Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Sabtu, 25 Februari 2012

Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1

Pedang Kayu Harum

Kiam Kok-san (Gunung Berlembah Pedang) merupakan sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun Lun San yang tak pernah dikunjungi manusia seperti puncak-puncak lain dari Kun Lun-san. Bukan karena Kim Kok-san kurang indah pemandangannya. Sama sekali bukan. Bahkan tamasya alam yang tampak dari puncak gunung ini amatlah indahnya. Batu kapur yang mengeras dan mengkilap menjulang tinggi seperti menara besi menembus awan tak tampak ujungnya seolah-olah bersambung dengan langit. Pantaslah kalau ada yang mengatakan bahwa puncak batu perawan itu merupakan tempat kediaman dewa penjaga gunung. Awan putih yang berarak seperti domba-domba kapas, tak pernah berhenti dihembus angin langit, menjadi jinak setelah bertemu dengan Kiam Kok-san, berkumpul di sekeliling puncak seperti sehelai bulu domba yang hangat. Dari puncak ini memandang ke bawah tampak awan putih mengambang di bawah kaki, menyusupi lembah-lembah bukit yang amat curam. Indah, sukar dilukiskan dengan kata-kata keindahan tamasya alam yang dapat dinikmati dari puncak Kiam Kok-san. Bagaimana taman surga terbentang luas di bawah kaki, suram-suram terselimut tirai halimun menciptakan sifat yang ajaib penuh rahasia.

Bukan karena kurang indah, melainkan kesukaranlah yang membuat tempat itu tidak pernah dikunjungi manusia. Sesuai dengan namanya, puncak ini terdiri dari lembah-lembah penuh batu gunung yang merupakan karang-karang meruncing dan tajam seperti pedang. Tidak terdapat jalan tertentu mendaki puncak, tidak ada pula jalan setapak bekas kaki manusia. Semuanya liar, lebat dan bahaya maut mengintai setiap saat bagi manusia yang berani mendatangi tempat itu. Jurang-jurang yang curam, belukar tempat persembunyian binatang-binatang buas, rumput-rumput hijau yang menopengi muara-muara dalam penuh lumpur dan ular berbisa, dan bahaya tersesat jalan. Jangankan orang biasa, bahkan mereka yang memiliki ilmu kepandaian seperti para pertapa dan para pendekar masih akan berpikir masak-masak lebih dahulu untuk mendaki puncak berbahaya seperti Kiam-kok-san.

Pagi hari itu amatlah cerah. Halimun tidak setebal biasanya dan karenanya sinar matahari pagi dapat mengusir halimun menerobos di antara celah-celah daun pohon dan batu pedang, menerangi tanah puncak yang penuh lumut dan rumput hijau. Tak terkira indahnya puncak Kiam-kok-san yang bermandi cahaya keemasan matahari pagi itu, sunyi dan hening, aman tentram. Seperti itulah agaknya sorga sering kali disebut-sebut oleh para pendeta yang dijanjikan sebagai anugerah tempat tinggal bagi para manusia yang dalam hidupnya menjauhkan diri daripada segala kemaksiatan dan kejahatan.

Ketika sinar matahari mencapai kaki batu hitam mengkilap yang ujungnya berselimut awan langit, tampaklah seorang kakek tua renta duduk bersila di atas batu halus. Kakek ini sudah amat tua, terbukti dari kulit wajahnya yang penuh keriput, dagingnya yang sudah tipis sehingga tulang-tulangnya menonjol di balik kulit, rambutnya yang putih semua terurai panjang sampai ke punggung dan sebagian menutupi kedua pundaknya. Kalau ditaksir, kakek ini tentu tidak kurang dari seratus tahun usianya. Pakaiannya yang sederhana hanya merupakan kain putih yang sudah agak menguning dibalut-balutkan ke tubuhnya, kakinya telanjang seperti kepalanya. Dia duduk bersila di bawah batu pedang yang tinggi itu dengan kedua kaki dan kedua lengan menyilang, duduk tak bergerak-gerak dengan kedua mata dipejamkan. Dilihat dari jauh, dia seperti telah membatu, lebih menyerupai sebuah arca batu daripada seorang manusia hidup. Namun sesungguhnya dia bukanlah arca, karena kalau diperhatikan, tampak betapa dada di balik kain putih itu bergerak perlahan seirama dengan pernapasannya yang halus dan panjang. Di atas tanah, depan kaki yang bersilang dengan bentuk teratai (kedua telapak kaki terlentang di atas paha), terdapat sebatang pedang telanjang yang mengeluarkan sinar kehijauan setelah tertimpa cahaya matahari. Sebatang pedang yang indah bentuknya, namun amat aneh karena berbeda daripada pedang-pedang umumnya yang terbuat dari baja-baja pilihan, pedang yang terletak di depan kakek itu adalah sebatang pedang kayu!

Perlahan-lahan sekali, sedikit demi sedikit, sinar matahari memandikan wajah tua keriputan itu. Di bawah sinar keemasan sang surya, wajah itu tampak amat elok dan tak dapat diragukan pula bahwa kakek ini dahulu tentu seorang pria yang amat tampan. Bentuk dan raut wajahnya masih jelas membayangkan ketampanan seorang pria.

Kehangatan sinar matahari yang sedap nyaman itu menyadarkannya dari samadhi. Dia membuka kedua matanya dan orang akan heran kalau melihat sinar matanya. Orangnya jelas sudah amat tua, namun sepasang matanya bening seperti mata seorang anak kecil yang masih bersih batinnya! Bagi seorang ahli kesaktian, hal ini saja sudah menjadi bukti bahwa kakek ini telah mencapai tingkat ilmu yang amat tinggi, karena hanya orang yang memiliki sinkang (hawa sakti) amat kuat saja yang dapat mempunyai sepasang mata seperti itu. Dengan pandang mata penuh kagum kakek itu memandang ke depan, lalu ke kanan kiri dengan sinar matanya seolah-olah dia minum dan menikmati segala keindahan yang dicipta oleh sinar keemasan sang surya itu. Kemudian dia menggeleng kepalanya, dan bibirnya bergerak-gerak, mengeluarkan kata-kata lirih.

"Ya Tuhan Yang Maha Kasih! Sampai sedemikian besarkah kasihMu kepada seorang penuh dosa seperti aku? Berhakkah aku menikmati semua ini? Aaaahhh, tak mungkin! Thian (Tuhan) hanya melimpahkan ganjaran kepada orang yang telah berjasa di dalam hidupnya. Guruku dahulu mengatakan dalam pesannya bahwa aku harus berbuat jasa terhadap manusia dan dunia. Apakah jasaku selama aku hidup? Tidak ada! Hanya malapetaka yang menjadi akibat dari semua perbuatanku! Dan semua itu karena aku pandai ilmu silat, karena...karena Siang-bhok-kiam (pedang Kayu Harum) ini! Aaahhh,Tuhanku! Aku tidak akan mengelak daripada kenyataan. Aku rela dan siap sedia menerima hukuman-hukumannya. Tak mungkin aku membebaskan diri daripada belenggu karma. Aku tidak berhak menikmati kemurahan dan kasihMu, ya Tuhan....!"

Kata-kata terakhir kakek itu bercampur isak tertahan dan dia lalu memejamkan kembali kedua matanya seolah-olah dia tidak mengijinkan matanya memandangi segala keindahan yang terbentang luas di depannya. Keadaan menjadi sunyi kembali. Sunyi sama sekali? Tidak! Terdengar kicau burung pagi, riak air di belakang batu pedang, dan desau angin menghembus lewat mempermaikan daun-daun pohon. Paduan suara ini seolah-olah mengejek kakek itu, seolah-olah menertawakan kebodohan dan kebutaan manusia. Tuhan Maha Kasih, tidak membeda-bedakan. Siapa pun dia yang bersedia, akan menerima uluran kasihNya, seperti cahaya matahari pagi yang tidak memilih-milih siapa yang akan disinarinya. Kasih sayang Tuhan merata, tanpa perbedaan, tidak dikotori dosa manusia, besar kecilnya kasih yang dilimpahkan tergantung daripada rasa penerimaan si manusia sendiri!

Tiba-tiba terjadi perubahan pada paduan suara itu. Kicau burung yang tadinya merdu, kini berubah cecowetan penuh kejut dan takut, tanda bahwa terjadi sesuatu yang tidak wajar di tempat itu. Kemudian muncullah bayangan orang-orang berkelebat cepat. Gerakan mereka tangkas seperti burung-burung raksasa dan dalam sekejap mata saja sembilan orang telah membentuk lingkaran kipas di depan kakek yang bersamadhi dalam jarak kurang lebih sepuluh meter. Kenyataan bahwa sembilan orang ini dapat mendaki puncak, ditambah dengan gerakan mereka tadi, tentu saja mereka ini bukanlah orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Ketika mereka berlompatan di depan kakek itu, kaki mereka tidak menimbulkan suara seperti kaki burung hinggap di atas dahan. Mereka berdiri tak bergerak, namun dalam keadaan siap-siaga, memasang kuda-kuda dengan gaya masing-masing, seluruh urat saraf menegang, pandang mata ditujukan ke arah kakek dan pedang yang terletak didepannya. Pandang mata yang menyapu wajah kakek itu mengandung benci yang mendalam, adapun ketika pandang mata menyapu pedang, kebencian berubah menjadi rasa kepingin yang tak disembunyikan.

Biarpun kedatangan sembilan orang sakti itu hanya ditandai perubahan pada kicau burung, ternyata telah diketahui oleh kakek tua renta yang sedang duduk bersamadhi. Dia membuka kedua matanya dan menyapu dengan pandang matanya ke arah sembilan orang yang berdiri mengurungnya dalam bentuk lingkaran kipas. Mulutnya tersenyum, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa heran seolah-olah kedatangan mereka itu memang telah diduganya. Adapun sembilan orang itu ketika bertemu pandang sedetik dengan sapuan matanya, menjadi terkejut dan bergidik. Mereka temukan pandang mata itu saja cukup memperingatkan mereka bahwa kakek yang mereka kunjungi ini makin tua makin ampuh kesaktiannya.

"Sie Cun Hong...! Aku datang untuk menerima pedangmu sebagai pengganti nyawamu yang semestinya kukirim ke neraka agar dendam hatiku terhadpmu lunas!"

Kakek itu menoleh ke kanan karena yang bicara ini adalah orang yang berdiri paling kanan dalam lingkaran kipas itu. Bibirnya tersenyum lebar memperlihatkan mulut ompong tak bergigi lagi, seperti senyum seorang bayi yang belum bergigi. Wanita yang menyebut namanya yang sudah bertahun-tahun tak pernah didengarnya itu adalah seorang nenek yang usianya paling sedikit sudah tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah hampir putih semuanya, digelung kecil ke atas dengan tusuk konde perak. Wajahnya masih belum kehilangan raut dan bentuk yang manis, hanya mulut yang dahulunya amat indah manis itu kini agak "nyamprut" karena tidak bergigi lagi. Tubuhnya yang dahulunya tinggi semampai itu kini agak membongkok dan kurus. Pakaiannya sederhana dan berwarna hijau. Dari depan, tampak gagang pedang tersembul di balik pundak kanannya.

"Heiii, bukankah engkau Lu Sian Cu? Ah, tubuhmu mungkin sudah menjadi tua, namun semangatmu benar masih muda, Sian Cu! Engkau mendendam kepadaku dan menghendaki pedang Siang-bhok-kiam sebagai pengganti nyawaku? Eh, dalam hal apakah engkau mendendam kepadaku?"

"Keparat tua bangka! Jangan kaukira akan dapat mendesakku dengan pertanyaan untuk membikin aku malu. Aku sudah tua, dan semua yang hadir itu adalah tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, tidak perlu malu aku mengaku! Puluhan tahun yang lalu engkau telah mempergunakan kepandaianmu menggaggahi dan memperkosaku. Dendamku kepadamu setinggi langit!"

Kakek itu tertawa, lalu mengangguk-angguk. "Benar, alangkah cepatnya sang waktu meluncur. Ketika itu engkau baru berusia kurang dari tiga puluh tahun, dan engkau terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang selain lihai juga cantik dan terutama sekali angkuh sehingga engkau menolak semua pinangan pria, membuatmu masih perawan dalam usia hampir tiga puluh. Akupun ketika itu masih muda belum lima puluh tahun. Aku tergila-gila kepadamu, menggunakan kepandaian memasuki kamarmu dan memperkosamu. Akan tetapi , heh Lu Sian Cu! Lupakah engkau betapa engkau kemudian menerimaku dengan penuh kehangatan betapa engkau menangis dan merengek-rengek ketika hendak kutinggalkan? Lupakah engkau betapa engaku sama sekali tidak menaruh dendam atas perbuatanku yang juga menyenangkan hatimu itu? Mengapa kini engkau membalik dan memutar lidah?"

"Cih, laki-laki tak berjantung! Setelah perbuatan kejimu itu, bagaimana aku dapat menerima pria lain? Aku telah menyerahkan raga dan jiwa, akan tetapi engkau menolak dan meninggalkanku pergi! Engkau telah mempermainkan cintaku. Seharusnya engkau menjadi suamiku, akan tetapi engkau mengejek dan minggat. Keparat, dendamku sedalam lautan setinggi langit!"

"Ha-ha-ha, engkau mau menang sendiri, Sian Cu. Dahulu pun kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang yang selalu ingin bebas, bebas dari golongan, bebas dari segala ikatan termasuk ikatan rumah tangga! Memang aku telah berbuat jahat, memperkosamu, namun kita bersama, engkau dan aku, telah menikmatinya bersama dan hal yang menyenangkan orang lain mana bisa kausebut sebagai hal yang menyakitkan hati orang itu?"

"Sie Cun Hong! Tak perlu banyak cakap lagi. Serahkan pedangmu itu atau serahkan nyawamu!" Sambil berseru begini, nenek itu lalu mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan. Senjata ini berupa cambuk berwarna hitam, akan tetapi bukan sembarang cambuk karena pada ujungnya terpecah menjadi sembilan dan setiap ujung diberi baja pengait seperti mata kail. Inilah senjata cambuk sembilan ekor yang telah membuat nama nenek ini tersohor di dunia kang-ouw, karena jarang ada lawan yang dapat bertahan menghadapi senjatanya yang istimewa itu. Dan senjata itu pula yang mebuat nenek ini dijuluki Kiu-bwe Toa-nio (Nyonya Besar Berekor Sembilan), sebuah nama besar yang ditakuti para penjahat, seorang pendekar wanita tua yang ganas dan keras hati terhadap penjahat. Telah puluhan tahun lamanya ia dikenal sebagai Kiu-bwe Toanio dan baru sekarang tokoh-tokoh lain yang hadir disitu mendengar disebutnya namanya oleh kakek itu, yaitu Lu Sian Cu!

"Tar-tar-tar...!" Cambuk hitam itu melecut-lecut di udara dan mengeluarkan suara meledak-ledak. "Sie Cun Hong! Apakah engkau masih membandel dan tidak mau menyerahkan pedangmu?"

"Ha-ha-ha, engkau masih bersemangat dan galak. Tubuhku sudah tua, semangatku pun sudah melempem, kalau kau hendak menolongku bebas dari tubuh tua dan dunia ini, nah, lakukanlah, Lu Sian Cu!"

Nenek itu mengeluarkan suara teriakan melengking panjang, lengking yang memekakkan telinga, yang mengandung rasa duka, kecewa, menyesal dan benci karena cinta ditolak. Cambuknya menyambar ke depan dan tiga buah diantara sembilan ekor itu sudah meluncur ke arah sepasang mata dan ubun-ubun kepala. kakek itu masih duduk bersila, kini tangan kirinya diangkat, jari-jari tangannya bergerak menyentil tiga kali.

"Tring-tring-tring....!"

"Aiiihhh.....!" Kiu-bwe Toania menjerit dan hampir saja ia melepaskan cambuknya karena tiga buah ekor cambuk yang terkena sentilan kuku jari tangan kakek itu secara tiba-tiba membalik dan menerjangnya di tiga buah tempat, yaitu ke arah buah dada dan pusar. Selain ini, juga senjata itu keras sekali, membuat telapak tangannya yang memegang gagang cambuk terasa panas dan pedas. Dengan loncatan ke belakang sambil memutar cambuknya, nenek ini berhasil menyelamatkan diri. Wajahnya menjadi merah sekali dan ia memaki sambil menudingkan cambuknya.

"Sie Cun Hong, dasar engkau tua-tua keladi makin tua makin...cabul!"

Kakek itu hanya tertawa-tawa, akan tetapi ketawanya berhenti ketika dari sebelah kiri terdengar suara yang menggetar penuh tenaga. "Omitohud....!" Ketika melihat bahwa yang maju kini adalah dua orang hwesio gundul yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, kakek itu memandang dengan sikap tenang tetapi penuh pertanyaan karena sesungguhnya dia tidak mengenal dua orang pendeta ini.

"Locianpwe benar-benar telah membuktikan betapa julukan Sin-jiu Kiam-ong(Raja Pedang Tangan Sakti) adalah tepat karena tangan Locinpwe benar sakti!" kata seorang di antara dua orang pendeta yang alisnya putih dan tubuhnya kecil kurus. Hwesio ke dua yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar hanya merangkap kedua tangan didepan dada sambil berulang-ulang memuji, "Omitohud...!

Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong masih duduk bersila dan kini dia pun merangkap kedua telapak tangan di depan dada, sebagai pemberian hormat. Menghadapi dua orang pendeta yang begitu lemah lembut, yang bersikap merendahkan diri sehingga menyebutnya locianpwe sebagai sebutan terhadap golongan tua tingkat atas, dia menjadi waspada dan hati-hati. Orang yang sombong takabur tak perlu dikhawatirkan atau ditakuti, akan tetapi terhadap orang-orang yang lemah-lembut dan sikapnya halus, haruslah hati-hati karena orang-orang yang kelihatannya lemah sesungguhnya merupakan lawan yang berat.

"Ah, berat sekali menerima pujian jiwi (tuan berdua) yang sesungguhnya kosong penuh angin. Aku yang tua menjadi sadar akan usiaku yang sudah terlalu tua, karena biasanya kedatangan para hwesio seperti ji-wi adalah untuk menyembahyangi orang yang sudah mau mati atau orang yang sudah mati agar nyawanya dapat diterima di tempat yang baik. Siapakah gerangan ji-wi dan apa artinya kehadiran ji-wi ini di Kiam-kok-san?"

"Omitohud...! Kami berdua adalah hwesio-hwesio kecil tak berarti yang menjadi utusan Siauw-lim-pai untuk menemui Locianpwe."

"Ah, kiranya dari perguruan tinggi Siauw-lim-pai...! Sungguh merupakan kehormatan besar sekali!" Kakek itu berkata tercengang.

"Pinceng Thian Ti Hwesio dan ini adalah Sute(adik seperguruan) Thian Kek Hwesio, mewakili suhu yang menjadi ketua Siauw-lim-pai untuk mohon kepada Locianpwe agar suka menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada kami. Suhu mohon agar Locianpwe ingat betapa Siauw-lim-pai telah bersikap sabar dan tidak menuntut ketika Locianpwe pada tiga puluh tahun yang lalu mencuri kitab-kitab Seng-to-ci-keng (Kitab Perjalanan Bintang) dan I-kiong-hoan-hiat (Kitab Pelajaran Memindahkan Jalan Darah). Mengingat akan itu suhu pecaya bahwa Locianpwe kini dalam saat terakhir akan membalas kebaikan Siauw-lim-pai dan menyerahkan Siang-bhok-kiam agar semua ilmu yang tersimpan di dalamnya tidak akan terjatuh ke tangan yang sesat dan dipergunakan untuk mengacau dunia!"

"Aha, kiranya ji-wi adalah murid-murid Tiong Pek Hosiang? Kalau begitu ji-wi adalah tokoh-tokoh tingkat dua dari Siauw-lim-pai! Kehormatan besar sekali bagiku. Guru ji-wi memang sejak dahulu halus dan sopan santun, namun cerdik sekali. Memang aku telah mengambil dua buah kitab yang ji-wi maksudkan, hal itu kulakukan karena Tiong Pek Hosiang terlalu pelit untuk meminjamkannya kepadaku. Siauw-lim-pai agaknya lupa bahwa ketika mendiang Tat Mo Couwsu yang bijaksana menyalin dan memperbaiki kitab-kitab dari barat, adalah dengan niat agar kitab-kitab itu dapat dipelajari semua manusia sehingga umat manusia dapat menjadi kuat lahir batinnya. Akan tetapi oleh Siauw-lim-pai ilmu-ilmu itu dipendam, disembunyikan dan hanya diturunkan kepada murid-murid sebagian daripada ilmu-ilmu yang dimiliki oleh guru. Dengan demikian, bukankah ilmu-ilmu yang itu makin lama makin berkurang dan menjadi rendah nilainya? Biarpun dua buah kitabnya kuambil, namun Siauw-lim-pai telah memiliki ilmunya. Kitabnya hanya merupakan catatan saja, dan dengan pindahnya kitab ketanganku, sesungguhnya Siauw-lim-pai tidak kehilangan apa-apa. Ilmu kepandaian dapat dibagi-bagikan sampai kepada selaksa orang manusia tanpa mengurangi sumbernya. Mengapa begitu pelit dan ji-wi menuntut tentang dua buah kitab pelajaran? Tidak, aku tidak dapat memberikan Siang-bhok-kiam, kecuali kepada dia yang berjodoh.”

"Omitohud!" Hwesio tinggi besar hitam Thian kek Hwesio, melangkah maju dan membentak keras. Kini hwesio itu membelalakkan matanya memandang Sin-jiu Kiam-ong, dan ternyata sepasang matanya lebar sekali, wajahnya membayangkan kekasaran dan kejujuran seperti wajah Thio Hwie, tokoh pahlawan dalam cerita Sam Kok. "Locianpwe agaknya menghendaki kami menggunakan cara Locianpwe sendiri. Meminjam kitab-kitab tidak boleh lalu menggunakan kepandaian mendapatkan kitab-kitab itu. Kini kami minta baik-baik tidak Locinpwe berikan, apakah berarti bahwa kami harus menggunakan kepandaian untuk mendapatkan pedang Siang-bhok-kiam itu?"

Sin-jiu Kiam-ong memandang hwesio itu sambil tersenyum, pandang matanya bersinar gembira. Orang yang keras dan jujur selalu mendapatkan rasa suka di hatinya, karena orang yang demikian itu lebih mudah dihadapi. Ia mengangguk dan menjawab.

"Kalau seperti itu wawasanmu, maka benarlah demikian agaknya."

"Hemmm, bagus! Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebagai ahli pedang ahli lweekang namun pinceng sedikit-sedikit juga telah berlatih selama puluhan tahun!" Setelah berkata demikian, Thian kek Hwesio membalikkan tubuhnya dan dengan gerakan kokoh kuat, lengan kanannya yang besar itu mendorong dengan pukulan ke depan, ke arah sebatang pohon yang jaraknya ada tiga meter dari tempat dia berdiri. Sambaran angin pukulan yang dahsyat membuat batang pohon tergetar, daun-daunnya seperti dilanda angin topan, dan berhamburanlah daun-daun yang rontok ke atas tanah seperti hujan! Andaikata manusia diserang dengan pukulan jarak jauh seperti ini, pasti akan remuk tulang-tulangnya, dan rontok isi dadanya!

Namun Sin-jiu Kiam-ong tersenyum lebar menyambut demonstrasi tenaga sinkang yang mencapai tingkat tinggi itu. "Ha-ha-ha! Membangun itu amat sukar, merusak amatlah mudahnya. Manusia adalah perusak terbesar diantara segala mahluk! Thian Kek Hwesio, untuk merusak dan merobohkan pohon itu sampai ke akar-akarnya adalah hal yang dapat dilakukan semua orang, akan tetapi dapatkah engkau membuat sehelai daun saja? Hemmm, biarlah kucoba mengembalikan daun-daun itu ke tempatnya, sungguhpun tak mungkin dapat kembali seperti asalnya karena kekuasaan itu hanya dimiliki Thian!" Sin-jiu Kiam-ong yang masih duduk bersila itu menggerakkan kedua tangannya ke depan, ke arah daun-daun yang jatuh berhamburan ke atas tanah tadi dan...bagaikan ada angin puyuh, secara tiba-tiba semua daun itu bergerak, berputar-putar dan terbang naik ke atas pohon menempel sejadinya pada cabang-cabang dan ranting-ranting, ada yang gagangnya menancap, ada yang melekat pada batang pohon, akan tetapi tidak ada yang rontok lagi ke bawah! Melihat ini, Thian Kek Hwesio, menjadi agak pucat wajahnya dan maklumlah dia bahwa tingkat kekuatan sinkang kakek tua renta itu jauh lebih tinggi daripadanya. Ia melangkah mundur sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada dan menggumam, "Omitohud...!"

"Maaf, suteku dan pinceng melupakan kebodohan sendiri!" kata Thian Ti Hwesio dan si hwesio kurus ini sekarang menggerakkan kedua tangan ke depan, ke arah pedang kayu yang terletak di depan kaki Sin-jiu Kiam-ong dan...pedang itu tiba-tiba melayang naik seperti tersedot besi sembrani lalu terbang ke arah kedua tangan tokoh Siauw-lim-pai itu.

Semua tokoh yang berada di situ tahu belaka bahwa kekuatan sinkang hwesio alis putih ini jauh lebih tinggi daripada kekuatan sutenya. Sin-jiu Kiam-ong mengeluarkan suara memuji, "Bagus! Siang-bhok-kiam, sebelum kuijinkan, kamu tidak boleh berganti majikan. Kembalilah!" Ia menggapaikan tangan kirinya dan... pedang kayu yang sudah terbang ke arah kedua tangan Thian Ti Hwesio itu tiba-tiba berputaran lalu membalik, melayang ke arah Sin-jiu Kiam-ong! Thian Ti Hwe-sio menjadi penasaran sekali. Ia manambah kekuatan pada kedua lengannya, bahkan tubuhnya agak merendah ketika dia menggerakkan kedua tangan ke arah pedang. Siang-bhok-kiam kembali berputaran di udara seolah-olah bimbang hendak terbang kemana, akan tetapi akhirnya terbang kembali ke Sin-jiu Kiam-ong dan jatuh ke depan kakek itu ditempatnya yang tadi. Thian Ti Hwesio mengusap peluh di keningnya, lalu menjura dan merangkap kedua tangan di depan dada.

"Sin-jiu Kiam-ong makin tua makin gagah, tepat seperti apa yang telah diperingatkan suhu kami. Siancai....siancai....!"

"Thian Ti Hwesio terlalu memuji," kata Sin-jiu Kiam-ong.

"Orang she Sie! Kalau lain orang menghormatimu, aku Sin-to Gi-hiap tidak! Aku sudah mengenal isi perutmu! Aku seorang dari golongan pendekar, termasuk kaum benar dan bersih, bagaimana aku dapat berdiri sederajat dengan engkau seorang tokoh sesat dan kotor? Aku bilang bukan untuk minta-minta diberi Siang-bhok-kiam, melainkan untuk memenggal kepalamu dan merampas pedangmu!"

Sin-jiu Kiam-ong memandang orang yang bicara dengan suara keras itu. Dia adalah seorang kakek berusia tujuh puluh tahun lebih, namun tubuhnya masih berdiri tegak dan tegap, wajahnya membayangkan kegagahan dan ketampanan, sebatang golok telanjang berada di tangan kanan mengeluarkan cahaya berkeredepan, pakaiannya ringkas dan sederhana, berwarna kuning bersih.

"Eh, kiranya Sin-to Gi-hiap (Pendekar Budiman Bergolok Sakti) yang datang? Bagiku, tidak ada permusuhan dengan seorang pendekar budiman seperti engkau. Mengapa engkau datang-datang memaki orang?"

"Lidah ular! Isteriku telah meninggal dunia, namun dendamnya dan dendamku kepadamu takkan lenyap sebelum golokku berhasil memenggal lehermu! Biarlah disaksikan oleh para orang gagah disini mendengarkan pengakuanku, karena aku bukan seorang pengecut. Lima puluh tahun yang lalu, dengan kepandaianmu merayu engkau telah mengganggu isteriku, memaksanya melakukan hubungan perjinaan denganmu. Lima puluh tahun yang lalu aku kalah terhadapmu, akan tetapi coba-coba kita buktikan sekarang! Bangkitlah dan lawan golokku!"

Sin-jiu Kiam-ong menudingkan telunjuknya ke arah hidung pendekar yang kini sudah tua itu. "Sin-to Gi-hiap, sebelum memaki orang mengapa tidak meraba hidungmu lebih dahulu? Aku memang melakukan hubungan cinta gelap dengan isterimu, akan tetapi apa salahnya itu kalau dia sendiri menghendakinya? Dan ketahuilah, aku sampai hati melakukan hal itu karena mengingat betapa engkau mendapatkan isterimu yang cantik jelita itu dengan jalan merampas dan memaksa!”

“Engkau mendapatkan dengan membunuh suaminya si perampok tunggal di Taibu, kemudian merampas isterinya yang cantik. Apakah kaukira aku tidak tahu bahwa engkau membunuh perampok itu bukan sekali-kali terdorong jiwa pendekarmu, melainkan terdorong nafsu birahimu melihat isterinya yang cantik? Engkau merampas wanita dengan kekerasan, aku merampas cintanya dengan cara halus. Apa bedanya? Setidaknya, aku lebih berhasil mendapatkan cintanya!"

"Keparat? Penjahat cabul engkau, jai-hwa-cat (Pemetik bunga) yang tak tahu malu. Sebentar lagi engkau tentu mampus disini dan biarlah kubuatkan arca seorang jai-hwa-cat untuk ditaruh diatas makammu agar setiap orang dapat meludahinya!" Setelah berkata demikian, Sin-to Gi-hiap lalu meloncat ke arah sebuah batu gunung sebesar manusia, goloknya mendahuluinya merupakan sinar putih cemerlang, berkelebatan dan menggulung-gulung di sekitar batu itu dan terdengar suara keras dan bunga api berpijar-pijar menyilaukan mata. Setelah gulungan sinar berkilauan lenyap dan semua orang memandang ke arah batu diantara debu itu, kini tampaklah bahwa batu itu telah menjadi arca yang menggambarkan kepala Sin-jiu Kiam-ong! Biarpun kasar akan tetapi jelas tampak bahwa itu adalah arca si kakek tua renta yang kini duduk bersila sambil memandang arca itu dan tersenyum!

"Wah, makin hebat saja kepandaianmu, Si Golok Sakti! Akan tetapi bukan ilmu goloknya yang kumaksudkan, melainkan ilmu ukirannya! Sayang begitu kasar! Tidak dapatkah diperhalus lagi? Biar kubantu engkau." Setelah berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong mengambil Siang-bhok-kiam yang masih menggeletak di depan kakinya, dan sekali dia memutar pedang kayu itu terdengar suara bercuit nyaring.

Segulung sinar hijau menyambar ke depan, ke arah patung terus sinar itu mengelilingi arca batu kemudian terbang kembali ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Semua orang memandang dan.... arca batu yang tadinya kasar , kini telah menjadi halus seperti digosok pisau tajam dan agak mengkilap indah!

"Kiam-sut (ilmu pedang) yang hebat, akan tetapi siapa takut? Lihat golok!" Sin-to Gi-hiap yang sudah marah sekali menerjang maju dengan goloknya. Sin-jiu Kiam-ong tertawa dan menggerakkan Siang-bhok-kiam, membuat gerakan berputar mengelilingi golok lawan. Yang berputaran hanya sinar pedangnya, karena kakek itu sendiri hanya duduk bersila dan jarak antara mereka masih jauh. Namun si Golok Sakti berteriak kaget dan cepat melompat mundur memandang ujung lengan bajunya yang sudah buntung!

"Kiam-ong masih pantas menjadi Kiam-ong (Raja Pedang)!" Terdengar suara memuji dan kini dua orang kakek yang berpakaian seperti petani, bersikap sabar tenang dan gagah, telah maju. "Namun sayang Kiam-ong hanya memajukan lahir tanpa mengingat kemajuan batin, sehingga kulitnya indah isinya busuk! Sin-jiu Kiam-ong, kami Hoa-san Siang-sin-kiam(Sepasang Pedang Sakti Hoa-san) menjadi utusan Hoa-san-pai untuk minta pertanggungan jawabmu terhadap dosa-dosamu. Engkau pernah mencuri seorang murid perempuan Hoa-san-pai, mencuri pedang pusaka, dan mencuri ramuan obat yang dibuat oleh Sucouw kami. Ketua kami akan berpikir untuk bersikap bijaksana melupakan dosa-dosamu terhadap kami apabila engkau suka menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam kepada kami!"

Kakek tua renta itu mengerutkan keningnya, akan tetapi senyumnya masih ramah ketika dia menjawab. "Bermacam-macam alasan yang dikemukakan bermacam-macam pula yang dipergunakan, namun sesungguhnya mengandung maksud yang sama. Wahai Hoa-san Siang-sin-kiam, aku tidak menyangkal semua tuduhan Hoa-san-pai, memang aku telah mencuri murid perempuan, pedang pusaka dan ramuan obat. Akan tetapi semua tokoh Hoa-san-pai tahu belaka bahwa murid perempuan Hoa-san-pai, mendiang Cui Bi yang cantik manis, telah pergi mengikuti aku secara sukarela dan berdasarkan cinta kasih, bukan karena kupaksa! Adapun pedang pusaka Hoa-san-pai, sampai sekarang pun masih kusimpan dengan koleksiku yang lain, karena memang aku penyayang barang-barang pusaka. Tentang ramuan obat yang dibuat mendiang Sucouw kalian, ha-ha-ha telah membuka rahasia sucouw kalian karena ternyata obat itu adalah obat perangsang bagi pria tua agar dapat kembali bersemangat seperti seekor kuda jantan yang muda. Ha-ha-ha!"

Dua orang pendekar itu sejenak saling pandang dan wajah mereka menjadi merah. Ucapan Sin-jiu Kiam-ong itu merupakan penghinaan bagi Hoa-san-pai, apalagi yang terakhir. Setelah memberi isyarat dengan pandang mata, kedua orang tokoh Hoa-san-pai itu menggerakkan tangan dan "singgg!" tampak dua sinar berkelebat ketika mereka mencabut pedang mereka.

"Sin-jiu Kiam-ong, ucapanmu yang menghina telah menambah dosamu terhadap kami. Biarpun engkau memakai sebutan Raja Pedang, jangan kira bahwa kami berdua saudara Coa jerih terhadapmu. Hadapilah sepasang pedang sakti dari Hoa-san!" tantang Coa Kiu sambil melintangkan pedang, sedangkan adiknya, Coa Bu juga sudah siap dengan pedangnya. Mereka ini masing-masing hanya berpedang tunggal, akan tetapi karena mereka ini kalau bermain pedang bersama merupakan pasangan yang amat kompak dan hebat, maka kedua orang ini mendapat julukan Sepasang Pedang Sakti!

"Hemmm, aku selamanya tidak suka berbohong, dan ucapanku tadi hanya ucapan terus terang dan apa adanya, sama sekali tidak menghina siapa-siapa. Kalau kalian hendak memperlihatkan Siang-sin-kiam untuk menundukkan aku, kalian melamun yang bukan-bukan karena aku tidak mudah ditundukkan oleh siapapun juga, termasuk kalian orang-orang Hoa-san-pai!" Ucapan ini dikeluarkan dengan halus dan lunak, namun mengandung kekerasan melebihi baja.

Coa Kiu dan Coa Bu mengeluarkan seruan keras, pedang mereka berkelebat dan tahu-tahu telah menjadi satu gulungan sinar tebal dan panjang, mengeluarkan suara bercuitan dan bayangan tubuh mereka lenyap tergulung sinar pedang yang menjadi satu. Tiba-tiba dengan suara mencicit nyaring, gulungan sinar pedang ini melayang ke arah sebatang pohon pecah menjadi dua dan bagaikan mata gunting dua gulungan sinar ini menggunting batang pohon. Tidak terdengar sesuatu dan tidak terjadi sesuatu, namun begitu gulungan sinar pedang itu melayang kembali ke tempatnya dan sinar pedang berubah dua orang kakek Hoa-san-pai yang sudah berdiri berdampingan , tiba-tiba saja batang pohon itu tumbang dan tampak bekas pedang yang halus membuat batang pohon itu seolah-olah baru saja digergaji!

"Ha..ha..ha, kalian inipun bukan lain hanyalah kanak-kanak tukang merusak tanaman!" Sin-jiu Kiam-ong mentertawakan. Kakek Coa Kiu dan Coa Bu marah sekali.

"Sin-jiu Kiam-ong, beranikah kau mengahadapi pedang kami?"

"Mengapa tidak?"

"Lihat pedang!" Dua orang kakek itu kembali menggerakkan pedang dan seperti tadi, dua gulungan sinar terang menjadi satu, menjadi gulungan yang amat kuat dan tiba-tiba terdengar suara mencicit keras ketika sinar pedang itu menyambar ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Kakek itu tertawa, menyambar pedang kayu di depan kakinya, lalu menggerakkan pedang kayu menusuk ke arah sinar pedang yang menyambarnya seperti kilat itu.

"Cing..cing..trang......!”

Gulungan sinar pedang yang berkelebat itu menjadi kacau gerakannya, berkali-kali mengitari tubuh Sin-jiu Kiam-ong, berusaha membabat tubuh kakek itu namun selalu terhalang sinar hijau dari pedang kayu, bahkan kemudian terdengar suara keras dan ....sinar pedang yang tebal itu tiba-tiba pecah menjadi dua, yang satu terpental ke kanan yang lain ke kiri. Sinar pedang lenyap dan kedua orang kakek itu sudah berdiri dengan muka pucat. Ujung pedang mereka somplak sedikit.

Mereka saling pandang, lalu menghela napas panjang. Sebagai dua orang sakti mereka tidaklah nekat dan cukup maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh di bawah tingkat kakek sakti itu. Mereka tahu diri, lalu kembali ke tempat tadi, memandang dengan mata penuh penasaran sambil menyimpan pedang masing-masing.

Sin-jiu Kiam-ong yang sudah menundukkan enam orang lawannya, kini menoleh kepada tiga orang yang masih belum bergerak, dan belum mengeluarkan kata-kata sampai saat itu hanya menonton saja. Dia melihat seorang tosu tua yang tidak dikenalnya, dan seperti tadi ketika menghadapi dua orang hwe-sio Siauw-lim-pai, dia tidak berani memandang rendah. Adapun yang dua orang lain adalah sepasang suami isteri tua yang dia tahu dahulu pernah dia jumpai, namun lupa lagi kapan dan dimana. Karena dia menganggap tosu itu lebih penting, maka dia segera menghadapinya sambil bersila dan berkata.

"Maaf, kalau aku tidak ingat lagi siapa gerangan Toyu ini, akan tetapi karena Toyu sudah membuang waktu dan datang ke sini, tentu membawa keperluan yang amat penting."

"Siancai...., Sin-jiu Kiam-ong yang sudah tua kiranya masih berwatak seperti orang muda, segan mengalah dan tidak menyesali dosa-dosa yang dilakukan di waktu mudanya sungguh patut disayangkan!"

"Ha..ha..ha, Toyu mengeluarkan pernyataan yang amat lucu! Kalau benar dosa sudah dilakukan, apa gunanya hanya disesali? Lebih baik menyadarinya dan siap menerima hukumannya karena berdosa atau bukan tergantung kepada penilainya, sedangkan penilainya sendiri penuh dosa bergelimpang nafsu mementingkan diri pribadi! Eh, Toyu yang baik, aku seorang yang mengutamakan kejujuran, lebih menjunjung tinggi orang yang melakukan kesalahan namun berani mengakuinya daripada orang yang pura-pura suci namun di dalam hatinya amat kotor, tidak sama dengan yang keluar dari mulutnya. Karenanya, aku merasa senang sekali dengan ujar-ujar dalam agamamu, seperti ini:

"Langit tiada perikemanusiaan segala benda dianggap sebagai korban. Orang suci tiada perikemanusiaan semua orang dianggap sebagai korban. Ruang antara Langit dan Bumi tiada ubahnya seperti hembusan! Kosong namun tak pernah berkurang makin besar gerakan makin besar tiupan! Banyak bicara sering kali penghamburan tenaga lebih baik menjaga kejujuran!"

"Sin-jiu Kiam-ong, selain kekanak-kanakan engkau pun masih memiliki kesombongan! Menggunakan ayat suci kitab To-tik-kheng untuk menghantam seorang tosu seperti pinto (aku)! Sungguh menyebalkan. Kiam-ong, ketahuilah bahwa pinto adalah Kok Cin Cu, utusan dari Kong-thong-pai. Jangan engkau pura-pura lupa betapa dahulu engkau pernah membunuh lima orang anak murid Kong-thong-pai. Kedatangan pinto ini mewakili lima orang tua Kong-thong-pai untuk menagih hutang. Kami bukan orang-orang yang haus darah, akan tetapi sudah cukup adil kiranya kalau engkau menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam untuk menebus dosamu terhadap kami."

Sin-jiu Kiam-ong mengangguk-angguk. "Ah, jadi Toyu ini seorang diantara Kong-thong Ngo-lojin (Lima Kakek kong-thong-pai) yang tersohor hebat sekali ilmu kepandaiannya, yang puluhan tahun lamanya melatih diri dan kini kabarnya mencapai tingkat yang sukar dicari bandingnya? Bagus, bagus! Kabarnya Thian-te Sam-lo-mo (Tiga Iblis Tua Langit Bumi) yang menjadi tiga datuk sesat terbesar diseluruh dunia, juga merasa jerih untuk mengganggu Kong-thong-pai karena ada kalian lima kakek sakti! Dan kini seorang diantara mereka memberi kehormatan kepadaku? Ha..ha...ha, Kok Cin Cu toyu, engkau ini kakek yang ke berapakah?"

"Yang empat lain adalah para suhengku (kakak seperguruan)".

"Ah, jadi yang termuda? Yang tua-tua agaknya masih enggan merendahkan diri, akan tetapi aku percaya yang termuda sekalipun tentu memiliki kesaktian luar biasa. Namun sayang, Toyu, aku tidak dapat menyerahkan pedang ini kepadamu."

"Kalau begitu, perhitungan lama harus diselesaikan dengan mengadu ilmu!" "Begitukah wawasanmu Toyu? Agaknya Toyu masih belum tahu ataukah pura-pura tidak tahu mengapa dahulu lima orang anak murid Kong-thong-pai tewas di tanganku? Kami telah bentrok di tempat judi! Aku yang sudah terkenal sebagai seorang pengejar kesenangan di waktu muda, tak usah disebut-sebut lagi mengapa aku berada di tempat judi, akan tetapi lima orang tosu muda Kong-thong-pai, main-main di tempat judi yang dilayani para pelacur? Apakah mereka itu berada di sana untuk berceramah tentang kebatinan?”

“Ah, betapa banyaknya orang-orang yang pada lahirnya berpura-pura menjadi orang suci namun batinnya kotor melebihi orang-orang yang mereka anggap sesat dan jahat. Karena pernyataan dan teguranku, mereka marah dan kami berkelahi. Di dalam perkelahian ada yang menang dan ada yang kalah, yang menang hidup yang kalah luka atau mati, apakah yang aneh dalam hal itu? Kalau Toyu menganggapnya suatu penasaran dan kini hendak mengulang kesalahan mereka, menantangku terserah."

Wajah tosu itu menjadi merah, kemudian menjawab, suaranya keren, "Sebagai tokoh Kong-thong-pai, tak mungkin pinto mendengarkan keterangan satu fihak saja. Untuk minta keterangan anak murid kami yang tewas, tak mungkin. Yang jelas, anak murid Kong-thong-pai selalu menjunjung kebenaran, adapun nama Sin-jiu Kiam-ong, siapakah tidak mengenalnya dan mengetahui orang macam apa? Kami Kong-thong Ngo-lojin berkewajiban membela nama Kong-thong-pai. Sin-jiu Kiam-ong, bersiaplah dan mari kita mulai!"

"Engkau yang berniat mengadu ilmu, engkaulah pula yang mulai, Toyu. Aku siap melayanimu!"

Tosu ini melangkah maju. Ia bertangan kosong dan dia menjura ke arah Sin-jiu Kiam-ong sambil berkata, "Pinto menghormat usiamu yang lebih tua. Karena dahulu engkau membunuh lima orang murid Kong-thong-pai dengan tangan kosong, sudah semestinya kalau kini pinto juga menghadapimu dengan tangan kosong. Kalau pinto kalah, biar lain kali kami dari Kong-thong-pai kembali lagi, kalau engkau yang kalah, pinto akan membawa pergi Siang-bhok-kiam sebagai tebusan dosa!"

“Ha..ha..ha, selalu tersembunyi pamrih dalam setiap perbuatan, di mana-mana manusia sama, menjadi hamba nafsu pribadi. Silakan."

Tosu itu mengangkat kedua lengannya ke atas kepala, lalu kedua tangan yang dibuka jari-jarinya itu mengeluarkan suara berkerotokan, tergetar hebat dan kedua tangan itu kini bentuknya seperti cakar naga dan kulit tangan itu berubah menjadi kemerahan! Inilah Ilmu Ang-liong-jiauw-kang (Ilmu Cakar Naga Merah) dari Kong-thong-pai yang sudah amat terkenal kedahsyatannya! Kabarnya, ilmu ini kalau sudah mencapai tingkat tinggi, menjadi amat hebat sehingga tangan berubah seperti baja panas. Tidak saja kuat untuk melawan senjata tajam lawan, juga kalau mengenai tubuh lawan menimbulkan luka-luka terbakar yang tak terobati lagi! Dengan beberapa langkah, tosu tua itu sudah berada di depan Sin-jiu Kiam-ong, kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka digerakkan ke depan, mengarah kepala dan dada kakek yang duduk bersila dengan tenangnya itu.

"Bergeraklah! Lawanlah! Pinto bukan seorang pengecut yang menyerang orang yang tak mau melawan!" Kok Cin Cu berkata, suaranya nyaring dan kedua tangannya sudah menggetar-getar amat hebatnya.

Sin-jiu Kiam-ong tersenyum. "Kiranya Kong-thong Ngo-lo-jin masih ingat akan watak pendekar. Sungguh menyenangkan sekali. Akan tetapi, sayang masih dikotori rasa tamak. Biarlah kusambut Ang-liong-jiauw-kang, karena inilah nama ilmumu, bukan?" Sambil berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong segera mengulur kedua lengannya dan sebelum tosu tua itu sempat bergerak, dia telah menempelkan kedua telapak tangan tosu yang kemerahan itu.

"Wesssss....!" Sungguh luar biasa sekali. Begitu kedua telapak itu bertemu, terdengar suara seperti api membara bertemu benda basah dan tampak asap mengepul dari kedua pasang telapak tangan yang saling bertemu. Tosu tua itu merendahkan tubuh dan mengerahkan tenaga sinkang untuk memperkuat daya serang Ang-liong-jiauw-kang, namun sia-sia belaka karena kedua telapak tangannya yang tadinya panas itu makin lama menjadi makin dingin, bahkan rasa dingin seperti salju mulai menerobos masuk melalui kedua telapak tangannya, menjalar dari telapak tangan ke atas! Wajah tosu itu mulai berpeluh, matanya merah mulutnya terbuka karena nafasnya menjadi terengah-engah. Di lain pihak, Sin-jiu Kiam-ong masih tersenyum saja dan sama sekali tidak kelihatan lelah. Tahulah Kok Cin Cu bahwa kalau dilanjutkan adu tenaga sinkang ini, dia akan roboh binasa. Terpaksa tosu tua ini lalu menarik kembali kedua tangannya dan pada saat yang bersamaan, Sin-jiu Kiam-ong yang tidak ingin membunuh orang juga menarik kedua tangannya. Kok Cin Cu melangkah mundur di tempat semula, tubuhnya menggigil dan sampai lama barulah dia dapat memulihkan keadaannya, lalu menjura dan membungkuk dan berkata dengan suara lemah.

"Sungguh hebat kepandaian Sin-jiu Kiam-ong, terpaksa pinto mengaku kalah dan lain kali pinto akan datang kembali bersama para suheng."

Melihat kekalahan tosu tua Kong-thong-pai, kini suami istri tua yang sejak tadi hanya menonton, melangkah maju. Mereka itu berusia tujuh puluh tahunan, dan si suami segera menudingkan telujuknya.

"Sin-jiu Kiam-ong, masih ingatkah engkau kepada kami suami isteri yang pernah mengalami penghinaan darimu?"

Kakek itu memandang kepada mereka, terutama kepada wanita tua yang berdiri tegak disamping suaminya, kemudian menjawab, "Pernah aku berjumpa dengan kalian, akan tetapi aku lupa lagi entah dimana. Yang sudah pasti, aku tidak pernah menganggu wanita itu, karena kalau hal itu terjadi, sampai kini pun aku tentu akan ingat dan mengenalnya."

Merah wajah wanita itu dan kini ia mendamprat, "Tua bangka berhati cabul!" Akan tetapi suaminya cepat menyambung, "Sin-jiu Kiam-ong, dahulu kami mempunyai perusahaan pengawal barang kiriman. Lupakah engkau kepada Hek-houw-piauwkiok (Perusahaan Pengawal Macan Hitam)?"

"Aha, sekarang aku ingat! Bukankah engkau orang she Tan yang menjadi kepala piauwkiok itu? Dan isterimu yang dahulu amat galak dan amat pandai menggunakan am-gi (senjata rahasia)? Hemmm, aku pernah merampas beberapa benda perhiasan indah yang kau kawal, perhiasan kiriman milik menteri keuangan kerajaan, bukan? Malah puterinya, ah masih ingat benar aku akan puteri menteri yang amat cantik manis itu, ia berkenan menemaniku di dalam hutan sampai dua hari dua malam! Aha, pengalaman yang takkan terlupakan olehku! Puteri yang cantik manis, dan dia memberikan tusuk konde dan tanda mata kepadaku. Tusuk konde dan perhiasan-perhiasan yang kurampas itu masih berada dalam kumpulan simpananku. Eh, Tan-piauwsu, kini engkau dan isterimu datang mau apakah?"

"Sin-jiu Kiam-ong, di waktu muda, engkau melakukan segala macam kejahatan. Merampok barang milik pembesar tinggi, malah menodai puterinya, mencelakakan kami yang mengawal barang dan puteri. Masih hendak tanya mengapa kami datang? Rasakan pembalasan kami!" Piauwsu (pengawal barang) tua ini bersama isterinya menutup kata-katanya dengan gerakan tangan. Cepat sekali gerakan tangan mereka dan tampaklah benda-benda kecil menyambar ke depan dan tahu-tahu suami -isteri itu menyerang Sin-jiu Kiam-ong dengan senjata-senjata rahasia mereka. Piauwsu itu menggunakan dua macam senjata rahasia, yaitu piauw (pisau sambit) dan Toat-beng-cui (Bor Pencabut Nyawa), adapun isterinya mempergunakan Ngo-tok-ciam (Jarum Lima Racun) yang jauh lebih cepat dan lebih berbahaya daripada kedua macam am-gi (senjata gelap) suaminya. Belasan buah senjata rahasia itu menyambar ke bagian tubuh yang lemah, bahkan jarum-jarum halus itu mengarah jalan-jalan darah yang mematikan!

Namun kakek tua renta itu sama sekali tidak menjadi gugup, hanya mengangkat kedua tangannya dan sepuluh batang jari tangannya bergerak-gerak seperti sepuluh ekor ular hidup, namun kuku-kuku jari tangan itu merupakan perisai yang tidak hanya menangkis semua senjata rahasia, bahkan dengan sentilan aneh dapat mengirim kembali senjata-senjata kecil itu ke arah penyerang-penyerangnya! Terjadilah hujan senjata rahasia dari kedua fihak, yang menyerang dan yang mengembalikan!

"Sahabat-sahabat yang sealiran! Kalau hari ini kita tidak melenyapkan seorang oknum busuk, mau tunggu sampai kapan lagi? Mari kita basmi dia bersama-sama!" teriak Tan Kai Sek, piauw tua itu sambil terus menyerang dengan senjata rahasianya.

Tujuh orang gagah yang lain setuju dengan ajakan ini. Mereka semua menaruh dendam kepada Sin-jiu Kiam-ong dan sudah jelas ternyata tadi bahwa kalau mereka hanya mengandalkan kepandaian sendiri, tidak akan mungkin dapat mengalahkan kakek sakti itu. Sambil menyatakan setuju mereka semua mencabut senjata dan menerjang maju! Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan kakek itu berkelebat ke atas dan ketika mereka memandang, kakek sakti itu bersama Siang-bhok-kiam telah lenyap. Kiranya kakek itu meloncat ke atas dan dengan amat cepatnya merayap naik ke atas batu pedang dan telah lenyap ke dalam awan atau halimun tebal yang menutup bagian atas batu pedang. Dari atas terdengar suaranya tertawa tergelak, seolah-olah suara ini datangnya dari langit karena tidak tampak orangnya yang tertutup oleh halimun tebal.

"Ha..ha..ha, sembilan orang gagah yang berada di bawah! kalau aku tadi menghendaki, apa susahnya membunuh kalian dengan Siang-bhok-kiam? Dan kalau aku menyerahkan nyawa, alangkah mudahnya bagi kalian untuk membunuhku. Akan tetapi aku belum mau mati, karena dalam hari-hari terakhir ini aku masih ingin menikmati tamasya alam yang amat indahnya di Kiam-kok-san! Aku tidak mau membunuh kalian karena aku tidak ingin mengotori tempat seindah ini dengan darah kalian, dan aku belum mau mati karena aku masih ingin menikmati keindahan alam disini. Kalau kalian masih belum terima dan merasa penasaran, hayo siapa yang berani boleh naik!"

Sembilan orang itu saling pandang dan tak seorang pun berani naik. Bagi mereka yang berilmu tinggi, kiranya tidaklah amat sukar untuk mendaki batu pedang itu ke atas, akan tetapi batu pedang itu tidak dapat didaki oleh mereka bersama-sama, harus seorang demi seorang. Dan kalau mereka mendaki seorang demi seorang, sama saja dengan menyerahkan nyawa kepada kakek itu!

Kembali terdengar suara ketawa dari atas. "Ha..ha..ha! Jangan kira aku amat pelit untuk menyerahkan nyawa dalam tubuh tua ini dan menyerahkan Siang-bhok-kiam. Kuminta waktu sebulan lamanya untuk menikmati tempat ini. Setelah sebulan, kalau kalian masih menghendaki nyawaku, datanglah ke kaki gunung, sebelah selatan, di dalam hutan mawar, disana aku menanti kalian bersama Siang-bhok-kiam!"

Setelah terdengar suara ini, keadaan menjadi sunyi. Mereka menanti-nanti namun tidak ada suara lagi. Karena merasa tidak akan ada gunanya menanti, apalagi mencoba untuk mengejar kakek sakti itu ke atas puncak batu pedang yang ujungnya lenyap di balik halimun tebal, akhirnya sembilan orang gagah itu meninggalkan Kiam-kok-san dan berjanji dalam hati untuk mencari hutan mawar yang dimaksudkan si kakek sakti sebulan kemudian. ***

Pada masa itu, kerajaan Beng (1368-1644) mengalami perpecahan dan perang saudara. Kerajaan Beng didirikan oleh Ciu Goan Ciang, yang berhasil mengusir pemerintah penjajah Goan (Mongol) dan kemudian menjadi Kaisar Kerajaan Beng pertama dengan julukan Kaisar Thai Cu (1368-1398). Peking (ibu kota utara) yang tadinya menjadi kota raja Kerajaan Mongol, oleh Kaisar Kerajaan Beng ini tidak dijadikan pusat kerajaan. Sebagai ibu kota dipilihnya Nan-king (ibu kota selatan) yang letaknya di lembah Sungai Yang-ce-kiang, di daerah yang lebih subur tanahnya. Namun Peking yang merupakan daerah pergolakan dan pangkalan penting untuk mempertahankan ancaman serangan balasan bangsa Mongol di utara yang telah diusir dari pedalaman, tetap dipertahankan dan di bekas kota raja Mongol ini diperkuat oleh bala tentara besar dan dipimpin oleh putera Kaisar Thai Cu sendiri, yaitu Yung Lo yang terkenal gagah perkasa dan pandai berperang.

Perpecahan dalam kerajaan Beng yang baru ini terjadi setelah kaisar pertamanya meninggal. Kaisar Thai Cu meninggal dalam tahun 1398 dan karena putera sulung kaisar ini sudah meninggal dunia, maka sebelum meninggal Kaisar Thai Cu telah menunjuk keturunan dari putera sulungnya, jadi cucunya yang amat dikasihinya, untuk menggantikannya dan naik tahtah pada tahun berikutnya. Cucu ini yang merupakan kaisar ke dua dari kerajaan Beng bernama Hui Ti. Peristiwa inilah yang mengakibatkan perang saudara. Pangeran Yung Lo atau lebih tepat Raja Muda Yung Lo yang menguasai daerah pertahanan di Peking, tidak mau menerima pengangkatan keponakannya menjadi kaisar pengganti ayahnya. Dia merasa lebih berhak dan lebih berjasa. Oleh karena itu, Yung Lo membawa bala tentara dan menyerbu ke selatan, ke Nan-king. Terjadilah perang saudara. Perang saudara selalu mengerikan, dimana terjadi bunuh-membunuh antara saudara sendiri, antara bangsa sendiri. Rakyat pun terpecah-pecah dan saling hantam. Semua ini terjadi hanya karena ulah tingkah atasan yang memperebutkan kedudukan. Untuk mencapai cita-cita pribadi, rakyat dijadikan umpan, kedok, perisai dan senjata. Padahal kalau cita-cita sudah tercapai dan pribadinya dimabuk kemuliaan, kemewahan dan kesenangan, biasanya rakyat dilupakan begitu saja!

Di bagian manapun di dunia ini, setiap kali terjadi perang, rakyat jelatalah yang menderita paling hebat. Di dalam masa yang keruh ini, bermunculan oknum-oknum yang mempergunakan kesempatan melampiaskan nafsu-nafsu jahatnya. Perampokan-perampokan, penculikan dan fitnah yang diakhiri pelaksanaan hukum rimba bermunculan dimana-mana.

Sudah lazim bahwa dalam setiap menghadapi sebuah peristiwa, bermacam-macamlah pendapat orang. Karena setiap buah kepala orang mengandung pendapat berlainan, bahkan celakanya berlawanan, maka inilah yang menjadi sebab timbulnya pertentangan yang mengakibatkan perpecahan dan keributan. Juga di dunia persilatan terjadi perpecahan sebagai akibat daripada pendapat yang berlawanan terhadap perang saudara yang timbul di kerajaan Beng yang baru itu. Ada yang pro utara (Raja Muda Yung Lo), ada pula yang pro selatan (Kaisar Hui To) maka diantara mereka terjadilah perang sendiri.

Akan tetapi banyak pula golongan tokoh persilatan yang mengundurkan diri, tidak mau mencampuri segala pertentangan dan peperangan itu. Di antara mereka ini adalah Kun-lun-pai yang dipimpin oleh tosu-tosu yang insyaf akan buruknya pertentangan dan peperangan antara saudara sebangsa. Thian Seng Cinjin, tosu tua berusia seratus tahun yang pada waktu ini menjadi ketua Kun-lun-pai, mengeluarkan larangan keras bagi semua anak murid Kun-lun-pai untuk melibatkan diri dalam perang saudara itu. Bahkan ketua ini memanggil semua tokoh-tokoh Kun-lun-pai untuk diajak berkumpul di puncak Kun-lun yang menjadi pusat dari perkumpulan ini dan bersama-sama melakukan samadhi sebagai latihan dan sebagai keprihatinan, dan di samping ini, sang ketua memperdalam pengetahuan mereka tentang pelajaran dalam Agama To (Taoism).

"Murid-murid Kun-lun-pai yang baik," demikian antara lain Thian Seng Cinjin berkata sambil memandang murid-muridnya yang duduk bersila di sekeliling depannya. "Dalam keadaan seperti sekarang ini, camkanlah pelajaran ke lima puluh tujuh." Kemudian kakek ini bersenandung membaca isi pelajaran yang mengandung makna dalam sekali.

"Dengan keadilan negara dapat diatur dengan siasat peperangan dapat dilakukan, namun hanya dengan mengekang diri (tak bertindak) dunia dapat dimenangkan.

Bagaimana kami tahu yang sedemikian itu?

Karena ini:

Makin banyak larangan orang makin menderita, makin banyak dipergunakan senjata, makin banyak timbul kekacauan, makin banyak kepintaran, makin banyak perbuatan yang aneh-aneh, makin banyak hukum diundangkan, makin banyak terjadi pelanggaran.

Maka Orang Bijaksana berkata: Kami mengekang diri (tak bertindak), rakyat berubah ke arah kebaikan, kami suka akan ketenangan, rakyat tenteram dan damai. Kami tidak bertindak, rakyat hidup makmur, kami tidak berkehendak, rakyat pun bersahaja dan jujur.

Selanjutnya dengan suara penuh kesabaran, Thian Seng Cinjin memberi wejangan kepada murid-murid Kun-lun-pai, menegaskan bahwa sebagai penganut To dan murid Kun-lun-pai yang gagah perkasa dan bijaksana mereka harus menyerahkan segala peristiwa kepada kekuasaan alam berdasarkan kewajaran. Hanya bergerak untuk menghadapi dan menanggulangi keadaan sebagai akibat. Jangan sekali-kali menjadi sebab timbulnya sesuatu ketegangan. Hal ini hanya mudah dicapai dengan sikap diam dan tidak mencampuri urusan yang tidak menyangkut diri pribadi. Karena pendirian inilah maka Thian Seng Cinjin melarang murid-muridnya terlibat dalam perang saudara, karena sekali mereka turun tangan, mereka akan makin mengeruhkan suasana dan memperbesar penyembelihan antara saudara sebangsa.

Semua wejangan dan percakapan yang terjadi di ruangan belajar yang luas itu didengarkan penuh perhatian oleh seorang anak laki-laki yang sedang bekerja membersihkan jendela-jendela dan pintu-pintu dengan kain kuning. Anak laki-laki ini berusia kurang lebih dua belas tahun, berwajah tampan dan berpakaian sederhana, dari kain kasar. Yang menarik pada anak ini adalah sepasang matanya, karena pandang matanya amat tajam, dengan biji mata yang terang jarang bergerak, membayangkan pikiran yang dalam, pandangan luas dan penuh pengertian.

Bocah yang menjadi kacung (pelayan) di kuil besar Kun-lun-pai ini adalah Cia Keng Hong, dan sudah dua tahun dia berada di kuil itu. Dia adalah seorang anak yatim piatu, karena keluarganya, ayah-bundanya dan saudara-saudaranya, semua telah tewas ketika perang saudara mulai pecah. Mendiang ayahnya adalah seorang thungcu (lurah) di dusun Kwi-bun dan keluarga Cia ini terbasmi habis ketika gerombolan perampok yang muncul di waktu perang saudara ini menyerbu dan merampok serta membasmi seluruh penduduk Kwi-bun. Karena lurah dusun ini melakukan perlawanan, maka semua keluarganya terbasmi habis. Keng Hong yang kebetulan pada saat itu ikut menggembala kerbau bersama seorang pelayan di luar dusun, selamat terbebas daripada bencana maut. Dalam keributan ini muncullah Kiang Tojin, tosu yang menjadi murid kepala Thian Seng Cinjin. Tosu ini sedang melakukan perjalanan merantau dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendekar dan penyebar Agama To. Melihat perbuatan keji para perampok di dusun Kwi-bun, dia cepat menggunakan kepandaiannya menolong penduduk dan berhasil mengusir para perampok. Kemudian oleh Kiang Tojin yang amat tertarik melihat Keng Hong, anak itu diajak ke Kun-lun-san dan disitu Keng Hong bekerja sebagai seorang kacung. Sebetulnya, Keng Hong hendak dijadikan murid Kun-lun-pai, akan tetapi bocah ini tidak mau menjadi tokong (calon tosu). Pada waktu itu, murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon yang memegang keras peraturan, yaitu setiap orang murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon tosu.

Karena penolakannya ini, Keng Hong yang sudah tidak mempunyai keluarga itu bekerja sebagai seorang kacung. Dia rajin sekali, semua pekerjaan dia pegang, apa saja yang diperlukan, tanpa diperintah dia kerjakan. Mengisi tempat air, membersihkan kuil, menyapu lantai dan kebun, merawat bunga, bahkan menggembala kerbau milik kuil yang dipergunakn untuk meluku sawah, semua dia kerjakan dengan tekun dan rajin. Di malam hari, karena para tosu yang sayang kepadanya membolehkannya, dia memasuki kamar perpustakaan dan membaca kitab-kitab. Semenjak kecil, di rumah ayahnya dahulu, Keng Hong telah mempelajari ilmu kesusasteraan sesuai dengan kehendak ayahnya yang ingin melihat dia kelak menjadi seorang terpelajar agar dapat memperoleh kedudukan tinggi. Kitab-kitab tentang filsafat kebatinan, pelajaran-pelajaran Tao, juga kitab-kitab pelajaran dasar ilmu silat Kun-lun, semua dia baca. Tentu saja karena tidak ada gurunya, dia hanya bisa membaca tanpa dapat menangkap jelas inti sarinya.

Kerajinannya dan sifatnya yang pendiam membuat para tosu suka kepadanya. Bahkan Thian Seng Cinjin sendiri yang melihat sifat-sifat baik anak ini, memujinya dan diam-diam merasa kecewa mengapa anak yang berbakat baik ini tidak suka menjadi calon tosu. Di lain fihak, Keng Hong paling segan dan takut melihat Thian Seng Cinjin. Ia melihat sesuatu yang aneh dan penuh wibawa pada diri tosu tua ini, baik gerak-geriknya, dari suaranya dan terutama sekali dari pandang matanya yang tenang penuh kesabaran dan seolah-olah dapat menjenguk isi hatinya itu.

Dia sedang membersihkan daun-daun pintu dan jendela yang terkena debu ketika Thian Seng Cinjin dan anak muridnya berkumpul di ruangan belajar. Karena dia tidak diusir dan memang dia bekerja tanpa mengeluarkan suara, maka Keng Hong dapat melihat dan mendengar semua. Suasana di ruangan belajar itu amat hening dan para murid mendengarkan wejangan guru mereka dengan penuh hormat dan kesungguhan, membuat Keng Hong makin hati-hati agar tidak mengganggu, namun dia kadang-kadang sampai lupa akan pekerjaannya karena mendengar hal-hal yang amat menarik hatinya. Ia mendengarkan terus.

"Suhu, di puncak Kiam-kok-san telah terjadi keributan," demikian Kiang Tojin, penolongnya dan merupakan tosu yang paling dihormati dan dicintai Keng Hong, berkata melapor. "Agaknya Sin-jiu Kiam-ong sudah kumat lagi watak mudanya yang suka akan keributan. Menurut pelaporan para murid Suhu, ada sembilan orang tokoh kang-ouw, termasuk dua orang hwesio Siauw-lim-pai, dua orang tokoh Hoa-san-pai dan seorang tosu Kong-thong-pai, mendatanginya untuk minta pedang Siang-bhok-kiam. Mereka dilayani oleh Sin-jiu Kiam-ong yang berjanji sebulan lagi akan menanti mereka di hutan mawar sebelah selatan di kaki gunung. Mohon keputusan Suhu karena keributan ini terjadi di wilayah kita."

"Siancai..., siancai....! Sie-taihiap (pendekar besar she sie) semenjak dahulu selalu mengejar kesenangan dan ketegangan. Namun harus diakui bahwa di balik kebiasaannya yang buruk itu tersembunyi watak pendekar yang patut dipuji. Kita orang-orang Kun-lun-pai bukan merupakan golongan yang tak kenal budi. Sie-taihiap pernah menanam budi kepada kita maka kita membolehkan dia bertapa di Kiam-kok-san yang merupakan tempat suci bagi kita karena dahulu sucouw(Kakek guru) kita memilih tempat itu sebagai tempat bertapa sampai musnah dari dunia. Kini Sie-taihiap mengundang keributan, biarlah kita tidak mencampurinya. Pinto melarang seorang pun murid Kun-lun-pai untuk ikut campur tangan dan biarlah Sie-taihiap menyelesaikan urusannya sebagaimana yag dia kehendaki."

Mendengar percakapan mereka tentang Sin-jiu Kiam-ong yang berwatak aneh, Keng Hong menjadi tertarik sekali. Sudah banyak dia membaca tentang keanehan para pendekar. biarpun Kun-lun-pai merupakan pusat pendekar-pendekar sakti dan dia pun maklum bahwa Kiang Tojin penolongnya adalah seorang berilmu tinggi, apalagi guru penolongnya itu tentu seorang yang sakti, namun mereka tak memperlihatkan kepandaian mereka dan hidup sebagai pertapa-pertapa dan petani-petani biasa. Maka kini mendengar akan Sin-jiu Kiam-ong yang hendak menghadapi lawan-lawan sakti di kaki gunung sebelah selatan, di dalam hutan mawar, dia menjadi ingin sekali menonton.

Demikianlah, pada hari yang ditentukan sebulan sesudah pertemuan di puncak yang disebut puncak Lembah Pedang, Keng Hong menggembala kerbaunya di luar hutan mawar. Biasanya kalau dia menggembala kerbau yang enam ekor banyaknya itu. Akan tetapi sekali ini dia sengaja menggiring kerbaunya turun ke selatan dan membiarkan kerbaunya itu makan rumput hijau gemuk di luar hutan mawar. Agar tidak kelihatan bahwa dia sengaja datang ke tempat itu untuk menonton pertemuan orang-orang sakti seperti yang dia ketahui dari percakapan ketua Kun-lun-pai dan murid-muridnya, dia berbaring menelungkup di atas punggung kerbau yang terbesar sambil meniup-niup suling bambu yang dibawanya. Keng-Hong memiliki kepandaian istimewa dalam meniup suling, bahkan sejak kecil dia bermain suling, pandai meniup suling menirukan suara ayam dan burung-burung. Juga dengan tiupan sulingnya dia dapat merangkai suara-suara indah dan menciptakan lagu-lagu yang sungguhpun dirangkai sejadinya namun amat sedap didengar.

Sementara semenjak pagi Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong telah duduk bersila di antara sekelompok bunga mawar, dan seperti ketika dia bersila di bawah batu pedang, kini pedang Siang-bhok-kiam juga terletak di depan kedua lututnya. Ia duduk bersila tak bergerak, dengan kedua mata dipejamkan, hening tenggelam ke dalam samadhi.

Tiba-tiba daun telinga kiri kakek ini bergerak dan perlahan-lahan dia mengejapkan matanya. Ia mengerutkan keningnya ketika mencurahkan perhatian dengan pendengarannya. Kakek ini mempunyai kebiasaan yang aneh, yaitu apabila mendengar sesuatu yang mengesankan, daun telinga kirinya dapat bergerak seperti telinga kelinci! Kalau dia sedang samadhi,biarpun ada suara halilintar menyambar diatas kepalanya, dia tidak akan terkejut atau mempedulikan, akan tetap tenang dalam siulannya. Akan tetapi sekali ini, dia sadar dari siulannya (samadhi) karena mendengar tiupan suling yang amat merdu! Suara yang mengandung getaran mengharukan, yang amat halus seolah-olah hembusan angin padda ujung daun-daun bambu. Karena Sin-jiu Kiam-ong memang amat suka mendengar suara suling, maka suara suling penuh getaraan halus ini lebih kuat pengaruhnya daripada ledakan halilintar, menggugahnya dari samadhi dan membuat kakek ini ingin sekali mengetahui siapa gerangan yang dapat meniup suling seindah itu! Jantungnya berdebar. Kalau peniup suling ini seorang di antara lawan yang hari ini akan mendatanginya, berarti dia akan berhadapan dengan seorang yang amat sakti. Hanya orang sakti yang sudah tinggi tingkat kebatinannya saja yang akan mampu meniup seindah dan sebersih itu, dengan getaran-getaran aseli dari watak yang belum dikotori segala macam nafsu duniawi. Saking tertaraiknya, kakek ini bangkit berdiri, menyambar pedang kayunya lalu seringan burung terbang tubuhnya melayang ke arah luar hutan dari mana tiupan suling datang.

Ketika tiba di luar hutan dan melihat bahwa yang meniup suling adalah seorang bocah yang duduk diatas punggung seekor kerbau besar, begitu penuh kedamaian dan ketenangan, sejenak Sin-jiu Kiam-ong tercengang kagum. Kemudian dia menghela napas panjang dan berbisik.

"Engkau telah menjadi pikun, terlalu tua! Dimana bisa terdapat orang begitu bersih hatinya sehingga tercermin pada tiupan sulingnya? Hanya seorang bocah yang akan sanggup meniup suling seperti itu. Di dunia ini mana terdapat orang yang hatinya bersih melebihi hati seorang bocah?" Ia lalu melangkah masuk ke dalam hutan mawar kembali sambil menggeleng-geleng kepala dan mencela kebodohan sendiri. Tak lama kemudian dia sudah susuk bersila lagi, akan tetapi sekali ini dia tidak bersamadhi, melainkan memasang pendengarannya menikmati alunan lagu yang terhembus keluar dari lubang-lubang suling.

Kakek ini tahu bahwa berturut-turut telah datang sembilan orang sakti yang sebulan yang lalu telah mengunjunginya di Kiam-kok-san, akan tetapi dia tidak perduli, bahakan pura-pura tidak tahu dan masih menikmati alunan suara suling yang terdengar sayup sampai. Ia seperti orang terpesona dan tenggelam dalam hikmat suara itu, yang membawanya melayang-layang kemblai kepada masa mudanya dan diam-diam dia menyesali diri sendiri. Sungguh dia harus merasa malu bahwa diambang kematiannya, karena memang dia telah mangambil keputusan untk menyerahkan nyawanya tanpa melawan kepada sembilan orang ini, belum pernah dia melakukan jasa sedikit pun selama hidupnya. Bahkan sebaliknya, dia selalu hidup mengejar kesenangan, bergelimang dalam cinta kasihnya dengan banyak waita yang dibalasnya hanya karena dorongan nafsu berahi. Belum pernah selama hidupnya dia menjatuhkan hati, mencinta seorang wanita dengan murni. Betapa dia hidup secara berandalan, tidak mau membedakan antara baik dan buruk, ugal-ugalan, merampas kitab-kitab dan benda-benda pusaka, mendatangi jagaoan-jagoan hanya untuk memuaskan nafsunya ingin menang, menyerbu partai-partai persilatan untuk mengalahkan ketua-ketuanya. Sungguhpun dia semenjak dahulu selalu tidak mempunyai niat menjahati orang lain, anamun wataknya yang ugal-ugalan tanpa dia sadari telah menyakitkan hati banyak orang. Kini datanglah penyesalan dan makin dia perhatikan suara suling yang mengalun merdu itu makin terharulah haitnya. Perlahan-lahan suara suling itu makin melemah, kemudian terhenti seolah-olah peniupnya sudah merasa bosan dan lelah, seperti dia yang merasa bosan untuk hidup lebih lama lagi, sudah lelah untuk berurusan dengan dunia yang lebih banyak deritanya daripada senangnya.

Setelah suara suling terhenti, Sin-jiu Kiam-ong mengangkat mukanya. Pandang matanya menyapu para pengunjung yang sudah berdiri berjajar di depannya dalam keadaan siap siaga, dengan senjata di tangan masing-masing karena mereka itu kini datang untuk bertindak, bukan untuk bicara lagi. Semua mata sembilan orang itu ditujukan ke arah Siang-bhok-kiam yang menjadi pusat perhatian dan yang sesungguhnya merupakan sebab utama kunjungan mereka.

"Ahhh, kalian sudah datang? Nah, aku pun sudah siap. Sekarang aku tidak akan melawan san kalau hendak bunuh aku, lakukanlah cepat-cepat. Akan tetapi, karena yang membunuhku berhak memiliki Siang-bhok-kiam maka lebih dahulu hendak kujelaskan kegunaan pedang ini." Kakek itu mengambil pedang kayu dari depannya. Pedang ini terbuat dari kayu yang jarang terdapat di dunia ini, karena kayu itu adalah kayu harum yang terdapat di dekat Puncak Pegunungan Himalaya di dunia barat. Dalam perantauannya, Sin-jiu Kiam-ong mandapatkan pedang itu sebagai anugerah dari seorang pertapa India yang sudah mendekati saat terakhir. Kayu dari sebatang pohon yang mungkin hanya ada beberapa batang saja di seluruh puncak Himalaya. Kayu yang amat harum baunya, dan keras laksana baja. Akan tetapi selain harum juga kayu ini merupakan obat penlak segala pengaruh racun. Barang beracun apa saja apabila tersentuh kayu ini seolah-olah terhisap racunnya dan tidak berbahaya lagi.

"Siang-bhok-kiam ini adalah sahabatku selama puluhan tahun," ia berkata sambil menarik napas panjang dan mencium pedang itu dengan ujung hidungnya. "Bukan hanya merupakan pedang wasiat yang amat keramat, juga pemilik pedang ini akan dapat membuka rahasia tempat penyimpanan seluruh milikku, dari kitab-kitab pusaka berisi pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi sampai simpanan perhiasan-perhiasan berharga dan senjata-senjata mustika. Betapapun juga hanya dia yang berjodoh saja agaknya yang akan dapat memiliki semua itu melalui pedang ini. Akan tetapi kalian harus ingat baik-baik, karena kalian semua menghendaki pedang ini, maka kurasa siapapun di antara kalian tidak akan mudah membunuhku sungguhpun aku berjanji takkan melawan dengan sebuah jari tanganku. Nah, aku sudah siap, siapa mau turun tangan merampas pedang, lakukanlah, aku tidak akan menghalangi!" Setelah berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong menaruh pedang itu kembali ke depan kakinya diatas tanah lalu bersedekap dan memejamkan matanya. Mulutnya tersenyum iklas, sama iklasnya dengan hatinya yang telah bulat menyambut datangnya maut.

"Sie Cun Hong, aku maafkan dosamu asal kau memberikan pedang itu kepadaku!" terdengar teriakan Kiu-bwe Toanio Lu Sian Cu yang disusul bunyi "tar-tar-tar!" nyaring sekali. Sinar-sinar hitam manyambar karena sembilan ujung cambuk yang mempunyai kaitan-kaitan itu telah menyambar ke arah peddang kayu di depan Sin-jiu Kiam-ong.

"Trang-trang-trang....!" Bunga api berpijar dan kesembilan "ekor" cambuk terpental.

"Kalian mau apa?" bentak Kiu-bwe Toanio marah dan mukanya menjadi merah, matanya mendelik memandang ke arah delapan orang lain yang telah maju menangkis cambuknya.

"Hemmm, bukan engkau saja yang membutuhkan pedang Siang-bhok-kiam, KIu-bwe Toanio, kami pun memerlukannya!" Ucapan ini keluar dari mulut Coa Kiu kakek tokoh Hoa-san-pai dan secepat kilat Coa Kiu dan Coa Bu, kedua Hoa-san Siang-sin-kiam telah menggerakkan pedang mereka menjadi sebuah sinar panjang dan kuat menuju ke arah Siang-bhok-kiam dengan maksud mendahului dan merampas pedang kayu itu sebelum yang lain sempat bergerak.

"Trang-trang...!!" Kembali sinar pedang yang kuat ini terpental karena ditankis oleh banyak senjata.

"Ho-ho-ho, Hoa-san Siang-sin-kiam, jangan tergesa-gesa! Pinceng juga butuh.........!" Thian Kek Hwesio tokoh Siauw-lim-pai yang berkulit hitam itu mengejek.

Senyum di bibir Sin-jiu Kiam-ong melebar dan kini sembilan orang yang saling pandang itu mengerutkan kening. Baru mereka ketahui apa artinya ucapan Sin-jiu Kiam-ong tadi yang mengatakan bahwa siapapun di antara mereka takkan mudah membunuh kakek itu biarpun si kakek tidak melawannya. Kiranya kakek itu sudah dapar menduga lebih dulu bahwa di antara sembilan orang ini tentu akan terjadi perebutan!

Sementara itu, di balik sebatang pohon besar bersembunyi Keng Hong. Bocah ini tadinya meniup suling diatas punggung kerbau dan memasuki hutan sambil melanjutkan meniup sulingnya perlahan-lahan. Setelah tiba di tengah hutan, dia terpaksa menghentikan tiupan sulingnya yang tadi dilakukan hanya untuk menentramkan hatinya yang berdebar-debar dan dia menyelinap di antara pohon-pohon ketika melihat banyak orang berdiri di lapangan terbuka di hutan mawar itu. Sambil menahan nafas dia menonton dan mendengarkan seluruh percakapan. Diam-diam timbul rasa suka dan kasihan di hatinya terhadap kakek aneh yang duduk bersila, apalagi setelah dia mendengar ucapan kakek itu seolah-olah telah menyerahkan nyawanya kepada sembilan orang yang sikapnya mengancam itu. Dan pada saat yang sama timbul rasa tidak suka kepada mereka. Dia sudah banyak membaca tentang watak orang-orang budiman, bijaksana dan gagah perkasa, watak para pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kegagahan. Akan tetapi sembilan orang itu hendak mengeroyok seorang kakek tua renta yang sama sekali tidak mau melakukan perlawanan. Alangkah picik dan hina!

Sembilan orang itu kini saling berhadapan dengan pandang mata penuh kemarahan. Tak seorangpun di antara mereka mengeluarkan kata-kata, namun pandang mata mereka sudah menyatakan perasaan mereka dengan jelas dan seluruh urat syaraf di tubuh sudah menegang, siap menggempur lawan untuk memperebutkan pedang pusaka yang amat mereka inginkan itu.

Akhirnya Kok Cin Cu, orang termuda dari Kong-thong Ngo-lojin, menghela napas panjang dan berkata, suaranya seperti biasa halus namun penuh wibawa.

"Mencapai cita-cita tinggi tidaklah mudah, mendapatkan Siang-bhok-kiam benda pusaka tentu saja amat sukar. Memang patut ditempuh dengan mempertaruhkan nyawa. Baiklah, mari kita semua membuktikan, siapa di antara kita yang paling tepat dan berjodoh memiliki Siang-bhok-kiam." Setelah berkata demikian, Kok Cin Cu meraba pinggangnya dan "singgg!" terdengar suara nyaring ketika tosu tua ini melolos sabuknya yang ternyata merupakan sabuk baja yang tipis dan halus. Kiranya sabuk ini merupakan senjata istimewa tosu itu, dimainkan seperti orang memegang sebuah pecut yang tajam. Sabuk ini mengeluarkan suara berdesing dan tampak sinarnya berkelebatan menyilaukan. Sambil memutar sabuk itu diatas kepala, lengan kiri tosu lihai ini mengeluarkan bunyi berkerotokan, terisi oleh Ilmu Ang-liong-jiauw-kang yang agaknya lebih mengerikan dan lihai daripada sabuk baja itu sendiri!

"Omitohud! Terpaksa kita melanggar pantangan membunuh, Sute!" kata Thian Ti Hwesio yang beralis putih kepada sutenya sambil memutar tongkat yang dibawanya. Bukan tongkat sembarangan tongkat, karena tongkat itu adalah sebatang tongkat senjata yang disebut Liong-cu-pang (Tongkat Mustika Naga), tongkat yang ujungnya besar bulat seperti bola baja, dan beratnya tidak akan kurang dari dua ratus kati! Sutenya, si tinggi besar berkulit hitam Thian Kek Hweiso sudah mengeluarkan suara gerengan dan begitu dia menggerakkan tangan kanan terdengar suara "Wuuuuttt....!" dan angin keras menyambar. Kiranya dia telah melolos jubah yang dipakainya tadi dan kini jubah itu telah dia pegang ujungnya. Jangan dianggap ringan senjata jubah ini, karena berada di tangan hwesio tinggi besar itu, jubah ini bisa berubah menjadi senjata yang kerasnya melebihi baja, lemasnya melebihi sutera dan tajamnya menandingi pedang!

Keng Hong memandang dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Ia melihat betapa kakek tua renta yang duduk bersila itu sama sekali tidak bergerak, masih memejamkan mata akan tetapi senyum di mulutnya jelas mengandung ejekan, seolah-olah kakek itu menahan rasa geli dan memaksa diri tidak tertawa bergelak. Dia sendiri pun merasa geli dan ingin tertawa menyaksikan tingkah laku sembilan orang itu yang dianggapnya seperti badut-badut tak tahu malu atau seperti segerombolan anjing hendak memperebutkan tulang. Dari tempat dia sembunyi, pedang di depan kakek tua itu memang seperti sepotong tulang saja. Akan tetapi mana mungkin dia bisa tertawa menyaksikan sembilan orang itu kini telah mengeluarkan senjata semua?

Di lain saat, pandang Keng Hong menjadi silau dan kabur, telinganya seperti tuli ketika terdengar suara desing senjata yang hiruk pikuk, matanya melihat sinar-sinar berkelebatan. Dia ternganga keheranan dan hampir tak dapat mempercayai ddan hampir tak dapat mempercayai pandang matanya sendiri sembilan orang-orang tua itu telah lenyap tubuhnya dan yang tampak kini hanya bayangan-bayangan berkelebatan dibungkus sinar bermacam-macam, ada merah, putih, hijau dan kuning. Suaranya juga bising sekali, ada suara meledak-ledak seperti halilintar, suara mendesis seperti ular marah, suara bersuitan seperti angin badai, berkerosokan seperti angin mengamuk dan berdentangan, seperti disitu terdapat banyak pandai besi bekerja! Di tengah-tengah semua hiruk pikuk dan sinar berkelebatan itu, jelas tampak kakek tua renta masih duduk bersila dengan mulut tersenyum lebar. Pedang kayu itu masih menggeletak mati di depan kakinya.

Pertempuran yang kacau-balau itu amat serunya dan terutama sekali perhatian masing-masing ditujukan untuk mencegah lain orang merampas pedang maka sampai lama tidak ada korban yang jatuh, apalagi karena mereka itu terdiri dari orang-orang yang telah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat. Tanpa mereka sadari , mereka itu saling bantu dalam pertempuran kacau-balau itu.

Biarpun kedua matanya dipejamkan, telinga Sin-jiu Kiam-ong dapat menangkap jalannya pertandingan dan hatinya terpingkal-pingkal, akan tetapi juga mata hatinya terbuka lebar. Beginilah watak manusia di seluruh jagat, pikirnya. Pertempuran antara tokoh besar ini mencerminkan keadaan di dunia, mencerminkan watak manusia yang amat bodoh dan lucu, seolah-olah manusia di dunia ini memainkan peran badut yang menggelikan! Manusia di dunia ini selalu saling hantam, saling memperebutkan demi pemuasan nafsu pribadi yang mereka sebut cita-cita. Padahal, hakekatnya mereka itu hanya memperebutkan kedudukan, atau nama, atau harta, atau pemuasan nafsu. Untuk mencapai "cita-cita" ini, mereka tidak segan-segan untuk saling menjatuhkan fitnah, saling mengejek, saling menyalahkan, saling menipu, saling merugikan dan kalau perlu saling membunuh! Yang besar melahap yang kecil, yang kecil mencaplok yang lebih kecil lagi sedangkan yang besar dilalap yang lebih besar lagi! Kedudukan, kemuliaan, nama besar, harta benda, benda-benda indah, wanita cantik diperebutkan secara tak kenal malu seolah-olah kesemuanya itu akan mendatangkan bahagia dalam hidup masing-masing. Padahal, dan ini sudah dialami oleh Sin-jiu Kiam-ong selama petualangannya puluhan tahun, kesemuanya itu kosong belaka. Kesemuanya itu akan musnah kenikmatannya setelah didapatkannya, bukan kebahagiaan yang didapat, melainkan terlalu sering sekali mendatangkan kepahitan malah. Karena yang menang akan mabuk dan diintai mata dan hati si kala yang penuh iri dan dendam, yang kala akan mabuk oleh dendam dan penasaran sehingga mencari segala daya upaya untuk menjatuhkan kembali yang menang! Kakek ini seolah-olah dapat melihat betapa yang akhirnya mendapatkan pedang Siang-bhok-kiam selalu akan dirundung malang, selalu dimusuhi, dikejar-kejar. Ingin dia tertawa kalau memikirkan hal ini!

Tiba-tiba terdengar suara ketawa tergelak-gelak. Suara ketawa yang memekakkan telinga, yang membuat Keng Hong tiba-tiba roboh berlutut karena kedua kakinya menggigil. Tampak berkelebat tiga bayangan hitam dan pertandingan yang tadinya kacau balau itu tiba-tiba berhenti karena sembilan orang itu terpelanting ke kanan kiri. Kini mereka bersembilan berdiri siap siaga dengan wajah penuh peluh, mata liar mengganas memandang ke arah tiga orang yang tiba-tiba muncul dan yang sekaligus membuat mereka yang sembilan orang itu tokoh-tokoh kenamaan yang berilmu tinggi, terpelanting ke kanan kiri.

Keng Hong kini dapat berdiri kembali dan dia pun mengintai, memandang ke arah tiga orang itu. Jantungnya berdebar keras dan mulutnya melongo, matanya terbelalak hatinya diliputi kengerian. Tentu bukan manusia yang muncul ini, melainkan tiga iblis penghuni hutan. Belum pernah Keng Hong melihat orang-orang yang memiliki wajah dan tubuh demikian mengerikan. Orang pertama adalah seorang nenek yang rambutnya kemerahan, rambut gimbal yang kasar dan riap-riapan menutupi sebagian mukanya. Muka itu sendiri seperti udang direbus, mulutnya menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar dan panjang-panjang sehingga bibirnya tidak dapat tertutup dan selalu menyeringai. Pakaiannya dari sutera hitam berkembang merah dengan potongan ketat sehingga melekat di kulit tubuhnya, mencetak tubuhnya seperti telanjang bulat dan tampak betapa sepasang buah dadanya besar-besar seperti buah semangka. Nenek ini tidak memegang senjata, akan tetapi sepuluh buah kuku jari tangannya panjang-panjang dan meruncing seperti sepuluh batang pisau yang hitam kemerahan, amat mengerikan!

Orang ke dua adalah seorang kakek yang usianya sebaya dengan nenek itu, kurang lebih delapan puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, sedikitnya tentu ada dua meter, besar dan kulitnya hitam arang penuh bulu. Kalau tidak pakai pakaian dia tentu lebih patut disebut orang hutan. Pakaiannya juga dari sutera berwarna berkembang. Karena kulit mukanya juga hitam seperti arang, maka tampaklah biji matanya putih lebar menyeramkan. Kedua telinganya seperti telinga gajah, lebar. Yang mengerikan adalah sepasang tengkorak kecil, agaknya tengkorak anak-anak, yang tergantung di kedua rantai baja, dua buah tengkorak yang sudah menghitam dan agaknya mengeras seperti besi karena kedua tengkorak itu telah direndam racun sampai puluhan tahun lamanya.

Adapun orang ke tiga, sungguhpun tidak tinggi besar menyeramkan, namun cukup mengerikan karena bentuknya yang tidak lumrah. Tubuhnya kecil kate, akan tetapi kepalanya besar sekali berbentuk lonjong seperti buah labu, mukanya sempit dengan sepasang mata yang hanya merupakan dua buah garis kecil, sikapnya pendiam dan alim. Tangan kanannya memegang sebatang hudtim (kebutan dewa) yang gagangnya hitam namun bulu kebutannya putih. Kedua lengannya bersedakap dan bibirnya selalu bergerak-gerak seperti orang membaca doa!

Yang tertawa-tawa adalah nenek dan kakek tinggi besar itu. Kini pun kakek tinggi besar masih tertawa sehingga dua buah tengkorak kecil yang tergantung di pinggangnya bergerak-gerak dan saling beradu menimbulkan suara seolah-olah dua buah tengkorak itu ikut pula tertawa. Sembilan oran tokoh kang-ouw, yang tadinya terpelanting ke kanan kiri, setelah dapat memandang tiga orang ini, tampak kaget sekali, tercengang dan gentar. Tiga orang manusia iblis ini memang jarang muncul di dunia ramai, namun mereka sebagai tokoh-tokoh kang-ouw kenamaan tentu saja mengenal siapa adanya tiga datuk persilatan, raja-raja dari golongan sesat ini. Nenek itu bukan lain adalah Ang-bin Kwi-bo (Nenek Iblis Muka Merah) yang seolah-olah merajai kaum sesat di sepanjang pantai laut timur. Kakek tinggi besar berkulit hitam dengan senjata dua buah tengkorak itu adalah Pak-san Kwi-ong (Raja Setan Gunung Utara) yang merajai kaum sesat di sepanjang tembok besar di utara, bahkan terkenal sekali dan ditakuti oleh bangsa-bangsa Mongol, Mancu dan lain-lain. Orang ketiga yang kate dan bersikap seperti dewa itu dikenal dengan nama julukan Pat-jiu Sian-ong (Raja Dewa Lengan Delapan), karena Pat-jiu Sian-ong ini selalu merantau ke barat dan tidak pernah ada tokoh yang dapat menandinginya. Inilah tiga orang di antara empat datuk kaum sesat yang pada masaitu merupakan tokoh-tokoh tertinggi ilmunya dan yang tersebar merajai empat penjuru.

"Ha-ha-ha!” Pak-san Kwi-ong tertawa mengejek dan menyapu sembilan orang itu dengan pandang mata. Biji matanya yang putih itu bergerak-gerak lliar ke kanan kiri, amat menyeramkan. "Kiranya tikus-tikus ini pun kepingin mendapatkan Siang-bhok-kiam! Ha-ha-ha! Memang benar sekali, sebelum berhak mendapatkan pedang pusaka, harus menjadi pemenang lebih dulu. Kalian ini tikus-tikus pelbagai golongan, setelah kami bertiga datang, tidak lekas menggelinding pergi, apakah ingin kami turun tangan menjadikan kalian sebagai setan-setan tanpa kepala?"

"Kwi-ong, usir saja anjing-anjing itu. Kalau dibunuh, teman-temannya akan mengonggong, kelak akan membikin repot saja!" kata Ang-bin Kwi-bo sambil menyeringai.

Sembilan orang itu adalah tokoh-tokoh dunia kang-ouw golongan bersih. Sungguhpun pada saat itu mereka saling bertentangan dalam memperebutkan Siang-bhok-kiam, namun mereka tetap merasa diri mereka bersih. Kini menghadapi tiga orang tokoh yang menjadi datuk kaum sesat, tentu saja mereka merasa bertemu dengan lawan dan otomatis mereka itu melupakan pertentangan sendiri, di dalam hati telah bersatu untuk menghadapi tiga lawan yang mereka tahu memiliki kesaktian hebat itu. Namun sebagai tokoh-tokoh besar dunia persilatan, mereka tidak menjadi gentar.

"Bagus! kalau kami tidak salah kira kalian bertiga ini tentulah tiga orang di antara Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding)! Memang, siapa yang paling kuat di antara kami berhak memiliki Siang-bhok-kiam, akan tetapi kalian ini iblis-iblis berwajah manusia tidak masuk hitungan, dan sudah menjadi kewajiban kami semua pendekar golongan bersih untuk membasmi iblis-iblis kaum sesat macam kalian bertiga!"

Terdengar suara kekeh ketawa melengking tinggi dan Ang-bin Kwi-bo sudah menerjang maju menyerang Sin-to Gihiap yang bicara tadi. Pendekar ahli golok yang sudah berusia delapan puluh tahun, sudah banyak pengalamannya bertanding dan pada masa itu sukar dicari tandingannya dalam permainan golok, menjadi kaget bukan main karena nenek itu menyerangnya dengan senjata yang amat luar biasa, yaitu.....rambutnya! Rambut yang gimbal kasar panjang ini bagaikan ratusan ekor ular menerjangnya, mengeluarkan suara seperti anak panah menyambar dan didahului bau amis seperti ular beracun. Cepat Sin-to Gi-hiap memutar goloknya untuk menjaga diri, namun sebagian daripada rambut itu mengulung goloknya dan sebagian lagi terus menyambar ke arah lehernya!

Pada saat itu terdengar seruan keras, "Omitohud!" dan kedua orang Siauw-lim-pai yaitu Thian Ti Hwesio dan Thian Kek Hwesio telah menerjang secara berbarengan. Thian Ti Hwesio menggunakan Liong-cu-pang menghantam kepala nenek itu, sedangkan Thian Kek Hwesio menggerakkan jubahnya menangkis ke arah rambut yang mengancam nyawa Sin-to Gi-hiap! Sambil terkekeh aneh Ang-bin Kwi-bo menarik kembali rambutnya dan melangkah mundur kemudian ia mengulur kedua lengan, lengan kiri menyampok Liong-cu-pang sehingga hampir saja terlepas dari pegangan Thian Ti Hwesio, sedangkan lengan kanannya melingkar di depan dada.

Kini sepuluh buah kuku jari tangan nenek itu sudah berubah makin menghitam dan jari-jari tangan itu bergerak-gerak aneh, amat mengerikan. Betapapun juga, dua orang tokoh Siauw-lim-pai bersama Sin-to Gi-hiap tidak menjadi gentar dan siap-siap mengurungnya.

Pendekar-pendekar tua yang lain tidak tinggal diam. Sungguhpun tidak ada yang memimpin dan tidak ada komando, mereka sudah menerjang maju. Kiu-bwe Toa-nio bersama dua orang tokoh Hoa-san-pai sudah maju mengurung Pak-san Kwi-ong. Kiu-bwe Toanio menggerak-gerakkan cambuk berekor sembilan yang mengeluarkan suara ledakan-ledakan kecil, sedangkan kedua orang tokoh Hoa-san-pai itu sudah menyatukan pedang mereka.

Adapun sepasang suami istri piauw-su, yaitu Hek-houw Tan Kai Sek dan isterinya, bersama Kok Cin Cu tokoh lihai Kong-thong-pai, telah mengurung Pat-jiu Sian-ong yang tampak tenang-tenang saja. Si kate kepala besar ini hanya mengebut-ngebutkan hudtim di tangannya seperti orang mengusir lalat, namun hudtim yang dikebut-kebutkan perlahan-lahan itu mengeluarkan suara bersiuatan seolah-olah datagn angin topan yang dahsyat! Suara ini diimbangi oleh suara menderu yang keluar dari rantai yang ujungnya ada sepasang tengkoraknya, yaitu senjata yang kini diayun-ayun oleh Pak-san Kwi-ong.

Keng Hong menonton dengan jantung berdebar-debar. Sungguh keadaan telah berubah amat mengherankan. Sembilan orang yang tadinya saling bertanding dan lenyap bayangannya terganti oleh sinar-sinar berkelebatan, kini bersatu padu menghadapi tiga orang manusia iblis yang mengerikan. Biarpun mereka itu belum saling serang, namun keadaan sudah amat menegangkan. Ketika Keng Hong melirik ke arah kakek tua renta yang duduk bersila, dia melihat betapa Sin-jiu Kiam-ong masih duduk diam tak bergerak, namun senyum mengejek di bibirnya kini tidak tampak lagi dan kedua mata yang tadinya dipejamkan kini terbuka. Keng Hong terkejut karena sepasang mata kakek tua renta itu mengeluarkan sinar yang berkilat!

Akan tetapi perhatian Keng Hong segera tertarik oleh pertandingan yang sudah dimulai. Begitu dia mengalihkan pandang matanya, dia menjadi pening. Pertandingan sekali ini ternyata lebih hebat dan cepat daripada tadi. Bayangan-bayangan manusia berkelebatan, sukar dia kenal bayangan siapa, berkelebatan cepat di antara sinar-sinar terang dan gulungan-gulunga uap hitam, dan terdengar suara bermacam-macam yang menusuk-nusuk telinga, selain itu tercium bau yang amis dan keras memuakkan. Namun, pertandingan itu berjalan sebentar saja. Terdengar kekeh tawa Ang-bin Kwi-bo diseling gelak tawa Pak-san Kwi-ong, disusul suara senjata-senjata patah dan tubuh sembilan orang pengeroyok itu terpelanting lagi ke kanan kiri, namun sekali ini agak keras, bahkan terbanting ke tanah.

Ketika sinar-sinar itu lenyap, Keng Hong melihat betapa sembilan orang itu ada yang terbanting roboh, ada yang terhuyung-huyung ke belakang. Mereka ini menyeringai kesakitan dan bangkit bangun lagi dengan wajah pucat.

Pecut sembilan ekor di tangan Kiu-bwe Toanio kini tinggal lima ekornya, Liong-cu-pang di tangan Thian Ti Hwesio semplak bagian ujung yang bulat, jubah di tangan Thian Kek Hwesio robek, pundak Sin-to Gi-hiap berdarah.

Napas kedua Hoa-san Siang-sin-kiam terengah-engah dan tangan mereka yang memegang pedang menggigil, juga Kok Cin Cu berdiri sambil memejamkan mata dan mengatur pernafasan untuk memulihkan tenaga dan mengobati luka di sebelah dalam tubuhnya, sepasang suami-isteri piauwsu itu pun memandang pedang mereka yang tinggal sepotong, sedangkan kantong-kantong senjata rahasia mereka sudah kosong karena isinya hanya habis dihamburkan dengan sia-sia.

"Hi-hi-hik! Kalian berani menentang Bu-tek Sam-kwi (Tiga Iblis Tanpa Tanding)?" kata Ang-bin Kwi-bo.

"Kelancangan kalian harus ditebus dengan nyawa!" kata Pak-san Kwi-ong sambil tertawa.

"Bersembahyanglah lebih dahulu sebelum menemui Giam-lo-ong (Raja Maut)!"

Kini untuk pertama kalinya terdengar suara Pat-jiu Sian-ong, dan ternyata suara halus dan seperti suara orang yang penuh kasih sayang!

Sembilan orang itu sudah siap-siap. Mereka itu kesemuanya telah menderita luka, dan yang tidak terluka telah mengorbankan senjatanya menjadi rusak.

Namun karena maklum bahwa nyawa mereka terancam maut, mereka siap-siaga untuk melawan sampai detik terakhir.

Keng Hong biarpun tidak tahu akan ilmu silat, apalagi ilmu silat tinggi yang dimainkan mereka, dari percakapan itu maklum pula bahwa tiga orang manusia iblis itu siap untuk membunuh sembilan orang tokoh pendekar itu, maka dia membelalakan mata sambil memandang penuh ketegangan. Suling bambu di tangannya dia pegang erat-erat, seolah-olah dia pun bersiap-siap menerima terjangan maut.

Setelah tertawa lagi, tiga orang manusia iblis itu bergerak. Berbarengan dengan gerakan mereka, masing-masing mengarah tiga orang lawan terdekat. Rambut kepala Ang-bin Kwi-bo menyambar ke depan, berlumba cepat dengan rantai tengkorak dan hudtim di tangan kedua orang kawannya. Sembilan orang yang sudah lemah itu maklum bahwa kali ini nyawa mereka tidak berdaya menghadapi kehebatan tiga orang lawan ini, apalagi sekarang setelah mereka terluka dan lemah. Betapapun juga mereka terluka dan lemah. Betapapun juga mereka menggerakkan tangan untuk mempertahankan diri.

Tiba-tiba terdengar suara mencicit keras dan nyaring sekali, berbarengan berkelebat sinar hijau yang panjang dan tebal, disusul bunyi "Cring-cring-tranggg....!" dan tiga orang manusia iblis itu mencelat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget. Tangkisan sinar hijau tadi membuat sebagian rambut kepala Ang-bin Kwi-ong rontok, kedua tengkorak Pak-san Kwi-ong berputaran dan kebutan hudtim di tangan Pat-jiu Sian-ong bodol tiga helai! Peristiwa ini bagi tiga orang manusia iblis merupakan hal yang amat hebatnya, karena tak pernah mereka mengira ada orang yang mampu sekali tangkis menolak mundur mereka. Karena kaget dan heran mereka mencelat mundur dan kini mereka memandang denga mata terbelalak penuh dengan kemarahan. Kiranya di depan mereka telah berdiri Sin-jiu Kiam-ong yang tersenyum-senyum dan pedang Siang-bhok-kiam yang diperebutkan itu berada di tangan kanannya.Kakek ini tenang-tenang saja menoleh ke belakang dan berkata kepada sembilan orang tokoh kang-ouw yang memandang dengan mata terbelalak kagum.

"Harap Kiu-wi (kalian sembilan orang) suka mundur. Biarlah aku menghadapi mereka karena tiga iblis ini adalah tandinganku!"

Biarpun angkuh dan menjunjung kegagahan, sembilan orang ini pun merupakan orang-orang yang mengenal keadaan. Maka sambil menghela napas panjang mereka lalu melangkah mundur dan hanya menonton dari pinggiran.

"Sin-jiu Kiam-ong!" Kini Pak-san Kwi-ong membentak dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek tua renta itu. "Kabarnya engkau telah mengundurkan diri dan tidak mau mencampuri urusan dunia ramai. Bahkan tadi kami mendengar bahwa engkau telah menyerahkan nyawa, tidak hendak melakukan perlawanan. Mengapa sekarang engkau menentang kami? Apakah engkau sudah melupakan kegagahanmu dan hendak melakukan perlawanan. Mengapa sekarang engkau menentang kami? Apakah engkau sudah melupakan kegagahanmu dan hendak mampus sebagai seorang pengecut rendah yang menarik kembali ucapannya yang masih terdengar gemanya?"

Sin-jiu Kiam-ong tertawa, kemudian menjawab, "Hemmm, kalian Bu-tek Sam-kwi dengarlah baik-baik! Aku sama sekali tidak pernah berjanji kepada kalian bertiga! Aku berjanji kepada sembilan orang yang mewakili partai-partai yang pernah ku ganggu. Aku berhutang kepada mereka, maka kini aku bersedia membayar dengan nyawaku. Pedang Siang-bhok-kiam ini sama harganya dengan nyawaku, maka kalau kalian bertiga datang hendak memperoleh Siang-bhok-kiam, harus lebih dulu dapat merampas nyawaku!"

"Bagus! Sin-jiu Kiam-ong manusia sombong yang sudah hampir mampus! Kami masih suka bicara denganmu karena mengingat bahwa engkau setingkat dengan kami. Jangan sekali-kali mengira bahwa kami takut kepadamu!" bentak Ang-bin Kwi-bo marah.

"Heh-heh-heh, Kwi-bo, dahulu, setengah abad yang lalu, engkau cantik jelita dan memiliki kesukaan yang sama dengan aku, yaitu berenang dalam lautan asmara. Akan tetapi sekarang, heh-heh-heh, engkau buruk sekali.......!"

"Gila....!" Ang-bin Kwi-bo menerjang dengan kedua tangannya dan sepuluh buah kuku runcing mengandung racun dahsyat itu sudah mencakar ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Kakek ini menggoyang pergelangan tangannya, sinar hijau berkelebat dan si nenek memekik keras dan cepat menarik kembali kedua tangannya yang dari kedudukan menyerang berbalik terancam dibabat buntung oleh Siang-bhok-kiam! Dua orang kawannya tidak tinggal diam. Mereka sudah menerjang maju dan terjadilah pertempuran yang lebih dahsyat lagi daripadatadi. Sembilan orang sakti yang menonton, hampir berbarengan mengeluarkan seruan-seruan kagum. Mereka adalah orang-orang sakti maka dengan pandang mata mereka yang terlatih , mereka dapat menikmati dan mengagumi permainan pedang Sin-jiu Kiam-ong yang benar-benar belum pernah mereka saksikan keduanya di dunia ini. Juga mereka merasa ngeri karena setelah kini mereka dapat mengikuti sepak terjang tiga orang iblis itu yang benar-benar luar biasa dan amat berbahaya.

Bagi Keng Hong, tentu saja penglihatan pada saat itu lain lagi. Ia tidak melihat lagi Sin-jiu Kiam-ong dan tiga orang iblis. Bayangan mereka sudah lenyap. Yang tampak olehnya hanyalah segulung sinar hijau se3perti seekor naga bermain-main diantar mega-mega yang beraneka warna, ada mega hitam, ada yang putih dan ada yang kemerahan. Pandang matanya berkunang dan kepalanya menjadi pening sehingga Keng Hong terpaksa harus memejamkan matanya. Kalau dia membuka matanya, dia menjadi silau dan berkunang lagi. Terpaksa dia meramkan terus matanya, dan hanya mendengarkan dengan telinganya. Yang terdengar hanya lengking dan suara bercuitan, tidak tahu dia bagaimana jalannya pertandingan itu, siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Jangankan bagi mata Keng Hong yang tidak terlatih, bahkan sembilan orang sakti yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya itu pun menjadi silau dan pening. Makin lama gerakan Sin-jiu Kiam-ong dan tiga orang lawannya, terutama sekali gerakan Raja Dewa Lengan Delapan, makin cepat sehingga sukar diikuti pandangan mata lagi. Sinar pedang Siang-bhok-kiam yang hijau itu mendadak menjadi lebar sekali ketika terdengar Sin-jiu Kiam-ong membentak, dan tampaklah sinar hijau mencuat ke tiga jurusan seperti bercabang, disusul pekik kesakitan tiga orang iblis. Namun tampak jelas oleh sembilan orang itu betapa ujung pedang Siang-bhok-kiam berhasil melukai dada ketiga orang iblis, dan sebaliknya, pipi kanan Sin-jiu Kiam-ong terkena guratan kuku tangna Ang-bin Kwi-bo dan punggungnya terkena gebukan sebuah tengkorak yang terbang membalik dan seolah-olah mencium punggung kakek itu. Sin-jiu Kiam-ong terhuyung ke belakang, akan tetapi tiga orang lawannya juga mencelat sampai tiga tombak jauhnya.

Mereka kini berdiri saling pandang, tak bergerak. Tiga orang iblis itu terengah-engah, pandang mata mereka beringas, mulut menyeringai. Tiga orang iblis ini diam-diam merasa girang sekali. Sin-jiu Kiam-ong telah terkena luka beracun. Racun-racun di kuku Ang-bin Kwi-bo amat hebatnya, dan racun di tengkorak Pak-san Kwi-ong juga tak kalah ampuhnya. Kalau mereka bertanding lagi, amatlah sukar mengalahkan kakek itu yang benar-benar patut berjuluk Raja Pedang karena permainan pedangnya memang hebat di samping pedang itu sendiri amat ampuh. Akan tetapi kalau mereka mengadu sinkang pengerahan tenaga sakti akan membuat racun itu menjalar hebat dan akan membunuh Sin-jiu Kiam-ong! Dada mereka terkena tusukan ujung pedang Siang-bhok-kiam, namun karena tubuh mereka kebal dan luka itu tidak terlalu dalam, juga tidak mengandung racun, mereka tidak khawatir untuk mengerahkan seluruh sinkang di tubuh mereka.

"Sin-jiu Kiam-ong, bersiaplah untuk mampus!" bentak Pak-san Kwi-ong, yang sudah menekuk kedua lututnya, berdiri setengah jongkok,kemudian setelah dia melibatkan senjata rantai di pinggangnya raksasa hitam ini mendorongkan kedua lengan sambil mengerahkan tenaga sinkang. Itulah pukulan jarak jauh yang mengandalkan Iweekang yang sudah sempurna, dikendalikan oleh sinkang(hawa sakti) untuk memukul lawan dari jarak jauh. Pada saat yang bersamaan, Ang-bin Kwi-bo yang tadi memutar-mutar kedua lengannya hingga terdengar suara berkerotokan, kedua lengannya menggigil kini mendorong lengan kanan ke depan sedangkan lengan kirinya diangkat lurus ke atas dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pat-jiu Sian-ong sudah menancapkan hudtimnya di pinggang, kemudian kedua tangannya bergerak-gerak mendorong ke depan. Berbeda dengan kedua kawannya yang mendorong dan mengerahkan sinkang tanpa menggerakkan lengan, kakek kate ini terus-menerus menggerak-gerakkan kedua lengan dengan telapak tangan menghadap ke arah Sin-jiu Kiam-ong dan melakukan gerakan-gerakan memukul dengan telapak tangan. Terdengar bunyi "wut-wut-wut" dari kedua telapak tangan itu.

Sin-jiu Kiam-ong masih tersenyum. Ia maklum bahwa lawan-lawannya hendak mengadu sinkang. Dia berjuluk Sin-jiu(Tangan Sakti) di samping Kiam-ong(Raja Pedang). Ia maklum bahwa lukanya yang mengandung racun itu merugikannya dalam mengadu sinkang , namun karena tiga orang lawannya sudah siap menantang, dia sebagai seorang yang berjuluk Sin-jiu, bagaimana mungkin akan menolak? Penolakan mengadu singkang berarti memperlihatkan rasa jerih, maka sambil tersenyum dia pun lalu duduk bersila dan begitu tiga orang lawan itu menggerakkan lengan, dia pun lalu mendorong ke depan dengan kedua lengannya, menghadapi lawan. Segera terasa olehnya tenaga gabungan lawan menyerangnya. Ia mengerahkan sinkang, disalurkan ke dalam kedua lengannya, berkumpul di kedua telapak tangannya dan ketika dia mendorong, serangkum tenaga dahsyat menerjang ke depan dan menahan angin pukulan tiga orang lawannya.

Kalau sembilan orang tokoh kang-ouw itu memandang dengan hati penuh ketegangan, Keng Hong memandang dengan melongo dan hati penuh keheranan. Apakah yang mereka lakukan, pikirnya. Sungguh lucu. Mengapa mereka itu diam tak bergerak seperti patung dengan lengan diluruskan ke arah lawan, hanya kakek kate itu saja yang menggerak-gerakkan kedua lengan, mendorong-dorong angin kosong? Apakah mereka itu sedang bermain-main? Ataukah mereka sudi sedemikian tuanya sehingga menjadi pikun atau kehabisan tenaga setelah pertandingan yang serba cepat tadi?

Tiba-tiba terdengar suara "trik-trik-trik!" terus-menerus, makin lama makin nyaring. Kiranya suara itu keluar dari kuku-kuku jari tangan Ang-bin Kwi-bo yang sengaja sambil mendorong menyentil-nyentil antara kuku-kukunya sendiri. Sehingga mengeluarkan bunyi seperti itu. Beberapa detik kemudian suara itu disusul oleh suara menggereng keras yang keluar dari kerongkongan mulut Pat-san Kwi-ong yang terbuka. Suara gerengan yang rendah, namun tiada hentinya, sambung-menyambung dan mengandung getaran hebat. Segera dua suara ini disusul pula dengan suara duk-creng-duk-creng seperti tambur dan gembreng. Kiranya suara ini keluar dari sebuah tambur kecil yang pinggirannya dipasangi kelenengan. Dengan tangan kirinya Pat-jiu Sian-ong memegang tambur ini, sedangkan tangan kanan masih didorong-dorongkan ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Tambur itu oleh kakek pendek ini dipukul-pukulkan kepada paha dan lututnya, sekali pukul pada kulit tambur kemudian pada lingkaran sehingga menimbulkan suara duk-creng-duk-creng nyaring sekali.

Sembilan orang itu tiba-tiba duduk bersila ddan memejamkan mata. Keng-Hong menjadi heran sekali dan lebih kagetlah dia ketika tiba-tiba kedua kakinya gemetar dan dia pun jatuh terduduk. Jantungnya berdebar aneh dan telinganya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Ia melihat betapa Sin-jiu Kiam-ong menjadi pucat wajahnya, tubuhnya menggigil, dahinya penuh keringat dan tubuh kakek yang bersila itu pun mulai gemetar, kedua lengan yang dilonjorkan ke depan bergoyang-goyang! Dia tidak mengerti dan sama sekali tidak tahu bahwa suara-suara yang dikeluarkan oleh tiga orang manusia iblis itu adalah suara mujijat yang mengandung tenaga getaran hebat yang dapat melumpuhkan, bahkan membinasakan lawan! Untung bahwa Keng Hong belum pernah mempelajari Iweekang karena kalau dia sudah mempelajarinya dan mengerti akan pengaruh suara ini, tentu dia sudah roboh binasa. Memang suara-suara mujijat tidaklah begitu hebat pengaruhnya terhadap mereka yang tidak mengerti sama sekali, hanya menimbulkan suara tidak enak yang menusuk-nusuk telinga, dan getaran itu hanya membuat kaki menggigil dan lemas.

"Dasar manusia-manusia iblis!" Keng Hong menjadi marah karena rasa tidak enak pada telinganya hampir tak tertahankan olehnya. Ia teringat akan sulingnya maka dengna gemas dan marah dia lalu meniup sulingnya. Suara-suara itu begitu bising dan tak enak didengar, pikirnya. Lebih baik aku memperdengarkan suara suling yang merdu untuk mengusir suara tidak enak! Pendapat secara ngawur ini segera dilaksanakan dan tak lama kemudian, suara-suara bising tidak enak itu bercampur dengan suara tiupan sulingnya.

Bocah ini memang seorang ahli meniup suling yang berbakat. Karena tidak ada yang membimbing, maka dia merupakan peniup murid alam! Ia dapat menirukan suara-suara yang didengarnya. Kalau hatinya senagn, tiupannya mengandung suara yagn gembira ria dan tentu terasa oleh siapapun juga yang mendengarnya. Kalau dia berduka atau marah, suara sulingnya tentu membawa getaran perasaannyaini tanpa disadarinya. Kini dia sedang marah, maka suara sulingnya juga penuh kemarahan, bergelora dan membubung tinggi, melengking-lengking seperti bocah rewel menangis. Akan tetapi karena terpengaruh oleh suara lain, kepandaiannya yang timbul dari bakatnya membuat dia meniru suara-suara itu sehingga terdengarlah suara suling yang amat aneh. Kadang-kadang meniru suara berkeritik kuku-kuku Ang-bin Kui-bo kadang-kadang seperti menggerengnya tenggorokan Pak-san Kwi-ong dan sering kali mengarah suara tambur di tangan Pat-jiu Sian-ong! Hiruk-pikuk tidak karuan, namun justru kekacauan inilah yang mengacau pula daya tekun dan daya serang rangkaian tiga suara yang dikeluarkan oleh Bu-tek Sam-kwi!

Setelah meniup sulingnya untuk menyatakan kemarahannya terhadap suara-suara bising yang tak sedap didengar itu Keng Hong merasa kekuatannya pulih kembali. Ia mengangkat muka memandang dan melihat betapa kakek tua renta yang duduk bersila itu kini tidak lagi menggigil sungguhpun wajahnya masih pucat. Sepasang mata kakek itu ditujukan kepadanya, hanya sekilas pandang, namun Keng Hong dapat merasa betapa pandang mata kepadanya itu penuh kagum, rasa syukur dan gembira! Hal ini menimbulkan kegembiraan di dalam hatinya. Keng Hong bukan seorang anak bodoh. Tidak, sebaliknya malah. Dia amat cerdik dan biarpun dia tidak mengerti mengapa demikian, namun dia dapat menduga bahwa suara sulingnya telah membantu kakek ini! Kegembiraannya membuat dia bertekad untuk mengacau terus suara-suara bising yang keluar dari tiga orang manusia iblis itu. Setelah meniup sulingnya makin keras dan makin kacau dia menghentikan tiupan sulingnya untuk diganti dengan suara nyanyiannya yang nyaring. Bocah ini memang memiliki suara yang nyaring dan cukup merdu. Akan tetapi karena dia ingin mangejek orang-orang yang mengganggu kakek tua itu, dia teringat akan bunyi ujar-ujar dalam kitab-kitab kuno yang dibacanya, yang dia lupa lagi entah dari kitab mana, kemudian dia menyanyikan ujar-ujar itu dengan lagu yang dikarangnya sendiri sejadi-jadinya:

"Mengerti akan orang lain adalah bijaksana pikirannya, mengerti akan diri pribadi adalah waspada batinnya!

Menaklukkan orang lain adalah perkasa tubuhnya, Menaklukkan diri pribadi adalah kokoh kuat batinnya!

Merasa puas dengan keadaannya berarti kaya raya, memaksakan kehendak kepada orang lain berarti nekat!

Tahan tanpa derita berarti terus berlangsung, mati tapi tidak musnah berarti panjang usia!"

Karena banyak membaca kitab-kitab kuno tanpa mengerti betul maknanya, bocah ini lupa bahwa yang dinyanyikannya adalah ujar-ujar dalam kitab Totik-khing yang menjadi pegangan penganut Agama To dan tidak tahu bahwa ujar-ujar itu mengandung makna yang amat dalam. Akan tetapi sebagian daripada kata-kata itu kena betul dan mengejek mereka semua yang berada di situ, tidak hanya tiga orang manusia iblis, bahkan juga sembilan orang sakti yang kini sudah tidak lagi terpengaruh suara-suara tiga iblis yang dikacau oleh Keng Hong dan yang mendengarkan dengan mata terbelalak.

Mereka ini, sembilan orang gagah tokoh kang-ouw, mengerti bahwa Sin-jiu Kiam-ong tertolong nyawanya. Tadinya, setelah tiga orang iblis itu menambah penyerangan mereka dengan suara-suara menekan, kakek itu sudah terdesak hebat sekali dan sewaktu-waktu pasti akan roboh binasa. Kini, karena suara itu diganggu, Sin-jiu Kiam-ong kembali dapat menekan mereka tiga orang lawannya.

Tiga orang iblis itu marah sekali. Mereka menghentikan suara mereka dan sambil berseru marah mereka itu lalu meloncat ke depan, menubruk Sin-jiu Kiam-ong. Kakek ini dalam keadaan masih bersila, juga mengeluarkan seruan panjang, tubuhnya mencelat ke atas menyambut terjangan ke orang lawan. Pertemuan hebat terjadi di udara dan terdengar suara nyaring bertemunya senjata disusul jeritan kesakitan tiga orang manusia iblis itu yang terpelanting ke kanan kiri. Kakek itu pun melayang turun lagi dan berdiri tegak dengna pedang Siang-bhok-kiam di tangan. Tiga orang manusia iblis itu pucat wajahnya, kulit leher mereka bertiga lecet dan terluka oleh guratan Siang-bhok-kiam. Setelah memandang sejenak, mereka itu membalikkan tubuh dan dengan hanya beberapa kali loncatan saja ketiganya sudah lenyap dari tempat itu. Kiranya mereka kini menjadi jerih jarena maklum bahwa mereka bertiga tidak akan dapat menenangkan Sin-jiu Kiam-ong sungguhpun selisihnya hanya sedikit saja. Mereka menyesal mengapa tidak mengundang Lam-hai Sin-ni (Wanita Sakti Laut Selatan) yang menjadi orang keempat dari Bu-tek Su-kwi!

Setelah tiga orang manusia iblis itu lenyap dari tempat itu, Sin-jiu Kiam-ong menarik nafas panjang dan tiba-tiba dia terhuyung-huyung lalu roboh! Dengan gerakan lemah kakek ini lalu bangkit dan duduk bersila, wajahnya pucat, nafasnya terengah-engah dan tiba-tiba dari mulutnya menetes-netes darah segar!

Sembilan orang tokoh sakti yang melihat keadaan kakek ini, maklum bahwa Sin-jiu Kiam-ong sudah terluka parah dan mereka melihat kesempatan yang amat baik untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam yang masih berada di dalam genggaman Sin-jiu Kiam-ong. Agaknya mereka itu sudah dapat menerka isi hati masing-masing, karena seperti mendapat komando, sembilan orang itu lalu bergerak maju menghampiri Sin-jiu Kiam-ong. Terdengar kakek itu tertawa di balik batu, lalu berkata.

"Ha-ha-ha..., kalian hendak mengambil Siang-bhok-kiam? Sudah kukatakan, aku tidak akan melawan, apalagi dalam keadaan seperti ini...uh-huh...Bu-tek Sam-kwi benar-benar tangguh...nah, ambillah siapa yang berjodoh...! Ia menancapkan pedang kayu itu di depannya di atas tanah.

Sembilan orang itu tidak ada yang berani bergerak. Mereka percaya bahwa kakek itu tidak akan melarang kalau mereka mengambil pedang, juga maklum bahwa kakek itu sudah lemah sekali. Akan tetapi mereka tidak ada yang berani bergerak karena tahu pula bahwa jika ada yang berani mengambil pedang, tentu akan dihalangi oleh yang lain! Hal ini yang membuat mereka menjadi ragu-ragu.

"Tahan...! Tahan....kalian orang-orang tua yang tak mengenal malu!" Tiba-tiba terdengar teriakan marah dan Keng Hong yang sudah keluar dari tempat sembunyinya itu kini menghampiri Sin-jiu Kiam-ong dan memeluk leher kakek itu dari belakang sambil memandang sembilan orang itu dengan pandang mata penuh kemarahan.

Sembilan orang yang mengenal anak ini sebagai bocah yang tadi telah meniup suling mangacau Bu-tek Sam-kwi, memandang heran. Tadi mereka seperti lupa kepada bocah yang amat berani itu karena mereka terlalu bernafsu untuk mendapatkan pedang. Kini baru mereka teringat dan mereka menduga-duga apakah hubungan anak ini dengan Sin-jiu Kiam-ong.

"Heh, bocah lancang! Saipakah engkau dan mau apa?" bentak kiu-bwe Toanio dengan pandang mata marah.

Namun Keng Hong tidak mempedulikan nenek itu, melainkan bertanya kepada Sin-jiu Kiam-ong, "Kong-kong (kakek), engkau terluka? Ah, mereka ini orang-orang yang tak mengenal budi!"

Sin-jiu Kiam-ong membuka matanya dan memandang bocah itu dengan pandang mata penuh kekaguman dan keharuan. Anehnya, ada dua butir air mata menitik turun dari kedua mata kakek itu! Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebgai seorang petualang di dunia persilatan yang selalu hidup gembira, tak pernah berduka, apalagi menangis! Bahkan ratusan kali menghadapi ancaman maut sekalipun tak pernah memperlihatkan kedukaan. Akan tetapi sekarang dia menitikkan air mata! Setelah menarik nafas panjang, Sin-jiu Kiam-ong kembali memejamkan matanya.

Keng Hong melepaskan rangkulannya pada kakek itu, meloncat di depan Sin-jiu Kiam-ong seolah-olah hendak melindunginya, lalu berkata kepada sembilan orang itu.

"Kalian ini orang-orang gagah macam apa. Tidak mengenal budi, berhati kejam! Siapa tidak tahu bahwa kalau tidak ada kakek ini, kalian sudah mati semua di tangan tiga iblis tadi? Kakek ini yang menolong kalian mengusir tiga iblis dna mengorbankan diri sampai terluka, dan kini kalian tanpa malu-malu hendak membunuhnya! Sungguh pengecut, curang dan kalian ini lebih jahat daripada si tiga iblis! Mereka iut sudah terang orang-orang jahat dan menggunakan nama iblis, mereka sedikitnya lebih jujur daripada kalian. Sebaiknya kalian, tadi kudengar menggunakan nama sebagai golongan bersih, sebagai pendekar-pendekar perkasa namun kenyataannya kalian ini orang-orang munafik yang hanya pada lahirnya saja bersih namun di sebelah dalam lebih busuk daripada yang busuk! Aku Cia Keng Hong walaupun tidak ada hubungan dengan kakek ini, namun aku sebagai manusia tidak rela menyaksikan kejahatan yang melewati batas. Kalau kalian hendak membunuh penolong kalian ini yang terluka parah, jangan melakukan kekejaman kepalang tanggung, bunuhlah aku terlebih dahulu!"

Wajah kesembilan orang itu menjadi merah sekali. Ucapan yang keluar dari mulut anak kecil ini tajam dan runcing melebihi pedang yang langsung menghujam ke ulu hati mereka. Akan tetapi urusan yang mereka hadapi jauh lebih besar. Apa artinya maki-makian seorang anak kecil penggembala kerbau? Tadi ketika memasuki hutan, mereka sudah melihat Keng Hong menyuling di atas kerbaunya. Di balik perbuatan mereka terhadap Sin-jiu Kiam-ong yang keliahatan kejam, tersembunyi persoalan-persoalan dendam yang besar dan kiranya tidak perlu diperdebatkan dengan seorang bocah! Tak mungkin kalau hanya karena maki-makian bocah ini mereka harus membatalkan niat yang sudah dikandung di hati, dibela dengan perjalanan jauh, bahkan yang hampir saja membuat mereka binasa di tangan Bu-tek Sam-kwi.

“Bocah bermulut lancang, kau tahu apa? Hayo minggat dari sini!” Hek-how Tan Kai Sek piauwsu tua itu melangkah maju hendak menyeret dan mendorong pergi Keng Hong, akan tetapi tiba-tiba dia terhuyung mundur karena ada tenaga hebat mendorongnya. Kiranya Sin-jiu Kiam-ong kini sudah bangkit dan berdiri di dekat Keng Hong. Wajah kakek ini masih pucat, akan tetapi sinar matanya berseri dan mulutnya yang masih merah karena darah tersenyum.

“Tak seorangpun boleh mengganggu Cia Keng Hong! Dia ini muridku, dan dialah ahli warisku. Perkenalkan, hei, para pendekar! Pandanglah baik-baik. Inilah dia muridku, orang yang akan mewarisi semua milikku termasuk pedang Siang-bhok-kiam. Ha-ha-ha!”

Sembilan orang itu tercengang! Mereka bersusah payah, mengandalkan dendam mereka untuk berusaha mendapatkan pedang pusaka dan warisan kitab-kitab dan ilmu si raja pedang, kini begitu saja si raja pedang mengangkat murid dan hendak mewariskan Siang-bhok-kiam kepada seorang bocah penggembala kerbau!

"Omitohud...! Kehendak Tuhan terjadi penuh mujisat!" Thian Ti Hwesio mengeluh panjang.

"Sin-jiu Kiam-ong! Engkau melanggar janji...!" bentak Sin-to Gi-hiap. Sin-jiu Kiam-ong tertawa,

"Siapa melanggar janji? Bukankah kukatakan bahwa aku tidak akan melawan kalau kalian hendak membunuhku di sin? Bukankah akupun tidak pernah melawan kalian tadi dan tidak menghalangi kalau kalian hendak merampas pedang Siang-bhok-kiam? Bukankah kukatakan sebulan yang lalu bahwa yang berhak memiliki Siang-bhok-kiam adalah orang yang berjodoh dengannya? Nah, bocah inilah yang berjodoh dengan aku dan dengan pedang ini. Dan ketahuilah, setelah aku mengangkat murid, tentu saja aku tidak mau mati sekarang. Aku ingin hidup lebih lama lagi untuk mendidiknya, sesuai dengan tugas kewajiban seorang guru! Pergilah kalian, pergilah....!”

Sembilan orang itu ragu-ragu dan mereka kecewa serta menyesal sekali. Biarpun Sin-jiu Kiam-ong telah terluka, namun ilmu kepandaiannya yang hebat amat sukar dilawan. Selain itu, mereka sendiripun telah terluka dan kehilangan senjata. Mereka ini adalah orang-orang cerdik. Mereka tahu bahwa Sin-jiu Kiam-ong sudah amat tua, apalagi menderita luka hebat. Kiranya takkan lama lagi usianya. Dan bocah itu jelas belum mengenal ilmu silat sama sekali. Digembleng bagaimana hebatpun, hanya dalam beberapa tahun apa artinya? Akhirnya mereka tentu akan dapat merampas pedang dan kitab-kitab itu, bukan dari tangan Sin-jiu Kiam-ong, melainkan dari tangan ahli warisnya ini!

Pada saat itu, bersilir angin halus dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang tosu yang berwajah gagah penuh wibawa. Dia ini bukan lain adalah Kiang Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang berilmu tinggi itu. Ketika semua orang yang memandang, ternyata bukan hanya Kiang Tojin yang datang, melainkan banyak sekali tosu-tosu Kun-lun-pai, sedikitnya ada tiga puluh orang, semuanya memegang pedang seperti Kiang Tojin, dan gerakan mereka begitu rapi, tangkas dan ringan sehingga tahu-tahu tempat itu telah dikepung!

Kiang Tojin sejenak memandang kepada Keng Hong dengan heran, kemudian dia menjura penuh hormat kepada Sian-jiu Kiam-ong dan berkata, "Mohon maaf kepada Sie-taihiap (pendekar besar she Sie) kalau pinto dan saudara-saudara mengganggu. Akan tetapi, kehadiran banyak sahabat Kang-ouw di Kun-lun-pai masih dapat kami biarkan mengingat bahwa mereka itu adalah tamu-tamu Taihiap, hanya kehadiran tiga Bu-tek Sam-kwi benar-benar tak dapat kami biarkan saja. Tokoh-tokoh datuk hitam macam mereka tidak berhak mengotorkan bumi Kun-lun! Harap Taihiap maklum dan maafkan pinto yang hanya memenuhi perintah suhu."

Sin-jiu Kiam-ong tertawa, dan menarik napas panjang. "Thian Seng Cinjin bersikap amat sabar, sungguh patut dipuji." Kemudian dia menoleh ke arah sembilan orang tokoh yang mengganggunya dan berkata, "Kalau kalian sembilan orang masih tidak hendak lekas pergi, aku tidak akan menganggap kalian sebagai tamu lagi dan terserah kepada pihak Kun-lun-pai akan menganggap kalian bagaimana."

Kiang Tojin memutar tubuhnya memandang sembilan orang itu, keningnya dikerutkan dan dia berkata, suaranya penuh wibawa dan keren. "Di antara cu-wi (tuan sekalian) terdapat tokoh-tokoh partai persilatan besar, tentu cukup tahu akan kedaulatan tuan rumah. Cu-wi datang tanpa memberi tahu Kun-lun-pai, hal ini berarti pelanggaran kedaulatan dan tidak memandang mata kepada kami. Sungguh kami tidak dapat dikatakan keterlaluan kalau terpaksa mengusir cu-wi.”

Sikap Kiang Tojin amat keren dan sembilan orang itu cukup mengenal siapa tosu ini, maklum bahwa selain tingkat ilmu kepandaiannya amat tinggi, juga saudara-saudara Kiang Tojin yang berjumlah tiga puluh orang dan mengurung tempat itu merupakan kekuatan yang tak mungkin dilawan mereka yang sudah terluka. Belum lagi diperhitungkan kalau Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai sendiri yang datang! maka dengan menjura dan menggumamkan kata-kata maaf, lalu membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan tempat itu. Karena mereka adalah orang-orang pandai, gerakan-gerakan mereka amat cepat sehingga dalam sekejap mata saja tempat itu menjadi sunyi dan bayangan mereka tak tampak lagi.

Sin-jiu Kiam-ong lalu berkata kepada Kiang Tojin yang sudah menyimpan kembali pedangnya ditiru oleh saudara-saudaranya yang tetap berdiri menjauh karena mereka itu kesemuanya merupakan tokoh-tokoh yang menghormati si raja pedang yang pernah melepas budi kepada Kun-lun-pai. Hal itu terjadi belasan tahun yang lalu ketika Kun-lun-pai diserbu oleh kaum sesat yang dipimpin oleh seorang datuk kaum sesat yang berilmu tinggi, sehingga Kun-lun-pai mengalami bencana hebat dan terancam kedudukannya.

Semua tokoh Kun-lun-pai, termasuk Thian Seng Cinjin, terdesak dan hanya setelah Sin-jiu Kiam-ong yang secara kebetulan mendengar akan serbuan ini lalu datang membantu, maka pihak musuh dapat dihalau dan si datuk sesat tewas di tangan Sin-jiu Kiam-ong dan Thian Seng Cinjin. Sin-jiu Kiam-ong lalu dianggap sebagai penolong dan diperbolehkan menggunakan Kiam-kok-san, tempat yang tadinya dianggap keramat oleh golongan Kun-lun-pai karena dahulu menjadi tempat bertapa sucouw mereka.

"Kiang-toyu, harap sampaikan kepada Thian seng Cinjin guru kalian bahwa aku minta perkenannya untuk memperpanjang penggunaan Kiam-kok-san sampai beberapa tahun lagi, atau lebih jelas sampai matiku karena aku ingin menggunakan sisa usiaku untuk menggembleng muridku ini." Sin-jiu Kiam-ong meraba kepala Keng Hong yang sudah berlutut ketika melihat Kiang Tojin dan saudara-saudaranya muncul tadi.

Kiang Tojin dan saudara-saudaranya tercengang dan terdengar seruan-seruan kaget dan heran.

"Siancai....sungguh luar biasa sekali nasib anak ini.....! Akan tetapi, Taihiap, menyesal bahwa hal itu tidak mungkin dapat dilakukan karena..... karena anak ini adalah orang Kun-lun-pai....!”

Sin-jiu Kiam-ong mengerutkan alisnya dan pandang matanya berubah kecewa. Selama hidupnya dia selalu membawa kehendak sendiri dan tidak mempedulikan peraturan orang lain, akan tetapi terhadap Kun-lun-pai dia merasa sungkan dan dia tahu benar bahwa kalau memang anak ini seorang murid Kun-lun-pai, amat tidak baik kalau dia memaksa dan mengambilnya sebagai murid, betapapun sukanya dia terhadap anak ini. Ia lalu menunduk dan bertanya kepada Keng Hong.

"Hong-ji (anak Hong), benarkah engkau seorang anak murid Kun-lun-pai?” Keng Hong tadinya terheran, bingung dan juga diam-diam merasa tegang ketika secara tiba-tiba dia diangkat murid Sin-jiu Kiam-ong, dijadikan ahli waris kakek yang luar biasa itu. Namun, perasaan yang aneh sekali membuat hatinya menjadi besar dan bahagia dan timbul tekad di hatinya bahwa dia harus menjadi murid kakek ini, harus menjadi seorang pandai untuk menghadapi manusia-manusia jahat, terutama sekali manusia-manusia munafik yang banyak terdapat memenuhi jagat ini. Kini mendengar prcakapan antara tosu penolongnya dan Sin-jiu Kiam-ong, dia cepat berkata.

"Bukan! aku bukan murid Kun-lun-pai! memang aku bekerja menjadi kacung di Kun-lun-pai, akan tetapi aku sama sekali bukan anak muridnya dan sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu silat di Kun-lun-pai!”

"Kiang Tojin! apa artinya keterangan yang bertentangan ini?" Sin-jiu Kiam-ong menoleh kepada tosu itu dengan pandang mata penuh teguran.

"Maaf, harap Taihiap suka mendengarkan penjelasan pinto. Tadi pinto sama sekali tidak mengatakan bahwa Keng Hong adalah anak murid Kun-lun-pai hanya mengatakan bahwa dia adalah orang Kun-lun-pai. Hendaknya Taihiap ketahui bahwa anak ini berasal dari sebuah dusun yang dilanda bencana perampokan, seluruh keluarganya musnah dan secara kebetulan pinto dapat menyelamatkannya dan membawanya ke Kun-lun-pai. Semula kami hendak menjadikannya murid Kun-lun-pai, akan tetapi kami terbentur oleh peraturan baru. Belum lama ini suhu membuat peraturan baru bahwa setiap orang anak murid dari Kun-lun-pai haruslah seorang penganut agama To. Karena Keng Hong tidak mau menjadi calon tosu, maka sampai kini dia berada di Kun-lun-pai selama dua tahun dan bekerja sebagai pembantu. Namun, kami telah menganggapnya sebagai orang sendiri.”

"Hemmm, begitukah? kalau begitu, dia bukan anak murid Kun-lun-pai, hanya kacung! tiada halangan bagiku untuk mengambilnya sebagai murid. Eh, Kiang-toyu, apakah engkau berkeberatan kalau dia kuambil murid?”

"Mana pinto berani, Taihiap? Hanya saja, hal ini tergantung kepada si bocah sendiri. Keng Hong, pinto telah menyelamatkanmu daripada bencana. Apakah sekarang kau begitu tak ingat budi dan hendak meninggalkan pinto? Apakah benar-benar engkau suka menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong?”

Keng Hong bangkit berdiri, setelah dia menyaksikan sepak terjang tiga orang manusia iblis dan sembilan orang yang mengaku sebagai tokoh-tokoh kang-ouw, hatinya menjadi dingin terhadap Kun-lun-pai yang tadinya dia junjung tinggi sebagai pusat orang-orang sakti yang budiman. Ia memandang tajam kepada Kiang Tojin lalu berkata.

"Totiang, sampai matipun saya tidak akan menyangkal bahwa Totiang telah menolong nyawa saya dan sampai matipun saya akan selalu ingat dan akan berusaha membalas budi Totiang itu. Akan tetapi, apakah budi yang totiang lepas itu mengandung pamrih agar selama hidup saya harus ikut dan menurut segala kehendak Totiang? Apakah totiang hendak merampas kebebasan saya? Totiang, pernah saya membaca ujar-ujar dalam kitab kuno bahwa budi disertai pamrih bukanlah pelepasan budi namanya, melainkan pemberian hutang yang harus di bayar kembali beserta bunga-bunganya! Apakah Totiang menghutangkan budi kepada saya!?”

"Ha-ha-ha-ha-ha....!" Sin-jiu Kiam-ong tertawa terpingkal-pingkal dan dia mengelus-elus kepala anak itu. "Bocah, engkau penuh dengan semangat menggelora! Eh, Kiang-toyu, maafkan saya, ya. Agaknya bocah ini sudah ketularan watakku! Sekarang engkau hendak bilang apa lagi, Toyu?”

Wajah Kiang Tojin menjadi merah, ia menjadi gemas kepada anak itu karena sesungguhnya tidak ada sedikit pun pamrih di hatinya minta dibalas budi oleh anak itu. Dia tadi berusaha memisahkan Keng Hong dari Sin-jiu Kiam-ong karena sesungguhnya di dalam hatinya dia tidak rela dan tidak suka melihat Keng Hong menjadi murid kakek luar biasa ini. Perasaan ini semata-mata tinmbul karena rasa sayang kepada Keng Hong. Dia mengenal orang macam apa adanya Sin-jiu Kiam-ong, seorang yang semenjak mudanya hanya mengandalkan kepandaian malang melintang, seorang petualang yang tidak segan-segan melakukan segala macam kemaksiatan, pengejar kesenangan pemuas nafsu. Ia ingin melihat Keng Hong menjadi seorang yang baik dan dia mengerti bahwa kalau anak ini menjadi murid si raja pedang, tentu akan mewarisi pula wataknya yang liar dan jiwa petualangnya. Ia menghela nafas dan berkata,

"Siancai....hanya Tuhan yang mengetahui isi hati manusia! Taihiap, tidak sekali-kali saya ingin mempengaruhi Keng Hong dan terserahlah kalau memang dia sendiri suka menjadi murid Taihiap. Hanya ada satu hal yang hendaknya diketahui baik oleh Taihiap dan terutama oleh Keng Hong sendiri. Karena dia bukan anak murid Kun-lun-pai, dan tidak ada sangkut pautnya dengan Kun-lun-pai, maka di kelak kemudian hari segala sepak terjangnya tidak ada hubungannya dengan Kun-lun-pai. Taihiap dipersilahkan menempati Kiam-kok-san karena Taihiap merupakan seorang penolong Kun-lun-pai, akan tetapi kelak, kalau Taihiap tidak lagi berada di Kiam-kok-san, tentu saja kami akan melarang Keng Hong berada di wilayah kami. Nah, selamat berpisah, Taihiap, semoga Thian selalu melindungi dan melimpahkan berkahNya.” Tosu itu memberi isyarat kepada saudara-saudaranya dan setelah menjura ke arah Sin-jiu Kiam-ong lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke puncak dan memberi laporan kepada Thian seng Cinjin.

Sin-jiu Kiam-ong tertawa dan memegang tangan Keng Hong diajak mendaki puncak Kiam-kok-san sambil berkata, "Jangan menganggap semua omongan tosu itu, Hong-ji. Mereka itu adalah orang-orang yang terikat, terbelenggu kaki tangannya oleh agamanya, kasihan....! Segala peraturan yang dibuat manusia merupakan belenggu-belenggu yang akan mengikat kaki tangannya sendiri. Eh, namamu memakai huruf Hong, sama dengan namaku. Memang kita berjodoh....auggghhh....!" Kakek itu memegangi dadanya dan kakinya terhuyung.

"Eh...kenapa? Suhu..... Suhu terluka...?"

Wajah yang menyeringai menahan nyeri itu berseri kembali. "Ah, tidak seberapa hebat. Tahukah engkau bahwa ketika engkau menyebut Kong-kong kepadaku, aku merasa seolah-olah engkau ini cucuku sendiri? Ha-ha-ha! Alangkah lucunya, kawin pun belum pernah, bagaimana bisa punya cucu? Kau lebih tepat menjadi muridku. Hemmm...., akan kuberikan seluruh milikku kepadamu, muridku. Mudah-mudahan saja tidak terlambat. Mari kita naik ke Kiam-kok-san dan engkau harus rajin belajar karena waktunya tidak banyak. Aku...setan laknat tiga iblis itu.... aku terluka, kalau hanya racun saja sudah di punahkan Siang-bhok-kiam, akan tetapi...ah, pukulan mereka merusak isi dadaku yang sudah kurang kuat...! Mudah-mudahan tidak terlambat...."

Keng Hong tidak mengerti apa yang dimaksudkan suhunya, namun dengan patuh dia lalu mengikuti suhunya mendaki puncak. Ketika mereka tiba di bawah batu pedang, Sin-jiu Kiam-ong mengempitnya dan merayap ke atas. Keng Hong merasa ngeri, akan tetapi dia menguatkan hatinya dan sedikit pun tidak menyatakan rasa ngerinya! Ketika mereka memasuki halimun tebal yang menutup bagian puncak batu pedang, Keng Hong hampir menjadi kaku oleh rasa dingin. Seluruh tubuhnya menggigil, sampai gigi atas beradu dengan gigi bawah namun dia tetap bertahan, tidak mau mengeluh sama sekali. Ketika suhunya melepaskannya dan Keng Hong memandang sekelilingnya, dia melihat bahwa kini dia berada di puncak batu pedang, dan bahwa puncaknya tidak meruncing seperti tampaknya dari bawah dan halimun tebal itu pun tidak mencapai puncak, melainkan mengambang di bawah. Puncak itu sendiri tersinar cahaya matahari yang amat indah dan puncak itu lebar berbentuk segi empat seolah-olah tadinya puncak itu meruncing kemudian patah. Lebarnya lebih dari lima puluh meter dan di situ terdapat sebuah pondok kecil, dan tanah atau batu di situ ditumbuhi rumput dan lumut hijau muda.

Sekeliling puncak itu hanya tampak halimun belaka, seolah-olah tempat itu bukan bagian dunia lagi, melainkan di dunia lain, di tengah-tengah langit antara awan-awan putih! Akan tetapi Keng Hong tidak kuat lagi karena tiba-tiba perutnya menjadi kejang-kejang saking dinginnya dan dia roboh pingsan di dekat kaki gurunnya!

Keng Hong sadar di dekat api unggun, ketika dia bangkit dan duduk, dia melihat gurunya bersila di dekatnya dan guru ini menempelkan telapak tangan pada punggungnya.

"Duduklah bersila, Keng Hong, dan atur napas perlahan-lahan. Dengan bantuan api yang panas, tekankan dalam hati dan pikiranmu bahwa hawa sama sekali tidak dingin, bahkan agak panas. Jangan ragu-ragu, kubantu engkau.”

Betapa mungkin, bantah hati anak itu. Hawa amat dinginnya, bahkan panasnya api tidak terasa sama sekali olehnya. Kalau tidak ada telapak tangan gurunya menempel di punggungnya, telapak tangannya yang seolah-olah memasukkan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya, tentu dia takkan kuat menahan. Akan tetapi dia mematuhi perintah suhunya, duduk bersila dan bernapas dalam-dalam, panjang-panjang, sambil menekankan keyakinan bahwa hawa sesungguhnya tidaklah sedingin yang dianggapnya semula. Memang tadinya agak sukar, akan tetapi makin hening dia memusatkan perhatian, makin terasa bahwa memang dia keliru menduga. Memang hawa tidaklah amat dingin. Makin lama makin panas sampai mulailah keluar peluh di lehernya!

"Tubuh kita hanya merupakan alat, muridku. Kalau kuat batin kita, kita akan dapat menguasai alat yang akan melakukan segala perintah otak dan kemauan kita. Engkau harus berlatih seperti ini, memperkuat kemauan sehingga seluruh anggota tubuhmu tunduk dan taat kepadamu. Kalau hatimu bilang panas, kalau menyatakan dingin, tubuhmu harus merasa dingin pula.” Demikian kakek itu memberi pelajaran pertama.

Guru dan murid itu amat tekunnya. Sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih tekun, si guru yang mengajar ataukah si murid yang belajar. Keng Hong belajar ilmu dan berlatih tanpa mengenal waktu. Tidak ada perbedaan antara siang atau malam baginya, baik puncak batu pedang itu sedang terang ataukah sedang gelap. Baginya kini tidak ada bedanya karena dia dapat melihat di dalam gelap saking hebatnya gemblengan yang diberikan gurunya. Ia mengaso kalau tubuhnya sudah tidak kuat lagi, hanya tidur kalau matanya sudah tidak kuat menahan kantuk, hanya makan kalau perutnya sudah tidak dapat menahan lapar dan minum kalau kerongkongannya sudah tidak dapat menahan haus. Dalam beberapa bulan saja dia sudah dapat turun dari batu pedang untuk mencari bahan makanan menggantikan pekerjaan gurunya.

Sin-jiu Kiam-ong menggembleng muridnya dengan cara yang luar biasa, segala pengertian dasar ilmu silat dia berikan dengan cara kilat. Latihan lweekang dan ginkang dia berikan dan tekankan agar dilatih terus-menerus oleh muridnya. Latihan samadhi dan mengatur pernapasan untuk mengumpulkan sinkang (hawa sakti) di dalam tubuh, sambil sedikit demi sedikit "memindahkan" sinkangnya sendiri melalui telapak tangan yang dia tempelkan di punggung muridnya.

Luar biasa sekali kemajuan yang diperoleh Keng Hong. Cepat dan memang anak ini amat cerdik, setiap pelajaran yang diberikan selalu menempel di dalam ingatannya. Akan tetapi sebaliknya, kalau Keng Hong memperoleh kemajuan yang hebat dan cepat, adalah Sin-jiu Kiam-ong makin lama makin lemah dan pucat. Makin sering kakek ini terbatuk-batuk, kadang-kadang batuknya mengeluarkan darah. Kakek ini menderita luka di sebelah dalam tubuhnya akibat pertandingan melawan Bu-tek Sam-kwi dahulu dan kini karena terlampau rajin dan memaksa tenaga, dia menjadi berpenyakitan dan lemah. Namun hal ini tidak mengurangi semangatnya dan terus melatih muridnya secara teliti dan tekun karena dia merasa yakin bahwa hal ini merupakan kewajiban terakhir dalam hidupnya yang tidak berapa lama lagi itu.

Sang waktu lewat dengan amat cepatnya. Memang tidak keliru kalau dikatakan oleh penyair kuno bahwa kecepatan waktu melebihi kilat, namun lambatnya mengalahkan kelambatan seekor keong. Setahun terasa seperti sehari kalau diperhatikan, sebaliknya kalau diperhatikan dan ditunggu, sehari terasa setahun! Demikian cepatnya sang waktu berputar sehingga tak tampak dan tak terasa lagi, seolah-olah berhenti, padahal segala sesuatu terseret dan hanyut dalam perputarannya, dilahap dan ditelan habis, untuk kemudian dilahirkan dan dilenyapkan lagi.

Tanpa terasa, apalagi bagi yang mengalaminya sendiri, telah lima tahun lamanya Keng hong hidup berdua dengan gurunya di puncak batu pedang. Dari seorang bocah berusia dua belas tahun, kini berusia tujuh belas tahun! Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dengan kulit yang segar dan putih kemerahan membayangkan kesehatan sempurna dan kekuatan muzijat tersembunyi di dalam tubuhnya. Pakaiannya sederhana, hanya kain polos berwarna kuning yang kasar, dibuat pakaian secara kasar pula. Warna kuning adalah warna kesukaannya.

Akan tetapi, selama lima tahun itu, kalau muridnya menjadi makin sehat dan kuat, adalah si guru makin lemah dan tua. Kalau orang yang lima tahun lalu bertemu dengan Sin-jiu Kiam-ong kini melihatnya tentu akan menjadi kaget. Kakek ini sudah kelihatan tua sekali, tubuhnya kurus kering dan hanya sepasang matanya saja yang kadang-kadang tampak berseri penuh semangat, itupun hanya kalau dia sedang melatih muridnya.

Pada hari itu, sinar matahari telah menembus awan tipis menerangi permukaan puncak batu pedang. Seperti biasa, Keng Hong bersila dan berlatih, memusatkan panca indera menerima sinar matahari pagi yang mengandung daya kekuatan muzijat untuk meningkatkan tenaga sinkang di tubuhnya. Seperti biasa pula, gurunya duduk bersila tak jauh dari tempat dia duduk.

"Keng Hong.....!"

Suara gurunya merupakan satu-satunya suara yang akan menyadarkan Keng Hong setiap saat, karena selama lima tahun ini hanya suara gurunya inilah yang menjadi pusat perhatiannya. Ia cepat sadar dari latihannya dan membuka mata, memandang gurunya. Hati pemuda remaja ini berdebar. Wajah gurunya tampak berbeda dari biasanya, sungguhpun wajah itu masih membayangkan seri dan gembira, namun ada sesuatu yang menonjol, sesuatu pada wajah pucat dan kurus itu yang membuat jantungnya berdebar, wajah gurunya hari ini seperti matahari tertutup awan tebal, suram-muram kehilangan cahayanya.

"Suhu memanggil teecu? Ada perintah apakah, Suhu?"

Sin-jiu Kiam-ong tersenyum dan mengangkat lengannya yang kiri, gerakannya lemah ketika dia menggapai, "Mendekatlah, Keng Hong dan bersilalah di depanku sini, aku ingin bicara denganmu.”

Keng Hong menjadi makin heran. Sikap gurunya inipun tidak seperti biasanya. Tentu ada sesuatu yang amat penting. Ia cepat bangkit dan menghampiri suhunya, lalu duduk bersila di depan suhunya. Karena baru sekali ini selama lima tahun dia berdekatan dengan gurunya dalam keadaan tidak sedang berlatih, maka dia mendapat kesempatan untuk memandang penuh perhatian dan kini ternyatalah olehnya betapa suhunya amat kurus, tinggal kulit membungkus tulang dan bahwa hanya oleh daya tahan yang luar biasa saja suhunya dapat bertahan selama ini. Ia kini sudah mengerti bahwa suhunya menderita luka-luka parah di sebelah dalam tubuh yang akan merenggut nyawa setiap orang dalam waktu beberapa bulan saja. Namun suhunya dapat bertahan sampai lima tahun!

"Keng Hong, tahukah engkau sudah berapa lama kau berada di tempat ini?"

"Teecu tidak terlalu memperhatikan, akan tetapi melihat banyaknya perubahan musim, tentu kurang lebih lima tahun.”

"Benar, memang sudah lima tahun, muridku. Dan sudah banyak kau belajar dariku. Sayang waktunya amat tergesa-gesa sehingga terpaksa aku hanya memperbanyak latihan ginkang dan Iweekang kepadamu. Mengenai gerak cepatmu dan tenaga dalam, kurasa sudah cukup sebagai landasan dan aku tidak khawatir kau akan mudah terkalahkan orang lain. Akan tetapi ilmu silatmu..... ah, tidak ada waktu bagi kita sehingga hanya dasar-dasarnya saja kaukuasai. Padahal ilmu silat di dunia ini amatlah banyaknya Keng Hong. Dan selain dasar-dasar ilmu silat tinggi, engkau baru menguasai ilmu silat dengan tangan kosong yang sederhana dan juga ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut belum kau kuasai seluruhnya. Hal inilah yang memberatkan hatiku, karena kalau engkau bertemu dengan orang-orang sakti seperti sembilan orang tokoh yang pada lima tahun yang lalu menyerbu ke sini, apalagi bertemu dengan Bu-tek su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding), kepandaianmu masih belum dapat diandalkan.”

Keng Hong mengerutkan alisnya yang hitam panjang dan tebal. "Akan tetapi, Suhu, apa hubungannya kesaktian mereka dengan teecu? Suhu sudah tahu pendirian teecu, yaitu belajar ilmu kepada suhu untuk memperkuat diri lahir bathin, ilmu dipelajari untuk menjaga diri daripada serangan dari luar, baik serangan lahir maupun bathin. Teecu tidak ingin mencari musuh!”

"Ha-ha-ha, muridku, engkau masih hijau dan tidak mengenal watak manusia, juga belum mengenal watak dan dirimu pribadi. Tidak ada makhluk seserakah manusia. Kalau engkau sudah turun ke dunia ramai, akan kautemui semua sepak terjang manusia yang membabi buta karena dorongan nafsu mereka sendiri. Kau tidak mencari musuh, namun engkau akan dimusuhi! Dan mau tidak mau engkau akan terseret dan terlibat ke dalam rantai yang tak kunjung putus, rantai pergulatan dan permusuhan antara manusia demi untuk memenangkan dan memuaskan hawa nafsu yang menguasai diri pribadi. Aku pun dahulu menjadi seorang di antara mereka yang menjadi abdi nafsuku sendiri, Keng Hong. Aku tidak pernah memusuhi orang, tidak pernah mengandung maksud hati melakukan kejahatan terhadap diri orang lain. Namun, pengejaran ke arah pemuasan nafsuku membuat aku bentrok dengan lain orang, dan membuat aku di cap sebagai seorang tokoh sesat. Baru sekarang aku menyesal, namun apa gunanya sesal yang terlambat? Biarlah, akan kutanggung segala akibat dan hukuman. Dan aku minta kepadamu agar engkau pun kelak akan berani mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu! Jangan menjadi seorang manusia yang munafik, yang pura-pura alim. Kalau memang bersih, usahakan agar bersih luar dalam. Kalau engkau tak kuasa menahan hasrat melakukan sesuatu, lakukanlah dengan dasar tidak merugikan orang lain dan berani mempertanggungjawabkan segala akibat kelakuanmu itu. Hal ini berarti melakukan sesuatu dengan mata dan hati terbuka.”

"Teecu mengerti, suhu.”

"Nah, kuulangi lagi. Kepandaianmu masih jauh daripada cukup untuk menghadapi lawan-lawan tangguh. Akan tetapi tiada waktu bagiku.” Ia menghela napas panjang. "Bu-tek su-kwi benar-benar hebat. Sampai sekarang masih ada bekas tangan mereka. Rambut dan kuku Ang-bin kwi-bo amat berbahaya, juga senjata tegkorak Pak-san Kwi-ong. Hudtim dan ilmu silat tangan kosong Pat-jiu Kiam-ong sukar dilawan. Apalagi kalau bertemu dengan Lam-hai Sin-ni..... wah, sukar dikatakan atau diukur sampai di mana sekarang tingkat kepandaian wanita iblis itu! Kiranya engkau baru akan dapat menandingi mereka kalau engkau sudah mempelajari semua kitab peninggalanku yang rahasia tempat persembunyiannya berada di dalam Siang-bhok-kiam ini, muridku.”

Keng Hong memandang ke arah pedang di tangan suhunya itu dengan penuh keheranan. mengertilah dia sekarang mengapa tokoh-tokoh sakti itu memperebutkan pedang kayu ini, kiranya merupakan kunci pembuka rahasia kitab-kitab pelajaran silat tinggi yang di kumpulkan oleh suhunya. Sudah sering kali dia diperbolehkan menggunakan Siang-bhok-kiam untuk berlatih ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut yang sengaja diciptakan gurunya untuk dia, akan tetapi tidak pernah dia melihat sesuatu yang aneh pada pedang itu, kecuali huruf-huruf kecil yang terukir di dekat gagang pedang yang isinya merupakan ujar-ujar kuno.

"Apakah suhu menyuruh teecu untuk mempelajari kitab-kitab itu?" tanyanya untuk menyembunyikan ketegangan hatinya.

"Barang yang mudah didapat tidak akan dihargai, yang sukar didapat barulah berharga, Hong-ji. Kitab-kitab dan benda-benda yang terkumpul di dalam tempat rahasiaku itu juga baru akan berharga bagimu kalau kau mendapatkannya dengan sukar. Akan tetapi tidak hanya kesukaran menjadi syarat, namun terutama sekali jodoh! Kalau memang engkau berjodoh dengan peninggalanku tentu kelak akan bisa kaudapatkan. Boleh kaucari sendiri melalui Siang-bhok-kiam ini. Nah, kauterimalah Siang-bhok-kiam, kuberikan kepadamu, muridku...."

Keng Hong terkejut dan memandang wajah gurunya dengan mata terbelalak. Ia belum menerima pedang yang diangsurkan kepadanya, dan bertanya meragu, "Akan tetapi... Suhu pernah bilang bahwa Siang-bhok-kiam seperti nyawa bagi suhu.... bagaimana dapat diberikan kapada teecu...?"

"Ha-ha-ha, pedang ini milik siapa dan nyawa ini milik siapa? terimalah sebagai tanda patuh kepada guru.”

Keng Hong tak berani membantah lalu menerima pedang Siang-bhok-kiam yang telanjang itu.

"Keng Hong, biarpun pusaka warisanku harus kau cari dengan dasar jodoh dan kesukaran, namun ada sesuatu yang dapat kuberikan kepadamu selain Siang-bhok-kiam, dan mudah-mudahan pemberianku ini akan dapat menjadi perisai bagimu menghadapi lawan-lawan tangguh. Selipkan Siang-bhok-kiam di pinggang dan mendekatlah.”

Keng Hong menyelipkan pedang kayu di ikat pinggangnya kemudian menggeser duduknya mendekati suhunya. Sin-jiu Kiam-ong mengangkat kedua tangannya, yang kiri dia taruh di atas ubun-ubun kepala Keng hong, yang kanan diletakkan di punggung pemuda itu dan dia berkata lirih.

"Pusatkan segala dan buka semua, Keng Hong, pergunakan sinkangmu untuk membuka semua jalan darah, jangan menentang sedikit pun juga, dan bantu dengan daya penyedot..."

"Suhu.... suhu hendak..." Keng Hong gelisah karena dia sudah beberapa kali menerima bantuan hawa Sinkang yang disalurkan suhunya ke dalam tubuhnya dan yang selalu mengakibatkan kelemahan tubuh suhunya sehingga akhirnya dia minta-minta agar suhunya tidak mengulangi hal itu. Kini suhunya hendak melakukannya lagi!

"Apakah dalam saat terakhir ini muridku hendak membantah perintah gurunya?" suara ini halus namun penuh wibawa dan sekaligus memusnahkan niat hati Keng Hong hendak menentang. Ia terpaksa lalu bersila dan memusatkan perhatiannya, membuka semua jalan darah dan mengosongkan hawa di pusarnya untuk menerima saluran hawa sinkang gurunya.

Sebentar saja sudah terasa oleh Keng hong betapa hawa yang amat kuat menerobos masuk melalui kepala dan punggungnya, hawa yang sebentar hangat, lalu panas dan perlahan-lahan berubah dingin lalu panas kembali. Terasa juga olehnya betapa dari dirinya sendiri timbul semacam tenaga menyedot yang membuat aliran hawa sinkang itu makin lancar menerobos, berputaran di dalam pusarnya lalu buyar dan menyusup-nyusup ke seluruh bagian tubuhnya. Hebat bukan main sinkang dari suhunya dan hampir dia tidak kuat menerimanya. Kadang-kadang hawa yang memasuki tubuhnya sedemikian panasnya hampir tak tertahankan, akan tetapi karena dia pun sudah bertahun-tahun berlatih, dia dapat melawannya dengan menyesuaikan diri melalui kekuatan kemauannya sehingga yang panas itu terasa hangat-hangat saja.

Entah berapa lamanya guru dan murid ini duduk tak bergerak. Keng hong sendiri tidak tahu karena dia telah memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam tubuh. Ia seolah-olah berada dalam keadaan mimpi atau pingsan. Baru dia sadar ketika merasa betapa hawa yang terasa seolah-olah air mancur memasuki tubuhnya melalui kepala dan punggung itu telah berhenti, dan betapa ubun-ubun dan punggungnya terasa dingin. Keng Hong membuka mata, melihat suhunya masih bersila dan memejamkan mata, bibirnya tersenyum. Akan tetapi ada sesuatu yang membuat Keng Hong cepat memegang kedua lengan suhunya yang tadinya terletak di atas ubun-ubun dan punggungnya, terkulai lemas dan dingin. Suhunya telah menghembuskan napas terakhir, entah sudah berapa lamanya.

"Suhu....!!" Keng hong meloncat bangun. Melihat tubuh yang bersila itu kini kehilangan sandaran dan akan roboh, cepat dia menyangganya dan merebahkannya di atas permukaan batu. Sekali lagi dia memeriksa detak jantung dan napas. Tak terasa lagi, suhunya telah meninggal dunia karena dia! Karena "mengoper" sinkang sampai kehabisan segala-galanya. Tiba-tiba Keng Hong meraung, meloncat berdiri dengan muka merah sambil memandang kedua tangannya. Ia merasa seakan-akan dialah yang membunuh suhunya! Mengapa dia tadi begitu bodoh dan mau saja padahal ini akan membahayakan kesehatan suhunya? Rasa duka, menyesal dan marah kepada diri sendiri membuat wajah pemuda itu menjadi merah dan beringas. Tiba-tiba dia memekik lagi dan tubuhnya melesat ke arah permukaan puncak batu pedang yang menonjol setinggi orang, tangannya menghantam.

"Pyarrr.....!" Batu gunung yang keras itu hancur berantakan menjadi kepingan-kepingan kecil yang beterbangan ke sana sini! Keng Hong berdiri dan ternganga heran. Memang dia telah memiliki kekuatan sinkang yang tidak lemah, namun biasanya kalau dia memukul batu, tentu hanya akan memecahkan bagian ujung saja. Akan tetapi sekali ini, dari tangannya keluar kekuatan yang sedemikian hebatnya sehingga batu menonjol setinggi orang itu hancur sama sekali sedangkan tangannya tidak merasakan nyeri sedikit pun juga! Rasa girang, tercengang, kaget dan duka bercampur menjadi satu, membuat dia terharu sekali. Sinkang yang disalurkan ke tubuhnya tadi oleh gurunya ternyata membuat dia memiliki tenaga yang hebat, bahkan loncatannya juga sepuluh kali lebih cepat daripada biasa. Ginkang dan lweekang di tubuhnya sekaligus mendapat kemajuan yang amat luar biasa. Ia melesat lagi ke dekat suhunya dan menangis sambil memeluk mayat Sin-jiu Kiam-ong. Sesuai dengan pesan Sin-jiu Kiam-ong yang pernah dinyatakan kepadanya, Keng Hong mengangkat jenasah gurunya itu dan meletakannya ke dalam gubuk kecil tempat gurunya beristirahat.

Kemudian, setelah menangisi mayat itu dan bersembahyang tanpa upacara karena tiada alat, memohon kepada Thian agar dosa-dosa gurunya diperingan hukumannya dan arwah gurunya mendapatkan tempat yang baik, Keng Hong lalu membakar gubuk itu. Dengan hati penuh keharuan dia menjaga dan memandang api yang berkobar membakar gubuk berikut jenasah Sin-jiu Kiam-ong. Karena dia harus selalu menambah bahan bakar, pembakaran jenasah ini memakan waktu setengah hari lamanya. Kemudian, sesuai pula dengan pesan suhunya, dia mengumpulkan abu jenasah dan pada malam hari itu, disaksikan laksaan bintang yang menghias langit biru, Keng Hong menabur-naburkan abu itu dari puncak batu pedang. Angin bertiup dan membawa abu itu bertebaran ke segenap jurusan, seolah-olah Sin-jiu Kiam-ong benar-benar kini bersatu dengan alam di sekeliling tempat yang dicintanya itu.

Semalam suntuk Keng Hong duduk melamun, selain terkenang kepada suhunya juga memikirkan keadaan dirinya sendiri. Tadinya dia tidak pernah memikirkan keadaan dirinya karena setiap hari seluruh perhatiannya dia curahkan untuk belajar dan berlatih, dan selain itu ada gurunya di sampingnya yang membuat dia tidak merasa kesepian. Akan tetapi sekarang, setelah Sin-jiu Kiam-ong tidak ada lagi, bahkan tidak ada lagi bekas-bekasnya, dia mulai merasa dan melihat kenyataan bahwa dia sesungguhnya hanya seorang diri saja di dunia ini! Setelah gurunya tidak ada, apa yang akan dilakukan? Kemana dia akan pergi? Apa tujuan hidupnya selanjutnya? Kembali ke kampung halaman? Dia masih ingat akan kampung halamannya, dusun Kwi-bun di mana dia terlahir dan bermain-main sampai usia sepuluh tahun. Akan tetapi, mau apa dia kembali ke Kwi-bun? Keluarganya sudah terbasmi habis, rumah tidak ada, dan kembalinya ke sana hanya akan membongkar kenangan-kenangan lama yang amat tidak menyenangkan hati. Ke kuil Kun-lun-pai? Di sana banyak orang-orang yang baik hati, tosu-tosu yang selain baik dan ramah terhadapnya, seperti pernah dia alami sampai dua tahun lamanya. Akan tetapi dia teringat akan pesan Kiang Lojin kepada Sin-jiu Kiam-ong bahwa karena dia bukan "orang Kun-lun-pai", dia tidak boleh tinggal di Kun-lun-pai, bahkan tidak diperkenankan tinggal di batu pedang yang berada di Kiam-kok-san kalau suhunya tidak ada!

Habis ke mana? Tetap tinggal di situ? Tidak mungkin! Dia bukan seorang yang nekat dan tak tahu malu. Dia maklum bahwa gurunya dan dia adalah orang-orang yang "mondok" karena Kiam-kok-san merupakan wilayah Kun-lun-pai. Dan kalau tuan rumah tidak memperbolehkan tinggal disitu, dia pun tidak sudi memaksa. akan tetapi kalau pergi, kemanakah?

Dalam bingungnya, Keng Hong teringat kepada suhunya. Andaikata dia menjadi suhunya, apa yang akan dilakukannya? Suhunya seorang yang selalu hidup gembira ria, jangankan berduka, bingung dan takut pun tak pernah di kenalnya. Teringat dia akan semua cerita suhunya tentang diri suhunya di waktu muda. Masih terngiang di telinganya ucapan yang keluar dari bibir tua yang masih tersenyum, wajah cerah dan mata berseri itu.

"Hidup satu kali di dunia, apa gunanya berkeluh kesah dan berhati susah? Kegembiraan dan kesenangan dapat dinikmati, tinggal meraih saja! Semua berkah yang sudah dilimpahkan kepada Dia untuk kita, mengapa mesti disia-siakan? Nikmatilah berkah itu!”

Keng Hong mulai berseri wajahnya. Sambil menengadah memandang bintang-bintang di langit, dia mengenang semua cerita suhunya dan mengenang kembali semua ucapan-ucapannya.

"Aku paling suka akan keindahan. Tamasya alam yang indah, makanan lezat, bunyi-bunyian merdu ganda yang harum, wanita-wanita cantik! Kita sudah dianugerahi mata, hidung, telinga, mulut. Pergunakanlah sebaik-baiknya untuk menikmati berkah-berkah yang memenuhi dunia. Pergunakan matamu untuk segala keindahan dan menikmatinya. Lihat tamasya alam yang amat indahnya, lihat bunga-bunga yang cantik, lihat wanita-wanita yang jelita! Pergunakan telingamu untuk menikmati segala bunyi-bunyian yang merdu, burung-burung berkicau, margasatwa berdendang, alat tetabuhan dan nyanyian merdu. Mulut? Nikmati segala makanan yang lezat karena memang itu hak kita. Rasakanlah segala rasa di dunia ini. Manis, asin, gurih, masam dan pahit! Hidung? Pakailah untuk menikmati hidup, untuk mencium ganda yang harum, sedap dan wangi! Pendeknya, selama seratus tahun aku hidup cukup penuh kenikmatan dan sekarang menghadapi mati aku tidak penasaran dan menyesal lagi, Keng Hong.”

Keng Hong tersenyum pahit mengenang ucapan suhunya ini. Biarpun pada lahirnya dia tidak berani membantah, namun di dalam hatinya dia kurang menyetujui pendapat tentang hidup seperti yang dikemukakan suhunya. Mungkin sudah terlampau banyak dia dipengaruhi kitab-kitab kuno yang mengajarkan tentang filsafat hidup, tentang kesusilaan peradaban dan kebudayaan. Gurunya tidak mempedulikan semua itu. Gurunya pengejar kesenangan duniawi. Namun, sungguhpun dia tidak menyetujui pendapat suhunya yang dalam hal ilmu bun (sastra) tidaklah amat mendalam pengetahuannya, dia dapat menemukan kesederhanaan dan kejujuran yang tak dibuat-buat, dan tahu pula bahwa di balik cara hidup ugal-ugalan seperti suhunya itu tersembunyi dasar watak yang baik dan gagah perkasa.

"Entah berapa ratus orang wanita cantik yang menjadi kekasihku, Keng Hong.” Demikian suhunya pernah bercerita. "Aku tidak pernah menolak cinta kasih seorang wanita! Wanita bagiku adalah bunga yang membutuhkan belaian dan kasih sayang. Karena itu tak pernah aku menolaknya, tidak peduli dia itu cantik jelita, manis, buruk, muda ataupun tua! Tentu saja terutama sekali yang cantik molek! tidak peduli dia itu gadis, janda, atau sudah bersuami, sudah beranak atau bercucu! Aku menerima kedatangan mereka dengan hati dan kedua lengan terbuka! Hanya satu yang merupakan pantangan bagiku, yaitu bahwa aku tidak sudi mendekati wanita yang tidak suka menerima kedatanganku. Aku tidak sudi menggagahi wanita yang tidak menghendaki aku. Aku tidak sudi cinta sepihak saja!"

Teringat akan ini, Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. Suhunya benar-benar seorang mata keranjang! Pelahap wanita! Tentu saja dia tidak mau seperti suhunya, akan tetapi dia terharu kalau teringat akan pendirian terakhir suhunya yang tidak sudi menggagahi wanita yang tidak cinta kepadanya. Tentu saja merupakan hal yang amat buruk kalau suhunya berzina dengan wanita yang bersuami, akan tetapi kalau si wanita itu sendiri suka..., sungguh dia tidak tidak tahu harus menilai bagaimana.

"Hanya satu pesanku, Keng Hong engkau boleh mencinta seribu wanita, akan tetapi jangan sekali-kali membiarkan kakimu terikat oleh pernikahan! Sekali engkau terikat, akan lenyaplah kebebasanmu dan tak mungkin pula hidup seperti aku dapat dipertahankan!"

Keng Hong makin bingung. Soal-soal tentang cinta dan pernikahan masih belum menarik perhatian. Betapapun juga suhunya bukanlah golongan jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita). Dan suhunya tidak pernah dengan sengaja melakukan kejahatan kepada orang lain. Kalau dia sampai dimusuhi adalah sebagai akibat dari sikapnya yang ugal-ugalan, melayani cinta kasih wanita-wanita isteri orang lain, kemudian kalau menghendaki setiap benda, terus diambilnya begitu saja dengan dasar bahwa yang kehilangan benda itu tidak akan menderita! Maka terjadilah perampokan benda-benda berharga milik pembesar-pembesar tinggi yang kaya raya, pencurian kitab-kitab dari partai-partai persilatan besar, permainan zinah dengan isteri-isteri cantik, dan sebagainya sehingga di dunia ini dia mempunyai banyak sekali musuh!

Keng hong bergidik ngeri. Ia tahu bahwa banyak sekali orang sakti menginginkan pusaka warisan suhunya yang kuncinya terdapat dalam Siang-bhok-kiam. Bagaimana kalau dia turun gunung lalu dikejar-kejar mereka itu yang hendak merampas Siang-bhok-kiam? Gurunya selama ini dapat mempertahankan pedangnya, akan tetapi bagaimana dengan dia? Musuh terlalu banyak, dan di antara mereka banyak yang sakti. Betapa mungkin dia dapat menandingi mereka dan mempertahankan Siang-bhok-kiam?

"Kiranya engkau baru akan dapat menandingi kesaktian mereka itu kalau engkau sudah mempelajari semua kitab-kitab peninggalanku...." Demikian antara lain gurunya meninggalkan pesan sebelum menutup mata. Dan rahasianya berada di Siang-bhok-kiam! Mengapa turun gunung sebelum dia mendapat bekal kesaktian yang akan cukup kuat di pakai mempertahankan Siang-bhok-kiam? Lebih baik dia mencari dan memperlajari kitab-kitab itu!

Pada keesokan harinya, Keng Hong mulai memeriksa dan meneliti pedang Siang-bhok-kiam. Pedang itu tidak bersarung, pedang telanjang yang terbuat daripada bahan kayu yang berbau sedap harum. Warnanya kehijauan dan kerasnya melebihi baja! Keng Hong meraba-raba pedang Siang-bhok-kiam dan meneliti ukiran huruf-huruf kecil yang pernah dilihat dan dibacanya. Kini dia memeriksa dan membacanya kembali:

"Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan Tukang saluran mengalirkan airnya kemana dia suka!"

Keng Hong mengerutkan keningnya. Sepanjang pengetahuannya, Sin-jiu Kiam-ong gurunya itu adalah orang yang paling memandang rendah para pendeta yang dia anggap orang-orang munafik yang pura-pura suci. Karena itu, pengetahuan suhunya tentang kitab-kitab suci hanya sepotong-sepotong dan ngawur saja. Akan tetapi mengapa pedang itu diukir dengan bait-bait yang terdiri dari kata-kata yang hanya dipergunakan dalam kitab-kitab suci? Sudah jelas bahwa gurunya yang membuat huruf-huruf ini. Dia mengenal huruf tulisan suhunya yang bengkak-bengkok tidak dapat dikatakan indah. Namun orang yang sudah dapat menuliskan huruf-huruf kecil pada tubuh Siang-bhok-kiam, kiranya di dunia ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan! Apakah artinya huruf-huruf itu? Apakah artinya sajak yang bukan sajak, ujar-ujar yang setengah matang itu? Keng Hong merasa seperti sering membaca kalimat-kalimat ini, akan tetapi setelah dia ingat-ingat, dia tahu betul bahwa tidak ada ujar-ujar seperti itu bunyinya dalam kitab yang manapun juga! Sehari semalam lamanya dia merenungi arti tiga baris tulisan ini, namun tetap saja dia tidak dapat mengerti. akhirnya dia berpendapat bahwa mungkin rahasianya bukan terletak dalam baris-baris sajak yang tidak karuan ini, melainkan pada pedang itu sendiri. Diperiksanya pedang itu, di tekan sana-sini, dicarinya kalau-kalau ada bagian yang mengandung rahasia. Namun tak berhasil menemukan sesuatu yang aneh di pedang itu kecuali huruf-huruf tadi.

Keng Hong telah berlatih ketekunan selama lima tahun di tempat itu, maka kini pun dia tidak mudah putus asa. Dengan tekun dia lalu mencari-cari di seluruh permukaan puncak batu pedang memeriksa kalau-kalau ada gua rahasia atau ada lubang-lubang yang cocok dengan ukuran pedang untuk dicongkel, kalau-kalau di situ terdapat pintu rahasia tempat penyimpanan pusaka suhunya. Namun, sampai sebulan sejak suhunya meninggal dunia, dia tidak berhasil menemukan pusaka itu di permukaan puncak batu pedang. Sementara itu, persediaan buah-buahan telah habis. Maka diambilnya keputusan untuk meninggalkan tempat itu, sesuai dengan pesan Kiang Tojin karena dia merasa tidak berhak tinggal di situ lebih lama lagi.

Untuk penghabisan kali ini dia berlutut dan bersembahyang ke empat penjuru sambil menyebut nama suhunya, kemudian menyelipkan Siang-bhok-kiam di sebelah dalam bajunya. Ketika menyelipkan Siang-bhok-kiam ini, dia tersenyum dan menoleh ke sebuah sudut di atas permukaan puncak batu pedang. Ia merasa girang bahwa akhirnya timbul keberaniannya untuk turun dan menghadapi apa saja dengan dada lapang. Dia sudah lupa akan watak ayah bundanya, namun dia masih ingat benar akan watak gurunya. Gurunya seorang periang, mengapa dia sebagai muridnya tidak mencontoh watak guru? Dia harus menghadapi segala rintangan yang mungkin timbul dengan hati riang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri? Dia kini bebas lepas seperti seekor burung terbang di udara. Mengapa tidak gembira? Dengan wajah berseri pemuda remaja yang tampan ini lalu, menuruni puncak ini. Setelah mengoper sinkang suhunya sebulan yang lalu, dia merasa tubuhnya demikian penuh hawa yang amat kuat, yang membuat dia dapat meringankan tubuhnya, dan menuruni tebing yang curam itu dapat dia lakukan dengan amat mudahnya, jauh lebih mudah daripada yang sudah-sudah kalau dia turun mencari persediaan makan untuk suhunya dan dia. ***

"Aiiihh....! Tolongggg....! lepaskan aku....!!"

Jerit melengking ini jelas keluar dari mulut seorang wanita. Keng Hong yang tadinya mengira bahwa turunnya tentu akan dihadang musuh, mendapat kenyataan bahwa Kiam-kok-san (Puncak Lembah Pedang) di bawah batu pedang sunyi saja. Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar lengking yang mengerikan itu, yang membuat bulu tengkuknya berdiri! Apalagi karena sebagai seorang yang tergembleng hebat, dia mendapat perasaan seolah-olah banyak pasang mata yang selalu mengikuti gerak-geriknya.

Keng Hong tidak mempedulikan perasaan ini karena dia sudah melesat ke kiri, berlari ke arah suara yang menjerit tadi. Apapun yang terjadi, sudah pasti bahwa di sana ada seorang wanita yang minta tolong, yang membutuhkan bantuan karena terancam keselamatannya. "Jangan menolak setiap uluran tangan yang minta tolong", demikian pesan gurunya, "Namun waspadalah terhadap tangan yang berniat menolongmu.” Bukan karena teringat akan pesan suhunya, melainkan terutama sekali karena dorongan hati sendiri. Keng Hong melesat cepat untuk menolong wanita yang terancam bahaya, timbul dari dorongan welas asih yang memang sudah ada pada tiap hati manusia.

Tak lama kemudian tibalah dia di sebuah lapangan terbuka dan dia tercengang. Di situ telah berkumpul puluhan orang tosu Kun-lun-pai dan di depan sendiri tampak penolongnya, Kiang Tojin berdiri dengan sikap angker, tangan kirinya mencengkeram pundak seorang wanita cantik yang meronta-ronta dan merintih-rintih. Dan selain tokoh-tokoh Kun-lun-pai, tampak pula Thian seng cinjin sendiri berdiri dengan bersandar pada tongkatnya! Ketua Kun-lun-pai ini tampak sudah tua sekali dan sikap mereka semua yang kini memandang Keng Hong membayangkan bahwa mereka itu memang sedang menantinya!

Keng Hong menghentikan larinya dan otomatis dia menoleh. Benar saja seperti dugaannya tadi, di sebelah belakangnya kini muncul belasan orang tosu Kun-lun-pai dan dia berdiri terkurung di tengah, berhadapan dengan Kiang Tojin yang menangkap wanita cantik itu dan ketua Kun-lun-pai yang berdiri dengan sikapnya yang agung dan ramah! Keng Hong merasa seolah-olah menjadi seekor kelinci yang dikurung oleh puluhan ekor harimau kelaparan! Akan tetapi, dia adalah seorang yang sejak kecil sudah belajar kesopanan. Melihat Kiang Tojin yang menjadi penolongnya dan para tosu Kun-lun-pai yang pernah melepas budi selama dua tahun kepadanya, dia cepat-cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan Thian seng Cinjin dan Kiang Tojin sambil berkata.

"Boanpwe (saya yang rendah) bekas kacung Cia Keng Hong datang menghadap para locianpwe (orang-orang tua gagah), mohon di maafkan segala kesalahan boanpwe!"

Thian seng cinjin tersenyum lebar dan Kiang tojin berseri wajahnya lalu menggerakkan tangannya yang mencengkeram pundak wanita itu sambil berkata kepada anak muridnya, "Belenggu wanita jahat ini!" Dua orang tosu lalu datang dan mengikat kaki tangan wanita itu pada sebatang pohon. Keng Hong melirik dengan ujung matanya, melihat betapa wanita yang usianya sekitar dua puluhan tahun dan amat cantik jelita itu menangis perlahan sehingga hatinya merasa kasihan sekali. Akan tetapi dia segera mengalihkan perhatiannya ketika Kiang Tojin berkata.

"Baik sekali, Keng Hong. Bangun dan berdirilah karena engkau bukan anak murid kami, juga bukan kacung kami lagi. Sudah sebulan lamanya kami menunggu. Apakah yang menyebabkan engkau terlambat sampai sebulan baru turun dari Kiam-kok-san?"

Keng Hong terkejut. Kiranya para tosu Kun-lun-pai ini sudah tahu bahwa suhunya telah meninggal sebulan yang lalu dan diam-diam telah menjaga dan menanti dia turun dari puncak batu pedang. Yang menjaga dan memata-matai di Kiam-kok-san hanyalah murid-murid Kun-lun-pai, agaknya ketua Kun-lun-pai dan Kiang Tojin masih belum berani melanggar pantangan untuk mengotori Kiam-kok-san! Kemudian dia teringat betapa dia telah membakar jenasah suhunya di dalam pondok. Agaknya pembakaran itulah yang memberitahukan para tosu. Sebelum dia menjawab, karena melihat dia meragu dan bingung, Kiang Tojin sudah berkata lagi.

"Kami melihat betapa asap mengebul dari puncak Kiam-kok-san. Kami tidak suka mengganggu seorang murid yang berkabung atas kematian gurunya, maka kami hanya menunggu. Akan tetapi, alangkah banyaknya orang yang telah menanti-nantimu, Keng Hong. Wanita jahat ini adalah orang terakhir dari kaum sesat yang menunggumu turun gunung dan yang sudah siap menurunkan tangan jahat kepadamu.”

“Bohong! Tosu bau tak pernah mandi! Siapa yang hendak turun tangan jahat terhadap pemuda itu? Aku hanya ingin menonton keramaian, kemudian tersesat di sini dan kalian menggunakan pengeroyokan menangkap aku! Cih, tak tahu malu! Segerombolan kakek tua bangka mengeroyok seorang gadis! Kaukira aku tidak tahu? Kalian hanya berpura-pura menjadi pendeta, padahal menggunakan kesempatan untuk meraba-raba dan membelai-belai tubuhku dengan alasan hendak menangkap seorang penjahat!"

Hebat sekali penghinaan ini. Banyak di antara para tosu Kun-lun-pai menjadi merah sekali mukanya, entah merah karena malu ataukah karena marah. Akan tetapi yang jelas, banyak di antara mereka yang melotot marah dan memandang wanita cantik itu penuh kebencian. Namun Kiang Tojin dan Thian Seng Cinjin hanya tersenyum, sedikitpun tidak terpengaruh oleh ucapan-ucapan menghina itu. Kiang Tojin hanya membalikkan tubuhnya dan tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke depan dengan jari telunjuk menuding ke arah wanita yang terikat di pohon itu. Jarak di antara mereka ada tiga meter, akan tetapi terdengar angin bercuit dan.... tubuh wanita itu menjadi lemas dan ia tak dapat mengeluarkan suara lagi karena ia telah terkena totokan yang dilakukan dari jarak jauh! Hanya matanya saja yang memandang dengan mendelik penuh kemarahan.

Diam-diam Keng Hong terkejut dan kagum sekali. Juga merasa betapa ketekunannya selama lima tahun ini sesungguhnya tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian tosu yang menjadi penolongnya ini. Sebagai orang yang pernah mempelajari ilmu silatnya masih kalah jauh sekali oleh Kiang Tojin, dan agaknya kalau harus melawan tosu ini, belum tentu dia sanggup bertahan sampai lima jurus!

"Keng Hong, ketahuilah bahwa kaum sesat dan orang-orang gagah yang menaruh dendam kepada gurumu selalu mengincarmu untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam dan rahasia penyimpanan kitab-kitab gurumu. Kami para tosu Kun-lun-pai sama sekali bukanlah orang-orang serakah dan tidak menghendaki apa-apa, baik dari Sin-jiu Kiam-ong atau dirimu. Akan tetapi, mengingat bahwa engkau datang ke Kun-lun-pai tidak membawa apa-apa, maka kepergianmu dari sini pun tidak boleh membawa apa-apa! Kalau Siang-bhok-kiam berada bersamamu, harus kau tinggalkan pedang itu kepada pinto. Demikian pula, segala benda lain yang kaubawa, kitab-kitab atau apa saja, harus ditinggalkan. Hal ini bukan sekali-kali karena pinto ingin memilikinya, melainkan pertama, benda-benda itu hanya akan mendatangkan malapetaka padamu, dan daripada jatuh ke tangan kaum sesat sehingga mereka menjadi lebih lihai, lebih baik kami simpan atau kami hancurkan di Kun-lun-san!"

Keng Hong mengerutkan keningnya, "Akan tetapi, pedang yang saya bawa ini adalah pemberian suhu, bukan hasil mencuri milik Kun-lun-pai!"

Kiang Tojin tersenyum dan mengangguk-ngangguk, "Betul, akan tetapi Sin-jiu Kiam-ong telah meninggal dunia di Kiam-kok-san, karena itu semua peninggalannya harus ditinggalkan di Kiam-kok-san pula. Biarpun engkau muridnya, tak boleh engkau membawanya pergi dari Kun-lun-san.”

"Kalau saya menolak?"

Kiang Tojin mengerutkan alisnya dan mengangkat mukanya. "Keng Hong, tak tahukah engkau bahwa peraturan kami ini demi keselamatanmu sendiri? kalau engkau menolak, berarti engkau lupa akan budi dan pinto terpaksa menggunakan kekerasan!"

Keng Hong dapat menyelami maksud hati Kiang Tojin dan dia makin kagum dan tunduk kepada tosu Kun-lun-pai yang bijaksana dan cerdik ini. Akan tetapi untuk mengalah begitu saja dia merasa enggan. Apalagi tidak ada kesempatan yang lebih baik daripada berlatih melawan Kiang Tojin yang tidak mempunyai niat buruk terhadap dirinya. Biarpun dia berlatih dengan penolongnya yang berilmu tinggi ini.

"Maafkan saya, Totiang. Sebelum menyerahkan pedang ingin sekali saya menerima petunjuk Totiang dalam hal ilmu silat.”

Kiang Tojin tertawa, "Ha-ha-ha, memang sejak dahulu engkau keras hati. Baiklah, Keng Hong. Kau boleh menyerangku, pinto juga ingin melihat sampai di mana hasilmu berguru kepada mendiang Sin-jiu Kiam-ong! Mulailah!"

Biarpun belum pernah mempergunakan kepandaian yang dipelajarainya selama lima tahun itu untuk bertanding dalam pertempuran sungguh-sungguh, namun Keng Hong sudah menguasai dasar-dasar ilmu silat tinggi. Juga dia selalu ingat akan semua nasihat dan petunjuk suhunya. Ia ingat akan nasehat gurunya bahwa bagi seorang yang sudah tinggi ilmu silatnya, lebih baik di serang lebih dahulu daripada menyerang, karena lawan yang menyerang itu otomatis akan membuka bagian yang kosong sehingga mudah "dimasuki" dalam serangan balasan yang dilakukan otomatis pula. Karena dia tahu bahwa Kiang Tojin adalah lawan yang amat berat, maka setelah berseru keras dia maju memukul dengan gerakan perlahan dan hati-hati, hanya menggunakan seperempat bagian perhatiannya saja untuk menyerang, yang tiga perempatnya bagian dia cadangkan untuk penjagaan diri agar begitu lawannya membalas, dia dapat menghindar dengan elakan atau tangkisan.

"Wuuuttt!" Pukulan tangan kanannya menyambar, mendatangkan angin yang kuat.

"Bagus.....!" Kiang Tojin berseru, kagum melihat kenyataan betapa kuat pukulan Keng Hong sehingga tidak mengecewakan menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong karena dia sendiri tidak akan sanggup melatih seorang murid selama lima tahun sudah memiliki sinkang yang sedemikian kuatnya. Namun diam-diam dia kecewa menyaksikan gerakan-gerakan itu yang amat sederhana, padahal dia tadinya mengira bahwa ilmu silat yang diturunkan kakek raja pedang itu kepada muridnya tentu hebat.

Melihat pukulannya hanya dielakkan Kiang Tojin dan ternyata tosu itu sama sekali tidak membalasnya, bahkan jelas menanti serangan selanjutnya, tahulah Keng Hong bahwa tosu penolongnya ini benar-benar hanya ingin mengujinya. Pujian yang keluar dari mulut Kiang Tojin itu membuat telinganya merah. Sudah jelas bahwa dia memukul dengan gerakan sederhana saja, bahkan dengan tenaga yang hanya seperempatnya, bagaimana bisa di sebut bagus? Apakah tosu penolongnya ini mengejeknya?

Biarlah, kalau aku kalah biar kalah, roboh di tangan tosu yang menjadi tokoh kedua Kun-lun-pai ini, apalagi yang menjadi penolongnya, tidaklah amat memalukan. Maka dia berkata.

"Totiang, maafkan kelancanganku!"

Seruan ini dia tutup dengan gerakan menyerang. Kini Keng Hong tidak mau diejek untuk kedua kalinya. Ia mengerahkan sinkang dari pusarnya. Hawa panas meluncur cepat ke arah kedua lengannya dan dia mempergunakan ginkangnya. Tubuhnya melesat bagaikan kilat menyambar ke arah Kiang Tojin dan sekaligus dia memukulkan kedua tangannya dalam serangan berantai.

Harus diketahui bahwa dalam silat tangan kosong, Keng Hong belum dapat dikatakan lihai. Ia hanya digembleng dengan pengertian dan gerakan dasar-dasar ilmu silat saja. Setiap gerakan tangan dan geseran kaki memang dapat dia lakukan dengan mahir, namun rangkaian ilmu silat belum banyak dia pelajari karena waktunya tidak mengijinkan. Dari suhunya dia hanya baru dapat memetik ilmu silat tangan kosong yang oleh gurunya dinamai San-in-kun-hoat (ilmu silat awan gunung) yang diambil dari keadaan di puncak Kiam-kok-san. Ilmu silat ini merupakan gerakan-gerakan inti ilmu silat tinggi, namun diatur amat sederhana sehingga hanya terdiri dari delapan buah jurus serangan saja! Dalam serangan ke dua ini Keng Hong yang tidak mau diejek itu telah mempergunakan jurus yang disebut Siang-in-twi-an (Sepasang Awan Mendorong Gunung). Kedua kakinya masih di udara ketika dia melompat, namun siap melakukan tendangan susulan sebagai perkembangan jurus ini, sedangkan kedua lengannya didorongkan ke depan secara bergantian sambil mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya.

"Siuuuuttt....!"

"Siancai...!" Kiang Tojin terkejut bukan kepalang. Melihat tenaga pada serangan pertama tadi, dia sudah kagum, akan tetapi serangan kedua ini benar-benar membuat dia kaget karena serangan ini bukan merupakan serangan main-main dari seorang pemuda yang baru lima tahun belajar ilmu silat!

Serangan ini lebih pantas kalau dilakukan seorang tokoh persilatan yang sudah melatih diri selama puluhan tahun! Tenaga pukulan itu dapat dia ukur dari angin yang menyambar dan biarpun Kiang Tojin sendiri tidak berani menerima pukulan sehebat itu. Cepat tosu itu meloncat ke samping dan memutar tubuh sambil mengangkat tangan karena melihat kedudukan tubuh Keng Hong di udara itu dia maklum bahwa pemuda ini akan melanjutkan jurus itu dengan tendangan. Dugaannya memang tepat dan baik dorongan tangan maupun tendangan Keng Hong banyak mengenai angin belaka, dan hanya berhasil membuat pakaian tosu itu berkibar.

Ketika serangan kedua ini gagal, Keng Hong yang khawatir kalau-kalau menerima serangan balasan, lalu menggunakan ginkangnya dan di udara tubuhnya sudah berjungkir balik di barengi seruannya yang keras sekali. Tubuhnya berputaran di udara dan membalik, lalu meluncur turun dan langsung menyerang untuk ketiga kalinya ke arah Kiang Tojin yang masih berdiri terbelalak. Gaya serangan tadi saja sudah membayangkan ilmu silat yang luar biasa, apalagi tenaganya yang membuat kulit tubuhnya terasa pedas dan dingin sekali, kini menyaksikan ginkang sehebat itu tosu ini melongo. Namun pada detik berikutnya, tubuh pemuda ini sudah meluncur dan menyerangnya dari atas seperti seekor burung garuda menyambar.

Sekali ini Keng Hong menggunakan jurus ke delapan atau jurus terakhir dari ilmu silat San-in-kun-hoat, yaitu jurus yang disebut In-keng-hong-i (Awan Menggetarkan Angin dan Hujan). Jurus inilah yang paling sukar dimainkan, karena keempat kaki tangan melakukan serangan dari atas secara bertubi-tubi. Keng Hong yang ingin memperlihatkan apa yang telah dia pelajari dari suhunya agar tidak dipandang rendah, telah menggerakkan kedua kakinya susul-menyusul menendang ke arah dada dan perut, disusul dengan hantaman tangan kiri yang terkepal ke arah leher dan akhirnya dengan jari terbuka ke arah ubun-ubun kepala lawannya! Benar-benar serangan yang amat hebat, cepat dan mengandung tenaga mijizat karena pada saat itu dia mempergunakan seluruh hawa sinkang di tubuhnya yang dia lancarkan melalui kedua tangan dan kakinya! Dengan pukulan seperti inilah ketika dia marah-marah kepada diri sendiri di puncak batu pedang, dia telah menggempur batu menonjol sehingga batu setinggi orang itu telah hancur lebur.

"Hayaaaa....!" Kiang Tojin benar-benar kaget sekali sekarang. Ia maklum bahwa sedikit pun dia tidak boleh memandang ringan serangan ini dan dia pun maklum bahwa serangan ini terlalu dahsyat dan berbahaya. Maka dia mengerahkan perhatian dan tenaganya. Tendangan kedua kaki mengarah perut dan dadanya dia hindarkan dengan elakan cepat, demikian pula pukulan ke arah lehernya. Akan tetapi tamparan ke ubun-ubunnya sedemikian cepat dan hebatnya sehingga amat berbahaya kalau dielakkan karena terkena sedikit saja bagian kepalanya tentu akan mendatangkan bencana hebat, maka dia mengerahkan tenaganya, miringkan kepala dan tubuh kemudian secepat kilat dia menangkis tamparan itu sambil terus menangkap tangan Keng Hong yang terbuka.

Kiang Tojin adalah seorang tokoh besar yang telah memiliki tingkat kepandaian amat tinggi, juga memiliki tenaga sinkang yang sukar di cari bandingnya. Maka amatlah mengherankan kalau kini menghadapi seorang muda yang baru belajar selama lima tahun dia terpaksa harus berhati-hati dan mengerahkan tenaganya.

"Plakk....! Aihhhh.....!" Kiang Tojin berseru kaget sekali. Ketika dia menangkis tamparan Keng Hong dengan Telapak tangannya, dia merasa seolah-olah lengannya tertindih tenaga yang amat kuat dan beratnta hampir tak kuat dia menahannya, yang membuat seluruh lengan sampai setengah dada terasa ngilu! Sebagai seorang yang sakti, tentu saja dia terkejut namun tidak kehilangan akal. Cepat dia memutar telapak tangannya bergerak, tubuh Keng Hong terbanting ke bawah. Namun karena pemuda itu memiliki ginkang yang luar biasa, dia terbanting dalam keadaan berdiri sungguhpun bantingan itu membuat dia berdiri setengah berlutut dengan tangan masih menempel dengan tangan Kiang Tojin yang menangkapnya. "Heeeiiiitttt....!" Kembali Kiang Tojin memekik kaget dan megerahkan tenaga sinkang untuk melepaskan pegangannya.

Namun sungguh aneh sekali, dia tidak dapat melepaskan pegangannya pada tangan Keng Hong! Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika dia merasa betapa makin dia mengerahkan sinkang, maka hawa sakti itu seolah-olah air dituangkan ke dalam laut, amblas dan hanyut tanpa bekas, bahkan kini tak dapat lagi dia menahan sinkangnya yang terus mengalir keluar melalui lengannya dan tersedot masuk ke dalam tubuh Keng Hong melalui tangan!

"Iiiiihhhh...., ehhhh....!" Kiang Tojin menjadi pucat, matanya terbelalak dan dia meronta-ronta hendak melepaskan pegangannya. Sia-sia belaka, karena seperti ada tenaga mijizat yang membuat tangannya lekat dan diapun tak dapat menahan sinkangnya yang menerobos keluar!

Tentu saja Kiang Tojin tidak mengerti bahwa kalau tadi dia hampir kalah kuat oleh Keng Hong, adalah karena pemuda itu telah menerima pengoperan sinkang dari Sin-jiu Kiam-ong dalam saat terakhir sehingga dapat dikatakan bahwa yang dia lawan bukan sinkang asli Keng Hong, melainkan sama dengan melawan Sin-jiu Kiam-ong! Dan kini, baik dia sendiri maupun Keng Hong tidak mengerti betapa ada tenaga "menyedot" luar biasa pada diri Keng Hong sehingga hawa sakti dari tubuh tosu itu mengalir keluar dan pindah ke dalam tubuh pemuda itu!

Ketika Keng Hong merasa betapa hawa panas mengalir dari tangan tosu itu dan menerobos memasuki tubuhnya melalui tangannya tanpa dapat dicegah lagi, dia tahu apa yang telah terjadi dan dia menjadi terkejut sekali. Mula-mula dia mengira bahwa seperti apa yang telah dilakukan mendiang suhunya, tosu penolongnya inipun hendak mengoperkan sinkang kepadanya, akan tetapi ketika melihat wajah tosu itu menjadi pucat, sikapnya yang gugup dan betapa tosu itu dengan sia-sia hendak melepaskan pegangan, dia menjadi kaget bukan main. Tanpa dia ketahui sendiri, dalam dirinya telah timbul semacam "penyakit" yang dia sendiri tidak mampu obati, yaitu telah timbul semacam daya sedot yang hebat dan yang tak dikuasainya. Hal ini terjadi diluar di luar kehendaknya dan dia tidak tahu bahwa ketika Sin-jiu Kiam-ong memaksakan sinkangnya berpindah ke tubuh muridnya, paksaan yang tidak wajar ini telah mengacau hawa sakti di tubuh Keng Hong dan telah merusak susunannya sehingga menimbulkan kekuatan daya sedot yang amat luar biasa ini. Dalam bingungnya, Keng Hong juga membetot-betot tangannya dan mulutnya berkata gagap "Totiang.....lepaskan......, lepaskan tanganku.....!"

Selagi mereka berkutetan, masing-masing ingin melepaskan tangan yang saling melekat, beberapa orang tosu yang menjadi sute dari Kiang Tojin, menjadi marah. Mereka ini juga merupakan orang-orang yang berilmu tinggi. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, akan tetapi melihat betapa suheng (kakak seperguruan) mereka menjadi makin pucat dan tampak gugup dan bingung, mereka itu sebanyak empat orang telah melangkah maju menghampiri Keng Hong. Seorang di antara mereka berseru marah.

"Bocah jahat, lepaskan!"

Empat buah lengan yang kuat dan mengandung penuh tenaga lweekang menyentuh tubuh Keng Hong. Dua orang memegang tangannya, dua orang lagi memegang kedua pundaknya. Keng Hong tidak melawan dan dia masih dalam keadaan setengah berlutut. Namun begitu empat buah tangan itu menyentuh Keng Hong, terdengar seruan-seruan kaget, bukan hanya empat orang tosu itu yang berseru kaget, bahkan Keng Hong juga mengeluh dan berteriak, "Lepaskan......!" Ternyata bahwa kini empat orang tosu itu tak dapat melepaskan lagi tangan mereka yang menempel tubuh Keng Hong dan seperti tempat air bocor, sinkang di tubuh mereka juga mengalir dan disedot masuk ke dalam tubuh pemuda itu!

"Bocah berilmu iblis!" Seorang di antara tosu itu memaki dan dia memukul dengan tangan lain ke punggung Keng Hong. Akan tetapi hanya terdengar suara “plakkk!" dan kini tangannya yang sebelah lagi itu pun melekat dan makin hebatlah tosu ini tersedot tenaganya sehingga dia menjadi pucat dan lemas seketika! Keliru kalau mengira bahwa Keng Hong merasa senang menerima terobosan hawa sakti yang berkelimpahan memasuki tubuhnya ini. Tubuhnya menjadi makin panas, tidak karuan rasanya, seolah-olah sebuah bola karet yang terisi angin, tubuhnya terasa seperti akan meledak, dadanya penuh hawa, pusarnya penuh hawa yang menekan-nekan dan memberontak hendak keluar, kepalanya pening sekali dan mukanya menjadi merah seperti udang rebus! Ia merasa tersiksa sekali, apalagi karena dia maklum bahwa lima orang tosu itu bisa tewas kalau mereka tidak lekas-lekas dapat melepaskan tangan mereka dari tubuhnya. Namun dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya agar dapat terlepas dari mereka! Kalau tadinya dia masih dapat berteriak-teriak minta mereka melepaskan tangan sambil meronta-ronta, kini dia hanya dapat mengeluarkan suara "ah-ah-uh-uh" seperti orang gagu.

Keadaan Kiang Tojin dan empat orang tosu itu lebih menderita lagi. Mereka merasa betapa tenaga sinkang mereka makin lama makin menipis, tersedot secara ajaib tanpa mereka dapat mencegahnya. Tubuh mereka menjadi lemas, kepala menjadi pening dan pikiran tak dapat dipergunakan dengan baik lagi, membuat mereka menjadi bingung dan tak tahu harus berbuat apa.

"Siancai.... siancai....!" Seruan ini keluar dari mulut Thian Seng Cinjin, seruan yang halus dan tahu-tahu tubuh kakek ini sudah melayang dekat, kemudian dia menggerakkan kedua tangan setelah menancapkan tongkat di atas tanah. Dengan kedua tangannya dia memegang kedua pangkal lengan Keng Hong, lalu merenggut dan menghentak keras. Keng Hong merasa betapa sebuah tenaga raksasa menariknya dan tenaga ini yang jauh lebih kuat daripada tenaga kelima tosu yang membocor ke dalam tubuhnya, telah menghentikan hubungan atau aliran hawa sakti itu, melepaskan kedua lengannya dan tahu-tahu tubuhnya terlempar sampai sepuluh meter lebih jauh sampai bergulingan.

Keng Hong meloncat bangun, loncatannya amat ringannya dan dia berteriak kaget karena tubuhnya itu mencelat jauh lebih tinggi daripada yang dikehendakinya. Tubuhnya terasa seperti penuh dengan hawa yang membuatnya ringan sekali, akan tetapi juga berat di sebelah dalam. Hawa yang memenuhi tubuhnya minta keluar, membuat mulutnya menghembuskan suara mendesis seperti orang yang mulutnya kepedasan!

"Aaahhhh... minggir..... aaahhhhh.... minggir semua.....!" pekiknya dengan suara menggereng seperti seekor harimau, kemudian tubuhnya sudah melesat ke depan, menuju ke arah pohon-pohon besar. Para tosu yang menyaksikan keadaannya ini menjadi kaget, heran dan juga gentar sehingga otomatis mereka itu minggir dan menjauhkan diri. Keng Hong yang hanya merasa bahwa dia harus menyalurkan semua hawa sakti yang memenuhi tubuhnya, harus mengeluarkan tenaga yang membuat dadanya dan kepalanya seperti akan meledak, terus saja menggunakan kedua kaki tangannya untuk menghajar pohon-pohon yang tumbuh di depannya. Ia memukul, menendang dan mendorong. Dengan ngawur saja dia lalu mainkan keseluruhan delapan jurus dari ilmu silat San-in-kun-hoat dan setelah selesai, dan terdengar suara-suara hebat "dessss, kraaak-kraaaaak.... bruuuuk!" berkali-kali maka dia telah merobohkan delapan belas batang pohon besar yang menjadi tumbang, batangnya remuk dan kini malang melintang seperti diamuk topan! Setelah menjadi tumbang, batangnya remuk dan kini malang melintang seperti diamuk topan! Setelah mengeluarkan sebagian hawa sinkang yang mendesak-desak di tubuhnya itu melalui pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang merobohkan belasan batang pohon, barulah Keng Hong merasa tubuhnya tidak tersiksa lagi, dadanya dan kepalanya tidak seperti mau meledak, napasnya tidak sesak dan dia seperti baru timbul dari keadaan seorang yang hampir tenggelam ke dalam air yang amat dalam tanpa dapat berenang!

Ia kini menggoyang-goyang kepalanya mengusir sisa kepeningan lalu memandang ke depan. Ia melihat betapa Kiang Tojin dan empat orang sutenya telah duduk bersila mengatur pernapasan dan mengumpulkan tenaga dengan wajah pucat. Teringatlah dia akan semua peristiwa akibat gara-garanya, maka cepat dia menghampiri Kiang Tojin dan menjatuhkan diri berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh penyesalan.

"Saya mohon ampun dari Totiang sekalian...!" Suaranya pilu dan tak terasa lagi pemuda ini menangis sesenggukan!

"Siancai...., engkau bocah telah mewarisi ilmu iblis Sin-jiu Kiam-ong, masih baik tidak mewarisi wataknya yang ugal-ugalan. Hatimu masih bersih....!" Thian Seng Cinjin memuji sambil mengelus jenggotnya yang putih. Tosu tua ini maklum bahwa kalau hati anak muda itu mengandung kekejaman, dia akan kehilangan beberapa orang murid. Tentu malapetaka besar akan timbul kalau saja pemuda itu menyalurkan hawa sinkang yang hebat itu bukan kepada pohon-pohon, melainkan kepada manusia.

Kiang Tojin membuka matanya, mulutnya tersenyum sabar namun pandang matanya penuh kengerian dan juga kekaguman. "Keng hong, engkau telah mewarisi ilmu yang hebat dan mengerikan...."

"Totiang, saya bersumpah bahwa semua itu terjadi di luar kehendak saya. Kini saya mohon kepada Totiang sudilah Totiang melenyapkan daya sedot yang mencelakakan orang tanpa saya kehendaki ini. Tolonglah, Totiang...!" Pemuda ini merasa tersiksa sekali batinnya dan dia menganggap ilmu kepandaian aneh yang berada di dalam dirinya, daya sedot yang ajaib itu, tak lain hanya sebagai sebuah penyakit hebat yang menyeramkan dan menjijikkan!

"Keng Hong, tingkat kepandaianku masih belum sampai ke situ, tidak mungkin aku melenyapkan ilmu iblis itu. Entah kalau suhu, barangkali bisa kalau engkau suka memohon kepada suhu.”

Keng Hong sudah menoleh dan hendak mohon kepada ketua Kun-lun-pai, akan tetapi Thian Seng Cinjin sudah mengangkat tangannya dan berkata, suaranya halus namun penuh wibawa.

"Ada semacam ilmu hitam yang disebut Thi-khi-i-beng (Mencuri Hawa Pindahkan Nyawa) yang cara kerjanya jugamenyedot kekuatan tubuh lawan. Namun pinto rasa untuk masa kini tidak ada lagi yang memiliki ilmu yang mujizat itu. Kini secara aneh ilmu itu dimiliki olehmu, Keng Hong. Entah Sin-jiu Kiam-ong sengaja atau tidak menurunkan ilmu itu kepadamu. Melihat betapa kau sendiri tidak sadar akan ilmu itu, agaknya dia pun tidak menurunkannya kepadamu dan telah terjadi keanehan yang amat ajaib. Engkau bukan anak murid Kun-lun-pai, tidak berhak bagi Kun-lun-pai untuk melenyapkan ilmu itu dari tubuhmu. Pula, melenyapkan ilmu itu dari tubuhmu berarti membahayakan nyawamu dan nyawa dia yang mengusahakannya. Ilmu tetap ilmu, baik buruknya atau putih hitamnya tergantung dia yang mempergunakannya. Biarpun Thi-ki-i-beng kelihatannya ganas dan keji, namun kalau engkau dapat menguasainya dan mempergunakan untuk kebaikan, perlu apa dilenyapkan?" setelah berkata demikian, kakek ini merenung dan memejamkan mata, mulutnya berkomat-kamit seperti orang membaca doa.

"Bagaimana, Kiang-Totiang....!?" Keng Hong kini menujukan pertanyaannya kepada penolongnya.

Kiang Tojin tersenyum dan menghela nafas. "Tepat seprti yang dikatakan suhu, engkau bukan murid Kun-lun-pai dan kami tidak berhak mencampuri urusan ilmu silatmu. Sekarang, kau pun terpaksa harus meninggalkan pula pedangmu kepada kami.”

Keng Hong menarik nafas panjang. Tosu-tosu ini terlalu angkuh, pikirnya. Kalau ketuanya tahu akan cara melenyapkan "penyakit" yang berada dalam tubuhnya, mengapa tidak mau menolongnya? Anak ini memiliki keangkuhan dan tidak sudi merengek-rengek merendahkan diri. Ia lalu mencabut pedang kayu dari pinggangnya, meletakkannya di depan kaki Kiang Tojin sambil berkata.

"Saya tidak mempunyai niat buruk, mengapa membawa-bawa pedang? Kalau Kun-lun-pai merasa bahwa pedang itu hak mereka, biarlah saya tinggalkan. Selain Pedang ini, saya hanya mempunyai pakaian yang saya pakai ini. Apakah ini pun harus ditinggalkan pula?"

Kiang Tojin memandang dengan sinar mata sedih, lalu menggeleng-geleng kepala. "Sungguh sayang, Keng Hong. Saat ini hatimu dipenuhi oleh kemarahan dan dendam. engkau masih belum mengerti akan maksud baik kami. Akan tetapi biarlah. Kelak engkau akan mengerti sendiri mengapa kami minta kau meninggalkan Siang-bhok-kiam kepada kami.”

“Eh, bocah tolol! Namamu Keng Hong tadi, ya? Kenapa kau begitu tolol menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada para tosu bau itu? Jangan berikan! Kau ditipu, mereka itu menginginkan pedang pusaka itu. Ambil lagi dan lekas pergi! Dengan kepandaianmu yang mujizat seperti Iblis mereka takkan dapat memaksamu!" Teriakan ini adalah teriakan wanita cantik yang diikat pada pohon. Kiranya totokan Kiang Tojin yang dilakukan dari jarak jauh tadi tidak lama membuatnya gagu. Hal ini saja membuktikan bahwa wanita itu bukanlah orang sembarangan pula, melainkan sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

"Cukup kiranya, Keng Hong. Kami menerima pedang Siang-bhok-kiam dan akan menyimpannya baik-baik. Engkau boleh pergi dengan hati lapang dan ingatlah, engkau tidak boleh datang ke wilayah kami ini tanpa seijin kami. Kalau ada keperluan yang memaksamu datang ke wilayah ini, engkau harus datang lebih dahulu ke Kun-lun-pai dan menghadap suhu untuk minta ijin.”

Keng Hong mengangguk-angguk. Di dalam hatinya dia menjawab bahwa dia tidak sudi datang ke situ dan tidak akan mengganggu Kun-lun-pai selamanya. Akan tetapi dia melirik ke arah wanita itu dan berkata.

"Maaf, Totiang. Sebelum saya pergi, ada sebuah permintaan saya, harap Totiang sudi mengabulkannya.”

"Permintaan apa? sekiranya patut dan dapat pinto lakukan tentu akan pinto kabulkan permintaanmu."

"Saya mohon kepada Totiang sekalian sudilah kiranya membebaskan wanita itu!"

Terdengar seruan-seruan kaget dari mulut para tosu, dan hanya Kiang Tojin yang tampak tenag, sedangkan Thian Seng Cinjin tidak peduli, masih berdiri seperti orang termenung dengan kedua mata dipejamkan.

"Keng Hong ada hubungan apakah engkau dengan wanita itu maka minta supaya dia dibebaskan?"

"Tanpa alasan apa-apa, Totiang dan hanya dilandasi perasaan yang sama seperti perasaan mendiang suhu ketika menolong Kun-lun-pai yang diserbu oleh kaum sesat!"

"Apa? Apa maksudmu?" Kiang Tojin memandang heran.

"Totiang, menurut cerita suhu, suhu menolong Kun-lun-pai juga hanya dilandasi perasaan kasihan melihat pihak yang ditindas dan diancam. Suhu pun tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Kun-lun-pai, namun suhu tetap menolongnya. saya pun tidak mempunyai hubungan dengan wanita ini, akan tetapi melihat dia terancam bahaya di sini, perasaan saya yang mendorong saya untuk menolongnya.”

"Ah, akan tetapi hal itu jauh sekali bedanya, Keng Hong. Gurumu membantu kami melawan golongan hitam, kaum sesat dan orang jahat. sebaliknya, harus kauketahui bahwa wanita itu bukan orang baik-baik, bahkan kedatangannya mempunyai niat buruk terhadapmu, untuk merampas Siang-bhok-kiam..."

"Bohong! Tosu tua bangka bau! Bohong....!" wanita itu memaki.

Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. "Agaknya Totiang tidak dapat mengenal watak suhu. Saya percaya bahwa suhu bukan mendasarkan pertolongannya atas baik dan buruk, karena menurut wejangan suhu, bagi suhu dan saya, baik dan buruk itu tidak ada, yang ada hanyalah pendapat orang yang selalu tidak adil karena menurutkan kepentingan diri pribadi.”

"Eh, apa maksudmu?"

"Pandangan baik dan buruk oleh pendapat manusia adalah miring dan berat sebelah, Totiang dipengaruhi oleh nafsu pribadi demi kepentingan diri sendiri. Kalau seseorang melihat orang lain menguntungkan dia, bersikap manusia, menyenangkan hatinya, maka serta-merta dia akan menganggap orang itu baik! Sebaliknya kalau dia melihat orang lain merugikannya, memusuhinya dan tidak menyenangkan hatinya, maka tanpa ragu-ragu lagi akan dianggapnya orang itu jahat! Karena itu, saya seperti suhu tidak percaya akan pandangan orang tentang baik dan jahat dan saya menolong wanita ini hanya terdorong perasaan ingin menolong, kasihan melihat dia terancam bencana di sini. Bagaimana, Totiang? Saya telah memenuhi permintaan Kun-lun-pai untuk meninggalkan pedang, apakah Kun-lun-pai demikian pelit untuk menolak permintaanku yang sama sekali terdorong keinginan menguntungkan diri sendiri ini?" Dengan kalimat terakhir ini terkandung ejekan bahwa Kun-lun-pai minta pedangnya dengan dasar ingin untung sendiri!

Kiang Tojin tercengang. "Pendapat keliru...., wawasan yang menyeleweng...."

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Thian Seng Cinjin yang halus, "Bocah ini kelak lebih menggegerkan daripada Sin-jiu Kiam-ong. Bebaskanlah wanita itu dan lekas suruh anak ini pergi, lebih cepat lebih baik!"

Kiang Tojin memberi tanda dan dua orang tosu menghampiri wanita itu hendak melepaskan ikatannya, akan tetapi sekali bergerak, wanita itu ternyata telah meloloskan tangan kakinya dari ikatan tanpa mematahkan ikatan itu. Dia meloncat dan memandang ke arah Keng Hong dengan senyum mengejek. "Bocah Tolol! Cih, tolol dan goblok, dasar anak dusun!" Setelah berkata demikian, wanita itu membanting-banting kaki kanannya lalu berkelebat cepat pergi meninggalkan tempat itu.

Keng Hong tidak peduli, lalu berlutut menghaturkan terima kasih kepada para tokoh Kun-lun-pai, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan pegunungan Kun-lun-pai dengan wajah berseri. Dia setengah memaksa diri untuk bergembira, berjanji dalam hatinya untuk menempuh hidup dengan cara gurunya, yaitu tetap bergembira, tidak memusingkan masa depan. Dia akan hidup seperti gurunya, yaitu menghadapi bayangan masa depan yang bagaimanapun selalu gembira dan dengan tekad: Bagaimana nanti sajalah! ***

"Heii, tolol! berhenti dulu!"

Keng Hong menghentikan langkahnya. Ia telah jauh meninggalkan Kun-lun-san dan kini berada di sebuah hutan yang tidak lagi menjadi daerah Kun-lun-san. Tanpa menoleh dia sudah mengenal suara itu, suara yang nyaring merdu dan galak, suara wanita cantik jelita yang telah dibebaskan oleh para tosu Kun-lun-pai.

"Kau mau apakah?" tanyanya sambil berdiri tegak tanpa menoleh.

"Waduh sombongnya! Orang tolol masih bisa bersikap sombong ya?"

"Aku tidak merasa sombong, sungguh pun mungkin kau benar bahwa aku tolol,” jawabnya sabar sambil tersenyum. Gembira! Harus menghadapi segala sesuatu dengan gembira, betapa pun pahitnya dan menyakitkan hati maki-makian itu.

"Walah-walah, malah senyum-senyum! Kau bicara tanpa melihat aku, bukan kah itu sikap sombong, sikap orang berkepala angin, memandang orang lain seperti rumput saja? kalau tidak sombong, lihat lah kesini. Benci aku melihat orang diajak bicara kok menengok pun tidak!"

Keng Hong tertawa. Betapa pun galaknya, ucapan orang itu dia anggap jenaka dan lucu, juga segar menyenangkan hatinya. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan melihat penegurnya itu duduk di atas rumput hijau di bawah sebatang pohon sambil makan daging paha besar seekor ayam hutan. Daging itu masih mengepul panas, juga api unggun untuk membakar daging itu masih menyala.

"Nah, aku sudah memandangmu sekarang. Kau mau bicara apakah?"

"Wah, memang sombong dan angkuh! Apakah karena engkau telah minta tosu-tosu bau itu membebaskan aku lalu engkau boleh bersikap angkuh seperti ini?"

"Eh....., adik yang baik....."

"Cih! aku bukan adikmu!"

"Cici yang baik...."

"Siapa sudi menjadi kakak perempuanmu?"

Keng Hong merasa bohwat (kehabisan akal). "Habis, harus kusebut apa?"

"Panggil aku nona!"

"Wah, nona.....?"

"Habis, aku masih gadis, kalau tidak disebut nona, masa engkau hendak menyebut aku nyonya besar?" Gadis itu merengut, bibirnya yang merah itu berlepotan minyak gajih paha ayam, mukanya coreng moreng terkena hangus, kelihatan makin cantik dan lucu sehingga kembali Keng Hong tertawa.

"Baiklah, Nona. Engkau memaki aku sombong dan angkuh berkali-kali, karena aku tidak mau menengok. Setelah aku menengok, kau masih memaki aku angkuh. Habis aku kausuruh bagaimana supaya tidak kaumaki angkuh?"

"Aku mau bicara denganmu, duduklah disini dan jangan berdiri pringas-pringis seperti monyet mencium ikan asin!"

Keng Hong mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal. selamanya baru sekali ini dia bicara dengan gadis, apalagi gadis yang begini lincah. Ia tertarik sekali, akan tetapi juga merasa canggung. Kemudian teringat dia akan watak suhunya, maka dia lalu tersenyum lebar dan melangkah menghampiri gadis itu, menjatuhkan diri duduk di atas rumput di hadapan gadis itu. Dalam beberapa detik, pandang matanya yang tajam sudah meneliti gadis yang duduk makan paha ayam panggang di hadapannya itu. Wajah yang berkulit halus kemerahan, cantik jelita dengan bentuk tubuh bulat telur. Rambut hitam gemuk yang kacau tak tersisir, menutup sebagian pipi kirinya karena kepala itu agak dimiringkan ke kanan. Alis yang panjang kecil dan hitam. Sepasang mata yang jeli, lebar dan jernih sekali, dengan kerling yang amat tajam, mata yang aneh karena dia seperti dapat melihat bayangan gembira, berani, menantang dan merenung di dalamnya. Hidung kecil mancung di atas sepasang bibir yang dianggapnya merupakan bibir terindah yang pernah dilihatnya. Penuh dan berkulit halus seolah-olah sepasang bibir itu dapat mudah pecah, warnanya kemerahan dan basah berminyak. Dagunya kecil agak meruncing menambah kemanisan. Pakaiannya terbuat dari sutera halus dan mewah, namun potongannya ketat sehingga membayangkan dada yang penuh menonjol, pinggang kecil dan pinggul yang lebar. Kulit yang mengintai dari balik leher baju, dari lengan, tampak halus dan putih sekali. Beginikah wanita cantik yang suka disebut-sebut suhunya dan diumpamakan setangkai bunga yang harum? Dia kini dapat merasakan persamaannya. Memang seperti bunga sehingga membuat hati ini kepingin menyentuh, kepingin mencium, kepingin memandang dan menikmati keindahannya.

"Mungkin aku seperti monyet, akan tetapi saat ini aku tidak mencium bau ikan asin, melainkan mencium bau sedap gurih daging panggang!"

"Kau kepingin?" Gadis itu menghentikan gigitannya dan mulutnya yang penuh dengan daging itu mengunyah perlahan, matanya mengerling Keng Hong. Pemuda remaja ini memandang mulut yang mengunyah itu, dan tak terasa lagi dia menelan ludah dan perutnya mendadak berkeruyuk. Dia mengangguk dan kembali menelan ludah.

"Kalau kepingin, ambillah. Tunggu apalagi? Jangan malu-malu kucing, kalau kepingin mengapa tidak ambil dan makan sejak tadi?"

"Ah, tapi daging itu punyamu...."

"Siapa bilang punyaku? Ayam itu berkeliaran di hutan, entah punya siapa!"

"Tapi kau yang menangkap dan memanggangnya...."

"Sudahlah! cerewet bener sih engkau ini! ambil saja dan ganyang, habis perkara. Bicara saja mana bisa kenyang?"

Biarpun ditegur, Keng Hong menjadi geli dan tertawa. Gadis ini benar-benar menimbulkan rasa gembira di hatinya. Cocok benar dengan watak suhunya. Bagaimana kalau suhunya yang bertemu dengan gadis seperti ini? Ia lalu menyambar daging ayam panggang, merobek bagian dada lalu mulai makan daging itu. Benar lezat sekali, gurih dan manis, lagi hangat dan perutnya memang amat lapar. Setelah habis semua makan, gadis itu mengeluarkan seguci air dingin dan minum dengan cara menggelogoknya dari mulut guci. air memasuki mulut yang kecil itu, ada yang tumpah membasahi pipi dan tercecer memasuki celah-celah bajunya di leher. Setelah itu, dia menurunkan guci dan menyerahkannya kepada Keng Hong.

Pemuda yang mulai mengenal watak polos dan terbuka gadis itu, menerima guci akan tetapi dia merasa ragu-ragu juga untuk menggelogok air itu begitu saja. Bibir guci itu masih berlepotan minyak gajih, tentu ketika bibir guci tadi bertemu dengan bibir si gadis.

"Mana cawannya? Kupinjam sebentar untuk minum!"

"Tidak punya cawan!"

"Habis bagaimana minumnya?"

"Tuang saja, seperti aku "

“Tapi... tapi... bekasmu...."

Gadis itu meloncat bangun, lalu bertolak pinggang dan membungkuk memandang Keng Hong dengan mata terbelalak.

"Kau.... kau menghina aku, ya? Tolol kurang ajar!"

Keng Hong juga membelalakkan matanya, bukan karena marah melainkan karena heran. Ia benar-benar merasa tolol berhadapan dengan nona ini. "Menghina...? Aku.... aku tidak.... eh, apa sih maksudmu?"

"Kau jijik ya minum secara menggelogok seperti aku? Kau tidak sudi ya karena bibir guci itu berbekas mulutku? Kaukira aku ini penderita sakit paru-paru atau batuk kering? kau jijik?"

"Wah-wah-wah, harap jangan salah paham dan mengamuk tidak karuan. Bukan....bukan begitu, hanya....aku tadi khawatir kau tidak suka...."

"Tidak suka apa? kau benar-benar laki-laki cerewet. Sudah tolol, cerewet lagi! Sialan bertemu laki-laki sepertimu!"

Keng Hong tidak mempedulikannya lagi. Celaka, pikirnya. Kalau dilayani wanita ini, bisa habis dia di maki-maki. Ia lalu tidak mau mendengarkan lebih jauh melainkan menuangkan air ke dalam mulutnya, tidak peduli bibirnya bertemu dengan bekas bibir wanita itu. Air yang jernih dan sejuk.

"Terima Kasih,” katanya sambil mengembalikan guci air.

"Kenapa sedikit amat minumnya? Apakah kau takut minuman ini kucampuri racun?" Sambil berkata demikian, gadis itu kembali minum dengan cara menempelkan bibirnya pada bibir guci tanpa memilih-milih lagi. Heran sekali hati Keng Hong, mengapa menyaksikan bibir wanita itu menjepit bibir guci yang tadi diminumnya, hatinya berdebar dan mukanya terasa panas. Namun dia merasa mendongkol juga mendengar ucapan itu. Benar-benar wanita yang wataknya mau menang sendiri saja. Masa apa yang dia kerjakan selalu disalahkan? Tidak mau minum salah, sekarang sudah minum masih di sangka yang bukan-bukan. Ia menjadi gemas dan andaikata wanita ini adik perempuannya, tentu sudah dia jewer telinganya!

"Aku tidak takut kauberi racun,” jawabnya jengkel, dan dia lalu membuang muka sambil melanjutkan, "Sebetulnya, kau menghentikan perjalananku ada urusan apakah?"

Sampai lama gadis itu tidak berkata-kata, melainkan memandang wajah Keng Hong penuh perhatian. Pemuda itu tahu akan hal ini karena dia mengerling dari sudut matanya. Melihat gadis itu memperhatikannya, kembali dia mengalihkan pandang matanya. Kemudian terdengar gadis itu bertanya.

"Namamu siapa tadi? Dan berapa usiamu?"

"Cia Keng Hong.... Kalau tidak salah usiaku tujuh belas tahun.”

"Hemmm..., dan engkau murid Sin-jiu Kiam-ong? Heran benar aku....."

"Mengapa heran?"

"Seorang tokoh sakti seperti Sin-jiu Kiam-ong mengapa mempunyai seorang murid tolol seperti engkau?"

Makin panas rasa perut Keng Hong. Terlalu benara perempuan ini, pikirnya. "Kalau sudah tahu aku tolol, kenapa engkau menghentikan aku?"

Sampai lama wanita itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar dia tertawa merdu, cekikikan. "Eh, kau marah?"

Hemmm, benar-benar tukang menggelitik hati orang, pikir Keng Hong. Gemas dia. Kalau tidak ingat bahwa dia itu wanita tentu sudah ditamparnya. Ia tidak menjawab, hanya menggeleng kepalanya.

"Ah, kau marah. Bilang saja kau marah. Ingin aku melihat bagaimana kalau kau marah!"

Digoda terus-menerus, Keng Hong menjadi merah mukanya dan dia memandang dengan niat untuk balas memaki. akan tetapi melihat mata yang bening indah itu, mulut yang manis tersenyum, dia menjadi tidak tega untuk memaki, maka dia menundukkan muka lagi.

"Kau memang tolol. Kalau tidak tolol, tentu tidak kau berikan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau itu.”

"Itu hak mereka dan aku tidak mau membantah permintaan mereka. Mereka adalah tosu-tosu yang bijaksana dan baik, patut dipatuhi permintaan mereka. Pula, menggunakan kekerasan menentang, tak mungkin. Mereka amat lihai, terutama sekali Kiang Tojin dan ketua Kun-lun-pai.”

"Kau penakut dan bodoh! Heran aku mengapa Sin-jiu Kiam-ong mempunyai murid seperti engkau! Padahal menurut pendengaranku Sin-jiu Kiam-ong gagah perkasa tidak mengenal takut terhadap siapapun juga dan amat cerdik.”

Keng Hong menarik nafas panjang. Gurunya memang seorang yang selalu gembira dan tidak pernah mengenal takut. “Terserah wawasanmu. Aku tidak takut terhadap siapapun juga, dan tentang kebodohan..... hemmmm, tentu saja aku tidak secerdik suhu.”

Sunyi yang agak lama. Keng Hong menunduk karena teringat akan suhunya dan mulailah hilang kegembiraannya. Dalam hari-hari pertama semenjak dia sendirian di dunia ini, sudah terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya. Kalau begini terus nasibnya, bertemu seseorang wanita saja selalu mengejek dan memakinya, mana mungkin dia dapat meniru watak suhunya yang menghadapi segala sesuatu dengan gembira. Betapa mungkin dapat bergembira rasa hati ini kalau seorang wanita cantik jelita mencemoohkan dan memaki-makinya?

"Keng Hong...."

Pemuda itu terkejut. Benarkah wanita itu memanggilnya? Suaranya begitu halus dan dipanggil secara tiba-tiba setelah lama berdiam diri, dia terkejut juga.

"Hemmmm.....?" Ia menengok dan makin gugup melihat betapa sepasang mata itu memandangnya tajam-tajam dan mulut itu tersenyum manis akan tetapi hanya sebentar saja karena segera bibir yang merah itu cemberut lagi. "Kau memanggilku?"

"Kau laki-laki canggung benar...."

"Sudahlah, Nona. Kalau engkau menghentikan aku hanya untuk mencela, untuk apa....."

"Engkau marah?"

"Tidak"

"Engkau memang canggung, tidak seperti gurumu yang khabarnya..... ah, apakah kau tidak ingin tahu siapa aku, siapa namaku dan mengapa aku datang ke Kun-lun-pai?"

Baru Keng Hong teringat dan dia merasa bahwa dia memang kurang perhatian, "Siapakah nama Nona?"

Gadis itu menahan kekehnya. Sikap Keng Hong benar-benar canggung dan gugup sehingga kelihatan lucu. "Namaku Bhe Cui Im. Bagus tidak namaku?"

"Bagus.... bagus...." jawab Keng Hong cepat-cepat dengan pandang mata mendesak agar nona itu terus bercerita.

"Hi-hi-hik, kau ternyata pandai juga memuji...."

"Eh...., aku..... ah, teruskanlah, Nona.”

"Aku mendengar akan keramaian yang khabarnya akan terjadi di puncak Kun-lun-san yang disebut Kiam-kok-san, bahwa kabarnya tokoh-tokoh besar hitam dan putih hendak menjemput turunnya murid Sin-jiu Kiam-ong yang mewarisi Siang-bhok-kiam yang amat diinginkan seluruh tokoh Kang-ouw.”

"Termasuk engkau sendiri, nona.”

"Tentu saja! Apa kaukira aku ini anak kecil yang suka menonton keramaian begitu saja? Dan aku malah berhasil sekali, lebih berhasil daripada mereka yang menggunakan kekerasan. Mereka itu semua terusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, belasan orang gagah di dunia Kang-ouw, sama sekali tidak berhasil, melihatnya pun tidak! aku sengaja membiarkan diriku tertangkap oleh tosu-tosu bau itu. Memang harus diakui bahwa kalau aku melawan, tidak akan mampu mengalahkan tosu-tosu yang demikian banyak, apalagi tosu she Kiang dan gurunya itu amat lihai. aku sengaja menjadi tawanan dan akalku berhasil memancing kau datang karena jeritan-jeritanku. akan tetapi siapa kira, karena ketololanmu, kauserahkan pedang itu begitu saja!"

Mulai lagi maki-makian! Kini mengertilah Keng Hong mengapa gadis ini telah dapat meloloskan diri dari ikatan kaki tangannya sebelum dilepaskan. Kiranya gadis itu memang sengaja membiarkan dirinya ditawan. Benar-benar seorang gadis yang cerdik sekali, dan juga penuh keberanian.

"Untuk apakah engkau menginginkan pedang Siang-bhok-kiam, nona?"

"Eh-eh-eh, masih bertanya untuk apa lagi? Tentu saja untuk mendapatkan rahasianya. Keng Hong, katakanlah terus terang, apakah engkau sudah mendapatkan pula rahasia penyimpanan kitab-kitab pusaka yang terdapat di pedang itu?" Pandang mata itu penuh gairah, agaknya bernafsu sekali gadis ini untuk mendapatkan kitab-kitab pusaka simpanan Sin-jiu Kiam-ong.

Keng Hong menggeleng kepalanya. "Belum dan agaknya tidak akan dapat kutemukan. Aku pun tidak ingin kembali ke Kun-lun-san. Nona, mengapakah mereka itu semua memperebutkan rahasia itu? Sampai mati-matian dan saling bermusuhan?"

Gadis itu menggerakkan alisnya dan memandang pemuda ini dengan heran. "Engkau benar-benar masih hijau! Sudahlah, yang penting sekali ini ceritakan kepadaku ilmu apa saja yang kaupelajari dari Sin-jiu Kiam-ong? Tadi kulihat engkau menggunakan ilmu yang mijizat, kau pandai menyedot sinkang orang lain, bahkan Kiang Tojin yang begitu lihai hampir mampus ditanganmu. Ilmu apakah itu? Sukarkah kau menceritakannya kepadaku?" Tiba-tiba saja sikap gadis ini manis sekali, wajahnya berseri matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum.

Keng Hong hanya bisa menggeleng kepalanya, kemudian melihat wajah cantik itu menjadi murung dia cepat berkata, "Sungguh mati, aku sendiri tidak mengerti. Aku sendiri membenci penyakit yang ada pada tubuhku ini. Aku tidak mempelajari apa-apa kecuali dasar-dasar ilmu silat dan beberapa pukulan dan permainan pedang. Kalau dibandingkan dengan orang lain, tentu tidak ada artinya .”

"Hemmm, engkau pandai merendahkan diri dan bersikap sungkan, alangkah jauh bedanya dengan gambaran tentang gurumu!" Akan tetapi kegalakkan ini segera berubah lagi, kini gadis itu tersenyum manis, dan membuka tutup guci hendak diminumnya. Akan tetapi dia mengerutkan kening dan berkata seorang diri, "Ah, air ini kurang sedap!" Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya dan ketika dibuka, ternyata berisi daun-daun dan kembang-kembang kering. Dituangkannya sebungkus daun dan kembang kering ini ke dalam guci airnya, lalu dikocoknya guci itu sambil memandang Keng Hong. Ditatap sepasang mata seperti itu, Keng Hong menjadi tak enak hati kalau berdiam diri saja maka dia bertanya.

"Apakah yang kau masukkan dalam air minum itu?"

"Daun wangi dan kembang harum, pengganti teh yang amat lezat dan sedap!" jawab gadis itu sambil menggelogok air dari guci seperti tadi. Tercium bau yang harum keluar dari mulut guci. Gadis itu selesai minum lalu menyerahkan gucinya kepada Keng Hong sambil berkata, "Kau minumlah.”

Keng Hong menggeleng kepala. "Aku tidak haus.”

"Eh, biarpun tidak haus, air ini sekarang menjadi minuman enak. Coba cium, tidak harumkah?"

Gadis itu mendekatkan mukanya dan membuka mulutnya, menghembuskan nafas ke arah muka Keng Hong. Pemuda itu terkejut dan mukanya terasa panas sekali, jantungnya berdebar tegang. Ia merasa canggung dan juga jengah.

"Apakah kau takut kalau air ini kucampuri racun?"

Untuk mencegah gadis itu melakukan hal-hal aneh yang lebih hebat lagi, tanpa banyak cakap Keng Hong lalu menerima guci air dan menggelogoknya. Memang harum dan terasa agak manis, akan tetapi mulut dan lidahnya yang terlatih tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak asing baginya. Racun! Racun yang amat kuat dan jahat! Namun dia cepat dapat menekan perasaannya, tidak memperlihatkan sesuatu pada mukanya, bahkan lalu terus menuangkan air beracun itu sampai habis pindah ke dalam perutnya! Ketika dia menurunkan guci kosong dan berkata, "Lezat sekali!" gadis itu memandangnya dengan sepasang mata bersinar-sinar.

Sambil tersenyum-senyum gadis itu kini mengambil sesuatu dan karena yang diambilnya itu agaknya berada di saku dalam dari bajunya, ia lalu membuka dua kancing baju bagian atas. Cara ia membuka kancing secara terang-terangan begitu saja di depan Keng Hong, dengan gaya memikat dan manis sekali. Keng Hong terbelalak, lebih heran daripada kaget dan jengah, melihat betapa bagian atas baju itu terbuka memperlihatkan pakaian dalam yang berwarna merah muda dan sebagian dada yang memanjat. Gadis itu merogoh ke balik baju yang menutup dada dan mengeluarkan sebuah bungkusan merah. Ketika dibuka, ternyata bungkusan itu berisi belasan butir pil merah. Ia mengambil dua butir dan segera menelannya. Ia lalu mengembalikan bungkusan itu ke balik bajunya, kemudian seperti terlupa dan tidak mengancingkan kembali baju bagian atasnya terbuka itu. Keng Hong terpaksa menundukkan muka agar jangan melihat tonjolan dada yang berkulit putih halus itu.

"Keng Hong, lihatlah kepadaku!"

Terpaksa pemuda itu mengangkat mukanya memandang, mengusir ketegangan dan kebingungan hatinya. Gadis ini jelas berusaha hendak meracunnya. Apakah maksudnya? Mengapa hendak membunuhnya? Ia tahu bahwa racun itu dapat membunuh seorang lawan yang betapapun kuatnya.

"Lihatlah baik-baik, Keng Hong. Tidak indahkah rambutku? Tidak cantikkah wajahku? Cantik sekali, bukan?" Gadis itu tersenyum-senyum dan mengerlingkan matanya, bergaya dan menggerak-gerakkan mukanya agar dapat terpandang oleh pemuda itu dari depan, kiri dan kanan.

"Hemmmm, begitulah...." jawab Keng Hong yang masih mencari-cari sebab perbuatan gadis itu. Ia kini dapat menduga bahwa pil merah tadi adalah obat pemunah racun karena si gadis tadi pun minum air beracun.

"Lihat baik-baik, pandanglah...... tidak halus dan putih bersihkah kulitku, Keng Hong?" Suaranya kini amat halus merdu, penuh nada merayu dan tangannya sengaja menyingkap baju atasnya agar belahan dada tampak makin nyata.

Keng Hong menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang dan cepat dia menekan dengan kekuatan batinnya. Belum pernah selama hidupnya dia mengalami hal seperti ini, dalam mimpi pun belum!

Gadis yang bernama Bhe Cui Im itu kini bangkit berdiri, gerakannya lemah gemulai, leher, pinggang dan lututnya melenggak-lenggok mengingatkan Keng Hong akan gerakan tubuh seekor ular.

"Pandanglah baik-baik, orang muda remaja! Tidak indahkah bentuk tubuhku? Lihat dadaku, pinggangku, pinggulku...."

"Hemmmm, begitulah....!" hanya demikian Keng Hong dapat berkata karena kerongkongannya tiba-tiba seperti menjadi kering kembali, seperti orang kehausan.

"Aku masih muda, cantik jelita, bertubuh menggiurkan! aku seorang gadis yang amat menarik hati, bukan?"

"Hemmm, begitulah!"

Tiba-tiba Cui Im menghentikan gayanya dan dengan kasar dia duduk di depan Keng Hong. Senyum manis kerling mata tajam kini lenyap dan gadis itu mengerutkan keningnya dengan bayangan hati kesal.

"Begitulah! Begitulah! Begitulah! Tidak bisa berkata lainkah, hai orang dungu? Sin-jiu Kiam-ong kabarnya merupakan pria tukang merayu wanita nomor satu di dunia, ahli merayu dan mencumbu wanita. Apakah gurumu yang....terkutuk itu tidak mengajarkan kepandaian merayu wanita kepadamu, heh, bocah tolol?"

Keng Hong tersenyum. Kini dia mulai mengenal wanita ini. Wanita yang cantik jelita, namun wanita yang amat berbahaya, seperti seekor ular berbisa. Timbul pula kegembiraannya karena terhadap seorang wanita seperti ini, dia tidak perlu bersikap canggung, malu-malu atau takut-takut. Ia menggelengkan kepala dan tersenyum mengejek.

"Kau sudah mau mampus, tahukah? Kau calon bangkai makanan cacing! Hendak kaulihat ke mana perginya wajahmu yang tampan itu kalau sudah digerogoti cacing nanti. Kau tahu bahwa engkau telah minum racun? di dalam air tadi, tolol, terdapat racun yang mematikan. Racun bunga Siang-tok-hwa (Bunga Racun Wangi) yang kini telah memasuki perutmu, yang akan menghancurkan ususmu, membuat isi perutmu menjadi busuk. Tahukah engkau? Dan obat pemunahnya hanya berada padaku, obat pemunah pil merah seperti yang kutelan tadi. Kalau kau tidak kutolong, nyawamu pasti akan melayang dalam waktu dua puluh empat jam! Nyawamu berada di tanganku sekarang, mengerti?"

Keng Hong mengangguk-angguk. Mengertilah dia sekarang, teringatlah dia bahwa racun yang tidak asing baginya itu adalah Siang-tok-hwa. Tentu saja dia mengenalnya baik-baik, dan tadi dia terlupa karena terpesona oleh sikap dan gaya gadis luar biasa ini.

"Cui Im, apakah kehendakmu? Apakah maksudnya semua ini? Mengapa kau meracuniku?"

"Karena tolol engkau menjadi menyebalkan. Segala apa tidak mengerti. Otakmu tumpul benar perlu dicuci! Tentu saja nyawamu kucengkeram untuk ditukar dengan rahasia barang pusaka gurumu yang.... terkutuk!"

"Diam dan jangan memaki mendiang suhu atau.... aku takkan sudi melayanimu bicara lagi!"

Terbelalak mata gadis itu mendengar bentakan yang tak disangka-sangkanya akan dapat dikeluarkan oleh mulut pemuda tolol itu. Akan tetapi hanya sebentar karena ia mengira bahwa hal itu timbul karena kebaktian bocah ini terhadap mendiang gurunya.

"Engkau telah menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau Kun-lun-pai. Akan tetapi pedang itu bagiku tidak ada artinya. Belum tentu bisa menangkan pedangku ini!" Gadis itu meraba pinggangnya dan.... "Swingggg...." tangannya sudah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kemerahan. Kiranya pedang itu amat tipis, terbuat daripada baja lemas sehingga dapat dipergunakan sebagai sabuk! Kini gadis itu menodongkan ujung pedangnya ke depan dada Keng Hong.

"Aku tidak butuh Siang-bhok-kiam! Yang kubutuhkan kitab-kitab pusaka dan barang-barang mustika peninggalan suhumu. Engkau turun dari Kiam-kok-san hanya membawa pedang, berarti bahwa pusaka-pusaka warisan itu masih belum kau bawa turun. Kauantar aku kesana, berikan semua itu kepadaku, tunjukkan rahasianya, dan mungkin nyawamu akan kubebaskan, dan selain itu.... hemmm, kalau kau tidak terlalu tolol, kita dapat menjadi sahabat baik!"

Keng Hong bukan seorang bodoh sungguhpun kelihatannya dia ketolol-tololan. Ia telah di racun, akan tetapi racun yang ada obat pemunahnya pada gadis itu. Berarti bahwa dia tidak akan dibunuh. Gadis ini menghendaki barang-barang pusaka gurunya, tentu saja tidak akan membunuhnya, melainkan hendak memaksanya dengan jalan meracuninya. Benar-benar seorang gadis yang berhati kejam! Mengapa ada seorang gadis cantik jelita seperti ini berhati sekejam itu? Ia merasa penasaran sekali dan perasaan inilah yang mendorongnya untuk menyaksikan lebih lanjut sampai di mana kekejaman gadis ini dan apa yang akan dilakukan atas dirinya.

"Aku tidak menerima warisan pusaka-pusaka yang kaumaksudkan, dan aku pun tidak tahu rahasianya.”

"Kau masih berani menyangkal dan menolak permintaanku? Kau murid tunggalnya, tak mungkin kau tidak mewarisi pusaka-pusaka itu, apalagi Siang-bhok-kiam diberikan kepadamu. Ingat, nyaawamu berada di tanganku, tahu? Andaikata engkau memberontak, engkau pun tidak akan mampu menandingi pedangku. Andaikata kau mempergunakan ilmu mujizatmu dan berhasil melarikan diri, dalam waktu sehari semalam ususmu sudah hancur berantakan dan nyawamu pun takkan tertolong. Jangan bodoh, Keng Hong. Lebih baik engkau menuruti permintaanku agar engkau tetap hidup dan menikmati kesenangan bersama aku.”

"Cui Im, engkaulah yang bodoh dan mengecewakan hati. Mengapa engkau menurutkan nafsu buruk hendak menginginkan barang orang lain? Kalau engkau suka menurut nasehatku, insyaflah dan sadarlah bahwa engkau terseret oleh nafsumu menuju ke jurang kesesatan. Urungkan niatmu yang buruk itu karena sesungguhnya aku benar-benar tidak pernah melihat di mana adanya pusaka-pusaka peninggalan suhu. Aku tidak berhasil mencarinya dan aku tidak berbohong.”

"Kalau begitu, biar aku melihat engkau mampus dengan isi perut berantakan!" bentak Cui Im dengan suara marah dan kecewa sekali.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras "Tidak boleh dibunuh begitu saja, Tok-sian-li (Dewi Beracun)!" Dan tampak bayangan orang berkelebat.

"Benar sekali, tidak boleh dibunuh sebelum menyerahkan pusaka peninggalan Kiam-ong kepadaku!" berkelebat pula bayangan lain.

Kiranya yang muncul ini adalah dua orang tua yang pernah dilihat Keng Hong pada lima tahun yang lalu. Mereka berdua itu adalah dua di antara sembilan orang sakti yang pernah menyerbu Sin-jiu Kiam-ong. Yang pertama adalah nenek tua renta yang dia ingat bernama Lu Sian Cu dan berjuluk Kiu-bwe Toanio. Gurunya pernah bercerita kepadanya tentang nenek ini. Menurut cerita itu, Kiu-bwe Toanio dahulunya adalah seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai, namun yang jatuh cinta kepada gurunya yang tampan dan gagah. akan tetapi ternyata wanita ini di kecewakan oleh Sin-jiu Kiam-ong. Kiam-ong tidak pernah membiarkan hatinya jatuh cinta dan perhubungannya dengan Lu Sian Cu hanya dianggapnya sebagai permainan cinta petualangan biasa saja. sebaliknya, cinta kasih wanita itu mendalam sehingga hatinya menjadi hancur dan patah ketika Kiam-ong meninggalkannya. Adapun orang ke dua adalah si kakek tua Sin-to Gi-hiap. Pendekar Budiman bergolok sakti yang juga menaruh dendam sakit hati terhadap Kiam-ong untuk urusan pribadi. Isterinya yang sesungguhnya adalah hasil rampasan dari seorang kepala rampok, isteri yang cantik jelita dan amat dicintanya, telah "dicuri" oleh Kiam-ong yang terkenal pandai merayu wanita sehingga di antara isterinya dan Kiam-ong terjadi perhubungan rahasia.

Melihat dua orang tua yang datang ini, Bhe Cui Im tersenyum mengejek, lalu membalikkan tubuh menghadapi mereka sambil memandang tajam dan melintangkan pedang merah itu di depan dadanya, sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.

"Hemmm, Kiu-bwe Toanio dan Sinto Gi-hiap, bukan? Kalian sudah lari terkencing-kencing diusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, sekarang muncul lagi di depanku dengan niat apakah?"

Keng Hong memandang dengan heran. Makin tidak mengertilah dia akan keadaan Cui Im. Gadis cantik jelita yang amat menarik hati ini, yang tadinya amat galak dan kadang-kadang juga amat halus memikat, kemudian terbukti berhati palsu dan keji, kini menghadapi dua orang tokoh kang-ouw yang tua seperti menghadapi dua orang biasa saja! Tokoh macam apakah gadis ini di dalam dunia persilatan? Sampai-sampai dua orang locianpwe (orang tua tingkat tinggi) tidak dipandang mata olehnya, dan yang lebih mengherankan lagi, dua orang tua itu pun agaknya tidak menganggapnya sebagai gadis muda.

"Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Racun Berpedang Merah), lekas keluarkan pil pemunah racun. Orang muda ini tidak boleh dibunuh," kata sin-to Gi-hiap.

"Benar sekali, Tok-sian-li. Siang-bhok-kiam sudah terampas Kun-lun-pai, kalau pemuda ini dibunuh, sungguh sayang sekali. Kasihan murid Sin-jiu Kiam-ong yang tidak bersalah apa-apa...." sambung Kiu-bwe Toanio.

Tiba-tiba Cui Im tertawa bergelak, tanpa menutupi mulutnya, sikapnya kasar sekali. Keng Hong makin terheran-heran. Kiranya Bhe Cui Kim mempunyai julukan yang demikian menyeramkan. Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Beracun Berpedang Merah)! Tentu seorang tokoh besar dari golongan sesat! Pantas saja Kiang Tojin menyatakan bahwa gadis cantik itu dari dunia hitam, seorang tokoh kaum sesat. Akan tetapi masih begitu muda! Masa memiliki tingkat kedudukan yang sejajar dengan Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap?

"Hi-hi-hik! Kiu-bwe Toanio, alangkah lucunya melihat lagakmu. Engkau terkenal sebagai pendekar wanita sejak muda, akan tetapi kiranya engkau pun hanya seorang yang pada lahirnya saja pendekar padahal sebenarnya di dalam hatimu mengandung maksud-maksud yang tidak lebih bersih daripada maksud hatiku. Kau pura-pura merasa kasihan dan ingin menolong pemuda ini, padahal yang kauinginkan adalah benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Aku pun menghendaki benda-benda itu dan aku berterus terang, tidak pura-pura seperti engkau!"

"Hemmmm, Tok-sian-li. Hanya karena mengingat akan nama gurumu maka aku seorang tua masih berlaku hormat kepadamu. Jangan engkau membuka mulut sembarangan saja! Memang aku menghendaki barang-barang pusaka Sin-jiu Kiam-ong, akan tetapi hal itu adalah karena dosa-dosa Kiam-ong kepadaku yang harus dia bayar lunas dengan benda-benda pusaka peninggalannya! Tidak seperti engkau yang hendak merampok begitu saja dengan menekan muridnya.”

"Hi-hi-hik, nenek tua yang tak tahu malu! Engkau sendiri yang dahulu tergila-gila kepada Kiam-ong, engkau sendiri yang mengejar-ngejarnya, ingin selalu berada dalam pelukannya, menikmati cumbu rayu dan belaiannya! Kiam-ong tidak sudi menjadi suamimu, kenapa kau katakan hal ini dosa? Hi-hi-hik, sungguh menjemukan!"

"Tok-sian-li, biar engkau menggunakan nama besar gurumu, penghinaanmu harus dibayar dengan nyawa!” Kiu-bwe Toanio marah sekali dan ia menggerakkan pecutnya yang berekor sembilan itu di udara sehingga terdengar suara ledakan-ledakan "Tar-tar-tar....!!"

"Huh, pecutmu itu hanya dapat untuk menakut-nakuti anjing dan anak-anak kecil!" Cui Im mengejek dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak. Sinar-sinar merah yang kecil-kecil menyambar ke arah nenek itu dengan kecepatan laksana kilat menyambar. Itulah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) yang amat berbahaya, sekali sambit secara beruntun ada dua puluh satu buah jarum halus menyambar lawan. Setiap batang jarum merupakan tangan maut karena racun yang dikandungnya cukup untuk merenggut nyawa orang. Kini dua puluh satu buah jarum menyambar dan mengarah jalan-jalan darah yang penting, dapat dibayangkan betapa hebatnya!

"Perempuan keji!" Kiu-bwe Toanio memaki, akan tetapi dia sibuk juga memutar senjata cambuknya untuk melindungi tubuh. Hanya dengan memutar cambuk itu cepat-cepat maka ia dapat menghindarkan jarum-jarum yang tak berani ia anggap ringan itu.

"Nenek tua mampuslah!" Cui Im telah melesat ke depan dan pedangnya berubah menjadi sinar merah yang bergulung-gulung ketika ia menerjang lawannya sebagai serangan lanjutan daripada jarum-jarumnya. Gadis ini ternyata selain pandai melepas jarum, juga amat cerdik. Ia maklum bahwa Kiu-bwe Toanio tak mungkin dapat mudah dirobohkan dengan jarum-jarumnya, maka serangan jarumnya tadi hanyalah untuk mengacau lawan, dan kini selagi lawannya memutar cambuk menghindarkan diri daripada ancaman jarum-jarum, ia telah menerjang dengan pedangnya yang gerakannya amat cepat dan kuat. Keng Hong yang melihat gerakan gadis ini diam-diam kagum dan juga terkejut sekali. Dilihat gerakannya, ilmu pedang gadis itu benar-benar lihai bukan main dan agaknya tidak berada di sebelah bawah tingkat kesembilan orang sakti yang pernah menyerbu suhunya.

"Tar-tar-tar.... wuuuuutttttt..... trang-trang....!"

Sembilan ekor ujung cambuk itu dimainkan di tangan Kiu-bwe Toanio seolah-olah menjadi sembilan ekor ular yang bergerak hidup, sebagian lagi membalas dengan totokan-totokan kilat yang disusul dengan gerakan mengait! Betapapun hebat gerakan pedang di tangan Cui Im, namun dihadapi sembilan ujung cambuk yang menangkis dan balas menyerang itu dia terkejut sekali. Pedangnya diputar dan ia mengeluarkan pekik nyaring, disusul jerit kaget Kiu-bwe Toanio. Sejenak kedua orang ini lenyap menjadi bayangan yang berputaran di antara sinar merah dan sinar hitam cambuk itu, kemudian keduanya mencelat ke belakang didahului Cui Im yang terpaksa melompat jauh untuk menghindarkan serangan enam buah kaitan. Ia turun dan melintangkan pedangnya dengan wajah agak berubah karena ia kini maklum betapa lihai nenek itu dan yang ternyata merupakan lawan yang berat juga. Di lain pihak, nenek itu mengeluarkan suara gerengan marah karena tiga buah kaitan berikut tiga ujung cambuknya telah buntung oleh pedang yang amat lihai di tangan Cui Im.

Pada saat itu, Sin-to Gi-hiap yang melihat kesempatan baik, sudah meloncat mendekati Keng Hong dan berkata, "Orang muda, kau harus ikut bersamaku sebagai wakil suhumu!"

Kakek itu dengan golok telanjang di tangan kanan menyambar Keng Hong dengan tangan kirinya, hendak mencengkram pundak pemuda itu. Sebelum Keng Hong sempat mengelak, sinar merah berkelebat dan kakek itu cepat menarik kembali tangannya karena kalau dilanjutkan, tentu akan buntung terbabat pedang yang dibacokan Cu Im.

"Kakek tua bangka, jangan sentuh pemuda ini!"

Sin-to Gi-hiap menghela napas panjang. "Nona, mengingat gurumu, biarlah kami orang tua mengalah. Marilah kita berunding baik-baik. Benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong amatlah banyaknya, kalau kita bertiga membagi rata, masih amat banyak bagian kita masing-masing. Kurasa Kiu-bwe Toanio juga tidak keberatan."

Kiu-bwe Toanio menggerak-gerakkan cambuknya. Ia maklum bahwa gadis itu amat lihai ilmu pedangnya, apalagi kalau ia mengingat guru gadis itu, benar-benar tak boleh dijadikan lawan dan jauh lebih baik dijadikan kawan. Maka ia mengangguk dan menggumam, "Asal orang muda tidak kurang ajar terhadap orang tua, aku pun bukan seorang serakah yang ingin memiliki seluruh pusaka."

Cu Im melangkah maju mendekati Keng Hong lalu memegang tangan pemuda itu dengan tangan kanannya yang menyembunyikan pedang di balik lengan. "Uh, kalian mau enaknya saja! Siapa yang lebih dulu mendapatkan murid Sin-jiu Kiam-ong ini? Aku! Kalau kalian semua lari terbirit-birit diusir tosu-tosu Kun-lun-pai, aku malah membiarkan diriku dijadikan seorang tawanan! Setelah aku berhasil mendapatkan pemuda ini, kalian masing-masing mau minta bagian! Benar-benar tak tahu malu!" Tiba-tiba gadis itu menggerakan tangan kiri, membanting sesuatu di depan dua orang lawan itu dan terdengarlah ledakan keras diikuti asap hitam mengebul. Dua orang tua itu adalah orang-orang sakti yang sudah berpengalaman. Cepat mereka melompat mundur menjauhkan diri, maklum betapa berbahaya asap hitam yang timbul dari ledakan itu. Dan memang tepat sekali dugaan mereka karena kalau keduanya tidak menjauhkan diri dan sampai menghisap asap hitam itu, nyawa mereka terancam maut yang disebar oleh asap hitam yang amat beracun itu! Ketika mereka meloncat dengan jalan memutari asap itu, ternyata Cui Im dan Keng Hong sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.

"Kurang ajar! Mari kita kejar!" Kiu-bwe Toanio berseru dan menggerak-gerakan cambuknya yang tinggal berekor enam itu. "Tar-tar-tar!" Dua orang tokoh lihai ini lalu melesat dan melakukan pengejaran akan tetapi karena mereka berdua tidak melihat ke jurusan mana larinya Cui Im, mereka mengejar secara ngawur dan ternyata mereka menuju ke jurusan yang berlawanan. Kalau Cui Im yang mengempit tubuh Keng Hong lari ke selatan, mereka mengejar ke barat! ***

"Keng Hong, kita beristirahat dan bermalam di sini!" Kata Cui Im sambil melempar tubuh Keng Hong di atas rumput hijau dalam sebuah hutan. Senja telah berlalu dan keadaan cuaca di dalam hutan sudah remang-remang. Cui Im lalu menyalakan api dan membuat api unggun sehingga di situ selain hangat dan tidak diganggu nyamuk, juga agak terang. Kemudian gadis cantik itu duduk mendekati Keng Hong yang bersandar pada batang pohon.

"Keng Hong, waktumu sudah terlewat sehari, tinggal malam ini. Kalau kau tidak kuberi obat penawar, besok pagi engkau mampus."

Keng Hong menarik napas panjang memperlihatkan muka duka padahal di dalam hatinya dia menjadi geli. "Mampus ya biarlah, malah tidak repot menjadi rebutan seperti sekarang ini!"

"Eh, eh, eh! engkau masih muda remaja, baru tujuh belas tahun usiamu, belum mengecap kenikmatan hidup, mengapa ingin mati?"

"Ingin mati sih tidak, akan tetapi kalau engkau meracuniku sampai mati, aku bisa berbuat apakah?"

"Engkau tidak ngeri? Tidak takut mati?"

"Mengapa takut? Apakah engkau takut mati, Cui Im?"

Gadis itu mengangguk, memandang wajah tampan itu dengan heran dan kagum.

"Hemmm, alangkah anehnya kalau ada orang takut mati. Mati itu apa sih? Siapa yang pernah mengalaminya? Siapa yang mengetahuinya bagaimana kalau sudah mati? Apakah menakutkan? Kalau belum tahu, perlu apa takut? Aku tidak takut mati karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sana, seperti juga dahulu aku tidak takut lahir karena ketika itupun aku tidak tahu bagaimana itu yang disebut hidup!"

"Wah, engkau ini selain tolol dan bandel, juga aneh!"

"Engkau lebih aneh lagi. Ketika berada di Kun-lun-san, engkau membiarkan dirimu menjadi tawanan, berpura-pura seperti orang yang tidak memiliki kepandaian, padahal tadi ketika menghadapi Kiu-bwe Toanio, engkau lihai sekali."

Cui Im tertawa, giginya berkilauan disentuh sinar api unggun. "Kalau tosu-tosu bau dari Kun-lun-pai itu mengetahui bahwa aku adalah aku, tentu mereka tidak akan mudah melepaskan aku pergi, biarpun engkau yang memintanya."

"Engkau siapa sih? Aku dengar tadi mereka menyebutmu Ang-kiam Tok-sian-li. Julukan yang bagus dan juga mengerikan! Ang-kiam (Pedang Merah) dan Sian-li (Bidadari) memang bagus, akan tetapi terselip kata-kata Tok (Racun), sayang sekali. Dan buktinya engkau memang tukang meracuni orang! Mengapa seorang gadis muda jelita macam engkau begini ganas, sungguh sukar dimengerti."

Cui Im tertawa lagi dan memegang lengan pemuda itu dengan sikap mesra.

"Kau bilang aku jelita? Benarkah?"

"Kalau aku tidak bilang kau jelita, berarti aku membohongi diri sendiri. Engkau memang jelita, Cui Im."

Gadis itu makin girang hatinya. "Aduh, kalau kau selalu bersikap manis kepadaku, aku menjadi tidak tega membunuhmu, Keng Hong. Kau tampan sekali, dan banyak gadis akan kehilangan hatinya kelak kalau berhadapan denganmu."

Jantung Keng Hong berdebar, dia selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita muda dan cantik, belum pernah dipuji dan di rayu. Cepat dia menekan perasaannya dan mengalihkan percakapan.

"Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap adalah dua orang locianpwe yang berilmu tinggi, akan tetapi terhadapmu seperti orang jerih, dan selalu menyebut-nyebut gurumu. Siapa sih gurumu yang agaknya amat mereka takuti itu, Cui Im?"

"Guruku adalah orang yang terpandai di kolong langit ini! Agaknya hanya Sin-jiu Kiam-ong saja yang dapat menandinginya, akan tetapi setelah Kiam-ong meninggal, guruku menjadi jago nomer satu di dunia! Dia adalah orang pertama dari Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding) yang menguasai daerah selatan dan berjuluk Lam-hai Sin-ni (Dewi Laut Selatan). Akan tetapi..... ah, Keng Hong, marilah bawa aku ketempat rahasia penyimpanan kitab-kitab rahasia suhumu, kita mempelajari bersama dan..... kita berdua akan menjadi sepasang jago nomer satu di dunia. Guruku sendiri takan mampu melawan kita. Marilah, kekasih.....!" Cui Im merangkul leher Keng Hong. Tercium keharuman yang amat sedap dari muka dan rambut gadis itu, membuat Keng Hong menjadi makin berdebar jantungnya dan terpaksa dia memejamkan matanya

"Bagaimana, Keng Hong? kuberi obat pemunah, ya? Kemudian.... kemudian kita bersenang-senang malam ini besok kita pergi ke Kun-lun-san, ke Kiam-kok-san dan mengambil semua pusaka peninggalan suhumu.... ya??"

Keng Hong sudah memejamkan mata dan sudah mengumpulkan seluruh panca indra untuk menekan batinnya yang bagaikan air yang tenang mulai diguncang nafsu. Ia menggeleng kepala dan berbisik, "Aku tidak tahu di mana tempatnya itu."

Cui Im melepaskan rangkulanya dan lenyap pula kemesraanya. Ia mendengus dan menjauhkan diri, duduk merenung di depan api unggun. Keng Hong membuka matanya dan memandang punggung gadis itu yang menggunakan sepuluh jari tanganya menekuk-nekuk batang rumput, berkali-kali menarik napas panjang dan kelihatanya jengkel sekali. Keng Hong terheran mengapa ada seorang gadis secantik itu, sehalus itu, berhati kejam dan jahat, mengejar kepandaian secara membuta. Ia merasa sayang sekali. Kalua dia terbayang akan belaian dan bujuk rayu tadi, kakinya menggigil. Apa yang akan diperbuat gurunya, andaikata Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi dia? Dia tidak takut akan racun yang memasuki perutnya tadi. Selama dia berguru kepada Sin-jiu Kiam-ong, gurunya itu setiap hari memberinya minum segala macam racun, sedikit demi sedikit!

"Kaki tangan seorang lawan dapat kauhadapi dengan kaki tangan pula, muridku," demikian gurunya memberi keterangan, "akan tetapi lawan yang licik suka mempergunakan racun yang dicampur dalam makanan atau minuman. Banyak terdapat racun yang jahat sekali dan yang tidak berbau apa-apa, tidak terasa apa-apa. Namun dengan kebiasaan minum sedikit racun setiap hari, lidahmu akan menjadi biasa dan dapat mengenal setiap racun yang dicampur makanan atau minuman. Juga, dengan cara sedikit demi sedikit, makin lama makin tambah takarannya masukan racun-racun itu ke perut, engkau akan menjadi kebal terhadap segala macam racun."

Demikianlah, ketika dia minum air yang dicampur racun, dia segera mengenal racun itu, akan tetapi mengandalkan kekebalan perutnya dia tidak khawatir dan minum terus sampai habis. Dengan sinkang yang disalurkan ke perut, dia tadi telah mengumpulkan racun di perutnya dan dalam perjalanan tadi ketika dia dipanggul Cui Im, diam-diam dia telah memuntahkan kembali racun itu sehingga kini perutnya bersih daripada racun.

Kembali Keng Hong memperhatikan Cui Im. Kini gadis itu agak miring duduknya sehingga tampak dari samping wajah yang cantik itu. Wajah yang disinari api merah, sedikit tertutup juntaian rambut hitam, benar-benar amat mempesonakan. Ketika tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya, seolah-olah terasa pandang matanya, Keng Hong cepat meramkan matanya. Dia memang lelah dan mengantuk, maka kini dia mengambil ketetapan hati untuk meram terus dan tidur, tidak lagi mempedulikan gadis itu.

"Keng Hong....!"

Pemuda itu membuka matanya dan memandang gadis yang bersimpuh di depannya. "Enak saja kau tidur!"

"Habis mau apa lagi? Mengapa kau mengganggu orang tidur?"

Gadis itu makin gemas. Orang ini sudah terkena racun, sudah menghadapi kematian, namun masih enak-enak saja. Biarpun seorang di antara tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw macam mereka yang disebut locianpwe, kiranya akan menjadi gelisah dan akan berdaya sedapat mungkin untuk menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi pemuda ini enak-enak saja tidur. Selain heran dan penasaran, juga dia menjadi kagum dan makin tertarik karena sukarlah mencari seorang pemuda setenang ini. Ataukah memang karena tololnya? Dia tidak menghendaki kematian Keng Hong, karena kematian pemuda ini tidak saja akan membuyarkan cita-citanya mendapatkan kitab-kitab simpanan Kiam-ong, juga gurunya akan menjadi marah sekali kepadanya. Apa yang ia harus lakukan untuk dapat membujuk pemuda ini?

"Keng Hong, apakah kau tidak merasa sakit?"

Keng Hong menggeleng kepala.

"Perutmu tidak mulas? Racun itu tentu telah mulai bekerja."

Kembali pemuda itu hanya menggeleng.

"Kau memang aneh. Karena umurmu tinggal malam ini, biarlah kuhadiahi engkau arak wangi yang kubawa. Jarang ada orang kuberi arak ini, kalau bukan orang yang kusenangi."

"Hemmm, engkau senang kepadaku?"

Cui Im memandang dan melempar kerling memikat, senyumnya kini manis sekali. "Ah, betapa bodohnya engkau Keng Hong. Aku senang kepadamu, aku cinta kepadamu, masih butakah matamu? Aku tidak ingin melihat engkau mati besok."

"Engkau ingin memaksa aku mencari pusaka suhu, bukan tidak ingin melihat aku mati."

"Betul juga, akan tetapi aku cinta padamu. Kau seorang pemuda yang jantan, tabah dan luar biasa. Mari, kuhadiahi engkau arak wangi." Cui Im mengeluarkan sebuah guci arak kecil dari balik bajunya, membuka tutupnya dan terciumlah bau yang amat wangi, seperti puluhan macam bunga wangi dikumpulkan dalam guci arak itu. Keng Hong tidak banyak cakap lagi, namun dia haus dan bau arak itu amat sedap. Ia menerima guci itu dan menodongkan ke mulutnya.

"Racun atau obat penawar?" tanyanya sebelum minum.

Cui Im makin kagum. Di dunia ini tak mungkin menjumpai orang seperti pemuda ini, yang begitu tenang dan dingin menghadapi ancaman racun, padahal pemuda itu sudah mengenal namanya sebagai Tok-sianli (Dewi Beracun)! Hebat bukan main!

"Kalau arak ini beracun, bagaimana?" Ia bertanya, memancing.

"Racun pun boleh, asal enak diminum. Aku sudah diracuni, ditambah lagi sedikit atau banyak apa bedanya?" Jawab Keng Hong lalu meminum arak itu dari guci. Lidahnya segera dapat merasa bahwa di dalam arak ada racunnya, akan tetapi racun ini berbeda dengan racun tadi. Racun yang berada di dalam arak ini racun yang amat halus, bahkan bukan racun cair karena begitu diminum, racun itu menjadi segumpal hawa yang harum. Dia tidak tahu racun apa ini, akan tetapi dia mengerahkan sinkangnya menerima racun itu dan membiarkan gumpalan hawa wangi itu berkumpul di dalam dadanya. Setelah guci kecil itu kosong, baru dia mengembalikannya kepada Cui Im, dan mengusap mulut dengan ujung lengan bajunya.

Cui Im memandang dengan mata terbelalak, kemudian dia tersenyum-senyum ketika melihat pemuda itu menyandarkan diri di batang pohon dan meramkan mata seperti orang mengantuk. Ia percaya penuh akan kemanjuran racun araknya dan mengharapkan hasil sekali ini. Arak yang dicampur racun itu amatlah kuatnya dan merupakan arak buatan gurunya yang ampuh sekali. Bukan racun untuk membunuh, melainkan racun untuk pembangkit berahi, racun perangsang yang dibuat dari beberapa macam lalat dan semut dicampur sari bunga-bunga wangi. Penduduk kepulauan di selatan mempergunakan sebagian kecil saja dengan cara pembuatan sederhana untuk meracuni kuda yang hendak dikawinkan. Tanpa racun ini, sukar mengawinkan kuda betina. Kini, yang diminumkan oleh Cui Im kepada Keng Hong merupakan sarinya, kerasnya bukan main dan kiranya cukup untuk pembangkit nafsu berahi dua puluh ekor kuda!

Keng Hong yang meramkan mata itu sesungguhnya tidak tidur. Dia mendengarkan gerak-gerik Cui Im yang menurut pendengaranya seperti orang gelisah. Akan tetapi dia tidak perduli dan meramkan mata, mengheningkan cipta dan mengerahkan sinkang untuk menahan gumpalan hawa beracun yang aneh itu. Ia tahu bahwa racun ini amat berbahaya, sungguhpun dia tidak tahu bagaimana bahayanya. Tubuhnya menjadi panas, padahal racun itu masih tertahan olehnya. Ia menanti saat baik untuk menghembuskan keluar racun itu di luar tahu Cui Im, karena dia pun hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.

Akan tetapi, apa yang akan dihadapinya sungguh di luar dugaannya sama sekali. Lewat tengah malam, Keng Hong yang mengantuk itu tiba-tiba mendengar panggilan yang mesra dan halus, dibisikan dekat telinganya.

"Keng Hong....., ah, Keng Hong.....!"

Ia membuka matanya. Api unggun masih menyala dan di antara sinar merah api itu, dia melihat Cui Im merangkul dan membelainya, lengan yang telanjang membelit lehernya seperti ular, dada yang tak ditutupi apa-apa membusung dan menekan dadanya sendiri. Gadis itu memeluk dan membelainya dalam keadaan telanjang bulat. Keng Hong membelalakan matanya, mulutnya ternganga dan dapat dibayangkan betapa gagetnya ketika pada saat itu Cui Im mencium mulutnya yang sedang ternganga itu sehingga mulut mereka bertemu seperti guci arak dengan sumbatnya. Karena kaget, Keng Hong mengeluarkan suara "ahhh!" dari dadanya dan.... segumpal hawa racun wangi yang dia kumpulkan dan tahan dengan kekuatan sinkang telah terhembus keluar, memasuki mulut Cui Im yang terbuka dan langsung ke dalam dada gadis itu.

"Aiiihhhh.....!" Cui Im menjerit dan terjengkang ke belakang. Ia terbatuk-batuk, memegangi leher yang serasa tercekik, tubuhnya mengeliat-geliat seperti seekor ular terkena api. Keng Hong memandang dengan mata terbelalak, setengah kasihan, setengah geli bahwa tanpa disengaja racun itu meracuni Cui Im sendiri, juga setengah kagum menyaksikan betapa tubuh yang indah itu mengeliat-geliat seperti itu. Harus dia akui bahwa selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan keindahan tubuh seperti tubuh Cui Im. Dalam mimpi pun tak pernah.Kini barulah dia mengerti mengapa mendiang Sin-jiu Kiam-ong, suhunya, dikatakan mata keranjang dan tukang memikat wanita. Kiranya tubuh indah dan wajah cantik seperti yang dimiliki Cui Im inilah yang membuat suhunya seperti itu. Hati pria mana takkan tertarik? Bukankah keindahan wanita memang khusus diciptakan untuk menarik hati pria? Kerbau, kuda, burung dan segala macam binatang tentu akan tertarik akan keindahan wajah dan tubuh seorang wanita!

"Tamasya alam yang indah memang minta kita pandang dan kagumi. Bunga-bunga cantik wangi memang minta kita pandang dan ciumi. Wanita-wanita cantik jelita memang minta kita cinta dengan kasih mesra. Engkau bahagia dalam hidupmu kalau tidak terjerat cinta kasih yang mendalam, muridku. Sekali terjerat, engkau akan menikah, dan sekali kau menikah, berarti engkau memberikan kaki tanganmu untuk diikat selama-lamanya dengan kewajiban-kewajiban! Karena itu jauhkan diri daripada ikatan cinta kasih yang mendalam, sungguhpun engkau telah berhubungan dengan banyak wanita. Kalau memang engkau suka, jangan menolak cinta wanita, hanya jangan berikan hatimu, jangan berikan cinta kasihmu, cukup kau berikan tubuhmu." Demikianlah pernah dia mendengar wejangan gurunya yang terkenal sebagai seorang pemikat wanita! Tadinya, wejangan seperti itu hanya lewat saja di hatinya karena belum terpikirkan olehnya bahwa dia akan menghadapi hal-hal seperti itu, tidak terpikirkan olehnya bahwa dia akan bertemu dengan wanita-wanita sehingga timbul persoalan cinta kasih. Akan tetapi sekarang, baru saja dia turun dari Kiam-kok-san, dia telah bertemu dengan hal yang dikatakan suhunya itu!

Kini Cui Im tidak menggeliat-geliat lagi seperti cacing kepanasan. Gadis itu masih terengah-engah dan memegangi lehernya, kemudian mengangkat mukanya memandang Keng Hong. Rambutnya yang terurai itu sebagian menutupi mukanya. Mukanya merah sekali, bibir dan rongga mulutnya yang agak terbuka lebih merah lagi, matanya memandang penuh gairah, hidungnya berkembang-kempis seakan-akan terlalu sempit liangnya untuk jalan keluar pernapasan.

"Keng Hong..... Ah-hah..... Keng Hong........" Cui Im yang tadinya berlutut itu kini merangkak maju menghampiri Keng Hong, kemudian menubruk pemuda itu, merangkul dan menciumi sambil membisikan kata-kata yang tidak ada artinya, kemudian tangannya meraba-raba ke arah kancing pakaian Keng Hong.

Keng Hong Menjadi geli hatinya dan di luar kesadaranya sendiri, dia membiarkan semua perbuatan Cui Im. Ia teringat akan gurunya, teringat akan nasihat gurunya, dan timbul watak petualang yang memang terdapat dalam sudut hati setiapa orang manusia, yang membuat dia ingin mengalami segala macam hal. Keng Hong tidak menolak segala keinginan Cui Im, dan membiarkan diri sendiri menjadi murid yang melayani segala kehendak Cui Im yang sedang diamuk nafsu berahi yang dirangsang oleh hawa racunnya sendiri. Cui Im sama sekali tidak mengira bahwa akan menjadi begini urusannya. Bukan hanya dia sendiri menjadi korban racunnya, bahkan tanpa diketahui olehnya atau oleh Keng Hong sendiri, di dalam hubungan mereka itu pun timbul pula daya sedot mujijat dalam tubuh Keng Hong sehingga setelah lewat malam itu, Cui Im terkulai seperti orang kehabisan tenaga, setengah pingsan di atas rumput. Adapun Keng Hong yang sudah membereskan pakaiannya sendiri, enak-enak saja nongkrong di bawah pohon dan membesarkan api unggun. Hanya wajahnya yang tampak kemerahan dan segar, pandang matanya berbeda dari kemarin karena ini pandang matanya menjadi "masak". Keng Hong mulai lewat tengah malam tadi telah berubah dari kanak-kanak menjadi seorang laki-laki dewasa. Agaknya benar seperti diramalkan Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai bahwa bocah ini akan lebih hebat dari Sin-jiu Kiam-ong!

"Keng Hong....!" Suara itu terdengar lemah namun penuh rayuan, penuh cinta kasih, keluar dari mulut Cui Im yang menggeliat seperti seekor kucing kekenyangan. Kemudian dia bergidik, merasa betapa dinginnya hawa pagi dan agaknya baru disadarinya bahwa ia bertelanjang. Dengan malas Cui Im menyambar pakaiannya, mengenakan sejadinya, kemudian tiba-tiba ia meloncat dengan pakaian kusut dan rambut masih terurai lepas, meloncat ke dekat Keng Hong yang masih enak-enak membesarkan api unggun.

"Keng Hong! Kau..... kau..... ah, lekas, kau telan pil pemunah racun itu.....! Ah, sudah pagi... celaka, terlambat sudah.... aduh, Keng Hong, Keng Hong kekasihku.....!" Cui Im menangis tersedu-sedu dan merangkul leher Keng Hong.

"Kau ini kenapa sih?" Keng Hong bertanya tak acuh.

"Kenapa? Kau masih enak-enakan saja? Racun itu..... engkau berada di ambang maut dan obat pemunah tidak ada gunanya lagi. Kau akan mati, Keng Hong!"

Pemuda itu menoleh dan tampak olehnya betapa wajah itu tidaklah sejelita malam tadi! Ia tidak tertarik oleh kecantikan Cui Im, bahkan merasa tidak senang. Padahal wajah itu masih sama, dan mengertilah dia akan keterangan suhunya tentang perbedaan antara cinta sejati dan cinta nafsu. Cinta sejati tidak mengenal cantik atau tidak, tidak mengenal bosan karena cintanya mendalam dan ada kontak serta getaran antara jiwa dan batin kedua fihak. Sebaliknya, cinta nafsu hanyalah cinta yang timbul karena dorongan nafsu, karena kecantikan yang amat dangkal, hanya sedalam kulit sehingga cinta nafsu ini sekali terpuaskan akan menjadi bosan.

"Aku tidak akan mati."

"Apa? Dan racun itu.....? Racun ganas sekali!"

"Sudah kutumpahkan kembali. Aku tidak akan mati oleh racunmu, Cui Im."

Gadis itu terbelalak dan tidak senang melihat sikap Keng Hong yang begitu dingin, seolah-olah lenyap cinta kasihnya kepadanya, padahal baru saja, setengah malam penuh, mereka bercinta kasih tak mengenal batas. Ia menggelung rambutnya, memandang dengan kagum. Pemuda ini hebat! Hebat segala-galanya, pikirnya. Diracuni tidak mati, dan dari pengalamannya semalam harus ia akui bahwa belum pernah selamanya ia bertemu dengan seorang pria seperti Keng Hong ini. Ia segera menghampiri dan merangkul pundak Keng Hong.

"Syukurlah kalau begitu, kekasihku. Keng Hong, kita telah.... telah menjadi suami isteri yang tidak syah! Engkau patut menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong. Aaahhhhh, kekasihku, kita saling mencintai, hidup berdua mati bersama, bukan? Mari kita pergi mencari peninggalan suhumu yang sakti....."

"Tidak! Kau pergilah, Cui Im.Sudah cukup agaknya aku mengalah terus dan menuruti semua perintahmu. Aku itdak menyesal karena terus terang saja, aku senang padamu. Akan tetapi jangan harap untuk dapat membujuk atau memaksa aku mencari pusaka guruku karena selain aku tidak tahu tempatnya, juga aku tidak mau. Pergilah!"

"Ihhhh....! keparat!" Cui Im meloncat tinggi melepaskan pelukannya dan dia jatuh berdebuk di atas tanah. "Heeeee.....? Ke.... kenapa....?" Gadis itu terbelalak matanya dan terheran-heran, juga menjadi gelisah sekali. Mengapa dia seolah-olah kehilangan tenaga sinkangnya? Meloncat begitu saja ia terbanting roboh! Akan tetap kemarahannya membuat ia melupakan keadaan yang aneh ini dan ia sudah bangkit berdiri, lalu memaki.

"Kau laki-laki tak berbudi! Kau laki-laki pemikat! Setelah menikmati tubuhku, kau mengusir aku pergi begitu saja!"

"Ingat, bukan aku yang memikat, melainkan kau sendiri. Pergilah!"

"Jahanam.....!" Cui Im melompat maju dan mengirim pukulan ke arah punggung Keng Hong.

"Bukkk! Aiiihhh....!" Keng Hong masih duduk enak-enak, nongkrong di depan api unggun, sebaliknya tubuh Cui Im terlempar ke belakang dan gadis itu mengelus-elus tangan kanannya yang dipakai memukul tadi, matanya terbelalak. Ia tadi merasa dalam pukulannya betapa tangannya mendadak lemah sekali, sebaliknya punggung pemuda itu seperit dilindungi hawa yang amat kuat.

"Aku.... aku.... kenapa....?" Kembali Cui Im berseru heran dan penuh kengerian. "Keng Hong.... kauapakan aku.....?"

Keng Hong bangkit berdiri dan membalikan tubuh menghadapi gadis itu. "Cui Im, kau tahu aku tidak melakukan apa-apa. Semenjak kemarin, adalah engkau yang selalu menggangguku."

"Aku.... tenaga sinkangku..... kosong dan kering.... tenagaku amat lemah....."

Keng Hong juga tidak mengerti mengapa, dan dia tidak peduli karena bukan dia yang menyebabkan gadis itu demikian. Keng Hong tidak tahu, seperti dahulu di Kun-lun-san dia juga tidak sadar bahwa dia telah menyedot tenaga Kiang Tojin dan para tosu lain, semalam pun tanpa disadarinya, sebagian besar sinkang ditubuh Cui Im telah berpindah ke dalam dirinya. Keanehan yang terjadi dalam tubuh Keng Hong adalah bahwa setiap kali dia menghadapi serangan sinkang yang kuat, secara otomatis tenaga sedotan itu bekerja tanpa disengaja dan tanpa dapat dia dicegah. Karena sinkang dari Cui Im tidaklah sekuat sinkang-sinkang Tojin dan tosu-tosu lainnya, maka Keng Hong tidak terlalu merasakan perbedaannya, tidak seperti ketika berada di Kun-lun-san itu. Kini dia hanya merasa tubuhnya segar dan sehat, sama sekali tidak merasa lelah.

Sementara itu, Cui Im juga sudah menekan keguncangan hatinya. Ia menghilangkan kebingungannya dengan anggapan bahwa sinkangnya sebagian besar lenyap karena pengaruh hawa beracun, yaitu racun perangsang yang entah bagaimana telah berpindah ke dalam dadanya ketika ia mencium mulut Keng Hong semalam. Ia kni menjadi tenang kembali dan tidak menggunakan sinkang, tidak mengerahkan hawa dari pusar, melainkan mencabut pedang merahnya lalu menodong dan mengancam.

"Keng Hong, sungguhpun racun itu tidak dapat membunuhmu, pedangku ini masih dapat mengirim nyawamu ke neraka kalau kau menolak permintaanku!"

Keng Hong memandang ujung pedang yang menodong dadanya, lalu menghela napas panjang. "Sayang sekali, Cui Im. Engkau seorang gadis cantik jelita dan berkepandaian tinggi, namun semua itu tidak ada artinya kalau hatimu sekotor ini. Kulihat sinkangmu sudah lemah, kalau aku mempergunakan tenaga mana mungkin pedangmu dapat mengusikku? Akan tetapi aku tidak akan menggunakan tenaga, dan biarlah kujadikan engkau sebagai penguji karena selama turun gunung aku belum pernah menggunakan kiam-sut yang kupelajari dari suhu."

Cui Im membuat gerakan menusukan pedangnya, akan tetapi dengan tangan miring, jari-jari tangan Keng Hong yang disaluri tenaga sakti yang hebat itu dapat menangkis dan mengibas sehingga pedang merah itu hampir terlepas dari pegangan tangan Cui Im. Keng Hong lalu membungkuk dan memunggut sebuah ranting kayu, sisa yang dijadikan umpan api unggun tadi, kemudian dia sudah siap dengan ranting ini di tangannya, memasang kuda-kuda Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut. Tentu saja ilmu pedang ini baru sempurna kalau dimainkan dengan pedang Siang-bhok-kiam, akan tetapi karena pedang itu tidak ada, ranting ini pun cukup baik, lebih baik daripada dia menggunakan pedang logam karena sifat kayi ini dan ringannya agak cocok dengan Pedang Kayu Harum.

"Nah, mari kita berlatih ilmu pedang," katanya, ranting dilonjorkan lurus ke atas seperti menuding langit, kemudian perlahan-lahan turun ke bawah melingkari lehernya sendiri terus turun ditudingkan ke atas tanah. Inilah kuda-kuda atau gerakan pembukaan Siang-bhok Kiam-sut, dengan kedua kakinya tegak di kanan kiri, tangan kirinya mengikuti gerakan pedang membentuk lingkaran di depan dada yang berhenti di depan hulu hati dalam keadaan miring seperti orang menyembah dengan satu tangan.

Cui Im maklum akan kelihaiannya dalam tenaga sinkang yang dapat menyedot tenaga lawan. Dia sendiri telah menyaksikan betapa Keng Hong merobohkan Kiang Tojin yang lihai bersama beberapa orang tosu Kun-lun-pai yang lain, merasa ngeri dan jerih untuk beradu kekuatan sinkang. Akan tetapi ia pun telah melihat gerak-gerik Keng Hong yang masih kaku dalam ilmu silat, maka ia pikir bahwa kalau bermain pedang, apalagi pemuda itu hanya bersenjata ranting, pasti ia akan menang. Ia sudah menggunakan racun, sudah pula menggunakan rayuan bahkan menyerahkan raganya, namun semua itu tidak berhasil menundukan hati Keng Hong. Jalan satu-satunya hanya membunuhnya!

Berpikir demikian, Cui Im lalu berteriak keras dan menerjang maju dengan dahsyat sekalli, mengirim jurus serangan mematikan. Harus diakui bahwa tingkat ilmu kepandaian Cui Im sudah amat tinggi, apalagi ilmu pedangnya, karena merupakan murid terkasih dari Lam-hai Sin-ni, datuk nomer satu dalam si empat besar Bu-tek Su-kwi. Selain memiliki ginkang yang amat cepat, sungguhpun sekarang tidak dapat dipergunakan karena sinkangnya sebagian besar telah "pindah" ke tubuh Keng Hong, ia juga memilliki ilmu pedang yang amat ganas.

Keng Hong bersikap berhati-hati sekali. Tadi ia sudah menyaksikan kelihaian gadis ini bermain pedang ketika melawan Kiu-bwe Toanio, maka kini ia cepat menggerakan rantingnya, digetarkan ujungnya dan menangkis dengan jurus-jurus ilmu silat pedang Siang-bhok Kiam-sut.

"Ayaaaa.....!" Cui Im terkejut sekali karena begitu pedangnya bertemu dengan ujung ranting yang menggetar, pedangnya ikut tergetar dan getaran itu terus menjalar ke tangan dan lengannya, membuat lengannya kesemutan dan hampir saja ia melepaskan pedangnya kalau tidak cepat-cepat ia memutar pergelangan tangannya dan melangkah mundur.

Keng Hong tidak mengejar atau mendesak lawannya, hanya berdiri siap menghadapi serangan gadis itu. Sikapnya tenang dan timbul kepercayaan pada diri sendiri. Mungkin dalam hal ilmu silat dia kalah pandai, akan tetapi ilmu pedangnya Siang-bhok-kiam adalah ciptaan gurunya, dan dalam kekuatan sinkang dia menang jauh. Asal dia dapat menjaga diri jangan sampai termakan pedang, dia tidak akan kalah.

"Kau.... kau laki-laki keji!" Cui Im berteriak gemas lalu tubuhnya menerjang maju lagi mengirim tusukan dan bacokan bertubi-tubi. Hebat sekali gerakan pedang gadis ini, amat sukar diduga perubahannya sehingga pandang mata Keng Hong berkunang-kunang dan silau dibuatnya. Sinar pedang merah itu bergulung-gulung dan membentuk lingkaran-lingkaran panjang dan luas seperti seekor naga hendak membelit tubuhnya. Terpaksa Keng Hong menyalurkan sinkang pada rantingnya dan memutar ranting itu melindungi tubuhnya. Hawa sinkang yang disalurkan itu hebat sekali sehingga pedang yang ujungnya berubah menjadi puluhan banyak saking cepat dan tak terduga gerakannya itu selalu tertumbuk dan mental kembali, kalau tidak tertangkis ranting tentu membalik oleh hawa pukulan yang amat dahsyat. Namun, biarpun serangan Cui Im gagal semua, Keng Hong sama sekali tidak ada kesempatan untuk membalasnya. Hal ini adalah karena latihannya belum sempurna sama sekali, gerakannya masih kaku dan pedang Siang-bhok Kiam tidak berada ditangannya. Kalau ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut sudah dilatih baik dan pada saat itu dia memegang pedang pusaka itu, kirannya dalam beberapa jurus saja Cui Im yang lihai itu tentu tidak mampu bertahan terhadapnya!

Cui Im makin lama makin marah. Dari mulut gadis ini keluar lengking panjang yang amat nyaring dan dengan nekat ia memutar pedang lebih cepat lagi.Namun, makin cepat ia mengerakan pedang, makin banyak ia menambah tenaga, makin lelah dia dan pedangnya juga setiap kali terbentur ranting membalik dan seperti akan menyerang tubuhnya sendiri. Hal ini membuat Cui Im penasaran dan gemas sekali. Dia memekik keras, mencabut keluar sehelai saputangan merah dan menggunakan saputangan itu menyeling serangan pedangnya, mengebutkannya ke arah Keng Hong.

Keng Hong maklum akan bahayanya saputangan merah yang berbau harum ini. Teringat ia akan hawa racun yang tercampur pada arak. Menghadapi minuman, dia masih dapat bertahan karena lima tahun dia setiap hari diberi minuman racun. Akan tetapi terhadap racun yang berupa asap atau uap benar-benar amat berbahaya. Melihat berkelebatnya saputangan merah yang wangi. Keng Hong cepat menghindarkan diri dengan menggeser kaki ke kiri dan memukulkan rantingnya pada saputangan itu. Ia berhasil merobek saputangan dengan ujung rantingnya, akan tetapi dia tidak tahu bahwa serangan saputangan itu hanya pancingan belaka karena pada detik berikutnya, Cui Im sudah membanting sebuah benda seperti bola yang tadi disembunyikan dibalik saputangan. Bola itu mengeluarkan suara ledakan dan asap hitam mengelilingi Keng Hong. Pemuda itu terkejut sekali dan melompat, namun terlambat. Ia telah menghisap asap hitam yang berbau hamis, kepalanya pening, pandang matanya berkunang. Ia terhuyung-huyung dan di dalam kegelapan asap itu pedang Cui Im menyambar, menusuk lambungnya. Keng Hong masih sempat menangkis sambil mengerahkan tenaga. Tranggg.....!" Pedang merah terlepas dari tangan Cui Im, akan tetapi pada saat itu Keng Hong terguling karena sebuah tendangan gadis itu tepat mengenai lutut kananya. Keng Hong terguling roboh, pandang matanya gelap, napasnya terengah-engah sehingga makin banyak asap hitam tersedot olehnya!

Cui Im menjadi girang sekali dan ia sudah menubruk ke depan setelah menyambar pedang merahnya, disabetkan ke arah leher pemuda yang sudah tak berdaya lagi itu.

"Singgggg..... tranggg....!" Cui Im menahan jeritnya ketika pedangnya yang sudah meluncur itu tiba-tiba tertahan di tengah udara, hanya beberapa senti meter lagi dari leher Keng Hong, dan terlepas dari tangannya kemudian terbang ke atas, terampas oleh segulung sinar putih yang datang menyambar secepat kilat.

"Suci (kakak perempuan seperguruan) apa yang hendak kau lakukan itu?" Terdengar teguran halus dan ternyata di situ telah berdiri seorang gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun, berpakaian sutra putih dengan garis-garis pinggir biru, memegang sehelai sabuk sutra putih panjang yang tadi dipergunakan secara luar biasa untuk merampas pedang di tangan Cui Im.

"Sumoi (adik perempuan seperguruan).....! Engkau.....??" teriak Cui Im dengan suara kaget dan jerih. Memang aneh kelihatanya. Mengapa Cui Im seorang kakak seperguruan takut terhadap adik seperguruannya? Namun kenyataannya begitulah.

"Nih, kukembalikan pedangmu, Suci!" Kata pula gadis baju putih itu dan sekali menggerakan pergelangan tangan yang memegang sabuk sutera putih, pedang merah itu meluncur ke arah Cui Im yang cepat menyambutnya dan menyimpannya. Gadis baju putih itu lalu menggerakan sabuknya yang menyambar ke arah Keng Hong bagaikan seekor ular hidup, melibat-libat tubuh pemuda yang masih pening dan mabuk itu dan sekali betot, tubuh Keng Hong melayang ke dekat gadis itu! Cui Im memandang dengan muka berubah merah penasaran ketika sumoinya mengeluarkan segulung sutera hitam dan mengikat kedua pergelangan tangan Keng Hong yang masih rebah terlentang kebingungan. Setelah mengikat kedua tangan pemuda itu secara hali, gadis baju putih ini lalu memakai kembali sabuknya, dilibat-libatkan di pinggangnya yang ramping.

"Sumoi kenapa kautawan dia? Dia itu....., punyaku! Aku yang menangkap dia, dan aku yang berhak atas dirinya. Dia itu kekasihku!" teriak Cui Im dengan nada penasaran dan marah, namun ia tetap tidak berani mengeluarkan ucapan kasar terhadap sumoinya ini.

"Hemmm, kulihat kau tadi hendak membunuhnya," kata si gadis baju putih dengan suara halus dan tenang.

"Karena dia punyaku, aku berhak melakukan apa saja terhadapnya. Aku hendak membunuhnya karena dia tidak memenuhi permintaanku untuk mencari pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong."

"Aku tahu semua itu, Suci. Hanya aku tak senang melihat engkau hendak membunuhnya. Ibu sendiri yang menyuruh aku menyusulmu dan mengawasi gerak-gerikmu. Dan harus kukatakan bahwa apa yang kulihat semalam tadi dan sekarang ini, sungguh mengecewakan. Kau terlalu menurutkan nafsu, nafsu berahi dan nafsu kemarahanmu. Yang dicari belum didapat mengapa hendak membunuh dia? Ibu yang menyuruh aku menangkapnya dan membawanya kepada ibu."

"Aaahhhh....!" Cui Im mengeluh dengan nada kecewa sekali. "Dahulu subo tidak tertarik aka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong.... dan membiarkan aku pergi untuk merampasnya, untukku sendiri....."

"Sudahlah, Suci. Mari kita pergi menghadap ibu dan kau boleh bicara sendiri kepada ibu."

"Tapi subo (ibu guru)....."

"Sudahlah!" Gadis baju putih itu membentak dan sucinya terdiam. Kemudian gadis baju putih itu mengerakan bibir diruncingkan dan terdengarlah suara suitan melengking yang amat nyaring. Tak lama kemudian terdengar suara roda gerobak yang dilarikan kuda cepat sekali menuju ke tempat itu. Ternyata kemudian bahwa gerobak itu ditarik oleh empat ekor kuda besar, dikusiri seorang wanita muda yang cantik dan di belakang gerobak itu masih ada tiga orang wanita setengah tua yang cantik-cantik dan bersikap garang. Keempat wanita yang datang ini kesemuanya memakaian pakaian kuning dan di punggung mereka tampak gagang pedang.

"Masuklah dia ke dalam kereta, aku sendiri yang akan menjaganya bersama suci," kata gadis itu memberi perintahnya kepada tiga orang wanita setengah tua yang sudah melompat turun dari kuda. Tanpa bicara sesuatu, mereka lalu mengangkat tubuh Keng Hong dan memasukannya ke dalam kereta, didudukan di atas bangku menghadap ke belakang. Keng Hong masih pening kepalanya, menyadarkan diri dan meramkan mata, mulai mengumpulkan hawa sakti untuk mengusir hawa beracun yang mengotorkan dada dan kepalanya.

"Kalian berempat berangkatlah lebih dulu memberi laporan kepada ibu bahwa orang yang dikehendaki sudah tertawan. Biar suci yang menggantikan menjadi kusir dan aku yang mengawal orang ini. Berangkatlah!"

Empat orang itu mengangguk, wanita muda yang tadi menjadi kusir diboncengkan oleh seorang di antara mereka dan tiga ekor kuda itu lalu membalap ke sebelah depan. Cui Im menghela napas panjang penuh kekecewaan, akan tetapi ia tidak banyak membantah lalu pindah duduk di depan, menjadi kusir. Adapun gadis baju putih itu kini duduk berhadapa dengan Keng Hong. Dengan gemas Cui Im mencambuk empat ekor kuda itu yang membedal sambil mengeluarkan suara meringkik keras. Roda-roda kereta menderu di atas jalan yang berbatu, dan guncanga-guncanga ini membuat Keng Hong cepat sadar kembali.

Keng Hong semenjak tadi tidaklah pingsan, hanya pening dan pandangan matanya berkunang. Namun dia masih dapat mengikuti dengan jelas apa yang telah terjadi, dapat mengerti bahwa nyawanya tertolong oleh gadis baju putih yang membelenggunya dan kini duduk di depannya. Kalau tidak ada gadis ini, tentu lehernya telah putus dan nyawanya melayang oleh pedang merah Cui Im. Ia merasa heran sekali mengapa sumoi dari Cui Im ini kelihatannya jauh lebih lihai daripada Cui Im sendiri dan amat ditaati sucinya. Akan tetapi dia mengetahui semua itu sebagian besar hanya dari ketajaman pendengarannya saja karena tadi matanya berkunang dan kabur pandangannya. Sekarang, setelah dia mengusir sisa hawa beracun, dibantu guncangan kereta itu membuat pandangan matanya terang kembali, dia membuka mata memandang nona yang duduk anteng di depannya. Mula-mula yang mempesona Keng Hong adalah sepasang mata itu. Sepasang mata yang amat luar biasa indahnya, mengingatkan Keng Hong akan bintang-bintang di langit, dengan cahaya hangat lembut seperti sinar matahari pagi, bening seperti air telaga, tajam melebihi pedang pusaka, akan tetapi di balik semua keindahan itu bersembunyilah sifat dingin yang menyeramkan! Mata itu agaknya dapat menangkap kesadaranya, akan tetapi hanya sekilas saja menyapu wajahnya, kemudian mata itu memandang lagi ke depan, seolah-olah dapat menembus segala yang berada di depannya.

Kemudian pandang mata Keng Hong merayapi wajah itu dan dia makin terpesona. Gadis yang jauh lebih muda dari Cui Im ini, yang usianya ditaksir tidak akan lebih tua dari dirinya sendiri, memiliki wajah yang amat cantik jelita. Bentuk wajahnya bulat telur, dengan kulit muka yang halus putih kemerahan tanpa bedak dan gincu, rambutnya hitam sekali dan amat halus seperti benang sutera, gemuk subur menghias dahi dan kedua pipi, menyembulkan dua buah telinga yang hanya tampak sedikit dan terhias dua buah anting-anting bermata merah. Alis itu amat hitam dan kecil memanjang seperti dilukis saja padahal tidak ada bekas-bekas goresan pensil dan agaknya alis ini dan bulu mata yang panjang melengkung itulah yang menambah keindahan matanya. Hidungnya kecil mancung dengan ujungnya agak menantang ke atas, diapit-apit sepasang pipi yang kemerahan dan halus seperti buah tomat meranum. Ketika pandang mata Keng Hong menurun lagi, pandang matanya seolah-olah menempel dan melekat pada sepasang bibir itu. Sukar dikatakan mana yang lebih indah antara mata dan bibir itu. Bentuknya seperti gendewa dipentang, dan warnanya merah membasah, segar dan membuat Keng Hong tanpa disadarinya sendiri menelan ludah seperti seorang kehausan melihat buah yang segar. Kemudian sinar mata Keng Hong makin liar memandang ke bawah dan apa yang dilihatnya benar-benar membuat dia terpesona. Gadis ini amat cantik jelita, sikapnya agung dan pendiam, dan bentuk tubuhnya.... sukar dilukiskan dengan kata-kata sungguhpun pakaian sutera putih itu membungkusnya. Pendeknya, kalau Cui Im merupakan gadis yang luar biasa cantiknya dan yang tidak pernah sebelumnya dia temukan atau impikan, kini gadis baju putih ini merupakan seorang gadis yang tak pernah dia sangka terdapat di dalam dunia!

"Hidung belang, sudah puaskah engkau meneliti dan menaksir diriku?"

Pertanyaan ini halus dan merdu terdengar oleh telinga, namun bagaikan pisau berkarat menggores jantung! Keng Hong belum tentu akan menjadi semerah itu kedua pipinya kalau dia menerima tamparan keras.

"Eh.... ohhh.... aku...." Ia menggagap, berusaha mengelak dari pandangan mata yang begitu halus namun tajam menembus dada.

"Aku tahu, engkau hidung belang seperti gurumu, akan tetapi perlu kau ketahui bahwa aku bukanlah seorang wanita murah seperti dia itu." Dengan dagunya yang meruncing halus, gadis itu menuding ke arah depan, ke arah Cui Im yang mengemudikan kereta.

Keng Hong menghela napas panjang dan tak terasa lagi dia mengangkat kedua tangan yang terbelenggu itu untuk mengosok-gosok hidungnya yang dua kali dikatakan belang! Ketika kedua tangannya mengosok-gosok hidung ini, seolah-olah baru tampak olehnya bahwa pergelangan kedua tangannya dibelenggu, terikat oleh sehelai tali sutera hitam yang amat kuat. Ia menaksir-naksir berapa kekuatan belenggu ini.

"Jangan mencoba untuk mematahkan belenggu ," gadis itu seakan dapat membaca pikirannya. "Selain kau takan berhasil, juga kalau kau banyak tingkah, aku akan menyeretmu di belakang kereta."

Wah-wah, kiranya si jelita ini malah lebih galak daripada Cui Im, pikir Keng Hong. Dia kembali menatap wajah itu dan melihat betapa gadis itu tenang seperti air telaga, dan matanya merenung jauh ke depan. Dia dianggap seperti lalat saja, atau bahkan tidak ada. Keng Hong penasaran. Dia bukanlah seorang yang tidak mengenal budi. Gadis ini telah menyelamatkan nyawanya, tidak mungkin dia yang sudah diselamatkan nyawanya diama saja seperti seorang yang tidak mengenal budi.

"Nona...." Akan tetapi dia tidak melanjutkan karena gadis itu sama sekali tidak bergerak, sama sekali tidak memperhatikan tanda-tanda bahwa dia mendengar panggilannya. Keng Hong bergidik. Gadis ini seperti arca saja. Arca dari batu pualam yang halus dan dingin. Akan tetapi melihat bibirnya yang begitu merah membasah , melihat kemerahan pada rongga mulutnya ketika tadi bicara, kilaatan giginya yang kecil rata dan putih, semua ini membayangkan darah muda yang panas. Setelah kini berdiam diri, sikapnya benar-benar luar biasa dinginnya, sedingin salju di utara!

"Nona.....!" Ia tidak putus asa dan memanggil lagi lebih keras. Namun gadis itu tetap diam, jangankan bergerak melirik pun tidak.

"Bledak..... dak..... dorrr.....!" kereta melalui jalan yang berbatu, rodanya menumbuk batu-batu yang besar sehingga kereta itu terguncang hebat, bahkan hampir roboh miring.

"Heiiiii..... eh.....!" Keng Hong mengatur keseimbangan tubuhnya dan kaget sekali, akan tetapi kereta berjalan terus dan amatlah kagumnya menyaksikan betapa gadis baju putih di depannya itu masih tetap seperti tadi, tidak bergerak, tidak berguncang, juga tidak kaget. Wah seperti orang mati saja! Keng Hong tertegun sendiri. Jangan-jangan dia ini sudah mati! Matanya terbuka akan tetapi manik mata itu sama sekali tidak bergerak, napasnya pun seolah-olah berhenti.

"Nona....!"

Kembali tiada jawaban. Keng Hong mulai khawatir dan mendekatkan kedua tangannya yang terbelenggu itu ke depan hidung kecil mancung itu, hendak menyatakan apakah napas nona itu masih ada. Dan tangannya tidak merasakan sesuatu! Gadis ini telah mati. Ia menjadi panik dan menurunkan tangan hendak menyentuh urat nadi lengan nona itu.

"Plakkk!" Kedua tangannya ditampar dan nona itu membuka mulut, "Kau mau apa? Ingin diseret di belakang keretakah?"

Keng Hong kaget setengah mati sampai pantatnya terloncat dari tempat duduknya. "Walah.....! Kau bikin kaget aku saja, Nona. hampir mati aku merasa kaget! Kusangka kau..... kau tidak bernapas lagi....."

"Begini goblokkah murid Sin-jiu Kiam-ong sehingga tidak tahu orang sedang melakukan latihan Pi-khi-hoan-hiat (Menutup Hawa Mengatur Jalan Darah)?"

"Ohhh.....!" Keng Hong hanya dapat mengeluarkan suara ah-eh-oh saja karena makin lama makin kagum dan heran. Ia pernah mendengar dari suhunya akan ilmu Pi-khi-hoan-hiat ini, sebuah ilmu untuk selalu mengadakan pengontrolan tentang jalan darah dan yang berhubungan dengan sinkang, namun ilmu yang hanya dapat dilakukan oleh seorang yang telah tinggi tingkat kepandaiannya. Dan nona cilik ini telah melatihnya di dalam kereta yang berguncang-guncang! Biarpun hanya mengeluarkan suara ah-eh-oh sejak tadi, namun suara ini jelas membayangkan kekaguman, dan hal ini agaknya terasa oleh gadis itu yang tentu saja sebagai seorang manusia normal, terutama wanita, amat senang hatinya mendapat pujian.

"Kau mau apa sih, panggil-panggil orang terus?"

"Nona, aku she Cia Keng Hong bukanlah orang yang tidak mengenal budi. Aku telah berhutang nyawa kepadamu....."

"Aku tidak pernah menghutangkan nyawa!"

"Eh, aku..... aku telah Nona selamatkan dari pedang Cui Im...."

"Hemmmm, sudah jauh begitu ya hubunganmu dengan suci sehingga kau menyebut namanya begitu saja?"

Wajah Keng Hong menjadi merah sekali. Nona ini boleh jadi pendiam, akan tetapi seperti biasanya orang pendiam, sekali mengeluarkan kata-kata selalu akan menusuk jantung!

"Kumaksudkan.... nona Bhe Cui Im.... aku telah kautolong dan selain pernyataan terima kasihku, aku pun selamanya tidak akan melupakan budi pertolongan itu. Akan tetapi, setelah menyelamatkan nyawaku yang tak berharga ini, mengapa Nona menawan aku?"

"Heiii, awas Sumoi! Dia itu laki-laki pandai sekali merayu, melebihi gurunya. Jangan-jangan kau nanti dirobohkan rayuannya yang manis seperti madu. Hi-hi-hik!" dari depan Cui Im berkata dengan suara mengejek.

Gadis baju putih itu mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya. "Huh! Sejak kapan aku dapat dirobohkan rayuan orang? Tidak semudah engkau aku dapat dipikat rayuan bocah ini, Suci!"

"Heh-heh-heh, bocah ya? Dia itu bocah? Hi-hi-hik, tunggu saja kau, Sumoi, kalau sudah berada dalam pelukan dan belaiannya, nanti...."

"Suci, diam!" Gadis itu membentak, alisnya yang hitam panjang itu melengkung indah.

Cui Im tidak bicara lagi, hanya terdengar ia ketawa dan mencambuk empat ekor kuda itu sehingga jalannya kereta makin kencang. Kembali Keng Hong tergoncang-goncang, akan tetapi dia segera dapat mengerahkan sinkangnya dan kini dia duduk diam tak bergerak seperti nona di depannya. Mulailah nona itu memandangnya, dan biarpun mulutnya tidak menyatakan sesuatu, namun pandang matanya penuh pengertian bahwa pemuda di depannya ini memiliki sinkang yang hebat.

"Nona, jangan perhatikan omongan Cui.... eh, dia itu. Aku sama sekali tidak membujuk rayu Nona, melainkan hendak bertanya mengapa setelah Nona menyelamatkan nyawaku, kini menawanku."

"Ibuku yang menyuruh, aku hanya pelaksana," jawabnya sederhana. "Dan jangan mengira aku menolongmu. Kalau tidak ingin memenuhi perintah ibu biar suci mau membunuh seribu orang macam engkau, aku tidak akan peduli."

Wahhh, pahit benar ucapan ini, pikir Keng Hong. Akan tetapi tak mungkin dia bisa marah menghadapi seorang gadis seperti ini. "ibumu? Siapakah dia, Nona?"

"Lam-hai Sin-ni!"

"Ohhhh.....!" Tadinya Keng Hong mengira bahwa nona ini sebagai sumoi dari Cui Im tentulah murid ke dua Lam-hai Sin-ni. Kiranya bukan hanya muridnya, malah puterinya! Pantas saja, biarpun disebut sumoi oleh Cui Im, akan tetapi memiliki tingkat ilmu kepandaian yang lebih tinggi dan juga disegani oleh sucinya itu.

"Kau sudah mengenal nama ibuku?"

"Sudah, Nona, Ibumu adalah datuk pertama dari Bu-tek Su-kwi, bukan?"

"Hemmm, kau hanya mendengar saja dari suci tentu."

"Aku sudah pernah bertemu dengan tiga orang dari Bu-tek Su-kwi yang semuanya kalah oleh suhu"

"Hemmm....., sombong! Kalau bertemu ibu, suhumu akan mampus sampai seratus kali"

"Nona, bolehkah aku mengetahui namamu?"

Alis yang indah itu terangkat, mata yang bagus itu mengeluarkan sinar berapi dan mulut yang segar itu membentak, "Kau.....! Selain hidung belang, juga ceriwis sekali!"

"Hi-hi-hik, Sumoi. Tidak benarkah kata-kataku bahwa dia pandai merayu?"

"Suci, berhenti dulu!"

Kereta berhentai secara tiba-tiba dan hal ini saja membuktikan betapa pandainya Cui Im menguasai empat ekor kuda yg menarik kereta, dan betapa kuat kedua lengan yang kecil itu. Alis nona baju putih itu masih berdiri ketika ia melolos sabuknya yang putih panjang, lalu tanpa banyak cakap ia mengikat kedua kaki Keng Hong dengan ujung sabuk dan setelah itu ia melempar tubuh pemuda itu ke belakang kereta!

"Jalan terus, Suci!"

"Hi-hi-hik, agaknya engkau pun tidak tahan terhadap rayuannya, sumoi. Hati-hatilah....., engkau sama sekali belum berpengalaman."

"Diam, suci!" bentak gadis itu sambil merenggut dan kereta dijalankan cepat oleh Cui Im yang terkekeh-kekeh. Kini tubuh Keng Hong yang rebah terlentang dibelakang kereta, diseret di atas tanah berbatu! Kedua tangannya dibelenggu, kedua kakinya diikat ujung sabuk sedangkan sedangkan ujung sabuk lainya diikatkan pada tiang kereta oleh gadis itu. Sabuk itu cukup panjang sehingga tubuh Keng Hong terpisah empat meter dari kereta. Pemuda ini cepet-cepat mengerahkan sinkang untuk melindungi tubuh belakangnya yang terseret. Kalau tidak kuat sinkangnya, tentu kulit tubuh belakangnya akan habis babak bundas. Biarpun kini hawa sakit di tubuhnya melindungi kulitnya, namun tidak dapat melindungi pakaiannya sehingga sebentar saja habislah pakaiannya di bagian belakang, compang-camping tidak karuan. Diam-diam dia mengutuk, "Wah, gadis setan! Benar-benar seperti iblis-iblis betina dua orang gadis itu, sungguhpun kekejian mereka itu agak berbeda. Cui Im cabul dan pengejar kepuasan hawa nafsu, sebaliknya sumoinya ini alim dan pendiam, akan tetapi keduanya memiliki kekejaman yang sama. Bahkan boleh jadi gadis baju putih ini lebih kejam lagi."

Keng Hong yang rebah terlentang dan terseret di belakang kereta kini dapat melihat keadaan di kanan kiri kereta sampai jauh di depan. Mereka melalui jalan sunyi di pegunungan, jauh dari dusun-dusun. Diam-diam dia berpikir dan ingin sekali melihat apakah dua orang gadis iblis itu akan tetap menyeretnya seperti ini kalau melalui dusun dan kota? Apakah mereka akan membiarkan dia terseret dan menjadi tontonan? Tentu penguasa setempat akan turun tangan kalau melihat peristiwa ini, akan tetapi penguasa manakah yang sanggup melarang dua orang gadis iblis itu?

Tiba-tiba Keng Hong melihat di depan sebelah kiri muncul dua orang penunggang kuda, dua orang laki-laki tinggi besar berusia lima puluh tahun yang menghadang kereta dengan senjata golok di tangan, memberi isyarat dengan tangan agar kereta dihentikan. Cui Im menghentikan kereta itu dan memandang dengan alis berkerut marah.

"Kalian ini mau apakah? Apakah perampok-perampok buta?"

"Hemmm, Ang-kiam Tok-sian-li! Masih berpura-pura tidak mengenal kami Thian-te Siang-to (Sepasang Golok Bumi Langit)? Kami memenuhi perintah suhu untuk minta tawananmu, murid Sin-jiu Kiam-ong. Memandang muka suhu kami, harap kau suka mengalah!" Jawaban ini keluar dari mulut kakek yang sebelah kiri dan setelah kini berhadapan, Cui im baru melihat jelas betapa muka kedua orang kakek itu serupa benar. Teringatlah ia akan murid kembar dari Pat-jiu Sian-ong, maka ia tertawa mengejek

"Hi-hi-hik, jangan hanya kalian Thian-te Siang-to yang maju meminta tawanan, biarpun gurumu sendiri yang datang takkan kuberikan. Kalian mau apa?"

"Hah, Ang-kiam Tok-sian-li! kami masih memandang muka gurumu maka masih bicara dengan baik-baik. akan tetapi engkau sombong. Turunlah dan mari kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita. Yang unggul berhak membawa pergi murid Sian-jiu Kiam-ong!"

"Bagus, kalian sudah bosan hidup!" Cui Im meloncat turun dari kereta sambil mencabut pedang merahnya. Akan tetapi begitu meloncat dan menerjang, Cui Im mengeluh karena baru teringat ia akan keadaanya, akan tenaga sinkang yang sebagian besar telah lenyap semenjak malam tadi ia bermain cinta dengan Keng Hong. Apalagi sekarang yang dihadapinya adalah dua orang murid Pat-jiu Sian-ong yang merupakan seorang di antara empat datuk Bu-tek Su-kwi! Kalau dalam keadaan normal sekalipun, tak mungkin ia dapat menangkan pengeroyokan dua orang ini dan mingkin hanya akan dapat mengalahkan seorang di antara mereka. Akan tetapi sekarang, dengan sinkangnya habis setengahnya lebih, melawan seorang di antara mereka sekalipun ia tak menang.

Keng Hong yang kini sudah bangkit duduk karena kereta itu tidak menyeretnya lagi, melihat betapa Cui Im terdesak hebat oleh dua orang laki-laki bersenjata golok yang berjuluk Sepasang Golok Bumi Langit itu. Untung bahwa pedang Cui Im benar-benar hebat, kalau tidak, tentu dalam beberapa gebrakan saja ia akan roboh. Cui Im mainkan pedangnya secepat mungkin, dan biarpun ia sama sekali tidak mampu melakukan serangan balasan namun ia masih dapat mempertahankan dirinya dengan gerakan pedang dan juga sambil mengelak ke sana ke mari. Ia terdesak hebat dan menurut taksiran Keng Hong, tidak sampai sepuluh jurus lagi gadis itu tentu akan roboh.

"Sumoi, tidak lekas membantuku menunggu apa lagi?" Cui Im yang repot itu akhirnya berteriak-teriak.

Keng Hong hanya melihat muili (tirai) kereta itu tersingkap dari dalam, kemudian berkelebat segulung cahaya putih berturut-turut dua kali. Cahaya ini menyebar ke arah dua orang kakek yang mendesak Cui Im dan mereka cepat menangkis dengan pedang. Namun mereka berteriak kesakitan dan meloncat ke belakang. Ternyata pangkal lengan kedua orang kakek itu telah terluka mengeluarkan darah. Yang melukai mereka adalah dua butir bola putih yang halus permukannya namun mempunyai duri-duri runcing dan ketika dua bola tadi berhasil ditangkis, bola itu tidak runtuh ke atas tanah melainkan melesat dan melukai lengan mereka. Ketika dua orang kakek itu melihat wajah ayu yang tersembul keluar dari balik tirai, mereka terkejut dan cepat menjura ke arah kereta.

"Kiranya Song-bun Siu-li (Gadis Cantik Berkabung) juga hadir di sini. Maafkan kelancangan kami!" setelah berkata demikian, kakek kembar itu lalu membalikan tubuh dan berlari pergi.

"Heiii, kembalilah! Mari kita bertanding sampai seribu jurus! Belum bolong dadamu sudah lari, pengecut!" Cui Im berteriak-teriak menantang.

"Suci, jalan terus!" terdengar gadis baju putih yang kini dikenal julukannya oleh Keng Hong berkata halus. Kereta berjalan lagi amat kencangnya, dan terpaksa Keng Hong merebahkan diri telentang lagi, diseret-seret kereta. Ia bergidik kalau mengingat julukan gadis baju putih itu. Song-bun Siu-li (Gadis Cantik Berkabung). Mengapa berkabung? Pantas saja pakaiannya serba putih, bahkan senjatanya yang lihai, sabuk yang kini mengikat kedua kakinya, juga putih dan senjata rahasia yang berbentuk bola itu pun putih!

“Cepatlah, suci. Setelah murid-murid Pat-jiu Siang-ong muncul, kurasa yang lainya akan muncul pula."

"Untung engkau berada di sini , sumoi, kalau tidak ..... wah berabe juga. Aku..... aku kehilangan sebagian besar sinkang di tubuhku, karena ..... bocah setan itu!"

"Apa? Mengapa dan bagaimana?" Song-bun Siu-li bertanya heran.

"Benar, aku disedot habis olehnya, keparat! Setelah malam tadi, entah bagaimana aku pun tidak tahu. Dia memang hebat, aku sampai lupa diri dan aku..... tersedot habis..... uhhh....."

"Suci, diam! kau tahu aku tidak sudi mendengarkan omongan-omonganmu yang cabul!"

Kereta berjalan terus lebih cepat lagi. Keng Hong tertegun mendengar omongan mereka itu. Dia sendiri pun tidak tahu mengapa Cui Im menjadi lemah. Tersedot olehnya? Ia teringat akan peristiwa di Kun-lun-san, di mana tanpa dia sadari dia pun telah menyedot sinkang dari Kiang Tojin dan tosu-tosu lain. Akan tetapi ketika itu dia menghadapi pukulan sinkang yang amat berat. Sedangkan malam tadi dengan Cui Im...... ah., dia tetap tidak mengerti. Diam-diam dia kagumi Song-bun Siu-li. Betapa lihai gadis muda itu. Hanya dengan dua butir bola saja dia mampu mengusir murid-murid Pat-jiu Sian-ong yang dia lihat tadi amat lihai ilmu goloknya.

Lewat tengah hari, ketika matahari mulai condong ke barat, mereka tiba di sebuah hutan dan jauh di depan menjulang tinggi pegunungan yang rupanya banyak dusun-dusunnya karena dari jauh sudah tampak genteng-genteng rumah yang kemerahan. Keng Hong yang diseret kereta mulai merasa tersiksa karena selain haus dan lapar, juga debu yang mengebul dari roda kereta itu seolah-olah dilemparkan kepadanya semua, membuat rambut dan alisnya menjadi putih, juga mukanya menjadi putih semua. Bernapas pun sukar di dalam kepulan debu yang tebal ini. tiba-tiba Cui Im berseru nyaring dan tangan kirinya menyabar dua batang anak panah yang menyambarnya. Hebat kepandaian ini dan diam-diam Keng Hong yang melihat itu menjadi kagum.

"Jalan terus, suci. Biar aku yang melayani mereka!" berkata Song-bun Siu-li dengan suara dingin. Kini berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu gadis itu telah berdiri di atap kereta, lalu minta pinjam cambuk kuda yang tadi dipegang Cui Im. Cambuk ini cukup panjang dan dengan tangan kiri bertolak pinggang, tangan kananya memegang gagang cambuk, Song-bun Siu-li berdiri dengan gagah tak bergerak, hanya matanya saja yang memandang tajam ke depan.

Tiba-tiba dari arah kiri menyambar tiga batang anak panah, sebuah ke arah Cui im dan yang ke dua ke arah Song-bun Siu-li dan anak panah yang datang menyambar sekali ini, biarpun warnanya juga hitam seperti tadi, namun mengandung kecepatan dan tenaga dahsyat sehingga mengeluarkan bunyi mendesing.

Cui im tidak mempedulikan datangnya anak panah yang menyerangnya, melainkan mencurahkan seluruh perhatian kepada kendali empat ekor kuda yang dipegangnya dan dibalapkanya cepat. Ia sudah percaya penuh akan penjagaan sumoinya dan kepercayaan ini pun tidak disia-sia. Terdengar bunyi cambuk meledak-ledak, dan.....tiga batang anak panah itu sudah kena digulung dan dibelit ujung cambuk.

Keng Hong melongo melihat itu dan dia lebih terbelalak lagi ketika nona baju putih itu menggerakan cambuknya, membuat tiga batang anak panah meluncur ke arah kiri dan..... terdengar jerit-jerit mengerikan disusul terjungkalnya tubuh tiga orang yang tadi bersembunyi di balik batang pohon. Ternyata nona baju putih yang lihai sekali itu telah meretour anak panah kepada pemiliknya masing-masing dan secara kontan keras telah membalas mereka!

Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergema di seluruh hutan itu, seolah-olah suara raksasa yang sakit, padahal suara itu adalah suara banyak orang yang mengucapkan sebuah kalimat secara berbareng, "Atas perintah Pak-san Kwi-ong, kami mohon tawanan putera Sin-jiu Kiam-ong ditinggalkan di hutan ini!"

"Suci, berhenti sebentar," kata Song-bun Siu-li dengan suara halus.Kereta berhenti dan kini tampaklah puluhan orang, sedikitnya ada tiga puluh orang yang mengurung kereta itu dalam jarak lima puluh meter. Mereka itu tadinya bersembunyi di balik pohon-pohon dan di dalam gerombolan-gerombolan.

Terdengar suara Song-bun Siu-li yang berdiri di atas kereta dengan cambuk di tangan, suaranya masih tetap halus merdu, namun kini dikerahkan dengan penggunaan tenaga khikang sehingga menjadi nyaring dan bergema lebih dahsyat daripada suara banyak orang tadi.

"Murid Sin-jiu Kiam-ong menjadi tawanan Lam-hai Sin-ni! Di sini ada Song-bun Siu-li dan Ang-kiam Tok-sian-li yang melindunginya, siapapun tidak boleh mengganggu tawanan!"

Keng Hong yang kini sudah duduk di atas tanah, diam-diam memandang dengan hati geli. Dia tidak tahu siapakah adanya banyak orang-orang laki-laki yang tinggi besar dan kelihatan galak-galak itu, akan tetapi yang dia tahu adalah bahwa dia dijadikan rebutan! Dijadikan rebutan di antara tokoh-tokoh kang-ouw, bukan tokoh-tokoh kaum bersih seperti ketika gurunya dahulu dikepung di Kiam-kok-san, melainkan tokoh-tokoh hitam yang amat lihai. Namun, baik tokoh bersih maupun tokoh sesat, semua memiliki pamerih yang sama yaitu menghendaki Siang-bhok-kiam dan warisan mendiang suhunya. ini timbullah keinginan hatinya untuk mencari dan mendapatkan pusaka peninggalan suhunya. Kalau semua tokoh kang-ouw menginginkan pusaka itu, sudah barang tentu amat berharga dan penting.

Kini para pengurung itu ketika mendengar disebutnya nama Song-bun Siu-li, menjadi ragu-ragu dan mereka terdiam, kemudian muncul empat orang tinggi besar yang usianya sudah empat puluh tahun lebih. Tangan masing-masing memegang sehelai rantai baja yang digantungi sebuah tengkorak manusia! Melihat rantai dengan tengkorak itu teringatlah Keng Hong akan kakek tinggi besar berkulit hitam arang yang matanya putih telinganya seperti telinga gajah dan badannya berbulu, yaitu Pak-san Kwi-ong. Kakek itu pun senjatanya sehelai rantai besar dengan dua buah tengkorak pada kedua ujungnya. Hanya bedanya, empat orang laki-laki ini, rantainya bertengkorak satu.

"Kami Pak-san Su-liong (Empat Naga Pegunungan Utara), jauh-jauh datang melakukan perintah suhu. Mengingat akan sahabat segolongan, biarlah kami menyampaikan salam suhu kepada Ji-wi Siocia (Nona Berdua) untuk disampaikan kepada Lam-hai Sin-ni dan salam kami sendiri kepada Ji-wi. Kemudian, mengingat akan persahabatan, harap Ji-wi luluskan kami meminjam sebentar tawanan itu."

"Hi-hi-hik! Enak saja membuka mulut!" Cui Im tertawa mengejek. "Kami yang susah payah menawan, kalian yang hendak memboyong. Aturan mana ini? Lebih baik kalian pergi dari sini dan sampaikan kepada Pak-san Kwi-ong bahwa kalau dia menghendaki tawanan, biarlah dia mencoba merampasnya dari tangan guruku!"

"Suci, tidak perlu banyak bicara melayani mereka. Pak-san Su-liong harap tahu diri dan jangan mengganggu kami. Betapapun juga, kami tidak akan menyerahkan tawanan!" kata gadis baju putih sambil menudingkan telunjuknya ke arah empat orang tinggi besar itu.

"Hemmm, kalau begitu, terpaksa kami akan menguji kepandaian Ji-wi, apakah cukup patut menjadi pengawal tawanan penting!"

"Bagus, majulah!" Song-bun Siu-li dan Ang-kiam Tok-sian-li sudah meloncat turun. Cui Im masih belum normal tenaga sinkangnya, belum pulih seperti biasa, akan tetapi tidaklah selemah tadi karena di sepanjang jalan gadis ini telah melatih nafas menghimpun tenaganya yang tercecer. Ia masih dapat mengandalkan ilmu pedangnya yang memang hebat dan pedang merahnya yang ampuh. Adapun gadis baju putih itu sudah memutar cambuknya sehingga terdengar bunyi ledakan-ledakan nyaring.

Empat orang tinggi besar itu menyambut dua orang nona ini dengan sambaran rantai mereka dan terdengarlah suara bersiutan, tanda bahwa mereka itu bertenaga besar sekali dan dari mulut tengkorak-tengkorak itu kadang-kadang mengebul asap putih yang beracun! Pertandingan dua lawan empat ini berlangsung seru, akan tetapi Keng Hong yang duduk di belakang kereta dapat melihat jelas betapa sesungguhnya Cui Im hanya melawan seorang saja sedangkan yang tiga orang lawan diborong oleh Song-bun Siu-li. Makin kagumlah hatinya menyaksikan nona baju putih itu. Tiga rantai tengkorak yang mengepungnya tak boleh dipandang ringan karena ternyata bahwa naga-naga dari Pak-san itu benar-benar berkepandaian tinggi, malah kalau dibandingkan dengan Thian-te Siang-to murid Pat-jiu Sian-ong, agaknya masih lebih berat empat orang ini. Namun pecut di tangan Song-bun Siu-li amat lincah gerakannya, menyambar-nyambar dengan suara nyaring seperti halilintar mengamuk dan mengancam kepala tiga orang lawanya.

Asap putih yang mengepul dari mulut empat tengkorak itu adalah hawa beracun, akan tetapi menghadapi ini, dua orang murid Lam-hai Sin-ni tentu saja memandang rendah karena guru mereka adalah hali racun nomor satu di dunia ini! baik Song-bun Siu-lu maupun Cui Im sudah mengeluarkan sehelai saputangan berwarna kuning yang amat harum, menggosok-gosokan saputangan masing-masing dengan keras ke hidung dan mulut mereka, kemudian menyimpan kembali saputangan itu lalu menghadapi lawan tanpa mengkhawatirkan asap beracun

Biarpun tenaga sinkangnya belum pulih seluruhnya, namun ilmu pedang Ang-kiam Tok-sian-li memang hebat, sehingga tidak percuma dia berjuluk si pedang merah, dan kecerdikanya serta kekejamannya membuat ia patut pula dijuluki Tok-sian-li Si Dewi Beracun! Karena tiga orang lawan diborong sumoinya dan dia sendiri hanya menghadapi seorang lawan, pedangnya sudah dapat mengimbangi gulungan sinar rantai, bahkan beberapa kali hampir berhasil melukai lawan, yaitu memapas sebagian ujung bajunya dan membuat retak rahang tengkorak.

Keng Hong yang menonton pertandingan itu, duduk dengan hati tegang, juga dia menjadi kagum. Semenjak turun gunung, dia menyaksikan pertandingan-pertandingan yang hebat. Kini mengikuti pertandingan antara murid-murid orang sakti, murid-murid dua orang datuk dari golongan sesat yang tinggi ilmunya, matanya kabur. Gulungan sinar pedang di tangan Cui-Im merah dan indah sekali, membentuk lingkaran-lingkaran yang makin lama makin melebar, mengurung gulungan sinar yang dibuat oleh rantai tengkorak lawannya. Adapun cambuk di tangan Song-bun Siu-li juga telah lenyap bentuknya, yang tampak hanya gulungan sinar hitam yang berkelebatan di angkasa dan mengeluarkan bunyi meledak-meledak keras dan sinar hitam ini dapat menahan rantai tengkorak tiga orang lawannya yang berusaha keras untuk mengalahkan gadis muda yang nama sudah amat dikenal di dunia Kang-ouw itu.

Tiba-tiba Keng Hong mendapat perasaan aneh dan menengok ke belakang. Alangkah kagetnya ketika dia melihat bahwa dari arah belakang datang puluhan orang, berindap-indap dan jelas sekali mereka berniat untuk menangkapnya. Mereka adalah anak buah Pak-san Su-liong, datang menghampirinya dengan sikap mengancam, bagaikan segerombolan serigala yang hendak menyergap seekor kijang. Keng Hong maklum akan bahayanya kalau terjatuh ke tangan anak buah Pak-san Kwi-ong. Memang tidak enak juga menjadi tawanan dua orang gadis berhati ganas itu, akan tetap menjadi tawanan orang-orang kasar ini agaknya akan lebih mengerikan pula. Mengapa dia tidak membebaskan diri saja? Kalau tadinya dia masih belum membebaskan diri adalah pertama, dia suka melayani permainan asmara Cui Im yang benar-benar telah dinikmatinya dan ke dua, karena dia tertarik dan berterima kasih kepada Song-bun Siu-li yang menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi sekarang, melihat dirinya mulai diperebutkan seperti sebuah benda berharga, Keng Hong menjadi muak dan timbul keinginannya untuk meloloskan diri selagi ada kesempatan mereka saling gasak itu.

Keng Hong mengerahkan sinkangnya, mendesak pusat tenaga di pusar menyalurkan hawa sakti yang dia luncurkan ke arah kedua lengannya, kemudian sekuat tenaga dia merenggut. Tali sutra hitam yang mengikat pergelangan tangannya bukan sembarang tali, kuatnya melebihi kawat baja. Namun masih tidak dapat menahan sinkang yang tersalur di kedua lengan itu, yang kekuatannya amat luar biasa, seperti tarikan dua buah belalai gajah. Tali itu mengeluarkan bunyi keras ketika terputus dan bergerak-gerak seperti tubuh ular terputus dan bergerak-gerak seperti tubuh ular terputus di atas tanah. Keng Hong hanya merasakan kulit pergelangannya panas. Ia cepat membungkuk dan melepaskan tali sutra putih yang mengikat kakinya. Ia tidak mau memutuskan tali kakinya yang dia tahu adalah sabuk sutera yang dijadikan senjata si nona baju putih, maka setelah tangannya bebas dia melepaskan tali kakinya.

Pada saat itu, empat orang tinggi besar telah menubruk dan menangkapnya, ada yang merangkul kaki, ada yang merangkul pinggangnya, ada yang memegangi tangan dan ada yang memiting leher. Akan tetapi Keng Hong tidak perduli, dia terus bangun dan berjalan mendekati kereta, menyeret empat orang itu yang melekat di tubuhnya seperti lintah. Keng Hong menyedal sabuk putih kemudian berseru kepada Song-bun Siu-li yang sibuk melayani tiga orang musuhnya.

"Song-bun Siu-li! Nih senjatamu, terimalah!" Ia sudah menggulung sabuk itu dan melemparkannya ke arah gadis baju putih yang mengeluarkan suara heran akan tetapi cepat menyambar senjatanya yang istimewa ini dan mengganti cambuknya dengan sabuk putih. Hebat bukan main gerakan Song-bun Siu-li setelah ia kini maikan sabuk sutera putih itu. Tampak sinar putih bergulung, amat tebal menyilaukan mata seperti pelangi berwarna putih perak dan dalam tiga jurus saja sabuknya sudah melibat rantai seorang di antara tiga lawannya dan sekali renggut, rantai itu terlepas dari tangan lawan dan ujung sabuk yang sebelah lagi sudah menotoknya roboh! Dua orang lawan yang lain menjadi marah dan menerjang lebih dahsyat lagi, namun dilayani oleh gadis baju putih itu dengan sikap tenang. Setelah kini senjatanya kembali ke tangannya, gadis ini menjadi lebih tenang dan penuh kepercayaannya pada diri sendiri.

Keng Hong masih dikeroyok empat orang tinggi besar yang hedak menawannya, dan sambil berteriak-teriak belasan orang tinggi besar lain merubungnya, siap membantu teman-teman mereka kalau kawalahan. Keadaan Keng Hong seperti seekor jengkrik yang dirubung semut. Keng Hong menjadi marah dan tidak sabar lagi. Ia mengeluarkan seruan keras sambil menggoyang tubuhnya, gerakannya seperti seekor harimau yang menggoyang tubuhnya sehabis tertimpa air hujan. Terdengar pekik kaget dan tubuh empat orang yang menempel di tubuhnya tadi mencelat ke empat penjuru sampai lima enam meter jauhnya, menimpa teman-teman sendiri!

"Tangkap.....!"

"Jangan sampai dia lari!"

Orang-orang yang menjadi kaki tangan Pak-san Su-liong itu berteriak-teriak sambil mengepung terus. Mereka ini hanya merupakan segerombolan orang liar yang mengandalkan tenaga, keberanian dan pengalaman bertempur karena orang-orang ini datang dari utara, menjadi anak buah Pak-san Su-liong yang di luar tembok besar sebelah utara terkenal sebagai pemimpin orang-orang liar. Namun tenaga mereka hanyalah tenaga otot dan tebalnya kulit, tentu saja menghadapi Keng Hong mereka itu tidak banyak artinya. Keng Hong mulai mengamuk untuk mencari kebebasannya. Ia menggunakan kaki dan tangannya, menendang dan memukul. Para pengeroyok berteriak-teriak kesakitan karena setiap pertemuan kaki tangan mereka dengan kaki tangan Keng Hong pasti mengakibatkan tulang patah dan kulit pecah.

Melihat anak buah mereka kocar-kacir, ditambah lagi seorang di antara mereka sudah tertotok roboh, tiga orang di antara Pak-san Su-liong menjadi kacau permainannya. Apalagi kini Song-bun Siu-li sudah memegang senjatanya sendiri yang amat ampuh , maka tiga orang tinggi besar murid-murid Pak-san Kwi-ong itu tak dapat bertahan lagi. Pedang merah di tangan Cui Im berhasil melukai pundak lawannya, sedangkan kedua ujung sabuk sutera putih di tangan sumoinya yang amat lihai itu sudah merampas sehelai rantai dan memecut muka seorang lawan lagi sehingga pipinya terluka dan berdarah.

Melihat lawannya mundur dan para anak buah mereka pun kocar-kacir dan mulai menjauhi Keng Hong, Song-bun Siu-li cepat berkata dan meloncat mendekati Keng Hong, "Lekas masuk kereta. Kita melanjutkan perjalanan!"

Keng Hong berdiri memandang gadis itu dan menjawab, "Aku tidak mau! Aku ingin melanjutkan perjalanan ku sendiri, Nona."

"Kau.... kau hendak melawanku?" Song-bun Siu-li berkata halus, suaranya dingin, sabuknya siap di tangan.

"Hati-hati, Sumoi. Dia mempunyai tenaga mujijat!" kata Cui Im yang juga sudah melompat dekat, tidak mempedulikan Pak-san Su-liong yang mulai menolong teman-temannya dan pergi meninggalkan tempat itu karena maklum bahwa mereka tidak mungkin dapat melanjutkan usaha mereka merampas tawanan.

"Cia Keng Hong, lekas kembali ke kereta. Mereka tentu akan datang kembali, dan kalau yang muncul guru mereka Pak-san Kwi-ong, atau guru Thian-te Siang-to tadi yaitu Pat-jiu Sian-ong, kami tidak akan dapat mempertahankan engkau lagi!" kata pula Song-bun Siu-li, suaranya tetap halus akan tetapi bukan merupakan bujukan, melainkan peringatan.

Keng Hong masih berdiri dengan kedua kaki terpentang, kokoh kuat seperti batu gunung, akan tetapi pakaian di sebelah belakangnya sudah compang-camping tidak karuan. Ia menggeleng kepala dan memandang kedua orang nona itu dengan pandang mata tajam.

"Tidak, aku ingin bebas!"

"Sumoi, hajar mampus saja laki-laki tak berbudi ini!" teriak Cui Im yang sudah melangkah maju dan siap dengan pedang merahnya.

"Tahan, Suci. ibu menghendaki dia hidup-hidup! Eh, Keng Hong. Engkau sendiri tadi mengaku bahwa aku telah menyelamatkan nyawamu. Apakah ini balasanmu? Hendak melawan aku? beginikah kegagahan murid Sin-jiu Kiam-ong? Kasihan kakek itu yang tentu gelisah dalam akhirat kalau menyaksikan muridnya yang tak mengenal budi."

Wajah Keng Hong menjadi merah sekali dan dia mengepal tinjunya. "Sudahlah, jangan membawa-bawa nama suhu. Baik, aku ikut akan tetapi ingat, hanya untuk menuruti perintahmu sebagai pembalas atas pertolonganmu. Setelah bertemu dengan Lam-hai Sin-ni, kuanggap hutangku padamu telah lunas!" Setelah berkata demikian Keng Hong lalu berjalan menuju ke kereta.

Cui Im menyenggol lengan sumoinya dengan siku sambil menggerakan muka ke arah Keng Hong yang tampak oleh mereka dari belakang, sambil terkekeh dan berbisik, "Lihat, Sumoi...., hebat tidak, dia?"

Gadis baju putih itu memandang dan seketika wajahnya yang cantik jelita itu menjadi merah sekali. Matanya yang jelita terbelalak ketika ia melihat ke arah tubuh belakang Keng Hong. pakaian bagian belakang yang compang-camping, kulitnya yang penuh debu itu masih tidak dapat menyembunyikan sebuah punggung yang tegak dengan lengkung kuat di bagian bawah seperti terbuat daripada baja bahu yang bidang, pinggang yang kecil dan sepasang pinggul yang bulat membayangkan otot-otot yang penuh tenaga di atas kaki yang kuat. Cepat-cepat dia memejamkan mata, tidak mau memandang lagi dan mulutnya mencela.

“Suci, engkau selalu mendahulukan nafsu-nafsumu. Kau tahu aku tidak sudi memperhatikan pria!" Gadis ini membuang muka dan setelah Keng Hong memasuki kereta, barulah ia berkata, "Ambilkan selimut dan suruh dia menutupi tubuh belakangnya yang pantas!"

Cui Im terkekeh dan berlarian ke kereta, mengambil selimut dan melemparnya ke arah Keng Hong.

"Keng Hong, tutupi badanmu yang sebelah belakang rapat-rapat, kau membikin sumoi menjadi jijik, hi-hi-hik!" kemudian ia melompat ke atas di sebelah depan dan segera membalapkan empat ekor kuda setelah sumoinya pun melompat masuk dan duduk menghadapi Keng Hong dengan sikap tidak acuh.

Dari luar terdengar suara seorang di antara Pak-san Su-liong.

“Kalian tunggu saja! Suhu sendiri yang akan merampas tawanan itu!”

Namun dua orang murid Lam-jai Sin-ni tidak mempedulikan teriakan mereka dan terus membalapkan kereta ke selatan. Kereta berguncang-guncang dan Keng Hong duduk anteng, matanya tak pernah terlepas dari wajah gadis di depannya. Ia menjadi makin kagum. Gadis ini amat lihai ilmu silatnya, jug awataknya jauh berbeda dengan watak Cui Im yang cabul dan suka mengumbar nafsunya. Gadis ini pendiam, bahkan sama sekali tidak pernah memperlihatkan kegembiraan. Betapapun juga dalam hal kekejaman dan keganasan, gadis baju putih ini mungkin sepuluh kali lebih ganas dari Cui Im, sungguhpun agaknya tidak berwatak licik dan curang seperti sucinya itu. Diam-diam dia membuat perbandingan. Yang manakah yang baik di antara kedua orang gadis ini? Cui Im hidup sebagai seorang yang ingin menikmati hidup sebanyaknya, selalu menuruti nafsunya tanpa mempedulikan sesuatu, hendak meraih kesenangan dunia sebanyaknya tanpa peduli dia akan dicap gadis cabul atau tidak. Pendeknya segala hal di dunia ini harus diarahkan demi kesenangan diri pribadi. Gadis seperti itu tentu saja tidak mempunyai kesetiaan terhadap siapapun kecuali dirinya sendiri. Akan tetapi gadis yang jauh lebih muda dan jauh lebih cantik juga lebih lihai yang duduk di depannya ini memiliki type tersendiri dan sukar sekali meraba-raba untuk mempelajari wataknya. Wajah cantik ini seolah-olah memakai kedok dari salju, begitu dingin dan sukar sekali dijenguk isi hatinya karena apa yang terkandung di dalam hati dan pikirannya sama sekali tidak mengubah kulit muka yang halus dan tetap dingin itu.

Tiba-tiba saja muka yang jelita ini bergerak dan sepasang mata yang jernih bertemu dengan pandang matanya. Keng Hong terkejut dan tersipu, cepat mengalihkan pandangan matanya, pura-pura melihat pohon-pohon di pinggir jalan.

"Engkau lapar?" Pertanyaan itu pun tiba-tiba dan halus merdu. Keng Hong mengangguk dan menjawab perlahan, "Haus....."

"Namaku Biauw Eng, dan kau boleh memanggil aku dengan namaku."

Keng Hong terkejut. Eh, kiranya ada juga sikap manis budi pada diri nona aneh ini. cepat dia mengangkat muka memandang, mengharapkan ada perubahan muka pada nona itu, perubahan muka yang wajar, yang tersenyum seperti halusnya ucapan yang dikeluarkan. Namun dia kecelik, wajah itu tetap dingin dan tenang, sama sekali tidak membayangkan sesuatu kehangantan. Ia menghela napas panjang dan berkata.

"Memang aku lapar, dan terutama sekali haus, Biauw Eng."

Song-bun Siu-li atau yang mengaku bernama Biauw Eng, dengan tenang mengambil bungkusan dari sebelah belakangnya, di atas tempat duduk kereta itu, membuka bungkusan dan mengeluarkan sebuah roti kering yang besar. Ia mematah-matahkan roti itu, membagi menjadi tiga, lalu memberi sebagian kepada Keng Hong, sebagian lagi ia lemparkan ke arah Cui Im sambil berseru, "Suci, silahkan makan!" dan dia sendiri lalu memulai makan bagiannya.

Cui Im menggigit roti kering sambil tertawa dan berkata, "Sayang, sumoi. Seguci arak Ai-ang-ciu (Arak Merah Asmara) telah dihabiskan sekali teguk oleh bocah itu, hi-hi-hik!"

Sepasang alis yang hitam itu berkerut sebentar, namun tidak cukup untuk membayangkan bagaimana perasaan Biauw Eng, apakah kecewa, ataukah marah, ataukah perasaan lain lagi. Hanya bibirnya yang tadi tertutup ketika dia mengunyah roti di dalam mulut, kini terbuka sedikit mengeluarkan kata-kata.

"Aku masih ada persediaan air minum, jangan khawatir, suci."

Tangan kiri meraih ke belakang dan gadis ini telah mengeluarkan sebuah guci yang mengkilap, berwarna putih, terbuat dari pada porselen yang amat indah. Melihat bahwa Keng Hong paling dulu menghabiskan rotinya, nona ini menyerahkan guci porselen kepadanya sambil berkata.

"Minumlah dulu."

Keng Hong menerima guci itu, memandang kagum lalu bertanya, "Mana cawannya?"

"Hi-hi-hik! Keng Hong, kau selalu bersopan-sopan mencari cawan. Apa kau khawatir diracuni? Ah, jangan takut, sumoi selamanya tidak sudi main-main dengan racun dan segala macam racun yang dimasukan ke dalam guci pusaka itu akan lenyap pengaruhnya." Cui Im tertawa-tawa mengejek sehingga muka Keng Hong menjadi merah sekali. Ia hanya memegangi guci itu dan tidak minum, menanti sampai nona di depannya menghabiskan rotinya. Biauw Eng juga tidak peduli bahwa pemuda itu belum juga minum dari guci.

"Kau minumlah dulu, nona Biauw Eng....." katanya memberikan guci itu. Sikap nona ini membuat Keng Hong tidak berani untuk menyebut namanya begitu saja, melainkan menaruh sebutan nona di depannya. Nona ini sikapnya seperti seorang puteri istana saja, begitu halus, angkuh namun dingin.

Biauw Eng tidak menjawab, melainkan menerima guci itu, membuka tutupnya dan mengangkat guci ke atas mukanya yang ditengadahkan, lalu dituangnya air dari guci yang memancur memasuki mulutnya yang dingangakan. Keng Hong menelan ludah, bukan karena melihat orang minum atau melihat air yang amat jernih dan segarnya memasuki mulut orang, melainkan melihat mulut yang menggairahkan itu. Mulut yang terbuka, tampak giginya berderet putih, lidah meruncing merah sekali bergerak-gerak ketika kejatuhan air jernih , melihat rongga mulut yang segar kemerahan, yang membayangkan kesedapan dan kenikmatan. Keng Hong diam-diam bergidik dan tidak tahu dari mana datangnya perasaan ini yang timbul semenjak dia jatuh oleh godaan asmara Cui Im.

Setelah gadis itu menyerahkan guci kepadanya, barulah dia sadar dan cepat menerima guci itu. Akan tetapi belum dia minum air itu, dia teringat kepada Cui Im. Keng Hong selama berada di Kun-lun-pai mempelajari tata susila, sopan santun dan telah membaca banyak kitab, maka sifat sopan santun sebenarnya telah meresap di hatinya. Kini teringat bahwa Cui Im belum minum, sungguh pun dia kini merasa muak kepada gadis itu setelah dia mengenal wataknya yang keji dan bahwa bujuk rayu yang amat mesra pada malam itu bukan timbul dari hati mencinta melainkan melainkan sebagai alat membujuk saja, namun dia merasa tidak enak kalau harus mendahului gadis itu minum airnya.

"Kau minumlah dulu," katanya menyerahkan guci.

Cui Im yang duduk di sebelah depan, memutar tubuhnya, memandang Keng Hong dengan mata genit lalu menerima guci, terus diteguknya seperti yang dilakukan sumoinya tadi. kemudian ia mengembalikan guci kepada Keng Hong dan ketika pemuda itu menerimanya, sejenak Cui Im membelai tangan pemuda itu dan mencubit lengannya penuh arti sambil terkekeh. Keng Hong cepat-cepat menarik tangan dan guci itu sambil melirik ke arah Biauw Eng. Namun gadis ini diam saja tidak bergerak-gerak, seolah-olah tidak melihat atau memang tidak peduli akan kecentilan sucinya.Keng Hong menghilangkan rasa kikuknya dengan menenggak iar dari dalam guci dan dia kagum sekali. Roti kering tadi amat enaknya, gurih dan agak manis, berbau sedap. Akan tetapi air ini lebih lezat lagi. Memang rasanya air biasa, namun mengandung keharuman buah apel dan amat sejuk dan segar. Tanpa bicara, dia mengambilkan guci kepada Biauw Eng yang segera menyimpannya kembali dan berkatalah Biauw Eng.

"Kita perlu menghimpun tenaga karena kurasa masih banyak penghalang di depan." Setelah berkata demikian, nona baju putih itu melempangkan punggungnya, dan meramkan matanya, napasnya menjadi makin lambat sampai akhirnya seperti tidak bernapas lagi. Tahulah Keng Hong bahwa nona ini kembali telah melatih dirinya dengan samadhi dan ilmu Pi-khi-hoan-hiat. Ia memandang kagum. Setelah mata itu terpejam, tampak bulu mata yang merapat dan hitam panjang melentik. Jantung Keng Hong berdebar dan cepat-cepat dia menekan perasaannya ini. Untuk melawan gelora hatinya menghadapi nona yang luar biasa cantiknya ini, dia pun lalu memejamkan mata menghimpun tenaga? Untuk apa? Untuk membebaskan diri kalau kesempatan muncul, pikirnya. Kalau dia sudah mengikuti nona ini sampai bertemu dengan Lam-hai Sin-ni. Akan tetapi, setelah berhadapan dengan Lam-hai Sin-ni, betapa mungkin dia dapat membebaskan diri? Sedangkan nona Biauw Eng ini saja sudah demikian lihai dan tak mungkin dapat mengalahkannya, apalagi ibunya! Keng Hong diam-diam bergidik ngeri, akan tetapi dia sudah berjanji untuk membalas budi pertolongan nona itu, baru akan membebaskan diri. Hatinya tentram kembali dan Keng Hong pun segera "pulas" dalam samadhinya walaupun kereta itu melalui jalan yang tidak rata dan berguncang-guncang keras.

Sampai malam tiba, tidak ada rintangan di jalan. Kereta di hentikan di sebuah gunung yang banyak terdapat gua-guanya dari batu. Setelah makan daging kelinci yang ditangkap oleh Cui Im dan minum air gunung, mereka mengaso di luar kereta, di dalam sebuah gua yang agak besar tak jauh dari situ. Cui Im sudah duduk mendekati Keng Hong, tangannya sudah mulai menggerayangi tubuh Keng Hong dan mulutnya membisikan kata-kata merayu, kadang-kadang hanya mengeluarkan suara seperti seekor kucing memancing belaian. Namun Keng Hong tidak memperdulikannya, bahkan menjadi gemas sekali. Ia merasa canggung dan malu sekali karena gadis ini tanpa malu-malu mengajaknya bermain cinta di depan Biauw Eng! Adapun gadis baju putih itu duduk bersila dan seolah-olah tidak melihat itu semua, tidak mendengar suara merintih-rintih dan meminta-minta yang keluar dari mulut sucinya.

"Cui Im, mengapa kau tidak bisa diam? Jangan ganggu aku!" akhirnya Keng Hong berkata lirih dan mengibaskan tangan Cui Im.

"Aihhh, mengapa engkau berubah, Keng Hong? Setelah berada di depan sumoi yang jauh lebih cantik dariku, engkau pura-pura tidak tahu.... hi-hi-hik, masih ingatkah malam mesra itu? Masih terasa olehku, Keng Hong..... ahhh....."

"Cui Im, diamlah!" Keng Hong membentak, agak keras karena marah. Ia menyesal sekali sekarang mengapa malam hari dulu itu dia mau melayani gadis ini, pengalamannya yang pertama dia hanyutkan begitu saja bersama seorang gadis bermoral bejat seperti ini. Kalau Cui Im benar-benar mencintanya, dia pun tidak akan menyesal karena dia hanya ingin mengikuti jejak gurunya, melayani cinta kasih seorang wanita yang disukanya. Dan dia memang suka kepada Cui Im seperti rasa sukanya kepada segala yang indah. Kalau Cui Im tidak menggunakan daya tariknya sebagai seorang wanita hanya untuk membujuknya, kalau Cui Im tidak palsu cintanya, tentu dia selamanya akan mengenang pengalamannya dengan Cui Im sebagai kenangan yang manis. Sekarang, dia hanya akan mengenangnya sebagai sebuah kenangan yang memalukan dan menjijikan.

"Suci, jangan ribut. Ada musuh-musuh datang.....!" Tiba-tiba Biauw Eng berkata halus dan ke dua orang itu merasa jengah sendiri mengapa mereka ribut-ribut saja sehingga tidak mendengar datangnya ancaman musuh. Ketika mereka berdua memandang keluar gua, benar saja, di bawah sinar-sinar bintang-bintang yang suram, tampak berkelebat bayangan belasan orang yang gesit dan ringan. Bagaikan bayang-bayangan setan, belasan orang itu menerjang kereta dan terdengarlah suara hiruk pikuk, suara senjata-senjata dipukulkan pada kereta sampai kereta itu hancur dan roboh, kudanya lari tidak karuan. Agaknya orang-orang itu menjadi marah karena mendapatkan kereta itu kosong, dan melampiaskan kemarahan mereka pada kereta kosong!

"Kurang ajar! Mereka merusak kereta!" Cui Im berseru marah.

"Tenang, Suci. Mari kita sambut mereka! Dan kau Keng Hong, jangan mencampuri urusan kami, kau tinggal saja di sini dan menonton." Biauw Eng sikapnya tenang sekali dan kini dia mengajak sucinya untuk keluar dari gua menyambut belasan orang yang sudah mendengar seruan Cui Im dan kini menyerbu ke arah gua.

Keng Hong duduk saja bersila di dalam gua, membuka mata memandang bayangan-bayangan itu dan telinganya mendengar suara Biauw Eng yang halus merdu dan tenang.

"Siapa di depan? Mau apa kalian dan mengapa merusak kereta? Di sini Song-bun Siu-li dan Ang-kiam Tok-sian-li!"

Belasan sosok bayangan itu tiba-tiba berhenti bergerak, agaknya tertegun dan kaget mendengar nama-nama itu, kemudian terdengar suara.

"Kami empat orang anak murid Hoa-san-pai, mewakili suhu-suhu kami Hoa-san Siang-sin-kiam untuk diminta diserahkannya tawanan yang bernama Cia Keng Hong!” Remang-remang tampak oleh Keng Hong bahwa empat orang yang berkelompok itu adalah tiga orang muda dan yang seorang gadis, kesemuanya memegang pedang. Teringatlah dia akan dua orang tokoh Hoa-san, yaitu Hoa-san Siang-sin-kiam yang bernama Coa Kiu dan Coa Bu, kakak beradik yang hebat ilmu pedangnya itu. Jadi empat orang ini murid-murid mereka? Tentu lihai ilmu silatnya.

"Pinceng bertiga adalah murid-murid Siauw-lim-pai, mentaati perintah ketua kami untuk menangkap Cia Keng Hong!" Tiga orang hwesio gundul Siauw-lim-pai itu masing-masing memegang sebatang toya dan tampaknya mereka itu kuat-kuat.

"Kami sembilan orang adalah murid-murid Kong-thong Ngo-lojin, mewakili suhu-suhu kami untuk membawa Cia Keng Hong ke Kong-thong-pai!" Sembilan orang ini pun masih muda-muda dan kalau tidak keliru penglihatan Keng Hong dalam gelap itu, terdiri dari enam orang pemuda dan tiga orang pemudi, dengan senjata bermacam-macam, ada pedang, golok, tombak pendek, ruyung dan cambuk saja.

Diam-diam Keng Hong menjadi gelisah. Betapapun lihainya Cui Im dan Biauw Eng, mana mungkin dapat menang menghadapi pengroyokan enam belas orang yang kesemuanya adalah murid-murid tokoh besar yang sakti?

Namun, baik Cui Im maupun Biauw Eng bersikap tenang-tenang saja, bahkan kini terdengar suara Biauw Eng yang halus dan dingin, mengandung ejekan dan tantangan.

"Cia Keng Hong adalah tangkapan yang berada di kekuasaan kami sebagai wakil dari Lam-hai Sin-ni. Tak seorang pun boleh mengganggunya. Kalian ini murid-murid tokoh besar di dunia kang-ouw, sungguh tak tahu malu telah merusak kereta kami. Kalau memang hendak menggunakan kekerasan, majulah , kami berdua tidak gentar menghadapi kalian!"

"Omitohud, kiranya Song-bun Siu-li masih seorang bocah yang mulutnya sombong sekali!" bentak seorang murid Siauw-lim-pai yang sudah menerjang maju dengan toyanya, diikuti dua orang sutenya. Yang lain-lain juga segera berseru keras dan menerjang maju, mengeroyok Cui Im dan Biauw Eng. Dua orang gadis murid Lam-hai Sin-ni mengeluarkan suara melengking tinggi dan tampaklah gulungan sinar pedang merah dari tangan Cui Im yang amat gemilang, disusul gulungan sinar putih sabuk sutera Biauw Eng yang lebih gemilang dan lebar lagi. Pertandingan berlangsung dengan seru di malam yang remang-remang itu.

Tingkat kepandaian dua orang murid Lam-hai Sin-ni sesungguhnya lebih tinggi daripada tingkat kepandaian murid-murid Siauw-lim-pai, Kong-thong-pai dan Hoa-san-pai itu, apalagi Biauw Eng. Kiranya kalau hanya menghadapi pengeroyokan lima orang lawan saja, Biauw Eng masih ada harapan untuk menang. adapun takaran lawan Cui Im kiranya hanya dua atau paling banyak tiga orang lawan saja. Kalau mereka dikeroyok tujuh atau delapan orang, barulah ramai dan seimbang. Akan tetapi kini yang mengeroyok mereka adalah enam belas orang! Tentu saja kedua orang murid Lam-hai Sin-ni menjadi terdesak hebat sehingga terpaksa mereka itu harus saling bela dengan cara berdiri beradu punggung dan memutar senjata secepat mungkin untuk menangkis hujan senjata yang menimpa mereka.Sekali ini pun sabuk sutera putih di tangan Biauw Eng berjasa lagi karena sabuk yang panjang itu selain dapat melindungi tubuhnya sendiri, juga dapat membantu sucinya yang mulai repot. Bahkan beberapa kali Cui Im mengeluarkan teriakan marah ketika betis kirinya dan pangkal lengan kanannya tercium ujung senjata lawan sehingga bairpun bukan merupakan luka parah, namun cukup merobek baju dan kulit mengeluarkan darah.

"Nona berdua sebaiknya menyerah saja. Kami tidak bermusuhan dengan nona berdua, juga tidak ingin membunuh. Kami hanya ingin menawan Cia Keng Hong karena guru-guru kami mempunyai urusan dengan dia sebagai wakil gurunya yang sudah berdosa terhadap partai kami," terdengar seorang pemuda murid Hoa-san-pai berkata nyaring.

"Mulut besar!" bentak Cui Im. "Keng Hong adalah tawanan kami, kalau kalian dapat membunuh kami, baru boleh bicara tentang menawan Keng Hong!"

"Bagus! Memang kaum sesat selalu nekat dan mau menang sendiri!" teriak seorang murid Kong-thong-pai dan kepungan diperketat, serangan diperdahsyat sehingga dua orang murid Lam-hai Sin-ni menjadi makin repot melindungi tubuh mereka dari cengkraman maut.

Kini cuaca mulai makin terang karena bulan sepotong yang munculnya sudah malam itu mulai memuntahkan sinarnya. Keng Hong yang menyaksikan pertandingan itu menjadi gelisah. Ia maklum bahwa kedua orang nona itu sudah pasti akan roboh, kalau tidak tewas sedikitnya tentu terluka hebat. Ia sedang mempertimbangkan pendiriannya. Harus berfihak yang mana? Fihak enam belas orang itu memiliki pamrih yang sama, yaitu menawannya dan memaksanya menunjukan tempat simpanan pusaka gurunya seperti juga guru-guru mereka dahulu memperebutkan Siang-bhok-kiam adalah untuk mencari pusaka gurunya itu. Sebaliknya, fihak kedua, dua orang murid lam-hai Sin-ni itu pun sama juga. Jelas bahwa kedua fihak itu tidak ada yang bermaksud baik terhadap dirinya.dan dia merasa kasihan kepada dua orang gadis itu yang dianggapnya berada di fihak yang harus dia bantu. Dua melawan enam belas. Mana adil? Pula, pantaslah kalau dia kini berpeluk tangan saja menyaksikan gadis itu terancam bahaya? Bagaimana tindakan suhunya kalau suhunya menjadi dia? Pernah suhunya menasehatinya.

"Kalau menolong orang, tolonglah saja berdasarkan perasaan hatimu. Jangan menengok latar belakangnya, jangan mengingat keadaannya, jangan pula memperhitungkan urusannya. Kalau kau merasa kasihan dan ingin menolong, tolonglah tanpa ada perasaan pamrih lainnya. kalau tidak ada rasa kasihan dan ingin menolong seperti itu, lebih baik kau tinggalkan tidur dan tidak perlu melibatkan diri dengan urusan orang lain."

Keng Hong segera bangkit berdiri. Mingkinkah dia membiarkan saja dua orang gadis itu tewas? Tidak! Biarpun dia tidak suka kepada Cui Im, merasa sebal menyaksikan tingkah laku gadis itu, namun harus dia akui bahwa dia telah mengalami kesenangandengan gadis itu dan dia merasa tidak tega kalau melihat Cui Im tewas di ujung senjata banyak lawan yang mengeroyoknya. Apalagi terhadap Song-bun Siu-li yang bernama Biauw Eng. Gadis ini pernah membebaskannya dari kematian di ujung pedang Cui Im. Tentu saja dia tidak tega membiarkannya mati dikeroyok. Keng Hong melompat ke dekat tempat pertempuran, sebelah tangannya memegang sebatang ranting, dan dia berseru.

"Cia Keng Hong berada di sini! Siapa yang hendak menangkap aku, majulah! Mengeroyok anak-anak perempuan kecil, apa tidak malu?"

"Keng Hong, tutup mulutmu yang sombong!" Cui Im memaki marah karena dikatakan anak perempuan kecil, juga ia menjadi gelisah karena sekali. Keng Hong keluar, terbukalah kesempatan bagi para pengeroyok untuk melarikan pemuda itu.

Benar saja. Mendengar teriakan ini, sebagian besar para pengeroyok meninggalkan dua orang gadis itu dan mengejar Keng Hong! Kini yang mengeroyok Cui Im dan Biauw Eng hanya tinggal enam orang saja, yaitu seorang hwesio siauw-lim-pai, dua orang murid Hoa-san-pai, dan tiga orang murid Kong-thong-pai. Adapun yang sepuluh orang sudah lari dan berebutan menubruk Keng Hong dengan tangan kosong karena mereka ingin menangkap pemuda itu hidup-hidup seperti yang diperintahkan guru masing-masing.

Akan tetapi tubrukan mereka itu disambut sinar yang bergulung-gulung dari ranting yang diputar oleh Keng Hong. Terdengar bunyi plak-plik-pluk ketika ranting di tangan Keng Hong itu menyambet-nyambet mereka, ada yang terkena pipinya, ada yang terkena lehernya atau lengannya. Mereka berseru kaget dan meloncat mundur, tidak mereka sangka bahwa sabetan ranting bisa mendatangkan rasa nyeri yang begitu hebat. Tahulah mereka bahwa murid Sin-jiu Kiam-ong ini tidak boleh dianggap remeh. Mereka kini maju lagi dan mulai mengirim pukulan, sungguhpun hal ini masih dilakukan dengan tangan kosong karena mereka ingin menangkapnya hidup-hidup.

Melihat datangnya pukulan-pukulan ini, Keng Hong menggerakan rantingnya lagi. Namun dia merasa kaku sekali untuk mainkan Siang-bhok Kiam-sut dengan ranting itu dalam menghadapi pengeroyokan begini banyak orang. Hujan pukulan dan cengkraman itu ada yang dapat ditangkisnya, namun ada pula yang mengenai tubuhnya, bahkan kini selimut penutup tubuh belakangnya sudah terlepas, bajunya yang kena dicengkram juga mulai robek-robek. Timbulah kemarahan di hati Keng Hong.

"Kalian nekat, ya?" bentaknya dan ketika seorang hwesio Siauw-lim yang memiliki sinkang paling kuat mencengkram ke arah pundaknya dengan ilmu cengkraman Eng-jiauw-kang (Cengkraman Kuku Garuda), dia cepat mengulur tangan kanannya memapaki cengkraman itu sehingga kedua telapak tangan itu bertumbukan di udara.

"Plakkk!!"

Hwesio Siauw-lim-pai itu kaget bukan main, merasa betapa lengannya tergetar dan panas. Cepat dia berusaha menarik kembali tangannya, akan tetapi sia-sia saja, tangannya sudah melekat dengan tangan pemuda itu dan alangkah kaget hatinya ketika merasa hawa sinkang dari tubuhnya berserabutan keluar dari tubuh melalui tangannya itu, disedot oleh telapak tangan Keng Hong! Hwesio itu mengeluarkan teriakan-teriakan aneh dan teriakan-teriakan ini disusul teriakan-teriakan lain ketika banyak tangan sudah menempel di tubuh Keng Hong tanpa dapat ditarik kembali! Ada enam orang di antara para pengroyok yang kini telapak tangannya menempel di tubuh Keng Hong dan sinkang mereka membocor terus disedot oleh tubuh pemuda yang luar biasa ini. Yang menjadi paling bingung dan juga jengah sekali adalah seorang murid perempuan Kong-thong-pai dan seorang murid perempuan Hoa-san-pai. Mereka ini adalah dua orang gadis muda yang cantik dan gagah , kini mereka mebetot-betot kedua tangan mereka tanpa hasil, padahal mereka tadi yang menyerang dari belakang dan tangannya menempel pada pingul Keng Hong yang telanjang seadngkan yang seorang lagi tangannya menempel pada leher pemuda itu. Dilihat begitu saja seolah-olah mereka ini sedang main gila, sedang main raba dan colek terhadap tubuh si pemuda!

Empat orang gagah yang lain ternganga keheranan, akan tetapi sebagai murid-murid orang sakti mereka ini dapat menduga bahwa si pemuda murid Sin-jiu Kiam-ong tentu menggunakan ilmu siluman sehingga teman-teman mereka melekat seperti itu. Seorang hwesio Siauw-lim-pai segera berkata.

"Kita kumpulkan sinkang, dan berbareng kita membetot!" Ia lalu memegang tangan teman-temannya yang belum tersedot sinkangnya, kemudian mereka lalu memegang pundak mereka yang tersedot, dan mengerahkan kekuatan secara berbareng untuk menarik. Agar dapat menarik berbareng, hwesio itu memberi aba-aba.

"Satu..... dua..... tiga tarik!!"

Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri rasa hati mereka ketika tiba-tiba saja tangan empat orang yang lain ini pun amblas seperti air dicampurkan ke dalam lautan! Jangankan menarik teman-teman yang sudah melekat , menarik diri sendiri pun tidak sanggup lagi karena tenaga mereka yang dipergunakan untuk menarik itu tidak mendapatkan tempat berpijak melainkan molos terus mengalir masuk ke dalam tubuh yang mereka pegang terus mengoper hawa sinkang ini melalui tubuh Keng Hong! Keng Hong sendiri pun mulai bingung. Seperti yang pernah dia alami di Kun-lun-pai,sekarang pun dia merasa betapa tubuhnya kebanjiran hawa sinkang, dadanya serasa hampir meledak-ledak, kepalanya seperti menjadi sebesar gentong beras, berdenyut-denyut, maranya merah dan hampir terloncat keluar dari pelupuknya, seluruh tubuh terasa berdenyutan dan gatal-gatal panas. Biarpun sinkang sepuluh orang ini masih belum menyamai sinkang Kiang Tojin dan beberapa orang sutenya, namun bagi Keng Hong tetap saja merupakan siksaan yang hebat dan dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk melepaskan mereka. Ia maklum, bahwa sekali dia mengerahkan tenaga yang mendesak-desak ini untuk mengibaskan mereka, akibatnya tentu hebat seperti yang pernah dia lakukan di Kun-lun-san. Akn tetapi pada waktu itu, yang dia robohkan hanyalah belasan batang pohon-pohon raksasa.

Sementara itu setelah kini Cui Im dan Biauw Eng hanya dikroyok enam orang lawan, mereka sebentar saja dapat merobohkan semua lawan itu. Cui Im merobohkan dua orang dengan pedangnya Biauw Eng membuat empat orang lainya terguling.

Kini dua orang gadis itu berdiri melongo memandang Keng Hong yang digelut oleh sepuluh orang! Memang amat aneh pemandangan ini. Keng Hong berdiri dengan tubuh menggigil di tengah-tengah, sedangkan sepuluh orang itu menggeluti tubuhnya, banyak yang diam tak brgerak, ada yang masih mencoba untuk membetot-betot, namun semuanya tidak berhasil dan terdengarlah keluhan dan rintihan putus asa keluar dari mulut sepuluh orang itu.

"Itulah, Sumoi. ilmunya yang mujijat, menyedot sinkang orang seperti yang kuceritakan kepadamu..... heiii! Sekarang tahu aku mengapa sinkangku lenyap sebagian besar! Kiranya malam itu .... dia.... dia telah menyedot hawa sakti tubuhku, kurang ajar!" Cui Im memaki.

"Heran betul. Benarkah dia bisa memiliki Thi-khi-i-beng? Menurut ibu, di dunia ini tidak ada lagi yang mengerti ilmu itu. Ibu sendiri hanya mengerti sedikit. Bocah ini hebat, Suci. Kalau didiamkan saja, sepuluh orang ini tentu mati semua dan ibu tidak akan senang kalau kita menanam bibit permusuhan dengan partai-partai persilatan besar. Hayo kita lepaskan mereka."

"Mana mungkin, sumoi? Jangan-jangan kau akan ikut tersedot! Hiiihhhh..... ilmu setan yang mengerikan!"

"Aku mengetahui caranya, suci."

"Kau? Kalau begitu subo telah mengajarmu ilmu ini? Ah, mengapa aku tidak diberi tahu sama sekali?" Cui Im bertanya dengan cara mencela, penuh iri.

"Hanya mengerti cara membebaskannya, sama sekali aku pun tidak tahu akan ilmu ini. Kalau kau menguasainya, alangkah banyaknya orang-orang yang kausedot habis!" Biauw Eng lalu memunggut cambuk kuda dari atas tanah di dekat kereta yang sudah hancur. "Kau pergunakan cambuk ini. Jangan sekali-kali pergunakan tanganmu untuk menyentuh mereka. Kalau kau sudah menotok pergelangan tangan Keng Hong, kau pergunakan ujung cambuk untuk membetot tangan-tangan yang menempel di tubuhnya. Mengerti?"

Cui Im mengangguk dan mereka lalu menghampiri sebelas orang yang brgelut tanpa bergerak sambil berdiri itu. Biauw Eng lalu memutar sabuk sutera putihnya ke atas, terdengar suara berdetak-detak kemudian kedua ujung sabuk itu menyambar ke depan , tepat menotok pergelangan kedua tangan Keng Hong. Dan pada saat itu, selagi Keng Hong merasa seolah-olah kedua lengannya lumpuh dan saluran hawa sakti yang membanjir ke tubuhnya terhenti, Cui Im sudah menggerakan cambuknya melihat tangan-tangan yang menempel di tubuh Keng Hong lalu membetot sekuatnya. Biauw Eng juga mengunakan sabuk suteranya melakukan hal sama sehingga dalam beberapa detik saja sepuluh orang itu telah terjengkang roboh dan sambil mengeluh mereka itu cepat duduk bersila sambil mengatur napas untuk memulihkan, atau setidaknya mendapatkan sedikit tenaga sehingga mereka tidak roboh pingsan terus tewas.

Keng Hong yang terlepas daripada kebanjiran hawa sinkang, berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang seperti orang mabuk. Ia memang persis seperti orang mabuk arak, bahkan ketika dia berjalan menghampiri Cui Im dan Biauw Eng, dia berjalan dengan kedua kaki diseret, seolah-olah kedua kakinya menjadi kaku dan kejang, kedua lengannya tergantung kaku pula di kanan kiri, matanya yang memandang dua orang gadis itu dikejap-kejapkan karena dalam pandang matanya yang berkunag-kunang, dua orang gadis itu kini berubah menjadi empet! Ia mengusahkan diri untuk tersenyum dan mengucapkan terima kasih, akan tetapi enyumnya berubah menjadi menyeringai menakutkan, dan pandang matanya menjadi liar sehingga Cui Im dan Biauw Eng yang amat lihai itu pun sampai mudur-mundur ketakutan!

"Heh-heh-heh, terima kasih..... terima kasih Ji-wi Siocia (Nona Berdua) yang telah membebaskan diriku dari.... hemmm..... lintah-lintah itu....!"

Biauw Eng memandang tajam dan berkata halus, "Keng Hong, kausimpanlah kembali ilmumu menyedot sinkang itu."

Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. "Tidak bisa.... tidak bisa....., disimpan bagaimana? Terlalu penuh tubuhku.... dadaku sakit, kepalaku mau meledak...., tenaga ini, mendorong-dorongku..... ahhh.....!" Ia memegangi kepalanya dan meramkan kedua matanya. Ingin dia memukul, menendang, ingin dia merobohkan apa saja, dan keinginan ini timbul secara serentak, mendesak kepadanya menjadi seorang liar yang memuaskan nafsu untuk merobohkan dan membunuh, apa saja.

Enam belas orang yang telah terluka semua itu, akan tetapi tidak ada yang tewas karena kedua oang gadis itu memang tidak bermaksud membunuh mereka agar jangan mendatangkan bibit permusuhan kini juga memandang ke arah Keng Hong dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Keadaan pemuda itu memang menyeramkan. Tidak saja mukanya menjadi merah seperti udang direbus, dan matanya jelalatan seperti mata setan, akan tetapi bahkan rambut kepalanya seperti berdiri satu-satu. Tanpa disadari dan dimengerti oleh Keng Hong sendiri, setelah kini tidak ada sinkang orang lain yang membanjiri tubuhnya, otomatis daya sedotnya lenyap dan kini sebaliknya berubah menjadi daya serang yang amat luar biasa. Memang sebetulnya ketika Sin-jiu Kiam-ong mengoper sinkangnya kepada Keng Hong, kakek ini tidak sempat lagi untuk memberi pelajaran tentang menguasai sinkang yang kelebihan di dalam tubuh muridnya. Karena paksaan ini, terjadilah salah susunan salah kerja sehingga sinkang yang membanjiri ke dalam tubuh pemuda itu menjadi liar, ibarat ia ditampung tanpa ada pintu untuk memasukan dan mengeluarkan air, datangnya membanjiri secara liar. Kalu saja Keng Hong sudah dapat mengusai dirinya sendiri, tentu dia akan dapat mengatur sehingga hawa yang masuk disesuaikan dengan tempatnya, dan dapat pula mengatur bagaimana untuk menbuka pntu mengeluarkan sinkang dalam penggunaan sesuai dengan keperluannya. Kini, setelah secara liar hawa sinkang membanjiri masuk, keadaannya menjadi terbalik. Pintu masuk tertutup dan pintu keluar sukar dibuka kalau tidak dipaksa dengan pukulan dan tendangan, tidak dipaksa untuk bertanding! Maka hawa pun mendesak-desak dan membuat tubuhnya seperti sebuah balon karet yang terlalu penuh diisi hawa, siap untuk meletus setiap saat.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda. Belasan ekor kuda mendatangi dari depan menuju ke tempat itu. Binatang-binatang itu adalah binatang tunggangan para murid ketiga partai persilatan itu yang tadi meninggalkan kuda mereka di dalam hutan sebelah agar mereka dapat mengepung kereta tanpa mengeluarkan suara. Kini belasan ekor kuda itu berlari-larian karena dikejutkan oleh serangan seekor harimau, dan dalam keadaan panik belasan ekor kuda itu lari menerjang ke arah orang-orang yang sedang terheran-heran memandang ke arah Keng Hong dengan mata terbelalak. Biarpun mereka itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun pada waktu itu mereka sedang menderita luka dan sebagian besar hampir habis tenaga sinkangnya tersedot oleh Keng Hong, maka kini menghadapi pasukan kuda yang menerobos liar ini mereka tak sempat untuk menghindarkan diri. Dan jangan dianggap remeh rombongan kuda yang sedang panik dan ketakutan ini. Mereka akan menerjang apa saja dan akan menginjak-nginjaknya sampai lumat!

Keng Hong dapat melihat keadaan bahaya ini. Biarpun dia sedang tersiksa oleh haw sinkang yang memenuhi badannya, melihat keadaan bahaya mengancam orang-orang itu, dia lalu cepat meloncat. Tubuhnya bagaikan sebuah bola karet penuh gas, begitu digerakan lalu meluncur cepat sekali menghadang rombongan kuda. Pemuda ini secara aneh sekali telah menjadi buas dan ingin sekali menghancurkan atau menbunuh apa yang merintang di depannya. Hal ini adalah disebabkan dorongan sinkang yang berlebihan itu sehingga dia tersiksa dan ingin melampiaskan rasa marah yang timbul akibat siksaan ini. Keadaannya itu tiada bedanya dengan seorang yang diserang sakit gigi mnjadi marah-marah dan ingin mengamuk. Maka kini melihat betapa rombongan kuda itu mengancam keselamatan orang-orang yang mederita luka akibat dirinya, dia lalu mendorong-dorongkan kedua lengan dan kakinya sambil mengeluarkan seruan-seruan yang aneh bunyinya karena suara ini digerakan sinkang yang padat, dikeluarkan untuk mengimbangi gerakan-gerakan pukulan dan tendangan itu. Akibatnya hebat sekali! Belasan ekor kuda itu seperti diamuk angin taufan, roboh dan terbanting ke kanan kiri, berkelojotan sambil mengeluarkan suara meringkik-ringkik kesakitan. Di antara suara hiruk-pikuk ini, Keng Hong sudah menerjang maju terus dan terdengarlah gerakan dahsyat. Dalam waktu beberapa menit saja, belasan ekor kuda sudah menggeletak tak bernapas lagi, dan paling belakang tampak seekor harimau besar berkelojotan sekarat!Adapun Keng Hong sendiri berdiri tegak, mukanya penuh peluh, mukanya masih merah sekali akan tetapi jalan prnapasannya sudah tenang dan kini wajahnya tidak beringas seperti tadi, melainkan tenang, bahkan kelihatannya lega. Memang kini telah lapang dadanya, sinkang yang menggelora di dalam tubuhnya telah dia salurkan keluar melalui pukulan dan tendangan yang mengakibatkan tewasnya enam belas ekor kuda ditambah seekor harimau besar!

Biauw Eng dan Cui Im terbelalak, terpesona dan penuh kekaguman mereka memandang Keng Hong. Kini mereka berdua maklum bahwa kalau Keng Hong menghendaki, pemuda itu tentu dapat membebaskan diri dari mereka dan jika mereka menggunakan kekerasan, mereka takan dapat menangkap pemuda aneh itu. Namun pemuda itu tidak pernah melawan dan menurut saja menjadi orang tangkapan mereka berdua! Teringat akan ini, Cui Im dan Biauw Eng bergidik. Pada saat itu, terjadilah hal yang sama dalam hati dua orang murid Lam-hai Sin-ni, yaitu bahwa cinta kasih mereka jatuh terhadap Keng Hong! Cui Im yang telah berhasil merayu Keng Hong sehingga pemuda yang mewarisi ilmu kepandaian juga mewarisi pula sifat mendiang Sin-jiu Kiam-ong itu pernah melayani bermain cinta, kini benar-benar menghedaki pemuda itu menjadi kekasihnya untuk selamanya. Bukan hanya karena Keng Hong seorang pemuda yang tampan dan gagah, pula seorang yang masih jejaka sebelum bertemu dengannya, juga terutama sekali karena Keng Hong memiliki ilmu kepandaian mujijat, di samping ini menjadi pewaris pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Kalau dia dapat memiliki pemuda ini sampai selamanya, atau setidaknya sampai dia dapat mengoper semua ilmu dan pusaka itu, alangkah akan senang hatinya!

Adapun perasaan cinta kasih yang mulai bersemi di hati Biauw Eng adalah cinta kasih yang wajar dari seorang gadis yang selamanya belum pernah jatuh cinta terhadap seorang pemuda yang amat menarik hatinya. Biauw Eng melihat adanya sifat luar biasa pada diri Keng Hong ini, sifat kegagahan yang aneh dan sukar dicari keduanya. Hatinya jatuh, akan tetapi sesuai dengan sifatnya yang pendiam dingin dan keras, tentu saja tidak ada sesuatu pun terbayang pada wajah atau pandang matanya, berbeda dengan Cui Im yang memandang Keng Hong penuh nafsu menyala yang terbayang pada wajahnya yang menjadi kemerahan dan sinar matanya yang bersinar-sinar.

Enam belas orang murid-murid partai persilatan besar itu kini merasa putus harapan untuk dapat merampas murid Sin-jiu Kiam-ong seperti yang mereka harapkan semula, sesuai dengan tugas yang mereka terima dari guru-guru mereka. Tadinya menghadapi dua orang murid Lam-hai Sin-ni, mereka masih mempunyai harapan untuk berhasil. Biarpun mereka itu terdiri dari empat orang murid Hoa-san-pai, tiga oang murid Siauw-lim-pai, dan sembilan orang murid Kong-thong-pai, namun karena ketiganya dari partai-partai persilatan yang bersahabat, mereka telah bersatu untuk merampas Keng Hong agar semua pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong dapat ditemukan dan mereka selain dapat mengambil benda-benda pusaka yang dulu dicuri atau dirampas Sin-jiu Kiam-ong, juga mendapat bagian pusaka-pusaka lain sebagai "bunganya". Akan tetapi setelah mereka menyaksikan betapa murid Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi tawanan kedua orang murid Lam-hai Sin-ni itu turun tangan dan ternyata memiliki ilmu yang mengerikan dan amat lihai seperti iblis sendiri, bahwa pemuda aneh itu membantu dua orang nona yang menjadi penawannya, mereka kehilangan harapan untuk melanjutkan perampasan dengan kekerasan. Dengan hati penuh kemarahan mereka berpendapat bahwa tentu murid Sin-jiu Kiam-ong ini berwatak seperti mendiang gurunya dan kini tergila-gila kepada dua orang murid iblis betina yang cantik itu sehingga malah membantunya.

"Amitohud......, mendiang Sin-jiu Kiam-ong memiliki dua sifat, yaitu sifat pendekar besar yang gagah perkasa dan sifat kenakalan lain yang amat buruk sehingga beliau mempunyai banyak musuh. Kini muridnya agaknya tidak mewarisi sifat yang baik itu melainkan mewarisi sifat buruknya!" kata seorang di antara tiga murid Siauw-lim-pai yang berpakaian pendeta dan berkepala gundul.

Keng Hong tersenyum, akan tetapi hatinya panas. Gurunya adalah seorang yang amat dihormat dan disayangnya, merupakan orang satu-satunya yang amat baik terhadapnya. Kini gurunya sudah mati namun masih saja dipercakapkan orang! Ia lalu memandang hwesio itu dan menjawab.

"Losuhu, sudah jamak bahwa manusia itu mempunyai dua sifat, baik dan buruk. Baik dan buruk yang hanya disebut mulut manusia dan menurutkan penilaian manusia pula disesuaikan dengan sifat ingin enak sendiri. Yang menguntungkan bagi dirinya disebut baik, yang merugikan disebut buruk. Aku tidak akan menyangkal, seperti juga suhu, bahkan aku pun tentu memiliki sifat-sifat buruk di samping sifat-sifat baik. Setidaknya, orang-orang seperti mendiang suhu dan aku masih berterus terang, mengakui kelemahan sendiri. Sebaliknya, Losuhu dan anak murid Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang tergolong sebagai pemeluk-pemeluk dan pemimpin agama yang berkewajiban membimbing manusia ke arah kebaikan. Sekarang Sam-wi Losuhu (Bertiga Bapak Pendeta) bukan membawa-bawa kitab suci untuk meberi wejangan, sebaliknya membawa-bawa toya untuk menghantam dan membunuh orang! Apakah pakaian pendeta dan dibuangnya rambut kepala itu hanya untuk kedok belaka?"

"Omitohud.....! Juga mulutnya jahat seperti gurunya!" teriak pendeta Siauw-lim-pai ke dua.

Cui Im tertawa terkekeh-kekeh sambil bertepuk tangan. "Bagus sekali, Keng Hong! Memang mereka itu monyet-monyet berbulu berkedok ular! Kepalanya gundul akan tetapi hatinya berbulu, hi-hi-hik!"

Wajah Keng Hong menjadi merah. Ucapan dan sikap Cui Im tidak menyenangkan hatinya. Dia tadi mengeluarkan ucapan dari hatinya untuk membela gurunya, bukan seperti Cui Im yang semata-mata mengejek. Maka dia lalu menjura kepada tiga orang hwesio itu dan berkata.

"Aku tahu bahwa mendiang suhu mempunyai hutang kitab-kitab Seng-to-cin-keng dan I-kiong-hoan-hiat kepada Siauw-lim-pai. Aku berjanji, kalau kelak aku berhasil mendapatkan kitab-kitab itu, pada suatu haru aku akan mengembalikannya kepada Siauw-lim-pai."

Tiga orang hwesio itu hanya mendengus dan seorang di antara mereka berkata, "Pinceng bertiga hanya memikul tugas, kesemuanya akan pinceng laporkan kepada suhu." Setelah berkata demikian, mereka membalikan tubuh dan melangkah pergi dengan kepala tunduk.

"Ihhh, kenapa begitu bodoh, Keng Hong? Dari pada kedua kitab penting itu diserahkan kepada setan-setan gundul itu, lebih baik kauberikan kepadaku!" kata Cui Im pula dengan sikap genit, sama sekali tidak peduli bahwa di situ masih ada tiga belas orang lain.Dia sama sekali tidak menyembunyikan sikapnya yang terang-terangan merayu pemuda itu dengan senyum bibir dan kerling mata memikat.

Wanita cantik baju hijau, murid Hoa-san-pai melihat ini lalu mengeluarkan suara mendengus tanda jijik dan berkata, "Murid Sin-jiu Kiam-ong memang tidak ada bedanya dengan gurunya! Gurunya laki-laki cabul muridnya mana bisa berhati bersih? Kalau dia ini seorang bersih dan gagah, tentu menginsyafi kebiadaban gurunya terhadap Hoa-san-pai, sedikitnya tentu akan mengembalikan pedang pusaka Hoa-san-pai yang telah dicurinya. Akan tetapi, dia malah bersahabat dengan murid iblis betina Lam-hai Sin-ni. Mengharapkan apa lagi? Burung gagak takkan berkawan dengan burung hong, orang jahat tentu memilih kawan kaum sesat! Lebih baik kita pergi dan melaporkan kepada suhu!"

Kalau saja murid perempuan Hoa-san-pai itu hanya memaki-makinya, Keng Hong tentu tidak akan mengambil pusing. Akan tetapi gadis itu membawa-bawa nama gurunya, bahkan memaki-maki gurunya. Keng Hong memandang dengan mata marah, kemudian dia tersenyum sindir dan berkata.

"Nona yang baik, kalau aku tidak salah sangka, bibi atau bibi tuamu yang bernama Cui Bi dan yang lari dari Hoa-san-pai karena cintanya kepada mendiang suhu, tentu jauh lebih manis dari padamu, baik mukanya maupun budinya! Kalau tidak begitu, mana suhu mau membalas cintanya? Tentang pedang Hoa-san-pai, jangan khawatir, kalau aku mendapatkannya, pasti kukirim kembali ke Hoa-san-pai! Aku bersahabat siapapun juga, adalah hak kebebasanku dan tentang kaum bersih dan kaum sesat, aku tidak tahu. Yang kutahu bahwa engkau pun kurasa tidak begitu jijik untuk bercinta, buktinya pinggulku yang tidak tertutup ini masuh terasa panas karena kau pegang-pegang dengan telapak tanganmu yang halus. Nah, mukamu menjadi merah. Semua orang melihat belaka betapa tadi engkau memegang-megang pinggulku. Hayo katakan, mau apa kau pegang-pegang pinggul orang?"

"Cih, laki-laki cabul.....!!" Wanita murid Hoa-san-pai itu menjerit lalu membalikan tubuhnya dan lari, diikuti oleh tiga orang suheng-suhengnya.

"Heh-he-hi-hi-hik, mulutmu benar lihai sekali!" Cui Im kembali bertepuk tangan, bahkan Biauw Eng juga tersenyum sedikit, akan tetapi alisnya yang hitam melengkung panjang itu berkerut. Terlalu tajam mulut pemuda ini, pikirnya.

Kini tinggallah sembilan orang anggauta Kong-thong-pai dan mereka itu merasa ragu-ragu untuk membuka mulut, karena mendapat kenyataan bahwa selain ilmunya tinggi, juga pemuda itu mulutnya lihai sekali. Melihat keadaan mereka, Keng Hong sudah mendahului dengan ucapan yang serius.

"Cui-wi enghiong adalah orang-orang gagah dari Kong-thong-pai yang tentu saja berpemandangan luas. Seperti Cui wi tentu telah mendengar penuturan orang-orang tua, urusan yang timbul antara mendiang suhu dengan Kong-thong-pai adalah karena dahulu suhu pernah menewaskan lima orang anak murid Kong-thong-pai. Sebab daripada bentrokan itu adalah karena kedua fihak berbantahan dalam sebuah rumah judi, sehingga urusan itu adalah urusan pribadi yang tidak menyangkut perkumpulan. Apalagi kalau diingat bahwa suhu telah meninggal dunia, demikian juga lima orang angguta Kong-thong-pai itu. setelah kedua fihak yang bermusuhan sudah tewas semua, apakah kita yang tidak tahu apa-apa harus terseret ke dalam permusuhan? Apakah yang kita perebutkan?"

Para murid Kong-thong-pai dapat mengerti alasan ini dan diam-diam mereka ini kagum juga mendengar ucapan Keng Hong yang membayangkan pendapat yang dalam dan pandangan yang luas.Akan tetapi karena mereka itu seperti juga yang lain hanya merupakan pelaksana-pelaksana tugas, maka seorang tosu yang tertua di antara mereka segera berkata.

"Persoalannya tidaklah begitu sederhana, orang muda. Pula, kami hanyalah murid-murid yang melaksanakan perintah guru...."

"Hemmm, agaknya Kong-thong Ngo-lojin yang menurunkan perintah itu. baiklah, kalau begitu harap Cu-wi sampaikan kepada Kong-thong Ngo-lojin bahwa kalau mereka itu menginginkan barang-barang pusaka peninggalan suhu, suruh mereka pergi mencari sendiri karena hal itu merupakan keinginan pribadi mengapa membawa-bawa nama perkumpulan? Betapa banyaknya di dunia ini, manusia-manusia yang sebetulnya bercita-cita untuk kepentingan pribadi namun mempergunakan kedok demi perkumpulan mempergunakan anak buah dan para murid untuk berjuang demi perkumpulan , padahal sesungguhnya yang menjadi pamrih adalah kepentingan dan kesenangan pribadi!"

Sembilan orang anak murid Kong-thong-pai itu marah sekali karena nama baik guru-guru mereka dicela terang-terangan oleh pemuda yang masih ingusan ini, akan tetapi karena mereka mengerti bahwa melawan takan ada gunanya, mereka lalu membalikan tubuh dan pergi meninggalkan tempat itu sambil membantu kawan-kawan yang terluka.

“Bagus-bagus, Keng Hong! Engkau telah memberi tamparan dengan kata-kata kepada orang-orang yang mengaku sebagai golongan bersih, golongan suci, dan golongan pendekar-pendekar itu, hi-hi-hik!" Cui Im berkata girang sambil merangkul pundak pemuda itu dengan sikap manja memikat.

"Cukup, Suci! Kita lanjutkan perjalanan!" terdengar Biauw Eng berkata, suaranya dingin dan sikapnya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

"Kereta sudah hancur oleh setan-setan itu, semua kuda binasa oleh Keng Hong. Wah, kita harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, padahal masih amat jauh!" kata Cui Im dengan wajah jengkel. Akan tetapi gadis ini lalu tertawa memandang Keng Hong. "Keng Hong, perjalanan masih jauh dan kita harus berjalan kaki. Mempergunakan ilmu lari cepat memang tidak kalah dengan berkuda atau berkereta, akan tetapi amat melelahkan. Bagaimana kalau kita saling gendong? Bergantian, kan enak? kalau sumoi mau, biarlah aku mengalah dan kau lebih dulu menggendong sumoi...."

"Suci, diam! Bukan waktunya untuk main-main!" bentak Biauw Eng dengan suara dingin dan ketus sehingga Cui Im tidak berani lagi membuka mulut.

"Nona berdua tidak perlu repot-repot karena perjalanan bersama kita hanya sampai di sini. Aku tidak dapat menemani kalian lebih lama lagi," kata Keng Hong dengan suara tenang. "Sudah cukup aku mendatangkan kerepotan dan bahaya bagi kalian, karena aku tahu bahwa selama nona berdua melakukan perjalanan bersamaku, tentu akan menghadapi bahaya serangan orang-orang kang-ouw yang kini seolah-olah memperebutkan aku."

"Ahhhh.....!!" Cui Im mengeluarkan suara kecewa dan gadis ini lenyap pula sikapnya yang manis tadi, bahkan tangan kanannya bergerak mencabut pedangnya.

"Cia Keng Hong, engkau harus ikut bersama kami menghadap ibuku, Lam-hai Sin-ni, mau atau tidak, hidup atau mati!" Suara Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng terdengar tegas dan mengandung ancaman yang mengerikan. Berbeda dengan Cui Im yang telah mencabut pedangnya, gadis berpakaian putih ini masih berdiri tenang, belum mengeluarkan senjata, bahkan sikapnya masih biasa, hanya sepasang matanya yang mengeluarkan sinar penuh ancaman maut.

Keng Hong menggeleng kepalanya. "Tadinya memang aku berniat untuk menghadap Lam-hai Sin-ni dan niat itu terdorong oleh rasa terima kasihku kepada Sie-siocia yang telah menyelamatkan nyawaku dari ancaman pedang Cui Im. Akan tetapi, tadi ketika nona dikeroyok, aku telah membantumu dan berarti aku telah pula menyelamatkanmu, dengan demikian hutangku telah kubayar lunas. Karena itu, kini aku telah bebas dan aku tidak berniat untuk ikut bersama Ji-wi menghadap Lam-hai-Sin-ni!"

Setelah berkata demikian, Keng Hong mengangkat tangan ke depan dada memberi hormat, kemudian membalikan tubuhnya melangkah pergi meninggalkan dua orang gadis yang tertegun penuh kekecewaan.

"Keng Hong, pertama-tama kau mempermainkan aku, kini berani mempermainkan sumoi! kaukira kami tak mampu menawanmu dengan kekerasan?" terdengar Cui Im membentak dan sinar merah berkelebat ketika gadis ini menerjang Keng Hong dari belakang. Pengalaman-pengalaman pahit telah membuat Keng Hong hati-hati sekali menghadapi Cui Im. Mendengar desing senjata yang menyerangnya, Keng Hong cepat miringkan tubuh sehingga sinar merah meluncur lewat di samping lehernya dan mengangkat tangannya dikibaskan ke arah pedang dan tangan yang memegang pedang. Hawa pukulan yang amat kuat mendorong pedang dan tangan Cui Im dari bawah. Gadis itu maklum akan lihainya tangan Keng Hong, cepat menarik tangannya namun masih saja tangannya terdorong ke samping begitu kerasnya sehingga tubuhnya ikut terdorong dan hampir dia terpelanting kalau tidak cepat meloncat menjauhi Keng Hong ke sebelah kiri.

"Kau tahu, aku tidak ingin bermusuhan denganmu, Cui Im," kata Keng Hong. "Harap kalian suka membiarkan aku pergi."

Akan tetapi dengan muka merah karena marahnya, Cui Im sudah siap menerjang lagi, kini tangan kirinya mencabut keluar sehelai saputangan merah, saputangan yang mengandung bubuk beracun dan yang pernah merobohkan Keng Hong. Sambil berteriak keras Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im menerjang lagi, pedangnya diputar menjadi sinar pedang merah bergulung-gulung seperti seorang penari selendang sutera merah, kemudian ia menerjang Keng Hong dengan bacokan bertubi-tubi mengikuti perputaran pedang.

Keng Hong sudah siap dan waspada karena maklum bahwa bahaya besar mengancamnya, bukan dari pedang itu melainkan terutama sekali dari saputangan merah. Maka dia segera menghindarkan diri dari terjangan pedang itu dengan meloncat cepat ke kanan. Cui Im sudah menduga akan hal ini, bahkan sudah siap-siap, begitu tubuh Keng Hong berkelebat ke kanan tangan kirinya bergerak dan tiga batang jarum menyambar dari dalam saputangannya ke arah sepasang mata dan tenggorokan Keng Hong. Pemuda itu berilmu tinggi namun belum banyak pengalamannya dalam pertandingan ini terkejut, cepat merendahkan tubuhnya setengah berjongkok sambil mengibaskan tangan kirinya ke atas sehingga tiga batang jarum itu terlempar entah ke mana. Akan tetapi pada saat yang memang sengaja diciptakan Cui Im ini sinar merah dari saputangan sudah menyambar ke arah muka Keng Hong. Didahului asap kemerahan dari bubuk racun berwarna merah.

Semenjak menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong, Keng Hong setiap hari diberi minuman racun sedikit demi sedikit oleh Kiam-ong sehingga dari mulut sampai ke perutnya, Keng Hong mengenal segala macam racun bahkan menjadi kebal. Akan tetapi menghadapi hawa beracun berupa asap atau bubuk yang tersedot melalui hidung dan menyerang paru-paru, dia tidak kebal. Pengalamannya ketika dia roboh oleh racun saputangan merah itu membuat dia waspada. Biar saat itu dia baru saja lolos dari cengkraman maut yang dibawa jarum-jarum itu sedangkan posisi tubuhnya setengah berjongkok sehingga sukar baginya untuk mengelak, dia masih ingat akan bahaya ini maka dia telah menyedot napas dalam-dalam kemudian menutup saluran pernapasannya dan begitu gadis itu menubruk sambil mengebutkan saputangan ke arah mukanya, dia meniup ke arah saputangan itu dengan pengerahan tenaga lweekang. Saputangan itu tiba-tiba saja membalik ke arah Cui Im sendiri tanpa dapat dicegah lagi oleh gadis ini yang menjadi terkejut dan menjerit. Tentu saja dia sudah memakai obat penawar dan saputangannya itu tidak akan meracuninya, akan tetapi karena saputangannya itu tiba-tiba menyerang ke arah mukanya, sejenak dia tidak dapat melihat apa-apa dan secara tiba-tiba pergelangan tangan kanannya terasa nyeri sekali sampai menjadi lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan. Kiranya pergelangan tangan kanannya telah kena disentil oleh telunjuk kiri Keng Hong.

Melihat betapa dia berhasil membuat gadis yang ganas itu sementara tidak berdaya, Keng Hong cepat meloncat untuk lari pergi dari situ. Akan tetapi selagi tubuhnya masih melayang di udara, tiba-tiba kaki kirinya dilibat sesuatu, kemudian kakinya tertarik ke belakang sehingga tanpa dapat dia cegah lagi tubuhnya terjungkal dan terbanting jatuh ke atas tanah!

Keng Hong cepat meloncat bangun dan seperti yang telah dia duga, Biauw Eng telah berdiri di hadapannya dengan senjatanya yang aneh, yaitu sabuk sutera putih yang kini ujungnya telah melibat kaki kirinya seperti ekor ular. Biauw Eng mengerahkan tenaganya menarik lagi untuk membuat Keng Hong terjungkal, akan tetapi pemuda itu telah mengerahkan tenaga ke kaki kirinya sehingga biarpun gadis yang lihai itu membetot-betot sedikit pun, tubuhnya tidak bergeming! Biauw Eng menjebikan bibirnya dan mendengus, sabuk yang melibat kaki itu tiba-tiba terlepas dan sinar putih berkelebat ketika sabuk itu bagaikan bernyawa telah meluncur ujungnya dengan kecepatan mengagumkan, kini menyerang sepeti ular mematuk ke arah mata Keng Hong!

Pemuda ini terkejut sekali, cepat dia miringkan kepala dan berusaha untuk mencengkeram sinar putih itu. Akan tetapi ujung sabuk putih itu amat cepat gerakannya, tahu-tahu telah meluncur ke bawah dan tanpa dapat dielakan lagi oleh Keng Hong, ujung sabuk itu telah menotok jalan darahnya di tiga bagian secara bertubi-tubi. Sungguh lihai nona itu, gerakan sabuknya amat cepat sehingga dalam waktu sedetik saja ujung sabuk telah menotok jalan darah di kedua pundak disusul totokan di atas ulu hati! Kalau hanya pendekar biasa saja terkena totokan berantai itu yang dilakukan dengan cepat dan keras karena tenaga lweekang tersalur melalui sabuk membuat ujung sabuk menjadi kaku, tentu roboh lemas tak mampu berkutik lagi. Untung bagi Keng Hong bahwa biarpun suhunya belum cukup menggemblengnya dengan ilmu-ilmu silat tinggi, namun pemuda ini memiliki sumber tenaga sinkang yang amat kuat sehingga begitu tubuhnya disentuh pengaruh dari luar, otomatis sinkangnya bergerak dan pergelangan hawa sakti ini cepatnya melebihi segala macam gerakan yang dapat dilakukan manusia, maka totokan-totokan itu sedikit pun tidak mempengaruhi jalan darah di tubuh Keng Hong, bahkan hampir tidak terasa olehnya. Sebaliknya, tangan Biauw Eng yang memegang sabuknya tergetar hebat karena tenaga totokan-totokan itu membalik dan menyerang tangannya sendiri!

Namun Biauw Eng yang merasa penasaran itu menerjang terus, kini ia memegang cambuknya di bagian tengah dan cambuk itu bergerak-gerak sedemikian rupa, kedua ujungnya menyerang cepat sehingga seolah-olah telah berubah menjadi ratusan banyaknya. Hebatnya, kini ujung cambuk tidak lagi menotok jalan-jalan darah yang diketahui gadis itu takkan ada hasilnya, melainkan menotok ke arah bagian-bagian berbahaya seperti kedua mata, telinga, tenggorokan, pusar dan bawah pusar, pergelangan tangan, siku, dan lutut. Tentu saja Keng Hong menjadi sibuk sekali, selain mengelak ke sana ke mari juga dia mengibaskan kedua tangannya untuk menghalau sinar putih yang mengeroyoknya secara hebat itu. Selagi dia terdesak, tampak sinar merah berkelebat dan kiranya Cui Im telah pula membantu sumoinya!

"Cia Keng Hong menyerahlah kalau tidak ingin kami seret ke depan subo sebagai mayat!" bentak Cui Im yang di dalam hatinya masih merasa sayang kalau seorang pria seperti Keng Hong harus mati.

Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Keng Hong untuk meloncat jauh hendak melarikan diri. Sesungguhnya, kalau pemuda ini menggunakan ginkangnya, biarpun dua orang murid Lam-hai Sin-ni itu dapat bergerak cepat, mereka masih tidak akan mampu mengimbangi gikang yang dimiliki Keng Hong. Akan tetapi karena mereka itu pandai menggunakan senjata rahasia, mereka mengejar sambil menyerang Keng Hong dengan senjata rahasia ini. Cui Im menghujankan jarum-jarum beracun, bahkan meledakan bola-bola peledak yang mengeluarkan asap hitam namun yang kini tidak dapat mempengaruhi Keng Hong yang sudah menahan napas. Sedangkan Biauw Eng menyerang dari belakang dengan senjata rahasia tusuk konde perak yang kepalanya berukiran bunga bwee.

Mendengar desir angin senjata-senjata rahasia ini, Keng Hong mengelak dan mengibaskan kedua tangan sambil membalik sehingga semua senjata rahasia runtuh oleh angin yang menyambar dari kedua tangannya. Karena itu tentu saja larinya terlambat dan dua orang gadis itu sudah menerjangnya lagi dengan dahsyat. Keng Hong menjadi repot sekali setelah sinar merah pedang Cui Im menyambar-nyambar di antara sinar putih sabuk Biauw Eng yang berkelebatan membentuk lingkaran-lingkaran maut. Dalam keadaan terdesak timbul marahnya. Tadinya dia tidak mau membalas karena dia tidak tega untuk melukai dua orang gadis itu, terutama sekali Biauw Eng yang dalam pandangannya merupakan seorang gadis remaja yang selain cantik jelita dan tidak genit seperti Cui Im, namun juga telah menyelamatkan nyawanya.Akan tetapi setelah sekarang didesak hebat, mau tidak mau dia harus membela diri. Untuk menggunakan sinkangnya yang luar biasa, yaitu menggunakan daya sedot yang mengalahkan banyak orang pandai, selain tidak tega juga dia tidak mempunyai kesempatan. Dua orang gadis berilmu tinggi ini agaknya maklum akan ilmunya yang mujijat itu dan mereka tidak pernah mendekatkan diri, tidak pernah memberi kesempatan unuk ditangkap tangan pemuda yang mempunyai ilmu mujijat, melainkan menyerang dari jarak jauh mengandalkan panjangnya senjata mereka.

Tiba-tiba lingkaran sinar putih itu berkelebat menyambar ke arah kedua matanya, bukan hanya dengan satu kali totokan, melainkan secara bertubi-tubi sehingga repotlah Keng Hong harus mengelak ke kanan kiri dan ke belakang. Pada saat pandang matanya menjadi silau dan kabur, dia mendengar desing pedang Cui Im mengarah lambungnya. Cepat dia miringkan tubuh, namun pedang itu mengejarnya dan merobek celana berikut kulit dan sedikit kulit daging pahanya. Darah mengalir dan Keng Hong menjadi marah sekali. Sambil mengeluarkan gerengan dahsyat, tangannya meraih ke arah pedang yang tajam. Namun tangannya berhasil mencengkram pedang dan sekali renggut pedang itu pindah tangan! Kemudian dia melempar pedang itu jauh-jauh dan kembali tangannya kini mencengkram ke arah sinar putih, berhasil menangkap sabuk sutera itu dan dia mengerahkan tenaganya merenggut. Akan tetapi, Biauw Eng mempertahankan sabuknya dan akibatnya tubuh gadis ini terbawa oleh tenaga renggutan yang amat kuat, tubuhnya terangkat ke udara. Keng Hong terkejut dan melepaskan sabuk itu dan hal ini malah mengakibatkan seolah-olah tubuh gadis itu dilempar ke atas.

Cui Im berteriak ngeri melihat tubuh sumoinya terlempar ke atas seperti itu. Juga Keng Hong terbelalak memandang, namun dia bernapas lega dan penuh kagum dia mengikuti gerakan gadis baju putih itu. Biarpun tubuhnya terlempar dengan cepat sekali, ternyata Biauw Eng tidak kehilangan akal. Di atas udara, tubuhnya dapat berjungkir balik dan sabuk di tangannya menyambar ke depan, ujungnya mengait dan menbelit dahan pohon sehingga tubuhnya tergantung dan luncuran itu patah. Kemudian dengan ringan ia meloncat turun membawa sabuknya, bukan meloncat biasa, melainkan meloncat sambil menyerang Keng Hong dengan sambaran sabuk putih. Juga Cui Im yang menjadi lega melihat sumoinya selamat, sudah menyerang lagi, bukan dengan senjata tajam karena pedangnya sudah dilempar entah ke mana, melainkan dengan cengkeraman-cengkeraman tangan yang menangkap pemuda itu diseling cengkeraman-cengkeraman ke arah bagian tubuh yang lemah.

Keng Hong menjadi lemas. Dua orang gadis ini benar-benar keras kepala dan sudah nekat sekali. Setelah dia meloncat mundur dan melihat dua orang gadis itu terus maju menerjangnya, dia mengeluarkan pekik yang melengking nyaring terbawa oleh sinkang yang terdorong hawa marah, tubuhnya sudah mencelat ke atas dan dari atas dia menggerakan kaki tangannya yang menyerang yang menyerang ke depan bertubi-tubi, menimbulkan hawa pukulan amat kuat yang menyerang dua orang gadis itu dari kanan kiri, atas dan bawah. Inilah jurus yang terakhir atau jurus ke delapan dari ilmu pukulan San-in-kun-hoat yang hanya terdiri dari delapan jurus itu. Biarpun hanya terdiri dari delapan jurus, namun ilmu silat yang kelihatannya sederhana ini merupakan gerakan-gerakan inti sari dari ilmu silat tinggi, maka jurus ini yang disebut jurus In-keng-hong-wi (Awan Menggetarkan Angin Hujan) amatlah hebatnya sehingga pernah Kiang Tojin tokoh Kun-lun-pai yang amat sakti itu sendiri menjadi gelagapan dan kelabakan menghadapi jurus ini. Selain juusnya yang amat hebat, yaitu dilakukan dari udara dengan terjangan dua pasang kaki tangan yang digerakan secara bertubi-tubi, juga terutama sekali karena kedua tangan dan kedua kaki Keng Hong itu mengandung hawa sakti yang amat kuat.

Dua orang murid Lam-hai Sin-ni itu merupakan orang-orang yang lihai, terutama sekali Biauw Eng. Menghadapi serangan yang tiba-tiba dilakukan Keng Hong ini, mereka tidak gentar, akan tetapi juga tidak berani menangkis, melainkan menggunakan kegesitan tubuh mereka mengelak. Akan tetapi alangkah kaget hati kedua orang gadis itu ketika mereka mengelak, mereka bertemu dengan angin pukulan dari mana-mana, seolah-olah gerakan serangan Keng Hong ini mendatangkan semacam angin berpusingan yang datang dari sekitar mereka.

“Aihhhh....!!" Cui Im sudah menjerit dan tubuhnya terpelanting seperti tersedot angin ke arah Keng Hong, sedangkan Biau Eng berusaha menahan dan terhuyung-huyung, juga mendekati Keng Hong. Kalau pemuda itu melanjutkan pukulan dan tendangannya, kedua orang gadis yang mendekat itu berada dalam jarak jangkauannya. Akan tetapi tiba-tiba Keng Hong mendengus dan menarik kembali kaki tangannya, lalu mengenjot tubuh dan lari menjauh tanpa menoleh lagi.

Akan tetapi Cui Im dan terutama sekali Biauw Eng bukanlah gadis-gadis yang mudah putus asa. Sama sekali tidak. Sejak kecil mereka dilatih untuk bersikap berani dan pantang mundur, kalau perlu mengejar cita-cita dengan taruhan nyawa. Kini melihat betapa pemuda yang tadinya sudah menjadi tawanan mereka itu hendak meloloskan diri, mereka menjadi penasaran dan hanya sebentar saja mereka tadi tertegun dan terkesima menyaksikan kehebatan jurus yang hebat dari pemuda itu. Setelah Keng Hong Lari, keduanya lalu mengejar dan kembali mereka menghujankan senjata rahasia mereka.

Keng Hong tidak mengelak, juga tidak menangkis karena pada saat pemuda itu menggerakan tubuhnya, tiba-tiba pemuda itu merasa tubuhnya kaku tak dapat digerakan, tanda bahwa jalan darahnya tertotok secara hebat sekali. Hal ini dapat terjadi karena dia hanya memusatkan perhatian di sebelah belakang karena dia tahu bahwa dua orang gadis nekat itu mengejarnya. Ia tadi hanya melihat bayangan berkelebat dekat dan tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku tertotok? Andaikata dia tadi tahu akan serangan luar biasa ini dan mengerahkan sinkang, kiranya takkan mudah dia tertotok. Keanehan yang terjadi pada diri Keng Hong ini terlihat oleh dua orang gadis pengejarnya itu dalam keadaan lain. Mereka hanya melihat Keng Hong diam tak bergerak, juga tidak mengelak serangan senjata-senjata rahasia itu sehingga mereka sendiri menjadi kaget dan mengira bahwa tentu pemuda itu tewas oleh penyerangan senjata-senjata rahasia mereka yang beracun dan lihai. Akan tetapi tiba-tiba mata mereka terbelalak karena tahu-tahu di belakan Keng Hong muncul seorang nenek dan semua senjata rahasia itu runtuh oleh kebutan rambut kepala nenek itu yang digerakan ke depan! Nenek itu tertawa-tawa, seorang nenek yang amat menyeramkan. Usia nenek ini tentu tidak kurang dari delapan puluh tahun, namun mukanya merah seperti berlumur darah, giginya besar-besar, rambut kepalanya riap-riap dan panjang. Mukanya yang buruk menakutkan itu tidak sesuai dengan tubuhnya, bia tubuh seorang nenek-nenek, namun pakaian sutera hitam itu mencetak bentuk tubuh yang masih padat dengan sepasang buah dada yang besar!

"Bibi Ang-bin Kwi-bo.....!!" Bhe Cui Im berseru kaget dan cepat membungkuk penuh hormat. Di kalangan kaum sesat , sebutan untuk mereka yang lebih tinggi kedudukannya tidak dipergunakan ucapan menghormat atau sungkan, maka Cui Im biarpun kelihatan takut-takut dan menghormati nenek ini, tetap saja ia tidak segan-segan menyebut julukan nenek itu yang tidak sedap, yaitu Ang-bin Kwi-bo (Hantu Wanita Bermuka Merah).

"Hi-hi-hik! Kalian murid-murid Lam-hai Sin-ni benar-benar tidak memalukan menjadi murid orang pandai. Karena kulihat kalian berhasil menemukan bocah ini akan tetapi tidak berhasil menguasainya, maka biarlah kalian serahkan bocah ini kepadaku dan sebagai upah jerih payah kalian yang sudah dapat menemukannya, biarlah aku tidak membunuh kalian dan kalian boleh pergi dengan aman!"

Ucapan seperti ini bagi telinga Keng Hong merupakan ucapan yang terlalu bocengli dan mau mencari enak perutnya sendiri. Akan tetapi bagi dua orang gadis itu tidak aneh karena mereka sendiri pun sejak kecil dididik untuk membawa pendapat sendiri tanpa mempedulikan kesopanan dan keadilan umum, pendeknya yang benar bagi mereka adalah kalau setiap tindakan ditujukan untuk keuntungan diri pribadi. Karena itu, ucapan nenek ini pun tidak mereka anggap bocengli, bahkan sudah wajar!

Cui Im yang sudah mengenal betapa saktinya Ang-bin Kwi-bo yang merupakan seorang di antara Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding), setingkat dengan gurunya, tidak berani menentang dan hanya menundukan muka tanpa menyerah. Akan tetapi sikapnya berbeda dengan Biauw Eng. Gadis ini adalah puteri Lam-hai Sin-ni, dan karena tugas yang dilaksanakan ini adalah perintah ibunya, maka tentu saja mengandalkan nama besar ibunya yang tidak mau mengalah dan mempertahankan haknya sebagai orang yang menahan Keng Hong.

"Menyesal sekali bahwa terpaksa saya tidak dapat memenuhi kehendak bibi itu, karena tugas ini perintah dari ibu sehingga terpaksa saya harus mempertahankan hak saya atas diri murid Sin-jiu Kiam-ong yang telah kami tawan."

Mendengar ini, Ang-bin Kwi-bo menjadi tercengang dan ia memandang gadis baju putih itu penuh perhatian. Kemudian ia tertawa terkekeh dan berkata, "Eh, kiranya engkau ini puteri Lam-hai Sin-ni? Engkaukah yang membuat nama besar dengan julukan Song-bun Siu-li itu?"

"Benar, bibi. sayalah Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng."

"Hi-hi-hik! Engkau berani melawan aku?"

"Saya harus tahu diri dan saya maklum bahwa bibi bukanlah lawan saya. Seharusnya saya takut melawan bibi, akan tetapi saya lebih takut menghadapi ibu kalau saya melalaikan tugas yang diperintahkannya."

"Bagus! Kalau begitu, biarlah kita menggunakan hak seorang pemenang dan mari kita lihat siapa di antara kita yang akan menang dan berhak atas diri bocah ini!" Sambil berkata demikian, Ang-bin Kwi-bo sudah meloncat ke depan menghadapi Biauw Eng yang sudah siap pula dengan senjatanya. Gadis ini bersikap hati-hati sekali karena ia cukup maklum bahwa ia menghadapi lawan yang jauh lebih tinggi tingkatnya. Namun sedikit pun tidak terbayang rasa gentar pada wajahnya yang cantik namun dingin itu.

"Hi-hi-hik lumayan juga engkau! Agaknya sudah cukup matang sehingga maklum bahwa yang diam lebih kuat daripada yang bergerak, yang diserang lebih untung daripada yang menyerang. Biarlah, kau jaga seranganku!"

Ucapan Ang-bin kwi-bo ini memang berlaku bagi dua orang lawan yang setingkat kepandaiannya, karena dalam ilmu silat, yang diam itu lebih waspada sedangkan si penyerang selalu membuka lubang untuk dirinya sendiri dan penyerangannya membuat kedudukannya agak lemah. Akan tetapi tingkat kepandaian Ang-bin Kwi-bo jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Sie Biauw Eng. Gadis ini paling banyak baru dapat mewarisi setengah kepandaian ibunya, sedangkan tingkat kepandaian Lam-hai Sin-ni yang merupakan orang terpandai di antara empat tokoh datuk sesat, namun tidak banyak selisihnya.

Biarpun Ang-bin Kwi-bo menyatakan hendak menyerang, namun kedua kakinya tidak bergerak maju, juga kedua tangannya tidak bergerak. Yang bergerak hanya kepalanya karena ia menggunakan rambutnya yang riap-riapan itu untuk menyerang! Memang hanya rambut kepala yang menyambar itu, akan tetapi Biauw Eng yang lihai itu sama sekali tidak berani menangkis, maklum bahwa senjata rambut ini merupakan senjata keistimewaan Ang-bin Kwi-bo dan bahwa rambut-rambut halus itu kalau dipergunakan oleh Ang-bin Kwi-bo berubah menjadi rambut-rambut yang kaku kuat melebihi baja!

Biauw Eng mengelak dengan loncatan ringan ke kiri, kemudian sekali pergelangan lengan tangannya bergerak, sinar putih sabuknya sudah meluncur cepat sekali menotok jalan darah maut di tenggorokan nenek iblis itu! Nenek itu sambil terkekeh menangkis totokan ujung sabuk ini dengan tangan kirinya, malah berusaha mencengkram ujung sabuk dengan kuku-kukunya yang panjang. Akan tetapi ujung sabuk sutera itu lemas dan cepat sekali gerakannya, sebelum menyentuh tangan lawan sudah meluncur ke samping lalu melakukan totokan-totokan bertubi-tubi dari jarak jauh. Biauw Eng amat cerdik. Maklum bahwa kelihaian nenek itu terletak pada rambut dan kukunya, ia sengaja menjatuhkan diri sehingga tidak dapat tercapai rambut maupun kuku, sebaliknya ia mengandalkan sabuknya yang panjang untuk menyerang terus secara bertubi-tubi. Setiap kali nenek itu menangkis dan hendak menyengkeram ujung sabuk, sabuk itu sudah melejit pergi untuk menotok lain bagian. Dilihat begitu saja, amatlah menarik pertandingan ini. Ujung sabuk putih itu seolah-olah seekor kupu-kupu putih yang lincah, hinggap di sana-sini dan selalu luput dari cengkeraman tangan Ang-bin Kwi-bo.

Bukan hanya sampai di situ usaha Biauw Eng untuk mengalahkan lawannya yang lihai. Ia harus mengerahkan seluruh kepandaianya dan ia memang bersungguh-sungguh dalam usahanya untuk menangkan perebutan ini betapapun tidak mungkin menurut perhitungan. Selain menghujankan totokan-totokan dari jarak jauh, kini tangan kirinya kadang-kadang bergerak dalam saat-saat yang tak terduga lawan dan meluncurlah senjata rahasianya yang ampuh, yaitu bola-bola putih yang berduri dan kadang-kadang diseling dengan senjata piauw berbentuk tusuk konde putih dengan ukiran bunga bwee. Karena senjata-senjata rahasia ini dilepas dari jarak dekat dan dilontarkan dengan pengerahan tenaga lweekang, juga pada saat yang tidak terduga dan memilih selagi kedudukan tubuh lawan lemah, mau tidak mau Ang-bin Kwi-bo harus mengelak ke sana ke mari sehinga untuk beberapa lama ia seperti terdesak! Ia terdesak bukan karena ilmu silat, melainkan karena kecerdikan lawan yang masih muda itu. Hal ini membuat Ang-bin Kwi-bo menjadi penasaran, malu dan marah sekali.

Ketika nenek iblis ini repot mengelak dari hujan senjata rahasia, Biauw Eng tidak menyia-nyiakan kesempatan, sabuk suteranya mengirim totokan yang amat kuat ke arah ulu hati nenek itu. Dan agaknya nenek yang sedang sibuk mengelak dari sambaran senjata rahasia ini tidak sempat pula mengelakan totokan maut ini sehingga Biauw Eng yang masih muda tidak dapat menahan rasa girangnya. Inilah pantangan bagi seorang yang sedang bertanding. Ibunya sudah menggemblengnya sedemikian rupa sehingga dia menjadi seorang gadis berdarah dingin berurat syaraf baja, tidak dapat digoyangkan oleh segala macam perasaan. Akan tetapi karena sekali ini ia menghadapi lawan yang jauh lebih lihai, begitu melihat betapa ia dapat mendesak, bahkan totokan mautnya hampir mengenai sasaran, Biauw Eng tak dapat menahan kegembiraan hatinya dan hal ini, biarpun hanya sedikit, tetap saja telah mengurangi kewaspadaannya. Dalam kegembiraanya ia lupa bahwa nenek itu amat sakti dan keadaan yang mendesak itu mungkin hanya merupakan siasat yang lihai belaka. Ia sadar setelah terlambat karena ketika totokan ujung sabuknya sudah dekat dengan dada nenek itu, tiba-tiba rambut nenek itu menyambar ke depan dan membelit-belit sabuk sutera putihya!

Biauw Eng terkejut dan terpaksa hendak melepaskan sabuknya, namun sebagian dari rambut nenek itu telah bergerak lagi dan seperti hidup, rambut itu telah menangkap lengan kanannya, membelit bagian pergelangan sehingga sehingga lengan gadis itu seperti diikat kuat-kuat.

"Hi-hi-hik! Engkau berani melawan aku, ya? sebagai puteri Lam-hai-Sin-ni, aku akan mengampuni nyawamu, akan tetapi sebagai seoang gadis yang berani melawanku, kau harus dihukum!"

Biauw Eng maklum bahwa dari seorang nenek seperti ini ia tidak dapat mengharapkan maaf, maka ia pun tidak mau minta maaf , bahkan tiba-tiba ia memukulkan tangan kirinya ke arah lambung nenek itu. Pukulan ini hebat sekali dan biarpun Ang-bin Kwi-bo seorang tokoh besar dalam dunia sesat, akan tetapi kalau pukulan tangan kiri Biauw Eng mengenai lambungnya, tentu ia akan celaka, sedikitnya luka hebat. Akan tetapi pada saat itu, si nenek membuat Biauw Eng tidak berdaya hanya menggunakan rambutnya saja sedangkan kedua tangannya masih menganggur, tentu saja pukulan tangan kiri Biauw Eng ini tidak ada artinya baginya. Sekali tangan kanannya yang berkuku panjang itu bergerak, pergelangan tangan kiri Biauw Eng sudah ia tangkap sehingga gadis itu tidak mampu berkutik lagi!

"Hi-hi-hik! Hukuman apa yang harus kauterima? Tanganmu? Kubuntungkan sebelah tanganmu?" Nenek itu mengancam sambil menyeringai sehingga tampak giginya yang besar-besar.

Sie Biauw Eng yang sudah tak dapat berkutik lagi itu memandang dengan wajah tetap dingin, bahkan mulutnya yang bagus bentuknya itu membentuk senyum mengejek, seolah-olah ancaman itu sama sekali tidak membuat hatinya menjadi jerih.

"Wah, kalau hanya lenganmu yang buntung, tentu iblis betina tua bangka Lam-hai Sin-ni masih dapat menurunkan ilmu untuk sebelah tanganmu lagi. Tdak, lebih baik kakimu yang kubuntungkan sebelah. Dengan hanya sebelah kaki, berdiripun kau takkan tegak. Benar, kubuntungkan saja kakimu sebatas paha, hi-hi-hik, dan setiap orang laki-laki akan jijik melihat kakimu yang buntung, heh-heh-heh!"

"Tidak! Tidak boleh kaulakukan itu, bibi Ang-bin Kwi-bo!" Tiba-tiba Bhe Cui Im membentak marah dan dengan nekat gadis ini sudah menerjang dari belakang tubuh nenek itu untuk menolong sumoinya. Karena pedangnya sudah hilang ketika tadi dirampas dan dibuang Keng Hong, kini Cui Im menyerang dengan tangan kosong, akan tetapi biarpun hanya memukul dengan tangan kosong, gadis ini diam-diam telah melumuri kedua tangannya dengan racun yang selalu dibawa-bawanya, sesuai dengan julukannya Dewi Racun ! Kini kedua tangannya itu mengeluarkan asap hijau dan racun yang dipakai di kedua tangannya amat jahat karena jangankan sampai lawan yang terpukul robek kulitnya sehingga racun itu dapat meracuni darah, bahkan baru tersentuh saja, racun ini dapat meresap melalui lubang-lubang kulit dan membuat daging menjadi membusuk dalam waktu singkat! Kini gadis ini menerjang nenek itu dari belakang, mencengkram tengkuk dengan tangan kiri dan menghantam lambung dengan tangan kanan.

Ang-bin Kwi-bo mendengus marah, tangan kirinya bergerak ke belakang dan kakinya diputar sedikit. Ketika tangan kirinya itu dengan jari-jari terpentang lebar ia dorongkan ke depan, menyambarlah angin pukulan yang hebat, lima buah kuku jarinya tergetar mengeluarkan suara dan tercium bau yang aneh sekali, ada bau harum ada yang amis, dan ada pula yang berbau bangkai. Hebatnya, tubuh Bhe Cui Im terhuyung-huyung mundur seperti terbawa angin badai, terdengar gadis ini memekik dan Cui Im roboh sambil merintih-rintih dan dengan kedua tangan menggigil dan gadis ini cepat merobek bajunya dan tampaklah sebagian dadanya berwarna biru! Dengan tangan masih menggigil, Cui Im mencari-cari dalam saku bajunya, menemukan bungkusan yang dicarinya, membukanya dan dengan jari-jari tetap menggigil ia segera menelan tiga butir pil berwarna hijau, kuning dan merah!

“Hi-hi-hik! Engkau bocah lihai, dapat menahan sedikit dorongan Ban-tok-sin-ciang (Tangan Sakti Selaksa Racun). tentu Engkau yang disebut Ang-kiam Tok-sian-li Si Dewi Racun!"

Keadaan Cui Im tidak terlalu menderita lagi. Dia masih lemas, akan tetapi telah dapat bangkit dan duduk bersila, mengatur napas. Tiga buah pil yang ditelannya itu mempunyai khasiat yang amat manjur, dapat memunahkan segala macam racun yang bagaimana jahat pun.

Ang-bin Kwi-bo kini kembali menghadapi Biauw Eng yang sejak tadi hanya memandang semua itu dengan mata tidak peduli. Baginya, majunya Cui Im untuk membantunya sudah sewajarnya, dan robohnya Cui Im pun bukan hal yang aneh. Dia sendiri tak mampu berkutik, apalagi yang dapat ia lakukan? Tidak lain hanya menanti datangnya hukuman yang ia tahu pasti amat mengerikan. Akan tetapi sebagai puteri Lam-hai Sin-ni, terutama sekali sebagai seorang tokoh muda yang berjuluk Song-bun Siu-li, dia harus menjaga nama dan akan menghadapi semua itu dengan mata tak berkedip.

"Heh-heh-heh, sekarang kau boleh pilih, Song-bun Siu-li! Lebih baik kubuntungkan sebelah lenganmu, ataukah sebelah kakimu?"

"Ang-bin Kwi-bo, aku sudah kalah olehmu, Mau membuntungi lengan, kaki atau leher, terserah! Di sana masih ada ibuku yang kelak akan mencarimu untuk menagaih hutang berikut bunga-bunganya!"

Ang-bin Kwi-bo menjadi marah sekali. Sudah menjadi kesukaan para tokoh sesat terutama Bu-tek Su-kwi empat datuk besar kaum sesat untuk melihat calon korban mereka merengek-rengek minta ampun dan merintih-rintih oleh siksaan, maka kini menyaksikan sikap Biauw Eng yang malah menantang dan wajah yang cantik itu tetap dingin dan senyumnya mengejek, nenek itu menjadi penasaran sekali dan merasa terhina. Alangkah akan malunya dan rendah namanya kalau ada yang melihat betapa Ang-bin Kwi-bo yang terkenal itu kini malah diejek oleh seorang tawanannya, seorang gadis muda! kalau begitu percuma saja ia menjadi seorang di antara empat iblis yang sepatutnya membuat semua orang yang mendengar namanya menggigil ketakutan. Bocah ini telah berada di ambang siksaan , akan dibuntungi kaki tangannya, bukannya takut malah mengejek dan menantang!

"Heh-heh-heh, siapa takut terhadap Lam-hai Sin-ni? Suruh dia datang! Kalau aku sudah dapat memiliki kitab-kitab Sin-jiu Kiam-ong, biar ada sepuluh Lam-hai Sin-ni, aku tidak takut. Eh, kau tidak gentar dibuntungi kaki atau tanganmu? Apakah yang paling berharga bagimu? Wajahmu begini cantik..... hemmm, dahulu aku pun cantik sekali melebihimu, dan ribuan orang laki-laki jatuh bertekuk lutut di depan kakiku, mengagumi dan mencintaiku! Hi-hi-hik, apakah yang lebih berharga bagi wanita kecuali kecantikannya? Kata orang, kecantikan jasmani hanya setebal kulit, akan tetapi tanpa adanya kecantikan jasmani, mana mungkin hati pria dapat bangkit seleranya? Memang setebal kulit karena kalau kulit mukamu yang cantik ini, yang halus putih kemerahan dan hangat, kubuang, kukupas, apa yang tinggal? hanya tengkorak dengan daging membusuk! Ihhh, kau menjadi pucat? Bagus, ini tandanya kau mengenal takut, hi-hi-hik!" Nenek iblis itu terkekeh-kekeh, mulai senang hatinya karena ia mulai dapat menyiksa hati gadis itu. Biauw Eng mulai berdebar jantungnya karena ngeri. Dia tidak takut disiksa, tidak takut mati, akan tetapi bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis remaja, seorang gadis muda yang tentu saja sadar akan kecantikannya dan merasa ngeri mendengar ancaman ini. Namun ia memaksa diri tersenyum mengejek dan berkata.

"Lakukanlah, Ang-bin- Kwi-bo! kupaslah kulit mukaku sampai menjadi seburuk-buruknya! Akhirnya toh aku mati dan setelah menjadi mayat, apa bedanya cantik atau tidak?"

Ucapan ini keluar dari hatinya sehingga mengusir bayangan ngeri dari wajahnya. Hal ini membuat nenek ini mencak-mencak saking marahnya. "Baik, kalau begitu aku tidak akan membuatmu mati! Kalau dikupas semua kulit mukamu, tentu kau akan mampus. Terlalu enak buatmu! Aaahhhhh, aku pernah melihat seorang wanita yang menderita sakit kotor sehingga hilang hidungnya dan bibirnya. Hidungnya hanya merupakan sebuah lubang dan mulutnya juga sebuah lubang melompong. Lalat-lalat keluar masuk melalui lubang-lubang hidung dan mulut. Dan dia tidak mati! Hi-hi-hik, benar sekali. Kalau kupotong hidungmu yang kecil mancung ini, dan kukerat habis sepasang bibirmu yang begini penuh, halus kemerahan membuat hati laki-laki ingin sekali mencium menggigitnya, kau tentu akan menjadi seperti dia ! Kalau hidung dan mulutnya sudah menjadi dua lubang yang dirubung lalat, biarpun bagian tubuhnya yang lain amat bagusnya, laki-laki mana yang akan tertarik? Mereka akan menjadi jijik sekali, melihat pun akan muntah! Hi-hi-hik, menangislah, berteriaklah, aku tetap akan melakukan hukuman ini, hi-hi-hik!"

Iblis betina itu berjingkrak-jingkrak sambil terkekeh-kekeh karena kini Baiuw Eng menjadi pucat sekali dan dari sepasang matanya mengalir air mata! Belum pernah selama hidupnya Biauw Eng menangis karena ngeri dan takut, dan sekali ini ia benar-benar menjadi ketakutan karena tidak tahan mengingat ancaman yang amat mengerikan itu.

"Heh-heh-heh! Biar kupandang mukamu sampai puas dulu agar aku nanti ingat betapa cantiknya engkau sebelumnya. Julukanmu Siu-li (Perawan Jelita), sungguh tepat! Cantik sekali kau! Sekarang, mana yang lebih dulu dipotong? Hidungmu atau bibirmu? Hudungmu saja agar bibirmu dapat menjerit-jerit, kemudian bibirmu. Wah, kuku tanganku sudah gatal-gatal, kini mendapat makanan empuk, hidung mancung bibir merah. Hi-hi-hik!" Nenek sudah mendekatkan tangan kirinya ke depan hidung Biauw Eng, dan gadis ini meramkan matanya, mukanya pucat, napasnya terengah-engah dan dadanya terisak menangis. Sudah tercium olehnya bau kuku-kuku tangan kiri nenek itu dan ia menahan napas, hampir pingsan ketika kuku-kuku itu sudah menyentuh cuping hidungnya. Agaknya nenek itu sengaja berlaku lambat agar lebih banyak ia dapat menikmati siksaan ini. Cui Im yang masih duduk dengan tubuh lemas memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.

"Iblis kejam.....!!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring sekali dan Keng Hong telah meloncat tinggi dan dari atas ia mengirim serangan dorongan dengan kedua tangan ke arah punggung nenek itu. Tadi ia menjadi marah dan khawatir sekali menyaksikan keadaan Biauw Eng. Biarpun dia tadinya tak mampu bergerak karena totokan yang istimewa dari nenek itu membuat tubuhnya kaku, namun sinkang di tubuhnya yang hebat luar biasa itu terus mendesak-desak dan akhirnya, dalam saat terakhir bagi keselamatan Biauw Eng, dia berhasil membebaskan diri dari totokan itu dan serta merta dia meloncat dan menyerang. Dalam kemarahannya, dia langsung menggunakan jurus Siang-in-twi-san, yaitu jurus ke tiga dari ilmu silat tangan kosong satu-satunya yang dia kenal, San-in-kun-hoat. Serangannya hebat sekali karena kedua lengannya penuh dengan hawa sinkang yang amat kuat. Nenek yang sakti itu terkejut mendengar desir angin serangan yang demikian hebatnya, maka cepat ia menarik kedua tangannya dari Biauw Eng, tubuhnya membalik dan tangannya menangkis.

"Plak-plakkk.....!!"

"Aiiihhh.....!!" Ang-bin Kwi-bo menjerit kaget ketika tubuhnya tergetar dan ia dipaksa untuk mundur sampai tiga langkah ke belakang. Apalagi ketika ia melihat betapa pemuda yang menyerangnya itu hanya terhuyung sedikit oleh tangkisannya, sama sekali tidak terpengaruh oleh tangkisan kedua tangannya, benar-benar ia tercengang. Akan tetapi hatinya girang sekali karena hal ini hanya membuktikan betapa hebatnya ilmu kepandaian Sin-jiu Kiam-ong yang dalam waktu beberapa tahun saja dapat melatih muridnya selihai ini. Ia percaya bahwa kalau ia sampai berhasil menguasai kitab-kitab peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, pasti ia akan menemukan ilmu-ilmu yang hebat.

"Heh-heh-heh, bocah hebat engkau! Bagaimana kau berhasil membebaskan totokanku?" Memang hal ini saja sudah menimbulkan keheranan dan kekaguman luar biasa bagi Ang-bin Kwi-bo. Jarang di dunia ini ada tokoh yang dapat membebaskan totokannya, kecuali orang-orang yang setingkat dengan dia seperti ketiga datuk hitam yang lain.

Akan tetapi Keng Hong tidak memperhatikan nenek itu karena dia melihat betapa tubuh Biauw Eng menjadi limbung dan hampir roboh. Cepat dia melangkah maju dan berhasil memeluk pundak gadis itu sehingga Baiuw Eng tidak sampai roboh. Gadis ini merintih perlahan, terhimpit rasa ketegangan yang amat hebat sehingga setelah ia terbebas daripada ancaman yang lebih hebat daripada maut tadi, ia menjadi lemas sekali. Ketika ada orang memeluknya, ia merintih dan membuka matanya perlahan. Melihat bahwa yang memeluknya dan memandangnya penuh rasa iba itu adalah pemuda yang telah membebaskannya daripada siksaan hebat, ia balas memeluk dan membenamkan mukanya di dada Keng Hong. Sejenak keduanya berpelukan ketat, dan Keng Hong merasa betapa jantungnya berdebar. Sama sekali tidak bangkit nafsunya terhadap gadis ini seperti ketika dia memeluk Cui Im, yang ada hanya rasa kasihan dan sayang.

".... Terima kasih...." Ucapan ini perlahan sekali, merupakan bisikan yang hampir tak bersuara, namun mendatangkan rasa lega dan puas di hati Keng Hong dan dia tersenyum.

"Hi-hi-hik! Presis Sin-jiu Kiam-ong! Gurunya pemogoran, muridnya hidung belang! Heh-heh-heh, setiap orang wanita tentu akan jatuh hati kepada bocah ini."

Ucapan Ang-bin Kwi-bo menyadarkan Biauw Eng dan sekali rengut ia melepaskan dirinya dari pelukan Keng Hong, lalu mencelat ke belakang dengan muka pucat dan mata terbelalak. Ia tidak merasa malu, hanya merasa heran terhadap diri sendiri mengapa ia mempunyai perasaan seperti ini! Padahal selama hidupnya ia digembleng oleh ibunya agar jangan jatuh hati pada pria manapun. Dan selamanya ia tidak pernah memikirkan pria. Sekarang, tannpa disadari ia tadi telah memeluk pemuda itu dengan mesra, di depan mata orang-orang lain pula!

"Ha-ha-ha, Sumoi, betul tidak kataku? Hati-hati terhadap dia, aku akan pulas dalam pelukannya yang nyaman......!"

"Suci, tutup mulutmu.....!!" Bentakan ini mengandung kemarahan yang membuat Cui Im tak berani bersuara lagi, akan tetapi mulut wanita ini tersenyum dan pandang matanya terhadap Biauw Eng mengandung sesuatu yang aneh.

Akan tetapi Ang-bin Kwi-bo kini sudah menghadapi Keng Hong dan sambil tertawa ia berkata, "Bocah, aku masih ingat kepadamu. Sejak kecil engkau sudah hebat, berani meniup suling mengacaukan pertandingan kami melawan Sin-jiu Kiam-ong.”

"Ang-bin Kwi-bo, aku pun masih ingat kepadamu ketika engkau dengan iblis-iblis lain secara tiak tahu malu mengeroyok mendiang suhu. Dan sekarang engkau hendak menyiksa seorang gadis muda. Benar-benar engkau keji dan jahat seperti iblis sendiri!"

Nenek itu tertawa-tawa dengan hati girang. Maki-makian yang menunjukan betapa kejam dan jahatnya bagi telinganya merupakan puji-pujian yang membesarkan hati. "Hi-hi-hik, dan aku dapat lebih kejam lagi kalau kau tidak menurut kepadaku. Kau harus ikut aku dan membawaku ke tempat penyimpanan pusaka peninggalan gurumu."

"Aku tidak sudi!"

"Aku akan memaksamu, bocah keras kepala!"

"Dipaksa juga aku tetap tidak dapat menunjukan tempat itu!"

"Aku akan menyiksamu, membuat kau mati tidak hidup pun tidak, menjadi tiga perempat mati dan yang seperempat hanya kubiarkan hidup untuk mengalami derita yang hebat!" Nenek itu mengancam dengan suara marah.

"Percuma, biar disiksa sampai mati pun tidak ada gunanya karena aku sendiri tidak tahu dimana tempat yang kau maksudkan itu."

"Bohong.....!"

"Sudahlah! Percaya atau tidak terserah, aku tidak ada waktu lebih lama lagi untuk melayani ocehanmu. Aku pergi!" Setelah berkata demikian, Keng Hong meloncat dan lari pergi dari situ. Akan tetapi tampak bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu nenek itu telah berdiri menghadang di depannya. Keng Hong kaget dan kagum. Ginkang dari nenek ini benar-benar mengejutkan, seperti terbang saja ketika mendahuluinya dan menghadang.

"Kau mau apa?" tanya Keng Hong.

"Kau harus ikut bersamaku!"

Keng Hong teringat akan pesan suhunya. Suhunya pernah menyatakan bahwa di dunia persilatan banyak sekali orang pandai yang takkan terlawan olehnya, terutama sekali orang-orang seperti Bu-tek Su-kwi yang berilmu tinggi. Hanya kalau dia sudah mempelajari kitab-kitab peninggalan suhunya, barulah dia akan cukup kuat untuk menghadapi mereka, demikian pesan suhunya. Dan sekarang dia berhadapan dengan seorang di antara mereka! Sayang pedang Siang-bhok-kiam tidak berada di tangannya. Kalau dia bersenjatakan pedang itu, ingin dia mencoba ilmu pedangnya Siang-bhok Kiam-sut melawan nenek yang lihai bermain silat dengan senjata rambut dan kuku-kukunya ini! Betapun juga, dia harus melawannya.

"Aku tidak sudi."

"Hi-hi-hik, kaukira aku tidak dapat memaksamu? Kaukira dengan sedikit kepandaianmu itu engkau akan dapat menentang Ang-bin Kwi-bo? Hi-hi-hik!"

"Aku tidak dapat!" bentak Keng Hong dan pemuda ini sudah menerjang maju, membuat gerakan melingkar dengan kedua tangan yang diputar dari atas kepala terus ke bawah, cepat sekali sehingga kedua lengannya merupakan gulungan sinar putih, kemudian dari gumpalan sinar ini menyambarlah kedua pukulannya bertubi-tubi. Ia telah memainkan jurus ke lima dari ilmu silatnya, yaitu jurus San-in-ci-tian (Awan Gunung Mengeluarkan Kilat). Angin pukulan kedua tangannya yang mengandung tenaga sinkang itu sampai mengeluarkan suara menderu dan rambut riap-riapan serta baju nenek itu berkibar-kibar disambar angin pukulan.

"Pukulan yang aneh dan hebat.....!" Nenek itu berseru gembira sekali karena harus ia akui bahwa sebanyak itu ia mengenal ilmu silat pelbagai aliran, belum pernah ia menyaksikan jurus pukulan yang dipergunakan pemuda ini. Sebagai seorang hali, ia segera dapat menilai bahwa jurus ini hebat sekali, mengandung segi yang rumit dan dahsyat, akan tetapi hanya tenaga pemuda ini saja yang hebat luar biasa, namun gerakannya belum "matang". Oleh karena itu, dengan mudah ia menghindarkan diri sambil meloncat ke kanan, kemudian membalik ke kiri cepat sekali dan rambutnya sudah menyambar ke arah leher Keng Hong!

Kalau diukur tentang ilmu silatnya, tentu saja Keng Hong kalah jauh, maka ketika serangannya itu selain gagal juga dia dibalas secara kontan, pemuda ini menjadi sibuk menangkis dengan kebutan tangannya. Hebat memang tenaganya, karena angin tangkisannya dapat membuat rambut nenek itu buyar, kemudian dia meloncat ke depan dan dari atas dia mengirim pukulan dengan jurun Siang-in-twi-san. Serangan ini pun hebat sekali dan nenek iblis itu makin gembira. Mula-mula yang akan dipelajarinya adalah jurus-jurus ini, pikirnya. Kalau dia sudah memahami jurus-jurus seperti ini, kemudian dia yang memainkannya tentu akan hebat sekali daya serangnya dan sukarlah tokoh-tokoh tandingannya akan mampu menangkisnya! Kini ia secara tiba-tiba menggulingkan tubuhnya dan selagi tubuh Keng Hong yang menyambar lewat itu meluncur di atas kepalanya, ia mengulur kedua tangan mencengkram ke arah kaki Keng Hong!

Keng Hong terkejut sekali, lalu mengerahkan sinkangnya dan tubuhnya mencela ke atas. Gerakan ini bukan main cepatnya, digerakan oleh tenaga ginkang yang tinggi sehingga dia dapat menghindarkan kedua kakinya dari cengkraman. Akan tetapi begitu dia meloncat turun, kedua tangan nenek itu sudah menerjangnya dengan pukulan Ban-tok-sin-ciang!

"Rebahlah!" teriak si nenek yang ingin cepat-cepat merobohkan Keng Hong untuk dapat dibawa lari karena ia khawatir kalau-kalau kedua orang anak murid Lam-hai Sin-ni itu datang membantu, dan lebih khawatir lagi kalau-kalau ada datang tokoh-tokoh lain yang ia tahu juga berusaha mendapatkan pemuda murid Sin-jiu Kiam-ong ini.

Keng Hong merasa betapa sebuah tenaga raksasa mendorongnya, didahului bau yang harum dan amis. Cepat dia menahan napasnya, mengerahkan sinkangnya dan menangkis dengan tangan digerakan dari samping.

"Desssss!!" Sekali ini tubuh Keng Hong yang terhuyung-huyung ke belakang dan nenek itu yang merasa betapa kedua tangannya tergetar, cepat menggerakan kepalanya dan rambutnya yang riap-riapan itu terpecah menjadi tujuh buah pecut yang menyambar dan menotok tujuh jalan darah di bagian atas tubuh Keng Hong!

Pemuda itu terkejut sekali karena tidak mungkin dia menghindarkan diri dari tujuh totokan sekaligus itu, dia cepat mengerahkan sinkang di tubuhnya dan menutup jalan-jalan darah yang tertotok. Ujung-ujung rambut itu mengenai sasaran dan membalik bertemu dengan tubuh Keng Hong, akan tetapi pemuda itu merasa tubuhnya seperti disambar petir dan dia terguling roboh. Baiknya dia terus bergulingan karena seandainya tidak, tentu dia kena totok oleh Ang-bin Kwi-bo yang sudah menubruknya. Keng Hong mencelat berdiri dan kepalanya terasa pening, dan biarpun dia tidak terpengaruh oleh totokan-totokan itu, namun tubuhnya terasa kesemutan dan kepalanya pening. Ia melihat wajah nenek yang tertawa-tawa itu berubah menjadi dua dalam pandang matanya yang berkunang.

"Keng Hong, pergunakan ilmu tempelmu!" Tiba-tiba Cui Im berteriak. Gadis ini sudah terbebas daripada pengaruh pukulan beracun tadi, akan tetapi masih lemah. Adapun Biauw Eng sejak tadi hanya memandang dan wajahnya sudah membayangkan sikapnya yang dingin lagi. Hal ini adalah karena ia masih merasa terguncang oleh perasaan hatinya sendiri yang tak dapat ia sangkal bahwa ia mencinta pemuda itu!

Mendengar teriakan Cui Im itu, Keng Hong yang masih pening dan belum dapat menggunakan pikirannya dengan baik itu segera menubruk maju, melakukan serangan dan kembali ia telah menggunakan jurus ke tiga, yaitu Sian-in-twi-san. Sekali ini, mendengar seruan Cui Im tadi, Ang-bin Kwi-bo sengaja memakai kedua tangan Keng Hong yang terbuka dan mendorongnya itu dengan kedua tangannya sendiri.

"Plakkk......!!" Dua pasang telapak tangan itu bertemu di udara. Hebat bukan main tenaga sinkang Ang-bin Kwi-bo sehingga tubuh Keng Hong untuk beberapa detik lamanya tersangka di udara oleh sepasang tangannya. Setelah tubuh Keng Hong makin turun dan akhirnya kedua kakinya menyentuh tanah, barulah Ang-bin Kwi-bo mengeluarkan seruan keras.

"Kau faham Thi-khi-i-beng....?" Seruan ini adalah seruan terheran-heran, juga seruan girang sekali. Cepat sekali wanita yang telapak tangannya sudah melekat dengan tangan Keng Hong dan mulai tersedot hawa sinkangnya itu, menggerakan kepalanya dan rambutnya terpecah menjadi dua bagian melakukan totokan ke arah kedua pergelangan tangan Keng Hong.

Pemuda itu merasa betapa kedua tangannya tiba-tiba menjadi kesemutan sehingga daya sedotnya berkurang dan pada saat itulah Ang-bin Kwi-bo merenggut kedua tangannya terlepas, kemudian sekali lagi rambutnya mengirimkan totokan selagi Keng Hong masih belum siap-siap sehingga pemuda itu terkena totokan pada kedua pundaknya sehinga tiba-tiba dia menjadi lemas! Pada detik lain tubuhnya sudah disambar oleh Ang-bin Kwi-ong yang tertawa terkekeh-kekeh girang sekali. Dalam diri pemuda ini saja sudah terdapat ilmu-ilmu pukulan yang amat hebat ditambah dengan ilmu Thi-khi-i-beng yang kabarnya sudah lenyap dari dunia persilatan! Kalau dia bisa mendapatkan dua macam ilmu itu saja, dilatihnya sempurna, ia akan menjadi tokoh nomor satu di antara Empat Datuk!

"Ang-bin Kwi-bo, dia tawananku, lepaskan!" Tiba-tiba Biauw Eng berseru nyaring dan gadis ini sudah menyerang dengan sabuk sutera putihnya. Ujung sabuk meluncur cepat dari atas dan bagaikan seekor ular panjang, sabuk itu kini "mematuk" ke arah ubun-ubun kepala Ang-bin Kwi-bo. Inilah serangan yang amat berbahaya, serangan maut! Ang-bin Kwi-bo maklum akan bahayanya serangan ini, maka ia cepat menggunakan tangan kananya untuk mencengkram ke arah ujung cambuk, sedangkan lengan kirinya mengempit dan melingkari pinggang Keng Hong. Cengkraman itu luput karena sabuk sudah disendal oleh Biauw Eng, akan tetapi nenek itu melanjutkan tangan kanannya dengan serangan jarak jauh, mendorongkan tangannya itu dengan ilmu Ban-tok-sin-ciang ke arah Biauw Eng. Gadis ini yang sudah mengalami sendiri betapa hebatnya pukulan nenek itu, cepat mengelak ke samping dan kesempatan ini dipergunakan oleh Ang-bin Kwi-bo untuk meloncat pergi. Murid Sin-jiu Kiam-ong sudah berada ditangannya, dia tidak mau melayani puteri Lam-hai Sin-ni lebih lama lagi.

Akan tetapi tiba-tiba tampak berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang nenek berpakaian putih yang bertubuh tinggi kurus telah berdiri di depan Ang-bin Kwi-bo dengan sikap angkuh dan dingin. Nenek ini usianya sebaya dengan Ang-bin Kwi-bo, namun berbeda dengan Ang-bin Kwi-bo yang berwajah menyeramkan dan buruk, nenek ini jelas menunjukan bahwa dahulunya tentu mempunyai wajah yang cantik sekali. Tubuhnya yang tinggi kurus masih membayangkan bentuk tubuh yang ramping, dan gerak-geriknya halus.

"Kwi-bo, sungguh tidak malu kau menghina orang-orang muda!" Wanita tua ini menegur dengan suara halus namun nadanya dingin sekali, kemudian nenek itu menggerakan tangan kanan sambil berkata lagi, "Kau ingin merasa Thi-khi-i-beng? Nah, terimalah ini!" Biarpun gerak-geriknya halus, akan tetapi tangan nenek itu cepat sekali gerakanya sampai tak dapat diikuti pandangan mata dan tahu-tahu telapak tangan nenek ini sudah mengancam muka Ang-bin Kwi-bo!

Ang-bin Kwi-bo terkejut dan cepat ia mengangkat tangan kanan menangkis sambil mengerahkan tenaga Ban-tok-sin-ciang.

"Plakkk!" Kedua tangan bertemu dan akibatnya membuat Ang-bin Kwi-bo menggereng marah karena tangannya sudah tertempel dan biarpun tenaga sedotnya tidak sehebat tenaga sedot yang keluar dari tubuh Keng Hong tadi, akan tetapi kini mulai terasa betapa sinkangnya tersedot oleh nenek itu. Ang-bin Kwi-bo mengerti bahaya. Kalau dia tertempel dan tersedot oleh Keng Hong masih mudah baginya untuk membebasakan diri, akan tetapi nenek ini amat lihai sehingga dengan hanya sebelah tangan saja akan sukarlah baginya menyelamatkan diri. Cepat Ang-bin Kwi-bo melepaskan tubuh Keng Hong yang dikepit lengan kirinya, kemudian ia memutar tubuh dan menggunakan tangan kirinya yang dibuka jari-jarinya mencengkram ke arah dada lawan. Buka hanya tangan kirinya yang mencengkram, juga kepalanya sudah bergerak dan bagaikan ular-ular hitam yang banyak sekali, rambutnya meluncur ke depan dan

Menghadapi serangan yang ganas dan amat banyak ini nenek itu tetap tenang, mengunakan tangan kanannya untuk diputar membentuk lingkaran yang melindungi tubuh. Putaran tangannya ini mendatangkan hawa berputar di depan tubuhnya sehingga serangan rambut-rambut kepala Ang-bin Kwi-bo dapa digagalkan semua karena rambut-rambut itu menjadi buyar bertemu dengan hawa putaran tangan ini, sedangkan cengkraman itu sendiri dapat disampok oleh tangan kanan si nenek sakti. Akan tetapi karena sebagian tangannya dikerahkan untuk menghadapi serangan yang ganas itu, tenaga sedotnya berkurang dan sekali renggut Ang-bin Kwi-bo berhasil membebaskan diri lalu meloncat mundur dengan muka beringas.

Sementara itu, Keng Hong sudah berhasil membebaskan diri dari totokan dan Cui Im sudah cepat-cepat menghampirinya, akan tetapi pemuda ini tidak mempedulikan sikap Cui Im yang memikat, karena pada saat itu perhatiannya ditujukan kepada nenek yang berhadapan dengan Ang-bin Kwi-bo.

"Lam-hai Sin-ni! Baru saja akan telah mengampuni puterimu dan tentu dia kini sudah menjadi mayat kalau tidak melihat hubungan segolongan. Akan tetapi sekarang datang-datang kau menyerangku, sungguh engkau tidak mengenal persahabatan!" Teriak Ang-bin Kwi-bo dengan nada marah.

"Dia bohong, Subo!" Cui Im berteriak. "Kalau tidak ada Keng Hong murid Sin-jiu Kiam-ong ini yang membantu, teecu dan sumoi tentu telah dibunuhnya! Dia telah menghina teecu berdua, juga telah menghina nama subo!"

Nenek tinggi kurus yang ternyata adalah tokoh yang paling lihai dari Bu-tek Su-kwi dan bejuluk Lam-hai Sin-ni hanya memandang kepada Ang-bin Kwi-bo, kemudian berkata.

"Ang-bin Kwi-bo, engkau di timur, Pak-san Kwi-ong di utara, Pat-jiu Sian-ong di barat dan aku di selatan, masing-masing tidajk saling mengganggu selama puluhan tahun. Sungguhpun kini timbul urusan memperebutkan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, seharusnya dilakukan secara terbuka dan mengandalkan kepandaian. tidak semestinya engkau mengganggu anak-anak kecil. Kalau engkau hendak memamerkan Ban-tok-sin-ciang, majulah. Aku lawanmu!"

Melihat sikap yang dingin ini, Ang-bin Kwi-bo menjadi gentar. Memang dia telah mengenal siapa adanya datuk hitam dari selatan ini, yang sejak dahulu amat terkenal kesaktiannya dan ia tidak mempunyai harapan untuk menang. Apalagi ia melihat betapa di situ terdapat Ang-kiam Tok-sian-li Cui Im, dan Song-bun Siu-li Biauw Eng yang kalau membantu lawan tentu membuat dia lebih berat menghadapinya, belum lagi pemuda aneh itu yang memiliki ilmu mujijat dan tentu saja akan membantu kedua orang gadis cantik itu. Ang-bin Kwi-bo buka seorang bodoh. Dia adalah seorang tokoh besar yang sudah matang pengalamannya. melihat keadaan tidak menguntungkan ini, ia lalu ketawa mengejek.

"Hi-hi-hik, Lam-hai Sin-ni. Siapa sih takut menghadapimu? Kepandaian kita satu kati delapan tail (seimbang), dan terbukti tadi aku mampu melawan Thi-khi-i-beng yang kau miliki. Kau tunggu saja, akan tiba saatnya aku datang menantangmu dalam sebuah pertandingan yang menentukan. Sampai jumpa!!" Setelah berkata demikian, tubuh Ang-bin Kwi-bo berkelebat dan lenyap dari tempat itu. Dengan ucapan ini, biarpun ia melarikan diri, namun tidak karena kalah bertanding atau memperlihatkan rasa jerihnya.

Lam-hai-Sin-ni bersikap dingin sekali dan kini mengertilah Keng Hong mengapa Biauw Eng yang cantik manis itu memiliki sikap dingin seperti es. Kiranya ibunya pun seperti manusia es, sehingga nona itu mewarisi sikap ibunya. pakaiannya serba putih seperti orang berkabung , sikapnya dingin, wajah tidak pernah menyinarkan perasaan hati. Benar-benar ibu dan anak ini mengerikan, lebih mengerikan daripada wajah Ang-bin Kwi-bo yang buruk dan wataknya yang kasar. Kini Lam-hai Sin-ni membalikan tubuhnya berlahan menghadapi Keng Hong. kalau tadi ketika menghadapi pandang mata penuh kekejaman dari Ang-bin Kwi-bo pemuda ini tidak merasa gentar, kini berhadapan dengan pandang mata itu, dia merasa bulu tengkuknya meremang. Pandang mata nenek ini seolah-olah terasa olehnya, merayap bagaikan seekor laba-laba di seluruh badan, dingin dan meggelikan.

"Engkau murid Sin-jiu Kiam-ong?" Suara Lam-hai Sin-ni halus, namun mengandung tenaga yang mendorong dan memaksa orang harus menjawab sebenarnya karena pandang mata yang dingin itu penuh ancaman.

"Benar, Locianpwe," jawab Keng Hong singkat sambil menentang padang mata yang dingin itu.

Dengan sikap tetap dingin, gerakan tangan lemah lembut, dan suara halus nenek itu menggerakan tangan kanannya seperti orang minta sesuatu, "Berikan kepadaku pedang Siang-bhok-kiam."

Keng Hong mengerutkan alisnya. Semua orang minta pedang itu dengan cara dan sikap mereka masing-masing, ada yang kasar, ada yang buas, ada pula yang halus seperti sikap nenek ini, namun baru sekarang Keng Hong merasa seram. Sikap nenek ini benar-benar mendatangkan rasa dingin di tengkuknya.

"Siang-bhok-kiam tidak ada pada saya, Locianpwe."

"Hemmm, di mana....?"

"Pedang itu dirampas oleh para tosu Kun-lun-pai."

"Bohong!" Tiba-tiba nenek itu menggerakan tangan kanan yang terulur tadi, telunjuknya menuding ke arah Keng Hong dan terdengarlah bunyi bercuitan ketika serangkum tenaga yang luar biasa menuju ke arah dada Keng Hong seperti sebatang pedang yang menusuk. Keng Hong terkejut sekali, cepat mengibas dengan tangannya sambil membanting tubuh ke kanan terus bergulingan. Tangannya tadi dapat menangkis hawa pukulan yang amat kuat seperti pedang akan tetapi tubuhnya terguling-guling dan akhirnya dia dapat meloncat bangun dengan keringat dingin membasahi lehernya. Bukan main, pikirnya. Selama hidupnya baru dua kali ini dia menyaksikan ilmu sehebat itu. Pertama-tama dia melihat betapa di Kun-lun-san, Kiang Tojin pernah melakukan totokan terhadap Cui Im dari jarak jauh, hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh nenek ini terhadap dirinya. Ia menjadi penasaran sekali karena dapat menduga bahwa serangan itu sesungguhnya adalah sebuah pukulan maut. Kiranya nenek yang halus bicaranya, halus pula gerak-geriknya, yang berwajah dingin ini tanpa sebab hendak membunuhnya begitu saja dengan darah dingin pula! Agaknya dalam hal kekejaman Lam-hai Sin-ni tidak mau kalah oleh para datuk hitam yang lain!

"Hemmm, sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong engkau boleh juga, dapat mengelak dari seranganku. Akan tetapi engkau membohong, dan ini tidak patut karena gurumu itu selama hidup tidak pernah membohong! Hayo lekas serahkan pedang itu atau jangan harap kau akan dapat mengelak terus!"

Hemmm, pikir Keng Hong. Mungkin dahulu suhu tidak pernah membohong, dan hal itu tentu saja dapat dilakukan karena suhunya sudah memiliki kepandaian amat tinggi. Bagi dia sendiri, kalau tidak mau membohong, bagaimana akan dapat menyelamatkan diri? Membohong tidak apa asal jangan menipu, membohong asal tidak merugikan lain orang, kadang-kadang malah amat perlu!

"Saya tidak membawa pedang itu, Locianpwe, sudah diambil oleh Kiang Tojin dari Kun-lun-pai!"

"Wuuutttt..... Wuuuttt.....!" Kedua tangan nenek itu melakukan gerakan mendorong dua kali ke arah Keng Hong. pemuda itu cepat mengelak dan mengibaskan tangan. Kembali hawa sinkang di tubuhnya berhasil menangkis angin pukulan nenek itu yang amat hebat, namun tetap saja dia terjengkang dan terguling-guling saking hebatnya tenaga dorongan angin pukulan Lam-hai Sin-ni.

"Kau.... kau berani melawan.....?" Nenek itu menjadi marah dan baru sekarang ia melangkah maju, hendak menyerang dari jarak dekat karena dua kali serangannya dari jauh gagal.

"Ibu! Dia tidak bohong, memang Siang-bhok-kiam telah diambil para tosu Kun-lun-pai!" tiba-tiba Biauw Eng berkata.

"Ah, kau bocah bodoh mana tahu? Bocah ini adalah murid Sin-jiu Kiam-ong, selain ugal-ugalan juga tentu amat menyayang pedang itu. Mana mungkin dia berikan kepada orang lain? Sin-jiu Kiam-ong sendiri, setelah menjadi tua bangka, masih juga tidak rela memberikan pedang itu kepada orang lain. Jangan ikut-ikut, bocah ini harus memberikan Siang-bhok-kiam kepadaku atau dia mati di tanganku sekarang juga. Heh, bocah keras kepala, masih belum mengaku di mana adanya Siang-bhok-kiam? Lekas katakan agar aku dapat mengambilnya."

Keng Hong merasa panas perutnya. Nenek berwajah dingin ini benar-benar menjengkelkan sekali. Di waktu mudanya tentu merupakan seorang wanita cantik yang amat manja dan hendak membawa kehendak sendiri saja, mau menang sendiri. Ia memandang terbelalak penuh kemarahan dan berkata.

"Sudah saya katakan, pedang itu berada di Kun-lun-pai, kalau Locianpwe menghendaki ambilah dari tangan mereka. Akan tetapi hati-hati, di sana banyak terdapat orang lihai....."

Keng Hong terpaksa menghentikan kata-katanya karena nenek itu secara tiba-tiba sekali telah melompat ke depan dan tahu-tahu sudah berada dekat sekali dengannya, tangan kanan nenek ini menampar ke arah kepalanya! Keng Hong maklum betapa lihainya nenek ini. Mengelak takan keburu, maka dia berlaku nekat, mengangkat pula tangan kanannya dan menerima tamparan tangan terbuka itu dengan telapak tangannya sendiri.

"Plakkk!!" Dua buah tangan itu bertemu di udara dan terus melekat karena dalam kemarahannya, Keng Hong yang menggerakan tenaga sinkang itu tanpa disengaja telah mengeluarkan daya sedotnya yang amat kuat. Ketika nenek itu merasa betapa tamparannya tertangkis bahkan tenaga sinkangnya tersedot, ia terkejut sekali dan cepet-cepat ia pun mengerahkan sinkangnya dan menggunakan ilmunya Thi-khi-i-beng untuk balas menyedot. Dua tenaga sinkang yang amat hebat saling sedot. Tenaga sedot sinkang Lam-hai Sin-ni adalah berkat latihan ilmu Thi-khi-i-beng yang kabarnya sudah lenyap dari dunia persilatan, bahkan nenek ini yang sudah berlatih puluhan tahun sekalipun hanya dapat mencapai sebagian kecil saja. Adapun tenaga sedot dari tangan Keng Hong timbul tanpa dia sengaja, tanpa dilatih dan tercipta karena dia kebanjiran sinkang yang dioperkan oleh gurunya sehingga merusak susunan di dalam tubuhnya yang mengakibatkan tenaga sedot mujijat itu. Dan dapat dibayangkan betapa kaget, heran dan penasaran hati Lam-hai Sin-ni ketika ia merasa betapa berlahan-lahan namun tentu, tenaga sedotnya terbetot dan kalah kuat sehingga mulailah sinkangnya membocor lagi memasuki tubuh pemuda itu lewat telapak tangan mereka!

"Aihhhh.....!" Lam-hai Sin-ni berseru keras, tangan kirinya bergerak dan dengan kuku jari tangannya, ia menyentil ke arah pundak kanan Keng Hong. Seketika tubuh Keng Hong menjadi lemas dan untung pemuda ini masih ingat untuk cepat menarik tangannya sambil meloncat mundur, kalau tidak, tentu ia akan dipukul lagi dengan pukulan maut. Nenek itu cerdik luar biasa. Kalau tadi ia memukul begitu saja ke tubuh Keng Hong, pukulannya tentu akan ambalas pula ke dalam lautan sinkang yang memiliki daya sedot luar biasa itu. Maka ia menyentil dengan kuku jari, menotok jalan darah sehingga daya sedot itu tidak dapat menarik sinkangnya karena terhalang oleh kuku jari.

Kini dengan marah Lam-hai Sin-ni sudah melangkah maju, kedua tangannya siap memberi pukulan maut. Tiba-tiba Cui Im meloncat dan sambil menjatuhkan diri berlutut ia berkata.

"Subo.... subo.... harap tunggu dulu keterangan teecu..... teecu berani bersumpah bahwa pedang Siang-bhok-kiam memang dirampas oleh tosu-tosu bau dari Kun-lun-pai seperti diceritakan bocahini. Teecu sendiri yang melihatnya dengan mata teecu."

Nenek itu mengerutkan kening. "Ceritakan!" katanya kepada muridnya itu dengan jelas Cui Im lalu bercerita, menceritakan betapa ia menyusup ke Kun-lun-pai dan tertawan, kemudian betapa ia melihat sendiri Keng Hong menyerahkan pedang kayu Siang-bhok-kiam kepada Kiang Tojin. Setelah mendengar cerita ini, nenek itu kembali menghadapi Keng Hong yang sudah bangkit duduk. Sejenak ia memandang tajam, kemudian berkata.

"Bocah tidak setia! Baru saja turun dari Kiam-kok-san, sudah memberikan pedang kepada tosu Kun-lun-pai! Murid macam apa ini! Tanpa Siang-bhok-kiam, kau tidak ada gunanya dan lebih baik mati!" Setelah berkata demikian, kembali nenek itu menerjang maju hendak menyerang Keng Hong!

"Ibu, tahan....!!" Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Biauw Eng telah berdiri menghadap di depan ibunya, membelakangi Keng Hong yang sudah siap-siap membela diri sekuatnya.

"Eng-ji, mau apa engkau? Minggir!"

"Tidak, Ibu. Kau tidak boleh membunuh Cia Keng Hong."

"Apa? Dia tiada gunanya, tidak membawa Siang-bhok-kiam, harus kubunuh!"

"Jangan, Ibu. Dia telah menolongku dari kekejian Ang-bin Kwi-bo. Ibu tidak boleh membunuhnya."

Sejenak ibu dan anak berdiri tegak berhadapan, bertentang pandang dan Keng Hong yang melihat ini merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Alangkah serupa benar orang ini. Hanya yang seorang nenek-nenek, yang ke dua gadis remaja. Akan tetapi keduanya sama-sama berwajah dingin dan memiliki pandangan mata yang membayangkan kekerasan hati seperti baja!

"Pernah menolongmu bukan alasan untuk mencegah aku membunuhnya! Dia harus kubunuh karena dia, manusia tolol murid tidak setia ini, dia agaknya telah menerima pelajaran Thi-khi-i-beng dari Sin-jiu Kiam-ong setan tidak setia itu! Dia harus kubunuh. Minggirlah!"

Akan tetapi sedikitpun Biauw Eng tidak mau minggir, bahkan ia menegakaan kepala, membusungkan dada dan memandang ibunya dengan sikap menantang. "Tidak!" Katanya dan untuk pertama kali terdengar suaranya dipengaruhi nafsu. "Ibu tidak boleh membunuhnya!"

Lam-hai Sin-ni tertegun. Sejak kecil puterinya ini tidak pernah berani membantahnya. Dia yang menjadi semacam "ratu" di daerah pantai laut selatan, yang ditakuti semua orang, kini terheran-heran menyaksikan puterinya sendiri hendak membantah dan melawannya! "Apa kaubilang? Mengapa tidak boleh?"

"Karena aku cinta kepada Cia Keng Hong!"

Sunyi sekali setelah ucapan yang nyaring itu diucapkan oleh Biauw Eng. Tiga pasang mata terbelalak, yaitu mata Keng Hong, Cui Im dan lam-hai Sin-ni sendiri.Keng Hong terbelalak dan jantungnya berdebar keras sampai tubuhnya menjadi gemetar. Biauw Eng cinta kepadanya? Sungguh hal yang sama sekali tak pernah dia duga! Kalau Cui Im yang mencintainya, hal itu tidak aneh, dia mengenal watak mata keranjang murid Lam-hai Sin-ni itu. Akan tetapi Biauw Eng? Sikapnya terhadapnya begitu dingin, begitu galak! Juga Cui Im terbelalak. Mendengar sumoinya secara terang-terangan mengaku cinta kepada seorang pemuda, benar-benar membuat ia seperti mimpi di siang hari! Padahal biasanya, sumoinya itu memandang rendah semua pria, bahkan menjadi marah-marah dan memaki-makinya kalau dia bicara tentang pria. Sumoinya seorang yang "alim" dan agaknya mempunyai pantangan untuk segala macam bentuk cinta terhadap pria!

"Kau.... kau gila....? kau.... kau mencita murid Sin-jiu Kiam-ong.....?" Lam-hai Sin-ni berbisik, seolah-olah tidak percaya kepada telingnya sendiri.

"Kau..... heh-heh-heh.... kau mencinta dia.....?" Baru sekali ini Cui Im mendengar gurunya tertawa dan ia merinding penuh keseraman. suara ketawa itu lebih pantas disebut isak tangis. "Kau mencinta muridnya? Dia..... dia tentu mata keranjang, tidak setia seperti..... seperti....."

"Seperti ayah, Ibu? Biarlah! Ibu membenci ayah, akan tetapi aku tidak membenci Sin-jiu Kiam-ong. Dan biarpun ibu pura-pura membenci, aku tahu bahwa ibu amat cinta kepadanya, buktinya ibu memberi she sie kepadaku, she dari Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, ayahku. Aku cinta kepada Cia Keng Hong dan ibu tidak boleh membunuhnya!"

Tiba-tiba Lam-hai Sin-ni mengeluarkan pekik mengerikan, kemudian wajahnya yang biasa dingin itu berubah beringas. "kau gila! Minggir! pengakuanmu ini malah mendorongku untuk membunuh si keparat! Minggir!"

"Tidak, ibu!" Biauw Eng melolos sabuk suteranya dan berkata kepada Keng Hong dengan suara halus, "Keng Hong, kau pergilah. Kau pergilah setelah kau mendengar pengakuanku. Pergilah.....!"

Wajah Keng Hong menjadi pucat. Jadi Biauw Eng ini adalah puteri gurunya! Kalau begitu...... antara gurunya dan Lam-hai Sin-ni pernah menjadi hubungan suami istri! Dan puteri gurunya ini mencintainya! Ia tidak tahan lagi, merasa kasihan mendengar suara mengetar dari Biauw Eng ketika menyuruh dia pergi. Sambil menghela napas, dia lalu membalikan tubuhnya dan meloncat pergi dari tempat itu.

"Minggir.....!" Lam-hai Sin-ni berteriak sambil menerjang ke depan, hendak mengejar Keng Hong. Akan tetapi Biauw Eng juga menerjang maju menyambut ibunya dengan serangan sabuk sutera sambil berkata.

"Ibu hanya dapat mengejarnya melalui mayatku!"

Nenek itu mendorong anaknya supaya jangan menghalanginya, akan tetapi sabuk sutera putih Biauw Eng bergerak cepat mengirim totokan ke arah kedua lutut ibunya dengan kuat sekali. Lam-hai-Sin-ni menjadi makin marah karena totokan yang dilakukan puterinya itu kalau mengenai lututnya tentu akan membuat kedua kakinya tak dapat lari lagi, maka sambil mendengus ia menyambar ujung sabuk sutera itu dengan kedua tangannya, menrengutnya terlepas dari tangan Biauw Eng dan melemparkannya ke atas tanah. Hal ini terjadi tanpa dapat dicegah oleh Biauw Eng. Sementara itu bayangan Keng Hong sudah pergi jauh sekali dan Lam-hai Sin-ni cepar lari mengejar.

Akan tetapi, kembali Biauw Eng menyerangnya. Kini dengan pukulan tangan yang amat dahsyat. Lam-hai Sin-ni terkejut, terheran-heran dan hampit tidak percaya akan pandang matanya sendiri. Puterinya sendiri menyerangnya seperti ini? Dengan pukulan maut?? Teringatlah nenek ini akan keadaan dirinya sendiri dahulu dan terdengar suara terisak dari dalam dadanya. Pukulan puterinya itu ia tangkis dengan keras sehingga Biauw Eng terpekik dan terbanting ke kiri sampai bergulingan. Gadis ini cepat menoleh ke arah larinya Keng Hong dan hatinya agak lega melihat bahwa pemuda itu tentu sudah lari jauh sekali karena tak tampak lagi bayangannya. Ketika ia menengok ke arah ibunya, ia terkejut dan terheran, kemudian ia bangkit berdiri dan lari menubruk ibunya yang ternyata sudah duduk bersila sambil meramkan mata, mukanya pucat seperti mayat dan tubuhnya kaku! Ia maklum bahwa ibunya seadng berduka sekali dan bahwa di dalam dada ibunya sedang terjadi "perang" antara membunuh Keng Hong dan memenuhi permintaan puterinya. Biauw Eng yang berlutut di depan ibunya, menyentuh kaki ibunya dan menangis.

Cui Im terbelalak untuk kedua kalinya. Selama menjadi murid Lam-hai Sin-ni baru sekarang ini ia melihat keanehan yang terjadi pada diri sumoinya yang biasanya amat ia kagumi karena sumoinya itu biarpun lebih muda dari padanya, namun amat lihai dan memiliki sifat-sifat yang persis Lam-hai Sin-ni. Akan tetapi hari ini, gara-gara Keng Hong, ia melihat sumoinya menyatakan cinta kepada Keng Hong, dan kini, hal yang luar biasa ia lihat ketika sumoinya itu menangis! Timbul perasaan panas di hatinya. Dia sendiri tergila-gila kepada Keng Hong, tergila-gila akan ketampanannya dan terutama sekali akan ilmu kepandaiannya dan pusaka-pusaka yang mungkin sekali akan bisa ia dapatkan melalui pemuda itu. Kini mendengar pengakuan sumoinya, diam-diam ia menjadi iri hati, cemburu dan marah. Ibu dan anak itu sama sekali tidak tahu betapa Ang-kiam Tok-sian-li memandang ke arah Biauw Eng dengan sinar mata aneh, seolah-olah mengeluarkan api yang hendak membakar seluruh tubuh gadis baju putih itu. Tidak tahu pula betapa diam-diam Bhe Cui Im pergi meninggalkan tempat itu dengan sikap aneh dan berkali-kali melirik ke arah Biauw Eng dengan sinar mata penuh kebencian!

Sesaaat kemudian, Lam-hai Sin-ni membuka matanya dan melihat puterinya menangis didepanya, ia menghela napas panjang dan berkata halus sambil mengelus rambut kepala puterinya.

"Eng-ji, hukum karma selalu mengikuti kita....."

Biauw Eng memeluk ibunya dan tangisnya makin memilukan . Sesungguhnya, gadis ini tidak mewarisi watak ibunya, tidaklah sedingin yang dia perlihatkan. Gadis ini perasa sekali, penuh semangat dan memandang dunia dengan sepasang mata yang penuh kegembiraan, dapat dengan mudah menangkap keindahan-keindahan pada setiap benda yang dipandangnya, yang didengarnya, yang diciumnya. Akan tetapi, oleh karena semenjak ia kecil ia sudah digembleng oleh Lam-hai Sin-ni untuk mengekang perasaan, untuk meniru sifatnya yang dingin seperti es, maka Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng ini menjadi seorang gadis yang aneh dan dingin. Dingin paksaan, pada lahirnya saja, seperti sebuah gunung berapi yang diliputi salju. Inilah sebabnya mengapa sekali jatuh cinta, ia menjadi nekat dan berani mengaku secara terus terang dan bahkan berani membela kekasihnya dengan melawan ibunya! Biarpun diselimuti salju, kalau gunung es itu meletus, takan ada yang dapat menahannya!

"Ibu....., kauampunkan anakmu yang put-hauw (tak berbakti) ini...."

Lam-hai Sin-ni kembali menghela napas. "Menanam bibit apel, memetik buah apel, menanam pohon korma, memetik buah korma. Aku menentang ayahku karena cinta, kini engkau menentang aku karena cinta. Semua ini sudah adil.....!"

Biauw Eng mengangkat mukanya memandang muka ibunya dan baru sekali ini ia melihat betapa wajah ibunya membayangkan sesuatu, membayangkan kedukaan! Dan baru sekarang pula ia mendengar ibunya menyebut-nyebut keluarganya. Biasanya ibunya tidak pernah bercerita, hanya menyatakan bahwa ayahnya adalah Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong yang akhir-akhir ini menjadi terkenal sekali, bahkan pedang pusaka Siang-bhok-kiam ayahnya itu menjadi rebutan semua orang gagah di dunia Kang-ouw karena Pedang Kayu Harum itu menjadi kunci rahasia penyimpanan benda-benda pusaka yang dikumpulkan oleh ayahnya itu dengan jalan mencuri, merampas, atau diberi orang. Ketika ia pernah bertanya mengapa ayah dan ibunya berpisah, ibunya hanya menjawab dingin.

"Dia seorang laki-laki yang tidak setia! Semua pria di dunia ini tidak ada yang setia! Karena itu, jangan kau mudah menjatuhkan cinta kasihmu kepada pria, Eng-ji! Sekali cinta kasihmu jatuh, engkau akan menderita!"

Sekarang, ibunya menyebut-nyebut tentang ayah dari ibunya atau kakeknya, maka dengan ingin tahu sekali ia bertanya.

"Ibu menentang kong-kong....?"

"Tidak hanya menentang, bahkan aku.... membunuhnya...."

"Ibu.....!!"

"Ya! Aku telah membunuhnya! Membunuhnya karena cinta! Apakah engkau tadi juga tidak ingin membunuhku, Eng-ji?"

"Ibu.....!" Dan Biauw Eng menangis lagi sambil merangkul ibunya.

"Cinta memang membuat manusia, terutama wanita seperti kita, menjadi gila, eng-ji." Lam-hai Sin-ni menghelus-elus kepala puterinya. "Tadi aku amat marah kepadamu. Sakit hatiku melihat betapa engkau mencinta seorang pemuda sehingga rela kau melawanku, rela menyerangku untuk menyelamatkannya, menyerang untuk membunuh ibunya sendiri. Akan tetapi aku teringat akan keadaan diriku di waktu muda, dan aku dapat memaklumi perasaanmu, anakku. Aku tahu betapa cinta membuat mata kita seperti buta. Aku dahulu pun mencita, Sie Cun Hong. padahal aku seorang puteri terhormat, ayahku seorang yang amat berkuasa dan berpengaruh di selatan, seolah-olah menjadi seorang raja muda, dan..... dan Sie Cun Hong terkenal sebagai seorang pria mata keranjang yang mempunyai ratusan, bahkan ribuan orang kekasih! Akan tetapi aku nekat, bahkan ketika ayahku melarang aku melawannya. Aku sudah menerima beberapa macam ilmu pukulan sakti dari Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, sehingga dalam pertempuran yang didorong oleh marah itu, aku kelepasan tangan, membunuh ayahku sendiri.....!"

"Ah, Ibu....." Biauw Eng menjadi kasihan sekali kepada ibunya. Dalam keadaan seperti itu, ibu dan anak ini benar-benar amat berbeda dengan keadaan biasanya. Andaikata Cui Im tidak diam-diam pergi meninggalkan mereka, gadis itu tentu akan bengong terheran-heran menyaksikan ibu dan anak itu bercakap-cakap dengan penuh kemesraan dan keharuan seperti itu. Biasanya, ibu dan anak itu seperti dua buah arca es yang dapat bergerak!

"Kemudian, Sie Cun Hong laki-laki tak setia itu tidak mau menikah denganku, seperti yang ia lakukan terhadap ribuan orang wanita lain. Sedangkan aku telah mengandung engkau, Eng-ji. Kami bertengkar, atau lebih tepat, aku memusuhinya, akan tetapi dia terlampau sakti. Sampai belasan tahun aku belajar ilmu, puluhan tahun aku menggembleng diri sehingga menjadi tokoh utama di selatan, namun tetap saja aku belum pernah dapat menangkan dia. Karena itu, aku ikut pula berusaha mendapatkan pusaka-pusakanya. Kini dia sudah mati, dan pusakanya itu seharusnya jatuh ketanganmu, karenaengkau keturunannya, engkau puterinya. Itulah sebabnya aku hendak memaksa muridnya tadi menyerahkan Siang-bhok-kiam! Ketika mendengar pedang itu terjatuh ke tangan para tosu Kun-lun-pai, aku menjadi mendongkol dan marah, apalagi melihat bahwa Sie Cun Hong agaknya telah menurunkan Ilmu Thi-khi-i-beng kepadanya, padahal aku dahulu hanya menerima petunjuk sedikit saja.... aku menjadi benci kepada muridnya. Juga kulihat pandang mata dan gerak bibir bocah itu sama benar dengan keadaan Sie Cun Hong di waktu muda. Dia pun seorang laki-laki yang tidak setia. Akan tetapi.... kau.... kau jatuh cinta kepadanya!"

Biauw Eng menarik napas panjang. Hebat riwayat ibunya itu. "Ibu, aku sendiri hanya menduga saja bahwa aku mencinta dia, karena perasaan hatiku aneh, aku ingin membelanya, aku tidak suka melihat dia terbunuh. Hal ini timbul dalam hatiku ketika dia menyelamatkan aku daripada ancaman Ang-bin Kwi-bo. Sejak detik itu aku..... aku suka kepadanya, aku tidak ingin terpisah darinya..... ah, benarkah ini cinta, Ibu?"

"Hukum karma..... hukum karma.....! Aku sendiri dahulu pun mencinta Sie Cun Hong karena pertama-tama dia menolongku daripada perkosaan Tujuh Orang Setan Go-bi (Go-bi Jit-kwi)."

"Ibu, kalau begitu aku benar-benar mencintainya. Perasaanku membisikkan bahwa dialah satu-satunya pria yang kucinta karena aku agaknya rela untuk mengorbankan nyawaku untuknya." Gadis itu berhenti sebentar dan pandang matanya jelas membayangkan cinta kasih besar ketika ia mengingat pemuda itu. "Ibu, sekarang juga aku akan mengejarnya, aku harus berada didekatnya....."

"Pergilah, akan tetapi jangan hanya mendapatkan dia, melainkan mendapatkan pula peninggalan pusaka ayahmu."

Sepasang mata itu terbelalak penuh gembira, wajahnya menjadi kemerahan dan Biauw Eng yang kini bukan lagi seorang gadis berwajah dingin karena salju itu agaknya sudah mencair oleh panasnya api cinta, berkata.

"Ibu, terima kasih. Aku pergi sekarang....!!"

Lam-hai Sin-ni memegang tangan puterinya dan berkata, "Hanya satu hal yang kuminta agar engkau suka berjanji kepadaku, anakku."

"Apakah itu, Ibu?"

"Berjanjilah, bersumpahlah bahwa engkau tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan ibumu dulu. Engkau tidak akan menyerahkan dirmu kepada bocah itu di luar pernikahan! Kalian harus menjadi suami istri yang syah! Nah, kalau begitu, barulah ibumu akan memberi ijin dan doa restu. Kalau tidak, aku akan mengutukmu, Biauw Eng!"

Gadis itu memeluk ibunya dan berbisik, "Aku bersumpah, Ibu."

Kemudian ia melepaskan ibunya dan cepat melesat pergi setelah menyambar sabuk sutera putih yang tadi dirampas dan dilemparkan ibunya. Lam-hai Sin-ni, tokoh nomer satu dari Bu-tek Su-kwi, "ratu" tak bermahkota dari daerah pantai laut selatan, masih duduk bersila, tubuhnya tak bergerak, wajahnya tetap dingin, akan tetapi dari sepasang matanya keluar dua butir air mata yang perlahan-lahan menetes turun ke atas sepasang pipinya yang putih.

Sementara itu, semenjak Kun-lun-pai menerima Siang-bho-kiam dari tangan Keng Hong, perkumpulan besar ini tidak pernah mengalami hari-hari aman tentram lagi. Baru beberapa hari semenjak Keng Hong meninggalkan Pedang Kayu Harum itu kun-lun-pai diserbu orang-orang Kang-ouw dari bermacam partai. Cara penyerbuan mereka pun berbeda-beda, tergantung daripada sifat perkumpulan atau partai mereka. Golongan bersih yang merasa "mengutangkan sesuatu" kepada Sin-jiu Kiam-ong karenanya berkah untuk mendapatkan bagian dari pusaka peninggalan pendekar itu, menyerbu Kun-lun-pai secara berterang, melalui pintu depan dan terang-terangan menyatakan "minta bagian" karena dengan diserahkannya Siang-bhok-kiam kepada Kun-lun-pai, mereka ini menganggap bahwa Kun-lun-pai telah mewarisi semua pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Akan tetapi golongan sesat mempunyai cara yang lain lagi. Mereka ini datang dengan bermacam-macam cara, ada yang secara sembunyi-sembunyi seperti pencuri, ada pula yang datang dengan melontarkan tuduhan-tuduhan dan menantang pibu. ***

Sementara itu, semenjak Kun-lun-pai menerima Siang-bhok Kiam dari tangan Keng Hong, perkumpulan besar ini tidak pernah mengalami hari-hari aman tenteram lagi. Baru beberapa hari semenjak Kenghong meninggalkan Pedang Kayu Harum itu, Kun-lun-pai diserbu orang-orang kang-ouw dari bermacam partai. Cara penyerbuan mereka pun berbeda-beda, tergantung dari sifat perkumpulan atau partai mereka. Golongan bersih yang merasa “mengutangkan sesuatu” kepada Sin-jiu Kiam-ong dan karenanya berhak untuk mendapatkan bagian dari pusaka penginggalan pendekar itu, menyerbu Kum-lun-pai secara berterang, melalui pintu depan dan terang-terangan menyatakan “minta bagian” karena dengan diserahkannya Siang-bhok-kiam kepada Kun-lun-pai, mereka ini telah menganggap Kun-lun-pai telah mewarisi semua pusaka peninggalan Sin-jiu-Kiam-ong. Akan tetapi golongan sesat mempunyai cara yang lain lagi. Mereka ini datang dengan bermacam cara, ada yang sembunyi-sembunyi seperti pencuri, ada pula yang datang dengan melontarkan tuduhan-tuduhan dan menantang pibu.

Namun, partai persilatan Kun-lun-pai adalah sebuah partai besar yang memiliki tokoh-tokoh yang berilmu tinggi. Di samping ini, juga para tosu anak murid kun-lun-pai rata-rata memiliki kepandaian yang lihai, jumlahnya banyak pula sehingga semua usaha para tokoh kang-ouw yang hendak merampas Siang-bhok-kiam dapat digagalkan.

Karena munculnya gangguan-gangguan ini, para tokoh Kun-lun-pai menjadi sibuk sekali dan tahulah mereka bahwa keputusan yang diambil oleh Kiang Tojin sebagai wakil suhunya, yaitu Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai , biarpun merupakan keputusan amat baik demi menjunjung tinggi kedaulatan dan nama besar Kun-lun-pai, namun merupakan keputusan yang amat berbahaya. Dengan mencegah Keng Hong membawa pergi Siang-bhok-kiam dan merampas pedang itu, menyimpannya di Kun-lun-pai, maka kini perhatian semua orang kang-ouw kepada Kun-lun-pai. Kalau dahulu para tokoh kang-ouw mengejar-ngejar Sin-jiu Kiam-ong, kini mereka menyerbu Kun-lun-pai untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam!

Biarpun fihak Kun-lun-pai selalu berhasil menghalau para penyerbu yang hendak merampas Siang-bhok-kiam, namun dalam pertandingan-prtandingan yang terjadi selama pedang itu berada di situ, telah jatuh korban di fihak mereka sebanyak empat orang murid yang tewas dalam pertempuran. Hal ini ditambah lagi dengan perasaan gelisah, selalu harus berjaga-jaga sehingga para tosu itu tak dapat tidur nyenyak. Mulailah timbul perasaan tak senang mereka terhadap keputusan Kiang Tojin yang mereka anggap tidak tepat dan hanya menyusahkan Kun-lun-pai saja. Murid-murid Thian Seng Cinjin yang lain mulai mengomel dan menyatakan ketidaksenangan mereka di depan ketua Kun-lun-pai itu sehingga kakek ini yang melihat adanya bahaya perpecahan, pada suatu pagi mengumpulkan murid-murid untuk diajak berunding mengenai pedang Siang-bhok-kiam!

Jumlah murid-murid Thian Seng Cinjin ada tujuh orang. Kiang Tojin merupakan murid kepala, bahkan dialah merupakan calon ketua kelak kalau Thian Seng cinjin meninggal dunia atau mengundurkan diri. Segala urusan mengenai Kun-lun-pai juga telah banyak diserahkan kepadanya oleh kakek yang sudah amat tua itu. Karena Kiang Tojin adalah seorang yang luas pandangannya, berpengalaman dan berwatak teguh dan adil, disamping kelihaiannya yang hanya berada di bawah tingkat gurunya, maka segala urusan berjalan lancar apabila dia yang mengatur penyelesaiannya. Hal ini saja sudah membuat beberapa orang sutenya diam-diam merasa iri hati.

Pagi hari itu, di dalam ruang yang diberi nama Ruangan Ketenangan yang letaknya di bagian belakang asrama Kun-lun-pai, ketua Kun-lun-pai itu duduk di atas lantai yang ditilami kasur bundar, bersila dihadap oleh tujuh orang murid-muridnya yang juga duduk bersila dalam bentuk setengah lingkaran menghadap guru mereka. Suasana di ruangan itu memang amat hening, bersih dan nyaman. Angin pegunungan bersilir masuk karena ruangan itu memang tidak tertutup dinding sehingga dari situ dapat tampak tamasya pegunungan yang amat indah. Memang tepat sekali nama ruangan ini karena suasana di situ benar-benar tenang dan menimbulkan ketenangan di hati, cocok untuk bersamadhi atau untuk bertukar pikiran.

Untuk kepentingan perundingan ini, Thian Seng Cinjin sengaja membawa serta pedang Siang-bhok-kiam yang dia letakan di depannya, di atas lantai. Kemudian, setelah sejenak delapan orang tosu ini mengeningkan cipta membersihkan pikiran, kakek itu menggeraka tangan menghelus jenggot panjangnya dan berkata dengan suara halus.

"Sekarang kita telah berkumpul dengan pikiran jernih. Pinto tahu bahwa pedang peninggalan Sin-jiu Kiam-ong ini telah menimbulkan banyak keributan ysng biasanya aman tentram dan tenang.Akan tetapi, keributan itu ditimbulkan oleh orang-orang luar yang hendak merampas pedang dan sudah seharusnya kita mempertahankannya dan menghalau para penyerbu, hal itu tidaklah menyusahkan hati. Yang membuat pinto prihatin dan kini mengumpulkan kalian untuk berunding adalah karena pinto melihat adanya ketidaktenangan yang timbul di antara kita karena getaran bentrokan ketidakcocokan itu dan mencari jalan keluar dengan musyawarah. Keluarkan semua isi hati dan pendapat kalian untuk kita telaah dan pelajari."

Hening sejenak menyusul ucapan kakek ini yang dikeluarkan dengan suara halus, namun mengandung penuh teguran. Jelas terasa oleh mereka yang hadir bahwa suhu mereka ini merasa tidak senang dengan adanya pertentangan diam-diam di kalangan mereka sendiri. karena sekarang tiba saatnya dan mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan semua ketidakpuasan hati, mereka pun mengambil keputusan untuk menekan Kiang Tojin. Di antara para adik seperguruan Kiang Tojin, hanya dua orang yang merasa iri hati dan diam-diam menentang kakek seperguruan ini, yaitu murid ke dua bernama Sian Ti Tojin, dan murid ke lima lian Ci Tojin. Adapun murid yang lain ada yang berfihak kepada Kiang Tojin, ada pula yang tidak mau mencampuri pertentangan pendapat antara saudara sendiri itu.

"Tepat sekali seperti yang dikatakan suhu tadi," kata Sian Ti Tojin. "Setelah Siang-bhok-kiam berada di sini, kita menjadi tidak tenang lagi dan mendapatkan banyak musuh. Teecu anggap keliru sekali keputusan Twa-suheng untuk menahan pedang itu di sini. Pedang itu menjadi bahan perebutan orang-orang Kang-ouw, kalau sekarang disimpan di sini tentu saja semua resikonya tertimpa ke pundak kita. Apakah keuntungannya bagi kita mencari permusuhan dengan sahabat-sahabat di dunia kang-ouw? Empat orang anak murid telah mengorbankan nyawa, hanya untuk mempertahankan pedang kayu peninggalan Sin-jiu Kiam-ong!"

"Benar sekali omongan Ji-suheng," sambung Lian Ci Tojin cepat-cepat. "Menurut pendapat teecu, Twa-suheng mengambil keputusan menahan pedang itu pun hanya untuk melindungi Cia Keng Hong!"

Sunyi di ruangan itu setelah Lian Ci Tojin mengucapkan kata-kata ini, dan hati mereka mulai menjadi tegang. Ucapan Sian Ti Tojin hanya mengeluarkan pernyataan yang memang nyata terjadi, akan tetapi ucapan Lian Ci Tojin ini lebih condong kepada ucapan menuduh Kiang Tojin. Thian Seng Cinjin maklum akan gawatnya urusan dengan diucapkannya tuduhan ini, maka dengan pandang mata tajam dia berkata kepada muridnya yang ke lima itu dengan suara tetap halus.

"Lian Ci, tuduhan tanpa alasan kuat dan tanpa bukti dapat menjerumuskan kepada fitnah , dan engkau tentu mengerti betapa jahatnya fitnah. Bicaralah dengan terbuka sesuai dengan sifat kejujuran dan keadilan yang kita junjung tinggi."

"Memang teecu junjung tinggi pendapat suhu. Teecu sendiri pun tidak suka akan perbuatan yang berpura-pura dan mengandung rahasia. Teecu mengatakan bahwa Twa-suheng menahan pedang untuk melindungi Keng Hong tanpa alasan. Pertama, Cia Keng Hong adalah anak yang dibebasakan dari maut oleh Twa-suheng dan bukan rahasia lagi betapa besar kasih sayang Twa-suheng kepada Keng Hong sehingga tidak mengherankan kalau Twa-suheng melindunginya. Ke dua, memang dapat dimengerti bahwa kalau pedang Siang-bhok-kiam itu berada di tangan Keng Hong, bukan kita yang diserbu orang-orang Kang-ouw, melainkan Keng Hong yang akan dikejar-kejar sehingga membahayakan keselamatan anak itu. Akan tetapi, betapa piciknya melindungi bocah yang bukan anak murid perguruan Kun-lun-pai dengan mengorbankan nyawa empat orang murid kita, bahkan mungkin lebih banyak lagi! Twa-suheng harus bertanggung jawab atas keputusannya yang tidak bijaksana itu!"

Semua mata kini ditujukan kepada Kiang Tojin yang masih duduk bersila denga sikap tenang. Juga Thian Seng Cinjin memandang kepadanya dengan sinar mata seolah-olah minta jawaban. Kiang Tojin mendehem perlahan lalu berkata, suaranya halus namun lantang, tidak menyembunyikan perasaan lain daripada apa yang akan dikeluarkan melalui mulutnya.

"Tidak keliru semua ucapan Ji-sute dan Ngo-sute. Siang-bhok-kiam mendatangkan keributan, itu sudah jelas. Juga tuduhan Ngo-sute ada benarnya, memang sedikit banyak ada terkandung di hati teecu ketika menahan pedang bahwa hal itu akan menyelamatkan pula Keng Hong dari ancaman maut."

Ketika Kiang Tojin berhenti sebentar semua tosu memandangnya dengan hati tegang. Akan tetapi Kiang Tojin melanjutkan dengan sikap tetap tenang, "Akan tetapi sesungguhnya bukan karena keselamatan Keng Hong sematalah maka teecu memutuskan untuk menahan pedang Siang-bhok-kiam, melainkan terutama sekali untuk mengangkat tinggi nama besar dan kehormatan Kun-lun-pai."

"Harap Twa-suheng jelaskan alasannya!" Sian Ti Tojin mendesak.

"Siang-bhok-kiam adalah pedang peninggalan Sin-jiu Kiam-ong dan menjadi perebutan orang-orang kang-ouw. Sedangkan Sin-jiu Kiam-ong meninggal dunia berada di Kiam-kok-san. Kita semua tahu bahwa Kiam-kok-san adalah sebuah tempat keramat bagi Kun-lun-pai, dan termasuk wilayah terdekat Kun-lun-pai. Kalau sampai pedang yang sekian lamanya berada di wilayah Kun-lun-pai itu terjatuh ke tangan orang lain , bukankah ini berarti bahwa Kun-lun-pai merupakan partai persilatan yang amat lemah, tidak mampu mempertahankan benda keramat yang menjadi haknya? Bukankah hal ini akan menjadi buah tutur dunia kang-ouw dan Kun-lun-pai akan ditertawakan sampai tujuh keturunan? Harus teecu akui bahwa dengan adanya pedang Siang-bhok-kiam di sini, Kun-lun-pai diserbu orang-orang luar dan memang ada empat orang anak murid kita tewas. Akan tetapi apa artinya kematian kalau terjadi dalam membela Kun-lun-pai dari serbun orang luar? Mati sebagai orang gagah perkasa, adalah menjadi pegangan teecu sesuai yang diajarkan suhu selama ini bahwa jauh lebih baik mati sebagai orang gagah daripada hidup sebagai seorang pengecut. Sekian penjelasan teecu dan selanjutnya tentu saja teecu serahkan kepada keputusan Suhu dalam hal Siang-bhok-kiam ini."

Keculai dua orang tosu yang menantang, semua sute dari Kiang Tojin diam-diam mengakui kebenaran pendapat suheng mereka. Kalau saja Kiang Tojin tadi menyangkal bahwa dia melindungi Keng Hong, hal itu tentu akan tetap menjadi kecurigaan dan bahan tuduhan. Akan tetapi setelah dengan tenang Kiang Tojin mengakuinya, tuduhan ini menjadi hilang artinya, apalagi setelah ada alasan yang demikian kuatnya.

Thian Seng Cinjin mengelus-elus jenggotnya dan diam-diam kakek ini kagum kepada murid kepala ini dan makin yakin hatinya bahwa kelak yang akan dapat memimpin Kun-lun-pai menuju ke arah kemajuan dan kebesaran nama adalah Kiang Tojin ini. Ia menyapu murid-murid lain dengan pandang matanya lalu berkata.

“Siancai…. Kurasa pendapat suheng kalian ini cukup beralasan dan tepat. Namun betapapun juga, pertemuan ini diadakan untuk bermusyawarah. Pinto tidak akan mengambil keputusan kebitu saja sebelum mendengarkan semua isi hati kalian. Tidak boleh ada keputusan diambil tanpa dimufakati semua orang. Pinto tidak ingin melihat pertentangan faham di antara kalian karena hal itu akan melemahkan Kun-lun-pai, justru pada saat Kun-lun-pai dimusuhi banyak orang yang memiliki kepandaian tinggi. Setelah pinto sendiri amat tua dan lemah, seluruh nasib Kun-lun-pai berada di tangan kalian bertujuh. Kalau kalian tidak bersatu, bagaimana mungkin Kun-lun-pai dapat dipertahankan kebesarannya? Karena itu, kalau masih ada yang tidak setuju mengenai Siang-bhok-kiam ini, katakanlah terus terang berikut alasannya.”

Kembali Lian Ci Tojin yang bicara dan nada suaranya mengandung penasaran karena dia mendapat kenyataan betapa mudahnya Kiang Tojin lolos dari tuduhan itu. Lian Ci Tojin ini masih muda kalau dibandingkan dengan para suhengnya. Usianya baru empat puluh lima tahun, akan tetapi karena dia amat berbakat sehingga dapat menguasai ilmu silat tertinggi dari Kun-lun-pai, maka dia termasuk seorang di antara tujuh tokoh besar Kun-lun-pai, muid-murid Thian Seng Cinjin. Kini terdengar suaranya.

"Suhu, teecu berpendapat bahwa kalau toh Siang-bhok-kiam kita tahan di sini, berarti menjadi hak kita, sudah sepatutnya pula kalau susah payah yang kita derita untuk mempertahankannya itu dapat imbalan yang sepadan, yaitu dengan menambah simpanan Kun-lun-pai dengan kitab-kitab pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Bukankah Siang-bhok-kiam dikabarkan menjadi kuci daripada tempat rahasia peninggalan pusaka itu? Hal ini sudah berkali-kali teecu usulkan kepada Twa-suheng, akan tetapi selalu tidak disetujui oleh Twa-suheng. Sekarang, sekali lagi di depan Suhu dan para suheng sute sekalian teecu hendak bertanya lagi kepada Twa-suheng apakah pusaka-pusaka itu tidak akan kita cari untuk perbendaharaan Kun-lun-pai?"

"Tidak! Kita tidak akan mencari pusaka-pusaka itu karena Sin-jiu Kiam-ong tidak mewariskannya kepada kita. Kun-lun-pai sebuah perkumpulan yang besar, bukan sebuah perkumpulan yang biasa merampas hak milik orang lain!" jawab Kiang Tojin dengan suara tegas sehingga para sutenya juga gurunya sendiri, menjadi kagum dan bangga dalam hati.

Akan tetapi tiba-tiba Lian Ci Tojin tertawa. "Ha-ha-ha, sungguh pintar Twa-suheng dan sungguh bodoh kita yang dapat dikelabui! Kalau sudah berani menahan pedang dengan dalih bahwa pedang berada di wilayah Kun-lun-pai, mengapa tidak berani memiliki pusaka yang juga berada di wilayah Kun-lun-pai? Ahhh, siapakah tokoh di dunia persilatan yang tidak ingin memiliki? Termasuk Twa-suheng tentunya! Kalau pusaka-pusaka itu diambil dan menjadi milik Kun-lun-pai, berarti semua murid Kun-lun-pai dapat mempelajarinya, akan tetapi Kiang Tojin suheng tidak setuju karena Twa-suheng ingin memiliki semua pusaka itu untuk diri sendiri. Bukankah begitu?"

Muka Kiang Tojin menjadi merah dan semua mata memandangnya. Akan tetapi tosu yang berpengalaman ini selain kuat ilmu silatnya, juga kuat sekali batinnya. Dia tidak sudi dikuasai perasaan hatinya, maka sekuat tenaga dia menekan kemarahannya dengan kesadarannya bahwa sute ke lima ini melontarkan tuduhan-tuduhan kepadanya tentu ada latar belakangnya. Maka dia memandang sutenya itu dan mengingat-ingat. Mengapa sutenya yang ke lima ini seolah-olah membencinya? kemudian dia teringat. Terhadap para sutenya, Kiang Tojin memang selalu bersikap keras dan memimpin, selalu tidak segan menegur kalau mereka itu melakukan kekeliruan sehari-hari. Teringatlah dia betapa seringnya dia menegur Lian Ci Tojin ini yang masih sering kali tampak lemah menghadapi godaan nafsu berah, sering kali tampak nyata amat tergoda batinnya, kalau bertemu wanita cantik. Yang terakhir, ketika Kiang Tojin menangkap Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im dan menyuruh sute-sutenya membelenggu gadis cantik itu, dia melihat betapa Lian Ci Tojin cepat-cepat melakukan perintah ini dan pandang matanya yang tajam dapat melihat betapa sinar mata Lian Ci Tojin berkobar oleh nafsu, betapa tangan sutenya itu ketika membelenggu sengaja meraba-raba tubuh gadis itu. Penyelewengan karena dorongan nafsu ini, biarpun tidak berarti dan kecil, juga tidak terlihat oleh siapapun, namun sudah cukup kuat bagi Kiang Tojin untuk pada keesokan harinya memanggil sutenya ini dan memarahinya dengan keras. Pada saat itu, Lian Ci Tojin hanya menunduk dengan muka sebentar pucat sebentar merah, akan tetapi ketika pandang mata mereka bertemu, sepasang mata sutenya itu memancarkan kebencian seperti yang sekarang terpancar kepadanya dalam bentuk tuduhan-tuduhan itu.

Kiang Tojin menghela napas panjang dan berhasil memadamkan api kemarahannya setelah dia melihat latar belakangnya mengapa sutenya itu seperti membencinya.

"Teecu hanya melaksanakan tugas sebaiknya dan dalam urusan Siang-bhok-kiam, teecu mengambil keputusan stelah dipikirkan masak-masak. Teecu tidak sudi melakukan sesuatu di luar garis peraturan Kun-lun-pai sendiri." Demikian Kiang Tojin berkata kepada gurunya dan ketika gurunya mengangguk-angguk, Kiang Tojin lalu menoleh ke arah Lian Ci Tojin.

"Ngo-sute, kiranya masih ingat bagaimana bunyi peraturan ke tiga dari perguruan kita? Setiap murid Kun-lun-pai dilarang mempelajari ilmu silat dari lain perguruan dan kalau hal ini dilanggar, berarti si murid telah murtad dan mengkhianati Kun-lun-pai. Dengan adanya peraturan yang sudah jelas ini, bagaimana Ngo-sute dapat mengusulkan agar kita mengambil kitab-kitab pusaka peningalan Sin-jiu Kiam-ong?"

Ditegur begini, Lian CI Tojin menjadi merah mukanya. Diam-diam dia memaki di dalam hati atau kecerdikan twa-suhengnya ini sehingga dari keadaan menuduh dia malah menjadi seorng tertuduh melanggar peraturan perguruan mereka! Namun Lian Ci Tojin cukup cerdik dan dia cepat berkata.

"Twa-suheng harap jangan menuduh yang bukan-bukan. Pinto bukan sekali-kali mengusulkan untuk kita menyeleweng dan mempelajari isi kitab-kitab pusaka peninggala Sin-jiu Kiam-ong, hanya mengusulkan untuk menguasai kitab-kitab itu, adapun tentang mempelajarinya , tentu terserah kepada suhu, kalau suhu yang mengijinkan kita mempelajarinya untuk menambah kepandaian dan dengan demikian nama besar Kun-lun-pai akan makin meningkat, apakah itu dianggap melanggar peraturan?"

Melihat keadaan mulai "panas" , Thian Seng Cinjin cepat mengangkat tangannya dan berkata, suaranya berpengaruh, "Cukuplah sudah semua perbantahan yang kosong ini! Pinto setuju akan tindakan yang diambil oleh Twa-suheng kalian! Memang tidak semestinya kalau Kun-lun-pai menguasai kitab-kitab pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Harus kalian ketahui kitab-kitab itu adalah milik perguruan-perguruan tinggi lainnya yang dahulu dicuri atau dirampas Sin-jiu Kiam-ong. Kalau kita menguasainya dan mempelajarinya, tentu kita akan bermusuhan dengan pemilik-pemilik kitab. Pula, hendaknya kalian ingat bahwa kesaktian bukan tergantung kepada kitab atau pelajarannya, juga bukan tergantung pada senjatanya, melainkan kepada si manusianya sendiri. Kalau kalian tekun memperdalam semua ilmu asli dari Kun-lun-pai, kurasa tidak akan kalah saktinya daripada pelajaran-pelajaran lain perguruan. Nah, pinto perintahkan agar mulai detik ini semua pertentangan faham dilenyapkan dari hati masing-masing."

Tujuh orang muridnya itu lalu berlutut dan dengan suara bulat menyatakan ketaatan mereka. Pada saat itu, dua orang anak murid Kun-lun-pai lari tergopoh-gopoh memasuki ruangan ketenangan dan serta-merta menjatuhkan diri berlutut menghadap Thian Sen Cinjin sambil berkata dengan muka pucat dan suara gemetar.

"Teecu berdua datang melaporkan bahwa saat ini puncak Kun-lun terancam dijadikan kancah perang antara pasukan utara dan pasuka selatan! Kita sudah terkurung, dari utara muncul pasukan dari Peking sedangkan dari selatan muncul pasukan dari Nan-king, mereka telah mengurung tempat kita."

Hanya Thian Seng Cinjin dan Kiang Tojin saja yang menerima berita mengagetkan ini dengan sikap tenang. Guru dan murid kepala ini bertukar pandang, kemudian Thian Seng Cinjin mengangguk dan bangkit dari lantai, menyambar tongkatnya lalu berkata.

"Kita harus menghadapi mereka selengkapnya. Perintahkan seluruh anak murid Kun-lun-pai untuk mengatur barisan bersiap-siap!"

Tujuh orang murid itu lalu berpencar menunaikan tugas masing-masing, kemudian kakek tua Kun-lun-pai itu diikuti oleh tujuh orang muridnya melangkah keluar dan menuju ke puncak. Anak murid Kun-lun-pai telah berbaris rapi, dibagi dua bagian, sebagian menghadap selatan sebagian menghadap ke utara. Adapun Thian Seng Cinjin sendiri dengan gerakan riangan lalu melompat ke arah sebuah batu yang tinggi di puncak itu, diikuti tujuh orang muridnya. Mereka berdiri tegak di atas batu ini dan tampaklah oleh mereka dua pasukan yang mengurung itu, satu di utara, satu lagi di selatan. Pasukan itu tidak besar, paling banyak seratus orang masing-masing fihak, akan tetapi lengkap bersenjata dan kalau dilihat besarnya pasukan, tidak mungkin mereka itu muncul untuk berperang. hal ini mlegakan hati Thian Seng Cinjin yang segera mengerahkan khikangnya dan berkata dengan lantangnya.

"Kami dari Kun-lun-pai selamanya tidak pernah melibatkan diri dengan perang saudara. Hari ini pasukan-pasukan kedua fihak datang berkunjung ke Kun-lun-pai, harap para ciangkun (perwira) kedua pasukan sudi menjelaskan apa yang menjadi magsud kedatangan cu-wi!"

Tiba-tiba dari pasukan sebelah utara itu tampak berlari maju seorang berpakaian perwira yang bertubuh kurus tinggi. Larinya cepat dan geraknya gesit sekali, sungguhpun pakaian perang itu kelihatan kaku, namun tidak menghalangi gerakannya yang cekatan sehingga para tokoh Kun-lun-pai menjadi kagum dan maklum bahwa pasukan utara itu dipimpin oleh perwira yang lihai. Sebentar saja perwira itu telah tiba di bawah batu. Ia berdiri dengan tegak, memandang ke arah tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang berada di atas batu, kemudian dia memberi hormat dengan gagah, kedua tangan dirangkap di depan dada, agak membungkuk sehingga pedangnya yang panjang itu ikut bergerak di pinggangnya dan terdengar suaranya lantang namun mengandung sikap hormat dan ramah.

"Kami Han Tek Thai yang memimpin pasukan pengawal melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh junjungan kami, Raja Muda Yung Lo dari utara yang perkasa, calon kaisar yang aseli, untuk menghadap para pimpinan Kun-lun-pai. Raja muda kami menyampaikan rasa terima kasih bahwa Kun-lun-pai selama ini tidak membantu kekuasaan raja penyerobot mahkota di Nan-king, karena hal itu membuktikan bahwa Kun-lun-pai dapat mengerti akan kebenaran dan keadilan yang berada di fihak utara!"

Diam-diam Kiang Tojin tersenyum dan merasa kagum. Perwira dari utara ini benar-benar seorang yang tepat dijadikan seorang perwira, karena selain ilmu kepandaiannya tinggi yang dapat dilihat dari gerakannya tadi, juga jelas bahwa perwira ini memiliki kecerdikan dan kepandaian untuk menarik rakyat di fihaknya. Dia sudah banyak mendengar akan sifat-sifat ini menjadi inti kekuatan fihak utara, karena sifat itu membuat rakyat jelata merasa bersimpati terhadap perjuangan mereka sehingga berbondong-bondong rakyat membantu.

"Maaf, Han-ciangkun," kata Kiang Tojin setelah dia mendapat isyarat dari gurunya untuk menjawab. "Kiranya raja muda dari utara tidak seharusnya berterima kasih kepada kami , karena pendirian Kun-lun-pai sama sekali bebas, tidak memihak manapun juga. Kami seluruh anggauta Kun-lun-pai hanya merasa perihatin menyaksikan perang saudara karena tidak lain yang menjadi korban adalah rakyat jelata. Karena inilah kami tidak mau memihak siapa-siapa. Hendaknya Han-ciangkun maklum akan hal ini dan selanjutnya suka menjelaskan apa kehendak selanjutnya dengan kunjungan ini."

Perwira utara itu tersenyum sabar dan berkata, "Ucapan Totiang benar-benar membuktikan bahwa para tosu merupakan manusia-manusia dewa yang tidak sudi mencampuri urusan dunia lagi. Sungguh menimbulkan rasa kagum! Kami diutus oleh junjungan kami untuk mengharapkan budi kebaikan Kun-lun-pai, sukalah mnyerahkan kitab Thai-yang-tin-keng? yang tentu tidak akan ada manfaatnya bagi Kun-lun-pai kepada kami."

"Kitab Thai-yang-tin-keng? Kitab apakah itu? Kami tidak tahu dan baru mendengar namanya sekarang," kata Kiang Tojin tanpa ragu-ragu.

Perwira itu masih bersikap sabar. "Kitab itu, sesuai dengan namanya adalah Kitab Barisan Matahari, yang ciptaan Raja Besar Jenghis Khan dan merupakan kitab pelajaran mengatur barisan yang diambil dari pengalaman-pengalaman barisan mongol ketika menyerbu ke Tiong-goan (pedalaman). Junjungan kami mohon pinjam kitab itu dari Kun-lun-pai."

"Tapi.... kami tidak mempunyai kitab seperti itu!" jawab Kiang Tojin.

Perwira itu mengangguk-ngangguk. "Mungkin bukan milik Kun-lun-pai, akan tetapi setelah pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong kabarnya jatuh ke tangan Kun-lun-pai, tentu kini kitab itu berada di tangan totiang sekalian. Kitab ini dahulu dicuri oleh Sin-jiu Kiam-ong dari gedung perpustakaan kaisar."

Sebelum Kiang Tojin dapat menjawab, terdengar teriakan keras dan tampaklah bayangan orang berlari cepat sekali dari selatan. orang ini pun berpakaian sebagai perwira, tubuhnya tinggi besar akan tetapi larinya cepat dan tubuhnya kelihatan ringan sekali, membuktikan bahwa perwira selatan ini pun memiliki kepandaian yang tak boleh dipandang ringan. Begitu tiba sebelah selatan batu tinggi, perwira ini mengerak-gerakan kedua tangannya dan berkata, suaranya seperti geledek.

"Harap para tosu Kun-lun-pai jangan sampai kena terbujuk oleh mulut para pembrontak hina! Kami percaya bahwa Kun-lun-pai tidak berjiwa pembrontak! Kitab Thai-yang-tin-keng adalah milik kaisar kami, maka sudah semestinya dikembalikan kepada kami!"

"Manusia sombong! Kami bukan pembrontak, melainkan pejuang yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, pembela kepentingan rakyat! Raja kalian yang merupakan raja lalim, penyerobot mahkota, orang muda yang tidak tahu menghormat orang tua!" Perwira utara yang bernama Han Tek Thai itu membentak marah.

"Kau pemberontak laknat! Sudah jelas membrontak terhadap pemerintahan yang syah, masih banyak cakap lagi?" bentak perwira tinggi besar dari selatan sambil menerjang maju. Dua oang perwira itu tanpa dapat dicegah lagi sudah saling terjang maju dan terjadilah saling serang. dalam gebrakan pertama, keduanya dengan marah mengirim pukulan dengan tangan dan terdengar suara keras, keduanya terhuyung ke belakang dan baju besi perisai di depan dada mereka ternyata sudah retak-retak! Akan tetapi tubuh mereka rupanya cukup kebal dan kuat sehingga tidak mengalami luka hebat. kini mereka mencabut pedang masing-masing dan siap untuk bertanding, sedangkan pasukan kedua belah fihak juga sudah berlari-lari untuk saling terjang.

Dua bayangan yang gesit sekali melayang turun dari atas batu. Mereka ini adalah Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin. Bagaikan burung garuda yang besar mereka melayang turun, Sian Ti Tojin menghadapi perwira utara sedangkan sutenya menghadapi perwira selatan. Begitu kedua orang tosu ini menggerakan tangannya, pedang kedua orang perwira itu telah dapat mereka rampas sehingga dua orang perwira itu menjadi kaget dan melongo.

"Ji-wi Ciangkun adalah tamu-tamu, mengapa tidak mengindahkan kedaulatan tuan rumah dan hendak membikin kacau Kun-lun-pai?" Kiang Tojin dari atas batu berseru menegur.

Han Tek Thai menjura dan berkata, "Maafkan kami yang terburu nafsu....."

"Apa? Kun-lun-pai hendak membela pembrontak?" bentak perwira tinggi besar dari selatan. Menyaksikan sikap kedua orang perwira yang saling bermusuhan ini, Thian Seng Cinjin menghela napas dan mengelus jenggotnya. "Siancai...., kehendak tuhan terjadilah....! Kembalikan padang mereka!" lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin mengembalikan pedang mereka lalu melangkah mundur namun masih bersiap-siap untuk bergerak apabila tamu-tamu yang tak dikehendaki ini membikin kacau lagi.

"Ji-wi Ciangkun dari utara dan selatan, dengarlah baik-baik omongan pinto! pinto Thian Seng Cinjin ktua Kun-lun-pai selama hidup tidak suka berbohong dan apa yang akan pinto katakan ini hendaknya ji-wi sampaikan kepada junjungan ji-wi masing-masing!" Suara Thian Seng Cinjin terdengar jelas sekali biarpun kakek ini bicara perlahan saja. Suaranya penuh dengan wibawa sehingga bukan hanya kedua orang perwira itu yang mendengarnya penuh perhatian, bahkan pasukan kedua fihak yang tadinya sudah bersiap-siap untuk saling hantam, kini tidak berani mengeluarkan suara, memandang kakek itu dan mendengarkan kata-katanya.

Thian Seng Cinjin dengan gerakan tenang mengeluarkan sebatang pedang kayu dari balik jubahnya dan mengangkat pedang itu tinggi di atas kepala sambil berkata.

"Hendaknya Ji-wi Ciangkun ketahui bahwa kami sama sekali tidak tahu akan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, juga tidak tahu-menahu tentang kitab Thai-yang-tin-keng itu! Satu-satunya benda peninggalan Sin-jiu Kiam-ong yang berada pada kami hanyalah pedang Siang-bhok-kiam ini dan kami pun tidak menghendaki pusaka-pusaka yang lainnya. Pedang ini telah berada di wilayah Kun-lun-pai selama puluhan tahun dan setelah berada di tangan kami, tidak akan kami serahkan kepada siapapun juga. Nah, kiranya sudah jelas keterangan kami, harap Ji-wi Ciangkun membawa pulang pasukan masing-masing dan kami melarang pasukan Ji-wi bertempur di wilayah kami. Jika larangan yang menjadi hak Kun-lun-pai ini dilanggar, terpaksa kami turun tangan tanpa memandang bulu, tanpa memihak siapapun juga!"

Tiba-tiba terdengar suara ketawa seperti kaleng dipukul disusul suara keras, "Ha-ha-ha-ha-ha, tosu tua bangka, berikan Siang-bhok-kiam kepadaku!"

"Tidak, aku lebih berhak!"

"Berikan kepadaku!"

"Padaku!"

Semua tosu Kun-lun-pai terkejut dan kiranya berturut-turut di situ telah muncul banyak orang-orang kang-ouw yang menggunakan kesempatan selagi semua tosu Kun-lun-pai bersiap menghadapi dua pasukan yang bermusuhan itu, menyelinap masuh dan tiba di tempat! Melihat tokoh-tokoh Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai, Kong-thong-pai dan orang-orang kang-ouw yang sejak dahulu mengejar-ngerjar Sin-jiu Kiam-ong, para tokoh Kun-lun-pai ini tidak mengambil pusing, akan tetapi melihat orang yang tadi mengeluarkan suara ketawa dan dua orang lain di dekatnya, Thian Seng Cinjin sendiri menjadi terkejut dan maklum bahwa sekali ini Kun-lun-pai benar-benar menghadapi saat gawat. Orang yang tertawa tadi keluar dari mulut seorng kakek tinggi besar yang tubuhnya berkulit hitam seperti arang, matanya lebar, putih dan telinganya seperti gajah, tubuh hitam itu berbulu dan di pinggangnya tergantung rantai baja terhias dua buah tengkorak manusia. Ketua Kun-lun-pai mengenal orang ini yang bukan lain adalah Pak-san Kwi-ong datuk dari utara! Dan tak jauh dari situ, berdiri sambil tersenyum-senyum tampak Pat-jiu Sian-ong kakek tua renta yang bertubuh kecil kate, berkepala besar dengan muka sempit, mengebut-ngebut lehernya dengan sebuah kebutan hudtim dengan sikap tenang sabar seolah-olah dia benar-benar seorang dewa! Agak dibelakang kelihatan nenek yang menyeramkan, menyeringai sehingga gigi yang besar-besar itu menonjol keluar, mukannya merah darah, rambut riap-riapan dan pakaiannya serba hitam. Nenek yang menjadi datuk di timur, yang namanya tidak kalah terkenalnya dari Pat-jiu Sian-ong datuk barat atau Pak-san Kwi-ong datuk utara, yaitu Ang-bin Kwi-bo!

Thian Seng Cinjin yang biasanya tenang itu kini harus menarik napas panjang untuk menekan guncangan hatinya, sedangkan para muridnya, kecuali Kiang Tojin yang juga masih tenang seperti gurunya, semua menjadi pucat wajahnya. Tiga orang datuk hitam telah hadir di situ, berarti bahwa urusan ini bukan main-main lagi!

Tidak hanya para tosu Kun-lun-pai yang menjadi gelisah, bahkan pasuka-pasukan dari utara dan selatan tercengang menyaksikan munculnya banyak orang-orang aneh ini , sedangkan dua orang perwira yang memimpin pasukan masing-masing tidak berani bergerak . Mereka maklum bahwa sekali ini mereka bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang biasanya aneh-aneh wataknya dan kejam-kejam sekali perbuatanya, maka mereka menjadi berhati-hati dan tidak ada yang berani bergerak.

"Pak-san Kwi-ong," kata Thian Seng Cinjin dengan suara sabar, "kiranya engkau ikut pula mengunjungi Kun-lun-pai! Ucapanmu tadi kurang jelas bagi pinto, harap kauulangi lagi, apakah benar kedatanganmu ini untuk meminta pedang Siang-bhok-kiam ini?" ia mengangkat lagi pedang kayu itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. Kiang Tojin melihat dengan hati geli betapa semua mata ditujukan ke arah pedang kayu itu, mengingatkan dia akan mata segerombolan anjing kelaparan melihat sepotong tulang!

"Ha-ha-ha, benar sekali! Kalau bukan untuk pedang itu, apa kau kira aku datang karena kangen kepadamu? Ha-ha-ha!" jawab Pak-san Kwi-ong.

"Baik sekali. Kalau begitu akan kutanya pula yang lain. Ang-bin Kwi-bo, engkau juga muncul, jauh-jauh datang dari timur. Apakah kehendakmu mengunjungi pinto dan perkumpulan pinto?"

"Cih, tosu bau! Siapa sudi mengunjungimu ? Aku datang untuk mengambil Siang-bhok-kiam dari tanganmu!" Ang-bin Kwi-bo menjawab sambil memandang dengan mulut mengilar ke arah pedang kayu di tangan ketua Kun-lun-pai itu.

"Kalau begitu sama kehendakmu dengan Pak-san Kwi-ong. Bagaimana dengan engkau Pat-jiu Sian-ong? Apakah engkaupun menginginkan pedang kayu yang tak berharga ini?"

"Hemmm, kalau tidak berharga masa diperebutkan, Totiang?" jawab kakek ini dengan suara yang halus dan ramah, akan tetapi kehalusan ini malah mendatangkan sesuatu yang menyeramkan . "Kalau tidak berharga, engkau pun jangan terlalu pelit, lebih baik diberikan saja kepadaku."

"Bagaimana dengan para enghiong yang hadir di sini? Apakah kedatangan Cu-wi ini pun untuk memiliki Siang-bhok-kiam ?"

"Benar, serahkan kepadaku!"

"Padaku saja!"

"Padaku.....!"

Ribut sekali suara mereka itu sehingga sambil tersenyum pahit Thian Seng Cinjin mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar mereka tidak berteriak-teriak. Keadaan mereka itu bagi kakek ketua Kun-lun-pai ini seperti anak-anak kecli yang patut dikasihani. Ia lalu berkata dengan penuh kesabaran.

"Kasihan sekali Sin-jiu Kiam-ong! Sesudah mati, barangnya masih dipakai perebutan. Cu-wi sekalian! Benda ini hanya sebuah, yang menginginkan begitu banyak, bagaimana baiknya? kalau dibiarkan, tentu kita semua akan menggunakan kekerasan saling gempur sehingga akan banyak roboh korban yang tidak ada gunanya. Pinto tidak menghendaki permusuhan, tidak menghendaki darah tertumpah di tanah Pegunungan Kun-lun-san yang suci. Karena itu, biarlah pinto menguji, siapa yang paling kuat maka dia yang akan memiliki Siang-bhok-kiam. Tidak boleh menggunakan kekerasan, dan siapapun juga yang berani menggunakan kekerasan, akan dikeroyok oleh semua yang hadir di sini. Bagaimana?"

Biarpun tokoh-tokoh besar yang menjadi datuk kaum sesat seperti tiga orang Bu-tek Sam-kwi (Tiga Iblis Tak Terlawan) ini pun menjadi gentar. Mereka itu maklum bahwa kalau seorang di antara mereka menggunakan kekerasan lalu dikeroyok oleh semua yang hadir, biarpun mereka itu ditambah tiga kepala dan enam tangan pun takkan menang! Apalagi kakek ketua Kun-lun-pai itu bersama tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang hadir, merupakan lawan-lawan yang takan mudah dikalahkan. Karena itulah, tiga orang datuk ini mengangguk-ngangguk dan semua menyatakan setuju sambil berteriak-teriak, "Akur, akur!"

"Syukur kalau Cu-wi sekalian setuju. Nah, sekarang pedang Siang-bhok-kiam berada di tanganku. Jikat di antara Cu-wi ada yang mampu mengambilnya dari tanganku, tidak menggunakan penyerangan kasar, hanya menggunakan tenaga untuk merampasnya, berarti pedang ini berjodoh dengannya." Setelah berkata demikian, tubuh kakek ini melayang turun dari atas batu besar itu, diikuti lima orang muridnya yang lain karena dua orang muridnya sudah turun. Kini kakek ini berdiri di tempat yang luas, dan tujuh orang muridnya, dikepalai oleh Kiang Tojin, siap melindungi guru mereka berdiri di belakang guru ini membentuk setengah lingkaran.Sikap ini saja sudah memberi tahu kepada semua yang hadir bahwa siapa yang hendak menggunakan kecurangan dan untuk memiliki pedang itu menyerang tubuh Tian Seng Cinjin, tentu tujuh orang tokoh Kun-lun-pai ini sekaligus turun tangan melindungi guru mereka dan menyerang dia yang bermain curang!

"Nah, silakan!" kata pula Thian Seng Cinjin yang sudah memegang gagang pedang kayu itu erat-erat dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya dengan jari terbuka ditempelkan di pusarnya sendiri, sikap yang amat baik untuk mengerahkan sinkang yang disalurkan ke tangan kanan untuk mempertahankan pedang itu.

Sebagian besar para tokoh kang-ouw yang hadir di situ sudah mengenal, atau setidaknya sudah mendengar akan kehebatan kakek yang menjadi ketua Kun-lun-pai ini, seorang di antara para lo-cianpwe yang sukar dicari tandingangannya di waktu itu. maka mereka ini menjadi jerih.

"Maafkan aku!" Tiba-tiba han-ciang-kun pemimpin pasukan utara sudah melangkah maju dan pada saat yang sama perwira tinggi besar yang memimpin pasukan selatan juga sudah maju. Akan tetapi mereka ini sama sekali bukan bermagsud mencoba kekuatan Thian Seng Cinjin, karena Han-ciangkun berkata, "Kalau berhasil merampas pedang kayu ini, apakah akan bisa mendapatkan Thai-yang-tin-keng?"

"Kalau bisa, aku pun akan mencoba!" kata perwira selatan tak mau kalah. Kiang Tojin mewakili suhunya menjawab, "Sudah kami katakan bahwa kami tidak tahu-menahu tentang kitab itu. Siapa berhasil merebut pedang menggunakan kekuatan hanya akan memiliki pedang Siang-bhok-kiam ini dan selebihnya kami tidak akan mencampuri urusan lainya!"

"Kalau begitu, buat apa pedang kayu bagi kami?" Perwira selatan berkata kecewa sambil mundur, diturut pula oleh perwira utara yang melihat bahwa tidak akan ada gunanya merampas pedang kayu.

"Nanti dulu, Thiang Seng Cinjin!" Tiba-tiba Pak-san Kwi-ong berkata dengan suaranya yang keras. "Andaikata aku maju dan berhasil dan merampas pedang Siang-bhok-kiam, pedang itu menjadi miliku?"

"Begitulah yang sudah diputuskan Suhu," jawab Kiang Tojin.

"Dan yang lain-lain tidak boleh merampas dari tanganku?"

"Selama Locianpwe berada di sini, kami akan menjamin bahwa tidak akan ada yang mengganggu tanpa berhadapan dengan kami. Tentu saja mereka berhak pula mencoba merampasnya dari tangan Locianpwe tanpa menggunakan kekerasan. Sudah diputuskan oleh suhu bahwa tidak boleh dipergunakan kekerasan di wilayah Kun-lun-pai. Tentu saja di luar wilayah Kun-lun-pai, bukanlah menjadi kewajiban kami lagi untuk mencampuri urusan siapapun juga."

"Ha-ha-ha, cukup adil! Nah, biar kucoba tenagamu, Thian Seng Cinjin!" sambil tertawa-tawa Pak-san Kwi-ong melangkah maju lalu memasang kuda-kuda di depan kakek yang menjadi ketua Kun-lun-pai itu. Dua orang datuk hitam yang lain tidaklah sekasar tokoh hitam ini. Mereka, seperti Ang-bin Kwi-bo dan Pat-jiu Sian-ong, lebih cerdik dan lebih hati-hati. Mereka itu tidak dapat mengukur sampai di mana tingkat kepandaian dan sampai di mana kekuatan sinkang ketua Kun-lun-pai ini. Sebaliknya, mereka ini sudah tahu sampai di mana kekuatan Pak-san Kwi-ong yang kalau dibandingkan dengan mereka setingkat. maka mereka itu merasa lebih "sip" untuk menanti. Mereka baru akan mencoba kalau Pak-san Kwi-ong gagal, atau baru akan berusaha merampas pedang itu dari tangan datuk hitam utara itu andaikata pedang dapat dirampas oleh Pak-san Kwi-ong.

Semua orang memandang dengan penuh ketegangan ke arah dua orang kakek yang kini sudah siap mengandu tenaga untuk memperebutkan pedang kayu itu. Sejenak mereka hanya berdiri saling tatap dengan pandang mata penuh mengeluarkan getaran karena penuh dengan tenaga sinkang. Kemudian, perlahan-lahan Pak-san Kwi-ong mengangkat tangan kanan dan menggenggam tubuh pedang kayu yang gagangnya dipegang oleh Thian Seng Cinjin, sedangkan tangan kirinya ditumpangkan ke atas sebuah di antar dua tengkorak yang tergantung di pinggangnya.

Dua orang kakek itu kelihatannya hanya diam saja seperti arca, akan tetapi sesungguhnya mereka itu mulai mengerahkan tenaga sinkang yang disalurkan melalui lengan kanan terus ke pedang kayu, saling dorong, dan saling membetot pedang. Dua tenaga sinkang raksasa yang tak tampak saling bertemu dengan hebatnya, kedua lengan tergetar dan pedang kayu itu tergetar lebih hebat lagi, sampai bergoyang-goyang mengeluarkan suara berkeretekan , kemudian....."prokkkk....!" pedang itu hancur menjadi berkeping-keping!

Terdengar seruan-seruan kaget dari semua yang menonton pertandingan itu, bahkan muka Thian Seng Cinjin sendiri menjadi pucat. Pak-san Kwi-ong yang biasanya tertawa-tawa itu kini terbelalak memandangi bagian peadng yang atas, yang telah pecah-pecar telah menjadi kepingan kayu-kayu tak berguna di tangannya. Kiang Tojin, Ang-bin Kwi-bo dan Pat-jiu Sian-ong masing-masing telah melangkah maju dan mengambil kepingan kayu yang berhamburan di atas tanah, lalu mereka meneliti kepingan-kepingan kayu itu, menciumnya.

"Ahhhhh.....!"

"Kayu biasa....!"

"Sama sekali bukan kayu mujijat!"

"Tidak harum bagian dalamnya!"

"Bukan Siang-bhok-kiam......!!" Seruan Kiang Tojin yang terakhir inilah yang membuat semua orang tercengang dan saling pandang. Thin Seng Cinjin sendiri melongo, memandang gagang pedang di tangannya dan baru ternyata olehnya bahwa gagang pedang itu kasar buatannya.

"Bu..... bukan.... Siang-bhok-kiam....?" tanyanya gagap.

Kiang Tojin berlutut di depan suhunya. "Benar , suhu. Teecu telah kena diakali Cia Keng Hong! Pedang itu tadi sama sekali buka Siang-bhok-kiam!"

"Bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa pedang itu bukan Siang-bhok-kiam?" tanya Thian Seng Cinjin dan mukanya menjadi merah karena malu. Masa dia seorang tokoh besar, ketua Kun-lun-pai, sampai dapat diakali oleh seorang bocah yang masih ingusan seperti murid Sin-jiu Kiam-ong itu? Yang lain-lain, termasuk ketiga orang Bu-tek Sam-kwi para datuk golongan hitam itu mendengarkan penuh perhatian.

"Teecu yakin. Pedang ini terbuat dari kayu pohon yang tumbuh di sini, yang memang agak wangi baunya. Pedang ini tidak mungkin Siang-bhok-kiam karena menurut kabar, pedang Siang-bhok-kiam terbuat daripada kayu yang kerasnya melebihi baja, sedangkan pedang ini terbuat dari kayu biasa. Sekarang mengertilah teecu mengapa bocah itu memberikan pedang ini kepada kita secara demikian mudah!"

"Bocah setan!" Tiba-tiba Lin Ci Tojin memaki. "Sudah kuketahui dia bukan manusia baik-baik! Ilmunya menyedot sinkang saja sudah menunjukan bahwa dia seorang calon iblis! Dan Twa-suheng begitu percaya kepadanya! Sungguh memalukan sekali!"

"Lian Ci, diam kau!" bentak Thian Seng Cinjin dengan suara nyaring karena malu dan marah. Di depan orang-orang luar yang begitu banyak, dia tidak senang sekali mendengar muridnya itu menyalahkan saudara sendiri.

Tiba-tiba Pak-san Kwi-ong tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha-ha! Alangkah lucunya! Para tosu hidung kerbau di Kun-lun-pai samapi kena dikentuti oleh murid Sin-jiu Kiam-ong bocah yang masih ingusan! Betapa lucunya hal ini akan menjadi buah percakapan mengembirakan di dunia kang-ouw. Dan tahukah kalian bahwa bocah yang sudah menipu kalian itu kini bersenang-senang main gila dengan dua orang gadis cantik murid Lam-hai Sin-ni? Ha-ha-ha, benar-benar bocah itu melebihi gurunya dalam segala hal! Kita semua telah tertipu, akan tetapi yang benar-benar makan kotoran yang dilempar anak itu adalah para tosu Kun-lun-pai!"

Wajah Thian Seng Cinjin sebentar merah sebentar pucat. Pukulan batin ini amat hebat dan elamanya baru sekali ini Kun-lun-pai mengalami hal yang benar-benar amat memalukan. Ia pun merasa tak senang kepada Kiang Tojin karena sesungguhnya penipuan ini terjadi karena rasa sayang Kiang Tojin kepada Keng Hong. Andaikata tidak begitu mendalam kasih sayang muridnya itu terhadap Keng Hong, tentu tidak begitu mudah ditipu karena sudah ada kecurigaan. Karena marah, ketua Kun-lun-pai ini lalu berkata kepada Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin, justeru dipilihnya dua orang di antara muridnya yang tadi menentang Kiang Tojin.

"Sian Ti dan Lian Ci! Sekarang juga pinto perintahkan kalian berdua pergi mencari dan menangkap Cia Keng Hong, membawa dia ke sini!"

"Baik, Suhu!" jawab dua orang tosu itu yang segera meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar. Kiang Tojin hanya memandang dengan hati prihatin karena dia sendiri pun tidak mengerti mengapa Keng Hong sampai berani melakukan penipuan seperti itu. Kalau begitu pedang Siang-bhok-kiam tentu masih dipengang anak itu, dan entah disembunyikan di mana karena kalau pedang itu dibawa-bawa, dia merasa yakin bahwa pedang itu tentu telah dirampas tokoh kang-ouw yang sakti. Akan tetapi seperti telah dilakukan para tokoh kang-ouw yang semua menyerbu ke Kun-lun-pai, hal ini menandakan bahwa mereka tidak berhasil mendapatkan Siang-bhok-kiam dari Keng Hong. Kiang Tojin mengerti bahwa suhunya marah dan kecewa kepadanya, maka dia diam saja, maklum bahwa sekali ini dia memang salah, meleset perhitungannya menilai diri Keng Hong.

Karena kesal hatinya, Kiang Tojin lalu berkata lantang kepada para tamu yang tak dikehendaki itu.

"Cu-wi sekalian membuktikan dengan mata sendiri betapa kami pihak Kun-lun-pai sendiri telah tertipu, bahwa di sini sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi yang menyangkut warisan Sin-jiu Kiam-ong. Harap Cu-wi meninggalkan tempat ini karena di antara kita sudah tidak ada urusan apa-apa lagi!"

Sambil tertawa-tawa, Bu-tek Sam-kwi berkelebat pergi, diikuti pula para tokoh kang-ouw yang pergi mengambil jalan masing-masing, namun dapat dimengerti bahwa isi hati mereka tak banyak berbeda, yaitu selain kecewa, juga masing-masing tentu mengambil ketetapan hati untuk mencari Cia Keng Hong, satu-satunya orang yang menjadi kunci rahasia dan dapat membawa mereka kembali menuju ke simpanan pusaka warisan Sin-jiu Kiam-ong. Juga kedua pasukan dari utara dan selatan itu cepat pergi kembali ke asal masing-masing tanpa bertanding. Hal ini memang lucu karena dalam keadaan biasa, dua pasukan yang bermusuhan itu tentu akan berperang mati-matian. Agaknya karena mereka bertemu dengan tokoh-tokoh yang sakti itu, hati mereka menjadi kuncup, takut kalau-kalau orang-orang sakti itu menjadi marah dan membantu salah satu fihak apabila mereka mengadakan perang di tempat itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan perang saudara yang terjadi antara utara dan selatan itu adalah akibat perebutan mahkota setelah kaisar Thaicu meninggal dunia pada tahun 1398. Ketika itu, putera sulung kaisar Thaicu telah lebih dahulu meninggal dunia dan oleh karena itu, maka sebelum dia meninggal, kaisar Thaicu telah mewariskan tahta kerajaan kepada cucunya, anak dari putera sulung itu, yang bernama Hui Ti. Di bawah perlindungan dan dukungan para pembesar yang mempergunakan kesempatan untuk mengangkat diri sendiri mencapai kedudukan tinggi dan berkecimpung dalam kemuliaan duniawi, setahun kemudian setelah kaisar Thaicu meninggal, Hui Ti naik tahta dan menjadi Kaisar Kerajaan Beng.

Peristiwa inilah yang mengakibatkan perang saudara karena Raja Muda Yung Lo, putera yang lain dari kaisar Thaicu dan yang pada waktu itu bertugas mempertahankan wilayah Beng-tiauw di bagian utara melawan penyerbuan bangsa mongol , menjadi marah dan tidak menerima pengangkatan kaisar baru itu. Menurut pendapatnya, tidaklah adil kalau mahkota diwariskan kepada keponakannya itu, dan dia yang sudah banyak berjasa terhadap kerajaan, dia sebagai putera ke dua, merasa lebih berhak mewarisi mahkota. Demikianlah, Raja Muda Yung Lo yang berkedudukan di Peking ini lalu membawa bala tentara dan menyerbu ke Nan-king dan timbullah perang saudara memperebutkan tahta Kerajaan Beng-tiauw.

Telah menjadi kenyataan dalam catatan sejarah bahwa setiap kali terjadi perang, apalagi perang saudara sesama bangsa, rakyatlah yang menderita. Yang memperebutkan kekuasaan demi kemuliaan diri sendiri adalah beberapa gelintir orang besar, akan tetapi yang dijadikan makanan golok dan pedang adalah perajurit-perajurit, anak rayat jelata. Peadng mendatangkan akibat yang lebih buruk lagi, yaitu kekacauan dan kejahatan merajalela, mempergunakan kesempatan selagi pemerintah mencurahkan kekuatan untuk berperang, di mana penjagaan keamanan untuk rayat menjadi kosong sehingga terjadilah perampokan-perampokan, pembakaran dusun-dusun, penculikan dan pemerkosaan semena-mena. Tidak jarang pula terjadi pasukan-pasukan yang selalu hidup berhadapan dengan maut, yang oleh perang digembleng menjadi manusia-manusia haus darah yang selalu menderita karena tekanan-tekanan batin, karena tekanan-tekanan lahir, berubah menjadi manusia-manusia yang lebih ganas daripada para penjahat. Dengan dalih "berfihak kepada musuh" banyaklah rakyat jelata menjadi korban keganasan mereka, hanya karena mereka itu silau oleh harta dan silau oleh kecantikan wanita!

Keadaan yang kacau-balau di sepanjang jalan yang dilalui Keng Hong inilah sesungguhnya yang bahkan menolong Keng Hong, membuat para tokoh kang-ouw termasuk dua orang tosu Kun-lun-pai kehilangan jejaknya. Setahun lebih Keng Hong merantau, tujuannya adalah kembali ke Kun-lun-san karena dia sudah mengambil keputusan untuk memperdalam ilmunya setelah mengalaman-pengalaman pahit yang dia derita. Ia harus memiliki ilmu kepandaian yang tinggi kalau dia tidak menghedaki gangguan-gangguan di masa depan. Akan tetapi, kekacauan yang terjadi dimana-mana membuat dia tersasar dan ada kalanya mengambil jalan memutar, ada kalanya harus kembali lagi kalau terhalang oleh perang yang dahsyat.

Pada suatu pagi dia memasuki dusun Ciang-cung yang terletak di kaki gunung Min-san, di lembah sungai Cia-liang. Karena sungai Cia-liang ini mengalirkan airnya ke sungai Yang-ce-kiang yang merupakan jalan perhubungan yang terbaik dan tercepat menuju ke pedalaman, maka dusun Ciang-cung ini cukup ramai. Tanpa diketahuinya secara tepat, Keng Hong sudah makin dekat dengan Kun-lun-san yang berada di sebelah barat Gunung Min-san.

Makin ke barat, makin berkuranglah perang, karena bala tentara kedua fihak memperebutkan daerah-daerah antara Peking-dan Nanking. Biarpun demikian, wilayah barat ini tak dapat dikatakan tenteram sama sekali dan akibat perang saudara melanda juga daerah yang jauh dari pusat tempat perang itu sendiri. Di sini timbul kekacauan-kekacauan dan para penjahat merajalela, berpesta-pora seolah-olah gerombolan tikus yang berada dirumah kosong, ditinggal pergi oleh kucing-kucing yang mereka takuti.

Ketika Keng Hong memasuki dusun Ciang-chung di pagi hari itu, segera dia melihat akibat kekacauan yang melanda di mana-mana. Sepagi itu telah ada orang berkelahi. Seperti biasa, dan Keng Hong akhir-akhir ini sering kali melihat orang bertempur, dia hendak mengambil jalan lain agar tidak terlibat dalam perkelahian itu. Terlalu banyak orang berkelahi bunuh-membunuh yang dijumpainya di mana-mana sehingga dia menjadi muak dan bosan. Tidak mungkin dia mencampuri urusan orang-orang lain itu yang semua diakibatkan oleh perang sehingga masing-masing membela fihak pilihannya sendiri. Sekali ini pun dia tidak peduli dan tentu Keng Hong sudah meninggalkan dusun itu untuk melanjutkan perjalanannya kalau saja dia tidak mendengar bentakan-bentakan nyaring suara wanita. Yang berkelahi itu ternyata adalah seorang wanita yang dikeroyok banyak laki-laki! Hal ini menarik perhatian keng Hong dan menggerakan hatinya untuk menghampiri tempat pertempuran. Betapapun juga, kalau melihat seorang wanita dikeroyok belasan orang laki-laki seperti itu, tak mungkin dia tinggal diam saja. Gurunya pasti akan memakinya kalau dapat melihat dia mendiamkan saja seorang wanita dikeroyok belasan orang laki-laki!

Setelah dekat dengan tempat pertempuran itu, dia melihat dua belas orang laki-laki mengeroyok seorang gadis berpakaian biru muda. Hatinya menjadi kagum sekali. Bukan hanya kagum akan kegesitan dan keindahan gadis itu bermain pedang melayani pengeroyokan belasan orang lawan yang kasar-kasar, kuat dan bersenjata golok itu, melainkan terutama sekali melihat wajah yang cantik jelita, mata yang bersinar-sinar seperti mata burung hong, mukanya yang putih kemerahan, tubuh yang padat ramping, pendeknya, seorang gadis yang amat cantik! Yang membuat Keng Hong terheran-heran dan penasaran adalah ketika dia melihat bahwa di situ tidak ada orang yang berani mendekat, apalagi melrai perkelahian, bahkan rumah-rumah dan warung-warung terdekat sudah menutup pintu dengan tergesa-gesa. Tampak olehnya ada empat orang laki-laki tinggi besar yang sudah roboh berlumuran darah, juga seorang pemuda remaja terduduk di atas tanah memegang pundaknya yang terluka terkena bacokan.

Ilmu pedang gadis itu lihai, akan tapi menghadapi pengeroyokan dua belas orang laki-laki kasar itu, si gadis menjadi repot juga. Apalagi karena para pengeroyoknya mengeluarkan kata-kata yang kasar dan kotor, dengan ancaman-ancaman yang menjijikan, membuat gadis itu makin merah mukanya dan makin kacau gerakan pedangnya.

"He, kawan, jangan sampai dia terluka!"

"Jangan membikin cacat wajahnya yang cantik halus!"

"Biarkan dia kehabisan tenaga, tentu akan menyerah sendiri, ha-ha-ha!"

"Wah, kalau tenaganya habis, bagaimana bisa melayani kita?"

"Jangan khawatir, gadis kang-ouw simpanan ini tenaganya kuat, heh-heh-heh!"

"Robek-robek dan tanggalkan semua pakaiannya, berikan padaku lebih dulu!"

"Aku dulu!"

"Aku dulu!"

"Eh, kawan-kawan. Mengapa ribut-ribut? Biar dia kita tangkap dulu , baru kita mengadakan undian siapa yang akan menikmatinya lebih dulu!"

Muka Keng Hong menjadi merah sekali. Dia hendak turun tangan membantu, akan tetapi dia masih belum tahu apa urusanya, dan apa yang menyebabkan mereka berkelahi. Kalau dia langsung membantu gadis itu, apakah itu adil namanya? Siapa tahu, gadis ini yang berada di fihak salah. Maka dia menanti dan memandang penuh perhatian.

Gadis baju biru itu sudah mulai lelah. Gerakannya lambat dan ketika tiga buah golok secara berbareng menangkis pedangnya dengan pengerahan tenaga kasar, gadis itu menjerit, pedangnya terlempar dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Banyak tangan menyambarnya dan..... "brettt.... aihhh.....!!" sebagian bajunya terobek berikut baju dalamnya sehingga tampaklah leher, pundak dan sebagian dada kiri yang berkulit putih halus seperti susu.

Keng Hong tak dapat lagi menahan kemarahannya. Ia meloncat maju dan membentak, "Orang-orang kuang ajar! Mundur....!!" Sekali tangkap dia telah mencengkeram dua orang laki-laki di bagian tengkuknya dan bagaikan melempar rumput kering saja, dia melontarkan dua orang itu ke belakang sehingga mereka terpental dan terlempar sejauh empat meter, terbanting dan bergulingan. Dia tidak berhenti sampai di situ, kaki tangannya bergerak dan kembali empat orang laki-laki terlempar jauh dan jatuh bangun!

Empat orang yang lain cepat mebalikan diri dan golok-golok di tangan mereka menyambar. Akan tetapi, mereka itu hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan keberanian, tenaga kasar dan golok. Begitu Keng Hong menggerakan tangannya, angin dorongan tangan itu membuat keenam orang pengeroyok terhuyung mundur. Dua orang yang agaknya menjadi pimpinan mereka menjadi penasaran, berseru keras dan menerjang maju lagi dengan golok mereka. Keng Hong mendahului mereka, menyapok keras dan terdengar bunyi "krek-krek!" ketika tangan Keng Hong bertemu dengan pergelangan tangan mereka yang menjadi patah tulangnya. Mereka meringis kesakitan dan melompat mundur, tidak berani maju lagi.

"Masih tidak lekas minggir dari sini?" Keng Hong menghardik, pandang matanya tajam menusuk. Dua belas orang itu tidak berani untuk mencoba-coba lagi, mereka lalu pergi membawa teman-teman yang terluka. Ternyata jumlah mereka semua ada enam belas orang, yang empat telah dirobohkan gadis cantik itu.

Setelah mereka semua kabur, Keng Hong menoleh dan melihat gadis itu tengah menolong pemuda remaja yang terluka pundaknya. Terdengar olehnya suara gadis itu halus, "Bagaimana, adikku? Parahkah lukamu?"

Pemuda remaja itu mengigit bibirnya dan menggeleng kepala. "Kurasa tulangnya patah....Cici, lekas haturkan terima kasih...."

Gadis baju biru itu agaknya seperti baru teringat, cepat ia membalikan tubuhnya menghadapi Keng Hong yang berdiri memandang mereka , kemudian ia menjatuhkan diri berlutut sambil berkata.

"Saya Sim Ciang Bi dan adik saya Sim Lai Sek menghaturkan terima kasih atas pertolongan Taihiap (Pendekar Besar) yang telah menyelamatkan nyawa kami."

Dua macam perasaan memenuhi hati Keng Hong mendengar ucapan itu. Dia disebut taihiap! Dia merasa bangga dan juga jengah. Tentu gadis ini menganggap dia seorang pendekar yang berilmu tinggi karena dalam segebrakan saja mampu mengusir dua belas orang laki-laki kasar tadi. Padahal kalau mempergunakan ilmu silat, tanpa disertai tenaga sinkang yang luar biasa, belum tentu dia menang lihai daripada gadis itu sendiri. Bangga karena mulut yang manis dan mungil itu menyebutnya taihiap, namun jengah dan malu karena dia sendiri merasa amat tidak pantas disebut seorang pendekar besar.

"Ah, harap jangan sungkan, bangkitlah, Nona," katanya sambil mengangkat bangun gadis itu. Ketika kedua telapak tangannya menyentuh pundak itu, terasa hawa yang hangat lunak keluar dari daging pangkal lengan yang halus itu dan berdebarlah jantung Keng Hong, apalagi ketika matanya bertemu pada sebagian dada yang telanjang itu. Pandang matanya seperti lekat pada kaki dan lereng bukit dada yang putih halus.

"Cici.... bajumu....!" Pemuda remaja itu memperingatkan cicinya yang saat itu sedang memandang wajah Keng Hong. Gadis itu merintih perlahan dan mukanya menjadi merah sekali. Keng Hong cepat membuka jubahnya dan menyelimutkan jubah ini pada tubuh si gadis yang memandangnya dengan sinar mata berterima kasih. Hal ini membebaskannya dari rasa malu, apalagi kalau diingat bahwa kini banyak orang mendatangi tempat itu. Mereka ini adalah penduduk dusun yang baru berani keluar setelah perkelahian itu berakhir.

"Ah, masih untung Sam-wi dapat lolos dari pengeroyokan mereka. Harap Sam-wi segera pergi meninggalkan dusun ini, karena kalau tidak ..... mereka pasti datang lagi dan menyusahkan Sam-wi (Tuan bertiga)." Yang berkata demikian adalah seorang kakek, mukanya membayangkan kegelisahan.

Keng Hong mengerutkan alisnya. Dia sudah membantu dan dia tidak boleh kepalang tanggung membantu nona ini. "Lopek, kami tidak takut menghadapi ancaman mereka. Biarkan mereka datang, akan kami hajar mereka semua! Saat ini kami perlu untuk merawat adik yang terluka ini. Siapakah di antara Cu-wi (Tuan sekalian) yang sudi menolong kami, meminjamkan tempat istirahat dan berobat?"

Akan tetapi, sekian banyaknya pasang mata hanya memandangnya dengan terbelalak, penuh kekhawatiran dan tak seorang pun menawarkan tempatnya. Kakek itu cepat berkata.

"Enghiong (Orang gagah) harap dapat memaklumi keadaan kami. Mereka itu adalah kawanan buaya darat yang tinggal di dusun tak jauh dari sini. Kalau mereka mendengar ada seorang di antara kami berani membantu Sam-wi, tentu yang membantu itu akan celaka.....!"

"Pengecut!" Tiba-tiba Sim Lai Sek yang terluka pundaknya itu berseru marah. "Apakah dikira kami tidak akan membela dia yang menolong kami? Dan kami bersedia membayar sewa kamar dan harga obat!"

Keng Hong hanya tersenyum dan maklum akan rasa penasaran pemuda remaja itu, yang ternyata tampan seperti cicinya, sepasang matanya lebar dan mukanya membayangkan keberanian.

"Maaf, Siauw-enghiong. Kami percaya akan kegagahan Sam-wi, akan tetapi maukah Sam-wi selamanya tinggal di dusun ini?"

"Apa....??" Kini gadis cantik itu yang bertanya, matanya terbelalak heran dan Keng Hong terpaksa harus mengalihkan pandangnya karena mata itu amat indahnya sehingga dia khawatir kalau-kalau dia akan melongo menikmati keindahan itu.

"Nona, dan Siauw-te, harap Ji-wi memaklumi kekhawatiran mereka ini. Lopek ini benar. Memang, selama kita masih berada di sini, penjahat-penjahat itu tidak berani datang mengganggu. Akan tetapi tidak mungkin kita tinggal selamanya di sini dan kalau kita sudah pergi lalu mereka datang mengamuk, membalas dendam kepada penduduk dusun ini, bukankah sama saja artinya dengan kita yang mencelakakan penduduk di sini?"

Enci dan adik itu tercengang dan mengangguk-angguk. "Ah, kalau begitu apa gunanya ada penjaga keamanan? Apa gunanya ada pembesar setempat? Bukankah di sini ada kepala dusun wakil pemerintah?" Sim Lai Sek masih mencoba untu k menyatakan rasa penasarannya.

Kakek itu menggeleng kepala dan menghela napas panjang. "Siauw-enghiong, hal begini saja masa Eng-hiong masih belum tahu? Semenjak saya masih kanak-kanak ampai sekarang sudah kakek-kakek, mana ada jaminan keamanan dan keselamatan bagi rakyat jelata? Memang selalu ada penjaga keamanan, ada pembesar setempat, akan tetapi kenyataan pahit yang menyedihkan namun tak dapat disangkal adalah bahwa penjaga keamanan di sini hanya namanya saja penjaga keamanan, namun pada kenyataanya adalah pengacau keamanan. Mereka hanya menjadi pelindung-pelindung bayaran, dan mempergunakan kekuasaan untuk kesenangan sendiri. Adapun pembesar hanya namanya saja besar, akan tetapi, jiwanya kecil dan lalim. Sudahlah, harap Sam-wi memaklumi keadaan kami rayat kecil yang melarat dan tidak menambah beban kami yang sudah berat."

"Mari kita keluar dari dusun ini, biarlah saya mencarikan tempat istirahat untu kJi-wi," kata Keng Hong dan tanpa menanti lagi dia lalu membungkuk dan memondong tubuh Sim Lai Sek yang terluka. pemuda remaja ini sudah amat lemah, bukan hanya oleh lukanya di pundak yang mematahkan tulangnya , namun juga karena lemas kehilangan banyak darah.

"Di luar dusun, dalam hutan sebelah barat terdapat sebuah kuil yang kosong. Kiranya Sam-wi dapat beristirahat di sana. Sam-wi dapat membawa bekal obat dan bahan makanan," kata pula si kakek yang sesungguhnya menaruh rasa kagum dan simpati kepada tiga orang muda yang telah berani menentang para buaya darat yang semenjak dahulu merupakan gangguan di dusun itu.

Setelah Ciang Bi, gadis itu, membeli obat-obat dan bahan makanan, brangkatlah mereka bertiga kelura dari dusun memasuki hutan sebelah barat dan benar saja, di tengah hutan itu mereka menemukan sebuah kuil tua yang kosong, akan tetapi lumayan untuk tempat berteduh dan mengaso. Keng Hong lalu merebahkan tubuh Lai Sek di atas lantai yang telah di bersihkan oleh Ciang Bi. Kemudian dia membantu gadis itu menggodok obat dan merawat Lai Sek.

Setelah pemuda remaja minum obat, makan bubur dan tertidur nyenyak, Ciang Bi dan Keng Hong duduk di ruang luar kuil, di atas batu-batu halus yang agaknya dahulu dipakai untuk bersamadhi para pendeta peenghuni kuil. Sampai lama mereka berdiam diri dan setiap kali mereka bertemu pandang, gadis itu menundukan mukanya dan bibir yang merah dan segar selalu itu tersenyum malu-malu.

"Taihiap...."

"Ah, jangan menyebut aku taihiap, Nona. Aku seorang biasa saja yang kebetulan dapat membantumu. Namaku Keng Hong, Cia Keng Hong."

"Tapi..... kepandaianmu sunggguh amat luar biasa, Taihiap. Sungguh membuat hatiku kagum."

"Kepandaianmu bermain pedang pun hebat, Nona. Tidak bisa aku yang bodoh dibandingkan denganmu. Engkau masih muda sudah amat pandai bermain pedang, gerakanmu cekatan dan ringan, permainan pedangmu indah sekali seperti seorang bidadari menari dan kau...... kau cantik jelita sekali, Nona."

Gadis itu cepat menengokdan menatap wajah Keng Hong. Akan tetapi ia tidak melihat pandang mata kurang ajar, hanya melihat sinar kekaguman yang jujur terpancar keluar dari sepasang mata yang tajam itu sehingga ia tidak jadi marah, bahkan lalu menunduk dengan muka merah, bibirnya tersenyum, matanya mengerling dan jantungnya berdenyut, penuh kegembiraan. Wanita manakah di dunia ini yang takan menjadi dak-dik-duk hatinya kalau menerima pujian-pujian yang begitu jujur dari seorang pemuda yang amat gagah perkasa dan tampan pula?

Sejenak mereka diam tak berkata-kata. Keadaan ini tidak mengganggu Keng Hong yang menikmati pemandangan indah di depannya, rambut yang hitam mulus dan halus panjang terurai itu, wajah yang cantik sekali sepasang mata seperti mata burung hong, hidung kecil mancung yang cupingnya dapat bergerak-gerak sedikit di waktu merasa malu dan merah, mulut yang indah bentuknya dengan sepasang bibir yang seolah-olah dicat merah, merah semringah dan lalu segar, sepasang pipinya kemerahan seperti buah tomat setengah matang, dagu kecil meruncing yang kalau digerakan menimbulkan lesung pipit di atasnya. Tubuh yang ramping padat dan biarpun kini tertutup jubah Keng Hong yang terlalu besar, masih tak dapat menyembunyikan bentuknya yang menggairahkan.

Biarpun mereka tak berkata-kata, Keng Hong tidak merasa kesepian. Akan tetapi gadis yang maklum betapa sepasang mata orang yang dikaguminya itu memandangnya penuh kekaguman, menjadi tak tenang dan akhirnya ia berkata lirih.

"Ciap-taihiap, betapa aku akan dapat membalas budimu yang amat besar? Biarlah aku dan adikku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu....."

"Ihhh, Nona, mengapa begini sungkan? lupakan saja apa yang telah kulakukan semua karena itu tak lain hanyalah pelaksanaan kewajiban seorang manusia yang haru membantu manusia lain yang sedang tertimpa kemalangan."

"Engkau gagah dan bijaksana, taihiap...." Gadis itu memandang dan sejenak pandang mata mereka saling melekat. Keng Hong dapat menangkap sinar kemesraan memancar dari pandang mata di balik bulu mata lentik itu, akan tetapi hanya sebentar karena gadis itu sudah cepat-cepat menundukan mukanya kembali.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari sebelah dalam kuil. Keduanya cepat melesat ke dalam kuil seperti berlumba, dan berbareng mereka memasuki ruangan di mana tadi Lai Sek rebah dan tidur. Kini pemuda remaja itu sudah bangun, akan tetapi masih rebah dan kelihatan gelisah sekali, mulutnya mengeluarkan teriakan-teriakan marah seperti orang sedang berkelahi, kaki tangannya bergerak-gerak tapi matanya meram. Keng Hong menarik napas lega. Kiranya pemuda itu hanya mengigau saja.

"Dia diserang demam!" Seru Ciang Bi khawatir ketika meraba leher adiknya itu. Keng Hong meraba dahi pemuda itu dan ternyata pemuda itu diserang demam panas.

"Biar kucari obat di dusun itu untuk melawan demamnya," kata Keng Hong dan tanpa menanti jawaban dia sudah berkelebat lari menuju ke dusun itu. Pemilik toko obat dengan senang hati memberikan obat penolak demam yang disebabkan luka, dan pemuda ini cepat kembali lagi kedalam hutan .

Dapat dibayangkan betapa marah hatinya ketika melihat bahwa di depan kuil itu telah penuh dengan orang-orang yang dia kenal adalah orang-orang yang tadi mengeroyok enci dan adik itu. Jumlah mereka kini tidak kurang dari tiga puluh orang dan paling depan berdiri seorang laki-laki tinggi besar bermuka mereh yang membawa golok besar. Laki-laki tinggi ini sedang bicara dengan Ciang Bi, menuding-nudingkan goloknya ke arah gadis itu yang bersikap tenang dengan pedang di tangan, siap untuk melayani pengeroyokan. Keng Hong mempercepat larinya dan dengan gerakan indah dia meloncati kepala mereka yang mengurung, langsung turun di dekat Ciang Bi. Gadis ini berseri wajahnya melihat datangnya penolongnya.

Keng Hong tidak mempedulikan si tinggi besar , bahkan memberikan bungkusan obat kepada gadis itu sambil berkata, "Nona, kauserahkan tikus-tikus ini kepadaku. Lekas masak obat ini dan minumkan kepada adikmu."

Gadis itu meragu, menyapu para penjahat itu dengan matanya. Agaknya ia merasa berat meninggalkan pemuda penolongnya itu seorang diri saja menghadapi sekian banyaknya penjahat, apalagi yang kini dipimpin oleh kepala mereka yang kelihatannya kuat dan lihai.

"Akan tetapi......"

"Jangan membantah, lebih baik lekas tolong adikmu. Aku sanggup melayani mereka ....."

"Taihiap, pakailah pedangku......."

"Terima kasih. Tidak usah. Menghadapi segala macam tikus busuk, perlu apa menggunakan pedang?"

Sejenak gadis itu memandangnya, memandang dengan sinar mata mesra seperti tadi, akan tetapi kini lebih lama lebih jelas sehingga Keng Hong-lah yang lebih dulu menundukan muka karena tak tahan menghadapi pemandangan yang mengguncang perasaannya ini. Gadis itu lalu berlari masuk membawa obat dan pedangnya, sedangkan Keng Hong lalu menghadapi kepala penjahat sambil berkata.

"Kalian ini mau apakah? Puluhan orang laki-laki tinggi besar mendesak dan menggangu seorang gadis muda dan adiknya yang sedang sakit, sungguh perbuatan yang amat gagah!"

Kepala penjahat itu usianya kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya membayangkan tenaga yang amat kuat dan goloknya amat besar dan kuat, sikapnya menyeramkan. Mukanya merah seperti wajah kwan Hong pahlawan di jaman Sam-kok, dengan kumis dan jenggotnya hitam lebat, sepasang matanya yang lebar itu kemerahan. Dengan gerakan goloknya dia menudingkan ke arah Keng Hong dan suaranya serak ketika bertanya kepada anak buahnya.

"Inilah pemuda usilan itu?"

"Benar dia, Twako!" kata seorang di antara mereka yang tadi dihajar Keng Hong. Kepala penjahat itu kembali memandang Keng Hong penuh perhatian, seolah-olah tidak dapat percaya bahwa pemuda itu usianya paling banyak sembilan belas tahun ini mampu merobohkan dua belas orangnya!

"Siapa namamu?" bentaknya, sikapnya sombong dan memandang rendah.

"Namaku Cia Keng Hong."

"Kamu orang Hoa-san-pai juga?"

Pertanyaan ini menyadarkan Keng Hong bahwa enci dan adik itu tentulah murid Hoa-san-pai. Pantas saja ilmu pedangnya demikian indah. Ia menggeleng kepala dan menjawab, "Aku bukan dari partai mana-mana, aku seorang yang kebetulan lewat dan tidak tahan melihat belasan laki-laki tinggi besar mengeroyok seorang wanita. Mengapa kalian tidak insyaf akan perbuatan pengecut dan memalukan itu, bahkan kini datang lagi mengganggu? Lebih baik kalian sadar dan pergi saja, karena perbuatan kalian ini hanya akan membuat kalian tercela dan ditertawai orang gagah sedunia."

"Bocah sombong! Bocah usilan! Kami mempunyai urusan sendiri dengan orang Hoa-san-pai, ada sangkut pautnya apa denganmu? Engkau sudah bosan hidup!" Kepala penjahat itu sudah menerjang dengan goloknya dan terdengar suara mendesing ketika golok itu menyambar ke arah kepala Keng Hong. Pemuda ini belum sempurna mempelajari ilmu silat dan yang sudah dipelajarinya hanyalah delapan jurus ilmu serangan dan ilmu pedang yang belum matang, maka dia kaget dan cepat meloncat mundur. Loncatannya ringan dan cepat sekali, namun gerakanya mengelak kaku. Hal ini dilihat oleh kepala penjahat yang ilmu silatnya lumayan juga, maka sambil berseru keras dia maju lagi menubruk sambil membacokan goloknya. Namun sekali ini Keng Hong yang maklum akan bahaya yang mengancam dirinya, sudah mendahuluinya dengan pukulan atau dorongan kedua tanganya ke depan. Ia menggunakan telapak tangannya mendorong sambil mengerahkan sinkang. Terdengar penjahat tinggi besar itu menjerit dan roboh terjengkang, muntahkan darah segar, matanya mendelik dan nyawanya melayang di saat itu juga!

Melihat robohnya pemimpin mereka, orang-orang kasar itu menjadi marah sekali dan sambil berteriak-teriak memaki mereka sudah menerjang maju, mengeroyok Keng Hong dengan senjata mereka,. Keng Hong yang belum banyak pengalamannya dalam pertempuran, apa lagi kalau dikeroyok tiga puluh orang yang memegang senjata tajam, menjadi bingung sekali. Akan tetapi untung baginya bahwa gemblengan mendiang gurunya ditekankan kepada sinkang dan ginkang sehingga tubuhnya yang mengelak dan meloncat ke sana-sini itu jauh lebih cepat daripada gerakan para pengeroyoknya sehingga mereka menjadi bingung karena bagi mereka, tubuh pemuda itu seperti lenyap dan berkelebatan seolah-olah pemuda itu telah berubah menjadi sesosok bayangan yang sukar diserang. Melihat betapa dengan mudah dan leluasa dia dapat bergerak di antara pengeroyoknya yang menurut pandangannya bergerak sangat lambat itu, timbul kegembiraan di hati Keng Hong. Baru sekarang dia mengerti mengapa suhunya dahulu menekankan latihan sinkang dan ginkang. Kiranya, waktu yang amat pendek ketika dia belajar dahulu telah diisi dengan dasar daripada syarat utama dalam ilmu silat, yaitu kecepatan gerakan dan kekuatan dalam. Kini, setelah dengan mudah dia dapat menghindarkan semua serangan mengandalkan kecepatan gerakannya, dia mulai balas menyerang dan betapa mudahnya merobohkan mereka itu. Dengan satu kali tamparan, atau tendangan saja dia mampu merobohkan seorang pengeroyok. Keng Hong mengamuk, dan biarpun di pandang oleh mata orang lain dia dikeroyok dan dikepung, namun kenyataannya, seorang demi seorang dari para pengeroyoknya dapat dia robohkan dan makin lama pengeroyokan itu menjadi makin kacau.

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan para pengeroyok yang sudah kehilangan tujuh orang teman dirobohkan Keng Hong. Para pengeroyok yang berada di sebelah luar berjatuhan dan dalam sekejap mata saja ada lima orang roboh! Keng Hong melirik dan pandang matanya yang tajam hanya dapat melihat sinar putih berkelebatan, maka maklumlah dia bahwa ada orang membantunya dengan menggunakan senjata rahasia untuk merobohkan para pengeroyok. Ia menjai gembira dan kembali dua orang dapat dia robohkan dengan tamparan kedua tangannya. Para pengeroyok menjadi makin panik dan akhirnya mereka itu melarikan diri pontang-panting, meninggalkan teman-teman yang tewas atau terluka.

"Sahabat baik yang telah membantuku, harap suka keluar!" Keng Hong berteriak memanggil setelah semua pengeroyoknya pergi. Namun tidak ada jawaban, juga tidak tampak gerakan di balik pohon-pohon. Keadaan sunyi, kecuali suara merintih yang keluar dari mulut mereka yang terluka.

"Dia telah pergi, In-kong......"

Keng Hong membalikan tubuhnya, melihat bahwa Ciang Bi telah berdiri di pintu kuil dengan pandang mata penuh kagum dan bersyukur kepadanya. Gadis itu kini menyebutnya "in-kong" (tuan penolong).

"Dia siapa, Nona?"

"Entahlah, akan tetapi aku melihat berkelebatnya bayangan seorang wanita berpakaian putih di balik pohon sana. Dia membantumu dengan cara bersembunyi, tentu kini telah pergi. Tentu In-kong mengenal dia."

Berdebar jantung Keng Hong. Gadis baju putih yang lihai? Siapa lagi kalau bukan Biauw Eng? Ia menghampiri lima orang pengeroyok yang tadi roboh dan melihat bahwa mereka ini telah tewas, pelipis mereka remuk oleh bola-bola putih berduri yang dia kenal sebagai senjata rahasia Biauw Eng! Ah, kembali gadis itu telah menolongnya. Akan tetapi mengapa menolong sambil bersembunyi? Mengapa tidak menemuinya?

"In-kong tentu mengenal gadis yang lihai itu, bukan?"

Keng Hong mengangguk, kemudian bertanya, "bagaimana dengan adikmu?"

Gadis itu memandang penuh terima kasih. "Berkat pertolonganmu, adiku telah turun panasnya. Berkat pertolonganmu, kami kakak beradik masih dapat bernapas sampai saat ini. Tidak tahu bagaimana kami akan dapat membalas budimu yang besar." Tiba-tiba gadis itu menjatuhkan diri berlutut.

Sekali meloncat, Keng Hong sudah tiba di depan gadis itu, memegang pundaknya dan mengangkatnya bangun. Darahnya berdesir ketika dia menyentuh kedua pundak itu. Dari luar baju dia dapat merasakan halusnya kulit pundak itu. Cepat dia melepaskan kedua tangannya setelah Ciang Bi bangkit berdiri. Sejenak mereka berpandangan dan dari sepasang mata yang indah itu bersinar kemesaraan yang membuat bulu tengkuk Keng Hong berdiri dan jantungnya berdebar-keras.

"Jangan memberi penghormatan secara berlebihan, Nona. Sudah kukatakan bahwa semua yang kulakukan bukanlah pertolongan melainkan kewajiban. Sekarang kita harus cepat pergi dari sini.Tempat ini amat tidak baik dan tidak enak untuk tinggal di sini." Ia memandang ke arah mayat-mayat dan orang-oran terluka. "Mari kita mencari tempat lain untuk merawat adikmu sampai sembuh."

Ciang Bi mengangguk dan Keng Hong lalu memasuki kuil. Sim Lai Sek, pemuda remaja berusia enam belas tahun itu, sudah turun demamnya dan hanya masih lemah. Ia tersenyum dan hanya masih lemah. Ia tersenyum dan wajahnya yang pucat itu menyinarkan kekaguman ketika dia memandang Keng Hong.

"Engkau hebat dan baik sekali......., Taihiap....." katanya lemah. Keng Hong tak menjawab, hanya membungkuk dan memondongnya sambil berkata.

"Kita harus pergi dan mencari tempat lain."

Pemuda itu kelihatan sungkan. "Aku dapat berjalan sendiri, Taihiap."

"Engkau masih lemah dan kita perlu melakukan perjalanan cepat pergi dari tempat ini," kata Keng Hong yang segera lari dari kuil itu, diikuti oleh Ciang Bi. Mereka berlari terus keluar dari hutan itu tanpa bercakap-cakap. Ciang Bi selalu tersenyum dan kaadng-kadang melontarkan kerling penuh kagum dan bersyukur ke arah pemuda yang memondong adiknya. Keng Hong berlari sambil melamun karena pikirannya penuh dengan bayangan Biauw Eng yang dia anggap aneh sekali, menolongnya secara sembunyi-sembunyi dan tidak mau menemuinya.

Karena malam tiba, akhirnya mereka terpaksa menghentikan perjalanan. Untung mereka mendapatkan sawah ladang yang luas dan di situ terdapat beberpa buah gubuk kecil, tempat para petani berteduh dan menjaga sawah. Sunyi senyap di tempat itu dan langit amat cerah, biarpun tidak ada bulan malam itu, namun bintang-bintang memenuhi angkasa dan tidak ada bayangan pohon yang menggelapkan tempat itu. Keng Hong merebahkan tubuh Lai Sek dalam sebuah gubuk, kemudian dia pergi untuk mencari bahan makanan untuk mereka, adapun Ciang Bi menjaga adiknya yang masih amat lemah.

"Cici, dia baik sekali....." kata pemuda remaja itu kepada kakaknya setelah bayangan Keng Hong lenyap ditelan cuaca yang suram.

Gadis itu mengangguk, termenung sampai lama kemudian terdengar bisikan adiknya.

"Dia lihai sekali. Murid siapakah dia, Cici? Dari golongan mana?"

Gadis itu menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Seluruh perasaannya terselimut bayangan Keng Hong, rongga dada dan kepalanya penuh oleh pemuda penolongnya yang amat menarik hatinya itu. "Aku tidak tahu......, kami belum sampai bicara tentang itu....."

"Eh, mengapa begitu, Cici? kita telah ditolongnya, dibebaskannya dari ancaman maut sampai dua kali, bahkan dia terus menjaga dan merawatku. Kita harus tahu siapa dia, bagamana keadaannya dan dari golongan mana. Betapapun juga, budi sebesar ini harus kita balas kelak. Bahkan kita harus melaporkan kepada suhu agar Hoa-san-pai kelak dapat membalas budinya."

"Sudahlah, kau mengaso Lai Sek. Kulihat dia itu tidak begitu suka untuk diingatkan akan budinya."

"Tetapi..... kau harus bertanya tentang gurunya, partainya......"

Gadis itu menutup mulut adiknya dengan telapak tangannya yang halus. "Akan kulakukan itu, sekarang minumlah obat ini lebih dulu." Ciang Bi telah membuat api unggun dan memanaskan obat dalam tempat obat dari tanah yang tadi dibawanya, obat dan tempatnya yang didapat oleh Keng Hong sebelum para penjahat tadi datang menyerbu.

Lai Sek terpaksa minum obat yang pahit itu dan rasa pahit melenyapkan nafsu bicaranya dan dia mulai memejamkan matanya. Tubuhnya masih letih sehingga sebentar saja dia tertidur pulas.

Keng Hong datang membawa beberapa buah bakpauw panas dan seguci besar terisi air the yang dibelinya dari dusun tak jauh dari sawah itu. Ia menawarkannya kepada Ciang Bi dan mereka lalu makan minum tanpa bicara, menyisihkan bagian Lai Sek agar dapat dimakan pemuda itu kalau sudah bangun. Kemudian keduanya duduk dekat api unggun.

"Syukur kalau adikmu telah sembuh, Nona," Keng Hong berkata untuk memecahkan kesunyian yang mencekam sambil memandang wajah jelita itu yang disinari cahaya api unggun kemerahan.

"Berkat pertolonganmu, In-kong."

"Harap kau jangan menyebutku In-kong atau taihiap. Namaku Cia Keng Hong dan sebut saja kakak kepadaku karena tentu aku lebih tua darimu. Usiaku sudah hampir sembilan belas tahun."

"Kau juga harap jangan menyebut nona. Namaku Sim Ciang Bi dan usiaku delapan belas tahun, Twako."

Keng Hong tersenyum. "Baiklah, Bimoi (adik Bi). Dan jangan menyebut-nyebut lagi tentang pertolongan, kau membuat aku menjadi malu saja."

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Twako. Engkau telah menolongnya kami enci dan adik, bolehkah aku mengetahui, dari perguruan manakah engkau? Ilmu kepandaianmu hebat sekali." Gadis itu memandang kagum, kekaguman yang setulusnya dan yang terbayang sepenuhnya pada pandang mata yang tajam itu, pada wajah yang jelita itu.

Keng Hong menarik napas panjang. Ia kini sudah cukup kenyang dalam pengalaman pahit apabila orang mengetahui akan dirinya, mengetahui bahwa dia adalah murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, dan terutama sekali, mengetahui bahwa dia pewaris pedang Siang-bhok-kiam yang oleh seluruh orang kang-ouw diperebutkan karena mereka itu mengira bahwa pedang itulah kunci tempat penyimpanan pusaka-pusaka peninggalan gurunya. Karena itu, kini mendengar pernyataan gadis jelita ini, dia enggan untuk memperkenalkan perguruannya.

"Ah, aku bukan dari perguruan mana-mana, Bi-moi dan sebaiknya aku tidak membawa nama guruku yang sudah meninggal dunia. Riwayatku tidak menarik, aku seorang sebatangkara, rumah pun tidak punya. Lebih baik mendengar riwayatmu, Bi-moi, kalau kau tidak berkeberatan. Mengapa engkau dan adikmu bermusuhan dengan mereka itu? Di mana tempat tinggalmu dan hendak ke mana kalian pergi?"

"Twako, engkau terlalu merendahkan diri. Seoran dengan kepandaian seperti engkau ini tentu datang dari perguruan yang tinggi dan ternama, atau setidaknya tentu murid seorang yang amat sakati. Akan tetapi kalau engkau hendak merahasiakannya, aku pun tidak berani memaksa. Tentang aku..... ah, aku dan adikku hanya murid-murid kecil dari Hoa-san-pai."

Keng Hong teringat akan dua orang tokoh Hoa-san-pai seperti yang dituturkan oleh gurunya, yaitu yang bernama Coa Kiu dan Coa Bu, dua orang kakek bersaudara yang amat terkenal dan di dunia kang-auw dijuluki Hoa-san Siang- sin-kiam (Sepasang pedang sakti dari Hoa-san)! Juga dia teringat akan cerita gurunya akan pengalaman-pengalaman gurunya dimusuhi oleh kaum Hoa-san-pai, yaitu karena gurunya dahulu pernah mencuri ramuan obat, dan pedang pusaka dari Hoa-san-pai. Bahkan kemudian terdapat seorang murid wanita Hoa-san-pai yang tergila-gila kepada Sin-jiu Kiam-ong dan melarikan diri bersama pendekar yang nakal itu! Teringat akan penuturan gurunya, mau tidak mau Keng Hong tersenyum lebar.

"Kenapa engkau tertawa, Twako?"

"Ah, tidak apa-apa, Bi-moi. Hanya aku girang bahwa aku telah bertemu dengan murid Hoa-san-pai yang telah lama kudengar nama besarnya. Pantas saja ilmu pedangmu amat indah dan hebat!"

"Ihhh, apanya yang hebat?"

Gadis itu memandang penuh kekaguman dan sama sekali tidak menyembunyikan rasa tertarik pada sinar matanya yang bening. "Engkau lihai luar biasa, engkau baik budi dan manis bahasa, engkau pandai merendahkan diri dan sekarang ternyata engkau pandai pula memuju-muji orang untuk menyenangkan hatinya."

"Wah-wah, yang pandai memuji-muji ini aku atau engkau?" Keng Hong tertawa. Melihat pemuda ini tertawa dan memperlihatkan deretan gigi yang putih dan kuat, gadis itu pun tertawa sambil berkata.

"Kita sama-sama pandai memuji orang. Akan tetapi salahkah itu? Memuji orang berarti menyenangkan hati orang, dan aku ingin menyenangkan hatimu, Twako, sungguhpun hal itu merupakan balas budi yang tak ada artinya."

"Sudahlah, Bi-moi. Lebih baik kau ceritakan mengapa kau dan adikmu dimusuhi mereka itu."

Gadis itu menarik napas panjang. "Aaahhh, semua adalah salahku, gara-gara akulah maka terjadi permusuhan itu....." katanya, kemudian ia bercerita.

Gadis yang bernama Sim Ciang Bi dan adiknya, Sim Lai Sek ini adalah putera dan puteri seorang sastrawan di kota Liok-keng yang terkenal karena pandai sekali membuat sajak dan melukis, dikenal dengan sebutan Sim-siucai (sastrawan Sim). Karena banyak mengalami kesengsaraan akibat perang dan kerusuhan, di mana kepandaian bun (sastra) tak dapat melindunginya, Sim-siucai lalu membawa kedua anaknya itu ke Hoa-san-pai untuk mendidik kedua anaknya dengan ilmu silat, karena siucai ini berpendapat bahwa dalam jaman perang dan kerusuhan itu ilmu silat lebih berguna daripada ilmu sastra. Dengan demikian, Ciang Bi yang ketika itu berusia tiga belas tahun sedangkan Lai Sek berusia sebelas tahun menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Selama lima tahun mereka berdua belajar ilmu silat. Setelah pimpinan Hoa-san-pai merasa bahwa mereka sudah memiliki kepandaian cukup untuk menjaga diri, apalagi mengingat bahwa Ciang Bi sudah menjadi seorang gadis dewasa berusia delapan belas tahun dan sudah sepatutnya berada di rumah orang tua sendiri untuk kemudian berumah tangga, dua orang anak murid Hoa-san-pai ini disuruh pulang ke tempat tinggal mereka.

Ketika mereka berdua melakukan perjalanan sampai di dusun Ciang-chung, kecantikan wajah Ciang Bi menimbulkan urusan besar. di sebuah dusun lain yang tak jauh dari Ciang-chung tinggal seorang kepala kampung yang menjadi raja kecil di dusun itu, bahkan kekuasaan dan pengaruhnya sampai menjalar ke dusun-dusun lain di dekatnya, termasuk Ciang-chung karena kepala-kepala kampung lain dusun tidak ada yang berani menentangnya. Kepala dusun ini bernama Bong-chung-cu (Lurah Bong) dan mempunyai seorang putera tunggal bernama Bong-cit yang terkenal jahat, mata keranjang dan suka membawa kehendak sendiri mengandalkan kedudukan ayahnya dan mengandalkan kekuatan pasukan tukang pukulnya yang terdiri dari buaya-buaya darat yang pandai ilmu silat. Ketika Bong Cit mendengar akan kecantikan seorang gadis bersama adiknya yang memasuki dusun itu, segera bersama anak buahnya Bong Cit mengejar ke Ciang-chung, menemui gadis cantik itu dan menggodanya dengan ucapan-ucapan yang tidak sopan.

Tentu saja Ciang Bi dan adiknya menjadi marah dan menghajar para tukang pukul itu sehingga mereka bersama majikan muda mereka lari tunggang-langgang. Akan tetapi, tidak lama kemudian datang lagi pasukan tukang pukul yang lebih banyak jumlahnya, lalu mengeroyok Ciang Bi dan adiknya. Pasukan tukang pukul ini ternyata cukup kuat sehingga hampir saja Ciang Bi dan adiknya celaka kalau saja tidak muncul Keng Hong yang menghajar mereka..

"Demikianlah, Twako. Sungguh aku merasa malu sekali bahwa biarpun ayah telah mengirim aku dan adikku belajar selama lima tahun di Hoa-san-pai, ternyata baru pertama kali bertemu dengan penjahat saja sudah hampir celaka. Masih baik nasibku dapat bertemu dengan seorang pendekar gagah perkasa seperti engkau. Kalau saja kepandaianku setinggi kepandaianmu, tentu akan kucari jahanam Bong Cit itu dan kulenyapkan dari dunia. Manusia macam dia itu merupakan ancaman bagi keselamatan gadis-gadis di kampung sekeliling tempat itu."

Keng Hong mengangguk-angguk. "Aku tidak dapat terlalu menyalahkan dia."

"Apa maksudmu?"

"Siapa orangnya yang takkan tergila-gila melihat engkau, Bi-moi. Engkau terlalu cantik jelita dan manis, membuat hati pria menjadi jungkir balik!"

Tiba-tiba wajah yang cantik itu menjadi merah sekali, bibir yang mungil itu tersenyum ditahan, matanya mengerling malu-malu. "Ihhh, engkau juga.... mata keranjang dan...... dan kurang ajar .....? Sukar dipercaya.....!"

Keng Hong tertawa lirih dan menggeleng-geleng kepalanya, pandang matanya secara jujur menatap wajah itu dengan kekaguman. "Apakah artinya mata keranjang, Bi-moi? Menurut mendiang suhu, wanita itu seperti bunga yang indah. Wanita mana yang tidak selalu berusaha untuk mempercantik diri? Untuk apa semua usaha itu? Tentu aga kelihatan cantik dan menimbulkan rasa kagum di hati pria. dan sudah menjadi hak setiap orang pria untuk mengagumi kecantika wanita. Semua pria tentu saja suka melihat kecantikan wanita, kecuali mereka yang munafik, kalau ada wanita cantik pura-pura menundukan muka padahal matanya mengerling! Di lahirnya tidak pura-pura tidak suka akan tetapi diam-diam merindukannya! Semua pria suka akan wanita cantik, sedikitnya suka memandang dengan kagum seperti orang mengagumi setangkai bunga yang cantik dan indah. Semua wanita suka untuk dikagumi pandang mata pria, biarpun banyak yang berpura-pura marah dan membenci. Padahal disudut hatinya, Wanita mana yang tidak suka dipandang dengan kagum? Tentang kurang ajar, harap jangan keliru sangka, Bi-moi. Pria yang mana saja boleh memandang kagum akan kecantikan wanita yang mana saja, akan tetapi kalau melakukan perbuatan yang lebih daripada ini, yaitu ingin mengganggu dengan perbuatan, barulah jahat dan tidak baik. Seperti juga setiap orang boleh mengagumi setangkai bunga, akan tetapi untuk berlancang tangan untuk memetiknya adalah perbuatan tidak benar karena bunga itu tentu ada yang memilikinya. Kalau aku menyatakan dengan sejujurnya apa yang terpikir olehku, itu bukan kurang ajar namanya, Bi-moi. Aku memandangmu dengan kagum karena memang hatiku kagum akan kecantikanmu, aku menyatakannya dengan mulut bahwa engkau cantik jelita dan manis, bukan berarti kurang ajar."

Makin merah wajah Ciang Bi dan gadis itu menunduk. akan tetapi ia tidak marah, bahkan jantungnya berdebar karena..... girang! Memang tepat sekali ucapan yang didengarnya. Dia suka akan pujian mengenai kecantikannya, apalagi kalau pujian itu keluar dari mulut seorang pemuda yang dikaguminya! Kalau dia sampaui bermusuh dengan Bong Cit adalah karena pemuda she Bong itu mengeluarkan kata-kata kotor dan kemudian hendak menangkapnya.

"Kau.... kau terlalu jujur dan blak-blakan, Twako......" akhirnya dengan lirih Ciang Bi berkata. "kau membikin aku menjadi..... menjadi malu...."

Keng Hong tertawa dan memandang wajah yang ayu itu. Sinar merah api ungun membuat bentuk wajah itu menjadi gemilang dan tampak jelas garis-garisnya, seperti garis-garis daun bunga mawar dengan lekuk-lengkungnya yang tak lebih tak kurang, tepat dan cocok, serasi pada tempatnya, membuat mata tidak bosannya memandang dan mengaguminya. "Salah siapakah, Bi-moi? Salahkah mata ini kalau melihat wajah yang cantik dan indah, sedap dipandang tak membosankan? Ataukah pemilik wajah itu sendiri yang salah mengapa wajahnya cantik? Kalau salah mataku, biarlah mulai sekarang aku akan meramkan mata kalau bicara dan berhadapan denganmu agar aku jangan dapat melihat wajahmu! Sebaliknya, kalau salah wajahmu mengapa begitu cantik, biarlah mulai sekarang kau menutupi wajahmu dengan saputangan atau dengan kedok yang buruk agar mataku tidak dapat mengagumimu. Bagaimana?"

Gadis itu tersenyum lebar, menekan diri agar tidak tertawa terkekeh, dan pandang matanya bersinar-sinar ditujukan kepada wajah pemuda yang makin menarik hatinya itu. pemuda yang perkasa, yang telah menyelamatkan nyawanya dan nyawa adiknya, yang ramah-tamah, yang telah melepas budi namun selalu merendahkan diri, yang amat tampan dan memiliki sepasang mata yang seolah-olah dapat menembus dadanya dan menjenguk isi hatinya, yang kini bahkan memuji-mujinya dengan kata-kata merayu-rayunya!

"Wah......., Hong-ko...... engkau benar-benar pandai merayu hati! Hong-ko.....' apakah sesungguhkah....... kau menganggap aku cantik dan....... dan apakah engkau,.......... suka kepadaku?" Gadis itu memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan ini yang keluar dari lubuk hatinya, dan dia diberanikan oleh sikap dan kata-kata Keng Hong yang selalu terbuka dan jujur blak-blakan itu.

Keng Hong tersenyum lebar. "Pria yang manakah di dunia ini yang tidak akan merayu wanita cantik seperti seekor kumbang menari-nari dan menyanyi di atas setangkai bunga? Kaum cendekiawan, kaum sastrawan selalu merayu segala keindahan dengan kata-kata indah yang dirangkai dalam bentuk sajak-sajak sehingga terciptalah sajak-sajak abadi yang menyanjung keindahan bunga dan kecantikan wanita! Tentu saja aku merayumu dengan kata-kata indah sedapatku, Bi-moi, karena memang engkau cantik dan patut menerima rayuan dan sanjungan pria yang manapun juga di dunia ini. Kau bertanya apakah aku suka kepadamu? Aduh, Bi-moi, perlukah ditanya lagi? Tiada seekor pun kupu-kupu atau kumbang yang tidak suka akan kembang! Tiada seorang pun pria yang tidak suka akan seorang wanita cantik, kecuali kalau pria itu tidak normal atau....... banci!"

Gadis itu kembali menekan perutnya karena geli, akan tetapi mulutnya bertanya, "Banci? Apakah itu? Manusia atau binatang?"

Keng Hong menggelengkan kepalanya. Semua ucapan yang keluar dari mulutnya tadi hanyalah tiruan saja dari ucapan suhunya dan dia sendiri pun tidak tahu apa itu yang disebut banci. Maka dia pun hanya mencontoh jawaban suhunya ketika dia bertanya tentang banci. "Banci itu bisa manusia bisa binatang, akan tetapi yang pasti dia itu bukan pria dan bukan pula wanita, atau boleh juga disebut bahwa dia itu dapat menjadi pria maupun wanita!"

"Eh....., aku menjadi bingung. Bagaimana sih jelasnya?"

"Jelasnya...... aku sendiri pun tidak tahu karena selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan seorang banci!"

"Engkau belum menjawab pertanyaanku, Hong-ko, apakah engkau suka kepadaku?"

"Sudah kukatakan tadi, mana ada kumbang tidak suka akan kembang?"

"Engkau bukan kumbang!"

"Hanya kiasan, Bi-moi, kuumpamakan diriku seekor kumbang dan engkau setangkai kembang. Kumbang takan pernah jemu untuk berdendang memuji kecantikan kembang, takkan jemu-jemu membelai dan menciumnya......"

Wajah Ciang Bi menjadi makin merah, kepalanya menunduk, jantung berdebar keras dan jari-jari tangannya menggigil. Keng Hong yang melihat jari tangannya mengigil itu, jari-jari tangan yang kecil dan bentuknya meruncing, dengan kuku-kuku jari yang halus bersih terpelihara, tanpa disadarinya telah menggeser duduknya mendekat, kmudian dengan hati-hati dia memegang tangan itu.

"Tanganmu gemetar, Moi-moi...... dan agak dingin. Mengapa?"

Memang ada getaran keluar dari tangan Ciang Bi, getaran sebagai akibat denyut jantungnya, juga akibat perasaannya. Dia merasa berbahagia, terharu dan juga...... takut! Semua perasaan ini bergelut dengan rasa suka di hatinya, memdatangkan kemesraan sehingga tanpa disadarinya pula jari tangannya membalas sentuhan pemuda itu dan jari-jari tangan mereka saling meremas.

"Hong-ko...... kalau kau menjadi kumbangnya.......aku suka menjadi kembangnya......." Suara Ciang Bi juga gemetar, napasnya agak terengah karena hatinya berguncang. Keng Hong tersenyum girang, lalu dengan tangan kirinya ia meraba ragu yang halus itu, mengangkat muka cantik itu sehingga mereka berpandangan dan dia bertanya.

"Bi-moi cintakah engkau kepadaku?" Pertanyaan yang langsung seperti tusukan sebatang pedang yang meruncing. Suhunya dahulu selalu menceritakan segala pengalamannya di waktu muda diselingi nasihat-nasihat tentang wanita. Nasihat yang dia masih ingat dan kini dia praktekan terhadap Ciang Bi adalah begini : "Jangan sekali-kali memaksa wanita untuk melayani cintamu dan jangan sekali-kali jatuh cinta karena sekali jatuh, engkau akan terikat dan kesengsaraan akan timbul. Lebih baik tanya terus terang apakah wanita itu mencintaimu dan jangan menolak cinta kasih wanita, kalau engkau tertarik kepadanya tentu aja!"

Nasehat inilah yang teringat oleh Keng Hong ketika dia secara tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang langsung itu kepada Ciang Bi. Tentu saja gadis itu menjadi malu sekali untuk menjawab. Namun karena hati Ciang Bi sudah terpikat, baik oleh ketampanan wajah, kelihaian, maupun budi bahasa pemuda itu, ia makin menunduk dan menjawab lirih seperti bisikan, "Dengan seluruh jiwa ragaku, Koko....."

Tangan mereka makin erat saling meremas dan terdengar Keng Hong berkata, juga secara blak-blakan, "Juga masih mencintaku biarpun aku kelak tak mungkin kelak menjadi suamimu?"

Ciang Bi mengangkat mukanya menandang, wajahnya menjadi pucat, akan tetapi kemudian menjadi merah kembali dan ia menjawab, "Apa kaukira sikapku ini merupakan perangkap untuk menjebak seorang calon suami?"

Keng Hong tertawa, menarik lengan gadis itu yang dengan lemas menurut saja sehingga rebah dalam pelukan pemuda yang amat dikaguminya itu. Keng Hong sebetulnya adalah seorang pemuda yang baru berusia delapan belas tahun masih hijau dan bvelum ada pengalaman sama sekali mengenai pergaulan dengan wanita. Akan tetapi, sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, seorang "jagoan" besar, bukan hanya mengenai ilmu silat akan tetapi juga mengenai ilmu menjatuhkan hati wanita, sedikit banyak Keng Hong ketularan penyakit itu. Sering kali suhunya bercerita tentang petualangan-petualangan cintanya di masa muda, bahkan memberinya nasihat-nasihat tentang wanita, mengajarkan "tehnik-tehnik" merayu wanita, sehingga biarpun pada dasarnya Keng Hong tidak berbakat menjadi seorang laki-laki mata keranjang dan hidung belang, namun watak suhunya menular dan dia menjadi seorang pemuda yang lebih berani menghadapi wanita daripada pemuda-pemuda lain sebaya dengannya. Apalagi setelah dia berjumpa dengan Ang-kiam Tok-sian-li Bhi Cui Im dan remajanya gugur oleh wanita cabul yang cantik itu, pengalaman ini menambah keberaniannya menghadapi Ciang Bi. Hanya ada satu hal yang menguntungkan bagi batin Keng Hong, yaitu bahwa dia amat taat kepada pesan-pesan suhunya sehingga betapapun terpupuk dan bangkit selera dan nafsunya untuk berdekatan dan bermain cinta dengan wanita, namun seperti suhunya, memaksa dan memperkosa wanita merupakan pantangan mutlak baginya. Kalau ada wanita suka kepadanya, dia akan melayaninya. Akan tetapi betapapun cantik seorang wanita dan betapapun tertarik hatinya, kalau wanita itu tidak suka kepadanya, dia tidak akan menyentuh seujung rambutnya.Ketaatan ini menguntungkan Keng Hong sendiri dan para wanita, karena andaikata tidak, tentu dia akan tersesat menjadi seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) atau tukang pemerkosa wanita yang berbahaya sekali!

Mendengar jawaban gadis itu, Keng Hong tertawa, merangkul lehernya dan menundukan muka. Mereka berciuman dan biarpun keduanya belum berpengalaman dalam bermain cinta, namun karena didorong hati yang mencinta, mereka berciuman mesra.

"Hong-ko...." Ciang Bi merintih, tubuhnya mengetar, semua bulu di tubuhnya meremang ketika kedua lengannya merayap seperti ular melingkari leher pemuda perkasa yang menjatuhkan hatinya itu.

"Bi-moi...... engkau jelita sekali......" Keng Hong juga berbisik di dekat telinga gadis itu dan kembali mereka berdekapan dan berciuman mesra.

Cinta adalah perasaan yang dimiliki oleh setiap mahluk di dunia, setiap mahluk yang hidup wajar sesuai dengan kodrat dan kekuasaan alam. Cinta bukan merupakan sesuatu yang kotor dan bukan merupakan hal yang tak patut dibicarakan. Sebaliknya daripada itu! Cinta antara pria dan wanita adalah hal yang amat wajar, merupakan anugrah dari Tuhan, merupakan dorongan alamiah yang tak dapat dibantah, bahkan tak dapat dihindarkan dan tak dapat dibuang karena cinta ini pula yang membuat manusia masih berlangsung ada di dunia ini, berkembang biak dan mencipta generasi demi generasi. Karenanya, cinta adalah bersih dan murni, tidak kotor dan bukannya tidak patut dibicarakan, bahkan seharusnya dibicarakan agar tidak disalah gunakan.

Biarpun cinta antaralawan kelamin merupakan kodrat dan dimiliki oleh setiap mahluk, dari yang terkecil sampai yang terbesar, namun karena manusia adalah mahluk yang berakhlak dan berakal budi, maka tidaklah dapat disamakan dengan mahluk lain yang dalam hal cinta kasih semata-mata menurut dorongan kodrat belaka. Cinta antara pria dan wanita diciptakan oleh kodrat dan pembawaan yang sudah ada pada setiap mahluk yaitu daya tarik yang ada di antara lawan kelamin. Tanpa diberi tahu, tanpa membaca buku, jika masanya sudah tiba sesuai dengan usianya, seorang pemuda akan tertarik melihat seorang pemudi, dan sebaliknya. Rasa tertarik ini menimbulkan suka yang disebut cinta, kasih atau asmara. Tidak berhenti sampai di situ saja. Cinta antara pria dan wanita yang normal diikuti oleh bangkitnya nafsu berahi yang wajar, diikuti pula oleh hubungan kelamin yang juga sudah wajar. Segala macam mahluk di dunia ini, kecuali manusia, akan melakukan hal ini, yaitu saling tertarik dan saling mendekati, menurut nafsu berahi melakukan hubungan kelamin. Adakah seorang pun dapat mengatakan bahwa perkembangan dan perbuatan itu kotor dan tidak patut ? Sama sekali tidak!

Akan tetapi, sekali lagi ditekankan bahwa manusia bukanlah sembarangan mahluk! Tanpa berunding lebih dulu, manusia seluruh dunia ini telah membangun dan mendirikan mercu suar di antara segala mahluk yang disebut peradaban yang melahirkan prikemanusiaan! Prikemanusiaan inilah yang melahirkan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia sendiri, disesuaikan dengan rasa, dengan kebiasaan, dan dengan kepercayaan golongan masing-masing. Lahir pula hukum-hukum susila yang melarang pria dan wanita melakukan hubungan kelamin di luar pengesahan hukum. Terciptalah istilah-istilah dan sebutan bagi perbuatan-perbuatan yang melanggar garis yang ditentukan ini, misalnya perjinaan, perkosaan dan lain-lain. Cintanya itu sendiri, nafsu berahinya itu sendiri, dan hubungan kelamin itu sendiri tetap brsih dan murni, bukanlah hal yang tidak patut. Hanya perbuatan melanggar garis hukum itulah yang tidak patut, karena sudah tahu ada garis tetap dilanggar sehingga tentu saja menimbulkan pertentangan-pertentangan.

Keng Hong adalah seorang pemuda yang kurang pengalaman. Dia bertumbuh menjadi dewasa dalam asuhan seorang aneh seperti Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi gurunya. Dan semenjak dia masih muda, Sin-jiu Kiam-ong sudah meninggalkan dan tidak lagi mengindahkan gari-garis hukum buatan manusia ini. Dia melakukan apa saja yang dia anggap benar, biarpun itu melanggar hukum manusia dan sebaliknya dia tidak akan melakukan hal yang dianggapnya tidak benar, biarpun hal itu dibenarkan hukum. Maka timbulah perbuatan-perbuatannya yang menggemparkan karena tidak cocok dengan hukum manusia lain, permainan cinta dengan banyak wanita yang tertarik oleh ketampanandan kegagahannya, pencurian-pencurian dan perampasan-perampasan benda-benda pusaka, pertolongan-pertolongan tanpa melihat bulu, dan pertentangan-pertentangan lain yang mengakibatkan dia dimusuhi orang-orang gagah sedunia!

Watak aneh Sin-jiu Kiam-ong yang pada hakekatnya seorang pendekar yang sakti dan berjiwa besar itu hanyalah akibat. Akibat dari kepatahan hati. Di waktu masih muda, baru berusia dua puluh dua tahun dan baru saja menikah dua tahun dengan seorang wanita yang cantik jelita, masih belum mempunyai keturunan, pada suatu malam pendekar muda yang sakti ini, yang baru pulang dari perantauan selama sebulan, menemukan istrinya yang tercinta itu sedang melakukan hubungan kelamin dengan seorang pria lain, sahabat baiknya sendiri! Tadinya Sin-jiu Kian-ong Sie Cun Hong marah sekali dan hampir saja dia meloncat masuk dan serta-merta membunuh istrinya dan sahabatnya itu, yang dalam keadaan seperti itu tidak tahu bahwa perbuatan mereka ditonton oleh Sie Cun Hong yang mengintai di luar jendela kamar. Akan tetapi tiba-tiba pkiran yang aneh menyelinap dalam benaknya. Kekecewaan dan pukulan batin yang amat hebat agaknya telah membuat jalan pikirannya Sie Cun Hong menjadi tidak normal, tidak lumrah seperti manusia biasa, bahkan menjadi berlawanan dengan pendapat umum! Pada saat itu, timbul pendapat dihatinya bahwa tidak perlu dia marah karena kalau istrinya sampai mau melakukan hubungan kelamin dengan pria lain, tentu ini didasari hati suka kepada si pria itu. Mengapa dia akan melarang orang yang mencinta? Kedua orang itu, biarpun istrinya dan sahabatnya namun tetap orang, saling mencinta dan menumpahkan rasa cinta mereka dalam hubungan kelamin. Mengapa dia harus marah dan membunuh mereka? Sie Cun Hong tertawa, suara ketawanya meninggi dan melengking sehingga mengejutkan istrinya dan sahabatnya yang sudah mengakhiri perbuatan mereka. Isterinya terkejut setengah mati, juga sahabatnya, sehingga kedua orang ini dengan tubuh menggigil menjatuhkan diri berlutut di atas lantai dan memejamkan mata, siap menanti datangnya maut karena mereka kenal suara ketawanya di luar jendela itu turun tangan, mereka berdua takkan dapat tertolong lagi. Akan tetapi Sie Cun Hong tidak pernah lagi memasuki kamarnya itu, bahkan tidak pernah lagi berjumpa dengan bekas isterinya dan bekas sahabatnya.

Peristiwa itulah yang menjadi sebab munculnya seorang pendekar aneh yang menggegerkan dunia persilatan. Sie Cun Hong melakukan hal-hal yang bagi manusia biasa dianggap jahat dan keji, tidak lumrah dan dia dikutuk oleh banyak tokoh kang-ouw. Bermain cinta dengan wanita manapun juga, bahkan wanita-wanita yang telah menjadi isteri orang lain, kalau dasarnya suka sama suka, dia tidak segan melakukannya. Banyak sekali wanita yang tergila-gila kepadanya karena memang di waktu mudanya Sie Cun Hong merupakan seorang pria yang gagah perkasa dan tampan.

Kini Sie Cun Hong sudah tidak ada lagi akan tetapi dia mewariskan seluruh miliknya kepada murid tunggalnya, yaitu Cia Keng Hong. Seluruh sinkangnya dia berikan, seluruh pusakanya dia tinggalkan untuk muridnya, bahkan sebagian wataknya dia wariskan sehingga kini, dalam usia delapan belas tahun, Keng Hong telah melayani nafsu berahi Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im, dan sekarang, untuk kedua kalinya dia bermain cinta dengan seorang gadis Hoa-san-pai yang mengaguminya dan jatuh hati kepaadnya. Kalau gurunya tidak peduli akan hukum susila karena pernah patah hati menyaksikan isterinya berjina dengan sahabatnya, adalah Keng Hong melakukan hal itu semata-mata karena dia menganggap hal itu wajar dan benar, sesuai dengan nasehat-nasehat mendiang gurunya! Dia tidak memperkosa, dia tidak memaksa, dia dan Ciang Bi sama-sama mau, cocok sudah dengan pesan suhunya, maka tentu saja hal itu sudah benar dan baik!

Sim Ciang Bi, gadis remaja yang dikuasai nafsu berahinya sendiri, sudah seperti mabuk dan buta bahwa dia telah melakukan pelanggaran garis hukum. Lupa bahwa garis hukum susila itu diadakan oleh manusia semata-mata untuk melindungi dan membela nasib hidup dan kebahagiaan wanita. Lupa bahwa hubungan kelamin di luar pernikahan, si wanitalah yang akan menanggung akibat-akibat pahit getir, bahkan yang akan dapat menyeretnya kelembah kesengsaraan, mungkin ke lembah kehinaan. Manusia tidak dapat membebaskan diri daripada hukum-hukum manusia yang sudah tersusun dan bertumpuk ribuan tahun lamanya. Apalagi, dalam hukuman kelamin, alam sendiri sudah menjatuhkan kodrat bahwa si wanitalah yang akan menderita akibatnya, yaitu kehamilan. Setiap orang gadis yang bijaksana, yang sadar betapa satu kali saja salah langkah melanggar garis hukum kesusilaan ini dapat mengakibatkan malapetaka sepanjang hidup, akan selau pandai mengekang nafsu , pandai menjaga diri tidak terseret oleh gelombang yang memabukan, tentu akan menjaga kesusilaan dan kehormatanya yang dia junjung lebih tinggi dan berharga daripada nyawa! Kehilangan nyawa hanya berarti mati. Akan tetapi kehilangan kehormatan sebagai gadis ternoda, berarti akan hidup terhina oleh manusia-manusia lain yang sudah melekatkan batinnya pada hukum.

Dua orang yang tenggelam dalam lautan kasih asmara itu tidak sadar bahwa Sim Lai Sek menjulurkan kepalanya keluar dari gubuk. Pemuda remaja ini pada tengah malam terbangun dari tidurnya dan menggerakan tubuh, menjenguk keluar gubuk.Dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika dia menyaksikan keadaan cicinya dan penolong mereka itu di atas rumput, di dekat api ungun. Sejenak dia terbelalak, mukanya berubah mereh, akan tetapi dia lalu menarik diri lagi rebah di dalam gubuk, napasnya agak terengah dan diam-diam dia menangis, berdoa semoga cicinya yang telah tersesat itu akan menjadi isteri yang sah dari Cia Keng Hong. Mengingat ini, lenyaplah kemarahan dan kedukaannya, terganti rasa girang karena dia memang suka sekali dan kagum kepada penolongnya yang demikian gagah perkasa. Kalau dia dapat mempunyai Cihu (kakak ipar) seperti itu, alangkah senangnya dan dia akan memperdalam ilmu silatnya, belajar dari cihunya. Kelegaan hati inilah yang membuat Lai Sek tertidur kembali, lupa akan perutnya yang lapar.

Lewat tengah malam, Keng Hong tertidur nyenyak, sedangkan Ciang Bi pulas pula di atas dadanya. Mereka tidur berdekapan, pipi Ciang Bi terletak di atas dada Keng Hong, rambut gadis itu terurai lepas menutupi dada, leher dan sebagian muka Keng Hong. Mereka berdua tidur dengan nikmat, karena badan lelah hati bahagia, sehingga tidak sadar dan tidak tahu bahwa tak jauh dari tempat itu tampak sepasang mata yang bening dan jeli memandang ke arah mereka dengan sinar berkilat-kilat. Muklut yang manis dengan bibir merah itu bergerak- gerak, tampak giginya berderet rapi putih seperti mutiara. Kemudian, tangan yang halus itu merogoh kantong dalam baju, mengambil sesuatu, tangan digerakan dan sinar putih meluncur ke arah Ciang Bi yang masih tidur pulas berbantal dada Keng Hong

Jerit melengking yang keluar dari mulut Ciang Bi adalah jerit kematian, dan bayangan putih itu berkelebat cepat sekali, lenyap ditelan kegelapan malam. Keng Hong tersentak bangun, otomatis lengannya memeluk leher Ciang Bi. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangannya menjadi basah oleh darah yang mengucur keluar dari pelipis itu! Di bawah sinar api unggun yang masih menyala sedikit, dia memandang dan kerongkongannya serasa dicekek ketika dia melihat sebuah benda bulat berduri menancap di pelipis gadis itu. Senjata rahasia Biauw Eng yang tadi telah menolongnya merobohkan pengeroyokan para penjahat. Kini sebuah di antara senjata rahasia itu menancap di pelipis kiri Ciang Bi, merenggut nyawa dari tubuh yang masih hangat itu.

"Biauw Eng......!" Seruan Keng Hong ini seperti jerit tangis dan setelah dia merebahkan tubuh yang masih hangat dan tak bernyawa lagi itu di atas tanah bertilam rumput yang juga hangat dan rebah semua karena tindihan tubuh mereka berdua semalam, dia meloncat dan mencari-cari dengan pandang matanya. Namun keadaan di sekeliling tempat itu sunyi dan agak gelap. Ia maklum bahwa akan percuma saja dia mencari Biauw Eng. Maka dia lalu berlutut lagi dan memeluk tubuh gadis yang semalam telah menyerahkan segala-galanya kepadanya dengan penuh kasih sayang, penuh kemesraan dan kehangatan.

"Ciang Bi...... ahhh, Bi-moi.......!" Keng Hong teringat akan sikap gadis ini semalam dan dengan hati penuh keharuan dia menundukan muka dan mencium mulut mayat itu yang semalam membisikan kata-kata cinta kepadanya.

"Cici.......! Cia-taihiap, ada apakah........??" Sim Lai Sek melompat keluar dari gubuk, matanya yang masih mengantuk itu belum dapat melihat jelas, hanya dia tadi terbangun mendengar jerit cicinya.

Keng Hong mengangkat mukanya dan dua titik air mata menetes turun. Kini Lai Sek dapat melihat pelipis cicinya dan melihat pula darah membasahi leher dan baju, melihat bahwa tubuh cicinya telah lemas tak bernyawa.

"Cici.......!!" Ia menubruk, berlutut dan menangis, memanggil-manggil nama cicinya. Keng Hong hanya memandang dengan penuh keharuan lalu memegang pundak pemuda itu sambil berkata halus.

"Dia....... sudah mati........"

Tiba-tiba Lai Sek meloncat bangun. Tangan Keng Hong yang menyentuh pundaknya itu terasa olehnya seperti serangan seekor ular berbisa.

"Kau.....! kau....... telah membunuh cici.......! kau........ telah berpura-pura menjadi pendekar berbudi yang menolong kami, merayu cici, memperkosanya..... kemudian membunuhnya.......!" Sim Lai Sek menerjang maju dengan pukulan tangannya ke arah kepala Keng Hong, akan tetapi sekali tangkis, tubuhnya terpelanting ke atas tanah. Akan tetapi dia bangkit kembali dengan kemarahan meluap.

"Sabar dan tenanglah, siauwte. bukan aku yang mmbunuhnya. Lihat, pelipisnya terluka oleh senjata rahasia........."

"Aku tahu! Senjata rahasia ini adalah senjata rahasia wanita yang menolongmu. Dia tentu sahabatmu, atau...... kekasihmu! Tentu dia melihat engkau merayu dan memperkosa cici, lalu dia membunuh cici. Sama saja, berarti engkau yang telah membunuh ciciku, keparat!" Lai Sek menerjang lagi dan Keng Hong terpaksa meloncat pergi. Ia tidak dapat membantah lagi karena omongan atau tuduhan itu mendekati kenyataan. Hanya dia tidak merasa memperkosa Ciang Bi dan baru sekarang dia tahu bahwa agaknya pemuda remaja ini malam tadi telah melihat dia bermain cinta dengan Ciang Bi! Memang dugaan itu tidak salah. Dia sendiri merasa yakin kini bahwa Biauw Eng membunuh Ciang Bi karena cemburu. Bukankah puteri Lam-hai Sin-ni itu terang-terangan menyatakan bahwa gadis itu mencintainya? agaknya Biauw Eng terus mengikutinya, membantunya merobohkan para pengeroyok dan tadi melihat dia bermain cinta dengan Ciang Bi, lalu datang pada saat dia pulas dan membunuh Ciang Bi. Memang bukan dia yang membunuh, namun sudah jelas gadis ini tewas karena dia!

"Siauwte, aku menyesal sekali......... akan tetapi demi Tuhan, aku tidak bermaksud mencelakakannya. Bukan aku yang membunuhnya dan...... sekiranya aku tidak sedang tidur pulas, tentu aku dapat melindunginya....... akan tetapi.........."

"Laki-laki laknat! Jai-hwa-cat! Setelah memperkosa cici, engkau bisa saja bicara seenakmu! Engkau suah mempunayi kekasih yang bersenjata bola putih itu! Akan tetapi engkau masih merayu enciku! Hayo katakan, apakah engkau berniat mengawini enciku? Apakah engkau berniat mengambil dia sebagai isteri?"

Keng Hong menghela napas dan menggeleng kepala. Urusan ini amat pelih dan tidak boleh dia main-main dan membohong. "Tidak, kami memang saling suka dan hubungan cinta kami dilakukan dengan kesadaran kami berdua, dan aku sudah menjelaskan kepada Bi-moi bahwa aku tidak dapat menjadi suaminya......."

"Keparat! Jahanam! Sudah kuduga seperti itu! Kalau aku tahu tentu malam tadi sudah kuremukan kepalamu!" Lai Sek kembali berteriak-teriak dan menerjang maju. Keng Hong merasa bingung dan berduka sekali. Ia maklum bahwa tidak mungkin dia dapat menenangkan dan menyabarkan hati pemuda yang sedang diamuk kemarahan dan kesedihan itu, maka dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri, pergi dari tempat itu. Jalan satu-satunya yang paling baik hanyalah menjauhkan diri pada saat seperti itu.

Perhitungannya memang tepat. Setelah maklum bahwa tak mungkin mengejar Keng Hong yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi, Lai Sek kembali berlutut dan menangisi jenazah kakaknya dengan sedih. Setengah malam dia menangis sampai matahari muncul dan penduduk dusun pergi ke sawah ladang. Para penduduk terheran dan terkejut, apalagi setelah mendengar dari pemuda itu bahwa kaka perempuan pemuda itu terbunuh oleh penjahat malam tadi. Mereka menaruh kasihan dan beramai-ramai mereka itu membantu Lai Sek mengurus jenazah Ciang Bi dan menguburnya di tanah pekuburan dusun itu secara sederhana.

Pada keesokan harinya, ketika malam sedang gelap, sesosok bayangan hitam datang ke dalam tanah kuburan itu dan berlutut di depan gundukan tanah yang masih baru. Bayangan ini menangis dan dia bukan lain adalah Keng Hong! Sampai semalam dia berkabung dengan penuh kedukaan di depan kuburan itu, dan baru pada keesokan harinya dia meninggalkan kuburan baru itu, pergi secepatnya meninggalkan dusun di mana Ciang Bi dimakamkan, meninggalkanya akan tetapi membawa pergi kenangan sedih yang takkan pernah dapat terlupakan. Hatinya penuh kedukaan, bukan semata karena kematian Ciang Bi, akan tetapi yang lebih daripada itu, adalah karena kekejaman Biauw Eng! Ia suka kepada Biauw Eng, perasaan suka yang aneh dan berbeda kalau dibandingkan dengan rasa suka kepada wanita lain seperti kepadaCui Im dan Ciang Bi, suka bukan semata karena kecantikan gadis puteri Lam-hai Sin-ni itu, melainkan karena pribadinya, dan mungkin sekali karena dia mengingat bahwa gadis itu adalah puteri suhunya, puteri Sin-jiu Kiam-ong! Inilah agaknya yang membuat dia merasa suka kepada gadis itu, dan kini kenyataan betapa puteri suhunya itu berhati kejam seperti iblis, membunuh Ciang Bi yang sama sekali tidak berdosa, benar-benar mendatangkan rasa duka di hatinya di samping rasa marah terhadap Biauw Eng.

Keng Hong melakukan perjalanan cepat, tujuannya adalah Kun-lun-san karena dia ingin kembali ke Kiam-kok-san, yaitu puncak dimana terdapat batu pedang temapt suhunya menggemblengnya selama lima tahun. Dia harus pergi ke sana, mengambil pdang Siang-bhok-kiam yang memang dia sembunyikan di puncak Kiam-kok-san! Ketika dia turun gunung setelah tidak berhasil mencari rahasia penyimpanan barang-barang pusaka gurunya, dia maklum akan bahayanya kalau dia membawa Siang-bhok-kiam turun gunung, maka dia lalu membuat sebuah pedang tiruan, pedang dari kayu harum pula yang dia dapatkan di puncak, pedang yang mirip dengan Siang-bhok-kiam. Ia menyembunyikan pedang Siang-bhok-kiam tulen dibalik tumpukan batu karang dan membawa turun pedang palsu. Tepat seperti yang telah diduganya, begitu turun gunung pedangnya menimbulkan keributan dan terpaksa dia menyerahkan pedang palsu itu kepada Kiang Tojin! Kini, pedang tulen masih berada di puncak Kiam-kok-san. Setelah mengalami bnayak hal yang amat tidak enak, bertemu dengan orang-orang pandai yang memusuhinya, dia tahu bahwa dia harus kembali ke sana, harus menggembleng dirinya seperti yang dipesankan suhunya. Ia harus dapat menemukan kitab-kitab peninggalan suhunya, memperdalam ilmunya agar dia dapat menjaga diri kalau berhadapan dengan tokoh-tokoh dunia kang-auw, baik para datuk hitam maupun para datuk putih!

Seminggu setelah dia meninggalkan dusun di mana terdapat kuburan Ciang Bi dia telah tiba di kaki Pegunungan Bayangkara yang menyambung dengan Pegunungan Kun-lun-san, setelah dia berhasil melewati Pegunungan Min-san. Namun untuk sampai di tempat markas Kun-lun-pai, masih amat jauh dan sedikitnya dia harus melakukan perjalanan naik turun gunung selama setengah bulan.

Selagi Keng Hong enak-enak berjalan mendaki sebuah lereng, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncullah puluhan orang menghadang jalan, bahkan segera mengurungnya. Keng Hong terkejut karena orang-orang yang mengurungnya ini jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang dan semua memegang senjata tajam! Kalau dilihat keadaan mereka, pasti bukan perampok, karena selain meeka terdiri dari bermacam-macam orang yang berpakaian cukup baik, juga di antara mereka terdapat pula wanita-wanita yang cantik dan gagah.

"Berhenti, orang muda!" Yang membentak adalah seorang kakek berjenggot panjang, tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan meraba gagang golok yang terselip di pinggangnya. Gagang golok ini indah sekali, terbuat dari emas yang diukir seperti kepala naga. Kakek yang berjenggot panjang dan usianya kurang lebih lima puluh tahun ini masih kelihatan gagah dan kuat sehingga Keng Hong merasa kagum dan cepat menjura.

"Locianpwe siapakah dan ada kepentingan apa menghadang perjalanan saya?"

Kakek itu mengelus jenggotnya dan tercengang, juga bangga dan girang. Tak disangkanya bahwa pemuda yang menurut laporan anak buahnya yang telah membunuh muridnya itu begini sopan dan halus, dan menyebutnya "Locianpwe"! Sikap Keng Hong ini saja sudah melenyapkan sebagian dari kemarahannya. Akan tetapi mengingat akan kematian muridnya dan banyak anak buah muridnya, dia lalu berkata lagi dengan suara nyaring.

"Aku adalah Kiam-to (Si Golok Emas) Lai Ban, wakil ketua Tiat-ciang-pan dan mereka semua ini adalah anak buah Tiat-ciang-pang!"

Keng Hong memandang penuh perhatian. Ia belum pernah berurusan dengan orang-orang Tiat-ciang-pang (Perkumpulan Tangan Besi), hanya pernah mendengar bahwa perkumpulan ini adalah sebuah perguruan silat yang lumayan besarnya dan kabarnya membantu atau memihak kepada pemerintahan utara.

"Maaf, menurut ingatan saya, tidak pernah saya berurusan dengan fihak Locianpwe, maka entah kesalahan apa yang telah saya lakukan di luar kesadaran saya terhadap Tiat-ciang-pang, mohon Locianpwe suka memberi penjelasan."

Lai Ban makin suka kepada pemuda ini. Ia lalu menoleh ke belakang dan bertanya dengan suara keras.

"Heiii, benar inikah bocah yang kalian maksudkan itu?"

Tiga orang muncul, laki-laki tinggi besar yang segera menuding ke arah Keng Hong dan berkata, "Benar, Ji-pangcu (Ketua Ke Dua), dia inilah bocah setan yang telah membunuh Kiang-twako dan mengaku bernama Cia Keng Hong!"

Teringatlah Keng Hong sekarang bahwa tiga orang ini terdapat di antara anak buah penjahat yang mengeroyok Ciang Bi. Ketika dia membela gadis itu di depan kuil dalam hutan, dia merobohkan kepala penjahat yang wajahnya seperti Kwan Kong tokoh jaman Sam-kok yang bersenjata golok, kemudian setelah dia merobohkan beberapa orang, diam-diam dibantu pula oleh Biauw Eng dengan senjata rahasianya, sisa gerombolan itu melarikan diri. Agaknya tiga orang ini lalu melapor, dan sungguh diluar dugaannya bahwa kepala penjahat yang brewok dan bersenjata golok besar itu adalah anak murid Tiat-ciang-pang.

Kiam-to Lai Ban Si Golok Emas itu memandang kepada Keng Hong dengan pandang mata tidak percaya. Pemuda halus tutur sapanya dan lemah lembut gerak-geriknya inikah yang telah menewaskan muridnya? Sukar untuk dipercaya!

"Orang muda, benarkah engkau bernama Cia Keng Hong?"

"Tidak keliru, Locianpwe. Nama saya adalah Cia Keng Hong!"

"Benarkah engkau telah membunuh muridku Pun Kiong di depan kuil tua di dalam hutan dekat dusun Ciang-chung?"

Keng Hong menggeleng kepala. "Saya tidak tahu siapa yang menjadi murid Locianpwe, akan tetapi memang benar saya telah membunuh beberapa orang angauta penjahat yang hendak berlaku keji dan mengganggu dua orang enci dan adik......." Keng Hong berhenti dan lehernya seperti tercekik karena dia teringat kepada Ciang Bi, nona cantik jelita yang tewas secara mengerikan di tangan Song-bun Siu-li Biauw Eng itu.

Kakek itu menggerakan alisnya dan matanya mulai menyinarkan kemarahan. "Hemmm, kalau begitu benar engkau yan membunuh muridku dan anak buahnya. Bocah lancang, mengapa kau mmbunuh mereka? Berani engkau menghina Tiat-ciang-pang dengan membunuh seorang anak muridnya?"

"Maaf, Locianpwe. Saya tiak tahu bahwa dia itu murid Locianpwe atau anak murid Tiat-ciang-pang. Saya hanya tahu bahwa mereka itu amat jahat, hendak menghina seorang gadis baik-baik......."

"Aaahhhhhh! Engkau seperti orang baik-baik, bukan orang jahat. Akan tetapi mengapa engkau selancang itu? Apakah engkau anak murid Hoa-san-pai?"

"Bukan, Locianpwe."

"Kalau bukan, mengapa membela orang-orang Hoa-san-pai?"

Keng Hong terdesak. Kakek ini benar pandai berdebat sehingga dia tersudut oleh pertanyaan-pertanyaan itu. "Saya....... saya hanya melihat seorang gadis dan adiknya....... eh, diganggu orang-orang jahat......."

"Cia Keng Hong! Bagaimana kau bisa membedakan bahwa gadis dan adiknya itu orang-orang baik dan anak buah muridku orang-orang jahat?" Kakek itu membentak, membuat Keng Hong tertegun karena memang tentu saja dia tidak dapat membedakan, hanya dia membantu Ciang Bi dan Lai Sek berdasarkan rasa kasihan melihat seorang gadis dikeroyok banyak laki-laki tinggi besar.

"Tentu karena gadis itu cantik dan kami laki-laki mana bisa melawan kecantikannya?" teriak seorang di antara mereka yang dahulu mengeroyok Keng Hong dan ucapan ini disebut dengan suara ketawa.

"Cia Keng Hong, agaknya engkau seorang pemuda hijau yang baru saja muncul di dunia kang-ouw. Akan tetapi menurut pelaporan anak buah muridku, engkau lihai sekali. Dari golongan atau partai manakah engkau? Siapa gurumu?"

"Maaf, saya bukan dari golongan manapun dan guruku yang sudah meninggal tidak boleh diganggu namanya. Harap Locianpwe jelaskan, kesalahan apakah yang telah saya lakukan dalam membela gadis dan adiknya yang dikeroyok itu?"

“Kami orang-orang gagah dari Tiat-ciang-pang adalah pendukung-pendukung gerakan raja muda Yung Lo di utara yang perkasa dan yang sepatutnya dan seharusnya menjadi kaisar yang menguasai seluruh tanah air. Akan tetapi Hoa-san-pai begitu tak tahu malu untuk membela kaisar palsu yang kini berkuasa di selatan, yang secara tak tahu malu mengangkat diri sendiri menjadi kaisar padahal sesungguhnya singasana menjadi hak raja Muda Yung Lo. Sudah sering kali terjadi bentrokan antara anak murid fihak kami dengan anak murid Hoa-san-pai, maka setelah terjadi bentrokan lain di dusun Ciang-chung, tanpa melihat perkaranya, engkau langsung turun tangan membantu fihak Hoa-san-pai dan membunuh orang-orang kami. Tidak salahkan itu?"

Keng Hong terkejut sekali. Hal ini sungguh tak pernah disangkanya, bahkan ketika dia bercakap-cakap dengan Ciang Bi, gadis itu tidak pernah menyebut-nyebut tentang itu, tidak pernah bicara tentang permusuhan antara Hoa-san-pai dan Tiat-ciang-pang yang diakibatkan perbedaan faham itu. Ia merasa menyesal juga mengapa dia tergesa-gesa turun tangan membunuh orang. Ternyata perbuatannya itu menimbulkan kemarahan di fihak Tiat-ciang-pang. Betapapun juga, Keng Hong sorang yang berwatak jantan yang diwarisinya pula dari suhunya. Dia tidak mengenal takut apalagi karena dia merasa bahwa perbuatanya dalam urusan ini tidak salah! Menurut ajaran suhunya, dalam kebenaran dia harus berani menghadapi apa saja, bahkan mati pun bukan apa-apa kalau mati dalam kebenaran. Lebih baik mati dalam kebenaran atau membela kebenaran dari pada hidup dalam keadaan tercemar dan terhina karena kejahatan! Tentu saja baik atau jahat menurut penilaiannya sendiri! Dan betapapun dia pertimbangkan, dia tidak merasa salah dalam hal itu!

"Maaf, Locianpwe. Baru sekarang setelah mendengar penuturan Locianpwe, saya tahu akan persoalannya. Akan tetapi pada waktu hal itu terjadi, saya hanya tahu bahwa ada seorang gadis muda dikeroyok banyak laki-laki tinggi besar yang mengeluatkan ucapan-ucapan menghina. Tentu saja saya turun tangan membela wanita itu, karena bukankah hal itu merupakan tuga seorang gagah yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan? Sekarang, ternyata ada sebab-sebab lain tersembunyi dalam perkelahian itu, sebab-sebab yang tidak saya ketahui. Semua telah terjadi, sekarang saya berhadapan dengan Locianpwe, harap jelaskan, apa yang harus saya lakukan dan apa pula yang akan Locianpwe lakukan terhadap saya?"

Kembali kakek itu diam-diam menjadi kagum. Terang bahwa bocah ini bukan bocah sembarangan dan mulailah dia percaya bahwa pemuda ini memiliki kelihaian yang luar biasa, murid seorang sakti yang tentu amat terkenal. Biarpun dia merasa kagum dan sayang, namun sebagai ketua Tiat-ciang-pang, dia harus membela perkumpulannya dan harus menuntut atas kematian murid Tiat-ciang-pang agar tidak ditertawai dan dipandang rendah dunia kang-ouw, apalagi dipandang rendah oleh Hoa-san-pai!

"Cia Keng Hong, ucapanmu membuktikan bahwa kau seorang laki-laki sejati yang tidak menyangkal perbuatan yang telah kau lakukan. Kau telah mengaku bahwa kau telah membunuh murid Tiat-ciang-pan, karena itu, aku sebagai wakil ketua Tiat-ciang-pang berkewajiban untuk menangkapmu dan membawamu ke depan ketua kami untuk menerima keputusan dan hukuman."

Keng Hong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. "Permintaanmu ini sukar sekali untuk dapat saya terima, Locianpwe, karena apa pun yang telah terjadi, saya berbuat demi kebenaran dan kebaikan, sedikitpun tidak mengandung dasar yang jahat dan buruk, sedikit pun tidak merasa salah. Karena itu, saya tidak dapat menghadap Tiat-ciang-pangcu (ketua) untuk menerima hukuman. Harap Locianpwe suka memaafkan."

Sinar mata yang tadinya sabar dan penuh kagum itu menjadi marah. "Eh, orang muda,boleh jadi engkau lihai, murid seorang sakti, akan tetapi ketahuilah bahwa engkau berhadapan dengan seorang tua seperti aku yang telah mengejar ilmu sebelum engkau lahir! Kami orang-orang Tian-ciang-pang mengutamakan keadilan, setelah nanti didengar semua keteranganmu, tentu pangcu kami tidak akan menjatuhkan hukuman sewenang-wenang! Kalau engkau menolak, sunguh menyesal sekali bahwa aku terpaksa harus memaksamu!"

"Ah, ternyata Locianpwe hanya ingin mencari benar sendiri!" Kata Keng Hong.

"Hemmm, apakah bukan engkau yang hendak mencari benar sendiri, orang muda? Engkau telah membunuh murid kami, dan kami sekarang hendak menangkapmu. Siapakah yang salah dan siapa benar dalam hal ini? Siapa yang jahat dan siapa yang baik?"

Tiba-tiba terdengar suara ketawa, suara ketawa yang mengakak seperti suara burung gagak (goak) atau suara seekor ular besar. Mendengar suara ketawanya, sepatutnya orang yang tertawa seperti itu tentulah seorang yang tinggi besar. Akan tetapi ternyata sebaliknya. Ketika semua orang memandang ke atas karena suara ketawa itu terdengar dari atas, mereka melihat seorang kakek yang amat lucu duduk dengan kedua kaki telanjang ongkang-ongkang di atas dahan pohon tak jauh dari tempat itu. Kakek ini tubuhnya kecil dan bongkok berpunduk, rambut, kumis dan jenggotnya panjang terurai akan tetapi bagian atas kepalanya botak dan kelimis. Mukanya membayangkan kegembiraan total, sehingga tampak seperti wajah seorang bocah nakal yang tertawa-tawa selalu, pakaiannya bersih sekali dan baru, akan tetapi kedua kakinya telanjang. Tangan kirinya memegang sebuah guci arak, dan setelah tertawa dia lalu menuangkan isi guci ke mulut. Bau arak wangi memenuhi tempat itu.

"Ha-ha-ha-ha-ha!" Ia tertawa lagi setelah minum arak. "Semua salah, semua benar, tiak ada yang baik tidak ada yang buruk. Sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha! Yang tinggi yang pendek ya sama saja! Yang gemuk yang kurus ya sama saja! Yang salah yang benar, yang buruk yang baik, yang cantik yang bopeng, semua ya sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha!"

Kalau semua orang merasa geli dan juga jengkel mendengar kata-kata tdak karuan sikap seperti orang gila itu, Keng Hong sebaliknya menjadi tertarik sekali. Dia dapat menangkap inti sari ucapan yang tidak karuan itu maka lalu menjura ke atas terhadap kakek itu sambil berkata.

"Kebetulan sekali Locianpwe yang arif bijaksana muncul di saat ini. Mohon petunjuk Locianpwe siapakah yang salah dan siapa yang benar dalam urusan antara saya dan fihak Tiat-ciang-pang ini?"

"Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain an kami tidak membutuhkan pendapat orang lain," kata Kim-to Lai Ban yang tentu saja merasa direndahkan kalau sebagai wakil ketua Tiat-ciang-pang dia harus mendengarkan pendapat orang luar untuk mengambil keputusan atas urusan yang mengenai perkumpulannya.

"Lai-pangcu," kata Keng Hong dengan wajah tidak senang, "dalam setiap urusan antara kedua fihak, selalu harus ada fihak ke tiga yang dimintai pertimbangan agar dapat dipertimbangkan siapa salah siapa benar. Kalau tidak, bagaimana kedua fihak yang bertentangan itu akan dapat menyelesaikan urusan secara musyawarah?" Kemudian dia menoleh lagi kepada kakek bongkok di atas dahan itu sambil berkata, "Mohon petunjuk Locianpwe."

Kakek bongkok itu tertawa lagi. "Bocah, kau awas dan berbakat sekali! Di dunia ini mana ada baik dan buruk? Mana ada salah dan benar? Yang ada hanyalah pandangan manusia, disesuaikan dengan selera masing-masing, disesuaikan dan didasari oleh nafsu mementingkan diri sendiri masing-masing! Mana ada manusia baik atau manusia jahat? Manusia ya manusia, tidak baik tidak jahat. Baik atau buruknya tergantung dari pendapat masing-masing, pendapat yang diuntungkan atau dirugikan. Pendapat manusia didasari sifat mementingkan diri pribadi. Contohnya? Biar orang sedunia menganggap seseorang itu baik, kalau orang itu merugika dirinya, dia tentu menganggapnya jahat! Sebaliknya, biar orang sedunia menganggap seseorang jahat, kalau orang itu menguntungkan dirinya, dia tentu akan menganggapnya baik! Demikian pula perbuatan. Perbuatan ya perbuatan. Salah atau benarnya, baik atau buruknya, selalu diciptakan manusia yang terkena akibat perbuatan itu. Kalau menguntungkan, dianggapnya benar, kalau merugikan, salahlah perbuatan itu! Buktinya sekarang ini. Perbuatan bocah ini merugikan fihak Tiat-ciang-pang, tentu saja oleh fihak Tiat-ciang-pang dianggap salah dan jahat! Padahal, bagaimanakah sifat perbuatan itu sesungguhnya? Tanyakan kepada pihak murid-murid Hoa-san-pai yang oleh perbuatan bocah ini diuntungkan terhindar dari kekalahan, tentu saja perbuatan ini dianggapnya benar dan baik! Mana yang benar? Baik atau jahat? Salah atau benar? Ya sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha-ha!"

Wakil ketua Tiat-ciang-pang dan anak buahnya menjadi marah dan mendongkol. Akan tetapi diam-diam Keng Hong terkejut dan kagum. Kata-kata yang kedengarannya tidak karuan artinya itu sekaligus mencakup segala rahasia pertentangan dan keributan yang selalu timbul tiada henti-hentinya di atas bumi di antara manusia! Rahasia daripada timbulnya segala bentuk pertentangan telah tercakup dalam kata-kata kakek bongkok itu, ialah bahwa semua pertentangan timbul karena manusia memperebutkan "kebenaran" yang sesungguhnya selalu didasari oleh sifat mementingkan diri pribadi.

"Maafkan saya, Locianpwe yang bijaksana. Kalau kebenaran dan kebaikan sepalsu yang Locianpwe katakan, bagaimanakah sesungguhnya yang aseli?"

"Heh-heh-heh, tidak ada yang aseli tidak ada yang palsu! Yang benar dan baik bagi diri sendiri bukanlah kebenaran, yang benar dan baik bagi orang lain tanpa dipaksakan dalam pengakuannya barulah mendekati kebenaran!"

"Ah, amat dalam dan sukar dimengerti wejangan Locianpwe. Mohon petunjuk bagaimana saya harus menghadapi kemarahan Tiat-ciang-pang?"

"Ha-ha-ha, sikap terbaik adalah seperti air! Kebijaksanan tertinggi seperti air, tidak memaksa tidak mendesak, sepenuhnya mematuhi kekuasaan yang ada.........!"

Jantung Keng Hong berdebar. Dia sudah banyak membaca kitab-kitab kuno, sudah banyak menghafal ayat-ayat dalam kitab-kitab suci, maka dia tentu saja dapat menangkap inti sari ucapan kakek ini, ialah bahwa dia harus bersikap wajar, tidak dibuat-buat, seperti gerakan air yang wajar mengalir ke bawah. Akan tetapi bukan maknanya yang mendebarkan jantungnya, melainkan disebutnya kalimat itu. Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Bukankah itu merupakan kalimat pertama daripada huruf-huruf yang terukir di pedang Siang-bhok-kiam? Hanya kebetulan saja, ataukah mungkin sekali kakek bongkok ini dapat memecahkan rahasia huruf-huruf di pedang itu?

"He, orang tua yang lancang mulut! Jangan mencampuri urusan kami!" bentak Lai Ban yang menjadi marah karena pemuda itu mengobrol dengan si kakek bongkok demikian asiknya seolah-olah puluhan orang Tiat-ciang-pang itu dianggap seperti segerombolan pohon saja!

Karena kakek itu tidak menjawab dan hanya tersenyum-senyum sambil tetap duduk di atas dahan pohon dengan kedua kaki bergantungan, Keng Hong menoleh kepada Lai Ban dan berkata dingin.

"Lai-pangcu, salah-menyalahkan dalam urusan ini memang tidak ada habisnya dan tidak akan dapat membereskan persoalan. Aku tidak memusuhi Tiat-ciang-pang, dan aku tiak merasa bersalah dalam peristiwa antara anak murid Tiat-ciang-pang dengan anak murid Hoa-san-pai, dan karena tidak merasa bersalah, aku tidak mau kalau diharuskan menghadap ketua Tiat-ciang-pang untuk menerima hukuman. Jika Ji-pangcu henadk menggunakan paksaan dan kekerasan, silahkan."

Sekali ini ketua dua Tiat-ciang-pang itu benar-benar hilang sabar dan menjadi marah sekali. "Orang muda! Engkau benar-benar tidak tahu tingginya langit dalamnya lautan! Boleh jadi engkau lihai, akan tetapi engkau masih seorang muda remaja, masih seorang bocah! Sebetulnya aku merasa sungkan untuk turun tangan menandingi seorang yang sepantasnya menjadi cucu muridku kalau melihat usianya......"

"Ha-ha-ha! Pintar dan bodoh tidak mengenal tua atau muda. Yang makin tua makin tolol amat banyak, yang muda-muda sudah pintar seperti orang muda ini pun tidak jarang! Siapa sih orangnya yang tahu akan tingginya langit dan dalamnya lautan? Heh-heh-heh!" Kakek bongkok itu tertawa-tawa lagi sambil memberi komentar, seolah-olah dia sedang menonton pertunjukan yang lucu.

Kim-to Lai Ban menjadi makin marah. "Eh, kakek tua yang lancang mulut! Pergilah engkau dari sini, jangan mencampuri urusan orang lain! Kalau tidak, akan kuseret turun engkau!"

"Wah-wah-wah, ini aturan mana, ya? Sebelum kalian datang aku sedang enak-enakan tidur di pohon ini. Kalian datang membikin ribut sampai aku terkejut dan terjaga dari tidurku. Menurut patut, aku yang menegur kalian. Kalau kalian mengenal malu, pergilah dari sini dan carilah tempat lain untuk main ribut-ribut agar tidak mengganggu orang!"

Kim-to Lai Ban membentak kepada dua orang sutenya, "Seret dia turun dan tendang dia jauh-jauh dari sini!"

Dua orang sutenya itu adalah orang-orang yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Di dalam perguruan Tiat-ciang-pang, terdapat sebuah ilmu yang dipakai ukuran tinggi murid-muridnya, yaitu ilmu Tiat-ciang-kang (Tangan Besi). Kedua tangan atau sebelah tangan saja, digembleng dan dilatih sedemikian rupa sehingga tangan itu menjadi kuat dan kebal seperti besi. Makin hebat latihannya, makin kuat tenaga sinkang si murid, makin kebal dan kuat tangan besinya. Kekuatan tangan besi inilah yang dijadikan ukuran tingkat. Tingkat pertama tentu saja diduduki oleh ketuanya yang bernama Ouw Beng Kok, adapun tingkat kedua diduduki oleh Kiam-to Lai Ban. Kini, kedua orang sute yang menghampiri pohon di mana duduk kakek bongkok dan yang menerima tugas untuk menyeret turun kakek itu, adalah orang-orang tinggi besar dan kuat sekali, apalagi karena mereka telah menduduki tingkat ke empat di Tiat-ciang-pang yang menandakan bahwa ilmu "tangan besi" mereka sudah amat hebat.

"Orang tua bongkok, engkau sudah mendengar permintaan Ji-pangcu kami, harap lekas turun dan pergi karena kami merasa tidak enak sekali kalau harus menggunakan kekerasan terhadap orang kakek tua seperti engkau," kata seorang di antara dua murid Tiat-ciang-pang tingkat empat itu.

"Heh-heh-heh, apakah sih artinya kekerasan? Kalian hendak menggunakan kekerasan seperti apa? Aku sejak tadi duduk di sini dan hanya tertawa bicara, hanya menggunakan kelemasan, duduk mengandalkan kelemasan kaki, bicara mengandalkan kelemasan lidah, akan tetapi kalian ini agaknya suka sekali akan barang yang serba keras. Agaknya, lebih baik lagi kalau Tiat-ciang (Tangan Besi) ditambah dengan Tiat-sim (Hati Besi)!"

"Kekerasan seperti inilah!" Seorang di antara mereka tiba-tiba menghantamkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka ke arah bantang pohon itu.

"Kraaakkkkk.......!" Hebat bukan main hantaman tangan yang penuh dengan hawa Tiat-ciang-kang itu. Batang pohon yang besarnya sepelukan orang itu, sekali kena dihantam tangan besi itu, menjadi patah dan tumbang! Tentu saja tubuh kakek bongkok yang duduk di dahan pohon itu ikut pula terbawa roboh ke bawah!

Akan tetapi, ketika dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu siap hendak menubruk dan menyeret kakek cerewet itu pergi, tiba-tiba hanya tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek bongkok itu sudah berjongkok lagi di atas dahan pohon lain sambil terkekeh-kekeh.

"Heh-heh-heh, itukah yang kalian sebut kekerasan? Bagiku, lebih tepat disebut pengrusakan! Pengrusakan ciptaan alam, sungguh besar dosanya!"

Karena merasa bahwa mereka diejek dan ditertawakan dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu menjadi makin marah. Mereka berlari menghampiri pohon besar di mana kakek itu kini berjongkok di atas dahan, lalu mereka berdua secara berbareng memukul batang pohon yang amat besar itu. Kembali terdengar suara yang lebih keras daripada tadi dan batang pohon itu tumbang, membawa dahan-dahan dan daun-daun berikut tubuh si kakek bongkok. Seperti tadi pula, bagaikan seekor burung saja, kakek itu telah meloncat seperti terbang melayang dan "hinggap" di atas pohon lain. Cara dia bergerak meloncat benar-benar amat mengagumkan, selain cepat dan ringan, juga aneh gerakannya karena dalam meloncat, kakek ini mengembangkan dan menggerak-geraka kedua lengan seperti sayap burung!

Dua orang tokoh Tiat-ciang-pang makin penasaran sehingga mereka terus mengejar dan memukul tumbang semua pohon yang dijadikan tempat "mengungsi" kakek itu sehingga dalam waktu tak berapa lama, belasan batang pohon telah tumbang!

"Wah-wah-wah, kalian berdua ini dapat menjadi tukang-tukang penebang pohon yang amat baik dan menguntungkan sekali, heh-heh-heh!" Kakek bongkok itu tertawa-tawa.

"Sute, tahan......!" Tiba-tiba Kim-to Lai Ban berseru. Kedua orang sutenya itu lalu mundur, akan tetapi muka mereka merah dan mata mereka melotot ke arah kakek bongkok yang kini masih duduk ongkang-ongkang di atas dahan sebuah pohon lain, agak jauh dari situ karena pohon-pohon yang berdekatan telah tumbang semua. "Asal kakek itu tidak mencampuri urusan secara langsung, biarkan dia menggoyang lidahnya, setidaknya dia sudah tahu bahwa Tiat-ciang-pang tak boleh dibuat bermain-main." Kemudian Lai Ban menghadapi Keng Hong dan berkata, "Orang muda, engkau sudah melihat sendiri kehebatan pukulan Tiat-ciang-kang dari kedua suteku. Aku tidak ingin menggunakan kekerasan terhadapmu. Kalau kau menyerahkan diri tanpa perlawanan, kami pun akan membawamu ke hadapan pangcu tanpa kekerasan."

Semenjak tadi, Keng Hong memandang kakek bongkok dengan penuh perhatian. Dia dapat menduga bahwa kakek itu bukan sembarang orang, akan tetapi yang paling menarik hatinya adalah bunyi kalimat yang merupakan kalimat yang terukir di pedang Siang-bhok-kiam. Ingin dia bertanya tentang kalimat itu kepada si kakek bongkok, akan tetapi dia masih menghadapi urusan dengan orang-orang Tiat-ciang-pang ini, maka dia harus dapat membereskan urusan ini lebih dulu. Tadi dia melihat kehebatan pukulan dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu dan dia maklum bahwa orang-orang ini benar-benar amat lihai dan memiliki pukulan maut yang amat kuat. Dalam hal ilmu silat, tentu saja dia masih kalah jauh, akan tetapi dalam hal sinkang, mereka itu tidak ada artinya baginya. Juga dia memiliki kecepatan gerakan yang jauh melampaui mereka.

"Lai-pangcu, kedua orang sutemu telah mendemonstrasikan kelihaian dan hal ini hendak kaupergunakan untuk menundukanku, apa bedanya itu dengan kekerasan? Tidak, Pangcu, karena aku tidak merasa bersalah, aku tetap tidak mau kau bawa pergi menghadap ketua kalian di Tiat-ciang-pang."

"Bocah, kau benar-benar keras kepala!" teriak seorang di antara dua orang sute Lai Ban yang tadi mengejar-ngejar si kakek bongkok. Mereka masih terlalu pensaran dan marah karena merasa dipermainkan si bongkok, kini mereka seolah-olah hendak menimpakan kemarahan mereka kepada Keng Hong. "Ji-suheng, serahkan saja bocah ini kepada kami, tidak perlu kiranya Ji-suheng turun tangan sendiri!"

Kim -to Lai Ban adalah seorang cerdik. Kalau tadi dia menyuruh kedua orang sutenya mundur adalah karena pandang matanya yang awas dapat menduga bahwa kakek bongkok itu bukan orang sembarangan. Kalau pemuda yang lihai ini saja belum dapat ditundukkan, sunggah tidak menguntungkan kalu menambah seorang lawan lagi yang belum dapat diukur sampai di mana kelihaiannya. Kini, dia harus mengawasi gerak-gerik si bongkok yang dia duga tentu akan membantu Keng Hong , maka dia mengambil keputusan untuk "menyerahkan" Keng Hong kepada anak buahnya dan dia sendiri yang akan turun tangan kalau kakek bongkok itu mencampuri urusan ini. Anak buahnya ada puluhan orang, masa tidak akan mampu menangkap Keng Hong. Maka dia lalu mengganggukkan kepala dan berkata.

"Baik, tangkaplah bocah sombong ini !"

Dua orang tokah Tiat-ciang-pang yang tinggi besar itu lalu bergerak dari kanan kiri Keng Hong sambil membentak keras, "Bocah, engkau ikutlah dengan kami !". Mereka mencengkeram ke arah pundak keng Hong dari kanan kiri dengan niat menangkap dan sekaligus membuat pemuda itu tidak berdaya dalam cengkeraman tangan besi mereka.

Keng Hong dapat merasakan sambaran angin pukulan tangan mereka itu yang amat kuat dan mantep. Dia tidak takut menghadapi cengkeraman itu karena kalau dia mengerahkan sinkang ke arah sepasang pundaknya, kulit pundaknya akan menjadi kebal dan agaknya tidak perlu takut menghadapi cengkeraman mereka. Akan tetapi setidaknya, bajunya tentu akan menjadi robek-robek dan dia tidak menghendaki ini. Pula, dia pun harus memperlihatkan kelihaiannya, maka cepat dia mengangkat kedua tangan ke kanan kiri, mengerahkan tenaga dan menangkis dengan tolakan dari samping mengadu pergelangan kedua tangannya dengan lengan kedua orang lawannya.

"Plak! Plak!"

Dua orang tokoh tiat-ciang-pang itu berteriak kaget dan tubuh mereka terdorang ke belakang ke belakang , lengan mereka yang tertangkis terasa nyeri dan panas sekali. Hanya dengan pengerahan tenaga saja mereka dapat mencegah tubuh mereka terguling, dan kini mereka memandang dengan kemarahan berkobar, sejenak mengelus pergelangan tangan yang terasa senut-senut.

Orang-orang Tiat-ciang-pang menjadi marah sekali dan tanpa menanti komando, mereka sudah menerjang maju dengan senjata di tangan mengeroyok Keng Hong. Hal ini bukan hanya menunjukkan bahwa orang-orang Tiat-ciang-pang suka main keroyok, melainkan karena mereka ini terlatih dalam perang melawan pasukan-pasukan kerajaan sehingga mereka memiliki jiwa setia kawan yang tebal dan setiap melihat seorang kawannya, apalagi pimpinan , terdesak atau terpukul, tanpa dikomando mereka lalu maju menerjang.

Hal ini menimbulkan rasa marah di hati Keng Hong. Tadinya dia tidak marah, hanya ingin berpegang kepada kebenaran menurut faham dan pendapatnya sendiri dalam urusannya dengan orang-orang Tiat-ciang-pang , maka dia pun tidak berniat untuk menurunkan tangan maut. Akan tetapi, sekarang melihat betapa puluhan orang itu bergerak seperti semut menggeroyoknya, dia menjadi marah dan menbentak keras.

"Kalian manusia-manusia curang tak tahu malu!" Dan tubuhnya lalu menerjang ke depan, sambil mengerahkan tenaga pada kedua lengannya, Keng Hong menangkis, mencengkeram dan memukul. Karena para pengeroyoknya hanyalah para anggota Tiat-ciang -pang rendahan , maka berturut-turut robohlah enam orang yang mengeroyok dari sebelah depan!"

Tiba-tiba angin pukulan yang amat dahsyat menghantam dari arah belakang dari kanan kiri menuju ke punggung Keng Hong. Pemuda ini terkejut karena angin pukulan ini hebat bukan main. Ia maklum bahwa dua orang tokoh Tiat-ciang-pang tukang robohan pohon tadi telah menyerangnya dari belakang, menggunakan kesempatan selagi dia sibuk menghadapi penggeroyokan banyak orang dari depan. Keamarahan Keng Hong memuncak dan dia mengeluarkan suara pekik melengking sambil mengerahkan sinkang ke tubuh bagian belakng.

"Buk...! Buk...!" Dua kepalan tangan yang amat kuat telah menghantam punggung Keng Hong di kanan kiri. Akan tetapi pada saat itu, keng Hong yang sedang marah sekali telah mengerahkan tenaganya dan tenaga mujijatnya timbul di luar kehendakknya sehingga begitu dua kepalan itu sehingga melekat pada punggung tak dapat dilepaskan pula. Dua orang itu adalah ahli-ahli pukulan Tiat-ciang-kang, sungguhpun belum encapai tingkat paling tinggi, namun sudah cukup hebat dan tenaga sinkang mereka pun sudah amat kuat. Kini, menghadapi kenyataan mengerikan bagi mereka itu, kepalan tak dapat dilepas dari punggung dan tenaga sinkang mereka molos keluar seperti air membanjir karena tanggulnya bobol, tanpa dapat mereka tahan, mereka menjadi kaget dan juga panik. Cepat mereka menggunakan tangan kiri mereka, mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, kini mereka memukul ke kanan kiri lambung. Pukulan ini adalah pukulan maut, karena selain yang memukul adalah kepalan-kepalan tangan yang penuh dengan hawa sakti Tiat-ciang-kang, juga yang dipukul adalah lambung yang biasanya merupakan tempat yang lemah. Akan tetapi, justru bagian tubuh Keng Hong yang dekat pusar merupakan bagian-bagian yang paling "peka" dan aktif sekali kalau tenaga mujijat yang menyedot itu sedang bekerja, maka begitu dua pukulan itu menyentuh lambung, kontan saja tersedot dan melekat!

Dua orang tokoh tiat-ciang-pang itu kini menjadi seperti dua ekor lintah yang melekat, tak dapat terlepas pula dan tenaga sinkang mereka terus menerobos keluar melalui kedua tangan mereka measuki tubuh keng hong yang menjadi makin lamban gerakan-gerakannya akan tetapi menjdai makin hebat tenaga sinkangnya. Dia hanya melangkah perlahan-lahan ke depan, kedua lengannya bergerak perlahan pula, akan tetapi kedua tangannya itu mengeluarkan angin bersuitan dan setiap orang pengeroyok yang terdorong oleh angin pukulan ini tentu roboh terjengkang! Hal ini tidaklah aneh kalau dipikir bahwa pada saat itu, yang memang sudah amat kuat, melainkan ditambah lagi oleh tenaga Tiat-ciang-kang dari kedua orang yang menempel yang di tubuhnya dari belakang itu!

"Pemuda iblis…!!" kim-to lai ban menjadi marah sekali. 'Lepaskan dua orang suteku!" Ia marah dan juga ngeri menyaksikan betapa dua orang sutenya itu kini telah bergantung pada tubuh Keng Hong dengan lemas, wajah mereka pucat separti mayat. Sebetulnya hal ini adalah kesalahan dua orang itu sendiri. Tenaga mujijat yang bergerak di seluruh tubuh Keng Hong adalah tenaga yang hanya mengenal dan menyedot tenaga sinkang dari luar. Andaikata seorang manusia biasa yangtidak pernah berlatih sehingga tenaga sakti dalam tubuh mereka tidak bangkit, membuat mereka itu hanya bertenga biasa dari otot-otot saja, aka tenaga mujijat di tubuh Keng hong takkan dapat berbuat apa-apa,dan orang yang tidak bersinkang itu tidak akan dapat terlekat dan tersedot. Demikian pula bagi mereka yang memiliki tenaga sakti seperti dua orang Tiat-ciang-pang itu, andaikata mereka tidak mempergunakan tenaga sinkang, tentu mereka akan terlepas dengan sendirinya dari tubuh Keng Hong. Tadi mereka memukul dengan tangan kanan, disusul dengan tangan kiri, mempergunkan Tiat-ciang-kang, pukulan yang sepenuhnya didasari tenaga sinkang, tentu saja mereka terlekat dan tersedot. Setelah demikian, mereka meronta dan mengerahkan tenaga pula untuk berusaha melepaskan diri. Tentu saja usaha pengerahan tenaga ini merupakan "makanan" bagi tenaga mujijat di tubuh Keng Hong yang bekerja sehingga makin hebat mereka berusaha untuk melepaskan diri makin hebat pula mereka tersedot dan melekat terus!

"Aku... aku tidak bisa melepaskan mereka...!" kata Keng Hong gugup. Peristiwa seperti ini terulang kembali dan selalu dia menjadi gugup. Apalagi sekarang bukan hanya dua orangitu yang melekat dan tersedot sinkangnya, juga ada dua orang lain yang tadinya berusaha embantu kawan mereka, kini menempel dan tersedot sinkangnya. Yang menjemukan, dua orang ini menjerit-jerti seperti dua ekor babi disembelih! Ingin Keng Hong melepaskan dari mereka, akan tetapi dia sendiri pun tidak tahu bagaimana caranya!

Jawabannya yang memang sesungguhnya itu diterima salah oleh Kim-to Lai Ban, dia menjadi makin marah dan dicabutlah golok emasnya. "Terpaksa aku membunuhmu, pemuda iblis!" serunya dan dia menerjang maju, lalu meloncat ke atas dan berteriak keras menyerang Keng Hong.

Pemuda ini maklum betapa hebat dan berbahayanya serangan Kim-to Lai Ban itu. Maka dia pun mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya sudah mencelat ke atas, membawa empat tubuh yang menempel di sebelah belaknang tubuhnya sendiri itu ke udara. Menghadapi serangan golok lawan yang demikian dahsyatnya, yang beruabah menjadi sinar keemasan yang melengkung panjang, Keng Hong sudah mengerahkan tenaga dan menggunakan jurus In-keng-hong-wi (Awan menggetarkan Angin dan Hujan), yaitu jurus kedelapan atau jurus terakhir, jurus yang paling dahsyat daripada ilu silatnya, San-in-kun-hoat (Ilmu Silat Tangan Kosong Awan Gunung) yang hanya terdiri dari delapan jurus itu. Jurus ini amat sukar dimainkan, namun juga amat hebat gerakannya, karena selagi berada di udara menyambut terjangan lawan yang juga meloncat ke udara itu, kaki kiri Keng Hong bekerja susul menyusul dalam rangkainan yan selain cepat tak terduga, juga amat aneh dalam kerja sama yang rapi sekali. Kedua kakinya sudah sususl menyusul melakukan tendangan ke arah pergelangan tangan Kim-to Lai Ban yang memegang golok dan ke arah pusar, sedangkan kedua tangannya susul menyusul pula melakukan serangan, yang kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala sedangkan yang kanan mengikuti gerakan golok yang ditarik ke belakang karena tendangannya sedetik yang lalu!

"Hayaaaaa..!!" Selama hidupnya baru sekali ini Kim-to Lai Ban menjadi gugup. Tadinya dia memutar goloknya dan melompat ke atas melakukan serangan dengan jurus yan paling ampuh dari ilu goloknya. I harus menyelamatkan dua orang sutenya, maka dia tidak segan-segan lagi menurunkan serangan maut, goloknya membentuk lingkaran dan sasarannya adalah leher lawan, sedangkan tangan kirinya yang terbukajarinya mencengkeram ke arah lehar Keng Hong .

Akan tetapi, siapa kira, lawannya itu malah meloncat pula dan menyambut serangannya secara terbuka di udara ! Tentu saja tubuh mereka bertemu di udara dan dalam beberapa detik ini telah terjadi beberapa gebrakan hebat. Kim-to Lai ban terpaksa menarik goloknya karena pergelangan tangannya yang menbacok itu dipapaki tendangan dari bawah , akan tetapi tangan kirinya berhasil "masuk" dan mengcengkeram leher Keng Hong karena dia menang dulu. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika jari-jari tangannya yang mengcekeram leher itu seperti mencengkeram daging yang amat lunak dan sekaligus tenaganya tersedot dan tangannya melekat! Sebelum hilang rasa kagetnya, pusarnya terancam tendangan yang cepat dia elakkan, akan tetapi tiba-tiba goloknya terampas oleh tangan Keng Hong dan ubun-ubunnya juga terancam oleh cengkeraman sebelah tangan pemuda luar biasa itu!

"Celaka..!" Lai Ban berseru keras, berusaha membetot tangannya dan pada detik lain, dia mengirim tusukan dengan dua buah tangannya ke arah mata Keng Hong dan hal ini sama sekali tak dapat dielakkan maupun ditangkis oleh pemuda itu! Dalam detik itu, nyawa Lai Ban terancam maut oleh cengkeraman pada ubun-ubunnya sedangkan keselamatan mat Keng Hong terancam kebutaan oleh dua jari tangan Kim-to Lai Ban.

"Heh-heh-heh, sayang..sayang..!" Terdengar kakek yang duduk nongkrong di atas pohon itu tertawa dan dari tangannya menyambar dua butir buah mentah dari pohon itu. Yang sebutir menyambar siku lengan Lai Ban yang menusuk jari tangannya ke arah mata Keng Hong , adapun yang sebutir lagi melayang ke arah siku lengan Keng Hong yang mencengkeram ke arah ubun-ubun lawannya. Biarpun buah mentah itu tidak keras, namun ternyata tenaga luncur dan tenaga totokannya dahsyat sekali sehingga tiba-tiba kedua lengan yang tertotok buah-buah entah itu menjadi lumpuh dan kedua orang itu meloncat turun ke bawah. Untung bagi Lai Ban bahwa ketika dia tertotok oleh buah mentah yang melayang tadi, kelupuhannya membuat dia terlepas dari tenaga ujijat keng Hong yang menyedot dan menempelnya sehingga dia dapat meloncat ke bawah. Ia terkejut bukan main dan hanya dapat memandang kepada Keng hong dengan mata terbelalak dan mulutnya menggumamkan bisiskan, "Iblis....!" keudian dia terbelalak kaget ketika tubuh dua orang sutenya dan doa orang anak buahnya, mereka berempat yang tadi melekat di belakang Keng Hong seperti lintah, kini telah menggeletak tak bernyawa lagi! Kiranya tadi karena terlalu lama mereka tersedot sinkangnya dan mereka sama sekali tidak berdaya, hawa sakti tubuh mereka tersedot sampai habis sama sekali sehingga mereka dengan sendirinya terlepas dan jatuh ke atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi. Melihat ini, Kim-to Lai Ban menjadi makin marah dan selagi dia bersiap untuk mengerahkan anak buahnya yang saat banyak dan mengeroyok mati-matian untuk menebus kematian dua orang sutenya, tiba-tiba Keng Hong meloncat pergi, melempar golok rampasannya ke atas tanah sambil berseru.

"Locianpwe, tunggu dulu.....!"

Ketika Lai Ban memandang teliti kiranya pemuda iblis itu telah lari mengejar kakek bongkok yang juga sudah melarikan diri amat cepatnya . Kim-to lai Ban menggeget giginya sabil memandang jauh ke depan sampai dua bayangan itu lenyap, kemudian menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas dengan penuh duka. Sungguh tak dia sangka bahwa hari ini nama besarnya, juga nama besar Tiat-ciang-pang akan hancur hanya oleh seorang bocah yang tak ternama! Dengan hati penuh penasaran dan dendam terhadap Keng Hong , Kim -to Lai Ban lalu menyuruh anak buahnya mengangkut empat jenazah itu dan membawa pergi dari tempat itu. Dia maklum bahwa mengejar pemuda itu takkan ada gunanya. Sudah dia saksikan betapa ilmu lari cepat peuda itu amat hebatnya ketika mengejar si kakek bongkok, seperti terbang saja . Dan ilmu kepandaiannya pun mujijat. Belum lagi diingat kakek bongkok itu yangjuga memiliki kesaktian. Biarlah, untuk sekali ini Tiat-ciang-pang boleh mengaku kalah, akan tetapi urusan ini takkan habis sampai disitu saja! Pada suatu saat, dendam ini harus terbalas! Demikianlah tekad hati Lai Ban sambil mengiring jenazah ke empat orang kawan, atau lebih tepat, dua orang sute dan dua orang anak buah itu kembali ke pusat Tiat-ciang -pang yang berada di sebuah di antara puncak-puncak pegunungan Bayangkara. ***

Kakek kecil pendek yang bongkok itu ternyata dapat lari cepat sekali. Tadinya kakek itu menggunakan ilmu berlari cepat secara melompat-lompat sepert katak, sekali melompat ada sepuluh meter jauhnya dan begitu kakinya tiba di atas tanah terus melompat lagi ke depan. Akan tetapi Keng Hong yang oleh mendiang gurunya di gembleng terutama sekali untuk tenaga dan kecepatan, dapat bergerak lebih cepat lagi. Tubuh peuda yang kini terlalu penuh dengan hawa sinkang "rampasan" dari orang-orang Tiat-ciang-pang tadi, ringan seperti sebuah balon karet penuh hawa, maka dia dapat berlari cepat dan ringan sekali mengejar, makin lama makin dekat sabil berteriak.

"Locianpwe, tunggu dulu...!" Mendengar ini, kakek itu berlari makin cepat lagi.

"Heiii, Locianpwe yang bongkok, tunggu...!" Suara Keng Hong makin keras dan ketika kakek itu menoleh dan melihat betapa pemuda itu mengejarnya dengan cara yang sama, yaitu melompat-lompat seperti katak, akan tetapi dengan lompatan yang lebih jauh daripada lompatannya, dia kaget kaget sekali dancepat mengubah caranya berlari. Kini dia tidak berlompatan lagi, melainkan berlari dengan gerakan yang luar biasa cepatnya sehingga kedua kakinya itu lenyap bentuknya dan tampak seperti kitiran berputar sehingga kelihatannya seperti roda. Langkah-langkahnya pendek-pendek, sesuai dengan kedua kakinya yang pendek-pendek, namun gerakannya cepat sekali sehingga tubuhnya meluncur ke depan seperti seekor kuda membalap.

"Heh-heh-heh, tak mungkin kau dapat mengejarku lagi, bocah bandel!" Kakek itu terkekeh dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari secepat mungkin. Beberapa lamanya kakek itu berlari sampai dia merasa yakin bahwa pemuda itu kini tentu telah tertinggal jauh dan kalau dia teruskan, napasnya mungkin akan putus meninggalkan tubuhnya yang sudah amat tua. Selagi dia hendak memperlambat larinya, tiba-tiba dekat sekali di belakangnya terdengar teriakan Keng Hong.

"Heiii, Locianpwe, mengapa melarikan diri? Saya hendak bicara..!"

Kakek bongkok itu menengok dan alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa kini pemuda itu pun berlari cepat seperti dia, cepat sekali seperti terbang melayang saja. Karena merasa bahwa lari pun tidak ada gunanya, kakek itu berhenti dan membalikkan tubuh menanti sampai Keng Hong tiba di depannya. Pemuda itu masih merah sekali mukanya, sampai matanya pun masih merah sebagai akibat daripada kebanjiran sinkang di tubuhnya, akan tetapi dia sudah tenang karena tadi kelebihan hawa sakti itu telah banyak dia pergunakan untuk melakukan pengejaran terhadap kakek yang amat cepat larinya itu, dan di sepanjang jalan Keng Hong menggunakan tangannya mendorong roboh beberapa batang pohon besar.

"Ehhh, bocah yang keji seperti setan. Apakah engkau masih belum kenyang , mengejarku untuk menyedit habis sinkangku dengan ilmu sesatmu Thi-khi-i-beng ?" Ia bertanya sambil memandang tajam. "Seekor lintah hanya menyedot darah sampai kenyang baru puas, akan tetapi engkau menyedot hawa orang sampai empat orang mati masih belum puas, sungguh jauh lebih keji daripada seekor lintah!"

Keng Hong mengerutkan alisnya dengan hati risau. "Locianpwe, benarkah ada itu ilmi yang dinamai Thi-khi-I-beng? Apakah benar tenaga menyedot yang keluar dari tubuhku itu tadi Ilmu Thi-khi-I-beng ?"

Kakek itu membusungkan dada menegakkan kepala dan memandang Keng Hong dari bawah dengan sikap seorang guru memandang muridnya, kemudian dia menunjuk hidung sendiri sambil berkata.

"Aku Siauw-bin kuncu (Budiman Berwajah Rahmah) selamanya tidak suka membohong. Seorang kuncu (budiman) tidak akan membohong ! Terang bahwa kau tadi menggunakan ilmu menyedot sinkang lawan, apalgi namanya kalau bukan Thi-khi-I-beng yang kabarnya sudah lenyap dari permukaan bumi dan dibawa lari untuk dijadikan ilmu para iblis dan setan ? Akan tetapi sekarang ternyata kau memilikinya. Hih, sungguh mengerikan, sungguh keji menakutkan!" Setelah berkata demikian, dia bergidik dan mengangkat guci araknya, terus dituangkan isi guci ke dalam mulutnya sambil terdengar bunyi menggelogok. Kemudian dia menutup mulut guci, mukanya menjadi merah dan wajahnya tertawa-tawa lagi. "Heh-heh-heh, seteguk arak mengusir semua kerisauan hati! Biarpun engkau memiliki ilmu iblis, tentu takkan kau pergunakan untuk menyedot hawa dari tubuhku, bukan ?"

Keng Hong menggeleng kepalanya. "Locianpwe telah menolong saya, telah menyelamatkan nyawa saya dengan sambitan tadi, mengapa saya hendak menganggu locianpwe yang budiman ? Tidak sama sekali, saya mengejar locianpwe untuk menghaturkan terima kasaih atau pertolongan itu dan .."

"Tidak ada tolong menolong ! Siapa suka menolong orang yang seuda ini telah memiliki ilmu begitu keji sehingga tidak segan-segan membunuh orang? Seekor lintah menyedot darah hanya secukupnya saja, setelah kenyang melepaskan diri. Akan tetapi engkau menyedot hawa orang sampai orang-orang itu mati. Aku tidak menolong siapa-siapa, hanya tidak suka melihat pembunuhan-pebunuhan."

"Ah, akan tetapi saya tidak sengaja membunuh ereka, Locianpwe..."

"Bohong! Ingat, tidak baik membohong dan aku, Siauw-bin Kuncu selaanya tidak sudi membohong! Kebohongan itu berantai, sekali berbohong engkau harus selalu membohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang terdahulu."

Keng Hong menahan senyumnya, "Saya tidak perlu berpura-pura, Locianpwe. Sekali waktu, kalau perlu saya akan membohong. Saya tidak pernah mempunyai niat di hati untuk membunuh siapapun juga. Dan ilmu Thi-khi-i-beng yang Locianpwe sebut-sebut itu sama sekali saya tidak mengerti dan tidak pernah mempelajarinya. Tenaga sedotan yang berada di tubuh saya ini bukan saya pelihara dan bergerak di luar kesadaran saya."

"Eh, eh, eh, mengapa begitu? Aku melihat engkau seorang bocah yang baik, maka aku condong memihakmu ketika engkau ribut-ribut dengan orang-orang Tiat-ciang-pang. Akan tetapi aku kecewa melihat engkau mempergunakan ilmu yang sesat itu. Dan sekarang kau mengatakan tidak sadar akan ilmu itu ? sungguh luar biasa... ."

"Sudahlah, Locianpwe. Sesungguhnya selain hendak menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe, saya hendak mohon penjelasan, hendak bicara dengan Locianpwe.."

"Hemmm, boleh. Bicara tentang apa ?"

"Tentang air !"

Kakek itu melongo. Mulutnya masih tersenyum akan tetapi karena terbuka lebar kelihatan lucu, matanya terbelalak, tangan kirinya perlahan-lahan diangkat ke atas dan menggaruk-garuk bagian atas kepalanya yang botak kelimis.

"Eh, orang muda, apakah kau gila ?" tanyanya, pertanyaan yang sungguh-sungguh dengan wajah serius, bukan main-main atau memaki.

Timbul kegembiraan di hati Keng Hong. Pemuda ini memang memiliki dasar watak gembira, maka biarpun kelihatannya pendiam, setiap kali bertemu dengan orag yang bersikap riang dan lucu,tentu dia akan mudah terbawa riang pula.kakek ini selain aneh, lihai, juga amat lucu dan gembira. Melihat sikap sungguh-sungguh ketika kakek yang nama julukannya saja sudah aneh itu bertanya apakah dia gila, Keng Hong tak dapat menahan kegelian hatinya dan dia tertawa bergelak, membuat kakek itu makin curiga, makin keras mengira bahwa pemuda ini benar-benar telah gila!

"Tidak, Locianpwe. Aku belum gila dan mudah-mudahan tidak akan gila," jawab Keng Hong.

"Yang kumaksudkan dengan air adalah kalimat yang Lociapwe berikan kepada saya sebagai nasihat menghadapi orang-orang Tiat-ciang-pang. Kalimat yang amat menarik hati saya dan yang ingin sekali saya tanyakan kepada locianpwe tentang artinya."

"Kalimat apa ?"

"Yang seperti bunyi ujar-ujar kuno yang suci, mengenai air." Keng Hong sengaja memancing.

"Sangat banyaknya ujar-ujar suci yang membawa-bawa air sebagai wejangan. Yang mana yang kaumaksudkan? Nasihat apa yang kuberikan tadi? Aku sudah tidak ingat lagi. Pertanyaan-pertanyaanmu aneh dan membikin aku bingung. Eh, benar-benarkah engkau tidak miring otak, ya?"

"Tidak, Locianpwe. Kalau locianpwe lupa, biarlah saya mengulang kalimat yang locianpwe ucapkan tadi. Begini bunyinya : Kebijaksanaan tertinggi seperti air."

"Heh-heh-heh! Betul sekali! Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Lengkapnya begini :

Kebijaksanaan tertinggi seperti air yang member manfaat kepada segala sesuatu mengalir ke tempat rendah yang tak disukai orang karena itu, sifatnya berdekatan dengan Too.."

"Eh bukankah itu ayat di kitab Too-tik-khing bagian ke delapan ?" Keng Hong berseru girang dan heran.

Sebaliknya, kakek bongkok itu memandang Keng Hong dengan mata beerseri, "Hayaaaaa. Engkau ini benar-benar bocah yang kukoai (aneh) sekali! Mengerti dan hafal pula ayat-ayat di kitab Too-tik-khing ?"

"Tentu saja hafal karena saya sudah berkali-kali menghafalnya, Locianpwe. Tadi saya lupa dan ... ah, hal ini tidak perlu. Yang penting sekarang apakah Locianpwe mengenal pula kalimat yang berbunyi seperti ini : Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan."

"Kaumaksudkan tulus dan sungguh mengabdi kebajikan seperti air keluar dari sumbernya? Dan sewajarnya seperti munculnya matahari dan bulan atau sewajarnya seperti empat musim yang datang bergantian? Ujar-ujar itu lengkapnya berbunyi begini : Phouw Phek Yan Coan, Ji Si Chut Ci."

"Wah, itu adalah ujar-ujar pasal tiga puluh satu ayat dua dari kitab Tiongyeng!" kembali Keng Hong berseru hirang sekali karena mengenal ujar-ujar itu yang pernah dihafal seluruh isi kitabnya di luar kepala.

Sekali lagi kakek bongkok itu bengong dan kagum. "Kau juga pandai ujar-ujar Nabi Khongcu ? Wah, bocah apakah engaku ini ? Kalau gila terang belum! Akan tetapi, engaku mengausai ilmu sesat Thi-khi-I-beng, ginkangmu luar biasa sekali dapat menandingi aku, sinkangmu menakjubkan, dan engkau hafal akan kitab-kitab Too-tik-khing dan Tiong-yong ! siapakah sesungguhnya engaku ini bocah aneh ?"

Akan tetapi Keng Hong yang sudah mengenal dua di antara tiga baris kalimat yang terukir di pedang Siang-bhok-kiam, menjadi begitu girang sehingga dia tidak mempedulikan lagi pertanyaan kakek itu, melainkan cepat dan menahan napas ketika dia berkata lagi.

"Satu lagi, Locianpwe. Satu lagi mohon bantuanmu. Dengarkanlah kalimat ini : Tukang saluran mengalirkan airnya kemana dia suka"

Tiba-tiba sikap kakek itu berubah. Dia selamanya tidak bisa marah, akan tetapi sekarang berpura-pura marah, atau memasang muka seperti orang marah. Betapapun juga, karena mukanya itu muka lucu, memasang mukla marah tidak kelihatan menyeramkan atau menakutkan, malah menggelikan!

"Bocah sombong! Apakah engkau hendak menantang aku ? Apakah enkau tidak percaya akan julukanku Siauw-bin-Kuncu? Aku berjuluk Kuncu, tentu saja aku seorang bijaksana yang sudah mengenal seluruh ayat di permukaan bumi ini! Apakah engkau sengaja hendak mengujiku? Sekaligus kau mengeluarkan tiga ayat dari tiga macam agama, apa kau kira aku berjuluk kuncu hanya untuk main-main dan palsu belaka? Kalau memang kau hendak menantangku berdebat tentang filsafat agama-agama di dunia ini, bilang saja terus terang, dan akan kulayani sampai mengaku keok!"

Keng Hong menahan kegelian hatinya, ia maklum bahwa kakek ini seorang tokoh yang amat aneh dan agaknya memang seorang ahli kitab-kitab suci. Kalau dipaksa dan dibujuk, biar dia menyembah-menyembahnya tentu takkan sudi memenuhi permintaannya, maka jalan satu-satunya hanya menantangnya!

"Ha-ha-ha, kusangka tadinya julukanmu hanya kosong belaka, siapa kira ternyata lebih kosong daripada yang kosong!" kata Keng Hong untuk memanaskan hati kakek itu. "Memang aku menantangmu berdebat tentang filsafat. Kalimat terakhir tadi tentu tidak kau kenal, maka engkau mencari-cari alasan, kakek bongkok!"

Anehnya kakek itu tidak marah malah tertawa-tawa. "Heh-heh-heh, engkau memujiku terlalu tinggi, orang muda. Siapa namamu tadi? Cia Keng Hong? Ah, aku mulai suka kembali kepadamu. Di dalam to-kauw terdapat paham bahwa yang kosong itu lebih berguna daripada yang isi, maka kau menyebut aku lebih kosong daripada ynag kosong. Pujian apa lagi yang lebih hebat daripada ini?"

Celaka, pikir Keng Hong. Kakek ini benar angin-anginan dan mencampuradukkan isi filsafat dengan ucapan-ucapan biasa. Akan tetapi dia tidak kekurangan akal. "Locianpwe, ada maksud saya dengan menjajarkan tiga ayat itu, karena dua ayat terdahulu sudah dapat Locianpwe tebak, harap tidak berlaku kepalang dan suka mengenal ayat terakhir tadi. Saya ulangi lagi. Tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka."

Kakek itu tertawa lalu bersenandung, "Tukang-tukang pembuat saluran air mengalirkan airnya ke mana mereka suka; para pembuat panah meluruskan anak panahnya; tukang kayu melengkungkan sebatang kayu; para bijaksana mengendalikan diri pribadi!".

Keng Hong meloncat dan berjingkrak-jingkrak saking senangnya. "Ha-ha-ha! Itulah ayat ke delapan puluh dari kitab Jalan Suci Kebajikan (Dhammapada).!"

Kakek itu melangkah dekat dan menantang, "Tak perlu mengejek! Kalau engkau memang seorang ahli dalam filsafat dari isi kitab suci dari tiga agama, mari berdebat dengan aku. Kalau aku kalah, aku akan membuang julukan Kuncu dan akan mengaku engkau sebagai guru!"

Keng Hong yang tadinya menari-nari kegirangan karena merasa dapat memecahkan arti tiga baris kalimat yang terukir di atas pedang Siang-bhok-kiam, tiba-tiba berdiam dan mengasah otaknya. Kalau sudah mengenal, lalu bagaimana lanjutannya? Bagaimana artinya yang berhubungan dengan rahasia penyimpanan pusaka-pusaka peninggalan gurunya? Ia mendapat akal dan ingin mempergunakan perngertian yang mendalam dari kakek yang berjuluk Siauw-bin Kuncu itu untuk mencoba membongkar rahasia yang tersembunyi di balik tiga baris kalimat itu.

"Baiklah, Locianpwe. Akan tetapi karena Locinpwe yang menantang, harap Locianpwe yang lebih dahulu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang sulit-sulit.Kalau Locianpwe tidak dapat menjawab berarti Locianpwe kalah satu angka. Nanti kita saling perhitungkan, siapa yang mendapat angka terbanyak dia menang."

"Akur! Dapat menjawab mendapat satu angka, aku dapat menjawab dipotong satu angka. Majukan pertanyaanmu, bocah yang menyenamgkan hati!"

"Pertanyaan pertama. Apakah bedanya antara ketiga pelajaran yang Locianpwe sebutkan tadi, yaitu mengenai kalimat-kalimatnya yang saya sebutkan. Untuk jelasnya, apa bedanya antara tiga kalimat ini. Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan! Tukang sakuran mengalirkan airnya ke mana dia suka!"

"Heh-heh-heh, pertanyaan kanak-kanak. Amat mudahnya, lebih baik kau tanyakan yang lain dan yang lebih sulit. Baiklah kujawab. Ketiganya tidak ada perbedaannya dan ketiganya mengandung nasihat agar manusia meniru sifat ari air yang amat bijaksana. Mengapa air disebut bijaksana dalam ayat-ayat suci itu? Pertama karena air bergerak secara wajar, tidak memaksa sesuatu tidak menentang sesuatu, menurut sifat alam, keluar dari sumbernya dan mengalir menuju ke tempat rendah, menyerahkan diri untuk segala macam benda yang membutuhkannya dan memanfaatkannya, tanpa pamrih, dan selalu menempatkan diri di tempat yang paing rendah. Itulah inti pelajaran itu dan ketiganya menggunakan sifat air sebagai contoh."

"Tepat sekali, Locianpwe dan biarlah untuk jawaban ini Locianpwe mendapatkan angka satu. Sekarang pertanyaan kedua. Ada hubungan apakah antara ketiga ayat itu?"

Kakek itu mengernyitkan alisnya. Pertanyaan ini sulit sekali karena tidak mengandung maksud pemecahan filsafat, lebih condong kepada pertanyaan teka-teki. Akan tetapi dia tidak mau kalah karena kalau dia tidak dapat menjawab berarti dia kehilangan nilai satu angka! Memang Keng Hong sengaja mengajukan pertanyaan ini untuk memecahkan rahasia Siang-bhok-kiam. Ia maklum bahwa tiga kalimat di pedang itu diambil dari tiga bagian ayat Too-tik-khing., Tiong-yong dan Dhammapada, dan jika di dalam kalimat-kalimat itu terdapat rahasia yang sifatnya filsafat, maka sudah tentu akan dapat dipecahkan oleh kakek bongkok yang ternyata seorang ahli dalam segala macam agama. Kalau kakek bongkok ini tidak mampu memecahkannya, apalagi dia yang dahulu hanya menghafal saja segala kitab itu, belum dapat menyelami maknanya yang amat dalam. Kalau tidak memiliki maksud tersembunyi yang dalam, juga akan dapat dia pelajari dari jawaban kakek itu.

"Hubungannya hanya penggunaan air sebagai contoh nasihat. Tidak ada hubungan apa-apa lagi kecuali persamaan yang menyebut air itu. Kalau dipaksakan hubungannya, tiada lain hanya air dan memang oleh air, seluruh dunia ini dipersatukan dan jika mengingat akan air, tidak ada lagi yang terpisah-pisah, segala sesuatu di dunia ini sambung-menyambung dan sesungguhnya hanya satu, seperti air samudera, biarpun terdiri dari titik-titik air, namun tak dapat dibedakan karena merupakan kesatuan yang tiada bedanya."

Keng Hong menganguk-angguk, akan tetapi sesungguhnya di dalam hatinya dia menjadi bingung. Agaknya, ketika menuliskan kalimat-kalimat itu, gurunya maksudkan AIR! Akan tetapi, apa artinya air yang hendak ditunjukkan gurunya itu? Air di puncak Kiam-kok-san? Apa maksudnya? Air selalu mengalir ke tempat rendah! Dan di puncak itu ada sebuah kolam kecil yang menampug semua air yang jatuh dari langit, baik air hujan maupun air dari embun dan dari kolam ini, air mengalir ke bawah seperti sebuah sungai kecil, hanya dua kaki lebarnya, terus ke bawah melalui celah-celah batu karang.

"Bagus sekali jawabanmu, Locianpwe. Biarlah aku kalah dua nilai. Sekarang pertanyaan ketiga. Kalau ada orang menuliskan tiga buah kalimat tadi bersambung, dengan niat untuk memberitahukan sesuatu yang rahasia, yaitu hendak menunjukkan sesuatu tempat rahasia, apakah maksudnya?"

Mata kakek itu terbelalak. "Eh, orang muda. Benar-benarkah engkau tidak gila?"

Keng Hong tersenyum lebar, "Masih belum, Locianpwe. Kalau kelak sudah gila, akan kuberi tahu kepada Locianpwe. Sekarang aku belum gila!"

"Kita berdebat tentang filsafat, akan tetapi kau selalu mengajukan pertanyaan seperti anak-anak penggembala kerbau bermain teka-teki! Aku tidak sudi menjawab kalau kau hendak mempermainkan aku orang tua!"

"Ah, sungguh mati saya tidak mempermainkan Locianpwe. Pertanyaan saya ini amatlah penting bagi saya. Percayalah, Locianpwe, hanya satu pertanyaan itu lagi saja. Setelah itu, saya akan bertanya kepada Locianpwe tentang filsafat yang amat tinggi dan yang belum tentu bisa dijawab oleh dewa sekalipu, yaitu tentang mati dan hidup dan isinya!"

"Bagus! Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang seharusnya kudengar! Hayo lekas ajukan pertanyaan-pertanyaan tentang mati atau hidup itu."

"Nanti dulu Locianpwe. Saya minta Locianpwe menjawab lebih dulu pertanyaan saya tadi. Apa kira-kira yang dimaksudkan oleh orang yang merangkai tiga kalimat itu untuk menunjukkan sebuah tempat rahasia?"

Kakek itu meraba-raba dagunya, kemudian menggaruk-garuk botaknya. "Hemmm, kau keras kepala. Akan tetapi agaknya orang yang meninggalkan tanda seperti itu adalah seorang yang suka bergurau, seorang yang merasa kesepian sehingga melihat air pun lalu timbul pikiran yang bukan-bukan untuk mempermainkan orang lain. Tentu dia maksudkan air yang mengalir. Mungkin tempat yang dia rahasiakan itu dapat dicaei menurutkan air yang mengalir ke bawah. Dan karena dalam kalimat itu tidak terdapat angka-angka, maka mungkin sekali angka-angka sebagai ukuran tempat itu diambil dari nomor-nomor ayat dan bagian dari ketiga ayat suci itu. Kebijaksanaan tertinggi seperti air, terdapt dalam Too-tik-khing bagian ke delapan. Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan adalah sifat-sifat kuncu seperti dinasihatkan dalam kitab Tiong-yong bagian tiga puluh satu ayat dua, adapun yang terakhir tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka terdapat dalam kitab Dhammapada pasal enam ayat delapan puluh. Kalau diambil angka-angka dalam ketiga ujar-ujar itu, maka terdapat angka delapan, tiga puluh satu, dua, enam,dan delapan puluh. Jika dijumlahkan, menjadi seratus dua puluh tujuh. Mungkin itulah rahasianya, tempatnya mengikuti aliran air, dan jumlah ukurannya seratus dua puluh tujuh!"

Keng Hong hampir berjingkrak-jingkrak dan menari-nari lagi. Itulah agaknya! Tidak ada lain tafsiran dan perhitungan lagi. Itu tentu yang dimksudkan mendiang suhunyal. Rahasia Siang-bhok-kiam! Rahasia tempat penyimpanan pusaka! Rahasia tiga baris kalimat di Pedang Kayu Harum itu!

"Terima kasih, Locianpwe. Sungguh budi Locianpwe amat besar bagi saya!" Setelah berkata demikian, Keng Hong membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan tempat itu.

"Eh, eh, eh, nanti dulu, orang muda! Seeokor kerbau diikat hidungnya,akan tetapi seorang manusia yang diikat mulutnya yang sudaah berjanji! Engkau tadi berjanji akan mengajukan pertanyaan tentang mati atau hidup. Hayo penuhi janji out lebih dulu, kemudian aku yang akan balas mengajukan pertanyaan-pertanyaan."

Dalam kegembiraannya, Keng Hong tadi hampir lupa akan janjinya, maka sambil tertawa dia lalu berhenti dan menghadapi kakek itu lagi. Ia mengerutkan alisnya, berpikir dan mengingat-ingat. Banyak filsafat hidup yang dia ketahui, dan di dalam kesempatan itu, dia akan mengajukan pertanyaan yang dia sendiri belum dapat menjawabnya dan yang jawaban kakek itu akan dapat menambah pengertiannya tentang hidup dan mati.

"Pertanyaan pertama, Locinpwe. Untuk apa manusia hidup harus melakukan kebajikan?"

"Heh-heh-heh, baru pertanyaanmu itu saja sudah tidak tepat, orang muda. Pertanyaanmu itu menyatakan bahwa seolah-olah kebajikan harus dilakukan UNTUK sesuatu. Padahal, sesuatu yang dilakukan dengan parih, bukanlah kebajikan lagi namanya. Seharusnya pertanyaan itu berbunyi: Mengapa manusia hidup harus melakukan kebajikan? Nah, untuk pertanyaan ini kujawab begini dan dengarlah baik-baik karena setiap orang manusia perlu mengetahui dan sadar akan hal ini."

Keng Hong mengangguk-angguk dan mendengarkan penuh perhatian.

"Kebajikan merupakan kewajiban manusia hidup karena hidup itu sesuai dan selaras dengan alam, maka untuk menyesuaikan diri dengan alam yang memberi manfaat pada setiap benda, manusia pun harus memnafaatkan diri sebagai sebagian daripada alam. Adapun pemanfaatan diri inilah yang mengharuskan manusia berkewajiban untuk mengisi hidupnya dengan kebajikan. Kebajikan berarti segala perbuatan baik yang ditujukan kepada orang lain atau sesama hidup. Perbuatan baik dalam arti kata berbuat demi keuntungan dan kesenangan orang lain. Karena itu harus tanpa pamrih karena dengan begitu barulah kebajikan ini wajar, seperti alam sendiri yang memberi tanpa meminta, tanpa pamrih. Kebajikan yang dilakukan dengan pamrih berarti palsu, hanya merupakan kedok untuk menutupi nafsu sendiri. Contohnya, kalau engaku menolong seseorang dengan pamrih rahasia dalam hati sendiri yaitu agar supaya engkau memperoleh pujian, maka perbuatanmu menolong itu sesungguhnya bukanlah kebajikan karena dasarnya bukan untuk menolong melainkan melakukan daya upaya agar memperoleh pujian! Andaikata di sana tidak ada harapan untuk memperoleh pujian, tentu saja engaku takkan suka melakukan perbuatan itu. Kebajikan sejati yang tanpa pamrih, adlah kebajikan yang dilakukan dengan kesadarnn bahwa itu adalah sebuah kewajiban mutlak dalam hidup. Kalau manusia sudah membiasakan diri meletakkan kebjaikan sebagai kewajiban hidup, maka pamrihnya akan lenyap karena perbuatan itu tidak dianggapnya baik atau buruk lagi, melainkan pelaksanaan tugas kewajiban hidup. Dan sebagaimana biasa, setiap kewajiban jika dilakukan dengan baik, akan mendatangkan rasa lega di hati dan lapang di dada."

Keng Hong mengangguk-angguk. Banyak sudah dia membaca uraian tentang kebajikan yang harus dilaksanakan manusia hidup di dunia ini, ada yang muluk-muluk uraiannya, ada yang berbelit-belit. Uraian kakek ini sederhana sekali dan gamblang, mudah dimengerti dan juga mudah diterima oleh akal. Benda apakah yang tidak ada guna atau manfaatnya di dunia ini? Semua ada manfaatnya bagi makhluk lain, memberi, memberi dan memberi tanpa pamrih. Buah-buahan pada pohon, bunga-bunga indah, tanah dan air, angin dan hujan, matahari dan bulan, binatang-binatang. Manusia berakal budi, masa kalah oleh yang lain dala mengusahakan agar dirinya bermanfaat bagi dunia dan isinya? Tentu saja manfaat yang ditimbulkan oleh perbuatan yang berguna dan menguntungkan sesamanya. Tidak melakukan kebajikan berarti sudah mengabaikan kewajiban hidup, apalagi melakukan hal yang menjadi lawannya, yaitu kejahatan!

"Bagus sekali uraian Locinpwe dan sudah membuka mata dan pikiran saya. Sekarang pertanyaan terakhir, Locianpwe. Bagaimanakah sikap manusia selagi hidup dan apa yang harus dilakukan sesudah mati?"

Kakek itu terkekeh. "Ha-ha-ha, jangan engkau memasukkan dirimu ke dalam kelopok mereka yang merasa ngeri menghadapi kematian, orang muda. Patut dikasihani mereka itu yang takut menghadapi pengalaman yang belum pernah dialaminya itu, ketakutan karena bayangan-bayangan sendiri. Aku lebih condong kepada pelajaran Nabi Khong-cu yang mengingatkan murid-muridnya mengapa ingin mengetahui tentang kematian sedangkan tentang hidupnya sendiri saja belum tahu artinya dan belum dapat mengisinya dengan sempurna? Seperti lahir bukan kehendak manusia, matipun bukan kehendak manusia, oleh karena itu lebih baik tentang kematian kita serahkan saja pada Pengurusnya karena itu bukanlah urusan atau wewenang manusia yang masih hidup. Yang terpenting sekarang adalah mengisi hidup, memepelajari tentang soal perikehidupan dan lika-likunya, seluk-beluknya karena kita adalah manusia hidup selaras dan sesuai dengan kehendak ala, kita harus dapat MENYESUAIKAN DIRI dengan apa yang ada disekeliling kita. Menyesuaikan diri terhadap manusia lain yang kita hadapi. Menyesuaikan kedalam lingkungan masyarakat dimana kita tinggal. Menyesuaikan diri dengan keadaan. Dengan menyesuaikan diri berarti tidak menentang karena hanya pertentangan yang akan menimbulkan keretakan dan kehancuran. Penyesuaian diri tentu akan meenimbulkan kerukunan, kecocokan dan dalam keadaan seperti ini, akan lebih mudah memanfaatkaan diri seperti yang telah kusinggung-singgung tadi tentang kewajiban manusia untuk mengisi hidup dengan kebajikan."

Keng hong yang hatinya masih diliputi ketegangan dan kegembiraan karena marasa dapat memecahkan rahasia Siang-bhok-kiam, menganggap sudah cukup mengobrol tentang hal yang amat tinggi dan sukar itu, maka ia cepat menjura dengan hormat dan berkata.

"Locianpwe, saya menghaturkan banyak terima kasih atas semua wejangan Locianpwe yang amat berharga baagi saya. Harap Locianpwe maafkan bahwa saya tidak dapat melayani Locianpwe lebih lama lagi."

"Eh-eh-eh, nanti dulu, orang muda. Engkau sudah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang semua sudah kujawab. Sekarang tiba giliranku untuk bertanya tentang….."

"Saya mengaku kalah, Locianpwe. Memang Locianpwe hebat sekali dalam soal filsafat dan saya patut menjadi murid Locianpwe.bagaimana saya berani berdebat dengan Locianpwe? Sudahlah, saya mengaku kalah dan kelak kalau kita ada kesempatan bertemu lagi, tentu saya akan menyediakan lebih banyak waktu untuk mendengarkan wejangan-wejangan Locianpwe yang amat berharga. Selamat tinggal!" Keng Hong tidak memberi kesempatan lagi kepada kakek itu untuk membantah karena dia sudah cepat berkelabat melarikan diri sambil mengerahkan tenaganya. Ia mendengar kakek itu memanggil-manggil, namun dia tidak peduli dan berlari terus secepatnya. Dia kagum akan pengetahuan kakek itu tentang kitab-kitab suci dan ayat-ayatnya, kagum akan pandangan kakek itu tentang hidup. Akan tetapi dia merasa sangsi apakah kakek itu sudah dapat mengetrapkan semua teori dalam praktek, apakah kakek itu sudah dapat menyesuaikan tiga serangkai yang tak boleh dipisah-pisahkan dalam ilmu kebatinan, yaitu sesuainya hati, kata, perbuatan. Dia belum pernah menyaksikan sepak terjang kakek itu, akan tetapi orang telah berani memakai julukan Kuncu (Budiman Bijaksana) sungguh amat meragukan!

Akan tetapi setelah berlari jauh dan tidak melihat kakek itu mengejarnya, Keng Hong sudah melupakan lagi kakek itu. Pikirannya penuh dengan pemecahan rahasia Siang-bhok-kiam. Semenjak turun dari Kiam-kok-san, dia selalu bertemu dengan peristiwa-peristiwa hebat, bertemu dengan orang-orang yang berkepandaian tinggi dan beberapa kali terancam bahaya maut. Memang benar seperti pesan suhunya, kepandaiannya sendiri masih jauh daripada mencukupi untuk melindungi dirinya terhadap ancaman orang-orang sakti di dunai kang-ouw yang selalu membayanginya, yag amat tamak hendak merampas pusaka yang tersembunyi di balik rahasia Siang-bhok-kiam. Dia kini sudah dapat membuka rahasia itu. Dia harus kembali ke Kiam-kok-san mencari pusaka suhunya dan menggembleng diri dengan ilmu-ilmu gurunya. Setelah kepandaiannya cukup, mewarisi ilmu-ilmu gurunya, baru dia akan turun dari Kiam-kok-san dan dia akan dapat menghadapi lawan manapun juga dengan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, seperti sikap gurunya ketika menghadapi begitu banyak lawan.

Dari pegunungan Bayangkara, Keng Hong terus lari ke barat dan beberapa hari kemudian dia telah memasuki daerah Pegunungan Kun-lun-san. Sesungguhpun Kun-lun-san dianggap sebagai pusat atau markas besar para tosu Kun-lun-pai, akan tetapi hal ini sebetulnya hanyalah anggapan dunia kang-ouw saja. Kun-lun-san adalah daerah pegunungan yang amat luas dan besar, sedangkan Kun-lun-pai hanyalah sebuah partai persilatan yang dibentuk oleh sekelompok tosu yang kemudian berkembang biak dengan murid-murid mereka, juga akhir-akhir ini kesemuanya tosu belaka. Biarpun jumlah mereka banyak, dan yang berdiam di puncak Kun-lun tidak kurang dari dua ratus orang, namun jumlah yang sedemikian itu tidak ada artinya bagi Pegunungan Kun-lun-san yang amat luas itu. Di sepanjang kaki Pegunungan Kun-lun-san, juga di lereng-lereng, terdapat pedusunan dan di bagian-bagian yang sunyi terdapat banyak pula pertapa-pertspa yang menyembunyikan diri. Hanya karena mereka ini memnag bersembunyi di tempat sunyi untuk bertapa dan tidak pernah mencampuri urusan dunia, maka fihak Kun-lun-pai juga tidak pernah mau menganggap mereka. Bahkan para tosu Kun-lun-pai itu sering kali turun tangan membantu para penduduk dusun-dusun di situ. Karena pengaruh Kun-lun-pai pula maka tidak seorang pun perampok berani mengacau di daerah Kun-lun-san.

Keng Hong terpaksa menghentikan perjalanannya dalam sebuah hutan ketika malam tiba. Ia merasa amat lelah karena selama beberapa hari melakukan perjalanan terus-menerus dan hanya berhenti kalau malam tiba. Makannya tidak teratur, kadang-kadang selama dua hari baru bertemu makanan. Malam ini dia lelah sekali dan begitu membuat api unggun dan merebahkan diri di bawah pohon, dia segera jatuh pulas. Malam itu gelap, tiada bulan dan angkasa hanya diterangi bintang-bintang yang sinarnya terlampau suram untuk dapat menembusi celah-celah daun pohon yang lebat. Menjelang tengah malam, dalam keadaan setengah sadar setengan mimpi, dia merasa betapa dia diberi minum orang. Dalam keadaan setengah sadar itu dia merasa betapa lengan yang halus lunak dan hangat memeluk lehernya, mengangkat kepalanya dan ketika pundaknya menyentuh dada yang menonjol, Keng Hong diam-diam tersenyum. Ada wanita yang bentuk tubuhnya halus lunak dan padat wanita muda, mencoba untuk meminumkan sesuatu kepadanya. Dia tidak takut akan segala macam racun karena dia sudah kebal terhadap racun, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menurut saja dan minum dari cawan yang ditempelkan di bibirnya. Bibir cawan yang halus, rasa anggur yang ahrum dan manis, mengingatkan dia akan bibir Sim Ciang Bi, gadis Hoa-san-pai yang belum lama ini telah melayaninya dalam cinta kasih yang mesra, maka setelah minum habis anggur itu, dia berbisik.

"Ciang Bi.. Kekasihku.."

Akan tetapi tiba-tiba lengan yang halus itu merangkulnya lebih erat dan sepasang bibir yang hangat menyumbat mulutnya dalam sebuah ciuman yang membuat Keng Hong bergidik. Kalau Ciang Bi, betapapun mencintainya, tak mungkin dapat memberinya ciuman seberani dan sepenuh nafsu seperti ini. Hanya Cui Im yang akan dapat melakukan ciuman seperti ini. Akan tetapi Keng Hong tidak peduli melainkan menerima hal itu sebagai suatu kenikmatan, pelipur hati gelisah dan lelah setelah mengalami banyak hal ynag berbahaya. Dia tidak minta, dia tidak mengajak, melainkan gadis itu sendiri yang datang dan "memperkosanya". Bukan, bukan memperkosa karena dia menerima dengan senang hati! Watak gurunya menurun kepadanya! Cinta kasih wanita dianggapnya sebagai semacam "rejeki" yang tidak boleh ditolaknya, apalagi kalau wanita itu seperti ini, muda jelita, halus, hangat dan haru seperti serangkai bunga mawar pagi. Segar menggairahkan!

Keng Hong membiarkan dirinya dihanyutkan permainan cinta kasih yang menggelora. Ia berada dalam keadaan setengah sadar. Arak yang diminumnya tidak mempengaruhinya karena gumpalan hawa beracun yang wangi ia kumpulkan di dada dan kini perlahan-lahan dia hembuskan keluar kembali. Ia teringat bahwa arak semacam ini adalah arak yang pernah diminumnya dari Ang-kiam Tok-sian-li Bhe-Cui-Im. Cui-Im-kah gadis ini?

"Keng Hong... akulah kekasihmu.... hanya akulah yang mencintaimu……"

Suara Cui-Im-kah ini? Atau suara Biauw Eng? Sukar bagi Keng Hong untuk mengenal gadis ini karena malam itu sangat gelap dan api unggun yang tadi dinyalakannya telah padam. Namun dia tidak peduli dn hanya menyelamkan diri dalam lautan cinta yang memabukkan.

Keng Hong sadar dari tidurnya. Mimpikah dia semalam? Ia meraba ke kiri dan membuka mata, meraba tubuh yang menggairahkan yang demalam rebah di sampingnya. Akan tetapi kosong! Tangannya hanya meraba rumput yang masih hnagat. Ia membuka matanya. Cuaca tidak segelap malam tadi. Kiranya sudah menjelang fajar. Ia mendegar suara kaki di sebelah kanan, cepat menoleh dan masih tampak olehnya Sie-Biauw-Eng dengan pakaian serba putihnya yang mudah dikenal itu berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Aihhhhh! Biauw Eng kiranya gadis yang begitu mesra kepadanya semalam! Jantung Keng Hong berdebar dan dia meloncat bangun, berteriak, "Nona Biauw Eng…..!"

Akan tetapi bayangan putih itu lenyap dalam halimun pagi yang memenuhi tempat itu. Keng Hong bangun duduk, tidak mengejar, lalu mengenakan pakaiannya untuk melawan hawa yang amat dingin itu. Dilihatnya sebuah cawan kosong menggeletak di situ, dan sebuah tusuk konde berkepala bunga bwee. Lagi-lagi sebuah di antara senjata rahasia Sie Biauw Eng, agaknya jatuh tercecer. Ia melamun, bermacam perasaan mengaduk hatinya. Kemudian dia tersenyum pahit dan entah mengapa, hatinya merasa kecewa sekali.

Sie Biauw Eng gadis itu! Gadis yang semalam menggerumutnya, yang ternyata tiada bedanya dengan Bhe Cui Im! Gadis yang menjadi hamba nafsu birahi, yang tidak kuat hatinya sehingga mudah tunduk ke dalam cengkeraman nafsu. Kiranya tiada bedanya antara Biauw Eng dan Cui Im, bahkan Biauw Eng lebih jahat lagi. Tidak hanya menjadi haba nafsu birahi, juga hati Biauw Eng amat kejam. Gadis itu telah membunuh Sim Ciang Bi gadis Hoa-san-pai itu secara keji sehingga gadis Hoa-sa-pai yang dia tahu benar-benar mencintainya, bukan hanya oleh dorongan hawa nafsu birahi itu tewas dalam pelukannya! Rasa kagum dan juga rasa aneh yang pernah dia kandung terhadap diri Biauw Eng, mungkin karena Biauw Eng adalah puteri suhunya, yang mungkin juga merupakan perasaan cinta kasih yang sesungguhnya, bukan cinta nafsu yang mempengaruhi hatinya ketika dia melayani Cui Im, bahkan ketika dia brcinta dengan Sim Ciang Bi skalipun perasaan itu kini berubah menjadi perasaan muak dan benci.muak dan benci terhadap Biauw Eng yang timbul dari kecewa dan sesal. Mengapa puteri suhunya macam itu? Karena Biauw Eng membunuh banyak orang Tiat-cang-pang dengan senjata rahasianya, maka dia makin dibenci orang-orang Tiat-ciang-pang. Karena Biauw Eng membunuh Sim Ciang Bi secara keji, tentu saja dia akan dimusuhi oleh Hoa-san-pai dengan hebat! Dan kini secara tak tahu malu, di malam buta, Biauw Eng agaknya tak dapat menahan gelora nafsu birahinya dan menggerumutnya seperti seorang pelacur.

"Terkutuk! Engkau tidak patut menjadi puteri mendiang suhu! Engkau puteri lam-hai Sin-ni nenek iblis itu, akan tetapi aku tidak percaya engkau puteri guruku. Engkau iblis betina yang keji dan jahat!"ia memaki sambil bangun berdiri, menendang pergi cawan kosong dengan jijik. Kalau dia tahu benar bahwa gadis semalam itu adalah Biauw Eng, betapapun mesranya sikap gadis itu, betapapun indah menggairahkan tubuhnya, dia tentu akan menendangnya pergi! Baru sekarang, Keng Hong merasa sebal dan menyesal sekali telah menuruti hati mengejar kenikmatan dalam menyambut cinta kasih seorang gadis. Kemudian, dengan hati panas dan penuh kebencian, dia lalu berlari-lari pergi dari situ menuju ke barat. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia peduli akan semua yang dilakukan Biauw Eng? Padahal, Cui Im juga jahat dan keji, namun dia sama sekali tidak menyesal telah bermain cinta dengan murid Lam-hai Sin-ni yang seperti iblis itu. Mengapa dia merasa menyesal mendapat kenyataan bahwa Biauw Eng bukan seorang gadis baik-baik yang patut menjadi puteri gurunya? Mengapa menyesal mendapat kenyataan bahwa gadis pakaian putih itu ternyata juga seorang hamba nafsu birahi dan seorang yang keji, yang membunuh orang lain yang tak berdosa tanpa berkedip mata? Dia sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan hatinya yang ditujukan kepada perasaannya itu.

Hatinya agak lega setelah dia mengenal daerah yang sudah termasuk daerah Kun-lun-san ini. Memasuki daerah Kun-lun-san berarti berada di wilayah yang dikuasai Kun-lun-pai, daerah aman.Dia tentu takkan menghadapi gangguan-gangguan para tokoh kang-ouw lagi setelah berada di sini. Akan tetapi tidak mungkin dia pergi menghadap tokoh-tokoh Kun-lun-pai, karena para tokoh-tokoh kun-lun-pai mengrtahui dia berada di situ, tentu dia akan ditangkap dan tidak ada harapan lagi baginya untuk naik ke Kiam-kok-san. Dia harus dapat mencapai Kiam-kok-san dengan diam-diam, tanpa diketahui tokoh-tokoh Kun-lun-pai. Kalau dia sudah berada di puncak Kiam-kok-san, biarpun diketahui juga, takkan ada yang berani menyusulnya ke tempat itu.

Akan tetapi dugaannya ini ternyata keliru karena baru saja dia keluar dari hutan itu, dia melihat banyak orang menghadang di sebelah depan! Ia tadinya mengira bahwa mereka tentulah tokoh Kun-lun-pai, akan tetapi dugaannya keliru karena ketika dia sudah tiba dekat dengan mereka, dia mengenal tosu tua yang berdiri di depan itu adalah seorang di antara para tokoh yang pernah mengeroyok suhunya, yaitu Kok Cin Cu tosu termuda dari Kong-thong Ngo-iojin, seorang tokoh Kong-thong-pai yang amat lihai! Dan di sebelah belakang tosu ini berdiri sepuluh orang, delapan orang pria dan dua orang wanita yang rata-rata berusia tiga puluh tahun, bersikap gagah dan galak, sedangkan dua orang wanita itu pun kelihatan gagah, berwajah cantik dan bermata tajam. Ia dapat menduga bahwa sepuluh orang itu tentulah murid-murid Kong-thong-pai. Karena dia sendiri belum pernah bentrok secara hebat dengan fihak Kong-thong-pai, kecuali dengan sembilan orang murid Kong-thong-pai yang beberapa orang di antaranya juga seorang di antara dua wanita cantik itu kini berada di situ, maka dia masih mempunyai harapan untuk membebaskan diri dari keadaan tidak enak dalam perjumpaannya dengan tokoh besar Kong-thong-pai yang memimpin sepuluh orang murid itu. Ketika dia bentrok dengan sembilan orang murid Kong-thong-pai yang bercampur dengan empat orang murid Hoa-san-pai dan tiga orang murid Siauw-lim-pai, yang bertempur sesungguhnya adalah Cui Im dan Biauw Eng dan biarpun ada yang terluka di antara beberapa orang Kong-thong-pai, namun tidak ada yang sampai tewas. Ia cepat menjura penuh hormat kepada tosu itu sambil berkata.

"Selamat pagi, Totiang dan para Twako dan Cici dari Kong-thong-pai yang mulia!"

Kok Cin Cu, tosu yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih itu, memandang penuh perhatian. Dia sudah mendengar cerita para muridnya tentang pemuda murid Sin-jiu Kiam-ong ini, yang kabarnya memiliki ilmu mujijat, yaitu menyedot hawa sinkang muridnya. Mendengar itu dia menjadi penasaran dan tertarik sekali, lalu mengajak mereka dan beberapa orang murid lain untuk menghadang di kaki Kun-lun-san karena merasa yakin bahwa sekali waktu pemuda itu tentu akan kembali ke Kun-lun-san. Dia tercengang melihat bahwa pemuda ini seorang bocah biasa saja, tampan dan memiliki sinar mata yang cemerlang, sikap yang sopan santun danwajah yang berseri gembira. Juga dia terheran melihat pemuda ini seperti mengenalnya.

"Hemmm, engkau telah mengenal pinto?"

Keng Hong tersenyum, "Tentu saja saya mengenal Totiang. Bukankah Totiang yang disebut Kok Cin Cu, tokoh termuda dari Kong-thong Ngo-Lojin?"

"Siancai...! Agaknya Sin-jiu Kiam-ong tidak menyimpan sesuatu rahasia terhadap murid tunggalnya. Bukankah engkau murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong?"

"Benar, Totiang. Saya Cia Keng Hong, murid dari suhu Sin-jiu Kiam-ong dan betul pula bahwa saya mendengar segala hal tentang Kong-thong-pai dari mendiang suhu."

"Hal apa saja kau dengar?"

"Bahwa Kong-thong-pai adalah sebuah partai persilatan besar yang mengutamakan kebajikan berdasarkan kegagahan, keadilan dan kebenaran. Bahwa Kong-thong Ngo-iojin merupakan lima tokoh besar yang menjadi tulang punggung Kong-thong-pai dan banwa suhu bersahabat baik dengan pimpinan Kong-thong-pai," kata Keng Hong, sengaja menambah untuk mendinginkan suasana.

"Bersahabat baik apanya? Dia telah membunuh lima orang murid Kong-thong-pai dan engkau masih mengatakan bersahabat baik ? Kalau dia bersahabat baik, tentu dia tidak akan begitu pelit untuk memberikan siang-bhok-kiam kepada pinto sebagai tebusan kesalahannya kepada pihak kami. Pinto hanya mengharapkan agar engkau sebagai muridnya, dapat melihat kekeliruan gurumu dan dapat menebus semua kesalahan agar persahabatan akan terpelihara."

Keng Hong menghela napas panjang. Tak lain tak bukan, ke situ juga larinya. Alangkah tamaknya kaum kang-ouw ini dalam mengejar ilmu. Mereka itu seolah-olah tidak ada puasnya dalam mencari ilmu-ilmu yang tinggi, seolah-olah berlumba agar menjadi jagoan nomor satu di dunia, lupa bahwa semua itu akan musnah dan habis digerogoti waktu dan usia, akhirnya ditelan oleh kematian. Bahkan kakek yang begini tua masih begitu tak untuk memperebutkan pusaka peninggalan suhunya. Apakah kakek ini masih mempunyai waktu untuk mempelajari dan kemudian mempunyai kesempatan pula untuk mempergunakan ilmu yang dipelajarinya? Sungguh manusia-manusia merupakan badut-badut yang tidak lucu, bahkan menjemukan, selalu menjadi hamba daripada nafsu dan ketamakannya. Ada yang tamak dalam mengejar kedudukan tinggi, mengejar nama besar, mengejar kemuliaan duniawi, mengejar wanita, atau seperti orang-orang kang-ouw ini, mengejar ilmu agar menjadi orang yang paling hebat di dunia ini! Benar gurunya! Gurunya tidak mengejar, melainkan menerima segala sesuatu sebagai suatu berkah, suatu nikmat hidup, suatu kesenangan! Gurunya yang melakukan segala sesuatu demi kesenangan hidup, tidak menyia-nyiakan hidupnya untuk mengejar sesuatu.

Tentu saja Keng Hong tidak tahu keadaan gurunya seperti itu pun adalah sebagai akibat daripada suatu sebab, yaitu sebab patah hati oleh cinta kasih yang ternoda. Dia masih terlalu muda, masih belum berpengalaman untuk dapat meneropong sepak terjang gurunya yang dianggapnya sebagai pengganti orang tua, merupakan satu-satunya manusia di permukaan bumi yang dianggapnya paling baik.

"Maaf, Totiang. Menurut cerita guru saya, bentrokan yang terjadi antara suhu dan anak murid Kong-thong-pai adalah bentrokan antara orang-orang ada yang sedang bermain judi, artinya merupakan bentrokan pribadi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Kong-thong-pai. Kalah menang dalam perkelahian sudah wajar, terluka atau mati juga hanya merupakan resiko-resiko dalam sebuah pertandingan. Kebetulan murid-murid Kong-thong-pai yang kalah dan tewas. Bagaimana kalau suhu yang ketika itu kalah dan tewas? Saya rasa urusan seperti itu saja tidak perlu diperpanjangan, apalagi diperpanjang, apalagi kedua fihak, baik lima orang murid Kong-thong-pai yang kalah maupun suhu yang menang, telah meninggal dunia. Saya menganggap bahwa urusan itu sudah !"

"Aha, kulihat engkau seorang muda yang berpemandangan luas. Tentu engkau akan dapat mengerti pula akan kesediaan pinto menghapus seua luka lama dengan sebuah tangan murid Sin-jiu Kiam-ong yang akan memenuhi permintaan pinto."

Diam-diam Keng Hong menjadi jengkel juga. "Kalau saya tidak salah artikan tentu Totiang maksudkan pedang Siang-bhok-kiam, bukan?"

Tosu itu tersenyum dan mengangguk, "Engkau seorang muda yang gagah dan cerdik, tentu maklum apa yang kami kehendaki."

"Tentu Totiang sendiri juga sudah tahu jelas bahwa Siang-bhok-kiam telah saya serahkan kepada Kun-lun-pai."

Tosu tua itu meraba-raba jenggotnya yang panjang. "Tentu saja pinto tahu. Akan tetapi pinto juga tahu bahwa fiahak Kun-lun-pai telah kena dibohongi, telah terkena tipuanmu. Aha engkau benar-benar menuruni sifat Sin-jiu Kiam-ong yang nakal, orang muda. Masa para pimpinan Kun-lun-pai sampai kena kau bohongi, kau beri sebuah pedang kayu yang palsu. Ha-ha-ha! Sungguh amat lucu sekali."

Keng Hong terkejut. "Ah , jadi ……mereka sudah tahu………."

"Sudah, rahasiamu telah terbuka dan engkau berada dalam bahaya aut yang hebat. Maka mengingat persahabatan pinto dengan gurumu, sebaiknya engkau serahkan pedang itu atau memberitahukan tempatnya kepada pinto, dan pinto beserta semua pimpinan Kong-thong pai akan melindungimu. Percayalah, Kong-thong Ngo-Iojin masih memiliki cukup wibawa untuk melindungi murid Sin-jiu-kiam-ong."

Keng Hong maklum bahwa kini dia telah menambah ancaman baru bagi dirinya, menambah musuh baru yang amat hebat, yaitu pihak Kun-lun-pai! Ternyata pihak Kun-lun-pai telah mengetahui akan kepalsuan pedang yang dia berikan kepada Kiang Tojin ! Akan tetapi, untuk menyerahkan diri berlindung kepada Kong-tong-pai, dia tidak sudi. Dia sudah berbuat, dan dia sendiri pula yang harus bertanggung jawab, demikian ajaran yang dia terima dari gurunya. Bukan sengaja dia hendak menipu Kun-lun-pai, adalah Kun-lun-pai sendiri tidak benar, yang hendak memaksa minta pedang Siang-bhok-kiam darinya.

"Terima kasih atas atas kebaikan Totiang akan tetapi saya tidak dapat memberikan pedang itu kepada Totiang, karena pedang itu telah lenyap dan saya sendiri tidak tahu berada di mana."

Wajah tosu itu menjadi merah. "Bohong kau!"

"Terserah penilaian Totiang, akan tetapi yang jelas, saya tidak dapat memberikan pedang itu kepadapun juga."

"Cia Keng Hong, bocah masih ingusan seperti engkau ini berani menentang pinto?"

"Totiang, agaknya menurut kenyataannya, baik mendiang suhu maupun saya sendiri tidak pernah menentang siapa-siapa, tidak menentang Totiang juga tidak memusuhi Kong-thong -pai. Adalah Totiang sendiri dan para tokoh kang ouw yang dahulu mendesak-desak suhu dan sekarang setelah suhu meninggal dunia, mendesak-desak saya. Memang soal kebenaran tidak bisa diperebutkan, Totiang, karena setiap orang selalu melihat kebenaran dari sudut demi kepentingan pribadi. Yang penting adalah buktinya. Sekarang kita bertemu dijalan kalau kita masing- masing jalan sendiri, bukankah tidak akan timbul pertentangan? Saya hendak membuktikan bahwa saya tidak menentang siapa-siapa, yaitu saya hendak mengambil jalan sendiri, tidak mengganggu Totiang sama sekali. Hendak saya lihat , siapakah diantara kita yang mencari pertentangan." Setelah berkata demikian, Keng Hong melangkah pergi dan hendak melewati orang-orang yang menghadangnya itu dengan jalan memutar.
ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1, cersil terbaru Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1, Cerita Dewasa Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1, cerita mandarin,Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1 dan anda bisa menemukan artikel Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/02/cersil-kho-ping-hoo-pedang-kayu-harum-1.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil Kho Ping Hoo : Pedang Kayu Harum 1 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/02/cersil-kho-ping-hoo-pedang-kayu-harum-1.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 2 komentar... read them below or add one }

obat penyakit diabetes melitus mengatakan...

langsung saja nich di simak kelanjutan yang ke duanya....

Slimming Capsule mengatakan...

terima kasih informasinya,
ditunngu updatenya!!!

Poskan Komentar