Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong]

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 03 Agustus 2012

Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong]--Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong]


BLOON CARI JODOH
PENDEKAR HURU HARA
SD. LIONG
Jilid 1
CELOTEH BLOON
Wah, maaf beribu maaf, pembaca yang budiman.
Karena baru sekarang saya dapat nongol lagi. Tidak
jemu kan melihat tampang saya?
Kali ini oleh Bp. S D. Liong saya diberi peran lain
dari yang lain. Keblo'onan saya dikurangi sedikit dan
disuruh jadi pendekar. Katanya, supaya lekas dapat
jodoh, uh . . . .
Tetapi jodoh itu gampang2 sukar. Makin di cari
makin lari, makin dikejar makin bubar. Jodoh
ditangan Tuhan. Tetapi eh, mungkin pembaca
berminat memilihkan gadis yang cocok buat saya.
Silahkan tulis surat kepada bapak Liong supaya
mengadakan sayembara lagi. Okey?
Terima kasih atas perhatian dan kecintaan
pembaca yang telah berkenan mencari pencuri jenasah
ayah saya dan pembunuh ketua Hoa-san-pay. Silakan
baca pengumuman di hal belakang.
Sekian dulu ya, dan ....
Selamat tahun baru 1980.
B L O ' O N.
I.
Benci tapi rindu.
Kawanan burung gagak yang berkaok-kaok terbang
melalang di udara makin menambah keseraman pada jalan
yang membelah hutan sebuah pegunungan, di wilayah
Holam.
Hari menjelang petang dan jalan sunyi senyap. Satusatunya
manusia yang berada di jalan itu hanya seorang
pemuda yang mengendarai seekor kuda putih.
Dandanannya seperti seorang sasterawan, wajahnya cakap
sekali sehingga lebih tepat kalau dikata cantik. Usianya
sekitar 18 tahun.
Rupanya dia merasa bising juga mendengar suara burung
gagak yang menyengat telinga itu. Ia mengeluarkan sebuah
benda sebesar kelengkeng lalu diayunkan kearah burung itu.
Gaok . . . gaok . . .
Dua ekor gagak melayang jatuh ke tanah. Tetapi bukan
merasa gembira, kebalikannya pemuda sasterawan itu
menghela napas.
"Ah, masih jauh terpautnya. Sekali lontar suhu dapat
merubuhkan lima ekor burung, sedang aku hanya dua
ekor," gumamnya seorang diri. Diam2 ia berjanji akan lebih
giat berlatih ilmu melontar Hui-hong-ciok (batu terbang),
agar dapat mencapai tataran seperti suhunya.
Melihat dua orang kawannya jatuh, kawanan gagak itu
terbang pergi tetapi beberapa saat kemudian mereka datang
lagi dan berkaok-kaok riuh sekali.
"Setan alas," desuh pemuda itu seraya terus hendak
menjemput hui-hong-ciok lagi. Tetapi pada lain saat dia
teringat bahwa gagak itu burung pemakan bangkai.
Kemudian disusul pula dengan penimangan, tak mungkin
kawanan gagak akan terbang berkerumun apabila di tempat
itu tiada terdapat bangkai hewan maupun manusia.
Serentak dia teringat akan suasana negara dewasa itu.
Kotaraja Pakkia sudah jatuh ke tangan tentara Ceng.
Baginda Cong Ceng bunuh diri, putera mahkotanya lenyap
dan pemerintah kerajaan Beng hijrah ke daerah selatan,
kota Lam-kia. Pemberontakan timbul dimana-mana.
Perampok, perusuh dan pengacau berpesta pora diatas ratap
tangis rakyat yang sengsara.
"Raja Ceng harus bertanggung jawab atas kesengsaraan
rakyat ini. Aku bersumpah untuk membunuh setiap prajurit
Ceng, perampok, pengacau yang membuat rakyat
sengsara," katanya dalam hati, "dan juga dia, manusia
blo'on, yang telah membuat aku sengsara begini rupa."
Tiba2 ia terkejut menyaksikan seekor gagak terkena
sebatang panah dan meluncur jatuh kebawah, "Eh, rupanya
ada orang yang sedang bertempur. Kemungkinan besar,
kawanan perampok sedang mengganas." serentak ia
mencongklangkan kudanya menuju ke tempat kawanan
gagak beterbangan.
Beberapa saat kemudian dia dapat mendengar suara
gemerincing senjata beradu. Dia makin mempesatkan lari
kudanya. Tiba di tepi hutan, ia terkejut menyaksikan suatu
pemandangan yang mengerikan. Sebuah kereta rubuh ditepi
jalan, beberapa sosok mayat terkapar malang melintang di
tengah jalan dan dua orang lelaki tengah menyeret seorang
gadis. Gadis itu meronta dan menjerit-jerit minta tolong.
Sedang tiga lelaki tengah membuka beberapa peti.
Seketika meluaplah amarah pemuda sasterawan. Ia tahu
apa yang terjadi. Jelas kelima lelaki itu bangsa penyamun
yang tengah merampok harta benda dan gadis.
"Lepaskan, bangsat!" sambil terjangkan kuda kemuka
tangannyapun berayun.
"Aduh .. . aduh . . . , " terdengar kedua lelaki yang
tengah menyeret gadis itu menjerit keras. Yang seorang
rubuh dan yang satu terhuyung-huyung ke belakang sambil
mendekap bahu kirinya.
Selekas tiba, pemuda sasterawan itu terus menyambar
tubuh si gadis dan dinaikkan keatas kudanya, “Jangan
takut, nona. Peganglah kendali erat2," bisik pemuda itu.
"Putih, bawalah nona itu ketempat yang aman," serunya
pula lalu ayunkan tubuh berjungkir balik ke belakang.
Tring, ia membabat sebatang panah dengan pedangnya.
Ternyata waktu melihat kedua kawannya terluka, salah
seorang dari tiga lelaki yang tengah membongkar peti itu
terkejut dan cepat lepaskan senjata rahasia sebatang passer
kearah penunggang kuda putih itu. Namun pemuda itu
sudah dapat menduga lebih dulu. Begitu mendengar suara
kesiur angin yang tajam, dia terus buang tubuh ber
jumpalitan ke belakang dan tepat dapat menangkis passer
itu.
"Hm, kawanan perampok, engkau kira dunia sudah tak
ada undang-undang lagi, ya ?" selekas melayang turun ke
tanah, pemuda sasterawan itu segera membentak.
Lelaki yang melepas senjata passer tadi terus hendak
melangkah maju tetapi kawannya yang bartubuh pendek
cepat mencegah, "Toako, potong ayam tak perlu pakai
pisau pemotong kerbau. Biarlah aku yang
membereskannya."
Lelaki pendek itu bertubuh kekar. Muka bercambang
bauk, dada dan kedua tangannya penuh bulu. Muka lebar
tetapi mata, hidung dan mulut serba kecil, mirip kera.
"Hai, banci, rupanya engkau sudah bosan makan nasi, ya
?" seru lelaki pendek itu, "engkau tahu siapa aku ini ?"
"Kunyuk jelek !"
Lelaki pendek itu membelalak tetapi pada lain kilas dia
tertawa, "Ha, ha, ha, muka dan tingkah lakumu, benar2
seperti seorang gadis cantik. Sekalipun engkau seorang
pemuda tetapi aku suka"
"Kunyuk tengik, kurobek mulutmu !" seru pemuda itu
dengan muka merah.
"Ha, ha, ha," kembali lelaki pendek itu tertawa,
"umumnya lelaki itu tentu beristeri wanita. Tetapi biar
orang mengatakan apa saja, asal secantik engkau biar lelaki
akupun senang memper-isterimu. Lebih baik lelaki cantik
daripada perempuan jelek bukan ?"
"Kunyuk bermulut busuk, lihat pedang !" tiba2 pemuda
itu taburkan pedangnya. Bermula berputar-putar bagaikan
kuntum bunga mekar, lalu sekonyong-konyong
berhamburan menabur kepala lelaki pendek itu.
"Uh," lelaki pendek itu mendesuh kejut. Dia bergeliatan
dengan gerak yang lincah sekali lalu tiba-tiba loncat mundur
beberapa langkah.
"Bagus, bagus," seru lelaki pendek itu, "ilmu pedangmu
sungguh hebat ! Kalau engkau mau menjadi isteriku, Siamsay-
ngo-sat akan bertambah seorang Giok-lo-sat."
"Persetan dengan Siam-say-ngo-sat!"
"Uh, engkau belum tahu siapa Siam-say-ngo-sat itu. Aku
berlima inilah Siam-say-ngo sat, lima momok dari wilayah
Siam-say yang termasyhur. Apa engkau tidak takut?"
"Pedangku tak pernah takut kepada segala macam
momok dan bangsa kurcaci!"
"Bagus, aku senang melihat sikapmu yang keras tak
kenal kompromi itu," seru si lelaki pendek, "siapa
namamu?"
"Supaya kalau mati engkau jangan menjadi setan
penasaran, tak apa, akan kuberitahu namaku. Aku bernama
Kui."
"Kui? Hanya satu kata? Ah, tetapi nama itu sungguh
tepat dengan orangnya. Kui artinya bunga kui-hoa yang
cantik. Atau Kui yang
berarti mahal, berharga
atau mulia."
"Ngaco!" bentak
pemuda sasterawan,
"aku seorang lelaki
masakan memakai nama
bunga seperti anak
perempuan."
“Lalu, kui apa?"
"Kui, setan."
"Kui setan?" lelaki
pendek itu terkejut,
"mengapa pakai nama '
kui ' setan?"
“Untuk mencekik
manusia2 sampah
masyarakat seperti engkau!"
"Siapa she-mu?"
"Aku she Wan-ong."
''Wan-ong Kui.”
"Ya, Wan-ong Kui si Setan Penasaran."
"Huh. Aneh. Pemuda setampan engkau mengapa
memakai nama yang begitu seram. Ikut aku saja, engkau
tentu takkan penasaran lagi."
“Jahanam . . . . "
"Tunggu," cepat lelaki pendek itu berseru ketika melihat
pemuda itu hendak bergerak menyerang lagi,
"Ilmupedangmu hebat sekali. Dari perguruan manakah
engkau dan apa nama ilmupedangmu itu ?"
"Perguruanku Hong-siang-bun. llmupedang-ku Pek-hoa
kiam. Jurus tadi Hoa-gui-hun-hiang."
"Hong-siang-bun ? Mengapa tak pernah terdengar nama
perguruan itu ? Apa artinya nama itu ?
"Perguruan Atas-angin."
"Uh," lelaki pendek mendesuh, "ilmupedang Peh-hoakiam
?"
"Seratus-bunga-bermekaran."
"Jurus Hoa-gui-hun-hiang?"
"Bunga-mekar-menabur-harum."
"Omong kosong!" teriak lelaki pendek, "dalam dunia
persilatan tak ada nama perguruan semacam Hong-siangbun
itu. Dan dalam ilmupedangpun tak ada jurus yang
disebut Bunga-mekar-menabur-harum. Hm, karena aku
suka kepadamu, engkau mendapat kelonggaran bicara.
Tetapi jangan terus menerus berolok-olok."
"Memang kutahu," sahut pemuda sasterawan dengan
centil, "ilmupedang itu tak mungkin diketahui oleh bangsa
kunyuk seperti engkau. Bagaimana rasanya jurus tadi, enak
kan ?"
"Apa maksudmu, pemuda banci!"
"O, apa engkau benar2 tak merasa, ha, ha, ha…….."
"Jangan bergurau ! Apa yang engkau maksudkan ?"
"Pulang dan berkatalah di cermin. Ih, kalau tak punya
cermin, carilah telaga dan berkatalah, ha, ha, ha . . . ."
"Sam-te, mengapa engkau begitu ………., “ tiba2 salah
seorang kawannya yang membuka peti tadi maju
menghampiri. Waktu melihat tampang lelaki pendek, ia
menegur tetapi tak dapat melanjutkan kata-katanya karena
mendekap mulut menahan gelak.
"Ji-ko, aku kenapa ?" lelaki pendek itu bertanya heran.
"Ah, apakah engkau tak merasa ?"
"Merasa apa?"
"Alismu itu . . . ."
Cepat lelaki pendek itu merabah alisnya dan seketika ia
merjingkrak kaget, "Keparat engkau banci, akan
kuremukkan tulangmu!" serunya seraya terus menerjang
pemuda sasterawan.
Ternyata alis sebelah kiri dari lelaki pendek itu telah
hilang karena tercukur kelimis oleh ujung pedang pemuda
sasterawan tadi.
"Bagus, kunjuk," seru pemuda sasterawan seraya
songsongkan pedangnya membabat bahu orang. Tetapi
lelaki pendek itu teramat gesit. Selekas endapkan tubuh ke
bawah, dia terus ulurkan tangan hendak meremas dada
pemuda sasterawan itu. Jurus itu disebut Heng-cia-cay-kuo
atau Raja-kera-memetik-buah.
"Bangsat engkau kunyuk !" teriak pemuda sasterawan itu
seraya loncat ke samping. Wajahnya tersipu-sipu karena
melihat kekurang ajaran lelaki pendek yang hendak
meremas buah dadanya.
"Ada ubi ada talas, ada budi tentu dibalas, pemuda
manis," lelaki pendek tertawa mengejek. Dia adalah jago
ketiga dari kawanan penjahat Siam-say yang menamakan
diri sebagai Siam-say-ngo-sat.
Siam-say-ngo-sat itu baru muncul setelah suasana negara
kacau karena diserang pasukan Ceng, Mereka terdiri dari
lima benggolan, yaitu Ma Sun gelar Thiat-pi-sin-kang
Lengan-besi-sakti, Hok Tiang Mo gelar Sin-ho-thiat-ci atau
Bangau-sakti-jari-besi, Ui Kiong gelar Kim-gan-sin-wan
atau Kera-sakti-bermata-emas, Lo Ti Seng gelar Tok-kakhou
atau Harimau-kaki-satu dan Gak Bun gelar Hui-hou-sat
atau si Rase-terbang.
Kera-sakti-bermata-emas yang bertanding dengan
pemuda sasterawan itu memiliki ilmusilat Kau-l.un
(ilmusilat jurus kera), yang cukup tinggi. Gerakannya gesit
sekali, tangannya usil dan berbahaya.
Memang apabila berhadapan dengan jago silat biasa,
Kera-sakti Ui Kiong tentu menang. Tetapi yang
dihadapinya saat itu seorang pemuda sasterawan yang
memiliki ilmupedang aneh.
"Rasakan sekarang," tiba2 pemuda itu gunakan jurus
Giok-li-san-hoa atau Bidadari-menabur-bunga, ketika ia
berhasil memancing lawan untuk menerkam dadanya.
Ui Kiong terkejut bukan kepalang ketika tiba2 pemuda
itu menghentikan tusukannya dan diganti dengan gerak
menabas yang cepat. Ui Kiong hendak menarik tangannya
tetapi sudah tak keburu. Pedang berkelebat dan menjeritlah
si Kera-sakti itu seraya mendekap tangan kanannya yang
kutung sebatas pergelangan tangan.
Kelima Siam-say-ngo-sat, sudah tiga orang yang terluka
dan rubuh. Harimau-kaki-satu Lo Ti Seng dan si Raseterbang
Gak Bun yang hendak menyeret gadis cantik tadi,
sudah terluka terkena sabitan senjata-rahasia hui-hong-giok
dari pemuda sasterawan. Lo Ti Seng patah tulang dadanya
dan pingsan. Gak Bun jalandarah Kian-ki-luat pada
bahunya terkena sehingga kaku tak dapat digerakkan. Kerasakti
Ui Kiong, pergelangan tangannya putus terbabat
pedang.
Kini tinggal jago kesatu si Lengan-besi Ma Sun dan jago
kedua Bangau-sakti Hong Tiang Mo. Kedua orang itu
bersama Kera-sakti Ui Kiong membongkar peti harta milik
gadis cantik tadi. Melihat Kera-sakti terluka, Ma Sun dan
Hong Tiong Mo serentak berhamburan menerjang pemuda
sasterawan. Mereka tahu bahwa pemuda itu memiliki
pedang pusaka dan ilmu pedang yang hebat maka mereka
pun menggunakan senjatanya juga.
Ma Sun menggunakan senjata golok yang aneh.
Ujungnya bengkok, tajam dan berat. Punggung golok
bergigi gergaji yang runcing. Sedang Hong Tiang Mo juga
tak kalah aneh senjatanya. Tombak pandak yang berbentuk
seperti kepala burung bangau, mempunyai paruh yang
runcing, tangkainya diberi alat pijatan. Begitu tombol kecil
itu dipijat maka paruh akan menjulur panjang mirip dengan
burung bangau yang sedang mematuk.
"Bayar jiwa ketiga suteku," Ma Sun menggerung seraya
menabas sekuat-kuatnya. Sementara Tiang Mopun
memperlengkapi dengan ayunkan senjata burung bangau
untuk mematuk kepala lawan.
"Bagus, kalian maju berbareng saja agar dapat
menghemat waktuku," seru pemuda sasterawan untuk
menutupi hatinya yang terkejut menyaksikan senjata aneh
dari kedua orang itu.
Rupanya dia masih belum banyak pengalam an dalam
pertempuran. Melihat sikapnya yang masih kikuk, diapun
agaknya baru pertama kali itu terjun keluar ke dunia
persilatan. Tetapi dia memiliki ilmupedang yang hebat dan
kekerasan hati. Dia benci kapada prajurit Ceng, perampok,
penjahat yang menindas rakyat. Dan diapun benci kepada
seseorang. Dia hendak menuntut balas kepada orang itu.
Itulah sebabnya maka ia giat sekali mempelajari
ilmupedang yang disebut Peh-hoa-kiam-hwat atau Seratusbunga-
bermekaran.
"Jika terhadap bangsa kurcaci semacam ini aku takut,
bagaimana aku dapat menuntut balas kepada orang yang
kubenci itu?" serentak ia membajakan semangatnya dan
menyambut serangan kedua lawannya dengan jurus Giok-lisan-
hoa atau Bidadari-menebar-bunga.
Tring, tring ....
"Hai, setan alas!" terdengar kedua orang itu menggembor
keras seraya serempak loncat mundur memeriksa
senjatanya. Dua gigi gergaji pada punggung golok Ma Sun
terpapas rompak. Lengan baju Bangau-sakti Hong Tiang
Mo terbabat tetapi senjatanya masih utuh. Kedua
benggolan Siam-say-ngo-sat itu terkejut bukan kepalang.
Selama ini belum pernah mereka menderita kekalahan
seperti itu. Apalagi mereka maju berdua.
Tetapi pemuda itu juga tak kalah kejutnya.
Ia rasakan tangannya linu sekali sehingga pedangnya
hampir lepas. Ia tahu bahwa kedua lawan, terutama Ma
San, bertenaga besar sekali.
"Ah, aku salah," gumamnya dalam hati, "guru
mengatakan bahwa ilmupedang Peh-hoa-kiam-hwat itu
mengutamakan kelincahan dan kecepatan. Jika tak perlu
tak boleh mengadu kekuatan dengan lawan."
Dalam pertempuran selanjutnya, dia taat akan pesan
gurunya. Tak mau ia mengadu kekerasan lagi.
Ma Sun dan Tiang Mo marah sekali. Mereka
melancarkan serangan dengan gencar dan dahsyat.
"Kena!" tiba2 Ma Sun membentak. Ia menahas leher
lawan, ketika lawan condongkan tubuh ke belakang, dia
terus menarik goloknya untuk mengait pedang lawan.
Memang ujung golok yang bengkok itu khusus untuk
menggaet senjata orang. Jarak yang begitu dekat, tak
mungkin gagal.
Pada saat itu Hong Tiang Hongpun sambarkan paruh
senjata burung bangau ke punggung si pemuda. Dengan
begitu, pemuda sasterawan itu terjepit bahaya dari dua
arah. Punggung dipatuk paruh senjata bangau, dari muka
pedangnya akan digaet golok bengkok Ma Sun.
Tetapi pemuda itu tak gentar. Dia melakukan jurus Hekhcmg-
jay-bi atau Kumbang-hitam-menghisap-madu, ia
songsongkan tubuh kemuka untuk membelah tangan orang.
Sebelum golok bengkok sempat menggaet, tangan Ma Sun
sudah terbelah.
"Aduh......" Ma Sun menjerit, lepaskan golok dan loncat
mundur lalu melarikan diri.
"Ih," tetapi pemuda sasterawan itu juga mendesis kaget
karena bahunya tersentuh benda dingin.
Ternyata karena pemuda itu condongkan tubuh kemuka,
paruh tajam dari senjata-bangau Hong Tiang Mo tak dapat
mengenai. Tetapi Hong Tiang Mo memijat tombol pada
tangkai senjatanya. Paruh baja itu tiba2 menjulur panjang
kemuka dan menusuk punggung lawan. Untung pemuda
sasterawan itu cepat menguar tubuh hingga hanya bahu
baju dan kulitnya yang keserempet pecah. Sekalipun
demikian cukup perih juga dan lengan bajunya yang
putihpun merah dengan darah.
Pemuda itu marah sekali. Selekas berputar tubuh dia
terus taburkan pedangnya.
"Aduh....," terdengar Bangau-sakti Hong Tiang Mo
menjerit keras ketika dadanya tertembus pedang lawan. Ia
terjungkal rubuh dan putus jiwanya.
Melihat Hong Tiang Mo terkepar mandi darah, ngeri
juga pemuda itu. Ia marah sekali atas kelicikan Hong Tiang
Mo yang menyerangnya dari belakang dengan senjata
rahasia.
Setelah menenangkan diri, ia memandang ke sekeliling.
Ternyata kawanan penjahat itu sudah tak tampak batang
hidungnya lagi. Waktu dia sedang bertempur dengan Ma
Sun den Hong Tiang Mo, Kera-sakti Ui Kiong, Harimaukaki-
satu Lo Seng Ti dan Rase-terbang Gak Bun ngacir
pergi.
"Ah," pemuda itu menghela napas. Ia beristirahat dulu
dibawah sebatang pohon. Ia termenung-menung, "ah, suhu
memang benar. Dunia persilatan memang penuh dengan
manusia licik. Pengalaman dalam pertempuran itu amat
berguna sekali. Karena dengan pengalaman itu kita dapat
menyempurnakan ilmu kepandaian kita."
Tiba2 ia teringat akan kudanya, si Putih. Serentak ia
bersuit nyaring. Tak lama terdengar derap kuda lari
menghampiri. Kuda bulu putih yang diberi nama si Putih,
muncul dengan masih membawa gadis tadi. Kuda itu
berhenti dihadapan pemuda sasterawan.
"Turunkan nona itu," seru si pemuda. Seperti tahu
bahasa manusia, kuda putih itu segera berjongkok kebawah
dan menurunkan nona itu.
Selekas turun nona itu terus berlutut dihadapan pemuda
sasterawan, "Terima kasih in-kong. In-kong telah menolong
jiwaku."
"Ah, janganlah nona bersikap demikian," pemuda itu
meminta supaya si nona berdiri, "sudah adat hidup kalau
tolong menolong . . . . "
"In-kong, mengapa engkau…..,” gadis itu terkejut karena
melihat pemuda sasterawan itu pejamkan mata dan tiba2
terkulai bersandar pada batang pohon. Mukanya pucat lesi.
Gadis itu makin terkejut. Ternyata pemuda sasterawan
itu pingsan. Dan lebih terkejut ketika ia melihat bahu baju
pemuda itu berlumuran darah.
"Ah, dia terluka," kata gadis itu. Sebenarnya menurut
adat istiadat waktu itu, pergaulan lelaki dan wanita
terutama jejaka dan gadis, masih terbatas sekali. Tetapi
gadis itu tak mau menghiraukan soal tata-istiadat lagi.
Pemuda itu telah menolong jiwanya, diapun harus balas
menolongnya. Ia memeriksa noda darah yang membasahi
bahu lengan si pemuda. Ternyata warnanya hitam.
"Hm, dia terkena senjata beracun. Aku harus Iekas2
menolongnya, tetapi .... , " tiba2 ia tertegun. Mukanyapun
merah jengah, “haruskah aku melakukan hal itu?"
"Ah, biarlah orang mengatakan aku ini bagaimana, tetapi
aku harus membalas budinya," akhirnya gadis itu
mengambil keputusan. Cepat dia mengeluarkan sebuah
kotak yang berisi lima butir pil. Disusupkannya sebutir pil
kedalam mulut si pemuda. Kemudian ia mengambil arak
untuk mencuci luka si pemuda lalu dilumuri bubuk obat
dan dibalut dengan kain yang dirobek dari lengan bajunya
sendiri.
Sampai beberapa saat ia duduk dihadapai pemuda itu
untuk menunggu perkembangannya. Dalam mencurahkan
perhatian itu mau tak mau matapun melihat dan timbullah
kesan dalam pikirannya, "Ah, sungguh seorang pemuda
yang cakap sekali sehingga mirip dengan gadis cantik,"
pikirnya.
Duduk termenung di tempat pegunungan yang, sunyi di
awal malam, memang cepat menimbulkan lamunan. Sekali
melamun, gadis itupun terhanyut dalam lamunan lebih
lanjut, "Ah, apakah putera dari paman Kim Thian Cong
yang bernama Blo’on itu juga secakap ini ? O; Tuhan,
semoga Blo'on itu juga pemuda yang cakap dan berbudi
seperti pemuda ini....."
"Ah, itu sudah ditetapkan oleh orang tua. Cakap atau
tidak cakap, suka atau tidak suka, aku ini sudah calon
isterinya. Aku harus menerima apa pun kenyataannya . . . ."
"Uh ……..,” tiba2 pemuda sasterawan itu mendesuh.
"In-kong, engkau sudah siuman ?” seru gadis itu kejut2
girang melihat pemuda itu mulai bergeliat dan membuka
mata.
"In-kong, oh Tuhan, syukurlah engkau sembuh..."
kembali gadis itu gembira. In-kong artinya tuan penolong.
Pemuda itu masih terlongong-longong. Tiba-tiba ia
rasakan bahunya dibalut, "O, apakah ini?"
"Lukamu berdarah terpaksa kuberi obat dan kubalut,"
kata gadis itu dengan wajah cerah.
Pemuda sasterawan itu kerutkan dahi, tiba2 ia melonjak
bangun dan membentak, "Mengapa engkau berani lancang
menyentuh tubuhku ?"
Sudah tentu gadis itu terkejut sekali, "In-kong, lukamu
itu beracun, terpaksa kucuci dengan arak lalu kubalut.... "
"Engkau lancang sekali !" bentak pemuda itu dengan
marah, "siapa suruh engkau mengobati lukaku ?”
"O, In-kong, maafkan kesalahanku ....," gadis itu terus
berlutut dan hendak mencium kaki si pemuda. Tetapi
pemuda itu loncat mundur dan menudingnya, "Pergi !
Jangan menyentuh aku !"
Gadis itu heran dan ketakutan. Airmatanya pun berderaiderai
membasahi kedua pipi, "In kong, aku .... aku tak
bermasud apa? .. . kecuali hendak menolong engkau …"
"Aku tak perlu pertolonganmu !"
"Ah, In-kong, engkau telah menolong jiwaku maka aku
pun wajib membalas budimu .,.. "
"Aku tak mengharap balas dari engkau!”
Gadis itu makin tersipu-sipu menahan air matanya, "Inkong
telah menolong jiwaku, apapun yang In-kong
perintahkan pasti akan kulakukan."
"Pergilah !"
Airmata gadis itu makin membanjir, “Baik, jika in-kong
menghendaki begitu, aku akan pergi. Tetapi sebelumnya
aku mohon bertanya. Mengapa in-kong menolong aku ?
Dan mengapa pula in-kong marah kepadaku ? Kurasa, lebih
baik kalau tadi in-kong tidak menolongku."
"Aku tidak bermaksud menolongmu. Aku hanya
melaksanakan sumpahku untuk membunuh setiap
perampok dan penjahat yang mengganggu rakyat."
"Itu berarti in-kong menolong rakyat dan akupun juga
seorang rakyat."
"Hm, yang penting aku bertujuan membasmi perampok
dan penjahat."
"Baiklah," kata gadis itu sembari memesut airmatanya.
"sebenarnya tanpa pertolongan in-kong, akupun sanggup
menjaga diri. Tak mungkin penjahat itu dapat
mencemarkan kesucianku karena aku sudah bertekad lebih
baik bunuh diri daripada ternoda."
Pemuda itu tertegun.
"Tolong jawab pertanyaanku yang kedua tadi. Mengapa
in-kong marah kepadaku ?"
"Siapa suruh engkau memegang tubuhku ?"
"Aku hanya mengobati luka in-kong."
“Itu pantangan besar. Aku tak mau disentuh wanita.”
"O, aku tak tahu, maafkan kelantanganku tadi.
Betapapun engkau telah menolong jiwaku dan aku tetap
berterima kasih kepadamu. Mudah-mudahan kelak aku
dapat membalas budimu. Andaikata aku tak mampu, aku
tetap akan berdoa semoga Tuhan selalu melindungimu.
Selamat tinggal ......" gadis itu terus ayunkan langkah.
Pemuda sasterawan itu tertegun. Sesaat ia tak tahu apa
yang akan dilakukan. Pikirannya masih membayangkan,
bagaimana waktu dia pingsan, gadis itu telah mengobati
lukanya. Dalam mengobati, tentulah gadis itu telah
membuka bajunya, paling tidak tentu menyingsing lengan
bajunya yang luka itu — Ih — membayangkan hal itu
merahlah mukanya.
Tiba2 matanya tertumbuk pada sebuah pemandangan
yang mengejutkan. Tak jauh dari mayat Bangau-sakti Hong
Tiang Mo, terdapat senjatanya yang berbentuk seperti
kepala bangau. Senjata itu menggeletak di tanah tetapi
anehnya, rumput dan tanaman kecil2 yang berada sekeliling
setengah meter, layu semua. Diluar itu rumput dan
tanaman2 masih tetap segar.
Pemuda itu terkejut dan segera menyadari bahwa senjata
Tiang Mo itu mengandung racun yang hebat. Dan serentak
diapun teringat akan lukanya. Apabila rumputpun layu,
tidakkah dia juga akan binasa ? Segera ia tahu apa sebab dia
pingsan. Tetapi segera pula ia terkejut, "Mengapa aku bisa
sembuh ?"
"Tunggu dulu, nona," cepat ia berseru kepada gadis yang
sudah berada sepuluhan tombak jauhnya. Ia lari
menghampiri dan gadis itupun berhenti.
"Selain membalut lukaku, apa saja yang engkau lakukan
tadi ?" tegurnya.
"Kuberimu minum sebutir pil."
"Pil ? Pil apa ?"
"Swat-lian-seng-tan atau pil Teratai-salju yang berkhasiat
tinggi untuk memunahkan segala macam racun."
"Dari mana engkau memperoleh pil itu ?"
"Pemberian ayahku."
"Siapa ayahmu ? "
"Maaf, ayah melarang aku memberitahukan! namanya
kepada siapapun juga."
"O .. . "
"Masih ada lain pertanyaan ?"
Pemuda sasterawan itu gelengkan kepala dan gadis
itupun terus lanjutkan langkahnya.
"Tunggu," kembali pemuda itu berseru seraya
menghampiri.
"O, apakah masih ada pertanyaan lagi ?"
"Tiga peti milik nona itu," kata si pemuda itu," tentu
berisi harta permata. Mengapa nona hendak meninggalkan
begitu saja ?"
Gadis cantik itu tertawa sendu, "Jiwa dan harta hanyalah
barang pinjaman. Sedang jiwaku saja belum tahu
bagaimana jadinya nanti, mengapa aku harus mengurusi
harta benda?"
"Tetapi tidakkah peti itu akan diambil orang?"
"Terserah," jawab nona cantik itu dengan tak acuh,
"harta itulah yang mencelakai aku. Karena tahu aku
membawa harta maka perampok itu lalu menghadang dan
membunuh orang-orangku. Tanpa harta, aku lebih aman."
"Ah, siapa bilang? Nona seorang gadis cantik, berbahaya
berjalan seorang diri."
"Bukankah sudah kukatakan. Aku sudah bersedia mati
daripada ternoda?"
"Nona tidak boleh begitu. Paling tidak nona harus
membawa bekal untuk perjalanan."
"Jangan terlalu memandang harta sebagai yang paling
berkuasa. Lihat, sedangkan raja Beng yang berkuasa dan
kaya raya, toh juga hancur berantakan karena diserang
musuh, apalagi diriku seorang rakyat kecil."
Pemuda itu tertegun mendengar si nona mengatakan
tentang nasib kerajaan Beng.
"Apakah masih ada pertanyaan lagi?" tanya si nona
tetapi pemuda itu masih terlongong-longong seperti
kehilangan sesuatu.
Mengira kalau pemuda itu tak mengacuhkan, gadis
cantik itupun ayunkan langkah lagi.
Pemuda itu masih terngiang-ngiang akan kata2 gadis
tadi, "raja Beng yang berkuasa dan kaya raya toh akhirnya
juga hancur berantakan . . . . "
"Benar, nasib manusia memang sukar diduga. Dulu raja,
sekarang gelandangan. Dulu kaya sekarang papa . . . , "
bisiknya seorang diri dengan berlinang-linang airmata.
Sekonyoug-konyong ia terhenyak kaget ketika
mendengar suara aum harimau dan jerit seorang wanita.
Itulah gadis tadi, pikirnya. Dan cepat diapun lari menuju
kearah suara itu.
Hari itu belum terlalu gelap dan serentak pemuda itupun
segera melihat suatu pemandangan yang mengerikan.
Seekor harimau tengah menghampiri seorang gadis yang
menggeletak pingsan di tanah. Dan gadis itu tak lain adalah
si nona cantik tadi. Hanya selangkah lagi harimau itu tentu
sudah menerkam si gadis.
Pemuda itu serentak berseru, "Jangan mengganas,
binatang!" - seraya ayunkan sebuah hui-hong-ciok.
Harimau terkejut dan berpaling sehingga mukanya
selamat tetapi telinganya terhantam batu itu. Harimau
meraung kesakitan lalu menerjang pemuda sasterawan.
Ngeri rasanya melihat taring dan cakar harimau yang
sedang marah itu. Namun pemuda itu sudah tak sempat
lagi memikirkan segala rasa ketakutan. Serentak dia
taburkan dua buah hui-hong-ciok. Krak, krak, terdengar
letupan benda keras yang pecah. Sepasang biji mata
harimau itu pecah berhamburan dan meraunglah binatang
itu dengan dahsyatnya.
Sakit dan buta menyebabkan harimau itu kalap tak
keruan. Dia menerjang dan terus menerjang kemuka dan
akhirnya terpelanting jatuh ke dalam jurang, hancur lebur.
Pemuda itu pejamkan mata. Setelah bayang2 yang
mengerikan itu lenyap, barulah dia membuka mata dan
menghampiri ketempat si gadis yang masih pingsan.
Timbul rasa kasihannya terhadap gadis yang malang itu.
Segera ia mengangkatnya dan diletakkan dibawah pohon
lalu mengambil obat dan memasukkan sebutir pil ke mulut
si gadis. Agar dapat masuk, terpaksa pemuda itu meniup
dengan mulutnya. Kemudian ia mengurut-urut dada dan
tubuh gadis itu.
Adegan terulang. Kalau tadi si gadis yang mengobati dan
menunggu pemuda sasterawan. Sekarang pemuda itu yang
mengobati dan menunggui si gadis.
Tak berapa lama, gadis itu merintih dan ini buka mata.
"O, engkau sudah siuman, nona?" seru pemuda itu
gembira.
"Apakah kita berada di alam baka?" tiba si gadis itu
berkata.
Pemuda sasterawan tertawa, "Tidak, nona, kita masih
hidup,"
"O, tetapi bukankah harimau itu sudah menerkam aku?"
"Hampir tetapi aku keburu datang dan menghalaunya.
Engkau hanya pingsan."
Gadis itu tampak mengulum-ngulum bibir, serunya,
"Mengapa lidahku terasa manis dan harum?"
Pemuda itu tertawa pula, "Kuberimu minum sebutir pil
Cian-lian-jin-som yang berkhasiat menambah tenaga dan
semangat."
"Tetapi aku pingsan, bagaimana mungkin aku dapat
menelan?"
"Kutiup dengan mulutku lalu kuurut dadamu."
"Apa?" serentak gadis itu melonjak bangun dan
menuding, "engkau pemuda kurang ajar tak tahu adat!
Berani benar engkau berbuat sedemikian tak senonoh!"
"Tetapi aku bermaksud hendak menolongmu."
"Tidak! Siapa yang minta engkau menolong aku! Ayo,
pergilah!"
"Sabar nona,"
pemuda itu
membujuk, "demi
ingin menolong
jiwa nona, terpaksa
aku menggunakan
cara mulut meniup
ke mulut supaya pil
itu bisa masuk.
Maafkan aku."
"Tidak! Tidak
ada maaf-maafan!"
bentak gadis cantik
itu dengan wajah
merah padam,
"engkau pemuda
brandal berani
mengganggu isteri
orang, enyah!"
"O, maaf, nyonya .... "
"Ngaco belo!" bentak gadis cantik itu dengan muka
makin merah, "siapa yang engkau sebut nyonya?"
"Bukankah engkau mengatakan sudah bersuami?"
"Siapa bilang? Aku kan mengatakan sebagai isteri orang,
bukan bersuami?" gadis itu sengaja membalas kata2
pemuda itu tadi bahwa pemuda itu hanya bertujuan
memberantas perampok tetapi tidak bermaksud menolong
dia.
"Hai, apa beda menjadi isteri orang dengan sudah
bersuami?" pemuda sasterawan itu makin kerupukan.
"Namanya saja berbeda, masakan kenyataannya tidak
berbeda."
"Coba engkau terangkan!"
"Aku belum bersuami tetapi aku menjadi isteri orang,
karena sejak kecil aku sudah dijodohkan, mengerti?"
"O, engkau sudah ditunangkan. Kalau begitu engkau
harus mengatakan calon isteri orang."
"Calon atau tidak, itu sama. Adat kita, ditunangkan
artinya sudah menjadi isteri, hanya upacara pernikahannya
yang belum. Andaikata dia meninggal, akupun disebut
janda. Eh, mengapa engkau masih tak mau pergi?"
Pemuda itu menyeringai dalam hati. Bermula ia
mengira. kalau gadis itu sudah berobah haluan, tak tahu
kalau masih bersikap getas.
"Aku tak bermaksud apa2 kecuali hanya hendak
menolong engkau. Dan akupun tak tahu kalau engkau
sudah mempunyai tunangan, maafkan,'' habis berkata
pemuda itu terus ngeloyor pergi.
"Tunggu," tiba2 gadis itu berteriak.
"Eh, apakah engkau masih hendak bertanya lagi
kepadaku?"
"Engkau minta maaf tetapi aku belum menyatakan
menerima atau tidak, mengapa engkau terus pergi?"
"Uh, apakah orang minta maaf harus tunggu jawaban?"
"Tentu," sahut si gsdis, "kalau orang sudah menjawab
menerima baru itu sah. Tetapi kalau belum menjawab, itu
belum sah."
"Uh," pemuda itu mendesuh, "lalu apakah engkau mau
memberi maaf kepadaku?"
"Itu terserah kepadamu sendiri."
"Eh, apa maksudmu?"
"Tadi waktu engkau pingsan, aku juga menolongmu
tanpa bermaksud apa?. Tetapi engkau marah2 dan
mengusirku . . . . "
"Karena engkau menyentuh tubuhku."
"Mengapa engkau juga berani memegang tubuhku
bahkan berani menyusupkan pil dengan . . . . " merahlah
muka gadis itu.
"Aku tak tahu kalau engkau sudah ada yang punya."
"Aku juga tak tahu kalau engkau mempunyai pantangan
begitu."
"Aku tidak bermaksud hendak mencelakaimu?"
"Uh," pemuda itu mcndesuh dalam hati. Ia heran
mengapa tadi gadis itu bersikap amat lemah lembut tetapi
kini berobah getas. Membayangkan bagaimana tadi dia juga
ketus terhadap gadis itu, ia menghela napas.
"Baiklah, maafkan atas sikapku yang kurang sopan
kepadamu tadi," akhirnya ia mengakui kekasarannya.
"Tidak perlu engkau minta maaf."
"Mengapa?"
"Karena akupun sekarang ini juga bersikap keras
kepadamu. Jadi sudah lunas, tak ada yang berhutang. Tak
perlu maaf memaafkan."
"Baiklah," kata pemuda itu, "apakah sekarang engkau
tetap hendak mengusir aku?"
"Hutan ini bukan milikku, engkau bebas mau pergi atau
tidak."
"Ah, lupakan peristiwa yang tadi, mari kita bicara secara
baik'."
"Baik," kata gadis itu dengan nada berobah ramah juga,
."apa yang in-kong hendak tanyakan:'"
"Eh, mengapa engkau menyebut-nyebut in-kong ?
Bukankah engkau sudah setuju untuk melupakan peristiwa
tadi ?"
Gadis itu tersenyum.
"Kita belum berkenalan. Siapakah namamu?" tanya si
pemuda.
"Aku Han Bi Giok. Dan anda ?"
"Aku orang she-ganda Wan-ong, nama Kui."
"Ih," gadis itu mendesis, "aneh juga nama itu."
"Entahlah, itu pemberian orangtua," kata si pemuda
dengan tersenyum dalam hati, "engkau dari mana dan
hendak kemana ?"
"Dulu aku tinggal di San-se, tetapi setelah tentara Ceng
menyerbu, rumahtanggaku berantakan dan sesarang aku
hendak ke gunung Lou-hu-san."
"Senasib." kata pemuda itu menjawab pertanyaan si
gadis, "aku juga tak punya rumah tangga yang tetap. Aku
seorang pengembara."
Kemudian pemuda itu bertanya pula, "Apa kah
maksudmu hendak ke Lou-hu-san ?"
'"Sebelum kota diserang musuh, ayah suruh aku beserta
bujang2, menuju ke rumah calon suamiku."
"O, bolehkah aku tahu siapa nama calon suami nona itu
?"
"Entah siapa namanya."
"Nona belum tahu namanya ?"
"Belum."
"Belum pernah berjumpa ?"
"Belum."
"Lalu siapa yang akan nona temui nanti ?"
“Putera dari Kim Thian Cong tayhiap."
"Apa ? Putera Kim Thian Cong ?"
"Ya."
"Ohhhhh," tiba2 pemuda itu mendesuh kejut, "apakah
bukan yang bernama Blo'on itu ?"
"Kata orang memang begitu," kata gadis itu, "tetapi
entahlah, aku belum tahu jelas."
"Kalau putera Kim Thian Cong, memang hanya Blo'on
itu."
"Engkau kenal dia ?" tanya si gadis.
Pemuda itu merah mukanya, "Kenal sih belum
tetapi......"
"Tetapi bagaimana?" gadis itu terbeliak.
"Kupernah dengar cerita orang, bahwa dulu dia pemah
dipungut sebagai menantu baginda Ing Lok. Tetapi entah
hagaimana dia terus minggas dari kotaraja."
"O, benarkah begitu ?" Bi Giok terkejut.
"Kalau engkau ke kotaraja Pak-khia, engkaui tentu akan
mendengar tentang peristiwa itu."
Bi Giok termenung beberapa saat, "Tetapi ayah
mengatakan bahwa sejak dalam kandungan aku sudah
dipertunangkan dengan putera Kim Thian Cong."
"Siapakah nama ayah nona ?"
"Maaf, aku harus memegang janji kepada ayah untuk
melakukan pesan beliau supaya tidak memberitahukan
namanya kepada orang," Kata Bi Giok, "hanya dia pernah
menolong Kim tayhiap dan sebagai balas budi maka Kim
tayhiap mengadakan perjanjian dengan ayah. Itu waktu
ibuku sedang mengandung aku dan isteri Kim tayhiap juga
sedang mengandung. Kelak apabila ibu melahirkan anak
perempuan dan isteri Kim tayhiap anak lelaki, atau ibu
melahirkan anak laki dan isteri Kim tayhiap melahirkan
anak perempuan, maka keduanya akan dijodohkan."
"Apakah Blo'on sudah tahu hal itu ?" tanya VVan-ong
Kui.
"Entahlah," jawab Bi Giok, "tetapi aku sendiri setelah
kota terancam bahaya, barulah ayah memberitahukan hal
itu dan suruh aku mencari calon suamiku ke Lou-hu-san."
VVan-ong Kui diam termenung-menung. Hatinya timbul
pertentangan yang hebat. Hal itu tampak dari seri wajahnya
yang sebentar tegang sebentar pucat.
"Mengapa engkau diam saja ?" tiba2 Bi Giok menegur.
Wan-ong Kui menghela napas, "Perjalanan ke Lou-husan
amat jauh dan suasana disana rusuh, tidakkah amat
berbahaya apabila nona melakukan perjalanan seorang diri
?"
"Ayah telah menunaikan Tiong (setya) kepada negara.
Akupun harus melaksanakan Hau (bakti) kepada orangtua.
Walaupun berbahaya perjalanan itu, aku tetap akan
menempuhnya. Mati hidup ditangan Tuhan,'' sahut Bi
Giok.
Pemuda itu mengangguk-angguk dan dalan hati memuji
pendirian Bi Giok. Kemudian ia berkata, "Aku seorang
kelana, tiada sanak tiada keluarga, tiada rumah tiada
negara. Apabila nona tidak menolak, aku bersedia untuk
mengantarkan nona ke Lou-hu-san."
"In-kong....!" Bi Giok berteriak tegang. Dia tak
menyangka kalau pemuda yang semuda begitu getas
sikapnya, ternyata mau mengantarkannya. Serta merta
diapun berlutut menghaturkan terima kasih.
"Ah, janganlah engkau bersikap sedemikian merendah,
nona, "Wan-ong Kui memintanya supaya bangun, “kita
telah sama2 menolong dan sama2 senasib pula. Dan
memang menjadi watakku, sekali menolong aku harus
menolong sampai selesai."
“Tetapi....." tiba2 Wan-ong Kui mengerut alis.
"Mengapa ?"
'Tidakkah calon suamimu nanti akan marah apabila
melihat engkau bersama aku seorang pemuda yang tak
dikenalnya?"
Bi Giok merenung sejenak lalu berkata, "Bagaimana
kalau kita mengaku sebagai engkoh adik?"
"Bagus," seru Wan-ong Kui, "tetapi bagaimana dengan
calon suamimu si Blo'on nanti?"
"Akan kukatakan bahwa engkau engkoh misanku,
masakan dia tahu."
"O, baiklah," akhirnya Wan-ong Kui menerima. Mereka
lalu merundingkan bagaimana rencana dalam perjalanan.
Wan-ong Kui mengatakan bahwa ketiga peti berisi harta
permata itu harus dibawa. Untuk sementara akan diangkut
oleh si Putih. Nanti setiba di kota akan membeli kereta.
Malam itu mereka terpaksa bermalam di hutan.
Keesokan harinya, Bi Giok minta bantuan Wan-ong Kui
untuk bersama-sama mengubur mayat bujang2
pengiringnya.
Setelah itu mereka lalu melanjutkan perjalanan. Mereka
berhenti di sebuah desa kecil untuk mengisi perut. Tetapi
karena desa itu tak ada kereta, merekapun melanjutkan
perjalanan lagi.
Menjelang petang mereka masih belum menemukan
perumahan penduduk. Bi Giok mengeluh malam itu tentu
akan tidur di hutan lagi.
"Tuh, lihatlah, dikejauhan sebelah muka itu Apakah itu
bukan gunduk rumah ?" tiba2 Wan-ong Kui berseru.
Han Bi Giok memandang ke arah yang di tunjuk Wanong
Kui, "O, benar. Tetapi mengapa gentengnya berwarna
merah ?"
"Kalau tak salah, rumah yang beratap merah biasanya
sebuah biara atau kuil. Mari kita percepat langkah. Kuil
kek, pagoda kek, asal dapat dibuat tidur, jadilah," kata
Wan-ong.
Tetapi walaupun mempercepat langkah, karena harus
mendaki sebuah bukit dan kemudian menuruni sebuah
jalan yang merentang panjang tiba di tempat itu haripun
sudah gelap. Ternyata gunduk hitam itu memang sebuah
pagoda yang sudah rusak.
"Berhenti, Giok-moay," bisik Wan-ong Kui "engkau lihat
benda yang berada di tengah halaman muka pagoda itu ?"
"Ya," sahut Bi Giok, "seperti sebuah patung.”
"Bukan patung tetapi manusia. Kalau menilik
dandanannya seperti seorang persilatan. Entah mengapa dia
duduk diam seperti besemedhi di tengah halaman pagoda."
"Lalu bagaimana langkah kita ?" tanya Bi Giok Wan-ong
Kui menyatakan lebih baik berhati-hati, "Kita sembunyi
dulu dibalik gerumbul pohon itu, melihat bagaimana gerak
geriknja."
Keduanya segera bersembunyi.
II
Satai tikus.
Puing2 atap dan keping2 kayu lapuk, ranting dan daun2
kering yang gugur merupakan pemandangan dari pagoda
yang pernah menjadi kebangaan rakyat di kota Su-ciu
selatan.
Pagoda itu juga pernah mempunyai nama yang
cemerlang yakni Sui-kong-tha atau pagoda Cahaya Indah.
Terdiri dari tujuh tingkat. Pernah menjadi tempat yang
ramai dikunjungi orang.
Tetapi kini keadaan pagoda itu sudah bobrok. Tingkat
yang teratas sudah ambruk. Dan sejak terdengar kabar
angin bahwa di tingkat ketujuh dari pagoda itu muncul
seorang mahluk siluman, orangpun takut untuk datang.
Jangankan malam, siang haripun sunyi sekali.
Tetapi hari ini datanglah seorang pengunjung yang aneh.
Orang itu duduk santai di halaman pagoda. Kalau tidak
dipandang dengan teliti, mungkin dikira sebuah patung
penghias pagoda itu.
Umurnya masih muda sekali, paling banyak baru 20-an
tahun. Wajahnya sih lumayan walau pun tak pernah
dirawat. Tetapi pakaiannya kumal2 dan kotor. Eh, dia
pakai penutup kepala dari kain. Modelnya seperti seorang
pendekar kesiangan.
Yang lebih aneh lagi adalah rambutnya. Biasanya kalau
sudah ditutup dengan kopiah atau kain penutup kepala,
tentulah rambutnya tak kelihatan. Tidak demikian dengan
orang aneh itu. Kain penutup kepalanya berlubang dua,
kanan kiri diatas dahinya. Dan dari kedua lubang itu
menonjol keluar sepasang rambut mirip kuncir, mirip
tanduk. Sepintas pandang dia tentu dikira seorang
pengemis.
Disampingnya terletak sebuah tongkat pendek. Tongkat
itu menggeletak tak bergerak di tanah. Tetapi orang itu
lebih tak bergerak dari tongkatnya. Dia benar2 seperti
sebuah patung atau manusia yang jadi patung.
Mungkin dia sudah cukup lama duduk mematung di
halaman pagoda itu. Entah siapakah dia dan apakah
gerangan maksudnya duduk di halaman pagoda tua yang
sunyi seperti kuburan itu.
Sedemikian rupa orang aneh itu duduk mematung
sehingga seekor tikus tak tahu kalau dia itu seorang mahluk
hidup dan berani menghampiri bahkan merayap ke
tubuhnya.
Pada saat berada dikaki orang itu, tikus berhenti sejenak
dan memandang keatas. Rupanya binatang itu cerdik juga.
Dia hendak memastikan apakah benda yang hendak
dirayapi itu, manusiakah atau patung. Mungkin tikus itu
juga heran. Sebagai tikus dia tentu juga numpang tinggal di
rumah orang dan tentu sering melihat bangsa manusia.
Tentulah tikus itu berpikir, "Ah, menilik mukanya, ini
seperti manusia tetapi mengapa diam seperti patung ?"
Rupanya tikus itu juga sering berkeliaran atau bahkan
penghuni dari pagoda tua itu sehingga dia faham juga apa
yang disebut arca atau patung.
Setelah bercuit-cuit seperti untuk memastikan
dugaannya, karena kalau manusia tentu akan segera
berteriak atau bergerak memukul apabila mendengar suara
tikus bercuit, maka ia tentu sudah menarik kesimpulan,
"Ah, jelas ini bukan manusia. Atau kalau manusia tentu
manusia yang sudah mati. Takut apa ?"
Dengan penilaian itu maka si tikuspun mulai berani
merayap naik. Mungkin karena yakin orang itu kalau bukan
patung tentu seorang manusia mati, tikus itu legah hatinya.
Rupanya sudah lama tikus itu tak berjumpa dengan
manusiau atau patung manusia. Karena sejak bertahuntahun
pagoda itu tak pernah d kunjungi orang. Patung2 pun
rusak dan hancur. Kali ini rupanya dia hendak memuaskan
noltalgia atau kerinduannya terhadap bangsa manusia.
Karena tiada makanan, kawanan tikus di pagoda itu
sering ngluruk mencari makan ke rumah penduduk yang
tinggal jauh dari tempat itu. "Uh bangsa manusia memang
jahat. Jangankan ia memberi, bahkan sisa2 makanan
mereka saja kalau kita makan, mereka ngamuk. Pada hal
tuh ada beberapa orang yang tinggal di rumah gedung
besar, gudangnya penuh dengan beras. Dia gemuk isteri dan
anak2nyapun gemuk, anjing dan kucingnya juga gemuk.
Tetapi bujang2nya kurus2. Aneh mengapa orang kaya itu
lebih menyukai binatang peliharaannya anjing dan kucing,
daripada terhadap bujang-bujangnya ? Bukankah bujang
dan pelayan itu juga bangsa manusia seperti dia ?"
Demikian kawalan tikus itu mengadakan rapat untuk
mengatur langkah bagaimana mengatasi bahaya kelaparan
yang mengancam mereka. Mereka memutuskan karena
pagoda sudah tak ada makanan, maka harus berburu
mencari makan ke rumah penduduk. Mereka memecah diri
menjadi beberapa kelompok untuk masuk kota. Waktu
pulang mereka berkumpul lagi menceritakan pengalaman
masing2. Diantaranya tentang keadaan seorang tuan tanah
kaya yang dikatakan lebih suka anjing dan kucingnya
gemuk dari padra bujang-bujangnya.
"Kita serbu saja manusia semacam itu," kata seekor tikus
yang masih muda.
"Serbu sih boleh saja," kata tikus yang tua, "tetapi
bagaimana dengan kucing2 itu ?"
"Tak perlu takut," kata seekor tikus jantan yang bertubuh
besar, "kucing2 itu sudah gemuk, mereka tentu tak ingin
makan kita lagi. Kalau kucing2 itu berani mengejar kita,
kita lawan saja. Asal tikus bersatu, masakan kucing berani.
Kucing orang kaya tentu tak berani mati karena hidupnya
enak . . . ."
Demikian terjadi penyerbuan kawanan tikus ke rumah
orang kaya itu. Memang panik orang kaya itu tetapi dia
dapat menyuruh orang mengadakan pembasmian.
Akhirnya banyak tikus yang mati. Sejak itu kawanan tikus
di pagoda yang jumlahnya tinggal sedikit itu tak berani lagi
mengatakan petualangan yang berbahaya.
Kembali kepada tikus yang tengah merayap di pangkuan
orang aneh itu. Dia termasuk tikus yang jarang melihat
manusia dan. sudah mendapat pelajaran dari tikus2 tua
tentang peristiwa serbuan ke gedung orang kaya, "Kalian
harus ha-ti2. Jumlah kita hanya tinggal sedikit, jangan
sampai habis mati semua," kata tikus tua itu.
Tikus itupun hati2 sekali. Setelah mencicit, diapun
mendengus-dengus untuk membau, "Uh, baunya apek
seperti aku," pikirnya "tentu bukan manusia hidup."
Dia gembira sekali. "Kali ini aku hendak memuaskan
hati untuk menjelajah tubuh manusia. Kawan2 mengatakan
belum pernah menyentuh tubuh orang karena begitu
melihat tikus kalau orang itu perempuan, dia menjerit.
Tetapi kalau orang lelaki tentu terus menggebuknya. Tetapi
kali ini aku mendapat kesempatan. Akan kuberitakan
kepada kawan2ku, bagaimana sebenarnya perut, dada, leher
dan muka manusia itu. Mereka tentu kagum dan memuji
aku ....," pikir tikus itu.
Biasanya tikus tentu merayap dari samping entah dari
lengan lalu ke bahu, entah dari punggung terus ke kepala.
Tetapi tikus itu sengaja hendak melakukan penjelajahan
yang istimewa. Dia merayap melalui perut, dada lalu muka
orang aneh itu.
Waktu tikus itu merayap ke perut, orang itu menyeringai
menahan geli. Untung tikus tak melihatnya, "Ah, betapa
besar dan luas perut manusia itu," kata si tikus. Kemudian
timbul pikirannya, "kata para tikus tua, daging manusia itu
juga enak. Ya, mengapa tak kurasakan sekarang? Sekalian
dapat kuketahui bahwa orang ini masih -hidup atau sudah
mati. Kalau masih hidup tentu berdarah . . . . "
"Aduh mak . . . , " orang aneh itu menjerit dalam hati
ketika perutnya dikerikiti tikus itu. Rasanya sakit2 keri,
lebih keras dari orang yang digigit semut. Orang aneh itu
menyengir seperti kuda tertawa, hatinya seperti dikitik-kitik.
"Ini pengalaman baru. Rasanya orang di seluruh dunia
ini tentu belum tahu rasanya bagai mana kalau perut
dikerikiti tikus. Biarlah, aku memang hendak mencari
pengalaman yang manusia belum pernah merasakan,"
akhirnya ia menghibur diri dan menguatkan hatinya untuk
menahan siksaan itu.
"Ih, mengapa keras sekali?" tikuspun heran ketika
mendapatkan perut orang aneh itu keras sekali.
Tikus tak tahu apa sebabnya. Bahkan orang itu sendiri
juga tak mengerti apa sebabnya gigi tikus yang tajam itu tak
dapat melukai perutnya. Dia hanya merasa keri lalu
menyeringai dan kencangkan perutnya, eh, tahu2 perutnya
menjadi sekeras batu. Sebenarnya hal itu hanya dapat
dilakukan oleh seorang tokoh silat yang memiliki ilmu
tenaga-dalam yang sakti. Tetapi anehnya, orang aneh itu
tak merasa memiliki ilmu tenaga- dalam. Rupanya tikus itu
bosan. Dia lalu merayap naik lagi keatas, sampai ke bagian
dada. Tiba2 ia melihat segunduk benda yang menonjol,
ujungnya mrentil kecil sebesar kedelai, "Kaya puncak
pagoda," pikirnya.
Tertarik ingin tahu apa benda itu, tikuspun
menghampiri, "Ya, mungkin ini biji kedelai juga, pikirnya
pula lalu mulai digigitnya.
"Aduh mak . . . . " orang aneh itu menjerit dalam hati
ketika puting buah dadanya digigit si tikus bengal itu. Kali
ini rasanya lebih sakil dari waktu perutnya dikerikiti tadi.
Ingin rasanya dia menampar tikus itu. Ingin rasanya dia
terus melonjak bangun. Tapi pada lain saat, dia teringat,
"Kali ini Liok sumoay menganjurkan aku supaya keluar ke
dunia persilatan untuk merebut sebuah kitab pusaka yang
amat penting sekali. Kalau kitab itu sampai jatuh ke tangan
orang jahat, dunia persilatan pasti akan kiamat. Tugas itu
penting tetapi penuh bahaya sekali. Nah, kalau puting
susuku digigit tikus saja aku tak tahan, mana aku dapat
menghadapi bahaya di medan pertempuran?"
Dengan pemikiran itu dia menggigit gigi sekencangkencangnya
untuk menahan derita sakit yang tiada
kepalang, "Pengalaman ini juga istimewa. Orang dalam
dunia tentu tak ada yang pernah mengalami, membiarkan
puting susunya digigit tikus," pikirnya pula.
Aneh tapi nyata. Begitu orang aneh itu mengeraskan hati
untuk menahan sakit, tikus itupun terkejut - karena
mendapatkan puting susu orang itu kerasnya bukan main,
seperti besi. Gigi dan taringnya yang tajam terasa kesakitan,
"Ah, keras, tak enak lagi," pikir si tikus lalu hentikan
gigitannya.
Dia terus merambat ke leher, "Mati aku," keluh hati
orang aneh dan hampir saja dia tak kuat menahan gelinya.
"Eh, apa-apaan ini? Kok ada benda seperti buah
kelengkeng. Apa saja isinya? Mungkin enak," pikir si tikus
lalu mulai menggigiti.
"Aduh pak . . . ., " orang aneh Itu menjerit dalam hati. Ia
ingin cari variasi. Tak mau menyebut “aduh mak” tetapi
'aduh pak '. Tak adil kalau hanya mak saja yang disambati.
Pak, seharusnya juga menerima keluhan.
Ternyata yang digigiti si tikus itu adalah jakun atau buah
kerongkongan (kalamenjing) orang itu. Kali ini mau tak
mau orang aneh itu harus menelan airliur sehingga
jakunnya mondar-mandir turun naik. Melihat itu tikus
makin gembira. Dikiranya dia mendapat permainan yang
lucu. Maka diapun menubruk ke atas, menerkam ke
bawah."
"Tikus keparat! Masakan kalamenjing dibuat main bola,"
orang aneh itu tak kuat lagi menahan siksa geli dan sakit.
Dia hampir gerakkan tangannya tetapi tiba2 lain pikiran
melintasi pula, *'huh, mau jadi pendekar segala!
Kalamenjing digigit tikus saja sudah tak tahan, pendekar
apa itu?”
Dia mengangguk dalam hati, "Mungkin beginilah cara
seorang pendekar itu digembeleng. Dan lagi memang
pengalaman ini tentu tak pernah dialami orang di dunia
kecuali aku."
Dia terus mengertek gigi untuk memperkencang
lehernya, menahan sakit. Eh, lagi2 terjadi. Begitu dia
keraskan hati dan kencangkan urat, tikus itupun segera
berhenti menggigit. Seperti waktu menggigit perut dan
puting susu, kali ini tikus itupun tak dapat menggigit
kalamenjing orang aneh itu karena tiba2 kalamenjing itu
berobah sekeras batu.
Tikus itu merayap lagi keatas lagi. Kali ini dia melihat
sehelai benda yang lebar seperti daun, "Eh, kok ada liang
seperti gua kecil. Akan kulihat, kalau memang sesuai, akan
kujadikan sarangku," pikir si tikus. Dia terus menghampiri
benda lebar itu.
"Aduh, kong . . . , " kembali orang aneh itu merintih
kepada engkongnya. Tikus itu merayapi daun telinganya
dan huh, kurang ajar benar.
Orang aneh itu hampir menjerit ketika kumis tikus
menusuk lubang telinganya. Memang tidak sakit tetapi
kerinya bukan kepalang. Rasa geriming yang menggetarkan
uluhatinya menyebabkan ia mengerahkan tenaga untuk
menahan dan eh, aneh, tahu2 daun telinganya itu dapat
mengatup sendiri. Bukan hanya mengatup biasa tetapi
seperti menampar si tikus sehingga binatang kurang ajar itu
menyurut mundur dan lari ke pipinya. Tikus jtu juga
terkejut dan kesakitan.
Setelah berhenti sejenak, tikus itu tampaknya melihat
dua buah benda yang aneh bentuknya pada muka orang
aneh itu.
"Kok seperti lemari rebah. Tetapi mengapa diatas lemari
rebah itu terdapat rumput kecil2 dan sebatang pohon," pikir
tikus nakal itu seraya melayap menghampiri.
"Mungkin dalam lemari rebah ini masih ada sisa
makanan," kata si tikus sendiri dan dia coba2 hendak
membuka lemari rebah yang terkancing rapat itu.
"Bangsat, mengapa dia menyingkap-nyingkap bibirku,"
orang aneh itu bersungut-sungut dalam hati, "uh, kurang
ajar, dia mengkerikiti gigiku, aduh, aduh, linunya . . . . "
Ternyata tikus itu memang menyingkap bibir orang aneh
itu dengan moncongnya yang runcing. Setelah tersingkap
dia lalu menggigit gigi orang itu, "Wah, lumayan, masih
ada sisa tulang ayam . . . . , " kata tikus itu.
"Wah, celaka, kalau kubiarkan, bisa ompong nanti
gigiku," orang aneh itu akhirnya menggertek gigi kencang2
untuk menahan gigitan si tikus.
"Setan," gerutu si tikus, "masa tulang ayam kerasnya
begini rupa. Ah, mungkin batu nih."
Tikus itu hentikan gigitannya. Ketika memandang
keatas, ia terkejut, "Lho, mengapa di bawah akar pohon itu
terdapat dua buah liang. Tetapi mengapa liang itu kecil?
Liang semut barangkali?"
Namun tikus itu ingin melihat juga. Ia naik keatas mulut,
"Lho, ini juga aneh, mengapa semak rumput ini berwarna
hitam? Coba kurasakan bagaimana rasa rumput hitam itu
.... "
Ternyata yang dimaksud dengan rumput hitam itu tak
lain adalah kumis orang aneh yang tumbuh pendek.
"Aduh, aduh .... memang sialan tikus ini," orang aneh itu
menyengir seperti muka setan waktu kumisnya yang pendek
itu ditarik-tarik mulut tikus. Sakit2 pedas rasanya. Serentak
ia kencangkan mulut untuk menahan rasa sakit. Eh, tikus
itupun terus berhenti.
"Lho, kalau rumput mengapa keras begini rupa. Ini mirip
kawat, sialan . . . ," tikus itu menyumpah-nyumpah dan
hentikan gigitannya. Ia menengadah memandang keatas,
"Ih, silir sekali, lubang itu mengeluarkan angin," katanya.
Ia merayap naik dan merasa makin silir, "Uh, mengapa
anginnya berbau tak enak?" katanya pula, "o, mungkin
didalam liang itu terdapat ikan atau makanan. Akan
kumasuki ..."
Ia terus menyusupkan moncongnya kedalam lubang
hidung orang aneh itu. Sudah tentu kepalanya tak dapat
masuk namun tikus itu masih berusaha untuk memutarmutar
kepalanya agar dapat masuk. Tetapi yang masuk
bukan muka melainkan kumisnya. Dan karena kumis tikus
itu diputar-putar maka . . .
"Ah . . ah . . ah . . jingngngngng . . Mana tahaaannn . . . !
"
Lubang hidung itu memang peka sekali. Betapapun
orang aneh itu berusaha untuk menahan pernapasan tetapi
karena lubang hidung dikili-kili dengan kumis, buyarlah
pertahanan napas orang itu. Bagaikan gunung meledak
maka diapun ber-bangkis sekuat-kuatnya.
Jika orang biasa yang berbangkis, paling2 tikus itu tentu
akan terkejut atau terpelanting jatuh. Tetapi orang aneh itu
memang luar biasa. Angin dan air hidung yang
dimuncratkan, luar biasa sekali. Tikus itu meraya seperti
dilanda oleh badai prahara yang dahsyat. Dia mencelat
sampai beberapa meter terbanting di tanah dan tak berkutik
lagi.
Pemuda Wan-ong Kui dan gadis cantik Han Bi Giok
menyaksikan peristiwa itu di tempat persembunyiannya.
Berulang kali Bi Giok hampir tertawa tetapi untung
mulutnya didekap oleh Wan-ong Kui. Tetapi ketika melihat
adegan yang terakhir dimana hidung orang aneh itu dikilikili
kumis tikus dan berbangkis, Wan-ong Kuipun tertawa.
Tetapi secepat itu pula Bi Giokpun mendekap mulutnya.
Dengan demikian tanpa disadari, kedua muda mudi itu
telah saling berdekapan mulut.
Mereka saling memandang dan tersipu-siput saling
melepaskan dekapannya, "St, Giok-moay, jangan tertawa,
lihatlah dia sudah pasang kuda-kuda lagi," bisik Wan-ong
Kui.
Ternyata orang aneh itu merangkak, untuk mengambil
tikus yang sudah mati itu lalu ditaruhkan dibelakang. Disitu
sudah terdapat lima ekor tikus mati. Rupanya orang aneh
itu memang sedang berburu tikus. Tetapi aneh, mengapa
berburu tikus harus dengan mematikan diri seperti patung?
Demikian timbul pertanyaan dalam hati Bi Giok dan Wan
ong Kui.
"Buat apa berburu tikus? O, apakah dia seorang
pengemis yang kelaparan?" Bi Giok dan Wan-ong Kui
saling berpandangan. Mereka tak berani bicara dengan
mulut melainkan dengan
pandang mata.
Mereka duga beberapa
tikus itu tentu didapati
orang aneh dengan cara
yang lucu. Diam tertariklah
perhatian Bi Giok dan
Wan-ong Kui untuk
menyaksikan gerak gerik
orang aneh itu.
Kembali orang aneh itu
duduk mematung Tak
berapa lama. dari arah
pagoda muncul seekor
tikus. Tikus itu berlari-lari
menghampiri siorang aneh. Rupanya tikus itu memang
bangsa tikus cross-boy. Maklum, jaman kemajuan. Bukan
hanya manusia saja yang maju tetapi binatangpun
mengalami evolusi dan proses kemajuan. Siapa tahu besok
tikus itu akan sebesar kucing dan berbalik kucing yang takut
pada kucing. Tikus tidak disukai manusia dan diuber-uber.
Tentu mereka akan selalu meningkatkan daya pertumbuhan
fisik (ba dan) dan mentalnya untuk hidup. Tidak demikian
dengan kucing yang disayang dan dimanjakan orang, Badan
gemuk, malas dan tumpul mentalnya.
Tikus yang berlari-lari itu selekas tiba dibelakang si orang
aneh, tidak seperti tikus yang tadi masih bersikap hati2
untuk melihat, mencici dan mencium bau orang aneh itu,
tikus yang datang ini tanpa banyak upacara lagi, terus lonca
dan hinggap di tengkuk orang aneh.
"Aduh, mati aku....., " orang aneh itu menyeringai
kesakitan setengah mati ketika tengkuknya digigit si tikus.
Dia meregang dan menghimpun kekuatan untuk menahan
kesakitan. Eh tahu2 tikus itu berhenti menggigit. Dia
menyeringai, "Aneh, kerasnya seperti batu," kata tikus itu.
Tikus itu terus merayap keatas kepala, "Aha, pohon
cemara yang rindang," serunya dengan gempita lalu
melompat menggigit rambut yang menon jol keluar dari
lubang kain penutup kepala orang aneh itu. Kiranya yang
disangka pohon cemara itu tak lain adalah rambut aneh dari
orang itu.
"Tikus bangsat....!" orang aneh itu menjerit dalam hati
ketika tikus itu tepat hinggap di atas hidungnya.
"Karena yang diterkam ujung rambut, maka ia telah
berhasil menggigit ujung rambut siorang aneh, ujung
rambut yang diganduli tikus itupun segera menjuntai
kebawah sehingga badan tikus itupun ikut nemplok di
gunduk batang hidung orang itu.
Saat itu dia benar2 sudah tak tahan lagi untuk segera
menampar tikus berandalan itu. Tetapi pada lain saat dia
teringat, "Ho, engkau mau ingkar pada sumpahmu ?
Bukankah tadi waktu engkau hendak berburu tikus, engkau
sudah bersumpah tak mau membunuh dengan tangan dan
senjata tajam ? Hayo, jangan mungkir . . . ! "
"Bangsaaaat....!" kembali dia memekik dalam hati ketika
batang hidungnya terasa "basah dan dialiri air. Waktu
singgah dekat lubang hidung, aduh-duh, baunya apek
sekali.
"Rasain lu, ini gara2 ingin menjadi pendekar besar,
sampai2 muka dikencingi tikus," diam2 dia mengejek
dirinya sendiri. Dan serentak, dia teringat akan
pendiriannya pada waktu mulai hendak mengadakan
perburuan tikus, "Aku lebih besar dan lebih hebat segalagalanya
dari tikus. Kalau aku membunuhnya dengan
tangan dan senjata, sudah tentu menang. Tapi itu tidak adil
dan tidak pantas dilakukan oleh seorang pendekar besar.
Aku harus berani bersumpah untuk membunuh tikus tanpa
menggunakan tangan dan senjata...."
Apa boleh buat, dia harus terima nasib. Sudah
bersumpah harus dituruti, pikirnya.
Tiba2 ia rasakan tikus yang masih nempel di batang
hidungnya itu mulai bersiap-siap, "Eh rupanya dia hendak
melonjak keatas lagi. Mungkin hendak menubruk rambutku
lagi. Celaka kalau dia benar hendak menerkam ujung
rambut! dia tentu akan terayun kebawah lagi dan uh, uh
kali ini batang hidungku, tetapi bagaimana nanti kalau
sampai biji mataku yang di tempeli kakinya. Dan idihhh .. .
kalau dia sampai terkencing-kencing lagi, celaka mataku !"
Setelah bercuit-cuit, tikus kurang ajar itu ayunkan tubuh
loncat ke atas. Memang benar dugaan orang itu. Tikus itu
hendak menerkam untaian rambut yang disebelah kanan.
Tadi gandulan yang sebelah kiri, kini tikus itu hendak
mencoba yang sebelah kanan.
Orang aneh itu kerahkan semangatnya dan
pikirannyapun menghendaki agar rambutnya berobah keras
dan tegak kaku agar tikus itu jangan sampai terayun
kebawah lagi.
Cit, cit, cit, ciiiiittttt .... ciiiiitttt . . . Tikus itu mencicit
sekeras-kerasnya ketika ia meloncat dan menerkam ujung
rambut orang itu dan tahu2 tertancap diujung rambut.
Ternyata rambut orang aneh itu tiba2 berobah sekeras
kawat berduri yang tajam sehingga tikus itu seperti
terpanggang.
Orang itu terkejut ketika tikus berhenti bercicit. Dan
tiba2 rambutnyapun melemas, tikus terjatuh
bergelundungan menghantam dada dan jatuh tepat
dimukanya, mati !
"O, bukan salahku kalau engkau mati tikus” kata orang
aneh itu seraya menjemput tikus yang sudah mati itu.
Waktu memeriksa, dia berseru, “Ai, kasihan engkau.
Mukanya hancur lebur seperti tertusuk beribu jarum . .. ."
Kali ini dia berbangkit dan mengumpulkan tikus hasil
perburuannya, "Ah, sudah cukup, sudah genap tujuh ekor."
Dia terus membawa tujuh ekor bangkai tikus itu ke
belakang pagoda, Disitu terdapat sebuah aliran sungai kecil.
Setelah dikuliti, tikus2 itupun dicuci bersih. Ia membuat
tujuh batang tusuk untuk menusuk tujuh ekor tikus itu.
Kembali ke halaman pagoda, ia mengumpulkan rumput,
daun, ranting kering dan keping2 kayu lalu membuat api.
Ketujuh tusuk satai tikus itu dibakarnya. Ternyata dia
hendak membuat sate bakar tikus.
"Huak bau satai tikus yang bertebaran keempat penjuru
itu, sempat juga mencapai tempat persembunyian Bi Giok.
Nona itu mual dan terus hendak muntah, untung mulutnya
cepat didekap lagi oleh tangan Wan-ong Kui. Ia mengambil
sebutir pil dan dimasukkan kedalam mulut nona,
"makanlah obat penolak muntah ini."
Eh, rupanya orang aneh itu hendak disampingnya,
mengeluarkan beberapa cawan arak dan di jajar2 berkeliling
setiap cawan dengan lain cawan berjarak satu langkah.
"Ih, kalau mau pesta sendiri mengapa di menyediakan
delapan cawan arak ?" bisik Bi Gioi
"Entahlah, kita lihat saja," bisik Wan-on Kui.
Selesai menjajar cawan arak, dia mengambil poci arak
dan diletakkan dihadapannya. Eh, rupanya dia memang
membawa persediaan lengkap. Diambilnya piring besar dan
sebotol kecap, bawang dan berambang merah. Lebih dulu
mengambil ketujuh tusuk sate tikus, ditaruh dalam piring.
Kepala dan isi perut tikus sudah di potong dan
dibersihkan sehingga benar2 berupa hidangan sate bakar.
Lalu dituangi kecap, bawang dan berambang merah
dikupas dan diiris-iris. Asyik benar, seperti seorang
pedagang sate yang berpengalaman.
Ia mengambil setusuk sate yang sudah berlumuran kecap
lalu digigitnya sedikit, "Wah, enak llhooo ..,!"
Setelah selesai dengan kesibukannya mengatur pesta
perjamuan, ia menengadah memandang ke langit, "Huh,
rembulan sudah keluar, mengapa para tetamu itu masih
belum datang ?"
Tiba2 dari belakang pagoda terdengar suara tawa yang
parau, "Heh, heh, sudah sejak tadi aku datang kemari!"
Sesosok tubuh muncul dari belakang pagoda dan
berjalan menghampiri ketempat orang aneh itu.
Ditingkah sinar rembulan yang terang, dapatlah
diketahui bahwa pendatang itu seorang lelaki tua bertubuh
kurus. Memakai kain penutup kepala, berjubah kelabu,
rambut alisnya jarang dan mata sipit. Dahinya penuh
keriput. Dia berlarian dengan membawa sebatang tongkat
yang aneh, terbuat daripada kayu pohon cendana.
Perawakan, wajah dan gaya lelaki itu memberi kesan
bahwa dia seorang setan arak yang sedang ketagihan
minum."
Orang aneh itu tak terkejut, pun tak menghiraukan. Dia
masih enak2 mencampur sate dengan bumbu kecap seraya
berseru, "O, engkau Kolera-tua ?"
Lelaki tua itu tertawa mengekeh, "Ya."
"Duduklah."
Kembali lelaki kurus tua itu tertawa mengekeh dan
duduk di 'meja perjamuan'. Waktu melihat di tanah telah
dijajar delapan cawan arak, dia bertanya, "O, apakah masih
ada lain tetamu yang engkau undang ?"
"Hm," dengus orang aneh itu.
Lelaki tua menyeringai sehingga giginya yang kuning
tampak merekah, "Kukira engkau hanya mengundang aku
seorang. Lalu siapakah yang enam orang itu?"
"Kawan-kawanmu."
Lelaki tua gelengkan kepala, "Aku tak punya kawan."
"Mereka sama dengan bidang pekerjaanmu. Warna pilih
warna, kelompok berkumpul dengan kelompok. Burung
gagak disini, juga sekawan dengan gagak dari lain daerah."
Wajah lelaki tua itu agak berobah, serunya,
"Siapakah....."
“'Manusia-pemakan-serigala Sebun Pa, Landak besi Ma
Hiong, Im pohpoh, Ang-hay-ji, Harpa-asmara Hoa Lan Ing
dan paderi Gemar-segala-apa," sahut orang aneh itu.
Kolera-tua kerutkan dahi, "Apakah mereka mau datang?"
"Seperti engkau, mereka pasti datang."
Kolera-tua deliki mata berseru, "Bagaimana engkau
dapat memastikan kalau aku tentu datang?"
"Apa sebab engkau mau datang?" orang aneh itu balas
bertanya.
"Aku telah menerima sepucuk undangan dari seorang
kerucuk tak ternama. Tetapi dia memakai nama yang
menarik perhatian. Timbul keinginanku untuk mengetahui,
siapakah dia. Oleh karena itu aku perlukan datang kemari."
"Tepat," seru orang aneh itu, "merekapunn tentu juga
tergelitik hatinya untuk mengetahui. Seperti engkau,
mereka tentu akan datang tepat pada waktunya."
Lelaki tua yang bergelar Kolera-tua itu muIai menatap
wajah si orang aneh dengan penuh perhatian, kemudian
bertanya, "Siapa namamu?"
"Nama atau alias?"
"Nama."
"Loan Thian Te." ( noot : Te, huruf e supaya dieja seperti
e dalam kata ‘ekor ' )
"Loan Thian Te?" ulang Kolera-tua.
"Hm."
"Apakah ada she Loan itu?"
"Semua she, memang sebelumnya tidak ada lalu
diadakan. Semua buatan manusia."
"Apa artinya Loan?"
"Kacau atau mengacau."
"Gile," gumam Kolera-tua, "masakan orang memakai
she begituan."
"Habis mau apa kalau sudah kodrat."
"Thian tentu berarti langit, bukan?"
"Ya."
"Dan Te tentu berarti bumi?"
"Benar."
"Thian Te berarti Langit dan Bumi atau dunia."
"Orang setua engkau masakan tak mengarti Thian Te."
"Lalu kalau Loan Thian Te itu dirangkai artinya . . . . "
"Dunia kacau atau Mengacau dunia, terserah pilih
mana."
"Hm, edan," gumam Kolera-tua, "masakan orang
bernama begitu."
"Kolera-tua itu apa juga nama yang lumrah.”
"Itu kan gelar."
"Aku juga punya gelar."
"Engkau tadi mengatakan alias, sekarang bilang gelar.
Mana yang betul?"
"Dua-duanya betul. Gelarku ya aliasku, liasku ya
gelarku."
"Siapa gelar atau aliasmu?"
"HURU HARA."
''Hus, jangan gila-gilaanl" bentak Kolera-tua, "apa-apaan
gelar kok Huru Hara. Siapa yang memberi?"
"Aku sendiri. Terserah orang mau mengakui atau tidak."
"O, engkau menamakan dirimu Pendekar Huru Hara."
"Ya. Sebenarnya hanya Huru Hara saja. Tetapi kalau
orang mau memberi tambahan kata Pendekar, terserah.
Yang penting gelar itu sesuai sebagai alias dari namaku
yang aseli."
"Coba katakan alasanmu, mengapa engkau memakai
gelar Huru Hara?"
"Dunia kacau, negara timbul huru hara. Aku ingin
tenang, ingin kedamaian, pun dikejar huru hara. Daripada
dikejar huru hara dari penjajah Ceng dan kawanan
penjahat, pengacau dan perampok, lebih baik aku membuat
huru hara untuk mengejar mereka."
"Perlu apa engkau mengundang aku?"
"Demi memperlengkapi sarana berhuru-hara itu maka
kuundang kalian Tujuh-momok-pembunuh untuk
membantu usahaku."
"Aku seorang pembunuh bayaran yang mahal.
Kemungkinan engkau tak kuat membayar permintaanku."
"Belum tentu," sahut orang aneh.
"Kolera hanya memandang uang, bukan orang."
"Belum tentu," sahut orang aneh.
"Lho. mengapa engkau mengatakan begitu. Coba
katakan apa maksudmu mengundang aku?"
"Sabar dulu. Tunggu setelah kalian bertujuh lengkap,
baru kukatakan."
"Hm," Kolera-tua mendengus. Tiba2 matanya tertumbuk
pada sate bakar yang berada dalam panggang, "Apa itu?"
tegurnya.
"Hidangan sate bakar."
"Satai apa?"
"Tikus."
"Edan engkau," seru Kolera-tua, "engkau hendak
menjamu tokoh2 besar yang engkau undang itu dengan
satai tikus?"
Orang aneh mengangguk, "Habis, uangku hanya pas
untuk beli arak. Selain itu, daging tikus itu bukan daging
sembarangan. Satai tikus merupakan hidangan mewah yang
jarang terdapat di dunia. Satai tikus diiring arak, wah, enak
lhoooo.....!"
--0odwo0--
Jilid: 2.
Pinjam kepala,
Mendengar ocehan si orang aneh, Kolera-tua melonjak
bangun. Ada sesuatu yang tersembunyi dibalik kata2 orang
aneh itu.
"Ngaco !" bentaknya, "kalau tak memandang umurmu
masih muda, saat ini engkau tentu sudah kuhajar !" —
Habis berkata dia terus berputar tubuh dan ngeloyor pergi.
"Eh, datang lagi seorang," seru pendekar Huru Hara
seraya tersenyum, "apakah engkau tak mau menemui
kawan sekerja untuk ngobrol-ngobrol dulu ?"
Kolera-tua berhenti dan berpaling memandang kearah
utara. Dari arah itu tampak segulung sinar merah yang
terbang mendatangi. Dalam sekejab saja, sinar merah
itupun sudah tiba di muka pagoda.
Ternyata sinar merah itu adalah pakaian dari seorang
anak yang saat itu tegak berdiri di halaman pagoda.
Dikata 'anak' sebenarnya kurang tepat karena umurnya
sudah hampir 40 tahun. Tetapi kalau disebut orangtua, pun
kurang sesuai karena wajahnya tampak kekanak-kanakan.
Mungkin karena tubuhnya pendek kecil, pipi licin tidak
berkumis dan berjanggut, apalagi gemar memakai baju
merah, maka orang menyangkanya seperti anak. Juga ada
keistimewaan lain yalah, bahwa dia selamanya tak
memakai sepatu.
Memang sukar untuk menyebut seorang mahluk seperti
dia. Anak atau orangtuakah ? Paling-paling dikatakan saja
'bayi tua'.
Melihat kedatangan orang itu, benar juga Kolera-tua
batalkan maksudnya hendak pergi. Dia segera tertawa
menyapanya, "Ang Hay Ji, sudah lama kita tak ketemu !"
Anak tua baju merah itu ternyata bernama Ang Hay Ji
yang berarti Bocah merah. Dia tertawa mengikik seperti
anak kecil lalu balas memberi salam, "Idih, Kolera-tua,
mengapa engkau berada disini ?"
Aku juga menjadi tetamu," sahut Kolera tua,
“Idih," seru Ang Hay Ji terkejut lalu berpaling kearah si
Huru Hara.
"Budak kecil, apakah engkau yang memakai nama Huru
Hara dalam surat undangan itu?" seinnya.
Sambil masih asyik mempersiapkan satai tikusnya, Huru
Hara menjawab, "Iya."
Angkuh dan tengik sekali sikap si Huru Hara dalam
menjawab pertanyaan tetapi diluar dugaan Ang Hay Ji
tidak marah malah tertawa, "Engkau mengundang aku
kemari, apa keperluanmu?"
"Ada deh," sahut Huru Hara.
"Apakah ada kang-tau ( obyek ) yang hendak engkau
berikan kepadaku?"
Huru Hara mengangguk.
"Coba katakan!"
"Sabar dulu," kata Huru Hara, "nanti setelah semua
datang, baru kukatakan."
"Eh, budak kecil," seru Ang Hay Ji, "lagak langgammu
mau meniru tokoh2 sakti yang aneh, ya?"
"Mengapa engkau mengatakan begitu?" balas Huru
Hara.
"Apa maksudmu menggunakan nama Huru Hara itu?"
"Negara diserang tentara Ceng, pemberontakan timbul,
perampok seperti jamur dimusim hujan, rakyat hidup dalam
penderitaan dan ketakutan, apakah itu bukan suasana huruhara
? Aku memakai nama Huru Hara agar setiap detik aku
selalu ingat akan keadaan negara dan rakyat kita saat ini."
"Apa faedahnya hanya mengingat saja ?".
"Tentu saja ada," sahut Huru Hara, "percuma pikiran
kita harus selalu ingat. Dan apabila pikiran sudah terisi
dengan ingatan itu maka kau tentu akan mencari usaha
untuk meringankan penderitaan rakyat. Beda dengan kalau
kita tak mengingatnya, kita mudah terpikat kesenangan
diatas keluh rintihan rakyat."
"Wah, wah, hebat benar omonganmu," seru Ang Hay Ji,
"apakah engkau mempunyai rencana untuk meringankan
penderitaan rakyat ?"
"Ada deh."
"Coba katakan."
"Tunggu saja nanti setelah semua sudah datang."
"Ih, engkau masih mengundang lain tetamu lagi ?" seru
Ang Hay Ji.
"Ya, dia masih menunggu kedatangan lima tokoh lagi,"
selutuk Kolera-tua.
"Siapa ?"
"Manusia-pemakan-serigala Sebun Pa, Harpa asmara
Hoa Lan Ing, Landak-besi Ma Hion, Im pohpoh dan paderi
Gemar-segala-apa."
Mendengar itu mendeliklah mata Ang Ha Ji lalu
berteriak keras2, “Bocah badung, otak lempung, minta
dipentung ! Engkau berani mengundang ke Tujuhpembunuh-
besar ? Idih, kalau engkau tak punya uang
sebanyak limapuluh ribu tail perak tak mungkin engkau
dapat menyuruh mereka datang kemari."
"Belum tentu, bung. Untung atau buntung sang nasib
tergantung. Tuh, paderi Gemar-segala-apa sudah datang,"
sahut Huru Hara.
Tepat pada saat dia berkata begitu, sesosok bayangan
berkelebat dan muncullah seorang paderi tua dengan
mencekal tongkat pertapaan.
Paderi Gemar-segala-apa !
Paderi itu berumur lebih kurang setengah abad.
Wajahnya berseri seperti wajah yang memancarkan rasa
cinta kasih. Siapa yang belum kenal kepadanya tentu akan
terpengaruh dengan lagak lahiriyahnya. Dan menganggap
dia seorang paderi yang sudah mencapai penerangan batin
tinggi.
Memang boleh juga gayanya seperti seorang paderi yang
saleh. Begitu tiba, dia terus menganggukkan kepala,
rangkapkan kedua tangan dan melantang doa
pemberkahan, "Omitohud ! Sudah bertahun-tahun tak
berjumpa dengan sicu berdua. Apakah selama ini sicu
berdua baik2 saja?"
Kolera-tua tertawa, "Baik sih baik, tetapi tidak seuntung
engkau yang . mendapat rejeki luar biasa melimpahnya.
Kabarnya tahun lalu engkau telah mengeruk keuntungan
sampai lima enampuiuh ribu tail perak, benarkah itu?"
"Omitohud," seru paderi itu, "ah, itu hanyal kabar angin.
Dan angin itu tentu selalu kosong. Aku seorang umat
vihara, bagaimana aku masih mempunyai nafsu temaha
terhadap harta dunia Tidak banyak, hanya sekitar empat
puluhan ribu saja."
Ang Hay Ji menghela napas, "Idih, tahun lalu aku hanya
memperoleh hasil duapuluhan ribu saja. O, selama
matahari masih bersinar nafsu manusia selalu tak puas.
Rupanya manusia-manusia sekarang ini makin lama makin
aneh. Yang mengejar tidak dapat, yang diam malah
dikejar."
"Omitohud!" seru paderi Gemar-segala-apa "apa yang
sicu keluhkan itu?"
"Aku mengeluhkan nasibku sendiri," jawab Ang Hay Ji,
"aku sudah pasang merk menjadi pembunuh bayaran tetapi
ternyata penghasilanku masih kalah jauh dengan seorang
paderi."
"Itu kesalahanmu sendiri," tiba2 Huru Hara menyelutuk.
"Apa katamu? Aku salah? Salah apa?" Ang Hay Ji
menegas.
"Salah ibumu yang mengandung, mengapa lahirkan
engkau menjadi seorang pendek kecil seperti seorang bocah
……,"
"Kunyuk, engkau berani menghina aku ' A'ig Hay Ji
deliki mata.
"Mengapa engkau marah?" seru Huru Hara dengan
tenang2 saja," bukankah engkau ingin mengetahui mengaoa
nasibmu kalah baik dengan seorang paderi ? Itulah letak
sebabnya."
"Bagaimana ?"
"Karena tubuhmu kecil dan wajahmu seperti kanak2,
orang tentu tak percaya engkau mampu membunuh orang.
Tidak demikian dengan paderi ini. Dia berwajah terang,
bergaya suci dan berbicara penuh welas asih. Orang tentu
lebih percaya!"
"Omitohud," seru paderi Gemar-segala-apa. “tak perlu
sicu menghiraukan omongan orang. Untung tak dapat
diraih, celaka tak dapat ditolak. Tahun lalu tidak untung,
tahun ini tentu banyak rejeki."
Kemudian paderi itu bertanya kepada Huru-Hara,
"Apakah sicu ini yang mengundang aku ke mari ?"
"Benar."
"Apakah keperluan sicu mengundang aku ?"
"Ada," sahut Huru Hara, "tetapi harap tunggu dulu
setelah semua datang."
Seperti Kolera-tua dan Ang Hay Ji, juga paderi Gemarsegala-
apa mendapat keterangan yang serupa tentang
tetamu2 yang diundang.
"Apakah sicu menganggap bahwa sicu perlu bantuan
tenaga seorang paderi ?"
“Sebenarnya aku sangat menghormat kedudukan paderi,
imam dan penganut agama yang saleh. Tetapi setelah
mendengar engkau mana gelar paderi Gemar-segala-apa
maka akupun mengundangmu."
"Sicu belum menjawab pertanyaanku," "Pertanyaan lohweshio
sudah terjawab. Bukankah engkau sudah
menerima undanganku ? Dengan begitu terang aku
membutuhkan tenagamu.
"Dalam soal apa saja maka, sicu begitu memerlukan
tenaga paderi tua semacam aku ini ?”
"Jangan terburu nafsu, hweshio tua. Nanti apabila sudah
berkumpul lengkap, tentu akan kuberitahu."
"Omitohud !" seru paderi Gemar-segala-apa, “apa
maksud sicu memakai gelar Huru Hara ?"
"Hweshio tua, ah, mengapa engkau mengajukan
pertanyaan begitu? Tidakkah engkau sudah merasa sendiri
?"
"Apa yang harus kurasakan ?"
"Kehadiranmu ditempat ini sudah merupakan jawaban
dari pertanyaanmu. Apakab engkau masih perlu penjelasan
?"
"Sekira aku sudah mengerti, masakan aku perlu bertanya
lagi ?"
"Baik," kata pendekar Huru Hara," negara diserang
musuh, suasana kacau, pemberontakan dan kejahatan
merajalela. Negara kehilangan pimpinan, undang2 diinjakinjak,
rakyat kebingungan. Apakah ini bukan suatu huru
hara ?
"Ya, benar. Tetapi apa sangkut pautnya dengan nama
yang engkau gunakan itu ?"
"Negara huru hara tentu akan menimbulkan jaman edan.
Orang baik menjadi munafik, yang jahat makin mengumbar
nafsu, karena harta, timbullah nafsu. Jaman edan memberi
kesempatan sebesar-besarnya. Merampok, membunuh,
memeras dan segala macam cara kejahatan dilakukan,
teman makan teman bahkan saudara tega untuk mencelakai
saudaranya sendiri."
"Omitohud !" seru paderi Gemar-segala-apa, "terlalu
ngeri sicu melukiskan suasana negara dewasa ini. Pada hal
kejahatan itu, seiring dengan kebaikan. Sejak manusia lahir,
kejahatan dan kebaikan itu sudah ada."
"Tetapi dalam jaman edan seperti sekarang ini, kebaikan
menipis sebaliknya kejahatan makin bertumbuh. Contoh
yang paling jelas lagi. Paderi itu seharusnya berada dalam
vihara dan pantang dahar makanan berjiwa. Tetapi dalam
jaman edan ini terdapat paderi yang bergelar Gemar-segalaapa.
Kalau yang suci sudah begitu rakus gemar segala apa ,
lalu apa masih ada sisa lagi untuk yang tidak suci dan orang
biasa ?"
Merah muka paderi Gemar-segala-apa ia waktu
mendengar kata2 tajam dari pendekar Huru Hara. Dia
hendak membantah tetapi sekonyong konyong terdengar
derap kuda lari mendatangi. Dari debur suaranya, kuda itu
masih berada di tempat jauh. Tetapi dalam beberapa kejab
saja derap kuda itu sudah makin dekat.
Sekalian orang serempak memandang kearah datangnya
kuda itu. Mereka terkesiap menyaksikan suatu adegan yang
hebat.
Masih terpisah berpuluh tombak dari tempat halaman
pagoda, penunggang kuda sudah ayunkan tubuh ke udara,
membiarkan kuda itu berlari sendiri. Kemudian bagai
seekor burung garuda, orang itu melayang turun ke
hadapan beberapa orang tadi.
Benar2 seorang lelaki yang jantan gagah perkasa.
Kepalanya bundar besar, biji matanya besar. Mukanya
berewok penuh rambut lebat tingginya hampir dua meter.
Orang itu tak lain adalah benggolan pembunuh yang
termasyhur dalam dunia persilatan yakni Landak-besi Ma
Hiong. Setiap orang yang mendengar namanya tentu
gemetar dan copot nyalinya. Bahkan anak kecil yang
nangis, tentu akan diam. apabla akan dipanggilkan Ma
Hiong.
Ma Hiong memang seorang raksasa seram
"Aha, engkau juga datang Ma toaya," seru Kolera-tua.
"Omitohud," seru paderi Gemar-segala-apa, "selamat
datang Ma sicu."
"Idih, Ma toaya, sudah lama kita tak bertemu," seru Ang
Hay Ji.
Rupanya ketiga pembunuh bayaran itu juga segan
terhadap si raksasa Ma Hiong.
"Ya, ya, terima kasih," sahut Ma Hiong, "lalu mana si
Huru Hara yang mengundang aku itu?"
"Dia," sahut Kolera-tua.
"Hanya seorang kunyuk kecil, Ma toaya," keru Ang Hay
Ji, "mungkin tak dapat membayar kita.”
“Hm, mengapa berani mengundang kita berempat?"
dengus Ma Hiong.
“'Bukan hanya empat, tetapi tujuh orang," teriak Koleratua.
“Tujuh orang?" Ma Hiong terkejut lalu menegur Huru
Hara, "Hai, benarkah engkau megundang tujuh orang?'
"Ini," sahut Huru Hara seraya menunjuk pada tujuh
cawan arak yang telah dijajar di hadapannya.
“Siapa saja?”
“Selain kita berempat masih ada Im-poh-soh…….” Baru
Kolera tua menerangkan sampai di situ, tiba2 dari belakang
pagoda terdengar suara orang tertawa mengikik keras.
Seorang nenek tua muncul. Walaupun sudah tua tetapi
nenek itu masih genit. Mukanya berbedak, bibirnya
dimerah dan rambut disisir mengkilap, pakai pita, uh . . .
"Im pohpoh, datang," seru Ang Hay Ji, "benar-benar
suatu peristiwa yang langka sekali bahwa hari ini Tujuh
pembunuh-besar dapat berkumpul disini!"
"Hi, hik," seru nenek itu yang ternyata memang Im
pohpoh, "engkau juga nongol bocah baju merah."
"Tentu," sahut Ang Hay Ji, "nih, Kolera tua, paderi
Segala-apa-mau, Ma toaya dan aku. Dengan pohpoh, kita
sudah berjumlah lima orang.
"Bocah merah," seru Im pohpoh pula, "mengapa engkau
tampak gembira sekali? Apakah yang mengundang engkau
itu akan memberimu sebuah kang-tau yang hebat?"
"Entahlah."
"Entah? Engkau tidak tahu?" Im pohpoh menegas heran.
"Ya. Dia tak mau bilang sebelum kita bertujuh lengkap."
"Ih, mana orangnya?"
"Tuh," Ang Hay Ji menuding pada pendekar Huru Hara
yang masih berkemas mengatur hidangan sate.
"Itu kan bocah penjual sate," seru Im poh-poh.
"Bukan, pohpoh," kata Ang Hay Ji, "memang dia yang
mengundang kita."
"Benar?"
"Sungguh mati!" Ang Hay Ji memberi penegasan,
kemudian berseru kepada Huru Hara, "hai, kunyuk, Im
pohpoh yang engkau undang sudah datang, mengapa
engkau diam saja?"
"Lalu engkau suruh aku bagaimana?" sahut pendekar
Huru Hara.
"Sambut, dong, engkau kan tuan rumahnya!"
"Cukup sudah engkau wakili."
"Hai, bocah, apakah engkau yang menggunakan nama
Huru Hara.”
"Ya."
"Apa maksudnya?"
“Tidak bermaksud apa2. Itu hanya sebuah nama."
"Banyak sekali nama yang bagus2, mengapa engkau
pakai yang begituan?"
"Yang penting, orangnya. Bukan namanya."
"Apakah engkau sedang mengalami huru hara?"
"Ya."
"O, maka engkau mengundang kami datang. Huru Hara
apa yang sedang engkau derita?"
"Semua," sahut pendekar aneh itu, "'Negara,
rumahtangga dan hatiku.'"
"Lalu apa maksudmu mengundang kami?"
"Masih kurang dua orang lagi. Setelah lengkap, baru
nanti kukatakan,'' sahut pendekar Huru Hara.
"'Masih kurang dua? Siapa?"
"Manusia-pemakan-serigala Sebun Pa dan Harpa-asmara
Hoa Lan Ing, pohpoh," seru And Hayji.
"O, mereka juga diundang?"
"Benar. Tujuh pembunuh besar dalam dunia persilatan
telah diundangnya. Entah dia mempunyai modal berapa
sehingga berani melakukan hal itu."
"Aku datang . . . ! " tiba2 terdengar sebuah suara
melengking yang tajam. Walaupun masih jauh tetapi
nadanya berkumandang mengiang-ngiang di telinga
sekalian orang.
Im pohpoh menyambut dengan tertawa juga, "Ih, budak
Sebun Pa sekarang ini ilmu -tenaga-dalamnya maju sekali."
"Terima kasih atas pujian Im cici," seru sebuah suara dan
pada lain saat muncullah sesosok bayangan biru terbang
melayang ke halaman pagoda.
Namanya Manusia-pemakan-serigala tetapij ternyata
orangnya cakap, berumur sekitar 50-an tahun, mengenakan
dandanan seperti seorang sasterawan. Benar, memang yang
muncul itu adalah Sebun Pa.
Memang tidak sesuai segala-galanya pada dirinya. Dia
seorang pembunuh bayaran tetapi wajahnya cakap seperti
seorang sasterawan. Biasanya srigala yang makan orang,
tetapi dia memakai gelar 'manusia pemakan serigala'.
Pernah dalam kesempatan berhadapan dengan musuh
dan saling mengejek, dia memberi jawaban yang tepat,
"Apakah seorang sasterawan tak dapat menjadi pembunuh.
Disitulah letak kelebihan diriku. Aku seorang sasterawan
dapat menjadi pembunuh. Tetapi seorang pembunuh belum
tentu mampu jadi sasterawan !"
"Lho, kok pakai gelar Manusia-pemakan-serigala ?
Apakah engkau gemar makan serigala ?" tanya seorang
yang pernah berhadapan dengan dia.
"Ya." sahut Sebun Pa, "engkau tahu apa arti namaku ?"
"O, apa itu ? itu kan berarti macan tutul."
"Tidakkah macan tutul gemar makan serigaIa ?"
'"O, engkau mendasarkan gelarmu itu dengan namamu
yang asli ?"
"Hm, susahnya kalau orang buta huruf, disitulah," jawab
Sebun Pa.
Ada juga keistimewaan dari Sebun Pa. Walaupun
seorang pembunuh bayaran, tetapi tidak sembarang dia
mau terima permintaan orang walaupun dijanjikan upah
besar.
"Huh, engkau tahu apa makna gelarku manusiapemakan-
serigala itu ?" tanyanya pada satu orang yang
hendak menyewanya.
Kebanyakan orang tentu menjawab tak tahu dan minta
keterangan.
"Gelar Manusia-pemakan-serigala bukan sekedar gelar
kosong untuk menambah keseraman. Tetapi memang
betul2 ada kenyataannya," kata Sebun Pa, "aku mempunyai
prinsip tersendiri sebagai seorang pembunuh bayaran. Soal
upah juga boieh kurang tetapi syaratnya harus dipenuhi."
"Apa syaratnya ?"
"Yang menjadi calon korbanku itu harus orang ternama,
baik dalam dunia persilatan, pemerintahan, masyarakat dan
dagang. Aku tak mau membunuh seorang tak bernama
walaupun di beri upah besar ! Dengan begitu barulah sesuai
dengan gelarku. Aku seorang manusia pemakan serigala.
Serigala kuartikan orang2 besar dan ternama."
"Hola. sekarang hanya kurang seorang !" seru Ang Hay
Ji seraya bertepuk tangan.
"Siapa ?'r
"Harpa-asmara Hoa Lan Ing."
Tiba2 si raksasa Ma Hiong berseru dengan suara
menggeledek, "Hoa Lan Ing paling senang jual aksi. Dia
selalu datang yang terakhir sendiri.”
"Benarlah, dia sudah datang," seru paderi Segala-apamau.
Sayup-sayup terdengar suara harpa beralun bagaikan
kemerduan suara musik yang mengantar para bidadari
turun dari langit. Hanya harpa Jit-luan-khim- atau harpa
tujuh snaar yang mampu memperdengarkan bunyi
sesyahdu itu.
Serentak perhatianpun terpikat akan keasyikan alunan
harpa itu. Bermula melukiskan curahan perasaan kesepian
dan kesedihan, kemudian dalam kesedihan itu memancar
rasa penasaran. Penasaran yang kecewa dan bukan
kemarahan, kesedihan yang sepi bukan kedukaan, semisal
dara yang kemanja-manjaan.
"Ha, perempuan busuk itu sedang melengking-lengking,"
dengus Ma Hiong. Habis berkata dia terus duduk bersila
pejamkan mata dan menyalurkan tenaga-dalam.
Ternyata suara harpa yang menghanyutkan hati itu
mengandung pancaran tenaga-dalam yang hebat.
Barangsiapa lemah, urat jantungnya tentu putus.
Kolera-tua, paderi Segala-apa-mau, Ang Hay Ji dan
Sebun Pa juga menyadari hal itu. Merekapun serempak
duduk bersila untuk menyalurkan tenaga-dalam. Wajah
mereka tampak tegang seperti sedang menghadapi musuh
tangguh. Hanya Pendekar Huru Hara dan nenek Im
pohpoh yang tampak santai seperti tak merasakan suatu
apa.
Im pohpoh seorang wanita, sudah tentu dia tak terpikat
daya rayuan sesama jenisnya. Tetapi diam2 nenek itu heran
mengapa pendekar Huru Hara juga tak tertarik ? Bukankah
dia masih seorang anakmuda yang berdarah panas ?
Im pohpoh menghampiri ketempat pendekat Huru Hara
dan memuji, "Budak kecil, pertahananmu sungguh kokoh
sekali."
"Pertahanan apa ?" sahut Huru Hara.
"Engkau seorang pemuda tetapi ternyata mampu
bertahan dari pancaran suara harpa Hoa Lan Ing yang
penuh mengandung perangsang cabul. Sungguh jarang
sekali pemuda seperti engkau !"
"O, suara harpanya itu memancarkan daya perangsang ?"
seru Huru Hara tertawa.
"Ya," sahut Im pohpoh, "didunia hanya sedikit sekali
orang yang mampu bertahan atas suara harpa asmaranya.
Barangsiapa yang lemah kepandaiannya, tentu segera
terhanyut dalam buaian asmara, pikiran kabur dan terus tak
dapat mengendalikan diri.
"Aneh, mengapa aku tak merasa sesuatu! yang istimewa
pada suara harpa itu." Huru Hara mengangkat bahu,
menyeringai.
"Cobalah engkau dengarkan dengan seksama, betapa
merintih-rintih irama harpa itu seperti orang meratap
curahan asmara, bagai musafir yang kehausan di padang
pasir yang tandus. Sebagai orang lelaki, tidakkah hatimu
terketuk untuk memenuhi keinginannya?"
Huru Hara gelengkan kepala, "Aku tak mengerti irama
musik, pun tak tahu apa yang terkandung dalam alunan
suara harpanya. Sayang ..."
"Benar, memang sayang engkau tak mengerti hal musik,
sehingga engkau tak dapat menikmati betapa keindahan
asmara itu . . . . "
"Aku bukan menyayangkan diriku melainkan
menyayangkan dia. Kalau benar dia hendak tujukan alunan
harpanya itu kepadaku, bukankah dia hanya membuangbuang
waktu percuma saja ibarat orang memetik harpa
dihadapan seekor kerbau?”
"Hi, hi, hik, engkau memang seekor kerbau dungu," seru
Im pohpoh tertawa mengikik.
Pada saat itu suara harpapun makin jelas dan
iramanyapun makin sedih seperti seorang janda muda yang
bergelimpangan di ranjang seorang diri, terkenang akan
malam pengantin.
Tampak Kolera- tua mulai runtuh pertahanannya.
Kepalanya mulai bercucuran keringat, muka merah tegang
dan mata pun berkilat-kilat. Dia mulai terbakar oleh api
asmara.
Tiba2 Im pohpoh tertawa mengikik lalu berseru nyaring,
"Hoa hujin, disini banyak sahabat kita, jangan unjuk
permainan semacam itu!"
Sekonyong-konyong suara harpa itupun berhenti,
berganti dengan gemerencing suara tawa lengking yang
membelah angkasa lalu turun melayang ke bumi. Tahu2 di
halaman pagoda muncul seorang wanita yang cantik
mempesonakan”
Rambut hitam legam yang disanggul bagai gumpal awan,
muka bulat telur dengan pipi semerah bunga mawar mekar
di pagi hari. Alisnya lebat bagai gunung dimusim semi dan
matanya yang bening seperti telaga, leher jenjang, dada
padat dan pinggang ramping, ah, habis kiranya kata-kata
untuk melukiskan kecantikan wanita itu.
Dia menjinjing sebuah harpa, dengan langkah lemah
gemulai seperti pohon liu tertiup angin dia menghampiri
dan tertawa merdu, "Ih, engkau juga hadir, Im cici. Maaf,
atas keterlambatanku.”
Saat itu Kolera-tua, paderi Segala-apa-mau, Landak-besi
Ma Hiong dan Sebun Pa sudah berbangkit. Hanya Ang Hay
Ji yang masih deprok duduk di tanah, belum berani berdiri.
Sambil menyeringai seperti anak kecil minum permen,
dia berseru, "Hoa hujih, ilmu kepandaianmu makin lama
makin hebat. Aku benar-benar ....,"
Harpa-asmara Hoa Lan Ing meludah, "Cis, anak kecil
yang masih msnyusu seperti engkau mau main2 apa?
Tunggu beberapa tahun lagi kalau engkau sudah besar."
Kolera-tua tertawa gelak2. Tepat sekali dampratan si
cantik itu kepada bocah baju merah Ang Hay Ji. Wajah
Ang Hay Ji yang merah makin merah seperti kepiting
direbus.
Harpa-asmara Hoa Lan Ing mengalihkan pandang
matanya kepada pendekar Huru Hara, lalu menegur dengan
merdu, "Apakah anda ini pendekar Huru Hara?"
"Ya," Huru Hara mengangguk.
"Sungguh aneh sekali nama itu."
Pendekar Huru Hara tertawa, "Memang selera orang
berbeda. Ada orang yang suka pakai nama binatang yaitu
Ati Kau ( anjing ), Ah Mau ( kucing ), Ah Hau (harimau)
dan lain2. Mengapa kalau aku pakai nama Huru Hara,
engkau merasa aneh?"
"Mengapa engkau mengapa nama Huru Hara? Apakah
engkau sedang mengalami huru hara?"
''Ya, aku merasa begitu."
"Ah, benar sekali dugaanku," Hoa Lan Ing tertawa
merdu, "hatiku memang lemah. Begitu melihat surat
undangan itu tertera nama Huru Hara, aku segera
memutuskan untuk datang. Huru hara apakah yang sedang
engkau alami sehingga engkau mengundang aku datang
kemari?"
"Tuan2 sekalian, silakan duduk dulu," tidak terus
menjawab pertanyaan tetapi pendekar Huru Hara
mempersilakan tetamu undangannya duduk.
Ketujuh tokoh pembunuh yang ternama itupun segera
diiduk mengelilingi “perjamuan'.
Pendekar Huru Hara mengambil poci arak lalu mulai
menuangkan pada delapan cawan yang telah dijajar-jajar,
kemudian dia mulai membuka, perjamuan.
"Anda sekalian adalah tokoh2 dunia persilatan yang
ternama. Bahwa anda telah sudi memerlukan hadir
memenuhi surat undmganku itu benar2 merupakan suatu
kehormatan besar bagiku. Sebagai pernyataan terima
kasihku yang tak terhingga, lebih dulu aku hendak
menghaturkan arak Kehormatan kepada anda sekalian!"
Habis berkata dia terus meneguk cawannya sampai
habis. Ketujuh pembunuh besar itu tak mau ikut minum
melainkan tersenyum saja memandangnya. Rupanya
mereka tak mau menerima undangan diajak minum
bersama.
Pendekar Huru Hara tersenyum, serunya.
"Arak tak tercampur racun, silakan anda minum!"
Tetapi ketujuh tokoh benggolan itu tetap tak mau
mengangkat cawannya.
"Mengapa anda tak mau minum ?" seru pendekar Huru
Hara!
"Kami bertujuh ini selamanya memang tak pernah
minum arak lain orang," sahut Ma Hiong dengan nada
dingin.
"Mengapa ?"
"Terlalu banyak orang yang telah kami bunuh."
"Apa hubungannya hal itu dengan arak ?"
"Orang yang dosanya setumpuk gunung, tak lurus
sembarangan minum arak yang dihidangkan orang karena
kuatir arak yang bersihpun nanti dapat berobah menjadi
arak beracun.
Pendekar Huru Hara tertawa, "Baiklah. KaIau kuatir
minum arak dapat membahayakan jiwa, akupun takkan
memaksa. Tetapi aku ingin, melaksanakan kewajibanku
sebagai tuan rumah untuk menghindangkan sate bakar
kepada para tetamu sekalian."
Ia segera mengambil setusuk sate, dihidangkan
kehadapan Harpa-asmara Hoa Lan Ing, "Silahkan nyonya
yang pertama-tama menikmati hidangan sate bakar ini."
"Sate apakah itu ?" Hoa Lan Ing kerutkan alis.
"Sate tikus."
"Ih, ih, memuakkan," seru Hoa Lan Ing seraya
tegangkan alis mengerut jijik, “bagaimana engkau berani
menghidangkan daging semacam itu kepadaku ?"
"Daging manusiapun bisa dimakan apalagi daging tikus
?" sahut pendekar Huru Hara.
"Ngaco !" bentak wanita cantik itu dengan marah, "aku
memang membunuh orang tetapi tak pernah makan
dagingnya, singkirkanlah !"
Pendekar Huru Hara cibirkan bibir lalu mengalihkan
tusuk sate bakar itu kehadapan nenek Im," Pohpoh tentu
tak mungkin takut makar sate ini, bukan ?"
Im pohpoh gelengkan kepala, "Bukan karena takut tetapi
aku memang tak mau makan satemu itu, bocah !"
Huru Hara tak mau memakan melainkan mengalihkan
kehadapan Ang Hay Ji, "Engkau tentu tak menampik, kan
?"
Tetapi Ang Hay Ji tak mau menyambuti melainkan
tertawa mengikik, "Hi, hik, segala apa saja aku makan asal
bukan masakan orang."
"Maksudmu ?"
"Hidangan yang dimasak orang, selamanya aku tak mau
makan."
"Takut diracun."
"Ya," sahut Ang Hay Ji, "aku mempunyai prinsip begini
'tidak mau mencelakai orang tetapi tak mau seratus persen
percaya pada orang."
"O, apakah selama ini engkau benar2 tak pernah
mencelakai orang ?".
"Ya," sahut Ang Hay Ji, "aku hanya membunuh orang
tetapi tak pernah mencelakai orang. Mencelakai orang itu
melanggar peri kemanusiaan."
"Uh, bagus, bagus," seru Huru Hara seraya acungkan
jempol tangannya dan tertawa mengejek, "baru kali ini aku
mendengar suatu ajaran yang menarik. Membunuh itu
perbuatan baik dan mencelakai itu barulah perbuatan jahat.
Tetapi dimanakah letak perbedaannya ?"
"Membunuh," kata Ang Hay Ji. "hampir dilakukan tiap
hari oleh orang, membunuh kerbau, kambing, ayam, ikan
dan lain2 binatang. Jika membunuh binatang dianggap
wajar, mengapa membunuh manusia dianggap tidak wajar ?
Bukankah mereka sama2 mahluk berjiwa ?"
"O, ya, iya," Huru Hara garuk2 kepala, "lalu apa
bedanya kata peri-kemanusiaan dengan peri-kebinatangan
itu ?"
"Hus, bocah gila," seru Ang Hay Ji tertawa," tidak ada
kata 'peri-kebinatangan' itu. Yang ada peri-kemanusiaan."
"Sebabnya ?"
''Binatang itu adalah mahluk pengisi dunia yang
diperuntukkan bagi kehidupan manusia, seperti halnya
dengan tumbuhkan dan lain2 benda. Kambing, kerbau,
ayam dan lain2 binatang dismbelih, selain untuk lauk pauk
makanan manusia pun juga untuk menambah tenaga
kekuatan manusia itu."
"O, makanya aku tak pernah mendengar kata perikebinatangan
karena binatang itu memang diperuntukkan
manusia."
"Ya."
"Lalu apa yang disebut peri- kemanusisiaan itu ?"
“Peri-kemanusiaan yalah asas hidup berdasarkan rasa
cinta kasih dan menghormat hak hidup seorang manusia.”
"Maka mencelakai sesama manusia itu, melanggar perikemanusiaan
?"
"Ya, benar."
"Tetapi kalau membunuh sesama manusia itu tidak
melanggar peri-kemanusiaan ?" desak Huru Hara.
"Hi, hi', hi, mari engkau sekarang bocah merah....." Im
pohpoh tertawa mengikik, "engkau harus menelan lagi
ludahmu tadi."
Ang Hay Ji mengangkat muka dan menyahut, "Jangan
menertawakan dulu, pohpoh. Aku kan belum memberi
jawaban kepada bocah ini."
Ia terus beralih memandang Huru Hara dan berseru,
"Membunuh dan membunuh ada dua, bocah Engkau harus
dapat membedakannya."
"O, membunuh itu ada dua ? Apa saja ?"
"Membunuh karena membela negara, tugas jalan
kebenaran, tidak melanggar peri-kemanusiaan. Tetapi
membunuh karena hendak nenginginkan harta benda dan
dendam peribadi, itu melanggar peri-kemanusiaan."
"Dan kalau pembunuhan yang engkau lakukan itu.
apakah juga tak melanggar peri-kemanusiaan?”
"Sudah tentu tidak, bocah," sahut Ang Hay i dengan
yakin, "aku ini seorang pembunuh bayaran. Kalau orang
suruh aku membunuh orang, itu berarti aku bekerja.
Melaksanakan tugas pekerjaan, itu tidak melanggar perikemanusiaan.
Dan selamanya aku tak mau membiarkan
korbanku itu menderita kesakitan. Setiap kali terus kubunuh
dengan cepat!"
"Mengapa engkau harus menuntut penghiduan sebagai
pembunuh ? Bukankah masih ada lain pekerjaan yang lebih
baik dari pekerjaan sebagai pembunuh ?"
Ang Hay Ji tak lekas menyahut melainkan
mengelilingkan pandang kearah keenam tokoh lainnya,
"Pertanyaan ini menyangkut kepentingan anda sekalian.
Siapa mau menjawab ?"
"Dia bertanya kepadamu, engkaulah yang wajib
menjawab," seru Kolera-tua,
''Hm, baiklah," kata Ang Hay Ji lalu menghadap kearah
Huru Hara lagi, "Aku bekerja sebagai pembunuh bayaran
karena kuanggap pekerjaan itu mudah dan menghasilkan
uang banyak."
"Hm, baik, catatlah apa yang engkau katakan ini semua,"
dengus pendekar Huru Hara. Ia terus menghidangkan sate
tikus kepada Kolera tua, paderi Gemar-segala-apa, Landakbesi
Ma Hiong dan Sebun Pa, "Aku tak dapat
menghidangkan apa2, kecuali sate bakar ini. Harap anda
suka mencicipi."
Tetapi keempat orang itu hanya gelengkan kepala.
Pendekar Huru Hara tak mau memaksa melainkan tertawa
gelak2, "Baiklah, kalau anda tak mau, aku sendiri yang
akan memakannya. Lain2 ikan aku tak suka. Aku hanya
gemar makan kawanan tikus saja....."
Mendengar kata2 itu, ketujuh benggolan pembunuh itu
berobah cahaya wajahnya. Tetapi Huru Hara tak
mengacuhkan, dia mulai memakan sate bakar itu seraya
berulang-ulang berseru, "Wah enak lhooo .. .. “
Melihat tingkah laku si Huru Hara itu, Landak-besi Ma
Hiong tak dapat menahan kesabarannya lagi. Wajahnya
mulai menampilkan hawa pembunuhan dan serentak dia
menegur bengis, "Budak kecil, apa maksudmu ini semua ?"
"Hm," acuh tak acuh Huru Hara picingkan mata melirik
pada Ma Hiong.
Ma Hiong tertawa dingin, “Engkau menyuguhkan tujuh
ekor tikus kepada tetamu, apa maksudmu? Apakah engkau
hendak mempermainkan kita ?”
Masih santai menikmati sate bakarnya, Huru hara
menjawab, "Sekarang ini rakyat sedang menderita. Musuh
menyerang, perampok mengganas masih ditambah lagi
dengan gangguan tikus2 busuk. Kalau aku dapat memakan
seekor, berarti mengurangi beban penderitaan rakyat."
"Kata-katanya mengandung arti yang dalam," seru
Kolera-tua.
"Benar, bocah itu hendak menyamakan kita sebagai
tujuh ekor tikus yang hendak dimakannya!" sambut Ang
Hay Ji.
"Ha, ha," Huru Hara tertawa, "kalau engkau merasa
sebagai tikus yang mengganggu rakyat memang tepat sekali
engkau merasa kuatir. Kegemaranku memang makan
tikus."
"Selain itu," Huru Hara melanjut lagi," kini di berbagai
daerah negara kita terserang paceklik musim kering
panjang. Bahaya kelaparan merajalela dimana-mana. Kalau
saat ini aku dapat makan daging tikus, itu sudah suatu
rejeki besar."
Ketujuh benggolan itu serentak diam. Dari nada katakatanya,
jelas Huru Hara memang mengakui kata2 Ang
Hay Ji bahwa ketujuh benggolan itu hendak dipersamakan
seperti tikus buduk.
"Gila mengapa kita dipermainkan seorang bocah gila
semacam dia," dengus Landak-besi Subun Pa seraya
berbangkit lalu berseru bengis "Hai, budak kurang ajar,
engkau harus menjawab dengan sungguh2 pertanyaanku.
Siapakah engkau?'
"Huru Hara."
"Benarkah namamu begitu ?"
"Tolong tanya, apa artinya Loan Thian Te itu ?" balas
Huru Hara.
"Hm, itukah namamu ?"
"Negara diduduki musuh, rakyat menderita rumahtangga
berantakan, apakah itu bukan huru hara ?"
Sebun Pa mendengus, "Hm, apa hubungan hal itu
dengan kami ?"
"Tak ada." sahut Huru Hara, "tetapi bisa ada . . ."
"Lalu apa maksudmu mengundang kami ke mari ini ?"
"Tentu saja ada," sahut Huru Hara, "aku hendak pinjam
sebuah barang kepada anda sekalian…."
Kolera-tua tertawa mencemoh, "Budak, kalau engkau
hendak pinjam uang atau suruh kami memberi dana kepada
rakyat yang kelaparan itu, engkau salah alamat!"
"O, tidak," sahut Huru Hara, "aku tidak bermaksud
pinjam uang melainkan hendak pinjam sehelai kertas dari
anda."
"Sehelai kertas?" Sebun Pa terkesiap, "kertas apa?"
"Undangan."
"Undangan?" Sebun Pa makin tegang.
"Ya. Bulan yang lalu, kalian masing2 telah menerima
undangan pesta dari seorang pembesar tinggj, bukan?"
Seketika wajah ketujuh benggolan itu berobah makin
tegang.
"Dari mana engkau tahu hal itu?" bentak Se-bun Pa.
"Tak perlu mengurus soal sumbernya, yang penting hal
itu benar atau tidak?"
Kolera-tua batuk2. Sambil mengusap-usap dagu, dia
berseru, "Perlu apa engkau hendak meminjam undangan
itu?"
"Untuk melamar."
"Jelaskan!" bentak Kolera-tua.
"Aku hendak melamar pekerjaan kepada orang besar
itu."
"Pekerjaan apa?"
"Hm, kalau seorang jenderal besar mengundang kalian
menghadiri pesta yang diadakannya, apakah jenderal itu
hanya karena ingin menjamu kalian tanpa suatu maksud
tertentu?''
''Hm," dengus Kolera-tua, "apa engkau tahu pekerjaan
apa yang hendak beliau berikan kepada kami?"
"Tidak tahu jelas," kata pendekar Huru Hara, "tapi
mudah diduga."
"Coba engkau duga," seru Sebun Pa.
"Sebagai seorang jenderal, dia tentu pandai dan luas
pengalaman. Apa yang hendak diberikan kepada kalian,
tentulah disesuaikan dengan pekerjaan kalian."
"Membunuh orang?"
'"Kemungkinan besar, ya," sahut Huru Hara, "tetapi
mungkin juga pekerjaan lain yang sifatnya sejenis."
"Lalu apa maksudmu hendak meminjam surat undangan
itu kepada kami?"
"Dengan membawa ketujuh lembar undangan yang
kalian terima itu, tentulah jenderal itu segera mendapat
kesan bahwa tak perlu lagi menyewa kalian bertujuh tetapi
cukup memakai aku seorang saja."
Kolera-tua tertawa gelak2, "Wah, tepat sekali
omonganmu, budak. Memang jenderal itu tentu mendapat
kesan begitu. Tetapi apakah engkau kira kalau kami
bertujuh tentu mau meminjamkan surat undangan
kepadamu?"
Huru Hara tertawa hambar, "Kalau tidak boleh, akupun
tak memaksa. Tetapi aku hendak pinjam lain barang lagi . .
. . "
"Barang apa lagi?" teriak Kolera- tua.
"Batang kepala kalian ....
Mendengar itu ketujuh benggolan itu terbelalak tetapi
Kolera-tua segera tertawa terpingkal-pingkal, "Bagus, bagus,
memang rencanamu hebat, nyalimu besar. Kalau engkaiu
mampu menyerahkan tujuh batang kepala kami, memang
lebih memperoleh kepercayaan jenderal itu dari pada hanya
membawa surat undangan kami saja."
"Itulah," seru Huru Hara, "sekarang terserah kepada
kalian semua, apakah kalian mau meminjamkan surat
undangan atau batang kepala?"
Ketujuh orang itu adalah tokoh2 pembunuh yang
termasyhur dalam dunia persilatan. Seharusnya mereka
sejak tadi marah karena dipermainkan oleh anakmuda yang
bertingkah aneh seperti si Huru Hara itu. Tetapi entah
mengapa, mereka seperti melihat bahwa orang aneh itu
bukan seorang anakmuda biasa. Mereka tak boleh bertindak
secara gegabah.
"Lebih baik engkau mengajukan permintaan yang kedua
itu saja," Kolera-tua tertawa.
Huru Hara mengangguk. Setelah membersihkan mulut
dan meneguk cawan arak lagi, dia menyambar tongkatnya
dan berbangkit, "Baik, kalau memang begitu, silakan
kemari."
Kolera-tua geleng2 kepala tertawa lalu mengikuti
pendekar Huru Hara yang menuju ke sebidang lapangan
kosong disebelah.
"Hayo, sudah siap?" seru Huru Hara.
"Hm."
"Engkau yang mulai dulu atau aku?"
Kolera-tua tertawa, "Engkau seorang budak kecil, sudah
tentu aku akan mengalah"
"Ya, benar," seru Huru Hara, "eh, tetapi aku tuanrumah
dan engkau tetamu. Tidak pantas kalau tuanrumah tidak
menghormat tetamu. Silakan engkau saja yang mulai!"
"Ya, engkau benar. Sekarang begini saja. Aku yang
mulai menyerang tetapi aku tak mau memakai tongkat
melainkan dengan tangan kosong. Sedang engkau boleh
menyambut dengan senjata apa saja."
"O, boleh, boleh," sambut Huru Hara.
Dalam pada itu ditempat persembunyiannya, Han Bi
Giok dan pemuda sasterawan Wan-ong Kui mengikuti
semua yang terjadi di halaman pi goda.
"Ah, mengapa orang aneh itu cari mati sendiri?" bisik Bi
Giok.
"Tetapi dia jujur," bisik Wan-ong Kui, "sebagai
tuanrumah memang seharusnya mengalah kepada tetamu."
"Ih, tetapi bagaimana mungkin dia mampu menghadapi
ketujuh pembunuh besar itu?"
"Kita belum tahu siapa dia dan bagaimana
kepandaiannya. Tetapi dengan berani mengundang ketujuh
tokoh pembunuh itu, dia tentu sudah mempunyai
persiapan."
"Tetapi kalau menilik sikapnya yang angin-anginan,
kadang seperti orang blo'on itu, mana mampu menghadapi
ketujuh pembunuh itu ?"
"Entahlah." bisik Wan-ong Kui, "tetapi yang jelas dia
memang hendak cari gara2 dengan ketujuh benggolan itu.
Aku setuju sekali dengan tindakannya."
"Kalau begitu apakah engkau juga siap hendak
membantunya apabila dia sampai terancam bahaya ?"
"Lihat saja bagaimana perkembangannya nanti."
"Uh, perlu apa engkau mengurusi orang semacam itu ?
Jijik aku melihatnya," bisik Han Bi Jok.
"St, tuh lihatlah . . . ," kata Wan-ong Kui ucara dan
memperhatikan.
"Ih Bi Giok mendesis kaget ketika menyaksikan apa yang
terjadi di gelanggang pertempuran," Kui- ko, ilmu
permainan apa yang dimainkan si Huru Hara itu ?"
Wan-ong Kui kerutkan dahi, "Ada beberapa ilmu
berputar diri, antaranya disebut Lo-ki-yau-li, Pian-hoan-kuiing,
Pit-ik-song-hui dan lain2 ilmu gin-kang sakti. Tetapi
yang dimainkan si Huru Hara itu aku belum pernah
melihat."
“Ih,” Bi Giok mendesis keras, untung cepat didekap
Wan-ong Kui. Apa yang terjadi ?
Ternyata pertempuran antara Kolera tua lawan si Huru
Hara, berjalan dengan seru tetapi aneh. Bermula Kolera-tua
melancarkan pukulan tamparan, tebasan, tutukan dan
tendangan. Ttapi tak ada yang berhasil. Huru Hara selalu
dapat menghindar. Akhirnya tambah lama Kolera tua
tambah panas hatinya. Dia melancarkan serangan yang
gencar dan makin gencar. Anehnya Huru Hara juga
bergerak makin lama makin deras dengan cara yang aneh.
Dia berputar putar mengelilingi lawan. Lama kelamaan
orangnya lenyap berobah menjadi sesosok bayangan yang
mengelilingi Kolera-tua.
Orang tak tahu apa yang terjadi. Hanya berapa saat
kemudian terdengar suara jeritan nyaring, bayangan loncat
ke belakang dan menjadi pendekar Huru Hara yang tegak
berdiri. Sedangkn Kolera-tua terhuyung-huyung kebelakang
lalu jatuh terduduk. Dia terus pejamkan mata melakukan
pernapasan. Wajahnya pucat lesi.
"Terima kasih, Kolera," seru Huru Hara sembari
memeriksa sehelai sampul surat yang berada dalam
tangannya, "karena sudah menerima surat undanganmu ini,
aku tak jadi pinjam kepalamu . . . , "
Namun Kolera-tua diam saja. Sekalian orang terkejut
menyaksikan kesudahan pertempuran itu. Mereka heran
mengapa Kolera-tua tiba2 jatuh terduduk dan mengapa
Huru Hara tiba2 sudah memegang sebuah surat undangan.
Ang Hay Ji yang bersahabat baik dengan Kolera-tua,
segera menghampiri, "Kolera-tua, apakah engkau terluka ?"
Namun tiada jawaban. Kolera-tua diam seperti patung.
Hanya kalau tadi wajahnya pusat lesi, kini tampak makin
merah dan lama kelamaan bertambah merah tua dan
akhirnya makin gelap seperti hangus.
Ang Hay Ji terkejut. Serentak dia berbangkit dan
menuding Huru Hara, "Bangsat, engkau benar- binatang
buas !"
"Mengapa ?" balas Huru Hara.
"Engkau tegah menggunakan pukulan beracun
kepadanya. Lihatlah, tubuh dan mukanya menjadi hangus.
.. ."
"Tidak, aku tidak menggunakan pukulan beracun.
Bahkan aku tidak memukul sama sekali kecuali hanya lari
mengelilinginya saja," bantah Huru Hara.
Ang Hay Ji memang sejak tadi heran menyaksikan
permainan aneh dari Huru Hara. Maka ia segera bertanya,
"Apakah nama ilmu permainanmu tadi ?"
"Suan-hong-yau jwan."
"Apa artinya ?"
"Angin lesus berputar-putar."
"Angin lesus berputar-putar?" ulang Ang Hay Ji terheranheran,"
dari perguruan manakah ilmu itu ?"
"Dari alam."
"Hah ?" Ang Hay Ji mendelik, "dari alam ? Jangan
bergurau, aku bertanya dengan sesungguh-nya.”
"Siapa bergurau ? Aku memang menirukan gerak angin
lesus yang berputar-putar,"
"Apakah engkau tak mempunyai perguruan?"
Huru Hara gelengkan kepala.
Ang Hay Ji tak percaya, la mengira Huru Hara tentu
mempermainkannya, "Hm, tak apa jika engkau
merahasiakan nama perguruanmu. Sekarang jawablah
pertanyaanku. Mengapa engkau membunuh Kolera-tua
dengan pukulan beracun ?
"Sudah kukatakan," sahut Huru Hara, “aku tidak
memukulnya sama sekali."
"Bocah merah, jangan menuduhnya. Kolera tua ini
memang mati karena pukulan beracun Hu-kut-ciang !"
Ang Hay Ji berpaling. Ternyata yang bicara itu adalah
Im pohpoh yang saat itu berada dihadapan Kolera-tua,
"Apa katamu, pohpoh? Dia terkena pukulan beracun Hukut-
ciang ?"
Hu-kut-ciang artinya pukulan yang membuat tulang
belulang menjadi hangus. Sebuah pukulan yang ganas
sekali.
"Lihatlah kuku jarinya yang gosong seperti hangus itu,"
seru Im pohpoh.
"Tetapi pohpoh, " seru Ang Hay Ji, "pukulan Hu-kutciang
itu adalah ilmu pukulan yang dimiliki Kolera-tua
sendiri. Bagaimana dia dapat terkena pukulan itu? Apakah
dia memukul dirinya sendiri?"
"Tanyakan pada bocah penjual sate itu," seru Im
Pohpoh.
"Hm, engkau berani membunuh tentu berani
bertanggung jawab, bukan? Nah, katakan bagai mana tadi
ia membunuhnya?" seru Ang Hay Ji.
"Aku hanya berlari mengelilinginya untuk menghindari
pukulan," tiba2 Huru Hara berhenti dan mengerut dahi
seperti teringat sesuatu, rasanya tadi aku membau hawa
yang busuk sekali. Hawa itu terpancar dari pukulannya.
Terpaksa ku tolaknya."
Ang Hay Ji terkejut. Memang ia melihat bahwa selama
bertempur tadi, Huru Hara tak pernah balas memukul.
Hanya pada suatu saat ia melihat Huru Hara menamparnamparkan
lengan bajunya. Mungkinkah dia memiliki
tenaga-sakti sehingga dapat mengirim kembali pukulan
beracun itu kepada Kolera-tua ..” pikirnya.
"Apakah dia mati?" seru Huru Hara.
"Jangan belagak pilon!''
"Ah, sayang . . . . "
"Jangan pura2 bersedih seperti tikus yang menangisi
kucing mati!"
"Hm, aku tidak menyayangkan dia mati Bukankah tadi
engkau mengatakan membunuh itu tidak melanggar perikemanusiaan?"
"Setan, tetapi dia tak bersalah kepadamu dan tak ada
orang yang menyewamu untuk membunuhnya."
"Dia tak mau meminjamkan surat undangannya
kepadaku, apakah itu bukan kesalahan? Dan siapa bilang
tak ada yang menyewa aku untuk membunuhnya?"
"Siapa yang menyewamu?" Ang Hay Ji tei belalak kaget.
"Korban2 yang telah dibunuhnya. Mereka datang
kepadaku dan menyewa aku untuk membunuh orang yang
bergelar Kolera-tua."
"Ngaco belo! Bagaimana orang yang sudah mati dapat
datang kepadamu!" bentak Ang Hay Ji.
"Mengapa tidak bisa? Beberapa waktu yang lalu setiap
malam aku selalu bertemu dengan orang yang berlumuran
darah dan mengatakan kalau dibunuh Kolera-tua . . . . "
"Kunyuk, jangan mempermainkan aku! Dimana orang2
itu sekarang, hayo tunjukkan kepadaku."
"Engkau ingin bertemu? Baik, nanti malam engkau boleh
tidur disini bersama aku. Orang2 itu tentu akan datang
menemuimu."
"Mereka menjadi setan?"
"Bukan. Mereka tetap menjadi mahluk manusia dan
menemui aku dalam mimpi. Mereka menyewa aku untuk
membunuh orang yang telah membunuh mereka."
"Apakah engkau juga hendak meminjam surat
undanganku?"
“Tiada pengecualian, termasuk engkau!"
"Hm, kalau kepalaku sudah terpisah dari tubuhku,
engkau baru dapat mengambil surat undangan itu!" sahut
Ang Hay Ji.
"O, sebenarnya aku lebih perlu surat undang dari batang
kepalamu, apaboleh buat," seru pendekar Huru Hara.
Saat itu Ang Hay Ji sudah melolos sepasang senjatanya,
golok dan pedang. Golok dipegang tangan kiri dan pedang
ditangan kanan.
"Bocah merah, mengapa menghadapi bocah kemarin
sore saja engkau harus mengeluarkan senjatamu yang
istimewa?" seru Im pohpoh.
"Engkau tak tahu pohpoh, kunyuk ini memang aneh dan
luarbiasa. Entah apakah dia mendapat rejeki bertemu
dengan seorang sakti yang memberinya pelajaran ilmusilat.
Kolera-tua mati larena terkena pukulan Hu-kut-ciangnya
sendiri," sahut Ang Hay Ji.
Ang Hay Ji memang jarang sekali menggunakan
sepasang senjatanya. Biasanya dia hanya pakai satu, golok
atau pedang dan musuh tentu sudah binasa. Rupanya dia
memiliki selera tajam bahwa pendekar Huru Hara itu
memang tak boleh dibuat main2.
"Tunggu sebentar," tiba2 Huru Hara berseru lalu lari ke
'meja perjamuan' dan meneguk arak. Setelah itu baru dia
kembali berhadapan dengan Ang Hay Ji, "Siapa yang mulai
menyerang dulu?" serunya.
"Terserah!" sahut Ang Hay Ji.
Kata-katanya garang sebagai seorang pendekar gagah
tetapi ternyata sambil berkata diapun sudah melangkah
maju dan terus tusukkan pedang ke dada Huru Hara seraya
loncat mundur. Tetapi Ang Hay Ji tak mau memberi
kesempatan lagi. Golok dan pedang menyambar-nyambar
makin gencar bagai sepasang burung rajawali sedang
bercanda.
"Tunggu dulu," teriak Huru Hara.
"Engkku menyerah?" Ang Hay Ji menegas.
"Belum," sahut Huru Hara, "aku hanya ingin tanya,
apakah nama ilmu permainanmu yang hebat itu?"
"Edan barangkali bocah ini. Masakan bertempur,
menanyakan ilmu permainan lawan," pikir Ang Hay Ji,
"hm, tak apa. Mungkin setelah mendengar ilmupedangku,
dia akan menyerah"
"Ilmupedang Song-eng hwe-soan-kiam-hwat, atau
ilmupedang Sepasang-rajawali-menyambar.” seru Ang Hay
Ji.
"Wah, hebat benar namanya !"
"Engkau menyerah ?"
"Jangan terburu nafsu," seru Huru Hara, "akupun
teringat akan sepasang burung camar yang bermain di
permukaan laut. Bagus hayo kita mulai lagi. Engkau boleh
menyerang dengan iimupedang Song-eng-hwe-soan-kiamhwat
aku akan bermain dengan gerak Song-yan-yu-hay,
sepasang camar menyambar laut."
"Bocah edan !" bentak Ang Hay Ji seraya terus
melancarkan serangan lagi. Kali ini dia benar2 hendak
melaksanakan ciri2 dari ketujuh Pembunuh-besar. Yalah,
setiap kali bertempur, dalam sekali gebrak tentu sudah
melancarkan serangan maut.
Tetapi alangkah kejutnya ketika setiap kali diserang.
Huru Hara tentu menghilang dan tahu2 sudah berada di
belakangnya. Ternyata Huru Hara selalu apungkan tubuh
mencelat ke udara.
"Hm, aku harus menggunakan tipu," pikir Ang Hay Ji.
Serentak ia membuat suatu gerak menyerang dengan
pedang dan secepat itu dia terus berputar tubuh dan
membabatkan golok kebelakang. Cepat' sekali dia bergerak.
Diperhitungkan sebelum Huru Hara sempat berdiri tegak,
tentu sudah dapat dibabatnya.
"Uh.....," ia mendesuh kejut ketika babatannya hanya
mengenai angin kosong.
"Bocah merah, aku disini." seru Huru Hara dari
belakang. Dia menirukan lm pohpoh apabil memanggil Ang
Hay Ji. Ternyata waktu melambung diatas, ditengah jalan
dia melihat Ang HayJi bergerak berputar kebelakang maka
diapun bergeliat melayang balik ketempat semula lagi.
"Kunyuk keparat mampus engkau, "Ang Hi Ji loncat
menerjang dengan kecepatan yang luar biasa.
Huru Hara terkejut. Dia masih sempat menghindar dari
tabasan pedang, kemudian menghindari tusukan golok
tetapi dia tak dapat menghindar dari tendangan Ang Hay Ji,
plok . . .
"Auh .... aduh.....!" terdengar dua macam pekik dan
jeritan. Tahu2 Ang Hay Ji terjungkal rubuh ke belakang,
muka dan sepasang biji matanya berlumuran darah.
Apa yang terjadi ?
Ternyata tendangan Ang Hay Ji itu tepat mengenai perut
Huru Hara. Huru Hara terkejut sekali. Perutnya terasa mual
dan tahu2 mulutnya menyembur. Semburan itu berupa arak
yang diteguknya tadi. Dan kebetulan pula, tepat
menghambur muka Ang Hay Ji.
Arak hanyalah cairan air. Tetapi disemburkan oleh
mulut Huru Hara, arak itu seperti taburan pasir besi
kerasnya. Muka Ang Hay Ji hancur, biji matanyapun
pecah!
"Bocah merah, jangan kolokan !" teriak Im pohpoh,"
masakan dengan bocah kecil saja engkau pura2 kalah ?
Kalau mau tidur, pulanglah ke sarangmu !"
Sementara itu Huru Hara tanpa berkata apa2 terus
merogoh baju Ang Hay Ji, mengambil surat undangan dan
menyimpan kedalam bajunya.
"Pohpoh, jangan berolok," seru Manusia-pemakanserigala
Sebun Pa seraya loncat ketempat Ang Hay Ji,
memeriksanya dan berseru, "dia mati....!"
"Sian-cay ! Sian-cay ! Cintailah sesama manusia
sebagaimana engkau mencintai dirimu," seru paderi Gemarsegala-
apa," mengapa sicu gemar membunuh ? kalau ingin
melampiaskan nafsu membunuh, bunuhlah tikus2 dalam
pagoda rusak ini tetapi jangan membunuh jiwa manusia . .
."
"Aku tidak membunuh mereka," seru Huru Hara, "tetapi
mereka yang hendak membunuh aku. Kolera-tua tadi
mengeluarkan pukulan berangin panas dan Ang Hay Ji ini
menendang perutku."
"Bajingan cilik !" tiba2 si raksasa Ma Hion memaki dan
menghantam. Badannya yang tinggi besar menghantam
dalam ilmu pukulan Toa-lat-kim-kong-ciang yang dahsyat.
Toa-lat-kim-kong-ciang atau pukulan Malaekatbertenaga-
sakti, sebenarnya merupakan ilmu pukulan sakti
dari vihara Siau-lim-si. Kedahsyatannya apabila sudah
mencapai tataran tinggi, mampu menghancurkan batu
karang sebesar kerbau.
Ma Hiong memang murid jebolan dari perguruan Siaulim-
si. Dia tak tahan hidup terasing dalam vihara. Dia
melarikan diri dan mulai bergaul dengan golongan
penjahat. Sebenarnya perguruan Siau-lim hendak
mencarinya untuk dihukum tetapi karena negara sedang
terancam bahaya peperangan dan kekacauan, bahkan
vihara Siau-Iim sendiripun turut terancam, maka rencana
untuk mencari Ma Hiong itupun tertunda.
Rupanya Manusia-pemakan-serigala Sebun Pa tahu
memperhitungkan. Mumpung Ma Hiong turun tangan,
diapun hendak ikut bertindak Kalau satu lawan satu,
apabila tiba pada gilirannya, tentulah dia sukar menghadapi
pendekar Huru Hara. Serentak diapun menyerang dari
belakang Huru Hara dengan ilmupukulan Thiat-sat ciang
atau pukulan Pasir-besi.
Telapak tangan, Sebun Pa tampak merah membara suatu
pertanda bahwa dia telah mencapai tataran yang cukup
tinggi dalam ilmu Thiat-lat-ciang itu.
Sebagaimana adat kebiasaan ketujuh Pembunuh-besar
selama ini. Setiap kali membantai korbannya tentu dengan
cepat. Begitu bergebrak terus saja melancarkan jurus
pukulan maut. Demikian yang dilakukan Ma Hiong dan
Sebun Pa. Sekali pukul, keduanya ingin menghancurkan
Huru Hara kemudian terus akan dilempar kedalam jurang.
Masakan orang tahu bahwa ketujuh Pembunuh-besar kali
ini mengeroyok seorang pemuda yang tak terkenal.
Bummmmm.....desssss......
Terdengar dua macam suara yang dahsyat. Suara letusan
dan api menyembur. Dan serentak terdengarlah dua buah
jerit lolong yang panjang menyayat hati. Ma Hiong dan
Sebun Pa sama2 terjungkal menggeletak ditanah. Muka Ma
Hiong liangus seperti terbakar api dan muka Sebun Pa
hancur seperti dihantam palu besi.
Ternyata waktu diserang dari muka belakang, Huru Hara
terus enjot tubuh ke udara seperti dalam gerak It-ho-jongthian
atau Burung-bangau-menerobos-langit. Dia
melambung sampai 3-4 tombak tingginya lalu bergeliatan
melayang turun ke lanah.
Terdengar Paderi gemar segala-apa melantang doa
keagamaan, "letakkan pisau penjagal dan menghadap
kepada Hud-ya. Dosa takkan tercuci bersih selama tangan
masih berlumuran darah, pikiran dikuasai nafsu... ."
"Siancay ! Siancay!" pendekar Huru Hara tiba2 juga
melantang doa keagamaan, "putih adalah putih, hitam
adalah hitam. Orang boleh menipu orang lain, bahkan
menipu Hud-ya. Tetapi dia tak dapat menipu batinnya
sendiri."
"Omitohud " seru paderi Gemar segala-apa, "apa maksud
ucapan sicu ?" Bukankah aku menganjurkan agar sicu
membuang golok dan menghadap Hud-ya mencari
penerangan batin ?"
"Mengapa aku harus berbuat begitu ?"
"Lihat sudah empat jiwa telah melayang di tangan sicu.
Apakah sicu masih tetap hendak melanjutkan perbuatan
sekejam itu?"
"Aku tidak membunuh mereka," bantah Huru Hara,
"mereka membunuh diri mereka sendiri, Kolera mati
karena pukulan
Hu-kut-ciangnya
yang beracun. Ang
Hay Ji mati karena
menendang
perutku yang berisi
arak. Manusiapemakan-
serigala
dan si raksasa
tinggi besar itu,
saling berhantam
sendiri sehingga
kedua-duanya
sama2 binasa.
Mereka mati
karena karma
perbuatannya
sendiri." I
"Omitohud !" seru paderi Gemar-segala-apa "sicu boleh
menyangkal tetapi sicu tak dapat membantah kenyataan
"Benar," sambut Huru Hara serentak," seperti nya halnya
si harimau yang memakai kulit domba, akhirnya diketahui
juga karena suaranya. Betapapun orang hendak
mengenakan pakaian jubah paderi, tetapi dia akan ketahuan
juga belangnya karena perbuatannya."
"Omitohud !" seru paderi Gemar-segala-apa "sicu
menyindir aku.. Dengan begitu sicu tentu tak mau
melepaskan niat sicu untuk membunuh kami bertiga ini."
"Hal itu terserah pada kalian," seru Huru Hara, "kalau
kalian mau meminjamkan surat undangan, akupun takkan
memperpanjang urusan ini."
"Kalau tidak mau ?"
"Bukankah engkau sudah menyaksikan keadaan ketiga
kawanmu itu ?" balas Huru Hara. I
"Baiklah, harap idinkan aku berunding dengan kedua lisicu
itu," kata paderi Gemar-segala-apa lalu menghampiri
Im pohpoh dan Harpa asmara Hoa Lan Ing.
"Im pohpoh, Hoa sicu, kalian tentu sudah mengetahui
apa yang kita hadapi saat ini. Anak muda itu tetap hendak
meminjam surat undangan kita," kata paderi Gemar-segalaapa.
"Lalu bagaimana pendapat taysu," kata pohpoh.
"Aku menurut saja apa yang kalian putuskan," kata
paderi Gemar-segala-apa, "hanya apabila kita menolak, kita
harus bersatu padu menghadapinya."
"Ih," desis Im pohpoh.
Kemudian paderi Gemar-segala-apa berpaling meminta
pendapat Hoa Lan Ing. Wanita cantik jelita itu menyahut
dengan suara merdu, "Akan kuserahkan surat undanganku
itu," katanya ambil melirik kearah Huru Hara dengan
pandang mata yang membara, "asal dia bersedia menerima
persembahanku sebuah lagu yang diiring dengan irama
harpa."
"Oh," paderi Gemar-segala-apa segera tahu maksud
wanita cabul itu. Dia memang sudah mendengar
kemasyhuran Hoa Lan Ing dalam memelik harpaasmaranya.
Diantara ketujuh pembunuh bayaran yang
termasyhur itu, mati ditangan si cantik Hoa Lan Ing adalah
yang paling nikmat sendiri. Ibarat semut yang mati karena
manisnya gula.
"Baik, Hoa sicu,". seru paderi Gemar-segala-apa dengan
bersemangat, "aku bersedia untuk memeriahkan lagu yang
sicu dendangkan dengan suara.
Kemudian paderi itu berpaling kearah Im popoh,
"Bukankah pohpoh juga sedia meramaikan liju yang akan
dinyanyikan Hoa sicu nanti?"
Im pohpoh mengangguk, "Aku akan meramaikan
dengan suara tawa berirama sesuai dengan aluna lagu Lan
Ing nanti."
Paderi Gemar-segala-apa mengangguk lalu berseru
kepada Huru Hara, "Omitohud! Undangan itu kami terima
dari jenderal Ko Kiat, suatu penghargaan dari jenderal itu
kepada kami. Bagaimana mungkin penghargaan itu akan
engkau pinjam?
"Kutahu," sahut Huru Hara, "bahwa penghargaan itu tak
lebih hanya akan memberi kalian satu tugas untuk
mengantar barang berharga. Kalian sudah sering menerima
upah untuk membunuh orang. Apakah kalian masih begitu
temaha untuk tidak memberi hidup kepada orang lain ? Aku
sih orang penganggur, tidakkah pantas kalau kalian
memberikan tugas itu kepadaku ?"
"Ah, sicu hanya bicara dari segi kepentingan sicu sendiri
.,..."
"Pokoknya, engkau mau memberikan surat undangan itu
atau tidak ?" seru Huru Hara.
"Yah," paderi Gemar-segala-apa mengangkat bahu,
"kalau sicu memang berkeras hendak meminjam surat itu,
kamipun terpaksa akan memberikan asal lebih dulu sicu
setuju untuk mendengar nyanyian Hoa Lan Ing sicu yang
akan diiringi dengan petikan harpanya."
"Kalau hanya begitu syaratnya, baiklah. Aku bersedia,"
sahut Huru Hara.
Paderi Gemar segala-apa, Im pohpoh dan Hoa Lau Ing
segera bersiap-siap.
"Huru Hara, dengarkan nyanyianku dengan lirik agar
hatimu tidak menderita huru hara lagi," seru Hoa Lan Ing
sambil lepaskan sebuah lirikan mata yang tajam dan
senyum yang menggelitik, lalu mulailah ia mengalunkan
suaranya yang merdu, diiring sentuhan harpa yang syahdu :
Awan berarak, malampun makin dingin
Hati menggelinjang, tubuh meregang
Hanya kepadamu, duhai, sang angin
Kuserahkan tubuh berpadang gersang
menanti dekapmu yang memilin-milin
Suara harpa beralun makin menyayat dan kemudian
terdengar rintihan tangis bagai musafir yang menggelepar
kehausan.
Tangis yang merintih-rintih itu berasal dari Im pohpoh
untuk mengisi-kerinduan wanita haus belaian kasih seperti
yang dilukiskan dalam nyanyian si cantik. Hoa Lan Ing.
Tampak Huru Hara tertegun. Iapun terkenang dirinya
yang sudah sebatang kara. Terkenang akan nasib
sumoaynya, teringat akan dua orang tuanya, yang sangat
menyayang kepadanya tetapi kini sudah menghilang entah
kemana. Teringat akan setiap orang yang pernah
melimpahkan kebaikan kepadanya. Dan terakhir waktu
teringat akan mendiang ibunya yang tercinta diapun mulai
menangis.
"Hu, hu.hu.....," pendekar Huru Hara yang dapat
membunuh Kolera-tua, Ang Hay Ji dan Sebun Pa serta Ma
Hiong, ternyata saat itu menangis sesenggukan seperti anak
kecil.
Melihat itu Bi Giok heran dan bertanya kepada Wan-ong
Kui, "Kui-ko, mengapa dia menjadi seperti anak kecil?"
"Entahlah," sahut Wan-ong Kui, "memang aneh sekali
gerak gerik orang itu. Tetapi kurasa . . “
"Bagaimana?" tanya Bi Giok.
"Ada sesuatu yang menyebabkan dia menangis itu.
Rupanya dia menangis diluar kesadarannya.”
"Maksudmu karena mendengar nyanyian dan alunan
harpa itu?"
"Ya," sahut Wan-ong Kui, "rupanya nyanjian dan harpa
itu mengandung tenaga-sakti yang memikat hati."
"Ih," desis Bi Giok "Tetapi mengapa engkau dan aku tak
apa-apa?"
Wan-ong Kui mengatakan bahwa berkat pil yang
diberikan kepada nona itu maka nona itu tahan terhadap
segala ilmu suara aliran hitam.
"O, kalau begitu, mengapa Kui-ko tak mati memberikan
pil itu kepada orang aneh itu?" tanyi Bi Giok.
"E, engkau lupa, Giok-moay," kata Wan- ong Kui,
"bukankah kita ini hendak merahasiakan diri kita dengan
bersembunyi disini? Kalau perlu memang kita dapat
memberikan pil kepada orang aneh itu. Tetapi sebelurnnya
kita harus melihat dulu bagimana dia itu. Maksudku,
apakah dia benar2 seorang pendekar yang hendak
membasmi penjahat.”'
Bi Giok mengiakan.
Sementara itu di halaman pagoda telah terjadi
perobahan. Hoa Lan Ing berganti dengan lagu perang.
Harpapun melengking-lengking bagaikan pekik jeritan dari
prajurit-2 yang sedang menyabung nyawa di medan laga.
Kemudian bergemercik riuh gemuruh seperti libuan
pasukan berkuda yang sedang menyerbu musuh. Im
pohpoh meringkik-ringkik seperti kuda buas dan kali ini
paderi Gemar-segala-apa ikut menggembor-gembor seperti
dendam kemarahan yang sedang dicurahkan oleh prajurit2
yang saling bunuh membunuh itu.
Bagaimana dengan pendekar Huru Hara ? Dia tidak
menangis lagi tetapi mulai memberingas dan terus
mengamuk sendiri. Dia berlari kian kemari, memukul,
menghantam, menerjang dan menerkam seorang diri......
“Celaka, Kui-ko," bisik Bi Giok ditempat
persembunyiannya, "engkau benar. Orang aneh itu terkena
daya dari suara nyanyian dan harpa si wanita iblis dan
kedua tokoh pembunuh itu."
"Ya, memang begitu," sahut Wan-ong Kui.
'Lalu bagaimana tindakan kita ?"
"Hm."
"Apakah engkau biarkan saja dia nanti akan lemas
kehabisan tenaga ? Bukankah dia pasti akan dibantai ketiga
iblis itu ?" Bi Giok makin cemas.
"Tidak," sahut Wan-ong Kui.
"Lalu apakah engkau akan bertindak sekarang."
"Tidak."
"Ih, aneh sekali engkau ini, Kui-ko. Habis maumu
bagaimana sih ?"
"Tunggu saja nanti apabila sudah tiba saatnya, aku tentu
akan bertindak."
"Apakah sekarang belum tiba saatnya ?"
"Lihatlah," sahut Wan-ong Kui, "pendekar Huru Hara
itu masih kuat dan segar. Apalagi dia sedang mengamuk
karena dikuasai suara sakti ketiga iblis itu. Kalau aku
muncul, bukankah tidak mungkin dia nanti malah
menyerang aku ?"
"Lalu ?"
"Kurasa si ular cantik itu tentu masih akan
menghidangkan beberapa macam lagu lagi. Setelah orang
aneh itu tak berdaya, dan mengunjuk tanda2 kehabisan
napas barulah aku turun tangan."
Hebat adalah gerakan pendekar Huru Hara itu.
Walaupun dia bergerak makin cepat menurut alunan harpa,
tetapi dia tetap tampak segar dan bertenaga.
Sampai beberapa saat yang cukup lama dan melelahkan
bagi seorang biasa kalau disuruh mengamuk tak keruan
seorang diri itu, barulah harpa itu berhenti.
"Heran, mengapa budak kecil itu sedemikian
tangguhnya. Hampir dua jam dia mengamuk main pencak
tak keruan, mengapa kuat ?" bisik Hoa Lan Ing dengan
menggunakan ilmu menyusup suara Goan-im-jit-bi.
"Ya, dia barangkali setan, bukan manusia." sahut Im
pohpoh juga dengan ilmu menyusup suara.
"Ah, mustahil kalau seorang manusia mampu
mengeluarkan tenaga sampai berjam-jam," kata paderi
Gemar-segala-apa juga dengan ilmu menyusup suara, "Hoa
sicu. ayo, mainkan lagn lagi supaya dia lekas kehabisan
tenaga."
Kali ini Hoa Lan Ing mendendangkan lagu gembira.
Lagu yang mengiring orang menari. Harpapun melantang
nyaring dalam alunan irama yang hangat gembira.
Im pohpoh serentak meringkik-ringkik seperti setan
tertawa mengikik. Paderi Gemar-segala-apa tertawa
membatu roboh, "ho. ho, ho, ha, ha, ha,, ho, ho, ho, ha, ha,
ha....."
Dan bagaimana dengan pendekar Huru Hara?
Aduh, mak. Diapun terus menari-nari sekehendak
hatinya menyuruh tangan dan kaki bergerak. Apa nama
tariannya itu, entahlah. Pokok asal menari. Ada kalanya
mirip dengan orang berjoget dang-dut, ada kalanya seperti
anak kecil berjingkrak-jingkrak, ada kalanya seperti orang
yang terkejut karena hendak dipagut ular, ada kalanya lari
ngiprit seperti orang dikejar anjing galak dan ada kalanya
pula menari gaya seperti anak wayang. Pendek kata segala
macam gaya tarian di dunia telah dipentaskan si Huru Hara
dengan asyik sekali.
Sebenarnya Bi Giok hendak tertawa terpingkal-pingkal
menyaksikan adegan gila itu. Tetapi pada lain saat dia
menyadari bahwa sebenarnya Huru Hara itu sedang
terancam bahaya maut.
"Kui-ko, ah, bagaimana engkau ?" bisiknya dengan
makin gelisah, tadi dia sudah berjam-jam mengamuk
seorang diri, sekarang dia menari-nari lagi. Entah sampai
berapa jam lagi. Kalau begitu, apakah dia takkan rubuh
lemas lunglai ?”
"Ya. tetapi lucu juga melihat dia menari,' sahut Wan-ong
Kui seenaknya sendiri.
"Kui-ko, jangan bergurau !" teriak Bi Giok "apakah
engkau benar2
hendak
membiarkan orang
itu akan dibantai
oleh ketiga iblis
laknat ?"
"Apakah aku
mengatakan begitu
? Bukankal aku
hanya bilang,
kalau aku merasa
geli melihat orang
aneh itu menari
kegila-gilaan. Eh,
bukankah engkau
sendiri sebenarnya
juga sedang
menahan geli ?"
"Ah, Kui-ko,"
Bi Giok makin cemberut, lalu engkau benar2 tak mau lekas
menolong, aku akan kesana sendiri....."'
"Jangan Giok-moay," Wan-ong Kui cepat menyambar
lengan si gadis yang hendak melangkah keluar, "sabarlah.
Aku sedang mencari akal bagaimana mengacau mereka."
"Tetapi harus lekas," kata Bi Giok. "O, ya, ada," kata
Wan-ong Kui, "tunggu-lah disini, jangan sembarangan
bergerak."
Dia terus menyelinap pergi, menghampiri ku danya.
Dibukanya salah sebuah peti di punggun kuda itu. Isinya
tak lain adalah emas pcrmata yang berkilau-kilauan
cahayanya.
"Putih, hayo, jalanlah engkau menuju ketempat ketiga
orang di halaman pagoda itu," bisiknya kepada kuda itu.
Kuda Putihpun segera melakukan perinta tuannya.
Kemunculan seekor kuda putih dengan memanggul tiga
buah peti, salah sebuah tutupnya terbuka dan isinya emas
permata, telah membuat gempar ketiga iblis itu.
Serentak harpapun berhenti dan berserulah paderi
Gemar-segala-apa, "Omitohud! Kuda siapakah itu?"
"Ih, kuda itu membawa tiga buah peti," seru Im pohpoh.
"Rejeki nomplok. Peti yang terbuka itu berisi benda
kuning seperti emas .... ," Hoa Lau Irig, "hai, emas permata
"Lepaskan, paderi!" teriaknya makin terkejut ketika
tahu2 paderi Gemar-segala-apa sudah loncat menerkam
kendali kuda.
"Pohpoh!" teriak paderi Gemar-segala-apa seraya
menghindari hantaman tongkat nenek Im. Ternyata yang
berseru memerintahkan supaya lepaskan kuda itu adalah si
cantik Hoa Lan Ing tetapi sebelum dia sempat ayunkan
tubuh, Im poh poh sudah mendahului menggebuk paderi
Gemar-segala-apa.
"Heh, heh," nenek Im tertawa mengekeh seraya hendak
menyerang lagi, "enak saja engkau hendak mengangkangi
sendiri, ya!"
"Tahan, pohpoh, Hoa sicu, "kata paderi Ge mar-segalaapa,
"mari kita berunding."
"Heh, heh," Im pohpoh mengekeh, "apanya yang mau
dirundingkan?"
"Kuda yang membawa peti ini," kata paderi Gemarsegala-
apa, "aneh sekali. Dari manakah asalnya dan siapa
pemiliknya!"
"Heh, heh," kembali Im pohpoh tertawa mengekeh, "aku
tak butuh pemiliknya tetapi tiga buah peti yang berada
dipunggung kuda itu. Kalau engkau hendak mencari
keterangan siapa pemiliknya, silakan pergi menyelidiki dan
berikan kuda itu kepadaku!"
"Tak perlu kalian bersusah payah mencari, akulah
pemiliknya," tiba2 mereka dikejutkan olleh sebuah suara
melantang dan munculnya dua orang, seorang sasterawan
muda dan seorang gadis cantik.
“Omitohud !" seru paderi Gemar-segala apa seraya
rangkapkan kedua tangan, “siapa sicu berdua ini ?"
"Tak perlu kuberitahukan namaku," sahut pemuda
sasterawan atau Wan-ong Kui, "yang penting, kamilah
pemilik kuda putih itu. Kembalikanlah kuda itu kepada
kami."
"Wah, ini sukar," jawab paderi Gemar-segala-apa,
"kecuali kuda ini berada padamu, berarti kami merampok.
Tetapi kuda ini sudah berkeliarai berarti tak bertuan lagi
dan kami yang menemukannya maka kamilah yang berhak
memilikinya.'
"Anakmuda," tiba2 Im pohpoh berseru, "perlu apa
engkau menghendaki kuda itu ?"
"Kami akan melakukan perjalanan jauh. Sukar kalau
tiada berkuda," sahut Wan-ong Kui.
"O, baiklah," sahut Im pohpoh seraya berseru kepada si
paderi, "taysu, kembalikanlah kuda itu kepadanya."
"Apa ? Mengembalikan kuda putih ini ?" paderi Gemarsegala-
apa berseru kaget.
Jilid: 3.
Im pohpoh tenang2 saja menganggukkan kepala dan
menjawab singkat, "Ya."
"Pohpoh, mengapa pohpoh hendak mengembalikan
kuda ini?" paderi Gemar-segala-apa menegas penasaran.
Diam2 dia sudah membulatkan tekad. Kalau nenek itu
bertindak gila-gilaan hendak mengembalikan kuda yang
memuat tiga buah peti harta, dia akan menolaknya. Diapun
mulai kurang senang melihat tingkah si nenek yang seolaholah
yang mempunyai hak penuh atas kuda ini.
"Apa kataku tadi, taysu?" balas Im pohpoh
"Bukankah pohpoh hendak suruh aku mengembalikan
kuda putih ini?"
"Ya."
"Bagaimana dengan tiga buah peti itu.'"
"Aku kan mengatakan kudanya saja?"
"Maksud pohpoh?" paderi Gemar-segala apa mengerut
tegang.
"Ya hanya kudanya saja!"
"Sian-cay! Sian-cay!" seru paderi Gemar-segaja-apa
dengan riang, "pohpoh benar2 amat bijaksana dan welas
asih. Benar, pohpoh, memang, kuda itu harus dikembalikan
kepada kedua sicu itu. Kasihan mereka kalau harus
menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki."
"Salah, salah," tiba2 Wan-ong Kui berseru, "yang
kumaksudkan adalah kuda itu lengkap dengan muatannya.
Karena peti itu berisi harta benda peninggalan orangtuaku.
Tanpa bekal, bagaimana aku nanti dalam perjalanan?"
"Anakmuda," Im pohpoh berseru bengis, "jangan
lancung mulut. Bukankah tadi engkau meminta kembali
kuda itu tanpa menyebutkan muatannya? Mengapa
sekarang engkau menjilat ludahmu lagi!"
"Tetapi…….”
"Jangan banyak bicara lagi!" bentak Im poh-poh makin
bengis, "lihatlah .... bum!-' tiba2 nenek itu gerakkan tangan
memukul segunduk batu pada jarak beberapa meter
jauhnya. Batu itu pun hancur berantakan.
"Lihat anakmuda," serunya, "asal engkau mampu
menerima pukulanku ini, barulah engkau berhak menerima
kembali tiga buah petimu itu.
"Bummrnm!" tiba2 paderi Gemar-segala-apapun
ayunkan tongkatnya menghantam sebatang pohon yang
tumbuh di dekat lapangan itu. Pohon yang sebesar tubuh
manusia itupun roboh seketika, "Kalau sicu kuat
menerima tongkatku ini silakan ambil kembali ketiga peti
itu."
"Ah" Wan-ong Kui menghela napas, “jadi taysu dan
pohpoh maksudkan ketiga peti itu bukan milikku lagi ?"
"Kami kembalikan kuda, itu sudah suatu kemurahan
besar," sahut paderi Gemar-segala-apa.
"Hm, baiklah," kata Wan-ong Kui, "aku rela
menyerahkan peti harta itu ... ."
"Sian-cay ! Sian-cay ! Pucuk dicinta ulam tiba," seru
paderi Gemar-segala-apa, "sicu benar2 seorang yang tahu
gelagat."
"Asal kalian dapat memenuhi dua buah permintaanku,"
lanjut Wan-ong Kui.
"Apa ?"
"Pertama," kata Wan-ong Kui, "jawablah pertanyaanku
ini. Taysu seorang pertapa dan poh-poh sudah tua. Apa
guna taysu dan pohpoh menginginkan harta kekayaan
sebanyak itu ?"
"Sian-cay! Sian-cay!" seru paderi Gemar-segala-apa,
“harta adalah sarana hidup seperti tubuh itu sarana jiwa.
Tanpa raga, jiwa merana, tanpa harta, hidup kan sengsara.
Aku memang seorang paderi tetapi aku juga butuh sarana
untuk hidup. Dan jangan lupa, gelaranku adalah To lau
taysu atau Segala-apa-mau."
"Hi, hi, hi," Im pohpoh mengekeh, “engkau masih muda
dan punya kekasih cantik. Hari depanmu masih panjang
dan cerah. Tetapi aku, seorang perempuan tua, tiada
suami tiada anak. Siapa yang akan mengurus hari tuaku
kalau aku tak punya simpanan harta yang banyak ?"
"Taysu," seru Wan-ong Kui kepada si paderi, "engkau
seorang paderi, seharusnya sudah tak memikirkan harta
benda dan urusan keduniawian lagi."
"Dan engkau pohpoh," seru Wan-ong Kui pula, "engkau
hanya memikirkan kepentingan dirimu seorang, tetapi
engkau tak ingat akan nasib berpuluh juta rakyat yang saat
ini sedang menderita. Engkau sudah cukup makan asam
garam, matipun kiranya tak perlu takut. Tetapi bagaimana
dengan anak2 kecil, pemuda pemudi, yang saat ini sedang
bergelut dalam kelaparan itu ?
"O, apakah harta bendamu ini hendak engkau berikan
kepada mereka ?" seru Im pohpoh. ]
"Ya," sahut Wan-ong Kui. Dalam hal ini dia memang
sudah mendapat persetujuan dari Han Bi Giok, "mengapa
kita hidup dalam gelimang harta yang berlimpah-limpah
sedang rakyat dicengkam bahaya kelaparan ? Taysu,"
serunya kepada paderi Gemar-segala-apa, "bukankah dalam
ajaran agama dikatakan bahwa berbuat suatu kebaikan
tujuh kali lipat pahalanya dari sembahyang ?"
"Sian-cay ! Sian-cay ! Sicu memang benar, "sahut paderi
Gemar-segala-apa, “tetapi mengapa kita harus mengurusi
sekian banyak manusia ? Uruslah dirimu sendiri baru
engkau mampu mengurus rakyat. Aku seorang paderi
miskin, aku ingin menyingkir dari dunia ramai dan
mengasing kan diri dalam kehidupan yang tenang. Untuk
itu aku perlu bekal hidup. Negara diserang musuh, rakyat
menderita bahaya kelaparan, perampok merajalela, itu kan
urusan negara, bukan urusan seorang paderi seperti aku …”
Wan-ong Kui kerutkan dahi. “Sebenarnya harta benda
itu akan kudermakan untuk meringankan penderitaan
rakyat.....”
"Siancay ! Siancay !" seru paderi Gemar-sega la-apa.
“berbuat kebaikan itu memang mulia. Tetapi tak perlu
berlebih-lebihan. Yang penting ada lah diri sicu sendiri.
Kalau sicu sudah dapat mengurus diri sendiri dengan baik,
tidak melanggar undang2 negara, tidak merugikan lain
orang, itu sudah baik sekali. Kelak sicu tentu akan naik
sorga."
"Hm, ajaran yang luhur," cemooh Wan-ong Kui, "tetapi
luhur untuk kepentingan diri sendiri, adalah luhur yang
koukati (egois). Kita manusia mengapa tak kenal rasa perikemanusiaan
kepada lain manusia, lebih2 bangsa kita
sendiri ? Aku tak percaya kalau orang akan mendapat sorga,
jika hidupnya hanya mementingkan diri sendiri dan tak
mengacuhkan lain manusia yang sedang menderita. Jika
memang ada ketentuan begitu, aku lebih senang masuk
neraka saja karena waktu hidup sebagai manusia aku
senang menolong orang yar menderita."
"Omitohud !" seru paderi Gemar-segala-apa "orang yang
ditolong, makin melolong penolongan, makin
mengandalkan orang. Manusia memang susah diurus,
makin diurus makin murus. Bukankah lebih bahagia dan
tenang, mengasingkan diri di atas gunung, mencari
kesempurnaan batin agar kelak dapat mencapai Nirwana ?"
"Munafik !" teriak Wan-ong Kui, "mengurus diri, berarti
mengurus manusia. Karena bukankah engkau juga seorang
manusia ? Jangan pura2 bersikap suci sendiri. Orang yang
berpendirian seperti itu, adalah manusia yang hendak
melarikan diri dari kenyataan, adalah seorang manusia
yang hendak mendewakan diri untuk menutup kepalsuan
hatinya, seperti engkau, taysu. Buktinya, engkau hendak
mensucikan diri diatas tumpukan harta yang engkau
rampok !"
"'Sudahlah, anakmuda, jangan mengumbar caci maki
seenakmu sendiri," tiba2 Im pohpoh menyela,
"pokoknya, engkau hanya dapat menerima kembali
kudamu tetapi peti itu tetap menjadi milik kami, kecuali
engkau sanggup menerima pu-kulanku."
"Kui-ko," tiba2 Bi Giok ikut bicara, "berikan saja harta
itu kepada mereka,"
VVan-ong Kui mengangguk, "Baik, pohpoh dan taysu.
Peti harta itu rela kuberikan kepadamu tetapi hanya
seorang saja, bukan tiga orang….”
"Apa maksudmu ?" paderi Gemar-segala apa terbeliak
heran.
"Pedang pusaka dipersembahkan untuk seorang ksatrya.
Wanita cantik dipersembahkan ini tuk lelaki yang gagah
berani dan hartapun dipersembahkan yang menang," seru
Wan-ong ls.ui, "peti harta itu akan kami berikan hanya
kepada orang yang benar2 jago sakti."
"Kami adalah tokoh2 Tujuh-pembunuh-besar yang
termasyhur di dunia persilatan," seru paderi Gemar-segalaapa.
"Kumaksudkan bukan dua, tiga atau tujuh orang tetapi
satu yang paling sakti sendiri. Siapakah diantara kalian
bertujuh yang paling sakti sendiri, dialah yang berhak
memiliki harta kekayaan itu."
"Omitohud !" seru paderi Gemar-segala-apa, "walaupun
bukan suatu perhimpunan tetapi selama ini kami bertujuh
saling hormat menghormati dan tak pernah berselisih."
'"Justeru karena itu belum diketahui orang siapapun
diantara kalian bertujuh ini yang paling sakti," sahut Wanong
Kui. "ingat, dalam negara tak ada dua raja, di dunia tak
ada dua matahari. Ini menyangkut harta benda yang
nilainya dapat dibelikan sebuah kota. Tidak adil kalau
dibagi rata karena kepandaian satu sama lain tidak sama.
Mika harus bertanding untuk menentukan siapa yang
paling unggul sendiri. Dan ingat ! Harta itu adalah nyawa.
Untuk memperebutkan harta, nyawa sering dipertaruhkan.
Yang tahu tentang harta karun ini hanya kalian bertiga.
Kalau yang satu menang dan yang dua kalah, belum tentu
yang kalah itu akan puas. Mereka tentu akan mencari daya
upaya untuk mendapatkan harta itu !"
Sasterawan iru masih muda dan ketiga tokoh pembunuh
itu rata2 sudah hampir setengah abad umurnya. Tetapi
Wan-ong Kui dapat bicara seperti seorang guru terhadap
muridnya. Ketiga tokoh pembunuh itu mendengarkan
dengan penuh perhatian dan diam2 menerima apa yang
diucapkan Wan-ong Kui. Hal itu tak lain karena hati dan
pikiran mereka tertuju pada gemerlap emas dan harta
permata dalam peti itu.
"Apa yang dikatakannya memang benar. Kalau dibagi
rata memang tak adil. Dan kalau nanti bertanding,
memang harus dibunuh saja agar kelak jangan sampai
menimbulkan bahaya lagi, hati ketiga tokoh hitam itu
menimang-nimang suatu rencana.
Sebenarnya tokoh2 yang tergabung Tujuh-pembunuh
besar itu, walaupun tak pernah kerja sama tetapi merekapun
saling kenal dan selama itu tak pernah saling ganggu
mengganggu. Tetap kini disaat menghadapi tiga peti berisi
harta karun merahlah mata mereka.
"Ai, engkau benar, anakmuda," tiba2 Im poh-poh
berseru, "memang tak adil kalau harta itu dibagi rata."
"Siancay ! Siancay !" seru paderi Cemar-segala-apa,
"pohpoh paling tua, aku sebagai yang lebih muda bersedia
mengalah dan rela mendapat bagian lebih sedikit."
Tiba2 terdengar suara tertawa merdu, disusul dengan
hamburan kata yang menggelitik hati, “Ih, To Yau taysu,
enak saja kalian berunding sendiri, pada hal akulah yang
pertama melihat kuda putih dengan ketiga peti harta itu!"
Paderi Gemar-segala-apa berpaling. "Omitohud! Hoa lisicu
hendak mengajukan pendapat apa, silakan."
"Apakah taysu sudah yakin bahwa taysu berhak memiliki
peti harta itu ?" tanya Hoa Lan Ing.
"Terang, dong," sahut paderi Gemar-segala-apa, "kita toh
sama2 mendapatkan harta itu, masakan aku tak berhak
mendapat bagian."
"Tetapi mengapa taysu mau mengalah dengan dasar
perbedaan umur ?"
"Ah, kita kan sama2 kawan, masakan untung sedikit rugi
sedikit saja, kita tak mau ?"
"Terserah kalau taysu mau begitu, Tetapi aku sih tak
mau. Umur bukan merupakan ukuran dari nilai seseorang.
Memang selama ini kita dijuluki sebagai Tujuh -
pembunuh-besar. Tetapi orang tak dapat menerangkan
urut-urutannya, mana yang kesatu, kedua dan yang
terakhir. Kita rasa sekaranglah saatnya yang baik untuk
menentukan urut-urutan itu sekalian untuk memperebutkan
hadiah yang menggiurkan," kata Hoa Laj Ing.
"Ah, mengapa kita harus rakus ? Apabila seorang
mendapat sebuah peti, rasanya sampai manapun takkan
habis dipakai," bantah paderi Gemar segala-apa.
"Jadi engkau rela mengalah kepadaku si nenek tua ini ?"
tiba2 pula Im pohpoh berseru.
"Ya," sahut paderi Gemar-segala-apa.
"Dan engkau, Hoa Lan Ing ?" tegur Im poh-poh. .
"Maafkan, pohpoh, kuminta pohpohlah yang mengalah
kepadaku."
"Ih, mana ada orang muda tak mau mengalah kepada
orangtua ?"
"Itu salah," seru Hoa Lan Ing," justeru yang tualah yang
harus mengalah, karena aku yang masih muda ini tentu
akan hidup lebih panjang dan perlu banyak harta untuk
ongkos hidup. Sedangkan pohpoh dan taysu yang sudah
tua, tak perlu banyak harta karena toh akan lekas ..."
"Taysu !" tiba? Im pohpoh mengerat kata dengan berseru
kepada paderi Gemar-segala-apa, "apakah engkau benar2
mau mengalah kepadaku?”
"Dengan setulus hati, pohpoh," sahut padri Gemarsegaela.
"Baik," sahut Im pohpoh, "kalau begitu maka bereskan
wanita cabul itu!"
"Ih, kalian hendak bersatu memusuhi aku?" Lan Ing
menegas, kemudian tertawa melenguh, "bagus, bagus,
nenek tua masih genit ingin pacar. Karena yang muda tak
mau, paderi pun dirayunya, hi, hi, hi . . . ."
"Tutup mulutmu, sundal busuk! Engkau perempuan
cabul, berani mengejek orang menurut ukuran dirimu!"
bentak Im pohpoh marah. Kemudian berseru kepada
paderi, "Gemar-segala-apa taysu, hayo kita bergerak. Akan
kuberimu bagian satu peti!"
"Ya, benar, taysu, hayo cepat maju," teriak Hoa Lan Ing,
"telan saja janji nenek genit itu, nanti engkau tentu akan
mendapat sebuah peti harta. Tetapi hanya petinya saja, lho.
Ingat, tidak engkau sudah mendengar kemasyhuran Im
pohpoh yang terkenal licin dan pandai memutar lidah itu?
Hi, hi, setelah aku mati, engkaupun tentu akan mendapat
giliran. Maka yang akan engkau terima nanti bukan peti
harta tetapi peti mati.”
"Taysu, lekas serang!" teriak Im pohpoh kesal melihat
paderi Gemar-segala-apa hendak dipengaruhi Hoa Lan Ing.
Dia memang paderi Gemar-segala-apa itu tertegun
memikirkan ucapan si cantik. Dia menjadi ragu2.
"Tetapi mengapa pohpoh juga tak bergerak sendiri?"
sahutnya.
"Apa ? Engkau suruh aku bergerak ?" seru Im pohpoh,
"apa artinya aku menerima permintaanmu tadi ? Kalau aku
bergerak, tak perlu harus memberimu bagian."
"Kalau begitu, mari kita maju bersama," seru paderi
Gemar-segala-apa, "tetapi pohpoh harus pegang janji."
"Goblok ! teriak Hoa Lan Ing," bantulah menghancurkan
nenek genit itu, nanti kita bagi rata harta itu !"
Kembali paderi Gemar-segala-apa tertegun. Tawaran itu
lebih menarik dari syarat lm poh-poh.
"Jangan dengarkan ocehan perempuan cabul itu ! Hayo,
lekas kita bergerak," seru Im poh seraya hendak maju.
"Taysu, bagaimana kalau kita nikmati bersama saja harta
itu? Kita hidup berdua ditempat yang sunyi," kembali Hoa
Lan Ing membujuk.
Paderi Gemar-segala-apa makin goyah, Betapa cantiklah
Hoa Lan Ing itu. Tetapi apakah bermaksud hendak ....?
“Apa maksudmu ?” tanpa terasa dia menegas.
"Aya, masakan engkau tak tahu. Engkau orang pria dan
aku seorang wanita, apa artinya hidup berdua itu ?" sahut
Hoa Lan Ing dengan makin merayu.
"Ho, kalau begitu, aku pilih....."
"Awas, taysu, nenek genit menyerangmu !" kata kata
paderi Gemar-segala-apa terputus oleh teriak Hoa Lan Ing
yang memberi peringatan.
Memang saat itu Im pohpoh menyerang paderi Gemarsegala-
apa seraya memaki, "Paderi jahanam, engkau !"
Tetapi untung paderi Gemar-segala-apa cepat
menghindar, serunya. "Pohpoh, jangan keliwat menghina
orang. Apakah engkau kira aku, paderi Gemar-segala-apa
ini, takut kepadamu ?"
"Paderi keparat, matamu cepat merah kalau melihat
wanita cantik. Huh, apa engkau kira perempuan busuk itu
benar2 suka kepadamu ? Ingat, Harpa-asmara itu terkenal
sebagai perempuan yang doyan mempermainkan lelaki.
Setiap lelaki yang dapat dijeratnya, apabila sudah tak
mampu memenuhi nafsunya, tentu akan dibunuh !"
Paderi-gemar-segala bergidik.-“Ya, ia memang
mendengar hal itu. Hoa Lan Ing itu memang seorang
perumpuan yang luar biasa nafsunya.”
"To Yau taysu, mengapa engkau bersangsi ? Setelah
mendapat harta karun, aku memang sudah ingin bertobat.
Aku sudah setengah tua, tak mau lagi melanjutkan
petualanganku yang lalu dan aku ingin hidup tenang !"
Paderi Gemar-sagala apa menjadi bingung. Akhirnya ia
menjerit, "Hola, sudahlah, sudahlah, jangan kalian
membujuk aku lagi. Silakan kalian bertempur sendiri,
jangan memperalat diriku lagi!"
"Percuma paderi ini, lebih baik dilenyapkan dulu," pikir
Im pohpoh. Tetapi berbareng itu Hoa Lan Ingpun juga
mempunyai pemikiran yang sama. Im pohpoh bergerak,
Hoa Lan Ingpun bergerak. Yang celaka adalah paderi
Gemar-segala-apa. Dia diserang oleh kedua wanita itu.
"Hai, tunggu!" tiba2 terdengar suara teriakan nyaring dan
derap lari seorang yang menghampiri.
"Ho, kiranya engkau, pendekar Huru Hara!" ketiga tokoh
hitam itu serempak berseru kaget.
Ternyata waktu ketiga tokoh hitam itu sedang ribut
mulut mengenai pembagian rejeki sehingga sampai saling
cakar-cakaran sendiri, diam2 Wan-ong Kui telah
memberikan sebutir pil kepada Bi Giok dan membisikinya,
"Lekas engkau masukkan pil ini kemulut pendekar Huru
Hara . . ."
Karena ketiga tokoh hitam itu sedang ngotot, mereka tak
sempat memperhatikan gerak gerik Bi Giok yang sudah
menyelinap dan memasukkan sebutir pil ke mulut Huru
Hara. Pil itu memang sebuah pil istimewa yang jarang
terdapat di-dunia, namanya Siok-beng-tan atau pil
Penyambung-nyawa. Selain dapat menghidupkan yang
tengah sekarat mau mati, pun khasiatnya dapat menolak
segala macam racun dan ilmu hitam.
Beberapa saat kemudian, Huru Harapun tersadar.
Sesungguhnya apabila dia tak terkenang akan beberapa
orang yang sayang kepadanya, terutama kepada mamahnya
yang telah meninggal sejak ia masih kecil, tentulah dia tak
sampai terkena pesona alunan suara harpa dan nyanyian ke
tiga tokoh hitam itu.
Begitu sadar Huru Hara terus berteriak dan berlari-lari
menghampiri, "Apa-apaan ini ? Hayo, kalian mau
meminjamkan surat urdangan atau tidak ?"
Ketiga tokoh hitam itu terkejut. Diam2 mereka menyesal
mengapa tadi cepat terpengaruh oleh munculnya kuda
putih. Jika tadi mereka membereskan Huru Hara lebih dulu,
tentu akan lebih aman.
Rupanya paderi Gemar-segala-apa cepat dapat
menemukan akal, serunya, "Omitohud ! Tadi sicu ingin
tidur maka kamipun tak berani mengganggu. Mengenai
surat undangan itu," kata paderi itu pula, kami bersedia
menyerahkan asal sicu jangan mengganggu urusan kami
disini."
"Urusan apa ?" tanya Huru Hara. Paderi Gemar-segalaapa
mengatakan bahwa tadi mereka mendapat seekor
kuda putih yang berkeliaran. Ternyata pemuda
sasterawan dan kekasihnya datang dan mengaku kuda
itu miliknya. Karena kasihan maka kuda itupun sudah
dikembalikan kepadanya.
"Ya, itu adil," sahut Huru Hara lalu berpaling kepada
Wan-ong Kui, "hai, pemuda tecu engkau sudah mendapat
kudamu kembali, mengapa engkau tak lekas melanjutkan
perjalanan lagi'
"Engkau belum jelas persoalannya, bung kata Wan-ong
Kui, "kudaputih itu membawa tiga buah peti". Yang akan
dikembalikan hanya kuda tetapi tidak dengan petinya."
"'Apa isinya ?"
"Harta permata.'"
"O, untuk apa?"
Wan-ong Kui tak lekas menyahut. Ia masih
menpertimbanugkan apalah perlu memberi keterangan yang
benar atau tidak. Akhirnya ia menjawab, "Harta itu adalah
penanggalan orang tua kami, tetapi karena melihat rakyat
menderita kelaparan maka harta itu hendak kami dermakan
kepada mereka."
"Bagus, bagus !" teriak Huru Hara sambil acungkan
jempol tangannya, "itu baru perbuatan mulia. Eh, mengapa
hanya kuda saja yang dikembalikan kepadamu ?"
"Tanya saja kepada mereka bertiga," sahut Wan-ong
Kui.
"Ho, bagus paderi," seru Huru Hara, "engkau hendak
mengelabuhi aku, ya ? Kembalikan kuda dan peti harta itu
!"
"Siancay ! Siancay !" seru paderi Gemar-segala -apa,
"orang hidup jangan terlalu temaha. Mari kita bagi rejeki.
Sicu pilih surat undangan itu atau tiga buah peti ?"
"Paderi, aku bukan anak kecil," seru Huru Hara, "'surat
undangan itu adalah urusanku. Sedang peti itu adalah
urasan pemuda itu. Jangan engkau campur adukkan."
"Baik," sahut paderi Gemar-segala-apa, "kalau begitu,
surat undangan itu akan kami berikan tapi sicu-pun tak
boleh mencampuri urusan pemuda itu."
Huru Hara diam sejenak, bepikir, Tiba2 dia berseru
kepada Wan-ong Kui, "Hai, pemuda bagus apakah engkau
mampu merebut kembali peti itu?"
“Tadi aku sudah berjanji kapada mereka." jawab Wanong
Kui, "bahwa aku rela menyerahkan peti itu kepada
orang yang paling sakti kepampuannya."
"O, sayembara ?" seru Huru Hara, "apakah aku boleh
ikut ?"
"Setiap orang boleh saja ikut."
"Bagus, aku akan ikut," kata Huru Hara kemudian
berseru kapada paderi Gemar-segala-apa, "nah engkau
dengar tidak? Aku tidak mencampuri urusan ini tetapi aku
hendak ikut bertanding untuk mendapatkan peti itu."
"Siancay ! Siancay !" seru paderi Gemar-segala-apa,"
sicu sungguh temaha sekali. Dengan membawa surat
undangan itu, tentu sicu akan mendapat pekerjaan besar
dari jenderal Ko Kiat. Perlu apa sicu hendak ikut
memperebutkan peti itu?”
"Akan kuberikan kepada pemiliknya lagi !"
"Omitohud ! Sicu sungguh bodoh sekali !"
"Biar, biar, orang bodoh itu lebih tenteram, Orang pintar
gemar menggunakan akal kepinterannya untuk memintari
orang."
"Hoa Lan Ing, lekas engkau menyanyi dan petik
harpamu lagi," tiba2 Im pohpoh berseru. Dan si cantik
itupun segera menurut. Dengan suaranya yang merdu
memikat, dia mulai menyanyikan sebuah lagu percintaan :
Indah, indah, apakah yang paling indah
di dunia ini.
Harta, kekuasaan dan kesenangan,
tiada seindah cinta.
Birahikanlah, o, angin taufan
Birahikanlah, o, lidah api
Bakarlah nafsunya dengan bara
cintamu, o, kekasih hati ....
Pada waktu Hoa Lan Ing menyanyi dan metik harpa,
Huru Hara lari kembali ke ‘meja jamuan' dan mengambil
satai tikus tadi, lalu kembali ke hadapan ketiga orang itu
pula.
Melihat Huru Hara masih dapat bergerak dengan leluasa,
Hoa Lan Ing diam2 terkejut, Cepat ia berganti lagu. Laigu
yang hot agar si Huru Hara cepat dapat angot, pikirnya.
Buat apa'harus bersedih.
Hidup hanya sekali
Buat apa harus berduka
Hidup takkan menjelma
Mari berdendang, mari menyanyi
Hidup hanya sekali
Mari berjoget, mari menari
Hidup takkan menjelma lagi
Im pohpoh tertawa meringkik-ringkik, paderi Gemarsegala-
apa tertawa ho-ho, ha-ha. Riuh gemuruh harpa
menggelegar, gegap gempita nyanyi berseling tawa ....
Tiba2 terdengar suara aup, aup, aup .... dan serentak
nyanyi, harpa dan tawapun sirap seketika.
"Ha, ha, ha," Huru Hara tertawa gelak2, suka tak suka,
mau tak mau, kalian harus merasakan sate bakar tikus . . . ."
Ternyata pada waktu ketiga tokoh hitam itu sedang
berusaha keras untuk memancarkan tenaga-sakti melalui
ilmu suara setan, Huru Hara telah menimpukkan tiga sayat
daging tikus bakar itu ke mulut mereka. Masing2 seekor
tikus.
Timpukan Huru Hara itu memang luar biasa. Selain
cepat, pun tepat masuk kedalam kerongkongan mereka
dan dilakukan hampir serempak pada satu saat.
"Hi, hi, hi," Wan-ong Kui dan Han Bi Giok tak dapat
menahan gelinya ketika melihat ketiga tokoh hitam itu
kelabakan setengah mati.
Tetapi Wan-ong Kui dan Bi Giok tiba2 terkejut ketika
melihat mulut ketiga orang itu berhamburan darah.
Ternyata daging tikus bakar yang ditimpukkan Huru
Hara itu telah berobah menjadi semacam benda yang keras
sehingga gigi mereka rompal, kerongkongan pecah sehingga
darah bercucuran membasahi leher dan dada mereka.
Dengan susah payah akhirnya ketiga orang itu berhasil
mengeluarkan daging tikus dari mulut mereka. Namun
mereka masih pontang panting tak keruan.
Hoa Lan Ing muntah2, Im pohpoh pun muntah2 dan
berbangkis sedang paderi Gemar-segala-apa berjingkrakjingkrak
seperti kebakaran jenggot.
"Tikus makan tikus, gigi putus, perut murus. O, tikus,
engkau memang binatang rakus. Kalian tikus makan tikus,
kucing2 tentu kurus, ngeong, ngeong, ngeong, kasihan
engkau pus . . . ." Huru Hara menyanyi sebuah lagu
ciptaannya sendiri. Andaikata ditanya, dia tentu akan
mengatai judul lagu itu adalah 'tikus makan tikus'.
Saking tak kuat menahan gelinya, Wan-ong Kui dan-Bi
Giok tertawa mengikik.
Tiba2 tiga sosok tubuh berhamburan menerjang
pendekar Huru Hara. Mereka adalah Im poh poh, Hoa Lan
Ing dan paderi Gemar segala-apa. Setelah terbebas dari
kesakitan dan muntah2, Im pohpoh melolos ikat pinggang
yang terbuat dari urat ular, Hoa Lan Ing menggunakan
harpa-asmara yang terbuat dari besi dan paderi Tou You
menyerang dengan tongkat sian-tiang.
Im pohpoh pada tigapuluhan tahun yang lalu pernah
menggemparkan dunia persilatan di barat sungai
Tiangkiang dengan senjatanya yang istimewa yakni sabuk
pinggang dari urat naga. Ayahnya seorang pendekar besar
yang terkenal dengan ilmu Keng-sin-ci-hwat atau Tutukanjari-
malaekat-kaget. Dia mempunyai seorang murid yang
kelak akan menjadi pewarisnya. Murid itu dikawinkan
dengan puterinya yakni Im pohpoh. Tetapi ternyata murid
itu anak dari musuhnya. Pada suatu hari dia melakukan
pembalasan dengan meracuni ayah Im pohpoh. Dan sejak
itu Im poh-poh telah disiksa dan ditelantarkan.
Karena tak kuat menahan perlakuan yang sewenangwenang
dari suaminya, Im pohpoh minggat bersama anak
perempuannya yang masih bayi. Beruntung dia telah
bertemu dengan seorang sakti yang memberinya ilmusilat
sakti. Orang sakti itu ternyata paman guru dari ayahnya.
Dari kakek gurunya itu Im pohpoh mendapat pelajaran
ilmusilat dan ilmu permainan Keng sin tay-huat atau Sabukmalaekat-
kaget. Dia sudah bertekad hendak melakukan
pembalasan kepada suaminya yang murtad itu.
Tetapi pada suatu hari terjadilah malapetaka yang hebat.
Paman gurunya mati dan anak perempuan Im pohpoh yang
baru berumur 4 tahun pun lenyap. Im pohpoh seperti orang
kalap. Di mengembara menjelajah dunia persilatan untuk
mencari suaminya. Akhirnya jerih payahnya berhasil. Dia
bertemu dengan suaminya itu dan dapat membunuhnya.
Tetapi anak perempuannya teta hilang.
Sedang Hoa Lan Ing juga mempunyai riwayat yang
besar. Kakeknya adalah Song Ho-Yang yang pada awal
kulawangsa Beng malang melintang merajai dunia
persilatan. Dia menciptakan ilmu permainan Thiat-pi-peh
atau Harpa-besi dan mendirikan perguruan Thiat-pi-pehbun.
Dia seorang tokoh yang sukar diduga pendiriannya,
bukan golongan Hitam juga bukan golongan putih. Tetapi
akhirnya dia dapat dikalahkan juga oleh Tio Tan Hong,
cikalbakal dari perguruan Thian-san-pay.
Hoa Lan Ing mewarisi ilmu Thiat-pi-peh dari ayahnya.
Tetapi sayang dia seorang wanita yang besar nafsu. Setelah
ayahnya meninggal, dia makin tak ada yang ditakuti
lagi. Suaminya diracuninya dan kemudian silih berganti
suami baru. Dia selalu memilih lelaki yang muda dan kuat,
tetapi suami2 itu tentu selalu mati.
Dewi Ular Harpa-asmara, demikian gelar indah yang
seram dari Hoa Lam Ing. Sekalipun begitu tetap saja
banyak kaum lelaki yang mau menjadi suaminya. Dia
memang cantik bagai bidadari.
Mengenai paderi Gemar-segala-apa, semula dia menjadi
anakmurid vihara Siau-lim, tetapi kemudian nyopot dan
mengembara ke daerah Tibet dan berguru pada seorang
paderi lhama yang sakti. Dia memiliki ilmu permainan
tongkat yang disebut Hong-mo-ciang-hwat atau Tongkatiblis-
gila yang kalau dimainkan, air hujanpun tak dapat
mencurah masuk.
Demikian pendekar Huru Hara diserang oleh tiga tokoh
hitam yang memiliki kepandaian istimewa. Dan karena
mereka telah menderita kesakitan akibat mulutnya dilontari
daging tikus, merekapun menumpahkan kemarahannya
habis-habisan.
Permainan harpa-asmara dari Hoa Lan Ing memang
menakjubkan sekali. Waktu diayunkan dalam jurus yang
berbahaya, senar harpa itupun mendenging-denging
memancarkan suara yang kuasa mencabut urat2 jantung.
Lawan akan merasa berdebar-debar hatinya dan pikiranpun
kalut. Sedang sabuk pinggang Im pohpohpun bergeletar
geletar seperti halilintar merobek langit. Masih di tambah
pula dengan gerak tongkat Hong-mo-cian yang menderuderu
laksana prahara mengamuk.
Huru Hara terkejut, "Aduhhhhh !" tiba2 menjerit
kesaktian karena ujung telinganya keserempet sabuk
pinggang Im pohpoh. Sebenarnya Im pohpoh hendak
menampar kepalanya tetap karena Huru Hara miringkan
kepala, ujung telinganya yang terserempet.
"Gilaaaa !" teriak pula orang aneh itu seraya melonjak
kaget karena tumit kakinya terlanggar tongkat paderi
Gemar-segala apa. Tetapi diam2 paderi Gemar-segala-apa
juga terkejut sendiri. Jurus Iblis-gila-menerkam-ular yang
dikiranya pasti akan menghancurkan kaki Huru Hara
ternyata hanya dengan berkisar sedikit saja, orang aneh itu
sudah dapat menghindar walaupun ujung tumit kakinya
terserempet.
"Mana tahaaaan !" kembali orang aneh memekik ketika
si cantik Hoa Lan Ing sengaja membuka dadanya pada saat
dia mengemplangkan harpanya ke kepala si Huru Hara.
Ular cantik itu memang hendak menggunakan taktik untuk
menyedot perhatian lawan sehingga biar tertegun. Tetapi
ternyata Huru Hara malah berkaok kaok dan menyurutkan
kepalanya ke bawah sehingga selamat dari kemplangan.
Menyaksikan pertempuran yang begitu sengit tetapi
Huru Hara masih bertingkah ugal-ugalan, Han Hi Giok
berbisik cemas, "Kui-ko, mengapa dia masih ugal-ugalan
menghadapi serangan maut dari ketiga iblis itu ? Apakah
dia orang sinting ?"
Wan-ong Kui tersenyum dan hanya geleng2 kepala.
Tetapi berapa saat kemudian dia berkata, “Tuh lihat, Giokmoay,
sekarang dia merobah gayanya !"
Bi Giok memandang ke medan pertempuran. Semula dia
heran melihat tingkah laku Huru Hara yang seperti orang
berputar-putar kian kemari. Tetapi dia heran mengapa
setiap kali berkisar langkah dia terus menampar dan…. eh,
mengapa tamparannya selalu mengenai sasaran, entah
muka entah kepala lawan ?
Plak.... Im pohpoh meringis karena pipinya tertampar.
Plok . . . paderi Gemar segala-apa menyeringai seperti
macan ketawa ketika kepalanya yang gundul ditabok. Plek
.... Hoa Lan Ing menyengir ketika telinganya diselentik.
"Kui-ko," bisik Bi Giok terkejut, "aneh sekali orang itu.
Mengapa senjata ketiga iblis itu tak mampu mengenainya
sebaliknya dia dapat mempermainkan lawan seenaknya
sendiri ?"
"Ya," Wan-ong Kui kerutkan dahi, "memang aneh sekali
orang itu. Rasanya tata-gerak semacam Itu disebut Ih-pohhoan-
ciang ?
Ih-poh-hoan-ciang artinya Beralih-langkah-bergantipukulan.
Setiap langkah berkisar, pukulanpun melayang
dalam gaya yang lain.
Memang sepintas, tampaknya Huru Hara seperti
bergerak dalam jurus mirip Ih-poh-hoan-ciang. Tetapi
andaikata ditanya, dia pasti tak dapat menjawab. Dia akan
mengatakan bahwa gerak yang dilakukan itu hanyalah
gerak reflek menurut keadaan pada saat yang dihadapinya.
Digebuk tongkat, ia harus menghindar dan balas menabok.
Dikemplang harpa, dia harus berkelit dan balas
menyelentik. Ditampar sabuk pinggang, dia hal mengegos
dan balas menampar.
Ah, memang ugal-ugalan sekali si Huru Hara itu.
Keterlaluan sekali dia mempermainkan ke tiga lawannya.
Setiap kali balas menyerang, dia tentu ganti dengan gaya
yang baru. Setelah
menampar pipi Im pohpoh
lalu menampar pipi yang
sebelah, leher dan dahi.
Setelah menyelentik telinga
kanan kiri dari Hoa Lan Ing
lalu menoel pipi menjiwit
bibirnya. Yang lucu tetapi
celaka, adalah paderi
Gemar-segala apa. Setelah
gundul ditabokj hidung
ditarik-tarik lalu telinga dijewer sehingga hidung dan telinga
paderi itu sampai merah sekali.
"Hi, hi, hi....., " Bi Giok tertawa geli demikian Wan-ong
Kui. Walaupun menganggap Huru Hara itu orang edan
tetapi merekapun senang melihat pertempuran yang
menggelikan itu.
Beberapa saat kemudian, terjadi suatu peristiwa yang
mengejutkan. Tongkat paderi Gemar-segala apa luput
menghantam Huru Hara, berganti mendapat sasaran lagi,
bluk.....auh .... tongkat itu tepat menghantam bahu Hoa
Lan Ing yang saat itu sedang sorongkan tubuh
memamerkan buah dadanya ke muka Huru Hara. Wanita
cabul itu menjerit dan terhuyung-huyung mundur
kebelakang. Ternyata tulang pi-peh-kut "atau tulang
bahunya telah remuk terhajar tongkat. Tulang pil peh-kut
merupakan bagian yang amat penting. Tulang itu remuk
maka hilanglah seluruh tenaga kepandaian. Demikian
yang dialami Hoa Lan Ing. Saat itu dia kembali menjadi
wanita biasa, ilmu silatnya lenyap untuk selama-lamanya.
Menyadari apa yang terjadi, Hoa Lan Ing marah sekali.
Tetapi kemarahannya itu tertumpah pada paderi Gemarsegala-
apa yang dianggapnya telah membuatnya cacad.
Serentak dia mengambil segenggam kacang hijau,
melangkah maju dan terus menabur kepada paderi
Gemar-segala- apa.
Kembali terjadi suatu peristiwa yang menakjubkan dan
lebih mengerikan dari yang tadi.
Pada saat tongkatnya menghantam bahu Hoa Lan Ing,
paderi Gemar-segala-apa -kesima di tertegun diam. Huru
Hara yang jahil lalu mencengkeram bahunya, maksudnya
hendak memberi peringatan kepada paderi itu jangan
terlongong dan supaya menyerang dia lagi.
Tetapi paderi Gemar-segala-apa terkejut karena mengira
tulang pi-peh-kut bahunya hendak diremas Huru Hara.
Serentak dia kerahkan tenaga dalam untuk meronta. Tetapi
malah celaka. Karena dia mengerahkan tenaga-dalam,
cengkeraman tangan Huru-hara itu memancarkan tenaga
reflek yang mengembalikan tenaga-dalam si paderi lagi.
Akibatnya tulang pi-peh-kut bahu paderi itu benar-benar
remuk. Paderi-gemar-segala-apa menjerit dan mengendap
kebawah terbungkuk-bungkuk menyurut mundur sambil
mendekap bahunya.
Belum peristiwa itu selesai, terjadi pula peristiwa
yang lain. Karena si padri membungkuk kebawah, dia
terhindar dari taburan senjata rahasia berbentuk seperti
kacang hijau yang ditaburkan Hoa Lin Ing. Kebetulan pula
saat itu Im pohpoh maju menyerang Huru Hara dari
samping. Nenek itulah yang menjadi korban, aduh. . .
Ia menjerit ketika biji2 kacang hijau itu menabur
mukanya, meledak dan seketika mukanya terbakar hangus.
Yang mengerikan adalah kedua matanya juga terbakar
sehingga buta. Ternyata biji2 kacang hijau itu berisi bubuk
bahan peledak yang beracun. Begitu menyentuh tubuh
atau pakaian, kacang hijau itu tentu meledak dan racunnya
akan menghanguskan korbannya.
Im pohpoh menjerit ngeri. Ia mendekap mukanya yang
hancur. Sesaat kemudian tiba2 ia melengking nyaring,
"Sundal busuk, rasakan pembalasanku . . . ! " — Ia ayunkan
tangannya. Sebatang liu-yap-to, pisau yang setipis daun liu,
berkelebat kearah Hoa Lan Ing, tahu2 si cantikpun menjerit
dan terus terjungkal rubuh. Karena segala kepandaiannya
sudah lenyap, Hoa Lan Ing tak dapat menghindar dari
taburan liu-yap-to Im po-poh. Dadanya tertembus liu-yap-to
yang menyusup masuk kedalam jantung. Seketika wanita
cantik yang sepanjang hidupnya berlumuran dosa asmara
itu, melayang jiwanya untuk menghadap dan menerima
hukuman dari Raja Akhirat.
Im pohpohpun ngelumpruk rubuh. Tak berapa lama
mukanya hancur menjadi cairan. Im pohpoh nenek tua
yang dengan tawanya seperti nada setan meringkik pernah
menggetar! dunia persilatan selama berpuluh tahun, kini
menggeletak di tanah menjadi sebuah mayat tanpa kepala.
Akan halnya paderi Gemar-segala-apa, karena tulang pipeh-
kutnya hancur, tenaga dan kepandaiannyapun punah.
Menyaksikan keakhiran hidup dari kedua kawannya,
bergidiklah buluromanya.
"Siancay! Siancay! Aku seorang paderi yang penuh dosa,
bejat moral. Hud-ya, terimalah penebus dosa murid . . . . "
habis berkata dia terus menikamkan golok ke dadanya
sendiri.
"Jangan!" tiba2 Huru Hara terkejut dan Ioncat
menyambar tangan padiri Gemar-segala-apa. Karena dia
mengerahkan tenaga dan sekarang paderi itu sudah menjadi
orang biasa ( tenaga kepandaiannya hilang ), maka paderi
itupun terpelanting jatuh.
"Ah, bangunlah, taysu," buru2 Huru Hara menariknya
berdiri, "mengapa engkau hendak bunuh diri?"
"Aku merasa berdosa."
"O, apakah engkau tak pernah membayangkan bahwa
engkau bakal menghadapi saat seperti hari ini?"
Paderi Gemar-segala-apa gelengkan kepala, "Tidak,
tayhiap. Kalau aku dapat membayangkan hal itu, aku tentu
takkan melakukan dosa. Tetapi mengapa tayhiap (pendekar
besar) mencegah aku bunuh diri?"
"Mengapa engkau hendak bunuh diri?" "Untuk menebus
dosa."
"O, ajaran agama manakah yang mengatakan bahwa
menebus dosa itu harus dilakukan dengan bunuh diri?"
"Memang tidak. Tetapi aku sudah merasa diriku ini
seorang manusia yang kotor."
"Apakah dengan bunuh diri itu engkau bakal menjadi
manusia bersih ?"'
"Tetapi aku malu hidup."
"Mengapa malu ? Karena berdosa ?"
"Sicu……”
"Manusia tak luput dari dosa. Memang seharusnya
mengingat dosa2mu yang setinggi gunung itu, masih ringan
kalau engkau kubunuh. Tetapi nyawamu itu bukan aku
yang memberi maka aku pun merasa tak berhak untuk
mencabut. Dan sebagai hukuman, kini engkau sudah
lumpuh, tak mungkin engkau dapat melakukan kejahatan
lagi,
Paderi Gemar-segala-apa mengangguk.
"Menebus dosa bukan dengan bunuh diri caranya.
Dengan bunuh diri, engkau malah menambah dosa, karena
perbuatan bunuh diri itu sudah merupakan suatu dosa
terhadap Tuhan yang telah memberi hidup. Tuhan memberi
engkau hidup, tetapi engkau tolak. Itu dosa namanya."
Paderi Gemar-segala-apa diam.
"Jika engkau benar2 mau menebus dosa," kata Huru
Hara dengan lagak seperti seorang guru besar, "engkau
harus lebih tekun bersembahyang. Tetapi bersembahyang
thok, juga kurang sempurna. Engkaupun harus
menjalankan dharma dan amal kebaikan. Apakah engkau
sudah sadar ?"
"Ya."
'"Siapa sadar dia sudah menapak selangkah untuk
menuju jalan kearah menebus dosa. Baiklah, silakan pergi
kemana yang hendak engkau tuju."
Setelah menghaturkan terima kasih, paderi itupun
melangkah pergi. Tetapi baru beberapa langkah dia berhenti
dan kembali menghampiri Huru Hara, "Loan tayhiap,
inilah surat undangan yang engkau ingin pinjam itu."
"Ah, tak usah. Pakailah sendiri."
"Ah, janganlah tayhiap mengolok aku. Sekarang aku
sudah cacat, mana mungkin ada muka melamar pekerjaan
itu pada jenderal Ko Kiat ? Lebih baik tayhiap pakai saja."
Huru Hara terpaksa menerima. Karena kalau tak mau, ia
kuatir disangka menghina. Demikian berhasillah orang
aneh itu mengumpulkan tujuh buah undangan yang
diterima ke tujuh pembunuh besar itu.
"Tikus2 sudah mati, perlu apa engkau unjuk tampang
disini," tiba2 Huru Hara melemparkan sisa sate tikus ke
semak belukar. Setelah itu dia pun melangkah pergi.
"Hai", tunggu dulu, bung!" teriak Wan-ong Kui.
"O, engkau ?" seru Huru Hara terkejut, "ya, aku lupa
kalau kalian berada disini. Mau perlu apa dengan aku ?"
"Ah, tidak," sahut Wan-ong Kui, "aku kagum terhadap
kepandaianmu dan ingin berkenalan."
"O, engkau seorang pemuda yang bagusnya seperti gadis
cantik, apakah engkau tak jijik berkenalan dengan aku ?"
"Yang penting orangnya, bukan pakaiannya.”
"Lho, orangnya bagaimana sih?"
"Engkau seorang pendekar yang memusuhi kejahatan.
Ketujuh tokoh hitam itu telah engkau basmi, tentulah
rakyat akan gembira mendengar berita itu."
"Mudah-mudahan . . . tidak."
"Lho, aneh! Mengapa tidak gembira?"
"Masih banyak hal lain yang lebih menggembirakan
rakyat daripada kematian ketujuh orang itu. Bukankah
rakyat sedang menderita ketakutan dan kelaparan?"
"Maksudmu?"
"Jika biangkeladi dari segala kerusuhan terbasmi,
barulah rakyat benar2 gembira."
"Maksudmu tentara Ceng?" "Hm."
"Baik," kata Wan-ong Kui, "kita akan berusaha
melaksanakan hal itu. Bukankah engkau tak keberatan
untuk berkenalan?"
"Tidak."
"Terima kasih," kata Wan-ong Kui, "aku bernama
Wan-ong Kui dan nona ini Han Bi Giok”
"Aku Loan Thian Te."
"Benarkah namamu itu aseli? Karena Loal Thian Te
berarti dunia kacau."
"Apakah namamu itu aseli? Apa artinya Wan-ong Kui?"
"Setan penasaran. Aku memang sedang penasaran dan
hendak mencari manusia yang pernah menyakiti hatiku."
"O," Huru Hara terkejut, "memang tak enak orang
menderita sakithati itu. Orang yang pembuat sakithati lain
orang, memang pantas dihajar biar kapok."
"Ya, nanti apabila bertemu dengan orang, dia memang
hendak kubunuh!"
"Hah?" Huru Hara terbeliak, "engkau gemar membunuh
orang? Apakah engkau konco mereka bertujuh?"
"Jangan salah faham," sahut Wan-ong Kui, “aku tak
kenal dengan mereka. Dan andaikata kenalpun aku tak sudi
menjadi kawannya. Yang hendak kubunuh adalah orang
yang menyakiti hatiku itu."
"Bagus," Huru Hara, "tetapi eh, siapakah orang yang
membuat engkau sakithati itu?"
Wan-ong Kui tidak menyahut melainkan berpaling ke
arah Bi Giok, "Giok-moay, maukah engkau mengambil
arak yang berada pada kudaku itu? Kita jamu Loan tayhiap
ini dengan arak."
Bi Giok mengiakan lalu menuju ketempat kuda.
Menggunakan kesempatan itu, Wan-ong Kui berkata
pelahan-lahan kepada Huru Hara, "Tetapi ini rahasia,
jangan engkau katakan kepada siapapun, termasuk kepada
nona itu, mau?"
"Baik."
"Orang itu tinggal di gunung Lou-hu-san, namanya si
Blo'on ..."
"Astagafirullah!" tiba2 Huru Hara memekik kaget,
"engkau hendak mencari Blo'on?"
"Eh, mengapa engkau kaget setengah mati. Apa
hubunganmu dengan Blo'on?" Wan-ong Ki heran.
"Uh . . . bukan apa2 ..." "Tetapi mengapa engkau begitu
kaget?
"Uh, orang kaget kan boleh saja."
"Apa engkau kenal dengan si Blo'on?"
"Ti . . . dak!"
"Hm, pemuda itu memang kurang ajar sekali.”
"Tetapi apa saja yang dilakukannya sehingga
membuatmu sakithati?"
"Dia pernah akan dinikahkan dengan puteri baginda Ing
Lok yang bernama Ing kiong. Tetapi sebelum dinikahkan
secara resmi dia sudah melarikan diri."
"Lho, engkau ini siapa? Itu kan urusan puteri raja,
mengapa engkau marah? Apakah engkau puteri raja itu
sendiri?"
"Bu . . . kan. Aku salah seorang bekas ponggawa istana
yang dititahkan puteri untuk membunuh si Blo'on."
"O, kalau begitu engkau juga seorang pembunuh
bayaran!"
"Tidak! Aku tidak menerima upah sepeser pun dari
puteri. Aku hanya kasihan kepadanya.!
"O, apakah engkau pernah melihat muka Blo'on?"
"Belum. Dan engkau?"
"Juga belum tetapi hanya mendengar cerita tentang
dirinya dari beberapa orang persilatan."
"O, bagaimana ceritanya?"
"Dia memang bloon tetapi dia amat sakti. Aku kuatir,
engkau bukan yang membunuh tetapi malah yang akan
dibunuh si Blo'on nanti."
"Hm, lihat saja nanti. Blo'on pasti akan kucincang seperti
bakso."
"Auh, ngeri!" teriak Huru Hara.
Wan-ong Kui tertawa, "Maukah engkau membantu aku
membunuh Blo'on."
"Aku engkau suruh membunuh Blo'on?"
"Ya."
"Tidaaaaak! Dia tak bersalah kepadaku mengapa aku
harus membunuhnya?"
Wan-ong Kui terdiam sejenak lalu berkata pula, "Kulihat
tadi engkau memiliki kepandaian yang sakti. Siapakah
gurumu?"
"Maaf, aku tak punya guru"
Wan-ong Kui tak mau mendesak. Ia tahu bahwa
memang ada kalanya orang tak mau memberitahukan siapa
guru dan perguruannya.
"Omong-omong," kata Wan-ong Kui, "kira2 lebih sakti
mana, engkau dengan Blo'on?"
"Blo'on."
"Hah? Masa iya! Kurasa engkau lebih unggul."
"Mana bisa!"
"Kira2 apakah aku mampu mengalahkan Blo'on, ya?"
"Entah, tanya sendiri pada dirimu."
"Tetapi bagaimana aku tahu kalau belum dicoba. Maka
sekarang aku ingin mencobanya."
"Engkau hendak mencoba dengan siapa?
"Dengan engkau."
"Gila! Aku bukan Blo'on."
"Ya, kutahu. Tetapi sebagai percobaan tak apa. Kalau
aku bisa menangkan engkau, tentu ada harapan
mengalahkan Blo'on. Maka tolonglah, mari kita berkelahi."
Sebenarnya Huru Hara hendak menolak tapi tiba2 ia
mendapat pikiran, "Ah, benar juga pendapatnya itu. Kalau
dia kalah dengan aku dia tentu takkan melanjutkan niatnya
membunuh Blo'on."
"Baik," akhirnya ia menerima, "mari kita main2
sebentar."
Tiba2 Bi Giok datang dengan membawa guci arak, "Kuiko,
dimanakah kita akan menjamu pendekar aneh itu?"
"Dibawah pohon itu, Giok-moay," sahut Wan- ong Kui
lalu berbisik kepada Huru Hara, "St, kita minum arak dulu,
baru kita adu kepandaian. Tetapi jangan bilang soal si
Blo'on kepada nona itu.”
"Mengapa ?"
"Dia berhati kecil, Dia ngeri kalau mendengar orang
bertempur."
"Lalu bagaimana kita akau menjawab kalau ia bertanya
?"
"Cukup katakan saja, kita adu kepandaian untuk
merayakan perkenalan kita,"
"Baiklah," Huru Hara mengangguk.
Begitulah mereka minum arak dibawah pohon. Sepintas
seperti tiga orang yang bersahabat. Beberapa saat kemudian
tiba2 Wan-ong Kui mengerut dahi. Entah apa sebabnya,
setelah minum arak ia rasakan perutnya mulas2, makin
lama makin keras sehingga ia tak tahan lagi dan pamit
hendak buang air besar.
"Dibelakang pagoda ada sebuah parit, pergilah ke sana,"
kata Huru Hara.
Kini tinggal Huru Hara bersama Bi Giok. Agak kikuk
juga sikap Huru Hara berhadapan dengan seorang gadis
cantik.
"Loan tayhiap," tiba2 Bi Giok yang mulai bicara lebih
dulu, "sungguh tepat sekali tindakanmu memberantas
kawanan garong itu."
"Ah, sebenarnya aku hanya hendak pinjam surat
undangan mereka."
"Undangan dari mana ?"
"Jenderal Ko Kiat penguasa kota Yang-ciu iaat ini." Dia
hendak mengundang ketujuh orang itu mengantar barang
berharga."
"Kan itu suatu hasil mereka," kata Bi Giok, "mengapa
engkau hendak merebut mangkuk nasi orang ?"
Huru Hara gelengkan kepala, "Barang itu amat penting
sekali bagi arti perjuangan kaum ksatrya menentang
penjajah Ceng. Maka aku terpaksa harus bertindak. Dan
tindakanku ini bukan berdasar mencari upah, harap nona
tahu."
"Bagus, Koan tayhiap," seru Bi Giok memuji, "sayang
aku seorang gadis. Andaikata aku seorang pemuda aku
tentu akan ikut berjuang.
"Engkohmu juga gagah berkasa, mengapa engkau tak
minta pelajaran silat dari dia ?"
Pertanyaan itu membuat Bi Giok kelabakan untuk
menjawab. Tetapi karena ia baru kenal dengan Huru Hara
maka diapun hanya tersenyum saja.
"Loan tayhiap hendak menuju kemana ?" tanya Bi Giok
mengalihkan pembicaraan.
"Menghadap jenderal Ke Kiat di Yang-ciu untuk
melamar pekerjaan mengawal barang itu."
"O."
"Dan nona ?" Huru Hara balas bertanya Rupanya
beberapa saat berbicara dengan gadis itu rasa kikuknya
mulai hilang, "hendak kemana ?"
"Aku hendak ke Lou-hu-san.'"
"Hah ?" Huru Hara terkejut, "ke gunung Lou hu-san ?"
"Ya."
"Apa nona tinggal di sana ?"
"Tidak. Aku dari kotaraja Pak-khia henda ke Lou-husan
mencari putera paman Kim Thian Cong. Engkau tentu
kenal nama pendekar besar Kim Thian Cong itu, bukan ?"
Huru Hara makin berdebar-debar. Ternyata keterangan
Wan-ong Kui tadi memang jujur.
"O, nona hendak melakukan pembalasan kepada Blo'on
?" tanyanya.
"Pembalasan ?" Bi Giok mengerut dahi," pembalasan apa
?"
"Bukankah Blo'on pernah membuat sakithati nona ?"
Bi Giok tertawa kecil, "Siapa yang bilang begitu ?
Apakah engkoh Wan-ong tadi mengatakan begitu
kepadamu ?"
Huru Hara terkejut dalam hati. Dia sudah janji kepada
Won-ong Kui untuk tidak mengatakan rahasia pemuda itu
kepada siapapun juga. Maka dia terpaksa berbohong,
"Tidak. Aku hanya menduga saja."
"Dugaanmu itu salah sekali," kata Bi Giok, "aku sendiri
belum pernah melihat putera paman Kim yang kabarnya
bernama si Blo'on."
"Aneh," guman Huru Hara, "kalau nona belum pernah
melihatnya, apa tujuanmu hendak mencari pemuda itu.
"Aku hanya melakukan perintah ayahku."
"Menyerahkan surat ?"
"Ya, antara lain."
"Apa yang lainnya lagi ?"
"Aku harus tinggal di sana."
"Hah?" Hura Hara terbeliak," suruh tinggal di Lou-husan
? Apa maksudmu?"
Bi Giok tersipu-sipu menunduk. Pipinya merah.
Sebenarnya tak layak orang itu menanyakan soal peribadi
tetapi mengingat orang aneh itu seorang pendekar sakti
yang menentang kejahatan ia mendapat kesan baik. Ah, tak
apa memberita tahu kepadanya, pikirnya.
"Apakah engkau ingin tahu ?" serunya.
"Rahasia penting ?"
"Ya, penting bagi diriku, bukan untuk orang lain."
"O, rahasia peribadi. Maaf kalau begitu, kutarik lagi
pertanyaanku tadi."
Bi Giok tersenyum, "Tak apa. Walaupun rahasia
peribadi tapi hal itu sesuatu yang layak dan terang.
Akhirnya semua orangpun tahu juga."
Huru Hara hanya kerutkan dahi.
"Ayah suruh aku ke Lou-hu-san mencari Blo'on dan
tinggal bersamanya."
"Lho, mengapa ? Apakah engkau....."'l
"Ya, aku calon isterinya."
"Hai!" Huru Hara memekik kaget setengah mati Tetapi
segera ia menyadari bahwa dirinya bukan Blo'on.
"Ih, mengapa engkau begitu kaget?"
"Tak apa2," Huru Hara agak tersipu, "tetapi sepanjang
yang kudengar, Blo'on itu belum punya pacar."
"Ya, memang jarang orang tahu hal itu, bahkan aku
sendiri juga tak tahu. Setelah kota-raja diduduki musuh dan
ayah berjuang menghadapi mereka, barulah ayah suruh aku
menyingkir ke Lou-husan mencari calon suamiku yalah
putera mendiang paman Kim Tiran Cong."
"O, kapan kalian bertunangan..?"
"Sejak aku masih dalam kandungan mama, ayah dan
paman Kim berjanji hendak menikahkan putera puterinya,
apabila mama nanti melahirkan seorang anak perempuan."
"Mati aku,” Huru Hara mengeluh dalam hati. Ia dapat
menekan perasaannya tetapi wajahnya basah keringat dan
napasnya ngos-ngosan."
"Eh, kenapa engkau ini?" tegur Bi Giok heran.
"Tak apa2. Aku tak biasa minum arak maka keringatku
bercucuran dan badanku panas," Huru Hara memberi
alasan.
"Loan tayhiap," kata Bi Giok pula, "rupanya engkau
kenal dengan Blo'on. Bagaimana sih orangnya? Apakah dia
amat tampan seperti engkoh Wan-ong tadi?"
"Tidak, dia kalah tampan dengan engko Wan-ong."
"Bagaimana kalau dengan ..." Bi Giok hendak kata2
meragu.
"Dengan siapa?"
"Dengan tayhiap sendiri."
"O . . . eh . . . bagaimana ya," Huru Hara garuk2
kepalanya, "kalau wajah, dia lebih bagus. Tetapi
keseluruhannya aku lebih sedap dipandang. Itu kata orang
lho."
"Lebih sakti mana, dia atau tayhiap?"
"Entah, belum pernah bertemu."
"Bagaimana perangainya?"
"Jelek," seru Huru Hara, "wajah dan kelakuannya jelek
semua. Malah lagi, tak mau bekerja kecuali hanya bermainmain
dengan binatang peliharaannya. Ah, sayang .... "
"Sayang apa?"
"Nona masih remaja dan cantik sekali. Kalau jadi isteri si
Blo'on bisa kelaparan nanti."
"Aku membawa harta benda yang cukup dimakan
sampai tujuh turunan."
"Tapi si Blo'on juga tak suka harta benda, wanita dan
suka membawa maunya sendiri. Ayahnya karena jengkel
sampai meninggal."
"Habis," kata Bi Giok, "ayahku sudah terlanjur berjanji
dengan paman Kim, aku harus menurut."
"Bagaimana kalau nanti Blo'on menolak nona?" tanya
Huru Hara.
"Apa boleh buat, aku harus menjadi jandanya."
Dalam pada berbicara itu Wan-ong Kui pun sudah
muncul lagi, "Hai, kalian bicara apa saja sampai begitu
asyik?"
"Jangan cemburu," sahut Huru Hara, "masakan nona ini
suka dengan aku."
Merah muka Bi Giok.
"Loan tayhiap, untuk merayakan perkenalan kita hari
ini, bagaimana kalau kita saling beradu kepandaian untuk
tukar pengalaman?" tiba2 Wan-ong Kui berseru.
Karena sudah berjanji maka Huru Harapun setuju.
Tetapi Bi Giok menentang, "Eh, apa-apaan kalian ini?
Merayakan perkenalan masakan , dengan bertanding adu
kepandaian. Adu kepandaian saIah-salah bisa merusak
persahabatan."
"Ah, jangan kualir Giok moay," kata Wan-ong kui,
“kita takkan berantam sungguh2 melainkan hanya sampai
salah satu ada yang tertutul.”
“O," seru Han Bi Giok, "tetapi tutulan itu tak
meninggalkan bekas, bagiimana kalian tahu kalau salah
satu sudah tertutul? Bagaimana kalau jari kalian dilumuri
dengan tinta bak yang hitam?"
"Tepat," sahut Huru Hara, "tetapi siapa yang membawa
alat tulis tinta bak?"
Bi Giok tertegun. Ia memang tak membawa tinta bak.
Tetapi pada lain saat dia berseri tertawa, "Bagaimana kalau
tinta bak diganti dengan gincu merah?"
Huru Hara dan Wan-ong Kui setuju. Han Bi Giok
menyerahkan dua buah gincu kepada mereka.
"'Silahkan tayhiap yang mulai,” seru Wan-ong Kui.
"Tidak, aku tidak bisa menyerang, engkau saja," sahut
Huru Hara.
Wan-ong Kui tak mau sungkan lagi membuka
serangan dengan jurus Tok-coa-tho-sii atau Ular-beracunmenjulurkan-
lidah, diteruskan lagi dengan jurus Ceng-liongtham-
cu atau Naga hijau- merebut-mustika.
Tetapi dia terkejut ketika dengan gerak yang acuh tak
acuh, Huru Hara dapat menghindar. Setiap kali ujung jari
akan menutuk, barulah Huru Hara bergerak.
"Wan-ong Kui makin ngotot. Sampai akhirnya ia
mengeluarkan ilmupedang Peh-hoa-kiam (seratus bunga )
tetapi dimainkan dengan jari. Ji Wan-ong Kui
berhamburan menjadi berpuluh-puluh buah dan
mencurah dari empat penjuru.
Huru Hara tetap bergerak dengan suatu tata gerak yang
aneh. Dia berputar-putar seperti orang dikejar anjing galak,
tetapi nyatanya serangan Wan-ong Kui tak mampu
mengenainya.
"Kalau pemuda ini menang, dia tentu besar kepala dan
pasti akan melampiaskan rencananya untuk melakukan
pembalasan kepada Blo'on," pikir Huru Hara, "baiklah,
akan kuberinya hajaran.”
'Wan-ong Kui, awas," serunya seraya berputar secepat
angin lesus yang mengelilingi Wan-ong Kui.
Wan-ong Kui kelabakan. Dia berusaha sekuat tenaga
untuk menolak serangan lawan. Beberapa saat
kemudian, tiba2 Huru Hara loncat mundur dan terus lari
sekencang-kencangnya.
“Hai, Loan tayhiap, hendak lari kemana engkau…. . .."
teriak Bi Giok tetapi sudah tak terdengar suara Huru Hara
lagi karena dia sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
Sementara itu Wan-ong Kui tampak tegak berdiam diri.
Kedua matanya dipejamkan. Rupanya tengah melancarkan
pernapasan dan pandang matanya yang nanar.
"Ah. Kui-ko, lihatlah mukamu!" seru Bi Giok.
"Mukaku kena apa ?"
"Ai, sayang aku tak membekal cermin sehingga engkau
dapat melihat gambar wajahmu yang penuh dengan tutulan
gincu."
"Hai," teriak Wan-ong Kui terkejut seraya mengusap
mukanya. Waktu memeriksa tangannya ternyata
tangannya berobah merah kena gincu, ''ah benar2 sakti
sekali orang aneh itu.”
"Mengapa sampai hampir sekujur mukamu terhias
tutulan gincu ? Bukankah pada waktu sekali terkena tutulan
gincu, seharusnya engkau harus mengaku kalah?" Bi Giok
agak menyesali Wan-ong Kui karena dianggap kurang
sportief.
"Ah," akhirnya Wan-ong Kui menghela napas, "kalau
aku tahu, sudah tentu aku akan berhenti dan mengaku
kalah. Aku benar2 .tak merasa sama sekali."
"Luar biasa memang orang itu," seru Bi Giok, "tetapi
mengapa dia melarikan diri? Apakah dia tak tahu kalau dia
yang lebih unggul?"
Wan-ong Kui ge!eng2 kepala, "Aneh, memang benar2
aneh sekali orang itu."
Tak habis herannya kedua anakmuda itu atas gerak gerik
pendekar Huru Hara. Jelas muka Wan-ong Kui penuh
dengan tutulan gincu, tetapi mengapa Huru Hara malah
yang melarikan diri.
"Ya," akhirnya Wan-ong Kui terpaksa harus menghibur
diri, "kata orang, dunia persilatan itu penuh dengan
berbagai macam corak dan ragam manusia. Ada yang licik
dan keliwat kejam. Ada yang baik dan berhati mulia tetapi
ada yang aneh juga. Huru Hara itu termasuk jenis manusia
aneh dari dunia persilatan.
"Kui-ko, bagaimana maksudmu sekarang” tanya Bi
Giok.
“Terpaksa malam ini kita bermalam disini dan besok
baru kita lanjutkan perjalanan lagi,” kata Wan-ong Kui.
===ooo==
II. Melamar.
Setelah berlari sampai beberapa saat, barulah Huru Hara
berhenti, "Ah, sialan. Kalau kuladeni, aku bisa kecantol
nanti," gumamnya seorang diri.
Teringat akan kedua anakmuda itu, ia berceloteh lagi,
"Gila barangkali kedua pemuda itu. Yang gadis
mengatakan hendak mencari Blo'on dan akan tinggal
bersama Blo'on. Dia mengaku calon isteri Blo'on. Calon
isteri?"
Dia tercengang- cengang. Saat itu dia beristirahat duduk
diatas segunduk batu. Ia berbangkit Idan berjalan mondar
mandir kian kemari seperti sedang berpikir keras.
"Uh, Blo'on kan belum beiisteri? Eh, salah. Gadis itu
mengaku sebagai calon isteri atau tunangannya. Ini juga
salah," pikirnya, "kapan tia pernah melamar anak gadis
orang?"
Tiba2 dia teringat akan cerita gadis cantik itu bahwa
waktu mamanya mengandung, ayahnya sudah bersepakat
dengan Kim Thian Cong untuk menjodohkan anak mereka
apabila bayi dalam kaindungan itu keluar perempuan.
"Aneh sekali," gumamnya, "masakan bayi dalam
kandungan sudah dijodohkan. Ya kalau bayi perempuan itu
cantik, kalau cacad matanya! buta atau tidak punya
hidung atau lumpuh, apakah si Blo'on harus mau
menerimanya sebagai isteri ? Eh, benar, dunia ini bukan
berisi dua jenis manusia laki dan perempuan tetapi juga ada
banci. Ya, kalau bayi dalam kandungan itu ternyati banci,
celakalah Blo'on."
"Mengapa celaka ? Biar Blo'on menikahinya . .. . " tibatiba
terdengar sebuah suara menyahut.
"Tidak bisa ! Mana ada orang mengambil isteri seorang
banci bantah Huru Hara. Tiba-tiba ia berhenti dan
terkesiap, "eh, suara siapa tadi ?"
Saat itu dia baru teringat, kata2 itu bukan dia yang
mengucapkan. Dia mengeliarkan pandang ke empat
penjuru tetapi tak melihat suatu apa.
"Ah, mungkin aku yang mengatakan sendiri "akhirnya
dia menarik kesimpulan. Kemudian di melanjutkan
renungannya lagi," orang2 tua itu memang seenaknya
sendiri saja menjodohkan anak. Anak dipaksa menurut
kemauan orang tua. Habis yang kawin itu si orangtua atau
anak ?''
"Memang, anak harus menurut orangtua !" tiba-tiba
suara itu terdengar pula, "habis, kalau anak tidak boleh
nurut orangtua, apa orangtua yang harus nurut anak?"
"Ya, benar juga," sahut Huru Hara, "memang anak harus
nurut orangtua. Eh, tidak, tetapi orangtua harus mengingat
kepentingan anak juga. Kalau anak dipaksa kawin dengan
orang yang tidak disukai anak itu, apakah itu bukan
menyiksa anak namanya?"
Tidak ada jawaban.
"Eh, aku bertanya kepada siapa ini?" sesaat Huru Hara
tersadar bahwa ada suara orang yang membantah
perkataannya tadi. Dia lari kesana sini, loncat keatas batu
karang, memandang jauh ke empat penjuru tetapi tak
melihat barang seorang-pun jua.
"Apakah aku sudah gila?" akhirnya ia menampar-nampar
kepalanya sendiri, "aku mendengar suara orang tetapi tak
ada orang. Atau apakah aku sendiri yang bicara? Tetapi
mengapa aku sendiri yang bicara? Tetapi mengapa aku tak
merasa?"
"Ah, baiknya ganti pembicaraan saja, jangan tentang
gadis itu tetapi tentang si pemuda bagus yang bernama
Wan-ong Kui," katanya seorang iliri, "dia juga hendak
mencari Blo'on tetapi dengan tujuan lain yalah hendak
membunuh Blo'on. Kok aneh dunia ini. Yang satu hendak
mencari Blo'on untuk menjadi isteri. Yang satu mencari
Blo'on untuk dibunuh. Dan lebih lucu lagi, keduanya samasama
seperjalanan. Bagaimana nanti kalau ketemu Blo'on,
ya ? Mungkin pemecahan begini : Blo'on kawin dulu baru
dibunuh. Atau dibunuh dulu baru kawin."
"Benar, benar, memang begitu.....," kembali terdengar
suara itu lagi.
Kali ini Huru Hara tidak ragu2 lagi. Dia jelas sedang
menutup mulut dikala suara orang itu terdengar
berkumandang, "Jelas tentu orang lain, ia memastikan diri.
Kini pandang matanya diarahkan keatas pohon2,
barangkali orang itu bersembunyi diatas. Tetapi tetap tak
bersua sesuatu.
"Ah, mungkin setan yang menunggu aku ini, akhirnya ia
tinggalkan tempat itu dan berjalan pesat menyusur jalan
yang menuju ke kota Yang-ci.
Hari mulai terang tanah. Karena semalam suntuk
berada di udara terbuka, Huru Hara agak dingin dan
berulang kali dia harus buang air kecil.
"Celaka, mau kencing lagi," katanya terus menuju ke
balik sebatang pohon besar dan membuka kran alias
kencing.
"Hujan !" tiba2 terdengar suara orang berteriak kaget
sehingga Huru Hara loncat mundur. Tempat dia kencing
tadi, dibalik sebatang pohon besar. Karena cuaca masih
gelap, dia tak peduli lagi apa yang berada disitu. Pokok dia
dapat longgarkan perutnya. Sudah tentu dia kaget
setengah mati ketika mendengar suara orang berteriak
hujan.
Memandang kearah tempat ia kencing tadi, saat itu
muncul seorang mahluk kecil, mirip manusia tetapi cebol
sekali. Tingginya hanya satu meter.
"Hai, hujan dari mana ini ? Mengapa mencurah deras
terus cepat berhenti ?" teriak orang cebol itu.
Huru Hara terkejut. Ia mengenal nada suara orang itu
seperti suara yang mengganggunya tadi. Tetapi belum
sempat dia menghampiri, orang itu berteriak lagi, "Uh,
kalau air hujan mengapa baunya lain ?"
Orang itu menciumi bajunya, mengusap kepala dan
membaunya. Mukanya tak henti2nya menyeringai. Melihat
itu Huru Hara tak dapat menahan gelinya, "Ha, ha, ha, ha
... . "
Orang cebol itu melonjak kaget, berputar tubuh dan
membentak, "Siapa engkau !"
"Hus, engkau bikin kaget aku, mengapa malah tanya
namaku ? Engkaulah yang harus memberitahu namamu !"
bentak Huru Hara.
"O, benar, benar. Kalau mau tanya nama orang, harus
memberitahu namanya sendiri dulu," kata orang kate itu,"
tetapi nama mana yang engkau inginkan ?"
Huru Hara terbeliak, "Sudah tentu namamu yang
sesungguhnya. Masakan engkau punya beberapa nama."
"Dua," sahut orang kate itu, "yang aseli dan yang baru."
"Yang aseli saja," seru Huru Hara.
"Yang aseli sudah tidak laku di negeri ini bagaimana?"
"Lho, apa engkau bukan rakyat Tionggoan,” Huru Hara
terkejut.
"Bukan, aku berasal dari Kolekok (Korea), negeri yang
jauh dari sini."
"O, lalu mengapa namamu tak laku disini?”
"Sukar mengeja, kata mereka."
"Coba engkau katakan bagaimana namamu itu."
"Ah, karena orang tak mau nama itu aku sendiri sampai
lupa. Jangan cerewet, aku harus mengingat-ingat dulu,"
orang kate itu terus pejamkan mata merenung.
"Berhasil!" tiba2 orang kate itu berjingkrak gembira,
"sekarang aku ingat. Namaku dulu Kyu Jae Kyu. Orang
disini tertawa kalau mendengar nama itu maka merekapun
mengganti dengan nama Lo Ay."
"Lo Ay? Ah, tepat, tepat, ha, ha, ha," Huru Hara
tertawa, "Ay artinya pendek dan ini sesuai dengan
potongan badanmu."
"Tapi nama itu juga tidak laku," seru orang kate."
"Lalu yang laku nama yang mana?" "Sebetulnya itu
nama gelaran tetapi malah laris bukan main."
"Edan barangkali si cebol ini," pikir Huru Hara lalu
bertanya, "Siapa namamu yang terkenal itu ?"
"Cian-li-ji," kata orang kate itu, "seram ya?"
"Apa artinya ?"
"Cian, seribu. Li, kilometer, ji telinga. Cian-li-ji, telinga
yang dapat mendengar suara sampai sejauh seribu li."
"O," Huru Hira terkejut, "benarkan itu?"
"Tadipun sudah kulakukan," kata orang pendek itu,
"waktu aku baru tidur, kudengar seseorang berkata seorang
diri tentang seorang pemuda dan gadis yang hendak
mencari seorang pemuda bernama Blo'on. Lantas kusahut
saja ocehan orang itu."
Huru Hara mendelik, "Jadi yang mengganggu
pembicaraanku tadi, engkau?"
"O, apakah yang mengoceh seorang diri tadi juga engkau
?" kala? Cian-li-ji.
Keduanya saling mendelik lalu saling tertawa geli. Huru
Hara geli melihat "bentuk Cian-li-ji yang begitu kate.
Sedang Can-li-jipun ngakak melihat bentuk potongan
rambut Huru Hara yang mencuat keluar seperti sepasang
tanduk.
Tiba2 Cian-li-jj mendelik, "Ha, mengapa rrngkau
tahu kalau aku berada dalam lubang dibawah akar pohon
itu ?"
"O," seru Huru Hara," aku kepingin buang air kecil, lalu
aku kencing dibelakang pohon."
"Hai, jadi hujan yang mencurah di kepalaku itu air
kencingmu ?" tiba2 Cian-li-ji berteriak dai terus menerjang
Huru Hara, duk .... auh . . Dia menjotos dada Huru Hara.
Huru Hara terpental selangkah tetapi Cian-li-ji terpelanting
mencelat sampai beberapa langkah.
"Aneh," gumam orang kate itu, "apakah engkau tadi
balas memukul aku ?"
"Tidak."
"Lho mengapa engkau seperti memancarkan tenaga kuat
mendorong aku ?"
"Tidak," sahut Huru Hara, "engkaulah yang memukul
dadaku sampai aku kaget dan terdorong mundur."
"Engkau benar2 tidak membalas ?"
Huru Hara gelengkan kepala, "Tidak! Aku merasa
bersalah karena mengencingi kepalamu. Tetapi benar2 aku
tak sengaja. Kalau engkau mau membalas, silakan engkau
mengencingi aku."
"Idih, malu," teriak orang kate itu, "sudah cukup kalau
aku memukulmu tadi. Kita lunas, tidak saling berhutang."
"Bagus," seru Huru Hara, "mengapa engkau berada
ditempat pegunungan sesepi ini ?"
"Ah, ceritanya panjang. Mari kita duduk di batu itu"
Cian-li-ji terus menghampiri sebuah batu ditepi gerumbul
pohon. Keduanya duduk.
"Aku mempunyai sejarah hidup yang panjang dan
menarik. Aku ini seorang ponggawa istana raja Beng yang
terakhir di Pak-khia."
"O, hebat juga engkau," seru Huru Hara, "engkau
menjabat sebagai apa ?"
"Mentri perkebunan istana."
"Hah ?" Huru Hara terbeliak, "baru sekali ini aku
mendengar tentang pangkat semacam itu".
"Memang istimewa sekali," sahut Cian-li-ji dengan
bangga, "ceritanya begini. Asal mulanya pada waktu
baginda mengirim utusan ke raja Ko le-kok, raja Ko-le-kok
telah menghaturkan buah ko-le-som kepada baginda.
Baginda amat bersuka cita sekali setelah beberapa waktu
merasakan kha siat buah som dari Ko-le-kok itu. Maka
baginda mengirim utusan lagi untuk minta bibit tanaman
itu yang akan ditanam di istana.
"Disamping bangga karena mendapat pujian dari
baginda dan untuk mengambil hati baginda, maka raja Kole-
kok mengirim bibit unggul pohon itu beserta seorang ahli
pemeliharaan tanaman som . .. ."
"Engkau ?" tukas Huru Hara.
"Ya," sahut Cian-li-ji, "aku diterima dengan gembira oleh
seri baginda dan sejak itu aku diangkat sebagai juru kebun
tanaman ko-le-som dengan pangkat mentri."
"O," desuh Huru Hara," kan enak tinggal di istana itu.
Tetapi mengapa engkau berkeliaran di tempat ini ?"
"Hus, tolol engkau !" teriak Cian-li-ji, "istanna kan
diserang dan diduduki tentara Ceng. Baginda bunuh diri
dan segenap keluarga raja dan menteri melarikan diri.
Akupun demikian. Sebelumnya kucabuti semua tanaman
ko-lesom itu sampai habis lalu aku melarikan diri. Karena
takut ketahuan musuh, siang hari aku bersembunyi dan
malam-hari baru melanjutkan perjalanan. Aku tak ahli arah
sehingga tahu2 tiba ditempat ini. tertarik dengan hawa dan
alam pegunungan disini yang indah, akupun menetap
disini."
"Dimana rumahmu ?"
"Aku menemukan sebuah terowongan di bawah pchon
itu dan kujadikan tempat tinggal. Eh apa engkau lapar ?"
Belum sempat Huru Hara menyahut, orang kate itu terus
lari dan menyusup kedaiam sarangnya. Tak berapa lama dia
membawa seguci arak. Huru Hara terbeliak. Tanya lapar
atau tidak, mengapa membawa hidangan arak, gerutunya.
"Nih, makanlah," Cian-li-ji memberi sebutil pil kepada
Hura Hara. Huru Hara melongo, "eh bukankah engkau
lapar?"
"Iya, tetapi masakan pil sekecil ini ?" bantah Huru Hara.
Orang kate itu tertawa, "Sudah bertahun tahun aku
tinggal disini dengan hanya maka pil itu."
"Aku mempunyai resep warisan keluarga untuk
membuat pil penahan lapar. Sehari makan satu butir sudah
cukup. Sama dengan makan nasi sehari. Makanlah dan
minumlah arak ini."
Huru Hara tak ragu2 terus menelan pil itu lalu minum
arak. Kemudian dia menanyakan bahan pil pengganti
makanan itu.
"Pil itu terbuat dari sari buah ko-le-som yang
berumur seratus tahun yang tumbuh diatas tanah."
"Tidak terpendam didalam tanah?"
"Tidak boleh," sahut Cian-li-ji, "harus yang keluar diatas
tanah sehingga mendapat sari sinarnya matahari dan
rembulan. Memang sukar untuk nencari buah ko-le-som
semacam itu."
Dalam omong-omong itu Huru Hara sempat bertanya,
"Beapakah umurmu?"
"Entah, aku lupa. Eh, buat apa tanya umur? Dari dulu
sampai sekarang aku juga tetap begini pada hal aku sudah
merasa, hidupku itu lama sekali."
"Aku agak bingung menilai dirimu. Kalau mendengar
sejarahmu, engkau tentu sudah tua. Tetapi kalau melihat
wajahmu, engkau masih segar seperti lelaki berumur 40-an
tahun."
"Apa? Empatpuluh tahun? Gila, aku sudah ikut keraton
sejak baginda Beng yang pertama;"
"Mengapa engkau masih awet muda?"
"Tiap hari aku makan ko le-som dan tak memikirkan
urusan dunia. Siang malam tak kuhiraukan, umurpun
kubuangi semua.
"Orang edan," gumam Huru Hara dalam hati. Lalu dia
bertanya pula, "masih ada tiga buah pertanyaan yang
kuminta jawabanmu ..."
"Boleh, boleh," kata Cian-li-ji, "jangankan hanya tiga,
tigapuluh sampai tigaratus pertanyaanpun aku sanggup
menjawab!"
"Pertama, mengapa engkau begitu pendek^
"Kejadian itu begini. Waktu aku masih kecil antara umur
lima tahun, aku memang nakal habis bermain aku pulang.
Tetapi nasi tak ada, kedua orangtuaku juga pergi. Kulihat
diatas meja terdapat buah kentang sebesar bayi. Karena
lapar kumakan kentang itu sampai habis. Tetapi setelah itu
aku terus pingsan. Engkau tahu apa yang kusangka kentang
itu?"
Hutu Hara gelengkan kepala.
"Ternyata itu sebuah ko-le-som yang berumur ratusan
tahun yang berhasil ditemukan ayah waktu mencari kayu di
hutan. Lima hari lima malam aku pingsan. Badanku panas,
keringat keluar seperti orang mandi. Hari keenam aku baru
sadar. Saat itu kurasakan mataku terang, telinga tajam dan
tubuh juga ringan dan tak kenal lelah. Tetapi celakanya
badanku tak dapat tumbuh tinggi seperti orang biasa.
Kawan2 mengejek aku si Kate.”
"Baik," kata Huru Hara, “'sekarang pertanyaan yang
ketiga …."
"Salah, yang kedua!"
Huru Hara menerangkan bahwa pertanyaan kedua itu
sudah terjawab juga dalam jawaban atas pertanyaan kesatu
tadi. Tetapi karena Cian-li ji tetap ngotot, akhirnya Huru
Hara bertanya juga, "Apa kepandaianmu? Siapa gurumu?"
"Aku tak punya guru. Kepandaianku yalah dapat
mendengar suara oranng pada jarak jauh. Dapat
memencarkan suara membikin bingung orang dan dapat
berlari secepat angin"
Kepandaian itu engkau dapat karena makan ko-le-som
sebesar -bayi yang berumur ratusan tahun itu?"
"Ya."
"Baik, sekarang pertanyaan yang ketiga. Apa engkau
masih punya keluarga dan hendak kenanakah tujuanmu
sekarang."
"Aku sudah sebatang kara, jauh sanak jauh kadang. Aku
tak punya tujuan tertentu kecuali hanya menghabiskan sisa
umurku dalam dunia ini.”
“Ya, sudah," kata Huru Hara, "nah, sekarang tidur saja
di sarangmu. Aku hendak melanjutkan perjalanan."
"Tunggu!” teriak Cian-li ji seraya memegang baju Huru
Hara ketika Huru Hara hendak berangkat, "engkau sudah
mengajukan tiga pertanya kepadaku. Sekarangpun engkau
harus menjawab tiga buah pertanyaanku. Itu baru adil."
"Hm, baiklah."
"Pertama, siapa namamu?"
"Loan Thian Te aiias Huru Hara."
"Engkau sudah kawin atau belum dan hendak kemana
saja engkau ini?"
"Aku masih bujangan dan sekarang hendak berkunjung
ke tempat jenderal Ko Kiat melamar pekerjaan."
"Kalau begitu, aku ikut engkau saja."
"Lho, itu bukan pertanyaan!"
“Biar, pokoknya aku ikut engkau. Jangan kuatir, aku
takkan minta makan engkau. Aku punya simpanan pil
penahan lapar. Engkau dapat suruh aku kerja apa saja, aku
tak minta gajih."
Huru Hara tertawa, "Mengapa engkau suka ikut aku?"
"Engkau jujur dan lucu."
"Uh," Huru Hara menyeringai, "berapa umurmu?"
"Sudahlah, panggil saja aku paman dan kuanggap
engkau sebagai keponakanku. Mari kita berangkat!" Cian-li
ji terus menggandeng tangan Huru Hara diajak berjalan.
Apa boleh buat, Huru Hara terpaksa menurut.
Mereka menuju ke kota Yang-ciu tempat kediaman
jenderal Ko Kiat.
Jilid: 4.
Comat comot.
Serangan tentara Ceng yang berhasil menduduki kotaraja
Pakkhia telah membuat kerajaan lleng kocar kacir. Ibukota
pindah ke Lamkia dan karena baginda Cong Ceng bunuh
diri maka tahtapun kosong. Timbul pertentangan diantara
para mentri dan panglima untuk menobatkan raja yang
baru.
Mereka terpecah menjadi dua golongan. Golongan yang
mendukung pangeran Hok-ong dan golongan yang
mendukung pangeran Lok-ong. Hok-ong ramah dan welas
asih. Lok-ong tangkas dan cerdik.
Itu waktu mentri urusan tentara atau Peng-oh-siang-su
dipegang oleh Su Go Hwat. Saat itu bala balatentara
kerajaan Beng bermarkas di Hu-o. Mendengar pertentangan
dikalangan menteri tentang pengangkatan raja baru, Su Go
Hwat condong mengangkat Lok-ong.
Tetapi gubernur wilayah- Hong-yang-hu yakni Ma Su
Ing yang licik, hendak memanfaatkan kelemtahan pangeran
Hok-ong untuk kepentingannya. Diam2 dia bersekutu
dengan Lau Liang Co dan lain2 menghadap dan
menghaturkan laporan pada mentri urusan tentara Su Go
Hwat, menyatakan bahwa golongan pendukung Hok-ong
itu besar pengaruhnya. Kalau sampai Hok-ong tidak
diangkat dikuatirkan akan timbul pemberontakan.
Su Go Hwat terpaksa menurut. Begitulah dengan
membawa pasukan besar, Ma Su Ing menekan pada mentri
dan jenderal yang terbesar di seluruh wilayah Kangpak agar
mendukung Hok-ong. Akhirnya Hok-onglah yang
dinobatkan sebagai raja baru.
Setelah maksudnya tercapai, Ma Su Ing me lanjutkan
rencananya lagi. Dia hendak menyingkirkan mentri setia Su
Go Hwat dan akan merebut kedudukan sebagai Sen-siang
atau perdana mentri.
Saat itu Su Go Hwat sedang mengadakan pembaharuan
dan penyederhanaan di kalangan tentara. Antara lain,
pasukan bhayangkara Kim ih-wi, Gi-lim-kun dan lain2
digabung kedalam pasukan tentara di bawah komando
mentri urusan tentara.
Melihat itu Ma Su Ing cemas. Dia kuatir Go Hwat
hendak menguasai tentara. Maka diam2 dia
,memerintahkan jenderal Ko Kiat supaya menganjurkan
baginda supaya memintakan Su Go Hwat keluar
mengadakan inspeksi ke daerah2.
Hok-ong memang lemah dan doyan pelesir. Sejak naik
tahta dia hanya memanjakan diri dalam bersenang-senang
dengan wanita cantik.
Pada suatu hari kerajaan mengadakan sidang lengkap,
membicarakan soal peperangan menghadapi pasukan Ceng.
Su Go Hwat menganjurkan agar baginda keluar ke daerah
untuk membangkitkan semangat rakyat, menyusun
kekuatan dan memperkuat kekuatan pasukan. Tetapi
baginda menolak dan meminta salah seorang mentri yang
melaksanakan tugas itu. Ada yang mengusulkan supaya Ma
Su Ing yang diangkat sebagai Kian-siu atau Duta raja.
Tetapi Mo Su Ing menolak. Akhirnya pilihan jatuh pada Su
Go Hwat. Karena menganggap tugas itu amat penting, Su
Go Hwat terpaksa menerima.
Su Go Hwat seorang mentri yang jujur dan berwibawa.
Dia mendapat dukungan penuh dari rakyat dan ditakuti
jenderal2 penguasa daerah.
Diantara jenderal2 pasukan Beng, terdapat empat orang
jenderal yang tak becus. Mereka yalah Lau Cek Cing, Ui
Tek Kong, Lau Liang Co dan Ko Kiat.
Bermula terjadi persaingan diantara Ui Tek Kong, Liu
Cek Cing dan Ko Kiat untuk menguasai kota Yang-ciu.
Ternyata Ko Kiat dengan pasukannya tiba lebih dulu.
Tetapi rakyat Yang-ciu yang tahu Ko Kiat itu seorang
jenderal yang kejam, menolak kedatangannya. Pintu kota
ditutup rapat2. Ko Kiat marah. Dia memerintahkan
pembunuhan besar-besaran pada rakyat dari empat buah
desa disekeliling kota Yang-ciu itu.
Mendengar itu rakyat Yang-ciu makin benci dan tak mau
membukakan pintu kota. Sampai satu bulan lamanya
pasukan Ko Kiat menyerang dan mengepung kota itu tetap
tak berhasil.
Sebelum itu ketiga jenderal yang lain Lau Cek Cing, Ui
Tek Kong dan Lau Liang Ge juga mengadakan huru-hara
gara2 ditolak rakyat. Kerajaan tak dapat berbuat apa2 dan
menitahkan Su Go Hwat untuk mengatasi persoalan itu.
Berkat kewibawaannya, dapatlah ketiga jenderal yang saling
berebut daerah itu ditundukkan dan taat pada perintah Su
Go Hwat.
Setelah itu Su Go Hwat lalu ke Yang-ciu menemui Ko
Kiat. Ko Kiat ketakutan. Dalam waktu satu malam dia
perintahkan prajuritnya untuk membuat seribu liang,
mengubur mayat2 rakyat yang dibunuhnya itu.
Su Go Hwat pura2 tak tahu peristiwa itu dan
mengangkat Ko Kiat sebagai penguasa di Co ciu.
Kekuasaan atas Yang-ciu. dipegang sendiri oleh Su Go
Hwat. Diam2 Su Go Hwat menyerahkan kota Gi - cin
kepada. pasukan U Tek Kong agar dapat mengawasi dan
menindak Ko Kiat kalau sampai nyeleweng lagi.
Waktu itu panglima besar atau Cong-peng yang baru
diangkat yakni Ui Hui akan datang untuk memangku
jabatan. Karena dia masih bersaudara dengan Ui Tek Kong
maka dia minta supaya Tek Kong membawa pasukan untuk
menyambutnya, menjaga kemungkinan yang tak diingini
dalam suasana kacau seperti waktu itu.
Mendengar itu Ui Tek Kong lalu membawa 100 pasukan
untuk menyambut ke Ko-yu. Hal ini menimbulkan
kecurigaan Ko Kiat yang mengira Ui Tek Kong hendak
menyerangnya. Dia menitahkan pasukannya bersembunyi
menyegat di tengah jalan. Waktu Ui Tek Kong dan
pasukannya sedang beristirahat maka muncullah pasukan
Ko Kiat yang menyerangnya.
Tek Kong dengan susah payah dapat lolos dari bahaya
walaupun kuda tunggangannya terpanah mati. Rupanya Ko
Kiat masih belum puas. Dia mengirim pasukan untuk
menyerang di pos pertahanan Tik Kong di kota Gi-cin. Tek
Kong menderita kerusakan besar.
Sudah tentu Tek Kong marah sekali. Dia nengirim surat
kepada baginda Hok Ong, mohon diperkenankan untuk
menghancurkan Ko Kiat. baginda menitahkan Su Go Hwat
untuk menyelesaikan perselisihan itu.
Kebetulan mamahnya Tek Kong meninggal. Waktu
melayat, Su Go Hwat membujuk Tek Kong agar
menghapus dendam kemarahannya kepada Ku Kiat.
"Demi kepentingan negara, kupercaya ciang- kun tentu
berjiwa besar untuk menghapus dendam itu. Semua orang
tahu bahwa Ko Kiat yang bersalah maka akan kusuruh dia
menghaturkan maaf kepada ciang-kun," kata Su Go Hwat.
Ko Kiat menurut perintah. Dia hendak mengganti semua
kerugian pasukan Tek Kong dan akan menghaturkan seribu
tail emas sebagai tanda ikut berdukacita atas kematian
ibunda Tek Kong.
Dengan tindakan itu dapatlah Su Go Hwa untuk
kesekian kalinya menjaga keutuhan para jenderal pasukan
kerajaan Beng.
Demikian jenderal Ko Kiat telah mengirim undangan
kepada tujuh tokoh hitam yang ganas untuk mengawal
uang sebanyak seribu tail emas itu.
Memang sejak menguasai kota Yang-ciu, Ko Kiat
mempergunakan juga tenaga2 tokoh hitam dalam dunia
persilatan untuk menjalankan tangan besi menindas rakyat.
Rakyat makin menggigil karena marah, benci tetapi takut.
Munculnya seorang pemuda aneh di kota Yang-ciu,
tidaklah banyak menarik perhatian orang kecuali mereka
hanya menyangka bahwa pemuda aneh itu seorang yang
kurang waras pikirannya, tapi sebuah peristiwa yang cukup
menggempar, membuat pemuda aneh itu dapat merebut
hati rakyat.
Peristiwa itu terjadi diwaktu sore dikala matahari masih
bersinar terang. Sekawanan prajurit anakbuah Ko Kiat yang
terdiri dari 10 orang, makan minum disebuah rumah
makan. Kebetulan saat itu Loan Thian Te atau si Huru
Hara juga berada dalam rumahrnakan itu. Melihat kawanan
prajurit masuk, pelayan ketakutan setengah mati. Meja2
sudah penuh diduduki tetamu. Yang ada hanya meja si
Huru Hara yang masih kosong karena hanya diduduki
Huru Hara seorang.
"Tuan, maafkan, kuminta tuan suka mengalah untuk
para loya ( tuan besar ) itu. Tuan tak perlu membayar
rekening makanan tuan,'' kata pelayan itu.
Huru Hara deliki mata kepada si pelayan tapi sesaat
kemudian mau menjawab juga, "Kalau mereka mau duduk,
silakan saja duduk, perlu harus mengusir lain tetamu?"
"Tetapi tuan ....," belum habis pelayan berkata,
rombongan prajurit itupun menghampiri dan berseru, "Hai,
meja masih kosong. Kita dudukdisini "
"Hai, tolol, lekas pergi," bentak salah seorang prajurit
kepada Huru Hara.
"Enak saja engkau ngomong," sahut Huru hara, "ini kan
rumahmakan umum, bukan milikmu. Mengapa engkau
berani mengusir tetamu?"
"'Eh, rupanya engkau sudah bosan hidup, ' bentak
prajurit itu seraya terus hendak memukul Huru Hara.
"Lo Bun, dia orang gila, perlu apa marah kepadanya?"
seorang prajurit kawannya mencegah "seret saja dia keluar
sana!"
Prajurit yang pertama membentak tadi, serentak terus
menarik Huru Hara. Biasanya orang menyeret tentu
menarik tangannya tetapi prajurit itu memang ugal-ugalan.
Dia menarik kuncir rambut Huru Hara, "Hayo, keluar
babi!"
Tetapi alangkah kaget prajurit itu ketika ia tak kuat
menarik orang aneh itu. Huru Hara melanjutkan
menyantap hidangannya, menyumpit sekerat tulang ayam
dan terus dimasukkan kelubang hidung si prajurit,
"Makanlah ....!"
"Aduhhhhh," prajurit itu menjerit sekeras-kerasnya
ketika lubang hidungnya kemasukan tulang ayam yang
tajam. Hidungnya berdarah, lepaskan cekalannya pada
kuncir rambut Huru Hara dia berusaha untuk
mengeluarkan tulang itu dari hidungnya tetapi tak berhasil.
"Haya, celaka, bagaimana hidungku ini….. prajurit itu
berjingkrak-jingkrak seperti orang gila. Beberapa tetamu
ketakutan dan bubar.
Ada yang menolong prajurit celaka itu, ada pula
kawannya yang terus menghampiri Huru Hara, "Bangsat,
engkau berani menganiaya kawanku,” dia hendak memukul
tetapi sebelum tinju mendarat dia sudah menjerit keras
karena mukanya disembur dengan arak oleh Huru Hara.
Demikian berturut-turut tanpa ada yang bebas, kesepuluh
prajurit anakbuah Ko Kiat itu telah menelan pil pahit dari si
orang aneh Huru Hara. Ada yang giginya putus, ada yang
mukanya disembur arak, matanya ditabur bubuk lada. Yang
paling sial adalah prajurit yang telinganya dimasuki biji
kacang. Prajurit itu benar2 koming setengah mati dan
berteriak-teriak di sepanjang jalan seperti orang gila. Dia
terus terjun kedalam sungai karena tak kuat menahan rasa
sakitnya.
Demikian peristiwa 10 orang prajurit dihajar oleh
seorang aneh telah tersebar luas di kota Yang-ciu.
Huru Hara mendengar tentang surat undangan jenderal
Ko Kiat kepada ketujuh tokoh hitam. Dia memutuskan
untuk merebut pekerjaan itu. Dia hendak melihat apakah
benda yang hendak dikirim Ko Kiat itu. Kalau hal itu
merugikan rakyat, dia akan membagi-bagikan barang itu
kepada rakyat.
Begitu sekelumit cerita munculnya seorang aneh yang
menamakan diri sebagai Loan Thian Te atau pendekar
Huru Hara di kota Yang-ciu.
Setelah berhasil membereskan ketujuh Pembunuh besar,
maka Huru Hara hendak masuk ke dalam kota Yang-ciu
tetapi ditengah jalan dia berjumpa dengan seorang manusia
aneh, tingginya hanya satu meter dan bergelar Cian-li-ji
atau Telinga-seribu-li dan mengaku menjabat sebagai mentri
kebun istana raja.
Apa boleh buat karena kasihan kepada orang kate itu,
Huru Harapun mau membawanya. Tiba di Yang-ciu
mereka mendapat keterangan bahwa jenderal Ko Kiat tidak
tinggal di kota itu melainkan di Cho-ciu. Huru Hara dan
Cian-li-ji menuju ke sana.
Sudah tentu tak sembarang orang dapat masuk kedalam
gedung kediaman jenderal Ko Kiat penguasa kota. Selain
dikelilingi dengan pagar tembok yang tinggi, pun di pintu
gerbang dijaga oleh selusin prajurit bersenjata lengkap.
"Berhenti!" bentak seorang prajurit penjaga seraya
mengacungkan tombak ketika melihat Huru Hara dan Cianli-
ji terus hendak masuk begitu saja tanpa menghiraukan
para penjaga itu.
"Kalian ini setan2 dari mana saja berani masuk kedalam
gedung ciangkun!" seru prajurit itu.
"Aku manusia dan pamanku ini juga manusia, bukan
setan," sahut Huru Hara dengan polos.
Melihat bentuk potongan kedua orang itu, yang satu
berpakaian seperti pendekar, pakai kain kepala tetapi
berlubang dua. Yang satu seorang lelaki kate, keduabelas
prajurit itu tertawa gembira.
"Aku datang kemari bukan untuk menjadi bahan
tertawaan kalian tetapi hendak menghadap jenderal Ko,"
kata Huru Hara mulai tak sabar.
"Engkau hendak menghadap ciangkun ? Ha, ha, ha.....,"
kembali penjaga itu tertawa gelak2, "tak perlu, cukup
menghadap aku saja. Mau apa engkau ?"
"Penjaga," seru Huru Hara dengan serius, "jangan
berolok-olok. Aku benar2 hendak menghadap ciangkun.
Jika engkau tak mengidinkan terpaksa aku harus masuk
sendiri."
"Engkau hendak masuk sendiri ?"" ulang prajurit itu,
"boleh, boleh .... asal engkau mampu melewati selakangku,"
prajurit itu terus merentang kedua kakinya.
Huru Hara terkesiap. Sejenak iapun berseru, "Apakah
kakimu cukup kuat untuk menerima tubuhku ? Kalau
terlanggar, mungkin engkau akan terjerembab. Lebih baik
kuperisanya dulu.
Huru Hara terus maju menghampiri, "Awas,
kencangkanlah kakimu kuat2, bung !" Ia gerakkan kakinya
pelahan-lahan untuk mengait kaki prajurit itu. Karena
hendak dikait, prajurit itu kencangkan kakinya untuk
bertahan. Tetapi akibatnya, bum.....dia terpelanting
terbanting ke tanah.
Gelak tawa kawanan penjaga itu sirap seketika, "Lo
Kian, mengapa engkau tak punya guna lama sekali ?"
Namun penjaga yang terbanting itu hanya meringis
kesakitan. Kepalanya pusing tujuh keliling dan matanya
berbinar-binar.
"Hayo siapa yang mau menggantinya ?" seru Huru Hara.
"Aku," seru seorang penjaga yang bertubuh besar seraya
bersiap.
"Huh.....!" ia memekik ketika Huru Hara gerakkan
kakinya mengait dan dia terpelanting jungkir balik.
Kali ini kawanan penjaga itu benar2 terkejut. Lo Siang,
penjaga bertubuh tinggi besar itu paling kuat sendiri
diantara mereka. Tetapi mudah seperti tak menggunakan
tenaga, orang aneh itu dapat mengaitnya jatuh. Mereka
kasak kusuk lalu dua orang maju, "Engkau hebat sekali.
Apa engkau mampu mengait kami berdua ?"
"Jangan !"
"Apa maksudmu ?"
"Terlalu membuang waktuku."
"Hah ?"
"Kalian maju semua saja. Boleh pilih, mau mengait atau
dikait ?" kata Huru Hara.
"Setan, sombong benar engkau !" teriak penjaga2 itu,"
baik, karena engkau sendiri yang menantang, kami akan
maju berdelapan. Kalau engkau tak mampu mengait jatuh,
lehermu kupotong mau ?"
"Bersiaplah !" sahut Huru Hara.
Kedelapan penjaga itu segera berjajar melipat dan
merentang kakinya. Maka bergerak kaki Huru Hara
menyusup kebelakang tumit mereka dan sekali bergerak,
uh, ah, auh, ih, hait .... bum……bum, terdengar delapan
sosok tubuh berjatuhan ketanah seperti buah kelapa yang
gugur dari atas pohonnya.
"Hi, hi. hi," Cian-li-ji tertawa mengikik, 'hai, tunggu
aku.....!" ia berteriak kaget ketika Huru Hara terus
melangkah masuk ke halaman gedung.
Cian-li-ji lari menyusul. Dia heran. Walaupun
tampaknya seperti berjalan, tetapi langkah Huru Hara itu
amat cepat sekali. Sepintas keduanya seperti orang yang
kejar mengejar.
"Berhenti!" tiba2 dua orang prajurit menyongsongkan
tombak menghadang mereka. Ternyata dipintu ruang muka
juga dijaga oleh empat orang prajurit bersenjata lengkap.
Melihat dua orang aneh berlari-lari hendak masuk kedalam
gedung, prajurit2 itu terkejut. Disangkanya kedua orang itu
orang gila yang hendak mengamuk.
Memang mengingat suasana yang masih genting dan
karena merasa telah melakukan pembunuhan besar-besaran
pada rakyat di empat desa maka jenderal Ko Kiat merasa
cemas. Untuk menjaga keselamatannya maka Ko Kiat
mengatur penjagaan yang keras. Setiap orang yang hendak
masuk ke gedung panglima, harus minta izin lebih dulu.
Kalau tidak, prajurit2 penjaga diberi hak untuk menangkap,
kalau perlu boleh dibunuh ditempat.
"Aku hendak menghadap jenderal Ko Kiat, seru Huru
Hara.
"Apa ? Engkau hendak menghadap ciangkun? Pergi .... !"
prajurit itu terus tusukkan ujung tombak untuk menghalau.
Tetapi Huru Hara tenang2 saja. Prajurit itu tertegun sendiri,
"Hai, apa engkau benar2 tak mau pergi ?"
"Aku belum bertemu jenderal, mengapa harus pergi ?"
sahut Huru Hara.
"Eh, orang gila, kalau belum ditusuk tentu tak kapok,"
prajurit itu terus menusuk dada Huru Hara, uh…….
uh………. uh
Huru Hara kisarkan tubuh dan ujung tom bak itupun
menyusup kebawah ketiaknya. Prajurit rasakan tombaknya
macet seperti terjepit kepingting baja. Dia kerahkan tenaga
untuk menarik keluar. Tetapi sampai mulutnya mendesusdesuh
ah-uh, dia tetap tak mampu menarik tombaknya dari
kepitan ketiak Huru Hara.
Melihat itu seorang prajurit kawannya terus menusukkan
tombaknya ke dada Huru Hara. Maksudnya agar Huru
Hara ketakutan dan melepaskan kepitannya. Cret ..uh,
uh….. ternyata prajurit yang kedua itu juga menderita nasib
seperti kawannya tadi. Waktu ujung tombak meluncur
maju, tiba2 Huru Hara ngangakan lengannya dan
mengempit ujung tombak itu. Kini dia mengepit kedua
ujung tombak dalam ketiak kanan dan kiri.
Kedua prajurit itu mengerahkan seluruh tenaga namun
sampai muka mereka merah padam dan mata mendelik,
kumis meregang tegak, tetap mereka tak mampu menarik
keluar tombaknya.
Melihat kejadian seaneh itu, dua prajurit yang lain
terkejut. Mereka berhamburan menghampiri dan hendak
menusuk Huru Hara. Tetapi sekonyong-konyong mata
mereka seperti ditabur oleh bayangan hitam yang berkelebat
seperti kilat menyambar, plok . . .plak . . .
"Aduh . . . aduh . . . , " kedua prajurit itu menjerit ketika
yang satu pipinya ditampar dan yang satu kepalanya
ditabok orang,
Mereka hentikan gerakan tombaknya dan hendak
mencari siapa bayangan aneh yang menampar mukanya itu.
"Setan kate, engkau!" teriak prajurit itu ketika melihat
Cian-li it tegak dihadapan mereka dengan tertawa
mengikik.
"Jangan rnembunuh keponakanku!" seru Cian-li it.
"Ya, tidak keponakanmu tetapi engkau!" kedua prajurit
itu ganti sasaran, menyerang Clan-li-it tapi seperti tadi,
merekapun gelagapan ketika disambar oleh berkelebatnya
bayangan hitam yang berputar mengelilingi mereka.
'Aduh-duh . . . aiihhhh . . . , " kedua prajurit itu memekik
keras lagi. Yang satu, kumisnya sebelah kiri dicabut sampai
brodol. Yang satu, hidungnya merah sekali karena diremas
keras2.
Mereka berhenti dan ha, ha, ha . . . tiba2 yang hidungnya
merah itu tertawa geli, “Lo Sim, mengapa kumisnya brodol
separoh . . . . "
"Bangsat, jangan menertawakan aku. Hidungmu sendiri
juga merah seperti kepiting rebus!" seru yang dipanggil Lo
Sim dengan rnarah, "hayo kita sate saja setan kate itu!"
Tetapi sebelum sempat bergerak, mereka gelagapan
karena disambar sesosok bayangan hitam.
"Aduh-duh . . . mati aku . . .," kembali kedua prajurit itu
menjerit lagi. Tetapi beberapa saat yang kumisnya brodol
tadi segera tertawa, "Ha, ha, ha, mengapa kumismu juga
brodol, kawan?"'
Memang kali ini mereka mendapat giliran. Yang
hidungnya diremas sampai merah tadi, sekarang kumisnya
sebelah kanan brodol. Sedang prajurit yang kumisnya
sebelah kiri brodol tadi, kini telinganya merah padam
karena dipelintir sekeras- kerasnya.
"Anjing lu Lo Sim, mengapa menertawa aku, hayo
bunuh si kate!" rupanya prajurit itu marah.
Keduanya segera menyerang dengan kalang-kabut.
Tetapi yang diserang itu bukan si kate Cian-li-ji melainkan
sesosok bayangan hitam yang berputar-putar seperti angin
meniup.
Tungng, cret . . . aduh . . . auh . . . terdengar suara
senjata mengenai tubuh dan jerit mengaduh disusul dua
tubuh prajurit itu terhuyung-huyung jatuh ke tanah.
Ternyata mereka saling menghantam kawan sendiri.
Tombak Lo Sim menusuk kaki kawannya dan ujung
tombak kawannya itu mengemplang kepala Lo Sim.
"Uh.. . . uh . . . tiba2 terdengar pula suara mendesuh
kejut dan kedua prajurit yang tengah menarik tombaknya
dari kepitan lengan Huru Hara itu terdorong kebelatang,
kepalanya terantuk tembok dan tersungkurlah mereka di
tanah.
Ternyata pada saat kedua prajurit itu mengerahkan
segenap kekuatannya, tiba2 Huru Hara membuka kepitan
lengannya sehingga kedua prajurit itu terjorok ke belakang
dan membentur tembok.
"Beres!" seru Huru Hara terus melangkah masuk diikuti
Cian-it-ji.
Melintasi ruang depan mereka harus melalui sebuah
halaman lagi. Halaman itu merupakan halaman sebelah
dalam dari ruang tempat kerja jenderal Ko Kiat. Ujujug
halaman merupakan titian batu yang naik keatas ruang.
Juga di halaman, tepatnya di bawah titian batu itu,
dijaga oleh empat prajurit gagah perkasa. Menilik
seragamnya mereka bukan prajurit kerucuk tetapi
berpangkat perwira.
Sudah tentu mereka terkejut melihat munculnya dua
manusia aneh di halaman itu, "Gila mereka itu! Mengapa
orang2 gila semacam ini dibiarkan masuk," seru salah
seorang perwira yang bertubuh kekar.
"Berhenti!" serentak dia maju menghadang Huru Hara
dan Cian-li-ji, "mau apa kalian masuk kemari?"
"Aku hendak menghadap jenderal Ko Kiat,'! sahut Huru
Hara.
"Siapa engkau?"
"Aku diundang jenderal Ko!"'
"Gila! Masakan Ko ciangkun sudi mengundang manusia
semacam kalian, lekas enyah!" bentak perwira itu.
Huru Hara menyadari bahwa kali ini dia tak mau
berkelahi. Lebih baik dia menyelesaikan dengan damai,
"aku membawa surat undangal jenderal Ko' serunya seraya
mengeluarkan tujuh buah surat undangan.
Perwira itu menyambarnya lalu memeriksa. Ia
memanggil ketiga kawannya, "Apakah surat undangan ini
tidak palsu?"
"Menilik tanda tangannya memang tulisan Ko
ciangkun," salah seorang perwira menyatakan,
"Lalu bagaimana?" tanya perwira pertama itu.
Kawannya mengusulkan, lebih baik dilaporkan kepada
jenderal. Sedang kedua orang itu harus ditahan dulu. Kalau
mereka bohong, barulah di tangkap atau dibunuh.
"Baik, kalian tunggu dulu," kata perwira yang pertama.
Setelah suruh ketiga kawannya menjaga disitu, dia terus
masuk kedalam.
"Hai, bung, dari mana saja engkau mendapat surat
undangan itu ?" tanya seorang perwira secara iseng.
"Rahasia," sahut Blo'on.
"Engkau menemu di jalan, ya ?"
"Tidak."
"Mencuri ?"
"Eh, jangan bicara seenakmu sendiri!"
"Eh, pak tua, mengapa engkau sependek itu?" seorang
perwira yang lain menggoda Ciang-li-ji.
"Entah, aku sendiri juga tak tahu," sahut Cian-li-ji seraya
mengeluarkan botol dari dalam bajunya. Membuka tutup
botol lalu meneguknya, gluk, gluk, gluk.....habis itu
diberikan kepada Huru Hara, "minumlah nak."
Huru Hara menyambuti dan terus meneguk lalu
diberikan kembali kepada Cian-li-ji. Cian-li-ji memasukkan
lagi kedalam bajunya.
Bau arak itu luar biasa harumnya. Ketiga perwira itu
melongo dan meneteskan air liur.
"Aduh, harumnya arakmu itu," seru mereka.
Tetapi Cian-li-ji tak mengacuhkan. Sebelum
memasukkan kedalam baju, lebih dulu dia membuka tutup
botol, dituangkan sedikit ke tanah.
"Hai, mengapa arak begitu harum engkau buang ke
tanah ?" kembali perwira itu menegur seraya meneguk
airliurnya.
"Mau gua minum habis, mau gua buang kek, mau gua
tuang ketanah kek, apa pedulimu ?" sahut Cian-li-ji dengan
sinis.
"O, dari pada dibuang kan lebih baik kasih kan kepadaku
saja," seru perwira itu.
"Engkau kan orangnya jenderal Ko, makan minum tentu
serba lezat. Mengapa masih seperti tikus yang rakus ?"
"Tetapi arakmu itu luar biasa harumnya! Mungkin
ciangkunpun tidak memiliki persediaan arak seperti itu !
"Terang dong," sahut Cian-li-ji, "jangankan jenderalmu
disini, pun di istana raja juga tak punya arak seperti ini !"
"Jangan sombong! Tak mungkin raja tak punya arak
seperti itu."
"Mari kita bertaruh. Kalau raja punya arak begini,
potonglah leherku. Tetapi kalau dia tak punya, kepalamu
kupenggal!"
"Dari mana engkau memperoleh arak itu ?”
"Itu rahasia. Kalau kukatakan nanti orang dapat
membuatnya, "Cian-li-ji minum lagi seteguk sehingga bau
arak bertebaran menyengat hidung, menyegarkan semangat.
Rupanya perwira itu benar2 tak kuat menahan
keinginannya lagi, serunya, "Pak tua, maukah engkau
memberi aku barang seteguk dua teguk saja ?"
"O, boleh, boleh, asal engkau menurut syaratku."
"Apa ?"
"Engkau harus berlutut dan memberi hormat sampai
tujuh kali dan menyebut loya (tuan besar) kepadaku.”
Perwira itu kerutkan dahi, "Aku seorang perwira, mana
aku sudi engkau suruh bertekuk lutut dihadapanmu untuk
mengemis arak ? Pak tua, sudah baik kalau aku
memintanya secara baik2. Tetapi kalau engkau berkeras
kepala, terpaksa aku akan menggunakan hak kekuasaanku
!"
"Lho, engkau hendak main paksa mengambil arakku ?"
"Bukan mengambil tetapi merampas. Karena setiap
orang, baik siapapun saja, kalau hendak menghadap
ciangkun harus digeledah. Semua barang yang dibawanya,
apakah itu senjata atau barang pusaka, harus dirampas.
Nah, sekarang berikan saja arak itu dengan baik agar aku
tak perlu menggunakan paksaan."
"Tidak bisa !" teriak Cian-li-ji," kalau memang terdapat
peraturan begitu, aku mau keluar dulu untuk menyimpan
botol arakku, baru nanti aku kembali kesini lagi !"
"Tunggu !" cepat perwira itu loncat menghadang, "disini
bukan tempat seperti jalanan dimana orang boleh keluar
masuk seenaknya sendiri. Masuk pakai izin, keluarpun juga
harus pakal izin !"
Cian-li-ji mendelik, serunya, "Baik, aku tidak jadi keluar.
Ia mengambil botol arak lalu diteguknya sampai habis,
kemudian memberikan botol yang sudah kosong itu kepada
perwira, "ni daripada engkau rampas, sekarang kuberikan
secara baik2."
"Orang kate, engkau berani menghina aku," merasa
dipermainkan, perwira itu marah dan terus ayunkan tangan
menampar kepala Cian-li-ji. Tetapi alangkah kejutnya
ketika sesosok bayangan hitam berkelebat dimuka
mengaling pandang matanya dan aduh.... ia menjerit kaget
ketika daun telinganya diselentik sekeras-kerasnya sampai
merah dan panas rasanya.
"Setan tua. mampus engkau !" perwira itu mencabut
pedang dan menyerang Cian-li-ji dengan jurus Soh-ju-ciankun
atau Menyapu-seribu prajurit. Dari kaki sampai ke
kepala Cian-li diserangnya habis-habisan.
Perwira itu makin penasaran. Dia merasa dirinya
dikepung oleh beberapa bayangan si orang kate sehingga
dia terpaksa berputar-putar sederas kitiran.
"Uh . . . , " tiba2 perwira itu mendesuh kaget dan
berhenti. Tangan kiri mendekap pinggang. Apa yang
terjadi?
Ternyata tali celana perwira itu telah putus. Entah apa
sebabnya. Karena celana hendak meluncur kebawah,
perwira itupun buru2 hentikan serangan dan mendekap
pinggangnya untuk mencegah jangan sampai celananya
longsor turun.
"Ha, ha, ha . . . , " kedua perwira kawannya tertawa geli
menyaksikan peristiwa kawannya tertawa geli menyaksikan
peristiwa itu.
"Hai. mengapa ribut2 itu!" teriak seseorang yaitu perwira
pertama yang masuk melapor kepada jenderal Ko Kiat tadi.
Dan dia juga ikut melongo ketika melihat perwira
kawannya sedang sibuk mengurus celananya.
"Kenapa Lo Gan itu?" tegurnya
“Tali celananya putus, ha,..ha…ha,” kawan-kawannya
menyahut dengan tertawa.
"Bagaimana?" Huru Hara terus meminta keterangan
kepada perwira yang habis menghadap jenderaI Ko Kiat.
"Ya, mari masuk," kata peiwira itu. Dia segera
membawa Huru Hara dan dan Cian-li-ji masuk kedalam.
Dalam sebuah ruang yang indah dengan dindingnya
yang tebal kokoh, si seorang lelaki berumur sekitar 45
tahun, sedang duduk di atas sebuah kursi besar. Sehelai
kulit macan terdampar dibawah kakinya. Wajahnya biasa,
tak terdapat ciri2 yang istimewa kecuali sepasang kelopak
matanya yang cekung kedalam, hidung agak bengkok.
Dia adalah jenderal Ko Kiat. Jenderal yang mengganas
empat buah desa di daerah Yang-ciu karena marah kepada
rakyat Yang-ciu yang tak mau menerimanya masuk kota.
Saat itu jenderal Ko sedang duduk menunggu tetamu
yang dilaporkan penjaga tadi. Dua orang bu-su (jago silat)
dengan pangkat perwira tegak di kanan kiri jenderal itu.
Ko Kiat terkejut ketika penjaga membawa dua orang
yang aneh. Seorang pemuda dengan dandanan kaum
pendekar, kain kepalanya berhias dua untai rambut yang
menyembul keluar. Sedang yang satu, seorang lelaki tua
berwajah kanak2 tubuh kate. Hal itu benar2 diluar
dugaannya. Ia menduga yang datang itu tentulah seorang
jago silat yang gagah perkasa.
"Hai, mana yang lainnya?" tegur jenderal Ko kepada
penjaga.
"Maaf, ciangkun, memang hanya dua ini "Tetapi
bukankah engkau menghaturkan tujuh buah surat undangan
kepadaku tadi ?"
"Benar," sahut si penjaga, "hamba terima surat itu dari
orang yang muda ini."
Setelah memberi isyarat kepada penjaga supaya kembali
ke tempatnya, jenderal itu sepera mengajukan pertanyaan,
"Benarkah (kalian yang membawa ketujuh surat
undangaaku itu ?"
"Benar, ciangkun," sahut Huru Hara.
"Apa maksudmu ?"
"Untuk melamar pekerjaan yang ciangkun . hendak
berikan kepada mereka."
"Apakah mereka sudah setuju ?"
"Akhirnya harus setuju."
Ko Kiat kerutkan dahi, "Apa maksudmu ?"
"Bermula mereka menolak tetapi satelah hamba ajak
berkelahi merela kalah dan mau menyerahkan surat
undangannya kepada hamba."
Ko Kiat terkejut, "Ketujuh orang itu termasyhur sebagai
tokoh persilatan yang sakti. Apakah mereka benar2 kalah
dengan engkau?"
"Jika tidak, bagaimana mungkin hamba dapat membawa
tujuh buah surat undangan itu,"
"Ah, jika begitu, kalian berdua ini tentu memilik
kepandaian yang sakti sekali."
"Tidak, ciangkun," tiba2 Cian-li-ji berseru, “hanya
keponakanku ini yang mengalahkan mereka, tetapi aku
tidak ikut berkelahi."
"O, betulkah itu ?" Ko Kiar menegas.
Huru Hara mengangguk. "Lalu mengapa engkau ajak dia
kemari ?"
"Sebagai pembantuku."
"Siapa namamu ?" tanya Ko Kiat pula. Dan ketika
mendapat jawaban, dia terkejut, "Loan Thian Te?"
"Ya, alias Huru Hara."
"Apakah itu nama buatanmu sendiri .
"Bukan. Itu nama aseli pemberian orangtua.”
"Baik," kata Ko Kiat, "memang aku hendak memberi
suatu tugas penting kepadamu. Apabila engkau berhasil
menunaikan tugas, engkau akan kuberi ganjaran besar."
"Silakan ciangkun memberi petunjuk."
"Sebagai ujian pertama, akan kusuruh engkau mengawal
antaran uang dan emas permata kepada jenderal Ui Tek
Kong. Apabila engkau dapat menyelesaikan tugasmu
dengan baik, barulah kupercayakan lagi sebuah tugas lain
yang lebih berat," kata jenderal Ko Kiat.
"Dirnana tempat tinggal jenderal Ui Tek Kong itu?"
"Dia tinggal di Gi-cin, hanya perjalanan sehari semalam
dan Cho-ciu sini. Ibu dari jenderal Ui Tek Kong meninggal
dunia. Haturkanlah peti uang itu kepada jenderal Ui,
katakan kalau aku, jenderal Ko Kiat, ikut berduka yang
sedalam-dalamnya atas kepergian ibu jenderal Ui. Ingat,
walaupun Cho-ciu itu tak berapa jauh dengan kota Gi-cin,
tetapi mengingat sekarang ini suasana sedang kacau dan
keamanan terganggu maka engkau harus dapat menjaga
baik2 peti uang itu agar jangan sampai dirampok penjahat."
"Terserah engkau hendak menggunakan alat pengangkat
apa saja, kereta, gerobak atau kuda dan membawa berapa
pengiring, engkau boleh minta kepada perwira bagian
perlengkapan, supaya menyediakannya. Tetapi yang
penting, malam ini juga engkau harus berangkat agar besok
sore sudah tiba disana."
"Tugas ini penting maka besar ganjarannya tetapi pun
berat hukumannya, kalau sampai gagal. Nah, apa engkau
masih ada pertanyaan?"
"Ada."
"Katakan."
"Apa sebab jenderal menyumbang seperti uang perak
kepada jenderal Ui yang kematian ibu nya? Dari mana
jenderal memperoleh harta sekian banyak itu?"
Ko Kiat berobah mukanya seketika. Namun karena dia
yang memberi kesempatan kepada Huru Hara untuk
bertanya, maka ia menekan perasaannya.
"Karena salah faham, aku pernah menyerang pasukan
jenderal Ui sehingga hancur berantakan. Dia marah dan
mendendam kepadaku. Untung Peng-poh-siang-si ( mentri
hankam ) Su Go Hwat mendamaikan dan menganjurkan
aku supaya menyumbang besar-besaran atas kematian ibu
jenderal Ui dan menghaturkan maaf. Kita sama2 jenderal
kerajaan Beng, harus bersatu untuk meng hadapi pasukan
Ceng yang saat ini sedang menyerang negeri kita."
Baru jenderal Ko Kiat berkata sampai disitu, tiba2
seorang perwira masuk menghadap dan menghaturkan
laporan, "Hatur bertahu kepada ciangkun, bahwa ada
seorang lelaki mohon menghadap ciangkun."
"Siapa orang itu?"
"Hamba belum kenal, ciangkun. Tetapi dia mengatakan
dari perguruan Macan Hitam atau Hek-hou-bun yang
termasyhur."
"Hek-hou-bun?" ulang Ko Kiat, kemudian berpaling
kearah Huru Hara, "pernahkah engkau mendengar tentang
perguruan itu?"
"Belum."
"Apa keperluannya hendak menghadap aku?"! tanya
jenderal itu kepada perwira.
"Dia hendak memenuhi undangan ciangkun.”
"Hah? Aku mengundang dia? Gila, aku tak pernah
mengundangnya."
"Tetapi dia mengatakan dengan sungguh2, bahwa
ciangkun mengundangnya."
Sejenak berdiam maka jenderal Ko lalu perintahkan
perwira itu supaya membawa orang itu masuk, "Kalau dia
bohong, bunuh saja!"
Tak berapa lama perwira itu masuk pula dengan seorang
lelaki muda berumur sekitar 30 tahun. Mengenakan
dandanan seperti seorang persilatan. Dia memanggul
sebuah karung dari kain hitam.
Setelah memberi hormat, dia memperkenalkan diri
dengan nama Yap Hou, murid pertama dari perguruan
Macan Hitam.
"Hek-hou-bun," kata jenderal Ko Kiat, "mengapa dalam
dunia persilatan tak pernah kudengar nama perguruan itu?"
"Ciangkun seorang jenderal perang yang sibuk mengurus
pasukan, sudah tentu ciangkun tak sempat memperhatikan
perkembangan yang terjadi dalam dunia persilatan," kata
Yap Hou, "memang perguruan hamba, belum berapa lama
muncul dalam dunia persilatan. Apalagi saat ini sedang
perang, orang tak memperhatikan lagi peristiwa dalam
dunia persilatan."
Diam2 jenderal Ko Kiat mendapat kesan bahwa pemuda
Yap Hou itu lebih genah dan lebih pintar bicaranya dari si
Huru Hara. Kemudian dia bertanya apa keperluan Yap
Hou menghadap kepadanya.
"Hamba hendak memenuhi perintah paduka seperti yang
termaksud dalam surat undangan kepada ketujuh tokoh
hitam yang termasyhur itu." Jenderal Ko Kiat terkejut.
Bukankah si Huru Hara juga menyerahkan tujuh buah surat
undangan yang dirampasnya dari ketujuh tokoh hitam itu?
Mengapa sekarang Yap Hou juga mengatakan begitu?
"Hm, untung dia datang," gumam jenderal dalam hati,
"dengan begitu dapatlah kuketahui siapa yang berani mati
hendak menipu aku.”
"O, engkau hendak melamar pekerjaan yang hendak
kuberikan kepada ketujuh tokoh benggolan itu?" ia
menegas.
"Benar, ciangkun."
"Apakah engkau membawa surat undangan mereka?"
"Tidak, ciangkun."
Jenderal Ko Kiat kerutkan dahi, "Tidak membawa surat
undangan mereka tetapi engkau hendak melamar pekerjaan
yang kuberikan kepada mereka? Apa artinya ini?"
"Hamba memang merasa berhak untuk menggantikan
mereka, ciangkun."
"Jangan berbelit-belit, lekas katakan. Mana buktinya
kalau engkau lebih sakti dari mereka,” suara jenderal itu
makin keras. Rupanya dia mulai marah.
"Hamba dapat membuktikan hal itu," kata Yap Hou,
"tetapi apakah ciangkun takkan marah kepada hamba?"
"Mengapa marah?"
"Karena hal itu mungkin akan menimbulkan rasa kejut
dan ngeri pada ciangkun."
"Hm, aku biasa maju di medan perang. Mayat yang
bagaimana bentuknya, sudah pernah ku lihat semua dan
aku tak merasa ngeri. Lekas tunjukkan!"
"Baik, ciangkun, hamba akan melaksanakan perintah,"
kata Yap Hou. Dia pelahan-lahan mengambil karung hitam
yang dipanggul dibelakang bahunya. Setelah tali
pengikatnya dibuka, tenang2 dia mencurahkan isi karung
itu.
Gluduk.,. . sebuah kepala manusia menggelundung
keluar . , . . "Inilah kepala Sebun Pa yang bergelar Manusiapemakan-
serigala," seru Yap Hou.
Gluduk ..... "Inilah kepala Ma Hiong yang bergelar
Landak-bun."
Geluduk .... "Ini kepala dari setan tua yang bergelar
Kolera-tua."
Geluduk ..... "Ini kepala benggolan licik yang berwajah
seperti anak2, Ang Hay Ji.
Geluduk ..... "Ini kepala paderi Tou Yau alias Paderi
Gemar-segala-apa.. dan ini kepaIa si laknat Im pohpoh
terakhir ini, kepala si cantik berbisa Harpa-asmara Hoa Lan
Ing. Tujuh batang kepala, tak lebih tak kurang. Bukankah
ketujuh benggolan ini yang ciangkun undang itu ?"
Walaupun sudah mengatakan kalau sudah biasa melihat
mayat2 bergelimpangan di medan perang daIam berbagai
keadaan yang mengerikan tapi tak urung bergidik juga
jenderal Ko Kiat waktu menyaksikan tujuh butir kepala
manusia yang bergelundungan di lantai saat itu.
"Lekas masukkan lagi," serunya.
"Nah," kata Yap Hou seraya memasukkan ketujuh butir
batang kepala manusia itu kedalam tas lagi, "sekarang
bukankah ciangkun percaya kepadaku ?"
"Ya," sahut jenderal Ko, "tetapi mengapa engkau tak
membawa surat undangan mereka ? Kemana saja surat
undangan itu ?"
"Karena hamba kira, kepala mereka lebih dapat menjadi
saksi yang kuat daripada hanya surat undangan saja !"
Kini jenderal Ko beralih kepada Huru Hara, "Benarkah
engkau telah membunuh mereka dan surat undangan
mereka ?"
“Mengapa hamba harus berbohong kepada jenderal ?"
balas Huru Hara.
"Mengapa tak engkau potong kepala mereka ?"
"Ah, terlebih kejam, ciangkun," kata Huru Hara, "musuh
yang sudah kalah tak boleh terlalu dikaniaya. Karena
dengan mendapat surat undangan itu tujuan hamba sudah
tercapai maka hamba tak mau membunuh mereka lagi."
"Ya, benar," kata jenderal Ko Kiat yang diam-diam
makin bingung. Baik alasan dan bukti dari Huru Hara itu
memang kuat dan alasan serta bukti yang dibawa Yap Hou
juga kuat. Lalu siapakah diantara kedua orang itu yang
benar2 dapat mengalahkan tujuh benggolan itu ?
"Hai, apakah kalian tahu dengan siapa kalian
berhadapan saat ini, ?" akhirnya ia membentak Huru Hara
dan Yap Hou.
Kedua orang itu mengatakan bahwa mereka sadar kalau
sedang menghadap jenderal pasukan kerajaan Beng yang
bernama Ko Kiat.
"Saat ini negara sedang dalam perang, hukum perang
berlaku dimana-mana. Diantara kalian berdua, tentu ada
salah seorang yang bohong dan hendak menipu aku.
Mengakulah saja agar aku dapat memperingan
hukumanmu !"
"Hamba harus mengaku bagaimana ?" tanya Huru Hara,
"apa yang hamba lakukan, memang sungguh2 benar.
Hamba anggap, orang yang sudah menyerahkan surat
undangannya tak perlu harus dibunuh lagi."
"Ciangkun," seru Yap Hou, "ketujuh bangolan itu
merupakan momok yang paling menggangu rakyat maka
harus dibunuh."
"Apakah waktu kau bunuh, surat undangan Hasih
berada dalam baju mereka ?" tanya Ko Kiat.
"Hamba pikir. kepala mereka sudah cukup menjadi bukti
maka hambapun tak menggeledah badan mereka lagi."
Jenderal Ko Kiat garuk2 kepala. Ia anggap alasan kedua
orang itu memang sama2 kuat. Lalu apakah yang harus
dianggap sebagai orang yang mengalahkan ketujuh
benggolan itu? Tiba2 ia menapat akal.
"Baik, untuk mengetahui siapa sebenarnya yang
berkepandaian sakti dan pantas menerima pekerjaan yang
akan kuberikan, apakah kalian sanggup diadu ?" tanyanya.
Melihat Huru Hara itu berdandan seperti seorang
persilatan yang nyentrik, serentak Yap Houpun menyahut,
"Sanggup."
"Dan engkau ?" tegur Ko Kiat karena Huru Hara diam
saja.
"Terserah, hamba menurut saja perintah ciangkun."
"Baik, sekarang kalian boleh beradu kepandaian
dihadapanku. Mana yang menang, dialah yang akan
kuserahi tugas itu."
Demikian kedua orang itu tegak berhadapan. Yap Hou
tak mau bersikap sungkan lagi, begitu sudah saling
berhadapan, dia terus mulai menyerang dulu. Rupanya dia
benar2 ingin menunjukkan kepandaiannya dihadapan
jenderal Ko Kiat maka walaupun baru bergebrak, dia sudah
melancarkan jurus yang ganas.
Hek-hou-thou-sim atau Macan-hitam mencuri-hati,
demikian jurus yang dilancarkan itu bergerak cepat sekali.
Tangan Yap Hou mengarah uluhati Huru Hara.
Gerakannya seperti orang mencengkeraman tetapi setiap
saat dapat dirobah menjadi jurus menutuk atau
menghantam.
Huru Hara menyurut mundur lalu bergerak kian kemari
menghindari jari2 maut lawan.
Jenderal Ko Kiat terkejut ketika menyaksikan ilmu
kepandaian Yap Hou. Serangannya, walaupun hanya
dalam satu jurus, tetapi mengandung gerak dari berbagai
aliran ilmusilat perguruan ternama, antara lain Siau-lim,
Butong, Go-bi, Kun-lun dan Kay-pang. Walaupun bukan
seorang jago kelas satu tetapi jenderal itu juga memiliki
ilmu-silat yang hebat. Dia benar2 terpikat hatinya oleh
kepandaian Yap Hou. Diam2 timbullah rasa suka dan ingin
mengangkat pemuda itu sebagai pengawalnya.
Karena perhatiannya tercurah kepada Yap Hou maka
jenderal itupun tak memperhatikan Huru Hara. Beberapa
saat kemudian, pada saat ia mulai memperhatikan orang
aneh itu. serentak diapun terkejut sekali.
Serangan Yap Hou memang luar biasa cepat dan
derasnya tetapi sampai sekian lama ternyata tetap tak
mampu merubuhkan Huru Hara. Jenderal itu tercengang
dan heran menyaksikan gaya permain lan Huru Hara yang
berlincahan kian kemari menurutkan gerak serangan lawan.
Dia tak tahu nama ilmusilat yang dimainkan si Huru Hara
itu. Yang jelas, Huru Hara hanya menghindar tak mau
balas menyerang.
Yap Hou sendiri memang penasaran sekali. Ia merasa
setiap kali pukulannya hampir mengenai tentu tahu2 lawan
sudah menyelinap hilang.
Siapakah orang aneh ini ?" pikirnya. Namun baik orang
maupun aliran ilmu kepandaian lawannya itu, ia tak kenal
sama sekali. Waktu masih belajar dalam perguruan,
gurunya juga memberi pengetahuan tambahan tentang
tokoh2 silat ternama dalam dunia persilatan. Tetapi
suhunya tak pernah menyinggung tentang seorang pendekar
aneh semacam Huru Hara itu.
"Hm, kalau sampai tak mampu mengalahkan orang ini,
jenderal Ko tentu tak percaya kepadaku," setelah
menimang-nimang ia segera mengganti gerak langkahnya
dalam ilmu Hui-eng-sip-pat poh atau delapanbelas-langkahgaruda-
melayang dan melancarkan ilmu pukulan Hoanthian
hay-ciang (menjungkir-langit-membalik-laut ), sebuah
ilmu pukulan dari perguruan Bu-tong pay.
Seketika terjadilah perobahan dalam ruang pertandingan
itu. Yap Hou seperti seekor burung garuda yang melayanglayang
dan menyambar nyambar lawan. Sedang Huru Hara
hanya seperti kelinci yang lari ketakutan hendak
menyelamatkan diri.
Jenderal Ko Kiat makin kagum akan kepandaian Yap
Hou tetapi diapun tak habis mengerti mengapa serangan
yang begitu dahsyat dan gencar, tetapi tak dapat mengenai
tubuh Huru Hara. Entah bagaimana, tanpa disadari
jenderal lebih simpathi dan senang kepada Yap Hou
mengharap Yap Hou dapat menyelesaikan lawannya.
Akhirnya yang dinanti-nantikan itu terjuga. Dengan
sebuah gerak tipu yang indah Yap Hou berhisil menggertak
Huru Hara supaya bergerak kesebelah kiri. Tiba2 tubuh Ya
p Hou berputar dan cepat sekali tangannya menghantam
bahu Huru Hara. Sebenarnya dia hendak mengarah tulang
pi-peh-kut orang tetapi tak berhasil dan hanya mengenai
pangkal bahu Huru Hara, duk . . . Huru Hara terhuyung
sampai dua langkah. Tetapi anehnya, Yap Hou juga
mencelat sampai satu tombak kebelakang.
"Cukup!" tiba2 jenderal Ko berseru menghentikan
pertandingan, "engkaulah yang menang!" ia menunjuk Yap
Hou.
Saat itu Yap Hou sedang tertegun. Ia masih heran
mengapa waktu pukulannya mengenai bahu Huru Hara,
tangannya seperti tertolak tenaga yang kuat sekali sehingga
dia mencelat ke belakang.
"O, terima kasih, ciangkun," ia gelagapan ketika
mendengar kata2 jenderal Ko. Bergegas ia maju kehadapan
jenderal itu dan memberi hormat.
Tiba2 jenderal Ko Kiat melihat sesuatu yang kurang
pantas pada baju Yap Hou. Cepat dia ber kata, '"Hai,
kancingkanlah bajumu itu!"
Yap Hou menunduk. Ia terkejut ketika bajunya terbuka
sehingga dada kelihatan. Buru-buru ia hendak
mengancingkannya. Tetapi ia terkejut ketika buah bajunya
hilang. Mungkin terlepas jatuh maka iapun memandang ke
sekelili permukaan lantai. Tetapi tak bertemu. Terpakasa ia
mendekap dada bajunya.
"O, apakah engkau hendak mencari kancing bajumu ?"
tiba2 terdengar suara orang menghampiri. Ketika Yap Hou
berpaling ternyata yang menghampiri itu adalah Huru Hara
seraya menyodorkan sebuah kancing baju, "maaf, buah
bajumu ini tertarik tanganku . . . ."
Seketika pucatlah wajah Yap Hou. Ia tahu apa artinya
itu. Buah bajunya telah tercabut oleh lawan tanpa ia merasa
sama sekali.
Jugu jenderal Ko Kiat terkejut. Ia tak menyangka kalau
Huru Hara mampu mencomot buah baju Yap Hou. Itu
berarti kalau Huru Hara mau dia tentu sudah dapat
memukul dada lawannya.
Jenderal Ko Kiat cepat memberi keputusan "Baik, Loan
Thian Te, karena tadi aku sudah nyerahkan tugas itu
kepadamu, maka engkau! yang wajib menerima tugas itu.
Sekarang silahkan engkau mempersiapkannya," jenderal itu
menyuruh salah seorang pengawal untuk membawa Huru
Hara dan Cian-li-ji keluar menuju ketempat perwira yang
telah diserahi mengatur peti yang hendak dikirim kepada
jenderal Ui Tek Kong.
"Yap sauhiap," seru jenderal Ko Kiat kepada Yap Hou,
"apakah engkau suka bekerja kedaku?"
"Tetapi ciangkun, hamba telah dikalahkan pemuda tadi,"
sahut Yap Hou.
"Tak apa," kata jenderal Ko Kiat," memang orang itu
aneh, dan ilmu kepandaiannyapun aneh. Akan kuberimu
kesempatan untuk menebus kekalahanmu itu, sanggupkah
engkau ?"
"Baik, ciangkun," sahut Yap Hou, "kalau ciangkun tetap
berkenan menerima hamba, hamba pun akan sanggup
melaksanakan tugas apa saja yang ciangkun hendak berikan
kepada hamba."
Jenderal itu mengajak Yap Hou masuk kedalam kamar
tulisnya "Yap sauhiap, tugas yang kuberikan ini amat
penting dan rahasia sekali. Jangan sampai engkan beritahu
dan diketahui orang. Maukah engkau berjanji ?"
"Baik, ciangkun."
"Jika sampai hal itu bocor, engkau akan kujatuhi hukum
perang."
Yap Hou mengiakan.
"Rebutlah peti uang yang diantar Loan Thian Te itu , ,. .
"
"Ciangkun !"
"Jangan putus omonganku dulu !" kata jen-leral Ko Kiat,
"sebenarnya aku enggan untuk menyumbang sekian banyak
kepada jenderal Ui Tek wong, Tetapi karena yang
menganjurkan Su Go Iwat tayjin, terpaksa aku menurut.
Jika engkau berhasil merampas antaran itu, sekali gus aku
nendapat dua keutungan. Disatu fihak aku mentaati
perintah Su tayjin sehingga di mata orang aku benar2
menginginkan kerukunan diantara sesama panglima. Tetapi
dilain fihak, aku tak kehilangan Sepeser buta."
"O, inilah yang disebut siasat unjuk kepala sembunyikan
ekor'," kata Yap Hou.
"Apakah engkau sanggup ?" jenderal Ko Kiat menegas.
"Hamba sanggup."
"Bagus," seru jenderal Ko Kiat, "apabila engkau benar2
mampu menyelesaikan tugasmu itu, engkau akan kuanggap
sebagai pengawal kepercayaanku. Saat ini negara sedang
perang. Inilah saatnya bagi semua orang gagah untuk
muncul dar membuat jasa. Asal dapat memilih jalan yang
tepat, kelak tentu akan mulia hidupmu."
Yap Hou menghaturkan terima kasih.
"Usahakan jangan sampai orang tahu tentang rencanaku
ini. Besok engkau boleh berangkat dan kepada orang2
engkau katakan saja bahwa engkau kutugaskan untuk
menyelidiki keadaan musuh di utara. Dan waktu merampas
barang antaran itu, pakailah penutup muka atau menyaru
.... eh, sebaiknya menyarulah seperti prajurit Beng dan
bawalah sekelompok anakbuah."
"Bagaimana maksud ciangkun ?"
"Agar memberi kesan bahwa yang merampas peti
antaran kepada jenderal Ui Tek Kong itu, anak pasukan
Beng juga. Yang kini berkumpul di wilayah Holam, ada
empat jenderal yaitu jeaderai Lau tek Jing, Ui Tek Kong
dan Lau Liang Co dan aku. Ui Tek Kong tentu menduga
kalau anak pasukan Lau Cek Jing atau Lau Liang Co yang
melakukan perampasan itu. Mereka akan saling mencurigai
dan aku dapat memanfaatkan hubungan mereka yang buruk
itu untuk menguasai mereka. Mengerti ?"
Yap Hou mengiakan. Keesokan harinya semua perintah
jenderal Ko Kiat telah dilaksanakannya. Dihadapan para
perwira anakbuah Ko Kiat mengatakan kalau mendapat
tugas jenderal untuk menyelidiki medan perang di utara.
Dan memang diapun segera berangkat menuju ke utara.
Sebenarnya ia lebih suka bekerja seorang diri tetapi
karena Ko Kiat menghendaki supaya ia membawa
anakbuah, maka terpaksa ia mencari orang lebih dulu.
Tidak sukar untuk mendapatkan orang2 itu. Ia menyewa
sepuluh orang kaum persilatan dari aliran hitam. Mereka
disuruh mengenakan pakaian seragam prajurit. Demikian
Yap cu segera membawa anakbuahnya untuk mencegat
perjalanan Huru Hara dengan barang antarannya itu.
Ko Kiat memang licik. Selain suruh Yap cu melakukan
perampasan, pun diam2 ia suruh orang untuk menyiarkan
berita itu keluar supaya orang-orang tahu.
Hujan bencana.
Walau hanya sebuah peti besi tetapi peti itu amat besar
dan berat sehingga Huru Hara terpaksa meminta sebuah
kereta dengan dua ekor kuda. Cian-li-ji disuruh jadi kusir
dan Huru Hara mengawal di belakang dengan naik kuda.
Saat itu mereka tiba disebuah jalan sempit di
pegunungan. Huru Hara suruh Cian-li-ji berhenti, "Carilah
rumput dan aku akan mencari air untuk kuda itu," katanya.
Cian-li-ji melakukan perintah. Setelah Huru Hara datang
membawa air, maka rumput di masukkan kedalam tong air
dan dihidangkan kepada kuda itu.
Tiba2 dari arah belakang muncul seseorang. Seorang
lelaki tua, pakaian penuh tambalan dan bahunya
menyanggul kantong kain yang besar berjalan dengan
sebatang tongkat bambu, Aneh benar orang itu. Berjalan
pakai tongkat tetapi cepatnya bukan main.
Huru Hara hanya mengerling sejenak kearah orang itu
dan lanjutkan pekerjaannya memberi makan pada kuda.
Tiba di dekat kereta, orang itu berhenti dan tertawa
mengekeh, "Tuan, apakah engkau hendak menuju ke Yangciu?"
Huru Hara hanya mengangguk tak mau men jawab.
"Ha, ha, aku pengemis tua ini juga akan ke Yang-ciu,"
seru orang itu, "apakah aku boleh numpang di kereta tuan?"
"Tidak," Huru Hara gelengkan kepala. "Mengapa tak
boleh? Apakah harus pakai bayaran? Ah, kalau soal uang
aku pengemis tua ini memang tak punya."
"Pergilah, jangan ganggu aku," seru Huru Hara.
"Tetapi tuan," masih pengemis tua itu memjantah, "aku
dapat membantu tuan menggebuk kawanan anjing yang
hendak mengganggu tuan. Sejak terjadi pembunuhan besarbesaran
atas rakyat empat desa, sekarang ini banyak bangsa
anjing dan serigala yang berkeliaran. Rupanya setelah
merasakan daging manusia, mereka jadi ketagihan.''
Huru Hara tertegun. Ia terkejut mendengar kata2 si
pengemis tentang pembunuhan besar-besaran itu.
"Siapa yang membunuh mereka?" tanyanya.
"Eh, apakah engkau belum tahu?" pengemis tua itu
heran.
"Kalau sudah tahu perlu apa harus bertanya lagi?"
"Jenderal Ko Kiat yang mundur dari medan perang
utara, hendak menduduki kota Yang-ciu. Tetapi rakyat
menolak. Jenderal itu marah lalu mengadakan pembunuhan
besar-besaran pada rakyat empat desa di sekeliling Yangciu."
"Uh," Huru Hara mendesuh. Diam2 dia menyesal
mengapa mau bekerja untuk jenderal itu.
"Bagaimana, apa aku boleh numpang di keretamu?"
ulang pengemis itu pula.
"Tidak!"
"Lho, apakah keretamu itu ada muatannya?'
"Ya."
"Jika begitu bukankah engkau untung sekali kalau aku
ikut naik sekalian menjaga barangmu itu?"
"Aku dapat menjaganya sendiri."
"Uh, memang pengemis itu kemana-mana tentu tak
dipandang mata. Tetapi coba saja nanti apakah engkau
mampu menolak permintaan tiga orang yang akan datang
setelah aku ini?" pengemis itu bersungut-sungut seraya
lanjutkan langkah,
Huru Hara tak mengacuhkan. Setelah rumput dan air
habis, dia lalu menyimpan tong di belakang kereta dan
perintahkan Cian-li-ji rangkat lagi.
Kereta meluncur cepat. Tak berapa lama sudah
melampaui pengemis tua yang berjalan kaki tadi. Kini
kereta memasuki sebuah hutan. Dan tepat pada saat itu di
belakangpun muncul tiga sosok bayangan orang yang
mencurigakan. Ketiga orang itu berlari-lari mengejar kereta
Huru Hara.
"Hm, rupanya pengemis tua tadi memang benar. Ketiga
orang ini rupanya hendak cari perkara dengan aku," gumam
Huru Hara. Ia suruh Cian-li-ji berhenti.
"Mengapa?" tanya Cian-li-ji. "Ada tiga orang mengejar
kita. Lebih baik kita hadapi saja," kata Huru Hara.
Tiga orang yang mengenakan pakaian seperti pedagang
cepat tiba. Salah seorang yang berbibir tebal segera tertawa,
"Hai, bung, apakah kami boleh numpang?"
"Maaf, aku mau pakai sendiri," sahut Huru Hara.
Pedagang bibir tebal itu tertawa, "Ah, mutanmu masih
sedikit, mengapa kami tak boleh ikut numpang?"
Huru Hara turun dari kuda dan tersenyum, Mengapa
kalian tak mau omong terus terang saja?"
Pedagang itu tertawa gelak2, "Baik, tetapi kuheran
mengapa hanya engkau dan seorang kusir saja?"
"Karena jenderal Ko menganggap, kekuatan pasukan itu
bukan terletak pada jumlahnya tetapi pada mutunya.
Katanya, cukup aku seorang saja, sahut Huru Hara dengan
tenang.
"O, apakah engkau ini Bu-te-sin-kun?" seru pedagang
yang berbibir tebal pula. Bu-te-sin-kun artinya Jago-tanpatanding.
"Siapa itu Bu-te-sin-kun?"
"O, engkau tak kenal?"
"Perlu apa harus mengenalnya? Apakah engkau kira
hanya Bu-te-sin-kun saja yang dapat mengavval barang?"
"Kabarnya Bu-te-sin-kun itu seorang jago muda yang
belum lama muncul dalam dunia persilatan. Ilmu
kepandaiannya luar biasa sekali. Dia dapat memainkan
segala jenis ilmusilat dari berbagai aliran. Siapa yang berani
menentangnya tentu akan dibasmi habis-habisan."
"Sayang aku bukan dia."
"Aneh," seru pedagang berbibir tebal itu "apakah jenderal
Ko tidak memberitahu kepadamu tentang bahaya yang
bakal engkau hadapi dalam perjalanan?"
"Biasa," sahut Huru Hara. "apalagi dalam jaman edan
begini. Jangan lagi membawa harta, membawa nyawa juga
diganggu."
"Apakah jenderal Ko Kiat memang sengaja hendak
suruh engkau mengantar jiwa?"
"Lebih dan itu," kata Huru Hara, "dia bilang, mungkin
aku akan mengalami mati sampai tujuh kali."
Pedagang bibir tebal itu tertawa menyeringai, "Lalu
mengapa engkau masih berani melakukan ?"
"Sudah terlanjur, aku harus menyelesaikan sampai
tuntas," sahut Huru Hara, "aku harus berani mati sampai
tujuh kali."
Pedagang itu tertawa gelak2, "Ha, ha, ha, menurut
pandanganku, engkau tak lebih hanya anak kemarin sore
yang tak tahu tingginya langit."
"Apakah engkau hendak menantang aku ?"
Wajah pedagang itu tiba2 berobah sarat, serunya dengan
bengis, "Mengingat engkau masih muda, lekaslah engkau
tinggalkan kereta ini dan pergi dari sini !"
"O, engkau hendak mengganggu aku ?"
"Jangan banyak bicara !" bentak pedagang itu.
"Baik, mari kita main-main," kata Huru Hara.
"Hm, biarlah keinginanmu tercapai dan bisa bertamasya
ke akhirat !" pedagang bibir tebal itu merogoh kedalam
baju. sing, tahu2 tangannya sudah mencekal sebatang bianto
atau golok tipis. Golok itu tidak bersinar, batangnya
berwarna hitam.
"O, engkau hendak main2 dengan pedang ?" seri Huru
Hara.
"Lekas cabut senjatamu !" bentak pedagang.
"Aku tak punya pedang, melainkan tongkat pendek ini,"
kata Huru Hara seraya lari kedalam kereta dan mengambil
sebatang tongkat bambu, "hayo, silakan mulai !"
Merasa di hina, pedagang bibir tebal itu marah. Ia
hendak memberi pelajaran yang pahit kepada Huru Hara.
Serentak dia menabhas sekuat-kuatnya, tring.....
Pedagang bibir tebal itu terkejut bukan kepalang. Bukan
saja tongkat bambu si Huru Harar tak kurang suatu apa,
pun dia sendiri malah terpental sampai tiga empat langkah
ke belakan. Seketika berobahlah wajahnya.
"Ho, ternyata engkau berisi juga, budak,” serunya seraya
maju menyerang dengan dahsyat. Dia gunakan jurus Jayhong-
suan-ok atau Burung hong-memutari-sarang. Golok
melingkar-lingkar tiga kali membabat kaki Huru Hara.
Huru Hara mencelat ke udara. Gerakan mirip jurus Itho-
jong-thian atau Burung-bangau melambung-ke-udara.
Tetapi cepatnya berlipat ganda dari gerakan yang sering
dilakukan orang. Sebelum pedagang itu sempat berputar
tubuh, Huru Hara sudah berada di belakangnya. Pedagang
itu terkejut sekali. Cepat dia loncat ke muka dan berputar
diri. Ah, ternyata Huru Hara tenang saja menunggunya.
Pedagang bibir tebal itu tergetar hatinya. Tetapi
bukannya jera, dia malah makin marah. Diserangnya Huru
Hara makin seru. Huru Hara tetap melayani dengan gerak
yang aneh. Dia berputar-putar mengelilingi lawan, seperti
sesosok bayangan.
Melihat kawannya sudah mengerjai Huru Hara, kedua
orang yang lain segera hendak masuk kedalam kereta.
Tetapi tiba2 mereka disongsong dengan cambuk oleh Cianli-
ji, tar . . .
Kedua orang itu umurnya sebaya dengan lawan Huru
Hara, juga mengenakan pakaian seperti pedagang. Mereka
terkejut ketika diserang cambuk.
"Hai, kusir. jangan kurang ajar engkau ….!” mereka
loncat menghindar. Yang satu loncat menyambar kaki
Cian-li-ji, yang satu menyambar ujung cambuk dan
ditariknya.
"Uh, …….,” yang menyambar kaki Cjan-li-ji terkejut
karena orang kate itu tiba2 loncat kebawah. Yang menarik
cambukpun terkejut karena dengan mudah sekali dia sudah
dapat merampas cambuk. Habis itu dia terus membuka
pintu kereta, duk …….
"Uh . .," orang itu menjerit kaget dan terpelanting keluar
ketika sebuah kaki menyambut dari dalam kereta, tepat
menjejak dadanya.
"Bajingan !" teriak yang berada diatas tadi ketika melihat
kawannya didupak oleh kusir kereta. Dia heran mengapa
secepat itu, kusir sudah dapat menyelundup masuk kedalam
gerbong. Dia terus loncat turun hendak menghajar kusir itu
Tetapi sekonyong-konyong pedagang bibir tebal menjerit
keras dan sempoyongan beberapa langkah lalu jatuh
terduduk.
Pedagang yang hendak menyerang kusir tadi tertegun,
berpaling. Plak ..... aduh........ tiba2 pipinya ditampar oleh
Cian-li-ji. Dan tiba2 pula leher bajunya mengencang,
tubuhnya terangkat dan terus melayang kedalam semak
belukat bum .....
Ternyata setelah dapat menghajar pedagang bibir tebal
sampai kepalanya benjut dan mata berkunang-kunang,
Huru Hara lompat menerkam pedagang yang ditampar
Cian-li--ji, mengangkat tubuhnya dan diiempar kedalam
semak berduri. Setelah itu dia terus hendak membereskan
yang satu lagi.
"Jangan dia bagianku." teriak Cian-li-ji terus mengangkat
orang itu bangun, hayo, kita Ianjutkan lagi !"
Melihat bagaimana kedua kawannya dengan mudah
dapat dibereskan Huru Hara, pedagang itu kesima.
Berpaling ke kanan, ia melihat kawan si bibir tebal tadi
masih duduk pejamkan mata wayahnya pucat lesi.
Berpaling ke kiri dilihat kawannya yang seorang, masih
menggeletak dalam semak berduri.
"Lekas ! plak........ ," tiba2 ia terkejut ketika sesosok
bayangan berkelebat menerjang kehadapannya dan tahu2
mulut ditampar keras. Ia mengaduh karena dua buah gigi
muka putus. Dan sebelum rasa sakit itu hilang, kembali
kepalanya ditempeleng, plak ..... seketika orang itu rasakan
matanya seperti memancar beribu bintang dan benda2
disekelilingnya seolah-olah berputar deras, bluk .....
rubuhlah dia tak sadarkan diri.
"Bagus, hiantit, kau apakan pedagang yang bibirnya tebal
tadi ?" seru Cian li-ji. Ia memanggil Huru Hara dengan
sebutan ‘hian-tit’ atau keponakanku.
"Sebenarnya aku tak tegah memukulnya tetapi dia amat
ganas sekali hendak membacok kepalaku. Terpaksa
kukemplang kepalanya dengan tongkatku," kata Huru
Hara.
"Bagus, hiantit, tadi yang satupun kujejak dadanya," kata
Cian-li-ji.
"Paman Cian," kata Huru Hara, "mungkin kita nanti
masih akan menghadapi beberapa penjahat yang hendak
merampok peti uang dalam kereta itu, Kuminta, apabila
tidak sangat terpaksa, janganlah paman sampai membunuh
mereka. Cukup kalau dihljar sampai tele-tele saja."
"Bagus, hiautit, aku setuju sekali. Memang aku juga tak
mau membunuh jiwa manusia. Soal mencabut jiwa
manusia itu urusan Giam-lo-ong (raja Akhirat)."
=====
Hal 54-55 tidak ada
======
"Kalau barangku sih boleh saja. Tetapi ini adalah barang
dari jenderal Ko Kiat yang suruh aku mengawal....."
"Persetan dengan jenderal Ko Kiat atau Teh Kiat.
Masakan seorang jenderal bisa punya sekian banyak harta
benda. Dari mana dia memperolehnya kalau tidak
merampas harta benda rakyat.”
"O, apakah hendak engkau berikan kepada rakyat ?"
Huru Hara menegas.
"Enaknya," sahut salah seorang Se-pak-song-eng, "sudah
tentu akan kami ambil sendiri. Rakyat kan urusan negara
bukan urusan kami berdua.
Huru Hara berbangkit. Dia marah mendengar
keterangan kedua orang itu, "Jika begitu kalian ini bangsa
perampok yang harus dibasmi!"
Se-pak-song-eng itu sepasang saudara kembar. Yang
besar bernama Siang Hong dan adiknya Siang Gi.
Keduanya memiliki ilmusilat Eng jiau-kang atau Cakargaruda
yang sakti. Dan biasanya, melawan siapa saja,
mereka tentu maju berdua.
Serempak mereka pun segera menyerang Huru Hara.
Yang satu menerkam kepala dan yang satu menyerang
punggung Huru Hara. Tetapi mereka terkejut ketika
menyaksikan gerak gerik Huru Hara yang aneh. Mereka
harus melalui pertempuran dengan berpuluh jago2 silat
lihay sebelum mereka mampu mengangkat nama sebagai
Se-pak-song-eng. Tetapi kali ini mereka benar2 bingung dan
tak tahu gerak ilmusilat apa yang dimainkan Huru Hara
saat itu. Tetapi yang jelas, betapapun mereka menyerang
dengan ganas, Huru Hara tetap dapat menghindari dan
bahkan dapat membalas dengan tamparan.
Akhirnya kedua orang itu marah sekali. Dalam suatu
kesempatan, tiba2 mereka menerjang dan memukul sekuatkuatnya.
Suatu hal yang menyebabkan mereka harus lekas
rubuh sendiri karena dengan suatu gerak yang hampir tak
dapat dipercaya, Huru Hara sudah melambung ke udara
sehingga kedua saudara kembar itu harus saling berbentur
sendiri. Akibatnya keduanya saling terpental ke belakang
dan menderita luka parah.
Memang Huru Hara memiliki suatu gerak tubuh yang
luar biasa anehnya. Entah dia berputar-putar mengelilingi
lawan, entah loncat ke udara, entah bergeliatan menghindar
tetapi yang jelas, gerakannya itu luar biasa cepatnya. Dan
ada sebuah keistimewaan lagi dari dia. Kalau lawan belum
dapat menghantam tubuhnya, lawan masih bertahan
beberapa waktu. Tetapi setiap kali lawan berhasil memukul
tubuh Huru Hara, lawan itu pasti serentak menderita.
Karena setiap kali terkena pukulan, tubuh Huru Hara itu
seperti memancarkan tenaga-membal (refleks) yang
mengembalikan pukulan orang. Makin besar tenaga yang
digunakan orang dalam pukulannya itu, makin parah dia
nanti akan menderita.
Kedua Se-pak-song- eng itu menderita luka-dalam yang
parah akibat pukulan mereka sendiri! Mereka terpaksa
melarikan diri seperti anjing yang takut digebuk. Tetapi
Huru Hara tak mau mengejar.
"Wah, berabe sekali," gumam Huru Hara.
"Habis mengapa engkau begitu ngotot hendak melamar
pekerjaan itu kepada Ko Kiat ?" tegur Cian-li-ji.
"Itu sih sumoayku yang menganjurkan. Siapa tahu bukan
benda pusaka tetapi hanya uang yang dikirimkan jenderal
Ko Kiat,...."
"Apa ? Pusaka ?" Cian-li-ji menegas.
"Ya, kabarnya sebuah pusaka yang mempunyai sangkut
paut penting terhadap nasib kaum persilatan. Tetapi
ternyata hanya uang dan uang itupun asalnya dari rakyat.
Sialan . . . ."
"Lalu bagaimana tindakanmu ?"
"Karena sudah terlanjur, kita harus menyampaikan
kepada jenderal Ui Tek Kong. Akan kuanjurkan kepada
jenderal Ui agar uang itu dikembalikan saja kepada rakyat."
Demikian keduanya segera meneruskan perjalanan.
Tiba2 mereka melihat sebuah biara Huru Hara berhenti di
biara itu. Malam hari lanjutkan perjalanan, banyak
bahayanya. Lebih baik bermalam di biara situ dan esok
harinya baru berangkat lagi.
"Hai, ketemu lagi!" tiba2 terdengar suara orang
menyambut dari dalam biara.
"O, engkau," sahut Huru Hara ketika melihat yang
berseru itu tak lain adalah pengemis yang siang tadi hendak
minta numpang naik di keretanya.
"Ya mengapa engkau disini ?"
"Bermalam," sahut Huru Hara.
"Ah, mengapa tak bermalam didalam kota Disini banyak
setan."
"O, kebetulan sekali. Aku memang kepingin melihat
bagaimanakah sebenarnya setan itu."
"Engkau tak takut ?"
"Kalau manusia takut setan, lebih baik serahkan saja
bumi ini kepada setan. Manusia supaya berhenti hidup."
"Benar," sahut pengemis tua itu, "mudah-mudahan
engkau nanti dapat menghadapi mereka dengan baik," kata
pengemis tua itu seraya ngeloyor keluar.
"Mau kemana ?" tegur Huru Hara. "Aku sih seorang
pengemis, bisa tidur diluaran di emper. Beda dengan
engkau yang sedang menjalankan tugas seorang jenderal . .
."
Huru Hara terkesiap. Kata2 pengemis itu menusuk
hatinya tetapi pengemis itupun sudah melangkah keluar,
terpaksa Huru Hara diam.
Malam itu gelap dan sunyi. Huru Hara hampir mau
pulas ketika tiba2 ia mendengar suara lengking jeritan,
"aduh .... ampun, loya….ampunilah….bunuhlah aku saja,
jangan anakku yang masih kecil itu ... . aduh…..
Huru Hara terkejut. Sesaat telinganya terngiang pula
oleh suara yang amat halus tetapi cukup tajam,
"Dengarkanlah, hai, engkau, yang mengangkat nama
sebagai pendekar Huru Hara .. . itulah suara jerit tangis dari
rakyat empat desa yang telah dijagal oleh anak pasukan
jenderal si Ko Kiat itu. Engkau rela menjadi anteknya dan
engkau begitu mati-matian mengawal uang berdarah itu,
huh ..".
Huru Hara makin gelagapan. Serentak pun mendengar
ruang depan biara itu penuh hamburan suara orang
menjerit-jerit. "Hayo, kembalikan uangku .... hayo,
bayarlah jiwaku bayarlah darahku ... suamiku, isteriku,
anak-anakku .. “
Huru Hara benar2 tak kuat mendengar suara yang
memenuhi telinganya itu, Serentak dia loncat dan terus lari
keluar, Ah . . . . di halaman biara itu penuh dengan orang2
yang berpakaian jembel. Mereka membawa mangkuk
kosong dan, merintih-rintih, "Kami lapar . . . kami lapar ..
berilah kami makan .. . ."
Huru Hara makin tak mengerti, "Siapakah kalian ini ?"
teriaknya.
"Kami adalah rakyat daerah Yang-ciu yang kelaparan.
Harta benda kami telah dirampas, sawah dan ladang kami
telah dibabati semua."
"Siapa yang merampasnya?" seru Huru Hara.
"Prajurit2 itu. Prajuri!2 yang telah menjagal beribu ribu
penduduk dari empat desa yang tak berdosa . . .. "
"Prajurit2 dari jenderal Ko Kiat?"
”Ya.”
"Lalu sekarang kalian mau apa?"
"Kami lapar .. kami lapar .. kami tak punya apa2 lagi .. .
"Mengapa kalian datang kepadaku?"
"Karena hohan membawa harta dari jenderal Kiat. Itulah
harta yang dirampasnya dari penduduk."
"Lalu maksud kalian?"
"Bagikan harta itu kepada kami . . . . atau bunuhlah kami
ini semua . . . "
"Siapa yang kasih tahu kepada kalian?"
"Wi sin-kay!"
"Siapa Wi sin-kay itu?"
"Wi sin-kav adalah pengemis sakti yang berhati
budiman. Dialah yang sering datang kepada kami untuk
membagi-bagikan uang dan beras. Kali ini dia bilang, lebih
baik kami datang menghadap dan meminta kepada hohan
sendiri."
"O, apakah dia seorang pengemis tua yang kakinya
pincang dan kalau jalan pakai tongkat?"
"Benar, benar, diatah Wi sin-kay yang mulia itu!” seru
berpuluh rakyat. lapar itu.
"Baik, kalian tunggu disini !" kata Huru Hara terus
menghampiri ke tempat kereta. Dia mencari-cari Cian-li-ji
yang tidur dalam kereta itu tetapi orang kate itu tak dapat
diketemukan, "setan, kecil manakah si pendek itu ?"
Ia terus mengangkat peti, dibawa kedalam biara, "Baik,
karena uang ini berasal dari penduduk maka akan
kukembalikan lagi kepada kalian!"
Kawanan rakyat itupun bersorak kegirangan dan
menghaturkan terima kasih. Tetapi tiba2 reka terbelalak
ketika melihat Huru Hara mendelik memandang peti besi
yang telah dibongkar itu. Huru Hara sibuk mengaduk-aduk
isi peti seperti hendak mencari sesuatu. Tetapi akhir dia
geleng2 kepala.
"Bagaimana hohan ?" seru kawanan rakyat.
"Celaka ! Aku ditipu jenderal itu !"
"Ditipu bagaimana ?"
"Lihatlah !" seru Huru Hara, "ternyata peti yang berat ini
hanya berisi tanah !"
"Ah, kalau begitu engkau ditipu mentah-mentah oleh
jenderal keparat itu !"
"Ya," sahut Huru Hara, "apakah kalian betul2 lapar ?"1
"Kami hanya makan akar2 pohon saja. Di mana2 rakyat
menderita bahaya kelaparan."
Huru Harad mengambil pundi2 peberian Jenderal Ko
Kiat, jenderal itu memberi uang muka sepuluh tail perak,
"Kalau sudah selesai, kembalilah kesini. Kuberi kamu
seribu tail uang perak," katanya.
"Uangku hanya sepuluh tail perak," kata Huru Hara
kepada kawanan rakyat itu, "kalian bagi rata untuk beli
makanan."
"Bagus hiantit !" tiba2 terdengar suara orang memuji.
Huru Hara mengenali suara itu adalah suara Cian-li-ji tetapi
orangnya belum tampak.
Beberapa saat kemudian muncullah orang kate itu
bersama si peagemis tua. Cian-li-ji membawa sebuah
karung besar. Sebelum Huru Hara sempat bertanya, Cian-liji
sudah membuka karung itu mengeluarkan kepingan perak
hancur, "Nih, saudara2, kutambah lagi. Belilah makanan
dan berusahalah lagi untuk menanarni sawah dan ladang
kalian."
Riuh rendah kawanan rakyat itu menerima hadiah dari
Cian-Ii-ji. Ada salah seorang uang berkata, "Tetapi kami
takut pulang. Kalau pulang dan membawa uang, tentu akan
dirampas oleh prajurit2 itu,"
"Saudara2," seru pengemis tua, "jika demikian, tempat
yang aman ke gunung atau lembah yang sunyi."
Rakyat berteriak menghaturkan terima kasih. mereka
membungkukkan tubuh dihadapan pengemis tua itu,
"Hidup Wi sin-kay! Semoga Tuhan melindungi Wi sin-kay
yang mulia!"
Setelah kawanan rakyat itu pergi maka Huru Hara segera
minta keterangan kepada Cian-li-ji kemana saja tadi dia
pergi.
"Dia mendatangi aku," kata Cian-li ji seraya menunjuk
pada pengemis tua, "dan mengajak bertaruh. Katanya, peti
ini tentu tidak berisi uang Kalau berisi uang, dia berani
membayar sejumlah berapa besarnya uang itu. Tetapi kalau
kosong aku harus ikut dia ..."
"O, lalu?" kata Huru Hara.
"Aku menerima pertaruhan itu dan peti terus kobongkar.
Ternyata isinya hanya tanah. Sialan . . . . "
"Teruskan!"
"Aku kalah dan terpaksa menurut perintahnya. Aku
diajak kembali ke tempat jenderal Ko Kiat.
"Hah?" Untuk apa?"
"Mencuri!"
-oodwoo-
Jilid: 5
Pendekar Huru Hara terbelalak. Ia benar2 tak mengerti
apa yang dikatakan Cian-li-ji.
"Engkau mencuri?" ia menegas.
"Ya, diajak pengemis ini," sahut Cian-li-ji.
"Mencuri apa?"
"Mencuri uang di tempat jenderal Ko Kiat."
"Gila!" teriak Huru Hara.
"Nih, buktinya," Cian-li-ji lalu membuka karung dan
isinya memang uang emas, "seribu tail emas, tak lebih tak
kurang."
Huru Hara terlongong, kemudian bertanya, "Buat apa
uang itu?"
"Soal itu, tanyakan saja pada pengemis, ini. Aku hanya
kalah bertaruh dan melaksanakan perintahnya," sahut Cianli-
ji.
Huru Hara sudah mendengar keterangan penduduk yang
kelaparan tadi tentang diri pengemis tua yang bernama Wi
sin-kay itu. Ia mendapati kesan baik terhadap pengemis itu,
"Paman Wi, tegurnya dengan nada bersahabat, “apa
maksudmu! suruh paman Ciar-li ji mencuri uang di gedung
jenderal Ko Kiat?"
"'Untukmu," sahut pengemis itu singkat.
"Untukku? Maksud paman untuk diriku?"
"Bukan," kata Wi sin-kay, "untuk isi peti uang yang
hendak engkau antarkan kepada jenderal Ui Tek Kong itu."
"O," seru Huru Hara, "tetapi bukankah jenderal Ko Kiat
memang sengaja hendak mempermainkan jenderal Ui?"
"Tidak," sahut pengemis tua, "dia hendak mencelakai
engkau supaya engkau ditangkap dan dihukum jenderal
Ui."
"Ah, bagaimana mungkin?" seru Huru Hara, “aku kan
hanya melaksanakan perintahnya masakan dia hendak
mencelakai aku?"
"Engkau percaya tidak kalau jenderal Ko bukan
mengirim uaug tetapi mengirim tanah kepada jenderal Ui?"
"Ya……..,” beberapa saat kemudian baru Huru Hara
dapat menjawab, "tetapi jenderal itu mengatakan kalau peti
yang kukawal itu berisi uang seribu tail emas sebagai
sumbangan atas kematian ibu jenderal Ui."
"Ya, memang dia berkata begitu,"' kata pengemis tua,
"tetapi benarkah yang akan diterima jenderal Ui itu peti
berisi uang emas ?"
"Tidak," sahut Huru Hara, "peti itu jelas berisi tanah.
Jenderal Ui tentu terkejut . . . ."
"Dan marah kepadamu," tukas Wi sin-kay.
"Mengapa marah kepadaku ?"
"Eh, cobalah jawab pertanyaanku. Jenderal Ui percaya
kepadamu atau kepada jenderal Ko ?”
"Apa maksud paman ?"
"Bukankah jenderal Ko juga memberi surat kepada
jenderal Ui ? Nah, dalam surat itu tentu disebut tentang
sumbangannya sebesar seribu tail emas. Tetapi ternyata peti
itu berisi tanah. Lalu jenderal Ui apa percaya? Dia tentu
menuduh engkau yang main gila mengambil uang itu.
Akibatnya engkau tentu ditangkap dan mungkin dihukum."
"Ah," Huru Hara mengeluh, "kalau begitu jenderal Ko
hendak mencelakai aku. Apa maksudnya dia berbuat begitu
kepadaku?"
"Itulah kelicikan Ko Kiat," kata Wi sin-kay "dia taat
pada perintah atasannya, menteri Su Go Hwat, untuk
berdamai dengan jenderal Ui. Tetapi dalam hati kecilnya
dia sayang kehilangan uang sejumlah itu. Maka dia
mengorbankan engkau. Agar engkau yang dituduh
menggasak uang itu."
"Setan alas !" Huru Hara menggeram, "jika tahu begini,
aku tak perlu merebut surat undangan dari ketujuh
benggolan itu."
"Ya," kata Wi sin-kay, "sebenarnya jenderal mempunyai
rencana untuk meminjam tangan jenderal Ui membunuhi
ketujuh benggolan itu. Siapa tahu, engkau yang
mengajukan diri sehingga engkaulah yang menjadi korban."
"Jika begitu, lebih baik aku kembali dan menyerahkan
lagi peti itu kepada jenderal Ko," Huru Hara menggeram.
"Percuma," kata Wi sin-kay, "jenderal itu tentu bertanya
kepadamu, apa sebabnya engkau membatalkan
perjanjianmu ?"
"Akan kukatakan terus terang apa isi peti itu !"
"Engkau tentu segera ditangkap dan dihukum mati!" seru
Wi sin-kay.
"Mengapa ? Bukankah dia sendiri yang mengadakan
rencana busuk itu?"
"Mana dia mau mengakui kalau peti itu di isi tanah ?
Engkaulah yang dituduh telah mengambilnya dan pura2
engkau mengembalikan kepadanya."
"Ah, tidak ! Dia bohong"
"Jangan ngotot semaumu sendiri !" seru Wi sinkay,
"pangkat itu lebih berkuasa. Apalagi dia seorang jenderal
tentu kuasa menjadikan yang putih itu hitam dan yang
hitam, putih. Dan orang tentu tak percaya kalau seorang
jenderal akan mengirim peti berisi tanah kepada jenderal
lain. Orang tentu lebih percaya kalau engkau yang
mengambil uang itu dan diganti dengan tanah."
"Tetapi kebenaran itu tak dapat diganggu gugat."
"Jangan menyebut-nyebut soal Kebenaran. Dalam
suasana kacau seperti sekarang itu, Kebenaran yang murni
sudah ikut gugur dengan jenasah mantri2 setya dan
prajurit2 yang mati mempertahankan tanahairnya.
Kebenaran yang sekarang ini bukan kebenaran yang murni
lagi. Siapa berkuasa, dia pemilik Kebenaran !"
"Lalu bagaimana aku harus bertindak?" tanya Huru
Hara.
"Teruskan pekerjaanmu."
"Mengantar peti berisi tanah itu kepada jenderal Ui."
"Bukankah engkau sudah sanggup ?"
"Ya, tetapi peti uang bukan peti berisi tanah."
Wi sin-kay tertawa, "Itulah sebabnya maka kuajak Cianli-
ji mencuri uang di gedung jenderal Ko. Uang itu nanti
engkau isikan kedalam peti dan serahkan kepada jenderal
Ui."
"O, hebat sekali pikiranmu, paman Wi," seru Huru Hara
kegirangan.
"Ah, kita hanya menjadikan permainan jenderal Ko itu
menjadi suatu kenyataan yang sungguh-sungguh. Dia
mengatakan mengirim uang dan peti itu benar2 berisi uang.
Tak mungkin, apabila dia mendengar hal itu, dia akan
marah kepadamu. Jenderal Uipun akan menerima
sumbangan itu dengan senang hati. Dengan demikian kita
dapat membantu melaksanakan maksud mentri Su Go
Hwat agar kedua jenderal itu bisa rukun kembali."
"Bagus, bagus, Wi sin-kay," seru Cian-li-ji, "kalau tahu
begitu maksudmu, akan kuambil lagi uang emas jenderal
Ko itu yang lebih banyak."
"Kukira cukup itu dulu," sahut Wi sin-kay.
Huru Hara menanyakan bagaimana cara Cian-li-ji
mencuri uang emas dari gedung jenderal Ko Kiat tadi.
"Sebenarnya Cian-li-ji itu tidak biasa mencuri. Tetapi dia
memiliki ilmu gin-kang yang luar biasa. Maka kuajaknya
dia masuk ke gedung jenderal Ko. Dia kujadikan setan . . .
."
"Setan ?" Huru Hara terkejut.
"Ya, kusuruh dia pakai pakaian hitam dan topeng yang
menyeramkan. Lalu kusuruh dia mengganggu penjaga
gudang. Setelah kawanan penjaga gudang itu tersebar
mengejarnya, aku lalu masuk dan mengambil uang itu."
Huru Hara tertawa.
"Apakah sekarang kita ganti tanah itu dengan uang emas
?" tanyanya sesaat kemudian.
Wi sin-kay gelengkan kepala, "Tak perlu buru-buru.
Nanti saja setelah tiba ditempat jenderal Ui. Sekarang kita
tutup lagi peti itu dan biarkan isinya tetap tanah."
Malam itu tiada terjadi suatu peristiwa apa2 lagi.
Keesokan harinya Huru Hara dan Cian-li-ji berangkat.
Mereka terkejut ketika tak mendapatkan pengemis tua Wi
sin-kay berada di biara itu.
Tak berapa lama mereka tiba di sebuah kota kecil,
setelah itu baru mereka akan tiba di kota Cho-ciu.
Sebenarnya Huru Hara enggan untuk berhenti tetapi Cianli-
ji menyatakan kepingin minum teh. Terpaksa mereka
singgah di sebuah kedai minuman.
Teh sebenarnya merupakan minuman biasa. Tetapi bagi
orang yang sudah lama tak minum, apalagi kebetulan teh di
warung itu memang istimewa, minum teh merupakan
hidangan yang nikmat sekali.
Tengah Huru Hara dan Cian-li-ji menikmati teh dengan
kuwih, tiba2 masuklah tiga orang lelaki kasar. Maka mereka
penuh brewok, dada dan tangannya yang besarpun tumbuh
bulu yang lebat.
Ketiga orang itu memanggil pelayan, "Kasih sekali arak
yang nomor satu dan bak-pau istimewa," kata salah
seorang.
Setelah pelayan pergi maka seorang lelaki tua segera
menghampiri ketiga orang kasar itu.
"Hai. ciangkui,"' seru salah seorang dari ketiga tetamu
kasar itu, "bagaimana, apakah tidak pesan lagi? Jangan
terlalu lama nanti kambing2 itu jadi kurus karena kurang
makan."
"Tetapi kiriman yang beberapa hari itu, kurus sekali.
Dagingnya sedikit dan banyak boroknya," ciangkui atau
pemilik kedai mengeluh.
"Ya, dong, harganya kan murah. Kalau menghendaki
yang muda dan gemuk, wah, harganya lipat. Apa ada
pesanan?"
"Ada," seru ciangkui dengan mata berkilat-kilat, "tetapi
wah, sukar. Apa engkau sanggup mencarikan?"
"Jangan kuatir!" seru orang kasar itu, "pokok jaman
sekarang ini ada fulus, mau minta a-pa saja bisa!"
Ciangkui menghampiri kesamping lelaki kasar itu dan
segera membisiki ke telinganya. Tampak wajah orang kasar
itu berobah tegang.
"Wah, itu benar2 pesanan istimewa! Tetapi tak mudah
mencarikannya. Harganya harus sepuluh kali lipat dari
barang biasa."
"Jangan kuatir, bung. Soa! harga dia tak tawar. Engkau
minta berapa, dia tentu akan membayarmu. Asal engkau
benar2 dapat mencarikan barang yang dikehendakinya itu."
"Tetapi buat apa dia minta barang semacam itu?"
"Entah, katanya untuk ramuan obat."
"Siapakah yang pesan itu?"
"St, jangan keras2," ciangkui itu lalu membisiki telinga si
orang kasar. Tampak orang kasar itu kerutkan dahi dan
mengangguk-angguk.
Setelah ciangkui masuk, tiba2 dari jauh terdengar derap
suara kuda berlari. Makin lama makin dekat tiba2
muncullah dua ekor kuda. Yang satu putih yang satu hitam.
Tetamu2 dalam kedai minum itu terbeliak kaget ketika
kedua ekor kuda itu berhenti di depan kedai. Lebih terkejut
pula orang2 itu ketika kedua penunggang kuda itu
melangkah masuk. Sekalian orang menumpahkan mata ke
arah kedua pendatang itu.
Kedai itu banyak disinggahi tetamu2 yang terdiri dari
para pedagang, pengembara maupun prajurit2. Bahwa ada
dua orang penunggang kuda singgah ke dalam kedai minum
itu, memang bukan suatu hal yang mengherankan. Tetapi
yang mengejutkan tetamu2 itu tak lain karena kedua
penunggang kuda itu adalah dua orang nona yang cantik.
Sepintas pandang, mereka merupakan nona majikan dan
bujangnya.
Nona itu memakai cadar atau kain penutup muka warna
hitam. Tetapi walaupun tak kelihatan jelas, orang masih
dapat memandang dari kulitnya yang putih, bahwa nona itu
tentulah seorang gadis yang cantik jelita. Sedang yang
seorang masih dara, berwajah manis, umur lebih kurang 16
tahun.
Kedua nona itu tak menghiraukan mata para tetamu
yang mencurah kepada mereka. Mereka mengambil tempat
duduk tak berapa jauh dari meja Huru Hara. Seorang
pelayan bergegas menghampiri.
"Nona minum?" tanya dara itu kepada nona yang
mengenakan cadar
"Teh dan bak-pau," kata si nona.
"Bak-paunya yang biasa atau istimewa?" ta nya pelayan.
"Apa sih bedanya?" tukas si dara.
"Sudah tentu berbeda, nona," kata pelayan, "bak-pau
istimewa kami rasanya luar biasa lezatnya. Di seluruh
Yang-ciu, tak ada yang menyamai. Sekali coba, orang tentu
akan ketagihan."
Dara itu memandang si nona dan si nona memberi
anggukan kepala, "Baik, coba bak-pau yang istimewa,” kata
si dara.
"Ah Liu, bagaimana kuda kita?" kata si nona bercadar.
''O, ya,” kata dara yang dipanggil dengan nama Ah Liu,
"nanti kusuruh pelayan memberi makan juga."
"Apakah disini sedia rumput?'' tanya si nona bercadar.
"Ah, siocia, kuda kita si Melati dan si Kumbang itu
segala apa mau. Tidak ada rumput, bak-paupun suka," kata
Ah Liu.
Siocia berarti nona. Lazim digunakan sebutan
menghormat, terutama seorang pelayan terhadap nona
majikannya.
Sementara tampak Huru Hara berbisik-bisik dengan
Cian-li-ji. Sedang dibangku lain, ketiga lelaki brewok yang
kasar tadipun tengah kasak kusuk.
"Siocia, heran benar," kata Ah Liu yang lincah bicara."
"Kenapa ?" tegur nona bercadar.
"Di kota sekecil ini, ternyata terdapat beberapa macam
mahluk aneh. Ada pendekar jambul, ada orang kate, ada
orang-utan, hi, hi, hi. . . ."
"St, jangan bermulut usil," tegur gadis bercadar, "kita
masih ada tugas penting,"
Tampak Huru Hara lekatkan telinganya ke mulut Cianli-
ji yang membisikinya. Huru Hara tampak tersenyum dan
geleng2 kepala, "Biarlah, tak perlu diladeni," bisik Huru
Hara.
Tiba2 Cian-li ji berbangkit dan menghampiri seorang
pelayan. Pelayan mengangguk dan menuju ke belakang.
Cian-h-ji terus masuk kedalam.
Ternyata orang kate itu hendak buang air kecil. Kamar
kecil terletak diujung belakang sendiri. Sebelum mencapai
tempat itu, dia harus melalui dapur. Beberapa tukang masak
sedang bekerja, antara lain ada yang membuat bak-pau.
Setelah keluar dari kamar kecil, tiba2 Cian-li-ji melihat
seorang tukang masak sedang keluar dari sebuah bangunan
yang terletak paling belakang, dekat pagar tembok.
Bangunan itu ditutup dengan pagar tembok sehingga tak
tampak jelas. Tetapi terang bangunan itu merupakan sebuah
pondok kecil.
Rupanya orang itu tak tahu kalau Cian-li-ji sedang
berada dalam kamar kecil. Dia berjalan sambil membawa
sebuah beri (talam) yang tertutup dengan kain hitam. Entah
apa isinya. Tetapi hidung Cian-li-ji yang tajam segera
mencium bau yang anyir, menyengat hidung. Hampir saja
dia muntah.
Serentak dia teringat akan pembicaraan bisik2 dari ketiga
orang kasar dengan pemiIik rumah makan itu. Seketika
timbullah keinginannya untuk mengetahui apa yang
terdapat dalam kamar tertutup itu.
Siut, dia bergerak cepat sekali untuk menerobos kebalik
dinding tembok yang menutup bangunan itu. Pintunya
terkunci. Dengan kerahkan tenaga, dia dapat mendobrak
pintu itu. Ah, ternyata sebuah rumah pondok yang kosong.
Mungkin ruang sembahyang pemujaan. Karena disitu
hanya terdapat sebuah meja sembahyang, sebuah arca dewa
dan sepasang lilin serta sebuah hio-lou atau tempat dupa.
Didepan meja terdapat sebuah tikar tebal.
"Ah, untuk sembahyang," pikirnya, "tentulah orang tadi
sedang mengantar ikan untuk sembahyangan."
Tetapi tiba2 dia meregang, "Tetapi mengapa di meja ini
tak terdapat barang hidangan suatu apa ? Dan kalau
mengantar hidangan, tentulah dia tidak membawa beri.
Lebih tepat kalau dikatakan orang tadi sedang mengambil
hidangan dari sini. Tetapi hidangan kok baunya begitu
anyir sampai membuat perut mau muntah ?"
Tiba2 terdengar pintu berkerotekan, grendel-nya sedang
diputar orang. "Celaka, ada orang masuk," Cjan-li-ji cepat2
menyelonong masuk ke-bawah kolong meja itu. Untung
didepan meja itu diberi kain to-wi (kain penutup yang
bersulam lukisan dewa),
"Ah, Ah Hok memang sembrono sekali." gumam orang
itu, "masakan keluar lupa tak mengunci pintu."
Rupanya yang dimaksud Ah Hok adalah orang yang
keluar membawa beri penampan tadi.
Orang itu berjongkok lalu menyingkap tikar. Ah,
ternyata dibawah tikar itu terdapat sebuah papan besi.
Orang itu lalu membuka papan besi dan terus turun
kebawah.
Tak berapa lama orang itupun keluar dengan membawa
penampan bertutup kain. Setelah menutup papan besi
dengan tikar, dia keluar dari ruang itu.
Kini Cian-li-ji makin curiga. Dia menyingkap tikar,
membuka papan besi. Ah ternyata di-bawahnya terdapat
titian batu. Ia segera menuruni titian, Ternyata dibawah,
merupakan sebuah kamar bawah tanah. Sebuah meja besar
dari batu marmar, dibangun ditengah ruang. Tetapi apa
yang disaksikan Cian-li-ji saat itu hampir membuatnya
pingsan Ternyata diatas meja marmar itu penuh dengan
potongan tulang badan manusia. Tangan, kaki, gembung
dan tulang belulang manusia.
"Jagal manusia," serunya bergidik. Serentak-dia teringat
akan beberapa orang yang membawa penampan bertutup
kain tadi. Baunya sama dengan bau di ruangan itu. Seketika
marahlah dia.l
Dia mencari akal bagaimana mengobrak-abrik rumah
makan terkutuk itu. Cepat ia mendapat pikiran. Ia
mengumpulkan gigi2 lalu dibungkus. Sebelum pergi, dia
membakar ruangan itu.
Kemudian dia berlari ke dapur, "Hai, mengapa pondok
dibelakang itu mengepul asap ?"
Beberapa tukang masak dan pelayan segera keluar ke
belakang. Mereka terkajut ketika melihat pondok di
belakang itu mengepulkan asap tebal.
"Kebakaran," seru mereka seraya berlari-lari menuju ke
pondok itu.
Cian-li-ji cepat bekerja. Ia menyelundup ke dapur dan
mengaduk-aduk bak-pau. Isinya diganti dengan gigi
manusia. Setelah itu dia keluar lagi mendapatkan Huru
Hara.
"Bersiap-siaplah menghadapi keadaan yang kacau nanti,"
bisik Cian-li-ji.
"Apa yang terjadi ?" tanya Huru Hara. Cian li-ji
menceritakan apa yang dilihatnya tadi dengan bisik2.
Seketika marahlah Huru Hara. Dia terus hendak
mengamuk tetapi dicegah Cian-li-ji, "Jangan terburu nafsu.
Tunggu saja pertunjukan yang bagus nanti!"
"Bagaimana rencana kita, siocia ?" tanya Ah Liu kepada
nonanya.
"Kita ke Cho-ciu menyampaikan surat kepada jenderal
Ko Kiat, setelah itu kita Holam untuk menemui jenderal Ho
Tay Sing. Pekerjaan ini harus dilakukan secepat mungkin
karena rasanya ayah sudah putus asa meminta bantuan
ransum pada baginda," kata gadis bercadar kain hitam itu.
"Lalu bagaimana prajurit2 kita kalau tidak punya
ransum?" tanya Ah Liu.
"Justeru itu yang menjadi tugas paling penting. Ayah
telah menitahkan engkoh Hong Liang untuk menghubungi
sisa2 anakbuah Li Cu Seng yang kebanyakan menjadi
lasykar liar dan ada pula sebagian yang menjadi
gerombolan perampok. Mereka adalah unsur2 kekuatan
yang harus dihimpun lagi dan digabungkan dengan pasukan
kita, kata nona bercadar.
"Dan apakah Bok siauya juga mendapat tugas?" tanya
Ah Liu pula.
"Bok koko disuruh menemani ayah. Ayah kuatir kalau
menyuruh Bok koko keluar. Dia orangnya terlalu jujur dan
tolol."
"Tetapi siocia, dia seorang yang berhati setia," bantah Ah
Liu.
"Hm," nona itu hanya mendesuh.
"Memang Su sauya lebih cakap dan pintar tetapi . . . . "
"Tetapi apa?" tukas nona bercadar itu.
"Ah, jangan, nanti siocia marah kepadaku
"Tidak," bantah nona itu, "mengapa aku ha rus marah?
Hong Liang koko itu putera keponakan ayah dan Bok Kian
koko itu putera keponakan mama. Mereka disayang ayah
seperti putera sendiri. Dengan aku merekapun seperti
saudara sekandung."
"Ya, kutahu," kata Ah Liu, "tetapi rupanya siocia lebih
suka bergaul dengan Su sauya daripada Bok sauya.
Memang Su sauya pintar bicara dan ramah sedang Bok
sauya tak pandai bicara. Tetapi menurut perasaanku, Bok
sauya itu lebih jujur dan setia."
"Apakah Su koko tidak jujur dan tidak setia?" tukas si
nona bercadar.
"Ai, aku tidak mengatakan begitu, siocia. Aku hanya
ingin mengatakan kalau Su sauya itu pintar bicara."
"Apa salahnya sih orang pintar bicara itu?"
"Ya, ya ... " Ah Liu tak dapat melanjutkan kata-katanya
karena saat itu pelayan datang membawa pesanan mereka.
Sebuah teko teh, dua buah cawan. Bak-pau yang dipesan
belum matang.
"Hai, loji, engkau mengatakan bak-pau buatan rumahmakanmu
ini paling istimewa sendiri, bukan?" tiba2
terdengar Cian-li-ji berbicara.
"Ya, memang benar," sahut pelayan. Memang adat
kebiasaan tetamu2, kalau memanggil jongos atau pelayan
rumahmakan tentu dengan sebutan lo-ji.
"Apakah engkau sudah pernah makan sendiri?" tanya
Cian-li-ji.
Pelayan itu gelagapan, "Semua tetamu selalu memuji
begitu. Aku sendiri jarang makan."
Cian-li-ji tertawa, "Loji, apa engkau dapat menghabiskan
dua biji bak-pau ini?"
"Ah, jangan bergurau loya. Masakan bak-pau dua biji
saja tak habis. Lima bijipun aku dapat menghabiskan."
"Jangan sombong !" , seru Cian-liji," hayo engkau berani
bertaruh dengan aku ?"
"Bertaruh bagaimana ?"
"Kalau engkau dapat menghabiskan dua biji bakpau ini,
kubayar seratus tail perak .. ."
"Loya !" teriak pelayan terkejut, "apakah loya bergurau ?"
"Siapa bergurau dengan engkau, babi '" bentak Cian-li-ji
seraya merogoh keluar sebuah pundi2 uang lalu dituang,"
nih, coba hitunglah. Bukankah jumlahnya lebih dari seratus
tail perak ?"
Pelayan itu mendelik, "Maksud loya, kalau aku dapat
menghabiskan dua butir bak-pau itu, loya akan memberi
hadiah seratus tail perak ?"
"Ya."
"Baik, loya. Aku sanggup!"
"Jangan terburu-buru dulu. Tetapi bagaimana kalau
engkau tak dapat menghabiskan dua butir bak-pau itu ?"
"Terserah, loya mau menghendaki apa !"
"Begini," kata Cian-li-ji, "kalau engkau tak mampu
menghabiskan dua butir bak-pau ini, engkau akan
kurangket dengan rotan sampai seratus kali !"
Pelayan terbeliak.
"Tetapi seratus kali rangketan itu, dibagi begini. Yang
limapuluh rangketan, untuk majikanmu pemilik
rumahmakan ini. Engkau sendiri sepuluh dan yang empat
puluh dibagi rata pada semua pekerja disini."
"Hah,r jangan merembet-rembet ciangkui dan teman2ku
loya. Biar aku sendiri saja yang tanggung !" seru pelayan
itu.
"Tidak bisa !" teriak Cian-li-ji sekeras-kerasnya sehingga
sekalian tetamu mendengar tentang ribut2 itu, "seratus tail
perak itu juga dibagi seperti pembagian rangketan itu.
Limapuluh untuk majikanmu, sepuluh untuk engkau dan
sisanya dibagi rata kepada kawan2mu."
"Biarlah aku sendiri saja yang menerima taruhan ini,
loya," seru pelayan. Dia ngiler sekali dengan uang yang
sekian banyak, "menang kalah aku yang tanggung sendiri."
"Hai, Ah Sing, ribut2 apa itu ?'" tiba2 seorang lelaki
setengah tua menghampiri. Dia ternyata ciangkui atau
pemilik rumahmakan di situ.
"Anu, loya, tuan ini hendak bertaruh dengan aku.
Katanya kalau aku dapat menghabiskan dua butir bak-pau
istimewa yang baru saja dipesannya ini, dia akan
menghadiahi uang Tetapi kalau aku tak dapat
menghabiskan, dia akan menghadiahi rangketan dengan
rotan sampai seratus kali....."
"Engkau terima taruhan itu ?"
"Ya," sahut pelayan, "tetapi tuan itu kasih peraturan
aneh. Hadiah uang atau rangketan itu harus dibagi rata,
Ciangkui harus menerima 50 kali rangketan rotan, Aku 10
kali dan sisanya dibagi rata kepada semua pekerja disini."
"Kalau engkau menang ?"
"Limapuluh tail perak untuk ciangkui, aku mendapat
sepuluh tail dan sisanya dibagi rata pada kawan2."
"Lakukan !" perintah ciang-kui. Tetapi pelayan itu
meragu. Rupanya dia menginginkan dia sendiri yang
menerima hadiah uang atau rangketan sekian banyak itu
dapat dijadikan modal berdagang sendiri.
"Eh, rupanya engkau tak berani, ya ? Baiklah," kata
ciang-kui seraya melangkah maju ke hadapan Cian-li-ji,
"loya, akulah yang menggantikan pegawaiku.
"O, jika ciangkui lain lagi," kata Cian-li-ji "Lho,
bagaimana ?" ciang-kui terkejut karena mengira Cian-li-ji
tak berani, "apa tidak jadi?''
Waktu ciang-kui sedang bertanya jawab dengan pelayan.
Ah Sing tadi, muncullah seorang pelayan lain yang
membawa penampan berisi dua butir bak-pau istimewa
kepada si nona bercadar. Dengan cepat Huru Hara
menghampiri.
Selekas pelayan pergi. Huru Harapun berkata, "Maaf,
nona, bolehkah aku pinjam bak-paumu ini dulu ?"
Ah Liu marah sekali. Karena sebelum mendapat
persetujuan, Huru Hara sudah ulurkan tangan mengambil
kedua butir bak-pau istimewa itu, "Lepaskan, manusia liar
!" Ah Liu membentak seraya menampar tangan Huru Hara.
Plak. uh . . . Ah Liu menjerit kaget karena dia terlempar ke
belakang. Dia rasakan tangan Huru Hara yang ditamparnya
itu, memancarkan tenaga tolak yang melempar dirinya
sehingga dia tersurut mundur bersama kursinya.
Nona bercadar itupun kerutkan dahi. Cepat dia
menyambar pergelangan tangan Huru Hara dengan ilmu
Siau-kin-na-jiu (ilmu merebut senjata lawan dengan tangan
kosong), tetapi nona itu hanya menerkam meja. Huru Hara
sudah lebih cepat mengangkat tangannya.
"Nona, percayalah, jangan makan bak-pau ini. Lihatlah
sendiri bagaimana buktinya,” bisik Huru Hara seraya terus
melangkah kembali ke mejanya sendiri.
Saat itu kebetulan Cian-li-ji sedang hendak mengatakan
syarat pertaruhannya. Maka Huru Harapun cepat
menimbrung, "Paman Cian, suruh dia makan empat butir
bak-pau, kalau habis, kita kasih dia seribu tail perak. Tetapi
kalau tak bisa habis, kecuali menerima rangketan, dia harus
menyerahkan rumahmakan ini kepada kita !"
"Nah, engkau dengar tidak permintaan dari
keponakanku itu ?" tanya Cian-li-ji kepada pemilik
rumahmakan.
"Baik," sambut ciang-kui, "tetapi kuminta uang
pertaruhan itu supaya ditaruh di meja ini agar semua orang
menyaksikan."
Rupanya melihat perwujutan Cian-li-ji dan Huru Hara
yang nyentrik, pemilik rumahmakan itu bersangsi, jangan2
kedua orang itu tak punya uang sekian banyak.
Cian-li-ji terkesiap lalu berpaling kearah Huru Hara.
Huru Hara juga bersangsi. Kalau dia mengambil uang emas
yang berada dalam karung, tentulah semua orang tahu.
Suatu hal yang tak menguntungkan tetapi sebaliknya malah
mengundang bahaya. Tetapi kalau tidak diperlihatkan uang
itu, tentulah ciang-kui tak mau menerima pertaruhan itu,
Pada hal rumahmakan itu harus diobrak-abrik.
"Baik paman Cian, silakan ambil uang itu," akhirnya ia
memutuskan lebih penting untuk membasmi rumahmakan
itu,
Cian-li-ji melangkah keluar tak berupa lama dia
membawa karung dan diperlihatkan kepada ciang-kui,
"Lihatlah," serunya seraya membuka kantong itu.
Ciang kut terbelalak ketika melihat uang emas dalam
kantong itu, "Ah, masakan gua tak mampu menghabiskan
empat biji bak-pau," pikirnya.
"Bagaimana?" Cian-li-ji menegas. "Baik, aku terima,"
sahut ciang-kui.
"Saudara? sekalian," seru Cian-li-ji kepada tetamu2 yang
berada di ruang itu, "harap saudara-saudara suka menjadi
saksi bahwa aku bertaruh dengan ciang-kui ini. Kalau dia
mampu menghabiskan bak-pau istimewa buatannya, aku
akan memberinya seribu tail perak. Tetapi kalau dia tak
dapat menghabiskan, dia menerima 50 kali rangketan rotan
dan setiap pegawainya menerima 10 kali. Juga
rumahmakan ini akan diserahkan kepadaku dan dia
sanggup angkat kaki dari sini!"
"Orang gila," ketiga orang kasar tadi berseru seraya
menertawakan, "jangankan hanya empat, sepuluhpun aku
sanggup, ha, ha, ha .... "
"Hm, apakah omonganmu itu sungguh?" tiba-tiba Huru
Hara berseru menegas.
"Tentu," sahut salah seorang dari ketiga o-rang kasar itu.
"Baik," kata Huru Hara, "setelah ciang-kui nanti engkau
yang bertaruh. Bukankah engkau sanggup menghabiskan 10
biji bak-pau?"
"Ya."
"Baik, tunggu saja giliranmu."
"Bagaimana kalau aku yang bertaruh lebih dulu?"
rupanya orang kasar itu sangat bernafsu sekali untuk
memenangkan perintahan itu. Dia kuatir nanti uang Huru
Hara sudah habis diambil ciang-kui.
"O, baik, baik," tiba2 Huru Hara berseru, "jika demikian
kalian berdua boleh serempak melakukan pertaruhan itu.
Berapa biji bak-pau yang engkau pesan?"
"Hanya enam, setiap orang dua biji," kata' si orang kasar.
"Jika begitu, hai, loji, ambil 10 biji bak-pau yang
istimewa," seru Huru Hara.
Tak berapa lama pelayanpun datang dengan membawa
penampan berisi 10 biji bak-pau yangi masih hangat.
"Paman Cian, engkau yang mengamati ciang kui dan
aku yang mengawasi orang ini," seru Huru Hara.
Dan mulailah ciang-kui serta orang kasar itu mengambil
bak-pau, terus dilalapnya. Klutuk, uh.....tiba2 ciang-kui dan
lelaki kasar itu menjerit ketika merasa telah menggigit
benda yang keras.
"Hai, apakah isi bak-pau ini?" teriak ciangkui seraya
memeriksa isi bak-pau yang sudah tergigit separoh itu.
"Gigi orang!" tiba2 pula lelaki kasar itu juga berteriak.
Beberapa tetamu, termasuk si nona bercadar serta
bujangnya si Ah Iiu tadi, tersentak kaget.
"Tidak boleh dibuang, harus dimakan semua!" bentak
Cian-li-ji ketika melihat ciang-kui hendak membuangi gigi
yang berada dalam bak-pau itu.
Lelaki kasarpun sebenarnja hendak mengambil isi
istimewa dari bak-pau itu tetapi dia terkejut mendengar
bentakan Cian-li-ji dan iapun melepaskan pandang bertanya
kepada Huru Hara.
"Ya, benar, harus dimakan semua," kata Huru Hara.
Lelaki kasar itu menyeringai, "Tetapi mana mungkin gigi
orang disuruh makan?"
"Bukankah pertaruhan kita ini mengatakan bahwa kalau
engkau dapat menghabiskan 10 biji bak-pau, engkau akan
terima seribu tail perak. Apa artinya ‘habis ' itu? Maka
semua yang berada dalam bak-pau itu harus engkau makan
habis!" kata Huru Hara tenang?.
Tanpa menjawab apa2, lelaki kasar itu terus menyambar
sebuah bak-pau lain. Tetapi begitu digigit, diapun menjerit,
"Hai, telinga orang . . . !"
"Makan saja!" Huru Hara tertawa.
Lelaki kasar itu mencomot sebuah bak-pau lagi dan
ketika digigit, ia menjerit, "Auh, jari orang . . . . "
"Makan terus .... sampai tua," seru Hu-iu Hara.
Sementara itu ciang-kui juga meniru tindakan lelaki
kasar. Bak-pau kesatu yang berisi gigi belum dihabiskan, dia
terus mengambil bak-pau kedua. Tetapi begitu digigit, dia
menjerit, "Auh, telinga orang . . . . "
"Makan!" teriak Cian-li-ji.
Ciang-kui masih ngotot. Dia menjemput lain bak-pau
lagi, "Auh, ma . . . ta . . . , " ia menjerit dengan suara
gemetar.
Dan bak-pau keempat yang dicomot dan digigitnya berisi
segenggam gigi orang.
"Gila!" teriak ciang-kui, "siapa yang masak bak-pau
begini ini! Lekas panggilkan tukang masaknya!"
Tukang masak, seorang lelaki setengah tua yang
berwajah dingin, segera berlarian menghampiri.
"Hai, mengapa bak-pau engkau isi dengan gigi, telinga
dan mata orang?" teriak ciang-kui de ngan marah.
"Tidak loya . . . isinya hanya bagian daging orang saja!"
tanpa disadari karena hendak membela diri, tukang masak
itu telah kelepasan ngo-mong.
"Hai!" tiba2 Ah L:u menjerit dan terus muntah2. Setelah
itu ia menghampiri ciang-kui,
"O, yang engkau katakan bak-pau istimewa itu ternyata
berisi daging manusia !"
Ah Liu tak dapat menguasai diri lagi. Dia terus hendak
memukul ciang-kui tetapi dicegah Huru Haja, "Jangan,
harap sabar dulu !"
Ah Liu tadi telah menderita. Dia menampar tangan
Huru Hara tetapi malah terjengkang ke belakang. Sekarang
dia mau memukul ciang-kui, kembali Huru Hara
menghadang. Dara itu tumpahkan kemarahannya kepada
Huru Hara "Engkau mau membelanya !"
Dengan sebuah gerak dalam jurus Raja-kera-menjolokbuah,
dara itu meninju dada Huru Hara, "duk.....uh!" Ah
Liu menjerit ketika dia terlempar ke belakang sampai
beberapa langkah dan membentur meja di belakangnya.
"Hayaaaa……..,” tiba2 terdengar orang menjerit. Orang
itu ternyata sedang mengangkat mangkuk bubur panas.
Begitu tiba dimuka mulut, bangku telah terlanggar Ah Liu,
bangku terpelanting dan buburpun mengguyur muka orang
itu. Muka tersiram bubur panas, dapat dimaklumi kalau
orang itu sampai menjerit seperti babi hendak disembelih
.....
Ah Liu melenting bangun. Dia hendak maju menyerang
Huru Hara tetapi tiba2 dibentak orang, "Jangan liar, Ah Liu
!"
Ah Liu berhenti. Ia kenal suara itu adalah suara nona
majikannya. Huru Harapun menghampiri.
"Maaf, nona, maksudku janganlah nona memukulnya
dulu. Biarkan dia menghabiskan bak-paunya," dia memberi
penjelasan.
Ah Liu tersipu-sipu dan kembali ke tempat duduknya,
Tetapi tiba2 di dicegat oleh tetamu yang mukanya
berlumuran bubur panas tadi, "Budak liar, nih,
pembalasanku !"
Ah Liu terkejut tetapi terlambat. Dia merasa tengkuknya
telah dicengkeram tangan orang dan tubuhnya diangkat,
"Celaka......" Ah Liu mengeluh karena menyadari bahwa
dirinya hendak dilempar keluar.
"Hek . , . ," tiba2 lelaki itu mendesah tertahan dan
tangannyapun terkulai melentuk sehingga tubuh Ah Liu
pun jatuh ke bawah. Untung dara itu dapat bergeliatan
untuk menjaga diri agar tubuhnya tak sampai jatuh ke
lantai.
Ah Liu memandang kearah nonanya dan
memperhatikan nona majikannya melingkarkan ke dua jari
telunjuk dengan jempol tangan. Rupanya hal itu merupakan
suatu kode atau sandi kedua gadis itu. Ah Liupun segera
kembali kemejanya lagi. Sedang tetamu yang hendak
melemparnya tadi, deliki mata kepada Ah Liu lalu dengan
berjalan setengah menyeret kaki, dia melangkah keluar.
Sementara itu terjadilah peristiwa yang menegangkan.
Muka pemilik rumahmakan merah padam memandang
empat butir bak-pau yang setelah di gigit ternyata berisi
beberapa macam benda istimewa : gigi, telinga dan mata.
Dia memanggil tukang masak dan tukang masak telah
kelepasan bicara mengatakan kalau yang diisikan kedalam
bak-pau itu bukan macam begitu tetapi hanya daging
manusia yang dicacah.
Sekalian tetamu gempar mendengar hal itu. Mereka
serempak bangkit dan memaki-maki. Ada yang terus
ngeloyor keluar tetapi ada yang masih berada disitu hendak
menyaksikan bagaimana kesudahan pertaruhan tadi.
"Ciang-kui, lekas habiskan bak-paumu itu !" bentak Cianli-
ji.
"Tidak !" teriak ciang-kui, tukang masak telah keliru
memberi isinya !"
"Ciang-kui, jangan ingkar janji. Aku juga tak tahu apa
isinya. Engkau sudah menerima peraturan ini, kalau engkau
tak mampu menghabiskan, baiklah," seru Cian-li-ji, "engkau
harus kurangket dulu 50 kali, setelah itu baru engkau boleh
minggat dari sini !"
"Setan kate, jangan mengacau disini !" pemilik
rumahmakan itu terus menyerang Cian-li-ji. Juga lelaki
kasar tadi marah2 dan tak mau makan bak-pau istimewa
itu. Tetapi Huru Hara memakannya, "Mau, tak mau, suka
tak suka, engkau harus makan bak-pau itu !"
"Bangsat, engkau berani memaksa aku !" sebuah tinju
yang besar dan kuat segera diayunkan kearah kepala Huru
Hara. Huru Hara mengendap kebawah. Secepat tinju
melayang disisinya, dia terus melonjak berdiri, tangan kiri
menyambar dagu orang lalu dipencet sehingga mulut orang
itu terbuka lalu secepat kilat tangan kanan menyambar
bakpau dan dijejalkan kemulutnya.
"Auhhhhh . . . ." orang itu menjerit-jerit tetapi karena
mulutnya disumpat dengan bak-pau, dia tak dapat bersuara.
Dia meronta-ronta hendak melepaskan diri tetapi juga tak
mampu. Pada hal sederhana dan enak saja tangan Huru
Hara mencengkeram dagu orang itu tetapi nyatanya orang
itu tak mampu berdaya.
"Lepaskan !" tiba2 dari belakang terdengar suara orang
membentak Huru Hara. Huru Hara tahu hal itu. Dua orang
kawan lelaki kasar itu telah berbangkit dan menghampiri
hendak menolong kawannya. Mereka menyerang Huru
Hara dari belakang. Yang seorang memukul kepala, yang
seorang menendang pantat Huru Hara.
Plak……. duk…….. aduh
Kedua lelaki kasar itu terkejut ketika tiba2 Huru Huru
menyelinap ke samping. Mereka tak dapat menghentikan
tinju dan kakinya lagi. Kepala dan perut kawannya menjadi
sasaran. Akibatnya orang itu terlempar jatuh terjerembab ke
lantai ... .
Belum hilang kejut kedua lelaki kasar tadi, tahu2 tengkuk
mereka terasa mengencang seperti dijepit besi. Mereka
hendak meronta dan menghantam ke belakang tetapi
sebelum sempat melakukan gerakan itu, tubuh mereka
seperti terangkat naik dan melayang,
bummmm.....Keduanya terlempar keluar dari rumahmakan
dan jatuh di jalan besar.
Habis melemparkan kedua orang itu, Huru Hara
berputar tubuh. Dilihatnya ciang-kui tengah menyerang
kalang kabut kepada Cian-li-ji yang bergerak
mengelilinginya dengan cepat sekali.
"Hek . . . . , " ciang-kui itu menjerit tertahan ketika
tengkuknya dicengkeram Huru Hara. Dia berusaha untuk
meronta sambil gerakkan kaki dan tangan untuk memukul
dan menyepak. Tetapi semakin dia bergerak, semakin
tulang tengkuknya seperti patah rasanya. Akhirnya dia
menyerah tak berani berkutik lagi.
"Hayo, katakan, mengapa engkau berani membuat bakpau
berisi daging manusia!" bentak Huru Hara.
"Ampun, hohan . . . , " akhirnya pemilik rumah-makan
itu meratap minta ampun.
"Aku dapat memberi ampun atau tidak tergantung
engkau sendiri. Kalau engkau mau menjawab pertanyaanku
secara jujur, engkau boleh mengharapkan ampun itu," kata
Huru Hara.
"Baiklah, silakan hohan bertanya."
"Mengapa engkau menjagal manusia dan dagingnya
engkau jadikan isi bak-pau?"
"Sebenarnya dulu aku tidak berbuat begitu. Tetapi
setelah tentara negeri ( kerajaan Beng ) mundur ke daerah
sini, sukar sekali mendapat ternak. Sapi, kerbau, babi, ayam
telah diambil untuk ransum tentara. Akhirnya datang orang
menawarkan daging orang. Lebih murah dan lebih lezat,
katanya. Akhirnya karena benar2 sukar untuk mencari
ternak, aku mencoba tawaran orang itu. Harganya murah
dan memang rasanya lebih enak . ..."
"Siapa yang menawari engkau itu?"
"Itu . . . . , " ciang-kui menunjuk pada lelaki kasar yang
menggeletak di lantai, "mereka bertigalah yang mengirim
potongan2 tubuh manusia ke rumah makanku itu."
"Dari mana mereka mendapatkan potongan tubuh orang
itu?"
"Aku .... aku tak tahu, hohan . . . Aku hanya menerima
dan membayar harganya saja ..."
"Paman Cian, bangunkanlah orang itu!" seru Huru Hara.
Ciau-li-ji menyeret lelaki kasar itu dan me-namparnampar
mukanya supaya bangun.
"Hai, bangsat, dari mana engkau mendapatkan potongan
daging manusia itu!" bentak Huru Hara.
Lelaki kasar itu tahu bahwa dirinya tentu takkan
terhindar dari hukuman. Sama2 akan dibunuh, lebih baik
dia bersikap keras tak mau mengakui perbuatannya, "Siapa
mengatakan aku berbuat begitu?" serunya menantang.
"Kawanmu pemilik rumahmakan ini!"
"Bohong!" teriak lelaki kasar itu, "aku tak tahu menahu
soal itu. Aku datang kesini sebagai tetamu."
"Hm, engkau masih menyangkal?"
"Dia memfitnah aku! Dia sendiri yang menjagal manusia
untuk dijadikan isi bak-pau!" teriak lelaki kasar itu.
"Hm, engkau memfitnah, ya?" Huru Hara deliki mata
kepada pemilik rumahmakan.
"Tidak, hohan, tidak. Aku berkata dengan
sesungguhnya! "
"Engkau berani menghadapinya?"
"Berani, harap hohan lepaskan tengkukku," kata pemilik
rumahmakan.
"Baik," Huru Hara melepaskan cengkeramannya. Dan
ciang-kui itu terus menghampiri ke hadapan lelaki kasar lalu
menuding mukanya, "Jangan menyangkal engkau!
Engkaulah yang mengirim potongan2 daging manusia itu?"
"Baik, kuakui," seru lelaki kasar itu, "tetapi kalau engkau
tidak mau menerima, masakan aku melanjutkan pekerjaan
itu. Semisal tadi, engkau-pun pesan kepadaku suruh
mencarikan selusin anak perempuan yang masih dara dan
selusin anak laki yang masih jejaka ..."
"Itu bukan aku tetapi aku juga menerima pesanan dari
seorang pembesar ..."
"Bu-Iiang-siu-hud!" tiba2 terdengar seseorang berseru
dan serempak muncullah seorang imam ke dalam
rumahmakan itu, "apakah yang terjadi di-sini? Mengapa
meja kursi tumpah ruah begini macam?"
Imam itu bertubuh kurus, berumur lebih kurang 60-an
tahun. Matanya yang cekung dan pelipisnya yang
menonjol, menandakan dia memiliki ilmu Iwekang (tenagadalam
) yang tinggi. Pelahan-lahan saja dia berseru tetapi
dalam pendengaran orang2 itu seperti terngiang letusan
mercon.
"Hai, mengapa sicu berdua hendak berkelahi? Ah, tak
baik Orang bermusuhan iru," tiba2 imam itu menyiak.
Dengan tangan kiri dia menyiak dada ciang-kui, dengan
tangan kanan dia mendorong dada lelaki kasar. Sepintas
memang seperti orang yang hendak melerai.
Kemudian dia menghampiri Huru Hara dan
mendorongnya, "Si-cu, sudahlah, silakan duduk iagi…."
Tetapi mulut imam aneh itu terdengar mendesuh kejut
ketika dia terdorong mundur dua Iangkah, sedang Huru
Hara yang didorongnya itu hanya tersurut selangkah, "O,
apakah sicu tak mau menghargai permintaanku ?"
"Sudahlah, jangan ikut campur, engkau tak tahu
persoalannya," bentak Huru Hara.
"Bu-liang-siu-hud," seru imam aneh itu, "Jika sicu
memang hendak mengumbar kemarahan, lebih baik aku
keluar saja dari sini. . .Dia terus melangkah keluar dan
lenyap.
"Hai, ciangkui, mengapa engkau diam saja ? Pembesar
siapakah yang menyuruh engkau mencari dua lusin anak itu
? Apa perlunya ?" seru Huru Hara.
Ciang-kui diam saja. Matanya masih mendelik
memandang kearah lelaki kasar.
"Hai, ciangkui, apa engkau tuli ?" bentak Huru Hara
pula. Dan karena ciang-kui itu tetap tak menghiraukan,
Huru Hara menampar bahunya," hai, ciang-kui, mengapa
engkau membisu sa .. .. hai !" tiba2 Huru Hara berteriak
kaget karena ciang-kui itu rubuh.
Cian-li-ji terkejut dan cepat mengangkatnya, "Hai,
dia….mati!"
Bukan kepalang kejut Huru Hara. Mengira kalau lelaki
kasar itu yang melakukan, dia membentaknya, "Hai,
mengapa engkau berani membunuhnya!"
Tetapi lelaki kasar itu diam saja dan hanya deliki mata
kepada ciang-kui. Huru Hara menampar bahunya, "Hai,
mengapa bisu saja !
Seperti waktu menampar ciang-kui tadi, Huru Harapun
memekik kaget karena lelaki kasar itupun terjungkal rubuh.
Huru Hara buru2 berjongkok memeriksa pernapasannya.
"Dia sudah mati tiba2 terdengar sebuah suara yang halus
dan merdu. Huru Hara berpaling. Serentak dia berbangkit
sesaat melihat seorang nona bertutup cadar tegak ditempat
itu. Dibelakangnya tampak Ah Liu.
"Apa katamu ?" Huru Hara menegas.
"Dia sudah mati, perlu apa engkau periksa
pernapasannya ?" kata nona bercadar itu ?"
"Bagaimana engkau tahu ?"
"Lihatlah, bukankah matanya mendelik dan bibirnya
biru ?"
Huru Hara berpaling sejenak, "Ya, benar, bagaimana
engkau tahu ?"
"Dia terkena pukulan jenis Siu-lo-im-sat-kang yang
ganas. Urat2 jantungnya putus seketika."
"O, lalu siapakah yang membunuhnya ?"
"Engkau !"
"Gila !" teriak Huru Hara, "aku sedang mencari
keterangan mereka, perlu apa akan membunuhnya."
"Ya, kutahu," kata nona itu, "seharusnya engkaupun
sudah tahu juga siapa pembanuhnya itu."
"Imam tua tadi ?"
"Yang dekat hanya engkau dan dia. Kalau engkau tidak,
tentulah imam itu !"
"Siapakah imam itu ?"
"Tanya saja kepadanya !" sahut si nona.
Huru Hara menyeringai, '"Mengapa dia mem bunuh
kedua orang ini ?"
"Untuk menghapus jejak," sahut si nona dengan tenang,
"dia adalah orang yang berkepentingan dengan pesanan dua
lusin anak kepada ciangkui itu."
"Bagaimana engkau tahu ?"
"Menduga saja," sahut si nona, "apa engkau mempunyai
pendapat lain?"
Huru Hara diam sejenak, kemudian berkata, "Dia tadi
juga mendorong aku. Memang tangannya memancarkan
arus tenaga yang panas sekali."
"Engkau harus hati2 dia seorang jago ilmu pukulan yang
hebat." si nona memberi peringatan.
"Baik," sahut Huru Hara, "eh, mengapa engkau memberi
bantuan kepadaku ?"
"Kalau engkau tidak merampas bak-pau yang kupesan
tadi, kemungkinan aku tentu makan bak-pau yang
menjijikkan itu. Aku hanya membayar kebaikanmu tadi,”
kata nona itu kemudian menggamit Ah Liu.
"Bung, maafkan kurang-ajarku tadi menampar engkau,"
Ah Liu menghaturkan maaf kepada Huru Hara.
"Tak perlu urusan sekecil itu engkau harus minta maaf.
Masih banyak urusan besar yang akan menimpa kita," kata
Huru Hara.
"Ya, benar," tiba2 Cian-li-ji menyelutuk, "makanya jadi
anak perempuan jangan galak2."
Ah Liu cemberut tetapi si nona tersenyum Ia senang
karena bujangnya itu ketemu batunya.
"Sampai jumpa," kata nona itu seraya melangkah pergi
diikuti Ah Liu.
Huru Hara terlongong. Sebenarnya ia masih ingin
bertanya lagi. Tetapi apa boleh buat, tak-baik mengganggu
orang terutama gadis.
"Panggil seluruh kawanmu !" perintah Huru Hara kepada
pelayan Ah Sing yang masih tegak dengan tubuh gemetar.
Tak berapa lama belasan pelayan dan tukang masak
berjajar-jajar menghadap Huru Hara.
"Sebenarnya rumahmakan ini hendak kubakar," kata
Huru Hara, "tetapi mengingat kalian tentu kehilangan
pekerjaan dan orang2 masih membutuhkan adanya sebuah
rumahmakan ditempat ini maka rumahmakan ini biar tetap
buka. Siapa keluarga ciang-kui ?"
Seorang wanita gemuk maju, "Aku isterinya.”
Huru Hara terkesiap melihat tubuh wanita yang begitu
gemuk, "Hai, tukang masak," serunya, "apakah sudah lama
nyonya ini menjadi isteri majikanmu?"
"Baru dua tahun, hohan."
"Baru dua tahun? Bukankah ciang-kui itu sudah setengah
tua? Apakah dia baru menikah sekarang?"
"Tukang masak gelengkan kepala, "Sudah beberapa
kali."
"O, apakah isteri2 itu diceraikan semua?"
"Ciang-kui memang gemar menikah. Maklum dia orang
kaya, setiap kali tentu cari gadis yang masih perawan.
Biasanya dia senang mengambil gadis dari keluarga miskin,
syukur yang sudah sebatang kara."
"Lalu kemana mereka itu sekarang?"
"Mati semua!"
"Mati?"
'"Ya, paling lama tiga tahun, isteri2 itu tentu meninggal."
"Setan!"' tiba2 Huru Hara mencekik leher baju si tukang
masak, "'katakan yang jujur, apa sebab isteri2 itu mati
semua?"
'"En . . . tahlah," kata tukang masak gemetar, yang jelas
setiap isterinya tentu bertubuh gemuk.
"Dimana kubur mereka!" Huru Hara makin tegang. Ia
makin curiga.
"Setiap kali seorang isteri mati tentu ada orang yang
datang mengambil untuk dibawa pulang ke kampungnya.
Tetapi besoknya, kami tentu menerima karung berisi
potongan daging manusia .... "
"Setan engkau . . . ! " tiba2 karena marah, Huru Hara
telah mendorong tukang masak itu. Bluk .... dorongan yang
dilakukan biasa saja itu ternyata akibatnya mengejutkan
sekalian orang. Tukang masak itu terlempar sampai dua
tombak dan tepat membentur tiang besar. Dia menjerit
ngeri dan terus rubuh lunglai karena tulang punggungnya
pecah dan nyawanya amblas.
Ngeri sekalian orang menyaksikan tenaga Huru Hara
yang sakti itu. Kawanan tukang masak dan pelayan2
rumahmakan itu serta merta berlutut minta ampun,
"Hohan, ampunilah jiwa kami. Kami benar2 tak tahu
tentang perbuatan majikan kami.”
Huru Hara berkata kepada isteri ciang kui, "Hm, untung
engkau tak keburu dijagai oleh suamimu!
Perempuan itupun berlutut menghaturkan terima kasih.
Huru Hara memberi perintah supaya rumah di kebun
belakang itu dibakar dan semua alat2 dan perabot dapur
dibuang, diganti baru
"Nyonya, engkau boleh melanjutkan usaha rumahmakan
ini. Tetapi ingat, kalau lain kali aku datang kemari, kalian
masih melakukan perbuatan terkutuk itu, kalian semua
akan kubunuh!"
Isteri pemilik dan segenap karyawan rumahmakan
berlutut dan berjanji akan melaksanakan perintah Huru
Hara.
"Paman, mari kita pergi!" Huru Hara terus melangkah.
Tetapi dia terkejut ketika di jalan tampak beberapa orang
yang siap bertempur. Dan lebih terkejut ketika yang akan
bertempur itu ada lah nona bercadar beserta bujangnya Ah
Liu. Nona dan bujangnya itu dihadang oleh tiga orang
lelaki. Salah seorang adalah yang marah kepada Ah Liu dan
hendak melemparkan dara itu tetapi sebelum sempat
melaksanakan niatnya, tiba2 tangannya melentuk tak dapat
digerakkan tadi.
Huru Hara dan Cian-li-ji cepat menghampiri, "Nona,
kenapa ini?" tegurnya.
"Menyingkirlah, ini bukan urusanmu!" bentak nona
bercadar itu.
"Hayo, kasih tahu namamu. Aku tak pernah membunuh
seorang tanpa nama apalagi seorang budak perempuan,"
seru lelaki yang mukanya tersiram bubur tadi.
"Apa tujuanmu menghadang aku? Hendak mengajak
bertempur atau tanya nama?" sahut si nona bercadar.
"Hm, jangan kira aku tak tahu ilmu kepan daianmu Tanci-
sin-kang itu," seru orang itu pula, "tetapi mengapa tanpa
hujan tanpa angin engkau menyerang aku dengan ilmu itu?"
"Nona ini," sahut si nona bercadar, "adalah kawanku.
Mengapa hendak engkau lemparkan semaumu sendiri
saja?"
"Dia menabrak mejaku sehingga mukaku sampai
terlumur bubur panas.""
"Tapi dia tak sengaja. Dia juga terdorong ke belakang!'"
"Siapa yang mendorongnya?"
"Tak perlu cari lain urusan. Batasi saja sampai persoalan
kawanku ini!"
"'Hm, anak perempuan, jangan bicara seenakmu
terhadap aku. Tahukah engkau siapa kami bertiga ini?"
"Tak ada gunanya mengetahuinya!"
"Hm, rupanya engkau menganggap dirimu sudah jagoan
yang tiada tanding," kata lelaki itu, "aku bersedia
menghabiskan perkara ini dengan dua syarat."
"Terserah."
"Budak perempuan itu harus berlutut dihahapanku minta
maaf Dan kedua, engkau harus membuka kain cadar dan
memperlihatkan wajahmu yang sebenarnya!"
"Kentut busuk!"' tiba2 Ah Liu berteriak, "siapa sudi
minta maaf kepadamu?''
"Hm, budak liar, kalau tak merasakan tanganku, engkau
tentu masih nengil," tiba2 salah seorang dari ketiga lelaki
itu, melangkah maju.
Rupanya Ah Liu juga panas hatinya karena dimaki
budak liar itu. Dia loncat menyongsong ke muka. "Huh,
engkau mau menghajar aku ? Akan kurobek mulutmu yang
lebar itu !"
Memang orang itu bermulut lebar, hidung mekar dan
mata besar dengan alis lebat. Dia bernama Ciok Kui
bergelar si Tangan- bubrah. Dia berlatih ilmu Thiat-satciang
atau pukulan Pasir-besi. Kalau pukulannya mengenai,
tubuh lawan tentu mlonyoh seperti dibakar. Dan kalau
mencengkeram, tubuh lawan yang dicengkeram itu akan
rusak atau bubrah. Tak diketahui berasal dari perguruan
mana, hanya yang jelas dia. seorang tokoh hitam yang
terkenal di daerah utara.
Nona bercadar terkejut. Namun untuk mencegah sudah
tak keburu lagi. Diam2 dia bersiap untuk memberi
pertolongan di saat yang diperlukan, "Hm, budak itu
memang bernyali besar. Tetapi dia memang berbakat dan
giat sekali berlatih silat," katanya dalam hati.
"Setan engkau !" Ciok Kui terus loncat menerkam, la
ingin dara itu menangkis dan pada saat itu dia hendak
merobah menjadi cengkeraman.
"Bagus mulut besar," seru Ah Liu seraya song-songkan
tangannya menangkis.
"Budak edan," maki Ciok Kui dalam hati. Cepat dia
tebarkan tangan hendak mencengkeram.
"Uh......," tiba2 dia menjerit kaget ketika tiba2 Ah Liu
juga menebarkan tinju, telunjuk jarinya menutuk telapak
tangan lawan.
Di tengah telapak tangan terdapat sebua jalandarah yang
disebut Lau-kiong-hiat. Apabila jalandarah itu tertutuk,
tentu tenaga ilmu kepandaiannya akan merana alias hapus.
Itulah sebabnya maka Ciok Kui menjerit dan loncat
mundur.
"Ih, mengapa mundur ?" ejek Ah Liu seraya
menertawatakan.
Ciok Kui marah sekali. Dihadapan kedua kawannya,
dalam gebrak pertama saja dia sudah hampir menderita
kerugian dari seorang dara yang tak dikenal. Dengan
sebuah gerak Tok-coa-tho-sin atau Ular-beracunmenjulurkan-
lidah, kedua tangannya bergerak cepat.
Tangan kanan memagut (menutuk) mata Ah Liu dan
tangan kiri meremas buah dada.
"Bajingan !" teriak Ah Liu karena marah atas perbuatan
lawan yang cabul
itu. Dengan
berani, dara itu
menggunakan
jurus Kim-tiau
tian-ki atau
Elang-emasmerentangsayap.
Secepat
kilat dia menebas
tangan lawan
yang hendak
menutuk
matanya.
Tetapi Ciok
Kui juga hebat.
Ternyata
gerakan
tutukannya itu
hanya suatu
siasat. Secepat
Ah Liu hendak
menebas, diapun segera mengganti pukulan dengan
cengkeraman, menerkam tangan Ah Liu.
Ah Liu terkejut. Cepat dia mengirim tendangan. Uh.....,
Ciok Kui masih dapat berkisar ke samping dan kini
melanjutkan cengkeramannya ke bahu dara itu.
Dalam kedudukan kaki kanan sedang menendang dan
bahu terancam terkaman Ah Liu ternyata masih dapat
meloloskan diri.
"Ah....." mulut Ciok Kui mendesis kejut ketika tubuh
dara itu melambung ke belakang dalam jurus Kek-cu-hoansim
atau Merpati-membalik-tubuh. Dara itu melakukan
sebuah gerak salto ke belakang dengan indah sekali.
"Hm, ilmu gin-kangnya maju sekali," kata nona bercadar
dalam hati ketika menyaksikan gerakan Ah Liu.
Kini kedua orang itu terlibat lagi dalam serangmenyerang
yang hebat. Ciok Kui memang hebat sekali.
Pukulannya keras dan memancarkan hawa panas. Tetapi
betapapun dia hendak menyerang namun tetap tak mampu
menyentuh tubuh Ah Liu. Dara itu bergerak gesit sekali.
Ciok Kui makin marah. Dia malu sekali dihadapannya
kedua kawan, tak mampu mengalahkan seorang dara saja.
Apabila hal itu sampai tersiar keluar, dia tentu tak dapat
berdiri lagi dalam dunia persilatan.
"Budak perempuan ini harus kuhancurkan," Ciok Kui
membulatkan keputusan dan segera dia salurkan tenagadalam
ke tangannya.
"Ah Liu, awas, dia mengeluarkan pukulan beracun,
jangan ditangkis," nona bercadar cepat berseru memberi
peringatan kepada Ah Liu sesaat melihat telapak tangan
Ciok Kui berwarna merah.
Ah Liu memang memperhatikan juga telapak tangan
lawan yang kemerah-merahan itu. dia segera merobah
permainannya dan mengeluarkan ilmusilat Co-kut-hun-kinkang
atau pukulan Menggeser- tulang- mencerai- urat.
Lelaki yang beralis tebal dan tubuh tegap, segera berseru
pelahan, "Ah, ilmu pukulan Co-kut-hun-kin-kang dari
perguruan Kun-lun-pay."
Namun dia tak mau memberi peringatan kepada
kawannya yang sedang bertempur itu. Dia segan untuk
menyinggung perasaan orang. Begitu pula dia takut
ditertawakan Ah Liu karena memberitahu kepada
kawannya.
Sedangkan si nona bercadar juga diam2 ter kejut, "Ah,
budak itu baru setengah tahun kuberi ajaran ilmu itu. Dia
tentu belum mahir."
"Mampus engkau!" bentak Ciok Kui seraya menghantam
kepala Ah Liu. Tetapi seketika itu diapun mendesuh kaget
ketika Ah Liu menghindar kesamping dan sebelum ia
sempat merobah kekedudukannya, tiba2 ia rasakan iga
dibawah ketiak kanan tertusuk benda dan seketika itu
rasanya seperti terkena aliran listrik sehingga lengannya
mengencang kaku tak dapat digerakkan. Plak .... plak ....
Terdengar dua buah tamparan. Yang satu berasal dari
tangan Ah Liu yang menampar si mulut lebar Ciok Kui
sehingga dua buah giginya rontok. Tetapi berbareng itu
lelaki beralis tebal tadipun sudah loncat dan menampar
bahu Ah Liu sehingga Ah Liu terhuyung-huyung beberapa
langkah.
"Bangsat, engkau curang!" sesosok tubuh serempak
melayang ke tengah medan dan menuding lelaki beralis
tebal itu.
"Ho, kalau aku benar2 mau menghantar kawanmu itu,
dia tentu sudah remuk. Aku hanya menampar bahunya
supaya jangan keliwat menghina kawanku," sahut lelaki
beralis tebal itu.
Cian-li ji terkejut ketika melihat Ah Liu sempoyongan
dan jatuh terduduk di tanah. Cepat dia menghampiri
hendak memberi pertolongan, "Anak perempuan,
minumlah arakku ini menyodorkan botol araknya.
Ah Liu deliki mata lalu meram dan duduk bersila untuk
menenangkan darah dalam tubuhnya yang bergolak keras.
"Ih, budak perempuan ini memang keras kepala. Arakku
ini mengandung kolesom yang berkhasiat tinggi untuk
memulihkan tenaga," Cian-li-ji bersungat-sungut.
"Tapi jangan takut, anak perempuan," katanya pula,
"kalau engkau menampik arakku, berarti engkau suruh aku
membalaskan kekalahanmu kepada orang itu. Baiklah....."
tanpa menunggu jawaban, kakek kate itu terus maju ke
tengah gelanggang. Karena lelaki beralis tebal sudah
berhadapan dengan si nona bercadar maka dia mencari
lelaki yang mukanya berlumur bubur hangat tadi.
"Hayo, engkau harus menerima tamparanku," teriak
Cian-li-ji terus maju menampar. Sudah tentu orang itu
marah. Dia menghindar dan balas menyerang.
"Bujangmu si kate itu sungguh berandalan sekali," seru
lelaki beralis tebal kepada nona bercadar.
"Dia bukan bujangku!" bentak nona bercadar.
"Lho, mengapa dia menyerang kawanku."
"Jangan banyak mulut! Biar mereka membereskan
urusannya sendiri, engkau dengan aku!" bentak nona
bercadar.
"Menilik kawanmu tadi pandai silat, engkau tentu juga
seorang li hiap. Siapa namamu?"
"Kita bertempur apa berkenalan? Kalau bertempur akan
kulayani tetapi kalau mau cari tahu nama. pergilah!"
"Baik,.. sahut lelaki itu, "'engkau tentu seorang
persilatan. Tentulah engkau pernah mendengar nama Tuihong-
pian (Ruyung angin puyuh) Gak Si Bun yang
termasyhur di dunia persilatan itu, bukan?"
"Peduli apa!"
"Akulah Gak Si Bun itu. Jika engkau kenal selatan,
lekaslah engkau menjurah dan minta maaf. Mengingat
engkau seorang gadis, akupun dapat memberi ampun.
Tetapi kalau engkau tetap berkeras kepala, hm . . . . "
"Hm, bagaimana? Kalau aku takut, masakan aku berdiri
disini!"
"Baiklah, akan kujajal sampai dimana keli-hayan murid
perguruan Kun-lun-pay itu!" seru Gak Si Bun.
Nona bercadar terkejut dalam hati namun dia tetap
bersikap tenang, "Hayo, mulailah!"
Gak Si Bun ingin menjajal dulu sampai dimana
kepandaian nona itu. Apabila memang lihay, barulah dia
nanti menggunakan pian atau ruyung.
Thui-jong-ong-gwat atau membuka-jendela-memandangrembulan
adalah jurus pembukaan yang dilakukan Gak Si
Bun. Maksudnya apabila lawan bergerak, dia terus hendak
mengganti dengan lain jurus.
Tetapi ternyata nona beicadar itu tenang2 saja. Terpaksa
Gak Si Bun lanjutkan serangannya. Tepat pada saat tangan
Gak Si Bun hampir menyentuh dada lawan, nona bercadar
itu kisarkan tubuh dan secepat kilat menujuk jalandarah
Jiok-ti-hiat pada persambungan lengan orang.
"Uh……..,” Gak Si Bun terkejut dan cepat menarik
lengannya. Tetapi dia tetap rasakan lengan kanannya
kesemutan, "Tan-ci-sin-kang ..." serentak dia teringat akan
ilmu tutukan jari sakti dari nona itu. Kawannya yang
mukanya terpopok bubur panas tadi, juga menderita ilmu
Tan-ci-sin-kang dari nona bercadar itu.
Tan-ci-sin-kang atau selentikkan jari sakti, merupakan
gerakan jari yang dilambari dengan tenaga-dalam. Jika Biatgong-
ciang atau pukulan membelah-angkasa, merupakan
pukulan tenaga-dalam yang dilontarkan dari jauh, pun ilmu
Tan-ci-sin-kang itu merupakan tutukan jaii dari jarak jauh.
Walaupun nona bercadar itu belum mencapai tataran
tinggi dalam ilmu Tan-ci-sin-kang, tetapi karena jaraknya
begitu dekat, walaupun tidak mengenai lengan tetapi
anginnya cukup tajam sehingga membuat jalandarah Jiokti-
hiat lengan Gak Si Bun kejang.
"Masih dilanjutkan ?" dengus si nona bercadar.
Marah wajah Gak Si Bun. Dia lengah dan agak
memandang rendah pada si nona bercadar akibatnya dalam
gebrak pertama saja dia sudah menderita kerugian. Lengan
kanannya lunglai.
"Ya," sahutnya seraya mencabut ruyung dari
pinggangnya. Ruyung itu lemas seperti ikat pinggang tetapi
setelah digentakkan maka menjadi panjang sampai
setombak panjangnya, Ruyung itu terdiri dari tujuh ruas.
diberi alat yang dapat menyurut dan menjulur. Jit-aat-tuihong-
jjian atau Ruyung-angin-puyuh-tujuh-ruas, demi kian
nama ruyung itu. Terbuat dari baja lemas yang tahan
ditabas senjata tajam.
Nona bercadar itu terkesiap. Dari gurunya ia mendapat
pengetahuan bahwa ruyung itu merupakan senjata lemas
yang amat berbahaya. Orang yang menggunakan senjata
ruyung tentu memiliki tenaga-dalam yang hebat. Nona itu
pun segera mencabut pedangnya.
Sring.... mulailah ruyung berhamburan melayang kearah
nona bercadar. Anginnya memancarkan bunyi yang
mendesing tajam sekali. Dalam beberapa saat saja nona
bercadar sudah terkurung oleh sambaran ruyung. Memang
sesuai sekali ilmu permainan ruyung Tui-hong-pian itu
dengan kenyataannya.
Nona bercadar itupun tak berani lengah. Dia segera
keluarkan permainan ilmupedang simpanannya yang
disebut Hui-eng-hwe-suan-kiam-hwat atau ilmupedang
Burung Elang-berputar-melayang-layang.
Pedang memang merupakan senjata yang paling sukar
dipelajari tetapipun paling berbahaya. Ilmupedang Burungelang-
berputar-melayang-layang itu mengutamakan
kelincahan dan kecepatan. Waktu dimainkan oleh nona
bercadar maka tampaknya segulung sinar putih yang
berputar-putar menyambar kian kemari, merobek-robek
kepungan sinar ruyung.
"Bagus, bagus !" seru Cian-li-ji sembari bertepuk tangan
memuji adegan pertempuran itu.
"Apanya sih yang bagus ?" lengking Ah Lui
"Pertempuran itu," sahut Cian-li-ji, "tetapi sayang....."
"Apanya yang sayang ?" kembali Ah Liu meladeni
ocehan Cian-li-ji.
"Gerakan nona kawanmu itu masih kurang cepat," kata
Cian-li-ji.
"Uh, ngomong sih gampang saja," gumam Ah Liu, "coba
kalau melakukan sendiri, apakah engkau mampu lebih
cepat dari nonaku ?
"'Bisa mengatakan tentu bisa melakukan," sahut Cian-liji.
"Uh, tak percaya !"
"Apa ? Engkau tak percaya padaku ? Coba katakan, akan
kutampar muka mereka. Coba engkau pilihkan yang mana
?"
Ah Liu memang seorang dara yang lincah dan suka
mengolok orang. Sejak di rumahmakan tadi, dia belum
sempat melihat ilmu gerak-cepat dari Cian-li-ji. Maka
diapun segera berkata, "Tuh, coba yang mukanya terpopok
bubur panas tadi. Tamparlah pipi kanan kirinya kalau
engkau mampu !"
"Lihat.....," tiba2 Cian-li-ji melesat. Lelaki yang mukanya
terpopok bubur itu bernama Tian Wi, seorang murid
peiguruan Ceng-shia-pay. Dia terkejut ketika tahu2 sesosok
bayangan kecil menyambarnya. Sebelum dia sempat
berbuat apa2, tahu2 plak.... pipi kanan dan kiri, telah
ditampar sekeras-kerasnya.
"Auh…….,” dia menyurut mundur beberapa langkah.
"Hi, hi, hi . . . .," Ah Liu tertawa mengikik melihat Tian
Wi menderita kesakitan itu.
"Bagaimana ? Engkau percaya atau tidak ?" seru Cian-liji
dengan bangga.
"Ih ……..,” tiba2 ditengah gelanggang terdengar si nona
bercadar mendesis kejut dan loncat ke belakang dalam
keadaan terpontang-panting.
"Celaka !" Ah Liu berteriak seraya terbeliak memandang
keadaan nonanya.
Cian-li-ji terkejut dan berpaling. Dia pun kaget sekali
melihat Gak Si Bun sedang maju dan ayunkan ruyungnya
kepada nona bercadar yang masih berdiri tegak.
Serentak dia loncat, wut.....Tetapi saat itu juga, Huru
Harapun sudah melayang ke tengah gelanggang dan
menangkis dengan tongkatnya.
Plak.....
Pada saat ruyung tertahan tongkat, tiba2 pipi Gak Si Bun
ditampar orang. Sebenarnya saat itu Gak Si Bun hendak
menarik ruyungnya yang melilit tongkat Huru Hara tetapi
karena pipinya ditampar, kepalanya agak puyeng dan mata
berkunang-kunang dan uh.....ia tersentak kaget ketika
ruyung terlepas dari tangannya.
"Nih, ruyungmu!" seru Huru Hara seraya melemparkan
ruyung yang terlilit pada tongkatnya.
Tamparan Cian-li-ji dan tangkisan tongkat Huru Hara
yang setelah diliIit ujung ruyung terus ditariknya itu,
hampir berbareng waktunya. Ketika sadar, Gak Si Bun
terkejut. Tetapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Huru
Hara sudah melemparkan ruyung kepadanya. Terpaksa dia
menyambuti. Setetah tahu apa yang terjadi, marahlah dia.
"Bangsat, engkau berani, turut campur !" teriaknya
seraya ayunkan ruyung menyerang Huru Hara. Tetapi
sebelum Huru Hara sempat bergerak, nona bercadarpun
sudah melesat menyerang Gak Si Bun.
Pertempuran antara nona bercadar dengan Gak Si Bun
berlangsung lagi dengan seru. Tadi Gak Si Bun berhasil
mencuri sebuah kesempatan untuk menghantam bahu nona
bercadar dengan tangan kanan. Tangan kanannya yang
tertutuk ilmu Tan-ci-sin-kang tadi sudah dapat digerakkan
lagi.
Sekonyong-konyong terdengar derap kuda berlari
mendatangi dan pada lain saat muncullah dua penunggang
kuda. Yang satu seorang pemuda cakap dan yang satu
seorang imam tua. Imam tua itu tak lain adalah imam yang
masuk kedalam rumahmakan dan dengan pura2 melerai,
dia telah membunuh ciang-kui dan lelaki kasar.
"Hai, berhenti Gak sucia !" seru pemuda cakap itu.
Gak Si Bun kenal dengan suara pemuda itu. Cepat dia
loncat mundur. Nona bercadarpun berhenti.
"Ai, nona Su," seru pemuda itu seraya turun dari
kudanya, "mengapa kalian ini ?" kemudian dia berpaling
kearah Gak Si Bun, Gak sucia, apakah engkau bertempur
dengan Su sio-cia?"
"Ya," sahut Gak Si Bun pelahan.
"Ah, untung aku datang," seru pemuda itu pula, "kalau
tidak tentu akan timbul peristiwa yang hebat."
"Mengapa begitu ? Siapakah nona itu ?" tanya Gak Si
Bun terkejut.
"O, apakah anda belum tahu ?" Gak Si Bun gelengkan
kepala, "Dia adalah nona Su Tiau Ing, puteri dari Su Go
Hwat tayjin....."
"Hai !” teriak Gak Si Bun terkejut, “puteri Peng-pohsiang-
si Su Go Hwat tayjin ?"
"Engkau ini bagaimana Gak sucia," keluh pemuda itu,
"masakan engkau tak tahu ?"
"Maaf, Ma kongcu," kata Gak Si Bun, "tugasku adalah
berkeliling kedaerah-daerah. Dan pula Su tayjin juga akhir2
ini jarang berada di kota raja. Aku benar2 tak tahu kalau Su
tayjin mempunyai puteri yang begitu lihay."
"Maafkan aku Su siocia." Gak Si Bunpun memberi
hormat kepada gadis bercadar yang ternyata adalah puteri
dari Peng-poh-siang-si atau mentri pertahanan Su Go
Hvvat.
"Su siocia, paman Gak Si Bun ini adalah salah seorang
kepercayaan ayahku. "kata pemuda cakap itu
memperkenalkan Gak Si Bun.
"O, tak apalah. Kita sama2 tak tahu, maka tak salah,"
kata nona bercadar yang ternyata bernama Su Tiau Ing.
"Tetapi nona Su. apakah yang telah terjadi sehingga
sampai timbul salah faham ini?"
Su Tiau Ing menceritakan tentang peristiwa di
rumahmakan dan tentang Ah Liu yang telah membentur
meja sehingga mula Tian Wi sampai berlumur bubur panas.
"O, karena belum kenal siapa nona, maka dapat
dimaklumi kalau paman Gak Si Bun marah dan hendak
membela anakbuahnya," kata pemuda itu, "mengenai
pemilik rumahmakan, dia memang pantas dibunuh karena
telah melakukan perbuatan begitu keji."
"Aku hendak b;cara !"
Sekalian orang terkejut dan berpaling mendengar kata2
itu. Ternyata berasal dari Huru Hara.
"Nona Su, siapakah dia ? Apakah dia bersama nona ?"
tanya pemuda itu.
"Aku juga tak kenal," sahut Su Tiau Ing, "hanya dialah
yang dapat menemukan bak-pau berisi daging orang iru
sehingga dia marah."
"O," kata pemuda cakap itu, "baiklah, silakan anda
berkata," katanya kepada Huru Hara.
"Siapakah anda ini ?" tanya Haru Hara.
"Aku Ma Sun, putera tay-hak-su Ma Su Ing!" kata
pemuda itu dengan nada bangga. Ia menjura setelah
mendengar namanya itu temulah Haru Hara akan buru2
memberi hormat. Tetapi ternyata pemuda itu tenang2 saja
dan melanjutkan pertanyaan, "Dan siapakah imam itu?"
"O, inilah Hun Hun tojin, salah seorang tokoh dari Samto
(tiga serangkai imam) yang termasyhur itu," kata Ma
Sun.
"Baik," kata Huru Hara, "mengapa dia membunuh
pemilik rumahmakan dan lelaki kasar dalam ruang
rumahmakan tadi?"
Ma Sun berpaling kepada Hun Hun tojin dan tojin
itupun segera menyahut, "Aku hanya melerai mereka.
Semua tetamu menyaksikan hal itu."
"Benar, tetapi engkau telah menyalurkan tenagadalammu
untuk menghancurkan jantung mereka," kata
Huru Hara.
"Ah, tidak……..”
"Memang tidak kentara caramu memancarkan ilmu
tenaga-dalam jenis Siu-lo-im-sat-kang untuk membunuh
mereka itu. Tetapi mengapa engkau lancang membunuh
mereka?"'
"Tetapi aku benar2 tak membunuh mereka," bantah
imam itu.
"Rupanya engkau tentu mempunyai maksud tertentu,"
seru Huru Hara.
"Jangan menuduh sembarangan!" kata Hun Hun tojin,
"perlu apa aku harus membunuh mereka?"
"Sebenarnya saat itu aku sedang menyelidiki siapakah
yang memesan dua lusin anak perempuan dan anak laki
kepada ciang-kui itu. Belum mereka memberi keterangan
tahu2 engkau sudah membunuh mereka. Bukankah ergkau
memang sengaja hendak melenyapkan mulut mereka?"!
"Jangan memfitnah !" bentak Hun Hun tojin dengan
muka merah, "siapa engkau ini ?"
"Aku yang bertanya, engkau yang menjawab!"
"Bu-liang siu-hud," seru Hun Hun tojin, “besar sekali
lagak orang ini. Apa maksudmu?"
"Engkau harus menjawab pertanyaanku tadi!"
"Harus ? Ha, ha, ha ....," Hun Hun tertawa ngakak," Ma
kongcu, tidakkah dunia ini sudah gila ? Seorang manusia
yang aneh, telah mengharuskan orang kepercayaan tayhaksu
Ma Su Ing untuk menjawab pertanyaan....."
"Sudahlah hwatsu, tak perlu melayani orang itu," kata
Ma Sun lalu berkata kepada Su Tiau Ing si nona bercadar,
"Ing-moay, mau kemanakah engkau ini ? Mari kita pulang
ke Lam-khia kurasa paman Su tentu berada di kotaraja."
"Hai, anakmuda, kalau mau pulang, pulanglah. Tetapi
tinggalkan dulu imam itu sebelum dia menjawab
pertanyaanku," seru Huru Hara.
"Bangsat, engkau berani tak menghormat ke pada Ma
kongcu putera Ma tay-haksu !" seru Hun Hun makin
marah.
"Yang berpangkat adalah ayahnya, mengapa engkau
suruh orang harus menghormat anaknya ?" balas Huru
Hara.
“'Hm, engkau ini manusia atau berandal ? Kalau
manusia tentu tahu aturan. Apakah engkau hanya mau
menghormat seri baginda tetapi tak mau menghormat
kepada puteranya para thay-swe-ya itu ?"
"Itu dalam istana. Para mentri dan ponggawa kerajaan
harus menghormat. Tetapi aku bukan ponggawa keraton
dan disinipun bukan keraton. Asal aku tak menghinanya,
itu kan sudah cukup baik. Mengapa aku harus disuruh
menghormat seperti seorang hamba keraton ?" bantah Huru
Hara.
"Dia memang benar," tiba2 Su Tiau Ing menyelutuk. Ma
Sun terbeliak. Waktu dia hendak bicara, Su Tiau Ing sudah
berpaling kepada Huru Hara, "sudahlah, tak perlu memaksa
keterangan orang. Kalau engkau memang seorang pendekar
sakti, engkau kan mampu menyelidiki sendiri hal itu.
Apalagi ciangkui itu sudah mati."
Huru Hara diam.
"Ma kongcu, silakan melanjutkan perjalanan. Akupun
hendak melanjutkan perjalananku," kata Su Tiau Ing pula.
"O, apakah Ing-moay tidak kembali ke ko-taraja ?" ^
Su Tiau Ing gelengkan kepala, "Aku hendak menemui
Ko ciangkun untuk menyampaikan pesan ayah"
"O, baiklah," kata Ma Sun. Sebenarnya dia ingin
menemani nona yang diidam-idamkannya itu. Tetapi dia
tahu perangai Tiau Ing, "kalau begitu sampai ketemu di
kotaraja."
Ma Sun segera mengajak Hun Hun tojin dan Gak Si Bun
bertiga tinggalkan tempat itu. Setelah mereka pergi barulah
Tiau Ing dan Ah Liu juga berangkat.
"Hayo, paman Cian, kita juga berangkat," kata Huru
Hara. Mereka menghampiri keretanya yang masih berada di
samping rumahmakan tadi.
Cian-li-ji membuka gerbong kereta untuk, melihat peti
yang akan diantarkan kepada jenderal Ui Tek Kong.
"Celaka!" tiba2 Cian-li-ji memekik keras, "hian-tit,
petinya hilang ....!"
"Hilang?" Huru Hara terkejut.
"Ya."
-oodwoo-
Jilid 6
Maling kemalingan
Huru Hara menghampiri dan melongok kedalam
gerbong kereta. Memang peti itu tak ada lagi.
"Engkau taruh dimana peti itu?" tegurnya.
"Eh, engkau ini bagaimana hiantit," kata Cian-Ii-ji, "sejak
kita berangkat dari biara tua itu, peti kutaruh lagi disini.
Aku berani bersumpah, waktu kita singgah di rumah
makan, peti itu masih ada."
Huru Hara kerutkan dahi, "Aneh, siapakah yang
mengambilnya?"
Cian-li-ji juga garuk2 gundulnya.
"Tetapi bukankah peti itu hanya berisi tanah?" katanya.
"Ya," jawab Huru Hara, "tetapi apapun isinya harus
kusampaikan pada jenderal Ui Tek Kong. Kalau nanti
berhadapan dengan jenderal itu, lalu apa yang akan kita
serahkan?"
"Iya, ya," kata Cian-li-ji, "eh, bukankah pundi2 uang itu
masih dibawa si pengemis tua."
"Ya, tetapi dimana dia sekarang?"
"Entahlah," kata Huru Hara, "sampai saat ini dia belum
nongol."
"Lalu bagaimana kita sekarang?" tanya Cianli-
ji-
"Tetap menghadap jenderal Ui."
"Lalu apa yang hendak engkau serahkan?"
"Surat dari jenderal Ko Kiat dan keterangan tentang
hilangnya peti itu di jalan."
"Ya, benar," Cian-li-ji mengangguk tetapi pada lain saat
dia mendelik, "goblok engkau! Dengan memberi laporan
itu, engkau pasti akan dihukum."
"Tetapi aku dapat menerangkan kalau peti itu hanya
berisi tanah."
"Ya, ya, benar," kata Cian-li-ji pula. Tetapi pada lain saat
dia mendelik lagi, "tolol engkau! Dia tentu tak percaya dan
engkau tentu tetap dihukum."
Huru Hara terdiam. Beberapa saat kemudian dia
mengajak lagi, "Sudahlah, paman Cian, mari kita
berangkat."
"Lalu bagaimana nanti?"
"Dalam perjalanan kita nanti cari pikiran. Kalau
terpaksanya kita bilang saja apa adanya."
Demikian keduanya segera berangkar. Menjelang sore
hari tibalah mereka di kota Co ciu.
Ketika hendak menuju ke gedung Jenderal Ui Tek Kong,
di tengah jalan muncullah Wi sin-pay, "Hian-tit, inilah
kantong pundi- uang iiu."
"O, dari manakah paman selama ini? Mengapa sejak di
biara tua, paman terus pergi?" tegur Huru Hara. '
"Ah, - banyak pekerjaan," pengemis tua Wi sin-kay
tersenyum, "yang penting serahkan dulu pundi2 uang ini
nanti kuceritakan apa yang kualami."
"Apakah paman tidak ikut serta menghadap jenderal
Ui?"
"Wi sin-kay tertawa mengangkat bahu, "Yang jadi
utusan jenderal Ko adalah engkau. Masakan aku harus ikut.
Lebih baik aku menunggu di luar saja."
"Kalau begitu, aku juga," seru Cian-li-ji.
Huru Hara menganggap karena sudah membawa pundi2
uang maka tentulah takkan terjadi suatu apa apabila dia
menghadap jenderal Ui Tek Kong. Maka diapun
menyetujui keinginan kedua orang itu.
Tiba di pintu gerbang, dia disambut penjaga pintu yang
bersenjata.
"Aku mau menghadap jenderal Ui," kata Huru Hara,
"aku utusan jenderal Ko Kiat untuk me nyampaikan barang
sumbangan." ,
“Penjaga itu kerutkan dahi, "Tetapi saat ini jenderal
sedang menerima tetamu penting."
"Tetapi aku juga penting," bantah Huru Hara, "tulung
laporkan kehadapan jenderal Ui."
Penjaga itu setuju. Dia masuk dan tak berapa lama
keluar lagi, "Baik, jenderal mengidinkan engkau
menghadap."
Waktu dibawa masuk, Huru Hara terkejut karena dalam
gedung jenderal itu terdapat sebuah peti mati dan meja
sembahyangan yang penuh dengan berbagai hidangan.
"Hm, rakyat menderita kelaparan, sebaliknya orang mati
diberi makan sampai sekian banyak," pikir Huru Hara.
Tiba2 dia teringat, kalau Cian-li-ji ikut masuk, akan
disuruhnya untuk mengambil sam sing yang terdiri dari
kepala babi, ingkung itik dan ayam.
Huru Hara dibawa masuk ke ruang dalam. Ia terkejut
ketika disitu terdapat dua orang lelaki setengah baya. Yang
satu bertubuh tegap dan yang seorang bertubuh kurus
seperti seorang sasterawan.
"Hamba utusan dari jenderal Ko Kiat untuk
menghaturkan surat kehadapan jenderal," kata Huru Hara.
"Baik, serahkan," kata lelaki bertubuh tegap atau jenderal
Ui Tek Kong.
Setelah menerima surat dari Huru Hara maka jenderal
Ui lalu membacanya. Ia tersenyum dan berkata kepada
lelaki bertubuh kurus, "Jenderal Ui telah menghaturkan
maaf dan pernyataan ikut berdukacita atas meninggalnya
ibuku. Terima kasih Su tayjin."
Lelaki kurus yang disebut Su tayjin itu ternyata adalah
Su Go Hwat, mentri pertahanan kerajaan Beng. Dia
tersenyum, "Aku gembira karena jenderal Ko mau
mendengar kata. Dan kuharap peristiwa itu selesai, anda
dapat rukun lagi dengan jenderal Ko dan lain2 jenderal. Ini
penting sekali bagi arti perjuangan kita menghadapi
pasukan Ceng."
"Baik, tayjin," kata jenderal Ui. Kemudian dia beralih
pertanyaan pada Huru Hara, "Siapakah namamu?"
"Hamba Loan Thian Te."
"Loan Thian Te? Aneh, nama itu berarti dunia kacau
atau mengacau dunia."
"Benar," sahut Huru Hara.
"Aneh." gumam jenderal Ui, "banyak nama yang bagusbagus
mengapa engkau memilih nama begitu?"
"Hamba tidak memilih, jenderal. Tetapi orangtua hamba
yang memberinya."
Jenderal Ui mengangguk, "Apakah engkau orang
kepercayaan jenderal Ko?"
"Tidak," sahut Huru Hara, "hamba hanya disuruh
mengantarkan barang antarannya saja."
"Sebenarnya tindakan itu tidak benar, bisa dianggap
lancang. Tetapi karena tepat, maka engkau kuampuni."
"Ya," seru Su Go Hwat pula, "engkau telah membeli hati
rakyat kepada kita. Rakyat pasti akan setia dan membantu
pasukan Beng."
Huru Hara tercengang mendengar keterangan kedua
pembesar itu.
"Loan Thian Te, serahkan surat balasanku ini kepada
jenderal Ko," seru jenderal Ui, "dan kalau tak ada lain
persoalan lagi, engkau boleh pulang."
Huru Hara menyambuti sepucuk surat dari jenderal itu
tetapi dia masih terlongong-longong seperti orang heran.
"Eh, mengapa engkau teilongong seperti orang heran?"
tegur jenderal Ui.
"Hamba tak mengerti akan ucapan jenderal tadi."
"Aku sudah tahu tindakanmu membagi-bagikan uang
sumbangan jenderal Ko itu kepada rakyat yang kelaparan.
Tak apa. Su tayjin juga menyetujui tindakanmu itu."
"Kecuali surat, hambapun hendak menyerah kan uang
sumbangan dari jenderal Ko kehadapan jenderal disini."
"Eh, engkau ini bagaimana?" jenderal Ui ler tawa,
"bukankah uang itu sudah engkau bagi-bagikan kepada
rakyat miskin yang sedang menderita kelaparan?"
Huru Hara terkejut, "Bagaimana jenderal tahu hal itu?"
"Pagi tadi beratus-ratus rakyat menghadap kemari untuk
menghaturkan terima kasih kepadaku atas pertolongan yang
kuberikan kepada mereka."
"Ah "Huru Hara mengeluh.
"Kenapa engkau menghela napas ?"
"Karena hamba masih membawa pundi2 uang itu dan
hendak hamba serahkan kepada jenderal."
"Ah, jangan bergurau," kata jenderal Ui.
"Tidak, hamba tidak bergurau. Pundi2 uang itu masih
hamba simpan dalam kereta diluar gedung ini."
"Ah, mungkin engkau sedang sakit kepala atau mungkin
sedang merasa bermimpi. Jelas uang dari jenderal Ko itu
sudah engkau bagi-bagikan kepada rakyat yang kelaparan,
mengapa engkau masih membawa pundi2 uang itu ?"
"Tidak, jenderal. Pundi2 itu masih hamba bawa. Apakah
jenderal mengidinkan hamba ambil pundi2 itu ?"
"Ya," jenderal Ui mengangguk.
Huru Hara segera keluar. Tetapi alangkah kejutnya
ketika ia mendapatkan pundi2 itu kosong isinya, "Celaka,
mengapa uang itu lenyap ?"
Dia terus keluar dari gedung untuk mencari Cian-li-ji dan
Wi sin-kay tetapi kedua orang itu tak tampak batang
hidungnya.
"Gila, kemanakah kedua orang itu ? Mereka mengatakan
hendak menunggu aku disini tetapi mengapa mereka tak
kelihatan ?" Huru Hara heran. Dia mulai gelisah bagaimana
dia harus mengatakan kepada jenderal Ui nanti. Apa boleh
buat, dia membawa pundi2 kosong itu masuk lagi kedalam
gedung jenderal Ui.
Jenderal Ui tertawa melihat Huru Hara tergopoh-gopoh
masuk menghadapnya, "Bagaimana?" tegurnya.
"Jenderal Ui, maaf, inilah pundi2 uang dari jenderal Ko
yang hamba bawa. Tetapi ternyata isinya sudah n a bis ... ."
"Tentu saja karena sudah engkau bagi-bagi kan kepada
rakyat kelaparan," kata jenderal Ui.
"Tetapi jelas uang itu tadi masih lengkap .... "
"Sudahlah," kata jenderal Ui seraya memerintahkan
pengawal untuk mengantarkan Huru Hara keluar.
Waktu melalui meja sembahyangan, Huru Hara melirik,
uh .... ia terkejut karena melihat kepala babi, ingkung itik
dan ayam lenyap Juga beberapa macam hidangan ikut
amblas. Tetapi dia diam saja.
Setiba diluar gedung, dia terus mencari Cian-li-ji dan Wi
sin-kay. Hah .... ternyata kedua orang itu sedang duduk
dibawah pohon asyiki menghadapi hidangan.
"Gila ! Itulah kepala babi, itik dan ayam di meja
sembahyangan tadi," teriak Huru Hara.
"Ya, memang," sahut Cian-h-ji, "kenapa?"
"Itu kan untuk sembahyangan arwah mama dari jenderal
Ui, kenapa kalian ambil?''
"Mama jenderal itu kan sudah tua, masa makannya
begitu banyak," sahut Cian-li-ji," lebih baik untuk kita atau
diberikan kepada rakyat yang kelaparan."
"Bagaimana kabarnya waktu engkau menghadap
jenderal Ui tadi ?" Wi sin-kay mengalihkan pertanyaan.
"Aneh," kata Huru Hara lalu menceritakan peristiwa
yang dialaminya," mengapa pundi2 uang itu kosong ?"
"Jangan heran," kata Wi sin-kay, "uangnya telah
kuambil, Nanti kita bagi-bagikan kepada rakyat yang
menderita kelaparan."
Huru Hara terkejut tetapi ketika mendengar keterangan
terakhir dari pengemis itu, diapun agak tenang. Namun ia
tetap heran mengapa pengemis itu berbuat begitu,
"Bukankah aku malu kepada jenderal Ui?"
Wi sin-kay tertawa, "Apakah jenderal itu marah
kepadamu ?"
Huru Hara gelengkan kepala.
"Bukankah jenderal Ui dan Su tayjin memuji
tindakanmu ?"
Huru Hara terkesiap, "Mengapa paman tahu?"
"Tentu saja tahu, karena semua itu aku yang
merencanakan."
Pengemis itu lalu menceritakan apa yang telah
dilakukan. Karena mendengar mentri pertahanan Su Go
Hwat datang ke Co-ciu untuk sekalian menyatakan ikut
berdukacita atas meninggalnya mama jenderal Ui, maka dia
mengerahkan rakyat supaya berbondong-bondong
menghadap jenderal Ui Tek Kong untuk menghaturkan
terima kasih karena jenderal itu telah memberi sumbangan
berharga menolong rakyat yang sedang menderita
kelaparan.
"Kuperhitungkan jenderal Ui tentu terpaksa menerima
kenyataan itu karena malu hati terhadap Su tayjin. Su tayjin
seorang mentri yang jujur dan sangat memperhatikan
keadaan rakyat," kata Wi sin-kay, "dan ternyata
perhitungan itu tepat. Maka tak mengherankan waktu
engkau menghadap jenderal Ui, engkau bertemu juga
dengan Su tayjin yang ikut memuji tindakanmu."
"Ah," Huru Hara menghela napas, "mengapa paman tak
bilang kepadaku ?"
"Kalau engkau sudah tahu, engkau tentu bersikap
tenang2 saja dan hal itu mungkin akan menimbulkan
penilaian lain dari jenderal Ui dan Su tayjin."
"Penilaian lain bagaimana ?" .Huru Hara tak mengerti.
"Watak Su tayjiu itu jujur, dia tentu menyukai orang
jujur. Dan sebagai seorang mentri yang luas pengetahuan
dia tentu dapat menilai engkau. Tetapi kalau engkau
bersikap tenang karena sudah tahu peristiwa itu, dia tentu
menganggap engkau seorang yang lancang berani
mendahului perintah."
Huru Hara mengangguk Kemudian dia bertanya,
"Bukankah tadi paman mengatakan hendak menceritakan
sebuah hal yang penting? Apakah itu? Apakah mengenai
rencana paman tentang uang dalam pundi2 itu?"
"Bukan," sahut pengemis sakti, "ada sebuah hal yang
penting lagi yalah mengenai hilangnya peti uang dalam
keretamu itu."
"Oh, paman tahu hal itu?" Huru Hara terkejut.
"Ya," sahut Wi sin-kay, "peristiwa itu benar2
mengejutkan sekali."
Huru Hara minta agar Wi sin-kay menceritakan saja apa
yang telah terjadi.
"Sebenarnya hal itu terjadi ketika masih berada di biara
tua. Saat itu aku tidur diluar, tiba2 muncullah sesosok
bayangan berpakaian hitam. Dia bersembunyi di balik
pohon dan melontarkan sebutir kerikil ke halaman biara.
Kutahu, itulah cara kaum ya-heng-jin (orang persilatan
yang bekerja pada malam hari) bertanya jalan. Artinya, dia
hendak mengetahui apakah penghuni rumah yang hendak
dikerjai itu sudah tidur atau belum.
Akupun pura2 tidur mendengkur . . . . "
"Setelah mendapat kepastian kalau kita sudah tidur,
barulah orang itu bergerak. Ternyata dia menghampiri
kereta dan membongkar peti. Diam2 aku
menertawakannya. Apanya sih yang akan diambil. Kalau
mau ambil tanah itu silakan saja, kataku dalam hati.
Ternyata orang itu menurunkan peti dan setelah membuka
tutupnya lalu menuang tanahnya. Dia mengaduk-aduk
tanah itu beberapa saat dan tiba2 ia mengambil segunduk
tanah yang kempal, sebesar kepala bayi. Matanya berkilatkilat
dan dengan cepat dia mengupas perongkolan tanah itu.
Serentak matanyapun bersinar terang ketika melihat benda
yang berada dalam perongkolan tanah itu. Benda itu
sebesar gelas dan berbentuk seperti singa. Cepat dia
memasukkan benda itu kedalam baju lalu cepat2
mengembalikan lagi tanah kedalam peti dan ditaruh
kembali kedalam gerbong kereta."
"Aku segera mengikuti orang itu .... "
"Siapakah dia?" tukas Huru Hara.
"Dia memakai kerudung muka sehingga tak kelihatan
siapa orangnya," kata Wi sin-kay, "tetapi baru lebih kurang
sepuluh li, tiba2 muncul seorang yang juga memakai tutup
muka."
"O, kawannya?"
"Bukan,"' kata Wi sin-kay, "orang itu ternyata hendak
menghadangnya. Berikan Giok-say itu kepadaku, seru
orang kedua. Tetapi orang pertama menyangkal, "Giok-say
apa?"
"Hm, jangan kira aku tak tahu perbuatanmu. Lekas
berikan sebelum kubongkar semua rahasiamu!" seru orang
kedua.
"Jangan jual gertak kosong!" seru orang per tama, "aku
tak tahu menahu tentang Giok-say itu."
Giok-say artinya Singa Kumala.
"Baik," kata orang kedua, "karena engkau berkeras
kepala terpaksa akan kutelarjangi belangmu. Di mata orang
persilatan engkau terkenal sebagai tokoh silat yang
hartawan dan dermawan. Tanganmu selalu terbuka kepada
siapa saja. Tetapi sebenarnya engkau tak lebih dari seekor
harimau yang berselimut kulit keledai . . . . "
"Tutup mulutmu!" bentak orang pertama.
"Engkau mengorbankan gundikmu yang cantik Say-se-si
Li Li Hoa untuk mengumpan Ko Kiat agar dapat mencuri
pusaka Giok-say. Bukankah si Li Hoa itu menyelundupkan
Giok-say itu kedalam peti yang berisi tanah yang akan
dikirim Ko Kiat kepada Ui Tek Kong?"
"Ngaco belo!" bentak oiang pertama, "mana rnungkin
seorang jenderal sebagai Ko Kiat hendak mengirim peti
berisi tanah kepada jenderal Ui Tek Kong?"
"'Soal itu tanyakan sendiri kepada Ko Kiat. Tetapi yang
jelas perbuatan Li Hoa itu sudah dikelahui Ko Kiat dan
karena disiksa akhirnya perempuan itu mengaku.”
"Tidak, aku tidak tahu tentang Giok-say itu!” seru orang
pertama.
"Li Thian Ong, sekali lagi kuperingatkan kepadamu.
Serahkan Giok say itu atau rahasia dirimu akan kubongkar,
biarlah dunia persilatan tahu siapa sesungguhnya Li Thian
Ong yang bergelar Dewa bertangan emas itu.”
"Siapa engkau!” teriak orang pertama yang dipanggil Li
Thian Ong itu.
"Dengan susah payah aku berhasil menyelidiki siapa
dirimu maka engkaupun harus menggunakan tenaga dan
pikiranmu untuk menyelidiki siapa diriku. Lekas serahkan!"
orang kedua itupun segera melayang dan menyerang Li
Thian Ong.
Akhirnya dalam pertempuran yang dahsyat dan amat
menegangkan itu, orang kedua itu berhasil menundukkan
Li Thian Ong.
"Baik, akan kuserahkan tetapi lepaskanlah
cengkeramanmu," seru Li Titian Ong yang bahunya dapat
dicengkeram lawan. Asal lawan meremasnya tentulah
tulang pi-peh-kut Li Thian Ong akan hancur dan jadilah Li
Thian Ong itu seorang cacad seumur hidup.
"Baik, aku dapat membebaskan engkau pun dapat
meringkusmu lagi. Tetapi ingat, apabila engkau curang,
pasti akan kuhancurkan dirimu !"
Orang bertutup muka itu lepaskan cengkeramannya.
Tampak Li Thian Ong merogoh kedalam bajunya dan tiba2
dia berseru, "Nih, terimalah !"
Sebuah benda sebesar kepal tangan melayang kearah
orang itu. Pada saat orang itu terkejut menyambut, tiba2 Li
Thian Ongpun loncat dan menyambar kain penutup
mukanya, "Ah, engkau.... Bu Te sin-kun ..... "
Orang yang disebut Bu Te sin-kun itu menyalangkan
mata dan tertawa nyaring, "Bagus, Li Thian Ong, engkau
berani melihat wajahku. Ketahuilah, barangsiapa melihat
wajah Bu Tek sinkun, dia harus mati !"
"Tiba2 saat itu aku mendapat pikiran.” Wi sin-kay
mengakhiri penuturannya, “aku ingin menolong Li Thian
Ong dari keganasan Bu Tek sinkun."
"Siapa Li Thian Ong dan Bu Te sin-kun itu ?" tukas Huru
Hara.
"Li Thian Ong adalah hartawan yang tinggal di Khayhong.
Dia mempunyai hubungan luas dengan kaum
persilatan dan para pembesar, Tangannya selalu terbuka
kepada siapapun yang membutuhkan pertolongan. Itulah
sebabnya maka dia diberi gelar Kim-jiu-sian atau Dewabertangan-
emas oleh dunia persilatan."
"Sedangkan Bu Te sin-kun itu," pengemis Wi sin-kay
melanjutkan pula," adalah seorang tokoh dunia persilatan
yang misterius. Tempat tinggalnya tak menentu, demikian
pula sepak terjangnya sukar diduga, entah berdiri pada
golongan putih atau hitam. Tetapi yang jelas, dia amat
bernafsu sekali mendapatkan senjata pusaka maupun kitab
pusaka. Pendeknya setiap benda pusaka, tentu akan
dirampas dan dia tak segan2 berhadapan dengan siapapun
baik tokoh dunia hitam maupun putih.
"Apakah artinya Bu Te sin-kun itu ?" tanya Huru Hara.
"Bu Te sin-kun berarti Jago sakti tanpa tanding."
"Huah, sombong benar manusia itu," desuh Huru Hara.
"Ya, benar, kalau kelak kita bertemu dengan dia, kita
harus memberi pelajaran," sambut Cian-li-ji.
"Mudah-mudahan akan terkabul keinginanmu itu,"
pengemis Wi sin-kay tertawa, "nah, dengarkanlah, aku
hendak melanjutkan ceritaku lagi."
"O, ya, baiklah," kata Huru Hara.
"Aku segera melontarkan batu kepadanya seraya berseru
'itulah Bu Te sin-kun, hayo, kita ringkus'. Serempak akupun
terus loncat keluar seraya berseru," Li Thian Oag, jangan
kuatir, aku dan kawan2 datang membantumu . . . ."
mendengar itu Bu Te sim-kun terus melarikan diri."
"Lho. katanya jago tanpa tading, mengapa melarikan diri
?" tanya Cian-li-ji.
"Pertama, dia sudah mengantongi pusaka Giok-say dan
kedua, karena dia tak mau terlihat wajahnya oleh orang
maka diapun lari meninggal kan Li Thian Ong," jawab Wi
sin-kay.
“Kepadaku," Wi sin-kay melanjutkan ceritanya, "dia
menderita luka-dalam yang cukup parah tetapi untung tak
sampai membahayakan jiwanya. Karena menduga aku
tentu sudah tahu peristiwa itu maka diapun membuka
rahasia. Menurut katanya Giok-say itu berasal dari
peninggalan Cu Goan Ciang, kaisar kerajaan Beng. Dalam
usia tua Cu Goan Ciang mendapat putera dari seorang
selirnya yang tercinta. Ia tahu bahwa putera2nya tidak
saling akur. Terutama putera mahkota amat lemah. Kuatir
kalau kelak puteranya yang masih bayi itu akan terlantar
maka dia memberikan kepada selir itu sebuah Giok-say.
Dalam Giok-say itu tersimpan sebuah peta dari harta karun
yang disimpan Cu Goan Ciang disebuah tempat rahasia.
Ternyata apa yang dikuatirkan Cu Goan Ciang itu
terbukti. Waktu dia meninggal maka kekuasaan tahta
direbut dengan kekerasan oleh saudaranya yang bernama
Cu Te. Cu Te naik tahta dan bergelar Beng-seng-cou.
Dengan tangan besi dia memerintah dan membersihkan
semua mentri yang tak setia kepadanya. Bahkan terhadap
saudaranya yang berani merintangi tentu akan diambil
tindakan. Selir tercinta baginda Beng thaycou (Cu Goan
Ciong) karena merasa tertekan lalu lolos dari keraton.
Kemudian entah berselang berapa puluh tahun kemudian,
setelah kerajaan Beng runtuh diserang pasukan Ceng, dalam
keadaan kacau balau kerajaan pindah dari kotaraja Pak-kia
ke kota Lam-kia, entah bagaimana Ko Kiat telah berhasil
merampas Giok-say itu dari tangan seorang hartawan yang
tinggal di kota Thay-goan. Demikianlah riwayat Giok-say
itu."
"O, jadi Giok-say itu tersimpan sebuah peta harta karun
peninggalan baginda Beng thaycou ?" tanya Huru Hara.
"Ya."
Huru Hara serentak teringat akan anjuran sumoaynya
agar berusaha untuk mendapatkan pekerjaan dari jenderal
Ko Kiat yang akan mengirim barang antaran kepada
jenderal Ui Tak Kong," Apakah yang dimaksud sumoay itu
yalah pusaka Giok-say itu ? Jika Giok-say itu benar
menyimpan peta harta karun, memang hal itu berguna
sekali untuk menolong rakyat dari kesengsaraan dan
membantu perjuangan kaum pendekar pejuang untuk
menentang pasukan Ceng."
"Bagaimana mencari jejak Bu Te sing-kun itu ?" tanya
Huru Hara.
"Apakah hian-tit hendak mencarinya ?"
"Ya," sahut Huru Hara tegas, "pusaka Singa-kumala itu
harus kita rebut. Jika benar berisi peta harta katun, kita
dapat menggunakan harta itu untuk rakyat yang kelaparan
dan membantu perjuangan melawan pasukan Ceng."
Wi sin-kay mengangguk, "Baik. Kelak kita mencurinya.
Aku masih belum selesai menuturkan ceritaku ini."
"O, apakah masih ada peristiwa lagi ?"
"Ya," kata Wi sin-kay, ketika aku kembali ke biara, aku
terkejut lagi. Tampak sekelompok prajurit sedang
mengangkut peti dari keretamu.. .."
"Peti yang berisi tanah itu ?" Huru Hara terkejut.
"Ya," kata Wi sin-kay.
"Lalu bagaimana tindakan paman ?"
"Aku tak mau menyerang mereka melainkan kuikuti saja
kemana mereka pergi. Ternyata mereka adalah prajurit2
Beng juga tetapi entah dari pasukan mana. mereka menuju
ke utara. Karena hanya seorang diri dan mereka berjumlah
banyak, terpaksa aku kembali."
"Mereka benar prajurit Beng ?" Huru Hara menegas.
"Ya, aku tahu benar dari seragam mereka.
"Aneh," Huru Hara garuk2 kepala," kalau benar begitu,
tentulah mereka tergabung dalam pasukan salah seorang
jenderal pasukan Beng. Tetapi perlu apa mereka hendak
merebut peti dari jenderal Ko Kiat ?"
Wi sin-kay juga tak dapat memecahkan teka teki itu.
Akhirnya dia membuat kesimpulan, "Jenderal Ko Kiat
terkenal keras dan licik. Demikian pula dengan jenderal2
lainnya juga temaha dan rakus. Mereka saling berebut
kekuasaan tempat. Bukan mustahil karena mendengar
jenderal Ko Kiat mengirim peti berisi uang maka jenderal
yang lain lalu menyuruh prajuritnya untuk merampas."
Huru Hara masih belum terang pikirannya, Persoalan itu
sederhana tampaknya yalah dia menerima pekerjaan dari
jenderal Ko Kiat untuk mengantar peti uang kepada
jenderal Ui Tek Kong. Tetapi ternyata telah berekor
panjang dan aneh. Pertama, ternyata peti uang itu bukan
berisi uang melainkan berisi tanah. Lalu Li Thian Ong
datang, membongkar peti berisi tanah itu dan menemukan
pusaka Giok-say. Tetapi ditengah jalan, Li Thian Ong telah
dihadang oleh Bu Te sin-kun dan Giok-say itu dapat
direbutnya.
Lalu ada juga sekawanan prajurit yang mencuri peti
berisi tanah itu. Dan prajurit2 itu ternyata prajurit' pasukan
Beng sendiri. Perlu apakah prajurit2 itu berampas peti ? Ah,
kemungkinan mereka mengira bahwa peti dari Ko Kiat itu
memang berisi uang. Ya, jawaban itu memang dapat
diterima akal.
"Hiantit, bagaimana tindakanmu sekarang," tanya Cianh-
ji.
"Aku hendak kembali ke Co-ciu menghadap jenderal Ko
Kiat lalu, menyerahkan surat balasan dari jenderal Ui."
"Ah, buat apa ? Bukankah jenderal Ko Kiat sudah
menipu kepadamu ? Dia mengatakan peti itu berisi uang
tetapi ternyata berisi tanah," kata Cian-li-ji.
"Biar saja dia hendak menipu aku. Toh akhirnya jenderal
Ui sudah mengaku telah menerima kiriman uang dari Ko
Kiat itu. Dan memang aku hendak melihat bagaimana nanti
sikap jenderal itu kepadaku," kata Huru Hara.
Wi sin-kay menyetujui dan ketiga orang itu pun segera
berangkat pulang ke Co-ciu. Tetapi mereka menempuh
perjalanan dengan berjalan kaki saja sekalian untuk
meninjau keadaan rakyal di daerah2 yang menderita
kelaparan.
Menjelang sore hari, mereka tiba disebuah daerah hutan
yang sepi. Sedianya malam itu mereka akan bermalam di
biara tua lagi.
"Uh, ada sebuah rombongan kereta dan penunggang
kuda yang akan datang," tiba2 Cian-li-ji berseru.
"Bagaimana engkau tahu ?" Wi sin-kay heran.
Huru Hara menerangkan bahwa Cian-li-ji itu memang
mempunyai keistimewaan yalah dapat mendengarkan suara
dari jarak beberapa li.
"O," seru Wi sin-kay, "lalu bagaimanakah?"
"Kita bersembunyi ke sana dulu," kata Huru Hara
sembari menunjuk kebalik sebuah gerumbul pohon.
Ketiganya lalu bersembunyi dibalik gerumbul pohon.
Tak berapa lama memang benar terdengar derap kuda yang
riuh dan derak bunyi roda kereta.
"Ah, rombongan pembesar agung," bisik Wi sin-kay.
Setelah rombongan berlalu mereka pun segera
melanjutkan perjalanan lagi. Tetapi tiba2 Cian-li-ji
berteriak, "Hai, ada orang bertempur !"
Kali ini Huni Hara dan Wi sin-kay terkejut, "Bertempur ?
Siapakah yang bertempur ?"
Mereka berlari lari menuju kedalam hutan. Dari jauh
mereka melihat rombongan kereta pembesar agung tadi
berhenti dan beberapa orang tengah bertempur.
"Ah. rupanya rombongan pembesar itu sedang dihadang
musuh," kata Huru Hara.
Memang saat itu terjadi pertempuran yang dahsyat
Rombongan pengawal kereta pembesar itu sedang
berhantam dengan kawanan orang yang memakai kerudung
muka dari kain hitam. Diantara kawanan penghadang itu
terdapat seorang yang gagah berani. Beberapa prajurit
pengiring kereta pembesar itu banyak yang telah
dirubuhkan. Kini orang itu tengah berhadapan dengan
seorang pengawal yang bertubuh tinggi besar bersenjata
tombak. Menilik pakaiannya, rupanya orang itu kepala
rombongan prajurit yang berpangkat.
"Jelas penghadang itu kaum penjahat dan yang dihadang
itu adalah pembesar negeri. Mari kita tolong," kata Huru
Hara seraya terus maju.
"Hai, kawanan perampok yang bernyali besar, serahkan
dirimu!" seru Huru Hara seraya menerjang.
Uh, uh, uh ... . beberapa kawanan penjahat yang
diterjang Huru Hara menjadi porak poranda. Ada yang
menjerit kesakitan, ada yang rubuh dan ada yang melarikan
diri.
Penjahat yang bertarung dengan perwira tinggi besar tadi
segera melancarkan serangan yang dahsyat. Setelah berhasil
menabas jatuh tombak lawan, d
ALWAYS Link cerita silat :
Cerita silat Terbaru , cersil terbaru, Cerita Dewasa, cerita mandarin,Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong] dan anda bisa menemukan artikel Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-lucu-silat-bloon-cari-jodoh-1.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong] sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Lucu Silat : Bloon Cari Jodoh 1 [Karya SD Liong] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-lucu-silat-bloon-cari-jodoh-1.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

bisnis untuk mahasiswa mengatakan...

Nice your article, i like it
thank

salam bisnis online gratis
bisnis sampingan
bisnis rumahan;)
bisnis online gratis
bisnis sampingan
bisnis rumahan;)
bisnis online gratis
bisnis sampingan
bisnis rumahan;)

Poskan Komentar