adik Hoan mengalami apa2 di tengah
jalan?" Si tua batuk2 lagi, katanya dengan tertawa:
"Keponakan tidak usah kuatir, bekal ilmu silat yang dipelajari
Hoan-ji cukup berlebihan buat Hoan-ji berkelana di Kangouw.
Mungkin mereka istirahat di dalam kota, marilah kau ikut Lohu
mencarinya di kota."
Sipemuda mengiakan penuh hormat, bayangan mereka lantas
berkelebat menuju ke arah kota di balik hutan sana.
"Agaknya kedua orang ini tengah mencari nona Bun," demikian
batin Ling Kun-gi, " kenapa dia malah menyembunyikan diri?" Waktu
dia ber-paling, tertampak air mata ber-kaca2 di kelopak mata Bun
Hoan-kun, tentu saja semakin heran hati Kun-gi. .
Agaknya Bun Hoan-kun sadar bahwa dirinya diperhatikan, cepat
dia berdiri, mukanya merah malu, katanya getir: "Tadi aku
ketakutan, maaf akan sikapku yang tidak pantas, Ling-siang kong . "
Ling Kun-gi pun berdiri, sahutnya: "Nona tak usah berkecil hati."
Lalu dia tanya penuh perhatian: . "Apakah pamanmu pemberang? "
Bun Hoan-kun menggeleng, katanya: "Biasa-nya paman sayang
padaku, cuma .... aku tidak ingin pulang ....".
"Siccia," Seru Suan Yan, sikapnya gugup, "Ji-cengcu dan Sia ukong
cu pasti akan balik lagi, lekaslah kita pergi."
"Tak usah kau ceriwis," bentak Bun Hoan--kun, "memangnya aku
tidak tahu, kalau aku t i-dak mau pergi, siapa bisa memaksaku?"
Lekas Ling Kun-gi berkata: "Kalau nona ti-dak ingin bertemu
dengan pamanmu, sebaiknya memang lekas .pergi saja dari sini."
"Nanti sebentar lagi juga tidak jadi soal," sahutBun Hoan-kun,
"Sebetulnya bukan kuingin menghindari paman .... " sampai disini
dia ragu, lalu bertanya dengan sikap prihatin: " Kulihat usia Ling
siangkong masih begini muda, mungkin baru pertama kali berkelana
di Kangouw?"
Ling Kun-gi manggut2, sahutnya. "Betul, ba-ru sekali ini aku
keluar pintu."
Tiba2 berseri girang wajah Bun Hoan-kun, dia keluarkan sebuah
kantong kecil yang terbuat dari benang sulam sutera, di dalamnya
berisi sebuah botol kecil porselin berbentuk bundar gepeng warna
putih hijau dan diangsurkan pada Kun-gi. katanya dengan tunduk
malu2: " Dengan Ling siang- kong baru pertama kali ini aku
berjumpa secara kebetulan, tiada barang lain kecuali Jing-sin-tan
buatan keluarga kami sekedar sebagai kenangan, obat ini dapat
memunahkan segala macam obat bius, Ling-siangkong baru mulai
berkelana di Kangouw. . perlu kau membawanya untuk menjaga
diri." Dia tidak menjelaskan bahwa kantong sutera itu adalah
buatannya sendiri.
Ling Kun-gi melengak, katanya. "Besar arti pemberian nona,
namun cayhe tak berani menerimanya. . ."
Semakin jengah wajah Bun Hoan kun, kata-nya malu2 dan
gugup: "Lekaslah terima, Ling-siang-kong, kau belum pengalaman
mengembara di Kang-ouw yang penuh bahaya ini, obat2an ini dapat
menolong kesulitanmu."
Lekas Siau Yan tampil kedepan, dari tangan majikannya dia rebut
kantong sulam itu terus dijejalkan ke tangan Ling Kun-gi, katanya:
"Demi kebaikanmu, kenapa Ling-siangkong tampik pemberian
siocia?"
Memegangi kantong sulam itu, merah muka Ling Kun-gi karena
malu, mulutnya melongo:
"Jangan ini itu lagi," tukas Siau Yan, " kantong itu sulaman siocia
sendiri, setiap melihat kantong sulam itu berarti Siangkong selalu
berhadapan dengan nona."
Sudah tentu gugup dan malu bukan main Bun Hoan-kun,
omelnya: "Siau Yan, siapa suruh kau ceriwis?"
"Hamba tidak berani," sahut Siau Yan sambil menyingkir dan
melelet lidah.
Dengan kasih mesra sekilas Bun Hoan-kun melirik Ling Kun-gi,
lalu katanya dengan nada masgul: "Ling - siangkong jagalah dirimu
baik2, kami akan berangkat."
Terharu Ling Kun-gi dia menjura sambil me-megangi kantong
sulam itu, katanya: "Terima kasih nona, harap nona juga jaga diri
baik2."
Bun Hoan-kun tertunduk, air mata sudah berlinang, lantas ia
beranjak keluar hutan-Siau Yan mengikuti di belakangnya, serunya
sambil berpaling: " Ling-siangkong, jangan lupa mampir ke Ling lam
menengok siocia."
Lambat laun bayangan mereka semakin jauh dan tak kelihatan
lagi, Ling Kun-gi masih berdiri menjublek di luar hutan-Jari2
tangannya membolak -balik kantong sulaman itu, bau harum yang
memabokkan merangsang hidungnya, masih terngiang ka-ta2 Siau
Yan sebelum berpisah tadi: "siocia sendiri yang menyulam kantong
itu, melihat kantong seperti berhadapan dengan siocia sendiri."
Pada saat itulah tiba2 seseorang berkata dengan suara dingin:
"Barang apa yang saudara pegang itu?"
Sebetulnya kepandaian silat Ling Kun-gi cukup tinggi, kalau ada
orang mendekat masakah tidak diketahui? Soalnya baru pertama
kali ini dia jatuh kasmaran, dia memegangi barang pemberian
sijuita. tak heran dia sampai terlongong lupa diri, Keruan kejutnya
bukan main mendengar teguran orang, waktu dia angkat kepala,
dilihatnya pemuda jubah kuning tadi sudah berdiri di depannya,
mulutnya me-nyungging senyum dingin, matanya menatap tajam
dan beringas ke arah kantong sulam yang dipegangnya. Lekas Ling
Kun-gi masukkan kantong sulam itu ke dalambajunya.
"Nanti dulu," cegah pemuda jubah kuning, "barang apa yang kau
pegang itu?"
Dengan sikap angkuh Ling Kun-gi menjawab: "Apa kau bicara
dengan aku?"
Si pemuda jubah kuning menyeringai, katanya dingin. "Apa ada
orang ketiga di sini?"
"Selamanya kita belum pernah kenal, ada petunjuk apa?"
Agaknya pemuda jubah kuning kurang sabar. katanya. " Kutanya
barang apa yang kau pegang tadi?"
"lnilah barangku sendiri, kenapa kau tanyakan?" jawab Kun-gi tak
acuh.
"Aku merasa kenal sekali akan barang itu, coba keluarkan biar
kuperiksa."
"Memang aku harus menurut?"
Berubah roman pemuda jubah kuning, katanya mengancam
sambil mendekat selangkah. "Keluar-kan tidak?"
Terangkat alis Ling Kun-gi, jengeknya. "Kau mau main kasar?"
Sipemuda seperti mempertimbang apa2, maka kata Ling Kun--gi
seperti tidak didengarnya, sesaat kemudian dia baru berkata.
"Mungkinkah barang miliknya?" - "NYA" atau si dia yang dimaksud
sudah tentu adalah Bun Hoan-kun. Panas muka Ling Kun-gi,
katanya. "Kau sedang mengoceh apa?"
Mendadak sipemuda berseru keras. "Betul, memang itu kantong
yang selalu di- bawa adik Hoan." Tiba2 dengan pandangan penuh
kemarahan dia tatap muka Ling Kun-gi, hardiknya beringas: "
Kantong sulam itu kau dapat dari mana?"
"Peduli kudapat dari mana?" jengek Ling Kun-gi marah juga.
"Barang milik keluarga Un dari Ling-lam, bagaimana mungkin
berada di tanganmu?"
Keluarga Un dari Ling lam, jadi nona Bun itu sebetulnya she Un?
Tapi Ling Kun-gi lantas menjawab: "Aku t idak kenal keluarga Un dari
Ling-lamyang terang orang lain yang memberi kantong ini padaku."
Berubah air muka si pemuda jubah kuning, tanyanya tak sabar:
"Siapa dia?"
"Seorang sahabat. Kau tak mungkin kenal dia."
"Katakan, dia she apa?-
"She Bun."
"Laki atau Perempuan?"
"Dia adalah Piaumoayku."
"Keluarkan kantong itu untuk kuperiksa, asal bukan milik adik
dari keluarga Un segera kukem-balikan padamu."
Ling Kun-gi menggeleng, katanya: "Kau terlalu memaksa .........."
"Jadi kau ingin dipaksa pakai kekerasan?"
"Pakai kekerasan aku juga t idak gentar."
"Baiklah, nah rasakan-" mendadak pergelangan tangannya
bergerak. tahu2 sebuah jarinya menuding ke dada Ling Kun-gi,
sekali tutuk lantas menye-rang Hiat-to mematikan, dari sini dapatlah
dinilai orang ini berhati kejam.
Ling Kun-gi menyambut dengan sikap pongah, "Rasakan juga
boleh" Dengan enteng tiba2 dia miringkan badan dan berkelit ke
samping.
Tapi pada saat ia bergerak itu, mendadak terasa pula sejalur
angin kencang yang tidak kelihatan me-nerjang dadanya. Untung
Ling Kun-gi sudah me-ngerahkan hawa murni pelindung badan,
walau angin pukulan ini menerjang secara mendadak tetap tertolak
oleh hawa pelindung badannya sehingga tidak ci-dera sedikitpun.
Namun hatinya kaget dan heran, batinnya: " Entah kapan dia
lancarkan angin pukulan ini, begini cepat dan tangkas?"
Waktu dia angkat kepala, dilihatnya pemuda jubah kuning
mengepal tinju tangan kanan dan kiri melintang di depan dada,
kelihatannya tidak bergerak sedikitpun. Tapi gaya orang sudah
cukup mengejut-kan Ling Kun-gi, diam2 ia berteriak kaget dalam
hati: "Bu sing- kun."
Melihat Bu-sing- kun (pukulan tanpa suara) yang dilancarkannya
secara diam2 jelas mengenai dada orang, tapi kenyataan lawan
tetap segar bugar seperti tak terjadi apa2, mau tak mau berubah air
muka pemuda baju kuning, pikirnya : " Kiranya dia telah
meyakinkan Hou-sin-cin-khi (hawa murni pelindung badan)." Semua
ini hanya berlangsung dalamsekejap.
Walau dalam hati kedua pihak sama kaget, namun mereka tidak
lantas berhenti. Sambil menyeringai tinju kanan si pemuda jubah
kuning terbuka, telapak tangannya menepuk ke pundak kiri Ling
Kun-gi sementara tangan kiri menekan turun, dua jari tangannya
secepat kilat menutuk Ki-hay-hiat di iga Ling Kun-gi.
Sedikit miringkan badan berbareng Ling Kun-- gi lancarkan jurus
No-liong-tui-hun (naga marah mendorong mega), secara terbalik dia
menapak serangan tangan kanan lawan, sementara tangan kiri
seperti menangkis tapi kelima jarinya tergenggam, yang digunakan
adalah tipu To-pan -liong- ka (menjungkir balik tanduk naga),
dengan mudah dia tangkap kedua jari pemuda jubah kuning.
Dua jurus serang menyerang ini berlangsung dalam waktu
singkat, semula terdengar suara plok. tangan kanan Ling Kun-gi
dengan telak saling ber-adu dengan telapak tangan kiri pemuda
jubah kuning. Terasa oleh pemuda jubah kuning telapak tangan
Ling Kun-gi menimbulkan guncangan tenaga yang luar biasa besar
dan keras, tanpa kuasa dia tertolak setengah tindak ke kanan-
Berbareng terasa pula kedua jari kirinya tahu2 sudah tertangkap
Ling Kun--gi yang terus menelikungnya ke belakang.
Semula kedua orang ini berdiri berhadapan, tapi karena lengan si
pemuda jubah kuning ditelikung ke belakang, dengan sendirinya
badannya ikut berputar, jadi dia kini membelakangi Ling Kun-gi.
Dengan lutut kaki kanan Ling Kun-gi depak pantat orang serta
melepas pegangan tangan kirinya, maka pemuda jubah kuning
tersuruk sempoyongan lima langkah ke depan, Lintg Kun-gi tidak
mengejar. katanya dingin : "Maaf, aku sih tidak suka main kasar.."
Mendadak pemuda jubah kuning membalik badan, wajahnya
merah padam. "Sret", dia cabut pedang yang berkilau, hardiknya
bengis: " Keluarkan senjatamu."
Ling Kun-gi tidak acuh, ujarnya,: "Barusan cayhe menaruh
kasihan padamu. tapi kau t idak tahu diri?"
"Hari ini ada kau tiada aku, marilah kita perang tanding pakai
senjata."
Bertaut alis Ling Kun-gi, katanya: "Apa perlu sampai demikian?"
^
Seperti dirasuk setan si pemuda jubah kuning mencak: "Jangan
cerewet, jiwamu tetap kubunuh walau tidak pakai senjata."
"Kalau demikian silakan turun tangan saja".
"Baik. Hati2lah," tiba2 pedangnya menutul, batang pedangnya
mengeluarkan suara mendengung, di tengah jalan tiba2 sinar
kemilau berkembang se-perti tiga kuntum bunga yang mekar.
"Ilmu pedang bagus" Ling Kun-gi berseru me-muji. Sedikit
menarik napas, mendadak dia menyurut mundur t iga kaki.
Melihat lawan berkelit mundur, tapi tetap tidak mau melolos
senjata, pemuda jubah kuning, menyeringai dingin, dengan cepat
dia mendesak maju seraya mengayun pedang, beruntun dia
menyerang tiga kali. Walau hanya tiga jurus, namun sinar kemilau
pedangnya sudah memenuhi udara sekitarnya laksana deburan
ombak samudera yang ber-gulung2.
Ling Kun-gi bergelak panjang, tiba2 kedua tangannya bergerak
sekaligus, entah bagaimana tahu2 jari2nya mencengkeram ke
tengah tabir sinar pedang lawan, gerakannya ini sangat aneh dan
lucu.
Kepandaian pemuda jubah kuning bukan olah2 tingginya, pedang
pusaka ditangannyapun tajam luar biasa, ternyata Ling kun-gi
berani menangkap tajam pedangnya dengan tangan telanjang,
keruan pemuda jubah kuning yang biasanya tinggi hati ini menjadi
kaget.
Maklumlah biasanya dia selalu me-ngagulkan diri. namun dia
memang didikan dari keluarga persilatan ternama, pengalaman dan
pengetahuannya cukup luas dan tinggi, otaknyapun dapat hekerja
cepat, pikirnya: "Kalau bocah ini tidak memiliki kepandaian khas, tak
mungkin dia berani mengadu tangan dengan pedang pusakaku."
Sebelum dapat menyelami gerakan lawan- betapapun dia tidak
rela kalau pedangnya ketangkap Ling Kun-gi. Sigap sekali dia
mundur setengah langkah berbareng pergelangan tangan
menyendal, ujung pedang seketika menerbitkan sinar benang beribu
banyaknya dan mengurung rapat ke seluruh badan Ling Kun-gi.
Jurus Ban-liu-biau-si (berlaksa jalur daun liu bertaburan) yang
dilancarkan ini mengincar seluruh Hiat-to musuh bagian depan,
kalau latihan sudah mencapai tarap tertinggi, hanya sekali tusukan
pedang saja dapat melukai 36 hiato-to mematikan, ilmu pedang ini
merupakan salah satu dari tujuh ilmu khas keluarga Siau yang
tersohor di daerah Lam siang.
Baru saja sipemuda jubah kuning melancarkan serangannya, Ling
Kun-gi mendadak menghardik keras, tangan kanan menegak terus
menabas, sementara tangan kiri secepat kilat meraih ke depan,
tangannya merebut pedang lawan- Serangan telapak tangan di
kanan dan mencengkeramdari kiri ini dilancarkan secara serentak.
Serangan telapak tangannya menerbitkan angin kencang dan
dahsyat, sehingga jurus Ban-liu-biau-si si pemuda jubah kuning
betul2 mirip dahan2 pohon liu yang tertiup angin dan tercerai berai
melayang tak keruan- Sedang kelima jarinya dengan tepat dapat
menindih batang pedang orang pula.
Mimpipun tak pernah terpikir oleh pemuda jubah kuning bahwa
Ling Kun-gi memiliki Lwekang selihay dan setinggi ini, lekas dia
melejit mundur beberapa kaki dengan darah tersirap. Sudah tentu ia
tak tahu bahwa gerakan telapak tangan dari men-cengkeram secara
berbareng dari serangan Ling Kun--gi ini memang mempunyai asal
usul yang luar biasa. Pukulan telapak tangan adalah mo-ni-in, suatu
ca-bang ilmu pecahan dari ilmu tingkat tinggi Ih-kin- king,
sedangkan cengkeraman tadi adalah jit-jiu--pok-liong (tangan
kosong mengikat naga), salah satu tipu dari cap-ji-kim-Liong-jiu
(dua belas jurus penangkap naga), cuma dia melancarkan serangan
lengan tangan kiri, jadi secara terbalik dari jurus2 ilmu silat Siau-limpay
yang semestinya.
Pada saat pemuda jubah kuning melompat mundur itulah
sesosok bayangan lainpun kebetulan meluncur turun di depan hutan
sana. Kedatangan orang ini tidak menimbulkan suara, belum lagi
kedua orang yang berhantam melanjutkan gebrakannya, cepat
orang itu membentak: "Kalian lekas berhenti"
Ling Kun-gi berpaling, yang datang adalah laki2 tua kurus
berwajah merah, jubah panjang dengan ikat pinggang sutera, dia
inilah paman Bun Hoan-kun ladi.
Terunjuk rasa girang pada wajah pemuda ju-bah kuning, lekas
dia menyambut dengan laku hormat, "Paman sudah datang"
Dengan pandangan tajam si orang tua menatap Ling Kun-gi,
tanyanya: "Siapakah saudara ini? Kenapa kalian berkelahi?"
"Siautit tidak tahu siapa dia?" sahut pemuda ju-bah kuning,
"cuma tadi kulihat dia memegangi kantong sulam mirip milik adik
Hoan, maka kutanya dia peroleh dari mana? Ternyata dia tidak
menjawab dan tidak mau mengeluarkan agar dapat kuperiksa."
" omong kosong, kantong itu pemberian Piaumoayku, apa
sangkut pautnya dengan kau?" bentak Ling Kun-gi. Apa yang
diucapkan Ling Kun-gi memang cukup beralasan, perempuan mana
dalam kolong langit ini yang tidak pandai menyulam, barang
kenang2an pemberian adik misan sendiri, mana boleh ditunjukkan
kepada sembarang orang.-
Tersenyum orang tua muka merah sambil mengelus jenggot,
katanya: " Kalian masih sama muda dan berdarah panas, ini hanya
salah paham, kini duduk persoalan sudah terang, toh kalian tidak
ada permusuhan, buat apa harus bertempur mati2an?"
"Tapi kantong itu jelas milik adik Hoan, Siautit tidak salah lihat,"
pemuda jubah kuning, masih uring-uringan-
Ling Kun-gi mengejek: "Kau terlalu menghina orang, memangnya
hanya keluargamu saja yang bisa menyulam kantongan (sejenis
dompet dari kain) begini?" .
orang tua muka merah ter-gelak2, katanya: "Di sinilah letak
persoalannya, kalian tidak mau mengalah, semakin debat urusan
semakin runyam. Nah marilah, kalau tidak bertempur tidak akan
kenal, kalian sama2 muda dan gagah, bagaimana kalau Losiu (aku
yang tua) menjadi penengahnya?" Sampai di sini dia berpaling
kepada Ling Kun-gi dan mem-perkenalkan diri: "Losiu Un It-kiau."
lalu dia tunjuk pemuda jubah kuning dan menambahkan: "Inilah Lollok
(anak keenam) keluarga Siau dari Lam-siang, orang suka
memanggilnya Kim-hoan-lok- long Siau Ki-jing ......."
Waktu bicara secara diam2 dia mengedip mata kepada pemuda
jubah kuning yang masih ber-sungut2, kemudian dia berpaling dan
mengawasi Ling Kun-gi, tanyanya, "Dan saudara? Di mana tempat
tinggalmu? Siapa oula saudara yang terhormat?"
"cayhe Ling Kun-gi dari Ing-cu," Kun-gi menjawab.
"Ling-lote berkepandaian tinggi, entah pernah apa dengan Hoanjiu-
ji-lay, paderi sakti nomor satu yang dulu tersohor di kalangan
Bu-lim itu?" kiranya dia sudah dapat meraba asal-usul perguruan
Ling Kun-gi.
Kejut juga hati Ling Kun-gi, batinnya: "Bu-kan saja tinggi
kepandaian silat orang ini, pengalamannya ternyata juga luas,
sekilas pandang lantas tahu seluk belukku. Tapi meski kau tahu asal
usul perguruanku, memangnya kau tahu bahwa guruku sengaja
suruh aku pamer kepandaiannya, guru pernah berpesan:
"Tunjukkan asal usul perguruan untuk menyembunyikan asal-usul
riwayat hidupku." Tapi bagaimana riwayat hidup dirinya, Kun-gi
sendiri juga tidak tahu.
Sesaat Ling Kun-gi bimbang, jawabnya kemudian: "Beliau adalah
guruku."
Terkejut dan terpancar pula mimik aneh pada muka Un it-kiau,
katanya ter-bahak2 "Ternyata Ling-lote memang betul murid paderi
sakti, sungguh beruntung dapat bertemu."-Tiba2 sorot matanya
menjadi tajam, katanya pula: "Jadi gurumu masih sehat walafiat,
entah di mana beliau sekarang tinggal?"
"Jejak guru tidak menentu, cayhe sendiri tidak^elas," sahut Kungi.
Un It-kiau manggut2, katanya: " Waktu gurumu mengembara di
Kangouw dulu, jejaknya memang seperti naga di dalam awan yang
kelihatan ekornya tapi tidak nampak kepalanya, tadi Losiu hanya
tanya sambil lalu saja."
Lekas Kun-gi menjura, katanya: "cayhe masih punya urusan, tak
bisa berdiam lama, maaf cayhe mohon diri."
"Ling-lote ada urusan, boleh silakan pergi," ujar Un It-kiau.
Ling Kun-gi manggut2 kepada mereka berdua terus melangkah
pergi dengan cepat.
Setelah bayangan Ling Kun-gi sudah jauh, terunjuk senyum sinis
pada wajah Un It-kiau katanya kepada Siau Ki-jing: "Mari kita kuntit
dia"
"Paman juga curiga kepada bocah itu... . " ta-nya Siau Ki-jing.
Un It-kiau sedikit manggut, katanya: "Lohu kira munculnya bocah
ini di sini tentu ada sebab-nya," tanpa menunggu Siau Kijing tanya
lebih lanjut. dia lantas mendahului berlari pergi.
Dengan langkah cepat Ling Kun-gi menempuh pula perjalanan
cukup jauh, mendadak dia hentikan langkahnya, matanya
menjelajah keadaan sekeliling, tiba2 dia berkelebat masuk ke dalam
hutan dipinggir jalan-
Tujuan perjalanannya ini adalah menguntit si mata satu, tapi
karena di Liong- kip tadi terpaksa dia harus mendemontrasikan
kepandaiannya, mungkin laki2 yang berbaju biru sudah
memperhatikan dirinya, jelas gerak gerik dirinya selanjutnya
mengalami kesulitan.
Maka setelah keluar dari kota, dia cari tempat sunyi dan
tersembunyi untuk merias diri, tak tahunya dia bersua dengan Un
Hoan-kun dan pelayan pribadinya.
Gurunya Hoan-jiu-ji-lay sebelum mencukur rambut menjadi
Hwesic di Siau-lim-si, Hoan--jiu-ji-lay adalah maling pendekar di
kalangan kangouw, pandai tata rias, sudah tentu dalam bidang ini
Ling Kun-gi juga seorang ahli. Begitu masuk hutan dia lantas cari
tempat sembunyi, segera ia merias dan berdandan diri.
Tak lama kemudian dia sudah ubah dirinya jadi seorang tua desa
dengan rambut di samping kepala sudah ubanan, jenggot kambing
menghias dagunya, setelah membereskan buntalannya. dia simpan
pedang di dalam baju, baru saja dia mau keluar, mendadak
didengarnya dua orang mendatangi sambil ber- cakap2.
Kun-gi merandek. didengarnya seorang yang muda berkata:
"Bocah itu cukup licin, jelas tadi dia menuju kemari, kenapa jejaknya
menghilang?"
Disusul suara serak berkumandang: "Sebetulnya tidak perlu
harus mengunt it dia, Lohu hanya merasa . . . ." hanya merasa apa?
karena jaraknya semakin jauh, maka tak terdengar. Tanpa melihat
bayangan mereka Ling Kun-gi tahu bahwa kedua orang ini adalah
Un It -kiau dan Kim-hoau-llok--long siau Ki-jing.
Dia melenggong mendengar percakapan mereka. batinnya:
"Kiranya mereka sedang menguntitku, jangan anggap aku ini
muridnya Hoan-jiu-ji-lay."
Waktu dia tiba di Thay-khong, hari sudah maghrib, rumah2
sudah pasang lentera. Thay khong merupakan kota persimpangan
jalan utara dan selatan, meski kota kecil, namun suasana kota
cukup ramai dalam kota kecil ini terdapat tiga buah hotel.
Ling Kun-gi putar kayun sebentar dijalan raya, ia menemukan
jejak si baju biru bersama pembantunya, mereka tengah makan
minum di sebuah restoran, tapi dia tidak masuk ke sana, Dengan
menghabiskan beberapa keping uang receh, dia mengorek
keterangan pelayan hotel, ternyata dengan mudah dan cepat sekali
dia menentukan tempat di mana si mata satu menginap. .Itulah
sebuah losmen kecil yang kotor di gang yang melintang di sebe-lah
timur sana. Maka Kun-gi juga mondok di losmen kecil ini. Uang
memang berkuasa, jangan kata manusia, setanpun doyan duit,
demikianlah pelayan losmenpun mengatur segala keperluan Ling
Kun-gi, dia ditempatkan di kamar seberang si mata satu.
Semalam suntuk tiada terjadi apa2, hari kedua pagi sekali
sebelum si mata satu bangun tidur, Ling Kun-gi sudah mendahului
menempuh perjalanan- setibanya di luar kota di sebuah tempat.
Kun-gi ubah diri pula menjadi pedagang setengah baya.
Dari toko kelontong tadi dia sempat membeli sebuah payung dari
kertas minyak, maka dia sembunyikan pedangnya di dalam payung,
payung di bungkus hingga cuma kelihatan gagangnya, orang tentu
takkan curiga kalau dia membekal senjata.
Dengan memanggul buntalannya, dia langsung menuju ke Hoayyang.
Dari Thay-khong ke Hoay-yang jaraknya cuma tujuh li. setelah
menyamar jadi saudagar. sudah tentu dia tidak boleh jalan terlalu
cepat, dengan jalan lambat, diharap si mata satu dapat menyusul
dirinya.
Tengah hari ia istirahat di Lo-bong-kip, tak lama kemudian
dilihatnya si mata satu lewat di depan warung dengan langkah
cepat. Kejap lain Ling Kun-gi juga sudah menempuh perjalanan
serta menguntit dari kejauhan-.
Sebelum petang dia tiba di Hoay- yang. Karena si mata satu
sudah sampai tempat tujuan, maka tidak berani berlaku lena, begitu
masuk kota dengan ketat dia membayangi gerak-gerik orang. Si
mata satu sebaliknya memperlambat langkah setelah berada dalam
kota, sambil berlenggang seperti tuan layaknya dia putar kayun
dijalan raya, akhirnya memasuki sebuah restoran berloteng yang
bernama Ngo hok ki.
cepat Ling Kun gi juga sudah berada di Ngo-hok-ki, sekilas
pandang, dilihatnya si mtaa satu duduk sendirian di meja timur yang
dekat jendela. maka dia memilih meja yang letaknya tidakjauh serta
pesan makanan-
Hari sudah gelap. tiba saatnya orang makan malam, lenterapun
sudah dipasang terang benderang, maka tamu2 yang mau isi perut
juga ber-duyun2 datang.
Si mata satu dengan asyiknya tenggak arak pesanannya, tapi
mata tunggalnya selalu plirak-plirik memperhatikan setiap tamu
yang baru datang. Sudah tentu Kun gi tahu maksud orang, setelah
tadi putar kayun dijalan raya, kini si mata satu duduk di tempat
yang menyolok, maksudnya supaya menarik perhatian orang.
Karena Hoay- yang adalah tujuannya yang terakhir, entah kepada
siapa dia harus menyerahkan barang yang dibawanya?
Sudah tentu Kun-gi juga perhatikan setiap tamu yang datang,
namun para tamu sudah gant i berganti dan pergi datang, tapi
selama itu tiada satupun yang mengadakan kontak dengan si mata
satu. Kini tamu2 yang hadir sudah mulai berkurang, tinggal
beberapa orang saja. Agaknya si mata satu tidak sabar lagi setelah
membayar rekening bergegas dia turun dari loteng restoran-
Kun-gi juga bayar rekening dan menguntit dari kejauhan- Tidak
lama mendadak si mata satu mem-percepat langkah, membelok dua
kali dari jalan raya yang satu kejalan raya yang lain, terus menyusur
ke arah selatan, dua li kemudian keadaan di sini sudah mulai sepi
dan banyak belukar, tak lama dia tiba di sebuah biara.
Tampak dia celingukan ke belakang sebentar, mendadak dia
melompat ke pagar tembok terus turun di sebelah dalam. cepat
sekali Kun-gi juga menye-linap masuk ke dalam biara lewat samping
kanan, di atas tembok dia melihat si mata satu lewat pelataran terus
masuk ke dalam, sejenak dia merandek terus memasuki ruang
pendopo.
Ling Kun-gi tak berani ceroboh dan bertindak lambat, dengan
enteng dia mendahului merunduk masuk ke dalam ruang pendopo.
cepat matanya menjelajah sekelilingnya, segera ia melompat ke atas
besandar yang melintang tepat di tengah ruang itu. Gerak-geriknya
sungguh teramat cepat dan cekatan, ruang pendopo ini lebarnya
ada belasan tombak. Ling Kun-gi menyelinap masuk dari arah
kanan, untung kepandaian si mata satu rendah, su-dah tentu
sedikitpun dia tidak tahu.
Mungkin tadi terlalu banyak minum arak. setelah menempuh
perjalanan jauh, napasnya rada tersengal, maka begitu masuk
ruang pendopo, si mata satu terus menjatuhkan diri di atas meja
rebah celentang melepaskah lelah.
Tak lama setelah dia rebah, mendadak di luar terdengar dua kali
suara jeritan rintihan tertahan- Malam sunyi senyap. maka keluhan
tertahan terdengar amat jelas, letaknya tidak terlalu jauh di luar
biara ini, mungkin orang itu kena dibokong orang dan jiwanya
terancam.
si mata satu berjingkrak kaget, lekas dia melompat bangun,
maka dilihatnya sesosok bayangan tinggi laksana setan tahu2 sudah
muncul di depan serambi ruang pendopo sana, lambat2 langkahnya,
memburu ke ruang pendopo.
Kaget dan ketakutan si mata satu, tegurnya suara gemetar:
"Siapa ....?"
Dari tempat sembunyinya, sebaliknya Ling Kun-gi dapat melihat
jelas bahwa pendatang ini adalah laki2 baju hijau yang lengan
kirinya pakai tangan palsu dari besi. Begitu masuk pendopo dia
lantas berhenti, suaranya dingin: " Kuantar surat untukmu, apa kau
ini si picak kanan-"
Mendengar orang datang mengantar surat, cepat si mata satu
menyongsong maju, katanya berseri ketawa: "Bukan, bukan,
hamba, hamba picak kiri bukan picak kanan-"
Bayangan kurus tinggi mendengus sekali, dari dalam kantongnya
dia merogoh keluar sebuah sampul terus diangsurkan, katanya^
"Ambil"
si mata satu menerima dengan kedua tangan. Tanpa bicara lagi
bayangan kurus tinggi terus tinggal pergi.
Diam2 Kun-gi membatin ditempat sembunyinya: "cara sibaju
hijau mengantar surat mirip dengan caranya waktu memberikan
surat kepada si baju biru kemarin malam, surat itu tentu memberi
petunjuk ke mana harus menyerahkan barang yang dibawanya?
Mungkinkah belum sampai di tempat tujuan terakhir?"
Setelah terima surat, dengan sikap hormat si mata satu antar si
baju hijau pergi, setelah itu dengan seksama dia baca tulisan yang
ada di atas sampul surat itu, lalu kembali ketempat dia me-rebahkan
diri tadi "cret"., dia menyalakan api dan menyulut sebatang lilin-
Lalu dia mengambil sebatang dupa wangi dan disulut terus
ditancapkan pula di atas Hiolo, setelah itu dengan laku hormat dia
taruh sampul itu di atas meja.
Kebetulan Ling- Kun-gi sembunyi di atas belandar, melihat
kelakuan si buta yang aneh dan ganjil ini, dalam hati dia merasa
heran, dia pu-satkan ketajaman matanya memandang kearah
sampul di atas meja. Lwekangnya memang sudah tinggi, walau
jaraknya cukupjauh, namun huruf di atas sampul masih bisa
dibacanya dengan jelas. Bunyinya demikian: "Sulut dupa di atas
Hiolo, habis sebatang baru buka sampul ini"
Entah apa maksud dan permainan aneh apa pula yang dilakukan
penulis surat ini? Yang terang terasa oleh Kun-gi bahwa bungkusan
kertas yang mereka kirim dengan cara misterius ini tentu
mempunyai arti yang amat besar.
Dupa itu terbakar dengan cepat, asap dupa mengepul memenuhi
ruangan pendopo, tapi asap itupun cepat sekali sudah sirna tertiup
angin, tinggal bau wangi saja yang masih merangsang hidung.
Agaknya dupa wangi ini terbuat dari kayu cendana asli. Melihat
dupa sudah terbakar habis, simata satu lantas ambil sampul terus
dirobek.
cepat Kun-gi menunduk, dilihatnya si mata satu mengeluarkan
secarik kertas, di dalam lipatan kertas terdapat sebutir pil warna
putih, di atas kertas tertulis sebaris huruf2 yang berbunyi: "Le-kas
telan pil ini, keluar dari pintu selatan, sebelum kentongan kelima
sudah harus tiba di Liong-ong--bic"
Memegangi pil putih itu, agaknya si mata satu ragu2, mendadak
tampak tubuhnya sempoyongan, hampir saja dia roboh terjungkal.
lekas dia jejal-kan pil itu ke dalam mulut, sekalian dia raih kertas itu
terus dibakar.
Pada saat itulah, bayangan seorang tiba2 terjungkal jatuh dari
belakang patung pemujaan, "Blang" roboh terkulai tak bergerak
setelah menggelinding dua kali.
Si mata satu amat terkejut, dia melompat mun-dur beberapa
kaki, dengan mata melotot dia mengawasi sosok tubuh yang
meringkal dilantai itu.
Ternyata yang terjungkal jatuh dari belakang patung adalah
seorang gadis yang berpakaian coklat, kedua matanya terpejam,
rebah tanpa bergerak sedikitpun. Di pinggangnya kelihatan terselip
sebatang pedang pendek. jelas iapun seorang persilatan-
Melihat gadis itu rebah terkulai tak bergerak lama2 bangkit
keberanian si mata satu, katanya dengan tertawa dingin: "Pantas
aku diperintah membakar dupa wangi baru boleh membuka surat
ini, ternyata memang ada orang menguntit diriku, pihak atas
memang ada perintah, kalau temukan orang menguntit boleh bunuh
saja habis perkara, nona cantik, jangan kau salahkan aku berlaku
kejam ........." dari samping tubuhnya, dia mencabut sebilah golok
terus mendekati. Mendadak seorang membentak keras: "Berdiri"
Terasa angin menyamber, tahu2 di depan si mata satu sudah
berdiri laki2 setengah baya dengan wajuh kereng, setajam pisau
matanya menatap si mata satu, bentaknya pula: " Tidak lekas kau
enyah?"
Sorot matanya cukup menggetarkan nyali, bentrok dengan sorot
mata orang, tanpa terasa si mata satu bergidik, ter-sipu2 dia
mengiakan terus putar tubuh dan lari sipat kuping.
Laki2 setengah baya ini adalah samaran Ling Kun-gi, dia tidak
hiraukan si mata satu, dia coba memeriksa si nona.
Kedua mata gadis baju cokelat terpejam, bulu matanya panjang
melengkung, wajahnya cantik tam-pak masih ke-kanak2an, pipinya
merah seperti buah apel yang masak. hidungnya mancung,
mulutnya kecil, usianya paling2 baru tujuh belasan-
Sekirang Ling Kun-gi baru mengerti bahwa dupa yang disulut si
mata satu tadi kiranya dupa wangi yang membiuskan- Tapi kenapa
dirinya tidak kurang suatu apa2. Bukankah dirinya jauh lebih banyak
menghirup asap dupa di tempat yang lebih tinggi? Beberapa kejap
dia berdiri melenggong, akhirnya dia ingat akan kantong sulam
pemberian Un Hoan-kun, bukankah di dalamnya berisi obat2an
piranti menawarkan obat bius. Lekas dia keluarkan kantong sulam
itu, setelah ikatan teratas dia buka, di dalamnya berisi sebuah botol
gepeng warna pu-tih halus.
Begitu botol gepeng dikeluarkan, bau harum yang menyegarkan
seketika merangsang hidung, ter-nyata di atas tutup botol terdapat
lima lubang kecil yang berbentuk menyerupai bunga bwe, bau
harum teruar dari lubang2 kecil2 ini. Waktu dia teliti lebih lanjut,
tepat diperut botol gepeng ini terukir tiga huruf Jing-sin-tan-, di
bawahnya terdapat sebaris huruf2 kecil yang berbunyi: "Buatan
khusus keluarga Un di Ling- lam."
cepat Kun-gi buka tutup botol kecil ini ternyata terdiri dari dua
bagian- lapisan atas berisi puyer warna kuning, lapisan kedua berisi
beberapa pil warna hitam sebesar biji kapok. Sekarang Ling Kun-gi
baru mengerti, bahwa puyer warna kuning itu adalah obat penawar
bau wangi yang memabukkan, maka diatas tutup botol di beri
lubang supaya bau harum penawar ini dapat teruar keluar, oleh
karena itu botol ini harus di simpan dalam kantong benang sulam
dan digantung di atas leher, cukup mengendus bau harum yang
teruar dari tutup botol, segala obat bius yang wangi memabukan
akan menjadi tawar dengan sendirinya. Sementara pil hitam di
bagian bawah itu adalah obat penawar yang harus ditelan-
Jadi gadis baju coklat ini terbius oleh bau wangi, cukup asal botol
ini di ciumkan ke dekat hidungnya, tak usah diminumi pil tentu
sebentar akan siuman- Betul juga, kira2 sepeminum teh ke-mudian,
pelan2 gadis baju cokelat mulai membuka kedua mata.
Melihat dirinya rebah di lantai, di sampingnya berjongkok seorang
laki2 yang tak dikenalnya, ke-ruan kagetnya bukan main, lekas si
nona membalik tubuh dan berduduk seraya berteriak: "Siapa kau?
Kau .... apa yang kau lakukan .... " wajahnya pucat, sctelah duduk
baru dia melihat Kun-gi memegangi sebuah botol, sikapnya jelas
tidak ber-maksud jahat.
Kun-gi unjuk senyum manis, katanya: "Nona jangan takut,
barusan kau terbius oleh bau wangi, akulah yang memberikan obat
penawarnya."
Merah kedua pipi si gadis, kedua biji mata-nya terbeliak
mengawasi Kun-gi, lekas dia membungkuk badan, katanya: "Jadi
paman yang meno-longku, entah bagaimana aku harus menyatakan
terima kasih."
Panggilan sekilas membuat Ling Kun--gi melengak. tanpa segera
dia sadar bahwa dirinnya sedang menyamar pedagang setengah
baya, tanpa terasa dia tersenyum lebar, ujarnya sambil mengelus
jenggot pendek dibawah dagunya: "Nona jangan sungkan,
kebetulan cayhe lewat sini, kulihat si mata satu itu hendak
mencelakai nona. sudah tentu aku t idak boleh berpeluk tangan?"
04
Terbayang rasa kaget dan heran pada wajah si gadis, katanya,
"paman bilang si matu satu itu hendak mencelakai aku? Padahal aku
tidak ber- musuhan dan tiada dendam, kenapa dia hendak
membunuhku?"
"Karena kuatir rahasianya bocor, membunuh nona untuk
menutup mulut," sahut Kun-gi. -kedip2 mata si gadis baju cokelat,
kata-nya ketarik: "Dia punya rahasia apa? Jahat betul orang itu."
Berhadapan dengan gadis yang lucu dan masih punya bersifat
kanak2, suaranya merdu lagi, tanpa terasa Kun-gi sampai melamun.
Melihat Kun-gi menatap dirinya dengan pandangan aneh, merah
pula muka si gadis, dengan lirih dia berte-riak: ....
Teriakan ini membuat Ling Kun-gi tersentak kaget, sadar akan
sikapnya yang tidak wajar barusan, seketika mukanya terasa panas,
dia tertawa tawa, tanyanya: "Bagaimana nona bisa sembunyi
seorang diri di sini?"
"Sering pamanku bilang, hotel bukan penginapan yang baik bagi
seorang gadis yang menempuh perjalanan seorang diri, katanya
bisa dihina dan dirugikan orang lain, maka aku pilih biara ini... "
Ling- Kun-gi tertawa, ujarnya: "Akhirnya kau lihat si mata satu itu
melompat tembok masuk kemari, maka kau lantas sembunyi di
belakang patung."
"Ya," mata si nona berputar, lalu katanya: "kini teringat olehku,
sebelum si mata satu masuk kemari, jelas kulihat bayangan orang
berkelebat sekali terus menghilang, semula kukira pandanganku
yang kabur, ternyata paman adanya, jadi kau menguntit si mata
satu, betul tidak?"
Diam2 Kun-gi pikir gadis ini cukup cerdik dan pintar, maka
dengan tertawa dia berkata: "cayhe hanya ketarik saja dan ingin
tahu."
Bahwa Ling Kun-gi ternyata betul menguntit si mata satu, jadi
tebakkannya tepat, seketika si gadis baju coklat berjingkrak girang,
tanyanya cepat :"Ya, tadi paman bilang karena kuatir rahasianya
bocor, maka si mata satu hendak membunuhku, soal apa pula yang
membuat paman ketarik sampai menguntit dia ke dalam biara ini?"
"Dia ditugaskan mengantar sesuatu benda, kulihat gerakgeriknya
aneh dan mencurigakan, maka kuikuti dia."
si gadis mendesak lagi: "Barang apakah yang dia antar-?"
"cayhe juga tidak tahu, selanjutnya tak perlu aku menguntitnya
lagi."
"tahu ke mana tujuan selanjutnya."
"Kalau t idak salah harus dikirim ke Liong--ong-Bio .... " tiba2 dia
tersentak sadar, soal ini sebetulnya jangan diberitahu kepadanya,
dunia persilatan penuh liku2, kalau gadis ini sampai ketarik dan ikut
menguntit si mata satu serta kebentrok si baju biru, pasti celakalah
dia. Maka lekas dia tutup mulut, lalu alihkan pembicaraan,
tanyanya: "cayhe mohon tahu siapa nama harumnona?"
"Aku she Pui....." sahutnya, pikirannya masih tidak melupakan
barang yang diantar si mata satu, maka dia balas bertanya pula:
"Liong ong-bio diluar pintu selatan kota, paman mari kita kuntit dia,
pasti bisa menyusulnya."
"Hanya ketarik oleh gerak-gerik si mata satu maka aku kemari
untuk melihatnya. Setiap golongan dan aliran persilatan di Kangouw
umumnya punya rahasia masing2, orang dilarang mengetahui,
apalagi Licng-ong-Bio dari sini ada tujuh li jauhnya, aku punya
urusan lain, kukira nona jangan menempuh bahaya?"
Si gadis baju cokelat kurang senang, katanya menjengek:
"Memangnya aku takut, paman tidak mau pergi, biar aku pergi
sendiri. Em, dia berani kerjai aku dengan dupa wangi, aku harus cari
perhitungan sama dia, jangan dikira aku dapat dihina dan
dipermainkan."
Lekas Ling Kun-gi membujuk: "Dia sulut dupa karena kuatir
orang mencuri lihat rahasianya, tujuannya bukan hendak mencelakai
nona, kenapa nona harus berurusan dengan orang kasar seperti dia.
Nona menempuh perjalanan seorang diri, tentunya punya urusan
juga, lebih baik malam ini istirahat di sini, selesaikan dulu urusanmu
sendiri"
"Aku keluar ber-main2, aku tidak punya urusan apa2, paman take
mau pergi, permisi aku mau pergi sendiri," habis berkata si nona
bangkit terus mau pergi. Tapi seperti mendadak teringat apa2, kakinya
berhenti serta berpaling, tanyanya mengawasi Kun-gi:
"Maaf paman, aku lupa mohon tanya nama paman-?"
"cayhe Ling Kun-gi dari Ing-Ciu."
"Akan selalu kucatat dalam hati, sampai ber-temu, paman Ling"
Sekali bilang pergi terus pergi, keras juga tabiat nona ini, Kun-gi
jadi menyesal, kenapa tadi dia memberitahu persoalan sebenarnya
kepadanya, se orang gadis belia, kalau sampai mengalami bahaya,
bukankah secara tidak langsung aku yang mence-lakai dia? Maka
cepat dia berteriak: "Nona Pui, tunggu sebentar"
Si gadis sudah tiba di luar pintu, dia behenti dan bertanya:
"Paman Ling masih ada urusan apa lagi?"
"Kalau nona ingin pergi, baiklah bersama aku saja," ujar Kun-gi. .
Sudah tentu gadis baju cokelat kegirangan. katanya cekikan-
"Paman Ling, kau sungguh baik..." -.Tawanya segar bak sekuntum
bunga mekar, pipi-nya yang merah tersungging dua pipit di kanan
kiri. Begitu anggun mempesonakan sampai Ling Kun-gi t idak berani
melihatnya lama2, katanya sambil melengos: "Marilah lekas
berangkat."
Gadis baju cokelat mengangguk. mereka menuju ke pekarangan
luar, agaknya si gadis sengaja hendak pamer, tiba2 dia meluncur
mendahului ke depan, dengan enteng ia melayang ke atas terus
hinggap di atas tembok. Gerakannya ini adalah ci-yan--liang-poh
(sarang walet melampaui gelombang), tangkas dan cekatan sekali
gerak geriknya.
Ling Kun-gi ikut enjot tubuhnya, katanya sambil tertawa lantang:
" Hebat benar Ginkang nona Pui." Gadis mana yang tidak senang
dipuji. Dengan ringan si gadis meluncur turun di luar tembok, katanya
berpaling dengan senyum bangga: "Paman Ling terlalu
memuji"--- Sirap kata2nya mendadak dia menjerit melengking,
wabahnya pucat ketakutan dan ngeri.
"Nona kenapa?" tanya Kun-gi.
Si gadis tidak berani berpaling, katanya sambil menuding ke
ujung tembok sana: "Di sana ada dua orang."
Geli Ling Kun-gi, batinnya: "Nona kecil biasanya memang bernyali
kecil" Dengan sabar dia membujuk: "Nona tidak usah takut, biar
kulihat kesana." Tampak di kaki tembok sana memang meringkuk
dua bayangan orang. Betapa tajam pandangan Ling Kun-gi, sekilas
pandang dia lantas mengenali salah satu di antaranya adalah laki2
baju abu2 yang dilihatnya di warung makan di Liong-kip, seorang
lagi tentu temannya.
Mendadak Kun-gi ingat, sebelum laki2 baju hijau muncul, di luar
ada dua kalijeritan orang, mungkinkah kedua orang ini sudah
dikerjai musuh?
Bergegas dia melompat maju terus memeriksa de-ngan
berjongkok, tampak kedua orang ini meringkal mirip udang kering,
yang dijemur di panas matahari, kepala dan mukanya berubah
kehijauan, jelas mereka memang kena serangan racun-
Topi bulu yang dipakai laki2 baju abu2 tampak terpental jatuh,
tepat di tengah ubun-ubun kepalanya ada tanda2 bekas keselomot
dupa, kiranya dia seorang Hwesio. Tergerak hati Kun--gi, pikirnya.
Hwesio Siau lim si, mungkin barang yang diantar si mata satu ada
sangkut pautnya dengan lenyapnya Loh-san Taysu, pimpinan Yokong-
tian dari Siau-lim-pay? "
"Paman Ling," tanya gadis baju cokelat dari kejauhan.
"Bagaimana kedua orang itu?"
Pelan2 Ling Kun-gi berdiri, katanya: "Sudah meninggal."
"Apakah mereka terbunuh si mata satu?"
Kun-gi rnengeleng: "Bukan, pembunuhnya ada orang lain-".
"Apakah orang yang mengantar surat itu?" tanya gadis itu,
"tentunya untuk menyumbat mulut mereka? Kulihat dalam perist iwa
ini pasti ada latar belakang yang besar artinya."
Kuatir orang bertanya berkepanjangan, lekas Kun gi berkata:
"Marilah berangkat" Mereka berputar ke pintu selatan, setelah
melompat keluar dari tembok kota, terus menuju ke arah selatan
dengan langkah cepat.
Jarak enam-tujuh puluh li tidak terhitung jauh bagi mereka.
untung malam gelap. di jalanan sepi, maka dengan leluasa mereka
dapat mengem-bangkan ilmu entengkan tubuh menempuh
perjalanan dengan cepat.
Betapapun Lwekang si gadis jauh lebih rendah, setelah ber-lari2
sekian lamanya, pipinya sudah merah, napasnya mulai sengal2, tapi
dia masih berlari setaker kekuatannya.
Kun-gi melihat keadaan orang mulai keletihan, hatinya menjadi
tidak tega, terpaksa dia kendorkan larinya, dengan begitu barulah si
nona dapat mengimbanginya.
Agaknya sigadis tahu diri, alisnya berjengkit, katanya dengan
muka merah, "Paman Ling, agaknya kepandaian silatmu tidak lebih
rendah dari pamanku,"
Siapa pamannya, sudah tentu Ling Kun-gi tidak tahu?
Tanyanya dengan tersenyum: "Apakah pamanmu berkepandaian
tinggi?"
"Sudah tentu kepandaian silat paman teramat tinggi, aku dan
Piauci sama2 belajar kepadanya, Piauciku malah lebih hebat
daripada ku, mungkin aku yang terlalu bodoh."
"Usia nona masih begini muda, memiliki ke-pandaian setingkat ini
juga sudah lumayan-"
Kata gadis baju cokelat dengan berseri lebar: "Piauci setahun
lebih tua daripada ku, bukan saja wajahnya secantik bidadari,
kepandaiannyapun jauh lebih tinggi, terus terang aku tunduk lahir
batin terhadapnya. Paman Ling, mungkin kau belum tahu betapa
anggun dan cantiknya, siapapun pasti tergila2 kepadanya."
Tanpa ditanya dia mengoceh dengan lincah dan Jenaka,
suaranya memang merdu dan lucu, dari tingkah lakunya ini dapatlah
disimpulkan bahwa gadis ini terlalu polos, bersih dan halus budi
pekertinya. Dengan jujur dia puji Piaucinya bak bidadari segala,
yang terang dia sendiripun molek dan lincah penuh gairah.
Begitulah sembari menempuh perjalanan, mereka ngobrol
panjang lebar, setiba di Liong-ong-blo, waktu sudah mendekati
kentongan keempat. Liong--ong-Bio berada di pusat keramaian
sebuah pasar yang terletak di selatan kota Hoay-yang, di antara
kota Sim-kiu, di dalam kota kecil ini kira2 dihuni dua ratus keluarga.
Mereka langsung menuju ke arah barat dan tiba di Liong-ong-Bio
(biara raja naga).
"Biara raja naga" ini terasa sepi, liar dan bobrok. tembok bercat
merah, letaknya dipinggir hutar menghadap ke sungai, dulu tempat
ini memang merupakan pusat keramaian penduduk sekitarnya, tapi
setelah sekian puluh tahun tak terurus, keadaan sudah serba bobrok
dan rusaki
Setiba mereka di depan pintu biara, tampak tak jauh sana
menggeletak sesosok tubuh orang, dalam kegelapan tampak
meringkuk diamtak ber-gerak.
Gadis baju cokelat kaget, langkahnya merandek. tanyanya:
"Paman Ling, menurut kau orang itu sudah mati atau masih hidup?"
Sudah tentu Kun gi juga ingin tahu, lekas dia melangkah maju
serta membalik tubuh orang. se-ketika dia bersuara heran, katanya:
"Kiranya si mata satu" memang mayat yang meringkuk kaku di
tanah ini betul adalah si mata satu yang mereka kunt it.
Kulit kepala dan mukanya berwarna hitam, darah hitam meleleh
dari mulutnya, mata kirinya yang tunggal melotot keluar,
keadaannya sungguh seram menakutkan-Jelas dia mati keracunan-
Mungkinkah laki2 baju hijau pula yang membunuhnya? Demikian
batin Ling Kun-gi. Dengan teliti ia memeriksa, ternyata tiada bekas
luka apa-pun dibadan si mata satu. Selangkah mereka datang
terlambat, tahu2 orang sudah binasa, ini berarti sia2 menguntit
selama dua hari ini.
Si gadis berdiri jauh, melihat Kun-gi diam saja, dia berseru tanya:
"Parnan Ling, kau kenal dia?"
"Inilah si mata satu," sahut Ling Kun-gi.
"o, dia sudah mat i?" tanya si gadis. Ling Kun-gi mengangguk.
"Setelah barang diantar sampai tempat tujuan, sudah tentu dia
harus dibunuh juga untuk menutup mulutnya," kata si gadis pula.. .
Tergerak hati Ling Kun-gi, cepat ia meraba dada si mata satu,
ternyata barang yang tersimpan di kantongnya sudah diambil orang.
Pelan2 dia berdiri, tanpa terasa ia menggerundel: "Kejam juga cara
mereka bekerja."
"Apa katamu paman Ling?" tanya si gadis.
"Dia mati keracunan, mungkin pil yang ada surat tadi juga
beracun."
"Bukankah pil itu sebagai penawar dupa wangi itu?"
"Kalau dugaanku tidak meleset, pil itu pasti terdiri dari dua
lapisar, lapisan luar memang penawar obat bius, sedang lapisan
dalam adalah racun, malah waktu juga sudah diperhitungkan
dengan tepat, bila dia tiba di Liong-ong Bio baru racun akan
bekerja."
"Barang itu sudah diambil orang, paman Ling, perlukah kita
meneruskan pengejaran ini?"
Karena menduga barang yang terbungkus kertas itu ada sangkut
pautnya dengan Loh-san Taysu yang lenyap tak keruan paran itu,
sudah tentu Ling Kun-gi tidak akan menghentikan usaha
penyelidik,an ini.
Si mata satu memang sudah mati, tapi barang yang ia bawa pasti
belum mencapai tujuan terakhir, karena kalau barang itu berakhir
sampai di Liong--ong-blo, tak mungkin mereka membiarkan mayat
si mata satu menggeletak demikian saja dan kalau barang itu belum
berakhir sampai di sini, dalam waktu sesingkat ini orang
mengambilnya tentu belum pergi jauh, meski tidak diketahui siapa
pula pengganti si mata satu tapi asal dia bisa menemukan jejak
sibaju hijau dan pembantunya, tidak sukar untuk menemukan jejak
si pengantar barang rahasia itu
Maka perasaannya menjadi longgar, katanya kemudian: "Aku
hanya ketarik saja, kalau tadi nona Pui tidak ingin kemari, cayhe
juga tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Kini si mata satu
sudah mati, sumber penyelidikan sudah putus, kemana pula mencari
jejaknya?" .... lalu dia pandang si gadis serta menambahkan: "Nona
Pui, dunia persilatan penuh diliput i bahaya, seorang diri, umpama
kau berkepandaian tinggi, namun kau belum berpengalaman, kukira
kaujangan main selidik terhadap rahasia orang lain, kuharap nona
langsung pulang saja, aku masih punya urusan lain, tak bisa
mengiringi kau lagi, hari segera akan terang tanah kota Sim-kiu tak
jauh di depan sana, mari kuantar nona masuk kota, di sana nanti
kita berpisah."
Si gadis berkedip. katanya sambil cekikikan: "Paman Ling, kalau
kau punya urusan boleh silahkan saja, aku toh bukan anak kecil,
bisa jalan sendiri tak perlu kau antar aku."
Tanpa menunggu jawaban Ling Kun-gi dia terus putar tubuh
serta melambai tangan, serunya: "Paman Ling, aku berangkat lebih
dulu."
Bayangan nona Pui akhirnya ditelan kegelapan, hati Ling Kun-gi
seperti kehilangan apa2, terasa hambar. Mendadak disadarinya
bahwa dirinya telah menyukai nona jelita berpakaian cokelat yang
tidak diketahui namanya ini.
Hari sudah mendekati fajar, angin sepoi2 sejuk. Kun-gi
memandang sekitarnya sejenak, mendadak tubuhnya melambung
tinggi laksana burung elang, sedikit kaki menutul tembok. badannya
mengapung lebih t inggi pula terus meluncur ke wu-wungan, dia
lewati pekarangan menuju ke belakang dan lompat turun di emper
rumah, tanpa berhenti dengan sebat dia menuju pekarangan
belakang Liong-ong-Bio ternyata terdiri dari dua bangunan tempat
pemujaan, jadi tiada kamar untuk tempat tinggal.
Ling Kun-gi turunkan buntalannya dan duduk diundakan batu,
otaknya bekerja menerawang situasi, dalam hati dia ber-tanya2
siapa pengganti si mata satu, lalu ke mana pula pengantar barang
dalam buntalan kertas itu? Dari sini ke barat adalah Siang- cui, ke
selatan adalah Sim-kiu dan Leng-cwan. ke timur adalah Thay-go dan
Put- yang. Sejak mulai Kay-hong. mereka menuju ke arah tenggara,
jadi kalau dirinya menuju ke Thay-ho atau Put- yang tentu tidak
akan meleset. Setelah ambil keputusan, dia menengadah melihat
cuaca, selarik cahaya emas sudah terpancar di ufuk t imur.
Lekas dia merogoh kantong, mengeluarkan sebuah kotak kecil,
inilah bahan obat2an peranti merias yang selalu dibawanya. Dia
maklum si baju biru dan pembantunya sepanjang jalan melindungi si
pembawa barang secara diam2, terpaksa dirinya harus sering ubah
bentuk dengan penyamaran yang berbeda baru bisa mengelabui
orang.
Dari dalam kotak dia keluarkan sebutir pil untuk cuci muka,
setelah digosok ditelapak tangan terus dipoleskan kemuka sendiri
sambil berkaca mirip gadis jelita yang sedang bersolek saja, lekas
dia sudah membersihkan obat2an yang mengubah bentuk
wajahnya.
Kini dia sudah kembali pada wajah aslinya sekejap dia
mengawasi wajah sendiri pada kaca bundar kecil yang dipegangnya,
lalu diambilnya sebiji obat bundar warna merah gelap. Baru saja dia
hendak mengusap muka sendiri mendadak didengarnya tawa cekikik
lirih tertahan diatas tembok,
Keruan Ling Kun-gi terperanjat. "Siapa?" bentaknya sambil berdiri
"Akulah paman Ling" terdengar suara merdu menyahut.
Tertampak bayangan ramping melayang turun dari atas tembok,
Ling Kun-gi melenggong, tanyanya: "Kau belum pergi?"
Gadis baju cokelat berdiri di depannya, men-dadak dia menunduk
dengan muka jengah, kata-nya sambil membanting kaki: "Kiranya
kau menyamar yang kulihat tadi bukan wajah aslimu maka nama
Ling Kun-gi yang kau sebut tadi pasti jugabukan nama aslimu."
Ling Kun-gi menjadi kikuk. katanya malu2 "Aku memang betul
Ling Kun-gi."
Gadis baju cokelat mencibir bibir, katanya "Siapa tahu kau ini
tulen atau palsu?"
"Terserah kalau nona tidak percaya," ujar Kun-gi.
Tiba2 gadis baju cokelat unjuk tawa manis, katanya: "Kenapa
tadi kau mengelabui aku?"
"Tiada maksudku mengelabui nona."...
"Kalau tidak, kenapa tidak terus terang padaku, pakai menyamar
segala?" .
"Berkelana di Kangouw dengan menyamar, di perjalanan akan
jauh lebih leluasa, tidak menarik perhatian orang."
"Kulihat pasti kau menyembunyikan sesuatu, apakah karena
menguntit si mata satu maka kau merasa perlu menyamar?"
Melihat sikap orang yang polos dan Jenaka. tidak tega Kun-gi
berpura2, katanya sambil manggut2: "Benar, aku memang sedang
menguntil si mata satu."
Bahwa tebakannya tepat pula, sungguh senang hati si gadis,
katanya cekikikan: "Jadi kau sudah tahu barang apa yang dia
antar?"
"Aku betul belum tahu."
"Apakah kau sudah tahu mereka dari golongan mana?"
"juga belum jelas bagiku."
"Kalau kau t idak tahu apa2, buat apa kau mengunt it dia?"
Terpaksa Kun gi tuturkan pengalamannya, di Kay-hong tentang
seorang salah alamat memberi sepucuk surat kepadanya.
Asyik dan terbeliak si gadis mendengarkan kisahnya, katanya
sambil keplok2: "Sungguh menarik. paman . . dia sudah biasa
memanggil paman Ling, tanpa terasa dia hampir menggunakan
sebutan itu pula, untung dia lekas sadar dan menghentikan
panggilannya.
"Kenapa tidak panggil paman Ling pula ke-padaku?" goda Kun-gi.
"Siapa sudi panggil kau paman?" jengek si gadis sambil melerok.
"Usia mu beberapa tahun lebih tua belum setimpal kau jadi paman,
kalau jadi Ling-toakosih boleh saja." Namun segera iapun sadar
telah kelepasan omong, wajahnya menjadi merah. lekas dia
menambahkan: "Aku juga tak sudi pang-gil kau Ling toako."
"Terserah maupanggil apa," ujar Kun-gi tertawa geli. "Hari sudah
terang tanah, tak baik kita lama2 di sini, tunggulah sebentar setelah
aku rampung menyamar.".
"Kau boleh tetap menyamar, aku toh tidak mengganggumu" ujar
si gadis aleman.
Tanpa buang waktu, Ling Kun-gi hancurkan pil obat di telapak
tangannya terus dipoleskan ke muka sendiri. Dalam sekejap mata,
wajahnya yang halus putih dan cakap telah berubah jadi merah
gelap berusia setengah baya.
Si gadia menyaksikan dengan mata terbelalak tanpa berkedip dia
awasi muka Ling Kun-gi, kata-nya tertawa: "sungguh
menyenangkan permainan ini, tak ubahnya seperti anak perempuan
bersolek."
Ling Kun-gi tidak hiraukan ocehannya, dari kotak kecilnya dia
keluarkan pula sekeping arang, sebelah kanan pegang kaca, diaores
kedua alisnya menjadi lebih tebal, kini dia betul2 berubah jadi yang
lain-
Si nona jadi ketarik. tanyanya: "IHei, kau pandai tata rias, dari
siapa kau belajar?"
Ling Kun gi bereskan kotak kecil dan disimpan ke dalam baju,
katanya tertawa: "Sudah tentu belajar pada Suhu."
"Siapakah gurumu?"
"Maaf, guruku pantang diketahui orang, tak bisa kujelaskan-"
Kini hari betul2 sudah terang, kuatir mayat si mata satu
ditemukan orang, maka Kun-gi mendesak: "Jangan lama2 di sini,
nona tiada urusan, boleh silakan pergi."
lalu dia melangkah lebar keluar biara. "E, eh, tunggu" seru si
nona mengejar.
"Nona masih ada urusan apa?" tanya Kun-gi sambil berpaling.
" Kenapa kau tidak menungguku?"
"Nona mau ke mana?^
"Kau menyamar lagi, bukankah kau hendak menemukan
pengejaranmu?"
"Betul, kenapa?"
"Aku ikut, boleh tidak?"
Kun-gi tertegun, sahutnya menggeleng: "Jangan, nona cantik
dan suci, mana boleh seperjalanan ber-samaku?"
"Kau tidak sudi jalan bersamaku, kenapa kau tuturkan semua
kisah ini?" si gadis uring2an-
Ling Kun-gi melenggong, alisnya berkerut, sa-hutnya: "Kan nona
yang tanya jadi kujelaskan."
"Maka itu, aku harus ikut kau."
"Tidak. Kangouw banyak diliputi kejahatan, nona jangan
menempuh bahaya, dan lagi tidak leluasa nona berjalan bersamaku
. . . . "
"Tidak boleh. tidak leluasa lagi," omel si nona dongkol, "yang
terang kau tidak sudi berjalan dengan aku . . . . " tiba2 dia putar
tubuh terus berlari pergi sambil menutup muka dengan kedua
tanganLing
Kun-gi hanya geleng2, dengan langkah ce-pat dia berjalan
keluar. Tengah hari dia tiba di perbatasan propinsi An-hwi. Tengah
ia ayun langkah, tiba2 didengarnya dari jalanan kecil sana seorang
berteriak:
"Bakpau . . . , sic . . . . "
Seorang laki2 berpakaian celana pendek berbaju kutang
mendatangi sambil memanggul sebuah keranjang, setiba di depan
Ling Kun-gi dia berhenti dan menyapa sambil tertawa: "Tuan ini
mau beli bakpau, masih panas "
Kun-gi menggeleng, belum lagi dia buka suara, mendadak
dilihatnya selarik sinar biru berkelebat, sebatang paku beracun
meluncur ketenggorokannya. Serangan gelap ini dilakukan dalam
jarak dekat dan cepat serta tak terduga lagi. Tak pernah Kun-gi
menyangka, maka dia tidak bersiaga, tahu2 pen-jual bakpau ini
menyerang dengan senjata rahasia. dalam seribu kerepotan lekas
dia menjengkang tubuh ke belakang, sementara jari2 tangan kanan
terus menyelentik. "Triing", dengan tepat dia selentik paku itu.
Hatinya marah bukan main, bentaknya: "Tan-pa sebab kau
melancarkan serangan kejam, apa tujuanmu?"
Begitu serangannya luput, tanpa menunggu Kun-gi bicara, tiba2
orang itu dorong kedua ta-ngannya, keranjang dia lempar ke arah
Kun-gi, berbareng dia melompat mundur, kejap lain tangan
kanannya sudah melolos sebilah golok baja yang berkilau
memancarkan cahaya biru.
Pada saat orang ini melompat mundur, dari dalam hutan
beruntun melompat keluar dua orang lagi, dandanan mereka sama,
tangan merekapun bersenjata golok yang serupa, kini mereka
berdiri segi tiga mengadang di depan Ling Kun-gi.
Begitu keranjang itu menerjang dekat baru seenaknya Ling Kungi
kipatkan tangan, tiba2 keranjang mental balik meluncur lebih
cepat menerjang ke arah laki2 yang berdiri di tengah. Sudah tentu
bukan kepalang kaget si penjual bakpau, ter-sipu2 dia melompat
menghindar. Keranjang itu hancur berantakan menumbuk pohon
sebesar paha dan seketika tumbang dan mengeluarkan suara gemuruh.
Berubah air muka si penjual bakpau,jengek-nya: "Ternyata tuan
berkepandaian tinggi."
Terpancar sinar dingin dari biji mata Ling Kun-gi, katanya: "Apa
maksud kalian?"
Penjual bakpau bertanya: "Tuan mau kemana?"
"Apa mau ke mana peduli apa dengan kalian?^
"Kami bersaudara mEmang sedang menunggu kedatanganmu,"
ujar si penjual bakpau.
Menegak alis Ling Kun-gi, tanyanya dingin: " Kalian tahu aku
siapa?
"Peduli siapa tuan, kami hanya kenal barang yang ada di dalam
kantongmu" jawab penjual bakpau.
"Kalian tahu barang apa yang ada di dalam kantongku?"
"Mata kami tidak kelilipan, tuan jangan pura2" ujar penjual
bakpau tergelak.
"Kalian tidak bisa membedakan baik-buruk, pakai serangan
membokong lagi, kini mengadang jalanku pula, ingin kutanya, apa
sih sebetulnya maksud kalian?"
Penjual bakpau tertawa dingin: "Bagus, seorang Kuncu tidak
melakukan kerja gelap. maksud kami supaya tuan meninggalkan
barang yang kau bawa itu, sudah jelas bukan?."
Tegerak hati Ling Kun-gi, batinnya: "Aku hanya membawa sebutir
mut iara warisan keluarga serta kantong sulam pemberian, Un Hoankun,
kalau ketiga orang ini bukan mengincar Pi-tok-cu, (mutiara
penawar racun), tentw mereka diutus Siau Ki-jing untuk merebut
kantong sulam pemberian nona Un itu."
Maka mendadak , dia tertawa keras, katanya: "Betul, barang itu
memang kubawa, entah.. cara bagaimana kalian hendak
mengambilnya?"
"Tuan ingin supaya kami pakai kekerasan?"
"Memangnya harus kupersembahkan dengan kedua tanganku?"
jengek Kun-gi.
"Bagus, keluarkan senjatamu."
"Kalian punya kepandaian apa boleh keluarkan semua, tak perlu
aku pakai senjata."
Sadis sorot mata penjual bakpau, katanya menyeringai: "Baik,
hati2lah kau"
Mendadak kakinya bertindak selangkah, golok baja ditangannya
terayun, selarik sinar biru bagai kilat menyamber ke dada Ling Kungi.
Berdiri alis Ling Kun-gi, katanya: "Kau masih terlalu jauh. Nah,
berdirilah yang betul" Badan sedikit miring, tahu2 tangan kirinya
sudah pegang pergelangan tangan penjual bakpau yang pegang
golok terus dia entakkan pula ke depan.
Penjual bakpau menjerit kaget, golok jatuh ke tanah, orang
nyapun sempoyongan mundur dan hampir saja terperosok jatuh.
Kedua temannya juga kaget, ditengah bentakan mereka serempak
menubruk maju, dua golok membacok bersama dari kanan kiri.
Kun-gi tertawa dingin, bagai terbang tiba2 badannya berputar,
tak kelihatan bagaimana dia turun tangan, tahu2 kedua laki2
penyerang mengerang, disusul suara golok jatuh berkerontangan.
Kedua laki2 itu melompat mundur dengan muka pucat dan
berkeringat dingin, tangan kiri pegang tangan kanan- Kiranya
tangan mereka yang pegang golok kena ditabas oleh telapak tangan
Ling Kun-gi, sakitnya bukan kepalang, walau mereka menggertak
gigi tidak sampai menjerit kesakitan, namun otot diataS jidat
kelihatan merongkol keluar karena menahan sakit.
Seperti tidak terjadi apa2, Kun-gi berkata:
"Kalian masih ingin barang yang kubawa?" Mendadak sorot
matanya menatap penjual bakpau, muka berubah kereng, katanya
dingin: "Diantara kalian bertiga, mungkin kau adalah pimpinannya,
kau pura2 menjual bakpau, dengan senjata rahasia membokong
secara keji, main cegat dan minta bekal pula, dari senjata kalian
yang beracun itu cukup membuktikan bahwa setiap hari kalian pasti
kenyang melakukan kejahatan, kini kebentur ditanganku,
seharusnya akan kupunahkan kepandaianmu, tapi mungkin kalian
hanya di peralat orang lain, maka cukup sebelah lengan masing2
kubikin cacat sebagai hukuman-"
Belum lagi mereka gebrak satu jurus, tahu2 sebelah lengan
masing2 sudah dibikin cacat, keruan pucat pias muka ketiga orang,
namun sorot mata mereka menjadi buas dan dendam, kata si
penjual bakpau dengan menggreget dan melotot: "Sebutkan
namamu."
"Kalian belumsetimpal untuk mengetahui namaku."
Insaf kepandaian mereka bertiga terlalu jauh dibandingkan
orang, akhirnya sipenjual bakpau menggerung marah, cepat dia
bawa kedua temannya pergi. Tapi baru saja mereka putar badan,
lalu ber-diri tegak mematung dengan laku sangat hormat.
Kiranya dari jalanan kecil di tengah hutan sana tampak
mendatangi seorang laki2 tua baju hitam. Muka orang tua yang
kurus ini hitam kering, ke-lihatannya kaku membeku, dingin tidak
menimbul-kan perasaan- Setelah dekat, matanya yang berbentuk
segi tiga berputar, akhirnya berhenti pada ketiga laki2 itu, suaranya
seperti keluar dari kerong-kongan jenazah: "Bagaimana? Kalian
tidak mampu bereskan dia, malah dia yang bereskan kalian?"
Penjual bakpau tadi membungkuk hormat, dia yang bersuara: "
Lapor cit-ya, bocah ini sukar di layani, lengan kami bertiga dibikin
cacat olehnya."
"Kalian memang tidak becus" semprot laki2 tua kurus itu,
matanya melirik ke arah Ling Kun-gi, katanya pula: "Anak muda,
siapa namamu?"
Dingin dan angkuh sikap Kun-gi, ia berdiri menggendong tangan
sambil menengadah, sahutnya: "cayhe ingin tahu lebih dulu siapa
namamu."
Terbayang rona kejam pada wajah laki2 kurus, katanya: "Bagus,
anak muda mulutmu ternyata keras juga, pernahkah kau dengar
Kwi - kian - jiu Tong cit-ya?"
"cayhe belumpernah dengar" ujar Ling Kun-gi.
Kwi- kian jiu (setanpun sedih melihatnya) Tong cit-ya
menyeringai: "Agaknya kau bocah ini baru keluar kandang."
"Kaukah yang mengutus ketiga orang ini?" tanya Kun-gi.
"Betul," sahut Kwi-kian-jiu Tong cit-ya. "Lohu suruh mereka
menunggu di sini supaya kau tinggal-kan barang yang kau bawa."
"Sayang mereka tidak berhasil."
"oleh karena itu, terpaksa Lohu susul kemari.."
"Kau sendiri memangnya bisa berbuat apa?"
"Pertanyaan bagus," Kwi-kian jiu Tong cit-ya ter-kekeh2. "Lohu,
boleh menjawab pertanyaanmu, kalau ingin hidup tinggalkan
barangmu itu."
"Enak betul kau bicara."
"Maksud Lohu," kata Tong cit-ya, "kau melukai ketiga orangku,
ini boleh tidak usah diperhitungkan, tapi diantara jiwa dan barang
yang kau bawa itu kau harus pilih satu."
"Setan sedih melihatmu (Kwi-kian-jiu), tapi manusia belum tentu
takut melihatmu," Kun - gi menyindir.
"Anak muda, kau tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi,"
habis kata2nya tiba2 Tong cit-ya berkelebat maju, tangan kiri
bergerak secepat percikan api, pundak Kun-gi dijadikan sasaran
ceng-keraman jarinya.
cengkeraman ini membawa kesiur angin kencang, tapi hanya
sekali kelebat lantas lenyap. aneh dan cepat serta lihay sekali gerak
serangan ini.
Sejak tadi Ling Kun-gi sudah siaga dan menunggu, waktu tangan
Tong cit-ya beberapa senti dari pundaknya, mendadak kaki
menggeser dan badan berkelit, cengkeraman lawan dia hindari,
berbareng tangan kiri menabas miring balas menyerang.
Bahwasanya Tong cit-ya tidak pandang sebelah mata pada Ling
Kun-gi, ia yakin Cengkeramannya yang lihay itu biar jago2 silat Bulim
umum-nya jarang yang mampu menghindarnya, apalagi lawan
hanya seorang bocah yang baru berusia dua puluhan, sekali pegang
pasti teringkus dengan mudah?
Tak Nyana lawan hanya sedikit miring dapatlah mengelak dengan
mudah, keruan ia terkejut, lekas dia kerahkan tenaga dalam, siap
untuk melancarkan kepandaian kebanggaannya Ngo-ting-kay-sanclo
(pukulan telapak tangan gugur gunung), sekali gebrak ia ingin
bikin mampus bocah ini.
Kejadian berlangsung teramat cepat, dlkala timbul niat jahatnya
itu, tahu2 Ling Kun-gi sudah menepuk dengan jurus Liong gihunjong
(Awan bergerak mengikuti langkah naga), damparan angin
kencang tahu2 menerjang dadanya.
Betapapun Kwi-kian-jiu Tong cit-ya seorang kawakan Kangouw
yang banyak berpengalaman, melihat gaya pukulan lawan serta
merasakan terjangan angin kencang ini, lekas dia kerahkan tenaga
di lengan kanan terus didorong memapak maju.. Dua gelombang
angin beradu di udara, maka terdengarlah suara benturan keras.
Sedikitnya Tong cit-ya telah kerahkan tujuh bagian tenaganya,
tak nyana hasil dari adu pukulan ini, pergelangan tangan sendiri
tergetar kesakitan dan kaku, "badanpun limbung hampir tak kuasa
berdiri tegak. jubah hitam yang dipakainyapun me-lambai, tertiup
angin pukulan lawan, keruan ia terkesiap.
Kulit mukanya yang semula kaku dingin dan seram itu, kini
berubah kaget dan heran,
dua biji matanya mencorong bagai sinar kilat, dia pandang Ling
Kun-gi dari kepala sampai ke kaki, akhirnya menyeringai dingin. "
Hebat jugakau anak muda." Tepat pada kata "muda" diucapkan,
tangan kiripun terayun, kembali telapak tangannya memukul dada.
"Mari anak muda," ujarnya menye-ringai sadis, "sambutlah
sejurus pula pukulan lohu?" nadanya menantang dengan pongah,
seakan2 Ling Kun-gi tidak akan kuat menghadapi pukul-annyaini.
Ling Kun-gi masih muda, berdarah panas, sudah tentu dia tak
mau kalah? Tegak alisnya, katanya tertawa lantang: "Memangnya,
kenapa kalau kulayani pukulanmu?" Lengan kanan terangkat, dia
bergerak dengan tipu Sin-liong-to-sin (naga sakti menggerakkan
kepala), tangan diayun ke depan dari samping.
Gerak pukulan Tong cit-ya amat lamban, gayanya juga enteng,
tapi begitu Ling Kun-gi menggerakkan lengan kanan, gaya
pukulannya mendadak didorong maju dengan kecepatan berlipat
ganda. Pada detik2 kedua tangan orang itu hampir beradu
mendadak dia tarik tangan kanan, dengan sendirinya tenaga
pukulannyapun batal ditengah jalan-
Gerakannya amat cepat, tapi menariknya juga tangkas, keruan
Ling Kun-gi keheranan, tapi pada saat itu pula mendadak dia
merasakan telapak tangannya kesakitan seperti ditusuk jarum,
kelima jari2nya seketika kaku.
Didengarnya Tong cit-ya tertawa sinis, kata-nya: "Anak muda,
kau sudah terkena jarum telapak tangan Lohu, kuhitung, satu
sampai tujuh, kau akan terjungkal roboh."
Mencelos hati Ling Kun-gi, lekas dia berusaha merogoh kantong.
Hanya dalam waktu sesingkat ini, Kun-gi merasakan sikutnya kaku
tak mampu bergerak lagi, keruan kejutnya bertambah besar,
pikirnya: "Entah pakai racun jahat apa orang she Tong ini, begini
lihay dan cepat bekerjanya?"
Untung dia merasakan kegawatan ini, kelima jarinya sudah
berhasil menggenggam mut iara penawar racun di dalam
kantongnya.
Gurunya pernah memberitahu, Pi-tok-cu harus selalu digembol di
atas badan, segala racun tidak akan bisa melukai dirinya, kalau
terluka oleh senjata beracun cukup meletakkan mut iara ini di tempat
luka2 itu dan racun akan tersedot habis dengan sendirinya.
Melihat lawan merogoh kantong, Tong cit-ya kira orang hendak
mengeluarkan obat, maka dia tertawa lebar dan senang, katanya:
"Jarum di telapak tangan Lohu ini hanya bisa dipunahkan dengan
obatku, anak muda, jiwamu tak tertolong lagi."
Sementara itu, tangan kanan Ling Kun-gi meng-genggam Pi-tokcu,
terasa hawa dingin merembes dari telapak tangannya, rasa kaku
kelima jarinya seketika berkurang, maka legalah hatinya. Demi
mendengar kata2 Tong cit-ya, alisnya menegak. bentaknya: "cayhe
tak bermusuhan dengan kau, kenapa kau menyerang dengan jarum
beracun-"
Tong cit-ya ter-gelak2 sambil mendongak. katanya: "Selamanya
Lohu tidak suka ngobrol dengan orang yang bakal mampus, inilah
yang dinamakan bunuh ayam mengambil telurnya." Yang dimaksud
sudah tentu barang yang tersimpan di kantong Ling Kun-gi.
Semakin gusar hati Kun gi, sorot matanya semakin tajam,
bentaknya pula: "Bangsat tua, kau kejam, licik dan hina pula, kalau
tidak diberi ajaran, memangnya kau kira orang lain takut terhadap
jarummu yang beracun?". Tiba2 dia berkelebat maju, berbareng
telapak tangan kiri menghantam ke pundak Tong cit-ya.
Mimpipun tak pernah di duga Tong cit-ya bahwa seseorang yang
telah terkena jarum berbisa-nya dan racun sudah bekerja di dalam
badan masih mampu menyerang dirinya dengan gerakan setangkas
dan selihay ini? Maka terdengarlah suara "plak", telapak tangan
Kun-gi dengan telak mengenai pundak kirinya.
"Huaaak" Tong cit-ya mengerang kesakitan, kerongkongan terasa
amis, mata ber-kunang2, tak tertahan mulutnya menyemburkan
darah segar, dengan sempoyongan dia terhuyung kebelakang dan
hampir terjungkal roboh. Ketiga laki2 itu kaget bukan kepalang,
serempak mereka berlomba maju memayang dari kanan kiri.
Pucat muka Tong cit-ya, darah berlepotan disekitar mulutnya,
matanya yang segi tiga mendelik ngeri dan keheranan, katanya:
"Anak muda, terhitung jiwamu yang mujur, jarum Lohu selamanya
tidak pernah gagal, agaknya seranganku tadi tidak mengenai
sasaran"
Pelan2 Ling Kun-gi ulurkan tangan kanan, katanya dengan sikap
pongah: "Sudah kena, tapi sebatang jarummu itu memangnya
mampu melukai aku?"
Ditengah telapak tangannya memang masih kelihatan bekas
lubang kecil warna kehitaman, jelas itulah bekas tusukun jarum
Tong cit-ya tadi.
Berubah kelam air muka Tong cit-ya, serunya kaget: "Kau . .. ..
kau.. . . .. kebal racun?"
Dengan angkuh Ling Kun-gi mengulap tangan, katanya^ " Kalian
boleh pergi, cayhe masih ada urusan" Selesai berkata dia
mendahului tinggal pergi.
Gemertak gigi Tong cit-ya, teriaknya beringas: "Anak muda,
sebutkan namamu" Tanpa menoleh Ling Kun-gi bersuara dingin:
"Ling Kun-gi "
Mengawasi bayangannya yang semakin jauh, Tong cit-ya
mendengus: "Anak muda, Lohu tidak akan telan kekalahan ini
demikian saja."
ooooooooooo
Karena tertunda oleh peristiwa kecil ini, sementara itu hari sudah
lewat lohor. Di pinggir jalan Ling Kun-gi beli beberapa buah bakpau
untuk isi perut, dalam hati masih terus men-duga2 siapa kiranya
pengganti si mata satu? Untuk ini dia harus menemukan dulu si baju
biru dan pembantunya yang mengantar secara sembunyi.
Sebelum petang dia tiba diThiat-ho, tak jauh setelah dia masuk
kota, secara kebetulan dilihatnya bayangan orang berkelebat di
ujung jalan sana, tahu2 seorang berbaju abu2 mendatang ke
arahnya. Sesaat lamanya orang ini mengawasi Ling Kun-gi, tiba2 dia
bersuara lirih: "Kau ini Ling-ya?"
Melengak Kun-gi, ia balas tanya: "Saudara siapa? Darimana kenal
aku?"
"Tidak keliru kalau begitu," kata laki2 itu girang. "cayhe
mendapat perintah Loy acu, sejak tadi menunggu Ling- yadi sini."
"Siapa Loy acu yang kau katakan?" tanya Kun-gi.
"Loyacu ada di Ting-sun-lau, setiba di sana Ling-ya akan tahu
sendiri," laki2 itu menerangkan-
Berkepandaian tinggi, besar juga nyali Ling Kun-gi, sambil sedikit
manggut2 dia berkata:. "Baik.. tunjukkan jalannya"
Laki2 itu mengiakan, ia putar tubuh terus berjalan pergi dengan
cepat. Kun-gi ikut di belakangnya. Setelah membelok dua kali
menyusuri jalan raya, tampak dipersimpangan jalan sana ternyata
betul terdapat sebuah Ting-sun-lau, restoran besar dan mewah
pelayanannya. Laki2 itu bawa Ling Kun-gi masuk dan melewati
sebuah pekarangan.
akhirnya mereka tiba di pekarangan belakang, di sini, terurus
dengan rapi, pohon dan bunga sama tumbuh subur dan mekar
semerbak. Laki2 baju abu2, terus membawanya putar kayun
melewati jalan berbelak-belok hingga tiba di depan sebuah kamar
barulah berhenti, seru laki2 itu sambil membungkuk: "Loyacu, Lingya
sudah tiba"
Maka terdengarlah suara serak. berseru dari dalam: " Lekas
silakan masuk" Waktu pintu di buka, menyongsong keluar seorang
laki2 tua berkepala botak, wajah merah, jenggot ubanan, serunya
sambil tertawa: "Ling-lote, lekas silakan ma-suk."
Laki2 botak muka merah ternyata adalah ketua murid2 preman
Siau-lim-pay, yaitu Kim-ting Kim Kay-thay.
Di dalam kamar sudah duduk seorang laki2 tua berbaju panjang
ringkas, dia berdiri sambil tersenyum, agaknya mereka barusan
sedang ngobrol.
Lekas Kim Kay-thay berkata: "Ling-lote, mari kuperkenalkan.
Inilah Suteku, Au siok-ham, dulu dia dijuluki To-pit-wah (lutung
banyak lengan), kini dia menjadi majikan dari Ting-sun-lau ini."
Lalu dia berkata kepada: Au siok-ham "Inilah Ling- lote yang tadi
kuterangkan padamu."
Diam2 Kun gi perhatikan Au siok-ham, wajahnya bersih dan
ramah, usianya sekitar 55 tahun, Thay-yang-hiat (pelipis) menonjol,
sorot matanya terang, sekali pandang dapat diketahui dia pasti
seorang ahli kekuatan luar-dalam. .Lekas Kun-gi menjura serta
menyapa: "Nama besar Au-ya sudah lama kukagumi, beruntung hari
ini dapat berkenalan."
"Tidak berani, tidak berani" lekas Au siok-ham merendah hati,
"Ling lote gagah berani, tadi Kim-suheng sudah menjelaskan,
Silakan duduk"
"Kita semua bukan orang luar," ujar Kim Kay-thay "Silakan duduk
untuk bicara." Bertiga mereka lantas duduk mengelilingi meja
bundar kecil.
Lalu Kun-gi bertanya: "Kim- loy acu sampai perlu datang keThatho,
apakah cin-cu-ling sudah ada tanda2nya?"
Kim Kay- thay menggeleng, katanya: "Tanda memang ada, tapi
boleh dikatakan juga tidak ada."
"Bagaimana maksud ucapan Kim- loy acu?" tanya Kun-gi
" Ling- lote tentu masih ingat, hari itu losiu pernah memberitahu
bahwa kecuali keluarga Tong di Sujwan dan keluarga Un di Linglam,
di dunia Kangouw masih ada suatu keluarga yang terkenal
mahir juga menggunakan racun?"
Ling kun-gi manggut2, katanya: " Kim- loy acu memang pernah
menyinggungnya, yaitu Liong- bin--san- ceng . "
"Betul, Liong-bin-san- ceng, selama t iga bulan, tiga tokoh
kenamaan dari tiga cabang dan keluarga persilatan sama lenyap.
namun belum terdangar bahwa Cu cengcu dari Liong-bin-san- ceng
juga lenyap. itu berarti bahwa komplotan cin-cu-ling belum lagi
turun tangan terhadap Liong-bin-san-ceng. Dengan sendirinya kita
menduga bahwa cin--cu-ling ada hubungan dengan Liong-bin-sanceng,
oleh karena itu tempo hari sudah kupesan kepada Ling- lote
supaya memperhatikan hal ini."
"Pendapat Kim- loy acu memang tepat," kata Ling Kun-gi "Waktu
itu cayhe juga sudah pikir-kan hal ini."
"Setelah kau pergi," tutur Kim Kay-thay, "beruntun Losiu
mendapat laporan dari para penyelidik bahwa di kota Kayhong
secara serentak di-temukan beberapa kelompok orang persilatan,
jejak dan gerak-gerik mereka amat mencurigakan, maldam itu juga,
seorang murid keponakanku bernama Liau Ngo datang dari Lohyang,
ia melihat dua majikan dan pelayan yang menunjukkan gerakgerik
mencurigakan, ilmu silat mereka amat mengagum-kan,
menurut dugaan, kedua orang ini pasti erat hubungannya dengan
cin-cu-ling, dari Loh-yang kedua orang ini terus menuju kemari,
maka dengan diam-diam mengunt itnya, di tengah jalan ku- utus
seorang lagi untuk menemaninya .... "
Kun-gi tahu, dua orang yang dimaksud tentu si baju biru dan
laki2 berlengan besi. Sementara kedua murid Kim Kay-thay yang
ditugaskan me-nguntit tentu kedua orang yang jadi korban di luar
biara itu. Kim Kay-thay sedang asyik bicara, maka dia tidak enak
menyela.
Terdengar Kim Kay-thay bicara lebih lanjut. "Tak terduga, pagi2
hari kedua, beruntun aku mendapat laporan pula bahwa beberapa
kelompok orang persilatan yang menginap di hotel pagi2 sudah
berangkat seluruhnya, arah mereka sama, maka Lo siu menduga
dalam hal ini pasti ada sebabnya yang amat penting artinya. Hari itu
juga ditemukan Un-loji dari Ling-lam dengan lima pembantu-nya,
setelah menginap semalam di Kayhong secara ter-buru2 mereka
melanjutkan ke Tan-liu. Un--leji memang sering mondar-mandir di
Kangouw, tapi kali ini dia menempuh perjalanan ke Tionggoan
secara tergesa2, Losiu duga perjalanannya ini pasti ada hubungan
juga dengan cin-cu-ling. oleh ka-rena itu Losiu berpendapat harus
kemari untuk melihat keadaan dari dekat."
Setelah orang habis bicara barulah Kun-gi berkata: "cayhe ada
sesuatu hal yang membingung-kan, mohon Kim- loy acu suka
menjelaskan-"
" Ling- Lote jangan sungkan, kita terhitung satu keluarga, ada
pertanyaan apa, silakan katakan saja."
"selama perjalanan ini cayhe tiga kali menyamar dengan wajah
berbeda, entah dari mana Kim- loy acu dapat mengenali diriku?"
Kim Kay-thay ter-gelak2, katanya: "Kau diaembleng oleh seorang
cianpwe kosen, bekal kepandaian silatmu sekarang, siapa pula yang
kuat menandingi."
"Itu hanya pujian Kim- loy acu saja," Ling Kun-gi merendah diri.
"Apalagi Ling- Lote pandai menyamar dan tentu takkan
mengalami kesulitan, cuma kau baru keluar kandang,
pengalamanmu masih terlalu cetek."
"Memang benar, pengalaman cayhe terlalu sem-pit, cara
bagaimana Kim- loy acu dapat mengenali cayhe?"
Kim Kay-thay tertawa, katanya: "Sepanjang jalan ini tentu kau
pernah bersua dengan pihak mereka serta ketahuan jejakmu, oleh
karena itu, diluar tahumu ada orang memberi tanda rahasia pada
buntalan bawaanmu, walau kau menyamar tiga kali bagi seorang
ahli, sekali pandang keadaanmu tetap dikenali."
Kun-gi tertegun, katanya: "Ada orang memberi tanda gelap di
kantongku?, hanya sebuah buntalan kain hijau yang selalu di
bawanya, di dalamnya ber-isi pedang panjang yang menongol
keluar keluar adalah gagang payung, di samping itu dia membawa
bun-talan kecil berisi pakaian, ia coba memeriksa bun-talannya,
katanya keheranan: "Di mana, cayhe kok t idak melihat apa2?"
Kim Kay-thay menunjuk ujung kantong bagian bawah, katanya
tertawa, "Beberappa titik putih dari kapur inilah, kau tidak
memperhatikan sudah tentu t idak tahu."
Setelah ditunjukkan baru Kun-gi menemukan tujuh titik putih
sekecil mata jarum di ujung kantong, keruan merah mukanya
katanya: "Tanpa mendapat petunjuk Kim- loy acu. cay tetap tidak
akan tahu walau sudah keselomot orang ......."
Sampai di sini percakapan mereka., terdengar dari luar ada
langkah orang, mendatangi dan berhenti di luar pintu.
"Thing-ing, ada urusan apa?" seru Au-siok-ham. Dari luar
berkumandang suara seorang anak muda: " Lapor Suhu, pelayan
dari Siang-goan-can mengantar surat untuk Ling- ya."
Ling Kun-gi melengak, batinnya: -" Aku baru tiba di sini, siapa
yang mengirim surat kepadaku?"
sikap Kim Kay-thay pun tampak prihatin: "Masuklah" seru Au
siok-ham.
Waktu pintu terpentang, maka masuklah seorang pemuda baju
ungu, tangannya memegan sepucuk surat
"Mana pelayan Siang-goan-can?" tanya Au siok-ham.
"Sudah pergi," sahut pemuda itu
"Apa dia tidak menerangkan, siapa pengirim surat ini?" tanya Au
siok-ham.
Pemuda baju ungu membungkuk, sahutnya:
"Tecu sudah tanya, katanya seorang, tamu yang menyuruhnya."
Au siok -ham terima surat itu, lalu mengulap tangan
menyuruhnya pergi. Si pemuda memberi hormat lalu mengundurkan
diri. Langsung Au siok--ham angsurkan surat itu kepad Ling Kun-gi,
katanya: " Ling- lote, inilah suratmu."
Kim Kay-thay ikut bertanya: "Kau punya kenalan di Sian-goancan?"
Kun-gi terima surat itu, seraya menjawab: "cayhe seorang diri
dan baru saja tiba di Thay-hong, Kim- loy acu lantas suruh orang
menjemputku, dari mana ada kenalan di sini."
Bertaut alis tebal Kim Kay-thay, katanya: "Aneh kalau begitu."
Lalu menambahkan: "coba kau lihat apa isi surat itu?"
Ling Kun-gi robek sampulnya dan menarik secarik kertas, tampak
di atas kertas tertulis dua baris huruf2 yang berbunyi: "
Disampaikan kepada Ling-tayhiap. Adikmu sedang bertamu di
rumahku, harap tidak usah dikuatirkan, syukur kalau tuan mau
datang dengan membawa barang yang kau simpan sebelum
matahari terbenam besok. Kami tunggu kedatangan tuan di depan
Pat-kong-san".
Gaya tulisannya amat kuat, tapi surat ini tidak bertanda tangan,
sekian lama Ling Kun-gi melongo mengawasi surat ditangannya
tanpa bersuara. Surat ini bernada memeras, mereka menahan Adik
perempuannya, dirinya harus menebus jiwanya dengan barang yang
menjadi incaran mereka. Waktu-nya ditentukan besok sore,
tempatnya di Pat-kong-san, Agaknya mereka mengincar Pi-tok-cu (
mut iara penawar racun ) warisan keluarganya, tapi dirinya sebatang
kara, selamanya pergi datang seorang diri, dari mana punya adik
perempuan?
Melihat dia diam saja, Kim Kay-thay berdehem tanyanya: "Siapa
yang mengirim surat itu?"
Ling Kun-gi angsurkan surat itu, katanya "Silahkan Kim-loyacu
baca."
Kim Kay-thay tidak lantas menerimanya, tanyanya ragu2: "Boleh
kumelihatnya?"
"Silakan baca, nama pengirimnya tidak tertulis, mereka menculik
orang hendak memerasku."
Terbeliak mata Kim Kay- thay mendengar istilah culik dan peras,
tanyanya heran: "Ada kejadian be-gitu?" Segera dia terima surat itu.
Hanya sebentar dia membaca dan air muka lantas berubah, katanya
mendengus- " Orang golongan mana berani bertingkah dan sewenang2
Au-sute, coba kau lihat, ada berapa kelompok golongan
hitam di daerah sini? Terang tujuan mereka adalah kita bersaudara."
Setelah membaca surat itu, berkerut kening Au siok-ham,
katanya kemudian setelah termenung: " Menurut yang Siaute
ketahui, daerah ini tiada orang dari golongan hitam, diatas Patkong-
san hanya ada sebuah rumah milik keluarga Go. Go-si-sianghiong
memang anggota dari perkumpulan dagang, selamanya
mereka berdagang secara halal, begitu besar usaha dagang mereka
hingga di setiap ibu kota propinsi tentu ada cabang mereka, tak
mungkin mereka main culik dan peras segala ....."
"Go-si-siang-hiong," pikir Kim Kay-thay, "maksudmu Bun-bu-caysin
GoBun-hwi bersaudara?"
Au siok-ham mengangguk sambil mengiakan-
"Bukankah Au-sute kenal baik mereka? Lekas kau suruh Thinging
menanyakan, apakah tempat mereka di Pat kong-san sekarang
dalam keadaan kosong?"
"Kim suheng mengira bila rumah itu kosong kemungkinan akan
dibuat menyekap adik Ling-lo-te oleh kawanan penclik itu?" tanya
Au siok ham.
"Tentunya demikian- ujar Kim Kay-thay.
"Kim- loy acu," sela Ling Kun-gi, "aku sebatangkara, selamanya
tidak pernah punya adik perempuan, "
Kim Kay-thay jadi heran, katanya- "Jadi perempuan yang mereka
culik bukan adikmu"
Sampai di sini mendadak dia menambahkan dengan nada serius:
"Sebetulnya barang apakah yang mereka minta dari Ling- lote untuk
menebus perempuan itu?"
"Mungkin mereka mengincar Pi-tok-cu warisan keluargaku,"
sahut Kun-gi.
"Pi-tok-cu?" seru Kim -Kay-thay, " mutiara yang hendak kau
gadaikan itu?"
"Benar. mutiara itu sejak kecil menjadi barang hiasan dibadanku,
setelah ibu hilang, sebelum cayhe menempuh perjalanan barulah
Suhu memberitahu bahwa mut iara ini dapat menawarkan racun."
"Dijalan apakah pernah kau perlihatkan kepada orang lain?"
tanya Kim Kay-thay.
"Tidak pernah, sejak meninggalkan Kayhong, cayhe selalu
menyimpannya di dalam kantong ...." mendadak dia teringat
peristiwa tengah hari tadi, di perbatasan propinsi pernah bentrok
dengan Kwi--kianjiu Tong cit-ya, tanpa terasa mulutnya menggumam:
"Mungkinkah Tong cit ya adanya?"
"Tong cit-ya?" Kim Kay-thay melenggong.
" maksud mu saudara ke 7 dari keluarga Tong? Bagaimana kau
bisa mengira dia?"
"Tengah hari tadi dia mencegatku diperbatasan, terpaksa aku
melukainya," tutur Ling Kun-gi.
Kim Kay-thay berkata sambil menoleh pada Au siok-ham: "Jadi
keluarga Tong juga mengutus orang kemari, orang2 itu
bermunculan di Kangouw, tentu- nyabukan secara kebetulan." Lalu
dia bertanya pada Kun-gi: "Bagaimana kau bisa bentrok dengan
pihak keluarga Tong dari Sujwan?"
"Tiga orang suruhannya mencegat dan menyerangku, mereka
menuntut barang yang kubuwa, secara singkat Kun-gi lalu
menceritakan pengalamannya. Mendadak Kim Kay-thay ter-gelak2
katanya:
"Mungkin hanya salah paham, Tong cit-ya mungkin salah
mengenali orang.."
"Salah mengenali orang" Kun-gi menegas.
"Bukankah Losiu tadi bilang, Liau Ngo, keponakan muridku sejak
dari Loh-yan mengikuti dua orang, kabarnya kedua orang ini
membawa barang sesuatu, gerak-geriknya mencurigakan- Menurut
apa yang Lohu tahu, ada beberapa kelompok orang Kangouw yang
menguntit mereka secara sembunyi, kebetulan kau berada di sana
sehingga orang2 keluarga Tong menaruh perhatian padamu dan
terjadi salah paham ini."
"Terus terang cayhe juga ketarik akan hal ini, maka secara diam2
menguntitnya pula," kata Kun-gi. Bercahaya mata Kim, Kay-thay,
katanya sambil ketawa keras: "Jadi kau juga menaruh perhati-an
akan hal ini?"
"Kejadiannya di mulai dari Kayhong, waktu itu cayhe juga belum
tahu apa2, soalnya pesuruh mereka yang salah menyerahkan surat
padaku." selanjutnya dia tuturkan pengalaman sepanjang jalan ini,
cuma soal kantong sulam pemberian Un Hoan-kun tidak dia
singgung..
"Apa yang Ling- lote ketahui kira2 sama dengan aku," ujar Kim
Kay-thay,
" menurut dugaan Losiu, barang itu tentu sudah diantar ke
tempat tujuan terakhir."
" Kim- loy acu memerlukan datang sendiri, tentunya sudah tahu
ke mana barang itu akan diantar?"
Kim Kay-thay manggut2, katanya tersenyum^ "Lote tidak usah
terburu nafsu, malam ini Losiu panggil Lote kemari, pertama karena
jejak Lote su-dah terbongkar tanpa Lote sadari, untuk berkelana di
Kangouw lebih lanjut sungguh amat berbahaya. Kedua, Losiu sudah
mengutus beberapa murid dan secara bergilir menguntit dan
mengawasi si mata tunggal yang membawa barang itu, maka Lote
selanjutnya tidak perlu unjukkan diri."
"Bukankah si mata satu sudah mati, di luar Liong- ong-bio?"
tanya Ling Kun-gi.
"Betul, pengganti si mata tunggal adalah si mata tunggal pula,
cuma orang yang satu ini picak mata kanannya."
"o, kiranya begitu"
Tengah bicara, tampak pemuda yang tadi datang kembali lagi,
dan langsung memberi hormat kepada Au Siok-ham, katanya:
"Suhu, hidangan sudah siap. silakan Kim-supek dan Ling-yaini
makan-"
Au Siok-ham segera persilakan Kim Kay-thay dan Ling Kun-gi
makan, mereka keluar ke ruang makan, sebuah meja pat-sian yang
besar sudah penuh berbagai macamhidangan yang lezat.
Ditengah makan minum itu, Au-Siok-ham bertanya: "Ling-Lote,
bagaimana kau akan menyelesaikan surat yang kau terima tadi?"
Kim Kay-thay tertawa sambil mengelus jenggot, katanya: "
Kenyataan Ling-lote tidak punya adik, kemungkinan mereka salah
menangkap orang pula. Belakangan ini orang2 keluarga Un dari
Ling-lam dan keluarga Tong sama muncul di wil-ayah ini, menurut
rabaanku,jika orang Kangouw mendengar kabar ini pasti akan sama
meluruk datang, oleh karena itu dalam beberapa hari ini mungkin
akan terjadi bentrokan besar, surat itu tidak menyebutkan nama
pengirimnya, kukira Ling-Lote tidak usah menghiraukannya."
"Tidak!! cayhe sebaliknya berpendapat lain, surat sudah
kuterima, maka aku harus menghadapinya . "
"Tong cit-ya selamanya bertindak kejam dan culas, licik dan
banyak muslihatnya lagi, maka dia dijuluki Kwi-kian-jiu (setan sedih
melihatnya ) Ling- lote tidak perlu ikat permusuhan dengan keluarga
Tong."
"Peduli soal ini salah paham atau bukan, yang terang Tong cit-ya
menyerangku lebih dulu, bahwa aku hanya sedikit melukai dia
seharusnya dia tahu diri, kesalahan bukan padaku. Kini dia menculik
orang main peras pula, menurut hemat cayhe walau perempuan itu
bukan adikku, jelas mereka memang telah menculik, perbuatan
kotor dan hina ini kebentur ditanganku, tak bisa kuberpeluk tangan?
Kalau Tong cit-ya sampai kebentur lagi di tanganku, bukan saja
akan kupunahkan ilmu silatnya juga akan kubuat dia rebah setahun
lamanya."
Melihat orang bicara dengan nada tegas, wajuh kereng
berwibawa, Kim Kay- thay menjublek mengawasinya, katanya
kemudian: "Kalau Ling- lote memaksa hendak menepati undangan,
biar kuiringi-mu ke Pat-kong-san, Losiu kenal dengan keluarga
Tong, bahwa urusan ini lantaran salah paham, tentu persoalan bisa
dibereskan dengan jalan damai."
" Urusan sekecil ini cayhe tak berani menyusahkan Kim- loy acu,
kalau Kim- loy acu kenal mereka, biarlah nanti aku tidak
melukainya."
Kim Kay-thay adalah ciangbunjin murid2 preman Siau-lim-pay,,
selamanya kata2nya dipercaya dan disegani di kalangan Kangouw,
namanya cukup beken, maka dia dijuluki Kim Ting, selama beberapa
tahun ini, tiada orang berani bicara ang-kuh dihadapannya.
Maklumlah Ling Kun-gi berusia muda dan berdarah panas, tanpa
sadar dia telah banyak buka mulut. Tapi Kim Kay-thay tidak ambil
perhatian, dia hanya tersenyum, soalnya dia tahu keluarga Tong ahli
main senjata rahasia beracun, dia kuatir Ling Kun-gi mengalami
cidera. Setiap insan yang berkelana di Kangouw, sekali kena
dirugikan sekali tambah pengalaman, tapi jangan sekali2 kena
dirugikan oleh pihak keluarga Tong, kerena racun yang mereka
pakai teramat jahat, kena darah lantas menyumbat pernapasan,
setelah dirugikan pengalaman selanjutnya tentu mengenaskan,
salah2 tentu jiwa melayang dengan percuma.
Selesai makan minum, mereka lantas berdiri. Kun-gi segera
menjura, katanya: "Beruntung malam ini cayhe mendapat petunjuk
yang berharga, tidak sedikit hasil yang kuperoleh, waktu sudah
mendesak, biarlah cayhe mohon diri."
Au siok-ham tertegun, katanya: " Kapan Ling--lote bisa
berkunjung lagi ke tempatku ini, harap menginap semalam di sini,
besok pagi boleh berangkat, kenapa buru2?"
"Malam ini aku sudah kenyang makan, banyak terima kasih.
Bahwa surat itu dikirim kemari, ini membuktikan bahwa jejakku
telah diikuti, maka kupikir malam ini juga aku harus berangkat,
pertama supaya jejakku selanjutnya tidak mereka ketahui, kedua
aku ingin pergi ke Pat-kong-san lebih dulu, akan kuselidiki asal-usul
mereka, apa pula tujuan mereka menulis surat ini? Siapa pula yang
mereka culik? Daripada tidak tahu apa2, kukira perlu ku-bertindak
cepat."
"Memang betul," ujar Kim Kay-thay, "kalau begitu kita tidak perlu
sungkan kepada Ling-lote," lalu dia berpaling pada Ling Kun-gi,
katanya lebih lanjut, "Soal si mata satu itu, walau kita belum tahu
barang apa yang mereka antar? Tapi pihak keluarga Un dan Tong
juga menaruh perhatian, kuyakin ada sangkut pautnya dengan cincu-
ling. Jejak mereka sudah berada dalam genggamanku, untuk ini
Losiu ada tiga macam kode untuk mengadakan kontak dengan
muridku, Ling- lote, boleh mempelajarinya agar dijalan kau dapat
mengadakan kontak dengan murid2ku," lalu dia menerangkan
ketiga tanda2 rahasia itu.
Ling Kun-gi mengingatnya terus mohon diri, "Tunggu sebentar
Ling- lote" kata Au siok-ham "Pat-kong-san ada 200 lijauhnya, biar
kusuruh Thing- ing menyiapkan seekor kuda untukmu."
"Perjalananku ini secara diam2, aku harus menyembunyikan
jejak, naik kuda malah kurang leluasa," setelah pamitan dia lantas
meninggalkan Ting-sun-lau langsung menuju ke hotel Siang-goancan-
Tiba2 dilihatnya sepuluhan tombak di depan sana ada bayangan
seorang tengah meluncur dengan enteng danter-gesa2. Gerak- g
erik orang ini cekatan dan pesat, setelah meluncur tiba di kaki
tembok. sedikit menjejak kaki, tubuhnya terus mengapung ke atas
dan dengan ringan hinggap di atas tembok sekali berkelebat,
bayangannya tahu2 menghilang.
Melengak Ling Kun-gi, batinnya: "Entah siapa orang ini, lihay
juga Ginkangnya." Hati berpikir kaki mempercepat larinya, setiba di
kaki tembok, dengan gaya Pek-ho-jong-thian (bangau putih
menjulang ke langit), dia mengejar ke atas tembok, waktu dia
angkat kepala, bayangan itu sudah melayang turun keluar tembok.
dalam sekejap orang sudah meluncur dua puluhan tombak. cepat
iapun meluncur turun, dengan kencang ia mengudak.
Gerakan bayangan hitam di depan itu secepat terbang, lekas Kun
gi menghimpun tenaga murni, iapun kembangkan Ginkangnya, tapi
jarak tetap dipertahankan dua puluhan tombak. Hatinya heran,
batinnya: "Ginkang orang ini agaknya lebih unggul daripadaku."
Kedua orang meluncur dengan kecepatan tinggi, semula
menyusuri jalan besar, bayangan di depan dua kali berpaling ke
belakang, tapi dengan sigap Kun-gi selalu menyembunyikan
jejaknya.Jarak mereka tetap dua puluhan tombak. malam gelap
gulita lagi, sudah tentu sukar orang di depan itu melihatnya.
Lomba lari ini berlangsung kira2 satu jam, tem-bok kota Po-yang
di depan sana dari kejauhan sudah kelihatan, bayangan di depan itu
mendadak meninggaikan jalan besar, membelok kejalanan kecil di
sebelah kiri.
Bahwa orang memiliki Ginkang setinggi itu, Kun-gi menduga ilmu
silatnya tentu juga lihay, supaya jejaknya tidak konangan, dia tidak
berani mengejar terlalu dekat. Setelah bayangan itu meluncur
sekian saat baru dia berputar dari arah lain sambil main sembunyi di
antara bayang2 pohon-Jalanan kecil ini membelok ke arah timur,
karena sedikit merandek ini, bayangan di depan tadi sudah tidak
kelihatan ke mana perginya.
Kun-gi gunakan mata kupingnya, dengan saksama dia terus
merunduk maju, kira2 setengah li kemudian, dari sebelah kirijalanan
kecil sana, di antara lebatnya pepohonan tampak memancar
secercah cahaya lampu.
Mengikuti arah sinar lampu Kun-gi memasuki hutan- Kira2
seratus langkah kemudian, ia mendapatkan sebuah kuil, di atas
pintu bergantungan papan nama yang bertuliskan "Jap-hoa-bio"
(kuil tancap bunga)..
Ling Kun-gi celingukan. dilihatnya tiada bayangan orang di
sekitarnya, dengan merunduk dia melompat ke tembok terus
sembunyi di tempat gelap. dari tempatnya ini dia memandang ke
dalam kuil.
Di tengah ruangan besar sana tampak menyala sebatang lilin
merah, dua orang laki perempuan tengah duduk di kursi di depanmeja
sembahyang. Perempuan yang duduk di sebelah kiri berusia
23-24, wajahnya molek berdandan seperti puteri keraton,
pakaiannya serba putih halus sambil ber-cakap2 matanya selalu
mengerling mempesona.
Duduk dihadapannya, di sebelah kanan adalah laki2 baju biru
yang sudah dikenalnya itu. Di serambi luar sana berdiri seorang lagi,
dialah laki2 baju hijau berlengan besi beracun- Dari gaya dan letak
duduk kedua orang ini jelas kedudukan perempuan cantik lebih
tinggi, daripada laki2 baju biru, jadi orang yang barusan dia kuntit
kiranya perempuan cantik rupawan ini?
Tengah dia men-duga2 didengarnya suara laki2 baju biru tengah
berkata lantang: "Bibi coh sampai menyusul kemari, entah GihU
(ayah angkat) ada petunjuk apa?"
Perempuan cant ik tertawa manis, katanya: "Ayahmu
menguatirkan dirimu, maka aku di suruh menyusulmu kemari."
" Kebetulan bibi coh kemari, ada urusan yang perlu kulaporkan-,"
kata si baju biru.
Mengerling kenes mata si perempuan cantik, tanyanya tertawamanis:
"Kau ada urusan apa?"
"Di dekat Hoay-yang cayhe menemukan orang2 keluarga Un dari
Ling lam .... "
"Un It-kiau maksudmu:"
Laki2 baju biru melengak. katanya: "Bibi coh juga melihatnya?"
"Masih ada yang lain?"
"Demikian juga orang ketiga dan ketujuh dari persaudaraan
keluarga Tong."
Perempuan cantik mengangguk. katanya cekikikan: "Ternyata
kaupun telah melihat mereka, namun masih ada yang lain yang
tidak ku sebutkan-"
"Masih ada orang dari golongan mana?" tanya si baju biru
melenggong.
"Pihak Siau-lim."
"o," laki2 baju biru tertawa. " Kepala gundul itu hanya murid
kelas tiga dari Siau-lim-si, sejak dari Loh-yang dia sudah menguntit
kami, sudah kusuruh Hou Thi-jiu (si tangan besi) membereskam
dia." - Rupanya si baju hijau bernama Hou Ti- jiu.
Nyonya muda cantik itu cekikikan, katanya: "Dian-toa siauya
(tuan muda Dian), kukira kau melalaikan sesuatu lagi, betul t idak?"
Si baju biru melengak pula, katanya: "Masih ada seorang
bernama Ling Kun-gi, ilmu silatnya tinggi, sukar cayhe menemukan
asal-usulnya."
"Ling Kun-gi?" perempuan cantik menepekur, "Kalau Dian-toa
siauya maksudkan ilmu silatnya tinggi, tentunya tidak salah lagi,
cuma orang apakah dia?, Belumpernah aku melihatnya."
"Usianya baru likuran tahun, wajahnya cakap."
Berkelebat sinar aneh dan biji mata nyonya cantik itu, seperti
tidak acuh dia berkata: "Hanya seorang angkatan muda yang tidak
ternama." Mendadak dia tertawa serta menambahkan- "Yang
kumaksudkan adalah Kim Kay-thay." .
Berjingkrak si baju hitu, teriaknya: "Kim Kay-thay juga datang?"
"Dian-toa siauya tidak percaya? Sekarang dia berada diTing-sunlau
di kota That-hao"
Terkesiap hati Ling Kun-gi, batinnya: "Lihay juga nyonya muda
ini, jejak Kim-loyacu ternyata sudah diketahui olehnya."
Si baju hijau bersungut marah, katanya: "Agaknya meluruk
kemari lantaran aku, kalau tidak di-beri ajaran sekarang, bila sampai
ketempat tujuan mungkin bisa menggagalkan usaha kita."
"Dian-toa siauya, ketiga rombongan orang2 ini sukar dilayani,
jangan kita menghadapinya secara terang2an, Dian-toa siauya boleh
silakan tetap urus tugasmu, soal ini serahkan padaku, kutanggung
takkan terjadi apa2"
"Janji bibi coh amat meyakinkan, tidak perlu aku berkuatir" kata
si baju biru. "Kalau t iada urusan lain, cayhe mohon diri saja."
Si baju biru memberi hormat, lalu dengan langkah lebar keluar
dari ruang besar. . Hou Thi - jiu masih berdiri di depan serambi,
segera dia mengikuti langkah si baju biru.
Setelah si baju biru dan pengawalnya pergi jauh, Kun-gi hendak
mundur secara teratur, tak terduga dalam sekejap saja si nyonya
muda yang berada di ruang besar ternyata sudah menghilang.
Keruan ia terperanjat, batinnya: " Kepandaian perempuan ini
sungguh hebat, dari tempat tinggi sini akupun tidak melihat kapan
dia berlalu? Kalau bertemu dia kelak aku harus hati2."
Pada saat itulah mendadak didengarnya seorang tertawa dingin
di belakangnya. Menyusul sebuah suara merdu bergema di tepi
telinganya: "Berdiri-lah, ada pertanyaan yang akan kuajukan
padamu."
Mendengar sutra orang, seketika mengkirik Ling Kun-gi, lekas dia
berpaling, tampak nyonya muda rupawan itu sudah berdiri di
belakangnya. Wajahnya molek bak bidadari, air mukanya dingin
seperti dilapisi saiju yang sudah membeku, sorot matanya tajam
laksana pisau mengawasi dirinya.
Berdegup jantung Kun-gi, lekas dia kerahkan hawa murni
melindungi seluruh Hiat-to dan membalik badan, katanya sambil
tertawa tawar: "Hebat benar Ginkang nyonya."
" Kau siapa? Siapa yang mengutusmu ke sini?" dingin pertanyaan
si nyonya muda.
"cayhe kebetulan lewat," ujar Ling Kun - gi, "melihat sinar lampu,
maka kucari ke sini."
"Sejak dari Thay-ho kau menguntit aku, kau kira aku tidak tahu?
Kalau Hian-ih-lo-sat secero-boh yang kau duga, mana bisa aku
berkecimpung di dunia persilatan?"
Kiranya bayangan orang yang Ginkangnya tinggi tadi adalah dia,
julukannya ternyata "Hian-ih-losat" (setan buas berbaju merah).
"Betul, cayhe memang datang dari kota Thay--ho, kulihat
bayangan nona berkelebat di depanku, gerak-gerikmu enteng dan
cekatan, karena ketarik kususul kau kemari, untuk kesalahan ini
mohon di maafkan,"
lalu ia menjura. Hian-ih-lo-sat mencibir, katanya: "Enak betul kau
bicara"
"Maksud nona ......" suaranya dia tarik panjang sambil
mengawasi tajam.
Mendadak Hian-ih-lo-sat unjuk senynum manis menggiurkan,
katanya: "Aku ingin kau ikut aku."
"Ha, nona jangan berkelakar"
Hian-ih-lo-sat menarik muka, dengusnya: "Selamanya tidak
pernah aku berkelakar."
Menghadapi sikap Hian-ih-lo-sat yang sebentar tawa lain saat
dingin ini, ragu2 hati Ling Kun-gi. Pada saat dan berdiri melongo
itulah, mendadak terasa olehnya seperti ada dua orang diam2
mendekati dirinya dari belakang. Gerakan kedua orang ini amat
cepat,
waktu Kun-gi menyadari kehadiran mereka, jaraknya hanya
setombak lebih, keruan ka-getnya bukan main, secepat kilat dia
putar badan-
Sekilas dilihatnya Hian-ih-lo-sat mengulum senyum sembari
mengulap tangan, bentaknya lirih: "Bukan urusan kalian" - Kejadian
laksana kilat berkelebat, gerak membalik tubuh Kun gi sebetul-nya
amat cepat. Tapi setelah dia membalik badan, yang dilihatnya dua
sosok bayangan hitam secara bergegas berkelebat lenyap seperti
hantu.
Kembali mencelos hati Kun-gi, batinnya: " Entah siapa kedua
bayangan orang ini? Begitu cepat dan tangkas gerakannya."
Terangkat alis lentik Hian-ih-lo-sat, sekilas dia mengerling ke
arah Kun-gi. sikapnya berubah ramah, katanya lembut: "Baiklah,
apakah kau menyamar?^
Kun-gi tidak meladani orang, dengan congkak dia berkata: "Tiada
yang perlu kubicarakan, maaf, aku pamit saja." - Kedua kaki
menutul, tubuh terus melayang pergi.
"Tunggu sebentar," Hian-ih-lo-sat cekikikan, "pertanyaanku
belum kaujawab, kenapa terus per-gi?" Seiring dengan suaranya,
tiba2 dan ayun tangan kiri ke udara, dari lengan bajunya melesat
ter-bang seutas bayangan halus dan meluncur ke arah kaki Kun-gi.
Kala itu badan Ling Kun-gi tengah terapung di udara, pada saat
badannya hampir melampaui pagar tembok. mendadak terasa
kakinya seperti di tarik orang, badan yang meluncur tiba2 tertahan
terus anjlok ke bawah tanpa kuasa. Kesiur angin berbau wangi
lantas merangsang hidung, tahu2 Hian--ih-lo-sat sudah melayang
lewat di depannya, gerak-geriknya lemah gemulai bak tangkai
bunga tertiup angin, katanya tertawa manis. " Kenapa tidak jadi
pergi?"
Begitu berhenti dan berdiri tegak. langsung Kun--gi memeriksa
kakinya, tapi tiada sesuatu perubahan, namun jelas waktu dirinya
melompat ke atas tadi kaki terasa ditarik turun oleh sesuatu tenaga
raksasa. Tanpa terasa dia menjengek dingin, tanya-nya: " Dengan
apa kau membokong aku?"^
Bersinar biji mata Hian-ih-lo-sat, katanya cekikikan genit:
"Kuserang kakimu dengan benang sutera merah." Tiba2 tangan
kanannya terayun pula, "serrr", bayangan hitam halus yang hampir
tidak kelihatan mendadak menyamber ke batok kepala Ling Kun-gi.
Jarak mereka amat dekat, melihat orang mendadak turun
tangan, keruan kejutnya bukan main, tapi untuk berkelit sudah tidak
sempat lagi, maka terasa ikat rambut di atas kepalanya seperti bergerak
sedikit, kiranya senjata rahasia, orang telah mengenai
gelungan rambutnya, keruan bertambah kejut hatinya.
Terdengar Hian-ih-lo-sat tertawa, katanya: "Jangan takut, kau
tanya aku menyerang dengan senjata apa bukan? Kenapa tidak kau
ambil dan periksa sendiri saja?"
Kun-gi meraba gelung rambut sendiri serta menurunkan
sebatang jarum sulam panjang se-tengah dim, di belakang lubang
jarum terikat se-utas benang lembut warna merah, ujung benang
yang lain masih terpegang di tangan Hian- ih-to sat.Jarumini sangat
lembut, namun seluruh batang jarum berwarna mengkilap. terang
pernah direndamdi dalamracun.
Sekali sendal benang ketarik, jarum itupun mencelat balik dan
ditangkap oleh Hian-ih-lo-sat, katanya berseri lebar: "Sudah jelas
bukan, jarumku ini mengandung racun, sedikit tertusuk saja segera
darah keracunan dan kerongkongan akan tersumbat, tapi kau tidak
usah kuatir, tadi aku hanya membentur jarum pada sepatumu,
soalnya aku masih ingin bertanya padamu, maka jangan kau pergi."
"Apa yang ingin kau tanyakan?,"
Mata Hian-ih-lo-sat mengerling, katanya mesra: "Banyak sekali,
umpamanya siapa namamu, murid siapa ? Siapa mengutusmu
kemari? Setelah kau jawab terus terang, kau boleh pergi."
"Tiada yang perlu kujelaskan-"
"Berani kau bandel dihadapanku? " bentak Hian-ih-lo-sat.
" Kenapa t idak berani," tantang Kun-gi.
Hian- ih-to sat ter-loroh2, katanya:. "Agaknya kau belum tahu
siapa diriku?"
"Kenapa aku tidak tahu, kau adalah Hian-ih--lo-sat."
"Siapa yang memberitahu padamu?"
"Kau sendiri yang bilang tadi, kalau tidak da-rimana kutahu."
"Setelah tahu siapa diriku, tentunya kau tahu bahwa aku
bertangan gapah dan berhati keji, dan sukar dilayani."
"Sungguh menyesal, baru sekarang aku men-dengarnya."
Hian-ih-lo-sat melenggong, mendadak dia tertawa, katanya: "O,
tampaknya kau ini masih pupuk bawang."
Merah wajah Kun-gi, katanya: "cayhe tiada tempo buat
mengobrol dengan kau."
cepat Hian-ih-lo-sat mengadang di depannya, katanya dingin.
"Sebelum kau bicara terus terang, jangan harap kau bisa pergi."
Bertaut alis Kun-gi, dia mendongak sambil ter-gelak2: "Kalau aku
mau pergi boleh pergi se-suka hatiku, siapapun tak dapat
mengalangiku." Alis Hian-ih-lo-sat menegak. suaranya ketus: "Baik,
cobalah"
"Nona ingin berkelahi?"
"Kau bukan tandinganku."
"Belum tentu."
Hian-ih-lo-sat angkat tangannya, jari2nya tampak putih halus,
katanya: "Marilah, boleh kau coba beberapa gebrak."
"Nona ingin menjajal kepandaianku, silakan nona turun tangan
lebih dulu."
"Begitupun baik, bila kau mampu menyambut 10 jurus
seranganku, boleh segera kau pergi," berbareng tangan kiri
terangkat, dengan enteng ia menepuk ke pundak Kun-gi. Gerak
tangannya se-perti menepuk laksana mencengkeram, aneh dan
lihay, satu gerakan se-akan2 mengandung banyak perubahan-
Ling Kun-gi menggeser ke samping, telapak tangan terangkat, ia
siap melancarkan tipu Thian-g-wa-lay-bun (mega tiba dari luar langit
) untuk menahan gerak serangan lawan- Tiba2 badan Hian-ih-lo-sat
menubruk maju, telapak tangan kanan menabas iga kiri Ling Kun-gi.
Gerakan belakangan menyambung serangan tadi, sehingga tebasan
ini menimbulkan kekuatan berlipat ganda.
Tanpa pikir, punggung telapak tangan kiri Kun-gi juga membalik,
secepat kilat mengebas pergelangan tangan Hian-ih-lo-sat. Terpaksa
Hian--ih-lo-sat menarik kembali serangannya, maka telapak tangan
Kun-gi yang sempat menyelinap masuk, gerakan ini dilandasi
Lwekang tinggi, telapak tangan setajam golok dan mengeluarkan
suara menderu, perbawanya tidak kalah hebatnya.
Agaknya tak pernah terpikir oleh Hian-ih-lo-sat bahwa lawan
yang dihadapinya ini memiliki Lwekang dan kepandaian setinggi ini,
sekilas dia tertegun, sebat sekali dia berkelit mundur, mulut
menggerung gusar, teriaknya^ "Tak nyana kau berisi juga"
Setelah bergebrak dua kali, Kun-gi insaf bah-wa Hian-ih-lo-sat
betul2 lawan tangguh, namun Hian-ih-lo-sat juga menyadari bahwa
Ling Kun-gi memiliki ilmu silat yang tinggi diluar perhitungannya.
Begitu terpencar kedua orang terus menubruk maju lagi, tangan
mereka bergerak turun naik dengan kecepatan luar biasa, dalam
sekejap mereka telah saling serang pula tiga jurus.
Mendadak permainan Hian-ih-lo-sat berubah, gerakan tipunya
menjadi aneh dan sukar ditebak arahnya, sehingga Kun-gi terdesak
mundur ber-ulang2, hampir saja dia tak kuasa mempertahan-kan
diri.
Meski terkejut, diam2 Kun-gi menghimpun semangat dan
mengerahkan tenaga, sebat sekali ia balas menyerang, Lwekangnya
memang t idak lemah, maka setiap gerakannya pasti menimbulkan
pergolakan angin kencang, serangannya sukar terduga juga, entah
tutukan atau pukulan telapak tangan, kadang2 keduanya
dilancarkan bersama, perubahan banyak ragamnya, sukar
dibendung lagi, Hlan-ih--lo-sat kena didesaknya mundur malah
sehingga kedudukan tetap seimbang dan sama kuat.
Sejak mengembara di dunia persilatan, entah betapa banyak
pertempuran sengit pernah dialami IHian-ih lo-sat, namun belum
pernah dia melihat apalagi menghadapi gerak serangan tangan
kosong seaneh Kun-gi sekarang ini, semakin tempur semakin
terkejut hatinya,
dengan gemulai tiba2 ia mundur dua langkah, kedua tangan
melintang bersiaga, ta-nyanya sambil mengawasi Kun-gi: "Siapa
sebetulnya gurumu?"
" Guruku tidak suka diketahui orang, aku pantang menyebut
namanya," sahut Kun-gi.
Bersungut marah Hian-ih-lo-sat, bentaknya: "Jangan bertingkah
dihadapanku, kau kira aku tidak bisa mengorek keterangan dirimu?"
Mendadak ia melompat maju, kedua tangan mencengkeram dengan
jari2 bagai cakar. Begitu lemas kedua lengannya seperti tidak
bertulang, cengkeraman-nya ini mengandung lima-enam perubahan
serangan mematikan, terutama kesepuluh ujung jarinya yang
runcing, baunya amis, warnanya merah darah me-nyolok dan
menggiriskan, bukan mustahil jari2 tangannyapun beracun
cepat Kun-gi mundur setengah langkah, telapak tangan kanan
terayun menjojoh dengan keras, tangan kiri menangkap dengan
kecepatan luar biasa sasarannya adalah tangan kanan Hian-ih-lo-sat
yang terkembang jari2nya. Hian-ih lo- sat kaget seketika, cepat dia
tarik tangannya. Tak terduga perubahan gerakan, Ling Kun-gi
teramat cepat, baru saja dia menarik tangan, kelima jari Kun-gi laksana
cakar besi tahu2 sudah meny amber tiba meremas tulang
pundaknya.
cepat Hiah-ih-lo-sat berkelit ke samping, ber-bareng telapak
kanan membacok punggung tangan Ling Kun-gi, terdengar suara
nyaring, tangannya berhasil menyampuk punggung tangan anak
muda itu.
Tapi pada detik2 singkat laksana percikan api itu, tiba2 terasa
oleh Hian-ih-lo-sat telapak tangan lawan telah membalik terus
terangkat naik. Dari telapak tangan Ling Kun-gi terdorong kekuatan
luar biasa melalui lengannya, begitu keras getaran ini sampai
lengannya terasa kesemutan, tanpa kuasa dia tergentak mundur
tiga langkah.
Gebrakan ini berlangsung teramat cepat dan mereka sama
menyurut mundur. Terunjuk secercah senyum pada wajah Hian-ihlo-
sat, ia tatap Ling Kun-gi sekian lamanya, akhirnya ia menghela
napas pelahan tanyanya: "Kau bernama Ling Kun-gi, betul tidak?"
Kun-gi melengak. sebetulnya dia ingin balas tanya: "Darimana
kau tahu?" namun dia lantas berpikir pula. "Tadi si baju biru pernah
memberitahu bahwa diriku biasa menggunakan tangan kiri. "
Karena itu ia tertawa, katanya: "Betul, cayhe memang she Ling."
Berkedip sepasang mata Hian-ih-lo-sat yang mempesona itu,
mendadak dia cekikikan, katanya: "Jangan kau anggap dirimu luar
biasa, ketahuilah, punggung tanganmu sudah tergores luka oleh
kuku jariku"
Sejak mula Kun-gi sudah tahu bahwa kuku orang rada ganjil,
kemungkinan beracun, namun dia pura2 bodoh, katanya:
"Memangnya kenapa kalau tergores? Kau kira telah mengalahkan
aku?"
06
Hin-ih- lo-sat angsurkan kedua tangannya, ke-sepuluh jari2nya
yang putih halus itu pelan2 ter-angkat, katanya tertawa riang. "
Lihatlah kuku jariku"
Kuku jarinya yang terpelihara baik itu ternyata masing2 dicat
warna berbeda, ada merah, putih, hijau, biru, ungu dan lain2,
siapapun yang menyasikannya pasti ketarik.
"Kau pandai main racun?" tanya Kun-gi ngeri.
"Syukurlah kalau kau tahu," ujar Hian-ih-lo-sat, "racun yang ada
dikuku jariku ini cukup menggores luka kulit daging orang, kena
pagi tidak lewat siang, kena siang tidak lewat petang,"
Tapi Kun-gi hanya mendengus: "Hm, memang ganas, tak heran
kau berjuluk Hian-ih-lo-sat."
"Aku telah melukai punggung tanganmu, nanti pasti kuberi obat
penawar, namun .... "
"Tidak perlu, aku tidak takut segala macamracun," tukas Kun-gi.
"Kalau begitu boleh silakan pergi."
"Baik, cayhe mohon diri," dengan beberapa lompatan dia sudah
berlari kencang menyusup ke-hutan-
Sekaligus dia menuju kejalan besar, baru saja dia ayun
langkahnya, tiba2 dibelakangnya seorang berteriak. "Anak muda,
tunggu sebentar"
Waktu Kun-gi berpaling, tidak jauh di belakangnya berlari
sesosok bayangan tinggi besar, langkahnya enteng, seperti lambat
gerakannya, namun kecepatan luncuran tubuhnya sungguh amat
mengagumkan, se-olah2 kedua tapak kaki tidak menyentuh tanah.
Perawakan orang ini tinggi besar, wajahnya legam seperti besi,
alisnya pendek gombyok. matanya sipit, hidung singa mulut lebar,
jubah warna kuning tua sudah luntur dan sepanjang lutut, kaki
telanjang, tampang dan dandanannya sangat aneh, nyentrik. kata
orang jaman kini.
"Tuan memanggilku?" tanya Kun-gi dengan angkuh.
Bersinar tajam mata si gede menatap Kun-gi, katanya sambil
manggut2: "Kalau bukan aku, memangnya siapa lagi?" .
"Tuan siapa, ada perlu apa memanggil cayhe?" tanya Kun-gi.
Terkekeh si gede, katanya dengan suara rendah: "Anak muda,
besar nyalimu, menurut kebiasaan Lohu, kau hanya boleh
menjawab tapi tidak boleh bertanya, tahu tidak?"
Melihat sikap orang yang sok berlagak tua, Ling Kun-gi menjadi
geli, sikapnya semakin angkuh, katanya: "Itukan kebiasaanmu
sendiri, tuan tahu peraturanku?"
Terbeliak mata si gede, tanyanya. "Kau juga punya peraturan
segala?"
"Betul, menurut aturanku, peduli siapapun dia harus
memperkenalkan namanya lebih dulu, setelah kupertimbangkan
apakah dia setimpal bicara dengan aku barulah aku mau
meladaninya," sudah tentu omongannya ini sengaja hendak
memancing kemarahan orang.
Tak terduga setelah mendengar uraian Kun-gi, bukan saja tidak
marah, si gede malah ter-bahak2. Gelak tawanya seperti suara
gembreng pecah, begitu keras memekak telinga, semakin tawa
suaranya semakin tinggi dan bergema laksana guntur menggelegar
di lembah pegunungan-
Sedikit berobah rona muka Kun-gi, dia berdiri tegak tidak
bergeming, namun hatinya kaget dan membatin: "Lwekang orang
ini amat tinggi."
Lenyap gelak tawanya, mata sipit si gede melotot kereng dingin,
katanya: "Kita sama mengukuhi peraturan sendiri, nah mari kita
tentukan peraturan siapa lebih berguna ?"
Pelan2 lengan kanannya terangkat, dari lengan bajunya yang
longgar itu terjulur keluar sebuah tangan aneh berwarna kuning
legam, kelima jarinya menekuk laksana cakar elang, setiap jari2
tumbuh kuku sepanjang satu dim, runcing dan tajam laksana pisau,
kiranya itulah sebuah tangan tembaga.
Ling Kun-gi pernah melihat tangan besi Hoa Thi-jiu, bentuknya
menyerupai cakar. gunanya seperti alat senjata tajam umumnya,
kelima jari2nya sudah tentu tidak bisa bergerak seperti jari2 tangan
manusia umumnya. Tapi tangan tembaga yang dilihatnya sekarang
ternyata tak berbeda dengan tangan manusia umumnya, kelima
jarinya dapat terkembang dan mencengkeram dengan leluasa.
Pada saat2 genting itulah, mendadak sebUnh suara merdu
berseru dipinggir telinganya: "saudara cilik, lekas mundur"
Kun-gi mengenali yang berseru memberi peringatan itu adalah
Hian-ih-lo-sat, namun sebelum membukt ikan apa yang akan terjadi,
mana dia mau mundur? la berdiri tegak tidak bergerak. ia tunggu
sampai cakar tembaga lawan yang aneh itu hampir mencengkeram
dirinya, mendadak ia kerahkan tenaga pada telapak tangan kanan
terus menangkis ke depanGerak
serangan tangan tembaga lawan memang pelan2, sedang
tangkisan Kun-gi bergerak cepat, Tak tahunya begitu telapak
tangannya menindih pergelangan tangan lawan terasa seperti
membentur sebatang besi, sedikitpun tidak bergeming, cakar
tembaga orang tetap bergerak pelan mengincar pundaknya.
Tangan kanan Ling Kun-gi yang menangkis terasa kesakitan, rasa
linu kesemutan sampai menjalar ke atas pundak. keruan kagetnya
bukan kepalang, sungguh dia tidak habis mengerti bahwa sebuah
tangan tembaga bisa begini lihay, cepat dia menarik napas sembari
melompat mundur.
Si gede tidak mengejarnya, wajahnya menyeringai puas,
matanya melirik ke arah hutan, bentaknya: "Siapa itu di dalam
hutan? Apa yang kau katakan kepada bocah ini?"
Tiba2 terendus bau harum terbawa angin lembut, waktu Ling
Kun-gi menoleh, tahu2 Hian-ih-lo-sat sudah berdiri di sebelahnya.
"Untuk apa kau kemari?" semprot si gede.
"Apa aku tidak boleh kemari?" Hian-ih-lo-sat cekikikan, matanya
mengerling tajam, tanyanya pula: "Kau mengenalku?"
"Lohu tidak kenal," ujar si gede.
Hian-ih-lo-sat tertawa, katanya: "Kau tak kenal aku, sebaliknya
aku mengenalmu."
"Kau tahu siapa Lohu?"
"Kau adalah Lam-kiang-it-ki Thong-pi-thian--ong, betul tidak?"
"Thong-pi-thian-ong (raja langit lengan tembaga) ? Tak pernah
Suhu menyinggung nama orang ini" demikian Kun-gi ber-tanya2
dalam hati.
Terbeliak mata Thong-pi-thian-ong, sesaat lamanya dia
mengamati Hian-ih-lo-sat, katanya ke-mudian- " Kaum persilatan di
Tionggoan ternyata ada juga yang kenal Lohu." -Sampai di sini tiba2
dia manggut2, katanya pula: "Baiklah, Lohu tidak akan berurusan
denganmu, boleh kau menyingkir."
"Kalau aku mau pergi, takkan kumuncul di sini," ujar Hian-ih-losat.
"Kau masih ada urusan apa?" Thong-pi-thian--ong menegas.
Hian-ih-lo-sat tidak menghiraukan pertanyaan orang, katanya
berseri tawa kepada Kun-gi: "Agak-nya kau memang tidak gentar
pada racunku."
"cayhe tidak mati, kau merasa di luar dugaan?" ejek Kun-gi.
"Aku bermaksud baik, mengantar obat untukmu."
Merah muka Kun-gi, lekas dia menjura, katanya: "Kalau begitu,
aku yang salah paham."
"Syukurlah," ujar Hian-ih-lo-sat, lalu menambahkan- "kau
memang tidak keracunan, lekaslah pergi saja."
"Lohu tidak menyuruhnya pergi, siapa yang berani pergi?" bentak
Thong-pi-thian-ong.
Hian-ih-lo-sat cekikikan, katanya: "Memang-nya kau tidak
dengar, aku yang menyuruhnya pergi?"
"Nyonya sudah tahu julukanku, tapi masih bertingkah
dihadapanku, memangnya kau sudah menelan nyali harimau."
"Betul, kalau aku tidak punya nyali, mana berani kusuruh dia
pergi."
Lekas Kun-gi bersuara: "Kalau cayhe mau pergi segerapun bisa
pergi, peduli amat dengan orang lain"
Hian-ih-lo-sat mengedip seraya berkata dengan Thoan-im-jip-bit
(ilmu mengirim gelombang suara): "Thong-pi-thian-ong merajai
Lam-kiang (wilayah selatan), saudara cilik, bukan aku merendahkan
kau, tapi kau memang bukan tandingannya, biarlah aku
mengadangnya sesaat, lekas kau pergi."
Jelilatan mata Thong-pi-thian-ong, teriaknya murka: "Dihadapan
Lohu, kalian berani main bisik2, apa yang kalian perbincangkan?"
"Kudesak dia lekas pergi," ujar Hian-ih-lo-sat.
"Tidak boleh," bentak Thong-pi-thian-ong, " bocah ini akan
kutahan-"
"Untuk apa kau menahannya?"
"Lohu ingin tanya seseorang kepadanya."
"Siapa yang kau tanyakan?" tanya Kun-gi,
"Hoan-jiu-ji-lay Di mana dia?"
"cayhe tidak tahu."
"Kau bukan muridnya?"
"Kalau benar mau apa?Jika bukan kenapa pula?"
"Waktu kau bergebrak sama dia tadi, jelas yang kau mainkan
adalah ilmu ajaran bangsat gundul itu, memangnya Lohu salah
lihat?" Thong--pi-thian-ong terkekeh dingin-
Ternyata dia menyaksikan beberapa jurus gebrakan Kun-gi
melawan Hian-ih-lo-sat tadi, maka dia mencegatnya di sini.
Kun-gi naik pitam mendengar orang memanggil gurunya 'bangsat
gundul', katanya gusar: "Memang tidak salah, beliau memang
guruku, ada urusan apa kau mencari beliau? Boleh kau bicara saja
dengan aku."
Mendengar Ling Kun-gi adalah murid Hoan-cjiu- ji-lay, tanpa
terasa Hian-ih-lo-sat mengawasi lekat2.
Thong-pi-thian-ong tergelak2, katanya: "Ternyata betul kau
murid bangsat tua itu, bagus sekali, lekas katakan, bangsat tua itu
sekarang berada di mana?"
"Jejak beliau tidak menentu, tak mungkin cayhe menjelaskan,"
sahut Kun-gi.
Thong-pi thian-ong mendesak selangkah, katanya sambil
menuding Kun-gi: "Kau murid bangsat tua itu, masakah tidak tahu
dia sembunyi di mana? Kalau tidak berterus terang, jangan salahkan
Lohu tidak memberi ampun padamu."
Kun-gi gusar, serunya: "Anggaplah aku tidak mau menerangkan,
kau bisa berbuat apa terhadap diriku?"
Thong-pi-thian-ong terkekeh2, jari2 tembaga yang runcing tajam
tiba2 mencengkeram, hardik-nya beringas: "Maka Lohu harus
menahanmu, ka-lau yang cilik kuringkus, masakah yang tua tidak
akan keluar dari kandangnya?"
"Nanti dulu" lekasi Hian-ih-lo-sat mencegah.
Tangan tembaga Thong-pi-thian-ong yang sudah terulur berhenti
di tengah jalan, bentaknya sambil berpaling: "Ada apa kau?"
"Kau ingin mencari gurunya, kalau mampu pergilah cari sendiri,
nama Thong-pi-thian-ong cukup beken, memangnya kau tidak malu
berkelahi dengan anak murid orang?"
"Selamanya Lohu tidak peduli soal tetek- bengek. sudah 30 tahun
Lohu mencari bangsat tua itu, kebetulan muridnya kebenturku di
sini, betapapun Lohu takkan melepaskan dia pergi"
"Tidak bisa,"jengek Hian-ih-lo-sat, "tadi aku sudah suruh dia
pergi, maka dia harus pergi."
Mendelik Thong-pi-thian-ong, dengan gusar dia tatap Hian-ih-losat,
katanya ter-kekeh2: "Nyonya muda, kau berani campur tangan
. ." tangan yang bergerak dan sedianya hendak menye-rang Ling
Kun-gi tadi tiba2 bergerak pula pelan2 beralih ke arah Hian-ih-lo-sat.
Sementara itu Kun-gi sudah keluarkan pedang panjang dari
buntalannya, hardiknya: "Tahan"
"Kau mau ajak Lohu mencari gurumu?" tanya Thong-pi-thianong.
Kun-gi berdiri kereng menenteng pedang, katanya: "Soal ini tiada
sangkut pautnya dengan nona ini. Tidak sukar membawamu
menemui guruku asal kau bisa mengalahkan pedang ditangan-ku
....."
Thong-pi-thian-ong coba pandang pedang di tangan Ling Kun-gi,
mendadak ia tertawa lebar, katanya dingin: "Lohu ingin menahanmu,
sudah tentu harus mengalahkan kau lebih dulu."
"Adik cilik," seru Hian-ih-lo-sat, "kau bukan tandingannya, lekas
menyingkir."
"Soal ini tiada sangkut pautnya dengan nona. lekas kau pergi
saja," sahut Kun-gi.
"Anak muda, kau sudah siap?" Thong-pi--thian-ong tidak sabar
lagi, kelima jarinya terkembang terus mencengkeram ke arah Kungi.
Sejak kecil Ling Kun-gi meyakinkan ilmu pedang warisan
keluarganya. cuma waktu dia hendak berangkat Suhunya pernah
berpesan wanti2, kecuali terpaksa ilmu pedangnya dilarang
sembarang ditunjukkan di depan umum. Sekarang dia menghadapi
Thong-pi-thian-ong yang berilmu silat serba aneh, lengan tembaga
dan telapak tangan tembaga pula, kerasnya laksana baja, kalau
dirinya melawan dengan bertangan kosong, mungkin untuk
mempertahankan diri saja sukar, maka terpaksa dia keluarkan
pedangnya.
Kini melihat cakar tembaga lawan mencengkeram tiba, secepat
kilat otaknya bekerja: " Lengan tembagamu memangnya tidak takut
senjata tajam, tapi anggota badanmu yang lain, apa juga kebat
senjata?" Sebat sekali ia berkelebat maju, pergelangan tangan
menggentak. pedangpun menabas miring. Serangan ini dilancarkan
dengan badan miring sambil mendesak maju, orangnya tiba
pedangpun mengancam. Walau jurus yang dan gunakan hanya tipu
biasa Sian-niao-hoa-se (burung dewa menggores pasir), namun
dilancarkan oleh seorang ahli seperti Ling Kun-gi, bukan saja lebih
lincah dan hidup, gerakannyapun teramat cepat dan berbahaya.
Sepasang mata Hian-ih-lo-sat memancarkan sinar terang
menyaksikan ilmu pedang yang tiada taranya ini. Selama hidup
Hoan-jiu ji-lay tidak pernah menggunakan pedang, namun murid
tunggalnya ini ternyata memiliki ilmu pedang yang tinggi dan lihay
sekali.
Kelima jari tembaga Thong-pi-thian-ong terpentang, gerakannya
seperti amat lamban, tujuannya semula hanya mau meringkus
bocah kurang-ajar ini, tapi serta melihat gerakan pedang Ling Kungi
yang hebat, tiba2 ia mendengus,jari2nya malah mencengkeram
pedang yang menyamber t iba. Sungguh permainan aneh,
perubahannyapun cepat tak terduga, lengan sedikit melint ir, tahu2
batang pedang sudah berhasil dipegangnya, sementara jari tangan
kiri berbareng menutuk ke pundak Kun-gi.
Terasa batang pedang mendadak tergetar, pergelangan tangan
anak muda itupun kesemutan, telapak tangan lecet kesakitan, tahu2
kelima jari lawan yang beruji runcing juga menyerang tiba. Keruan
bukan main kaget Kun-gi, kalau dirinya tidak lepas pedang serta
melompat mundur, pundak sendiri pasti kena tertusuk, terpaksa dia
lemparkan pedangnya, lalu dengan gerakan Hu-kong liang-in
(cahaya mengambang melampaui bayangan) dia meloncat mundur
ke belakang.
Dengan mencengkeram pedang di tangan kanannya, tutukan jari
tangan kiri Thong-pi-thian--ong masih tetap mengarah ke depan,
mulutpun membentak: "Anak muda, robohlah kau!!"
Jarinya yang menuding ke depan tetap diacungkan, tahu2 sarung
jari tembaga yang terpasang diujung jarinya melesat ke depan
membawa kesiur angin kencang, sasarannya tetap tidak berubah,
pundak kiri Ling Kun-gi.
"Adik cilik, awas" Hian-ih-lo-sat berseru memperingatkan-
Hanya sekali gebrak. pedang terampas, dikala dia merasa
bingung dan kaget, tahu2 selarik sinar kuning kemilau melesat ke
arahnya, keruan Kun-gi tambah berang, serunya dengan tertawa
lantang:
"Bagus" - Tangan kiri terangkat, dia incar selong-song jari
tembaga itu terus menjentiknya sekali. Kali ini dia gunakan Tan-cisin-
thong (selentikanjari sakti) salah satu dari 72 ilmu silat Siau limpay.
"creng", selongsong jari tembaga itu kena dijentiknya mencelat
beberapa tombak jauhnya.
Selama puluhan tahun belum pernah tutukan jari terbangnya ini
mengalami kegagalan, kini kecundang di tangan seorang muda yang
dianggapnya masih ingusan, tapi ternyata memiliki ilmu silat tinggi,
sekilas dia melengak. dengan pandangan liar dia tatap Ling Kun-gi,
jengeknya sambil terkekeh: "Bagus, anak muda, agaknya seluruh
kepandaian si bangsat tuapun telah diturunkan padamu."
Hian-ih-lo-sat cekikikan, selanya: "Babak ini kalian setanding alias
seri, yang satu direbut pedangnya, yang lain selongsong jarinya
terjentik jatuh, tiada pihak yang lebih unggul ."
"Omong kosong" bentak Thong-pi-thian- ong dengan mata
melotot.
"Siapa omong kosong?" sikap Hian-ih-lo-sat tetap manis, "
memangnya kau belum mengaku kalah setelah jari tembagamu
terjentik jatuh?"
Thong-pi-thian-ong menggerakkan jari2 tembaga seperti
mengancam, hardiknya gusar,
" Lekas engkau enyah dari sini"
"Ada suatu hal ingin aku berunding dengan kau, entah kau mau
tidak?" kata Hian-ih-lo-sat tetap sabar.
"Kata2ku sekukuh gunung, tiada soal berunding segala,
betapapun Lohu harus menahan bocah ini."
"Soal yang ingin kurundingkan tiada hubungannya dengan dia."
Sebel rasa Thong-pi-thian-ong.
"Soal apa ?" tanyanya tidak sabar.
Hian-ih-lo-sat unjuk senyuman manis, ujar-nya : "Kulihat kau
memiliki ilmu silat tinggi, memiliki lengan tembaga lagi, sungguh
mencocoki seleraku ....." tawa yang manis menggiurkan di-tambah
dengan gerakan badan yang bergaya menantang.
Mata sipit Thong-pi-thian-ong menjadi terbeliak, apalagi
mendengar kata2 "mencocoki selera- ku", keruan hatinya terasa
syuur, senangnya bukan main- Memang usianya sudah setengah
abad, tapi selama ini dia tetap bujangan, sesaat dia mengawasi
Kun-gi, ingin rasanya segera menggebah-nya pergi. Tapi demi
gengsi, tadi dia menahannya, kalau sekarang mengusirnya malah
berarti menjilat ludah sendiri, maka sesaat mulutnya tak bisa bicara.
Tapi wajahnya yang tadi merah padam sekarang tampak berseri
senang, katanya dengan halus: "cayhe seorang yang suka berterus
terang, Siau-nio-cu (nyonya muda) ada omongan apa, boleh silakan
katakan saja."
Tadi dia membahasakan dia Lohu (aku orang tua ), sekarang
diganti cayhe (aku yang rendah), kiranya dia merasa dirinya lebih
muda beberapa tahun secara mendadak.
Hian-ih lo-sat melerok sambil mencibir, katanya tertawa genit:
"Dengan adik ini kau tidak bermusuhan, biarkan dia pergi saja, nanti
kita bicara lagi."
orang suruh Kun-gi pergi, tentu saja cocok dengan keinginan
Thong-pi- thian-ong, dia berseri tawa, katanya. "Betul Siau-nio-cu,
cayhe hanya mencari gurunya, Hoan-jlu-ji-lay, dulu aku pernah
bentrok sama dia, maka sekarang ini ingin ku bereskan perhitungan
lama. Ha h, sebetulnya soal ini juga tidak penting, Siau-nio-cu mau
mendamaikan soal ini, biarlah aku menurut saja," lalu dia berpaling
ke arah Ling Kun-gi, teriaknya: "Anak muda, kau boleh lekas enyah"
Sudah tentu Kun-gi maklum akan watak genit Hian-ih- lo-sat,
agaknya dia sengaja hendak memikat Thong-pi-thian-ong dengan
rayuannya, serta memperalat orang menjadi kaki tangannya.
Usia Thong-pi-thian-ong sudah setengah abad, tapi masih mata
keranjang dan suka pipi halus. naga2nya laki perempuan ini
memang sudah sama ketagihan- Karena merasa muak dan jijik,
lekas Kun-gi jemput pedangnya, tanpa bersuara dia terus tinggal
pergi.
Sudah seperti di kili2 hati Thong-pi- thian-ong, segera dia
melangkah maju sambil memandang Hian-ih-lo-sat lekat2 se-akan2
ingin menelannya bulat2, katanya cengar-cengir: "Siau-nio-cu,
bocah itu sudah pergi, ingin omong apa lekas kau katakan"
Hian-ih-lo-sat gigit bibir, mata mengerling penuh arti, katanya
sambil tertawa:
"Kalau kukatakan, kau tidak marah bukan?"
Dalam jarak tiga kaki hidung Thong- pi-thian--ong sudah
mengendus bau harum yang memabukkan, seketika jantungnya
berdegup lebih cepat. Diam2 dia menyesali hidupnya selama lebih
20 tahun yang lampau secara sia2, kenapa sampai malam ini baru
akan merasakan badan perempuan yang cantik dan harum
menggiurkan- Lekas dia berkata: "Boleh katakan saja, cayhe pasti
tidak akan- ..tidak akan marah."
Dengan sapu tangan menutup mulut, Hian-ih-lo-sat berkata
aleman- "Kalau kau tidak marah, biarlah aku bicara terus terang.
Kulihat lenganmu ini kalau tidak salah terbuat dari campuran
tembaga dengan emas, malah di dalamnya juga terpasang alat2
rahasia sehingga biaa digunakan secara bebas dan lincah, dibanding
12 tangan besi keluargaku jelas lebih sempurna, oleh karena itu
......."
" Karena itu apa?" tanya Thong- pi-thian-ong.
"Lengan tembaga bukankah setingkat lebih tinggi dari lengan
besi? oleh karena itu aku ingin mengundangmu menjadi kepala dari
barisan tangan besi keluargaku .....".
Ternyata dirinya hanya akan dijadikan kepala barisan segala,
sungguh terlalu dan besar salah wesel ini. seketika beruubah kelam
air muka Thong-pi-thian-ong, dengus-nya: "Kau .....ingin Lohu
menjadi kepala barisan"
Hian-ih- lo-sat membetulkan letak rambutnya yang terurai,
ujarnya: "Eh, kau tidak mau ? Atau merasa merendahkan derajatmu
? Bicara terus terang, setiap anggota barisan tangan besi adalah
jago2 silat kelas tinggi diBu-lim, dibanding kau Thong-pi-thian-ong
rasanya tidak lebih rendah, kuangkat kau menjadi kepala barisan
mereka, karena kau punya lengan tembaga yang lebih sempurna, ini
berarti aku telah mengangkat dan menghargai dirimu?"
Naik pitam Thong-pi-thian-ong mendengar kata2 orang,
hardiknya beringas: "Perempuan bangsat, berani kau menggoda dan
mempermainkan diriku?"
Mendadak berubah kaku wajah Hian-ih lo-sat, katanya dingin:
"Aku sudah naksir lengan tembagamu itu, maka kau harus jadi
kepala barisan lengan besi itu, kuundang kau secara hormat, kalau
tidak mau terpaksa kugunakan kekerasan padamu." di mana
tangannya melambai, tiba2 serangkum bau harum merangsang ke
muka lawan-
Betapapun Thong-pi-thian-ong juga banyakpengalaman, dengan
terkesiap cepat ia melompat mundur seraya menghardik:
"Perempuan sundel ....." belum habis makiannya, tiba2 terasa di
sebelah belakang ada apa2 yang tak beres, maklumlah betapa tinggi
dan tangguh ilmu silat Thong pi-thian-ong, dalam jarak tiga tombak
asal ada orang mendekati dirinya pasti diketahuinya.
Tapi kali ini panca inderanya bekerja lambat, waktu dia
merasakan gejala tidak beres, orang dibelakangnya sudah dekat.
Dari suara napas orang ia tahu ada dua orang telah mengancam
dirinya dari belakang. Diam2 dia membatin: " orang dapat
mendekatiku dalam jarak setombak, agaknya kepandaian mereka
memang tidak lebih rendah daripada diriku."
cemerlang sinar mata Hian-ih-lo-sat, katanya sambil tertawa:
"Baiklah, kalian saja yang menangkapnya." Berbareng ia lantas
melompat mundur.
Kedua orang di belakang saling memberi isyarat, mulut masing2
bersiul sekali, lalu melompat maju bersama, kedua tangan masing2
bergerak menangkap ke tubuh Thong-pi-thian-ong .
Bukan kepalang gusar Thong-pi-thian-ong, sambil menghardik
dia ayun lengan tembaga melayani serangan orang yang melabrak
dari kiri, berbareng badan berputar, tahu2 kaki kanan melayang
menyerampang lawan yang menubruk dari kanan-
Sekilas dilihatnya kedua orang yang melabrak dirinya adalah laki2
berbaju hijau, usianya kurang lebih 40-an, yang mengejutkan
adalah tangan kiri mereka bersemu kehijauan, kelima jari tangannya
laksana cakar yang mengkilap. kelihatan runcing tajam, dari sinar
kemilau kehijauan itu jelas bahwa lengan mereka berlumur racun
yang amat jahat.
Mau tak mau timbul rasa curiga Thong-pi-thian-ong, batinnya:
"Tadi dia bilang keluarganya punya 12 orang berlengan besi,
semuanya adalah tokoh2 Kangouw yang beken namanya,
memangnya siapa dan bagaimana latar belakang orang2 ini?"- Hati
membatin, sementara mulut menghardik: "Keparat, kalian bertiga
maju bersama juga Lohu t idak pandang sebelah mata."
"Jangan kau takabur," jengek Hian-ih-lo-sat, "kalau tiba saatnya
aku turun tangan, pasti aku akan turun gelanggang."
"Trang", suara benturan benda keras meme-kak telinga, lengan
tembaga Thong-pi-thian-ong disambut oleh pukulan lengan besi
orang sebelah kiri, keduanya sama terhempas mundur. Maka laki2
baju hijau di sebelah kanan mendapat peluang untuk menubruk
maju, lengan besi kirinya segera bergerak dengan tipu Hing-bokliong-
kan (mem-belah miring ulu naga), pinggang Thong-pi-thian--
ong menjadi incaran-
Tak keburu berkelit, terpaksa Thong-pi- thian--ong kerahkan
tenaga, ia sambut pula serangan lawan dengan lengan tembaganya,
"Trang" begitu lengan tembaga, dan lengan besi beradu, laki2 baju
hijau di sebelah sana terpental mundur tiga tindak. Thong-pi-thianong
sendiri juga tak kuasa menguasai diri, iapun menyurut tiga
tindak. diam2 batinya bertambah kejut, walau Lwekang kedua lawan
bukan tandingannya, tapi terpaut tidak jauh.
Sementara lawan di sebelah kiri sudah merangsak maju pula,
jari2 tangan besi kirinya bergerak laksana samberan kilat, telapak
tangan kanan berwarna merah darah menyolok menyerang tiba
bersama, jalan mundur Thong-pi-thian-ong sudah terkurung. Sebat
sekali lawan di sebelah kananpun melompat maju pula, lengan besi
menyerang dengan jurus No liong-sip-cu (naga marah menggondol
mut iara), gerak lengannya lapat2 membawa bunyi gemuruh terus
mencakar ke batok kepala Thong-pi-thian-ong.
Thong-pi-thian-ong murka sekali, ia membentak keras, sambil
meloncat ke atas, di mana lengan bajunya mengebas, segera dia
balas menyerang dengan gencar. Sebagai jago nomor satu di
daerah selatan yang dijuluki Lam-kiang-it-ki, bukan saja lengan
tembaganya lihay luar biasa, kepandaian silat lainnyapun terhitung
kelas wahid di-kalangan Bu-lim. Tapi di luar dugaan bahwa ke-dua
orang baju hijau yang dihadapinya sekarang juga gembong2 aliran
hitam pilihan, ilmu silatnya sudah tentu tidak lemah.
Serang menyerang berlangsung dengan gencar, ketiganya tanpa
menggunakan senjata, tapi pertempuran ini jauh lebih berbahaya
dan sengit dari adu senjata. Gebrak dilakukan dalam jarak dekat -
semakin tempur semakin sengit, sedikit lena tentu jiwa terancam,
tidak mati juga pasti terluka parah.
Dalam sekejap 30 jurus telah berlalu. Sema-kin bertempur
Thong-pi-thian ong semakin murka.. tapi juga semakin kaget, tadi
dia mengira dalam 30 jurus pasti dapat mengalahkan kedua lawannya,
tapi kenyataan kedua lengan besi lawan dapat bekerja sama
sedemikian baiknya, serangan-pun gencar dan ganas. Setelah 30-an
jurus ini ternyata dirasakan bahwa Lwekang sendiri semakin susut.
Sudah tentu keadaan ini semakin menciutkan nyali dan
perbawanya, sekaligus menyadarkan benak-nya pula bahwa secara
tidak disadarinya tadi dirinya sudah dikerjai oleh Hian-ih-lo-sat.
Mendadak dia menggerung gusar, lengan tembaga sebelah kanan
terayun ke atas, dari kelima ujung jari tembaganya itu serempak
menyemperot keluar lima jalur air kuning yang deras. Kiranya
buatan lengan tembaga sebelah kanan Thong-pi-thian-ong lebih
ringan, di dalamnya ada selongsong yang berisi air beracun, asal
tekan tombolnya, air beracun akan menyemprot dari lubang di
ujung jari. Semprotan air kuning itu dapat mencapai setombak
jauhnya, sekali kulit badan manusia kena kesemprot, daging
seketika membusuk. Apalagi serangan ini sering dilancarkan secata
mendadak. maka ganasnya luar biasa.
Agaknya kedua laki2 baju hijau secara diam2 telah dikisiki Hianih-
lo-sat dengan ilmu mengirim gelombang suara, begitu lengan
kanan Thong-pi--thian-ong terayun ke atas, serempak dengan cepat
luar biasa mereka melompatjauh menghindarkan diri. Begitu air
kuning itu menyemprot bagai kabut tebal melanda ke empat
penjuru, kedua orang itu-pun sudah mundur setombak lebih.
Maka terdengarlah suara mendesis ramai, air kuning itu muncrat
bertaburan di atas tanah dan seketika menimbulkan kepulan asap
kuning yang baunya teramat busuk. untunglah angin pegunungan
lekas sekali meniupnya buyar.
Melihat semprotan air beracunnya gagal, amarah Thong-pi-thianong
semakin memuncak, ia menuding Hian-ih- lo-sat dan
membentak: "Sundel, berani kau kerjai Lohu?"
"Baru sekarang kau tahu" jengek Hian-ih-lo-sat cekikikan-
Berkerutuk gigi Thong-pi-thian-ong, hardiknya bengis: "Keparat,
mampuslah kau, empat titik kemilau kuning laksana emas
mendadak menjiprat ke keluar laksana sambaran kilat, itulah
selongsong jari2 tembaga yang dia pasang pada ujung jari
tangannya. Maka terdengar Hian-ih-lo-sat menjerit kaget, mendadak
tubuhnya roboh ke belakang. Thong-pi thian-ong tertawa dingin,
ejeknya:
"Perempuan jalang, sebetutulnya tiada niat Lohu, membunuhmu,
kau sendiri yang cari mampus, jangan salahkan Lohu kejam"
Sembari bicara segera ia hendak memungut kembali selongsong
jari tembaga, mendadak kepalanya pusing, badan yang sudah
terbungkuk hampir saja jatuh terjerembab.
Pada saat yang sama, kupingnya mendengar tawa ringan merdu,
berbareng jalan darah di belakang batok kepalanya terasa sakit
tertutuk. mata menjadi gelap. seketika dia jatuh tersungkur dan
tidak ingat diri..
Hian-ih-lo-sat berdiri di belakang sambil tertawa cekikikan, di
mana tangannya mengulap. dua orang segera maju mendekat, kata
mereka sambil meluruskan kedua tangan: "Siancu ((dewi) ada
perintah apa."?"
Hian-ih-lo-sat mengeluarkan sebuah botol porselin kecil serta
menuang sebutir pil warna hijau ,gelap. dianggurkannya kepada
kedua orang baju hijau, katanya: "Minumkan obat ini kepadanya."
Laki2 baju hijau sebelah kiri mengiakan, dia terima obat pil itu
serta pencet dagu Thong-pi--thian-ong, pil itu terus dia jejal ke
mulutnya. Hian-ih-lo-sat tertawa puas, katanya: "Bawa dia,
sekarang kita boleh pergi"
oooooooooo
Sepanjang jalan Ling Kun-gi ber-lari2 kencang, waktu terang
tanah dia sudah tiba di cin--siang, ia cari hotel terus masuk kamar,
ia duduk semadi sampai lupa keadaan sekelilingnya.
Waktu mengakhiri semadinya, haripun sudah dekat tengah hari,
kepada pelayan ia minta diantar makanan ke dalam kamar, setelah
kenyang dia salin pakaian, menyoreng pedang, setelah bayar
rekening terus berangkat.
Tengah hari ramai orang yang berlalu lalang dijalan raya, sudah
tentu tak mungkin dia mengembangkan Ginkang, tapi dari cin-siang
sampai ke Siau-sian, jaraknya kira2 ada 200 li, ter-paksa dia beli
kuda untuk menempuh perjalanan jauh ini.
Kuda dibedal terus sampai kehabiaan tenaga dan berbuih
mulutnya, sebelum magrib dia tiba di sebuah dukuh kecil, letaknya
tidak jauh dari Pat-kong-san. Kebetulan di pinggir jalan ada sebuah
gubug yang mengibarkan panji bertuliskan "arak", kiranya warung
arak tempat orang berteduh dari terik matahari dan sekedar
istirahat. Setelah menempuh perjalanan setengah hari, lapar dan
dahaga perut Ling Kun-gi, maka dia tambat kuda pada pohon di luar
warung terus memasuki warung arak itu.
Tampak seorang laki2 berpakaian kasar tengah membersihkan
meja. Kiranya hari menjelang magrib, pejalan kaki buru2
melanjutkan perjalanan masuk kota, maka keadaan warung ini sepi.
"Pelayan, masih ada makanan apa, lekas keluarkan," begitu
masuk Kun-gi terus minta makanan serta memilih tempat duduk.
Pelayan mengawasi Kun-gi sejenak. sahutnya: "Tuan tunggu
sebentar, makanan masih ada" buru2 dia berlari masuk.
Melihat langkah orang enteng dan gesit, diam2 tergerak hati
Kun-gi, batinnya: "Pakaian pelayan ini kelihatan kasar, gerakgeriknya
kurang memadai, langkahnya gesit lagi, tempat ini sudah
tidak jauh dari Pat-kong-san, bukan mustahil ini mata2 musuh? Aku
harus berlaku hati." Demikian dia lantas waspada.
Lekas sekali pelayan tadi sudah keluar mem-bawa sepoci air teh
dan sebuah cangkir, katanya sambil seri tawa: "Tuan, silakan minum
dulu, bak-pau dan pangsit di warung kami memang selalu sedia,
sebentar lagi selesai dipanasi."
Kun-gi manggut2, katanya: "Ada makanan apa pula boleh kau
keluarkan saja."
Pelayan meng ia kan terus berlari masuk pula. Walau
kerongkongan merasa kering, tapi Kun-gi tidak berani segera
minum, ia keluarkan kantong sulam pemberian Un Hoan-kun dan
ambil sebutir Jing-sim-tan terus dikulum dalam mulut, lalu dia tuang
secangkir teh dan ditenggak habis.
Tak lama kemudian pelayan sudah keluar membawa sepiring
pangsit dan bakpau, katanya tertawa: "Tuan silakan mencicipi dulu."
Setelah meletakkan piring, matanya mengerling, dilihatnya Kun-gi
sudah menghabiskan secangkir teh, seketika wajahnya menunjuk
rasa senang. Tersipu2 dia ambil poci serta menuang pula secangkir
untuk Kun-gi, katanya tertawa: "Tuan menempuh perjalanan jauh,
tentu haus, daun teh warung kami adalah Lo-san-teh keluaran Patkong-
san yang segar dan nyaman rasanya, warnanya memang tidak
sedap dipandang, tapi kental dan nikmat, cocok untuk
menghilangkan dahaga."
Melihat gerak-gerik orang serta tutur kata-nya, Kun-gi tahu di
dalam air teh pasti ditaruh apa2, namun dia sudah telan Jing-sintan,
tak perlu takut muslihat orang, maka dia manggut2, kata-nya
"Air teh ini memang enak rasanya." se- cangkir penuh kembali dia
tenggak habis, lalu bak-pau dan pangsit ganti berganti dia gasak
pula.
Melihat secangkir teh habis pula, semakin riang hati pelayan,
lekas dia tuang penuh pula se-cangkir. Sekejap saja Ling Kun-gi
sudah lalap-habis sepiring bakpau dan pangsit, air tehpun entah
sudah berapa cangkir masuk ke perut, katanya sambil angkat
kepala: "Berapa duitnya?"
Habis berkata tiba2 dia pegang kepala sambil mengeluh ringan,
katanya: " celaka, kenapa kepalaku jadi pusing?"
Sejak mula pelayan berdiri di samping melayaninya, segera dia
unjuk seri tawa, katanya: "Mungkin tuan ter-buru2 menempuh
perjalanan, badan penat tentu kepala pusing."
Sambil mengawasi pelayan, Kun-gi berkata: "Tidak mungkin,
barusan aku segar bugar, kenapa mendadak. bisa pusing? Mungkin
..... kau ...... . mencampur apa2 di dalam ...... air teh?"
Beberapa patah kata terakhir diucapkan dengan suara tidak jelas,
badan menjadi lemas, kepala tertunduk ke atas meja terus pulas.
Pelayan itu tiba2 tertawa lebar, katanya puas: "Anak muda, bila
kau sadar, tapi sudah terlambat."
Dari dalam warung tiba2 berlari keluar seorang laki2 pula,
serunya: "Sudah kau tundukkan bocah itu?"
Pelayan itu tertawa: "obatnya kutaruh satu lipat lebih banyak dari
biasanya, memangnya kuat dia bertahan? Bocah ini memang luar
biasa kekuatannya, orang lain seteguk saja pasti semaput, tapi dia
hampir menghabiskan sepoci dan sepiring bak-pau dan pangsit, citya
bilang dia tidak takut racun, tadi juga aku kuatir kalau dia kebal
dari Tip- gau--bi (masuk mulut semaput, nama obat bius)."
"Kau tunggu dia sebentar, aku akan lapor kepada cit-ya," kata
laki2 yang baru datang. Lalu melangkah keluar.
Sudah tentu semua percakapan mereka didengar oleh Ling Kungi.
baru sekarang dia tahu duduk persoalannya, bahwa yang
mengundang dirinya ke Pat-kong-san ternyata memang betul Tong
cit-ya adanya. Sudah tentu dia tidak berpeluk tangan membiarkan
laki2 itu pergi memberi laporan- Diam2 jari tangan kanan menjentik,
sejalur angin segera menerjang punggung laki2 yang sudah
melangkah ke-luar pintu. Seketika laki2 itu mematung kaku di
ambang pintu karena tertutuk Hiat-tonya.
Melihat temannya berhenti di depan pintu, pelayan itu segera
mendesak: "Katanya mau lapor kepada cit-ya, kenapa tidak lekas
berangkat, kuda tunggangan bocah ini ditambat di luar pintu, apa
pula yang kau tunggu?"
Karena Hiat-to tertutuk. badan kaku tak mampu bergerak, sudah
tentu mulutnya juga kaku tak dapat bersuara. Keruan laki2 yang
menyamar pelayan itu menjadi heran dan menggerutu: "Hai, cuilosam,
kenapa kau?"
Baru saja selesai bicara, kupingnya tiba2 mendengar suara halus
berkata: "Losam kemasukan setan, lekas kau saja yang lapor
kepada cit-ya."
Pelayan berjingkat kaget seperti disengat kelabang, mata jelilatan
mengawasi sekelilingnya, tapi dalam warung hanya Ling Kun-gi
seorang dan tetap mendekam di atas meja, sudah semaput minum
obat biusnya lalu siapakah yang berbicara?
Tahu ada gejala2 ganjil, dengan jeri dia ber-kata: "Siapa kau?"
Hanya dirinya yang masih segar bugar di dalam warung, tiada orang
lain, sudah tentu tiada orang yang menjawab pertanyaannya.
Dengan membusungkan dada memperbesar nyail, pelayan ini
menjura keempat penjuru, katanya keras: "Sahabat dari manakah
yang bicara dengan cayhe? Kami dari keluarga Tong di Sujwan, atas
perintah Tong cit-ya kami melakukan suatu pekerjaan di sini,
mungkin sahabat kebetulan lewat, umpama air sungai tidak
bercampur air sumur, kuharap sahabat tidak mencampuri urusan
kami."
Kun-gi angkat kepala serta berkata tertawa: "Aku akan memberi
ampun padamu, asal kau mau bicara terus terang."
Sudah tentu nelayan itu berjingkrak kaget pula, serunya dengan
terbeliak: "Kau . . . . kau tidak semaput?"- Ada niat lari, tapi entah
mengapa kedua kakinya tidak mau turut perintah lagi.
Kun gi mengawasi orang dengan tertawa, ka-tanya, "Bukankah
tadi kau bilang cit-ya mengatakan aku tidak takut racun? Kalau
racun aku tidak gentar, apa lagi obat bius, memangnya aku
gampang dibikin semaput?"
Grmetar badan pelayan itu, keringat dingin gemerobyos
membasahi badannya.
"Saudara harap tenang2 saja, dihadapanku kau tidak bisa lari
lebih t iga langkah," Kun-gi mem-peringatkan-
Laki2 itu memang tidak berani bergerak. katanya tergagap:
"Toaya, kau .... kau tentu tahu, hamba hanya .... menjalankan
perintah .... "
"Jangan cerewet, jawab pertanyaanku, di mana cit ya sekarang?"
"cit-ya .... cit--ya sekarang berada di pat-kong- san."
"Pat-kong-san sebelah mana?"
"Di rumah keluarga Go."
"Siapa yang telah kalian culik?"
"Kabarnya seorang nona, dia adalah adik Toaya . ."
Heran hati Kun-gi, Entah nona siapa dan dari mana yang mereka
culik, tapi orang mengatakan dia adikku? Maka iapun manggut2,
katanya: "Baiklah, aku tidak akan menyakiti kalian, tapi kalian harus
tetap di sini."
Sekali tuding dari kejauhan dia tutuk Hiat-to pelayan serta
berkata dingin: "Hiat-to kalian hanya kututuk. setelah tengah malam
nanti baru akan terbuka sendiri."
Dengan langkah lebar dia keluar dan cemplak kudanya terus
dibedal ke arah Pat-kong-san..
Lekas sekali dia sudah tiba di Pat-kong-san, tampak sebuah jalan
besar yang dialasi papan batu, rata memanjang langsung menuju ke
rumah milik keluarga Go di atas gunung.
Hari sudah gelap. tapi mata Ling Kun-gi dapat melihat di tempat
gelap. dilihatnya di depan ada sebuah hutan, di depan sana berdiri
empat laki2 seragam hitam. Di sebelah belakangnya lagi adalah
laki2 tua berjubah biru, usianya lebih dari setengah abad, kepalanya
mengenakan topi yang bentuknya seperti semangka, mukanya
kurus tepos, matanya bersinar terang, Thay-yang-hiat dikedua
pelipianya menonjol, sekilas pandang orang akan tahu bahwa dia
seorang jago kosen memiliki kekuatan luar dalam, Tangan laki2 tua
bertopi memegang sebatang pipa cangklong panjang, sikapnya
dingin, dengan seksama dia mengawasi Kun-gi tanpa bersuara.
Tetap duduk dipunggung kudanya Kun-gi berkata dengan sikap
angkuh:
"Ada apa?"
Salah satu keempat laki2 seragam hitam bersuara: "Kau siapa
dan mau ke mana ?"
"Siapa aku dan mau kemana, peduli apa dengan kalian ?"
Laki2 yang bicara menarik muka, katanya: "Kau tahu menjurus
ke mana jalan ini?"
"coba katakan, ke mana?"
"Jalan besar ini hanya menuju ke gedung keluarga Go."
"Memang aku mau ke tempat keluarga Go."
Agaknya laki2 tua bertopi tidak sabar lagi, dia mengulap tangan
menghentikan percakapan, kata-nya kepada Kun-gi: " Untuk
keperluan apa tuan pergi ke tempat keluarga Go?"
Kun-gi tertawa dingin, jawabnya: " Untuk apa aku kemari?
Kenapa kau tanya aku malah?"
"Kalau saudara tidak ingin kena perkara, kuharap lekas putar
balik saja," ancamlaki2 tua ber--topi.
Menegak alis Kun-gi, tatanya: Justeru seba-liknya, keluarga Tong
kalian yang sengaja cari perkara padaku."
Berubah air muka laki2 tua bertopi, katanya berat: "Setelah tahu
siapa yang bertempat tinggal di tempat keluarga Go sekarang, tapi
kau masih meluruk datang?"
-o0dw0o-
"Kalau aku takut kena perkara, memangnya aku berani datang?"
ejek Kun-gi.
"Bocah sombong," maki laki2 tua bertopi dengan gusar. Tiba2 dia
berpaling kepada keempat laki2 seragam hitam, katanya sambil
menuding Ling Kun-gi dengan pipanya: "Siapa diantara kalian yang
berani meringkusnya?"
Dua orang segera tampil ke muka, masing2 melolos golok di
tangan kanan dan kiri, dengan lang-kah lebar menghampiri Kun-gi.
Setelah dekat ke duanya sama2 angkat golok, bentaknya: "Saudara
mau turun dan terima diringkus? Atau ingin kami ajar?"
Dengan tenang Kun-gi tetap bercokol di atas kudanya, katanya
tertawa: "Boleh terserah apa ke-hendak kalian-"
Karena Kun-gi tetap duduk di punggung kuda, kedua orang ini
tahu untuk membuatnya turun terpaksa harus melukai kudanya
dulu. Maka tanpa berjanji keduanya lantas membabat ke kaki kuda,
mulutpun menghardik: "Bocah, menggelinding turun"
Berkerut alis Kun-gi, bentaknya: "Ada permusuhan apa kudaku
dengan kalian?" Tiba2 ia me-mecut dengan cambuk di tangannya,
"tarr", dengan tepat ujung cambuknya membelit pergelangan
tangan laki2 di sebelah kanan- Laki2 itu menjerit keras, goloknya
terlempar jatuh, sambil memegangi tangan dia menjerit2 sembari
berjongkok. Saking kesakitan keringat dingin sampai ber-ketes2,
terang lukanya tidak ringancambuk
Ling Kun-gi ternyata bergerak hidup laksana ular, baru
saja di sebelah kanan me-nungging kesakitan, tahu2 bayangan
cambuk sudah melecut ke sebelah kiri. "Tarr", telak mengenai
pundak laki2 sebelah kiri. orang inipun menjerit kesakitan, goloknya
entah mencelat kemana, saking kesakitan dia ber-guling2 di tanah.
Kedua temannya gusar, segera mereka mem-buru maju seraya
ber-kaok2, golok terayun terus menyerbu dengan beringas. Tapi
baru saja mereka beberapa langkah di depan kuda, tiba2 terasa
bayangan orang berkelebat, hakikatnya mereka tidak melihat jelas
bagaimana Ling Kun-gi melompat turun dari punggung kuda, tahu2
orang sudah berdiri di depan mereka.
Selama 300 tahun turun temurun, keluarga Tong malang
melintang di Kangouw dengan senjata rahasia beracun, tidak sedikit
orange dari golongan hitam dan putih yang menghormat dan
mengikat persahabatan dengan mereka, soalnya juga karena jeri
menghadapi senjata rahasia mereka yang beracun, maka jarang
yang berani cari perkara pada mereka.
orang2 keluarga Tong sendiri juga jarang berkecimpung di dunia
persilatan, oleh karena secara langsung menjadikan mereka t inggi
hati, berpendapat bahwa orang2 Kangouw jeri dan tidak berani cari
perkara pada keluarganya sehingga anak buah merekapun
bertingkah laku kasar dan sombong.
Melihat Ling Kun-gi maju, kedua orang itu-pun tidak banyak
cingcong, serentak golok mere-ka bergerak. sinar biru bersilang
seperti gunting raksasa dan membacok miring ke tubuh Ling Kun-gi.
Jangan kira mereka hanya kacung keluarga Tong, maklumlah
karena orang2 mereka tiada yang berkecimpung di dunia Kangouw,
daripada iseng, maka mereka menghabiskan waktu untuk melatih
diri. oleh karena itu setiap orang keluarga Tong, memiliki
kepandaian silat yang lumayan- Busu atau guru silat yang biasa
berkelana di Kangouw mung-kin hanya dalam gebrak sudah dapat
dipukul roboh oleh mereka, Tapi hari ini mereka justru menghadapi
Ling Kun-gi, seumpama telur membentur batu.
Begitu kaki hinggap di tanah, Kun-gi langsung menyongsong dua
larik sinar biru secara bersilang yang menggunting tiba, dia tertawa
lebar, katanya: " Kembali semua keroco tak berguna" mendadak dia
gerakkan kedua tangan, sepuluh jari terbuka, masing2
mencengkeram ke batang golok lawan-
Dengan tangan kosong, ternyata dia berani tangkap golok yang
tajam malah berlumu racun- Baru saja kedua laki2 itu melengak.
tahu2 terasa tangan mengencang, golok masing2 sudah terpegang
oleh musuh.
Sudah tentu kejut mereka bukan main, insaf menghadapi jago
kosen, lekas mereka menarik sekuat tenaga. Tak tahunya golok
mereka itu seperti terjepit tanggam raksasa, sedakitpun tak
bergeming.
Kun-gi menyeringai dingin, diam2 ia kerahkan Lwekang, melalui
batang golok dia salurkan tenaga dalamnya.
Terasa telapak tangan tergetar, mendadak lenganpun menjadi
linu, sudah tentu kedua laki2 itu tak kuasa mempertahankan
goloknya lagi.
Dengan mudah Kun-gi merampas golok kedua lawannya,
mendadak golok terpencar ke kanan-kiri, gagang golok masing2
mengetuk ke arah kedua lawan- cara mengetuk dengan golok
sebetul-nya bukan gerakan tipu apa2, tapi serangan di-lancarkan
oleh Kun-gi, maka perbawanya tentu luar biasa, lain daripada yang
lain-
Dikala kedua laki2 itu melongo kebingungan karena golok
terampas lawan, mendadak lutut te-rasa kesakitan, mulut menjerit,
kontan mereka roboh ke tanah.
Gerakan Ling Kun-gi secara beruntun ini dilakukan dengan cepat
luar biasa, lompat turun dari kudanya sampai merebut golok serta
mengetuk kedua lawan hanya berlangsung dalam sekejap.
sampaipun orang tua bertopi yang berdiri menonton di sana hanya
mengawasi dengan mendelong, tahu2 keempat pembantunya sudah
diroboh-kan semuanya, untuk menolong juga tidak sempat lagi.
Keruan ia kaget bercampur gusar, sungguh tak pernah terpikir
olehnya bahwa musuh yang masih begini muda memiliki kepandaian
setinggi ini, sepasang matanya yang kelam seperti biji mata burung
hantu mengawasi Kun-gi, bentaknya dengan suara berat: "Ternyata
tuan memang punya bobot, tak heran berani meluruk kemari dan
membuat onar.."
Seenaknya Kun-gi lempar kedua golok rampasannya, dengan
tertawa congkak dia berkata- "Aku datang memenuhi undangan,
bukan sengaja mau mencari onar, kalau saudara tidak ingin
memberi pengajaran, lekaslah menyampaikan laporan, katakan
bahwa aku orang she Ling telah datang."
Mendengar orang datang atas undangan sebetulnya si orang tua
bertopi mau tanya. atas undangan siapa dia kemari? Tapi serta
mendengar kata2 terakhir yang bernada menantang serta mensindir
se-akan2 dirinya tidak berani melawannya, air mukanya menjadi
gelap. katanya terkekeh di-ngin: "Bagus sekali, asal hari kau bisa
mengalahkan Lo-hu, nanti pasti akan kulaporkan."
Ling Kun-gi ter-gelak2 lantang, ujarnya: "Bagus, apa yang kau
katakan memang mencocoki seleraku."
Laki2 tua bertopi mendengus, pipa cangklong dia pindah ke
tangan kiri, tangan kanan t iba2 ter-ayun, telapak tangannya yang
hitam legam tahu2 menepuk ke dada lawan-.
"Hek-sat-ciang," diam2 berteriak dalam hati Kun-gi waktu melihat
telapak tangan orang berwarna hitam..
Sudah tentu Kun-gi tidak gentar dan tidak unjuk kelemahan? Dia
kerahkan lwekang di tangan kanan terus dorong ke depan, secara
keras dia sambut pukulan lawan. Terdengar suara keras,
pergelangan tangan Kun-gi tergetar kesemutan, dia tahu pukulan
orang tua bertopi mengandung racun jahat, maka lekas dia
merogoh ke kantong menggenggam Pi-tok-cu.
Laki2 tua bertopi juga terhempas mundur tiga langkah, darah
bergolak dirongga dadanya, ia terkejut, batinnya "Bocah ini begini
muda, darimana memperoleh Lwekang setangguh ini?" Tapi
wajahnya yang kurus tiba2 mengulum senyum sadis, katanya
mengulap tangan: "Bocah, lekas kau kem-bali sana"
Ling Kun-gi berdiri tegak sambil bertolak pinggang, sahutnya
pura2 keheranan: "Lho, kenapa, apa cayhe kalah?"
"Anak muda," laki2 tua bertopi terkial2, "ingat baik2, hari ini pada
tahun depan adalah ulang tahun hari kematianmu."
Kun gi tertawa tawar, katanya: "Kata2mu sulit kumengerti,
agaknya kau mau bilang bahwa jiwaku takkan bertahan sampai
malamini?"
"Betul, memang itulah maksudku."
"Aneh," kata Kun-gi dengan membadut, " kenapa cayhe
sedikitpun t idak merasakan? Kuha-rap kau lekas melaporkan
kedatanganku?"
Ternyata laki2 bertopi ini adalah cong-koan (kepala rumah
tangga) keluarga Tong yang bergelar Hek -sat-ciang Khing Su-kwi,
biasanya dia pendiam, banyak akal muslihatnya dan keji.
Terutama Hek-sat-ciang yang dilatihnya amat ganas karena
menggunakan racun khas keluarga Tong sehingga lebih lihay
dibanding Hek-sat-ciang yang biasa di kalangan Kangouw, setiap
lawan yang terkena pukulannya dalam jangka setengah hari jiwanya
pasti melayang kalau tidak diberi obat penawar tunggal buatan
keluarga Tong pula.
Pemuda dihadapannya ini telah mengadu pukulan dengan
dirinya, biasanya racun pasti sudah merembes ketelapak tangan dan
tubuhnya, langsung menerjang jantung, bekerjanya racun juga jauh
le-bih cepat dari luka2 di tempat lain karena pukulan yang sama.
Tapi pemuda ini tetap segar bugar, sedikitpun tidak menunjukkan
gejala2 keracunan-
Keruan rasa kejut orang tua itujauh lebih besar dibanding
terpukul mundur tiga langkah tadi. Dengan mendelik ia tatap Kun-gi
dalam hati mengumpat: " Keparat, bocah ini tidak takut racun?"
Mendadak dia manggut2, katanya: "Baiklah, mari biar Lohu
menunjukkan jalan,"- lalu ia ber-anjak ke atas gunung melalui jalan
yang berian-das papan batu besar2 itu.
Ling Kun-gi tertawa dengan pongah, sambil menarik tali kendali
kudanya, dia ikut dibelakang orang. Jalan berbatu ini ternyata
lapang dan halus, walau terus menanjak ke atas, tapi orang tidak
merasakan lelah, deretan pohon2 siong dan pek yang sudah tua
berjajar disepanjang jalan menuju ke atas. Tanpa terasa, mereka
tiba dilamping gu-nung.
Disebelah depan adalah sebuah tanah lapang yang luas, cuaca
meski gelap. tapi Kun-gi masih dapat melihat jelas lapangan luas ini
sekelilingnya dipagari batu putih yang berukir, tumbuhan bunga
beraneka warnanya sedang mekar semerbak di se-panjang pagar
batu putih itu.
Disebelah depan sana adalah sebuah pintu gerbang besar dan
tinggi dibangun dari marmer hijau mengkilap. tepat diatas pintu
gerbang terukir beberapa huruf yang berwarna menyolok dari dasar
hijau berbunyi "Puri keluarga Go". Kedua pintu gerbang terpentang
lebar. Di kedua sisi pintu tergantung dua buah lampion besar, di
atas lampion ini bertuliskan huruf TONG, kiranya mereka menetap di
rumah keluarga Go untuk sementara. Di depan pintu berdiri dua
orang laki2 baju hijau yang menyoreng golok, tegak tanpa bergerak.
tak ubahnya seperti dua patung.
Hek-sat-ciang Khing Su-kwi membawa Kun--gi ke tengah
lapangan- tiba2 dia berhenti dan berpaling, katanya dingin:
"Sahabat, tunggulah di sini sebentar, Lohu akan masuk memberi
laporan- "-Lalu dia melangkah masuk ke pintu gerbang.
Ling Kun-gi menunggu dengan sabar, tak la-ma kemudian
tampak Khing Su-kwi sudah keluar pula membawa seorang laki2
berusia 50-an, alis gombyok tebal, mata seperti burung hantu,
mengenakan jubah panjang warna biru, sikapnya kelihatan angkuh.
Pada saat kedua orang ini muncul, dari kiri kanan pintu gerbang
beruntun keluar pula delapan laki2 bertubuh kekar, berpakaian
ketat, pakai ikat kepala, golok besar yang mereka bawa berkilau
memancarkan warna biru, semuanya serba biru.
Walau mereka tidak langsung mengepung Ling Kun-gi, tapi sigap
sekali mereka sudah memencarkan diri, dari jarak kejauhan mereka
mengelilingi tanah lapang ini. .
Sambil menggendong tangan Kun-gi berdiri di tengah lapangan,
melirikpun tidak ke arah mereka. La ki2 jubah biru menatap dengan
tajamke arah Ling Kun-gi, lalu bertanya kepada Khing Su-kwi,
"Bocah inikah yang kau katakan?" Khing Su-kwi mengiakan
dengan hormat.
Menyipit mata laki2 jubah biru, tanyanya dingin: "Siapa namamu?
Untuk apa kemari?"
Kun-gi tetap berdiri tegak dengan sikap angkuh, diam saja
seperti tidak mendengar tegur sapa orang.
"Anak muda," laki2 jubah biru menarik mu-ka, "Lohu bertanya
padamu? Kau dengar tidak?"
"Tanya padaku ?" jawab Kun-gi sambil me-lirik, "Lebih baik kau
sebutkan dulu siapa diri-mu ini?"
Sedikit melengak laki2 jubah biru, katanya: "Lohu Pa Thian-gi,
kepala congkoan dari keluar-ga Tong di Sujwan-"
Kun-gi tetap menggendong kedua tangan, sikapnya sombong
tidak hiraukan segala adat umumnya hanya mulutnya bersuara
"ooo" saja.
Amarah membayang muka Pa Thian-gi katanya: "Sekarang
katakan maksud kedatanganmu.."
"Kalau Pa- congkoan tidak tahu maksud kedatanganku, suruhlah
Kwi-kian jiu Tong-locit ke-luar, dia tahu siapa diriku."
Berkerut alis Pa Thian-gi, katanya: "Jadi saudara mencari cit-ya,
tapi cit-ya sedang keluar."
"Memangnya dia takut menemui aku. Kalau begitu bebaskan
perempuan yang kalian culik itu," kata Kun-gi ketus.
Berjingkrak gusar Pa Thian - gi, bentaknya: "Anak sombong,
jangan kau bertingkah di sini."
Sambil menarik alis Kun-gi balas membentak: " orang she Pa,
orang she Ling ini datang menepati undangan, walau nona yang
kalian culik bukan adikku, tapi aku orang she Ling sudah meluruk ke
mari, maka nona itu harus kutolong, lekas suruh Tong cit-ya
membebaskan dia."
"Kau bocah ini membual apa? Terus terang kuberitahu, cit-ya
tidak di sini, lekas kau enyah saja."
" Kalian berani main culik, aku tidak peduli kalian dari keluarga
Tong segala."
"Kau tahu kami dari keluarga Tong, berani kau main tuntut
segala, besar sekali nyalimu."
"Siang hari bolong menculik perempuan, memangnya kalian
sudah lupa undang2 raja?"
Mendelik mata Pa Thian-gi saking gusar, sam-bil mendongak ia
ter-gelak2, katanya: "Bocah ini sungguh angkuh, berarti mencari
setori ke tempat ini, hayo kalian bekuk dia."
Kata2nya yang terakhir ini memberi perintah kepada delapan
laki2 seragam biru yang berpencar di empat penjuru, dengan
langkah enteng dan gesit cepat mereka merubung maju. Mereka
berdiri dengan kedudukan Pat-kwa, beberapa kaki di sekeliling Ling
Kun-gi mereka berhenti, lalu dengan serentak mereka saling geser
kedudukan pula seraya mengeluarkan golok masing2 terus
membacok secara serabutan, Kun-gi merasakan sinar biru ber-lapis2
lak-sana gunung menindih dari bergagai arah.
Keruan kejut Kun-gi bukan main, diam2 dia berpikir: "Agaknya
mereka sudah siap menghadapiku, barisan golok ini sungguh lihay
sekali." Otak bekerja tanganpun bergerak, "sret" tahu2 pedangnya
dia lolos, selarik sinar hijau t iba2 mengelilingi tubuhnya menjadi
semcam jaringan cahaya mem-bungkus badan-
Maka terdengarlah suara berdering keras dari kiri kanan, depan
danbelakang, secara berantai senjata beradu keras.
Walau dalam scgebrak dia berhasil memben-dung delapan golok
lawan, Tapi hati sendiri juga mencelos, maklumlah barisan golok
yang dilakukan delapan orang ini agaknya merupakan barisan
tangguh yang amat dibanggakan oleh keluarga Tong di Sujwan,
setiap orangnya masing2 memiliki kepandaian tinggi dan
digembleng secara khusus.
Begitu barisan golok berkembang, maka yang kelihatan hanya
cahaya biru kemilau yang simpang siur menyamber kian kemari,
lama kelamaan semakin ketat dan ganas, sudah tentu Kun-gi terkepung
dan semakin sempit ruang geraknya.
Betapapun tinggi ilmu silat Ling Kun-gi dibawah rangsakan sinar
golok lawan yang hebat ini, dia rada terdesak juga, terasa ilmu
pedang sen-diri yang lihay menjadi susah dikembangkan- Su-dah
tentu dia tidak tahu bahwa yang dihadapinya ini adalah Pat-kwa-to
tin ( barisan golok Pat-kwa ) ciptaan keluarga Tong di Sujwan,
walau tidak setaraf Lo-han-tin dari Siau-lim-si serta Ngo-heng-kiam--
tin dari Butong-pay, namun perbawanya juga amat mengejutkan,
jarang tokoh2 Bu-lim yang terkepung oleh barisan golok ini mampu
lolos dengan hidup,
Maklumlah keluarga Tong di Sujwan terkenal dengan racun dan
alat2 senjata, bukan saja kedelapan orang ini mahir betul
memainkan barisan golok. senjata merekapun dilumuri racun dan
dinamakan Thian-lan-hoa-hiat- to (golok langit biru peng luluh
darah), disamping itu merekapun meya-kinkan ilmu senjata rahasia
yang lihay dan banyak ragamnya. jurus terakhir dinamakan Pat sianhian-
siu (delapan dewa merayakan ulang tahun), yaitu masing2
mendemonstrasikan kepandaian ilmu senjata rahasia, delapan
macam senjata rahasia serentak memberondong ke satu sasaran,
sebelum musuh ro-boh terkapar, serangan tidak akan usai.
Tujuh kali gebrakan telah berlalu, terasa oleh Kun-gi barisan
golok lawan melibat dirinya sede-mikian kencang, ke mana dirinya
bergerak sinar biru selalu mengikuti gerak langkahnya, dibabat tidak
putus, ditusuk tak tembus, dibacokpun tidak pecah. Lama kelamaan
Kun-gi merasa sebal dan mangkel kalau dirinya selalu menjadi
bulan2an musuh, kapan pertempuran berakhir? Tiba2 pedangnya
berputar, kaki menjejak dan tubuhpun melambung ke atas.
Di luar tahunya bahwa kedelapan orang ini dijuluki Tong- bunpat-
ciang (delapan jago keluarga Tong), ilmu silat masing2 memang
sangat tinggi, bila musuh melompat ke atas, merekapun turut mengapung
ke atas dan golok mereka tetap merangsak secara
bersilang dari delapan penjuru, tubuh musuh tetap menjadi sasaran-
Sejak berkelana di Kangouw, baru pertama kali ini Ling Kun-gi
benar2 merasakan betapa dahsyat dan berat pertempuran yang
harus dihadap-inya ini. Badan yang terapung
mendadak dia bikin berat dan anjlok dengan cepat dari tangkas,
sekaligus dia hindarkan tabasan delapan golok beracun, begitu kaki
menginjak tanah selicin belut tubuhnya berputar dan berkisar untuk
menerjang keluar kepungan barisan golok musuh.
Di luar tahunya bahwa kedelapan lawannya juga sudah
gemblengan, ilmu silat dan pikiran mereka boleh dikatakan sudah
bersatu padu, be-kerja serasi dan ketat- Begitu golok membacok
tempat kosong, sigap sekali merekapun turun- Deliapan orang tetap
pada posisi semula, sedikitpun tidak kacau, delapan larik sinar biru
kembali me-nyamber.
congkoan Pa Thian-gi berdiri diundakan dengan air muka
membesi kereng. terdengar suaranya membentak: "Anak muda,
sekarang buang pedangmu, masih ada harapan jiwamu akan
hidup,"
Mendengar seruaa congkoan mereka, kedelapan orang itupun
ikut membentak^ "Anak muda, congkoan suruh kau membuang
pedang, lekas menyerah?"
Terkepung di tengah, Kun-gi menjadi berang, serunya lantang. "
Orang she Pa, soalnya aku tidak ingin melukai orang tanpa sebab,
kau kira barisan golok ini dapat mengurung diriku?" Di tengah
alunan suaranya pedangnya menusuk dengan jurus aneh dan lihay,
tampak selarik sinar lembayung yang menyilaukan mata tiba2
menyam-ber ke samping terus barputar keluar.Jurus ini adalah
Liong- can- gi- ya (naga bertempur di sawah), merupakan salah
satu jurus dari delapan jurus ilmu pedang warisan keluarganya.
Gurunya pernah berpesan, tiga macam ilmu silat warisan keluarganya
tidak boleh sembarangan dipertunjukkan sela-ma mengembara
di Kangouw, Tapi sekarang dia di-paksa oleh keadaan demi
mempertahankan diri.
Hanya sekejap saja, terdengar suara berde-ring keras
danpanjang secara beruntun, kedelapan laki2 baju biru hanya
merasa pandangan kabur dan silau oleh samberan sinar terang,
tahu2 pergelangan tangan tergetar lemas dan linu, Thian-lan--hoahiat-
to buyar, hampir dalam waktu yang sama golok mereka
terpental lepas dan berjatuhan mengeluarkan suara kerontangan di
atas lantai batu.
Sudah tentu kedelapan lelaki itu melenggong dan mematung
sesaat oleh serangan lihay dan tak terduga ini, tiada yang tahu cara
bagaimana golok mereka bisa terlepas sehingga mereka mendelik
saja mengawasi Ling Kun-gi.
Hebat perubahan air muka Pa Thian-gi, mendadak dia tepuk
kedua tangan, serunya: " Kalian tunggu apa lagi?"- kata2 ini berarti
aba2 pula ter-hadap kedelapan laki2 baju biru itu.
Dengan ter-sipu2 kedelapan orang itu serempak melompat jauh
ke belakang, delapan tangan serentak terayun pula, bintik2 biru
kemilau yang tak terhitung jumlahnya sama meluncur ke arah Kungi
berdiri.
Tapi saat itu juga Kun-gi tahu2 sudah berada didepan Pa Thiangi,
ujung pedang yang ke-milau telah mengancam tenggorokannya,
katanya dingin: " orang she Pa, berani kau bergerak segera kutusuk
tenggorokanmu."
Bahwa Pa Thian-gi bisa diangkat sebagai kepala congkoan
keluarga Tong, sudah tentu dia memiliki kepandaian silat yang
dapat diandaikan, tapi sekarang hakikatnya dia tidak melihat
sesuatu dan Ling Kun-gi tahu2 sudah berada di depan dan
mengancam tenggorokan-dengan pedang. Keruan wajahnya
seketika pucat berkeringat, tapi tidak berani bergerak sedikitpun.
Hek-sat-ciang Khing su-kwi berdiri di samping Pa Thian-gi, orang
ini lebih licik dan nakal, melihat gelagat jelek tanpa bersuara
mendadak telapak tangannya menepuk ke iga Ling Kun-gi. Serangan
ini dilakukan dalam jarak dekat, dilancarkan secara
mendadak serta berusaha menolong atasan- nyalagi, sudah tentu
lihay luar biasa.
Seperti tumbuh mata dibelakang kepalanya, tanpa menoleh Kungi
geraki tangan kanan, dengan jurus Ji-jiu-po-llong (tangan kosong
membekuk naga) cepat laksana kilat, tahu2 pergelangan tangan
Khing Su-kwi sudah terpegang terus dikipatkan ke belakang.
Tiada keempatan sedikitpun bagi Khing Su-kwi untuk
mempertahankan diri, seperti orang2an ter-buat dari damen,
tubuhnya terlempar jauh ke belakang, terbanting di tengah
lapangan- Untung ke delapan orang yang menimpuk senjata rahasia
itu sudah menghentikan serangannya karena bayangan Kun-gi
sudah lenyap secara mendadak. kalau tidak tentu badan Khing Sukwi
yang menjadi sasaran- Gusar serta malu, tapi Pa Thian-gi tak
berani bergerak. dengan ganas ia membentak: "Apa keingin-anmu
saudara?"
"Tunjukkan jalan" sahut Kun-gi angkuh. Gemobyos keringat Pa
Thian-gi, tanyanya: "Kau ...... ingin bertemu dengan siapa?"
"Sudah tentu majikanmu," sahut Kun-gi ketus.
"Kau .." gugup dan gelisah suara Pa Thian-gi.
Tanpa memberi kesempatan orang bicara, tiba2 Kun-gi tarik
pedangnya, katanya dingin, " orang she Pa, membaliklah pelan2 dan
masuk ke dalam, kuharap kau tahu diri, dihadapan orang she Lingmenggunakan
pedang atau tidak. sama saja, sedikit kau mengunjuk
gerakan mencurigakan, selangkah-pun jangan harap kau bisa lari."
Kalau di waktu biasa tentu Pa Thian-gi t idak percaya, tapi kini
kata2 ini diucapkan dari mulut Ling Kun-gi, mau tidak mau dia harus
percaya dan betul2 tidak berani banyak tingkah.
Maklumlah kepandaian silat anak muda ini sungguh amat tinggi
dan sukar diukur, berani ber-kata tentu orang berani melaksanakan
ancamannya. Memangnya manusia mana di kolong langit ini yang
berani mempertaruhkan jiwa sendiri dengan maut? Tanpa bersuara
pelan2 Pa Thian-gi membalik tubuh, kini teng gorokan ada di depan,
tapi masih serasa seperti ada pedang yang tidak kelihatan
mengancam di lehernya.
Untung pedang tidak terasa mengancam punggungnya, maka
dengan leluasa ia berjalan masuk. ia tahu orang suka memberi
muka kepada dirinya.
Sebenarnya Ling Kun-gi tidak pandang sebelah mata pada
congkoan keluarga Tong ini. Se-baliknya bagi Pa Thian-gi, meski
dirinya digusur masuk. Tapi bagi pandangan orang lain se-olah2 Pa
Thian-gi menunjuk jalan dan mengiringi Kun -gi masuk ke dalam.
Sudah tentu hal ini jauh lebih terhormat daripada diancam dengan
ujung pedang.
Begitulah dia jalan di depan, sementara pe-dang Ling Kun-gi
sudah dimasukkan kedalam sarungnya, langkahnya mantap
mengikut i orang ke-dalam.
Di depanpintu terjaga pula oleh empat orang laki2 baju hitam
bergolok, melihat Pa-Congkoan masuk mengiringi tamu, sudah tentu
mereka tidak berani merintangi. Masuk pintu ke dua terlihatlah
cahaya lampu terang benderang di ruang tengah, diantara undakan
di serambi luar sana, berjajar empat perempuan yang bersenjata
Thian-lan-tok-kiam. Usia keempat perempuan ini rata2 sudah lebih
40, masing2 membawa kantong kulit di kiri kanan pinggang, tangan
kiri semuanya mengenakan sarung tangan yang ter-buat dari kulit
menjangan-
Kerai bambu menjuntai menutupi pintu besar, terdengar suara
serak suara seorang perem-puan tua berkata dari balik kerai sana:
"Pa-cong-koan, kudengar katanya ada orang mampu memecahkan
Pat-kwa-to-tin kita?"
Bergegas Pa- congkoan beranjak tiga langkah serta membungkuk
di undakan, serunya: "Hamba memang kemari untuk memberi
laporan kepada Lohujin ( nyonya tua ), orang ini she Ling, dia minta
bertemu dengan Lohujin."
Melengak Kun-gi mendengar ucapan ini, batin-nya: "Yang kucari
adalah Kwi-kian-jiu Tong cit-ya, kapan aku pernah bilang hendak
menemu nyonya tua ini?"
Terdengar perempuan tua di dalam berkata pula: "Mana
orangnya?"
Pa Thian-gi menjura pula, sahutnya: " Lapor Hujin, hamba sudah
membawanya kemari."
Terdengar perempuan tua mendengus, jengek-nya: "Kalian
sudah kecundang bukan?"
Keringat dingin ber-ketes2 membasahi badan, Pa Thian-gi
bungkamt idak berani bersuara.
"Baiklah," suara perempuan tua lebih sabar dan lamban, "Bawa
dia masuk"
Pa Thian-gi mengiakan, cepat dia membalik, wajahnya tampak
menampilkan senyuman sinis, katanya^ "Saudara Ling, mari masuk
bersama ku."- Lalu dia mendahului masuk ke dalam.
Ling Kun-gi tidak bersuara, dia ikuti orang naik ke undakan, dua
orang perempuan baju hitam maju dari kiri kanan menarik kerai ke
atas dan memberi jalan kepada mereka.
Empat lamplon besar tergantung di empat penjuru ruang
pendopo besar dan luas ini, tepat di tengah tergantung pula sebuah
lampu kaca yang berbentuk menyerupai sekuntum bunga teratai,
maka keadaan ruang pendopo terang benderang se-perti siang hari.
Sebuah kursi terbuat dari kayu cendana yang terukir indah
berduduk dengan angkernya seorang perempuan tua berbaju
kuning, wajahnya putih ber-sih, tapi kaku dingin, rambutnya sudah
ubanan di-ikat kain hitam, tepat ditengah ikal rambutnya ter-tancap
sebentuk mainan batu Giok yang berbentuk persis dengan
kelelawar, tangan kanan memegang sebatang tongkat berkepala
burung, usianya antara 60. Dua gadis baju hijau pelayan pribadinya
berdiri mengapit di kiri- kanan, pedang pendek tergan-tung di
pinggang masing2.
Tepat dibelakang kursi berdiri seorang nyonya muda yang cantik,
sikapnya anggun, kalau dia bu-kan menantu si perempuan tua,
mungkin puterinya.
Begitu memasuki ruang pendopo, langkah Pa- congkoan
dipercepat dengan sedikit munduk2, se-runya: "Hamba
menyampaikan sembah bakti kepada Lohujin dan Siauhujin-"
"Pa- congkoan tidak usah banyak adat," pe-rempuan tua
mengebaskan lengan baju.
Mulut bicara, namun biji matanya yang berkilat menatap Ling
Kun-gi, lalu tanyanya dingin: "Pa- congkoan, anak muda inikah yang
mau menemuiku?"
Pa Thian-gi mengiakan sambil membalik badan, katanya pada
Kun-gi: "Saudara Ling bilang mau menemui Lohujin, nah, beliau
inilah Lohujin-"
Pelan2 Kun-gi melangkah maju, dia memberi hormat dan
berkata: "cayhe Ling Kun-gi, mem-beri hormat kepada Lohujin-"
"Anak muda," ujar Tong-lohujin, "katanya di luar tadi kau
berhasil menghancurkan Pat-kwa-to-tin kami, sungguh hebat kau
ini." Nadanya dingin, jelas hatinya mendongkol dan kurang senang,
Kun-gi tertawa, katanya. "Maaf Lohujin, demi mempertahankan
diri terpaksa Cayhe melakukan apa saja yang bisa dilakukan, tapi
dalam hal ini aku cukup menaruh belas kasihan, tiada seorang-pun
yang kulukai."
Sedikit berubah rona muka Tong-lohujin, "Kalau begitu kau telah
bermurah hati, bagaimana kalau kau tidak menaruh belas kasihan?
Kau bunuh mereka semua?" Menegak alis Ling Kun-gi, katanya
dingin:
"Mereka tidak dapat membedakan salah dan benar, mengepung
orang dan turun tangan dengan keji, umpama cayhe tidak
menamatkan jiwa mereka, sedikitnya pasti kukutungi lengan mereka
yang menyerang dengan senjata beracun."
"Anak muda," semprot Tong-lohujin, "takabur betul kata2 mu,
jangan kau memandang rendah ter-hadap anggota keluarga Tong
kami."
"Kurang tepat ucapan Lohujin," ujar Kun-gi, "dalam kalangan
Kangouw hukum rimba sering terjadi, siapa lemah dia gugur dan si
kuat sering menindak yang lemah. cuma keluarga Tong kalian cukup
terkenal, seharusnya kalian bertindak menurut aturan-"
"Dalam hal apa kami tidak beraturan?" bentak Tong lohujin
gusar.
"Kalau Lohujin pegang aturan, coba tanya kepada Pa- congkoan,
cayhe datang atas undangan, tapi orang kalian main cegat dan
menyerang, kalau cayhe tidak mampu mempertahankan diri, sejak
tadi sudah terkapar mampus di tengah hutan sana."
"Pa-congkoan," seru Tong-lohujin, "apa betul ucapannya?"
"Menurut laporan Khing-hucongkoan," demikian Pa Thian-gi
menjelaskan, "orang ini naik gunung mencari setori, karena sukar
dilayani, terpaksa hamba suruh mereka menghadapinya dengan
barisan golok."
"Kau tidak tanya maksud kedatangannya?" desak Tong- lohujin.
" Hamba, sudah tanya, dia menuduh kita menculik perempuan
baik2, dia menuntut supaya kita membebaskan perempuan itu,"
demikian Pa-cong-koan menerangkan.
"Betulkah kalian menculik perempuan baik2?" desak Tong-lohujin
pula.
Gugup sikap Pa Thian-gi, sahutnya: "Harap Lohujin maklum,
mana kami berani melakukan perbuatan serendah ini?"
Sorot mata Tong-lohujin beralih ke arah Ling Kun-gi, tanyanya:
"Anak muda, kau minta bertemu dengan Losin (aku), maksudmu
hendak me-nuntut pembebasan perempuan itu?"
"Terus terang cayhe tidak tahu bahwa Lohujin ada di sini, jadi
tiada maksudku ingin menemui Lohujin," sahut Ling Kun-gi terus
terang.
"Lalu kau cari siapa."
"cayhe ingin menemui Kwi-kian-jiu Tong cit-ya. ."
"Jadi Lo-cit yang menculik perempuan itu?"
"Betul, dia menculik seorang perempuan, dia kira perempuan itu
adalah adikku, maka dia tan-tang aku datang ke Pat-kong-san ini,"
lalu dari sakunya Kun-gi, keluarkan surat undangan itu katanya
menambahkan: "Ada surat ini sebagai bukti harap Lohujin
memeriksanya . "
Seorang pelayan perempuan segera maju me-nerima surat itu
terus dipersembahkan kepada Lo-hujin.
Setelah membaca surat itu, Tong-hujin mengernyitkan kening,
tanyanya^
"Kau tahu siapakah perempuan yang diculik Lo cit?"
"cayhe tidak punya adik, siapa perempuan yang dia culik, cayhe
tidak tahu, tapi dia menculik lantaran cayhe, terpaksa kudatang
kemari menuntut pembebasannya."
Tong-lohujin manggut2, katanya: "Memang betul ucapanmu, lalu
barang apa yang kau bawa?"
"Hal ini cayhe sendiri juga kurang jelas, kemarin tengah hari
waktu cayhe lewat perbatasan, Tong cit- yadan anak buahnya
mencegat serta menuntut barang yang kubawa, sampai sekarang
cayhe belum tahu apa tujuannya, mencegat dan ingin merampas
barangku?"
Tampak marah mimik wajah Tong-lohujin, katanya kepada Pa
Thian-gi: "Pa- congkoan, apa saja yang kau urus selama ini? orang
datang minta bertemu dengan secara hormat, kalau Lo-cit
melakukan kesalahan, kenapa kau bela perbuatannya? Sungguh
memalukan dan merendahkan derajat ke-luarga Tong kita."
Ter-sipu2 Pa Thian-gi munduk2, serunya:
"Hamba memang pantas mati, harap Lohujin suka memberi
ampun-"
"Jangan banyak bicara lagi, di mana Lo cit?"
"cit-ya tidak kemari . . . ^ "
Tong-lohujin mengetuk tongkat di atas lantai, serunya murka:
"Sekarang juga kalian pergi mencarinya dan suruh dia segera
kemari. Keluarga Tong dari Sujwan sampai main culik dan peras
segala, betapa memalukan kalau sampai hal ini tersiar di kalangan
Kangouw? Hayo lekas cari dia kemari."
Tak berani ayal, cepat Pa Thian-gi berlari keluar dengan langkah
ter-gopoh2.
"Anak muda," kata Tong-lohujin kemudian, "Kau sudah dengar,
orang2 keluarga Tong tidak seluruhnya jelek seperti dugaanmu.
Besok sebelum tengah hari kau boleh kemari lagi, walau perempuan
itu bukan adikmu, Los in akan serahkan dia padamu dan kau boleh
mengembalikan dia keru-mahnya, kau terima tidak?"
Ling Kun-gi menjura, serunya: "Lohujin ber-pesan, cayhe terima
dengan senang hati".
"Baik, besok sebelum tengah hari, kau boleh kemari menemui
Los in pula."
"Kalau begitu, cayhe mohon diri."
Setelah meninggalkan puri milik keluarga Go, segera Kun-gi
kembangkan ilmu ringan tubuh langsung kembali ke kota, setelah
melompati tem-bok kota, dia menyelundup melalui tempat sunyi
terus berlenggang dijalan raya. Malam belum larut, maka suasana
masih cukup ramai, setelah pu-tar kayun dijalan raya sebentar, Kun
gi membelok ke sebuah jalan, di sana ada sebuah hotel ber-nama
Siu-jun, keadaan di sini tenang dan tenteram di tengah keramaian
kota.
Belum lagi Kun-gi memasuki pinto, seorang pelayan sudah
menyambutnya munduk2 menyilakan masuk. Dengan langkah lebar
Ling Kun-gi masuk ke situ, pelayan lain membawanya ke sebuah
kamar kelas satu, servicenya memang cukup memu-askan-
Setelah membersihkan badan dan makan ala kadarnya, Ling Kungi
menanggalkan pedang di atas ranjang dan duduk menyandang
secangkir teh, pikir-annya mengenang kembali pengalaman sejak
mulai dari Kayhong waktu menguntit si baju biru, yang kini diketahui
bernama Dian-kongcu serta kejadian sepanjang penguntitan ini.
Yang terang banyak orang dari berbagai kelompok juga mengikut i
je-jaknya.
Terkenang olehnya Un Hoan-kun, si jelita yang ramah dan
anggun- Diapun tak bisa melupa-kan gadis baju cokelat yang lincah
dan berbudi halus, dia hanya tahu gadis menggiurkan ini she Pui.
Dia terkenang pada Un Hoan-kun, tapi juga rindu pada gadis baju
cokelat. Terasa kedua no-na ini bak sekuntum bunga, yang satu
merah dan yang lain kuning, sama molek dan indah, sukar dipilih
mana lebih cantik. Laki2 umumnya suka mengagumi paras cantik,
apalagi Ling Kun-gi, pemuda yang baru menanjak dewasa, pemuda
yang mulai mendambakan jenjang asmara, Lama sekali dia
termenung sambil mengawasi langit2 kamar, tanpa sadar ia
mengulum senyum manis.
Bagi Kun-gi baru pertama kali ini dia me-ngecap manisnya cinta,
belum lagi dia rasakan getirnya permainan cinta itu. Lama kelamaan
dia merasa badan penat dan kepala sedikit berat, tanpa ganti
pakaian dia terus merebahkan diri di atas ranjang, tapi sekian
lamanya tetap tidak bisa pulas. Tanpa terasa dari kejauhan
terdengar kentongan kedua.
Se-konyong2 didengarnya di luar jendela ada suara keresekan.
Suara lambaian pakaian yang meluncur turun serta terdengar suara
kaki hinggap di tanah, lalu mendekati jendela. orang ini jelas
menahan napas, cukup lama dia berdiri di luar jendela.
Sudah tentu semua ini tidak dapat mengelabui Kun-gi, tapi dia
ingin tahu apa maksud ke-datangan orang "pejalan malam" ini,
maka dengan sabar dia menunggu dan pura2 tidak tahu.
Setelah menunggu sebentar dan tidak terdengar suara apa2 di
dalam kamar, pejalan malam di luar itu agaknya tidak sabar lagi,
dari luar jendela dia berkata dingin: "Ling Kun-gi, keluarlah kau"
Kata2nya tidak keras, umpama Kun-gi sudah tidur pulas, pasti
juga mendengar suara ini. Makulumlah setiap insan persilatan walau
dalam keadaan tidur nyenyak. dia tetap berlaku waspada, reaksinyapun
sigap dan cepat, apalagi Ling Kun-gi memiliki
kepandaian tinggi, seharusnya sudah tahu akan kedatangannya ini.
Bahwa dia diam menunggu di luar, maksudnya juga supaya Ling
Kun-gi memburu keluar, karena Kun-gi t idak menunjuk reaksi apa2,
terpaksa dia bersuara.
Karena orang telah menantangnya keluar, tak bisa Kun-gi
berpeluk tangan, mulutnya segera menghardik tertahan: "Siapa?"
Sekali lompat turtun ranjang, sekenanya dia mengenakan mantel
sembari meraih pedang, sekali dorong jendela, ba-gai burung
tubuhnya melayang keluar jendela. Waktu kakinya menginjak tanah
di luar pekarangan, tampak di atas wuwungan didepan sana berdiri
sesosok bayangan kecil kurus.
Melihat sikap orang yang menantang Kun-gi menjadi gusar,
sekali enjot kaki, badannya melen-ting ke atap rumah, sekali tutul
lagi dia melesat ke arah bayangan itu.
Begitu Kun-gi menubruk datang, bayangan itupun cepat
melayang pergi, beruntun beberapa kali lompatan, pesat sekali
tubuhnya sudah melayang kewuwungan rumah yang lain, dengan
jalan main lompat di wuwungan rumah dia terus kabur laksana
terbang ke arah barat.
Karena orang tunjuk nama dan menyuruhnya keluar, sudah tentu
Kun-gi tidak mau lepas orang pergi, segera dia kerahkan tenaga,
dan mengejar dengan kencang.
Kejar mengejar terjadi, bayangan mereka me-lesat di tengah
udara. cepat sekali mereka sudah berada di tempat belukar yang
sepi di luar kota sebelah barat. Ginkang orang itu memang tinggi,
tapi dibanding Ling Kun-gi masih kalah setingkat, maka dalam kejar
mengejar ini jarak kedua pihak semakin dekat.. setiba di luar kota
jarak antara kedua orang hanya tinggal tiga tombak saja.
Pada saat berlari kencang itu, bayangan kecil kurus di depan
mendadak membalik tubuh, tangan terayun dan mulut menghardik:
"Awas serangan- Setitik bayangan langsung menerjang ke muka
Ling Kun-gi.
Tidak mengira bakal diserang, cepat Ling Kun--gi mengerem
langkah seraya ulur tangan menangkap senjata rahasia itu, kiranya
hanya sebutir batu. Begitu dirinya berhenti, bayangan itupun sudah
ber-henti serta berpaling .Jarak kedua orang kini hanya setombak
lebih.
Ling Kun-gi mengawasi dengan tajam, dilihat-nya orang
mengenakan topi beludru, wajahnya kuning, perawakannya kecil
kurus, pakaiannya ketat serba hitam, pedang panjang digendong
dipunggung-nya, muka kelihatan jelek tapi sepasang matanya
sedemikian bening, cerah dan bersinar.
Di kala dia mengawasi orang, orangpun mengawasi dirinya. Kungi
merasa belum pernah meli-hat orang ini. Keadaan sekeliling sunyi
senyap. tidak terlihat adanya tanda2 perangkap di sini? Diam2 ia
heran, tak tahan Kun-gi bertanya: "Tuan memancingku kemari,
entah ada petunjuk apa?"
"Kau inikah Ling Kun-gi?" rendah suara si baju hitam itu.
"Betul," sahut Kun-gi, "entah siapakah tuan ini?"
"Tak perlu kau tanya siapa aku," dingin nada orang itu.
"Baiklah, sekarang coba jelaskan maksudmu?" Pelan2 orang itu
menurunkan pedang dari punggungnya, katanya: "Kudengar kau
mengagulkan kepandaianmu yang tinggi dan konon tiada bandingan
di kolong langit ini."
Kun-gi melenggong, katanya tertawa tawar: "Mungkin saudara
salah dengar, selamanya belum pernah aku mengagulkan ilmu
silatku, apa lagi tiada bandingan segala."
"Aku tidak peduli kau berani bilang demikian atau tidak,
kupancing kau kemari, ingin kujajal ke-pandaianmu, bukankah kau
membawa pedang pu-saka? Nah, marilah kita bertanding ilmu
pedang."
sekilas Ling Kun-gi pandang pedang pusaka ditangan kirinya,
katanya: "Apa perlu?"
" Kecuali kau t idak berani atau menyerah kalah kepadaku."
Menyipit mata Kun-gi, katanya tegas: "Pedang adalah senjata
tajam, kita belum saling kenal, tidak pernah bermusuhan lagi,
kenapa harus bertanding pedang?"
"Aku ingin menentukan siapa lebih unggul di antara kita, setelah
kau berada di sini, mau atau tidak harus bertanding juga."
"Tuan dihasut orang atau atas keinginanmu sendiri."
"Tiada orang menghasutku, atas keinginanku . . ."
"Kalau demikian silakan tuan kembali, maaf aku tidak bisa
melayani," habis berkata Kun-gi terus putar tubuh hendak pergi.
"Ling Kun-gi," bentak orang itu, " berdirilah ditempatmu"
"Tuan masih ada urusan lain?"
Sambil mengacung pedang orang itu berkata: "Kau mau pergi,
temanku ini yang keberatan."
Gusar Kun-gi tapi dia tetap bersabar, kata-nya: "Agaknya tuan
mahir ilmu pedang, tentunya kaupun tahu belajar ilmu pedang
bukan untuk pamer atau buat adu kekuatan segala, tanpa sebab
cayhe tidak akan sembarangan menggunakan pedang kau boleh
kembali saja."
"Tidak bisa," seru orang itu.
"Sejak cayhe belajar pedang, selamanya mem-batasi diri dan
tidak suka sembarangan bergebrak dengan orang lain."
"Aku tidak tahu apakah itu larangan atau kebiasaan, dua
kemungkinan kau hadapi sekarang, setelah itu baru kau boleh
pergi."
Bersinar mata Ling Kun-gi, tanyanya: "Dua kemungkinan apa?"
"Kau mengalahkan pedangku ini atau buang pedangmu serta
menyerah kalah."
Semakin terang sinar mata Ling Kun-gi, katanya kalem: "Kuharap
kau tahu diri, jangan menyudutkan orang sedemikian rupa."
Berkedip orang itu, katanya tertawa dingin: "Kucari kau untuk
bertanding pedang, jangan bilang main paksa segala."
"cayhe tadi sudah bilang tidak akan sembarang menggunakan
pedang."
"Kalau kau tidak mau bertanding, boleh kau lempar dan
tanggalkan pedangmu di sini, kalau tidak mau menyerah, nah layani
diriku, kita tentukan siapa lebih unggul siapa asor. Kukira murid
Hoan-jiuji-lay tentu bukan kantong nasi belaka."
Memancar terang sinar mata Ling Kun-gi, mendadak sikapnya
berubah kereng, katanya tertawa lantang: "Saudara menantang
tanpa alasan, demi mempertahankan nama baik perguruan,
terpaksa kulayani tantanganmu." dengan tangan kanan segera dia
lolos pedangnya.
"Kau sudah siap?" tanya orang itu dengan tertawa senang.
"Tunggu sebentar," seru Kun-gi.
Kun-gi, pikirnya: " ilmu pedang apakah ini? Begini licin dan
ganas, agaknya aku terlalu pandang enteng padanya."
Sedikit menarik napas, gaya pedangnya tiba2 mengikuti gerak
lawan, pedangnya ditekan menindih pedang lawan. Sebat sekali
lawan kembali menarik pedangnya, tapi setelah pedang tertarik ke
belakang, tiba2 cahaya gemerlapan, sekaligus ia menusuk pula lima
kali. Kelima tusukan pedang ini boleh dikatakan dilancarkan dalam
satu gerakan, cepatnya tak terukur sehingga tampaknya hanya
sekali tusuk saja,
Kun-gi bergerak mengikuti gaya pedang musuh, beruntun iapUn
balas menyerang lima kali, malah kelima jurus serangan balasan ini
serba ragam arahnya, enteng dan cekatan, kedua pedang saling
samber dan menempel, tapi t idak sampai menerbitkan suara.
Agaknya si baju hitam tidak menduga dibawah serangan gencar
lima kali tusukannya tadi Ling Kun-gi masih mampu melancarkan
serangan balasan malah, keruan dia tertegun, serta merta dia
terdesak mundur dua langkah.
Dengan dongkol dia menggerung tertahan, tiba2 ia menubruk
maju pula, beruntun secara berantai dia lancarkan delapan kali
serangan. Begitu hebat serangan ini sehingga mata orang serasa
silau. Naga2 nya dia sudah keluarkan seluruh kemampuan ilmu
pedangnya.
Sayang hari ini dia kebentur Ling Kun-gi. Anak muda itu tertawa,
katanya kalem: "Hati2lah kau." Mendadak pedang dia pindah ke
tangan kiri, tubuh bergerak laksana angin berkisar ke kiri terus
mendesak maju, mendadak sinar pedangnya berkembang, lalu
menerjang miring laksana sinar perak. "creng" benturan keras
memekak telinga, kedelapan jurus serangan si baju hitam seketika
sirna tanpa bekas. Karena tekanan tenaga benturan yang keras itu,
pedang di tangannya itu tak kuasa dipegang lagi dan terlepas
terbang ke belakang, menyusul terdengar jeritan kaget melengking
tajam.
Sejak tadi si baju hitam bicara dengan suara rendah dingin
sehingga sukar dibedakan dia laki2 atau perempuan, kali ini dia
menjerit melengking tanpa terduga2 dan keluar dengan suara
aslinya, suara nyaring merdu ini terang keluar dari kerong-kongan
seorang gadis.
Begitu mendengar teriakan nyaring ini, lekas Kun-gi tarik pedang
dan melompat mundur, dengan tajam ia mengawasi orang.
Topi yang dipakai orang itu tadi sudah ditabasnya jatuh, maka
tertampaklah rambutnya yang panjang hitam legam terurai
dipundak. Lekas dia jemput pedangnya, dengan mendelik gusar dia
tatap Ling Kun-gi sekejap terus tinggal lari pergi.
Kun gi tidak kira bahwa lawannya perempuan, sesaat dia berdiri
melongo. Pada saat dia berdiri menjublek inilah, tiba2 dilihatnya tiga
titik sinar ungu melesat tiba dengan cepat menerjang ke dadanya.
Waktu ketiga tit ik ungu itu hampir mengenai dada, gaya luncur yang
semula lurus itu mendadak berpencar, satu menyerang teng
gorokan, dua yang lain menerjang ke dua sisi pundak.
Betapa tajam pandangan mata Ling Kun-gi, dengan jelas dia
melihat titik ungu timpukan perempuan baju hitam ini adalah t iga
ekor kumbang kecil warna ungu, lekas dia ayun pedang menabas
ketiga ekor kumbang itu. "Ting, ting, ting," be-runtun ketiga ekor
kumbang kena dipukulnya jatuh.
Mendengar suara "ting-ting" itu, kembali Kun-gi melenggong,
pikirnya "Ternyata ketiga kumbang ungu ini hanyalah senjata
rahasia, tadi kukira kumbang asli."
Segera dia menjemput ketiga kumbang ungu itu, ternyata
buatannya memang hidup dan mirip sekali dengan kumbang asli,
cuma warnanya ungu, kelihatan segar dan hidup, di ujung mulutnya
terpasang sebatang jarum baja halus sebesar bulu kerbau,
warnanya kemilau biru, terang jarum lembut ini beracun-
Pada saat dia berjongkok mengambil ketiga kumbang ungu itu,
didapatinya pula secomot rambut hitam, lekas dia mengambilnya
pula, terasa lembut dan halus, warnanya legam mengkilap. Iapat2
terendus bau harum, jelas ini adalah rambut seorang gadis jelita.
Siapakah dia? Menggenggam potongan rambut itu, sementara
tangan lain menimang2 ketiga kumbang buatan, Ling Kun-gi bertanya2
dalam hati: "Dari buatan ketiga kumbang yang begini
baiknya, terang perempuan ituprang dari keluarga Tong diSujwan-"
-seketika pula dia terbayang akan perempuan jelita yang berdiri di
belakang Tong-lohujin malam tadi.
Jadi dia nyonya muda keluarga Tong. "Hm, pasti dia, kalau tidak
buat apa dia pakai kedok segala mencari setori kepadaku? Tak
heran dia begitu getol menantang diriku bertanding? Mungkin
karena diriku telah mengalahkan Pat-kwa-to-tin sehingga orangkeluarga
Tong penasaran, maka secara diam2 dia meluruk kemari
membuat perhitungan.
Besok siang aku harus menemui Tong-lohujin pula di puri
keluarga Go, kenapa rambut dan ketiga kumbang buatan ini tidak
langsung kukembalikan kepadanya?" Setelah ambil keputusan, Kungi
simpan kedua barang itu ke dalam kantong terus. lari kembali ke
Hotel..
Malam itu tak terjadi apa2 pula, Kun-gi tidur dengan nyenyak.
waktu dia mendusin hari sudah terang benderang.. Begitu bangun
segera dia bungkus ketiga kumbang buatan dan rambut itu dengan
kertas, lalu buka pintu memanggil pelayan. Setelah membersihkan
badan serta sarapan pagi, melihat hari sudah cukup siang, cepat ia
bebenah dan mau keluar bayar rekening untuk berangkat.
Tiba2 didengarnya langkah orang mendekati dari luar,
didengarnya pelayan berkata sambil tertawa ramah: "Mungkin Lingya
yang tuan cari menempati kamar ini." - Lalu muncul dua orang di
depan kamarnya.
Dengan seri tawa lebar, pelayan berlari masuk serta berkata:
"Tuan inilah Ling-ya adanya? di luar ada seorang congkoan she Pa
hendak mencari tuan."
Pa Thian-gi yang ada diluar lantas melangkah masuk, katanya
bersoja: "Atas perintah Lohujin, aku kemari menyambut Ling-ya ."
Kun-gi mengangguk. sapanya: "Kiranya Pa- congkoan, maaf,
cayhe tidak sempat menyambut."
Pa Thian-gi mengawasi pelayan- Pelayan ini cukup tahu diri,
lekas dia mengundurkan diri.
Dengan berseri Pa Thian-gi segera bersoja, katanya: "Kejadian
semalam hanya lantaran salah paham, orang she Pa banyak berlaku
kasar, atas perintah Lohujin disuruh kemari untuk menyatakan
penyesalan dan minta maaf."
Kun-gi tahu kalau orang ini licik dan banyak akalnya, diam2 dia
waspada, katanya dengan tertawa, "Pa- congkoan tidak usah
menyesal, cayhe sendiri juga bersalah"
"Sejak pagi2 tadi Lohujin suruh kemari menyambut Ling-ya,
sayang Ling-ya belum bangun, maka kutunggu di luar, kini
kendaraan sudah tersedia, kalau Ling-ya tiada urusan lain, silakan
berangkat."
"Baiklah, mari berangkat," ujar Kun-gi.
Tanpa sungkan2 lagi, segera dia mendahului melangkah keluar.
Seperti melayani majikan sendiri saja, dengan laku hormat Pa
Thian-gi mengikut i di belakangnya.
Di ruang depan, Kun-gi merogoh kantong hendak bayar rekening
hotel, tapi Pa Thian-gi lantas memburu maju, katanya: "Rekening
Ling ya sudah kami bayar lunas."
"Ah, mana boleh begitu?" kata Kun-gi.
"Ai, urusan sekecil ini, Ling-ya tidak usah sungkan, kami diutus
menyambut kemari, itu berarti Ling-ya dipandang sebagai tamu
keluarga Tong, mana ada tamu yang harus membayar rekening
hotelnya sendiri."
Hal ini sungguh di luar dugaan Ling Kun-gi, tingkah laku Pacongkoan
sekarang jauh berubah dari sikapnya semalam, ini betul2
membuatnya heran dan ragu. Tapi wajahnya tetap tenang, katanya:
"Kalau begitu Lohujin terlalu baik padaku."
"Terus terang Ling-ya , biasanya Lohujin jarang memuji
seseorang, tapi terhadap Ling-ya beliau sa-ngat ketarik, maka pagi2
kami sudah disuruh kemari menyambut Ling-ya," merandek
sebentar, nadanya lantas berubah, sambungnya: "Bicara
sesungguhnya, usia Ling-ya masih begini muda, jangankan ilmu silat
membuat orang she Pa tunduk lahir batin, bahkan sikap dan
perbawa Ling-ya juga membuat kami kagum betul2." Agaknya dia
berusaha menjilat Kun-gi.
Sudah tentu hal ini juga dirasakan oleh Kun-gi, cuma dia tidak
tahu untuk apa dan kenapa orang sampai merendah diri menjilat
sedemikian rupa? Maka dengan tertawa tawar dia berkata: "Terlalu
baik penilaian Pa- congkoan terhadap diriku."
Pa Thian-gi jadi kikuk, katanya ter-sipu2: "orang she Pa bicara
sejujurnya, bicara soal semalam Ling-ya sudah menang, tapi tidak
bersikap congkak dan takabur, kalau orang lain tentu mengancam
tenggorokanku dengan pedang untuk menunjuk jalan, tapi Ling-ya
cukup bijaksana dan percaya pada kami, jelek2 orang she Pa ini
adalah Congkoan keluarga Tong yang disegani, kalau sampai harus
menunjuk jalan dengan ancaman pedang di punggung, hidup setua
ini dikalangan Kangouw aku juga punya sedikit nama, bukankah
habis pamorku ini? Tapi Ling-ya telah memberi muka dan
mempertahankan gengsiku, sungguh orang she Pa merasa
bersyukur dan berterima kasih." Maklumlah, insan persilatan
umumnya memang suka mengejar nama, apa yang dikatakan Pa
Thian-gi memang beralasan.
Sudah tentu lahirnya saja dia merangkai kata2 halus, bahwa dia
menjilat sedemikian rupa tentu masih ada udang dibalik batu.
Diluar pintu dua orang Busu dari keluarga Tong menuntun dua
ekor kuda, melihat Pa- congkoan keluar, lekas mereka maju
mendekat. Setelah Ling Kun-gi mencemplak ke punggung kuda baru
Pa Thian-gi naik kuda yang lain, lalu kedua Busu tadipun ikut naik
kuda mereka sendiri.
Di atas kudanya Pa Thian-gi memberi hormat, katanya: " orang
she Pa menunjuk jalan bagi Ling-ya ." - Lalu dia mendahului bedal
kudanya. Kun-gi mengikut di belakangnya, disusul kedua busu itu.
Mereka langsung menuju ke Pa-kong-san. Kira2 setanakan nasi,
mereka tiba di bawah Pa-kong-san, tampak di luar hutan berbaris
delapan laki2 seragam hitam, melihat Pa- congkoan datang,
serentak mereka memberi hormat.
Di atas kudanya Pa Thian-gi membalas hormat pula, katanya
tertawa: "Sebagai tamu, silakan Ling-ya berjalan lebih dulu."
"Pa-congkoan jangan sungkan, kau saja yang menunjuk jalan,"
ujar Kun-gi.
" Ling-ya adalah tamu, betapapun orang she Pa tidak berani
lancang."
Kun-gi tidak banyak bicara lagi, segera dia bedal kudanya ke atas
gunung, di bawah iringan Pa Thian-gi, cepat sekali mereka sudah
tiba di depan puri keluarga Go.
Wakil congkoan Khing Su-kwi sudah menunggu di depan pintu,
segera dia suruh seorang busu disampingnya masuk memberi
laporan, dua busu maju memegang kendali kuda terus di tuntun ke
belakang.
Dengan tertawa lebar Khing su-kwi maju me-nyambut: "Sejak
tadi kami ditugaskan menyambut di sini, Ling ya tentu sudah capai,
lekas silakan masuk."
Hanya semalam saja, sikap orang2 keluarga Tong sudah berubah
seratus delapan puluh derajat, hal ini betul2 di luar dugaan Ling
Kun-gi.
Waktu mereka sampai di pintu kedua, tampak menyongsong
keluar seorang pemuda berjubah sutera biru, sambil tertawa dia
menyapa: "Apakah ini saudara Ling? Tong Siau-khing terlambat
menyambut, harap dimaafkan."
Pemuda jubah biru ini berusia 25-an, wajahnya cakap. sorot
matanya tajam, kedua alisnya tebal kelihatan kereng dan
berwibawa, tapi juga ramah dan lembut.
Lekas Pa Thian-gi berkata: " Ling-ya, inilah Siaucengcu ( majikan
muda ) kami."
Lekas Kun-gi memberi hormat, katanya: "Kiranya Tong
Siaucengcu, sejak lama cayhe kagum, selamat bertemu, selamat
bertemu"
"Semalam Siaute mendengar cerita ibunda bahwa Ling-heng
amat perkasa dan berhasil menghancurkan Pat-kwa-to-tin kami,
sungguh ingin rasanya cepat berhadapan dengan Ling-heng,"
tampaknya dia bicara jujur dan sesungguhnya, tidak ber-pura2.
Kun-gi unjuk rasa menyesal, katanya: "Harap. Tong-siaucengcu
suka memaafkan kekasaran cayhe semalam."
Tong Siau-khing tertawa, katanya: "Kenapa Ling-heng bilang
demikian? Syukur semalam Ling-heng menaruh belas kasihan, yang
terang pihak keluarga Tong kami yang main keroyok, kesalahan
tetap berada pada pihak kami."
Terasa oleh Ling Kun-gi majikan muda dari keluarga Tong ini
berwatak ramah, gagah dan sopan santun, watak ini amat
mencocoki tabiatnya sendiri, maka katanya: "Ah. semakin tak
tenang rasa hatiku mendengar ucapan Tong-siau cengcu ini."
"Sekali kenal sudah seperti sahabat lama, kalau Ling-heng sudi,
bagaimana kalau kita saling membahasakan saudara saja?"
"Siaute turut saja atas kehendak Tong-heng," sahut Kun-gi.
"Dapat bersaudara dengan Ling-heng, sungguh menyenangkan
sekali"
"Tong-heng. terlalu memuji.."
Sembari bicara mereka terus menuju ke dalam, Tong Siau-khing
membawa Ling Kun-gi ke ruang belakang.
Tampak Tong-lohujin duduk di sebuah kursi bersulam, dua
pelayan berdiri di belakang sedang memijit punggungnya. Nyonya
muda yang semalam berdiri di belakangnya kini tidak kelihatan,
mungkin karena kejadian semalam, maka dia merasa rikuh tidak
berani unjuk diri.
Setelah Kun-gi merasa cocok dan saling membahasakan saudara
dengan Tong Siau-khing, maka soal ketiga ekor kumbang dan
potongan rambut yang semula hendak dikeluarkan menjadi batal.
Tong Siau-khing melangkah maju membungkuk hormat dan
berseru. "Bu, Ling-heng sudah t iba."
Lekas Kun-gi memberi hormat juga, katanya: "Wanpwe
menghadap Pek bo."
Sambil tertawa Tong-lohujin angkat sebelah tangannya, katanya:
"Silakan duduk Ling-kongcu."
"Bu," kata Tong simi-khing, "anak baru bertemu lantas merasa
cocok dengan Ling-heng, maka sudah setuju untuk saling
membahasakan saudara."
Tong-lohujin melirik sekejap kepada anaknya dengan wajah
welas asih, katanya. "Begini cepat kau merebutnya, kalian sama2
muda, memang sepantasnya kalau mencocoki satu sama yang lain."
Setelah Kun-gi dan Tong Siau-khing duduk. air tehpun disuguhkan-
Sambil tersenyum lembut Tong-lohujin mengawasi Kun-gi, katanya:
"Kejadian semalam hanya karena salah paham, memang tepat apa
yang sering dikatakan orang2 Kangouw, kalau tidak berkelahi tidak
akan kenal. Syukurlah kini Ling siangkong sudah menjadi sahabat
baik anak Khing, demikian juga Piaumoay Ling-siang-kong sudah
diserahkan padaku dan kuterima menjadi puteri angkatku pula."
Heran Kun-gi, tanyanya: "Piaumoay Wanpwe?" dalam hati dia
bertanya2: "Kapan aku punya Piaumoay?"
"Begini persoalannya," Tong-lohujin menjelaskan, "belakangan ini
semua orang sama2 mengunt it seorang misterius, konon dia
membawa sebuah kotak kecil, di dalamnya mungkin ada suatu
mestika, Sampaipun orang2 Siau-lim dan keluarga Un di Ling-lam
juga menguntit secara diam2, entah dari siapa Lo-cit mendapat
berita ini, dia kira Ling-siangkong adalah orang misterius itu, maka
dia salah menahan Piaumoay mu. Soal ini semalam sudah kudengar
dari Piaumoay mu, kini kita terhitung sekeluarga, Ling-siangkong
tidak perlu merahasiakan diri pula, lekas kau cuci muka, ingin
kulihat wajah aslimu."
Tong siau-khing melengak. serunya: "Jadi Ling-heng merias
mukanya, kenapa anak sedikit-pun tidak bisa membedakannya?"
Tong-lohujin tertawa., katanya: "Ling-siang-kong adalah murid
kesayangan Hoan-jiu-ji-lay, puluhan tahun Hoan-jiu-ji-lay malang
melintang di Kangouw, tapi beberapa orangkah yang pernah melihat
wajah aslinya?"
Sudah tentu Kun-gi belum tahu siapa Piau-moay yang dimaksud
oleh Tong-lohujin? Tapi peduli siapa dia, kini dirinya sudah mengikat
persaudaraan, sementara Tong-lohujin menerimanya sebagai
keponakan pula, setelah kedok mukanya diketahui orang, demi
kehormatan dirinya pula, apa boleh buat, tidak enak dia menolak.
katanya, "Perintah Pekbo t idak berani Wanpwe menolaknya." Dari
kantong bajunya dia keluarkan sebutir obat pencuci muka, setelah
diremas dan di-gosok2 ditelapak tangan terus diusap ke muka, lalu
dikeluarkan pula sepotong handuk kecil untuk membersihkan muka.
Wajahnya yang semula berwarna legam, setelah dicuci dengan
obat, seketika Tong-lohujin, Tong Siau-khing serta kedua pelayan
terbeliak matanya.
Sungguh tak pernah mereka bayangkan Ling Kun-gi yang
memiliki ilmu silat begini tinggi ternyata adalah pemuda cakap
ganteng tak terhingga. Bukan saja bagus, juga lemah seperti
pemuda yang tidak pandai main silat.
Sebetulnya Tong Siau-khing sudah terhitung cakap. tapi sekarang
dia merasa kalah dibanding Kun-gi. Serunya ter-gelak2: " Ling-heng,
cakap benar kau ini."
Seperti mengawasi menantunya saja, semakin dipandang
semakin riang hati Tong-lohujin, dia manggut2 senang dan berkata
dengan tersenyum puas: "Ling-siangkong betul2 seorang pemuda
yang serba unggul dibanding pemuda2 umumnya," Lalu dia
berpaling serta menambahkan: "Jun-lan, Ling-siangkong sudah
datang, lekas kalian suruh Toa-slocia danJi-slocia keluar."
Pelayan bernama Jun-lan mengiakan dan berlari pergi.
Kemudian Tong- lohujin bertanya: "Berapa usia Ling-siangkong
tahun ini?"
"Tahun ini Wanpwe genap 21," sahut Kun-gi sambil membungkuk
hormat.
Berseri girang wajah Tong-lohujin, sekilas dia melirik kepada
Tong Siau-khing, katanya: " Ling-siangkong lebih muda tiga tahun
daripada mu, lebih tua dua tahun daripada adikmu." Lalu kata2nya
di-tujukan kepada Ling Kun-gi: " Kudengar ibumu juga menghilang,
apakah di culik oleh komplotan cin-cu-ling?"
"Wanpwe sendiri belum tahu, tapi Suhu suruh Wanpwe terjun ke
Kangouw, tujuannya memang mengejar jejak cin-cu-ling, dari sini
dapatlah Wanpwe simpulkan kalau peristiwa hilangnya ibu pasti ada
sangkut pautnya dengan komplotan ini."
Tong-lohujin manggut2, katanya: "Ling-siang-kong masih punya
keluarga lain di rumah?"
"Tiada lagi, Wanpwe masih kecil ayah sudah meninggal, ibu yang
membesarkan Wanpwe."
Tong-lohujin manggut2 dan tak bicara lagi. Terdengar langkah
lembut mendatangi, dari belakang pintu angin teruar bau harum
semerbak. lalu muncul dua gadis jelita yang mempesonakan.
Yang sebelah kanan berperawakan t inggi semampai,
mengenakan pakaian warna ungu ketat, wajahnya halus pipinya
bersemu merah, sepasang matanya nan bening kemilau
memancarkan sinar tajam ke arah Ling Kun gi.
Seorang lagi bertubuh agak kecil ramping, mengenakan gaun
panjang warna cokelat muda dengan baju panjang warna hijau
pupus, dia bukan lain adalah nona she Pui, gadis jenaka yang lincah
itu.
Kun-gi hanya tahu nona nakal ini she Pui, namanya siapa tidak
tahu, yang terang dia suka mengenakan pakaian warna coklat.
Kejadian hanya sekejap belaka, begitu melihat Kun-gi, wajah
nona Pui yang molek seketika tertawa lebar bak bunga mekar, dia
memburu maju seringan angin dan serunya riang: "Toa-piauko,
ternyata kau telah datang, kemarin anak buah Tong -citya menculik
aku dan minta keterangan tentang diri Piauko, memangnya aku
tidak tahu ke mana kau selama ini? Semalam Tong citya
membawaku kemari dan aku mengangkat Lohujin ini sebagai ibu
angkatku."- Mulutnya nerocos dengan nyaring dan cepat, sembari
bicara berulang kali dia mengedip kepada Ling Kun-gi, maksudnya
sudah tentu minta Kun-gi mengakui dirinya sebagai Piau-moay.
Baru sekarang Kun-gi mengerti bahwa perempuan yang diculik
Tong-cit-ya adalah gadis she Pui ini. Nona yang belum diketahui
namanya kini ternyata menjadi adiknya, sungguh brutal dan lucu.
Sudah tentu Kun-gi melihat kedipan mata si nona dan tahu
maksudnya. Wajah nan cerah bak bunga mekar di musim semi,
walau kelihatan malu2, tapi tampaknya minta dikasihani dan
mengandung permohonan yang sangat. Maka dengan tertawa
segera dia berdiri, katanya: "Surat Tong-cit-ya kemarin mengatakan
bahwa dia menculik adikku dan supaya aku menukarnya dengan
barang yang kubawa, semula aku tidak mengerti siapa adikku yang
dia maksud? Kiranya kau yang tidak mau pulang, buat apa selalu
mengikut i diriku? Anak perempuan tidak baik keluyuran di Kangouw."
Kata2nya memang persis nada seorang kakak memberi
nasihat kepada adiknya.
Nona Pui tertawa riang, tawa yang manis lalu melelet lidah,
katanya: "Memangnya aku ini anak kecil, kenapa tidak boleh main2
di Kangouw? Banyak orang Kangouw yang menguntitmu sepanjang
jalan, aku hanya ingin tahu barang apa sebetulnya yang kau bawa
itu."
Sampai di sini, dia mengeluarkan sebuah kotak perak gepeng,
lalu diacungkan di depan Ling Kun-gi, katanya sambil cekikikan:
"inilah oh tiap-piau (piau kupu2) pemberian ibu, bila ditimpukan bisa
pentang sayap dan terbang seperti kupu2 asli, inilah salah satu dari
tiga macam senjata rahasia keluarga Tong yang paling lihay, cici
Bun-khing biasanya menggunakan ci-hong-piau (piau kumbang
ungu) .... "
Merah muka si nona baju ungu, serunya gu-gup: "Adik Ping,
jangan usil kau."
Tergerak hati Kun-gi mendengar "cici Bun-khing biasanya
menggunakan ci-hong-piau", batin-nya: Jadi nona yang
menantangku bertanding pedang semalam adalah nona baju ungu
ini."
Berkedip2 mata nona Pui lalu mengerling ke arah nona baju
ungu, katanya: "Piauko, hampir saja aku lupa, inilah Bun-khing cici."
lalu dia membalik dan berkata kepada nona baju ungu: "Inilah Toapiaukoku,
Ling Kun-gi." Lekas Kun-gi memberikan hormat kepada
nona Tong.
cerah wajah Tong-Lohujin, katanya: "Bun-khing, Ling-siangkong
sudah mengikat saudara dengan engkohmu, dia bukan orang luar
lagi, kau-pun harus memanggil Ling-toako padanya."
Sekilas mata TongBun-Khing melirik. katanya malu2: "Lingtoako"-
Semalam dia begitu keras kepala, dingin dan menantang.
Tapi sekarang sikapnya malu2, suara panggilannya merdu dan
lembut.
Memandangi Ling Kun-gi lalu mengawasi puteri sendiri, saking
senangnya Tong-lohujin tertawa lebar, katanya: "Bun-khing, kenapa
kau ini? Biasanya kau tidak takut langit tidak gentar bumi, seperti
kuda liar yang tidak terkendali, Ling-toako kan bukan orang luar
lagi, kenapa harus malu2 segala?"
Nona Pui tertawa geli, katanya, "Bu, asal kaupasang tali kendali
pada diri cici pasti dia t idak akan binal dan liar lagi "
Sudah tentu Tong Bun- khing tahu ke mana tujuan kata2 ini,
seketika dia merengut sambil menuding. "Adik Ping, kau berani
menggodaku?" -Segera ia hendak meng-kili2 ketiak nona Pui.
cepat nona Pui menyingkir ke belakang Ling Kun-gi, katanya
cekikikan: "Aku toh bermaksud baik, kuda yang binal harus diikat
dengan kendali yang kokoh, apakah perlu aku bantu mencarikan
seutas tali?" dia sembunyi di belakang Kun-gi, sembari bicara jarinya
menuding anak muda itu, mukanya unjuk mimik lucu dan melelet
lidah segala.
Malu dan gugup juga Tong Bun-khing, serunya membanting kaki:
"Memangnya aku seperti kau, buka mulut "Piauko", tutup mulut
"Piauko" tiada henti2nya, mesra sekali."
Nona Pui bertolak pinggang, serunya sambil membusungkan
dada: "Memang dia Piaukoku, apa salahnya aku memanggil dia
Piauko? Nah, dengar-kan aku memanggilnya lagi. Piauko, Piauko
....."
"Piaumoay," tukas Kun-gi sambil mengerut kening "sebesar ini
kau masih bertingkah seperti kanak2? Memangnya kau tidak malu
ditertawakan Tong-pekbo?"
Nona Pui mencibir, katanya bersungut: "lbu justeru tidak akan
menertawakan aku. Memangnya kau saja yang suka ngomel."
Sementara itu dua pelayan sudah menyiapkan sebuah meja
perjamuan- Tong Siau-khing lantas berdiri, katanya: "Bu, perjamuan
sudah siap. marilah kita makan bersama."
Tong-lohujin tertawa, ujarnya: "Ling-siangkong adalah tamu, kau
harus mengundangnya lebih dulu." Lalu dia berpesan kepada
pelayan di sampingnya: "Ling-siangkong bukan orang luar, kau
panggil nyonya muda keluar."
seorang pelayan lantas masuk ke belakang.
Tak lama kemudian nyonya muda atau isteri Tong Siau-khing pun
keluar.
"Silakan Ling-heng," kata Tong Siau-khing.
"Mana aku berani, silakan Pek-bo dulu," sahut Kun-gi.
Dengan ramah Tong-lohujin berkata: "Di sini meski kami hanya
menumpang, tapi juga terhitung tuan rumah, Ling- siangkong
silakan, tak usah sungkan-sungkan-"
"Toa-piauko," timbrung nona Pui, "hari ini kau betul2 seorang
tamu agung yang serba komplit." -Mulut bicara sementara matanya
mengerling ke arah Tong Bun-khing.
Merah wajah Tong Bun-khing, tapi hatinya senang dan mesra.
Setelah basa-basi ala kadarnya, akhirnya Tong-lohujin duduk paling
atas, Ling Kun-gi duduk di tempat tamu, selanjutnya beruntun Tong
Siau khing suami isteri, lalu kedua nona jelita itu. Dua pelayan
melayani mereka makan minum.
Tiba2 nona Pui rebut poci arak sambil berdiri, katanya: "Bu,
kuaturkan secawan padamu serta kuaturkan selamat pula.". Dia
habiskan secangkir arak.
Pelayan kembali mengisi cangkir mereka, nona Pui tidak lantas
duduk. ia angkat cangkir dan acungkan ke arah Tong Siau-khing
suami isteri, katanya:
"Toako, Toaso, Siaumoay juga aturkan secangkir kepada kalian,"
sekali tenggak dia habiskan pula secangkir.
Dia tetap tidak mau duduk. setelah pelayan mengisi pula
cangkirnya, dia tertawa kepada Kun-gi, katanya: "Toa-piauko, kau
tahu aku tidak bisa minum arak. Tapi dalam perjamuan ini, usiaku
paling muda, seharusnya satu persatu kuaturkan arak kepada kalian
semua, tapi paling banyak aku hanya sanggup minum tiga cangkir,
terpaksa kuaturkan secangkir terakhir ini kepada Toa-piauko
bersama Bun-khing cici saja." Segera ia acungkan cangkir kepada
mereka berdua terus ditenggaknya habis.
Tong-lohujin mengawasi Kun-gi lalu berpaling kepada puterinya,
kedua muda-mudi memang pasangan setimpal kurnia Thian. Karena
hati senang, tak henti2nya dia ambil lauk-pauk dan diangsurkan ke
mangkuk Kun-gi. Tong Siau-khing suami-isteri saling pandang,
keduanya tersenyumpenuh arti.
Biasanya Tong Bun-khing lincah dan suka bergerak. nakal lagi,
entah kenapa hari ini dia pendiam dan malu2, tapi sering matanya
melirik Kun-gi.
Sejam kemudian perjamuan ini telah usai, boleh dikatakan tuan
rumah dan tamu sama2 senang dan puas. Setelah kenyang
langsung Kun-gi mohon diri.
"Toa-piauko," kata nona Pui, "akupun ingin pergi"
"Piaumoay," ujar Kun-gi "Kau sudah punya ibu, tinggal saja
beberapa hari lagi, aku ada urusan penting."
"Ling-siangkong juga tidak usah ter-gesa2" kata Tong-lohujin, "
urusan yang hendak kau kerjakan sudah kusuruh Lo-cit bantu
mengawasi, selekasnya akan datang berita."
"Adik Ping, kau tidak boleh pergi," kata Tong Bun-khing.
Nona Pui membisikinya: "Yang benar kau melarang dia pergi
bukan?"
Malu dan gugup Tong Bun-khing, Serunya: "Eh, minta diajar kau"
tangannya segera meng-kili2 ketiak orang.
Nona Pui berjingkrak geli sambil cekikikan, serunya: "cici yang
baik, ampunilah aku."
Lalu Kun-gi berkata kepada Tong-lohujin: "Wanpwe betul2 ada
urusan, tak bisa lama2 di sini."
"Kalau Ling-siangkong memaksa, Lo-sin tak enak menahanmu
lagi," lalu dia berpaling kepada pelayan, katanya berpesan: "Pergilah
kau ambil pedangku itu"
cepat pelayan itu berlari masuk. sekejap saja dia sudah keluar
pula membawa sebatang pedang kuno dan dipersembahkan kepada
Lohujin-
Setelah memegang pedang berkatalah Tong-lohujin: "Tiada apa2
yang bisa kuberikan, biarlah pedang ini kuhadiahkan kepada Ling
siangkong."
Kun-gi tahu bahwa pedang ini barang mestika, belum lagi Tonglohujin
bicara habis, lekas dia menyela, "Begini besar pemberian
Pekbo, Wanpwe mana berani menerimanya?"
"Kau sudah bersaudara dengan Siau-khing, Piaumoaymu juga
kuangkat menjadi puteriku, Lo-sin jadi terhitung orang tuamu,
pedang ini kuberikan sebagai hadiah pertemuan ini, lekaslah kau
menerimanya."
"Memangnya kenapa kau Piauko", timbrung nona Pui, "kalau kau
tidak terima, ada orang tidak senang dan gelisah hatinya, apalagi
maksud baik ibu masa kau tolak mentah2."
" Ling-siangkong," ujar Tong- lohujin mendesak. "kalau kau tidak
menerimanya berarti kau tidak memberi muka kepadaku,"
Nona Pui segera ambil pedang dari tangan Tong-lohujin dan
disisipkan ke tangan Ling Kun-gi, katanya lirih: "ibu nanti marah,
Toa-piauko, lekas kau aturkan terima kasih kepada ibu."
Didesak sedemikian rupa, terpaksa Kun-gi menerimanya, ia
menjura, katanya sungguh2: "Terpaksa Wanpwe terima hadiah
Pekbo ini."
Berseri wajah Tong lohujin, katanya manggut2: "Ya, beginikan
baik." entah sengaja atau ti-dal dia berpaling kepada puterinya,
katanya pula: "pedang ini dulu dibeli oleh ayah almarhum dengan
harga tinggi dari luar perbatasan, waktu itu usiaku. baru genap
setahun, menurut adat istiadat, anak2 yang genap setahun harus
dirayakan secara meriah. Hari itu, dihadapanku penuh berbagai
barang, ada pupur, gincu, pakaian, mainan dan perhiasan, ada
pedang, panah dan lain2, aku diberi kesempatan untuk memilih satu
diantaranya, tak terduga aku hanya mengambil pedang pendek ini,
ayah almarhum waktu itu bilang anak sekecil ini sudah suka main
pedang, biarlah pedang ini kelak menjadi mas kawinnya setelah
dewasa. Sejak itu, pedang ini sudah puluhan tahun mendampingi
aku."
Sambil melirik Tong Bun-khing, nona Pui tertawa, katanya. "o,
kiranya pedang ini mas kawin ibu di waktu muda."
Jengah wajah Tong Bun-khing, dia tidak berkata, cuma matanya
melotot kepada nona Pui.
Kembali Kun-gi minta diri. Mendengar Kun-gi hendak pergi,
merah mata Tong Bun-khing, sakapnya yang malu2 tadi lenyap. kini
berganti rasa berat untuk berpisah.
Tong-lohujin manggut2, katanya kepada Tong Siau-khing: "Nak.
bersama adikmu antarkan Ling -siangkong dan budak nakal ini
berangkat."
Nona Pui maju kehadapan Tong-lohujin dan memberi sembah
sujut, katanya: "Bu, anak pergi, harap engkau orang tua jaga diri
baik2."
"Nak setiba di rumah, jangan lupa sampaikan salamku kepada
ibumu," pesan Tong-lohujin.
"Terima kasih Bu," kata nona Pui.
"Dijalan kau harus dangar petunjuk Piauko, jangan turuti adat
sendiri, aku tahu kau sudah biasa disayang dan aleman, belum
tentu mau dengar petunjuk Piaukomu. Sepanjang jalan ini banyak
kaum persilatan yang berlalu lalang, kukira lebih baik Piau-komu
mengantarmu pulang lebih dulu."
Nona Pui manggut2, bersama Ling Kun-gi mereka keluar diantar
Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing. Pa Thian-gi sudah
menyiapkan dua ekor kuda.
Sambil berjalan keluar Tong Siau-khing bertanya: "Entah kapan
kita bakal berkumpul lagi?"
"Setelah urusan selesai, pasti aku pergi keSujwan menjenguk
kalian," kata Kun-gi.. Urusan sudah sejauh ini, Tong Bun- khing
melepaskan rasa malu lagi, segera dia menimbrung. "Ling -toako,
sebutkan saja tanggalnya, kapan kau akan ke rumah kami?"
Berpikir sebentar baru Kun- gi memutuskan, "Paling cepat tiga
bulan, paling lambat setengah tahun."
"Wah, setengah tahun apa tidak terlalu lama," kata Tong Siaukhing.
"Ling toako," sela Tong Bun.khing. "kukira tiga bulan sudah
cukup lama, hari ini bulan empat tanggal dua belas, jadi tanggal dua
belas bulan tujuh kami menunggu kedatanganmu." Lalu dia tanya
kepada nona Pui "Dan kau adik Ping, kapan kau juga ke rumahku?"
"Setelah aku pulang dan minta izin pada ibu, segera aku
menyusul kalian," sahut nona Ping.
Kun-gi berdua segera cemplak ke punggung kuda, katanya:
"Saudara Tong, nona Tong, selamat tinggal." Lalu dia memberi
salam pula kepada Pa Thian-gi dan Khing Su-kwi: "Pa-congkoan,
Khing-hucongkoan, sampai bertemu."
Ter-sipu2 Pa Thian-gi berdua membalas hormat, serunya: " Lingya,
hati2lah dijalan, kami tidak mengantar."
Kun-gi bedal kudanya berlari kencang turun gunung, nona Pui
mengikut inya sambil melambai tangan ke belakang.
Berlinang air mata Tong Bun-khing, iapun melambaikan sapu
tangan, terlaknya: "Ling-toako, tiga bulan lagi kau harus datang ... .
. .." padahal kuda sudah lari jauh,
tapi Tong Bun-khing masih berdiri melongo dengan dua jalur air
mata membasahi pipi.
"Dik, hayolah masuk." kata Tong siau-khing dengan tertawa,
"jangan kuatir urusanmu serahkan padaku, tanggung beres."
Merah muka Tong Bun- Khing, katanya: "Aku tak tahu apa yang
Toako maksudkan?" lalu dia berlari masuk lebih dulu.
ooooooooooo
Sekejap saja kuda Ling Kun-gi sudah sampai dijalan raya. "Nona
mau ke mana?" tanyanya berpaling ke belakang.
Nona Pui membedal kudanya dan berjalan sejajar, katanya
tertawa geli: "Toa-piauko, dengan siapa kau bicara?"
"Sudah tentu dengan kau."
"Ya, setelah meninggaikan mereka, kau lantas tidak anggap aku
sebagai Piaumoay lagi."
"Kalau akupunya adik selincah dan secantik kau, tentu bukan
main senang hatiku. cuma sayang aku punya adik yang tidak
diketahui namanya."
"Hah, jadi kau mengorek keteranganku, Tidak akan kuberitahu."
"Memangnya pantas seorang kakak tidak tahu nama adiknya?"
"Kau terka sendiri saja."
"Nama orang masakah boleh diterka segala.."
"Tak mau terka ya sudahlah, jangan harap kuberitahu."
Berpikir sejenak Kun-gi berkata: "Nama anak perempuan
biasanya pakai Hong, Lan, sian, Ho dan macam2 lagi ....."
"Semua itu bukan namaku," tukas nona Pui. "Aku belum habis
bicara, kau menimbrung saja."
"Baiklah, teruskan."
"Nona secantik kau ini, bak sekuntum bunga sehalus batu jade,
adalah jamak kalau memiliki nama yang indah pula."
Girang hati nona Pui karena dirinya dipuji matanya yang besar
ber-kedip2, katanya cekikikan: "Barusan sudah ada satu yang telah
kau sebut."
"Tunggu sebentar, apa yang kukatakan tadi?
Ling Kun-gi mengingat2 kembali, "tadi aku bilang bak bunga (Jihoa)
dan seperti jade (Ji-giok), apakah satu diantaranya?"
Nona Pui manggut2 sambil gigit bibir.
"Kudengar nona Tong memanggilmu adik Ping, cantik lembut dan
lincah bak bunga dan seperti batu jade, lala ditambah satu huruf
Ping lagi ......... mendadak bersinar matanya, serunya tertawa: "Jiping,
betul tidak?"
Merah muka nona Pui, serunya kaget dan senang: "Bagaimana
kau bisa menebaknya?"
"Soalnya nama yang serasi dan cocok dengan huruf Ping hanya
huruf Ji saja.jadi kau bernama Pui Ji-ping. Nona Pui, sebetulnya kau
mau ke mana?" tanya Kun-gi.
"He, kau tidak memanggilku Piaumoay lagi?"
"Aku bicara dengan sungguh2."
"Memangnya memanggil Piaumoay lantas tidak sungguh2?"
katanya sedih, matapun merah dan hampir meneteskan air mata.
sepatah kata salah diucapkan menimbulkan salah paham orang,
sudah tentu Kun-gi jadi gugup, lekas dia berkata sambil unjuk tawa:
"Tanpa sengaja kata2ku menyinggung perasaanmu, kenapa lantas
keki? Kutanya kau mau ke mana, kan bermaksud baik juga?"
"Peduli kan aku mau pergi ke mana?"
"Tong-lohujin sudah berpesan, aku disuruh mengantarmu
pulang."
Monyong mulut Pui Ji-ping, jengeknya: "Memangnya pesan
mertua, sudah tentu kau harus mematuhinya."
"Apa katamu?" seru Kun-gi melenggong bingung.
"Tidak apa2," ucap Pui Ji-ping dengan cekikikan pula, "anggaplah
kau tidak mendengar"
"Jadi kau mau pulang t idak?" -
"Semula ingin menengok ibu, tapi sekarang tidak. Aku ingin ikut
kau."
"Ikut aku? Mana boleh"
"Kenapa tidak boleh? Kau menguntit si mata satu menyelidiki
barang yang dibawanya, aku juga mau ikut."
"Tidak boleh, nona belia seperti kau tidak boleh keluyuran di
Kangouw yang penuh bahaya, dua kali kejadian telah kau alami
memangnya belum kapok."
"Soalnya aku tidak siaga, anak buah Tong citya juga kurobohkan
semua."
"Piaumoay yang baik, kau pulang saja, kalau kau anggap aku
sebagai Piauko, kau harus turut nasihatku."
"Kenapa aku tidak boleh ikut kau?"
"Kau anak perempuan .... "
"Aku tahu kau sudah punya si dia, mana aku ini kau taruh dalam
hati? Mertua memang lebih sayang kepada menantu? Kau takut
berjalan dengan aku, kuatir diketahui oleh dia?"
"Kau ini membual apa?" seru Kun-gi gugup dan malu.
Pui Ji-ping tertawa geli, katanya: "Memang-nya salah? Kenapa
aku tidak boleh ikut? Begini saja, besok aku akan menyamar jadi
laki2, kan beres?" Apa boleh buat, Kun-gi manggut2.
Pui Ji-ping berjingkrak senang, serunya: "Toa--piauko, kau
sungguh baik,"
Setiba di Siu sian, Pui Ji-ping lantas beli pakaian laki2, topi,
sepatu dan segala keperluan.
Sepanjang jalan Kun-gi tidak menemukan tanda2 rahasia yang
ditinggalkan anak murid Kim Kay-thay, agaknya si mata satu tidak
lewat jalan ini. Maka dia bermaksud lekas2 balik ke Thay-ho saja.
Hari itu juga mereka meninggalkan Siu-sian, belum jauh mereka
meninggalkan kota, di sebelah depan membentang hutan yang
lebat.
Pui Ji-ping permisi masuk ke hutan untuk ganti pakaian, Ling
Kun-gi terpaksa menunggu di luar hutan sambil duduk di sebuah
batu besar. Dengan cepat Pui Ji-ping sudah keluar pula dengan
berdandan laki2, mengenakan jubah hijau, sepatu kulit, tangan
memegang kipas, sambil berjalan keluar, katanya dengan tertawa
lucu: "Toa-piauko, mirip tidak?"
Kun-gi geli, katanya tertawa: "Ya, sedikit mirip. cuma
perawakanmu pendek, terlalu muda lagi."
"Asal mirip saja, kau Toako, aku Siaute." ujar Pui Ji-ping sambil
mengikik.
Kemudian Pui Ji-ping berkata pula: "Sejak kini aku memanggilmu
Toako, dan kau panggil aku adik,"
"Ya, kau harus she Ling juga," kata Kun-gi, "maka kau harus
bernama Ling Kun ...."
Tiba2 terbeliak mata Pui Ji-ping serunya menyambung: "Ling
Kun-ping saja, baik tidak?"
"Baik," Kun-gi manggut2, " Kun-ping sungguh bagus nama ini."
Pui Ji-ping bertolak pinggang, katanya dengan tertawa: "Ya,
sejak kini aku bernama Ling Kun-ping."
Magrib hari itu mereka tiba di Cing yang-koan. Pada sudut
sebuah tembok di luar kota Kun-gi menemukan tiga tanda segi t iga
dari goresan arang, di bawahnya lagi sebelah kanan ada satu
lingkaran pula, itulah tanda2 rahasia Kim Kay-thay yang
mengadakan kontak dengan dirinya.
Sejenak Kun-gi melongo mengawasi tanda itu, batinnya: "Kiranya
Kim-loyacu datang sendiri."
Ternyata ketiga tanda itu menggambarkan hiolo (berkaki tiga),
lingkaran sebelah kanan memberitahu bahwa dia datang dari kiri,
membelok ke kanan, ada sebuah tanda kepala panah pula
menuding ke selatan, itu berarti jurusannya ke selatan-
Duduk dipunggung kudanya Kun-gi menerawang keadaan dan
merancang perjalanan selanjutnya. Kim-loyacu datang dari Thiat-ho,
letaknya kebetulan di barat laut Cing yang-koan, kalau membelok ke
kanan jurusannya jadi ke selatan, itulah jalan besar yang menuju ke
Liok-an, jadi sekarang Kim-loyacu menuju ke arah Liok-anPui
Ji-ping keheranan melihat tingkah Ling Kun-gi, katanya:
"Toako, soal apa yang sedang kau pikir?"
Kun-gi tersentak sadar, sahutnya: "o, tidak apa2, mari
berangkat."
Cin-yang-koan adalah sebuah kota yang cukup ramai, hari sudah
menjelang petang, tiba saatnva cari hotel untuk bermalam, tapi
Kun-gi keprak kuda membedalnya kejalan besar. Terpaksa Pui Jiping
larikan kudanya pula, tanyanya "Toako, apa yang kau
temukan?"
"Kutemukan tanda rahasia Kim-loyacu, dia sudah menyusul
kemari."
"Siapakah Kim-loyacu?"
"Kim-loyacu adalah pejabat Ciangbun murid2 preman Siau limpay."
"Jadi kau sudah berjanji mengadakan kontak dengan dia?"
Kun-gi mengangguk. Tanpa bicara mereka terus menempuh
perjalanan cepat sejauh 40-an li, setiap tiba di simpang jalan selalu
mereka menemukan tanda rahasia Kim-loyacu, setelah petang
mereka t iba di Ing-ho.
Ing-ho adalah sebuah dukuh kecil, umumnya orang desa biasa
tidur lebih dini, jangankan men- dapatkan tempat untuk bermalam,
mencari warung makanpun sukar.
Terpaksa Kun-gi menghentikan kudanya di tepi jalan, mereka
duduk istirahat, Pui Ji-ping keluarkan bekal makanan yang
dibawakan oleh keluarga Tong, memang perut sudah lapar, dengan
lahap mereka ganyang habis dua bungkus nasi dan lauk yang lezat.
"Sudah kenyang, mari berangkat," kata Ji-ping sambil berdiri, "di
luar In-hiap-kip di depan sana ada sebuah rumah perabuan keluarga
ong yang besar sekali, kita istirahat di sana saja."
"Dari mana kau tahu?" tanya Ling Kun-gi.
"Aku sering lewat jalan ini, sudah tentu apal keadaan sekeliling
sini."
Mereka menempuh perjalanan 20-an li lagi batu sampai di Inhiap-
kip. Waktu itu sudah kentonganpertama, mereka langsung
menuju ke arah barat kota, di sana memang terdapat sebuah rumah
perabuan marga ong.
Mereka tambat kuda di ujung tembok sana, lalu melompat ke
dalam lewat pagar tembok, setelah menyusur pekarangan dan
sampai di ruang tengah. Biara marga ong ini agaknya dari keluarga
besar dan bangsawan, keadaan di sini terawat bersih dan teratur.
Kun-gi memilih tempat sebelah kanan, duduk di lantai terus mulai
samadi, betapapun Pui Ji-ping adalah anak perempuan, nyalinya
rada kecil, dia duduk dekat Kun- gi.
Karena iseng Pui Ji-ping ajak bicara terus untuk menghilangkan
lelah, sebaliknya Ling Kun-gi merasa sebal, katanya: "Adik jangan
banyak bicara, lekaslah samadi mengembalikan semangat dan
tenaga dalam dua hari ini mungkin bisa menyusul si mata satu lagi,
gerak-gerik mereka begini misterius, ingin kutahu barang apa yang
mereka bawa itu?"
"Lho si mata satu kan sudah meninggal?"
"Tidak. yang mati itu picak mata kiri, yang sekarang ini picak
mata kanannya."
Pui Ji-ping ketarik, katanya: "Kenapa mereka selalu menugaskan
si mata satu untuk tugas pengantar barang ini? Kuduga pasti ada
rahasia apa2 di balik persoalan ini."
Kun-gi tidak bersuara, selincah kucing tiba2 dia melompat berdiri,
desisnya lirih: "Ssst, ada orang datang, lekas sembunyi."
Hakikatnya Pui Ji-ping t idak dengar apa2, Baru dia akan tanya,
mendadak Kun-gi menghardik tertahan: " Lekas naik." Lengan Jiping
dipegang terus dibawa lompat ke atas dan hinggap di belandar,
katanya lirih: "Lekas sembunyi di belakang pigura."
Lengan dipegang orang, terasa badan mumbul seringan asap.
tahu2 sudah menyelinap ke belakang pigura besar. Kejadian terlalu
mendadak dan berlangsung amat cepat, jantung ji-ping sampai
berdetak keras.
Belum lama mereka sembunyi di belakang pigura, betul juga di
luar pekarangan sudah terdengar suara percakapan orang dan
langkahnya yang mendatangi. Terdengar seorang berkata dengan
suara serak: "Silakan Siau-heng" Rupanya setiba di ruang tengah
mereka saling mempersilakan masuk lebih dulu.
Maka terdengar pula suara tawa lantang, seorang lagi berkata:
"Un-jiko kenapa sungkan2 padaku." Lenyap suaranya, tampak
muncul dua orang berjajar masuk ke dalam.
Betapapun tempat pigura sempit, terpaksa nona Pui harus
mendekam dan bersentuhan badan dengan Ling Kun-gi, baru
pertama kali ini dalam hidupnya berada dalam pelukan laki2. Kedua
orang di bawah sudah dekat, maka dia tidak berani berseru
sedikitpun. Yang terang jantungnya berdebur seperti ombak
mengamuk. pikirannya melayang2 entah ke mana.
Walau mencium bau harum dan bau badan anak perawan yang
memabukkan, tapi perhatian Ling Kun-gi tumplek ke bawah pada
dua orang yang baru datang, maka pikirannya tidak menjadi
linglung.
Malam gelap. tapi dia dapat melihat jelas kedua orang di bawah,
yang di sebelah kiri kira2 berusia 50-an, mengenakan jubah panjang
warna hijau kebiru2an, mengenakan topi beludru warna hitam,
sepatunya berlapis kulit tebal, lima jaiur jenggot hitam menjuntai
turun menghiasi dadanya. orang di sebelah kanan berpakaian
panjang warna kuning kelam, mengenakan ikat pinggang sutera
merah, wajahnya kereng cerah, tulang pipinya menonjol, sudah
cukup tua juga, perawakannya agak pendek. orang kedua ini pernah
dilihat oleh Ling Kun- gi, dia adalah paman kedua nona Un Hoankun,
yaitu Un It-kiau dari Ling-lam.
Tiba2 didengarnya Un It-kiau bersuara heran, katanya dengan
suara serak: "Tiada orang di sini, kenapa diluar ada dua ekor kuda?"
Lalu di sampingnya tertawa lebar, katanya: " Keluarga ong di Inhian-
kip ini sebetulnya adalah keluarga bangsawan suku Bong,
rumah abu ini adalah tempat umum, menambat kuda di luar adalah
biasa, kenapa Un-jiko curiga segala?"
Un It kiau manggut2. Dari belakang kedua orang melangkah
masuk pula seorang pemuda berpakaian warna kuning, Ling Kun-gi
juga mengenalnya, dia adalah Kim-hoan-liok-long Siau Kijing,
melihat pemuda ini Ling Kun-gi lantas menduga bahwa orang tua,
yang mengiringi Un It-kiau pasti bapaknya, yaitu Kim- hoan-siangcoat
Siau Hong- kang. Di belakang siau Ki jing ikut pula dua
pembantu rumah tangganya, saat mana lilin sudah dinyalakan di
dalam ruangan, keadaan semula gelap kini menjadi terang
benderang. .
Kun-gi berdua yang mendekam di belakang pigura t idak berani
mengintip keluar pula.
Terdengar laki2 wajah merah itu berkata, "Bukankah Un jiko juga
mengundang Thong Thian-ong, kapan dia tiba?"
"Ya, sebelum Siaute kemari sudah kusuruh mengirim surat
kepada Tong Thian-ong, dia sudah setuju untuk membantu, dua
hari yang lalu ada orang pernah melihat dia muncul di sekitar Pohyang."
"Aneh, kalau dua hari yang lalu dia sudah tiba di Poh-yang,
sepantasnya dia sudah mengadakan kontak dengan kita," kata si
muka merah.
Kun-gi membatin: "Thong Thian-ong yang mereka bicarakan ini
mungkin adalah Thong-pi--thian-ong? "
"siaute juga merasa heran, sepanjang jalan ini kita sudah
memberikan tanda2 petunjuk. seharusnya dia sudah melihatnya."
Sambil mengelus jenggot, laki2 muka merah berkata pula:
"Watak Thong Thian-ong terlalu berangasan, mungkin terjadi apa2
di tengah jalan?"
"Wataknya memang kasar, tapi bekal kepan-daiannya cukup
tinggi, jarang ada tandingannya di Bu-lim, mana mungkin terjadi
apa2 atas dirinya?" kata Un It-kiau tertawa.
"Sukar dikatakan," kata laki2 muka merah, "Sepanjang jalan ini
kutemukan Kim Ting Kim Kay-thay, itu ketua murid2 preman Siaulim-
pay juga telah datang ke Thay-ho, demikian pula Lo-sam dan
Lo-cit dari keluarga Tong di Sujwan juga ada di sekitar sini ."
"Betul, kecuali itu ingin kuberitahukan kepada Siau-heng bahwa
masih ada pula beberapa kelompok orang yang patut diperhatikan-"
"Siapakah yang Unjiko maksudkan?"
" Kelompok pertama adalah dua orang majikan dan
pembantunya, majikannya berusia 25-an berjubah biru, mirip anak
orang berada, pembantunya memakai lengan besi, ilmu silatnya
tinggi, sejak dari Kay-hong kedua orang ini terus menguntit kemari."
Laki2 muka merah tampak prihatin, tanyanya: "Adakah orang
yang pernah menyaksikan kepandaian pembantunya itu?
"Anak sendiri pernah menyaksikan," t imbrung Siau Ki-jing.
" Kiranya dia benar adalah Kiam-hoan-siang coat (ahli pedang
dan gelang) Siau Hong-kang," demikian batin Ling Kun-gi.
"Kau sendiri melihat dia bergebrak?" tanya si muka merah.
Siau Ki-jing menerangkan: "Beberapa hari yang lalu, anak melihat
dia merobohkan murid preman Siau-lim hanya dalam sekali gebrak
saja."
"Kepandaian murid2 Siau-lim ada yang kuat dan yang lemah,
kalau paderi agak lumayan, murid2 preman kebanyakan adalab
anak2 orang berada."
"Kelompok kedua adalah seorang muda berusia likuran tahun,
bernama Ling Kun-gi, diapun menguntit sejak dari Kay-hong,
kadang muncul tiba2 lenyap. dia mengaku sebagai murid Hoan jiu
ji-lay, dari gerak-gerik dan kepandaiannya kelihatan memang tidak
salah."
Terbelalak mata Siau Hong-kang, katanya., "Hoan jiu-ji-lay juga
sudah terima murid."
"Kelompok ketiga muncul di sekitar Sha-cap--li-but, kelihatan
seperti keluarga pejabat, kabarnya majikannya orang perempuan,
tapi pengikutnya semua berkepandaian tinggi, gerak-geriknya juga
main sembunyi, sampai sekarang Siaute masih men-cari2 jejak
mereka, anak buah yang bertugas menyelidiki ternyata tiada yang
kembali, semua lenyap tanpa keruan paran."
Siau Hong- kang berpikir sejenak, katanya: "Unjiko tidak tahu
asal usul kelompok terakhir ini?"
"Laporan kudapat dari dua pembantuku di Sha-cap-li-but, hanya
begitu saja laporan mereka," sahut Un It-kiau.
"Agaknya keramaian bakal terjadi, dari beberapa kelompok itu,
kukira kita harus mengadakan kontak dengan pihak keluarga Tong
dari su-wan ......" sampai di sini dia termenung, lalu menambahkan:
"orang2 Siau - lim juga terjun ke dalam kancah keramaian ini?
Mungkin ........."
"Trak." tiba2 terdengar suara seseorang melompati pagar tembok
dan turun di tengah pekarangan-
"Siapa?" bentak Un It- kiau sambil angkat kepala.
"Wanpwe akan keluar melihatnya" ujar Kim--hoan-Liok-long Siau
Ki-jing. Dengan langkah lebar dia berlari keluar. Kejap lain tampak
dia sudah kembali, di belakangnya mengint il seorang laki2 baju
abu2.
"Un Lok." seru Un it- Kiau segera, "apa yang telah kau temukan"
Laki2 baju abu2 yang bernama Un Lok segera memberi hormat,
katanya: "Lapor Ji-cengcu, disekitar ma-thau-kip. hamba
menemukan tanda rahasia tinggalan Thong-thian-ong."
"Gambar apa yang dia tinggalkan?" tanya Un It-kiau.
"Tanda gambar itu diukir pada sebatang pohon di pinggir jalan,
hamba pernah mendengar penjelasan Ji-cengcu, maka
mengenalnya, kini hamba telah mengupas kulit pohon itu dan
kubawa pulang," dengan hati2 lalu dia keluarkan sekeping kulit
pohon-
Menerima kulit pohon, hanya sekilas pandang air muka Un it-kiau
lantas berubah, katanya dengan terbelalak: "Di mana kau
menemukan gambar ini?"
"Di sebuah persimpangan jalan di dekat Ma--thau-kip."
"Men jurus ke mana persimpangan jalan itu?"
"Simpang jalan itu menuju ke Sam- kak si."
"Keterangan apa yang dibubuhkan pada tanda gambar ini?"
tanya Siau Hong-kang.
"Inilah tanda gawat bahwa dia mengikuti seseorang, mungkin
seorang musuh tangguh, dia memberitahu kepadaku untuk segera
menyusulnya."
"Siaute sependapat dengan Siau-heng," kata Un it-kiau, segera
dia mengulap tangan kepada Un Lok. katanya: "Tunjukan jalannya"
Un Lok mengiakan, cepat dia berjalan pergi, -Un It-kiau dan Siau
Hong-kang lantas beranjak keluar. Cepat sekali rombongan mereka
sudah pergi jauh.
"Mereka sudah pergi, mari turun," kata Pui Ji-ping. Setelah turun
di bawah dia mengebut pakaian membersihkan kotoran yang
melekat di pakaiannya, katanya: "Toako, perlukah kita menguntit
mereka?"
"Kita punya urusan sendiri, peduli dengan urusan mereka, lebih
baik istirahat, besok pagi menempuh perjalanan lagi."
Pui Ji-ping tidak banyak bicara pula, mereka kembali ke tempat
semula, duduk samadi sampai pagi hari. Belum sinar surya
menongol keluar mereka sudah melanjutkan perjalanan-Jalan raya
ini langsung menuju ke Liok-an, di sepanjang jalan ini memang ada
tanda peninggalan Kim Kay-thay, mereka terus bedal kuda sampai
hari menjelang lohor baru tiba di Liok-an.
Diluar kota Liok-an Kun-gi menemukan tanda peninggalan Kim
Kay-thay pula, arahnya seperti menuju ke sok-seng, maka mereka
makan ala kadarnya di luar kota terus menempuh perjalanan pula.
Sore hari sampai di Tho-sip. di sini mereka tidak menemukan tanda2
peninggalan Kim Kay-thay.
Pui Ji-ping mengusulkan untuk langsung ke Sok-seng, mungkin
Kim Kay-thay sudah menunggu di sana. Tapi lain pendapat Ling
Kun-gi, kalau Kim Kay-thay pergi ke sok-seng pasti dia
meninggalkan tanda yang menjurus ke sana, di Tho-sip mereka
sudah tidak menemukan tanda2 lagi, itu berarti kemungkinan Kimloyacu
menemukan apa2 di sini sehingga tidak sempat
meninggalkan tanda2 dan tak mungkin menuju ke sok-seng.
"Lalu bagaimana menurut pendapat Toako?" tanya Pui Ji-ping.
"Kau kenal jelas keadaan di sekitar sini?"
"Aku tahu, dari sini ke t imur menuju ke Jau--ouw, ke selatan ke
sok-seng, ke utara pergi ke Hoaji-kang, Thong- keh- kang, langsung
ke Hap-pui."
Tengah mereka bicara, tiba2 didengarnya suara tapal kuda
berdetak. suaranya ringan dan cepat. Waktu mereka berpaling,
tampak dari arah utara sana membedal lari seekor keledai,
dipunggung keledai bercokol seorang tua berbaju hijau dan celana
panjang kuning luntur, badan terbungkuk, mata terpejam, dia
biarkan saja keledainya lari sesukanya.
Sekilas Ling Kun-gi pandang orang tua itu tanpa memperhatikan
lebih lanjut. Tak terduga pada saat dia memandang orang, entah
sengaja atau tidak- orang tua itupun melirik sekejap ke arah
mereka. Betapa tajam pandangan mata Kun-gi, sekilas saja terasa
olehnya kedua biji mata yang melirik itu hanya sebelah kiri yang
bercahaya. Hanya mata kiri yang bercahaya, bukankah itu berarti
mata kanannya picak?
Mendadak tergerak hati Ling Kun-gi, dilihatnya orang tua itu
menuju ke Sok-seng, maka dia berkata kepada Pui Ji-ping: "Dik, hari
sudah petang, kita harus lekas masuk kota, kalau terlambat pintu
kota mungkin ditutup." - Sembari bicara dia memberi kedipan mata
kepada Pui Ji-ping.
Ji-ping merasa heran, tapi dia tahu diri, tanyanya lirih: "Memang
benar." Kendali dia tarik ke kiri sehingga kudanya jalan merendeng
lebih dekat dengan suara lebih lirih dia bertanya pula: "Siapakah
dia? Toako mengenalnya?"
"Kukira dia adalah orang yang ingin kita cari, si mata satu. cuma
betul atau tidak perlu dibuktikan-"
"Asal kita kuntit dia, nanti juga pasti ketahuan-" sembari bicara
mereka jalankan kuda pelan2 dari kejauhan mengunt it keledai itu
masuk ke kota.
Hari sudah petang, banyak orang buru2 masuk kota, maka
suasana menjadi ramai. Berbeda dengan si mata satu kiri yang telah
ajal itu, sipicak kanan ini bergerak secara terang2an, dia berhenti di
depan warung bakmi, ia melompat turun dan masuk dengan terbungkuk2
Waktu itu memang t iba saatnya makan malam, setelah letih
menempuh perjalanan memang perlu istirahat dan mena ngsel
perut, terutama orang yang berdandan seperti orang desa, adalah
jamak kalau makan di warung kecil dengan tarip murah.
Melihat orang mampir di warung bakmi, Kun-gi berdua memasuki
warung arak di seberang jalan, letaknya kebetulan berhadapanMereka
memilih tempat duduk ditepi jendela, dari sini mereka dapat
mengawasi gerak-gerik orang diseberang.
Kun-gi memesan makanan ala kadarnya, lalu dia berkata
setengah berbisik, "Dik, kau tunggu di sini dan amati gerakgeriknya,
aku pergi sebentar."
"Toako mau ke mana?" tanya Ji-ping.
"Tugasmu menjaga di bagian luar sini, aku Keh- hoa akan putar
ke belakang, kalau benar dia si picak kanan yang bertugas
mengantar barang, kemungkinan bisa merat lewat pintu belakang,
hal ini harus kita jaga sebelumnya. Kalau dia pergi lewat depan, kau
harus menguntitnya dan perhatikan ke mana atau di tempat mana
dia menginap. Di sini pula kita nanti bertemu."
Mendengar dirinya di beri tugas, riang hati Pui Ji-ping, katanya
tertawa: "Tugas seringan ini, Toako tak usah kuatir, pasti
kulaksanakan dengan baik,"
"Baiklah sekarang aku pergi," bergegas Kun--gi keluar menuju ke
pengkolan jalan sana, di belakang deretan rumah seberang sana
memang terdapat sebuah lorong sempit, cepat Kun-gi menyelinap
masuk dan menghitung rumah ke lima, itulah pintu belakang
warung bakmi di depan, setelah memperoleh tempat yang gelap.
dia berdiri mepet tembok, matanya memperhatikan pintu belakang
rumah ke lima itu.
Dengan sabar dia menunggu kira2 satu jam, betul juga dilihatnya
sesosok bayangan orang tiba2 menongol keluar dari pintu belakang
warung bak-mi itu, melihat tiada bayangan orang, dengan langkah
buru2 dia berlari ke arah kiri sana.
Mata Kun-gi yang tajam dapat melihat bahwa bayangan orang itu
adalah laki2 tua berbaju hijau, punggung yang tadi bungkuk kini
sudah tegak. langkahnya ringan-
Dengan sigap seperti anjing pelacak Kun-gi terus menguntit ke
mana laki2 tua itu pergi. Ternyata laki2 tua ini juga cukup cerdik
dan licin, agak lama dia ber-lari2, mendadak dia menghentikan
langkah sembari berpaling ke belakang, betapa tangkas gerakan
Kun-gi, mana mungkin jejaknya dilihat olehnya?
Melihat tiada orang yang menguntit di belakangnya, si tua baju
hijau kembali berlari ke depan, keluar dari jalan raya, dia
menyelinap ke jalan melintang di sebelah depan sana, langkahnya
tidak pernah berhenti, kecepatan sedang, arahnya ke selatan-Lama
kelamaan dia menuju ke daerah sepi.
Tak lama kemudian dia sampai di tempat pembarkaran genteng,
di sini dia berpaling pula, setelah longak- longok ke belakang,
dengan langkah cepat dia lewati tempat2 pembakaran genteng yang
tersebar luas itu terus memasuki sebuah pekarangan yang dipagari
tembok pendek. Di depan pintu terdapat sepucuk pohon, dia
berjongkok menghitung setumpukan batu yang ada di bawah pohon
lalu menghampiri pintu serta mengetuknya tiga kali.
Maka terdengarlah ada orang bertanya: "Malam selarut ini,
siapakah yang menggedor pintu?"
Laki2 tua baju hijau unjuk tawa, sahutnya: "Belum malam, belum
malam, akulah Lo-to (bungkuk) yang mengetuk pintu."
"Kau cari siapa?" tanya orang di dalam pintu.
"Mencari orang yang menumpuk batu di batu di bawah pohon-"
"Kau sudah menghitungnya?"
"Sudah, seluruhnya 18 biji, agaknya saudara kurang menumpuk
satu biji."
orang di dalam tidak bersuara, pelan2 daun pintu terbuka.
Tampak seorang laki2 tua yang mengikat kuncir rambutnya di atas
kepala, membawa pipa cangklong, menyambut keluar, katanya:
"silakan duduk di dalam."
Si tua baju hijau tidak segera masuk, katanya mengerut kening:
"Kenapa kau tidak menyalakan lampu di dalam?"
Laki2 tua bergelak tawa, katanya: "Saudara tidak bisa melihat
dengan jelas tidak menjadi soal, asal aku dapat menghitungnya
dengan baik saja."
Melihat kata2 rahasia yang ditanyakan terjawab seluruhnya, laki2
tua baju hijau tidak banyak bicara lagi. segera dia angkat langkah
masuk ke rumah.
Laki2 bergelung kuncir cepat menutup pintu, katanya sambil
berpaling: "Mana barangnya, boleh kau keluarkan-"
Laki2 baju hijau merogoh kantong dan mengeluarkan sebuah
buntalan kain kasar terus diangsurkan, lalu katanya: "Saudara tentu
sudah capai, ini-lah perintah dari atasan, malam ini saudara dilarang
menginap di dalam kota, kau harus segera menempuh perjalanan
pula."
Tertegun laki2 baju hijau, katanya, "Aku sudah menunaikan
tugas ......."
"Pihak atas menghendaki kau segera berangkat, maaf aku tidak
bisa menolongmu lagi," tiba2 tangan kanan dia ulur, tangannya
sudah memegang sebuah bumbung hitam, "sret" segulung cahaya
biru segera menyembur keluar dari dalam bumbung melesat ke
dada laki2 baju hijau.
"Hah" terpentang mulut si laki2 baju hijau, tapi sebelum dia
menyadari apa yang terjadi, cahaya biru itu sudah nancap ke dalam
dadanya, badannya seketika terjengkang roboh.
Laki2 bergelung kuncir menyimpan kembali bumbung jarumnya,
katanya menyeringai sambil mengawasi mayat laki2 baju hijau :
"Pihak ataslah yang memberi perintah, jangan kau salahkan aku
......" sampai di sini dia bicara, tampak kepala mayat laki2 baju hijau
mengepulkan asap kuning, dengan cepat sekali jasadnya berubah,
ternyata yang disambitkan tadi adalah Hoa-hiat-sian-tong (bumbung
jarum pengluluh darah). Bergidik juga laki2 bergelung kuncir melihat
hasil karyanya sendiri, tiba2 terasa punggungnya kesemutanPada
saat itulah di belakangnya tahu2 sudah bertambah sesosok
bayangan orang, tangan merogoh kantongnya dan mengeluarkan
buntalan kain biru tadi.
orang ini adalah Ling Kun-gi yang menguntit laki2 tua baju hijau.
Setelah menutuk Hiat-to laki2 bergelung kuncir, segera dia buka
buntalan kain biru itu, di dalamnya
berisi kotak persegi. Setelah kotak dibuka, di dalamnya dilapisi
kain saten warna kuning, di tengah2 terjahit sebutir mutiara sebesar
kacang dengan benang merah.
Walau gelap di dalam rumah, tapi Kun-gi dapat melihat jelas, di
tengah2 mutiara terdapat ukiran huruf "Ling". Ternyata cin-cu-ling
adanya. Mutiara ini mirip dengan yang pernah dilihatnya di tempat
Kim Kay-thay itu, "Kemanakah mereka hendak mengantar cin-culing
ini?" demikian Ling Kun-gi ber-tanya2 dalamhati.
Sejenak dia termenung, lalu menutup dan membungkus pula cincu-
ling itu seperti semula dan dikembalikan ke kantong baju laki2
bergelung kuncir, sebelum berlalu dia membuka tutukan tadi dan
cepat dia menyelinap sembunyi di tempat gelap.
Laki2 tua bergelung kuncir menguap sekali lalu menggeliat
badan, sebentar dia kucek2 mata, lalu menjura ke arah tanah,
katanya dengan tertawa getir: "Saudara mati penasaran, Tapi aku
bekerja menjalankan perintah, harap saudara tidak menyalahkan
aku." Dia sangka arwah laki2 baju hijau itu tidak menerima
kematiannya, barusan dirinya telah ditenung sebentar, maka setelah
bicara bergegas dia berlari keluar sipat kuping.
Kun-gi mengunt itnya dari kejauhan- Laki2 tua bergelung kuncir di
kepala itu berjalan cepat sekali, tak lama kemudian dia sampai pada
sebuah tempat pemujaan di pinggir jalan yang dibangun
menyerupai gundukan tanah, tempat pemujaan ini bukan kuil bukan
biara, tapi hanyalah sebuah barak yang beratap rumput alang2
kering, bentuknya kecil dan pendek. di dalamnya dipuja dewi bumi
suami-isteri, tanpa meja, hanya terdapat sebuah hiolo, setiap orang
yang sembahyang menancapkan dupa di sana, keadaannya amat
sederhana.
Dengan langkah ter-gopoh2 laki2 itu memasuki barak berdinding
tanah liat itu, sejenak dia celingukan, melihat tiada orang lain, tiba2
dia mencincing lengan baju terus ulur tangan meraba ke dalam
hiolo, akhirnya dia meraba keluar sebuah bumbung bambu. Setelah
membersihkan abu di kedua tangannya, dia membuka sumbat
bumbung dan menuang keluar gulungan secarik kertas.
Pada saat itulah Kun-gi muncul di belakangnya pula, dengan
sekali kebas dia tutuk jalan darah penidur orang, lalu ambil
gulungan kertas itu serta merentangnya. Tampak di atas kertas ada
tulisan yang berbunyi: "Besok sebelum matahari terbenam, antarkan
kepada seorang yang membeli lima blok kain katun di toko kain
Tek-bong di kota Thung-seng, tak usah bicara, segera
mengundurkan diri saja."
Kun-gi menggulung pula kertas itu, lalu dikembalikan ke tangan
si orang tua, kembali ia mengebas, membuka Hiat-to orang. Laki2
tua bergelung kuncir bcrbangkis sekali, cepat dia masukkan
gulungan kertas itu ke dalam baju, seenaknya saja dia buang
bumbung bambu itu ke semak rumput di luar pintu, dengan langkah
cepat dia menempuh perjalanan lagi.
Kejadian ini kira2 makan waktu setengah jam, cepat2 Kun-gi
kembali ke warung arak. makanan yang dipesannya tadi sudah
dingin semua. Untung saat itu keadaan warung ramai dikunjungi
orang, yang hendak mengisi perut, orang mengira Pui Ji--ping
sedang menunggu seseorang, maka tiada yang memperhatikan-
Melihat Kun-gi kembali, Pui Ji-ping tertawa senang, cepat dia
menyongsong sambil bertanya: "Toako, kenapa pergi begini lama?"
Melihat hidangan semeja penuh belum disentuh sedikitpun,
timbul rasa prihatin Ling Kun-gi, katanya: "Dik, kenapa kau tidak
makan dulu?"
"Toako ada urusan, sudah tentu aku harus menunggumu untuk
makan bersama"
Ji-ping menyuguh secangkir teh kepada Kun-gi, katanya:
"Bagaimana urusannya Toako? Kau pergi begini lama, aku tidak
melihat dia keluar."
Kun-gi minum seteguk, katanya, "Sesuai dugaan, dia merat
daripintu belakang. Hasil yang kucapai amat memuaskan-" Lalu ia
ceritakan pengalamannya secara ringkas. Heran dan kaget Pui Jiping,
katanya lirih:
"orang yang membeli lima blok kain katun di toko Tek- hong, di
kota Thung-seng?Jadi sudah sampai tempat tujuan terakhir?"
"Belum bisa diraba, kalau tidak pindah tangan lagi, itu berarti
memang sudah mencapai tempat tujuan terakhir."
"Lalu bagaimana tindakan kita selanjutnya, Toako?" tanya Jiping.
"Sampai besok sore, waktunya masih cukup panjang, aku akan
cari Kim-loyacu untuk berunding dulu dengan dia."
"Tapi di Tho-sip kita tidak menemukan tanda2 yang dia
tinggalkan-"
"Ya, tapi di San-lam-koan aku melihat tanda2 Kim-loyacu," alis
Kun-gi berkerut, katanya mene-pekur: "Jelas masih ada tanda2
rahasia itu di San--lam-koan, tapi setiba di Tho-sip tanda2 itu
lenyap, mungkinkah dia mengalami sesuatu di sekitar Sam--lam-
Koan..
Tengah mereka bicara, pelayan sudah antar kembali makanan
pesanan mereka. Mereka makan cepat2, setelah bayar rekening
terus keluar, dengan menuntun kuda mereka berjalan kaki cukup
jauh dijalan raya. Dalam hati Ling Kun-gi menimang2, semula
banyak orang menguntit si mata satu, tapi di Sok-seng tiada
seorangpun kaum persilatan yang kelihatan, sementara sipicak ini
tahu2 muncul dari arah Hoa-ji-kang. datang dari utara, agaknya
komplotan cin-cu-ling tahu bahwa mereka dibuntuti, entah dengan
cara apa, semua orang yang menguntit itu satu persatu dipancing
ke arah lain, Demikian pula Kim-loyacu tiba2 putus hubungan,
kemungkinan juga terkena muslihat mereka. Maka besar tekad Kununtuk
selekasnya menyusul ke Sam-Lam Koan.
Tengah berjalan, seorang yang berdandan pelayan hotel
mengadang mereka sambil munduk2, katanya tertawa: "Kongcu
berdua apa cari penginapan, hotel kami serba bersih dan nyaman
teduh, service tanggung memuaskan, kuda kalian boleh serahkan
kepada hamba."
Waktu Kun-gi angkat kepala, dilihatnya di depan sana memang
ada sebuah hotel sok-seng, maka dia berpaling, katanya: "Dik, biar
kita menginap saja semalam di sini."
Panas muka Pui Ji-ping, dia mengiakan sambil manggut sekali.
Segera Kun-gi serahkan kudanya, lalu mendahului melangkah
masuk. Pelayan lain segera datang menyambut serta antar mereka
memilih kamar, akhirnya mereka memilih sebuah kamar besar yang
terdiri dua ruangan berdampingan, masing2 ada sebuah ranjang,
jadi mereka t idur di dua kamar terpisah.
Menjelang kentongan kedua Kun-gi siuman dari semadi, dia
pasang kuping, tiada suara apa2 di kamar Pui Ji-ping kecuali deru
pernapasannya yang teratur, terang si nona sudah tidur nyenyak.
Pelan2 dia berdiri membuka jendela terus melompat keluar, dia
tutup pula jendelanya dari luar, terus meloncat ke wuwungan
rumah.
Dengan mengembangkan Ginkang dia meluncur dengan
kecepatan luar biasa, hanya setanakan nasi dia sudah tiba di Thosip.
dari sini ke San-lam-koan dia terus memeriksa dengan teliti,
namun tiada tanda2 apapun yang dia temukan, tapi pada sudut
sebuah tembok di San-lam-koan masih ada tanda peninggalan Kimloyacu,
jelas arahnya menuju ke Tho-sip. Ini membuktikan bahwa
Kim-loyacu sudah meninggalkan San- lam- koan, tapi tujuannya
bukan ke Tho-sip. Lalu kemana dia? Tiba2 tergerak pikirannya:
"Sipicak datang dari Hoaji-kang yang letaknya di sebelah utara Thosip.
terang mereka sengaja dipancing ke jurusan lain oleh kawan2 si
picak."
Maka dia menuju ke utara, pada setiap persimpangan jalan dia
mengadakan penelitian-Tapi dari Kang-keh-tiam, Han-siau-tiam,
Hok-ma-tiam sampai Thong-keh-kang, sejauh puluhan li dia terus
mengadakan pemeriksaan tanpa menemukan apa2, se-olah2 Kimloyacu
tak pernah datang ketempat2 ini.
Dia tahu Kim-loyacu sudah banyak pengalaman dan
berpengetahuan luas, kalau dia sudah me-ninggalkan tanda2 di Sanlam-
koan, umpama ter
Jilid 6 Halaman 5/6 Hilang
Keluar dari hutan, mereka naik kuda menempuh perjalanan pula.
Lewat lohor baru mereka tiba di Thong-sengJi-ping apal keadaan
kota ini, maka dia menunjuk jalan, setelah membelok kejalan raya
sebelah timur sana dia menuding ke depan: "Toako, waktu masih
pagi, marilah istirahat di restoran itu?"
"Baik, rumah makan berloteng itu ternyata cukup besar
bangunannya."
"Tempo hari bersama Piauci kami menyamar laki2 dan pernah
melancong kemari. Ketika itu In-congkoan juga naik ke loteng
minum teh, tapi dia t idak mengenali kami lagi."
"Siapakah In-congkoan?" tanya Kun-gi.
"In-congkoan bernama In Thian-lok, kepala keluarga paman,
katanya berilmu silat tinggi."
Waktu itu mereka sudah tiba di depan restoran, pelayan
menyambut mereka ke loteng. ji-ping lantas menuding meja dekat
jendela: "Tempo hari kami duduk di meja itu."
Setelah Kun-gi duduk. waktu dia angkat kepala, dilihatnya di
seberang jalan sana adalah sebuah toko kain "LEK HONG".
"Kebetulan kau mencari tempat di sini," katanya tertawa.
"Tempo hari kami berbelanja juga di toka kain di depan itu,
malamnya kami jalan2 melihat keramaian kota," kata Ji-ping.
"Toako, jalanan di sini aku lebih apal, nanti biar aku yang menguntit
orang yang beli lima blok kain itu. Kau tunggu saja di sini." Ling
Kun-gi manggut2 menyetujui usulnya.
Pada saat itulah, muncul seorang dari anak tangga, dia
mengenakan topi kulit berbulu, memanggul sebuah kotak kayu
warna merah, kumisnya panjang, usianya belum 50, dandanannya
mirip pengembara, tapi juga seperti pedagang perhiasan-.
Matanya menjelajah sekelilingnya terus menghampiri meja di
sebelah kanan Ling Kun-gi yang berdekatan dengan jendela, peti
kayu dia letakan di atas meja, sambil memelint ir kumis dia duduk
memandang ke arah toko kain di depan sana. Pelayan datang
melayani pesanannya.
Sejak orang ini masuk Kun-gi sudah lantas memperhatikan, maka
dia berbisik kepada Pui Ji--ping, "Sejak kini jangan bicara soal itu
pula."
Ji-ping melengak. dia berpaling, namun yang dilihat hanya
bayangan punggung orang, segera ia bertanya sambil mendekatkan
tubuh: "Siapa dia?"^
Kun-gi menggeleng, lalu dengan ilmu mengirim belombang suara
dia berkata, "Nanti kujelaskan."
Selanjutnya mereka bergurau dan bicara panjang lebar mengenai
ini itu sambil memperhatikan pria bertopi di sebelah.
Menjelang sore, terdengar suara derap kaki kuda yang ramai
mendatang dari kejauhan, tampak lima ekor kuda berjalan ke arah
sini. orang yang duduk di kuda paling depan berperawakan besar,
alis tebal mata cekung, wajahnya kelabu, berpakaian jubah biru,
iapun nengenakan topi kecil berbulu burung, kumis di atas bibirnya
terawat baik dan rapi, wajahnya kereng berwibawa, betapa gagah
dia duduk di atas kudanya.
Di belakangnya adalah orang2 yang berpakaian serba ketat,
golok tergantung di pinggang masing2, kelihatan angker dan
bersemangat barisan lima kuda ini. orang2 yang berlalu lalang sama
minggir memberi jalan-
Melihat laki2 muka kelabu yang bercokol di punggung kuda ini,
tak terasa ber-gerak2 bibir Pui Ji-ping, dilihatnya laki2 muka kelabu
itu mendahului menghampiri toko kain Tek-heng dan berhenti.
Empat orang pengikutnya ter-sipu2 turun, seorang pegang kendali,
seorang bantu dia melompat turun, dua orang yang lain melangkah
ke dalam toko sebagai pembuka jalan-Jelas toko kain Tek-hang hari
ini kedatangan tamu yang akan memborong dagangannya.
Maka ributlah keadaan toko kain itu, pelayan sibuk melayani,
pemilik toko bersama tuan kasir keluar menyambut. Sudah tentu
Kun-gi dan Ji--ping menyaksikan semua ini dengan jelas dari
tempatnya yang tinggi di atas loteng.
Setelah laki2 muka kelabu duduk. seorang pelayan toko
menyuguhkan air teh. Tanpa sungkan2 si muka kelabu angkat
cangkir dan minum seteguk. lalu berbicara kepada tuan kasir, tuan
kasir tampak munduk2 sambil tertawa lebar seperti mengiakan,
cepat dia berpesan apa2 kepada pelayan di sampingnya. Beberapa
pelayan toko segera bekerja penuh semangat dan sibuk sekali,
mereka membawa beberapa contoh kain sutera ke hadapan si muka
kelabu.
Dengan seksama laki2 muka kelabu memilih, lalu menuding
beberapa di antaranya, barang yang terpilih itu segera di kumpulkan
di meja tersendiri. Kembali laki2 muka kelabu berkata kepada tuan
kasir seperti ingin membeli kain corak lain- Tuan kasir munduk2 lagi,
dia pimpin beberapa pelayan
membuka almari dan mengeluarkan lima blok kain katun warna
hijau pupus, pelayan toko langsung membawanya keluar dan
diserahkan anak buah laki2 muka kelabu, lalu diikat di punggung
kuda.
Melihat lima blok kain katun hijau pupus ini, hampir saja Pui Jiping
berteriak kaget.
Laki2 bertopi di meja sebelah segera merogoh saku membayar
uang teh terus berlari turun loteng sambil memanggul peti kayunya.
Melihat orang pergi ter-gesa2, Ji-ping bertanya, "Toako, siapakah
dia?"
Kun-gi pandang sekelilingnya baru menerangkan dengan suara
rendah: "Dia adalah laki2 tua bergelung kuncir yang mengantar cincu-
ling itu, baru hari ini dia memakai topi."
"dia turun ter-gesa2, jadi mau menyampaikan barang itu?"
"Lima blok kain katun hijau pupus sudah diikat di punggung
kuda, itu tanda yang sudah jelas, sudah tentu dia harus lekas2
mengantarkan barangnya."
Sedang mereka bicara, tampak laki2 bertopi itu sudah
menyeberang jalan langsung menuju ke toko kain itu.
Seorang pelayan segera menyambutnya, maksudnya supaya dia
tidak serampangan masuk toko yang sedang sibuk melayani pembeli
besar. Laki2 bertopi manggut2 minta maaf, dia menuding laki2
muka kelabu di dalam toko serta mengucapkan beberapa patah
kata, seperti mengatakan mau menyampaikan sesuatu barang
padanya.
Pelayan manggut2 serta mempersilakan dia masuk. Menjinjing
peti kayunya laki2 bertopi beranjak ke dalam, langsung dia
mendekati laki2 muka kelabu dan memberi hormat. Si muka kelabu
hanya sedikit mengangguk dan mengajukan beberapa patah
pertanyaan- Laki2 bertopi unjuk tawa lebar sambil melangkah maju,
peti kayu dia taruh di atas meja, ia mengeluarkan anak kunci dan
membuka petinya itu, dari dalam kotak dia keluarkan serenceng
kalung mutiara, tusuk kundai, kembang berlian, gelang dan lain2
macam perhiasan, bersama dua buah kotak kecil berlapis kain,
sutera biru, satu persatu dia aturkan ke hadapan laki2 muka kelabu,
mulutnya tak berhenti menerangkan ini itu seperti penjual perhiasan
layaknya yang memuji barang dagangannya.Jadi Cin-cu-ling yang
dibawanya itu berada di dalam kotak itu.
Seenaknya saja laki2 muka kelabu memilih delapan macam
perhiasan, sudah tentu kedua kotak itupun dipilihnya, lalu dari
lengan bajunya dia keluarkan selembar uang kertas dan diserahkan
kepada laki2 tua bertopi itu.
Berseri girang laki bertopi, setelah terima uang kertas (sebangsa
cek) itu, dia bereskan dagangannya, sambil munduk2 dan berucap
terima kasih terus keluar.
Sementara itu pelayan sudah membuntal beberapa blok kain
sutera lainnya di atas kuda yang lain pula.
" Toako, hayo lekas berangkat," tiba2 ji-ping berkata gugup,
"Mau kemana?" tanya Kun-gi heran-
"Lekaslah, kalau terlambat, tidak ada kesempatan lagi," desak Jiping.
Cepat2 mereka turun terus larikan kuda keluar kota menuju ke
utara, di luar kota ji-ping melarikan kudanya terlebih kencang.
Semula Kun-gi kira dia hendak menguntit si tua bergelung kuncir
yang menyaru pedagang perhiasan, dari uang kertas yang dia
terima dari laki muka kelabu itu pasti bisa diselidiki siapa sebetulnya
laki2 muka kelabu itu. Tapi sekarang dia baru menyadari bahwa
dugaannya ternyata meleset jauh. Ji-ping bukan mengejar atau
menguntit orang, tapi dia membedal kudanya seperti orang
kesetanan sampai lima li jauhnya, lalu membelok ke sebuah jalan
kecil yang berlapis batu.
Waktu itu sudah magrib, sang surya hampir terbenam, burung2
berkicau kembali ke sarangnya, jauh di antara gunung gemunung di
antara lebatnya pepohonan sana tampak asap mengepul di
angkasa.
Betapapun sabar hati Kun-gi, setelah heran sekian lamanya, kini
tak tahan lagi, dia bedal kudanya memburu ke depan serta
bertanya: "Dik, hendak ke mana kau sebetulnya?"
Ji-ping berpaling, sahutnya tertawa: " Kubawa kau menemui
seorang."
"Siapa dia?" tanya Kun-gi.
"Setelah berhadapan pasti kuperkenalkan."
"Orang ini ada hubungannya dengan tujuan perjalanan kita?"
Sambil memecut kudanya Ji-ping menjawab: "Toako tak usah
banyak tanya, setelah tiba saatnya kau akan tahu sendiri."
Kuda mereka adalah milik keluarga Tong yang terpilih, maka
larinya kencang sekali, 20 li sudah mereka tempuh, pegunungan di
sini berpanorama indah permai, pohon Siong dan hutan bambu
memagari jalanan, keindahan alamnya laksana dalam impian-
Tiba2 tergeraklah hati Ling Kun-gi, dia ingat Kim Kay- thay
pernah menyinggung Liong-bin-san- ceng kepadanya, letaknya di
utara kota Thung-seng, mungkinkah Liong-bin san-ceng terletak
dipegunungan ini?
Sementara itu Pui Ji-ping di sebelah depan sudah tiba di kaki
gunung, mendadak dia belokkan kudanya ke dalam hutan serta
memperlambat larinya, beberapa jauhnya, dia lompat turun dengan
menuntun kuda ia menyelinap semak2 pepohonan yang lebih
dalam. Ling Kun-gi ikuti si nona, tanyanya: "Sudah sampai belum?"
"Belum, kita sembunyikan dulu kuda2 ini."
"Apa kita mau pergi ke Liong-bin-san-ceng?" tanya Kun-gi.
"Darimana Toako tahu?" balas tanya Ji-ping kaget dan heran.
"Aku hanya menduga, gunung ini adalah Liong-bin-san (gunung
naga tidur) kecuali pergi ke Liong-bin-san-ceng, ke mana lagi?"
"Em," hanya itu suara yang keluar dari teng-gorokan J i-ping, dia
tetap menuntun kuda memasuki hutan. Akhirnya mereka menambat
kuda di hutan yang agak gelap dengan pepohonan lebat.
Berkata Kun-gi dengan nada serius: "Dik, memang jarang orang2
Liong- bin-san-ceng bergerak di kalangan Kangouw, tapi kabarnya
kepandaian sang cengcu, ciam-liong Cu Bun-hoa amat tinggi, iapun
pandai membangun berbagai alat perangkap. demikian pula racun
dan senjata rahasia, jangan kau sembarangan main2 di sini."
"Toako t idak usah kuatir, kita tidak akan mengusik mereka."
"Jadi siapa sebetulnya yang kau cari?"
"Toako ikuti saja diriku" Ji-ping tetap tidak mau menerangkan-
Terpaksa Kun-gi mengikut i ke mana saja Ji-ping membawanya,
mereka mendaki bukit tandus di sebelah kiri, lalu menyusuri
selokan, lompat ke atas pematang dan tiba di sebuah tempat yang
banyak pohon siong, tampak sebuah jalan besar yang dibangun dari
papan batu hijau menjurus lurus ke arah sebuah perkampungan,
agaknya letak perkampungan itu masih satu li jauhnya... Hari sudah
mulai gelap. dilihat dari kejauhan hanya kelihatan bayang2 gelap
yang bertutup genteng, itulah Liong-bin san-ceng adanya.
"Marilah kita turun," ajak Ji-ping, dia bawa Kun-gi menuruni
jalanan kecil dan berputar ke belakang gunung, menembus hutan,
tak lama kemudian mereka sudah berada di kiri perkampungan
"naga tidur." Pagar tembok yang tebal dan tinggi dari Liong-bin-sanceng
sudah tampak jelas.
Ji-ping berhenti, dia menggape ke arah Kun-gi menyuruhnya
mendekat. "Ada apa dik ?" Kun-gi tanya.
Ji-ping menuding dinding, katanya: "Masuk dari sini, di balik
tembok ada sebuah jalan besar yang mengitari seluruh
perkampungan untuk masuk ke perkampungan harus melewati jalan
besar beralas batu hijau itu, maka penjagaan sepanjang jalan ini
amat ketat dan keras, seluruhnya ada delapan pos penjagaan,
setiap pos ada dua orang, ditambah seekor anjing pelacak yang
amat galak. kalau kita masuk dari sini harus melewati pos pertama
....."
"Kita akan masuk?" tanya Kun-gi.
"Sudah tentu, buat apa sejauh ini kita kemari."
"Untuk apa kita masuk ke sana ?"
"Untuk apa kau tidak usah tahu," kata Ji-ping, "bila kita
melompat naik ke atas tembok, kau harus menggunakan kecepatan
luar biasa untuk menutuk Hiat-to kedua orang yang berjaga dipos
pertama, kalau anjing datang, biar aku yang menghadapi, cepat kau
harus membebaskan pula tutukan Hiat-to kedua orang itu, tapi
jangan sampai mereka mengetahui jejakmu, dengan kecepatan
gerakanmu, sembunyilah di tempat gelap. di antara deretan rumah
di seberang."
"Bagaimana kau akan menghadapi anjing galak itu?" tanya Kungi.
"Aku punya caraku sendiri," sahut Ji-ping, "bekerjalah menurut
petunjukku, urusan lain kau tidak usah turut campur."
Kun-gi bingung, ia termenung : "Kelihatannya dia apal sekali
mengenai seluk-beluk Liong-bin-san-ceng ini."
Ji-ping meliriknya, katanya tertawa: "Toako, apa yang sedang
kau pikir? Lekas masuk, kalau terlambat, nanti in-congkoan keburu
pulang."
"Siapakah In-congkoan?" tanya Ling Kun-gi..
"In-congkoan adalah laki2 muka kelabu yang membeli lima blok
kain di toko Tek-hong itu, dia bernama In Thian-lok, Congkoan dari
Liong-bin-san-ceng ini."
"Kiranya kau kenal dia."
"Kalau tidak kenal, untuk apa kita kemari?"
Dari kejauhan mereka sudah dengar derap kuda yang lari
kencang.
"Mereka sudah kembali," kata Ji-ping., ia tarik tangan Kun-gi
serta menambahkan: "Pagar tembok ini ada tiga tombak tingginya,
kalau aku melompat setinggi itu mungkin mengeluarkan suara, kau
harus bantu menarikku."
Berdebur jantung Kun-gi menggandeng tangan yang halus ini.
Dengan tangan bergandeng tangan mereka keluar hutan terus
mengembangkan Ginkang berlari secepat terbang.
Setiba di kaki tembok. Kun-gi berseru lirih: "Naik" badan tanpa
jongkok, kaki tidak keli-hatan menekuk, hanya kedua lengan saja
yang bergerak. sedikit ujung kaki menutul, dengan ringan dia
membawa Ji-ping melambung ke atas seringan kapas dan hinggap
di atas pagar tembok.
Waktu dia melihat ke dalam, ada jalan lebarnya enam kaki. Tak
jauh di kaki tembok sana dua orang laki2 bersenjata golok
berseragam hijau tua sedang berdiri membelakangi mereka. Di
bawah mereka mendekam seekor anjing galak sebesar anak sapi,
kelihatan amat cerdas dan tangkas, agaknya lebih sukar dilayani
dari pada manusia.
Sebelum melompat naik tadi Kun-gi sudah menjemput dua butir
kerikil, baru saya tapak kaki hinggap di atas tembok. dua butir batu
lantas meluncur ke arah kedua orang, sementara mulutnya berseru
lirih: "Lekas turun"
Tanpa ayal Ji-ping melompat turun- Belum kakinya hinggap di
tanah, anjing pelacak itu sudah melompat bangun, bulunya berdiri,
giginya menyeringai memburu maju.
Begitu berdiri tegak Ji-ping lantas membentak tertahan:. "Jangan
menyalak, aku" mendengar suara Ji-ping, anjing galak itu
menurunkan ekor-nya, dengan langkah pelan dia menghampiri Jiping
serta meng-endus2 tangan Ji-ping, sikapnya ramah dan
aleman- Pui Ji-ping juga ulur tangan menepuk kepalanya, cepat dia
melangkah ke depan, anjing itu mengikut di belakangnya.
Kun-gi melongo, pikirnya:. "Mungkin iapun salah seorang dari
Liong-bin-san-ceng?"
Ji-ping membawa anjing itu ke tempat lain, Kun-gi lantas
melompat turun sembari membebas-kan tutukan Hiat-to kedua
orang tadi, segera bayangan berkelebat, tahu2 sudah lenyap di balik
kegelapan di deretan rumah sana.
Terdengar derap kaki kuda yang datang semakin dekat, agaknya
sudah sampai di depan perkampungan-
Waktu Kun-gi celingukan, dilihatnya Ji-ping sudah berkelebat
datang pula, katanya lirih: "Toako, mari ikuti aku"
Banyak tanda pertanyaan dalam hati Kun-gi, tapi tak sempat
bertanya, terpaksa dia ikuti setiap kehendak Pui Ji-ping, mereka
sembunyi di antara bayang2 kegelapan, mereka menyelundup
masuk lebih dalam.
Agaknya Ji-ping apal benar mengenai keadaan Liong-bin-sanceng,
melewati ber-lapis2 rumah, naik ke wuwungan, membelok
kian kemari, se-olah2 dia berada di rumah sendiri, cuma kali ini dia
main sembunyi2.
Untung beberapa bangunan loteng sudah mereka lampaui tanpa
konangan seorangpun, akhirnya mereka mengitari sebuah serambi
panjang terus memasuki sebuah halaman berbunga, Jiping bawa
Kun-gi masuk melalui pintu kanan yang berbentuk bulan, sebelah
dalam adalah pekarangan kecil, sebuah empang dikelilingi tanaman
bunga yang mekar semerbak.
Ada jembatan batu, di antara jalanan kecil yang berliku ke
belakang dipagari pot2 kembang dari berbagaijenis yang indah.
Di ujung kiri pekarangan terdapat undakan batu, di mana ada
tiga baris kamar tulis, jadi untuk masuk ke kamar tulis orang harus
lewat ruangan bunga, maka pintu bulan di kanan kiri jarang dibuka,
namun enamjendela di tiap2 kamar itu semua terpentang lebar.
Pelan2 Ji-ping tarik lengan baju Kun-gi, mereka merunduk ke
dalam semak2 bunga terus berjongkok. Di dalam kamar tersulut
sebatang lilin. dari jauh terlihat kamar itu penuh rak buku yang
berjajar rapi, lukisan memenuhi dinding, pada sebuah kursi di ujung
timur duduk seorang yang berpakaian ketat warna biru laut sedang
membaca buku di bawah penerangan lilin besar itu. Karena dia
duduk miring, yang kelihatan hanya setengah bayangannya, tak
jelas raut mukanya.
Kun-gi berpaling hendak tanya Pui Ji-ping, tampak sikap sinona
agak tegang, sebuah jarinya tegak di depan bibir, maksudnya
supaya dia jangan bersuara.
Pada saat itulah di luar pintu bulan sabit kedengaran langkah
ringan berhenti di depan kamar buku, lalu terdengar suara yang
serak rendah berkata: "Cengcu, hamba sudah kembali."
Diam2 Kun-gi terkejut, pikirnya: "Ternyata orang yang membaca
buku itu adalah Liong-bin-san-ceng Cengcu Cu Bun-hoa adanya."
Terdengar suara lantang berkata di dalam: "Masuklah?"
Lalu seorang membuka pintu, langkah ringan itu masuk ke dalam
kamar. Terdengar suara serak itu berkata pula: "Mengingat musim
panas sudah menjelang, para saudara perkampungan perlu berganti
pakaian, maka dalam perjalanan ke kota kali ini hamba sekalian
membeli lima blok kain katun."
"Barang2 permintaan Hujin dan Siocia juga sudah kau belikan?"
tanya suara lantang tadi.
"Semuanya sudah hamba beli, seluruhnya habis tiga ratus tiga
puluh dua tahil perak."
"Barang apa yang mereka minta, kenapa sampai keluar uang
begitu banyak?"
Suara serak melapor: "Tujuh blok kain sutera dan empat blok
kain satin, harganya cuma 24 tahil, di samping itu Siocia minta
dibelikan kembang berlian dan kalung mut iara, harganya sebanyak
seratus lima puluh tahil, sebelum pergi Hujin berpesan, kalau beli
harus sepasang, kalau Slocoa dibelikan, Piau-siocia juga harus
dibelikan pula . . . ."
Mendengar sampai di sini, Kun-gi melirik ke-pada Pui Ji-ping
dibelakangnya.
"o," suara lantang itu bertanya: "Kau sudah antar ke belakang?
Lalu kabar apa yang kau dengar di kota?"
"Hamba memang hendak lapor kepada Ceng-cu," suara serak itu
berkata, "dari That-ho dan Ing-ciu diperoleh berita bahwa Lo-sam
dan Lo-cit dari keluarga Tong, serta Loji dari keluarga Un, demikian
pula Kim Ting Kim Kay-thay yang jarang keluar pintu bersama
Thong-pi-thian-ong yang berangasan itu sama muncul di sekitar
sana ...."
"O," suara lantang itu berkata: "Tanpa berjanji mereka sama
memasuki daerah ini, sudahkah menyelidiki apa tujuan mereka?"
"Hamba sudah utus beberapa saudara yang cekatan untuk
menyelidiki jejak mereka, sekarang memang belum berhasil
diketahui maksud mereka, tapi hamba sudah mendapat laporan
anak buah yang ditugaskan ke Thung-seng . . . ."
"Berita apa yag kau peroleh?"
"Kabarnya dari Poh-yang, Ing-ciu sampai ke Sek-song, secara
beruntun beberapa kelompok orang itu mendadak lenyap tak keruan
paran-" Tergerak hati Ling Kun-gi, pikirnya "Masa orang2 itu lenyap
seluruhnya?."
"Apa katamu?" suara lantang itu menegas.
"Mereka hilang semuanya?"
"Ya, kabarnya mereka bergerak secara sendiri2, tapi tujuan satu,
tapi di sinilah letak aneh-nya, sebelum sampai di Sok-seng, orang2
itu seperti mendadak ambles ke bumi. Kini hamba sudah utus orang
untuk menyelidiki lebih lanjut."
"Bagus, sebelum jelas tujuan orang2 itu, penjagaan kita di sini
harus diperketat," suara lantang berpesan-
Suara serak mengiakan, lalu bertanya- "Cengcu ada pesan lain?"
"Tiada lagi."
"Hamba mohon diri," kata suara serak terus keluar dari kamar
buku.
Suara serak itu sudah tentu adalah laki2 muka kelabu yang
membeli kain di toko kain Tek-hong, yaitu Cong-koan Liong-bin sonceng
In Thian-lok adanya.
Setelah dia keluar dari kamar buku, laki2 jubah hijau itupun
berbangkit dari kursi malas, sambil menggendong tangan dia
berjalan ke jendela, mendongak menghirup hawa segar, katanya
menggumam: "orang sebanyak itu mendadak lenyap. ada kejadian
aneh apa yang telah mereka alami?"
Begitu dia dekat jendela, Kun gi dapat melihat jelas wajahnya,
Liong-bin-sun-ceng cengcu yang kenamaan dikalangan Kangouw ini
kelihatannya berusia 45-an, wajahnya putih, jenggot hitam
menjuntai di dada, tingkah lakunya lemah lembut mirip seorang
sekolahan. cuma kedua alisnya tebal, kedua matanya berkilau bagai
bintang, sekilas pandang orang akan tahu bahwa dia seorang ahli
Lwekang yang lihay.
Pui Ji-ping yang sembunyi di semak2 pohon begitu melihat laki2
jubah hijau berdiri di depan jendela, karena hati keder, tanpa terasa
dia menarik kencang lengan baju Ling Kun-gi, sedikit gerakan ini
menyebabkan daun pohon tersentuh sehingga mengeluarkan suara
kresek, walau hanya gerakan lirih sekali, tapi kedua mata laki2
jubah hijau yang mencorong itu sudah memperhatikan ke arah sini,
mulutpun membentak kereng.
"Siapa ?" walau suarabya tidak keras, tapi sangat berwibawa.
Terpaksa Ji-ping berdiri dan keluar dari semak2, sahutnya
pelahan: "Aku paman" jadi dia adalah keponakan laki2 jubah hijau
itu.
Lalu dia membalik tubuh serta berkata: "Ling-toako, lekas ikut
aku." - dari sebutan Toako men-dadak dia ubah menjadi "Lingtoako"
dihadapan pamannya sehingga kedengaran lebih wajar.
Setelah Ji-ping keluar, terpaksa Kun-gi ikut keluar, satu persatu
mereka melompati jendela masuk ke dalam dan berdiri di hadapan
laki2 jubah hijau.
Dengan tajam orang mengawasi mereka, terutama melihat
dandanan Pui Ji-ping, seketika dia mengerut alis, katanya: "Kau ini
Ji-ping?"
Si nona tertawa, katanya. "Sudan kupanggil paman, kalau bukan
Ji-ping, siapa lagi?" lalu ia berpaling kepada Kun-gi, dan berkata:
"Ling-toako, inilah pamanku, Cengcu dari Liong-bin-san-ceng ini."
Lekas Kun-gi memberi hormat, katanya: "Cayhe Ling Kun-gi
memberi salam hormat kepa-da Cu-cengcu "
"Paman, Ling-toako telah dua kali menolong jiwa keponakanmu,
maka sengaja kubawa dia kemari untuk menemui paman," demikian
tutur Ji-ping,
Tajam dan lekat pandangan Cu Bun-hoa, sejenak dia awasi Kungi,
katanya sedikit manggut2: "Silakan duduk saudara Ling, Ji-ping,
suruhlah orang menyuguh teh." - dalam hati dia membatin, "Budak
ini malam2 menemui aku, entah ada urusan apa." Sambil mengelus
jenggot, dan tatap Ji-ping, tanyanya. " Kalian ada urusan apa?"
Ji-ping menekan suaranya: "Ada urusan penting yang amat
rahasia hendak kami laporkan kepada paman-"
Cu Bun-hoa melengak dan bertanya: "Urusan rahasia apa?"
Kata Ji-ping sungguh2: "Paman, urusan ini amat penting dan
gawat, sekali2 tidak boleh bocor."
Melihat sikapnya yang prihatin, hati Cu Bun-hoa rada bimbang,
katanya: "Ji-ping, siapapun tanpa kupanggil t iada yang berani
masuk ke kamar buku paman ini, maka boleh kau terangkan
sekarang."
"Aku tahu," sahut Ji-ping, "tapi lebih baik kalau kututup jendela
ini."
"Memangnya begitu penting?" tanya Cu Bun-hoa.
"Ya" sahut Ji-ping tertawa, "tadi kami sembunyi di luar jendela,
bukankah percakapan paman dengan In-congkoan dapat kami
dengar semua?" - lalu iapun menutup jendelanya.
Cu Bun-hoa duduk di kursi sebelah atas, tanya-nya: "Ji-ping,
apakah Toaci (maksudnya ibu J i-ping) baik2 saja di rumah?"
"Aku belumpulang," sahut Ji-ping menggeleng.
"Lalu ke mana saja kau selama ini?"
Merah muka Ji-ping, sekilas dia lirik Kun-gi, katanya: "Di tengah
jalan kubertemu dengan Ling-toako, lalu bersama dia."
Pandangan Cu Bun-hoa beralih ke arah Kun-gi, katanya tertawa:
"Aku sudah tahu, walau usia Ling-lote masih muda, tapi sorot
matanya gemilang, kepandaian silatnya tentu tidak rendah, entah
siapakah gurunya?"
Belum Ling Kun-gi buka suara, Ji-ping sudah mendahului:
"pandanganmu memang tajam, Ling-toako adalah murid Hoan-jiu jilay."
Melengak Cu Bun-hoa, katanya serius: "Jadi Ling-lote adalah
murid kesayangan paderi sakti Hoan-jiu-ji-lay, maaf aku kurang
hormat."
"cengcu terlalu rendah hati" Kun-gi berkata ramah.
Mendengar nada pembicaraan kedua orang Ji-ping tahu kalau
pamannya menaruh hormat dan pemuja Hoan-jiu-ji lay, maka
hatinya ikut senang, katanya dengan suara hampir berbisik: "Lingtoako
kemari untuk menyelidiki peristiwa Cin-Cu-ling."
Cu Bun-hoa manggut2, katanya: "Aku pernah dengar berita dari
Kangouw bahwa keluarga Un di Ling-lam dan Tong di Sujwan
masing2 kehilangan kepala keluarganya, sanak familinya
menemukan mutiara berukir huruf Ling di bawah bantal mereka.
Cin-Cu-ling memang pernah menggemparkan Kang-ouw beberapa
waktu yang lalu, tapi kejadian sudah berlarut, kini sudah mulai
dilupakan orang, lalu bagaimana hasil penyelidikan Ling-lote?"
Ji-ping mendahului bicara pula: "Paman, karena tiga bulan yang
lalu ibu Ling-toako juga mendadak lenyap, maka gurunya menyuruh
dia mengembara di Kangouw untuk menyelidiki peristiwa Cin-Cu-ling
itu, Langkah pertama Ling-toako pergi ke Kay-hong menemui Kim
Ting Kim Kay-thay, karena ketua Yok-ong-tian, Loh-san Taysu dari
Siau-lim-s juga telah lenyap tiga bulan yang lalu."
Tergetar hati Cu Bun-hoa, katanya: " Ketua Yok-ong-tian Siaulim-
si juga lenyap. kenapa aku t idak mendengar?"
"Panjang kalau diceritakan, Ling-toako, kau saja yang
menjelaskan pada paman-"
Maka Kun-gi bercerita tentang pengalaman belakangan ini sejak
dia menemui Kim Kay-thay di Kayhong serta terima surat yang
serba rahasia dan misterius itu sampai sekarang.
"Ling-lote tahu, apa isi kotak sutera itu?" tanya Cu Bun-hoa.
"Paman," sela Ji-ping, "dengarkan saja dengan sabar, semuanya
akan jelas "
Kun-gi lalu ceritakan pula penculikan Pui Ji-ping oleh orang2
keluarga Tong yang dipimpin Cit-ya dan terpaksa dirinya sampai
meluruk ke Pat-kong-san.
Cu Bun-hoa mendengus sambi1 mengelus jenggot: " Keluarga
Tong juga berani main kayu terhadap keluargaku. Ji-ping, kapan2
paman juga ringkus Kwi-kianjiu itu, akan kugantung dia tiga hari
tiga malam."
"Jangan," seru Ji-ping, "sekarang aku sudah angkat Tong-lohujin
sebagai ibu angkatku."
"o, apa pula yang telah terjadi ?" tanya Cu Bun-hoa tak mengerti.
"Waktu Ling-toako meluruk ke Pat-kong san, dia pukul hancur
Pat-kwa to tin keluarga Tong, Tong-hujin lalu menerimaku sebagai
puteri angkat. Toako, untuk selanjutnya kau saja yang bercerita."
"Seperti apa yang telah cengcu terima beritanya tadi, sejak mula
Wanpwepun terus menguntitnya sampai sini," demikian sambung
Kun-gi setelah bercerita panjang lebar.
Berkerut alis Cu Bun-hoa, katanya: " Barang apakah sebenarnya
yang diantar secara marathon dengan ganti berganti tangan, sampai
menimbulkan perhatian banyak orang."
Maka Ling Kun-gi bercerita pula akan pengalamannya sejak turun
dari Pat-kong-san, dan barang yang diantar itu sekarang
kemungkinan sudah mencapai tempat tujuan ya terakhir.
"Kemana mereka antar barang itu?" tanya Cu Bun-hoa kemudian-
"Yang jelas barang itu cin cu-ling, Wanpwe sudah membuktikan
sendiri."
"Lalu bagaimana selanjutnya menurut apa yang kau ketahui?"
"Menurut hasil penyelidikan Wanpwe, Cin-Cu-ling harus
diserahkan kepada seorang yang membeli lima blok kain katun di
toko kain Tek-hong di kota Thung-seng." '
Berubah air muka Cu Bun-hoa, tanyanya. "Kalian terus
menguntitnya tidak?"
"Sudah tentu," sela Ji-ping.
"Jadi kalian sudah melihat Cin-Cu-ling itu di-terimakan kepada
orang yang beli lima blok kain katun itu?"
"Kami mengamati dari warung teh diseberang jalan toko Tekhong,
semua kejadian kami saksikan dengan jelas," demikian Ji-ping
bercerita, "cuma pengantar barang yang semula menggelung kuncir
di atas kepala hari itu menyamar sebagai pedagang perhiasan,
dengan caranya yang lihay dia simpan Cin-Cu-ling di antara
perhiasan terus dijual kepada pembeli kain itu, orang lain yang tidak
tahu tentu menyangka dia membelikan perhiasan untuk anak
gadisnya ......"
"Jadi dia?" desis Cu Bun-hoa dengan mata terbeliak.
"Paman tidak percaya?" Ji-ping menegas.
Pelan2 mata Cu Bun-hoa tatap mereka berdua, suaranya kalem
dan rendah: "Sudah puluhan tahun In Thian-lok mengikuti aku,
biasanya amat setia dan menyelesaikan tugasnya dengan baik,
selamanya belum pernah melakukan kesalahan, kalau dikatakan dia
mempunyai maksud jahat, sungguh sukar dipercaya..... " dia
pandang Ling Kun-gi, lalu menyambung pula: "Ling lote, di atas
loteng itu kau menyaksikan dengan jelas, coba kau jelaskan pula
lebih teliti."
Terpaksa Kun-gi menceritakannya pula lebih terperinci.
Lama Cu Bun-hoa menepekur, katanya kemudian: "Mereka
serahkan Cin-Cu-ling kepada In Thian-lok. jadi orang berikutnya
yang hendak di-culik adalah diriku."
" Kukira demikian adanya," kata Ji-ping.
" Waktu Cayhe meninggaikan Kayhong, Kim-loyacu juga pernah
menyinggung diri Cu-cengcu kepada cayhe."
"Apa kata Kim Kay-thay?"
"Kim-loyacu bilang, orang2 yang diculik oleh komplotan cin-cu
ling ini kebanyakan adalah ahli2 racun, obat bius dan obat2an,
dalam Bu-lim, kecuali keluarga Tong yang pandai menggunakan
racun dan senjata, keluarga Un ahli obat bius, katanya Cu-cengcu
juga seorang ahli dalam bidang ini ....."
Hebat perubahan air muka Cu Bun-hoa kali ini, mulutnya
menggeram sekali.
Terbelalak lebar mata Pui Ji-ping, tanyanya "kenapa tidak pernah
kudengar engkau -orang tua juga pandai main racun?"
Hanya sebentar perobahan air muka Cu Bun-hoa, tuturnya sambil
menghela napas: " Keluarga cu kita selamanya belum pernah
berkecimpung di Kangouw, mungkin itu hanya berita kosong belaka
diluaran, soalaya kakek luarmu dulu pernah menolong seorang tua
yang terluka parah dan hampir ajal di luar perkampungan, tiga
bulan lamanya orang tua itu dirawat sampai sembuh, sebelum pergi
dia meninggalkan sesuatu resep obat. Waktu itu keamanan sering
terganggu, kawanan rampok merajalela. main bunuh, rampok.
memperkosa kaum wanita, sehingga jaman itu keadaan kacau
balau, orang tua itu pernah berpesan kepada kakek luar-mu supaya
membuat obat menurut resep yang di tinggalkan serta ditaburkan di
daerah tiga li di luar perkampungan secara melingkar, kemungkinan
rampok itu tidak akan berani mengusik kemari . . . ."
"Tentunya obat itu racun yang amat lihay?" tanya Ji-ping.
"Betul," Cu Bun-hoa mengangguk, "tak lama kemudian,
sekawanan perampok memang meluruk datang, tapi tiga li di luar
perkampungan kita kawanan perampok ini sama terjungkal roboh
binasa sehingga Liong-bin-san-ceng tidak terusik sedikitpun, orang
luar yang tidak tahu persoalannya menganggap keluarga Cu kita
juga ahli dalam bidang ini, begitulah sampai sekarang, berita ini
makin tersiar luas di luaran-"
"Paman, resep obat itu masih ada?" tanya Pui Ji-ping.
Cu Bun-hoa tertawa tawar, ujarnya: " Kejadian ini sudah lima
enam puluh, tahun yang lalu, kakek luarmu tidak mewariskan resep
itu padaku."
"Sayang sekali," kata Ji-ping gegetun.
"Jadi komplotan ini menyogok In Thian-lok dan berusaha
menculik diriku, tujuannya tentu juga resep obat beracun itu," ujar
Cu Bun-hoa sambil mengelus jeng got.
"Bagaimana sikap paman untuk menghadapi persoalan ini?"
tanya Ji-ping.
Cu Bun-hoa naik pitam, katanya gusar: "Biar kupanggil In Thianlok
kemari, akan kutanya dia."
Cukup lama Kun-gi tidak bersuara, sekarang dia menyela: "Cucengcu,
jangan kau menyingkap rumput mengejutkan ular malah."
"Secara berhadapan kutanya padanya, memangnya berani dia
mungkir?" ujar Cu Bun-hoa.
"Bahwa dalam perkampungan ini ada orang yang kena sogok
oleh komplotan itu, mungkin ada mata2 lain pula yang
diselundupkan kemari, jumlahnya tentu tidak satu dua orang saja,
cara-paman benar In Thian-lok mengaku terus terang dihadapan
Cengcu, tapi beberapa mata2 itu tetap. menjadi rahasianya,
bagaimana Cengcu bisa membongkar komplotan jahat itu?"
"Betul ucapan Ling-lote," ujar Cu Bun-hoa, "Ai, sudah puluhan
tahun In Thian-lok menjadi tangan kananku yang terperCaya,
ternyata dia berani menging kariku dan berkomplot dengan musuh,
kalau dipikir sungguh amat mengerikan-"
"Sudah beberapa bulan ibu menghilang, menurut dugaan Suhu,
kemungkinan diapun terculik oleh kawanan Cin-Cu-ling ini, kalau
mereka sudah menyogok In Thian-lok untuk melaksanakan perintah
mut iara itu, terang tujuannya adalah menculik cengcu secara diam2,
cayhe punya pendapat bodoh, entah bisa tidak dilaksanakan?"
Bersinar mata Cu Bun-hoa, katanya. "coba jelaskan
pendapatmu."
"Menurut pendapat cayhe, untuk sementara cengcu tetap berlaku
wajar, anggap tidak tahu apa2, kita balas menipu mereka."
Tangan mengelus jenggot, dengan tajam Cu Bun-hoa tatap muka
Ling Kun-gi, lama dia berdiamdiri,
"cayhe sedikit menggunakan tata rias, biar cayhe menyaru Cucengcu
dan diculik mereka, dengan cara ini sekaligus aku akan
berhasil menyelidiki sarang mereka, akupun akan berhadapan
dengan biang keladi dari perist iwa ini dan mengetahui apa
tujuannya?"
"Baik sekali tipu ini", ujar Cu Bun-hoa.
"Bagi cayhe dapat bekerja menurut keadaan untuk menolong
ibunda, bagi cengcu, secara diam2 dapat mengawasi gerak-gerik In
Thian-lok. supaya semua mata2 yang diselundupkan sini bisa
terjaring seluruhnya."
"Masuk akal," ujar Cu Bun-hoa manggut2, "baiklah kita bekerja
menurut pendapat Ling-lote ini."
"Ling toako, kau menyamar paman masuk ke sarang musuh, lalu
aku?" tanya Ji-ping. "Tugas apa yang kau serahkan padaku?"
"Kau sudah berada di rumah pamanmu sendiri, boleh mencuci
samaranmu. tinggal saja beberapa hari di sini, keadaan Kangouw
sekarang sudah kacau balau, tidak baik kau keluyuran lagi di luar."
"Tidak keadaanku ini tidak ada yang memperhatikan, secara
diam2 aku bisa kuntit mereka dengan leluasa aku bisa mengirim
kabar kepada paman-"
"Ji-ping, jangan kau nakal, tepat ucapan Ling-lote, kau seorang
perempuan, jangan keluyuran saja, tinggal saja beberapa hari di
sini, akan kusuruh orang memberi kabar kepada ibumu."
Dihadapan pamannya, Ji-ping tidak berani merengek dan banyak
bicara lagi.
"Malam ini kukira tidak akan ada kejadian, Ling-lote boleh
menginap di kamar rahasiaku Ji-ping lekas kau cuci muka, ganti
pakaian dan kembali ke belakang.
"Tidak paman, Ling-toako besok mungkin pergi, dia sudah janji
mengajarkan ilmu tata rias padaku, sebelum dia pergi malam ini aku
akan belajar padanya."
"Ilmu rias mana bisa dipelajari semalam saja? Belum terlambat
untuk belajar setelah Ling-lote kembali nanti."
Sudah tentu dia tidak tahu perhitungan Pui Ji-ping, kata nona itu:
"Tidak. malam ini juga aku akan belajar, meski hanya kulitnya saja.
Ling-toako sekarang juga kau ajarkan padaku?"
Apa boleh buat terpaksa Kun gi manggut2, katanya: "Boleh saja,
nanti kuajarkan yang paling gampang dulu."
Pui Ji-ping berjingkrak girang, katanya: "Ling-toako, ajarkan cara
merias seperti keadaanku sekarang ini."
"Kalau belajar, ajaklah Ling-lote ke kamar rahasiaku saja," kata
Cu Bun-hoa.
Dengan keheranan Ji-ping Celingukan, tanyanya: "Paman, di
mana letak kamar rahasia itu? Aku kok tidak tahu?"
"Kamar itu buat latihan kakek luarmu, bibipun tidak tahu. mana
kau bisa tahu?"
"Jadi Piauci juga tidak tahu? Paman, di kamar itu?"
Cu Bun-hoa tersenyum sambil menghampiri rak buku di sebelah
timur, tangan diulur dan sedikit ditekan, dua rak buku yang semula
rapat berjajar tiba2 bergerak pelan2, lalu muncul sebuah pintu di
belakangnya.
Pui Ji-ping menjerit senang sambil tepuk tangan dan segera dia
mendahului menerobos masuk.
"Ji-ping, berhenti" tiba2 Cu Bun-hoa membentak.
Baru tiga langkah Ji-ping bergerak lantas dengar seruan
pamannya, cepat ia berpaling, tanyanya: "Paman, untuk apa kau
memanggilku?"
Cu Bun-hoa melangkah maju, tangannya menekan dua kali di
pinggir pintu, lalu berkata, "Sekarang boleh masuk."
Melihat kelakuan orang, diam2 Kun-gi Membatin: " Kabarnya Cu
Bun-hoa pandai memasang alat2 perangkap. Liong-bin-san-ceng di
mana2 banyak jebakan, orang luar yang tidak tahu seluk-beluknya
jangan harap bisa masuk kemari, tapi sepanjang jalan masuk
bersama Ji-ping tadi sedikitpun aku tidak melihat tanda apa2 di
kamar ini, terang juga dipasang alat jebakan."
Dari meja di sebelah Cu Bun-hoa ambil sebuah lentera yang
terbuat dari tembaga dan diangsurkan kepada Ji-ping, katanya:
"Sulut apinya dan tunjukan jalan bagi Ling-toako."
Pui Ji-ping mengiakan terus menyulut api, katanya: "Mari Lingtoako"
Lalu dia mendahului masuk.
Kun gi segera ikut masuk, pintu di belakang mereka lantas
menutup secara otomatis. Dengan seksama dia mengamati, kamar
ini t idak begitu besar, namun serba rapi dan teratur bersih, sebuah
dipan kayu terukir indah mepet dinding sebelah kanan, kedua
sampingnya masing2 terdapat sebuah meja marmer yang
bergambar indah. Delapan lukisan menghias kedua dinding yang
luas itu, tepat di tengah kamar ada sebuah meja delapan segi
berukir di kelilingi empat buah kursi berpunggung. Sebuah almari
buku ada di sebelah kiri, di atasnya berjajar berbagai barang2 antik,
dilapisan tengah tertaroh botol2 obat, entah obat2 apa karena tiada
keterangan-
Melihat gelagatnya, Ciam-Liong (naga terpendam) Cu Bun-hoa
sering meyakinkan ilmu dan samadi di kamar ini seorang diri.
Dasar nakal, begitu masuk Ji-ping lantas menghampiri dipan dan
berduduk. katanya tertawa:
"Mungkin Gwakong (kakek luar) sering latihan di atas dipan ini,
ukirannya begini indah dan hidup,"
Entah kenapa, mungkin tanpa sengaja, tangannya yang usil telah
menyentuh alat rahasia, tanpa bersuara dipan itu bergeser ke kiri, di
bawah segera tampak sebuah lubang dengan deretan undakan
menjurus ke bawah, kiranya itulah pintu masuk ke sebuah lorong di
bawah tanah.
Karena duduk di atas dipan, Ji-ping ikut tergeser ke kiri, keruan
kagetnya bukan main, lekas dia melompat turun. Mengawasi lubang
gelap di bawah, ia heran dan kaget, katanya: "Toako, mari kita
turun melihatnya."
"Jangan, inilah kamar rahasia pamanmu, lekas kau betulkan ke
tempat semula."
"cuma lihat2 saja, kenapa? Diakan pamanku."
"Setiap orang pasti punya rahasianya sendiri, bibipun tidak tahu
adanya kamar rahasia ini, bahwa dia memberi ijin kita masuk
kemari, pertanda dia percaya pada kita, lalu jangan di luar tahunya
kita mencuri lihat rahasianya? Lekas kau betulkan ketempat
asalnya."
"Aku menyentuh tanpa sengaja, entah bagaimana aku harus
berbuat untuk membetulkan kembali,"
Baru berakhir percakapan mereka, terdengarlah suara Cu Bunhoa
dengan tertawa, "Aku punya rahasia apa? Lorong itu menembus
ke belakang gunung2an palsu di tengah taman sana, dulu waktu
almarhum ayahku latihan suka ber-jalan2 di kamar, jadi tiada
rahasia apa2."
Sebelum dia selesai bicara, dipan itupun bergerak kembali ke
tempat asalnya.
Kun-gi cukup tahu diri, dia tahu banyak perangkap dan alat2
rahasia lainnya dalam kamar ini, terbukti percakapan mereka
didengar jelas oleh Cu Bun-hoa di kamar buku, secara tak langsung
kata2nya telah memberi peringatan supaya mereka tidak sembarang
bergerak atau menyentuh apa2 yang ada di dalamkamar ini.
Maka ia lantas berkata: "Nona Pui, lekaslah kemari, sekarang
juga mulai kuajarkan padamu," lalu dia tarik sebuah kursi serta
berduduk. dari bajunya dia keluarkan kotak bahan2 rias dan ditaruh
di atas meja. Dengan riang Ji-ping lantas duduk di kursi sebelah
kanan Kun-gi.
Kun-gi keluarkan obat cuci yang berwarna madu dan
menyuruhnya mengusap muka sendiri untuk membersihkan
wajahnya. Lalu dimulai ajaran menggambar alis, bagaimana
menebalkan lekuk bibir mata, bagaimana mencampur bahan2 serta
memoleskan ke muka, di sini tebal di sana tipis, sembari memberi
penjelasan sebelah tangan memegang kaca kecil serta bergerak
menggoles2 muka sendiri, begitu jelas dan teliti sekali
penjelasannya.
Otak Ji-ping memang cerdas, sudah tentu sekali dijelaskan dia
lantas tahu, cepat sekali dia sudah mahir juga menggunakan alat
rias itu terus memperagakan diri, wajah sendiri dibuat percobaan
dihadapan Ling Kun-gi, bila ada yang salah Kun-gi lalu memberi
petunjuk. muka dicuci, diulangi sekali lagi.
Mendekati kentongan kedua, pintu kamar di-ketuk orang dari
luar, suaranya lirih. Menurut kebiasaan, setiap malam sebelum tidur
Cengcu Cu Bun-hoa menyuruh pelayan pribadinya membikin sop
sarang burung, Kebiasaan ini sudah berlang-sung beberapa tahun
lamanya, pada hari2 biasa ketukan pintu demikian juga sudah
terlalu biasa, tapi lain dengan malam ini, mendengar suara ketukan
pintu ini, jantung Cu Bun-hoa lantas berdetak tegang.
Sarapan pagi setiap harinya dia makan sendiri di kamar buku ini,
dalam keadaan terang benderang, komplotan penjahat itu jelas
tidak takkan berani turun tangan. Sementara siang dan malam dia
makan bersama isteri dan puterinya di belakang, ada pelayan yang
melayani kebutuhan mereka, musuh terang tiada kesempatan
bekerja. Dan untuk makan malam menjelang tidur ini, selalu diantar
dari belakang, hari sudah larut malam, seorang diri dalam kamar
buku lagi, inilah kesempatan paling baik untuk turun tangan bagi
komplotan itu. Secepat kilat pikirannya bekerja, segera dia bersuara
dengan rendah: "Siapa?"
Terdengar suara perempuan di luar pintu, sahutnya: " Hamba
Kwi-hoa, mengantar bubur sarang burung untuk cengcu."
"Ya, bawa masuk" sera Cu Bun-hoa.
Pintu terbuka, tampak Kwi-hoa membawa nampan warna merah,
di mana tertaruh sebuah mangkok yang mengepulkan bau sedap.
Nampan diletakkan di atas meja, mangkok berisi bubur itu terus
diserahkan kepada Cu Bun-hoa, mulutnya berkata manis: "Silakan
cengcu makan-" Duduk dikursi malas, dengan pandangan tajam Cu
Bun-hoa menatap muka Kwi-hoa.
Kwi-hoa adalah nona yang berusia delapan atau sembilan belas
tahun, gadis ini amat cekatan dan cerdik, perasaannyapun tajam,
terasa olehnya kedua biji mata sang cengcu tengah menatap dirinya
lekat2. Biasanya hal ini tidak pernah terjadi, keruan hatinya kebatkebit,
wajah seketika merah jengah, berdiri di samping dia
menunduk tak berani bergerak.
Sambil mengelus jenggot yang terawat baik, dengan suara
tertekan Cu Bun-hoa bertanya: "Kwi-hoa, sudah berapa tahun kau
bekerja di sini?"
"Sudah tiga tahun," sahut Kwi-hoa lirih.
"Siapa yang membawamu kerja di sini?"
"In-congkoan."
Geram hati Cu Bun-hoa, ternyata memang se-komplotan,
demikian batinnya, lalu tanyanya pula:
"Bagaimana kau kenal dengan In-congkoan?"
"Semula hamba tidak kenal In-congkoan, tiga tahun yang lalu
setelah ayah bunda wafat, tiada orang yang kubuat sandaran,
terpaksa menjual diri sebagai pelayan, kebetulan In-congkoan
lewat, mendengar logat hamba, kiranya kami adalah kelahiran
sekampung, setelah tanya jelas riwayat hidup hamba, baru Incongkoan
membawaku kemari."
Cu Bun-hoa manggut2, tangan membuka tutup mangkok lalu
mengangkatnya, pelan2 hendak menghirupnya .
Kwi-hoa yang berdiri di samping melirik secara diam2, wajahnya
menampilkan rasa senang. Sudah tentu perubahan mimiknya tidak
lepas dari pengawasan Cu Bun- boa, seperti merasa buburnya
terlalu panas, dia urung menghirupnya, lalu ditaruh kembali di atas
meja pula, tanyanya: "Kau yang masak bubur ini?"
"Ya, atas petunjuk Hujin," sahut Kwi-hog.
"Waktu kau membawa bubur kemari, adakah ketemu siapa?"
Sedikit berubah air muka Kwi-hoa, sahutnya: "Ti ....... tiada."
Cu Bun-hoa pura2 mendelik, suaranya kereng: " Waktu kau
membuat bubur, pernah kau tinggalkan sebentar?"
Kwi-hoa mulai kurang tenteram, sahutnya lirih: "Tidak."
Terpentang mata Cu Bun-hoa, katanya: " Kurasa bau bubur ini
rada ganjil."
"Tidak mungkin," sahut Kwi-hoa, berubah air mukanya,
"bahan2nya pilihan khusus, mangkok ini-pun milik cengcu pribadi,
waktu membuatnya hamba tidak lena, mungkin malam ini terlalu
banyak kuahnya, sehingga rasanya agak tawar."
Cu Bun-hoa tertawa aneh, katanya: " Kuahnya terlalu banyak?
Memangnya Lohu tidak bisa mem-bedakan bau bubur sarang
burung?"
"Kalau begitu biar hamba buatkan lagi yang lain," kata Kwi-hoa
takut2.
"Kalau memang kau sendiri yang membuatnya, coba kau saja
yang makan," ujar Cu Bun-hoa.
Kaget Kwi-hoa dibuatnya, ia menyurut mundur, katanya: "Bubur
untuk hidangan cengcu, mana hamba berani memakannya."
"Tidak apa, Lohu suruh kau makan-"
Pucat muka Kwi hoa, suaranya gelisah. "Hamba tidak berani
......."
Cu Bun-hoa menukas dengan suara kereng.-"Berani kau
membangkang kehendak Lohu?"
Mendadak dia melompat bangun, sekali raih dia Cengkeiam
tengkuk Kwi-hoa, tangan kiri menekan dagu orang, mulut
dipepetnya sampai terbuka, semangkok bubuk itu terus dia tuang ke
mulutnya.
Kejadian berlangsung teramat cepat, tidak sempat meronta atau
bersuara sedikitpun, sebagian besar bubur semangkok itu tertuang
masuk perut Kwi-hoa, lekas sekali Hiat-topun tertutuk dan tak
mampu berkut ik lagi.
Pui Ji-ping memang cerdik, hanya sctengah jam, di bawah
petunjuk Ling Kun-gi pelajaran tata rias tingkat pertama sudah
berhasil dikuasainya dengan baik, Kini ia sudah berhasil mengubah
bentuk mukanya menjadi apa saja yang ia kehendaki, sudah tentu
senang hatinya tak terkatakan, hanya suara-nya yang sukar dia
ubah dalam waktu singkat, tapi soal suara tidak begitu penting, asal
jarang buka suara, orang tetap dapat diketahui.
Tanpa mengenal lelah serta sabar Kun-gi terus memberi
penjelasan segala seluk beluk tentang tata rias ini, pertanyaan Jiping
ber-tumpuk2, ada saja persoalan yang dia ajukan.
Pada saat itulah, pintu rahasia yang tembus ke kamar buku tiba2
terbuka, Cu Bun-hoa melangkah masuk sambil mengempit seorang
perempuan di bawah ketiaknya.
Lekas Ji-ping berdiri dan menyongsong maju, tanyanya: "orang
ini ... he, kau kan Kwi-hoa?"
Cu Bun-hoa turunkan Kwi-hoa di atas lantai, wajahnya tampak
serius, katanya: "Tak tersangka komplotan penjahat itu bergerak
begini cepat."
Ji-ping kaget, tanyanya: "Maksud paman Kwi-hoa sekomplotan
dengan musuh?"
"Di dalam bubur dia campur obat bius, untung Lohu sudah siaga,
setelah kupancing lantas kelihatan belangnya, sebelum dia
menyadari apa2 semangkok bubur itu sudah kucekok ke mulutnya,
betul juga dia lantas kelenger."
"Lalu bagaimana paman?" tanya Ji-ping.
"Menurut dugaan Lohu, walau musuh sudah menyelundup di
sekitar kita, sebelum Kwi-hoa keluar, mereka takkan berani
sembarang bertindak, terpaksa kau harus menyaru Kwi-hoa,
bawalah mangkok kosong itu ke belakang, lalu Ling-lote menyaru
Lohu, sesuai dengan rencana kita."
Kun-gi manggut, katanya: "Mau bekerja janganlah membuang
waktu, nona Pui, lekas duduk biar kurias mukamu." Hanya
sepeminuman teh, Kun-gi sudah selesai merias Ji-ping, kini
wajahnya mirip benar dengan Kwi-hoa seperti pinang dibelah dua.
Cepat sekali Ji-ping lucuti pakaian Kwi-hoa terus dipakainya.
Sementara memegangi kaca Kun-gi merias wajah sendiri seperti Cu
Bun-hoa, dengan cepat sekali dia sudah berubah jadi Cu Bun-hoa,
lalu mereka saling bertukar pakaian- Tak lupa Kun-gi simpan Pi-tocu
warisan keluarganya, kantong sulam pemberian Un Hoan-kun
dan pedang pan-dak di dalam bajunya. Cu Bun-hoa mendesak: "J iping,
kau harus lekas keluar."
Mengawasi Kun-gi, berat rasa hati Ji-ping untuk berpisah,
katanya: "Ling-toako, kau akan masuk ke sarang harimau, hati2lah."
"Nona Pui tak usah kuatir, belum setimpal komplotan jahat ini
menjadi perhatianku."
"Lalu di mana kelak aku harus mencarimu?" tanya Ji-ping. Dia
sudah memberanikan diri mengucapkan kata2 ini dihadapan
pamannya. Seorang gadis akan mencari laki2, kemana maksud
tujuannya iapapun sudah mengerti.
"Seorang diri jangan nona keluyuran di Kangouw, kelak setelah
berhasil menolong ibu, pasti aku kemari menengokmu."
Dalam hati Ji-ping berjanji, "Tidak!! aku takkan tinggal di sini, ke
ujung langitpun akan kucari dirimu." Sudah tentu kata2 ini tidak
berani dia ucapkan.
Sudah tentu Cu Bun-hoa dapat meraba perasaan keponakannya
yang sedang kasmaran ini. soalnya waktu amat mendesak, lekas dia
mendesak lagi, "Ji-ping, sudah terlalu lama Kwi-hoa antar bubur ini,
sekarang lekas kau keluar."
Kembali Ji-ping pandang Kun-gi lekat2, lalu dengan langkah berat
ia keluar.
Sambil mengelus jenggot Cu Bun-hoa berpesan: "Ling-lote, kau
cerdik pandai, tentu Lohu tidak perlu banyak pesan lagi, di sini Lohu
menunggu kabar baikmu, semoga kau berhasil menolong ibumu
dengan leluasa, dan jangan lupa kemari lagi memberi kabar, jangan
pula kau bikin telantar maksud baik Ji-ping."
Merah muka Kun-gi, katanya sambil menjura: "Terima kasih akan
perhatian cengcu."
"Maaf, Ling-lote, Lohu tidak mengantar."
Tanpa bicara lagi Kun-gi beranjak keluar, rak buku di
belakangnya segera menutup sendiri. Waktu itu Pui Ji-ping sudah
membawa nampan berisi mangkok kosong keluar kamar.
Pelan2 Kun-gi mendekati kursi malas lalu duduk bersandar,
pelan2 pula memejamkan mata, diam2 dia kerahkan hawa murni
menghimpun semangat.
Entah berapa lama lagi, terdengar langkah gugup mendatangi
dari luar pintu, Lalu terdengar suara serak In Thian-lok
berkumandang di luar: "Lapor cengcu, ada urusan penting akan
hamba sampaikan-" Sudah tentu Kun-gi diamsaja.
Sesaat kemudian, karena tidak mendengar suara cengcu, incongkoan
berkata pula: "Apa ceng-cu sudah tidur?" Dia tahu bahwa
Cu Bun-hoa sudah menghabiskan semangkok bubur, tentu sekarang
sudah terbius pulas, tapi dia tidak berani gegabah, mulut bicara, dia
tetap berdiri dan menunggu di luar pintu.
Begitulah sesaat lamanya lagi baru In Thian-lok pura2 bersuara
heran: "Aneh, Lwekang cengcu amat tinggi, kenapa tak terdengar
suara apa2?"
Kata2nya ini hanya alasan belaka supaya dia dapat mendobrak
pintu masuk ke dalam. Kali ini dia keraskan suara: "cengcu,
cengcu?"
Di sekeliling kamar buku ini sudah terpendam anak buahnya,
betapapun keras suaranya dia tidak takut mengejutkan orang lain
yang tidak bersangkutan. Maka dengan leluasa dia dorong pintu
terus memburu masuk. Sekilas mata menjelajah, dilihatnya Cu Bunhoa
rebah telentang di atas kursi malas.
In Thian-lok pura2 kaget, dengan lagak gopoh ia mendekat ke
depan kursi dan tanya: "ceng-cu, kenapa? Lekas bangun" Lalu dia
raba dahi Cu Bun-hoa, seketika wajahnya mengulum senyum sinis
girang, mendadak kedua tangan bekerja cepat, kesepuluh jarinya
naik turun, bagai kilat delapan Hiat-to penting didada Cu Bun-hoa
telah ditutuknya.
Kun-gi sudah mempersiapkan diri, hawa murni sudah melindungi
badan, seluruh Hiat-to di badan-nya sudah terlindung, sudah tentu
Hiat-tonya tidak mudah tertutuk.
Tapi Cu Bun-hoa yang sembunyi di kamar buku dapat
menyaksikan dengan jelas, sudah tentu dia tidak tahu kalau Kun-gi
sudah meyakinkan hawa murni pelindung badan ini, karuan ia
kaget, pikirnya: "In Thian-lok berasal dari golongan hitam, bekal
kepandaiannya sendiri tidak lemah, selama tahun2 terakhir ini
memperoleh banyak kemajuan lagi atas petunjukku, tingkat
kepandaiannya sekarang sudah mencapai kelas wahid, delapan
tutukan Hiat-to itu amat lihay, meski Ling-lote tidak terbius, setelah
tertutuk Hiat-tonya, tetap dia tak dapat berkutik diantar masuk ke
mulut harimau."
Sementara itu In Thian-lok mendekati jendela sebelah selatan,
kain gordin dia singkap. daun jendela dia buka, lalu mengambil lilin
dan di-gerak2kan tiga kali di luar jendela.
Tidak lama kemudian terdengar suara kesiur angin, sesosok
bayangan orang menerobos masuk lewat jendela. Lekas In Thianlok
menyongsong maju, katanya sambil menjura: "Silakan Houheng"
Orang yang baru menerobos masuk berpakaian hijau bertubuh
tinggi kurus, suaranya dingin: "in-heng menyerahkan orang tepat
pada waktunya, tidak kecil pahalamu." Tergerak hati Kun-gi,
batinnya. "Orang she Hou, mungkin Hou Thi-jiu adanya?"
In Thian-lok tertawa, katanya sambil menuding "Cu Bun-hoa"
yang rebah di kursi malas: "inilah Cu-cengcu, anak buahku sudah
tersebar di sekeliling kamar ini, bagaimana mengangkutnya keluar,
kami tunggu petunjuk Hou-heng."
"Soal ini in-heng tidak usah mencapaikan diri. cuma jalan keluar
perkampungan ini, apakah in-heng sudah mengaturnya dengan
baik?" tanya laki2 baju hijau.
"Hou-heng tidak usah kuatir, semuanya sudah beres," sahut In
Thian-lok.
"Baiklah," ujar laki2 kurus baju hijau, lalu dia membalik ke dekat
jendela, ia bertepuk tiga kali. Tampak dua bayangan orang
melayang masuk. itulah dua laki2 baju abu2, salah seorang
memanggul sebuah karung besar.
Kepada kedua laki2 yang baru datang, si baju hijau berkata
sambil menuding Cu Bun-hoa: "Masukkan dia ke dalam karung."
Kedua laki2 mengiakan, seorang membuka karung dan yang lain
angkat tubuh Ling Kun-gi terus didorong masuk ke dalam karung,
lalu di ikat kencang mulut karung itu.
Kata si baju Hijau: "Kami harus segera pergi, bagaimana keadaan
di sini selanjutnya, tidak perlu kujelaskan bukan?"
In Thian-lok manggut2, sahutnya: "Siaute sudah tahu, Hou-heng
boleh silakan-"
Sibaju hijau memberi tanda kepada kedua anak buahnya terus
mendahului melompat keluar. Gerak-gerik ketiga orang itu ringan
dan gesit, dengan cepat sekali bayangan mereka sudah lenyap di
luar tembok.
Percakapan mereka sudah tentu didengar jelas oleh Ling Kun-gi,
terasa karung dipanggul di atas pundak. dibawa melompat turun
naik, cepat sekali sudah meninggalkan Liong-bin-san-ceng.
Beberapa kejap kemudian, mendadak mereka berhenti. Terdengar
suara orang bertanya di sebelah depan: "Sudah berhasil?"
Maka terdengar penyahutan orang she Hou: "Lapor Kongcu,
sudah berhasil."
Kun-gi membatin: "Hou Thi-jlu memanggilnya Kongcu, itulah
Dian-kongcu atau si baju biru yang berada di Kayhong tempo hari."
"Baik sekali," ujar Dian-kongcu.
Agaknya sambil bicara Dian-kongcu terus melangkah pergi, maka
kedua orang yang memanggul Ling Kun-gi ikut ber-lari2 kencang.
Dari derap langkah orang, Ling Kun-gi menghitung semuanya ada
empat orang. Hanya empat orang berani meluruk ke Liong-bin-sanceng,
menculik "naga terpendam" Cu Bun-hoa, walau mereka sudah
tanam mata2 dan kaki tangan di Liong-bin-san-ceng, tapi
keberanian mereka sungguh luar biasa.
Mereka terus ber-lari2 satu jam lamanya, di-perhitungkan sudah
puluhan li meninggalkan Liong-bin-san-ceng, rombongan empat
orang ini lantas berhenti. Terdengar di pinggir jalan ada suara
rendah menyapa maju: "Kongcu sudah kembali"
Dian-kongcu hanya mendengus, terdengar suara pintu terbuka
dan kerai tersingkap. Dian-kongcu lantas melangkah masuk, kedua
laki2 yang memanggul karungpun menurunkannya ke tanah terus
membuka tutupnya, dua orang baju abu2 menyeret Kun-gi ke atas
kereta.
Kun-gi tetap pejamkan mata, dia pura2 pingsan, biarkan saja apa
kehendak mereka atas dirinya, tapi terasa bahwa ruang kereta ini
cukup lebar, dirinya diseret ke lantai kereta sebelah kanan setelah
itu baru Hou Thi-jiu naik kereta dan duduk disampingnya .
Kereta mulai berjalan- Kusir mengayun pecut, kudapun segera
berlari kencang menimbulkan su-ara gemeretak dari roda2 kereta
yang beradu dengan batu2 dijalanan.
Semakin cepat laju kereta, goncanganpun semakin besar, walau
tidak membuka mata, tapi Kun-gi merasakan bahwa bentuk kereta
ini tentu dibuat khusus dan amat mewah.
Kun-gi tahu kepandaian silat kedua orang majikan dan pelayan
ini amat tinggi, supaya tidak menunjukkan gejala2 yang
mencurigakan, meski kereta tergoncang semakin keras dia tetap
meringkal diam sambil menghimpun semangat. Langkah pertama
untuk menyelundup ke sarang musuh sudah tercapai, ke mana
dirinya akan dibawa, dia tidak usah peduli lagi, maka di tengah jalan
ini, dia tidak perlu main int ip.
Dian-kongcu dan Hou Thi-jiu yang duduk di dalam keretapun
duduk semadi, tiada yang buka suara. Kuda penarik kereta ternyata
berlari kencang sekali.
Tanpa terasa fajar telah mnyingsing, dalam keretapun mulai ada
cahaya, maka Ling Kun-gi lebih hati2 lagi, sedikitpun dia tidak berani
lena.
Lari kereta mulai lambat, akhirnya berhenti dipinggir hutan.
Agaknya sudah ada orang menunggu di situ, terdengar orang
mendekati kereta, katanya dengan laku hormat: "Hamba To Siongkiu
memberi salamhormat kepada Kongcu."
Kepalapun tidak bergerak. Dian-kongcu hanya mendengus saja.
Suara Hou Thi-jiu terdengar dingin:
"Mana sarapan pagi yang kau siapkan untuk Kongcu? Lekas bawa
kemari."
Orang di luar mengiakan, pintu kereta dibuka, dengan laku
hormat dia masukkan seperangkat tenong susun dua. Hou Thi-jiu
menerimanya, orang itu menurunkan kerai terus mengundurkan diri.
Sementara itu, orang lain telah mengganti kuda, sampai pun
kusirnyapun berganti orang, jadi orang dan kuda berganti secara
bergiliran.
Kereta mulai berangkat lagi pelan2. Terdengar suara To Siong-kiu
di belakang: "Hamba tidak mengantar Kongcu, semoga lekas tiba di
tempat tujuan-" Sudah tentu dia tidak memperoleh penyahutan-
Diam2 Ling Kun-gi membatin: "cara kerja orang2 ini ternyata
amat teliti, sampai di suatu tempat tertentu lantas ada orang yang
ganti kusir dan kuda, dengan demikian kereta ini bisa menempuh
perjalanan siang malam tanpa berhenti, cuma entah di mana letak
sarang komplotan ini?"
Hou Thi-jiu sudah membuka tenong berisi makanan, katanya
hormat, "Silakan Kongcu sarapan pagi."
Dian-kongcu buka tutup tenong terus makan minum seorang diri
tanpa bersuara.
Kun-gi yang rebah meringkal sudah tentu juga mencium bau
makanan yang sedap. dari bau harum yang diendusnya, dia
menduga tenong itu berisi makanan daging dan semangkok kuah.
Melihat orang makan, biasanya orang bisa ngiler, apa lagi kalau
perut memang sudah lapar. Walau Kun-gi tidak membuka mata,
namun hidungnya dapat mencium bau makanan, maka perutnya
terasa berontak. laparnya bukan main.
Setelah melayani Dian-kongcu makan selesai, Hou Thi-jiu baru
angkat susun tenong yang lain, diapun makan dengan lahap. habis
makan dia lempar tenong keluar kereta, katanya: "Nanti siang
apakah kita perlu menyediakan makanan untuk Cu-cengcu?"
Sambil duduk semedhi, Dian-kongcu berkata: "Dua belas jam
kemudian baru dia akan siuman."
"celaka," demikian keluh Kun-gi dalamhati.
12 jam baru sadar, itu berarti dia harus kelaparan sehari
semalam.
Kereta terus laju bagai terbang, tengah hari mereka t iba di
sebuah kota, kereta berhenti istirahat di pinggir jalan. Tanpa turun
kereta sudah ada orang mengantar tenong berisi masakan yang
serba lezat, kali ini ada pula sebotol arak wangi.
Bagi kusir juga disediakan makanan tersendiri, dia duduk di
pinggir pohon sambil melalap makanannya, selesai makan mereka
melanjutkan perjalanan pula.
Untuk pura2 semaput orang cukup memejamkan mata dan
meringkal tanpa bergerak. semua ini adalah kerja yang mudah
sekali, siapapun bisa melakukannya. Tapi harus meringkal diam
tanpa bergerak selama sehari semalam dengan posisi sama, itulah
yang tidak gampang. Bagi orang biasa setelah berselang sekian
lama, kaki tangan pasti merasa kesemutan dan pegal linu. Untuk ini
Kun-gi boleh tidak usah peduli.. Lwekangnya tinggi, dengan
memejamkan mata dan menghimpun semangat, darah tetap
berjalan lancar dan leluasa di dalam tubuh, sudah tentu dia takkan
merasa kesemutan dan pegal. Yang paling menyiksa dirinya adalah
perut lapar, sejak malam tadi perutnya tidak di isi barang sedikitpun,
mengendus makanan dan bau wangi arak lagi, sudah tentu
hampir tak tahan dia.
Setelah kenyang dan mabuk Dian-kongcu duduk mendongak
sambil semedhi lagi ditempat duduknya yang empuk dan silir. Kedua
ekor kuda menarik kereta segera angkat langkah pula menempuh
perjalanan-
Hari itu berlalu dengan cepat, dari siang menjadi sore, magrib
berganti malam, dalam sehari semalaman ini, menurut perhitungan
Kun-gi, kereta ini sudah menempuh perjalanan 300-an li jauhnya.
Sejak magrib tadi, jalan kereta sudah bergoncang amat kerasnya,
kereta bergunjing seperti kapal dipermainkan ombak di tengah
lautan, begitu keras goncangannya, terang jalanan yang ditempuh
ini amat jelek dan banyak berbatu, tapi kusir kereta tidak peduli,
cambuknya terus bermain membedal kudanya ke depan-
Terasakan guncangan kereta sedemikian keras, itu menandakan
bahwa kereta sudah membelok memasuki jalan pegunungan dan
sedang menuju ke suatu puncak gunung. Kira2 satu jam lamanya
kereta melewati jalanan yang jelek ini. Kini jalan kereta mulai
tenang dan angler, agaknya melalui jalan datar yang berpasir
karena roda kereta mengeluarkan suara mendesir yang rata.
Mendadak tak jauh di depan sana terdengar seorang
membentak: " Langit mencipta, bumi merencana"
Tergerak hati Kun-gi, pikirnya: "Mungkin sudah tiba di tempat
tujuan, seruan itu terang adalah kode pengenal satu sama lain."
Maka didengarnya Hou Thi-jiu melongok keluar kereta dan
membentak geram: "Keparat yang tidak punya mata, kau tidak lihat
kereta siapa ini?"
Terdengar suara beberapa orang dari kanan kiri jalan: "Hamba
menyambut kedatangan Coh-siancu."
"Bedebah, Kongcu yang ada di sini," bentak Hou Thi jiu gusar.
Orang2 itu kembali munduk2, serunya: "Hamba tidak tahu
kedatangan Kong-cuya, harap diberi ampun-"
Kereta sudah mulai jalan pula. Tak lama kemudian, lari kereta
mulai lambat, kusir kereta melompat turun dengan gesit terus
menyingkap kerai
Dian-kongcu berpaling memberi pesan kepada Hou Thi-jiu:
"Suruh mereka bawa Cu-cengcu ke Hwi-pin-koan ( kamar tamu
agung ) di taman belakang, aku akan menemui Gihu." Sekali lompat
dia turun terus berkelebat pergi.
Hou Thi-jiu juga melompat turun, kepada dua orang laki2 baju
abu2 dia menggapai, katanya:
"Kalian gotong dia ke dalam."
Di saat Hou Thi-jiu melompat turun tadi, Kun-gi sempat
membuka mata sedikit mengawasi keadaan sekitarnya. Ternyata
kereta berhenti di depan sebuah pekarangan besar dari suatu
perkampungan. Perkampungan ini dibangun di antara lekuk gunung,
sekelilingnya dipagari bukit, jelas letaknya diperut pegunungan yang
jauh dari keramaian-
Kedua laki2 itu sudah menghampiri, seorang melompat ke atas
kereta dan mengeluarkan secarik kain hitam, mata Kun-gi
ditutupnya.
Tindakan ini sebetulnya berlebihan, karena orang2 yang diausur
kemari kebanyakan telah kena bius, dalam keadaan semaput, buat
apa harus ditutup matanya lagi? Mungkin inilah aturan mereka,
dengan sendirinya Kun-gi mandah saja apapun yang dilakukan atas
dirinya, dia tetap tak bergerak.
Dengan setengah gendang dan setengah papah, kedua orang itu
menurunkan Kun-gi dari kereta, malah seorang laki2 itu berjongkok,
Kun-gi digendongnya. Mereka ikuti Hou Thi-jiu berjalan ke dalam.
Meski mata tertutup, tapi Kun-gi pasang kuping dengan seksama,
dia membedakan arah, jalan yang ditempuh Hou Thi-jiu bertiga
bukan pintu tengah, mereka mengitar ke kiri di mana ada sebuah
pintu samping. Setiba di depan pintu, laki2 yang lain memburu maju
mendahului Hou Thi jiu mengetuk t iga kali di daun pintu.
"Tek", terdengar suara pelahan, seorang membuka jendela kecil
di pintu, suara serak tua membentak: "Siapa?"
Lekas Hou Thi-jiu mendekat, katanya: "Lo-go, inilah aku Hou Thijiu."
"o", suara serak itu menjadi lunak. "mana tanda buktinya?"
Hou Thi jiu mengeluarkan sebentuk lencana, habis itu baru daun
pintu di buka, suara serak itu mempersilakan mereka masuk.
Dengan langkah lebar Hou Thi jiu bertiga masuk ke dalam, pintu
tertutup pula. Mereka jalan beriring, langkahnya cepat, diam2 Kungi
men-duga2 dari langkah mereka yang putar sana belok ini, bahwa
mereka melewati serambi lika-liku serta beberapa pekarangan,
waktu Hou Thi-jiu seperti sudah tiba di satu tempat, seorang segera
tampil ke depan menggoncang dua gelang tembaga, lalu
mengundurkan diri pula ke belakang.
Waktu daun pintu terbuka, getaran keras terasa di bawah kaki
mereka, ini membuktikan bahwa daun pintu terbikin dari papan baja
yang berat dan tebal. Seorang telah menghadang di tengah pintu,
Hou Thi-jiu maju mengunjuk lencananya pula, baru dia membalik
badan dan katanya: "Serahkan dia padaku"
Laki2 yang menggendang Kun-gi mengiakan terus berjongkok,
dia baringkan Ling Kun-gi di lantai. Dengan kedua tangannya Hou
Thi-jiu menjinjing tubuh Kun-gi, katanya: "Kalian tunggu di sini"
Ia sendiri masuk dengan langkah lebar. Pintu beratpun mulai
tertutup lagi pelan2.
Diam2 Kun-gi membatin: "Begini keras dan ketat penjagaan di
sini, entah di mana letak pusatnya?" Pada saat hati me-nimang2,
terasa angin menghembus silir2, kupingnya lantas mendengar
gesekan dedaunan yang tertiup angin- Agaknya mereka telah
berada di sebuah kebon.
Langkah Hou Thi-jiu amat cepat, jelas dia apal jalanan di sini,
kira2 semasakan air kemudian, hidung Kun-gi mulai mencium bau
harum bunga, bau kembang mawar, seruni dan lain2. Pada saat
itulah baru Hou Thi-jiu menghentikan langkah dan mengetuk pintu
pula. Sebelum daun pintu terbuka terdengar suara merdu bertanya
dari dalam: "Siapa?"
"Inilah cengcu dari Liong-bin-san-ceng, kau harus melayaninya
baik2," kata Hou Thi jiu.
"Baik, bawa dia ke dalam," sahut suara merdu itu. Lalu dia
mendahului melangkah diikuti Hou Thi-jiu.
Kun-gi membatin pula: "Kiranya sudah sampai di Kwi-pin-koan."
seorang membuka daun jendela, suara merdu berkata pula:
"Taruh dia di atas dipan"
Hou-Thi-jiu lantas merebahkan Kun-gi di atas dipan yang
beralaskan kasur empuk.
Suara merdu itu bertanya: "Kapan cengcu ini akan sadar?."
Pertanyaan inipun amat penting artinya bagi Ling Kun-gi.
Didengarnya Hou Thi- hou menjawab: "Kira2 kentongan kedua
nanti."
"O," suara merdu berkata pula, "kini sudah kentongan pertama,
jadi masih satu jam lagi."
Hou Thi-jiu lantas keluar, katanya: "Cayhe mohon diri."
Suara merdu ikut melangkah keluar dan menutup pintu,
sekembalinya dia langsung mendekati pembaringan, kain hitam
penutup mata Kun-gi dia copot, lalu ditariknya kemul untuk
menutupi badan Kun-gi, dari gerak-geriknya jelas gadis ini sudah
terlatih baik menjalankan tugasnya.
Entah apa tujuan mereka menculik Cu Bun-hoa kemari dengan
jalan ber-liku2 sedemikian rupa? Demikian Kun-gi ber-tanya2 dalam
hati, tapi dia tidak berani membuka mata, karena dengan jelas dia
merasakan hembusan napas si gadis tengah berdiri di pinggir
pembaringan, mungkin orang tengah mengamati dirinya, atau
mengamati "Ciam-liong Cu Bun-hoa Cengcu" dari Liong- bin-sunceng.
.
Dengan telentang di atas pembaringan, kelopak matapun Kun-gi
tak berani bergerak, karena gerakan kelopak mata menandakan
bahwa dirinya sudah siuman- Untung hanya sejenak gadis bersuara
merdu ini mengamati dirinya, lalu mengundurkan diri diam2.
Setelah orang sampai di luar dan menurunkan kerai, dia tetap
tidak berani membuka mata. ia selalu ingat pesan gurunya sebelum
berangkat, beliau bilang "Muridku, dengan bekal kepandaianmu
sekarang, tiada suatu tempat di dunia Kangouw yang pantang kau
datangi, cuma berkelana di Kangouw, bekal kepandaian hanya
sebagai cangkingan belaka, yang penting adalah kecerdikan
bertindak dan hati2, ada sepatah kata perlu gurumu berpesan dan
kau harus mengukirnya di lubuk hatimu, yaitu semakin besar
nyalimu, kau harus semakin hati2. Peduli persoalan atau kejadian
apapun yang kau hadapi, kau harus tetep tenang dan waspada."
Sementara itu gadis bersuara merdu tadi sudah berada di luar,
tapi dia tetap rebah tak bergerak. dia sedang mengerahkan tenaga
saktinya, memusatkan seluruh perhatian mendengarkan keadaan
sekelilingnya. Umpama di dalam kamar masih ada orang lain, pasti
suara napasnya bisa didengarnya.
Sepeminuman teh kemudian barulah Kun-gi yakin bahwa di
dalam kamar betul2 tiada orang lain kecuali dirinya, pelan2 dia
membuka mata, walau hanya setengah mengintip saja, tapi dia
sudah melihat jelas keadaan di depannya.
Itulah sebuah kamar tidur yang amat besar, pajangannya serba
mewah, serba antik. Di bawah penerangan cahaya yang rada redup,
semua benda pajangan yang ada di dalam kamar kelihatan indah
menarik. letaknya juga diatur sedemikian dan serasi benar
membuktikan hasil dari tangan seorang ahli pajang kenamaan-
Sekilas pandang Kun-gi lantas pejamkan mata pula, dalam hati ia
me-nimang2 cara bagaimana dia harus menghadapi situasi
selanjutnya nanti? Akhirnya dia berkeputusan dirinya harus teguh
iman, teguh pendirian, berani menghadapi segala perubahan-
Waktu berlalu dengan cepat, sejam telah berselang, langkah lembut
mendatang dari luar pintu, Kun-gi tahu waktunya sudah tiba, ia
tetap rebah di pembaringan, ia pura2 menarik napas panjang
seperti baru siuman dari tidur, dengan suara kereng dia bertanya:
"Siapa di luar? Apa Kwi-hoa? Tidak kupanggil, untuk apa kau
kemari?"
Sembari bicara dia membuka mata. Begitu mata terpentang
segera dia berjingkrak berdiri, ke mana sorot matanya berpancar
seketika dia berdiri tertegun. Dia sengaja berbuat demikian- Sorot
matanya yang tajam menatap gadis baju hijau yang melangkah
masuk menyingkap kerai tanpa berkedip. lalu dengan suara kaget
dia bertanya: "Siapa kau, ini . . . . tempat apa ini? Bagaimana aku
bisa rebah di sini?" sekaligus tiga pertanyaan keluar dari mulutnya,
menandakan kegugupan hatinya yang kaget dan heran-
Gadis baju hijau kira2 berumur 20-an, perawakannya tinggi
semampai, ramping menggiurkan, wajahnya manis dan molek. buah
dadanya menonjol besar, dadanya dihiasi sebuah mainan kalung
besar bentuk jantung hati, semuanya terbuat dari mas murni, dua
kuncir rambutnya yang besar legam menjuntai di kedua sisi
pundaknya.
Gadis ini sudah tentu amat cantik, kecuali cantik juga mempunyai
daya tarik bagi setiap lelaki yang melihatnya. Tangannya menjinjing
sebuah nampan putih, baru saja dia menyingkap kerai melangkah
masuk lantas dijumpainya Ling Kun-gi berjingkrak dengan rentetan
pertanyaan tadi. Dia lantas berhenti di ambang pintu, sepasang
matanya yang jeli menatap Kun-gi sambil tersenyum mekar,
tertampak barisan giginya yang putih rata bagai biji mentimun,
begitu menggiurkan senyum tawanya. Terdengar suaranya nan
merdu mengandung rasa malu: "Cu-cengcu sudah bangun, hamba
Ing jun, ditugaskan meladani Cu-cengcu di sini"
Terasa oleh Kun-gi kakinya menginjak kabut tebal, ia tetap
menatap pelayan yang bernama Ing-jun dan bertanya: "Lekas nona
beritahu, tempat apakah ini? Bagaimana aku bisa sampai di sini?"
Melihat sorot mata Ling Kun-gi yang bersinar mengawasi dirinya
tanpa berkedip. Ing-jun menunduk malu, dia meletakkan nampan di
atas meja di samping dipan, sahutnya:
"Inilah bubur yang hamba sengaja buatkan untuk Cengcu."
"Nona belum jawab pertanyaanku," desak Kun-gi sambil
mengelus jenggot.
Ing jun tetap menunduk. sahutnya, "Tempat kami ini adalah Coat
Sin-san-ceng, Cu-cengcu adalah tamu agung yang diundang Cengcu
kami yang telah lama mengagumimu." Sebagai pelayan yang
ditugaskan melayani tamu, sudah tentu dia pandai bicara.
Coat Sin-san-ceng? Diam2 Kun-gi membatin- "Belum pernah
kudangar nama perkampungan ini di kalangan Kangouw?" Segera ia
tanya pula, "Entah siapa she dan nama besar Cengcu kalian-"
Sedikit angkat kepalanya, sikap Ing jun lebih hormat, sahutnya:
"Cengcu kami she Cek, tentang nama besar beliau, kami sebagai
pelayan tiada yang mengetahui." Jelas dia t idak mau menerangkan.
Tak enak Kun-gi bertanya lebih lanjut, katanya "Lohu ingin
bertemu dengan Cengcu kalian-"
"Betapa sukarnya Cengcu kami mengundang Cu-cengcu kemari
dan dilayani sebagai tamu luar biasa, sudah tentu nanti beliau akan
menjenguk kemari, cuma ......"
"Cuma apa?" desak Kun-gi.
Sekilas bentrok sorot mata mereka, lekas Ing-jun tunduk kepala
pula, katanya lirih: "sekarang sudah kentongan kedua, Cengcu kami
sudah tidur."
Kehadiran Kun-gi di sini mewakili Cu Bun-hoa, sebagai duplikat
orang, tak enak dia banyak omong, apalagi tujuannya menyelidiki
jejak ibunva, maka dia manggut2, katanya: "Baiklah, terpaksa Lohu
tunggu sampai besok pagi batu menemui Cek-cengcu kalian-"
Tiba2 sorot matanya menatap tajam, tanyanya: "Dapatkah nona
jelaskan, cara bagaimana kalian membawa Lohu kemari?"
Lembut suara Ing-jun: "Hamba hanya tahu cengcu kami amat
mengagumi kemashuran Cu-cengcu, maka beliau mengundang Cucengcu
kemari, tentang cara bagaimana mengundangnya, hamba
tidak tahu apa2."
"Baiklah," ujar Kun-gi dengan tersenyum, "segala persoalan
terpaksa kubicarakan besok kalau berhadapan dengan cengcu
kalian-"
"Malam sudah larut, silakan Cu-cengcu dahar dulu sebelum
istirahat," kata Ing-jun.
Memangnya sudah sehari semalam kelaparan, Kun-gi tidak
menolak lagi, dengan lahapnya dia habiskan semangkok bubur
sarang burung itu, semangat seketika berbangkit, rasa lapar tadipun
lenyap.
Dengan muka jengah Ing-jun mendekat, katanya: "Cu-cengcu
silakan istirahat, biar hamba bantu menanggalkan pakaian-"
Melihat wajah orang yang merah malu2 dan hendak membuka
pakaiannya, keruan Kun-gi menjadi kelabakan, katanya gugup: "Tak
usahlah, nona sendiri pergilah tidur."
Mendadak Ing-jun berkata dengan suara pelahan: "obat bius
yang diminum Cu-cengcu semalam tercampur obat racun yang
membuyarkan Lwekang, kekuatan sekarang hanya tersisa tiga
bagian, maka hamba harap cengcu hati2 dan jangan sembarangan
bergerak."
Kun-gi melenggong, katanya sambil mengawasi Ing-jun "Terima
kasih atas kebaikan nona."
Merah pula wajah Ing-jun, katanya lebih lirih: "Hamba lihat cu
cengcu seorang ksatria tulen, makanya berani memberi peringatan,
kalau nasihatku tadi terdengar oleh Cengcu kami, hamba pasti akan
dihukum pancung."
Diam2 Kun-gi tertawa dingin, batinnya: "Yang terang Cengcu
kalian sengaja suruh kau bertingkah demikian-" Tapi lahirnya dia
tetap tersenyum, katanya mengangguk: "Terima kasih nona."
Ing-jun lantas mengambil mang kok serta memberi hormat
kepada Kun-gi, katanya: "Hamba mohon diri," lalu ia menyingkap
kerai dan keluar. Waktu itu kentongan kedua baru saja lewat, saat
paling tepat dan baik bagi setiap pejalan malam. tapi Kun-gi tahu
perkampungan ini pasti terjaga keras, dengan susah payah dan
tersiksa sehari semalam dirinya baru berhasil menyelundup kemari,
sudah tentu dia tidak berani bergerak secara semberono. Maka
setelah Ing-jun mengundurkan diri, iapun kembali rebah di
pembaringan, lampu dia padamkan, terus duduk semadi di atas
ranjang.
oooodwoooo
Karena menyamar sebagai Kwi-hoa, setelah meninggalkan kamar
buku, Pui Ji-ping langsung kembali ke kamar Kwi-hoa terus tutup
pintu. Diam2 dia ambil keputusan dalam hati bila pamannya
diketahui lenyap, seluruh perkampungan pasti akan geger, malam
ini baru saja dia mempelajari ilmu tata rias, maka tiba saatnya dia
sekarang berdandan sebagai laki2, meninggalkan Liong-bin-sanceng
secara diam2 dan secara diam2 pula ia hendak menguntit
musuh.
Tapi pada saat dia siap2 hendak merias diri, di bawah jendela
mendadak seorang bersuara. "Ji-ping, lekas buka pintu"
Ji-ping tahu itulah suara pamannya, sekilas dia melengak,
bergegas dia bereskan bahan2 obat rias terus lari membuka pintu.
Sebat sekali Cu Bun-hoa menyelinap masuk, lalu menutup daun
pintu pula Ji-ping bertanya: "Paman, darimana kau bisa kemari?"
Cu Bun-hoa tersenyum, katanya: "Paman datang dari lorong
bawah tanah, Kwi-hoa sudah mengaku terus terang."
"Apa yang dia katakan? Ke mana mereka hendak membawa
paman?" Sudah tentu yang dia perhatikan adalah Ling Kun-gi.
"Diapun tidak tahu, tugasnya hanya mendesak In Thian-lok
supaya membius diriku dan orang lain akan datang memberi
bantuan," tanpa menunggu Ji-ping bertanya dia melanjutkan pula:
"Waktu terlalu mendesak. paman tidak bisa bicara banyak lagi
dengan kau, lekas kau kembali ke kamar buku, beritahu kepada In
Thian-lok bahwa di dalam kamar buku ada ruangan rahasia, Lokhun-
san milik paman disimpan di kamar rahasia itu, kau boleh bawa
dia ke depan rak buku dan pura2 mencari tombolnya, lalu bawa dia
masuk ke dalam."
Terbelalak mata Ji-ping, tanyanya: "Apa yang dinamakan Lokhun-
san itu?"
"Jangan tanya, bekerjalah menurut pesanku, beritahukan pada In
Thian-lok saja."
"Aku toh tidak tahu cara membuka alat rahasianya."
"Anak bodoh, cukup asal kau pura2 saja, paman akan bantu kau
dari dalam," lalu dia mendesak. "hayolah cepat" Habis berkata dia
tarik pintu lalu menyelinap keluar pula.
Ji-ping tak berani ayal, sekali tiup dia padamkan lampu, dengan
langkah enteng ia lari ke depan- Baru saja dia keluar dari serambi
tengah, dilihat-nya In Thian-lok sedang menimang Cin-Cu-ling
mendatang dengan langkah gopoh. Begitu melihat "Kwi-hoa" segera
dia mengulap tangan, katanya lirih: "Sudah kubereskan semua,
lekas kau kembali ke kamar, tiada urusan nona lagi di sini "
"Tunggu sebentar," kata Ji-ping dengan suara tertahan-In Tianlok
tertegun, tanyanya: "Nona masih ada urusan?"
Berputar biji mata Pui Ji-ping, katanya lirih: "Di sini bukan tempat
bicara, ikutlah aku ke kamar buku." Sekarang dia tahu kedudukan
Kwi-hoa lebih tinggi daripada In Thian-lok. maka sikap dan nada
bicaranya kedengaran dingin dan ketus.
Lekas In Thian-lok mengiakan, tanpa bicara dia putar tubuh
membuka jalan. Cepat sekali langkah kedua orang, sekejap saja
mereka sudah berada di kamar buku. Waktu Ji-ping angkat kepala,
dilihatnya jendela sudah tertutup semuanya, agaknya In Thian-lok
membawa Cin cu-ling hendak memberi laporan kepada Cu-hujin di
belakang. Cara kerja yang dia lakukan sedemikian rapi, kalau
kejadian ini tersiar di kalangan Kangouw, tentu ceritanya adalah
pintu jendela tak terbuka dan pamannya lenyap tanpa bekas.
Dari kejadian ini dapatlah di simpulkan bahwa lenyapnya kepala
keluarga Tong dan Un pasti dilakukan secara berkomplot oleh
orang2 dalam keluarga masing2, demikian pula mata2 sudah
menyelundup ke Siau-lim-si.
Dikala dia meng-amat2i keadaan, In Thian-lok maju setapak dan
katanya lirih: "Ada urusan apa nona, sekarang boleh kau katakan ?"
Kuatir orang mengenali suaranya, maka Ji-ping tahan suaranya:
"Tadi aku lupa memberitahu kepada In congkoan, pa . . . . ." hampir
saja dan menyebut "paman", ia pura2 merandek. lalu ber-kata pula
sambil menghela napas: "Yaitu . . . . " dalam gugupnya timbul
akalnya, suaranya tetap lirih: "Di kamar buku cengcu ada sebuah
kamar rahasia, Lok-hun-san tersimpan di kamar rahasia itu."
"Kamar rahasia?" seru In Thian-lok melongo.
"Kenapa cayhe tidak tahu?" bersinar biji mata In Thian-lok.
tanyanya cepat: "Nona tahu di mana letak kamar rahasia itu?"
"Aku hanya pernah melihat sekali, yaitu . . . ." sembari berkata
dia pura2 mengingat2 sambil mengitari rak buku seperti mencari
apa2, lain menyambung: "Agaknya di sini." Dengan badan
terbungkuk dia meraba dan menekan rak buku, dalam hati dia
menduga2: "Entah paman sudah kembali ke kamar belum?"
Lekas In Thian-lok mendekatinya dan berdiri di belakang Kwi-hoa
samaran Pui Ji-ping, kata-nya lirih: "Sudah puluhan tahun aku ikut
Cu-cengcu, nona baru tiga tahun, tapi sudah berhasil sedemikian
rupa . . . . "
Ji-ping hanya mendengus. Pada saat itulah, terdengar suara
getaran lemah, dua rak buku di depannya mendadak terpisah ke sisi
samping dan muncul sebuah pintu. Dengan pura2 girang .Ji-ping
berseru: "He, kutemukan sekarang"
Mendadak didengarnya suara sang paman dengan ilmu Thoan-im
jip-bit (mengirim gelombang suara ) mengiang dipinggir kuping: "J iping,
suruh In Thian-lok berjalan di depan- Ingat, sedikitnya kau
harus lima kaki di belakangnya, jangan terlalu dekat"
Sementara itu, In Thian-lok sudah mengambil lentera di atas
meja dan menghampiri mulut pintu lalu berhenti, dengan seksama
dia pasang kuping dan lepas pandang ke dalam, tapi kamar rahasia
itu gelap gulita, tiada sesuatu yang dapat dilihatnya. Agaknya dia
juga tahu bahwa Cu-cengcu sangat lihay, malah seorang ahli
pencipta alat2 perangkap. maka ia tidak berani sembarangan
masuk.
Melihat orang ragu2 dan jeri,Ji-ping lantas mengejek dingin: "Incongkoan,
waktu kita terlalu mendesak."
In Thian-lok menyengir, katanya: "Ya, ya, biar cayhe masuk
melihatnya." dalam keadaan begitu, terpaksa dia keraskan kepala
dan melangkah masuk dengan hati kebat kebit.
Ji-ping tertinggal lima kaki lebih dibelakangnya, pelan2 iapun
masuk dan pintu di belakang mereka lantas menutup, Betapapun In
Thian-lok sudah puluhan tahun menjadi pembantu Cu Bun-hoa,
sedikit banyak dia juga tahu tentang segala peralatan rahasia, walau
pintu di belakang mereka menutup tanpa mengeluarkan suara, tapi
nalarnya ternyata sangat tajam, reaksinyapun cepat, sigap sekali dia
membalik tubuh, pintu dari mana tadi mereka masuk kini sudah
menjadi sebuah dinding tebal, entah ke mana letak pintu tadi?
Keruan wajahnya yang kelam itu menjadi semakin gelap. tangan
yang pegang lenterapun gemetar, tanyanya kepada Ji-ping "Nona
yang menutupnya?"
"Tidak." seru Ji-ping pura2 kaget dan gelisah, "aku mengintil di
belakangmu, sedikitpun tanganku tak bergerak."
In Thian-lok terbeliak, katanya: "Tak mungkin, setelah pintu ini
terbuka, tak mungkin menutup sendiri, kecuali di dalam kamar ini
ada orang yang menguasai alat rahasianya."
"Orang ini ternyata licik dan licin," demikian batin Ji-ping, tapi dia
tetap pura2 ketakutan, katanya: "Memangnya ada siapa pula di
dalam kamar ini?"
Serius wajah In Thian-lok. kedua matanya jelilatan mengawasi
sekelilingnya, akhirnya ia berhenti di arah dipan yang terukir indah
itu, bentaknya kereng: "Siapa kau? Lekas bangun"- Di bawah
penerangan lentera yang dia angkat tinggi tampak di atas dipan
rebah celentang kaki seorang, badannya ditutupi kemul tipis sampai
kepalanya sehingga tak diketahui siapa dia?
Memangnya kamar ini gelap. tahu2 melihat sesosok tubuh rebah
kaku berkerudung rapat begitu, sungguh amat menakutkan- Kalau
Ji-ping tidak menduga bahwa yang rebah itu pasti paman-nya, tentu
ia sudah menjerit kaget.
Orang yang rebah itu diam saja tidak bergeming meski sudah
dihardik berulang kali oleh In Thian-lok. Keruan In Thian-lok
semakin murka, katanya geram: "Tuan tidak mau bangun, terpaksa
orang she In tidak sungkan2 lagi." tapi orang itu tetap tidak
bergerak.
Mata In Thian-lok mencorong terang laksana obor ditengah
keremangan, kelima jari tangan kiri menekuk laksana cakar
melintang di depan dada, mendadak dia melompat maju terus
menarik kemul yang menutupi tubuh orang. Seketika pandangnya
yang garang buas terbeliak kaget, tubuhpun tergetar hebat.
Pui Ji-ping yang berada dibelakangnya dapat melihat jelas, orang
yang rebah di atas dipan ternyata seorang perempuan, rambut
panjang awut2an, wajah yang semula putih halus kini sudah
berubah hijau mengkilap. matanya mendelik besar hampir mencotot
keluar.
Warna hijau sebetulnya warna yang kalem indah, warna yang
tidak menakutkan- Tapi kulit muka manusia dan biji matanya mana
ada yang berwarna hijau? Muka hijau yang dilihatnya ini sungguh
menyerupai warna setan yang menggiriskan- Perempuan yang
rebah itu ternyata adalah Kwi-hoa. Sekali pandang sudah dapat
diketahui bahwa dia sudah mati. Mati keracunan-
Belum pernah Ji-ping menyaksikan pemandangan yang seram ini,
kedua kaki seketika menjadi lemas, badan gemetar.
Betapa cerdik In Thian-lok. melihat mayat yang mati keracunan
itu adalah Kwi-hoa, segera ia menyadari ganjilnya keadaan ini,
mendadak dia putar badan menatap Ji-ping, hardiknya bengis.
"Siapa kau?"
Jarak Ji-ping hanya beberapa kaki di belakang, jadi pamannya
sudah memperingatkan supaya dia berdiri saja tanpa bergerak di
tempatnya, segera dia membusungkan dada, dengusnya, "coba
katakan, siapa aku?"
In Thian-lok tidak berani pandang sepele padanya, karena dia
tahu racun yang menyebabkan kematian Kwi-hoa adalah Lok-husan,
racun milik Liong-bun-san yang paling ganas. Bahwa dirinya
dipancing masuk ke kamar rahasia ini, tentu orang sudah punya
cara lihay untuk menundukkan dirinya. Maka iapun tidak berani
mendesak terlalu dekat, tetap berdiri beringas ditempatnya, pelan2
dia menarik napas lalu berkata: "Kau bukan Kwi-hoa"
Belum Ji-ping menjawab mendadak sebuah suara dingin
menanggapi: "Dia memang bukan Kwi- hoa."
Sejak masuk tadi In Thian-lok sudah yakin kecuali orang yang
rebah di pembaringan, kamar ini t iada orang keempat. Kini sudah
jelas bahwa yang rebah dan mati adalah Kwi hoa, ini berarti tiada
orang ketiga yang masih hidup, tapi orang yang menanggapi
kata2nya ini jelas berada di dalam kamar juga, malah selama
puluhan tahun dia sudah sering dan apal mendengar suara orang
ini, tanpa menoleh iapun tahu siapa yang berbicara itu. Dalam
sekejap itu, laksana disamber geledek kepala In Thian-lok, darah
tersirap. dengan gugup dia berpaling ke arah datangnya suara.
Betul juga, di samping almari sebelah kiri sana, entah kapan
tahu2 sudah muncul satu orang. Dia berdiri menggendong kedua
tangan, wajahnya mengulum senyum, namun kedua biji matanya
kemilau dingin, tidak kelihatan gusar, tapi wibawanya cukup
menggetar nyali In Thian-lok yang ditatapnya. Siapa lagi dia kalau
bukan ciam-liong Cu Bun-hoa adanya.
Pelan2 Cu Bun-hoa berkata: "In Thian-lok. apa pula yang ingin
kau katakan?"
Pucat pias seperti kapur wajah In Thian-lok, keringat dingin
gemerobyos, sahutnya membungkuk. "Ampun cengcu ......."
Sebelah tangan mengelus jenggot, tangan yang lain tetap
dibelakang punggung, dingin suara Cu Bun-hoa: "coba terangkan,
siapa yang jadi biang keladi komplotanmu ini?"
"Harap cengcu maklum, karena ceroboh...", sembari bicara
matanya melirik kearah Ji-ping, lalu meneruskan: "Kwi-hoalah yang
menjadi biang keladinya, siapa sebetulnya orang yang berdiri di
belakang layar peristiwa ini hamba juga t idak tahu."
"Kau sudah tahu bahwa anak Ping yang menyamar Kwi hoa,
masih berani kau mungkir menumplekkan dosa kepadanya,"
damprat Cu Bun-hoa, In Thian-lok memang licik dan banyak
muslihatnya, jelas dia saksikan sendiri Kwi-hoa sudah mati dan
rebah di atas ranjang, jawaban itu memang disengaja untuk
mengorek keterangan Cu Bun-hoa siapa sebetulnya orang yang
menyaru jadi Kwi-hoa ini? Semula dia mengira puteri cengcu Cu Yakhim,
sungguh tak diduganya bahwa Pui Ji ping yang menyamar.
Sudah tentu Ji ping juga berguna baginya, karena dia adalah
keponakan Cu-cengcu, asal dirinya berhasil membekuk nona itu
sebagai sandera, dirinya tetap akan bisa lolos dengan selamat. Maka
tanpa terasa ia melirik pula ke arah Pui Ji-ping setelah mendengar
keterangan Cu Bun-hoa.
Lirikan ini diam2 memperhitungkan jarak kedua pihak. jarak Jiping
kira2 ada beberapa kaki, sementara cengcu ada di samping
almari sebelah kiri sana, jaraknya dengan dirinya ada setombak
lebih. Inilah kesempatan baik dan harus menempuh bahaya. Ia
cukup kenal perangai sang cengcu, jelas jiwanya takkan diampuni.
Diam2 ia berpikir cara bagaimana harus mengelabui sang cengcu
untuk secara mendadak menyergap Pui Ji-ping. Maka dengan pura2
gelisah dan jeri, berulang kali dia menjura, katanya: "Sukalah
cengcu dangarkan penjelasaan .... " mendadak tubuhnya berputar
dan melompat kesana menerkamPui J i-ping.
Sergapan ini dilakukan secara mendadak, gerak geriknya cepat
dan gesit lagi, jelas Cu Bun-hoa tidak sempat menolong, sementara
Ji-ping sendiri juga tak menduga bahwa orang bakal menerkam
dirinya.
Tahu2 orang sudah menubruk tiba, keruan kaget Ji-ping tidak
kepalang, secara refleks dia menjerit seraya mundur selangkah,
sementara itu tangan kanan In Thian-lok sudah berada di atas batok
kepalanya.
Pada detik2 gawat itulah mendadak didengarnya Cu Bun-hoa
bergelak tertawa, serunya:
"Anak Ping jangan takut"
Belum lenyap suaranya, terdengar dua kali "trang-trang"
beradunya barang besi. Lekas Ji-ping tenangkan diri, waktu dia
angkat kepala, tampak In Thian-lok yang menubruk ke arah dirinya
itu berdiri tanpa menggunakan kaki, kedua tangannya terbelenggu
oleh dua gelang besi yang tiba2 turun dari langit2 rumah sehingga
tubuhnya terangkat sedikit, demikian pula kedua kakinya
terbelenggu juga oleh dua gelang besi yang timbul dari bawah
lantai, baru sekarang dia sadar kenapa pamannya berseru supaya
dirinya tenang dan tak perlu takut.
Karena kaki tangan terbelenggu dan tak mungkin berkutik lagi In
Thian-lok. katanya sambil menghela napas panjang, "Hamba tahu
diri tidak sepandai cengcu, pantas segala gerak gerikku selalu di
bawah pengawasan cengcu."
Cu Bun-hoa tertawa, katanya: "Kau mengorek keteranganku,
diam2 berniat menyergap anak Ping, kalau maksud jahatmu ini tak
bisa kuraba, memangnya Liong- bin-san-ceng bisa berdiri di
kalangan Kangouw." Setelah menghela napas, ia menambahkan:
"Tapi kalau malam ini anak Ping tidak keburu pulang memberi
kabar, aku toh tetap akan terjebak olehmu."
Terpancar sorot mata aneh dari mata In Thian-lok. tanyanya
sambil mengawasi Ji-ping: "cara bagaimana Piau-slocia bisa
mengetahui?"
Pui Ji-ping tertawa dingin dengan bangga, katanya: "Kalau ingin
orang lain tidak tahu, kecuali awak sendiri tak berbuat. Waktu aku
melihat kelima blok kain katun yang termuat di depan toko Tekhong,
lantas aku tahu kau adanya."
Berubah air muka In Thian-lok. dia menunduk dan tidak bersuara
lagi.
"In Thian-lok," kata Cu Bun-hoa, "sudah puluhan tahun kau
menjadi pembantuku, biasanya kau kerja keras dan setia terhadap
junjungan, tak pernah melakukan kesalahan pula, bagaimana kau
sampai hati timbul niat jahatmu, kalau dipikir sungguh amat
mengecewakan- "
In Thian-lok tetap menunduk tak bersuara.
Berubah kelam air muka Cu Bun-hoa, katanya sambil
menggerung gusar: "orang lain mungkin t idak tahu, tapi kau sudah
puluhan tahun mengikutiku, tentunya sudah jelas tindakan apa yang
harus kulakukan sekarang."
Pucat muka In Thian-lok, katanya. "Selama puluhan tahun
membantu cengcu, hamba banyak menerima kebaikan cengcu,
bukannya hamba berusaha membalas kebaikan ini, tapi malah
membantu dan diperalat orang, memang memalukan hidupku ini,
sekali terpeleset akan menyesal selamanya, biarlah hamba menebus
dosa ini dengan kematian-"
"Mengingat kesetiaanmu selama ini, asal kau mau bertobat, Lohu
akan memberi kesempatan padamu untuk menebus dosa ini."
Sedih tawa In Thian-lok, katanya: "Sudah terlambat, kalau
cengcu katakan hal ini sejak tadi mungkin masih keburu, sekarang
sudah terlambat."
Cu Bun-hoa menatap tajam muka In Thian-lok, tanyanya:
"Katakan, kenapa terlambat?"
"Hamba sudah menelan racun," sahut In Thian-lok.
Guram air muka Cu Bun-hoa, katanya: "Bahwa kau sudi diperalat
orang lain, kenapa tidak mau membantuku malah?"
"Ya, hamba akan menembus kesalahan ini dengan kematian-"
Mendadak Cu Bun-hoa tanya dengan suara bengis: "Siapa pula
mata2 yang berada diperkampungan kita ini?"
Megap2 mulut In Thian-lok, matanya melotot, tapi suaranya tidak
keluar.
Cu Bun-hoa menatap tajam, dari gerakan bibir dan lebarnya
mulut, agaknya In Thian-lok hendak mengatakan "delapan", cepat
dia tanya: "Semua kau yang membawanya kemari?"
Entah dengar atau tidak pertanyaan ini, kepala In Thian-lok
seperti mengangguk sedikit, tapi lantas lertunduk lemas tak
bergerak lagi.
"Paman, dia sudah mat i?" tanya Pui Ji-ping.
Pelahan Cu Bun-hoa menghampiri, ia raba dada In Thian-lok,
katanya manggut: "Ya, sudah mati"
Tiba2 kakinya menggentak lantai, terdengariah suara "cret-cret",
gelang yang membelenggu kaki tangan In Thian-lok tiba2 lepas,
maka tubuh In Thian-lok yang mulai dingin segera jatuh gedebukan
di lantai.
Tanpa bicara lagi Cu Bun-hoa melangkah ke sana, dari dalam
bajunya dia keluarkan sebuah botol kecil warna hijau, dia cukil
sedikit obat bubuk dengan kuku jarinya terus ditaburkan ke muka In
Thian-lok, tepat ke mulut dan hidungnya.
"Paman," tanya Pui Ji-ping, "Budak Kwi-hoa itu juga mati
menelan racun?"
"Dia mengaku bukan komplotan Cin-Cu-ling, maka secara
sukarela dia menuturkan kejadian sesungguhnya, katanya dia dibeli
seorang laki bernama Hoa Thi-jiu, lalu diselundupkan kemari,
tugasnya mengirim kabar keluar, dia minta aku mengampuni
jiwanya, sudah tentu dia takkan menelan racun."
"Jadi paman yang membunuhnya?" tanya Ji-ping.
"Ya, kulihat dia pernah memperoleh gemblengan yang
meyakinkan- seorang agen yang lihay, sudah tentu takkan
kulepaskan dia .... Sekarang lekas kau ikut keluar, kita harus segera
menyamar untuk membuntuti jejak mereka."
Pui Ji-ping berjingkrak senang, tanyanya: "Maksud paman
hendak mengejar jejak Ling toako?"
"Ya, Kwi-hoa dan In Thian-lok tidak mau menerangkan siapa
biang keladi dari komplotan Cin-Cu-ling ini dan dimana sarangnya?
Terpaksa kita kuntit saja jejak Ling-lote secara diam2, setiba di
tempat tujuan, kita bisa memberi bantuan kepada-nya."
"Tapi mereka sudah pergi sejam yang lalu, ke mana kita harus
mengejarnya?"
"Paman sudah suruh orang mengejar membawa anjing secara
diam2, sepanjang jalan ini mereka pasti meninggalkan tanda
pengenal, kenapa takut tak menemukannya? Sekarang kau bersiap2,
aku akan bereskan mata2 yang lain, segera kita akan
berangkat."
"Bagaimana dengan kedua mayat ini, paman?" tanya Ji-ping.
Waktu dia bepaling, seketika dia berseru kaget dan heran, hanya
sekejap saja mayat Kwi-hoa dan In Thian-lok ternyata sudah lenyap.
cairan air darah tampak menggenang lantai.
Cu Bun-hoa berpesan- "Anak Ping, ada satu hal yang harus kau
perhatikan, jangan kau usik Piaucimu, si budak Ya-khim itu juga liar
seperti kau, kalau dia tahu, tentu dia mau ikut."
Ji-ping mengangguk, katanya: "Paman jangan kuatir, aku tidak
akan mengajaknya."
00oodwoo00
Fajar telah menyingsing, baru saja Kun-gi turun dari ranjang,
Ing-jun, si pelayan montok ini sudah masuk membawa baskom,
katanya tertawa sambil mengerling: "Cu-cengcu, silakan cuci muka"
Sebagai tempat penginapan para tamu agung, sudah tentu semua
perabot dan peralatan yang digunakan serba baru.
Inilah hari permulaan Kun-gi datang dengan maksud tertentu,
maka sikapnya tak acuh dan diam2 melihat gelagat saja.
Menunggu Kun-gi selesai cuci muka, segera Ing-jun bertanya:
"Pagi ini cu-cengeu ingin sarapan apa? Hamba akan segera
menyiapkan."
Kun-gi mendapat angin, katanya "Di tempat ini apapun yang
kuinginkan pasti akan disediakan?"
"Demi menyesuaikan selera para tamu yang ada di sini, sengaja
cengcu mengundang koki kenamaan, apapun yang diinginkan para
tamu pasti bisa disediakan," sahut Ing-jun.
Tergerak hati Kun-gi, sambil mengelus jenggot, dia bertanya:
"Dari apa yang barusan nona katakan, jadi tamu2 yang diundang
cengcu kalian bukan hanya Lohu seorang?"
"Hamba juga kurang jelas," sahut Ing-jun tertawa sambil
menutup mulut dengan lengan baju, "beberapa kamar di sekitar sini
memang diperuntukkan tempat tinggal para tamu." Lalu dengan
gerakan menantang dia bertanya pula: "cengcu pesan hidangan
apa, hamba segera menyediakan."
"Licin juga budak ini," demikian batin Kuni-gi, dengan tertawa dia
lantas berkata: "Kalau pagi Lohu suka makan bubur."
Cemerlang biji mata Ing-jun, katanya tertawa, "Bubur selalu
tersedia, hamba akan siapkan pula beberapa lauk-pauk yang lain-"
Lalu dia putar tubuh hendak pergi.
"Tunggu dulu nona," seru Kun gi.
"Hamba Ing-jun, harap Cu-cengcu panggil nama hamba saja,
kalau cengcu dengar hamba di-panggil nona, tentu hamba akan di
caci maki," tanpa menunggu Kun-gi bicara lagi, segera ia bertanya
pula: "Cu-cengcu masih ada pesan apa?"
"Setiap bangun tidur, Lohu punya kebiasaan jalan2 di kebun, apa
aku boleh keluar?"
"Tempat kita ini dikelilingi air, di luar air terkurung gunung lagi,
dalam kebun ada tanaman yang terus berkembang selama empat
musim, panorama sangat permai, sebagai tamu undangan, sudah
tentu Cu-cengcu boleh pergi ke mana saja, nanti kalau Cu-cengcu
kembali ke kamar, hidangan-pun sudah kuantar kemari."
Kemanapun boleh pergi, memangnya mereka tidak takut tamu
agung yang diundang secara paksa ini melarikan diri? Kun-gi lantas
berkata: "Baik, Lohu akan jalan di luar."
Ing-jun menyingkap kerai, Kun-gi lantas melangkah keluar
kamar, kini dia berada di sebuab ruang tamu yang luas dan serba
mewah, pekarangan mungil di luar sana, berderet dan puluhan pot
kembang berbagai jenis sedang mekar semerbak, harum
memabukkan-.
Ing-jun mendahului membuka pintu besar yang bercat merah,
sembari melangkah keluar dia berkata: "Cu-cengcu baru datang,
keadaan di sini masih asing perlukah hamba memberi sekedar
penjelasan?" Lalu dia tuding ke tempat jauh, katanya: "Kebun ini
luasnya ada beberapa hektar, air mengelilingi tempat ini di bagian
timur, selatan dan barat, sebelah utara adalah puncak gunung yang
terjal dan mencakar langit, tepat di sebelah selatan, di mana
bangunan gedung2 bertingkat itu adalah letak dari Coat Sin-sanceng,
cengcu kita bertempat tinggal di sana. "
"Dari Coat Sin-san-ceng kearah timur adalah Hiat-ko-cay. Menuju
ke utara tiba di Kwi-ping-kip. di mana ada lima bilangan, tempat kita
ini adalah bilangan ketiga yang bernama Lan-wan- Dari sini ke
barat, itulah Thian-oe-tong, menuju ke selatan akan tiba di Amhung-
ih, maju lagi adalah Goa-kiam-khek dan Hiat-ko-cay yang
terletak secara berhadapan, tepat di tengah2 ada sebuah gunungan
palsu besar dengan puncak Kok-hun-ting, dari sini dapat melihat
pemandangan di sekitarnya, begitulah kira2 keadaan di sini."
Kun-gi manggut2 ber-ulang2, katanya tersenyum: "Terima kasih
atas petunjuk nona," Lalu dia menyusuri jalanan kecil bertabur
batu2 putih. Taman bunga ini ternyata amat luas, di mana2
pepohonan tumbuh subur dan lebat, teratur dan terawat baik, bau
bunga semerbak, burung berkicau, suasana pagi hari ini sungguh
cerah dan segar.
Berjalan ditengah taman nan indah permai ini, orang akan lupa
segala2nya, memang siapa akan percaya bahwa di tengah2 taman
ini merupakan sumber kekacauan di kalangan Kangouw dan menjadi
pusat komplotan Cin-Cu-ling.
Sedikit banyak Kun-gi sudah mendapat gambaran dari
keterangan Ing jun mengenai seluk-beluk taman ini, pikirnya: "Aku
baru datang, lebih baik kupanjat gunung buatan menuju ke Kekhun-
ting, ingin kulihat denah dari keseluruhan taman ini."
Langsung dia menyusuri jalanan kecil di tengah2 itu. Tak lama
kemudian, betul tiba di depan gunung buatan itu.
Gunung buatan ini dibangun dari tumpukan batu2 yang diuruk
tanah, tak ubahnya seperti bukit2 umumnya, di atas gunung buatan
inipun tumbuh pepohonan, namun yang terindah adalah pohon2
bambu kuning, berbagai jenis kembang juga tumbuh semerbak.
jauh lebih teratur dan terawat, undakan dan jalan liku2 menanjak
tinggi ke atas, untuk membangun gunung buatan yang beberapa
puluh tombak tingginya ini terang menghabiskan biaya dan pikiran
yang tidak sedikit. Tepat di puncak bukit terdapat sebuah gardu,
itulah Kek-hun-t ing, "gardu sekuntum mega".
Dengan berlenggang Kun-gi telah menuju ke atas, lain dengan
gardu umumnya yang berbentuk petak. gardu di sini dipagari kayu2
merah setinggi pinggang yang berbelak-belok. pajangannya cukup
megah, ke arah manapun menghadap. seluruh pemandangan taman
ini dapat terlihat jelas.
Begitu Kun-gi melepas pandangannya, seketika ia berdiri
melongo. Semalam waktu turun kereta, walau kedua matanya
ditutup kain, tapi ketika dia diturunkan oleh Hou Thi-jiu, pernah dia
mengintip sebentar, kereta benar2 berhenti di depan sebuah pintu
gerbang perkampungan- Tapi tempat sekarang dirinya berada
justeru di bangun di tengah pegunungan- Dia ingat lelaki baju abu2
menggendongnya turun kereta, lalu membelok ke kiri masuk pintu
seperti melewati beberapa pekarangan dan rumah baru sampai di
taman belakang. Dari pintu taman yang bersuara berat itu terang
terbuat dari besi tebal, lalu Hou Thi jiu sendiri yang menjinjing dirinya
menyelusuri lorong berbatu ke Kwi-pin koan. Meski tidak
melihat dengan mata terpentang, namun semua itu diingatnya
betul2.
Menurut rekaannya, letak dari taman belakang ini pasti berada
paling belakang dari perkampungan- Karena orang2 yang di
"undang" kemari sudah di bius, malah di dalam obat bius dicampur
obat yang dapat membuat seseorang kehilangan tenaga, betapapun
tinggi ilmu silat seseorang, setelah minum obat itu, kekuatannya
paling tersisa tiga bagian saja dari keadaan biasanya.
Untuk lari melompat pagar tembok yang amat tinggi terang
mustahil, apalagi penjagaan dari jago2 berkepandaian tinggi tentu
juga sangat ketat, yang terang setiap gerak-gerik dirinya tentu
diawasi secara diam2.
Tapi kenyataan yang dilihat dan dihadapi Kun-gi sekarang justeru
berlainan. Apa yang dijelaskan oleh Ing-jun si pelayan tadi memang
tidak salah, taman bunga ini di kelilingi air, hanya bagian utara
berdiri puncak gunung tinggi mencakar langit yang curam dan terjal.
Jadi perkampungan besar sebetul-nya terletak di bagian selatan,
tapi yang dia lihat sekarang hanyalah Coat Sin-san-ceng, di selatan
Coat Sin-san-ceng adalah sungai yang lebarnya puluhan tombak
pepohonan Yang-liu tampak melambai2 di seberang sana, mana ada
perkampungan besar lain?
Jelas semalam kereta berhenti di depan perkampungan dan
dirinya digusur turun, kalau letaknya terpaut sebuah sungai, cara
bagaimana kereta bisa sampai di sini? jelas dirinya melihat
bangunan tembok yang tinggi, pintu gerbang perkampungan begitu
angker, lalu ke mana pula sekarang perkampungan besar itu?
Sejak dirinya masuk kemari sampai sekarang, keadaan dirinya
tetap segar bugar, terang tak mungkin dipindah ke tempat lain-
Begitulah Kun-gi berdiri menjublek di tempatnya.
Waktu dia berpaling ke utara, puncak mencakar langit yang terjal
itu seperti sudah amat dikenalnya, itulah puncak gunung tinggi yang
semalam dilihat berada di belakang perkampungan itu. Dan di sini
letak keanehannya, perkampungan besar itu lenyap. namun puncak
tinggi ini tetap bercokol di tempatnya. Ini membuktikan bahwa apa
yang dilihatnya semalam tentu tidak salah. Hati semakin heran dan
bingung, terasa pula bahwa urusan rada ganjil.
Coat Sin-san-ceng (perkampungan yang lepas dari keramaian
dan kotoran duniawi), nama ini memang tepat dan tidak
berkelebihan, karena tiga bagian sekelilingnya dilingkari permukaan
air yang luas, memang merupakan tempat yang terasing dan
terpencil dari luar.
Tujuan Kun-gi hanya ingin melihat dan memeriksa keadaan
sekeliling, kini keadaan sudah dilihatnya dengan jelas, maka melalui
jalan datangnya tadi dia menuju ke Lan- wanMasih
ada suatu hal yang membuatnya heran, di tempat ini tiada
seorangpun yang dijumpainya, se-akan2 pemilik tempat ini tidak
merasa kuatir, sehingga tidak perlu mengutus orang mengawasi
dirinya secara diam2.
Hal ini malah menambah rasa curiga Ling Kun-gi, dengan susah
payah, menggunakan berbagai daya upaya mengundang para tamu
agung ini kemari, apakah maksud tujuannya?
oo 0dwoo
Lan-wan, sesuai dengan namanya, yang ada di tengah2
lingkungan taman ini seluruhnya adalah bunga anggrek melulu,
ratusan pot2 bunga tersebar dan diatur begitu rapi, terbagi menjadi
kelompok dari berbagai jenis2 yang berlinan, di bawah pot bunga
ditaruh tatakan berisi air bening untuk mencegah semut
menggerogoti akarnya.
Tatkala itu Kun-gi berada di antara deretan rak bunga, sambil
menggendong tangan, dengan seksama dia melihat2 bunga.
Sifatnya bebas dan rileks, se-olah2 dialah tuan rumah dari semua
yang ada di taman ini.
Waktu itu hari sudah menjelang lohor, tampak seorang pelayan
baju hijau sedang mendatangi dari jalanan kecil berbatu krikil sana.
Dari gerak langkahnya yang enteng, sekali pandang orang akan
tahu bahwa pelayan ini memiliki dasar Ginkang yang amat bagus.
Tiba di depan pintu Lan- wan, pelayan itu hanya bicara beberapa
patah kata dengan Ing-jun.
Tampak Ing-jun mengantarnya memasuki taman menuju ke arah
Ling Kun-gi. Tapi Kun-gi pura2 tidak tahu, dengan tekun dia
memeriksa tanaman bunga. Setelah mereka dekat di belakangnya
baru Ing-jun bersuara: "Cu-cengcu"
"o." Kun gi bersuara sekali, pelan2 dia membalik tubuh.
Ing-jun berkata, "cengcu sudah menunggu di ruang depan Jun
hiang ci-ci sengaja diutus kemari untuk mengundang Cu-cengcu ke
sana."
Jun- hiang, pelayan baju hijau, lantas maju selangkah dan
memberi hormat, katanya: "Hamba Jun-hiang memberi hormat
kepada Cu-cengcu."-Gadis pelayan ini ternyata berparas elok
laksana puteri kahyangan dalam lukisan-
Kun-gi manggut2, katanya: "Lohu memang ingin menemui
cengcu kalian, silakan nona menunjukkan jalan-" Jun-hiang
mengiakan, lalu dia mendahului jalan di muka.
Jalan yang menuju ke Coat Sin-san-ceng dari Lan-wan cukup
lebar beralas batu2 gunung, kedua pinggir jalan dipagari tanaman
pohon yang tidak diketahui apa namanya, angin mengembus
sepoi2, dahan pohon sama bergoyang menerbitkan paduan suara
yang mengasyikkan.
Berjalan di belakang Jun-hiang, tiba2 tergerak hati Kun-gi,
batinnya: "Semalam waktu Hoa Thi-jiu membawaku kemari juga
kudengar suara lirih dari gesekan dedaunan pohon, mirip sekali
dengan keadaan sekarang yang kulewati ini, jadi jalan yang menuju
ke kebun kiranya berada di dalam Coat Sin-san-ceng. Ya, kebun ini
dikelilingi air tiga jurusan, Coat Sin-san-ceng tepat berada di selatan
kebun bunga, mungkin sekali harus melalui lorong bawah tanah
untuk keluar masuk, maka pintunya harus menggunakan papan besi
yang berat."
Coat Sin-san-ceng terdiri dari lima lapis bangunan gedung yang
menghadap ke utara tanah-nya luas, bentuknya megah dan angker,
tembok dan pilar2 gedungnya bercat dan terhias dengan berbagai
warna lukisan berbagai corak. hanya di bilangan gedung besar inilah
Kun-gi merasakan adanya gaya hidup kaum persilatan-
Diatas undakan lebar setinggi puluhan t ingkat itu, di samping
empat saka merah besar berdiri empat laki2 yang membusungkan
dada dengan seragam hijau menyoreng golok.
Jun-hiang bawa Kun-gi naik ke atas undakan langsung menuju ke
serambi. Tepat di depan sebuah pendopo besar berdiri seorang
berperawakan sedang berjubah sutera.
Begitu melihat Kun-gi, segera ia bergelak tertawa sambil
menyongsong maju, katanya sambil menjura: "Sudah lama siaute
mendengar nama besar Cu-cengcu, hari ini dapat mengundang
ceng-cu kemari sungguh merupakan kehormatan besar yang tiada
taranya, semalam tak sempat menyambut selayaknya, harap
dimaafkan dan jangan Cu-cengcu berkecil hati"
Orang ini lelaki setengah baya, wajahnya bersih, tulang pipinya
menonjol, sorot matanya tajam, perawakannya sedang, tapi
suaranya keras bergema seperti genta, di antara sikapnya yang
ramah tampak kereng dan berwibawa.
Mendengar nada ucapannya, Kun-gi lantas tahu orang inilah
cengcu dari Coat Sin-san-ceng. Lekas dia balas menjura, katanya
tertawa: "Tuan ini tentunya Cek-cengcu pemilik tempat ini? Beruntung
Siaute bisa berkunjung ke sini."
Berulang kali laki2 jubah sutera membungkuk badan, katanya:
"Tidak berani, Siaute sendiri Cek Seng-jiang adanya."
"Tak pernah dengar seorang tokoh Bu lim yang bernama Cek
Seng-jiang," demikian batin Ling Kun-gi, "kalau dia tidak
menggunakan nama palsu, tentunya karena dia jarang muncul di
kalangan Kangouw." .
Tanpa menunggu Kun-gi buka suara, Cek Seng-jiang berseri tawa
sambil angkat tangan: "Silakan, silakan Harap Cu-cengcu duduk di
dalam."
Di bawah iringan tuan rumah, Kun-gi masuk ke ruang pendopo
yang penuh ukiran ini, dilihatnya tiga orang sudah di tengah ruang
pendopo sana. Ketiga orang ini adalah seorang paderi tua berjubah
abu2, alisnya panjang matanya sipit, usianya sekitar 60, duduk
tegak menunduk kepala, tangannya memegang serenceng tasbih.
Dua orang yang lain adalah kakek berjubah biru, alisnya tebal
matanya lebar, muka persegi kuping besar, jenggot hitam menjuntai
di depan dada, usianya mendekati setengah abad. Seorang lagi laki2
berjubah coklat, wajahnya putih, tubuhnya sedang tapi rada gemuk.
dagunya tumbuh jambang yang lebat, usianya lebih 50 tahun.
Waktu Cek Seng-jiang mengiringi Kun-gi melangkah masuk- sorot
mata mereka lantas menatap ke arah Ling Kun-gi. Dari sorot mata
mereka diam2 Kun-gi tahu bahwa ketiga orang ini sebetulnya
memiliki dasar Lwekang yang tangguh, sayang sinarnya redup
buyar.
Sembari tertawa Cek Seng jiang angkat tangan, katanya: "Cuheng
pertama kali datang, silakan duduk di tempat atas."
Kun-gi tidak sungkan2, dengan sewajarnya dia lantas duduk di
tempat yang di tunjuk. Cek Seng-jiang mengiringi duduk. dua
pelayan segera maju mengisi dua cangkir arak. Sambil mengangkat
cangkirnya Cek Seng-jiang berkata: "Mari, silakan minum"
Setelah minum dan meletakkan cangkirnya, Cek Seng-jiang
lantas berdiri, katanya: "Tuan2 tentunya sudah lama saling dengar
nama masing2, tapi belum pernah berkenalan. Nah, marilah
kuperkenalkan satu persatu. Lalu dia menunjuk Ling Kun-gi,
katanya: "Inilah cengcu dari Liong-bin-san-ceng. Di kalangan
Kangouw mendapat julukan ciam-liong, tentunya, tuan2 bertiga
tidak asing akan namanya."
Lekas Kun-gi berdiri seraya menjura. Ketiga orang yang duduk
segera berdiri juga dan membalas hormat, sorot mata mereka
membayangkan rasa heran dan tidak habis mengerti. Paderi tua
jubah abu2 segera bersabda: "Kiranya cu- tayhiap. sudah lama
Lolap ingin berkenalan-"
Cek Seng-jiang tuding padri tua, katanya: inilah Lok-san Taysu."
Tergetar hati Kun-gi, Katanya: "Kiranya Taysu adalah paderi sakti
Siau-lim-si."
Melihat wajah orang mengunjuk kaget dan heran, tanpa terasa
Cek Seng-jiang mengulum senyum, katanya pula sambil menunjuk
kakek tua berjubah biru: "Inilah Tong Thian-jong, Tong-toako dari
Sujwan-" Lalu dia tunjuk laki2 Jubah coklat pula. "Yang ini adalah
Un It- hong, Un-lauko dari Ling-lam."
"Ketiga orang ini sudah hadir di sini, lalu di mana ibuku? Pasti
berada di dalam taman ini pula," demikian Kun-gi membatin.
Karena pikiran ini, mendadak berubah air mukanya, katanya
dingin menatap Cek Seng-jiang: "Jika demikian, jadi Cek-cengcu
adalah pemimpin Cin-cu-ling yang membikin geger dunia
persilatan?"
Cek Seng-jiang tertawa lebar, ujarnya: "Mana berani, mana
berani. soalnya kawan2 Kangouw tidak tahu duduknya perkara
sehingga timbul salah pahamterhadap Siaute ...."
Kata Kun-gi tegas: "Lalu apa maksud tujuan Cek-cengcu menculik
kami beramai kemari?"
"Cu-heng jangan salah paham," ujar Cek Seng jiang tertawa,
"Sudah lama Siaute mengagumi nama besar kalian berempat,
bahwa para pendekar kami undang kemari adalah untuk
menghindarkan suatu petaka yang bakal menimpa Bu-lim, se-kali2
tiada terkandung maksud2 pribadi, soal ini panjang kalau dijelaskan-
Nah marilah, hidangan sudah tersedia, marilah sambil makan minum
kita mengobrol."
Kun-gi mengemban tugas dari gurunya untuk menyelidiki
peristiwa Cin-Cu-ling, sudah tentu dia tidak boleh bersikap keras
terhadap si tuan rumah, maka sambil mendengus dia duduk kembali
ke tempatnya, walau wajah masih menampilkan rasa gusar, tapi dia
tekan amarahnya. Sikap pura2nya memang tepat, seperti masih
menaruh curiga terhadap Cek Seng jiang, tapi iapun ingin
mendengar penjelasannya.
Dua pelayan mengisi pula cangkir mereka dengan arak. hanya
Lok san Taysu yang minum teh. Cek Seng jiang angkat cangkirnya
lebih dulu, katanya: "Cu-heng tiba diperkampungan kita, demi
keselamatan Bu-lim, Siaute aturkan dulu secangkir arak ini kepada
Cu-heng." Demi keselamatan Bu-lim, tidak kecil arti kalimat yang dia
kemukakan ini.
Setelah hadirin sama mengeringkan cangkirnya, maka
pembicaraan selanjutnya menjurus pada soal pokok. Kun-gi buka
suara lebih dulu: "Tadi Cek-cengcu bilang bahwa Siaute diundang
kemari demi untuk melenyapkan petaka Bu-lim yang sudah ada di
depan mata, bagaimana duduk persoalannya, bolehkah cengcu
menerangkan saja?"
Kembali Cek Seng-jiang tenggak habis secangkir arak. katanya:
"Tanpa Cu-heng tanya juga Siaute akan menerangkan" Setelah
merandek sebentar, lalu ia menyambung: "Soal ini harus dibicarakan
dari diriku sendiri. Keluarga cek kami sebetulnya mengikat
persaudaraan kental sejak beberapa keturunan dengan keluarga Ui,
dulu badanku terlalu lemah, kesehatan sering terganggu, maka
pernah aku menyembah guru kepada Seks-poh Lojin, beliaupun
kuangkat sebagai ayah angkat ...."
Guru Kun-gi memang pernah bercerita bahwa ayah Ui-san
Tayhiap Ban Tin-gak bergelar sekpoh, pada tujuh puluh tahun yang
lalu pernah dijuluki Ui-san-it-kiam,jadi Cek-cengcu ini adalah anak
angkat Sek-poh Lojin.
Sampai di sini Cek Seng-jiang mengawasi Ling Kun-gi, tanyanya:
"Permulaan tahun yang lalu, mendadak kuperoleh kabar bahwa
saudara angkatku telah wafat, tentunya Cu-heng juga dengar kabar
ini. Dia terluka oleh semacam pukulan beracun yang jahat, akhirnya
muntah darah dan meninggal."
"o", Kung-gi pura2 mengunjuk rasa kaget.
"Sebab dari kematiannya itu lantaran dia menemukan suatu
muslihat keji yang bakal menimbulkan malapetaka bagi kaum
persilatan .... "
"Muslihat apa?" tanya Kun-gi pura2 ketarik.
"Pada suatu tempat di sebuah pegunungan yang tersembunyi,
tanpa sengaja saudara angkatku itu menemukan t iga gembong iblis
yang dulu terkenal jahat, telah mendirikan perkumpulan bersama
Sam-goan-hwe, mereka sedang mempersiapkan diri dan mengirim
kartu hitam mencari hubungan dengan gembong2 aliran hitam
secara rahasia ..."
"Kartu undangan hitam?" Kun-gi menegas.
Cek Seng-jiang mengangguk sambil menoleh kepada tiga orang
yang lain- "Betul, di atas kartu undangan hitam itu mereka lumuri
semacam racun, yang amat jahat dan aneh, setiap orang yang
menerima undangan pasti terkena racun, maka mereka harus
tunduk dan menyerahkan jiwa raga sendiri kepada Sam-goan-hwe
untuk menerima obat penawarnya dalam waktu terbatas, kalau
tidak jiwa takkan tertolong lagi."
"Apa tujuan mereka?" tanya Kun-gi.
"Mereka punya dua langkah kerja yang sempurna, pertama,
mengumpulkan semua tokoh2 aliran hitam, supaya menjadi anggota
dan terikat dengan Sam-goan hwe. Langkah kedua, mereka
membuat rencana jangka tiga tahun, semua aliran putih serta
tokoh2 silat siapa saja yang menentang Sam-goan- hwe akan
diracun satu persatu ......"
Setengah percaya setengah curiga Kun-gi mendengarkan cerita
ini, katanya bimbang "Betulkah ada kejadian ini?"
Lok-san Taysu sejak tadi mendengarkan sambil pejam mata tiba2
bersabda Buddha dua kali.
"Mereka telah berhasil menciptakan semacam getah beracun
yang amat jahat, setetes saja orang kena jiwanya pasti melayang,
tiada obat yang dapat menolongnya. Mendengar muslihat keji ini,
tidak kepalang kaget saudara angkatku itu. Maka secara diam2 dia
berhasil mencuri sebotol kecil getah beracun itu, sayang pada saat
dia hendak meninggalkan tempat, jejaknya konangan, sebetulnya
saudara angkatku cukup cerdik, tapi sepasang tangan sukar
melawan empat kepalan, akhirnya dia terkena hantaman Bu-singciang
lawan, dengan membawa luka2 dia melarikan diri."
Sampai di sini dia mengunjuk rasa sedih, katanya lebih lanjut:
"Dia tahu lukanya tidak ringan, tapi mengingat sebotol getah
beracun yang dicurinya ini teramat besar artinya bagi keselamatan
kaum Bulim umumnya, tanpa menghiraukan keselamatan sendiri,
dengan luka parah akhirnya dia- berhasil mencapai tempatku ini,
setelah habis mengisahkan pengalamannya, dia minta kepadaku
supaya getah beracun ini di kirim ke Siau-lim atau Bu-tong.
Mendadak dia muntah darah tak henti2-nya, melihat keadaannya
yang gawat, malam itu juga aku membawanya pulang ke Ui-san,
tapi dia sudah tak bisa bicara, karena tiada obat, akhirnya dia
meninggal."
Hatinya tampak berduka, sesaat kemudian baru menambahkan:
"Sejak pulang dari Ui-san, belum berhasil kuperoleh langkah yang
tepat untuk menghadapi peristiwa ini, pertama lantaran Siaute tak
pernah muncul di Kangouw, umpama botol getah itu kuantar ke
Siau-lim atau Bu-tong, kukuatir ke dua aliran besar itu belum
percaya kepadaku. Kedua botol getah itu diperoleh saudara
angkatku dengan mempertaruhkan jiwa raganya, kejadian
menyangkut seluruh Bu-lim, jiwa ribuan orang, jika ciangbunjin dari
kedua aliran tidak menaruh perhatian, bukankah sia2 saja jerih
payah saudara angkatku itu?"
Kun-gi hanya mendengarkan dengan tenang2, tidak bersuara.
"Oleh karena itu," tutur Cek Seng-jiang lebih lanjut, "kuputuskan
akan mencari sendiri obat penawarnya serta memikul tugas ini,
waktu itu Siaute lantas teringat kepada Ko-hi Ko Put-hwi dari cionglam-
san, dia pandai dan ahli dalam bidang obat2an, julukannya saja
Yok-su (juru obat) tapi Siaute sudah menjelajahi seluruh
pegunungan ciong - lam tanpa menemukan jejak Ko Put- hi,
kudengar dari seorang penebang kayu bahwa Ko Put-hi telah
meninggal dunia tiga tahun yang lalu, maka perjalananku ke conglamitu
hanya sia2 belaka."
Setelah meneguk secangkir arak baru dia melanjutkan ceritanya:
"Kembali dari cong-lam-san Siaute lantas teringat kepada Tongheng
dan Un-heng, yang seorang ahli racun yang lain ahli obat bius,
mungkin mereka mampu menawarkan getah racun itu"
"Terima kasih atas perhatian besar Cek-cengcu, tapi kami berdua
amat mengecewakan ........" Tong Thian-jong dan Un It-hong
bersuara bersama.
"Kedua saudara tidak usah merendah hati, disamping itu siaute
juga teringat kepada Lok-san Taysu dari Siau lim-si yang sudah
puluhan tahun mengetuai Yok-ong tian ...... " demikian sambung
Cek Seng-jiang.
"Pinceng juga amat mengecewakan," ujar Lok-san Taysu.
Cek Seng-jiang tertawa tawar, katanya: "Sudah dengar bahwa
Cu-cengcu dari Liong-bin-san-ceng juga ahli racun ........."
Kun-gi tertawa sambil mengelus jenggot, katanya: "Mungkin Cekcengcu
salah dengar. Dulu ayahku almarhum pernah menolong
seorang tua yang terluka selama t iga tahun sampai sembuh,
sebelum pergi dia meninggalkan secarik resep obat, ayahku dipesan
untuk membuatnya menurut resep itu dan disebarkan tiga li di
sekeliling kampung, kawanan penjahat dapat dicegah menyerbu
kampung kami, tapi sejak ayah meninggal, resep obat itu tak
kutemukan lagi "
Belum habis dia bicara Cek Seng-jiang sudah menyela sambil
goyang tangan: "Cu-heng jangan curiga, tujuanku hanya mencari
penawar getah racun itu, bukan niatku mengincar resep obat itu."
Lalu dia melanjutkan: "Sebetulnya siaute hendak bawa getah itu
dan berkunjung ke tempat kalian berempat, tapi setelah ku-pikir2
lagi, bila perist iwa ini sampai bocor, tentu jiwa siaute bakal menjadi
incaran Sam-goan-hwe, jiwaku tidak jadi soal, kuatirnya kalau getah
racun ini tak kuasa kupertahankan lagi, maka setelah kupikir dengan
seksama, terpaksa kugunakan akal untuk mengundang kalian
kemari, atas kesalahan dan kekasaran mana harap Cu-heng suka
maklum dan memberi maaf," lalu ia memberi hormat kepada Ling
Kun-gi.
Tergerak hati Kun-gi, lekas dia balas hormat, katanya sungguh2:
"Demi keselamatan insan persilatan umumnya, Cek-cengcu berjerih
payah sungguh Siaute amat kagum, memang Siaute ada sedikit
mengenal sifat obat2an, tapi entah dapat tidak membantu kesulitan
Cek-cengcu ini."
Melihat cerita panjang lebarnya berhasil mengetuk hati Cu Bunhoa,
sudah tentu bukan kepalang senang hati Cek Seng-jiang,
katanya ter-gelak2: "Kabarnya getah itu merupakan kombinasi
berbagai racun jahat dari seluruh jagat ini, apakah kita bisa
mendapatkan penawar obatnya itu soal lain, yang terang Thian
punya kuasa manusia punya usaha, asal kita mau berusaha,
umpama tidak berhasil juga tidak mengapa, bahwa Cu-heng sudi
bekerja sama sungguh Siaute teramat senang dan berterima kasih"
"cengcu-jangan terlalu sungkan," ujar Kun-gi. Segera ia bertanya
lagi: "Kecuali kami berempat, entah adakah orang lain yang Cekcengcu
undang kemari?"
Tanpa pikr Cek Seng-jiang menjawab: "Tiada, terhadap soal ini
Siaute amat hati2, memang tidak sedikit ahli racun yang punya
nama di Kang-ouw, tapi kalau aku mengundang mereka semua,
terlalu banyak orang, urusan tentu bisa bocor, oleh karena itu orang
lain t idak kuundang kemari."
Diam2 Kun-gi bertanya dalam hati: "Agak-nya dia tidak membual,
jadi ibu bukan terculik olehnya." Sambil manggut2 iapun berkata:
"Memang betul ucapan Cek-cengcu."
Habis makan, dibawah iringan tuan rumah, mereka keluar dari
coat sin- san-ceng, menyusuri serambi menuju ke timur, berjalan
kira2 seratusan langkah, mereka tiba di Hiat-ko cay. Sesuai dengan
namanya, Hiat-ko-cay adalah kamar buku tempat menyimpan kitab2
kuno, di mana terdapat sebuah ruang tamu dan empat petak kamar
baca. Letak kamar tamu di tengah, pajangannya serba antik, semua
perabot serba ukiran, tata warnanya serasi, dihias lukisan2 kuno
pula di dinding sehingga suasana tampak semarak.
Cek Seng-jiang persilakan para tamunya masuk. lalu katanya
kepada Ling Kun-gi: "Di sinilah tempat kalian bekerja, ruang tamu
ini tempat kalian ist irahat."
"Ruang kerja?" tergerak hati Kun-gi, batinnya: "ruang kerja yang
dimaksud tempat untuk menyelidiki getah racun dan mencari obat
pemunahnya."
Dua pelayan lain berpakaian hijau pupus muncul membawa
nampan berisi masing2 dua cangkir teh.
"Leng hong dan Long-gwat," kata Cek Seng-jiang, "ke marilah
menemui Cu-cengcu ini."
Lekas kedua pelayan itu maju ke depan Ling Kun-gi, sedikit
menekuk lutut dan memberi hormat, sapanya dengan suara aleman,
"Hamba menghadap Cu-cengcu."
"Mereka adalah pelayan yang ditugaskan melayani tamu di sini,"
ujar Cek Seng jiang, "selanjutnya bila ada keperluan apa2 boleh Cucengcu
berpesan kepada mereka."
"Siaute mohon petunjuk Cek-cengcu," kata Kun gi, "bagaimana
keadaan sebenarnya dari cara kerja yang akan kami lakukan?"
"Memang akan kuterangkan," kata Cek Seng-jiang, "tempat
kaliau menginap anggap saja rumah kalian sementara, pagi bekerja
sore kembali, tempat ini hanya khusus untuk menyelidiki racun serta
mencari obat penawarnya. Siaute berpikir kerja ini adalah tugas
luhur dan mulia bagi keselamatan jiwa kaum persilatan umumnya,
padahal getah racun itu adalah racun yang teramat ganas dijagad
ini, supaya kalian bisa saling tukar pikiran, sengaja kami sediakan
kamar ini untuk kalian"
"Mungkin selama kerja kalian ini tidak suka diganggu orang,
maka kami sediakan pula masing2 -kamar untuk bekerja, bukan saja
bisa saling berkunjung, bisa pula menyelidiki secara tersendiri,
semoga mencapai hasil yang gemilang, semua ini demi
kesejahteraan insan persilatan umumnya . "
Kun-gi manggut2, katanya: "Sempurna sekali persiapan Cekcengcu.."
Cek Seng jiang berdiri, katanya: "Kamar Cu-heng adalah yang
pertama di sebelah kanan, mari silakan periksa." Lalu iapun
memberi hormat kepada tiga orang yang lain, katanya: "Taysu,
Tong-heng dan Un-heng boleh silakan-"
Ketiga orang itupun secara balas menghormat lalu
mengundurkan diri masuk ke kamar masing2, Kun-gi coba
mengamati, kamar Lok- san Taysu adalah paling kiri, sementara
kamar Thong Thian-jong ada di belakang sebelah kiri, sedangkan
kamar Un It-hong ada di sebelah kanan bagian depan .Jadi
kamarnya sendiri di belakang kamarnya Un It-hong, seberang
menyeberang dengan kamar Tong Thian-jong.
Cek Seng-jiang angkat tangan, katanya: "Di belakang ruang tamu
ini adalah kamar obat, di sana ada seorang pelayan bernama Hing
hoa yang menguasai dan mengurusnya, semua obat2an yang
diperlukan di sini adalah bahan obat2an yang sengaja siaute
kumpulkan dari berbagai tempat aslinya ......." sembari bicara
mereka sudah memasuki kamar petak seluas dua tombak persegi
ini, tiga sisi ruangan memang dipajang lemari dan rak obat-obatan
Seorang pelayan baju hijau melihat kedatangan cek cungcu dan
Ling Kun-gi segera memapak maju dan memberi hormat.
Cek Seng-jiang mengulap tangan, katanya: "inilah tamu agung
kita Cu-cengcu yang baru saja ku undang kemari."
"Hamba Hing-hoa," pelayan itu menjura kepada Ling Kun-gi,
"terimalah hormat hamba."
Menuding lemari obat2an Cek Seng-jiang ber-kata: "Setiap petak
dari laci yang ada di sini sudah dibubuhi nama2 obatnya, obat apa
saja yang Cu-heng perlukan boleh mengambilnya sendiri atau boleh
juga suruh Hing-hoa mengambilkan, umpama obat2an perlu
digodok. boleh serahkan kepadanya pula, sudah tentu umpama cucengcu
punya cara tersendiri dari warisan keluarga dan tak ingin diketahui
orang lain, boleh silakan kerja sendiri, semua perabot dan
peralatan tersedia lengkap." Dari sini Cek Seng jiang ajak Kun-gi ke
kamar tugas, yaitu kamar di mana dia harus menyelidiki getah racun
itu, setelah memberi penjelasan ala kadarnya, sebelum berialu dia
berkata pula : "Siaute doakan semoga Cu-heng mencapai sukses
yang kita harapkan sehingga petaka yang mengancam jiwa kaum
persilatan dapat kita lenyapkan, mewakili berlaksa jiwa kaum
persilatan Siaute mendahului mengucapkan terima kasih. Nah, Cucengcu
terimalah hormatku."
Lekas Ling Kun-gi balas menghormat, katanya tertawa: "Jangan
Cek-cengcu lupa, Siaute juga se-orang persilatan-"
Cek Seng-jiang tertawa keras, katanya: "Mendengar ucapan Cucengcu
ini, legalah hati Siaute:"
Setelah Cek Seng-jiang pergi, Kun-gi membuka sebuah almari
kecil, di mana tadi Cek Seng-jiang menunjuk sebuah cupu2 kecil
yang berisi getah beracun itu, sebentar dia melongo mengawasi
cupu2 hijau itu lalu dikembalikan serta menutup dan menguncinya
pula. Pelan2 dia mundur lalu duduk kursi malas yang beralas kasur
empuk. terasa nyaman duduk di kursi malas ini.
"Sedemikian sempurna segala keperluan yang disediakan bagi
para tamu yang diundang kemari," demikian batin Ling Kun-gi, "apa
yang dikisahkan Cek Seng-jiang sudah tentu bisa dipercaya, tapi
orang yang diculik kemari bukan dipaksa menyerahkan resep
rahasia dari keluarga masing2, bukan dipaksa untuk membikin
semacam racun jahat lagi, tapi hanya diminta jerih payah kami
berempat untuk menemukan obat penawar dari getah racun itu,
agaknya tiada maksud mencelakai orang, lalu di mana letak
muslihatnya?"
"Kalau tidak mencelakai orang, sudah tentu tak bisa dikatakan
muslihat. Tapi Suhu berpesan sewaktu diriku akan berangkat bahwa
dibalik peristiwa Cin-Cu-ling ini pasti ada suatu muslihat jahat,
supaya diriku menyelidiki dengan seksama. Apa yang dikata guru
tentu tidak akan salah, lalu bagaimana tindakan diriku selanjutnya?"
inilah tugas berat dan rumit yang direnungkan Kun-gi pula..
oooodwoooo
Jilid 7 Halaman 61/62 Hilang
--ganas, dalam jangka satu jam si korban akan semaput
keracunan, setengah jam kemudian, kalau tidak di obati sekujur
badan akan gatal2 dan linu sampai ajal, kalau tidak kepepet,
kularang kau menggunakannya."
"Paman, mana obat penawarnya?" tanya Ji-ping.
"Ada di dalam kantong kulit itu, ditelan dan dibubuhkan pada
luka masing2 cukup satu butir, di samping itu paman juga
menyediakan 120 batang yang lain, tersimpan pula di dalam
kantong itu."
Ji-ping kegirangan, serunya "ibu angkatku memberi satu stel
oow-tiap-piau (piau kupu2 ), ditambah bumbung ini, betapapun
lihaynya musuh tak perlu kutakuti lagi."
Tiba2 Cu Bun-hoa menarik muka, katanya serius: "Seperti Yakhim,
kaupun punya cacat, yaitu tidak tahu tingginya langit dan
tebalnya bumi, betapa banyak orang2 lihay di Bu-lim, memangnya
dengan senjata rahasiamu itu saja lantas boleh sembarangan
bertindak? berkelana di Kangouw yang penting adalah
menyembunyikan keaslian diri sendiri, sedapat mungkin jangan
pamer. "
"Baiklah paman, marilah berangkat," desak Ji-ping.
"Nanti dulu paman juga perlu berdandan ala kadarnya," lalu dia
buka kamar rahasia serta masuk kedalam. Tak lama kemudian dia
sudah keluar mengenakan pakaian ketat dengan mantel segala,
kepala ditutupi topi lebar, wajahnya yang semula putih bersih
mendadak berubah kelam dan tua penuh keriput, jenggot yang
hitam kini menjadi ubananMelenggong
Ji-ping, serunya. "Hah,jadi paman juga pandai
merias diri, selama ini kau mengelabuhi kita semua."
"Ini hanya cara menyamar yang paling gampang, kaum
persilatan umumnya juga bisa, kalau dibandingkan Ling-lote, jauh
sekali bedanya,." ujar Cu Bun-hoa.
Teringat kepada Ling-toako, Ji-ping menjadi gelisah, serunya
mendesak: "Paman, hayolah lekas berangkat"
"Nanti dulu, paman masih ada pesan padamu, setelah
meninggalkan Liong-bin- san-ceng kita tidak boleh jalan bersama,
kau harus di belakangku, kuntitlah aku dari kejauhan, umpama
makan atau menginap di hotel, pura2 tidak kenal saja."
"He kenapa?" tanya Ji-ping.
"Menurut dugaan paman, sepanjang jalan ini mata2 musuh pasti
tersebar di mana?, maka kita harus ber-hati2," sampai di sini dia
menggerakkan tangan- "Baiklah Ji-ping, sekarang kita berangkat,
akan kusuruh mengeluarkan dua ekor kuda"
"Tidak usah paman, waktu datang bersama Ling-toako aku sudah
menambat dua ekor kuda di luar hutan sana."
"Bagus kalau begitu," seru Cu Bun-hoa.
Sinar cemerlang mulai terpancar di ufuk timur, fajar telah
menyingsing. Cu Bun-hoa keprak kudanya ke timur menuju ke Sauthian-
tin.
Orang2 desa ber-bondong2 jalan cepat menuju ke kota, tapi Cu
Bun-hoa tidak masuk kota, sorot matanya bersinar tajam dan melirik
ke arah kaki tembok dari sebuah gubuk reyot, lalu keprak kuda-nya
menuju ke arah barat.
Pui Ji-ping hanya tertinggal setengah li di belakang, tidak lama
setelah Cu Bun-hoa berlalu ia-pun tiba di luar kota Sau-thian-tin
terus menuju ke arah barat pula.
Daerah ini termasuk pegunungan Hoa-san, dengan pegunungan
Pak-say-san dari Tay-piat-san merupakan daerah segi tiga, tiada
tanah datar, aliran sungai bercabang lintang melintang, antara kota
dan kampung hanya dihubungi sebuah jalanan kecil, tiada jalan
raya.
Sebelumnya Cu Bun-hoa mengirim dua anak buahnya membawa
anjing pelacak mengejar dan mengikuti Ling Kun-gi, sepanjang jalan
ini sudah ditinggaikan tanda2 rahasia. Sesuai tanda inilah Cu Bunhoa
menempuh perjalanan-
Kira2 tengah hari dia tiba di Tay-hoat-ping. Dia cukup teliti,
setelah melakukan pengejaran setengah hari ini, akhirnya
ditemukan suatu rahasia olehnya. Yaitu sepanjang jalan yang
dilaluinya ini dia mendapatkan rumput2 liar dipinggir jalan ada
bekas tergilas roda kereta, bekas roda kereta ini menjurus ke arah
yang sama dengan jalan yang harus ditempuhnya ini.
Dalam wilayah ini umum mengetahui hanya ada kereta dorong
beroda tunggal selain gerobak keledai atau menunggang kuda,
jarang yang menggunakan kereta kuda. Darinya ia kuda yang dia
temukan sepanjang jalan ini, dia dapat menganaliaa bahwa kereta
itu ditarik oleh dua ekor kuda.
Terutama diantara kampung dengan kampung banyak
persimpangan jalan, tapi bekas2 rumput tergilas roda itu terus
muncul di depan kudanya, Hakikatnya dia tidak perlu lagi menelit i
tanda2 peninggalan kedua anak buahnya lagi, cukup asal mengikut i
bekas2 roda itu, pasti tidak akan salah lagi.
Maklumlah untuk menculik dirinya (yang disamar Ling Kun gi),
supaya tidak menimbulkan curiga orang lain, jalan paling baik
adalah dimasukan ke dalam kereta yang tertutup.
Dia berhenti dan sarapan di sebuah warung di luar kota. Warung
ini hanya dikuasai seorang laki2 tua, setelah persilakan tamunya
duduk dia antar teh lalu bertanya: "Tuan mau makan apa?"
Cu Bun-hoa minta sekati arak. dimintanya pula sepiring sayur
asin dan kacang goreng, serta satu porsi mi. Baru saja pemilik kedai
mengiakan dan mengundurkan diri, segera Cu Bun-hoa mendengar
suara kelentingan kuda, cepat sekali seekor kuda berlari mendatang
ke warung kecil ini..
Semula Cu Bun-hoa kira Ji-ping telah menyusul tiba, tapi waktu
dia angkat kepala, yang masuk adalah laki2 berbaju kelabu
bercelana biru, golok terselip di pinggang, sebelah tangan
memegang pecut terus duduk di meja dekat jalan, seru-nya ke arah
dalam: "Hai, si tua, lekas beri rumput kepada kudaku, setelah aku
makan akan segera melanjutkan perjalanan. "
Si tua tadi mengiakan sambil munduk2, bergegas dia lari keluar
menyediakan yang diminta.
Sekilas pandang Cu Bun-hoa lantas tahu, laki2 baju kelabu yang
bermuka tirus dan bermata tikus ini adalah orang yang mengamati
gerak-geriknya di Mo-cu-t iam tadi, tadi dia berjongkok di kaki
tembok, kini ternyata berani terang2an me-nguntitnya. Diam2 Cu
Bun-hoa tertawa dingin.
Waktu itu Pui Ji-ping juga sudah datang menunggang kuda, dia
berpakaian pelajar, tangan pegang kipas, langkahnya memang mirip
anak sekolahan, dia duduk di meja tengah, tanyanya: "Tiam-keh,
kalian jual apa? Keluarkan yang enak2."
Pemilik kedai yang sudah tua itu lekas me-nyambut, katanya
tertawa: "Siangkong harap sabar, kami hanya menyediakan sayur
asin, daging rebus, telur pindang juga ada, kacang dan bakmi juga
lengkap. minum ada arak, teh dan wedang kacang, Siangkong
pesan yang mana?"
"Aku minta arak saja, seporsi daging rebus, usus babi dan dua
telur, satu porsi bakmi," demikian pesan Ji-ping.
Diam2 Cu Bun-hoa mengerut kening, pikirnya: "Anak perempuan
juga minumarak segala?"
Pemilik kedai menjadi repot lari kian kemari melayani permintaan
ketiga tamunya, sebentar ke luar, lain kejap berlari ke dapur lagi.
Sembari minum arak. lelaki baju abu2 sering melirik ke arah Cu
Bun-hoa. Kalau dia ini komplotan penjahat, paling2 dia hanya
seorang keroco, maka Cu Bun-hoa anggap tidak tahu, sikapnya
tetap wajar dan makan minum seenaknya.
Tak lama kemudian lelaki baju abu2 sudah kenyang makan
minum, sambil mengusap mulut, dia merogoh uang dan digabrukan
ke atas meja, serunya: "Hai si tua, hitung rekeningnya"
Lekas pemilik kedai memburu datang, katanya: "Semuanya 32
ketip."
Setelah membayar, dengan langkah lebar laki2 itu lantas keluar
menceplak kuda terus dikeprak pergi.
Cepat Cu Bun-hoa juga bayar rekening, kudanyapun dibedal
memburu dengan kencang. Kuda tunggangannya semula milik Ling
Kun-gi, pemberian keluarga Tong, merupakan kuda pilihan yang
larinya pesat, sekejap saja kuda di depannya itu sudah diausulnya.
Waktu menoleh dan melihat Cu Bun-hoa mengejar datang, lelaki
baju abu2 segera pecut kuda-nya supaya lari lebih kencang lagi. Cu
Bun-hoa tertawa dingin, mendadak d ia jepit perut kuda dan kuda
itu segera berlari lebih cepat, tahu2 sudah menyusul beriring
diaampingnya. Secepat kilat Cu Bun-hoa ulur lengan mencengkeram
baju kuduk laki2 itu serta dijinjingnya dari punggung kuda
tunggangannya.
Menghadapi jago lihay seperti Cu Bun-hoa, sudah tentu seperti
kambing berhadapan dengan harimau, kecuali mencak2 dan
meronta, mulutpun ber-kaok2 seperti babi hendak diaembelih,
orang itu tak mampu berbuat apa2.
Begitu Cu Bun-hoa kendorkan kakinya, kuda tunggangannyapun
berlari semakin lamban. Dengan tangkas Cu Bun-hoa lantas
melompat turun, sekilas matanya memandang sekelilingnya,
kebetulan dilihatnya tak jauh di sana ada sebuah batu besar,
dengan tangan kanan menjinjing si baju abu2 dia menghampiri ke
sana. "Blang", laki2 itu dia banting ke atas tanah, saking keras laki2
itu sampai sekian lama hanya menggeliat saja tak mampu bangun.
Terdengar Cu Bun-hoa yang duduk di atas batu bertanya dingin,
"Kenapa kau menguntit aku?"
Laki2 itu meringia kesakitan, katanya: "cayhe tidak tahu apa
maksud perkataanmu?"
Mendelik mata Cu Bun-hoa, desisnya: "Ya, sebentar akan
kuberitahu apa maksudku."
Selagi dia bicara, mendadak laki2 itu melolos golok di
pinggangnya, sembari menyeringai, goloknya terus membacok
kepala Cu Bun-hoa. Gerak-annya ternyata tangkas dan cepat,
"Trang", kembang api terpercik, Cu Bun-hoa yang duduk di atas
batu tetap tidak bergeming, tapi golok itu membacok lewat
disamping badannya mengenai batu.
Keruan sibaju abu2 kaget, dia kira saking terburu nafsu sehingga
serangannya kurang mantap. mendadak dia menghardik,
pergelangan tangan membalik, golok menyamber pula melintang
membabat pundak Cu Bun-hoa. Kali ini dia sudah mengincar betul
baru melancarkan serangan, kalau sampai sasarannya kena, batok
kepala Cu Bun-hoa pasti dipenggalnya putus.
Tapi samberan goloknya hanya mengeluarkan deru angin belaka
tanpa rintangan, itu berarti babatan goloknya mengenai tempat
kosong. . Kini baru dia betul terperanjat, tapi untuk mengerem
gerakannya sudah tak sempat lagi, terasa sejalur tenaga maha
dahsyat tiba2 menindih punggung goloknya terus dibetot keluar
sehingga golok tak kuasa dipegangnya lagi, goloknya mencelat dan
jatuh ke semak2 rumput di kejauhan sana, telapak tangan terasa
linu dan lecet.
Cu Bun-hoa tetap duduk di atas batu tanpa -bergerak. suaranya
kereng dingin: "sekarang mau percaya tidak- jatuh ke tangan Lohu,
mau lari atau adu jiwa hanya sia2, demi jiwamu lebih baik menyerah
dan mengaku terus terang, Siapa suruh kau mengunt it Lohu,
kepada siapa pula kau hendak laporan? Mungkin Lohu akan
memberi ampun padamu"
Si baju abu2 menjublek. sekian lama dia mengawasi dengan
mata mendelong, sesaat kemudian baru tertawa getir, katanya,
"Tiada gunanya kalau cayhe mengaku, jiwaku tetap takkan
selamat."
"Asal kau mengaku terus terang, Lohu pasti akan melindungi jiwa
ragamu."
Laki2 itu menggeleng, katanya: "Percuma, walau ilmu silatmu
tinggi ......"
Mendadak badannya mengejang, terus jatuh tersungkur.
Melihat keadaan orang agak ganjil. lekas Cu Bun-hoa
memeriksanya, setelah berkelejetan sebentar, laki2 itu tak bergerak
lagi, darah kental hitam meleleh dari ujung mulutnya,
Prihatin wajah Cu Bun-hoa, katanya menghela napas: "Bunuh diri
pakai racun, orang2 ini berani mati, tapi tak berani membeber
rahasia untuk cari hidup?" Ia menggeleng dan melompat ke sana
menjemput golok orang lalu menggali liang dan mengubur mayat
laki2 itu, setelah selesai baru meneruskan perjalanan-
Sepanjang jalan ini tanda2 rahasia tinggalan anak buahnya masih
terus dia temukan, jalur bekas roda kereta juga masih kelihatan,
setelah melewati Lui-clok-ho, dia terus maju ke Wan-cui-ho, haripun
sudah petang. Maju lebih lanjut Cu Bun-hoa sudah akan berada di
pegunungan Tay-piat- san-
"Mungkinkah sarang penjahat ada di Tay-piat-san?" demikian ia
membatin.
Di Wan-cui-ho dia cari, sebuah rumah makan, cukup lama dia
berhenti dan menunggu, tapi tidak tampak Ji-ping menyusul datang,
hati sedikit was2 tapi sepanjang jalan ini ia sudah meninggalkan
tanda2 rahasia, si nona pasti akan terus mengikuti jejaknya sesuai
petunjuk tanda2 itu. Maka dia lantas meneruskan pengejarannya ke
depan-
Menuju ke barat lagi jalanan tidak rata, jalan kecil yang harus
ditempuhpun ber-liku2 melingkar di antara pegunungan yang turun
naik, tat-kala itu sudah petang, di antara lebatnya hutan di tengah
pegunungan terdengar gema suara burung kokok beluk yang seram,
namun bagi ciam-liong Cu Bun-hoa yang berkepandaian tinggi,
semua itu bukan soal. cuma sejak keluar dari Wan-cui-ho, sejauh ini
tanda rahasia yang dia harapkan ditinggalkan oleh kedua anak
buahnya ternyata tak kelihatan lagi, keruan ia heran dan mulai
curiga.
Memang untuk meninggalkan tanda rahasia tak mungkin
ditempat yang terang dan menyolok mata, umumnya kalau tidak di
ujung atau di kaki tembok. akar pohon, kalanya di bawah batu atau
tempat yang agak tersembunyi. Kini hari sudah petang, tempat2
yang tersembunyi ini jadi lebih sukar ditemukan-
Tapi ini hanya bagi orang2 biasa, bagi jago silat seperti si naga
terpendam Cu Bun-hoa yang memiliki Lwekang tinggi, walau di
tengah udara gelap. dalam jarak setombak masih dapat dilihat-nya
dengan jelas. Tapi tanda rahasia yang di tinggalkan oleh kedua anak
buahnya yang menguntit kereta pengangkut Ling Kun-gi telah
putus, sementara bekas roda kerota itu masih tetap kelihatan jelas.
Kalau kedaan anak buahnya itu kesasar, ini tidak mungkin,
karena untuk menuju ke barat, sejak dari Wan cui-ho sudah tiada
jalan lain kecuali jalan pegunungan kecil yang melingkar turun naik
ini.
Kembali 20 li sudah ditempuhnya, keadaan jalan semakin
menanjak dan sukar ditempuh. maju lebih jauh lagi dia akan tiba di
Liong-bun-kiu. Liong-bun-kiu adalah sebuah jalan pegunungan yang
sempit dan diapit batu2 cadas yang runcing dan semrawut letaknya,
kecuali pohon2 cemara yang tersebar jarang2, hanya pepohonan
rambat saja yang memenuhi sekitarnya, jalan pegunungan sempit
ini ada lima lijauhnya, setelah keluar dari daerah Liong-bun kin
barujalanan akan kembali agak datar.
Pada saat cu Bun-boa berjalan itulah, agak jauh di depan sana
kelihatan meringkuk segulung benda hitam, lari kudanya cukup
kencang, begitu dia melihat gundukan hitam ini, sementara kudanyapun
sudah berlari dekat, lekas Cu Bun-hoa tarik tali kendali
menghentikan kudanya. Waktu dia mengawasi gundukan bayangan
hitam yang menggeletak ditengah jalan itu, kiranya seekor anjing,
menggeletak tanpa bergerak.
Betapa tajam mata Cu Bun-hoa, sekali pandang dia lantas
mengenali anjing ini adalah anjing pelacak peliharaannya, seketika
dia menjublek. Lalu dia melompat turun, waktu diperiksa anjing ini
sudah dingin kaku, namun seluruh badannya utuh tidak kelihatan
luka apa2, mungkin terpukul mati oleh semacam pukulan lunak yang
maha kuat, atau mungkin juga mati terkena racun jahat.
Bahwa anjing pelacak ini sudah mati, bukan mustahil jejak kedua
anak buahnya pasti sudah konangan oleh musuh, pantas sejak dari
Wan-cui-ho sampai sini dirinya tidak menemukan lagi tanda2 rahasia
peninggalan mereka.
cepat ia Cemplak kudanya lari beberapa tombak ke depan pula,
seekor anjing yang lain ditemukan pula meringkuk di jalan, jelas
nasib anjing yang ini mirip juga kawanannya tadi, maka dia tidak
turun memeriksanya pula. Kuda dia keprak membedal terus ke
depan, jarak lima li hanya ditempuh beberapa kejap saja, akhirnya
dia memasuki mulut lembah, maka dilihatnya dilamping gunung
kira2 tiga tombak tingginya, diatas pohon cemara kanan kiri
masing2 menggelantung sesosok tubuh.
Waktu Cu Bun-hoa mengawasi, siapa lagi kalau bukan kedua
Centingnya yang dia suruh mengunt it jejak musuh? Kedua tangan
mereka menjulur turun, kontal-kantil tertiup angin malam tanpa
meronta lagi, jelas jiwa merekapun sudah melayang.
Sudah tentu tidak kepalang gusar Cu Bun-hoa, dada terasa
hampir meledak. dua anjing dibunuh dan dibiarkan menggeletak di
tengah jalan, kedua centingnya juga dibunuh dan digantung di atas
pohon, jelas musuh sengaja hendak pamer kekuatan dan
merupakan ancaman terhadap dirinya.
Cu Bun-hoa kerahkan tenaga murni, sekali jejak dengan gaya
ciam-Liong-siang thian (naga terpendam naik ke langit), dia
melompat tinggi ke atas dari punggung kudanya, di tengah udara
dia melolos pedang meluncur ke kiri, dimana pedang berkelebat, tali
pengikat jenazah orang telah di babat putus, Dengan enteng
kakinya menutul dinding gunung, badannya melambung miring ke
sebelah kanan, di mana pedangnya bekerja, tali yang mengikat
jenazah disebelah kananpun dia tusuk putus, lalu dia anjlok ke
bawah. Gerakannya tangkas dan cepat luar biasa, waktu dia
menginjak tanah baru terdengar suara "bluk", mayat kedua
centingnya juga berjatuhan pula.
Kuda tunggangannya itu memang kuda pilihan dari keluar Tong,
begitu merasakan penunggangnya meloncat ke atas, segera dia
berhenti sendiri tanpa diperintah, agaknya kuda ini memang sudah
terlatih baik sekali.
Cu Bun-hoa simpan kembali pedangnya, dengan seksama dia
periksa keadaan mayat kedua centing, kematian mereka mirip
dengan kedua ekor anjing itu. tiada bekas luka apa2 yang
ditemukan- -cuma kulit anjing tumbuh bulu rada sukar diperiksa,
tapi kulit muka kedua centing ini berwarna kelabu, jelas mereka
mati oleh pukulan semacam Tok-sat-ciang yang lihay dan beracun,
kadar racun menyerang jantung, maka jiwapun melayang.
Di tempat itu juga dia kubur kedua centingnya, mulutnya berkata
lirih: "Lohu akan menuntut balas bagi kematian kalian-" Segera dia
cemplak kuda dan dibedal ke mulut lembah.
Sejak keluar dari lembah sempit, timbul kewaspadaan Cu Bunhoa,
matanya menjelajah dengan teliti keadaan sekitarnya, tanah
berumput yang luas dan datar tampak sunyi di tengah kegelapan,
tapi bayangan orang tampak berdiri di sana.
Semuanya ada empat orang, tak bersuara dan tak bergerak.
empat orang berseragam hitam, mereka seperti empat pucuk
pohon, se-olah2 dirinya sudah terkepung di antara mereka .Jelas
keempat orang inilah pembunuh kedua anjing dan kedua centing
nyaitu, dari posisi mereka berdiri, agaknya memang sedang
menunggu kedatangan dirinya.
Agaknya mereka sudah memperhitungkan dengan cermat,
sekeluar dari lembah dirinya pasti akan menghentikan kuda di
tengah tanah berumput yang lapang ini, maka posisi berdiri mereka
tepat mengepung sehingga dirinya tidak diberi kesempatan untuk
meloloskan diri.
Sudah tentu belum tentu Cu Bun-hoa punya niat melarikan diri.
Keempat orang itu mengenakan jubah hitam yang kedodoran, dan
yang lebih aneh lagi, mereka sama memiliki wajah yang kaku
dingin, tak ubahnya muka mayat hidup. Mereka sama menjulurkan
tangan ke bawah, berdiri kaku seperti tonggak kayu.
Tampaknya mereka tidak membekal senjata, tapi dari punggung
kuda Cu Bun-hoa dapat melihat jelas keempat orang tengah
mengumpulkan semangat, mata merekapun berkilauan ditempat
gelap. kepandaian keempat orang ini agaknya tidak kepalang
lihaynya. Ginkang merekapun tidak lemah. Di kala Cu Bun-hoa
mengawasi mereka, serentak keempat orang jubah hitam itu
melangkah ber-sama menghampiri, kira2 setombak disekitar dirinya
baru berhenti.
Sudah tentu Cu Bun-hoa pandang enteng keempat musuhnya ini,
dengan Celingukan seperti melihat suatu benda aneh layaknya, dia
berkata: "Kalian mencegat jalan Lohu, apa maksud kalian?"
Terdengar orang yang tepat di depannya bersuara dingin: "Tua
bangka, turunlah kau."
Cu Bun-hoa menjawab: "Lohu masih akan meneruskan
perjalanan, kenapa harus turun?"
"Karena kau sudah sampai akhir jalanmu," ketus suara orang itu.
Sambil mengelus jenggot, Cu Bun-hoa terseyum, katanya:
"Kukira kalian keliru, ke utara aku masih bisa sampai Say-gong-kiu,
ke barat bisa mencapai ceng-thay-koan, kenapa kau bilang sudah
sampai di akhir jalan?"
"Maksudku kau sudah mencapai akhir hidupmu," jengek laki2
jubah hitam.
Cu Bun-hoa ngakak sambil menengadah, katanya: "Kalian sendiri
belum mencapai akhir hidup kalian, bagaimana tahu kalau Losiu
sudah mencapai akhir hidup?"
Tajam dingin sorot mata orang itu, dengusnya: "Nada dan sikap
bicara tuan kelihatan bukan kaum keroco, sebutkan namamu."
"Di kalangan Kangouw ada pameo yang bilang, di atas langit
masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai. Siapa nama
Lohu, biar kukatakan juga kalian tidak mengenalnya"
orang di depan ini agaknya pemimpin rombongan, katanya
sambil menyeringai: "Tuan memang bermulut besar, entah
bagaimana bekal kungfumu?"
"Kalian mencegat dan mengelilingi Lohu, tentu ada maksud turun
tangan, kenapa tidak lekas coba saja?" tantang Cu Bun-hoa.
Menyipit mata orang itu, jengeknya: "Sekali kami turun tangan
jiwamu pasti tamat, hanya ada satu cara untuk menghindari
kematian atau luka2 parah."
"cara apa?" tanya Bun-hoa.
"Kutungi sendiri sebelah lenganmu, lalu ikut kami menemui
Thian-su."
"Thian-su (utusan langit)?" tergerak hati Cu Bun-hoa. "Siapakah
Thian-su kalian?"
"Setelah kau tabas lenganmu, ku bawamu menemui beliau."
Lantang gelak tawa Cu Bun-hoa, ujarnya: "Suruhlah Thian-su
kalian menemuiku di sini saja."
Orang berjubah hitam sebelah kiri menggeram gusar, teriaknya:
"Jangan membual, tua bangka. Tak perlu kita membuang waktu
lagi, ringkus dia saja"
Cu Bun-hoa pandang sekelilingnya, katanya dengan tersenyum:
"Hanya kalian berempat saja, mampukah meringkus Lohu?"
"Berani kau memandang enteng kami?" bentak orang di sebelah
kiri. Mendadak dia melompat maju seraya ulur tangan diri, secepat
kilat pundak Cu Bun-hoa dicengkeramnya.
Di atas kudanya terasa oleh Cu Bun-hoa Cengkeraman orang
setajam pisau sekuat tanggam, keruan ia heran, batinnya: "Senjata
apa yang dia gunakan?" - otak bekerja, sementara tangan kanan
sudah melolos pedang terus membabat pergelangan tangan lawan-
Gerakan pedangnya sungguh secepat kilat, maka terdengar suara
"trang", dengan telak pedangnya membabat pergelangan tangan
lawan, tapi tangan orang sedikitnya tidak terluka, malah
mengeluarkan suara keras nyaring dan memercikkan kembang api.
Sudah tentu terkesiap hati Cu Bun-hoa, tapi orang berjubah
hitam itupun terpental oleh getaran pedang Cu Bun-hoa. Tapi pada
detik lain, ketiga orang yang lain juga bergerak bersama, serentak
mereka menubruk maju.
Cu Bun-hoa belokkan kudanya, pedang berputar sekeliling
menciptakan tabir sinar kemilau, maka terdengarlah suara "trang,
tang, tang," tiga kali secara berantai. Sekali gerak dia berhasil
menangkis tiga serangan musuh, tapi tangan sendiri yang
memegang pedang juga terasa kesemutan- Kini baru dia jelas
bahwa tangan keempat orang ternyata semuanya dipasang lengan
besi. Semakin kaget dan heran hatinya: "Ilmu silat keempat orang
ini amat tinggi, entah dari aliran mana? Belum pernah terdengar
jago silat menggunakan tangan besi di tangan kirinya di kalangan
Kangouw."
Tatkala pikirannya bekerja, pada saat lawan terpental mundur,
iapun sudah melompat turun dari kudanya serta menepuk sekali
pantat kuda. Begitu kaki menancap di tanah, Cu Bun-hoa lantas
bergelak tertawa, katanya: "Kalian mau main keroyok. nah, majulah
bersama."
Keempat orang berjubah hitam agaknya tidak mengira bahwa tua
b angka tak ternama ini ternyata memiliki lwekang dan kepandaian
tinggi, walau wajah mereka membesi kaku tidak menampilkan
perasaan, tapi sorot mata mereka tak urung meng- unjuk rasa kaget
dan melenggong, sekilas mereka saling pandang dan tidak lantas
turun tangan pula.
"Sebetulnya tuan dari kalangan mana?" tanya si jubah hitam
sebelah depan-
"Lohu sendiri juga ingin tanya kalian?" balas Cu Bun-hoa tak
acuh. .
"Jadi tuan tidak mau perkenalkan diri?"
"Kalian toh tak mau memperkenalkan diri?"
"Tuan harus tahu, bukan kami gentar terhadap-mu, soalnya kami
perlu tahu siapa tuan, baru akan bertindak. menamatkan jiwamu
atau membekukmu hidup,hidup,"
"Kalau begitu boleh silakan turun tangan," ujar Cu Bun-hoa
tertawa tawar.
Pemimpin berjubah hitam itu angkat sebelah tangan, matanya
yang mencorong memandang ke-tiga kawannya, lalu berkata
dengan suara berat, "Baik, kalian dengar, tak peduli mati atau
hidup, ganyang dia" Belum habis bicara dia sudah mendahului
menubruk maju, laksana kilat tangan kirinya mencengkeram tiba.
Tiga orang berjubah hitam yang lain serempak beraksi pula dengan
menubruk maju.
Cu Bun-hoa bergelak lantang panjang, sebat sekali pedangnya
melingkar bundar, segera ia kembangkan ilmu pedangnya dan
meluruk sengit ke-empat lawannya.
Cu Bun-hoa, naga terpendam yang berkuasa di daerahnya sendiri
memang memiliki kepandaian yang mengejutkan sekali dan tidak
bernama kosong, pedangnya bergerak laksana naga sakt i yang
lincah dan gesit, cahaya dingin yang memancar dari batang
pedangnya se-akan2 menaburkan bintik2 sinar kemilau ke delapan
penjuru angin.
Karena dia jarang berkelana di Kangouw, maka keempat
musuhnya jadi sukar dan belum dapat menyelami jalan ilmu
pedangnya, betapa tinggi kepandaian keempat orang ini dibuat
keripuhan juga, tapi kepandaian keempat orang ini memang juga
aneh, apalagi lengan kiri mereka semua terpasang lengan baja,
kelima jari bagai cakar tidak takut segala senjata tajam, walau
sementara Cu Bun-hoa berada di atas angin, namun dalam waktu
singkat terang dia tidak akan mampu merobohkan atau melukai
lawan- Dengan cepat 20 jurus telah berlalu. Mau tak mau Cu Bunhoa
mencelos juga hatinya, batinnya: "Kepandaian silat keempat
orang ini terhitung kelas wahid di kalangan Kangouw, permainan
merekapun berlainan satu dengan yang lain, kenapa sama2
mengutungi lengan sendiri serta menggantinya dengan tangan
besi?"
Pada saat itulah, tiba2 dari kejauhan berkumandang sebuah
bentakan keras: "Kalian berhenti" Bentakan ini bergema laksana
bunyi genta, lembah pegunungan serasa bergetar oleh bentakan
keras ini.
000dw000
Pui Ji-ping yang ketinggalan setengah li di belakang pamannya,
waktu Cu Bun-hoa mengompes keterangan laki2 baju abu2 dan
menemukan bangkai anjing dan kedua anak buahnya di selat sempit
tadi, iapun menyusul tiba, sudah tentu iapun melihat semua
kejadian yang dialami pamannya.
Cuma dia selalu ingat pesan pamannya agar diri-nya mengambil
jarak tertentu, dilarang bicara lagi, maka kini dia hanya berdiri di
tempat kejauhan saja. Setelah Cu Bun-hoa naik kuda dan berangkat
pula baru diapun membedal kudanya kedepan.
Tak tahunya baru saja dia tiba di mulut lembah, segera ia
mendengar suara beradanya senjata tajam. Lekas dia melompat
turun dari kudanya, pelan2 dia merunduk maju terus lompat ke atas
sebuah batu besar dan menyembunyikan diri serta mengintip ke
bawah.
Dilihatnya empat orang berjubah hitam tengah mengerubut
pamannya. Melihat orang2 berjubah hitam itu, tergerak pula
hatinya, pikirnya: "Hou Thi jiu juga menggunakan lengan besi di
tangan kirinya, demikian juga keempat orang ini, terang mereka
adalah sekomplotan dengan Hou Thi-jiu."
Tak lama kemudian lantas didengarnya seo-rang membentak
keras: "..Kalian berhenti"
Kuping Ji-ping mendengung pekak oleh bentakan keras bagai
bunyi genta itu, keruan kagetnya bukan main, lekas dia berpaling ke
sana, di-lihatnya kira2 setengah li di kejauhan sana ada dua titik
sinar seperti api setan tengah terbang turun naik menyusuri kaki
bukit berlari ke arah sini. Bertambah besar rasa kejutnya, batinnya:
"Masih setengah li jauhnya, tapi suara orang ini dapat membuat
pekak kuping, kalau dia menghardik berhadapan mungkin aku bisa
jatuh semaput."
Mendengar bentakan keras ini, keempat orang jubah hitam tadi
segera melompat mundur berpencar pada posisi masing2. Dengan
pedang melintang di depan dada Cu Bun-hoa berpaling ke arah
datangnya suara, tertampak dari pegunungan sana beriring
mendatangi enam orang berjubah hitam pula. Keenam orang ini
bukan saja berpakaian sama, wajah dan sikap merekapun sama.
kaku dingin tidak berperasaan- Masing2 dua orang berjajar beriring
datang, gerak langkah mereka kaku mirip mayat hidup dan seperti
tonggak berjalan-
Diam2 kaget juga cu Bun-goa melihat orang2 ini, dia insaf untuk
menghadapi keempat lawan ini sudak cukup berat, kini ketambahan
enam orang lagi. agaknya nasib dirinya malam ini lebih banyak
celaka daripada selamat, semoga Ji-ping jangan lekas2 menyusul ke
mari. Demikian batinnya.
Lekas sekali keenam orang ini sudah tiba di tanah berumput
sebelah kiri, mendadak tampak pula sesosok bayangan orang tinggi
besar berlenggang mendatangi, jangan kira gerak kakinya kelihatan
seperti berlengang, mirip badut di atas panggung, lapi setiap
langkah kakinya mencapai jarak dua tiga tombak jauhnya, kedua
kakinya seperti tidak menyentuh tanah.
Sekali pandang Cu Bun-hoa lantas tahu bahwa kepandaian si
gede inijauh lebih tinggi dari kawanan jubah hitam ini, maka dia
tumplek perhatiannya terhadap si gede ini.
Badan orang ini tingginya delapan kaki, dada lebar lengan besar,
wajahnya mengkilap mirip tembaga, alisnya pendek. matanya sipit,
hidung besar mulut lebar, jubah sempit warna tembaga yang
dipakainya hanya sebatas di lutut, kaki telanjang memakai teKiek
tembaga.
Sebagai cengcu dari Liong-bin-san-ceng, meski jarang berkelana
di Kangouw, tapi tokoh-tokoh Kangouw kenamaan pada jaman ini
tidak sedikit yang dikenalnya, paling tidak pernah mendengar nama
atau keahlian dan keistimewaannya. Kini melihat dandanan si gede
yang aneh ini, mendadak diingatnya seseorang, keruan hatinya
kaget bukan main, batinnya: "Mungkinkah dia ini Lam-kiang-it-ki
Thong- pi-thian-ong?"
Jabatan atau kedudukan si gede serba tembaga ini terang jauh
lebih tinggi daripada kawanan jubah hitam, ini jelas kelihatan dari
sikap keenam orang jubah hitam yang baru datang serta cara
mereka berdiri, kelihatan memberi peluang untuk si gede ini nanti,
tapi toh masih ada tempat kosong lagi di sebelah mereka, hal ini
membuat Cu Bun-hoa men-duga2 pula bahwa kecuali si gede
agaknya pihak lawan masih ada tokoh lain pula yang berkedudukan
lebih t inggi yang belum tiba. Siapakah orang yang belumt iba ini?
Maklumlah si tokoh aneh dari Lam-kiang (wilayah selatan) ini
biasanya merajai daerah selatan, selamanya belum pernah tunduk
terhadap orang lain, lalu siapakah yang telah mampu menundukkan
dia sekarang?
Begitu si gede tiba dan berdiri di samping, Cu Bun-hoa lantas
buka suara: "Yang menghentikan pertempuran tadi apakah tuan?"
Mendelik sebesar jengkol mata si gede, bentaknya: "Diam, tak
boleh ribut" Suaranya memang keras seperti bunyi genta.
Kini Cu Bun-hoa lebih yakin bahwa si gede memang Thong- pithian-
ong adanya, tapi caranya bicara jelas dia hanya mengawal
seseorang belaka. Sungguh luar biasa. Semakin kejut dan heran Cu
Bun-hoa, mendadak dia mendongak sambil bergelak tawa, katanya:
"Dandanan dan tampang tuan ini mirip sekali dengan Lam- kiang-itki
Thong-pi-thian-ong, entah sejak kapan tuan terima diperbudak
orang atau jadi pengawal pribadinya"
Semakin bulat mendelik mata si gede, suara-nya menggerung
gusar: "Kusuruh kau diam, kau harus diam, memangnya kau tua
bangka ini sudah bosan hidup?"
Gerungannya yang dahsyat itu membuat Pui Ji ping yang
sembunyi di atas batu hampir pecah kupingnya,jantungnya berdebar2,
hampir saja dia menjerit.
Tiba2 terasa dari belakang tersalur sejalur tenaga yang tidak
kelihatan membantu dirinya mengendalikan darah yang bergolak,
kupingpun lantas mendengar suara lirih berbisik seperti bunyi
nyamuk: "jangan bersuara Siau-sicu, itulah Kim-loh-ong yang hebat
dari Thong-pi-thian-ong. "
Heran Ji-ping, baru saja dia kendak berpaling, suara lirih seperti
nyamuk berkata pula: "Situasi malam ini amat gawat dan
berhahaya, sekali2 jangan Sicu menoleh ke belakang, mata dan
kuping Thong-pi-thian-ong amat tajam. Jarakmu hanya sepuluh
tombak dengan mereka, sedikit lena, jejakmu pasti konangan."
Tatkala itu tampak dua buah lampion tengah mendatangi dari
jalanan gunung sana. Dua gadis belia baju hijau tengah mendatangi
dengan gemulai sambil menenteng dua lampion-
Malam di tengah pegunungan sudah tentu amat gelap sehingga
cahaya lampu lampion ini terasa terang benderang. Tak jauh di
belakang kedua gadis membawa lampion menyusul sebuah tandu
mewah dan indah, dan laki2 kekar memikul tandu mini ini, langkah
mereka enteng seperti berlari menuju ke tanah berumput ini.
Selarik kain warna merah sutera panjang semampir di pundak
dan pinggang kedua laki2 kekar pemikul tandu itu bertuliskan empat
huruf warna hitam yang berbunyi: "Wakil langit mengadakan
ronda".
Akhirnya tandu mini itupun berhenti dan diturunkan di tanah
berumput sebelah kanan atas. Kedua gadis pembawa lampion
berdiri di kiri kanan tandu, di bawah sinar lampion tandu itu tampak
indah gemerlapan, kerai menjuntai lembut dan rapat sehingga tidak
kelihatan siapa yang duduk di dalamnya? Tapi Thong- pi-thian-ong
dan kesepuluh kawanan jubah hitam serempak memberi hormat lalu
berdiri tegak dengan prihatin-
Tiba2 tergerak hati, Cu Bun-hoa melihat keadaan ini, tadi dia
dengar salah seorang jubah hitam pernah menyinggung "Thiansu"
atau duta langit, setelah melihat tulisan "Wakil langit mengadakan
ronda", jelas bahwa orang di dalam tandu adalah Thian-su yarg
dimaksud, cuma siapa dia dan tokoh macam apa pula?
Pedang disimpan kembali, Cu Bun-hoa berdiri membusung dada
sikapnya gagah berwibawa, tapi hatinya kebat-kebit, diam2 dia
kerahkan Lwekang-nya, mempersiapkan diri untuk bertindak bila
menghadapi sergapan musuh.
Maka terdengarlah sebuah suara halus nyaring berkumandang
dari dalam tandu: "Thio thijiu" Suaranya bagai kicau burung kenari,
lembut dan merdu.
Tak pernah terpikir dalam benak Cu Bun-hoa bahwa Thian-cu
atau "duta langit" ini ternyata seorang perempuan, dari suaranya
kedengaran bahwa dia adalah gadis belia pula.
Tampak salah seorang jubah hitam yang berdiri paling depan tadi
mengiakan sambil melangkah ke depan tandu.
Terdengar perempuan dalam tandu bertanya: "Kalian sudah
tanya asal usulnya?"
"Dia tidak mau mengatakan," sahut Thio thi-jiu.
"Bagaimana ilmu silatnya?" tanya perempuan dalam tandu pula.
"Kami berempat mengeroyoknya, tapi tak mampu mengalahkan
dia."
"Pada jaman ini. dengan kekuatan kalian berempat, memangnya
siapa yang tak mampu kalian kalahkan, tapi siapakah dia" kata2
terakhir amat lirih, seperti bicara untuk dirinya sendiri.
Thio thi-jiu berdiri tegak lurus, sudah tentu dia tak berani
bersuara.
Sesaat kemudian perempuan dalam tandu berkata pula: "Baiklah,
kau boleh minggir."
Thio-thi-jiu mengiakan, lalu mundur ke tempatnya semula.
Perempuan dalam tanda lantas berpesan kepada gadis pembawa
lampion sebelah kiri. katanya: "Mintalah orang tua itu maju kemari,
ada pertanyaan hendak kuajukan padanya."
Gadis itu segera tampil ke depan Cu Bun-hoa, katanya setelah
memberi hormat. "Tuan ini diharap maju kedepan, Siancu ( dewi )
kami ingin bicara dengan kau"
Cu Bun-hoa juga ingin tahu asal usul pihak sana, memangnya
siapa sebetulnya Thian-cu yang serba misterius ini? Maka dengan
mengelus jenggot dan tertawa lebar, katanya: "Lohu memang ingin
bertemu dengan Siancu kalian." Lalu dengan langkah lebar dia
menghampiri, beberapa kaki di depan tandu dan berhenti, katanya
sembari memberi hormat: "Silakan Siancu, terima kasih akan
undanganmu, entah ada petunjuk apa?"
Perempuan dalam tandu cekikik riang, katanya: "Loyacu adalah
tokoh kosen Bu-lim, sungguh beruntung kita bertemu di sini."
Sampai di sini tiba2 dia berseru keras: "Kenapa tidak singkap kerai
ini?"
Kedua gadis yang berdiri di kiri kanan segera menyibak kerai
kedua sisi, kedua lampionpun di-arahkan ke depan tandu sehingga
perempuan yang duduk di dalam tandu kelihatan wajahnya.
Ternyata "Dewi yang mewakili langit menga-dakan ronda" ini
hanyalah seorang nyonya muda belia yang berusia sekitar 25,
berpakaian serba putih, dandanannya mirip puteri keraton, tengah
tersenyumsimpul mengawasi dirinya.
Sesaat Cu Bun-hoa melenggong, dia jarang keluar pintu, tapi
semua tokoh Kangouw yang sedikitpunya nama pasti pernah
didengarnya. Nyonya muda molek ini mampu menundukkan Lamkiang-
it-ki sampai terima menjadi pengawal pribadinya, kenapa
belum pernah dia mendengar adanya perempuan selihay ini, serba
misterius lagi dalamtindak tanduk.
Memang otaknya cerdik, banyak akal dan pandai mengikuti
situasi, sekilas melenggong segera Cu Bun-hoa berdehem, katanya
tertawa: "Siancu me-ronda mewakili langit tentunya kau inilah
Thian-su adanya? Entah siapakah nama harumSiancu yang mulia?"
Jari jemari nan runcing halus dari nyonya muda itu terangkat dan
mengelus gelung kundainya, katanya tertawa: "Agaknya tidak
sedikit yang Loyacu ketahui. aku she Coh, karena biasanya aku suka
mengenakan pakaian serba mulus begini, maka orang memanggilku
Hian-ih-sian-cu, harap Loyacu tidak mentertawakan diriku."
"Hian-ih-sian-cu" Cu Bun-hoa tetap tidak pernah dengar nama
julukan ini.
Mengerling biji mata Hian-ih-sian-cu, katanya sambil cekikikan
"Loyacu adalah tokoh kosen pada jaman ini, mohon tanya siapakah
nama besar Loyacu?"
Cu Bun-hoa bergelak tertawa, katanya: "Lohu Ho Bunpin, orang
liar yang hidup di gunung, mana berani disebut tokoh kosen
segala."
Hian-ih-sian-cu cekikikan genit, katanya: "Nama yang Loyacu
sebutkan kukira bukan nama tulen bukan?"
"Mungkin Siancu belum pernah dengar nama- ku yang tidak
terkenal ini, dan lagi apa perlunya Lohu harus menyembunyikan
nama dan asal-usul?"
"Betul," kata Hian-ih-sian-cu, "menurut penglihatanku, wajah
Loyacu juga dirias, entah betul tidak perkataanku?"
Semakin terkejut hati Cu Bun-hoa, katanya dingin: "Tidak perlu
Lohu main sembunyi dengan cara menyamar segala."
"Berkelana di Kangouw, supaya tidak menarik perhatian orang,
merias diri dan ubah wajah asli itu sudah biasa, apakah Loyacu
merias diri t iada sangkut pautnya dengan aku? cuma ingin kutanya,
Loyacu main selidik memasuki daerah Tay-piat-san ini, entah apa
maksudnya"
"Betul, Lohu juga ingin tanya kepada Siancu, tanpa sebab anak
buahmu merintangi perjalananku, apa pula maksudnya?"
"Bukankah Ho-loyacu telah saksikan sendiri? Malam ini kebetulan
aku meronda sampai di sini, anak buahku melihat Loyacu memasuki
selat gunung seorang diri, gerak-geriknya mencurigakan lagi, sudah
tentu kau harus dimintai keterangan-"
Cu Bun-hoa mendengus, katanya: "Sekarang Siancu sudah jelas
tentang keteranganku?"
"Pertanyaanku tadi sia2 belaka, karena Loyacu tidak menjawab
sejujurnya."
"Lalu apa pula kehendak siancu?"
"Silakan Ho-loyacu ikut kami, setelah kami jelas menyelidiki asalusulmu
akan kuantar kau ke luar gunung."
Terangkat alis Cu Bun-hoa, katanya: "Siancu kira orangmu
banyak. mau main keroyok terhadap-ku seorang?" Mendadak dia
mundur selangkah tangan sudah siap melolos pedang.
"Aku tak perlu turun tangan terhadapmu," ujar Hian-ih sian-cu
sambil tertawa.
Hanya sekejap itu, Cu Bun-hoa sudah merasakan adanya gejala2
yang tidak normal pada diri sendiri. Sudah timbul pikiran Cu Bunhoa
untuk mundur dan melolos pedang, tapi kaki tangan ternyata
tidak menurut perintah lagi, keruan kejutnya bukan main, air
mukapun berubah hebat, bentak-nya: "Sundel keparat .........."
Hian-ih-sian-cu tetap unjuk senyum menggiurkan, katanya riang:
"Dapat mengundang Ho-loyacu, sungguh merupakan
kebanggaanku." Lalu dia mengulap tangan dan menambahkan:
"Mari kita kembali"
Kedua gadis menurunkan kerai, pemikul tandu lalu berputar
balik, di bawah pimpinan Lam-kiang-it-ki, kesepuluh kawanan jubah
hitam menggusur Cu Bun-hoa mengintil di belakang tandu.
oooodwoooo
Hampir saja Pui Ji-ping yang sembunyi di utas batu menjerit lagi
melihat adegan yang aneh ini. Suara lembut bagai bunyi nyamuk
mengiang pula dipinggir kupingnya "Siau-sicu harus tahan sabar,
jangan gegabah"
Mencelos hati Ji-ping, terpaksa dia tekan perasaannya, dengan
cemas dia awasi kawanan jubah hitam itu menggusur pamannya
pergi, waktu dia menoleh, dilihatnya setombak di belakangnya
berdiri seorang Hwesio tua kurus, sorot matanya berkilauan sedang
mengawasi dirinya dengan tersenyum.
Tahu berhadapan dengan tokoh kosen, lekas Ji-ping menekuk
lutut memberi hormat, katanya: "Losuhu, lekas tolong pamanku"
Karena gelisah ia lupa dirinya sedang menyaru laki2, cara memberi
hormat seperti anak gadis lazimnya.
Hwesio tua kurus pendek lekas merangkap kedua tangan,
katanya heran: "Sicu kiranya seorang nona, jadi yang ditawan Hianih-
lo-sat tadi adalah pamanmu?"
Merah muka Ji-ping, diam2 ia sesali kecerobohan sendiri, katanya
mengangguk: "Ya, dia pamanku, apakah perempuan dalam tandu
itu yang Losuhu maksudkan bernama Hian-ih-lo-sat? Jadi orang2 itu
ada hubungannya dengan Cin-Cu-ling?"
"Lolap juga belum tahu asal-usul mereka," kata Hwesio tua itu,
"cuma menurut apa yang kuketahui, Hian ih-lo-sat ini amat lihay,
orang2 yang terjatuh ke tangannya sudah cukup banyak, termasuk
Kwi-kian-jiu Tong- citya, Un It-kiu dari keluarga Un, suteku Kim Kaythay
dan lain2 ....."
Ji-ping kaget, serunya: "Jadi Kim-loya cu juga tertawan oleh
perempuan siluman itu."
"Nona juga kenal Kim-sute?" tanya si Hwesio tua.
"Aku tidak kenal, Tapi Toakoku adalah kenalan baik Kim-loyacu."
"Siapakah Toako nona?"
"Toako bernama Ling Kun-gi," sahut Ji-ping, lalu bertanya:
"Losuhu tentunya paderi sakti dari Siau-lim-si, entah siapa nama
gelaran Taysu yang mulia?"
"Lolap Ling-san,"jawab Hwesio tua kurus, "pejabat Bun- cu- wan
dari Siau-lim-si."
Biasanya hanya paderi2 dari Lo-han-tong saja yang
diperbolehkan keluar Siau-lim-si, kini ketua Bun-cu-wan (ruangan
agama) pun terpaksa harus dikerahkan keluar, dapatlah di
simpulkan bahwa pihak siau lim menaruh perhatian besar terhadap
peristiwa Cin-Cu-ling ini.
Lekas Ji-ping menjura, katanya " Losuhu ternyata pemimpin Buncu-
wan, paman sudah tertawan perempuan siluman itu, aku akan
segera pergi. "
"Tunggu sebentar nona."
"Ada petunjuk apa Losuhu?"
"Bolehkah nona memberitahu padaku, siapa sebenarnya
pamanmu itu?"
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-panas-pembantu-pendekar-kidal-1.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Panas Pembantu : Pendekar Kidal 1 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-panas-pembantu-pendekar-kidal-1.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

hendri prastio mengatakan...

artikelnya bagus sekali sob,,menambah pengetahuan dan wawasan.. terima kasih banyak atas sharenya..semoga selalu menciptakan karya" terbaiknya,,,dan ditunggu UPDATEan terbarunya sob,,,pokoknya mantap deh! keren buat blog ente ! dan saya mohon dukungannya sob buat lomba kontes SEO berikut:
Ekiosku.com Jual Beli Online Aman Menyenangkan
Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia
terima kasih atas dukungannya sob,, saya doakan semoga ente selalu mendapatkan kebaikan,, dan terus sukses!! amin hehe sekali lagi terima kasih banyak ya sob...thaks you verry much...

Poskan Komentar