Cerita Dewasa Pembantu Menjeng : Bara Naga 1

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Sabtu, 22 September 2012

Cerita Dewasa Pembantu Menjeng : Bara Naga 1
ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru , cersil terbaru, Cerita Dewasa, cerita mandarin,Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Pembantu Menjeng : Bara Naga 1 Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru



BARA NAGA
Oleh : Yin Yong
Disadur : Gan KL
Kisah suka duka dari Si Naga Kuning Siang
Cin dalam membela kebenaran, bersama
teman karibnya Pau Seh-hoa dalam
membela An-Lip yang dari cengkeraman
Siang-gi-pang serta bersama Seebun Tio Bu
dan Jin Jin berjuang membantu para
pahlawan padang rumput Bu Siang-pay
melawan Hek Jiu-tong.
Termasuk kisah percintaannya dengan
teman mainnya masa kecil, perempuan
tercantik di kota Tiang-an Kun Sim-ti yang
penuh dengan suka dan duka.
Karya Gan K.L
Jilid 01
Gunung itu hitam, batu2 gunung yang berbentuk aneh itupun hitam, bunga dan
rumput yang tumbuh di sela2 batupun berwarna hitam. Semuanya serba hitam,
serba gelap, sehingga suasana bertambah kelam dan dingin..
Gunung itu tidak tinggi, tapi suasana di sini membuat orang berdiri bulu romanya
merinding dengan jantung berdetak.. Pohon cemara yang berjajar enam di pucuk
gunung juga berwarna hitam, keenam cemara ini sanaa menjulurkan cabang
dahannya laksana enam raksasa yang pentang tangan hendak menerkam
mangsanya.
Cuaca terasa lembab, mendung mega mengambang rendah dan tebal. Waktu itu
musim rontok, angin menghembus kencang, men-deru2 seperti orang menangis,
suaranya menambah misteriusnya keadaan sekeliling-nya.
Segumpal darah tiba2 muncrat dari balik batu hitam sebelah sana, terhembus angin
kencang hingga tercecer ke mana2, seorang laki2 tinggi besar dengan langkah
sempoyongan seperti orang mabuk berputar dua kali terus jatuh terpelanting, batok
kepalanya ternyata sudah remuk, darah tercampur otak meleleh keluar, keadaannya
tampak mengenaskan.
"Wut", sesosok bayangan orang melambung tinggi ke atas laksana sebatang galah
besar yang di luncurkan ke udara dengan keras menumbuk dinding gunung, lalu
terpental balik pula, membentur batu padas hitam di belakangannya suara "pletak"
dari tulang2 yang patah terdengar jelas sampai jauh, batu gunung hitam yang dingin
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
2
dan berlumut kini dilapisi cairan darah, dengan cepat batu gunung itu telah
menyerapnya sehingga warnanya semakin hitam rnenyeramkan.
Angin gunung seperti mengamuk sehingga ke enam cemara di pucuk gunung itu menari2
lebih keras seperti raksasa yang marah, lebih seram dan mengerikan, suasana
tegang mencekam alam pegunungan.
Di balik batu2 padas besar sana, di tengah sebuah tanah lapang yang tidak begitu
luas, tujuh orang berjubah warna hitam, semuanya berusia setengah umur, wajah
mereka tampak dingin kaku dan kejam, mereka berdiri setengah bundar, bola mata
mereka mendelik memancarkan sinar dingin, tak ubahnya binatang buas yang
mengincar mangsanya, yaitu sesosok bayangan orang berwarna kuning muda.
Orang ini berdiri tepat di tengah lingkaran, jubahnya yang kompreng berwarwa
kuning me-lambai2 tertiup angin, biji matanya bening memancarkan cahaya
cemerlang hidungnya mancung, bibirnya yang tebal merah laksana cabai, warna
kuning jubah yang dipakai tampak sangat serasi, tenang dan mantap, kuning angsa
ini se-olah2 memancarkan cahaya keagungan, dilandasi kulit badannya yang putih
halus dengan sikapnya yang gagah perwira.
Kedelapan orang ini berdiri berhadapan dan saling tatap, sementara tidak kelihatan
ada sesuatu gerakan, dua orang yang telah binasa tadi se-olah2 tiada sangkut paut
dengan mereka.
Pelan sekali orang berbaju hitam yang berdiri paling kiri mulai bergerak sedikit,
pemuda jubah kuning itu tampak mengulum senyum dengan santai, kedua
tangannya yang panjang berpangku di depan dada, orang berbaju hitam itu kelihatan
amat jeri, kulit muka mereka yang kasar dan berkeringat itu kelihatan tegang dan
rada pucat.
Mata tunggal orang berbaju hitam di sebelah kanan tampak mendelik sebesar
jengkol, dengan keras hidungnya mendengus sekali, maka si baju htam di sebelah
kiri seketika menggertak gigi, laksana kilat menyambar, sebat sekali dia melompat
maju, bayangan telapak tangan beterbangan di udara serapat jala, dengan enteng
dan cepat menerjang ke arah pemuda jubah kuning.
Seiring dengan gerakan orang di sebelah kiri enam orang yang lain serempak
menubruk maju pula, masing2 melancarkan serangan yang berbeda, angin pukulan
segera membadai, bayangan hitam saling sambar menyambar.
Kejadian hanya sekejap saja, sekejap orang mengedipkan mata, maka tertampak
sesosok bayangan orang se-olah2 kehilanga imbangan badannya seperti sekeping
batu yang dilontarkan ke udara, seperti kedua orang yang mendahului tadi, tanpa
bertenaga sedikitpun meluncur menumbuk batu gunung yang runcing.
"Bluk", suaranya menusuk telinga, keadaan lekas sekali kembali tenang seperti
semula, dalam posisi setengah lingkar mergelilingi pemuda jubah kuning, cuma
jumlah kawanan baju hitam sekarang tinggal enam orang.
Tidak kelihatan perubahan perasaan sedikitpun pada wajah pemuda jubah kuning,
tenang dan mantap, setenang permukaan air empang, se-akan2 dunia kiamat juga
tidak membuatnya gugup dan risau.
Kedua pihak sementara lama berdiam diri, mendadak bayangan orang kembali
saling tubruk dan berkelebat silang menyilang, tertampak sesosok bayangan orang
seperti dilontarkan oleh kekuatan yang maha besar mencelat jauh dan terbanting
keras, lekas sekali keadaan menjadi tenang kembali pada posisi semula, sudah tentu
orang berbaju hitam yang berdiri setengah lingkar itu kini bersisa lima orang saja.
Pemimpin orange baju hitam ini mungkin ialah si laki2 mata tunggal setengah baya
itu, mukanya tampak kurus tirus, tulang pipinya menonjol, alisnya jarang, setiap kali
dia menyeringai, dua gigi taringnya tompak menongol keluar, mata tunggalnya kini
semakin mendelik, putih matanya sudah merah membara, demikian pula air muka
keempat temannya, tegang dan jeri, tapi nekat, mukanya sudah basah kuyup oleh
keringat, sinar mata mereka mulai menampilkan kegoyahan hati mereka yang tidak
tenteram lagi.
Si mata tunggal menyapu pandang sekilas ke arah teman2nya, kalau permainan
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
3
dilanjutkan dengan cara terdahulu, maka sekarang tiba giliran orang nomor satu
dihitung dari sana yang harus bertindak lebih dulu, orang ini berusia setengah umur
juga, perawakannya kekar, jambang lebat, tapi laki-laki kekar ini tampak menggigit
bibir, biji lehernya naik turun menelan ludah, sorot matanya tampak memancarkan
rasa cemas dan ketakutan. Memang, bagi seorang normal biia tahu jiwa raga yang
dikaruniai oleh bapak-ibu dalam sekejap ini akan musnah, maka betapapun besar
hatinya pasti juga akan merasa berat untuk meninggalkan kehidupan ini.
Pemuda jubah kuning tenang2 saja memandanginya, ujung mulutnya menjungkit
seperti tertawa tapi tak tertawa, dia menarik napas panjang, cahaya matanya yang
cemerlang seketika berubah dingin kejam, sorot mata dingin kejam ini justeru
menatap tajam muka laki2 berjambang dengan sinis.
Mendadak laki2 berjambang menggerung murka, tiba2 ia melompat maju sambil
berputar dan meliuk beberapa kali, dengan gerakan aneh dan gaya yang lucu ia
menerkam.
Pemuda jubah kuning tertawa lebar, cepat ia bergerak, dikala keempat musuh yang
lain serempak ikut menyerang dan belum lagi mencapai posisi yang dapat melukai
dirinya, di tengah bayangan telapak tangan musuh yang menari turun naik, kedua
telapak tangannya yang setajam golok telah menabas dengan gerak cepat yang
sukar diikuti oleh mata telanjang, tahu2 laki2 berjambang menjerit ngeri, seperti
kawan2 nya yang mendahuluinya, badannya mencelat tinggi, dalam sekejap itu,
telapak tangan musuh dengan telak telah bersarang enam belas kali di tubuhnya,
tapi hanya dia saja yang tahu, selamanya iapun tak dapat menceritakan
penderitaanya ini kepada siapapun juga.
Posisi kembali seperti semula, sisa empat orang laki baju hitam ini tidak mungkin
dapat mengurung lawan dengan melingkar lagi, kini mereka berdiri berjajar menjadi
satu baris, keringat membasahi seluruh badan sampai pakaian hitam mereka
melekat kencang di atas tubuh, dengus napas mereka yang berpadu
memperdengarkan ketegangan perasaan mereka yang sudah mulai panik, takut dan
putus asa, mati dan hidup segera akan menentukan nasib mereka.
Dengan gerakan kalem dan indah si pemuda jubah kuning mengebaskan lengan
jubahnya yang kuning, warna kuning jubahnya menampilkan rona bersih dan suci, ia
mendongak memandang langit, sikapnya tak ubahnya seperti anak sekolahan yang
lembut dan ramah, se-olah2 sedang menikmati panorama nan indah.
Tatkala dia mendongak itulah, sinar kemilau berkelebat, sesosok bayangan orang
tiba2 menubruk tiba, pada waktu yang sama tiga bayangan orang lain dari tiga
jurusan yang berbeda juga serentak menyerang ketiga arah yang mungkin akan
digunakan mengundurkan diri.
Tapi anak muda itu tidak bergerak, bergemingpun tidak, hampir sulit dilihat mata
telanjang, tahu2 kedua tangannya bergerak, gerakan yang mempesona, karena
gerakan itu sedemikian aneh dan luar biasa, begitu kejam dan keji, bersamaan
waktunya ketika musuh yang rnenubruk tiba itu dipukul mental dengan keras, gerak
tangan dengan landasan kekuatan hebat pemuda baju kuning ternyata masih
berlebihan untuk menyerang, pula ketiga musuh yang serempak tiba dari tiga jurusan.
Dua bayangan dengan empat telapak tangan saling bentrok, di tengah bentrokan
sekejap itu, keadaan menjadi runyam, seorang roboh telentang, celakalah temannya
yang Lwekangnya tidak setangguh dia, baru dia menyadari situasi tidak
menguntungkan, telapak tangan kanan si pemuda jubah kuning setajam golok tahu2
membelah tiba menyerempet lehernya, hanya gerakan enteng dengan serempetan
yang ringan saja, tapi akibatnya sungguh fatal, batok kepalanya terpanggal mencelat
entah ke mana.
Aksinya terjadi dalam sekejap dan berakhir dalam sekilas pula, si pemuda jubah
kuning tampak menggendong tangan dengan kepala tetap mendongak, dengan
napas yang terhela enteng terasa wajar se-olah2 sejak tadi ia hanya menikmati
panorama dan tak pernah terganggu oleh apa dan siapapun. Hanya Thian yang tahu,
dalam gerakan sekejap itu, dua jiwa telah melayang direnggut elmaut.
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
4
Kini tinggal dua orang lagi, keduanya berdiri memaku bagai patung, sorot mata
mereka yang redup bagai titik sinar kunang2 yang sudah mulai pudar, sisa
cahayanya hampir padam, terasa betapa besar ketakutan, dendam dan benci hati
mereka.
Dingin dan tawar pandangan si pemuda jubah kuning mengawasi kedua orang di
depannya, wajahnya trdak menampilkan rasa puas dan senang karena menang,
tiada rasa beruntung, sikapnya lebih mirip seorang yang merasa memang patut
menerima anugerah kemenangan dari akhirnya suatu pertempuran.
Kedua orang baju hitam beradu pandang sekejap, si mata tunggal yang mendelik
garang dan buas tadi kini telah kuncup nyalinya, temannya yang tinggal satu ini
berperawakan gemuk dan tinggi besar, wajah laki2 raksasa ini sangat jelek,
mukanya penuh daging lebih yang bergelantungan di selembar mukanya, di bawah
dagunya ada tahi lalat besar warna hitam, ujung tahi lalat ini tumbuh tiga lembar
rambut kasar yang bergoyang gemetar, karena jelek mukanya sehingga tidak
kentara betapa besar perubahan air mukanya, tapi dari gerak tiga utas rambut di tahi
lalatnya itu dapat diketahui bahwa laki2 raksasa ini sudah mulai goyah
keberaniannya.
Sejak mula sampai detik ini belum pernah si pemuda jubah kuning bersuara barang
sekecap, namun sorot mata dan air mukanya menampilkan kepandaian silatnya
yang maha tinggi, se-olah2 dia sudah yakin akan akhir dari pertempuran seru ini,
sikapnya yang gagah dan perbawanya yang angker menampilkan pula suatu
kekuatan yang tak terlawan oleh siapapun.
Hampir tidak terasakan oleh siapapun, lambat dan lambat sekali, akhirnya kedua
orang baju hitam itu diam2 menyurut mundur. inilah gerak otomatis dari rasa takut,
tak pernah terbayang dalam benak mereka bahwa hidup yang biasa mereka kenyam
dengan segala kejayaan selama ini, kini segalanya akan sirna.
Si pemuda jubah kuning melengos ke sana, dengan tenang dia menatap keenam
pucuk pohon cemara di belakangnya yang serba hitam itu, dahan pohon cemara
masih bergerak turun naik tertiup angin seperti sedang menari, gumpalan awan
bergulung2 di angkasa menambah suasana menjadi semakin seram.
Pelan2 si jubah kuning menghela napas, sekonyong2 ia berseru nyaring dan
berkumandang bagai datang dari tempat nan jauh sekali: "Nay-hosan ini sungguh
sunyi, rimbun dan menyeramkan!"
Diam2 bergidik kedua orang baju hitam, tanpa sadar mereka saling adu pandang
sekejap, pelan2 si jubah kuning berpaling kembali, sorot matanya memandang jauh
ke bawah gunung yang kelam sana dan bergumam pula: "Kehidupan di dunia
memang terus berputar, ada hidup juga ada mati, siang dan malam saling berganti,
tukar menukar tak putus2, tiada sesuatu apapun dalam kehidupan duniawi ini yang
kekal, bunga ada saatnya berkembang dan layu, manusia dilahirkan dan akan
menjadi tua, musim berganti, siang berganti malam, kejadian hari ini pasti berbeda
dengan esok, bunga akan layu dan gugur, meski akhirnya mekar lagi, tapi sudah
bukan bunga yang semula itu. Demikian pula manusia, sekali dia mangkat,
selamanya dia tidak akan kembali dalam keadaan semula meski ada inkarnasi, dan
sekarang .........
Bening dan tajam matanya menatap kedua orang baju hitam bergantian. "Hari ini
akan menjelang, selamanva hari ini takkan berulang, senja hari memang elok
laksana gambaran dalam syair yang melukiskan suatu akhir nan abadi, bila manusia
mangkat di kala senja ini, dia akan membawa kenangan yang khidmat, baru dan
tenang."
Sungguh memelas, dalam keadaan seperti ini sudah tentu kedua laki2 baju hitam
tiada minat buat mendengarkan kata2 bersanjak si pemuda jubah kuning, tanpa
sadar kembali mereka menyurut mundur, tiga bola mata mereka tak berani berkedip
menatap si pemuda jubah kuning.
Tertawa tawar pemuda jubah kuning dan berkata pula: "Nama gunung ini tidak baik,
dia bernama Nay-ho, (apa boleh buat), tentunya kalian juga tahu, di neraka terdapat
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
5
pula sebuah jembatan yang bernama Nay-ho-kio?"
Naik turun pula biji leher si mata tunggal, setelah mengerang gusar, dia berkata
dengan suara serak: "Siang Cin, kau kejam sekali . . . . "
"Tidak," ajar pemuda jubah kuning, "aku tidak kejam, manusia hidup di dunia fana ini
jangan selalu dirundung kesusahan, kalau derita hidup terlalu menekan jiwa, lebih
baik dilupakan saja, sudah tentu tidak mudah melupakan derita nestapa itu, tapi aku
punya suatu cara yang terbaik, kalau tidak melupakan dendam hari ini, inipun
merupakan derita batin, akan kugunakan cara yang terbaik itu untuk melenyapkan
penderita kalian, bukankah sikap dan tindakanku ini amat arif bijaksana, hm?"
Laki2 gendut itu tiba2 menbanting kaki, teriaknya dengan menggerung gusar: "Koko,
apa pula yang kita tunggu? Kau kuatir setelah kita mati tiada orang akan menuntut
balas bagi kematian kita?"
"Pasti ada," timbrung pemuda jubah kuning "bila nasib kalian mujur, kalian tidak akan
mati sia2 di sini."
Bola mata si mata tunggal melotot buas, napasnya mulai memburu, si jubah kuning
menegakkan alisnya, tiba2 dia berkelebat maju, sejak pertempuran di mulai tadi,
baru pertama kali ini dia bertindak menyerang musuh lebih dulu.
Warna kuning berkelebat bagai cahaya lalu, baru saja si mata tunggal dan si gendut
terperanjat tahu2 bayangan orang sudah berada di depan mereka, bergegas
keduanya melompat mundur ke kiri kanan, empat telapak tangan serempak
menebas miring, tapi serangan mereka msngenai tempat kosong, seperti menyerang
sebuah bayangan belaka, belum lagi sempat mereka menarik tangan dan ganti
serangan, si gendut tiba2, menguik keras seperti sapi digorok lehernya, mulutnya
menyemburkan darah segar, ia ter-huyung2 dan jatuh tersungkur.
Jantung si mata tunggal serasa beku demi mendengar pekik si gendut menjelang
akhir hayatnya tak sempat memperhatikan temannya, sigap sekali kedua tangannya
menyodok, menyusul kedua kaki menendang secara berantai. Tapi sayang sekali,
dalam suatu gerak kisaran yang aneh, pemuda jubah kuning tahu2 sudah
menangkap kedua kakinya malah, seperti seorang atlit pelempar peluru, tubuh si
mata tunggal diputar sekali, se-olah2 ingin melampiaskan dendamnya, badannya ia
lempar sekuatnya. Si mata tunggal me-ronta2 di tengah udara, se-akan2 ingin
melepaskan diri dari daya luncuran keras yang bakal merenggut jiwanya. Tapi dia
gagal, dikala kaki tangannya mencak2 di udara itulah, sang waktu telah menjadikan
penyesalan dan dendamnya secara abadi, punggungnya dengan telak dan keras
menunduk dinding batu gunung yang hitam itu, daya tolak benturan itu membuat
badannya mencelat balik ke arah yang berlawanan hingga sejauh tujuh kaki.
Dengan tenang si jubah kuning saksikan adegan ngeri ini, sesaat dia terdiam, lalu
pelan2 menghampiri si mata satu yang kempas kempis menunggu ajal, muka si mata
satu selintas pandang kelihatan lucu dan aneh, kerut2 kulit mukanya mirip kulit
binatang yang dikeringkan sehingga tak mirip wajah manusia lagi, mulutnya terbuka
lebar, dua gigi siungnya mencuat keluar, alisnya yang jarang2 tampak gemetar
mengikuti dengus napasnya yang tinggal satu dua, selebar mukanya berlepotan
darah, sekujur badanpun bernoda darah, bola mata tunggalnya seperti hampir
mencotot keluar mendelik ke arah pemuda jubah kuning.
Tenang si jubah kuning balas menatapnya, katanya kalem: "Ko Kuh, kalau kau
menderita, maka derita ini akan segera berakhir."
Berkeriut kerongkongan si mata satu, bola mata tunggalnya terbalik memutih,
sekuatnya dia menggerakan mulut yang megap2: "Siang . . . . . . Siang Cin . . . . . .
kau . . . . .kau memang pantas . . . . . . di. . . . . dijuluki durjana."
Si jubah kuning, dia bernama Siang Cin, dengan tawar mengawasi Ko Kuh,
suaranyapun tawar: "Yang kuat menang yang lemah mampus, ini sudah hukum alam.
Ko Kuh, mungkin akan datang suatu ketika akupun akan terjungkal entah di mana,
memang kondisi dan keadaan kita berbeda, tapi akhirnya akan sama, cepat atau
lambat kita pasti akan bertemu di Nay-ho-kio."
Bola mata Ko Kuh membalik, sorot matanya sudah pudar, badannya tampak
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
6
mengejang, sekuatnya dia berteriak: "Menunggumu . . . . . kami Kian-pau-kiuliong
. . . . . . . . seluruhnya akan menunggu kedatanganmu." Bahwa suaranya yang
sumbang masih bergema terbawa angin lalu, tapi jiwa si pembicara sudah melayang
setelah berkelejetan beberapa kali.
Siang Cin meluruskan badan, pandangannya menyapu keenam pucuk pohon
cemara raksasa hitam dan bergumam: "Musim rontok hampir berselang, hawa mulai
dingin . . . . . . " - Pelan2 dia membalik tubuh terus turun gunung, bagai segumpal
awan kuning, mengambang enteng, melayang secepat terbang dan lenyap tak
berbekas.
Nay-ho-san tetap berdiri tegak menjulang angkasa dibungkus mega setenang
raksasa yang tidur pulas, keadaan remang2, suasana mulai dingin mencekam, seolah2
tidak menyadari arti kehidupan, dia tidak mengenal hidup yang merana dan
derma manusia dalam pergulatan kehidupan ini, yang jelas dia hanya tahu bahwa
segala yang terjadi adalah "apa boleh buat".
0-0-0-0-0-0-0-0-0
Angin sepoi2 menerobos jubah kuning yang halus melambai, Siang Cin tengah
beranjak di tanah tegalan yang cukup luas di lereng pegunungan, pohon randu yang
memagari sepanjang jalan tinggal rantingnya yang kering.
Sebuah sungai ber-liku2 menembus hutan cemara di sebelah depan, pohon2
cemara yang mulai gundul itu tetap tumbuh di musim rontok yang hampir berselang
ini. Alis Siang Cin tampak terpentang lebar, langkahnya kalem dan mantap, akhirnya
menuju ke tepi sungai dan duduk dengan tenang, ia melamun mengawasi air yang
mengalir hening, begitu khusuk, begitu tenang, se olah2 dia tengah menanti dan
ingin menangkap sesuatu apa di tengah air yang gemericik itu, entah apa yang ingin
ditangkapnya itu sudah lalu atau akan datang.
Tiba2 terdengar derap langkah yang ter-seok2, langkah yang gugup dan tak teratur,
tanpa melihat orang akan tahu bahwa orang yang tengah ber-lari2 ini sedang diburu
oleh rasa kebingungan, takut dan kesakitan.
Sekilas Siang Cin mengerling ke sana, di jalanan sana tampak bayangan seorang
tengah bersempoyongan, orang ini berjambang, kulitnya hitam dengan alis gombyok
dan mata besar, tapi keadaannya sekarang sungguh amat mengenaskan, sekujur
badan berlepotan darah, rambut awut2an, mukanya menampilkan penderitaan yang
luar biasa, bola matanya yang mendelik menunjuk keberangan hatinya, mulutnya
megap2, buih berhamburan dari mulutnya, keadaannya sungguh amat menyedihkan.
Mendadak laki2 besar itu terbanting ketanah, cepat dia merangkak bangun, tapi
kembali jatuh tersungkur mencium tanah, di tengah bunyi cambuk yang menggeletar
di udara, punggung orang itu segera dihiasi tanda silang berdarah dari bekas luka2
cambukan.
Waktu Siang Cin memandang ke belakang orang itu, kiranya beberapa tombak di
sebelah sana ada seorang laki2 berpakaian pelajar dengan jubah putih bertubuh
tinggi dengan tangan kiri memegang sebuah cambuk kulit sepanjang sembilan kaki,
sikapnya adem ayem seperti sedang melepaskan lelah sehabis makan, se-akan2
cuma menghajar seekor anjing yang telah mencuri ayam peliharaannya, laki2 besar
itulah yang menjadi bulan2an cambuknya, agaknya laki2 besar itu sudah dihajarnya
babak belur sepanjang jalan.
Dengus napas laki2 besar itu bagai binatang yang meregang jiwa di ambang
pejagalan, agaknya dia sudah menahan segala siksa derita yang tak terperikan itu.
tak urung mulutnya masih mengeluh tertahan juga, sekuatnya dia berusaha merayap
bangun sambil berusaha menghindari cambuk orang, begitu besar siksa deritanya,
tapi pemuda pelajar itu sedikitpun tak mengenal kasihan, ujung cambuknya masih
terus menggeletar menghujani punggungnya.
Cuilan pakaian laki2 besar yang basah oleh cairan darah berhamburan seperti kupu
terbang, matanya melotot gusar, giginya menggigit kencang bibirnya sampai
berdarah, darah muncrat ke mana2 terbawa lecutan cambuk, tapi sekuatnya laki2
besar itu mengertak gigi, sedikitpun dia pantang merintih dan minta ampun.
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
7
Pemuda pelajar itu mencibir, ia menengadah ke atas, cambuknya terayun melingkar
di udara. "Tar", tahu2 ujung cambuknya membelit leher laki2 itu, sekuatnya dia
menyendal sehingga badan laki2 yang besar itu terbawa mencelat jauh dan
terbanting keras.
Rebah celentang di tanah dan kelejetan badan laki itu, kaki tangannya menggelepar,
luka di sekujur badan yang berlepotan darah menjadi kotor tercampur debu dan pasir,
keringat membasahi pakaian yang sudah ter-koyak2, tapi kedua matanya tetap
melotot, tetap mendelik menatap pemuda pelajar itu tanpa berkesip, sorot matanya
menampilkan bara dendam yang tak terperikan.
Pemuda pelajar balas menatapnya dengan kalem dan penuh rasa kemenangan,
katanya dingin:
"An Lip, jalan yang kau tempuh tak jauh lagi, akhirnya kau akan tiba di tempatnya, di
sana akan datang seorang yang memberikan ganjaran setimpal padamu."
Beberapa kali laki2 besar itu kelejetan, sekuatnya dia angkat kepala dan
memperdengarkan tawa kering, suaranya serak: "Orang she Gui, tak . . . . tak usah
kau temberang, aku .. . . An Lip . . . . tidak . . . . tidak sudi . . . . minta ampun
padamu." .
Pemuda pelajar she Gui mendengus dongkol, ucapnya, bengis: "Minta ampun juga
tak berguna, An Lip sudah puluhan tahun kau menjadi anggota Pang kita, tak
tersangka kau lupa diri dan khianat, diam2 kau melakukan perbuatan serong dengan
gundik Pangcu yang tersayang. An Lip, sungguh aku ikut malu akan perbuatan
kotormu, tak kira di Siang-liong-gi-pang bisa muncul orang seperti dirimu."
Laki2 besar bernama An Lip menampilkan rasa hambar dan pedih, dengan penuh
rasa duka nestapa dia pejamkan mata, kerongkongannya berkerok2, sekuatnya dia
menelan ludah, tapi dia tak membantah atau membela diri atas tuduhan orang.
Memangnya dalam keadaan seperti sekarang ini, membantah dan membela diri
demi kebersihan nama pribadinya tetap akan sia2 belaka.
Dengan gagang cambuk kulit ular ditangannya, pemuda pelajar she Gui menggaruk2
pipinya, katanya dingin: "Aku Gui Ih sejak menjabat kepala bendera merah Siang gi
pang, boleh dikatakan cukup akrab dengan kau, tentunya kau cukup kenal
perangaiku, aku paling benci pada manusia cabul dan segala kejahatan seks dan
yang membuatku serba susah sekarang adalah orang yang harus kuhukum sesuai
hukum yang berlaku di dalam Pang kita justeru talah kau"
An Lip tampak kelejetan sekali lagi, tapi dia tetap tak bersuara, pelajar itu, Gut Ih,
berkata lagi, suaranya agak tawar: "Tak mungkin aku menolongmu membebaskan
penderitaan ini, karena aku harus menjalankan perintah, loyalitasku terhadap Sianggi-
pang tak terpengaruh oleh persahabatanku dengan kau, terpaksa kaulah yang
harus bersabar sepanjang jalan ini, setelah tiba di tempat tujuan, gundik Pangcu
akan sama2 dibakar bersama kau, waktu itu kau tidak menderita lagi, cepat sekali
segalanya akan menjadi tenang dan tenteram." - Tiba2 ia menarik muka, suaranya
berubah kereng dan melengking: "Sekarang, bangunlah kau!"
An Lip mengertak gigi, pelan2 dia merayap bangun, baru dua langkah dia bertindak
sempoyongan, tanpa bicara lagi Gui Ih ayun cambuknya menghiasi dua jalur lecutan
berdarah di punggungnya pula, ujung cambuk mengeluarkan suara nyaring, tatkala
merobek kulit daging punggung An Lip. Kontan An Lip terhuyung maju beberapa
langkah, tapi dia tidak jatuh, seperti orang mabuk langkahnya sempoyongan dan
setengah berlari ke depan, kini dia sudah hampir mendekati tempat di mana Siang
Cin duduk santai di tepi sungai.
Seringan kapas terembus angin Gui Ih melangkah dibelakangnya, cambuk kulit
kembali terayun melingkar kekanan-kiri, tanpa mengenal kasihan sedikitpun dia terus
menghajar laki2 besar alias An Lip yang terhuyung ke depan itu, sekilas matanya
mengerling ke arah Siang Cin dengan tatapan waspada.
Lecutan pecut kembali menghajar batok kepala An Lip, kontan An Lip mendekap
kepala sambil menjerit tertahan, ia terjerembab jatuh ke depan, sekujur badannya
tampak mengejang, giginya gemeratak menggigit tanah berpasir di depannya,
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
8
kesepuluh jarinyapun mencakar ke dalam tanah saking menahan sakit yang tak
terkatakan.
Gui Ih mendekatinya, dengan suara ketus dingin ia membentak: "An Lip, berdirilah."
Dengan sisa tenaganya An Lip coba merangkak bangun, tapi sayang tenaga tidak
memadai keinginannya, tiga kali dia mengulangi usahanya, tapi tetap tak mampu
merangkak bangun, muka Gui Ih semakin membesi, sekali sendal cambuknya
kembali melingkar membawa deru angin berkesiur "Tar, tar, tar". puluhan kali
kembali dia menghajar An Lip sampai ter-guling2, kaki tangan menggelepar sekujur
badan mengejang.
Tiba2 terdengar suara mantap tenang mengandung sindiran berkumandang: "Tentu
kau tahu, hajaran cambuk yang mengenai badan serupa itu tentu menimbulkan
derita yang tak terperikan betul tidak?"
Dengan sigap Gui Ih menarik tangan seraya melompat mundur, sorot matanya yang
tajam menyapu ke arah datangnya suara, di pinggir sungai, di samping jalan sana, di
tempat yang mendekuk turun, Siang Cin tengah mengawasinya dengan pandangan
lucu, bibirnya tampak mencibir mengandung cemooh yang sinis.
Secara naluri Gui Ih merasakan adanya ancaman serius, lapat2 terasakan
kedatangan orang yang tak dikenal ini teramat aneh dan tak terduga, nadanya tidak
bersahabat sama sekali. Sedikit miringkan tubuh, Gui Ih menengadah, kedua tangan
mengepal dengan gaya atas dan bawah di depan dada. Inilah gaya Siang gi-pang
yang khusus ditujukan kepada orang luar agar orang tahu akan asal usul dan
jabatannya dalam Pang.
Dinging saja sikap Siang Cin sambil mengangkat alis, dengusnya: "Aku mengerti,
kau ini sahabat dari Siang-gi-pang."
Gui Ih seketika menarik muka, katanya: "Tentunya tuan juga segolongan, Siang-gipang
tengah menghukum anggotanya yang melanggar aturan, tuan adalah manusia
yang bisa berpikir, harap minggir dan tidak mencampuri urusan kami."
Siang Cin mengawasi An Lip yang masih menggelepar menahan sakit di tanah,
katanya tenang: "Kupikir, kau harus membebaskan dia."
Berubah hebat air muka Gui Ih, dengan bengis dia menatap orang, katanya ketus:
"Aturan Kang-ouw tidak tuan hiraukan lagi? Kau berani mencampuri urusan keluarga
orang lain? Ketahuilah Sianggi-pang bukan golongan lemah yang boleh dibuat
permainan."
Aneh kerlingan mata Siang Cin, katanya pelahan sambil menghampiri: "Sekarang,
akan kucoba dirimu untuk membuktikan ucapanmu barusan."
Entah mengapa, tanpa terasa Gui Ih mundur setapak, sekuatnya dia menahan
gejolak amarahnya, teriaknya bengis: "Berhenti sahabat, mungkin kau belum tahu
apa akibatnya dari kesemberonoanmu ini?"
Siang Cin tidak berhenti karena ancaman orang, dia tetap berlenggang menghampiri
semakin dekat, katanya dengan tenang: "Aku tahu, malah lebih tahu daripada kau
sendiri."
Sambil mengertak gigi, mendadak Gui Ih berkisar setengah lingkaran, badan bagian
atas bergerak enteng, sementara cambuk kulit di tangan kanan mendadak tertuding
lempeng kaku seperti galah, menusuk ke ulu hati lawan.
Se-akan2 tidak memperlihatkan, gerakan apa2, tapi kenyataan Siang Cin sudah
menggeser tiga kaki, sukar dilihat bagaimana dia bergerak, se-olah2 sejak tadi dia
memang sudah berdiri di situ, maka ujung cambuk ular Gui lh yang mendesis
kencang menusuk tempat kosong.
Jantung Gui Ih betul2 hampir melompat keluar dari rongga dadanya, seketika Gui Ih
rasakan kepulanya sedikit pening dirangsang darah mendidih tak sempat memikirkan
langkah selanjutnya, badan melengkung bagai busur tiba2 melambung ke atas
setombak lebih, tatkala badannya terapung itulah, cambuk kulit ular bagai hujan lebat
berderai menghajar musuh.
Sukar untuk dipercaya, sungguh menakjubkan, Siang Cin dengan warna kuningnya
yang anggun ternyata dapat berkelit pergi datang di tengah sambaran cambuk yang
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
9
deras dan kencang, gerak geriknya halus gagah mempesona.
Sambil berjumpalitan di udara, cambuk Gui Ih kembali melingkar dengan deru angin
kencang menyapu tiba. Siang Cin berdiri tegak sekukuh gunung, sedikit memiringkan
badan, mendadak dia balas menerjang.
Gui Ih menjadi gugup dan secepatnya melompat minggir, tapi dalam gebrakan
sekilas yang berlangsung secepat kedipan mata itu, tahu2 cambuk di tangan sudah
berpindah ke tangan lawan, sekilas matanya sempat melirik, hanya terlihat sebuah
tangan dengan jari yang putih halus menepuk pundak kirinya, tak sempat dia berpikir,
telapak tangan putih itu tahu2 sudah menyentuh tubuhnya, semacam tenaga kuat
seketika membuatnya terpental beberapa tombak jauhnya, terus ter-guling2..
Sebagai kepala bendera merah Siang-gi-pang, betapa tinggi Kungfu dan Lwekang
Gui Ih, begitu badan menyentuh tanah, dengan sigap sekali dia hendak melejit
bangun, tak terduga sebuah kaki dengan sepatu warna kuning tahu2 sudah
menginjaknya rebah di tanah pula, kaki orang tepat menginjak di punggungnya.
Suara orang tetap tawar dan dingin, berkata: "Gui Ih, pulanglah dan laporkan kenada
majikanmu Sam bak siu su Tam Kip, katakan akulah yang membawa orangmu."
Dengan susah payah Gui Ih memalingkan kepalanya ke atas, selebar mukanya
berlepotan lumpur, dia mengerung gusar: "Kunyuk, tinggalkan namamu"!
Punggung tiba2 terasa enteng, kaki yang menginjak punggungnya tahu2 sudah
berpindah, sebuah suara berkumandang di kejauhan terdengar jelas olehnya:
"Gelombang bergulung, mega berlapis, hujan membadai, angin menderu, semuanya
bagai gumpalan asap berlalu . . . . "
Sekujur badan Gui Ih tiba2 merinding dan gemetar, bola matanya mendelik, bibirnya
bergetar, gumamnya jeri: "Ui liong Siang Cin . . . Oh, Thian, dia adalah Siang Cin si
Naga Kuning . . . . "
Dalam sekejap ini, laki2 yang disiksanya tadi telah lenyap, sudah tentu dia dibawa
kabur oleh Siang Cin alias si Naga Kuning.
- o0-oo-Oo -
Malam telah larut, tiada sinar rembulan, hanya kerlip bintang2 yang jarang2 di
cakrawala, angin musim rontok terasa mengiris kulit, keheningan malam terasa
menghantui sanubari orang.
Itulah sebuah rumah mungil yang dibangun dengan rangka kayu cemara dan usuk
bambu kuning, rumah mungil itu dikelilingi pepohonan randu di tepi sebuah sungai
yang mengilir tenang bening, di depan dan di belakang rumah penuh di taburi
tanaman bunga seruni, meski di malam hari, warna-warni seruni yang menyolok
dengan bau harumnya yang semerbak amat melegakan perasaan. Sebuah jembatan
bambu tiga lekukan menembus ke belakang menambah gaya bangunan rumuh
mungil ini tampak lebih artistik.
Malam semakin kelam, sesosok bayangan berkelebat dengan kecepatan yang luar
biasa, begitu enteng laksana kapas meski sebelah tangannya menyeret seorang lagi,
tapi gerakannya tetap lincah dan gesit, hanya tiga kali lompatan dia telah melampui
jembatan bambu itu dan tanpa bersuara hinggap di pelataran depan rumah.
Orang itu mengenakan jubah kuning angsa, kedua bola matanya tampak bercahaya
di malam gelap. Dia adalah si Naga Kuning Siang Cin, pelan2 dia membaringkan
laki2 besar yang di tolongnya tadi, lalu dia mengetuk pintu.
Menyusul terdengar suara nyaring merdu bak kicau burung kenari berkumandang
dari dalam rumah: "Siapa itu?"
Siang Cin mengedip, katanya dengan suara tertahan: "Raja naga kembali ke istana
dengan kebesarannya."
Suara cekikikan lantas terdengar di dalam rumah, tawa riang yang mengandung rasa
terhibur dan lega, pintu rumah yang terbuat dari bambu kuning berkeriut terbuka
pelan2, bayangan semampai dengan menenteng sebuah pelita minyak berdiri di
ambang pintu, begitu pelita terangkat, matanya memandang ke arah Siang Cin,
seketika mulutnya bersuara kaget heran, katanya kemudian: "Cin, kau membuat
onar lagi?"
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
10
Siang Cin tersenyum lebar tanpa bersuara, laki2 besar tadi dipapahnya masuk ke
rumah, di bawah penerangan pelita minyak wajah pemegang pelita tampak cantik
molek, secantik bidadari dalam lukisan.
Dalam ruangan yang tidak begitu besar terdapat seperangkat meja kursi dari bambu,
lukisan kerai bambu tampak tergantung di dinding, asap dupa wangi mengepul dari
Hiolo kecil di meja sembahyang di bawah jendela sana, sebuah harpa terletak di atas
meja, di samping harpa terletak sebatang pedang, seprei yang bersulam indah
warna warni melembari permukaan dipan bambu, di depan dipan beraling sebuah
pintu angin yang berukir indah, suasana serba tenteram, bersih tak berdebu, indah
mengesankan.
Setelab menaruh pelita di atas meja pelan2 pemegangnya membalik badan dan
menghampiri Siang Cin yang tengah memapah laki2 tadi duduk di kursi bambu,
kedua bola matanya yang bundar besar tampak jeli bercahaya, manis mesra lagi,
tanyanya dengan suara lembut: "Siapakah Congsu ini, Cin?"
Siang Cin membasahi bibirnya dengan lidah, sahutnya : "Dia bernama An Lip, orang
Siang gi-pang, karena main patgulipat dengan gundik Pangcunya, dia dihukumi dera
yang berat dan akhirnya akan dibakar hidup2, tatkala kulihat dia dihajar sedemikian
rupa oleh pelaksana hukum Siang gi-pang ." Alis yang lentik laksana bulan sabit di
atas mata si cantik tampak berkerut, katanya dengan prihatin: "Aduh
kasihan . . . . . . . . dia pingsan?"
Siang Cin menghela napas, katanya setelah duduk di kursi sebelah: "Luka2nya
sudah kucuci dan kububuhi obat, dia dihajar begitu rupa, tapi dia memang laki2 sejati,
jangankan minta ampun, mengeluhpun tidak pernah, menyatakan terima kasih
padaku juga belum sempat lantas jatuh pingsan, kupikir setelah terang tanah baru
keadaannya akan lebih baik."
Bola mata nan bening jeli si cantik menatap Siang Cin, katanya lembut: "Kau tentu
amat capai juga Cin, kuseduhkan secangkir teh untukmu, lalu kubuatkan
makanan . . . . . . . "
"Ci, tak usah repot," ujar Siang Cin dengan tertawa. ""Bibi Ciu kan ada? Biar
dia . . . . . "
Hidung si cantik yang mancung tampak mengernyit, katanya manja: "Hui, kau ini,
kalau sudah ngelayap, paling cepat 10 hari atau setengah bulan baru mau pulang,
kalau pulang pasti di tengah malam buta, memangnya bibi Ciu harus selalu
menunggu kedatanganmu, kecuali aku kakakmu yang bodoh ini . . . . "
Siang Cin menggosok mukanya dengan telapak tangan, ia berkedip lalu
memicingkan matanya, katanya: "Ya, sudah kutahu kau selalu menanti
kepulanganku, maka akupun tidak tega membikin repot kau . . . . "
Sinar mata si cantik menjadi redup, ter-sipu2 dia alihkan sorot matanya, katanya
masgul: "Aku tahu akan diriku . . . . dik, aku tidak akan menuntut berlebihan, kau
sudah cukup baik terhadapku ...."
Siang Cin berdiri, tanyanya dengan tenang: "Ci jangan kau singgung kejadian masa
lalu, soal itu sudah berselang, sekarang bukankah kita baik2 saja?"
Si cantik terharu katanya sambil menggeleng rawan: "Kehidupan yang tenteram
seperti ini takkan lama kita nikmati, Cin, sudah tiba masanya kau berumah tangga,
kelak bila kau sudah mempersunting isterimu, aku, diriku yang menjadi kakakmu ini
terhitung apa pula."
Pelan dan lembut Siang Cin tarik tangan yang halus dingin itu, ucapnya pelahan: "Ci
dalam hatimu kautahu bahwa aku Siang Cin bukan laki2 seperti yang kaukatakan,
walau kita bukan saudara sekandung, tapi selama ini kupandang kau sebagai kakak
kandungku sendiri . . . . "
Bergetar badannya, pelahan si cantik angkat kepala sambil mengulum senyum,
walau dia tahu senyum getir ini mengandung rasa resah, hambar dan kehilangan.
Katanya kemudian: "Cin, aku senang mendengar omongan ini, sungguh, hatiku amat
terhibur . . . ." sembari bicara lekas2 dia putar. tubuh beranjak ke dalam, katanya
dengan rada gugup: "Cin, kau istirahat sebentar, biar kuseduhkan teh untukmu."
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
11
Jelas terasa oleh Siang Cin nada perkataan si cantik yang mengandung isak tangis
tertahan, pertanda betapa pilu dan rawan hatinya, diapun mengawasi bayangan
semampai nan menggiurkan itu lenyap dibalik pintu, akhirnya dia menghela napas.
Angin berkesiur di luar jendela, malam semakin larut, kabut semakin tebal, bunga api
pelita di atas meja tampak memanjang lalu mengkeret dan menyala terang
benderang pula. Benak Siang Cin sukar menahan gejolak keresahan, dia mengerti
dari mana datangnya keresahan ini, yaitu dari kakak angkatnya ini, perempuan
tercantik di kota Tiang-an - Kun Sim-ti.
Pelahan2 Siang Cin mengembuskan napasnya yang panjang, masih segar dalam
ingatannya pada enam tahun yang lalu betapa nekat dan mati2an Kun Sum-ti
menolak keputusan sang ayah yang ingin mengawinkan dia. Ayahnya sudah lanjut
usia - Kun Keh-boh, seorang pujangga yang memperoleh gelar tertinggi dalam
kalangan pejabat pemerintah, dengan kekerasan telah menghajarnya dengan
sebatang pentung dan menyeretnya naik ke tandu, akan diusungnya ke rumah
keluarga Oh, salah seorang bangsawan ternama di kota Tiang-an untuk dikawinkan
dengan puteranya yang bungsu. Belakangan dia mendapat kabar, setelah masuk
kerumah mertuanya itu Kun Sim-ti mogok makan dan minum, sepanjang hari tak
pernah berucap sepatah katapun, tapi suaminya, Oh Hian, justeru berpesta pora
dengan perempuan2 cantik di luaran, setiap malam pulang seteiah mabuk serta
menganiaya dan menyakitinya, belum ada setahun sejak pernikahan itu. Oh Hian
ditemukan mati tidak wajar di kamarnya, maka keluarga Oh sama menuduh Kun
Sim-ti sebagai pembunuh suami, maka nasibnya lantas terjerumus ke dunia yang
lebih mengenaskan, sejak itu dia hidup dalam kegelapan yang tak pernah melihat
sinar matahari, tak kenal apa itu hidup riang dengan tawa gembira, sampai suatu
ketika Siang Cin telah menolongnya. Itulah kejadian tiga tahun yang lalu.
Seribu hari lebih ini terasa berlalu dengan cepat, kejadian dulu bagai baru
berlangsung kemarin dulu. Dalam waktu singkat Siang Cin yang semula masih hijau
pelonco telah menjadi tokoh persilatan yang sudah kenyang liku2 kehidupan Bu-lim.
Tanpa terasa Siang Cin mengulum senyum hambar, yang betul, sudah lama dirinya
terhitung seorang tokoh persilatan, cuma jarang orang tahu bahwa dia membekal
Kungfu luar biasa. Akhirnya Siang Cin geleng2 kepala, baru sekarang lubuk hatinya
yang paling dalam menyadari kenapa dulu Kun Sim-ti rela mati daripada dikawinkan
dengan pemuda yang tidak dicintainya, sebab tidak lain karena dia sudah cinta
padanya, begitu murni dan suci dan begitu besar cintanya dengan segala
pengorbanannya.
Sorot matanya rada kabur, Siang Cin menggigit bibirnya sambil melamun, terbayang
ketika Kun Sim-ti menceritakan kejadian itu sambil sesenggukan, se olah2 bunyi
guntur di siang bolong seketika dia melenggong dan berdiri kaku.
Keluarganya memang kenal turun temurun dengan keluarga Kun Sim-ti, orang tua
merekapun adalah saudara angkat. biasanya kalau iseng, sering dia keluyuran ke
rumah keluarga Oh. dia suka bergaul dengan kakak angkat yang lemah lembut dan
welas asih ini, betapa dia menikmati raut wajahnya nan mekar mengulum senyum
manis dengan sikapnya yang agung suci setiap gerak geriknya terasa indah bak
lukisan tapi tak pernah terbayang dalam benaknya soal "cinta", lebih tak pernah
terpikir olehnya bahwa kakak angkat yang lebih tua empat tahun ini betul2 jatuh cinta
ke-pati2 padanya.
Waktu itu Siang Cin hanya menghela napas maklum saat itu dia baru berusia lima
belas, tapi bukankah biasanya dia suka mengagulkan diri berpengetahuan dan
pengalamannya cukup banyak dan luas? Apa betul begitu banyak yang di
ketahuinya? Tidak, kadang2 dia memang suka melamun, sering berkhayal yang
muluk2, khayalan yang lucu dan menggelikan . . . . . . .
Tiba2 terdengar suara lembut menyadarkan lamunannya: "Cin, apa yang kau
pikirkan?"
Entah kapan Kun Sim-ti sudah berdiri di sampingnya, wajahnya nan molek tampak
pucat, matanya tampak merah seperti habis menangis, tangannya menjinjing
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
12
nampan berwarna hitam, sebuah cangkir porselin yang terukir indah terletak di
nampan, air teh di dalam cangkir masih mengepul, terendus bau teh yang harum
sedap.
Bergegas Siang Cin berdiri menerima cangkir itu, katanya pelahan: "Ci, kaupun
duduklah."
Kun Sim-ti menatapnya penuh tanda tanya, pelan2 dia duduk di samping, sementara
Siang Cin sudah menghirup tehnya seteguk, katanya memuji". "Wah, wangi, betul."
"Inilah oleh2 yang kau bawa tempo hari . . . . ."
Sambil menatap lembut raut muka orang, Siang Cin berkata pelan. Teh seperti ini
sering juga aku meminumnya di luaran, tapi selalu kurasakan teh yang kuminum di
rumah jauh lebih sedap dan menyegarkan, cukup lama juga aku ber-pikir2, akhirnya
baru kusadari apa sebabnya .."
Kun Sim ti mengedipkan matanya yang jeli, tanyanya: "Sebab apa?"
Siang Cin tertawa riang, ucapnya: "Sebabnya karena orang yang menyeduh teh ini
berlainan."
Merah jengah muka Kun Sim ti, omelnya malu" "Ah, kau memang banyak tingkah,
dik, senakal masa kecilmu dulu .. "
Tiba2 Siang Cin memandangnya dengan terlongong, pandangan yang polos dan
membawa rasa kehangatan yang menimbulkan pikiran yang suci tanpa memikirkan
hal2 yang tidak senonoh, walaupun hakikatnya Siang Cin sudah menahan bara
nafsunya yang telah sekian lama bergejolak dalam sanubarinya.
Memang badan sedikit gemerinjing, tapi tanpa berkedip, tanpa malu dan takut Kun
Sin-ti balas menatapnya lekat2, bibirnya nan tipis merah bagai delima merekah seolah2
menantang, memang rasa kesalnya selama ini selalu mengganjal dalam hati,
menjadikan pikiran suka murung dikala berada seorang diri, selalu dia penuh harap,
harapan yang dilandasi keinginan yang berkobar mendekati gila, semoga Siang Cin
suatu ketika bisa memberikan sesuatu padanya, meski sesuatu itu terlalu kecil
artinya.
Dulu sering juga mereka berdiri berhadapan saling tatap, tapi mereka sama tahu dan
dapat menyelami alam pikiran masing2, se-akan2 ada sebuah dinding tak kelihatan
yang menjadikan penghalang yang tak tertembuskan untuk ini, mereka tahu selain
rasa jengkel memang masih banyak pula alasan dan sebabnya.
Seperti biasanya, pelan2 akhirnya Siang Cin mengalihkan sorot matanya, dengan
perasan berat dia habiskan teh secangkir yang masih panas itu.
Maka Kun Sim-ti lantas tahu bahwa kali ini dia tidak akan memperoleh apa2 lagi.
Betapapun dia adalah seorang perempuan yang berperasaan halus, perempuan
yang harus jaga harga diri, sungguh tak berani dia menurunkan pamor sendiri untuk
memohon sesuatu itu kepada Siang Cin, yang dia doakan hanyalah suatu ketika
Siang Cin akan memberikan peluang, memberi kesempatan untuk dia melimpahkan
perasaan hatinya yang selama ini terpendam dalam hati. Memang dia merasa benci
juga, dia paham tanpa menyatakan isi hatinya tentu juga Siang Cin sudah tahu.. tapi
kenapa sikapnya selama ini tetap begitu dingin, kurang agresif, meski sikapnya
selalu mesra penuh kasih sayang, tapi cepat sekali mencair dikala keadaan hampir
mendekati titik beku.
Siang Cin duduk bersandar di kursi, setelah menghela napas panjang dia
meluruskan kaki dan tangannya, katanya hambar: "Ci, masihkah kau ingat pohon
cendana di taman belakang rumahmu itu?"
Diam2 Kun Sim-ti menyeka air mata, ia mengangguk pelahan, meski Siang Cin
tengah menengadah memandangi langit2, tapi gerakan sekecil apapun tak lepas dari
pengawasannya, dia paham apa yang menyebabkan orang berlaku demikian,
dengan tenang melanjutkan: "Sekarang tiba musimnya kayu manis itu berkembang
biak, aku amat suka mencium baunya yang manis harum, bila aku menyedot napas
panjang sambil memejamkan mata, seolah2 rebah bergelimang di tumpukan bunga
di tengah awang2, sungguh nyaman segar. Kuingat, suatu ketika kakak Seng dari
tetangga sebelah pernah memaksa kita menjadi pasangan pengantin dan . .. ."
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
13
Kun Sim-ti tertawa rawan, katanya pilu: "Waktu itu aku menerima saja paksaannya,
tapi kau tidak punya keberanian, seperti kejadian beberapa tahun kemudian dikala
aku dipaksa kawin, kaupun tidak punya keberanian menerima aku .... .. "
Mengejang jantung Siang Cin, lekas dia batuk2 lirih untuk menutupi perasaannya
yang tertusuk katanya: "Waktu itu aku masih kecil, Ci, sungguh, aku tidak tahu
bahwa kau sangat suka dengan permainan itu . . . . "
Kun Sim-ti menunduk, dengan suara lirih dan selembut sutera ia berkata: "Akhirnya
kau tahu juga, tapi sudah terlambat . . . . "
Tergetar perasaan Siang Cin, cangkir diangkatnya dan diteguk hingga habis seluruh
isinya, hanya dia sendiri yang tahu asmara yang terpendam selama ini dalam hatinya,
tapi cintanya itu memang sudah terlambat? "Ci .. .." dia membasahi bibir dengan
ujung lidahnya dengan suara semakin rendah: "pergilah kau istirabat, biar aku
istirahat di sini saja."
Kun Sim-ti menatapnya, lama dan lama sekali, akhirnya dia menghela napas, lalu
memutar tubuh dan masuk kedalam.
Letak rumah itu jauh di luar kota, di sini tiada kentongan tanda waktu, tapi dari
perasaan dan pengalaman yang dimiliki Siang Cin dapat meraba saat itu sudah
menjelang kentongan keempat, tidak lama lagi fajar akan menyingsing.
Pelan2 dia berdiri, laki2 besar yang terluka parah itu tiba2 menggeliat miring di atas
kursi dan mengeluarkan keluhan lirih, Siang Cin mengawasinya, pelan2 kelopak
mata orang itu mulai bergerak, maka terbayang oleh Siang Cin akan bola mata orang
yang melotot sebesar mata sapi siang tadi.
Agaknya kelopak mata An Lip, laki2 besar ini, seberat ribuan kati rasanya, sekuatnya
dia berusaha membuka mata, tapi rasa kantuk tak kuasa ditahannya lagi,
didengarnya suara tawar lembut mengiang di telinganya: "Sudah siuman?"
Sekuatnya An Lip menggerakkan kepala, pelan2 dia membuka secercah kelopak
matanya, tampak remang2 sebuah wajah ganteng yang putih halus
berbentuk lebar wajah yang gagah ini seperti pernah dilihatnya entah di mana,
rasanya seperti sudah lama sekali.
Siang Cin berdiri dihadapan orang, dengan cermat dia awasi rona muka orang,
katanya kemudian dengan tertawa: "Rona merah di bola matamu sudah pudar,
sahabat, sungguh siksaan yang lumayan beratnya untukmu."
Mengejang dan bergetar sekujur tubuh An Lip, seketika dia terbayang pada adegan
yang seram dan menyakitkan itu, seketika pula dia teringat akan keadaan sendiri
sekarang, sekuatnya dia rneronta bangun dan berteriak haru: "Inkong, Inkong (tuan
penolong), terimalah sembah hormatku . . . . "
Lekas Siang Cin memapahnya, katanya ramah: "Bila kau ingin berterima kasih
padaku, akupun akan menerimanya dengan senang hati, maka tak perlu kau banyak
adat lagi."
An Lip menghela napas lega, katanya sambil mencucurkan air mata: "Inkong kalau
bukan pertolongan Inkong, jiwa An Lip ini tentu sudah sejak kemarin melayang,
Inkong . . .. "
Bertaut kedua alis Siang Cin, suaranya rendah berat: "Aku bernama Siang Cin."
"Siang Cin", nama ini laksana ular berbisa yang tiba2 memagut ulu hati An Lip, kaget
sampai badannya gemetar, ia melongo dan lidaiinya terjulur, sesaat dia tergagap:
"Siang . . . , Siang Cin . . . . naga .. . . naga kuning?"
Mulut Siang Cin berkecek sekali, lalu berkata: "Agaknya kau rada tegang? Sahabat,
kedua tangan orang she Siang memang berlepotan darah, tapi masih bisa
membedakan antara jahat dan baik." .
Meski berjambang lebat tapi wajah An Lip yang merah masih kelihatan, sikapnya
tampak tersipu, katanya: "Tidak Inkong, bukan begitu maksudku, jangan salah
paham . . . . Nama besarmu yang amat tersohor . . . . "
"Namaku tersohor?" Siang Cin menyeringai, "yang benar sudah beberapa kali pada
saat2 aku harus mampus ternyata nyawaku ditarik balik hidup2. Kau tahu, manusia
siapapun tentu tidak mau mati, betul tidak?"
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
14
Sejenak An Lip melenggong, lalu meng-angguk2, Siang Cin mengucek hidung
dengan dua jarinya, katanya pula: "Kenapa Siang-gi-pang menyiksamu begitu rupa
ehm?"
Melenggong sebentar An Lip dan menunduk, laki2 besar ini ternyata mencucurkan
air mata, Siang Cing melengos sedikit, katanya kemudian: "Kabarnya kau main
serong dengan gundik Pangcu mereka?"
Mendadak An Lip angkat kepala, kulit mukanya berkerut, teriaknya tak terkendali:
"Main serong? Dia yang merebut calon isteriku, menghancurkan masa depanku yang
bahagia, setiap hari aku harus munduk2 di depan moncongnya yang cengar-cengir
seperti tertawa iblis, selalu memperoleh lirikan dingin dan cemooh yang memalukan
dari bakal isteriku, tapi aku harus tetap pura2 membusungkan dada sebagai laki2
pemberani. O, Thian, senyuman yang dipaksakan, wajah ayu nan layu, aku terpaksa
hanya mengawasinya dengan mendelong, dia jatuh ke pelukan laki2 lain, yang dapat
kulakukan hanya berdoa, menelan liur, aku harus memaki diriku sendiri sebagai
manusia pengecut, kenyataan dia sudah menjadi gundik Pangcu . . . ." bicara punya
bicara, laki2 yang kekar yang dihajar tanpa mengeluh ini ternyata pecahlah isak
tangisnya.
Siang Cin menarik sebuah kursi bambu lalu duduk di depannya, sambil bertopang
dagu, dia biarkan saja orang menangis dan melepaskan duka nestapanya. Sudah
tentu Siang Cin sendiri juga dapat meresapi betapa besar sedih dan rasa dendam
orang, meski bukan pengalaman sendiri, tapi dia cukup dapat merasakan juga
penderitaan semacam ini, kadangkala banyak persoalan di dunia ini yang sukar
diresapi dan dirasakan sendiri, tapi asal kau bisa berpikir dengan bijak, maka kau
akan dapat menyelaminya.
Lama juga baru An Lip menghentikan tangisnya, agaknya dia teramat letih dan
kehabisan tenaga, apalagi setelah melimpahkan rasa duka dan dendamnya, badan
menjadi lunglai.
Tanpa bicara Siang Cin angsurkan selembar sapu tangan sutera warna kuning,
sambil menyeka air mata, An Lip berkata malu2 dengan mata merah: "Inkong, An Lip
tak kuasa mengendalikan perasaan, harap dimaafkan . . . . ."
"Bukan salahmu," ucap Siang Cin tertawa, sejak jaman dahulu kata cinta memang
suka menyiksa manusia."
An Lip tertunduk, air mata masih bercucuran maka cepat dia seka dengan sapu
tangan. Siang Cin berkata pula: "Saudara, Pangcu kalian itu sebetulnya punya
berapa isteri dan gundik?"
"Seluruhnya ada tujuh gundik." sahut An Lip gemas.
Siang Cin tertawa lagi, katanya: "Apa yang kau katakan barusan seluruhnya benar?"
Bola mata An Lip yang sebesar mata sapi melotot pula, katanya sambil menuding
langit dan bumi, bersumpah: "Inkong, jiwa An Lip telah Inkong tolong, masa An Lip
berani membual dihadapan Inkong? Kalau sepatah kataku tidak benar, boleh Inkong
penggal kepalaku."
Siang Cin mengangguk dan berkata: "Kalau demikian calon isterimu itu sudah
digagahi orang, apa kau masih rela mengawininya? Ehm, maksudku, sudah tentu
kalau dia masih mau ikut padamu."
Sejenak An Lip melenggong, mendadak ia berteriak: "Sekalipun dia menjadi pelacur
murahan juga selamanya aku tidak akan melupakan dia."
Se-konyong2 Siang Cin merasa kepalanya menjadi pusing. beberapa patah kata
orang terasa pedas dan menusuk sanubarinya. Dengan tajam dia tatap laki2 yang
lahiriah kelihatan kasar itu dengan suara pelahan ia bertanya: "Kenapa?"
An Lip menelan liur, sedikit gagap dan tersengal, tanpa ragu dia berkata: "Bila
engkau mencintai seseorang sepenuh hati, cinta yang murni dan suci pasti takkan
luntur, apapun yang pernah terjadi tak perlu dipertimbangkan lagi."
Sekian lama Siang Cin terlongong, katanya lirih:
"Baik saudara, akan kubantu rebut kembali bakal isterimu."
Saking haru dan senang, bergemetar badan An Lip, mulutnya terpentang, katanya:
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
15
"Betul? Tapi .... tapi Inkong, itu berarti kau harus menyerempet bahaya dan
bermusuhan dengan Siang gi pang . . . . ."
Siang Cin tertawa pongah, katanya: "Memangnya kenapa, masa si Naga Kuning
Siang Cin tidak mampu menghadapi para kurcaci Siang-gi-pang itu? Lalu bagaimana
anggapanmu?"
Lekas An Lip geleng kepala, katanya bingung:
"Tidak Inkong, bukan begitu maksudku, aku hanya mengira . . . . . demi persoalanku
seorang apakah perlu sampai menimbulkan keonaran besar . . . . . "
Siang Cin menarik napas, katanya tawar: "Kalau kurasa perlu, maka hal itu pasti
cukup berbobot."
Bergolak darah di rongga dada An Lip, beribu kata ingin dia utarakan, maksud hati
yang tak terbatas ingin dia tuturkan, tapi terlalu banyak dan luas, terlalu tebal untuk
dicairkan dalam sekejap ini, kecuali mencucurkan air mata tak kuasa dia
mencurahkan isi hatinya.
Api pelita di atas meja ber-goyang2, sinarnya yang kelap kelit terasa seram,
bayangan kedua orang di sisi rumah memanjang di dinding sampai ke tanah. Mereka
tiada yang buka suara lagi, biarlah suasana hening lelap ini mencekam keadaan, tapi
di dalam kesunyian ini, keduanya merasakan adanya saling pengertian dan
ketulusan antar sahabat.
Siang Cin berkedip, katanya: "Kalau letih boleh saudara istirahat saja di atas kursi,
aku akan keluar melihat keadaan."
An Lip tersentak kaget, katanya sambil mengawasi tajam: "Keadaan? Inkong,
memangnya ada sesuatu yang tidak beres? Keadaan sekeliling terasa tenang dan
tenteram . . . . . "
Sembari berdiri Siang Cin menggeleng, katanya: "Justeru terasa tidak aman,
kudengar suara lambaian pakaian yang tertiup angin serta daun kering yang terinjak
kaki, ada beberapa orang tengah berlari ke mari. jumlahnya cukup banyak."
Jantung An Lip seketika berdebur, katanya tegang: "Mungkinkah, mungkinkah
orang2 Siang-gi-pang memburu kemari?"
Sejenak berpikir, Siang Cin menyabut: "Mungkin saja, tapi tidak jadi soal."
Sekuatnya An Lip himpun tenaga dan menarik napas, ia hendak meniup padam
pelita di atas meja, cepat Siang Cin mencegah: "Biarkan lampu tetap menyala,
saudara, aku senang akan sinar pelita yang remang2 hening ini."
Dengan rasa heran An Lip berpaling mengawasi Siang Cin, sungguh dia tidak habis
mengerti dan sukar menyelami kenapa laki2 yang disegani kaum persilatan ini
sekarang melakukan tindakan yang melanggar kebiasaan Kangouw umumnya tapi
hanya sekejap itu, dikala dia dengar suara kesiur angin dan berpaling itulah, dalam
rumah sekarang hanya tinggal dia seorang diri.
Bukan melalui pintu, juga tidak lewat jendela yang setengah terbuka, tapi Siang Cin
telah melam bung ke atas belandar, di atas belandar ada sebuah keranjang bambu
yang dapat digeser dan bergerak bebas, dari lubang keranjang di atap rumah inilah
dia menerobos keluar.
Menjelang fajar, hawa terasa dingin menusuk tulang. Begitu keluar dan mencapai
wuwungan, Siang Cin lantas mendekam diam tak bergerak.
Alam gelap gulita, hening lelap, hanya suara keresakan daun pohon yang dihembus
angin, manakala hari hampir terang tanah, alampun terasa menjadi lebih gelap,
umumnya tidur manusia pada waktu itupun lebih nyenyak.
Sebuah bayangan samar2 tampak berkelebat, selincah kucing, seenteng burung
walet dia berlompatan hinggap dipagar bambu di atas jembatan, di belakangnya
menyusul dua bayangan orang pula, kedua bayangan ini lantas terpencar ke sisi
rumah, pelita dalam rumah tetap menyala, sinarnya terasa tenang, suasana terasa
mantap.
Kecuali tiga orang yang berkelebat datang dengan gerak-gerik sembunyi2, menyusul
datang pula seorang yang berlenggang seperti tuan besar, langsung menuju ke atas
jembatan bambu, lalu tampak sesosok bayangan lain, langkahnya lembut teratur dan
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
16
sopan mengikut dibelakangnya.
Bayangan orang yang bersikap congkak ini membalik, dengan hormat dia menjura
kepada bayangan lembut dan sopan itu, lapat2 kelihatan bayangan lembut sopan itu
adalah seorang pemuda berusia likuran tahun, jubahnya serba biru, dandanan
perlente ini lebih mirip anak seorang bangsawan.
Pemuda itu tampak memberi anggukan kepala kepada orang di depannya, maka
orang itu beranjak pula dengan langkah yang pongah, kiranya dia memang kepala
besar, kepalanya yang gede itu bila diukur pasti tidak lebih kecil daripada kepala
keledai, tiba di ujung jembatan segera dia pentang mulut memperdengarkan
suaranya yang seruk keras bagai gembrang: "Perhitungan lama di Sia-mo-nia harus
diselesaikan, orang she Siang, payah juga Sin-losu mencarimu."
Suara orang itu serak sumbang, logatnya sukar dimengerti, suaranya terdengar
seperti bunyi pasir yang rontok menusuk telinga, kedua membusung tangannya
bertolak pinggang, perutnya yang gendut itu mirip perut babi.
Siang Cin mendekam di atas wuwungan mengerut kening, diam2 ia menghela napas,
tanpa suara pula dia melayang turun dari atap rumah bagai bayangan setan pelan2
mengapung turun ke depan laki2 tambun itu.
Begitu bayangan muncul, seperti membawa bau anyirnya darah, si kepala besar
memancarkan sorot matanya yang masih ngantuk, sikapnya yang pongah tadi
seketika lenyap, tanpa disadari dia menyurut mundur tiga tindak, jembatan bambu
yang terinjak kakinya sampai berkeriut hampir patah.
Ujung mulut Siang Cin menyungging senvuman aneh yang mencemooh, lengan
jubahnya yang gondrong kuning mengebas, katanya dengan nada tawar seperti
biasa: "Sin-suya, dunia ini rupanya cuma sebesar daun kelor, tak nyana kita bertemu
pula di sini."
Muka babi Sin-suya itu tampak pucat lesi, kulit daging pipinya tampak mengencang,
bola matanya yang mirip mata kura2 mendelik, ter sipu2 dia membetulkan letak
jubahnya yang kesempitan membungkus badannya yang gendut, katanya sambil
menyegir: "Orang she Siang, dirodok kau, hakikatnya aku tiada permusuh apa2
dengan kau, urusanku dengan Kik Cu hong dari Tay hian pay di Siau-mo-nia kan
tiada sangkut pautnya dengan kau, tapi kau mencampuri urusanku, bukan saja
memunahkan Kungfu dua saudara angkatku, kau bikin aku kehilangan tempat
berpijak di Siau-mo-nia, perhitungan ini orang she Siang, terserah bagaimana kau
hendak membereskannya padaku."
Seperti sedang mengingat2 Siang Cin menengadah, katanya kemudian: "Kik Cuhiong
dari Tay-hian-pay ada hubungan intim denganku, dulu gurunya pernah
berdampingan denganku memukul mundur delapan belas Lama kasa merah di
perbatasan Tibet, maka tak mungkin aku berpeluk tangan melihat Sin-suya bertiga
mengeroyok dia seorang, terpaksa kubantu dia sekadarnya."
Saking murka daging tubuh Sin-suya tampak bergetar, raungnya: "Membantu
sekadarnya? Memangnya makmu yang suruh kau sekaligus menamatkan jiwa dua
saudaraku?"
Pancaran sinar mata Siang Cin yang semula bening tiba2 berubah dingin tajam,
suaranya bernada mengancam: "Sin-losu, dikalangan Kangouw kau memperoleh
gelar Tho-san-sin, sudah sekian tahun kau malang melintang di Kangouw,
seharusnya kau juga paham apa akibatnya berani kau bertingkah di depan Naga
Kuning."
Seperti dikemplang tongkat besi Sin-losu menyurut mundur, baru saja mulutnya
terpentang mau bicara, pemuda yang sejak tadi berdiri di seberang jembatan sana
tiba2 tertawa lebar, katanya menimbrung: "Menyaksikan sikapmu yang gagah dan
congkak ini, maka tahulah aku bahwa saudara tentu si Naga Kuning Sang Cin
adanya."
Terangkat alis Siang Cin, suaranya tetap tawar: "Mana berani, setelah kulihat
lagakmu ini, akupun lantas tahu bahwa kau ini Giok-mo-cu (iblis kemala ) Keh Kisin."
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
17
Pemuda yang berpakaian ketat warna biru tua itu memang benar adalah Giok-mo-cu
Keh Ki-sin yang baru muncul tiga tahunan di daerah Thian-lam. Dia murid didik Singkok-
bun di Thian-lam, belakangan dia berguru pula pada jago kosen nomor satu di
perbatasan Hun-lam Hoan-jit-kiam-khek Han Siau-kan, Setelah lulus dari perguruan
dia angkat saudara dengan It-tiau-tay Mo Kim, Cengcu dari Gih-tay-ceng yang
kenamaan di Bu-lim, malah adik Mo Kian yang masih perawan Mo Hun-cu telah main
cinta dengan Giok-mo-cu yang kabarnya pernah merobohkan Tiam-jong-ngo-eng
(kelima jagoam Tiam-jong-pay), menurut kabar yang tersiar di kalangan Kangouw
sejak lulus perguruan dan berkelana di Bu-lim Giok-mo-cu belum pernah
menemukan tandingan.
Giok-mo-cu Keh Ki-sin tertawa lantang, katanya: "Pandangan saudara memang
tajam, julukan Naga Kuning ternyata tidak bernama kosong."
Siang Cin mendengus, katanya: "Sin-suya, malam begini gelap, hawa dingin lagi,
jauh2 Suya meluruk kemari, memangnya kau mau bikin perhitungan lama di Siaumo-
nia dulu?"
Sin-suya berkecek mulut, matanya mengerling ke arah Giok-mo-cu Kch Ki-sin tanpa
berani memberi komentar, maka Giok-mo-cu tertawa, katanya kalem: "Memang
begitulah menurut pendapatku."
Mendadak Siang Cin tertawa juga, katanya kepada Keh Ki-sin: "Saudara, kau datang
untuk membantu Sin-suya?"
Wajah Giok mo-cu menyungging senyuman ramah, katanya mengangguk: ""Betul,
seperti pula waktu saudara membantu Kik Cu-hong dari Tay hian-pay di Sian-mo-nia
dulu."
Dengan tak acuh Sang Cin mengebaskan lengan bajunya, katanya: "Saudara Keh,
tahukah kau, selama tiga tahun ini, tidak mudah kau mengejar nama dan
mengangkat gengsi?"
"Sudah tentu aku tahu," sahut Koh Ki-sin tertawa.
Siang Cin menepekur sejenak sambil menengadah, katanya: "Kau tahu apa akibat
dari sikapmu yang temberang ini?"
""Sudah tentu," sahut Koh Ki-sin sambil manggut.
"Baiklah, Cukup sampai di sini peringatanku, sebabai seorang pandai, kuharap kau
tidak melakukan tindakan bodoh, sekarang kalau kau ingin mengundurkan diri masih
kuberi kesempatan . . .. "
Senyum lebar yang menghias muka Keh Ki-sin seketika lenyap, desisnya: "Siang Cin,
sejak hari ini, tidak akan ada tempat berpijak lagi dalam Bu-lim untukmu, sampaikan
saja kotbahmu kepada bini di rumahmu."
Sin-suya ter-loroh2 geli, serunya: "Orang she Siang, jangan di sini kau memupur
wajahmu sendiri, nanti kupenggal kepalamu dan kujadikan bola untuk main
tendangan."
Diam saja Siang Cin, pandangannya menjelajah keempat penjuru, katanya: "Sinsuya,
ingatlah, turun
tangan harus cepat, laksana meteor melanglang angkasa."
Seperti tersengat Sin-suya menghentikan tawanya, cepat ia bergerak, tahu2 ia
mengeluarkan sebilah Siang-jin-jan (pacul dua muka) sepanjang dua kaki, matanya
yang sipit sebesar kacang tampak mendelik menatap Siang Cin,
Mundur selangkah Siang Cin berkata: "Musim rontok adalah musimnya daun pohon
rontok . . . .
ucapan "rontok" terulur memanjang bergema di angkasa, belum lagi gema suara ini
lenyap, bayangan telapak tangan tiba2 menyambar ke arah Sin-suya, cepatnya
bagai halilintar.
Menggerung keras bagai kerbau gila, dengan sigap Sin-suya berkelit, meski tambun
badannya, tapi selicin belut tiba2 dia berkisar lima kaki jauhnya, paculnya yang
mengkilap berputar membawa sinar panjang bagai rantai menggulung maju, tapi
bayangan telapak tangan lawan mendadak menciut, bagai iblis tahu2 menyelinap
masuk ke tengah lingkaran pacul yang diputar kencang itu.
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
18
Giok-mo-cu Keh Ki sin tertawa dingin, mendadak dia menyergap maju, jelas dia
melihat bayangan kuning angsa ada di depannya, tapi belum lagi dia sempat
menyerang, deru angin telapak tangan yang maha kuat tahu2 sudah menyerampang
tenggorokannya dengan cepat dan setajam golok.
Kedua tangan Keh Ki-sin membalik, ia melancarkan pukulan yang aneh, tapi
kupingnya sempat mendengar suara "bret", suara kain pakaian yang robek, diiringi
jeritan Sin-losu: "Kunyuk kurangajar, kau memang keji . . . . "
Belum lagi raungan Sin-suya buyar, bayangan pukulan telapak tangan tahu2 sudah
menyambar lewat pipi Keh Ki-sin, sampukan anginnya yang tajam serasa mengiris
pipi Keh Ki-sin tujuh kali.
Sudah tentu jantungnya berdetak keras, diam2 Keh Ki sin mengumpat, gerak tubuh
apakah ini? Ilmu pukulan telapak tangan apa pula? Kenapa begitu cepat?
Mungkinkah manusia dapat mencapai gerak cepat yang luar biasa ini?
Keh Ki-sin mengertak gigi, mendadak dia melompat menyingkir, tapi begitu dia
menyingkir, sebat sekali dia melejit balik pula, pulang-pergi ini dilakukan hampir
dalam waktu yang sama, berbareng sebilah pedang tajam yang memancarkan
cahaya warna-warni, bagai pelangi yang menyorot turun dari tengah angkasa,
dengan cepat luar biasa menusuk lurus ke arah Siang Cin.
Bayangan kuning tampak berkelebat memutar mengiris ke cahaya warna-warni
pedang tajam itu, belum sempat Keh Ki-sin melanjutkan jurus kedua, bayangan
telapak tangan yang berada tahu2 sudah menempel pakaiannya, saking kejut lekas
dia menjengking ke belakang sekuatnya, tak urung dia tetap terdorong dua langkah
oleh tenaga pukulan lawan itu.
Pacul dua muka Sin-suya segera menyerampang dari samping, mata paculnya yang
tajam kemilau, terasa dingin, keadaan Sin-suya yang lengan baju kirinya sukah
koyak itu amat runyam, keadaannya lucu dan menggelikan, dengan menggreget dia
ingin menelan bulat2 lawannya baru terlampias dendamnya.
Kelam rona muka Siang Cin, kedua tangan menepuk sekali, tiba2 ia bergoyang ke
kiri-kanan sehingga pacul dua muka itu menyamber lewat, berbareng sebelah tangan
seperti tak acuh dan menyongsong dada Sin-losu yang gembur penuh daging
berminyak itu.
Melengking keras jeritan kaget Sin-losu, sekuatnya dia berusaha menggelinding ke
samping, tak urung kulit daging pundak kanannya laksana dipapas tajam golok,
darah muncrat keluar dari kulit dagingnya yang terbeset.
Dengan sebat sekali kembali Siang Cin menghindarkan libatan sinar pedang warnawarni
yang menggulung tiba, malah sempat pula dan melontarkan cemooh kepada
Sin-losu: "Suya, tahanlah kesabaranmu." -- Di tengah berkata itu, sekaligus ia
melakukan tujuh belas kali pukulan jarak pendek yang luar biasa, selintas pandang
dia hanya sekali menggerakan tangannya, sasarannya menepuk punggung pedang
Keh Ki-sin, tapi kenyataan Keh Ki-sin sendiri merasakan batang pedangnya bergetar
tujuh belas kali sampai lengannya terasa kemeng, sementara pukulan telapak
tangan terakhir lawan tahu2 sudah menyelonong menggempur batok kepalanya.
Menghadapi serangan kilat ini, cepat2 Giok mo cu gunakan ujung pedangnya
menutul tanah, tubuhnya bertolak mundur kebelakang, didengarnya Sin losu tengah
mencak2: "Hayo kawan2 maju semua, ganyang durjana ini!"
Seiring dengan aba2nya, dari kolong jembatan sesosok bayangan tiba2 melompat
keluar, selincah kucing tiba2 menerkam, dengan senjata bernama Ci-kim-to (golok
tebal) di tangannya membawa sejalur sinar dingin segera membacok.
Bayangan kuning muda kembali berkelebat kurang jelas cara bagaimana jadinya,
"Trang", tahu-tahu Ci-kim-to mencelat ke udara, sementara bayangan tubuh itu
seperti ingin berlomba kecepatan, diiringi jeritan yang menyayat hati ikut mencelat
terbang ke udara, darah menyembur deras dari mulutnya.
Dari dua sisi rumah kembali menerjang keluar dua bayangan orang, hampir dalam
waktu yang sama pula dari seberang jembatan bambu ber-turut2 jaga muncul empat
puluhan orang yang bersenjata lengkap, cahaya warna-warni kilauan pedang kembal
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
19
menderu tiba, otak Siang Cin bekerja cepat, sesekali dia melejit ke depan rumah, di
sana didengarnya Sin-suya lagi ber teriak2: "Sin-losu bersumpah kepada ibubapaknya
kalau kali ini tak bisa membabar akar orang she Siang, kita takkan
berkecimpung lagi di Kaugouw. Hayo gasak, bakar juga rumahnya!"
Dalam kegelapan cahaya pedang warna-warni itu tampak menyolok, hawa pedang
yang tajam kembali berhamburan, Siang Cin berkelit beruntun sembilan kali, mautidak-
mau dia harus memuji kehebatan lawan: "Saudara Keh, Han Siau-kan ternyata
tidak sembarang mengajarkan ilmu pedangnya padamu."
Siang Cin tahu bahwa Giok-mo-cu Keh Ki-sin kini telah keluarkan keahlian ilmu
pedangnya, Hoan-jit kiam-hoat.
Bayangan empat puluhan orang bagai gelombang ombak samudera mendampar tiba,
yang datang mendahului adalah lima orang laki2 setengah umur yang berperawakan
kurus tinggi laksana galah, sekilas pandang Siang Cin lantas menyambut mereka
dengan tertawa lebar: "Ngo-heng-ciok-cu, permusuhan kita agaknya sukar
diakurkan."
"Cis!" laki2 paling depan yang berjenggot pendek berludah, gada ditangannya
menari memenuhi udara, serunya: "Siang Cin, hari ini kau mengaku kalah saja."
Siang Cin tidak menanggapi, sebat sekali ia menerjang keluar cahaya pedang
warna-warni terus membuntuti gerakannya, tapi tiga-empat bayangan orang belum
lagi sempat berteriak tahu2 sudah jungkir balik sejauh beberapa kaki.
Senjata tampak bersimpang siur dengan kilauan cahayanya yang serabutan.
bayangan orangpun saling terkam dan tubruk, dalam sekejap itu, tujuh delapan jiwa
kembali melayang direnggut maut.
Tiba2, selarik sinar merah menjulang tinggi ke atas, lalu diiringi ledakan yang cukup
keras disertai percikan api yang terus berkobar menjilat apa saja yang gampang
terbakar.
Sekali tempeleng Siang Cin bikin laki2 berikat kepala hitam terbanting mampus
dengan kepala pecah, sekilas melirik ke sana, dilihatnya rumah bambu yang mungil
kesayangannya itu sudah dijilat jago merah, asap yang mengepul tinggi semakin
membara sehingga alam sekeliling yang semula gelap menjadi terang benderang.
Bibirnya terkancing rapat, sebat sekali dia menggenjot tubuh, ia meluncur ke sana,
tapi cahaya pedang warna-warni itu masih terus membayanginya.
Waktu Siang Cin tiba di depan rumahnya hawa panas cukup membuat sesak napas
manusia, sesosok bayangan orang sejak tadi sudah mendekam di sana, kini
mendadak dia melejit maju sambil ayun sebatang Liang-gin-kau (ganco perak
bercahaya) mengincar perut Siang Cin.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - --
Siapakah dan apa latar belakang pembakaran rumah bambu Siang Cin ini?
Bagaimana nasib Kun Sim ti dan An Lip masih berada di dalam rumah itu?
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
20
Jilid 02
Perhatian Siang Cin ditujukan untuk memadamkan api, dalam keadaan kepepet
tanpa siaga, tak ada peluang baginya untuk berkelit, apabila berkelit berarti
membuang waktu, se-olah2 tangan kirinya memang sejak tadi sudah mencengkeram
ujung ganco perak lawan, tahu2 dia seret laki2 yang menyergap ini, mulutnyapun
menyeringai seram: "To ciok-cu, serahkan saja jiwamu."
Pembokong dengan ganco perak ini memang salah satu dari lima laki2 kurus tinggi
yang berjuluk Ngo heng-ciok-cu tadi, dia orang nomor empat dari kelima Ngo-heng
yang bergelar To-ciok-cu Phoa Lik, saking kaget dan ketakutan, baru saja dia
hendak melempar senjatanya, tahu2 jiwanya sudah melayang, batok kepalanya
dikepruk hancur oleh Siang Cin.
Baru saja Siang Cin hendak menerobos masuk, hawa pedang berwarna-warni itu
menyambar pula ke seluruh badannya, situasi yang dia hadapi kini cukup jelas, jika
dia balik menghadapi Hoan-cit kiam hoat Keh Ki-sin, itu berarti dia akan tertahan dan
membuang waktu, bila dia langsung menerjang ke dalam rumah yang sudah terjilat
api, akibatnya cicinya pasti akan cidera.
Pikiran bekerja dengan cepat, Siang Cin segera mengambil keputusan, gerakannya
tetap kencang dan tak berhenti, ia tetap meluncur maju, sesaat sebelum badannya
terjun ke tengah kobaran api, dikala badannya, masih terapung dan menarik diri
itulah, dia merasakan sakit di bawah ketiaknya, tapi beberapa jurus pukulannya juga
telah di lontarkan dalam waktu sesingkat itu, dengan telak iapun merasakan telapak
tangannya mengenai sesuatu yang keras, tak sempat dia perhatikan, tapi dia tahu
bahwa dia sudah mendapat imbalannya.
Gubuk bambu yang dibangun serba sederhana dan mungil ini, kini sudah ditelan si
jago merah, asap mengepul dan api menjilat kian kemari suara bambu yang dimakan
api berkretekan menyebabkan Siang Cin kebingungan dan tak bisa membuka mata
karena pedas oleh asap yang tebal.
Dua putaran Siang Cin lari kian kemari di tengah lautan api sambil berteriak
sepertiorang gila:
"Cici . . . . bibi Ciu . . . . An Lip . . . . " Jawabannya adalah suara bambu pecah yang
terjilat api, suara wuwungan gubuknya yang mulai ambruk, sementara di luar orang
ber teriak2 mencaci maki dengan sengit.
Sejak malang melintang di Kangouw Siang Cin tak kenal, gugup atau gelisah, tak
pernah merasa tegang dan kuatir, reaksi di kancah pertempuran besar yang
menimbulkan banjir darah, di tengah malam buta di tanah pekuburan yang sepi
menyeramkan, di tengah kepungan musuh yang ber-lapis2, tak pernah ia merasa
tegang, gugup dan gelisah, tapi sekarang, dalam sekejap ini, dia telah meresapi, dia
paham-betapa pahit getirnya pengalaman seperti ini.
"Cici . . . . oh . . . . cici . . . . " seperti orang gila dia menerjang ke belakang, dimana
adalah kamar tidur Kun Sim-ti, tiang yang telah terjilat api, kebetulan runtuh menimpa
kepalanya, sekali pukul dia bikin tiang itu mencelat menjebol atap, tanpa pedulikan
api yang menyambar kian kemari, tanpa hiraukan api sudah mulai menjilat badannya,
seperti kehilangan ingatan dia terus menerjang masuk, dilihatnya Kun Sim-ti telah
rebah di lantai, pakaiannya yang bersih itu kini sudah berlepotan darah, dinding
hangus yang telah berkobar kebetulan runtuh hampir menindih badannya.
Mata sudah membara, laksana diburu setan, sekuatnya ia menubruk maju, begitu
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
21
cepat sehingga sukar melukiskan gerakannya, sesaat sebelum dinding bambu yang
ambruk hampir menindih badan Kun Sim-ti, dengan punggung dia tahan dinding
bambu yang terbakar itu, sekilas ia melihat An Lip yang telah terjilat api tengah berguling2
di lantai, laki2 kekar ini lagi mencekik leher seorang laki2 besar berbaju putih,
laki2 baju putih ini sudah mendelik matanya, lidahnyapun terjulur keluar, rambutnya
sudah mulai di jilat api, sementara badiknya menembus dada An Lip di bawah tulang
pundaknya.
Seluruh rumah sudah terjilat api, Siang Cin mengertak gigi, dengan tangan kanan
memeluk Kun Sim ti, sedikit miringkan tubuh, tangan kirinya meraih leher baju An Lip,
matanya menjelajah keadaan sekitarnya, di bawah penerangan api yang berkobar,
hawa di dalam rumah sudah mencapai suhu yang paling tinggi, dilihatnya sepasang
sepatu hitam terjulur keluar disebelah sana. "Bibi Ciu. . .." ia berteriak.
Tersendat suara Siang Cin, itulah mak inang yang mengasuh dan membesarkannya
sejak kecil, sekian tahun berkelana di Kangouw, dengan bekal kepandaian yang
tiada taranya ini, ternyata mak inang yang membesarkannya tak mampu
dilindunginya. Sungguh pedih serta luluh hatinya. Akhirnya dia ambil putusan,
dengan kedua tangan mengempit dua orang laksana panah yang menjulang ke
angkasa dia terjang atap rumah yang ber kobar2 terus meloncat keluar, tujuh tombak
tingginya dia meluncur meninggalkan kobaran api yang beterbangan diembus angin.
"Hari belum terang tanah, cuaca masih gelap, badan Siang Cin yang masih berkobar
itu menjadi sasaran pandangan yang jelas, maka hujan panahpun berhamburan ke
arahnya dari berbagai penjuru, begitu kencang, rapat dan tak terhitung jumlahnya.
Sedikit miring dan mendak, dengan cepat luar biasa badan Sang Cin anjlok turun ke
bawah, kira2 masih tiga tombak dari tanah, tahu2 ia berkisar laksana baling2
sehingga tubuhnya doyong miring ke sana dan meluncur turun ke sungai, "Byuur",
api yang menjilat tubuh mereka seketika padam mengepulkan asap dan lenyap
diembus angin, di-tengah jerit kaget dan keheranan orang –banyak, tiba2 dengan
badan basah kuyup itu Siang Cin meluncur keluar dari air terus melompat ke daratan,
belum lagi hinggap di tanah, kedua kakinya dengan tepat mendepak dada dua laki2
yang tengah mengayun golok di tepi sungai.
Sesosok bayangan kurus tinggi tiba2 muncul, Kim-kung-tui (bandulan emas) sebesar
kepala bayi menderu tiba, dengan rambut yang sudah awut2an, Siang Cin
mengegos ke samping, bandulan emas itu menyempet lewat dalam detik2 yang
singkat ini, sikut kiri Siang Cin menyodok telak lambung si penyerang.
"Ngek", darah menyembur dan muncrat beterbangan, sambil merendahkan badan
sebelah kaki Siang Cin terayun pula, empat laki2 yang menyerbu tiba kena
disapunya jatuh lintang pukang dengan kaki "patah, semuanya menjerit kesakitan
dan terguling2 di tanah.
Meski kedua tangan mengempit dua orang, tapi gerak-gerik Siang Cin masih tangkas,
lincah dan cekatan laksana pusaran angin, dalam sekejap mata, enam laki2 kembali
terbaring tanpa nyawa, kalau bukan didepak pecah kepalanya, pasti tertendang
remuk dadanya.
Bayangan orang tampak berkelebat memburu datang, tapi darah korbannya mengalir
semakin banyak, tubuh manusia gelimpangan tanpa nyawa, tapi mereka tidak
merasa jeri, se-olah2 tak melihat dan mendengar, yang satu roboh, dua menubruk
tiba, inilah lukisan nyata dari neraka, di mana jagal manusia tengah berlangsung.
Tegang dan ketakutan Sin losu terbelalak kedua bola matanya, sungguh tak pernah
dibayangkannya bahwa si Naga Kuning ternyata betul2 mempunyai kekuatan
terpendam yang bukan olah2 hebatnya, tekad juangnya begitu gigih dan tak
terpadamkan.
Giok-mo-cu Keh Ki-sin tampak duduk di bawah pohon, wajahnya pucat pasi,
napasnya ter-engah2 kedua tangan mendekap dada, butiran keringat dingin
bercucuran, dengan suara lemah serak dia bertanya: "Su . . . . Suko, apa di depan
sana?
Sin-losu bergidik seram, suaranya tergagap: "Siang Cin ternyata tidak kabur......."
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
22
Berkilau sorot mata Giok mo cu, serunya: "Dia mampus?"
Sin-losu menelan liur, sahutnya hambar: "Tidak . . . . dia.... dia menyerbu kembali
dan banyak korban . . . . . . "
"Huuuaaah," sekumur darah tertumpah dari mulut Keh Ki-sin, badan yang
menggelendot itu seketika menjadi lunglai, lekas Sin losu memburu datang, sekilas
bola matanya jelilatan, lalu dia membanting kaki penuh kebencian, mendadak ia
berkelebat ke dalam kegelapan, dikala Sin-losu ngacir . . . yang terjadi. . itulah, satu
di antara Ngo heng ciok cu kembali terjungkir balik sejauh dua tombak.
Se konyong2 seorang menjerit melengking: "Mana Sin-suya? Mana Keh-kongcu?
Mereka melarikan diri."
"Ngacir? Keparat, kita ditinggalkan mengadu jiwa di sini . . . . . . " suara caci maki
yang bernada gusar segera saling sahut.
Dalam pada itu dengan sebat Siang Cin telah hindarkan bacokan Hou thau-to, sekali
sodok dengan sikutnya dia bikin laki2 penyerang itu terpental dengan muntah darah,
suara ribut berkumandang di mana2, bayangan orang berlarian dan lenyap di tempat
gelap, sekejap saja semuanya sudab lari mencawat ekor.
Dengan langkah sempoyongan Siang Cin berusaha menegakkan badannya, sekilas
matanya menjelajah sekelilingnya, segera dia berlari pula ke depan terus melejit
tinggi hinggap di pucuk pohon beringin yang tinggi lebat.
Tak lama kemudian fajarpun menyingsing, cahaya mentari yang keemasan
memancar cemerlang, cuaca pagi yang cerah, hawa sejuk, tapi keadaan di sini
sungguh mengerikan.
Bersandar di dahan pohon beringin yang lebat, dengan hati2 dan pelan2 Siang Cin
merebahkan An Lip, laki2 kekar ini mengalami luka2 yang cukup parah, untungnya
badik yang menembus dada itu menusuk miring ke atas, sehingga luka2nya tidak
fatal. Siang Cin mencabut keluar badik itu, karena tidak membawa obat, untuk
mencegah darah keluar terlalu banyak dia balut luka2 itu dengan sobekan kain
bajunya, kini orang tengah tidur lelap, kalau tidak tentu sudah meraung kesakitan
dan jatuh semaput waktu badik itu dicabut keluar dari dadanya.
Siang Cin paham bahwa luka2nya sendiri juga tidak ringan, tapi sementara ini dia
tidak sempat urus diri sendiri, Kun Sim-ti telah lelap dalam pelukannya, wajahnya
nan jelita bak bidadari kini telah melepuh merah berair, bukan di pipinya saja, juga di
pundak, lengan dan sekujur badannya terbakar.
Siang Cin merasa syukur bahwa pertolongannya tepat pada waktunya, dia tahu asal
dirawat dan istirahat untuk waktu yang cukup lama. Wajah Kun Sim-ti pasti tidak
akan menimbulkan cacat apa2, tapi bila setengah langkah dia terlambat, wajah nan
jelita ini pasti rusak, akibatnya sungguh tak berani Siang Cin membayangkan.
Selain luka2 terbakar pundak Kun Sim-ti juga terbacok golok, lukanya cukup dalam,
darah sudah berhenti, membeku hitam membiru, semakin dipandang perasaan
Siang Cin menjadi pedih seperti di sayat2.
Rumah bambunya yang mungil itu, kini telah tinggal puing2nya saja, sisa bambu
yang masih terbakar mengepulkan asap, taman di pekarangan depan rumahnya kini
sudah acak2an tak keruan, mayat tampak bergelimpangan di sana darahpun
berceceran. ditambah berbagai alat senjata yang berserakan, pemandangan
sungguh amat mengerikan.
Siang Cin menarik napas panjang, di bawah ketiak kanannya ada sejalur luka
panjang, tapi kulit daging sekitarnya kini sudah pati rasa, cuma luka terbakar
dipunggung yang kini masih menyiksanya, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum, atau
di gigit ribuan semut.
Siang Cin menjadi kehilangan akal, padahal yang luka parah harus selekasnya diberi
pertolongan, tapi umpama dia sanggup menyeret kedua orang luka parah ini dan
mencari tabib, kan bisa celaka kalau jejaknya sampai konangan musuh? Siang Cin
tahu, selama beberapa tahun belakangan ini, permusuhan yang dia ikat selama
berkecimpung di Kangouw jauh lebih banyak dari pada teman2 yang dikenalnya.
Dikala memeras otak itulah, derap kaki kuda yang mencongklang pesat sayup2
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
23
datang dari kejauhan, derap kaki kuda terdengar kacau dan berpacu kencang, naluri
Siang Gin segera merasakan adanya gejala tidak menguntungkan bakal tiba.
Tak lama kemudian, derap kuda itu berhenti di luar hutan, dengan cepat dua puluhan
orang dengan mengenakan seragam abut ketat muncul dari balik pohon sana,
semuanya adalah laki2 yang bermuka bengis dan jahat, gerak-gerik mereka cukup
tangkas terus menyebarkan diri, tak lama kemudian muncul pula lima puluhan orang
yang berseragam sama ber-bondong2 memasuki hutan, tanpa di beri aba2 mereka
langsung memecah diri menjadi sebuah lingkaran, busur panah siap di tangan
mereka sama diarahkan kegelanggang seperti sedang menghadapi pemandangan
yang seram.
Baru saja ke delapan puluhan orang di sini selesai membenah diri, muncul pula dua
puluhan orang dengan dandanan yang beraneka ragam, meluncur tiba dari berbagai
penjuru hutan, lalu muncul pula seorang laki2 berusia tiga puluhan, bibir merah gigi
putih, dengan jubah mentereng yang di bagian dada bersulam huruf "GI", empat
laki2 yang berwajah kereng mengiring di belakangnya, di belakang ke empat orang
ini beranjak pula seorang laki2, dia bukan lain adalah Gui Ih yang kemarin menghajar
An Lip dengan cemetinya, Gui Ih adalah pelaksana hukum dari seksi bendera merah
Siang-gi-pang.
Siang Cin menyengir getir, sungguh amat kebetulan, dalam keadaan seperti ini,
pihak Siang-gi-pang ternyata meluruk datang pula hendak membuat perhitungan
dengan dirinya.
Agaknya laki2 jubah kelabu dengan huruf "Gi" yang tersulam di depan dada itu
menjadi melenggong menyaksikan pemandangan di depan mata, wajahnya yang
cakap itu mengernyit, terlihat bekas luka di jidatnya, codet ini sebesar mata uang,
kini kelihatan bersemu merah, sekilas dia menyapu pandang sekitarnya, lalu berkata
dengan suara kereng: "Gui-angki, selama enam belas jam ini, dengan berbagai daya
upaya dan mengerahkan puluhan tenaga terpercaya baru kita berhasil menemukan
alamat si Naga Kuning, tapi sekarang kita hanya menemukan puing2 dengan mayat
yang tak mampu berbicara lagi.".
Agaknya Gui Ih juga tertegun sekian saat dia melongo, sahutnya kemudian: "Bahwa
gubuk yang terbakar itu jelas adalah tempat tinggal orang she Siang, bocah itu
terlalu banyak mengikat permusuhan, bukan mustahil para musuhnya telah
mendahului kita mengobrak-abrik tempatnya ini . . . . "
Tangan si jubah kelabu mengelus hurus "Gi" di depan dadanya, dengusnya dengan
kurang senang: "Menurut penyelidikanmu, berapa banyak anak buah Siang Cin yang
tinggal bersama dia?"
Berpikir sebentar Gui Ih menjawab dengan suara lirih: "Kecuali seorang mak inang
rasanya tiada orang lain yang tinggal bersama dia, selamanya dia malang melintang
seorang diri . . . . "
Mendelik mata si jubah kelabu, katanya keras, "Ada puluhan mayat menggeletak di
sini, sukar dipercaya dengan seorang diri dia mampu menjagal orang sebanyak ini,
apalagi mereka bersenjata semuanya." - Sampai di sini dia berpaling ke kanan dan
berkata kepada laki2 tua berjenggot pendek: "Jing-sim tong Cui tongcu, kau pimpin
beberapa orang, geledah sekeliling sana."
Laki2 tua itu membungkuk sambil mengiakan, lalu melompat ke depan, sepuluhan
orang anak buahnya segera ikut berlari di belakangnya, mereka mulai memeriksa
semua mayat satu persatu, dari kejauhan tiba2 laki2 tua itu menjerit: "Hah, bukankah
ini Cui ciok-cu Ong Bu, orang ketiga dari Ngo-heng-ciok cu." - Belum lenyap gema
suaranya kembali ia menjerit pula: "Heh, inikan Bok-ciok-cu Phoa-lat. Ah. ini Tio Wijiang.
Cong-thau-bak dari Thian-king-kau, Wah, Cap-ji-hwi-so dari Lam-bu-san juga
menggeletak seluruhnya. Ini Nyo Cayseng, guru pelatih dari Ban-keh po. Ai, ini Liang
Tam, Hupangcu dari Ui-hong pang di Toa-ih-ho . . ."
Setiap kali mendengar teriakan si laki2 tua, air muka si jubah kelabupun berubah
semakin kelam, akhirnya dia tidak tahan lagi, serunya: "Cui tongcu, carilah mayat
orang she Siang." --- Sampai di sini dia melotot, pula ke arah Gui Ih dengan muka
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
24
merah cepat Gui Ih berlari ke sana ikut bantu mencari, perhatiannya hanya tertuju
pada mayat Siang Cin saja.
Sesaat kemudian, dengan tangan berlepotan darah Cui-tongcu kembali, katanya
sambil menggeleng: "Lapor Pangcu, seluruhnya ada tiga puluh dua mayat,
semuanya jago2 silat yang punya nama di tiga propinsi utara, paling tidak mereka
sudah cukup disegani oleh sesama kaum persilatan, beberapa tahun belakangan ini
kita sudah cukup luas bergaul di Kangouw, di. antara 32 mayat dt sini ada dua
puluhan lebih yang kukenal . . . . " setelah menghela napas dia menyambung:
"Umpama Nyo Cay-seng, Nyo-lote, dua hari yang lalu masih minum arak bersamaku,
tak tersangka hari ini aku harus mengubur mayatnya di sini."
Si jubah kelabu melotot tanpa bersuara, tak lama kemudian Gui Ih pun telah balik,
katanya dengan ragu2: "Di bawah puing terdapat dua mayat yang sudah menjadi
arang, satu laki dan satu perempuan, dari pakaiannya jelas si perempuan itu adalah
mak inang . . . . . "
Si jubah kelabu menggentak kaki, tanyanya gusar: "Dan yang laki2?"
Gus Ih ragu2, sahutnya kemudian: "Sudah menjadi abu dan sukar dikenal lagi, cuma
pakaian yang dikenakan tampaknya bukan warna kuning . . . . . "
"Hayo, geledah seluruh pelosok!" teriak si jubah kelabu dengan mendelik.
Delapan puluhan orang serempak mengiakan mereka lantas memencar mengobrak
abrik ke mana saja yang dipandang bisa digunakan bersembunyi.
Cui-tongcu dari Jing-sim-tong itu agaknya. berkedudukan cukup tinggi, ia berdiri di
depan si jubah kelabu dengan nada berat dia berkata: "Pangcu, bicara terus terang,
betapa tinggi kepandaian si Naga Kuning Siang Cin belum pernah kita saksikan,
paling tidak juga pernah kita dengar, pemandangan di depan mata merupakan bukti
nyata, maka menurut pendapatku jika Pangcu suka bersabar, urusan ini kiranya bisa
disudahi saja. . . . . "
Codet di jidat si jubah keiabu tampak semakin merah, sedapat mungkin dia menekan
amarahnya,katanya kurang senang: "Cui-tongcu, peristiwa ini menyangkut nama dan
wibawa Siang gi-pang kita, jika kita harus berpeluk dengan menghadapi usik orang
lain tanpa memberi sedikit hajaran padanya, memangnya Siang gi pang masih punya
wibawa untuk bertengger di kalangan Kangouw, bagaimana kita dapat memimpin
anak buah yang berjumlah sekian banyak?"
Cui tongcu mengelus jenggot, katanya kalem: "Ucapan Pangcu memang tidak salah,
tapi kita juga harus menimbang, gengsi dan wibawa yang akan kita pertahankan
harus kita rebut, kalau sebaliknya, kukira ini bukan cara yang baik."
Mendelik si jubah kelabu, dingin suaranya: "Cui tongcu ini sudah menjadi keputusan
Pang kita yang tak boleh diubah, peduli betapapun besar pengorbanan yang harus
kita pertaruhkan, sakit hati ini tetap harus kita tuntut."
Cui tongcu tak bersuara lagi, diam2 dia mengundurkan diri ke samping. Di pucuk
pohon beringin Siang Cin dapat mertyaksikan semua ini dan mendengar pula
dengan jelas, dengan senyuman getir ia mengawasi orang2 Siang gi-pang yang
mondar mandir menggeledah kian kemari.
Cepat sekali sang surya naik semakin tinggi, Si jubah kelabu menunggu dengan
tidak sabar lagi, sambil menggendong tangan dia mondar-mandir tidak tenang,
keempat laki2 kekar berdiri berjajar di belakangnya dengan meluruskan tangan.
Siang Cin tahu keempat orang ini adalah Su-koay-Cu yang kenamaan dari Siang-gipang,
mereka adalah pengawal pribadi Sam-bak-siu-su Tan Sin, Pangcu Siang-gipang.
Si jubah kelabu Sam-bak-siu-su Tan Sin, mendadak mengayun tangan ke atas,
teriaknya dongkol: "Sudah, berhenti! Semuanya pulang saja! Aku tidak percaya
orang she Siang itu mampu terbang ke langit atau selulup ke bumi,"
Lekas Cui-tongcu menepuk tangan, serunya: "Perintah Pangcu, penggeledahan
dihentikan."
Orang2 yang sudah menyebar luas ke dalam hutan itu segera putar balik dan
berkumpul di tempat semula, belum lagi mereka sempat membentuk formasi
lingkaran tadi, dari luar hutan tiba2 terdengar suara "pletak-pletok", suara beradunya
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
25
papan kayu. .
Baru saja Tan Sin berpaling dengan pandangan heran, anak buahnya di luar hutan
sudah menghardik: "Berhenti saudara di depan itu Siang-gi-pang sedang ada
perkara di sini. Bendera kami berkibar di sana, memangnya saudara tidak
melihatnya?"
Suara "pletak-pletok" tak terdengar lagi, diganti suara aneh yang bernada
melengking: "Eh, maknya dirodok, di siang hari bolong juga berani main begal di sini?
Penyamun keroco juga pasti melihat tempat dan waktu bila mau beroperasi, kalian
ini penyamun keparat dari mana yang tidak bisa melihat gelagat? Untung tuan
besarmu hanya membawa batok kepala yang bertengger di leher tok, tiada sekeping
uang yang bisa kau peras dari badanku, memangnya kalian mau berbuat apa
terhadapku."
Hardikan di luar kembali berkumandang: "Saudara yang baik, tentunya kaupun
sudah kenyang berkecimpung di Kangouw, jangan bertingkah dan berlagak pilon di
depan kami, kalau tahu diri lekas menyingkir saja."
Suara aneh seperti orang banci tadi berteriak pula: "Wah aneh, tuanku sudah biasa
berkeliaran main terobos rumah dan selundup dalam hutan, ke langit bisa terbang,
ke bumi aku, bisa selulup, kemana aku suka pergi boleh sesuka hatiku, siapapun
tiada yang berani mengusik seujung rambutku, memangnya kalian tetap mengadang
di tengah jalan ini dan tidak mau menyingkir?"
Tan Sin menarik muka, jengeknya: "Keparat ini jelas sengaja mencari gara2, suruh
mereka biarkan dia kemari, akan kulihat ke mana dia mau pergi."
Seorang laki2 baju abu2 segera berlari keluar hutan, tak lama kemudian, suara
"pletak- pletok" seperti ketokan kayu penjual bakmi berkumandang pula Eh ternyata
beranjak kemari, menuju ke arah orang banyak ini.
Siang Cin yang ada di pucuk pohon dia sudah menjadi gelisah, dia tahu orang yang
suka mengetok kepingan kayu bila berjalan ini adalah teman karibnya sehidupsemati,
pendekar aneh yang bergelar Liang kui pan dari Hou-keh-can, namanya Pau
Seh-hoa.
Tingkah lakunya lucu dan aneh, bajik dan dermawan, kini dia mengenakan celana
panjang biru yang sudah luntur, ikat pinggungnya adalah seutas tali rami yang
kelihatan mengkilap karena kotor berminyak, kakinya pakai sepatu rumput yang
butut dan sudah berlubang alasnya, rambut yang awut2an laksana sarang ayam
tersunggih di atas kepalanya, matanya yang sipit seperti kurang tidur tumbuh di
bawah jidatnya yang lebar, hidung besar, mulutnya yang lebar dengan gigi kuning
prongos, mulutnya selalu kerkecap mengiringi bunyi pletak-pletok dua keping kayu
yang bergantung di belakang pantatnya, papan kayu warna hitam terbuat dari kayu
kenari.
Dengan tajam Tan Sin tatap kedatangan tamu yang tak di undang ini, Pau Seh-hoa
unjuk tawa lucu kepada Pangcu besar ini dengan gigi yang prongos, tiba2 matanya
melirik dan mulut yang lebar itu menciut, katanya- "Rumah di sini sudah dibakar?"
Dingin tatapan Tan Sin, katanya: "Memangnya kenapa?"
Pau Seh hoa mengernyit hidung, seperti tawa tidak tertawa dia berkata; "Kalian yang
melakukan?"
Tan Sin menengadah, jengeknya: "Kalau benar mau apa?"
Pau Seh-hoa pandang sekelilingnya, mendadak sikapnya berubah, suaranya bukan
saja dingin kaku, katanya ketus: "Lalu bagaimana dengan saudaraku Siang Cin?"
Tan Sin menjengek: "Aku justeru ingin tanya padamu tentang dia."
Sekilas melengak, mendadak Pau Seh-hoa terbahak2. "Slut", dia membuang ingus,
lalu miringkan kepala dan berkata sambil menuding Tan Sin: "Ya, ya, aku tahu
kawan, dengan bekal kemampuan kalian yang tak becus ini. terbukti dengan korban
yang gelimpangan itu sekarang berbalik kau tanya pada tuan besarmu malah
Hahaha, hohoho Siang-lote O, Siang-lote, memang hebat kau, kau benar2 hebat . . . .
"
Dikala gema tawanya masih mendengung, tiba2 dari sebelah sana menggeledek
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
26
suara hardikan, seorang laki2 baju hijau dengan jambangnya yang kasar mengayun
golok besar menubruk tiba, goloknya membacok ke muka Pau Seh-hoa.
"Hait, kurang-ajar! Tidak pakai aturan . . . . " demikian seru Pau Seh-hoa, tapi tanpa
bergeming sedikitpun, malah kepalapun tidak tampak bergerak, entah bagaimana,
tahu2 kedua tangannya bergerak, "pletak", "klontang", golok besar si penyerang
tahu2 terbang ke angkasa, sementara laki2 penyerang itu terlempar ke belakang
jatuh terduduk dengan kaki tangan mencak2.
Tangan Pau Seh-hoa tampak bergerak membalik dua keping kayunya entah sejak
kapan tahu2 sudah berada di tangan dan kini sedang dilempar naik turun buat
mainan, sambil geleng2 kepala kembali ia mengoceh dengan nada nyentrik:
"Keparat yang tidak tahu adat, hari ini sekedar kuhajar kau supaya selanjutnya tahu
sopan santun . .."
Mulutnya mengoceh, sikapnyapun tak acuh, malah kelihatan pongah, tapi dengan
jelas dilihat Pau Seh hoa betapa hebat perubahan air muka Tan Sin, mukanya
sedingin es dan membesi hijau, anak buah Siang-gi-pang di sekelilingpun serentak
memegang gagang senjata, panah terpasang di busur siap menanti aba2 untuk
menyerang, suasana cukup tegang.
Cui-tongcu yang berjenggot kambing itu batuk2, katanya dengan suara ketus:
"Saudara ini kiranya seorang kosen, siapa benar dan siapa salah kenyataan yang
akan membuktikan, sekarang saudara boleh sebutkan namamu dulu."
Mata sipit Pau Seh hoa terbelalak, lidahnya terjulur menjilat bibir dari kiri ke ujung
kanan, suaranya kini berganti dingin dan kasar. "Hm. Siang gi-pang terhitung
perkumpulan kentut apa? Pau-loya sudah cukup bersikap ramah, tapi kalian justeru
mau main kayu? Main serang secara serampangan, memangnya Pau-loya ini anak
kura2? Dengarkan dengan baik, "dua keping kayu- Pau Seh-hoa ialah orang yang
berdiri di depan kalian ini."
Manusia punya nama, pohon ada bayangan, peribahasa ini memang tepat. Seketika
berdetak jantung Cui tongcu demi mendengar orang memperkenalkan diri, sekilas ia
tertegun. Pau Seh-hoa tidak hiraukan sikap orang, mulutnya ber kecek2 lalu berkata
dengan mimik tertawa tidak tertawa: "Bagaimana? Tan- toapangcu agaknya masih
penasaran?"
Sam-bak sin-su Tan Sin belum pikun, sudah tentu dia tahu macam apa tokoh "dua
keping kayu" dari Hou keh-san ini, beberapa tahun yang lalu dengan dua keping
kayunya itu Pau Seh hoa pernah menyapu habis kaum berandal Toa-lo-cian, hongpian
dan "Sam-wi tui dari Sam jay seng yang berkuasa di Kwan tang. Memangnya
siapa yang berani mengusik Hou eng (elang harimau) yang menunggui Ui-ji-eng,
semacam rumput sakti yang dapat memunahkan ratusan macam racun di Hian-busan?
Tapi seorang diri dengan senjata dua keping kayunya Pau-siansing ini telah
sikat elang2 ganas itu, puluhan elang telah dibinasakan, dengan senang Pau Sehhoa
memboyong Ui ji-eng turun gunung dengan kemenangan gemilang. Kejadian
baru tahun yang lalu pentolan It tia liong, Liu-to Ce Seng sek mengajak Pau Seh hoa
duel sampai mati. dalam tujuh belas jurus orang she Pau ini telah mengetuk remuk
batok kepala lawannya. Nama Ce Seng sek cukup disegani di utara sungai besar,
anak kecil yang menangispun seketika berhenti ketakutan bila mendengar namanya.
Begitulah, Tan Sin tampak guram, katanya sambil menahan marah: "O, kiranya kau
Pau . . . .. Pau-tayhiap dari Hou-keh-san."
Pau Seh-boa tertawa lebar, katanya: "Ah, jangan begitu sungkan, memangnya
macam apa tokoh Tayhiap itu? Merampas yang kaya membantu si miskin,
mendukung si lemah menumpas yang jahat, dia harus punya wibawa dan gagah
perkasa, nama kebesarannya mampu menggoyahkan gunung, darahnya yang panas
dapat meluluhkan musuh, berjiwa baja bernyali besi, orang seperti Siang loteku itu
baru boleh disebut Tayhiap. Kalau aku orang she Pau ini, aku ini cuma gelandangan
kaum Kangouw saja."
Mengawasi puing2 di depan sana, Tan Sin bertanya dengan suara rendah: "Ada
hubungan apa antara tuan dengan orang she Siang itu?"
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
27
Pau Seh-hoa unjuk gigi prongosnya yang kuning, katanya: "Sahabat sehidup
semati."
Bergetar badan Tan Sin, teriaknya: "Jadi tuan mau memikul perbuatan busuknya?"
Berkedip mata sipit Pau Seh-hoa seperti orang mabuk, jengeknya: "Andai kata
Siang-gi-pang kalian bermusuhan dengan Siang-lote, boleh kau membuat
perhitungan dengan aku orang she Pau."
Pelan2 Tan Sin menyurut selangkah, tampak perubahan pada air mukanya, diam2 ia
menimang kekuatan sendiri serta mempertimbangkan kira2 sampai di mana
kemampuan musuh, bila kekuatan dan kemampuan ini saling bentrok betapa pula
akibatnya.
Secara iseng Pau Seh hoa memainkan keping kayunya secara akrobatik, kepingan
kayunya itu menari naik turun ber-putar2 secara menakjubkan, hidungnya yang
besar ikut ber-gerak2 seperti mengejek menambah kocak permainannya.
Keadaan menjadi beku, pihak Siang gi pang banyak orang dan kekuatanpun besar,
tapi mereka juga mengerti, musuh yang mereka hadapi adalah seekor ular sakti
berbisa, ular berbisa yang pandai tertawa.
Lekas Cui tongcu beranjak maju ke samping Tan Sin, lalu ber-bisik2 di telinganya,
jelas kelihatan rona muka Tan Sin berubah berulang kali dan tampak semakin jelek,
tapi sedapat mungkin dia menahan gejolak marahnya. Pelan2 akhirnya Tan Sin
melangkah keluar hutan dengan muka bersungut, lima-enam langkah kemudian
tiba2 dia berpaling, katanya: "Saudara Pau!"
"Hm, ada apa, aku sudab pasang kuping?"
Tan Sin menarik napas, katanya: "Kejadian hari ini pasti akan selalu kami ingat dan
akan membuat perhitungan kelak."
Pau Seh- hoa cekikikan, suaranya tak kalah dingin: "Sudah tentu, ingin dilupakan
juga tidak bisa, ya toh?"
Tanpa bersuara lagi Tan Sin mengulap tangan, cepat sekali dia undurkan diri
membawa seluruh anak buahnya, Gui Ih jalan paling belakang, sebelum keluar hutan
dia berpaling sambil mendelik ke arah Pau Seh-hoa.
Mulut Pau Seh hoa ber kecek2. "Pletak" dia adu kedua keping kayunya seraya
mengejek dengan suara melengking: "Awas batok kepalamu, bantal."
Gusar tapi tak tahu apa maksud ucapan orang, Gui Ih hanya mendelik murka. Hal ini
malah mendatangkan gelak tawa Pau Seh-hoa, serunya: "Memangnya bantal salah?
Eh, menyulam!"
Dengan tatapan kebencian, lekas Gui Ih melangkah pergi. Hutan kembali menjadi
sunyi mencekam dan seram. Sang surya tetap memancarkan cahayanya, suhu
panasnya semakin mengeringkan noktah2 darah yang berceceran, bau anyirnya
darah lekas sekali terembus angin lalu, Mayat2 yang bergelimpangan itu ada yang
mendelik, ada yang membentang mulut, satu dan lain berbeda tapi sama
mengerikan, memang beginilah kehidupan insan persilatan yang berkecimpung di
Kangouw, tak kenal persaudaraan, tak kenal sesama manusia, sekali bermusuhan,
mati adalah akhir dari persengketaan itu.
Mata Pau Seh hoa yang sipit itu menampilkan rasa hambar yang sukar diraba, dia
mendongak seperti melihat cuaca, lalu pelan2 duduk tersimpuh di tanah, akhirnya ia
menengadah ke arah pohon beringin di depan sana, di mana Siang Cin sembunyi
dibalik dedaunan yang rimbun. Katanya: "Dengarkan Siang-tayhiap, sang naga di
angkasa, lekaslah kau turun saja, memangnya enak berayun di atas dahan pohon
yang bergontai?"
Siang Cin yang sembunyi dibalik dedaunan tertawa, akhirnya dia menyingkap daun
serta melongok keluar, katanya: "Lo Pau, amat kebetulan kedatanganmu, tepat pula
waktunya kehadiranmu."
Hidung Pau Seh- hoa yang besar mengendus2, katanya: "Kau terluka?"
Siang Cin tertawa, katanya: "Tidak terlalu parah, malah Kun-cici dan seorang kawan
yang terluka cukup parah."
Cepat berdiri dan langsung Pau Seh-hoa melejit ke atas pohon, dahan pohon
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
28
berkeresek sekian lama, akhirnya dia gendong An Lip melompat turun. Dengan
penuh perhatian dan hati2 sekali Siang Cin juga bawa Kun Sim-ti melayang turun,
sementara Pau Seh hoa sudah keluarkan obat serta membalut luka2 An Lip, katanya
dengan suara lirih: "Kondisi kepala besar ini cukup baik, mujur nasibnya. kalau badik
itu sedikit menceng ke bawah, terpaksa dia harus menitis kembali pada kelahiran
yang akan datang."
Dengan menggigit bibir Siang Cin menatap wajah Kun Sim-ti yang terbakar hangus
itu, sungguh pedih hatinya, sementara Pau Seh hoa tengah membersihkan noda
darah di pundak An Lip, tanpa berpaling dia berkata: "lote di pinggangku tergantung
sebuah kotak rotan, di dalam ada tiga kaleng bubuk, yang warna merah untuk obat
luar, yang warna hijau boleh diminum, sedang sekaleng lagi yang putih boleh kau
gunakan sendiri untuk membubuhi luka2mu."
Tanpa bicara Siang Cin menghampiri mengambil kotak yang disebut, Kun Sim ti
dibopongnya ke bawah pohon yang lebih terlindung, dengan hati2 dia baringkan Kun
Sim ti, dengan seksama dia mencuci bersih luka2 serta membubuhi obat, gerak
geriknya ringan dan lembut.
Hening sesaat lamanya, akhirnya Siang Cin membuka pertanyaan: "Lo Pau, obatmu
ini diracik dari bahan apa?"
Pau Seh-hoa tertawa, cemoohnya: "Kenapa? Memangnya tidak manjur?"
Kumandang tawa Siang Cin, katanya: "Bukan, malah manjur sekali, rasanya dingin
nyaman meresap kulit daging."
Pau Seh-hoa tengah mencekok sebotol obat cairan ke mulut An Lip, katanya tawar:
"Ui ji-eng, rumput sakti dari Hiun-bu-san, binatang buas elang harimau saja
menjaganya, merekapun tahu kasiat rumput ini, apalagi manusia?"
Dengan langkah enteng Siang Cin muncul dari balik pohon, raut mukanya yang
tampan memancarkan cahaya terang, lukanya ternyata juga telah terbalut cukup rapi.
"Lo Pau, sebelum kau sempat mengerjakan dua keping kayumu aku bisa memberi
persen dua kali tamparan ke mulutmu sebagai hukuman bagi mulutmu yang ngoceh
tak keruan tadi, kau percaya?"
Lekas Pau Seh-hoa goyang kedua tangannya, serunya : "Percaya, percaya, seribu
kali percaya.
Orang she Pau tak pernah jeri menghadapi siapapun juga, tapi terhadap
tamparanmu itu aku paling takut. Wah, tak pernah kulupakan demontrasi yang
pernah kau pamerkan di sarangku di tengah sungai Hwi-yang-kang dulu, sebelum
batu seberat lima puluh kati yang kau lempar ke udara itu jatuh ke bawah, dengan
kedua tanganmu sekaligus kau dapat menyampuk jatuh seratus tiga puluh tujuh ekor
burung gereja . . . . . . . "
Tertawa lebar Siang Cin, ia berkata: "Soalnya di Hou-keh san tempat kediamanmu
Itu tiada burung gereja lebih banyak lagi, kalau tidak, dalam waktu sesingkat itu bisa
lebih banyak lagi burung gereja yang dapat kupukul jatuh."
"Crot", Pau Seh-hoa berludah, matanya melotot, serunya: "Ha, baru dipuji sudah
lantas mau makan hati? kau memang takabur."
"Lo Pau," ucap Siang Cin sambil menggosok hidungnya, "omong2, sejak kini Sianggi
pang mungkin tidak akan berpeluk tangan lagi terhadap dirimu."
Pau She-hoa menggeliat, katanya: "Ya, Kongcu, semua itu kan hadiahmu padaku?"
Terpancar sinar dingin pada sorot mata Siang Cin, katanya tenang: "Kuharap jangan
karena persoalan ini Siang-gi pang sampai mengalami keruntuhan."
"Karena soal apa?" tanya Pau Seh- hoa.
Secara ringkas Siang Cin ceritakan pengalaman An Lip.
Pau Seh-hoa berdiam sebentar, katanya kemudian: "Lote, kau ini memang
keterlaluan, bukan saudaramu ini suka cerewet, kau memang suka bunga, mega,
rumput, sanjak, lukisan dan segala keindahan, tapi semua ini serba menyebalkan
bagiku. Kau mem-buang2 tenaga hanya demi persoalan sepele ini, kukira tidak
setimpal, perempuan bukan melulu . . . . "
Tajam tatapan Siang Cin, bola matanya yang bening memancarkan cahaya yang
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
29
lembut dan tulus, tapi Pao Seh hoa yang ditatapnya menjadi kikuk sendiri, serunya:
"He, kenapa kau pandang aku begitu rupa?"
Siang Cin tersenyum, katanya dengan suara rendah: "Jangan terlalu nyentrik Lo Pau,
perempuan yang pernah kau cintai dua belas tahun yang lalu memang tidak bersalah,
kau sendiri yang salah. Tidak pantas lantaran dia meninggalkan kau lantas kau
lampiaskan rasa sirikmu kepada perempuan yang lain, kalau dunia ini tanpa
perempuan, hidup ini akan terasa tawar dan tiada artinya."
"Sudahlah Lote, jangan bicara soal itu lagi," ujar Pau Seh-hoa, "perempuan itu, hm,
memang tidak punya liangsim, kalau dia punya perasaan tidak seharusnya dia merat,
bila suatu ketika dia kutemukan, kalau tidak kubeset kulitnya hidup2 jangan panggil
aku orang she Pau."
Siang Cin tertawa, katanya: "Siapa suruh kau bermain patgulipat dengan perempuan
lain di luar tahunya? Ini namanya kau tidak setia terhadap kekasihmu."
"Tidak setia?" Pau Seh-hoa berteriak. "Busyet, itu kan cuma iseng saja. Memangnya
laki2 mana yang tak pernah berbuat iseng di luaran? Memang nya soal beginian juga
harus dibuat perkara, malah main minggat segala? Kalau tidak bicara soal ini aku sih
tidak marah, sekali menyinggung soal perempuan itu, ingin rasanya aku
mencacahnya serta membakarnya menjadi abu .... "
Siang Cin geleng2 kepala dan tak bicara lagi, dia menghampiri Kun Sim-ti, Pau Sehhoa
mengawasi dengan melenggong, perasaannya hampa seperti kehilangan apa2.
Mendadak dia memanggil Siang Cin ingin bicara, tapi ragu2, akhirnya dia ganti
haluan: "Lote, mayat bergelimpangan, kau belum lagi menjelaskan apa yang telah
terjadi?"
Siang Cin bersenyum, katanya: "Karena persoalan di Siau-mo-nia dulu itu, Sin-suya
meluruk kemari. Kau masih ingat kejadian dulu itu?"
"Mereka meluruk kemari," Pau Seh-hoa bergumam sambil celingukan, "tapi
meninggalkan sekian banyak mayat . . . . "
Di balik pohon sana pelan2 Siang Cin beg jongkok menatap muka Kun Sim-ti yang
dibalutnya hingga cuma sepasang matanya saja yang masih kelihatan, kedua
matanya terpejam, namun bulu matanya yang panjang melengkung kelihatan elok
dan indah.
Tiba2 badan Kun Sim-ti sedikit bergeming, lekas Siang Cin, memanggil dengan
suara halus "Cici. . ."
Pelan2 kelopak mata itu bergerak, sorot matanya yang sayu masih membayangkan
adegan seram menakutkan semalam, ia pandang Siang Cin, lama dia menatap
tanpa berkedip, akhirnya ujung matanya mulai basah:
Sekuatnya Siang Cin mengunjuk senyum, katanya lembut "Ci, kau sudah baik?
Segalanya sudah lalu ...."
Mata Kun Sim-ti terpejam sebentar lalu terpentang pula, sorot matanya mengandung
rasa kuatir dan prihatin, Siang Cin mengerti, lekas dia berbisik: "Aku tidak apa2,
hanya sedikit terluka bakar."
Rasa lega dan terhibur jelas kelihatan dari sorot matanya, hal ini dapat di resapi oleh
Siang Cin, setelah menelan liur dia berkata: "Kau lapar tidak?
Biar kusuruh bibi Ciu . . .. suruh bibi Ciu membuat sarapan untukmu . . . . "
Pelahan Kun Sim-ti menggeleng, butiran air matanya akhirnya menetes di atas kain
perban, lekas Siang Cin bantu menyekanya dan katanya: "Kau amat letih, tidurlah
lagi, aku selalu menunggu di sisimu. Oh, ya, Pau-toako juga datang, bentuknya
masih seperti dulu, tetap berkepala pengemis."
Tersenyum rawan pada wajah yang sayu, Kun Sim-ti pejamkan matanya, bukan
lantaran dia ingin mengejar impian, tapi dia ingin menyimpan persaan hangat dalam
hatinya yang hampa.
Musim semi hampir berlalu, sinar surya mulai terasa panas menyengat kulit dengan
belaian lembut Siang Cin bikin Kun Sim-ti kelelap dalam tidurnya, lalu ia keluar
sambil membopongnya, di luar An Lip sudah siuman, dia tengah berbincang dengan
Pau Seh hoa.
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
30
Melihat Siang Cin, bergegas An Lip hendak berbangkit, tapi Pau Seh-hoa lekas
mencegah, katanya: "Eh, kau si berewok ini kenapa begini bandel? Sekujur badan
terluka masih banyak tingkah? Kongcuya datang, sikapmu yang hormat sudah cukup
diresapi olehnya."
Siang Cin pandang wajah si berewok yang pucat dan lemah itu, katanya: "Kalian
sudah berkenalan?"
An Lip mengangguk, sahutnya; "Berkat kerendahan hati Pau-cianpwe, beliau sudi
memperkenalkan nama besarnya ......."
"Persetan!" omel seru Pau Seh-hoa "kalian sama sebangsa kutu buku yang suka
main kalimat. . . . . . "
Siang Cin anggap tidak dengar ocehan orang, katanya: "Lo Pau, mari kita cari
tempat lain untulk istirahat, nanti malam aku masih ada urusan."
Pau Seh-hoa baru saja berdiri, katanya keheranan: "Ada urusan, memangnya
badanmu ini berotot kawat dan bertulang besi? Lukamu separah itu, kau masih mau
urus apa lagi?"
Siang Cin tertawa, katanya: "Malam nanti aku akan menolong kekasih An Lip itu."
Bersinar mata An Lip,.tapi ia menjadi kuatir, katanya: "Jangan . . . . . tak perlu tergesa2,
luka Inkong (tuan penolong) sendiri tidak ringan ...."
Berkedip mata Siang Cin, katanya: "Memang, kalau bisa aku memang tidak perlu terburu2,
cuma kulihat Tan Sin teramat penasaran, saking dongkol dan masgulnya
mungkin dia akan melampiaskannya kepada calon isterimu itu . . . . "
Bergidik An Lip, mulutnya melongo dan tak mampu berbicara, ia tahu ini bisa saja
terjadi, dia cukup tahu betapa watak Tan Sin, bila kekuatiran itu betul2 terjadi, maka
imbalan yang telah dia pertaruhkan menjadi sia2 belaka.
Pau Seh-hoa menjilat bibirnya, katanya: "Sekarang sudah lewat lohor, kita memang
harus cari tempat untuk berteduh dan cari makanan untuk isi perut, kalau tetap
tinggal di sini, salah2 bisa celaka."
Siang Cin manggut2, katanya sambil menerawang sekelilingnya, lalu mendahului
beranjak ke luar hutan, Pau Seh-hoa lantas berjongkok, jangan kira badannya kurus
kering, tubuh An Lip segede itu, segera digendongnya, keruan An Lip merah jengah,
serunya gugup: "Jangan, tidak usah Cianpwe, biar aku jalan sendiri."
Tanpa hiraukan seruan orang segera Pau Seh-hoa beranjak mengikuti langkah
Siang Cin, sekeluar dari hutan, seperti lomba lari saja dia berpacu sekencang angin
dengan Siang Cin, meski sama menggendong orang, tapi gerak langkah mereka
ternyata tak kalah kencang daripada lari kuda.
Siang Cin memilih jalan yang ber-liku2 yang menembus ke puncak gunung, arahnya
ke timur, kabut tebal beterbangan di lereng gunung, keadaan menjadi remang2 dan
sukar menentukan arah.
Mereka berlari berjajar, Pau Seh-hoa berteriak: "Anak muda, memangnya mau ke
mana kau? Apakah kau kuat menahan luka2mu?"
Tanpa mengendorkan larinya Siang Cin menjawab dengan suara keras pula: "Dua
puluhan li dari sini ada sebuah tempat yang indah, kita sementara menetap di sana
saja untuk beberapa hari. Lukaku memang tidak ringan, tapi setelah dibubuhi obat
mujarab milikmu, kini sudah jauh lebih baik ......."
Pau Seh hoa ter-gelak2 bangga, dia kayuh langkahnya lebih kencang, serunya: "Dua
puluhan li kemudian, tempat apakah itu?"
Siang Cin menyeka keringat di mukanya, katanya dengan tertawa: "Tempat nan
indah permai, kau pasti kerasan dan berat meninggalkan tempat itu.
Kedua orang harus memanjat lereng gunung yang cukup tinggi pula, kini mereka
mulai menyusuri jalan pegunungan yang naik turun dan berbatu terus menerobos ke
dalam hutan lebat. Pau Seh hoa berludah kental sambil menggerutu: "Dirodok,
setengah tahun tak melihatmu, sekali bertemu kau ajak lomba lari dan main teka teki
lagi, pegunungan belukar seperti ini mana ada tempat indah segala . . .. ..."
Siang Cin tersenyum, mereka langsung menuju ke hutan, keadaan di sini remang2,
lebatnya daun hampir seluruhnya menutupi cahaya sinar matahari sehingga keadaan
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
31
di sini menjadi lebih gelap, suasana hening pula, yang terdengar hanya kresekan
dedaunan yang diembus angin.
Langkah Siang Cin mulai diperlambat di antara tumpukan reruntukan daun kering
sehingga mengeluarkan suara gemerisik, dengan penuh perhatian Pau Seh-hoa
mengawasinya, tanyanya: "Apakah kau tak merasa letih."
Siang Cin menyeka keringat, setelah menghambur napas dia berkata: "Rasa sakit
dilukaku seperti membetot syarafku. . . . . . ."
"Istirahat saja sebentar?" kata Pau Seh hoa.
Siang Cin menggeleng dan menjawab dengan tertawa: "Tidak, istirahat setiba di
tempat tujuan saja, sudah tidak jauh lagi."
Tahu akan watak Siang Cin yang keras dan tekadnya yang besar, maka Pau Sehhoa
tidak banyak kata lagi, tanpa bersuara mereka terus berlari dalam hutan. Tak
lama kemudian, di kejauhan sana tampak pemandangan yang jauh berbeda dengan
keadaan di luar hutan sana.
Sebuah gunung dengan angker laksana sengaja diadangkan di situ, begitu angker
dan kelihatan perkasa sekali, puncaknya nan tinggi mencakar langit ditelan mega,
dari pinggang gunung, ada dua belas jalur air terjun yang mencurahkan airnya
laksana rangkaian rantai perak. Di atas pinggang gunung, pemandangan sekeliling
diliputi kabut tebal, kebetulan angin mengembus buyar kabut tebal hingga kelihatan
sebuah tebing yang menonjol keluar di atas pinggang gunung, letaknya kebetulan
berada di atas jalur2 air terjun, warnanya serba menghijau. Dapatlah dibayangkan
betapa bahagia dan menyenangkan bila menetap di atas sana, pagi hari
menyaksikan matahari terbit di ufuk timur, bila magrib melihai sang surya terbenam
di balik pegunungan yang berhawa sejuk seperti ini, memangnya siapa yang tidak
kerasan tinggal di sini.
Pau Seh-hoa ber-kecek2 kagum, serunya memuji: "Kongcu, tempat ini memang luar
biasa, indah permai, sungguh aku tak habis mengerti cara bagaimana kau bisa
menemukan tempat ini."
Menengadah memandang ke atas, sikap Siang Cin tampak lega, katanya dengan
tenang: "Serba puitis bukan suasana di sini."
Pau Seh hoa ter-kekeh2, katanya: "Memang senang hidup di tempat ini, cuma terlalu
sepi . . . . "
Tanpa bicara lagi Siang Cin mulai memanjat ke atas, langkahnya tetap secepat
terbang, Pau Seh-hoa tetap mengintil tak ketinggalan, teriaknya: "Naik dari mana,
Lote?"
Siang Cin berpaling sambil memberi tanda gerakan tangan, dia membelok masuk ke
sebuah lekukan seperti selokan gunung, dalam selokan yang menjurus semakin
tinggi itu kiranya ada sebuab jalan kecil beralas batu putih, orang mengira ini buatan
manusia yang benar memang ciptaan alam, begitu aneh jalan berliku ini melingkar
naik makin tinggi ke atas, tak ubahnya seekor ular raksasa yang melingkari gunung.
Berjalan di alas batu yang tidak rata ini ternyata sedikitpun tidak makan tenaga,
maka Pau Seh-hoa berteriak heran: "Kongcu, apakah kau yang suruh sang malaikat
membuat jalan pegunungan ini?"
Siang Cin mengendurkan langkahnya serta mengencangkan ikat pinggang, katanya:
"Bukan begitu, tapi sang malaikat yang tahu kalau aku akan menetap di atas sini,
maka pada ribuan tahun yang lalu ketika menciptakan alam permai ini sekalian
membuat jalan pegunungan ini."
Pau Seh-hoa ter-gelak2 geli, sambil menikmati pemandangan di kedua sisi jalan,
batu berserakan, dahan kering sama bergantungan, tampak pula bekas lumut
mengering tanda derasnya air yang mengalir di sini, di waktu hujan jalan gunung ini
memang merupakan selokan kecil yang mengalirkan air ke bawah gunung.
Setelah berputar sekian lamanya mengitari lamping gunung, akhirnya mereka
menjurus ke jalan lurus menembus ke lembah pegunungan, Siang Cin memilih jalan
ke arah kanan, di mana ada sederetan pohon Siong yang berjajar menjulang tinggi
ke angkasa, di sini Sang Cin menghentikan langkah, katanya sambil menoleh:
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
32
"Lembah kecil tadi kunamakan lak-kui-kok (lembah kenangan), bagaimana
pendapatmu tentang nama ini?"
"Lembah Kenangan Apa maksudmu?" tanya Pau Seh-hoa.
"Hidup di sini kan tidak perlu pikirkan urusan tetek-bengek lagi. Tapi manusia kan
harus hidup bermasyarakat bukan."
Pau She-hoa manggut2, bersama Siang Cin dia menyusuri deretan pohon terus
membelok ke kiri, pemandangan di sini berubah seratus delapan puluh derajat,
kembang seruni mekar bak permadani membentang luas di embus angin
pegunungan, bau harum semerbak laksana menyambutmu dengan senyum dikulum.
Tiada manusia yang menanam serta merawatnya, tapi bunga serum di sini hidup
subur dan mekar segar.
Di ujung rumpun seruni sebelah sana, terdapat sebuah kolam kecil yang letaknya
membelakangi tebing, sumber air mengalir dari atas tebing, kolam itu ternyata
seluruhnya terbuat dari batu putih, airnya jernih, siapapun pasti ingin minum airnya
yang dingin dan sejuk.
Di samping kolam terdapat dinding yang besar melintang datar, di balik dinding
tembok gunung inilah terdapat sebuah rumah mungil yang dibangun dengan kayu
pohon cemara, pagar kayu mengelilingi rumah, semuanya serba merah gelap. Di
balik tembok panjang di depan pekarangan rumah mungil itulah letak tebing dengan
air terjun tadi. Dari sini terlihat jelas di samping tebing sana tumbuh subur sepucuk
pohon flamboyan dengan bunganya yang lagi mekar, kembangnya yang berwarna
merah kekuningan itu beterbangan ditiup angin gunung.
berdiri di atas tebing dapat memandang puncak2 gunung di kejauhan yang
berbentuk aneka ragam dan aneh2, tangan terjulur dapat menjamah mega yang
mengambang tak berujung pangkal, seperti tinggal di atas langit rasanya, meski
hawa di sini agak dingin, tapi kehidupan di alam permai seperti ini laksana hidup
dewa di kahyangan.
"Aku menetap di sini seorang diri," ucap Siang Cin sambil melepas pandang ke
seluruh pelosok, "maksudku sering kemari, jadi bukan selama itu terus hidup di sini.
Di sini antara langit dan bumi rasanya sambung menyambung, manusiapun hidup
laksana dewata, hidup di sini dapat merenungkan banyak persoalan yang tak
mungkin di selami khalayak ramai di tengah kehidupan kota, betul tidak Lo Pau."
Pau Seh hoa ter-kekeh2, katanya: "Kongcuya, orang she Pau tak semahir kau
menggunakan istilah muluk2. Sekarang yang penting lekas cari makanan untuk
tangsal perut yang sudah keroncongan ini."
An Lip yang digendongnya lantas berkata dengan rikuh: "Pau cianpwe, sekarang
boleh kau turunkan Cayhe."
Pau Seh hoa mengiakan, pelan2 ia turunkan An Lip serta bertanya: "Jalan
pegunungan naik turun, tentu bergoncang keras, luka2mu kambuh tidak?"
"Tidak, tidak," sahut An Lip tertawa sambil menggeleng dengan muka merah. "Sudah
jauh lebih baik ......"
Sekilas Pau Seh-boa meliriknya dengan senyum di kulum, lalu dia berpaling hendak
ajak Siang Cin bicara, tapi melihat keadaan Siang Cin segera dia telan pula kata2
yang sudah hampir terlontar dari mulutnya. Siang Cin tampak termenung, seperti
melamun tapi juga seperti tengah memusatkan perhatian, pandangannya tertuju ke
dalam rumah, sorot matanya tampak ganjil.
Diam2 Pan Seh hoa mendekati serta berbisik: "Kenapa Lote, ada gelagat yang tidak
beres?"
Sorot mata Siang Cin tak beralih, katanya dengan suara tertahan: "Dalam rumah ada
orang."
Pau Seh-hoa terperanjat, tanyanya gugup: "Darimana kau tahu?"
Mundur selangkah Siang Cin berkata: "Lumut di undakan di depan pintu tampak ada
bekas tapak kaki, pegangan pintu menjuntai turun, pagar kayu itupun kelihatan
terbuka dengan paksa."
Pau Seh-hoa mengangguk, katanya dengan suara dingin: "Kalau begitu gusur saja
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
33
keluar dan lemparkan ke bawah tebing."
Sejenak berpikir Siang Cin berkata pula: "Kukira bukan cuma seorang saja."
Dengan tertawa Pau Seh-hoa segera menuju ke muka pintu serta berteriak kedalam:
"Kalau ada orang di dalam rumah, lekaslah menggelinding keluar. Pau loya baru
datang, kebetulan dapat melemaskan tulang dan mengendurkan otot di sini."
Pintu yang terbuat dari kayu pohon siong tetap tertutup rapat, tiada reaksi apa2. Pau
Seh-hoa melangkah maju dan berteriak pula: "Maknya, tidak mau keluar,
memangnya perlu kuseret keluar? Jangan sok jadi kura2 ..... .."
Pelan2 dan hati2 sekali Siang Cin baringkan Kun Sim-ti di atas rumput, tapi dia tetap
mengawasi ke dalam rumah:
Pau Seh-hoa juga mengawasi ke dalam rumah dengan pandangan menyelidik,
sesaat kemudian dia berpaling memberi lirikan kepada Siang Cin, ia menepuk
pinggang sendiri, lalu mulutnya memberi tanda pula.
Sedikit bimbang, akhirnya Siang Cin mengangguk. tangan kanan merogoh saku di
balik jubah kuningnya yang sudah koyak.
Melihat gerakan orang, Pau Seh hoa tertawa lebar, seperti merasa puas segera dia
menghadap ke arah rumah dan ber-kaok2: "Nah ini dia, hai, orang di dalam rumah,
kalau tidak lekas keluar, orang she Pau akan menyeretmu keluar ........"
Pelan2 Part Seh-hoa menaiki undakan batu, sekonyong2 dia menerjang ke arah
daun pintu, tapi sedetik sebelum badannya menjebol daun pintu, pintu yang semula
tertutup rapat itu mendadak terpentang, sebatang cundrik warna kuning kemilau
tahu2 menyamber keluar laksana ular memagut menusuk jidatnya.
Pau Seh-hoa menjerit kaget, cepat ia doyong kebelakang, tapi dikala badannya
mendoyong ke belakang itu, tanpa mendengar adanya kesiur angin, tak terlihat
bayangannya, "Trang", terjadi bentrokan keras memekak telinga, cundrik baja yang
menjulur keluar itu tahu2 tersampuk mental ke samping oleh sesuatu benda yang
menerjang tiba tepat pada waktunya. .
Dalam waktu sesingkat itu pula, tampak Pau Seh-hoa selicin belut sudah menyingkir
jauh, belum sempat dia menarik napas lega, ujung matanya sempat melirik ke arah
Siang Cin, tampak orang tengah memegang sebatang pisau melengkung berkilau
berbentuk seperti arit.
Benda yang menyampuk balik cundrik itu kiranya adalah senjata melengkung tajam
yang dipegang Siang Cin itu, benda itu berbentuk arit kecil yang tidak bergagang,
tipisnya laksana kertas, tajamnya tidak menimbulkan cucuran darah bila tubuh,
terpapas, senjata ini terbuat dari baja murni campur emas, tajam dan lihay sekali,
Siang Cin memiliki dua belas batang senjata rahasia semacam itu, namanya Toa
liong-kak (tanduk naga besar).
Dengan senjata Toa liong-kak ini entah sudah berapa banyak jago kosen persilatan
yang terbunuh oleh Siang Cin, tapi selamanya dia jarang dan tidak suka pamer di
depan umum, karena sekali dia turun tangan dengan senjata ampuh ini membunuh
orang segampang membabat rumput.
Sambil pegang Toa liong kak yang melengkung itu. Siang Cin tenang2 mengawasi
ke rumah, katanya: "Saudara yang ada di dalam, sudah saatnya kau keluar."
Pau Seh-hoa seka keringat dingin. serunya gusar: "Maknya dirodok, kalau tuan
besarmu hari ini tidak mencincang tubuhmu, anggaplah aku dilahirkan kuntilanak."
Cundrik yang mental balik tadi menyentuh pintu sehingga kayunya tergores, pelan2
terdengar suara kresekan di dalam rumah, Siang Cin tetap bersikap tenang dan
prihatin, sebaliknya Pau Seh hoa sudah keluarkan kedua keping kayunya, dengan
memaki gusar ia menerjang ke depan pintu pula.
Bayangan seseorang pelan2 muncul dari dalam rumah dan berdiri di ambang pintu,
itulah seorang laki2 tua berbadan reyot dan berwajah kurus kusut, pakaiannya yang
berwarna kelabu luntur itu sudah bertambal di sana sini, mukanya kuning, rambut
ubanan dengan kerut keriput di kulit mukanya, langkahnya terseret, berdiripun
menggelendot di pinggir pintu.
Pau Seh hoa merandek, dia tatap laki2 tua ini, serunya: "Hai, orang tua, kau tadi
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
34
yang membokong tuan Pau ini dengan senjatamu itu?"
Dengan pandangan sayu si orang tua menatap Pau Seh hoa, sesaat baru dia
bersuara dengan serak: "Aku Kiang Kiau hong karena menghindari kejaran musuh,
secara kebetulan menemukan tempat kalian ini, saking kepayahan tanpa pikir
terpaksa kami pinjam tempat kalian untuk berteduh sementara. Untuk kelancangan
mana harap tuan suka memberi maaf . . . "
Mendengar orang bicara dengan ramah, rasa marah Pau Seh hoa buyar sebagian,
dua kali hidungnya mendengus, katanya: "O, omonganmu memang beralasan, cuma
kelancanganmu tadi memang keterlaluan, untung kau berhadapan dengan orang she
Pau, kalau orang lain, bukankah jiwanya sudah melayang di tanganmu?"
Belum lagi laki2 tua itu menjawab, di belakangnya kembali muncul bayangan
seorang yang ramping, eh, kiranya seorang gadis remaja yang jelita. Wajahnya bulat
kwaci, alisnya melengkung, bola matanya yang jeli diimbangi mulutnya yang kecil
seperti delima merekah itu menambah manis wajahnya. Usianya masih kurang dari
20, berbaju putih dengan gaun panjang yang kelihatan sedikit kotor, tapi justeru
memperlihatkan kesederhanaannya.
Sikapnya tampak kuatir, begitu muncul di belakang si orang tua, dengan suara
tersendat dia berkata: "Cong . . . . Congsu, hal itu tidak bisa salahkan ayahku,
aku . . . . aku, soalnya aku belum sempat melihat jelas . . . . "
Pau Seh hoa melirik dingin ke arah gadis remaja ini, kemudian dia tertawa terkekeh,
ujarnya: "Kiranya tadi perbuatan nona? Serangan telak, tenaga hebat, tak kira nona
memiliki kepandaian dan tenaga selihay itu, .sungguh harus dipuji . . . ."
Wajah si gadis seketika menjadi jengah, ingin bicara tapi ragu dan takut2, dia
menunduk pula sambil memain ujung baju.
Siorang tua menarik napas panjang, katanya: "Terlampau lama kami ayah beranak
menderita lahir batin, bak umpama burung yang takut mendengar suara busur,
karena mengira musuh mengejar tiba, maka puteriku turun tangan tanpa kenal
ampun, tuan ini orang bijak, harap suka maklum dan maaf . . "
Pau Seh-hoa tak enak mengoceh lagi, dia berpaling menatap Siang Cin, dilihatnya
Siang Cin tertawa tawar, maka Pau Seh-hoa membalik ke arah ayah beranak itu,
katanya: "Tempat ini amat tersembunyi, entah bagaimana kalian bisa
menemukannya?"
Gemetar bibir si orang tua, katanya serak; "Karena terdesak dan demi mencari hidup,
hutan belantara dan gunung betapapun tingginya juga harus kami jelajahi, asalkan
dapat menemukan tempat untuk berteduh dan aman, kebetulan kami sampai di sini,
kami tak bermaksud jahat, untuk ini harap tuan2 maklum."
"Saudara sedang sakit?" tanya Pau Seh-hoa.
Guram wajah si orang tua, katanya dengan lemah: "Dulu pernah aku menderita sakit
rematik, beberapa hari ini buron tanpa kenal lelah dan kelaparan lagi, darah
tertumpah tak tertahankan. Ai, sudah tua, tulang2 inipun sudah reyot rasanya." "
Di belakang sana dengan kalem Siang Cin berkata: "Kalau begitu, Lo Pau, biarkan
Lotiang ini tinggal di sini beberapa hari, di belakang masih ada kamar kosong, cuma
kalian harus tinggal di tempat seadanya."
Wajah Pau Seh hoa masih menampilkan rasa ragu, sebentar dia berpikir, lalu
berkata: "Saudara ini, siapa nama besarmu?"
Siorang tua rada melenggong, katanya: "Tadi sudah kusebutkan, aku Kiang Kiau
hong."
Mulut Pau Seh hoa mengulang nama orang, katanya: "Belum pernah kudengar
nama ini, saudara tua, tolong tanya lagi, kau termasuk aliran atau perguruan mana?"
Si orang tua bimbang sejenak, katanya kemudian: "Lohu adalah guru silat dari Siau-
Kong-pa di Lok-te, beberapa murid pernah kuajari kepandaian, tapi tak pernah
berkecimpung di kalangan Kangouw, sudah tentu tuan tidak tahu nama Lohu yang
rendah ini?"
Pau Seh-hoa berdehem dua kali, katanya: "Lalu, siapakah musuh besarmu itu?"
Terunjuk serba susah di wajah Kiang Kiang-hong, bibirnya bergerak tapi tak keluar
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
35
sepatah kata. Pau Seh-hoa tertawa melengking, katanya: "Memangnya musuhmu itu
seekor Naga Kuning?"
Dengan keheranan Kiang Kiau hong menelan ludah katanya tergagap: "Naga Kuning?
Naga Kuning yang mana? Harap saudara suka menjelaskan ...."
Siang Cin melangkah maju beberapa tindak, Toa liong kak telah dia simpan, katanya
sambil menjura pada Kiang Kiau-hong: "Cayhe Siang Cin, silakan Lotiang duduk di
dalam."
Haru dan terima kasih Kiang Kiau-hohg, ia menjura pada Siang Cin, katanya:
"Engkoh muda ini sungguh bajik dan bijaksana, Lohu sungguh merasa lega dan
bersyukur, bila penyakitku tidak kumat lagi, kami akan segera berangkat, se-kali2 tak
berani bikin repot engkoh muda ini . . . . "
"Jangan sungkan," ucap Siang Cin, "kamar di sebelah kanan itu boleh tetap kalian
tempati. bila Lotiang perlu apa2, silakan bilang saja, sama2 orang yang hidup
berkelana, bila menghadapi kesukaran adalah jamak, kalau kita saling bantu."
Beruntun Kiang Kiau-hong menjura dua kali, anak gadisnya lalu membimbingnya
masuk ke kamar. Setelah bayangan mereka lenyap, Pau Seh boa menyeka mulut
serta berkata lirih: "Lote, tidak pantas kau terima mereka begini saja. Menurut
dugaanku, kakek itu rada mencurigakan, jangan2 dia sengaja main tipu .. . . . . . . "
Siang Cin tertawa tawar, katanya : "Kuharap tiada kejadian apa2, kalau tidak,
mereka akan menyesal setelah kasip " - Lalu dia putar balik, dengan hati2 dia
pondong Kun Sim-ti ke dalam rumah, An Lip berjalan mengikutinya.
Itulah ruang tamu yang sederhana dan membawa harum kayu cendana, beberapa
kursi dan bonggol pohon asli yang di ukir sedemikaan rupa sehingga tampak sangat
indah, meja kayu yang ceplok2 kuning di pojok sana terdapat sebuah pedupaan
yang masih mengepulkan asap dupa yang harum.
"Lo Pau " ucap Siang Cin sambil berpaling, "kau dan An Lip sementara istirahat dulu
di sini."
Pau Seh-hoa mengendus2 dengan hidungnya, katanya sambil duduk dengan santai:
"Lekas pergi, aku tahu kamar tamu yang serba antik ini pasti akan menjadi tempak
tinggalku."
Siang Cin tak bicara lagi, dia lantas masuk ke kamar sebelah kiri, kamar ini ternyata
juga sederhana, bau kayu cendana juga merangsang hidung, di dinding bergantung
buah beberapa lukisan, sebuah dipan kayu berkasur dan beralaskan tikar anyaman,
rotan, selimut bantal tersedia lengkap.
Pelahan Siang Cin rebahkan Kun Sim-ti, sekian lama dia menatap wajah orang
tanpa berkedip matanya nan indah itu masih terpejam, tenang tanpa membayangkan
rasa kesakitan.
Setelah termenung sekian saat, akhirnya Siang Cin mengemuli badan Kun Sim-ti.
diam2 dia mengundurkan diri keluar. Pau Seh-hoa duduk di kursi sana, melihat dia
keluar lantas berkaok: "O, tuan besarku, sudah kukatakan perut telah berkeruyukan,
rasanya sungguh tersiksa, kau sebaliknya masih enak2 seperti tak kenal lapar saja,
memangnya kau ingin membikin kita lekas menuju sorga?"
"Sssst", Siang Cin mencegah orang berkaok2 lagi, sekali tarik dia ajak Pau Seh-hoa
keluar, dia melihat cuaca, memandang gumpalan awan di kejauhan sana. katanya
kemudian: "Lo Pau, nanti akan kutraktir kau makan panggang bebek, kau suka
makan yang tua atau yang masih muda?"
"Panggang bebek?" teriak Pau Seh-hoa menelan ludah, tapi lekas dia geleng kepala,
katanya tidak percaya: "Panggang bebek kentut, ditempat seperti ini mana ada
panggang bebek? Jangan kau menggelitik seleraku, kalau ada semangkuk nasi putih
dengan sayur asin saja sudah lebih cukup bagiku sekarang."
Belum lagi dia habis bicara, tiba2 didengarnya suara kebasan angin yang ramai
disertai suara burung belibis dari kejauhan, tampak di udara di kejauhan sana tengah
terbang mendatangi sekelompok belibis liar.
Keruan Pau Seh-hoa melengak, serunya keheranan: "Eh, ternyata ada bebek liar,
untuk apa belibis ini jauh2 terbang ke tempat ini? Wah, sungguh menarik, semuanya
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
36
gemuk2."
Siang Cin membasahi bibirnya, tuturnya: "Kolam kecil di depan itu kunamakan Cengsim
ti (kolam pembersih hati), rasa airnya harum dan agak hangat, di tengah bunga
seruni yang tumbuh secara liar di pinggir kolam terdapat semacam rumput yang
berbatang coklat ke-hitam2an sebesar jari kelingking, buahnya berwarna merah,
kelompok bebek liar itu setiap hari pasti terbang kemari melalap buah2 merah dari
tetumbuhan liar yang aneh itu serta minum air kolam itu, agaknya mereka amat suka
pada ke dua macam makanan dan minuman ini."
Sementara itu sayap gerombolan bebek liar itu telah hampir menutupi angkasa di
atas rumah, tak kurang dari seratusan bebek liar yang sekaligus hinggap di puncak
tebing, kelompok bebek liar itu tak pernah kacau saling berebut makanan gerak
langkah mereka cukup teratur dan rapi, cuma suaranya yang berisik itu memang
agak menusuk pendengaran.
Mulut Pau Seh-boa terpentang lebar, sambil pentang lengan bajunya dia siap
menubruk maju menangkap barang dua tiga ekor, tapi Siang Cin lekas menariknya,
katanya pelahan: "Jangan buru2, biar aku saja yang bekerja." - Lalu dia melangkah
ke tembok batu gunung raksasa itu, tangan terulur ke dalam sebuah lubang, dari situ
dia merogoh keluar beberapa utas benang putih kemilau, entah benang terbuat dari
apa, yang terang benang itu kuat dan bisa mulur, pada setiap ujung benang tergantol
satu biji buah merah, Siang Cin memberi tanda kedipan mata pada Pau Seh-hoa,
sekali sendal, benang lemas ditangannya itu tiba2 menjadi lempeng lurus seperti
kawat baja meluncur ke depan, benang2 itu bergontai pergi datang di tengah
rombongan bebek liar itu, maka lima bebek sekaligus pentang sayap mengejar buah
merah itu hendak mematuknya.
Siang Cin tersenyum, ketika dia tarik balik ke lima jalur benangnya itu lima ekor
bebek itupun ikut hinggap di bawah tembok, sedikitpun tidak menimbulkan suara
berisik.
Lekas Pau Seh-hoa memburu ke sana serta memeriksa, ternyata kelima utas
benang perak itu telah tembus menusuk badan bebek laksana jarum, semua itu
dilakukan tanpa menimbulkan keributan pada rombongan bebek liar itu.
Siang Cin ikut memunguti bebek itu serta menyimpan benang peraknya, katanya
tertawa: "Karena selamanya aku tak pernah menangkap mereka secara kasar atau
membunuhnya secara terang2an, maka mereka percaya bahwa aku bersikap baik
dan bersahabat, setiap hari mereka datang kemari tanpa hiraukan diriku. Dan harus
disesalkan aku justeru menggunakan daging mereka sebagai hidanganku setiap hari,
kalau aku gunakan caramu tadi menangkap dan mengudak mereka, umpama dapat
menangkap beberapa ekor, selanjutnya merekapun takkan berani kemari lagi."
Sambil mengangguk Pau Seh-hoa melelet lidah, katanya: "Sudahlah, tak usah
banyak komentar tuan muda, anggaplah kau yang benar dan pandai, sekarang lekas
kita panggang saja."
Siang Cin tertawa geli melihat kelakuan temannya yang kocak itu. mereka lantas
bawa bebek itu ke dalam rumah, dengan giat Pau Seh hoa bantu Siang Cin
menyalakan api di tungku, memasak air dan mencabuti bulu, tanpa terasa air liurnya
bertetesan.
Sambil menahan sakit An Lip juga maju membantu, cukup lama juga mereka bekerja,
tahu2 bau bebek panggang yang sedap merangsang hidung.
Menghirup napas panjang Pau Seh-hoa bersuara seperti merintih: "O, sedapnya,
sekaligus aku bisa menghabiskan dua ekor . . . . . "
Sambil, membalik sundukan bebek panggang An Lip tertawa, katanya: "Selera Paucianpwe
sungguh besar, kalau Cayhe mungkin setengah ekor saja tidak habis .... . . "
Pau Seh hoa tergelak2, katanya sambil menuding An Lip: "Anak muda, hatimu lagi
melayang jauh ke tempat bekas binimu itu, mana ada selera makan minum segala?
Haha . . . . . . "
Sementara itu Siang Cin sedang membubuhi bumbu pada bebek panggang,
timbrungnya tertawa: "Lo Pau, memangnya mulutmu itu tidak bisa bicara hal2 yang
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
37
baik?"
Pau Seh hoa mulai sibuk menyobek daging bebek panggang yang besar dan dijejal
ke dalam mulut, sambil ber-kecap2 dan mengunyah tak hentinya dia memuji betapa
lezat bebek panggang itu.
Di kala dia melalap bebek panggang itulah, pintu kamar di sebelah kanan terbuka,
anak perempuan jelita tadi tampak keluar dengan malu2, tanpa terasa iapun
mengernyitkan hidung, memandang SiangCin, lalu berpaling ke arah bebek
panggang yang sedang dilalap Pau Seh-hoa, bibirnya bergerak seperti hendak
mengatakan apa2, tapi urung.
Dengan menjilat minyak di bibirnya, Pau Seh-hoa bertanya: "Eh, ada keperluan apa
anak manis?"
Sesaat lamanya anak perempuan itu bimbang, lalu berkata dengan malu2:
"Ayah . . . . ayahku, beliau kurang enak badan, kupikir, kupikir bolehkah kumohon
sedikit kuah panas, supaya sesak napas ayah lekas berkurang."
Siang Cin meraih poci dan diangsurkan, katanya tertawa: "Ambillah, ini air teh yang
baru diseduh."
Dengan malu2 anak perempuan itu menerimanya, sekilas ia mengerling ke arah
Siang Cin, kerlingan yang mengandung makna mendalam, kerlingan yang aneh,
tiada perasaan lembut, tapi lebih cenderung pada perasaan kesal, tak nampak
sikapnya yang lembut dan malu2 tadi. Siang Cin tak pernah lepas perhatiannya atas
gerak- gerik si nona, sekilas dilihatnya orang melenggong, dikala dia menoleh dan
memperhatikan, orang lantas menunduk sambil menyatakan terima kasih terus
mengundurkan diri..
Mendadak Pau Seh hoa panggil anak perempuan itu, tanyanya: "He, anak manis,
siapa namamu?"
Anak perempuan tampak itu melengak, dia menunduk, sahutnya lirih: "Aku Kiang
Ling ...."
Sambil mengunyah daging bebek, Pau She-hoa mengangguk seraya berceloteh:
"Em, bagus, namamu memang enak didengar . . . . "
Suara batuk di kamar sebelah terdengar semakin keras dan men-jadi2, lekas anak
perempuan itu mengundurkan diri setelah mengangguk kepada orang banyak.
Mengawasi punggung orang An Lip berkata lirih: "Anak perempuan ini sungguh
berbakti terhadap ayahnya, lemah lembut lagi . . . . . . "
Pau Seh-hoa menyeringai dan menyambung " . . . . . dan wajahnya ayu, dada
montok dan menggiurkan."
Siang Cin menaruh seekor bebek yang habis dipanggangnya di atas baki, lalu
menyunduk pula dua ekor, dia sibuk sendiri tanpa memberi komentar apa2.
Kembali Pau Seh boa merenggut paha bebek di tangan kanannya, katanya dengan
mulut kecap2: "Kongcuya, kenapa tidak kau utarakan pendapatmu? Kau toh cukup
ahli dalam menilai perempuan."
Siang Cin tertawa tawar, katanya: "Aku sedang me-nimang2, apakah kiranya
penilaianku cukup setimpal atau tidak terhadap manusia atau sesuatu yang ada di
depan mata."
Seperti terketuk hati Pan Seh-hoa oleh kata2 ini, sekilas dia melenggong, akhirnya
dia menunduk tanpa bercuit lagi. Maka keadaan sesaat menjadi sunyi, semua
berdiam diri, hanya suara minyak panggang bebek yang terbakar yang gemericik,
lekas sekali bau sedap bebek panggang yang sudah masak merangsang hidung,
kelima ekor bebek itu sudah selesar dipanggang, warnanya coklat ke-kuning2an dan
berminyak, sungguh menimbulkan selera yang tak terhingga.
An Lip dan Pau Seh-hoa mendapat jatah satu ekor, Siang Cin antarkan seekor ke
kamar sebelah kanan, dengan prihatin dia mengetuk pintu, tak lama kemudian daun
pintu pelan2 terbuka, anak perempuan yang bernama Kiang Ling itu menongol
keluar, sikapnya kelihatan ragu dan takut2 penuh tanda tanya.
Siang Cin tertawa ewa, katanya: "Bebek panggang yang seekor ini kami berikan
kepada nona untuk dimakan bersama ayahmu."
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
38
Kiang Ling melengak, agaknya dia tidak mengira akan pemberian ini, dengan malu2
lekas dia menunduk, katanya: "Ini . .. . mana boleh kami terima? Bikin repot Congsu
saja . . . . "
Siang Cin angsurkan baki ditangannya, tanpa berkedip dia berkata: "Sesama hidup
dirantau harus saling membantu, nona tidak usah sungkan." - Habis berkata dia
putar tubuh menyurut mundur, mendadak Kiang Ling memanggilnya dengan suara
lirih, terpaksa Siang Cin berhenti, tanyanya: "nona masih ada pesan apa?"
"O," sengaja Kiang Ling menarik panjang suaranya, dia unjuk senyum manis,
katanya: "Siang hiapsu . ... "
Siang Cin menggoyang tangan, katanya; "Tidak berani, Cayhe, adalah orang liar,
kaum Kangouw yang hidup bergelandangan." Dia membalik dan kembali ke tempat
duduknya.
Sementara itu Pau Seh-hoa sudah hampir habis sikat seekor bebek. Tanpa terasa
sang surya sudah mulai doyong ke barat, hari sudah dekat maghrib.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - - -- - - - - - --
Siapakah si orang tua Kiang Kiau-hong dan anak perempuannya yang bersembunyi
di tempat Siang Cin ini?
Cara bagaimana Siang Cin akan bantu rebut kembali pacar An Lip?
- Bacalah jilid ke-3 -
Jilid 03
Pelan2 Siang Cin menggeliat melemaskan otot, setelah mengisi sekedar perutnya,
Siang Cin masuk kamar berganti seperangkat pakaian ketat dengan jubah kuning di
bagian luarnya.
An Lip menatapnya, katanya dengan lirih: "Inkong, sekarang juga mau berangkat?"
Siang Cin mengangguk, katanya: Ya, apakah markas pusat Siang-gi-pang berada di
atas Ji-long-san?"
"Betul, Ji long san kelihatan tidak angker, tapi keadaan di sana amat berbahaya,
penjagaan pihak Siang-gi-pang juga sangat ketat, markas pusatnya berada di
sebuah rumah yang digali di dalam sebuah batu gunung raksasa."
Pau Seh-hoa menyemburkan sekerat tulang dari mulutnya, katanya: "Kongcuya,
jangan kau terlampau pongah akan kemampuanmu.. jika kau betul2 ingin menolong
perempuan itu, baiklah, biar aku saja yang mewakili kau."
Sang Cin tersenyum, katanya: "Terima kasih, Kun-cici kutinggalkan disini. mohon
kau suka merawat dan menjaganya baik2, sebelum tengah malam nanti aku pasti
pulang."
An Lip kelihatan bimbang, katanya dengan kikuk dan tidak tenteram: "Inkong,
luka. . . . . lukamu belum lagi sembuh, aku . . . . . aku merasa. . . . . . "
"Tidak jadi soal" ujar Siang Cin sambil mengulap tangan, "luka2 seringan ini masih
kuat kutahan, tolong kau bantu menjaga rumah ini."
"Lote," seru Pau Seh hoa sambil berdiri, "luka2 mu itu tidak boleh dibilang ringan,
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
39
nanti malam kau harus menempuh bahaya, bukan mustahil harus mengadu jiwa pula,
jika terjadi apa2 di luar perhitungan lalu bagaimana? Biar aku ikut bersamamu."
Mengawasi Pau Seh-hoa. Siang Cin berkata kalem: "Lo Pau, sungguh aku sangat
berterima kasih akan kesediaanmu, tapi kita berdua tidak boleh pergi semua
meninggalkan rumah ini, satu di antara kita harus jaga rumah dan melindungi Kuncici.
Kau kenal akan watakku, sesuatu persoalan yang sudah dijanjikan untuk
dibereskan oleh Pendekar Naga Kuning selamanya tidak pernah dijilat kembali, pula
toh aku bukan orang, yang gampang kecundang."
Pau Seh-hoa berkata dengan mendongkol: "Bukan aku ingin menambah beban
padamu, kalau kau dalam keadaan sehat tentu aku tak peduli akan sepak terjangmu,
tapi kondisi badanmu sekarang, betapapun aku tak tega melepasmu pergi begini
saja."
Siang Cin menggeleng, katanya tegas; "Pendek kata, Lo Pau, kau tidak boleh ikut,
Kun-cici memerlukan perlindunganmu "
Sambil membanting kaki Pau Seh hoa berteriak gusar; "Baiklah, aku tidak akan pergi
biar aku menunggu gubuk kura2 ini." - Dengan gregetun dia duduk pula di kursinya.
Pada saat itulah daun pintu kamar sebelah kanan kembali terbuka, Kiang Ling
tampak beranjak keluar membawa baki poci teh, melihat Pau Seh-hoa yang bersungut2,
dilihatnya pula sikap An Lip yang serba susah, sekilas dia tatap dengan
hambar, lalu dia serahkan baki dan poci itu kepada Siang Cin dan berkata: "Terima
kasih, Siang- hiapsu."
Dengan tak acuh Siang Cin terima baki dan poci itu dan ditaruh di atas meja. dia
hanya mengangguk pada Kiang Ling, lalu menjura ke arah Pau Seh hoa, katanya:
"Lo Pau, aku akan berangkat, nanti malam kita berkumpul lagi." -- Lalu dia putar
badan dan keluar.
Tapi baru dia sampai di ambang pintu, tiba2 `Pau Seh-hoa memburu ke depannya,
dengan lekat dia tatap muka orang, sesaat kemudian baru berkata dengan lirih:
"Jangan marah padaku saudaraku."
Siang Cin tertawa lebar, jawabnya: "Sudah tentu."
"Perhatikan akan luka2mu sendiri," pesan Pau Seh hoa pula.
Dengan pandangan tulus Siang Cin balas tatap mata orang. Habis itu mendadak ia
berkelebat keluar.
An Lip melenggong memandang keluar jendela, gumamnya: "Thian selalu melindungimu,
Inkong ....."
Kiang Ling juga tertegun, pandangannya terarah keluar pula, suasana seketika
menjadi hening, sorot matanya se-olah2 ada sesuatu yang tak terkatakan, membawa
perasaan hampa, risau dan masgul.
Pau Seh-hoa menghela napas, dengan tawar dia lirik kearah Kiang Ling lalu berkata
tak acuh: "Penyakit bapakmu sudah baikan tidak? Bocah ayu?"
Merah muka Kian Ling, sahutnya malu2: "Sudah agak mendingan, cuma ayah
memang sukar dilayani."
Pau Seh-hoa berdehem sambil duduk, katanya: "Di daerah Loh, terutama Siau-angpa
tempat tinggalmu itu, ada sebuah jembatan gantung dari rantai, apakah sampai
sekarang masih terpasang membentang di atas sungai Gun-cui-ho?"
Kiang Ling tertegun sebentar, tapi segera dia tertawa, katanya: "Ya, jembatan itu
masih ada, cuma sudah jauh lebih rusak dari dulu, rantainya sudah karatan."
Dinging saja Pau Seh-hoa menatap Kiang Ling, sorot matanya mengandung
perasaan sinis, katanya pula: "Apakah ribuan sirip batu diseberang sungai itu juga
tetap utuh?"
Kiang Ling menjulurkan lidahnya yang kecil membasahi bibir, katanya pelan2: "Ada
apa Congcu, kenapa mendadak engkau menanyakan semua ini?"
Pau Seh-hoa tertawa, sikapnya tampak tenang, katanya kalem: "Bapakmu bilang
kalian datang dari Siau-ang-pa. Em, orang she Pau ini dulu pernah melancong ke
tempat itu, maka sambil lalu kutanya secara iseng, mungkin kau jarang perhatikan
hal itu di Siau-ang-pa?" .
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
40
Berkedip Kiang Ling. kembali dia mengunjuk sikap malu2 seorang gadis remaja,
katanya: "Bukannya tidak memper-hatikan, cuma pertanyaan Congsu terlalu janggal,
aku dibesarkan di Siau-ang-pa, mana mungkin tidak tahu akan hal2 itu?"
Pau Seh-hoa tertawa pula, katanya: "Bocah ayu, pergilah istirahat, kalau perlu apa2
boleh panggil kami saja, tidak usah sungkan."
Sekilas mata Kiang Ling mengerling ke arah poci teh di atas meja sana, tanpa
bersuara pelan2 dia kembali ke kamarnya, tinggal An Lip yang masih duduk melongo
kebingungan, kelihatan curiga tapi tidak mengerti.
Setelah Kiang Ling menutup pintu kamarnya lekas An Lip bersuara: "Pau-cianpwe,
barusan ....."
Lekas Pau Seh-hoa memberi tanda kedipan mata, katanya sambil ter gelak2:
"Barusan sengaja kugoda genduk ayu itu, wajahnya cantik, perawakannya padat
menggiurkan bukan?"
An Lip segera tutup mulut, nalurinya merasakan adanya sesuatu yang tidak beres
dalam tanya jawab tadi, cuma dia tidak berani utarakan, dilihatnya Pau Seh-boa
menuding ke arah pintu kamar kanan dan memberi tanda kedipan mata, maksudnya
supaya dia bantu mengawasi.
Suasana kembali menjadi tenang sunyi, dengan perasaan sedikit tegang, tanpa
berkedip An Lip memperhatikan pintu kamar kanan, sementara Pau Seh-hoa duduk
memejamkan mata, tidur2 ayam, tapi jelas kelihatan bulu matanya masih ber-gerak2.
"Apakah bakal terjadi sesuatu peristiwa besar?
Paling tidak saat ini masih sulit untuk merabanya, tapi suasana yang hening terasa
mencekam.
Pe-lahan2 di dalam rumah mulai guram, haripun sudah petang, maklumlah musim
rontok, malam hari biasa datang lebih cepat, terasa sekali perbedaan ini di atas
gunung yang tinggi ini.
Tanpa bersuara, pintu kamar kanan mulai bergerak, pelan2 kepala Kiang Ling
menongol ke luar pintu, di tangannya tampak memegang baki tempat bebek
panggang tadi, masih ada sisa setengah ekor malah.
Segera An Lip menelan air liur, dengan suara serak dia berkata: "O, nona, ada apa?"
Kiang Ling terjingkat, katanya sambil mendekap dada: "O, kukira Congau berdua
sudah tidur, di luar begini sunyi . . . . apakah aku yang membangunkah kalian . .
An Lip berdiri, katanya: "Tidak apa, serahkan saja baki itu padaku."
Kiang Ling mengerling ke arah Pau Seh-hoa, katanya lirih: "Apakah Congsu itu
sudah pulas?"
Sambil menerima baki An Lip menjawab dengan suara tertahan: "Ya, sehari ini Paucian
pwe bekerja berat, terlalu letih, baru saja tidur . . . . "
Mengawasi kain balutan di badan An Lip, Kiang Ling bertanya: "Congsu sendiri
terluka?"
An Lip menyengir, katanya: "Ah, hanya luka2 ringap saja, tidak apa2"
Bola matanya menjelajah keadaan ruang tamu ini, agaknya Kiang Ling, sengaja
mencari kesempatan untuk berdiam lebih lama di sini, dasar An Lip orangnya lugu,
tidak bicara kalau tidak diajak omong, maka keduanya tetap berdiri diam tanpa
bersuara, suasana menjadi serba kikuk.
Tiba2 Pau Seh-hoa menggeliat, matanyapun terbuka, katanya: "Ada apa bocah
ayu?"
Dengan sikap was2 Kiang Ling bersenyum kearah Pau Seh-hoa: "Tidak apa2, aku
mengembalikan baki."
Baru saja Pau Seh-hoa mau buka suara, mendadak dilihatnya tubuh Kiang Ling
sempoyongan ke depan, lekas Pau Seh-hoa ulur tangan hendak memapahnya, tapi
mendadak dia tarik kembali tangannya, sementara kedua tangan Kiang Ling
terpentang ke depan seperti hendak menangkap sesuatu untuk menahan diri,
syukurlah hanya beberapa langkah dia sudah dapat menguasai diri.
Perasaan curiga Pau Seh -hoa terlebur dalam tawanya yang lebar dengan
mengunjuk giginya yang kuning, katanya: "Kenapa kau bocah, ayu?"
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
41
Tangan Kiang Ling menyeka keringat di jidatnya, sabutnya lemah: "Kepalaku
mendadak pusing . . mungkin beberapa .hari ini terlalu kerja berat, kurang, tidur
lagi . . . . pandanganku terasa berkunang2."
Seperti tertawa tidak tertawa Pau Seh-hoa mencibir, katanya: "Kalau begitu lekaslah
tidur, jangan kian kemari, kalau bapak-anak sama2 ambruk kan berabe."
Seperti memperoleh firasat apa2 dari perkataan Pau Seh-hoa, muka Kiang ling
tampak tegang sebentar lalu mengeridor pula dengan langkah lemas pelan? dia
mengundurkan diri, agaknya badannya memang kurang sehat.
Mendadak Pau Seh-hoa mengendus2 seperti anjing pelacak, keningnya berkerut,
lalu geleng2 kepa)a. pandangannya penuh tanda tanya merijelajah sekelilingnya,
akhirnya mulutpun menggumam: "Memangnya ada apa sih, kelihatannya tidak beres,
hatiku terasa tidak tenteram. . . . . . . "
Ji-long-san, kira2 lima puluhan li jauhnya dari tempat tinggal Siang Cin, luka2 Siang
Cin sudah dibalut rapi dan takkan mengganggu gerak-geriknya yang cekatan bagai
terbang.
Dua gugusan gunung yang berbentuk aneh dengan batu2 runcing berbagai bentuk
tampak di depan mata, di tengah kedua gugus gunung itu membujur satu jalur
gundukan tanah yang tidak begitu tinggi se olah2 sebatang pikulan yang memikul
kedua gugus gunung.
Siang Cin mengatur pernapasan sambil duduk di atas batu, lukanya kembali terasa
sakit, sebetulnya dia tahu dengan kondisinya sekarang, dia perlu istirahat dan tak
boleh menguras tenaga, tapi iapun tahu kalau tidak lekas bertindak mungkin urusan
bisa terlambat, dia sadar membantu orang harus cepat hingga beres.
Markas pusat Siang-gi-pang sudah berada di depan mata, lebih baik kalau tidak
terjadi pertumpahan darah. Berpikir demikian serta merta hidungnya mengendus bau
anyirnya darah, napas serasa sesak dan mual.
Laksana seekor kucing di tempat gelap dia bergerak tanpa mengeluarkan suara.
Sebuah jalan beralas batu hijau ber-liku2 menuju ke atas gunung, kecuali orang tolol,
kerapun akan tahu bahwa jalan beralas batu hijau ini tidak boleh sembarang dilalui.
Tenang2 Siang Cin, periksa keadaan sekitarnya, dengan hati2 dan penuh
perhitungan ia terus menggeremet ke atas gunung, lekas sekali dia sudah selamat
melewati enam pos penjagaan.
Dengan hati2 dia melompati seutas tali benang sutera, pada tali ini terikat beberapa
kelintingan tembaga, ujung tali terikat pada setumpukan batu besar yang akan
menggelundung jatuh dan menindih orang2 yang coba menyelundup ke atas, lebih
hebat lagi di atas terpasang pula karung2 kapur yang akan ditembakkan melalui
pegas batang pohon yang diatur sedemikian rupa. Di sebelah depan yang tinggi,
pagar pasanggerahan yang terbikin dari barisan batang2 pohon telah kelihatan.
Enam belas laki2 kekar berseragam abu2 berjaga di depan pintu gerbang, ada tiang
yang terpasang sebuah panji yang berwarna kelabu tersulam huruf 'GI" yang besar,
panji besar itu ber-kibar2 tertiup angin, di atas pagar sana kelihatan bayangan orang
mondar-mandir, sinar golok kemilau di tengah kegelapan, penjagaan di sini ternyata
sangat keras dan ketat.
Siang Cin terus menggremet maju ke sana, akhirnya tiba di bawah pagar kayu yang
cukup gelap dan tidak tersinari oleh lampu yang terkerek tinggi di payon dengan
mendekam Siang Cin pegang kaki pagar, sedikit kerahkan tenaga pelahan2 pagar
kayu sebesar paha itu yang terikat dengan kawat telah berhasil dibongkarnya, tali
kawat itu dengan mudah dipuntirnya putus pula tanpa mengeluarkan suara, cuma
pagar kayu yang terbongkar dan berlubang itu sedikit miring.
Selicin belut Siang Cin menerobos ke dalam dilihatnya puluhan bangunan rumah
besar kecil, ada yang berloteng tapi semuanya terbangun dari papan kayu pilihan
yang kukuh dengan pondasi batu, di kejauhan sana ada gundukan bukit kecil, di atas
tanah bukit inilah bertengger sebuah bangunan gedung yang mentereng dan angker,
gedung ini berkapur putih bersih.
Siang Cin terus menyelinap ke depan tanpa di ketahui, akhirnya dari depan
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
42
dilihatnya seorang laki2 kekar sedang mendatang dengan langkah gopoh, lekas
Siang Cin sembunyi di tempat gelap, dikala laki2 itu lewat di sampingnya, secepat
kilat dia tutuk Hiat to pinggang orang.
Tanpa mengeluarkan suara, laki2 itu diseret Siang Cin ke pojok tembok, sorot mata
orang kelihatan kaget, ketakutan tercampur heran pula. Pelahan Siang Cin menepuk
punggungnya, lalu berkata dengan suara lirih kereng: "Kalau kau masih ingin hidup,
jangan berteriak, kalau tidak, besok pagi kau tak bisa melihat matahari lagi"
Laki2 itu membuka mulut tapi tiada suara yang keluar, akhirnya dia manggut2.
Siang Cin berkata dingin: "Calon isteri An Lip di mana?"
"Calon isteri... isteri siapa?" tanya laki2 itu dengan bingung.
"An Lip," ulang Siang Cin. "An Lip yang berewok itu."
"O, ya," ajar laki2 itu, "dia . . . . . memberontak . . . . . gendaknya itu kini disekap di
penjara bawah tanah . . . . . letaknya di rumah batu tak jauh di sana itu."
Siang Cin memandang ke tempat yang ditunjuk, memang di sana ada sebuah rumah
batu, kelihatannya seram dan menyendiri di sebuah tanah lapang yang kosong.
Setelah menelan air liur, laki2 itu berkata pula: "Kentongan kedua malam ini, gendak
An Lip itu akan menjalani hukuman, mungkin akan dibakar hidup2."
Dengan heran Siang Cin tatap laki2 ini, dia tidak tanya soal ini, mengapa dia malah
bercerita? Agaknya laki2 itu maklum akan sorot mata Siang Cin yang mengandung
pertanyaan, maka dia menambahkan: "Terus terang Hohan, perkara An Lip telah
menjadi rahasia umum bagi seluruh anggota Sianggi-pang kami, siapa benar siapa
salah, dalam hati masing2 sama tahu, apalagi sejak kecil aku sangat intim dengan
An Lip, aku tahu bahwa Hohan ke mari hendak menolong calon isteri An Lip,
perempuan itu memang bukan orang bejat."
"Kalau demikian, aku tidak akan menyakiti kau," ucap Siang Cin tertawa. "Cuma
untuk sementara biarlah engkau ngendon saja di sini." --- Lalu dia tutuk Hiat-to orang,
tanpa bersuara laki2 itu jatuh pingsan.
Dengan beberapa kali lompatan Siang Cin melayang ke samping kiri rumah batu itu,
karena rumah batu ini dibangun di tengah lapangan, maka tiada tempat untuk
sembunyi, empat laki2 memeluk golok tampak berdiri tegak di depan rumah,
sementara puluhan orang lagi yang juga bersenjata lengkap mondar-mandir di
halaman, maka bukan soal mudah untuk mendekati rumah batu, apalagi lagi
lapangan kosong itu ada puluhan tombak.
Baru saja Siang Cin hendak berdiri, tiba2 kepalanya terasa pusing, pandangan
menjadi gelap, cepat dia geleng2 kepala serta memijat jidat, mengapa dalam
keadaan segenting ini dia pusing kepala? Memangnya terlalu letih dan terlalu banyak
keluar darah karena luka2nya pagi tadi?
Sejenak dia berdiam serta menenangkan perasaan, akhirnya dia melangkah keluar
dari tempat gelap, dengan langkah berlenggang dia menuju ke rumah batu itu, baru
saja beberapa langkah, dua kali suara tepukan tangan sudah berkumandang dari
depan disusul suara orang menghardik: "Siapa?"
Segera Siang Cin balas bertepuk tiga kali seraya, menyahut dengan suara tertahan:
"Aku!"
Agaknya pihak sana melenggong, sementara itu Siang Cin telah berkelebat maju,
katanya: "Kalian tentu lelah, saudara2, segera Pangcu akan tiba."
Bayangan seorang tampak memapak ke arahnya, katanya penuh rasa curiga:
"Saudara dari mana? Kenapa jawaban sandimu tadi tidak cocok?"
Dalam pada itu Siang Cin lantas melangkah maju semakin dekat, dengan tenang dia
menjawab: "Baru saja sandi dirubah, kenapa tidak cocok? Pangcu suruh kutanya
apakah peralatan hukuman sudah disiapkan?"
Masih dalam jarak dua tombak, orang itu masih curiga, katanya: "Berganti sandi?
Kenapa aku tidak diberitahu?"
Siang Cin terkekeh pelahan, tahu2 dia sudah berada di samping orang, tak kelihatan
cara bagaimana dia turun tangan, tahu2 laki2 itu sudah roboh menggeletak, bagai
angin puyuh dia bergerak, dua laki2 yang berada di kanan-kirinyapun sekaligus
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
43
dibikin tak berkutik, hakikatnya mereka tidak melihat jelas siapa pendatang yang
turun tangan ini!
Baru saja keempat laki2 yang jaga di depan rumah merasakan gelagat jelek, belum
sempat mereka bersuara, tahu2 bayangan orang berkelebat, seperti orang mabuk
saja mereka sama jatuh saling tindih. Sekali kelebat Siang Cin menerobos masuk,
dua laki2 yang duduk di belakang sebuah meja serentak menubruk maju sembari
menghardik.
Siang Cin mendengus dan mengisar tangannya terayun serta menebas miring, sekali
putar lagi, seperti orang di luar tadi, kedua orang inipun jatuh mencium lantai tanpa
mengeluarkan suara.
Inilah sebuah ruangan kosong melompong, tanpa pajangan apapun, di kiri-kanan
ada sebuah pintu, pintu terbuat dari batu dan tertutup rapat. Siang Cin langsung
menerjang ke pintu kanan, telapak, tangannya menggempur dengan sekali hantam
"Byar", pintu batu itu dipukulnya hancur, di dalam adalah sebuah lorong gelap, pada
kedua sisi lorong terdapat delapan kamar tahanan, dengan suara tertahan Siang Cin
berteriak: "Siapa calon isteri An Lip? Lekas jawab pertanyaanku."
Beruntun tiga kali dia bersuara, reaksinya malah suara keributan pada kedelapan
kamar tahanan itu, tahu waktu amat mendesak, lekas Siang Cin membalik
menerjang ke pintu sebelah kiri, sekali pukul dia runtuhkau pintu batu pula, belum
lagi taburan debu mereda dia sudah menerjang masuk seraya berteriak pula: "Siapa
calon isteri An Lip? Kudatang menolongmu, lekas jawab pertanyaanku."
Dua kali dia berteriak, pada ujung kamar sana mendadak seorang perempuan
berteriak dengan suara meratap: "Aku . . . . aku inilah. . . . "
Tanpa pikir dan sangsi lagi, Siang Cin langsung menerjang ke sana, belum lagi
kakinya menginjak tanah, tangannya sudah mematahkan jeruji kamar tahanan yang
terbuat dari kayu, keadaan di sini gelap remang2, walau keadaannya compancamping
dan tidak terurus, tapi kelihatan sesosok tubuh yang ramping, bayangan
seorang perempuan tampak bergerak dengan langkah lemah, kiranya kaki
tangannya terborgol rantai.
Siang Cin kerahkan tenaga pada telapak tangap, sekali tabas ia putuskan rantai itu
serta bertanya dengan suara gugup: "Apakah kau tunangan An Lip?"
Perempuan itu manggut2 dengan menahan isak, sabutnya serak,, "Tan . . . . Tan Sin
akan . . . . akan membakarku malam ini . . . . "
"Dia takkan membunuhmu," ucap Siang Cin, sekali raih dia kempit orang, secepat
kilat dia melayang keluar. Tapi baru saja dia keluar dari pintu batu yang digempurnya
hancur itu cahaya obor yang terang benderang tahu2 menyilaukap matanya, di luar
rumah tanpa bersuara sudah dipagari banyak laki2 seragam abu2 yang tak terhitung
jumlahnya, senjata mereka tampak berkilau dibawah sinar obor, wajah mereka rata2
tampak sadis, terasa suasana amat tegang.
Yang berdiri dan menjadi pimpinan pengepungan ini kiranya bukan lain daripada
Sam-bak-siu-su Tan Sin adanya, jago2 kelas tinggi Siang-gi-pang telah dikerahkan.
Codet di tengah alias Tan Sin tampak membara, sorot matanya menatap dingin,
lama dia menatap Siang Cin tanpa bergerak.
Perempuan yang terhimpit di bawah ketiak Siang Cin tampak gemetar ketakutan,
mukanya pucat, kaki-tangannya lunglai, agaknya dia amat ketakutan, semula dia kira
selekasnya akan lolos dari segala siksa derita, tak tahunya elmaut justeru sudah
mengadang didepan mata.
Terangkat alis Tan Sin, dengan ketus ia berkata: "Orang she Siang akhirnya toh kau
terlambat setindak."
Dengan tenang Siang Cin menggelendot di dinding batu, sikapnya yang tenang itu
se-akan2 tidak tahu situasi yang tegang mendebarkan jantung ini. "Terus terang,
kalian yang tidak beruntung, kenapa lebih cepat kalian datang kemari"
Menyeringai Tan Sin dan berkata: "Siang Cin, malam ini kukira kau takkan bisa pergi
seenak perutmu sendiri."
Sang Cin mengejek: "Jangan takabur Tan Sin, kau akan memperoleh ganjaran yang
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
44
setimpal "
Seperti mekar hidung Tan Sin, secapat mungkin dia menekan amarahnya, katanya
penuh kebencian: "Jangan kau hina orang keterlaluan orang she Siang, kau ingin
bertingkah di tempat Siang-gi-pang, hm, kau belum cukup punya kemampuan, orang
lain takut terhadapmu, tapi orang she Tan tidak memandang sebelah mata padamu."
Siang Cin menarik napas, kembali rasa pening merangsang dirinya, dadapun terasa
mual: "Tan Sin," ucapnya kemudian, "perempuan ini milik orang lain, kenapa kau
sengaja bikin mereka tercerai berai? Kalau kau tidak peduli mati hidup perempuan ini,
orang lain kan mengharapkan dapat hidup rukun dan bahagia sampai hari tua ..... ."
"Tutup bacotmu," bentak Tan Sin murka. "An Lip memelet gundikku. dosanya pantas
dihukum pancung, kini kau keparat ini berani hantu dia menculik orangku, kau kira
Siang-gi-pang kami boleh sembarangan dihina."
Siang Cin mendengus, katanya: "Jangan emosi, Tan Sin, demi seorang perempuan,
bila kau terjungkal kan tidak setimpal."
Dibarengi suara gerungan, Gui Ih tampak muncul di samping Tan Sin, dia
mengangguk pada Tan Sin, lalu berputar menghadapi Siang Cin, katanya dengan
gemas: "Siang Cin segera kau sendiri akan maklum siapa yang bakal terjungkal
gara2 seorang perempuan."
Rasa pening yang merangsang kepala Siang Cin bertambah berat, sekerasnya
Siang Cin geleng kepala, suaranya sudah berubah serak: "Tan Sin, sekali lagi
kutegaskan, kau mau memberi jalan tidak?
Tan Sin menyeringai, katanya: "Gampang saja memberi jalan asalkan kau mampu
mencabut nyawa seluruh orang Siang-gi-pang."
Tiba2 Siang Cin tertawa aneh, katanya: "Tan-toapangcu, kau kira Siang Cin tidak
mampu melakukannya?"
Mendengus hina Tan Sin menantang: "Kami sedang menunggu aksimu itu."
Siang Cin memperlihatkan tawanya yang acuh tak acuh, dengan langkah lambat
seperti orang malas dia beranjak ke arah pintu.
Tan Sin meraung seraya mengulap tangan, orang2 Siang gi-pang yang memagari
pintu serentak memecah diri lompat ke samping, di belakang mereka masih ada tiga
puluhan orang berbaju abu2 yang bertiarap, tangan setiap orang sama memegang
bumbung perak sepanjang dua kaki, tampak jelas alat di ujung bumbung bagian
belakang siap ditarik untuk melancarkan serangan, entah bahan peledak atau
senjata rahasia apa.
Terkesiap Siang Cin, tapi dengan tenang ia berkata: "Tan Sin, kau siap bertindak
kasar dan nekat?"
Otot hijau di jidat Tan Sin tampak membesar, suaranya mendesis dari deretan
giginya yang gemeretuk geram: "Turunkan perempuan itu, tutuk pula Hiat-to
pelemasmu sendiri."
Siang Cin tertawa, katanya: "Kau tahu bahwa saat ini tak mungkin kulakukan
Toapangcu."
Dingin sorot rnata Tan Sin, sekilas ujung bibirnya bergetar, maka Siang Cin lantas
tahu apa yang akan dilakukan orang. Selama ber-tahun2 ini Siang Cin sudah biasa
dengan tradisinya sendiri yaitu turun tangan lebih dulu, adalah logis kalau kali ini
iapun tidak mau kalah cepat bertindak daripada lawan2nya yang sudah menguasai
situasi.
Sesosok bayangan kuning laksana anak panah melesat ke pinggir pintu, hampir
pada waktu yang sama di bawah gerungan kasar serta makian kalang kabut
terdengar suara jepretan yang bersahutan ber-gulung2 gumpalan asap yang
membara membawa ekor cahaya panjang memapak luncuran bayangan kuning itu.
Hampir tak terikuti oleh mata telanjang, bayangan kuning itu mendadak jatuh
menelungkup di belakang pintu, tidak jelas cara bagaimana tiba2 dia bisa berdiri pula,
tapi ketika bayangan kuning itu berdiri, dua Thocu Siang-gi-pang meraung keras
dengan badan terlempar tiga tombak jauhnya.
Baru sekarang kobaran api yang menyala itu menerjang masuk ke dalam kamar, di
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
45
tengah suara ledakan dan kobaran api yang menjilat apapun, karena itu seketikapun
terjilat kobaran api, padahal lapisan batu marmar biasanya tidak mempan dijilat api
kini telah berkobar dengan asap tebal warna hijau kebiruan. Maklumlah semburan
bahan peledak yang mengandung minyak dan pospor itu akan menyala dimanapun
bila kena hawa, siapapun bila terciprat meski cuma sedikit saja, kecuali potong
bagian yang keciprat itu, kalau tidak, seluruh badan orang akan terbakar hangus.
Ternyara tiga puluhan laki2 yang menyanding bumbung perak itu cukup tabah dan
yakin akan senjata ganas mereka, melihat semprotan pertama tidak mengenai
sasaran, cepat mereka keluarkan sebutir bahan peledak warna merah sebesar
mangga segera terus dimasukkan ke dalam bumbung . . . . .
Sementara itu Siang Cin telah kerjakan telapak tangannya, tiga puluh satu jurus,
serentak dia gempur mundur lima jago kosen Siang-gi-pang, di mana matanya
melirik, sekilas dia sudah menguasai situasi sekelilingnya., cahaya keemasan yang
benderang melebar dengan deru suaranya yang mirip pekik setan memberondong
ke berbagai penjuru.
Cahaya keemasan itu tampak berputar, kelihatan masih jauh, tapi tahu2 batok
kepala sembilan orang sudah sama putus dan bergelinding ke tanah. Maka
gemerantang pula bumbung perak yang berjatuhan, ditambah jerit kaget dan
ketakutan orang banyak, suasana menjadi kacau.
Sambil mencaci kalang kabut tampak Tan Sin menerjang maju, Kek-cu-kau (gaetan
kalajengking) senjata andalannya segera menyerang dengan kalap.
Dengan cepat Siang Cin berkisar sejauh lima tombak, di kala badannya berputar
laksana angin puyuh itu, puluhan orang berbaju abu2 kembali roboh tak bernyawa
lagi, tiada seorangpun melihat cara bagaimana musuh menamatkan jiwa mereka.
Tiga bayangan orang menubruk tiba bersama dari tiga jurusan, tenaga pukulannya
kuat dan mantap, ketiga orang ini adalah para Tongcu Siang-gi-pang, yakni Bing-gitong
Tongcu It-pi-kan-san (satu tangan menyanggah gunung) Ih Giam, Jing-sim-tong
Tongcu Siu li ciam (jarum dalam baju) Cui Hi dan Ting-long-tong Tongcu Ci Jan (si
janggut ungu) Ban Pek-hou.
Siang Cin segera pasang kuda2, kaki berdiri kukuh tak bergeming, telapak tangan
bergerak melingkar, damparan angin pukulan berpusar yang tidak kelihatan segera
memapak ketiga Tongcu yang menubruk tiba itu.
Suara keras benturan telapak tangan segera memecah kesunyian, tampak ketiga
Tongcu Siang-gi-pang itu sama mengerang kesakitan, ketiganya tergetar mundur
dengan muka pucat dan meringis kesakitan.
Sam-bak-siu-su Tan Sin kembali menerkam laksana serigala kelaparan, mulutpun
ber-kaok2: "Cincang keparat ini, meski harus banjir darah, jangan biarkan dia pergi."
Ujung kaitan kalajengking kembali menyambar, dengan gaya serangan yang aneh ia
menggantol leher Siang Cin, berbareng cambuk kulit ular juga sekaligus melecut ke
kaki dengan suara yang menggeletar.
Siang Cin mengencangkan kempitannya pada perempuan tadi, bersamaan dengan
gerakannya ini. sekaligus dia melejit menyingkir dari rangsakan Tan Sin, berbareng
sikutnya menyodok ke arah Gui lh, si penyerang dengan cambuk itu.
Gui Ih menjerit seraya melompat pergi sejauh mungkin dengan gugup, sungguh tak
terbayang olehnya, entah dengan gerakan apa tahu2 lawan tiba di depannya dan
menyerang dengan sikutnya. Dikala dia melompat menyingkir inilah, Ting-long-tong
Tongcu si jenggot ungu Ban Pek-hau menggerung, dia melejit maju, sepuluh kali
pukulan telapak tangan dan sembilan kali tendangan dilontarkan ke punggung Siang
Cin.
Se-konyong2 badan Siang Cin berguntai ke kiri-kanan, telapak tangannya bergerak
membabat ke leher lawan, jurus babatan telapak tangan ini tampaknya sepele, tapi
serangan ini justeru mengejutkan Ban Pek-hao, cepat dia mengelak ke belakang, tak
urung baju di pundaknya terserempet sobek, sudah tentu tak terpikir oleh si jenggot
ungu Ban Pek-hou bahwa Siang Cin telah batas menyerangnya dengan jurus Kui-sohun
(setan merenggut nyawa), salah satu jurus ilmu pukulan kebanggaannya.
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
46
Ih Giam, si penyanggah gunung, bersenjata Siang-hoan-kim-to (golok emas
bergelang), ia menerjang maju dari samping dengan bacokan golok, sementara
kedua kakinya laksana kitiran berbareng menyapu, pada hal Siang Cin kembali lagi
diserang rasa pusing, pandangannya tiba2 menjadi gelap, untung kupingnya masih
dapat mendengar suara dan membedakan arah, cepat ia berkelit, menyusul jurus
Kui-so hun dia lancarkan pula untuk menggempur mundur Sin li-ciam (jarum dalam
baju) Cui Hi yang merunduk dari sehelah kiri.
Berkeringat codet di jidat Tan Sin, matanya mendelik, bagai harimau kelaparan dia
putar sepasang gaetan dan merangsak dengan membabi buta, sementara empat
Thocu Siang-gi pang yang masib segar kinipun terjun ke arena pertempuran
membantu Tan Sin.
Rasa lelah dan pening Siang Cin terasa semakin berat dan membuat kondisi
badannya semakin payah, Siang Cin tahu gelagat tidak menguntungkan, disadarinya
bahwa dirinya telah terkena racun, tapi sungguh dia tidak habis mengerti, kapan dan
di mana dia terkena racun ini?
Bayangan Siang Cin berlompatan kian kemari menghindari serangan dari berbagai
arah, di tengah gerakan yang sebat itu terasa oleh Siang Cin adanya gangguan yang
menghambat gerak-geriknya, terpaksa dia lontarkan pukulan dahsyat untuk
kemudian melompat ke sana sejauhnya.
Sambil ber-kaok2 Tan Sin mendahului mengudak, makinya: "Naga Kuning, beginikah
sepak terjangmu selama kau tenar di dunia Kangouw?"
Siang Cin tidak tanggapi cemooh orang, dia jawab dengan gerakan tangan, tiga jalur
cahaya keemasan yang melengkung seperti sabit tahu2 meluncur dari tanganya,
Toa-liong-kak tahu2 menyambar, tanpa berpaling juga dia yakin akan senjata
ampuhnya ini, di mana senjata rahasia ini menyambar tiba segera terdengar jeritan
ngeri, sekali lepas jarang Toa-liong-kak tidak minum darah korbannya.
Sekuatnya dia kerahkan sisa hawa murninya, dikala tenaganya rnasih bekerja
dengan normal seringan asap tertiup angin, cepat sekali ia melayang jauh kesana
dan menghilang.
Beruntun beberapa kali naik turun dia berlompatan, akhirnya dia tiba di selat antara
kedua puncak Ji-long-san, tapi keringat sebesar kacang telah membasahi mukanya,
sekuatnya dia menahan napasnya supaya tidak menderu kencang, dia tahu sekali
dia mengembus napas, tenaga yang tersisa akan buyar seketika.
Perempuan yang dikempitnya agaknya jatuh pingsan, lunglai tak bergerak, kaki
tangannya terjulur, rambutnya terurai awut2an, kini bobot badan orang terasa berat
sekali. Tapi Siang Cin bertahan sekuat tenaga sambil mengayun langkahnya berlari
lagi bagai terbang, tenggorokan sudah terasa kering dan getir, rasa panas
merangsang dada pula, sekuatnya dia mengedip mata, karena pandangannya
seakan2 berselaput, sehingga alam sekelilingnya kelihatan remang2.
Jarak lima puluhan li ini, se-akan2 tidak bisa tercapai lagi, begitu lama dan jauh
sekali rasanya, gunung gemunung seperti sambung menyambung tak ter-putus2,
kegelapan dan dingin dengan deru angin yang seram bagai pekik tangis setan
penasaran.
Dengan tangan kirinya yang kosong ia seka keringat, terasa oleh Siang Cin bahwa
jantungnya memukul keras, pakaiannya yang rangkap luar dalam sudah basah
kuyup oleh keringat dan melengket di bajunya. Dia telan air liurnya yang terasa getir,
kakinya segera bertambah tenaga dan berlari sekencang mungkin, tapi kakinya kini
seperti terborgol oleh rantai yang berat, kaku dan susah digerakkan.
Lama sekali akhirnya Siang Cin menghela napas lega karena dia sudah lewat Sukui-
kok (lembah kenangan) dan tiba di deretan pohon Siong itu, rumah kayu yang
mungil itupun sudah kelihatan. Ya, cahaya lampu yang remang2 tampak menyorot
keluar dari jendela, cahaya lampu tampak redup dan tenang, ingin rasanya Siang Cin
lekas masuk ke rumah dan menjatuhkan diri di ranjang dan tidur nyenyak.
Kembali dia mengencangkan kepitan perempuan di bawah ketiaknya, dengan
menyeret langkahnya yang berat Siang Cin terus lari. Syukurlah akhirnya tiba di
BARA NAGA- Koleksi KANG ZUSI
47
depan rumah, setelah naik undakan dan akhirnya dia menggelendot di depan pintu
sekian lama untuk menenangkan hati dan mengatur napas, kemudian ia mengetuk
pintu dengan rada gemetar: "Lo Pau buka pintu, aku sudah pulang . . . "
 
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Dewasa Pembantu Menjeng : Bara Naga 1 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Dewasa Pembantu Menjeng : Bara Naga 1 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/09/cerita-dewasa-pembantu-menjeng-bara.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Dewasa Pembantu Menjeng : Bara Naga 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Dewasa Pembantu Menjeng : Bara Naga 1 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Dewasa Pembantu Menjeng : Bara Naga 1 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/09/cerita-dewasa-pembantu-menjeng-bara.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

hendri prastio mengatakan...

artikelnya bagus sekali sob,,menambah pengetahuan dan wawasan.. terima kasih banyak atas sharenya..semoga selalu menciptakan karya" terbaiknya,,,dan ditunggu UPDATEan terbarunya sob,,,pokoknya mantap deh! keren buat blog ente ! dan saya mohon dukungannya sob buat lomba kontes SEO berikut:
Ekiosku.com Jual Beli Online Aman Menyenangkan
Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia
terima kasih atas dukungannya sob,, saya doakan semoga ente selalu mendapatkan kebaikan,, dan terus sukses!! amin hehe sekali lagi terima kasih banyak ya sob...thaks you verry much...

Posting Komentar