Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 01 Agustus 2012

Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3-Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3-Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3-Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3-Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3


BAGIAN 25 : BATU MUSTIKA
Waktu mengawasi, Nyo Kong-lim berjingkrak kaget.
Begitu diusap, separoh bagian dari kepala gundul sihweshio
itu, sudah tumbuh rambutnya. „Setan atau manusia kau ini
? Lekas katakan!" tanya Nyo Kong-lim dengan menjerit.
„Kau sudah berjanji bukan? Setelah kucukur rambutmu
baru nanti kuterangkan!" kata sihweshio.
Nyo Kong-lim adalah seorang lelaki yang tegas. “Bilang
hitam....... ya hitam, bilang putih....... ya putih. Sini,
cukurlah !"
Sihweshiopun tampaknya tak sungkan2an. Dengan
beringsut2 memakai sepatu rumput, dia menghampiri lantas
cekal kepala Nyo Kong-lim. Tapi sikasar itu segera marah2
: „Mau memangkas, mengapa mencabuti ?"
„Habis kalau tak mencekal kepala, bagaimana bisa
memangkas ?" sahut sihweshio.
Nyo Kong-lim bohwat tak dapat cari alasan lagi, kecuali
meringis. Sihweshio keluarkan pisau cukur dan srit....,
srit...., sekejab saja kepala sikasar menjadi kelimis. Terasa
silir, Nyo Kong-lim merabah kepala, hai...... lagi2 dia
meringis monyet. Rambucang dipegang dalam tangan kiri
sihweshio, lalu dilontarkan keatas di-iringi dengan tiupan
angin, ribuan lembar rambut itu bertebaran ke-mana2. Tapi
seperti disulap, tiba2 separoh bagian kepala sihweshio yang
masih gundul itu, tumbuh lagi rambutnya!
Bahna herannya Nyo Kong-lim segera berseru: „Bangsat
gundul,......" tapi tiba2 dia batalkan kata2nya itu. Makian,
itu tidak mengenai sihweshio tapi kena dia sendiri.
„Hweshio, kau ini sebenarnya manusia atau setan?" cepat
dia alihkan pertanyaannya.
„Bukan orang, bukan setanI" sahut sihweshio dengan
tertawa. Tiba2 Nyo Kong-lim tersentak kaget sendiri. Dia
teringat dalam dunia persilatan ada seorang tokoh luar biasa
yang bergelar Kui-ing-cu (bayangan setan). Wataknya
keliwat eksentrik, suka ber-olok2. „Adakah kau ini Kui-ingcu?"
akhirnya dia bertanya.
Sihweshio bergelak-gelak, sahutnya: „Benar, aku
memang si Kui-ing-cu yang kau suruh mencukur kelimis
kepalamu menjadi hweshio!”
Mendengar itu, diam2 Nyo Kong-lim rnengeluh: „Mati
aku"
Petang tadi Nyo Kong-lim berpapasan dengan Tio Jiang
dan Yan-chiu yang hendak menuju kegunung Sip-ban-taysan.
Tampak sikap kedua anak, itu begitu mesra, tanpa
tedeng aling2 lagi, dia segera bertanya: „Siao-a-thau (anak
perempuan kecil) dengan siaoko (engkoh kecil) begini
mesranya, apa sudah memilih hari baik ya?"
Bagi Nyo Kong-lim yang polos blak2an itu, apa yang
sang hati memikir mulutnya segera mengatakan. Tapi
dalam penerimaan Yan-tihiu yang genit lincah bicara itu,
sudah tentu tak mau mandah dibegitukan saja. „Toacecu,
mengapa kau tak mencari seorang wanita kawan bercumbu2an?"
„Setan! Mulutmu benar2 tipis, macam Kui-ing-cu. Tapi
biar Kui-ing-cu, kalau benar2 bermulut tipis, nanti pada
suatu hari aku tentu akan mencukur kelimis batok
kepalanya, biar dia menjadi bangsat gundul. Coba biar
kulihat, kau masih berani bermulut tipis lagi tidak!" kata
Nyo Kong-lim tertawa.
„Kalau aku tetap tipis mulut bagaimana?" menantang
Yan-chiu.
„Juga kucukurl rambutmu, supaya menjadl nikoh (paderi
wanita) !" dengan cepat Nyo Kong-lim memberi keputusan.
Mereka bertiga, tertawa geli.
Celaka! Kui-ing-cu yang muncul perginya tak
berketentuan itu, kebetulan pada saat itu berada ditempat
situ, tapi menyembunyikan diri. Apa yang diperolokkan
oleh Kong-lim, didengarnya semua. Dia tahu Nyo Konglim
itu seorang kasar sembrono, tapipun seorang yang suka
bergurau. Maka diam2 diikutinya ketua Hoa-san itu. Untuk
meramaikan „permainannya", dia tutupi kepalanya dengan
semacam sarung kepala, hingga kepalanya gundul seperti
seorang hweshio. Selagi Nyo Kong-lim tidur disebuah
hutan, dicukurnya kepala dan janggut ketua Hoa-san itu.
Tapi, tidak semua, hanya separoh bagian. Jadi setelah
itu, Nyo Kong-lim hanya mempunyai sesisi rambut
disebelah kanan dan sesisi janggut disebelah kiri. Habis itu,
sengaja dia bangunkan sisembrono, kemudian dia sendiri
lalu ber-lari2 menuju kedalam rumah makan penginapan
tadi. Justeru pada saat itu, The Go dan Tan It-ho tengah
rnerundingkan rencananya. Tahu kalau kedua orang itu
juga kaum persilatan, Kui-ing-cupun hendak
mempermainkannya. Dia pura2 tidur mendengkur dan
karena itu tanpa disengaja dia telah dapat mencuri dengar
apa yang dibicarakan oleh The Go dan Tan It-ho itu.
Ceng Bo siangjin bukan melainkan termasyhur karena
ilmu kepandalannya, tapi juga karena perilakunya yang
luhur budiman. Kaum persilatan sangat mengindahkan
akan peribadi siangjin itu. Kui-ing-cupun tak terkecuali.
Mendengar anak perempuan dari siangjin itu menghadapi
bahaya, dia menjadi sibuk. Pada saat itu juga sebenarnya
dia sudah hendak turun tangan, tapi telah dirusak oleh
kedatangan sisembrono Nyo Kong-lim. Segera dia robah
rencananya, lebih dulu mengocok sisembrono, baru nanti
memberesi kedua orang busuk itu. Pikirnya, masakan kedua
orang itu dapat lolos dari tangannya. Tapi siapa tahu,
karena terlibat oleh Nyo Kong-lim, rencananya kedua
betul2 menjadi kapiran.
Tapi hal itu termasuk dibagian belakang dari cerita ini.
Sekarang mari kita ikuti bagaimana sisembrono Nyo Konglim
menghadapi Kui-ing-cu. Tahu dengan siapa dia
berhadapan, ketua Hoa-san itu tak berani memaki lagi. Tapi
sebaliknya Kui-ing-cu malah menagih, ujarnya: ,Bocah
gede, mengapa kau tak jadi memaki keledai gundul ?"
Nyo Kong-lim usap2 kepalanya yang kelimis, lalu
meringis: “Bagaimana aku ini, kalau nanti ketemu orang?"
“Jangan kuatir," sahut Kui-ing-cu sembari lolos
jubahnya, „pakailah ini, setengah atau satu tahun menjadi
hweshio apa keberatannya?"
Sisembrono terpaksa menurut lalu tukar2an pakaian
dengan Kui-ing-cu. Tapi oleh karena tubuhnya tinggi besar,
maka jubah itu hanya sampai kebatas lutut saja. Sudah
tentu hal ini makin mengocok perut siapa yang melihatnya.
„Bocah gede, siapakah panggilanmu ?" tanya Kui-ing-cu
setelah itu,
”Aku yang kasar ini orang she Nyo nama Kong-lim,
orang menggelari Thiat-kim-kong (sibesi keras)!"
Mendengar nama itu, Kui-ing-cu agak terkesiap. Kaum
persilatan menyohorkan sisembrono itu seorang lelaki yang
perwira dan jujur. Diam2 diapun taruh perindahan dan
sesalkan perbuatannya tadi. Tapi karena olok2 tetap olok2
atau nasi sudah menjadi bubur, jadi sukar untuk menarik
kembali. Syukurlah, dia hanya mencukur rambut kepala
dan separoh rambut janggutnya serta tak keliwat merugikan
orang. Nyo-heng, tadi aku keliwat kurang adat, harap suka
maafkan!"
Melihat perobahan sikap orang, Nyo Kong-lim pun sesali
dirinya sendiri. Kalau tadi dia tak begitu sembrono
mengoceh, tentu takkan mengalami pengalaman pahit
seperti itu. “Cianpwe mengapa begitu merendah!" sahutnya
ter-sipu2.
Tu lihat! Baru beberapa detik yang lalu, keduanya masib
bersitegang leher pukul2an, kini sudah saling begitu
mengindahkan. Kui-ing-cu tertawa, ujarnya: ,Jangan Nyoheng
merendah juga, tadi permainanmu ruyung, sudah
cukup sempurna. Keras dan dahsyat sudah cukup
memenuhi syarat, tapi dalam soal kelemasan dan
ketenangan masih kurang. Bagaimana pendapat Nyo heng
sendiri ?"
Nyo Kong-lim penasaran hatinya. Tapi terkilas pula lain
pikiran dalam hatinya, turut anggapan kaum persilatan ilmu
kepandaian dari Kui-ing-cu itu telah mencapai batas yang
sukar diukur. Dia sendiripun pernah mendengar bagaimana
dengan dibantu dari jauh oleh tokoh itu, Yan-chiu telah
berhasil mengalah ketiga tianglo dari Ci-hun-si. Dia merasa
bakatnya terbatas, jadi sukar untuk memperoleh kemajuan
lagi dalam ilmu lwekang, maka bukankah itu suatu
keberuntungan besar kalau dia sampai bisa mendapat
pengajaran beharga dari tokoh lihay itu? Dengan
kesimpulan itu, buru2 dia menyahut: ”Kiranya sukalah
cianpwe memberi petunjuk yang berharga."
Habis berkata, dengan tanpa diminta lagi dia terus
menyerahkan sam-ciat-kun pada Kui-ing-cu, siapa tampak
tertawa saja dan berkata: „Orang katakan kau ini limbung,
tapi ternyata tidak!"
”Harap cianpwe jangan menertawakan!" kata Nyo Konglim
dengan merah kemaIu2an. Tiba2 wajah Kui-ing cu
berobah sungguh2 dan berkata: „iImu sam-ciat-kun itu,
berasal dari pengajaran Cin Siok Po itu orang gagah no. 7
pada jaman ahala Tong. Orang hanya mengetahui kalau
Cin Siok Po itu hanya pandai menggunakan tombak, tapi
siapapun tak mengetahui kalau pada waktu dia belajar ilmu
silat, per-tama2 adalah belajar ilmu sam-ciat-kun ini. Ilmu
permainan itu, disebuat „sam liong toh cu" (3 naga berebut
mustika). Keindahannya terletak pada perbawa
kekerasannya yang mengandung gaya kelemasan juga.
Sebatang sam-ciat-kun dapat dipergunakan menjadi 3
batang tongkat pendek. „Kau lihatlah!"
Nyo Kong-lim seperti orang mengimpi kala
mendengarkan uraian itu. Diapun segera pasang mata
mengawasi betul2. Begitu Kui-ing-cu tegak, sam-ciat-kun itu
segera pe-lahan2 naik keatas, tampaknya lemah tak
bertenaga. Tapi sekali tangan Kui-ing-cu diturunkan, Nyo
Kong-lim terbelalak kesima. Biasanya kalau orang dapat
menggunakan dua batang kun dari sam-ciat-kun itu untuk
menyerang lawan, itu sudah tergolong lihay sekali. Tapi
gerakan Kui-ing-cu itu, dapat membuat batang kun yang
ditengah, bergerak menjulur juga. Kalau dijulurkan sampai
jauh, dapat mengundurkan 3 orang musuh. Kalau hanya
dekat saja dapat menyerang sekali gus 3 bagian tubuh
lawan. Kesaktiannya bukan alang kepalang.
Oleh karena Nyo Kong-lim sudah mempunyai dasar
kokoh dalam ilmu sam-ciat-kun itu, jadi sekali lihat, dia
dapat mencatatnya dalam hati. Habis itu, Kui-ing-cu
mainkan jurus kedua, begitulah dalam sesingkat waktu, 14
jurus telah dia mainkan semua. Setiap jurus mengandung
kesaktian2 yang sukar dilukis. Nyo Kong-lim juga seorang
yang gemar mati2an pada ilmu silat, maka apa yang
dipertunjukkan Kui-ing-cu itu telah membuatnya
kegirangan setengah mati. Dia tumplek betul2 seluruh
perhatiannya untuk mengingat setiap gerak dari permainan
yang gayanya lain dari yang lain. Begitu selesai, dia terus
hendak meminta sam-ciat-kun itu guna berlatih satu kall,
'tapi tiba2 ada seseorang berteriak keras: „Kui-ing-cu,
berikan sam-ciat-kun itu, Sam-thay-ya mau berlatih
sebentar!"
Nyo Kong-lim terperanjat sekali. Dikiran ya kalau
mulutnya yang mengucap perkataan itu tanpa disadarinya.
Karena memang dalam kebatinan dia memikir hendak
mengatakan begitu. Tiba2 terdengar suara menderu dan
muncullah seorang tua kate. Rambut janggutnya, menjulai
panjang sampai ketanah, tangannya mencekal sehelai sabuk
hijau yang dijulur surutkan. Entah benda apa yang dibuat
main2 itu !
Tapi Kui-ing-cu segera „memberikan" sam-ciat-kun itu
kepada siorang kate dengan sebuah serangan sam-liong-tohcu
jurus pertama, yakni yang disebut cu-kong-theng-yau
(sinar mustika menjulang keatas) „Sik Lo-sam, apa
hukumannya orang yang mencuri lihat pelajaran lain -
orang!" serunya.
Wut......, tiba2 tubuh sikate melambung keatas
menghindar.
„Kui-ing-cu, bilamanakah kau menerima murid seoranghweshio
? Mengapa tak mengundang Sam-thay-ya ?" gelak
tertawa sikate membatu roboh. Wajah Nyo Kong-lim
merah padam, sebaliknya Kui-ing-cu tanpa menyahut
sepatahpun, lalu jolokkan sam-ciat-kun keatas.
“Celaka pantatku ! Kui-ing-cu, kalau kau tak hentikan
seranganmu, akan kulepas ceng-ong-sin untuk menggigitmu
!" Sik Lo-sam ber-kaok2 gugup. Dan ternyata ancamannya
itu berhasil.
„Sik Lo-sam, dari mana kauperoleh ular sakti itu ?" seru
Kui-ing-cu sembari hentikan serangan.
Sik Lo-sam ter-kekeh2 girang, sahutnya: „Sudah tentu
Sam-thay-ya punya akal!"
„Katakan dulu, hukuman apa karena kau mencuri lihat
permainanku sam-ciat-kun tadi ?" tanya pula Kui-ing-cu.
Seperti telah diterangkan dibagian muka, sikate Sik Losam
itu, sangat senang ilmu silat seperti jiwanya. Seperti
tempo dipulau kosong tempo hari, dia paksa Tio Jiang
mengajarkan ilmu pedang „to-hay-kiam-hwat." Kebetulan
tadi dia bersemburnyi disekitar situ dan dapat mencuri lihat
permainan sam-ciat-kun yang luar biasa dari Kui-ing-cu, hal
mana telah membuat girang aetengah mati. „Sam-thay-ya
tak dapat memikir, kau katakanlah !" sahutnya.
„Kalau suruh aku yang mengatakan, dikuatirkan kau tak
mau menuruti !" kata Kui-ing-cu pula. Tapi Sik Lo-sam itu
lebih linglung lagi dari Nyo Kong-lim. Dibikin panas oleh
Kui-ing-cu tanpa banyak pikir serentak dia berseru dengan
geram: „Siapa katakan Sam-thay-ya bermulut lancang
(palau) ?"
„Bagus, memang siapakah yang tak tahu kalau Sik Losam
itu seorang lelaki sejati, bilang satu tetap satu. Kini
terimalah hukumanmu: serahkan ceng-ong-sin itu
kepadaku!!!"
„Kentut !" menjerit Sik Lo-sam serentak.
“Ha...., ha...., benar tidak kalau kau ini seorang bermulut
lancang !" Kui-ing-cu menertawainya.
“Baik, mari ambillah!" Sik Lo-sam menjerit seraya
ayunkan tangan. Ditimpah cahaya rembulan, seutas sinar
hijau melayang kearah Kui-ing-cu. Orang aneh ini letakkan
sam-ciat-kun, lalu tegak berdiri memandang kemuka deagan
penuh perhatian. Sebelum sinar hijau itu melayang tiba, dia
sudah maju menyongsong untuk julurkan kelima jarinya
tangan kiri dan tali hijau itu segera terjepit, lalu melingkar2
dijari, tapi secepat itu tangannya kanan segera memijat
sebelah ujung tali itu. Tali itu ternyata adalah seekor ular
tiok-yap-ceng yang besarnya hanya sama dengan sebuah jari
tangan tapi panjangnya hampir dua meter !
Pada lazimnya ular tiok-yap-ceng itu hanya 7 atau 8 dim
panjangnya, itu saja kalau menggigit tentu membinasakan
orang. Tapi siraja tiok-yap-ceng itu begitu panjang,
kepalanya berbentuk segi tiga, lidahnya semerah darah, jadi
bagaimana ganasnya dapat di-kira2kan sendiri. Setelah
memereksa sejenak, berkatalah Kui-ing-cu: „Sik Lo-sam,
dengan meminta ceng-ong-sin darimu, kau tentu
penasaran..."
„Sudah tentu penasaran !" tukas Sik Lo-sam dengan
kontan.
Kui-ing-cu tertawa, ujarnya: „Tentu merugikan jerih
payahmu mencarinya!"
„Jangan pura2 jadi orang baik ! Setengah tahun yang
lalu, sebenarnya sudah dapat kutangkapnya, tapi telah
diganggu oleh sitengeng Tio Jiang. Coba kala itu aku sudah
berhasil menangkapnya, tentu tak kan kau hukum begini.
Biar kucari anak tengeng itu nanti!" sahut Sik Lo-sam.
Diam2 Kui-ing-cu mengeluh, kalau benar orang kate
limbung itu mencari Tio Jiang, anak itu tentu bukan
lawannya. „Kau sendiri yang bersalah, mengapa timpahkan
lain orang? Lekas fahamkan ilmu kun-hwat!" serunya.
Sik Lo-sam buru2 memungut sam-ciat-kun, lalu mulai
berlatih. Dari samping Kui-ing-cu memberi petunjuk mana2
yang kurang benar, hal mana membantu banyak bagi Nyo
Kong-lim juga untuk memahami ilmu permainan kun
tersebut. Haripun sudah terang tanah dan tiba2 teringat
Kui-ing-cu akan The Go, katanya: „Sik Lo-sam, ilmu kunhwat
ini sangat sakti. Kau harus mencari tempat yang sunyi
untuk menyakinkannya lagi, baru dapat kau fahami benar2.
Hayo! lekas pergi sana!"
Sik Lo-sam yoing sangat linglung itu, mengira kalau
ucapan Kui-ing-cu itu sesungguhnya, maka sekali berseru
„Ha-ya, Sam-thay-ya akan pergi!", dia cepat angkat kaki.
Setelah itu, baru Kui-ing-cu memberitahukan kepada Nyo
Kong-lim tentang yang didengarnya dirumah penginapan
tadi. „Hai, kemarin ketika berjumpa dengan siaoko dan
siao-ahthau, merekapun mengatakan begitu. Hayo, kita
harus lekas2 cari si The Go!" seru Nyo Kong-lim dengan
kaget. Bergegas2 keduanya balik kerumah penginapan.
Siapa nyana, ketika ditanya sikuasa penginapan hanya au
a-u tak dapat ber-kata2 demi nampak kedatangan kedua
orang itu. Ya, mengapa kini siorang tinggi besar (Nyo
Kong-lim) berobah menjadi hweshio, sebaliknya siorang
kurus (Kui-ing-cu) dari hweshio berganti menjadi orang
preman? Setelah pulih kejutnya, barulah sikuasa itu
menerangkan bahwa orang she The itu sudah meninggalkan
tempat itu. Kui-ing-cu dan Nyo Kong-lim melakukan
pengejaran sampai berpuluh li, tapi tak berhasil.
”Anak itu licin benar” akhirnya Kui-ing-cu terpaksa
mengakui. Nyo Kong-lim tuturkan juga bagaimana Thaysan
sin-tho Ih Liok, Ceng Bo siangjin dan dia sendiri pernah
merasakan muslihat orany, she The itu. „Sayang, anak
muda yang secerdik itu, telah memilih jalan sesat!" Kui-ingcu
memberi komentar. Nyo Kong-lim usulkan supaya
menuju kegunung Sip-ban-tay-san.
„Apakah Nyo-heng mengetahui tempat kediaman suku
Thiat-theng-biau itu?" tanya Kui-ing-cu. Atas pertanyaan itu
Nyo Kong-lim menerangkan, turut keterangan Tio Jiang,
suku Biau itu bertempat tinggal dipuncak Tok-ki-nia. Kuiing-
cu terperanjat dan menegaskan.
„Ya, memang Tok-ki-nia, apakah cianpwe
mengetahuinya?" sahut Nyo Kong-lim. Kui-ing-cu
menggeleng kepala, ujarnya: „Hanya pernah mendengar
cerita orang saja yang mengatakan bahwa Tok-ki-nia
(puncak tunggal) itu sebenarnya disebut Bu-ki-nia (tanpa
puncak). Tiada yang berani menghuni tempat itu. Jangan2
hal itu disebabkan karena disitu ditinggali suku Thiat-thengbiau
itu !"
Nyo Kong-lim menyatakan tak jelas, lalu ulangi usulnya
supaya menuju kesana saja. Kui-ing-cu sayang akan
kecerdikan The Go. Mungkin kalau diinsyafkan anak muda
itu akan dapat kembali kejalan yang benar. Maka diapun
setuju. Ketika lewat disebuah hutan bambu, Kui-ing-cu
mengambil sebatang bambu untuk memasukkan ular cen
sin-ong kedalamnya. Setelah itu mereka lanjutkan
perjalanan lagi kegunung Sip-ban-tay-san.
Kini kita ikuti perjalanan Tio Jiang dan sumoaynya.
Ketika itu mereka berpapasan dengan Nyo Kong-lim, lalu
menceritakan peristiwa The Go. Setelah itu mereka
lanjutkan perjalanan lagi ke Sip-ban-tay-san, sedang Nyo
Kong-lim hendak mencari Ceng Bo.
Tak antara berapa lama kemudian, karena hari sudah
mulai gelap, bermula Yan-chiu mau mengajak cari rumah
penginapan, tapi Tio Jiang menolak karena harus lekas
sampai ditempat tujuan. „Apakah perut kita ini juga tak
perlu diisi ?" bantah Yan-chiu dengan mulut menjebir, Tio
Jiang lekas2 mengeluarkan dua potong roti kering dan
menyuruh Yan-chiu mendaharnya.
„Siapa suruh makan roti yang sedemikian kering dan
keras itu. Aku ingin dahar daging yang empuk lezat!" Yanchiu
marah2.
”Adikku yang baik setelah selesai urusan ini, nanti aku
tentu menemanimu makan. Karena urusan ini sangat
penting, kita harus lekas2 lanjutkan perjalanan ?"
Tio Jiang coba menjelaskan.
„Urusan apa yang kau anggap sedemikian penting itu ?"
„Siao Chiu, kau ini bagaimana ? Lian suci kena
halangan, mengapa tak mau lekas2 menolong ?" seru Tio
Jiang sambil hentikan langkah. Dulu kalau didengarnya
sang suko menggigau nama „Lian suci", Yan-chiu hanya
anggap dia itu ter-gila2, pantas diketawai. Tapi kini serta ia
sendiri terjerat asmara kepada sang suko, sudah tentu
hatinya menjadi tertusuk. Tapi karena memang sifatnya
suka mengolok orang, maka iapun berlaga pilon, tanyanya :
„Halangan apa sih ?"
„The Go tentu setuju usul Tan It-ho untuk menyerahkan
Lian Suci kepada Kit-bong-to!" sahut Tio Jiang seraya
mem-banting2 kaki. Yan-chiu tetap mau menggodanya:
„Bagaimana kau tahu kalau The Go tentu menuruti usul
Tan It-ho? Taruh kata menurut, diapun tak nanti dapat
datang lebih dahulu dari kita! Dan andaikata mereka
ternyata telah mendahului kita pun Lian suci itu bukan
seorang anak kecil, masa menuruti saja segala
kehendaknya?"
Dibombardeer oleh Yan-chiu, sesaat Tio Jiang melongo
karena tak dapat ber-kata2. „Tapi biar bagaimana juga,
kalau belum tiba di Tok-ki-nia, rasanya aku tak dapat
makan enak, tidur pulas!" akhirnya Tio Jiang meradang.
Tapi si genit tak ambil pusing, malah senang melihat
sukonya mulai uring2an itu. „Suko, dalam lubuk hati Lian
suci hanya di tempati oleh The Go seorang. Dimisalkan kau
berhasil menolong, iapun tak mau menjadi isterimu,
mengapa kau begitu ngotot ?"
Lagi2 Tio Jiang knock-out. Tapi sekilas berpikir, dia
segera menyahut: „Siao Chiu, omonganmu itu salah. Lian
suci adalah saudara seperguruan kita, apalagi puterinya
subo. Suhu telah melimpahkan budi sebesar gunung pada
kits, masa kita hanya berpeluk tangan saja ? Kau sangka,
karena cinta saja maka aku begini ter-buru2 ? Aku tak
bermaksud menikah padamu, tapi mengapa aku
menolongmu didasar lembah tempo hari ?"
Kini giliran Yan-chiu yang terpukul kena, hatinya seperti
disiram es. „Suko, mengapa kau berkata sembarangan
begitu ? Siapakah yang mempunyai hasrat menjadi isterimu
?" katanya. dengan wajah ke-merah2an. Karena Tio Jiang
mengatakan kata2nya yang menusuk tadi, terpaksa untuk
menutup malu, Yan-chiu juga balas mengejeknya,
walaupun itu berlawanan dengan suara hatinya. Tapi
setelah mengucap begitu, dia terdiam lalu berjalan lagi.
Sampai sekian besarnya, baru saat itu dia merasa
berkenalan dengan apa yang dikatakan 'derita kalbu'.
Tio Jiang terkejut, dia merasa tak mengatakan apa2 yang
kurang sedap didengar, mengapa sumoaynya marah begitu
? Ketika menyusul langkah sang sumoay, tampak pada
sepasang mata sigenit itu ber-linang2 air mata, tampaknya
seperti orang yang menderita. Pikir Tio Jiang, mengapa tadi
sangat menyakiti hatinya ? Jangan2 apakah
...........apakah.......
Bagaimana tololnya seorang pemuda, tapi dalam
keadaan seperti itu, dapat juga Tio Jiang menarik
kesimpulan.
„Adakah Siao Chiu itu diam2 menaruh hati padaku ?
Kalau tidak, masa mendengar kata2ku 'tak bermaksud
menikahnya', dia lantas begitu murung tampaknya ?"
demikian sesaat Tio Jiang berpikir, tapi pada lain saat, dia
membantah sendiri: „Ah, tidak. Bagaimana bisa begitu ?
Jangan2 dia sendiri yang melamun tak keruan, salah2 bisa
menerbitkan buah ketawaan !"
Dengan pikiran begitu, Tio Jiang tak terlalu menaruh
dihati terhadap kejadian itu. Ah, Tio Jiang, Tio Jiang,
mengapa kau tak mengerti hati seorang dara ?
Saat itu Yan-chiu kencangkan larinya. Dua tetes air
mata, tak dapat dicegah mengalir dari kelopak matanya.
Diam2 ia bersyukur bahwa ketika didalam bio tadi dia tak
jadi membuka rahasia 'memalsu jadi Bek Lian'. Teranglah
sukonya itu tak menaruh hati padanya, kalau sampai
mengetahui rahasia itu, dia tentu akan gusar. Tanpa terasa
tangannya merogoh kedalam baju untuk meraba butir
mustika batu puayam (giok) yang pada malam itu Tio Jiang
memberikannya karena menganggap dirinya (Yan-chiu) itu
adalah Bek Lian sesungguhnya. Setelah meraba, ia menarik
napas panjang.
Selama ber-tahun2 berkumpul dengan Yan-chiu diatas
gunung, sumoaynya itu adalah seorang gadis periang yang
lincah. Dimana Yan-chiu tampak, disitulah la tentu
membawakan tertawa. Maka betapa herannya ketika dilihat
sang sumoay itu mengucurkan air mata dan menghela
napas panjang. Tapi sedikitpun Tio Jiang tak menduga
kalau sang sumoay itu telah kucurkan air mata jeritan
kalbu!
Singkatnya setelah beberapa hari menempuh perjalanan,
sampailah mereka dikaki gunung Sip-ban-tay-san.
Dinamakan Sip-ban-tay-san atau selaksa gunung, karena
pegunungan itu mempunyai puncak yang tak terhitung
jumlahnya, dihias dengan hutan belantara yang membujur
dari Kwitang sampai ke Kwisay.
Ketika mendongak mengawasi keatas, puncak2 dari
pegunungan itu sama menjulang dengan megah dan angker.
Dikaki gunung situ tiada perdesaan sama sekali, jadi masih
tetap belantara yang belum dihuni orang. Yang ada hanya
beberapa rumah kediaman pemburu, dengan didekatnya
ada sebuah saluran air kecil. Setelah memutari sekali
namun tak berhasil menemukan jalanan, berkatalah Tio
Jiang „Siao Chiu, mari kita tanya pada penduduk disini
saja!"
Dalam beberapa hari ini, Yan-chiu telah mengambill
putusan untuk mengikis bibit asmara yang bersemi dalam
hatinya. Namun 'Amour vincit omnia' atau Cinta
menangkan segala', demikian kata sebuah peribahasa.
Jangan lagi hanya seorang Yan-chiu, sedangkan seorang
dewa atau maha wiku yang salehpun, masih sering sukar
untuk menangkis serangan panah asmara. Makin ingin
melupakan, makin keras sang hati meronta.
„Mengapa aku harus mengalami penderitaan, ini?
Terang dia hanya menyintai Lian suci, mengapa aku tak
dapat melupakannya?" demikian pertentangan yang
terdapat dalam hati Yan-chiu selama beberapa hari dalam
perjalanan itu. Oleh karena keras memikiri, dalam beberapa
hari ituu saja, tubuhnya bertambah kurus. Tio Jiang mau
menanyakan jalanan, hanya dijawab dengan tawar saja.
”Apakah didalam rumah ini ada penghuninya? Tolong
tanya sebentar!" seru Tio Jiang ketika sudah berdiri dimuka
pintu sebuah pondok. Seorang muncuI dari dalam pondok
itu. Setelah sekian jenak Mengawasi Tio Jiang, orang itu
menyahut: „Siaoko, kau hendak perlu apa?"
Melihat dandanan orang itu sebagai seorang pemburu,
Tio Jiang terangkan maksud keperluannya: „Tolong tanya,
apakah To k-ki-nia masih jauh dari sini?"
Orang yang memakai celana kulit macan tutul,
tangannya mencekal sepasang senjata garu untuk berburu
dan wajahnya jujur, tiba2 berobah wajahnya, sahutnya:
„Siaoko, apa kau hendak ber-olok2 dengan aku ?"
„Tidak!" serentak Tio Jiang menyahut ter-sipu2. Tapi
sipemburu hanya tertawa tawar, lalu merogoh keluar
selembar kulit kelinci untuk menggosok senjatanya. Tio
Jiang tertumbuk, fahamnya, tak tahu harus bagaimana.
Adakah penduduk disitu itu sedemikian koukati (egois)
wataknya, hingga sampai jalanan saja tak mau
menunjukkan? Demikian pikir Tio Jiang. „Berhubung laoko
lama menetap disini, rasanya tentu mengetahui letak
puncak Tok-ki-nia itu, maka dapatkah sekiranya laoko
memberitahukan padaku ?" Tio Jiang terpaksa ulangi lagi
permintaannya.
„Siaoko! Jika kau terus ngaco belo, aku tak mau sungkan
lagi," bentak sipemburu sambil deliki mata. Sampai disitu,
Yan-chiu tak kuat hatinya lagi. „Suka tidak
memberitahukan jalan, itu terserah padamu. Jangan jual
gertak! Apa kau kira tiada lain, orang kecuali kau yang
dapat memberitahukan?" sahut Yan-chiu.
Sipemburtu tertawa dingin, sahutnya: ”ya, memang
silahkan saja tanya pada lain rumah!"
Tengah mereka ribut2 itu, tiba2 dari dalam rumah
terdengar suara orang batuk2. ”A-ji, siapa yang kau ajak
ribut2 itu?” menyusul suatu suara orang tua berseru.
Sipemburu yang ternyata bernama A-ji itu segera
menyahut: „Ayah ada dua orang hendak menanyakan Tok
........ " baru sampai disitu, tiba2 dia berhenti, tak mau
melanjutkan nama Tok-ki-nia itu selengkapnya.
Melihat gelagat itu, timbul kecurigaan Yan-chiu. Tapi ia
segera mendapat kesan lain, mungkin karena suku Thiattheng-
biau itu keliwat ganas, maka rakyat setempat menjadi
ketakutan. Memang mana ia bisa mengetahui akan bom
waktu yang dipasang oleh Lim Ciong yang sudah sekarat
itu ?
Pada saat itu, dari dalam ruangan tengah, muncul
seorang tua dengan mencekal sebatang tongkat. Menurut
taksiran, dia sudah berumur 80-an tahun. „Ada apa dengan
kedua tetamu itu ?" tanyanya. Sipemburu muda
menyilahkan supaya orang tua itu, menanyakan sendiri.
„Lo-yacu (pak tua), mohon tanya dimanakah ke Tok-kinia
itu.?" buru2 Tio Jiang maju menghampiri. Ternyata
pendengaran orang tua itu masih tajam, diapun tampaknya
terkesiap. „Apakah kalian ini sudah bosan mempunyai
nyawa ?" katanya balas bertanya.
„Lo-yacu, Iekaslah beritahukan, kami mempunyai
urusan penting!" menyela Yan-chiu dengan tak sabar. Mata
siorang tua menyapu sejenak kearah sinona, ujarnya: „Oh,
kiranya nona ini ahli dalam ilmu silat, 'tu pinggangnya
menyelip pedang. Tigapuluh tahun berselang, pernah aku
bertemu dengan seorang anak muda yang membawa
pedang, hebat nian kepandaiannya .............."
„Mengambil jalan dari mana, harap kau lekas katakan!"
tukas Yan-chiu demi mengira orang tua itu melantur tak
keruan. Tapi siorang tua itu tampak geleng2kan kepala,
tiada mau menyahut. Sebaliknya sipemburu muda tadi tak
kurang sengitnya segera menjawab: „Kalau kamu berkeras
hendak pergi, setelah melintasi gunung ini kemudian 17
buah puncak lagi, barulah kau sampai ke Tok .............. ah,
tapi kita pun hanya menurut keterangan orang saja, dan
belum pernah kesana sendiri."
Tio Jiang tak mau membuang tempo lagi. Begitu
mengucapkan terima kasih, dia terus ajak sumoaynya
berlalu.
Masih terdengar siorang tua itu berkata sendiri kepada
anaknya itu: „Tempat itu, tiada seorang yang berani
mendatangi. Tigapuluh tahun yang lalu, anak muda yang
pergi kesana itu belum tampak kembali lagi !" Mau tak mau
Tio Jiang menanyakan pikiran sang sumoay, tapi nona
genit yang tak kenal takut itu hanya menyahut bahwa
mungkin penduduk disitu takut akan keganasan suku Thiattheng-
biau. Begitulah dalam waktu tak lama saja, keduanya
sudah melintasi 5 buah puncak.
Kala. itu sudah tengah hari, untuk melepaskan lapar dan
dahaga. Mereka makan ransum kering dan minum air mata
air. Keadaan ditempat situ, lelap sekali. Sana-sini penuh
ditumbuhi dengann ber-macam2 puhun aneh yang
diramaikan oleh kicauan kawanan burung. Puncak yang
menjulang dihadapan mereka sana, tampak dibungkus
dengan kabut yang tebal, hingga memberi kesan yang
seram. „Siao Chiu, dalam menghadapi perjalanan
selanjutnya, kita harus hati2, kata Tio Jiang sehabis
mengawasi pemandangan dipuncak itu.
”Mati ada lebih baik!" sahut sinona.
Mendengar itu Tio Jiang terkesiap, tanyanya: „Sumoay,
mengapa kau berkata begitu?"
Tapi Yan-chiu ibarat orang yang sudah sunyi hatinya,
maka dengan segan ia menyahut: „Kalau tetap kukatakan
begitu, habis mau apa?"
Tio Jiang terbentur batu, cep kelakep tak bisa berkata
apa2. Demikianlah keduanya lalu melanjutkan
perjalanannya lagi. Menurut perhitungan rnereka kini sudah
medaki 10 buah puncak dan haripun sudah gelap. Oleh
karena sangat berbahaya melakukan perjalanan malam,
terpaksa mereka mencari sebuah gua untuk ternpat
beristirahat. Setelah mencari ranting2 kayu untuk dijadikan
alas pembaringan, begitu menggeletak. Yan-chiu terus
menggeros.
Melihat beberapa hari ini Yan-chiu selalu kurang senang,
Tio Jiang mengira kalau disebabkan setiap hari hanya
makan roti kering saja. Maka dia tak mau turut tidur,
melainkan hendak mencari beberapaa ekor binatang yang
hendak dibakarnya untuk Yan-chiu. Tak seberapa jauh dari
situ, dia berhasil menangkap dua ekor kelinci. Laksana
seorang pahlawan pulang membawa kemenangan, dia bergegas2
pulang. Tiba2 ketika sampai ditengah perjalanan
dilihatnya ada sebuah batu besar yang berbeda dengan
lain2nya. Batu itu tampaknya licin bersih, seperti dipangkas
orang. Dengan keheranan, dia maju menghampiri. Kiranya
batu itu empat pesegi bentuknya, penuh ditumbuhi pakis
(lumut). Karena tak ada lain2 keistimewaan pada batu itu,
maka Tio Jiang segera hendak berjalan lagi. Tapi selagi dia
memutar tubuh, tiba2 matanya tertumbuk akan sesuatu
yang aneh. Ternyata salah satu ujung batu tersebut yang
menempel pada gunung, berlainan dengan ketiga ujung'
lainnya. Tampaknya seperti tak rata, macam pahatan huruf.
Maka dihampiri pula dan dari dekat memang bagian yang
legak-leguk itu mirip benar dengan huruf. Karena ditutupi
oleh pakis yang tumbuh tebal2 diatasnya, jadi tak kelihatan
jelas. Saking ketarik, Tio Jiang letakkan kelinci lalu mengusap2
pakis dan kiranya memang disitu tampak ada
duapuluh huruf yang berbunyi: „Biji kuning didalam batu,
seribu tahun kemudian boleh dimakan, benda itu jarang
terdapat, membuat tubuh enteng umur panjang, siapa yang
berjodoh pasti dapat menemukannya." Sedang pada bagian
bawah terdapat dua buah tanda tangan Tat Mo.
Bermula Tio Jiang tak mengerti apa yang disebut biji
kuning itu. Tapi demi dilihatnya tulisan itu ditulis dengan
guratan jari, dia sangat terperanjat. Suatu ilmu lwekang
yang belum pernah didengar seumur hidupnya. Dan ketika
melihat nama dari tanda tangan itu, dia berjingkrat kaget.
Teringat dia apa yang pernah dikatakan sang suhu. Tat Mo
Cuncia itu orang dari Thian-tiok (India) yang datang ke
Tiongkok pada ahala Tang Cin. Dia pernah menjadi paderi
digereja Kong-hau-si di Kwiciu, kemudian dengan gunakan
kepandaian ilmu mengentengi tubuh yang tinggi dia dapat
melintasi sungai menetap digereja Siao Lim Si Hokkian.
Sembilan tahun lamanya dia bertekun menghadapi tembok,
akhirnya berhasil memiliki suatu ilmu lwekang yang sakti.
Sejak itu, entah tiada ketahuan rimbanya. Adakah benar2
dia Pernah bertamasya kegunung Sip-ban-tay-san situ dan
tinggalkan tulisan itu?
Tanpa menghiraukan kelincinya lagi, Tio Jiang serentak
ber-lari2 kegua untuk mendapatkan Yan-chiu. „Siao Chiu,
lekas ikut aku, ada sebuah benda mustika!" serunya sambil
mlengguncang lengan sumoaynya. Tapi sinona itu hanya
sekali buka matanya dengan kurang senang, lalu tidur lagi.
Tio Jiang meng-guncang2kannya lagi. „Ada apa sih?"
tanyanya dengan acuh tak acuh. Tapi demi Tio Jiang
tuturkan apa yang dilihatnya tadi, Yan-chiu terbeliak kaget.
„Jadi diatasnya tertulis 'biji kuning dalam batu' ?"
tanyanya menegas. Tio Jiang mengiakan.
Dalam soal ilmu surat, Yan-chiu lebih pandai. Dia
banyak membaca buku2. „Dalam kitab Poa-bu-cu ada
tertulis, biji kuning dalam batu itu hanya terdapat didalam
batu besar. Kalau batu itu dipecah, maka akan tampak
sebuah benda merah ke-kuning2an, mirip dengan kuning
didalam telur. Kalau tak lekas2 disantap, benda itu akan
keras menjadi batu," akhirnya Yan-chiu berkata. Atas
pertanyaan sang suko tentang khasiat makan biji kuning itu,
Yanchiu menerangkan bahwa benda itu merupakan suatu
mustika yang jarang terdapat didunia. Barang siapa yang
menyantapnya akan bertambah panjang usianya serta
tubuhnya akan menjadi enteng sekali.
„Bagus, Siao Chiu, lekas mari ikut aku, biar kau yang
memakannya!" seru Tio Jiang dengan gembira. Melihat
kebaikan budi sang suko yang sedemikian besar itu,
tergeraklah hati Yan-chiu, pikirnya mengeluh: „Huh, tolol
lu. Apakah kau kira dengan memperoleh mustika itu hatiku
menjadi gembira? Hem....., hanya kalau kau ucapkan
sepatah kata 'aku cinta padamul kepadaku, barulah hatiku
benar2 menjadi gembira!"
Demi tiba disana, Yan-chiu menyatakan sukarnya untuk
memecah batu sebesar itu. Tio Jiang coba gunakan lwekang
untuk menghantam, namun batu itu sedikitpun tak
bergeming. „Percuma saja, kurasa diatas bumi ini hanya
ada sepasang pedang dari suhu dan subo yang dapat
digunakan untuk membelahnya. Ilmu lwekang yang
bagaimana lihaynya tetap tak dapat mengerjakannya,"
akhirnya Yan-chiu menyatakan pendapat. „Benar, kita,
harus cari suku Thiat-theng-biau itu, kalau si The Go belum
keburu datang, kita rebut juga pedang itu dari Kit-bong-to!"
kata Tio Jiang.
Begitulah kedua suko dan sumoay itu lalu kembali lagi
kedalam goanya.
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 26 : ORANG UTAN
Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Tetapi tiada seorang manusiapun yang mereka jumpai.
Puncak gunung yang didakinya itu, makin jauh makin
tinggi, maka menjelang petang hari mereka baru tiba
dipuncak yang ke 17. Mendongak keatas, tampak puncak
gunung yang ke 17 itu sangatlah tingginya. Tio Jiang heran
mengapa dipuncak situ, yang menurut anggapannya adalah
puncak Tok-ki-nia, tiada terdapat seorangpun juga.
„Hayo kita naik keatas!" seru Yan-chiu setelah
mengawasi sejenak.
Pada hari itu karena naik turun 7 buah gunung yang
tinggi2, keduanya merasa lelah sekali. Sampai dipuncak,
mereka makin lelah dan duduk disebuah batu karang besar.
Angin disitu meniup kencang, sehingga, keduanya merasa
agak kedinginan. „Mengapa tiada seorangpun disini, adalah
kita ini tersesat ?" lagi2 Yan-chiu menggerutu.
Tapi baru saja ia ucapkan kata2 itu, dari tengah lereng
gunung dibawah sana tiba2 terdengar semacam suara
ketawa aneh, menyeramkan sekali. Apalagi karena seat itu
sudah magrib, jadi suasananya makin menakutkan.
Mendengar itu otomatis Yan-chiu duduk merapat disisi
sang suko. Keduanya saling berpandangan, tapi tak berani
membuka mulut. Sesaat kemudian, suara aneh itu lenyap
dan suasana kembali sunyi lelap.
„Suko, suara manusiakah itu?" bisik Yan-chiu. Tio Jiang
yang pasang telinga mendengari, dapatkan kalau suara itu
nyaring dan bening sekali, bukan seperti suara orang. Tapi
dia sendiri tak mengetahui suara apakah itu. Sahutnya:
„Mungkin bukan suku Thiat-theng-biau, sumoay siapkanlah
pedangmu untuk menghadapi segala kemungkinan!"
Kedua anak muda itu kini siap dengan pedang ditangan.
Tak berapa lama kemudian, suara ketawa itu terdengar
lagi.
Tapi kali ini suara itu ber-susun2 tak kurang dari 10
tempat munculnya. Kanan kiri, muka belakang sahut
menyahut. „Suko, kawanan orang itu hebat sekali ilmunya
mengentengi tubuh!" kata Yan-chiu. Tio Jiang mengiakan.
Sewaktu tukar bicara itu, mereka tak begitu merasa
ketakutan, maka mereka lalu sambung lagi dengan beberapa
pembicaraan. Lama kelamaan suara2 itu tak terasa
menakutkan kedengarannya. Oleh karena keliwat lelah,
Yan-chiu terus saja rebahkan diri. Tapi baru saja tubuhnya
merebah, tiba2 dilihatnya sekira 3 tombak terpisah dari
tempat situ, seperti tampak ada dua buah lentera hijau bergerak2
kian kemari, sehingga dengan serentak dia bangun
lagi dan menunjukkannya kepada sang suko.
Tio Jiang membungkuk kebawah dan terkejut jugalah ia.
„Sumoay, hati2lah!" bisiknya. Tapi tepat dia mengeluarkan
kata2 itu, se-konyong2 dari semak2 rumput disebelah sana
terdengar suara berisik dan berbareng itu tampak sesosok
bayangan hitam menonjol naik, lebih dari setombak
tingginya. Yan-chiu menjerit kaget dan susupkan kepalanya
kedada sang suko.
„Siao Chiu, jangan takut!" kata Tio Jiang sembari
mengawasi benda itu dengan perdata. Makhluk itu mirip
orang bukan orang, kera bukan kera. Rambutnya terurai
kacau balau, sepasang lengannya panjang hampir sampai
ditanah. Tiba2 Tio Jiang teringat akan sesuatu dan dengan
gugupnya segera berseru: „Siao Chiu, lekas lari! Itulah
orang utan, tentu bukan hanya seekor ini. Ah, makanya
sipemburu tadi tak berani menyebut nama Tok-ki-nia,
kiranya karena disini terdapat orang utan. Larilah lekas,
biar kuhadangnya dial"
Mendengar kata2 'orang utan' hati Yan-chiu makin
gelisah. Pernah didengarnya bahwa binatang ituu termasuk
binatang yang berotak terang, kulitnya keras, tenaganya
bukan kepalang. Mereka paling suka bergerombol, apabila
sudah menetap disebuah tempat, mereka tak mau pergi lagi.
Setiap gerombol tak kurang dari tiga sampai limapuluh ekor
banyaknya. Tenaga dua orang, terang tak dapat melawan.
Tapi kalau disuruh lari sendirian, biar bagaimana dia tak
mau. „Suko, kalau harus binasa, biarlah kita berdua
bersama2!!! sahut Yan-chiu sembari mainkan pedangnya.
Melihat sinar pedang, orang utan itu perdengarkan
ketawanya yang seram. Dengan pentang kedua lengannya
dia maju menubruk Yan-chiu. Saking besarnya tubuh,
tubrukan ituu sampai menerbitkan suara men-deru2. Tio
Jiang dan Yan-chiu lekas2 berpencar menghindar. Karena
tubrukannya kosong, makhluk itu mengaung keras. Tapi
karena tak dapat menguasai gerakannya, binatang itu
menyeruduk kemuka sampai beberapa tombak baru dapat
berhenti tegak lagi. Pada saat itu, Yan-chiu tarik tangan
sukonya untuk diajak bersembunyi diantara batu2 karang.
Melihat kedua anak muda itu lenyap secara tiba2,
kembali orang utan ituu mengaung keras. Menyusul dari
empat penjurupun segera terdengar kumandang suaranya.
Dan sesaat kemudian, dari tengah lamping gunung sanapun
terdengar suara macam begitu. Dari nada suaranya, jelas
kalau beberapa auman itu dari bawah menuju keatas.
Secepat kilat, tiga empat ekor orang utan menyusul datang.
Mereka tampak men-jerit, seperti laku orang yang tengah
berunding. Setelah itu, mereka pencar diri keempat penjuru,
mencabuti rumput dan puhun. Dari sikapnya se-olah2
hendak mencari jejak Tio Jiang dan Yan-chiu. Dahan
sebesar mangkok, dengan mudah dapat diputuskan.
Keparatlah bangsat Lim Ciong itu, dia telah menipu kita
datang kemari. Kalau sampai binasa, aku hendak menjadi
setan untuk mencekiknya mampus!" Yan-chiu meng gigit
giginya bahna gusar.
GAMBAR 51
Dalam keadaan kewalahan, tiba2 Tio Jiang merasa tubuhnya
dipegang sepasang tangan yang kuat, ia kaget ketika melihat
dihadapannya sudah berdiri seekor orang hutan raksasa.
„Celaka, jangan2 Nyo-toa-cecu itu nanti juga kesasar
kesini!" sahut Tio Jiang dengan berbisik. Tengah pikirannya
menimang begitu, se-konyong2 sinar hijau sebesar telur
ayam tadi menyorot kearah matanya. Kiranya tahu2 seekor
orang utan tampak berdiri dihadapannya. Dalam sibuknya,
Tio Jiang segera serangkan pedangnya dengan jurus ,Ho
Pek kuan hay", salah satu dari jurus ilmu pedang To-haykiam-
hwat, maju menusuk. Begitu dekat sekali jaraknya
ketika itu, maka bagaimanapun juga lihaynya seorang
musuh, sukar kiranya untuk menghindar dari tusukan itu.
Juga orang utan itu, walaupun tergolong jenis binatang
yang bagus otaknya, namun binatang tetap binatang.
Bet....., demikian kedengaran semacam suara dan kedua
lentera tadi padam seketika. Kiranya tusukan Tio Jiang tadi
telah diarahkan kearah mata. Hasilnya, sebelah mata dari
orang utan itu telah kena tertusuk buta.
Melihat serangannya berhasil, Tio Jiang buru2 tarik Yanchiu
untuk diajak bersembunyi kesamping. Tertusuk buta
matanya, saking kesakitan orang utan itu menjadi bluddruk
(darah tinggi alias gusar). Dua buah batu yang beratnya tak
kurang dari 1000 kati, dilemparkan oleh orang utan itu,
sembari mulutnya menggerung keras2. Disana segera susul
menyusul terdengar suara menyambut dann ber-gegas2 naik
keatas. Sudah tentu Tio Jiang dan Yan-chiu makin tak
berani bernapas lagi.
Siorang utan yang terbutakan matanya tadi, masih
mengamuk kalang kabut. Seekor orang utan kecil yang lari
paling muka dari kawanan orang utan yang datang
membantu itu, telah kena disamplok oleh gontaian
sepasang lengannya yang panjang itu, hingga terpental jatuh
sampai kebawah lagi. Sekawan orang utan segera
mengerumuni kawannya yang buta tadi. Mereka sama bercuwit2
dan bercoa2 seperti bicara tingkahnya. Dan
nyatanya, siorang utan yang buta tadi segera berhenti
menghantam kalang kabut. Dengan ber-ingsut2 dia
menghampiri sebatang puhun dan duduk dibawahnya.
Melihat kawanan orang utan itu, lupa Yan-chiu kalau ia
sedang dalam suasana yang berbahaya. „Suko, orang utan
itu menyerupai monyet. Kuat dan menyenangkan. Hayo,
kita tangkap seekor untuk dipelihara!" ujarnya. Tapi
sebaliknya sang suko malah membentaknya: „Siao Chiu,
jangan bicara keras2!"
Kini kawanan orang utan yang baru datang tadi, yang
jumlahnya antara 7 atau 9 ekor, segera mewakili pekerjaan
kawannya yang buta tadi. Mereka mencabuti puhun2 dan
membalikkan batu2, rupanya hendak mencari jejak kedua
anak muda itu. Tapi sampai sekian lama, Tio Jiang dan
Yan-chiu dapat lolos dari mereka. Ini berkat keduanya
menggunakan ilmunya mengentengi tubuh. Dan kedua
kalinya, kawanan orang utan itu mempunyai cacad yang
khas. Mata mereka hanya dapat digunakan memandang
kemuka, tak dapat kekanan kiri. Kalau hendak berpaling
kebelakang atau kekanan kiri, tubuhnya pun harus turut
diputar. Inilah keuntungan dari Tio Jiang berdua, mengapa
sampai sekian lama tak dapat diketemukan.
Tak antara berapa lama, salah seekor orang utan besar
dari kawanan bala bantuan tadi mengaung keras. Mungkin
karena tak menjumpai kedua anak muda tadi, mereka terus
hendak turun gunung lagi. Tio Jiang menghela napas lega.
Tapi kelegahan itu segera berganti dengan rasa kaget yang
tak terhingga, demi menoleh kesamping didapatinya Yanchiu
tiada disitu. Mengawasi keseluruh penjuru, kira2
setombak jauhnya dari situ, Yan-chiu tengah mendekap
seekor anak orang utan kecil. Melihat itu Tio Jiang banting2
kaki. Mengapa dalam keadaan jiwanya sendiri masih belum
berketentuan, tapi mau memelihara seekor anak orang utan!
Rupanya anak orang utan itu tak mau, lalu loncat
setombak jauhnya. Dan Yan-chiu yang tak kenal bahaya,
memburunya. Sudah tentu Tio Jiang makin terkejut dan
terpaksa loncat memburu. Tadi sebenarnya orang utan itu
sudah hendak turun gunung lagi, tapi begitu mendengar
suara rintihan anaknya, mereka berpencar mencarinya lagi.
Berbareng dengan tersingkap awan yang menutupi
rembulan, maka suasana dipuncak situ menjadi seperti
siang terangnya. Segeraa mereka selihat seorang nona
tengah mengejar seekor anak orang utan. Pecahlah aum dan
gerung yang hebat dan laksana barisan raksasa, kawanan
orang utan itu menyerbu.
Pada saat itu, baru Yan-chiu tersadar. Hendak ia lari
balik, tapi ia telah diputari oleh sekawan orang utan yang
saling bercekalan tangan seperti orang mengedangkan
lengan. Ber-puluh2 mata sebesar telur ayam yang memancar2
cahaya ke-hijau2an, diarahkan kepadanya. Benar
sejak dua bulan yang lalu ini, Yan-chiu mendapat kemajuan
pesat dalam kepandaiannya, tapi menghadapi kepungan
orang utan yang menyerupai hantu malam itu, hatinya
menjadi tercekat dan kakinya serasa lemas tak bertulang.
Pelahan tapi tentu, kawanan orang utan itu maju meng~
hampiri dan lingkungan kepungan mereka menjadi makin
sempit. Biasa dalam keadaan berbahaya, orang tentu timbul
dayanya. Demikian juga Yan-chiu. Setelah empos
semangat, dia enjot tubuhnya melambung sampai satu
tombak tingginya. Baru ia hendak berjumpalitan
memblerosot keluar, tahu2 belasan ekor orang utan itu
loncat keatas juga, malah lebih tinggi dari sinona. Yan-chiu
mengeluh, segera, ia berdaya gunakan cian-kin-tui (tindihan
seribu kati) meluncur turun. Dan ternyata berhasil baik.
Sebagai bangsa monyet yang hidup dipegunungan, orang
utan itu hebat sekali kepandaiannya berloncat, jauh
melebihi dari akhli mengentengi tubuh. Tapi mereka tak
dapat menurun lekas2. Maka ketika Yan-chiu sudah
menginjak tanah, mereka masih melayang diatas. Yan-chiu
tak mau berayal, dengan. gunakan gerak ”18 kali
bergelundungan ditanah", dia menggelundung setombak
jauhnya. Dan tepat ketika Yan-chiu sudah lolos dari
kepungan, Tio Jiangpun menghampiri datang.
Jika waktu itu, mereka terus lari, rasanya tentu akan
terhindar. Tapi dasar sigenit Yan-chiu seorang anak yang
nakal, maka demi dilihatnya sianak orang utan tadi berada
didekat situ, ia hendak memberi hajaran. „Binatang celaka!"
serunya sembari menghantam, buru2 Tio Jiang menarik
sang sumoay, tapi sudah terlambat. Berbareng dengann
jeritan binatang kecil itu, maka ada tiga empat ekor orang
utan memburu. Malah seekor yang dimuka sendiri, sudah
lantas lancarkan hantamannya kearah Yan-chiu.
Tio Jiang dan Yan-chiu segera menyambutnya masing2
dengan To-hay-kiam-hwat dan Hoan-kang-kiam-hwat.
Namun siorang utan itu deliki mata dan biarkan saja
lengannya dipapas, bluk..... celaka, tidak apa2, nyata kulit
mereka kebal sekali. Tio Jiang sebat sekali sudah mencari
lain sasaran dibagian pantat, namun binatang itu tak
menghiraukannya. Maju selangkah, kelima jari siorang utan
yang hampir satu meter panjangnya itu merangsang hendak
merebut pedang Tio Jiang. Dengan gugup, Tio Jiang surut
kebelakang sembari mengirim pukulan yang tepat mengenai
dada sibinatang. Benar kulit binatang itu tebal dan, keras,
namun karena Tio Jiang, memukul se-kuat2nya, tak urung
orang utan itu menggerung kesakitan. Tujuh atau, delapan
ekor kawannya segera memburu datang.
„Siao Chiu, jangan berpisah lagi!" Dalam keadaan
begitu, sudah tentu Yan-chiu tak berani membantah lagi..
Kini keduanya bahu membahu. Kawanan orang utan itu,
kembali mengepung seperti caranya tadi, saling bercekalan
tangan, sembari maju menghampiri. Tio Jiang menusuk
keperut salah seekor, siapa kedengaran menjerit kesakitan.
Kiranya perut adalah bagian yang lemah dari orang utan
itu.. Lubang kesempatan itu digunakan se-baik2nya oleh
Yan-chiu yang telah berhasil mendesak mundur
pengepungnya.
Tapi begitu serangannya agak kendor sedikit saja,
kawanan orang utan itu ber-teriak2 keras dan maju
mengepung lagi.
Sehari menempuh perjalanan yang begitu sukar, Tio
Jiang dan Yan-chiu sudah sangat letih. Baru mereka hendak
tidur, atau sudah dipaksa bertempur dengan kawanan orang
utan yang lihay. Maka setelah bertahan setengah jam saja,
keduanya sudah kehabisan tenaga. „Suko, dalam saat2
dimana kita tentu takkan dapat lolos dari bahaya ini, aku
hendak memberitahukan padamu suatu hal penting,” tiba2
Yan-chiu mengelah napas. la hendak mencurahkan, isi
hatinya.
„Siao Chiu jangan pikiran yang tidak2, hadapilah
musuh, dengan sekuat tenaga!" sahut Tio Jiang yang
pantang menyerah. Tapi diluar dugaan, begitu
mendengarkan pembicaraan mereka, kawanan orang utan
itu menjerit keras dan, dari mengepung mereka berganti
menyerang. Karena dari delapan penjuru terdengar
samberan deru serbuan mereka, Tio Jiang dan Yan-chiu tak
dapat menghindar lagi. Dan yang lebih merepotkan Tio
Jiang, waktu itu Yan-chiu sudah tak mau melawan lagi.
Pedangnya dikulaikan dan orangnya menggelandot pada
Tio Jiang. Tio Jiang mengira kalau sumoaynya itu
ketakutan, jadi diapun tak tegah untuk memarahi atau
mendorongnya.
Tiba2 ketika dalam saat2 dimana kawanan orang utan
itu sudah mengulurkan tangannya maut, mereka mundur
lagi kebelakang. Sesaat kemudian, maju lagi tapi pada
ketika sudah maju merapat dan hendak julurkan tangan,
mereka mundur lagi. Hal itu terjadi berulang kali. Tahulah
kini Tio Jiang dan Yan-chiu apa sebabnya. Disebabkan
karena tubuhnya sangat besar, maka begitu mereka maju
merapat, tubuhnya saling berbenturan tak dapat mendekati
korbannya. Sebenarnya cukup dua ekor saja yang maju,
tentu bereslah. Tapi dasar binatang, mereka, tak
mempunyai pikiran begitu. Yan-chiu timbul lagi nyalinya.
Untuk keuntungan kedua anak muda itu, keadaan
berobah lucu. Karena belasan kali maju mundur begitu,
kawanan orang utan itu marah sendiri, bukan marah
kepada sang korban tetapi kepada kawan2nya. Bluk....,
bluk...., bluk..., mereka berhantam sendiri, karena sama2
saling menyalahkan. Melihat kesempatan itu, Yan-chiu
lekas2 ajak sukonya lolos. Dengan ber-jengket2 supaya tak
menyolok, keduanya surut kebelakang dan begitu agak
jauh, mereka segera gunakan ilmu berlari cepat untuk lari
kebawah gunung. Oleh karena masih saling hantam2an
sendiri dengan dahsyatnya, kawanan orang utan itu tak
menghiraukan sang korban lagi. Sampaipun ketika Tio
Jiang dan sumoaynya sudah tiba di-tengah2 lamping
gunung, masih mereka mendengar suara gemuruh dari
kawanan orang utan yang berhantam diatas puncak itu.
Ketika hendak meneruskan turun gunung, Yan-chiu
berpaling kebelakang sebentar dan hai sianak orang utan itu
mengikutinya. Yan-chiu sudah tak berhasrat hendak
memeliharanya lagi, malah kini ia memberi persen dua
buah pukulan. Tio Jiang hendak mencegah, tapi sudah
kasip. Anak orang utan itu melengking kesakitan dan tahu2
muncullah seekor orang utan yang lebih besar lagi dari yang
dipuncak gunung tadi. Dua tiga kali berloncatan, orang
utan itu sudah menghadang dihadapan Tio Jiang dan
Yanchiu serta ayunkan kedua kakinya menendang. Tio
Jiang' menghindar kesamping, tapi tepat ada sebuah bafu
melayang jatuh menyerempet telinganya, sehingga rasanya
telinganya itu seperti pecah. Malah menyusul dengan itu,
dari atas berguguran beberapa batu. Namun siorang utan
tak menghiraukan hujan batu itu, dan tetap merangsang
maju.
Tio Jiang dan Yan-chiu terpaksa memberi perlawanan.
Tapi setiap kali ujung pedang mereka menusuk kulit
sibinatang, rasanya seperti menusuk batu saja. Dalam
berapa jurus saja, tangan Yan-chiu sudah lemah lunglai,
pedangnyapun dapat direbut oleh siorang utan, krek.........
putuslah pedang itu. Yan-chiu nekat, kutungan tangkai
pedang yang masih dipegangi itu, ditimpukkan kearah mata
siorang utan, tapi dengan sebatnya binatang itu dapat
menyampoknya jatuh. Kini dengan ulurkan tangannya dia
maju menerkam ..........
Tio Jiang kaget dan terus berjibaku. Dengan sepasang
tangannya mencekal, dia tusuk bagian perut siorang utan.
Tapi sayang karena gugup, jadi tusukan itu tak tepat
mengenai bagian yang berbahaya, hanya kena dibagian
atasnya. Sekalipun perut binatang itu tak sampai bobol,
namun karena Tio Jiang menusuk se-kuat2nya, binatang
itupun menggerang kesakitan. Serentak dengan itu Tio
Jiang rasakan ada suatu tenaga pukulan-balik yang hebat
sekali. Buru2 dia berjumpalitan kebelakang. Dari situ dia
tarik sang sumoay untuk diajak lari. Oleh karena pedangnya
kutung separoh, yang sebagianpun dibuangnya sama sekali.
Tapi orang utan itu ternyata sebat dan tangkas sekali.
Cepat sekali dia sudah dapat menyusul kedua anak muda
kita. Karena tak mencekal senjata, Tio Jiang dan Yan-chiu
gunakan ilmu mengentengi tubuh berlincahan menghindar.
Tapi lama kelamaan, saking lelahnya gerakan loncat
mereka itu makin lambat, beberapa kali mereka hampir
kena diterkam siorang utan. Untuk menolong sang sumoay,
terpaksa berulang kali Tio Jiang menerjang bahaya, hingga
kini pakaiannya pun sudah robek dicakar siorang utan dan
pahanya pun luka terkena kuku, sakitnya jangan dikata.
Untuk beberapa saat, keduanya masih kuatkan hati
untuk bertahan. Sebaliknya orang utan itu makin lama
makin mengganas tandangnya. Sedang sianak orang utan
tadi ber-cuat-cuit mengawasi dipinggir, rupanya seperti bersorak2
kegirangan karena fihaknya menang.
„Bangsat kecil, hati2 kau nanti tentu kubeset kulitmu!"
maki sinona. Mendengar, itu Tio Jiang terpaksa
menyeringai mendelu sekali.
Sepuluh jurus kemudian, tiba2 orang utan itu tertawa.
aneh macam orang menjerit. Celaka, keluh Tio Jiang., Satu
saja sudah sedemikian berbahaya, kalau nanti kawan2nya
datang, tentu lebih2 lagi. Dia cepat mengirim sebuah
hantaman, kemudian loncat keatas untuk menutuk biji
mata. Tapi siorang utan itu hanya miringkan kepala, tetap
masih tertawa. Sekejab kemudian, disana sini terdengar,
ketawa macam begitu sahut menyahut. Nyata itulah
kawanan orang utan yang menyahuti dan menuju kesitu.
Tio Jiang cepat ambil putusan. Setelah melancarkan
sebuah hantaman, secepat itu dia sawut tubuh Yan-chiu
untuk dilemparkan keluar gelanggang. Jadi teranglah
maksudnya. Biar dia tetap menghadang siorang utan, asal
Yan-chiu bisa lolos. Tapi rencana itu telah gagal, bahkan
mengalami kerugian besar. Karena tenaganya habis,
lontaran yang dikiranya dapat melemparkan Yan-chiu
sampai dua tombak tingginya itu ternyata hanya mencapai
setombak kurang. Sekali tangan siorang utan menyambar
kedua kaki Yan-chiu segera dapat dicengkeramnya.
Dengan mencengkeram kaki sinona, orang utan itu
mendongak tertawa keras2. Saking terperanjatnya, Tio
Jiang, menjadi ter-longong2 dan tahu2 dia telah dirangkul
oleh, seekor orang utan lain. Begitu pelukan itu terasa
kencang, barulah Tio Jiang gelagapan namun tak berdaya
untuk meronta lagi. Dua buah lengan besar yang penuh
bulu, telah mengangkat tubuhnya keatas dibarengi dengan
suara ketawa keras. Buru2 Tio Jiang kerahkan lwekang
untuk bertahan dan hal ini meringankan juga kesakitannya.
Bukan menghiraukan dirinya yang terancam bahaya,
sebaliknya dia selalu cemaskan keselamatan sang sumoay.
”Siao Chiu, bagaimana kau."
Tapi ternyata Yan-chiupun kuatirkan keselamatan sang
suko. ”Suko, kau bagaimana?" tanyanya juga. Jadi kedua
anak muda itu saling pikiran keselamatan kawannya,
bukan. dirinya sendiri. Hanya saja rasa kekuatiran mereka
itu, berbeda. Yan-chiu mencurahkan suara kalbunya,
sebaliknya, Tio Jiang hanya didorong oleh kecintaan
saudara seperguruan saja.
Kawanan orang utan lainnya sama tampak ber-jingkrak2
dan ber-teriak2. Rupanya seperti hendak merayakan
kemenangannya. Karena tangannya masih bebas, Yan-chiu
menghantam kalang kabut kearah kepala siorang utan itu,
tapi sedikitpun binatang itu tak berasa dan tetap, tertawa.
Karena tak mempunyai daya lain, Tio Jiang ikuti juga
cara Yan-chiu tadi. Baru. dia hendak kerahkan tenaga
untuk menendang, tiba2 telinganya mendengar semacam
suara halus yang melengking sekali. „Buyung dan budak,
jangan bergerak sembarangan!"
Girang Tio Jiang sukar dilukis. Itulah suara Kui-ing-cu,
ya tak salah lagi. Kiranya tokoh aneh itu bersama seorang
hweshio tampak bersembunyi dibalik sebuah batu besar.
Ketika Tio Jiang berpaling kearah sang sumoay, dilihatnya
sumoaynya pun sudah berhenti menghantam. Ah, tentu
iapun mendengar juga perintah orang aneh itu. Tapi kuatir
kalau belum mendengarnya, buru2 Tio Jiang menyerukan:
„Siao Chiu, jangan takut! Kui-ing-cu locianpwe dan seorang
hweshio datang menolong kita!"
„Tak usah kauberitahukan, akupun sudah tahu! Huh,
siapa yang kaukatakan hweshio itu! Dia kan Nyo-toa-cecu,
entah bilamana dia masuk menjadi hweshio", sahut
Yanchiu. Tio Jiang mengawasi dengan perdata, dan diapun
heran juga.
Lagi2 pembicaraan itu menimbulkan reaksi pada
beberapa orang utan itu. Orang utan adalah sejenis binatang
yang cerdas otaknya. Biarpun belum pernah mendengarkan
kata2 orang, tapi dari nada kedua anak muda yang begitu
longgarnya, orang utan yang mencengkeram kaki Yan-chiu,
cepat berhenti ketawa. Sepasang lengannya dipentang
keluar, maksudnya hendak merobek tubuh shiona, siapa
coba kerahkan lwekang untuk bertahan, tapi kalah kuat.
”Locianpwe, lekas tolong jiwaku!" teriaknya ketakutan.
Sesuai dengan gelarannya Kui-ing-cu atau Bayangan Setan,
tahu2 bagaikan bayangan Kui-ing-cu sudah muncul keluar.
Dua titik bintang melayang kearah perut bagian bawah dari
sibinatang, dan aaaahhhh........ menjeritlah binatang itu,
terus berputar kebelakang untuk mencari penyerangnya.
Kita tahu siapakah tokoh Kui-ing-cu itu. Sekalipun kulit
binatang itu keras dan tebal, namun menerima timpukan
batu yang dilancarkan sekuat tenaga olehnya itu, biar
bagaimana binatang itu menderita kesakitan hebat juga.
Tapi sekalipun seorang tokoh persilatan yang berilmu
tinggi, namun terperanjat juga Kui-ing-cu menampak wajah
siorang utan yang sedemikian menyeramkan itu.
„Nyo-heng, terimalah ini!" serunya lebih dahulu
melemparkan bumbung bambu yang berisi ular ceng-ongsin
kearah Nyo Kong-lim. Sekali tubuhnya menjulang
keatas, dia hantam dada siorang utan itu dengan sebuah
pukulan ”tongcu-pay Hud" (anak menyembah Budha).
Jurus ini sebenarnya termasuk jurus biasa, sehingga setiap
orang yang belajar silat tentu dapat mengenalnya. Tapi
dimainkan Kui-ing-cu, perbawanya begitu dahsyat sekali.
Rupanya siorang utan itu tahu selatan juga. Melihat
kedahsyatan yang mengancam, dia mundur selangkah.
Namun Kui-ing-cu tetap membayanginya. Belum jurus
tongcu-payhud dilancarkan penuh, tubuhnya sudah ikut
maju merapat musuh dan robah serangannya menjadi
thian-li-san-hoa (bidadari menebarkan bunga), buk....,
buk...., buk.... siorang utan menjerit kesakitan karena
bawah perutnya kena terhantam, otomatis tangannya
menurun!
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 27 : SI RAJA ULAR
Tubuh siorang utan ter-huyung2 tak dapat berdiri tegak.
Rupanya pekakas dalam tubuhnya terluka kena hantaman
Kui-ing-cu itu. Melihat kesempatan itu, Yan-chiu tak mau
men-sia2kan. Sekali meronta, ia enjot kakinya keatas lengan
siorang utan dan melayang lepas dari cengkeraman. Baru
kakinya menginjak tanah, ia segera terkejut bukan kepalang
melihat keadaan disekelilingnya situ.
Kiranya sewaktu rubuh hendak meregang jiwa tadi,
siorang utan yang terkena pukulan dahsyat Kui-ing-cu itu,
menggaum dengan kerasnya, hingga membuat terkejut
seluruh orang utan digunung situ. Entah berapa puluh ekor
jumlahnya, kini mereka sama berbaris rapat mengepung
beberapa manusia yang memusuhinya itu. Ada seekor
orang utan jenis betina yang segera rubuh menelungkupi
orang utan yang putus jiwanya sambil ngak-nguk.... ngaknguk....
me-ngiang2 dengan pilu sekali. Kala itu Tio Jiang
masih tetap dicengkeram oleh orang utan tadi, wajahnya
merah padam karena dia sedang kerahkan lwekang untuk
menahan cengkeraman maut itu. Melihat itu Yan-chiu
bertanya, pada Kui-ing-cu, siapapun tak mempunyai daya
apa2.
„Siao Chiu, kau apungkan diri menyerang sepasang mata
dari binatang itu, untuk menolong siaoko. Pertama
gunakanlah jurus hong-hong-sam-tiam-thau lalu song-liongjongcu!"
seru Kui-ing-cu kemudian.
”Bocah perempuan lihay, pelajaran dari Tay Siang
Siansu telah dapat dipelajarinya!" seru Kui-ing-cu memuji
ketika Yan-chiu enjot tubuhnya melakukan perintahnya
tadi. Buru2 dia membantunya dengan maju menyapu kaki
siorang utan.
GAMBAR 52
Sekali meloncat, Yan-chiu hindarkan tubrukan binatang buas
itu, sementara itupun Kui-ing-cu cepat memburu maju buat
menolong.
Yan-chiu turut nasehat Kui-ing-cu. Belum jurus honghong-
sam-tiam-thau diserangkan tiba2 sudah terus diganti
dengan jurus song-liong-jong-cu. Dua buah jarinya
mengancam sepasang mata siorang utan, tapi telah meleset,
mengenai pelipis keningnya karena binatang itu miringkan
kepalanya menghindar. Diluar dugaan, tusukan jari yang
tetap menutuk jalan darah thay-yang-hiat itu, merupakan
tutukan fatal (maut). Siorang utan menggerung keras, dia
lepaskan salah satu tangan yang mencengkeram Tio Jiang
untuk dibuat menyawuti Yan-chiu, tapi sinona itu menekan
tangannya kearah badan siorang utan, meminjam tenaga
tekanan itu untuk loncat menghindar. Ketika siorang utan
hendak memburu, sapuan kaki Kui-ing-cupun sudah tiba.
Sapuan kaki yang bergaya jurus te-tong-thui (menyapu
ruangan bumi) adalah ilmu yang pertama kali dipelajari
Kui-ing-cu sewaktu dia baru mulai belajar silat.
Peyakinannya selama ber-puluh2 tahun itu, telah mencapai
tingkat kesempurnaan yang tiada taranya lagi. Dalam
pertemuan kaum persilatan daerah Kwiciu yang diadakan
pada beberapa tahun berselang, pernah dia gunakan jurus
sapuan kaki untuk menendang patah 49 batang tonggak
bwe-hoa-cung. Adakah kaki siorang utan melebihi kerasnya
dari tonggak kayu, rasanya tentu tidak. Maka krek......,
sebelah kaki siorang utan telah tertendang putus, terhuyung2
terus rubuh ketanah. Begitu Tio Jiang meronta
lepas, dia susuli dengan sebuah hantaman yang dahsyat.
Kini tak ampun lagi, siorang utan itu jatuh terkulai ditanah.
„Suko, kita akan binasa berempat!" seru Yan-chiu ketika
menyongsong sukonya. Mendengar itu Kui-ing-cu tertawa
dingin, serunya: „Kita berempat harus bertahan dengan
saling merapat bahu, jangan kasih kesempatan pada mereka
mendekati kita!"
Perentah itu diturut. Kini mereka merapat satu sama
lain, masing2 menghadap kesatu arah mata angin ke utara
selatan barat timur. Yan-chiu tepat berdiri disebelah Nyo
Kong-lim. Ternyata keadaan yang sedemikian
berbahayanya itu, tak mengurangkan rasa heran sinona
genit yang segera menanyakan Nyo Kong-lim mengapa
masuk menjadi hweshio itu. Sudah tentu yang ditanya
menjadi merah padam mukanya.
„Sumoay, awas!" tiba2 Tio Jiang berseru sembari
lancarkan sebuah pukulan pada seekor orang utan yang
hendak menerkam Yan-chiu. Melihat itu, kini Yan-chiu tak
berani usil mulut lagi. Seluruh perhatiannya ditumpahkan
kearah musuh. Kini keadaannya berlainan. Kawanan orang
Utan itu tak berani merapat dekat2 karena jeri akan pukulan
biat-gong-ciang dari Kui-ing-cu yang teramat dahsyatnya.
Dua jam berselang, haripun makin terang. Kalau kawanan
orang utan itu makin lama tetap beringas, adalah Kui-ing-cu
berempat menjadi kehabisan tenaga. Sepasang lengan
masing2 sudah terasa, lemah lunglai kesemutan.
Sejak keluar dari rumah perguruan, entah sudah
beberapa banyak kaum persilatan yang pernah dijatuhkan.
Tapi selama itu, belum pernah dia keluarkan tenaga
habis2an seperti ketika menghadapi kawanan orang utan
pada saat tersebut. Setengah jam kemudian, tampak
cakrawala menjadi terang benderang menyongsong
kedatangan matahari. Waktu sempat menghitung
jumlahnya, ternyata kawanan orang utan tak kurang dari
190 ekor jumlahnya. Kalau pukulan Kui-ing-cu agak lemah,
kawanan orang utan itu maju menghampiri dekat2. Malah
ada beberapa ekor yang berada dibarisan depan sendiri,
hampir dapat menyengkeram Yan-chiu. „Ah, binatang2 ini
sekalipun tokoh silat yang sakti, rupanya tetap tak dapat
menghadapinya. Siaoko, mengapa kau katakan pada bocah
besar (Nyo Kong-lim) kalau suku Thiat-theng-biau itu
tinggal ditempat ini?" tanya Kui-ing-cu dengan menghela
napas.
„Yang mengatakan begitu adalah Hun-ou-tiap Lim
Ciong!" sahut Tio Jiang seraya lancarkan dua buah pukulan
kepada seekor orang utan yang hendak coba mendekati
rapat2.
„Kalian berdua telah ditipu oleh bangsat itu! A-thau, kau
berotak cerdas, mengapa sampai kena ditipu orang?" kata
Kui-ing-cu. Tapi Yan-chiu tak banyak luang untuk
menyahut. Dengan mandi keringat, dia terus bertahan
dengan gigih. Kui-ing-cu cukup mengetahui, bahwa
sekalipun pada saat itu datang bantuan berupa tokoh silat
yang sakti, tapi rasanya tak nantl dapat menolong keadaan
mereka. Tapi sebagai seorang yang kenyang makan asam
garam, tak mau dia unjukkan perasaannya. Mati hidup tak
dipandangnya secara serious (sungguh2). Maka diapun tak
henti2nya gerakkan tangannya untuk melawan. Dalam
pada itu, dia memberitahukan Tio Jiang: „Sikate tolol Sik
Lo-sam ketika kurampas ularnya ceng-ong-sin, sebenarnya
akan menantang 3 bulan lagi yalah setelah dia dapat
memahami ajaranku ilmu sam-liong-toh-cu-kun-hwat. Tapi
ah......, siaoko, apakah kita masih bernapas pada waktu itu
?"
Tio Jiang kagum kepada tokoh aneh itu. Dalam
menghadapi saat2 kematian, tokoh itu masih bergurau.
Diapun menaulad, sahutnya: „Pada 5 bulan yang lalu
ketika Sik locianpwe sedang menangkap ceng-sin-ong di Lohu-
san, telah kukejutkan hingga gagal" sampai disini tiba2
Tio Jiang teringat akan sesuatu, serunya. „Kui locianpwe!"
„Ho, ho, sekejab lagi binasa ditangan kawanan binatang
itu, mungkin aku benar2 menjadi Kui (setan) locianpwe,
ini!" Kui-ing-cu tetap ber-olok2.
„Lo-cianpwe, jangan menertawakan dulu! Ketika dibiara
rusak kudengar sibangsat Lim Ciong menyebutkan nama
Tok-ki-nia, saat itu akupun rasanya teringat akan kata2
yang pernah diucapkan oleh Sik Loo-cianpwe. Pernah dia,
di Lo-hu-san kala itu, sayang tak berhasil menangkap ular
ceng-sin-ong, coba ya, dia hendak ajak aku pesiar ke Tokkinia.
„Ya....!, kini aku ingatlah!" kata Tio Jiang. Adalah
karena ber-cakap2 itu, Tio Jiang agak lengah, wek.....lengan
bajunya telah kena dicakar robek oleh seekor orang utan,
sehingga lengannyapun mengucurkan darah karena turut
tergurat kuku. Buru2 Tio Jiang mendak kebawah, sedang
Kui-ing-cu lekas2 datang menghantam hingga binatang itu
ber-teriak2 kesakitan dan mundur.
”Apa kata Sik Lo-sam lagi?" tanyanya kepada Tio Jiang,
siapa menyatakan tidak ada lagi.
”Kui lo-cianpwe, bagaimana kepandaian Sik Lo-sam di
banding dengan kau ?" tiba2 Yan-chiu menimbrung. Kuiing-
cu tengah meneliti maksud yang tersimbul dalam kata
Sik Lo-sam itu, ketika Yan-chiu bertanya begitu, tiba2 dia
tersadar. „Siao-ah-thau, rupanya Giam Ong locu (raja
akherat) tak mau menerima kita!" serunya.
Yan-chiu cerdas, tapi Kui-ing-cu lebih pintar lagi.
Meskipun ia tak tahu maksud yang sesungguhnya dari
kata2 Kui-ing-cu itu, namun ia percaya tokoh aneh itu tentu
sudah mempunyai apa2. Maka semangatnyapun timbul.
lagi, Beda dengan Nyo Kong-lim dan Tio Jiang yang kasar
tolol, yang masih minta keterangan lagi pada Kui-ing-cu.
Tapi dari pada menjawab, tokoh aneh itu segera merampas
bumbung bambu yang dicekal Nyo Kong-lim. Begitu
sumbatnya ditekan jari, lalu dilemparkan ketanah, sist......,
sist......, sist......, mendesis2-lah ceng-ong-sin keluar.
Tubuhnya yang hijau kemilau, bagaikan batang bambu
muda yang habis disiram hujan, segar bugar menyedapkan
mata. Siapakah orangnya yang menyangka kalau binatang
itu merupakan ular yang Maha beracun!
Begitu ceng-ong-sin atau Malaekat Raja Hijau keluar,
Kawanan orang utan yang berjumlah banyak itu, laksana
terkena sihir, sama porak poranda mundur. Malah begitu
siraja ular merayap berlingkaran, barisan orang utan yang
terdepan, sama menggigil.
„Siao-ceng-coa, lekas gigitlah siorang utan besar itu! Ha,
kiranya makhluk yang sebegitu besarnya, takut juga kepada
seekor ular kecil!" Yan-chiu berseru kegirangan. Tio Jiang
dan kedua tokoh itu pun sudah beristirahat, sama
menantikan perkembangan lebih jauh.
Setelah ber-putar2 beberapa kali, tiba2 ekor ular itu
menekan tanah dan kepala tegak berdiri keatas, lidahnya
menjulur mengeluarkan desisan. Barisan orang utan yang
berada paling depan sendiri tampak menekuk lutut duduk
seperti orang menjura tiada berani bergerak. Kepala siular
menjulur kemuka dan memagut leher seekor orang utan,
siapa lalu rubuh terjungkal. Setelah itu, siular memagut
lainnya. Anehnya, korban itu tak berani bergerak sama
sekali. Dalam sekejab saja, sudah ada lima enam ekor yang
rubuh. Kawanan orang utan yang lain, memandang
terIongong2 kearah keempat orang itu dengan sorot mata
minta dikasihani.
„Setiap benda atau apa saja didunia yang tergolong
pusaka, tentu mempunyai gaya kesaktian yang sedemikian
hebatnya. Tapi meskipun kawanan orang utan itu sangat
ganas, asal orang tak mengganggunya, merekapun tak
mengganggu, jadi tak apalah, lebih baik bebaskan mereka!"
akhirnya Kui-ing-cu menghela napas. Kalau Nyo Kong-lim
dan Tio Jiang menyetujui, sebaliknya Yan-chiu mengajukan
syarat, katanya: „Untuk mengampuni mereka sih mudah,
tapi asal aku dapat membawa dua ekor untuk dipelihara! "
Dalam ber-kata2 itu , sudah ada 3 ekor orang utan lagi
yang digigit mati oleh ceng-ong-sin. Pada setiap luka gigitan
dileher mereka, tentu mengalirkan darah yang berwarna
hitam. Suatu pertanda bagaimana hebat bisa dari ular itu.
„Dengan memiliki ceng-ong-sin, masakan mereka tak
mau menurut. Kiranya Sik Lo-sam juga mempunyai
rencana untuk memelihara orang utan, makanya dia begitu
telaten mencari ceng-ong-sin!" kata Kui-ing-cu seraya
memburu maju dan, dengan suatu gerakan yang luar biasa
sebat sebatnya, dia ulurkan ketiga jari untuk memencet,
bagian telinga siular dan membareng itu tangannya kiripun
memijat bagian ekornya. Hanya beberapa kali ular itu
tampak menggeliat, lalu tak dapat berkutik.
Begitu sang momok sudah dibelenggu, hiruk pikuklah
kawanan orang utan itu berbangkit sembari berjingkrak
kegirangan. Kui-ing-cu suruh Yan-chiu pilih dua ekor orang
utan yang dikehendakinya. Tanpa diulang lagi, Yan-chiu
memilih dua ekor yang berbulu kelabu ke-putih2an.
„Binatang, lekas ikut pada nona itu. Kalau berani
membangkang, kawan2mu akan dihabiskan!" seru Kui-ingtiu.
Anehnya, orang utan itu seperti mengerti maksud
perkataan orang. Mereka mengangguk dengan patuh. Yanchiu
memberi nama „Toa-wi" (kelabu besar) kepada yang
lebih besar dan „Siaowi" kepada yang kecil.
”Toa-wi, siao-wi, lekas ikut aku” serunya sembari loncat
kebelakang.
Benar juga, kedua ekor orang utan itu mengikutinya
dengan serta merta. Saking girangnya Yan-chiu berloncatan
menari. Kui-ing-cu bertigapun ketarik juga. Sekejab
kemudian, Thio Jiang mengajak lekas2 turun gunung.
„Entah bagaimanaa jadinya dengan Lian suci!" katanya.
„Uh...., lagi2 Lian suci!" seru Yan-chiu sambil jebikan
bibirnya.
„Siao Chiu kau ini bagaimana? Kan kita sudah terlambat
sehari semalam ini!" tanya Tio Jiang keheranan. Tapi Yanchiu
sendiri juga tak tahu sebabnya, mengapa ia kurang
senang mendengar sang suko menyebut nama sucinya.
Memang kata2 sukonya itu benar, namun ia tak mau
mengakui kesalahannya. Adalah Kui-ing-cu yang segera
tergelak2 ujarnya: „Jika melintasi gunung dan puncak2
yang tinggi, kalian bertiga, pasti menghamburkan tenaga
dalam. Sekali kurang hati2, bisa kesasar tiba ditempat yang
berbahaya. Lebih baik lekas jalankan semadhi, nanti 3 jam
kemudian baru boleh melanjutkan perjalanan lagi! Dan lagi
kita harus perlu menanyakan tempat kediaman suku Thiattheng-
biau itu pada penduduk setempat."
Tio Jiang tak berani berayal. Dengan lekas dia mencari
sebuah batu besar untuk melakukan latihan bersemadi.
„Siaoko, kuucapkan selamat padamu!" se-konyong2 Kuiing-
cu berkata, demi menyaksikan cara Tio Jiang
mengambil napas.
Tio Jiang hanya bersenyum saja. Tahu dia kalau tokoh
lihay itu tentu sudah mengetahui bahwa ilmunya lwekang
kini hebat sudah. Memang caranya dia menarik napas,
tiada sama dengan latihan lwekang yang kebanyakan. Nyo
Kong-lim yang belum mencapai kesempurnaan dalam ilmu
Iwekang, agak terganggu sedikit tapi akhirnya dia sudah
dapat menguasai tenaganya lagi. Begitu pula karena
memikirkan maksud dari pada kata2 Kui-ing-cu tadi,
hatinya kacau pikirannya me-layang2. Syukur akhirnya ia
dapat juga menguasai ketenangan semadhinya.
Melihat ketiga kawannya duduk melakukan gerakan
napas, Kui-ing-cu cari bumbung bambu tadi untuk
memasukkan ceng-sin-ong. Kui-ing-cu memikirkan
bagaimana harus mengajar kedua orang utan muda itu agar
kelak disertai tenaganya yang maha kuat itu, dapat kedua
binatang itu menjadi pengawal yang kokoh kuat. Ah,
baiklah dia kuajarkan ilmu silat „silat siorang tolol" terdiri
dari 7 jurus. Setelah itu lalu dia melambai si Toa-wi supaya
datang kepadanya. Setelah mengucap beberapa patah, Kuiing-
cu lalu mainkan jurus mondar-mandir. Kedua orang itu
meniru gerakannya. Memang kera atau monyet itu paling
gemar menaulad perbuatan orang.
Misalnya dahulu ada sebuah dongeng begini:
Adalah seorang penjual topi hendak kekota menjual
barang dagangannya. Dalam perjalanannya melalui sebuah
rimba, ada sekawanan kera ramai2 mengeroyok
dagangannya. Setiap kera memakai sebuah topi, lalu sama
memanjat puhun. Sipenjual itu mendongkol dan meringis.
Tiba2 dia mendapat pikiran bahwa bangsa kera monyet itu
paling suka me-niru2 perbuatan orang. Maka sipenjual itu
mengambil topi yang dipakai diatas kepala, lalu dibanting
ketanah. Benar juga kawanan kera itu segera sama
membanting topinya kebawah dan dipungutilah lagi topi2
itu oleh sipenjual.
Orang utan itu juga sejenis bangsa monyet kera, jadi
merekapun tak ubahnya dengan kelakuan bangsa kera.
Dalam 3 jam kemudian, kedua orang utan piaraan Yanchiu
itu sudah dapat mempelajari habis 7 jurus ilmu silat
„pukulan orang tolol".
„Dengan mempunyai pengawal dua ekor orang utan
yang dapat bersilat itu rasanya kita tak perlu kuatir lagi akan
pertempuran dihari Pehcun nanti!" kata Tio Jiang.
„Suko, kalau matamu menjadi merah (iri), yang satu
kuberikan padamu!" sahut Yan-chiu dengan tertawa. Tapi
dengan serentak Tio Jiang menolak, katanya: „Binatang
yang sedemikian buruknya, aku tak sudilah!"
„Hem....., tunggu saja beberapa, hari nanti. Kalau sudah
kubuatkan pakaian, orang utan itu tentu akan kusulap
menjadi seorang lelaki gagah!" Yan-chiu membantahnya.
Melihat Nyo Kong-lim juga sudah berdiri bangun, Kuiing-
cu tertawa ter-bahak2, serunya: „Nyo-heng, a-thau itu
memakimu seperti binatang!"
Dengan terkejut sekali Yan-chiu berpaling. Memang
perawakan Nyo Kong-lim yang tinggi besar itu menyerupai
siorang utan. Teringat kata2nya tadi, iapun geli juga.
Sebaliknya ketua Hoa-san itu tak marah, malah turut
tertawa gelak2. Begitulah mereka berempat lalu turun
kekaki bukit. Tiba2 Tio Jiang menanyakan soal ,mustika
didalam batu" kepada Kui-ing-cu, siapa lalu menerangkan:
„Mustika dalam batu" itu jauh lebih hebat dari ular cengsin-
ong. Siapa yang memakannya, badan ringan napas
panjang, besar khasiatnya. Kita dapat suruh Toa-wi dan
Siao-wi memanggulnya bergiliran. Hayo lekas kita kesana
jangan sampai kedahuluan orang lain. Kalau didapatkan
oleh orang jahat, bahayanya besar sekali!"
Walaupun Tio Jiang tak percaya ada lain orang yang
mengetahui batu itu, namun dia segera ber-gegas2 ajak
ketiga kawannya menuju kesana. „Itulah, hanya ........ "
belum Tio Jiang melanjutkan kata „30-an tombak jauhnya"
dia sudah berseru kaget: „Hai, mengapa ada orang?"
Mengikuti arah yang ditunjuk Tio Jiang, ketiga orang
itupun melihat jelas bahwa disamping batu besar itu ada
seorang lelaki tengah membacoki bagian yang disebutkan
Tio Jiang itu dengan sebilah pedang yang memancarkan
sinar ke-hijau2an. „Cian-bin long-kun The Go! Tentu Lian
suci sudah dijualnya, kalau tidak masa dia membawa
sebilah pedang pusaka macam begitu?!" Yan-chiu yang
melihat jelas lebih dahulu segera berteriak. Sebagai
jawaban, Tio Jiang sudah enjot tubuhnya kemuka. Tapi
karena jaraknya masih ada 30-an tombak, jadi sebelum dia
berhasil menyergap, The Go sudah mendengar jeritan si
Yan-chiu tadi. Dia membacok lebih gencar. Oleh karena
seperti membacok kayu saja, maka dalam beberapa kejab
saja batu itu sudah menjadi satu elo persegi besarnya. Cepat
The Go pegang batu itu lalu mengangkatnya, tapi tepat
pada saat itu Tio Jiangpun sudah tiba. „Cian-bin Long-kun,
jadi kau sudah menjual Lian suci untuk sebuah pedang?
Kau takkan dapat menginjak bumi persilatan lagi!" serunya.
Memang The Go menjalankan rencana Tan It-ho dan
ajak Bek Lian ke Thiat-nia, yang ternyata terletak disebelah
pinggir dari puncak Tok-ki-nia. Mereka tiba ditempat itu
kira2 setengah jam lebih dahulu dari tibanya Tio Jiang dan
Yan-chiu di Tok-ki-nia. Dikaki puncak Thian-nia situ
ternyata ada sebuah batu karang yang hitam warnanya.
Diatasnya penuh ditumbuhi dengan puhun rotan yang
berwarna hijau gelap.
„Engkoh Go, apakah disini Ko-to-san ?" tanya Bek Lian
yang tak mengetahui akan rencana keji dari kekasihnya itu.
The Go hanya menyeringai iblis. Syukur karena hari sudah
gelap, jadi Bek Lian tak mengetahui akan senyum iblis sang
kekasih. Tahunya, karena tak dijawab, ia menjadi heran
lalu menanyakan lagi: „Engkoh Go, dimanakah gereja Anghun-
kiong itu? Apakah Ang Hwat cinjin tak mengetahui
kalau kau mau datang kemari ?"
Memang perangi Bek Lian itu sangat tinggi (sombong).
Kecuali The Go, ia tak mau memandang mata pada semua
orang. Sampaipun sucou (kakek guru) dari The Go, hanya
dipanggil begitu saja tanpa, sebutan menghormat. The Go
menjawab sekenanya saja, tapi dalam hati dia mengumpat
caci nona itu. Kalau sampai didengar sucou, mungkin
tubuhmu tak dapat dikubur nanti, demikian pikirnya.
Itulah mentaliteit seorang pemuda mata keranjang
macam The Go. Bukan sekali dua kali saja Bek Lian
menyebut nama Ang Hwat cinji tanpa memakai embel2
gelaran- nya, tapi dahulu The Go menganggap biasa saja
malah tetap sedap didengar. Tapi kini setelah rasa, cintanya
hilang, berganti dengan kebencian, dia anggap ucapan
sinona itu suatu kesalahan besar. Memang kalau sedang
menyinta, loyang dikatakan emas, akan dianggap loyang
kalau orang ysudah bosan atau benci.
Mendengar The Go memberi jawaban dengan nada yang
tawar, Bek Lian berhenti. „Engkoh Go, mengapa dalam
beberapa hari ini kau bersikap tawar terhadapku ?"
tanyanya.
The Go merasa makin muak, sahutnya: „Lian-moay,
perlu apa ucapan macam begitu? Bagaimana kau katakan
aku bersikap tawar kepadamu ?"
„Tidak, engkoh Go, kau harus menerangkan yang jelas!"
desak Bek Lian demi mendengar kata2 The Go itu makin,
tak sedap. Sudah tentu The Go tak menghendaki
rencananya yang sudah 90 persen berhasil itu akan menjadi
terbengkalai oleh sebab2 kecil saja. Maka cepat dia member!
kan muka tertawa seraya maju merapat, lalu merayunya:
”Lian-moay, jangan pikir yang tidak2, nanti
menggannggu kesehatanmu ah!”
Julukannya adalah Cian-bin Long-kun atau Sianak
muda, berwajah seribu. Jadi pandai sekali bersandiwara.
Apalagi Bek Lian hanya ributi soal nada, ucapannya yang
tawar, maka dalam sedetik saja hatinya, pun dapat terebut
lagi. ,Engkoh Go, entah laki entah perempuan anak kita
nanti itu ya?", bisiknya seraya bersandar kepada sang
kekasih.
„Kalau lelaki bagaimana, kalau perempuan bagaimana?"
kata The Go. Karena sudah berbadan dua, rasa keibuan
sudah menyelubungi hati Bek Lian. „Entahlah, aku
sendiripun tak tahu. Tapi aku mengharapkan seorang anak
lelaki yang menyerupai dirimu dan kunamakan Siao Go!"
ujarnya, Untuk menimbanginya agar jangan kentara,
sebaliknya The Go menjawab: „Tapi aku menghendaki
seorang anak perempuan saja yang menyamai kau dan
kunamakan Siao Lian !"
Bek Lian tertawa puas. la anggap The Go masih tetap
menyintainya. Walaupun sejak mengandung itu, tubuhnya
makin kurus, namun Bek Lian tetap cantik seperti bidadari
menjelma. The Go terkesiap memandangnya. Diam2 dia
bersangsi mengapa harus menurutkan rencana Tan It-ho
itu? Tapi setelah dipikir pula, mendapat 10 Bek Lian lebih
mudah dari sebatang pedang pusaka, dia segera pimpin
tangan Bek Lian untuk diajak meneruskan perjalanannya.
Begitu tiba dikaki puncak, se-konyong2 sebatang anak
panah. melayang kearahnya. The Go tahu bahwa panah
dari suku, Thiat-theng-biau itu dicelup racun, yang luar
biasa ganasnya, maka dia gunakan kipasnya untuk
menyampok seraya, berseru: „Akulah!"
Sebagai sambutan disana terdengar orang bicara
kak....kik-kuk...., kik-kuk...., entah berkata apa. Tapi pada
lain saat segera terdengar orang berseru: „Hiante (adik),
apakah kau yang datang ?"
The Go kenal, itu sebagai suara Tat It-ho, kakak
angkatnya.
„Toako, kau sudah disitu? Apa kata Kit-bong-to ?"
serunya dengan kegirangan. Sesosok tubuh melesat dan
muncul dari balik sebuah batu.
„Bermula dia tak mau, tapi setelah kuomongi, dia mau
lihat dulu barangnya!" seru orang itu yang bukan lain Tat Itho
adanya.
„Ah, bereslah!" sahut The Go.
“Siapa Kit-bong-to ? Apanya 'mau atau tidak' itu ?" tukas
Bek Lian.
„Oh, It-ho-heng hendak meminjam suatu barang pada
Kit-bong-to, bukan urusan apa2," sahut The Go dengan
tertawa. Bek Lian tak mau menanyakan lagi, tapi, begitu ia
mengawasi kemuka, kagetlah ia. Dibelakang Tan It-ho
tampak tiga orang kata yang memakai pakaian rotan
macam keranjang warna hitam. Juga kulitnyapun, hitam,
jadi kalau malam tentu seperti bangsa setan tuyul. Cepat2
Bek Lian Menempel rapat2 pada, The Go.
“Lian-moay, usah takutlah. Kawanan orang liar itu,
adalah sahabat karib It-ho-heng. Nanti kita mengunjungi
kepala suku mereka. Kepala suku itu amat ramah tamah,
mungkin kita nanti akan diberi barang2 yang luar biasa!"
Buru2 The Go menghibur. Bek Lian tak bercuriga lagi,
hanya bertanya: „Jadi belum sampai ke Ang-hun-kiong?"
“Masih harus melintasi beberapa puncak lagi. Malam ini
kita terpaksa tak dapat mencapai kesana!" sahut The Go.
Tan It-ho lega hatinya, mengetahui diplomasi yang licin
dari saudaranya angkat itu, Untuk tak mem-buang2 waktu
dia segera2 ajak The Go naik kepuncak.
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 28 : ISTERI DI TUKARKAN
PEDANG
Dengan diiring oleh ketiga orang Biau kate itu, The Go
bertiga mendaki keatas. Sampai ditengah perjalanan,
tampak pada tepi sebuah lapangan ada ber-puluh2 gua batu
besar dan kecil seperti di-jajar2 merupakan sebuah
lingkaran. Drum atau tambur, ramai ditabuh orang.
Rupanya suku Thiat-theng-biau itu tengah mengepung
sebuah api unggun sembari me-nari2.
Tan It-ho segera ajak The Go dan Bek Lian menuju
'kesalah sebuah gua yang paling besar. Gua itu berlainan
dengan gua lain2nya, mulut gua ditutupi dengan sebuah
kere' terbuat dari rotan besi hitam. Begitu tiba dimuka
pintu, Tan It-ho bicara dengan bahasa Biau dan dari dalam
segera terdengar suara, penyahutan. „Hayo, kita masuk!"
Tan It-ho, mengajak The Go.
Waktu masuk kedalam, ternyata disitu alat2nya serba
sederhana, hanya ada sebuah meja batu. Sedang.
dibawahnya tampak duduk seorang suku Biauw bertubuh
kate, tapi kepalanya besar. Sepasang matanya mendelik
beringas, buas dan menakutkan sekali. Begitu melihat ketiga
tetamunya, dia segera ber-kata2 dengan suara keras yang
me-lengking2 dipendengaran orang. Rupanya dia pandai
ilmu silat juga.
Tan It-ho silahkan The Go dan Bek Lian duduk ditanah.
Melihat wajah yang menakutkan dari kepala suku itu, Bek
Lian segera ajak The Go lekas2 berlalu. Tapi The Go
menghiburnya: „Kepala suku sudah begitu baik hati
menjamu, masa kita menolaknya? Kita terpaksa bermalam
disini." Karena tak curiga, Bek Lian menurut saja.
GAMBAR 53
“Jangan takut Lian-moay, sebentar lagi kau tentu akan biasa
dengan mereka," kata The Go dalam usahanya menjual" Bek
Lian. Sudah tentu kepala suku Biau itu lantas kesemsem oleh
kecantikan sigadis.
Orang Biau itu memang Kit-bong-to. Tan It-ho yang
lebih dahulu datang kesitu, sudah membicarakan hal itu
kepada-nya. Demi menampak Bek Lian, kepala suku itu
setuju sekali. Sudah tentu Tan It-ho sangat girang. „Karena
jauh2, datang kemari, hiante dan nona Bek tentu lelah.
Setelah minum arak, apakah tidak ingin beristirahat?"
tanyanya, sembari mengangsurkan dua% cawan kecil.
Bek Lian yang tak biasa minum arak, sudah tentu
menolak. Tapi The Go yang mengetahui kalau arak yang
disuguhkan kepada Bek Lian itu tentu berisi obat pembius
yang dapat membuat orang tak sadarkan diri sampai 3 hari,
buru2 mendesaknya: „Lian-moay, arak ini teramat manis
apalagi tak enaklah hati kita untuk menolak kebaikan tuan
rumah. Hayo, minumlah saja!"
Bek Lian menjilat sedikit, dan memang benar arak itu
semanis madu. Pikirnya, cawan yang begitu kecil masakan
dapat memabukkan. Dan sekali teguk ia keringkan isi
cawan itu. The Go dan Tan It-ho saling melihat dengan
wajah ber-seri2. Melihat Bek Lian sudah meminum obat
pembius, Kit-bong-to berbangkit untuk mengambil sebatang
pedang. Begitu dilolos dari sarungnya, pedang itu ber-sinar2
hijau kemilau. Melihat itu, Bek Lian terkesiap. Mengapa,
ya, mengapa, pedang itu serupa dengan pedang milik
ayahnya? Baru iaa hendak berbangkit melihati, kepalanya
serasa, pening sekali. Namun masih ia, paksakan diri untuk
berbangkit dan berseru: „Engko Go, badanku kurang enak!"
Tapi segera ia rasakan sekelilingnya ber-putar2 dan sekali ia
melihat suasana menjadi gelap, rubuhlah ia tak sadarkan
diri lagi.
Cepat2 The Go hendak menghampiri untuk memeriksa
pernapasan hidungnya, tapi sret........... pedang pusaka itu
menusuk kearahnya. Sudah tentu dia gugup sekali
menghindar.
„Kit-bong-to mengatakan, bahwa nona jelita itu sudah
menjadi miliknya. Kau tak boleh sembarangan
menyentuhnya!" kata Tan It-ho.
Sebaliknya dari gusar atau menyesal, The Go malah
tertawa riang, sahutnya: „Toako, suruh dia serahkan
pedang itu !!! "
Begitu Tan It-ho menyampaikan permintaan The Go itu,
ternyata orang Biauw yang masih liar itu menjunjung
kepercayaan. Pedang dan sarungnya sekalian diberikan.
The Go dapatkan pedang itu aneh bentuknya. Badan
pedang itu yang separoh bentuknya bulat, sedang telinga
(palang tangkai) pun hanya sesisih saja. Datasnya terukir
dua buah huruf „Kuan-wi". Setelah tercapai idam2annya,
The Go ber-gegas2 minta diri, tapi Kit-bong-to
mencegahnya, hingga kedua orang itu terpaksa bermalam
disitu. Besok pagi sore, baru mereka diidinkan pergi.
Ternyata Bek Lian sudah diangkut pergi kelain gua. Kepada
Tan It-ho, Kit-bong-to menyampaikan undangan: „Tiga
hari kemudian setelah sicantik itu tersadar, perkawinan
akan segera dilangsungkan. Harap kalian datang
menyaksikan upacaranya."
Walaupun mengiakan, namun The Go dan Tan It-ho
takkan sudi datang kesitu lagi. Begitulah, dengan berlari,
keduanya turun kebawah gunung.
Setelah melintasi beberapa puncak, tibalah mereka
didekat batu besar yang berisi mustika tadi. Sebenarnya The
Go pun takkan mengetahui coba disitu tak ada bekas darah
kelinci yang ditangkap Tio Jiang. Sebagai seorang durjana,
sudah tentu The Go tak mau lewatkan begitu saja keanehan
itu. Menghampiri kedekatnya, diapun segera mengetahui
akan bagian batu yang pikisnya sudah dikupas habis oleh
Tio Jiang. Oleh karena mahir dalam ilmu sastera, maka
diapun pernah baca juga bagian kitab Pao-bu-cu yang
mengatakan begini: „Mustika dalam batu itu, sebenarnya
memang ada. Berada didalam batu besar, yang selalu
lembab tak pernah kering. Begitu batu itu dipecah, maka
didalamnya akan ada sebuah benda yang macamnya seperti
telur kuning. Harus lekas2 diminum, kalau tidak, akan
mengeras seperti batu."
Juga diketahuinya akan khasiat benda itu bagi orang
yang telah meminumnya. Banyak nian orang persilatan
yang mengiler akan benda itu, tetapi tiada seorangpun yang
berani mengimpikan untuk memperolehnya. Bahwa kini
dirinya telah berhasil mendapatkan penemuan itu,
bukankah itu suatu karunia Allah? Demikian pikir The Go
sembari ter-menung2 disitu. Tan It-ho menjadi heran,
serunya: „Hiante, mengapa terus berada disitu saja?"
Masih The Go me-nimang2. Syukur dia sudah berhasil
memiliki sebatang pedang pusaka, kalau tidak mana dia
dapat mengambil pusaka yang berada didalam batu sebesar
itu? Agaknya, segala jalan telah dibuka untuknya. Tapi, hai
bagaimana dengan Tan It-ho yang selalu membuntuti
kemana perginya itu? Terkilas dalam ingatannya, bahwa
peristiwa dirinya dengan Bek Lian dan Kit-bong-to itu,
hanya Tan It-ho seorang yang mengetahuinya. Tiga hari
kemudian apabila Bek Lian tersedar, ia tentu tak sudi
diperisteri Kit-bong-to. Berurusan dengan seorang liar ganas
macam Kit-bong-to, Bek Lian tentu akan kehilangan
jiwanya. Ini berarti suatu penuduh atau saksi yang kuat,
telah lenyap. Tapi masih ada seorang saksi lagi, yakni Tan
It-ho. Bukankah dia bakal merupakan bahaya besar
terhadap dirinya dikemudian hari?
Adanya Bek Lian sampai jatuh hati, adalah karena
menampak wajah The Go itu sangat cakap. Memang benar,
Cian-bin Long-kun The Go itu seorang pemuda yang
cerdik, tampan dan gagah. Tapi sayang, hatinya berlawanan
dengan wajahnya: licik, culas dan ganas. Asal yang
menguntungkan dirinya, apapun dia sanggup melakukan.
Kini keputusan telah dijatuhkan. „Toa-ko, kemarilah,
memang disini terdapat sesuatu yang luar biasal"
Tan It-ho menghampiri, bermula dengan wajah ber-seri
girang, tapi pada lain saat, dia segera mengeluh dalam hati.
„Hiante, aku tak mau benda itu. Hiante boleh
memakannya semua!" serunya dengan gugup.
„Ah......., mengapa berkata begitu ?" The Go tertawa.
Semula Tan It-ho merasa lega mendengar nada ucapan The
Go, namun dia tetap mau menyingkir saja. Tapi baru
tubuhnya berputar, tiba2 matanya disilaukan oleh sebuah
sinar hijau kemilau. Sinar yang hijau kemilau itu ternyata
adalah sinar pedang Kuan-wi, tanpa disangka ......... tahu2
sudah menembus tenggorokan Tan it-ho.
GAMBAR 54
Mendadak sinar hijau berkilau dan tembuslah tenggorokan
Tan It-ho oleh pedangnya The Go yang keji. Begitu pedang itu
ditarik, kaki The Go berbareng diayunkan kemuka, dan
...........bum ..... tubuh Tan it-ho terhampar sampai setombak lebih
jauhnya.
Tan it-ho adalah seorang durjana yang licik sekali, tapi
tokh dia harus mati ditangan durjana lainnya juga. Dan
yang paling tragis, dia yang merencanakan sehingga The
Go, berhasil memiliki pedang pusaka itu, tapi dia pula yang
merasakan buah dari perbuatan keji itu. Memang tepat apa
yang dikatakan oleh sebuah peribahasa: „Barang siapa yang
memasang lubang jebakan, dia sendiri tentu akan
terperosok kedalamnya."
Habis menyelesaikan saudaranya angkat, dia mencoba
ketajaman pedang Kuan-wi dan hai......, kiranya batu itu
dapat dipapas dengan mudahnya. Dengan 3 kali bacokan,
dia papas empat ujung dari batu itu. Tapi ketika dia mulai
hendak membelah, disebelah sana kedengaran jeritan Yanchiu,
memberitahukan kepada Tio Jiang tadi. Malah untuk
kekagetannya, Kui-ing-cu dan Nyo Kong-limpun ikut serta.
Cepat2 dia kerjakan pedangnya. Berkat ketajaman pedang
kuan-wi, dalam beberapa, detik saja batu itu hanya tinggal
satu elo pesegi besar, tapi pada saat itu Tio Jiangpun keburu
sudah datang. Saking gugupnya, The Go segera bawa batu
itu bersama melarikan diri.
Tio Jiang juga tak kurang gugupnya. Celaka, kalau,
mustika. itu sampai termakan The Go, dia tentu laksana
harimau tumbuh sayap, makin ke-liwat2 ganasnya. Apalagi
didorong oleh kemarahannya bahwa Bek Lian tentu sudah
ditukar dengan pedang pusaka yang dicekal siorang muda
itu, maka sekali enjot sang kaki Tio Jiang maju
menerjangnya. Tapi si The Go sudah mendahuluinya lari.
Selagi dia mengejar dari sisihnya terasa ada angin menderu.
Ketika diperdatakan, kiranya itulah Kui-ing-cu yang hendak
mendahuluinya. Sudah tentu hatinya, sangat legah.
Sebaliknya ketika The Go berpaling kebelakang,
kagetnya bukan kepalang. Dia masih membawa batu besar
yang tak kurang dari seratus kati beratnya. Kalau kali ini
tertangkap musuh, jiwanya tentu melayang. Tiba2
dilihatnya mayat Tan It-ho membujur ditengah jalan. Cepat
mayat itu disongkeInya dengan kaki, terus dilemparkan
kearah Kui-ing-cu.
Kali ini Kui-ing-cu yang cerdik, terpaksa mengakui
kelicinan The Go.
Pertama Kui-ing-cu mengira, kalau The Go, itu hanya
seorang diri.
Kedua disebabkan hari malam, jadi tak dapat melihat
dengan jelas.
Maka tubuh Tan It-ho yang melayang itu dikiranya
adalah si The Go yang akan menyerangnya.
„Bagus!" seru Kui-ing-cu sembari menyingkir kesamping.
Sekali berputar dia kirim sebuah hantaman, bluk...... dada
The Go kena terhantam tepat sekali, sehingga pekakasnya
dalam menjadi porak poranda terhampar ditanah. Tapi Kuiing-
cu segera menjadi curiga. Masa orang diam saja
dipukul, tiada menghindar tiada menangkis. Maka
dipereksanya tubuh itu dan
”Hai, ini Tan It-ho bukan The Go!" tiba2 Tio Jiang yang
itu saat sudah datang mendahuyui bertereak.
Kui-ing-cu terbelalak. Dengan banting2 kaki, dia
menggeram: „Hem, mana bisa dia lolos dari tanganku?
Hayo, kita berpencar mencarinya!"
Tio Jiang, Yan-chiu dan Nyo Kong-lim segera turut
perentah itu.
Mereka berempat mengadakan penyelidikan yang teliti
sekali diempat penjuru. Namun bagaimana juga,
pegunungan Sip-ban-tay-san itu sangatlah liar, rumputnya
hampir setinggi orang, apalagi diwaktu malam, jadi
sukarlah untuk mencarinya. Hampir dua jam lamanya,
mereka tak memperoleh hasil suatu apa. Terpaksa mereka
balik ketempatnya semula lagi. „Sungguh ku tak nyana,
dikolong langit ini masih ada orang yang sedemikian
cerdiknya," kata Kui-ing-cu, suatu pengakuan yang betul2
keluar dari setulus hatinya.
Karena tiada daya untuk menemukan jejak The Go,
terpaksa mereka hendak mencari penduduk disitu, guna
minta keterangan tempat kediaman suku Thiat-theng-biau
itu. Tapi ketika berjalan baru beberapa puluh tindak, kedua
ekor orang utan itu mendadak berhenti, hidungnya
berkembang kempis. „Hai, mengapa kamu berdua tak mau
jalan?" seru Yan-chiu terus hendak memukul kedua
binatang itu.
Mendengar itu, pikiran Kui-ing-cu bekerja. Alat pembau
dari binatang itu tentu jauh lebih tajam dari manusia. Biar
bagaimana The Go tentu takkan dapat menyingkir jauh dari
situ. Hanya karena suasana tempat itu yang sangat lebat,
jadi mereka tak dapat menemukan. Tapi rasanya kedua
orang utan itu tentu dapat mencium bau orang buronan
tersebut.
„Bukankah kamu mencium bau orang? Dimana dia?"
ujar Kui-ing-cu.
Seperti mengerti ucapan orang, Toa-wi dan Siao-wi
segera lari kemuka. Hanya sebentar saja kedua binatang itu
mencabuti semak2 puhun, atau dibalik sebelah sana tampak
sebuah mulut goa kecil. Kui-ing-cu yakin kedua orang utan
itu tentu sudah dapat mencium jejak The Go.
„Jaga mulut goa ini, jangan sampai orang itu lolos!"
serunya pula kepada kedua binatang.
Tio Jiang, Yan-chiu dan Nyo Kong-lim sangat benci
sehali kepada The Go. Sudah tentu mereka bertiga menjadi
kegirangan sekali. Tapi ketika mereka hendak berpencar,
tiba2 didengarnya Toa-wi menggerung kesakitan seraya
mundur dengan lengannya kanan berlumuran darah.
Berbareng itu, tampak seorang mahasiswa tengah melesat
keluar sembari bolang balingkan pedang.
Bertemu dengan musuh lama, merah mata Tio Jiang,
„Tahan!" serunya dengan gusar seraya memungut dua
buah batu kecil terus ditimpukkan kemuka. Mahasiswa
yang bukan lain adalah si The Go menangkis dengan
pedangnya, tring, tring, kedua batu itu tersampok jatuh.
Tapi karena keayalannya sedikit untuk menangkis itu, maka
Kui-ing-cu sudah menghadang dibelakangnya. The Go
sapukan pandangan mata keempat jurusan. Tiba2 dia
tertawa keras2 sambil menyarungkan pedangnya. Sikapnya
berobah tenang sekali.
”Bajingan, kau ketawa apa? !" bentak Yan-chiu dengan
marahnya. Namun The Go tetap ketawa tak mau
menghiraukan, malah kedua tangannya digendong
dipunggung, seperti orang tengah ber-jalan2 mencari angin
saja.
Melihat The Go tak menyahut, Yan-chiu bertindak
sebagai hakim dengan membeber panjang lebar tentang
kejahatan dan kedosaan orang itu. Dengan bakat lidahnya
yang tajam disertai kebenciannya kepada orang itu, maka
Yan-chiu dapat menelanjangi habis2an si Cian-bin Longkun
yang dipersamakan martabatnya sebagai babi dan
anjing yang hina dina. Namun wajah The Go tetap tak
berobah, hanya mengulum senyum mengawasi saja. Begitu
Yan-chiu sudah puas memaki, barulah dengan tenangnya
dia bertanya:
„Lalu nona hendak berbuat apa kepada aku orang she
The?"
Yan-chiu tertegun. Tak kira ia kalau orang muda itu
sedemikian tebal kulit mukanya. „Bunuh mati sampah
masyarakat macam kau ini!"
The Go tertawa gelak2, matanya ber-kilat2 melirik
kearah empat orang itu. „Silahkan nona turun tangan!"
sahutnya dengan tenang. Sepasang tangannya pun tetap
masih digendong dipunggung, seperti orang yang sudah
ikhlas menyerahkan nyawa.
Yan-chiu sudah gerakkan tangan hendak menghantam,
tapi demi tampak The Go diam saja, ia tertegun bentaknya:
„Bangsat, kenapa kau tak mau menangkis ?" The Go
ketawa, sahutnya: „Bukankah nona tahu kalau sepasang
tangan itu sukar melawan delapan tangan, bukan? Aku
hanya, seorang, fihakmu ada 4 masih ditambah dengan dua
ekor orang utan itu. Perlu apa aku harus lakukan kerjaan
yang sia2? Lebih baik lekaslah bunuh orang she The ini,
agar jangan sampai ditertawai kaum persilatan nanti!"
Yan-chiu tak dapat berkutik dengan tangkisan mulut
yang tajam, itu. Sebaliknya Kui-ing-cu segera bertanya:
„Dimana kau sembunyikan mustika batu itu ?"
Cukup diketahui oleh The Go bahwa diantara keempat
orang itu, hanya Kui-ing-cu ini yang paling lihay sendiri.
Mendengar pertanyaan itu, pura2 dia bersikap kaget.
„Hai, jadi mustika batu itu kepunyaan lo-cianpwe ?"
tanyanya. Kui-ing-cupun terbungkam dengan mulut si The
Go, siapa kedengaran berkata lagi dengan tertawa:
„Testamen Tat Mo Cuncia yang mengatakan 'barang siapa
berjodoh dialah yang menemukan' itu bohong belaka.
Kiranya siapa yang lebih kuat, dialah yang berhak
mendapatkan!"
Tu lihat ketajaman lidah Cian-bin Long-kun. Orang
mengira dia sungguh2 meng-olok2 Tat Mo Cuncia, tapi
maksud yang sebenarnya dia menuduh Kui-ing-cu berempat
itu sudah mengandalkan kekuatannya berjumlah banyak,
hendak merampas hak orang lain. Lagi2 Kui-ing-cu
terkancing mulutnya.
”Kalian berempat, mengapa tak lekas2 maju mengeroyok
aku?" tanyanya pula dengan sinis. The Go faham, bahwa
musuhnya berempat itu adalah orang2 persilatan yang
menjunjung kesusilaan adat persilatan sengaja dia keluar
kata2 itu, supaya mereka janggan mengeroyok, tapi satu
lawan satu saja.
„Orang she The, jangan berlagak, biarlah aku seorang
yang menjadi wakil!" tiba2 Tio Jiang yang jujur, berseru.
Pernyataan itu diluar persangkaan The Go, maka ia pun tak
mau sia2kan ketika yang baik itu lagi, tanyanya „Siaoko,
apakah ucapanmu itu boleh dipercaya?"'
„Tentu!" sahut Tio Jiang dengan kontan, tapi berbareng
dengan itu Kui-ing-cu sudah memperingatnya: „Siaoko,
jangan kena perangkapnya!" Tapi peringatan Kui-ing-cu itu
sudah kalah dulu dengan janjinya tadi, apalagi disana The
Go sudah menjurah dengan menghaturkan
kemenangannya: „Sam-wi, dengarlah. Pada saat ini aku
orang she The hendak bertempur satu lawan satu dengan
murid Ceng Bo siangjin, mati hidup terserah pada nasib,
masing2 tak boleh penasaran!"
Dengan ucapannya itu The Go hendak desak Kui-ing-cu,
Nyo Kong-lim dan Yan-chiu jangan menghalangi
pertandingan itu. Yan-chiu deliki mata pada sang suko,
yang dianggapnya, keliwat sembrono hingga termakan tipu
musuh. Tapi Tio Jiang tak menghiraukan. Biar bagaimana,
dia hendak mengadu jiwa pada orang yang sangat
dibencinya itu.
Tio Jiang tak mau buang banyak tempo. Begitu sepasang
tangan dirangkapkan kedada, dia segera lancarkan pukulan
pertama. The Go menghindar kesamping, tangan kiri
mendorong maju sedang tangan kanan melolos pedang
Kuan-wi. Dengan gerak heng-soh-cian-kun, menyapu
ribuan lasykar, dia babat pinggang orang. Karena
kepolosannya, Tio Jiang tak mengira kalau begita bergebrak
musuh terus hendak gunakan senjata. Karena jaraknya
begitu dekat, sudah tentu dia tak keburu menghindar.
Pinggangnya serasa nyeri, ketika tangannya meraba kiranya
berlumuran kena darah. Ter-sipu2 dia mundur 3 langkah
untuk memereksa lukanya. Pinggang itu terluka antara 3
inci dalamnya, syukur hanya terluka luar saja.
Dengan mata menyala-nyala, Nyo Kong-lim bertiga
mengawasi Tio Jiang. Tapi mereka tak dapat berbuat apa2,
karena didesak oleh kata2 The Go yang tajam. Melihat
serangannya pertama berhasil, The Go tak mau memberi
hati. Bergerak maju, dia menusuk keulu hati. Dengan
tahankan kesakitannya, Tio Jiang beralih kesamping seraya
ayunkan sepasang tangan, yang kanan memukul batok
kepala dengan tok-biat-Huasan, yang kiri dengan gerak
siao-kin-na-chiu mencengkeram siku tangan kanan musuh.
The Go tertawa, tiba2 dia rubuhkan diri kesamping untuk
menusuk perut lawan.
Tio Jiang kenal jurus itu sebagai „menarik penampan
mengambil poci" dari ilmusilat hong-cu-may-ciu. Setelah
mempelajari ilmusilat itu, Tio Jiang bertekun mempelajari
sari2 keindahannya, maka diapun tak gentar menghadapi
serangan macam begitu. Bukannya menghindar, dia
berbalik malah gunakan ilmu, tendangan wan-yang-lianhoan,
menendang keatas.
Selagi The Go bersorak dalam hati melihat lawan diam
saja, tiba2 sepasang kaki melayang kedadanya. Benar kalau
dia teruskan tusukannya, lawan pasti akan terjungkal, tapi
sendiripun akan, pecah kepalanya, Sudah tentu dia tak
mau. Tangan ditarik kebelakang, terus diganti dengan jurus
it-ho-jong-thian (burung ho menobros langit) untuk
membabat kaki lawan. Sambil bertahan, menyerang.
Demikian kegunaan jurus yang lihay itu.
Dia lihay, tapi iImu tendangan, musuh lebih lihay lagi.
Tendangan tadi hanya kosong, begitu musuh robah
serangan, diapun menghadapinya dengan lain gaya. Setelah
dengan cian-kin-tui (tindihan seribu kati) tubuhnya
menurun, lalu dilanjutkan dengan ko-chiu-poa-kin (puhun
tua melingkar akar) menyapu kaki lawan, bluk........
terjungkallah The Go dengan telak sekali. Bahkan lukanya,
lebih sakit dari luka pinggang Tio Jiang tadi. Memang tadi
dia hanya, tumpahkan perhatiannya kearah gerakan sang
pedang, jadi per-tahanan kaki kosong, ini dapat dimasuki
Tio Jiang secara tepat sekali.
Tapi sesaat itu Tio Jiang rasakan lukanya gatal, tapi tidak
sakit. Tapi dia tak mempunyai banyak waktu untuk
memereksanya, karena kala itu The Go sudah siap
menghadapi lagi. Pertempuran kali ini makin seru dalam
tempo yang cepat. Sekejab saja sudah berlangsung belasan
jurus. Jurus2 'an' dilancarkan oleh masing2 fihak, jurus
berbahaya semua. Malah ada beberapa kali, kedua seteru
itu se-olah2 hendak mati bersama.
Serangan Tio Jiang makin lama makin dahsyat. Ilmu
1wekangnya kini sudah melebihi The Go, jadi sekalipun
orang she The itu membekal pedang pusaka, namun dia tak
dapat berbuat banyak. Tapi lewat beberapa saat lagi, hati
Tio Jiang terasa bingung, tenaganya berkurang. Melihat
The Go hendak menyapu kakinya, dia malah menurunkan
tubuh se-olah2 hendak mendekati maju. Justeru dia lewat
disisi Yan-chiu siapa kedengaran berseru keras: „Suko,
mengapa, luka dipinggangmu itu darahnya berwarna
hitam?"
Tio Jiang terkesiap dan berbareng rasa gatalpun
menyerang hebat. Habis melancarkan pukulan, tenaganya
terasa habis. The Go biarkan pundaknya dihantam, tapi
diapun berhasil menusuk pundak lawan.
„Bangsat, mengapa kaupolesi racun pada senjatamu?"
damprat Tio Jiang sembari surut kebelakang. Apa? Baru
kemaren saja senjata ini kuterima, bagaimana aku dapat
memberinya racun? Jiwamu tak dapat ditolong, jangan
penasaranlah!" sahut The Go.
Juga Kui-ing-cu melihat keanehan luka Tio Jiang. Demi
tampak Tio Jiang tertusuk lagi, cepat sekali dia sudah
ulurkan tangan untuk mencengkeram tangan The Go.
Sekali pijat, The Go rasakan lengannya kesemutan dan
pedangnyapun jatuh ketanah. „Ha...., ha...., memang telah
kukatakan tadi, orang gagah itu paling susah menghadapi
keroyokan!" The Go berbalik ketawa dengan tak gentar.
„Cuh....." Kui-ing-cu menyemburkan ludahnya kearah
The Go. „Kau anggap dirimu itu orang gagah dari mana?"
The Go miringkan kepala untuk menghindar, tapi tak
keburu. Mukanya serasa panas membara, nyerinya bukan
alang kepalang. Benar dugaannya tadi, tokoh ini jauh lebih
sakti dari Ceng Bo siangjin. Untuk menghadapinya harus
gunakan diplomasi lidah yang tajam. ,Bukantah tadi
engkoh Tio itu sendiri yang mengatakan hendak bertepur
satu lawan satu. Kalau sememangnya dia rendah
kepandaian, memangapa aku yang dipersalahkan?"
Kui-ing-cu kendorkan cengkeramannya dan sekali
dorong, The Go terlempar jatuh sampai setombak lebih
jauhnya. Setelah itu dia injak pedang Kuan-wi tadi, dia
mengancam: „Hai, anak muda jangan lari! Lekas ambilkan
obat pemunah bisa!"
Ketika memereksa luka Tio Jiang, didapatinya sang
daging sudah merekah, penuh digenangi dengan air hitam,
Cepat2 Kui-ing-cu tutup jalan darah ditiga bagian. Tio Jiang
rubuh ditanah tak dapat berkutik. Hati Yan-chiu serasa
hancur, sambil memereksa luka itu ia menyesali sang suko:
„Mengapa kau begitu gegabah? Kalau kita berempat maju,
masa The Go akan dapat berkutik. Andaikata hendak
berkelahi satu lawan satu, toh juga harus Kui lo-cianpwe
yang maju. Kau tangan kosong, diia mempunyai pedang
pusaka, kan sangat berbahaya sekali!"
Tio Jiang diam saja dilleyleri Sang sumoay itu. Karena
dia merasa salah tadi sudah keliwat sembrono. Ya,
maklumlah karena dia sangat benci sekali kepada orang she
The All. Pada saat itu, kaki dan tangannya kiri serasa matirasa,
jadi diet tak menghiraukannya.
”Siao-ah-thau, sudahlah. Karena siaoko sendiri yang
menghendaki, jadi kalau harus binasa itupun sudah layak,
tak perlu kau sesalkan!" kata Kui-ing-cu
Mendengar Kui-ing-cu mengucap begitu, Yan-chiu
terbeliak matanya tak dapat ber-kata2 lagi. Sebaliknya
disebelah sana, The Go yang juga dapat mendengarnya,
segera menimbrung: ,Memang para cianpwe dalam dunia
persilatan itu selalu menjunjung kepercayaan dan janji.
Nah, aku yang rendahpun hendak minta diri."
Habis mengucap, dia terus hendakk angkat kaki, tapi
dilarang oleh Kui-ing-cu.
„Aneh, bukankah kita sudah janji? Bukankah telah
dijanjikan terlebih dahulu ?" tanya The Go pura2 heran.
“Benar, memang yang telah dijanjikan tadi yalah fihak
kita takkan maju 4 orang sekaligus, tapi tidak dijanjikan
tentang adanya kedua ekor orang utan itu, bukan?" sahut
Kui-ing-cu bergelak tawa.
The Go melirik kearah binatang yang dimaksud itu
Bersoraklah dia didalam hati. Yang besar tadi, telah
termakan tusukan pedangnya. Disebabkan, karena
tubuhnya kuat, jadi binatang itu masih dapat bertahan. Tapi
saat bekerjanya racun itu, rasanya tak lama lagi. Masih
seekor yang kecil, kiranya mudah diatasi. „Jadi binatang
itupun mau coba2 juga?" tanyanya dengan sinis.
„Hm.....," Kui-ing-cu perdengarkan dengus hidung
karena geramnya, ”yang besar sudah kena tusukanmu, tak
usah berkelahi. Cukup kau melawan yang kecil saja!" Habis
itu dia lalu memberi aba2 pada Siao-wi, sikecil: „Siao-wi,
robeklah orang itu!"
Melihat kakaknya terluka, Siao-wi marah. Begitu
menerima perintah Kui-ing-cu dia terus melangkah dan
menghantam. Tapi baru sampai ditengah jalan, dirobah
menjadi sebuah tamparan kearah kepala. Itulah jurus
pertama dari ilmusilat ,Mondar mandir". Sudah tentu
hilang semangat The Go dibuatnya. Karena pedang kuanwi
masih diinjak oleh Kui-ing-cu, jadi terpaksa dia
menghindar kesamping.
Diluar dugaannya, walaupun tubuh orang utan itu
keliwat besar, tapi gerakannya tetap lincah tangkas melebihi
orang. Serangan pertama luput, serangan kedua sudah
menyusul. Dua belah tangannya yang besar dipentang
untuk berbareng menghantam The Go. The Go keheran2an,
masakan orang utan dapat bersilat. Cepat dia
rogoh keluar kipas terus maju menurun untuk menutuk
jalan darah ki-hay-hiat dirusuk sibinatang.
Kalau Siao-wi belum mempelajari ilmusilat „Ih-jin-kun"
(Silat si Tolol), mungkin kala itu dia akan sudah dapat
ditutuk. Ilmusilat itu terdiri dari 7 jurus yang dapat
digunakan untuk bertahan dan menyerang. Jurus kedua tak
kena, jurus ketiga sudah menyusul lagi, kini menjotos
kepala lawan. Sebelum The Go sempat melancarkan
tutukannya, belakang kepalanya terasa ada angin
menyambar. Saking kagetnya, dia menyelinap masuk disela2
kaki sibinatang untuk memberosot lari kebelakang.
Kemudian disitu, dia memutar diri dan menutuk jalan
darah wi-liong-hiat.
Biar bagaimana, Siao-wi itu tetap seekor binatang. Begitu
serangannya ketiga tak mengenai, diapun heran mengapa
musuh tak kelihatan disebelah muka. Tapi secara otomatis,
diapun mainkan juga jurus yang keempat dan ini sudah
tentu memberi keuntungan pada The Go. Sekali
menghantam dan menusuk, dapatlah The Go mencapai
tujuannya..........
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 29 : KALAH DAN MENANG
Kalau lwekang The Go tangguh, tutukan dan pukulan itu
tentu akan sudah dapat menyelesaikan Siao-wi. Tapi
nyatanya tidak, karena Siao-wi hanya menderita kesakitan
hebat dan mengaum keras dengan geramnya. Begitu
memutar, dia terus main terkam. Sakit tadi telah
menyebabkan ke 7 jurus ilmusilat „Ih-jin-kun" hilang dari
ingatannya. Gerakannya kini tidak menyerupai lmusilat lagi
dan karena itu dalam beberapa saat saja, ia telah menerima
lagi beberapa hantaman. Adalah karena kulitnya keras, jadi
kesemuanya itu tak dihiraukan.
Pada fihak The Gopun tak kurang gelisahnya. Terang
tadi dia sudah berhasil menutuk jalan darah wi-liong-hiat,
tapi mengapa binatang itu tak kurang suatu apa. Melirik
kearah Kui-ing-cu didapatinya tokoh lihay itu masih
menginjak pedang kuan-wi. Ah, rasanya pedang itu sukar
kembali ketangannya, mengapa tak kabur saja ? Mustika
batu itu sudah dia sembunyikan dalam suatu tempat yang
tak nanti diketemukan oleh keempat orang itu. Setelah
rencana ditetapkan, dia mengolok Tio Jiang: „Engkoh Tio,
lewat dua hari lagi Lian sucimu akan melangsungkan
perkawinan dengan kepala suku Thiat-theng-biau si Kitbong-
to. Apa kau tak ingatan datang meminum arakkebahagiaannya
?"
„Dimana tempat kediaman suku Biau itu ?" tanya Tio
Jiang tersentak kaget.
„Disamping dari Tok-ki-nia, pada puncak yang ketiga,
terdapat sebuah batu yang bercat hitam tiada tumbuhan
rumput sama sekali, itulah ........tempatnya !"
Mendengar itu Tio Jiang terus serentak akan berangkat,
tapi ditertawai Kui-ing-cu: „Usah begitu kesusu, kan masih
ada 2 hari. Biarkan anak itu mati konyol lebih dahulu."
„Rasanya tak mudah!" kedengaran The Go menyeringai,
lalu menghantam pula pada Siao-wi sampai mundur, baru,
berkata lagi: ”yang nyata, racun pedang itu sudah bekerja,
dikuatirkan meskipun obat pemunah ada tapi sudah, kasip!"
Perang urat syaraf si The Go itu, memaksa Kui-ing-cu,
harus memperhatikan Tio Jiang. Daging pada bagian
lukanya itu memang sudah berwarna hitam, benar seperti
yang dikatakan si The Go. „Bangsat, kau harus turut serta
ke Thiat-nia sana, kemudian setelah balik kemari lalu
bertempur lagi dengan Siao-wi. Coba kumau tahu, kau mati
lelah, tidak nanti!" seru Kui-ing-cu.
The Go menginsyafi bahwa untuk lolos, tak semudah
seperti yang direncanakan. Satu2nya harapan yalah
mengulur, waktu, mudah2an nanti terjadi perobahan yang
tak terduga. „Janji adalah janji! Pergi ya pergi, perlu apa
harus kuatir!" sahutnya.
Kui-ing-cu tak mengira sama sekali kalau si The Go
berani memberi penyahutan begitu, mengartikan ucapannya
(Kui-ing-cu) tadi suatu janji. Sebagai seorang cianpwe,
diapun tak mau kalah hawa. Disuruhnya Siao-wi berhenti,
dan menggendong Toa-wi, sedang Nyo Kong-lim
memanggul Tio Jiang. Sekali menjentik dengan ujung kaki,
maka pedang kuan-wi segera disongsongnya dan mulutnya
memerintah: „Berikan sarungnya!"
Tanpa ragu2 The Go lemparkan sarung itu kepada Kuiing-
cu, siapa setelah memasukkan pedang kedalamnya lalu
menyerahkan pada Yan-chiu: „Jaga baik2, jangan sampai
kena diselomoti oleh bangsat itu!"
„Apa dia bisa?" bantah Yan-chiu.
„Ah......, jangan pandang rendah dia!" bentak Kui-ingcu.
Mendengar itu, The Go tertawa, ujarnya: „Terima kasih,
locianpwe begitu menghargakan pada orang she The ini!"
„Hm .......," Kui-ing-cu mendengus, lalu menggusur The
Go dan, menyuruhnya berjalan, menuju kepuncak Thiat-nia
tempat kediaman suku Thiat-theng-biau.
Menjelang terang tanah, sampailah mereka kesana.
Ternyata suku Thiat-theng-biau itu mengasingkan diri
dengan, dunia luar. Orang asing dilarang kesana. Hampir
tiba disarang mereka, kelima orang itu sudah disambut
dengan 3 batang anak panah beracun. Syukur Nyo Konglim
yang berjalan paling depan dapat menghalaunya.
Menyusul dengan itu, 3 orang Biau muncul, Melihat The
Go datang lagi dengan membawa seorang gadis (Yan-chiu),
mereka menjadi hiruk pikuk sendiri. Oleh karena kelima
orang itu tak mengerti bahasa mereka, jadi digunakan
bahasa isyarat tangan, yang maksudnya mereka hendak
mengunjungi kepala suku. Rupanya ketiga orang Biau itu
mengerti, lalu membawa mereka naik kepuncak.
Ketika tiba dipertengahan lamping gunung yang ternyata
menjadi tempat kediaman suku Thiat-theng-biau,
terdengarlah genderang ramai dibunyikan. Beratus-ratus
orang Thiat-theng-biau tengah mengelilingi sebuah tonggak,
pada tonggak mana diikat seseorang. Ada 4 orang Biau,
tengah main lempar2an tombak disisi orang itu. Begitu
dekat sekali tombak2 itu berseliweran disisi siorang, hingga
orang yang melihatnya tentu akan mengucurkan keringat
dingin. Kira2 4 meter jauhnya dari tonggak itu, duduk
seorang Biau yang tubuhnya juga kate, tapi kepalanya
besar. Dia tengah berteriak2 dengan kerasnya.
Melihat wajah orang yang diikat itu, Tio Jiang terus saja
berteriak: „Lian suci!" Orang itu rupanya mendengar dan
dongakkan kepala. Hai, memang Bek Lianlah adanya!
Mengapa ia sudah tersadar, padahal, obat bius Kit-bongto
yang terkenal manjur itu, akan dapat menidurkan orang
sampai 3 hari? Kiranya obat itu hanya tepat kemanjurannya
apabila digunakan terhadap orang biasa. Terhadap orang
yang mengerti lwekang macam Bek Lian, dalam dua hari
saja, yakni pada hari kedua tengah malam, ia sudah
tersadar. Ini disebabkan ketika merasa limbung, cepat2 ia
kerahkan lwekang untuk menahan.
Sebaliknya hal itu malah membuat Kit-bong-to
kegirangan. Seketika itu juga dia hendak melangsungkan
pernikahan. Sudah terang, Bek Lian menolaknya. Dalam
perkelahian, Kit-bong-to kena ditampar dua kali, saking
gusarnya dia bersuit keras. Dalam sekejab saja, ratusan
orang Biau segera datang. Sudah tentu Bek Lian kalah dan
lalu diikat pada sebatang tonggak. Kit-bong-to perintahkan
4 orang untuk main lempar tombak. Bermula jaraknya 2
meteran dari Bek Lian, tapi lama2 makin dekat. Ketika
kelima orang tadi datang, jarak itu hanya tinggal berapa
dim saja.
Hanya sekali Kui-ing-cu enjot tubuhnya kedekat tonggak
dan empat batang tombak itu sudah terpegang ditangannya.
Kit-bong-to serentak berbangkit dengan marahnya, tapi
serta dilihatnya dibelakang tetamu pengacaunya ada dua
ekor orang utan, dia duduk kembali. Suku Thiat-theng-biau
bertetangga dengan „kerajaan" orang utan, jadi tahu
bagaimana kelihayan orang utan itu. Melihat ada setitik
harapan, Kui-ing-cu pondong Tio Jiang kemuka kepala
suku itu. Sembari menunjukkan lukanya, dia gunakan
bahasa isyarat meminta obat.
Rupanya Kit-bong-to mengerti, dia tundukkan kepala
memeriksa. Setelah mengucap beberapa patah kata, dia lalu
berbangkit pergi. Kui-ing-cu cemas, kalau kepala suku itu
tak mau memberi obat, celakalah anak itu. Tangkap
penjahat, harus tangkap kepalanya, demikian pikirnya. Dia
memburu sembari gunakan siao-kin-na-chiu untuk
menangkap siku tangan Kit-bong-to. Tapi karena bagian
tubuh itu dibungkus dengan rotan besi, terkaman Kui-ing-cu
itu tak dapat menekan uratnya. Malah sekali gerakkan
tangan, Kit-bong-to balas menghantam.
„Ho, kau berani memukul ?" damprat Kui-ing-cu
menarikk se-kuat2nya, hingga Kit-bong-to terbanting jatuh.
Kui-ing-cu loncat menghampiri untuk menariknya bangun
sembari mempelintir tangannya kebelakang. „Ambilkan
obat!"
Ternyata Kit-bong-to itu se-dikit2 juga mengerti bahasa
Han. „Hohan, ampunilah jiwaku!" dia meratap.
Kui-ing-cu tertawa dingin serunya: „Siapa maukan....... "
baru sampai disini, tiba2 terdengar jeritan melengking,
seperti suara Yan-chiu. Kiranya tadi karena hendak buru2
menolong Bek Lian, dia sudah lepaskan The Go. Kala itu
dengan sebatnya, The Go segera menyerang Yan-chiu,
siapa karena sedang memperhatikan sang suci, jadi sudah
tak keburu menghindar. Mukanya tertampar dan tahu2
pinggannya ditarik, sekali hantam tali pengikat sarung
pedang kuan-wi putus, dan pedang itu dengan cepatnya
sudah beralih ditangan The Go.
Saking gusarnya Yan-chiu sampai pucat pilas. Ia kirim
dua hantaman, tapi terpaksa tak berani meneruskan karena,
The Go tangkis dengan pedang pusaka. Nyo-kong-lim
menggendong Tio Jiang, sedang Siao-wi memanggul Toawi,
jadi mereka sama tak berdaya. Kui-ing-cu sembari
menangkap tangan Kit-bong-to terus hendak loncat
memburu, tapi dihadang oleh kawanan orang Biau yang
sama mengepungnya. Mereka hiruk pikuk berisik sekali.
Beberapa kali Kuiing-cu hendak menobros, selalu gagal.
Selama berpuluh tahun berkelana didunia persilatan,
baru pertamakali itu Kui-ing-cu menjadi gelisah. ,Kit-bongto,
lekas suruh orang2mu mundur!"
Kit-bong-to sombong dan ganas. Dipelintir oleh Kui-ingcu,
dia sangat gusar sekali. Lebih baik mati bersama
daripada menyerah. Maka setelah bertereak beberapa kali,
kawanan orang Biau itu bukannya bubar, malah makin
mengepung rapat2 pada keempat orang itu. Ada beberapa
yang men-julur2kan tombak, se-olah2 hendak menyerang.
Sampai pada saat itu, Kui-ing-cu benar2 habis
kesabarannya. Bang...., bang....... sebuah batu yang berada
disebelah situ menjadi hancur. Kui-ing-cu gunakan seluruh
kekuatannya untuk menghantam dan betapapun kerasnya
batu itu, akhirnya porak lebur bertebaran. Walaupun
orang2 Thiat-theng-biau itu masih liar, tapi menghadapi
kejadian sedahsyat itu, mereka terperanjat jeri juga. Setelah
ber-tereak2 secara aneh, tampaknya kepungan mereka
menjadi agak kendor.
„Lekas suruh orangmu ambil obat penawar racun, tentu
kuampuni jiwamu. Kalau tidak, masa kepalamu sekeras
batu itu?" Kui-ing-cu mengancam. Baru kini Kit-bong-to
mengerti maksud kedatangan tetamunya itu. Daripada
jiwanya, terancam, dia lekas suruh orangnya mengambilkan
obat itu.
Sewaktu Kui-ing-cu mengawasi kedalam rombongan
suku Biau itu, The Go sudah tak kelihatan bayangannya
lagi. Dia banting2 kaki, karena sekali ini sukarlah untuk
membekuk anak muda yang licin itu. Yan-chiu tetap
cemberut, tapi pada lain saat ia tertawa, katanya: „Kita
pergi tunggui dia ketempat tadi, masakan dia tak datang
mengambil mustika batu itu lagi?"
„Mungkin kalau lain orang, tentu berbuat begitu. Tapi
Masakan The Go tak dapat memperhitungkan kalau kita,
tentu datang menungguinya disitu?! Jangan buang tenaga
sia2!" ujar Kui-ing-cu.
Yan-chiu tak dapat membantah kecuali memaki kalang
kabut pada The Go. Tak antara berapa lama obat telah
diambilkan. Setelah diminumkan, Tio Jiang dan Tao-wi
menjadi sembuh. Kit-bong-to pun lepaskan Bek Lian.
Sampai detik itu, nona itu tetap belum mengetahui
keculasan The Go. „Engkoh Go? Tadi dia masih disini,
mengapa tak kelihatan.?" tanyanya.
Yan-chiu tertawa dingin menyahut „Mana engkoh
Gomu berani bertemu kau lagi? Dia tukarkan dirimu
dengan pokiam dari orang liar sini, mengapa kau masih tak
tahu? „
Bek Lian terkesiap. Memang selama dalam perjalanan
itu sikap The Go tak sewajarnya. Tapi pada lain saat, ia
tentang sendiri kecurigannya itu
”Siao Chiu, jangan omong sembarangan. Biar kamu
membencinya, tapi aku tidak !"
Melihat sikap Bek Lian yang keras kepala begitu, Kuiing-
cu dan Nyo Kong-lim geleng2 kepala. Kui-ing-cu paling
benci terhadap orang yang bertingkah begitu, maka dia
dongakkan kepala tak melihatnya lagi. Tio Jiang coba
menyadarkan, katanya dengan nada ber-sungguh2 : „Lian
suci, jika kau tetap mempercayai bangsat itu, celakalah
dirimu!”
„Jangan ngoceh tak keruan! Sewaktu hidup, aku menjadi
orangnya. Kalau binasa, pun aku akan menjadi setannya.
Mengapa kau larang aku memperhatikan dia? Mamah
bilang, siapa saja yang mencegah hubungan kami berdua
itu, dialah musuhnya!" sahut Bek Lian dengan murka.
Kui-ing-cu terpaksa terkejut juga. Menilik perangai yang
aneh dari Kang Siang Yan, tentu ia benar2 mengeluarkan
pernyataan begitu. Apalagi nyonya itu keliwat menyayangi
puterinya, serta terpengaruh oleh rupa dan sikap baik yang
dibawakan oleh The Go.
„Siaoko," kata Kui-ing-cu kepada Tio Jiang dengan
menghela napas, „kewajiban kita untuk menolong orang
sudah selesai. Kini mari kita cari suhumu saja. Pertemuan
hari pehcun sudah tinggal 10 hari lagi!"
Nyo Kong-lim setuju, karena dia benci juga kepada, Bek
Lian yang kepala batu itu. Sebaliknya dengan Tio Jiang,
yang meminta sang suci supaya ikut rombongannya.
„Siapa sudi turut pada rombonganmu? Aku dapat
mencari jalan sendiri!" serunya sembari membalik tubuh
terus turun kebawah. Mata Kit-bong-to beringas hendak
mencegahnya, tapi tak berani. Kui-ing-cu kedengaran
menghela napas, serunya seorang diri: „Kalau memang
sejak lahir jahat, itu dapat dimaafkan. Tapi kalau kejahatan
itu timbul dari perbuatannya sendiri, tak pantas hidup
didunia ini!"
Itulah kata2 Kui-ing-cu ketika dia berjumpa dengan The
Go dan Bek Lian dihutan. Mendengar itu hati Yan-chiu
tergerak, tanyanya: „Bagaimana dapat dikatakan timbul
dari perbuatannya sendiri itu?"
Kui-ing-cu tak menyahut. Diam2 Yan-chiu mengacai
perbuatannya sendiri. Ia mencintai sang suko, tapi tak
berani menyatakan terang2an, hingga sang suko tak
mengerti, akibatnya ia menderita sendiri. Adakah itu pantas
digolongkan pada ucapan kedua dari Kui-ing-cu tadi?
Dalam berpikir begitu, dia mendongak mengawasi Tio
Jiang. Demi tampak apa yang dilakukan sang suko pada
saat itu, hatinya tawar lagi. Kiranya saat itu Tio Jiang
tengah memandang kebawah, memaku pandangan matanya
kearah bayangan Bek Lian. Sepintas pandang, tampaknya
memang Tio Jiang masih lekatkan hatinya kepada sang
suci, seperti yang diduga oleh Yan-chiu. Tapi sebenarnya
tidak demikian. Kalau dia mengawasi itu, hanyalah karena
kuatir akan keselamatan sang suci, bukan sebagai kecintaan
tapi sebagai saudara seperguruan.
Oleh, karena sifatnya yang polos, dia sudah begitu
berduka karena Bek Lian masih gelap pikirannya. Sejak
ketika dikaki Hoasan dia melihat Bek Lian dan The Go
begitu mesranya, dia sudah tersadar bahwa cinta itu tak
boleh dipaksa, Sikap Bek Lian beberapa, detik tadi, makin
memperkokoh keinsyafannya. Teringat bagaimana selama
itu dia begitu, ter-gila2, dia geli sendiri. Tapi hal itu tak
diketahui Yan-chiu, siapa masih menyangka dia tetap
menyintai sang suci.
Begitulah mereka berempat segera tinggalkan puncak
Thiat-nia situ. Turut perhitungan kala itu sudah tanggal 20,
bulan 4, jadi tinggal setengah bulan lagi dengan waktu
pertemuan hari pehcun itu. Sebenarnya pertemuan atau
tantangan berkelahi itu, dibuat antara The Go dengan Kiao
To. Tapi dalam setengah tahun ini, perkembangan menjadi
lebih bih luas, hinggaa banyaklah kaum persilatan yang
hendak mencari The Go. Dalam hal itu sudah tentu fihak
Ang Hwat cinjin akan bertempur mati2an untuk menjaga
gengsi. Oleh karena itu selama dalam perjalanan, Kui-ingcu
memberi gemblengan terus pada ketiga orang itu.
„Siao-ah-thau, apakah kau mengerti apa ‘yang disebut
daIam ilmu perang yang kosong itu berisi, yang berisi itu
kosong’ ?" tiba2 Kui-ing-cu menanyai Yan-chiu. Pikiran
nona, itu tengah penuh sesak dihimpit oleh ber-macam2
lamunan, maka sembarang saja ia menyahut: „Sudah tentu
tahu!"
„Bagus," seru Kui-ing-cu bertepuk tangan, ”kita duga
The Go tentu tak sebodoh itu untuk kembali mengambil
mustika batu, maka kita putuskan tak pergi kesana. Tapi dia
memperhitungkan tindakan kita itu, jadi dia tentu datang
kesana, benar tidak?"
„Benar!" sahut Yan-chiu tanpa berpikir lagi. Malah Nyo
Kong-lim serentak sudah menggembor. „Kita kesana lekas"'
Kala itu mereka sudah tiba dekat tempat pertempuran
kemarin malam. Maka mereka cepat membiluk ketimur
menuju kesana untuk me-lihat2. „Toa-wi, Siao-wi
periksalah apa bangsat itu tadi bersembunyi disini?" tanya
Yan-chiu kepada kedua piaraannya. Toa-wi yang baru
sembuh, pikirannya masih belum terang. Tapi Siao-wi
segera membau beberapa, kali mencari kesekeliling tempat
situ, tapi tak dapat menemukan suatu apa.
Kui-ing-cu tampak berpikir. „Orangnya tidak ada, batu
mustikanya tentu masih ada. Hayo kita berpencar
mencarinya," katanya.
"Tapi keadaan gunung sini penuh dengan bermacam
batu, kemana kita harus mencari? Lebih baik saja dia disini
sampai beberapa hari, masa dia takkan datang ?" Yan-chiu
membantah. Tapi Nyo Kong-lim segera deliki mata.
„Andaikata dia tak datang, apa kau akan menungguinya
sampai setahun dua tahun?" tanyanya. Oleh karena hati
Yan-chiu sedang dilamun keresahan, jadi seenaknya saja
dia membalas: „Setahun dua tahun, takut apa ?"
Nyo Kong-lim yang kasar polos, sebaliknya malah
memuji sambil tunjukkan ibu jarinya: „Nona kecil, kau
sungguh hebat. Baik, aku temani kau menungguinya disini!"
„Toacecu, tadi aku hanya bergurau saja, masa betul2
mau menungguinya sampai begitu lama?" Yan-chiu
sungkan sendiri dan menyusuli kata2nya. Sudah tentu Nyo
Kong-lim yang polos itu tak mengerti sikap sinona, lalu
menggerutu: „Siao-ah-thau, mengapa kau menjadi belut?
Masa bicara bolak balik begitu ?"
Yan-chiu hanya ganda tertawa saja. Akhirnya keempat
orang itu sependapat tak usah lama2 menunggui disitu.
Oleh karena jejak Ceng Bo itu tak berketentuan tempatnya,
maka diputuskan mereka akan berpencar mencarinya. Baru
saja mereka hendak angkat kaki, tiba2 dari kejauhan
terdengar suara melengking tajam, hingga membuat jantung
orang berdebur keras. Suara itu makin lama makin dekat
dan tampak sebuah bayangan berkelebat. Namun sesaat
bayangan itu terlihat, secepat itu juga ada serangkum angin
keras menyambar datang. Saking kagetnya, keempat orang
itu cepat2 menghindar. Hanya Kui-ing-cu yang sempat pula
melancarkan sebuah hantaman. Begitu dirasai kekuatannya
berimbang, tahulah ia dengan segera, siapakah yang datang
itu. Baru dia hendak membuka mulut, atau sudah
kedengaran suara pukulan keras melancar. Berbareng itu,
Toa-wi dan Siao-wi mengaum keras.
Kiranya sipendatang itu begitu tiba sudah melancarkan 6
buah pukulan tanpa bersuara. Kalau keempat orang tadi
dapat lekas2 menyingkir, adalah kedua ekor orang utan itu
yang termakan, hingga ter-huyung2 mundur. Orang yang
muncul itu, rambutnya terurai jatuh diatas pundak dan
bukan lain memang Kang Siang Yan adanya.
Melihat subonya, Tio Jiang dan Yan-chiu ter-Sipu2
hendak memberi hormat, tapi Kui-ing-cu yang melihat
gelagat jelek, buru2 menyerukan kedua anak muda itu
supaya berhati2. Memang jitu rabahan Kui-ing-cu itu! Baru
kedua anak muda tadi berjongkok kui memberi hormat,
dengan tertawa seram Kang Siang Yan ayunkan sepasang
tangannya. Kanan untuk Tio Jiang, kiri kepada Yan-chiu.
Yanchiu dengan tangkas sudah enjot tubuh loncat keatas.
Sebaliknya Tio Jiang yang kurang waspada, begitu
tubuhnya hendak berjongkok sudah ditendang oleh Kui-ingcu
sampai terpental setombak jauhnya. Ini lebih enak bagi
Tio Jiang daripada menerima hantaman Sang Subo, Sudah
tentu pukulan Kang Siang Yan itu jatuh ditempat kosong.
Ia tertawa meringkik, ujarnya: „Kiu-ing-cu yang jempol,
mengapa kau seorang cianpwe yang terhormat, lakukan
juga perbuatan yang sedemikian rendahnya? Siapa lagi,
tentu kau yang menjadi biang keladinya. Hari ini thay-imciang
hendak mengunjungi padamu!"
”Kang Siang Yan, apa yang kau ocehkan itu?" balas Kuiing-
cu. Dia duga disitu tentu terselip apa2 yang kurang
beres. Tapi belum mengucap habis, pukulan tanpa-suara
dari Kiang Siang Yan yang hebat itu sudah
menghantarnnya. Karena sudah pernah merasakan
kedahsyatan ilmu pukulan itu, Kui-ing-cu tak berani
menyambut dan melainkan mundur sampai beberapa
tindak, lalu balas mengirim hantaman. Itulah ilmu pukulan
lwekang sakti juga yang disebut biat-gong-ciang. Kiang
Siang Yan tak berani adu kekerasan. Dengan melengking
tajam dan rambutnya sama tegak berdiri, ia menurun
kebawah lalu menyelinap beberapa tombak. Dari situ
kembali ia mengirim sebuah hantaman kearah dada orang.
„Kiang Siang Yan, kau sungguh tak tahu aturan!" seru
Kui-ing-cu sembari menyingkir dari serangan orang. Tapi
Kiang Siang Yan sudah susuli lagi dua buah serangan
berbareng dari tangan kanan dan kiri. Kelihayan dari
serangannya itu, setiap hantaman itu tidak mengeluarkan
suara apa2, gerak perobahannya sangat cepat sekali,
sehingga orang tak sempat bernapas.
Kui-ing-cu juga seorang tokoh yang sudah tergolong
dalam tingkat cianpwe. Tapi toh dalam menghadapi
serangan yang luar biasa itu, dia kelabakan juga. Terpaksa
dia enjot kakinya melambung keatas sampai 5 tombak
tingginya. Tapi ternyata Kiang Siang Yan tetap
membayangi kemana perginya. Lawan loncat keudara,
iapun menyusuInya. Tapi kedudukan Kui-ing-cu yang
berada disebelah atas lebih menguntungkan. Wut......,
sebuah hantaman dilancarkan turun. Kiang Siang Yan tak
dapat berkelit, terpaksa dia kibaskan tangannya kanan
menangkis. Begitu kedua tangan saling berbentur, keduanya
sama berjumpalitan. Secepat kaki menginjak bumi,
keduanya sama2 berputar tubuh dengan sigap sekali. Kini
kedua tokoh yang lihay itu saling berhadapan.
Mereka berdua adalah tokoh persilatan terkemuka pada
jaman itu. Dalam sekejab mata, tadi mereka sudah
bergebrak dalam 3 jurus, semua terdiri dari jurus2 yang
berbahaya dan istimewa. Sudah tentu Nyo Kong-lim tahu
diri. Tak berani dia turut campur karena merasa
kepandaiannya terpaut jauh sekali.
”Kui-ing-cu, harini aku hendak membasmi suatu racun
dunia, mengapa kau katakan tak tahu aturan? Terhadap
kawanan bangsat yang begitu keji macam kalian ini, perlu
apa harus pakai aturan ini itu ?" Kiang Siang Yan
mendamprat tajam.
„Siapa yang kau namakan kawanan bangsat keji itu?
Anak menantumu yang bagus itulah tepatnya!" Kui-ing-cu
marah2.
Rambut Kiang Siang Yan menjigrak, bentaknya:
„Jangan ngoceh yang tidak2, kau mengapakan Lian-ji Itu?"
„Siapa yang tahu? Jangan2 sudah menghadap Giam-ong,
juga mungkin!" sahut yang ditanya. Bukan tak ada
sebabnya Kiang Siang Yan mencari rombongan Kui-ing-cu
itu. Ia bukan seorang wanita yang suka bergurau,
sebaliknya Kui ing-cu adalah tokoh yang gemar ber-olok2.
Maka olok2 Kui ing-cu itu telah dianggap sesungguhnya
oleh Kiang Siang Yan. „Kalau begitu, kalian harus
mengganti jiwa. Kamu berempat tiada seorangpun yang
boleh pergi!" mulutnya mengancam bengis, sedang
tubuhnyapun sudah lantas melesat rnenerjang Nyo Konglim
bertiga. Begitu cepat serangan itu dilancarkan, sehingga
ketiga orangytu talc sempat menghindar dan tahu2 kena
tertutuk rubuh. Dan tak kurang sebatnya pula, Kiang Siang
Yan sudah lancarkan pukulan thay-im-ciang kepada Kuiing-
cu. Gerakan yang sedemikian tangkas dan hebat itu,
sungguh sukar dicari bandingannya. Mungkin Lam-hay Hu
Liong Bo pada jamannya, tak sedemikian Iihaynya.
Belum Kui-ing-cu hilang kagetnya karena tak dapat
menolong ketiga kawannya yang tertutuk rubuh itu, atau
dia sendiri sudah terima serangan yang dahsyat. Terpaksa
dia gunakan tangkisan istimewa. Begitu menangkis,
berbareng tangannya yang satu menghantam, gerakan itu
waktunya sama. Tapi lawanpun berbuat sama. Serangan
pertayma tadi disusul dengan kedua. Blak.......dua buah
pukulan saling berbentur dengan hebatnya. Dua buah jari
Kiang Siang Yan bengkok kesamping hendak menutuk
jalan darah yang-ko dan yang-ti lawan. Sebaliknya kelima
jari Kui-ing-cu dikatupkan menjadi tinju. Begitu diturunkan
untuk menghindar tutukan, lalu diteruskan menjotos dada
orang. Kiang Siang Yan tak berani menangkis dan tak
sempat pula menghindar. Terpaksa ia tarik pulang kedua
tangan untuk mengacip lengan lawan. Sudah tentu Kui-ingcu
tak mau membiarkan tangannya diperbuat begitu. Sekali
enjot kaki, dia loncat mundur. Demikianlah dalam sekejab
waktu saja, kedua seteru itu mulai lagi merapat maju. Dan 4
jurus kembali sudah dilancarkan.
Dalam pertempuran selanjutnya, Kui-ing-cu harus
mengakui kelihayan wanita gagah itu. Thay-im-ciang
dilancarkan ber-tubi2 bagaikan hujan mencurah, hingga
sukar dibedakan mana yang isi mana yang kosong. Kui-ingcu
terpaksa harus tumplek perhatian untuk menjaga bagian
tubuhnya yang berbahaya. Tak jarang selama dalam
pertempuran itu keduanya harus adu benturan, dan setiap
kali Kui-ing-cu selalu mendapat kesan bahwa tenaga lembek
dari Iwekang musuh itu hebat sekali. „Kelemahan dapat
menundukkan kekerasan," demikian dalil yang berlaku
dalam ilmu lwekang. Kiang Siang Yan dapat menguasai
sari kelemahan lwekang itu, pertanda kalau lwekangnya
sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang teratas. Sayang
adatnyapun berobah sedemikian eksentriknya. Selama
kedua tokoh itu bertempur dengan Serunya, ketiga orang
yang ditutuk tadipun telah dapat pulih lagi.
Yang pertama mendapat kepulihannya adalah Tio Jiang,
siapa lalu menolongi Nyo Kong-lim dan Yan-chiu. Setelah
itu dia menghampiri kedua tokoh yang sedang asyik
bertempur.
„Suko, kau hendak mengapa?" tanya Yan-thiu.
Tapi Tio Jiang tak mau menyahut. Menghampiri kesisi
gelanggang, dia berseru. „Subo, sukalah dengarkan
omongan ku sebentar."
Kiang Siang Yan tengah pusatkan perhatiannya
menempur Kui-ing-cu. Demi melihat kedatangan Tio Jiang,
dia terperanjat juga. Diam2 ia merasa heran, mengapa
begitu cepat anak itu telah mendapat kepulihannya. Benar
tutukannia tadi tidak berat, tapi toh cukup membuat orang
lemas sampai berapa jam, Jangan2 anak itu memiliki
kepandaian istimewa, sekarang, demikian pikirnya.
Memang sejak mempelajari ilmu thay-im-lian-seng, ia
berobah menjadi seorang yang banyak curiga. Oleh karena
pikirannya hendak mencari tahu, gerakannya terpengaruh
menjadi lambat. Wut....., hampir saja ia termakan pukulan
Kui-ingicu, untung ia masih bisa, loncat meloloskan diri,
walaupun dengan susah payah.
Kini Kiang Siang Yan tak mau menghampiri Kui-ing-cu
lagi, sebaliknya, menyongsong kedatangan Tio Jiang,
Karena tak mengandung maksud jahat, jadi Tio Jiangpun
tak jeri. Diam2 ia, mengetahui kalau anak itu telah
memiliki dasar ilmu lwekang yang kokoh, ini terbukti dari
pancaran matanya yang ber-api2, heran ia dibuatnya karena
terang yang pasti saja, tentu bukan Hay-te-kau atau
suaminya itu yang mengajari, sebab setahunya sang suami
itu tak memiliki lwekang macam begitu.
„Apakah kepandaianmu sekarang ini, suhumu yang
mengajarkan?" tanyanya dengan dingin.
Terhadap sang suhu, Ceng Bo siangjin, Tio Jiang telah
mengabadikan hormat dan ketaatannya. Tanpa ragu2 lagi
dia menyahut: „sudah barang tentu, subo.......... "
„Hem....., didalam rumah keluarga In, mana ada
pelajaran lwekang jahat macam kepunyaanmu itu!" tukas
Kiang Slang Yan serentak. Kiranya pelajaran dari Hay-tekau
itu adalah warisan dari keluarga In, ialah ayah Kiang
Siang Yan. Sebenarnya kepandaian itu merupakan warisan
keluarga In, tak pernah diturunkan pada orang luar. Tapi
karena ayah Kiang Slang Yan mengetahui Hay-te-kau itu
seorang pemuda yang berbakat bagus dan lurus hati, maka
dia telah diterima menjadi murid. Jadi Kiang Siang Yan
cukup mengetahui jelas akan hal itu.
Tio Jiang ter-longong2 tak dapat menjawab. Syukur Kuiing-
cu keburu menolongnya dengan berseru: „Kiang Siang
Yan, jangan bicara yang tidak2. Mengapa tidak hujan tidak
angin kau cari perkara pada kami?"
”Jawab! Kau kemanakan Lian-ji itu? Kalau tak memberi
keterangan jelas, jangan harap kalian berempat ini dapat
bernyawa lagi!," bentak Kiang Siang Yan dengan murka.
Sampai pada saat itu, Yan-chiu tak kuat bersabar lagi, terus
saja ia hamburkan kemengkalannya: „Wah, kata2 yang
besar!"
Tio Jiang kaget dan buru2 hendak memberi isyarat
dengan ekor mata, tapi sudah terlambat.
„Budak hina, kalau tak percaya cobalah!" Kiang Siang
Yan sudah kedengaran berseru, sepasang matanya beringas
menatap anak itu. Yan-chiu terperanjat sekali. la tadi
hanya, mengomong sendirian, tak mengira kalau sampai
didengar sang subo. Saking kagetnya, ia mundur beberapa
tindak.
Sememangnya terhadap anak itu, Kiang Siang Yan
masih mempunyai rekening kemarahan yang belum
dihimpaskan. Yalah ketika tempo hari telah diselomoti oleh
Kui-ing-cu hingga sampai menurunkan ilmupedang Hoankang-
kiamhwat. Itu waktu ia telah menghajarnya, tapi
keburu dapat ditolong oleh Tay Siang Siansu. Maka taruh
kata tidak karena urusan Bek Lian, pun kalau berjumpa
dengan Yan-chiu, ia tentu masih hendak menghukumnya.
Sebenarnya Yan-chiu tadipun hanya sekedar untuk
melampiaskan kemengkalannya saja, se-kali2 tidak
bermaksud hendak menghina subonya. Tapi, justeru hal itu
telah kebetulan sekali bagi Kiang Siang Yan. Yan-chiu
mundur, ia maju. „Budak hina, diantara 4 orang ini, kaulah
yang lehih dulu binasa!" serunya sambil maju mengulurkan
tangan mencengkeram lengan sinona.
Dalam gugupnya, Yan-chiu enjot tubuh melejit lolos.
Selama 3 bulan berada, dengan Tay Siang Siansu, berkat
kecerdikannya, sigenit telah berhasil mengeruk banyak
sekali ilmu lwekang hweshio itu. Ilmu lwekang yang
dipelajari Siansu itu mendasarkan pada ketenangan dan
konsentrasi (pemusatan) pikiran. Sembarang saat dia dapat
menggunakan menurut sekehendak hatinya. Dapat
mematahkan segala kekuatan, dapat menggempur segala,
kekerasan. Digunakan untuk ilmu mengentengi tubuh,
tubuhnya dapat bergerak kemana, sang hati maukan. Itu
kalau sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang
terpuncak. Tay Siang Siansu sendiripun masih belum
mencapai tingkatan itu. Apalagi Yan-chiu yang hanya
mencukil sepintas lalu saja. Tapi oleh karena, Kiang Siang
Yan keliwat memandang rendah anak jadi serangannya tadi
telah dapat dihindari oleh sigenit.
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 30 : PUNGGUNG DAN TUMIT
„Bagus, tak heran makanya kalian berani menjual Lianji.
Kiranya hanya karena mengandalkan barang satu dua
macam, kepandaian begitu!" damprat Kiang Siang Yan
dengan meradang. Sekali tubuhnya, bergerak, dia meluncur
dipermukaan tanah (kami gunakan istilah „meluncur")
karena ia tidak meloncat melainkan meluncur seperti orang
main ski. Tanah disitu naik turun tak rata, namun ia tetap
dapat meluncur seperti ditanah rata, Jadi ia tak gunakan
ilinu mengentengi tubuh tapi ilmu lwekang tingkat tinggi.
Begitu tiba, ia ulurkan tangan mentengkeram, berbareng itu
tangannya kiri menampar punggung Yan-chiu.
Hendak Yan-chiu lari, tapi tiba2 punggungnya sakit. la
tahu kali ini tentu celaka, Masa kelihatannya diserang dari
muka, kok punggungnya yang terasa nyeri? Sampai disini
baru ia tahu berapa jauh selisih kepandaiannya dengan sang
subo itu. Dari pada lari tentu akan lebih menderita
kesakitan lagi, lebih baik ia menjorok jatuh kemuka saja.
Kini pergelangan tangannya kena dicengkeram oleh sang
subo yang sementara itupun sudah angkat sebelah
tangannya untuk menampar kepala sigenit.
Tio Jiang seperti semut diatas wajan panas. Hendak
menolong, tak keburu. Syukur pada detik2 yang berbahaya
itu, Kui-ing-cu berseru : „Tahan !"
„Kau hendak memasang perangkap apa lagi ? Setelah
mereka satu per satu mati, baru paling belakang giliranmu!"
sahut Kiang Siang Yan sembari berpaling. .
„Kiang Siang Yan, kalau kami katakan tempat
beradanya anak perempuan kesayanganmu itu, lalu
bagaimana ?" seru Kui-ing-cu. Menilik ucapan Kang Siang
Yan „menjual Lian-ji" tadi, tahulah Kui-ing-cu bahwa disitu
tentu terselip kesalahan faham. Dia menduga keras, tentu
lagi2 The Go yang menyelomoti nyonya aneh itu.
„Hem, itu harus tunggu sampai kuketemukan Lian-ji dan
menanyainya jelas baru bisa memberi keputusan. Tapi
kutahu sudah, kalau tipu muslihat itu tentu budak hina
yang mengaturnya, maka biar sekarang kuberinya sedikit
rasa!" sahut Kiang Siang Yan.
„Sayang kecerdasanmu itu menjadi suatu kelimbungan,
karena mudah dikelabuhi orang!" Kui-ing-cu menghela
napas.
„Apa ? Dikelabuhi orang ?" tanya Kiang Siang Yan
makin marah.
„Coba jawablah, bagaimana kau bisa tahu kalau kami
berada disini ?" tanya Kui-ing-cu.
„Cian-bin Long-kun The Go yang mengatakan !"
Mendengar disebutnya nama orang itu, Tio Jiang dan
Nyo Kong-lim berbareng sama menggerung keras.
Sebaliknya karena dugaannya benar, Kui-ing-cu tertawa
gelak2, ujarnya ; „Anak itu memang lihay. Dia tahu kalau
kami tentu berada disini. Karena dia sendiri takut datang,
maka dia telah menipu kau supaya kemari !"
Perangai yang eksentrik dari wanita itu angot lagi.
Dikatakan limbung lalu diejek kena diakali orang,
rambutnya sama menjigrak. „Mulutmu berminyak lidahmu
benar2 licin! Bagaimana aku bisa diakali orang?"
Kui-ing-cu tetap berjenaka dan menyabut: „Jangan
meradang dulu, dengarkanlah penjelasanku!"
Ringkas jelas Kui-ing-cu tuturkan segala yang telah
terjadi. Bagaimana The Go telah tukarkan Bek Lian dengan
pedang Kuan-wi yang ternyata berada ditangan kepala suku
Thiat-theng-biau, telah dibentangkan se-jelas2nya. Akhirnya
dia memperteguhkan keterangan itu: „Kalau kau tak
percaya, mustika batu itu masih berada disini, mayat Tan Itho
juga masih terhampar disini. Apakah itu tidak bisa
dibuat bukti teguh?"
”Tapi mengapa, Cian-bin Long-kun mengatakan padaku
bahwa kalian telah menukarkan Lian-ji dengan dua ekor
orang utan itu ?" tanya Kiang Siang Yan dengan setengah
kurang percaya.
„Siapa yang suruh kau mempercayai omongan manusia
itu?!" tiba2 tanpa sengaja Yan-chiu telah kelepasan
menyeletuk.
„Jadi suruh aku mempercayai omonganmu saja, ya?"
Kiang Siang Yan mendampratnya dengan tajam, hingga
Yan-chiu yang pernah merasa bersalah pada subonya itu,
menjadi bungkam dalam seribu bahasa.
„Subo, biar kucarinya sampai ketemu mustika batu itu,
rasanya kau baru percaya!" kata Tio Jiang sembari terus
pergi.
Ternyata Kiang Siang Yan setuju. „Baik, kalau kau
dapatkan mustika batu itu, baru aku dapat
mempercayaimu. Aku tak percaya orang she The itu
mempunyai nyali begitu besar berani menipu aku. Dia kata
hendak pulang ke Ko-to-san untuk mengundang Ang Hwat
cin-jin menolongi Bek Lian!"
Kui-ing-cu tertawa, serunya: „Tu, bukti kebohongannya!
Kalau benar dia bermaksud hendak menolong anak
kesayanganmu, begitu berjumpa dengan kau, bukankah
sudah lebih dari cukup? Mengapa dia harus perlu ke Ko-tosan
?"
Kiang Siang Yan terbungkam, mengakui logika (nalar)
itu. Cengkeramnya pun setengah dikendor, walaupun
begitu tetap Yan-chiu masih meringis kesakitan serunya:
„Subo, Tio suko sudah pergi mencari bukti, harap
kendorkan tangankulah!"
Kiang Siang Yan mendorong, dan Yan-chiu ter-huyung2
beberapa tindak kemuka. Setelah bebas, nona genit itu tak
berani buka mulut lagi. Begitulah mereka berempat kini
menantikan kedatangan Tio Jiang. Tapi sampai setengah
jam lamanya, belum juga anak itu kelihatan datang. Kala
itu rembulan memancarkan cahayanya yang gilang
gemilang. Suasana disitu, sunyi senyap sekali. Andaikata
Tio Jiang mencabuti rumput atau semak2, tentu terdengar
juga suaranya. Tapi mengapa tidak sama sekali? „Biar
kususulnya!" Nyo Kong-lim yang tak sabaran segera
berseru, terus ayunkan kakinya kearah jalan yang ditempuh
Tio Jiang tadi, yaitu menuju tempat persembunyian. The
Go semalam.
Pegunungan Sip-ban-tay-san situ, jarang dijelajahi
manusia, rumput2nya hampir setinggi orang. Seperginya
Nyo Kong-lim, kini yang tertinggal hanya Kui-ing-cu, Yanchiu,
Kiang Siang Yan dan Toa-wi. Siao-wi rupanya berada
diluar mencari angin.
Sampai sekian lama, Nyo Kong-limpun tak muncul
datang. Kiang Siang Yan mulai terbit kecurigaannya. Tak
henti2nya ia tertawa sinis. Yan-chiu segera menghampiri
kedekat Kui-ing-cu, lalu berkata keras2 seorang diri: „Tio
suko dan Nyo toako, adalah orang2 yang dapat dipercaya
Mereka tentu akan mencari benda itu sampai ketemu. Oleh
karena harus mencari diseluruh gunung yang masih
belantara ini, jadi memerlukan tempo panjang. Kalau orang
menduga jelek, itulah salah!"
Untuk menandakan kalau ia bicara pada dirinya sendiri,
sigenit itu tak memandang pada siapa2 tapi tundukkan
kepala. Sekalipun begitu, sengaja dia lantangkan suaranya
agar Kiang Siang Yan dapat mendengarinya. Melihat
kecerdikan nona itu, Kui-ing-cu ganda tertawa. „Jangan
kalian berdua kegirangan dulu! Kalau mereka berdua tak
kembali, kamulah yang mengganti!" ujar Kiang Siang Yan
dengan bengis.
Adalah selama tadi, Kui-ing-cu selalu membawa sikap
mengalah. Tapi oleh karena Siang Yan makin sombong
seolah2 memandang dirinya (Kui-ing-cu) sebagai makanan
empuk, sudah tentu lama2 dia marah juga, serunya: „Kiang
Siang Yan, aku masih ada urusan tak sempat menemanimu.
Kita tetapkan saja satu hari, untuk mengundang para orang
gagah dalam dunia persilatan menyaksikan. Kita boleh adu
segala macam kepandaian, untuk mengetahui siapa yang
sebenarnya lebih unggul. Main bersombong mulut, apa
gunanya ?
„Mau adu apa lagi ?" Kiang Siang Yan tertawa dingin.
„Mengapa tidak ?" sahut Kui-ing-cu.
Kiang Siang Yan menuding pundak lawan, serunya:
”Gila, pundakmu itu pernah berkenalan dengan tangan
siapa ?"
„Siapa yang merampas barang ditanganmu?!" balas Kuiing-
cu. Demikianlah kedua tokoh itu, sahut menyahut
saling tak mau mengalah. Sampai diklimaksnya, Kiang
Siang Yan menantang: „Kalau mau adu kepandaian,
sekarangpun boleh, mengapa harus tunggu lain waktu?
Apakah karena kau hendak cari guru lagi ?"
„Baik, kepingin sekali aku menerima pengajaran ilmu
thay-im-kang dari Lam-hay Hu Liong Po!" sahut Kui-ingcu.
Dengan ucapan itu, Kui-ing-cu se-olah2 hendak
mengatakan bahwa sebenarnya kepandaian Kiang Siang
Yan itu biasa saja. Adalah karena kebetulan, maka ia telah
berhasil mempelajari ilmu kepandaian dari wanita gagah
Lam-hay itu. Sebaliknya jangan lagi siapa gurunya orang
tak mengetahui, sedang siapakah nama sebenarnya dari
tokoh Kui-ing-cu sendiri, tiada manusia yang tahu. Karena
tak dapat balas menyemprot, Kiang Siang Yan menjadi
marah-marah. „Baik, silahkan memulai dulu" serunya
dengan sungkan, tapi ia sendiri terus pasang kuda2.
Sampai disitu, terpaksa Kui-ing-cu tak dapat melihat
jalan lagi kecuali harus berkelahi. Tiba2 dari arah muka
sana tampak berkelebat sesosok bayangan. Buru2 dia
berseru: „Engkoh Tio, kaukah?"
Sret......, seorang loncat datang dan bluk......... tahu2
menghantam pantat Toa-wi, hingga binatang itu
menggerang kesakitan lalu berputar kebelakang
menerjangnya. Tapi orang itu lincah sekali, sret......., dia
loncat menghindar untuk menjotos dada Siao-wi, bluk!
Binatang inipun surut kebelakang, sebaliknya orang itu
tertawa gelak2, serunya: „Kui-ing-cu, kutahu setelah
mendapatkan ceng-ong-sin, kau tentu datang kemari. Kau
suruh aku berlatih sam-ciat-kun-hwat selarna 3 bulan itu,
bukankah karena hendak menipu aku ?”
Orang itu bukan lain adalah siorang tua kate yang
limbung, Sik Lo-sam.
„Sik Lo-sam, sini, sini, kuperkenalkan pada ini Kiang
Siang Yan yang namanya begitu cemerlang itu!" buru2 Kuiing-
cu berseru.
„Sudah tahu!" sahut orang tua aneh itu.
Sedangkan Yan-chiu yang mengetahui hari sudah terang
tanah, lalu berkata: „Hai, mengapa kedua orang itu belum
kunjung datang? Biar kususulnya!"
„Tidak! Kau juga mau ngacir bukan?" bentak Kiang
Siang Yan. la menduga dirinya hendak diselomoti.
„Siao Chiu, jangan pergi, jangan biarkan orang tak
memandang mata pada kita!" Kui-ing-cu menasehati, lalu
berkata kepada Sik Lo-sam: „Sik Lo-sam, ilmu permainan
sam-ciat-kun-hwat itu masih kurang satu jurus, kau
kepingin belajar tidak ?"
„Sudah tentu ingin sekali!" sahut Sik Lo-sam berjingkrak
sembari lolos sam-ciat-kun dari pinggangnya, terus
dikibaskan kebelakang. Justeru tepat pada saat itu Toa-wi
dan Siao-wi hendak membalas kesakitannya tadi, hingga
kedua binatang itu terpaksa loncat-mundur lagi.
„Ajarkanlah!" teriak silimbung.
”Itu sih mudah, tapi kau lebih dulu harus mengerjakan
satu kali!" sahut Kui-ing-cu.
”Lekas katakan!" seru Sik Lo-sam, tak sabaran.
„Seorang hweshio yang bertubuh tinggi besar dan
seorang anak muda tadi pergi kesekeliling gunung ini
mencari sesuatu benda, tapi sampai sekarang belum
kembali. Coba kau cari mereka!" kata Kui-ing-cu. Kali ini
Sik Lo-sam keluar kecerdikannya, dia deliki mata
membantah: „Mengapa kau sendiri tak mencarinya? Tentu
akan menipu aku lagi ya?"
„Sik Lo-sam, ada satu orang yang melarang kita pergi,
karena kuatir kita lolos!" menyelutuk Yan-chiu.
”Ho, siapa orangnya yang bernyali besar itu ? Biar dia
rasakan gebukanku ini seru Sik Lo-sam sembari mainkan
sam-ciat-kun dalam jurus cu-kong- theng-yau, salah satu
jurus dari permainan sam-liong-toh-cu.”
Kui-ing-cu mendapat akal. Tadi sebenarnya dia hendak
suruh sikate limbung itu mencari Tio Jiang dan Nyo Konglim,
tapi rupanya kini bisa digunakan untuk menghadang
Kiang Siang Yan, jadi dapat menghemat tenaga dari pada
dia sendiri harus bertempur. Dia cukup tahu, Sik Losam
meskipun seorang limbung, tapi ilmunya silat tidak lemah.
Andai kata kalah, silimbung itu tentu masih bisa
meloloskan diri tak sampai kena apa2. „Kau suruh dia
makan gebukanmu? Hem, jangan2 kau sendiri yang harus
menelan 10 kali pukulannya!" dia mulai memasukkan
minyak tanah (membikin panas hati orang).
„Edan, suruh dia kemari coba2!" ternyata Sik Lo-sam
mulai terbakar hatinya.
Kui-ing-cu menunjuk pada Kiang Siang Yan, serunya:
„Itulah!"
Sret......, sekali Sik Lo-sam loncat, tanpa banyak
cingcong lagi dia kemplang kepala Kiang Siang Yan, siapa
karena tak mengira orang begitu ugal2an hendak
menggemplangnya, sudah menjadi gusar sekali: „Telur
busuk macam kau, mau jual lagak?"
Sik Lo-sam melayang turun, melancarkan serangan lagi,
serunya „Aku telur busuk ini, tidak mau jual lagak apa2,
melainkan mau suruh kau rasakan tongkatku satu kali saja!"
GAMBAR 55
Karena diadu dombakan oleh Kui-ing-cu, tanpa pikir Sik Losam
terus sabetkan toyanya sambil membentak: „Rasakan
senjataku ini!"
Kiang Siang Yan mendongkol, tapi geli juga. la loncat
menghindar. Tapi Sik Lo-sam mengejarnya dengan sebuah
serangan lagi kearah pinggang. Melihat kedua orang itu
sudah bertempur, lekas2 Kui-ing-cu menarik Yan-chiu
diajak pergi. „Kita cari dulu kedua orang itu, biarkan
mereka bertempur disini, nanti kita lihat lagi!"
Yan-chiu tertawa riang atas kecerdikan Kui-ing-cu itu.
Sebaliknya Kiang Siang Yan sangat mendongkol. Beberapa
kali ia hendak cari kesempatan hendak mengejar, tapi selalu
diganggu oleh sam-ciat-kun sikate. Malah saking gencarnya
permainan sam-ciat-kun itu, Kiang Siang Yan sam pai
terkepung tak dapat lolos. „Budak hina, lain kali janganlah
sampai bertemu dengan aku. Kalau sampai berjumpa lagi,
kau tentu mengalami penderitaan hebat!" satu2nya jalan ia
hanya dapat mendamprat.
Walaupun tahu kalau Kiang Siang Yan itu subonya, tapi
oleh karena selama ini ia selalu mendapat siksaan, maka
iapun hendak balas menyahuti, tapi dicegah oleh Kui-ingcu.
Terpaksa Yan-chiu batalkan kata2nya, dan segera ajak
kedua binatang piaraannya untuk mengikut.
Melihat orang tangkapannya pergi, kini Kiang Siang Yan
tumpahkan kemarahannya pada Sik Loo-sam. Sebaliknya,
silimbung pun tak mau mengerti. Sam-ciat-kun dimainkan
terlebih gencar lagi, sembari mulutnya tak putus2nya
berseru: ,Rasakan tongkatku ini satu kali saja dan kau boleh
pergi!" seenaknya saja si limbung itu mengucap. Dia tak
mau memikirkan bahwa ilmunya Iwekang sangat jempol,
apalagi sam-ciat-kun itu terbuat dari besi pilihan, sudah
tentu tiada seorangpun yang sudi disuruh mandah digebuk
satu kali. Karena biar satu kali, tapi cukup meremukkan
tulang belulang, malah salah2 bisa kabur jiwanya.
Kiang Siang yan lepaskan pikirannya untuk mengejar
kedua orang yang diduga tentu sudah jauh. Kini ia hendak
menghajar sikakek yang limbung itu. Membarengi tangan
kiri dibalik, tangannya kanan menghantam datangnya samciat-
kun, trang...... terpentallah sam-ciat-kun itu. Adakah
Sik Loo-sam kurang hebat lwekangnya? Adakah samciatkun
kurang keras bahannya? Adakah lwekang Kiang Siang
Yan tak terlawan?
Bukan begitu. Sebenarnya seperti yang telah kami
paparkan tadi, barang siapa kena terhantam sam-ciat-kun
Sik Lo-sam, tentu akan remuk tulangnya. Hal ini tak
terkecuali juga bagi Kiang Siang Yan yang cukup
menginsyafi hal itu. Maka ketika ia sambut serangan itu, ia
gunakan siasat meminjam tenaga. Begitu sam-ciat-kun
datang, lekas2 ia turunkan tangannya menghindar, lalu
secepat kilat menghantam. Jadi yang membentur sam-ciatkun
itu adalah samberan lwekangnya, bukan tangannya.
Hanya orang yang sudah menguasai ilmusilat tinggi, berani
mengambil resiko yang sedemikian berbahayanya. Karena
gusar sekali, Kiang Siang Yan baru lancarkan serangan
maut itu.
Kini kita ikuti reaksi Sik Lo-sam. Begitu sam-ciat-kun
terpental balik hendak menghantam dadanya sendiri, kaget
silimbung itu tak terkira. Syukur dia memiliki ber-macam2
cabang ilmusilat. Buru2 dia miringkan tubuh, lalu
menghuyungkan diri kesamping dengan jurus hong-cu-mayciunya
Ang Hwat cinjin. Berbareng dengan itu, sam-ciatkun
dikebutkan lempang kemuka untuk menutuk jalan
darah te-ki-hiat dibetis Kiang Siang Yan.
Juga Kiang Siang Yan tak kurang kagumnya melihat
permainan yang luar biasa dari musuhnya itu. Cepat2 ia
menghindar. Kini dia dapat menilai kepandaian orang.
Lawan kaya dengan variasi permainan yang luar biasa, tapi
kalah tinggi lwekangnya dengan dia. la memutuskan, harus
adu kekerasan. Kalau tidak, tentu entah kapan
pertandingan itu akan berakhir. Maka, setelah menghindar,
tubuhnya menurun, kelima jarinya diulur untuk merebut
sam-ciat-kun.
Namun ilmu permainan hong-cu-may-ciu itu kaya
dengan gerak perobahan, Sik Lo-sam dapat meyakinkannya
lebih sempurna dari The Go maupun Tio Jiang. Kala Kiang
Siang Yan menurunkan tubuhnya, dia sudah loncat keatas
untuk menghantam batok kepala. Luput menangkap, Kiang
Siang Yan makin marah. la menjerit se-keras2nya sehingga
memekakkan telinga Sik Lo-sam, siapa menjadi terkesiap
sejenak. „Satu kali saja, cukuplah. Kalau tidak aku tentu
ditertawai Kui-ing-cu nanti!" serunya sembari masih
teruskan rangsangannya.
Dia tidak mengetahui sama sekali, bahwa dengan
jeritannya tadi, Kiang Siang Yan sudah mengeluarkan Yseng"
salah satu jurus yang paling lihay sendiri dari
ilmupukulan Iwekang thay-im-lian-seng. Sesaat itu Sik Losam
merasa ada angin berseliweran disisi tubuhnya, dia kira
kalau Kiang Siang Yan yang menyelinap, tapi kiranya
wanita itu masih tampak disebelah muka. Tanpa banyak
pikir lagi, dia segera menyapu dengan sam-ciat-kun. Terang
serangannya itu tepat mengenai sasaran, tapi hai kemana
wanita itu tadi? Dia menghantam angin, tapi berbareng
pada saat itu punggungnya, dirasakan sakit sekali.
Suatu hawa dingin, menyerang masuk kedalam
tulangnya.
Celaka, dia mengeluh dalam hati terus buru2 kerahkan
lwekang untuk menutup jalan darahnya. Berputar
kebelakang, disana dilihatnya sepasang mata Kiang Siang
Yan tampak memancarkan sorot ke-hijau2an,
menyeramkan sekali.
Benar Sik Lo-sam itu pikirannya limbung. Tapi dalam
soal ilmu silat, dia cukup lihay. Walaupun lekas2 dia
salurkan Iwekang untik mrnahan rasa sakit pada bagian
tubuh yang kena, hantaman tadi, namun sesaat itu separoh
tubuhnya seperti direndam dalam es, dingin, dingin.........
sekali. Sampaipun ketika berkelahi, giginya bergemeretukan
karena menggigil.
Tahu dia bagaimana lihaynya lawan. Tapi oleh karena
limbungnya, dia tak merasa kalau ditipu Kui-ing-cu, bahkan
mengakui kebenaran ucapan Kui-ing-cu, serunya: „Aya,
lihay nian wanita ini. Kui-ing-cu benar. Aku tak dapat
menggebukmu, malah aku telah makan tinjumu satu kali,
masih ada 9 kali lagi. Kau masih lanjutkan tidak?"
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 31 : YAN CHIU BERJUDI
Melihat wajah Sik Lo-sam sudah ke-hijau2an tapi
mulutnya masih mengoceh tak keruan, Kiang Siang Yan
tak mau menghiraukannya lagi, berputar diri terus ayunkan
langkah, Ternyata ilmu lwekang „cap ji si hang kang sim
ciat" yang dimiliki Sik Lo-sam itu dipelajarinya dari seorang
sakti yang luar biasa. Separoh tubuh bagian kiri meskipun
sudah mati-rasa, tapi yang sebelah kanan masih dapat
digunakan. Dia mendongkol orang tinggalkan begitu saja.
„Hai, rasakan dulu gebukanku satu kali!" serunya
sembari maju menyapu. Tapi karena lukanya berat, jadi
tenaganyapun berkurang. Karena tak menduga orang masih
bisa bergerak, Kiang Siang Yan sudah terkena tumit
kakinya.
Saking sakitnya, ia mendumprah jatuh terduduk, dua
buah tulangnya kena disabet patah. Sehabis menghantam,
Sik Lo-sam puas, ia mundur beberapa tindak. Tapi disitu
dia tak kuat lagi, dia terduduk ditanah dan napasnya
memburu keras.
Sejak keluar dikalangan persilatan, Kiang Siang Yan
selalu bahu membahu dengan sang suami. Selama itu,
belum pernah ia mendapat luka. Baru pertama kali ini ia
rasakan bagaimana rasanya kalau tulang patah namun hal
itu tak terlalu dihiraukan karena, hanya luka luar. Sekalipun
begitu, ia harus beristirahat juga untuk sementara waktu.
Bermula ia kuatir jangan2 nanti orang tua kate itu jual
cerita diluaran kalau berhasil melukai Kiang Siang Yan.
Tapi serta dilihatnya silimbung itu duduk bersila meramkan
mata, tahulah ia kalau orang itu telah termakan thay-imciang.
Dengan kepandaian yang dipunyai orang itu, terang
dia takkan dapat sembuh. Soalnya hanya tinggal tunggu
saat baik saja. Yakin kalau orang limbung itu bakal binasa,
Kiang Siang Yan terus hendak menghantam lagi tapi tiba2
Sik Lo-sam membuka mata berseru : „Kiang Siang Yan !
Lihay nian pukulanmu itu. Apa suka memberikan pelajaran
itu padaku ?"
Kiang Siang Yan tertegun. Tangannya yang siap diayun
itu, diturunkan lagi. Membunuh seorang limbung macam
begitu, takkan ada faedahnya. la hanya urut2 tumitnya yang
patah tadi, setelah itu lalu loncat menghilang. Sedang saat
Sik Lo-sam rasakan hawa dingin itu mulai menyerang
separoh tubuhnya yang kanan. Hingga sampaipun
membuka mata, dia tak berani karena sedang bergulat keras
untuk salurkan lwekang menahan.
--oodwkz0tahoo--
Kita tinggalkan dulu Sik Lo-sam untuk mengikuti
perjalanan Kui-ing-cu dan Yan-chiu. Membiluk dibalik
sebuah batu besar, tiba disebuah semak rumpucang hampir
menyamai orang tingginya, mereka tertegun. Kiranya
dihadapan mereka terbentang sebuah rawa2 besar. Airnya
yang ke-hitam2an memberi kesan akan dalamnya yang
sukar diduga. Mereka menduga, Tio Jiang dan Nyo Konglim
pasti takkan melintasi rawa itu, jadi tentunya melanda
(menasak) semak rumput itu. Tapi mengapa disitu tiada
kelihatan bayangan mereka ? Sebaliknya mereka berdua
masih lapat2 mendengar berisik suara pertempuran antara
Sik Lo-sam dan Kiang Siang Yan.
“Huh, apa ada setan penunggunya sini ?" tanya Yanchiu.
Tapi sebaliknya Kui-ing-cu yang menduga tentu terjadi
suatu hal yang luar biasa, membantahnya. „Habis Tio suko
dan Nyo cecu lari kemana? Mustika Watu itu berada
dimana?" tanya Yan-chiu.
Kui-ing-cu melakukan pemeriksaan yang teliti
disekeliling tempat situ. Waktu itu dilihatnya tegas2 The Go
lari kearah semak2 rumput, situ. „Siapa tahu jangan2 The
Go lemparkan mustika itu kedalam rawa?!" katanya.
Yan-chiu menunjang pernyataan itu. Tapi sebaliknya
Kui-ing-cu nyatakan keheranannya: „Kalau begitu apa
mungkin silimbung berdua itu menduga juga begitu, Ialu
terjun kedalam rawa?"
Kembali Yan-chiu mengiakan, tapi berselang sejenak dia
membantah sendiri: „Tidak, locianpwe. Kalau mereka
terjun kedalam rawa, ini saat tentu sudah muncul keatas.
Kalau tidak, tentu mendapat kecelakaan disitu!"
Kui-ing-cupun mencemaskan kemungkinan itu. Namun
dia hiburi nona itu. ,Jangan kuatir, mungkin kedua orang
itu benar2 hendak gunakan kesempatan untuk lolos dari
ancaman Kiang Siang Yan saja!"
Tapi Yan-chiu yang cerdas dapat mengetahui, isi hati
Kui-ing-cu yang sebenarnya. Tanpa terasa air matanya
membanjir turun. Tidak mungkin. Tio suko bukan orang
macam begitu. Tentu dirawa ini ada siluman atau
binatangnya ganas yang telah menyeret suko kedalam. ”Ah,
aku telah mencelakainya!" ujarnya dengan ter-isak2.
Kui-ing-cu menanyakan maksud ucapan sinona, siapa
tanpa malu2 lagi segera menerangkan: „Selama dalam
perjalanan, aku senantiasa marah2 padanya karena dia tak
mengerti kalau aku suka padanya. Adalah karena mulutku
mengomelinya, sampai dia berhasil menemukan mustika
batu itu. Kalau sekarang dia mengalami kecelakaan hingga
mayatnya pun hilang, bukankah aku yang
menyebabkannya?"
Bermula Kui-ing-cu hanya ganda tertawa mendengari.
Tapi begitu mulut sigenit mengatakan mayatnya hilang
lenyap, diapun terkesiap. Dia sayang akan sifat2 anak muda
itu serta bakatnya yang bagus. Dikemudian hari, anak itu
tentu menjadi seorang gagah yang luhur. Sampai sekian
saat, dia ter-longong2 tak dapat ber-kata2.
Melihat Kui-ing-cu kesima, Yan-chiu makin berduka.
Ter-bayang2 ia, akan kejujuran dan kebaikan sukonya itu.
Entah sudah berapa banyak, ia memper-olok2 sukonya itu,
sampaipun sudah berani juga membuat lelucon „tukar
cincin palsu". Ia merasa berdosa, dengan seribu satu
penyesalan yang tak terhingga. Air matanya makin
mengucur deras bagaikan air sumber. Sembari mewek2, ia
menyatakan hendak menebus dosa „Kalau benar Tio suko
binasa, aku bersumpah, akan menjadi paderi, tak mau
menikah seumur hidup!"
Hendak Kui-ing-cu menertawakan sigenicang masih
bersifat seperti anak kecil itu. Tapi demi dilihatnya betul2
sigenit itu sangat berduka sekali, dia tak jadi ketawa.
Sampai sekian saat, baru kedengaran dia menghela napas,
ujarnya menghibur: „Siao Chiu, sudah jangan menangis.
Taruh kata Tio sukomu, benar binasa, kau tangisipun tiada
berguna. Tapi kalau dia belum binasa, bukankah sia2 saja
air matamu itu?"
Yan-chiu ternyata mau menurut. Tapi sesaat kemudian
ia menangis lagi, katanya: „Kalau Tio suko binasa, aku
akan menangis terus!"
„Tio suko dan Nyo-cecu bukan orang yang lemah, mana
mereka begitu gampang menyerahkan jiwanya ? Bukan
mustahil saat ini dia bersembunyi disuatu tempat!" ujar Kuiing-
cu lalu berteriak keras2 sampai beberapa kali. Namun
tiada berbalas. Disekeliling tempat situ hening ditelan
kelelapan abadi.
Mendadak Kui-ing-cu terkejut, mengapa tiada
mendengar suara pertempuran kedua tokoh tadi? Menduga
mereka tentu sudah pergi, ia lantas menyelidiki lagi seluruh
tempat semak2 rumput itu. Yan-chiu hanya mengikuti saja
seperti orang yang kehilangan semangat. Tiba2 didekat
rawa, dilihatnya air disitu berwarna hijau gelap hingga
sepintas pandang seperti hitam. Kui-ing-cu pungut sebuah,
batu untuk dilemparkan kedalam air, blung........ seketika
timbul busa, batu itu tenggelam kedalam dasar rawa yang
sukar diketahui dalamnya itu. Melihacan-chiu masih terus
menerus menangis, Kui-ing-cu menanyainya kalau2 ia
pandai berenang. Yan-chiu menyahut tidak dapat.
GAMBAR 56
„Sudahlah, Siao Chiu, jangan menangis, bila sibuyung Tio
Jiang sudah mati, percuma kau menangisinya, jika belum mati,
tangismu juga sia2 ujar Kui-ing-cu.
”Sang Suhu bergelar Hay-te-kau, masa sang murid takut
air? Malu ah!" Kui-ing-cu menghela napas.
Yan-chiu tertawa, tapi pada lain kali ia segera cemberut
mengangkut awan kesedihan lagi, serunya: „Orang sedang
susah, masa cianpwe malah membanyol begitu!"
„Siao Chiu, aku mempunyai firasat kalau Sukom tidak
mati. Dia tentu disebabkan sesuatu hal, lalu menyingkir.
Lebih baik kita cari suhumu untuk ber-sama2 menuju ke
Ko-to-san yang tinggal 10 hari saja waktunya!" akhirnya
Kui-ing-cu menyatakan pikirannya. Apa boleh buat, Yanchiu
terpaksa menurut.
Baru keluar dari tempat situ, Kui-ing-cu segera dapati Sik
Lo-sam duduk bersila dengan wajah tegang dan tubuh
bergemetaran. Rambut janggutnya turut bergoncangan.
„Astaga! Aku telah mencelakainya!" seru Kui-ing-cu
sembari menghampiri. „Sik Lo-sam kau bagaimana?"
tanyanya.
Kala itu Sik Lo-sam tengah berjoang mati2an kerahkan
lwekang untuk menahan hawa maut-dingin itu. Satu2nya
harapan, supaya Kui-ing-cu datang kesitu. Bukan karena
mengharapkan pertolongan, tapi karena hendak
menyampaikan suatu omongan yang penting.
„Kui-ing-cu," serunya kegirangan demi mendengar orang
yang dinantikan tiba, "wanita itu benar lihay, tapi ia telah
menerima gebukanku satu kali ditumitnya, Dengan pincang
sebelah kaki, ia ngacir pergi, lucu, lucu!"
Kui-ing-cu menghela napas penyesalan. Dia hanya berolok2
supaya mereka bertempur untuk sementara, Tahu
sudah dia kalau Sik Lo-sam itu bukan lawannya, Kiang
Siang Yan, tapi ternyata orang, limbung tu tak kenal bahaya
malah terus menerus membayanginya ”kena satu kali
gebukanmu, tapi kau sendiri?" tanyanya.
Sik Lo-sam ulurkan lengan kanannya, sembari kibas2kan
dia menunjuk kearah bahu kirinya. „Pundakmu ini
termakan pukulannya, lihay benar!" ujarnya.
Kui-ing-cu terperanjat, buru2 dia pinjat jalan darah lengthay-
hiat dipunggung silimbung. Jalan darah itu tembus
dihati. Begitu tangannya memijat, dirasakan debur jantung
Sik Lo-sam sangat lemah, sebelah kakinya sudah kaku. Dia
sangsi adakah kepandaian cukup untuk menolong orang,
tapi biar bagaimana dia harus memberi pertolongan sekuat
usahanya.
Benar Kui-ing-cu itu seorang tokoh yang suka ber-olok2,
malah kadang membohongi orang. Tapi sebenarnya dia
bukan seorang jahat. Dia ambil putusan, akan
menyelamatkan jiwa Sik Lo-sam. Dengan menyalurkan
lwekang, dia pijat jalan darah leng-thay-hiat itu, hingga
seketika Sik Lo-sam menjerit kesakitan: „Kui-ing-cu, jangan
menyiksa begitu. Mati biar mati, takut apa? Jangan bikin
badanku panas dingin begini, nanti belum menghadap
Giam-lo, aku sudah teler2!"
Mendengar itu Kui-ing-cu makin terharu. Dia menyesal
mengapa mencelakai seorang limbung yang sedemikian
putih hatinya. Makin teguh niatnya hendak menebus
kesalahannya, ujarnya: „Sik Lo-sam, kalau lwekang kita,
berdua dipersatukan masa tak dapat menghalau thay-imciang.
Jangan bicara lagi, kerahkan lwekangmu menolak!"
Sik Lo-sam menurut. Berkatalah Kui-ing-cu kepada Yanchiu:
„Siao Chiu, aku hendak menolong Sik Lo-sam,
sebelum setengah bulan, terpaksa, aku tak dapat ke-mana2.
Kalau kau mau menemani disini, boleh. Tapi kalau kau
hendak menuju ke gereja Ang-hun-kiong untuk menghadiri
pertempuran itu pun silahkan!" katanya dengan menghela
napas, lalu melanjutkan kata2nya: „Setengah, bulan
kemudian, luka Sik Lo-sam tentu sembuh. Walaupun
tenaga lwekang kita berdua tak sampai habis, tapi juga akan
tinggal separoh saja. Tinggalkan Toa-wi dan Siao-wi
padaku dan kau bawalah ceng-ong-sin untuk melindungi
dirimu, setuju tidak ?"
Yan-chiu mengatakan ia takut ular. Kui-ing-cu
menertawainya: „Takut apa! Pijat angsangnya, tentu
menurut. Tapi ingat, jangan se-kali2 sampai kena tertusuk
sisik kulitnya yang tajam. Ceng-ong-sin merupakan ular
berbisa yang nomor satu didunia. Menghadapi lawan
tangguh, kalau kau kewalahan, lepaskan binatang itu, tentu
menang tahu?"
Yan-chiu masih mengandung setitik harapan kalau2 Tio
Sukonya masih hidup dan bersembunyi dilain tempat.
Kalau sedemikian halnya, nanti di gereja Ang-hun-kiong,
tentu ada harapan bisa menjumpainya. Maka ia segera
menyambuti lumbung bambu yang terisi ular ceng-ong-sin.
Kui-ingcu pesan kalau dapat, supaya dalam perjalanan
nanti Yanchiu cari katak untuk memberi makan pada ular
itu. Tapi Sik Lo-sam buru2 menyelutuk: „Ceng-ong-sin
paling gemar dengan kutu bambu, beri saja makanan itu!"
Sebagai seorang anak perempuan sudah tentu Yan-chiu
ngeri dengan bangsa kutu. Ia tanyakan bagaimana cara
untuk mencari kutu bambu itu, Sik Lo-sam hendak
memberi keterangan, tapi karena hawa dingin merangsang
keras, terpaksa dia tutup mulut. Kui-ing-cu memberi
pesanan macam2 pada nona itu, katanya: ”Kalau ditengah
jalan tak menemui halangan, nanti setiba di Ko-to-san tentu
belum jatuh hari pehcun. Tunggulah dibawah gunung,
jangan naik sendirian. Ditengah perjalananpun jangan cari
onar, tahu ?"
Tokoh itu mempunyai persamaan perangai dengann
sigenit. Dia anggap Yan-chiu tak ubahnya seperti anak
perempuannya sendiri. Begitulah menerima pesanan akan
beberapa hal, Yan-chiu segera minta diri.
--oodwkz0tahoo--
Menjelang tengah hari, ia sudah jauh dari pegunungan
Sip-ban-taysan. Sorenya ia, sudah tiba di Ko-ciu-hu gedung
thay-siu (bupati) yang terletak dikota, Bo-bing-koan.
Didaerah situ merupakan dataran subur. Didalam kota
amat ramai, sana-sini rumah makan menghias sepanjang
jalan. Oleh karena perutnya me-ronta2 menagih janji, buru2
Yan-chiu menghampiri kesebuah rumah makan. Melihat
ada tetamu datang, buru2 sipemilik menyambutnya dengan
hormat. Hal mana sebaliknya telah membuacan-tihiu
tertegun.
Kiranya selama dalam perjalanan dengan sukonya tempo
hari, ia tak membelkal uang sepeserpun juga. Tapi oleh
karena selama itu, Tio Jiang yang mengurus makan
tidurnya, jadi ia tak usah sibuk2. Tapi kini berlainan halnya.
Adakah sipemilik rumah makan mau tak dibayar? Maka
kakinya yang sudah melangkah diambang pintu itu, segera
disurutkan keluar lagi. Sipemilik menjadi heran dan
mengawasi dengan tak mengerti. „Aku salah masuk!" kata
Yan-chiu ter-sipu2 merah padam mukanya.
„Nona, papan merk yang tergantung dimuka rumah ini
cukup besar, masakan. kau tak melihatnya?" tanya sipemilik
dengan mendongkol.
„Habis kalau memang salah masuk, apa tidak boleh?!"
Yan-chiu menyahut dengan ketus. Melihat sifat kekanak2an
sigenit itu, pemilik rumah makan bergelak2.
Bermula Yan-chiu hendak memberi hajaran, tapi teringat
akan pesan Kui-ing-cu supaya jangan terbitkan onar, ia
hanya deliki sipemilik itu lalu ngeloyor pergi.
Sekeluarnya dijalanan, Yan-chiu uring2an. Dimisalkan
hendak „pinjam" uang-nya hartawan kejam, juga harus
menanti sampai malam hari. Namun untuk menunggu
sampai waktu itu, perutnya sudah keroncongan. Perutnya
berkerucukan, sehingga orang2 yang berselisih jalan seolah2
dapat mendengarkan. Buru2 ia menuju kesebelah
gang kecil untuk menjauhkan diri dari bau masakan rumah
makan yang bisa, menerbitkan air liur. Tapi perutnya tetap
berontak. Teringat ia akan pembilangan orang bahwa perut
kosong dapat ditahan kalau ikat pinggang dikencangkan. la
lakukan itu, sembari tak henti2nya menelan ludah. Sudah
dua hari satu malam ini ia tak makan apa2. Selama itu
karena mengandal pada lwekangnya, masih dapat ia
bertahan.
Tapi pada saat itu, benar2 ia tak kuasa lagi. Selagi
bingung seorang diri, tiba2 dari dalam sebuah gedung yang
besar mewah, terdengar suara gelak ketawa orang.
„Aku kalah!" kedengaran suara orang mengeluh dengan
putus asa dan pada lain saat ada dua orang tampak keluar.
Yan-chiu menanyai orang itu: „Tolong tanya, apa kerja
orang2 didalam itu?"
Kedua orang itu rupanya kalah main (judi). Sampaipun
pakaiannya hampir berindil. Dengan uring2an mereka
menumpahkan kemarahannya: „Ada apa? Kepa....... " baru
hendak memaki, mereka mendongak. Ketika melihacang
bertanya itu seorang nona cantik, mereka cengar-cengir
menyahut: „Disitu tempat judi, apa nona mau kesitu ?"
Yan-chiu anggap orang yang membuka rumah perjudian
itu tentu bukan orang baik2. Untuk memberi hajaran pada
mereka, juga sudah sepantasnya. „Ya, aku kepingin lihat2!"
sahutnya.
Kedua orang itu menjadi kegirangan. Bahwa seorang
nona masuk kerumah perjudian, adalah suatu hal yang
langka. Meskipun kalah, mereka berdua ingin mengikuti
juga. Mereka lalu tawarkan sebagai pengantar.
Memasuki pintu, terdapat sebuah halaman kecil yang
ditanami bunga dan sebatang puhun delima yang sudah
berbunga. Dibelakang halaman itu terdapat sebuah ruangan
besar. Kira2 ada 2 atau 30-an orang tengah berkerumun
disitu. Seorang lelaki tengah memainkan dua buah
mangkok, sembari ber-seru2: „Mulai lagi! Mulai lagi! Siapa
mau kaya, lekas pasang!"
Melihat cecongor orang itu, Yan-chiu sudah benci.
Sebaliknya kedua pengantarnya tadi buru2 ingin melihat
keramaian seorang nona main judi, maka begitu masuk
mereka lalu berseru: „Oey Bi-long, daganganmu bakal laris,
ada pembeli besar!"
Orang2 disitu sama heran, mereka kira kedua orang yang
habis2an itu bertemu dengan seorang tuan uang. Tapi
sewaktu melihacang diantar itu hanya seorang nona kecil
dari 16-an tahun umurnya, ada yang meludah dengan
jemunya, seraya memaki: „Lo Sam, Lo Su, mengapa kau
dah kalap membawa seorang budak perempuan kemari?
Kalah ya sudahlah, mengapa cari lain korban ?"
Melihat semua mata ditujukan kepadapya, Yan-ciu sikap
seperti penjudi ulung, iapun turut2an berseru: „Oey Bi-long,
daganganmu laris benar!"
Kembali ruangan itu gempar dengan gelak tertawa, Yanchiu
tak ambil mumet, ia menghampiri meja, pertaruhan,
Disitu terdapat banyak tumpukan uang perak dan beberapa
barang berharga. Anggauta2 Thian Te Hui terdiri dari
beberapa macam golongan, dari orang gagah sampai kaum
penjudi. Pernah didengarnya dari mulut mereka, rumah
judi itu ada dua macam. Yang hanya memakai taruhan
uang dan yang pakai taruhan barang. Rupanya rumah judi
disitu itu tergolong yang kedua, yakni boleh majukan
barang perhiasan sampaipun pakaian untuk taruhan.
Teringat akan batu giok (pualam) pemberian Tio Jiang
tempo hari, ia segera merogohnya keluar dan diterimakan
pada Oey Bi-long siapa telah memeriksa sejenak lalu
memberi harga 5 perak. Karena hadiah itu pemberian sang
suko yang dicintainya, Yan-chiu. tak mau menjuaInya.
Akhirnya benda itu hanya digadai untuk 5 chi. Oey Bi-Iong
lepaskan benda itu dari atas, dan borkerontanganlah
mustika itu diatas meja. „Setan, hati2 kau, kalau sampai
memecahkannya!" seru Yan-chiu. Namun si Bi-long itu
hanya sapukan ekor mata mengejek.
Sebagai seorang penjudi ulung, Oey Bi-long tahu akan
adanya suatu pepatah yang berlaku dikalangan persilatan,
yakni „3 jangan". Jangan menghina kaum wanita, jangan
mempermainkan kaum pertapaan dan jangan main2 pada
kaum Oey Poan. Yang dimaksudkan dengan Oey Poan
ialah orang2 yang tubuhnya lemah kurus, tapi mempunyai
kepandaian tinggi. Kalau seorang kaum wanita berani
keluyuran diluaran, tentulah ia memiliki kepandaian yang
lihay.
Oey Bi Long mainkan gundu (macam kelereng kecil)
yang segera ditutup dengan mangkok. Ketika dibuka,
ternyata, dua buah gundu terletak pada nomor 2 dan yang
sebuah pada nomor 1. Orang2 yang taruhkan uangnya pada
tanda besar" segera diambil oleh sang bandar. Melihat
dirinya kalah, Yan-chiu marah2 serunya: ,Mustikaku itu tak
boleh kau, ambiI, jangan bergerak!"
„Nona, sekalipun barang milik raja, kalau sudah
dipertaruhkan kalah, juga tak boleh diambil kembali !" Oey
Bi long menyeringai. Yan-chiu kalah suara, Tiba2 la
memperoleh akal. Diambilnya bumbung tempat ular yang
menggantung dipunggung, katanya: „Didalam bumbung ini
terdapat mustika hidup yang lebih berharga, aku hendak
mempertaruhkannya dengan harga besar!"
„Benda apa aku harus melihatnya dulu !" kata Oey Bilong.
„Jangan, kau tentu takut nanti!" sahucan-chiu.
„takut apa sih ? !"
„Baik," akhirnya Yan-chiu menjentik sumbat bambu.
Melihat hawa terang, ceng-ong-sin segera merayap
keluar.
Yan-chiu pijak angsangnya, saking sakitnya ular itu
segera menyabet dengan sang ekor hingga bambu
tempatnya tadi mencelat, tepat jatuh diatas kepala seorang
gundul. „Aduh mak....! Mati aku.....!" orang itu menjerit.
Tapi orang2 tak mempedulikan dia, melainkan mengawasi
ular yang dicekal sinona dengan terperanjat, „Nona jangan
bergurau. Aku membuka rumah perjudian bukan membuka
rumah pergurauan!" kata Oey Bi-long dengan wajah
berobah.
”Siapa Yang main2 padamu? Serapa harga ular ini,
katakan!" sahucan-chiu sambil deliki mata. Baru Oey-Bilong
hendak membantah lagi, tiba2 ada seorang Yang
berwajah buruk maju mendekati dan bertanya: „Nona, apa
kau hendak jual ular itu ?"
Tampak wajah orang itu, diam2 Yan-chiu geli. Masa
didunia terdapat orang yang berwjah sedemikian jeleknya.
Tapi oleh karena orang itu menanyakan harga, iapun
seegera
Menjadi girang, sahutnya: „Sebenarnya tidak ada
ingatan akan kujual, hanya hendak kubuat taruan main
seharga 500 tail perak!"
Diluar dugaan, orang itu menerima. „Oey Bi-long,
jadilah. Kalau kau menang ular itu menjadi milikku, Kalau
kalah, aku yang membayar 500 perak encer!"
Tapi Oey Bi-long bersangsi, karena dia belum kenal
orang itu, siapa rupanya tahu akan perasaan orang,
katanya: „Kau kuatir jangan2 aku tak punya uang bukan ?"
orang itu tertawa. „Inilah!" serunya sembari mengeluarkan
sebuah kim-goan-po (kepingan emas) kira 20 tail lebih
beratnya. Sepotong keping emas saja sudah berharga 25 tail
keping perak, jadi kim-goan-po itu berharga 500 tail perak.
Heran Oey Bi-long makin menjadi. Ada seorang nona
datang berjudi, ada pula seorang bermuka jelek yang punya
banyak uang.
Yan-chiu tak mau banyak bicara lagi, terus pasangkan
uangnya dihuruf „toa" (besar). Dan klutuk2 setelah
mengocok sebentar, Oey Bi-long lalu buka mangkoknya.
Satu dinomor 5, satu pada nomor 6 dan satu pada nomor 3,
jadi sama sekali 14 mata, tepat tiocok dengan huruf „Toa" !
„Mana berikan kim-goan-po itu!" seru Yan-chiu
kegirangan. Simuka jelek memberikan sembari bertanya
pula kalau2 nona itu maeih mau bertaruh lagi. Pikir punya
pikir Yan-chiu terpikat. Kalau kalah, paling banyak kimgoan-
po tadi kembali pada yang empunya. Tapi jika
menang, berarti la, mendapat dua kim-goan-po. Yan-chiu
mengiakan, tapi simuka jelek itu mengajukan syarat.
„Kalau kalah, kau harus menyerahkan ular itu padaku !"
katanya.
Yan-chiu tahu kalau ceng-ong-sin itu merupakan sebuah
mustika ular. Kawanan orang utan yang begitu ganas, takut
kepada ular itu. Andaikata tadi kalah, iapun tak bersedia,
menyerahkan ular itu. „Tidak main lagi !" sahutnya
menggeleng.
Simuka jelek tak dapat berbuat apa2. Para penjudi lain
yang melihat ia memperoleh kemenangan sedemikian
besar, sama mengerumuni sigenit. Malah sikepala gundul
yang kepalanya tertimpa bambu tempat ular tadi segera
merengek :
„Nona, lihatlah! Karena ularmu menyabet, maka
bambunya telah mengenai kepalaku, aduh sakitnya !"
Yan-chiu menerima bambu itu lalu memasukkan cengsin-
ong. Diberinya orang itu sekeping perak hancur. „Kalau
kau biarkan kepalamu terketuk bambu ini sampai 3 kali,
akan kuberimu 50 tail perak!" sigenit hendak ber-olok2.
Bukan main girangnya orang yang gundul itu. Dengan serta
merta dia pasang kepalanya. „Ketuklah!" katanya.
Yan-chiu tertawa cekikikan. Ketika masih berada di Lohu-
san, ia tak mengerti sampai dimana pengaruhnya uang
itu pada manusia. Maka tadi ia anggap masa orang mau
diketuk kepalanya sampai 3 kali dengan hanya diberi 50 tail
perak. Pada hal 50 tail perak, merupakan jumlah yang besar
bagi kaum penjudi ditempat itu. Tuk...., tuk...., tuk..., habis
mengetuk 3 kali, la lalu tukarkan uangnya pada oey Bi-long,
kemudian memberikan 50 tail perak pada sigundul.
„Siapa lagi yang mau ? 3 ketukan, 50 tail!"' seru sinona
yang tak mengerti harganya uang. Maka berebut-rebutanlah
para penjudi itu menawarkan kepalanya. Sibuk juga Yanchiu
meng-gerak2kan tangannya mengetuk. Selagi
permainan itu berjalan dengan riangnya, tiba2 simuka jelek
tadi berseru: „Nona, tahan dulu!"
„Mengapa ? Perakku cukup banyak!" sahucan-chiu.
Simuka jelek tertawa dingin, ujarnya: „Coba nona hitung,
sudah mengetuk berapa kepala ? !"
Ketika Yan-chiu menghitung, ia berseru kaget. Kiranya
ia sudah mengetuk 12 kepala orang, pada hal perak hanya
500 tail, terang tak mencukupi. Kalau hendak mengurangi
jumlah hadiahnya, dia sungkan. Kalau ia bingung terdiam,
adalah orang2 yang kepalanya sudah diketuk tadi sama
hiruk pikuk karena mengetahui uang sinona tak cukup.
„Ribut2 apa ? Nonamu mau main lagi!" bentak Yan-chiu
dengan gusar. Yang 450 tail dibagikan pada 9 orang,
sisanya dua orang masih diutang 100 tail, sama mengawasi
Yan-chiu dengan mata lebar. Simuka jelek terus saja
mengeluarkan kim-goan-po lagi, katanya: „Nona mau
pegang „toa" atau „siao"
„Yang besar !" sahucan-chiu seraya meletakkan
bumbung bambu pada bagian toa (besar). Melihat peristiwa
yang aneh itu, Oey Bi-long tak mau ladeni lain orang lagi
melainkan khusus untuk kedua orang itu saja. Setelah
mengocok 3 kali, tiba2 dia berseru: „Buka!" -
Lagi2 jumlahnya 11, jadi Yan-chiu menang pula! Hai.....,
adakah benar2 Yan-chiu sedang tangan naik (mujur dalam
perjudian)? Bukan demikian. Soalnya, kalau sinona yang
menang, Oey Bi-long tentu dapat persen uang. Tapi kalau
simuka jelek yang menang, dia tak dapat apa2. Maka
sewaktu mengopyok tadi, dia telah gunakan siasat. Bagi
seorang bandar, kepandaian untuk menentukan kalah
menang itu, menjadi darah daging (kebiasaan).
„Manakah uangmu itu !" seru Yan-chiu dengan girang
sekali. Tapi kali ini simuka jelek itu menggebrak meja
mendamprat: „Oey Bi-long, besar nyalimu berani main
curang!"
„Tuan kalah, lebih baik angkat kaki saja, jangan sampai
ditertawai orang!" sahut Oey Bi-long dengan ketus. Simuka
jelek itu tampak gusar sekali, tapi pada lain saat tenang
kembali, katsnya: „Tadi tidak terpakai, ganti lain orang
yang memainkan.!!"
Sudah tentu Yan-chiu marah, dampratnya: „Bangsat,
kau mau main gila ya ?" Plak....., ia memukul meja judi,
hingga sekeping perak hancur, melesek masuk didalam
meja.
Melihat itu penjudi lainnya sama terkejut. Yang nyalinya
kecil, siang2 Sudah angkat kaki. Juga Oey Bi-long sendiri
terbeliak matanya. Tapi simuka jelek sebaliknya malah
loncat keatas meja. Kini tegas dilihat oleh Yan-chiu bahwa
didalam baju simuka jelek itu ada benda menonjol, terang
tentu senjata tajam. Kalau bukan pedang tentu golok. Jadi
dia tentu orang persilatan juga!
Begitu berada diatas meja, simuka jelek lalu ulurkan
tangannya menerkam Oey Bi-long, siapa ternyata juga
mengerti sedikit ilmu silat lantas hendak menyingkir. Tapi
ternyata gerakan simuka jelek itu tangkas sekali. Baru Oey
Bi-long gerakkan tubuhnya, dia sudah maju memburu dan
dapat menerkam dengan tepatnya. Oey Bi-long rasakan
bahunya seperti dijepit jepitan besi. Saking kesakitannya,
jidatnya sampai mengucurkan keringat ber-ketes2 turun
membasahi pakaiannya.
”Mengapa kalian diam saja tak lekas2 panggil suhu !"
Oey Bi-long menereaki orangnya seraya berusaha sekuat2nya
untuk meronta. Melihat kekacauan itu Yan-chiu
tak ambil peduli. Yang penting dia segera ambil kim-goanpo,
memberikan 100 tail perak pada kedua orang tadi (yang
diketuk kepalanya), lalu menggerombol pada orang banyak
yang tengah melihat keributan itu. Makin Oey Bi-long
meronta, makin simuka jelek itu perkeras cengkeramannya
sembari memaki: „Bangsat busuk!"
Baru suara itu diucapkan, Yan-chiu terkejut dan segera
berseru keras: „Hai, The Go, kau juga berada disini ?"
Mendengar itu simuka jelek teramat kaget, lalu merobah
nadanya: „Nona, kau panggil siapa ? jangan pergi dulu, kita
main lagi sampai habis!"
Terang tadi Yan-chiu mendengar nada suara The Go,
maka ia segera mencari keeekeliling tempat situ, namun tak
menjumpainya. Apaboleh buat ia terpaksa kembali
ketempatnya tadi lagi. Saat itu kedengaran simuka jelek
masih me-maki2 dengan nada melengking: „Oey Bi-long,
berani benar kau main gila dihadapan tuan besarmu ini.
Kau masih sayang kulitmu yang kuning pucat itu tidak ?"
Mendengar makian sang lucu itu, Yan-chiu tertawa geli.
Tapi dalam pada itu dari luar pintu terdengar suara orang
menggerung dengan keras ya: „Siapa yang berani mengacau
disini? Apa sudah sediakan peti mati hingga tak jeri pada
nama yang menggetarkan dari Cui-kim-liong (naga emas
mabuk ) ini !"
Yan-chiu mengawasi orang yang sumbar2 itu. Seorang
lelaki gemuk, perutnya gendut, melangkah masuk kedalam
ruangan situ. Baru dia muncul, orang banyak segera
berseru: „Simuka jelek itu tentu diremuk tulangnya oleh
Cui-kim-liong!"
Tapi berbareng dengan dugaan orang banyak itu, tiba2
terdengar suara mengaduh keras dan sesosok tubuh gemuk
dilemparkan keluar. Bluk..., rupanya keras yuga jatuhnya,
hingga sigemuk itu tak hentinya mengerang. Menyusul
dengan itu, sesoeok bayangan berkelebat. Simuka jelek tadi
dengan menjinjing Oey Bi-long, loncat keluar. „Semua
orang tak boleh meninggalkan tempat ini ! Biar menjadi
saksi. Oey Bi-long, jawablah tadi kau bermain curang tidak
?" kata simuka jelek.
Mengetahui suhunya, Cui-kim-liong, dihajar jatuh
bangun, Oey Bi-long insyaf kalau hari itu ketemu dengan
jago yang lihay. Tapi untuk mengakui tuduhan simuka jelek
tadi, terang dia tak mau. Karena begitu mengaku bermain
curang, orang tentu tak mau datang kerumah penjudian
yang diusahakannya itu. Maka biar menderita kesakitan,
dia tetap menggigit gigi tak mau mengaku.
Dalam pada itu, Yan-chiu me-nimang2. Kalau si Bi-long
mengaku curang, ia sendiri juga kena akibatnya harus
mengembalikan kim-goan-po tadi. Di-pikir2 lari adalah
yang paling selamat. Begitu keputusan diambil, ia segera
menyelinap pergi diantara orang banyak. Menyusur gang
kecil, sampailah ia dijalan besar. Kini dengan mengantongi
uang, sikapnya berlainan. Untuk menuruti nafsu
kemengkalannya, ia kembali lagi ketempat rumah makan,
dimana ia pernah diejek oleh si pemilik karena tak
membawa uang tadi.
„Nona, lihatlah yang benar, jangan kesalahan masuk lagi
!" kata sipemilik demi melihat kedatangan Yan-chiu.
Yan-chiu hanya mendengus, sahutnya dengan adem:
„Suruh orangmu menyediakan meja yang bersih !"
„Begitu saja kan sudah cukup," sahut sipemilik. Tapi
Yan-chiu segera deliki matanya membentak: „Bagaimana ?"
Trang......, kim-goan-po dibanting diatas meja. Saking
kagetnya sipemilik rumah makan sampai berjingkrak.
Seketika itu juga wajahnya berganti raut, dari kecut menjadi
ber-seri2 girang. „Harap nona suka tunggu sebentar!"
serunya dengan ter-sipu2, sembari memanggil pelayan
untuk meladeni Yan-chiu.
Setelah menumpahkan kemengkalan hatinya tadi, Yanchiu
menjadi puas. Kim-goan-po dikantongi lagi, lalu ikut
pada sipelayan. la dipersilahkan duduk disebuah tempacang
bersih. „Jangan banyak cakap, lekas bawa daftar makanan
kemari!" aerunya,
„Bakpao daging anjing, nona suka dahar tidak?" tanya
sipelayan.
„Suka saja! Bakpao daging orangpun juga makan!"
sahucan-chiu.
Siao-ji, sipelayan itu terbelalak matanya. Diam2 dia
membatin, rupanya sih cantik tapi mengapa nona itu bicara
tak keruan. Sekalipun berpikir begitu, pela yan itu tak
berani bercuit.
Tak berapa lama, Siao-ji membawa penampan besar bakpao
daging anjing. Kata orang „kalau lapar segala apapun
enak". Bagaikan macan menerkam korbannya, Yan-chiu
segera menyapu bersih bakpao itu. Kini dia betul kenyang.
Diam2 dia mendongkol melihat sikap sipemilik rumah
makan tadi. Melihat berkilaunya uang, sipemilik itu
berminyak matanya, pertanda bagaimana rakus hatinya itu.
Oleh karena kebetulan senggang, Yan-chiu hendak memberi
pengsajaran pada orang itu. Otaknya bekerja untuk mencari
akal.
„Jongos!" akhirnya ia berseru memanggil Siao-ji.
Kedatangan Yan-chiu kerumah makan situ, telah
menarik perhatiaan orang. Pertama ia keluarkan kim-goanpo,
setelah duduk lalu ber-kaok2 keras dan makan bakpao,
mulutnya berkecap-kecup dengan kerasnya. Sipemilik telah
memesan pada Siao-ji supaya melayani baik2 pada nona
itu. Mendengar panggilan Yan-chiu, sipelayan segera tersipu2
menghampiri : „Nona hendak suruh apa ?"
„Suruh sipemilik kemari !" kata Yan-chiu. Oleh karena
sejak tadi sipemilik selalu taruh perhatian pada sinona,
maka dengan serentak dia menyahut: „Nona ada pesanan
apa memanggil aku ?" katanya sembari menghampiri.
„Apa namanya rumah makanmu ini ? Apakah yang
terbesar dikota ini ?" tanya Yan-chiu.
„Diseluruh Ko-ciu-hu sini, tak nanti dapat dicari yang
melebihi dari rumah makanku ini," sahut sipemilik sambil
meng-urut2 janggut.
„Jadi tentunya kau bersedia segala macam masakan,
bukan ?"
„Sudah tentu ! Kecuali limpa2 naga atau hati burung
hong, kami bersedia lengkap. Entah apa yang nona hehdak
kehendaki ? Untuk satu orang, atau mau mengadakan
pesta"
Yan-chiu tertawa cekikikan, ujarnya : „Aku hendak
pesan, masakan telur Ho-pau-tan (mata sapi), Telur itu
harus dipilihkan yang ulam !"
„Ah, itu urusan kecil," sahut sipemilik.
„Jangan omong besar dulu. Telur bungkus itu kau iris
separoh. Separoh kumakan separoh kutinggalkan. Hanya
saja, Dua2nya harus tetap ada kuning telornya, Kalau
sampai kurang mencocoki seleraku, kau harus ganti
kerugian satu tail perak. Tapi jika mencocoki, nanti kuberi
persen 2 tail perak setiap orang!"
Mendengar pesanan istimewa itu, sipemilik terkesiap
kaget. Telur mata sapi itu, kalau dipotong, (karena setengah
matang) kuningnya tentu turut mengalir. Melihat sipemilik
rumah makan diam saja, Yan-chiu meradang: „Bagaimana
? Tadi kau telah buka suara kecuali limpa2 naga dan hati
burung hong, rumah makanmu itu serba lengkap
persiapannya. Masakan hanya telur mata sapi saja kau tak
mampu ? Rumah makan apa ini ? Hayo, lekas turunkan
papan namanya !"
Melihacan-tihiu seorang nona muda itu membawa
sekian banyak uang, sipemilik mengira kalau dia sedang
berhadapan dengan puteri seorang pembesar tinggi. Kala
itu, suasana negara sedang dalam kekalutan. Tentara Ceng
baru masuk Kwiciu sudah berhenti, disebabkan Li Seng
Tong berpaling haluan, jadi daerah Kwisay tak sampai
mengalami gangguan apa2. Adalah pembesar2 Beng itu
sendiri yang tak tahu diri. Sedangn ya negara tengah
menghadapi bencana, mereka masih berpesta pora
menikmati kesenangan.
Memeras rahayat guna mengisi kantongnya dewek.
Anak2 didaerah situ sama ber-main2 sebuah pameo : „Baru
si Biru pergi, si Hijau datang. Kasihanlah...... sang padi,
kasihanlah....... sang padi!"
„Sihijau" diartikan tentara pecundang kerajaan Beng.
Sedang sibiru, dimaksudkan tentara yeng. „Padi" arti
kiasan bagi rahayat jelata.
Karena anggapannya tadi, sipemilik rumah makan
makin tak berani menyalahi Yan-chiu. Kuatir kalau
mendapat hukuman berat, dia segera perintahkan juru
masaknya untuk mengerjakan pesanan aneh dari sinona.
Habis memesan, Yan-chiu duduk dengan garangnya, Dia
memandang kekanan, mengawasi kekiri, se-olah2 tak
menganggap pada orang2 yang berada disitu lagi. Oleh
karena cemas, sipemilik rumah makan segera pergi kedapur
untuk
Menilik pekerjaan tukang masak. „Tuan, lihatlah bagai
mana ini ?" kata situkang masak.
Ternyata sudah ada 18-an telur mata sapi yang digoreng,
tapi begitu diiris, tentu kuningnya turut mengalir keluar.
Dicobanya dengan pisau kecil, juga tetap sama. Arhirnya
dia menghampiri Yan-chiu dan menghela papas, ujarnya:
„Begitu Ho-pau-tan itu diiris, kuningnya tentu ikut
mengalir. Apa nona tak keberatan untuk memakannya
separoh bagian saja ?"
„Tidak mau !" sahucan-chiu dengan kegirangan. Dengan
meringis, pemilik itu berdiri menjublek tak dapat berbuat
apa2. Para tetamu lainnya sama berisik membicarakan hal
itu. Ada beberapa langganan lama yang kenal baik dengan
pemilik itu coba menerangkan pada Yan-chiu:
„Ho-pau-tan yang nona kehendaki itu, mungkin dalam
dunia ini tiada seorangpun yang dapat mengerjakan. Jangan
bergurau!"
„Kalau ada orang yang sanggup mengerjakan, lalu
bagaimana?" Yan-chiu menantang.
„Papan rumah makan ini harus diturunkan !" sahut
orang itu. Yan-chiu menerima perjanjian itu, katanya:
„Baik, Iihat nanti aku yang mengerjakan. Kalian ikut
kemari semua!"
Orang itu bersama sipemilik rumah makan lalu
mengikucan-chiu kedapur. Didekat wajan ada setumpuk 30-
an Iebih butir telur, sedang didalam wajan tampak ada
sebutir.
„Tolol!" dampracan-chiu, terus memegang susuk. Ia
jemput sebilah pisau dapur lalu dipanggang diatas api.
Setelah panas, telur disusuk keluar lalu dipotong dengan
pisau tadi. Oleh karena pisau itu masih panas habis
dipanggang, kuning telur jadi mengental tak bisa mengalir
keluar. Jadi dua potong Ho-pau-tan atau telur mata sapi itu
sama ada kuning telurnya.
Habis mengerjakan itu tanpa menanyai apa2, ia terus
melangkah keluar dan turunkan papan merknya. Walaupun
si pemilik rumah makan mengeluh dalam hati, tapi dia tak
berani berkata apa2.
Puas membalas pada sipemilik rumah makan, iapun lalu
angkat kaki. Sekeluarnya dari rumah makan situ, haripun
menjelang gelap. Ia cari rumah penginapan. Kiranya
peristiwa dirumah makan dan menang judi tadi cepat
tersiar.
Begitu masuk kesebuah rumah penginapan, orang2
dirumah penginapan itu segera ter-sipu2 melayaninya.
Setelah cuci muka, ia hendak masuk kedalam kamarnya,
tiba2 pengurus rumah penginapan itu menghampirinya dan
membisikinya:
„Nona, tadi ada seorang yang bermuka jelek
menanyakan tentang kamarmu. Harap nona suka berhati2!"
Setelah menanyakan tentang ciri2 simuka jelek itu, di
ketahui oleh Yan-chiu kalau sijelek yang kalah main
tadilah. Karena itu, iapun tak ambil perhatian lagi.
Bumbung yang berisi ceng-ong-sin diselipkan kebawah
bantal, lalu berbaring. Oleh karena kurang tidur, baru
menggeletak, dia sudah cepat menggeros. Entah berselang
berapa lama Ia tidur, ketika layap2 bangun ia seperti
mendengar ada sebuah Suara berkeretekan. Yan-chiu buka
mata lebar2 dan mengeluarkan seruan tertahan karena
melihat disela jendela kamar memancar sebuah sinar.
Begitu ia bersuara, sinar itupun lenyap. Yan-chiu terkejut
karena mengira ceng-ong-sin terlepas. Tapi ketika ia
mengambil bumbung dan tempelkan ditelinganya, ternyata
masih terdengar ada suaranya.
GAMBAR 57
Maksud hati hendak tidur, tapi sang pikiran justeru terbayang
akan sang suko Tio Jiang, yang tak diketahui kemana perginya
kini.
Tapi karena terbangun itu, ia tak dapat tidur lagi.
Ingatannya me-layang2 pada Tio Jiang. Kemana suko itu ?
Ia yakin suko dan Nyo-cecu itu tentu tak mau berlaku licik
hendak lolos dari Kiang Siang Yan. Ia sangat harap kedua
orang itu tak kurang suatu apa dan nantinya dapat datang
ke Ko-to-san.
--oodwkz0tahoo--
Teringat Ko-to-san, Yan-chiu terus buru2 hendak
lanjutkan perjalanannya lagi. Tapi mendadak suara tadi
terdengar, disusul dengan memancarnya sinar dari sela
jendela. Kini Yan-chiu sudah terjaga betul2, tidak seperti
tadi masih layap2. Ternyata jelas dilihatnya bahwa sinar kehijau2an
yang menyusup masuk itu berasal dari sebuah
pedang pusaka. Dan hai....., itu kan pedang kuan-wi yang
direbut oleh The Go tempo hari?!
Jelaslah kiranya kalau bukan The Go tentu juga salah
satu kambratnya yang hendak bermaksud jahat terhadap
dirinya itu. Yan-chiu mendapat akal. Ia pura2 menggeros
lagi dengan men-dengkur keras. Tapi ternyata sitetamu
malam itu juga bukan orang tolol. Baru dia hendak loncat
masuk, atau dia sudah menyurut balik karena mendengar
dengkuran sinona. Seorang nona dari 16-an tahun,
berbadan kurus, mana bisa mendengkur begitu keras ?
Ah......., tentulah hanya di-buat2 saja.
Yan-chiu terkesiap, ketika didengarnya suara tadi sirap.
Sebenarnya ia sudah siap menerkam, begitu sipenjahat
masuk. Saking tak sabarnya, dia segera timpukkan bantal
ke-arah jendela. Oleh karena sekarang lweekangnya
bertambah maju, maka walaupun dengan bantal namun
dapat membuat daun jendela itu terbuka. Menyusul dengan
itu, Yan-chiu loncat keluar jendela, ia tepat jatuh diatas
wuwungan rumah karena letak kamar Yan-chiu, di loteng,
namun tiada melihat seorangpun juga. Tapi ketika ia
hendak balik kembali kedalam kamar, dari belakang
kepalanya terasa ada angin menyamber. Buru2 ia loncat
kemuka pada sebuah wuwungan. Tapi belum lagi ia sempat
memutar tubuh, suara senjata sudah melayang tiba pula.
Sejak mengikut Tay Siang Siansu, ilmunya mengentengi
tubuh maju pesat. Tapi sipenjahat itu sudah dapat
mengikuti laksana bayangan, jadi dapat dikira2kan
bagaimana lihay orang itu. Karena tak membekal senjata,
terpaksa Yan-chiu mendak kebawah.
„Bagus !" serunya demi senjata itu menabas diatas
kepalanya. Tanpa berayal, ia balikkan tangan mengirim
sebuah hantaman.
Ternyata serangan Yan-chiu itu cepat dan tak terduga,
hingga orang itu tak dapat menghindar. Prak......, sebuah
genting telah terinjak remuk. Tatkala Yan-chiu berputar
mengawasi, kiran ya pen yerangnya gelap itu bukan lain
adalah simuka jelek yang empunya kim-goan-po tadi.
Tangannya mencekal pedang kuan-wi.
„Dari mana kau peroleh pedang itu ?" bentak Yan-chiu,
Orang itu tak menyahut hanya bolang-balingkan
pedangnya untuk menyerang lagi. Melihat ilmu permainan
pedang simuka jelek sedemikian aneh seperti bukan ilmu
permainan pedang, bermula Yan-chiu kaget, tapi pada lain
saat ia segera berseru: „Bangsat, kau si The Go bukan ?!"
Orang itu tetap membisu. Habis 4 kali serangan, dia
kembali menyerang lagi. Kali ini ujung pedang ditusukkan
kejalan darah jin-tiong-hiat. Dibawah cahaya rembulan,
pedang itu ber-kilau2an menyeramkan bulu roma. Tadi saja
untuk 4 buah serangan itu, Yan-chiu sudah setengah mati
menghindarnya. Kini lebih runyam lagi. Pokok kelemahan
Yan-chiu disebabkan karena tak membekal senjata. Paling
banyak ia hanya dapat andalkan kelincahannya untuk
berputar2 menghindar. Kemudian setelah berhasil
menghindar, segera ia cabut bumbung bambu yang
tergantung dibelakang punggungnya. Simuka jelek
terkesiap.
GAMBAR 58
"Bangsat, bukankah kau The Go adanya?" bentak Yan-chiu
sembari menghindari serangan orang yang bertubi2.
„Siapa sebenarnya kau ini ? Kalau tak mau bilang, awas
akan kulepaskan ceng-ong-sin ini !" Yan-chiu mengancam.
Orang itupun tertegun tak berani menyerang dan
menyahut dengan nada tajam : „Bagaimana kau bisa kenal
si The Go?"
„Bangsat itu dibenci oleh semua orang persilatan, masa
aku tak kenal ?!" kata Yan-chiu.
„Ah, The sute bukan orang jahat begitu !" kata orang itu.
„Oh, jadi kau ini sukonya ?"
Orang itu mengiakan. Tahu2 dia sudah menggeliat
seperti mau rubuh kearah Yan-chiu, tapi yang sebenarnya
yalah hendak menutuk jalan darah ki-bun-hiat pada dada
orang.
Yan-chiu ke-merah2an muka, ta empos dadanya. Tapi
tiba2 tangannya dirasakan sakit dan tangan kiri sijelek itu
sudah menerkam bumbung ular yang dipegangnya. Kini
baru Yan-chi insyaf, bahwa tutukan tadi hanya serangan
kosong, serangan yang sebenarnya yalah hendak merebut
bumbung ular. Dalam gusarnya, Yan-chiu gunakan wanyang-
lian-thui, sepasang kakinya berbareng menendang,
tapi tangannya ditarik kebelakang dengan sekuat tenaga.
Ternyata orang itu membandel dan berkeras handak
merebut ular ceng-ong-sin. Begitulah kedua orang itu saling
membetot adu tenaga. Bumbung bambu itu sudah tentu tak
tahan dibuat tarikan oleh dua orang yang mempunyai ilmu
lwekang. Krek......., putuslah bambu itu. Karena keduanya
saling keluarkan tenaga besar, maka masing2 sama
terjerembab surut kebelakang sampai dua tindak. Tangan
masing2 mencekal separoh kutungan bambu. Sedang
ditanah tampak ular ceng-ong-sin melingkar sembari
julangkan kepaIanya keatas. lidahnya menjulur surut
diantara bunyi desisan yang keluar dari mulutnya.
„Bajingan, kau tak beda dengan sutemu. Ceng-ong-sin
lolos, jiwamu tentu amblas!" serunya sembari maju hendak
menangkap ular itu. Tapi sebatang pedang hijau kemilau
tiba2 menusuknya, hingga ia terpaksa tarik pulang
tangannya. Kiranya orang Itu telah serangkan pedangnya
dengan tangan kiri, sedang tangannya kanan juga akan
menangkap ular ceng-ong-sin. Saking gusarnya, Yan-chiu
timpukkan kutungan bambu tadi kearah siorang jelek
sembari menyusuli dengan sebuah serangan. Simuka jelek
mau, tak mau terpaksa mundur menghindar.
Hendak dibuat rebutan, ceng-ong-sin marah juga.
Dengan buasnya binatang Itu meregangkan kepalanya, siap
sedia menggigit siapa yang berani main gila padanya.
„Ceng-ong-sin, gigitlah bangsat itu !" seru Yan-chiu.
Maksudnya hendak menyuruh ular itu menggigit simuka
jelek. Ia yakin ular itu tentu menurut. Tapi jadinya malah
kebalikannya.
KaIau tadi ia diam saja, itu sih baik. Begitu ia buka
suara, ceng-ong-sin terus berputar menghadapi Yan-chiu.
Kiranya ular ceng-ong-sin itu mempunyai daya ingacang
kuat sekali. Selama disekap dalam bumbung yang begitu
sempit, beberapa kali ia mendengar suara Yan-chiu. Begitu
tadi Yan-chiu buka suara lagi, binatang itu segera
mengenalnya, itulah orangnya yang menyiksa ia didalam
bumbung.
Yan-chiu yang tahu akan keganasan ceng-ong-sin, sudah
tentu menjadi terperanjat takut. Buru2 ia hendak bersiap
Iari, tapi ular itu secepat kilat sudah merangsang memagut
padanya. Yan-chiu menghindar kesamping, hingga pagutan
ular itu lewat disisi tubuhnya. Sekalipun begitu saking
lihaynya, lengan baju Yan-chiu yang kesrempet telah
menjadi robek separoh.
Luput menerjang, ular itu meluncur sampai dua meter
jauhnya baru dapat berhenti dan berputar diri terus maju
menyerang lagi dengan dahsyatnya, Untuk menghindar,
terpaksa Yan-chiu loncat sampai 3 meter tingginya. Namun
siular juga merangsang memburu keatas. Syukur Yan-chiu
dapat melompat - lebih tinggi dari rangsangan siular, lalu
terus melayang kesamping. Namun dengan cepat sekali,
siular sudah meluncur hendak menggigit kaki sinona.
Dengan mengandal kelincahannya, lagi2 Yan-chiu loncat
kesamping. Sebaliknya simuka jelek yang mengawasi
kejadian itu, tak henti2nya tertawa ter-kekeh2. Yan-chiu
mendongkol bukan buatan. Ia menghendaki orang itu
supaya rasakan kelihayan ceng-ong-sin juga. Sekali enjot
sang kaki, ia loncat kesamping simuka jelek.
Ceng-ong-sin terkenal sebagai raja sekalian ular berbisa.
Kalau digunung, tak pernah ia luput menerkam, korbannya.
Segala jenis binatang kalau berjumpa dengan ular itu, tentu
akan sudah lemas badannya. Tapi dua kali ular itu
menyerang sinona tanpa berhasil, telah menyebabkan ia
(ular) marah sekali. Dengan Was dan men-desis2, ular itu
kembali menyerang. Sebaliknya begitu berada disamping
simuka jelek; Yan-chiu segera mengirim dua buah
hantaman. Ketika orang itu hendak menangkis, cepat luar
biasa Yan-chiu sudah menyelinap kebelakangnya. Inilah
suatu siasat yang lihay. Biar bagaimana ular ceng-ong-sin
itu tetap seekor binatang, jadi tak dapat membedakan
orang.
Karena tak melihat Yan-chiu, binatang itu menyerang
simuka jelek, siapa sudah tentu menjadi kelabakan setengah
mati. Dengan. gugupnya, dia memutar pedang. Ternyata
ular itu kenal lihay juga. Ia mundur menyurut. sampai dua
meter.
Ular dapat menghindar mundur, sungguh suatu hal yang
langka. Sebenarnya hal itu disebabkan karena bagian perut
ular itu tumbuh sisik yang dapat dipergunakan sebagai alat
berjalan. Setelah mengundurkan ular, simuka jelek
membacok Yan-chiu. Karena tak dapat menangkis, terpaksa
Yan-chiu menghindar. Tapi begitu ia bergerak, ceng-ong-sin
sudah maju menyerang lagi. Dan berbareng pada saat itu,
pedang simuka jelekpun melayang datang. Jadi kini Yanchiu
diserang dari muka belakang.
Tadi menghadapi seekor ceng-ong-sin saja, Yan-chiu
sudah amat sibuk. Apalagi kini masih ditambah dengan
seorang musuh manusia yang tangguh. Dapat dibayangkan
bagaimana sukar kedudukannya pada saat itu. Dengan
susah payah, ia masih dapat bertahan sampai dua serangan.
Tapi pada lain serangan, pakaiannya kena disambar robek
oleh ceng-ong-sin lagi.
Kembali simuka jelek membacok punggung, sedang
ceng-ong-sinpun menyerang dari muka pula. Yan-chiu
benar2 tak dapat loncat menghindar lagi. Jalan satu2nya
yalah loncat tinggi2 keatas. Diatas udara, ia pijakkan kaki
kiri pada kaki kanannya untuk loncat naik lebih tinggi lagi.
Dari situ, dia terus meluncur turun kebawah tanah.
Sewaktu meluncur turun, ia masih sempat memandang
ketempat pertempuran tadi. Ternyata pada saat itu, cengong-
sin tengah menyerang simuka jelek, tapi kena didesak
oleh pedang pusakanya.
Begitu tiba ditanah, Yan-chiu menjejak lagi untuk
melambung keatas wuwungan. la mendekam ditempacang
gelap untuk melihat jalannya pertempuran. Ceng-ong-sin
menggeliat kekanan-kiri, untuk mencari kesempatan
memagut korbannya, Sekalipun simuka jelek membekal
sebilah pedang pusaka ditangan, namun tak mudah juga
hendak menebas siular. Malah beberapa kali orang itu
terpaksa harus menyingkir dari terjangan siular sangat
dahsyatnya.
Yan-chiu girang dan mendongkol terhadap simuka jelek
itu. la lepaskan sebuah genting, lalu dipecahnya menjadi
beberapa keping. Sekali merangkum dengan 3 buah jari,
Yan-chiu. segera timpukkan pecahan2 genting itu kedaerah
jalan darah leng-thay-hiat dipunggung orang.
la benci sekali terhadap orang bermuka jelek itu. Maka
timpukannya itu dilancarkan dengan sekuat tenaganya,
KaIau orang itu tak dapat menghindar, tentu akan terluka
atau tentu kena digigit siular. Dan ternyata harapannya itu
nampaknya terkabul. Orang itu diam saja, hanya
tumpahkan perhatian melayani terjangan siular. Dengan
putar pedang, mendesak ceng-ong-sin mundur dan bluk
........ punggungnya termakan pecahan genting. Tapi hai.....,
mengapa tak apa2 ?
Orang itu tetap menghadap kemuka, sedikitpun tak
menghiraukan punggungnya yang terkena timpukan itu.
Yan-chiu tersadar. Oleh karena orang itu adalah suko
dari si The Go, jadi tentu dia yuga murid Ang Hwat cinjin
yang faham ilmu i-hiat-hwat (memindah jalan darah).
Hingga kalau orang biasa bagian itu merupakan jalan
darah berbahaya, tapi bagi dia tidak. Namun Yan-chiu tak
mau mundur putus asa. Tiga keping pecahan genting
kembali ditimpukkan. Rupanya orang itu dapat juga
mendengar samberan angin timpukan Yan-chiu, tapi oleh
karena dari muka siular tengah merangsang lagi, terpaksa
dia tak mau berpaling kebelakang.
Melihat orang itu terpaksa mandah menerima timpukan
nya, Yan-chiu kegirangan sekali. Karena lwekangnya
bertambah maju, sekalipun orang itu dapat menutup jalan
darahnya, namun tak urung tubuhnya terasa sikit juga
terkena timpukan genting itu. Lama2 orang itu mendongkol
juga. Kalau -mau, sekali tabas dapat dia menguntungi
kepala si ceng-ong-sin, tapi rupanya dia hendak menangkap
hidup2an binatang istimewa itu. Hujan pecahan genting itu,
lama2 membuatnya kesakitan juga.-Akhirnya tak dapat dia
bertahan sakit lagi. Sekali enjot kakinya, dia berjumpalitan
melesat kebelakang, terus menyerangnya. Kaget Yan-chiu
tak terkira. Kalau hendak menyurut kebelakang, orang itu
tentu tetap membayangi. Maka terpaksa la gunakan gerak
tiat-pian-kio, buang dirinya kebelakang. Sewaktu pedang itu
menyambar lewat diatas tubuhnya, ia rasakan ada
serangkum hawa dingin menyampoknya. Dingin dan seram
rasanya, hingga ada beberapa lembar rambutnya menjadi
rontok. Terang suatu pusaka yang tiada taranya didunia.
Luput menabas, orang itu turunkan tangkai pedangnya
kebawah untuk menutuk jalan darah ki-bun-hiat didada
Yan-chiu. Cepat dan ta.n,gkss sekali gerakan itu dilakukan
hingga Yan-chiu tak sempat menghindar. Terpaksa ia
gunakan cian-kin-thui (tekanan 1000 kati) untuk
menekankan kakin ya keatas genting, brak ......tubuhnya
melesak jatuhkedalam rumah!
„Maling...., maling....!" se-konyong2 seorang perempuan
didalam ruangan situ menjerit. '
Yan-chiu ber-gegas2 merayap bangun. Tanpa pedulikan
perempuan yang menjerit-jerit ketakutan, ia terus loncat
keluar jendela, dari situ ia loncat pula keatas wuwungan.
Saat itu dilihatnya simuka jelek mengulaikan tangannya
kebawah, se-olah2 hendak membuka bagian dadanya.
Ceng-ong-sin bagaikan sebatang anak panah, meluncur
dengan pesatnya akan menggigit kening orang. Yan-chiu
terperanjat girang. Terang orang itu tentu akan melayang
jiwanya. Tapi se-konyong2 suatu kejadian ajaib terjadi.
Baru kepala siular merangsang maju, sebat sekali tangan
orang itu sudah menyambar angsangnya dan mengibaskan
kesamping dengan se-kuat2nya. Tanpa disengaja,
tangannya telah menyamplok muka dan tiba2 serongsong
topeng muka tersingkap jatuh, lalu disambar mulut siular
yang terus menggigitnya dengan geram sekali.
Bermula Yan-chiu mengira kalau benda Itu adalah
besetan kulit muka siorang jelek, tapi begitu diawasi dengan
perdata, mulutnya segera ternganga kaget. Kiranya orang
bermuka jelek itu bukan lain adalah si The Go! Adalah
kalau Yan-chiu sudah begitu kesima, sebaliknya The Go
sudah begitu kegirangan sekali. Sehabis perdengarkan
tertawanya panjang, dia segera menghilang ditempat
kegelapan.
Kini teringatlah Yan-chiu suasana dirumah perjudian.
Pertama kali melihat gerak gerik simuka jelek itu, Yan-chiu
sudah merasa pernah mengenalnya. Malah pada saat itu,
dia pun mendengar suara si The Go. Tapi oleh karena
kelicinan anak muda itu, jadi Yan-chiu tak berdaya
membuktikan kecurigaannya,
Pedang pusaka kuan-wi, seekor ular ceng-ong-sin yang
keramat, dua2nya hilang didalam tangannya. Dua2nya
kena direbut mentah2 oleh The Go. Bagaimana marah dan
kebenciannya. Sekali enjot tubuh, ia lari mengejar. Tapi
karena berayal sejenak tadi, sang rase sudah menghilang.
Saking bingungnya, terpaksa Yan-chiu balik kedalam
biliknya. Sudah tentu ia tak dapat tidur lagi. la menduga
keras, The Go tentu menuju ke Ko-to-san untuk
mengadakan persiapan pertempuran hari pehcun nanti. Saat
itu, Yan-chiu segera berkemas berangkat menuju ke Ko-tosan.
Syukur bisa ketemu ditengah jalan, kalau tidak masih
mempunyai kesempatan. lagi untuk berjumpa di Ko-to-san.
Singkat ceritanya, dua hari kemudiaa tibalah Yan-chiu
dikaki gunung Ko-to-san. Bulan yang lalu, dia pernah
datang kesitu bereama eukon ya, jadi ia sudah faham akan
jalan2nya. Setelah mencari keterangan pada penduduk
disitu, diketahuinya kalau belum ada seorsng kaum
persilatanpun jua yang datang digunung tersebut. Ceng Bo
Siangjinpun belum nampak tiba. Yan-chiu indahkan
pesanan Kui-ing-cu, yaitu menunggu kedatangan
rombongan sang suhu dikaki gunung itu.
Tapi pada lain saat terkilas suatu pikiran lain
dibenaknya.
Celaka, kalau sampai rombongan suhunya mengetahui
tentang peristiwa pedang Kuan-wi dan ular ceng-ong-sin
yang sudah kena dirampas The Go, ia (Yan-chiu) tentu
akan disesali kawan2, demikian pikirnya, Ah...., toh mereka
belum datang, kiranya tak apa kalau ia coba menyelidiki
Keats gunung. Siapa tahu kalau nanti ia berhasil merebut
kembali kedua benda pusaka itu. Dengan demikian,
dapatlah ia mengembalikan kehilangan muka itu.
Ia hanya merasa kepandaiannya telah memperoleh
kemajuan yang besar. Tapi sedikitpun ia tak mau tahu atau
memang benar2 tak mengetahui bahwa orang2 gereja Anghun-
kiong itu terlebih lihaynya! Oleh karena saat itu masih
pagi, Ia mencari sebuah pandai besi minta supaya dibuatkan
seperangkat rantai dan bandringan liu-ce-chui serta sebilah
pedang!
--oodwkz0tahoo--
BAGIAN 32 : MASUK SARANG
HARIMAU
Setelah selesai, dicobanya kedua alat itu oleh Yan-chiu.
Setelah memuaskan, ia lalu berangkat ke Ko-to-san.
Menjelang magrib, nun jauh disebelah muka, tampak
tembok merah dari gereja itu merebut pandangan mata.
Mata Yanchiu yang tajam segera dapat melihat bahwa
dipintu dari gereja itu banyak sekali orang2 yang 'keluar
masuk. Oleh karena itu waktu, masih terang hari, terpaksa
Yan-chiu mencari sebuah puhun rindang untuk beristirahat.
Untuk jangan diketahui orang, ia panjat keatas
bersembunyi, nanti setelah hari gelap, baru ia memasuki
gereja itu.
Selagi ia me-nimang2 tentang keadaan gereja Anghunkiong
yang begitu besarnya, se-konyong2 terdengar
dahan dibawah berkerotakan dan batang puhun itu bergoyang2.
Cepat2 ia siapkan bandringan, tapi mendadak
sebuah nada suara yang kasar terdengar berkata: „Samsuheng,
rupanya gereja Ang-hun-kiong itu. kelak tentu jatuh
pada The Go. Kau dan aku, meskipun tergolong supehnya
(paman guru), tapi tak dapat menyamai-nya!"
Yan-chiu terkesiap, batal menggerakkan tangannya.
„Lo Su, apa kau penasaran ? Orang kan punya tiang
andalan! Kali ini biar kita. lihat, kalau kita berempat tampil,
bagaimana suhu akan memutuskan ? Hem......, kemaren
Kuan Hong dan Wan Gwat mengatakan, suhu telah
memutuskan hendak menurunkan ilmu pedang Khit-satkiam-
hwat padanya!" kata pula seorang. Terang dua orang
yang dibagian bawah dahan itu adalah orang2 Ang-hunkiong.
„Apa benar begitu? Rasanya tidak, ah! Kita yang sudah
ber-tahun2 mengikut suhu, belum juga menerima pelajaran
itu." sahut kawannya. Tapi orang tadi menetapkan
kebenaran keterangannya, katanya: „Sudah tentu benar!
Suhu rupanya berat sebelah. Kali ini entah dari mana anak
itu berhasil membawa sebuah pedang pusaka. Sekali
meminta, suhu terus meluluskan!"
Yan-chiu yang cerdas segera dapat menduga siapakah
kedua orang itu. Mereka tentulah supeh dari The Go, juga
muridnya Ang Hwat cinjin. Kalau mereka tak puas
terhadap The Go, terang menandakan bahwa anak itu
memang jahat benar2. Dari sebutan yang diucapkannya
yakni „samsuheng" (kakak seperguruan ketiga) dan „Lo Su"
(nomor 4), adalah salah seorang Su Mo (empat iblis) Anghun-
kiong yang bernama Sam-mo Long Tek-san dan Su-mo
Im Thian-kui. Yang tak dimengerti Yan-chiu yalah kata2
mereka yang mengatakan bahwa The Go mempunyai tiang
andalan itu. Untuk mengetahui lebih jauh, ia pasang telinga
dengan penuh perhatian.
Lewat sejenak, Sam-mo (iblis ke 3) Long Tek-san berkata
pula: „Entah apa sebabnya, sumoay sudah meninggal,
namun suhu masih begitu sayang sekali terhadap anak itu!"
Su-mo atau Iblis ke-4 Im Thian-kui tertawa, ujarnya :
„Ah, si 'kuda binal', punya gara2, kalau tidak masa jisuheng
sedemikian cepat meninggal dunia dan suhu lalu melanggar
pantangan menerimanya (sumoay) sebagai murid !"
„Lo Su, hati2lah bicara! Suhu tak senang orang
mengungkat sebab2 kematian The suheng. Jangan sampai
didengarnya, celaka nanti!" Long Tek-san buru2
memperingatkan.
Tapi Im Thian-kui tertawa sinis, ujarnya pula: „Kalau
sudah melarang begitu, apakah dikira tiada orang yang
mengetahuinya? Masa apa ada perempuan yang tidak
menangis waktu suaminya meninggal? Setelah suaminya
meninggal 11 bulan, kemudian ia malah melahirkan anak.
Huh, siapa yang mau mempercayai kalau anak itu bibit
tinggalan sang suami ? Orang jangan hanya memandang
suhu itu seorang saleh yang berilmu tinggi. Orang gagah
paling sukar kalau menghadapi wanita cantik. Namanya
saja The Go itu cucu murid, tapi sebenarnya dia itu entah
apanya suhu!"
Merah padam muka Yan-chiu mendengari pembayaraan
yang agak cabul itu. Namun karena mengenai persoalan
The Go, jadi iapun terpaksa mendengarinya juga. Tiba2 ia
teringat akan kejadian di Lo-hu-san setengah tahun yang
lalu. Itu waktu Kiau To telah mengejek The Go dengan
kata2 „ibu dan anak ber-sama2 belajar", yang menyebabkan
si The Go berobah wajahnya dan lalu menantangnya.
Pertempuran hari pehcun nanti itu, adalah gara2 ejekan
Kiau To itu. Diam2 Yan-chiu mendapat kesan, diantara
The Go dan Ang Hwat cinjin itu tentu ada hubungan luar
biasa. Kalau tidak, masa murid yang sudah 20-an tahun
belajar tidak diberi pelajaran ilmupedang Khit-sat-kiamhwat,
sebaliknya The Go diberi? Ji-mo atau iblis ke 2 dari
Ang-hun-kiong itu bernama The Ban-li, sudah lama
meninggal. Sedang iblis pertama bernama Wi Tay-bing kini
sudah berusia 50-an tahun. Tapi entah siapa nama dari si
„kuda binal" yang di-sebut2 tadi. Jangan2 ibu dari The Go,
tapi masa begitu tak sedap didengar julukannya, demikian
Yanchiu berpikir.
Pada lain saat, terdengar genta gereja Ang-hun-kiong bertalu2.
Kedengaran Im Thian-kui mengajak suhengnya
menghadiri pelajaran malam. Ketika Yan-chiu mengintip
di-sela2 daun, kedua orang itu ternyata berdandan seperti
tosu. Yang seorang bertubuh tinggi besar, yang satunya
pendek bermuka bersih.
Ketika talu genta gereja itu sirap, lampu2nya pun mulai
dipadamkan. Itu waktu kira2 pukul 10 malam, Yan-chiu
anggap sudah waktunya untuk mulai bekerja. Dengan hati2
ia menghampiri pintu gereja. Kira2 pada jarak 4 tombak
dari pintu itu, ia mengumpat disalah sebuah tempat yang
agak gelap. Dua buah thing (pavilyun) tampak sepi" saja.
Pada saat itu, Yan-chiu agak menyesal. Kalau jauh2 hari
tahu hari itu hendak menyelidiki, tentu dulu tempo datang
kegereja situ ia perhatikan betul keadaan disitu. Teringat
juga ia tempo hari, begitu datang dipintu sudah disambut
oleh kedua anak-murid gereja yakni Kuan Hong dan Wan
Gwat, jadi terang kalau penjagaan disitu teramat kerasnya.
Tak mau ia keluar pintu besar, tapi mengambil jalan
mengitari tembok.
Tembok gereja itu lebih dari satu tombak tingginya.
Semuanya terbuat dari batu merah yang mengkilap, jadi
sukar untuk dipanjat. Setelah tempelkan telinga ketembok
dan dapatkan didalam tiada kedengaran suara orang, baru
Yan-chiu enjot tubuhnya loncat keatas. Ia gunakan ilmu
loncat dari Tay Siang Siansu. Ketika berada diatas tembok,
ia berjumpalitan melayang turun kedalam.
Tatkala berada didalam tembok, Yan-chiu agak terkesiap
heran. Boleh dikata ruangan2 disitu hampir sama satu
dengan yang lain. Sampaipun lankan terali pagar modelnya
sama semua. Kemana ia hendak mencari The Go? Tengah
Yan-chiu ter-mangu2, dilihatnya disebelah muka sana ada
sebuah cahaya penerangan. Kalau tak masuk sarangnya,
tentu tak bisa mendapatkan anak harimau, Yan-ciu
mengambil keputusan.
Kesanalah ia ayunkan langkahnya. Tapi setelah
melewati dua buah kamar, ia menjadi bingung dibuatnya,
kepalanya terasa pening. Tak dapat ia membedakan arah
mata angin lagi. Diempat penjuru, semuanya kamar dan
lorong serambi. Diam2' terbitlah sesalnya, mengapa tak
mau mendengarkan nasehat Kui-ing-cu. Kalau malam itu
tak dapat lolos, terang ia tentu akan menghadapi bahaya.
Hendak ia balik lagi ketempat tadi, tapi ber-putar2
sampai sekian lama tetap ia tak dapat menemukan jalannya.
Cahaya lampu yang dilihatnya, pun tiada tampak lagi.
Selagi ia mengeluh, se-konyong2 dari arah belakang terasa
ada orang menyerang. Buru2 ia hendak maju selangkah,
tapi untuk kekagetannya, sebilah pedang telah
menghadangnya. Yang mengacungkan pedang itu ternyata
seorang anak kecil. Yan-chiu tak gentar, terus ia dorongkan
tangannya untuk menangkap anak itu. Gerakan itu disebut
„gong chiu toh peh jim", dengan tangan kosong merebut
senjata musuh. Duapuluh tahun lamanya setelah menderita
kekalahan dari suami isteri Hay-te-kau dan Kiang Siang
Yan, Tay Siang Siansu bersembunyi digunung Hoa-san
untuk menciptakan ilmu tersebut yang kelak sedianya
hendak digunakan merebut pedang sepasang suami isteri
itu. Tapi akhirnya, dengan bertambah dalamnya kebatinan
Siansu itu, dia telah kikis habis rasa dendam itu. Oleh
karena tak jadi melakukan pembalasan, jadi ilmu itu belum
pernah digunakan. Yanchiulah yang beruntung
mempraktekkan.
Bermula Yan-chiu yakin tentu akan dapat merampas
senjata anak itu, tapi diluar dugaan anak itu tangkas sekali.
Sekali surut kebelakang, anak itu menghilang. Yan-chiu
hendak memburu, tapi tiba2 dibelakangnya ada sesosok
tubuh kecil menusuk dengan pedang. Yan-chiu terperanjat.
Ketika ia hendak ulurkan tangan merampas, dari arah
belakang punggungnya kembali sudah terdengar suara
senjata melayang. Tak mau ditelan mentah2 disamping
jangan sampai menerbitkan suara gaduh, Yan-chiu enjot
tubuhnya naik keatas genteng. Tapi baru sang kaki
menginjak genteng, tiba2 serasa genteng itu longsor
kebawah dan sudah tentu iapun ikut terperosok jatuh
kebawah, bum....... Tapi anehnya, genteng itu tampak
secara otomatis menyerampang lagi.
Yan-chiu leletkan lidah mengagumi kelihayan Ang Hwat
cinjin. Sampaipun genteng atau atap rumah juga berupa alat
jebakan. Tempat dimana ia jatuh itu, ternyata merupakan
sebuah kamar kecil yang tiada jendelanya sama sekali. Yan
chiu coba mendorong dindingnya, tapi sedikitpun tak
bergeming. Yan-chiu makin gelisah. Dengan se-kuat2-nya ia
hantam dinding itu dengan bandringan, bang.... dinding itu
hanya berkerontang macam besi terpukul tapi tak kena
apa2.
Yan-chiu mulai kalap. Ia putar bandringan menghantam
keseluruh ruangan itu, tapi setiap bagian yang terkena
bandringan, tentu berbunyi keras dan bandringannya pun
terpental balik. Jadi terang ruangan itu terbuat daripada besi
yang kokoh. Setengah jam kemudian, Yan-chiu rasakan
tangannya capai kesemutan. Akhirnya ia hanya dapat
menghela napas panjang dan berhenti menghantam.
Baru dia berbuat begitu, atau dari atas tembok segera
terbuka sebuah pintu kecil. Lekas2 Yan-chiu mengumpat
dipojok kamar sambil siapkan bandringannya. Tak peduli
siapa yang kelihatan masuk, tentu dibunuhnya. Tapi sampai
sekian saat tak ada sebuah bayanganpun yang masuk,
kecuali sebuah ketawa dari anak kecil. Yan-chiu terkesiap
heran. Berselang beberapa saat lagi, kedengaran ada suara
orang ber-kata2: „Kau masuk dulu!"
„Ditilik dari potongan tubuhnya, dia tadi seperti seorang
wanita. Huh, aku takut, jangan2 setan!"
„Fui, kau saja yang masuk dulu. Masa akupun tak takut
juga!" sahut yang seorang. Nada kedua orang itu bening
nyaring macam suara kanak2. Yan-chiu tergerak hatinya
dan kedengaran suara ketawa cekikikan lagi. „Lekaslah
masuk, jangan sampai digegeri sucou yang tentu
mendamprat kita ini hanya tahu ber-main2 saja, tapi
disuruh tangkap pencuri tak mampu!" kata salah seorang.
Yan-chiu agaknya pernah mengenal suara orang itu.
Tiba2 ia teringat dan menjadi girang bukan buatan,
serunya:
„Bukantah disitu Kuan Hong dan Wan Gwat berdua
siaototiang?, Mengapa masukkan aku disini, kemarilah
lekas!"
Begitu ia bersuara, disana orang diam tak menyahut.
Yan-chiu ulangi lagi seruannya dan barulah tampak ada
sebuah kepala menongol kedalam. Hai, itulah kepala
seorang anak berumur 14-an tahun, wajahnya terang,
bibirnya ke-merah2an. Ya, tak salah lagi, itulah to-thong
(murid imam) yang dijumpai tempo ia datang kesitu
dahulu. Setelah masuk, anak gereja itu segera menyulut
lampu dengan korek. „Siao-totiang, mengapa aku
dijebluskan disini?" pura2 Yan-chiu menegur dengan
marah.
Dasar anak2, to-thong itu menjadi ke-merah2-an
mukanya, lalu berseru kesebelah atas: „Wan Gwat,
mengapa tak lekas datang kemari. Kita telah kesalahan
menangkap orang baik2, inilah cici yang tempo hari datang
kemari hendak mencari The suko!"
Selamanya Yan-chiu hanya memanggil suko atau suci.
Belum pernah ia dipanggil cici oleh orang. Maka dipanggil
taci, saat itu girang Yan-chiu tak terkira. „Wan Gwat
totiang, apa benar kau tak mau turun kemari ?" katanya.
Sebagai jawaban, seorang tothong kecil menobros
masuk, siapa dengan ke-merah2-an wajah segera membuka
mulut: „Cici hendak cari The suko, mengapa datang pada
waktu begini malam? Untung berjumpa dengan kami
berdua, kalau lain orang tentu repot!"
Yan-chiu biarkan saja kedua anak itu menganggap
begitu. Malah menurutkan lagu mereka, ia segera
menyahut: „Ya, aku cari Cian-bin Long-kun karena ada
urusan penting. Kukira begitu datang kemari, tentu bakal
ada orang yang memberitahukan. Siapa tahu, kalian berdua
telah menyambutku dengan serangan, malah genteng diatas
rumah ini juga dipasangi perangkap!"
Tu lihat bagaimana pintarnya sigenit. Ia yang salah, tapi
dengan cerdiknya ia timpahkan kesalahan itu pada kedua
anak tersebut.
„Cici jangan heran. Peraturan digereja sini memang
demikian. Bila ada orang yang berani datang menggelap,
tentu akan diringkus dan dimasukkan dalam kamar
tahanan. Hukumannya menunggu keputusan toa-supeh.
Atap gereja ini asal yang berwarna hijau tentu merupakan
alat jebakan. Hanya yang berwarna merahlah yang tidak
dipasangi perangkap!" menerangkan kedua tothong itu.
Takut kalau Yan-chiu marah, kedua anak itu tanpa diminta
telah membuka rahasia alat jebakan digereja situ.
Walaupun hatinya girang, tapi Yan-chiu tentu membuat
wajahnya bengis, ujarnya: „Kalau begitu, lekas antarkan
aku ketempat Cian-bin Long-kun! Jangan menelantarkan
urusan penting ini. Apa kalian tak mengetahui tentang
pertempuran dihari pehcun nanti?"
Digertak begitu, kedua tothong itu ter-sipu2 menyahut:
„The suko saat ini masih berada ditempat sucou sana untuk
meyakinkan ilmupedang Khit-sat-kiam-hwat. Dia pesan,
siapa saja tak boleh menemuinya. Maafkan, harap cici
jangan sesalkan kami berdua !"
”Huh, kalian tahu apa? Urusan ini teramat penting
sekali! Kalah atau menang fihak Ang-hun-kiong, tergantung
pada urusan ini, jangan kau main percaya kalau sucoumu
itu tak bisa terkalahkan. Ketahuilah, bahwa tokoh2 macam
Hay-te-kau, Kang Siang Yan, Siang Siansu, Kui-ing-cu dan
beberapa tokoh lainnya akan datang kemari. Masa fihak
gereja sini takkan kelabakan nantinya. Huh, kalian ini tahu
apa!" Yan-chiu menyomel. Karena mengira benar2 begitu,
kedua tothong itu tak berani berayal lagi. Cepat2 mereka
ajak Yan-chiu memanjat keluar dari lubang pintu diatas
tadi.
„Cici, kalau tiba pada tiang kuningan sana, kau biluk
kesebelah kiri, nanti tentu sampai disebuah paseban besar.
Disamping paseban itu, ada sebuah ruangan kamar.
disitulah The suko dan sucou sedang berlatih. Kami sedang
bertugas jaga malam, maaf tak dapat menemani. Ini kuberi
sebuah tong-pay (pertandaan), kalau ada orang yang
menghadang, tunjukkan saja tong-pay ini, tentu beres kata
kedua anak itu demi sudah keluar.
Kuan Hong dan Wan Gwat adalah murid dari Sam-mo
Long Tek-san. Biasanya kedua anak itu amat cermat sekali
dan ilmu silatnya pun lumayan. Oleh karena tempo
pertama kali Yan-chiu berkunjung kegereja itu telah
meninggalkan kesan yang baik pada mereka, maka itu
dengan mudah sekali ia dapat membuat kedua to-thong itu
percaya keterangannya. Bahkan telah memberinya tong-pay
atau pertandaan jaga malam dari gereja Ang-hun-kiong itu.
Tong-pay itu hanya sebesar telapak tangan orang saja.
Dipermukaannya diukir dengan lukisan beberapa gumpal
awan merah (ang hun), sedang disebaliknya terdapat tulisan
„Ang Hun Kiong" „Nanti bila berjumpa dengan Cian-bin
Long-kun aku tentu akan mengemukakan budi
pertolonganmu ini. Bukankah kalian mengagumi ilmu
kepandaian-nya?" tanya Yan-chiu.
„Ya, kami ingin sekali mendapatkan pelajarannya ilmu
silat hong-cu-may-ciu itu!" dasar anak2, kedua to-thong itu
menyatakan apa yang dikandung dalam hati.
Yan-chiu menyanggupi, lalu ayunkan langkah kemuka.
Memang setelah diamat2i dengan perdata, pada setiap dua
atau tiga buah kamar, tentu ada sebuah tiang yang terbuat
daripada kuningan. Dari situ, ia membiluk kekiri dan
terdengar seseorang menegurnya. Yan-chiu terperanjat. Ada
suaranya, tapi mengapa tak tampak orangnya. Yan-chiu tak
tampak orangnya. Yan-chiu tak mau menyahut, melainkan
tunjukkan tong-pay keatas di-goyang2kan beberapa kali,
tapi sembari teruskan langkahnya. Kira2 berjalan beberapa
meter jauhnya, didengarnya dari arah belakang ada dua
orang ber-cakap2. Kata yang seorang: „Huh, mengapa
seorang anak perempuan? Aneh sekali ni!"
Yang-chiu terkesiap, tapi ada seorang lain kedengaran
berkata: „Peduli apa denganmu ? Ia membawa lengpay, itu
sudah cukup. Kalau banyak usil, kau tentu dibenci orang.
Sucoupun tentu tak mau turunkan pelajaran Khit-sat-kiamhwat
padamu!"
Diam2 Yan-chiu mendapat kesan, bahwa Ang Hwat
cinjin itu berat sebelah. Dia keliwat manjakan The Go,
sehingga menimbulkan ketidak-puasan anak murid Anghunkiong
lainnya. Setelah melalui penjagaan yang sangat
gawat itu, dengan legahnya Yan-chiu terus menuju kemuka.
Beberapa kali ia kesamplokan dengan penjaga2, tapi berkat
tongpay yang berpengaruh besar itu, dapatlah ia tiba
dipaseban besar.
Dipaseban itu terdapat sebuah patung, dimukanya ada 3
batang lilin sebesar lengan orang. Tiada seorang yang
tampak disitu. Kuatir kalau dipergoki orang, buru2 Yanchiu
melintasi paseban itu. Benar juga disebelah muka sana
terdapat sebuah ruangan yang tampak ada penerangannya.
Lapat2 terdengar suara orang bermain pedang. Menduga
kalau The Go tentu berada disitu, ia dengan ber-jengket2
menghampiri. Ruangan rumah itu empat kelilingnya
mempunyai pintu. Tapi semuanya ditutup rapat. Yan-chiu
tempelkan mukanya kejendela dan mengintip dari sela2nya.
Tapi seperti orang dipagut ular, ia segera menyurut
kebelakang.
Kiranya sewaktu ia mengintip kedalam itu, ia belum
sempat melihat apa2. Yang tampak, hanya ada sepasang
mata ber-kilau2-an, ber-api2 memandangnya. Ia kira kalau
perbuatannya itu telah diketahui orang, maka buru2 ia
menyurut tadi. Itulah karena ia keliwat ber-hati2, jadi
menyangka yang tidak2. Sebenarnya, mata itu tak
memandang padanya, hanya karena keluar-biasanya, jadi
se-olah2 seluruh ruangan itu tercangkum dalam sorotannya.
Tiba2 dari sebelah dalam kedengaran The Go bertanya:
„Sucou, apakah gerakan jurus yang tadi sudah benar?"
Anehnya, pertanyaan itu tiada orang yang menyahut,
hanya lagi2 kedengaran suara samberan pedang.
Yan-chiu tak dapat bersabar lagi, lalu mengintip disela
jendela. Yang pertama tampak padanya, lagi adalah sorot
sepasang mata yang berapi luar biasa itu. Kali ini Yan-chiu
tak menghiraukan dan mengawasi dengan perdata keadaan
didalam situ. Kini tegas dilihatnya The Go sedang
memainkan pedang kuan-wi. Ilmu pedang yang dimainkan
itu aneh sekali gerakannya. Disudut ruangan sana, ada
sebuah kursi thay-su (guru besar) yang diduduki oleh
seorang yang bermuka jelek sekali. Mulut lebar, hidung
pisek, rambut kepalanya ke-merah2an, mengenakan jubah
pertapaan berwarna merah. Yang luar biasa pada orang itu,
adalah sepasang matanya yang ber-kilat2 laksana
memancarkan api.
Yan-chiu menduga, imam itu tentulah Ang Hwat cinjin,
kepala gereja Ang-hun-kiong, yang sangat termasyhur
didunia persilatan. Dari sorot matanya yang sedemikian
hebatn ya, terang kalau lwekang dari imam itu telah
mencapai tingkat kesempurnaan.
„Go-ji, dalam pertemuan hari pehcun nanti, harus
menang tak boleh kalah. Kau mengerti ?" tiba2 Ang Hwat
cinjin kedengaran berkata dengan pelahan, namun lengking
suaranya menusuk kedalam telinga, terus menggetarkan
hati.
„Cucu murid mengerti," sahut The Go.
Ang Hwat ciinjin menghela napas, ujarnya pula: „Go-ji,
setelah dapat memahamkan Khit-sat-kiam-hwat itu,
kepandaianmu lebih tinggi dari ketiga supehmu. Pesan dari
marhum ayahmu, kiranya tak sampai kuabaikan!"
Mendengar itu, The Go kedengaran berhenti bermain
pedang, katanya: „Su-cou, kuingat kaupernah mengatakan
bahwa menggunakan ular sebagai jwan-pian (ruyung lemas)
saktinya bahkan terkira. Adakah ular ceng-ong-sin itu tak
memenuhi sarat?"
Ang Hwat mengiakan, sahutnya: „Memang tepat sekali.
Tapi dalam pertempuran nanti, apabila fihak musuh
terdapat tokoh yang tangguh, sudah tentu aku tak dapat
berpeluk tangan. Ilmu itu, kelak saja masih belum terlambat
kuajarkan. Sekarang rasanya mustika dalam batu itu yang
lebih penting, harus kau cari dulu!"
The Go memberi jaminan bahwa tempat dia
sembunyikan mustika itu, tiada seorangpun yang dapat
mengetahuinya. Ang Hwat menyatakan syukur, kemudian
menerangkan: „Rawa2 yang kau sebutkan itu, namanya
Hek-cui-tham (rawa air hitam). Dahulu aku pernah datang
kesana, ya memang sangat aneh sekali!"
Yan-chiu terpikat sekali perhatiannya hendak
mendengarkan keterangan Ang Hwat tentang keadaan rawa
itu lebih jauh, tapi untuk kemengkalannya, Ang Hwat tak
membicarakan lagi hal itu, melainkan suruh The Go
berlatih lagi. Demi sangat memikirkan diri Tio Jiang dan
Nyoo Kong-lim yang hilang lenyap dirawa itu, Yan-chiu
lupa diri, lupa untuk menahan napasnya. Memang bagi
seorang biasa, tarikan napas lain orang tentu tak dapat
terdengar. Tapi tidak demikian dengan Ang Hwat cinjin.
Se-konyong2 cinjin itu tampak kerutkan sepasang alisnya
yang menjulai panjang itu, sehingga bengis sekali
tampaknya. Yan-chiu masih enak2 mengintip, ketika
sepasang mata cinjin itu lekat2 memandang kearahnya.
Rasanya tidak kecewa Yan-chiu dianggap seorang nona
yang cerdas. la mendapat firasat, ada sesuatu yang kurang
beres. Menduga keras kalau Ang Hwat cinjin telah
mengetahui dirinya, secepat itu juga ia terus enjot kakinya
loncat keatas. Tapi tepat ketika tubuhnya tengah
melambung itu, sebuah titik putih melayang keluar dari
jendela, tepat mengenai zool sepatu Yan-ciu, terus
meluncur masuk kedalam dinding.
GAMBAR 59
Sekali Ang Hwat Cinjin membusungkan dadanya, tiba2 Yanchiu
merasa suatu tenaga maha besar menumbuk kearahnya,
tanpa kuasa lagi tubuhnya me-layang2 jauh
Yan-chiu makin gugup. Ia menginsyafi dirinya telah
dipergoki. Seperti dikejar setan, ia segera lari keluar. Saat
itu cuaca sangat gelap. Tahu2 ia merasa seperti membentur
benda yang sangat lunak. Ketika mendongak mengawasi
kemuka, hai..., hai..., itulah rambut gimbal dari Ang Hwat
cinjin! Saking terkejutnya, Yan-chiu seperti melihat momok
disiang hari dengan gugup ia hendak lari kebelakang tapi
Ang Hwat cinjin sudah dongakkan kepala tertawa.
Anehnya, walaupun mulutnya menganga, tapi tak
kedengaran suara ketawanya, hanya perutnya yang tampak
mengial-ngial. Yan-chiu segera rasakan ada sebuah tenaga
dahsyat menggempurnya. Buru2 Yan-chiu loncat keatas,
namun ketika berada diatas udara, ia sudah menjadi seperti
sebuah layang2 putus. Andaikata tiada ada pagar tembok
tentu ia sudah melayang jauh entah jatuh dimana.
Terbentur dengan tembok itu, sakitnya bukan kepalang.
Cepat2 ia empos semangatnya untuk menahan
kesakitannya. Begitu jatuh ketanah, diantara pandangan
matanya yang ber-kunang2 itu, tampak Cian-bin Long-kun
sudah menghampirinya. „Oh, kiranya nona Liau!" serunya.
Walaupun dalam hati sangat membenci sekali, namun
lahirnya terpaksa Yan-chiu memain senyum diwajah.
„Cian-bin long-kun, apakah kau baik2 saja selama ini?"
tanyanya. The Go tertawa iblis, sahutnya mengejek:
„Syukurlah tak sampai digigit mati oleh ceng-ong-sin!"
Yan-chiu terpepet ditembok, jadi tak dapat lolos. Ang
Hwat cinjin kembali masuk kedalam ruangan belajar silat
tadi, sembari memerintah: „Go-ji, ringkus dia lebih dulu!"
Sembari mengiakan, The Go sudah lantas
memampaskan pedangnya kelengan Yan-chiu, siapa
walaupun tampak tak mau melawan, tapi diam2 nona itu
telah mengatur siasat. Dilihatnya Ang Hwat sudah masuk
kedalam, selagi The Go menduga, ia hendak menerjangnya.
„Nona Liau, berikan tanganmu untuk diikat!" kata The
Go. Yan-chiu ulurkan kedua tangannya lurus kemuka.
Walaupun tidak secantik Bek Lian, namun paras Yan-chiu
cukup menggiurkan. Biasanya nona itu genit dan tajam
mulut, maka saat itu The Go hendak balas
mempermainkan. Pedang dipindah ketangan kiri, lalu
ulurkan tangan kanan untuk men-jawil2. Saking murkanya
Yan-chiu hampir mati dibuatnya. Tapi ia tak mau lewatkan
ketika sebagus itu. Baru tangan The Go merabah tangan kiri
Yan-chiu, nona itu segera balikkan tangannya kanan
kemuka. Gayanya aneh, mendorong bukan mendorong,
menebas tidak. Itulah ilmu ajaran Tay Siang Siansu yang
diciptakan sendiri. Yakni salah satu jurus dari „gong chiu
toh peh jim" yang disebut „merogoh kantong mengambil
barang". Siku kiri The Go tepat dapat dicengkeramnya.
Ilmu ciptaan Tay Siang Siansu itu, ternyata tak bernama
kosong. Dahsyatnya tak terkira. Tangan The Go dirasakan
lemas lunglai, mau tak mau kelima jarinya terbuka dan
tahu2 pedang kuan-wi telah berpindah ketangan Yanchiu.............
Dalam kegirangannya, Yan-chiu sudah terus hendak
gerakkan pedang, tapi pergelangan tangannya kiri terasa
sakit lemas lunglai. Demi merasa diakali sinona, cepat
sekali The Go pijat se-keras2 pergelangan tangan orang.
Sudah tentu gerakan Yan-chiu sangat terganggu. „Kalau tak
kau lepaskan cekalanmu itu, tentu akan kutabas!" Yan-chiu
mengancam dengan pelahan.
GAMBAR 60
Sambil masih mencengkeram tangan kiri sigadis, dengan
geramnya The Go berusaha, merebut kembali Kuan-wi-kiam, tapi
Yan-chiu tidak kalah tangkasnya, cepat ia tarik pedang itu terus
menusuk
Biasanya The Go selalu mempedaya orang, sudah tentu
kali ini dia marah sekali. Diancam begitu, dia malah
perkeras pijatannya, sembari gunakan ilmu siao-kin-na-chiu
untuk merebut pedang. Juga Yan-chiu tak mau begitu
gampang2 menyerahkan pedang pusaka itu.
Dengan gunakan jurus Kut-cu-tho-kang dari ilmupedang
Hoan-kang-kiamhwat ajaran Kang Siang Yan, ia babat jari
orang. The Go kaget dan buru2 tarik pulang tangannya, tapi
Yan-chiu mengejarnya dengan jurus kiang-sim-poh-lo,
menusuk kaki.
Jarak begitu dekat sekali, terpaksa The Go harus memilih
satu diantara dua. Biarkan kakinya terbatas, atau lepaskan
cengkeramnya pada pergelangan tangan sinona. Sebenarnya
The Go boleh memilih jalan kedua, toh disitu masih ada
Ang Hwat cinjin. Sekalipun ada 10 Yan-chiu, tetap takkan
dapat lolos. Tapi dasar orang ganas, sembari loncat
menghindar sabetan pedang, dia gunakan jari kelingking
untuk menutuk pergelangan tangan sinona. Tutukan itu
hebat akibatnya, dapat menembus sampai keurat jantung
dan orangnya tentu menjadi limbung pikirannya.
Yan-chiu segera merasa separoh tubuhnya menjadi mati
rasa, jantungnya berdebur keras. Ia menjadi kalap. Dengan
sisa tenaganya yang masih, ia menusuk. The Go miringkan
tubuh, tapi lengan bajunya kena tertusuk pecah, malah
lengannyapun kena tertusuk sedikit hingga mengucurkan
darah. Tapi dalam pada itu, dia menusuk lagi lebih keras.
Jantung Yan-ciu seperti me-lonjak2 mau loncat keluar.
Dadanya serasa manis. Yan-chiu membuladkan tekad.
Kalau tak mengadu jiwa, sukarlah rasanya untuk lolos.
Dengan tahan rasa sakitnya, Yan-chiu menabas tangan si
The Go yang mencengkeram pergelangannya itu. Gerak
tabasan itu tak menurut gerakan ilmu silat lagi, pokok asal
dapat mengenai saja. The Go terkejut, Kalau hendak
menghindar, dia harus lepaskan cengkeramannya. Tapi dia
tak kurang akal. Sebat sekali tangan Yan-chiu itu ditariknya
kemuka. Kalau Yan-chiu teruskan babatannya, bukan The
Go yang kena, tapi tangan Yan-chiu sendirilah. Yanchiu
tahu akan hal itu, maka lekas2 ia balikkan siku untuk
menahan pedangnya, kemudian dari situ ia babatkan
kemuka.
--oodwkzOTAHoo--
BAGIAN 33 : LOLOS DARI LUBANG
JARUM
Sudah tentu The Go tak mau biarkan dirinya dibabat
seperti batang pisang. Dengan sekali dua langkah, dia sudah
melejit kebelakang sinona, sembari pelintir-tangan orang.
Yan-chiu meringis kesakitan, hendak ia membacok
kebelakang, tapi Tho Go berlincah kian-kemari, jadi sia2
saja.
Dalam keputusan daya itu, Yan-chiu mengambil putusan
nekad. Daripada kena ditawan hidup2an dan menerima,
lebih baik ia mati ber-sama2 dengan musuh. Begitu pedang
diangkat kemuka, ia terus hendak membabat dirinya
sendiri. Pikirnya biar tubuhnya terkutung, tapi musuhpun
pasti kena juga. Tapi rencananya itu, dapat diketahui The
Go, siapa menjadi terperanjat sekali. Hanya karena
mentaati pesanan sang sucou supaya menangkap hidup2an
nona itu, maka dia tak mau mencelakai Yan-chiu.
Andaikata tidak begitu, dari tadi2 dia, sudah dapat
mempelintir putus lengan sinona.
Buru2 The Go melejit kehadapan sinona lagi. Belum
Yan-chiu sempat merobah gerakannya, sebat luar biasa The
Go ulur tangan hendak merebut. Tapi tak kalah sebatnya,
Yanchiu sudah lantas membabat kearah pinggang orang.
Saking gugupnya, gerakan Yan-chiu itu sudah tak menurut
gerakan ilmu pedang lagi. Dalam keadaan begitu, mau tak
mau The Go terpaksa loncat kebelakang dan lepaslah
cengkeramannya itu.
Terlepas dari cengkeram besi, Yan-chiu pulih
semangatnya. Cepat ia memburu dengan serangan it-wi-tokkiang.
Saking kuncup nyalinya, The Go terus hendak
panjangkan langkah, tapi tiba2 Ang Hwat cinjin kedengaran
berseru „Go-ji, apa sudah selesai?"
Dapat dibayangkan betapa bingung The Go pada saat
itu. Bukannya dapat meringkus, tapi pedangnya malah
dapat direbut sinona. Dia tahu watak Ang Hwat itu sangat
aneh sekali, yalah mengindahkan sekali pada bangsa orang
gagah. Kalau keadaannya itu sampai ketahuan Ang Hwat,
dia tentu akan dipandang hina. Maka dengan keraskan hati,
dia menyahut: „Ya, sudah hampir!", seraya menerjang pada
Yan-chiu. Kini tangannya itu sudah tambah dengan sebuah
kipas yang hendak digunakan menutuk jalan darah inghiang-
hiat.
Bermula Yan-chiu tertegun mendengar suara Ang Hwat
tadi. Tapi begitu melihat The Go maju menyerang, ia
tabaskan pedang, terus melarikan diri. Tapi pada saat itu,
The Go sudah lancarkan ilmusilat hong-cu-may-ciu. Dia
rangsang sinona rapat sekali. Beberapa, kali Yan-chiu
berusaha hendak lolos, tapi selalu gagal untuk menembus
serangan lawan yang begitu gencar itu. Lama2 Yan-chiu
murka, pedang dipindah ketangan kiri, lalu dengan jurus
Pah-ong-oh-kiang, ia menusuk tenggorokan orang.
Munculnya serangan ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat
itu telah merobah situasi pertempuran. Dari menyerang,
kini The Go beralih diserang, malah untuk menghindar dari
serangan itu, dia nampaknya sangat susah payah sekali.
Sebaliknya Yan-chiu makin dapat hati. Melihat
serangannya berhasil, ia susuli lagi dengan lain jurus dari
ilmu pedang itu yang disebut kiang-cui-kiu-jiok. Saat itu,
betul2 The Go mati kutu. Dari satu kelain tempat main
menghindar, tak terasa dia sudah mundur sampai satu
tombak lebih jauhnya.
Yan-chiu maju dua langkah lagi. Pedang diangkat, terus
hendak dibacokkan lagi. Tapi baru pedang itu melayang,
orangnya sudah loncat keluar. Maksudnya hendak lari
membiluk ditikungan lorong. Tapi se-konyong2 ada sesosok
tubuh, melayang kearahnya dan tahu2 sudah
mencengkeram bahu sinona. Kiranya orang itu bukan lain
Ang Hwat sendiri adanya.
Karena keliwat lama, dia menjadi tak sabaran lagi.
Apalagi didengarnya diluar ruangan situ agaknya seperti
ada suara pertempuran, dia segera keluar menjenguk.
Astagafirullah, bukannya murid kesayangannya itu
meringkus sinona, 'tapi' sebaliknya dia pontang panting
didesak oleh ceceran pedang sinona yang bermain dalam
jurus kiang-cui-kiujiok tadi.
Rencana melarikan diri dari Yan-chiu itu siang2 sudah
diketahui oleh Ang Hwat, siapa segera mendongak keatas
ketawa yang tiada terdengar suaranya itu. Tahu2 bagaikan
segumpal awan merah, dia sudah melayang menyerang
sinona yang segera dicengkeram bahunya itu.
GAMBAR 61
Tahu2 Yan-chiu merasa segumpal awan merah menimpah dari
udara, tiba2 Ang Hwat Cinjin menubruk, kearahnya, segera
pundaknya terasa kesakitan dan pedangpun terjatuh
......................
Merasa, bahunya keliwat, sakit seperti dijepit oleh kait
besi, Yan-chiu berpaling kebelakang. Demi tampak rambut
gimbal merah, hidung pisek mulut lebar menghias muka
Ang Hwat yang sedemikian jeleknya itu, Yan-chiu serasa
terbang semangatnya. Trang....... jatuhlah pedang kuan-wi
kelantai dari tangannya yang lemas seperti tak berurat lagi
itu. Sekali tangan Ang Hwat bergerak, Yan-chiu terhuyung2
sampai beberapa meter kemuka. Untung Ang Hwat masih
ingat kedudukannya sebagai tokoh ternama. Kalau tidak,
dia tentu sudah gunakan 8 bagian kekuatannya untuk
mendorong tadi. Dengan kepandaian yang dipunyai Yanchiu
pada waktu itu, kalau tidak terbanting hancur tentu
remuk bubuk tulang belulangnya.
Seperti telah diterangkan dibagian atas, Ang Hwat
mempunyai watak aneh, menaruh perindahan pada orang
gagah, Dia tak percaya kalau sinona itu dapat merebut
pedang The Go. Maka tadi dia hanya mendorong sedikit,
karena hendak menanyai lebih jelas. Maka walaupun jatuh
tersungkur, namun Yan-chiu tak sampai terluka berat.
Sebaliknya, The Go segera cepat2 memungut pedang itu.
Mukanya ber-seri2 girang sekali.
Mengira kalau dirinya bakal tak dapat lolos dari bahaya,
Yan-chiu tak mau unjuk rasa takut. Setelah bangkit, ia
berdiri dengan bertolak pinggang. „Go-ji, mengapa
pedangmu dapat direbut oleh budak perempuan itu ?" tanya
An-g Hwat sembari bergantian memandang kepada The Go
dan Yan-chiu.
The Go mengeluh. Kalau terus terang, tentu bakal terima
makian. Maka dia sengaja mengarang cerita, katanya:
„Ketika cucu murid agak lengah, budak itu segera
menyambar pedang yang kutaruh diujung tembok!"
„Itu masuk akal!" nada suara Ang Hwat berobah tenang
tak sebengis pertanyaannya tadi. Kini dapatlah Yan-chiu
menarik kesimpulan mengenai diri kepala gereja Anghunkiong
itu. Dengan tak mau membanting se-keras2nya,
terang kalau imam kepala itu sangat menjunjung
kehormatan nama. Apalagi dari kesimpulan
pembicaraannya dengan The Go tadi, cinjin itu sangat
menganggap dirinya sebagai tokoh persilatan yang
mempunyai kedudukan tinggi, maka diapun menempatkan
cucu muridnya itu sebagai jago kelas tinggi juga.
“Orang she The, apa kau mempunyai rahi gedek
(bermuka tebal)? Kalau tak kurampas dari tanganmu, apa
pedang itu kurebut dari cengkeram binatang kura2 ?"
dampratnya nyaring2 agar didengar Ang Hwat.
Wajah The Go berubah pucat, sedang sepasang mata
Ang Hwat menjadi beringas sekali. „Sucou, jangan percaya
ocehan budak itu. la hendak membikin provokasi supaya
kau marah. Budak macam dia, mana bisa merebut pedang
didalam tanganku!" buru2 The Go menyanggapi.
Yan-chiu tertawa gelak2. Nada ketawanya bening dan
congkak sekali. Dengan tak mengunjukkan perobahan air
muka, Ang Hwat berseru: „Budak perempuan, dari
perguruan manakah kau ini, malam2 berani mengadu biru
digereja sini? "
Pertanyaan kepala gereja itu, memberi kesempatan pada
Yan-chiu untuk merangkai siasat. Serta merta ia memberi
hormat pada Ang Hwat lalu menghaturkan keterangan:
„Hopwe (aku) adalah murid dari Ceng Bo siangjin, kepala
gereja Cin-wan-kuan dipuncak Giok-li-nia gunung Lohusan!
Aku dititahkan suhu untuk menghadap pada
cianpwe disini guna menetapkan waktu dari pertempuran
dihari pehcun itu."
„Dua negara yang bermusuhan, tak boleh membunuh
seorang utusan". Berpegang pada dalil itulah maka Yanchiu
menyatakan dirinya sebagai seorang duta. Kedengaran
Ang Hwat mendenguskan suara hidung. Untung tadi The
Go tak jadi meringkusnya, kalau tidak, tentu akan menjadi
buah tertawaan orang persilatan. Tapi diapun tak gampang2
mempercayai keterangan itu. „Adakah kau membawa surat
dari suhumu?" tanyanya.
Yan-chiu tertegun sejenak, tapi dengan tangkasnya ia
segera menyahut: „Kaum gagah dari dunia persilatan,
mulutnya berharga seperti emas. Mengapa mesti pakai
surat!"
Suatu jawaban yang tangkas dan tepat. Tapi sejenak ia
tertegun tadi, telah dipegang oleh The Go, siapa dengan
tertawa dingin lalu memberi bantahan pada sucounya:
„Sucou, jangan kena diakali. Memang benar ia adalah
murid dari Ceng Bo siangjin. Sampai pada malam ini,
siangjin itu bersama rombongannya belum tiba dikaki
gunung, bagaimana bisa menyuruh budak itu
memberitahukan kemari? Apalagi pertempuran hari pehcun
itu, sudah jelas dijanjikan secara lisan. Perlu apa
diterangkan lagi? Kuyakin, disitu tentu terselip rencana keji.
Ceng Bo siangjin dan kawan2nya itu, tentu mengiri akan
kebesaran nama dari su-cou. Kedatangan mereka kegunung
ini, rasanya tentu dengan maksud lain lagi. Bukan mustahil
mereka hendak merebut gereja Ang-hun-kiong yang
sedemikian bagusnya ini!"
Mendengar uraian The Go, rambut Ang Hwat sama
menjigrak semua. Tapi Yan-chiu masih coba berlaku
tenang, katanya dengan tertawa tawar: „Orang she The,
oleh karena takut kau digegeri sucoumu karena pedangmu
dapat kurampas, maka sengaja kau karang cerita itu, supaya
cianpwe menumpahkan kemarahannya padaku, bukan?"
Diam2 The Go mencaci maki Yan-chiu. Dia cukup
faham akan watak perangai sucounya itu. Dan
kekuatirannya itu ternyata benar. Rupanya Ang Hwat
terpengaruh oleh kata,2 sinona, katanya kepada The Go:
„Go-ji, tak peduli dengan maksud apa ia datang kemari ini,
tapi kata2nya yang menekankan bahwa ia telah berhasil
merebut pedangmu itu tadi, sungguh keliwatan. Sekarang
coba kau main2 beberapa jurus dengan dia, apa ia mampu
merebut pedangmu itu tidak!”
Mendengar keputusan sucounya itu, legalah hati The
Go.
Tapi karena Yan-chiu sudah tak berdaya, maka dia agak
lengah. Akibatnya sinona telah dapat merebut pedang kuanwi.
Kini biar bagaimana, sinona tentu tak mampu
melakukan hal itu. Maka begitu mulutnya mengiakan,
pedangnya sudah segera menusuk keulu hati Yan-chiu,
hingga sinona genit tak sempat ber-kata2 lagi. Gerak
serangan The Go itu diambil dari salah satu jurus
ilmupedang Chit-sat-kiam-hwat yang baru saja dipelajari
itu.
Ilmu pedang yang kebanyakan, jurus pembukaan tentu
bergaya menyerang musuh. Tapi ilmupedang chit-satkiahwat
itu, berlainan halnya. Bukan saja jurus
pembukaannya, tapipun seluruh permainan yang terdiri dari
49 jurus itu, semuanya merupakan jurus serangan yang
berantai ber-tubi2 susul menyusul. Sebagai achli penutuk
jalan darah, Chit-sat-kiam-hwat buah ciptaan Ang Hwat
cinjin itu selalu mengarah jalan darah lawan. Merupakan
ilmupedang yang serba guna. Maka, Ang Hwat belum mau
menurunkan ilmu pedang sakti itu, sebelum The Go
berhasil mendapatkan pedang pusaka.
The Go berotak cerdas. Setelah mendengarkan penjelas
Ang Hwat dan kemudian melakukan satu kali gerakannya,
dapatlah sudah dia mainkan ilmupedang sakti itu dengan
baiknya. „Jurus pertama „hiong mia ce hian" (nasib jelek
bintang mengunjuk) nampaknya menjuju kedada Yan-chiu,
tapi begitu melayang tiba, ujung pedang sudah mengarah
juga jalan darah thian-tho-hiat ditenggorokan orang.
Yan-chiu masih belum jelas akan maksud Ang Hwat
menyuruh The Go bertempur dengan ia lagi itu. Tapi turut
kesimpulan yang layak, kalau ia dapat merebut pedang si
The Go, tentulah akan diberi kebebasan. Dengan membawa
harapan itu, Yan-chiu tumplak seluruh perhatiannya untuk
menghadapi serangan lawan. Untuk ujung pedang yang
hendak menusuk tenggorokan itu, Yan-chiu segera
miringkan kepalanya menghindar. Hanya 3 dim saja ujung
pedang itu lalu disisi leher Yan-chiu, dan dengan girangnya
The Go jungkatkan pedang untuk menutuk jalan darah
hong-tihiat dibelakang batok kepala sinona. Untuk itu,
terpaksa Yan-chiu turunkan tubuhnya kebawah dan lagi2
dapatlah ia menghindar.
Dua buah serangan The Go itu teramat lihainya.
Semuanya merupakan serangan maut. Dan Yan-chiupun
mengetahui akan hal itu. Begitu tubuh menurun, ia segera
melangkah satu tindak kesamping. Sebelum The Go sempat
mengirim serangan baru, ia sudah lancarkan jurus kiangcui-
kiu-jiok, kiang-cui-kui-tang, yakni 2 jurus terakhir dari
ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat. Oleh karena
ilmupedang itu dimainkan dengan tangan kiri, jadi sukarlah
lawan menduga arah yang hendak diserang. Ya, memang
permainan pedang dengan tangan kiri sangat
membingungkan orang.
Serangan yang istimewa gairahnya itu, telah membuat
The, Go gugup kebingungan. Tapi pada lain saat, dia
menertawai, kebodohannya sendiri. Dia mencekal pedang
pusaka, mengapa jeri menghadapi pedang lawan yang
terbuat dari besi, baja biasa? Dengan kelebihan itu, The Go
tak mau berbanyak hati lagi. Begitu menghindar, dia terus
angkat pedangnya menabas pedang Yan-chiu, siapa baru
tersadar atas maksud The Go ketika keadaan sudah kasip.
Tiba2 Yan-chiu mendapat sebuah siasat bagus. „Trang
........ sengaja ia angkat pedangnya supaya ditabas musuh,
tapi pada, lain saat berbareng dengan kutungnya pedang itu,
The Go kedengaran menggerung keras dan ketika keduanya
saling loncat kebelakang, pedang kuan-wi sudah berada
didalam tangan Yan-chiu.
”Ang Hwat locianpwe, sudah jelas bukan?" tanya sinona
dengan garang.
The Go hendak maju menyerang lagi, tapi telah didesak,
mundur oleh tabasan pedang Yan-ciu. Sementara Ang
Hwatt cinjin sendiri juga kedengaran berseru: „Go-ji,
berhentilah! "
Tampak wajah sang sucou menjadi bengis, The Go
bercekat dan tak berani bergerak lagi. Apa yang telah
terjadi, dalam pertempuran itu, telah dilihat jelas oleh Ang
Hwat. Ketika Yan-chiu sengaja umpankan pedangnya
supaya ditabas The Go, Ang Hwat sudah mengetahui apa
yang bakal terjadi. Namun sebagai seorang cianpwe dunia
persilatan, sudah tentu dia tak mau merosotkan gengsinya
untuk membantu sang cucu murid. Maka terpaksa dia
melihati saja dengan hati mendelu.
Tatkala pedang Yan-chiu tertabas kutung, cepat bagai,
kilat, Yan-chiu timpukkan kutungan tangkai pedangnya
keperut lawan. Jarak keduanya sangat dekat sekali,
timpukan Yan-chiu cepat dan keras. The Go buru2
miringkan tubuhnya kesamping dan dari situ dia sudah
merencanakan hendak menghabisi jiwa sinona dengan
sebuah tusukan. Tapi adalah pada saat tubuhnya miring
kesamping itu, Yan-chiu sudah julurkan tangan kiri untuk
mencengkeram siku lengan The Go.
Gerakan Yan-chiu itu disebut „long tiong co biat" dalam
kantong tangkap kura2. Salah satu jurus dari ilmu gongchiu-
to-peh-jim (dengan tangan kosong merebut senjata)
ciptaan Tay Siang Siansu. Seperti telah kami paparkan
terlebih dahulu, ilmu gong-chiu-to-peh-jim itu sengaja
diciptakan oleh Tay Siang Siansu chusus untuk merebut
pedang pusaka yap-kun dan kuan-wi dari sepasang suami
isteri Hayte-kau dan Kiang Siang Yan itu. Mengingat
betapa tajamnya kedua pedang itu, maka setiap gerakan
dari ilmu silat itu harus menurut timing dan arah sasaran
yang tepat.
Sewaktu kelima jari Yan-chiu memijat siku lengan The
Go, The Go segera merasa kesemutan. Dan secepat
tangannya merangsang maju dan mencekal tangkai pedang
kuan-wi, terus dibetotnya kebelakang. The Go hanya
melongo saja ketika pedang kuan-wi itu pindah ditangan
sinona. Ang Hwat melihatnya dengan jelas. Tentang ilmu
kepandaian silat, sinona itu biasa saja. Meskipun memiliki
ilmupedang yang luar biasa, belumlah dapat digolongkan
lihay. Tapi ilmu merebut senjata tadi itulah yang luar biasa.
Karena kagum dia larang The Go bertempur lagi.
Yan-chiu girang sekali. la cukup tahu tak mungkin dapat
membawa pergi pedang pusaka itu, maka ditancapkannya
pedang itu ditanah, lalu berkata: „Rasanya persoalan hopwe
masuk kegereja sini, sudah selesai. Maka hendak Mohon
diri!" Dengan sebuah bungkukan badan memberi hormat,
Yan-chiu telah membuat Ang Hwat tak dapat berbuat apa2.
Malah untuk mengunjukkan gengsinya sebagai seorang
cianpwe yang terhormat, dia perentah The Go antarkan
sinona keluar.
Muka The Go merah padam, namun tak dapat berbuat
apa2 kecuali mengiakan. Terpaksa dia iringkan Yan-chiu
keluar. Yan-chiu tak mau lewatkan kesempatan untuk
meng-olok2, ujarnya: „Cian-bin long-kun, maafkan, hari ini
aku berlaku kurang sopan padamu!"
Biasanya selalu The Go yang mengocok orang, tapi
berhadapan dengan sigenit lincah dari Lo-hu-san, dia
meringis seperti monyet kena terasi. Setelah keluar dari
pintu, Yan-chiu tak mau berayal lagi terus ber-gegas2 turun
gunung, dan mencari sebuah penginapan. Teringat akan
avontuurnya (petualangan) tadi, dimana jiwanya hampir
saja melayang, ia bergidik sendiri. Keesokan harinya, belum
juga Ceng Bo siangjin dan rombongannya kelihatan datang.
Memang hari pehcun masih kurang seminggu. Syukur ia
masih mempunyai uang cukup, jadi tidak sampai
kerepotan.
--oodwkzOTAHoo—
Kini marilah kita tengok keadaan Ceng Bo siangjin yang
sudah lama kami tinggalkan. Setelah berpisah dengan Nyo
Kong-lim, Ki Ce-tiong serta Kiauto, dia menuju ke Hudkong
tempat kediaman ayah dari Ko Kui, itu Cecu dari
markas no. 1 gunung Hoa-san yang telah gugur ditangan
The Go. Mendengar kisah kematian sang putera yang
mengenaskan itu, Sin-eng (garuda sakti) Ko Thay seperti
disambar petir. Malam itu juga dia ajak Ceng Bo siangjin
menuju ke Ko-to-san. Sebenarnya kedua tokoh itu belum
kenal mengenal, tapi karena keduanya adalah orang2 gagah
yang berwatak ksatrya, maka dalam sekejab saja mereka
sudah menjadi seperti kenalan lama.
Gelar dari Ko Thay adalah „sin eng". Ilmunya
mengentengi tubuh luar biasa hebatnya. Senjatanya juga
luar biasa, sepasang eng-jiao-thau (sarung cakar garuda),
dapat dibuat menutuk 80 buah jalan darah orang. Hebatnya
bukan, terkira. Begitulah setelah tiba di Kwiciu, lebih
dahulu Ceng Bo ajak Ko Thay singgah kegereja Liok-yongsi.
Tapi disitu baik Tay Siang Siansu maupun Kiau To,
sudah tak tampak. Kini mereka lanjutan perjalanannya
dengan perahu.
Menjelang petang hari, tibalah mereka, dikota Sun-tik.
Ko Thay yang sedang dirangsang oleh hawa kemarahan
karena kematian puteranya, tampak berdiri dihaluan perahu
sambil memandapg alun riak gelombang sungai. Begitu
bernafsu rupanya jago tua itu, hingga seandainya bisa, saat
itu ingin dia sudah berada di Koto-san untuk mengadu jiwa
dengan Ang Hwat cinjin, kemudian mencincang Cian-bin
Long-kun. Tahu akan perasaan hati orang, Ceng Bopun tak
mau menggerecok. Begitulah diatas geladak, kedua orang
itu sama2 diam tak ber-kata2. Se-konyong2 dari hulu sungai
disebelah muka sana tampak meluncur sebuah perahu kecil.
Tapi walaupun hanya kecil, perahu itu dapat meluncur
dengan pesatnya. Siorang yang mengemudikan perahu itu,
mencekal sebatang galah bambu. Rupanya dia galak sekali.
Setiap ada lain perahu yang menghadang jalanannya, sekali
congkel dapat diterbalikkan semua.
GAMBAR 62
Sedang Ceng Bo Siangjin dan Ko Thay mengawasi suasana
sungai itu dihaluan perahu, tiba2 dilihatnya di depan sana lagi
mendatangi sebuah perahu lebih kecil, seorang dengan galah
panjang tampak membikin perahu2 nelayan disampingnya
menjadi pontang-panting.
Ceng Bo dan Ko Thay marah atas perbuatan orang itu,
yang dari dandanannya agaknya adalah bangsa paderi.
Tubuhnya kecil kurus tapi pakaiannya besar. Galah itu
hampir satu tombak panjangnya, namun dia dapat
memainkannya dengan leluasa sekali, jadi terang kalau
memiliki kepandaian yang berarti juga. Dengan cepatnya,
perahu itu telah meluncur kearah perahu Ceng Bo. Kembali
tampak galah diangkat keatas dan beberapa perahu mayang
(tangkap ikan) terbalik. Beberapa nelayan men-jerit2 kalang
kabut kecebur dalam air.
Ceng Bo tak dapat menahan kemarahannya lagi. Sekali
enjot, dia loncat kearah tali temali perahunya. Dengan
sekali sentak, putuslah tali temali tiang besar dari perahu
itu, hingga kini, perahu itu berputar membujur ditengah
sungai. Tepat pada saat itu, perahu kecil tadipun sudah tiba.
Kiranya siorang ganas tadi adalah seorang hweshio yang
Ceng Bo dengan segera dapat mengenalinya sebagai To
Kong hwatsu, itu salah seorang dad sam-tianglo gereja Cihunsi
dari gunung Lam-kun-san. Sebaliknya To Kong
belum mengetahui siapakah Ceng Bo dan Ko Thay itu.
Yang diketahuinya, ada sebuah perahu besar menghadang
ditengah jalan, maka galah segera diturunkan kedalam air
lalu disentakkan keatas mencongkel haluan perahu
penghadang itu.
Belum Ceng Bo bertindak, Sin-eng Ko Thay sudah
tertawa dingin seraya enjot tubuhnya melayang jatuh diatas
galah. Sekali gunakan tenaga menginjak, maka tangan
sihweshio yang memegangi, itu menjadi terkulai. „Bangsat
gundul, orang katakan kaum pertapaan itu menjunjung
welas-asih mengagungkan peri-kebajikan. Tapi ternyata kau
adalah kebalikannya, apa artinya itu ?" seru Ko Thay seraya
perdengarkan suara ketawa yang dingin.
To Kong terbeliak kaget. Masa seorang tua yang
bertubuh kate dan nampaknya tak punya kepandaian apa2
itu, dapat membuat tangannya terkulai lemas. „Ho....!, tua
bangka yang tak tahu diri, besar nyalimu berani mengusik
tuanmu ini!" seru To Kong sembari kibaskan tangannya.
Jangan pandang kalau ketiga hweshio Ci-hun-si bertubuh
kurus2, tapi tenaga mereka luar biasa mengagumkan. Sekali
gerakkan tangannya tadi, galah berikut Ko Thay yang
menginjak diatasnya, sama terlempar setombak tingginya.
Air disungai situ deras sekali arusnya, kala itu perahu
sihweshio sudah merapat, kedekat perahu Ceng Bo. Ceng
Bo yakin bahwa Ko Thay cukup dapat mengatasi
sihweshio, maka diapun tak menaruh kekuatiran melihat
kejadian tadi. Sebaliknya dia malah lemparkan sauh untuk
mengait perahu sihweshio. Suara gerodakan yang keras dari
sauh itu, telah membuat dua orang hweshio muncul diatas
geladak. Mereka bukan lain adalah To Ceng dan To Bu.
Berbareng pada saat itu, dipermukaan air terdengar suara
keras dari, benda yang kecemplung. Kiranya itulah suara
galah dan Ko Thay yang jatuh kedalam air. Tapi tak
kecewalah Ko Thay mendapat julukan si Garuda Sakti (Sineng).
Kira2 terpisah beberapa inci dari permukaan air, dia
goyangkan tubuhnya dalam gerak hui-yan-liap-bo (burung
walet menobros ombak), melesat naik setombak tingginya,
kemudian disambung dengan gerak ko-cu-boan-sim (burung
merpati membalik diri) dia sudah injakkan kaki diatas
haluan perahu. „Bek-heng, ketiga bangsat gundul itu
keliwat jahat! "
Tapi belum Ceng Bo membuka mulut, diperahu sana To
Ceng sudah berseru dengan mengejek: „Ceng Bo siangjin,
apakah kau hendak cari perkara dengan pinceng bertiga ini?
Kiranya ketiga hweshio itu mempunyai urusan penting
hendak ber-glegasi! menuju kegereja Ang-hun-si di Ko-tosan.
Sedikitpun mereka tak menyangka, kalau ditengah
perjalanan itu kesamplokan dengan Ceng Bo dan Ko Thay.
Atas pertanyaan sihweshio tadi, Ceng Bo tak ambil
perhatian, Ko Thay mengawasi tajam2 kearah ketiga
hweshio itu.
”Bek-heng, siapakah ketiga bangsat gundul itu?"
tanyanya. „Oh, mereka adalah sam-tianglo dari Ci-hun-si!"
sahut Ceng Bo.
„Bukankah mereka sudah berhamba pada tentara Ceng?
Ah, kebenaran sekali, jangan lepaskan mereka!" kata Ko
Thay.
„Ha, macam kau mau unjuk tingkah!" To Kong
perdengarkan ketawa menghina. Mereka rupanya tak mau
lama2 tertahan disitu. Sembari ber-kata2 tadi, To Kong
sudah angkat tanganya yang berwarna ke-hitam2an untuk
menabas rantai sauh yang menahan perahunya. Ko Thay
tertawa meringkik. Sekali mengayun tubuh, dia, injak rantai
itu dengan sebelah kakinya, yakni dalam sikap Kim-kee-toklip
(ayam emas berdiri dengan sebelah kaki). Tanpa jeri2
akan riak arus sungai yang begitu derasnya, dia tendang
tangan To Kong tadi.
Menampak tendangan orang itu mengarah jalan darah
yang-ko-hiat, tahulah To Kong bahwa dia berhadapan
dengan seorang achli tutuk yang jempol. Tarik tangannya
kebelakang, dia berganti menghantam betis orang. Ketika
diinjak tadi, rantai ber-goyang2 kian kemari. Dengan
meminjam gerak ayunan rantai itu, Ko Thay enjot
tubuhnya keatas sampai satu tombak tingginya. Sudah tentu
hantaman To Kong tadi mengenai angin.
Buru2 hweshio itu surut kebelakang, tapi diatas umbun2
kepalanya terasa ada angin menyambar. Selagi melayang
diatas, jari tengah Ko Thay menjulur kebawah untuk
menutuk jalan darah peh-hui-hiat sihweshio. To Ceng dan
To Bu terperanjat, serempak mereka maju menolong
dengan menghantam pada Ko Thay. Turut situasinya,
karena berada diatas udara, Ko Thay tentu sukar untuk
menghindar, Tapi Garuda Sakti itu hebat sekali
ilmumengentengi tubuhnya. Hanya sedikit dia menyurut
kebelakang, lalu melayang turun. Kedudukan tubuhnya
tetap, berada diatas kepala kedua orang tadi, siapa buru2
menyingkir kesamping.
„Bangsat gundul, sepasang hay-kim-eng-jiao-thau itu,
mengapa bisa berada padamu?!" tiba2 Ko Thay berseru
dengan bengis demi dilihatnya senjata marhum puteranya
terselip dipinggang To Ceng hweshio. Sebagaimana
diketahui, setelah Ko Kui meninggal, maka sepasang cakar
garuda itu telah diberikan Nyo Kong-lim kepada Tio Jiang.
„Tanya saja pada Ceng Bo siangjin," sahut To Ceng
dengan dingin.
„Apakah senjata itu kau dapat rampas dari Tio Jiang?
Dimana anak itu ?" Ceng Bo bertanya dengan kaget.
To Ceng ter-kekeh2, sahutnya: „Dimana anak itu,
sebagai suhunya kau tak mengetahui, bagaimana suruh
kami mengetahui? Apakah dia tidak menjadi orang hutan
dipegunungan Sip-ban-tay-san sana?"
Memang pada jaman itu, pegunungan Sip-ban-tay-san
masih merupakan daerah yang belum terbuka. Adalah
suatu hal yang kebenaran saja, kata2 mengejek dari To
Ceng itu, memang tepat dengan kenyataannya. Karena kala
itu Tio Jiang sedang ikut pada Kui-ing-cu menjelajah
digunung tersebut guna menolong Bek Lian.
„Mengapa dia berada di Sip-ban-tay-san? Kau apakan
dia?" tanya Ceng Bo pula. Sebagai orang alim, dia tak
mengerti jatuhnya kata2 sihweshio yang sebenarnya
hanyalah suatu kiasan saja.
--oodwkzOTAHoo—
Sebaliknya Ko Thay yang begitu mendukai kematian
puteranya itu, tak dapat bersabar lagi. Dia tumpahkan
seluruh kemarahannya pada diri ketiga hweshio itu.
Dengan menggerung laksana seekor harimau kelaparan, sekonyong2
dia loncat keatas udara. Sejenak berputar-putar,
tangannya sudah pakai sepasang sarung cakar garuda atau
eng-jiao-thau. Sret...., sret...., sret...., senjata itu sudah
berkelebat mengarah jalan darah peh-hui-hiat di-umbun2
ketiga hweshio.
Terperanjat ketiga hweshio itu, bukan alang-kepalang.
Perahu sedemikian kecilnya, sukar untuk menghindar.
Mereka mempunyai urusan penting, tak mau tertahan
lama2. Apalagi demi ditilik dari gerak-geriknya yang
sedemikian lihaynya, mereka menduga, orang-tua itu
tentulah Sin-eng Ko Thay, maka tanpa ajak2an lagi, mereka
segera buang dirinya kebelakang, dan blung...., blung....,
blung..... ketiganya sama mencebur kedalam sungai.
„Hendak lari kemana, kau bangsat gundul?" seru Ko
Thay sembari menyusul terjun kedalam air. Dengan
gunakan ilmu mengentengi tubuh sakti „li hi thian liong
bun" (ikan le-hi loncat kepintu naga), dia melesat
dipermnukaan air dan menyamber punggung To Ceng yang
hendak menyelam kedalam. To Ceng hendak kerahkan
lwekangnya untuk melawan, tapi Ko Thay cepat sudah
membuatnya tak berdaya, dengan menutuk jalan darah sinto-
hiat di punggungnya. Sekali melempar, tubuh To Ceng
melayang jatuh diatas geladak perahu, kepalanya pusing
tujuh keliling.
GAMBAR 63
„Bangsat gundul, jangan lari !" bentak Ko Thay sambil
meloncat keatas dan memakai sepasang sarung tangannya „Engjiau-
thiau" atau sarung cakar elang, terus menyerang ketiga
Hweshio itu.
Hendak Ko Thay menangkap dua, hweshio lainnya, tapi
mereka ternyata sudah menghilang lenyap didalam arus.
Apa boleh buat ....... Ko Thay loncat kembaii keatas
perahu. Begtu mencabut eng-jiao-thau yang terselip
dipinggang To Ceng, dia mendupak dengan ujung kakinya,
kepunggung orang, hingga walaupun jalan darahnya tadi
dapat dibebaskan namun orangnya bergelundungan diatas
geladak. Ko Thay susuli lagi dengan sebuah tendangan dan
blung ....... tubuh To Ceng terlempar kedalam sungai.
Begitu jatuh kedalam air, To Ceng terus menyelam.
Untunglah ketika itu tepat ada sebuah perahu berjalan
disitu. Cepat2 dia menggelandoti bagian bawahnya untuk
lolos.
Ko Thay rupanya sudah puas menumpahkan hawa
kemarahannya. Dia tak mau mengejar lagi. „Bek-heng, kau
mengapa ?" malah dia segera menegur Ceng Bo demi
dilihatnya siangjin itu diam ter-longong2 saja.,
„Senjata itu berada pada muridku, entah bagaima
mereka telah dapat merampasnya. Tadi mereka
mengatakan, muridku itu berada di Sip-bon-tay-san,
kukuatir jangan2 dia mendapat bahaya" sahut Ceng Bo. Ko
Thay dapat mengerti perasaan orang, Oleh karena hari
pehcun masih agak lama, dia usulkan pergi dulu
kepegunungan itu.
Sudah tentu ajakan itu disambut dengan gembira oleh
Ceng Bo, siapa ternyata hanya lahirnya saja berlaku bengis
tetapi dalam batinnya dia sangat menyayang akan
muridnya yang jujur dan berbudi itu. Begitulah mereka
segera mendarat. Kurang lebih 4 hari saja, tibalah sudah
mereka dipegunungan Sip-ban-tay-san. Kala itu, tepat
saatnya Yan-chiu ambil selamat berpisah dengan Kui-ing-cu
dan Sik Lo-sam. Andaikata ia berangkat 2 jam kemudian,
tentulah dapat ber-junipa dengan Suhunya.
Melihat keadaan pegunungan Sip-ban-tay-san yang
hutan belantaranya sedemikian luas itu, Ceng Bo sudah
setengah putus asa. Untuk mencari seseorang dalam tempat
macam begitu, adalah laksana hendak mencari sebatang
jarum ditengah laut. Tapi suatu kejadian yang tak disangka2
muncul. Tengah kedua orang itu tertumbuk
fahainmnya (tak tahu harus berbuat bagaimana), secara
kebenaran mereka bersua dengan dua orang pemburu,
seorang tua dan seorang masih muda. Ceng Bo menyakan
hal itu kepada sipemburu tua.
„Ada..., ada...! Rupa2nya dalam beberapa hari terakhir
ini Sip-ban-tay-san mendapat kunjungan beberapa orang
asing. Beberapa hari yang lalu, ada seorang pemuda
bersama seorang nona yang cantik sekali naik keatas.
Menyusul ada 4 orang lagi, seorang nona, seorang pemuda,
seorang lelaki tinggi besar dan seorang lelaki setengah tua,
menuju kelembah pegunungan ini," menerangkan
sipemburu tua itu.
Ceng Bo hanya dapat menduga kalau seorang tinggi
besar itu tentulah Nyo Kong-lim, sipemuda dalam
rombongann kedua itu tentulah Tio Jiang sedang sinona itu
tentu Yan-chiu. Tapi yang Iain2nya, dia tak dapat mengirangirakan
siapa adanya. Tapi dia yakin orang2 itu tentu ada
suatu urusan penting digunung situ. Maka setelah
menanyakan jalanan dan mengucapkan terima kasih, Ceng
Bo dan Ko Thay minta diri dari sipemburu tua yang makin
tak habis mengerti.
--oodwkzOTAHoo--
Menjelang tengah hari, keduanya sudah berada ditengah2
hutan pegunungan situ. Tiba2 dilihatnya ada
sesosok bayangan berkelebat. Dari potongan tubuh, terang
orang itu seorang wanita. „Hai....., siapa', itu?!" seru Ko
Thay. Ceng Bo lebih terperanjat lagi. Dari potongan
tubuhnya yang langsing dan dandanannya, tahulah dia
kalau wanita itu adalah puterinya sendiri, si Bek Lian. Apa
yang disebut oleh sipemburu tua tentang seorang nona
cantik, tentulah Bek Lian.
Dan pemuda cakap yang datang bersama dengan Bek
Lian itu, siapa lagi kalau bukan The Go.
„Tahan!" tiba2 dia berseru nyaring hingga
menggemparkan suasana pegunungan yang sedemikian
lelapnya itu.
Wanita yang berkelebat disebelah depan tadi, memang
Bek Lian adanya.
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 34 : SETAN BERKEPALA DUA
Seperti telah diterangkan dibagian atas, dengan angkuh
dan getasnya Bek Lian tak mau ikut dengan rombongan
Kui-ing-cu. Begitu tinggalkan puncak Thiat-nia, ia segera
keluar masuk menyusup hutan pegunungan situ. Karena tak
kenal jalanan, ia ke-sasar2 tak karuan. Setengah harian
berjalan itu, ia merasa lelah dan lapar. Duduklah ia diatas
sebuah batu, sambil memakan biji buah siong untuk
penahan lapar. Sambil duduk melepaskan lelah, pikirannya
melayang akan diri Cian-bin Long-kun. Teringat ia akan
sikap dan perbuatan kekasihnya itu selama mengajaknya
keatas gunung. Aneh, mengapa tahu kalau ia (Bek Lian) tak
pernah minum, tapi kekasih itu memaksanya? Aneh-pula
mengapa setelah ia tersadar sang kekasih itu sudah tak
nampak disitu ?
GAMBAR 64
Sesudah ubek2an kian kemari, achirnya Bek Lian merasa letih,
ia daduk ter-menung2 diatas sebuah batu memikirkan kelakuan
kekasihnya yang aneh
Bagi orang yang sadar, tentu segera, dapat menarik
kesimpulan apa yang telah terjadi. Tapi karena perangainya
yang angkuh, sombong itu, tambahan pula ia sudah buta
dengan asmara, maka biar bagaimana juga tak mau ia
menuduh sang kekasih itu sebagai orang jahat! Sekalipun
begitu, hatinya mulai bersangsi juga. Pada waktu itu ia
sudah hamil, 4 bulan lebih, jadi mulai malas2an. Dihempas
oleh siliran angin yang nyaman ditengah pegunungan sunyi
itu, ia merasa tenteram. Ia rebahkan diri dan tertidurlah ia
dengan pulasnya.
Keesokan harinya ketika hari sudah tinggi, barulah ia
terjaga. Baru ia hendak lanjutkan perjalanannya lagi, sekonyong2
dari sebelah muka sana tampak ada dua orang
mendatangi. Salah seorang yang memakai pakaian
pertapaan itu, adalah ayahnya sendiri. Sudah tentu ia
menjadi ketakutan dan lekas2 menyelinap kesamping untuk
bersembunyi.
Tak jauh dari situ dilihatnya ada sebuah sela2 lubang
batu yang tiba cukup untuk dimasuki satu orang. Disekitar
sela batu itu, penuh ditumbuhi dengan semak2 rumput,
sedang disana sini akar2 rotan me-lingkar2 menutupinya.
Kalau orang tak memperhatikan dengan perdata, tentu tak
mengetahui adanya sebuah sela sempit itu. Karena tak
mempunyai lain pilihan lagi, Bek Lian segera lari masuk
kesitu.
Tepat ia menyelinap masuk, tepat terdengar seruan Ceng
Bo yang menggetarkan empat penjuru itu. Ternyata sela
sempit itu merupakan pintu masuk dari sebuah lorong gua
yang dalam sekali. Dengan ber-ingsut2, ia masuk agak
kedalam.
„Hai, kemana budak hina itu bersembunyi ?" tiba2
kedengaran Ceng Bo berseru. Dan sret, kedengaran sesosok
tubuh loncat keatas sebuah puhun. Rupanya seseorang
hendak meninjau kesekeliling tempat itu dari atas.
Bek Lian makin ketakutan dan ber-ingsut2 makin
kedalam. Heran, lorong yang bermula sedemikian
sempitnya itu, makin kedalam makin lebar. Ia terus masuk
makin jauh dan suara Ceng Bopun makin tak kedengaran
jelas. Nyata ayahnya sudah tak berhasil menemukan tempat
persembunyiannya itu. Legalah hati Bek Lian.
Bek-heng, tak jauh dari sini, ada seorang wanita ber-urai
rambut tampak sedang berjalan dengan ilmu mengentengi
tubuh yang niengagumkan sekali!" seru Ko Thay dari atas
sebatang puhun. Kiranya yang kedengaran loncat kepuhun
tadi, dialah. Ceng Bo segera dapat menduga, wanita itu
tentulah isterinya, Kang Siang Yan. Sejak berpisah di
Hoasan, dia belum berjumpa lagi dengan sang isteri itu.
Entah sudah dapatkah ia mencari pedang pusakanya itu?
Diapun menduga kalau Bek Lian tentu bersama dengan
ibunya itu. Biar bagaimana dia tak suka melihat wajah
puterinya itu. „Ko-heng, mari kita lanjutkan perjalanan
lagi!" dengan menghela napas, ia segera ajak sahabatnya itu
berlalu.
Pernah juga Ko Thay mendengar tentang peristiwa
perpecahan suami isteri Hay-te-kau dan Kiang Siang Yan,
maka tanyanya: „Bek-heng, apakah jangan2 wanita itu
Kiang Siang Yan adanya?"
Benar, 10 tahun lamanya ia meyakinkan ilmu Thay-imlian-
seng dari Lam-hay Hu Liong Po. Kini ia lebih lihay
dari kita berdua, hanya sayang perangainya berobah aneh,
ah......." Ceng Bo menghela napas, lalu menuturkan tentang
kelakuan puterinya yang telah tersesat jatuh cinta pada The
Go, serta bagaimana isternya itu (Kiang Siang Yan)
memihak puterinya. Ko Thay pun seorang jantan yang
berhati blak2an, kontan dia menge-luarkan isi hatinya:
„Amboi, ah..... kalau begitu aku harus lekas2 mencari anak
itu. Kalau dia, sudah terlanjur menjadi menantumu, tentu
aku tak dapat melampiaskan dendam puteraku!"
Ceng Bo siangjin tertawa kecut. „Harap Ko-heng
lapangkan dada, aku tentu akan membantumu!" Ceng Bo
memberikan janjinya. Baru kurang lebih setengah bulan
kedua orang itu saling berkenalan, tapi Ko Thay cukup
mengetahui peribadi tokoh siangjin yang berbudi luhur itu,
ujarnya: „Bagus, itulah laku seorang sahabat sejati!"
--oodakzOTAHoo--
Mereka tak lanjutkan pengejarannya lagi kepada Bek
Lian, Setelah melintasi sebuah puncak, didengarnya dari
hutan yang disebelah muka sana ada suara auman binatang
buas. Bagi kedua orang, hal itu tak dihiraukan. Tapi baru
berjalan beberapa langkah, se-konyong2 terdengar sebuah
suara jeritan aneh, menyusul seekor orang utan besar
menyerang keluar.
Ceng Bo yang luas pengalamannya, segera tahu makhluk
itu tak boleh dibuat main2. Secepat mencabutt pedang yap
kunnya, ia melesat menyongsong maju. Kiranya orang utan
itu adalah si Toa-wi, itu binatang piaraan Yan-chiu.
Rupanya binatang itu tahu juga akan kelihayan pedang
pusaka yap-kun. Dengan menguak2, dia segera berputar
kebelakang melarikan diri. Sewaktu Ceng Bo dan Ko Thay
mengejar, mereka segera terperanjat melihat tak jauh
disebelah muka sana, tampak Sik Lo-sam dan Kui-ing-cu
duduk bersila. Wajah Sik Lo-sam, tampak mengerut
dahinya yang penuh becucuran butir2 keringatnya sebesar
biji kacang. Sedang Kui-ing-cu tampak meram melek,
ubun2 kepalanya mengeluarkan segumpal hawa panas.
Ceng Bo dan Ko Thay adalah tokoh persilatan yang
berilmu tinggi. Sekali melihat tahulah mereka kalau Sik-
Losam itu sedang menderita luka dalam yang parah.
Sementara Kui-ing-cu tengah bantu mengobati dengan cara
penyaluran tenaga lwekang. Benar cara itu dapat memberi
hasil bagus, tapi orang yang mengobati itu tentu menderita
sendiri, tenaga-murninya banyak hilang dan salah2 bisa
menjadi seorang yang tanpaguna lagi.
Ceng Bo pernah berjumpa dengan Kui-ing-cu ketika
diluitay gunung Gwat-siu-san, Sebaliknya Ko Thay tak
kenal sama sekali akan kedua tokoh itu. Tapi keduanya
(Ceng Bo dan Ko Thay) adalah tokoh2 persilatan yang
luhur budi, menampak ada lain kaum persilatan yang
mendapat kesusahan, tanpa diminta lagi mereka ulurkan
bantuannya, Ceng Bo menghampiri dan ulurkan tangannya,
hingga tangan Kui-ing-cu tadi tergeser kesamping sedikit.
Kini kedua orang itu bersama meletakkan telapak
tangannya dipunggung Sik Lo-sam bagian jalan darah lengthay-
hiatnya.
Ko Thay tak mau ketinggalan. Diapun lalu
menempelkan tangannya kearah jalan darah ban-kay-hiat
didada, Sik Losam. Kini ketiga tokoh itu salurkan
lwekangnya untuk bantu mengobati luka Sik Lo-sam.
Segera Ceng Bom engetahui kalau sikate limbung itu
terkena pukulan lwekang thay-im-ciang yang lihay. Tanpa
terasa dia menghela napas. Sebaliknya setelah mendapat
bantuan kedua tokoh lihay itu, Kui-ing-cu merasa enakan,
ujarnya dengan riang: „Hayte-kau, aneh juga mengapa
kalian sepasang suami isteri itu, berlainan perangai!"
Ceng Bo tertawa kecut, sahutnya: „Harap Kui-heng
jangan menertawainya!"
Mendengar disebutnya nama itu, Ko Thay sangat
terperanjat, tanyanya: „Jadi kau ini orang she Kui ?"
„She apa aku ini sebenarnya, lupalah aku sudah. Tapi
orang hanya menyebutku si Kui-ing-cu saja!" sahut Kuiingcu
dengan tertawa.
„Ah, lama nian aku mengagumimu!" kata Ko Thay.
Sebaliknya Kui-ing-cupun segera balas menanya:
„Bukankah cunke (anda) ini Sin-eng Ko Thay?"
Ko Thay gembira sekali mendapatkan orang yang
dikagumi itu, ternyata juga seorang jantan yang jujur suka
berterus terang. Maka dengan serta merta dia mengiakan.
Mendengar itu, segera Kui-ing-cu berkata: „Ko-heng tentu
juga akan hadir dalam pertemuan di Ko-tosan. Dengan
adanya gangguan ini, walaupun tak sampai terlambat
datang kesana, tapi sangat merugikan tenaga Ko-heng!
Menjengkelkan adalah tua bangka kate ini, kepandaiannya
kecil, tapi merugikan besar pada lain orang !"
Sejak mendengar ketiga orang itu berbicara, Sik Lo-sam
sudah kepingin turut omong. Maka begitu Kui-ing-cu
memakinya, segera tak tahan lagi dia. „Kui~ing-cu,
mungkin saja kau bisa memberi sebuah gebukan pada
wanita itu, tapi aku sudah menggebuknya satu kali!" dia
menjerit.
„Sik Lo-sam, bagaimana kalau kau kancing dulu
mulutmu itu.?" sahut Kui-ing-cu sambil tertawa. Sik Lo-sam
menurut. Memang setelah mendapat penyaluran lwekang
dari ketiga tokoh lihay itu, hawa dingin yang menyerang
tubuhnya mulai berkurang, berganti dengan hawa hangat.
Ketika malam tiba, dia sudah separoh bagian baik, terus
mengorak sila hendak berdiri. Melihat kalau sikate limbung
itu belum sembuh betul, ketiga orang itu-memaksanya
supaya duduk bersila lagi, Keesokan harinya, barulah ketiga
orang itu lepaskan tangannya dan menghela napas legah.
Sehari semalam menyalurkan lwekang itu, mereka
bertiga menjadi lelah sekali, karena hal itu sama dengan
bertempur ma'Li2an. Betul tenaga mereka tak hilang sama
sekali, tapi toh separoh bagian lenyap. Kepulihannya
memerlukan waktu ber-bulan2.
Se-malam2an itu, Kui-ing-cu telah menuturkan
pengalamannya memasuki daerah suku Thiat-theng-biau
digunung Sip-ban-tay-san situ. Setelah itu, dia bertanya
bagaimana Ceng Bo juga datang kesitu. Mendengar
keterangan bahwa Ceng Bo telah ditipu oleh To Ceng, Kuiing-
cu tertawa gelak2. Keesokan harinya dapatlah Sik Losam
bebas dari hawa maut-yang merangsang tubuhnya itu.
„Aku diberi mata, kalau sampai tak dapat melihat
keramaian di Ang-hun-kiong itu, bukantah penasaran
sekali?!" seru silimbung seenaknya sendiri.
Setelah beristirahat sebentar, mereka menuju kerawa
Hek-cui-than. Tapi sampai sekian lama menyelidiki, mereka
tak berhasil menemukan jejak Tio Jiang dan Nyo Kong-lim.
Menduga kalau mereka berdua sudah tinggalkan gunung itu
menuju ke Ko-to-san, ke-empat tokoh itu segera tinggalkan
pegunungan Sip-ban-tay-san berangkat ke Ko-to-san.
--oodwkzOTAHoo--
Sekarang Mari kami ajak pembaca menengok keadaan
Bek Lian. Makin masuk kedalam gua, makin ia tak
mendengar lagi suara ayahnya. Ternyata jalanan disitu,
lebar sempit tak berketentuan, ber-liku2 bahkan ada
persimpangannya juga. Merasa sudah cukup lama
bersembunyi, ia yakin ayahnya tentu sudah pergi. Tapi
ketika ia berjalan balik ternyata ia tak dapat menemukan
lubang pintu tadi. Bek Lian makin gelisah, Diketahuinya
tempat itu adalah lamping dari sebuah puncak gunung yang
tinggi. Kalau ia sampal tak berhasil menemukan pintu
keluar tadi, bukankah akan celaka nanti? la percepat
kakinya menyusuri lorong jalan itu, tapi ber-jam2 lamanya,
ia tetap tak berhasil. Malah pada saat itu ia berada disebuah
tempat yang gelap. Disekelilingnya merupakan batu karang,
agaknya seperti berada disebuah gua. Jalanan disitu
sebentar agak lebar, tapi ada kalanya, hanya tiba cukup
untuk dilalui oleh seorang saja.
Saking putus asa, Bek Lian mendumprah ditanah,
menangis ter-sedu2. Entah sudah berapa, lama ia menangis
Aitu. Ketika didengarnya disana sini riuh rendah dengan
kumandang suara tangisannya, ia menjadi ketakutan sendiri
lalu berhenti menangis. Kini ia berbangkit untuk berjalan
lagi. la telah menetapkan arah jalannya, yaitu terus berjalan
lempang takk mau mem-biluk2 lagi. Tak berapa lama
kemudian, ia mendengar ada suara air mengalir.
Maju lagi beberapa meter, kakinya terasa dingin, ketika
dirabanya, ternyata, tanah disitu becek berair, kiranya ada
beberapa inci tingginya. Rupanya air itu berasal dari tengah
gunung yang tak dapat mengalir keluar sampai ber-tahun2.
Karena sangat haus, tanpa hiraukan bersih tidaknya, Bek
Lian segera merangkumnya sepasang lengan mengambil
air, lalu diminumnya. Nyaman juga air itu rasanya,
sehingga tubuhnya terasa segar. Disebelah muka sana
dilihatnya air makin banyak. Dan ketika dihampirinya, air
sampai merendam betis tingginya.
Makin melangkah kemuka, Bek Lian rasakan tanah
rendah, jadi makin dalam airnya. la sudah segera akan
balik. ketika samar2 dilihatnya disebelah muka sana seperti
ada. bagian permukaan air yang kilau kemilau tertimpa
sinar.
Diam-diam, ia menjadi girang. Kalau tiada lubang
menembus keluar, Masakan ada sinar matahari dapat
menemblis kesitu? Ah, siapa tahu kalau2 disana ia akan
berhasil menemukan jalan keluar. Dengan tangan
menempel pada dinding gua itu, ia maju kemuka.
Kira2 3 - 4 tindak jauhnya air sudah sampai kebatas
perut, Bek Lian bersangsi, baik teruskan atau tidak. Kalau
surut balik, terang ia bakal terkurung disitu seumur hidup,
ah......, lebih baik ia maju saja, siapa tahu mungkin ada
harapan. Ternyata setelah itu, tanah yang terendam air itu
agak rata.
Baru ia tersadar kalau dirinya berada di-tengah2 sebuah
gua berair. Oleh karena sekian lama berada ditempat gelap,
lama2 ia sudah biasa dengan keadaan dan samar2 dapat
juga melihat keadaan disekelilingnya. Entah berapa dalam
air disebelah muka nanti, karena pada saat itu air sudah
sampai dibatas dada dalamnya.
Lama kelamaan Bek Lian merasa lelah juga. Ia berhenti
sejenak, bersandar pada dinding gua sembari meramkan
mata. Ketika ia hendak mengheningkan pikiran memulang,
semangat, tiba2 didengarnya disebelah muka sana ada suara
air beriak beberapa kali. Waktu membuka mata mengawasi,
kagetnya bukan alang kepalang.
Kiranya dimulut gua sana, terpisah kira2 3 tombak
jaraknya dari tempat Bek Lian, ada semacam makhluk aneh
sedang mondar mandir. Dikatakan aneh karena walaupun
ditilik dari bentuknya makhluk itu adalah seorang manusia,
tapi sebatas pundaknya kebawah terendam air. Tapi diatas
pundaknya itu terdapat dua buah kepala!
Bermula Bek Lian mengira kalau matanya yang berkunang2,
maka lalu di-sapu2 dengan tangannya. Tapi
ketika diawasinya dengan perdata lagi, ah..., benar2 orang
itu mempunyai dua buah kepala........ Saking, takutnya,
jantung Bek Lian terasa berdetakan keras.
Barang siapa masuk kedalam perut gunung yang
mysterius (pelik) itu tentu takkan hidup lama. Kalau toh
disana ada makhluk manusia yang sedemikian anehnya, tak
salah lagi tentu bangsa, siluman, demikian pikir Bek Lian.
Dengan ber-ingsut2 ia segera balik mundur ketempatnya
tadi. Yakni dibagian yang dangkal airnya. Sekalipun sudah
jauh, masih juga ia kuatir jangan2 siluman itu akan
mengejarnya. Maka ia diam menahan nafas untuk mencari
akal.
Namun sampai sekian lama, tiada tampak ada kejadian
apa2. Achirnya Bek Lian menyangsikan. dirinya, jangai2
tadi ia sudah salah melihat Bangsa siluman apapun juga,
tiada ada yang berkepala dua.
Mundur kembali, hanya gelap gulita yang dijumpainya.
Sebaliknya disebelah muka sana, tampak ada cahaya
penerangan. la putuskan, maju lagi. Lebih baik bila perlu
bertempur dengan siluman, dari pada mati konyol diperut
gua.
Tiba ditempat tadi, kembali ia melihat bayangan
makhluk aneh itu, masih mondar mandir dimulut gua,
Sebatang kepalanya berada ditengah pundak, sedang yang
sebuah lagi melekat dipundak kirinya. Tapi anehnya, pada
lain saat kepala dipundak kiri itu bisa beralih kepundak
kanan. Setelah lama mengawasi dengan seksama, ketakutan
Bek Lian berkurang. Ia menyusur maju. Syukur air disitu
hanya sebatas dada saja tingginya.
Rupanya makhluk aneh itu mendengar juga suara riak
air yang diterjang Bek Lian. Tiba2 dia berpaIing kearahnya.
Jelas tampak oleh Bek Lian, bahwa mata dari makhluk ituber-
kilat2 memancarkan cahaya, banyak menyerupai mata
dari seorang yang memiliki lwekang tinggi dari pada suatu
siluman. Kalau saja makhluk itu tidak, mempunyai dua
buah kepala, siang2 Bek Lian tentu sudah berseru
memanggilnya. Untuk keheranannya, makhluk itu hanya
mengawasi kearahnya, tapi tak mau mengeluarkan suara.
Malah pada lain saat, makhluk aneh itu mundur dan lenyap
dari pemandangan.
Hai, kiranya makhluk itu takut juga pada manusia. Nyali
Bek Lian menjadi besar, lalu terus menyeberang
mengejarnya. Air disitu ternyata hanya sampai sebatas
janggutnya saja. Kira2 setengah jam kemudian, tibalah ia
dimulut gua. Begitu memandang keluar, mulut Bek Lian
segera mengeluh: „Ah, celaka!"
Kiranya dimuka mulut gua situ, terbentang tujuh atau
delapan jalanan, yang kesemuanya gelap gulita
keadaannya. Adanya dimulut gua itu agak terang tadi,
adalah karena disebelah atasnya ada sedikit celah lubang.
Tapi tinggi celah itu beberapa tombak, jadi sukar untuk
dicapai.
Bermula Bek Lian mengira, begitu mencapai mulut gua,
ia tentu akan tertolong dari penjara alam itu. Tapi ternyata
harapannya itu hanya suatu chayal kosong belaka. Ceng Bo
menumpahkan seluruh kasihnya kepada puterinya tunggal
itu. Jadi sewaktu digunung Giok-li-nia, Bek Lian sangat
manja sekali, segala kehendaknya harus diluluskan. Ketika
turun gunung dan berjumpa dengan The Go, iapun
dimanjakan dengan sanjung rayuan mulut si Cian-bin Longkun
yang ter-gila2 akan kecantikannya itu. Jadi boleh dikata
sampai sebesar itu, Bek Lian belum pernah merasakan apa
yang dinamakan kepahitan hidup itu. Maka pada saat
menghadapi kesukaran itu, hancur luluhlah
keangkuhannya, dihanyutkan oleh sang air mata yang
membanjir turun. Untuk menumpahkan kekesalan hati, ia
menangis gerung2. Tapi berbareng dengan pecah tangisnya
itu, disebelah muka sana terdengar benda kecemplung
didalam air dan menyusul dengan suara bergerutukan,
macam benda tenggelam didasar air.
Bek Lian serentak tersadar dari tangisnya. la berada di
tempat terang sedang simakhluk aneh ditempat gelap, sudah
tentu celaka ia, kalau tak lekas2 berpindah tempat. Cepat2
ia melangkah kesalah sebuah lorong jalan yang airnya
hanya sampai sebatas betis. Tertiup oleh hembusan angin
gunung, ia rasakan tubuhnya dingin sekali. Dilihatnya
simakhluk aneh itu berenang lagi kedalam gua, tapi pada
lain saat sudah berenang balik lagi.
Bek Lian putus asa. Ia merasa kali ini ajalnya tentu
datang. Teringat akan orok yang dikandungnya itupun akan
turut meninggal sebelum sempat melihat sinar matahari, ia,
mengeluh dengan duka-citanya. Tapi suara keluhan itu,
telah menarik perhatian simakhluk aneh yang segera
menuju kearahnya. Kali ini Bek Lian berada ditempat
gelap, mengawasi kearah tempat yang terang. Jadi
penglihatannya jauh lebih jelas. Begitu mengawasi,
mulutnya terpecah tawa.
Kiranya makhluk itu bukan bangsa siluman yang
mempunyai dua buah kepala, tetapi melainkan hanya
seorang manusia biasa. Hanya saja orang itu tengah
menyanjung sebuah batu sebesar kepala orang, diatas
kepalanya. Orang baikkah atau orang jahatkah dia itu,
bukan soal. Yang penting nyata2 mereka itu senasib, jadi
harus kerja sama. Baru ia hendak membuka mulut
menegur, orang itu sudah mendahuluinya bersuara: „Siapa
yang disitu itu? Setan atau manusia atau bahurekso
(malaekat penunggu) disini ?"
Dalam tempat yang mirip dengan sebuah penjara alam,
Bek Lian dapat berjumpa dengan seorang lain yang senasib,
itu sudah cukup membesarkan hati. Apalagi ketika
mendengar nada suara yang tak asing lagi baginya itu, ia
lalu berjingkrak kegirangan, serunya: „Sute, kaukah? Ini
aku, bukan setan bukan bahurekso!"
Ya, memang benar, orang itu bukan lain adalah Tio
Jiang, siapa segera berseru dengan kaget sekali: „Suci,
ah....... kiranya benar kau! Tak heran tadi aku agak
mengenal suara tarikan napasmu. Tapi mengapa kau bisa
berada disini?"
Bek Lian tak mau mengatakan kalau beradanya disitu itu
disebabkan lari bersembunyi melihat ayahnya, maka ia
segera berbalik bertanya: „Kau beritahukan dulu, mengapa
kau bisa berada disini, apakah namanya tempat ini?
Mengapa diperut gunung ini banyak sekali jalan
tembusannya begitu ? Hayo, kita lekas keluar dari sini dulu,
baru nanti bercerita!"
Tio Jiang kedengaran menghela napas. „Suci, apakah
tempatmu disitu airnya tak dalam ? Terendam air sedingin
itu, tentu sangat kedinginan," tanya Tio Jiang tak mau
menyahut pertanyaan yang ber-tubi2 dari sucinya tadi.
„Memang disini airnya dangkal, tapi cukup dinginlah,
karena ada hembusan angin!"
„Ada angin menghembus?" seru Tio Jiang dengan
terkejut kegirangan.
--oodwkzOTAHoo--
BAGIAN 35 : TULISAN DI BATU
„Ya, ada angin berembus saja masa kau begitu
kegirangan ?" Bek Lian ber-sungut2,
Tio Jiang menyahut: „Ah, suci tak tahu, si Cian-bin
Long-kun The Go itu ........."
„Dia berada dimana ?" tukas Bek Lian serentak memutus
kata2 orang.
Tio Jiang tak mengerti kemana jatuhnya pertanyaan sang
suci itu, maka diapun cepat menegas: „Siapa ? "
Bek Lian mendongkol, lalu berteriak nyaring2: „Engkoh
Go ! Kecuali dia, siapa lagi yang akan kutanyakan ? !"
Diam2 Tio Jiang geli dibuatnya. Kalau beberapa bulan
yang lalu, hatinya pasti sakit mendengar ucapan sang suci
begitu itu. Tapi setelah dia campur gaul dengan manusia2
jantan macam Kui-ing-cu dan Nyo Kong-lim, dia tawar
sudah akan perilaku Bek Lian yang sedemikian rendah
martabatnya itu. Macam bidadari menjelma dimayapada
pun, Tio Jiang tak tergerak hatinya lagi pada sang suci itu.
Malah dia sesali dirinya sendiri, mengapa tempo hari
sampai ter-gila2 membabi buta pada sang suci. „Ah,
entahlah kemana dia!" katanya dengan tawar.
„Sute, hayo kita lekas2 keluar dari sini!" akhirnya Bek
Lian tampak bergelisah.
Tio Jiang enjot tubuhnya melayang diatas dinding lorong
jalan itu. Benar juga disitu, dia rasakan siliran angin
menghembus. „Suci, jangan terburu nafsu dulu. Ceritakan
dululah dari mana kau. Masuk kemari ini ! ".
Bek Lian terkesiap. Dulu sutenya itu takut2 berbicara
dengannya, tapi mengapa kini sikapnya berlainan sekali ?
„Adakah kau ini benar Tio Jiang ?" ia bertanya dengan
aneh.
„Sudah tentu, ya. Suci, kau rupanya kedinginan. Kita
harus lekas2 keluar dari sini, maka coba, ceritakanlah
padaku darimana kau masuk tadi."
Terpaksa Bek Lian menurut dan lalu menutur.
„Sekian banyak jalanan gunung dan gua yang kau lalui
tadi, mana2 saja yang terasa ada angin menghembus ?"
tanya Tio Jiang.
Atas itu, Bek Lian menerangkan hanya satu dua saja,
tapi lupalah ia dibagian yang mana. „Lian suci, aku ini
disebabkan sibangsat The Go ......."
„Sute!" cepat2 Bek Lian membentak,
Tio Jiang ganda tersenyum, lalu melanjutkan kata2nya:
„Karena dia merampas mustika didalam batu dan
disembunyikan entah dimana, maka Kui-ing-cu lo-cianpwe
suruh aku mencarinya.........."
„Apa itu sih mustika dalam batu ? Apakah mustika yang
disebut dalam kitab Pao-bu-cu itu ?" kembali Bek Lian
memutus.
„Benar. Karena melihat dia keluar dari sebuah celah
batu, maka aku segera masuk dari celah itu. Tapi sampai
berhari2, aku tak bisa keluar lagi !"
„Ah, tak berguna mem-buang2 ludah sampai setengah
harian ini. Kiranya kau juga tak dapat keluar dari sini!" ujar
Bek Lian dengan putus asa.
„Jangan keburu putus asa dulu. Sewaktu kau masuk dari
celah yang tembus keluar itu, tentu ada angin berembus,
bukan ?" tanya Tio Jiang. Bek Lian mengiakan dengan acuh
tak acuh.
„Sewaktu aku gelisah tak dapat keluar dari sini, tiada tersangka2
aku telah berhasil menemukan mustika batu itu
terletak disebuah gua kecil. The Go tentu yang
menyembunyikannya. Dia dapat keluar, sebaliknya aku
tidak. Sehari penuh aku mengitari tempat ini, tapi tetap tak
berhasil. Sewaktu aku tak habis mengerti, kini dapatlah aku
memecahkannya. Ini suatu bukti, bahwa The Go itu
mempunyai bakat dan otak yang cerdas, jauh beberapa kali
lebih jempol dari aku."
Sampai pada saat itu, dalam benak Bek Lian hanya
terlukis diri The Go seorang. Maka ketika tadi Tio Jiang
memakinya „The Go sibangsat", ia menjadi kurang senang.
Kini sewaktu sutenya itu memuji sang kekasih, segera
Bek Lian berseru dengan riang gembira :„Itu sudah terang.
Kecerdasan engkoh Go, siapa yang bisa menyamai ?"
Tio Jiang seorang anak yang lurus polos. Apa yang
hatinya mengatakan, mulutnya segera menyatakan. „Benar,
hanya sayang kecerdikannya itu dicerdiki oleh
kesalahannya!"
Bek Lian kurang puas, tapi karena tak dapat mencari
alasan membantah, maka cepat2 ia alihkan pembicaraan :
„Tadi kau menyatakan sudah bisa memecah rahasia
tempat ini, nah bilanglah lekas!"
”Entah benar tidak pemecahanku itu, harap suci yang
lebih cerdik dari aku, suka turut menimbangnya. Kupikir
jalanan yang terasa ada hembusan angin itu, kalau kita
turutkan, tentu akan dapat menuju keluar dari gunung.”
„Benar," seru Bek Lian.
Kembali Tio Jiang berkata :
„Kupercaya The Go tentu untuk beberapa saat tersesat
disini, tapi dalam sesingkat waktu saja dia sudah dapat
memecahkan rahasianya. Sebaliknya aku memerlukan satu
setengah hari baru dapat memecahkannya. Dan kau sendiri
bagaimana, Lian suci ? !"
Bek Lian ke-malu2an. Ia beradat tinggi. Tak pernah ia
memandang mata pada sutenya yang dianggap tolol itu.
Sudah tentu ia tak unjuk ketololannya dihadapan sutenya
itu.
Dengan beberapa alasan, ia coba mau memintari.
Walaupun kini Tio Jiang sudah tawar terhadap sang suci,
namun ikatan saudara seperguruan masih melekat. Melihat
sang suci masih tetap membawa sikap mau menang dewek,
dia hanya ganda tertawa saja.
„Teoriku itu juga belum tentu berbukti kebenarannya,
tapi marilah kita coba saja," kata Tio Jiang sembari ajak
sang suci menuju kelorong jalan disitu. Tiba diujung
penghabisan jalan itu, kembali disana terdapat lagi 7 atau 8
buah persimpangan jalan. Kedelapan simpang jalan itu
disusurinya. Akhirnya, pada salah sebuah jalan terasa ada
hembusan angin. Kearah saulah mereka menyusur kemuka.
Pada ujung jalan itu kembali terdapat sebuah gua dan
sehabis melalui gua itu, kembali terdapat 10 buah
persimpangan jalan. Oleh karena sudah menetapkan
rencana, jadi merekapun mencari salah sebuah jalan yang
terasa ada hembusan anginnya.
Tio Jiang menjunjung batu yang terisi mustika itu diatas
kepalanya. Sembari berjalan, diam2 dia me-nimang2:
„Terang sudahlah kalau Lian suci ini menyintai The Go
dengan segenap jiwa raganya. Kalau begitu, mana boleh
aku menjadi perintangnya. Peristiwa tukar panjar itu harus
kubatalkan saja." Setelah mengambil putusan, segera dia
berkata: „Lian suci, aku ada sebuah barang yang hendak
kukembalikan padamu!"
„Barang apakah itu ?" tanya Bek Lian keheranan. Tio
Jiang merogoh kedalam dada bajunya dan mengambil
keluar peniti kupu2an milik Bek Lian. Sampai detik itu Tio
Jiang menganggap kalau barang itu adalah pemberian dari
Bek Lian sendiri. Ketika dihadapan Kiang Siang Yan, Bek
Lian menyangkal keras, Tio Jiang masih tetap mengira sang
suci itu waktu sedang marah.
„Sute, sebenarnya darimana kau peroleh peniti itu ?" Bek
Lian ulangi pertanyaan yang memang sudah lama ia
kepingin mengetahuinya.
Kini Tio Jiang baru betul2 keheranan, apakah benar2
sang suci itu tak tahu menahu soal itu. Dengan jelas
dituturkan duduk perkaranya dan kemudian
menambahkan:
„Sebagai penukaran, aku telah berikan padamu sebuah
batu pualam milik suhu yang diberikan padaku !"
„Huh, kau mimpi bertemu setan barangkali. Itu waktu
aku sedang dalam perjalanan dan bertemu dengan engkoh
Go......" berkata sampai disini, wajah Bek Lian berseri
girang terkenang akan peristiwa yang romantis itu.
„Lian suci, apakah benar2 pada malam itu kau tak
berada di Gwat-siu-san ?" Tio Jiang meminta penegasan
lagi.
Sudah tentu hal itu membuat Bek Lian mendongkol dan
serunya dengan uring2an :„Perlu apa aku membohongimu!"
„Jika bermimpi, mengapa tanganku mencekal peniti itu ?
Kalau tidak bermimpi, siapa yang ber-olok2 dengan aku
itu ?"
Tio Jiang menggerutu seorang diri.
„Huh, selain Siao Chiu, siapa lagi !" kata Bek Lian, yang
membuat Tio Jiang terkesiap dan mengakui memang benar
begitu. Tio Jiang tak mau bertanya Iagi kepada suci-nya.
Kira2 dua jam kemudian, mereka tiba disebuah jalan sempit
yang terasa banyak hembusan anginnya.
„Inilah dianya!" seru Tio Jiang kegirangan. Benar juga
setelah melalui jalan sempit itu, mereka dapat keluar dari
perut gunung tadi. Kala itu rembulan sudah menampakkan
diri dilangit. Karena keliwat lelah ber-putar2 didalam perut,
gunung yang mempunyai ber-puluh2 jalanan kecil itu.
mereka lalu duduk beristirahat disebuah batu.
Dahulu kalau berada berduaan dengan sang suci, Tio
Jiang tentu menjadi seperti orang pekok, yaitu orang yang
tak dapat bicara lancar. Setiap kali Bek Lian tentu
menertawai kelakuannya itu. Kini berlainan halnya.
Walaupun hanya berdua orang, tapi rasanya Tio Jiang tak
mempunyai kata yang hendak diucapkan. Baru berselang
beberapa jenak kemudian, dia kedengaran bertanya: „Lian
suci, kau hendak menuju kemana ?"
Sebenarnya Bek Lian hendak mencari The Go, tapi kalau
mengatakan hal itu - dihadapan sang sute, seperti sang
ayah, sute itu tentu membencinya. „Kau tak usah mengurus
diriku!" akhirnya ia menyahut. Dan benarlah, setelah
pulang semangatnya, Bek Lian tampak berbangkit terus
hendak angkat kaki.
„Suci, nanti dulu!" seru Tio Jiang.
„Apa kemauanmu ?" Bek Lian berpaling sembari
kerutkan sepasang alisnya.
„Kau seorang diri melakukan perjalanan, dikuatirkan
nanti berjumpa dengan orang jahat " sebenarnya Tio Jiang
bermaksud baik, tapi oleh Bek Lian telah diartikan lain. Ia
anggap sutenya itu menghina kalau ilmunya rendah, maka
dengan tertawa dingin ia menukas kata2 orang :
„Terima kasih atas perhatianmu. Bertemu dengan
penjahat apapun, biarlah kuhadapinya sendiri, tak usah kau
mengurusi !"
Mendapat semprotan yang begitu ketus, Tio Jiang termangu2
diam. Sebaliknya, Bek Lian makin gusar, berputar
diri terus angkat kaki. Apa boleh buat Tio Jiang terpaksa tak
dapat berbuat apa2.
--oodwkzOTAHoo--
Setelah berlatih sebentar, dia loncat keatas sebatang
puhun untuk tidur disitu.
Keesokan harinya, dia segera ber-gegas2 berangkat ke
Ko-to-san. Dia juga memikirkan bagaimana akhir
pertempuran antara Kui-ing-cu dengan Kiang Siang Yan
itu. Karena pegunungan Si-ban-tay-san itu tiada
mempunyai jalanan sama sekali, jadi Tio Jiang hanya
menentukan arah barat daya sebagai tujuan langkahnya.
Menjelang tengah hari, tibalah dia pada sebuah puncak
gunung. Disitu dilihatnya ada sebuah batu bercat hitam.
,,Hai, apakah ini bukan puncak Thiat-nia ?" tanyanya
seorang diri. Tapi dia heran mengapa keadaan tempat itu
berlainan dengan Thiat-nia yang pernah didatangi tempo
hari.
Kiranya Tio Jiang tiba disebelah belakang dari puncak
Thiat-nia. Sebaliknya Tio Jiang merasa kini sudah
mendapatkan jalan keluar dari pegunungan raya itu, maka
dengan girang sekali, dia berlari cepat2 turun gunung.
Begitu tiba dikaki gunung, tahu2 sebatang anak panah telah
menyambarnya.
Teringat Tio Jiang akan pembilangan Kui-ing-cu bahwa
suku Thiat-theng-biau itu paling gemar menggunakan
senjata panah yang. dicelup dengan racun istimewa. Maka
buru2 dia menghindar saja seraya berseru :
„Mengapa tanpa bertanya hitam putihnya, lalu main
membokong orang saja ?" .
Empat orang suku Thiat-theng-biau muncul keluar.
Mereka bercuwat-cuwit mulutnya, tapi Tio Jiang tak
mengerti. „Lekas menyingkir, aku mempunyai urusan
penting, hendak lekas2 melanjutkan perjalanan!" serunya.
Berkat lwekangnya makin tinggi, maka seruan. Tio Jiang
itu terdengar menggeledek bunyinya, hingga karena
telinganya sakit keempat suku Biau itu berjingkrak kaget.
Mereka berpencar, lalu masing2 melepaskan anak panah.
Tio Jiang mendongkol geli. Dipotesnya sebatang dahan
pohon, lalu dengan memainkan jurus hay-li-long-huan dia
hantam jatuh anak panah itu, kemudian sekali melesat
maju, ia segera mainkan dahannya untuk menutuk jalan
darah wi-tiong-hiat dari keempat orang itu.
Tapi tutukan Tio Jiang itu hanya menerbitkan suara
tuk..., tuk..., tuk..., tuk saja, yakni macam membentur kayu.
Pakaian rotan yang dikenakan oleh keempat suku Biau itu,
senjata tajampun tak dapat menembusinya, jangan lagi
hanya tutukan dahan. Lain halnya kalau yang menutukkan
itu tokoh sakti macam Tay Siang Siansu, Kui-ing-cu atau
Kang Siang Yan dan lain2. Namun walaupun tak selihay
mereka, Iwekang Tio Jiang yang sudah bertambah maju itu,
dapat membuat keempat orang itu meringis kesakitan juga.
Saking murkanya, keempat orang Biau itu segera cabut
golok dan serempak maju menyerang. Golok mereka itu
aneh bentuknya, yaitu seperti bintang sabit, melengkung
panjang sampai setengahan meter. Tio Jiang tak mau
melukai mereka, cukup asal memberi sedikit hajaran saja.
Baru dia hendak maju menyambut, salah seorang dari
mereka yang bertubuh agak tinggi, sudah maju menabas
dengan goloknya. Tio Jiang angkat dahannya untuk
menangkis, tapi se-konyong2 orang Biau itu robah
gerakannya. Begitu siku tangan diturunkan, secepat kilat
golok-sabitnya telah masuk menyerang sepasang betis Tio
Jiang. Dengan bentuk goloknya yang istimewa, jurus
serangan itu sangat surup sekali. Saking gugupnya terpaksa
Tio Jiang tekankan dahan ketanah, lalu loncat menyingkir
jauh.
Diam2 dia heran memikirkan serangan orang Biau yang
istimewa itu. Ilmu pedang to-hay-kiam-hwat yang sudah
berpuluh tahun menggetarkan dunia persilatan itu, kiranya
hanya begitu saja. Sebaliknya serangan ilmu golok dari
orang Biau liar tadi sedemikian luar biasanya, entah dari
mana mereka mempelajarinya ?
GAMBAR 65
Dengan aksi, Tio Jiang melambung keatas hendak menangkap
golok2 melengkung ke-empat lawannya
Kala dia lagi merenung, orang Biau tadi kembali sudah
datang dengan sebuah tabasan lagi. Kali ini Tio Jiang sudah
bersiaga. Dia miringkan tubuh menghindar, dan nantikan
bagaimana tindakan lawan itu lebih jauh. Setelah
tabasannya luput, orang Biau itu berseru keras2, sekonyong2
goloknya diturunkan dan wut....., tahu2
membabat kaki Tio Jiang, gayanya seperti tadi juga!
Tio Jiang sudah memperhitungkan lebih dahulu. Baru
orang gerakkan tangan dia sudah melambung keatas, begitu
golok melayang dibawah kakinya, dengan gunakan ciankin-
tui (tindihan seribu kati) dia menurun dan tepat
menginjak golok orang Biau itu ditanah. Ternyata orang
Biau itu juga fanatik sekali. Terang dia tak dapat menarik
golok yang dipijak kaki sianak muda itu, namun tangannya
tetap tak mau melepaskannya.
Melihat kawannya dipecundangi, ketiga orang Biau
lainnya segera maju berbareng. Tapi cukup dengan
mainkan dahannya, Tio Jiang telah dapat menghalau
mereka, kemudian dengan gerak liok-ting-gui-san, disusuli
menghantam bahu siorang Biau yang tinggi besar tubuhnya
tadi. Tio Jiang gunakan 3 bagian tenaganya, maka kali ini
orang Biau itu terpaksa lepaskan cekalannya, ter-huyung2
jatuh. kebelakang. Tio Jiang pungut golok-sabit orang, lalu
menyerang ketiga orang Biau tadi dengan tiga buah
serangan ajaran Sik Lo-sam. Trang..., trang..., trang...,
ketiga orang Biau itu coba menangkis, tapi golok mereka
telah terpental jatuh.
Tio Jiang mau unjuk demonstrasi. Batu yang terisi
mustika, dikempit dalam ketiak kanan. Sekali enjot
tubuhnya dia loncat keatas. Kedua tangannya dijulurkan
kemuka untuk mencekal 4 batang golok tadi. Selagi
melayang turun, tangannya kiri timpukkan dua batang
golok kearah sebuah puhun besar yang berada didekat situ.
Dua batang golok itu tepat menancap masuk kedalam
batang puhun, hingga sampai separoh bagian. Sedang
separoh bagian tangkainya, tampak ber-goncang2. Keempat
orang Biau itu ter-longong2 heran, tapi sebaliknya Tio Jiang
sendiripun merasa aneh.
(Oo-dwkz-TAH-oO)
Tadi dia melihat siorang Biau tinggi besar itu mainkan
goloknya dalam gaya menyerang yang luar biasa. Begitu
pula ketiga orang Biau lainnya itu, pun memainkan jurus
pertahanan yang luar biasa juga. Inilah yang membuatnya
heran. Segala ilmu pedang apa saja! sampaipun itu to-haykiam-
hwat, tentu terdapat ciri2 cacadnya (mempunyai
kelemahan). Tapi ilmu golok dari orang Biau itu, dapat
digunakan untuk menyerang dan bertahan secara
mengagumkan sekali. Dia ambil putusan hendak
menjumpai Kit-bong-to, kepala suku mereka, untuk
meminta penjelasan lebih jauh mengenai ilmu itu. Maka dia
segera memberi isyarat gerakan tangan supaya diantar
kepuncak gunung, tapi rupanya keempat orang Biau itu
menolak.
„Aku mau bertemu dengan Kit-bong-to!" akhirnya
terpaksa Tio Jiang berseru mendongkol. Tanpa disangka,
begitu mendengar orang menyebut nama ,Kit-bong-to",
sikap keempat orang Biau itu berobah ramah dan tertawa.
Salah kedua diantara mereka menuding kearah golok yang
dicekal Tio Jiang, siapa rupanya mengerti kehendak orang
dan lalu memberikannya, Sedang kedua kawan mereka
yang lain, menghampiri batang puhun tadi untuk mencabut
golok mereka. Tapi bagainianapun mereka berdua gunakan
seluruh tenaganya untuk mencabut, namun tetap tak
mampu. Separoh bagian dari golok itu telah menyusup
kedalam batang puhun tua yang keras sekali kayunya,
hingga wajah mereka sampai merah padam.
„Mari kutolong!" seru Tio Jiang seraya menghampiri.
Tanpa pedulikan wajah mereka yang mengunjuk
kesangsian dan, sekali kerahkan Iwe.karig Tio Jiang segera
mencabutnya keluar. Setelah itu, dia cabut lagi golok yang
lainnya. Kini keempat orang Biau itu tunduk betul2 pada
sianak muda. Dengan hormat sekali, mereka segera
membawa Tio Jiang kepuncak Thiat-nia.
Adalah karena mengunjungi kepala suku Thiat-thengbiau
itu, maka Tio Jiang agak terlambat datangnya ke Kotosan.
Coba dia tak pergi kegunung itu, tentu siang2 sudah
sampai kesana dan Yan-chiupun tak nanti keisengan coba2
memasuki gereja Ang-hun-kiong.
Setengah jam kemudian, tibalah Tio Jiang ditempat
kediaman suku Thiat-theng-biau. Keempat orang
pengantarnya tadi segera lari lebih dahulu untuk
menghadap Kit-bong-to yang tampak sedang duduk bersila
ditempatnya. Dengan meng-gerak2kan golok, rupanya
keempat orang Biau tadi tengah menceritakan tentang
demonstrasi kepandaian yang diunjuk oleh Tio Jiang tadi.
Kit-bong-to masih ingat bahwa Tio Jiang itu adalah salah
seorang dari rombongan yang membebaskan calon
mempelainya (Bek Lian). Sudah tentu dia tak menyukai
anak muda itu. Dengan membentak keras2, dia suruh
keempat orangnya tadi mundur, kemudian bertanya pada
Tio Jiang: „Apa maksudmu datang kemari lagi ini ?"
Sesaat Tie Jiang tersentak kaget. Memang dia tak
mempunyai kepentingan istimewa datang kesitu itu.
Hanyalah karena melihat ilmu permainan golok keempat
orang Biau tadi, dia merasa ketarik dan hendak
menanyakan lebih lanjut kepada kepala suku itu. Apa boleh
buat, Tio Jiang menceritakan maksudnya. Wajah Kit-bongto
berobah seketika, tapi pada lain saat air mukanya berseri
lagi, serunya dengan ramah: „Maaf tak dapat memberi
sambutan apa2 kepada tetamu jauh. Hanya teh keluaran
gunung ini, tentu dapat menghilangkan rasa dahaga!"
Tanpa sungkan2 lagi Tio Jiang segera menyambuti
cawan teh terus hendak diminumnya. Tiba2 dibaunya teh
itu luar biasa wanginya, tapi dalam keharuman itu seperti
ada bau lain yang istimewa, maka dia, tak jadi
meminumnya lalu melirik kearah kepala suku itu.
„Apakah hohan kuatir kalau teh itu dicampuri racun?"
tanya Kit-bong-to yang rupanya mengerti akan kesangsian
orang. Malah tanpa tanya jawaban lagi, dia segera rebut
cawan yang dipegang Tio Jiang itu terus diminumnya.
Setelah meneguk habis separo cawan, lalu diberikan pada
Tio Jiang, katanya: „Lekas minumlah, asal usul ilmu golok
itu memang aneh sekali. Setelah minum, segera kubawamu
kesana."
Sebagai lelaki jujur, sudah tentu Tio Jiang menjadi
sungkan. Disambutinya cawan itu, dan demi dilihat isinya
memang hanya tinggal sedikit, dia terus hendak
meminumnya. Adalah pada saat cairan itu sudah menempel
dibibirnya, dia mencuri lihat sikepala suku, yang ternyata
dengan mata mendelik tengah mengawasi dirinya dengan
wajah yang beringas, se-olah2 tak sabar lagi supaya Tio
Jiang lekas2 meminumnya.
Tio Jiang bersangsi lagi. Jangan2 kepala suku itu hendak
main gila. Tapi karena sudah menyatakan hendak
meminum, jadi Tio Jiang mencari akal. Cepat dia
mengambil keputusan. Diam2 dia kerahkan ilmu lwekang
ajaran Sik Lo-sam yakni „cap ji si hang kang sim ciat",
hawa murni disalurkan kearah tenggorokan, kemudian,
sekali teguk dia habiskan isi cawan itu. Teh itu benar masuk
kedalam mulut, tapi hanya berhenti ditenggorokan, tidak
masuk keperut.
„Mari ikut padaku!" seru Kit-bong-to dengan girangnya,
demi dilketahui sang tetamu sudah meminumnya. Dia
kedengaran menjerit beberapa kali dan kawanan orang Biau
itu lalu me-nari2 dengan hiruk pikuknya. Adalah sewaktu
mendapat kesempatan, Tio Jiang segera muntahkan teh.
tadi keluar. Tenggorokannya dirasakan gatal, manis2 serak.
Dia ikut Kit-bong-to naik kepuncak gunung.
GAMBAR 66
Tio Jiang dihantar oleh kepala suku Biauw itu kepuncak
gunung yang tandus gilap itu untuk melihat rahasia ilmu golok
satu jurus yang lihay itu.
Dinamakan Thiat-nia atau puncak besi, karena memang
keadaan gunung itu aneh sekali. Makin keatas, makin tiada
terdapat tumbuhan apa2. Batu2 disitu sama ke-hitam2an
warnanya. Tak berapa lama, sampailah mereka dipuncak.
Kecuali gundul, puncak itu tiada. Lain keistimewaannya,
tapi anehnya sikap Kit-bong-to sedemikian hormatnya
seperti berhadapan dengan malaekat yang dipujanya.
Dengan berlutut ditanah, dia kedengaran berdoa. Diam2
Tio Jiang merasa geli juga.
Se-konyong2 Kit-bong-to loncat bangun, dari
pinggangnya dia cabut sebatang golok-sabit terus dibuat
menabas dan tiba2 dirobah dengan hantaman kebawah.
Melihat demontrasi itu, Tio Jiang bertanya: „Dapatkah kau
memberitahukan asal usulnya ilmu golok itu?"
„Siaoko, kau harus bersumpah dulu bahwa didalam 10
hari kau takkan mengatakan pada lain orang tentang apa
yang kau lihat hari ini!"
Tio Jiang heran. Dia tak mengerti Kit-bong-to hendak
menunjukinya rahasia apa saja, maka dia harus bersumpah
begitu. Didalam 10 hari tak boleh memberitahukan lain
orang, tapi bagaimana setelah lewat waktu itu? Dia tak tahu
bagaimana jawabannya, tapi oleh karena kepala suku itu
telah menaruh kepercayaan padanya, sebagai orang yang
berhati jujur, diapun segera mengikrarkan sumpah itu.
Dengan berseri girang, Kit-bong-to segera ajak dia maju.
beberapa tindak lagi. „Lihatlah!" tiba2 dia berseru sembari
menunjuk kearah sebuah batu besar yang kelimis halus
tiada ditumbuhi apa"
„Ada apanya?" tanya Tio Jiang dengan keheranan demi
mengawasi batu itu tiada ada apa2nya. Kit-bong-to segera
menabas bagian atas dari batu hitam itu. Kiranya bagian
atas dari batu itu dilumuri dengan tanah liat, maka sekali
papas dapatlah Kit-bong-to menghilangkan lapisan tanah
itu. Dan ketika permukaan batu itu kelihatan, Tio Jiang
menjadi, terkejut. Kiranya disitu terdapat lukisan-ukir dari
sebatang golok yang macamnya mirip dengan golok-sabit
Kit-bong-to itu, Dibawah lukisan itu terdapat guratan2
huruf yang ternyata merupakan keterangan dari sebuah
ilmu golok. Tulisan disitu, menerangkan menyerang badan
bagian atas lalu setengah jalan dirobah menyerang kaki
orang. Serangan itu dapat dirobah menjadi pertahanan yang
indah. Tio Jiang ulangi memeriksa tulisan itu. Dia dapatkan
sari keindahan dari ilmu golok itu, sukar dilukiskan.
„Kit-bongto, lekas bersihkan lapisan tanah liat itu semua.
Ilmu golok ini, tiada ternilai saktinya" buru2 Tio Jiang
meminta.
Namun Kit-bong-to tertawa menyahut: ,Hanya ada satu
jurus itu saja! "
Tio Jiang memeriksanya, kiranya benar yang dikatakan
kepala suku itu.
„Entah bilamana ilmu golok itu tertera di atas batu ini,"
kata Kit-bong-to, „sejak kaum Thiat-thengbiau kami
menetap disini, ilmu golok itu sudah ada. Kaum kami
gunakan ilmu golok itu untuk menghadapi serangan
binatang buas dan hasilnya memuaskan sekali! "
Sampai sekian saat, Tio Jiang ter-longong2 mengawasi
huruf2 itu. Mendadak serasa dia seperti pernah melihat
huruf itu, ah..... benarlah! Buru2 dia memeriksa batu berisi
mustika yang dibawanya itu dan hai....., memang sama
gayanya! Siapa lagi yang menciptakan ilmu golok luar biasa
itu kalau bukan Tat Mo Cuncia. Tapi anehnya, mengapa
hanya terdiri sejurus saja? Dia kini sudah memiliki dasar2
ilmu silat yang dalam, sembari memeriksa dengan perdata
akan pelajaran ilmu golok dibatu itu, diam2 dia telah
menelaah sari keindahannya. Tak seperti dengan suku Biau
yang hanya asal menurutkan gerak2annya saja, tanpa
mengerti dimana letak kegunaannya yang sejati.
Akhirnya sampailah Tio Jiang pada suatu kesimpulan,
bahwa andaikata adalagi satu jurus, ilmu golok itu pasti
merupakan ilmu golok yang tiada taranya didunia. „Kitbong-
to, apakah benar2 hanya ada satu jurus ini saja?"
tanyanya menegas.
Saat itu Tio Jiang tengah terbenam dalam renungan yang
dalam, jadi sedikitpun dia tak mengetahui akan sikap orang
yang berobah aneh pada saat itu. „Ah, ilmu golok ini
memang sangat sakti, sayang tiada punya nama,"
kedengaran Tio Jiang menyatakan perasaannya sendiri.
„Ada, disebaliknya," sahut Kit-bong-to, Tio Jiang buru2
mengikutinya kebalik batu itu dan disitu didapatinya ada 3
buah huruf „it to hwat" (ilmu golok tunggal). Tio Jiang,
makin tak habis mengerti. Sesuai dengan namanya, ilmu
golok itu jadi hanya terdiri dari sejurus saja. Aneh, mengapa
sejurus bisa merupakan sebuah ilmu golok yang lengkap ?
„Siaoko, batu bertulisan ini hanya aku seorang yang
melihatnya. Kuajak kau kemari ini, adalah karena aku
hendak minta bantuanmu menjelaskan ilmu golok itu,"
demikian Kit-bong-to.
Kiranya berulang kali Kit-bong-to pernah turun gunung
mengembara didunia persilatan. Setiap kaum persilatan
yang menyaksikan permainan goloknya, tentu sama memuji
dan kagum akan kebagusannya. Tapi oleh karena hanya
terdiri dari sejurus saja, mereka anggap mungkin kepala
suku Biau itu hanya dapat mencuri belajar saja, jadi mereka
tak menaruh perhatian lebih lanjut.
Disebabkan karena Kit-bong-to tak mengerti ilmu
lwekang, jadi sekalipun ilmunya golok istimewa, tapi tak
lebih tak kurang dia hanya setanding dengan kaum
persilatan biasa saja. Yang mengherankan, turun menurun
suku bangsaThiat-theng-biau itu memiliki suatu kode
pelajaran ilmu golok yang disebut „it to hwat, sip-to-hwat,
peh-to-hwat, cian-to-hwat dan ban-to-hwat." Tetapi tiada
seorangpun yang dapat menjelaskan bagaimana arti kode2
itu. Kit-bong-to yakin, disitu tentu terdapat sesuatu hal yang
istimewa, tapi oleh karena dia tak suka orang2 Han main
gila, jadi rahasia itu dibiarkan tertutup begitu saja.
Adalah tadi dengan kedatangan Tio Jiang yang
dianggapnya sebagai seorang pemuda jujur serta menaruh
perhatian akan ilmu golok itu, timbullah suatu ilham dalam
perasaannya, mungkin pemuda yang ke-tolol2an inilah
yang dapat menolong menyingkap tabir rahasia itu. Tapi
ternyata sampai hampir setengah harian, pemuda itu belum
juga dapat menjelaskan.
„Yu-tio (kepala suku) aku juga tak dapat menerangkan!"
akhirnya Tio Jiang menyatakan dengan sejujurnya. Melihat
sikap dan lagu ucapan anak muda itu menandakan
ketulusan hatinya, Kit-bong-to merasa suka dan malah
menyuruhnya tinggal disitu dulu untuk sementara hari.
„Siaoko, tinggallah dulu beberapa hari supaya dapat
merenungkan dengan tenang !" katanya.
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 36 : TULISAN DI BATU HITAM
Oleh karena masih cukup temponya, Tio Jiang terima
baik tawaran itu.. Tiga hari lamanya dia menetap dipuncak
Thiat-nia situ. Siang malam, baik makan maupun mau
tidur, ya pendek kata setiap saat, dia selalu merenung untuk
memecahkan intisari daripada pelajaran yang tertulis diatas
batu itu. Tapi ternyata dia selalu gagal. Akhirnya karena
hari pehcun sudah mendekat, maka dia segera minta diri
pada kepala suku Biau itu.
„Kit yu-tio, aku telah mengadakan janji adu kepandaian
dengan seseorang pada nanti hari pehcun digereja Ang-hunkiong.
Sudah tentu aku tak dapat mengingkari janji itu.
Setelah dapat kupecahkan rahasia tulisan dibatu itu, aku
tentu akan datang kemari lagi," katanya.
„Pergilah, tapi ingat akan sumpahmu !" Kit-bong-to
berkata dengan dingin didahului dengan sebuah helaan
napas.
Tio Jiang memberi jaminan takkan membocorkan
rahasia selama 10 hari ini kepada lain orang. Kit-bong-to
lalu suruh dua orangnya untuk mengantar dia turun
gunung.
Ternyata kala itu hari pesta air (pehcun) sudah
menjelang tiba. Tio Jiang ber-gegas menuju ke Ko-to-san,
tapi oleh karena dia kelamaan tinggal di Thiat-nia, jadi
hampir saja dia terlambat datangnya. Tiba dikaki gunung
Ko-to-san haripun sudah terang tanah. Dia coba bertanya
pada beberapa penduduk kota kecil situ, tapi mereka seperti
menutup rapat2 mulutnya, tak mau memberi keterangan
suatu apa. Dia mondar mandir bertanya kebeberapa.
tempat, pun idem. Akhirnya dia tiba pada kesimpulan
bahwa rombongan suhunya, tentu sudah naik keatas
gunung. Penduduk itu tentu mengetahui hal itu, hanya
disebabkan karena mereka jeri akan keganasan orang2 Anghun-
kiong, jadi mereka tak berani memberitahukan. Maka
setelah mengisi perut, ber-gegas2 dia mendaki keatas.
Dia pernah sekali mengunjungi Ang-hun-kiong, maka
belum tengah hari disebelah muka sana segera kelihatan
tembok merah dari gereja itu. Kemudian setelah mengitari
sebuah gunung, tibalah dia dimuka pintu dari Ang-hunkiong.
Disitu ternyata tampak banyak orang berkerumun.
Begitu menghampiri dekat, didengarnya Yan-chiu
berteriak keras2: „Kiau susiok, jangan terkena tipunya!"
Dia tahu pertempuran sudah dimulai, maka dia segera
lari cepat2. Mata Yan-chiu yang tajam segera dapat melihat
bayangan sukonya itu. Saking girangnya, selebar mukanya
menjadi ke-merah2an. Lupa kalau disitu ada banyak orang,
lupa kalau antara kaum hawa dan adam itu masih terhalang
dengan dinding adat istiadat, sigenit itu segera mencekal
tangan sukonya. Dari kaki sampai keujung rambut, sigenit
meng-amat2i sang suko sedemikian rupa, hingga membuat
Tio Jiang kikuk sendiri. „Siao Chiu, jangan membuat
gaduh!" akhirnya dia memberi peringatan.
„Orang begitu kegirangan akan kedatanganmu, masa kau
malah mengatakan begitu! Kemana saja kau selama ini,
hingga baru sekarang datang ? Ah, betul2 kau tak mau
mengerti kesibukan orang memikirkan dirimu!" mulut Yanchiu
berhamburan dengan kata2.
Tio Jiang cukup mengenal watak sumoaynya itu. Kalau
berterus terang, tentu sumoay itu menanyakan ini itu tak
habis2nya, maka sembari tertawa dia hanya menyahut
ringkas saja: „Lewat beberapa hari lagi, nanti kuceritakan
padamu!"
GAMBAR 67
Melihat kedatangan sang Suheng, saking girangnya Yan-chiu
ber-lari2 memapaki.
Habis itu Tio Jiang segera menghampiri suhunya. Disitu
ternyata tampak hadir Kui-ing-cu, Ki Ce-tiong, Thaysan
sin-tho Ih Liok dan masih ada seorang tua bertubuh kate
yang belum dikenalnya. Setelah suhunya mengenalkan,
barulah diketahui kalau orang tua itu adalah Sin-eng Ko
Thay adanya.
Kiau To dan The Go sudah tampak ber-putar2 ditengah
sebuah lapangan. Sedang difihak sana, tampak ada 3 orang
Ang-hun-kiong. Ang Hwat cinjin tak kelihatan. Rupanya
dia masih memegang teguh derajatnya sebagai cianpwe
persilatan.
Tio Jiang menganggap Ceng Bo siangjin itu bukan
melainkan sebagai suhu saja, tapi juga sebagai seorang
bapak kandungnya sendiri. Dia girang sekali bertemu
dengan sang suhu yang dihormatinya itu. Setelah memberi
hormat kepada sekalian orang, dia lalu menghaturkan batu
yang berisi mustika itu seraya berkata: „Murid telah
menemukan sebuah batu yang terisi mustika, mohon suhu
memberi keputusan bagaimana hendak memperbuatnya."
Tio Jiang yakin suhunya tentu bergirang hati, tapi diluar
dugaan, siangjin itu hanya mendengus „hem" sekali, lalu
tak mengacuhkan. Kini baru Tio Jiang sempat memper
hatikan bagaimana air muka suhunya, Kui-ing-cu, Thaysan
sin-tho, Ko Thay dan lain2 sama mengunjuk kegelisahan.
Heran dia dibuatnya. Kepandaian The Go toh hanya
setingkat dengan Kiau To dan andaikata Kiau susiok itu
kalah, toh masih ada dia yang menurut keyakinannya tentu
dapat menundukkan The Go. Taruh kata menguatirkan
Ang Hwat cinjin akan muncul kegelanggang, toh keempat
tokoh lihay itu, akan dapat menghadapi juga, mengapa
begitu diresahkan? Karena tak berani langsung menanyakan
pada suhunya, dia lalu mendekati sang sumoay dan
bertanya dengan bisik2 : „Siao Chiu, ada apa dengan suhu
itu ? Apakah fihak lawan keliwat lihay ?"
„Entahlah, kalau aku bicara nanti dikatakan ceriwis, buat
apa membuka mulut dengan sia2" sahut Yan-chiu dengan
mengkal.
„Siao Chiu, kau ini kenapa ?" Tio Jiang makin
kebingungan.
Rupanya kasak kusuk kedua anak muda itu telah
diketahui Kui-ing-cu siapa segera bertanya: „Siaoko, mana
Nyo-cecu ?"
„Nyo-cecu ?" sahut Tio Jiang dengan kaget, „entahlah
aku tak tahu !"
„Tak lama setelah kau mencari mustika batu itu, diapun
lalu menyusulmu, mengapa bisa tak bertemu ?"
menerangkan Kui-ing-cu.
Teringat akan keadaannya selama diperut gunung itu,
dia menduga keras Nyo Kong-lim tentu juga terkurung
disitu.
„Aya, celaka!" serunya tak tertahan lagi. Kui-ing-cu
buru2 menanyakan dan Tio Jiang segera menuturkan
pengalamannya diperut gunung itu. Rupanya Ceng Bo
siangjin dan beberapa tokoh lainnya sama terperanjat juga.
Mereka saling melihati satu sama lain.
„Biarkan kita rundingkan lagi nanti. Saat ini kita tak
sempat untuk mengurusi," akhirnya Kui-ing-cu menyatakan
Oleh karena terlambat datang, jadi Tio Jiang tak
mengetahui apa yang telah terjadi dalam pertempuran itu.
Baru dia hendak bertanya, atau tiba2 terdengar Yan-chiu
menjerit, hingga terpaksa dia berpaling kebelakang. Kiranya
ketika Tio Jiang datang, Kiau To dan The Go sudah
bertempur. Pada saat itu The Go tampak menusuk kearah
tenggorokan Kiau To. Oleh karena Yan-chiu kenal
serangan The Go itu menggunakan ilmupedang Chit-satkiam-
hwat, maka tadi ia menjerit kaget.
Dalam beberapa bulan ini, Kiau To berusaha untuk
menjumpai Tay Siang Siansu. Tapi oleh karena Siansu itu
sukar dicari. jejaknya, jadi dia tak berhasil. Berhubung hari
pertempuran sudah dekat, terpaksa dia menuju ke Ko-to-san
untuk menggabungkan diri dengan rombongan orang gagah
lainnya. Pertempuran itu, menurut tantangan yang telah
disetujui, adalah antara The Go melawan Kiau To dan Tio
Jiang. Tadi karena Tio Jiang terlambat, jadi Kiau To lah
yang maju lebih dahulu. Kiau To cukup mengetahui, bahwa
pertempuran hari itu, penting sekali artinya. Maka dalam
pertempuran, dia berlaku hati2 sekali. Tampak ilmu
permainan pedang lawan luar biasa, ditambah pula
menggunakan pedang pusaka kuan-wi, dia tak berani
menangkis dengan jawan-piannya. Dengan gunakan gerak
tiat-pian-kio dia buang tubuhnya kesamping, kemudian
secepat kilat menyabet betis lawan.
The Go bersenyum ewa, sikapnya sangat yakin sekali.
Begitu tusukannya luput, cepat dia balikkan pedang
membabat pinggang Kiau To, sedang kakinya melangkah
kesamping untuk menghindar jwan-pian Kiau To.
Gerakannya begitu lemah gemelai, laksana seorang
mahasiswa mengayun langkah. Dalam pandangan tokoh2
yang menyaksikan pertempuran itu, Kiau To sukar
mencapai kemenangan. Hal inipun diinsyafi juga oleh Kiau
To. Kelemahannya adalah terletak dalam senjatanya
ruyung lemas (jwan pian) itu.
Untunglah ruyung itu cukup panjang serta ilmu ruyung
Liok-kin-pian-hwat itu cukup kaya dengan gerak
perobahan.
Jadi dapatlah dia memaksa lawan tertahan dalam jarak
satu tombak. Mengetahui lawan hendak maju merapat, dia
segera melesat kebelakang. Pian di-kibas2kan, tidak untuk
menyerang tapi untuk melindungi diri.
The Go bukan tak mengetahui kalau lawan hendak
merebut kemenangan dengan ketenangan. Dia lemparkan
pedangnya keudara, begitu tangannya menyambuti,
mulutnya tertawa mengejek: „Kiau loji, mengapa tak maju
menyerang lagi ?"
Habis berkata itu dia maju kemuka, tapi cepat mundur
lagi. Sikapnya congkak sekali. Kiau To tak mau hiraukan
propokasi orang. Tanpa membalas sepatah pun, dia putar
jwan-pian, orang bersama senjata berbareng maju
menyerang. Itulah salah satu jurus istimewa dari permainan
Liok-kin-pian-hwat, orang dan pian dapat menunggal jadi
satu. Tapi kini The Go telah berhasil memiliki ilmu pedang
Chit-sat-kiam-hwat yang amat ganas aekali. Ditambah
dengan mencekal sebuah pedang pusaka macam pedang
kuan-wi-kiam, dia tak jerikan segala apa. Begitu Kiau To
dan jwan-piannya merangsang datang, dia menyabet kalang
kabut. Sepintas pandang, gerakannya itu kacau balau tak
keruan, tapi pada hakekatnya itulah salah sebuah jurus
Chit-sat-kiam-hwat yang paling istimewa, yakni yang
disebut chit-che-tay-hwe (7 bintang saling bertemu).
Didalam kegencarannya, mengandung seribu satu gerak
perobahan yang berbahaya.
Melihat orang menyambut dengan pedang, Kiau To
buru2 tarik pulang serangannya. Kalau pedang lawan itu
pedang yang kebanyakan, seratus persen tentu dapat dia
hantam jatuh. Tapi pedang kuan-wi-kiam, bukan pedang
sembarang pedang. Pedang itu dapat menabas segala mat
yam logam, semudah menabas tanah liat. Sudah terang
jwan-pian akan terbabat kutung. Begitu tarik pulang
tangannya, dia pun loncat kesamping, sembari
mengancamkan jwan-pian.
Ancaman itu kosong, hanya diperuntukkan melindungi
diri saja.
The Go tak mau melepaskan lawan. Dia bolang
balingkan pedang untuk di-main2kan sebentar diatas,
kemudian secepat kilat ditusukkan kedada orang. Dibawah
ancaman pedang kuan-wi-kiam yang sakti itu, terpaksa
Kiau To main mundur terus. Tio Jiang yang menyaksikan
pertempuran itu berkerut kening, sebaliknya Yan-chiu
mendongkol bukan kepalang.
„Hanya mengandalkan sebatang pedang tajam saja,
apanya sih yang harus dibuat bangga!" serunya mengumpat.
Tapi pada lain saat, dia teringat bahwa pedang itu adalah
milik subonya yang telah berpuluh tahun mengangkat nama
didunia persilatan. Dengan umpatannya tadi, bukantah juga
berarti mengatakan suhu dan subonya tak mempunyai
kepandaian yang berarti kecuali mengandalkan pedang
pusakanya itu ? Memikir sampai disini, Yan-chiu bercekat
sendiri. Untunglah semua orang tengah memusatkan
perhatian pada jalannya pertempuran itu.
Dalam pada itu, The Go sudah kembangkan permainan
pedang Chit-sat-kiam-hwat. Pedangnya tampak berkelebat
kesana sini dengan gencarnya; makin lama makin rapat
mengepung lawan. Betapapun Kiau To hendak merebut
inisiatip, tapi tetap gagal. Jalan satu2nya, dia hanya dapat
memainkan jwan-pian dengan lebih seru, agar jangan
sampai kena diberobosi senjata lawan. Sekalipun begitu,
keadaan tetap genting. The Go mempunyai pedang pusaka,
dia tak jerikan jwan-pian, malah berulang kali sengaja
hendak adu senjata. Kiau To terdesak dalam dua kesukaran
menjaga serangan, menghindar bentrokan senjata. Dia
selalu main mundur saja. Begitu seru pergumulan itu
berlangsung, hingga yang tertampak hanya sebuah
lingkaran sinar hijau merangsang sinar kuning. Dalam
sekejab saja, mereka sudah bertempur lima enampuluh
jurus.
The Go semakin garang, mulutnya tak putus2nya
mengejek, sedang Kiau To hanya diam saja. Sebenarnya
saat itu sudah ketahuan kekuatan masing2. Tapi sebagai
seorang jantan, Kiau To pantang menyerah. Lebih2 dia
penasaran sekali karena kekalahan itu tak sewajarnya,
hanyalah karena lawan memiliki senjata ampuh saja.
Kembali 3 jurus sudah berlangsung, Kiau To berlaku nekad.
Maju selangkah, begitu mementang tangan kiri, tangan
kanannya menghantamkan jwan-pian. Dia tak
menghiraukan lagi pertahanan-nya bagian dadanya terbuka.
The Go bersorak dalam hati. Tak mau dia menusuk,
melainkan membabat jwan-pian orang. Disini dapat
diketahui betapa kecerdikan orang she The itu. Dia cukup
tahu Kiau To itu bukan jago sembarangan, sedikitnya juga
mempunyai nama besar didunia persilatan. Kalau dada
sengaja dibuka, tentu disitu ada apa2nya. Dia kendalikan
diri, sembari mundur sembari membabat dulu senjata
lawan. Dan perhitungannya itu tern yata tepat sekali. Siasat
Kiau To telah kena disiasati. Dalam kedudukan kala itu, tak
mungkin Kiau To menarik lagi jwan-piannya dan
terpapaslah oleh pedang si The Go hingga kutung menjadi
dua, Kiau To makin kalap. Kutungan tangkai jwan-pian
yang dipegangnya itu segera dilingkarkan kebawah untuk
menutuk jalan darah peh-hui-hiat dikepala orang. Tapi The
Go lebih cepat lagi. Ujung pedangnya ditekuk kebawah dan
tahu2 Kiau To rasakan pahanya sakit, hingga buru2 dia
surut kebelakang. Kiranya pahanya telah ketusuk, sedang
jwan-piannya belum sempat ditutukkan.
„Kiau-heng, mundurlah!" Ceng Bo siangjin dengan
gugup menereaki. Sedangkan Tio Jiang dengan sebatnya
sudah loncat kehadapan Kiau To sembari gerakkan
tangannya. The Go rasakan ada samberan angin yang berat
menyerangnya, tapi dengan tertawa dingin dia menyabet
tangan orang. Tio Jiang cepat tarik tangannya, diganti
dengan sebuah tendangan kaki kanan kearah siku tangan
orang.
GAMBAR 68
Dengan pedang pusaka lawan pedang wasiat, Tio Jiang
menggantikan Kiau To menempur The Go dengan senjatanya
dalam pertandingan di Ang-hun-kiong itu.
The Go kaget dan ter-sipu2 mundur selangkah. Diam2
dia merasa heran, mengapa dalam beberapa waktu yang
begitu singkat, saingannya itu mencapai kemajuan yang
begitu pesat.
Juga Ceng Bo menjadi girang melihat kemajuan sang
murid itu. Dalam dua jurus tadi, walaupun hanya dengan
tangan kosong tapi Tio Jiang dapat mendesak mundur
lawannya, pedang pusaka yap-kun-kiam dilolos dari
sarungnya. „Jiang-ji, pedang ini untukmu!" serunya sembari
angsurkan pedang itu kepada Tio Jiang, siapa sangatlah
girangnya:
„Terima kasih suhu!"
Pedang dibuat mainan sebentar, lalu berseru: „Cian-bin
Long-kun, hati2lah !" Itulah watak ksatrya muda dari Lohu-
san. Dia sangat benci kepada The Go, namun tak mau
dia tinggalkan tata kesopanan pertempuran.
„Kita telah saling berjanji, hanya akan adu kepandaian,
bukan adu mulut. Kalau mau menyerang, seranglah ! Apa
itu 'hati2' sih ?" sebaliknya The Go malah mengejek
kejujuran orang.
Tio Jiang tak mau berbantah, begitu maju selangkah, ia
rangkapkan kedua tangannya kemuka dada macam seorang
imam berdoa. Kemudian pedang diturunkan lalu secepat
kilat dikibaskan keatas diimbangi oleh gerak tangan kirinya.
Itulah salah satu jurus dari ilmupedang to-hay-kiam-hwat
yang disebut boan-thian-kok-hay. Sinar pedang yap-kunkiam
beda sedikit dari Kuan-wi-kiam, yalah sinar hijau itu
mengandung sedikit warna bianglala. Tusukan yang
diarahkan ketenggorokan The Go itu necis dan berwibawa
sekali, karena kedudukan orangnya tegak kokoh. bagaikan
gunung.
Sampaipun The Go sendiri, menjadi terkesiap. Sambil
miringkan kepala, dia gerakkan pedangnya untuk
membacok bahu lawan.
Luput menusuk, segera Tio Jiang turunkan pedangnya,
trang ..... sepasang pedang saling beradu, deringnya
sedemikian gemerencing bening. Keduanya loncat mundur,
untuk memeriksa senjata masing2. Ternyata sepasang
pedang itu sama ampuh, sama kokohnya. Kini keduanya
saling berhadapan lagi. Anehnya, The Go tidak maju
kemuka, tapi malah mundur. Sedang Tio Jiang tetap tegak
laksana sebuah gunung.
Sekalian yang hadir, sama menahan napas untuk
menantikan pertempuran itu. Sedang Ceng Bo diam2 puas
akan kemajuan muridnya yang ternyata kini sudah dapat
menyingkap intisari dari pelajaran ilmupedang to-hay-kiamhwat.
Tenang laksana gunung, bergerak laksaria kelinci
lincah. Demikian pokok2 dari ilmupedang itu.
Tak berapa saat kemudian, tiba2 The Go menyerang
maju. Sampai ditengah jalan, pedang baru dimainkan
dengan gencar, sehingga tampaknya orangnya telah bersatu
kedalam lingkaran sinair pedangnya, Namun. Tio Jiang
hanya mengawasi sembari palangkan pedangnya kemuka,
saja, ia masih tegak-tenang. Kira2 beberapa depa jaraknya
dengan Tio Jiang, se-konyong2 The Go hentikan permainan
pedangnya secara mengagumkan sekali.
Tio Jiang terkesiap: Tapi dalam detik itu, The Go sudah
lancarkan serangan Chit-sat-kiam-hwat tiga kali ber-turut2,
menyerang atas, tengah dan bagian bawah dari orang.
Adalah Yan-chiu sigenit itu yang lagi2 tersentak kaget.
Waktu dalam gebrak permulaan tadi, kedua seteru itu
sudah beradu senjata, tahulah ia bahwa mereka bertempur
mati2an. Sudah tentu ia mend yadi kebat kebit juga hatin
ya.
Kelima jari tangannya bergiliran digigiti, sedang matanya
terpaku ketengah gelanggang. Kala dilihatnya sdng suko seolah2
tak menginsyafi akan maut yang dibawakan serangan
The Go itu, tanpa terasa ia telah menjerit.
Tio Jiang menangkis keatas, tapi secepat itu pedang The
Go sudah beralih menyerang kearah perut, hingga terpaksa
Tio Jiang mundur selangkah. Berbicara tentang nilai kedua
ilmu pedang yang - dimiliki oleh kedua anak muda itu
dapatlah secara ringkas diterangkan begini:
Dalam hal kebagusannya, Chit-san-kiam-hwat tak dapat
menandingi To-hay-kiam-hwat. Tapi Chit-sat-kiam-hwat itu
jauh lebih mudah dipelajari. Apalagi otak The Go memang
cerdas. Dalam 7 atau 8-hari saja dia sudah hampir
seluruhnya mengerti. To-hay-kiam-hwat hanya terdiri dari 7
jurus. Sebenarnya baik dalam ilmu silat maupun
ilmupedang, makin sedikit jurusnya, makin banyaklah
gerak perobahan didalamnya. Dan disitulah letak intisari
yang sukar dipelajari. To-hay-kiam-hwat dengan ke 7
jurusnya itu mudah dipelajari, yang sukar adalah gerak
perobahannya itu. Apakah serangannya itu kosong atau
sesungguhnya, harus disesuaikan dengan keadaan.
Sewaktu masih di Lo-hu-san, Tio Jiang belum pernah
bertemu dengan musuh yang tangguh. Setelah turun
gunung, walaupun pernah mengalami berulang kali
pertempuran, tapi sebagian besar hanya berhadapan dengan
kawanan tentara Ceng yang tak mempunyai kepandaian
berarti. Pertempuran dengan pedang satu lawan satu, baru
pertama kali dengan The Go itu. Sebaliknya The Go sejak
kecil boleh dikata sudah berkecimpung didunia persilatan,
jadi dia sudah banyak pengalaman berkelahi.
Dengan mundurnya Tio Jiang kebelakang itu, The Go
sudah dapat mengambil inisiatip pertempuran. Kuan-wikiam
dibolang-balingkan, tahu2 tham-tiong, ji-hiat, ki-kwat,
siang wan dan ki-bun, lima buah jalan darah didada Tio
Jiang telah diancam akan ditutuk. Tio Jiang baru saja dapat
memperbaiki posisi kakinya, tapi sebelum sempat
melancarkan jurus cing-wi-tiam-hay, sudah dirangsang
begitu rupa oleh ceceran senjata The Go tadi, hingga
terpaksa Tio Jiang putar pedang untuk melindungi dadanya.
The Go menggereng dengan geramnya. Rangsangannya
yang selebat hujan dalam jurus ngo-lo-jay-kiau tadi, hanya
dengan perobahan secara mendadak saja Tio Jiang sudah
dapat menutup rapat2 dirinya, Dalam kemarahannya itu,
tak urung dia kagumi jua kepandaian lawan. Tapi dia tak
mau berhenti sampai disitu saja. Begitu ber-gerak2, dia
sudah melejit kebelakang lawan, disitu tanpa berayal Iagi
dia segera menusuk punggung orang. Tio Jiang tak mau
memutar tubuh, karena kalau berbuat begitu tentu kena
didahului musuh. Dia hanya menjerumus kemuka sedikit,
sembari hantamkan pedangnya kebelakang melalui sisi
pinggangnya.
Kiranya serangan The Go itu walaupun tampaknya biasa
saja, tapi sebenarnya mempunyai gerak perobahan yang
sukar diduga. Jurus itu disebut „cong hong poan sat"
(berlaku gila pura2 tolol). Kala itu dia berada dibelakang
lawan jadi kedudukannya lebih menguntungkan. Untuk
tabasan kebelakang dari Tio Jiang tadi, sengaja dia
menangkis.
Tio Jiang terperanjat dan buru2 kerahkan lwekang
kearah pedangnya, sebaliknya tangkisan, The Go tadi
hanya suatu pancingan aaja, karena selekas itu juga dia
tarik, puIang pedangnya. Oleh karena tak menyangka
musuh berbuat begitu, Tio Jiang tak sempat menarik
lwekangnya, hingga dia terjerembab kebelakang. Jadi
keadaannya adalah begini, bukan The Go yang perlu cape2
menusuk tapi Tio Jiang sendiri yang, hendak menjatuhi
pedang Iawan !
Menilai, kepandaian mereka berdua, sebenarnya kini Tio
Jiang lebih unggul setingkat. Hanya sayang sebelum dia
dapat memperkembangkan permainan pedang To-haykiam-
hwat, telah didesak begitu rupa oleh lawan. Sekali ada
bagian tubuh yang kena diancam lawan, berarti seluruh
tubuhnya kena dikuasai ancaman itu. Sekali sebuah
serangan kena ditindas, maka jurus2 selanjutnya pasti akan
dikuasai lawan. Begitulah dalil2 yang berlaku dalam ilmu
silat.
Tahu bakal celaka, buru2 Tio Jiang tekankan ujung
kakinya kemuka, lalu ayunkan keras2 tubuhnya kemuka.
Tapi The Go tak mau melepaskan sang korban. Pedangnya
dijujukan kemuka, terpisah hanya dua dim dari punggung
orang.
Suatu jarak yang laksana seperti selembar rambut
digantungi dengan ribuan kait bahayanya. Sampai Yan-chiu
yang melihatnya, kucurkan keririgat dingin.
Tio Jiang ayunkan tubuhnya sampai setombak kemuka,
tapi belum sempat dia membalik tubuh, The Go sudah
mengikutinya seperti sesosok bayangan. Pedangnya tetap
mengiring kemana punggung Tio Jiang bergerak. Tio Jiang
tak berdaya membalik badan, juga tak dapat balas
menyerang. Dia rasakan hawa dingin dari pedang kuan-wikiam
itu ber-putar2 dipunggung. Tak berani dia berayal,
lalu enjot lagi tubuhnya loncat kemuka, tapi The Go tetap
membayanginya.
Begitulah dalam gelanggang itu segera terjadi permainan
berloncatan saling mengudak. Lima kali Tio Jiang
memutari gelanggang itu, namun tetap tak berdaya untuk
menghindari ancaman musuh. Memang jurus cong-hongpoan-
sat yang digunakan The Go itu, lihaynya bukan
kepalang.
Seluruh jalan darah berbahaya dipunggung Tio Jiang seolah2
tercengkeram dalam ancaman ujung pedangnya.
Asal sedikit berayal, habislah riwayat Tio Jiang.
Diantara orang2 yang menyaksikan pertempuran itu,
Yan-chiulah yang paling gelisah sendiri. Diam2 ia sudah
siapkan bandringannya dan terus hendak loncat ketengah
gelanggang, tapi dicegah oleh suhunya. Walaupun menurut
tapi bibir sigenit menyeringai geram. Dalam anggapannya
terhadap orang macam The Go, mengapa harus berlaku
sungkan menetapi tata-susila kaum persilatan. Dia sih
belum cukup menyelami peribadi suhunya. Ceng Bo
siangjin memang senantiasa berpegang pada garis
kelurusan. Jangan sampai dia menyalahi orang, sebaliknya
dia lebih suka memaafkan orang. Inipun berlaku terhadap
seorang yang tak kenal kesopanan persilatan macam The
Go.
Ketiga orang yang berdiri disebelah sana itu, adalah
murid2 Ang Hwat cinjin yaitu ketiga Ang-hun su-mo (4
Iblis dari Ang-hun-kiong), Toa-mo Ciang Tay-bing, Sammo
Long Tek-san dan Su-mo Im thian-kui. Melihat
bagaimana keangkeran The Go sewaktu memainkan
ilmupedang Chit-sat-kiam-hwat itu, bukannya mereka
bertiga menjadi girang tapi sebaliknya malah mendongkol.
Toa-mo Ciang Tay-bing paling kentara perasaannya, karena
mimik wajahnya mengunjuk kemarahan besar. Tapi oleh
karena tak mengetahui persoalannya, maka rombongan
fihak Ceng Bo hanya menganggap mereka bertiga itu
separtai dengan The Go, jadi tentunya turut perihatin akan
kemenangan The Go.
Beberapa kali, gagal untuk melepaskan diri itu, tiba2 Tio
Jiang memaki dirinya sendiri yang sudah berlaku begitu
goblok itu. Mengapa dia hanya terus menerus loncat
kemuka saja...... ya...., mengapa tak mau loncat kesamping?
Bukantah dia mengerti juga akan ilmusilat hong-cu-may-ciu
(sigila menjual arak), itu ilmu pusaaka dari kaum Ang-hunkiong
?
Mengapa dia tak menggunakannya ? Secepat mendapat
keputusan, setelah loncat lagi sekali kemuka, dia terus
miringkan tubuhnya kesamping, dari situ lalu buang
dirinya. kemuka. Begitu tangannya kiri dibuat menekan
tanah, sepasang kakinya bergerak dalam ilmu tendangan
wan-yang-lian-thui, menjejak kaki The Go. The Go kaget
juga, lalu buru2 papaskan pedangnya kebawah untuk
menyambut tendangan orang, tapi kali Ini dia tertipu.
Tendangan Tio Jiang tadi hanya ancaman kosong, begitu
dilihatnya pedang musuh menurun, dia tekankan tangannya
kiri. keras2 pada tanah dan sepasang kakinya segera
melayang keatas lalu berjumpalitan kebelakang, terus
berdiri tegak berhadapan muka dengan lawan.
Disebelah sana terdengarlah siulan kagum dari ketiga
sam-mo Ang-hun-kiong, disebelah sini terdengar helaan
napas longgar dari rombongan Ceng Bo, bahkan Yan-chiu
malah bertepuk tangan seraya berseru memuji kepandaian
yang diunjuk oleh sukonya itu.
Tapi Tio Jiang tak sempat menghiraukan segala sorak
pujian itu. Begitu terlepas dari ancaman, begitu pedangnya
sudah bergerak dalam jurus „Tio Ik cu hay", dan sebelum
lawan menangkis dia sudah robah gerakannya, dalam jurus
boan-thian-kok-hay. Sekali gerak, dua buah serangan susul
menyusul, sehingga dari menyerang kini The Go ber-balik
diserang tanpa mempunyai kesempatan untuk balas
menyerang lagi. Tio Jiang tak mau memberi hati. Ceng-witiam-
hay dan Ho-pak-kuan-hay, susul menyusul
dirangsangkan pada musuh.
Keistimewaan daripada, ilmupedang To-hay-kiam-hwat
yalah jurus yang menyusul selalu lebih hebat dari, jurus
yang dimukanya. Sempat memperkembangkan permainan
ilmupedang ajaran sang suhu, Tio Jiang susuli lagi dengan
jurus hay-siang-tiau-go, ujung pedang membacok kaki
lawan tapi se-konyong2 dihentikan. The Go mengira
terbuka lubang kesempatan, kuan-wi-kiam hendak
dijungkatkan ke-atas. Tapi ternyata berhentinya gerak Tio
Jiang tadi hanya dalam sekejapan mata saja. Belum The Go
sempat menggerakkah pedangnya, Tio Jiang sudah
menusuk tenggorokannya. Dalam kagetnya, dengan gugup
The Go mendak kebawah, srat ......yap-kun-kiam Tio Jiang
telah menusuk kain kepala The Go hingga berlubang besar.
Tio Jiang jungkatkan ujung pedangnya keatas hingga kain
kepala lawan terjumput lepas, lalu lanjutkan dengan jurus
hay-li-long-huan. Disinilah Tio Jiang membuat blunder
(kesalahan besar). Dengan jurus hay-li-long-huan yang
sedianya hendak dipapaskan kerusuk lawan itu, terpaksa
Tio Jiang harus berhenti setengah jalan, karena pedangnya
harus memakan sedikit waktu untuk melingkar turun, The
Go sudah loncat kebelakang untuk menghindar. Andaikata
Tio Jiang tadi gunakan jurus hay-lwe-sip-ciu untuk
memotong turun, dapat dipastikan The Go akan sudah
terbelah kepalanya atau bahunya. Walaupun mengucurkan
keringat dingin, namun The Go dapat lolos dari maut.
Melihat musuh loncat kebelakang, Tio Jiang tak mau
mengejar. Lagi2 jago muda dari Lo-hu-san itu unjuk sifat
ksatryaannya. Lupa sudah dia bahwa tadi musuh telah
berlaku begitu ganas, meng-ubar2 punggungnya. „Biarkan
dia mengambil napas, merebut kemenangan secara jujur
adalah lebih ksatrya," demikian pikirnya.
Sebaliknya The Go girang karena musuh tak mengejar.
Tangannya meraba kebelakang lehernya dan mencabut
sebatang bambu kira2 satu meter panjangnya. Kalau Tio
Jiang tak mengerti gerak gerik orang, adalah Yan-chiu dan
Kui-ing-cu dengan segera dapat mengetahuinya.
„Ceng-ong-sin!" teriak sigenit. Tio Jiang terkesiap, heran
dia mengapa ceng-ong-sin sampai jatuh ketangan The Go.
„Siaoko, hebat nian ilmupedangmu itu, mari maju lagi
lah!" seru The Go dengan mengejek riang.
„Baik," sahut Tio Jiang. Tapi baru mulutnya mengucap
begitu, tiba2 terdengar suara angin men-deru2, menyusul
ada 3 sosok tubuh lewat ditempat situ. terus masuk kedalam
gereja. Yang dimuka sendiri mengenakan pakaian jubah
imam berwarna merah, gerakannya pesat laksana sebuah
bola api ditiup angin. Dua orang yang mengikuti, walaupun
tak selihay yang dimuka tadi, tapi juga tak lemah ilmunya.
Mereka berdua mengenakan pakaian yang aneh coraknya,
bukan jenis paderi bukan macam imam.
Tio Jiang berpaling mengawasi kearah suhunya dan Kuiing-
cu. Tampak kedua tokoh itu berkerut kening, se-olah2
ada peristiwa genting. Sebaliknya ketika mengawasi
kemuka, dilihatnya The Go tertawa ber-seri2. Tak berapa
lama kemudian, kembali ada 3 orang yang naik kepuncak
situ. Tio Jiang kenal mereka sebagai sam-tianglo dari gereja
Ci-hun-si di Lam-kun-san, yalah To Ceng, To Kong dan To
Bu hweshio. Ketiga hweshio itu deliki mata kearah Ceng Bo
dan Ko Thay. Rupanya mereka masih mendendam akan
peristiwa ditengah sungai itu. Kedatangan ketiga hweshio
itu segera disambut oleh Ang-hun sam-mo yang mengantar
mereka masuk kedalam gereja.
Tak berapa lama, tampak Toa-mo Ciang Tay-bing keluar
lagi dan berkata kepada The Go: „Go-tit, sucou titahkan
supaya pertempuran ini dihentikan dahulu, karena dia
orang tua ada omongan penting padamu !"
The Go mengiakan, sembari masukkan bumbung bambu
kedalam leher baju, dia memberi hormat kepada
rombongan tetamu seraya berkata: „Harap jangan pergi
dulu, sebentar lagi siaoya akan datang lagi untuk
menyelesaikan pertempuran ini!"
Tio Jiang terlalu jujur untuk balas mengejek. Sedangkan
Ceng Bo dan Ko Thay, tetap mau pegang gengsinya, jadi
mereka pun tak mau mengurusi soal kecil itu, dan
melainkan hanya tertawa dingin saja. Hanya si Bongkok Ih
Liok dan Kui-ing-cu yang tak mau tinggal diam untuk
menyemprot The Go, serunya: „Kami tak pergi, tapi
kaupun jangan ngacir!"
Dan tanpa ajak2an lebih dahulu, kedua tokoh kukway
itu segera enjot tubuhnya loncat kemuka. Yang satu dari
sebelah kiri dan yang lain dari sebelah kanan, dan sama
ulurkan tangan untuk mencengkeram The Go. The Go
pernah rasakan tangan si Bongkok, maka dia sesali
mulutnya tadi yang sudah begitu lancang, hingga sampai
menimbulkan kemarahan kedua tokoh lihay itu. Sekalipun
Ang Hwat cinjin nanti keluar, dia tentu akan sudah disiksa
oleh kedua momok itu. Maka seperti diuber setan, dia
bolang balingkan pedangnya, lari tunggang langgang
kedalam gereja. Tiba diambang pintu, didengarnya dari
arah belakang ada, suara orang ketawa ter-bahak2. Ketika
dia beranikan diri berpaling, mendongkolnya bukan alang
kepalang. Kiranya cengkeram Kui-ing-cu dan si Bongkok
tadi, hanya ancaman kosong belaka. Nyatanya kini mereka
masih berdiri tegak ditempat masing2 sembari tekan
perutnya karena geli melihat The Go lari ter-kencing2.
Lebih2 sigenit Yan-chiu. Saking gelinya tubuh nona itu
sampai ter-huyung2 maju mundur. Sembari menekan perut,
ia berseru mengejek: „Cian-bin Long-kun, hebat sekali ilmu
mengentengi tubuhmu sekarang ini ya!"
The Go meringis geram. „Awas, nanti tentu kuhajar kau
setengah mampus," pikirnya sembari rnelangkah masuk
kedalam. Sebaliknya dengan masih tertawa, Yan-chiu
kedengaran mengomeli sang suko: „Suko, mengapa
terang2an tadi kau mempunyai kesempatan untuk
menghajarnya, tapi membiarkan dia lari begitu saja ?"
Belum Tio Jiang menyahut, Kui-ing-cu sudah
mendahului: „Siaoko sih orangnya jujur, tidak seperti kau
budak perempuan yang segenit itu, segala apa tiada takut !"
Yan-chiu mengunjukkan „muka setan" kepada tokoh
aneh itu, siapa hanya menyeringai saja, karena merasa
diapun serasi perangainya dengan anak perempuan itu.
„Persoalan hari ini, berkembang begini jauh, tidak
melulu berkisar pada diri The Go seorang. Bek-heng dan
Kui-heng serta Ko enghiong karena menolong Sik Lo-sam,
kini masih belum pulih dari kehilangan tenaga. Tay Siang
Siansu belum dapat diketemukan, sedang kaki tangan
pemerintah Ceng sudah berkumpul disini. Rasanya kita
bakal menghadapi kesukaran besar nanti!" akhirnya si
Bongkok berkata.
Tio Jiang seperti diguyur air dingin waktu, mendengar
ucapan itu. Bukantah Li Seng Tong sudah berpaling haluan
melawan pemerintah Ceng, hingga didaerah Kwitang sini
tiada terdapat pengaruh Ceng, lagi, tapi mengapa masih ada
kaki tangan mereka ? Sungguh Tio Jiang tak habis mengerti
persoalannya. Adalah Kiau To yang ternyata tak terluka
berat itu, segera menyatakan pendapatnya: „Bek-heng, turut
pendapatku, lebih baik aku turun gunung mencari suhuku.
Kalau tak berhasil menjumpainya, aku hendak menuju ke
Kwiciu untuk meminta agar Li Seng Tong suka
mengirimkan pasukan kemari!"
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 37 : PERJAMUAN DARAH
"Ah, Kiau-heng," kedengaran Ceng Bo menghela napas,
"sebenarnya Li Seng Tong bersungguh hati tinggalkan Ceng
untuk mengabdi pada Beng. Tapi kerajaan Beng sudah tak
mau mempercayainya dan siang2 telah mengirimnya
kedaerah utara untuk menghadapi pasukan Ceng. Percuma
saja mencarinya di Kwiciu!"
Saking gusarnya, Kiau To sampai tak dapat ber-kata2.
Sebaliknya si Bongkok nyatakan keheranannya: "Ah,
makanya pemerintah Ceng gerakkan kawanan kaki
tangannya secara besar2an untuk menumpas kita beberapa
gelintir manusia ini. Kiranya mereka tak memandang mata
pada kaisar Ing-lek itu !"
"Sudah tentu tak terbatas pada kita beberapa orang ini
saja. Para pahlawan dari segala aliran didunia persilatan,
sama menaruh sympati dan menunjang Ki dan Kiau-heng
untuk membentuk Thian-te-hui lagi: Maka dalam beberapa
hari lagi, kawanan kaki tangan Ceng itu tentu akan tiba
kemari. Ah, sayang Ang Hwat cinjin itu. Disebabkan
karena turuti hawa nafsu ingin menang dalam urusan The
Go ini, maka dia telah diperalat oleh kaki tangan
pemerintah Ceng itu!" kata Ceng Bo.
Ki Ce-tiong yang sedari tadi diam saja, kini turut
mengeluarkan suara: "Bek-heng, turut pendapatku yang
cupat, kita lebih baik tinggalkan tempat ini saja dulu. Kelak
kalau kita sudah berhasil menghimpun kekuatan, kita
datang kesini lagi !"
"Ki lotoa, dengan-ngacir secara begitu, entah dikemudian
hari apa kita masih ada muka bertemu orang lagi ?" si
Bongkok menyanggah. Ki Ce-tiong menghela napas, tak
mau berbantah lagi. Kini baru tahulah Tio Jiang sebab2nya
mengapa tadi wajah suhu dan para cianpwe itu sama
mengunjuk kegelisahan. Tapi dia masih tetap tak mengerti
mengapa harus jerikan kekuatan fihak Ang-hun-kiong yang
masih mendapat tambahan seorang dua tenaga bantuan itu?
Maka dia beranikan diri bertanya: "Siapakah dua kaki
tangan yang dikirim kemari oleh pemerintah Ceng itu ?"
"Itulah yang tadi masuk kedalam gereja bersama Ang
Hwat cinjin! Kabarnya mereka berdua adalah benggolan
besar dari daerah utara, sepasang suami isteri. Kalau
bertempur mereka merupakan pasangan tunggal, mahir
dalam ilmu lwekang jit-gwat-im-yang-kang, saktinya bukan
main"
Baru Kui-ing-cu menerangkan sampai disitu, Ko Thay
sudah menyela: "Apakah bukan yang digelari "Swat Bwe
Hwat Siau (hantu salju siluman api ) berdua itu ?"
"Benar, apakah Ko-heng pernah juga mendengar nama
mereka ?" tanya Kui-ing-cu.
Ko Thay mengertak gigi, ujarnya: "Susiok-ku ketika di
Hopak telah binasa ditangan mereka. Jadi aku mempunyai
dendam kaum-perguruan pada mereka !"
Ketika rombongan orang gagah itu sedang berunding,
Toa-mo Ciang Tay-bing kembali keluar dan
mempersilahkan tetamunya: "Suhu mengundang para
tetamu sekalian supaya masuk kedalam. Oleh karena
kebetulan saat ini kami sedang kedatangan tetamu lainnya,
terpaksa pertandingan dipertangguhkan sampai besok.
Apabila sekalian tak memandang rendah, sudilah
beristirahat kedalam."
"Jangan terkena tipu muslihat!" cepat Kui-ing-cu
menukas. Sudah tentu sekalian orang sama terkesiap dan
menanyakan keterangan. Kui-ing-cu menerangkan lebih
lanjut:
"Konon kabarnya didalam Ang-hun-kiong itu banyak
sekali dipasangi alat2 jebakan. Boleh dikata setiap ruangan,
merupakan semacam barisan ‘seng si hui beng tin’ (barisan
mati hidup gelap-terang), yang lihaynya bukan kepalang.
Sekali masuk kita tentu terlibat dalam kesukaran !".
Yan-chiu ketarik, sedangkan Kiau To segera berkata:
"Kalau tak memasuki sarang harimau, bagaimana dapat
memperolen anak harimau?"
"Kiau-loji, lakukanlah rencanamu, tadi. Kalau dapat
menemukan Tay Siang Siansu itulah paling baik. Kalau
tidak, minta pada Li Seng Tong supaya mengirim tentara
kemari, juga baik!" kata Kui-ing cu.
Ceng Bo siangjinpun menyetujui, maka Kiau Topun
mengiakan.
"Apakah kalian memang tak suka masuk kedalam ?"
rupanya Toa-mo Ciang Tay-bing tak sabar lagi.
Kui-ing-cu mendongkol dan menyemprotnya: "Siaocu
(anak kecil), kau mau jual lagak ? Kami masih hendak
tunggu beberapa sahabat yang belum datang!"
Ciang Ta-bing mendongok tertawa keras. Dia sudah
berusia 50-an tahun. Wajahnya keren, didalam Ang-hunkiong
selain Ang Hwat cinjin sendiri, dialah orang nomor
dua.
Nada ketawanya tadi, mengunjuk bahwa ilmunya cukup
tinggi. Habis ketawa, dia berkata: "Oh, kiranya hanyahohan
palsu, enghiong gadungan. Sampai ditempat ini,
masuk saja tidak berani, ha...., ha...., ha...., orang bisa mati
karena geli!"
Ejekan itu keliwat takeran. Sekalipun golongan pou-sat
(dewa) tak nanti tahan mendengar itu. Sekali enjot kakinya,
Ko Thay melayang kemuka, berbareng itu Kui-ing-cu dan si
Bongkokpun dengan gunakan ilmu mengentengi tubuh,
tahu2 sudah meluncur maju. Tio Jiang dan Yan-chiu juga
tak mau ketinggalan menyusul. Hanyalah Ceng Bo dan Ki
Ce Tiong yang melangkah masuk kedalam gereja dengan
ayunan kakinya. Sementara Mau To, begitu tadi telah
mendapat persetujuan orang banyak, sudah turun gunung.
Berkat ejekan tawa Ciang Tay-bing, ketujuh orang gagah
itu menobros masuk kedalam halaman gereja. Tekad
mereka, sekalipun memasuki sarang harimau, kubangan
naga, mereka tetap tak gentar. Setiba diambang pintu,
mereka berhenti sejenak kemudian terus hendak melangkah
masuk.
Se-konyong2 dari arah belakang terdengar sebuah
lengking makian yang nyaring sekali : "Minggir ! Mengapa
berkerumun didepan pintu ?"
Ceng Bo lah yang terlebih dahulu berpaling kebelakang
dan : "Hong-moay, kau juga turut kemari ?" katanya dengan
kaget demi dilihatnya sang isterilah yang berseru itu. Tapi
rupanya Kang Siang Yan tak mau menghiraukannya.
Selebar mukanya penuh dengan hawa kemurkaan.
Semua orang gagah tahu betapa eksentrik adat wanita
aneh itu. Mereka tak berani buka suara menanyakan.
Sepasang biji mata Kiang Siang Yan menyoroti ke-orang2
itu, lalu tiba2 menuding kearah Ciang Tay-bing, serunya:
"Apakah kau ini orang Ang-hun-kiong? Dimana Ang Hwat
loto dan The Go?"
Ciang Tay-bing tak kenal siapa Kiang Siang Yan itu.
Datang2 terus mendamprat begitu kasar menyebut
Suhunya sebagai "Ang Hwat loto (iman tua bangka)" sudah
tentu dia sangat marah. Dia juga seorang yang mabuk
kehormatan, kecuali terhadap Ang Hwat cinjin, tiada lain
orang yang diindahkan.
"Perempuan busuk, kau ngoceh......." belum ucapan itu
diselesaikan dengan kata "apa", Kiang Siang Yan sudah
ayunkan tangannya, tar....... tahu2 Ciang Tay-bing rasakan
selebar wajahnya geriming2 panas sekali.
Itu saja Kiang Siang Yan hanya ringan2 saja menampar,
tidak gunakan pukulan thay-im-ciang. Sekalipun begitu,
Ciang Tay-bing, sudah tak tahan, separoh mukanya degap,
mulutnya serasa mengunyah sesuatu benda dan ketika
dimuntahkan, kiranya dua buah gigi mukanya, telah copot !
Toa-mo atau Iblis kesatu dari Ang-hun-kiong itu ganas
dan kejam. Menderita kesakitan semacam itu, sudah tentu
dia seperti kerangsokan setan. Tangan diangkat akan
diayun, tiba2 terdengar seruan The Go: "Supeh, tahan dulu,
orang sendiri !" Sembari berseru, The Go ber-lari2
menghampiri Kiang Siang Yan dan menjura dihadapannya
secara khidmat sekali seraya, berkata: "Gak-bo (mertua
perempuan) yang mulia, siao-say (menantu menghaturkan
sembah !"
Sehabis melakukan upacara itu, dengan serta The Go
memegang tangan Bek Lian, dengan ter-iba2 mencumbu
rayu, berkatalah dia : "Lian-moay, oh kau pun datang. Aku
tahu bahwa gakbo tentu dapat menolongmu dari sarang
macan, sungguh hampir mati aku memikirkan dirimu !"
Bagaikan tersapu angin, awan "kesangsian yang
merundung hati Bek Lian, seketika lenyap. Lupa sudah
bagaimana ia mengalami pederitaan selama pergi dari Thiat
nia (tempat kediaman suku Thiat-theng-biau) itu, tanpa
menghiraukan sekian banyak orang yang hadir disitu,
pecahlah tangisnya ketika ia lari jatuhkan diri kedalam
pelukan The Go.
"Lian-ji, bukankah kau mengatakan kalau dia itu kau
curigai ?" tanya Kang Siang Yan. Tapi bagaikan musafir di
padang pasir yang dirangsang dahaga, ia telah dapat
menemukan "sumber air" didalam rayuan si Cian-bin Longkun.
Hilang lenyap semua kesangsian terhadap sang
kekasih yang "bergas" itu.
"Ma, itulah karena aku dipengaruhi oleh orang2 yang
membencinya. Nyata2 engkoh Go bukan orang semacam
begitu !" kata Bek Lian.
Diam2 The Go bercekat dalam hati. Dia cukup tahu,
kunci "kemenangannya", terletak pada Bek Lian, maka
dengan membawa sikap terkejut, dia bertanya: "Lian-moay,
kau sangsikan aku dalam soal apa ? Siapakah yang
'memancing di-air keruh' dalam peristiwa yang kita, alami
itu ?"
"Ada orang mengatakan, kau telah tukarkan Lian-ji
dengan pedang kuan-wi-kiam pada suku Thiat-theng-biau
digunung Sip-ban-tay-ban, benarkah itu ?" tanya Kiang
Siang Yan. Jantung The Go bergoncang keras, tapi
wajahnya tetap membawa ketenangan yang mengagumkan.
Dengan tertawa gelak2, dia menjawab lantang2: "Hatiku
terhadap Lian-ji, hanya Tuhan yang tahu. Kalau ada sedikit
perasaanku yang nyeleweng, biarlah aku, binasa hancur
lebur didasar lembah yang dalam dengan tak menginjak
bumi!"
Mendengar orang telah mengucapkan sumpah yang
sedemikian beratnya, Kiang-Siang Yan percaya. Mana dia
tahu akan kelicinan sang menantu yang manis itu ? Jatuh
binasa didasar lembah tanpa menginjak bumi, sungguh
mustahil akan terjadi ! Tapi anehnya semua orang yang
hadir disitu, tiada yang dapat memikir dalam2 akan
"sumpah istimewa" dari The Go itu. Kui-ing-cu, Tio Jiang
dan Yari-chiu saking gusarnya menampak ketengikan The
Go, sampai tak dapat mengucap apa2. Lebih2 Ceng Bo
siangjin, wajahnya berobah keren. Dengan menerima
hormat-sembah dari The Go tadi berarti secara de facto
isterinya menerima The Go sebagai menantu, Ko Thaypun
diam.
The Go cukup menginsyafi kalau Kiang Siang Yan
terlalu lama dibiarkan berkumpul dengan fihak lawan, tentu
terjadi sesuatu yang tak menguntungkan dirinya. "Gak-bo,
siaosay telah menyimpan kuan-wi-kiam itu yang hendak
kuserahkan pada gak-bo. Sucou sedang menerima dua
orang tetamu yang ternama, silahkan gak-bo beristirahat
didalam, biarlah siao-say mendapat kesempatan untuk
melayani gak- bo !"
Sejak perangai Kiang Siang Yan berobah aneh, dia
mudah diselomoti orang. Disuguhi permainan dari seorang
aktor besar macam The Go, dia menjadi terpikat. Ia masih
mendendam untuk hantaman sam-ciat-kun dari Sik Lo-sam
yang mengenai kakinya itu, hingga untuk luka tersebut ia
harus beristirahat sampai beberapa hari. Tampak sang
suami berada dengan orang yang dibencinya itu (Kui-ingcu),
ia menjadi kurang senang. Tanpa menghiraukan
kecintaan suami isteri lagi, Kiang Siang Yan ikut mengikuti
The Go masuk kedalam. Dengan adanya peristiwa itu,
fihak Ceng Bo siangjin dan kawan2 bertambah berat
bebannya.
Sebenarnya Ciang Tay-bing mendongkol sekali terhadap
The Go yang sudah tak memandang mata terhadap dirinya
itu. Tapi dia tak berani melanggar perentah Ang Hwat
cinjin, lalu ajak ketujuh tetamunya itu kedalam sebuah
rumah yang terletak disamping. "Disinilah tempat ruangan
para tetamu yang terhormat, sebaiknya jangan melarikan
diri!"
"Lekas bikin rata mukamu yang benjal-benjul itu, jangan
urusi yang tidak2!" sahut Kui-ing-cu. Sudah tentu Ciang
Tay-bing segera angkat kaki dengan ke-malu2an. Tadi Yanchiu
mendengarkan keterangan Kui-ing-cu bahwa gereja
Ang-hun-kiong itu diatur menurut barisan seng-si hui-bengtin
yang lihay, maka sewaktu masuk, Yan-chiu telah
memperhatikan dengan seksama keadaan dalam gereja ini.
la masih ingat akan keterangan kedua to-thong Kuan hong
dan Wan Gwat bahwa setelah tiba pada tiang kuning dan
membiluk tentu akan sampai keruangan besar.
Yan-chiu mendengarkan keterangan Kul-ing-cu bahwa
gereja Ang-hun-kiong itu diatur menurut barisan seng-si
hui-beng-tin yang lihay, maka sewaktu masuk, Yan-chiu
telah memperhatikan dengan seksama keadaan dalam
gereja ltu. Ia masih ingat akan keterangan kedua to-thong
Kuan Hong dan Wan Gwat bahwa setelah tiba pada tiang
kuningan dan membiluk tentu akan sampai keruangan
besar.
Tapi ia segera menjadi terkejut kerna diantara ke 10 tiang
digereja situ, tidak ada sebuahpun yang terbuat dari pada
kuningan. Kesemuanya bercat merah. Diam2 ia menarik
kesimpulan, jangan2 fihak Ang-hun-kiong telah mengetahui
perbuatan kedua to-thong itu dan lalu mencat kedua tiang
kuningan itu dengan warna merah juga. Jadi percuma
sajalah informasi (keterangan) yang diperolehnya dulu itu.
Rumah atau pavilyun untuk tetamu itu, terdiri dart 3
ruangan, perabotannya serba bagus. Meja dan kursi terbuat
daripada kayu puhun li. Tak antara berapa lama, datanglah
seorang to-thong kecil untuk melayani tetamu2 itu. Yanchiu
buru2 mencekal to-thong itu dan menanyainya:
"Kuang Hong dan Wan Gwat berdua itu, sekarang berada
dimana?"
Si to-thong tak menyahut. Orang2 sama heran dan
menanyakan siapakah Kuan Hong dan Wan Gwat itu:
"Tempo aku masuk kegereja ini, aku telah berjumpa dengan
kedua to thong itu!" sahut Yan-chiu.
Tio Jiang terkejut dan buru2 menepis: "Jadi kau pernah
datang kemari?"
"Ya," sahut Yan-chiu Ke-bangga2an, "seorang diri!" Ia
lalu menceritakan pengalamannya tempo hari. Dan sejak
lobs dari gereja itu, ia tak berani bikin onar lagi. Tak berapa
hari kemudian, Ceng Bo dan Ko Thay tiba, kemudian
tanggal 5 bulan 5 sore, baru Kisau To, Thaysan sin-tho Ih
Liok dan Ki Ce-tiong muncul. Kala itu Ki Ce-tiong
bertanya pada Ceng Bo apakah Siangjin itu mengetahui
bahwa kawanan kaki tangan pemerintah Ceng telah datang
digereja Ang-hun-kiong untuk menggabungkan diri dengan
Ang Hwat cinjin dan sam-tianglo dari Ci-hun-si.
Ceng Bo yang kesamplokan dengan ketiga tianglo Cihunsi,
disungai tempo hari, percayan akan berita yang dibawa
oleh Ki Ce-tiong itu. Mengingat bahwa didalam flhaknya,
dia sendiri, Kui-ing-cu dan Ko Thay, telah kehilangan
banak tenaga lwekang karena menolong Sik Lo-sam, maka
dia kemukakan hendaknya dalam pertempuran besok harus
berlaku hati2. Setelah hari pertempuran Itu, akan ada lagi
kaum hohan sahabat persilatan yang menggabungkan diri.
Mereka adalah pejuang2 yang anti penjajah Ceng. Karena
inilah, maka fihak pemerintah Ceng telah mengirim
benggolan2 kaki tangan untuk menumpas kawanan orang
gagah anti penjajah itu.
Begitulah keesokan harinya, mereka bertujuh naik ke Koto-
san. Tiba digereja Ang-hun-kiong, matahari baru saja
naik. Dimuka pintu gereja itu tampak ada 4 orang sudah
menunggu. Yang dimuka sendiri, ternyata adalah The Go.
Mata sekalian orang menjadi merah melihat penghianat
licin itu. Sekali enjot, si Bongkok Thaysan sin-tho sudah
melesat maju seraya menghantam. The Go menghindar
kesamping, sedang salah seorang dari 3 kawannya yang
berada dibelakangnya, yakni yang bertubuh gemuk pendek,
terus akanmaju:
"Ih-heng, tahan dulu!" Ceng Bo Siangjin yang tak ingin
melihat kegaduhan buru2 mencegahnya. Mendengar Itu
The Go tertawa dingin, serunya mengejek: "Ceng Bo
Siangjin ternyata masih menjunjung tatasusila persilatan,
tak seperti itu bangsa bebodoran dunia persilatan!"
Ucapan itu telah membuat si Bongkok mengeluarkan
hawa uap di-umbun2 kepalanya, tapi Kiau To sudah
menghadang dimukanya. "Ih-heng, jangan turuti hawa
amarah. Ang Hwat cinjin masih belum keluar. Mereka
diperkuat oleh kawanan kaki tangan pemerintah Ceng.
Kalau sekarang belum2 sudah kena dipropokasi, kita akan
rugi!" katanya. Si Bongkok terpaksa tahan hatinya dan
melainkan deliki matanya kepada The Go. Kemaren malam
The Go telah diberitahukan oleh sucounya tentang
kekuatan masing2 pihak, jadi dia tahu kalau fihak Ang-hunkiong
akan mendapat tambahan dua tenaga yang tangguh.
Sekalipun dia belum mengetahui akan kelemahan Ceng Bo
Siangjin, Kui-ing-cu dan Ko Thay bertiga disebabkan
menolong Sik Lo-sam itu, namun dia sudah yakin
kemenangan tentu berada difihaknya. Jadi dia kini umbar
kecongkakannya. "Kalau Thaysan sin-tho masih penasaran,
baiklah kita berdua main2 beberapa juruse dulu!" dia
tantang si Bongkok.
Sampat disini, seluruh anggauta rombongan Ceng Bo tak
dapat mengendalikan kesabarannya lagi. Walaupun dalam
rombongannya, Ceng Bo bukan terhitung yang paling lihay
sendiri, namun dia adalah seorang lelaki jantan yang penuh
dengan sifat2 kesatryaan, jadi dengan sendirinya se-olah2
dia itu menjadi pemimpin rombongannya. Maju selangkah
dia membentak dengan bengis: "The Go, kau mau berlagak
ya?"
Nada seruan Siangjin itu sangat berwihawa. Tapi kali ini
ibarat seekor ikan dalam air, The Go tak jeri berulang kali
dia menerlma pil pahit dan bahkan dua. kali hampir
dibunuh oleh siangjin itu, maka kali ini dia hendak
tumpahkan dendamnya. Dengan mendongak tertawa terbahak2
dia menuding kearah ketiga orang yang berada
dibelakang seraya berseru: "Ceng Bo Siangjin, sam-wi
(bertiga orang) ini adalah Susiok dan supehku, orang
menggelari tiga serangkai dari Hong-hun su-mo. Sucou
kebenaran masih mempunyai urusan, jadi belum dapat
keluar. Mau berkelahi sekarang apa masih tunggu bantuan
lagi, bilanglah yang tegas. Atau kalau mau adu suara besar
pun boleh!"
Wajah Ceng Bo berobah keren, tapi dia tetap
mempertahankan gengsitnya. Dihadapan Hong-hun su-mo
itu, tak mau dia adu lidah dengan The Go. Maka sembari
memberi salam kepada ketiga imam Ang-hun-kiong itu dia
betrkata: "Lama sudah aku mendengar nama besar dari sumo.
Leng-su (gurumu) sedang mempunyai urusan lain
belum dapat keluar, sehingga memberi kesempatan pada
bangsa siaojin (orang rendah) untuk mengubar
kecangkakan, sungguh harus disayangkan karena hal itu
merugikan kebesaran nama Ang-hun-kiong!"
Dalam kebatinan mereka bertigapun tak puas dengan
The Go. Tapi oleh karena sutit (keponakan murid). itu telah
dlmanjakan oleh Ang Hwat cinjin dengan pelajaran yang
sakti, jadi mereka tak betani berbuat apa2.
Mendengar itu yapan Ceng Bo Siangjin itu, tanpa merasa
mereka telah nyatakan suara hatinya. "Ya, benar!" tapi baru
saja mengucap begitu mereka sudah insyaf akan kesalahan
lidahnya dan buru2 menyusuli kata2: "suhu kami sedang
turun gunung untuk menyambut kedatangan dua orang
sehabat, tapi hari ini akan sudah pulang!"
Mendengar jawaban pertama dari ketiga supehnya itu,
The Go murka sekali. Namun lahirnya, dia tak mengunjuk
Perubahan air muka. Ceng Bo anggap pertandingan boleh
segera dilangsungkan, maka dia segera memberi isyarat
kepada Kiau To, siapa tanpa berayal lagi segera tampil
kemuka dan berseru: "Pertempuran hari ini, kaulah yang
menantangnya. Hendaknya jangaen kau melarikan diri
nanti"
Habis berkata Itu, Kiau To kibaskan jwan-pian lurus
kemuka. Melangkah beberapa tindak kesamping, dia
berputar tubuh sembari ayunkan jwan-piannya keatas itulah
jurus pembukaan dari ilmu ruyung Liok-kin-pian-hwat.
Gayanya memang lain dari yang lain. Sebaliknya The Go
malah tertawa keras dan berseru: "Empat penjuru dari
Anghun-kiong sini tiada dapat menyembunyikan orang,
berlainan dengan puncak Giok-li-nia di Lo-hu-san.
Hati2lah, Kiau-loji!"
Dengan ucapan itu The Go hendak menyindir Iawan,
yang setengah tahun yang lalu telah berhasil menjatuhkan
dirinya (The Go) dl Lo-hu-san berkat adanya bantuan orang
orang lain (Tio Jiang). Meskipun Kiau To murka, tapi dia
cukup tahu bahwa pertempuran hari itu jiwa
pertaruhannya. Siapa yang kena dibikin panas, tenaga
murninya akan buyar, akibatnya tentu akan kalah. Oleh
karena itu, tak mau adu mulut lagi. Dengan kerahkan
seluruh tenaganya, dia beberapa kali mengibaskan jwanpiannya.
The Go tenang2 saja sikapnya. Maju selangkah,
tangannya mencabut kearah punggung dan sring ..........
bagaikan ringkikan naga, sebuah pedang pusaka yang
memancarkan sinar ke-hijauaan tampak berada didalam
tangannya. Munculnya senjata itu, telah membuat Ceng Bo
siangjin terkeslap melongo. Juga Kian Topun bercekat.
Rupanya The Go tahu akan perasaan fihak lawan, maka
dengan tertawa dingin dia segera ber-putar2 dua kali
lingkaran. Sedang Kiau To memakukan pandangan
matanya kearah gerak gerik lawan.
Adalah pada saast itulah tadi, Tio Jiang tiba disitu.
Ketiga sosok orang yang secepat angin lewat digelanggeng
situ terus masuk kedalam gereja adalah Ang Hwat dan
sepasang suami isteri Swat-bwe Hwat-Sisu. Menyusul
dengan itu ketiga tianglo dari Ci-hun-si. Demikianlah
kejadian2 sebelum Tio Jiang datang kepuncak Ko-to-san
situ. Bagaiamana achirnya pertempuran itu, telah kami
tuturkan disebelah atas tadi.
--oodwkz0TAHoo--
Sekarang marilah kita ikuti lagi perkembangan ketika
Ceng Bo dan kawan2 beristirahat dalam ruangan gereja
Ang-hun-kiong yang chusus disediakan untuk para tetamu.
Disitu mereka sangat perihatin. Menilik
perkembangannya, terang keadaan sudah tak
menguntungkan bagi fihaknya. Ketambahan lagi kini
rupanya Kiang Slang Yan telah terpikat dalam perangkap
dan persentasinya tentu membantu fihak The Go. Jadi
dalam pertempuran nanti fihak Ceng Bo dan kawan2 itu
tentu kalah. Kalau semua orang berdiam diri karena
perihatin, adalah Yan-chiu sendiri yang tetap dengan
kelincahannya. Ia selalu. menatapkan pandangan matanya
kearah sang suko saja. Banyak nian kata2 yang hendak
diucapkan kepada sukonya itu, tapi dihadapan sedan
banyak orang, ia merasa likat juga. Sampai sekian lama ias
berhasil juga untuk menguasai perasaannya, tapi achirnya
lama2 tak kuat juga dan mulutnyapun segera berseru
memanggil: "Jiang suko!"
Karena orang memanggil secara tiba2, Tio Jiang menjadi
kaget. Oleh karena dihadapan sang suhu, Tio Jiang berhati2
sekali membawa tingkah lakunya. "Ada apa?"
sahutnya dengan berbisik.
Yan-chiu ter-sipu2 merah mukanya, tapi dengan tangkas
ia sudah mengalihkan pembicaraan: "Berdiam diri didalam
ruangan sini, bukan suatu penyelesaian yang baik. Hayo,
kita keluar cari anginlah!" .
Tio Jiang tak berani segera menyahut tapi lebih dahulu
melirik pada sang suhu, slapapun menyetujui pendapat
Yanchiu tadi. "Ya, kalian berdua boleh makan angin diluar
sana. Tapi Ingat, jangan terbitkan onar dan lekas kembali
lagi," ujar Ceng Bo.
Dengan kegirangan sekali Yan-chiu segera tarik tangan
sukonya terus diajak keluar. Keadaan diluar situ sunyi2
saja. Setelah membiluk disebuah ujung tembok, Yan-chiu
hentikan langkahnya dan bertanya: "Suko, sewaktu kau
sendirian tersesat dalam perut gunung, apa saja yang kau
pikirkan kala Itu?"
Tio Jiang tak mengerti kalau pertanyaan sumoaynya itu
mengandung maksud tertentu, maka dengan seenaknya saja
ia menjawab: "Tidak memikirkan apa2, kecuali bagaimana
dapat keluar dari penjara alam itu untuk menghaturkan
mustika itu pada suhu."
Yan-chiu menghela napas. "Ah, jadi dia tak
mengimbangi perasaan hatiku yang selalu memikirkan
dirinya," pikirnya. Dengan berdiam diri ia ayunkan langkah
kemuka. Hati Tio Jiang kosong, dia tak memikirkan yang
tidak2. Maka dia anggap sumoaynya itu tengah perithatin
keras menghadapi fihak Ang-hun-kiong yang tangguh.
Yan-chiu begitu terbenam dalam lamunan sang dara
dihempas asmara. Ya, siapakah yang tak lara kalau
cintanya hanya dibalas dengan rasa kecintaan sebagai
saudara seperguruan saja? Dia berjalan sambil tundukkan
kepala, sehingga tak tahu sama sekali ketika ditikungan,
tiba2 muncul sebatang pedang menghadang. Coba Tio
Jiang tak segera lekas2 menereaki pasti ia masih tak
mengetahui akan adanya ujung pedang yang terpisah hanya
setengah setengah meteran dimukanya itu.
"Siapa? !" serunya dengan kaget. Seruan itu disambut
dengan munculnya dua orang imam yang beroman bengis.
Yang satu membawa pedang dan seorang mencekal kapak
besar. "Sejak bilamana Ang-hun-kiong mengidinkan kalian
berjalan seenaknya sendiri itu? Apa masih tak lekas2
kembali?" seru mereka.
"Ang Hwat cinjin telah menerima kami sebagai tetamu,
mengapa kau berani kurang ajar?" balas Yan-chiu dengan
gusarnya.
Kedua imam itu tertawa keras, serunya: "Sebagai
tetamu? Ha......., ha........! Ibarat kura2 dalam jaring, masih
menjual lagak!"
Tio Jiang terkesiap mendengar ucapan yang diserukan
dalam lafal utara oleh kedua imam itu. Terang mereka itu
bukan orang daerah selatan sini. Dia ajak sumoaynya cepat
kembali melapor pada suhunya. Tapi baru saja mulutnya
hendak menyatakan, atau Yan-chiu sudah loncat kemuka
dan menghantam dengan bandringan kearah kedua imam
itu. Yan-chiu mengira kalau kedua orang itu, hanyalah
imam kecil dari gereja situ, sekali hantam sedlkitnya tentu
dapat merubuhkan mereka. Trang...... tiba2 Yan-chiu
merasa lengannya kesemutan ketika salah seorang imam itu
menangkis dengan kapaknya. Bandringanpun mencelat
keatas. Buru2 ia tekan bandringannya itu kebawah.
"Hu, kembali tidak?" kata mereka dengan tertawa dingin.
Mereka tak mau menyerang pada Yan-chiu yang terlongong2
kesima itu. Tio Jiang kenal gelagat. Dia tahu
kedua orang itu tentu bukan imam gereja situ. "Kembali ya
kembali !" serunya keras sembari memberi isyarat dengan
ekor mata kepada sang sumoay, siapa terpaksa menurut.
GAMBAR 69
Karena kebebasannya dirintangi, dengan gusar Yan-chiu
hantamkan banderingannya kearah orang itu yang cepat ditangkis
olehnya dengan senjata kapak yang besar.
Tiba dimuka pintu ruangan tetamu, Tio Jiang dan Yanchiu
tak mau masuk, tapi sengaja terus berjalan kesebelah
muka. Kembali dibagian sana juga ada dua penghadang.
Yang satu mempunyai lafal suara orang Suchwan, yang lain
me-maki2 dalam bahasa Boan-ciu. Karena sudah banyak
pengalamannya bertempur dengan serdadu Ceng, jadi Tio
Jiang dan sumoaynya segera mengetahui bahwa kedua
pencegatnya Itu adalah kaki tangan pemerintah Ceng yang
menyaru sebagal imam.
Kini tanpa diberitahukan oleh sukonya, Yan-chiu sudah
mengetahui sendiri dan memutar tubuhnya kembali
kedalam ruangan tetamu. Baru melangkah masuk, Yanchiu
sudah berseru: "Suhu, Ang Hwat telah mempersiapkan
entah berapa, banyak kaki tangan pemerintah Ceng yang
menyaru jadi imam gadungan, untuk menumpas kita!"
Tio Jiang tuturkan apa yang telah dijumpainya tadi.
Ceng Bo dan Kui-ing-cu serta lain2 orang, saling
mengawasi satu sama lain. "Oleh karena yang akan datang
ini bukan kebahagiaan melainkan kecelekaan, maka kita
harus tenang2 mempersiapkan kewaspadaan. Dalam hal
tenaga, Siaoko dan Siao Chio tergolong, yang terlemah
diantara kita, maka sebaiknya mustika dalam batu itu
berikan saja kepada mereka separoh2, siapa tahu akan
menambah kekuatan mereka!" Hui-ing-cu menyatakan
pendapatnya.
Ternyata semua orang setuju. Bermula Tio Jiang
menolak tapi diperingatkan oleh suhunya. Malah Ceng Bo
Siangjin segera mencabut pedang yap-kun-kiam yang
terselip dipinggang Tio Jiang. Yan-chiu disuruh memegangi
batu itu, lalu Ceng Bo pe-lahan2 membelahnya. Tak antara
lama tampak sebuah lubang dan menghempuslah keluar
suatu hawa yang luar biasa wanginya. "Lekas tuangkanlah
kedalam mulutmu!" buru2 Ceng Bo menyuruh sigenit
meminumnya.
Yan-chiu cepat tempelkan bagian lubang ltu kemulut dan
sekali menyedot se-kuat2nya berkerucukanlah
tenggorokannya menelan suatu-benda cair. Seketika
dirasakan tulang belulang seluruh tubuhnya menjadi
sedemikian nyaman dan ringan sekali. Buru2 ia kerahkan
cin-wan (tenaga murni) dan cin-khi (hawa murni), setelah
itu lalu berikan batu kapada sang suko. Begitu Tio Jiang
menyambutnya, terus ditempelkan kemulut dan disedotnya.
Tapi hanya angin saja yang didapatinya. Dengan
keheranan, dia turunkan batu itu. Kui-ing-cu dengan segera
dapat mengetahui apa yang terjadi, katanya: "Siaoko,
mungkin sudah suratan nasib, bukankah air mustika itu
sudah dihirup habis oleh kui-ahthau (dara jelek) itu ? Kau
tidak kecewa, bukan ?”
Tlo Jiang tak pernah mempunyai perasaan iri. Dia
adalah seorang suko dan sute yang pengalah.
”Seharusnyalah diberikan pada sumoay, karena dia lebih
lemah!” sahutnya dengan setulus hatitnya.
Mendengar itu, semua orang mengagumi ketulusan hati
pemuda itu. Ketika sama mengawasi Yan-chiu tampak
selebar wajah nona itu ke-merah2an memancarkan cahaya
gemilang. Seperti keringat bukan keringat, sehabis
menyalurkan perdarahannya, ia rasakan seluruh tubuhnya
mengalirkan hawa panas, hingga untuk setengah jam ia
tampak seperti dalam keadaan samar2 ingat. Baru setelah
perasaan menyalur rata keeseluruh tubuh, ia tampak
berloncat bangun seraya berseeru: "Amboi.......! nyaman
sekali seperti orang mati rasanya. Suko, kau. minum sedikit
tadi, apa tak berasa apa2?"
Nona itu tak mengetahui kalau Tio Jiang tak kebagian
setetespun jua. Air mustika yang jarang terdapat didunia
itu, telah habis dihirupnya semua. Baru setelah sang suko
menjelaskan, ia ke-merah2an mukanya dan menyatakan
penyesalannya: "Maaf, aku tak sengaja berbuat begitu!"
"Ho, sungkan juga sih? Asal kau berjanji kelak tak
menghina sukomu seperti yang dilakukan oleh sucimu, itu
sudah cukup!" seru Kui-ing-cu. Kembali wajah Yan-chiu
merah padam ke-malu2an, diperolok Kui-ing-cu itu. Kini ia
merasa tubuhnya sangat enteng sekali. Apabfla
menyalurkan darah atau pernapasan, juga sangat mudah
dengan leluasanya. Rupanya lwekangnya dalam sekejab
waktu saja teIah maju pesat, suatu hal yang membuatnya
girang bukan kepalang. "Suko, kau sungguh baik sekali
kepadaku!" diam2 hatinya berterima kasih.
--oodwkz0tahoo--
Kala itu sudah sore hari. Genta gereja kedengaran
bertalu 3 kali. Anehnya keadaan disitu tak nampak seperti
sedang kumpulan-malam (sembahyang malam). Ketika
semua rombongan fihak tetamu keheranan, tiba2 dari arah
luar ter-dengar ada orang berseru: "Suhu mengundang tamu
sekalian supaya datang kepaseban belakang!"
Kui-ing-cu tahan napas, dengan gunakan ilmu
menyusupkan suara "thoan im jip bi" dia berseru kepada
kawan2nya: "Kartu segera akan terbuka, entah lo-tosu itu
hendak main apa?"
Sekalian orang mengerti maksud peringatan itu. Ceng Bo
segera berseru keras: "Silahkan saudara mengantar!"
Walaupun lwekangnya berkurang banyak, namun suara
yang diserukan oleh hawa napas itu, cukup nyaring. Begitu
pintu dibuka, ternyata disitu sudah menunggu ketiga Anghun
su-mo. Ji-mo atau iblis kedua (ayah The Go?) sudah
meninggal, namun gelaran mereka masih tetap
menggunakan Ang-hun su-mo (4 iblis dari Ang hun-kiong),
walaupun seebenarnya mereka itu hanya berjumlah 3
orang.
Dengan Ceng Bo siangjin berjalan dimuka dan Kui-ingcu,
yang paling belakang sendiri, ketujuh rombongan
tetamu itu segera berjalan menurutkan Ang-hun su-mo.
Sepanjang lorong yang dilalui itu, mereka dapat
memperhatikan. Tapi setelah dua kali membiluk, hilanglah
pengetahuan mereka akan arah mata angin. Semua yang
tampak disitu, dari ruangan, lorong serambi, tiang dan
lankan, sama semuanya, sukar dibedakan.
Setelah setengah jam lama berbilak biluk, mereka melalui
sebuah ruangan kecil dan se-konyong2 terbentanglah
sebuah lapangan luas yang berlantai batu marmar hijau.
Luas lapangan itu tak kurang 10-an tombak pesegi. Pada
ujung lapangan itu tampak sebuah meja pat-sian (8 segi),
dengan dikitari oleh 8 orang, yakni Ang Hwat cinjin, Kiang
Siang Yan, Bek Lian, The Go, dan sam-tianglo dari Ci-hunsi.
Mereka rupanya tengah menghadapi hidangan. Tapi
sekalipun melihat kedatangan rombongan Ceng Bo
Siangjin, mereka bersikap acuh tak acuh. Yang diherankan
Ceng Bo bukan sikap mereka yang mengejek secara begitu
menyolok, tapi adalah Itu kedua benggolan kaki tangan
Pemerintah Ceng, yakni sepasang suami-isteri Swat Bwe
dan Hwat Kuay, mengapa tak hadir disitu.
Ketiga Ang-hun su-mo menghampiri Ang Hwat cinjin
dan berbicara beberapa patah kata. Mungkin orang mengira
tadi Ang Hwat cinjin benar2 tak mengetahui kedatangan
rombongan Ceng Bo itu. Tapi kini setelah mendapat,
laporan dari Ciang Tay-bing, dia tentu sudah mengetahui.
Namun dia masih enak2 duduk saja. Malah mengangkat
cawan arak dan berkata kepada Kiang Siang Yan: "In
lihiap, untuk merayakan pertemuan yang jarang terjadi ini,
marilah kita keringkan cawan!"
Orang2 yang mengitari meja itu sama menyambut
dengan gembira. Ciang Tay-bing masih tegak terpaku disitu.
Kui-ing-cu dan kawan2, adalah tokoh2 persilatan yang
bernama, sudah tentu mereka mendongkol sekali
diperlakukan begitu. Sin-eng Ho Thay tertawa dingin,
tangannya mencekal pada lankan, krek ...... tahu2 saja
sudah memutuskan patah sebuah terali kayu lankan itu, lalu
ditimpukkan kearah meja pat-kwa mereka. Juga Kui-ing-cu
dan si Bongkok tanpa ajak2an, membarengi dengan
saebuah biat-gong-ciang (pukulan lwekang) kearah
kutungan kayu tadi. Dengan mendapat dorongan dari
lwekang ketiga tokoh Iihay itu, kutungan kayu meluncur
dengan pesatnya. Kalau saja kayu itu menimpa meja,
hidangan disitu tentu akan porak poranda. Tapi baik Ang
Hwat cinjin maupun Kiang Siang Yan rupanya tak
mengacuhkan ancaman itu. Sambil mengangkat cawan,
mereka berdua segera menyiramkan arak keudara yang
tepat mengenai kutungan kayu tadi.
(Oo-dwkz-tah-oO)
BAGIAN 38 : SETERU LAMA
GAMBAR 70
Karena tak disambut sewajarnya, dengan gusar Ko Thay
menimpukan sepotong kayu kearah meja perjamuan. Tapi dengan
tenaga lwekang Ang Hwat Cinjin dan Kiang Siang Yan
muncratkan isi cawan mereka keudara.
Siraman arak dari Ang Hwat cinjin dan Kiang Siang Yan
itu menggunakan lwekang. Sebenarnya kalau meniIai soal
kepandaian, Kui-ing-cu setanding dengan Kiang Siang Yan,
si Bongkok berdua dengan Ko Thay dapat menghadapi Ang
Hwat cinjin. Sayang lwekang dari Kui-ing-cu sebagian besar
sudah habis karena menolong Sik Lo-sam itu. Jadi dalam
adu lwekang tadi, ketiga orang dari fihak tetamu, telah
kalah. Begitu terciprat arak, kutungan kayu tadi segera
miring kesamping dan jatuh ketanah.
Dari gebrak itu saja, cukuplah sudah diketahui tentang
kekuatan masing2. Dan yang paling dibuat sayang, kini
nyata2 Kiang Siang Yan sudah kena, dibohongi The Go
dan berdiri difihak Ang Hwat, Ceng Bo siangjin pedih
hatinya. "Hong-moay kau........", saking terharunya dia tak
dapat melanjutkan kata2nya apalagi kala itu Kiang Siang
Yan sedikitpun tak mau menghiraukan dan melainkan
tertawa dingin.
Ceng Bo sadar bahwa pertempuran hari itu merupakan
soal hidup atau mati. Ber-hari2 dia mondar mandir kesana
Mini untuk menjumpai beberapa sahabat persilatan yang
mempunyai tujuan sama. Berhasil atau tidaknya usaha
mereka untuk mengusir kaum penjajah Ceng dari bumi
Tiongkok, adalah mengandalkan tenaga persatuan dari para
kaum pahlawan pencinta negeri itu. Ah, mengapa dia masih
berat dipengaruhi hubungan suami-isteri serta ayah-anak
lagi ? Demi sang hati terbuka, pikirannyapun longgar. Tak
lagi dia merasa pedih. "Ang Hwat cinjin, bukankah kau
mengundang kami kemari, mengapa begitu macam cara
penyambutanmu ? Kau adalah seorang soko-guru dari
dunia persilatan, mengapa masih dilekati sifat2 tak kenal
aturan begitu ?" serunya.
Setiap patah dari ucapan Ceng Bo itu, memang sukar
dibantah. Memang rencana untuk membuat panas hati para
tetamu itu, adalah keluar dari pikiran The Go. Menurut
rencana, begitu musuh panas hati, dia terus jalankan
program yang ditetapkan menurut rencana The Go itu. Tapi
ternyata Ang Hwat bukan The Go. Dia adalah seorang
cianpwe dari dunia persilatan yang mempunyai gengsi
agung. Walaupun dia mau merendah sedikit, turun gunung
menyambut kedatangan sepasang suami-isteri Swat Bwe
dan Hwat Siau yang dikirim oleh pemerentah Ceng itu,
namun dia tetap bukan golongan orang rendah macam The
Go. Maka demi mendengar cercaan Ceng Bo tadi, seketika
dia berbangkit dan berseru: "Siapkan sebuah meja
perjamuan lagi!"
Dalam sebentar saja perentah itu telah dilaksanakan.
"Silahkan hadirin sekalian duduk," katanya sambil memberi
hormat kepada para tetamunya, kemudian duduk pula.
Menurut anggapannya, perbuatannya itu sudah cukup dari
menghormat.
Ceng Bo tak mau banyak peradatan lagi, segera maju
mengambil tempat duduk. Jarak antara kedua meja mereka
itu, hanya terpisah satu meteran. Kalau sewaktu2 Ang
Hwat menyerang, tentu sukarlah baginya untuk lolos.
Namun sedikitpun siangjin itu tak mengunjuk rasa jeri.
Lain2 kawannyapun segera menaulad tindakannya itu. Kuiing-
cu menyentuh Yan-chiu, katanya: "Siao-ah-thau,
hatimu mendongkol tidak ?"
"Sudah tentu, Ang Hwat siimam tua itu benar2 kutu
besar!" sahut Yan-chiu.
"Kuajarkan kau cara untuk melampiaskan
kemendongkolanmu itu. Kau adalah seorang anak, mereka
dibatasi dengan kedudukannya, tentu tak dapat mengapa2kanmu.
Kalau nanti suhumu menggegeri kau, akulah
yang menanggung!" kata Kui-ing-cu, seraya membisiki
beberapa patah, kata kedekat telinga sigenit.
Yan-chiu berseri girang. Sembari sebelah tangan
mencekali bandringan yang tergantung dipinggang, ia ikut
Kui-ing-cu menghampiri ketempat meja Ceng Bo tadi.
Setiba, ditepi meja, tiba2 ia memutar tubuh dan berseru:
"Ang Hwat locianpwe, subo dan Lian suci!"
Ketiga orang itu terkejut mendengar panggilan itu.
Tanpa merasa mereka sama mendongakkan kepala. Bek
Lian agaknya malu sendiri, maka lalu tundukkan kepala.
Ang Hwat cinjin dan Kiang Siang Yan terpaksa mengulum
suara tenggorokan "hem", yalah dimaksud sebagai jawaban.
Adalah selagi kedua tokoh ini lengah karena memberi
jawaban itu, tangan Yan-chiu sudah kibaskan bandringan
melayang disisi punggung To Ceng dan To Bu, lalu
menyusup kebawah meja mereka. Sekali tangan
menyentak, maka buk ........ bola bandringan itu tepat
menghantam bagian bawah permukaan meja.
Hantaman itu tak kurang dari berpuluh kati beratnya.
Selagi Ang Hwat cinjin dan Kang Siang Yan bersuara
tenggorokan tadi, tahu2 cawan dan mangkok piring diatas
mejanya sama berhamburan keatas, Serambut dibelah
tujuh, mereka tak mengira sama sekali kalau Yan-chiu
berani melakukan perbuatan ugal2an itu. Buru2 Ang Hwat
meniup keras2 dengan mulut untuk menghalau kuah panas
yang hendak menyemprot mukanya, namun tak urung
rambut kepalanya juga kena tersiram. Adalah Kiang Siang
Yan yang paling tangkas. Begitu melihat ancaman datang,
ia segera gunakan ilmu mengentengi tubuh thay-im-i-seng
yang sakti, menarik Bek Lian untuk menghindar
kesamping. Jadi hanya pakaiannya yang kena kesiraman
sedikit.
Yang paling runyam, adalah ketiga tianglo dari Ci-hun-si
itu dan The Go. Muka dan rambut mereka basah kuyup
dikeramasi kuah (gulai). Oleh karena tak menyangka sama
sekali dan gerakan Yan-chiu tadi datangnya secara tiba2
dan cepat sekali, jadi walaupun keramas dengan kuah panas
namun keempat orang itu tetap ter-longong2 tak tahu apa
yang telah terjadi. Dan selagi mereka berempat terlongong2
keheranan itu, tepat tiupan hawa mulut Ang Hwat cinjin
tadi tiba. Oleh karena gusar, jadi cinjin itu meniup sekuat2nya.
Menurut tingkat kepandaian Ang Hwat, sekali
meniup, bulu ayam sisik Man ataupun setitik air dapat
berobah menjadi suatu senjata rahasia yang sangat hebat.
Sam-tianglo dari Ci-hun-si itu duduknya tepat
berhadapan dengan Ang Hwat, jadi keadaannya tepat
seperti yang dikatakan orang 'sudah jatuh dihimpit tangga
pula'. Sudah tadi muka dan rambut mereka gebes2
dikeramasi kuah panas, kini dihujani semburan air panas
oleh Ang Hwat, aduh mak, kalau badan lagi sial .............
Mereka menjerit rubuh ketanah, lalu bergelundungan kian
kemari! Masih untung The Go berlaku sebat. Begitu
mendengar tiupan mulut Ang Hwat, dia terus loncat
menghindar. Ini berarti dia mendapat keringanan dari
siksaan.
Tidak kecewa dara dari Lo-hu-san itu digelari nona genit
tangkas dan lincah. Lincah lidahnya, tangkas tangannya. Ia
dapat membandring dengan cepat tanpa diketahui orang,
tapi iapun dapat menarik balik bandringannya itu dengan
tak kurang cepatnya juga. Seperti tak terjadi suatu apa,
dengan lenggang ia mengambil tempat duduk. Olok2 sigenit
itu, telah dimainkan dengan hebat dan luar biasa bagusnya.
Si Bongkok, Kui-ing-cu, dan lain2nya, sampai kaku
perutnya karena ketawa. Sampaipun Ceng Bo siangjin yang
biasanya tak suka bergurau, kali ini seperti di-kitik2 dan tak
tahan mengekang tawanya. Dia melirik kearah muridnya
yang nakal itu, siapa mengerti akan maksud sang suhu.
Oleh karena diantara sekian orang itu hanya ia sendiri yang
tak tertawa, maka untuk jangan sampai kentara, iapun turut
tertawa cekikikan.
Didalam fihak tuan rumah, Ang Hwat dan Kiang Siang
Yan adalah tokoh2 persilatan kelas utama. Cepat2
keduanya dapat menguasai kejutnya tadi. Mendengar
dimeja tetamu orang sama tertawa lepas2, tahulah mereka
berdua kalau tadi perbuatan ugal2an itu adalah dari fihak
tetamu yang melakukan. Tapi keduanya merasa malu dan
heran sendiri. Mereka yakin akan tingginya kepandaiannya,
namun apa dan bagaimana peristiwa tadi terjadi, benar2
keduanya tak mengetahui. Jadi terpaksa mereka diam
menahan kemurkaan.
Ang Hwat perentahkan The Go supaya menggotong
sam-tianglo Ci-hun-si. Ketiga tianglo itu benar memiliki
lwekang yang tak lemah, namun karena Ang Hwat yang
meniup, jadi mereka bertigapun parah juga lukanya. Ada
beberapa kerat tulang ayam yang menyusup kedalam
mukanya. Sewaktu satu per satu dicabuti, mereka sama
mengerang2 kesakitan. Karena keadaannya setengah mati,
terpaksa mereka digotong orang masuk kedalam kamar.
Dengan marahnya Ang Hwat titahkan lagi menyiapkan
sebuah meja hidangan, kemudian suruh Ang-hun su-mo
bertiga duduk mengisi kursi sam-tianglo yang kosong itu.
Selagi keadaan menjadi tenang kembali, tiba2 Kui-ing-cu
berseru keras: "Siao-ah-thau, terhadap orang yang tak tahu
adat, memang begitulah caranya memperlakukan. Hayo,
cucilah tanganmu dulu, nanti aku yang per-tama2 akan
memberi selamat dengan secawan arak!"
Gelarnya saja dia itu hendak memberi selamat dengan
arak, tapi pada hakekatnya sengaja dia suruh Ang Hwat
dan Kiang Siang Yan mendengarkan jelas, bahwa yang
melakukan perbuatan ugal2an tadi bukanlah tokoh2 lihay
dari golongan fihak tetamu, melainkan hanya seorang anak
perempuan dara yang tak ternama!
Mendengar itu benar juga wajah Ang Hwat berobah,
mengangkat cawannya dia kedengaran tertawa gelak2 dan
berseru : "Ceng Bo siangjin, lama nian orang menyohorkan
bahwa dua pedang pusaka suami-isteri kalian tiada
tandingannya dikolong jagad ini. Harini sebagai tuan
rumah, pinto hendak lebih dulu menghaturkan selamat
secawan arak dadamu !"
Habis berkata begitu, dia taruhkan cawan keatas telapak
tangan dan tiba2 telapak tangannya itu dicekungkan
kebawah. Cawan arak itu memangnya sudah kecil, maka
hampir separoh cawan itu seperti masuk kedalam telapak
tangan Ang Hwat. Kemudian entah bagaimana caranya,
tahu2 begitu telapak tangan itu dijunkatkan lagi keatas,
wut........ cawan itu mumbul setengah meter tingginya.
Setelah sejenak berhenti diatas, cawan itu pe-lahan2
melayang kearah tempat duduk Ceng Bo. Namanya saja
Ang Hwat itu hendak memberi selamat dengan arak, tapi
hal yang sebenarnya dia itu hendak membuat malu pada
Ceng Bo.
Cawan itu tampaknya melayang dengan pelahan, tapi
Ceng Bo dan kawan2 cukup mengetahui bahwa tadi Ang
Hwat telah gunakan ilmu melempar senjata rahasia tingkat
tinggi. Sedikitnya dia telah gunakan 8 bagian dari
tenaganya lwekang, untuk mengantar cawan arak itu.
Jangan lagi kini lwekang Ceng Bo siangjin sudah lumpuh
daya lebih dari setengah bagian, sekalipun masih utuh, juga
belum ketahuan apakah dia itu dapat menyambuti
'persembahan arak' istimewa itu. Dia tahu kalau berani
menyambuti dengan lwekang, lengannya pasti akan putus.
Baik disambuti atau tidakkah persembahan itu ? Dia
dirundung kesangsian. Kalau disambuti, resikonya lengan
putus. Kalau tidak menyambutnya, Ang Hwat tentu akan
menyusuli lagi persembahan yang kedua. Jadi tanpa adu
kepandaian, berarti dia sudah kalah ini.
Jarak kedua meja itu hanya satu meteran. Tempat duduk
Ceng Bo tepat berhadapan dengan tuan rumah, jaraknya
hanya kira2 satu tombak. Cawan arak itu walaupun pelahan
melayangnya, namun dalam beberapa detik saja pasti akan
sudah tiba. Ceng Bo mengambil putusan, lebih baik binasa
daripada malu. Tapi ketika dia hendak, kerahkan seluruh
sisa lwekangnya untuk menyambuti, tiba2 kedengaran Kuiing-
cu tertawa dan berseru lantang: "Aku yang rendah
inipun hendak balas memberi hormat pada tuan rumah
Anghun-kiong sini dengan secawan arak."
Sekali kelima jarinya dibuka, maka cawan arak yang
digenggamnya itupun meluncur kemuka, tring....... tepat
membentur cawan Ang Hwat. Kui-ing-cu tadi telah
gunakan seluruh lwekangnya. Begitu berbentur, kedua
cawan itu berhenti sebentar. Cawan Kui-ing-cu melayang
kesamping, sementara cawan Ang Hwat masih tetap
melayang kearah tujuannya semula (kearah Ceng Bo), tapi
daya kekuatan-nya sudah berkurang separoh bagian.
Sekalipun begitu, kala Ceng Bo menyambuti, lengannya
dirasakan kesemutan nyeri sekali. Buru2 dia meneguknya
habis. Ketika mengawasi kearah cawan Kui-ing-cu yang
melayang kearah Ang Hwat cinjin, tampak cinjin itu
ulurkan tangan untuk menyambuti, pyah....... tahu2 cawan
itu pecah berantakan jatuh kebawah.
Kiranya sewaktu melayangkan cawan tadi, Kui-ing-cu
telah gunakan akal. Tatkala saling berbentur dengan cawan
Ang Hwat, cawannya itu tak sampai pecah. Ini karena
kedua tokoh itu telah menggunakari ilmu lwekang sakti
dengan perhitungan yang sangat tepat. Waktu me-layang2,
cawan itu biasa saja, tapi begitu saling berbentur kedua
benda itu keras bagai baja, maka tak sampai pecah. Kalau
tak hujan tak angin begitu tiba dihadapan Ang Hwat, cawan
itu terus pecah sendiri, itu juga permainan yang lihay dari
Kui-ing-cu. Ini dimaksud untuk memper-olok2 Ang Hwat
untuk yang kedua kalinya. Dari kejadian itu, dapatlah
ditarik kesimpulan sampai dimana tinggi rendahnya
kepandaian Kui-ing-cu. Dia adalah setingkat dengan Ang
Hwat cinjin, Tay Siang Siansu dan Kang Siang Yan.
Tapi dalam soal peyakinan, mungkin Ang Hwat lebih
lama. Sudah 50-an tahun dia berkecimpung dalam
peyakinannya itu. Jauh2 ketika masih dalam jaman
pemerentahan Beng, namanya sudah berkumandang
diseluruh negeri. Dia pernah menerima undangan dari fihak
pimpinan kim-i-wi (pasukan bayangkari istana) untuk
datang kekota raja dan mengunjukkan kegagahan yang
mengagumkan. Kalau mau, dulu2 dia sudah diangkat
menjadi kepala kim-i-wi. Ini kejadian pada beberapa puluh
tahun yang lampau. Kini peyakinannya makin sempurna
lagi. Tapi dengan begitu, belumlah menjadi jaminan bahwa
kebatinannya makin tinggi. Dalam beberapa tahun yang
terachir ini, dia selalu mengeluh dalam batin, mengapa
sampai dihari tua masih jadi "orang hutan" atau orang yang
tinggal digunung saja. Maka ketika berkenalan dengan samtianglo
Ci-hun-si yang berhamba pada pemerentah Ceng,
dia rupanya penuju juga. "Makin tua makin gila", rupanya
pembilangan orang begitu itu, memang beralasan.
Ang Hwat tak mau memegang buntut kucing (mendapat
malu) untuk yang kedua kalinya. Cepat2 dia rangkumkan
sepasang tangan kearah pecahan cawan dan arak yang
berhamburan kebawah itu, sekali menyedot, pecahan
cawan. dan arak itu naik lagi meluncur kedalam mulutnya,
krucuk........., krucuk..........demikian bunyi
tenggorokannya. Se-konyong2 mulutnya menganga dan
fui......... pecahan keramik putih menyembur keluar,
cret....., cret......, semua berhamburan menyusup pada
sebuah tiang besar yang jauhnya antara satu tombak. Itulah
pecahan cawan arak tadi.
Walaupun Kui-ing-cu seorang tokoh yang paling suka
berolok2, tapi dia itu juga seorang lelaki jantan perwira.
Melihat Ang Hwat mengunjuk demonstrasi kepandaian
yang luar biasa itu, serta merta dia berseru memuji. "Ilmu
kepandaian yang hebat!" serunya. Tapi pada lain saat dia
kedengaran berkata pula: "Sayang sekali tak menjalankan
didikan keras, hingga anak muridnya telah menodai
kebesaran nama Ang-hun-kiong!"
Memang lihay kepandaian Kui-ing-cu, selihay itu pula
mulutnya. Sedang. Tio Jiang dan Yan-chiu sama
terlongong2 mengawasi pertunjukan istimewa itu. Kalau
tak menyaksikan sendiri, mungkin mereka tak mau percaya
bahwa didunia ini ternyata terdapat ilmu kepandaian
macam begitu.
Memang apa yang dipertunjukkan Ang Hwat cinjin itu,
luar biasa sekali. Kalau orang meneguk arak itu sih biasa.
Tapi Ang Hwat telah meneguk arak yang bercampur
dengan keping pecahan cawan. Kalau dia tak memiliki :
ilmu lwekang yang tinggi, tentu mulutnya akan pecak
rowak terkena tajamnya pecahan keramik. Tapi Ang Hwat
telah memperhitungkan lebih dahulu. Begitu keping
pecahan itu masuk kemulut, dia tiup dengan tekanan
lwekang, hingga kepingan cawan itu menjadi hancur seperti
bubuk. Setelah arak ditelan, bubuk cawan itu disemburkan
keluar. Dia hanya tertawa dingin mendengar tetamu (Kuiing-
cu) memujinya. Berpaling kearah Kui-ing,cu, dia
berseru: "Cunke telah menghaturkan hormat dengan
secawan arak, pinto haturkan terima kasih. Murid Ang-hunkiong
dari tingkatan ke 3, juga akan mewakili pinto untuk
membalas hormat.”
Habis berkata begitu, mulutnya berkicup kearah The Go.
tahu kalau sucounya itu menyuruhnya unjuk kepandaian.
Heran juga dia dibuatnya, mengapa dalam waktu dan
tempat begitu, orang masih hendak main hormat2an
dengan cawan arak ? Terlebih heran pula mengapa
sucounya menyuruh dia yang keluar ? Tapi walaupun
heran, dia terpaksa harus menurut perentah sucounya itu.
Dituangnya arak penuh2 kedalam sebuah cawan, tanpa
mengeluarkan tenaga apa2, diapun lemparkan cawan itu
kearah Kui-ing-cu. Tapi membarengi dengan itu, Ang Hwat
kedengaran batuk2 dan suatu tenaga dahsyat terasa
menyambar kearah cawan yang segera seperti berhenti
sejenak diatas udara. Ah, kiranya sang sucou diam2
memberi bantuan, agar Kui-ing-cu mendapat malu.
Kalau cawan arak itu dihaturkan pada Ceng Bo siangjin,
mungkin rencana Ang Hwat itu akan memberi hasil. Tapi
yang diarah itu adalah Kui-ing-cu, si Setan Tanpa Bayangan
yang cerdik tangkas itu. Dalam gelanggang segenting itu
Ang Hwat suruh The Go maju, dia sudah menduga tentu
ada udang dibalik batu. Setelah merenung sebentar dan
mendengar Ang Hwat batuk2, cepat dia sudah dapat
mencium bau.
"Murid angkatan ketiga dari Ang-hun-kiong
menghaturkan arak, murid angkatan kedua dari Cin-wankuan
yang hendak meminumnya!" serunya sembari
memberi isyarat ekor mata kearah Yan-chiu dan lalu
menampar kearah cawan arak itu. Benar kala itu
lwekangnya tak sehebat Ang Hwat, tapi kalau Ang Hwat
mengeluarkan lwekang dengan berbatuk2, adalah dia
dengan sebuah tamparan biat-gong-ciang. Deru samberan
anginnya telah membuat arah cawan itu miring kesamping
jalannya.
Juga Yan-chiu tak mengerti apa kemauan Kui-ing-cu
tadi. Tapi serta tampak cawan arak itu melayang
kearahnya, tahulah ia sudah. Sekali tangan menekan pada
sandaran kursi, tubuhnya melayang keatas menyongsong
datangnya cawan. Ia sudah mempunyai dasar latihan ilmu
mengentengi cukup baik dari Ceng Bo siangjin, kemudian
dapat mempelajari ilmu itu dari Tay Siang Siansu dan
masih pula meminum mustika batu yang menambah
kekuatan dan memperkokoh lwekang, maka bagaikan
seekor burung waled ia melayang-layang. Dilihatnya geraklayang
dari cawan itu masih cukup keras jadi tentu belum
melayang kebawah.
Untuk mencoba bagaimana kwaliteit ilmu mengentengi
tubuhnya, ia mau unjuk demonstrasi. Selagi masih
melayang, ia injakkan kaki kanan keatas tapak kaki kiri dan
meminjam tenaga pijakan itu, tubuhnya segera lurus
menjulang keatas sampai 2 meter tingginya. Dari situ ia
menekuk tubuh membujur kemuka, dengan gunakan jurus
gan-lok-ping-sah (burung meriwis jatuh dipasir datar), ia
meluncur kemuka kesamping cawan itu, crup sekali hirup
habis isi cawan itu diminumnya. Tangannya diulur
menyambuti cawan yang kosong itu, begitu sang kaki
menginjak tanah, ia enjot tubuhnya melayang kembali
ketempat, duduknya semula.
Gerakan sinona tadi itu, sedikitpun tak mengeluarkan
suara. Ia melayang maju mundur bagaikan seorang bidadari
turun dari kahyangan saja. Sungguh indah sedap dipandang
mata nian gerak layang dara dari Lo-hu-san itu. Sampaipun
Kiang Siang Yan yang sejak tadi diam saja, kini tanpa
terasa mengeluarkan suara tertahan ditenggorokan, suatu
pujian secara diam2. Bek Lian segera membisiki beberapa
patah kata kedekat telinga ibunya. Melihat itu The Go
menduga, nona itu tentu mengiri akan kepandaian Yan chiu
yang secara begitu tiba2 telah maju pesat sekali.
"Lian-moay, itu kan hanya permainan anak2 saja,
apanya yang perlu dikagumi. Beberapa tahun lagi, kita
berdua tentu akan dapat melebihinya!" The Go menghibur.
Bek Lian puas.
Tiba2 datanglah seorang tosu melapor: "Ma Cap-jit dari
Hoasan, cong-piauthau (pemimpin kantor pengantar
barang) Liok Toa piaukiok dari Hui-ciu, Liat-hwat-cian Tiat
Leng-koan serta Empat persaudaraan Li dari Haylam, telah
tiba kemari !"
Mendengar itu Ceng Bo ber-gegas bangun untuk
menyambut sahabat2 yang memang diundangnya itu.
"Celaka.!" seru Kui-ing-cu, tapi dalam pada itu tampak Ma
Capjit situkang tebang puhun dengan pikulannya sudah
melangkah masuk. Yang disebut Tiat Leng-koan bergelar
Liathwat-cian (panah api) itu adalah seorang yang bertubuh
gemuk pendek. Sedang keempat persaudaraan Li itu
mengenakan pakaian yang serba aneh, berasal dari
kepulauan Haylam, pandai menggunakan senjata, rahasia.
Ceng Bo mempersilahkan mereka duduk pada sebuah meja
yang sudah disiapkan lagi dengan hidangan lengkap.
Tak antara berapa lama, haripun malam. Karena Ang
Hwat masih tetap duduk menikmati arak, tahulah Ceng Bo
bahwa semalam-malaman nanti tentu tiada orang yang
tidur. Benar juga, perjamuan itu diteruskan sampai
keesokan hari malah tidak cukup hanya sehari semalam
saja, tapi berlangsung sampai 3 hari 3 malam tanpa
mengaso. Bek Lian dan Ang-hun su-mo tampaknya sudah
tak tahan lagi. Tapi orang2 yang lihay kepandaiannya, tetap
menghadiri perjamuan itu dengan ber-cakap2 sembari tertawa2.
Pada hari ketiga, kembali datang lagi sepuluhan
sahabat2 persilatan yang diundang Ceng Bo. Kini ruangan
luas itu sudah penuh diisi dengan meja2 perjamuan, dan
hanya tinggal tempat, kosong seluas dua tombak pesegi
saja.
Pada hari keempat, tiba2 Ang Hwat cinjin tampak
berbangkit. Setelah menyapukan pandangan matanya
kearah semua tetamunya, dia berkata kepada Ceng Bo
siangjin: "Siangjin, apakah sahabat2mu yang kau undang
itu sudah lengkap hadir semuanya?"
Ceng Bo dapatkan bahwa sahabat2 yang diundang itu
boleh dikata sebagian besar sudah datang, maka
menyahutlah dia: "Entah cinjin hendak memberi pesan apa,
fihak kami sudah hadir semua."
Ang Hwat mendengus. Ratusan mata ditujukan kearah
kepala gereja Ang-hun-kiong itu untuk mendengarkan apa
pembicaraannya.
Dalam perjamuan itu ternyata Ceng Bo telah berhasil
mengundang beberapa tokoh persilatan dari berbagai
daenzh. Jadi perjamuan itu merupakan suatu pertemuan
tokoh persilatan yang jarang terjadi. Maka berkatalah Ang
Hwat Cinjin kemudian : "Pertandingan silat pada, hari
pehcun ini, sebenarnya adalah antara murid angkatan ke 3
dari gereja ini lawan ketua kedua Thian Te Hui dan murid
dari Ceng Bo Siangjin Menantang bertanding ilmusilat,
sesungguhnya adalah suatu persoalan kecil. Tapi mengapa
Ceng Bo siangjin telah mengundang sekian banyak tokoh2
persilatan. datang kemari ? Apakah maksudnya hendak
merobohkan pendirian gereja kami yang sudah ber-puluh2
tahun ini"
Ceng Bo dapat menduga kemana arah tujuan kata2 tuan
rumah itu, yalah hendak menimpahkan segala kesalahan
pada fihak tetamu, agar dalam pandangan kaum persilatan
menuduh Ceng Bo mempunyai maksud tertentu untuk
merebut gereja Ang-hun-kiong. Se-kali2 bukan berjuang
untuk kepentingan rakyat. Maka berdirilah Ceng Bo dari
kursinya dan berkata dengan nada berat: "Kedatangan kami
kegereja Ang-hun-kiong ini; pertama-tama hendak
menyelesaikan dendam kesumat para pejoang rakyat
terhadap murid cinjin yalah The Go itu. Kedua, setelah
urusan ttu selesai, dalam pertemuan ini kami hendak
membangun lagi Thian Te Hwe untuk melanjutkan
perjuangan melawan penjajah Ceng. Soal itu tak
mempunyai hubungan dengan cinjin dan kini mari kita
kembali kepersoalan The Go. Biarlah para hadirin disini
sama mendengar jelas tentang kedosaannya. Diantara
sekian kejahatan yang dilakukan dalam dunia persilatan,
yang paling besar yalah sebagai orang Han dia telah sudi
ber-hamba menjadi budak penjajah Ceng dengan
menyediakan diri sebagai penyuluh membawa tentara Ceng
masuk kewilayah Kwiciu. Dunia persilatan tak dapat
mengampuni adanya bebodoran macam begitu!"
Ceng Bo hanya mendamprat The Go, tapi dalam
pendengaran Ang Hwat, tiap patah kata dari siangjin itu
bagaikan duri tajam yang menusuk ulu hatinya. Sehabis
mendengarkan kata2 orang, mukanya yang sejelek itu telah
berobah makin menyeramkan. Dia tertawa dingin: "Begitu
gagah perwira siangjin ini menjual jiwa pada pemerintah
Beng, tidakkah itu juga berarti menjadi kaki tangan kerajaan
tersebut ?"
Ceng Bo mendongak tertawa keras, serunya:
"Menentang penjajah Ceng, setiap orang Han mempunyai
kewajiban. Kalau kerajaan Beng betul2 memperhatikan
kepentingan rakyat, kamipun tak segan2 untuk
menggabungkan diri. Walaupun tidak demikian, asal rakyat
berdiri dipihak kita, dan bersatu melawan penjajah, maka
kita takkan terpatahkan se-lama-2nya !"
Kata2 ber-api2 dari Ceng Bo siangjin itu disambut
dengan gelora tepukan sorak sorai dari para orang gagah.
Namun wajah Ceng Bo tetap tenang, tak mengunjuk
kesombongan. Kembali Ang Hwat menyambutnya dengan
sebuah tertawa dingin, kemudian berkata: "Kata'2 yang
tiada berguna, lebih baik jangan dikeluarkan. Silahkan
siangjin mengatakan, bagaimana urusan ini hendak
diselesaikan!"
Habis berkata, Ang Hwat segera duduk kembali
sebaliknya Ceng Bo merenung dalam2. Pikirnya, tiada
dengan kekerasan, persoalan ini takkan selesai. Namun
kalau menggunakan kekerasan, meskipun berjumlah
banyak tapi hanya sedikit sekali orang2 difihaknya yang
mempunyai kepandaian berarti. Sedangkan fihak tuan
rumah telah mendapat tambahan tenaga dua orang tokoh
sepasang suami-isteri Swat Moay dan Hwat Siau yang
chusus dikirim oleh pemerintah Ceng sebagai perintis untuk
masuk kewilayah Kwiciu lagi. Disamping itu masih ada lagi
kaki tangan pemerintah Ceng yang menurut Yan-chiu
sudah berkumpul digereja sau dengan menyaru sebagai
tosu. Kalau kawanan kaki tangan musuh itu mengunjukkan
diri, itu sih mudah diselami kekuatan mereka. Tapi yang
mencemaskan, sampai pada saat ini mereka masih
menyembunyikan diri, jadi sukar diduga gerak geriknya.
Ratusan mata telah ditujukan kearah diri siangjin itu,
siapa nampaknya belum dapat mengambil suatu keputusan
yang dirasa tepat. Dia cukup sadar, sekali salah jalan akan
hancur binasalah tiang sendi pejuang kemerdekaan itu
dibasmi oleh musuh. Pecahnya Thian Te Hwe, bobolnya ke
72 markas Hoasan, semua karena salah jalan. Kegagalan itu
harus merupakan pelajaran bagi perjuangan sekarang dan
kemudian hari. Lewat sejenak kemudian, achirnya barulah
Ceng Bo siangjin berkata: "Dalam pertempuran pada 4 hari
yang lalu, muridku dengan The Go masih belum ada
kesudahannya. Sebaiknya kedua orang itu bertempur lagi
sajalah!"
Mendengar kata2 suhunya itu, Tio Jiang serentak
bangun, tapi Ang Hwat mencegahnya: "Tunggu dulu!"
Ketika semua hadirin tampak keheranan, barulah Ang
Hwat kedengaran berkata pula dengan pe-lahan2:
"Bagaimana kalau menang dan bagaimana kalau kalah ?"
Kini Kui-ing-cu tak dapat bersabar lagi, serunya: "Kalau
The Go kalah, jangan harap The Go masih bernyawa lagi!
Kami setiap orang akan mengunyah dagingnya!"
"Kalau dia menang? !" tanya Ang Hwat dengan tetap
jumawa.
"Terserah padamu!" sahut Kui-ing-cu.
"Baik! Go-ji, keluarlah ketengah gelanggang!" seru Ang
Hwat kepada The Go, siapa segera berbangkit dari tempat
duduknya. Itu waktu dia mengenakan pakaian mahasiswa
yang disulam indah sekali, ikat kepala yang bertaburkan
permata dan sepasang sepatu yang bagus. Wajahnya berseri
gemilang, matanya bagai sebuah bintang kejora, sikapnya
gagah ke-agung2an. Benar2 dia itu seorang pemuda yang
tampan dan gaya. Siapakah yang akan mengira, kalau dia
itu adalah seekor serigala yang berselimutkan kulit domba?
"Engkoh Go, hati2lah!" sepasang mata Bek Lian.
berkicup mesra merayu pesan.
"Suko, jangan lepaskan dia lagi!" juga disebelah sana
Yan-chiu menitipkan pesannya kepada sang suko. Tio Jiang
tahu bahwa pertempuran hari itu, beriklim genting penting.
Tujuh puluhan jiwa orang gagah dari dunia persilatan
dipertaruhkan kebahunya.
Kini kedua seteru besar itu, saling berhadapan muka
dengan muka. Mereka saling bertukar pandangan mata
yang tajam. Dalam pandangan seorang achli, walaupun
dandanan dan wajah The Go itu menyolok dan menarik
perhatian orang, namun tak dapat menandingi perbawa
kegagahan anak Lo-hu-san yang serba sederhana itu.
The Go melolos kuan-wi-kiam dan Tio Jiang mencabut
yap-kun-kiam. "Harap siap!" kata Tio Jiang. Dia tak pandai
bicara, apalagi memang tak ingin bicara banyak2. Begitu
gitu memperingatkan lawan, dia segera menusuk. Tring
.......... The Go menangkis dengan pedangnya yang
ditujukan kebagian gigir pedang lawan. Agaknya dia tak
memandang mata pada Tio Jiang. Kalau lain orang, tentu
akan sudah naik darah diperlakukan begitu. Tapi tidak
demikian dengan Tio Jiang. "Biar kau membawa tingkah
bagaimana, juga, harini aku harus mengalahkanmu!"
pikirnya. Dia cepat tarik pulang yap-kun-kiam, lalu diputar
menjadi sebuah lingkaran sinar, dan tiba2 ujungnya
menusuk ketenggorokan The Go.
(Oo-dwkz-tah-oO)
BAGIAN 39 : MAUT MULAI MENGINTAI
The Go bersiul nyaring, pundaknya bergerak dan
tubuhnya berputar menghindar. Dia tidak mengetahui kala
itu Tio Jiang sudah memainkan To-hay-kiam-hwat, maka
sengaja dia masih main aksi. Tio Jiang telah mendapat
kemajuan besar dalam peyakinannya ilmupedang. Jurus
pertama tadi adalah "Tio ik cu hay". Jurus itu mempunyai 7
gerak serangan berisi dan 7 serangan kosong. Kesemuanya
itu telah difahami olehnya.
Memang sepintas pandang, ketujuh jurus dari
ilmupedang To-hay-kiam-hwat itu, yang satu makin lihay
dari yang lain, Tapi dalam soal gerak perobahannya, adalah
kebalikannya, yalah jurus pertama adalah yang paling lihay
sendiri dari keenarn jurus lainnya. To-hay-kiam-hwat,
adanya dapat menjagoi dalam dunia perpedangan, adalah
disebabkan susunan runtutannya yang aneh dan dibalik itu.
Kalau ketujuh jurus itu dimainkan berulang kali, lawan
akan sukar menangkap intisari keindahannya. '
Karena pernah bertempur dengan Tio Jiang, The Go
menganggap dia cukup faham akan ilmupedang lawan. Dia
mengira kalau jurus pertama "Tio Ik cu hay" itu biasa saja,
tiada mempunyai keistimewaan apa2. Maka dalam
menghindar tadi, dia sengaja tempatkan dirinya hanya
seperempat meter dari ujung pedang lawan. Maksudnya dia
hendak unjuk demonstrasi kelincahannya. Tapi begitu Tio
Jiang balikkan tangan, dia segera dikaburkan oleh sinar
pedang Tio Jiang yang berkelebatan memenuhi segala
jurusan. Baru kini dia (The Go) gelagapan dan terus hendak
loncat keluar dari kalangan, tapi ternyata sudah terlambat.
Terpaksa dia menangkis dengan pedangnya. Tio Jiang cepat
robah gerakannya dalam jurus Boan-thian-kok-hay. Begitu
indah dan cepat pedang yap-kun-kiam itu seperti muncul
dari punggungnya, sehingga The Go tak menyangkanya
sama sekali, sret ........ tahu2 pundak The Go telah kesabet
sampai terluka satu senti dalamnya.
Baru 3 gebrak mereka bertempur dan The Go sudah
menderita luka. Sekalian hadirin sama bersorak girang,
sedang Ceng Bo sendiripun tak menyangkanya sama sekali.
Juga Tio Jiang sendiripun girang, namun wajahnya tetap
tenang. Begitu maju, dia kirim lagi sebuah serangan dalam
jurus "Cing Wi tiam hay". Tapi kini The Go tak mau
menderita lagi. Belum lawan menyerbu datang, dia sudah
pendakkan tubuh dan memainkan ilmupedang Chit-satkiam-
hwat. Sebuah lingkaran sinar hijau, maju
menyongsong. Dua2 sama merangsang hebat dan
trang........ belasan kali kuan-wi-kiam dan yap-kun-kiam itu
harus saling menguji ketajamannya. Nyata dalam, sekejap
waktu saja, keduanya telah bertempur tak kurang dari 20-an
jurus. Bagi orang yang masih dangkal ilmunya, tentu
mengira kalau kedua pemuda itu bertempur mati2an. Tetapi
sebaliknya Kui-ing-cu, Sin-eng Ko Thay timbul
kecurigaannya. Juga Ceng Bo mendapat kesan bahwa ada
sesuatu yang tidak beres.
Diantara sekian banyak macam senjata, pedang adalah
yang paling sukar sendiri diyakinkan. Juga ilmu
permainannya paling kaya dengan gerak perobahan. Pada
umumnya, ilmupedang itu tentu berpokok pada
"kelincahan" dan "ketangkasan". Kedua seteru itu
bertempur secara mati2an, jadi tentu saling menggunakan
seluruh kepandaian masing2. Ditilik dari nilai kepandaian
kedua anak muda itu, tak nanti mereka begitu sering
membenturkan pedang pada pedang musuh. Tapi oleh
karena mereka bertempur secara rapat, maka hanya sinar
dan bunyi benturan kedua pedang itu saja yang kelihatan,
dan bagaimana cara mereka menggunakan jurus masing2,
sukar dilihat.
Memang dalam pandangan, pertempuran itu amat seru
sekali. Para hadirin sama menahan napas menyaksikannya.
Kira2 7 atau 8 puluh jurus kemudian, barulah keduanya
'tampak berpencar. Tampak wajah Tio Jiang agak terkejut
heran, sebaliknya The Go kelihatan tertawa iblis. Luka
dipundak kirinya sudah tak berdarah lagi, hanya separoh
dari leher bajunya berlumuran darah. Selang beberapa jenak
kemudian, Ti Jiang putar pedangnya lagi, maju menusuk.
Anehnya The Go sudah bergerak tak menurut permainan
ilmupedang lagi. Dia angkat pedangnya, menabas kebawah.
Tio Jiang tak menduga dan tak keburu pula untuk merobah
gerakannya, trang........... lagi2 kedua pedang mereka saling
beradu.
Tio Jiang turunkan pedang kebawah, untuk membabat
paha lawan, tapi yang hendak dibabat itu cepat hadangkan
pedangnya kemudian mencongkel keatas, trang........
kembali sebuah benturan terjadi. Kini baru sekalian orang
menjadi jelas. Terdengarnya berulang kali adu benturan
senjata ketika kedua lawan itu bertempur rapat2 tadi,
tentulah dari perbuatan The Go yang rupanya sengaja
menjalankan siasat itu.
Kejadian itu mengherankan sekalian orang. Kalau siasat
The Go itu dimaksud untuk melelahkan tenaga Tio Jiang,
terang salah besar. Karena nyata2 kini lwekang Tio Jiang
setingkat lebih tinggi dari The Go. Tapi mengapa dia
berbuat begitu ?
Dalam waktu orang2 sama mencari jawaban atas
dugaannya itu, kembali didalam gelanggang terdengar
belasan kali gemerontang dari suara senjata saling beradu.
Kini mau tak mau, Tio Jiang bercuriga juga. Lewat 20 jurus
kemudian, Tio Jiang mendapat pikiran. Terang kenyataaan
membuktikan bahwa kini dia menang kekuatan dari lawan,
mengapa tidak menurutkan saja siasat lawan. Adu ya adu,
tentu dia dapat memukul jatuh senjata lawan. Dengan
keputusan itu, dia tak mau menghindar lagi, tapi malah
menghantam senjata lawan. Me-lengking2 dering benturan
kedua pedang pusaka itu, sehingga membuat hati para
hadirin turut bergetar.
Kini Tio Jiang menusuk lagi dengan jurus Hay-li-longhuan
dan kembali The Go hadangkan pedangnya untuk
menangkis. "Bagus!" seru Tio Jiang sembari kerahkan
lwekang kearah lengannya, lalu mengibas se-kuat2nya. Tapi
diluar dugaan, begitu saling melekat, secepat itu pula The
Go tarik pedangnya kebawah, hingga membuat Tio. Jiang
terhuyung. Syukur kini kepandaiannya bertambah pesat,
jadi walaupun dalam gugup masih dapat dia
mempertahankan kakinya lalu kejarkan pedangnya
kebawah untuk menindas pedang lawan. The Go yang
cerdik tak mau sia2-kan kesempatan sebagus itu. Tenaga
lawan tadi telah terbuang percuma dan kini baru mulai
menghimpun lagi, maka sebelum sempat mengerahkannya,
dia sudah mendahului menangkiskan pedang keatas sekuat2nya
kemudian berbareng itu dia pakai dua buah jari
tangan kirinya untuk menutuk jalan darah ki-bun-hiat yang
terletak disebelah tetek lawan.
Bukan main terkejutnya Tio Jiang. Hendak menghindari
tutukan orang, terang tak keburu. Untunglah pada saat itu
pedang mereka sudah saling menempel, maka dia segera
kerahkan lwekangnya untuk menindas pedang lawan
sehingga The Go seketika itu rasakan lengannya kesemutan
nyeri sekali. Sudah tentu dengan sendirinya jari tangan
kirinya yang hendak dibuat menutuk tadi batal, berkat
tekanan yang diderita oleh tangan kanannya tadi. Kini dia
pentang kelima jari tangan kiri untuk mencengkeram siku
tangan Tio Jiang. Cengkeram itu luar biasa sekali gayanya.
Telunjuk, jari tengah dan jari manis tepat hendak mengarah
jalan darah yang-ko, yang-hwat dan yang-ti.
Karena sedang kerahkan lwekang untuk menindih
tangan orang, maka Tio Jiang tak mengira kalau lawan
akan berbuat begitu. Terpaksa dia gunakan tangan kiri
untuk menabas, tapi dengan sebatnya The Go tarik
lengannya kiri kebelakang. Kini sepasang tangan Tio Jiang
telah digunakan semua, jadi perhatiannyapun terpecah.
Lubang kesempatan itu, dipergunakan se-baik2nya oleh The
Go. Dia kerahkan seluruh Iwekang kearah pedangnya,
berbareng itu kakinya menendang.
Tio Jiang menghindar kesamping, sembari hantamkan
tangan kiri kedada orang. Tapi pada saat itu The Go
perhebat gerakannya pedang, hingga Tio Jiang rasakan
tangannya kanan kesemutan. Ketika dia hendak perkeras
lwekangnya untuk menindih lagi, tangan kiri lawan
menangkis tangan kirinya hendak dibuat menghantam dada
tadi, kemudian malah terus hendak menutuk jalan darah
cun-kwanhiat disikunya. Tio Jiang kibaskan sikunya, tapi
The Go berlaku nekad. Tak peduli separoh tubuhnya dapat
dihantam musuh, dia terus menyodokkan jarinya kemuka
dan berhasil juga akhirnya untuk menutuk siku lawan itu.
Seketika itu juga siku tangan kanan Tio Jiang serasa lunglai,
tanganpun kendor dan sekali sentak dapatlah The Go
membuat pedang lawan terpental keudara.
Tio Jiang terkejut sekali, cepat dia miringkan tubuh,
kelima jari tangan kanan mencengkeram dada orang,
sedang tangan kiripun menghantam tepat mengenai pundak
kanan The Go, aduh........ sekali The Go mengerang
kesakitan, tahu2 pedangnya kuan-wi-kiampun terpental
jatuh. Tio Jiang membarengi gerakkan kakinya untuk
menendang keluar pedang lawan itu. Sesosok bayangan
hitam melesat menyanggapi kuan-wi-kiam. Kiranya itulah
Kiang Siang Yan yang sudah tinggalkan tempat duduk
menyanggapi pedang kesayangannya. Sementara pedang
yap-kun-kiam tadipun dapat disambut oleh Sin-eng Ko
Thay.
Kini kedua anak muda itu tak mencekal senjata lagi.
Rupanya pundak kanan The Go yang termakan hantaman
Tio Jiang tadi sakit sekali, sehingga tak dapat digerakkan.
Jadi turut nilai, Tio Jiang sudah menang. Namun wajah
The Go tak mengunjuk rasa jeri. Oleh karena pertempuran
itu besar sekali artinya, jadi kesudahan tadi belum berarti
berakhirnya pertempuran.
Tiba2 Bek Lian mengambil pedang kuan-wi-kiam dari
tangan Kiang Siang Yan dan berseru kepada The Go:
"Engkoh Go, maukah kau terima pedang ini lagi ?"
Mendengar itu Yan-chiupun tak mau kalah hawa. "Suko,
ini pedangmu, guratkanlah dua buah luka pada tubuh
manusia itu!" serunya. Tapi belum Tio Jiang menyatakan
apa2, dengan garang The Go sudah menyahuti tawaran Bek
Lian tadi: "Lian-moay, tak usah pakai pedang lagi. Karena
sudah terlepas, masa masih tak sungkan menggunakannya
lagi?"
Mendengar itu, tiba2 Kui-ing-cu berseru tertahan:
"Celaka ! "
Yan-chiu cepat2 menanyakan dan Kui-ing-cupun segera
menyahut: "Bangsat itu mendesak dengan kata2, supaya
kedua fihak tak menggunakan pedang lagi. Entah dia
mempunyai simpanan apa yang lihay, maka begitu garang
sekali!"
Teringat akan sesuatu, jantung Yan-chiu berdetak keras.
Serangkum hawa dingin menyelubungi dada sampai
keujung kakinya, wajahnyapun pucat lesi. Kui-ing-cu
menjadi heran. Siwsanya nona itu sangat lincah, tak kenal
takut. Mengapa kini tiba2 menjadi ketakutan sedemikian
rupa ? Berpaling kearah gelanggang, dia dapati Tio Jiang
dan The Go masih saling tukar pandangan mata. Rupanya
mereka sedang menghembus napas, mengerahkan lwekang
masing2. The Go berusaha menyalurkan lwekang supaya
lengan kanannya dapat digerakkan lagi. Sedang Tio Jiang
tak henti2nya meng-gerak2kan siku tangannya untuk
membuka jalan darahnya yang kena tertutuk tadi.
"Siao-ah-thau, kau kenapa ?" tanya Kui-ing-cu berpaling
kearah Yan-chiu: "Kalau Kui-ing-cu tak menanyakan,
paling banyak Yan-chiu hanya berdiam diri saja. Tapi
begitu ditanya, tiba2 mata sigenit itu ber-kicup2 dan
mengucurkan dua tetes air mata. "Suko, aku telah
mencelakai dirimu.!" katanya sembari ter-isak2.
"Apa itu, lekas katakan. Mumpung masih ada tempo,
kita bisa cari daya!" desak Kui-ing-cu.
"Ceng-ong-sin! Ceng-ong-sin!" Yan-chiu mengoceh
seperti orang gila. Mendengar itu, Ceng Bo siangjin dan
lain2nya sama terkesiap kaget. Benar juga ketika mereka
memandang kearah gelanggang, dilihatnya The Go sudah
mengeluarkan sepasang sarung tangan hitam.
"Siaoko, lekas lepaskan bajumu!" seru Kui-ing-cu dengan
gugup, Tio Jiang heran, tapi demi didengarnya suara Kuiing-
cu tadi mengunjuk kecemasan, diapun menurut. Baru,
dia lepas baju, disana The Go sudah mengeluarkan sebuah
bumbung bambu. Sekali menyentil tutupnya, maka seekor
ular tiok-yap-ceng (hijau daun) sebesar jari tangan, segera
menjulurkan kepalanya keluar. Secepat kilat The Go segera
ulurkan tangan untuk mencengkeram ekor ular itu. Ular itu
menggeliat dan menjulurkan kepalanya keatas hendak
merangsang muka The Go, tapi dengan sebat sekali The
Go, kibaskan tangannya, sembari maju kemuka. Kibasan
itu tepat sekali, ular tak dapat menggigit mukanya tapipun
tak sampai remuk tulangnya (siular). Begitu terkibas
kemuka dan melihat Tio Jiang, ular itu segera hendak
memagut Tio Jiang, siapa dengan gugup menghindar.
Kini tahulah Tio Jiang mengapa Kui-ing-cu tadi
menyuruhnya membuka baju. Dalam tangan Tio Jiang,
baju lemas itu dapat merupakan suatu senjata lihay yang
apabila dikebutkan dapat mengeluarkan samberan angin
yang dahsyat. Kala itu suasana diperjamuan situ menjadi
hiruk pikuk. "Jahanam, sungguh keji sekali kau. Masakan
benda macam begitu hendak dijadikan alat membunuh
orang!" salah seorang yang berangasan kedengaran
memaki. Namun The Go tulikan telinga. Serangan pertama
tak memberi hasil, dia maju beberapa langkah kemudian
ter-huyung kesamping dan sekali loncat dia sudah berada
dibelakang Tio Jiang. Ceng-ong-sin dikibaskan supaya
menggigit tulang punggung orang, siapa karena tak keburu
berputar tubuh segera gunakan jurus hong-cu-may-ciu terhuyung2
kesamping. Kemudian dari situ, dengan gerakan
kaki soh-tong-thui, dia menyapu kaki lawan.
The Go tertawa mengejek. Ceng-ong-sin ditarik
kebawah. Sedikit saja Tio Jiang ayal, pahanya tentu akan
rowak. Ini disebabkan karena tubuh ular itu mempunyai
sisik tajam yang berbisa sekali. Kecuali diobati dengan
empedu dari ular itu sendiri, walaupun tabib semasyhur
Hwa To dari jaman Sam Kok hidup lagi, pun tak nanti
dapat menolong jiwa orang yang terluka.
Ternyata maksud keji The Go itu tak sampai mengenai
sasarannya. Tapi diapun tak mau berhenti sampai disitu
saja. Secepat kilat, dia kibaskan lagi ular itu kemuka.
Rupanya setelah di-obat-abitkan beberapa kali oleh The Go,
ular itu menjadi buas. Tanpa tunggu sampai tangan The Go
mendorongkannya kemuka, otomatis ular itu sudah
merangsang kemuka. Sebelum Tio Jiang sempat
mengebutkan baju, ular itu sudah menggigit pada
celananya.
Saking terkejutnya, Ceng Bo siangjin dan kawan2nya
serentak sama berbangkit. Malah Yan-chiu sudah menjerit
keras: "Jiang suko!" Sekali tangannya menekan meja, ia
segera melesat maju.
"Manusia iblis macam begitu, mana boleh dibiarkan
hidup didunia persilatan!" berbareng itu terdengar suara
makian dan se-konyong2 seorang gemuk pendek, loncat
kemuka dengan menghunus golok.
Kala itu Tio Jiang rasakan celana kakinya mengencang
dan bulu kakinya berdiri. Tapi dalam pada itu dia rasakan
daging betisnya masih tak merasa sakit, maka secepat kilat
dia menarik kuat2 kebelakang, wekkk........ celana kakinya
telah robek dowak2, namun untung betisnya tak sampai
termakan ular. Keringat dingin mengucur membasahi
tubuhnya.
The Go heran dibuatnya mengapa lawan masih bisa
lolos. Tapi segera dia tahu sebabnya, yakni gigitan mulut
siular tadi tak sampai kebagian daging, hanya kurang
beberapa dim jaraknya. Sedang Yan-chiu serasa longgar
sekali dadanya dari himpitan sebuah batu besar, jantungnya
berdebar2 seperti hendak loncat keluar. Ia terkesiap diam,
termangu2 berdiri disitu. Tapi silelaki gemuk pendek tadi
maju terus dan datang2 lalu membacok The Go. Baru saja
goloknya diangkat, se-konyong2 ada segumpal asap merah
meluncur pesat sekali kearahnya. The Go dan Yan-chiu
yang kenal akan barang lihay, buru2 loncat menghindar.
Tidak demikian dengan sigemuk pendek tadi. Dia masih
enak2 berdiri ditempatnya, tapi pada lain saat, kedengaran
suara jeritan seram dan tubuh sipendek itu terhampar,
bum.......hanya sekali dia menggerang, terus diam tak
berkutik lagi.
Kini sekalian hadirin sama mengetahui, bahwa
gumpalan asap, merah tadi, ternyata adalah tubuh Ang
Hwat cinjin yang melesat laksana sesosok bayangan.
Setelah cepat membanting sipendek, cinjin itu tegak dengan
tenangnya. Saat itu, dari salah sebuah kursi, tampak ada
seorang loncat kemuka gelanggang, lalu menubruk ketubuh
pendek yang sudah tak bernyawa itu, menangis tersedu
sedih. Kini baru tahulah Ceng Bo siangjin bahwa sigemuk
pendek itu adalah tokoh persilatan dari daerah Kwisay. Dia
bernama Yo Ngo-long yang bersama sutenya digelari orang
sebagai Chiu san song-kiat (sepasang orang gagah dari
gunung Chiu san). Yang menangisi jenazahnya itu, yalah
sang sute bernama Lau Hong.
Melihat kini Ang Hwat cinjin sudah turun kegelangang,
semua orang sama berdiri dari tempat duduknya.
Kedengaran cinjin itu tertawa dingin, katanya: "Satu lawan
satu, tak boleh ada lain orang yang membantu. Orang itu
telah merusak tata cara persilatan, apalagi hendak turun
tangan secara kejam, maka mati itupun sudah selayaknya!"
Yo Ngo-long dengan sebatang golok, bukannya tokoh
yang tak ternama. Dalam dunia perusahaan antar barang
(piau kiok), namanya sangat terkenal. Perbuatan Ang Hwat
yang sudah membunuhnya tadi, telah menerbitkan
kemarahan orang banyak. Tapi karena cinjin itu dapat
menindas kemarahan orang banyak dengan kata2nya yang
tajam, terpaksa sekalian orang tak dapat berbuat apa2
kecuali menahan diri.
Namun Lou Hong tak dapat bersabar. Tak peduli Ang
Hwat cinjin itu bagaimanapun lihaynya, tapi karena
suhengnya dibinasakan orang, dia kalap betul. "Ang Hwat
loto, orang she Lau hendak mengadu jiwa dengan kau !"
serunya sembari maju menyerang dengan sepasang poankoan-
pit.
Melihat itu sekalian orang gagah hendak mencegah tapi
sudah tak keburu.
Ang Hwat tenang2 saja berdiri ditempatnya. Begitu
sepasang pit Lau Hong tiba didadanya, Ang Hwat gerakkan
tangannya dan tahu2 sepasang pit kepunyaan lawan itu
sudah pindah ditangannya. Kalau Lou Hong mau sudah
dengan begitu saja tentulah takkan sampai mengalami hal2
yang mengenaskan. Tapi dia sudah terlanjur umbar
kemarahan, tekadnya sudah bulat untuk mengadu jiwa.
GAMBAR 71
Sungguh celaka bagi Lau Hong, bukannya Ang Hwat Cinjin
roboh kena pukulannya, sebaliknya ia sendiri yangi kena
disengkelit kelantai hingga terbanting mampus.
Dia ayunkan kepalan kanan untuk menjotos dada Ang
Hwat, bluk............ suaranya seperti memukul kayu lapuk,
dan lengan Lau Hong itu terkulai kebawah. Masih dia tak
mau sudah, tangannya kiri menyusul menampar muka Ang
Hwat. Kali ini Ang Hwat tak mau memberi ampun lagi.
Sekali sawut tangan orang, dia segera melontarkannya. Ada
beberapi orang gagah hendak maju menolongi, tapi sudah
kasip karena cara Ang Hwat menggerakkan tangannya tadi
sungguh istimewa. Lau Hong tergelapar jatuh dilantai, tiada
bernyawa lagi. Tulang belulangnya remuk.
"Siapa yang berani hendak membantu kedua orang yang
bertempur itu, akan mengalami nasib serupa dengan kedua
orang ini. Barangsiapa yang tidak terima, silahkan tampil
kemuka, pinto bersedia untuk menemani main2 beberapa
jurus!" Ang Hwat cinjin sumbar2 dengan suara nyaring.
Kumandang suara cinjin itu disambut dengan hening
diseluruh medan perjamuan itu. Setiap orang insyaf bukan
tandingan Ang Hwat, jadi sama berdiam diri. Hanya Ceng
Bo siangjin seorang diri yang berpendapat lain. Kalau saat
itu dia tak unjuk diri, kelak bagaimana dia hendak berjumpa
dengan orang2 persilatan? Terang dia bukan tandingannya
Ang Hwat, tapi dia tak boleh tinggal diam saja karena takut
mati. "Yang satu tadi karena salah hendak membantu orang
bertempur, harus dibinasakan. Tapi untuk orang yang
kedua, mengapa juga diperlakukan sedemikian kejamnya ?"
serentak dia berseru lantang.
Ang Hwat tertawa ter-kekeh2, sahutnya: "Siapa yang
suruh dia tak tahu diri, berani kurang adat pada pinto.
Apakah siangjin tidak puas ?"
Ang Hwat mempunyai perhitungan yang amat cermat.
Dia tahu walaupun bukan yang tergolong lihay sendiri, tapi
peribadi Ceng Bo itu mempunyai wibawa besar yang secara
otomatis menempatkan dirinya sebagai pemimpin dari para
orang gagah yang hadir disitu.
Mereka adalah anasir2 penentang pemerintah Ceng.
Kalau Ceng Bo dilenyapkan, persekutuan mereka tentu
goncang. Dan ini suatu pembuka jalan untuknya
memperoleh pahala dari pemerintah Ceng. Maka sengaja
dia pancing siangjin itu dalam suatu pertempuran.
Juga Ceng Bo tetap berpegang pada pendiriannya tadi.
Sekali enjot, dia melesat maju. Kui-ing-cu dan si Bongkok
insyaf bagaimana pentingnya peran Ceng Bo dalam
membangun Thian Te Hwe nanti. Kala Ceng Bo
menyatakan suaranya tadi, mereka sudah amat gelisah.
Mereka yakin, siangjin itu tentu berpantang mundur. Maka
begitu menampak Ceng Bo hendak bergerak maju, mereka
berdua segera hadangkan tangan hendak mencegah.
Namun rupanya Ceng Bo sudah bulad tekad, yap-kun-kiam
dikibaskan kekanan kiri untuk memapas kedua lengan
bajunya yang dipegangi oleh kedua tokoh tadi, lalu terus
loncat ketengah gelanggang.
Kui-ing-cu makin gugup. Dalam keadaan seperti saat itu,
dia tak mau main pegang aturan macam apa saja, lalu
loncat mengikuti Ceng Bo. Tapi se-konyong2 Ceng Bo
lintangkan pedangnya sembari berseru: "Siapapun tak boleh
ikut2an !"
Kui-ing-cu terkesiap, sedang Ceng Bo melanjutkan lagi
kata2nya: "Walaupun pertempuran saat ini bukan lagi
bersifat adu kepandaian menurut kebiasaan orang
persilatan, namun peraturan tetap peraturan, tak boleh
dilanggar. Harap sekalian sahabat turut menyaksikan saja,
jangan ikut camnur!"
Kui-ing-cu tak dapat berbuat apa2 lagi, melainkan
terpaksa duduk. Dia dan si Bongkok menganggap, siangjin
itu terlalu memegang teguh sifat ksatryaannya. Semua mata
dari yang hadir, ditujukan kearah Ceng Bo dan Ang Hwat.
Saat itu The Go sudah menyimpan ceng-ong-sin, sedang
Tio Jiangpun menyisih kepinggir. Sembari mencekal
pedangnya, Ceng Bo memberi hormat: "Cinjin,
silahkanlah!"
"Harap siangjin mulai lebih dahulu," Ang Hwat pun
membalas hormat seraya menyilahkan. Suasana dalam
medan perjamuan itu menjadi genting. Semua orang tahu
bahwa Ceng Bo tentu kalah. Tio Jiang gelisah bukan main.
Dia memandang kearah Bek Lian, hatinya makin pedih
geram, karena suci itu hanya selalu memperhatikan The Go
saja, sedikitpun tak ambil mumet akan keselamatan
ayahnya. Malah ibunya (Kiang Siang Yan) yang walaupun
sorot matanya dingin, tapi mau juga mengawasi kearah
Ceng Bo.
"Maaf!" seru Ceng Bo sembari maju menusuk. Ang Hwat
rangkapkan kedua tangan, lalu mendak kemuka hendak
menutuk jalan darah than-tiong-hiat lawan. Dengan cepat
Ceng Bo tarik pulang pedang dan mundur setindak.
Pedang diputar dalam bentuk lingkaran sinar dan dengan
jurus "Ceng Wi tiam hay", dia lancarkan serangan yang
kedua. Ang Hwat tetap tak mau menyingkir, sekali tangan
menghantam kemuka, serangkum angin menderu dahsyat
hingga seketika itu Ceng Bo rasakan tangannya kesemutan
dan pedangnya hampir saja terlepas. Buru2 dia kerahkan
tenaga untuk mencekalnya erat2, tapi ujung pedang
mencong arahnya.
Ang Hwat tak tahu kalau Ceng Bo baru saja hamburkan
lwekang untuk menolong Sik Lo-sam. Demi diketahui
kepandaian Ceng Bo hanya begitu saja, dia tertawa gelak2,
serunya: "Kukira Hay-te-kau itu sungguh2 lihay, kiranya
hanya sebuah kulit kosong saja!"
Karena pedangnya miring, dada Ceng Bo terancam
dengan tutukan jari lawan, maka terpaksa dia mundur lagi
beberapa tindak. "Hay-te-kau ternyata hanya bernama
kosong saja, tak lebih dari kekuatan sebuah jari tanganku
saja!" kembali Ang Hwat menghina lawan. Walaupun tahu
Ceng Bo diperlakukan begitu, namun sekalian orang tak
berani turun tangan. Lebih2 Tio Jiang, dia seperti semut
diatas kuali panas.
Mendapat angin, Ang Hwat tak mau sungkan lagi. Sekali
melesat, dia menerjang lagi. Tapi Ceng Bo segera
menyambutnya dengan 3 buah jurus permainan pedang,
Ang Hwat tak berani gegabah hantam kromo. Dia berhenti
sebentar untuk mengirim sebuah pukulan lwekang. Tapi
'dengan se bat sekali Ceng Bo teruskan lagi dengan 3 buah
serangan berantai. Tio Jiang tak mengerti letak kelihayan
dari ke 6 serangan berantai sang suhu itu. Juga diseluruh
medan perjamuan itu tak seorangpun yang tahu kecuali
Kiang Siang Yan seorang. Itulah salah suatu gerak
perobahan yang paling sakti dari ilmupedang To-hay-kiamhwat.
Dari 3 dan 3, menjadi 7 dan 7. Kalau bukan Ang
Hwat cinjin, lain orang pasti sukar untuk menghindar dari
serangan itu.
Mata Ang Hwat yang tajam segera mengetahui bahwa
lwekang lawan itu lemah sekali, maka dia melesat
kesamping orang dan menghantam. Tapi kali ini Ceng Bo
sudah bersiap. Begitu samberan pukulan lawan tiba, dia
cepat turunkan pedang terus menusuk. Ang Hwat
perdengarkan ketawa dingin, dan membalas dengan dua
buah hantaman lwekang lagi. Kedahsyatan pukulan itu,
ibarat dapat menghancurkan batu gunung. Seketika Ceng
Bo rasakan ada suatu tenaga gempuran maha dahsyat
menyerangnya. Goyah lah kuda2. kakinya kena tergempur,
lalu melejit kesamping.
Ang Hwat tak mau memberi hati, dia memburu maju
untuk menutuk dengan sebuah jarinya lagi. Untuk kesekian
kalinya, terpaksa Ceng Bo mundur pula.
(Oo-dwkz-kupay-oO)
BAGIAN 40 : BERSATU KEMBALI
Ang Hwat nekad tak mau tarik pulang jarinya. Kakinya
bahkan mengisar maju dan gerakkan tangan kiri
menghantam. Diburu oleh jari dan kepelan itu, Tieng Bo
terpaksa main mundur sembari bolang balingkan pedang
untuk melindungi diri. Ber-turut2 dia mundur sampai
belasan tindak, jadi hampir separoh dari gelanggang itu
habis sudah diputarinya.
GAMBAR 72
Sekali Ang Hwat Cinjin bergerak, cepat ia merangsang maju.
Tapi Ceng Bo Siangjin sempat putar pedangnya sambil
melangkah mundur.
"Entah bagaimana Hay-te-kau dapat memperoleh
kemasyhuran nama itu ya ?!" kembali Ang Hwat mengejek
dengan tertawa.
Sudah sejak bergebrak tadi, Kui-ing-cu mendongkol
sekali atas sikap kepala gereja Ang Hun Kiong yang
sedemikian sombongnya itu. Kali ini, tiba2 pikirannya
tergugah. Buru2 dia melirik kearah Kang Siang Yan dan
dapatkan nyonyah itupun unjukkan wajah kurang puas.
"Semalam menjadi suami isteri, akan terkenang sampai
mati". Rupanya hal itupun berlaku pada Kang Siang Yan.
Walaupun ia dapat dikelabui The Go sehingga marah
terhadap suaminya (Ceng Bo) yang disangka memusuhi
Bek Lian dan The Go itu, namun kecintaan suami isteri tak
mudah dihapus begitu saja. Ah, masih ada setitik harapan,
demikian Kui-ing-cu mengasah otaknya.
Pada saat keadaan Ceng Bo makin payah dan gerakan
pedangnya makin lambat seperti tertindih tenaga berat,
Kuiing-cu segera bertindak.
"Ang Hwat cinjin, kata2mu itu benar, Hay-te-kau
memang hanya sebuah 'kantong nasi' saja!" serunya.
Mendengar itu, sekalian orang sama terbeliak kaget.
Sebaliknya diam2 Ang Hwat gembira. Dia mengira, belum
lagi dia jatuhkan Hay-te-kau, kini pikiran orang sudah
banyak berpaling haluan.
"Sudah tentu benar!" sahutnya.
Kui-ing-cu girang, pancingn ya sudah mulai termakan.
"Tapi aku tak habis mengerti, mengapa dahulu Tay Sian
Siansu pernah menderita kekalahan dari dia?" serunya pula.
Ang Hwat berkeputusan untuk menjelaskan pertanyaan
Kui-ing-cu pada saat dan tempat seperti waktu itu. Kalau
tidak, orang2 tentu masih menjunjung Ceng Bo dan tak
mengindahkan dianya. Kubu kekuatan anti penjajah Ceng,
bagaikan rumput liar yang sukar dibasmi habis. Benar
dengan terbasmi rombongan Ceng Bo, kekuatan gerakan itu
akan terpatahkan sebagian, tapi alangkah baiknya kalau
tenaga2 itu dapat digunakan lagi untuk kepentingan barisan
kontra perlawanan itu. Dan inilah kesempatan yang
sebagus2nya untuk memikat mereka, demikian pikir Ang
Hwat.
Sembari terus mendesak Ceng Bo, dia tertawa menyahut:
"Itulah karena kelemahan Tay Siang Siansu sendiri."
"Sepasang ilmu pedang hoan-kang-kiam-hwat dan tohaykiam-
hwat, telah menggetarkan dunia persilatan selama
lebih 30 tahun lamanya, masakan hanya bernama kosong
saja? Ada sebuah pameo dalam dunia persilatan: Hay-tekau
- Kang Siang Yan, sepasang pedang malang melintang
didunia persilatan, hoan-kang (menjungkirkan sungai) to
hay (membalikkan laut) selama 30 tahun! Masakan kau tak
tahu akan hal itu ?" Kui-ing-cu tetap mengulur umpan.
Di-kili2 begitu, lupalah sesaat Ang Hwat bahwa Kang
Siang Yan berada disitu, mulutnya segera berlincah: "Apa
itu sih, Hay-te-kau Kang Siang Yan! He, he, dalam
pandangan pinto (aku), mereka 'kantong nasi' semua!"
Kui-ing-cu hampir berjingkrak karena girangnya. Benar
juga seketika itu bangkitlah Kang Siang Yan dengan
serentak. Wajahnya sudah menampil kemarahan hebat.
Kui-ing-cu tak mau sia2kan kesempatan itu. Dia siram lagi
api kemarahan Kang Siang Yan itu dengan minyak.
Sembari tertawa ter-kekeh2 dia berseru nyaring2: "Amboi!
Kiranya bukan hanya Hay-te-kau seorang yang jadi
'kantong nasi', Ha......, haaa......, sungguh penipuan nama
besar2an! Ucapan cinjin sedikitpun tak salah, aku
mengertilah sekarang!"
Hebat ilmu silatnya, aneh watak perangainya dan tajam
juga lidahnya. Itulah tokoh Kui-ing-cu. Tu lihat, Kang
Siang Yan sudah "terbakar" olehnya.
"Ang Hwat cinjin, coba kau perdatakan siapa yang disini
ini " seru Kang Siang Yan dengan sinis.
"Mah, kau ini bagaimana ?" buru2 Bek Lian
memperingatkan.
Juga The Go terkejut bukan alang kepalang dan cepat2
berseru : "Gak-bo !"
Kang Siang Yan anggap dirinya tak dibawah Ang Hwat.
Dihina terang2an dihadapan sekian banyak orang
persilatan, mana ia mau tinggal diam saja.
"Diam!" bentaknya kepada Bek Lian dan The Go,
sehingga kedua anak muda itu tak berani bercuit lagi.
Saat itu Ang Hwat seperti diguyur air dingin. Insyaflah
kini dia kalau kena dipermainkan oleh Kui-ing-cu hingga
bikin marah pada Kang Siang Yan. Dengan gengsinya
sebagai datuk persilatan yang dimalui orang, masakan dia
ada muka untuk menarik kembali kata2nya yang sudah
diucapkan dihadapan sekian banyak orang itu! Namun
dengan berbuat begitu, artinya dia membuka permusuhan
dengan wanita yang lihay itu. Dalam keadaan serba salah
itu, sesaat tak dapat dia menjawab pertanyaan Kang Siang
Yan tadi.
"Astagfirullah! Jadi Kang Siang Yan dan Hay-te-kau itu
'kantong nasi' semua. Gila, baru sekarang aku mengetahui!"
Kui-ing-cu berseru tinggi-rendah dengan nada di buat2.
"Tutup mulutmu!" bentak Kang Siang Yan dengan
murkanya.
Kui-ing-cu ber-kuik2 seperti babi hendak disembelih,
serun ya: ”Oi...., oi....., mengapa....., kan bukan aku yang
mengatakan tapi Ang Hwat cinjin! Semua orang sampaipun
pintu yang gagu itu menjadi saksinya. Kalau tak berani
sama yang mengatakan, jangan tumpahkan kemarahan
padaku si 'kantong nasi' kecil lho!"
Pandai benar Kui-ing-cu ber-olok2, sehingga para hadirin
sama menekan perut saking gelinya. Api kemarahan Kang
Siang Yan berkobar sungguh. Maju dua langkah kemuka, ia
berseru: "Ang Hwat imam tua, mengapa kau begitu tak
memandang sebelah mata pada orang ?"
Keadaan Ang Hwat seperti seorang gagu yang makan
getah. Sakit, tapi sukar mengatakan. Kalau dia diam tak
menyahut, berarti akan kehilangan muka dan diam2
dianggap mengakui kesalahannya. Tapi pada lain saat,
timbullah ke-angkuhannya.
"Ya, memang benar mengatakan, lalu bagaimana?"
ujarnya dengan keras.
Sret......., tangan Kang Siang Yan sudah menyiapkan
pedang, serunya: "Bagus! Imam tua, biarlah kini kau
ketahui bagaimana tempo dahulu Tay Siang Siansu
menderita kekalahannya.
---oodwkz0tkupayoo---
Sebuah sinar bianglala ber-kilap2 dari atas kebawah
melayang keulu punggung Ang Hwat. Salah sebuah jurus
dari ilmu pedang hoan-kang-kiam-hwat yang disebut pahong-
oh-kang sudah dilancarkan oleh Kang Siang Yan. Dan
secara kebenaran sekali, ketika perhatian Ang Hwat
terpecah karena melayani percakapan tadi, Ceng Bo
lancarkan serangan pembalasan. Dan tepat dikala pedang
Kang Siang Yan menari dalam gerak pah-ong-oh-kang tadi,
Ceng Bopun bergerak dengan salah satu jurus ilmu pedang
to-hay-kiamhwat yang disebut thio-ik-cut-hay.
Sudah 10-an tahun lamanya sapasang pedang pit-isonghong-
kiam itu tak muncul didunia ramai. Kini sekali
muncul, mereka bahu membahu bersatu kembali. Kang
Siang Yang kini memiliki ilmu lwekang sakti thay-im-lianseng.
Sedang lwekang Ceng Bopun sudah banyak
kemajuannya, Maka gerak permainan sepasang pedang itu,
jauh lebih dahsyat dari 10 tahun yang lalu.
Ang Hwat hendak menghantam kemuka untuk
menghalau pedang yap-kun-kiam, tapi sesaat itu punggung
terasa. disambar hawa dingin, kuan-wi-kiam hanya terpaut
satu dim dari kulit punggungnya. Sudah tentu dia tak jadi
melancarkan hantamannya tadi itu. Syukurlah dia faham
akan segala ilmu silat berbagai aliran, tambahan pula
ilmunya mengentengi tubuh sangat sempurna. Dengan
gerak han-te-pat-jong, dia enjot kakinya loncat lurus sampai
setombak lebih tingginya. Kini dia tak berani bertempur
dengan tangan kosong lagi. Membarengi masih melayang
diudara, cepat cabut sebuah benda dari belakang
punggungnya. Benda itu berwarna hitam legam, sebesar
lengan orang, panjang hanya setengah meteran. Entah
benda apa itu.
Melihat isterinya membantuinya, girang Ceng Bo sukar
dilukis. Kala Ang Hwat masih berada diudara, dia. segera
berseru dengan pelahan: "Hong-moay!"
Dipanggil begitu, terkenanglah sesaat Kang Siang Yan
akan kebahagiaan kehidupan suami isteri mereka pada 10
tahun berselang. Tapi hanya untuk beberapa kejab saja
kenangan bahagia itu dirasainya, karena pada saat itu Ang
Hwat sudah melayang turun dan menutuk bahunya dengan
benda hitamnya. Buru2 ia miring kesamping, lalu balas
menusuk.
Tapi ternyata tutukan Ang Hwat itu hanya gertakan saja.
Begitu Kang Siang Yan menusuk, buru2 dia putar tubuhnya
untuk secepat kilat menutuk pada Ceng Bo. Sebenarnya
saat itu, demi dilihatnya sang isteri sudah bergerak dengan
jurus kedua, Ceng Bopun segera gerakkan pedangnya dalam
jurus hoan-thian-kok-hay. Jadi sepasang pedang itu,
menyerang berbareng. Ang Hwat memusatkan,
serangannya kepada Ceng Bo, karena diketahuinya
kepandaian siangjin itu lebih rendah dari Kang Siang Yan.
Membarengi dengan sebuah hantaman tangan kiri, benda
hitam yang ternyata ber-buku2 (ros2an) se-konyong2
menjulur maju sendiri, hingga hampir saja Ceng Bo
termakan, kalau dia tak lekas2 menghindar. Tapi walaupun
demikian, tak urung gerakan kakinya menjadi kacau.
Sepasang ilmu pedang itu harus dimainkan dengan
gerakan kaki yang tepat. Sedikitpun tak boleh kacau atau
selisih. Sayang kepandaian Ceng Bo tak menyamai Kang
siang Yan tadipun gagal tak menemui sasarannya.
Ang Hwat getarkan tangannya dan wut...... benda hitam
berbuku itu lagi2 menjulur setengah meter panjangnya
menyerang Ceng Bo. Dalam keadaan terdesak itu, Ceng Bo
segera gunakan gerak thiat-pian-kio (jembatan gantung),
tubuhnya telentang membalik kebelakang. Hanya dua tiga
dim saja senjata Ang Hwat itu lewat diatas dada Ceng Bo.
Setelah bangun, Ceng Bo segera lancarkan ceng-wi-tianhay,
yalah jurus ketiga dari to-hay-kiam-hwat. Dan tepat
pada waktunya; kebenaran juga Kang Siang Yanpun
lancarkan jurus yang ketiga pula. Ang Hwat terpaksa
gunakan jurus Kwan Kong melolos jubahnya, Ang Hwat
ber-putar2 menghindar. Anehnya senjatanya benda hitam
tadi, tahu2 menyurut sendiri pulang seperti sediakala
panjangnya.
Oleh karena terpisah dekat sekali, jadi Kang Siang Yan
dan Ceng Bo dapat melihat tegas senjata aneh berbuku
milik Ang Hwat itu. Oleh karena ujung senjata itu agak
halus dari bukunya, maka tahulah suami isteri itu kalau
didalam senjata itu tentu dipasangi alat2 veer. Jadi sekali
menekan, ujungnya dapat menjulur keluar sendiri, bukan
hanya satu dua buku, bahkan sampai tujuh delapan buku.
Setiap buku panjangnya hampir setengah meter. Jadi dapat
dibayangkan betapa lihaynya senjata itu.
Kedua suami isteri itu saling mengicupkan ekor mata.
Tigapuluh tahun berselang ketika mereka baru turun
gunung untuk masuk kedunia persilatan, senantiasa mereka
bertempur bahu membahu. Didorong oleh darah muda,
mereka selalu bernapsu untuk menang, dan untuk mencapai
maksudnya itu mereka telah menetapkan kode dengan
kicupan ekor mata. Dalam setiap pertempuran, tak pernah
mereka lupa akan kode itu. Kini setelah 10 tahun berpisah,
pertama kali bersatu kembali mereka sudah menghadapi
seorang musuh tangguh macam Ang Hwat. Teringat akan
kode itu, mereka menjadi geli sendiri.
Ang Hwat ter-longong2, dikiranya mereka itu terlalu
keisengan saja bertingkah seperti anak2. Disamping itu
diapun menganggap orang terlalu memandang rendah
padanya, hingga kini dia berlaku sangat hati2 sekali.
Dengan gerak jongliong-jut-chiu (naga hijau menjulurkan
cakar), dia loncat lagi sampai 2 meter tingginya, lalu
memutar senjatanya tadi. Dirinya se-olah2 terbungkus
dalam lingkaran sinar, yang agak dekat tubuhnya sinarnya
hitam yang jauh dari dirinya, sinarnya ber-kilau2an.
Panjang senjatanya itu tak kurang dan 4 meteran. Yang pertama2
terdesak mundur yalah Ceng Bo siangjin, sedang
Kang Siang Yanpun tak berdaya untuk maju mendesak.
Kini baru terbukalah mata sekalian orang, betapa
lihaynya kepala gereja Ang Hun Kiong itu. Kang Siang Yan
- Ceng Bo siangjin, dua tokoh yang pernah menggemparkan
dunia persilatan, ternyata tak mudah untuk merebut
kemenangan. Tanpa terasa mereka sama leletkan lidah
mengagumi.
Sedang diantara para peonton, adalah The Go yang
paling bangga gembira.
"Lian-moay, kau ketahui tidak ? Senjata sucou itu disebut
im-yang-pian (ruyung im-yang). Separoh bagian muka yang
ber-kilau2an itu, terbuat dari besi murni, dapat kencang
dapat pula lemas. Dibawah kolong langit, tiada seorangpun
yang dapat tahan menghadapinya!"
Ucapan The Go itu tampaknya ditujukan pada Bek Lian,
tapi pada hakekatnya, supaya sekalian orang sama
mengetahui hal itu. Mulut Bek Lian hanya mengiakan saja,
namun hatinya terjadi pertentangan hebat. Ia b--erlainan hal
dengan sekalian orang itu. Sebenarnya ia tak mempunyai
hati sama sekali untuk berhamba pada pemerintah Ceng,
maupun untuk melawannya. la berharap ibunya menang,
tapi demikian tentu akan bermusuhan dengan gereja Ang
Hun Kiong yang berarti pula menyulitkan hubungannya
dengan The Go. Namun kalau mengharap kemenangan
difihak Ang Hwat, kecintaannya terhadap sang ibu masih
melekat dalam. Inilah faktor yang menjadi pertentangan
hati Bek Lian. Berat nian ia menimbangnya.
Sedang digelanggang sana, tampak Ang Hwat sudah.
mempunyai gambaran jelas akan kekuatan kedua lawann ya
itu. Ceng Bo terang tak selihay Kang Siang Yan. Yang
lemah harus digempur dulu, demikian dia tetapkan
rencana-nya. Tiba2 im-yang-pian berhenti berputar sejenak,
tapi siku kirinya menyodok Kang Siang Yan.
"Bagus!" seru Kang Siang Yan, siapapun tak mau
membabat dengan pedang tapi melancarkan hantaman
thay-imciang-nya yang hebat.
Tapi ternyata sodokan siku Ang Hwat tadi hanya gertak
kosong. Begitu hantaman Kang Siang Yan tiba, cepat2 dia
tarik lengannya untuk menghadang, kemudian meminjam
tenaga dorongan Kang Siang Yang yang hebat itu, dia
layangkan tubuhnya memburu pada Ceng Bo, wut.....,
wut....., wut......, im-yang-pian menjulur, sampai lima enam
meter panjang. Ujungnya. yang melengkung runcing itu
berhamburan memagut jalan darah i-hu-hiat, tham-tionghiat,
ki-kwat-hiat, ki-bun-hiat, hun-cui-hiat, khi-hay-hiat,
semuanya jalan darah besar dibagian dada dan perut orang.
Antara i-hu-hiat dan khi-hay-hiat jaraknya antara setengah
meter, namun ujung pian itu dapat digerakkan sekaligus
untuk menutuknya. Dan yang lebih hebat lagi, tutukan itu
bukan saja digerakkan dengan tenaganya sendiri pun
didorong juga oleh hantaman Kang Siang Yan tadi.
Ceng Bo gugup dan putar pedangnya dengan seru untuk
melindungi dirinya. Tapi ternyata Ang Hwat sudah
memperhitungkan hal itu. Begitu lawan memutar pedang,
diapun segera melesat kesamping sembari gerakkan
tangannya. Wut......, ujung pian itu dapat melengkung
untuk memagut punggung Ceng Bo. Maka betapa
terperanjatnya Ceng Bo ketika baru saja dia mainkan
pedang atau pagutan ujung pian itu sudah menghilang
dengan tiba2. Pada lain saat dia rasakan punggungn ya ada
angin menyambar. Tahu bahwa musuh beralih menyerang
dari belakang, namun dia tak berdaya untuk secepat itu
memutar tubuhnya. Diam2 dia mengeluh.
Tapi syukur disana masih ada Kang Siang Yan. Tahu
sang suami terancam bahaya, ia segera bersuit nyaring,
macam hantu meringkik. Dengan gunakan ilmu
mengentengi tubuh untuk mengisar kaki dalam ilmu sakti
thay-im-lianseng, tanpa menggerakkan kaki, tahu2
tubuhnya sudah berkisar dibelakang Ceng Bo. Dengan Kutcu-
tho-kang, salah sebuah jurus dari ilmu pedang hoankang-
kiam-hwat, ia babat sepasang kaki Ang Hwat.
Dengan gemas Ang Hwat terpaksa batalkan tutukann ya
kearah punggung Ceng Bo tadi, karena harus loncat
menghindar dari babatan pedang. Dalam pada itu, Ceng
Bopun sudah sempat memutar tubuh dan terus lancarkan
serangan hay-li-long-hoan. Ini serasi dengan sabetan Kang
Siang Yan yang menggunakan jurus kut-cu-tho-kang tadi.
Yang satu membabat turun yang lain menyerang keatas.
Ang Hwat kebutkan lengan bajunya untuk menghalau
serangan Ceng Bo, kemudian lingkarkan im-yang-pian
untuk membuyarkan serangan Kang Siang Yan, sedang
kakinya segera dienjot loncat keluar dari kalangan
pertempuran. Bahwa dia dapat berbareng menangkis dua
macam serangan, serta lolos dari kepungan yang
sedemikian gencarnya, menandakan bagaimana tinggi
kepandaiannya itu. Para hadirin yang menyaksikannya,
sama mengucurkan keringat dingin.
Tio Jiang kepal2 tinjunya, sedang Yan-chiu
membeliakkan matanya lebar2, mulutnya komat kamit
menggerutu sendirian. Tengah ia asyik memperhatikan
jalannya pertempuran itu, se-konyong2 bahunya terasa
ditepuk orang. Kala itu Ceng Bo dan Kang Siang Yan saling
bertukar pandangan, kembali mereka berdua saling main
mata. Yan-chiu menduga bahwa suhu dan subonya itu
tentu akan melancarkan serangan yang lebih dahsyat lagi.
Sudah tentu, ia curahkan seluruh pqrhatiannya untuk
menyaksikan. Mengira ada orang karena tak kelihatan lalu
menepuk bahunya, Yan-chiu tanpa menoleh kebelakang
lagi, terus menyisih kesamping. Tapi kembali disitu,
pahanya terasa dicubit orang.
Cubitan itu sakit juga, hingga sebagai seorang gadis,
gusarlah Yan-chiu karena malunya. Cepat2 dia berpaling
kebelakang dan hai, kiranya sikurang-ajar itu ternyata
seorang to-thong (imam anak2), sekira 12-an tahun
umurnya. Demi melihat wajah to-thong itu menyenangkan,
Yan-chiu tak jadi marah tapi lalu memberi isyarat supaya
anak itu jangan mengganggunya lagi. Tapi to-thong itu
segera menimpukkan segulung kertas kecil, terus memutar
tubuh berjalan pergi.
Yan-chiu yang cerdas segera mengerti bahwa anak itu
tentu mempunyai urusan penting tapi kuatir diketahui
orang, jadi berbuat begitu. Buru2 dijemputnya gulungan
kecil itu lalu dibukanya. Kiranya disitu terdapat beberapa
huruf yang berbunyi begini: "Cici, kami mendapat
kesulitan, lekas tolongi! - Hong."
Tiba2 teringat Yan-chiu bahwa sejak ia datang kegereja
Ang Hun Kiong yang terachir ini, ia tak berjumpa lagi,
dengan Kuan Hong dan Wan Gwat, kedua imam anak2
yang dikenalnya itu. Tanda tangan "Hong" itu, terang
adalah Kuan Hong. Apa yang dinyatakan "dalam kesulitan"
itu, tentulah karena menunjuki ia (Yan-chiu) akan jalan
dibawah tanah dari gereja Ang Hun Kiong itu, maka
sekarang mendapat hukuman berat.
Yan-chiu benar genit dan nakal, tapi ia, sudah mendapat
gemblengan pendidikan budi pekerti dari Ceng Bo siangjin,
jadi terhadap budi dan dendam, dapatlah ia menarik garis
yang tajam. Memandang kesebelah sana, ternyata to-thong
yang menimpukkan gulungan surat tadi masih berada tak
jauh dari, situ dan melambaikan tangan kepadanya.
Serentak berdirilah dia lalu menghampiri kesana.
Kala itu Ang Hwat cinjin sudah terlibat dalam
pertempuran dengan Kang Siang Yan - Ceng Bo lagi.
Semua, orang sama menahan napas dan mencurahkan
seluruh perhatiannya, jadi mereka tak menghiraukan gerak
gerik Yan-chiu lagi. To-thong itu berjalan kesebelah barat
dan. Yan-chiu tetap mengikutinya. Membiluk pada sebuah
ujung. dinding, barulah to-thong itu berhenti. Ternyata
disitu keadaannya sunyi dengan orang.
"Siao-totiang, apakah Kuan Hong dan Wan Gwat
berdua menyuruhmu mencari aku?" tegur Yan-chiu.
"Ya, jangan banyak bicara lagi, lekas ikut aku!" sahut tothong
itu dengan suara pelahan. Demikianlah setelah. berbiluk2
beberapa tikungan, tibalah Yan-chiu pada sebuah,
ruangan yang tak dikenalnya. To-thong itu masuk kedalam
sebuah kamar, lalu mengambil seprangkat pakaian tosu
(imam) dan suruh Yan-chiu memakainya.
Dasar gadis nakal, Yan-chiu gembira sekali dengan
permainan itu. Pakaian itu segera dikenakan, rambutnya
disingkap keatas, lalu memakai kopiah gereja. Ai, benar2
mirip seorang tosu muda. To-thong itu cekikikan menahan
gelinya. Begitulah to-thong itu segera membawanya
berjalan lagi. Membiluk ketimur menikung kebarat,
beberapa orang penghuni gereja itu dijumpainya, tapi tiada
seorangpun yang curiga pada Yan-chiu. Akhirnya tibalah
mereka pada sebuah thian-keng (halaman didalam rumah)
yang tak seberapa besar. Ditengah thian-keng itu terdapat
sebuah perapian dupa terbuat dari tembaga. Ditilik
rupanya, alat itu sudah seribu tahun lebih umurnya.
Disamping perapian dupa itu tampak ada dua orang
hweshio bertubuh tinggi besar tengah duduk ber-cakap2
sambil menikmati arak.
To-thong itu segera menarik Yan-chiu kesamping.
"Cici, kau tadi melihat tidak ? Kuan Hong dan Wan
Gwat berada dibawah perapian pedupaan itu tadi!"
katanya.
"Bagaimana dibawah situ bisa dibuat menutup orang?"
tanya Yan-chiu.
"Karena disitu terdapat lubang terowongannya," sahut si
to-thong.
Yan-chiu menjadi jelas. Ketika dilihatnya kedua penjaga
imam itu masih enak2an saja meneguk arak sehingga tak
tahu akan kedatangan orang, Yan-chiu segera mendapat
akal. Dicabutnya tusuk kondenya, lalu dijentikkan dengan
lwekang. Kedua imam itu sedang sama mengangkat
cawannya saling memberi toast (selamat), tahu2 jalan
darahnya suan-ki-kiat-telah kena ditutuk oleh tusuk konde.
Bluk....., bluk....., tubuh mereka sama menggelepar jatuh
dan araknya bergelimpangan membasahi lantai.
GAMBAR 73
Sekali Yan Chiu yang sudah menyamar sebagai Tosu,
mengayun tangannya, dua tusuk-kondenya melayang dan
robohlah kedua imam penjaga itu.
Sebat sekali Yan-chiu segera berlari menghampiri
perapian tembaga itu, terus ditarik se-kuat2nya. Tapi
hai......, raganya seluruh tenaga telah dikeluarkan namun
perapian itu sedikitpun tak berkisar. Ia melampaui kearah
to-thong tadi, siapa dengan memakai kain penutup muka,
ber-larian2 menuju kebelakang perapian itu, lalu menunjuk
pada telinga perapian yang sebelah kiri. Yan-chiu mengerti,
lalu mendorongnya. Benar juga perapian perdupaan itu
segera berkisar kesamping dan terbukalah sebuah lubang,
kira2 2 meter besarnya.
Dengan diikuti oleh Yan-chiu masuklah to-thong itu
kedalam. Ha, kiranya disitu merupakan sebuah jalanan
dibawah tanah, tingginya hampir setombak, dindingnya
terbuat daripada batu merah yang kokoh, penerangannya
cukup. Ketika tiba diujung jalan dan membiluk, tibalah
mereka pada sebuah pintu besar yang memakai terali besi.
Didalam terali besi itu, tampak Kuan Hong dan Wan Gwat
tengah digantung. Ketika melihat kedatangan Yan-chiu,
wajah kedua anak itu berseri girang lalu hendak berseru,
tapi ternyata tak dapat karena mulutnya tersumbat sebuah
bola besi.
Melihat terali besi itu hanya sebesar jari tangan, Yanchiu
menaksir kekuatannya. Dilekatkannya kedua
tangannya pada dua buah terali. Lebih dahulu ia salurkan
lwekang ajaran suhunya (Ceng Bo), setelah tenaga dalam
itu beredar, barulah ia kerahkan lwekang ajaran Tay Siang
Siansu dan mementangnya ....... amboi, terali itu
melengkung bengkok menurutkan pentangan tangan.
Dengan kegirangan sekali, Yan-chiu segera menyusup
masuk, terus membuka tali borgolan kedua imam anak2 itu.
Serta merta Kuan Hong dan Wan Gwat jatuhkan diri
ditanah berlutut, sembari menghaturkan terima kasih
kepada Yan-chiu.
"Ai...., sudahlah, jangan banyak beradatan, ayuh kalian
lekas melarikan diri sana!" ujar sito-thong kecil tadi. Tapi
masih Kuan Hong dan Wan Gwat memandang kearah
Yan-chiu dengan sorot mata meminta pelindungan.
"Baiklah, kalian boleh lekas menuju ke Cin Wan Kuan di
Lo-hu-san. Kalau urusan disini sudah beres, aku tentu
kesana juga!" kata Yan-chiu.
Kembali kedua anak itu menghaturkan terima kasih nan
tak terhingga. Yan-chiu sendiripun girang bukan kepalang
karena telah berhasil menolongi orang. Begitulah mereka
berempat kembali menyusur lubang rahasia itu untuk
muncul keatas. Perapian dupa itu didorongnya menutup
lagi dan tanpa menghiraukan apakah kedua, imam yang
tertutuk tadi mati atau hidup, mereka lalu tinggalkan
tempat itu.
---oodwkz0kupayoo---
Ketika tiba pada dua buah ruangan, tiba2 dari arah muka
sana terdengar ada orang berseru: "Chiu-yap, kau sembunyi
dimana ? Tamu perlu pelayanan, jangan enak2
menghilang.”
Kuan Hong dan Wan Gwat terkejut pucat wajahnya.
Buru2 mereka menyelinap bersembunyi kesamping. Yang
dipanggil "Chiu-yap", adalah to-thong kecil yang menjadi
penunjuk jalan Yan-chiu itu. Juga to-tong kecil itu pucat lesi
wajahnya dan hentikan langkahnya. Karena tak kenal
jalanan, Yan-chiupun ikut berhenti.
Pada lain saat muncullah seorang tosu, terus berseru
dengan garangnya: "Hai.....,kebetulan, ayuh lekas kalian
berdua kesana. Jangan sembarangan jalan2 ke-mana2, awas
bisa dihukum dibawah penjara tanah ya!"
Ketika tosu itu muncul tadi, Yan-chiu buru2 tundukkan
kepalanya. Syukurlah tosu itu tak mengamat-amatinya
dengan perdata. Sedang Chiu-yap karena ketakutan tak
dapat ber-kata2. Adalah Yan-chiu yang cerdas tangkas itu,
segera memberi penyahutan mengiakan.
"Ayuh, ikut padaku!" seru tosu itu sembari berjalan.
Jarak imam itu dengan Yan-chiu hanya satu meter. Andai
kata mau, mudahlah Yan-chiu untuk merobohkannya. Tapi
karena tadi imam itu mengatakan "sitetamu minta pelayan",
timbullah pertanyaan dalam hati Yan-chiu. Rombongan
suhunya sudah berada diatas dan malah sudah bertempur
dengan tuan rumah. Pernah suhunya mengatakan bahwa
pemerintah Ceng telah mengirim beberapa orang jagoannya
kelas satu ke Ang Hun Kiong. Ah, yang dimaksud "tetamu"
itu tentulah kawanan jagoan itu. Sampai saat suhunya
bertempur dengan Ang Hwat, jagoan2 itu masih belum
menampakkan diri, mengapa ia tak mau gunakan
kesempatan eebagus itu untuk menyelidiki keadaan mereka?
Cepat2 ia memberi isyarat lambaian tangan pada Chiuyap
supaya jangan takut, namun anak itu tetap terkalang
lidahnya tak dapat berbicara. Setelah melalui dua buah
ruangan, tibalah mereka pada sederet gedung yang indah
buatannya, mirip dengan kediaman kaum hartawan.
"Jiwi cianpwe, to-thong yang akan melayani cianpwe
sudah datang!" seru sitosu itu sembari membungkuk.
Dari dalam rumah mewah itu, terdengar sebuah suara
melengking, menyahut: "Suruh mereka masuk kemari!"
Tiba2 tosu itu menabok kepala Yan-chiu, lalu
memesannya: "Baik2lah melayani, didalam situ adalah
Hwat Siau dan Swat Moay yang termasyhur. Sucou turun
gunung untuk menyambutnya sendiri!" .
Bukan kepalang mendongkolnya Yan-chiu ketika
mendapat persen tabokan itu. Tapi demi didengar nama
Hwat Siau dan Swat Moay, kejutnya bukan olah2. Terpaksa
dia tahankan amarahnya dan hanya deliki mata kearah tosu
itu.
Tapi delikan matanya itu hampir saja menggagalkan
rencananya.
"Siapa namamu, mengapa aku belum pernah melihatmu
?" tanya tosu itu karena curiga.
Yan-chiu seperti disengat kala. Tapi belum lagi ia
memperoleh kata2 untuk men yahut, dari dalam rumah
kembali terdengar suara lengkingan yang menusuk daun
telinga: "Lekas masuklah!"
Karena sang tetamu agung yang mendesaknya, barulah
tosu itu tak mau banyak bertanya lagi lalu menyuruh Yanchiu
dan Chiu-yap masuk dengan lantas. Dengan napas
longgar, Yan-chiu segera menolak daun pintu masuk. Tapi
ketika mengawasi kedalam ruangan, matanya kembali
terbelalak.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-silat-keren-naga-dari-selatan-3.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Keren : Naga Dari Selatan 3 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-silat-keren-naga-dari-selatan-3.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar