Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 07 Agustus 2012

Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2-Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2-Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2-Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2-Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2-Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2


"Tak enak kumain sembunyi atas pertanyaan Losuhu, paman
adalah cengcu Liong-bin-san-seng Cu Bun-hoa "
Bergetar tubuh Ling san Taysu, katanya: "Kiranya cu cengcu . . .
. "
"Losuhu, menolong orang seperti menolong kebakaran, aku
harus cepat susul mereka."
Ling-san Taysu kaget, katanya: "Hian-ih-lo-sat amat lihay,
Thong-pi-thian-ong membantu dia berbuat jahat, Cu-cengcupun
bukan tandingan mereka, mana boleh nona menempuh bahaya
secara sia2,"
"Bukan begitu," ujar Ji-ping cekikik geli, "aku akan sampaikan
kabar tertawannya Toako dan Tong- cityakepada ibu angkatku."
"Siapa pula ibu angkat nona?" tanya Ling-san Taysu.
"ibu angkatku adalah Tong-lohujin dari keluarga Tong di
Sujwan."
"Jadi Tong-lohujin juga datang?"
"ibu angkat sekarang berada di Pat-kong san"
"Baiklah silakan nona berangkat Lolap akan menguntit Hian-ih-losat
lebih lanjut, akan kulihat di mama sarang komplotan orang2
ini?"
Ji-ping membatin: "Hwesio tua ini hanya berani mengunt it secara
diam2, agaknya iapun gentar terhadap Hian-ih-lo-sat, terpaksa aku
harus cepat2 kembali kePat-kong san minta bantuan-" Tanpa
banyak bicara lagi, cepat ia lompat turun terus cemplak kuda dan
dibedal balik ke arah datangnya tadi.
ooo dewi ooo
Itulah hari kedua setelah Ling Kun-gi berada di Coat Sin-san-ceng
atau hari pertama mulai tugas kerjanya di Hiat-ko-cay. Pagi hari itu
setelah sarapan pagi, seorang diri dia langsung menuju ke Hiat kocay,
begitu tiba, Long-gwat, si pelayan segera menyambut
kedatangannya .
Long-gwat bantu membuka pintu kamar kerjanya, dengan
langkah tetap Kun-gi masuk serta mengeluarkan kunci membuka
gembok lemari kecil, dia keluarkan segala perabot keperluan
kerjanya, ada pisau, mangkok, tatakan dan cawan2 kecil serta
peralatan lain yang sukar disebut namanya, terakhir ia keluarkan
cupu2 berisi getah beracun itu. Sementara itu Long-gwat menyeduh
teh dan disuguhkan di atas meja.
Dengan hati2 Kun gi membuka sumbat cupu2 lalu pelan2
menuang sedikit getah di atas sebuah tatakan, kembali dia tutup
cupu2 itu serta dikembalikan ke almari.
Duduk di kursi kerjanya, sekenanya dia ambil sebatang jarum
perak. dua kali dia celupkan ke dalam getah beracun, tampak ujung
jarum yang runcing seketika berubah menjadi hitam. kadar racun ini
ternyata keras dan hebat, lalu dia mendekatkan hidang mengendus
ujung jarum-
Long-gwat berdiri di sebelahnya jadi kaget, serunya kuatir: "Awas
Cu-cengcu, racun ini amat jahat, sedikit kena saja jiwa orang tak
dapat diselamatkan."
Kun-gi tersenyum dan memandang lekat2 pelayan itu, katanya:
"Terima kasih atas perhatian nona, Lohu hanya ingin menciumnya
apakah ada baunya?"
Merah malu Long-gwat ditatap sedemikian rupa, katanya
menunduk: "Cu-cengcu panggil Long-gwat saja, jangan
memanggilku demikian-"
"Baiklah, Lohu akan panggil nona Long-gwat saja."
"Terinta kasih, kalau ada tugas lain hamba di belakang, sekarang
hamba mohon diri," lalu dia dia beranjak keluar.
Sambil tetap pegang jarum perak t iba2 Kun-gi memanggilnya:
"Nona Long-gwat, tunggu sebentar."
Long-gwat berhenti di ambang pintu, tanyanya: "Ada pesan apa
lagi Cu cengcu?"
"Lohu baru datang, tidak tahu tata tertib yang ada di sini, ingin
kutanya suatu hal padamu. Di sini ada empat kamar kerja, apakah
satu sama lain boleh saling berkunjung?"
Long-gwat tertawa lebar, katanya: "Kalian berempat adalah tamu
agung undangan cengcu kami segala keperluan sudah kami
sediakan, sudah tentu gerak-gerik kalian juga tidak dibatasi, tempat
ini memang khusus untuk kerja, supaya tidak terpecah perhatian
dan dapat bekerja dengan tenteram, maka masing2 diberikan satu
kamar tersendiri, membagi tugas untuk sama2 mencapai tujuan,
satu sama lain boleh saling berunding akan penemuan masing2,
Sudah tentu boleh pula saling kunjung mengunjungi"
"Baiklah, getah racun ini amat lihay, mereka datang lebih dulu,
tentunya sudah memperoleh sedikit bahan penyelidikan, sebelum
kerja, Lohu ingin mendengar saran dan pendapat mereka bertiga."
Setelah Long-gwat keluar, Kun-gi segera buka pintu dan keluar,
dalam hati diam2 dia menimang2, akhirnya dia berkeputusan untuk
mengunjungi Lok-san Taysu lebih dulu, setiba didepan pintu kamar
orang, pelan2 dia mengetuk pintu. Terdengar suara Lok-san Taysu
berkata: "Siapa? Silahan masuk"
Kun-gi menjawab dengan suara lantang: "cay-he Cu Bun-hoa,
sengaja kemari mohon petunjuk Taysu." Sembari bicara dia
mendorong pintu serta melangkah masuk.
Mendengar Cu Bun-hoa yang datang, lekas Lok-san Taysu berdiri
dari kursinya, katanya sambil merangkap kedua tangan: "Maaf Lolap
terlambat menyambut, silahkan Cu-cengcu duduk."
Ternyata Lok-san Taysu hanya duduk2 sama-diam saja di
kursinya, tidak melakukan kerja apa2, perabot keperluan kerja tiada
yang dia keluarkan
Setelah menutup pintu kembali, Kun-gi menjura, katanya,
"Sengaja cayhe kemari mohon petunjuk Taysu."
Lok-san Taysu rendah hati, Kun-gi dipersilakan duduk di depan
meja, iapun kembali ke tempat duduknya, katanya: "Entah ada
petunjuk apa kedatangan Cu-cengcu."
"Barusan cayhe sudah periksa getah beracun dari Sam-goan-hwe
itu, kukira kecuali amat beracun, sukar diraba sebetulnya barang
beracun dari jenis apa? Taysu paham soal obat2an, selama ini juga
selalu mengadakan penyelidikan, apakah sudah berhasil
menyelaminya?"- Habis berkata lalu dengan ilmu Thoa-im-jip-bit
(ilmu mengirim gelombang suara) ia menambahkan: "Bagaimana
pendapat Taysu tentang pribadi Cek Seng-jiang?"
Lok-san Taysu berlagak merenung sebentar, yang benar dia
termenung karena mendengar pertanyaan Ling Kun-gi terakhir itu
lalu sedikit mengangguk ia menjawab: "Lolap juga amat menyesal,
sejauh ini belum berhasil menemukan terbuat dari bahan apakah
getah beracun ini, kalau cuma diselidiki sukar dibedakan, obat2an
umumnya harus dicicipi dengan mulut dan diendus baunya baru bisa
dibedakan keasliannya. Tapi getah ini amat beracun masuk mulut
jiwa melayang, hakikatnya sukar dirasakan, paling hanya bisa diraba
sesuai dengan sifatnya yang ganas, selama tiga bulan ini boleh
dikatakan hasil Lolap nol besar." Lalu ia menambahkan pula dengan
suara Thoa-im-jip-bit. "Menurut pengamatan Lolap dalam persoalan
ini ada tersembunyi suatu muslihat besar"
Kun-gi manggut2, katanya: "Memang betul omongan Taysu,
getah ini merupakan hasil campur aduk yang dlolah sedemikian rupa
sehingga sudah kehilangan bentuk aslinya, kalau beberapa jenis
racun yang sama sifatnya diaduk menjadi satu, maka kekuatan dan
keganasannya menjadi berlipat ganda pula, kalau tidak, tak
mungkin getah ini begini keras." Lalu ia menambahkan pula dengan
ilmu bisik2: "Apakah Taysu tahu mereka punya muslihat apa?"
"Siancai siancay" Lok-san Taysu bersabda. "Cu-cengcu benar2
seorang ahli, demikian juga pendapat Lolap, beruntung Cu-cengcu
hari ini datang, selanjutnya kita bisa saling bertukar pikiran. .... "
Lalu, iapun menjawab pelahan: "Soal ini Lolap belum bisa
mengatakan, yang terang tujuannya bukan untuk menghindarkan
petaka yang bakal menimpa kaumpersilatan-"
"Usul Taysu baik sekali," kata Kun-gi rendah hati, "Taysu paham
ilmu pengobatan, cayhe memang ingin mohon petunjuk." Lalu
dengan gelombang suara dan bertanya: "Apakah Taysu juga terbius
oleh mereka waktu diculik kemari?"
"Memang sudah beberapa kali Lolap mengadakan percobaan
dengan getah racun itu, tapi tiada yang kuperoleh, entah Cu-cengcu
punya pendapat apa?" Habis kata2nya lalu dia menjawab dengan
gelombang suara: "Ya, betul."
Dengan pura2 membicarakan penyelidikan getah beracun, kedua
orang secara diam2 tukar keterangan dengan ilmu gelombang
suara.
Kun-gi berkata lebih lanjut: "Di dalam obat mereka mencampur
obat beracun yang membuyarkan Lwekang orang, bagaimana
Taysu?"
"Hawa murni dalam tubuh Lolap tak mampu dihimpun, sisa
tenaga paling2 hanya satu dua bagian dari keadaan normal, selama
tiga bulan ini betapapun usahaku tetap tak berhasil kukumpulkan-"
"Apakah Taysu masih mampu mengerahkan tenaga murni?"
tanya Kun-gi.
Terang sinar mata Lok-san Taysu tanyanya menatap Kun-gi
lekat2: "Maksud Cu-cengcu ."
Kun-gi tersenyum, ujarnya: "Taysu jangan tanya, jawablah dulu
pertanyaanku."
Terbayang rasa sangsi pada muka Lok- san Taysu, katanya:
"Sedapat mungkin Lolap masih bisa mengerahkan hawa murni."
Girang Kun-gi. katanya: "Itulah baik." Dia keluarkan Pi-tok-cu dan
ditaruh ke tangan Lok-san Taysu, katanya: "Genggamlah mutiara ini
pada kedua telapak tangan Taysu, pelahan2 kerahkan hawa murni
ke telapak tangan, terus disalurkan kesekujur badan”.
Betapapun Lok-san Taysu adalah orang yang cukup luas
pengetahuan dan pengalamannya diam2 dia mengintip ke telapak
tangan sendiri, katanya kaget dan heran, "Ini kan Le-liong-pi-tok-cu,
mut iara yang dapat menawarkan segala racun."
"Lekas Taysu merangkap tangan dan kerahkan tenaga,
lenyapkan dulu kadar racun yang mengeramdalamtubuh Taysu."
Sampai di sini percakapan mereka menggunakan Thoan-im-jip
bit. Lok-san Taysu sedikit mengangguk. lalu berkata: "Harap Cucengcu
duduk sebentar, belakangan ini Lolap sering merasa letih,
sewaktu2 harus bersamadi, harap jangan berkecil hati." Segera Loksan
merangkap kedua telapak tangan di depan dada, pelan2
matapun terpejam.
Kun-gi duduk di hadapannya, iapun diam saja menunggu dengan
sabar, kira2 satu jam barulah didengarnya Lok-san Taysu menarik
napas panjang, mendadak matapun terbuka.
Begitu orang membuka mata, sinar matanya seketika tampak
mencorong terang dan kuat, jelas racun yang menggangu
Lwekangnya telah tercuci bersih, dalam hati diam2 Kun-gi
bergirang, tanyanya: "Sudah agak baik Taysu"
Pelan2 Lok-san Taysu berdiri, katanya sambil tetap merangkap
kedua tangan: "Bikin repot Cu-cengcu menunggu lama, kini Lolap
sudah segar kembali."
Sembari memberi hormat, lekas dia angsurkan Pi tok cu pada
Ling Kun-gi, lalu berkata dengan gelombang suara: "Terima kasih
atas bantuan Cu-cengcu, berkat kasiat Pi-tok cu, kadar racun dalam
tubuh Lolap sudah tersapu bersih, tapi karena cukup lama Lwekang
buyar, mungkin dalam dua-tiga hari ini baru bisa pulih seperti
sediakala."
Kun-gi terima mutiara yang dikembalikan, iapun berkata dengan
gelombang suara:
"Ku hatur-kan selamat kepada Taysu."
"Budi dan bantuan cengcu menyembuhkan racun yang
membuyarkan Lwekangku ini takkan terlupakan selama hidupku,
entah apa pula rencana Cu-cengcu selanjutnya?"
"Dalam tahap permulaan ini, rencana sih belum ada, lebih baik
kita bekerja melihat perkembangan selanjutnya saja".
Lok-san Taysu manggut2, katanya: "Betul ucapan Cu-cengcu,
menurut penyelidikan dan pengawasan Lolap selama t iga bulan ini,
Cek Seng-jiang adalah manusia cerdik yang licik dan licin, banyak
akal muslihatnya, terang dia bukan biang-keladi dalam peristiwa ini,
umpama betul ada muslihat, sekarang masih sukar dijajaki sampai
di mana tujuan mereka yang sebenarnya, terutama kalau di
belakang layar peristiwa ini ada orang lain yang mengendalikan."
Berpikir sejenak. lalu Kun-gi berkata: "Bagaimana pendapat
Taysu tentang Tong Thian-jong dan Un It-hong?"
"Selama tiga bulan berkumpul dengan mereka, pengalaman
merekapun sama seperti kita, walau Cek Seng-jiang ada maksud
merangkul mereka, segala keperluan mereka dilayani serba
berlebihan, tapi selama ini mereka tak pernah bertekuk lutut,
menurut hemat Lolap. boleh Cu-cengcu secara diam2 bantu mereka
melenyapkan kadar racun di tubuh mereka, dengan gabungan
kekuatan kita berempat mungkin lebih gampang menyelidiki tujuan
mereka yang sebenarnya menculik kita kemari dan dari mana asal
mula getah beracun ini."
"Pendapat Taysu memang tepat, cayhe akan bekerja menurut
keadaan," kata Kun-gi. Untuk menjaga percakapan mereka tidak
didengar orang maka mereka pura2 bicara pula tentang
penyelidikan getah beracun itu, berselang agak lama baru Kun-gi
pamitan-
Kembali ke kamar kerjanya, sengaja dia mencelup ujung jarum
ke dalam getah beracun, lalu di-amat2i serta berpikir sambil
mengerut kening.
Betul juga belum lama dia kembali ke kamar, secara diam2 Longgwat
sudah menarik pintu terus menyelinap masuk. dengan senyum
manis dia memberi hormat, katanya: "Cu-cengcu tentu sudah letih,
santapan siang sudah kuantar kemari, silakan makan dulu."
Dengan hati2 Kun-gi letakkan jarum perak serta getah beracun di
atas tatakan, lalu disimpan ke dalam lemari serta dikunci. Waktu dia
memasuki kamar makan, hidangan memang sudah di-persiapkan,
Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un it-hong sudah datang lebih
dulu dan sedang menunggu kehadirannya.
Ling Kun-gi, Tong Thian-jong dan Un It- hiong sama doyan arak
dan melalap hidangan yang tersedia dengan lahapnya, hanya Lok
san Taysu yang ciajay (makan vegetarian) dan cuma minum teh,
tapi mereka bicara amat cocok dan tak habis2 bahan yang mereka
bicarakan- Habis makan mereka duduk pula sebentar di kamar
samping, lalu kembali ke kamar kerja masing2 melanjutkan tugas
mereka.
Lewat lohor, Kun-gi istirahat sebentar, lalu keluar berkunjung ke
kamar kerja Tong Thian-jong.
Kontak pembicaraan mereka sudah tentu seperti pembicaraan
Kun-gi dengan Lok-san Taysu. cuma kali ini Kun-gi perlihatkan
pedang pendak pemberian Tong-lohujin serta menjelaskan asal usul
sendiri secara ringkas, cara bagaimana dia menyamar ciam-Liong Cu
Bun-hoa untuk menyelundup ke sarang musuh ini. Akhirnya dia
keluarkan Pi-tok-cu, sehingga racun yang mengganggu di tubuh
Tong Thian-jong pun berhasil dicuci bersih.
Hari kedua pada waktu yang sama, dengan cara yang sama dia
berkunjung ke tempat Un It-hong serta melenyapkan racun di
tubuhnya juga.
Langkah pertama ini dia telah berhasil dengan baik, sudah tentu
tetap di luar tahu Ling-hong dan Long-gwat, kedua pelayan yang
selalu mengawasi gerak-gerik mereka setiap hari, apa yang mereka
lihat dan perkembangan apa yang terjadi pasti dilaporkan kepada
sang cengcu alias Cek Seng-jiang.
Dan Cek Seng jiang justeru menaruh curiga, maklumlah ciamliong
Cu Bun-hoa seorang tokoh kosen, namanya juga beken,
setelah diundang kemari dengan cara penculikan, meski dilayani
sebagai tamu agung terhormat betapapun di tempat ini dia akan
selalu kehilangan kebebasan, tak mungkin sedemikian getol dan
besar perhatiannya terhadap getah beracun serta berusaha
menemukan obat penawarnya. oleh karena itu dia perintahkan
kepada Ling-hong dan Long-gwat yang ada di Hiat-ko-cay, serta
Hing- hoa yang ada di kamar obat, serta ing-jun yang ada di kamar
Cu Bun-hoa, untuk lebih memperketat pengawasan terhadap cu Bun
- hoa.
Disamping dia suruh anak angkatnya Dian Tiong-pit bertanggung
jawab untuk memperkuat penjagaan dan pengintipan, setiap saat
harus selalu mengawasi gerak-gerik keempat "tamu agung" itu.
Sudah tiga hari Ling Kun-gi melakukan tugas kerja di Hiat-ko-cay.
selama tiga hari ini dia sibuk, botol2 besar kecil sama berserakan di
atas meja kerjanya, ada puyer, ada cairan obat, ada pula dedaunan,
maka kamar kerjanya itu diliputi bau obat yang tebal.
Sudah tentu Cek Seng-jiang tidak percaya begitu saja bahwa dia
betul sedang menyelidiki obat penawar, dia berpendapat gairah
kerjanya itu justeru sedang berdaya untuk menemukan obat
penawar Lwekang yang ada ditubuhnya. Untuk soal ini dia tidak
perlu kuatir, karena di dalam kamar obat itu hakikatnya tiada
satupun bahan obat yang tulen untuk meramu obat penawar racun
yang membuyarkan Lwekang mereka. Terutama "tamu" yang telah
berada di Coat Sin-san-ceng, tumbuh sayappun jangan harap bisa
terbang keluar.
Tengah hari ketiga, setelah makan siang, seorang diri Kun-gi
beranjak ke kamar kerja sendiri, perasaannya terasa berat seperti
dibebani apa-apa. Karena selama tiga hari ini, setelah berlangsung
pembicaraan dengan Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un Ithong,
walau dia sudah punahkan racun di badan mereka, namun
persoalan pelik yang mereka hadapi dan sukar diatasi masih bertumpuk2.
Umpamanya: "Kenapa Cek Seng-jiang bersusah payah dengan
berbagai muslihat mengundang mereka kemari? Sudah tentu soal
getah beracun ciptaan Sam-goan hwe yang diceritakan itu tak boleh
dipercaya, kalau tidak mau dikatakan hanya bualan belaka, tapi dari
mana sebetulnya getah beracun itu? Kenapa dia ingin cepat2
memperoleh obat penawarnya?
Lok-san Taysu berpendapat, Cek Seng-jiang adalah orang yang
diberi tugas mengepalai Coat Sin-san-ceng dan minta mereka
berdaya menemukan obat penawarnya, di belakang tabir semua
persoalan ini tentu masih ada biang keladinya. Lalu siapa orang
yang ada dibalik tabir? Apa pula tujuannya?
Waktu datang jelas terlihat dirinya berada di depan sebuah
perkampangan di kaki bukit, kenapa kenyataan Coat Sin-san-ceng
sekarang dikelilingi air, di luar lingkaran air dipagari gunung pula?
Umpama mereka tumbuh sayap juga jangan harap bisa terbang
pergi.
Sudah tentu persoalan yang paling penting adalah getah beracun
itu, menurut Tong Thian jong dan Un It-hong yang ahli di bidang
racun, getah yang amat keras kadar racunnya ini sungguh sulit
untuk meramu obat penawarnya. Walau komplotan ini mempunyai
getah beracun yang begini lihay, tapi selama obat penawarnya
belum diperoleh, mereka masih jeri dan ragu2 untuk bergerak. tapi
betapapun hal ini cukup prihatin dan besar bahayanya. Seumpama
seperti apa yang dikatakan Cek Seng Jiang, mereka bertindak
terhadap golongan hitam atau aliran putih dari kaum persilatan,
maka petaka yang akan menimpa setiap insan persilatan sungguh
sukar dibayangkan-
Duduk di belakang meja kerjanya, pikiran Ling Kun-gi semakin
butek. semakin dia pikir terasa persoalan semakin ruwet dan sukar
diraba.
Mendadak terpikir olehnya, segala persoalan yang dihadapinya
melulu menyangkut getah beracun ini, semua persoalan timbul juga
karena getah beracun ini, kalau obat penawarnya bisa ditemukan,
segala persoalan dengan sendirinya tiada lagi. Mengingat obat
penawar, seketika dia teringat pada Pi-tok-cu di dalam kantongnya.
Pi-tok-cu dapat menawarkan segala macam racun di jagat ini, sudah
tentu bisa pula menawarkan kadar racun getah itu. Segera dia
merogoh keluar mutiaranya. dengan hati2 dan pelan2 dia tutulkan
mut iaranya ke atas getah yang dia taruh di tatakan- Sungguh tak
terduga hanya sedikit menutul saja, mendadak terdengar suara
"ces" yang cukup keras dipermukaan tatakan, bunyi seperti lembar
besi yang membara tiba2 di masukkan ke dalam air, getah beracun
yang ada di tatakan seketika mengepulkan asap kuning yang tebal.
Keruan kaget Kun-gi bukan main, lekas dia periksa Pi-tok-cu di
tangannya, untung tidak kurang suatu apa2.
Pada saat itulah, didengarnya pintu kamar kerjanya terbuka,
Long-gwat, pelayannya secara diam2 melangkah masuk membawa
poci berisi air teh. Untung Kun-gi cukup cekatan, lekas dia
sembunyikan mut iara ke dalambajunya.
Sudah tentu Long-gwat sempat melihat asap kuning yang
menguap dari tatakan, matanya mengerling Kun-gi, katanya
tertawa: "Kenapa Cu-cengcu tidak istirahat sebentar? Sibuk kerja
terus."
Kun-gi angkat kepala sambil berkata tertawa: "Saking iseng,
Lohu coba2 pakai beberapa macam obat ini untuk mencoba kadar
racunnya."
"Semangat kerja cu cengcu memang menyala2 . . . . " sembari
bicara dia maju mendekati meja, baru saja dia mau menuang
secangkir teh untuk Kun-gi. Mendadak ia menjerit tertahan, cang-kir
dan poci dia taruh di atas meja, serunya kegirangan: "Cu-cengcu,
kau berhasil coba lihat, getah di tatakan ini sekarang berubah
menjadi air bening."
Memang betul, setelah asap kuning lenyap dari permukaan
tatakan, getah setengah tatakan yang semula berwarna hitam
legam kini telah berubah menjadi air bening.
Karena Long-gwat tadi masuk secara mendadak. Kun-gi sibuk
menyembunyikan mutiara, bukan saja tidak memperhatikan
perubahan yang terjadi di dalam tatakan, malah sekenanya dia
bilang sedang mencoba dengan beberapa macam jenis obat. Kini
setelah mendengar teriakan Long-gwat, diam2 ia mengeluh: "Wah,
terlihat oleh dia, urusan mungkin bisa runyam?" Terpaksa dia harus
bersikap kejut2 girang. segera ia pura2 periksa air bening di dalam
tatakan dengan seksama, akhirnya ia bergelak tertawa.
Dengan tertawa senang Long-gwat memberi hormat kepada Kungi,
katanya: "Selamat cu-ceng-cu pasti akan berhasil menemukan
obat penawarnya."
Tiba2 berubah kaku mimik tawa Kun-gi, kedua matanyapun
jelalatan kian kemari sementara tangan sibuk membalik2 botol
diatas meja yang berserakan, dengan lagak gugup tangan yang lain
garuk2 kepala, serunya: "celaka, barusan Lohu ambil beberapa
macam obat terus diaduk dan diramu jadi satu, entah obat2 mana
saja tadi yang telah kugunakan untuk menawarkan getah beracun
ini?"
Long gwat tertawa, katanya: "cu-cengcu sudah berhasil
menawarkan getah beracun ini, asal dicoba lagi beberapa kali pasti
akan berhasil ditemukan dengan mudah, ini kabar baik, sungguh
gembira, sayang cengcu kita tidak di rumah .. . ."
Tergerak hati Kun-gi, tanyanya: "Cek-cengcu pergi ke mana?"
"Hamba tidak tahu, semalam cengcu keluar, mungkin besok
malam baru pulang," lalu dia tuang secangkir teh dan berkata:
"cengcu tiada, tapi ada Kongcu yang bertanggung jawab di sini, Cucengcu
berhasil menawarkan getah beracun ini, hamba harus
segera melaporkan kabar baik ini kepada Kongcu." Habis bicara
pelayan itu terus berlari keluar.
"Nona, tunggu sebentar," cegah Kun-gi.
"Cu-cengcu ada pesan apa?" seru Long-gwat berhenti.
"Kongcu yang nona katakan, tentunya anak Cek-cengcu?"
"Dian-kongcu adalah anak angkat cengcu kita."
"Entah siapakah nama Dian-kongcu?"
"Dian-kongcu bernama Tiong-pit."
Ling Kun-gi manggut2, katanya sambil mengelus jenggot: "Getah
beracun ini hanya secara kebetulan dapat kupunahkan, tapi belum
bisa aku menemukan obat2 ramuan yang mana adalah penawar
yang sebenarnya, kalau dikatakan berhasil maka baru lima puluh
persen saja, perlu kucoba pula untuk beberapa kali, oleh karena itu,
kukira hal ini belum saatnya untuk dilaporkan kepada Kongcu kalian
........"
"Hamba tahu, tapi kalau hal ini tidak kulaporkan, bisa jadi
kepalaku akan dipenggal?" habis berkata buru2 dia berlari pergi.
Kun-gi jadi menjublek di tempatnya, pada saat dia ragu2 dan
merancang sikap apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi
perkembangan selanjutnya, tampak daun pintu terdorong, Linghong
tampak berlari masuk sambil berseri senang, katanya sambil
memberi hormat: "Konon Cu-cengcu berhasil menawarkan getah
beracun, buru2 hamba kemari menyampaikan selamat kepada Cucengcu."
Kun-gi bergelak tertawa, katanya: "Terima kasih nona, Lohu
hanya menemukan obat penawarnya secara kebetulan."
"Itupun berkat usaha Cu-cengcu. Konon getah beracun ini tiada
obat penawarnya di dunia ini, kini kenyataan Cu-cengcu berhasil
menawarkannya," demikian Ling-hong.
"Ah, masih terlalu pagi untuk dikatakan berhasil," ujar Kun-gi.
Tengah bicara, tampak Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un
It-hong yang mendengar kabar itu serempak juga masuk ke
kamarnya. Lekas Ling-hong mengundurkan diri.
"omitohud" Lok-san Taysu bersabda, "Lolap dengar Cu-cengcu
berhasil menawarkan getah beracun itu, sungguh menyenangkan
dan harus diberi selamat" Habis berkata lalu dengan Thoan-im-jipbit
dia bertanya: "Apa yang telah terjadi?"
Untuk memberi kesempatan Lok-san Taysu bicara dengan Kun-gi,
sengaja Tong Thian-jong tertawa keras, katanya: "Cu-heng memang
lihay, tiga bulan kami bersusah payah tanpa berhasil, hanya tiga
hari Cu-heng datang lantas berhasil memunahkan getah beracun
ini."
"Ah, mana, mana?" ujar Kun-gi merendah hati, lalu dia jelaskan
kejadian tadi.
Un It-hong lantas menyambung "Dalam waktu singkat ini pasti
Cu-heng bisa meramu obat penawar yang lebih sempurna lagi"
Berkerut alis Lok-san Taysu, sejenak dia merenung, katanya
dengan mengirim gelombang suara: "Bahwa Pi-tok-cu dapat
memunahkan getah beracun memang satu hal yang patut dibuat
girang, selanjutnya getah beracun ini tidak perlu ditakuti lagi, tapi
hal ini sudah telanjur terjadi, Cek Seng-jiang pasti akan
mendesakmu agar selekasnya meramu obat penawarnya yang asli,
sementara waktu mungkin kau bisa berpura2, kalau sampai berlarut2
lama mungkin mereka akan curiga."
"Biarlah kita bekerja melihat gelagat saja," sahut Kun-gi, "yang
penting, sekarang kita harus selekasnya menemukan muslihat dan
tujuan mereka? Siapa pula yang berada dibelakang layar
mengendalikan Cek Seng-jiang? Kalau sekaligus dapat kita bongkar
seluruhnya, sudah tentu baik sekali."
Sampai di situ pembicaraan mereka, tampak Ling-hong
melangkah datang dengan cepat, katanya memberi hormat: "Lapor
Cu-cengcu, Kongcu kami tiba."
Terdengar langkah ringan dengan ter-buru2, cepat sekali Longgwat
telah mendorong pintu. Tampak seorang pemuda berjubah
biru dengan gelung rambut berkundai emas di atas kepala
melangkah masuk dengan bersenyum, katanya sambil menjura:
"Siautit Dian Tiong-pit memberi salamhormat kepada paman cu."
Sekarang lebih nyata bagi Kun-gi bahwa Dian Tiong-pit ini
memang pemuda baju biru yang telah dikuntitnya sejak dari
Kayhong itu, lekas iapun membalas hormat, katanya: "Dian-siheng
tak perlu banyak adat."
Alis menegak. mata besar bersinar, sikap gagah dan kereng,
demikianlah keadaan Dian Tiong-pit, kini dia bersikap hormat dan
ramah, ber-turut2 ia-pun memberi salam kepada Lok-san Taysu,
Tong Thian-jong dan Un It-hong, lalu berkata pula kepada Kun-gi:
"Siautit dengar katanya paman cu berhasil memunahkan getah
beracun, inilah kabar gembira, sungguh keberuntungan besar kaum
persilatan di seluruh jagat pula, sayang Gihu kebetulan keluar
rumah, sengaja Siautit kemari menyampaikan selamat, sekaligus
mohon paman cu da-tang ke Kiam-khek sebetar untuk bicara."
"Khian-khek memang belum pernah dikunjungi, kebetulan
sekiranya dirinya diajak kesana, lekas Ling- Kun-gi berkata: "Terima
kasih atas undangan Dian-siheng. Baiklah Lohu iringi kehendakmu."
Terunjuk rasa senang pada wajah Dian Tiong-pit, katanya: "Baik,
silahkan paman cu"
Berkelebat rona curiga pada sorot mata Tong Thian-jong, lekas
dia berkata dengan Thoan-im-jip-bit kepada Ling Kun-gi: "Sorot
mata bocah she Dian ini agak mencurigakan, Ling-lote harus hati2."
Kun-gi memberi hormat dan pamit sebentar kepada Lok-san Taysu
bertiga terus keluar. Pada saat bicara, diam2 dia mengangguk
kepada Tong Thian-jong.
Dian Tiong-pitpun memberi hormat dan mohon pamit kepada
mereka bertiga, lalu berkata: "Marilah Siautit menunjukkan
jalannya." Lalu dia mendahului berjalan di muka.
Khiam-khek terletak bagian ujung barat, sekitarnya dikelingi air,
tepat di tengah2 air sana berderet tiga petak gardu yang dikelilingi
pagar kayu,jembatan batu yang menghubungkan darat dan ketiga
gardu itu berliku sembilan kali, letaknya kebetulan saling
berhadapan dengan Hiat-jo-cay di sebelah timur sana.
Di bawah iringan Dian Tiong pit, setelah melewati jembatan batu
sembilan liku, langsung menuju ke deretan tiga gardu di tengah air
sana, gardu ini ditabiri kerai bambu, kelihatan amat hening dan
tenteram, Baru saja mereka t iba di depan gardu, seorang dayang
pakaian hijau segera menyingkap kerai dan membungkuk hormat
kepada Dian Tiong-pit, katanya: "Siancu sudah menunggu di dalam
gardu, harap Kongcu mengiringi Cu-cengcu ke dalam menemui
beliau."
Dian Tiong-pit membalik dan menyilakan, "Silahkan paman cu"
"Lohu baru datang, Dian-siheng jangan sungkan, silakan tunjuk
jalannya," ujar Kun-gi. Ter-paksa Dian Tiong-pit beranjak masuk
lebih dulu.
Itulah sebuah kamar tamu yang kecil tapi terpajang serba
sederhana dan serasi dengan keadaan dan suasana, meja kursi
seluruhnya terbuat dari bambu kuning, pada sebuah kursi yang
terletak di sebelah atas duduk seorang nyonya muda berpakaian ala
puteri keraton, melihat Dian Tiong-pit masuk mengiringi Ling Kun-gi,
matanya me-ngerling pelan2 berdiri.
Sekali pandang, Kun-gi lantas kenal nyonya muda yang dipanggil
Siancu ini ternyata adalah Hian-ih-lo-sat.
Hal ini tidak menjadikan dia heran atau kaget, karena Hian-ih-losat
memang sekomplotan dengan peristiwa Cin-Cu-ling itu.
Lekas Dian Tiong-pit maju memberi hormat, katanya: "coh ih
(bibi coh), paman cu telah da-tang." Lalu dia berkata kepada Ling
Kun-gi: "inilah bibi coh, anggota keluarga Gihu, ayah sedang keluar,
segala urusan besar-kecil dalam Coat Sin-san-ceng ini ada bibi coh
yang mengurus dan bertanggung jawab, tadi mendapat laporan
bahwa paman cu berhasil memunahkan getah beracun, maka beliau
ingin berhadapan dengan paman cu maka Siaut it diperintahkan
mengundang paman Cu kemari."
Pada saat Dian Tiong-pit bicara, sepasang mata Hian- ih-to sat
menatap Kun-gi lekat2 kini iapun berkata dengan tersenyum:
"Sudah lama ku- dengar nama besar Cu-cengcu dari Liong-bin-sanceng,
hari ini dapat berhadapan dan ternyata memang tidak
bernama kosong."
Lalu dia melirik Dian Tiong-pit dan mengomel: "Dian-toasiauya,
Cu-cengcu adalah tamu kita, lekas silakan duduk"
Ter-sipu2 Dian Tiong-pit mengiakan, dan angkat tangan: "Silakan
duduk paman cu"
Kun-gi memberi hormat pada Hian-ih-lo-sat, katanya: "Kiranya
nona coh, beruntung dapat bertemu." Lalu dia duduk di hadapan
Hian-ih-lo-sat.
Dian Tiong-pit hanya berdiri saja di samping dengan sikap
hormat.
Pelayan masuk menyuguhkan air teh. Kata Hian-ih-lo-sat:
"Silakan minim Cu-cengcu." Lalu dia berpaling pada Dian Tiong-pit
di samping: "Aku mau bicara dengan Cu-cengcu, kau boleh keluar
saja."
Dian Tiong-pit mengiakan dan mohon diri.
Segera Kun gi berkata sambil menatap muka orang: "nona coh
mengundangku kemari, entah ada urusan apa?"
"Dalam waktu dua hari Cu-cengcu berhasil memunahkan getah
beracun yang tiada obat penawarnya di kolong langit ini, sungguh
suatu hal yang menggembirakan, tapi juga agak mengherankan."
Tergerak hati Kun-gi, katanya: "Darimana nona tahu kalau getah
beracun milik Sam-goan-hwe itu t iada obat penawarnya?"
Melenggong Hian-ih-lo-sat oleh pertanyaan yang tak pernah
diduganya ini, dia bersenyum lebar, katanya: "Paling tidak sebelum
hasil Cu-cengcu ini, racun ini tiada obat penawarnya . "
"Sebetulnya cayhe juga tidak yakin, namun kegaiban telah terjadi
secara kebetulan, sejauh ini caybe masih belum tahu kenapa macam
obat di antaranya yang cocok dalam ramuan itu untuk mengubah
getah beracun itu menjadi air bening? Semula kupikir sebelum
semua ini menjadi sempurna, sebaiknya hal ini jangan diketahui
orang banyak."
"o, jadi Cu-cengcu mau menyembunyikan kesuksesanmu ini?"
Ling Kun-gi menyengir, katanya: "Ada sesuatu yang tidak nona
coh ketahui, usahaku ini baru berhasil dalam langkah permulaan,
perlu diselidiki lebih mendalam pula, setelah diadakan beberapa kali
percobaan pula baru akan bisa ditemukan obat penawarnya yang
benar2 tulen."
"Entah berapa lama Cu-cengcu akan menemukan obat
penawarnya yang tulen itu?"
"Sukar dikatakan, yang terang aku akan kerja keras."
Pembicaraan soal getah beracun berakhir sampai di sini. Tapi
Hian-ih-lo-sat kelihatannya suka ngobrol, dia unjuk senyum
menggiurkan kepada Kun-gi, lalu bertanya: "Kudengar Cu-cengcu
punya seorang puteri yang cantik, orang2 Kangouw memanggilnya
Liong- bin- it-hong, entah siapa namanya dan berapa usianya?"
Diam2 Kun-gi mengeluh dalam hati, hal2 yang ditanyakan ini
padahal tidak pernah dia ketahui sebelumnya, beruntung dia tahu
kalau Pui Ji-ping punya seorang Piauci, usianya sebaya meski agak
lebih tua sedikit, kalau Pui Ji-ping berusia 19 ia yang selama bicara
Ji-ping tidak menyebut siapa piaucinya, kini Hian-ih-lo-sat bertanya,
otaknya yang cerdik segera berpikir kalau Piau-moay bernama Jiping,
bukan mustahil sang Piauci bernama Ji-lan, maka dengan
gelak. tertawa dia menjawab: "Puteri- ku bernama Ji-lan, tahun ini
berusia 19"
Hian-ih-lo-sat tersenyum manis, katanya: "Cu-cengcu, di sini ada
seorang, entah kau mengenalnya tidak?" Lalu dia berpaling dan
berseru: "Giok-je, suruhlah Ho Tang-seng kemari."
Seorang pelayan di luar pintu segera meng ia- kan terus berlalu.
Diam2 Kun-gi menimang2. "Entah siapa pulia Ho Tang-seng ini?
Kenapa dia menyuruhnya kemari? Mungkinkah dia kenal baik
dengan cu- ceng-cu? "
Cepat sekali pelayan itu sudah kembali dan berseru: "Lapor
Siancu, Ho Tang- seng sudah datang."
"Suruh dia masuk"
Kerai disingkap. masuklah seorang laki2, bermuka burik beralis
tebal dan berpakaian ketat warna ungu, dengan munduk2 dia
memberi hormat serta berseru: "Hamba Ho Tang-seng menghadap
Siancu."
"Ya," Hian-ih-lo-sat tertawa, katanya: "Cu-cengcu masih
mengenalnya?"
"Ho- congsu ini memang seperti pernah kulihat entah di mana."
Seperti tertawa tapi tidak tertawa Hian-ih-lo-sat meliriknya,
katanya. "Ho Tang seng, hayo mem-beri hormat kepada Cucengcu."
"congsu tidak usah banyak adat."
Hian-ih-lo-sat Cekikan, katanya: "Kalau demikian, Cu-cengcu
tidak menyalahkan dia telah berkhianat terhadap perkampunganmu,
kini dia mondok diperkampungan kami."
Diam2 tersirap darah Ling Kun-gi, bila Ho Tang-seng betul2
orang dari Liong-bin-san-ceng. kalau anak buah saja tidak kenal,
bukankah diri-nya telah menunjukkan gejala2 kurang sehat? Untung
otaknya encer, sorot matanya menunjukkan perasaan dingin
menampilkan amarah yang tertekan, katanya tawar sambil
mengelus jenggot: "cay-he sendiri telah kini menjadi tawanan di
sini, apa-lagi hanya seorang anak buahku?"
Hian-ih-lo-sat tetap tersenyum, katanya, "Ho Tang-seng tiada
tempat berpijak di Liong-bin-san-ceng, maka terpaksa dia lari
kemari, harap Cu-cengcu tidak marah " Lalu dia berpaling dan tanya
pada orang itu "Berapa tahun kau berada di Liong-bin-san-ceng?"
"Dua tahun," sahut Ho Tang-seng.
"Cu-cengcu punya seorang puteri, siapa namanya dan berapa
usianya, kau tahu?"
"siocia bernama Ya-khim, berusia 19."
Hian-ih-lo-sat manggut2, tangannya mengulap. katanya: "Kau
boleh pergi." Ho Tang seng segera mengundurkan diri.
Rada kelam air muka Hian-ih-lo-sat, kata-nya menatap Ling Kungi
dengan nada setengah menyindir: "cu cengcu, menyebut nama
puterimu sendiri kok salah?"
Berubah roman Kun-gi, katanya dengan gusar: "Apakah tidak
keterlaluan kata2 nona?"
"Bicara terus terang, kurasa wajah Cu-cengcu mungkin juga
dirias sedemikian rupa."
Sikap Kun-gi semakin garang, katanya: "Lo-hu berjalan tidak
perlu ganti nama, duduk tidak perlu mengubah she, kenapa harus
pakai merias diri segala?"
"Memangnya aku juga berpikir demikian, tapi melihat
kenyataannya mau t idak mau aku harus bercuriga."
"Maksud nona, kalian salah mengundangku kemari?"
"Mungkin demikian, cuma kupikir apakah kau sengaja mewakili
Cu-cengcu kemari."
"Sengaja mewakili Cu-cengcu?" kata2 ini betul2 menggetar
sanubari Ling Kun-gi, diam2 ia kerahkan tenaga di tangan kiri,
mukanya kereng, katanya: "Apa, maksud nona?"
"Jangan marah Cu-cengcu, aku hanya ingin membongkar rahasia
hatiku sendiri, tiada maksud jahat terhadapmu," tanpa menunggu
Kun-gi bersuara, dia lantas menambahkan: "peduli Cu-cengcu tulen
atau palsu kau tetap adalah tamu agung terhormat di Coat Sin-sanceng
ini."
Kun-gi bersikap tidak mengerti, katanya sambil menatap Hian-ihlo-
sat: "Apa maksud nona sebenarnya?"
"Dihadapan seorang asli tidak perlu berbohong," tiba2 Hian-ih-losat
cekikikan, "semalam di Liong-bun-kin aku menawan seorang,
kalau dibandingkan dengan kau "Cu-cengcu", dia agak sedikit
mirip."
"Agak sedikit mirip", maksudnya orang yang dibekuknya semalam
itu pasti adalah ciam-Liong Cu Bun-hoa yang tulen.
Semula Kun-gi masih ragu, tapi setelah dia hitung waktunya,
memang saatnya tepat sesuai janji Cu Bun-hoa untuk meluruk
kemari menolong dirinya dari luar, jadi kini cu Bun- boa telah
tertawan oleh musuh. Bagaimana ilmu silat Cu Bun-hoa ia sendiri
tidak tahu. Tetapi Kim Kay-thay, Un It-kiau, Lam-kiang-it-ki dan
tokoh2 silat lainnya ber-turut2 menghilang, kemungkinan semuanya
telah menjadi tawanan komplotan Cin-Cu-ling, bahwa ciam-Liong
juga menjadi tawanannya, kiranya dapat dipercaya.
Cuma di mana orang2 ini di sekap? Apakah di dalam Coat Sinsan-
ceng juga? Mendadak dia ingat pada ibunya yang telah
menghilang beberapa waktu lamanya, kemungkinan beliau juga
terkurung bersama orang banyak ini. Bukan Mustahil di taman
bunga ini terdapat kamar tahanan di bawah tanah.
Melihat sekian lama orang tidak bersuara, dengan suara lembut
Hian-ih-lo-sat berkata pula: "Kini kau sudah percaya?"
"Lohu justeru tidak percaya, di kolong langit ini mana bisa
muncul dua ciam-Liong Cu Bun-hoa sekaligus."
"Yang tulen tentu hanya satu, kalau Cu- Ceng cu punya minat,
bisa kubawa kau melihatnya," demikian ajak Hian-ih-lo-sat.
"Baik sekali, Lohu memang ada maksud ini."
"Bolehkah ini dinamakan pertemuan dua naga? Dua ciam-long
bernama Cu Bun-hoa akan saling berhadapan, kisah ini tentu akan
menjadi dongeng yang mengasyikan di Bu-lim."
Ling Kun-gi berdiri, katanya: "Di mana dia?"
"Mari Cu-cengcu ikut aku," lalu Hian-ih-lo-sat menuju gardu atau
paseban sebelah.
Agaknya sedikitpun dia tidak menaruh prasangka apa2, dia
berjalan di depan membelakangi Ling Kun-gi, seluruh Hiat-to di
belakangnya berarti terpampang di hadapan anak muda itu. Jarak
kedua orangpun amat dekat, asal mau ulur tangan Kun-gi pasti bisa
membekuknya. Tapi Hian-ih-lo-sat berjalan dengan gemulai seolah2
dia yakin bahwa Ling Kun-gi tidak akan berani turun tangan
terhadap dirinya.
Kun-gi sendiri juga ragu2 dan kebat-kebit, terpaksa ia ikuti
masuk ke sebuah kamar kecil di belakang paseban.
Waku ia awasi kamar kecil ini, tampak di sebelah timur sana, di
atas sebuah dipan kayu rebah telentang seorang. Wajahnya tampak
halus putih, alisnya tebal, jenggot hitam sebatas dada, sekilas
pandang dia lantas tahu wajah orang ini mirip sekali dengan muka
dirinya, muka asli ciam-Liong Cu Bun-hoa.
Sudah tentu Kun-gi t idak tahu bahwa orang ini ciam-Liong tulen
atau palsu? Tanpa terasa ia, mengejek: "Mirip sekali samarannya."
Hian-ih-losat meliriknya, katanya dengan hambar: "Kau tidak
percaya kalau dia ini yang tulen?"
"Nona coh tadi mengatakan, yang tulen hanya ada satu? Kenapa
tidak kau suruh dia bangun, supaya Lohu menanyai dia"
"Membangunkan dia boleh saja, kalau tidak mana Cu-cengcu
mau menyerah dan tunduk lahir batin, betul tidak?" lalu dia
menambahkan: "cu-,cengcu yang satu ini hanya tertutuk jalan darah
penidurnya, tolong kau sendiri yang turun tangan membuka Hiattonya,
kau boleh tanya siapa dia?"
Kun-gi mendengus sekali, kuatir dijebak orang, diam2 ia
kerahkan tenaga di kedua lengan, pelan2 dia mendekati
pembaringan dan membuka Hiat-to penidur Cu Bun-hoa.
Cepat sekali Cu Bun-hoa sudah membuka mata dan pelan2 dia
bangkit berduduk, keadaannya seperti amat payah dan letih, namun
sorot matanya memancarkan amarah, sekilas dia pandang kedua
orang ,dihadapannya. Waktu melihat seorang laki2 yang berparas
mirip dirinya berdiri di depan pembaringan, sekilas dia tampak
melenggong, bentaknya rendah: "Perempuan hina, kalian mau
berbuat apa terhadap diriku?"
Begitu dia buka suara, Kun-gi lantas tahu bahwa orang ini
memang ciam-Liong cu un-hoa yang asli, keruan ia kaget.
Hian-ih-lo-sat cekikikan, katanya: "Cu-cengcu mesti marah begini
rupa? Beginilah duduk persoalan-nya, Cu-cengcu yang kami undang
kemari tidak percaya bahwa kau adalah cengcu dari Liong-bin-sanceng,
maka terpaksa kuiringi dia kemari melihatmu, kukira kalian
satu sama lain pasti kenal, tak perlu aku memperkenalkan kalian
lagi."
Terunjuk rasa kaget, heran serta curiga sorot mata Cu Bun-hoa,
katanya setelah mengawasi Ling Kun-gi : "Siapakah cengcu Liongbin-
san-ceng? Lohu t idak tahu."
"Kenapa Cu-cengcu masih pura2? Sejak kutawan tadi, mukamu
sudah kucuci bersih, siapa di antara kalian adalah Cu-cengcu tulen,
tentu kalian sendiri mengerti."
"Sedikitpun aku tidak mengerti," seru Cu Bun-hoa marah. Lalu
dia berpaling kepada Ling Kun-gi, bentaknya: "Siapa kau?"
Sekilas Kun-gi mengerut kening, tapi otaknya yang cerdik lantas
berkeputusan bagaimana dia harus bersikap katanya, ter-gelak2:
"Siapa Lohu? Kalian memang pandai main sandiwara. Di dalam
bubur kalian menaruh racun, menutuk Hiat-to di dadaku lagi, dalam
hati kalian sudah tahu sendiri, kenapa tanya kepadaku malah?"
Kalau kepepet timbul akalnya, secara tidak langsung kata2nya ini
memberi mengingatkan Cu Bun-hoa yang sembunyi di kamar
rahasia, bahwa dia pasti menyaksikan bagaimana In Thian-lok
menutuk Hiat-tonya, kalau Cu Bun-hoa dihadapannya ini samaran
pihak lawan sengaja mau menjajal dirinya, maka kata2nya itupun
tidak akan menarik perhatian pihak lawan-
Ternyata sorot mata Cu Bun-hoa tampak berubah, mendadak dia
bertanya dengan mengirim gelombang suara, "Betulkah kau Linglote?"
- Kini terbukti bahwa Cu Bun-hoa dihadapannya memang
tulen.
Dengan mengelus jenggot dan manggut2 Kun-gi menjawab
dengan gelombang suara: "cayhe memang Ling Kun-gi, bagaimana
Cu-cengcu bisa tertawan mereka?"
"Lohu terjebak dan di bokong oleh perempuan siluman itu
.........."
Keduanya saling tatap dan pura2 saling mengamati, mereka
bicara secara diam2, tapi sampai di sini pembicaraan mereka tiba2
Hian-ih-lo- sat cekikikan, tukasnya: "Kalian sudah selesai bicara?"
tangannya menuding ke arah Cu Bun-hoa, katanya lebih lanjut:
"Kukira Cu-cengcu yang ini perlu istirahat pula, kami tidak
mengganggumu lagi."
Tampak Cu Bun-hoa berbangkis, kelihatan semakin loyo dan
kecapaian, pelan2 dia menjatuhkan diri dan rebah pula di atas
pembaringan-
Keruan Kun-gi terperanjat, batinnya: "Mungkin perempuan
siluman ini mengerjainya lagi?"
Sambil tersenyum Hian-ih-lo-sat pun angkat tangannya ke arah
Ling Kun-gi, katanya. "Silakan Cu-cengcu duduk di luar."
Kun-gi sudah waspada, melihat tangan orang bergerak ke
arahnya, lekas dia menyurut mundur sambil tahan napas, katanya
sambil menjengek: "Tak tersangka ia juga ahli pemakai obat bius."
"Cu-cengcu tidak usah kuatir," ujar Hian-ih-lo-sat sambil
cekikikan genit dan mengerling, "peduli kau ini yang tulen atau
palsu, kau tetap sebagai tamu terhormat Coat Sin-san-ceng kita,
aku tidak akan menggunakan obat bius terhadapmu, mari silakan
kita bicara di luar saja."
Entah muslihat apa di balik keramah tamahan orang, terpaksa
Kun-gi ikut keluar. Mereka kembali ke kamar tamu dan duduk di
tempat semula.
"Nona coh masih ada urusan apa, katakan saja," kata Kun-gi.
"Kau sudah berhadapan dengan Cu-cengcu yang asli, kalau tidak
salah malah kalian sudah mengadakan pembicaraan, kini tak perlu
menyinggung siapa tulen siapa palsu, tapi satu hal perlu kutegaskan
padamu ........"
"Soal apa?"
"Mengenai obat penawar getah beracun itu."
"cayhe sudah bilang ........."
"Aku mengerti," tukas Hian-ih lo-sat, "kalau kau bisa ubah getah
hitam kental itu menjadi air bening, pasti telah menemukan obat
penawarnya, setelah kau menciptakan obat penawarnya baru kalian
yang tulen dan palsu boleh pergi dari coat-sin-san Ceng dengan
selamat."
"Kau mengancam dan memeras Lohu?"jengek Kun-gi.
"Jangan pakai istilah mengancam atau memeras segala, terlalu
menusuk telinga, katakan saja sebagai syarat imbalan-"
Bertaut alis Kun-gi, katanya: "cayhe tidak begitu yakin-"
Mendadak berubah ketus nada Hian-ih-lo-sat, katanya: "Kau
harus menyelesaikan tugasmu, kuberi waktu selama 10 hari."
"Mungkin sulit, 10 hari terlalu pendek waktunya, cayhe . . . . "
"10 hari sudah terlalu lama bagiku, sebetulnya cukup lima hari."
Setelah me-nimang2 Kun-gi berkata sambil menggeleng: "10 hari
betul2 amat . . . . "
Hian ih-lo-sat berdiri, katanya tandas: "Tak usah bicara lagi,
semoga dalam 10 hari ini kau bisa menyerahkan obat penawarnya,
kalau tidak . . . ."
Kun-gi ikut berdiri, tantangnya: "Memangnya kenapa kalau
tidak?"
"Kalau tidak kau serahkan obat penawarnya dalam 10 hari,
urusan menjadi berabe bagi kita semua. Nah, silahkan Cu-cengcu."
Mendadak tergerak hati Kun-gi, kata2 "kita semua" mungkin
terlanjur diucapkan- Kita semua, yang dimaksud mungkin termasuk
dia sendiri, itu berarti orang di belakang layar itu sudah mendesak
terlalu keras, maka perintah batas waktu 10 hari tidak boleh ditawar
lagi, maka dirinya harus tepat waktunya menyerahkan obat
penawarnya.
Kun-gipun tidak banyak bicara lagi, setelab menjura dia berkata:
"cayhe akan bekerja sekuat tenaga."- ia menyingkap kerai dan
beranjak keluar.
Ia menyusuri jembatan liku sembilan menuju ke deretan kolam
bunga, sepanjang jalan ini dia melangkah lambat2, waktu dia tiba di
depan gunung buatan, tampak Tong Thian jong tengah mendatangi
dari jalanan kecil berbatu krikil sana sambil menggendong tangan,
waktu melihat Kun-gi segera dia menyongsong sambil tertawa: "Cuheng
sudah kembali?"
Lekas Kun-gi memberi hormat, katanya: "o, kiranya Tong-heng
sedang jalan2 di sini."
"Menjelang magrib ini pemandangan alam disekitar sini sungguh
indah," ujar Tong Thian-jong. Lalu dengan gelombang suara dia
bertanya, "Ling-lote, untuk apa bocah she Dian itu mengundangmu
kepaseban sana? Kuatir mengalami kesulitan, Lohu ditugaskan naik
ke atas bukit mengawasi keadaan sana, sementara Un-heng berada
di kolam bunga, di belakang gunung buatan sana, bila perlu kami
akan memberi bantuan padamu."
Demikianlah sembari ber-cakap2 dan bersenda gurau mereka
menyusuri kolam bunga sana, setelah celingukan tidak terlihat
bayangan orang, secara ringkas Kun-gi ceritakan pengalamannya
tadi. Tong Thian jong kaget, katanya. "Cu-heng terjatuh juga ke
tangan mereka, bagaimana ini bisa terjadi?"
Kun-gi menengadah memandang ke tempat yang jauh, katanya:
"Hian-ih-lo-sat menjadikan cu cengcu sebagai sandera untuk
mendesakku menyerahkan obat penawarnya dalam 10 hari,
sekarang urusan belum kasip. apa2 menolong orang boleh ditunda
sementara, sulitnya kebun ini dikelilingi air, sukar untuk terbang
keluar . . . . "
"Bukankah Ling-lote pernah bilang bahwa waktu kau datang
tempo hari, jelas perkampungan ini terletak di depan kaki gunung,
tiada air yang mengelilingi perkampungan ini?"
"Ya,justeru di sinilah letak persoalannya yang sulit terpecahkan .
. . . " lalu dengan suara lirih dia menambahkan, "menurut dugaan
cayhe, lorong bawah tanah untuk keluar masuk terletak di bawah
coat- sin-san-tang ini."
Tong Thian-jong manggut2 menyatakan sependapat.
Ling Kun-gi lantas utarakan pendapatnya:
"Kim-khek itu merupakan sebuah paseban yang berdiri di atas
air, tapi menurut dugaanku di sanalah tempat untuk menyekap para
tawanan, kalau tidak. buat apa Hian-ih-lo-sat memanggilku kesana."
Tong Thian-jong manggut2, ujarnya: "Yaa masuk akal"
"Kalau betul paseban itu tempat untuk menyekap tawanan, pasti
bukan Cu-cengcu saja yang ditawan di sana."
Terkesiap Tong Thian-jong, tanyanya: "Jadi Ling-lote kira Locit,
Un In ji dan lain2 juga terjatuh ke tangan mereka?"
"Mungkin saja, di antara mereka termasuk Kim Kay-thay,
ciangbunjin murid2 preman Siau-limpay, Lam-kiang-it-ki Thong-pithian-
ong, Kiam hoan-siang-coat Siau Hong-kang dan puteranya dari
Lam-siang."
Berpikir sebentar, Tong Thian-jong berkata dengan menghela
napas: "Jika benar orang2 itu terjatuh ke tangan mereka, kita
berempat mungkin bukan tandingan mereka, masa kita mampu
menolong mereka?"
"Soal menolong orang bukan urusan sulit," ujar Kun-gi, "bicara
tentang kepandaian silat sejati, kuyakin sukar bagi mereka untuk
membekuk orang sebanyak itu, mereka pasti menggunakan
muslihat dan main sergap ........"
Sembari bicara tanpa terasa mereka tiba di ujung timur kebun. Di
sini letaknya sudah dekat dengan pemukaan air sungai, sepanjang
pinggiran sungai dipagari kayu merah, di luar pagar sana ditanami
pula pepohonan Yang-liu. Selepas mata memandang permukaan
seluas puluhan tombak ini begitu tenang laksana kaca, di seberang
sana pohon2 Yang-liupun berderet menjuntai dahan2nya,
pegunungan nan hijau permai melatar belakangi panorama yang
sejuk dan nyaman ini.
Berpegang pada pagar kayu, mereka memandang ke permukaan
air, perasaan seperti tertindih barang berat. Kecuali mereka bisa
menemukan jalan keluar dari Coat Sin-san-ceng ini, kalau tidakbukan
saja sulit menolong teman, untuk menyeberang sungai inipun
tak mungkin-
Diam2 Kun-gi me-nimang2 cara bagaimana dirinya harus
menyelidiki siapa2 yang terkurung di dalam paseban itu? Menyelidiki
di mana letak mulut jalan rahasia di bawah coat -sin-san-ceng ini?
Sem-bari berpikir, tanpa sadar dia menjemput sebuah krikil, di mana
tangan kiri terayun, batu krikil itu dia sambitkan ke tengah
permukaan sungai, Gerakannya ini boleh dikata acuh tak acuh atau
iseng belaka.
Betapapun usia Kun-gi baru likuran, watak kekanakan masih
belum hilang seluruhnya, belum lagi Tong Thian- jong yang sudah
berusia lebih setengah abad, tak mungkin dia main lempar batu
segala. Bahwa Kun-gi berkebiasaan menggunakan tangan kiri atau
kidal, memang sudah sejak kecil berkat didikan gurunya, karena
gurunya adalah Hoan-jiu-ji-lay (siBuddha kidal) yang tersohor
menggunakan tangan kiri, oleh karena itu, kekuatan tangan kirinya
tentu jauh lebih besar daripada tangan kanan-
Walau hanya iseng dan seenaknya saja dia sambitkan batu krikil
itu, tapi batu krikil itu meluncur tak kalah cepatnya daripada anak
panah yang terlepas dari busurnya, malah mengeluarkan deru angin
kencang lagi. Tong Thian-jong sampai melongo, tak dikiranya
semuda ini usia Ling Kun-gi sudah memiliki kekuatan begini hebat.
Pada saat itulah tiba2 terjadi suatu keanehan. Batu kerikil itu
meluncur kira2 lima-enam tombak. jadi semestinya kerikil itu masih
meluncur di atas permukaan air sungai yang lebarnya lebih sepuluh
tombak, tak terduga tiba2 terdangar suara. "traak" yang keras.
Ternyata batu krikil itu telah menyentuh "permukaan air" yang
tenang bening itu serta mengeluarkan suara aneh, suara benda
pecah ber-keping2.
Suara "trak" yang agak keras itu sudah tentu menimbulkan
perhatian Ling Kun gi dan Tong Thian-jong. serentak mereka
memandang ke tempat kejadian-.
Waktu itu memang sudah magrib, matahari sudah hampir
terbenam, alam semesta mulai ditaburi keremangan, tapi jarak limaenamtombak
tidak terlalu jauh, keadaan masih bisa terlihat jelas.
Begitu mereka tumplek perhatian memandang ke sana,
permukaan air yang kelihatan tenang itu setelah tersentuh krikil tadi
ternyata meninggalkan bekas2 warna hitam retak sebesar buah
apel. Batu krikil timpukan Kun-gi membuat retak permukaan air, dan
permukaan air ternyata membuat batu kerikil itu pecah ber-keping2.
Bukankah hal ini merupakan kejadian aneh yang t idak masuk akal?
Semula Ling Kun-gi dan Tong Thian-jong sama melongo,
akhirnya saling pandang sambil tertawa penuh arti. Karena kejadian
ini membuktikan bahwa permukaan air dalam jarak lima- enam
tombak itu, hakikatnya bukan permukaan air. Kalau permukaan air
bukan permukaan air, lalu apa?
Kedua orang ini sudah tahu sekarang, permukaan air dalam jarak
enam tombak dari daratan itu, sebetulnya adalah sebuah dinding
tembok yang tinggi. cuma pada dinding itu dilukis sedemikian rupa
sehingga menyerupai permukaan air yang tulen, demikian pula
pohon2 Yang-liu yang menjuntai menyentuh permukaan air di
seberang, setelah ditambah alam pegunungan menghijau di luar
tembok. selintas pandang lantas kelihatannya mirip betul air sungai
yang mengalir dengan tenang.
Apalagi di luar pagar kayu, di atas tanggul sungai sebelah luar
ditanami pohon2 asli yang rimbun dan ber-goyang2 tertiup angin
lalu, sehingga menjadi aling2 pandangan orang di sebelah sini,
seolah2 seorang melihat sekuntum bunga di tengah kabut, maka
sulit baginya untuk membedakan bahwa permukaan air disebelah
luar itu hanyalah lukisan di atas dinding belaka.
Pembuat dekorasi ini memang lihay dan ahli betul2. Kalau Kun-gi
tidak main lempar batu tanpa sengaja, sungguh mimpipun mereka
tidak akan menduga tadinya lukisan yang mengelabui pandangan
mata ini.
Tapi hal ini tidak menjadikan persoalan lebih mudah diselesaikan,
meski rahasia lukisan ini sudah diketahui, permukaan air yang
semula lebar puluhan tombak kini kenyataan hanya lima-enam
tombak. bagi seorang ahli Ginkang, untuk melompat sejauh limaenamtombak
memang bukan pekerjaan sukar.
Sukarnya justeru di luar lima-enam tombak dari permukaan air ini
mereka teralang oleh pagar tembok yang begitu tinggi. Tiada
tempat berpijak lagi di kaki tembok. manusia bukan burung yang
dapat terbang, umpama mampu melompati permukaan air ini, cara
bagaimana akan dapat melompati tembok setinggi itu?
Setelah saling pandang dan tertawa, wajah Ling Kun-gi dan Tong
Thian-jong akhirnya sama2 kecut dan mengerut kening, mereka
menyadari adanya kesulitan2 yang tidak teratasi ini .Jadi walau
rahasia permukaan air ini sudah terbongkar, tumbuh sayappun
mereka tak bisa keluar, umpama nanti berhasil menemukan di
bawah tanah dan menolong keluar kawan2 yang disekap di sana,
mereka tetap harus menemukan pula jalan keluar yang mereka
duga pasti berada di bawah perkampungan besar ini.
Dengan tajam Tong Thian-jong pandang sekelilingnya, agaknya
tiada orang menyaksikan kejadian di sini, maka dengan suara lirih
dia berkata: "Ling-lote, kita masih punya waktu 10 hari, soal ini
harus dirundingkan lebih dulu, kita jangan lama2 di sini."
Kun-gi mengangguk. seperti tidak terjadi apa2, sambil mengobrol
mereka terus kembali ke pondok mereka.
Makan malam mereka biasanya disediakan di tempat
penginapan. Cek Seng- jiang pernah mengatakan pondok ini boleh
dianggap sebagai rumah sendiri.
Setiap kali habis makan malam Kun-gi pasti keluar jalan2 di
taman, tapi malam ini banyak persoalan yang bergelut dalam
benaknya, maka malam ini dia tidak keluar jalan2 seorang diri dia
duduk di kursi malas di bawah jendela, bermalas2an- Tapi otaknya
terus bekerja, berdaya cara bagaimana menyelidiki kurungan bawah
tanah dipaseban air itu cara bagaimana supaya menemukan jalan
rahasia keluar masuk Coat Sin-san-ceng ini? Kedua tugas berat ini
harus dia kerjakan tanpa diketahui orang2 coat- sin-san-ceng,
langkah kedua baru berusaha menolong para kawan yang tertawan-
Ing-jun memang pelayan yang telaten dan cepat meraba
keinginan dan perasaan orang, melihat Kun-gi pejamkan mata
seperti sedang memeras otak. dia tahu hari ini orang berhasil
menawarkan getah beracun, mungkin sekarang sedang memikirkan
cara pembuatan obat penawarnya, maka diam2 dia seduh sepoci
teh, ia taruh di meja kecil di pinggir kursi malas, katanya lirih: "Cucengcu,
minum teh."
Terbelalak mata Kun-gi, katanya tertawa: "Ing-jun, pergilah
istirahat, tak usah kau melayani-ku lagi."
Ing-jun tertawa lebar, katanya: "Baiklah, hamba mohon diri, hari
ini Cu-cengcu pasti lelah, lekaslah istirahat." Lalu dia mengundurkan
diri.
Kun-gi berkeputusan malam ini dia akan menyelidiki coat-sin sanceng.
Sudah tentu iapun menyadari bahwa menyelidiki Coat Sinsan-
ceng berarti menempuh bahaya besar, tapi tanpa masuk ke
sarang harimau cara bagaimana bisa mendapatkan anak harimau?
Tanpa menempuh bahaya, bagai-mana bisa berhasil dalam
penyelidikannya.
Sekarang baru kentongan pertama, belum saatnya dia bertindak.
pelan2 dia teguk secangkir teh, karena Waktu masih dini, dia
padamkan lentera lalu duduk samadi di atas pembaringan-
Kira2 setengah jam kemudian, tiba2 didengarnya langkah cepat
tapi ringan mendatangi di luar pintu seperti takut diketahui orang,
setiap langkahnya bergerak sedemikian enteng dan hati2. Untung
Kun-gi memiliki Lwekang tinggi, kupingnya teramat tajam, kalau
orang biasa pasti tidak akan mendengarnya.
Kaget dan heran Kun-gi, orang ini bisa masuk ke pekarangan
tanpa diketahui olehnya, setelah orang merunduk dekat pintu baru
diketahui, ini membuktikan bahwa Ginkangnya sudah cukup tinggi.
Dia menyelundup ke pondok para tamu, langsung menuju ke kamar
tidurnya ini, entah kawan atau lawan? Mungkin orang Coat Sin-sanceng?
Atau orang dari luar?
Pada saat dia men-duga2 inilah orang itu sudah berada di depan
pintu kamarnya, berhenti, gerak-geriknya sangat hati2, ditunggu
sekian lama dan ternyata keadaan tetap tenang2 saja.
Sudah tentu Kun-gi tidak berani gegabah, dengan sabar dia
menunggu perkembangan. Ternyata orang di luar juga amat sabar,
sudah sekian lamanya tetap tidak menunjuk gerakan apa2, hanya
berdiri tenang tanpa bergerak.
Ling Kun-gi sudah mendengar suara napasnya yang lirih, tapi
karena orang tidak bergerak. maka dia tetap samadi di atas ranjang,
tidak bergeming juga. Begitulah kira2 satu jam lamanya, mendadak
Kun-gi yang duduk dikegelapan menyengir sendiri, ia tertawa tanpa
bersuara. ia tertawa karena maklum apa yang bakal terjadi. orang di
luar tetap tidak bergerak, tapi hidung Kun-gi sudah mengendus
semacam bebauan yang semakin keras memenuhi ruang kamarnya.
Kiranya orang di luar tak bergerak karena mempersiapkan diri untuk
menggunakan Ngo- king- hoan- bun- hian, asap wangi yang
membius dan membuat orang mabuk.
Bicara soal menggunakan obat bius, di kolong langit ini mana ada
yang bisa menandingi keluarga Un di Ling-lam, kantong sulam
pemberian Un Hoan- kun selalu tergantung di dadanya, obat khas
bikinan keluarganya tersimpan di dalam botol, khusus untuk
memunahkan segala macam obat bius, lalu obat bius macam apa
yang ditakuti Ling Kun-gi sekarang?. cuma hati kecilnya merasa
heran dan tak habis mengerti.
Bahwa orang di luar menggunakan asap bius, tujuannya tentu
membius dirinya, lalu apa maksud tujuannya membius dirinya?
Maka pelan2 tanpa banyak mengeluarkan suara akhirnya dia
sengaja menjatuhkan diri, rebah miring. Ingin dia membuktikan
siapa yang membius dirinya? Apa pula muslihat di balik kejadian ini?
Untuk membongkar teka-teki ini, terpaksa dia harus pura2 terbius.
Bau wangi dalam kamar semakin tebal, kira2 seperempat jam
telah berkelang pula, di luar pintu kembali terdengar derap langkah
lirih mendatangi dan berhenti di depan pintu pula .Jelas ada orang
kedua yang baru datang, maka terdengar suaranya lirih bertanya:
"Sudah kau kerjakan?"
Pendatang pertama menjawab: "Sedang berlangsung."
Orang yang datang belakangan tertawa lirih: "Dia sudah teracun
oleh obat pembuyar Lwekang mereka, tenaganya paling2 tinggal
tiga puluh persen, kenapa kau bertindak begini hati2?"
"Tugas yang harus kita laksanakan harus berhasil pantang gagal,
mau tidak mau harus hati2," sahut orang pertama, setelah
merandek dia balas bertanya: "Urusan di dalam bagaimana, sudah
beres?"
Orang yang baru datang menjawab: "Sudah beres semua,
orangnyapun sudah kubawa kemari, obat penawarnya juga sudah
kuperoleh, hanya tunggu urusan di sini selesai, kau boleh memberi
obat penawarnya, supaya dia lekas bangun, setelah kau pergi,
paling2 mereka curiga bahwa kaulah yang membebaskan dia, pasti
takkan percaya adanya main tukar menukar yang kita lakukan ini."
Mereka ber-cakap2 dengan suara lirih di luar pintu, tapi Ling Kungi
jelas mendengar percakapan ini, ia bertambah bingung dan tak
habis mengerti.
Siapakah kiranya kedua orang yang berada di luar pintu? orang
pertama yang menebarkan asap wangi dari luar pintu, ternyata
pelayan yang diharuskan melayapi dirinya di Lan-wan, yaitu Ing jun.
Sedang yang datang belakangan adalah pelayan pribadi Hian-ih-losat,
yaitu Giok-jin adanya. Dari percakapan ini Ling Kun-gi
berkesimpulan, se-olah2 mereka menolong seseorang lalu hendak
menukar orang itu dengan dirinya, memangnya mereka bukan
sekomplotan dengan Cin-Cu-ling? Urusan agaknya berkembang
semakin ruwet. Supaya tidak mengecutkan pihak sana, Kun-gi
berkeputusan untuk mengikuti perkembangan selanjurnya secara
diam2.
Asap wangi masih tebal memenuhi kamar tidur, pelan2 pintu
kamarnya di dongkel dari luar dan terbuka, yang menerobos masuk
lebih dulu adalah Ing-jun. Wajahnya yang biasa molek kini kelihatan
agak tegang, langkah kakinya begitu ringan tanpa mengeluarkan
suara, waktu dia sampai di depan pembaringan, melihat Kun-gi
rebah miring, mata terpejam, jelas sudah terbius. Rasa tegangnya
segera berubah senyum kemenangan, pelan2 dia mengulur tangan
membalik kelopak mata Ling Kun-gi, dengan seksama dia
memeriksa sekian lamanya.
Sudah tentu Kun-gi diam2 saja tanpa bergerak. terserah apa
yang akan dilakukan atas dirinya, tapi terasa olebnya jari2 Ing-jun
yang menyentuh mukanya rada gemetar, diam2 ia geli. Untunglah ia
berhasil mengelabui Ing jun, gadis itu membalik badan serta berkata
ke arah pintu: "Bolehlah gotong dia masuk kemari."
"Dia?" diam2 Kun-gi ber-tanya2 dalam hati, entah siapa yang
hendak digotong kemari?
Maka orang di luar segera bertepuk pelahan dua kali, tapi di
malam nan sunyi ini kedengaran jelas dan nyaring, jelas Giok jin
yang bertepuk tangan-
Cepat sekali kerai tersingkap. dua pelayan baju hijau
menggotong seorang masuk ke dalam kamar, Giok jin menurunkan
kerai, cepat iapun berlari masuk.
Diam2 Kun-gi mengintip. ia melihat orang yang dipapah masuk
kedua pelayan ini ternyata adalah ciam liong Cu Bun-hoa yang asli.
Kedua matanya terpejam, badannya lunglai jelas iapun jatuh pulas
oleh asap wangi yang membius.
Hal ini betul2 membuat Ling Kun-gi kaget dan heran, batinnya
"Cu-cengcu menjadi tawanan Hian-ih-lo-sat dan dikurung di
paseban sana, mereka menolongnya keluar lalu mengirimnya
kemari, apa sih sebetulnya tujuan mereka?"
Maka didengarnya Ing-jun berkata: "Waktu amat mendesak.
Giok-jin cici, kalian harus lekas berangkat." Dari bajunya dia
keluarkan segulung kertas putih, katanya sambil diangsurkan: "inilah
catatan resep obat yang dibuat oleh ling-hoa ci-ci, (pelayan yang
berkuasa di kamar obat Hiat-ko-cay), tiga kali obat2an yang diambil
cu cengcu semua dia catat di sini, simpanlah baik2 dan jangan
sampai hilang."
Kembali Kun-gi membatin: "Kiranya ling-hoa di kamar obat itu
juga sekomplotan dengan mereka, jadi para gadis cantik molek yang
bekerja di sini agaknya dari komplotan lain yang sengaja
menyelundup kemari."
Giok-jin terima gulungan kertas terus menyimpannya, dia
memberi tanda pada kedua pelayan, mereka menurunkan Cu Bunhoa,
terus menghampiri pembaringan, dengan gerakan terlatih dan
cekatan mereka angkat Ling Kun-gi beserta kemulnya. Sementara
Ing-jun desak Giok-jin angkat Cu Bun-hoa dan dibaringkan di atas
ranjang.
Baru sekarang Kun-gi mengerti. Istilah tukar-menukar yang
diperbincangkan tadi kiranya menukar Cu Bun-hoa asli dengan
dirinya. Jadi mereka berani berbuat sejauh ini, kiranya juga lantaran
dirinya berhasil menawarkan getah beracun itu. Hal ini dapat
dibuktikan oleh tiga kali catatan Hing-hoa atas obat2an yang pernah
diambilnya, catatan itu kini berada di tangan Giok-jin dan akan
dibawa keluar. Lalu dengan cara apa pula mereka akan mengangkut
keluar dari sini? Hal ini lantas menimbulkan persoalan lain pula
dalam benaknya. Yaitu bagaimana dirinya harus bertindak? Terus
pura2 semaput, terserah apa yang hendak mereka lakukan atau
segera membongkar muslihat mereka?
Otaknya bekerja cepat sekali, setelah dia timbang antara yang
berat dan enteng, dia rasa beberapa gadis pelayan molek pasti
adalah pion dari suatu komplotan lain yang sengaja diselundupkan
ke sini, mereka sudah tersebar luas dan menduduki berbagai posisi
di dalam Coat Sin-san-ceng ini. Kalau sekarang dia diam saja,
terserah apa yang hendak dilakukan mereka, kemungkinan bisa
bertemu dengan dedengkot mereka, kemungkinan pula bisa
sekaligus membikin terang asal-usul Cin-Cu-ling.
Mendadak ia teringat pada Cek Seng-jiang yang pernah
menyinggung nama Sam-goan-hwe, mungkinkah gadis molek ini
orang2 dari Sam-goan-hwe? Maka dia berkeputusan membiarkan
dirinya digotong entah ke mana, yang terang dia akan "bertamasya"
menyerempet bahaya.
Waktu itu Ing-jun sudah keluarkan sebuah karung dari bawah
kasur, Giok jin membantu dia membuka mulut karung, dua pelayan
yang lain lantas angkat Kun-gi dan didorong ke dalam karung, mulut
karung lalu diikat.
"Kebetulan malah," demikian pikir Kun-gi, "aku diangkut kemari
dalam karung, kini diangkut keluar pula dengan cara yang sama."
Setelah mulut karung terikat kencang, dengan kuku jarinya Kungi
membuat lubang kecil di atas karung.
Terdengar Giok-jin berkata: "Kita harus segera berangkat, boleh
kau beri minum obat penawar padanya, setelah bangun tentu dia
tanya tempat apakah ini? Bagaimana bisa berada di sini? Maka
boleh kau katakan padanya bahwa Cu-cengcu yang tinggal di sini
yang menolongnya. Dia pasti tanya pula padamu ke manakah Cucengcu
yang tinggal di sini? Maka katakanlah bahwa setelah
menolong dia, Cu-cengcu yang tinggal di sini lantas keluar dan
suruh dia bersabar, kalau dia masih mengajukan pertanyaan lain,
katakan kau t idak tahu apa2"
Ing-jun mengangguk sambil menjawab: "Ya, Siaumoay ingat."
"Baiklah, mari kita berangkat," kata Giok-jin,
"Dengan membawa karung, entah cara bagai-mana mereka akan
keluar?" demikian batin Ling Kun-gi sambil mengintip keluar.
Tampak Ing-jun dan seorang lagi beranjak ke ujung dipan lalu
mengangkatnya ke samping, mereka menyingkap babut lalu
menyongkel keluar dua ubin, maka tampaklah sebuah lubang gelap
di bawahnya. Ternyata di bawah pembaringan ada sebuah jalan
rahasia di bawah tanah.
Giok-jin mendahului melompat turun, lalu memberi tanda kepada
kedua pelayan lain, lekas kedua pelayan gotong karung ke depan
mulut lubang, seorang melorot turun ke dalam lubang, ing-jun
segera bantu mendorong karung masuk ke lubang itu.
Ternyata lorong bawah tanah ini terlalu sempit, mereka harus
berjalan dengan merangkak. jadi karung itu terpaksa harus ditarik
dan didorong pelan2 terus meluncur ke depan-
Begitulah Kun-gi telah diselundup keluar oleh mereka..
Pada malam itu juga, kira2 kentongan kedua, pada jalanan yang
tembus dari Liong- bun- kin menuju ke Say-hong-kiu, muncul
serombongan orang, ada pejalan kaki ada pula yang naik kuda,
jumlah ada dua puluh orang, duduk di atas kuda yang paling depan
adalah seorang berbadan tinggi beralis hitam bermata cekung,
usianya sekitar 50-an, mengenakan jubah biru, sikapnya kelihatan
kereng dan sedikit dingin angkuh,
Di belakangnya adalah delapan laki2 kekar berlangkah cekatan,
kepala terikat kain biru, pakaian-pun serba biru ketat, golok besar
terpanggul dipunggung mereka. Menyusul tiga ekor kuda bagus,
yang depan ditunggangi seorang pemuda cakap berjubah sutera
biru, di belakangnya adalah dua ekor kuda yang ditunggangi dua
gadis rupawan, yang sebelah kanan berperawakan ramping
semampai, dan mengenakan pakaian ungu ketat berikat pinggang
merah. Gadis sebelah kiri bertubuh agak pendek tapi cekatan dan
lincah, berpakaian serba coklat.
Di belakang tiga ekor kuda ini adalah sebuah tandu yang dipikul
empat laki2. Di belakang tandu diiringi delapan ekor kuda pula,
penunggangnya semua berseragam hitam, berikat kepala kain hitam
pula, tapi semua penunggangnya adalah perempuan yang
menggendong pedang. Usia mereka rata2 sudah lebih dari empat
puluh, kantong besar tergantung di pinggang masing2, tangan kiri
semua memakai sarung tangan terbuat dari kulit menjangan,
selintas pandang sudah jelas bahwa mereka ahli menggunakan
senjata beracun.
Rombongan cukup besar ini menempuh perjalanan dengan
langkah cepat, walau malam gelap dan sunyi senyap kecuali suara
derap kuda, rombongan mereka laksana seekor naga panjang hitam
yang menyusur jalan pegunungan-
Kira2 setengah li mereka keluar dari Liong-bun-kiu, mendadak
dari hutan sebelah kiri berkumandang sebuah bentakan: "Langit
mencipta bumi merancang."
Laki2 paling depan yang menunggang kuda mendengus keras2,
hardiknya: "Wakil langit mengadakan ronda."
Pertanyaan tanpa juntrungnya, jawaban singkat tidak menentu
artinya. Tapi wibawa dari jawaban ini sungguh t idak terduga, maka
tampaklah bayangan orang bergerak. di dalam hutan puluhan laki2
berpakaian hitam berlari2 keluar lalu berbaris rapi di pinggir jalan,
mereka berdiri tegak hormat tanpa bergerak.
Seorang laki2 yang mengepalai barisan ini segera tampil ke
depan memberi salam hormat kepada kakek berjubah biru di atas
kuda: "Hamba Kwe cit-lung t idak tahu bahwa Thian-su telah tiba . ."
Dingin kaku sikap laki2 jubah biru, tiba2 dia memberi tanda
gerakan tangan ke belakang. Delapan Busu di belakangnya
serempak mengayun tangan kanan ke udara. Di tengah malam yang
gelap pekat itu, kecuali terlihat gerakan tangan mereka, tiada apa2
yang kelihatan lagi, tapi hanya sekejap saja, terdengarlah suara
gedebukan yang ramai diselingi percikan api warna biru di depan
hutan, kembang api hanya berpercik sekilas lenyap. tapi puluhan
laki2 yang berbaris rapi di depan hutan di pinggir jalan itu satu
persatu sama terjungkal roboh tanpa mengeluarkan keluhan apa2.
Kakek berjubah biru itu tidak hiraukan lagi mati hidup mereka,
kembali ia memberi tanda ke belakang, lalu keprak kudanya
kedepan- Kedelapan Busu seragam biru dibelakangnya serempak
juga memberi ulapan tangan ke belakang, mereka juga keprak
kuda mengikuti langkah kakek, jubah biru.
Begitulah rombongan mereka laksana seekor naga hitam yang
melingkar2 menempuh perjalanan dijalan pegunungan yang turun
naik berputar kian kemari.Jarak antara Liong-bun-kin dengan Sayhong
kiu kira2 ada 20 an li, sepanjang jalan beruntun mereka
dicegat tujuh-delapan pos penjagaan, tapi semuanya dengan mudah
dibereskan oleh kedelapan Busu seragam biru, semuanya roboh
binasa tersapu oleh percikan kembang api warna biru yang ganas,
sampaipun mayat dan tulang belulang merekapun lenyap menjadi
cairan darah. Maka dengan leluasa rombongan ini terus maju
menuju ke Say-hong-kiu.
Tampak dari kejauhan sebuah perkampungan besar berdiri di
kaki sebuah gunung yang terletak di sebelah utara, perkampungan
ini berada di tanah datar yang dikelilingi gunung. Malam pekat, tak
terlihat setitik sinar api, tak terdengar gerakan apa2 pula dari
perkampungan besar itu.
Besar perhatian si kakek jubah biru yang berada di atas kudanya
terhadap perkampungan di depan sana, tiba2 ia angkat tangan ke
balakang, itu tanda barisan di belakang harus berhenti, tanpa
bersuara rombongan lantas berhenti di depan hutan.
Gadis lincah baju cokelat yang duduk di kuda sebelah kiri segera
keprak kudanya ke depan, tanyanya pada kakek jubah biru: "Pacongkoan,
bagaimana keadaannya?"
Si kakek berjubah biru menggeleng dan berkala, "Tiada apa2,
cuma gelagatnya jejak kita sudah diketahui mereka, lampu dalam
perkampungan dipadamkan semua, tidak menunjuk gerakan apa2
lagi, jelas mereka sudah bersiap menyambut kedatangan kita."
Nona baju ungu juga keprak kudanya ke depan, katanya sambil
mencibir bibir: "Memangnya kenapa kalau sudah bersiap2. Kita toh
tidak akan main sergap. hayolah hadapilah secara terang2an saja."
Tengah bicara tandu yang di belakang, itupun tiba di depan
hutan, terdengar suara serak nyonya tua berkata dari dalam tandu:
"Pa congkoan, kenapa berhenti di sini?"
Ter-sipu2 kakek, jubah biru menjura di atas kudanya, sahutnya:
"Maklum Hujin, di dalam perkampungan t iada nampak sinar api,
mungkin mereka sudah ber-siap2, hamba kira kita jangan bergerak
secara serampangan."
Nona baju ungu segera bicara, "Bu, kita kan hendak berhadapan
secara terang2an, tunggu apa lagi?"
Pemuda yang berjubah sutera tertawa, katanya: "Watak adik
memang berangasan, meski kita akan berhadapan terang2an, paling
tidak harus tahu dulu gelagat dan keadaan mereka."
Nyonya tua dalam tandu tersenyum, katanya: "Kedua budak ini
memang t idak sabaran, setiba di tempat tujuan, mana mereka mau
menunggu lagi? Pa-congkoan-, sampaikan kartu namaku, suruhlah
majikan mereka keluar menemuiku."
Kakek jubah biru mengiakan, segera dia keprak kudanya ke
depan- Delapan Busu di belakangnya serempak juga membedal
kuda masing2 mengikuti langkahnya. Sembilan kuda sama-2
berderap ramai, mereka melewati lapangan rumput terus menuju ke
depan perkampungan, ketika Kakek jubah biru tarik tali kendali,
kuda tunggangannya yang memang pilihan dan terlatih baik segera
berhenti tak bergerak lagi. Delapan Busu pengiringnya juga segera
menghentikan kuda mereka serta melompat turun berdiri berbaris di
belakang Kakek jubah biru.
Malam gelap dan sunyi senyap. sudah tentu derap kesembilan
kuda itu menerbitkan suara yang gaduh dan ramai, uaranya
berkumandang sampai beberapa li jauhnya, setiba di depan
perkampungan serentak berhenti maka keheningan kembah
mencekamalam nan gelap gulita ini.
Seyogyanya penghuni perkampungan ini mendengar kedatangan
kuda2 yang ramai ini, tapi suasana tetap sepi tak kelihatan reaksi
apa2. Berkilat biji mata Kakek jubah biru, dia terkekeh dingin,
katanya sambil angkat tangan kiri: "Maju dan ketok pintu."
Seorang di antara ke delapan Busu mengiakan dan tampil ke
depan, dengan keras dia gebrakan gelang tembaga di atas pintu
sambil berteriak keras2 "Hai, ada orang tidak di dalam?"
Sesaat lamanya baru terdengar suara serak lemah bertanya di
dalam: "Siapa di luar? Tengah malam buta main gedor segala?"
Suara orang ini seperti acuh tak acuh dan kemalas2an, pelan2 dia
buka palang pintu serta menarik daun pintu, tampak seorang laki2
tua bungkuk, tangan menenteng sebuah lampu dan diangkat tinggi
ke atas.
Sinar lampu menyoroti Kakek jubah biru yang bertengger di atas
kudanya, demikian pula kedelapan Busu di belakang si tua bungkuk
tampak bergidik, serunya gelagapan: "Toa . . . . . Toaya ...... kalian
ada ........ ada keperluan apa, aku si tua reyot .... ..hanya penjaga
pintu belaka."
Ternyata dia kira kawanan penunggang kuda ini adalah
perampok.
Tajam sinar mata Kakek jubah biru menatap si tua bungkuk,
katanya menyeringai dingin: "Tua bangka, lekas laporkan, katakan
Tong-lohujin dari keluarga Tong di Sujwan minta bertemu majikan-"
Ternyata orang yang naik tandu itu adalah Tong-lohujin, yang
mengiring kedatangannya ada Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing
kakak beradik, demikian pula Pui Ji-ping yang membawa mereka
kemari. Sementara kakek tua jubah biru adalah congkoan keluarga
Tong, yaitu Pa Thian-gi.
Si tua kucek2 matanya, katanya sambil meng-geleng: "Toaya
mungkin kesasar atau salah alamat, tempat ini hanya rumah
istirahat cengcu kami, biasanya cengcu tinggal di kota,
perkampungan ini sekarang kosong tanpa penghuni, kecuali aku si
tua bangka ini, tiada orang lain-"
Sejenak Pa Thian-gi melenggong, melihat punggung orang yang
bungkuk serta gerak-geriknya yang lemah memang mirip seorang
tidak mahir silat, maka dia bertanya: "Siapa she cengcumu itu?"
"cengcu kami she Cek." sahut si tua bungkuk.
"Siapa namanya?" tanya Pa Thian-gi.
"Beliau bernama Seng-jiang, seorang Wang we (hartawan) di
dusun ini, sudah cukup bukan?" Ha-bis bicara, tanpa menunggu
jawaban Pa Thian-gi, dia putar tubuh terus gabrukan daun pintu
dengan keras. Mungkin hatinya dongkol sehingga si tua bungkuk ini
lupa diri, gerakan kakinya tampak gesit dan cekatan-
Sebagai congkoan keluarga Tong, betapa tajam pandangan Pa
Thian-gi, walau hanya sedikit gerakan yang tak berarti, namun tak
lepas dari penglihatannya. Seketika mencorong biji matanya,
bentaknya dengan suara keras: "Nanti dulu, tua bangka h. . . ." Tapi
si tua bungkuk sudah tutup pintu, tidak pedulikan seruannya lagi.
Lenyap kumandang bentakan pa Thian-gi, mendadak terdengar
gelak tawa seorang yang keras seperti gembreng ditabuh. "Sudah
lama Lohu dengar nama besar keluarga Tong yang terkenal, kalian
sudah kemari, biar Lohu mohon pengajaran dari kalian." Suaranya
keras bergema, kuping sampai mendengung:
Lekas Pui Ji-ping lari mendekati tandu, katanya lirih. "Bu, itulah
Thong-pi-thian-ang, "
Ramah suara Tang-lohujin di dalam tandu, katanya tertawa:
"Nak, tiada urusanmu, mereka bisa membereskan dia." Bahwa
keluarga Tong berani meluruk kesarang harimau, sudah tentu
mereka telah siap tempur.
Dari sebuah jalan kecil di sebelah kiri sana muncul seorang gede
berjubah kuning kelam, wajahnya yang kelam nampak mengkilap.
dia memang Lam-kiang-it-ki Thong-pi-thian-ong adanya. Di
belakangnya muncul pula enam laki2 seragam hitam, dengan
kerudung kepala hitam pula.
Thong-pi-thian-ong memakai sepasang teklek yang terbuat dari
tembaga, tapi langkahnya tetap enteng dan cepat, keenam orang di
belakangnya ternyata juga memiliki kepandaian tinggi, mereka ikut
ketat di belakang Thong- pi-thian-ong, selangkah-pun tidak
ketinggalan-
Maklumlah Lam-kiang it ki, si aneh dari daerah selatan berjuluk
raja langit berlengan tembaga ini biasanya malang melintang di
daerah selatan, betapa tinggi taraf kepandaian silatnya jarang ada
tandingannya di kalangan Kangouw. Tapi empat di antara enam
laki2 baju hitam di belakangnya jelas memiliki kepandaian yang
tidak lebih rendah dari taraf kepandaian Thong- pi-thian-ong. Hal ini
dapat dibuktikan dari gerak-gerik mereka.
Bahwa Pa Thian-gi diangkat sebagai cong-koan keluarga Tong,
sudah tentu dia memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup
luas, diam2 ia kaget. namun tidak gentar, lekas dia memberi tanda
ke belakang. . kedelapan Busu dibelakangnya segera tarik tali
kendali kuda masing2 terus berpencar mengambil posisi suatu
barisan.
Kejadian berlangsung hanya sekejap saja, wak-tu Thong-pi thianong
muncul, jaraknya masih sekitar 10 an tombak, tapi baru saja Pa
Thian-gi memberi tanda kebelakang, tahu2 orang sudah berada di
depan Pa Thian-gi, terdengar suaranya keras bergenta: "Kau pernah
apa dengan keluarga Tong di Sujwan?"
Pa Thian-gi memberi hormat, katanya. "cay-he Pa Thian gi,
pejabat congkoan keluarga Tong, entah siapa nama julukan tuan?"
Sudah tahu tapi dia sengaja bertanya.
Tong pi-thian-ong terbahak, katanya: "Sebagai congkoan
keluarga Tong, masakah siapa aku kau tidak tahu?"
Pa Thian-gi menjura pula, katanya setengah mengejek: "cayhe
memang kurang pengalaman?"
Mendelik bundar mata Thong-pi-thian-ong, teriaknya gusar: "Aku
Thong Ji-hay berjuluk Thong-pi-thian-ong, di mana Lohujin kalian,
suruh dia kemari menjawab pertanyaanku."
Pa Thian-gi pura2 kaget, serunya: "o, kiranya Thong-toaya, maaf
cayhe kurang hormat, Lohujin ada di luar hutan, biar cayhe segera
lapor kepada beliau."
Terdengar suara Tong lohujin berkata di kejauhan "Tak usahlah,
undanglah Thong Ji hay ke-mari saja."
Maka Pa Thian-gi membungkuk, katanya: "Lo-hujin mengundang
Thong-thian-ong."
Bagai kemilau obor sorot mata Thong-pi-thian-ong, sekilas dia
menyapu pandang kedelapan Busu yang terpencar itu, dari
kedudukan mereka terang sudah mengatur barisan Pat-kwa,
wajahnya yang kelam mengkilap menampilkan senyum hina, katanya
tertawa ejek: "Barisan seperti ini juga berani dipamerkan,
memangnya mampu mengurung Lohu?"
"Thong-thian ong tidak pandang barisan ini dengan sebelah
mata, boleh silakan masuk saja ke dalamnya," tantang Pa Thian-gi.
"Masuk ya masuk-" jengek Thong-pi-thian-ong, "Lohu ingin
buktikan kalian dapat berbuat apa atas diriku?" Dengan langkah
lebar segera dia beranjak ke depan sudah tentu enam orang di
belakangnya serempak ikut melangkah maju pula.
Terkulum senyuman riang pada wajah Pa Thian-gi, dia putar
kudanya ikut di belakang mereka. Ke delapan Busu tadi mendadak
saling berlompatan, golok terhunus, mereka berdiri tegak di atas
pelana kuda. Kuda mereka memang sudah terlatih baik, tanpa
dikendalikan, posisi barisan tetap tidak berubah, pelan mereka
merubung maju dari jarak beberapa tombak mengikuti langkah
Thong-pi thian-ong.
Sementara itu, delapan perempuan yang ber-gelung kain yang
semula berjajar di belakang tandu sekarang juga keprak kudanya
berpencar mengelilingi tandu. Seperti delapan Busu laki2,
merekapun mengambil posisi berpencar, dalam jarak tiga tombak.
berkeliling mengatur barisan Pat-kwa-tin dan siap menghadapi
segala kemungkinan. Sama2 Pat-kwa-tin, cuma barisan kaum
perempuan lebih kecil dari kedelapan Busu pria, jadi barisan
kedelapan Busu perempuan berada dilingkaran dalam, sedang
barisan kedelapan Busu pria berada di kalangan luar. Maka
terciptalah barisan Pat- kwa lapis dua.
Thong-pi-thian-ong terlalu takabur, tiada musuh berarti yang
terpandang olehnya, sudah tentu musuh2 di depan ini dianggapnya
tidak berarti. Dengan langkah lebar dia menghampiri, enam orang
baju hitam di belakangnya mengikuti dengan ketat. tatkala mereka
memasuki lingkaran Pat-kwa-tin kecil, tandu itu tiba2 terangkat ke
atas, dari sebelah kiri muncul seekor kuda, penunggangnya pemuda
berjubah sutera biru, itulah Tong Siau-khing yang menyoreng
pedang.
Keadaan sudah memuncak tegang, tak terduga tiba2 Thong-pi
thian-ong bertujuh sama2 tersungkur roboh tanpa bersuara. Dari
dalam tandu terdengar Tong-lohujin berkata: "Pa congkoan, lekas
beri obat penawar kepada mereka, ingat, jiwa harus dipertahankan."
Lalu dia berpesan kepada delapan Busu perempuan: "Sekarang
kalian yang membuka jalan, tak peduli siapa saja yang kesamplok
dengan kalian, bikin mereka roboh keracunan-"
Sementara itu, Pa Thian-gi sudah suruh kedelapan Busu pria
menggusur Thong-pi-thian-ong bertujuh.
Kedelapan Busu perempuan segera keprak kuda mereka
menerjang ke depan pintu gerbang perkam-pungan besar. Tong
Siau-khing, Tong Bun-khing dan Pui Ji-ping mengiring di samping
tandu, mereka berhenti di depan pintu gerbang.
Delapan Busu perempuan sudah lompat turun dan berdiri di
undakan, lekas Tong Siau-khing, Tong Bun-khing dan Pui Ji-ping
juga melompat turun-
Dua pelayan yang mengikuti tandu segera maju menyingkap
kerai tandu, dengan berpegang tongkat berkepala burung Hong
warna emas Tong-lo-hujin melangkah keluar, katanya sambil
menuding, dengan tongkat: "Gempur pintu, tak perlu kita sungkan
lagi terhadap mereka."
Begitu perintah dikeluarkan, tampak seorang Busu perempuan
paling depan lantas mengayun tangan, dari telapak tangannya
meluncur setitik bayangan hitam langsung menerjang daun pintu
gerbang yang keras dan tebal berpaku baja.
"Blang," terjadilah ledakan keras, di tengah ledakan dan percikan
api serta ber-gulung2nya asap dan debu, daun pintu gerbang yang
kokoh kuat itu hancur ber-keping2.
Pui Ji-ping melelet kaget, katanya heran: "Bun-khing cici, senjata
rahasia apakah itu? Begitu hebat kekuatannya."
"Entahlah," sahut Tong Bun-khing, "aku juga tidak tahu."
Dengan tersenyum Tong-lohujin berkata: "Itu-lah Pik-lik-cu
ciptaan Hwe-sin (malaikat api) Lo Hoan, dulu dia terkena senjata
rahasia musuh yang beracun, untung bersua dengan ayah Siaukhing
maka jiwanya tertolong, dia memberi delapan butir granat
tangan (Pik-lik-cu) itu, tak kira hari ini kita bisa menggunakannya."
Habis berkata segera dia memberi aba2: "Hayo kita masuk"
Delapan Busu perempuan sudah melolos pedang mereka yang
kemilau tajam dan berpencar menjadi dua barisan, mereka
mendahului menerjang masuk pintu. Dua pelayan perempuan
menenteng lamplion membuka jalan di depan Tong-lohujin yang
memegang tongkat kepala burung Hong, Siau-khing, Bun-khing dan
Pui Ji ping meng-iringi di sebelah belakang.
Tiba di pintu kedua, tampak si tua bungkuk tadi sambil
menenteng lampion berlari2 keluar dengan napas ngos2an,
teriaknya marah2: "Kalian ini memangnya mau berbuat apa?"
Busu perempuan paling depan segera membentak: "Minggir"
Tangan kiri segera terayun ke depan.
Si tua bungkuk ini jalannya tampak sempoyongan, sudah reyot
dan loyo, tapi melihat tangan yang menyerang ini mengenakan
sarung tangan kulit menjangan, seketika mendelik kaget dan
berubah air mukanya, sebat sekali dia melejit mundur. Gerakan
refleks ini justru membongkar kepura2annya, bukan saja dia pandai
silat, malah tarap kepandaiannya cukup tinggi, Tapi dia hanya
melejit mundur tujuh kaki, tahu2 iapun roboh terkapar tak bangun
lagi.
Maklumlah, Thong-pi-thian-ong yang berkepandaian setinggi
itupun tahu2 roboh tanpa suara, betapapun tinggi kepandaian si tua
bungkuk ini takkan lebih tinggi daripada si gede itu.
Kiranya keluarga Tong kali ini sudah bersiap dengan segala bekal
kemampuannya untuk meluruk kemari, Tong-bun-bu-sing-san
warisan keluarga Tong sudah ratusan tahun sejak nenek moyang
mereka tak pernah digunakan di Kangouw, hari ini telah
menunjukkan kehebatannya. Bu-sing-san merupakan obat beracun
paling ganas milik keluarga Tong, puyer ini tanpa warna tidak
berbentuk, kena angin lantas sirna, tidak berbau lagi, dalam jarak
setombak. siapa saja asal mencium puyer racun ini pasti terjungkal
semaput, dalam jangka semasakan nasi, kalau tidak diberi obat,
korban akan mat i keracunan-
Memasuki pintu kedua, mereka tiba di sebuah halaman yang
luas, sebelah depan adalah sebuah bangsal besar. Apa yang
dikatakan si tua bungkuk tadi memang tidak bohong,
perkampungan sebesar ini, ternyata keadaan sepi lengang, tak
tampak bayangan seorangpun.
Tangan kanan pegang pedang, sementara tangan kiri Pui Ji-ping
memegang panah jepretannya dara langsung berlari ke dalam sana,
Tong Bun-khing tidak mau ketinggalan, bersama Ji-ping iapun
menerjang ke dalam. Kuatir kedua gadis ini mengalami bahaya,
lekas Tong Siau-khing menyusul masuk.
Diiringi pelayan pribadinya yang menenteng lampion, pelan2
Tong-lohujin masuk ke bangsat besar itu, alisnya bertaut kencang,
katanya: "Kalian budak kasar ini, jangan kira tempat ini seperti
rumah sendiri, tanpa siaga main terjang, kalau ada perangkap di
sini, jiwa kalian pasti terancam. "
Ji-ping cekikikan, katanya nakal: "Kau tak usah kuatir Bu, kalau
ada musuh di sini, tentu sejak tadi sudah kubereskan mereka."
Tengah bicara, Pa Thian-gi buru2 masuk. dan berkata kepada
Tong-lohujin- "Lapor Lohujin, tujuh orang yang kita tawan,
semuanya bukan musuh."
"Bukan musuh, memangnya siapa mereka?" tanya Tong-lohujin,
"Kecuali Thong-pi thian-ong, enam orang berkerudung itu di
antaranya ada Lo-cit . . . . . . "
"Lo cit?" seru Tong- Lohujin, "maksudmu di- antara enam orang
itu ada juga Lo-cit? Lalu siapa kelima orang yang lain?"
"Yang hamba kenal adalah Kim Ting Kim Kay-thay, ciangbunjin
murid2 preman Siau-lim-pay, Un It-kiau orang kedua dari keluarga
Un di Ling- lam, Kim-hoan siang- coat Siau Hong-kang, Locengcu
dari keluarga siau di Lam-siang, masih ada dua pemuda, mungkin
anak murid mereka."
Terkesiap Tong-lohujin, katanya gemas: "Jahat betul akal keji
mereka, jelas mereka menggunakan para tawanan untuk
menggempur kita sehingga orang sendiri saling bunuh membunuh,
untunglah telah kita gagalkan maksud keji ini." Lalu ia bertanya:
"Mana mereka? Apakah semua sudah siuman?"
"Belum," sahut Pa Thian-gi, "agaknya mereka terbius oleh
semacam obat2an sehingga kesadaran mereka terpengaruh, kawan
atau lawan tak terbeda lagi, sampai sekarang mereka belum sadar
seluruhnya......."
"Ya, sementara ini biarlah mereka dalam keadaan kurang sadar
saja." ujar Tong -lohujin "Pa-congkoan, bawa saja mereka ke
bangsal ini, kita harus geledah dulu perkampungan besar ini."
Pa Thian-gi mengiakan, segera dia pimpin ke delapan Busu pria
menggotong Thong-pi-thian-ong bertujuh ke sini. Kerudung hitam
mereka sudah di-tanggalkan- Pui Ji-ping kenal satu di antaranya,
yaitu pemuda berpakaian ketat warna hijau, yaitu putera Kiamhoan-
siang-coat Siau Hong-kang yang bernama Kim-hoan-liok-long
Siau Kijing.
Tong-lohujin berpesan kepada Pa Thian-gi dan enam Busu
perempuan "Kalian berpencar dan adakan pemeriksaan, siapa saja
yang kesamplok boleh kalian turun tangan lebih dulu, kalau
menemukan apa2 hendaklah memberi tanda suitan, lekas kerjakan"
Pa Thian-gi mengiakan, kedelapan Busu perempuan ini biasanya
bertugas dibagian belakang, jadi tidak di bawah pimpinannya, maka
dia menjura kepada mereka, katanya: "Kita berpencar dari kiri dan
kanan saja, kami bergerak dari kiri, silakan Han-koh bergerak dari
kanan, kita bertemu di belakang."
Han-koh adalah pemimpin ke delapan Busu perempuan, dia
manggut2, katanya: "Petunjuk Pa-congkoan memang tepat, baiklah
kita bekerja menurut petunjukmu." - Maka dua rombongan orang ini
segera melakukan tugas masing2.
Setelah orang banyak keluar, diam2 Tong Bun-khing memberi
kedipan mata kepada Pui Ji-ping serta angkat dagu ke arah ibunya
Ji ping manggut2, dia tahu maksud orang, katanya sambil
mendekati Tong-lohujin- "Bu, bersama Bun-khing cici biarlah kami
juga memeriksa di luar."
"Kalian dua budak ini memang suka bertingkah, kita datang
terang2an, kini menduduki bangsal ini, musuh tetap
menyembunyikan diri tanpa menunjuk reaksi apa2, bahwa mereka
mampu membekuk tokoh2 kosen itu, tentu bukan sembarang
manusia, belum tentu mereka gentar terhadap kita, sekarang kita di
tempat terang, maka jangan kalian mencari kesulitan-" Lalu dia
tuding keluar serta menambahkan: "Lihatlah, seorang diri Toakomu
berjaga2 di sana, lekaslah kalian bantu dia saja."
"Eh, memang begitulah maksud kami," kata Ji-ping aleman-
Belum habis mereka bercakap. Tong Siau-khing yang berdiri di
undakan mendadak menghardik. "Siapa itu?"
Tong Bun-khing tarik tangan Ji-ping, serunya: "Dik, lekas keluar."
cepat mereka berkelebat ke luar sana.
Terdengar sabda Buddha berkumandang di luar pintu kedua.
Maka muncullah tiga pederi tua berjubah abu2, memegang tongkat
besi besar, dengan langkah lebar mereka memasuki pintu kedua.
Mata Ji-ping cukup jeli, selintas dia sudah kenal satu di antara
ketiga paderi yang berjalan ditengah, bertubuh kurus pendek adalah
Ling-san Taysu, kepala Bun-cu-wan Siau-lim-si yang pernah ber-sua
di Liong-bun-kiu tempo hari, dengan girang segera dia berseru,
"Tong- toako, mereka adalah para paderi agung Siau-lim."
Menyusul di belakang ketiga paderi adalah sebarisan panjang
para paderi siau-lim-si yang mengenakan sepatu rumput. semuanya
memegang pentung besi atau golok besar, dengan langkah lebar
dan rapi masuk ke dalam.
Melihat Ji-ping, lekas Ling-san Taysu merangkap tangan,
katanya: "Omitohud, Li sicu sudah ber-ada di sini, tentunya Tonglohujin
juga sudah tiba?"
Tong Siau-khing memberi hormat, katanya: "Wanpwe Tong Siaukhing,
ibu berada di bangsal sana, silakan masuk para Taysu."
"o, kiranya Tong-siaucengcu," kata Ling-san Taysu, "Pinceng
Ling-san, pejabat ketua Bun-cu-wan di Siau-lim-si."
Lalu dia perkenalkan Hwesio berbadan besar di sebelah kiri yaitu
Poh-san Taysu kepala dari Lo-han-tong Hwesio berperawakan
sedang di sebelah kanan ialah Tin-san Taysu, ketua Tat-mo wan.
Tong Siau-khing menjura berulang kali, lalu dia iringi ketiga
paderi tua itu memasuki bangsal itu. Mendengar tiga paderi agung
Siau-lim-si juga datang, lekas Tong-lohujin keluar menyambutnya,
kini giliran Tong Siau-khing yang perkenalkan ke-tiga Hwesio sakt i
itu kepada ibunya.
Tengah bicara, dari luar tampak masuk seorang laki2 tua kecil
berbaju lengan panjang warna hijau bercelana kencang, sepatu
tinggi, pipa cang-klong tergantung di pinggangnya, di belakangnya
ikut tiga laki2 kekar berbaju hijau pula.
Begitu dekat laki2 tua baju hijau lantas menjura kepada Ling-san
Taysu, katanya: "Siaute su-dah periksa sekeliling sini,
perkampungan ini di bangun membelakangi gunung, paling
belakang adalah sebuah pagar tembok tinggi lima tombak, di sana
agak luar biasa, di luar tembok malah di tumbuhi semak2 berduri
yang subur dan lebat, orang tak mungkin bisa mendekat, kecuali itu
tiada tanda lain yang mencurigakan, tiada pos penjagaan yang
dipasang secara rahasia."
Ling-san Taysu manggut2, katanya: "Malam itu dengan mata
Lolap sendiri menyaksikan perempuan yang menamakan dirinya
Thian-su membawa Thong-pi-thian-ong dan lain2 masuk ke
perkampungan ini . . . . " sampai di sini dia merandek lalu berkata
pula: "oh Sute, mari kuperkenalkan, inilah Tong-lohujin dari
keluarga Tong di Sujwan." Lalu dia berkata juga kepada Tong-
"lohujin- Inilah suteku Oh Siok-ham teman2 Bu-lim sama
menjulukinya To-pi-wan (lutung banyak lengan)."
Tong-lohujin tertawa, katanya: "Sudah lama kudengar nama
besar oh-tayhiap. beruntung malam ini bisa bertemu"
Lekas oh Siok ham menjawab: "Tidak berani. sudah sekian tahun
aku tidak berkecimpung lagi di Kangouw."
Poh-san Taysu, ketua Lo-han-tong menimbrung: "Sepanjang
jalan memasuki perkampungan ini apakah Lohujin t idak mengalami
rintangan dan sergapan?
Kata Tong lohujin dengan tersenyum: "Dari Liong-bun-kiu
memang beberapa kali pernah bertemu dengan penjaga2 gelap.
setelah tanya jawab berlangsung, semuanya dibereskan oleh Pacongkoan,
tapi setelah tiba di sini, mendadak muncul Thong-pithian-
ong membawa enam cs yang berkerudung, terpaksa mereka
kurobohkan, akhirnya baru diketahui bahwa enam orang
berkerudung itu adalah orang2 kita sendiri, di antaranya ada Locit
dari keluarga kami, Kim Ting Kim-loyacu dari Siau-lim kalian dan
lain2."
Diam2 terkejut Ling-san Taysu bahwa tokoh2 ternama itu kini
menjadi tawanan Tong- lohujin, katanya: "Keluarga Tong di Sujwan
memang kenamaan dengan obat beracun, bahwa Kim-sute dan
lain2 dapat ditundukkan, tentunya terkena senjata rahasia beracun
kalian-"
Bergetar badan oh Siok-ham, tanyanya: "Di mana mereka
sekarang?"
Maklumlah Kim Ting Kim Kay thay adalah ciangbunjin murid2
preman Siau-lim-pay, bahwa sekarang dia menjadi tawanan Tonglohujin,
hal ini menurunkan derajat dan pamor pihak Siau-lim-pay.
Tong-lohujin tertawa ramah, katanya sambil menuding ke bawah
dinding sebelah barat, "Mereka rebah semua dilantai sana, cuma
sekarang jangan kita mengganggu mereka."
"Kenapa?" tanya oh Siok-ham.
"Agaknya pikiran mereka terpengaruh oleh semacam obat bius,
tidak bisa membedakan kawan atau lawan, agaknya musuh
memang sengaja mengatur muslihat keji ini supaya pihak kita saling
baku hantam sendiri, oleh karena itu terpaksa ku-turun tangan
merobohkan mereka, sementara mereka masih harus istirahat, tapi
oh-tayhiap tidak usah kuatir, dalam menggunakan racun sudah kuperhitungkan
mereka tidak akan celaka karenanya."
"Siancay Siancay" sabda Ling san Taysu. "Malam itu Lolap
sakslkan sendiri dalam beberapa kejap saja tahu2 Cu-cengcu sudah
kena dikerjai oleh perempuan yang dipanggil Thian-su itu, tentunya
kesadarannya juga telah terpengaruh, golongan kalian ahli dalam
menggunakan racun, apakah punya obat penawar untuk
menyembuhkan orang2 yang kehilangan kesadarannya itu?"
"Harap Taysu tahu, setiap aliran punya cara tersendiri dalam
menggunakan obat pelenyap kesadaran orang, kalau salah pakai
obat penawar, malah bisa menimbulkan bahaya bagi sang korban,
kalau tidak diadakan pemeriksaan seksama, sukar ditentukan kadar
racun apa yang mereka gunakan, oleh karena itu sementara
kubiarkan mereka jatuh pulas dulu."
Tiba2 derap langkah ramai mendatangi. cong-koan Pa Thian-gi
tampak masuk- melihat banyak tamu2 Hwesio di dalam, sekilas dia
melengak heran-
"Pa- congkoan," tanya Tong-lohujin, "bagaimana hasil
pemeriksaanmu? Apa betul gedung sebesar ini tanpa penghuni?"
Pa Thian gi menjura, katanya: "Lapor Lohujin, perkampungan ini
terdiri dari empat lapis bangunan, bersama IHan koh hamba
mengadakan pemeriksaan, di mana2 debu bertumpuk tebal,
agaknya memang sudah lama tidak ditempati orang."
Belum Tong lohujin bicara, Ling san Taysu sudah mengerut alis,
selanya: "Kukira tak mungkin? Tiga hari yang lalu Lolap menguntit
rombongan perempuan itu naik tandu masuk ke perkampungann ini.
sarang mereka jelas di perkampungan ini ........."
Belum habis dia bicara, mendadak kupingnya mendengar suara
lirih seperti bunyi nyamuk membentak: "Hwesio cilik, sambutlah."
"Serrr", serangkumangin kencang t iba2 menerjang tengkuknya.
Keruan Ling-san kaget, lekas dia menunduk miring seraya ulur
tangan menyambut ke belakang Memang tangannya berhasil
menangkap sesuatu tapi dorongan tenaga besar itu membuat
berdirinya menjadi goyah, tanpa kuasa dia terdorong maju dua
langkah.
Ternyata ada orang menggunakan Thoan-im-jip-bit bicara
padanya, kecuali Ling-san Taysu sendiri orang lain tidak mendengar,
samberan angin kencang itupun bagai kilat, Poh-san dan Tin-san
Taysu yang berdiri di sampingpun tidak merasakan apa-apa. .
Semua hadirin hanya melihat mendadak Ling-san Taysu
menunduk miring seraya ulur tangan meraup ke belakang, lalu
sempoyongan ke depan. Keruan yang paling kaget adalah Poh-san
Taysu dan Tin-san Taysu, tanpa berjanji mereka bertanya kuatir
"Kenapa Suheng?"
Kejadian berlangsung amat cepat, sementara Ling-san Taysu
sudah berdiri tegak pula, didapati-nya yang berada di telapak
tangannya hanya segulung kertas kecil sebesar kacang tanah,
keruan hati-nya bertambah kejut.
Maklumlah Ling-san Taysu adalah jago kosen Siau-lim-pay yang
memiliki kepandaian tinggi, bahwa orang itu hanya menimpukkan
gulungan kertas sekecil itu, tapi Ling-san Taysu sampai terdorong
sempoyongan, betapa tinggi Lwekang penim-puk itu sungguh
sangat mengejutkan-
Ling-san Taysu sekarang sudah berusia 70 lebih, di Siau-lim-si
dia adalah seorang Tianglo yang amat dihormati, tapi orang itu
ternyata memanggilnya "Hwesio cilik."
Betapapun dia seorang paderi sakti yang saleh, mendadak
berkelebat suatu pikiran dalam benaknya bahwa orang itu pasti
seorang cianpwe yang kosen, gulungan kertas yang ditimpukkan
kepada dirinya pasti membawa pesan atau petunjuk yang amat
berharga. Maka tanpa menghiraukan pertanyaan pada Sutenya,
dengan laku hormat dan khitmad dia putar badan serta
membungkuk ke arah datangnya gulungan kertas tadi.
Melihat kelakuan Suhengnya yang aneh itu, Poh-san dan Tin-san
Taysu hanya mengawasi saju dan tidak mengajukan pertanyaan
lagi.
setelah memberi hormat baru Ling-san Tay-su keluarkan
gulungan kertas di telapak tangannya, kertas itu hanya sebesar
kuku jari, dengan arang kertas secuil itu tertulis sebaris huruf- kecil
yang berbunyi: "Masuk ruang berhala lapis empat, dorong patung
pemujaan-"
Hanya sekilas membaca Ling-san Taysu lantas manggut2, lalu dia
bertanya kepada Pa Thian-gi: "Barusan Pa cong-koan bilang
perkampungan ini terdiri dari empat lapis bangunan, apakah lapis
keempat paling belakang itu adalah sebuah ruang berhala?"
"Betul, memang di gedung lapis keempat ada ruang pemujaan,"
sahut Pa Thian-gi.
Ling-san Taysu tersenyum, katanya: "Tidak salah lagi, sarang
rahasia dari komplotan Cin-Cu-ling itu pasti berada di dalam ruang
berhala itu?"
Kaget dan heran oh Siok-ham, tanyanya:
"Darimana Suheng tahu?"
Ling-san Taysu keluarkan gulungan kertas itu dan diperlihatkan
kepada orang banyak, lalu men-jelaskan kejadian barusan dengan
suara lirih, Sudah tentu orang yang memanggilnya "Hwesio cilik"
tidak diceritakannya.
"Ada orang kosen memberi petunjuk secara diam2 kepada kita,
hayolah jangan kita bekerja lambat2, kita masuk bersama
mendobraknya," ajak Tong-lohujin-
Ling-san Taysu berkata: "Kim-sute dan lain2 masih belum
siuman, perlu ada orang jaga di sini, oh-sute, kau bersama The Sikiat
bertiga tinggal saja di sini.."
Tong-lohujin juga perintahkan Pa Thian-gi bersama kedelapan
Busu seragambiru tinggal di bangsal ini.
Maka dibawah petunjuk Han-koh be ramai2 orang banyak lantas
menuju ke belakang. Bangunan lapis keempat merupakan lapisan
terakhir pula. Pohon2 tua tinggi besar tersebar di pekarangan
belakang, orang akan merasa dingin dan seram di tempat yang
lembab ini.
Setelah menyusuri halaman yang penuh lumut hijau, mereka
terus naik keundakan langsung memasuki sebuah ruangan besar
dan luas, tepat di tengah ruangan memang terdapat sebuah patung
pemujaan, yang dipuja di sini adalah malaikat ber-tenaga raksasa.
Delapan Busu perempuan melangkah masuk lebih dulu terus
berjajar di dua sisi, Tong-lohujin beriring dengan Ling-san Taysu
dan lain2 ikut masuk. Ketua Lo-han-tong Poh-san Taysu jalan paling
belakang, dia memberi tanda kepada 18 muridnya untuk
bersiaga di luar pekarangan.
Ling-san Taysu maju beberapa langkah lebih dekat dan memberi
hormat ke arah patung pemujaan, lalu dia mundur kembali.
Sementara Tin-san Taysu juga maju mendorong patung pemujaan-
Tapi patung itu tak bergeming sedikitpun.
"Taysu bertiga harap mundur agak jauh," kata Tong-lohujin, "kita
tak tahu cara bagaimana membuka alat2 rahasia di sini, terpaksa
hancurkan saja Han-koh, kau saja yang turun tangan-"
Sementara itu orang banyak sudah mundur agak jauh, Han-koh
mengiakan, dari dalam kantong kulit harimau dia keluarkan sebutir
besi bundar sebesar biji kenari, sekali ayun dia timpuk ke arah
patung-pemujaan-
"Dar", hebat sekali ledakan ini, patung pemujuan yang tinggi
besar itu roboh ber-keping2. Tampak di belakang patung pemujaan
terdapat sebuah pintu besi, bawah tembok juga sudah berlubang,
tapi pintu besi itu tetap utuh tidak kurang sesuatu apapun, tanpa
disuruh Han-koh timpuk lagi sebutir granat tangan ke arah pintu
besi. Ledakan keras kembali menggetar ruang pemujaan, kedua
daun pintu besi kini roboh berserakan, di belakangnya adalah lorong
panjang yang gelap gulita.
"Kalian geledah ke dalam," Tong-lohujin mem-beri aba-aba
kedelapan Busu perempuan-
Di bawah pimpinan Han-koh kedelapan orang itu segera
menerjang ke dalam terbagi dua barisan- Bersama Tong Siau-khing
bertiga Tong-lohujin mengiringi Ling-san Taysu masuk lebih jauh,
Poh-san Taysu tetap berada paling belakang, dia suruh delapan
paderi berjaga di ruang pemujaan ini, lalu kedelapan paderi yang
lain dia ajak masuk ke dalam.
Lorong gelap ini panjangnya puluhan tombak. mereka tiba di
ujung sana dan diadang dinding tembok. Han-koh lantas timpukkan
granat lagi, debu pasir beterbangan sehingga orang banyak sukar
membuka mata. Tapi dinding pengadang jalan sudah jebol. Lekas
sekali kedelapan Busu perempuan yang tetap berkerudung kain
hitam itu menerobos masuk lewat lubang besar itu.
Waktu Tong-lohujin dan Ling-san Taysu be-ramai keluar dari
lubang tembok, mereka tiba di sebuah taman bunga yang amat
luas, malam remang2, tampak bayangan pohon dan gardu tersebar
di sana-sini.
Waktu orang banyak mengamati keadaan sekelilingnya, mereka
berada di depan sebuah bangunan berloteng yang dibangun megah
dan mewah, di bagian depan terdapat undakan batu memanjang
tinggi, sekarang mereka berada di tengah2 undakan batu yang jebol
oleh ledakan granat tangan tadi.
Di antara bayang2 pohon yang gelap di sekitar mereka tampak
bermunculan bayangan puluhan laki2 bersenjata golok, dari
kejauhan mereka merubung maju mengepung.
Pui Ji-ping yang berangasan ajak Tong Siau-khing untuk
melabrak orang2 itu. Tapi Tong-lohu-jin lantas mencegah, katanya:
"Tak perlu kalian bekerja susah payah " Tiba2 tampak orang2 yangmengepung
mereka itu satu persatu, sama terjungkal roboh tak
bergerak lagi.Jelas semuanya terkena Bu sing-san yang lihay dan
mematikan-
Diam2 berkerut alis Ling-san Taysu, lekas dia bersabda dan
komat-kamit memanjatkan doa bagi arwah para korban supaya
mendapat tempat tenteramdi alam baka.
Pada saat itulah dari arah pintu yang terbuka di depan sana
muncul di atas undakan batu dua pelayan perempuan cilik
membawa dua lampion, lalu berdiri di kanan kiri. Segera terdengar
pula suara gemericik sentuhan batu manikam dan perhiasan yang
bertaburan di tubuh seorang perempuan cantik jelita, seorang
nyonya muda berpakaian puteri keraton pelan2 beranjak keluar,
sebelah tangan terpapah dipundak seorang dayang di sebelahnya.
Yang muncul ternyata Hian-ih-lo-sat, wajahnya nan ayu
menampilkan rasa kaget dan heran- namun mulutnya yang kecil
mungil mengulum senyum, katanya: "Kalian siapa? Malam buta
menjebol dinding main terjang di rumah orang, mau apa?"
Sementara itu Pui Ji-ping sudah sembunyi di belakang Tonglohujin
serta berbisik. "Bu, perempuan siluman itulah yang
menamakan dirinya Hian-ih-lo-sat."
"Jangan ribut," Tong- lohujin manggut2, "dengar saja apa yang
dia katakan-"
Sementara itu Ling-san Taysu sudah perkenalkan diri dan
nyatakan maksud kedatangannya. Tapi Hian-ih lo-sat malah menista
bahwa kedatangannya mau merampok atau memperkosa kaum
perempuan di sini. Sebagai paderi agung yang alim, sudah tentu
Ling-san menjadi gelagapan dan t idak mampu menjawab.
Tong lohujin tertawa dingin, bentaknya: "Nona tidak usah banyak
omong, siapa kau memangnya kami tidak tahu?"
Kerlingan mata Hian-ih-lo sat mempesonakan, katanya sambil
berpaling ke arah Tong-lohujin: "Apakah nenek tua ini juga orang
dari Siau-lim?"
"Dari keluarga Tong di Sujwan," jengek Tong-lohujin-
Hian-ih-lo-sat pura2 tidak tahu, katanya: "Keluarga Tong di
Sujwan? Tempat apakah itu, belumpernah kudengar."
"Itu tidak penting, satu hal perlu kuperingatkan, komplotan Cin-
Cu-ling kalian main culik orang, sekarang kita sudah berhadapan,
lekas kau bebaskan para tawanan, kalau tidak jangan menyesal
kalau kami turun tangan keji."
Sambil membetulkan sanggulnya, Hian-ih-lo-sat berkata dengan
mengunjuk rasa kaget dan heran: "Apa katamu nenek tua ? Siapa
yang harus kubebaskan?"
Pada saat itulah, ke delapan Busu perempuan yang berjaga di
sekeliling Ting- lohujin erempak berteriak seraya mengayun tangan
ke udara. Tapi mereka bukan menimpukkan senjata rahasia, juga
bukan melancarkan pukulan, hanya seperti tanda gerakan tangan
aja, Sudah tentu Ling-san Taysu dan lain2 yang tidak tahu apa2 jadi
heranTong-
lohujin menyeringai hina, katanya: "Memang sudah kuduga
bahwa Hian-ih-lo-sat pandai menggunakan bubuk racun yang tidak
kelihatan, kepandaian rendah ini memangnya dapat mengelabui
mataku?"
Dengan mengangkat tangan membetulkan sanggulnya tadi,
ternyata secara diam2 Hian-ih-lo-sat sudah menaburkan bubuk
beracun yang tidak kelihatan- Keruan kaget dan berubah air muka
para paderi Siau-lim.
Hian-ih-lo-sat sendiri juga berubah air mukanya, tapi segera dia
cekikikan, katanya: "Nenek tua, ternyata kau memang memadai
untuk lawanku, entah bagaimana kau tahu kalau aku Hian-ih-losat?"
"Perbuatanmu menawan Cu Cengcu secara licik di Liong-bun-kin
kusaksikan diatas batu bersama Ling-san Taysu ini, berani kau
mungkir?" demikian t imbrung Ji-ping. "Ketahuilah Thong-pi-thianong
dan lain2 yang kau bius kini sudah sadar seluruhnya, kalian
masih mampu berbuat apa lagi?"
"Nona cilik," ujar Hian-ih-lo-sat cekikikan, "malam ini kalian
berada di atas angin, aku hanya sendirian, mampu berbuat apa lagi?
Tapi kalian harus ingat, Lok san Taysu berempat masih tergenggam
di tanganku, kalau terpaksa, ya apa boleh buat, jangan salahkan
aku bertangan keji."
Diam2 kaget Tong-lohujin, katanya dengan suara geram: "Kau
berani?"
Tengah bicara tiba2 muncul empat bayangan orang melayang ke
depan undakan- Itulah seorang Hwesio dan tiga orang preman,
orang terdepan adalah paderi berjubah abu2, tangan menenteng
tasbih, usianya 6o-an- Mereka bukan lain adalah para tamu agung
yang diculik ke Coat Sin-san-ceng, yaitu Lok-san Taysu, Tong Thianjong,
Un It-hong dan Cu Bun-hoa.
Melihat kedatangan Lok-san Taysu, lekas Ling-san, Po san cian
Tin-san Taysu memburu maju, seru mereka: "Suheng berhasil
menjebol kurungan musuh"
Lok-san Taysu berkata: "Kami berempat tinggal di kebun ini,
mendengar keributan di sini segera kami datang kemari. Ai,
pengalaman pahit ini agak panjang untuk diceritakan"
Sementara itu, Tong-lohujin juga sudah melihat suaminya, kejut
dan girang hatinya, serunya: "Loyacu, kau tidak apa2 bukan?"
Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing juga berseru: "Ayah"
"Masih baik," ujar Tong Thian-jong sambil mengelus jenggot,
"beruntung kedatangan Ling-lote, dia bantu kami memunahkan
kadar racun yang mengeram dalam tubuh kami, kalau tidak malam
ini tetap takkan bisa kemari."
Sementara itu Ji-ping sudah memburu ke de-pan Cu Bun-hoa,
teriaknya: "Ling-toako, kau tahu di mana pamanku dikurung?"
"Ji-ping, akulah pamanmu," ujar Cu Bun-hoa.
Berkedip mata Ji-ping, serunya heran, "Lantas di mana Lingtoako?"
"Paman terjebak oleh perempuan siluman itu dan dikurung di
bawah tanah, malam tadi Ling-lote menolongku keluar, dia sudah
pergi."
"Dia tidak bilang mau ke mana?" tanya Ji-ping gelisah.
"Waktu paman bangun, Ling-lote sudah t iada lagi."
Mendadak Tong lohujin berseru kaget: "Wah, perempuan siluman
itu sudah merat, hayo kejar"
Melihat gelagat jelek. tahu seorang diri takkan mampu melawan
musuh sebanyak ini, pada saat orang banyak ribut bicara, diam2
Hian-ih-lo-sat kabur bersama ketiga dayangnya.
Un It-hong tidak berbicara, maka dia bertindak lebih dulu, tapi
waktu dia tiba di depan pintu mendadak ia berhentikan- Sementara
itu Lok -san Taysu, Tong thian- bong, Tong-lohujin Cu Bun-hoa
serta yang lain juga telah memburu maju. Lekas Un It- hong
mencegah: "Semua berhenti, ada perangkap dalam ruangan-"
Waktu semua berhenti, tertampak di dalam ruangan besar itu penuh
asap hitam seperti kabut tebal sehingga sulit memandang keadaan
di dalam. "Seperti kabut tebal," ujar Lok-san Taysu.
Tong Thian-jong tertawa dingin,jengeknya: "inilah cek-yu-tok-bu
(kabut beracun) lekas mundur" Lalu dia berpaling, tanyanya: "Hujin
membawa Lan ling-tan?"
"Barang2 yang diperlukan tentu kubawa seluruhnya," ucap Tonglohujin
sambil tersenyum, lalu dia memberi tanda ke belakang. Hankoh
segera tampil ke depan, tangan kiri terayun, tiga bintik cahaya
kemilau biru meluncur kedalam ruangan-
"Blang", terdengar ledakan keras dibarengi dengan muncratnya
kembang api. Bintik2 sinar kemilau biru itu segera menyala dan
berkobar waktu terkena asap hitam, terdengar suara mendesis di
tengah kabut hitam itu.
Ternyata Lan ling-tan (granat belerang biru) memang pemunah
dari cek-yu-tok-bu atau kabut beracun itu, dalam sekejap kabut
gelap yang memenuhi ruangan segera sirna tanpa bekas. Kobaran
apipun lantas padam.
Tanpa diperintah Han-koh, pimpin anak buah-nya menerjang
masuk lebih dulu, Tong Thian-jong suami-isteri, Lok-san Taysu dan
lain2 beramai2 ikut masuk, para paderi Siau-lim menyalakan obor
berada di barisan belakang. Ruang besar seketika terang
benderang, tapi bayangan Hian- ih-lo- sat sudah tak kelihatan lagi.
Berkerut alis Tong Thianjong, serunya: "Lekas periksa rumah
yang ada di sini." -Tangan kiri terayun, dia pukul roboh daun pintu
yang menutup kamar di sebelah kiri.
Tapi hasil pemeriksaan semua orang tetap nihil, tiada bayangan
seorangpun di dalam perkampungan sebesar ini. Bukan saja
bayangan Hian-ih-lo-sat tidak kelihatan, para kacung, pelayan dan
penjagapun tiada lagi.
"cepat juga perempuan siluman itu melarikan diri," kata Un Ithong
gusar.
Sementara itu Cu Bun-hoa masih sibuk lihat sana periksa sini,
akhirnya dia menuju ke belakang pintu angin, ia menekan dua kaki
di-sela2 dinding, maka terdengarlah suara keresekan, lantai di
tengah ruang tiba2 ambles ke bawah, muncul sebuah lubang bundar
yang disambung undakan menjurus ke bawah.
"Lorong bawah tanah," seru Tong Thian-jong, "Perempuan
siluman, itu lari dari sini."
"Lekas kita kejar," seru Un It-hong.
"Menurut pendapat Siaute," timbrung Cu Bun-hoa, "lorong ini
mungkin menembus keluar taman, sekarang tentu perempuan
siluman itu sudah merat jauh."
Tenaga segera dikerahkan, semua orang dibagi tiga kelompok
mengadakan penggeledahan, tapi hasilnya tetap nihil, terpaksa
mereka keluar dari lubang ledakan semula dan kembali ke bangsal.
To-pi-wan oh Siok-ham maju memberi hor-mat kepada Lok-san
Taysu. Tong Thian-jong lalu periksa keadaan Thong-pi-thian-ong
bertujuh, dalam setengah jam setelah diberi obat, ketujuh orang
berturut2 siuman, melihat orang banyak merubung mereka di dalam
ruangan, mereka merasa heran-
Begitu melihat Un It-hong, Thong pi-thian-ong lantas berteriak:
"Un-lotoa, tempat apakah ini?"
Melihat Lok-san Taysu dan paderi yang lain, sudah tentu Kim
Kay-thay juga kaget dan girang, lekas ia bangkit berdiri, serunya:
"Lok-san Suheng sudah lolos."
Setelah banyak mengalami kesukaran, panjang lebar
pembicaraan mereka. Bahwa orang2 yang hi-lang kini sudah
diketemukan dan tertolong semuanya, hanya Ling Kun-gi saja entah
ke mana perginya, maka Pui Ji-ping menjadi masgul, seorang diri
dia menunggu di serambi luar, ia menengadah mengawasi
rembulan, gumamnya: "Ke manakah Ling-toako?"
Terdengar suara Tong Bun-khing cekikikan di belakang, katanya:
"Adik Ji-ping, kutahu apa yang sedang kau pikirkan-"
Merah muka Ji-ping, omelnya: "cis, kau sendiri yang memikirkan
dia."
oood wooo
Tepat tengah hari, di depan Lam-pak-ho, restoran terbesar di
kota An-khing yang terletak dijalan timur datang seekor kuda putih
yang gagah, sedemikian put ih bulunya laksana saiju, tiada bulu
warna lain di badannya. Penunggangnya seorang pemuda berjubah
hijau, usianya sekitar 19 an, wajahnya putih halus, bibirnya merah,
giginya putih, hidang mancung, gagah tapi juga lembut, gerakgeriknya
seperti anak sekolahan, tapi pedang tergantung
dipinggangnya sehingga tampak lebih perwira.
Baru saja pemuda jubah hijau melompat turun, pelayan restoran
cepat menyongsongnya, sipemuda serahkan tali kendali kudanya
kepada pelayan terus melangkah masuk langsung naik ke atas loteng,
dia pilih meja yang dekat jendela. Waktu itu saatnya makan
siang, tamu penuh sesak. untunglah si pemuda mendapatkan
tempat duduknya. Sambil menunggu hidangan pesanannya, dia
pandang keluar jendela melihat pemandangan dijalan raya. Tiba2
didengarnya seorang pelayan berkata di sebelah belakang: "Siang
kong ini hanya sendirian, silahkan tuan duduk semeja saja di sana."
Waktu pemuda jubah hijau berpaling, dilihatnya pelayan
mengiringi seorang pemuda berpakaian ketat warna biru mendatang
ke arah mejanya, kursi di seberang mejanya di tarik keluar, lalu
pelayan menyilakan tamu muda ini duduk.
Usia pemuda ini antara 27, alisnya tegak bermata besar,
wajahnya bersih kelihatan agak kurus, sebuah buntalan tergendang
di pundak. tampak gagang pedang yang beronce menongol keluar
dari buntalannya. Sekali pandang orang tahu bahwa pemuda ini
pandai main silat, entah murid dari golongan mana dia?
Pemuda baju biru turunkan buntalannya dan taruh di pinggir
meja, katanya tertawa seraya memberi hormat pada pemuda baju
hijau : "Sungguh menyesal harus mengganggu saudara."
Pemuda baju hijau menjawab tawar: "Tidak apa2."
Pemuda baju biru lantas duduk berhadapan dengan pemuda baju
hijau, pelayan menyuguhkan pesanan pemuda jubah hyau sembari
tanya pemuda baju biru mau pesan makanan apa.
Pemuda baju biru berkata, "Aku harus mengejar waktu dan
melanjutkan perjalanan, arak jangan kau sediakan, siapkan
makanan apa saja yang cepat, seporsi bak-pau, minumteh saja."
Pelayan mengiakan terus mengundurkan diri.
Setelah meneguk secangkir teh, pemuda baju biru berkata:
"Mohon tanya siapakah she saudara yang terhormat?"
Merah muka pemuda jubah hijau, sahutnya: "Siaute berhama Cu
Jing."
"o, kiranya Cu-heng, beruntung bertemu di sini, cayhe Ban Jincun,"
ujar pemuda baju biru, matanya melirik cit-sing-kiam milik Cu
Jing yang di taruh dipinggir jendela, lalu menambahkan dengan
tertawa: "Cu-heng membawa pedang, tentunya mahir bermain
pedang?"
Merah muka Cu Jing, katanya: "Siaute hanya belajar berapa jurus
cakar ayamsaja, belum sembabat dikatakan mahir."
Ban Jin-cun tertawa lebar, katanya: "Sekali bertemu rasanya
seperti sahabat lama, Cu-heng tak usah sungkan, cayhe yakin Cuheng
bukan sembarang orang, hari ini dapat berkenalan, sungguh
beruntung sekali . . . . " sampai di sini tiba2 sikapnya tampak
masgul, katanya: "Sayang Siaute mengalami petaka, kalau tidak
ingin rasanya hari ini makan minum sepuasnya dengan Cu-heng . . .
."
"Ah, saudara Ban pandai bicara," ujar Cu Jing malu2.
Pelayan datang pula membawa pesanan Ban Jin-cun, maka
mereka lantas makan minum sendiri, begitu lahap dan bernafsu
sekali mereka ber-santap. tanpa diaadari bahwa seseorang telah
berdiri di samping meja mereka. Ban Jin-cun segera menyadari
adanya seseorang disamping mereka, cepat ia angkat kepala. Cu
Jing juga sudah tahu, iapun melirik ke atas.
Orang yang berdiri di samping meja mereka adalah pemuda
berusia 25-an, pakaiannya ketat, warna biru tua, mengenakan
caping bambu, pedang besi terselip di pinggang, alisnya tebal,
wajahnya kelam mengkilap. tulang pipinya agak menonjol, mulutnya
yang lebar terkancing rapat, sepasang matanya besar dan
memancarkan sinar terang lagi mendelik pada Ban Jin-cun tanpa
berkedip. jelas sikapnya yang garang ini t idak bermaksud baik.
"Saudara cari siapa?" tanya Ban J in-cun, menghentikan makan-
"Kau" sahut pemuda baju biru tua, suaranya kaku dingin.
Merasa belum pernah kenal, Ban Jin-cun merasa heran,
tanyanya: "Ada petunjuk apa saudara mencariku?"
"Kau murid golongan Ui-san?" tanya pemuda baju biru tua.
Setiap murid Ui-san semua menggunakan hiasan ronce pedang
warna kuning, soalnya tiga puluh tahun yang lalu keluarga Ban dari
Ui-san ber-turut2 pernah menjabat tiga kali Bulim-bengcu, maka
ronce kuning menjadi simbol kebesaran margaban dari Ui-san-dan
ini sudah diakui oleh kaum persilatan umumnya.
"Betul," sahut Ban Jin-cun, "cayhe Ban Jin-cun, entah saudara
dari aliran mana? Adakah ber-musuhan dengan pihak Ui-san kami?"
Pemuda baju biru tua menyeringai,jengeksnya: ."Aku datang dari
Ciok-bun, aku bernama Kho Keh-hoa."
Mendengar orang datang dari Ciok-bun, berubah hebat air muka
Ban Jin-cun, tanyanya dengan suara berat: "Pernah apa kau dengan
Liok-hap-kiam Kho cin-hoan?"
"Beliau ayahku almarhum," sahut Kho Keh-hoa.
Mendadak Ban Jin-cun ter-gelak2 katanya: "Ha ha, kebetulan
sekali, orang she Ban memang-nya mau meluruk ke Ciok-bun."
Keluarga Kho dari Ciok-bun adalah marga terkemuka dari Liokhap-
bun yang sudah termashur di seluruh pelosok dunia, Liok-hapkiam
Kho cin-hoan terkenal dengan ilmu pedangnya yang menjagoi
Bu-lim, konon tiada seorang musuh yang pernah melawannya lewat
tujuh jurus, oleh karena itu umum lantas memberi julukan Liok-hapkiam
(pedang enam jurus) kepadanya.
Kho Keh-hoa terkekeh, ejeknya: "Akupun dalam perjalanan ke
Uisan untuk mencarimu."
Gemeratak gigi Ban Jin- Cun, desisnya: "Bagus sekali, hari ini kita
bertemu di sini, marilah kita cari tempat untuk menyelesaikan
pertikaian kita ini."
"Boleh kau pilih tempatnya," tentang Kho Keh-hoa.
"Lapangan latihan di pintu selatan, bagaimana?" kata Ban Jin cun
setelah berpikir sejenak.
"Boleh saja, cayhe akan berangkat lebih dulu, kalian boleh makan
minum sekenyangnya dulu," dingin dan congkak sekali kata2 Kho
Keh-hoa. Agaknya dia salah kira bahwa Cu Jing adalah teman Ban
Jin-cun, sembari bicara, dengan hina iapun melirik Cu Jing lalu
melangkah pergi.
Saking gusar muka Ban Jin-cun membesi hijau, ingin dia
menjelaskan bahwa Cu Jing bukan temannya, tapi Kho Keh-hoa
sudah melangkah turun loteng. Ia menjadi kikuk. katanya menyesal:
"Dia kira Cu-heng adalah temanku, harap saudara cu t idak berkecil
hati."
Selamanya belum pernah Cu Jing kelana di Kangouw, tapi dia
merasakan sikap dan pembicaraan kedua orang tadi penuh dendam,
keduanya berjanji duel dilapangan latihan di pintu selatan- Sudah
tentu dia tidak tahu pertikaian apa di antara kedua orang ini? Tapi
dari sikap masing2 ia yakin bahwa permusuhan kedua orang ini
tentu amat mendalam. Maka dengan sikap tak acuh ia berkata: "Dia
telah mengundangku juga, sudah tentu aku harus memenuhi
undangannya."
"Ini. ..... ai," sikap Ban Jin-cun tampak serba salah, "soal ini tiada
sangkut pautnya dengan Cu-heng."
Cu Jing tertawa dingin: "Enteng saja saudara Ban bicara, "dia
sudah mengundangku, kalau aku t idak hadir berarti nyaliku kecil?
Ketahuilah selamanya tak pernah aku mengalah terhadap siapapun."
Ban Jin-cun melenggong, katanya tertawa: "Cu-heng memang
belum tahu duduk persoalannya, keluargaku bermusuhan sedalam
lautan dengan keluarga Kho, hari ini kalau bukan dia yang mati
biarlah aku yang gugur, pertikaian balas membalas di kalangan
Kangouw ini, apalagi saudara cu orang luar, lebih baik engkau
jangan ikut campur."
Ia rogoh uang receh serta panggil pelayan, katanya: "Rekening
saudara cu ini sekalian kubayar." Lalu ia berpaling ke arah Cu Jing
serta menjura, katanya: "Ber-hati2lah Cu-heng dalam perjalanan,
kalau aku tidak mati, kelak semoga bertemu lagi." Segera dia
panggul buntalannya terus turun loteng.
Lama Cu Jing melongo mengawasi Ban Jin-cun yang menghilang
di bawah tangga, ia berpikir: "Ban Jin-cun adalah anak didik
keturunan keluarga Ban di Ui san, sedang Kho Keh-hoa adalah
keturunan keluarga Kho di cioksbun, keduanya bukan kaum jahat,
memangnya ada permusuhan mendalam apakah di antara kedua
keluarga besar ini ?"
Bergegas dia berdiri serta menjemput pedang terus memburu
turun ke bawah loteng. Sementara kuda ia t itipkan kepada pelayan
restoran serta tanya di mana letak lapangan latihan di pintu selatan
itu, lalu dia cepat2 menuju tempat yang ditunjuk.
Setiba di pintu selatan dia belok menyusuri sebuah gang dan
tibalah dia di sebuah tanah lapang berumput hijau, itulah alun2
yang cukup besar dan luas, sayang tempat ini tidak terawat, banyak
rumput liar tumbuh subur setinggi pinggang.
Tepat di tengah lapangan sana, berdiri berhadapan dua pemuda,
mereka adalah Kho Keh-hoa dan Ban Jin-cun. Karena ingin tahu
sebab musabah permusuhan kedua pemuda ini, diam2 Cu Jing
merunduk lebih dekat, lalu sembunyi di belakang serumpun pohon
bambu yang lebih dekat dari tengah lapangan.
Terdengar Kho Keh-hoa tengah mengejek: "Kau hanya datang
sendiri?"
"Memang cayhe hanya sendirian," sahut Ban Jin-cun.
"Lalu mana kawanmu itu?" jengek Kho Keh-hoa, "kau
sembunyikan dalam hutan untuk membokongku?"
"Kau menista dan memfitnah orang," damprat Ban Jin-cun.
"Masa salah tuduhanku?" jengek Kho Keh-hoa tak kalah
sengitnya.
Mengira jejaknya diketahui Kho Keh-hoa, dengan dongkol segera
Cu Jing melompat keluar, dengusnya: "Kau mengundangku kemari,
memang-nya salah bila aku hadir?"
Kurang senang tampaknya Ban Jin-cun, katanya: "Cu-heng,
kenapa kau-pun ikut kemari?"
"Apa katamu? Ikut kemari?" jawab Cu Jing, "kenapa aku harus
ikut orang? orang she Kho tadi menantangku juga, sudah tentu aku
harus kemari."
Kho Keh-hoe ter-gelak2, serunya: "Baik sekali kau berada di sini,
anggota keluarga Ban tiada seorangpun yang akan kulepaskan-"
Mencorong benci sorot mata Ban Jin-cun, teriaknya bengis: "Apa
yang kau katakan memang cocok dengan maksud hatiku, setiap
insan marga Kho takkan seorangpun kuampuni jiwanya, cuma
saudara cu ini bukan sanak keluarga Ban kami, kebetulan tadi kami
bertemu di loteng restoran, jadi tiada sangkut pautnya dengan duel
kita ini."
"Baiklah, asal dia tidak ikut turun tangan, aku tidak akan
pandang dia sebagai musuh," ujar Kho Keh-hoa. "Sreng" tiba2 dia
melolos pedang besi yang terselip dipinggang, bentaknya:
"Sekarang kita mulai"
"Bagus sekali," seru Ban Jin-cun, pelan2 ia pun keluarkan pedang
dari buntalannya.
Sambil angkat pedangnya, berkata Kho Keh-hoa dengan
mengertak gigi: "orang she Ban dengarlah, Dengan pedang besi di
tanganku ini Kho Keh-hoa akan menagih 28 jiwa besar kecil
keluarga kho terhadap marga Ban kalian, setiap insan she Ban
merupakan musuh bebuyutan keluarga kami, kau boleh tumplek
seluruh kemampuan yang terang takkan kulepas kau pergi dengan
selamat."
Menunjuk sorot gusar pada sinar mata Ban Jin-cun, bentaknya
beringas: "Tutup bacotmu, bapakmu Kho cin-hoan yang memimpin
segerombolan bangsat berkedok. malam2 menggerebek
perkampungan keluarga Ban kami, ayah bundaku dan 19 jiwa
lainnya dibantai habis2an, aku bersumpah menuntut balas atas
kematian keluargaku itu, kini kalau tidak kuhancur leburkan
tubuhmu, tidak terlampias dendam kesumatku."
"Keparat kau," damprat Kho Keh-hoa, "yang terang bapakmulah
yang membawa gerombolan bandit menyerbu ke rumah kami, 28
jiwa tua muda dicacah hancur luluh, berani kau memfitnah pihak
kami malah."
Kaget dan heran Cu Jing mendengar caci-maki dan saling tuduh
ini, ia membatin: "Kedua-nya bilang ayah mereka membawa
gerombolan dan main sergap di malam hari, bukan mustahil dalam
persoalan ini ada latar belakangnya?"
Terdengar Ban Jin-cun berjingkrak gusar, makinya: "Kau kunyuk.
kau yang main tuduh dan memfitnah."
"Perang mulut tiada gunanya, lihat pedangku" bentak Kho Kehhoa.
"Sret", pedangnya yang pan-jang segera menusuk.
"Serangan bagus." seru Ban Jin-cun, segera ia balas menyerang.
Musuh besar berhadapan, mata sama membara, maka serangan
kedua pihak sama2 ganas tanpa kenal ampun lagi, terdengar
rentetan bunyi benturan nyaring, keduanya sama mengembangkan
ilmu pedang warisan keluarga masing2 dan saling labrak dengan
sengit.
Menyaksikan pertarungan sengit ini, berkerut kening Cu Jing,
teriaknya keras: "Hai, kalian lekas berhenti, dengarkan omonganku."
Tapi kedua pemuda ini sama berdarah panas, sudah kesetanan
lagi oleh dendam keluarga yang tidak terlampias, mereka tidak
hiraukan seruan Cu Jing, malah gerakan pedang mereka semakin
gencar untuk merobohkan musuh.
Melihat seruannya diremehkan, Cu Jing naik pitam, dengusnya:
"Patut mampus, kalian tidak mau dengar nasihatku, boleh silakan
saling ganyang, mati hidup kalian memangnya tiada sangkut
pautnya dengan aku" Karena marah, dia putar badan hendak tinggal
pergi.
Tiba2 seseorang seperti berbisik di pinggir telinganya: "Kau
kemari sebagai penengah, belum memisah kenapa di tinggal pergi"
Cu Jing tertegun, dia berpaling dan Celingukan, tapi tiada
bayangan orang lain, keruan ia bingung dan heran- Kalau kuping
sendiri salah dengar, tapi jelas ada orang berbisik di pinggir
telinganya, tak mungkin salah lagi.
Tengah dia celingukan dengan bingung, suara itu berkata pula
"Hai, Buyung, kenapa melongo saja? Tidak lekas kau maju
memisah, satu di antara mereka mungkin bisa mati konyol."
Kali ini Cu Jing mendengar jelas, orang di belakangnya. Dengan
sigap dia membalik badan, tapi tetap tidak melihat bayangan
seorangpun, keruan ia terkejut, jelas orang itu bicara di
belakangnya, kenapa tidak kelihatan, dengan merinding dia
bertanya: "Siapakah kau?"
"Aku ya aku," suara itu berbisik pula.
"Masa kau tidak punya she dan nama?" ta-nya Cu Jing.
"Betul, aku orang tua memang tidak punya she dan nama," sahut
suara itu dengan tertawa.
Di kala orang bicara, dengan gerakan cepat Cu Jing membalik
badan, tapi tetap tidak melihat bayangan orang. Malah suara orang
berkumandang di telinganya: "Kau tidak usah berpaling, umpama
kau putar2 sampai pusing tujuh keliling juga tidak akan bisa melihat
aku orang tua."
"Memangnya kau setan" seru Cu Jing. Tanpa terasa dia
merinding.
"Di siang hari bolong mana ada setan" seru suara itu. "Aku orang
tua ini adalah dewa hidup sungguhan, kau percaya tidak?"
Cu Jing geleng kepala, katanya: "Aku t idak percaya."
"Tidak percaya tidak jadi soal, lekas melerai mereka."
"Mereka lagi berhantam sengit, bagaimana aku bisa
memisahnya?"
"Kau tidak usah kuatir, loloslah pedangmu, gunakan jurus Thianto-
tiong-ho terus terjang ke tengah mereka, aku akan membantumu
secara diam2."
Segera bisikan suara itupun menerangkan lebih lanjut: "Thian-totiang-
ho adalah sejurus ilmu pedang dari Bu-tong-pay, kau bisa
mainkan t idak? Yaitu pedang tusuk lurus ke depan, lalu ujung
pedang mendongak ke atas terus di sendal saja begitu."
"segampang itu?" seru Cu Jing tidak percaya.
"Kan maksudmu memisah? sudah tentu semakin gampang
semakin bermanfaat. Ai, buyung, jangan banyak bertanya, cukup
asal kau bergaya dan berpura2 saja, biar aku yang membantumu. "
"Umpama berhasil memisah mereka, apakah mereka mau di
lerai?" tanya Cu Jing.
"Setelah mereka kau pisah, bekerjalah lebih lanjut menurut
petunjukku."
Dengan seksama Cu Jing dengarkan suara orang, terasa serak
dan rendah berat, ia tahu pasti seorang cianpwe kosen yang aneh
tabiatnya, maka dia manggut2, katanya: "Baiklah, aku akan bekerja
menurut petunjukmu " Setelah berpikir lalu dia bertanya pula
"Apakah nanti kau tidak akan unjukkan dirimu?"
"Kau Buyung ini mewakilkan aku bekerja kan sudah cukup,
muncul atau tidak bagiku sama saja. Nah, lekas maju, ingat jangan
pedulikan jurus serangan apapun yang tengah mereka lancarkan,
kau tetap gunakan jurus Thian-to-tiong-ho saja."
Dengan heran dan penuh tanda tanya Cu Jing keluarkan pedang
terus mendekati gelanggang.
Waktu itu pertempuran Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa sudah
mencapai babak genting menentukan, pedang mereka dengan
berlomba kecepatan merobohkan lawan, lingkaran sinar pedang
laksana kelebat kilat menyamber.
Ui-san kiam-hoat mengutamakan ketenangan dan kemantapan-
Sebaliknya Liok-hap-kiam dari keluarga Kho yang tersohor
mengutamakan tusukan dan menutuk. oleh karena itu murid
didiknya semua menggunakan batang pedang yang tipis dan
panjang, begitu ilmu pedang dikembangkan, bagai bint ik2 sinar
perak bertaburan. Konon kalau Liok-hap-kiam-hoat diyakinkan
sampai taraf tertinggi, sejurus gerakan pedang sekaligus dapat
menusuk telak 36 Hiat-to musuh, maka dapatlah dibayangkan
betapa cepat gerak serangannya.
Kira2 tujuh kaki di luar gelanggang pertempuran Cu Jing sudah
merasa silau dan tersampuk oleh angin kencang yang membendung
langkahnya, bayangan orang dan sinar pedang sukar dia bedakan,
sesaat ia berdiri melongo tak tahu apa yang harus dia kerjakan?
Baru saja ia merandek, suara tadi lantas mendesaknya: "Sudah
kubilang jangan kau pedulikan mereka. Nah, bersiaplah, angkat
pedangmu dan cungkil." -Begitu suara orang masuk telinga, tanpa
kuasa tangan kanan Cu J ing yang memegang pedang tiba2 bergerak
terus menyongkel ke depan-
Kalau dituturkan memang aneh, dengan serampangan
pedangnya menyongkel, tapi justru menimbulkan kejadian aneh.
Terdengar "trang-tring" dua kali, kedua batang pedang Ban Jin cun
dan Kho Keh-hoa yang sedang saling labrak dengan sengit itu
lengket seperi tersedot oleh besi sembrani, semuanya menindih
pada ujung pedang Cu Jing tanpa bisa bergeming lagi.
Keruan kedua orang sama terbelalak kaget, mereka kerahkan
tenaga dan menarik sekuatnya, tapi pedang mereka seperti
melengket di ujung pedang Cu Jing, tak kuasa mereka menariknya.
Merah mata Ban Jin-cun, serunya: "Cu-heng, aku takkan hidup
berjajar dengan dia, lebih baik jangan kau turut campur."
Kho Keh-hoa juga menggerung murka, teriaknya:. "Apa2an
maksud saudara ini?"
Pada saat itulah, suara tadi mengiang pula di telinga Cu Jing:
"Buyung, sekarang beritahu mereka bahwa atas perintah gurumu,
kau disuruh melerai perkelahian mereka."
Cu Jing merasa heran, batinnya: "Masa kedua orang ini juga
tidak melihat bahwa di belakangku ada orang?" Maka sambil
menuding pedangnya ia berkata: "Kalian harap berhenti dulu, atas
perintah guru cayhe sengaja kemari untuk melerai permusuhan
keluarga kalian."
"Cu-heng," kata Ban Jin-cun, "Sakit hati kematian orang tua
setinggi langit, ini bukan permusuhan biasa, buat apa Cu-heng
mencampuri urusan ini"
"Betul,"jengek Kho Keh-hoa, "aku pantang berdiri sejajar di dunia
ini dengan dia, kalau bukan aku yang gugur, biar dia yang mampus,
tak usah orang lain melerai segala."
Cu Jing tersenyum, katanya: "Kalian sama2 menuduh ayah lawan
menyerbu rumah kalian serta membunuh segenap anggota
keluarganya, kukira dalamperistiwa ini ada latar belakang ....."
Tiba2 suara tadi terkekeh dipinggir telinganya, katanya: "Tepat
sekali ucapanmu Buyung."
"Memang betul omongan Cu-heng, ayahku almarhum sudah
meninggal setahun yang lalu karena sakit, mana mungkin
memimpin orang menyerbu ke Ciok-bun segala, keparat ini hanya
membual belaka."
"Kaulah yang membuat," maki Kho Keh-hoa, "Sudah terang
bapakmu membawa gerombolan penjahat menyergap rumah kami,
seluruh keluargaku tiada yang ketinggalan hidup, ayahku jelas
meninggal di bawah pedang bangsat she Ban, mana mungkin
membawa orangnya menyerbu ke Ui-san, jelas kau memfitnah dan
cari alasan belaka untuk menista pihak kami, aku bersumpah takkan
hidup berdampingan dengan keluarga Ban kalian- Keparat, lihat
pukulan"
Karena pedang mereka lengket dengan pedang Cu Jing dan tak
kuat ditarik kembali, saking murka Kho Keh-hoa lantas ayun kepalan
menggenjot ke muka Ban Jin- cun, Sudah tentu Ban Jin-cun tak
mau kalah, jengeknya: "Memangnya aku takut padamu?" iapun
ayun tangan kiri balas menyerang.
Jarak kedua orang cukup dekat, maka kedua pihak lantas beradu
pukulan- Tapi begitu kepalan saling sentuh, seketika mereka
merasakan sesuatu yang ganjil, hakekatnya kepalan sendiri tidak
bersentuhan dengan kepalan lawan, di tengah antara mereka seolah2
ada lapisan lunak yang tidak kelihatan membendung pukulan
mereka, musuh jelas terlihat di depan mata, tapi pukulan sukar
mencapai sasaran. Hati mereka sama2 mencelos, pikirnya: "Entah
siapa orang she cu ini? Usianya masih begini muda, tapi membekal
Lwekang begini tinggi. "
Sudah tentu Cu Jing juga menyaksikan dengan jelas, dia tahu
bahwa tokoh di belakang dirinya yang memisah pukulan kedua
orang, dan anehnya mereka berdiri di samping dirinya, kenapa tidak
melihat tokoh yang ada dibelakangnya.
Maka didengarnya suara tadi berkata pula: "Nah, sekarang boleh
kau turunkan pedangmu, katakan urusan ada pangkal ujungnya,
utang bisa ditagih, kalau mau berkelahi juga boleh setelah terang
persoalannya,"
"Harap kalian berhenti dulu," kata Cu Jing menurut petunjuk itu,
"utang jiwa bayar jiwa, utang uang harus ditagih, kalau mau
berkelahi boleh juga, tapi urusan harus dibikin terang lebih dulu."
Lalu pelan2 dia turunkan pedangnya.
Begitu pedangnya ia tarik, kedua orang segera merasa longgar,
cepat mundur seraya menurunkan pedang .
Kata Ban Jin-cun- "cara bagaimana Cu-heng hendak membikin
terang urusan kami?"
Belum Cu Jing menjawab, suara tadi sudah berkata: "Suruh
mereka menceritakan kejadian yang menimpa keluarga mereka
masing2?"
Cu Jing lantas berkata: "Siaute kemari atas perintah guru,
soalnya urusan kalian terlalu janggal, banyak liku2 yang
mencurigakan, sudikah kalian menuturkan dulu peristiwa yang
menimpa keluarga kalian masing2?"
Terpaksa kedua orang memasukkan pedang kedalam sarung
serta mundur lagi selangkah.
Ban Jin-cun lantas berkata: "Boleh cu- heng suruh dia menjelaskan
lebih dulu."
Kho Keh-hoa menyeringai dingin: "Boleh saja, kenyataan
terpampang di depan mata, memangnya kau dapat mungkir?"
"Marilah kita duduk di sini," ajak Cu Jing.
Ban Jin- Cun dan Kho Keh-hoa menurut, mereka bersimpuh di
atas rumput tanpa bicara. Terdengar suara tadi membisiki pula:
"Suruhlah bocah she Kho tuturkan pengalamannya."
"Kho- heng," kata Cu Jing segera, "boleh kau bercerita lebih
dulu."
Terpancar sinar beringas dari mata Kho Keh-hoa menatap Ban
Jin-cun, katanya penuh kebencian.
"Pada suatu malam kira2 setengah bulan yang lalu, baru
kentongan pertama, tanpa sengaja pamanku kedua melihat
bayangan puluhan orang bergerak di bawah gunung dan berlari2
naik ke puncak, waktu itu jaraknya masih beberapa li dari rumah
kami, paman tidak tahu pendatang kawan atau lawan? cepat ia
memberitahukan kepada ayah disamping memberi peringatan
kepada semua orang untuk bersiaga. Di bawah pimpinan paman
sendiri bersama beberapa centeng sembunyi di depan rumah, kami
ingin tahu siapakah pendatang itu ....." sekaligus bicara sampai
disini baru ia berganti napas: "malam itu kebetulan tanggal 14,
bulan terang benderang, baru saja aku bersama paman dan lain
menyembunyikan diri, puluhan orang itupun sudah tiba, tampak
yang berlari paling depan adalah seorang laki2 tegap bermuka
merah berjambang hitam, mengenakan baju hijau, menenteng
pedang beronce kuning, begitu melihat orang ini paman lantas
bersuara heran, cepat dia melompat keluar menyongsong, serunya:
Ban bengcu malam2 berkunjung, Siaute Kho cin-sing terlambat
menyambut, harap dimaafkan- Dari seruan paman itu aku baru tahu
bahwa pendatang adalah Thok-tah-thian-ong Ban Tin- gak. yang
dulu pernah menjabat Bu-lim Bengcu, maka akupun melompat
keluar ikut menyambut"
Belum orang selesai bicara tiba2 Ban Jin-cun menyengek: "Kukira
tidak benar, ayahku sudah meninggal setahun yang lalu, mana
mungkin orang yang sudah mati setahun lamanya muncul di cioksbun?"
"Apa yang kututurkan adalah kejadian yang nyata," teriak Kho
Keh-hoa gusar. "Memangnya aku mengarang cerita bohong?"
Terdengar suara tadi berkata: "Suruhlah bo-cah she Ban itu tidak
menyela lagi, dengarkan dulu cerita bocah she Kho sampai selesai."
Cu Jing lantas berkata: "Kalian tidak usah ribut, di sinilah
kejanggalan yang kumaksud tadi, sementara harap saudara Ban
bersabar, dengarkan dulu cerita saudara Kho sampai habis."
Kho Keh-hoa meneruskan ceritanya: "Melihat pamanku, Ban Tingak
manggut2 sambil balas hormat, tanyanya: Kho ji-heng jangan
sungkan, apakah kakakmu di rumah? Paman mengangguk sambil
berpesan padaku: Keh-hoa, lekas lapor pada Toa-ko, katakan Banbengcu
dari Ui-san datang. Belum lagi aku sempat mengiakan Ban
Tin-gak telah berkata pula dengan nada berat: Tak usahlah. Belum
habis dia bicara, mendadak ia melolos pedang terus menusuk
paman, karena sedikitpun tidak bersiaga dan tidak menduga, kontan
paman tertusuk mati . . . . "
"Waktu itu saudara Kho kan berdiri di belakang pamanmu, kau
tidak sempat turun tangan?" tanya Cu Jing.
"Waktu paman bicara padaku, aku sudah melangkah setindak.
jadi berdiri di samping paman, tapi tusukan Ban Tin-gak memang
amat cepat, apalagi kejadian teramat mendadak dan di luar dugaan,
baru saja aku mendengar suara pedang terlolos, sinar pedang sudah
berkelebat laksana kilat, tahu2 pamanpun roboh mandi darah,
keruan kagetku bukan main, waktu aku mendelik ke arah Ban Tingak,
bangsat tua itu menyeringai, kata-nya: Lohu mengampuni
jiwamu, supaya keluarga Kho kalian tidak putus turunan- Menyusul
telapak tangan terayun ke arahku . . . . "
"Tanpa membalas saudara Kbo lantas terluka?" tanya Cu Jing.
Gemeretak gigi Kho Keh-hoa. "Entah gerakan apa yang
digunakan bangsat tua itu? Hanya terasa dadaku sepeiti dipukul
godam, badan lantas mencelat tiga tombak jauhnya, pikiran masih
sadar, tapi tenaga habis badan lunglai, Lwekang dan kepandaianku
telah punah dalam sekali pukul tadi, maka dengan mata terbelalak
aku hanya bisa mengawasi bangsat tua itu pimpin anak buahnya
menerjang ke dalam rumah, keadaan menjadi kacau-balau, suara
benturan senjata berkumandang, sungguh mengenaskan 28 jiwa
penghuni perkampungan kami itu tiada satupun yang ketinggalan
hidup oleh sergapan mendadak ini, ayah-bunda mati tertusuk
pedang . . . "
Terdengar suara tadi berkata: "Suruhlah dia berpikir cermat,
adakah bagian ceritanya yang ketinggalan?"
Cu Jing segera menurut, tanyanya, "coba saudara Kho pikir lagi
lebih seksama, adakah kejadian lain yang terlepas dari ceritamu
tadi."
Kho Keh-hoa berpikir sejenak. katanya: "Tiada lagi, kerja
gerombolan itu cukup rapi, di antara 28 korban yang meninggal,
kecuali ayah bundaku yang terbunuh oleh pedang, yang lain terluka
oleh berbagai macam senjata. ada senjata rahasia beracun lagi, tapi
tiada satupun senjata rahasia yang kutemukan, tiada pula tanda2
lain yang mencurigakan. "
Sampai di sini, tak tertahankan lagi air matanya bercucuran,
katanya sambil menuding Ban Jin-cun- "Dendam kesumat sedalam
lautan ini, kaulah yang harus melunasinya . "
Kuatir kedua orang timbul keributan lagi, lekas Cu Jing
membujuk: "Harap Kho-heng bersabar sebentar, sekarang giliran
Ban-heng menceritakan pengalamannya."
"Akhir musim semi tahun yang lalu," demikian Ban Jin-cun
mengawali ceritanya, "ayahku keluar menyambangi sahabat, kira2
setengah bulan kemudian beliau pulang diantar seorang paman
angkatku, katanya dibokong orang, waktu pulang sampai rumah
sudah tak mampu bicara, akhirnya beliau meninggal karena tidak
terobati."
Terdengar suara tadi berkata kepada Cu Jing "Tanyakan Tok-tahthian-
ong dibokong oleh siapa, di mana letak luka2nya?"
Cu Jing lantas bertanya: "Entah siapakah yang melukai ayahmu,
di bagian mana letak luka2nya?"
"Setiba di rumah ayah sudah tak bisa bicara," demikian tutur Ban
Jin-cun lebih lanjut," menurut paman, ayah dibokong orang pada
suatu pegunungan, setelah beliau terluka dan lukanya cukup parah,
tak mungkin buru2 pulang ke rumah, maka beliau ber-lari ke Kimkeh-
ce, tempat kediaman pamanku itu, dia hanya bilang terkena
pukulan Bu-sing-ciang, jiwanya pasti mangkat dalam tujuh hari,
beliau minta paman suka melindungi keluarganya ........."
"Siapa paman angkat yang Ban-heng maksudkan?" tanya Cu
Jing.
"Pamanku she cek bernama Seng-jiang, kenalan turun temurun,
sejak kecil pamanku itu sudah angkat kakekku sebagai ayah angkat,
pernah dia menjabat suatu pangkat dalam pemerintahan, sekarang
dia sudah pensiun dan menikmati hari tuanya di rumah."
Terdengar suara orang tadi tidak sabar lagi, dia mendesak:
"Suruh dia lekas tuturkan persoalannya, aku masih ada urusan lain-"
"Kapankah keluar Ban-heng mengalami sergapan musuh?" tanya
Cu Jing segera.
"Pada tanggal 16 malam," sahut Ban Jin-cun.
Kho Keh hoa segera menjengek: " Keluargaku mengalami petaka
pada tanggal 14 malam, Jadi ayahku sudah meninggal dua hari
lamanya, bagaimana mungkin beliau membawa orang menyerbu ke
Ui-san membunuh keluargamu?"
Ban Jin-cun tidak hiraukan ucapan, orang tuturnya lebih lanjut:
"Sejak ayah meninggal, ibu sangat sedih dan menangis terus
menerus, akhirnya beliau jatuh sakit dan tak bangun lagi, malam itu
kira2 baru lewat kentongan pertama, baru saja aku keluar dari
kamar ibu hendak kembali ke kamarku, mendadak kudangar suara
ribut dan bentakan orang ramai serta benturan senjata, waktu aku
memburu keluar, tampak puluhan laki2 berkerudung sedang lari
kian kemari, melihat orang lantas bunuh, banyak korban sudah
berguguran, gerombolan itu semua berkepandaian tinggi, cara turun
tangannya juga amat kejam.
"Liok-siok (paman keenam) Lui-kong (aki petir) Ban Liok-jay
tampak sedang berhantam dengan seorang laki2 berjambang dan
berpedang, kudengar paman mencaci dengan murka: Kho cin-hoan,
keluarga Ban kami ada permusuhan apa dengan Liok-hap-bun
kalian? Tanpa hiraukan peraturan Kangouw malam2 kau bawa
gerombolan penjahat menyerbu kemari, membantai keluarga kami
......"
"Mungkin dia sedang berhantam dengan setan," ejek Kho Kehhoa.
Terdengar suara tadi berkata: "Tanyakan, apakah hanya Liokhap-
kiam Kho cin-hoan saja yang tidak berkerudung?"
Cu Jing lantas tanya: "Ban-heng melihat jelas, di antara sekian
banyak : gerombolan berbaju hitam itu, hanya Liok-hap-kiam Kho
cin-hoan saja yang tidak berkedok?"
"Ya, dia tidak memakai kerudung."
"Suruh dia melanjutkan," pinta suara tadi.
"Akhirnya bagaimana"" tanya Cu Jing segera,
"Sudah tentu aku amat murka," tutur Ban J in-cun, "waktu aku
melolos pedang, mendadak kudengar seorang membentak
disampingku, robohlah kau." Batok kepalaku seperti ditempeleng
sekali, kontan aku jatuh semaput, waktu aku siuman kembali hari
sudah terang tanah, kawanan penjahat sudah tak kelihatan
bayangannya, tapi anehnya setelah semaput setengah malaman,
waktu siuman, aku tidak kurang suatu apa2, sampai sekarang aku
masih tak habis mengerti, kenapa orang itu tidak membunuhku?
Sedang seluruh penghuni rumahku semuanya mati dalam keadaan
yang mengenaskan. cepat aku lari ke kamar ibu, kedua pelayan
pribadi ibu terbunuh dengan senjata rahasia beracun dan ibuku . . .
. "
Menyinggung ibunya, tak tertahan air mata bercucuran saking
sedih, tuturnya lebih lanjut. "Beliaupun rebah kaku di atas ranjang,
darah hitam meleleh dari pundak kirinya, jelas beliaupun terbunuh
oleh senjata beracun, tapi tak kutemukan senjata rahasia apapun . .
. . akhirnya setelah pikiran agak tenang baru kudapati jari tangan
kanan ibu menggenggam kencang, ternyata dalam telapak
tangannya menggenggamsebuah senjata rahasia."
Tak tahan Kho Keh-hoa menyela: " Liok- hap-kiam selamanya tak
pernah memakai senjata rahasia, apalagi beracun, entah senjata
rahasia macam apakah itu?"
"Suatu benda berbentuk bintang sebesar biji melinjo, berwarna
hitam legam."
Suara tadi berbunyi pula di telinga Cu Jing: "Tanyakan apa dia
membawa senjata rahasia itu, suruh dia keluarkan supaya kulihat."
"Entah senjata rahasia itu Ban-heng bawa atau tidak sekarang?"
tanya Cu Jing.
"Selalu kubawa ke manapun aku pergi," sahut Ban Jin-cun.
"Bolehkah Ban-heng perlihatkan padaku?" tanya Cu Jing.
"Sudah tentu boleh," ujar Ban J in-cun- Lalu di merogoh kantong
mengeluarkan sebuah buntalan kecil.
Pada saat itulah, mendadak bayangan seseorang laksana burung
elang menukik dari angkasa meluncur turun cepat dan hinggap di
depan Ban Jin cun, di mana sinar berkelebat, sebatang pedang tipis
panjang tahu2 menyongkel ke depan, maka buntalan kain di tangan
Ban Jin-cun seketika mencelat ke atas, sekali samber orang itu
menangkapnya dengan tangan lain, berbareng kedua kaki menjejak
tanah, tubuhnya mencelat pula ke udara.
Kejadian ini terlalu mendadak, gerakan orang-pun teramat cepat
dan tangkas lagi, hakikatnya tiga anak muda itu t idak melihat jelas
bayangan siapa orang tadi dan tahu2 buntalan ditangan Ban Jin-cun
sudah direbut orang.
Sudah tentu Ban Jin cun yang paling kaget, cepat ia membentak
seraya berdiri, baru saja dia hendak mengudak. tiba2 dilihatnya
bayangan orang yang sudah melambung ke udara itu berjumpalitan
beberapa kali di atas terus melayang turun pula dan "bluk",jatuh
dengan keras di tanah.
Baru sekarang mereka bertiga sempat melihat jelas orang itu
berpakaian hitam, bertubuh tinggi kurus, wajahnya kuning, gerakgeriknya
gesit, dengan tangkas dia melejit bangun terus hendak
melarikan diri pula, tapi baru saja dia lari beberapa tindak,
mendadak badannya bergetar terus berhenti dan mematung kaku di
tempatnya.
Sudah tentu Cu Jing bertiga menyaksikan dengan melongo
keheranan. Mendadak terdengar suara serak tua bergelak tertawa.
katanya: "Dihadapan aku orang tua, dengan sedikit kepandaianmu
ini berani kau bertingkah?" - Suara ini bergema seperti
berkumandang dari angkasa, tapi seperti juga bicara di samping
mereka bertiga, keruan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa melongo
kaget. tanpa janji mereka celingukan kian kemari, tapi mana ada
bayangan orang?
Cu Jing maklum Hiat-to laki2 kurus baju hitam ini terang ditutuk
oleh orang tua yang sejak tadi bicara dengan dirinya itu, diam2 ia
kaget dan kagum luar biasa, bayangan orang tua ini tidak kelihatan,
entah dengan cara apa dia menundukkan orang berbaju hitam ini? .
Terdengar orang berbaju hitam mencaci maki dengan beringas:
"Bangsat tua, siapa kau? Main sembunyi, terhitung orang gagah
macam apa? Memangnya kau tidak cari tahu siapa tuan besarmu
ini"
Suara serak tua itu tergelak2, ujarnya: "Kau bocah ini belum
setimpal tanya siapa aku orang tua ini. Tapi berani kau kurang ajar
padaku, maka kau harus kuhukum. Nah, sekarang gamparlah
mulutmu sendiri"
Sungguh aneh, mendadak si baju hitam angkat kedua tangan
sendiri, "Plak-plok," berulang kali ia benar2 menggampar mukanya
sendiri.
Cu Jing bertiga yakin si baju hitam terang tak rela menggampar
muka sendiri, sorot matanya tampak menampilkan rasa kebencian,
tapi juga jeri dan tak berani bersuara lagi. Keruan ketiga anak muda
yang menyaksikan itu sama tertegun.
Terdengar suara serak itu berkata "Nah, urusan kedua keluarga
kalian akupun tidak perlu banyak mulut, kalian tidak perlu saling
bunuh pula, sebab musabab peristiwa yang menimpa keluarga
kalian boleh tanyakan pada kunyuk hitam ini, aku orang tua hendak
pergi."
Ban Jin cun dan Kho Keh-hoa menengadah ke atas, tanyanya
dengan hormat: "Terima kasih atas petunjuk Locianpwe, mohon
tanya siapakah gelaran engkau orang tua yang mulia?"
Tapi sekelilingnya sunyi senyap. kiranya cian-pwe kosen yang
terdengar suara tapi tak terlihat bayangannya itu sudah pergi entah
ke mana.
Ban Jin-cun lantas menjura kepada Kho Keh-hoa, katanya: "Khoheng,
perihal permusuhan keluarga kita, berkat petunjuk Locianpwe
itu, bukan saja telah menghimpas kesalah pahaman kita berdua,
beliaupun telah menawan seorang musuh, pada dirinyalah kita
harus menuntut balas dan menyelidiki siapa gerangan biang keladi
dari semua petaka yang menimpa keluarga kita ini."
"Apa yang dikatakan Ban-heng memang benar," ujar Kho Kehhoa.
Mereka lantas menghampiri si baju hitam, Ban Jin-cun merogoh
kantong orang mengambil balik buntalan kainnya tadi dan dibuka,
isinya memang benda hitam berbentuk bintang sebesar biji melinjo."
Haru dan pedih hati Ban Jin-cun, katanya berlinang air mata:
"Silakan periksa Kho-heng, inilah senjata rahasia yang kuperoleh
dari tangan ibuku.."
"Simpanlah dulu saudara Ban," kata Kho Keh-hoa, "tawanan
hidup ada di depan mata, memang-nya berani dia tidak mengaku."
Ban Jin-cun segera bungkus lagi senjata rahasia itu dan disimpan
dalam baju.
Dengan ujung pedangnya Kho Keh hoa ancam tenggorokan
orang berbaju hitam, desisnya dengan penuh dendam: "Kau sudah
berada di tangan kami, mau hidup atau ingin mati, terserah padamu
mau tidak menjawab pertanyaan kami."
Waktu mereka mendekat, orang kurus berbaju hitam lantas
pejamkan mata tanpa bersuara sekecap-punDingin
suara Ban Jin cun- "Apa yang dikatakan saudara Kho
sudah kau dengar bukan? Yang ingin kami cari adalah biang
keladinya, asaikan kau terangkan siapa perencana peristiwa ini,
kami akan ampuni jiwamu."
Orang itu tetap berdiri tegak, bibirnya tetap terkancing rapat, seolah2
buta dan tuli, anggap tidak dengar semua pertanyaan
mereka.. .
Kho Keh-hoa naik pitam, ujung pedangnya yang mengancam
tenggorokannya bergetar, bentaknya: "Keparat, dengar tidak
pertanyaan kami?" Betapa runcing ujung pedangnya itu, sedikit
menggunakan tenaga saja kulit daging teng gorokan si baju hitam
sudah terluka, tampak darah hitam membasahi dada.
Manusia umumnya berdarah merah, tapi laki2 kurus berbaju
hitam ternyata mengeluarkan darah warna hitam, darah hitam
kental seperti tinta.
Tergerak hati Ban Jin-cun, katanya gugup: "Kho-heng, agak
ganjil keadaannya" Kho Keh-hoa melongo, tanyanya: "Apanya yang
ganjil?"
Hanya beberapa patah kata bicara, tertampak darah kental hitam
yang mengucur dari tenggorokan laki2 baju hitam itu semakin deras
membasahi sekujur badan, segera hidung mereka mengendus bau
busuk. Sebetulnya tenggorokannya hanya tertusuk sedikit, tapi
dalam sekejap luka itu sudah melebar dan membusuk. darah yang
meleleh keluar semakin banyak, bau busuk semakin keras dan
menjalar ke sekujur badan. Ban Jin-cun jadi curiga, tanyanya: "Khoheng,
pedangmu kau lumuri racun?"
Kho Keh-hoa sendiri terkesima sahutnya gugup: "Belum pernah
kulumuri racun pedangku ini ..... " sembari bicara dia angkat
pedangnya, ternyata ujung pedangnya telah berwarna hitam legam.
seketika ia bersuara kaget dan heran-
Sudah tentu Ban Jin-cun juga kaget dan heran pula, mendadak
tergerak pikirannya, tanpa bicara dia angkat pedang dan menggores
pundak serta lengan laki2 baju hitam, kembali darah hitam meleleh
keluar.
Ternyata ujung pedang Ban Jin-cun juga segera berubah hitam
legam, mirip dengan ujung pedang Kho Keh-hoa, seperti pernah
direndam dalam racun- Tak kepalang kagetnya, serunya: "Racun
yang jahat sekali"
"Memangnya dia sudah mampus?" tanya Kho Keh- hoa.
"Ya, mungkin tahu tiada harapan hidup, dia telan racun yang
keras sekali bekerjanya."
Kho Keh-hoa menghela napas, katanya: "Dia sudah mat i, tak
mungkin dimintai keterangan lagi."
"Dia meninggalkan sebatang pedang," ujar Ban Jin-cun, "tidak
sukar mencari tahu asal usul-nya dari senjatanya ini." Tiba2
mulutnya bersuara seperti ingat apa2, katanya pula: "Saudara cu
kemari atas perintah gurunya untuk melerai permusuhan kita, kukira
gurunya pasti tahu siapa musuh kita bersama?"
Kho Keh-hoa membenarkan, berbareng mereka menoleh ke sana.
Selama beberapa saat itu Cu Jing tidak ikut kemari, dikiranya dia
sudah pergi, tak tahunya dia sedang berdiri menengadah sambil
melamun, entah apa yang sedang dipikirkan. Tempat di mana dia
berdiri jaraknya hanya dua tombak dengan Ban dan Kho berdua,
jadi badan laki2 kurus berbaju .hitam yang mulai membusuk itupun
tidak dilihatnya.
Memang dalam sekejap ini kulit daging si baju hitam bagian atas
sudah mulai jadi cairan darah dan membusuk dengan cepat sekali,
tulangnya
====================================
Jilid 10 Halaman 55/58 Hilang
====================================
--rangan tangan- Soalnya gerakan Jiau-kau-sek ini terlalu
gampang, sekali belajar siapapun pasti bisa, selanjutnya dia ulangi
jurus kedua Bak-kau-sek. tangan kiri pelan2 terayun ringan ke
belakang, sudah tentu gerakan ini dia sudah mahir sekali.
Setelah beberapa kali dia ulangi kedua jurus ini, terasa tiada
sesuatu yang istimewa dalam ke-dua tipu silat ini? Ia heran kenapa
si orang tua berpesan sedemikian serius padanya, nadanya malah
seolah2 bila dirinya berhasil meyakinkan kedua jurus ini takkan
mendapatkan tandingan di kolong langit ini.
Tapi Cu Jing yakin si orang tua tak mungkin berdusta, bisa jadi
kedua jurus yang kelihatan sangat sederhana ini mengandang
intisari ilmu silat kelas tinggi yang tersembunyi? Mengingat hal ini,
tak tertahan dia ulangi berlatih sekali lagi kedua jurus Jiau-kau-sek
dan Bak-kau-sek tadi.
Aneh juga, semakin merasa gerakannya sederhana, semakin
lancar dan enak dilatih, tapi setelah diselami, kenyataan tidak
segampang dugaan semula. Tapi hanya sampai taraf sekian saja,
yang kalau ditanya di mana letak gampangnya gerakan jurus2
pemukul anjing itu ia sendiripun tak mampu memberi penjelasan-
Cu Jing memang bukan orang bodoh, otaknya encer, dari kedua
gerakan sederhana yang sebenarnya sukar diselami ini dia semakin
yakin dugaannya pasti tidak meleset, bahwa di dalam kedua jurus
ilmu silat yang sederhana ini tersembunyi ilmu silat taraf tinggi.
Sesaat dia menengadah, melongo mengawasi langit.
Begitulah, waktu Cu Jing memburu kesana, sementara itu yang
berbaju hitam sudah tinggal tulang yang berwarna hitam, berdiri
tegak dan seram kelihatannya, keruan dia bergidik serunya kaget:
"kenapa dia?"
"Mati minum racun," kata Kho Keh-hoa.
Ban Jin-cun sedang ambil pedang milik laki2 berbaju hitam tadi
katanya: "Pedang inipun dilumuri racun, racunnya bukan sembarang
racun, belum banyak orang2 Kangouw ya memakai racun, seperti
ini, maka tidak sulit untuk menyelidiki asal-usulnya."
"Waktu ibunda saudara Ban meninggal, tangannya menggengam
senjata rahasia yang dilumuri racun juga, dalam Bu-lim yang
terkenal suka memakai racun hanya keluarga Tong di Sujwan,
marilah kita meluruk ke Sujwan saja," ajak Kho Keh-hoa.
Karena badan sudah luluh menjadi cairan darah hitam. maka
sarung pedang si baju hitam yang semula tergantung di
pinggangnya ini terjatuh di tanah dan berlumuran darah kotor, Ban
Jin-cun tidak berani mengambilnya, maka dia tetap genggam
pedang milik si baju hitam, katanya sambil memberi hormat pada
Cu Jing,
"Berkat usaha saudara cu yang mulia dan bijaksana sehingga
permusuhan keluarga kami berdua tidak sampai berlarut2
menimbulkan korban pula, bangsat inipun sudah mati minum racun,
tiada keterangan yang dapat kita peroleh, oleh karena itu, kumohon
Cu-heng suka menjelaskan satu hal"
"Ban- heng mau tanya soal apa?" jawah Cu Jing.
"Cu-heng kemari atas perintah guru untuk melerai permusuhan
kedua keluarga kami, jadi mestinya tahu siapa sebetulnya musuh
keluarga kami bukan?"
"Wah, maaf, aku justeru tidak tahu apa2," ucap Cu Jing sambil
menggeleng,
"Cu-heng mungkin tidak tahu, tapi gurumu pasti tahu, entah
siapakah gelaran nama gurumu?"
Merah muka Cu Jing, karena tidak biasa berbohong, terpaksa ia
berterus terang apa yang terjadi sebenarnya.
"Jadi Cu-heng juga tidak tahu siapa gerangan cianpwe kosen
itu?" tanya Kho Keh-hoa. Cu Jing mengiakan sambil menggeleng.
"Aku yakin beliau pasti tahu siapa musuh keluarga kami, tapi
tiada harapan lagi untuk menemukan jejak orang tua ini," demikian
keluh Kho Keh-hoa.
"Menurut apa yang kutahu," ujar Ban Jin-cun sesaat kemudian
setelah merenung, "banyak sekali tokoh2 kosen yang lihay dalam
Bu-lim, tapi yang memiliki kepandaian sakt i seperti orang tua itu
hanya ada seorang saja, malah dari cara beliau campur tangan tadi,
tak ubahnya seperti sepak terjang cianpwe kosen yang suka
mengembara itu .... ..".
"Siapakah cianpwe kosen yang saudara Ban maksudkan?" tanya
Kho Keh-hoa.
"Hoan jiu ji lay," sahut Ban Jin-cun.
"Betul," tukas Kho Keh-hoa, "cuma orang tua ini mirip naga yang
hanya kelihatan eklornya dan menyembunyikan kepala, entah
kemana saja dia pergi, cara bagaimana kita menemukan beliau?"
Cu Jing jarang berkelana di Kangouw, dia tidak tahu siapa Hoan
jiu ji- lay yang dibicarakan ini, tapi dia malu untuk bertanya.
"Di atas Pak-siam-san ada bersemayam seorang kosen bergetar
Cu-ki-cu, dia amat apal terhadap segala peristiwa yang terjadi di Bulim,
kejadian masa silam dan apa yang bakal terjadi pada masa
yang akan datangpun dapat dia ramal dengan tepat, dari sini ke
Pak-siam-san tidak jauh lagi, marilah kita ke sana dan tanya
padanya, mungkin dari mulutnya kita bisa mendapat keterangan
asal-usul racun dan senjata rahasia seperti bintang itu. Bagaimana
pendapat Kho-heng?"
"Akupun pernah dengar nama Cu-ki-cu ini" ujar Kho Keh-hoa,
"konon sangat luas pengetahuannya dan tinggi ilmunya, mahir
memecahkan segala kesulitan di dunia ini, tiada jeleknya kita
mengadu untung dan tanya padanya."
Ban Jin-cun melirik ke arah Cu Jing, tanya-nya: "Apakah Cuheng,
ada minat ikut bersama kami ke Pak siam-san?"
"Aku masih punya urusan lain, maaf tak dapat mengiringi
perjalanan kalian," sahut Cu Jing.
"Baiklah kita berpisah di sini saja, semoga jaga diri baik2 dan
selamat bertemu pula," ujar Ban Jin-cun.
Kho Keh-hoe juga menjura, katanya: "Ber-hati2lah saudara cu."
Maka merekapun berpisah, Cu Jing sendiri tidak punya tujuan
pasti, dia ingat si orang tua pernah bilang "kalau sempat pulang,
nanti malam kita bertemu di Lam-pak-ho," maka dia berkeputusan
untuk menemui si orang tua misterius itu nanti malam di restoran
Lam-pak ho.
Waktu itu sudah magrib, Cu Jing langsung kembali ke Lam-pakho
mengambil kuda terus cari penginapan, dia memilih kamar yang
terletak di ujung belakang, tempatnya nyaman dan sepi.
Setelah membersihkan badan, untuk membuang waktu, Cu Jing
tutup pintu, seorang diri dia ulangi latihan kedua jurus Jiau kau-sek
dan Bak-kau-sek itu, sekarang dia betul2 yakin, walau kedua jurus
itu namanya aneh dan lucu, ternyata mengandung ilmu silat tingkat
tinggi yang tiada tara-nya, maka kali ini dia betul2 tumplek seluruh
perhatian untuk mengulang kembali, gerakannya kini jauh lebih
lamban dan mantap.
Tak terduga setelah sekian lama ia mengulang beberapa kali,
meski diketahui bahwa di balik gerakan sederhana itu mengandang
intisari yang mendalam, tapi semakin dianggap t inggi dan
mendalam kenyataan berbalik terasa sepele dan biasa saja, tiada
tanda2 mukjijat yang dia temukan- Begitulah setelah dia latihan
beberapa kali, keringat sudah gemerobyos baru dia menemukan
letak rahasia sebenarnya dari kunci kesederhanaannya.
Yaitu jangan kau pandang kedua jurus sederhana ini begitu tinggi
dan mujijat, semakin mujijat yang kau tafsirkan, maka kau akan
mengerahkan hawa murni dan mengerahkan tenaga, gerakanpun
jadi lamban, itu berarti permainanmu menjadi kaku dan kurang
wajar, kurang variasi dan tiada perubahan- Tapi sebaliknya jika kau
pandang kedua gerakan sederhana ini sebagai sangat gampang dan
sepele saja, maka dengan mudah pula kau akan menguasai setiap
gerak tipunya.
Dengan penemuannya ini, tidak kepalang senang hati Cu Jing,
pikirnya: "Setengah harian aku bersusah-payah, meraba sana sini,
tak tahunya be-gini mudah dipecahkannya."
Hari sudah gelap. pelayan datang membawakan makan malam,
tapi Cu Jing menolaknya dengan alasan sudah janji makan di
restoran dengan seorang kenalan- Cu Jing lantas bawa cit-sing-kiam
dan keluar.
Sinar lampu sudah menerangi segenap pelosok kota, orang yang
lalu lalang dijalan raya semakin ramai, lebih berjejal dari siang hari,
banyak muda mudi yang pelesir dan berbelanja di toko2, tapi Cu
Jing tiada minat melihat keramaian kota, langsung ia menuju ke
Lam-pak-ho terus naik ke loteng tingkat dua
Pelayan yang siang tadi melayani Cu Jing memilih meja dekat
jendela, kali ini Cu Jing tidak mau banyak bicara, setelah memesan
beberapa masakan dan melongok pemandangan jalan raya di
bawah sana.
Pada saat dia melihat2 itulah mendadak didepan sebuah toko
kain sana berdiri seorang berbaju hitam, orang itu tengah
menengadah mengawasi ke arah dirinya. Semula dia tidak ambil
perhatian dan melengos kejurusan lain, tapi pikirannya tiba2
tergerak, dandanan dan muka si baju hitam ini mirip benar laki2
kurus, berbaju hitam yang mati ditanah lapang tadi siang itu, lekas
dia melongok ke sana pula, tapi bayangan orang berbaju bitam itu
sudah tiada lagi, entah ke mana?
Kebetulan pelayan menyuguhkan hidengan yang dia pesan-
Dengan pejam mata Cu Jing coba menghirup seteguk arak. Kiranya
dia belum pernah minum arak. baru hari ini akan coba2 seorang diri.
Tiba2 terdengar seorang bersenandang dengan suara seperti
bambu pecah: "Hwesio kere (miskin), kere Hwesio, tak punya batok
tiada pondok. Tidak sembahyang, tidak menabuh genta, Telanjang
kaki, kelana ke-mana2. jubah koyak untuk menahan angin kencang,
demi membangun kelenteng bobrok. cari sedekah di rumah arak,
bertemu dengan orang berjodoh (dermawan), daging arak harap
menyuguh"
Menyusul di ujung tangga loteng lantas muncul pula seorang
Hwesio kelilingan-
Hwesio ini mengenakan kopiah rombeng, jubah kelabu yang
dipakainyapun sudah bertambal sulam, tapi badannya gemuk putih,
alisnya nan uban menjuntai panjang ke samping, kedua tangan
terang kap didepan dada dengan cengar-cengir dia mondar-mandir
di antara tetamu yang memenuhi meja makan, lalu katanya dengan
suara lantang: "Silakan, silakan, Hwesio kere berkelana di dunia
fana, sebelum pulang ke alam baka, entah tuan dermawan mana
yang berjodoh dengan sang Buddha, semoga dapat rejeki besar dan
bernasib baik. Siancay, Siancay, omitohud" sembari mengoceh
kakinya melangkah ke sana-sini, dan sepasang matanya berjelilatan
kian- kemari.
Pada suatu meja, kebetulan dua orang tamu sedang saling
dorong menyodorkan cangkir arak, Hwesio keretiba2 berhenti di
sana, dengan kedua tangan dia jemput kedua cangkir arak itu
sembari berkata dengan tawa lebar: "Kalian tidak perlu sungkan,
kedua cangkir arak ini biar aku Hwesio kere yang minum saja" Satu
tangan satu cangkir-ganti berganti dia tenggak habis isi kedua
cangkir arak.
Sudah tentu kedua tamu itu gusar, orang disebelah kiri
menghardik murka: "Hwesio jembel, apa2an kau ini?"
Si Hwesio kere tertawa lucu, katanya: "Demi secangkir arak
kalian tolak sana dan dorong sini hingga muka merah padam,
Hwesio kere orang beribadah dan suka menolong sesama manusia,
biarlah aku mewakili kalian minum arak ini, kan beres?" sembari
bicara tahu2 tangannya, mencomot sepotong daging terus dijejal ke
mulut.
Tamu di sebelah kanan menggebrak gusar, bentaknya: "Kenapa
kau ambil makanan dengan tangan telanjang?"
"Setelah minum arak harus didorong dengan daging baru arak
bisa turun ke perut." demikian kata Hwesio itu. "Sedekah sepotong
daging ini akan Hwesio kere bawa kedunia akhirat, sebagai sangu
untuk menghadap sang Buddha, bukankah berarti kau telah
berdarma bagi sesamanya, budi kebaikanmu akan dikenang
sepanjang masa." Habis berkata, dia terus melangkah pergi
Kedua tamu itu hanya mencaci maki tanpa bisa berbuat apa2.
Hwesio itu tidak hiraukan kedua tamu yang mencak2 itu, kembali
mulutnya tarik suara bersenandung pula: "Daging harus
dipanggang, arak harus dimasak, makan daging minum arak di
dunia fana. biar sepatu butut, jubah koyak ditertawakan orang,
memangnya aku bukan manusia gede atau orang kaya"
Tenggorokannya mengeluarkan suara serak aneh dan sumbang
seperti bambu pecah, tapi dia justeru bersenandung dengan
gembira sambil berjoget segala.
Sembari jalan matapun jelatatan, ia longok sana toleh sini yang
diperhatikan hanya meja para tamu, akhirnya dia menuju ke meja
yang ditempati Cu J ing, mendadak ia berhenti serta ter-gelak2
riang, katanya: "Memang di sini lebih sunyi dan bersih"
Kepada Cu Jing dia memberi salam lalu berkata: "Sicu duduk
sendirian di sini, agaknya ada jodoh dengan sang Budha, hidangan
untuk Hwesio kere hari ini agaknya tidak. . menjadi kapiran-" ..
Tanpa tunggu jawaban Cu Jing, dia tarik kursi terus duduk
dihadapannya.
Tingkah laku Hwesio miskin ini kelihatan sinting, tapi kata2
senandungnya tadi memang tepat, mau tidak mau timbul rasa
hormat Cu Jing terhadap Hwesio ini, lekas Cu Jing menjura, katanya:
"Silakan duduk. Toasuhu."
Hwesio kere menyengir, katanya manggut2: "siausicu memang
berbakat sejak kecil, kau memang berjodoh dengan ajaran Budha,
terpaksa aku Hwesio miskin mengganggumu saja." Habis berkata
dia lantas menggebrak meja, serta menggembor keras2: "Pelayan- .
. . pelayan....."
Seorang pelayan berlari datang, serunya sambil mengerut
kening: "Hwesio, kenapa berkaok2?"
Berdiri alis panjang si Hwesio, katanya dengan mendelik:
"Pelayan, restoran ini kan melayani orang ,makan minum? Bahwa
Hwesio kere sudah datang kemari juga berarti tamu, kenapa seenak
perutmu main panggil Hwesio segala?"
"Habis harus kupanggil apa ?" tanya sipelayan bingung..
"Lain kali kalau ada Hwesio kemari, kau harus memanggilnya
bapak Taysu, kalau yang datang Hwesio setua diriku ini, maka kau
harus memangilnya kakek Taysu."
"Sering kudengar orang hanya memanggil Tay-su saja, mana ada
yang memanggil bapak Taysu atau kakek Taysu?" sipelayan
menggerundel.
"Hai jadi kau sudah tahu, lalu apa bedanya Taysu dan bapak
Taysu? Memangnya ayahmu bukan bapakmu?"
Sipelayan tidak sabar lagi, serunya: "Sudahlah, kau makan apa?"
"Kau tidak memanggilku kakek Taysu, kalau sang Buddha marah,
kau akan dihukumnya terperosot jatuh."
"Sudah puluhan, tahun aku jadi pelayan di sini, belum pernah
terpeleset jatuh, lekaslah kau pesan apa?, cuma di sini tidak sedia
hidangan ciacay (vegetarian)."
"Ya, ya Hwesio kere memang tidak pernah membaca mantra,
sudah tentu tak perlu ciacay segala"
"Baiklah, lalu kau pesan apa?" tanya sipelayan, dia tetap tak mau
panggil Taysu.
"Nah, dengarkan, seporsi daging empal, satu porsi sayap bebek.
dua kati arak. tapi suruh koki masak dulu seporsi paha ayam
panggang, semangkok besar kuah ikan, udang, jamur dan daging
babi,." seorang diri tapi santapan yang dipesan ternyata sangat
banyak.
pelayan mangiakan saja terus putar tubuh menuju ke belakang.
Tak lama kemudian dia sudah balik dengan tangan kosong. Tapi
sebelum dia datang ke depan si Hwesio, tiba2 kakinya keserimpet,
kontan tubuhnya terbanting jatuh. Untung dia tidak membawa
nampan hidangan,jatuhnya amat keras, dengan menyengir
kesakitan pelayan itu merangkak bangun, tangan meraba2 pantat
serta menghampiri dengan ter-pincang2.
Hwesio tadi tergelak2, serunya: "Nah, tadi Hwesio kere sudah
bilang, kau tidak mau panggil kakek Taysu. padaku, sang Buddha
kini betul2 marah serta menghukummu." Tiba2 dia bersuara kaget
dan tanya: "He, mana pesananku, kenapa tidak kau bawa kemari?"
Diam2 tergerak hati Cu Jing, dia duduk di depan si Hwesio,
hakikatnya dia tidak melihat Hwesio itu menunjuk gerak apa2. Tapi
sipelayan di-buatnya jatuh bangun.
Dengan mendongkol si pelayan tertawa dingin: "Masakan yang
kau pesan semua berharga dua tahil, bayar dulu."
Mendelik si Hwesio, teriaknya marah: "Memangnya kau kira
Hwesio kere makan tak membayar?"
"Sudah sering orang gegares gratis di sini, kau seorang diri, tapi
pesan hidangan terlalu banyak. terang sengaja . . . . "
Si Hwesio berjingkrak marah, dia cengkeramdada baju sipelayan,
teriaknya gusar: "Kau kira aku mau makan gratis? Hwesio kere
memang miskin, tapi kebetulan aku bertemu dengan seorang
dermawan yang ada jodoh, tanpa tanya kau lantas pandang orang
rendah dengan mata anjing, kalau aku masih muda seperti dulu,
sudah kulempar kau keluar jendela, tahu?" Sembari bicara, seperti
menjinjing seekor ayamdia angkat tubuh pelayan terus diulur keluar
jendela sehingga kontal-kant il di udara.
Sudah tentu sipelayan menjerit ketakutan setengah mati,
ratapnya: "Kakek Taysu, ampunilah jiwaku, hamba ada mata tidak
melihat gunung, kau. . . . .jangan kau lepaskan peganganmu.."
Sudah tentu semua tamu yang ada di atas loteng sama kaget
dan melongo heran melihat Hwesio ini memiliki tenaga begitu besar
serta mempermainkan sipelayan-.
Hwesio itu cekakakan, dia tarik tangannya dan turunkan
sipelayan di lantai, katanya: "Sejak tadi kau panggil kakek Taysu
kan beres?" Lalu dia tuding Cu Jing dan katanya pula: " Kau tanya
Sicu ini, maukah dia membayar semua rekeningku nanti?" saking
ketakutan, begitu diturunkan segera sipelayan mendeprok di lantai.
Lekas Cu Jing berkata: "Ucapan Taysu ini memang tidak salah,
apa yang dimintanya boleh kau sediakan, rekeningnya aku yang
bayar."
Sudah tentu si pelayan jadi kapok betul2, lekas dia kerjakan apa
yang dipesan. Agaknya memang t idak sabar lagi, begitu arak
diantar, Hwesio itu lantas angkat poci terus tuang arak langsung
kemulut sampai habis, katanya sambil seka mulut dengan lengan
bajunya yang kotor: "Sedap. Segar Hayolah Siausicu jangan
sungkan, mari, mari" pakai sumpit atau sendok segala, kedua
tangannya bekerja bergantian mencomot daging dan menggaruk
ikan ke dalam mulut, begitu lahap dia makan sambil mulut kecap2
keras seperti induk babi.
Diam2 Cu Jing mengerut kening melihat cara makan seperti
orang kelaparan itu, mulut Hwesio itu terus bekerja, belum lagi paha
ayam dilalap habis, arak sudah dituang ke mulut lagi, lalu
menyeruput semangkok kuah ikan pula, begitu sibuk dia sikat
semua hidangan dihadapannya tanpa rikuh sedikitpun- .
Memang saatnya orang makan malam, maka restoran ini penuh
sesak. keadaan menjadi ribut dan gaduh, Cu Jing tidak hiraukan si
Hwesio yang sibuk makan seadiri, dia Celingukan kian kemari,
matanya sibuk mencari si orang tua misterius yang ternyata tidak
kunjung tiba.
Sementara hidangan si Hwesio sudak dilalapnya habis satu
persatu, sambil tertawa dia memicing mata si Hwesio tepuk2
perutnya yang gendut, katanya sambil ngakak: "Hari ini kau sudah
kenyang dan puas bukan? Semua ini berkat kebaikan Siau-sicu. ini
yang berjodoh dengan sang Buddha, memberi sedekah dan
membayar rekening, tak terbalaslah luhur budinya, omitohud" Lalu
dia rangkap kedua tangan sambil mundur tiga langkah, setelah
memberi salam terus tinggal pergi dengan langkah sempoyongan..
Tapi, baru tiga langkah mendadak dia berpaling katanya, sambil
pandang Cu Jing dengan sikap lucu seperti mabuk:." Siausicu tidak
perlu menunggu pula, orang yang kau tunggu malam ini tidak akan
datang lagi." .
Cu Jing melengak. tanyanya "Darimana Taysu tahu ?. ."
Hwesio jembel tertawa lebar, ujarnya: "Yang kau tahu sudah
tentu Hwesio juga tahu, apa yang kau tidak tahu Hwesio tetap tahu,
kalau Hwesio kere tidak tahu, memangnya siapa yang tahu?" -
Sembari bicara dengan sempoyongan dia melangkah ke arah
tangga.
Melihat tingkah orang yang angin2an itu, tiba2 tergerak hati, Cu
Jing, dia ingat apa yang pernah dikatakan Ban Jin-cun bahwa orang
tua misterius itu mungkin adalah Hoan-jiu-ji-lay, walau dia tidak
tahu siapa itu Hoan jiu ji-lay, tapi kalau dia berjuluk "Ji-lay" tentu
dia seorang Hwesio mungkinkah Hwesio kere inilah Hoan-jiu-ji-lay?.
"Tak salah lagi, kalau tidak bagaimana dia tahu aku ada janji
dengan orang, iapun tahu orang tua itu tidak akan datang lagi?
Setelah datang dan pergi dengan kenyang dan mabuk, sudah tentu
dia tidak akan datang pula, maka diriku disuruh jangan menunggu
lagi." cepat Cu Jing berdiri, teriaknya: "Pelayan, berapa
rekeningnya." Dia rogoh sekeping uang perak terus ditaruh di meja.
"Sisanya buat kau" habis berkata dengan setengah berlari dia
terus turun loteng.
Hanya beberapa detik saja jarak antara si Hwesio pergi dan dia
berlari menyusul ke bawah, tapi waktu dia tiba di bawah sana,
bayangan si Hwesio sudah tidak kelihatan lagi?
Pasar malam masih ramai di luar, orang berlalu lalang berjejal, ke
mana lagi dia akan mencari si Hwesio. Pula orang sengaja tidak mau
bicara lebih lanjut, umpama dikejar juga orang t idak mau
menemuinya.
Sekian lama Cu Jing berdiri melongo mengawasi orang2 yang
bersimpang siur dijalan raya, sesaat kemudian baru dia beranjak ke
ujung jalan sana langsung kembali ke tempat penginapannya .
Malam sudah larut, para tamu yang lain sudah masuk kamar dan
tidur, maka Cu Jing langsung menuju ke kamarnya, waktu dia
membuka pintu kamar dan hampir melangkah masuk, tiba2 dia
tertegun dan berdiri mematung.. Dilihatnya seseorang duduk dikursi
didekat jendela sana. Lampu memang tidak dinyalakan tapi sinar
rembulan di luar jendela cukup menerangi keadaan kamar sehingga
tertampak remang2. .
Terlihat jelas oleh Cu Jing orang yang berada dikamarnya ini
berpakaian hitam, bermuka kuning, orang ini adalah orang yang
dilihatnya berdiri di depan toko kain tadi, diam2 Cu Jing mengumpat
dalam hati, batinnya: "Kiranya dia memang hendak- cari perkara
padaku."
Si baju hitam angkat kepala, katanya tersenuyum: "Kau hanya
berdiri di luar pintu, memang-nya tidak berani masuk?"
Dingin suara Cu Jing: "Rasanya aku kesasar, salah masuk ke
kamar orang lain."
Pelan2 si baju hitam berbangkit, katanya: "Kau tidak kesasar."
Cu Jing beranjak masuk- katanya sambil menatap orang: "Jadi
saudara yang kesasar ke kamarku?"
"Akupun tidak kesasar," ujar si baju hitam, "Sebab aku sedang
menunggumu."
"Ada urusan apa kau menungguku" tanya Cu Jing.
Berkedip2 mata si baju hitam, katanya setelah menatap lekat2
sebentar: "Aku ingin bicara dengan kau."
Mendadak si baju hitam tertawa lebar, katanya: "Agaknya kau
curiga bahwa aku bermaksud tidak baik, terhadapmu?" Tawanya
manis sehingga kelihatan baris giginya nan putih rata dan amat
kontras dengan kulit mukanya yang kuning. "Kalau dia seorang
perempuan, mestinya dia perempuan cantik, molek. sayang giginya
yang rajin dan putih itu tumbuh di mulut laki2 yang bermuka jelek
dan memuakkan-
Tapi Cu Jing tidak perhatikan senyuman yang kaku, iapun tak
pedulikan gigi orang yang putih indah, sikapnya tetap dingin,
dengusnya: "Umpama betul kau bermaksud jahat, memangnya
kenapa?"
Agaknya si baju hitam memang tidak bermaksud jahat, kembali
ia memandang Cu Jing,
katanya:"ini kamarmu, aku kemari sebagai tamu, sikapmu begini
kaku, apa begini layaknya kau melayani tamu?"
Cu Jing habis sabar, katanya sambil berkerut alis: "Ada omongan
apa lekas katakan saja."
"Kukira kau tidak asing lagi dengan dandananku ini bukan2" ujar
si baju hitam: "Kutahu ke dua, temanmu sudah berangkat ke Paksiam
san-"
Cu Jing mendengus sambil mengawasi muka orang yang kuning
kaku itu: "Hm, agaknya kau serba tahu."
"Apa yang kutahu, belum tentu kaupun tahu," ujar si baju hitam.
"Apa pula yang kau ketahui?" tanya Cu Jing.
Kata si Baju hitam sungguh2: "Kedua temanmu itu mungkin
takkan kembali lagi."
"Apa katamu?" Cu Jing mendelik :"Ban Jin-cun. . . mereka
mengalami bahaya?"
Mendadak dia maju selangkah, berbareng ta-ngan kiri
mencengkeram pergelangan tangan si baju hitam, sekenanya dia
menggentak mundur ke belakang sembari lepas kelima jarinya,
dalam keadaan tidak siaga dan tak terduga2 si baju hitam kena
disengkelitnya jatuh di lantai.
Karena, gugup, tanpa sadar Cu Jing melancarkan gerakan Jiaukau-
sek. dan hasilnya betul2 di luar dugaannya. Tapi dia tidak
pedulikan keadaan si korban, "sret" dia melolos pedang serta
mengancam tenggorokan orang, bentaknya: "Lekas katakan, kalian
mengatur muslihat apa ....."
Tak tahunya bahwa kepandaian silat si baju hitam ternyata juga
cukup lihay, walau pecundang dalam keadaan tidak siaga, waktu
ujung pedang Cu Jing mengancam, cepat dia mengkeret mundur.
Selicin belut tiba2 badannya meluncur di lantai dan mundur
beberapa kaki jauhnya. Dengan tangkas dia melompat berdiri, "s
reng", iapun cabut sebatang pedang panjang, katanya dongkol:
"Kau tidak tahu diri, kalau aku mau mencelakai kau, sejak tadi
jiwamu sudah melayang, tahu2 Seperti tidak mendengar apa yang
dikatakan orang, Cu Jing malah tertawa dingin, jengeknya: "Aku
tidak akan membunuhmu, katakan muslihat apa yang kalian
rencanakan untuk mencelakai jiwa Ban Jin-cun berdua"
Si baju hitam acungkan pedangnya, katanya dingin: "Tidak sukar
jika kau ingin tahu, pertama kau harus kalahkan dulu pedangku, hal
kedua umpama aku yang menang, aku akan tetap menerangkan
padamu,"
Agaknya, dia penasaran karena barusan kena disengkelit jatuh
oleh Cu Jing, maka setelah menang baru dia mau menerangkan
maksud kedatangannya.
Tapi Cu Jing berwatak keras, Tak mau kalah, "kalau aku kalah,
kaupun tidak perlu jelaskan-"
"Jadi kau tidak ingin tahu berita tentang temanmu itu?"
Menyinggung Ban Jin cun, entah kenapa Cu Jing jadi naik pitam,
katanya dengan mata mendelik: "Kau kira aku tidak bisa
mengalahkan kau?" tiba2 pedangnya bergetar terus, menusuk ke
depan.
Si baju hitam miringkan badan tidak mundur dia malah mendesak
maju, sinar pedang berkelebat, menghindari tusukan sembari balas
menyerang. Sasarannya adalah pundak kiri Cu Jing.
Terkesiap hati Cu Jing melihat gerakan lawan yang aneh dan
cekatan, badan setengah berputar, gerakan dipercepat, dalam
sekejap dia berturut menikam tiga kali. Ternyata permainan pedang
si baju hitam juga lincah dan gesit, tiga kali tikaman Cu Jing meleset
semua di samping tubuhnya, ujung bajupun tidak kena. Kini berbalik
sinar pedang lawan berkelebat cepat dan ganas serangannya, Hiatto
mematikan di tubuh Cu Jing menjadi sasaran-
Namun setiap serangan ganas selalu ditarik lagi di tengah jalan,
jelas lawan sengaja mengalah..
Cu Jing jadi marah, segera ia kembangkan ilmu pedangnya,
gerakannya semakin gencar dan sengit, ingin rasanya sekali tikam
dia bikin mampus lawannya, begitulah mereka serang menyerang,
maju mundur silih berganti, belasan gebrak telah berlangsung di
dalam kamar yang sempit itu.
Keringat sudah membasahi badan Cu Jing, dia sudah keluarkan
seluruh kemahiran ilmu pedang-nya, tapi si baju hitam tetap tak
dapat dirobohkan, keruan ia gemas dan gelisah. Mendadak tergerak
pikirannya, sengaja dia melakukan gerakan lambat dan
menunjukkan lubang ... .
Perlu diketahui pedang yang digunakan si baju hitam lebih
pendek daripada Cit-sing-kiam Cu Jing yang panjangnya tiga kaki
lebih itu, oleh karena itu baik maju mundur, menyerang atau
membela drii, gerakannya selalu berpadu dengan gemulai tubuhnya
yang lincah dan licin itu, setiap ada kesempatau tentu diterobosnya.
Kini melihat Cu Jing ada lubang kelemahan, cepat ia menyelinap
maju, pedangnya dari menabas berubah menjadi mengetuk. dengan
batang pedang dia mengetuk Hiat-to pergelangan tangan Cu Jing
yang memegang pedang.
Kalau serangannya berhasil mengenai sasaran, maka pedang cu-
Jing pasti terketuk jatuh. Tak ter-duga2 tiba2 ia merasakan
pergelangan tangan kanan sendiri kesemutan kaku, entah
bagaimana Cu Jing telah menangkap urat nadinya, berbareng ujung
pedang mengancam tenggorokannya. Terdengar Cu Jing berkata
dengan nada kemenangan dan puas: "Tak kau lepaskan
pedangmu?".
Kiranya dalam keadaan terdesak. serta merta Cu Jing
melancarkan gerakan Jiau-kau-sek, betul juga dengan mudah dia
berhasil membekuk si baju hitam. ....
Berkedip mata si baju hitam yang besar dan jeli itu, pancaran
sinarnya marah, tapi juga kagum dan memuji, namun mulutnya
menjengek: "Hanya gerakan begini saja kemampuanmu. ."
"cukup Asal bisa membekukmu" jawab Cu Jing "Lempar
pedangmu dan bicaralah terus terang."
Si baju hitam sedikit meronta, katanya: "Lekas lepaskan, baiklah
akan kukatakan, memangnya Aku kemari hendak memberi kabar
padamu, kalau tidak buat apa aku menunggumu di sini?"
"Kau hendak memberi kabar padaku?" Cu Jing menegas. .-. . .
Terpancar rasa masgul pada sorot mata si baju hitam, katanya:
"Kau masih tidak percaya?"
"Mengapa tingkah lakunya seperti anak perempuan,?" demikian
batin Cu Jing. Segera ia turunkan pedangnya, katanya: "Asal kau
bicara terus terang, kulepas kau pergi."
"Baiklah, lepaskan dulu tanganmu."
Yakin orang takkan bisa meloloskan diri, Cu Jing lantas lepaskan
peganannya. Si baju hitam lantas simpan juga pedangnya, lalu dia
meraih kain hitam yang mengikat kepalanya, rambut panjang hitam
kilap seketika terurai di pundaknya. . . Cu Jing berseru kaget: "Kau
perempuan?"
Si baju hitam tertawa lebar, kembali ia menanggalkan kedok
mukanya yang tipis. Wajahnya yang tadi kuning kaku mengkilap kini
berubah seraut wajah molek seorang gadis, tampaknya malu2 dan
ingin bicara tapi urung.
Heran Cu Jing mengawasi orang sekian lamanya, tanyanya:
"Siapakah kau sebetulnya?"
"Aku bernama Hek-bi-kwi (mawar hitam)."
"Kalian semuanya perempuan?
"Bukan, mereka adalah orang2 Hek-liong-hwe (sindikat naga
hitam)."
"Kau sendiri bukan anggota Hek-liong-hwe?"
Hek-bi-kwi atau si mawar hitam menggeleng, katanya sungguh2:
"Terus terang, aku sebetulnya, orang Pek- hoa-pang, tapi bertugas
di dalam Hek-liong-hwe, kini tugasku sudah selesai, saatnya aku
harus kembali." Tanpa menunggu Cu Jing bertanya, dia
menambahkan lagi: "Soalnya kedua temanmu yang pergi ke Peksiam-
san sudah diketahui oleh pihak mereka, Hek-liong-hwe sudah
mengirim berita dengan merpati pos, sebelum kedua temanmu t iba
di Pak siam-san mereka sudah pasang jala hendak menjaringnya,
aku tak dapat membantu, terpaksa menyerempet bahaya
mengabarkan hal ini kepadamu, syukur kalau engkau bisa menyusul
mereka serta membujuknya agar membatalkan nitanya untuk
menyelidiki senjata rahasia beracun itu, kalau t idak. orang2 Hek
liong- hwe pasti t idak akan berpeluk tangan, demikian pula kau
sendiri kuberitahu supaya jangan mencampuri urusan ini .... . "
sembari bicara dengan cekatan ia sudah menggelung rambut serta
membungkusnya dengan kain hitam, katanya pula: "Sudahlah, apa
yang ingin kusampaikan sudah kusampaikan, sekarang aku mohon
diri, harap engkau jaga dirimu baik2."
Habis berkata dengan cepat dia melangkah keluar. Tapi di
ambang pintu dia berpaling serta pandang Cu Jing lekat2. Hanya
sekejap ini mukanya sudah kembali menjadi kuning kaku dan
mengkilap. tapi matanya yang bundar besar itu memancarkan
perasaan berat dan kasih mesra, lalu dengan cepat ia berkelebat
keluar dan menghilang.
Diam2 Cu Jing tertawa geli, batinnya: "Agaknya bocah ayu ini
menaruh hati kepadaku."
Si mawar hitam melompat ke atas genting terus keluar dari hotel,
seringan kapas ia melompat turun dijalan raya yang sepi terus berlari2
menpuju ke selatan- Setiba di daerah Sam-koan-tiam takjauh
di depannya dilihatnya bayangan dua orang mengadang di kirikanan
jalan.
Dalam kegelapan darijauh pasti tidak akan melihat dua orang di
depannya ini, untung malam ini ada sinar bulan, maka mawar hitam
segera melihat bayangan kedua orang dari kejauhan..
Betapa cerdik si mawar hitam, melihat dua orang berdiri di
pinggir jalan, karena kawan atau lawan sukar diraba, sudah tentu
dia tidak berani mendekat secara gegabah, segera dia berhenti
beberapa jauh dari mereka. Begitu dia berhenti, ke dua bayangan
orang itu mulai bergerak dan pelahan2 mendekati dirinya. . .
Mawar hitam tetap berdiri tak bergerak. tapi jari2, tangan
kanannya sudah menggenggam gagang pedangnya. Cepat sekali
seperti bayangan setan kedua orang itu sudah berada
dihadapannya. Kini mawar hitam melihat jelas kedua orang ini sama
mengenakan seragam hitam, mukanya juga kuning seperti malam,
seorang lagi mukanya malah lebih legam sehingga tertampak
menyeramkan-
Kini mawar hitamdapat melihat jelas kedua orang ini teman yang
tadi bertugas bersama dirinya, yaitu dengan kode huruf kuning
nomor 27. "Bukankah mereka bertugas menguntit Ban Jin-cun dan
Kho Keh-hoa menuju ke Pak-siam-san? Tapi kedua orang itu
mendadak muncul di sini," keruan ia kaget, lekas dia memberi
hormat, katanya: "Hamba huruf kuning 29, menyampaikan hormat
kepada Sincu"
Ternyata laki2 muka kuning kelabu bernama Sin-cu "sincu adalah
suatu jabatan tertentu di dalamHek-liong-hwe.
"Nomor28," desis laki2 muka kelabu, "Kau tahu apa dosamu?”
Bergetar hati mawar hitam, tapi dia memakai kedok, sudah tentu
perubahan air mukanya tidak -kelihatan, tapi sikapnya kelihatan
gugup, sahutnya: "Entah hamba melanggar kesalahan apa?"
"Budak bernyali besar," damperat laki2 muka kelabu,
"dihadapanku masih berani mungkir."
"Harap Sincu periksa yang betul, hamba betul2 tidak tahu
berbuat kesalahan apa? Memangnya melanggar peraturan
organisasi? "
si muka kelabu menjengek dingin: "Apa betul kau tidak tahu?
Baiklah, nornor 27 jelaskan padanya."
Laki2 muka legam mengiakan, dengan menyertingai dia berkata:
"Sebelum berangkat menunalkan tugas kali ini hamba menerima
perintah rahasia Ji tongcu, beliau merasa nomer 28 agak
mencurigakan, maka hamba diperintahkan memperhatikan gerakgeriknya
. . . ."
"Aku toh bukan anak buah Ji-tongcu," debat mawar hitam, "dari
mana dia tahu letak kelemahanku sehingga menaruh curiga padaku"
"Kau adalah anak buah cui tongcu," kata laki2 muka legam,
"sudah tentu perintah Ji tongcu ini juga setahu cui tongcu sendiri."
Lalu dia menambahkan: "Setelah nomor sembilan mati menelan
racun, sengaja hamba bilang mau menguntit kedua bocah Ban dan
Ko itu, sebetulnya di Kim-sim-tun pihak kita juga ada orang,
hakikatnya tidak perlu menguntit mereka segala, apa yang hamba
lakukan hanya untuk mengelabui nomor 28 dan mengawasi tingkah
lakunya apakah betul dia melanggar. ..."
"Memangnya aku melanggar aturan apa?" tanya mawar hitam.
"Untuk apa malam ini kau pergi ke hotel Ko-seng-can?" tanya
laki2 muka legam. .
"Karena bocah she cu itu tinggal di hotel itu maka ingin aku
menyelidiki gerak-geriknya, memangnya maksudku ini salah?"
dengus mawar hitam.
"Apa saja yang telah kau bicarakan dengan dia?" tajam
pertanyaan laki2 muka legam.
"Jadi kau menguntitku secara diam2, apa yang kulakukan tentu
sudah kau sakslkan, kenapa tanya lagi?"
"Akulah yang ingin tanya padamu," sambung laki2 muka kelabu. .
Mawar hitam meliriknya, katanya dengan membungkuk hormat:
"Sin-cu boleh tanya nomor 27 saja, yang terang hamba yakin tidak
melakukan kesalahan-"
"Kau tidak usah berdebat lagi, serahkan senjatamu, pulang ikut
aku menghadap Cui-tongcu"
Tanpa terasa mawar hitam menyurut mundur selangkah,
semakin kencang jari2nya memegang gagang pedang, katanya:
"Jadi Sincu juga tidak percaya padaku, baiklah aku akan menghadap
cui-tongcu sendiri"
Sorot matanya yang kelabu menatap mawar hitam, tegas suara si
muka kelabu: "28, kau berani melawan perintah?" Dari dalam
bajunya dia keluarkan seutas rantai lembut, di ujung rantai terikat
sebuah gembok kecil, "trang", dia lempar gembok borgol itu ke
tanah, bentaknya bengis: "Belenggu tanganmu sendiri."
Melihat orang keluarkan borgol, rasanya berdebat juga tak
berguna, maka mawar hitam mundur ber-siap2, katanya tertawa
dingin: "Sin-cu sendiri memaksa aku melakukan pelanggaran-
Baiklah, aku akan kembali ke markas saja," Segera dia putar tubuh
dan lari.
"Bangsat bernyali besar" bentak si muka kelabu. "Kau mau lari?"
Tanpa diperintah laki2 muka legam melolos senjata terus
melompat ke depan menghadang si ma-war hitam, Urusan sudah
kadung begini, terpaksa mawar hitam harus bertindak cepat,
mendadak ia menghardik keras "Minggir"
Begitu pedang terlolos dan bergerak, dengan jurus jun-seng-hwihoa
segera sinar pedang menggulung ke dada laki2 muka legam.
Agaknya orang itu tidak menduga di hadapan sincu orang berani
bergerak senekat ini ehingga si mawar hitam sempat merangsaknya
lebih dulu, maka dia tidak berani menyambut ecara keras, ia
melompat mundur beberapa kaki. Begitu kaki turun ke tanah,
pedangnyapun udah terlolos, bentaknya.: "Perempuan keparat,
berani kau melawan?" Tiba2 ujung pedangnya bergetar, dia
menubruk ke arah mawar hitam.
Sebelum lawan menubruk tiba, mawar hitam membentak seraya
putar pedang dengan kencang, beruntun dia menusuk dan menikam
delapan kali, Delapan kali serangan ini dilancarkan secara ganas,
beberapa kaki sekeliling dirinya bertaburan sinar pedangnya yang
kemilau.
Karena di dahului, si muka legam tepaksa hanya membela diri
sambil mundur, ia kaget danjeri, sembari bertahan mulutnya
berkaok2. "Sincu, coba lihat ilmu pedang apakah yang dimainkan
keparat ini?"
Tujuan mawar hitam hanya meloloskan diri, sudah tentu
serangannya tak mengenal kasihan, beruntun beberapa kali
serangan pedangnya hampir saja menamatkan jiwa si muka legam,
tapi begitu orang mundur, sebat sekali dia tutul kedua kaki terus
melambung setombak lebih jauhnya. Namun waktu ia hendak
mengenjot kalinya lagi, mendadak badannya bergetar, "bluk", tanpa
kuasa ia jatuh terjerembab.
Terdengar si muka kelabu terkekeh sambil menghampiri,
suaranya sinis: "Perempuan hina, dengan sedikit kemampuanmu ini,
memangnya mau lolos dari tangan aku orang she Tin? Lekas katakan,
siapa yang mengutusmu menjadi mata2 di perkumpulan kita?"
dia rebut pedang dari tangan laki2 muka legam, sekali ujung pedang
bergetar, beruntun dia tutuk tujuh kali Hiat-to di tubuh si mawar
hitam.
Karena terjatuh ke tangan musuh, mawar hitam pejamkan mata
saja tanpa bicara, dia pasrah nasib . . .
"Dihadapan orang she Tin jangan kau pura2 mampus, kau akan
menderita tanpa bisa berkutik sedikitpun," desis laki2 muka kelabu,
mendadak ia putar balik pedangnya, dengan gagang pedang dia
mengetuk ke bawah dada mawar hitam. Ketukannya tidak berat,
tapi sasarannya telak. gerakannya-pun berbeda dengan ilmu tutuk
umumnya. Badan mawar hitam seketika mengejang, tanpa kuasa
mulutnya mengerang kesakitan-
Dengan keheranan laki2 muka legam pandang laki2 muka kelabu,
katanya: "Budak keparat ini teramat keras kepala, biar hamba
menyiksanya lebih parah . . "
Laki2 muka kelabu menyeringai: "Tak usah kau turun tangan,
dalam sepeminum teh, mustahil dia tidak mengaku."
Laki2 muka legam mundur dengan ragu2, tapi dia tidak berani
banyak mulut lagi.
"Nah," ujar laki2 muka kelabu, "sekarang tanggalkan kedok
mukanya, kini dia sudah bukan orang kita, tak boleh mengenakan
kedok ini, nanti akan kukorek kedua biji matanya."
Laki2 muka legam mengiakan, segera dia mendekat dan menarik
kedok si mawar hitam.
Dilihatnya wajah si mawar hitam yang molek berubah pucat dan
basah oleh keringat dingin. Dengan hati tak tenteram ia angsurkan
kedok itu kepada atasannya.
Laki2 muka kelabu simpan kedok itu ke dalam bajunya, sikapnya
tampak tenang2, ia berjalan ke sana lalu duduk di atas batu besar
dipinggir jalan sana.
Sementara itu wajah mawar hitam yang pucat berkerut2 itu
sudah dibasahi keringat dingin, badan mengejang dan bergetar
semakin keras, giginya berkerutuk menahan sakit. Jelas dengan
segala daya dia bertahan akan siksaan yang luar biasa ini. Tidak
merintih juga tidak menjerit, hanya giginya yang berkeriut, dia
terima siksaan ini dengan tabah dan berani. Dia tahu setelah rahasia
dirinya ketahuan, dia terima segala akibat yang bakal menimpa
dirinya.
Laki2 muka legam sampai merinding menyaksikan perubahan air
muka si mawar hitam, tapi laki2 muka kelabu justeru tetap
ongkang2 duduk di sana dengan sabar, hatinya seperti terbuat dari
besi tanpa perasaan, seakan2 dia amat puas dan senang melihat
Keadaan si mawar hitam yang begitu menderita. Dengan
terkekeh dingin tiba2 dia berdiri menghampiri, tetap dengan gagang
pedang, kembali dia mengetuk badan si mawar hitam. Kiranya,
ketukan kali ini untuk membuka Hiat-to yang menyiksa mawar hitam
tadi. Si mawar hitam yang sejak tadi duduk bertahan kini menjadi
lunglai dan terkapar di tanah.
Dengan terkekeh dingin si muka kelabu mendelik bengis,
katanya: "Nomor 28, kau sudah rasakan, kenikmatannya?
Ketahuilah, ini baru permulaan supaya kau tahu rasa, yang lebih
enak masih bisa kau rasakan jika kau tetap membangkang,
ketahuilah kesabaranku juga terbatas."
"Bunuhlah aku," teriak mawar hitam serak.
"Memangnya begini mudah?" jengek muka kelabu. "Sebelum kau
mengaku siapa yang mengutusmu kemari? Aku tidak akan
membikinmu mampus,"
Mawar hitam membuka pula matanya, mulutnya terkancing
rapat2.
"Aku tak percaya, memangnya badanmu ini berotot kawat
bertulang besi," demikian ejek si muka kelabu, "Tak mau bicara,
jangan sesalkan aku berlaku keji. ......" ia angkat pedang pula dan
pelan2 gagang pedang kembali hendak menutuk ke dada si mawar
hitam.
Pada saat2 genting itulah, tiba2 dari belakang pohon sebelah
kanan sana orang membentak nyaring: "Berhenti" - Suaranya
merdu, terang itulah suara perempuan, malah perempuan yang
masih muda belia.
Gagang pedang di tangan si muka kelabu yang sudah teracung
berhenti di tengah jalan, ia melirik ke arah datangnya suara, Pohon
di pinggir jalan itu berada beberapa pelukan orang besarnya,
bentuknya menyerupai payung, Tampak dua bayangan orang
melompat keluar dari balik pohon besar itu.
Dua bayangan semampai dan ramping, yang di depan berusia
19-an memakai gaun panjang warna hijau pupus dengan baju
panjang putih mulus, wajahnya tampak jelita dan anggun, di bawah
sinar rembulan yang remang2 kelihatannya dia seperti bidadari yang
baru turun dari kahyangan. Agak di belakang adalah seorang gadis
pula lebih muda berpakaian serba hijau, kuncir rambutnya yang
hitam menjuntai turun menghias dada, dandanannya mirip pelayan,
tapi wajahnya juga cantik molek.
Melihat yang muncul hanya dua gadis ayu, si muka kelabu
tertawa lebar, katanya: "Agaknya kalian memang sekomplotan,
kebetulan kalian akan punya kawan dalam perjalanan ke alam baka,
supaya aku tidak membuang waktu di sini"
Menjengkit alis gadis bergaun panjang, bentaknya: "Kau
membual apa? Kebetulan aku lewat di sini, tak senang kumelihat
perbuatan kejammu ini terhadap seorang gadis lemah yang tak
mampu melawan ini."
Si muka kelabu memicingkan matanya, desisnya tertawa:
"Memangnya kenapa kalian nona2 cantik ini tidak senang. Aku
justru ingin perlihatkan padamu." gagang pedang yang sudah
teracung pelan2 bergerak turun pula.
Gadis baju hijau bertolak pinggang, bentaknya: "Kunyuk kurang
ajar, di hadapan Siocia berani kau bertingkah"
"Memangnya kenapa tuan besarmu ini tidak berani" jengek si
muka kelabu.
"Berani kau menyentuhnya, segera kubuntungi lengan kananmu .
. . . " ancam si nona bergaun panjang dengan gusar..
Si muka kelabu tertawa, katanya: "Budak cilik, kalau tuan
besarmu gampang digertak orang, aku takkan berjuluk Thian-kau
(anjing langit). Nah lihatlah"
Gerak gagang pedangnya lambat2, tapi sudah hampir menyentuh
dada si mawar hitam.
Pada saat itulah jari gadis gaun panjang tiba2 terangkat,
bentaknya: "Betul kau berani ."
Gagang pedang si muka kelabu sudah hampir mengenai
sasarannya, tapi mendadak dia merasa adanya sesuatu yang ganjil,
lengan kanannya itu tahu2 kaku dan pati rasa, lemas tidak menurut
perintah lagi. Baru saja ia terkejut, segera pedang yang
dipegangnya berkelontangan jatuh di tanah.
Sudah tentu laki2 muka legam kaget, tanyanya lirih sambil
memburu maju: "Kenapa Sincu?"
Pucat dan ketakutan membayang pada wajah muka kelabu:
"Lekas pergi" Dengusnya pelahan, cepat dia mendahului berlari
pergi ..
Melihat pemimpinnya lari membawa luka, sudah tentu si muka
legam tak berani tinggal lama2, lekas iapun angkat langkah seribu.
Gadis baju hijau cekikikan, katanya:. "Tidak berguna, sekali
gertak lantas lari mencawat ekor."
Gadis majikannya berkata sungguh2: "Jangan kau pandang
ringan mereka, kepandaian mereka tinggi, kalau bertempur betul2
mungkin aku bukan tandingannya." lalu dia menambahkan- "Lekas
kau periksa luka nona itu."
Dengan langkah ringan dia menghampiri lalu berjongkok di
samping si mawar hitam, katanya, "Entah di mana luka nona, apa
tertutuk Hiat-to mu. ."
Dengan telentang lemas pelan2 mawar hitam membuka mata,
suaranya lemah tak bertenaga: "Terima kasih atas pertolongan
nona, cuma. .... keadaanku sudah payah" matanya berkedip2, tak
tertahan dua titik air mata berlinang dikelopak matanya.
"Di mana lukamu," tanya gadis gaun panjang, "lekas katakan biar
kuperiksa?"
Mawar hitam menggeleng, katanya lemah: "Jangan nona
menyentuhku, aku terkena senjata rahasia beracun keparat itu
........"
"Terkena senjata rahasia beracun?Jangan kuatir aku membawa
obat mujarab, mungkin bisa menawarkan racun dalam tubuhmu."
"Tak berguna," ujar mawar hitam rawan, "racun dibadanku t iada
obat pemunahnya di kolong langit ini, bahwa aku tidak segera mati,
karena Thian-kau-sing (anjing langit) tadi menutuk Hiat-toku
sehingga kadar racun sementara tidak menjalar ke jantung . ....."
lalu dia pandang gadis penolongnya, "nona baik hati menolongku,
ada pesan ingin kut itipkan padamu, entah nona sudi membantuku
lagi t idak?"
"Pesan apa katakan saja, asal bisa kulakukan pasti kubantu
kau.". .
"Terima kasih, di dalam bajuku ada sebuah kantong kain
bersulam, barang ini jangan sampai terjatuh ke tangan orang2 Hek
liong hwe, oleh karena itu terpaksa kutitipkan pada nona ....."
"Kantong ini tentu penting artinya, entah kepada siapa harus
kuserahkan?"
"Penting sih t idak. juga tidak perlu diserahkan kepada siapa2,
cuma tolong kau membakarnya saja, di dalam kantong ada sekeping
besi tipis, di tengahnya ada ukiran sekuntum bunga mawar, besok
pagi tolong adik ini suka cantolkan di mana saja asal dipojok tembok
di pinggir jalan, harus dicantolkan terbalik ke bawah, lalu dilingkari
tinta hitam, cukup di dua-tiga tempat saja, kawan2ku tentu akan
tahu bahwa aku sudah gugur."
"Baiklah, akan kulakukan pesanmu ini."
"Soal ini amat rahasia, waktu membuat lingkaran hitam jangan
sekali2 dilihat orang."
"Aku dan Siau Yan jarang berkelana di Kangouw," kata gadis
gaun panjang, "entah kau dari Pang atau Pay mana?"
"Aku tak berani mengelabui nona, aku orang Pek-hoa-pang,
harap nona tidak ceritakan peristiwa malam ini kepada orang lain-"
"Aku tahu, setiap Pang atau Pay di kalangan Kangouw ada
peraturan dan rahasianya sendiri, aku tidak akan beritahu kepada
orang lain-"
"Baiklah, tolong keluarkan kantong kain dalam bajuku, waktuku
tak banyak lagi " . .
"Biar kuambil," kata gadis baju hijau, segera ia berjongkok serta
merogoh keluar sebuah kantong kecil dari dalam baju si mawar
hitam.
Sekilas melihat cuaca, tak tertahan air mata mawar hitam lantas
bercucuran, katanya sedih: "Masih ada satu hal hampir kulupakan,
di dalam kantong ada sebuah botol kecil warna hitam, setelah aku
mangkat, tolong enci siau Yan tuang sedikit bubuk obat dalam botol
itu ke atas mukaku."
Gadis baju hijau membuka kantong kecil dan mengeluarkan
sebuah botol tanyanya,
"Apakah ini?"
Mawar hitam mengangguk, katanya kepada nona bergaun
panjang: "Apa yang ingin kupesan sudah kukatakan, tolong Siocia
membuka Hiat-toku."
Berkerut alis si nona, katanya "Membuka Hiat-to, bukankah racun
akan segera menyerang jantung? "
"Ya, enam Hiat-to didadaku memang tertutup, tapi setengah jam
lagi racun akan merembes pelan2, penderitaan waktu itu luar biasa,
lebih baik kau buka Hiat-toku supaya racun lekas menyerang
jantung, dengan demikian aku tidak akan menderita. Lekaslah,
harap Siocia tolong diriku."
Si gadis gaun panjang ragu2, katanya:. "Aku belum pernah
membunuh orang, cara bagaimana aku tega turun tangan? . . ."
"Yang membunuh aku adalah Thian-kau-sing. Siocia malah
menolongku, kalau Siocia tidak mem-buka Hiat-toku, karena jalan
darahku tersumbat, racun akan bekerja lambat sehingga siksaan
yang kualami akan jauh lebih mengerikan- Siocia, aku orang yang
hampir mati, kalau kau buka hiat-toku, aku tidak akan tersiksa, lebih
lama lagi."
Akhirnya gadis gaun panjang manggut2, katanya. "Baiklah,
kutolong kau membuka Hiat-to" lambat2 dia ulur tangan, tapi
hatinya tidak tega hingga tanganpun gemetar, tanyanya lagi dengan
sedih: "Kau masih ada pesan apa?" Pilu senyuman mawar hitam,
sahutnya: "Terima kasih, tiada lagi. ."
"Aku. .... .ai, aku.. .. ..sungguh tidak tega turun tangan," kata
gadis gaun panjang sambil menyeka air mata.
Mendadak badan si mawar hitam bergetar terus mengejang dan
berkelejetan, air mukanya berubah hebat, suaranynya gemetar: "
Racun .....sudah mulai . bekerja Siocia le .. lekas . . ." Melihat
penderitaan yang hebat ini, gadis gaun panjang tidak sampai hati,
tanpa pikir ulur tangan ke dada mawar hitam, beberapa Hiat-to,
yang tertutuk tadi dibuyarkannya .
Badan mawar hitam tampak berkelejetan, wajahnya yang semula
pucat berkeringat seketika berubah hitam, darah kental hitampun
meleleh dari mulut hidang dan mata kupingnya.
Bergidik seram si gadis gaun panjang, katanya menghela napas:
"Senjata rahasia yang ganas sekali. Ai, Siau Yan, dia minta kau
menaburkan bubuk obat itu kemukanya, lekas kau lakukan, kita
harus segera berangkat."
Siau Yan mengiakan, dengan tabahkan hati ia taburkan bubuk
obat di botol kecil itu kemuka si mawar hitam, katanya: "Siocia,
marilah lekas pulang ke hotel." wajahnya tampak pucat dan
tangannya gemetar, agaknya iapurt ketakutan- . .
Gadis gaun panjang menggeleng2, katanya: "Tadi. kita sudah
menerima pesannya yang terakhir. setelah membakar kantong kain
itu baru kita pulang. ."
"Dibakar di sini juga, Siocia?" tanya siau Yan. "apa jangan di
tengah jalan, kalau dilihat orang bisa dicurigai, malah bakar di
depan biara bobrok di depan sana"
Pada saat mereka bicara itulah jenazah mawar hitam sementara
itu sudah mulai lumer, kini tinggal cairan darah kuning menggenangi
tanah sekitarnya..
"Siocia memang lebih cermat," ujar Siau Yang, tiba2 ia menjerit
kaget melihat cairan darah kuning itu.
Gadis gaun panjang menoleh sekejap lalu melengos pula,
katanya. "Bubuk obat yang kau taburkan di mukanya tadi tentu
Hoa-kut-san (puyer pelebur tulang), tujuannya untuk melenyapkan
jenazah si korban, agaknya dia tidak ingin orang tahu, asal-usulnya,
maka suruh kita menaburkan puyer pelebur tulang itu pada
wajahnya supaya tidak meninggalkan bekas."
Kejap lain kedua nona ini sudah beranjak memasuki kelenteng
bobrok yang sudah lama tidak dihuni dan dirawat, kecuali untuk
bangunan di bagian depan masih kelihatan utuh, bagian belakang
boleh dikatakan sudah runtuh, rumput sudah tumbuh tinggi di sanasini.
Dari tangan si nona baju hijau, gadis gaun panjang terima
kantong kain kecil itu serta mengeluarkan isinya, ada tiga macam
barang di dalam kantong, yaitu sekeping besi t ipis, bagian depan
terukir sekuntunt bunga mawar, sebuah kedok muka yang tipis
halus terbuat dari karet dan sebatang tusuk kundai, di ujung tusuk
kundai terdapat hiasan bunga mawar warna ungu. Keping besi itu
diberikannya kepada nona baju hijau, kata si gadis gaun panjang:
"Mungkin inilah tanda pengenal mereka, dia minta kau membuat
lingkaran di beberapa tempat di atas tembok di mana saja yang kau
sukai, sekarang kita bakar saja barang peninggalannya ini."
"Dia kan sudah meninggal, buat apa aku harus meninggalkan
tanda rahasia segala?" gerutu gadis baju hijau. "Memangnya siapa
akan perhatikan lingkaran hitam di dinding rumah orang?"
"Kukira orang2 Pek-hoa-pang mereka sering mondar-mandir di
sini, itulah tanda rahasia untuk melakukan hubungan di antara
mereka, tanda yang kau buat pasti akan menimbulkan perhatian
pihak mereka" sembari bicara dia mendekati Hiolo, lalu katanya pula
sambil berpaling: "Siau Yan keluarkan ketikan apimu."
Pada saat itulah, dari kejauhan tiba2 berkumandang derap kaki
kuda ke arah kelenteng ini, tiba2 gadis gaun panjang membalik
badan, katanya lirih: "Ada orang datang"
"Lekas, Siocia bakar saja dan kita kembali ke penginapan," kata
si nona baju hijau.
Tak sempat lagi ujar gadis gaun panjang, "agaknya mereka
memang meluruk kemari, lekas sembunyi" ia celingukan, lalu Siau
Yan ditariknya menyelinap ke belakang t iga patung besar yang
dipuja di kelenteng ini.
Baru saja mereka berjongkok di belakang patung yang penuh
gelaga dan berdebu tebal itu, suara derap kuda sudah berhenti di
depan kelenteng, dari suaranya yang ramai kemungkinan ada
empat- lima orang penunggang kuda yang datang, entah untuk apa
mereka datang ke kelenteng bobrok pada malamgelap begini?
Tampak dua bayangan orang melompat masuk ke dalam
kelenteng, sinar bulan purnama di luar cukup terang, kedua orang
ini tampak berperawakan sedang, semua memakai baju dan celana
setelan hijau, masing2 menggendong buntalan panjang di belakang
punggung, kakinya mengenakan sepatu tinggi, langkahnya ringan
cekatan, jelas mereka memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Begitu masuk ke ruang sembayang, sorot mata mereka tampak
bercahaya terang, dengan seksama mereka memeriksa
sekelilingnya, lalu berpencar ke kanan-kiri, masuk ke arah belakang.
Entah apa yang mereka periksa dan cari, sesaat kemudian
mereka sudah putar balik, seorang yang berperawakan lebih tinggi
berkata, "Bagaimana, Poa-heng, di sini saja?". .
orang itu manggut2, katanya: "Tempat ini memang agak sepi,
boleh saudara Siang istirahat di sini." Sementara temannya itu
sedang mengeluarkan ketikan api lalu menyalakan lilin, keadaan
ruang sembahyang menjadi terang.
Lekas gadis gaun panjang tarik ujung baju si nona baju hijau,
mereka mengkeret ke dalam yang lebih gelap. dari situ mengintip
keluar.
Sementara itu dua orasg telah masuk pula sambil menggotong
sebuah karung besar, orang di sebelah kiri bertubuh kurus agak
pendek, lagaknya seperti anak sekolahan, sementara orang di
sebelah kanan adalah kacung pembantunya, karung besar yang
mereka gotong tampak agak berat, entah barang apa yang ada di
dalamnya?.
Pelan2 dan hati2 sekali kedua orang itu gotong karung itu lalu
ditaruh di depan meja sembahyang, pemuda sekolahan itu menarik
napas sambil menggeliat, katanya pada kedua orang yang masuk
duluan. "syukur tiba di sini, setiba di tepi sungai besok pihak atas
akan mengutus orang menyambut kita, tugas kalian berdua menjadi
selesai, dua hari ini membikin susah kalian saja."
"Nona terlalu memuji," kata kedua orang yang masuk duluan,
"tugas kami adalah Hou-hoa (pengawal bunga/wanita), ini adalah
tugas rutin kami."
Ternyata pemuda sekolahan itu adalah samaran seorang nona.
Sementara kacung itu keluarkan sebatang lilin serta disulutnya terus
ditancapkan diatas meja.
Keruan kedua orang yang sembunyi di belakang patung menjadi
gelisah, pikir mereka:
"celaka, agaknya mereka hendak bermalam di sini, kami
sembunyi di tempat sempit dan sekotor ini, bagaimana baiknya?"
Tengah gadis gaun panjang menimang2, tiba2 didengarnya,
derap seekor kuda tengah mendatangi pula dari kejauhan, lekas
sekali muncul seorang baju hijau dari luar kedua tangannya
membopong buntalan besar.
"Kau sudah menemui Kang-lotoa?" tanya pemuda sekolahan,
memapak kedatangan orang itu.
Pendatang itu meletakan buntalan besar itu di depan pemuda
sekolahan, sahutnya dengan napas memburu: "Sudah kutemui.
Wah, Giok je cici, aku mendengar sebuah berita besar . . . . "
Pemuda sekolahan itu angkat kepala, katanya:
"Berita apa, kau sampai membedal kudamu begitu cepat?"
Sembari bicara dia buka buntalan besar itu, Ternyata isinya adalah
makanan, ada pangsit, bakpau, sayur asin dan makanan lainnya
yang masih mengepul panas.
"Pemuda" bernama Giok-je itu lantas berpaling dan memanggil:
"Marilah kita semua makan bersama"
Kiranya kedua laki2 yang masuk duluan tadi adalah Hou hoa-sucia,
duta pelindung bunga.
mereka duduk mengelilingi buntalan berisi makanan itu serta
melalapnya dengan lahapnya.
Si baju hijau yang baru datang duduk di samping "pemuda"
sekolahan bernama Giokje itu, katanya: "Kabarnya Coat Sin-sanceng
sudah bobol dan hancur."
"coat-sin san-ceng hancur" tampak pemuda sekolahan melengak
kaget, "darimana kau dengar kabar ini?"
"Kang-lotoa yang bilang," kata si baju hijau, "berita ini dapat
dipercaya, Kang-lotoa sudah mendapat petunjuk dari atas, dia
diperintahkan membantu orang2 kita yang melarikan diri bersama
orang2 warung teh di Hin-liong itu."
"Kau tahu siapa gerangan yang menghancurkan coat-sin-san
Ceng?"
"Konon orang Siau-lim-pay bergabung dengan Lohujin keluarga
Tong dari Sujwan." . .
"Cek Seng-jiang memang tiada di sana, lalu bagaimana Hian-ihlo-
sat?"
"Melarikan diri, bagaimana keadaan yang sebenarnya, pihak luar
belumtahu jelas."
"Lalu keempat tamu agung yang berada di sana?"
"Kabarnya semula Hian-ih-lo-sat hendak gunakan mereka sebagai
sandera, tak tahunya racun pembuyar Lwekang di tubuh mereka
sudah punah, tatkala orang2 keluarga Tong dan para Hwesio menyerbu
tiba, keempat tamu agung itupun mendadak berontak.
melihat gelagat tidak menguntungkan, Hian-ih-lo-sat lantas lari
melalui lorong bawah tanah."
"Beberapa bulan sudah berselang, sejak Lok-san Taysu, Tong
Thian-jong dan Un It-hong dikurung di sana tak pernah terjadi suatu
apa, tak nyana setelah Cu-cengcu ini datang, racun pembuyar
Lwekang mereka lantas punah, bukan mustahil semua itu gara2,
Cu-cengcu ini."
Kedua nona yang mencuri dengar dari tempat persembunyian
mereka tergetar hatinya, pikir mereka: "Kiranya ayah diculik
mereka."
"Giok-je cici" terdengar seorang berkata dengan suara tertahan:
"katanya orang yang kita tukar itu adalah Cu-cengcu tulen, orang
yang kita gusur keluar ini hanyalah barang tiruan belaka."
"Entah siapa dia?" ujar "pemuda" sekolahan, "dia berhasil
memunahkan getah beracun, juga memunahkan racun penawar
Lwekang di tubuh Lok-san Taysu bertiga, jelas kalau diapun seorang
ahli dalambidang racun."
Si baju hijau cekikikan, katanya: "Bukankah kita memang
memerlukan tenaga ahli seperti dia ini?"
Baru saja dia habis bicara, kelima orang yang duduk berkeliling
itu tiba2 sama menggeliat dan menguap kantuk. tubuh merekapun
limbung dan akhirnya rebah di lantai. Gadis gaun panjang berkata:
"Siau Yan, mari turun tangan"
"Siocia, jadi kau yang merobohkan mereka?" tanya si nona baju
hijau tertawa.
Gadis gaun panjang melompat turun mendekati karung besar itu,
ujarnya: "Aku akan menolong seseorang."
"Menolong orang? Dimana dia?"
"Di dalam karung ini."
"Siocia tahu siapa yang ada di dalam karung ini?"
"Entahlah, tapi dia pasti orang baik2, kebetulan kita pergoki,
mana boleh membiarkan mereka menculiknya pergi?"
"Siocia, apakah lagi pengikat karung ini harus dipotong?" sembari
bicara Siau Yan sudah keluarkan sebatang golok kecil melengkung.
Baru saja dia bergerak hendak memotong tali pengikat karung,
tiba2 didengarnya seorang berkata:
"Nona Siau Yan, jangan kau potong dengan pisau."
Nona baju hijau alias Siau Yan berjingkat kaget, tanyanya
terbelalak: "Kau bisa bicara?"
orang dalam karung tertawa, katanya: "Aku tidak bisu, sudah
tentu bisa bicara."
"Siapa kau? Dari mana tahu aku bernama Siau Yan?"
"None Siau Yan, bukalah dulu mulut karung ini supaya aku
keluar, nanti kujelaskan-"
Gadis gaun panjang mengangguk sambil berkata kepada siau
Yan: "Lepaskan tali pengikatnya"
Sambil melepaskan tali pengikat mulut karung Siau Yan, berkata:
"Aku tahu, tadi kau dengar Siocia panggil namaku, betul tidak?"
Setelah tali terlepas, dia terus membuka mulut karung lebar2..
Orang dalamkarung pelan2 merangkak bangun dan berdiri.
Perawakan orang ini tinggi, mengenakan jubah hijau pupus
usianya sekitar 45, wajahnya putih cakap. jenggot hitam menjuntai
menyentuh dada. cuma kedua alisnya terlalu gombyok, orang akan
merasa wajahnya berwatak kejam dan suka membunuh. sepasang
matanya tampak bersinar, terang seolah2 pandangannya dapat
meraba jalan pikiran orang, dan orang akan jeri beradu pandang
dengan dia.
Gadis gaun panjang jarang mengembara di Kangouw, sudah
tentu dia tidak kenal siapa laki2 ini, tapi sekilas melihat sorot mata
orang, dia merasa sudah apal dan mengenalnya dengan baik, tak
merasa jantungnya berdebar2.
Laki2 berjenggot hitam memberi hormat, katanya tertawa:
"Sungguh cayhe tak sangka dapat bertemu dengan nona Un disini."
Melengak si gadis gaun panjang, matanya terbeliak. lekas dia
balas memberi hormat dan berkata lirih: "Entah dimanakah cianpwe
bisa kenal diriku?"
Laki2 jenggot hitam tersenyum, katanya: "Aku sudah mengubah
wajah sudah tentu nona tidak mengenalku lagi."
Siau Yan periksa sini dan pandang sana, sekian lama dia
menatap wajah orang, lalu menyeletuk: "Siapakah kau sebenarnya?"
"cayhe Ling Kun-gi," kata laki2 jenggot hitam.
Seketika merah jengah muka si gadis gaun panjang mendengar
nama yang disebut laki2 jenggot hitam, kaget dan girang pula
hatinya. Ling Kun-gi, memangnya perjaka ini yang selalu menjadi
kenangan dan pujaan hatinya?.
"Kau ini Ling siangkong" teriak Siau Yan tidak percaya, "Kenapa
tidak mirip. sejak kapan Ling siangkong memelihara jenggot?"
Ling Kun-gi tertawa, katanya "Tadi aku sudah bilang, aku telah
mengubah wajahku." Lalu dia dia merogoh keluar kantong benang
sulam serta diacungkan ke depan Siau Yan, katanya: "Sekarang
percaya tidak?"
Semakin jengah muka si gadis gaun panjang, serunya girang:
"Siau Yan, memang betul dia, masakah suara Ling siangkong tidak
kau kenali lagi?"
"Hihi, lucu dan menarik sekali, kenapa Ling siangkong menyamar
begini?" seru Siau Yan-
"Aku sedang menyamar sebagai ciam-liong Cu Bun-hoa, cengcu
dari liong-bin-san-ceng." Lalu Kun-gi berpaling ke arah si gadis
bergaun panjang dan katanya pula: "Waktu di Coat Sin-san-ceng,
cayhe pernah berkumpul tiga hari dengan ayah nona. ..."
Ternyata gadis gaun panjang adalah Un Hoan-kun, sebelum Ling
Kun-gi bicara habis, dia sudah menyeletuk: "Bagaimana ayahku?"
"Ayahmu bersama Lok-san Taysu dan Lo- cengcu keluarga Tong
dari sujwan semua berada di Coat Sin-san-ceng, mereka sama2
kena racun pembuyar Lwekang, maka kepandaian silat terganggu
banyak sekali. . . ."
Berkerut alis Un Hoan-kun, teriaknya kuatir: "Lalu bagaimana?
Memangnya siapa penghuni Coat Sin-san-ceng itu?"
"Nona tidak usah kuatir, ayahmu bertiga sudah kusembuhkan,
dari pembicaraan orang2 ini tadi, agaknya Coat Sin-san-ceng sudah
diserbu dan bobol oleh para Hwesio Siau-lim serta Lohujin dari keluarga
Tong, tentunya ayahmu bertiga juga sudah bebas"
"Waktu coat- sin-san-ceng bobol, apakah Ling-siangkong tidak
berada di sana?" tanya Un Hoan-kun.
Ling Kun-gi tertawa, katanya: "cayhe sudah diselundupkan keluar
oleh mereka," Melihat bungkusan besar berisi makanan, perutnya
seketika keroncongan, katanya pula dengan tertawa: "Sudah dua
hari aku berada di dalam karung, perutku sudah berontak minta di
isi."
"Mereka tidak memberi kau makan?" tanya Siau Yan merasa
kasihan-
"Mereka membiusku dengan asap wangi, beberapa Hiat-toku
ditutuk pula, seorang yang pingsan selama beberapa hari sudah
tentu tidak perlu makan," sembari bicara Kun-gi mendekati buntalan
makanan terus duduk bersila, tanpa sungkan dia comot bakpau dan
pangsit terus dimakan dengan lahap . .
Un Hoan-kun dan Siau Yan ikut merubung maju seperti ingat
sesuatu, Siau Yan bertanya: "Ling siangkong, kenapa tadi kau
melarang aku memotong tali itu?"
"Aku hanya ingin keluar sebentar dan mengisi perut, nanti aku
harus meringkuk dalam karung pula, kalau dipotong talinya,
bukankah akan menimbulkan curiga mereka?"
Un Hoan-kun memandangnya penuh rasa mesra, tanyanya: "Ling
siangkong sengaja membiarkan diri di culik mereka, maksudmu
hendak menyelidik ke sarang harimau."
Ling Kun-gi manggut2, katanya: "Betul, sudah beberapa bulan
ibuku hilang, dengan menyaru cu cengcu dan menyelundup ke Coat
Sin-san-ceng tujuanku untuk mencari ibundaku."
Prihatin sikap Un Hoan-kun, katanya: "Apa Ling siangkong perlu
bantuanku?"
Haru dan terima kasih Ling Kun-gi, katanya: "Tujuanku hanya
mencari ibu, tiada niat bentrok dengan mereka, cayhe yakin tidak
akan mengalami bahaya, maksud baik nona kuterima di dalam hati."
Menatap orang, lirih suara Un Hoan-kun: "Tapi kau akan dibawa
ke markas pusat Pek-hoa-pang, kau seorang diri, bagaimana hatiku
takkan- . . . ." sebetulnya dia hendak mengatakan "takkan kuatir",
tapi sampai di situ dia berhenti, mukanya merah jengah dan
menunduk.
Melihat sikap orang yang malu2, tanpa terasa berdebar juga
jantung Ling Kun-gi, katanya:. "Jing sin-tan pemberian nona selalu
kubekal, Pi tok-cu warisan keluargakupun selalu kugembol, aku
tidak takut obat bius, tidak gentar racun, dengan kepandaian sejati,
walau berada di kubangan naga atau sarang harimau, cayhe yakin
cukup mampu untuk menyelamatkan diri." Sampai di sini dia
tertawa, lalu menambahkan- "Hanya satu kuharapkan bantuan
nona, yaitu setelah aku kenyang nanti, tolong ikat pula mulut
karung ini setelah aku masuk kedalamnya, jangan sampai mereka
curiga."
"Aku tahu" ujar Un Hoan-kun manggut2.
"Syukur, malam ini bertemu dengan nona, kalau tidak tentu aku
kelaparan entah berapa hari lagi," kata Kun-gi berdiri, dia
menghabiskan belasan pangsit dan beberapa biji bakpau. "Nona Un,
harap jaga diri baik2, cayhe mohon diri." Lalu dia masuk kembali ke
dalam karung. . . .
Siau Yan lantas mengikat kembali mulut karung dengan tali yang
ada.
Dengan suara lirih Un Hoan-kun berpesan: "Ling-siangkong harus
hati2 dan waspada, menghadapi setiap persoalan-"
"Kalau nona pergi, tolong padamkan api lilin, lalu berikan obat
penawar pada mereka."..
"Jangan kuatir, aku bisa bekerja. tanpa meninggalkan bekas
apapun" sahut Un Hoan-kun. Lalu dia berpesan kepada Siau Yan:
"Enduskan obat penawar kepada mereka, kita harus lekas pergi."
Siau Yan mengiakan, lalu berseru: "Ling-siang-kong, kami pergi
ya"
"Sampai bertemu lagi." ujar Kun-gi di dalam karung. .
Siau Yan keluarkan obat penawar, dengan kuku jari dia selentik
sedikit bubuk kehidung orang2 itu.. Sementara Un Hoan-kun meniup
padamapi lilin, cepat2 mereka berkelebat pergi dan menghilang.
Sampai sekian lamanya, kelima orang yang rebah di lantai sama
membuka mata. orang she Siang yang bertubuh sedang itu, segera
melompat bangun, dia menyalakan api, dan menyulut lilin, ruang
sembahyang kembali terang.
"Sret" sementara laki2 she Phoa melolos pedang, setangkas kera
segera dia melompat ke atas wuwungan, tak kalah sebatnya orang
she Siang segera ikut melompat keluar ke arah lain.
"Pemuda" Giokje, segera berpesan "Liau-hoa, Ping-hoa, lekas
kalian periksa apakah mulut karung pernah disentuh orang?"
Kedua orang itu mengiakan, bersama mereka menghampiri
karung serta memeriksa dengan teliti, lalu kata Liau-hoa: "Tidak
apa2, karung ini masih terikat kencang, tak pernah disinggung
orang."
"Aneh sekali, lalu kenapa tanpa sebab kita jatuh terpulas
bersama." ujar "Pemuda" Giok-je,
"Tadi angin bertiup kencang sehingpa lilin padam, aku hanya
merasa keadaan mendadak jadi gelap"
"mana pernah terpulas?"
"Memangnya akupun tetap berada di sini, hanya sekejap api
padamdan Siang sucia segera menyalakan api." Sela Ping-hoa.
"Tidak mungkin- . . ." ujar Giok-je, sementara itu tampak orang
she Phoa dan she Siang telah melompat masuk.
"Ada yang aku temukan, Phoa sucia?" tanya Giokje,
Orang she Phoa menggeleng, katanya: "Aku naik ke wuwungan,
penduduk di sekitar sini tidak ada, sejauh beberapa li dapat kulihat,
tapi tidak ada bayangan orang." orang she Siang juga berkata:
"Bagian belakang juga tiada orang."
Ternyata mereka lalai akan buntalan makanan yang tertaruh di
lantai, paling tidak beberapa buah pangsit dan bakpau telah
dilangsir ke perut Ling Kun-gi. Mereka tiada menduga api yang
mendadak padam dalam sekejap itu, siapa yang mampu mencuri
makanan mereka? Waktu makan tadi mereka sedang makan minum,
hilang beberapa pangsit dan bakpao tentu dikira dimakan oleh
mereka sendiri.
Liau-hoa si kacung tiba2 bergidik, katanya jeri: "Giok- "cici"
mungkin di sini ada setan."
Merindang juga bulu kuduk Ping-hoa, katanya sambil celingukan:
"Ya, angin tadi terasa dingin semilir membuat aku merinding"
Walau merasa curiga, tapi "Pemuda" Giok-je tak bisa berbuat
apa2, katanya: "Jangan membual, makanan sudah dingin, hayolah
dihabiskan bersama."
-ooo0dw0ooo-
Dari penuturan si mawar hitam Cu Jing mengetahui bahwa Ban
Jin-cun mungkin mengalami bahaya di tengah jalan, entah kenapa
jantungnya jadi dag-dig-dug, semalam suntuk dia gulak-gulik tak
bisa nyenyak. Untung dia menunggang kuda Giok-liong-ki, larinya
jauh lebih kencang daripada kuda biasa, walau Ban Jin-cun dan-
Kho Keh hoa sudah berangkat dulu setengah hari, tapi dia yakin,
masih bisa menyusul mereka, Baru saja hari terang tanah dia sudah
ber-siap2 terus berangkat keluar kota.
Cu Jing jarang keluar pintu, tapi jalan yang harus ditempuhnya
ini sudah apal sekali baginya, sepanjang jalan dia bedal kudanya,
sampai tengah hari dia t iba di Tong-seng, sepanjang jalan ini tidak
dilihatnya bayangan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa, hatinya semakin
murung dan gelisah.
Tanpa masuk kota dia mampir di warung makan di pinggir jala n
dan makan sekenyangnya. Tak lama kemudian dia sudah congklang
kudanya melanjutkan perjalananBeberapa
jam kemudian dia tiba di Sha-cap-li-poh, dipinggir jalan
ada orang menjual minuman.
Pesat sekali Cu Jing membedal kudanya, tapi sekilas ia melihat di
dalam barak penjual minuman tampak bayangan Ban Jin-cun
bersama Kho Keh-hoa yang sedang minum sambil istirahat, keruan
hatinya girang, lekas dia hentikan kudanya terus melompat masuk.
serunya tertawa: Ban-heng, Kho-heng, kirauya kalian berada di sini,
beruntung aku bisa susul kalian"
Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa berdiri menyambut kedatangannya.
"Silakan duduk Cu-heng" kata Kho Keh-hoa.
Cu Jing duduk di samping mereka, dia minta secangkir teh.
Mengawasi Cu Jing, Ban Jin-cun bertanya: "Cu-heng menyusul
kemari, entah ada urusan apa?"
Merah muka Cu Jing, katanya: "Kalau tidak ada urusan buat apa
jauh2 aku menyusul kemari?"
Tanpa tunggu pertanyaan lagi, dia balas bertanya: "Kalian tidak
mengalami sesuatu kesukaran dalamperjalanan?"
"Tidak." sahut Ban Jin-cun heran, "Cu-heng mengalami kejadian
apa?"
"Jadi mereka belum bergerak" Cu J ing menghela napas lega.
"Cu-heng mendengar berita apa?" tanya Kho Keh-hoa.
"Semalam aku bertemu seorang anggota Pek-hoa-pang,"
demikian tutur cu-Jing, "dia bilang komplotan jahat Hek-liong-hwe
mungkin hendak melakukan pencegatan terhadap kalian- . . "
"Pek-hoa-pang?, Hek-liong-hwe?" tanya Ban Jin-cun kepada Koh
Keh-hoa. "Belum pernah kudengar nama ini, saudara Kho tahu?"
"Aku juga belum pernah dengar," sahut Kho Keh-hoa.
"Cu-heng, apa pula yang dikatakan?" tanya Ban Jin-cun.
Sementara pemilik warung seorang kakek tua menyuguhkan
secangkir teh, Setelah orang pergi baru Cu Jing menceritakan
pengalamannya semalam.
"Hek-liong-hwe" ujar Ban Jin-cun, "kukira suatu sindikat gelap
dari Kangouw, memangnya punya permusuhan apa mereka dengan
keluarga kita,? Kenapa ingin main bunuh?"
"Memangnya kita hendak cari mereka, kebetulan biar mereka
rasakan kelihayan kita" kata Kho Keh hoa.
Cu Jing menggeleng, katanya: "orang2 itu jahat dan banyak
muslihatnya, bahwa aku susul kalian ke sini karena kuatir kalian
tidak tahu apa2 dan dikerjai mereka tanpa sadar"
"Terima kasih atas perhatian Cu-heng" kata Ban Jin-cun.
Panas muka Cu Jing, matanya memancarkan cahaya, katanya:
"Sesama saudara, kenapa sungkan?"
"Hayolah kita berangkat, "ajak Kho Keh-hoa.
Ban Jin-cun keluarkan uang bayar rekening, bertiga lantas keluar
menuntun kuda. Tanya Ban Jin cun. "Kalian tahu di mana letak
tempat tinggal Cu-ki-cu di -Pak-siam-san?"
"Kabarnya dia bersemayam di cit-sing-wan (ngarai tujuh
bintang)," ujar Cu Jing, "cuma aku belum pernah ke sana."
"Asal tempat itu ada namanya, tidak sulit menemukannya," ujar
Ban Jin-cun.
Cu Jing menuntun kuda, Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa tidak
membawa tunggangan, maka Giok-liong-ki diumbar jalan sendiri.
Untung jarak Pak-siam-san hanya enam-tujuh li saja, dengan cepat
mereka sudah tiba ditempat tujuan, yang tampak hanya gunung
gemunung, entah di mana letak cit-sing-wan itu?. . .
Dikala mereka berjalan sambil Celingukan, dari jalan kecil di
lamping gunung sana tampak seorang penebang kayu sedang
mendatangi. Ban Jin-cun lantas menapak maju, katanya sambil
memberi hormat: "Numpang tanya pada Toako ini, entah di mana
letak cit sing- wan?"
Sekilas penebang kayu mengamati mereka lalu, menuding ke
timur, katanya: "Dari sini ketimur kira2 lima li, di sana ada Mo-thianhong
(bukit pencakar langit) disanalah letaknya cit-sing-wan." Lalu
dia pikul kayu dan pergi.
Melihat langkah orang yang ringan dan tangkas seperti orang
biasa berlari, diam2 tergerak hati Ban Jin-cun, katanya ragu2:
"langkahnya enteng dan cekatan, agaknya seorang persilatan-"
Begitulah mereka terus menuju ke timur, Giok-liong-ki terus
mengintil di belakang Cu Jing Jarak lima li sebentar saja sudah
mereka tempuh, memang di depan mengadang sebuah puncak
yang bertengger tinggi menembus awan, pepohonan yang tumbuh
lebat, sungai mengalir mengelilingi bukit, pemandangan permai,
hawa sejuk. Mereka maju terus menyusuri sungai terus menanjak
ke atas, di lamping gunung mereka mendapatkan sebuah gubuk
beratap alang2 kering terdiri dari t iga petak berjajar.
Ban Jin-cun berhenti, katanya: "Disini hanya ada gubuk ini,
mungkin itulah tempat semayam Cu-ki-cu."
Tiba di bawah bukit Cu Jing lantas tepuk kudanya dan berkata:
"Giok liong-ki, kau diam disana saja, kalau ada orang
mengganggumu, cukup kau meringkik panjang sekali saja, tahu
tidak?"
Kuda ini sudah paham kata2 orang, matanya berkedip2 seraya
bersuara pelahan serta manggut2.
"Baiklah, mari ke atas," ajak Cu Jing.
Tiba di depan gubuk mereka berhenti, Ban Jin-cun berteriak:
"Ada orang di dalam?"
"Siapakah di luar?" ada orang menyahut di dalamgubuk.
"Kami bersaudara kemari mohon bertemu dengan Cu-ki-cu
Totiang," kata Ban Jin-cun.
Daun pintu yang terbuat dari bambu dibuka pelan2, muncullah
seorang kakek enam puluhan, pipinya kempot jenggot jarang2
menghiasi dagu, memakai jubah butut warna biru yang sudah luntur
warnanya. Sorot matanya jelilatan seperti mata tikus, dengan
seksama dia amati mereka bertiga sebentar lalu bertanya: "Kalian
cari Cu-ki-cu ada keperluan apa?"
Mendengar nada orang, Ban Jin-cun tahu bahwa orang ini pasti
Cu-ki-cu sendiri. Semula dia membayangkan Cu-ki-cu yang terkenal
di kalangan Kangow tentu seorang Tojin yang berpakaian bersih,
bersikap agung, seorang pertapa yang berwibawa dan welas asih.
Tapi kakek dihadanan mereka ini berkepala botak berjenggot
jarang, mukanya tirus lagi, sekujur badannya tinggal kulit
pembungkus tulang, keruan hatinya merasa kecewa, tanyanya:
"Apakah Lotiang ini adalah Cu-ki-cu Totiang."
Sebelah tangan mengelus jenggotnya yang jarang2, kakek itu
tersenyum, katanya: "Losiu memang Cu-ki-cu, silakan kalian duduk
di dalam."
"Ternyata memang Totiang adanya," ujur Ban Jin-cun memberi
hormat. "cayhe bersaudara sudah lama kagum akan nama besar
Totiang, kami sengaja kemari mohon petunjuk." beramai mereka
lantas masuk ke dalam gubug.
Di dalam rumah hanya ada sebuah meja kayu, empat kursi rapuh
tanpa ada perabot lainnya lagi.
Setelah silakan tamunya duduk, Cu-ki-cu batuk2 kering, lalu
berkata dengan nada menyesal.
"Lohu orang gunung, selama hidup jarang kedatangan tamu,
gubugku yang reyot ini tidak sesuai untuk melayani tamu, harap
kalian duduk seadanya saja," sembari bicara dia sudah mendahului
duduk di kursi paling dalam.
Ban Jin-cun bertiga lantas duduk, katanya: "Kami bersaudara
sengaja mengganggu ketenangan Tot iang, mohon Totiang suka
memberi penerangan kepada kami."
"Jadi kalian minta Losiu meramal?" tanya cu- ki-cu
"Totiang sudah lama terkenal, luas pengalaman dan
pengetahuan, terhadap segala peristiwa dan seluk-beluk Kangeuw
amat apal, kami bertiga kemari mohon petunjuk satu hal kepada
Totiang."
"Tentang apa?" tanya Cu-ki-cu.
Dari dalam kantongnya Ban Jin-cun keluarkan buntalan kain kecil
terus dibeberkan di atas meja, isinya adalah sebentuk senjata
rahasia bersegi delapan, dengan kedua tangan dia angsurkan benda
itu, katanya: "Totiang luas pengalaman, entah pernahkah melihat
senjata rahasia macam ini?"
Begitu melihat bentuk senjata rahasia itu, tampak berubah air
muka Cu-ki-cu, dia terima bersama kain buntalannya, dengan
seksama dia bolak-balik memeriksanya, katanya kemudian:
"Sungguh amat menyesal, Losiu hanya tahu senjata rahasia ini
dibubuhi racun jahat. kadar racunnya keras sekali, bentuk senjata
rahasia seperti ini memang belum pernah kulihat."- lalu dia bungkus
kembali serta dikembalikannya kepada Ban Jin-cun.
Sudah tentu Ban Jin-cun melihat perubahan air muka orang
waktu melihat senjata rahasianya tadi, jelas orang sengaja tak mau
bicara terus terang, maka dia bertanya lebih lanjut: "Apakah Totiang
pernah dengar di kalangan Kangouw ada suatu perkumpulan gelap
yang bernama Hek-liong-hwe?"
Cu-ki-cu tertawa sambil mengelus jenggot, katanya: "Sudah 20
tahun Losiu mengasingkan diri di sini, jadi sudah lama terasing dari
percaturan Kangouw, tapi Losiu dapat memberitahu, 20 tahun yang
lalu t iada Hek-liong-hwe dikalangan Kangouw."
Ban Jin-cun menoleh kepada Kho Keh-hoa, sorot matanya
seakan2 menyatakan sia2 kedatangannya ini, mereka bertiga sama
kecewa.
Seperti dapat meraba isi hati mereka, Cu-ki-cu tertawa sambil
memegang jenggotnya, katanya.- "Lo-siuorang gunung, sejak lama
lepas dari percaturan Kangouw, tentunya mengecewakan kalian
bertiga, tapi Losiu bisa meramal, biarlah kalian kuramal saja,
mungkin dari ramalanku dapat kulihat gejaia2 yang dapat
kuberitahukan, entah bagaimana pendapat kalian."
Bahwa Cu-ki-cu pandai meramal memang sudah terkenal di
Kangouw, kini dia bilang mau meramal mereka, sudah tentu sangat
kebetulan. "Harap Totiang suka memberi petunjuk dan petuah,"
kata Ban Jin- cun.
Pelan2 Cu-ki-cu berdiri, katanya: "Kalian ikut Losiu." Lalu dia
putar masuk kamar di sebelahnya.
Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa dan Cu J ing mengikuti di belakangnya.
Itulah sebuah kamar yang dipisah jadi dua, bagian depan adalah
kamar prakteknya, tepat di tengah dinding bergantung sebuah
gambar Pat-kwa, ada sebuah meja, di mana ada sebuah hlolo,
bumbung bambu berisi batang2 bambu kecil bertulisan serta enam
keping uang tembaga, segelas air putih, ada bak. pensil dan kertas,
sebuah kursi mepet dinding, jadi tempat luangnya hanya cukup
untuk tiga orang berdiri saja. Bagian belakang kamar tertutup kain
gordyn, agaknya kamar tidurnya.
Dengan gerakan tangan Cu-ki-cu suruh mereka berdiri jajar di
depan meja, lalu dengan gayanya tersendiri dia duduk di kursi.
Terlebih dulu dia menyalakan api menyulut tiga batang dupa wangi,
entah apa yang diucapkan, mulutnya berkomat-kamit, lalu satu
persatu dia tancapkan dupa itu di atas hlolo, wajahnya tampak
serius dan khidmat, katanya kepada mereka bertiga: "Soal apa yang
ingin kalian tanyakan, boleh kalian berdoa menghadap gambar Pat
kwa di belakangku ini, tapi tidak boleh bersuara."
Mereka menurut dan menghadap gambar Pat-kwa dengan sedikit
mendongak, mata mengawasi gambar Pat-kwa serta berdoa di
dalam hati. Sementara Cu-ki-cu jemput keenam keping mata uang
tembaga terus dimasukkan ke bumbung bambu yang lain, pelan2
dia menggoncang bumbung itu sehingga mengeluarkan suara
berisik, lalu satu persatu dia keluarkan mata uang tembaga itu dan
dijajar di atas meja, dengan melotot dia awasi keenam mata uang.
Sesaat kemudian baru dia angkat kepala mengawasi mereka
bertiga, sikapnya kelihatan aneh, katanya: "Sekarang kalian satu
persatu sebutkan nama masing2."
"cayhe Ban Jin cun" Ban Jin-cun mendahului bersuara. sorot
mata Cu-ki-cu menatap Kho Keh-boa. "cayhe Kho Keh-hoa."
Sorot mata Cu-ki-cu lantas beralih ke arah arah Cu Jing. "cayhe
bemama Cu Jing."
Pada saat itulah mendadak dari bawah gunung terdengar suara
ringkik Giok-Liong-ki yang panjang dan ketakutan- Cu-ki-cu
mendadak mendelik, terbayang senyuman sadis pada mukanya,
sekali raih dia ambil bumbung bambu terus digabrukan keras- keras
di atas meja seraya tertawa: ."Kalian tidak segera roboh, tunggu
apa lagi?" Belum habis dia berkata, Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa dan
Cu Jing mendadak merasakan kepala pusing dan pandangan
menjadi gelap. kedua lutut lemas lunglai, tanpa berjanji mereka
sama jatuh terkapar.
Ooood woooo
Ling Kun-gi meringkuk di dalam karung dan semalam telah
berlalu.
Fajar baru menyingsing, Giok-ji segera perintahkan Liau-hoa dan
Ping hoa angkut karung besar itu ke atas kuda, tanpa membuang
waktu mereka berangkat, setelah keluar kota langsung menuju ke
sungai.
Kota An-khing terletak di utara tiang-kang, merupakan kota yang
penting di darat dan di air maka suasana di sini amat ramai. Giok-ji
berlima tidak hiraukan keramaian sekitarnya, mereka langsung
menghampiri sebuah perahu besar, seorang yang berpakaian kelasi
segera memapak, katanya sambil menjura: "Hamba menyambut
kedatangan Hoa- kongcu "Pemuda" Giok-ji bertanya: " Kau inikah,
Kiang-lotoa?"
Sikap tukang perahu sangat hormat, sahutnya: "Ya, ya, hamba
adalah Kiang- lotoa. Perahu berada di depan sana, silakan turut
hamba."
Mereka menuju ke barat, kira2 lima puluhan meter, betul juga di
mana ada sebuah perahu besar dan t inggi.
Mereka turun punggung kuda, seorang memasang sebuah papan
besar, empat laki2 berpakaian ketat lantas keluar memberi hormat
kepada Giok-je, kata salah seorang: "Kami mendapat perintah
menyambut kedatangan Kongcu"
"Bikin repot kalian saja," kata Giok-je, lalu ia berpaling kepada
Ping-hoa berdua: "Naikkan dulu karung itu ke atas perahu."
Kedua Hoa-hoat-su-cia segera menjura, katanya: "Semoga
Kongcu selamat sampai di tempat tujuan, kami berdua tidak
menghantar lebih lanjut." mereka cemplak kuda terus pergi.
Giok-ji bertiga naik ke atas perahu baru keempat laki2
berpakaian ketat ikut melompat naik, terakhir adalah Kiang- lotoa,
segera dia perintahkan pembantunya pasang layar dan melajukan
perahu ke tengah sungai.
Daripada meringkuk di dalam karung, kini Ling Kun-gi bisa tidur
nyaman di atas kasur, ternyata setiba di atas perahu Giok-ji suruh
Ping-hoa berdua keluarkan Ling Kun-gi serta ditidurkan di
pembaringan- Dia keluarkan sebutir pil dan dimasukkan ke cangkir
berisi teh terus dicekokkan pada Ling Kun-gi, katanya: "Kira2
setengah jam lagi baru dia akan siuman, kalian ikut aku keluar."
pelan2 pintu kamar lantas ditutup dari luar.
Sudah tentu Kun-gi mendengar percakapan mereka. Setelah
mereka keluar segera dia membuka mata, ternyata dirinya
berbaring di dalam kamar yang bersih dan sederhana, dinding
dilembari kain kuning, lantai papan tampak mengkilap. Kecuali dipan
dimana dia rebah, di bawah jendela sana terdapat sebuah meja
kecil persegi dan sebuah kursi. Kalau perahu ini tidak bergoyang
turun naik serta mendengar suara percikan air, orang tidak akan
mengira bahwa kamar ini berada di dalamperahu.
Diam2 Ling Kun-gi membatin: "Entah perkumpulan macam apa
Pek-hoa-pang mereka?"
Satu hal sudah meyakinkan dia bahwa anggota Pek-hoa-pang
semua terdiri dari kaum wanita, malah setiap orang memakai nama
kembang. inilah perjalanan serba romantis, tamasya yang aneh dan
menyenangkan-
Dari Coat Sin-san-ceng dirinya diselundup ke-luar, entah apa
tujuannya? Ke mana pula dirinya akan dibawa? Bahwa dirinya
dibawa naik perahu, memangnya markas mereka berada di
sepanjang pesisir sungai besar ini?
Langkah pelahan mendatang dari luar, lekas Kun-gi pejamkan
mata, waktu pintu terbuka, yang masuk hanya seorang, Kun-gi
membatin: "Agak-nya mereka sudah ganti pakaian perempuan- "
Setelah orang itu maju ke dekat pembaringan sengaja Kun-gi
menggeliat, lalu berbangkit. Pelan2 dia membuka mata. Pandangan
pertama hinggap pada tubuh semampai menggiurkan seorang gadis
nelayan berpakaian warna hijau. Usianya enam- belasan, berwajah
bulat telur, bola matanya bundar besar dan hitam bening, pipinya
bersemu merah, sikapaya malu2. Wajahnya memang tidak begitu
cantik, namun cukup menggiurkan hati setiap laki2:
"Cu-cengcu sudah bangun," sapa pelayan baju hijau.
Sudah tentu Kun-gi tahu gadis inilah yang bernama Liau-hoa, tapi
dia sengaja bersuara heran, katanya: "Siapa kau? Mana Ing-jun?"
ing-jun adalah pelayan yang melayani segala keperluannya di coatsin-
san-ceng.
"Hamba adalah Liau-hoa," pelayan itu menekuk lutut memberi
hormat.
"Tempat apakah ini?" tanya Kun-gi sambil menyapu pandang ke
sekitarnya. "Rasanya seperti di atas kapal?"
Liau-hoa menyilakan sambil menunduk. Kun-gi tampak kurang
senang, katanya mendengus: "Apa yang terjadi? Kalian mau bawa
Lohu ke mana lagi?"
"Hamba tidak tahu," sahut Liau-hoa takut2.
Kun-gi tahu orang sengaja bohong, tapi melihat sikap nona itu
jeri dan malu2, tak enak dia bertanya lebih lanjut.
Mengawasi Kun-gi, Liau-hoa bertanya dengan suara lembut:
"Apakah Cu-cengcu mau sarapan pagi?"
"Lohu belum lapar."
"Baiklah hamba ambilkan air teh saja," bergegas dia hendak
mengundurkan diri, jelas hendak memberi laporan kepada Giok-je,
"Tak usahlah Lohu t idak haus. Ada persoalan yang ingin
kutanyakan, apakah di atas kapal ini ada orang yang berkuasa?"
"Harap cengcu tunggu sebentar, hamba akan panggil Giok je cici
kemari."
"Giok-je, kan pelayan pribadi Hian-ih-lo-sat itu? Apa
kedudukannya tinggi?" sengaja Kun-gi bertanya, secara tidak
langsung dia ingin tahu betapa tinggi kedudukannya Giok-je didalam
Pek-hoa-pang.
Liau- hoa manggut2 sambil mengiakan terus melangkah pergi
dengan buru2.
Tak lama kemudian, tampak dengan langkah lembut gemulai
Giok je menyingkap kerai dan masuk ke kamar, katanya sambil
memberi hormat kepada Kun-gi: "Cu-cengcu memanggil hamba,
entah ada urusan apa?" Perawakannya memang yahut, setelah
ganti pakaian perempuan kelihatan lebih menarik setiap laki2 yang
memandangnya.
"Ada satu hal ingin Lohu minta keterangan nona," kata Kun-gi.
"Terlalu berat ucapan cengcu, entah soal apa yang hendak
ditanyakan?"
"Lohu ingin tahu ke mana diriku hendak di- bawa?"
"Soal ini ........."
"Nona tidak mau menjelaskan?"
Giok-je tertawa manis, katanya: "Lebih baik Cu-cengcu ajukan
persoalan lain saja, asal hamba bisa menjawab tentu kuterangkan-"
"Pintar dan licik juga gadis ini," demikian ba-tin Kun-gi, katanya:
"Baiklah, Lohu ingin tanya, nonakan anak buah kepercayaan cohsiancu,
tentu kau tahu seluk-beluk Coat Sin-san-ceng, entah
bagaimana asal-usulnya?"
"0, mereka ........."
"Apakah nona tidak mau menerangkan? Baiklah persoalan ini tak
usah dibicarakan-"
Giok-je meliriknya sekali, katanya kemudian dengan sikap apa
boleh buat:- "Mereka adalah orang2 Hek liong- pang."
"Hek-Liong-pang? Belum pernah kudengar nama ini?"
"Jejak mereka serba tersembunyi, umpama berkecimpung di
Kangouw juga belum tentu diketahui orang, sudah tentu Cu-cengcu
belumpernah mendengarnya."
"Apa kedudukan Cek Seng jiang di Hek-Liong-pang?"
"Mereka hanya memanggilnya cengcu, apa kedudukannya hamba
tidak tahu."
"Lalu, coh-siancu?"
"Hamba tahu dia adalah salah satu dari Su-toa-thian-su (empat
besar rasul langit), tugasnya mengawasi daerah selatan"
"Apakah tujuan mereka menculik Lok-san Taysu bertiga hanya
lantaran getah beracun itu?"
"seharusnya demikian-"
"Nona bukan orang Hek-Liong-hwe?"
"Darimana Cu-cengcu tahu hamba bukan orang dari Hwe itu?"
"Kalau kau orang mereka, tak mungkin membongkar rahasia
mereka."
Giok-je tertawa, ujarnya: "Cu-cengcu memang amat cermat."
Sampai di sini pembicaraan mereka, tiba2 Liau-hoa muncul di
pintu, katanya: "Giok-je cici, harap keluar sebentar"
Giok-je melangkah keluar, tanyanya: "Ada apa?" di ambang pintu
dia membalik dan berkata: "Cu-cengcu, hamba mohon diri
sebentar."
Mendadak dia angkat jari terus menjentik, dari balik lengan
bajunya menyamber keluar sejalur angin kencang meluncur ke Hiatto
Ling Kun-gi. Gerakannya aneh dan cepat, di luar dugaan lagi,
Kun-gi pura2 tidak tahu, dia duduk di kursi tanpa bergerak, hatinya
diam2 kaget, batinnya: "Tak nyana gadis semuda ini memiliki
kepandaian begini tinggi, aku memandang rendah dirinya."
Maklumlah Kun-gi sendiri meyakinkan hawa murni pelindung
badan, asal pikiran bergerak dan hati ada niat, hawa murni dalam
tubuhnya akan timbul daya perlawanan, walau cepat jentikan
Gioknje, tak mungkin bisa menutuknya pingsan-
Melihat Kun gi duduk mematung dan tidak bergerak. segera
Giok-je menyelinap keluar, tanyanya: "Ada apa sih?"
"Kiang lotoa melihat di belakang perahu kita ada dua kapal besar
menguntit dari kejauhan-"
"Mungkin orang2 Hek liong-hwe?" kata Giok-je,
"Cu-cengcu . . . . "
"Tidak apa2, aku telah menutuk Hiat-tonya."
Lalu mereka keluar dan naik keatas dek, entah apa pula yang
mereka bicarakan-
Kun-gi tersenyum, pelan2 dia mendekati jendela, dengan ujung
jarinya dia membuat lubang kecil pada kertas jendela, lalu
mengintip keluar, air sungai luas menyentuh langit di kejauhan, tak
kelihatan bayangan apa2, agaknya kedua kapal yang dicurigai masih
menguntit dari jarak yang jauh sekali.
Pada saat itulah tiba2 didengarnya suara gaduh air bergolak dari
buritan, kejap lain mendadak sebuah sampan yang laju cepat tahu2
muncul kira2 tiga tombak di sebelah belakang.
Diam2 Kun gi membatin: " Apaknya kedua pihak akan bentrok."
Ter-sipu2 Giok-je menuju ke belakang. Sikap Ping-hoa tampak
tegang, serunya: "Giok-je cici, lekas kemari, kedua sampan itu
sudah makin dekat."
"Jangan kita perlihatkan diri, belum waktunya biar mereka yang
menghadapi," kata Giok-je, mereka yang dia maksud adalah
keempat laki2 berpakaian ungu itu.
Sembari bicara mereka menempelkan muka ke jendela yang
teraling kain, tampak ke dua sampan itu sedang melaju memecah
gelombang ke arah sini, jaraknya tetap bertahan puluhan tombak.
Tak lama kemudian kedua sampan itu tiba2 berpencar ke kanan-kiri
terus berlaju lebih cepat mendahului ke depan-
"Keparat, jelas mereka sengaja hendak cari perkara pada kita"
kata Giok-je,
Terdengar suara Kiang- lotoa berkata di luar: "Nona, kedua
sampan ini menunjuk tanda2 sengaja menunggu kita."
"Kiang- lotoa," seru Giokrje, "Kau sudah lihat betul, siapakah
orang di atas sampan?"
"Mereka berada di dalam barak perahu, ke-cuali dua orang yang
pegang dayung, hamba tidak melihat orang yang lain-"
"mereka sengaja mau cari perkara, nanti juga pasti unjuk diri."
"Ya, hamba mohon petunjuk nona."
"Jangan hiraukan dulu, lajukan perahumu seperti biasa."
Kiang-lotoa mengiakan, baru saja dia hendak mengundur diri.
"Kiang- lotoa," tiba2 Giok-je memanggilnya pula.
Lekas Kiang-lotoa berhenti dan menyahut hormat: "Nona masih
ada pesan apa?"
"Di An-khing kau sudah tinggal beberapa tahun, situasi di
perairan sini tentu apal, belakangan ini adakah orang2 Hek-Lionghwe
yang muncul diperairan?"
"Terus terang nona, belum pernah hamba mendengar nama Hekliong-
hwe, terutama di perairan sini selamanya tenang2 saja tak
pernah terjadi seperti hari ini."
"Jadi, mereka memang betul2 mau cari perkara pada kita,"
dengus Giok je, "kau boleh pergi urus tugasmu. o, ya, kau harus
tetap berdiam di An-khing, kalau t idak terpaksa jangan kau
bocorkan asal usul dirimu, nanti kalau kedua pihak bentrok, kau
bersama2 kawanmu tidak usah turut campur, kalian menyingkir
saja, anggaplah perahumu ini kita sewa." Kiang- lotoa mengiakan
dan mengundurkan diri.
Baru saja Giok-je kembali ke kursinya, terdengar Ping-hoa
berkata: "Giokje cici, di belakang kita muncul pula dua sampan-"
"Bagaimana kedua sampan yang laju ke depan tadi?"
"Kok tidak kelihatan-"
"Mereka kerahkan empat sampan, agaknya hendak turun tangan
di air" ujar Giok-je,
Belum habis dia bicara Liau-hoa sudah berteriak pula, "Giok-je
cici, itu dia dua sampan yang lewat tadi kini putar balik pula."
Giok je menuju kejendela sebelah kiri serta melongok keluar,
waktu itu hawa sejuk dan angin menghembus sepoi2, tiada
gelombang tiada badai, air tenang2 saja, sementara kedua sampan
di belakang sudah semakin dekat.
Giok-je merogoh sebuah kaca tembaga dari dalam bajunya,
badan sedikit miring terus memandang haluan perahu yang mereka
naiki ini, empat sampan jadi dalam posisi mengepung, setelah jarak
semakin dekat laju sampanpun diperlambat.
Tiba2 pada sampan sebelah kiri sana menyelinap keluar seorang
laki2 jubah hitam panjang, mukanya kelabu kaku, berdiri di depan
sampan dan membentak: "Hai, tukang perahu, memangnya matamu
buta, hayo hentikan perahumu"
Pada waktu yang sama muncul pula dua orang di sampan
sebelah kanan, muka mereka kuning seperti malam, keduanya
membekal pedang panjang. Agaknya mereka betul2 hendak turun
tangan-
Sesuai petunjuk Giok-je, lekas Kiang-lotoa perlambat laju perahu
lalu menghentikannya di tengah2 sungai.
Arus sungai cukup deras sehingga perahu besar mereka terseret
miring, Kiang-lotoa bersama beberapa kelasi dengan gugup sibuk
bekerja, sedapat mungkin mereka kendalikan perahu supaya tidak
oleng.
Sementara seorang laki2 setengah baya muncul di depan perahu,
dengan mendelik dia pandang orang2 di atas sampan,jengeknya
dingin: "Siang hari bolong, kalian mencegat perahu, memangnya
mau apa?"- Di belakang laki2 setengah baya berbaju abu2 ini
mengintil dua laki2 kekar bergolok berpakaian ketat.
Dingin sorot mata si muka kuning kaku di atas sampan sana
sekilas dia lirik laki2 setengah baya baju kelabu, tanyanya: "Tuan ini
siapa?"
Laki2 setengah baya baju kelabu berkata dengan kereng: "cayhe
Liok Kian-lam dari Ban-ceng-piaukiok di Lam-jiang." Lalu dia
menarik muka dan balas bertanya: "cayhe sudah sebutkan nama,
saudara harus perkenalkan diri? Apa tujuan kalian mencegat perahu
di tengah sungai?"
"Tiga budak yang melarikan diri rupanya menyewa pengawal?
Ketahuilah, kami sedang menguber budak2 yang lari itu."
Liok Kian lam menjengek. katanya, "Saudara salah alamat, kami
sedang mengantar Hoa-kongcu dari Lam-jiang, orang Kangouw
mengutamakan kebenaran, untuk itu harap kalian memberi muka
kepada kami."
Berkedip2 mata si muka kuning, ia menyeringai dan berkata:
"Tuan besarmu selamanya belum pernah dengar di Lam-jiang ada
Ban-seng-piaukiok segala, hayolah, periksa perahu ini" Kedua laki2
baju hitam di sampan sebelah kiri mengiakan, sampan mereka
mendadak menerjang maju, kedua laki2 itu terus melompat keatas
perahu sini.
Mendelik mata Liok Kian-lam, bentaknya: "Saudara tidak patuh
aturan Kangouw, jangan salahkan kalau kami tidak kenal kasihan-"
Sembari bicara dia memberi tanda kepada kedua laki2 di
belakangnya.
Sejak tadi kedua laki2 ini memang sudah pegang golok. sigap
sekali mereka berkelebat maju memapak kedua laki2 muka kuning
yang menubruk tiba, maka terjadi pertempuran sengit dihaluan
perahu.
Si muka kelabu tergelak2, serunya: "Agak-nya sebelum melihat
peti mati saudara Liok ini tidak akan mengucurkan air mata, biarlah
Tin-toaya sempurnakan kau." sekali menutul, dia keluarkan gaya Itho-
coan-thian, tubuhnya melambung tinggi terus menukik turun ke
arah Liok Kian-lam, kelima jarinya terpentang dengan jurus Hweing-
kik-tho (burung elang menerkam kelincil) terus mencengkram
batok kepala lawan-
Melihat serangan orang agak aneh dan lihay, Liok Kian-lam tidak
berani pandang rendah mu-suh, kaki geser mundur setengah tindak.
sementara tangan kiri memutar terus menutuk pergelangan tangan
si muka kelabu.
”Jeng-bun ci (jari menembus awan)," seru si muka kelabu
tertawa aneh, "kiranya saudara murid Hoa -san-pay." Mendadak ia
mendesak maju, tangan kiri menggunakan jurus lay-san-im-ciang
menebas lurus kedepan, cara turun tangan orang ini rada aneh,
gerakannya membawa deru angin kencang lagi sehingga Liok kianlamkena
didesak mundur selangkah.
Tapi Liok Kian-lam juga bukan lawan enteng, setelah dia
menyingkir dari tebasan telapak tangan si muka kelabu, cepat iapun
mengeluarkan pedang, "sret", tahu2 pedangnya membabat miring
dari samping bawah.Jurus ini merupakan gerakan kombinasi di
samping meluputkan serangan musuh sekaligus balas menyerang
gerakannyapun cepat leksana kilat.
Si muka, kelabu yang merangsak dengan bernafsu tidak
menduga sama sekali, hampir saja dia kecundang, dalam
kesibukannya, lekas ia tekuk kedua kaki melompat mundur, untung
dia terhindar dari babatan pedang Liok Kian lam.
Berhasil mendesak lawan, sudah tentu Liok Kian-lam tidak
memberi peluang lagi, sembari menghardik iapun melompat tinggi,
pedangnya mengembangkan jurus Hoat-bun-kay-loh (menyibak
awan membuka jalan) ia mencecar musuh lebih sengit.
Dikala tubuh melambung mundur itulah, si muka kelabu juga
telah mengeluarkan pedang, ia segera menangkis, "trang", kedua
pedang beradu, keduanya sama terpental dan meluncur turun di
atas geladak.
Begitu kaki menginjak lantai perahu si muka kelabu
perdengarkan tertawa gusar, pedang panjangnya berwarna hitam
legam terus merangsak pula dengan beringas.
Liok Kian-lam memang murid Hoa-san-pay, Hoa-san-kiam-hoat
yang dia mainkan memang lincah dan tangkas sekali, maju mundur
sangat cepat, setiap jurus permainannya matang dan mantap. Kedua
orang sama melancarkan ilmu pedangnya, sinar perak laksana
ular sakti berkelebat naik turun dan saling gubat dengan bayangan
hitam yang mengamuk seperti naga mengaduk air, pertempuran
semakin memuncak dan seru.
Sementara itu, kedua sampan di belakang sudah mendekati
perahu, di atas sampan masing2 berdiri seorang berjubah hijau,
mukanya lonjong kurus, kulitnya kuning semu hijau, tampangnya
kelihatan kejam, seorang lagi berwajah agak tampam, itulah
seorang pemuda berjubah biru yang bersikap angkuh, pedang
tergantung di pinggangnya, bajunya melambai dit iup angin,
kelihatan gagah dan berwibawa sekali.
Kedua orang ini lebih mirip majikan dan kacung, jarak sampan
mereka masih dua tombak lebih dari perahu besar, tiba2 si kurus
jubah hijau membentang kedua lengan, tahu2 tubuhnya melejit ke
atas dan bersalto sekali di tengah ualara terus meluncur ke arah
perahu. Gerakan ini sangat tangkas, sedikit kakinya menutul di
pinggir perahu, tubuhnya terus berkelebat ke depan menembus
sinar pedang yang silau dan langsung, meluncur ke dalamperahu.
Pada saat itulah seorang laki2 yang berdiri di luar pintu
menghardik sekali terus mengadang, di mana pedangnya bergetar,
kontan ia menusuk dua Hiat-to si jubah hijau.
Tapi sijubah hijau tak berkelit juga tak menangkis, tangan malah
dia angkat terus menyentak ke pedang lawan- Sudah tentu gerakan
ini di luar dugaan laki2 berpakaian ketat yang berjaga di depan
pintu, betapa tajam pedangnya ini, tapi orang ini berani melawan
pedangnya dengan tangan telanjang? Sekilas melengak. tahu2
didengarnya suara keras beradu, pedang panjangnya telah kena
dijepitjari lawan-
Ternyata lengan kiri sijubah hijau kelihatan berwarna hijau kecoklat2an,
kelima jarinya runcing kaku seperti baja, jelas itulah jari2
yang terbuat dari besi. Jadi lengan kirinya itu adalah tangan palsu
yang terbuat dari besi, dari warnanya yang mengkilap itu, jelas jari2
besi itu telah dilumuri racun jahat.
Kejadian begitu cepat laksana percikan api, begitu tangan
besinya berhasil menjepit pedang panjang lawan, tangan kanan
sijubah merah lantas menghantam ke muka lawan pula.
Sebenarnya kepandaian laki2 berpakaian ketat itu tidak rendah,
tapi lantaran pedang dijepit lawan, sedetik dan melengak. tahu2
pundak kiri sudah kena ditampar oleh angin pukulan lawan, walau
dia bisa bergerak cepat sehingga tubuhnya tidak terpukul telak, tapi
samberan angin pukulan yang mengenai tubuhnya juga tidak
ringan.
Terasa tulang pundak kirinya sakit luar biasa, hampir saja ia
jatuh kelengar, tatkala tubuhnya terlempar hampirjatuh, sigap sekali
kakinya melayang menendang ke ulu hati sijubah hijau.
Sijubah hijau menjengek: "Tong- long- cui, ternyata kau murid
Tong- long- bun. " Jari besi tangan kirinya segera mencengkeram ke
tungkak kaki orang.
Setelah pundak kiri teriuka, sudah tentu gerak-gerik laki2 baju
ketat ini menjadi kurang tangkas, tapi mengingat mati-hidup jiwa
sendiri terletak pada gerak tendangan kakinya ini, maka dengan
nekat dia meyerempet bahaya dan melancarkan serangan,
harapannya cukup bertahan untuk sementara waktu lagi.
Sekali berhasil sijubah hijau kerjakan kedua tangannya dengan
kencang, beruntun tangan kanan menggempur dengan gencar,
sehingga laki2 baju ketat didesaknya mundur keripuhan-
Sementara itu pertempuran sengit di haluan perahu di depan
sana semakin sengit, senjata terus berdenting keras, mendadak
terdengar suara "byuur", salah satu dari laki2 baju ketat warna
kelabu yang melawan kedua musuh baju hitam tercebur ke air
dengan luka parah. Sementara seorang lagi juga sudah terluka, tapi
dia bertahan mati2an dengan nekat.
Melihat anak buahnya bukan tandingan lawan2nya dan tahu
gelagat jelek. semakin berkobar amarah Liok Kian-lam, kedua
matanya mendelik dan membara seperti terbakar, pedang berputar
laksana tabir cahaya, sekuat tenaga dia menggempur musuh.
Sayang musuh yang satu ini berkepandaian tinggi, meski sudah
seratus jurus kemudian dia tetap tak mampu merobohkan lawan-
Setelah musuhnya jatuh ke air, salah seorang baju hitam menjadi
tiada lawan lagi, maka sambil menenteng pedang segera dia
melurukpada musuh yang sedang di cecar kawannya. Memangnya
sudah terdesak di bawah angin, kini digencet lagi dari depan dan
belakang, sudah tentu dia bukan tandingan kedua musuhnya, hanya
beberapa gebrak saja, dia kena terbabat oleh lawan di depan,
lengan kanannya terbacok putus. Laki2 baju ketat warna kelabu
menjerit ngeri, saking kesakitan dia jatuh semaput, serempak
musuh di belakangnya ayun kaki menendangnya tertempar jatuh
keair juga.
Liok Kian-lam jadi beringas, bentaknya: "Biar aku adu jiwa
dengan kalian- Tiba2 dia gentak pedang menaburkan tabir kemilau,
ia bertekad gugur dan menyerang dengan gencar, yang dicecar
adalah Hiat-to mematikan ditubuh si muka kelabu.
Rangsakan gencar ini dilakukan tanpa mengingat keselamatan
jiwa sendiri, sudah tentu sijubah hijau tidak mau diajak gugur
bersama, dia berkelit mundur berulang2. Liok Kian-lam memperoleh
peluang untuk mencecar lebih sengit, serangannya semakin ganas
hingga si muka kelabu juga kerepotan-
Sementara itu, pemuda jubah biru yang sejak tadi hanya
menonton di atas sampannya tiba2 melompat ke atas perahu, gerak
tubuhnya sungguh amat aneh dan cepat sekali, hanya sekali
berkelebat bayangan biru, tahu2 dia sudah berada di tepi perahu,
dari kejauhan jarinya menuding, sekali tutuk dia membikin Liok
Kian- lam lumpuh tak berdaya.
Tatkala melancarkan serangan gencar, tiba2 Liok Kian- lam
merasakan pinggang kesemutan, badan lantas tersungkur ke depan,
pedangnya menusuk tembus ke dalam papan geladak yang tebal
itu.
Lekas si muka kelabu rampas senjata lawan, memberi hormat
kepada pemuda jubah biru, kata-nya: "Terima kasih atas bantuan
Kongcu."
"Tin-sincu tidak usah sungkan," kata pemuda jubah biru.
Ternyata si muka kelabu adalah Thian-kau-sing, si bintang anjing
langit.
Thian-kau-sing melangkah maju, sekali cengkeram dia jinjing
tubuh Liok Kian- lam, sementara tangan lain menekan punggung
orang, katanya kepada si jubah hijau. "Hou-heng, harap berhenti."
lalu dia membentak laki2 baju kelabu "Kawan ini supaya dengarkan,
Liok-piauthau kalian sudah berada di tangan orang she Tin, kalau
kau tidak ingin dia mampus, lekas minggir dan buang senjata."
Sijubah biru segera tarik tangan seraya melompat mundur, lalu
berdiri di belakang pemuda jubah biru.
Laki baju kelabu memang sudah terluka, ter-desak di bawah
angin lagi, melihat Liok Kian lam tertawan musuh, empat orang
kawannya hanya tinggal dirinya seorang, jelas lebih2 bukan
tandingan musuh, terpaksa dia melompat mundur sambil
melintangkan pedang, katanya setelah menarik napas panjang:
"Kalian sebetulnya orang dari golongan mana? Selama malang
melintang di utara dan selatan belum pernah pihak Ban-seng
piaukiok berbuat salah kepada kawan2 Kangouw . . . . "
Sebelum orang habis bicara Thian-kau-sing segera menukas,
"Saudara tak usah banyak omong, tadi sudah kujelaskan kepada
Llok-piauthau, tujuan kami adalah budak2 yang melarikan diri itu,
tiada sangkut pautnya dengan piaukiok kalian, sekarang ada Diankongcu
kami di sini, lekas suruh orang2-mu keluar, biar kami
geledah perahu ini."
Pada saat itulah terdengar suara merdu nyaring menanggapi:
"Aku ada di sini, kalian main cegat, melukai para Piausu,
perbuatanmu mirip penjahat, memangnya apa maksudmu?" Dari
dalam perahu melangkah keluar seorang pemuda sekolahan
berjubah hijau dengan kepala dibungkus kain. Di belakangnya
kanan kiri mengint il kacungnya dengan langkah ringan dan mantap
mereka beranjak ke depan, Ketiga orang ini terang adalah Giok-je
bersama Ping-hoa dan Liau-hoa.
Laki2 baju kelabu segera menghampiri, katanya dengan nada
penuh sesale "cayhe beramal bukan tandingan mereka, tak mampu
bertanggung jawab sebagai pelindung, sehingga Kongcu dibuat
kaget "
Dengan tak acuh Giok je menukas: "Bukan salah kalian."
Dingin dan tajam sorot mata pemuda jubah biru menatap Giok je
bertiga seperti ingin mencari apa2, tanyanya: "Kalian dari mana dan
mau kemana?"
Giok-je mendengus seperti sengaja meremehkan mereka,
katanya: "Apakah aku harus menjawab?"
"Apa yang kutanyakan, mau atau tidak hartus kau
menjawabnya," dengus pemuda jubah biru.
Seperti apa boleh buat Giok-je berpikir sebentar, lalu berkata:
"Baiklah, cayhe Hoa Siang- yong dari An-khing, mau pergi ke Lam-
Siang."
Waktu orang bicara, pemuda jubah bieu sedikit miringkan muka
memberi isyarat kepada sijubah biru yang berdiri di sampingnya.
Tanpa bersuara sijubah biru tiba2 mengayun tangan kanan, tampak
dua titik sinar cokelat melesat terbang terpencar ke arah Liau -hoa
dan Ping-hoa.
Sejak keluar Liau-hoa dan Ping-hoa sudah bersiaga, diam2
merekapun perhatikan setiap gerak-gerik lawan- Melihat sijubah
hijau menimpukkan dua titik coklat ke arah mereka, keduanya
bersama mengeluarkan pedang, sekali sinar dingin berkelebat,
"Ting, ting", dua panah kecil berwarna kehijauan tersampuk jatuh di
atas geladak. Betapa cepat dan tangkas gerakan mencabut pedang
serta menyampuk itu sungguh amat mengagumkan-
Pemuda jubah biru tersenyum, sorot matanya bercahaya,
katanya: "Budak hina, kalian lari dari coat- sin-san-ceng dan
menyaru sebagai laki2, memangnya aku tak bisa mengenali? Kini
berhadapan dengan Kongcu, tidak lekas kalian lemparkan pedang
dan menyerah saja?
Tenang saja sikap Giok-je, katanya sambil menatap tajam: "Apa
katamu? Aku t idak mengerti."
"Giok je, kau masih berani mungkir, atas dirimu?" bentak
pemuda-jubah biru.
"Kalau bicara harap tuan tahu aturan, cayhe Hoa Siong- yong,
penduduk asli kota Lam jiang, siapa itu Giok-je?" menghadapi situasi
yang berubah secara mendadak ini ternyata dia tidak kaget,
sikapnya tetap tenang.
Pemuda jubah biru naik pitam, katanya sambil menuding: "Hou
Thi-jiu, tangkap dia"
Ternyata pemuda jubah biru ini adalah Dian Tiong-pit, anak
angkat Cek Seng-jiang yang berkuasa di coat-sin-san-ceng itu,
sijubah hijau adalah Hou Thi-jiu. Mereka ditugaskan menangkap
ketiga budak yang melarikan diri ini.
Mendapat perintah majikannya, Hou Thi-jiu segera berkelebat
maju ke depan Giok-je, kata-nya dingin: "Giok-je, kau masih
inginkan aku orang she Hoa turun tangan?"
Pucat muka Giok-je saking marah, serunya murka: "Kurang ajar,
kalian berani menghina orang sekolahan, seorang lelaki sejati
seperti orang she Hoa ini kalian anggap sebagai budak pelarian,
sungguh kurang ajar"
"Jangan cerewet, kalau tidak mau menyerah, terpaksa aku tidak
sungkan terhadapmu,"
kelima jari Hou Thi-jiu terulur terus mencengkeram pundak Giok
je,
Kini Giok-je menyamar pemuda sekolahan, sudah tentu dia tidak
sudi turun tangan terhadap budak keluarga orang -lain? Sambil
menggeser selangkah dia berpaling, katanya "Hoa wok. layani dia
beberapa jurus."
Hoa wok adalah Ping-hoa, dia menyahut sekali terus melompat
maju, pedang di tangan menuding sambil membentak: "Kau ini
barang apa? berani kurang ajar terhadap Kengcu kami?" -Sret,
pedangnya lantas memapas ke pergelangan tangan Hou Thi-jiu.
Hou Thi-jiu terkekeh2, katanya: "Budak jelita, kau ini Ping-hoa
atau Liau-hoa?" Secepat kilat tangan besi segera mencengkeram
pedang.
Ping-hoa menggetar batang pedang sehingga menerbitkan
cahaya, ia menusuk tiga Hiat-to sekaligus. Lekas Hou Thi jiu
gunakan tangan kiri menangkis, dia sambut serangan lawan secara
keras. Dia pikir lawan adalah perempuan yang baru berusia belasan
tahun, betapa tinggi lwekang dan ilmu silatnya mana kuat
menandingi tangkisan lengan besinya, sekali tangkis dan kepruk
pedang lawan tentu terpental lepas.
Tak terduga kenyataan justeru diluar perhitungan Hou Thi-jiu,
tatkala lengannya menangkis ke atas, "trang", serangan Hoa-ping
memang dia punahkan, tapi orang tidak tergetar mundur atau
terlepas pedangnya, keruan ia kaget, tahu2 pedang Hoa-ping sudah
turun ke bawah terus memotong ke lambung Hou Thi-jiu. Jurus ini
dinamakan It-yap-cu-khiu (selembar daun di musim rontok), gaya
pedangnya mantap dan cepat, "bret", baju di depan dada Hou Thijiu
terobek panjang satu kaki lebih.
Keruan Hou Thi-jiu marah, lengan kiri turun naik, segera dia
lancarkan serangan gencar, tampak di dalam tabir cahaya warna
cokelat kehijauan itu, jari2 besi yang runcing itu selalu mengincar
batok kepala Ping-hoa.
Sudah tentu Ping-hoa tidak berani lena, pedang dia putar secepat
angin, iapun bergerak cepat melayani kecepatan lawan, tubuhnya
terselubung tabir cahaya kemilau, gerakannya cepat dan banyak
variasinya lagi, dengan balas menyerang dia hadapi rangsakan
lawan-
Seperti diketahui Dian Tiong-pit adalah anak Cek Seng jiang,
cengcu Coat Sin-san-ceng, iapun murid kesayangan Jek-tongcu,
atasan Thian-kau-sing, maka sedapat mungkin dia melakukan apa
saja untuk menjilat pemuda ini, kini melihat Hou-Thi jiu melabrak
lawan, tanpa disuruh dia melabrak maju, katanya menyeringai,
"Kalian tiga budak ini, di hadapan Dian kongcu masih berani
membangkang, besar benar nyali kalian-"
Laki2 baju kelabu yang sudah terluka itu segera melompat maju,
hardiknya beringas: "Berani kau melangkah maju, aku tidak
sungkan2 lagi."
Thian-kau-sing menyeringai sadis, jengeknya, "Kau ingin mampus
apa susahnya, orang she Tin cukup angkat sebelah tangan saja
untuk menyempurnakan keinginanmu."- "Sreng", dia cabut
sebatang pedang tipis dan sempit.
"Sim-piauthau," kata Giok-je, "luka dipundakmu belum diobati,
kau mundur saja, orang ini biar dibereskan Hoa Lok."
Hoa Lok adalah Liau-hoa. Mendengar kisikan Giok-je segera dia
mendahului kedepan, katanya: "Kongcu suruh aku bereskan dia,
Sim-piauthau, silakan mundur." Habis kata2nya dengan jurus Hambwe-
pan-jun (kembang Bwe menyambut musim semi), pedangnya
tiba2 menutul ke iga kiri Thian-kau-sing.
cepat Thian-kau-sing menangkis, di luar tahunya bahwa setiap
anggota Pek-hoa-pang pernah meyakinkan Pek hoa-kiam-hoat,
sekali gebrak. sinar pedang yang ceplok2 seperti rangkuman bunga
bermunculan silih berganti, jumlahnya semakin ber-tambah2.
Tenaga pembawaan perempuan memang tidak sekuat laki2, tapi
ilmu pedang yang mereka yakinkan ini justeru teramat lincah dan
tangkas sekali untuk menambal kekurangan ini.
Ilmu pedang Thian-kau-sing aneh dan ganas, tapi sudah tujuhdelapan
jurus melayani Liau-hoa tetap tak kuasa menempatkan diri
diposisi yang lebih unggul, keruan ia bertambah gusar, mulutnya
berkaok2, pedang menyamber ke kanan-kiri, bayangannya laksana
segumpal awan hitamyang bergolak naik turun-
Hanya menghadapi dua budak saja Hou Thi-Tjiu dan Thian-kau
sing sekian lamanya tidak bisa menang, keruan pancaran sinar mata
Dian Tiong-pit semakin membara, katanya mengulum senyum sinis:
"Agaknya memang kalian berasal-usul luar biasa, hari ini tak bisa
kulepas kalian pergi begini saja." ia mendesak maju beberapa
langkah serta membentak: "Giok je budak keparat, keluarkan
pedangmu, dalam 10 jurus jiwamu akan kurenggut."
Insaf keadaan serba salah, Giok-je juga pantang mundur, dia
tahu kepandaian Dian Tiong-pit sangat lihay, dirinya terang bukan
tandingannya, maka sedapat mungkin sejak tadi dia bersikap
tenang, malah Ping-hoa dan Liau-hoa sudah diberi pesan supaya
tidak sembarang bertindak. Kini keadaan sudah mendesak dan
terpaksa dia harus ambil putusan nekat, katanya: "Dian-kongcu
terlalu mendesak, terpaksa kita harus menentukan kalah dan
menang baru urusan bisa berakhir, baiklah, akan kulayani
kehendakmu." Pelan2 dia copot jubah hijau bagian luar, tampak dia
mengenakan pakaian ketat, "sreng", pedang, dilolos lalu berdiri
tenang dan tegak.
Dingin pancaran mata Dian Tiong-pit, katanya: "Budak keparat,
masih tidak mau mengaku kau ini Giok-je, budak pelarian?"
"Siapa bakal mampus di antara kita belum bisa ditentukan,
setelah kau mengalahkan pedang di tanganku boleh kau mengoceh
seenakmu sendiri," jengek Giok-je,
Berkobar nafsu membunuh Dian tong-pit, sambil menggerung
gusar pelan2 dia mencabut pedang, tapi sedapat mungkin dia
bersabar, katanya menuding dengan pedang. "Asal kalian serahkan
orang yang menyaru Cu Bun-hoa itu, aku akan menaruh belas
kasihan terhadap kalian.Jadi tujuannya mengudak kemari adalah
orang yang memalsu Cu Bun-hoa itu. Persoalan tiada lain karena Cu
Bun-hoa palsu itu sudah berhasil menawarkan getah beracun.
Giok-je tertawa dingin: "omongan Dian-kongcu sungguh lucu dan
menggelikan kita toh belum bergebrak, menang atau kalah belum
ketentuan, bukankah omonganmu ini terlalu dini diucapkan"
Membesi muka Dian Tiong-pit, jengeknya: "Baik, setelah
kuringkus kau, masa kau bisa mungkir?"
Tiba2 bentaknya mengguntur: "Budak keparat, lihat pedang"
Angin kencang terus menampar, tenaga kuat bagai gelombang
dingin t iba2 menyerang berbareng selarik sinar menyamber
menusuk ke perut lawan-
Giok-je memang sengaja memancing kemarahannya, melihat
Dian Tiong-pit melancarkan serangan dengan gusar, diam2 ia
senang, lekas dia melompat ke samping, berbareng pedang di
tangan kanan berputar melint ir pedang lawan, bagai kilat berkelebat
tahu2 ia mendesak maju dan sekaligus dia melontarkan tiga kali
tusukan-
Dian Tiong-pit tertawa menghadapi tiga tusukan ini, sekali ayun
pedang, dia punahkan serangan lawan terus balas menyerang.
Tampak ceplok2 bunga bertaburan, sinar kemilau berkelebat
membawa samberan angin dingin, begitu sengit dan memuncak
pertempuran ini sehingga tampaknya laksana puluhan ekor ular
perak sedang terjang kian kemari diantara taburan bunga.
Puluhan jurus kemudian, mendadak Giok-je merasakan
pergelangan tangan bergetar, pedangnya kena dibentur oleh
pedang Dian Tiong-pit dan menerbitkan suara gemerincing nyaring,
kedua pedang terbuat dari baja murni, untung tiada yang cidera,
Giok-je tetap bergerak dengan lincah, sebat sekali dia gunakan
langkah ou-kut-lou-poh (bergerak dengan menekuk lutut), tahu2
sudah berkisar ke kanan Dian Tiong-pit, tiba2 ujung pedangnya
menusuk ke pinggang orang seperti ular memanggut.
Dian Tiong-pit tertawa dingin, setelah ujung pedang Giok-je
menyentuh pakaiannya baru mendadak dia menggeser kaki ke
belakang, sementara badan ikut berputar, pedang di tangan kanan
menabas turun ke bawah dan telapak tangan kiri terayun keatas,
dua serangan dilancarkan bersama.
Padahal serangan Giok-je sudah keburu dilancarkan, diam2 ia
mengeluh, untuk menarik serangan terang tidak keburu lagi, Apalagi
tabasan pedang Dian Tiong-pit dilandasi kekuatan besar, maka
terdengar suara "trang", pedang Giok-je tergetar lepas jatuh
berkelontang di atas geladak, sementara telapak tangan kiri lawan
laksana geledek menyamber tahu2 sudah mengancamdada.
Bukan kepalang kejut Giok-je, dalam keadaan gawat ini terang
tak sempat lagi menjemput pedangnya yang jatuh, cepat2 ia
mendak tubuh seraya melompat mundur ke belakang, untung dia
lolos dari lubang jarum.
Tapi sebelum dia sempat bernapas, sambil bergelak tawa Dian
Tiong-pit kembali ayun pedang setengah lingkar, kaki melangkah
setindak. mulut membentak: "Kalau t idak menyerah, jangan
salahkan kalau aku tidak kenal kasihan lagi"
Baru saja dia habis bicara tiba2 didengarnya seorang
menanggapi dengan suara lantang. "Dian-kongcu, kukira sudah tiba
saatnya kau berhenti."
Terkejut Dian Tiong-pit, lekas dia berpaling , seraya membentak:
"Siapa?"
Tampak pakaian melambai2 tertiup angin, entah sejak kapan
seorang telah berdiri di haluan perahu, kepalanya pakai kerudung
hitam, sikapnya gagah, katanya setelah tertawa panjang: "Diankongcu
masa t idak kenal cayhe lagi?"
Kejadian hanya berlangsung dalam waktu yang amat singkat,
waktu Dian Tiong-pit menoleh ke sana, Piausu bernama Llok Kianlam
yang tadi tertutuk roboh itu kini tampak merangkak berdiri.
Sementara kedua laki2 anak buah Thian-kau sing yang menjaga
tawanannya kini berbalik kena tertutuk Hiat-tonya dan berdiri kaku
ditempatnya. Dan masih ada lagi, Hou Thi jiu danThian kau-sing
yang sedang bertempur melawan Ping-hoa dan Liau-hoa itu semula
sudah berada di atas angin, kini merekapun seperti tertutuk Hiat-tonya
oleh orang, yang satu membentang jari2 tangan besinya
bergaya seperti hendak menerkam, seorang lagi mengangkat
pedang menusuk tempat kosong, hanya bergaya tapi tak bergerak.
Sementara Ping-hoa dan Liau-hoa sudah simpan pedang serta
menyingkir kepinggir dengan berdiri tersenyum simpul, jelas semua
kejadian adalah hasil kerja si orang berkedok ini.
Waktu dia muncul di atas perahu, Hou Thi-jiu dan Thian-kau-sing
sedang melabrak lawannya, orang ini tiba2 membokong pada saat
orang tumplek perhatian menghadani musuh, sudah tentu berhasil
dengan gemilang. Tapi apapun yang telah terjadi, bahwa orang ini
bisa menutuk Hiat-to Hou Thijiu dan Thian-kau-sing dalam
segebrakan saja, terang memiliki ilmu silat yang amat mengejutkan.
Sudah tentu perubahan mendadak yang tak pernah dibayangkan ini
membuat Dian Tong-pit kaget dan pucat mukanya, tapi juga gusar.
Tadi pihaknya sudah diatas angin, karena orang berkedok ini
mendadak muncul, situasi lantas berubah sama sekali, dari unggul
kini menjadi asor, usahanya menjadi gagal total. Karena amarahnya
memuncak. serunya murka: "Kau yang membekuk mereka?"
"Betul," jawab orang berkedok, "aku tak senang melihat mereka
main keroyok. main cegat menganiaya tiga nona cantik ....." secara
gamblang dia mengatakan bahwa Giok-je bertiga memang samaran
gadis2 ayu.
"Siapa kau?" bentak Dian Tiong-pit gusar.
Orang berkedok tertawa, katanya: "Dian-Kongcu tak
mengenalku, umpama kusebutkan namaku, kau tetap tidak akan
kenal aku, betul tidak?"
Gusar dan dangkol Dian Tiong-pit, bentak-nya: "Bagus?" Tiba2
pedangnya bergerak, selarik sinar bersama orangnya melesat
kencang menerjang ke arah orang berkedok.
Orang berkedok bertangan kosong, sudah tentu dia tidak berani
menyambut secara keras, lekas dia tutul kedua kaki melambung
tinggi. Melihat orang berkelit dengan melompat tinggi, Dian Tiongpit
tertewa dingin, dengan gaya Pek-hung-koan-jit (bianglala
menembus sinar matahari), sinar pedang berputar, laksana
anakpanah menyamber iapun meloncat ke atas membayangi lawan-
Mumbul sekitar dua tombak mendadak di tengah udara orang
berkedok menggunakan gerakan Hun-li-hoan sin (membalik badan
di tengah awan), pada tangannya sudah memegang sebatang
pedang pendek sepanjang satu kaki lebih, ia menukik menyongsong
Dian Tiong-pit yang baru menjulang ke atas. "Trang", di tengah
udara berkumandang suara nyaring benturan senjata.
Di tengah udara kedua orang bentrok secara keras, lalu
bayangan orang segera berpencar, keduanya sama2 meluncur ke
bawah. ilmu silat Dian Tiong-pit amat tinggi, pendengarannya tajam
dan matanya jeli, tadi waktu kedua senjata beradu dan merasakan
bunyi benturan agak ganjil, waktu dia menatap sambil angkat
tangannya, dilihatnya pedang sendiri yang terbuat dari baja murni
ujungnya tertabas kutung sepanjang satu dua dim. Bertambah
kaget dan marah hatinya, mukanya merah padam, sambil
menghardik dan menubruk maju, pedangnya menerbitkan kesiur
angin santer. Serangan dilancarkan dengan amarah yang meluap.
dalam sekejap beruntun dan menyerang belasan kali.
Orang berkedok layaninya dengan enteng, katanya tertawa:
"Begini besar nafsu Dian-kongcu"-Sebat sekali ia bergerak ke kanankiri,
badannya meliuk kesana kemari.
Bagai angin badai rangsakan pedang Dian Tiong-pit, betapa
cepat gerak serangannya, tapi ke timur tusukan pedangnya, tahu2
lawan sudah berada di barat, menusuk ke barat, orang tahu2 sudah
berpindah ke utara, namun orang berkedok itu tidak pernah balas
menyerang.
Tiga belas serangan pedang Dian Tiong-pit menimbulkan
gelombang hawa dingin, setombak di sekeliling gelanggang
dilingkupi sinar perak laksana naga mengamuk. bayangan orang
berkedok seperti tergubat di dalamnya, dari luar kelihatan kelebat
sinar pedang yang kemilau itu saban2 hampir menabas kutung
bayangannya, tapi hanya terpaut serambut saja, tahu2 pedang
menyamber ke samping, ujung pakaian orangpun t idak mampu
disentuhnya.
Lama kelamaan semakin membara amarah Dian Tiong-pit, saking
murka hampir gila rasanya, hardiknya keras: "Kau berani tampil
mencampuri urusan ini, kenapa tidak berani melawan pedangku ini,
main kelit dan menyingkir begini terhitung apa? Memangnya
gurumu hanya memberi pedang pendek saja dan tidak mengajarkan
ilmunya?" kata2nya sengit dan cukup pedas menusuk perasaan-
Mendadak si orang berkedok menghentikan gerakannya, katanya
tertawa dingin: "Tiong-pit, aku ingin memberi muka padamu,
supaya kau tahu diri dan mundur teratur, ternyata kau berhasrat
berkenalan dengan ilmu pedangku, nah awas, hati2lah"
Sembari bicara pedangnya mendadak bergetar, seketika
menaburkan delapan atau sembilan larik cahaya dan berjatuhan ke
depan Dian Tong pit. Anehnya larikan sinar pedang itu panjang
pendek berlainan satu sama lain, mana yang kosong dan mana yang
betul2 berisi sungguh sukar diraba, perubahannya cepat dan
mengandung banyak variasi,
Sejak kecil Dian Tiong-pit sudah digembleng meyakinkan ilmu
pedang, di bidang ini boleh dikatakan ahli, maka ia kira orang hanya
mengaburkan cahaya untuk mengelabui pandangannya. Karena
menurut kebiasaan, orang2 yang mengembangkan ilmu pedangnya
sering juga menciptakan tabir sinar pedang seperti ini, di antara
sekian banyak jalur2 sinar yang bertebaran itu terang hanya satu
yang merupakan serangan telak. yang lain hanya merupakan
bayangan yang membikin kabur pandangan lawan-
Maka dalam hati Dian Tiong-pit tertawa dingin, belum lagi lawan
merangsak maju dengan sinar pedangnya, cepat ia membalik
tangan kanan, dengan jurus Hun-kong-kik-ing (memencar sinar
menyerang bayangan) iapun menaburkan secercah cahaya pedang
dingin, ia malah menyongsong bayangan pedang lawan-
Betapa cepat gerakan kedua pihak yang saling labrak ini,
kelihatan dua larik sinar saling gubat sekali lalu berpencar kembali,
dua kali berkumandang suara berdering. Karena memandang
rendah musuh dan terburu nafsu, Dian Tiong-pit membuat
perhitungan salah dan menilai rendah larikan sinar pedang lawan,
jika satu di antara larikan sinar pedang itu merupakan serangan
telak. maka larik sinar yang lain hanya untuk mengaburkan
pandangan dan perhatian lawan saja dan tak mungkin menimbulkan
suara berdering ber-kali2, kini jelas bah-wa sinar pedang itu
semuanya merupakan serangan yang sesungguhnya.
Benturan pedang itu berlangsung dalam waktu yang amat
singkat sekali, tapi Dian Tiong-pit sudah merasakan sesuatu yang
ganjil, setiap kali tabasan pedang lawan dapat mengikis pedangnya
menjadi lebih pendek. pedang yang semula panjang tiga kaki lebih
itu kini hampir sisa gagangnya saja.
Untunglah laki2 berkedok itu segera berhenti serta mundur,
katanya dingin. "Dian Tiong-pit, kau sudah mau mengaku kalah?"
Watak Dian Tiong-pit berangasan, tinggi hati dan angkuh, kapan
dia pernah tunduk kepada orang lain, selama berkelana di kangouw
belum pernah kecundang, apalagi dipermainkan seterunya ini,
keruan amarahnya bukan kepalang, ia berteriak. mendadak gagang
pedang digunakan sebagai senjata rahasia terus ditimpukkan,
serentak kelima jarinya menekuk laksana cakar menyerang dengan
jurus Tok-liong tam-jiau (naga beracun ulur cakar), secepat kilat ia
mencengkeram dada musuh,
Maklumlah pada serang menyerang tadi jarak kedua pihak hanya
kurang lebih tiga kaki jauhnya, dalam jarak sedemikian dekat,
serangan Dian Tiong-pit yang mendadak ini sudah tentu membuat
orang tidak menduuga dan tidak berjaga2.
Gagang pedang itu ditimpukan sepenuh tenaga, tahu2 sudah
melesat tiba di depan hidung si orang berkedok. sementara kelima
jari tangannya tajam laksana cakar bajapun sudah mengincar dada
orang.
Si orang berkedok memang tidak menduga akan datangnya
serangan berganda ini, sementara gagang pedang sudah berada di
depan mata terpaksa dia doyong tubuh ke belakang sambil angkat
pedang tegak ke atas, "Trang", gagang pedang itu dia sampuk
patah menjadi dua potong.
Sementara cakar Dian Tiong-pit yang terpentang itu tahu2 juga
sudah menyentuh pakaian si orang berkedok baru saja dia kerahkan
tenaga hendak mencengkerann, tiba2 terasa urat nadi tangannya,
menjadi kesemutan dan lenganpun menjadi lemas, ternyata pada
detik yang menentukan itu pergelangan tangan Dian Tiong-pit
sudah terpegang oleh si orang berkedok malah, keruan kagetnya
bukan kepalang, lekas dia meronta sekuatnya, tak nyana orang
berkedok lebih cepat lagi, tahu2 tangan kiri terangkat, dengan jurus
"mendorong perahu menurut aliran air", dengan enteng dia
mendorong, maka Dian Tiong-pit tidak sempat meronta lagi, tanpa
kuasa tubuhnya mencelat dan melayang setombak lebih. "Blang",
dengan keras terbanting di atas geladak. hampir saja dia terguling
jatuh ke sungai.
Betapapun kepandaian silat Dian Tiong-pit tidak lemah, begitu
badan terbanting di lantai papan, sekali mengerahkan tenaga,
dengan lincah ia sudah meletik bangun, begitu berdiri tegak sinar
matanya seketika mencorong beringas, sekian saat dia tatap orang
berkedok itu, bentaknya: "Sebutkan nama tuan, orang she Dian
akan segera berlalu."
Orang berkedok cudah simpan pedangnya, katanya tertawa:
"cayhe tak perlu menyebut nama segala, kalah menang sudah
terang, lekas kau pergi dengan anak buahmu, kelak kita masih akan
berhadapan lagi di medan laga." Habis berkata dia malah pergi lebih
dulu daripada Dian Tiong-pit, badannya meluncur ke sana dan
hinggap di atas sebuah sampan-
Sejak orang berkedok muncul dan kembali ke atas sampan,
kejadian hanya berselang beberapa kejap saja, keruan orang2 Pekhoa-
pang sama melongo kebingungan-Melihat orang mau pergi baru
Giok je bersuara: "Tayhiap ini, harap tunggu sebentar"
Orang berkedok itu sudah berada di atas sampan, seperti tidak
dengar seruannya, dia melajukan sampan itu ke arah belakang
sana. Seperti diketahui sampan yang dipakai ini sebetulnya adalah
salah satu milik Dian Tiong-pit.
Sementara itu Dian Tiong-pit sedang sibuk membuka Hiat-to Hou
Thijiu, Thian-kau-sing dan kedua laki2 bermuka kuning itu, lalu
katanya: "Hayo pergi." Dengan anak buahnya segera mereka
berlalu.
Dikala pertempuran berlangsung dengan sengit, diam2 Kiang-lo
toa sudah perintahkan anak buahnya menolong kedua laki2 baju
kelabu yang terjungkal ke sungai tadi, kini sudah dlobati lagi.
Diam2 Giok-je terheran2 melihat orang berkedok itu mendayung
sampannya sedemikian pesatnya ke arah belakang, batinnya:
"orang ini tadi muncul mendadak di atas perahu, pergi pula secara
tergesa2 dengan sampan Dian Tiong-pit, memangnya dari mana dia
datang?"
Melihat Giok-je menjublek mengawasi ke buritan, Llok Kian-lam
bertanya: "Apakah Hoa-kongcu sudah tahu asal-usul orang
berkedok itu?"
Giok je menggeleng, ujarnya: "Ilmu silat orang ini amat tinggi,
begitu cepat gerakannya, sukar aku mengikuti permainannya, entah
dari perguruan mana . . . . "
Tiba2 Liau-hoa menyeletuk "He, mungkinkah orang itu adalah
Cu-cengcu?"
"Hah" mendadak Giok-je berseru. "Lekas kita tengok ....."
ooo(000dw000)ooo
Sebelum mulai dengar ramalannya Cu-ki-cu menyulut tiga batang
dupa, lalu satu persatu dia suruh Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa dan Cu
Jing memperkenalkan diri, jadi persoalannya ada pada ketiga batang
dupa yang mengeluarkan asap wangi yang memabukkan ini, siapa
saja setelah bicara pasti menyedot bau harum ini, maka cepat sekali
merekapun terjungkali roboh. Keruan Cu-ki-cu tergelak kegirangan
sambil bangun dari tempat duduknya.
Mendadak terdengar suara nyaring merdu berkumandang di luar
pondok: "Ada orang di dalam?"
Agak terkejut Cu-ki-cu, bentaknya: "siapa?"
"Kami mau cari tua Cu-ki-cu" agaknya dia tidak seorang diri.
Cu-ki-cu mengerut alis, sekilas dia pandang tiga orang yang
menggeletak di tanah, lalu menyingkap kerai berjalan keluar,
tertampak orang telah berada diruang tamu. Itulah dua pemuda
sekolahan yang berusia tujuh-belasan, wajahnya sama cakap dan
ganteng.
Sambil mengelus jenggot menguning di bawah dagunya yang
jarang itu, Cu-ki-cu pandang kedua tamunya itu sekian saat, setelah
batuk2 kering baru bertanya: "Kalian ada perlu apa?"
Salah seorang yang lebih tua berkata dengan tertawa: "Kami
ingin mohon tuan Cu-ki-cu meramalkan nasib kami, apakah kau
tuan Cu-ki-cu?"
"Sayang sekali, kebetulan Cu-ki-cu sedang ke luar," sahut Cu-kicu.
Pemuda yang lebih muda celingukan, longok sana toleh sini, lalu
bersuara heran: "He, mana mereka?"
"Apa kata Siang kong?" tanya Cu-ki-cu.
"Tadi tiga orang teman kami sudah kemari lebih dulu, di mana
mereka?"
Terbayang sinar aneh pada mata Cu-ki-cu, katanya tersenyum:
"o, apakah ketiga pemuda yang Siang kong maksud?"
"Ya, satu di antaranya adalah Piaukoku, dimana mereka?" tanya
pemuda yang lebih muda.
"Memang tadi ada tiga pemuda kemari mau cari Cu-ki-cu, Lohu
beritahu bahwa Cu-ki-cu sedang keluar, maka mereka lantas pergi."
Kedua pemuda saling pandang, kata yang lebih muda: "Tidak
mungkin, kuda tunggangan Piaukoku masih berada di luar sana,
mana mungkin dia sudah pergi?"
Kata Cu-ki-cu kurang senang: "Losiu sudah setua ini, masa
berdusta pada kalian?"
Mendadak yang lebih muda itu tertawa lebar, katanya: "Kukira
kau ini justeru Cu-ki-cu sendiri, Piauko selalu larang kami ikut
kemari, katanya cu- ki-cu t idak suka digangggu orang, supaya
ramalannya tepat orang tidak boleh datang ber-bondong2, tentunya
Piauko sengaja suruh kau keluar untuk menolak kedatangan kami,
betul tidak? Hm, aku t idak percaya, mereka tentu sembunyi di
dalam."
Habis berkata mendadak dia berteriak keras2: "Piauko" - Tiba2
pula dia menerobos kedalam.
Berubah air muka cu- ki-cu, sekali berkelebat dia mengadang
seraya membentak: "Berhenti" Tangan kanan terus menepuk ke
pundak si pemuda.
Sebelum telapak tangannya menyentuh pundak pemuda itu,
mendadak dia rasakan punggung tangannya seperti digigit nyamuk,
seketika seluruh lengan menjadi lemas lunglai dan pati rasa, tenaga
yang dikerahkanpun sirna, keruan kagetnya bukan main, cepat dia
periksa tangan sendiri, dilihatnya sebatang jarum sulam menancap
di punggung tangannya, jarum ini memancarkan cahaya kehijauan-
Seketika berubah pucat muka Cu-ki-cu, teriaknya ketakutan:
"Tong-bun-ceng-bong-ciam (jarum cahaya hijau keluarga Tong)"
Dalam berkata2 ini Cu-ki-cu kembali merasa kedua kakinya mulai
lemas dan pati raga pula.
Kadar racun pada jarum kemilau hijau ini tidak terlalu keras dan
memang khusus untuk membekuk musuh, yang diincar umumnya
adalah kaki dan tangan, musuh seketika akan lena dan tak mampu
melawan lagi.
Pemuda yang lebih tua mengejek. katanya: "Betul, kiranya kau
kenal juga"
Sambil mengawasi pemuda yang lebih tua, Cu-ki-cu bertanya:
"Kau, Siangkong ini dari. . dari keluarga Tong?"
Yang lebih muda cekikikan, katanya: "Jangan cerewet, berdiri
saja di situ"
Pada saat itulah kain gordyn di kamar sebelah timur tiba2
tersingkap. dua laki2 bersenjata golok menerobos keluar. demikian
pula dari kamar sebelah barat juga melompat keluar dua orang laki2
bersenjata golok pula, begitu keluar mereka berpencar terus
mengancam dengan golok mereka.
Gerakan keempat laki2 baju hitam cukup tangkas, begitu lompat
keluar terus berpencar, dari kerja uhan mereka acungkan golok
mengincar kedua pemuda yang terkepung itu.
Pemuda yang lebih muda melirik dan mencibir, katanya tak acuh:
"Kalian mau apa?"
Laki2 yang berdiri di muka mereka menyeringai, katanya. "Anak
kura2, ini yang dinamakan sorga ada pintu tak mau masuk- neraka
tertutup rapat kau malah menerjangnya, rupanya kau sendiri ingin
mampus, jangan menyesal bila tuan besarmu berlaku kejam."
"Kami hendak mencari Cu-ki-cu, siapa bilang ingin mati?" ujar si
pemuda.
"Tuanmu bilang, kalian anak kura2 ini tamatlah hari ini."
Pemuda yang lebih tua tidak sabar lagi, matanya memancarkan
cahaya terang, katanya dingin: "Dik, tak perlu banyak omong
dengan mereka, kaum keroco ini bukan orang baik, enyahkan
mereka saja."
Yang lebih muda mengiakan seraya mencabut pedang pendek,
berbareng pemuda yang lebih tua juga mengeluarkan sebatang
pedang panjang.
Laki2 yang bicara tadi menyeringai hina, katanya tergelak2:
"Anak kura2 ini ternyata pandai main silat juga."
Cu-ki-cu yang menyingkir ke samping segera menyela: "Mereka
adalah anak murid keluarga Tong dari Sujwan-"
"Berani kau omong, biar kugampar muka dan kutamatkan
jiwamu" bentak pemuda yang lebih tua. Sorot matanya yang dingin
menyapu pandang, lalu menudingkan pedangnya kepada keempat
musuh, katanya: "Siapa di antara kalian yang maju lebih dulu."
Laki2 yang bicara tadi berkata pula: "Keluarga Tong kalian
sebetulnya tak pernah bermusuhan dengan kami, tapi kaliann
justeru main seruduk kemari mencari gara2, umpama kalian putera
raja juga, hari ini tak boleh dilepaskan lagi"- Golok bergerak. dia
memberi tanda, dua orang laki2 baju hitam segera menubruk ke
depan pemuda yang lebih tua. ia sendiri dengan seorang laki2 lain
segera meluruk pemuda yang lebih muda, empat orang mengeroyok
dua orang.
Pemuda yang lebih tua berdiri tenang2 tanpa bergerak. kedua
musuh yang menyerbu berpencar dari kanan kiri, yang kanan
menabas lengan kanan yang memegang pedang, sementara musuh
yang sebelah kiri menggerakkan golok mengancam pinggang.
Ketika senjata kedua musuh hampir menyentuh badan baru
pemuda yang lebih tua mengejek. mendadak kaki kiri menggeser
mundur berbareng pedang di tangan bergetar, selarik sinar ke-milau
segera berputar. "Trang, trang", sekaligus dia tangkis golok kedua
musuhnya, pedangnya masih bergerak menabas miring.
Kepandaian silat kedua laki2 ini ternyata tidak lemah, sebat sekali
mereka berkelit sembari angkat golok balas menyerang, gabungan
serangan golok mereka cukup gencar dan mengincar tempat
mematikan di tubuh pemuda yang lebih tua.
Sementara pemuda yang lebih muda mengembangkan ilmu
pedangnya yang cukup hebat, sinar pedangnya menyamber seperti
rantai kemilau menciptakan bayangan cahaya yang berlapis2.
Hanya beberapa gebrak. kedua musuhnya telah dicecar di bawah
angin. Sebetulnya kedua laki2 ini biasanya mempunyai cara
tersendirijlka mengeroyok musuh, tapi entah mengapa hari ini
rangsakan sengit mereka t idak manjur lagi.
Lain halnya dengan kedua temannya yang mengeroyok pemuda
yang lebih muda, mereka sudah berada di atas angin- Pemuda yang
lebih muda bersenjata pedang pendek. Lwekangnya memang lebih
rendah dan latihan kurang matang, kalau satu lawan satu mungkin
lebih unggul, tapi dikeroyok dua, dia betul2 kewalahan, niatnya
melawan dan merobohkan kedua musuh itu, apa daya tenaga tak
sampai. Sepuluh jurus kemudian keadaannya sudah semakin
runyam, pedang pendeknya tangkis kanan pukul kiri, gerak
pedangnya menjadi kacau dan tak teratur lagi. Sudah tentu hatinya
kaget tapi juga geram, teriaknya: "Kalian kawanan kunyuk yang
ingin mampus, jangan bikin marah hatiku, nanti kupenggal kepala
kalian."
Laki2 baju hitam disebelah kiri tertawa, ejeknya: "Anak kura2,
pandai juga membual." - Sret, sret, tiba2 gerak goloknya dipercepat,
dua kali dia membacok dan menabas.
Pemuda yang lebih muda dipaksa menangkis dan melompat
mundur dengan kalang kabut. Laki2 baju hitam tertawa riang, golok
dibolang-balingkan, mendadak dia mendesak maju seraya
membentak:
"Anak kura, baru sekarang kau tahu rasa"
Belum habis bicara, pada saat mulutnya masih terbuka,
mendadak dia menjerit keras dan roboh terjungkaL
Melihat temannya tanpa sebab mendadak terjungkal, keruan
laki2 yang lain terperanjat, sedikit lena tahu2 pedang si pemuda
sudah menyamber tiba, hendak berkelitpun kasip. baju pundaknya
terpapas, walau kulitnya tidak terluka, namun dia sudah patah
semangat, bergegas dia jejak kaki dan melompat mundur.
Si pemuda meradang seraya membentak: "Kaupun jangan harap
bisa lari" - Dari balik lengan bajunya tiba2 menyamber keluar
sebatang panah kecil lembut. Baru saja laki2 baju hitam mau
berkelit, tapi sudah terlambat, terasa pergelangan kanan yang
memegang golok kesakitan, "trang", golok jatuh terlepas di tanah,
tanpa kuasa iapun jatuh tersungkur.
Kejadian berlangsung dalam beberapa kejap saja, kedua
temannya yang mengeroyok pemuda lebih tua itu sebetulnya sudah
berada di atas angin, serta melihat kedua temannya roboh terkena
senjata rahasia, mereka menjadi gugup dan ciut nyalinya, sedikit
lena pedang pemuda lebih tua segera menusuk iga kiri laki2 yang
berada di sebelah kanan-Laki2 itu menjerit keras2, sambil mendekap
lukanya dia terjung keluar dan melarikan diri. Sudah tentu temannya
tak berani bertempur lebih lanjut, segera iapun ngacir masuk ke
kamar sebelah barat.
Empat musuh, dua rebah tak berkutik, dua lagi lari mencawat
ekor. Tinggal Cu-ki-cu yang masih berdiri di sana seperti patung,
wajahnya cemberut kecut, katanya dengan nada yang minta
dikasihani: "Siangkong berdua harap tahu, orang2 jahat sudah ada
yang mampus, yang masih hidup juga terluka melarikan diri,
ampunilah jiwa Losiu."
Pemuda lebih muda menjengek. serunya: "orang jahat,
memangnya kau tidak jahat?"
"Sungguh penasaran, itu fitnah, Losiu . . . . "
"Bukankah tadi kau bilang Cu-ki-cu tidak di rumah?" ejek pemuda
lebih muda.
Cu-ki-cu menghela napas, katanya: "Siang kong tidak tahu latar
belakang persoalannya, tadi Losiu bilang Cu-ki-cu tidak ada,
maksudku mau memberi peringatan kepada kalian supaya lekas
pergi, karena Losiu diancam oleh keempat penjahat tadi dan tak
mungkin memberi penjelasan kepada kalian-"
"Mana Piaukoku bertiga" desak pemuda yang lebih muda.
"Ada, ada," kata Cu-ki-cu sambil menyengir, "mereka semaput
terkena dupa wangi, harap Siang-kong ampuni Losiu, segera
kuambil obat pemunahnya."
Pemuda yang lebih tua sudah simpan pedangnya, dari dalam
kantong dia keluarkan sebutir obat dan diangsurkan, katanya:
"cabutlah ceng-bong-ciamdan telan obat ini."
Dengan tangan kiri Cu-ki-cu terima obat itu, sambil berterima
kasih ia mencabut jarum yang menancap dipunggung tangannya,
lalu telan pil itu.
Mengawasi kedua orang yang menggeletak di tanah, pemuda
yang lebih tua bertanya sambil menoleh: "Dik, panahmu dibubuhi
racun, apakah kedua orang ini masih bisa ditolong?"
Pemuda lebih muda cekikikan, katanya: "Baru pertama kali ini
aku gunakan senjata rahasia pemberian paman, paman pernah
bilang, dalam setengah jam kalau mereka tidak dlobati, jiwa bisa
melayang."
"Kau punya obatnya? Kedua orang ini harus ditawan hidup2."
"Ada saja, obatnya kusimpan di dalam kantong." Mendengar
percakapan mereka, terunjuk cahbaya aneh pada sorot mata cu-kicu,
setelah makan obat, lengan kanannya kini sudah bisa bergerak.
lekas dia menuding sambil berkata: "Siang kong, silakan ikut Losiu,
teman kalian di sebelah timur, Losiu akan ambil obat penawarnya."
Dia lantas menyingkap kerai, tertampak tiga orang menggeletak di
dalam kamar, mereka ialah Ban Jin-cun, Kho Keh hoa dan cu-jing.
"Di mama kau simpan obatmu, lekas ambil"
"Kusimpan di kamar, segera Losiu mengambilnya," sahut Cu-kicu,
bergegas dia lari ke kamarnya.
Pemuda yang lebih muda sudah keluarkan obat penawar
mendekati kedua laki2 baju hitam, panah dia cabut lalu membubuhi
obat di tempat luka serta membuka hiat-to, tapi mendadak ia
menjerit: "He, kenapa kedua orang ini sudah mati?"
"Tadi kau bilang setengah jam baru racun bekerja, mana
mungkin mati?" ujar pemuda yang lebih tua.
"Memang, tapi mereka. ......" mendadak dia berseru heran:
"He,Ji-ko, bukankah ini ceng-bong-ciam miiikmu?" .
"ceng-bong-ciam milikku?" seru pemuda yang lebih tua. "Di
mana?"
Dilihatnya pada dada kedua laki2 yang rebah di tanah masing2
tertancap sebatang jarum sulam yang kemilau kehijauan, memang
itulah ceng-bong-ciam. seketika alianya menegak. katanya gusar:
"Bangsat keparat, kita ditipu olehnya. Cu-ki-cu jelas sekomplotan
dengan kawanan penjahat ini."
"Pantas" ujar pemuda yang lebih muda. Jarum yang melukai dia
tadi dia gunakan untuk membunuh kedua orang ini. Kenapa mereka
dibunuh? Kuatir membocorkan rahasia?
"Agaknya kau sudah tambah pintar." Sahut pemuda yang lebih
tua. "Nah, sekarang kita semprot muka mereka dengan air dingin
supaya siuman."
"Memangnya begitu gampang?"
"Tidak percaya, boleh kau buktikan"
Dari tempat sembahyang pemuda yang lebih muda ambil
secangkir kecil air suguhan terus di -semprotkan kemuka ketiga
orang.
Ban Jin-cun melompat bangun lebih dulu, segera ia menjura
kepada mereka, katanya: "Apakah saudara berdua yang menolong
kami bertiga?"
Pemuda yang lebih muda memang ceriwis, katanya:
"Memangnya Cu-ki-cu mau menolong kalian pula?"
Kho Keh hoa pun sudah berdiri, tanyanya: "Kemana bangsat Cuki-
cu itu?"
"Dia sudah lari," kata pemuda yang lebih tua.
Yang lebih muda, mendekati Cu J ing, katanya., "Piauko, kau tidak
kenal Siaute lagi?"
Sekilas Cu Jing melengak karena dipanggil Piauko, dengan
menatap muka orang ia menjura dan bertanya: "Saudara ini siapa?"
"Kenapa Piauko jadi pelupa, memang sesama saudara misan kita
baru bertemu sekali, mungkin Piauko sudah lupa, entah Ya-khim
Piauci baik2 saja?”
Merah muka cu-Jing, tanyanya heran, "Kau. . ."
"Siaute Ling Kun- ping . . . . " tukas pemuda yang lebih muda.
Mendadak dia pegang lengan Cu Jing terus diseret ke sana serta
berbisik di telinga-nya: "Piauci, aku adalah Ji-ping." Ternyata
pemuda ini samaran Pui Ji-ping, jadi Cu Jing adalah Piaucinya, yaitu
Cu Ya-khim.
Cu Ya-khim alias Cu Jing kembali melenggong, ia tatap muka
"Ling Kun-ping", katanya: "Jadi kau . . . . "
"Aku menyamar," kata Ji-ping lirih.
Mendengar suara orang memang betul Pui Ji-ping, lekas Cu Yakhim
berpesan dengan suara lirih: "Jangan kau bocorkan rahasiaku."
"Ya, tahu sama tahu," ujar Ji-ping.
Cu Ya-khim genggam tangannya, cepat katanya dengan girang:
"Piaute, siapakah dia? Lekas perkenalkan pada Piauko."
Pui Ji-ping menjawab: "Dia adalah nona kedua keluarga Tong
dari Sujwan dan bernama Tong Bun-khing." Lalu dengan suara
keras dia tuding pemuda lebih tua dan berkata: "Inilah Tong Bunkhing,
Tong-jiko."
Lekas cu Ya khim menjura, katanya: "Kira-nya Tong-heng, sudah
lama siaute ingin berkenalan-"
Tong Bun-khing tertawa, katanya: "Akupun sudah lama dengar
nama besar Cu-heng."
Tak lupa Cu Ya-khim perkenalkan juga mereka kepada Ban Jincun
dan Kho Keh-hoa.
Ban Jin-cun lantas berkata: "Entah Tong-heng dan Ling-heng
bagaimana bisa mencari ke tempat ini?"
"Hanya kebetulan saja, kami berdua lewat di Tong-seng, kulihat
cu- piauko ter-buru2 menempuh perjalanan ke utara, entah apa
yang telah terjadi? Maka secara diam2 kami mengunt it kemari," lalu
dia ceritakan kejadian yang baru lalu.
"Bangsat itu lari terbirit2, dalam kamarnya ini tentu ketinggalan
barang2nya, mari kita periksa bersama," demikian usul Ban Jin-cun.
Demikianlah waktu mereka sibuk bekerja, tiba2 didengarnya
suara deru angin, Ban Jin- can cukup cerdik, lekas dia memberi
tanda kepada yang lain supaya diam, pelan2 dia menyingkap gordyn
dan melongok keluar. Dilihatnya seekor burung dara pos tengah
hinggap di depan gubuk. seketika tergerak hatinya, lekas dia
menerobos keluar. Agaknya burung dara itu cukup terlatih, melihat
orang asing yang tidak di kenalnya, segera dia pentang sayap
hendak terbang pergi,
Sudah tentu Ban Jin-cun tidak berpeluk tangan, sigap dia
menjemput sebutir batu terus ditimpukkan, berbareng dia jejak kaki,
badan melambung ke atas sambil ulur tangan menangkap burung
yang meluncur jatuh terkena timpukan batunya. Lekas Cu Ya-khim
ikut lari keluar, tanyanya: "Bagaimana Ban-heng?"
Dengan kedua tangan memegang burung dara jin-cun sudah
melangkah balik, katanya: "inilah burung dara pos."
Sementara itu Tong Bun -khing, Kho Keh-hoa dan Pui Ji-ping
juga sudah keluar. Ban Jin-cun bertanya: "Ada yang ditemukan di
dalam rumah?"
"Tiada, kecuali pakaian t iada benda2 lain di rumahnya."
Dari kaki burung dara Ban Jin-cun melepaskan sebuah bumbung
kecil, lalu dituang keluarkan secarik kertas gulungan serta
dibeberkan dan dibaca, tulisan itu berbunyi:
"segera diperiksa asal usul Kiang-lotoa pemilik warung
teh Hin-liong di dermaga An-khing. orang ini ada sangkut
pautnya dengan para budak yang lari menculik Cu Bun-hoa
palsu, segera bekerja, jangan terlambat. Tertanda Tin.”
Mendelu hati Cu Ya-khim melihat bunyi "Cu Bun-hoa palsu",
batinnya: "Entah siapa yang memalsu ayahku?"
Ban Jin-cun angsurkan kertas itu kepada yang lain, katanya:
"Peristiwa budak2 lari, entah apa yang terjadi? Agaknya bertambah
ruwet persoalan dalam Kangouw."
Mendadak Pui Ji-ping berjingkrak kegirangan sambil goyang2
lengan Tong Bun-khing, teriaknya: "Jiko, jejak Piauko sudah
diketahui, tekas kita susul ke An-khing."
"Piaute, apa katamu?" tanya Cu Ya-khim heran- "Siapa Piaukomu
itu?"
Jengah muka Pui Ji-ping, katanya sambil mengawasi Tong Bunkhing:
"Panjang kalau diceritakan, nanti kujelaskan, sekarang lekas
kita susul ke An-khing."
Cu Ya-khim menoleh kepada Ban Jin cun dan Kho Keh-hoa,
tanyanya: "Ban heng dan Kh-o-heng mau pergi ke An- khing juga?"
"Kami hendak cari klomplotan Hek-liong-hwe. dari tulisan ini
dapat kami simpulkan bahwa kasus larinya budak2 ini pasti ada
hubungannya dengan Hek liong-hwe, sudah tentu kita akan pergi
kesana juga.
Girang Cu Ya-khim, katanya: "Syukurlah, kita masih
seperjalanan-"
Mimiknya yang berseri senang itu diam2 di-perhatikan oleh Pui Jiping,
dalam hati ia membatin: "Agaknya Piauci sudah kasmaran
terhadap Ban Jin-cun ini."
ooo(000dw000)ooo
Layar sudah berkembang sehingga perahu laju dengan pesatnya
melawan gelombang ombak sungai.
Waktu pintu kamar dibuka, Cu Bun-hoa palsu yang mengenakan
jubah biru berjenggot hitam tampak duduk menyandang meja, mata
terpejam seperti tertidur. Pelan2 gordyn tersingkap. Giok-je, Pinghoa
dan Liau-hoa satu persatu melangkah masuk. . Setelah berada
di dalam kamar, Liau-hoa lantas berbisik: "Agaknya bukan dia."
Sebelum berlalu tadi. Giok-je telah menutuk Hiat-tonya, kini
orang tetap berduduk dalam sikap yang sama, sudah tentu dia
bukan orang berkedok tadi.
Giok-je menoleh kepada Liau-hoa maksud-nya supaya jangan
banyak bicara, pelan2 dia maju ke depan Ling Kun-gi, dengan
seksama ia memeriksa. Baru sekarang dia mau percaya, karena tadi
dia menutuk Ki-bun-hiatnya, sampai sekarang kain baju tepat
dibawah dada kiri mendekuk ke dalam sebesar kacang, jelas sejak
tadi dia t idak pernah bergerak. Tujuannya menutuk Hiat-to orang
bukan untuk mencegah orang bergerak. tapi hendak menjajal
apakah kepandaian silatnya sudah pulih kembali.
Seperti diketahui, setiap "tamu agung" yang di "bertandang" ke
coat- sin- san-ceng semuanya sudah dicekoki racun pembuyar
Lwekang. Tapi kabar yang menyusul belakangan mengatakan waktu
Coat Sin-san-ceng di serbu musuh, Lok-san Taysu berempat sudah
pulih kepandaiannya sehingga Hian-ih-lo-sat mengalami kekalahan
total. Cu Bun-hoa asli yang ada di Coat Sin-san-ceng itu adalah
usaha selundupan Giok-je sendiri, kalau tiga yang lain sudah pulih
kepandaiannya, maka Cu Bun-hoa tentu juga sudah pulih
Lwekangnya.
Sejak terjadi peristiwa aneh di Sam-koan-tian malam itu, di mana
secara mendadak dan di luar sadar mereka jatuh semaput serta
kedatangan orang berkedok di atas perahu tadi, diam2 Giok-je
sudah curiga hahwa semua itu adalah ulah atau perbuatan orang
yang menyamar jadi Cu Bun-hoa ini.
oleh karena itu, sebelum berlalu tadi, diambang pintu mendadak
dia menutuk dengan kekuatan angin jarinya, kelihatan orang tidak
siaga dan tanpa melawan, ini membuktikan bahwa racun penawar
Lwekang dibadannya masih bekerja. Kini setelah terbukti bahwa
kecurigaannya meleset, dia lebih yakin bahwa orang berkedok yang
muncul tadi juga bukan orang yang menyamar Cu Bun-hoa ini.
Kalau bukan dia, lalu siapa? Jelas orang itu datang tanpa naik
perahu atau sampan, waktu pergi dia bawa sampan orang2 Hekliong-
hwe, meluncur kira2 puluhan tombak, sampan itu tahu2 sudah
berhenti, sementara orang berkedok di atas sampan itupun lenyap
tak keruan parannya. Kecuali dia terjun ke air, hanya ada situ
kemungkinan, yaitu dia menyelundup balik ke atas perahu. Analisa
ini memang masuk akal, tapi kini dia harus menumbangkan
rekaannya sendiri, sebab kecuali Cu-cengcu palsu ini boleh
dikatakan tiada orang lain yang patut dicurigai di atas perahu ini.
Sekian lama Giok-je berdiri menjublek dihadapan Ling Kun-gi tanpa
bersuara.
"cici, bukankah engkau hendak membuka Hiat-tonya?" kata Pinghoa.
Mendadak tergerak hati Giok-je, la manggut2 dan menepuk sekali
dipundak orang untuk mem-buka hiat-tonya, mulutnya bersuara
lirih: "Cu-cengcu bangunlah"
Badan Ling Kun-gi sedikit bergetar, tiba2 dia membuka mata,
katanya sambil mengawasi Giok-je "Lohu tertidur sambil duduk.
entah waktu apa sekarang?"
"Sudah lewat lohor, tiba saatnya makan siang," sahut Giok-je,
Ping-hoa dan Liau hong sudah buka tenong dan keluarkan
hidengan dan arak ditaruh di atas meja.
Giok-je berpaling, katanya: "Kalian keluar saja." lalu ia
menambahkan: "Cu-cengcu silahkan makan-"
Kun-gi berdiri, dilihatnya empat macam hidangan sudah tersedia
di atas meja, sepoci arak dan seteko teh, tanyanya: "Apakah nona
sudah makan?"
"Hamba sudah makan di luar," sahut Giok-je, la mengisi
secangkir arak dan disuguhkan kepada Ling Kun-gi, katanya dengan
tersenyum manis: "Yang tersedia di perahu hanya hidangan kasar,
harap Cu-cengcu makan seadanya saja."
Kun-gi tidak sungkan, baru saja dia angkat cangkir arak hendak
minum, mendadak cangkir dia turunkan pula, tanyanya: "Nona2
menolongku keluar dari Coat Sin-san-ceng, tertunya punya maksud
tujuan tertentu?"
Giok-je pandang cangkir arak orang, sahutnya: "Cu-cengcu kuatir
hamba menaruh racun dalam arak? Kalau begitu biarlah hamba
minum dulu secangkir arak ini."
Kun-gi tertawa, katanya: "Nona tidak menjawab pertanyaanku,
itu berarti tidak mau memberi keterangan-" Tanpa tunggu reaksi si
nona kembali ia angkat cangkir arak, ujarnya: "Lohu sudah terkena
racun penawar Lwekang di Coat Sin-san-ceng, buat apa nona harus
taruh racun lagi dalam arak ini, untuk ini Lohu t idak perlu kuatir."
Sekali tenggak ia habiskan arak itu.
Giok-je tertawa tawar, kembali dia isi cangkir orang, katanya:
"Cu-cengcu berhasil menawarkan getah beracun mereka, tentunya
tak perlu takut orang menaruh racun di dalam arak."
Kun-gi cukup cerdik, dia tahu orang sengaja hendak memancing
keterangan dirinya tentang getah beracun itu, maka iapun sengaja
menggeleng, katanya: "Bicara soal obat penawar getah beracun itu,
terus terang Lohu sendiri juga tidak percaya akan hasil yang telah
kucapai itu."
"Tong-locengcu dari Sujwan adalah ahli racun di Bu-lim dan
terkenal sebagai dedangkotnya racun, selama tiga bulan dia tak
mampu berbuat apa2, namun Cu-cengcu hanya dalam tiga hari
berhasil menawarkan getah itu menjadi air jernih, semua ini jelas
memerlukan pengetahuan luas dan pengalaman yang dalam, tak
mungkin hanya terjadi secara kebetulan saja."
Kun-gi geli, katanya sambil mengawasi Giok-je. "Jadi nona juga
yakin bahwa Lohu pasti bisa menawarkan getah beracun itu?"
Giok-je menarik kursi dan duduk di sebelah samping, katanya
sambil membetulkan sanggul rambutnya: "Apa perlu dikatakan lagi,
bukankah sudah terbukt i Cu-cengcu berhasil menawarkan getah
beracun itu?"
"Ya, oleh karena itulah Lohu menduga nona menjalankan
perintah menyelundupkan Lohu ke luar dari Coat-siu-sau-ceng,
tentunya punya tujuan tertentu bukan?"
Giok je melengos dari tatapan tajam Ling Kun-gi, katanya:
"Pandangan Cengcu memang tajam dan teliti, untuk ini hamba tidak
perlu mungkir lagi"
"Kalau begitu, kenapa nona t idak berterus terang kepada Lohu?"
"Bukan hamba t idak mau menerangkan, soalnya apa yang hamba
ketahui amat terbatas, ini disebabkan oleh kedudukan hamba, ada
persoalan yang tak boleh dibocorkan kepada orang luar."
"Tak banyak yang ingin kuketahui, misalnya nona dari Pang atau
Hwe mana, ke mana Lohu hendak dibawa, soal ini tentu nona bisa
memberi keterangan?"
Terunjuk sikap serba salah pada wajah Giok-je katanya setelah
menepekur sebentar:
"Bicara terus terang, kami dari.....dari Pek-hoa-pang......"
Sebetulnya Ling Kun-gi sudah tahu, dengan tersenyum dia
berkata: "Pek-hoa-pang, bukan saja namanya segar dan enak
didengar, tentunya anggota Pang kalian seluruhnya terdiri dari kaum
hawa?"
Merah muka Giok-je, tapi dia manggut2.
"Kemana Lohu hendak dibawa?"
"Hal ini hamba tidak berani menjelaskan."
"Tentunya tujuan kita adalah suatu tempat yang terahasia sekali?
Lalu siapa nama gelaran Pangcu kalian?"
Berkedip2 bola mata Giok-je, katanya dengan tertawa nakal:
"Setelah Cengcu tiba di sana dan berhadapan dengan Pangcu, boleh
kau tanya sendiri."
"Jadi nona tak berani menerangkan?""
"Cu-cengcu jangan memancing, hamba adalah anak buahnya,
betapapun hamba t idak berani sembarang menyebut nama gelaran
Pangcu."
Sesaat lamanya keduanya bungkam, suasana menjadi hening
sekejap. Kun-gi sikat hidangan yang tersedia, kejap lain Ping-hoa
dan Liau-hoa sudah bereskan piring mangkuk, lalu menyuguh
secangkir teh. Giok-je berdiri serta memberi hormat, kata-nya:
"Silakan Cengcu istirahat, hamba mohon diri."
Dengan langkah lembut dia lantas keluar. Beruntun dua hari,
kecuali Ping-hoa dan Liau-hoa yang meladani makan minumnya,
Giok-je tidak pernah unjuk diri. Agaknya dia sudah kapok dan
berlaku hati2 terhadap Ling Kun-gi, banyak bicara tentu bisa
kelepasan omong, maka lebih baik dia hindari bicara atau ngobrol
dengan Ling Kun-gi.
Selama itu Kun-gi juga tidak keluar kamar, tapi dia tahu bahwa
kamar tempat tinggalnya selalu diawasi orang,jelas mereka adalah
Liok-piauthau dari Bau-seng-piau-kiok dan anak buahnya. Kamar
belakang yang terletak di buritan dan terpisah oleh dinding papan
dengan kamar Ling Kun-gi adalah kamar tinggal Giok-je bertiga.
Selama dua hari ini Giok-je sembunyi dalam kamar, dari celah2
dinding papan secara diam2 selalu dia mengawasi gerak-gerik Ling
Kun-gi. Tapi Kun-gi pura2 t idak tahu.
Perjalanan dua hari ini mereka lewatkan dengan tenang dan
tenteram, tak pernah bentrok atau bersua dengan orang2 Hekliong-
hwe lagi. Hari kedua setelah nakan malam, cuaca sudah gelap,
terasa perahu ini seperti membelok memasuki sesuatu selat.
Biasanya di waktu petang perahu memang cari tempat yang
terlindung dari hujan badai, tapi hari ini sudah gelap, perahu masih
terus laju dengan kecepatan sedang, malah selat ini rasanya terlalu
sempit dan belak-belok ke kanan-kiri, ini terasa dari seringnya
perahu oleng ke kanan atau ke kiri.
Peralatan perahu ini serba lengkap, tapi tiada membawa lampu
atau lentera sehingga keadaan dalam perahu amat gelap, maka
para kelasi bekerja mengandalkan kemahiran dan pengalaman saja.
Kira2 setengah jam kemudian hingga hampir mendekati kentongan
pertama, laju kapal baru mulai terasa tenang, tak lama lagi
terdengar suara rantai gemerincing, agaknya kelasi menurunkan
jangkar menghentikan perahu, suara ombak berdebur2 kiranya
kapal telah merapat di dermaga.
Dalam keheningan itulah, tiba2 pintu diketuk pelahan, lalu
terdengar suara Liau-hoa berkata: "Apakah Cu cengcu sudah tidur?"
Sengaja Kun-gi menggeliat seperti terjaga dari tidurnya, tanyanya
dengan suara parau: "Siapa ?"
"Hamba Liau-hoa," sambut orang di luar pintu, "silakan Cengcu
mendarat."
"O,jadi sudah sampai tempat tujuan ?" tanya Kun-gi, "tunggu
sebentar, segera Lohu keluar."
Sengaja dia malas2 mengenakan pakaian, lalu membuka pintu.
Tampak Liau-hoa menenteng sebuah lampion yang terbuat dari kulit
hitam, maka sekelilingnya tetap gelap, cahaya lampu hanya
remang2.
Melihat Kun-gi keluar, lekas Liau-hoa memberi hormat, katanya:
"Malam pekat, harap Cengcu ikuti hamba" Lalu dia mendahului
beranjak ke sana.
Mata Kun-gi bisa melihat di tempat gelap, walau malam pekat dia
masih bisa melihat jelas keadaan sekelilingnya. Ternyata perahu
berhenti disuatu tempat penuh belukar, tak jauh di sebelah depan
adalah hutan lebat, lebih jauh lagi adalah tanah pegunungan yang
semakin meninggi. Ping-hoa tampak berdiri dipinggir sungai,
tangannya juga membawa lampion berkerudung kulit hitam,
agaknya hendak menyambut dirinya. Beberapa tombak di daratan
tersebar puluhan orang berseragam hitam, itulah Liok Kiau-lam
bersama anak buahnya serta orang2 Kiang-lotoa, semuanya
bersenjata lengkap, penjagaan ketat,jelas mereka kuatir kalau
dirinya melarikan diri. Kun-gi anggap tidak melihat, dia ikuti Liauhoa
terus naik ke daratan. Di tempat atas berhenti sebuah kereta
yang tertutup rapat, Ping-hoa berhenti di samping kereta, katanya
sambil angkat lampion t inggi: "Cu-cengcu naik ke atas kereta."
Waktu Kun-gi naik ke dalam kereta, tampak Giok-je sudah duduk
di situ, disusul Ping-hoa dan Liau-hoa juga naik, keduanya
padamkan lampion, duduk di dua sisi.
Kusir kereta segera tarik tali kendali menjalankan kereta. Dalam
kereta gelap gulita, lima jari tangan sendiri juga tidak kelihatan,
masing2 duduk tegak tak bergerak dan tak bersuara, maka suasana
menjadi hening mencekam. Akhirnya Kun-gi tidak tahan, setelah
menarik napas panjang.dia buka suara: "Kenapa belum sampai juga
?"
Giok-je terpaksa berkata. "Cu-cengcu bisa beristirahat saja,
setelah sampai nanti hamba memberi tahu."
"Agaknya nona segan berbicara dengan Lohu," kata Kun-gi.
"Cengcu adalah tamu agung Pang kita, mana hamba berani
kurang adat? Soalnya peraturan Pang kami amat keras, banyak
bicara pasti kelepasan omong, terpaksa hamba bungkam saja."
"Memangnya banyak persoalan yang ingin Lohu ajukan, agaknya
sebelum t iba di tempat tujuan Lohu tidak akan memperoleh
jawaban."
"Betul, kedudukan hamba rendah, apa yang Cengcu ingin ketahui
mungkin hamba tidak bisa menerangkan, tapi setiba di tempat
tujuan pasti ada orang yang ditugaskan melayani Cengcu, semua
pertanyaan pasti terjawab dengan memuaskan." Habis berkata
Giok-je peluk tangan duduk ke belakang serta pejamkan mata.
Begitulah tanpa terasa beberapa jam telah berlalu, kereta yang
berjalan di atas tanah pegunungan berbatu berguncang dengan
hebatnya, kini mendadak berjalan dengan enteng dan rata, derap
kuda-pun terdengar pelahan teratur dan berirama, kiranya kereta
sudah berada dijalan raya yang lapang dan rata.
Kira2 satu jam lagi baru kereta berhenti, lima tombak disebelah
kanan sana terdengar ada orang membuka sebuah pintu besar,
cepat kereta bergerak pula ke depan. Hanya sejenak lagi akhirnya
kereta benar2 berhenti.
Terdengar suara kusir kereta berseru lantang: "Hoa-kongcu
sudah sampai, Giok-je sudah berpakaian perempuan, tapi orang
masih memanggilnya Hoa-kongcu..
Begitu kusir membuka pintu, Ping-hoa dan Liau-hoa mendahului
melompat turun. Melihat Kun-gi memejamkan mata, Giok-je kira
orang tertidur pulas, maka ia memanggil lirih: "Bangunlah Cucengcu,
kita sudah sampai."
Waktu Kun-gi melangkah turun, dilihatnya dua gadis remaja
berpakaian serba hijau memhawa lampion berdiri di kanan kiri.
Waktu dia angkat kepala ternyata mereka sekarang berada di
sebuah pekarangan dari sebuah gedung besar.
"Silakan masuk" kata Giok-je yang turun terakhir dari kereta.
Kedua gadis remaja pembawa lampion segera bergerak lebih dulu
menunjukkan jalan.
Tanpa bersuara Kun-gi ikut i langkah mereka memasuki sebuah
lorong panjang yang tembus pada sebuah pekarangan, di depan
berderet tiga buah petak bangunan, tanaman bunga bertebaran rapi
dan teratur, suasana sejuk nyaman. Kedua gadis remaja bawa
mereka menuju ke gedang sebelah kiri, langsung dorong pintu terus
melangkah masuk, Giok-je berkata: "Silahkan masuk Cu-cengcu."
Kuw-gi melangkah masuk, tampak meja kursi lengkap, pajangan
kamar ini serba berkelebihan, mepet dinding sebelah kiri terdapat
sebuah ranjang kayu besar yang terukir indah, kasur seprei dan
bantal guling serba baru. Giok-je berada di belakangnya.
Katanya dengan tertawa: "Inilah kamar untuk Cu-cengcu, kamar
sebelah adalah ruang perpustakaan, entah Cu-cengcu kerasan tidak
tinggal di sini?"
Kun-gi tertawa sambil mengelus jenggot, katanya: "Baik sekali,
setelah berada di sini, tidak kerasan juga harus kerasan, rasanya
Lohu masih bisa menyesuaikan diri."
Seorang gadis remaja yang lain datang membawakan sebaskom
air buat cuci muka.
Giok-je segera menuding gadis remaja ini, katanya: "Dia,
bernama Sin-ih, khusus tugasnya disini meladeni segala keperluan
Cu-cengcu, kalaun perlu apa2 boleh Cengcu berpesan padanya"
Kun-gi pandang nona bernama Sin-ih ini, usianya sekitar tujuhbelasan,
alisnya lentik melengkung, wajahnya molek dan mungil,
kulitnya yang putih bersemu merah, ditambah pupur yang
semerbak, kelihatan agak kurang wajar.
Lekas Sin-ih melangkah maju serta memberi hormat, katanya:
"Hamba menyampaikan hormat dan selamat datang kepada Cucengcu,
ada perlu apa2 silahkan Cengcu pesan saja kepada hamba."
"Cu-cengcu tentu lelah setelah menempuh perjalanan jauh,
biarlah hamba mengundurkan diri saja," kata Giok je.
Kun-gi tahu orang terburu2 hendak memberi laporan kepada
Pangcunya, maka dengan tertawa dia berkata: "Nona sendiri tentu
juga letih dan perlu ist irahat, silakan saja."
Waktu Giok-je keluar, Kun-gi menutup pinggir jendela mencuci
muka, belum lagi dia duduk Sin—ih sudah menyuguhkan secangkir
teh. Kun-gi menerimanya dan meneguknya sekali lalu ditaruh di
meja, katanya: "Lohu ingin t idur, nona tidak usah repot2 lagi."
"Hamba bertugas disini, kalau sampai Cengcu kurang puas dan
pekerjaan tidak beres, bila ketahuan Congkoan, tentu hamba bisa
dihukum."
"Tidak, Lohu tidak ingin bikin repot kau, boleh kau pergi tidur
juga . Eh, nanti dulu, siapakah Cong-koan kalian?"
"Congkoan bernama Giok-lan, apa Cengcu ada pesan?"
"Tidak, Lohu hanya tanya sambil lalu saja. Kau boleh pergi."
Sin-ih mengundurkan dan merapatkan pintu sambil mengawasi
bayangan orang, diam2 Kun-gi membatin: "Nona ini terang
mengenakan topeng kulit yang tipis."
Bahwa dirinya membekal Pi-tok-cu dan Jing-sin-tan pemberian
nona Un, maka dia tidak perlu takut terhadap segala racun dan obat
bius, walau berada di sarang harimau, hatinya tetap tenteram dan
sikapnya wajar. Dia yakin Pek-hoa-pang tentu juga punya tujuan
tertentu terhadap dirinya. Malam sudah larut, dia tahu besok pasti
banyak urusan yang melibat dirinya, segera dia tanggalkan pakaian
terus merebahkan diri. Malam ini dia tidur dengan pulas. waktu
bangun hari sudah terang tanah, lekas di kenakan pakaian, buka
pintu dan melangkah keluar.
Sin-ih sudah menunggu di luar kamar, melihat Kun-gi keluar
segera dia tertawa, sapanya sambil membungkuk: "Selamat pagi
Cu-cengcu."
"Selamat pagi nona" Kun-gi balas menyapa.
"Hamba tak berani di panggil begitu, panggil nama hamba saja"
Sin-ih terus lari menuju ke belakang sambil berkata: "Hamba akan
bawakan air untuk cuci muka."
Lekas sekali dia sudah kembali membawa sebaskom air dan
handuk hangat, selesai Kun-gi cuci muka, iapun menyiapkan semeja
hidangan di kamar tamu sebelah, katanya: "Silakan Cengcu sarapan
pagi."
Kun-gi melangkah ke kamar sebelah, tersipu2 Sin-ih tarik kursi
menyilakan dia duduk, tanpa bicara Kun-gi habiskan dua mangkuk
bubur, habis makan Sin-ih sudah sodorkan sapu tangan putih pula
untuk membersihkan mulut dan tangan. Pada saat itulah dari luar
pekarangan terdengar derap langkah pelahan, tampak seorang
perempuan cantik berpakaian serba putih muncul di ambang pintu.
Kecuali rambutnya yang hitam legam mengkilap, sekujur badan
perempuan cantik ini serba putih laksana salju, sampaipun
perhiasan disanggulnya juga berwarna putih, perawakannya
semampai, tak ubahnya seperti dewi dari kahyangan. Begitu melihat
perempuan cantik ini Sin-ih segera berbisik: "Cu cengcu, Congkoan
telah datang."
Mendengar perempuan remaja berpakaian serba putih, ini adalah
Pek-hoa-pang Congkoan yang bernama Giok-lan, lekas Kun gi
berdiri. Sementara itu gadis jelita itu sudah masuk ke kamar tamu,
dia memberi hormat kepada Kun-gi serta menyapa: "Cu-cengcu
datang dari jauh, maaf hamba terlambat menyambut."
"Terlalu berat kata2 nona, mana Lohu berani menerima
kehormatan setinggi ini."
Setelah berhadapan baru Kun-gi melihat jelas alis orang yang
melengkung bulan sabit seperti dilukis, bola matanya bersinar
cemerlang bak bintang kejora, hidung mancung bibir tipis seperti
delima merekah, begitu cantik, begitu molek, sikapnya agung
berwibawa pula. Cuma kulit mukanya, kelihatan rada pucat. Sekilas
pandang Kun gi lantas tahu bahwa gadia secantik bidadari ini
ternyata juga mengenakan kedok muka.
Maklumlah gurunya Hoan-jiu-ji-lay, pada 50 tahun yang lalu
adalah ahli tata rias, begitu besar dan tersohor namanya di Bu-lim,
sebagai murid tunggal yang mewarisi segala kepandaian gurunya,
sudah tentu Kun-gi cukup mahir pula membedakan wajah orang
apakah dia dirias atau pakai kedok,
Dengan tersenyum manis gadisjelita ini berkata: "Hamba
bernama Giok-lan, menjabat Congkoan dalam Pang kita, mohon Cucengcu
suka memberi petunjuk,"
Matanya ber kedip2 lalu menambahkan dengan tawa manis:
"Pangcu dengar Cu-cengcu telah tiba, maka senangnya bukan main
dan aku diutus kemari untuk membawa Ceng-cu menghadap
beliau."
"Losiu sudah ada di sini, memang sepantasnya menemui Pangcu
kalian," ujar Kun-gi.
"Pangcu sudah menunggu di Sian-jun-koan, silakan Cu-cengcu?"
"Terima kasih, nona silahkan dulu."
Giok-lan segera mendahului berjalan keluar. Tanpa bersuara Kungi
mengikut di belakangnya. Keluar dari pekarangan mereka
menyusuri serambi pinggir rumah, bangunan gedung di sini
berlapis2 dikelilingi serambi yang berliku2 pula. Jelas Giok-lan juga
mengenakan kedok muka yang buatannya halus dan tipis sekali
untuk menyembunyikan muka aslinya. Orang jalan di depan, Kun-gi
melihat kuduk lehernya putih halus, rambutnya yang terurai legam
halus bak sutera, langkahnya lembut gemulai, lenggak-lenggok
dengan perawakan yang semampai, begitu elok menggiurkan,
pakaiannya yang serba putih halus melambai tertiup angin
membawa bau harum yang menimbulkan gairah setiap laki2.
Siapapun apa lagi dia masih jejaka, kalau berjalan di belakangnya,
pasti timbul pikiran bukan2. Kun-gi bukan pemuda bergajul, bukan
laki2 mata keranjang, tapi toh dia merasa jantung berdebar,
pikirannya jadi butek dan napas sesak, berapa jauh dan tempat apa
saja yang mereka lewati tidak diperhatikan lagi. Cepat sekali mereka
sudah tiba di depan sebuah gedung berloteng yang di luarnya
dikelilingi tanaman bunga dan pepehonan rindang.
Gedung yang satu ini bangunannya serba ukiran, dicat berwarna
warni disesuaikan dengan bentuk gambar ukiran sehingga kelihatan
semarak, tepat di atas pintu melintang sebuah pigura besar yang
bertuliskan t iga huruf "Sian-juu-koan".
Giok-lan berhenti di depan pintu sambil membalik badan,
katanya: "Sudah sampai, silakan Cengcu masuk"
Kun-gi tertawa, katanya:, "Losiu baru datang, silakan nona
tunjukkan jalan."
Giok-lan tertawa, dia bawa Kun-gi masuk ke dalam, kembali
mereka menyusuri serambi yang dipagari bambu, serambi ini
dirancang sedemikian rupa sesuai keadaan taman yang di-petak2, di
dalam petak2 yang dipagari bambu itu ditanami berbagai macam
bunga dari jenis yang sukar dicari. Akhirnya mereka tiba di depan
tiga deret villa mungil, kerai bambu menjuntai menutupi keadaan
dalam villa.
Di depan pintu berdiri dua gadis menyoreng pedang, melihat
Giok-lan datang membawa Ling Kun-gi, mereka memberi hormat
serta menyambut dengan suara lirih:" Pangcu sudah menunggu,
silakan Congkoan bawa tamu ke dalam.."
Lalu seorang di antara mereka menyingkap kerai.
Giok-lan angkat tangannya, katanya: "Silakan Cu-cengcu."
Sedikit mengangguk Kun-gi terus melangkah ke dalam. Di dalam
adalah sebuah ruang yang cukup luas,jendela berkaca, meja kursi
tampak mengkilat bersih, sampaipun lantainya yang terbuat dari
papan kayupun memancarkan cahaya kemilau, lukisan menghias
sekeliling dinding, pajangannya amat serasi, mentereng tapi
sederhana. Di sebuah kursi cendana besar di sana berduduk
seorang perempuan berpakaian gaun kuning, wajahnya tertutup
kain sari. Melihat Giok-lan membawa Ling Kun-gi segera ia
berbangkit, bibirnyapun bergerak, katanya: "Cengcu datang dari
jauh, kami terlambat menyongsong, mohon Cengcu memberi maaf."
Suaranya lembut nyaring, seperti kicau burung kenari.
Sekilas Kun-gi melenggong, perempuan gaun kuning ini terang
adalah Pek-hoa-pang Pangcu, tapi dari suaranya jelas usianya tentu
masih muda belia. Giok-lan yang ada di samping Ling Kun-gi segera
berkata- "Cu-cengcu, inilah Pangcu kami."
Kun-gi tergelak2, katanya sambil merangkap tangan: "Pangcu
mengepalai kaumhawa, beruntung Losiu dapat bertemu."
Pek-hoa-pangcu angkat tangan kirinya, kata-nya merdu: "Silakan
duduk, Cu-cengcu"
Sambil mengelus jenggot Kun-gi menghampiri kursi yang di
tunjuk serta berduduk setelah sang Pangcu duduk, Giok-lanpun
duduk di kursi sebelah bawahnya. Pelayan remaja berpakaian pupus
segera menyuguhkan minuman.
Kun-gi batuk2 lirih, matanya terangkat mengawasi Pek-hoapangcu
serta memberi hormat, kata-nya: "Pangcu mengutus. nona
Giok-je membawa Losiu kemari dari Coat Sin-san-ceng, entah ada
keperluan apa? mohon petunjuk.."
"Tidak berani memberi petunjuk," ujar Pek—hoa-pangcu, "Giok-je
membawa Cengcu kemari tanpa mendapat persetujuan Cu-cengcu
sendiri, sebagai Pek-hoa pangcu, kami mohon Cu-cengcu
memaafkan kesalahan ini, soalnya Pang kami memang memerlukan
bantuan Cu-cengcu yang amat berharga dan besar sekali artinya,
untuk itu mohon Cu-cengcu maklum."
Tutur katanya halus, enak didengar, umpama scorang yang
sedang naik pitam juga pasti akan reda amarahnya, apalagi Ling
Kun-gi memang punya maksud tertentu, hakikatnya dia tidak pernah
merasa sakit hati.
Maka dengan mengelus jenggot dia berkata sambil tersenyum:
"Berat ucapan Pangcu, entah persoalan apa? sukalah Pangcu
menjelaskan, Losiu siap mendengarkan."
Sorot matanya tajam menatap wajah orang di balik cadar itu.
Agaknya Pek hoa- pangcu sadar, sorot matanya yang bersinar di
balik cadar lekas melengos, katanya kalem: "Soal ini menyangkut
kepentingan Pang kami, bahwa kami telah mengundang Cengcu
kemari dengan susah payah, sukalah Cengcu memberi bantuan
seperlunya."
"Kalau soal itu amat penting bagi Pang kalian Losiu pasti akan
bekerja sekuat tenaga, silakan Pangcu jelaskan dulu, supaya Losiu
dapat menimbangnya."
Senang hati Pek- hoa-pangcu, katanya: "Jadi Cu-cengcu
menerima permohonan kami."
"Pangcu belum menjelaskan persoalan apa sebenarnya."
Giok-lan segera menyela bicara: "Soal ini, Cu cengcu sudah
memperoleh sukses yang besar, tentunya tidak akan menjadi
kesulitan lagi."
"O, ya," ajar Pek- hoa-pangcu, "bahwa Cu-cengcu sudah
menyanggupi. Pang kita pasti akan memberi imbalan besar yang
setimpal."
Kun-gi tertawa tawar, katanya: "Tadi Losiu sudah bilang, asal
bukan soal yang merugikan orang lain, bukan kejahatan yang
melanggar perikemanusiaan, sekiranya tenaga losiu mengizinkan,
dengan suka hati akan kubantu, soal imbalan tidak pernah
kupikirkan."
Tampak wajah Pek-hoa-pangcu yang tersembunyi di balik cadar
mengunjuk rasa melenggong, katanya kagum: "Cu-cengeu berhati
bajik, mohon maaf akan kata2ku yang telanjur tadi."
"Pangcu," ujar Giok-lan, "Biarlah hamba yang menjelaskan soal
ini kepada Cu-cengcu."
Pek-hoa-pangcu manggut2, "Begitupun baik" katanya.
"Sudah setengah tahun pihak Hek-liong-hwe menculik Lok-san
Taysu, Tong Thian-jong dan Un It-kiau kedalam Coat- sin-san-ceng
untuk membuat obat penawar getah beracun itu tanpa berhasil, tapi
Cu-cengcu dalam jangka tiga hari telah berhasil membikin getah
beracun itu menjadi air jernih, entah hal ini betul t idak?"
"Ya, kejadian memang demikian," sahut Kun-gi, "Tapi . . . . "
mendadak ia merandek.
"Tapi apa?" tanya Pek-hoa-pangcu.
"Sebetulnya Losiu sendiripun t idak habis pikir akan kejadian itu."
"Lho, kenapa demikian?" tanya Giok-lan.
"Bicara terus terang, waktu itu Losiu sebetul-nya tidak punya
pegangan apa2, hanya secara sekenanya kupungut obat ini
dicampur dengan obat itu, lalu kucoba atas getah beracun itu,
demikianlah secara beberapa kali kubuat bubuk obat dari berbagai
racikan. tak terduga suatu ketika getah beracun yang kental hitam
itu berubah jadi air jernih. Hahaha, setelah getah beracun itu
berubah jadi air jernih, Losiu sendiri juga tidak ingat lagi berapa
macam obat yang kuaduk sampai menimbulkan hasil yang -positip
itu."
"Itu bukan soal sulit," kata Giok-lan, "sedikitnya Cu-cengcu sudah
berhasil meski baru langkah permulaan untuk menawarkan getah
beracun itu, selanjutnya pasti tidak akan sulit memperoleh obat
tulennya."
"Sulit, sulit," ujar Kun-gi menggeleng2 "Lo-siu sudah bilang, hasil
itu hanya secara kebetulan, hakihatnya tidak punya keyakinan
sedikitpun."
Giok-lan tersenyum: "Selama tiga hari berada di Coat Sin-sanceng
Cu-cengcu telah mengambil berjenis obat racikan, semua
nama obat dan kadar timbangannya sudah dicatat oleh pihak kami,
menjadi suatu daftar yang terperinci,jadi obat yang tulen untuk
menawarkan getah beracun itu pasti terdapat di antara ke12 macam
obat2an itu, asal Cu-cengcu sedikit tekun dan rajin meracik berbagai
macam obat itu, tak sukar memperoleh obat tulennya."
Kun-gi sudah tahu tentang pencatatan secara rahasia oleh Giokje
di Coat Sin-san-ceng itu, tapi dia pura2 kaget, katanya: "Jadi
Pang kalian tahu selama tiga hari itu aku menggunakan bermacam
obat racikan?"
"Pek-hoa-pang memang jarang berkecimpung di Kangouw, tapi
tiada suatu hal atau kejadian di kolong langit ini yang tidak diketahui
oleh Pang kami, barang apapun yang kami inginkan, umpama suatu
benda yang paling rahasia di dunia ini juga bisa kami usahakan
untuk memperolehnya," demikian kata Giok-lan dengan nada
bangga.
Kun-gi pandang kedua orang dengan heran, tanyanya ragu2:
"Lalu apa kehendak kalian atas diriku?"
"Cu-cengcu luas pengalaman dan cerdik pandai, kenapa tidak
menebaknya saja?" kata Giok-lan main teka-teki.
Kun-gi sengaja menggeleng sambil garuk2 kepala, tanyanya:
"Memangnya Pang kalian juga ingin aku menyelidiki obat penawar
getah beracun itu?"
Pek-hoa-pangcu terkikik riang, katanya: "Pandangan Cu-cengcu
memang tajam dan tepat tebakannya."
Tergerak hati Kun-gi, tanyanya: "Pang kalian dan pihak Coat-siusau-
ceng sama2 ingin mencari obat penawar getah beracun itu,
memangnya apa tujuanmya?"
"Soal ini terpaksa harus kita rahasiakan untuk sementara, tapi
atas nama Pang dan seluruh jiwa anggota kami, aku berjanji bahwa
usaha kita ini hanyalah demi mencari obat penawar getah beracun
itu,jadi tidak untuk melakukan kejahatan mencelakai orang lain,
kalau janji kami ini dilanggar, Pek-hoa-pang akan tersapu bersih dari
permukaan bumi, seluruh anggota kami mati tanpa liang kubur.
Tentunya Cu-cengcu dapat menerima sumpah kami dan mau
percaya bukan?"
"Terlalu berat ucapan nona, baiklah kupercaya saja," ujar Kun-gi.
Giok-lan tertawa: "Jadi Cu-cengcu sudah menerima tawaran
kami?"
Tujuan Kun-gi membiarkan dirinya diselundupkan keluar dari
Coat- siu-sau-ceng dan dibawa ke Pek-hoa-pang ini adalah mencari
jejak ibunya. Tapi persoalan yang dihadapinya ini kembali menarik
perhatiannya.
Coat Sin-san-ceng, alias Hek-liong-hwe demi memperoleh obat
penawar getah beracun telah menggunakan muslihat dengan
menculik Tong Thian—jong, Un It-kiau dan Lok-san Taysu, serta
Ciam—liong Cu Bun-hoa. Kini muncul lagi Pek-hoa-pang yang
menggunakan akal muslihat menyelundupkan dirinya ke tempat ini,
tujuannya ternyata juga mencari obat penawar getah beracun itu,
Kenapa mereka sama2 berusaha mencari penawar getah beracun
itu?
Apakah sebetulnya getah beracun itu? Bukan mustahil dalam
peristiwa ini ada latar belakang yang teramat besar artinya?
Sehingga timbul perebutan dan saling gontok kedua perkumpulan
rahasia ini? Otak Kun-gi yang cerdik sudah bekerja keras, tapi tak
berhasil memperoleh jawaban yang memuaskan.
Melihat orang menepekur sekian lamanya, akhirnya Pek-hoapangcu
bertanya: "Kenapa Cu-cengcu diam saja?. Berubah pikiran
kiranya?"
Kun-gi menduga bahwa ibunya mungkin diculik orang2 Pek-hoapang,
maka disamping mengulur waktu mencari kesempatan, dia
pura2 bimbang, akhirnya dia angkat kepala dan berkata: "Baik-lah,
aku menerimanya."
Cemerlang sinar mata Pek-hoa-pangcu dari balik cadar, katanya
tertawa senang: "Apa betul?"
"Losiu sudah terima dan berjanji, sudah tentu akan kutepati" ujar
Kun-gi.
"Baiklah," kata Giok-lan.
"Pangcu masih ada pesan apa?"
"Cu-cengcu sudah setuju, urusan selanjutnya boleh kau saja
yang mengaturnya," demikian pesan Pek-hoa-pangcu.
Giok-lan menyiakan.
Pembicaraan sudah diakhiri sampai di sini, pelan2 Kun-gi lantas
berdiri, katanya sambil menjura: "Pangcu tiada urusan lain, baiklah
kuminta diri saja."
Tadi Giok-lan yang membawa Kun-gi kemari, maka iapun ikut
berdiri, tapi secara diam2 dia memberi lirikan mata kearah Pek-hoapangcu.
Mendadak Pek-hoa pangcu mengawasi Kun-gi, katanya: "Silakan
Cengcu duduk lagi sebentar."
Terpaksa Kun-gi duduk kembali, tanyanya, "Pangcu masih ada
pesan apa?"
"Kaupun harus duduk," kata Pek-hoa-pangcu kepada Giok-lan.
Giok-lan tersenyum, iapun duduk pula di tempatnya..
Menatap muka Ling Kun-gi, berkata Pek-hoa -pangcu: "Masih ada
satu hal ingin kami mohon petunjuk Cengcu, entah bagaimana aku
harus mulai bicara?"
"Pangcu hendak tanya soal apa?" tanya Kun-gi.
Dengan ragu2 berkatalah Pek-hoa-pangcu: "Kalau kukatakan
harap Cengcu tidak berkecil hati."
"Kalau Pangcu anggap perlu dibicarakan, silakan katakan saja"
"Kami berpendapat bahwa Cu-cengcu sudah setuju bekerja sama
dengan setulus hati dan sejujurnya, maka kiranya perlu kami
berterus terang, bila Cu-cengcu sendiri juga punya kesulitan,
kamipun tidak akan memaksa."
Kun-gi tertawa lebar, katanya lantang: "Seorang laki2 sejati
menghadapi persoalan t idak boleh ragu2, bila urusan memang bisa
kubicarakan, tentu takkan kusembunyikan."
"Syukurlah kalau begitu," kata Pek-hoa-pangcu, sorot matanya
yang bening bersinar menatap wajah Kun-gi lekat2, katanya
kemudian: "Kami dengar bahwa Hian-ih-lo-sat telah membekuk
seorang tua di Liong-bun-oh, setelah mukanya dicuci dengan arak
obat, ternyata dia adalah Cu-cengcu dari Liong—bin-san ceng yang
tulen, Hian-ih-lo-sat juga sudah mempertemukan kedua Cu-cengcu
tulen dan palsu itu, tentunya hal ini benar2 terjadi?"
Giok-je adalah anak buah Pek-hoa-pang, bukan mustahil kalau
hal inipun sudah diketahui oleh Pek-hoa-pangcu. Maka Kun-gi
mengangguk, katanya: "Memang betul ada kejadian begitu."
"Jika demikian, disinilah letak persoalan yang ingin kami ketahui,
entah mana di antara kedua Cengcu yang tulen dan palsu?" sampai
disini mendadak dia menambahkan: "Tadi kami sudah bilang, kalau
Cu cengeu tak mau menjawab, kami tidak akan memaksa."
Kun-gi menghela napas katanya tertawa: "Pangcu memang
cerdik, sebagai pimpinan sekian banyak orang pintar, tentunya bisa
menebaknya?"
Pek-hoa-pangcu menggigit bibir, katanya sambil tertawa lirih:
"Kalau Cu-cengcu sendiri tidak mau menerangkan, terus terang
kami t idak dapat menebaknya."
"Ah, kenapa sungkan, kenapa tidak katakan saja bahwa Pangcu
curiga bahwa diriku bukan Cu Bun-hoa?"
"Jadi kau ini Cu Bun-hoa?" desak Pek-hoa pangcu.
"Aku memang bukan Cu Bun-hoa," sahut Kun-gi tegas.
Pek, hoa-pangcu melengak, sorot matanya menjadi terang,
tanyanya: "Kau bukan Cu Bun-hoa, lalu kau ini.... "
"Cayhe Ling Kun-gi"
"O,jadi engkau Ling-lotiang, engkau merias wajahmu, betul
tidak?"
"Betul, Cayhe menyaru sebagai Cu-cengcu, tujuanku
menyelundup ke Coat Sin-san-ceng untuk, mencari jejak seseorang"
Agaknya Pek-hoa-pangcu tidak memperhatikan beberapa patah
katanya ini, sekian saat dia awasi Ling Kun-gi, katanya: "Ling-lot iang
sudah mau terus terang, setelah berada di dalam Pang kita, ku-kira
tidak perlu menyamar lagi, entah sudikah engkau memperlihatkan
wajah aslinya kepada kami?"
"Boleh saja" ucap Kun-gi tertawa, "tapi setelah aku mencuci
muka, apakah Pangcu sendiri juga sudi memperlihatkan wajah
aslimu?"
"Maksud Ling-lot iang minta kami menanggalkan cadar ini?"
"Untuk kerja sama dengan sejujurnya, adalah jamak kalau kita
berlaku adil"
"Baiklah," ujar Pek-hoa-pangcu tertawa sambil membuka cadar
yang menutupi mukanya.
Seketika pandangan Ling Kun-gi terbeliak, itulah seraut wajah
nan lembut, ayu rupawan, asri dan anggun, usianya sekitar 24
tahun. Bahwa Pek hoa-pangcu masih sedemikian muda, malah
cantik jelita bak sekuntum bunga mawar mekar, sesaat lamanya ling
Kun-gi sampai menjublek, akhirnya dia tergelak2 katanya: "Dengan
menyamar Cu-cengcu, Cayhe telah mengelabui Cek Seng-jiang dan
Hian-ih-lo-sat, entah di mana Pangcu dan Cong-koan berdua dapat
melihat titik kelemahan samaranku ini."
Pek hoa-pangcu mengawasinya dengan seksama sekian lamanya,
akhirnya sama2 tertawa malu, katanya: "Ilmu tata rias Ling-lotiang
memang luar biasa, sedikitpun kami tidak melihat sesuatu yang
kurang beres."
Kun-gi tertawa tawar, katanya: "Kalau Pangcu sudah tahu Cayhe
ahli dalam ilmu tata rias ini, maka betapapun bagus buatan kedok
muka yang kalian pakai tetap takkan dapat mengelabui
pandanganku."
Pek-hoa-pangcu melenggong, katanya: "Pandangan Ling-lotiang
memang tajam luar biasa, kami memang mengenakan kedok muka,
tapi karena adanya larangan dalam Pang kami, terpaksa kami tidak
bisa berhadapan dengan siapapun dengan wajah asli."
"Lalu nona Giok-je dan lain2 yang menyelundup ke Coat-siu-sauceng
juga memakai kedok muka?"
"Itu dalam keadaan istimewa, sudah tentu mereka terpaksa
harus memperlihatkan wajah asli."
"Tadi Pangcu sendiri sudah bilang minta Cay-he memperlihatkan
wajah asli, maka Pangcu seharusnya juga menanggalkan kedok
mukamu."
Pek hoa pangcu ragu2, dia berpikir sebentar, katanya kemudian:
"Ling-lotiang berkukuh pendapat, terpaksa kami memperlihatkan
wajah jelek kami."
Habis berkata dengan hati2 dia mengelotok selapis kedok muka
yang tipis, begitu tipisnya menyerupai selaput buah salak, Seketika
pandangan Ling Kun-gi menjadi terang pesona,jantungnya
berdebar. Sekian banyak nona yang pernah dikenalnya, seperti Un
Hoan-kun, Pui Ji-ping, Tong Bun—khing bertiga adalah gadis yang
ayu jelita, tapi Pek-hoa- pangcu yang ada dihadapannya ini
mempunyai daya pikat yang luar biasa, sikapnya agung dan
suci,jelita bak bunga mekar, kecantikannya tak kalah daripada
permaisuri raja.
Setelah menanggalkan kedok mukanya, wajah Pek-hoa-pangcu
tampak merah jengah.
Katanya malu2: "Semoga engkau tidak mentertawakan, padahal
anggota Pang kita sendiri hanya beberapa orang saja yang pernah
melihat wajah asliku....." bola matanya nan bening melirik Giok-lan,
katanya: "Untuk memperlihatkan ketulusan hati kita aku sudah
melanggar kebiasaan, maka hendaknya kaupun mencopot kedokmu
biar diperiksa oleh Ling-lotiang."
Giok-lan mengiakan. Pelan2 iapun menanggalkan kedoknya. Jika
Pek hoa-pangcu diibaratkan sekuntum bunga botan yang agung,
maka Congkoan yang satu ini memang sesuai betul dengan
namanya bak sekuntum bunga giok-lan (cempaka) yang harum
semerbak.
Kembali Kun-gi terpesona, sikap Giok-lan jauh lebih wajar, tapi
dihadapan orang luar betapapun dia juga malu, sekilas dia melirik
kepada Ling Kun—gi, lalu berkata:
"Sekarang Ling-lotiang sudah puas? Dan kini giliranmu, cara
bagaimana untuk mencuci obat rias di mukamu?"
Kun-gi tersenyum, katanya: "Cayhe membawa obat pencuci"
Sembari bicara iapun melepaskan jenggot palsu lalu merogoh
kantong mengeluarkan sebuah kotak kecil dan mengambil sebut ir
obat sebesar kelereng lalu diremas dan digosok2 di telapak tangan,
lalu ia mengusap muka sendiri, sekian saat kemudian dikeluarkan
pula sapu tangan untuk membersihkan muka. Hanya dalam sekejap
wajahnya yang kelihatan tua setengah baya berjenggot dan agak
keriputan mendadak berubah jadi wajah yang cakap ganteng,
beralis tegak seperti pedang, bibir merah, gigi putih, sungguh
pemuda yang bagus laksana Arjuna..
Sejak tadi Pek,hoa-pangcu selalu memanggilnya "Ling- lot iang",
keruan sekarang ia terbelalak lebar, wajahnya merah seperti
kepiting direbus, mulutpun melongo bersuara kaget dan Giok-lan
sendiripun amat heran, tatapannya lekat penuh kasih mesra,
katanya sesaat kemudian: "Ling kongcu ternyata masih begini
muda, sungguh di luar dugaan."
Kun gi tertawa, katanya: "Bukankah nona berdua lebih muda dari
padaku? Sebagai Pangcu dan Congkoan dari suatu perserikatan,
kalian malang melintang di dunia persilatan, bukankah ini jauh di
luar dugaan pula?"
Lambat laun baru tenteram gejolak hati Pek-hoa pangcu, kedok
muka yang dipegangnya tadi segera dikenakan lagi, matanya
menatap tajam, bibirnya bergerak, katanya: "Ling-kongcu muda dan
gagah perkasa, tentunya juga cerdik pandai, entah siapakah
gurumu yang mulia?"
"Maaf kalau Cayhe tidak dapat menerangkan pertanyaan Pangcu,
soalnya guruku sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia,
jejaknya selama hidup tidak ingin diketahui orang lain, untuk ini
Cayhe amat menyesal tak bisa memberi keterangan."
Pek-hoa-pangcu berseri tawa, katanya: "Gurumu pasti seorang
tokoh kosen yang luar biasa, kalau memang ada kesulitan, boleh
Kongcu tak usah menjelaskan", lalu ia berpaling kepada Giok-lan
dan berpesan: "Ling-kongcu baru datang sebagai tamu agung,
apakah kau sudah siapkan perjamuan untuk menyambutnya?"
Giok-lan membungkuk, sahutnya: "Hamba mohon petunjuk
Pangcu, perjamuan hendak diadakan tengah hari atau nanti
malam?"
Lekas Kun-gi goyang tangan, katanya: "Pang-cu tidak usah
sungkan, mana Cayhe berani bikin repot."
"Kau sudah ada di tempat kami, sebagai tuan rumah selayaknya
kami meladani ala kadarnya, apalagi tenagamu amat kami
perlukan," lalu Pek—hoa-pangcu berpaling:
"diadakan tengah hari nant i saja."
Giok-lan mengiakan, segera dia pakai lagi kedok mukanya, berdiri
terus beranjak keluar. Dalam ruang tamu kini tinggal mereka berdua
saja, setelah keduanya sama2 memperlihatkan wajah asli, yang
laki2 cakap, yang perempuan cantik,jantung mereka sama
berdebar2, suasana sedikit kikuk dan risi, akhirnya Pek-hoa-pangcu
memecah kesunyian, katanya: "Tadi Ling kongcu bilang tujuan
samaranmu untuk mencari orang, entah siapakah dia?"
"Beliau adalah ibundaku."
"O, kau mencari ibumu?"
Berkerut alis Kun-gi, katanya; "Ibu sudah hilang beberapa bulan
lamanya, sampai sekarang belum diketahui arah parannya."
"Kulihat Ling-kongcu gagah bersemangat, sinar matamupun
terang bercahaya,jelas membekal kepandaian silat dan Lwekang
yang tinggi, tidak mirip orang yang terkena racun penawar Lwekang
dari Coat Sin-san-ceng, bahwa Kongcu membiarkan dirimu dibawa
kemari oleh Giok-je, tentu kau curiga bahwa ibundamu berada di
sini bukan?"
Kun-gi cukup cerdik, tapi juga tabah, katanya: "Jadi Pangcu
curiga bahwa kedatanganku membawa maksud tujuan yang tidak
baik?"
"Tidak," sahut Pek,hoa-pangcu menggeleng, "sedikitpun aku
tidak curiga." Lalu dengan nada serius dia menambahkan: "Aku
dapat merasakan,.Ling-kongcu pasti seorang Kuncu."
"Ah, Pangcu terlalu memuji."
Berkedip dan bertanya Pek-hoa-pangcu: "Ling-kongcu mau
mencari ibu dan sudi t inggal di tempat kami, mungkinkah dapat
membantu kesulitan kami pula?"
Kun-gi tertawa, katanya: "Cayhe sudah telanjur janji, tentu akan
kutepati."
"Terima kasih. Pang kami juga akan membantu sekuat tenaga
untuk mencari jejak ibumu yang hilang, paling lama tujuh hari pasti
kami dapat memperoleh kabar ...." sedikit merandek, dia bertanya
lebih lanjut: "Cuma siapa she dan nama ibumu."
"Ibuku she Thi, tentang nama beliau Cayhe sendiri juga tidak
tahu."
"Kami jarang berkelana di Kangouw, tapi setiap orang yang
punya nama beken sedikit banyak tentu pernah kami dangar, tapi
tokoh perempuan she Thi yang kenamaan belum pernah kami
dengar?"
"Ibuku tidak pandai ilmu silat, selamanya tidak pernah keluar
rumah, sudah tentu Pangcu tidak pernah mendengar nama beliau?"
Heran Pek-hoa-pangcu, katanya: "Ibumu bukan kaum persilatan,
bagaimana bisa lenyap? Mungkin dia punya musuh?"
"Watak ibuku welas-asih, bijaksana dan bajik, kecuali mengurus
pekerjaan rumah, belum pernah ribut dan bertengkar dengan orang,
mana mungkin punya musuh?"
"Aneh kalau begitu. Em, berapa usia ibumu? Bagaimana raut
wajahnya, bolehkah Kongcu memberi gambaran secara terperinci,
supaya kuperintahkan anak-buahku untuk ikut mencari jejak beliau"
Melihat sikap orang yang prihatin dan sungguh2, Kun-gi lantas
berkata: "Ibuku berusia, badannya lemah dan sering sakit2an, maka
kelihatannya sudah tua seperti berusia lima-puluhan, mukanya
lonjong agak kurus, rambut di atas pelipis sudah beruban."
"Ling-kongcu tak usah kuatir, akan kukerahkan seluruh kekuatan
Pang kita bantu mencari jejaknya," lalu sambil mengerut alis dia
menambahkan: "Cuma ibumu bukan kaum persilatan, untuk
mencarinya tentu agak sukar, tapi kami percaya dengan kekuatan
Pang kita yang tersebar luas di seluruh Kangouw, cepat atau lambat
pasti bisa memperoleh berita."
"Budi kebaikan Pangcu membuat Cayhe amat berterima kasih."
Mendadak merah wajah Pek-hoa-pangcu, katanya sambil
menatap Kun-gi: "Kalau Ling-kongcu sudi, bagaimana kiranya kalau
anggap diriku sebagai kawan?" Agaknya dia menggunakan seluruh
keberaniannya untuk mengucapkan kata2nya ini, setelah
mengutarakan isi hatinya, dengan malu dia menunduk kepala.
Berdetak jantung Kun gi, mukanya merah, katanya dengan
tertawa: "Berat kata2 Pangcu, bahwa cayhe bisa berkenalan dengan
Pangcu sudah beruntung besar, bukankah sekarang kita sudah
berkawan?"
Sorot mata Pek-hoa pangcu tertuju ke lantai, jari2 tangannya
mengusap kedok mukanya yang tipis, katanya lirih: "Maksudku . . "
Belum habis dia bicara tampak: Giok-lan melangkah masuk, lekas
Pek-hoa-pangcu putuskan pembicaraan.
Di ambang pintu Giok-lan menekuk lutut memberi hormat,
katanya: "Pangcu, Ling-kongcu, meja perjamuan sudah disiapkan,
silakan makan dulu."
Pek-hoa-pangcu tidak pakai lagi kedok mukanya, dia hanya
menutup dengan cadar, pelan2 ia berbangkit, katanya:."Mari,
silakan Ling-kongcu."
Di bawah iringan Pek-hoa-pangcu mereka meninggalkan, Ing junkoan,
melalui serambi terus menuju ke kamar bunga di seberang
sana. Di dalam meja perjamuan memang sudah siap. empat gadis
berdiri di empat sudut siap melayani, melihat sang Pangcu
mengiringi seorang pemuda berwajah tampan, sekilas mereka unjuk
rasa kaget dan kagum, tersipu2 mereka maju menyambut.
Pek-hoa-pangcu angkat tangan: "Silakan Kong-cu duduk diatas."
Kun-gi duduk di kursi tamu, Pek-hoa-pangcu duduk di tempat
tuan rumahnya. Malah duduk di sebelah bawahnya. Dua pelayan
segera mengisi cangkir yang sudah tersedia.
Hidangan yang disuguhkan memang luar biasa dan banyak
ragamnya, keempat pelayar ganti-berganti menyuguhkan
bermacam2 masakan, sementara mereka makan minum sambil
mengobrol, banyak juga soal yang mereka bicarakan.
Mendadak di luar sana terdengar suara ribut2 beberapa orang,
Pek-hoa-pangcu bersungut, katanya dongkol: "Ada kejadian apa di
luar itu?"
Lekas Giok-lan berdiri, katanya: "Biar hamba keluar melihatnya . .
.. " belum habis dia bicara, dari luar sudah berlari masuk seorang
pelayan dengan ter-gopoh2. .
Giok-lan lantas tanya: "Kau ter-buru2, ada kejadian apa di luar?"
"Lapor congkoan, barusan ditemukan jejak musuh di taman
depan . . . ."
Giok-lan melengak. tanyanya: "Ada kejadian begitu? Siapa yang
berani menyelundup ke taman?"
"Pendatang berkepandaian tinggi, agaknya tidak mengusik
bagian luar, tahu2 mereka sudah ada didalam lewat jalan air"
seorang gadis terdengar membentak. lebih dekat di luar taman
sana: "Pendatang dari mana? hayo berhenti"
Tiba2 terdengar suara serak tua berkata dingin, "Kami bertiga
kebetulan lewat dari danau, kulihat di sini ada sebuah taman yang
luas, sengaja kami tamasya ke Sini, kalian budak2 ini berani main
gila terhadap Lohu?"
Waktu itu tengah hari, tapi ada orang berani terobosan di markas
besar Pek-hoa-pang, sungguh besar nyali mereka. Giok-lan tidak
banyak bicara lagi, cepat dia lari keluar.
Wajah Pek-hoa-pangcu yang jelita kelihatan berubah, cepat ia
mengenakan kedok tipis dimukanya.
Kun-gi tidak tahu siapa yang datang? Tapi dia menduga pihak
Pek-hoa-pang telah kedatangan musuh tangguh, lekas dia berdiri
dan berkata. "Pangcu ada urusan, boleh silakan-"
Tajam tatapan mata Pek-hoa-pangcu, katanya., "Apakah yang
datang temanmu?"
Kun-gi menggeleng kepala, katanya: "Bukan temanku."
"Syukurlah kalau bukan temanmu. Apakah Ling-kongcu ingin
keluar melihatnya?"
"Kalau tiada alangan boleh saja."
Pek-hoa-pangcu tertawa manis, katanya: "Mari silakan-" Lalu dia
berpesan kepada pelayannya: "Lekas keluarkan perintah, sebelum
diketahui asal-usul pendatang, suruh orang di depan tidak usah
masuk kemari"-
Seorang pelayan mengiakan lalu buru2 lari keluar.
Seperti tidak terjadi apa2, bersama Ling Kun-gi, Pek-hoa-pangcu
berhenti di ambang pintu. Melalui jendela Kun-gi melongok keluar,
tampak pakaian putih Giok-lan melambai2 berdiri di undak2an, di
depannya adalah sebuah lapangan berumput, di sana berdiri
berjajar tiga orang menghadap ke arah kamar sini.
Orang yang berdiri di tengah berjubah hitam, mukanya merah
beralis ketal, jenggot jarang2 menghias dagunya, pedang panjang
terpanggul dipundaknya, kedua biji matanya mencorong buas,
usianya antara setengah abad.
Di sebelah kirinya berdiri laki2 bermuka jelek berpakaian kain
belacu seperti orang berkabung, anehnya pakaian belacu yang
dipakainya hanya separo, sorot matanya memancarkan cahaya biru,
sekilas pandang perawakannya kelihatan rada aneh dan lucu.
Yang berdiri di sebelah kanan adalah laki2 setengah baya,
menyandang pedang dipunggungnya, mukanya pucat seperti tidak
berdarah. Sikap mereka garang dan kasar, jelas kedatangan mereka
bermaksud tidak baik.
Tidak jauh di sekeliling ketiga orang ini berpencar lima gadis baju
hijau yang menenteng pedang, terang mereka adalah anak buah
Pek-hoa-pang.
Sikap Giok-lan tenang2 saja, dengan kalem dia pandang ketiga
orang, lalu menatap laki2 muka merah di tengah itu, tanyanya
dengan nada kurang senang: "Siang hari belong, tanpa sengaja
kalian main terjang masuk ke rumah orang, memangnya ada
keperluan apa?"
Memang tidak memalukan Giok-lan diangkat sebagai congkoan
Pek-hoa-pang, tindakannya tegas, tutur katanyapun tandas, orang
akan merasa bahwa dia seorang gadis bangsawan dari suatu
keluarga besar.
Laki2 muka merah menyeringai, katanya: "Jadi nona pemilik
taman ini?"
"Taman ini dalam lingkungan keluargaku, sudah tentu aku adalah
pemiliknya," ujar Giok-lan dongkol.
"Siapakah she nona?" tanya laki2 muka merah.
"Kita belum saling kenal, tak perlu tanya nama segala, kalian
menyelundup ke rumah ku, ada keperluan apa?"
"Tadi sudah kujelaskan, kami hanya ingin bertamasya saja."
"Pintu taman kami tidak terbuka, memangnya dari mana kalian
masuk-?"
"Terdorong oleh keinginan hati, kalau hanya pagar tembok
setinggi itu tidak menjadi alangan bagi kami bertiga."
"Kami adalah rakyat jelata yang bersahaja, apa tujuan kalian
kemari?".
"Nona jangan menyindir, memangnya kau kira kami bukan rakyat
baik2?"
"Siang hari belong, kalian melompati tembek dan masuk ke
rumah orang, tentunya punya maksud tujuan tertentu."
Si muka merah terkekeh2, katanya: "Nona2 anak buahmu ini
kiranya berkepandaian t idak rendah juga ."
"juga kalian memang sengaja kemari untuk cari perkara?"
Bersinar mata si muka merah, katanya sinis: "Hampir mengena
sasaran kata2 nona, kudengar di Phoa-yang-ouw ini akhir2 ini ada
gerombolan nona2 cantik yang banyak menimbulkan gelombang di
Kangouw, maka Lohu bertiga ingin memeriksa kemari apa betul
kabar yang tersiar itu?"
Diam2 Kun-gi membatin: "Kiranya tempat ini di tengah2 Phoayang-
ouw?"
Terdengar Giok-lan tertawa dingin, katanya: "Betapa luas dan
besar Phoa-yang-ouw ini, apakah kalian tidak kesasar?"
"Semula Lohu memang kira taman seluas ini adalah milik
bangsawan yang telah pensiun dan mengasingkan diri disini, maka
ingin menengoknya kemari, kini pandangan Lohu jadi berubah."
"Berubah bagaimana?"
"Sudah puluhan tahun Lohu berkecimpung du Kangouw,
memangnya pandanganku bisa meleset?"
"Jadi menurut pandanganmu tempat apakah taman kami ini?"
"Justeru Lohu ingin keterangan dari nona?"
Sampai di sini Pek-hoa-pangcu tidak sabar lagi, katanya lirih:
"Ling- Kong cu, mari kita keluar. "
Lalu dia singkap kerai melangkah keluar, suaranya kumandang
merdu: "Sam-moay, kedatangan mereka terang ada maksud
tertentu, coba kau tanya mereka dari kalangan mana?"
Kun-gi ikut melangkah keluar, dalam hati dia membatin: "Dia
panggil Giok-lan sebagai Sam-moay, jadi masih ada Ji-moay, lantas
siapa dia?"
Mendengar suara merdu Pek-hoa-pangcu, si muka merah bertiga
memandang ke sini, tampak muncul sepasang muda-mudi, yang
laki2 tampan dan yang perempuan ayu jelita. Dari langkah mereka
dapat diketahui bahwa kedua muda-mudi ini bukan sembarang
orang.
Sekilas melengak si muka merah, lalu tertawa, katanya sambil
menjura: "Nona dan Kongcu ini tentunya ma Jikan di sini?"
Karena orang bicara sambil menatap dirinya, maka Kun-gi
tertawa tawar, katanya, "Tuan salah, cayhe hanya bertamu disini,
bukan pemilik tempat ini?"
Si muka merah lalu mengamati Pek-hoa-pang-cu, katanya
kemudian: "Lalu nona inikah ma Jikan tempat ini."
"Kalian harus jelaskan dulu asal-usul sendiri baru nanti tanya
siapa diriku."
Si muka merah terkekeh2, katanya: "Betul, biarlah kita bicara
blak2an, Lohu Jik Hwi-bing, pejabat Ui-liong-tongcu dari Hek-lionghwe."
Pek-hoa-pangcu tidak kaget juga t idak heran, sikapnya tenang2,
katanya: "o, kiranya seorang Tongcu malah, jadi kami yang berlaku
kurang hormat, lalu siapa kedua orang ini?"
"Mereka adalah dua saudara angkat Lohu." ujar Jik Hwi-bing.
Sejak tadi kedua orang di kiri kanannya berdiam diri, mukanya
beringas dan kaku, kini laki2 muka jelek berpakaian biru itu
bersuara: "cayhe Lan Hou"
Laki2 muka pucat di sebelah kanan juga memperkenalkan diri,
"cayhe Pek Ki-ham."
"Kami bertiga sudah perkenalkan diri, giliran nona menyebut
namamu?" ujar Jik Hwi-bang.
"Aku she Hoa," kata Pek-hoa-pangcu.
"Lohu ingin tahu, gerombolan nona yang sudah sering
berkecimpung di Kangouw secara diam2 tentu punya nama bukan?"
Pek-hoa-pangcu tertawa, katanya. "Terlalu t inggi penilaian Uitongcu
terhadap kami, yang sering menimbulkan gelombang ombak
di kalangan Kangouw hanya beberapa saudara kami saja, hasil yang
dicapai juga tidak berarti, memangnya kami punya nama apa."
Jik Hwi-bing menarik muka, katanya mengejek: "Jadi nona tidak
mau berterus terang."
"Apa yang kukatakan adalah kenyataan, kalau Jik-tongcu tidak
percaya terserah"
Tajam sorot mata Jik Hwi-bing, katanya:
"Baiklah, Lohu anggap apa yang nona katakan memang benar,
kedatangan kami memang ada maksud untuk merundingkan
sesuatu hal dengan nona."
"Entah soal apa sampai J ik-tongcu memerlukan kemari dari
tempat jauh" jengek Pek-hoa-pangcu.
"Asas berdirinya Hek-liong-hwe bertujuan hidup berdampingan
secara damai dengan sesama golongan Kangouw, tidak ingin
menimbulkan bentrokan dengan aliran manapun, umpama air
sungai tidak menyalahi air sumur, syukurlah kalau bisa sailing
mengalah dan mengikat hubungan secara terbuka, kalau tidak juga
jangan sampai ribut, entah bagaimana pendapat nona tentang
perkataanku ini?"
"Apa yang kau katakan memang masuk akal, cuma dengan cara
kasar kalian terobesan di taman kami apakah ini bukan air sungai
menyerang air sumur? Beginikah asas Hek-liong-hwe yang tidak
suka bentrok dengan sesama golongan Kangouw"
Lekas Jik Hwi-bing menjura, katanya, "Kalau Lohu mohon
bertemu dengan cara Kangouw, terang nona tidak sudi menemui
kami, untuk ini sebagai Tongcu dari Hek-liong-hwe, kami mohon
maaf kepada nona."
"Soal ini tidak perlu dibicarakan lagi, katakan saja, apa maksud
kedatangan Jik-tongcu?"
"Nona memang suka berterus terang, baiklah lohu blak2an saja,
kami mencari seseorang."
"Siapa yang kalian cari?"
"cam-liong Cu Bun-hoa, cengcu dari Liong-bin-san-ceng."
Tergerak hati Ling Kun-gi, pikirnya: "cepat benar kabar berita
mereka."
Pek-hoa-pangcu tertawa tawar, katanya: "Aneh, kalian mencari
Cu-cengcu pemilik liong-bin-san-ceng, kenapa tidak ke sana tapi
malah meluruk ke-mari?"
Jik Hwi-bing terkekeh dingin, katanya: "Lohu sudah mencari tahu
dengan jelas, buat apa nona mungkir?"
"Apa2an ucapanmu ini? Setiap insan keluarga Hoa kami selalu
bicara dengan blak2an, kenapa harus mungkir segala?"
"Baik, biarlah Lohu tanya, semalam ada sebuah perahu dari Ankhing,
siapa saja orang yang berada di perahu itu?"
"Itulah adikku nomor 13 bersama kedua pelayannya."
"Siapa nama adikmu itu?"
"Dia bernama Giok-je,"
"Agaknya dia kurang pengalaman," demikian batin Kun-gi: "Pihak
Hek-liong-hwe sudah meluruk kemari, kenapa dia masih terang2an
menyebut nama Giok-je,"
Betul juga Jik Hwi-bing lantas tergelak2, matanya bercahaya,
serunya: "Betul dia adanya"
"Memangnya adikku itu berbuat salah apa terhadap kalian?"
"Apa yang dibawa pulang oleh nona Giok-je?" jengek Jik Hwibing.
"Kusuruh dia membeli obat2an di An-khing, sudah tentu
membawa pulang bahan obat." sampai di sini dia lantas balas
bertanya: "Jik-tongcu bilang hendak cari cu-cengeu dari Liong -binsan-
ceng, memangnya kenapa kau tanya urusan kami?"
"Dia memang tidak punya pengalaman Kangouw, maka kata2nya
terlalu puntul, tapi hal ini justeru memperlihatkan bahwa dia
seakan2 memang tidak tahu apa2."
Jik Hwi-bing luas pengalaman, mendengar jawaban ini timbul
juga rasa sangsinya, katanya: "Bukankah adikmu Giok-je yang
menculik ciam-liong Cu Bun-hoa kemari."
"Apa benar? Ah, aku tidak percaya." lalu menoleh berpesan pada
seorang pelayan: "Lekas panggil cap-sha-moay (adik ke-13) kemari,
katakan aku ingin tanya dia."- Pelayan itu mengiakan terus
mengundurkan diri.
Diam2 Kun-gi merasa geli, pikirnya: "Agaknya dia sengaja
hendak mempermainkan mereka."
Didengarnya Pek-hoa pangcu berdehem sekali, lalu menoleh
kearah Kun-gi, katanya tertawa: "Ling-kongcu, apa kau tidak lelah
berdiri? Bok-hi, ambilkan dua kursi kemari."
Seorang pelayan dibelakangnya mengiakan terus lari ke kamar
mengambil dua kursi dan di-jajarkan di serambi.
Gerak-gerik Pek-hoa-pangcu lemah lembut seperti tidak
bertenaga, dia duduk dikursi sebelah kanan, lalu menoleh berkata
dengan nada mesra: "Ling-kongcu silakan duduk."- Dia sengaja
bersikap kalem seakan2 tidak pandang sebelah mata pada ketiga
orang Hek liong-hwe itu.
Kun-gi t idak bersuara, dengan tersenyum dia duduk di kursi
sebelah kiri, didengarnya Pek-hoa-pangcu seperti berbisik dipinggir
telinganya: "Sebentar kau akan menyaksikan tontonan yang
mengasyikkan."
Dari serambi luar tampak mendatang tiga gadis dengan langkah
gopoh, yang di tengah mengenakan baju warna coklat muda diiringi
dua pelayan.
Sekali pandang Kun-gi lantas tahu bahwa ketiga orang ini adalah
Giok-je, Ping-hoa dan Liau-hoa, cuma sekarang mereka sudah pakai
kedok muka. Belum lagi mereka tiba, kesiur angin sudah membawa
bau harumsemerbak.
Setelah dekat Giok je melangkah pelan2, waktu dilihatnya di
samping sang Pangcu duduk Ling Kun-gi, sekilas dia tertegun.
Mimpipun tak pernah terbayangkan bahwa Cu Bun-hoa yang dia
culik dan menempuh perjalanan bersama sekian jauhnya itu
ternyata adalah pemuda setampan ini. Karena perhatiannya tertuju
kepada Ling Kun-gi, maka dia tidak perhatikan t iga orang di
lapangan rumput, langsung dia mendekat ke depan Pek-hoapangcu,
katanya lirih: "Toaci, kau memanggilku?"-
Baru sekarang dia sempat berpaling dan melihat Jik Hwi- bing
bertiga, lalu tanyanya pula: "Siapakah mereka? Kenapa berada di
taman kita?"
"Mereka dari Hek-liong-hwe, menguntit kau sejak dari An-khing,"
kata Pek- hoa pangcu.
Jik Hwi-bing dan kedua adik angkatnya sama menatap tajam
tanpa berkedip ke arah Giok-je, mulut mereka terkancing rapat. .
Giok-je melirik sekali, mendadak ia tertawa, dingin: "Keluarga
Hoa kami selamanya tidak pernah bermusuhan dengan insan
persilatan manapun, kenapa kalian menguntit kami?"
Tinggi nada suara jawaban Jik Hwi-bing: "Kau inikah Giok-je?"
"Kau ini kutu apa?" bentak Liau-hoa, "memangnya beleh
sembarangan kau menyebut nama nona kami?"
Jik Hwi-bing terkial2, katanya: "Bukankah kalian bertiga yang
melarikan diri dari coat-sin-san- Ceng? "
"Kalian sendirilah yang melarikan diri dari coat-sin-san- Ceng,"
damperat Ping- hoa, agaknya dia merasa geli, habis bicara lantas
Cekikikan sendiri.
"Setiap golongan dan aliran di Kangouw masing2 mempunyai
aturannya sendiri, orang tidak menggangguku, akupun tidak
mengusik orang lain, Heks liong- hwe selamanya tidak pernah
menyentuh kalian, kalian bertiga justeru menyelundup ke coat-sinsan-
Ceng, ini sudah menyalahi aturan umum, lebih celaka lagi
kalian berani menculik cu-ceng-cu, tamu undengan kami, bukankah
terlalu perbuatan kalian ini?"
Giok-je tampak marah, katanya: "Toaci, dia mengoceh apa?"
"Hari ini Lohu harus minta pertanggungan jawab secara adil
kepada kalian," desak Jik Hwi-bing.
Giok-lan yang sejak tadi tidak bersuara mendadak menyela:
"Kenapa tidak kau katakan kedatanganmu ini hendak cari gara2?"
"Ketahuilah Hek-liong-hwe bukan sembarang perkumpulan, kami
juga tidak gentar menghadapi peristiwa apapun, tapi demi
memegang teguh aturan Kangouw, maka perlu sedikit mengoreksi
tuduhan nona tentang mencari gara2. Kami hanya mengharap nona
suka menyerahkan Cu-cengcu, supaya tidak terjadi bentrokan di
antara kita."
Pek-hoa-pangcu tertawa, katanya: "Agaknya bentrokan kedua
pihak t idak biaa dihindari lagi."
Berubah air muka Jik Hwi-bing, katanya sambil menyeringai:
"Jadi nona tidak mau menyerahkan Cu-cengcu?"
"Darimana kami harus menyerahkan Cu-cengcu, bukankah
bentrokan ini jelas akan terjadi?"
Jik Hwi-bing manggut2, katanya: "Berulang kali kami sudah
menyatakan sikap kami yang sesungguhuya, tujuannya supaya tidak
saling merugikan, jadi bukan takut urusan."
"Kalau kami bilang tidak menculik Cu-cengcu, Jik-tongcu tentu
tidak mau perCaya, lalu bagaimana baiknya?"
"Toaci," seru Giok-lan naik pitam, "Jika dia tidak takut urusan,
memangnya kita yang takut malah, kalau Hoa-keh-ceng
membiarkan orang luar terobosan kesini, memangnya kita
selanjutnya biaa berkecimpung di Kangouw lagi?"
"Betul," Sela Giok-je, "mereka toh tidak mematuhi aturan
Kangouw, Seenak perut sendiri main terobos di taman orang,
bermulut besar dan bersikap kasar, hakikatnya tidak pandang kita
bersaudara dengan sebelah mata, buat apa kita harus sungkan2
terhadap orang2 macam ini?"
"Memangnya kenapa kalau tidak sungkan terhadap kami?"jengek
Jik Hwi bing.
"Kami t idak akan berbuat apa2, hanya menahan kalian saja,
setelah pihak Hek-liong-hwe kalian mengutus orang minta maaf
baru kami bebaskan kau."
Berubah air muka Jik Hwi-bing, serunya tergelak2 sambil
mendongak: "Nona begini congkak. memangnya kalian mampu
menahan kami bertiga?"
Seorang gadis lain segera menanggapi dengan suara merdu:
"Memangnya kalian bisa pergi?"-Tampak dari belakang gunung
buatan diseberang sana muncul seorang gadis berpakaian cokelat,
di atas sanggul tertancap sekuntum bunga Bwe, tangan menenteng
pedang, langkahnya ringan mantap, kira2 lima kaki di depan pintu
lantas berhenti. Di belakang gadis baju coklat beriring keluar empat
gadis berpakaian ketat, semuanya bersenjata pedang, begitu sigadis
baju coklat berhenti, mereka lantas berdiri berjajar sambil memeluk
pedang.
Bersamaan dengan munculnya gadis baju coklat ini, dari jalanan
disebelah timur sana juga muncul seorang gadis berpakaian serba
merah menyala, di-atas sanggul rambutnya tertancap sekuntum
bunga anggrek merah, bersenjata pedang, empat gadis baju hijau
mengikut i di belakangnya.
Lalu dari arah barat di antara semak2 bunga muncul juga
seorang gadis baju kuning dengan bunga seruni tertancap di
sanggul, seperti yang lain empat gadis bersenjata pedang
mengiringinya pula. Merekapun, berhenti dalam jarak lima tom-bak.
ke empat gadis pengiring itupun berjajar, di belakang. jadi sekarang
Jik Hwi-bing bertiga telah dikepung. .
Dingin sorot mata Jik Hwi-bing, dia terkekeh kering, katanya:
"Hanya begini saja perbawa kalian?" Selama puluhan tahun
menjabat salah satu Tongcu dari tiga pejabat tinggi dalam Heksliong-
hwe, betapa sering dia menghadapi pertempuran besar kecil,
sudah tentu nona2 cantik ini sedikitpun tidak masuk perhatiannya.
Giok-lan berdiri di undakan, tantangnya: "Kalau kalian kurang
senang, boleh mencobanya."
"Benar, memang Lohu ingin menjajal," sahut Jik Hwi-bing.
Gadis baju coklat alias Bwe-hoa tertawa, katanya: "Tua bangka,
muka merah, kau tidak mau menyerah tapi ingin ditelikung, ini
rasakan beberapa kali tusukan pedang nonamu."
Pek Ki-ham yang berdiri di sebelah kanan Jik Hwi bing berpaling,
sorot matanya kelam dingin, katanya: "Tongcu biar siaute yang
menghadapinya.". Jik Hwi-bing manggut2, katanya: "Baiklah, hati2"
"Sret" Pek -Ki-ham melolos pedang, katanya kepada Bwe-hoa:
"Hanya nona saja yang turun gelanggang?"
"Memangnya berapa orang harus turun tangan bersama?"jengek
Bwe hoa.
"Baiklah," kata Pek Ki-ham, pelan sekali dia gerakan pedang di
tangan kanan.
Bwe- hoa berpaling dan berpesan kepada ke-empat gadis di
belakangnya: "Kalian siap untuk bantu aku membekuk dia." - Empat
gadis mengiakan.
Wajah Pek Ki-ham yang pucat halus mengunjuk mimik kejam
diliputi hawa nafsu, dengusnya: "Nona, hati2lah."
Gaya pedangnya aneh danamat pelan, tapi lenyap suaranya
pedang panjang ditangannya tiba2 menyamber laksana selarik
rantai perak seperti bianglala, cepatnya luar biasa.
Sigap sekali Bwe- hoa menggeser, dengan enteng dia hindarkan
diri, baru saja dia siap balas menyerang, didengarnya Pek Ki-ham
tertawa dingin, pedang tahu2 terayun balik, sekaligus dirinya dicecar
delapan kali serangan.
Bwe-hoa seakan2 tiada kesempatan untuk balas menyerang,
cuma gerak-geriknya gesit dan tangkas, dia hanya main berkelit.
Harus diketahui siapapun yang menyerang dengan gencar, pada
suatu ketika harus ganti napas dan serangan tentu sedikit lambat
atau tertunda, tapi delapan jurus serangan Pek Ki-ham ini
hakikatnya tidak memberi peluang bagi Bwe-hoa untuk bertindak.
sedikit gerakannya tertunda, segera dia tutup dengan gerakan
lengan baju tangan kiri serta mencecar pula delapan kali pukulan,
setiap gerak pukulan ternyata membawa deru angin dingin luar
biasa. Bayangan pukuian memenuhi udara, sementara deru angin
dingin bergolak ditengah gelanggang. Bayangan Bwe-hoa yang
seringan daun melayang kian- kemari, agaknya dia sudah tak kuasa
banyak karena terkurung di dalam bayangan pukuian lawan dan
serasa beku oleh hawa dingin.
Kun-gi duduk di serambi, jaraknya ada beberapa tombak dari
gelanggang, iapun merasakan damparan hawa dingin yang luar
biasa, diam2 ia membatin: " orang ini bernama Pek Ki-ham, yang
diyakinkan juga Ham-ping- ciang (pukulan hawa dingin) dari aliran
sesat, Bwe-hoa berpakaian tipis, mungkin takkan tahan lama."
Tanpa terasa ia melirik Pek-hoa-pangcu yang duduk di sebelahnya.
Dilihatnya sikap Pek-hoa-pangcu tenang2 saja, se-olah2 tidak
ambil perhatian sama sekali akan keadaan anak buahnya yang
terancam bahaya. Selagi Kun-gi keheranan, tiba2 Pek hoa-pangcu
berpaling ke arahnya sambil tersenyum.
Kejadian hanya sekilas saja dan perubahanpun telah terjadi
ditengah gelanggang, Bwe-hoa yang terombang-ambing ditengah
bayangan pukuian lawan serta terbendung hawa dingin itu
menghardik nyaring, badannya bergontai dua kali seperti jatuh, tapi
sinar pedang mendadak bergerak. hamburan sinar, perak laksana
bertaburan, memuhiasi udara. "Tring", terdengat benturan senjata,
pedang Pek Ki-ham tampak ditangkis pergi. Serempak terdengar
serba pujian dan tepuk tangan di sekeliling gelanggang. Terbelalak
mata Ling Kun-gi melihat perubahan ini, terunjuk rasa heran dan
aneh pada wajahnya. Tampak Pek Ki-ham yang bermuka pucat itu
sekarang merah padam, langkahnya sempoyongan mundur
beberapa tindak, lengan bajunya kiri berlepotan darah, ternyata
lengan kirinya telah tertabas buntung oleh pedang Bwe-hoa, lengan
kutungannya itu jatuh t iga kaki di depannya.
Sanggul Poe-hoa juga terpapas bertebaran oleh pedang lawan,
baju di atas pundak kanannya juga tergores robek sepanjang tiga
dim.
Melihat lengannya putus, rasa pedih dan malu melebihi rasa
sakit, mendadak Pek Ki ham menghardik beringas: "Budak keparat,
biar aku adu jiwa, dengan kau." Pedang terang kat dan kembali dia
hendak melabrak Bwe-hoa.
Tahu2 Jik Hwi-bing telah berkelebat ke sampingnya dan
menangkap lengan kanan orang. katanya dengan nada berat: "Kau
sudah kehilangan banyak darah, lekas istirahat."
Beruntun ia tutuk beberapa Hiat to kawannya itu untuk
menghentikan darah mengalir lebih banyak.
Lan Hau, laki2 muka buruk berbaju biru ikut melompat maju,
katanya menyeringai kepada Bwe- hoa: "Budak. mari kita juga
main2 beberapa jurus."
Bwe-hoa menarik napas panjang, tawanya dingin: "Kau juga
ingin ditabas buntung lenganmu?"
Bayangan merah berkelebat, tahu2 Lan- hoa melompat ke
gelanggang, serunya: "Sici (kakak keempat), kali ini giliranku. Kau
boleh ist irahat."
Tanpa bersuara Bwe-hoa mundur kepinggir sambil membetulkan
sanggulnya. Lan Hau menyeringai sadis: "Kau ingin mampus,
baiklah, kau saja yang kubinasakan."
Kelihatan dia tidak membawa senjata, tapi kedua telapak tangan
segede kipas itu t iba2 membalik badan bergerak mengikut i
lenyapnya suara, sebat sekali dia menubruk ke depan- Lima jari
tangan kanan terbuka mencengkeram kepundak kiri, sementara
tangan kiri tegak laksana golok menabas pergelangan tangan lawan
yang pegang pedang.
Sibaju merah alias bunga anggrek miring sedikit seraya
menurunkan pundak. kaki melangkah mundur, dia luputkan diri dari
cengkeraman lawan, berbareng pedangnya menjungkit ke atas,
menusuk urat nadi pergelangan tangan orang.
Lan Hau menjadi marah, sambil membentak tubuhnya menubruk
maju pula, dengan nekat dia hendak rebut pedang si bunga
anggrek, sedang dua jari tangan kiri terangkat laksana garpu
menyolok kedua mata lawan- Di tengah gerungan keras, tahu2
sebelah kakipun ikut menendang lambung si bunga anggrek.
Tiga jurus ini merupakan serangan cepat dan serempak, bukan
saja si bunga anggrek kaget, Pek-hoa-pangcu yang menonton juga
ikut kuatir.
Maklumlah, betapapun tinggi ilmu silat seseorang pada umumnya
takkan mungkin sekali serang menggunakan kaki tangan sekaligus.
Sudah tentu si bunga anggrek tidak berani melayani secara
kekerasan, lekas dia tarik pedang melindungi dada sembari
melompat mundur beberapa kaki.
Mendapat angin sudah tentu Lan Hou semakin temberang, sambil
menyeringai seram kedua tangannya mendadak dari depan dada
didorong ke depan. Gerakan mendorong ini menimbulkan
gelombang kekuatan dahsyat sehingga hawa udara seperti bergolak
menerjang kedepan.
Baru saja si bunga anggrek melompat mundur, dilihatnya kedua
telapak tangan musuh didorong kearah dirinya, tekanan udara yang
berat tiba2 menggulung tiba, dia tahu bahwa lawan yang tidak pakai
senjata tentu mempunyai kepandaian pukuian tangan yang hebat,
sudah tentu dia tidak berani menyambut serangan ini. Sebat sekali
dia melambung tinggi, badannya meluncur tegak ke atas, setinggi
setombak lebih, terasa gempuran angin badai bergulung2 di bawah
kakinya.
Berhasil menghindari pukuian dahsyat Lan hou, ditengah udara si
bunga anggrek menekuk pinggang dan bergerak indah gemulai,
pedang segera berkembang dengan jurus Hoan- kay-hoa-loh (bunga
berkembang daun berguguran), cahaya kemilau berhamburan
ceplok2 perak mengurung ke batok kepala Lan Hau.
Lan Han ternyata lihay, menghadapi ilmu pedang aneh ini, bukan
saja dia tidak menghindar atau tidak menyingkir, ia malah
menyeringai sadis, kedua tangan mendadak memapak dan
mencengkeram ceplok2 sinar pedang itu, gerakannya ini sungguh
amat berani dan juga mengejutkan.
Sudah tentu si bunga anggrek tidak membiarkan pedangnya
ditangkap orang, dia tarik pedang seraya melompat mundur. Lan
Hau kini berbalik memperoleh peluang, lawan tidak diberi
kesempatan ganti napas, segera ia menubruk maju, kedua tangan
bergerak naik turun menabas dan membacok. sekaligus dia
lancarkan delapan belas kali pukulan gencar dan menimbulkan deru
angin kencang.
Sedikit lena dan kurang waspada si bunga anggrek kehilangan
inisiatip sehingga terdesak di bawah angin, apa lagi kedelapan belas
pukuian lawan satu bergandeng dengan yang lain secara berantai,
hakikatnya dia t idak memperoleh peluang untuk balas menyerang.
Lebih celaka lagi telapak tangan lawan agaknya tidak gentar
menghadapi tajam pedangnya, terpaksa disamping melindungi
tubuh iapun harus hati2 supaya pedang tidak terampas oleh musuh,
maka dia mundur ber-ulang2.
Delapan belas jurus serangan berantai Lari Hau itu hebat dan
dahsyat, tapi juga cepat berlalu. Karena terdesak mundur, si bunga
anggrek naik pitam, melihat gaya pukulan lawan sedikit kendur,
peluang sedetik ini tidak di-sia2kannya, seraya menghardik
tubuhnya tiba2 berkelebat, dia gunakan gerakan "ubah bentuk
pindah kedudukan", pedangnya menyamber panjang melintang
laksana nagasakti, ia balas mencecar musuh.
Setelah kedelapan-belas pukulannya dilancarkan, gerakan Lan
Hau memang menjadi kendur, tapi hal ini memang dia sengaja,
melihat lawan balas merangsak. dia tertawa aneh, telapak tangan
kanan segera menepuk. serangan ini memang sudah direncanakan,
begitu si bunga anggrek mendesak maju baru pukulannya
dilontarkan dengan daya dan gaya yang berbeda dengan kedelapan
-belas pukulannya tadi.
Kalau tadi pukulannya membawa deru angin dan perbawanya
sedahsyat gugur gunung, berbeda dengan tepuk tangan kali ini,
gerakannya seperti gertakan saja, seolah2 tidak pakai tenaga,
sedikitpun tidak menimbulkan suara apa2.
Jadi dalam babak ini, kedua pihak sama2 melancarkan tipu
serangan masing2 yang terlihay dan ampuh.
Melihat telapak tangan Lan Hau yang menepuk itu berwarna biru
terang, Pek-hoa-pangcu yang duduk di serambi menjerit dalam hati:
"Lam-sat-ciang"
Sementara Ling Kun-gi yang duduk di sebelahnya juga
terperanjat bukan main melihat gerakan pedang si bunga anggrek,
diam2 hatinyapun berseru: "Sin- liong jut- hun (naga sakti keluar
dari mega)"
sin-liong-jut hun, Liong- ih ya dan Niu-liong-ban-khong, tiga jurus
ilmu pedang ini merupakan ilmu warisan keluarganya. Ibunya tidak
pandai main silat, waktu mengajarkan ketiga jurus ilmu pedang ini
hanya secara lisan sambil mencoret2 dengan gambar, dengan
wanti2 beliau berpesan bahwa ketiga jurus ilmu pedang ini
perbawanya sangat hebat, kalau tidak kepepet dan terpaksa
dilarang sembarangan melancarkan ketiga jurus ilmu pedang ini.
Tadi waktu Bwe-hoa melancarkan sejurus It-jiu-bwe-hoa-jengban-
goh (sepucuk pohon sakura berlaksa kuntum bunga), di
dalamnya diselipi jurus Sin-liong-jut-hun, waktu itu dia kira gerakan
pedang orang cuma rada mirip secara kebetulan, karena bukan saja
gaya dan tipunya mirip. malah gerak tubuh mendesak maju itupun
persis sekali, mirip Ih-sing-hoan-wi tapi juga seperti Bu-hoan-Sin-ih
(benda berganti bintang berpindah).
Kalau betul sin-liong-jut hun adalah ilmu pedang warisan
keluarganya, memangnya dari mana orang2 Pek-hoa-pang ini
mempelajarinya? pada saat menimang2 inilah, kedua orang yang
saling labrak di tanah lapang beruntun itupun sudah mencapai
babak terakhir, kalah menang sudah nampak.
cepat sekali bayangan kedua orang seperti berpadu terus
mencelat mundur pula. Telapak tanagan Lan Hau yang biru terang
itu amat menyolok, setelah menepuk dari kejauhan, sebat sekali
badan lantas jungkir balik ke belakang sejauh tiga tombak.
Agaknya dia sudah memperhitungkan secara masak. niatnya
memang hendak membunuh musuh, maka tepukan telapak
tangannya bukan saja cepat juga hebat.
Tapi jurus Sin liong-jut- bun yang dilancarkan -si bunga anggrek
juga cepat dan tepat. Karena waktu melancarkan jurus serangan ini
gerakannya mirip Ih-sing-hoan-wi, waktu mendesak maju tubuhnya
lenggak-lenggok, sekali berkelebat lantas lenyap sehingga lawan
sukar meluputkan diri. Sementara itu Lan Hau sudah jungkir balik ke
belakang, ia merasakan samberan sinar dingin dari bawah
tubuhnya. Namun Lam-sat-ciang yang dia lontarkan, tidak
membawa kesiur angin, lawanpun sukar menduga serta sulit
menjajagi kekuatannya. Si bunga anggrek merasakan juga tubuhnya
seperti tertahan oleh dinding yang ulet sehingga tubuhnya sukar
maju lebih jauh.
Kejadian hanya berlangsung dalam sekejap. setelah kedua orang
sama2 meluncur bersilang ke arah yang berlawanan, Lan Hau sudah
berada tiga tombak jauhnya, dia tergelak2, serunya: "Budak
keparat, kau ..... " karena tertawa ini tiba2 ia merasakan perutnya
sakit luar biasa.
orang2 di sekelilingpun kini melihat jelas jubah panjang di depan
perutnya sudah koyak tergores pedang si bunga anggrek, sepanjang
satu kaki.
Baru saja ia bergelak tertawa menyusul rasa sakit yang luar biasa
itu, tahu2 isi perutnya, usus besar dan kecil membrojol keluar.
Hakikatnya Lan Hau sendiri tidak tahu atau merasakan bahwa
perutnya sudah koyak teriris oleh pedang si bunga anggrek.
setelah dia merasakan kesakitan dan menunduk, dilihatnya isi
perutnya sudah kedodoran keluar, seketika dan menjerit terus roboh
terkapar. Taraf kepandaian si baju merah alias si bunga aggrek
memang tinggi, tapi Lamsat-ciang merupakan ilmu pukulan ganas
dari aliran jahat, walau dia hanya merasa ditiup angin lunak, semula
tidak terjadi perubahan apa2, tapi setelah kedua orang sama
melompat jauh, begitu berdiri tegak, seketika sekujur badan
gemetar keras, tiba2 ke sepuluh jari terasa linu dan kaku, jantung
berdetak dan kepala pusing, hampir saja dan tak kuasa berdiri lagi.
Menyaksikan Lan Hau roboh dengan perut terkoyak serta
mampus seketika, sungguh hampir meledak dada Jik Hwi-bing,
matanya mendelik liar, jubah hitam yang longgar itu mendadak
melembung, sambil menggerung dan menubruk ke arak si bunga
anggrek seraya pentang kesepuluh jarinya.
Pikiran si bunga anggrek masih sadar, melihat Jik Hwi bing
menubruk tiba, secara refteks pedangnya terayun dengan jurus Sin
liong jut hun memapak kedatangan musuh. Hampir saja tubrukan
Jik Hwi-bing mengenai sasaran, tahu2 matanya silau oleh selarik
sinar pedang yang dingin, dalam ilmu pedang dia sendiri punya
latihan puluhan tahun, sudah tentu dia tahu betapa hebat perbawa
pedang si bunga anggrek ini, serasa pecah nyalinya, lekas ia
mengerem gerakannya serta melompat balik.
Karena menggerakkan pedang, seketika si bunga anggrek
merasakan kepala pening mata berkunang2, hampir saja dan
tersungkur ke depan- Untung kedua pelayan dibelakangnya lantas
memburu maju memayangnya.
"Lak-moay," seru Pek- hoa pangcu, "lekas mundur" -
Lak-moay atau adik keenam yang dimaksud adalah si baju merah
atau si bunga anggrek. Waktu Jik Hwi-bing melompat mundur
karena diserang jurus Sin-liong- jut- hun oleh pedang si bunga
anggrek, sementara sebelah tangannya sudah melolos pedang dari
punggungnya, baru saja dia hendak menubruk maju lagi. Tahu kiok
-hoa, si baju kuning atau si kembang seruni sudah melompat maju
seraya membentak: "Kau masih ingin berkelahi, biar nonamu
melayani, kenapa main terjang?"
Kembang anggrek sudah dipapah mundur keluar gelanggang,
lekas Giok-lan menghampiri menjejalkan sebutir pil ke mulutnya,
lalu berpesan pada pelayannya: "Lekas papah dia masuk ke kamar"
Kedua pelayan itu mengiakan terus mengundurkan diri.
Giok-je bersama Ping- hoa dan Liau-hoa melolos pedang serta
melompat masuk lapangan, menempati kedudukan si kembang
anggrek, maka Jik Hwi-bing tetap terkepung di tengah.
Bola mata Jik Hwi bing merah jalang, mukanyapun merah padam
diliputi amarah yang meluap. giginya gemeretak saking gemas,
bentaknya: "Bagus sekali, ingin Lohu minta belajar betapa tinggi
kepandaian kalian yang ganas ini."
Dengan tenang Giok-lan berkata: "Jik-tongcu main terobesan ke
taman kami, sengaja cari setori lagi, kamipun tidak banyak
bertindak. hanya ingin menahan kalian beberapa hari, kini setelah
kau main senjata yang tidak bermata ini, kenapa menyalahkan pihak
kami malah? Sebaliknya kalau, pihak kami yang meluruk ke Hekliong-
hwe kalian, kukira Jik-tongcu akan bertindak lebih kejam dan
kasar lagi."
Dengan gusar Jik Hwi-bing mendamperat: "Budak hina, sudah
untung masih jual lagak, hari ini Lohu harus beri ajaran pada
kalian."
"Bangsat tua," hardik si kembang seruni sambil menuding
dengan pedang, "Kau tahu di mana kau berada, berani bermulut
kotor?"
Berubah juga air muka Giok-lan, katanya sambil mengulap
tangan kepada kembang seruni: "cit-moay (adik ketujuh), kau
mundur saja, dia hendak memberi ajaran pada keluarga bunga kita,
biar aku mencoba sampai di mana kelihayannya?" ia ambil pedang
yang diulurkan seorang pelayan, pelan2 turun dari undakan-
Karena kedudukan Giok-lan alias kembang Cempaka memang
lebih t inggi, terpaksa kembang seruni mengundurkan diri.
Sementara kembang cempaka sudah berhadapan dengan Hwi-bing,
katanya dingin. "Dalam kalangan Kangouw berlaku hukum rimba,
slapa kuat dia menang, kini tidak perlu banyak omong, silakan Jiktongcu
mulai."
Jik Hwi-bing menyeringai sadis, katanya: "Baiklah, Lohu mulai."-
"sret pedangnya bergerak. hawa pedang yang dingin menggaris
selarik sinar perak melingkar2 kedepan. .
Diam2 Giok-lan mengerut kening, tangan kiri terangkat tinggi,
sementara pedang ditangan kanan bergerak dengan jurus swat-ih
hoa-ing (Rembulan memindah bayangan kembang), badan bergerak
mengikut i gaya pedang, secara lincah dia hindarkan gempuran
pedang Jik Hwi-bing, sinar pedangnya melingkar terus menusuk
pundak kanan Jik Hwi-bing. Jurus ini merupakan serangan sekaligus
untuk mempertahankan diri.
"Ilmu pedang bagus," tanpa terasa Jik Hwi-bing berseru memuji.
Pedang berputar menangkis ke atas memapas tangan Giok-lan,
dalam sekejap pedangnya telah menusuk pula tiga kali, serangan
cepat dan ganas, memang tidak malu sebagai bangkotan ilmu
pedang, pakaian Giok-lan melambai2, beruntun dia bergeser tiga
kali, berbareng pedang bergetar, mendadak dia balas menikam ke
iga Jik Hwi-bing.
Jik Hwi-bing tergelak2, dia membolang-balingkan senjatanya,
gerak pedangnya bertambah kencang. Giok- lan dicecar delapan kali
tusukan secara bersambung. Semuanya merupakan serangan
gencar, satu lebih cepat dan ganas dari pada yang lain, malah
kecepatan dan landasan kekuatan yang terpancar dari ujung pedang
semakin mantap tak tergoyahkan, yang kelihatan hanyalah sinar
pedang, yang kemilau berkelebat kian kemari.
Giok-lan tahu lawan sudah t idak sabar lagi setelah bergerak
sekian lama tidak memperoleh peluang, kini iajadi nekat dan
mencecar dengan segala kemampuannya untuk mencapai
kemenangan.
Sebetulnya hati Giok-lan mulai girang, tapi dia juga insaf
serangan gencar lawan bukan olah2 lihay-nya, maka dia tidak berani
pandang enteng, segera dia kembangkan kelincahan tubuhnya,
laksana kembang berhamburan di musim semi, iaputar pedang tidak
kalah gencarnya, sembari menutup dan mematahkan serangan
lawan, disamping bertahan juga balas menyerang.
Beruntun dia berhasil menangkis delapan jurus serangan Jik Hwibing,
tanpa terasa mengejek, katanya: "begini saja kelihayan Jiktongcu
yang ingin dipertontonkan pada kami bersaudara?"
Mendadak permainan pedangnya berubah pula, serempak iapun
melancarkan serangan balasan secara bertubi2. Di mana pedangnya
menuding, sinar kemilau pedangnya mirip ceplok2 kuntum bunga,
begitu Pek-hoa-kiam-hoat dikembangkan, bunga cahaya pedang
serentak bertaburan laksana seratus kembang mekar bersama.
Sudah tentu Jik Hwi- bing tahu akan kelihayan ilmu pedang ini,
cuma dia tidak kenal ilmu pedang apa yang dia hadapi? Seraya
menghardik kedua kakinya pasang kuda2 sekokoh tonggak
menancap di tanah, tanpa menyingkir atau menghindar, dia
andalkan kekuatan Lwekangnya, secara keras dia hadapi serangan
Giok-lan.
Ditengah berkelebatnya sinar pedang, berdentinglah suara keras
beradunya senjata mereka, Bayangan mereka berduapun terpental
mundur, masing2 sempoyongan beberapa langkah, waktu mereka
memeriksa keadaan sendiri, ternyata pedang panjang masing2 kini
sudah sama gumpil dan cacat.
Hanya sekejap kedua bayangan terpencar lalu saling terjang pula
lebih sengit. ilmu pedang Jik Hwi-bing mantap dan matang
latihannya, dilandasi Lwekang yang kuat lagi sehingga hawa pedang
berpencar menjadi gangguan yang tidak kecil artinya bagi musuh.
Permainan pedang Giok-lan sebaliknya menempuh jalan lincah
dan gesit, Pek-hoa kiam-hoat sendiri memang mengutamakan
kecepatan, ditambah gerakan Hwi-hoa-sin-hoat lagi, maju
menyerang dan mundur bertahan cukup rapat, berkelebat sana
menubruk sini, permainannya serba aneh dan menakjubkan.
Sudah 50 jurus mereka saling labrak. tapi masih sulit
dibayangkan, pihak mana bakal menang. Di tengah pertempuran
seru itu, mendadak Giok-lan berseru nyaring, sinar pedang laksana
cahaya bintang jatuh menyapu ke arah Jik Hwi- bing.
Sejak tadi Ling Kun-gi terus perhatikan baku bantam ini, kini
diam2 hatinya berteriak pula: "Sin-liong- jut-hun" Didapatinya
bahwa nona2 dari Pek-hoa-pang ini seolah2 semuanya pandai
memainkan jurus Sin-liong jut-hun ini, bila menggunakan ilmu
pedang perguruan sendiri sukar mendesak dan mengalahkan
musuh, lalu mereka melancarkan jurus ilmu pedang yang lihay itu.
Kini Giok-lan kembali melancarkah jurus Sin-liong-jut-hun, sudah
tentu Kun-gi menaruh perhatian istimewa.
"Puluhan tahun sudah Jik Hwi-bing menggembeleng diri dalam
ilmu pedang, walau tidak tahu asal usul ilmu pedang ini, tapi
pengalaman tempur merupakan bekal ampuh bagi dirinya, tadi
beruntun dia sudah menyaksikan Pek Ki-ham menghadapi musuh
pula dan terbukti Pek Ki ham dan Lan Hau sama cidera oleh jurus
ilmu pedang ini, dengan sendirinya dia sudah waspada dan hati2,
segera dia membentak: "Serangan bagus." Pedang terangkat untuk
menutup datangnya serangan lawan-
Itulah Lot- ping-lam-thian (mengadu kekuatan dilangit selatan),
jurus adu kekuatan dengan cara keras, meski hanya jurus
permainan yang biasa dan umum, tapi dilancarkan oleh seorang ahli
pedang ternyata jauh sekali bedanya, tahu2 sinar pedangnya
berkembang laksana kipas dipentang lebar, untuk membendung
sinar pedang Giok-lan.
Dua pedang mereka kembali beradu. "Trang, krontang", sinar
pedang tiba2 sama kuncup, bayangan merekapun tergentak mundur
beberapa kaki. Gebrakan ini tetap tiada yang unggul atau asor, tapi
pedang panjang mereka sama2 t inggal separo.
Betapapun Giok-lan adalah perempuan, tenaganya lebih lemah,
karena adu kekuatan ini sehingga lengannya tergetar linu,
wajahnyapun merah panas pelan2 dia menarik napas, matanya
yang bening menatap Jik Hwi-bing, katanya tertawa: "ilmu pedang
Jik-tongcu memang hebat, hayolah sambut sejurus seranganku lagi"
Beberapa patah kata ini diucapkan dengan suara halus merdu,
diam2 ia pinjam kesempatan ini untuk memulihkan tenaga.
Dan baru saja lenyap kata2nya, tubuhnya yang ramping itu terus
melompat maju, pedang kutung diputar laksana kitiran- Kembali
cahaya berseliwer dingin, hawa pedang melingkupi gelanggang
seluas satu tombak lebih, sayup2 terdengar suara gemuruh badai
guntur di tengah hujan lebat.
Mendengar orang bilang "sambut sejurus seranganku lagi",
diam2 Ling Kun-gi sudah tergerak pikirannya dan matanya lantas
menatap dengan tajam, dia membatin: "Ternyata benar liong-canih-
ya adanya."
Inilah jurus kedua dari ilmu pedang tunggal keluarganya. Keruan
kaget dan heran pula Kun-gi dibuatnya. "Memangnya Pek-hoa-pang
mempunyai hubungan erat dengan diriku?" demikian dia bertanya2
dalam hati.
Jik Hwi-bing memang tidak malu sebagai seorang ahli pedang,
rnenghadapi ilmu pedang Giok-lan yang lihay, hebat dan digdaya ini,
hatinya malah tenang dan mantap. pedang kutung ditangannya
terangkat menunggu, begitu cahaya pedang lawan merangsak tiba,
mendadak dia menghardik sambil menghembuskan deru napasnya,
berbareng pedang terayun ke atas seperti menusuk ke udara.
Tipu yang digunakan ini bernama Pat- hong- Kong- ih (hujan
angin dari delapan penjuru) jurus serangan biasa kalau tidak mau
dikatakan umum, tapi dilancarkan dari tangan seorang ahli seperti
dirinya ternyata lain pula bebotnya, maklumlah se-lama pUluhan
tahun meyakinkan ilmu pedang, jurus ini boleh dikatakan sudah
diyakinkan sedemikian rupa sempurna, dilandasi setaker
kekuatannya lagi, maka pedangnya mendesing tajam.
Benturan keras dari kedua pedang kutung kembali terjadi, kali ini
bunyinya nyaring bergema, pedang ditangan kedua orang bukan
lagi kutung, tapi sama hancur ber-keping2 berhamburan di tanah.
Tak terasa rona muka Kun-gi berubah, maklumlah betapa hebat
dan sakti jurus kedua ilmu pedang warisan keluarganya ini? Tapi Jik
Hwi-bing ternyata mampu mematahkannya hanya dengan sejurus
Pat- hong-hong-ih yang sangat umum ini.
Memang soalnya terletak pada bobot serta latihan Giok-lan,
karena inti sari dan kekuatan sesungguhnya dari jurus kedua ini
belum lagi matang dan mendarah daging pada jiwanya, sehingga
kesaktian dan gerak perubahannya tidak dapat dimanfaatkan,
sebaliknya Jik Hwi-bing membekal latihan puluhan tahun,
Lwekangnya tinggi, menyerang dengan kekuatan terakhir lagi,
sudah tentu dia lebih beruntung.
Memperoleh hasil yang di luar dugaan serta memuaskan ini, Jik
Hwi-bing tidak kepalang tanggung bertindak lagi, sekali jejak dia
melompat ke atas, kedua kaki serentak bekerja menendang secara
berantai, Giok-lan kena didesaknya mundur beberapa langkah,
begitu tubuh meluncur dan kaki hinggap dibumi lagi, mulut lantas
tertawa panjang, lengan terkembang bagai bangau menjulang ke
langit, tubuhnya meluncur melompati kepala orang banyak terus
ngacir seperti kesetanan.
Belum lenyap lengking tawa Jik Hwi-bing, Pek Ki-ham yang
berdiri di luar gelanggang serentak ikut menjejak kaki melambung
tinggi dan mengikuti langkah Jik Hwi-bing, diapun meluncur jauh
keluar kepungan.
Karena kurang waspada Giok-lan terdesak mundur dua langkah,
melihat kedua musuh melarikan diri, gusarnya bukan main, kontan
ia menimpuk gagang pedang yang masih dipegangnya ke punggung
Pek Ki-ham. Lalu membalik badan merebut sebatang pedang dari
salah seorang pelayan terus mengejar.
Sementara itu Giok-je, Bwe-hoa dan Kiok-hoa bagai burung Hong
terbang beramai2 juga ikut mengudak dengan kencang.
Pek Ki-ham yang kutung lengannya kehilangan banyak darah, dia
setindak lebih lambat lari daripada Jik IHwi bing, baru saja tubuhnya
melambung ke atas, mendadak dirasakannya sejalur angin kencang
menerjang punggungnya, karena terapung di udara, tak mungkin
dia berkelit, terpaksa pedang menyabet ke belakang. "Trang",
gagang pedang timpukan Giok-lan kena disampuknya jatuh, tapi
daya luncuran tubuhnya dengan sendirinya menjadi terganggu,
tubuhnya terus anjlok ke bawah.
Giok-lan sudah mengejar tiba secepat angin, tahu2 ia berkelebat
lewat di samping Pek Ki-ham, mulutnya membentak: "Kalian cegat
dia, biar kukejar bangsat she Jik itu."
Baru saja Pek Ki-ham anjlok turun, Bwe-hoa, Kiok-hoa dan Giokje
pun beruntun telah mengepungnya. Tahu dirinya sukar
meloloskan diri, muka Pek Ki- ham yang pucat itu jadi beringas,
mulutnya membentak: "Biar tuanmu adu jiwa dengan kalian"-
Karena nekat dan mau adujiwa maka gerakan pedangnya sudah
tentu kuat luar biasa.
Bwe-hoa berada paling depan, terasa sabetan pedang lawan
membawa tekanan yang dahsyat, belum lagi tajam pedang
menyerang tiba, hawa pedangnya yang dingin sudah merangsang
badan. Lekas dia menghimpun hawa murni dipusar, sekali jejak
tubuhnya lantas melambung ke atas menghindari sabetan pedang
musuh, lalu dari atas ia menubruk ke bawah.
Jeri hati Pek Ki-ham, tapi gerakannya tidak menjadi kendur,
tenaga dia pusatkan ditangan kanan, pedang diputar sekencang
kitiran, serangan Bwe-hoa yang menukik turun ditangkisnya terus
ditolak ke samping.
Kiok-hoa tertawa dingin jengeknya: "Masih berani membandel,
biar kutabas sisa lenganmu yang satu ini" Selarik sinar betul2
menabas ke pundak kanan orang.
Saking murka wajah Pek Ki-ham yang pucat berubah jadi merah
padam, ilmu silatnya tinggi, sayang lengannya sudah buntung,
betapapun tak kuasa menghadapi keroyokan tiga lawannya? Sambil
menangkis dan menyampuk serabutan kakinya mundur tak teratur
lagi, kelihatannya dalam beberapa gebrak saja dia tak mampri
bertahan lagi.
Se-konyong2 sinar-kemilau berkelebat dari sebelah kanan,
ternyata pedang Kiok-hoa tiba2 menyelinap masuk "cret”, lengan
baju kanannya tertusuk berlubang.
Keruan Pek Ki-ham semakin nekat dan kalap. sambil kertak gigi
dia putar pedang melindungi badan, sekuat tenaga dia masih
bertahan tiga empat gebrak lagi. Terdengar Bwe-hoa membentak
nyaring. "Trang" pedang lawan kena ditindih ke bawah, sigap sekali
pedang si kembang seruni dan Giok -je sudah mengancam tengkuk
dan lehernya dari kiri -kanan-
Bwe-hoa mendengus. katanya: "orang she Pek, tidak lekas kau
menyerah dan terima dibelenggu?"
Hampir menyala mata Pek Ki-ham "cuh." tiba2 mulutnya
menyemprot riak kental ke muka Bwe-hoa, bentaknya beringas:
"Budak busuk. kalian mimpi"
Dengan mudah, Bwe-hoa menyingkir ke samping, bentaknya:
"cari mampus kau"
Pek-hoa-pangcu tiba2 berbangkit, teriaknya nyaring: "Selamatkan
jiwanya."
Sayang sudah terlambat sembari menghardik tadi ternyata Pek
Ki-ham sudah membalik pedang sendiri terus menusuk perut sendiri,
darah hitam segera muncrat dari luka di perutnya, pelahan2
tubuhnya pun roboh tersungkur.
Hampir saja Bwe-hoa yang menyerang lalu kecipratan darah
hitam itu, untung dia keburu melompat minggir, serunya sambil
angkat kepala "Toaci, dia sudah mati" Kiok-hoa dan Giok-je juga
tarik pedang.
Pek hoa-pangcu tampak mengerut kening, katanya: "Sudah mati
biarlah, suruh orang menguburnya. "
Bwe-hoa mengiakan, Mendadak Giok-je men-jerit: "Getah
beracun, pedangnya dilumuri getah beracun, Cepat sekali jasadnya
telah membusuk."
Ternyata dalam sekejap ini di mana perut Pek Ki-ham terkena
pedang, kulit dagingnya telah membusuk jadi Cairan hitam yang
berbau busuk.
Lekas Pek-hoa-pangcu maju memeriksa. Pikiran Ling Kun-gi juga
tergerak. tanpa diminta iapun mengikuti jejak Pek- hoa-pangcu.
Memang tubuh Pek Ki-ham dengan cepat telah berubah jadi cairan
darah kental hitam, rumput di sekitar mayat-pun seketika hancur
jadi cairan, sampai tanahpun ikut berubah bentuk, maka dapatlah
dibayangkan betapa ganas racun ini.
Tak habis mengerti, Kun-gi lantas bertanya: "Apakah benar
pedangnya dilumuri getah beracun? Memangnya getah racun
apakah itu masa begini lihay?"
Pelan2 Pek-hoa-pangcu menggeleng kepala, katanya: "Aku tidak
tahu, inilah rahasia Hek-liong-hwe."
Entah memang tidak tahu atau tidak mau menjelaskan? Tapi
Kun-gi tak enak bertanya lebih lanjut:
"Bukan Pang kita saja yang telah mengalami tekanan oleh
ganasnya getah beracun ini, tapi seluruh kaum persilatan dijagat ini
pun akan mengalami petaka yang sama atau mungkin lebih
mengenaskan. Kalau Ling kongcu berhasil punahkan kadar racun
getah ini boleh dikatakan telah menolong jiwa sesama umat
manusia dijagat raya ini." - Apa yang dikatakan tak ubahnya seperti
yang pernah Ling Kun-gi dengar dari mulut Cek Sengnjiang. Kun-gi
hanya tersenyum, katanya: "cayhe akan bekerja sekuat tenaga."
Tengah bicara, tampak Giok-lan telah kembali. Pek-hoa-pangcu
lantas tanya: "Dia sempat meloloskan diri?"
Giok lan membungkuk, sahutnya, "Hamba mengejarnya sampai
pinggir danau, bangsat tua itu sudah lari naik perahu."
Sambil menghela napas pelan berkata Pek-hoa-pangcu: "Latihan
ilmu pedangnya sudah matang, umpama kau bisa mengejar dia juga
sukar untuk membekuknya." Mendadak dia menatap sambil
menambahkan: "Jadi kalian tidak menemukan perahu mereka?"
"Llok dan Li berdua Sucia yang bertugas di sebelah timur laut
ternyata tertutuk Hiat-to oleh mereka, katanya dua orang yang
membekuk mereka adalah pemuda berjubah biru dan seorang laki2
jangkung berjubah hijau, lengan kirinya terbuat dari besi dan ilmu
silat mereka amat tinggi."
"Itulah Dian Tiong-pit dan Hou Thi-jiu" seru Giok-je,
"Meski dia sempat lari dari tangan kita, tapi dua di antara tiga
dapat kita lumpuhkan, hasil inipun sudah cukup memuaskan."
"Jadi orang she Pek itu telah kita tawan?" tanya Giok- lan.
Pek-hoa-pangcu menuding ke tanah, katanya: " pedangnya
dilumuri getah beracun, jazatnya telah cair dan terisap ke dalam
tanah."
Giok-lan memandang ke tanah dengan pandangan kaget,
katanya: "Begini lihay getah beracun ini?"
"Walau amat beracun, kini kita telah mendatangkan Ling-kongcu,
kukira takkan lama lagi kita akan mempunyai daya untuk
memunahkannya," demikian ujar Pek-hoa-pangcu.
Kun-gi tertawa. katanya: "Jangan Pangcu mengharapkan terlalu
besar terhadapku, dapatkah cayhe menemukan obat pemunahnya
masih belumtentu, cayhepun tidak begitu yakin-"
Pek-hoa-pangcu mengerling, katanya sambii tersenyum manis:
"Bukankah tadi kau bilang akan membantu sekuat tenaga?"
"Umpama cayhe kerja sekuat tenaga kan belum tentu berhasil?"
sahut Kun-gi.
"Janji KongCu pasti dapat dipercaya, kuyakin kau pasti akan
bekerja sepenuh hati, Ai, hidup, mati seluruh anggota Pang kami
bergantung dari usaha Ling-kongcu saja."
Sampai disini dia berpaling kepada Giok-lan- "orang2 Hek-lionghwe
sudah mencari ke sini Jik Hwi-bing adalah salah satu Tongcu
mereka, setelah dia berhasil melarikan diri urusan tentu takkan
berakhir sampai di sini saja, maka sejak kini sekeliling taman ini
harus ditambah penjagaan, ronda diperkuat lebih keras" Giok-lan
menerima perintah ini.
Pek-hoa-pangcu berkata pula: "Orang2 Hek— liong-hwe telah
melumurkan getah beracun di senjata masing2, pasti mereka juga
sudah melumuri senjata rahasianya, maka kita semua harus lebih
hati2."
Merandek sekejap lalu ia menambahkan, "Syukurlah Ling-kongcu
telah berjanji akan membantu, semakin cepat diperoleh obat
penawarnya tentu akan lebih baik, lekas kau antar Ling-kongcu
kembali ke kamarnya, periksa lagi masih ada kekurangan apa?
Untuk ini harap Ling kongcu dapat mulai bekerja selekasnya."
Kun-gi menjura, katanya: "Pangcu tiada pesan lain, baiklah cayhe
mohon diri saja."
Sambil membetulkan sanggulnya, tajam dan perihatin tatapan
mata Pek-hoa-pang Cu, katanya: "Semua berkat bantuan dan usaha
Kongcu."
Giok-lan lantas bawa Kun-gi kembali melalui jalan datangnya
tadi, kali ini Giok-lan tetap berjalan di depan, lekuk tubuh orang
yang semampai dan menggiurkan menjadikan pikiran Kun-gi tidak
tenang, apalagi bau harum dari badan orang selalu merangsang
hidungnya. .
Setelah tiba diserambi dipinggir gunungan palsu itu baru Giok-lan
berpaling, katanya tersenyum manis, "Biasanya pangcu amat dingin
menghadapi orang, sikapnya yang lunak hari ini terhadap Lingsiangkong
sungguh amat istimewa."
"cayhe amat beruntung sekali," ajar Kun-gi berkelakar,
"Memangnya hanya pemuda segagah dan setampan Lingsiangkong
saja yang dapat menundukkan dan mencairkan hati
Pangcu yang kaku dan beku."
Merah muka Kun-gi, katanya: "Ah, nona jangan menggoda."
Sambil menunduk Giok-lan jalan di depan, katanya lirih:
"Memangnya Kongcu masih belum merasakan? Ai, Kongcu dan
Pangcu kami memang merupakan pasangan yang setimpal, sayang .
. . ." suaranya semakin lirih dan akhirnya tenggelam dalam
tenggorokan-
Sayang apa? Dia tidak meneruskan, sudah tentu Kun-gi rikuh
untuk menanya, maka selanjutnya mereka berjalan tanpa bersuara
lagi.
Benak Kun-gi masih memikirkan ketiga jurus Hwi-liong-kiam-hoat
tadi, maka tak tertahan dia bertanya: "cayhe ingin mohon petunjuk
suatu hal kepada nona."
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Giok-lan menoleh. .
"Pang Kalian menggunakan Pek-hoa (seratus kembang),
menciptakan semacam suatu aliran ilmu pedang tersendiri,jika
dikembangkan menciptakan kuntum bunga yang berbeda2 seolah2
seratus bunga mekar bersama, entah apakah nama ilmu pedang ini
juga dinamakan Pek-hoa?"
Terunjuk rasa heran dan kaget dari sinar mata Giok-lan, katanya:
"Ling-kongcu memang cerdik, hanya menyaksikan beberapa jurus
lantas tahu asal-usul ilmu pedang itu."
"Nona terlalu memuji, soalnya cayhe pernah dengar penuturan
guruku tentang aliran dan jurus2 ilmu pedang dari berbagai
golongan dijagat ini, tapi ilmu pedang yang diperlihatkan oleh
beberapa nona tadi semuanya merupakan Ciptaan tersendiri, dan
lagi ceplok2 sinar pedang berkuntum2 banyaknya, serasi betul
dengan perkumpulan kalian, maka dapatlah dibayangkan bahwa
ilmu pedang itu pasti hasil ciptaan cakal-bakal Pang kalian-"
Giok-lan manggut2, katanya: "Agaknya Ling-kongcu juga seorang
ahli pedang."
"Terlalu tinggi penilaian nona terhadap cayhe, memang cayhe
memelajari beberapa jurus ilmu pedang cakar ayam,jangan
dikatakan ahli? Jik Hwi-bing yang betul2 ahli dalam bidang ini
dengan landasan Lwekang yang tinggi lagi toh juga kecundang oleh
nona, kukira nona yang setimpal dijunjung sebagai ahli pedang."
Tiada manusia di kolong langit ini yang tidak senang diumpak.
Terutama perempuan, asal cara yang kau gunakan tepat dan
sejalan dengan isi hatinya, meski hanya beberapa patah kata,
seorang perempuan yang cerdikpun dapat kau buat senang hatinya.
Demikian pula Giok-lan, sudah tentu dia juga senang disanjung puji.
Apalagi yang dihadapinya sekarang adalah Ling Kun-gi, pemuda
gagah ganteng yang romant is ini.
Bola mata Giok-lan memancarkan cahaya aneh, katanya sambil
tertawa: "Kau pandai berbicara."
Kun-gi hanya tersenyum, katanya pula: "Ilmu pedang yang tadi
digunakan Bwe-hoa dan Lan-hoa untuk melukai kedua orang itu
agaknya merupakan jurus aneh yang berlainan, kurasa bukan jurus
serangan yang ada di dalam Pek- hoa-kiam-hoat itu?"
"Em," Giok-lan memuji, "pandangan Kongcu memang tajam,
jurus ini memang bukan terdiri dari rangkaian Pek-hoa-kiam-hoat "
"Lalu jurus ilmu pedang apa? begitu lincah, sakti laksana naga
memperlihatkan diri di atas mega, sehingga orang sukar meraba
ekornya."
Tiba2 Giok-lan membalik, tanyanya sambil menatap tajam: "Lingkongcu
kenal jurus ilmu pedang itu?"
Kun-gi menggeleng, katanya: "Kalau cayhe kenal ilmu pedang ini,
buat apa harus tanya kepada nona?"
Giok-lan menghela napas panjang, katanya: "Memang Kongcu
tidak malu sebagai seorang ahli pedang, jurus ilmu pedang itu
memang tepat seperti apa yang kau katakan-"
Kun-gi pura2 bingung, tanyanya: "Kata2 apa yang tepat
kukatakan?"
"jurus itu memang bernama Sin-liong-jut hun (naga muncul dari
mega)."
Kini terbukti bahwa ilmu pedang yang mereka mainkan betul
adalah Sin-liong-jut- hun seperti dugaan Ling Kun-gi, tapi dia hanya
tersenyum saja, katanya: "cayhe hanya melihat Cara nona tadi
waktu memainkan ilmu pedang itu selincah naga di atas mega, tak
kira bahwa jurus pedang itu memang bernama Sin liong-jut-hun,
tentunya ilmu pedang ini juga ciptaan Pang kalian?"
Giok-lan seperti tersentak sadar, katanya: "Itulah ilmu pedang
pelindung Pang kami, untuk apa Kongcu tanya hal ini?"
"Sepuluh tahun cayhe berlatih pedang, selamanya belum pernah
melihat ilmu pedang seaneh dan begitu digdaya, karena ketarik
adalah jamak kalau ingin tahu lebih jelas."
Seperti tertawa tapi tidak tertawa Giok-lan memandangnya,
katanya sambil mencibir: "Ketarik apa segala, yang jelas kau ingin
tahu asal-usul ilmu pedang ini bukan? Bagi orang lain, hal ini hanya
merupakan impian belaka, tapi bila Ling-kongcu ada maksud, kukira
tidak sukar . . . "
Mendadak dia berhenti bicara sampai di sini.
Sudah tentu Kun-gi ingin tahu asal-usul ke-3 jurus ilmu pedang
itu, tanyanya: "Tidak sukar bagaimana?"
Giok-lan tertawa penuh arti, katanya: "Asal Ling-kongcu sudi jadi
anggota Pang kami dan menjadi Huma (suami Pangcu) dan
bertanggungjawab menjaga keselamatan Pangcu, kau akan
memperoleh hak untuk mempelajari ketiga jurus ilmu pedang
pelindung Pang itu."
Tanpa terasa mereka sudah berada dipekarangan tengah terus
menuju ke deretan rumah di sebelah kiri. Sin-ih yang bertugas di
bilangan ini segera keluar menyambut. Kata Giok-lan- "Ling -
kongcu adalah tamu agung Pang kita, berilah hormat kepadanya."
Sambil tertawa Kun-gi mendahului buka suara "Nona Sin-ih tidak
usah banyak adat, masa kau tidak mengenalku?" - Suaranya dibikin
serak hingga mirip logat ciam-liong Cu Bun-hoa.
Terbeliak mata Sin-ih, serunya: "Kau adalah Cu-cengcu?"
Giok-lan iringi Kun-gi masuk ke kamar tamu, lalu menuding
kamar sebelah kiri, katanya: "Itulah kamar buku yang disediakan
untuk Ling- kongcu,"
Lekas Sin-ih lari ke depan membuka daun pintu yang bercat
merah. "silakan," kata Giok-lan, Kun-gi tidak sungkan lagi, segera ia
beranjak masuk.
Kamar buku ini amat besar dan panjang, tepat di tengah terdapat
sebuah pintu bulan sabit, sehingga kamar panjang ini dipetak jadi
dua. Kamar depan bagian selatan sana ada jendela berkaca yang
bertutup kain sari bersulam indah, di luar jendela adalah taman
bunga, di bawah jendela terdapat meja buku, di kanan-kirinya
terdapat rak buku, setiap petak penuh berisi buku2, semua diatur
begitu rapi, disekitar meja terdapat empat buah kursi.
Kamar belakang mepet dinding utara terdapat sebuah almari
bersusun, sekali pandang lantas ketahuan almari ini sengaja dibuat
khusus untuk menyelidiki getah beracun itu, di atas almari banyak
terdapat laci, pada setiap laci ditempel kertas merah yang
bertuliskan nama obat yang disimpan di dalam laci itu.
Dipinggir kiri almari ada sebuah pintu kecil, hanya di belakang
masih ada sebuah ruangan lain-
Menuding almari itu Giok-lan menerangkan:
"obat2 dalam laci itu berjumlah 72 macam, semua adalah
obat2an yang pernah Kongcu gunakan wak-tu menawarkan getah
beracun di coat-sin-san Ceng, keCuali itu bila Kongcu masih
memerlukan obat lainnya boleh memberi pesan kepada Sin-ih,
segera akan didapatkan." - Lalu dia menuding pintu kecil itu: "Di
kamar itulah untuk menggodok obat, Kongcu boleh menyuruh Sin-ih
atau bila perlu juga boleh menggodok sendiri."
Kun-gi ikut melangkah masuk. kamar kecil ini berbentuk lonjong,
semua peralatan untuk meracik dan menggodok obat sudah lengkap
tersedia di sini, Setelah mengadakan pemeriksaan ala kadarnya,
Giok— lan berkata pula: "Ada kekurangan apa di sini, atau
memerlukan apa saja, Kongcu boleh minta kepada Sin-ih."
Kun-gi manggut2, katanya: "Begini rapi persiapan nona, kukira
sudah cukup," Sampai di sini mendadak ia menambahkan "Tapi
masih harus disediakan air."
Giok-lan tersenyum, dia menuju ke ujung sana, membuka sebuah
pintu, di luar ternyata adalah serambi yang menuju kepekarangan
belakang. Diserambi, berjajar tiga gentong air, semuanya bertutup
papan kayu bundar.
Menuding ketiga gentong air Giok-lan menerangkan pula: "Inilah
tiga gentong air, gentong pertama berisi air gunung, gentong kedua
berisi air sumber, gentong ketiga beriai air sungai, sudah ku-pesan
setiap hari mereka harus mengganti air sekali."
"Nona memang pandai bekerja, begini rapi persiapannya,"puji
Kun-gi.
Mereka keluar dari kamar kecil itu kembali ke kamar buku. Gioklan
membungkuk membuka pintu almari bagian bawah, dengan
kedua tangan dia mengeluarkan sebuah buli2 terbuat dari porselen,
katanya dengan sikap serius: "Inilah getah beracun yang kita
peroleh dari Hek-liong-hwe, harap Ling-kongcu berhasil memperoleh
obat penawarnya bagi Pang kita, kami semua akan bersyukur dan
berterima kasih."
"Silakan nona mengembalikannya kedalam almari, bila diperlukan
cayhe akan mengambilnya, cayhe sudah janji kepada Pangcu, tentu
akan bekerja sekuat tenaga."
Setelah menyimpan buli2 itu, Giok-lan berdiri sambil
membetulkan rambut yang terurai, katanya tertawa: "Semoga
Kongcu berhasil secepatnya." lalu dia memberi hormat dan
menambahkan: "Ling- kongcu, aku masih ada urusan, mohon
pamit."
"Sebentar nona," kata Kun-gi, "ada sebuah hal mohon nona suka
memberi petunjuk."
"Masa memberi petunjuk segala, Ling-kongcu ada urusan apa?"
"cayhe tinggal di sini, apakah diperbolehkan jalan keluar?"
Ber-kedip2 mata Giok-lan, sesaat dia memandang Kun-gi, hatinya
tampak ragu2, tapi segera dia berkata sambil tertawa: "Ling-kongcu
adalah tamu agung, seharusnya boleh bebas mau pergi kemana,
cuma Kongcu baru datang, belum tahu seluk-beluk disini, anggota
Pang kita semua perempuan, hanya pekarangan tengah ini saja
tempat istirahat Kongcu, jadi hanya Kongcu saja seorang laki2 yang
berada di sini, kalau tiada orang yang menunjukan jalan kukira
kurang leluasa."
Memang hal ini beralasan, sesuai dengan nama perkumpulan,
sudah tentu seluruh anggota Pek-hoa-pang adalah perempuan atau
gadis2, seorang laki2 asing jika tanpa pengiring memang kurang
leluasa bergerak di tempat ini. Tapi secara tidak langsung hal ini
berarti dirinya ditahan atau disekap dalampekarangan luas ini?
"Kalau tidak leluasa ya sudah, cayhe hanya bertanya sambil lalu,"
ujar Kun-gi.
Giok-lan menepekur sebentar, katanya kemudian- "begini saja,
biarlah hal ini kubicarakan dulu dengan Pangcu, di belakang sana
kita masih ada sebuah taman, kalau Kongcu habis bekerja, boleh
jalan2 di taman itu, cuma hal ini harus mendapat persetujuan
Pangcu."
"Kukira tidak usahlah, bikin repot kau saja."
"Tidak, hal ini memang belum terpikir sebelumnya olehku,
anggaplah kecerobohanku, kini Kongcu telah mengusulkan, tentu
akan kulaporkan kepada Pangcu, sebagai tamu agung yang bekerja
bagi kepentingan kita semua, mana boleh setiap hari menyekap diri
di kamar kerja melulu," habis bicara lekas2 dia beranjak keluar.
Setelah orang pergi Ling Kun-gi mondar-mandir dalam kamar
sambil menggendong tangan melihat buku2 di atas rak, akhirnya dia
duduk di kursi malas di bawah jendela sana.
Sin-ih cepat mengambil teh serta diantar ke depan Kun-gi: "Lingkongcu
silakan minum."
"Ah, cayhe sampai lupa kalau nona masih berada di sini," seru
Kun-gi. "Tiada yang perlu kau kerjakan lagi di sini. boleh nona
keluar saja."
"congkoan ada pesan, Kongcu perlu bekerja seorang diri, hamba
dilarang mengganggu, tapi hamba ditugaskan di sini meladeni
keperluan Kongcu, apapun keinginan Kongcu harus kusediakan.
Baiklah hamba akan tunggu di luar saja, sekali panggil hamba pasti
mendengar," lalu Sin-ih mengundurkan diri.
Ling Kun-gi angkat cangkir dan menghirup,nya seteguk. sambit
memegangi cangkir dia menengadah mengawasi langit2, pikirannya
risau, ia rada bingung juga, tak tahu langkah apa yang harus dia
lakukan selanjutnya.
Waktu dirinya diselundup keluar oleh Giok-je, Ia mandah saja,
hanya satu tujuan ingin mencari jejak ibunya. karena waktu itu
diketahuinya selain Coat Sin-san-ceng ternyata ada pula suatu
serikat rahasia lain yang menghendaki dirinya. Di Coat Sin-san-ceng
dia gagal mendapatkan ibunya, sudah tentu dia ingin melihat2
serikat rahasia apakah yang hendak memperalat dirinya. Maka Kungi
akhirnya berada di Pek-hoa-pang ini.
Pek-hoa-pang memang suatu kumpulan gadis yang serba
rahasia, tapi dia yakin bahwa ibunya yang bilang pasti tiada
sangkut-pautnya dengan Pek-hoa-pang. Malah Pek-hoa-pangcu
berjanji akan bantu dirinya mencari jejak beliaU. Kini setelah
diketahui bahwa ibunya tak berada di sini, sepantasnya dia harus
segera berlalu, tapi dua persoalan justru terpampang dihadapannya,
tak mungkin untuk di-tinggal pergi begini saja.
Soal pertama sudah tentu menyangkut getah beracun. Semua dia
hanya tahu bahwa Coat Sin-san-ceng amat getol menginginkan obat
penawar getah beracun, kini sudah jelas bahwa Coat Sin-san-ceng
hanyalah merupakan salah satu Cabang kerja dari Hek-liong-hwe,
sedang getah beracun sebetulnya milik Hek-liong-hwe. Dan Hekliong
hwe belum mempunyai obat penawarnya .
Dari pembicaraan Jik Hwi bing dapat ditarik kesimpulan bahwa
Pek-hoa-pang dan Hek-liong-hwe belum pernah bentrok atau
berselisih, lalu kenapa pihak Pek-hoa-pang juga ingin selekasnya
memperoleh obat penawar getah beracun? Sebetulnya barang
apakah getah beracun itu? Apa pula tujuan dan muslihat yang
tersembunyi di balik semua ini sampai Pek hoa-pang dan Hek-lionghwe
seakan2 berlomba untuk mendapatkan obat penawar itu?
Soal kedua adalah mengenai ketiga jurus ilmu pedang, yaitu Hwi
liong-sam-kiam. Terang gamblang ibunya pernah menjelaskan
bahwa Hwi-liong sam-kiam adalah warisan keluarganya. Kalau
warisan keluarga sudah tentu merupakan ilmu rahasia pula.
Kenapa Pek- hoa-pang juga memiliki ketiga jurus ilmu pedang
ini? Malah dijadikan ilmu pelindung Pang mereka? Maka timbullah
dua pertanyaan, Pek-hoa-pangkah yang mencuri belajar dari
keluarganya? Atau keluarganya yang mendapat ajaran ketiga jurus
ilmu pedang itu dari Pek hoa-pang?
Dari ketiga jurus ilmu pedang ini Kun-gi dapat menarik
kesimpulan, mungkinkah ibunya punya hubungan dengan Pek-hoapang?
Dari sang ibu dia lantas teringat kepada sang ayah, sebesar
ini dirinya belum pernah melihat wajah ayahnya sendiri, malah
ibunya tidak pernah bicara soal ayah dengan dirinya. Kalau betul
ilmu pedang itu warisan keluarga, tentu warisan dari ayahnya,jadi
ayahnya yang ada sangkut paut dengan Pek-hoa-pang?
Pikirannya timbul tenggelam, kalut dan semakin ruwet, cangkir
diangkat dan kembali dia menghirup seteguk. Ternyata teh dalam
cangkir sudah dingin- Teh dingin ini membuat pikirannya yang
gundah pelan2 mulai tenang kembali.
Suhu pernah berpesan, menghadapi urusan harus berpikir
dengan kepala dingin- Maka dia lantas berpikir pula mengenai soal
pertama getah beracun, seharusnya Pek-hoa pangcu tahu, tapi
agaknya nona itu tidak suka banyak bicara. Soal kedua Hwe liongsam-
kiam, kalau ilmu pedang ini di anggap pelindung Pek-hoa-pang,
tentu nona itu juga tahu asal usulnya, Hanya kedua persoalan ini
saja yang ingin diketahuinya dan kunci kedua persoalan ini terletak
pada diri Pek-hoa-pangcu.
Cuaca sudah mulai gelap. Kun-gi masih duduk termenung.
Karena mendapat pesan congkoan di-larang mengganggu Lingkongcu,
maka secara diam2 Sin-ih menyalakan pelita di ruang kecil.
Hidangan sudah diantar, maka Sin- ih lantas menyiapkan meja
makan di kamar sebelah pula, tapi ditunggu sekian lamanya ling
Kun-gi masih tenggelam dalam pikirannya, padahal hidangan sudah
dingin, maka secara diam2 pula Sin-ih beranjak kepintu mengawasi
Ling Kun-gi serta memanggil dengan suara lirih: "Ling-kongcu,
sudah saatnya makan malam."
"o," Kun-gi tersentak sadar, lekas dia berdiri, katanya tertawa
geli: "begini cepat, tahu2 hari sudah petang."- ia lantas ikut ke
kamar makan-
Sin-ih tarik kursi mempersilakan Kun-gi duduk. mengambil poci
serta mengisi cangkir dengan arak. Lalu menyiduk semangkok nasi
bagi Kun-gi.
Kun-gi diam saja membiarkan orang meladeni, katanya kemudian
dengan tersenyum: "Nona agaknya serba pandai."
Usia Sin-ih baru belasan tahun, gadis yang sedang mekar, keruan
mukanya menjadi merah di-awasi sedemikian rupa, wajah terasa
panas, kepalanya tertunduk dan tak berani bersuara.
Kun-gi menjadi geli, tapi dia tidak hiraukan orang lagi, segera dia
sikat seluruh hidangan yang diperuntukkan dirinya. Setelah
membereskan mangkuk piring Sin-ih menyuguh secangkir teh pula
ke dalam kamar, Ling Kun-gi lantas berkata: "Nona boleh istirahat
saja."
Malam ini Sin-ih tidak berani lagi bantu Kun-gi menanggalkan
jubah dan ganti pakaian segala, demi mendengar perkataan Kun-gi
itu tersipu2 dia mengundurkan diri.
Kira2 kentongan pertama, kamar Kun-gi sudah gelap. tapi dia
tidak lantas naik ranjang, ia atur bantal guling yang ditutup selimut
hingga menyerupai bentuk tubuh wanusia. Lalu secara diam2 dia
buka jendela serta melompat keluar, dari luar dia tutup pula jendela
pelan2, sesosok bayangan lantas melambung tinggi ke udara, begitu
cepat laksana segulung asap yang tertiup angin lalu, melayang ke
belakang.
Inilah hasil pemikiran Kun-gi sebelum makan tadi, rahasia getah
beracun dan Hwi liong-sam-kiam tentu diketahui oleh Pek-hoapangcu,
tapi orang agaknya tidak mau banyak bicara, terpaksa
dirinya harus menyelidiki secara diam2, oleh karena itulah tadi dia
berkeputusan malam ini juga akan beraksi.
Menyelidiki rahasia orang lain sebetulnya merupakan pantangan
bagi kaum persilatan, tapi lantaran berkepandaian tinggi dan
nyalipun besar, dia beranggapan asal dirinya berlaku hati2, tentu
jejaknya tidak akan konangan oleh orang2 Pek- hoa-pang.
Taman keluarga Hoa yang besar dan luas ini merupakan markas
pusat yang amat penting artinya bagi Pek-hoa-pang. Karena huruhara
tadi siang, maka penjagaan malam ini jauh lebih keras, pada
setiap tempat gelap di sudut2 taman pasti ada pos penjagaan yang
diatur sedemikian rupa, sampaipun pada setiap wuwungan, setiap
jendela pada setiap loteng juga ada orang berjaga dan mengawasi.
Sudah tentu semua petugasnya adalah gadis remaja.
Sebetulnya tidak sedikit pula jumlah Hou-hoat-su-cia di dalam
Pek-hoa-pang, umpama Liok Kian-lam dan lain2, semuanya adalah
kaum pria, maka mereka tidak berada dalam lingkungan taman luas
ini. Jika benar taman keluarga Hoa ini berada di tengah Phoa-yangouw,
maka tugas Hou-hoat-su-cia itu pasti berada di luar,
umpamanya meronda di perairan atau dipesisir.
Karena siang tadi Kun-gi pernah kemari, jalan sudah apal,
dengan mengembangkan Thian-liong-siap-Kong-sin-hoat, umpama
dia berkelebat di depan para petugas yang cantik jelita itu, mungkin
mereka pun mengira pandangan mereka sendiri yang kabur.
Di atas loteng Sian-jun-koan, sinar pelita tampak masih menyorot
keluar. Tanpa banyak pikir Kun-gi meluncur ke sana, pertama dia
mencari batu loncatan pada sepucuk pohon besar, meminjam aling2
bayangan pohon yang berdaun lebat, dia mendekam serta pasang
mata memperhatikan ke atas loteng.
Sinar lampu menyorot dikamar pertama disebelah kiri, tempat di
mana Kun-gi sembunyi kebetulan berjarak kira2 tujuh tombak dari
loteng melihat pajangan yang ada di kamar itu, dia yakin pastilah
kamar tidur yang didiami Pek-hoa-pangcu.
Jendela di sebelah selatan tampak masih terbuka, sinar lampu
justru menyorot keluar dari sini, cuma teraling oleh kain gordyn
yang terbuat dari kain sari kuning sehingga seperti berkabut selapis
asap kuning.
Pek-hoa-pangcu dan Giok-lan tampak duduk berhadapan di
sebuah meja bulat kecil, gerak-gerik mereka menunjukkan sedang
membicarakan sesuatu persoalan,jarak cukup jauh, maka tidak
terdengar suara percakapan mereka.
Pek-hoa-pangcu kini mengenakan gaun merah baju kuning,
rambut panjang terurai diikat benang merah, gerak-geriknya halus,
sikapnya anggun berwibawa, potongan tubuhnya begitu indah
mempesona, tapi mukanya tetap mengenakan kedok.
Sebetulnya wajah berkedok itupun cantik jelita, cuma usianya
kelihatan lebih tua dari umur sesungguhnya sehingga t idak seayu
wajah aslinya.
Giok-lan tetap memakai pakaian serba putih, pandangan pertama
akan menimbulkan kesan keagungan dan kesucian dirinya, sudah
tentu tak lepas dari rasa sederhana.
Teraling kain sari mengawasi sang jelita tak ubahnya seperti
berada di dalam kabut mengawasi bunga, tapi tujuan Ling Kun gi
kemari bukan untuk mengintip gerak-gerik nona cantik. Tujuannya
adalah menyelidiki rahasia getah beracun dan asal usul Hwi liongsam-
kiam, maka dia merasa perlu mencuri dangar percakapan Pekhoa-
pangcu dan Giok-lan.
Taraf ilmu silatnya memang tinggi sehingga keberaniannyapun
luar biasa, dengan tajam diperiksa sekelilingnya, tiba2 ia meloncat
mumbul meninggalkan pucuk pohon dan menubruk kearah loteng.
Betapa cepat gerakan tubuhnya, dengan lincah dan enteng dia
melompat kewuwungan rumah, sekali tutul lagi, dengan jumpalitan
tubuhnya lantas hinggap di serambi sebelah t imur. Tempat itu
kebetulan adalah pengkolan jalan, sinar lampu tidak menyorot ke
sini, maka tempatnya jauh lebih gelap.
Ringan dan sebat sekali tubuh Kun-gi berputar terus merunduk
ke jendela sebelah timur, didapatinya jendela tidak tertutup letak
kamar di ujung sebelah timur, jadi hanya terpaut satu kamar
dengan kamar tidur Pek-hoa-pangcu yang sedang bicara dengan
Giok-lan.
Dari pucuk pohon tadi Kun-gi sudah memeriksa dengan teliti,
dengan enteng ia menerobos masuk dan hinggap di dalam kamar
tanpa bersuara. Pada saat dia mendorong jendela dan berkelebat
masuk itu hidungnya berbareng dirangsang bau harum, sekali
mencium bau harum ini Kun-gi lantas tahu bau harum ini mirip
dengan wewangian yang pernah terendus dari badan Pek-hoapangcu.
Dengan rasa kaget sigap sekali Kun-gi berkisar ke samping
sambil bersiaga, dia kira Pek-hoa-pangcu sudah siap menunggu
kedatangannya, tapi setelah berdiri tegak dan mengamati
sekelilingnya, baru dia sadar bahwa dirinya terlalu takut akan
bayangan sendiri.
"Agaknya kamar inilah kamar tidur Pek-hoa-pangcu," demikian
batin Kun-gi. Sejenak dia memeriksa keadaan kamar ini, lalu
merunduk ke dinding barat dan bergerak kearah pintu. Itulah pintu
berbentuk bulan, sisi kanan kiri terdapat kerai yang tersingkap dan
tergantol besi mengkilap, sebelah luarnya tertutup jalur2 manik
yang direnteng benang besar. Dari tempat gelap ini dengan jelas dia
dapat mengawasi keadaan di luar, malah dia bisa sembunyi di
belakang kerai yang tersingkap itu.
Maka didengarnya suara Pek-hoa-pangcu sedang berkata:
"Kukira apa yang dikatakannya tidak bohong."
Tergerak hati Kun-gi, batinnya: "Agaknya diriku yang menjadi
topik pembicaraan mereka."
Terdengar Giok-lan berkata: "Jadi maksud Pangcu kita harus
memberi perintah kepada para saudara yang tersebar luas itu untuk
bantu mencari jejak ibunya yang hilang?"
"Tujuannya memang hanya mencari ibundanya, dia berjanji akan
membantu kita menemukan obat penawar getah beracun, betapa
besar arti dan pentingnya bantuan ini, kalau kita bantu dia
menemukan ibunya juga setimpal."
"Pangcu percaya kalau dia betul2 dapat menemukan obat
penawar getah beracun?"
"Seharusnya tidak pantas kita curiga dalam hal ini, laporan Giokje
sudah jelas, bukankah dia sudah menemukan penawar getah di
Coat Sin-san-ceng?"
"Betul, cuma hamba merasa dia terlalu muda, coba pikir, betapa
luas pengalaman Tong Thian-jong, Un-it-kiau dan Lok san Taysu,
mereka toh sia2 setelah bekerja tiga bulan, padahal usia Lingkongcu
kukira baru likuran tahun . . . . "
"Jangan kau menilai demikian, bahwa getah semangkuk telah dia
bikin jadi air jernih kan sudah terbukti?"
"Tapi hamba kira bukan dia yang berhasil menawarkan getah
beracun itu."
"Bukan dia yang menawarkan getah beracun?" seru Pek-hoapangcu
kaget dan heran, "maksud Sam-moay . . . . "
"Hamba kira dia membawa sesuatu obat yang khusus dapat
menawarkan segala macam racun, adalah jamak bagi setiap insan
persilatan selalu membekal obat2an macam ini, mungkin secara
kebetulan obat yang dibawanya itu bisa menawarkan getah
beracun."
Memang tidak malu Giok-lan diangkat menjadi congkoan Pekhoa-
pang, pandangan dan pendapatnya memang Cermat dan lebih
mengena sasaran daripada orang lain-
Pek-hoa-pangcu manggut, ujarnya: "Betul, kulihat sorot matanya
amat tajam, hakikatnya tidak mirip seorang yang terkena racun
pembuyar Lwekang, kalau dia selalu bawa obat penawar racun,
maka racun pembuyar Lwekang itupun tentu sudah punah dari
tubuhnya." Sampai di sini tiba2 dia menepuk meja sambil tertawa,
katanya: "Ya, pasti begitu, waktu Giok-je dicegat orang2 Hek-lionghwe
di tengah sungai, katanya ditolong seorang berkedok yang
mengalahkan Dian Tiong-pit dan begundalnya, hari ini setelah
melihat dia lantas timbul rekaan dalam benakku bahwa orang
berkedok itu pasti dia"
Pada saat itulah, di luar sana seorang pelayan bersuara lantang:
"Hamba menyambut kedatangan Hu pangcu."
Mendengar yang datang adalah Hu-pangcu atau wakil Pangcu
Pek-hoa-pang, cepat Kun gi sedikit menyingkap kerai dan mengintip
keluar.
Segera Pek-hoa-pangcu angkat kepala dan berseru: "Apakah Jimoay
yang datang?"
Tampak kerai tersingkap. muncullah seorang gadis remaja
berbaju kuning ketat, langsung ia menjura kepada Pek-hoa-pangcu,
katanya: "Siaumoay memberi hormat kepada Toaci." Lalu ia
tanggalkan mantel serta mencopot cadar kuning yang menutup
mukanya.
Kini Kun-gi dapat melihat jelas. Usia gadis ini sebaya dengan Pekhoa-
pangcu, wajahnya berbentuk kwaci, alisnya melengkung
laksana bulan sabit, dagunya laksana lebah bergantung, matanya
jeli seperti bintang kejora, pinggangnya ramping diikat sabuk kain
merah, di mana terselip sebatang pedang bersarung kulit ikan
cucut, sepatunya kulit hitam tinggi, kelihatannya gagah dan angker,
itulah seorang gadis yang sudah terlatih dan gemblengan. Ternyata
dia tidak mengenakan kedok.
"Silakan duduk Ji-moay," kata Pek-hoa-pangcu.
Sementara itu Giok-lan berdiri menyambut, katanya sambil
menjura kepada gadis baju kuning, "Hamba memberi hormat
kepada Hu-pangcu."
Gadis baju kuning mengangguk, katanya tersenyum: "Sam-moay
juga ada di sini, sesama saudara sendiri buat apa sungkan?"
Wajahnya kelihatan berseri tawa, tapi sedikitpun tidak kentara rasa
simpatik pada nada bicaranya. Dia duduk pada kursi sebelah kiri
Pek-hoa-pangcu, lalu berkada pula: "Sam-moay betul2 cerdik pandai
melebihi orang lain, Thay-siang (junjungan maha tinggi)
menyerahkan jabatan congkoan padamu memang sangat tepat."
Tiba2 tergerak pikiran Kun-gi: "Jadi jabatan congkoan ini
diperoleh dari Thay-siang, bukan di angkat langsung oleh Pek-hoapangcu,
jadi masih ada lagi Thay-siang-pangcu. Memangnya gadis2
remaja yang cantik molek. bukan saja berkepandaian tinggi, malah
berani membentuk serikat segala, sudah tentu semuanya hasil
didlkan seseorang dan orang itu pasti adalah Thay-siang-pangcu
yang dimaksudkan itu."
Setelah gadis baju kuning duduk barulah Giok-lan ikut duduk.
katanya: "Justeru karena Thay-siang yang menyerahkan jabatan ini
padaku, maka sedikitpun aku tidak berani lena dalam menjalankan
tugas."
Pek-hoa-pangcu menyela: "Tengah malam begini Ji-moay kemari,
entah ada petunjuk apa dari Thay-siang?"
"Thay-siang mendapat kabar bahwa orang2 Hek-Liong-hwe telah
menimbulkan onar di sini, beliau amat marah, bahwa markas pusat
Pek-hoa-pang sampai dikunjungi orang luar, menimbulkan huruhara
lagi, jelas ini merupakan kecerobohan kita, lebih celaka, musuh
masih meloloskan diri lagi . . ."
"Memang hamba yang tidak becus," kata Giok—lan.
"Kami terima kenyataan ini, soalnya penyatron berkepandaian
tinggi, beruntung dua diantara tiga musuh dapat kita bunuh," kata
Pek-hoa-pangcu.
Dengan kedua tangan membetulkan letak rambutnya, gadis baju
kuning berkata sambil miringkan kepala ke arah Pek-hoa-pangcu:
"Letak tempat kita dikelilingi air, orang2 kita juga meronda di atas
air, umpama tumbuh sayap juga musuh takkan mungkin lolos,
memangnya setelah menemukan jejak musuh lalu kita t idak suruhan
orang menggeledah perairan?"
"Begitu tahu ada orang luar menyelundup ke-mari lantas
kuperintahkan orang mengadakan razia, ternyata Ui-Liong-tongcu
dari Hek-Liong hwe yang bernama Jik Hwi-bing cukup cerdik, dia
tinggalkan dua pembantu di atas perahu, kedua orang itu adalah
Dian Tiong-pit dan Hou Thi-jiu, Liok dan Li berdua Sucia yang
bertugas disana tertutuk oleh mereka malah."
"Thay-siang suruh Siau-moay kemari untuk memeriksa peristiwa
ini, Liok dan Li berdua Sucia tidak menunaikan tugas dengan
semestinya, cukup setimpal dicurigai ada berkomplot dengan
musuh, memangnya Pek-hoa pang kita boleh membiarkan orang
luar keluar masuk dimarkas besar ini dengan sesukanya?"
Pek-hoa-pangcu menghela napas, katanya kemudian: "Bicara
soal ilmu silat memang sulit dibedakan, terang kepandaian Liok dan
Li berdua sucia memang terpaut jauh dengan musuh sehingga
dengan mudah kena dibekuk musuh, semua kesalahan tak boleh
dijatuhkan kepundak mereka."
Gadis baju kuning cekikikan, katanya: "Biasanya Toaci memang
bijaksana, masa engkau tidak pernah menduga, bukan mustahil
mereka berdua yang sengaja menolong orang she Jik itu meloloskan
diri?"
"Itu tak mungkin, Liok dan Li amat setia mungkin membiarkan
musuh lolos," kata Pek-ho-pangcu tegas.
Kembali baju kuning cekikikan, katanya: "Umpama betul mereka
biasanya setia dan kerja keras, kenyataan bahwa orang she Jik
dibiarkan lolos, kalau yang satu ini tidak dihukum untuk peringatan
kepada yang lain, selanjutnya siapa saja boleh menggunakan alasan
yang sama untuk membebaskan musuh, demi menegakkan
undang2 Pang kita, maka pantas kalau kedua orang ini dihukum
mati ." Waktu mengucapkan kata2 "Mati" wajahnya tampak diliput i
hawa nafsu membunuh.
Pek-hoa-pangcu tertawa tawa, katanya. "Seolah2 Ji-moay
membela undang2 setegak gunung, sedikit2 lantas main bunuh,
umpama betul Liok dan Li tidak menunaikan tugas semestinya,
dosa-nya belum setimpal dihukum mati."
"Inilah yang dinamakan bunuh yang dua ini untuk peringatan
bagi yang lain, Siau-moay sudah hukum mati mereka," kata gadis
baju kuning.
"Ji-moay telah bunuh mereka?" seru Pek- hoa-pangcu kaget.
Gadis baju kuning tertawa lebar, katanya: "Itulah maksud Thaysiang,
para Hou-hoat-sucia ini sudah biasa makan kenyang kerja
malas2an, sudah biasa hidup senang, maka perlu diberi peringatan
supaya selalu waapada dan hati2 setiap menjalankan tugas."
Peh-hoa-pangcu tampak serba kikuk. katanya kemudian sambil
manggut: "Thay-siang memang bijaksana, tindakan demikian
memang tepat"
"Thay-siang juga bilang, Toaci memang cocok menjadi Pangcu
pada waktu damai, kalau jaman kalut dan perlu menggunakan
tindakan keras, maka harus pakai cara kejam, oleh karena itu Toaci
selalu menjadi orang baik, dan biarlah Siaumoay jadi orang jahat."
Sampai di sini tiba2 dia angkat kepala dan bertanya: "o,ya, orang
yang menyaru Cu Bun-hoa itu sudah berada ditempat kita, Thaysiang
amat perhatikan obat penawar getah beracun itu, apalagi
setelah orang Hek-liong-hwe mencari setori kemari maka obat
penawar harus diusahakan secepatnya, sebetulnya dia yakin tidak
akan menemukan obat itu . . .?"
"Kami sudah bekerja sesuai petunjuk Thay-siang, semuanya
sudah dipersiapkan dengan baik, nama asli orang ini adalah Ling
Kun-gi, menurut laporan Giok-Je, dia sudah berhasil mengubah
getah beracun jadi air bening, pagi tadi akupun sudah bicara sama
dia supaya secepatnya bekerja, maka boleh Ji-moay sampaikan
semua ini kepada thay-siang supaya beliau berlega hati."
Agaknya dia tidak berani berterus terang kepada Thay-siang,
maka semua persoalan yang menyangkut diri Ling Kun-gi tidak dia
jelaskan seluruhnya. . .
"Thay-siang suruh Siau-moay menyampaikan perintahnya kepada
Toaci, dalam jangka tiga hari, dia harus sudah berhasil
menyelesaikan tugasnya" demikian kata si gadis baju kuning.
"Apa?" seru Pek-hoa-pangcu bergidik: "Dalam tiga hari harus
menunaikan tugas?"
"Bagaimana?." Gadis baju kuning cekikkan. "Tiga hari masih
belum cukup?, Di Coat Sin-san-ceng, dia sudah berhasil di situ,
cukup dia meracik obat2nya sekali lagi, kukira sehari juga sudah
bisa selesai."
"Tiga hari mungkin tidak bisa, Ling Kun-gi bilang, secara tidak
sengaja dia berhasil punahkan getah beracun jadi air bening, untuk
benar2 menemukan racikan obatnya yang tulen, mungkin
memerlukan tenaga dan pikirannya pula, jadi harus diusahakan
kembali dari permulaan, hal ini tidak boleh didesak, apa lagi harus
buru2, nanti, kalau Ji-moay pulang bolehlah kau mohon kepada
Thay-siang agar suka undurkan lagi batas waktunya beberapa hari?"
Giok-lan menimbrung: "Demikianlah, Ling Kun-gi juga berjanji
akan bekerja sekuat tenaga untuk menemukan obat itu, hasil
permulaan sudah dicapai, asal Thay-siang sudi memberi
kelonggaran beberapa hari, pasti hasilnya akan jauh lebih
memuaskan."
"Wah, cara kalian bicara, Toa-ci dan Sam-moay, se-olah2 akulah
yang memutuskan waktu tiga hari ini, kalian kan tahu juga , setiap
perintah Thay-siang harus segera dilaksanakan, memangnya siapa
yang berani membantah? Toa-ci, suruhlah Sam-moay
menyampaikan hal ini kepada orang she Ling supaya dia selekasnya
menyelesaikan tugasnya, sebaiknya jangan lewat batas waktu yang
ditentukan," walau dia tertawa, namun wajahnya tidak kelihatan
berseri, nada suaranyapun dingin, kalau tak berhadapan tentu orang
tidak mau percaya bahwa dia bicara sambil tertawa.
Sambil mengawasi Giok-lan, akhirnya Pek- hoa-pangcu
manggut2, katanya: "Sam-moay, besok kau beritahukan padanya,
coba saja apakah dalam jangka t iga hari dia bisa menyelesaikan? "
Giok-lan manggut sambil mengiakan.
Mendadak gadis baju kuning berseri tawa, matanya yang indah
mengawasi Pek-hoa-pangcu tanyanya: "Kudengar orang she Ling itu
muda, malah sangat cakap. apa benar? Sayang waktu sudah larut
malam, kalau tidak ingin siau-moay menemuinya," lalu dia berdiri
sambungnya pula: "Toaci, perintah sudah kusampaikan, aku harus
lekas kembali memberi laporan kepada Thai-siang" cadar dia
kenakan pula, lalu mengenakan mantel lagi, setelah menjura dia
lantas melangkah pergi.
Setelah gadis baju kuning berlalu, tiba2 tergerak hati Ling Kun-gi,
batinnya: "Agaknya dia akan pulang memberi laporan kepada sang
Thay-siang".
Thay-siang mendidik sedemikian banyak gadis2 remaja dan
mendirikan Pek-hoa-pang, tentu punya suatu rencana dan tujuan
tertentu. Apa lagi dia ingin selekasnya menggunakan obat penawar
getah beracun, naga2nya bukan hanya untuk menghadapi senjata
orang2 Hel-Liong-hwe yang dilumuri getah beracun tentu masih ada
maksud lainnya lagi? "
Pek hoa-pangcu dan lain2 mahir menggunakan Hwi Liong-samkiam,
sudah tentu ilmu pedang ini hasil didikannya pula Tapi dirinya
kemari memang hendak menyelidiki kedua hal ini, kini setelah tahu
di atas Pek-hoa-pangcu masih bercokol lagi seorang Thay-siangpangcu,
maka sasaran yang diincarnya ikut beralih pula.
Sekilas berpikir cepat dia bertindak. kesempatan baik ini tak
boleh di-sia2kan, sekali berkelebat sebat sekali dia meluncur ke luar
jendela, di atas wuwungan paling tinggi matanya menjelajah ke
tempat jauh, dilihatnya bayangan ramping gadis baju kuning yang
bermantel melambai2 tengah meluncur cepat di kejauhan sana.
Segera Kun-gi melayang turun, dengan alingan bayangan semak2
bunga, dia menguntit dari kejauhan-
Sudah tentu gadis baju kuning tidak pernah berpikir di
belakangnya dikuntit orang, apa lagi Kun-gi selalu menguntit dalam
jarak tertentu sehingga lebih sulit diketahui.
Bagai dua titik bintang meluncur keduanya terus menyusuri
tanaman bunga, yang terbentang luas, akhirnya tiba di ujung
taman. Tanpa berhenti gadis baju kuning melejit ke atas melompati
pagar tembok dengan gaya yang indah gemulai.
Waktu Kun-gi melejit ke atas tembok dilihatnya bayangan gadis
baju kuning sudah puluhan tombak jauhnya, gerak-geriknya cepat
bagai terbang, tujuannya ke arah danau.
Tempat itu berada sebuah semenanjung tepi Phoa-yang-ouw,
taman bunga keluarga Hoa letaknya di bawah sebuah bukit kecil,
luasnya ada dua tiga li persegi.
Seringan mega mengambang Kun-gi terus me-ngunt it, Kira2
setengah li kemudian, gadis baju kuning tiba dipinggir danau disana
terdapat sebuah batu cadas, dengan enteng dia melompat ke atas
batu lalu ke bawah, dibalik sana sebuah perahu sudah menunggu, di
situ, seorang laki2 baju hijau di atas perahu segera kerjakan
penggayuhnya, perahupun laju ke tengah danau.
Kun-gi jadi berpikir: "Agaknya Thay-siang-pangcu tidak tinggal di
sini," dengan rasa kecewa terpaksa dia putar balik langsung masuk
kamar terus tidur.
Esoknya baru saja Kun-gi selesai berdandan didangarnya suara
Sin-ih berkata di luar pintu: "Ling-kongcu congkoan datang."
Ling Kun-gi tahu maksud kedatangan orang, maka dia mengiakan
dan menyambut keluar. pakaian Giok-lan tetap serba putih laksana
salju, dia sudah menunggu di ruang tamu, melihat Kun-gi keluar,
segera dia berdiri, katanya dengan tersenyum manis: "Selamat pagi
Ling kongcu, hamba mengganggu."
Lekas Kun-gi menjura, katanya: "Selamat pagi nona, silahkan
duduk"
Setelah sama duduk. Sin-ih menyuguh teh, lalu menyiapkan
sarapan pagi, katanya: "Ling-kongcu silakan sarapan."
"o, Ling-kongcu belum sarapan, silakan saja, tidak usah
sungkan," kata Giok-lan.
Kun-gi tertawa tawar, katanya: "Tidak apa, nona datang begini
pagi, entah ada pesan apa, silahkah bicara saja"
Mata Giok-lan yang hitam bening mengerling kearah Kun-gi,
katanya tertawa: "Ling-kongcu sepandai dewa meramal, memang
ada dua persoalan yang akan hamba bicarakan"
Heran dan ketarik Kun-gi, katanya dengan tersenyum: "ada
urusan apa silahkan nona katakan saja."
Ragu2 sesaat dia awasi orang lalu berkata: "Bentrokan Pang kita
dengan Hek-Liong-hwe sudah terjadi, yang harus kita kuatirkan
adalah senjata mereka yang beracun, setiap korban takkan
tertolong jiwanya, petaka mungkin bisa menimpa Pang kita, maka
hamba perlu kemari pagi2 untuk merundangkan soal ini dengan
Kongcu, mungkinkah obat penawar itu dapat dihasilkan lebih
cepat?"
Hambar senyum Kun-gi, tanyanya: "Lalu maksud Pangcu dan
congkoan, berapa hari kiranya cayhe harus menyelesaikan tugas
ini?"
Agaknya pertanyaan ini diluar dugaan Giok-lan, katanya
kemudian: "Kau minta aku sebutkan jangka waktunya?"
"Pengarang kalau tidak didesak takkan rampung hasil karyanya,
apalagi cayhe sudah biasa bermalas2an, kalau nona tentukan
waktunya, cayhe akan bekerja giat dan rajin, tentu hasilnyapun
akan lebih cepat."
Giok-lan tersenyum, katanya: "Bagaimana kalau tiga hari?"
Diam2 Kun-gi geli, tapi dia pura2 mengerut kening, katanya:"
Waktu tiga hari sebetulnya terlalu buru2, tapi baiklah, tiga hari juga
boleh.".
Giok-lan ragu2 malah, katanya sambil menatap tajam: "Lingkongcu
t idak bergurau bukan?"
"Memangnya nona minta aku menulis surat perjanjian?"
"Tidak, aku percaya padamu," katanya sambil mengerling penuh
arti. "Kuyakin Kongcu pasti berhasil, akupun tak perlu kuatir lagi."
"Tadi nona bilang ada dua persoalan, lalu ada soal apa lagi?"
tanya Kun-gi.
"Mohon keterangan Kongcu, kedatanganmu kemari apakah
sepanjang jalan ada teman yang mengunt it?"
Kun-gi melenggong, katanya: "cayhe kan di-selundup keluar dan
diblus nona Giok-je serta di-bawa kemari, mana mungkin ada teman
yang mengunt it kemari? Memangya Ada..."
"Baiklah, ingin hamba tahu apakah Kongcu punya saudara?"
Semakin heran tapi juga ketarik hati Kun-gi, jawabnya: "Aku
sebatang kara."
"Jadi beberapa orang itu tidak kau kenal?"
"Siapa mereka, coba nona sebutkan namanya."
"Mereka berlima, masing2 bernama Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa,
Cu Jing, Tong Bun-khing dan Ling Kun-ping..
Ketiga nama yang pertama t idak dikenal oleh Kun-gi, tapi waktu
mendangar nama Tong Bun-khing, tergerak hatinya setelah Giok-lan
menyebut nama Ling kun-ping, ia melonjak kaget, pikirnya:
"Tong Bun-khing tentu nona dari keluarga Tong itu, sedangkan
Ling Kun-ping adalah samaran Pui Ji-ping, mungkinkah mereka
sedang mencariku?" Dengan gelisah segera dia bertanya: "Mereka
ditawan oleh Pang kalian?"
Giok-lan menggeleng, katanya: "Bukan, mereka ditawan orang2
Hek-liong-hwe."
Kun-gi betul2 kaget, serunya: "Ditawan pihak Hek-liong-hwe?
Darimana nona tahu?"
"Kau kenal mereka?"
"Ling Kun-ping adalah adik angkatku, Tong Bun-khing adalah
sahabat karibku, bagaimana merceka bisa jatuh ke tangan Hekliong-
hwe? Sudikah nona menjelaskan?"
Dari lengan bajunya Giok-lan keluarkan sepucuk surat, katanya
sambil diangsurkan:."inilah surat dari Hek-liong-hwe kepada Pang
kita, mereka kira kelima orang itu adalah Hou-hoat su-cia kita, maka
syaratnya adalah menukar Ling-kongcu dengan jiwa mereka."
Setelah membaca surat itu, berkeringat telapak tangan Kun-gi,
Pui Ji-ping dan Tong Bun-khing adalah perempuan, kalau dia
tertawan kawanan jahat itu bagaimana baiknya. Karena gelisah dia
gosok2 telapak tangan, katanya: "Bagaimana baiknya sekarang?"
Giok-lan tertawa, katanya: "Buat apa gugup, Hek-liong-hwe
minta mereka di tukar Cu Bun-hoa, dalam waktu dekat terang tak
perlu dikuatirkan, jadi tit ik tolak persoalannya terletak pada usaha
Ling-kongcu sendiri dalam mengerjakan obat penawar getah
beracun, kalau secara mendadak kita sergap mereka tentu dengan
mudah dapat menolong mereka."
Cara ini memang tidak jelek. yang jelas Ling Kun-gi hanya
memiliki Pi tok-cu, memangnya dia punya cara meracik obat
pemunah?
Jadi Pek-hoa pang sudi membantu dengan syarat Ling Kun-gi
harus cepat menyelesaikan pembuatan obat pemunah getah
beracun, Sebenarnya soal menolong orang tidak jadi soal bagi Ling
Kun-gi, cuma di mana letak sarang Hek-liong-hwe, untuk ini dia
perlu bantuan Pek-hoa-pang.
Maka persoalan hanya bergantung dari obat penawar itu,
sebelum obat penawar diserahkan pada Pek-hoa-pang, mereka
takkan memberi tahu dimana letak sarang Hek-liong-hwe. Untuk ini
cukup lama Kun-gi memeras otak. sambil merentang tangan dia
mondar-mandir di dalam kumar, akhirnya dia duduk menepekur.
Mendadak timbul suatu ilham aneh dalam benaknya. cepat2 ia
berdiri menuju ke almari di sebelah utara, membuka almari bawah
serta mengeluarkan buli2 berisi getah beracun, diambilnya sebuah
mangkuk porselen, dengan hati2 dia tuang getah beracun ke dalam
mangkuk kecil ini, lalu dia pergi ke belakang mengambil segayung
air jernih, semua dia taruh di atas meja. Lalu dia buka beberapa laci
mencomot berbagai macam obat, dan dimasukkan ke dalam
lumpang besi dan menumbuk obat2 itu menjadi bubuk. dituangnya
ke dalam sebuah guci kecil. Semua kerja ini sudah tentu memang
sengaja dia lakukan karena waktu berjongkok mengambil buli2
berisi getah beracun tadi, dia dapati seorang bersembunyi di
belakang almari mengintip gerak-geriknya. Terang Pek-hoa-pang
suruhan orang mengawasi dirinya secara diam2.
Siang hari belong mengintip gerak-geriknya terang hanya ada
satu tujuan, yaitu memperhatikan dan mencatat semua obat2an
yang diambilnya, cara bagaimana meraciknya hingga bisa
menawarkan getah beracun.
Maka Kun-gi pura2 tidak tahu, dia tetap bekerja, di waktu
membalik badan, Pik-tok cu sudah dia keluarkan dan dimasukkan ke
dalam air jernih yang diambilnya, ia berpindah ke sebelah, dengan
sendok perak dia mengaduk bubuk obat tadi di dalam guci hingga
kira2 sepempat jam kemudian baru berhenti.
Dia keluar kembali ke kamar buku, duduk dikursi serta menuang
secangkir teh lalu di minumnya pelan2. Kira2 setengah jam
kemudian dia kembali dengan gayung berisi air jernih, waktu
memutar tubuh secepat kilat Pi-tok-cu di dalam gayung dia jemput
dan disimpan ke dalam lengan baju.
Waktu di Coat Sin-san-ceng dia pernah mencoba mutiara mestika
itu, ternyata berhasil mengubah getah hitam kental itu menjadi air
jernih. Maka timbul ilhamnya yang aneh yaitu coba2 merendam
mut iara ini di dalam air, dengan air rendaman mutiara ini mungkin
berkasiat untuk menawarkan getah beracun. Kalau berhasil berarti
obat penawar getah beracun yang dituntut Pek-hoa-pang tidak akan
jadi persoalan lagi, Selama urusan jadi beres.
Dengan menjinjing gayung berisi air jernih pelan2 dia tuang ke
dalam guci berisi bubuk obat serta diaduk beberapa kali, kemudian
air obat ini ia saring sedikit lalu dituang kedalam mangkok berisi
getah beracun.. Kali ini t idak terjadi perubahan drastis seperti tempo
hari waktu dia masukkan mut iara kedalam getah yakni
mengeluarkan suara serta mengeluarkan asap kuning. tapi setelah
dituangi air obat, getah kental hitam sekarang pelan2 mulai cair dan
berubah warnanya, berubah bening seperti air jernih.
Dengan tajam Kun-gi ikuti perubahan ini, tanpa terasa sorot
matanya memancarkan cahaya terang, Wajahnya nan cakap
mengulum senyum puas kemenangan. Dia berhasil. Sebetulnya dia
tidak yakin akan ilhamnya yang aneh dan hanya ingin coba2, tapi
ternyata berhasil dengan baik, keruan bukan kepalang senang
hatinya.
Tapi dia tahu, ada orang mengawasi gerak geriknya dari pintu
rahasia. Maka dengan wajar dia lalu pindah mangkok berisi getah
beracun tadi ketempat yang agak jauh, kembali dia ambil cangkir
teh serta menghirupnya seteguk. lalu menengadah seperti
memikirkan sesuatu. Tiba2 dia letakan cangkir dengan cara
terburu2, dengan langkah lebar menuju ke almari obatan, dari sini
,sekenanya pula dia mencomot dua tiga puluh macam obat2an, kali
ini dia tidak menumbuknya dengan lumpang besi, tapi diusap di
telapak tangannya, obat2an itu segera diusapnya jadi bubuk yang
lembut.
Tiba2 di luar ada orang mengetuk pintu, lalu terdengar Sin-ih
berteriak: "Ling-kongcu"
Tanpa berpaling Kun-gi menjawab: "Masuklah"
Pelan2 daun pintu terbuak. Sin-ih melangkah masuk, biji matanya
yang jeli mengawasi Kun-gi, katanya heran: "Ling-Kongcu apa yang
sedang kau lakukan"
Kun-gi sebarkan bubuk obatnya ke atas meja sambil menjawab
tertawa: "Malas aku menumbuknya, maka ku-usap2 saja."
"Kenapa tidak serahkan pada hamba untuk menumbuknya?"
"Pekerjaan ringan saja kenapa harus menyusahkan orang lain-
Baiklah nona bantu aku ambil segayung air hujan saja, lalu
masukkan semua bubuk obat yang dimeja ini."
"Hamba tahu, hidangan makan siang sudah tersedia, hamba
kemari memanggil kongcu untuk makan," lalu dia kumpulkan bubuk
obat yang terserak di atas meja dan dibungkusnya kertas terus di
bawa ke belakang.
Lekas Kun-gi ambil mangkok berisi getah beracun yang sudah
menjadi air jernih itu dan dibuang keluar taman, lalu ia kembali ke
kamar buku.
Hidangan memang sudah tersedia. Setelah berhasil membuktikan
air bekas rendaman Pi tok-cu juga berkhasiat menawarkan getah
beracun, legalah perasaan Kun-gi, maka makannya jadi tambah
lahap.
Sin-ih keluar dari kamar buku, katanya: "Hamba sudah rendam
racikan obat di dalam air."
Kun-gi mengangguk, Sin-ih lalu meladeni dia makan- Selesai
makan Sin-ih angsurkan handuk pada Kun-gi untuk cuci muka.
Setelah membersihkan muka dan cuci tangan Kun-gi berkata: "Aku
perlu ist irahat, nona tidak usah meladeni lagi."
"Hamba ditugaskan membantu Ling Kongcu, kalau nanti di tanya
congkoan, bagaimana hamba harus menjawab?"
"Baiklah, setelah kau makan, ada satu hal boleh kau kerjakan."
"Tugas apa yang Kongcu serahkan pada hamba?"
"Dua macam racikan obat yang direndam air harus diaduk
dengan sendok perak. tugas ini kuserahkan padamu," habis bicara
dia melangkah ke kamar buku.
"Hamba terima tugas," seru Sin-ih berseri sengan.
Belum lama Kun-gi duduk di kursi ma las, Sin-ih sudah datang
menyuguhkan teh,
"Letakkan saja di meja, kau boleh pergi makan," katanya.
Manis tawa Sin-ih, katanya: "Hamba sudah makan, sekarang juga
mulai bekerja," setelah meletakkan cangkir dan poci teh lantas
berlari keluar.
Pelan2 Kun-gi pejamkan mata, ia istirahat di kursi malas sambil
menenangkan pikiran, di dengarnya suara lirih di belakang almari,
kiranya orang yang sembunyi dan mengawasi dirinya sedang
mengundurkan diri.
Kun-gi tersenyum, lekas dia berdiri, lalu menuang setengah
mangkuk getah beracun pula ditaruh di meja. Lalu cepat2 dia tarik
setiap laci, 72 macam obat2an yang ada tanpa ukuran asal comot
terus di-gosok2 di telapak tangan sehingga jenis obatnya sukar
dibedakan lagi, semuanya dia bagi menjadi tujuh tumpuk, lalu
disingkirkan satu persatu, setelah itu di kembali ber-malas2an di
kursi malas.
Tak lama kemudian di dengarnya langkah pelahan masuk. terang
Sin-ih yang masuk. Kun-gi bertanya: "Apakah Sin-ih?"
"Ya, inilah hamba," sahut Sin-ih, sekilas dia melirik, maka
dilihatnya tujuh kelompok obat2 di atas meja, dengan suara heran
dia bertanya: "Ling-kongcu mau diapakan ketujuh tumpuk obat
bubuk ini?"
Kun-gi menggeliat lalu berbangkit, katanya:
"Boleh nona merendam ketujuh, kelompok obat bubuk itu
dengan air hujan, di dalam tujuh guci yang berbeda," Lalu dia
berbangkit dan katanya pula:
"Setelah obat2 ini direndam nona harus mengaduknya dengan
sendok perak. aku terlalu penat, ingin kembali kekamar, kalau tiada
urusan, jangan ganggu aku" lalu dia kembali ke kamar tidurnya..
Sin-ih mengiakan. Sesuai pesan Kun-gi, dia masukkan tumbukan
obat bubuk itu ke dalam tujuh guci, kecil, lalu direndam dengan air
hujan dan pada setiap guci dia mengaduk sekian lamanya secara
bergiliran. ..
Pada saat dia sibuk mengaduk. terdengar suara Giok-lan sang
congkoan memanggil: "Sin-ih"
Lekas Sin-ih letakkan sendok. serta menyahut:
"Hamba ada di sini." Buru2 dia berlari keluar, dilihatnya sang
congkoan Giok-lan mengiringi Hu-pangcu So-yok (bunga melur)
sudah masuk kamar buku. Ter-sipu2 dia menekuk lutut memberi
hormat seraya berkata: "Hamba menyambut kedatangan Hu-pangcu
dan congkoan."
"Berdirilah." kata Giok-lan "sedang apa kau barusan?"
Sin-ih berdiri lurus, sahutnya: "Atas pesan Ling kongcu hamba
sedang mengaduk obat"
"Mana Ling Kun-gi?" tanya So-yok. sang Hu-pangcu.
"Ling-kongcu kembali ke kamarnya, katanya mau tidur" sahut
Sin-ih.
So-yok berdehem keras2, jengeknya "Memangnya dia kemari
untuk tetirah?" merandek sebentar, dia berpesan: "Pergi kau
panggik dia, katakan aku sengaja kemari menengoknya."
Sin-ih mengiakan, lalu membungkuk badan dan berkata dengan
serba susah: "Lapor Hu-pangcu, Ling-kongcu sudah tidur, tadi dia
berpesan, kalau tiada urusan penting dilarang mengganggu dia."
"Huh, bertingkah, besar kepala," jengek So-yok uring2an
"Dia tidak tahu kalau Hu-pangcu akan datang, ia pesan Sin-ih
supaya tidak mengganggu, betapapun dia adalah tamu kita,
silahkan Hu-pangcu duduk di kamar buku untuk menunggu
sebentar," lalu Giok-lan berpaling memberi kedipan mata pada Sinih,
katanya: "Lekas seduhkan secangkir teh untuk Hu-pangcu."
Sin-ih mengiakan dan buru2 mengundurkan diri. So-yok
tersenyum, katanya: "Sam-moay memang pintar jadi tuan rumah,
teramat sayang pula kepada tamu," kata2nya bernada menyindir.
Merah muka Giok-lan, katanya serba salah: "Kita mengundang
Ling-kongcu untuk membuat obat penawar getah beracun, urusan
menyangkut kepentingan Pang kita, adalah jamak kalau kita
melayaninya sebagai tamu terhormat."
So-yok mendekati rak obat, dia melihat getah beracun yang ada
di dlam mangkuk, katanya: "Thay-siang minta dia di dalam tiga hari
menyelesaikan obat penawarnya, kalau setiap siang dia harus tidur,
kapan dia bisa menunaikan tugas?"
"Hamba sudah sampaikan perintah ini kepada Ling-kongcu, dia
berjanji akan menyelesaikan tugasnya dalamt iga hari."
"Sam-moay juga katakan kalau gagal Thay-siang akan
memenggal kepalanya?"
"Hamba pikir dia berjanji menyelesaikan tugas dalam tiga hari,
jadi tidak kukatakan perintah ini."
"Memangnya kuduga Sam-moay tenntu rikuh mengatakan hal ini
kepadanya, maka sengaja aku kemari untuk membereskan soal ini."
Waktu mereka bicara Sin-ih sudah datang membawa dua cangkir
teh yang masih mengepul, katanya: "Hu-pangcu, congkoan,
silahkan minum."
"Sin-ih.." tanya So-yok, "Ling Kun-gi menyuruhmu mengaduk
kedua guci air obat ini?"
"Ya, semuanya ada sembilan guci."
"Apa sembilan guci?" seru So-yok heran, "Giok-je bilang pertama
kali dia mengambil enam belas macam obat lalu ambil dua puluh
tiga macam, semua hanya direndam jadi dua guci, bagaimana bisa
jadi sembilan?"
Kiranya yang sembunyi di belakang almari mengintip gerak-gerik
Ling Kun-gi adalah Giok-je,
"Semula memang merendam dua guci, akhirnya ditambah lagi
sembilan guci, ini dilaksakan setelah makan Siang, Sin-ih
menerangkan"
So-yok melengak, tanyanya: "obat apa saja yang dia ambil, apa
kau masih ingat?"
"Ling-kongcu sendiri yang mengambilnya, dari laci, waktu hamba
masuk. semua sudah dibagi menjadi tujuh kelompok. semuanya
sudah jadi bubuk. jadi sukar diketahui obat apa yang telah dia
ambil"
"Memangnya permainan apa yang sedang dia lakukan?" kata Soyok
bingung.
"Hakikatnya Ling-kongcu tanpa menggunakan lumpang besi, dia
hanya menggosok2an obat ditelapak tangannya, semua lantas
hancur jadi bubuk"
Berubah air muka So-yok, katanya sambil berpaling pada Gioklan-
"orang ini mampu menggosok obat menjadi bubuk,
Lwekangnya tentu tidak lemah. "
"Menggosok batu jadi bubuk. sudah teramat sukar dilakukan
kaum persilatan umumnya, tapi di hadapan Hu-pangcu kepandaian
sepele ini tentu tidak jadi soal" demikian Giok-lan mengumpak.
"Kepandaian setaraf itu, Sam-moay sendiri kan juga sanggup"
kata So-yok.
Terdengar pintu di seberang sana berkeriut di buka orang lalu
terdengar suara berkumandang : "Sin-ih, siapa yang datang?"
"Ling-kongcu," seru Sin-ih berjingkrak girang, "Inilah Hu-pangcu
dan congkoan yang kemari menengokmu."
Terdengar langkah cepat mendatang, tampak pemuda cakap
gagah melangkah masuk.
Seketika terbeliak mata So-yok. dengan tajam dia tatap wajah
Kun-gi, lalu berkata dengan tertawa lebar: "Sam-moay, inikah Lingkongcu?"
"Ling-kongcu" sambut Giok lan: "Inilah Hu-pangcu, kami sengaja
datang menemui kongcu."
Kun-gi tertawa ramah, dia menjura kepada So-yok, katanya: "Hupangcu
sudi berkunjung, cayhe terlambat menyambut, sungguh
kurang hormat, harap di maafkan- . . . ."
Gemerlap biji mata So-yok, katanya sambii menbalas hormat:
"Ling kongcu cakap ganteng dan gagah perwira, beruntung aku
dapat bertemu"
"Hu-pangcu terlalu memuji," ujar Kun-gi.
"Kabarnya Kongcu berhasil menyelesaikan tugas dalam tiga hari
di Coat Sin-san-ceng, tentunya mahir dan ahli dalam ilmu obat2an,
entah siapakah guru besarmu?" biasanya sikapnya dingin dan
angkuh terhadap siapapun, tapi setelah berhadapan dengan Ling
Kun-gi, entah kenapa sikap dinginnya lantas berubah, wajahnya
dihiasi senyuman gembira.
"Guruku, seorang pelancongan yang suka mengembara di
Kangouw, beliau tidak suka diketahui namanya harap Hu-pangcu
maaf."
"Tidak apa2," "ujar So-yok. "gurumu seorang kosen, kalau tidak
boleh diketahui namanya, kongcu tidak usah merasa rikuh."
Diam2 Giok-lan membatin: "Entah kenapa hari ini J i ci berubah
sikap?"
Tiba2 So-yok. menegurnya "Sam-moay, kenapa kau diam saja
dan membiarkan aku ngoceh?"
Lalu dengan tertawa dia menambahkan: "silakan duduk Lingkongcu."
setelah berduduk: So-yok mengawasi Kun-gi dan berkata:
"Kudengar dari Sam-moay bahwa Kongcu berjanji dalam tiga hari
akan membuatkan obat penawarnya, entah bagaimana hasil
usahamu?"
Kun-gi tertawa, katanya: "cayhe sudah meracik tujuh macam
obat, terbagi menjadi tujuh guci dan direndam air, apakah bisa
untuk menawarkan getah beracun, besok baru dapat diketahui
setelah dicoba"
Mata So-yok mengerling, katanya: "Agaknya Ling-kongcu sudah
punya persiapan dan yakin akan berhasil."
Kun-gi tertawa dan katanya. "Kalau cayhe tidak yakin mana
berani berjanji tiga hari menunaikan tugas?"
"Syukurlah kalau begitu," ujar So-yok, "kalau Ling-kongcu betul2
dapat membuat obat penawar dalam tiga hari, betapa senang hati
suhu."
Tergerak hati Kun-gi, tanyanya: "Entah cianpwe siapa kah guru
Hu-pangcu?"
So-yok tertawa, katanya: "Suhu adalah Thay-siang-pangcu dari
Pang kita, setelah kau berhasil membuat obat penawar, akan
kubawa kau menghadap beliau."
"Setelah cayhe menyelesaikan tugas hanya satu keinginanku,"
ujar Kun-gi.. .. .
"coba katakan keinginanmu," tanya So-yok berseri.
"cayhe harap Pang kalian suka memberitahu di mana sarang
Hek-Liong-hwe sebenarnya."
"Apa?" seru So-yok terbeliak heran, "Kau ingin pergi ke sarang
Hek-Liong-hwe.?"
Giok-lan segera menimbrung "Dua teman Ling-kongcu ditawan
orang2 Hek-Liong-hwe."
Sesaat So-yok menepekur, lalu bersuara lagi:
"Jejak orang2 Hek-Liong-hwe amat rahasia dan tersembunyi,
sudah tentu sarang merekapun sukar diketahui, jangan kata Pang
kita, orang? Hek-Liong-hwe sendiripun hanya beberapa gelint ir saja
yang tahu, dipihak kita kecuali Thay-siang mungkin tiada orang
kedua yang tahu." Lalu dengan cekikikan dia menambahkan:
"Jangan kuatir, setelah kutanya kepada Thay-siang, nanti
kuberitahukan padamu."
"Terima kasih atas bantuan Hu-pangcu, soal ini tidak perlu terburu2,
Bila cayhe berhadapan dengan Thay-siang belum terlambat
kuajukan pertanyaan ini."
"Begitupun baik, akan kunanti kau bicara, asal Suhu
mengangguk, seluruh Pek-hoa-pang akan bantu kau meluruk ke
Hek-liong-hwe dan menolong kawanmu."
"cayhe hanya ingin tanya alamat mereka saja, soal menolong
orang tak berani aku bikin repot Pang kalian-"
"Kalau begitu Ling-kongcu kurang simpatik," ujar So-yok. "kau
telah bantu kesulitan kami, kan jamak kalau kami Bantu kau
menolong temanmu?" Tanpa menunggu Kun-gi bersuara segera dia
menambahkan, "Baiklah, hal ini diputuskan begini saja, besok aku
datang untuk melihat Ling-kongcu melakukan percobaan, entah
kehadiranku diperbolehkan t idak?"
"Berat ucapan Hu-pangcu," jawab Kun-gi. "Mencoba obat bukan
soal rahasia, Hu-pangcu dan congkoan kalau berminat boleh saja
datang dan akan kusambut dengan senang hati"
"Baik besok aku pasti datang" kata So-yok dengan tertawa, lalu
ia berbangkit, serunya: Sam-moay hayolah kita pergi." Giok-lan
lantas iringi So-yok keluar.
Kun-gi mengantar sampai depan pintu, katanya: "Maaf cayhe
tidak mengantar lebih jauh."
Setelah kedua orang itu pergi, Sin-ih unjuk tawa lucu penuh arti,
katanya: "Ling-kongcu baru pertama kali hamba melihat Hu-pangcu
bersikap begini ramah terhadap tamu."
Kun-gi tertawa, katanya: "Apakah biasanya Hu-pangcu galak?".
"Dalam Pang kita hanya Hu-pangcu saja yang sukar diajak bicara,
semua orang tak berani banyak bicara sama dia, kuatir kalau
kelepasan omong."
Mendadak dia merendahkan suara, katanya: "Kabarnya semalam
Hu-pangcu menjatuhkan hukuman mati kepada dua Hou-hoat-sucia
lantaran seorang Hek-Liong-hwe, berhasil lolos, tapi sikapnya tadi
ramah dan gembira terhadap Kongcu, baru hari ini dia betul2
tertawa."
"Memangnya tertawa saja ada betul dan salah?" goda Kun-gi. .
"Memang ada, biasanya kalau Hu-pangcu tertawa suaranya
terasa dingin kaku, tidak seperti tadi"
XXdewiXX
Kentongan pertama baru saja lewat, Kun-gi bersimpuh di atas
ranjang mulai bersemedi, mendadak indranya merasakan sesuatu di
luar. Setiap insan persilatan dikala bersemadi mengerahkan
kekuatan batinnya, dalam jarak dua puluhan tombak umpama ada
jarum jatuh di atas tanah juga dapat didengarnya dengan jelas.
Maka dalam perasaannya sayup2 ada sesosok bayangan orang
melompat masuk ke dalam pekarangan. Tergerak pikirannya, segera
dia pasang kuping mendengarkan lebih cermat, terasa gerak- gerik
orang ini amat hati2 dan waspada.
Malah me-runduk2 maju mepet dinding, kalau dirinya tidak selalu
waspada tentu takkan mendengar apa2, setelah berada di
pekarangan orang itu lewat kamar tengah dan cepat menuju ke
rumah kecil di belakangh taman
Kun-gi membatin: "Rumah kecil di belakang itu adalah tempat
tinggal nenek tua yang bekerja di dapur bersama Sin-ih, orang ini
diam2 masuk kesana untuk apa?" Sembari berpikir sekenanya dia
raih jubah luarnya, baru saja hendak buka pintu untuk periksa
keluar, tiba2 didengarnya pula suara lambaian pakaian orang tertiup
angin, orang itu sudah bergerak keluar pintu pula dari belakang, kali
ini gerak-geriknya lebih berani, agaknya tidak main sembunyi lagi,
arahnya ke kamarnya.
Sudah tentu Kun-gi tidak tahu orang itu kawan atau lawan? Tapi
dia berani pastikan bahwa orang diluar adalah seorang gadis. ini
dapat dibedakan dari langkahnya yang lembut dan ringan, malah
ginkang orang ini amat tinggi, rasanya lebih unggul daripada Giokje,
Tangan Kun-gi yang terulur hendak membuka pintu tak bergerak.
soalnya dia hendak melihat gerak-gerik orang selanjutnya, maka dia
berdiri diam menunggu. Setelah sampai di depan pintu, orang itu
juga menghentikan langkah dan lantas mengetuk pintu dua kali,
ketukan yang amat pelahan serta memanggil lirih: "Ling-siangkong."
Melenggong Kun-gi mndengar panggilan ini, batinnya: "Siapa
dia? Kukenal suaranya." Segera iapun membuka pintu.
Tampak seorang gadis berperawakan ramping semampai, padat
dan menggiurkan berdiri anggun di depan pintu, kedua bola
matanya tampak bersinar bak bintang kejora di malam gelap. Begitu
mala saling pandang, timbul suatu perasaan aneh dalam benak Kungi,
terasa olehnya sorot mata inipun sudah amat dikenalnya, sekilas
dia melenggong, tapi segera ia bertanya: "Nona. ..."
Tanpa bersuara gadis itu menyelinap masuk kamar.
Cepat Kun-gi putar badan seraya membentak dengan suara
tertahan, "Siapa kau?".
Mungkin teramat gelap. kalau Kun-gi dapat melihat jelas orang,
tapi nona itu tidak jelas melihat keadaan kamar.
Terdengar nona itu telah menyalakan sebatang obor kecil,
katanya dengan suara lembut: "Kalau mau bicara, tunggulah setelah
aku menyulut api." Dia mendekati meja menyulut lentera, lalu
membalik, suaranya tetap lembut: "Aku bernama Bi-kui (bunga
mawar)."
Sudah tentu Kun-gi tidak kenal siapa Bunga mawar, jelas iapun
orang Pek-hoa-pang, namun sorot matanya yang memancarkan
kasih mesra ini semakin dipandang semakin mengetuk hatinya,
katanya kemudian: "Malam2 nona datang kemari, entah ada
keperluan apa?"
Tiba2 gadis itu tertawa, katanyanya: "Lantaran kau maka aku
kemari, memangnya Ling-siangkong t idak ingat padaku lagi?"
Kikuk juga Kun-gi, katanya: "cayhe memang seperti kenal sorot
mata nona, tapi nona pakai topeng, bagaimana aku bisa tahu?
Silahkan duduk nona."
"Aku tidak mau duduk." sahut gadis baju hitam.
"Kurasa kedatangan nona tentu ada urusan, betul tidak?"
"Kalau tidak ada urusan, untuk apa aku kemari?" kata gadis tiu
cekikikan-
Kali ini Kun-gi merasa kenal suaranya, sekilas ia tertegun, dengan
tajamdia tatap orang, katanya: "Kau . . . ."
Gadis baju hitam sudah angkat sebelah tangan membuka
topengnya, katanya tertawa manis: "Sekarang tentu Ling-siangkong
dapat mengenalku?"
"Ternyata betul kau" seru Kun-gi kaget dan heran. Gadis baju
hitam ini ternyata Un Hoan-kun adanya, lekas dia menutup pintu.
"Siangkong tak usah kuatir," kata Un Hoan-kun, "Sin-ih berdua
takkan siuman sebelum terang tanah."
Kun-gi mendekati nona itu, tanyanya pelahan: "pulau ini
dikelilingi air dan penjagaan amat ketat, bagaimana kau bisa
menyelundup kemari?"
Dengan kedua tangan Un Hoan-kun membetulkan rambut
dipelipisnya, katanya tertawa dengan kepala mendongak: "Aku
punya lencana dan paham sandi rahasia mereka, sudah tentu dapat
keluar masuk dengan leluasa."
"Apa tujuanmu menyelunduk ke Pek-hoa-pang" tanya Kun-gi.
Merah muka Un Hoan-kun, katanya sambil mengerling: "Apa
tujuanku? Soalnya kau disekap dalam karung dan dibawa masuk ke
Pek-hoa-pang ini, aku. . . kuatir, maka kuikut kemari."
Terharu hati Kun-gi, kedua tangan terulur memegang pundak
orang, katanya halus: "Memang cayhe sengaja membiarkan mereka
mengangkut kemari. Terus terang hanya karung saja takkan mampu
mengurungku, kenapa nona harus menempuh bahaya begini besar."
Un Hoan-kun biarkan saja orang pedang pundaknya, katanya:
"Aku tahu Pek-hoa-pang takkan kuasa menahanmu, tapi aku tetap
kuatir, maka kuikuti kau kemari dengan adanya aku di antara
mereka, sedikit banyak bisa membantumu juga ."
Kini Kun-gi gant i pedang kedua tangan orang, katanya lembut:
"Betapa haru dan terima kasihku akan kebaikan nona, tapi kau lihat
aku tidak kurang suatu apapun, kalau nona berada di antara
mereka, rasanya juga berbahaya, bila jejakmu konangan pasti
menggagalkan urusan, lebih baik nona cepat meninggalkan tempat
ini."
Pelas2 Un Hoan-kun tarik tangannya, katanya: "Mereka
meladenimu sebagai tamu terhormat lantas tidak berbahaya
bagimu?"
"Paling tidak. dalam waktu dekat ini aku tidak akan mengalami
bahaya."
"Kalau tidak ada bahaya, memangnya untuk apa malam2 begini
aku mengunjungimu?"
Ling Kun-gi melengak. tanyanya: "Nona mendengar khabar apa?"
"Tujuan mereka menculikmu kemari supaya kau membuatkan
obat penawar getah beracun bukan?, Thay-siang suruh kau
menyelesaikan tugas dalam tiga hari, betul tidak?"
"Betul, kenapa?"
"Ketahuilah, Thay-siang sudah memberi perintah kepada Hupangcu,
kalau dalam tiga hari kau tidak bisa menyelesaikan
tugasmu, dia harus membawa kepalamu menghadap beliau?"
"Hal ini aku memang tidak tahu," kata Kun-gi, "tapi tidak perlu
tiga hari, besok juga aku sudah berhasil menyelesaikan tugas."
Kini ganti Un Hoan-kun yang tertegun, katanya dengan suara
ragu2: "Kau sudah berhasil membuat obat itu?"
"Belum," sahut Kun-gi meng-geleng2, "tapi aku sudah ada akal,"
Lalu dia jelaskan cara bagaimana dia merendam mutiara ke dalam
air dan ternyata bisa menawarkan getah beracun itu..
"Kau pernah bilang mau mencari jejak bibi yang hilang, kini
kenyataan bahwa bibi t idak berada di Pek-hoa-pang ini, buat apa
kau harus membuat obat itu pula?"
"Nona hanya tahu yang satu dan tak tahu yang lain, bahwa aku
rela disini sementara, maksudku hendak mencari tahu asal usul
getah beracun dan Hwi-Liong sam-kiam."
"Hwi-Liong sam-kiam?" Hoan-kun menegas.
"Hwi-liong-sam-kiamsebetulnya ilmu pedang warisan keluargaku,
tapi Tin-pang-sam-kiam (tiga jurus pelindung Pang) dari Pek-hoapang
ternyata Hwi-liong-sam-kiam keluargaku."
"Bisa demikian?" seru Un Hoan-kun heran, "Ehm, sudah kau
selidiki?"
"Belum sempat, tapi sekarang ketambahan lagi suatu kejadian."
"Kejadian apa?" tanya Hoan-kun.
"Beberapa temanku khabarnya ditawan orang2 Hek-Liong-hwe,
disangka bahwa mereka dijadikan sandera disangka bahwa mereka
adalah Hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang, maka mereka dijadikan
sandera supaya Pek-hoa-pang menyerahkan diriku sebagai
imbalannya."
Bertaut alis Un Hoan-kun, tanyanya: "Lalu apa tindakanmu?
"Kecuali Thay-siang, tiada orang kedua yang tahu letak sarang
Hek-Liong-hwe, terpaksa aku harus tanya kepada Thay-siang."
Un Hoan-kun kaget, serunya: "Kau mau menemui Thay-siang?"
"Hu-pangcu sudah berjanji, bila aku selesai membuat obat, dia
akan membawaku menemui Thay-siang."
"Kudengar Hu-pangcu So-yok, perempuan yang berdarah dingin,
cantik rupanya, kejamhatinya, banyak curiga dan gampang berubah
pendirian, kau harus hati2"
"Aku dapat melayaninya."
Un Hoan-kun melirik. mencibirnya serta berkata dengan tertawa:
"Kelihatannya kau banyak akal, kudengar Pek-hoa-pangcu Bok-tan
amat ramah terhadapmu, mungkin So-yok juga."
"Kiranya Pek-hoa-pangcu bernama Bok-tan."
Merah muka Kun-gi, katanya lirih: "Nona jangan kuatir, aku
bukan laki2 bergajul."
Pipi Hoan-kun jadi merah, tapi hatinya merasa bahagia, kepala
terunduk mulutpun menggerutu: "Memangnya aku peduli padamu."
Lalu ia menambahkan: "Waktu sudah larut, aku harus lekas pergi."
"Kuharap nona selekasnya meninggalkan tempat ini saja," bujuk
Kun-gi.
Hoan-kun sudah melangkah beberapa tindak. tiba2 berpaling:
"Setelah kau menanyakan sarang Hek-Liong-hwe, aku akan pergi
bersamamu." Begitu pintu terbuka, cepat ia berkelebat keluar.
Setelah Un Hoan-kun pergi, sementara sudah mendekati
kentongan kedua, Kun-gi dorong pintu kamar buku langsung
menuju kamar masak obat, ia mengeluarkan Pi-tok-cu terus
dimasukkan ke dalam guci yang merendam obat bubuk. lalu kembali
menutup pintu dan masuk ke kamar t idur.
Ooo d-w ooO
Matahari sudah tinggi, Kun-gi masih tidur nyenyak.
Pagi2 Hu-pangcu So-yok bersama congkoan Giok-lian sudah
datang, mereka duduk menunggu di kamar buku.
Giok-lan mondar-mandir tidak sabar, katanya kepada Sin-ih:
"coba dilihat apakah Ling-kongcu sudah bangun?"
So-yok menggoyang tangan, katanya tertawa: "Sam-moay,
kenapa tabiatmu sekarang lebih gopoh daripadaku, kita sudah
menunggu, lebih lama sedikit tidak jadi soal Sin-ih, biarkan Lingkongcu
t idur lebih lama, jangan ganggu dia."
Sin-ih mengiakan lalu berdiri meluruskan tangan
Sudah tentu Giok-lan tahu Hu-pangcu yang biasanya bertabiat
kasar, angkuh dan tinggi hati serta suka aleman ini, ternyata
sekarang begini sabar, rupanya dia telah jatuh hati pada Ling
Kongcu
Dia cukup kenal Thay-siang, kalau Ling Kun-gi tidak berhasil
membuat obat, jiwanya tentu amblas. Umpama betul dia berhasil
membuat obat, Thay-siang juga takkan gampang memberi
kebebasan padanya untyuk meninggalkan Pek-hoa-pang. Maka
sejak mula dia sudah berpikir, pemuda seperti Kun-gi, jalan paling
baik adalah melamarnya menjadi Huma, kalau tidak nasibnya tentu
akan menyedihkan.
Tentunya hal ini juga sudah terpikir oleh Toaci (Pekshoa-pangcu),
ini dapat dilihat sikapnya waktu dia menyambut dan menjamu Ling
Kun-gi. Pada hal dia baru merancang cara bagaimana untuk
merangkap perjodohan ini, tahu2 sekarang dilihatnya Ji-ci (So-yok)
juga kepincut pada Kun-gi, sudah tentu urusan bisa runyam. Dikala
hatinya gundah itulah, didengarnya pintu kamar Kun-gi berkeriut
dan pelan2 terbuka.
Cepat Sin-ih berlari kesana, serunya: "Ling-siangkong sudah
bangun, sebentar hamba ambilkan air buat Cuci muka"
Kun-gi menggeliat, katanya tertawa: "Hampir tengah hari, hari ini
tiada kerja apa2, lebih baik tidur lebih lama" Habis berkata dia putar
kembali ke kamarnya.
Sin-ih sudah dipesan oleh Hu-pangcu agar jangan bilang mereka
berdua sudah menunggu di kamar buku, maka dia tidak berani
banyak mulut, dia membawa sebaskom air dan melayani Kun-gi
membersihkan badan- Lalu dia menyuguhkan sarapan pagi.
Setelah makan Kun-gi mendongak melihat cuaca, katanya:
"Waktu hampir tiba, nona Sin-ih, siang nanti mulai meracik obat,
pergilah kau panggil Hu-pangcu dan congkoan kemari."
Sin-ih tertawa, katanya: "Hu-pangcu dan congkoan sudah sejak
tadi menunggu di kamar buku."
"Apa?" Kun-gi pura2 berjingkrak bangun dengan kaget, "Hupangcu
dan congkoan sudah datang, kenapa kau tidak bilang?"
Bergegas dia melangkah ke kamar buku.
Terdengar tawa So-yok semerdu kelinting dan berkata: "Jangan
Ling-kongcu salahkan Sin-ih, akulah yang suruh dia jangan
mengganggu tidurmu."
Bayangan merah menyala tahu2 berdiri semampai di depan
pintu, bau harum seketika merangsang hidung pula, Hari ini So-yok
mengenakan gaun panjang berkembang sakura berwarna dasar
merah mulus, buatannya sopan, tepat didepan dadanya bersulam
sekuntum bunga melur yang indah hingga menambah asri
dandanannya, wajahnya nan ayu dihiasi senyum manis, ternyata
hari ini dia bersolek lebih daripada biasanya.
Ber-ulang2 Kun-gi menjura, katanya: "Maaf Hu-pangcu, soalnya
obat yang direndam barus menunggu waktu baru bisa dicampur,
karena kerja sampai jauh malam dan mengingat pagi ini tiada
pekerjaan, maka t idurku sampai kesiangan-"
Dengan berani So-yok mengawasi Ling Kun-gi muda belia, gagah
dan tampan, "kulihat kau terlalu hati2 dan membatasi diri,
selanjutnya tidak perlu kau bicara begini sungkan kepadaku."
Giok-lan berdiri di belakang, segera dia menimbrung: "Hu-pangcu
seorang yang terbuka dan suka blak2an, harap Ling kongcu tidak
usah sungkan-"
Setelah berada di kamar buku, masing2 menempati tempat
duduknya, So-yok lantas buka suara lebih dulu: "Mendapat
laporanku, Thay-siang sangat senang, beliau bilang kalau percobaan
berhasil aku disuruh segera membawamu mememui beliau."
"Hari ini baru akan diadakan percobaan pertama, bagaimana
hasilnya belum diketahui, kenapa buru2 dilaporkan, kalau gagal,
bagaimana cayhe harus bertanggung jawab?"
"Kau pernah berhasil sekali, aku yakin Kongcu pasti akan berhasil
pula, kalau pertama gagal boleh diulangi sampai berhasil, kepada
Thay-siang akan kubantu memberi penjelasan."
"Terimakasih Hu-pangcu" Kun-gi menjura pula.
"Kapan Ling-kongcu akan mulai?" tanya Giok-lan, "apa yang
harus dipersiapkan?"
"Tiada yang perlu dipersiapkan, waktunya sudah tiba, cukup asal
menuang getah beracun didalam mangkuk saja."
"Biar hamba yang menuangnya," kata Sin-ih.
"Jangan nona, getah itu amat beracun, biar aku sendiri yang
turun tangan-" Kata Kun-gi, "sekarang kau kumpulkan seluruh
wadah yang tersedia disini dan dijajar di atas meja."
"He, di almari ada seratus wadah porselen, apa semua harus
dikeluarkan?" tanya Sin-ih.
"Sembilan guci, kalau satu sama lain semuanya begiliran harus
dicampur, seluruhnya berjumlah 9x9 - 81, cukup kau keluarkan 81
saja."
Sin-ih mengiakan, segera dia bekerja. Sementara Kun-gi
keluarkan buli2 berisi getah beracun, So-yok dan Giok-lan tidak
bersuara, mereka ikut mondar-mandir mengikuti Kun-gi. Sementara
itu, sesuai pesan Kun-gi, Sin-ih sudah keluarkan wadah dan dibaris
di atas meja.
Kun-gi membuka tutup buli2, dengan hati2 ia pegang buli2 serta
menuang ke dalam sembilan wadah, masing2 diisi setngah getah
beracun, lalu dia taruh buli2, mengambil sendok perak mengaduk
guci obat yang pertama, lalu mengedus baunya, mulutnya
bergumam: "Ya,sudah boleh" Dia taruh sendok ganti menyambar
cangkir kecil, dari dalam guci dia menyendok sedikit air obat terus
dicicipi dengan mulut seperti membedakan kadar obatnya. So-yok,
Giok-lan dan Sin-ih menyaksikan dengan diamsaja dan terbeliak.
Lalu Kun-gi berpaling, katanya "Sembilan guci obat ini adalah
hasil yang kucapai waktu berada di coat- sin-san-ceng untuk
memunahkan getah beracun, cuma waktu itu aku belum punya
keyakinan,jadi sudah lupa obat2 apa saja yang kuracik dan akhirnya
berhasil menawarkan getah beracun? Kalau malam itu nona Giok-je
tidak menyelundupkan diriku keluar, satu dua kali percobaan lagi
mungkin obat penawarnya sudah kuperoleh. Jadi tidak perlu
mengulang lagi seperti sekarang."
So-yok manggut2, ujarnya: "Memang, kenapa Giok-je terburu
nafsu waktu itu."
"Ini tak bisa salahkan Giok-je," sela Giok-lan, "malam itu juga
coat-sin-san-ceng digempur bobol oleh gabungan kekuatan para
Hwesio dan orang2 keluarga Tong, kalau tidak, mana kita bisa
mengundang Ling kongcu kemari?"
Sementara Ling Kun-gi sedang menggunakan sendok yang
terbuat dari Giok untuk mengambil air obat, lalu pelan2 dituang ke
dalam wadah yang berisi getah beracun. Getah beracun itu kental
gelap. setelah dituangi sesendok air obat, sedikitpun tidak
memperlihatkan sesuatu perubahan.
Serta merta So-yok dan Giok-lan angkat kepala, memandang Ling
Kun-gi. Tapi yang dipandang tetap tak acuh, seperti apa yang
dikatakannya, untuk menemukan obat penawar getah yang tulen
paling tidak dia harus mengadakan delapan puluh satu kali
percobaan. Kini baru yang pertama, sudah tentu belum berarti
gagal.
Dengan sendok perak yang lain Kun-gi kembali mengaduk guci
obat kedua seperti cara semual, percobaan kedua inipun tidak
berhasil. Sudah tentu semua ini memang disengaja diatur oleh Kungi.
Sebetulnya dalam hati dia sudah punya perhitungan matang,
cuma sengaja dia hendak menggunakan beberapa guci obat itu
untuk mencoba supaya permainan sandiwaranya kelihatan
sungguh2.
Getah beracun dalam buli2 berturut telah dia tuang kedalam
beberapa wadah pula, semua dia masih gunakan cangkir kecil untuk
menciduk air obat, belakangan karena tak sabar dia angkat gucinya
terus dituang kesana kemari, beruntun puluhan kali telah dia
lakukan, betapapun cerdik otak So-yok dan Giok-lan juga sukar pula
untuk mengingatnya campuran obat2 dari guci yang mana?
Memangnya inilah tujuan Kun-gi supaya mereka kebingungan
sendiri.
Setengah jam telah berselang, getah beracun yang digunakan
percobaan sudah 36 wadah, kini Kun-gi kembali memegangi buli2,
sedang mengadakan percobaan ulang yang kelima kalinya, dia isi
sembilan wadah dengan getah kental hitam itu. Lalu dengan cangkir
kecil dia menciduk sedikit air obat, setelah diaduk dengan sendok
lalu pelan2 dituang ke dalam getah beracun pada wadah ke 37. Kali
ini dia sudah perhitungkan air obat pada guci inilah yang pernah dia
rendam mutiara.
Jika khasiat mutiara untuk menawarkan getah beracun masih
bekerja, maka percobaan kali ini pasti berhasil. cuma satu hal yang
membuatnya kuatir, yakni apakah air bekas rendaman mut iara ini
setelah bercampur dengan racikan obat2an itu masih berkhasiat
seperti semula.
Dengan tegang dan seksama So-yok, Giok-lan dan Sin-ih
mengawasi setiap tetes aitr obat itu masuk kedalam wadah, napas
tertahan jantungpun ikut berdebar keras. Tetes pertama air obat
tetap tidak membawa perubahan- Kini tetes kedua telah jatuh. Jidat
Kun-gi sendiri juga telah dibasahi keringat. Ketika tetes ketiga jatuh,
terlihat seperti setetes air kecemplung dipermukaan cat berminyak.
tetes air obat ketiga seketika menjadi bening dan bergerak2 kian
kemari dipermukaan getah kental itu.
"Nah, kali ini takkan salah lagi," seru So-yok terbelalak tegang.
"Semoga demikian," ujar Kun-gi, tetes ke empat dia jatuhkan
pula kedalam wadah, perubahan kini semakin nyata dan kerja
perpaduan obat dengan getahpun cepat sekali, getah kental hitam
itu kini sudah mulai cair dan berubah warnanya, dengan cepat
berubah menjadi air bening.
So-yok bersorak girang sambil berkeplok: "Ling-kongcu, kau
berhasil."
Kun-gi menengadah sambil tertawa, katanya: ”Akhirnya cayhe
menemukan obat penawarnya".
Sepasang mata Giok-lan memancarkan cahaya terang, bukan
kepalang senang hatinya, serunya: "Ling-kongcu, kuaturkan selamat
padamu"
Sin-ih juga terbelalak. serunya: "Ling-kongcu hanya pakai empat
tetes obat dan getah setengah wadah ini telah tawar sama sekali,
air obat ini tentu amat lihay."
Tiba2 So-yok bertanya: "dari guci yang mana kau tadi mengambil
air obat itu, apa kau masih ingat?"
Sengaja Kun-gi mengingat2, lalu mengasi guci2 obat, katanya
sambil menghitung: "Kali ini aku mengambil dari guci ke 3, 5, 6, 8,
dan 9 lima guci. Lalu dia berpesan kepada Sin-ih: "Sisa yang lain
boleh kau buang ke belakang." cepat Sin-ih bersihkan sisa obat lain
yang tidak terpakai lagi.
Kun-gi ambil dua tempayan kosong, lalu dia ukur air obat guci
ketiga dan kelima, masing2 di ambil 20 mangkuk, demikian pula
pada guci keenam dan kesembilan masing2 dia ambil 30 mangkuk,
lalu guci kedelapan dia angkat, setelah sari obatnya dia bersihkan,
seluruh air obatnya dia tuang kedalam tempayan serta diaduk lagi
dan kebetulan penuh kedua tempayan itu.
Menunjuk kedua tempayan obat itu, Kun-gi berkata kepada Gioklan-
"congkoan membatasi cayhae tiga hari untuk menyelesaikan
tugas, hari ini telah kubuat dua tempayan air obat penawar getah
beracun, harap congkoan suka menerimanya."
Lekas Giok-lan balas hormat, katanya: "Ling-kongcu memang
dapat dipercaya, hamba mengaturkan terima kasih."
Kata Kun-gi kepada So-yok: "Tadi aku sendiri yang mencoba dan
berhasil, kini silahkan Hu-pangcu mencobanya sekali lagi." Lalu dia
ambil sendok dan diangsurkan kepada So-yok.
So-yok tertawa manis, katanya: "Aku belum pernah mencoba,
memang ingin aku mencobanya."
Dengan sendok itu dia menyiduk air obat terus dituang pelan2 ke
dalam wadah lain yang berisi getah beracun. Perubahan pada getah
beracun dalam wadah kali ini lebih cepat, dari kental segera menjadi
cair dan bening. Seru So-yok girang: "obat penawar ini memang
betul2 mujarab."
"Setengah sendok air obat yang diambil Hu-pangcu tadi
sedikitnya bisa menawarkan satu baskom getah beracun."
"Jadi, berapa banyak getah beracun dapat di-tawarkan oleh air
obat kedua tempayan ini?".
Kun-gi tertawa, katanya: "Thay-ouw seluas tiga puluh enam ribu
hektar, kalau air danau semuanya getah beracun, kiranya cukup
ditawarkan dengan air obat kedua tempayan ini"
Giok lan segera berpesan kepada Sin-ih: "Laporkan kabar
gembira ini kepada Pangcu, katakan bahwa Ling-kongcu telah
berhasil membuat obat penawarnya,"
Sin-ih mengiakan dan buru2 lari keluar.
"obat penawar sudah kubuat, air obat kedua tempayan ini boleh
silakan congkoan menerimanya "
Giok-lan manggut2, katanya: "Nanti kusuruh agar orang
menggotongnya keluar," lalu dia tatap Kun-gi, "Cuma sudikah Lingkongcu
serahkan pula resep obatnya?".
Kun-gi, sudah menduga akan hal ini, katanya tersenyum: "obat
penawar yang kubuat sudah ku-serahkan dan Pang kalian boleh
memakainya, tentang resep obat......."
So-yok mengedip mata, katanya riang: "Mungkin resep itu
warisan keluarga Ling-kongcu, jadi harus dirahasiakan?" .
"Bukan begitu," ujar , Kun-gi tertawa: "Jiwa raga cayhe ada di
dalam Pang kalian, keselamatan jiwapun sukar diramalkan, kalau
dalam jangka t iga hari cayhe tidak berhasil, batok kepala cayhe
tentu sukar dipertahankan, tapi setelah berhasil mungkin tetap
menghadapi kesulitan, salah2 bisa dibunuh untuk menutup mulut. .
. . ."
Berubah air muka Giok-lan, katanya: "Ling-kongcu berjerih payah
membuat obat untuk Pang kami, Pang kami berkecimpung dalam
kangouw dan selalu mengutamakan keadilan dan kepercayaan,
mana mungkin membalas air susu dengan air tuba?"
"Dari siapa Ling-kongcu dengar orang bilang demikian?" sela Soyok.
"terang sengaja hendak memecah belah belaka."
"Maaf, mungkin cayhe mengukur seorang Kuncu dengan hati
seorang Siaujin, cuma dalam percaturan kangouw, tiada jeleknya
berlaku hati2 terhadap sesama insan persilatan, air obat dalam
kedua tempayan itu bertahan tiba bulan, selama itu bertahan pula
jiwa raga cayhe, harap kalian tidak salah paham."
"Ucapan Kongcu memang masuk akal," Ujar Giok-lan, "liku2
kehidupan kangouw memang serba buruk dan bahaya, adalah
pantas kalau berlaku hati2. cuma Pek-hoa-pang kami takkan berlaku
curang dan lupa budi terhadap Kongcu."
Kata So-yok manis mesra: "Kalau Ling-kongcu tidak mau
serahkan resep obatnya juga tidak soal, kau boleh tinggal saja
disini, memangnya kau akan membocorkan hal ini kepada Hek-
Liong-hwe?"
Sementara itu Sin-ih sudah balik bersama seorang pelayan baju
hijau, "Lapor congkoan," kata Sin-ih, "Pangcu sudah siapkan
perjamuan di Ing-jun-koan, Bak-ni (melati) disuruh mengundang
Ling-kongcu, Hu-pangcu dan congkoan kesana."
Si melati adalah salah satu pelayan pribadi Pek-hoa-pangcu, lekas
dia tampil memberi hormat, katanya: "Mendengar Ling-kongcu
berhasil membuat obat penawar, Pangcu sengaja mengadakan
perjamuan di Ingjun-koan untuk merayakan keberhasilan Ling
kongcu ini, silahkan pula Hu-pangcu dan congkoan mengirinya."
So-yok tertawa riang, katanya: "Toaci mengadakan perjamuan di
Ingrjun-koan, ini jarang terjadi, silakan Ling-kongcu"
Ing-jun-koan adalah tempat tinggal Pek-Hoa-pangcu, "ucapannya
kedengaran simpatik, tapi mengandung nada sindiran," Lalu ia
berpaling kepada si melati, katanya: "Hayo tunjukkan jalan. "
Bak-ni atau kembang melati mengiakan, dia berjalan di depan
So-yok dan Giok-lan mengiringi Ling Kun-gi langsung menuju ke Ing
Jun-koan-
Setelah dekat si melati mendahului beberapa langkah serta
membungkuk sambil berseru: "Lapor Pangcu, Ling-kongcu telah
tiba"
Lenyap suaranya tertampak Pek hoa-pangcu sudah beranjak
keluar menyongsong di ambang pintu. Hari ini dia menggunakan
baju merah gemerlap dengan gaun panjang kain sutera bersulam
mengikat pinggang, pada dua ujungnya dihiasi ronce beludru dan
diikat menyerupai telur angsa, langkahnya ringan lembut tak
ubahnya bidadari, kelihatan suci dan anggun. Memang setimpal
sebagai bunga peoni (Bok-tan) yang menjadi raja dari segala bunga.
Pek-Hoa-pangcu tetap mengenakan kedok, tapi sepasang
matanya nan jeli dan bening tampak bercahaya penuh kasih mesra,
katanya merdu: "Sudah kutunggu cukup lama, silakan Ling-kongcu
masuk dan duduk."
Begitu beradu pandang, jantung Kun-gi lantas berdebar keras,
tanpa terasa timbul semacam perasaan aneh dalam benaknya,
sesaat dia melongo mengawasi orang. Hal ini tak perlu dibuat
heran, pemuda mana yang tidak terpesona berhadapan dengan
sang jelita, apalagi pandangan Pek-Hoa-pangcu sedemikian mesra.
Tapi cepat Kun-gi sadar, dengan muka merah ia menjura, katanya:
"Pangcu mengundang dan menjamu secara besar2an, sungguh
cayhe amat bangga dan terima kasih."
Pek-hoa-pangcu mengiringinya masuk ke kamar makan, mereka
jalan berjajar, katanya tersenyum manis: "Kongcu berhasil membuat
obat, besar artinya bagi kepentingan Pang kami, aku hanya suruh
mereka sekedar menyiapkan perjamuan untuk membalas budi
kebaikan ini, rasanya masih jauh untuk mengimbali jerih payah
Kongsu, ha rap tidak usah sungkan-"
"Bantuan yang tak berarti kenapa harus dipikirkan, Pangcu
menyambut begini rupa sungguh tidak tenteramperasaan cayhe."
Sebuah meja besar segi delapan berada di tengah ruangan
sebelah timur yang bertutup kain gordyn, Pek-hoa-pangcu
persilakan tamunya duduk di sebelahnya, sementara So-yok di
sebelah kiri dan Giok-lan di depannya. Tanpa diperintah delapan
pelayan bergiliran menyuguhkan hidangan dan arak.
Pek Hoa pangcu angkat cawan araknya, katanya: "Ling-kongcu
sudah membuatkan obat mujarab bagi Pang kami, seluruh anggota
Pek-Hoa-pang merasa bersyukur dan berterima kasih, secawan arak
ini kusampaikan selamat dan terima kasih, haraf kongcu sudi
menerimanya . "
Kun-gi angkat cangkir araknya dan menjawab: "Seharusnya
cayhe yang menyampaikan selamat pada Pangcu, sayang cayhe
tidak biasa minum arak. apalagi nanti akan menghadap Thay-siang,
terpaksa cayhe harus membatasi diri minum arak." Lalu dia teguk
habis isi Cangkirnya.
"Kau akan menghadap Thay-siang?" seru Pek-hoa-pangcu heran
"Ya, hal ini memang akan kulaporkan kepada Toaci," ujar So-yok.
"waktu aku datang pagi tadi Thay-siang sudah berpesan bila Lingkongcu
berhasil, beliau minta aku membawanya menemuinya."
"Thay-siang amat besar perhatiannya terhadap getah beracun ini,
Ling-kongcu berhasil temukan obat penawarnya dalam waktu
sesingkat ini, tak heran beliau ingin benar bertemu," lalu Pek- hoapangcu
berkata kepada Kun-gi: "Biasanya thay-siang tak mau
menemui orang luar, umpama anggota Pang kita sendiri juga jarang
dipanggil, Ling Kongcu ternyata lebih beruntung."
Sedemikian besar perhatiannya membicarakan undangan Thaysiang
ini, padahal sinar matanya tidak mengunjuk rasa senang kalau
tidak mau dikatakan menampilkan rasa kuatir dan gelisah malah.
Sudah tentu Kun-gi tak bisa menyelami pikiran Pek hoa pangcu,
katanya tertawa lebar: "Beruntung cayhe diundang Thay-siang, hal
ini merupakan kebanggaanku seumur hidup,"
Pek hoa pangcu tersenyum, katanya: "Hanya bicara saja sampai
lupa makan, hidangan sudah dingin, silakan makan-"
Baru dua cangkir arak masuk perut, muka Ling Kun-gi lantas
merah seperti kepiting rebus, celakanya So-yok selalu ambilkan
hidangan terus main dorong kepiringnya, ditolak tidak bisa, diterima
akhirnya perutnya kekenyangan. Perjamuan ini untuk merayakan
kesuksesan Ling Kun-gi, tapi lantaran yang dijamu tidak pandai
minum arak sehingga makan minum berjalan kurang semarak, Pek
hoa pangcu dan Giok-lan bersikap pasif pula karena tingkah So-yok
yang ber-muka2. Hampir setiap masakan yang dihidangkan sedikit
atau banyak masuk ke perut Kun-gi, untung perjamuan ini berakhir
juga , Kun-gi merasa seperti lepas dari hukuman, buru2 dia berdiri.
Pek hoa pangcu mengiringinya kembali ke ruang tamu.
Baru saja Kun-gi menghabiskan teh panas yang disuguhkan, Soyok
lantas berkata sambil berdiri "Toaci, hari sudah siang, kiranya
Ling-kongcu harus berangkat."
"Mungkin Thay-siang akan menguji Ling kongcu membuat obat
itu, Ji-moay sudah bawa obatnya belum?" tanya Pek hoa pangcu.
"Sam-moay sudah menyiapkan untukku," sahut So-yok tertawa.
"Baiklah, bolehlah kau bawa Ling kongcu dan segera berangkat,
supaya Thay-siang tidak terlalu lama menunggu."
So-yok mengiakan, dia menoleh dan berpesan kepada si melati:
"Bak-ni, lekas kau beritahu supaya perahu disiapkan-" Si melati
mengiakan terus berlari pergi.
So-yok berdiri, katanya: "Ling kongcu, hayo berangkat" Sembari
bicara dia mengenakan mantel terus beranjak ke luar.
Kun-gi memberi hormat kepada Pek hoa pangcu serta Giok lan
dan mohon diri. Mereka mengantar sampai di depan pintu.
Sepasang mata Pek hoa pangcu sejeli mata burung hong
menatap Kun-gi, katanya: "Kami tidak mengantar lebih jauh."
Beradu pandang seketika terasa oleh Kun-gi sorot matanya
mengandung kasih mesra nan penuh arti, diam2 terkesiap hatinya,
berkumandang pula suara Pek hoa pangcu selirih bunyi nyamuk di
tepi telinganya: "Dihadapan Thay-siang kau harus berlaku hati2,
setiap pertanyaan harus kau jawab dengan baik, kalau dia tidak
tanya, jangan banyak bicara."
Segera Kun-gi balas menjawab dengan ilmu gelombang suara:
"cayhe tahu." Lalu cepat2 dia megikuti langkah So-yok.
Perahu yang disiapkan ternyata kecil saja, di tengahnya beratap
jerami, bentuknya bulat panjang, di kedua ujung perahu masing2
duduk seorang perempuan setengah umur berperawakan kekar
kuat, So-yok melompat turun lebih dulu terus menyelinap masuk
dan duduk, terpaksa Kun-gi ikut melompat turun, tapi dia berdiri
saja, karena ruang perahu sempit, hanya cukup untuk dua orang
bersimpuh berhadapan, di kanan kiri terdapat sebuah meja kecil
rendah di mana ditaruh cangkir minuman, jadi tiada barang perabot
lainnya, laki-perempuan duduk dekat berhadapan rasanya kurang
leluasa, tapi setelah berada di atas perahu tak mungkin dia duduk. .
.
Apa boleh buat, akhirnya dia menyelinap masuk dan duduknya
sedikit mundur di atas kasuran berhadapan dengan So-yok. dengan
menyengir dia berkata: "Perahu ini terlalu kecil.".
"Perahu ini memang khusus kami buat secara istimewa, kalau
badan perahu lebih besar sedikit t idak akan bisa masuk."
Perempuan di buritan segera angkat galah, ia menarik tali kerai
bambu yang bentuknya bundar segera bergerak menutup tempat
duduk So-yok dan Kun-gi. Keruan keadaan menjadi gelap. untung
Lwekang Kun-gi. cukup tinggi, dia masih bisa melihat jelas keadaan
sekitarnya. Tak lama kemudian So-yok menyalakan lentera yang
terletak di samping atas.
Terasa oleh Kun-gi perahu mulai bergerak. pengayuh bekerja
menerbitkan gemercik air. Diam2 Kun-gi membatin: "Kiranya tutup
ini sengaja dipasang supaya aku tidak dapat melihat pemandangan
di luar"
Setelah api menyala, So-yok tersenyum, kata-nya: "Tentunya
Ling-kongcu merasa heran kenapa perahu ditutup begini rapat?"
"Mungkin daerah rahasia yang penting artinya, orang luar
dilarang melihat keadaan di sini," kata Kun-gi..
"Bukan begitu, perahu ini khusus dibuat-untuk Thay-siang
seorang saja. Beliau tidak ingin dilihat orang, apalagi diketahui
tempat tinggalnya. Dalam Pang kita kecuali aku, Toaci dan Sammoay
tiada orang lain yang tahu tempat beliau bersemayam, kau
adalah orang luar satu2nya yang melanggar kebiasaan Thay-siang,
ini menandakan betapa besar perhatian Thay-siang kepadamu."
"Sungguh cayhe amat bangga dan senang hati."
"Maukah kau tinggal di tempat kita ini untuk selamanya?" tanya
So-yok menatap Kun-gi lekat2..
Berdetak jantung Kun-gi, katanya tawar: "Anggota Pang kalian
semua perempuan, boleh cayhe tinggal di sini?"
"Asal kau manggut, aku akan bicara dengan Thay siang, dalam
Pang kitakan juga ada laki2 lain-"
"Merekakan Hou-hoat-su-cia."
"Jangan kau pandang enteng para Hou-hoat-su-cia itu, di antara
mereka t idak sedikit murid perguruan ternama, ilmu silatnya tinggi,
kalau Ling-kongcu mau tinggal di sini, kau tidak akan dijadi-kan
Hou-hoat-su-cia"
Sengaja Kun-gi, bertanya: "Hu-pangcu hendak memberi jabatan
apa kepada cayhe.?"
Merah muka So-yok, katanya menunduk malu. "Dinilai dari ilmu
silatmu, masakah kau boleh diberi kedudukan rendah?, Sekarang
kau tidak perlu tanya, soal ini akan kurundingkan dengan Thaysiang"
"Masakah Hu-pangcu tidak bisa memperkirakan supaya cayhe
bisa mempertimbangkannya?" Semakin merah wajah So-yok.
suaranya lirih:
"Bagaimana maksuk hatiku padamu, memangnya tidak terasa
olehmu? Kalau tidak buat apa kubawa kau menghadap Thay-siang?"
cukup jelas dan gamblang kata2nya.
Tanpa terasa tergunang juga hati Kun-gi, laki perempuan duduk
berhadapan dan membuka isi hatinya lagi seCara blak2an, lalu
bagaimana dia harus menanggapi? Terpaksa Kun-gi berkata
sekenanya: "Hu-pangcu bermaksud baik, membimbingku, setulus
hati kunyatakan terima kasih, soalnya beberapa temanku berada di
tangan Hek liong-hwe, setelah kuketahui mereka terjeblos di sarang
iblis, betapapun aku harus berusaha menolong mereka, karena itu
sukar untukku tinggal dalamPang kalian-"
"Menurut Thay-siang, Hek liong-hwe merajalela melakukan
kejahatan, kelak pasti mendatangkan petaka di Kangouw, sudah
lama kita bermaksud menumpasnya, cuma mereka memiliki getah
beracun yang tiada obatnya sehingga soal ini tertunda sampai
sekarang, kini setelah obat penawar getah telah kau buat, mungkin
Thay-siang akan pimpin sendiri gerakan besar2an untuk
menggempur Hek liong-hwe, itu berarti kawanmu juga akan
tertolong pula."
Tengah bicara gemercik air tiba2 semakin keras, Kun-gi dapat
membedakan suara gemercik air ini membawa pusaran yang keras
dan berdaya sedot yang kuat, kalau tidak salah perahu kini tengah
memasuki suatu gua yang dalam dan luas.
Terasakan pula laju perahu tiba2 menjadi lambat, kalau tadi
perahu bergerak melawan arus sehingga menimbulkan guncangan
cukup keras, tapi laju perahu sekarang mesti lambat namun kira2
tiga puluhan tombak kemudian lantas pelahan dan Akhirnya
berhenti. Tak tertahan Kun-gi bertanya: "Apakah sudah sampai?"
So-yok cekikikan, katanya: "Kupingmu tajam juga ."
"Kurasa perahu sudah berhenti."
"Krek." tiba2 kerai bambu yang rapat itu tersingkap. Tapi
keadaan sekeliling gelap. tak terlihat bintang2 di langit, kiranya
perahu berlabuh di bawah dinding batu yang terjal gelap.
So-yok mendahului berdiri, katanya: "Letak puncak tebing di atas
cukup tinggi, biarlah ku lompat naik dulu, kau boleh menyusul."
Sekali tutul kaki, dengan enteng tubuhnya lantas melejit ke atas,
hanya sekali berkelebat lantas tak kelihatan- Kejap lain terdengar
suara So-yok berseru di atas batu: "Ling-kongcu, boleh kau lompat
kemari, tapi hati2, batu ini berlumut dan sangat licin-" Lalu
terdengar suara percikan api.
Mata Kun-gi dapat melihat di tempat gelap. tanpa sinar api iapun
bisa melihat cukup jelas keadaan sekelilingnya, segera dia
menjawab: "Ya, cayhe segera naik," iapun tiru gerakan orang, ujung
kaki menutul papan perahu, tubuhnya terus melambung ke atas.
Karena tidak ingin pamer kepandaian di depan So-yok, kira2
setombak lebih badannya melejit ke atas ia terus meluncur turun ke
samping So-yok,
Buru2 So-yok ulur tangan pegang lengannya, katanya: "Berdiri ke
sini sedikit, batu sebelah pinggir berlumut dan licin-" Karena tarikan
ini badan mereka hampir berhimpitan. Lekas So-yok menunduk dan
meniup padam obor, seketika keadaan gelap gulita pula.
Dalam kegelapan So-yok berkata pula: "Disini sebenarnya
dilarang menyalakan api, demi keselamatanmu barusan aku
melanggar larangan untuk selanjutnya kau harus menggremet di
tempat gelap." Tanpa tunggu Kun-gi bersuara cepat ia
menambahkan: "Tak usah kuatir, jalanan di sini aku sangat apal,
asal kau gandeng tanganku, pasti takkan terjatuh dari ketinggalan-"
Jari tangan yang halus segera menarik Kun-gi, katanya manis:
"Hayo, kita ke atas, hati2 lima langkah lagi ke atas adalah lorong
sempit yang harus dilewati dengan badan miring, jangan sampai
kepalamu kebentur benjut."
Kun-gi t idak ingin orang tahu dirinya dapat melihat di tempat
gelap. maka ia biarkan saja dirinya ditarik dan digandeng. Apa yang
dikatakan So-yok memang tidak salah, di depan hanya sebuah
lorong sempit, hanya cukup untuk tubuh seorang, kaki terasa
menginjak tanah berbatu yang naik turun tidak rata.
Walau So-yok sudah apal tempat ini juga jalan menggremet
hati2, kembali dia bertanya: "Ling kongcu, di rumah masih adakah
sanak saudaramu?"
"Keluargaku hanya ibu dan aku saja," sahut Kun-gi.
Bersinar mata So-yok di tempat gelap. tanyanya: "Kau tidak
punya adik perempuan?" tiba2 dia menghentikan langkah.
"Bagaimana kalau aku menjadi adikmu?" Badannya yang padat dan
montok tiba2 menggelendot ke dada Kun-gi.
Kun-gi tahu, nona ini bertabiat buruk. aleman, keras kepala dan
suka menang, Pek-hoa-pangcupun suka mengalah padanya, kalau
dirinya sampai membuatnya marah, bukankah usaha dan
rencananya bakal gagal total? Maka tanpa pikir tangannya segera
memapah badan orang, katanya: "Hu-pangcu suci dan berbudi
luhur, laksana berbadan emas, mana cayhe berani terima?"
Menggeliat pinggang So-yok yang ramping, katanya aleman: "Ah,
kau kira aku tidak setimpal? Jelas kau memandang rendah aku."
"Mana cayhe berani pandang rendah dirimu?".
So-yok mendongak, katanya, "Kami ada banyak saudara
perempuan di sini, tapi tiada punya toako, mungkin ada jodoh, sejak
pertama kali melihatmu se-olah2 kau sudah menjadi Toakoku,
bagaimana jika betul kau menjadi, Toakoku?"
"Sungguh, cayhe tidak berani terima."
"Mau tidak mau aku tetap anggap kau sebagai Toako," omel Soyok
seperti anak kecil merengek minta permen, Kedua bola matanya
terpentang lebar, walau dalam gelap dia tidak melihat wajah Kun-gi,
tapi badannya yang halus padat menempel badan Kun-gi, kepala
mendangak dengan malu2 dan merdu dia memanggil: "Toako."
Kecuali tabiatnya yang jelek. perawakan So-yok boleh masuk
hitungan, apalagi cantik menggiurkan, suara panggilannya berdaya
tarik menggetar sukma, seketika hati Kun-gi terguncang, tanpa
sadar dia memeluk pinggang So-yok yang ramping dengan erat.
So-yok bersuara lirih terus merebahkan badannya ke dalam
pelukan Kun-gi serasa lunglai otot tulang tubuhnya, maklumlah dia
masih perawan ting-ting, tumbuh dewasa di kalangan wanita yang
tidak pernah bergaul dengan lelaki, apalagi disentuh dan dipeluk
begini rupa, keruan hatinya berdebur seperti gelombang samudara
memukul pantai, seperti anak kambing yang kaget, takut dan jinak
pula, badannya rada gemetar.
Kun-gi juga pemuda yang baru menanjak dewasa, jiwa laki2nya
baru mekar pula begitu dia peluk So-yok, badannya seketika
bergetar seperti kena aliran listrik, jantung seperti hendak copt,
tiba2 pikirannya tersentak sadar dan cepat2 melepaskan
pelukannya.
Walau ditempat gelap. tapi Kun-gi sendiri merasakan mukanya
panas, katanya tergagap: "cayhe pantas mati, berani kurang ajar,
terhadap Hu-pangcu, harap . . . ."
Cepat So-yok mendekap mulut anak muda itu, katanya lirih: "Tak
usah menyalahkan diri sendiri, aku tidak menyalahkan kau, karena
aku sudah anggap kau sebagai Toakoku"
"Bisa punya adik seperti kau, sungguh amat beruntung dan
berbesar hati, cuma. . . "
"Tidak usah pakai alasan, kau mau terima aku sebagai adikmu?"
Apa boleh buat, terpaksa Kun-gi berkata: "Baiklah, kupanggil kau
adik."
"Nah kan begitu, Toako yang baik."
Muka Kun-gi masih terasa panas, lekas dia mendesak: "Hayolah
kita melanjutkan perjalanan."
"Biar tetap kugandang tanganmu, setelah lewat lorong sempit ini
baru jalan agak datar"
Cukup panjang juga lorong sempit ini, kalau badan sedikit gemuk
takkan bisa lewat lorong sempit ini. Dinding batupun tidak rata, ada
yang runcing, kurang hati2 sedikit pakaian biaa tercantol sobek.
Begitulah mereka menggeremet miring ke depan. Kira2 semasakan
air baru mereka keluar dari lorong sempit ini: Di luar tanah memang
datar dan lapang, mereka berada di dalam gua alam yang besar,
tapi tetap gelap dan lembab, sayup2 terdengar suara tetesan air
dari langit2 gua.
Diam2 Kun-gi heran, pikirnya: "Thay-siang-pangcu dari Pek-hoapang
kenapa malah bertempat t inggal di tempat seperti ini?". .
So yok tetap menggandeng tangannya terus maju ke depan
menuju dinding batu di depan. Tampak dia ulur tangan menekan
sebuah lobang kecil di atas dinding. . . Maka terdengar seorang
membentak tanya dari balik dinding: "Siapa?"
"Aku, So-yok" sahut So-yok. Lalu terdengar suara gemuruh,
dinding batu persegi di depan mereka tiba2 bergerak dan tampak
sebuah pintu, sinar lampupun menyorot keluar, dari balik batu. Lalu
muncul seorang perempuan setengah umur berbadan tinggi, sorot
matanya dingin kaku, sekilas dia lirik Kun-gi, tanyanya: "Dia inikah
yang di-panggil Thay-siang?"
So-yok manggut, katanya: "Dia bernama Ling Kun-gi." Lalu dia
berpaling, katanya pula: "Ling-kongcu, mari kuperkenalkan inilah
Ciok-lolo."
Lekas Kun-gi menjura, katanya: "cayhe menyampaikan hormat
kepada Ciok-lolo."
Tidak nampak secercah senyum pada wajah keriput Ciok-lolo
atau nenek ciok: "Tidak usah sungkan, lekas kalian naik ke atas."
So yok aturkan terima kasih dan ajak Kun-gi masuk. Kini mereka
berada di sebuah kamar batu berbentuk lonjong persegi, di depan
ada undakan batu, di sebelah kiri ada sebuah pintu, agak-nya di
sanalah kamar tidur Ciok-lolo.
Dari atas dinding So-yok menurunkan sebuah lampion, setelah
menyulutnya dia berkata tertawa: "Ling-kongcu, ikutilah aku." Dia
mendahului naik ke undakan batu. Undakan batu Cukup lebar, ia
menenteng lampion, maka tidak perlu bergandeng tangan lagi.
Undakan batu ini melingkar naik ke atas, langkah mereka
dipercepat, setiba di ujung undakan kembali mereka dia dang
dinding batu.
Diam2 Kun-gi menghitung sedikitnya dia sudah naik lima-enam
ratus undakan-Di depan dinding So-yok menekan dua kali,
terdengar suara berkeriat-keriut, muncul sebuah pintu di dinding itu,
pandengan mereka menjadi silau oleh benderangnya sinar matahari.
So yok tiup padam lampion dan menggantung di atas dinding,
lalu katanya: "Silakan Toako."
Kun-gi tidak rikuh2 lagi, segera dia melangkah keluar, terasa
angin menghembus semilir, semangat seketika terbangkit. So-yok
mengintil di belakangnya, setelah berada di luar, dia menekan
dinding dua kali pula, pintu batu pelan2 menutup sendiri.
Di luar pintu batu ini letaknya di sebuah paseban di lamping
gunung, paseban ini besar dan megah, enam sakanya berwarna
merah cukup sepelukan satu orang. Bunga bertaburan di segala
pelosok memenuhi lereng yang terbentang luas, anehnya bunga
yang tak diketahui namanya ini beraneka macam jenis dan
warnanya, Semuanya, mekar Semerbak. Tepat di tengah paseban
ini di-pasang sebuah panggung batu kecil bulat halus mengkilap
menyerupai meja bundar dikelilingi kursi bundar yang berbentuk
men erupai gendang, semuanya terbuat dari batu gunung..
Setelah pintu merapat, tampak di pagan batu yang besar itu,
setinggi setombak berukir empat. huruf yang berbunyi "Pek-hoathing-
kip". "Tempat apakah ini? " seru Kun-gi heran.
"Inilah Pek-hoa-kok (lembah seratus bunga)," sahut So-yok.
“Hayolah, setelah membelok ke lamping gunung sana, kau dilarang
buka suara lagi." Lalu dia mendahului jalan menyusuri jalanan yang
dilandasi pagar batu.
Sambil mengikuti langkah orang Kun-gi ber-tanya: "Kenapa? "
"Thay-siang tidak senang kalau ada orang suka bertanya, apalagi
beliau sudah berhasil meyakinkan Thian-ni-thong, setelah membelok
pengkolan gunung itu, semua pembicaraan kita akan terdengar
olehnya."
Kun-gi manggut2. Langkah mereka dipercepat, setelah keluar
dari pengkolan gunung, seluas mata memandang lembah ini bagai
bertaburkan bunga, beraneka warnanya, di antara bayang2
pepohonan sana ada bangunan rumah bersusur, dengan berbagai
bentuk artistik,
Jauh di atas sana, seperti ada jembatan gantung yang
menghubungkan satu rumah berloteng dengan bangunan megah
yang lain-Sungguh pemandangan permai yang menyegarkan
semangat dan perasaan. Tak tertahan Kun-gi menarik napas
panjang, katanya memuji: "Bile cayhe tidak tahu tempat ini adalab
tempat semayam Thay-siang, melihat keadaan lembah yang permai
dan teratur rapi ini tentu membayangkan bahwa pemiliknya pasti
seorang aneh dan memiliki kepandaian yang jauh melebihi orang."
Mendengar Kun-gi buka suara. So-yok tampak kaget, mau
mencegah tapi tak sempat lagi. Syukurlah yang didengar adalah
kata2-pujian, barulah lega hatinya. Tapi pada kejap lain ia
mendengar seseorang mendengus sayup2 dari kejauhan.
Suara dengus ini kedengarannya sangat jauh, tapi seperti juga
sangat dekat sehingga sukar orang meraba dari mana datangnya.
Yang terang So-yok berubah air mukanya, seketika dia bergidik,
katanya lirih: "Lekaslah" Bergegas dia masuk ke lembah sana.
Sudah tentu Kun-gi tahu suara dengus tadi dikeluarkan seorang
yang memiliki Lwekang tinggi dan dia pasti Thay-Siang adanya.
Ucapan Kun-gi tadi juga diutarakan secara spontan karena melihat
panorama lembah yang mempesona ini, padahal kata2 pujiannya
diucapkan setulus hati, memangnya kenapa orang mendengus?. Ini
berarti bahwa jiwa Thay-siang rada nyentrik, wataknya, pasti aneh
dan menyendiri, tak heran Pek-hoa-pangcu dan So-yok berpesan
wanti2 dihadapan Thay-siang nanti supaya dirinya tidak banyak
bicara kalau tidak di-tanya.
Cepat sekali mereka sudah tiba di depan sebuah rumah berloteng
yang dibangun amat megah. So-yok berhenti, katanya menoleh:
"Ikutilah aku." Dia bawa Kun-gi masuk ke sebuah kamar tamu yang
bentuknya agak kecil, katanya pula: "Ling-kongcu duduklah
menunggu di sini, aku akan masuk memberi laporan kepada Thaysiang,
sebentar ku-kembali.”
“Hu-pangcu boleh silakan," ucap Kun-gi.
Tanpa bicara lagi So-yok beranjak keluar. Seorang diri Kun-gi
duduk di kursi, dia kira So-yok akan segera kembali, tak tahunya
ditunggu setanakan nasi masih belum keluar, lambat laun hatinya
menjadi gundah dan tidak tenteram, sambil menggendong tangan
dia mondar-mandir melihat lukisan di dinding. cukup lama juga dia
meneliti setiap lukisan itu baru didengarnya langkah ringan
seseorang mendatangi. cepat Kun-gi membalik badan, tampak yang
datang adalah seorang gadis berpakaian kain kembang.
Usia gadis Cilik ini sekitar 12-an, tapi wajahnya tampak ayu
jenaka, rambutnya dikuncir, bagian depannya dipotong poni,
bibirnya yang merah delima tampak mungil dan mengulum senyum,
kelihatannya masih kanak2: Waktu dia melangkah masuk kebetulan
Kun-gi membalik badan, biji mata yang jeli dan bening itu seketika
menatap Kun-gi dengan tajam, langkahnyapun berhenti, pipinya
yang putih halus seketika bersemu merah, cepat dia menunduk
malu.
Maklumlah, sejak kecil nona ini dibesarkan di lembah nan sunyi
dan putus hubungan dengan dunia luar, kapan dia pernah melihat
seorang laki2, apa-lagi laki2 seperti Kun-gi yang cakap ganteng ini,
karena malu, hampir saja dia tidak kuasa berbicara.
Kun-gi malah bersuara dulu dengan tertawa: "Apakah Hu-pangcu
suruh nona memanggil cayhe? "
Setelah tenang hatinya baru gadis cilik itu manggut2 dengan
malu2, katanya: "Jadi kau ini Ling kongcu? Thay-siang
mengundangmu."
"Silakan nona tunjukkan jalan," kata Kun-gi.
Sambil menunduk gadis cilik itu membalik terus melangkah pergi,
katanya: "Marilah Ling-kong-cu ikut aku." .
Keluar dari ruang tamu dia belok ke kiri adalah serambi panjang
yang menjurus ke lembah diseberang sana, pemandangan
menghijau permai, air terjun mencurah deras di ujung timur sana,
seluruh pemandangan didasar lembah terlihat amat jelas.
Pada ujung puncak di atas lembah itulah di-bangun rumah lima
tingkat, yang ditengah merupakan pendopo luas dari besar,
kelihatannya seperti ruang sembahyang, tepat di tengah ada sebuah
meja panjang dengan patung Hud-co yang terbuat dari batu jade
putih. Kiranya Thay-siang yang diagungkan itu beragama Buddha.
Gadis berpakaian kembang membawa Ling Kun-gi masuk ke
ruang sembahyang, terus menuju ke pintu di sebelah timur dan
berhenti di depan sebuah kamar, dari luar kerai dia membungkuk
serta berseru. "Lapor Thay-siang, Ling-kongcu telah tiba"
Terdengar seorang perempuan tua bersuara dari dalam: "Suruh
dia masuk."
Gadis baju kembang segera menyingkap kerai dan berkata lirih:
"silakan masuk, Ling-kongcu."
Sedikit membungkuk badan Kun-gi melangkah masuk. Kiranya di
sinilah Thay-siang bermukim, di sebelah sana adalah sebuah dipan
yang berukir, bantal guling lengkap. serba baru bersih dan rapi, di
atas dipan inilah duduk seorang perempuan berpakaian serba hitam.
Wajahnya berkeriput tua, tulang pipinya sedikit menonjol, kulit
badannya putih, rambutnya bercampur uban, tapi disisir rapi
berminyak. jidatnya terikat selarik kain hitam bersulain indah dan
tepat diantara kedua alisnya dihiasi sebutir mutiara.
Melihat sikap duduk orang yang kelihatan angker berwibawa
meski wajahnya tidak kelihatan marah, jelas perempuan tua inilah
Thay-siang-pangcu dari Pek-hoa-pang.
So-yok tampak berdiri di belakangnya, kedua tangan lurus ke
bawah, sikapnya kelihatan amat hormat dan patuh. Di kedua sisi
dipan ada delapan kursi, tepat di tengah ada sebuah meja segi
delapan, di atas meja terletak semangkuk getah beracun dan
sebotol air obat buatan Kun-gi.
Tak heran setelah So-yok masuk sekian lamanya baru
mengundang dirinya, kiranya ia hendak mencoba dulu kasiat
obatnya dihadapan-Thay-siang.
Baru saja Kun-gi melangkah masuk. suara So-yok lantas
berkumandang: "Ling-kongcu, inilah Thay-siang dari Pang kita."
Karena dia berdiri di belakang Thay-siang, maka dengan leluasa dia
bisa memberi kedipan mata dan monyongkan mulut kepada Ling
Kun-gi, maksudnya supaya Kun-gi lekas menyembah.
Kun-gi justeru anggap tidak tahu, ia maju dua langkah dan hanya
menjura dengan membungkuk badan, serunya: "cayhe Ling Kun-gi,
menyampaikan hormat kepada Thay-siang."
Thay-siang duduk diam saja, kedua biji matanya setajam ujung
pisau menatap Kun-gi lekat2, seakan2 dari wajah orang dia hendak
menemukan apa2, sesaat lamanya baru dia berkata: "Kau duduklah"
"Di hadapan Thay-siang, mana cayhe berani duduk? "
Terunjuk rasa dongkol pada sinar mata Thay-siang, suaranya
lebih dingin: "Kusuruh kau duduk. maka kau harus duduk, ada
pertanyaan akan ku-ajukan."
Sorot mata So-yok tampak gelisah dan tidak tenteram, beberapa
kali dia berkedip kepada Kun-gi. Maksudnya menganjurkan supaya
anak muda itu menurut dan lekas duduk.
Kun-gi tertawa dengan tabah, katanya: "Terima kasih."
Ia lantas duduk dikursi sebelah kiri, lalu bertanya: "Thay-siang
memanggil, entah ada keperluan apa, cayhe siap mendengarkan. "
Tertampak rasa dongkol pada rona muka Thay-siang, katanya
tidak sabar, "Kau she Ling? Kelahiran mana? "
"Ya, hamba dilahirkan di cin-ciu dan sejak kecil tinggal di sana.”
“Siapa nama ayahmu? "
Kun-gi heran, agaknya Thay-siang amat memperhatikan riwayat
hidupnya, malah diwaktu mengajukan pertanyaan matanya
menatapnya lekat2, mimiknya menunjukkan sikap yang kurang
bersahabat. Memangnya dirinya pernah melakukan kesalahan
terhadapnya? Tapi dengan kalem dia menjawab: "Ayah bernama
Ling Swi-toh." .
"Ling Swi-toh?" Thay-siang mengulang nama itu dengan suara
lirih, lalu bertanya pula: "Ayah-mu sudah marhum? Berapa tahun dia
meninggal? ”
“Waktu ayah wafat aku berumur tiga tahun, sampai kini sudah 19
tahun."
"Di waktu hidupnya apa kerja ayahmu?" pertanyaannya semakin
aneh dan ber-belit2, So-yok yang berdiri dibelakangnyapun melongo
heran
"Ayah hidup bercocok tanamdan belajar membaca."
"Siapa pula keluargamu? ”
“Hanya ibunda seorang saja.”
“Ibumu she apa? "
Pertanyaan semakin jelas dan teliti, mau tidak-mau timbul
kewaspadaan Ling Kun-gi, maka sekenanya dia menjawab: "ibu she
ong."
Setelah menjawab baru hatinya mencelos, mendadak ia ingat
pernah memberitahukan kepada Pek-hoa-pangcu bahwa ibunya she
Thi, untung Thay-siang tidak
Jilid 16 Halaman 17/18 Hilang--
jaman ini, tokoh Bu-Iim yang tiada bandingannya pula, sudah
lama Losiu mengaguminya, sayang tiada jodoh bertemu, Lingsiangkong
adalah murid kesayangan Taysu, Losiu merasa beruntung
dapat bertemu denganmu."
Ling Kun-gi berdiri dan menyatakan tidak berani dan bersyukur
juga . Dilihatnya So-yok yang berdiri di belakang Thay-siang
menunjuk mimik aneh, kaget, heran, tidak percaya dan berbagai
perasaan yang campur aduk. selamanya belum pernah dia
mendengar Thay-siang bicara seramah ini, apa lagi merendah diri
terhadap orang lain, lambat laun sorot matanya yang menatap Ling
Kun-gi berubah menjadi tatapan melamun, wajahnyapun berseri
tawa.
Lebih lanjut Thay-siang berkata: "Ling-siangkong berhasil
membuatkan obat penawar getah beracun itu, sungguh Losin amat
senang dan berterima kasih." Setelah batuk2 kering dengan sikap
rikuh dia menambahkan-. "Bolehkah Ling-siangkong sekalian
memberitahu resep obatnya kepada Losin? "
Sebetutnya hal ini sudah dalam pikiraan Kun-gi, cuma sejauh ini
dia belum berhasil menemukan alasan apa untuk menolak. apa lagi
dia memang tidak punya resep segala, sesaat dia jadi ragu2,
sahutnya: "Ini. . . . ."
So-yok segera menyeletuk: "Thay-siang, agak-nya Lingsiangkong
sungkan bicara, biar Tecu saja yang menjelaskan."
"Baiklah, coba katakan," ucap Thay-siang sam-bil menoleh.
Berseri tawa So-yok, Kun-gi dipandangnya lekat2, katanya: "Tecu
pernah tanya soal resep itu kepada Ling-kongcu, katanya
keselamatan jiwa raganya ditempat kita ini susah diramalkan, kalau
resep obat diserahkan, dia kuatir kita mengambil tindakan yang
merugikan dirinya."
Ternyata Thay-siang tidak marah, malah manggut2, katanya:
"Liku2 kehidupan Kangouw memang serba-serbi, penuh kejahatan
dan berbahaya, memang cukup beralasan kekuatiran Lingsiangkong,
tapi selama hidup ini Los in sudah patuh akan ajaran
agama, Pek-hoa-pang yang kudirikan inipun khusus untuk
menghadapi kelaliman Hek-liong-hwe, mungkinkah sampai
melakukan perbuatan sekotor dan sekejam itu?"
"Tecu juga bilang demikian," ujar So yok.
Kun-gi menjura, katanya: “Harap Thay-siang tidak salah paham,
sebetulnya tiada maksud apa2 cayhe terhadap Pek-hoa-pang kalian,
cuma. . sebetulnya."
"Ling-siangkong ada kesulitan apa, silakan bicara saja," tatap
Thay-siang dengan mata bersinar.
Dasar otak Kun-gi memang cerdas, tiba2 berkelebat suatu ilham
dalam benaknya, seketika terpikir olehnya jawaban atas pertanyaan
orang.
Soalnya wajah Thay-siang tadi berubah dan kini sikapnyapun
berganti ramah tamah setelah dirinya menyebut nama kebesaran
gurunya, biarlah soal resep obat ini dikatakan berada ditangan
gurunya.
Maka dia lantas berkata sambil sedikit membungkuk: “Harap
Thay-siang maklum, resep obat ini diperoleh guruku dari seorang
pendeta asing dari benua barat, memang khusus untuk
memunahkan segala racun aneh dan jahat di kolong langit ini,
cayhe hanya bisa membuat obat itu menurut catatan, soal resepnya
kalau belum memperoleh izin langsung dari guru, cayhe tidak berani
membocorkan kepada siapapun, untuk ini harap Thay-siang suka
memaafkan-"
Alasannya memang tepat dan dugaan Kun-gi ternyata tidak
meleset.
Mendengar resep obat itu milik Hoan-jiu-ji-lay yang dirahasiakan,
Thay-siang tidak tanya lebih lanjut, katanya dengan tertawa lebar:
"Ling-siangkong tidak usah rikuh, setiap aliran mempunyai ilmu
yang dirahasiakan, Losin takkan main paksa, untung Ling-siangkong
sudah bikin dua guci besar obat penawar itu, kukira cukup
berkelebihan untuk digunakan-"
"Thay-siang," sela So-yok, "Ling-siangkong bilang, dua guci obat
hasil buatannya itu hanya berkasiat selama tiga bulan saja."
"Ya, itu dapat dimengerti," ujar Thay-siang, "kalau obat itu dibuat
dari air, maka t idak boleh disimpan lama2."
Mendadak ia seperti teringat sesuatu, katanya pula: "Ada sebuah
permintaan Lo-sin, entah Ling-siangkong sudi memberi persetujuan
tidak? "
"Berat kata2 Thay-siang" Kun-gi merendah, "Thay-siang ada
pesan apa, silakan katakan."
Berkata Thay-siang dengan kalem: "Pek-hoa-pang aku yang
mendirikan, maka seluruh anggota dimulai dari Pangcu sampai para
dayang dan semua pembantunya adalah murid-muridku semua, tapi
Pang kita juga ada puluhan Hou-hoat-su-cia, mereka adalah murid2
dari aliran ternama yang berhasil kami undang. Ling-siangkong
didikan Hoan-jiu-ji-lay, soal watak dan kepandaian silat jelas tidak
perlu diragukan lagi, tapi Losin juga tahu, Pek-hoa-pang sebagai
organisasi kecil terdiri dari kaum hawa ini mungkin sukar untuk
menahan Ling-siangkong di sini meski kami mengangkatmu sebagai
Hou-hoat-su-cia segala, Tapi terus terang, dalam lubuk hatiku amat
ingin bantuan Ling siangkong terhadap Pek-hoa-pang, maka
menurut hemat Losin, bagaimana kalau Ling-siangkong kita angkat
sebagai kepala dari para Houhoat itu, entah bagaimana pendapat
Ling-siangkong? "
So-yok yang berdiri di belakang Thay-siang tertawa lebar,
matanyapun bercahaya.
Ber-ulang2 Ling Kun-gi menjura, katanya: "cayhe sebagai
angkatan muda dari Kangouw amat bersyukur dan terima kasih
mendapat perhatian Thay-siang, sebetutnya sukar menampik
kebaikan Thay-siang, tentang obat yang diperlukan sembarang
waktu cayhe masih bisa membuatnya pula, soal pengangkatan tadi,
Harap Thay-siang suka menunda-nya saja."
"Losin tahu, Ling-siangkong bak naga di antara sesama manusla,
agaknya sukar Pek-hoa-pang menahanmu: tapi Houhoat yang
kumaksud jauh berbeda dengan kedudukan para Hou-hoat-su Cia,
Houhoat boleh bebas, tidak perlu selalu tinggal dalam Pang,
kedudukan ini amat cocok dengan Ling-siangkong, dan harap Lingsiangkong
tidak menolak pengangkatan ini."
"Betapa senang dan terima kasih cayhe akan maksud baik Thaysiang,
cuma cayhe masih muda dan Cetek pengalaman, sungguh tak
berani menerima kedudukan setinggi dan seberat ini. Malah cayhe
memberanikan diri mohon petunjuk suatu hal kepada Thay-siang."
Terunjuk mimik aneh pada wajah Thay-siang, tanyanya: "Soal
apa yang ingin Ling-siangkong tanyakan? "
"Mohon Thay-siang suka memberitahu di mana letak sarang Hek-
Liong-hwe?"
Berubah air muka Thay siang, lama ia menatap lekat2, tanyanya
pula: "Ling-siangkong ingin mencari sarang Hek-Liong-hwe?" Pelan2
sorot matanya yang tajam mulai pudar lalu berkata pula:-"Memang
tepat kalau Ling-siangkong tanya padaku, Hek-Liong-hwe merajalela
di Kangouw, tapi mereka beraksi secara diam2, kecuali beberapa
pentolan tinggi, meski anggota setia mereka sendiri juga tiada orang
yang tahu di mana letak sarang mereka yang sebenarnya, hanya
aku saja yang tahu paling jelas. Untuk apa Ling-siangkong hendak
pergi ke Hek-Liong-hwe"
Sudah tentu Kun-gi juga merasakan tatapan tajam serta
perubahan air muka orang tadi, "Memangnya ada hubungan rahasia
yang sukar diketahui orang luar antara Hek-Liong-hwe dengan Pekhoa-
pang?" demikian batinnya, pikiran ini hanya berkelebat dalam
benaknya, sementara mulutnya berkata: "Dari congkoan cayhe
pernah dengar bahwa dua temanku katanya terjatuh ke tangan
orang2 Hek-Liong-hwe, mereka menuntut barter dengan diriku."
"Ya, soal ini So-yok sudah memberitaku kepada Losin, lalu bagai
mana pendapat Ling-siang-kong sendiri? "
"Kedua teman itu adalah sahabat setia cayhe, demi keselamatan
mereka cayhe rela berkorban, semoga Thay-siang suka
memberitahu letak sarang Hek-Liong-hwe, menolong orang bagai
menolong kebakaran, maka kupikir harus berangkat secepatnya."
Thay-siang manggut2, katanya tersenyum: "Ling-siangkong
memang gagah perwira, keberanian dan kesetiaan diri terhadap
kawan sungguh mengetuk sanubariku, cuma harus diketahui tidak
sedikit jumlah jago2 kosen Hek Liong hwe, meski Ling-siangkong
murid Hoan-jiu-ji-lay, tapi seorang diri menempuh bahaya, bukan
saja mungkin tak berhasil menolong teman malah awak sendiri
salah2 bisa celaka pula . . . . " merandek sebentar lalu ia
menyambung pula:. "Losin sendiri juga punya dendam kesumat
sedalam lautan dengan Hek-Liong-hwe, selama 20 tahun
bersemayam di sini, soalnya racun getah itu amat jahat dan lihay,
sejauh ini sukar memperoleh obat penawarnya, pula Losin seorang
diri, jelas takkan unggul melawan keroyok-an musuh, tujuan Losin
mendirikan Pek-hoa-pang adalah untuk menghadapi mereka."
Kun-gi manggut2. Thay-siang berkata lebih lanjut: "Syukurlah,
Thian memang maha pengasih, hari ini Ling-siang-kong datang dan
telah bikin obat penawar getah beracun itu, selama kugembleng 20
tahun ini, tidak sedikit pula kekuatan murid2 perempuan yang
kudidik dalam Pek-hoa-pang. Harap Ling-siangkong suka bersabar
dua tiga hari, setelah Losin mempersiapkan seluruhnya, akan
kupimpin sendiri seluruh kekuatan kita untuk bikin perhitungan lama
dengan mereka, kalau Ling-siangkong hendak menolong teman2,
boleh kau ikut bersama Losin"
Tanpa menunggu jawaban Kun-gi, dia lantas berpaling kepada
So-yok dan memberi pesan: "So-yok, suruh Teh-hoa antar Ling
siangkong turun gunung.”
"Biar Tecu sendiri yang mengantar Ling-siangkong" kata So-yok,
"Tidak, kau tinggal di sini saja, ada tugas lain untukmu."
Terpaksa So-yok mengiakan lalu beranjak ke pintu memanggil
Teh-hoa.
Teh-hoa, si bunga kamelia adalah gadis kecil yang tadi membawa
Kun-gi kemari, segera muncul di ambang pintu dan membungkuk
berkata, “Hu-pangcu ada pesan apa?”
“Atas perintah Thay-siang, antarlah Ling-siang-kong turun
gunung."
Diam2 Teh-hoa melirik Kun-gi, pipinya merah seketika, mulut
mengiakan sambil berputar ke arah Kun-gi, katanya, "Silakan Lingsiangkong
ikut hamba."
Kun-gi menjura kepada Thay-siang mohon pamit, Thay-siang
manggut2 tanpa bersuara. Setelah Kun-gi pergi, muka Thay-siang
tampak membesi dingin, katanya mendesis: "So-yok, bagaimana
pandanganmu mengenai dia? "
Tercekat hati So-yok. katanya: "Tecu rasa kita jangan
membiarkan dia meninggalkan gunung demikian saja."
"Betul" pandangan Thay-siang tampak memuji, "sejak pertama
melihat bocah ini", gurumu sudah bermaksud melenyapkan dia."
So-yok kaget, serunya terbeliak: "Thay-siang hendak
membunuhnya? ”
“Sungguh tak nyana bahwa bocah ini adalah murid Hoan-jiu-jilay."
So-yok merasakan nada perkataan Thay-siang agak ganjil, seolah2
kalau murid Hoan-jiu-ji-lay dia tidak berani membunuhnya,
maka hatinya jadi senang, tanyanya: "Apakah Hoan-jiu-ji-lay amat
lihay? "
"20 tahun yang lalu, dia membuat onar di Siau-lim si, menjadi
murid murtad dari aliran-hud, padahal pihak Siau-lim-si tiada yang
dapat menandingi dia, maka dapatlah kau bayangkan betapa hebat
kepandaian silatnya. Selama bertahun2 tak pernah dia menerima
murid, kalau sekarang telah mendidik bocah she Ling ini, sudah
tentu segala kepandaian telah diturunkan kepadanya, kalau gurumu
bunuh bocah ini, memangnya Hoan-jiu-ji-lay terima? "
"Lalu bagaimana sikap dan tindakan Thay-siang? " tanya So-yok.
"Sudah tentu Losin punya perhitungan sendiri," ujarnya sambil
mengeluarkan sebutir pil warna putih dari lengan bajunya terus
diangsurkan kepada So-yok, katanya: "Serahkan kepada Toacimu,
suruhlah Giok lan berusaha mencampurkan di dalam makanan
bocah she Ling, hati2, jangan gagal."
"Bi-sin-hiang-wan" (pil wangi penyedap pikiran), tangan So-yok
yang menerima pil itu rada gemetar.
Tajam dan dingin penuh wibawa tatapan mata Thay siang,
katanya: "Asal dia telah telan Bi-sin-hiang-wan ini baru dia akan
tunduk dan patuh selama hidupnya terhadap Pek-hoa-pang, secara
tidak langsung kita tidak akan menyalahi pula pada Hoan-jiu-ji-lay."
So-yok mengiakan dan memuji t indakan gurunya, Thay-siang
mengulap tangan, katanya: "Beritahu pula kepada Toacimu, besok
saat tengah hari, gurumu akan memilih orang2 yang akan diikut
sertakan dalam gerakan di Pek-hoa-tian, maka seluruh Hou-hoat-sucia
dan anak didik Pang kita harus hadir sebelum waktunya." So-yok
mengiakan dan cepat mengundurkan diri. .
Bahwa Thay-siang sendiri akan pimpin gerakan besar2an ini
sudah tersiar luas ke seluruh Pek-hoa-pang.
Seperti dibakar dan penuh semangat 36 Hou-hoat-su-cia serta
ratusan murid2 perempuan Pek-hoa-pang, semuanya mengepal
tinju dan menggosok tangan serta menyinsing lengan baju siap
tempur.
ooo00d w00ooo
Cuaca masih remang2, Pek-hoa-pangcu yang kembali dari ruang
pendopo tampak melangkah berat dan lesu, pelan2 dia memasuki
Ing-jun-kuan. Di ruang pendopo dia hanya mengumumkan perintah
Thay-siang, tapi tugas ini serasa beban berat yang menindih
tubuhnya sehingga seperti orang yang baru sembuh dari sakit
parah. Begitu masuk kamar dia terus menjatuhkan diri di atas kursi
kebesarannya, badannya lunglai, pelan2 dia pejamkan mata.
Dengan mata terbeliak. Bak-ni, si melati bertanya penuh
perhatian: "Pangcu, kenapa kau? Badan kurang sehat? "
Pek-hoa-pangcu menggeleng dan berkata: "Tidak apa2, hanya
sedikit pening."
Lekas Bak-ni tuang secangkir the terus di bawa ke depan Pangcu,
katanya: "Minumlah teh panas ini, mungkin peningnya akan sedikit
baik.”
“Taruh saja di meja," ucap Pek-hoa-pangcu.
Dari luar didengarnya langkah enteng yang tersipu2 mendatangi,
cepat sekali Giok sian telah melangkah masuk. Bak-ni memberi
hormat lalu mundur ke samping. Terpentang lebar mata Pek-hoapangcu,
tanyanya: "Sam-moay, kau sudah kembali."
"Pangcu tadi berpesan, setelah menyelesaikan tugas, harus lekas
kemari," sahut Giok sian.
"Ya!" Pek-hoa-pangcu manggut2, "ada satu hal ingin
kurundingkan denganmu." Lalu dia berpaling kepada Bak-ni
katanya: "Jagalah di luar pintu, siapapun tanpa seizinku dilarang
masuk kemari."
Si melati mengiakan terus beranjak keluar.
"Duduklah Sam-moay."
"Pangcu tidak enak badan? Ada soal apa serahkan kepada hamba
saja? "
Dengan lesu Pek-hoa-pangcu mengeluarkan sebutir pil putih dan
diangsurkan kepada Giok-lan.
Mendelik mata Giok-lan melihat pil itu, mulutpun mendesis: "Bisin-
hiang-wan." Lalu dia ulur tangan menerima, tanyanya tak
mengerti: "Untuk apa ini Pangcu? "
Bola mata Pek hoa pangcu yang jeli lambat laun berkaca2,
suaranya lesu dan putus asa, katanya masguh "Usahakan supaya
diminumolehnya."
Bergetar tubuh Giok sian, serunya heran: "Di-minumkan dia? "
Seperti main teka-teki saja, namun mereka sama maklum, apa
artinya. "dia" dan siapa yang dimaksud, cuma mereka tidak mau
bicara terus terang.
"Ya," suaranya sumbang, se-olah2 sukma Pek-hoa-pangcu telah
meninggalkan raganya, badannya tampak lemah sekali.
Gemetar semakin keras tangan Giok sian yang menggengam pil
putih itu, suaranya tergagap: "Ini .... maksud .... Pangcu .... sendiri?
". .
Sedikit menggeleng, lemah suara Pek-hoa-pangcu,
senyumnyapun pilu: "Sam-moay, kau salah sangka terhadapku “
“Memangnya maksud siapa? ”
“Inilah perintah Thay-siang.”
“Perintah Thay-siang? Pangcu tega?"
"Apa yang dapat kita lakukan? Kita tak mampu menolongnya.”
“Kalau Pangcu ada maksud ......"
"Sam-moay," tukas Pek-hoa-pangcu, "jangan kau berkata
demikian."
"Kurasa dia seorang berbakat, tunas muda punya harapan besar
di kemudian hari, sayang kalau Pangcu menyia2kan kesempatan
baik ini.”
“Aku. .....". Pek-hoa pangcu menggeleng malu. .
"Siau-moay merasa engkau penujui dia. . Demi tercapainya
keinginan Toaci, aku rela menempuh bahaya dan berkorban malam
ini biarlah dia... . "
Mendadak bercucuran dua baris air mata Pek-hoa-pangcu,
katanya sambil menggeleng: "Sam-moay, aku amat berterima kasih
akan keluhuran budimu, tapi ini bukan akal yang baik."
"Memangnya Toaci ingin dia betul2 menelan pil penyerap pikiran
ini?
"Kukira belum tentu pikirannya bisa terserap oleh pil ini,"
demikian ujar Pek-hoa-pangcu, "sudah lama hal ini ku timang2,
yang terang kita tak mungkin membangkang perintah Thay-siang,
sementara biarlah ia makan, obat ini ........"
"Tapi Toaci pil ini tiada obat penawarnya" seru Giok-lan. .
Pek-hoa-pangcu tertawa getir, katanya: "Sam-moay jangan lupa,
kitakan juga tak punya obat penawar getah beracun"
Giok-lan menjerit tertahan sambil membanting kaki.
"Tadi J i-moay, ada bilang padaku, katanya dia murid Hoan-jiu-jilay,
obat penawar itu juga buatan gurunya, bilamana dapat
menawar getah beracun, sudah tentu juga dapat memunahkan
racun dari Bi-sin-hiang-wan ini." Bercahaya mata Giok-lan.
"oleh karena itu, maksudku biar sementara dia telan pil ini,
setelah persoalan lewat, belumterlambat kita berusaha lagi pelan2."
Berkedip2 mata Giok-lan, katanya sambil keplok tangan: "Kiranya
Toaci sudah punya perhitungan-”
“Tapi hal ini harus kurundingkan dulu dengan kau baru berani
kuambil putusan"
"Apa yang Toaci pikir memang tidak salah."
"Kalau perintah sudah kita terima dari Thay-siang, tak boleh tidak
dilaksanakan, biarlah persoalan ini berlalu sampai besok pagi,
untung kadar racun Bi-sin-hiang wan ini bekerja lambat dan lunak.
kecuali tunduk dan patuh lahir batin, setia terhadap junjungan, tiada
pengaruh sampingan terhadap kesehatan urat syaratnya, besok
akan kita pikirkan lagi tindakan selanjutnya."
"Sam-moay, kau memang dapat menyelami pikiranku, sungguh
mengharukan."
"Toaci, jangan kau berkata demikian, sesama saudara sendiri
pakai terima kasih segala? cuma kuharap ...... "
"Sam-moay," ucap Pek-hoa-pangcu dengan lembut, "kau tak
usah kuatir, apa yang dapat kumiliki berarti menjadi milikmu juga ."
Seketika merah jengah selembar muka Giok-lan, suaranya lirih
sambil menunduk: "Ah, Toaci."
"Sam-moay, hal ini tak usah diragukan lagi, Waktu amat
mendesak, lekaslah kau kerjakan."
Giok-lan mengiakan, setelah memberi hormat terus berlari keluar.
Tapi dikala dia melangkah keluar pintu tiba2 dia berhenti dan
bersuara heran dan kaget.
Sudah tentu Pek-hoa-pangcu mendengar seruan kaget ini,
seketika mencelos hatinya, lekas dia memburu maju, tanyanya:
"Sam-moay ....." begitu dekat dan mata melihat, seketika wajahnya
berubah, teriaknya "Bak-ni, kenapa kau? "
Ternyata si melati yang ditugaskan jaga di luar pintu entah
mengapa badan tampak lunglai bersandar dinding dengan mata
terpejam, lagaknya seperti orang t idur pulas. Waktu itu hari baru
saja gelap. belum saatnya tidur, meski capai dan mengantuk juga
tak mungkin tidur sambil bersandar begitu.
Giok lan sudah coba meraba dan mengurut beberapa Hiat-to
ditubuhnya, tapi Bak-ni tetap tidur pulas, ia jadi heran, katanya:
"Kelihatannya bukan tertutuk Hiat-tonya."
Pek-hoa pangcu mendekatinya ia membalik kelopak mata si
melati dan diperiksa kanan-kiri, ia meraba tangan kiri Bak-ni,
memeriksa nadinya, lalu katanya: "Darah berjalan normal, napas
teratur, memang bukan tertutuk Hiat-tonya, kelihatan memang
mirip tidur nyenyak. "Sembari bicara kedua tangannya menepuk pipi
si melati seraya memanggil: "Bak-ni, hayo bangun "
Kepala Bak-ni tetap lemas lunglai, tetap tidak memberi reaksi.
Tiba2 tergerak hati Giok-lan, lekas dia lari balik ke kamar dan
mengambil secangkir air teh dingin terus diguyurkan ke muka Bakni.
Bak-ni tampak gelagapan, badannya bergetar serta membuka
mata. Giok-lan menggeram, katanya gemas: "Kiranya terbius oleh
obat wangi musuh,”
“Bagaimana perasaanmu? Adakah kau melihat siapa dia? " tanya
Pek-hoa-pangcu.
Bak-ni terbeliak. sahutnya: "Tiada kulihat apa2, sejak tadi aku
berdiri di sini, cuma, tiba2 kurasa mengantuk. tahu2 jadi begini.”
“Lekas kau periksa keluar," suruh Giok-lan "Apakah Sui-hiang dan
Jiang-hwi juga kecundang? " Kedua orang yang disebut malam ini
bertugas jaga dipintu besar bagian luar, Bak-ni mengiakan,
bergegas dia lari keluar. Bertaut alis Pek-hoa-pangcu, katanya:
"Sam-moay, mungkin tidak ... ."
"Kukira bukan Ji-ci," tukas Giok-lan, "dia sudah pergi sejak tadi,
tak mungkin dia bisa menggunakan obat bius segala" Setelah
menepekur lalu menambahkan: "Lalu siapa orangnya yang bisa
menggunakan obat bius ini, bahwa dia beroperasi di Ing-jun-koan
ini pasti bermaksud tujuan tertentu, jadi jelas dia bukan anggota
Pang kita."
Tampak Bak-ni melangkah masuk, Swi-hiang dan Jiang-hwi ikut
di belakangnya. .
"Swi-hiang," tanya Giok lan, "malam ini kau berdua yang tugas
dipintu luar, adakah melihat orang masuk kemari? "
"Lapor congkoan," seru Swi-hiang., "kecuali engkau, tiada orang
kedua yang masuk kemari."
Rada berubah air muka Giok-lan, katanya sambil mengulap
tangan: "Baiklah, kalian boleh pergi, tiada urusan kalian di sini."
Swi-hiang berdua memberi hormat dan mengundurkan diri.
"Toaci," ucap Giok-lan sambil mengawasi Pek-hoa-pangcu,
"kuduga orang itu masuk dari jendela belakang, agaknya dia sudah
apal seluk-beluk keluarga "bunga" kita ...."
Pek-hoa-pangcu manggut2, katanya: "Sam-moay, lekaslah kau
pergi, jangan menunda urusan, kejadian di sini akan kusuruh orang
menyelidiki." Giok-lan mengiakan terus mohon diri.
o0dw0o
Hari kedua pagi2 benar, mentari baru raja menongol. Di tengah
pekarangan luas di depan pendopo keluarga Hoa (bunga) sudah
berkumpul sekian banyak kembang2 nan molek. Memang tidak
berkelebihan kalau gadis2 cant ik dan ayu itu diibaratkan kembang
yang molek dan mekar, karena mereka semua adalah anggota Pekhoa-
pang, gadis2 belia jelita, pakaiannya berwarna-warni, pakaian
ketat dan memanggul senjata, dandanannya ringkas tapi juga
sederhana, di sanggul mereka masing2 terselip sekuntum bunga
yang beraneka warna dan berbeda pula jenisnya untuk
membedakan nama dan julukan mereka.
Umumnya di mana berkumpul sekian banyak gadis belia dan
cantik2, ada berbisik, tapi ratusan gadis2 berpakaian ringkas yang
berdiri teratur dipelataran ini semuanya berdiri tegak tanpa
bersuara. Maklumlah karena "apel" pagi hari ini akan langsung
dipimpin oleh junjungan besar mereka. Thay-siang-pangcu simbol
junjungan mereka yang termulia dan agung bagai dewata, hanya
dapat dipandang tak boleh disentuh. Bahwa Thay-siang sendiri yang
akan pimpin pertemuan besar ini, betapa besar arti dan khidmat
pertemuan ini, memangnya siapa pula yang berani ribut, berkelakar
atau bisik,?
Pandangan semua hadirin lurus kedepan, di atas undakan batu
yang tinggi di depan ruang pendopo sana ditaruh sebuah kursi
kebesaran yang berlapis kain sutera mengkilap. itulah tempat duduk
Thay-siang. Di kedua siai kursi kebesaran ini masing2 ditaruh pula
dua kursi yang sama bentuknya, cuma lebih kecil dan dilapisi sutera
warna lain, itulah tempat duduk untuk Pangcu dan Hu-pangcu. Tapi
di sebelah kursi kiri itu ditaruh pula sebuah kursi yang sama.
Perhatian hadirin justeru tertuju pada kursi ketiga di sebelah pinggir
ini, timbul herbagai pertanyaan dalam benak mereka, diperuntukan
siapakah kursi yang satu ini?
Selain Pangcu dan Hu-pangcu, jabatan congkoan memang cukup
tinggi didalam Pek-hoa-pang, tapi dihadapan Thay-siang, dia masih
belum setimpal duduk berjajar di antara deretan kursi itu. Malahan
didalam rapat besar yang langsung dipimpin Pangcu sendiri
congkoanpun hanya boleh berdiri di samping kursinya.
Tak lama kemudian, dari kanan-kiri pintu beriring keluar
serombongan orang. Kedua rombongan ini dipimpin dua orang laki2
tua berjubah biru. di belakangnya berbaris laki2 muda berseragam
hijau pupus, jumlahnya ada 32 orang, dengan derap langkah rapi,
teratur mereka berjajar dan berdiri di sebelah kiri undakan. Mereka
inilah Hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang yang berjumlah 36 orang
itu, dua diangkat sebagai pimpinan mereka. Seperti diketahui, dua
orang Hou-hoat-su-cia telah dibunuh oleh So-yok dengan alasan
lalai menjalankan tugas sehingga jumlahnya sekarang tinggal 34 . . .
Waktu berlalu tanpa terasa, sementara itu sudah menjelang
tengah hari. Terdengar tiga kali bunyi lonceng dari dalampendopo.
Semua hadirin seketika berdiri tegak dan khidmat, begini banyak
hadirin di tengah iapangan ini, tapi suasana begitu sunyi, napas
merekapun tertahan.
Dari serambi kiri di mana terdapat pintu bundar, dibawah iringan
Congkoan Giok-lan beranjak keluar seorang pemuda berjubah
panjang warna biru. Usia pemuda ini baru likuran tahun, kulit
mukanya putih cakap, bibirnya merah, matanya terang bercahaya,
di tengah pancaran sinar matahari pagi tampak gagah dan
berwibawa.
Sudah tentu munculnya pemuda ini menarik perhatian seluruh
hadirin, terutama para anggota Pek-hoa-pang, semuanya masih
muda belia, tiada sepasang mata mereka yang terkesip mengawasi
pemuda ganteng ini. Tapi 34 Hou-boat-su-cia itupun tak kalah tajam
pandangannya mengawasi pemuda yang satu ini. cuma sorot mata
mereka memancarkan perasaan lain, disamping kaget heran,
merekapun merasa iri dan cemburu.
Semua orang sudah dengar bahwa Pang mereka kedatangan
tamu agung, katanya seorang pemuda she Ling yang berwajah
tampan kabarnya pemuda inilah yang berhasil membuat obat
penawar getah beracun itu. Sebagai tamu terhormat adalah
selayaknya kalau dia mendapat tempat duduk di bawah kursi
Pangcu mereka.
Tapi Hou-boat-su-cia itu tiada yang tahu siapakah pemuda
berjubah biru ini? Sebetulnya mereka terdiri dari orang2 yang cukup
luas pengalaman dan punya nama di kalangan Kangouw, tunas2
muda dari berbagai aliran yang berkepandaian tinggi, tapi belum
pernah mereka lihat atau dengar adanya pemuda seperti yang ada
dihadapan mereka, sudah tentu mereka merasa kaget dan
keheranan.
Kaget dan heran karena Giok-lan atau si Cong-koan sendiri yang
mengiringi pemuda tampan ini malah sikapnya tampak ramah dan
hormat, orang dipersilakan duduk di kursi ketiga yang disediakan-
Hadirin juga tahu bahwa Thay-siang pendiri Pek-hoa-pang yang
mereka agungkan adalah tokoh kosen yang punya kedudukan tinggi
dan disanyung hormat di Bu-lim, padahal kedua pemimpin Hou-hoat
itu juga sudah beken di kalangan Kangouw, termasuk orang kosen
kelas satu dalam dunia persilatan, tapi mereka toh cukup berdiri di
bawah undakan saja.
Memangnya siapa dan bagaimana asal-usul pemuda yang
mendapatkan kedudukan yang tinggi dan terhormat di dalam Pekhoa-
pang.
Tamu terhormat Ling Kun-gi telah berduduk, Cong koan Giok-lan
segera mengundurkan diri berdiri ke sebelah kanan.
Menyusul empat perempuan berpakaian dayang terbagi menjadi
dua pasangan berpakaian serba kuning beranjak keluar dari
pendopo, dua orang di depan masing2 memeluk sebatang mistar
dari batu jade warna hijau, dua orang di belakangnya, seorang
memegang kebutan bergagang batu jade warna putih, seorang lagi
membawa pedang kuno yang gagang dihiasi tujuh butir mutiara
warna-warni, sesampai di belakang kursi kebesaran ditengah itu,
keempat dayang ini lantas berdiri berjajar.
Melihat keempat dayang ini, hadirin lantas tahu sebentar Thaysiang
pasti akan keluar, maka para hadirin sama tahan napas
menatap ke depan, tapi sikap mereka tetap tegak dan hormat.
Demikian Ling Kun-gi yang duduk di kursi tamu juga pelan2 berdiri.
Sementara itu dari pintu pendopo yang besar itu muncul pula tiga
orang.
Yang di tengah mengenakan gaun panjang warna hitam,
kepalanya berbalut kain sari, bagian depannya menjuntai turun
menjadi cadar muka, itulah nyonya tua dan bukan lain Thay-siang
adanya. Pek-hoa-pangcu disebelah kiri, Hu-pangcu So-yok berada
disebelah kanan, mereka membimbing Thay-siang berjalan keluar
pelan2.
Hari ini Pek-hoa-pangcu mengenakan pakaian warna kuning
seperti bulu angsa, di depan dadanya bersulam sekuntum kembang
Bok-tan sebesar mangkuk berwarna merah dadu bergaris benang
emas.
Sedang So-yok juga mengenakan model pakaian yang sama
cuma warnanya merah delima, bagian depan dadanya juga disulam
sekuntum bunga warua kuning yang sedang mekar, pinggangnya
ramping gemulai.
Mereka bimbing Thay-siang menuju ke kursi tengah, lalu masing2
mundur menempati kursi yang telah disediakan untuk mereka.
Kedua laki2 tua jubah biru segera pimpin ke 32 Hou-hoat-su-cia
membungkuk seraya berseru: “Hamba co houhoat (pelindang kiri
agama) Leng Tio-cong. Yu houhoat (pelindang kanan agama) coa-
Liang bersama seluruh Hou-hoat-su-cia menyampaikan sembah
sujud kepada Thay-siang."
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-panas-guru-montok-pendekar-kidal.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Panas Guru Montok : Pendekar Kidal 2 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-panas-guru-montok-pendekar-kidal.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

hendri prastio mengatakan...

artikelnya bagus sekali sob,,menambah pengetahuan dan wawasan.. terima kasih banyak atas sharenya..semoga selalu menciptakan karya" terbaiknya,,,dan ditunggu UPDATEan terbarunya sob,,,pokoknya mantap deh! keren buat blog ente ! dan saya mohon dukungannya sob buat lomba kontes SEO berikut:
Ekiosku.com Jual Beli Online Aman Menyenangkan
Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia
terima kasih atas dukungannya sob,, saya doakan semoga ente selalu mendapatkan kebaikan,, dan terus sukses!! amin hehe sekali lagi terima kasih banyak ya sob...thaks you verry much...

Poskan Komentar