Cerita Dewasa Hikmah Pedang Hijau 3

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Sabtu, 22 September 2012

Cerita Dewasa Hikmah Pedang Hijau 3 "Blang! Blang" di tengah suara gemuruh ruangan itu terus berputar dan tenggelam makin cepat, begitu kencang putarnya hingga sebagian orang yang terjebak di situ tak mampu berdiri tegak lagi, banyak yang terlempar dan jatuh terguling banyak pula yang merasa kepalanya jadi pusing, mata berkunang2 dan akhirnya roboh tak sadarkan diri. Sementara itu, dengan dituntun tangan yang halus dan hangat itu Tian Pek telah memasuki sebuah pintu sempit, setelah berbelok baberapa kali mereka menembus ke sebuah lorong di bawah tanah. Tempat berpijak tidak berputar bahkan ia merasa mulai mendaki undak2an batu, jelas ia telah lolos dari jebakan Sok-ki-tay-tin tadi. Suasana dalam lorong itu tetap gelap gulita tak nampak sesuatu apapun, untungnya pandangan Tian Pek sudah terbiasa setelah sekian lama terjebak di tempat yang gelap, lapat2 ia dapat menangkap bayangan punggung orang yang menggandeng tangannya, ditinjau dari tubuhnya yang langsing tak diragukan lagi orang ini pasti Kim Cay-hong. Beberapa kali Tian Pek bermaksud melepaskan gandengannya, tapi entah apa sebabnya, setiap kali niat itu selalu dibatalkan, beberapa kali ia hendak bertanya akan diajak ke manakah dirinya, tapi setiap kali pula maksud itu diurungkan. Ia merasa nyaman bergandengan tangan dengan gadis yang cantik itu. Entah sudah berapa jauh mereka berjalan, akhirnya ia mendengar suara "blang" yang keras, agaknya sebuah pintu batu telah didorong terbuka. Menyusul Kim Cay-hong lantas menarik tangannya dan melompat keluar dari lorong tersebut. Kiranya mereka muncul di tengah gardu sebuah gunung2an di tengah taman, tertampak bangunan indah dan aneka warna bunga yang menyiarkan bau harum, rembulan bersinar dengan terangnya di langit. Di bawah cahaya bulan purnama, Kim Cay hong tampak jauh lebih cantik dan menawan hati, dengan tertawa manis ia berkata: "Untung aku mengetahui jalan keluar lewat lorong rahasia tadi, kalau tidak niscaya kita akan mengalami nasib yang sama dengan mereka!" Hangat perasaan Tian Pek merdengar Kim Cay-hong mengistilahkan "kita" bagi mereka berdua, segera ia bertanya: "Apakah mereka akan tenggelam ke dasar bumi? Masa ruangan ini tak dapat bergerak naik lagi ke permukaan tanah?" Kim Cay-hong tersenyum manis, ditatapnya wajah Tian Pek dengan pandangan mesra, lalu sahutnya: "Aku sendiripun kurang jelas, hanya waktu kecil pernah kudengar dari ayahku bahwa ruang tengah itu telah dilengkapi sebuah alat jebakan yang bernama Sek-ki-tay-tin, asalkan tombol rahasianya ditekan. maka ruangan itu akan tenggelam ke dasar tanah dan selamanya tak akan muncul kembali, bila mereka terjebak dalam ruangan tersebut, kendatipun ilmu silatnya sangat lihay, selamanya akan terkubur di situ...... " "Ah, aku tidak percaya dengan perkataanmu!" tiba2 Tian Pek menjengek. Kim Cay-hong melangkah maju dua tindak, serunya dengan kurang senang: "Jadi kau kau anggap aku membohongi kau?" "Hahaha ...."Tian Pek bergelak tertawa. "Bukankah engkohmu dan jago2 keluarga Kim masih terjebak di sana, masa merekapun akan menemani musuh dan terkubur selamanya di situ?" Kim Cay-hong tertawa cekikikan mendengar perkataan itu, sahutnya: "Tentu saja engkohku tidak akan bertindak sebodoh itu, tentu iapun mengetahui lorong rahasia yang menembus keluarl" "Tapi, sampai kini engkohmu belum lagi ikut keluar bersama kita." Tanpa sadar Tian Pek menggunakan pula istilah "kita", istilah yang terasa mesra sekali, kontan saja air mukanya jadi merah, jantungnya berdebar dan kata2nya terputus. Cerita Dewasa Hikmah Pedang Hijau 3 Makin manis senyum Kim Cay-hong. dengan wajah berseri ia menerangkan: "Lorong rahasia yang terdapat di seputar alat jebakan Sek- ki-tay-tin bukan cuma satu ini saja, jalan tembusnya juga tidak melulu berada di sini saja, sekali orang salah langkah dalam ruangan yang berputar kencang itu, maka selamanya dia tak akan mampu memasuki lorong rahasia sempit yang hanya bisa cukup dilewati satu orang saja itu ........... " "O, sungguh tak tersangka istana Kim yang tersohor di dunia persilatan ternyata sudi menggunakan alat jebakan yang rendah dan memalukan ini untuk mencelakai orang," seru Tian Pek dengan nada kesal. “Hitung2 aku Tian Pek telah merasakan sampai di manakah kelicikan manusia istana Kim. Baiklah, selama gunung tetap menghijau, kita pasti berjumpa lagi di lain waktu. Selamat tinggal !” Tanpa menunggu jawaban Kim Cay-hong, dengan langkah lebar Tian Pek lantas berlalu. Pucat wajah Kim Cay-hong mendengar perkataan itu, untuk sesaat dia berdiri tertegun, setelah Tian Pek berlalu ia baru merasakan hatinya sakit bagai di iris2, tak tahan lagi ia menangis dan memburu ke arah pemuda itu sambil berseru: "Kau...... kau jangan pergi ..... " Ketika merasakan angin menyambar dari belakang, Tian Pek mengira Kim Cay- hong dari malu nenjadi gusar dan akan menyerangnya, cepat dia mengegos sambil menghantam ke belakang. Tapi segera dilihatnya si nona sama sekali tidak menghindar atau berkelit, dengan tangan terpentang dan dada membusung sedang menubruk ke arahnya Setelah pukulan dilancarkan baru Tian Pek tahu Kim Cay-hong tidak bermaksud menyerangnya melainkan cuma menubruk ke dalam pelukannya, dalam keadaan demikian sekalipun Tian Pek berhati keras bagai baja, luluh juga hatinya. Maka cepat ia berusaha menarik kembali pukulannya. Tapi sayang, sudah terlambat, meskipun sebagian besar tenaga pukulannya dapat ditahan, tapi sebagian kecil tetap mengenai dada si nona. Kim Cay-hong mengeluh tertahan, badannya yang menubruk ke depan tergetar sempoyongan, lalu roboh terkapar............ Cepat Tian Pek melompat maju dan merangkul tubuh Kim Cay-hong sebelum roboh, dipeluknya nona itu erat2, sekalipun dalam keadaan gugup dan panik serta tidak sengaja, tak urung berdebar juga jantungnya. Pucat wajah Kim Cay-hong, alisnya bekernyit, bibirnya terkatup rapat dan dada naik-turun, rupanya tidak enteng luka dalam yang dideritanya. Tian Pek cemas dan sedih, ia menyesal telah melukai gadis cantik itu, bisiknya dengan tergagap: "Nona .... nona Kim, aku ... aku tidak sengaja melukai dirimu............ aku tak sengaja ....” Kim Cay-hong membuka sedikit matanya, melihat tubuh sendiri berada dalam pelukan Tian Pek dan anak muda itu seperti anak kecil yang berbuat salah sedang minta ampun, maka terhiburlah hatinya, bisiknya dengan napas tersengal: "Aku..... aku tak me............ menyalahkan dirimu............ asal......asal engkau tahu perasaaanku. maka............ maka.... cukuplah....” Kepala Tian Pek seperti mendengung demi mendengar perkataan itu, akhirnya kejadian yang paling ditakuti berlangsung juga, nona cantik yang dilukainya tanpa sengaja ini bukan saja tidak dendam atau benci padanya, sebaliknya malahan mengucapkan kata2 yang mesra, bukankah semua ini sudah cukup gamblang. Dia, si nona, telah jatuh cinta padanya, sedangkan dia sendiri mengetahui bahwa anak dara itu adalah puteri musuh, puteri pembunuh ayahnya, dapatkah ia menerima cinta itu? Namun sekarang kesadarannya, dendamnya, rationya, semuanya sudah lenyap, ia tak dapat membohongi diri sendiri, jelas iapun jatuh cinta pada nona cantik ini. Sementara itu Kim Cay-hong kelihatan tambah gawat, setelah mengucapkan beberapa patah kata tadi, ia tak dapat mengendalikan pergolakan darah di dadanya, darah segar segera merembes keluar dari mulutnya. Tian Pek menjerit kaget, tanpa pikir lagi dipeluknya tubuh Kim Cay-ho g lebih erat, tangan kanannya secepat kilat menutuk tiga Hiat-to penting di tubuh anak dara itu, kemudian telapak tangannya ditempelkan pada Ki-bun-hiat di depan dada Kim Cay-hong. Ketika telapak tangannya menempel dada si nona, Tian Pek merasa ujung jarinya menyentuh sesuatu yang kenyal, seperti kena listrik, sekujur badannya bergetar keras, darah bergolak, hampir saja ia tak mampu mengendalikan diri..... "Oou ..... !" entah kesakitan, entah keluhan puas, itulah suara Kim Cay-hong ketika tangan pemuda itu menempel dadanya yang montok itu. Tian Pek tersentak sadar dan sedapatnya menahan gejolak napsu setan, cepat ia kerahkan hawa murni dan disulurkan melalui telapak tangannya ke tubuh si nona. "Nona Kim," bisiknya lirih, "kusalurkan tenaga dalam untuk mengobati luka nona, harap nona salurkan pula hawa murnimu untuk mengiringi ....” Kim Cay-hong membuka matanya dan mengerling manja ke arah pemuda itu, tapi ia tidak bersuara, ia menurut dan mengiringi hawa murni yang disalurkan Tian Pek itu. Melalui jalan darah Ki-bun-hiat, aliran hawa panas, bergerak menembus Sam- ciat-hiat, dari situ bergerak turun ke bawah mencapai pusar, kemudian bergerak pula menembus bagian bawah tubuh, dalam waktu singkat badannya jadi segar kembali, malahan rasa sakit di dadanya seketika lenyap pula. Ia merasa tangan Tian Pek yang hangat itu mulai bergerak meraba dadanya, kemudian pelahan bergerak turun ke bawah dan ke bawah kecuali merasakan tubuhnya jadi segar, Kim Cay-hong juga merasakan pula rasa gatal2 geli, semacam perasaan yang belum pernah dialaminya. Kim Cay-hong tak tahan lagi, ia bergeliat dan rada gemetar, mukanya yang pucat seketika berubah menjadi merah membara............ . "O ... " Kim Cay-hong mengeluh tertahan dengan mata terpejam seperti orang mengigau: "Mulai sekarang, aku tak mau kau panggil nona Kim ..... " "Lalu harus kupanggil apa?" tanya Tian Pek dengan samar2 seperti orang mabuk. "Panggil aku adik Hong .... " Pikiran Tian Pek semakin hanyut dan lupa daratan, melupakan sakit hatinya, ia menurut dan memanggil: "Adik Hong............ . " “O, engkoh Tian ..... engkau sangat baik . ,." keluh Kim Cay-hong lagi sambil tarik napas panjang. Cerita Dewasa Hikmah Pedang Hijau 3 Kim Cay- hong, gadis perawan keluarga Kim yang termashur, puteri pujaan seorang tokoh persliatan, nona yang kecantikannya tiada bandingannya dan mendapat predikat Kanglam-te-it-bi-jin saat ini sedang dibuai asmara dalam pelukan seorang pemuda musafir, merasakan kebahagian orang hidup, kebahagiaan yang tak pernah dialami sebelumnya, pelahan ia memejamkan matanya dan tenggelam dalam mimpi. ===mch=== Bagaimana akibat dari mabuk cinta antara Kim Cay- hong dan Tian Pek? Dapatkah para jago silat yang terkurung itu membebaskan diri? Bacalah jilid ke-15 Jilid-15. Cinta memang memiliki kekuatan gaib yang tak terbatas. Di tengah keheningan malam itu se-konyong2 terdengar suara orang mendengus di balik semak pohon sana. Sebenarnya luka Kim Cay-hong tidak terlampau parah, setelah diobati oleh Tian Pek dengan ilmu sakti yang dipelajari dan kitab pusaka Thian-hud-pit-kip, boleh dibilang semua lukanya telah sembuh. Kalau mereka masih berdekapan hanya karena mereka tengah asyik dibuai asmara. Tentu saja suara tertawa dingin yang sangat tiba2 itu segera menyadarkan kedua muda-mudi itu. Tian Pek yang per-tama2 tersadar dan cepat membangunkan Kim Cay-hong dari pelukannya, kemudian menghardik: "Siapa yang bersembunyi disana?" Sesosok bayangan hitam berkelebat keluar dan balik pepohonan yang rindang, secepat kilat orang itu tahu2 sudah berdiri sambil bertolak pinggang di undak2an gardu, siapa lagi dia kalau bukan Tian Wan-ji yang lincah. usil dan masih polos itu. Sama sekali tak menyangka Wan ji akan muncul di sini Tan Pek melenggong. Wan-ji yang cantik itu jelas merasa cemburu. matanya yang jeli mengerling bergantian pada wajah Tian Pek dan Kim Cay-hong, tampaknya ia ingin menyelami rahasia hati kedua orang itu. Merah wajah Tian Pek berdua karena dipandang setajam itu oleh anak dara yang masih polos dan bersih itu, tanpa terasa mereka menundukkan kepalanya rendah2. "Hehehe, di bawah bulan purnama memadu cinta, tanpa terasa bulan sudah jauh bergeser, ternyata orang yang memadu cinta belum juga sadar." demikian Wan-ji ber-olok2. Kikuk Tian Pek mendengar sindiran tersebut, terpaksa ia menjawab: "Wan-ji, untuk apa kau datang ke sini . . ?" "Untuk apa? Aku datang untuk ber-main2!" sahut Wan-ji dengan cemburu. "Yang jelas aku tidak datang kemari agar dipeluk orang dan dipanggil adik. . ." Sindiran yang tajam itu menggusarkan Kim Cay-hong, mendadak ia menengadah dan membentak: "Budak liar dari mana? Berani kau cari perkara ke istana Kim sini." "Hai, kalau bicara hendaklah tahu diri," sahut Wan-ji dengan dahi berkerut. "Kalau kau main kasar, hm, jangan menyesal bila nona hajar adat padamu!" Sebagai seorang nona yang selalu disanjung puja, sekalipun ayah atau saudaranya sendiripun tidak pernah bicara sekasar itu kepadanya, bisa dibayangkan betapa gusarnya Kim Cay-hong oleh ucapan Wan-ji tadi. Saking gusarnya sekujur badan jadi gemetar, teriaknya: "Bagus, sebelum kuusir kau malah berlagak di hadapanku Hm, jika kau tidak segera minta maaf, jangan harap bisa tinggalkan istana keluarga Kim dengan hidup." Wan-ji menjengek: "Hehe, kalau ingin bicara besar mesti lihat dulu kekuatan sendiri Hm, hanya sedikit kemampuanmu belum tentu sanggup menahan diriku di sini?" "Budak liar, tajam amat mulutmu!" bentak Kim Cay-hong dengan kemarahan yang tak terkendalikan lagi. "Sambutlah seranganku ini!" Dua jari tangan kirinya segera mencolok ke dua mata Wan-ji, ssmentara telapak tangan kanan memotong iga kiri lawan, Jurut serangan yang digunakan adalah Yu-hong-si-sui (kawanan lebah bermain di alas putik bunga) serta Cay-loan-lian- hoa (bunga indah berwarna warni). Berbicara soal ilmu silat, maka kepandaian yang dimiliki Wan-ji sekarang beberapa kali lipat lebih lihay daripada Kim Cay-hong setelah ia belajar ilmu silat dari Sin-kau (monyet sakti) Tiat Leng, ilmu silat yang dimilikinya saat ini sudah terhitung kelas satu di dunia persilatan. Meskipun dua jurus serangan yang dilancarkan Kim Cay-hong sangat lihay, tapi dalam pandangan Wan-ji bukanlah ancaman yang serius, sambil tertawa dingin ia mengegos kesamping, berbareng tangan kanannya segera balas mencengkeram persendian pergelangan tangan kanan musuh. Betapa terperanjat Kim Cay-hong menghadapi ancaman tersebut, mimpipun ia tak menyangka se-orang nona cilik yang masih begitu muda ternyata memiliki jurus serangan yang luar biasa lihaynya, bukan saja dua serangan mautnya berhasil dihindari dengan mudah, malahan tangan kiri sendiri terancam oleh serangan musuh. Kim Cay-hong jadi terkesiap, apalagi setelah merasakan betapa tajamnya angin serangan lawan pergelangan tangan cepat ditarik ke bawah. Gagal dengan serangan yang pertama, Wan-ji tidak memberi kesempatan bagi musuh untuk menarik napas, tangan kiri mencengkeram ke depan sementara telapak tangan kanan menabas jalan darah Cian-keng-hiat di bahu lawan. Dengan agak kerepotan Kim Cay-hong menghindarkan diri dari cengkeraman tangan kiri lawan. tapi bacokan telapak tangan kanan tak dapat dihindarkan lagi, untuk menangkis jelas tak sempat, tampaknya bacokan Wan-ji itu segera akan bersarang di tengkuk Kim Cay-hong. Telapak tangan Wan-ji sepintas lalu kelihatan kecil, halus dan lemas, tapi dengan tenaga dalam yang kuat, bacokannya tidak kurang tajamnya dari pada bacokan pedang atau golok. Tian Pek terkejut, cepat ia membentak: "Tahan Wan-ji!" Tapi Wan-ji anggap tidak mendengar, bacokan telapak tangan diayun lebih cepat lagi ke tengkuk musuh. Secepat kilat Tian Pek menerjang maju, tangan kirinya menarik lengan Kim Cay- hong terus diseret mundur, sementara tangan kanan digunakan menangkis serangan Wan-ji. "Plak!" telapak tangan saling beradu. Tubuh Wan-ji bergetar, ia terdorong mundur tiga langkah, mukanya pucat karena marah, matanya melototi Tian Pek dengan merah berapi. Kim Cay-hong terlempar kesamping dan berhasil lolos dari maut, ia berdiri dengan muka pucat seperti kertas, ia merasa malu bercampur gusar. Tian Pek juga merasakan telapak tangannya yang beradu dengan tangan Wan-ji itu terasa panas dan sakit, diam2 ia memuji kehebatan tenaga dalam gadis itu, sekalipun begitu lahirnya dia berlagak tenang, katanya: "Wan-ji, kau sama sekali tiada permusuhan dan dendam apa pun dengan nona Kim, kenapa kau melancarkan serangan mematikan kepadanya ....?" Tentu saja Wan-ji merasa tak senang hati karena pemuda pujaan hatinya telah menyelamatkan jiwa lawan cintanya, lebih2 setelah mendengar ucapan yang jelas membela Kim Cay-hong tersebut, tak tahan lagi ia melelehkan air mata. Sambil mendepakkan kakinya ke tanah dan menggigit bibirnya untuk menahan isak tangisnya ia berteriak: "'Aku benci kau . . . selama hidup ini aku tak sudi bertemu lagi dengan kau....!" Habis berkata, ia terus putar badan dan berlari pergi. "Mau lari kemana? Lihat serangan!" mendadak dari balik pohon sana berkumandang suara bentakan menyusul secomot cahaya hijau segera bertaburan menyongsong nona itu. Untung Ginkang Ni-gong-hoan-ing yang dimiliki Wan-ji telah mencapai puncak kesempurnaan, sekalipun tiba2 menghadapi sergapan senjata rahasia yang dilancarkan dengan cara yang licik dan keji, ia tidak menjadi gugup. Mendadak ia melejit dan mengapung tinggi ke atas, dengan begitu Am-gi yang bersinar hijau itu segera berdesingan menyambar lewat di bawah kakinya. Tian Pek merasa ngeri juga menyaksikan kejadian itu hingga berkeringat dingin. Cinta Wan-ji terhadap Tian Pek boleh dikatakan sudah mencapai tingkatan ter- gila2, tatkala ia saksikan pemuda pujaannya ternyata mengadakan pertemuan gelap dengan gadis lain, kontan saja hawa amarahnya berkobar. Masih mendingan bila Tian Pek tidak memukul mundur dirinya dihadapan saingan cintanya itu, apalagi pemuda itupun mencela tindakannya, bisa dibayangkan betapa remuk rendam perasaannya. Dengan menahan rasa sedih segera ia tinggal pergi, siapa tahu ia disergap lagi secara keji dan licik, kemarahannya seketika tertumplek kepada penyergap ini. Kini rasa cemburu, benci, dendam, gusar dan sedih bercampur aduk dalam hatinya, gadis yang lembut itu jadi garang dan menyeramkan, begitu berada di udara ia terus membentak, dengan cepat luar biasa ia menerkam penyergapnya itu. Dengan daya terkam ke bawah itu, ia kerahkan segenap tenaganya, kedua telapak tangan menghantam batok kepala lawan. Rupanya penyergap itu tak menduga Wan-ji akan melambung ke udara untuk menghindari ancaman senjata rahasianya, melihat tubrukan maut yang mengerikan itu buru2 ia cabut pedangnya untuk membela diri .... Pada saat itulah segenggam senjata rahasia berwarna hijau kembali menyambar datang dari sudut halaman lain, malahan kali ini sambaran Am-gi ini sama sekali tidak menimbulkan suara. Bukan saja jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang pertama tadi, bahkan sambaran Am-gi inipun jauh lebih kuat. jelas penyerang kali ini terlebih tangguh daripada yang pertama tadi. Tertampaklah bayangan hijau menyelimuti angkasa, bagaikan gerombolan kunang2 langsung mengurung sekujur badan anak dara itu. Tian Pek terperanjat, cepat ia berseru: "Wan-ji, awas, dibelakang ada senjata rahasia lagi!" Rupanya ia menyadari gelagat tidak enak, tampaknya serangan kedua sukar dihindarkan Wan-ji, maka sambil membentak ia terus melompat maju dan melancarkan pukulan dahsyat ke arah senjata rahasia tersebut. Banyak di antara senjata rahasia itu terpental dan berhamburan ke tanah tersampuk oleh angin pukulan Tian Pek, akan tetapi disebabkan jaraknya agak jauh, angin pukulannya tak berhasil merontokkan seluruh senjata itu. Tampaklah belasan titik cahaya hijau masih menyambar ke tubuh Wan-ji. Waktu itu Wan-ji sudah melayang turun ke tanah, diapun tahu ancaman senjata rahasia dari belakang itu. tapi berhubung tenaga pukulannya sudah telanjur dilancarkan dengan sepenuhnya untuk menghantam penyergap pertama yang dibencinya tidaklah mungkin baginya untuk melambung lagi untuk menghindari ancaman kedua ini. Dalam keadaan begitu cepat ia anjlok ke b¬wah, berbareng pukulannya diperkeras untuk menghantam lawan di bawah. Meski penyergap pertama tadi sudah melolos pedangnya, tapi melihat hantaman Wan-ji yang dahsyat ini, ia tak berani sambut dengan kekerasan, cepat ia melompat ke samping. "Blang!" debu pasir beterbangan, pukulan dahsyat itu menimblkan dua liang yang dalam di permukaan tanah, Sungguh luar biasa bahwa seorang nona cilik muda belia memiliki tenaga pukulan sedahsyat ini- Tapi setelah serangannya mengenai tempat kosong. Wan-ji lantas turun ke bawah, mendadak ia sempoyongan, mukanya pucat, agaknya cukup parah terluka dalam. Penyergap pertama tadi tertawa ter~bahak2, ia tak punya lengan kiri. dengan pedang ditangan kanan segera ia menusuk ke dada Wan-ji. Rupanya sewaktu Wan-ji mengapung di udara tadi ia telah dilukai oleh hamburan senjata rahasia yang kedua kalinya, paha dan iga sebelah kiri masing2 termakan oleh senjata rahasia lawan sehingga rasa sakitnya merasuk ke tulang, berdiri saja hampir tak kuat, bagaimana mungkin ia sanggup mengelakkan tusukan pedang yang ganas itu. Rasa sakit yang tidak kepalang itu membuat pandangan Wan-ji ber-kunang2, ia putus asa, sambil menghela napas ia berpikir: "Ai, tak tersangka akhirnya aku harus tewas di depan kekasih yang telah berubah pikiran. ... Tahu begini, lebih baik mati saja dulu, dengan begitu mungkin masih tertinggai sedikit kenangan manis, tapi kini kini. . . ." Ia hanya bergumam dan tak mampu menghindari ujung pedang musuh. Yang membuatnya sedih bukan soal mati, tapi kekasih yang mengikat janji dengan gadis lain, buyarlah impiannya dan hancurlah segala harapannya. "Beng Ki-peng, tahan!" terdengar Tian Pek membentak. "Blang! Blang!" benturan keras segera menggelegar, tatkala Wan-ji membuka matanya yang kabur, lamat2 dilihatnya pemuda buntung yang hendak menusuknya tadi berdiri mematung dengan muka pucat dan sorot mata yang bengis. Pedangnya sudah terlepas, darah meleleh keluar dari ujung bibirnya, jelas ia terluka tidak ringan. Wan-ji berpaling lagi ke arah lain, dilihatnya engkoh Tian yang dicintainya tapi juga dibencinya sekarang sedang berdiri kereng di sampingnya. Rasa sedih yang membuat putus asa Wan-ji tadi tiba2 berubah menjadi kegirangan, ia bergumam lagi: "O, rupanya engkoh Tian yang menyelamatkan jiwaku. Ah, engkoh Tian masih tetap mencintai aku. . .O, betapa bahagianya aku! Engkoh Pek. . .engkoh Pek sayanga, sekalipun aku harus mati sekarang juga, aku rela. . . sebab aku akan mati dengan bahagia. . . ." Tiba2 rasa sakit yang tak tertahan menyusup ulu hatinya, sekali ini Wan-ji benar2 jatuh tak sadarkan diri .... Sementara itu, setelah Tian Pek berhasil memukul rontok pedang Beng Ki-peng dan sekalian melukainya, tiba2 dilihatnya pula Wan-ji roboh pingsan, cepat ia melompat maju dan menyambar tubuh si nona yang akan roboh itu. Melihat keadaan luka Wan-ji, Tian Pek menjadi gusar, teriaknya: "Hm, terhadap seorang gadis tak berdosa kalianpun tega menyerangnya secara rendah dan keji, beginikah tindakan yang biasa dilakukan orang2 istana keluarga Kim? Huh, sungguh memalukan sekali . . . ." Tiba2 terdengar seseorang tertawa dingin, menyusul sebuah kursi beroda muncul dari balik pohon yang rindang sana, di atas kursi beroda itu berduduklah Cing-hu-sin Kim Kiu yang termashur. Di belakang Cing-hu-sin Kim-Kiu mengikut belasan orang laki2 berpakaian ringkas dan tujuh anak tanggung berbaju putih yang membawa pedang perak, semuanya melotot ke arah Tian Pek. Setiba di depan pemuda itu, Cing-hu-sin Kim Kiu lantas berkata dengan tertawa dingin: "Hehe. siapa menang dialah raja, siapa kalah dialah penyamun! Bagi orang persilatan yang penuh dengan pertikaian dan permusuhan, siapa kuat dia menang, siapa lemah dia kalah, kenapa mesti memusingkan pertarungan cara terang2an atau main sergap segala?" Merah padam wajah Tian Pek demi berhadapan dengan musuh besarnya, dengan melotot dan menggereget ia berteriak: "Bangsat! Tua bangka! Kau manusia munafik, dengan cara licik dan keji kau mencelakai saudara-angkatmu, kemudian merampok harta bendanya dan menggunakan harta yang tak halal itu untuk memelihara begundal2mu guna menunjang perbuatan busukmu. Hm, hari ini kau bertemu dengan Siauya, inilah detik terakhir hidupmu, tamatlah riwayatmu sekarang!" Pedang Hijau segera dicabut keluar, kemudian dengan menggereget ia menambahkan lagi: "Kim Kiu, serahkan jiwamu!" Belum pernah Cing-hu-sin Kim Kiu dicaci-maki orang dengan cara yang begitu berani, untuk sesaat tokoh yang berwatak aneh ini jadi tertegun, ia terbelalak lebar dan lama sekali mengamati anak muda itu, sejenak kemudian ia baru berkata; "Menuruti adatku, kau mencaci maki padaku, dosamu harus diganjar dengan kematian. Akan tetapi mengingat usiamu masih muda ternyata mempunyai rasa dendam yang sedemikian mendalam atas diriku, aku menjadi ingin tahu bagaimana duduknya persoalan. Nah, katakanlah. apa alasanmu sehingga rasa bencimu padaku demikian hebatnya?! Padahal sudah puluhan tahun aku tak pernah muncul di dunia persilatan, apalagi setelah kakiku dibikin cacat oleh musuhku hingga lumpuh, watakku memang berubah menjadi pemarah, sekalipun begitu kuyakin belum pernah bermusuhan dengan orang lain, apa- lagi dengan umurmu yang masih muda, masa sejak berada di rahim ibumu kau sudah bermusuhan denganku? Nah. katakanlah sebab2nya, kau datang memusuhi aku atas hasutan orang lain barangkali?" Tian Pek menengadah dan tertawa latah, sahutnya: "Hahaha, menurut perkataanmu ini, rasanya Cing-hu-sin sudah jadi orang baik2, sungguh lucu dan menggelikan. Hm, ingin kutanya padamu, apakah kau masih ingat pada Pek-lek-kiam Tian In thian, pemimpin Kanglam-jit-hiap dimasa lalu?" Bukan saja Cing-hu-sin Kim Kiu terperanjat demi mendengar nama Pek-lek-kiam, bahkan semua orang yang hadir di situ ikut terkesiap. Lama sekali Kim Kiu melototi Tian Pek tanpa berkedip, setelah itu baru ia berkata: "Aku dengar kau she Tian, apakah kau ini keturunan Tian In- thian?" "Kau heran dan terkejut?" ejek Tian Pek, "Ha haha, tentunya kau tak menyangka ayahku mempunyai keturunan bukan? Tentunya kau tak menduga ada orang akan membongkar kekejiamnu mencelakai saudara-angkat sendiri? Hahaha, Thian memang maha adil, akhirnya putera Pek-lek-kiam Tian In-thian berhasil menemukan pembunuh ayahnya. Hahaha, Kim Kiu, apa yang hendak kau katakan lagi?" Berbicara sampai di sini, ia lantas menengadah dan tertawa ter-bahak2 dengan suara yang menggelegar. Berubah hebat air muka Cing-hu-sin Kim Kiu, sebentar pucat sebentar berubah jadi hijau, entah terkejut entah keder, untuk sesaat ia tak dapat bersuara. "Ayah!" tiba2 Kim Cay-hong menubruk kesamping ayahnya dan berseru sambil menangis. "Benarkah apa yang dikatakan Tian-siauhiap? Ayah, kukira kejadian ini pasti suatu kesalah pahaman belaka, pasti ada orang yang sengaja mengadu domba agar kalian saling bermusuhan, anak percaya ayah adalah orang baik, tak mungkin ayah mencelakai saudara-angkat sendiri . . O, ayah, berilah keterangan se-jelas2nya kepada Tian siauhiap akan kesalah pahaman ini . O, ayah, cepat katakanlah ... " Memandangi puterinya yang menanggis sedih, air muka Cing-hu-sin Kim Kiu mengalami perubahan beberapa kali, mendadak ia melotot bengis, ia tertawa seram dan berkata: "Hahaha, apa yang diucapkan bocah itu memang benar, akulah yang telah membinasakan Tian In-thian! Cuma apa yang dikatakan bocah itu keliru besar, ayahnya sendiri yang merupakan seorang iblis, dia yang menganiaya dan menindas keenam saudara angkat sendiri, membuat kami jadi selalu menderita, karena tak tahan akhirnya kami memberontak dan bekerja sama untuk membinasakan dia. Hm, dia yang lebih dulu tak berbudi sebagai kakak angkat sehingga kamipun tak setia. Ia mati dalam suatu pertarungan yang adil. aku tak dapat disalahkan atas kematiannya itu!" Gusar Tian Pek tak terkatakan, dia menggigit bibir dan menahan perasaan yang hendak meledak itu ia menyadari berhasil atau tidak membalas sakit hati ayahnya, semua itu bergantung pada pertempuran malam ini, maka sedapatnya ia menahan gejolak perasaannya agar tidak menggagalkan usahanya. Sementara itu Kim Cay-hong sedang menjerit sedih: "O. tak mungkin . . tak mungkin terjadi begitu. . . ." Saking sedih ia terus jatuh pingsang di samping kursi beroda ayahnya. Kata orang: "Lelaki hidup untuk bekerja, perempuan hidup untuk bercinta". Semenjak kecil Kim Cay-hong telah kehilangan kasih sayang ibunya, dalam pandangan anak dara itu ayahnya adalah malaikat pengasih pujaannya. Dia menghormat serta memuja ayahnya, menganggapnya sebagai simbol kepercayaan dan panji kehormatan. Dan sekarang terbukti bahwa ayahnya bukanlah orang yang agung bijaksana. bahkan menjadi musuh besar pemuda yang kini telah menguasai seluruh perasaannya, dapat dibayangkan betapa hebat pukulan batin yang dirasakan gadis itu. Cing-hu-sin Kim Kiu tak malu disebut seorang laki2 yang berhati baja, meskipun tahu puterinya jatuh tak sadarkan diri, namun ia tidak menggubris, bahkan melirikpun tidak, sorot matanya yang bengis tetap tertuju Tian Pek, katanya: "Hehehe, sudah puluhan tahun rahasia ini tersimpan, selama ini tak ada yang tahu Tian-in-thian masih mempunyai seorang anak yang masih hidup di dunia ini. Sekarang, semuanya telah menjadi jelas, bila kau tahu diri dan bisa berpikir, boleh segera berlalu dari sini, tak nanti kuhalangi dirimu, tapi kalau tak tahu diri ya terserahlah!" Sampai disini, ia tertawa dingin, lalu menambahkan: "Hanya sebelumnya ingin kuperingatkan kepadamu, kalau kau tetap nekat mencari gara2 maka itu berarti kau mencari kematianmu sendiri!" Tian Pek melotot beringas, teriaknya dengan murka: "Bila dendam kematian ayahku tidak dibalas, apa gunanva aku hidup di dunia ini? Bangsat tua, kalau kau punya keberanian mengakui dosamu, maka bersiaplah menerima kematianmu, hari ini aku Tian Pek akan menggunakan darahmu sebagai sesajen untuk arwah ayahku!" Habis ucapannya, dia baringkan Wan-ji di atas tanah, ia putar pedang Bu-cing- pek-kiam dan menusuk lawan. Dalam gusarnya serangan pertama Tian Pek ini lantas menggunakan Hong-lui- pat-kiam ajaran Sin- lu-tiat-tan. Hong-lui-pat-kiam memang ilmu pedang maha lihay, dengan jurus Hong-ceng- lui-beng (angin berembus guntur menggelegar), hawa pedang yang tebal seketika menyelimuti seluruh angkasa, disertai deru angin yang keras, Bu-cing- pek-kiam segera mengancam dada Cing-hu-sin Kim Kiu. Terkesiap Cing-hu-sin Kim Kiu menghadapi serangan yang mengerikan itu, ia tak menyangka ilmu silat Tian Pek jauh melampaui dugaannya, malahan kelihatan lebih hebat daripada Pek-lek-kiam Tian In-thian dulu. Cepat Kim Kiu putar kursi berodanya dan menggelinding ke samping. Dalam keadaan begitu, Cing-hu-sin Kim Kiu hanya memikirkan bagaimana caranya menghindarkan diri dari ancaman musuh, ia lupa puterinya yang pingsan masih bersandar di samping kursiberodanya. Dengan bergeraknya kursi beroda itu, otomatis tubuh Kim Cay-hong roboh ketanah Tian Pek terlalu napsu ingin balas dendam, serangan yang dilancarkan dengan sendirinya keji tanpa kenal ampun. Maka tatkala Cing-hu-sin Kim Kiu menggeser kursi dan menghindari tujukan maut, cahaya pedang berkilat langsung menyambar ke depan mengancam tubuh Kim Cay-hong yang pingsan. Se-keras2 hati Cing-hu-sin Kim Kiu masih sayang juga pada nyawa puterinya, melihat Kim Cay-hong terancam oleh senjata Tian Pek, segera dia berteriak keras: "Jangan melukai puteriku . .. . " Rupanya Tian Pek sendiripun menyadari apa yang akan terjadi sekuatnya ia berusaba menarik kembali serangatnya. Tapi keenam bocah tanggung berbaju putih tadi tidak tinggal diam, demi melihat majikannya terancam bahaya, serentak pedang perak mereka dilolos, mirip selapis dinding perak, berbareng mereka menangkis. "Tring . . . .! Tring ...!" terdengar dentingan nyaring, enam pedang perak tersampuk oleh pedang Tian Pek, keenam bocah tanggung berbaju putih itu merasakan telapak tangan panas dan sakit, hampir saja pedang perak mereka terlepas dari cekalan. Tian Pek tidak melanjutkan serangan lagi, dia tarik kembali pedangnya dan melayang mundur ke belakang. Sebagai seorang pemuda yang jujur dan bijaksana, ia tidak ingin mencelakai orang yang tidak bersalah juga tiada sangkut paut dengan masalah yang dihadapinya, maka dari itu walaupun rasa bencinya pada Cing-hu-sin Kim Kiu sudah merasuk tulang, akan tetapi ia tidak ingin melukai Kim Cay-hong yang tak sadarkan diri serta ke enam anak kecil. Ia bijaksana dan mulia, tapi orang lain tidaklah sebaik dia, baru saja dia bergerak mundur. se-konyong2 Cing-hu-sin Kim Kiu ayun tangannya, segenggam Cing-hu- piau segera berhamburan pula. Senjata rahasia Cing-hu-piau adalah senjata andalan Kim Kiu, apalagi setelah kakinya lumpuh akibat salah minum obat, kepandaiannya itu dilatih terlebih hebat dan boleh dibilang sudah tiada bandingannya di kolong langit ini. Belum lagi Tian Pek berdiri tegak, tahu2 cahaya hijau menyilaukan telah tersebar memenuhi angkasa, sekujur badannya terkurung oleh senjata lawan. Cepat ia putar Pedang Hijau bagai kitiran untuk melindungi semua Hat-to penting di tubuhnya. "Cling! Cring. . .!" suara gemerincing berkumandang menciptakan serentetan irama yang kacau, semua Cing-hu-piau yang mengancam tiba di sapu bersih oleh pedang Tian Pek. Namun Kim Kiu benar2 seorang ahli senjata rahasia, selagi Tian Pek sibuk menangkis semua senjata rahasia yang mengancam tadi, mendadak ia mengeluarkan pula segenggam Cing-hu-piau, satu di antaranya disentil ke atas tanah, Tian Pek tidak tahu apa maksud lawan, "cring" mendadak senjata rahasia yang disentil kebawah tadi setelah menyentuh tanah terus melejit kembali ke atas, setelah berputar setengah lingkaran terus menyambar ke bawah perut Tian Pek. Heran Tian Pek, ia pikir kalau satu genggam saja tak mampu meng-apa2kan diriku. masa cuma satu biji mata uang begini bisa berguna? Belum lenyap pikirannya, tahu2 mata uang tadi sudah mendekati lambungnya, dalam keadaan begitu, cepat dia menangkis dengan pedangnya. Tring!" terjadi lagi dentingan nyaring, mata uang itu mencelat dan berputar satu lingkaran dan mendadak menyambar kembali ke bagian kaki. Tian Pek berjingkat kaget, buru2 ia angkat kakinya sambil berputar, walaupun begitu mata uang tadi masih sempat menerobos celananya hingga robek. Walaupun tidak sampai terluka dan hanya celananya saja yang robek, namun pelajaran ini cukup mengerikan Tian Pek hingga berkeringat dingin. Sebab ia tahu senjata rahasia ini beracun, tempo hari ia sudah merasakan Cing-hu-piau ini ketika bertarung melawan Beng Ki-peng, untung Kim Cay-hong segera memberikan obat penawar kepadanya hingga tidak beralangan. Keadaan se- karang sudah berubah, andaikata kali ini sampai terluka lagi, tak mungkin ia mendapatkan obat penawar pula. Dalam pada itu Cing-hu-siu Kim Kiu sedang tertawa ter-bahak2, ejeknya: "Itulah permainan yang bernama Cing-hu-pay-siu (kecapung memberi selamat panjang umur) dan kau sudah tak mampu mempertahankan diri, apalagi bila kumainkan Cing-hu-hoan-tong (kecapung memenuhi kolam) yang merupakan serangan mematikan, maka kau pasti akan mati tak tertolong lagi!" Bicara sampai disitu, jari tangannya kembali menyentil sebatang Cing-hu-piau ke depan. Kali ini Tian Pek sudah tahu kelihayannya, ia tak berani menyampuknya dengan pedang lagi, ketika titik cahaya hijau menyambar datang, cepat ia mengegos ke samping. Siapa sangka, belum sempat ia menghindari ancaman pertama, Cing-hu-sin telah melepaskan senjata rahasianya yang kedua, menyusul ber-turut2 ia lepaskan pula serentetan mata uang yang semuanya ditujukan ke permukaan tanah. Dengan menggunakan daya pantulan itulah senjata rahasia tersebut meloncat ke udara dan menyambar dari arah yang berbeda dan tak terduga untuk menyerang sasarannya. Seketika Tian Pek kelabakan., ia berkelit ke sana dan menghindar kesini dengan kalang kabut Diam2 Tian Pek gelisah, ia pikir bila keadaan ini berlangsung terus maka lama kelamaan aku bisa mati kehabisan tenaga andaikan tidak terkena serangan, daripada mati konyol lebih baik kuterjang kesamping bangsat tua itu, sekalipun mati akan kuajak dia gugur bersama .... Setelah ambil keputusan, dengan cepat dia menghindari sambaran sebuah senjata rahasia itu, kemudian berusaha mendekati lawannya. Tapi Cing-hu-sin Kim Kiu cukup cerdik, dia dapat menebak maksud anak muda itu, ia tertawa mengejeknya: "Heh, percuma kau cari akal, sedangkan ayahmu saja tak dapat lolos dari tanganku, apalagi anak ingusan macam kau!" Seraya berkata, segenggam Cing-hu-piau segera ditaburkan pula ke atas tanah. "Cring! Cring!" cahaya hijau bermuncratan ke empat penjuru dan serentak mengancam Hiat-to penting di badan Tian Pek. Terkejut Tian Pek, terdengarlah Cing-hu-sin ter tawa ter-bahak2: "Hahaha, inilah Cing-hu-hoan-tong (kecapung memenuhi kolam) untuk mengantar kau pulang ke akhirat..." Segera Tian Pek merasakan kaki dan lengan sakit pedas, beberapa buah Ciog-hu- piau telah bersarang di tubuhnya. "Habislah riwayatku. . ." keluh Tian Pek dalam hati. Tapi demi teringat pada sakit hati ayahnya yang belum terbalas, ia merasa tak rela untuk mati dengan begitu saja. Sekuatnya ia tutup Hiat-to penting di seluruh tubuh sehingga racun untuk sementara tak sampai menyerang ke dalam jantung, kemudian ia menarik napas panjang, entah darimana datangnya kekuatan, ternyata ia berhasil melompat ke atas pagar taman yang tingi. "Anak keparat, ingin kabur kemana?!" ejek Cing-hu-sin Kim Kiu sambil tertaWa. "Kau sudah terkena senjata rahasia beracun. tidak sampai tiga jam jiwamu pasti akan melayang!" Berdiri di atas dinding Tian Pek merasa pandangannya ber-kunang2, hampir saja ia jatuh terjungkal ke bawah, tapi sekuat tenaga ia berdiri tegak di situ, lalu memaki dengan gregetan: "Bangsat tua, hari ini kuampuni jiwa anjingmu, tapi suatu saat Siauya pasti akan datang lagi untuk membuat perhitungan dengan kau. . . ." Habis ini ia terus melompat turun keiuar taman dan lari secepatnya. "Jangan biarkan anak keparat itu melarikan hari, tangkap dia sampai dapat .... !" teriak Cing-hu-sin Kim Kiu dengan gusar. Disambung suara bentakan, berpuluh jago istana keluarga Kim segera melakukan pengejaran keluar pekarangan. Ketika Tian Pek melompat keluar gedung itu ia masih sempat mendengar rintihan Kim Cay-hong; "O, ayah ....ampunilah jiwanya ...." Tentu saja Tian Pek tidak membiarkan dirinya tertangkap oleh musuh, setelah mengetahui ada yang mengejar, ia terus kabur ke depan, sekalipun tubuhnya terasa linu, sakit, lemas dan kesemutan, tapi ia bertahan sekuatnya dan berlarian dengan cepat menjauhi tempat itu. Sementara itu sudah tengah malam, keramaian di kota Lam-keng mencapai puncaknya, acara malam Cap-go-meh yang di-nanti2kan oleh segenap lapisan masyarakat semenjak petang telah dimulai. yaitu acara kembang api udara serta melepaskan lampion. Penduduk ber-jubel2 ingin mengikuti tontonan menarik itu, beraneka warna kembang api memenuhi udara menciptakan bentuk warna-warni yang sangat indah, sementara kembang api bersemarak diangkasa, banyak penduduk yang membawa lampion berhias saling berlarian menuju ke luar kota. Suasana bertamhah ramai, lautan manusia ber-desak2an memenuhi jalan raya, hal ini memberi kesempatan baik bagi Tian Pek untuk meloloskan diri dari kejaran jago istana Kim . ... , Waktu itu Tian Pek sudah bermandikan darah, racun keji yang terkandung diujung senjata Cing-hu-piau mulai mengembang dalam tubuhnya, kesadaran dan daya ingatannya mulai kabur, untung saja ia terhimpit diantara orang banyak yang saling berdesakan sehingga tubuhnya tidak sampai roboh. Begitulah, di tengah berjubelnya orang banyak akhirnya Tian Pek dengan setengah sadar terbawa oleh arus manusia sampai di pintu Cin-hway-bun dan mencapai tepi sungai Cin-hway. Sambil ber-teriak2, arus manusia itu saling berebut menuju ke sungai dan membuang lampion mereka kedalam air, beraneka warna lampion segera terombang-ambing dibawa arus menuju kehilir, pemandangan tampak indah menawan. Tian Pek juga terbawa ketepi sungai, ia sudah kehabisan tenaga, tubuhnya lemas sekali, karena tidak terhimpit lagi oleh orang banyak, akhirnya ia roboh terkulai tak sadarkan diri. Entah berapa lama sudah lewat, Tian Pek merasakan sekujur badannya sakit sekali, cepat ia membuka mata dan memandang sekelilingnya. Ia lihat dirinya berbaring diruangan pendopo sebuah kelenteng bobrok. Ruangan ini amat besar, atapnya sudah banyak berlubang, bintang tampak bertaburan dilangit yang gelap, jelas masih malam hari. Kelenteng ini benar2 sudah bobrok, patung di meja pemujaan tampak sudah rusak, sarang labah2 memenuhi langit2 ruangan dan debu bertimbun. Tapi aneh, tempat Tian Pek berbaring adalah sebuah meja sembahjang yang bersih, malahan alas tidurnya adalah rumput kering yang tebal, sebuah selimut tebal menutupi badannya. Tapi setelah pikiran Tian Pek jernih kembali, Waktu ia berpaling, apa yang terlihat kemudian hampir saja membuat dia menjerit kaget. Di bawah cahaya pelita yang remang2 tampak seorang manusia aneh berwajah hijau dan berambut merah dengan memegang belati sedang menusuk tubuhnya. Betapa terperanjatnya Tian Pek, dia mengira dirinya terjatuh ke tangan iblis. Buru2 saja ia menjerit, mendadak kaki terasa sakit tidak kepalang, tanpa ampun lagi pemuda itu jatuh pingsan pula. Tatkala ia siuman kembali untuk kedua kalinya, rasa ngeri masih belum lenyap, ia coba menoleh, tapi apa yang dilihatnya membuatnya tercengang lagi. Suatu pemandangan aneh muncul kembali, manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah tadi sudah tak ketahuan kemana perginya, yang duduk di sebelahnya sekarang adalah seorang gadis cantik dan sedang menatapnya dengan pandangan penuh rasa kasih sayang. Hampir saja Tian Pek tidak percaya pada matanya sendiri, ia mengira sedang bermimpi, Ia kucek2 matanya dan memandang pula, dilihatnya sepasang mata yang jeli dan besar masih menatapnya tanpa berkedip. Tian Pek segera angkat tubuh hendak berduduk, serunya dengan kuatir: "Aku ....aku berada dimana .... ?" — Tapi segera pula tubuhnya terasa sakit tidak kepalang, sebelum kata2 itu berlanjut, ia menjerit dan jatuh telentang. Gadis cantik itu tertawa manis, ucapnya lembut: "Engkau jangan bergerak dulu, senjata rahasia yang bersarang dibadanmu baru kucabut dan racunnya sudah punah, tapi mulut lukanya belum merapat, asal isristirahat dua hari lagi, tentu kau akan sehat kembali." Sudah beberapa gadis cantik yang pernah dilihat Tian Pek, seperti Buyung Hong yang dingin dan anggun, Tian Wan-ji yang polos dan lincah serta Kim Cay-hong yang mendapat julukan Kanglam-te-it-bi-jin. Akan tetapi gadis yang berada di depannya saat ini bennr2 luar biasa sekali, kecantikannya sedikitpun tidak berada dibawah Kim Cay-hong, kelincahan dan kepolosannya tidak kalah daripada Tian Wan-ji, malahan tampaknya lebih anggun daripada Buyung Hong, wajahnya begitu cerah bagaikan sang surya di musim semi. Dandanannya juga sederhana, ia tidak berbedak maupun memakai gincu. gerak- geriknya lugu seperti anak perawan keluarga rakyat kecil, tapi bergaya lembut dan anggunnya puteri keluarga bangsawan. cuma tidak mewah dan tidak angkuh. Tian Pek tertegun termangu seperti orang kehilangan sukma. selang sesaat kemudian ia terus berpaling ke arah lain dan seperti ingin mencari sesuatu. "Eh, apa yang kau cari?" tiba2 si gadis cantik menegur dengan tertawa manis. "Tadi aku seperti melihat seorang manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah . . ." Gadis itu tertawa pula. ia ambil sebuah topeng dibelakangnya dan diperlihatkan kepada anak muda itu. Sekarang Tian Pek baru tahu, kiranya manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu tak lain adalah penyamaran gadis ini dengan topengnya. "O, rupanya nona menggodaku dengan memakai topeng ini!" katanya kemudian, "Ai, kalau begitu, agaknja nona pula yang telah menyelamatkan jiwaku?" Kembali gadis itu tertawa manis dan mengangguk. "Boleh kutahu siaba nama nona agar budi kebaikan ini dapat kubalas di kemudian hari!" tanya Tian Pek. Gadis itu tertawa dan tidak menjawab, dia angkat topeng bermuka hijau dan berambut merah itu sambil menggerakkannya kesana kemari. Tian Pek melongo bingung, ia tak paham apa maksud gadis itu, maka ditatapnya gadis itu dengan sorot mata penuh tanda tanya. "Coba tebak siapa namaku?" tanya gadis itu sambil tertawa. "Ah, rupanya nona suka bergurau, masa nama orang boleh sembarangan dijadikan tebakan?" Gadis itu menatapnya lekat2 penuh arti, katanya kemudian: "Engkau betul2 tak tahu atau cuma pura2 bodoh?" Tian Pek jadi melengak. sekali lagi dia mengamati wajah orang yang cantik jelita, ia berusaha mengumpulkan semua ingatannya, tapi ia merasa benar2 belum pernah berjumpa dengan nona ini, Iapun tidak pernah mendengar bahwa di dumni Kangouw ada seorang gadis cantik yang suka mengenakan topeng setan begini. Dengan menyengir akhirnya ia berkata "Aku belum pernah bertemu muka dengan nona, juga belum pernah mendengar...." "Masa kau belum lagi tahu siapa diriku setelah melihat topeng ini?" sekali lagi gadis itu menegur sambil memperlihatkan topengnya. Tian Pek tambah bingung, untuk sesaat ia tak mampu menjawab, dalam hati ia berpikir: "Jangan2 gadis ini memang memiliki nama besar di dunia persilatan? Mungkin aku yang picik dan kurang pengalaman, maka tidak tahu siapa dia . . . ." Sementara dia masih termenung, gadis itu tertawa manis, sambil menepuk pemuda itu bagaikan kasih sayang seorang ibu ia berkata: "Kau tak perlu peras otak untuk memikirkan soal itu lagi, akhirnya toh kau akan tahu sendiri, kini lukamu belum sembuh, walaupun senjata rahasia yang bersarang di tubuhmu sudah kucabut keluar dan racun yang mengeram ditubuhmu telah kupunahkan, akan tetapi paling sedikit kau perlu istirahat selama tiga sampai lima hari, perutmu tentu sangat lapar bukan? Tunggulah sebentar disini, akan kucarikan makanan bagimu . . ." Setelah membuang enam kepingan mata uang tembaga hijau di sisi Tian Pek. dia segera berkelebat pergi dengan cepat. "Cepat amat gerak tubuhnya," diam2 Tian Pek memuji sambil menjulur lidah. Jangankan ia sendiri tak mampu menandingi, sekalipun paman Lui yang lihay Ginkangnya serta Wan-ji yang pernah dipuji Sin-lu-tiat-tan rasanya juga sukar menandingi kehebatan nona itu. Tanpa terasa pikiran Tian Pek melayang jauh, melihat Ginkangnya yang lihay dapat diduga pula ilmu silatnya pasti sangat tinggi, pasti juga namanya sangat tersohor di dunia persilatan, tapi siapakah dia? Mengapa belum pernah terdengar selama ini? Akhirnya sorot matanya tertuju pada enam keping mata uang yang ditaruh gadis itu di sampingnya sebelum pergi tadi. Mendingan kalau tak memandang benda itu, darah panas segera bergelora dan matapun merah berapi. Nyata sedikitpun tak ada bedanya antara ke enam keping mata uang ini dengan mata uang tembaga yang ditinggalkan mendiang ayahnya, mata uang inilah yang disebut Cing-hu-piau, senjata rahasia andalan Cing-hu-sin Kim Kiu. "Ayah tewas terkena senjata rahasia beracun ini, untung ada gadis cantik itu yang menolong aku, kalau tidak, mungkin akupun sudah tewas seperti apa yang dialami ayah?" Makin dipikir pemuda itu merasa semakin sedih, gusar dan dendam, tanpa terasa ia pegang beberapa keping mata uang itu. Cahaya pelita tiba2 berguncang terembus angin, menyusul sigadis yang memakai topeng itu telah muncul kembali di hadapannya. "Jangan sentuh benda itu!" bentak nona itu cepat. "Mata uang itu mengandung racun yang keji!" Maka cepat Tian Pek menarik kembali tangannya. "Tiga hari lamanya racun baru hilang dari sekitar mata uang ini," kata nona itu. "Sekarang baru hari kedua, kalau ingin memegangnya tunggu saja sampai besok . . .." "Apa? Jadi aku sudah dua hari berada disini?" tanya Tian Pek dengan terkejut. "Dari malam Cap-go-meh sampai malam Cap-jit tepat sudah dua hari," ucap nona itu sambil tertawa cekikikan. "Sebenarnya akupun terlalu tegang, sekalipun racun mata uang ini lihay sekali, asal tidak masuk darah takkan memberi reaksi apa2, tadi aku kuatir mata uang itu melukai jari tanganmu hingga berdarah, kalau sampai terjadi begitu kan kau sendiri yang susah." Sambil bicara ia taruh makanan yang dibawanya ke hadapan pemuda itu, kemudian menanggalkan topengnya, lalu berkata lagi: "Nah, makanlah! Sudah dua hari engkau tidak makan apa2, tentu sudah lapar bukan?" Ketika bungkusan itu dibuka ternyata isinya adalah seekor bebek panggang Lamkeng serta belasan cakwe. Bebek panggang Lamkeng sangat tersohor, jangankan dimakan, baunya saja sudah cukup membuat orang mengiler, apalagi Tian Pek sudah dua hari tidak makan tidak heran kalau ia mengganyang hidangan yang diberikan itu dengan lahapnya. Saking bernapsunya pemuda itu mengganyang hidangan itu sampai mulutnya jadi penuh dan tak tertelan, dia kelolodan makanan yang menyumbat tenggorokannya tak bisa masuk dan tak bisa keluar, saking paniknya wajahnya menjadi merah padam. Mimik wajahnya yang lucu itu menggelikan hati si nona ia tertawa ter-pingkal2, perutnya jadi sakit dan air matanya ikut berlinang. "Hei, tuanku, makanlah pelahan sedikit!" serunya sambil tertawa. "Jangan2 tidak mampus karena senjata rahasia, tapi mati keselak, nah, baru konyol." Tiba2 kerongkongan Tian Pek berkeruyukan dan matanya mendelik, si nona menjadi kuatir, tapi pemuda itu lantas tarik napas panjang dan berseri.! "Aduh, hampir saja aku mati tercekik . . ." Melihat kelakuan Tian Pek yang lucu itu, si nona tertawa ter-pingkal2, tanpa terasa ia menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu. Tapi mendadak Tian Pek menjerit kesakitan, kiranya si nona lupa pada luka ditubuh anak muda itu, cepat ia berbangkit. Dilihatnya anak muda itu sedang memandangnya dengan muka merah, maka si nona lantas mencubit lagi dan keduanya sama2 tertawa pula cekakak dan cekikik. Tengah bercanda dengan riang gembiranya, tiba2 di luar kelenteng ada suara keresekan yang lirih, suara yang menyerupai daun jatuh, bila tidak diperhatikan pasti tidak mendengarnya, tapi hal ini tak dapat mengelabui si nona yang lihay itu. Gelak tertawanya seketika terhenti, ia melompat dan membentak nyaring: "Siapa di sana? Berani mengintip?" Begitu kata2 terakhir terucapkan, tahu2 ia sudah melayang keluar. Sungguh gesit dan cepat gerak tubuh nona itu, tapi di luar tak tertampak sesosok bayangan manusiapun, suasana tetap hening. Nona itu percaya penuh pada ketajaman pendengarannya, meski tidak berhasil menemukan jejak musuh, ia percaya bahwa pendengarannya pasti tidak salah. Ia berdiri dengan bertolak pinggang, ia mendengus, ucapnya: "Hm, tentunya kau tahu siapa yang berdiam di sini, kalau berani mengintip lagi, jangan menyesal nonamu tidak sungkan2 lagi padamu." Pada waktu bicara sekarang, air mukanya yang cantik telah timbul warna guram, kendati suaranya tidak begitu keras, akan tetapi tersiar sampai belasan li jauhnya. Apabila betul ada orang yang mengintip, dalam jarak seluas sepuluh li pasti dapat mendengar ucapan si nona yang merdu bagaikan burung berkicau tapi mengandung nada seram dan mengancam itu. Selesai mengucapkan kata2nya nona itu tidak peduli adakah orang yang bersembunyi di sekitar situ, ia melayang keudara, setelah berputar satu kali, ibarat burung walet kembali ke sarang, dia menerobos jendela dan masuk ke ruang kelenteng tadi. "Engkau berhasil menemukan sesuatu, nona?" tanya Tian Pek. Senyum manis menghiasi wajah nona itu, berbeda sekali suaranya kini dengan nada ancamannya yang mengerikan diluar tadi Ia menjawab: "Kemungkinan ada satu-dua ekor tikus kecil yang bernyali besar bersembunyi di atas sana dan mengintip kita bergurau!" Tian Pek tidak berbicara lagi, persoalan itu tak dipikirnya. Untung ia tidak sempat mendengar ucapan si nona yang seram di luar tadi, kalau tidak niscaya dia takkan bersikap setenang itu. Hal ini bukan karena ketajaman pendengaran Tian Pek tidak berfungsi lagi, soalnya ucapan si nona tadi sengaja dipancarkan dengan senacam kepandaian khusus yang disebut Gi-ih-coan-im (menyampaikan suara dengan bahasa semut), ia dapat memancarkan gelombang suara pembicaraannya hingga sejauh sepuluh li lebih, langsung disampaikan ke telinga orang yang dituju, sebaliknya bagi orang yang bukan tujuannya, kendatipun berada beberapa meter didepannya juga takkan mendengar apapun. Nona cantik itu tidak bilang kepada Tian Pek bahwa dia bicara apa2 kepada orang yang mengintip mereka, maka Tian Pek sendiripun tidak mendengar apa yang diucapkan nona itu ketika berada di luar kelenteng tadi. Seperti tidak pernah terjadi apapun, kembali nona cantik itu bergurau dengan Tian Pek, kemudian ia menina-bobokan pemuda itu agar tertidur, dia sendiri duduk bersimpuh di depan pembaringan sambil mengatur pernapasan. Tapi dapatkah Tian Pek tidur? Sebentar2 ia teringat kembali usaha balas dendamnya yang gagal, kemudian teringat akan Wan-ji yang terjatuh di tangan Cing-hu-sin Kim Kiu, lalu terbayang pula kawanan jago persilatan yang terjebak oleh Sek-ki-tay-tin di istana keluarga Kim, entah bagaimana nasib mereka? Setelah itu ia terbayang pada Kim Cay-hong yang cantik, Buyung Hong yang pernah bertelanjang bulat didepannya, mengingat betapa sucinya tubuh telanjang seorang gadis, mengingat pula watak Buyung Hong yang dingin dan angkuh. bila gadis itu tidak mencintai dirinya, mengapa ia menunjukkan badannya yang bugil di depannya? Sekalipun pada waktu itu dia terpengaruh oleh irama seruling pembetot sukma yang mengacaukan pikiran sehat dan kesadarannya, tapi kalau tubuh telanjang seorang gadis sudah diperlihatkan padanya, kecuali dirinya mengawini gadis itu, kalau tidak hidup si gadis ini berarti sudah tamat. Teringat akan persoalan ini, diam2 Tian Pek merasa gelisah bercampur kuatir bagi Buyung Hong, ia merasa gadis yang suka murung ini patut dikasihani, gadis itu selalu terkurung didalam rumah, se-akan2 seekor burung yang berada disangkar emas, sama sekali tiada kebebasan. Namun Tian Pek tak dapat mengawini gadis tersebut, bukannya dia tak mencintai nona itu, sekalipun pemuda yang berhati baja juga akan luluh menghadapi ketulusan hati si nona, apalagi Tian Pek adalah pemuda yang berperasaan dan berbudi. Akan tetapi, apa mau dikata, Buyung Hong adalah puteri pembunuh ayahnya, ayah gadis itu adalah musuh besar yang akan dibunuhnya, mungkinkah dia mengawini anak gadisnya? Tiba2 Tian Pek teringat juga pada Hoan Soh-ing, kegagahan serta kecantikannya mendatangkan suatu perasaan lain bagi anak muda ini, meski diwaktu berada dalam gua batu ia telah mengurut jalan darahnya dan menyembuhkan lukanya, walau pun dia menyentuh tubuhnya yang halus, empuk dan menggiurkan itu, namun tiada suatu ingatan jahat yang terlintas dalam benaknya, ia hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat karib . .... Sayang ayahnya termasuk pula salah seorang musuh besar yang membunuh ayahnya. Ai, hampir semua kekasihnya adalah keturunan musuhnya. Mungkinkah ia ditakdirkan hidup sebatangkara? Perasaan Tian Pek mengalami pergolakan yang hebat, bagaikan ombak samudera yang bergolak, jangankan tidur, untuk menenangkan pikiran saja susah. Sering ia membuka mata dan melirik gadis cantik yang telah menyelamatkan jiwanya ini, dia ingin tahu siapakah nona ini dan darimana asal-usulnya, Dia benar2 cantik molek, Tian Pek tahu dirinya bukan orang yang gila perempuan, apalagi dirinya mengemban tugas membalas dendam, kini dirinya dalam keadaan luntang-lantung tanpa tempat meneduh, dalam keadaan merana ia harus menghadapi godaan cinta Wan-ji. Buyung Hong. Hoan Soh-ing, Kim Cay- hong.... gadis2 itu sama jatuh cinta padanya dan terasa sukar menyelesaikannya, masa sekarung harus bertambah lagi keruwetan baru? Istimewa sekali gaya nona itu sewaktu mengatur pernapasan, ia tidak duduk bersila, melainkan duduk dengan sebelah kakinya menekuk, kaki yang lain diluruskan kedepan, tangan menopang dagu, bulu mata panjang menaungi matanya yang jeli dengan senyum manis menghiasi bibirnya. Lesung pipinya kelihatan nyata, begitu indah menawan gayanya mirip sebuah lukisan wanita cantik yang sedang tidur. Dilihatnya kabut putih tipis menguap dari telinga, hidung serta bibirnya, kabut putih itu membumbung ke atas dan menggumpal di atas kepala membentuk tiga kuntum awan yang berbentuk seperti bunga. Ditinjau dari semua itu, jelas Lwekang si nona sudah mencapai puncak kesempurnaan yang tak terkirakan. Nona itu terlalu cantik, begitu cantik hingga sukar dilukiskan, walaupun tiada pikiran jahat yang melintas dalam benak Tian Pek, namun tanpa terasa iapun memandangnya dengan terbelalak. Mendadak nona itu membuka matanya dan terseuvum manis, senyuman yang menggiurkan dan mesra. Terguncang hebat perasaan Tian Pek. Pelahan nona itu meluruskan kedua kakinya, lalu bangkit dan menghampiri Tian Pek, dengan pelahan dia meraba tubuhnya. Hangat dan halus belaian tangan si nona. Tian Pek merasa peredaran darahnya bertambah cepat dan makin bergolak, ia hampir tak sanggup mengendalikan perasaan lagi .... Tiba2 si nona membisikannya: "Agar lukamu cepat sembuh, biarlah kukorbankan sebagian tenaga murniku untuk mengobati kau, sekarang salurkanlah tenagamu untuk mengiringi aliran hawa murniku!" Tian Pek merasa malu sendiri, mukanya menjadi panas, pikirnya: "Wahai Tian Pek, engkau menganpgap dirimu sebagai seorang laki2 sejati, seharusnya kau tidak boleh sembarangan berpikir. Orang lain bermaksud baik hendak menyembuhkan lukamu tapi kau. . .." Berpikir sampai disini, segera ia tarik kembali pikiran busuknya dan membersihkan pikirannya dari segala maksud jahat, perhatian dipusatkan jadi satu dan hawa murnipun disalurkan menyusuri badan. Ia merasa si nona mulai meraba tubuhnya, segulung hawa panas segera menyusup dan mengelilingi seluruh badannya. Kedua telapak tangan gadis itu meraba kian kemari tiada hentinya, Tian Pek merasakan badan bertambah nyaman dan segar, begitu nyaman sampai rasa sakit pada lukanya tidak terasa lagi. Ketika terapi penyembuhan itu mencapai puncaknya, tiba2 gadis itu mengerut dahi dan berhenti meraba, telinganya menangkap sesuatu yang mencurigakan, hawa napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya. Selagi Tian Pek heran oleh perubahan air muka si nona, mendadak ia meraih topeng dan dipakainya, sekali melejit ia terus melesat keluar kelenteng itu. Kecantikan nona itu memang luar biasa, dikala tersenyum bahkan bagaikan bunga yang sedang mekar, tapi bila air mukanya berubah, maka seramnya membikin orang bergidik, terutama tingkah lakunya yang serba misterius, serba rahasia asal-usulnya, mau tak-mau membuat Tian Pek menjadi takut. Ia coba memeras otak pula untuk menyelami asal-usul gadis itu, ia ingat kembali apakah di dunia persilatan pernah ada tokoh seorang gadis cantik yang bertopeng setan begini? Jangan2 dia adalah orang yang dikirim musuhnya untuk mencelakainya? Tapi jelas hal ini tak mungkin terjadi, sikapnya sangat baik, malahan dia bersedia mengorbankan hawa murninya untuk mengobati luka yang dideritanya, kalau dia orang yang dikirim musuh, kenapa dia malah bantu menyembuhkan lukanya? .... Begitulah selagi macam2 pikiran berkecamuk dalam benak Tian Pek, tiba2 terdengar kain baju berkesiur, menyusul sesosok bayangan orang melayang masuk ke dalam ruangan. Tian Pek mengira gadis cantik yang misterius itu telah kembali, semula ia tidak menaruh perhatian, akan tetapi setelah orang itu berada di depannya barulah ia terperanjat. Ternyata pendatang ini bukan gadis cantik itu, melainkan seorang pemuda pelajar tampan berbaju putih. Tahun baru adalah musim dingin, meski Tian Pek tidur beralaskan onggokan rumput kering dan berselimut masih juga terasa dingin. tapi pemuda pelajar ini justeru membawa kipas lempit sehingga kelihatan sangat menyolok dan janggal. Agak tercengang Tian Pek menyaksikan kehadiran orang yang tak dikenal ini. Pemuda baju putih itu lantas tertawa dan menyapa: "Anda asyik benar ditemani Hong-gan-mo-li (iblis wanita berwajah cantik), tampaknya kau menjadi lupa daratan." "Mengapa anda berkata demikian? . . ." seru Tian Pek dengaa bingung. Pemuda berbaju putih itu mengetuk kipas peraknya di atas telapak tangan kirinya, lalu menjawab: "Perempuan cantik tak lebih cuma tengkorak yang berdaging, kecantikan perempuan juga seperti ulat yang berbisa, sebelum kau sadar dari impian indahmu, mungkin kau sudah akan menjadi setan gentayangan di kelenteng bobrok ini!" "Apa artinya perkataanmu ini?" sekali lagi Tian Pek bertanya dengan terkejut. "Kecantikan dan perempuan sebetulnya tenyata kosong belaka, lautan kesengsaraan tak bertepi, berpaling adalah daratan. . . ." kata pula pemuda baju putih itu seperti khotbah seorang pendeta. Tian Pek benar2 dibikin bingung oleh perkataan orang. "Apabila anda ingin memberi sesuatu petunjuk, harap bicaralah terus terang mengapa pakai istilah2 yang membingungkan orang . . ." "Hahaha?" pemuda baju putih itu ter-bahak2. "Benarkah kau tidak kenal perempuan iblis itu? Berani kau bermesraan dengan dia?!" Tentu saja Tian Pek tidak mengetahui asal usul gadis cantik yang serba misterius itu, tapi bagaimanapun juga orang telah menyelamatkan jiwanya, maka ia tak menaruh prasangka jelek atas nona itu. Kini cara bicara pemuda baju putih ini seperti main teka-teki diam2 ia tidak senang. "Bila tak ada urusan lain, silakan anda tinggalkan saja tempat ini!" demikian kata Tian Pek. "Maaf, Cayhe sedang sakit dan tiada nafsu untuk berbicara dengan anda." "Aku hanya bermaksud baik saja padamu, tak tahunya malahan menimbulkan salah paham! Baiklah, kalau kau belum tahu, biarlah kukatakan terus terang padamu, iblis perempuan itu tak lain adalah 'Ang-hun-ko-lau-mo-kui-kiau-wa' (Boneka cantik iblis sakti siluman tengkorak)! Gembong iblis nomor wahid di kolong langit dewasa ini, tahu tidak?" Tidak kepalang kaget Tian Pek demi mendengar keterangan ini. "Sungguhkah perkataanmu?" ia menegas. "Buat apa kubohongi kau? Sejak dari 'pulau iblis' di lautan timur sana kukuntit iblis ini, masa keteranganku ini dapat keliru?" "Ah, tak kusangka dia adalah. . .tak kusangka ....sungguh sukar untuk dapat dipercaya ...." Perlu diketahui. Ang-hun-ko-lau, Kui-bin-kiau-wa (Tengkorak cantik, boneka bermuka setan) adalah seorang gembong iblis yang namanya sangat termashur di dunia persilatan sejak puluhan tahun yang lalu. wajahnya memang cantik jelita bak bidadari kahyangan, akan tetapi hatinya kejam melebihi ular berbisa, ilmu silatnya sangat tinggi hingga sukar diukur, tabiatnya juga sangat cabul dan dengki, setiap lelaki tampan tentu akan ditawannya untuk dipikat dan dirayu, bila kurang mencocoki seleranya laki2 itu lantas dibunuhnya. Pantangannya yang terbesar adalah bertemu gadis cantik, perempuan cantik yang ditemuinya pasti dibunuhnya dengan cara keji, bukan saja matanya dicukil dan lidahnya dipotong, wajah mereka yang cantik dirusak hingga tak berwujud manusia lagi, dalam keadaan begitu baru korban ditinggalkan dan membiarkannya sekarat dan akhirnya mati. Oleh karena kekejamannya, meskipun belum lama ia muncul di dunia Kangouw, namun seluruh dunia sudah digemparkan oleh kecabulan serta kekejamannya, akan tetapi karena ilmu silatnya terlalu tinggi, jarang sekali ada orang yang sanggup menandinginya. Itulah sebabnya hanya dalam beberapa tahun saja banyak sekali muda mudi yang hancur masa depannya dan tewas secara mengerikan di tangan perempuan berhati iblis ini. Bukan saja jago muda dari kalangan hitam yang menjadi korban, seringkali jago muda dari golongan putih pun terbunuh. lama2 kejadian ini menimbulkan kegusaran semua pihak, baik jagoan dari golongan putih maupun dari kalangan hitam sama membencinya, akhirnya bergabunglah semua kekuatan dunia persilatan uutuk ber-sama2 menumpas perempuan blis itu, dalam suatu pertarungan yaug sengit di puncak Thay-san, akhirnya iblis itu berhasil melarikan diri dari kepungan. Dalam pertarungan sengit itu banyak juga korban di pihak delapan perguruan besar serta kawanan jago Lok-lim dari tujuh propinsi di selatan dan enam propinsi di utara. Sebab itulah maka akhir2 ini nama Su-tay-kongcu semakin menonjol dan menjagoi Bu-lim tanpa kesukaran. Sejak itu pula tengkorak cantik gadis bertopeng setan itupun lenyap dari keramaian dunia. Ada orang mengatakan ia tewas akibat luka parah yang dideritanya, ada pula yang mengatakan ia bertapa di "pulau iblis" di lautan timur, tapi bagaimanapun tak seorang yang tahu jelas, Tahun berganti tahun, kejadian yang menggemparkan itupun sudah dilupakan orang, kalau ada yang mengungkap kembali juga cuma dijadikan kisah menarik belaka di waktu senggang. Tian Pek pernah mendengar cerita itu dari para Piausu tua di perusahaan pengawalan dulu, tapi mimpipun ia tak menyangka gadis cantik yang telah menyelamatkan jiwanya itu adalah tengkorak cantik gadis bertopeng setan, bisa dibayangkan betapa terkesiapnya. Cuma saja ada satu hal ia merasa sangsi, gadis yang menyelamatkan jiwanya itu masih amat muda, mungkinkah dia ini gembong iblis yang pernah menggemparkan dunia persilatan pada puluhan tahun yang lalu? Maka sambil tertawa ia berkata: "Apakah ucapanmu ini dapat membuat aku percaya?" "Ya, kutahu kau takkan percaya pada perkataanku, tapi kelak bila kau percaya mungkin waktu itu sudah terlambat bagimu," demikian kata pemuda itu. Mendadak terdengar orang mendengus di belakang. cepat pemuda berbaju putih itu berpaling, entah sedari kapan gadis bertopeng setan itu sudah berdiri di tengah ruangan. Topeng yang bermuka hijau dan berambut merah serta bertaring menutupi seraut wajah yang cantik jelita, kecuali perawakannya rada pendek dan kecil ia memang persis seperti iblis yang menakutkan. Untung Tian Pek pernah menyaksikan wajah aslinya, kalau tidak, pasti takkan tersangka bahwa makhluk aneh seperti setan ini sebenarnya adalah penyaruan seorang gadis jelita. Dengan suara dingin menyeramkan gadis bertopeng setan itu menjengek: "Hm, sudah kuduga pasti kau inilah yang ngacau, Huuh, selicik-liciknya akal busukmu jangan harap bisa membohongi aku, cuma akupun merasa heran, apa sebabnya kau selalu membuntuti kepergianku dan selalu saja mengacau dan mengganggu kegembiraanku. Sebenarnya apa maksudmu?" Pemuda berbaju putih itu tidak menjawab, mendadak ia melancarkan suatu pukulan dahsyat. "Blang," gadis bertopeng menangkis pukulan itu, benturan keras mengguncang sekelilingnya, pelita di atas meja ikut tersampuk padam. Suasana menjadi gelap gulita, pertempuran berlangsung semakin gencar, Tian Pek berbaring dan tak dapat mengikuti jalannya pertarungan itu dengan jelas, tapi ia dapat merasakan betapa ttaam dan hebatnya desingan angin pukulan kedua pihak. Di tengah kegelapan, mendadak terdengar gadis bertopeng setan itu membentak nyaring: "Kau ingin lari lagi!...." Menyusul angin pukulan semakin men-deru2, tampaknya si gadis bertopeng setan telah mempergencar serangannya. Tiba2 si pemuda baju putih berseru: "Maaf, aku tak dapat menemani terlalu lama! Tapi kaupun jangan keburu bangga dulu, bila Hay-gwa-sam-sat (tiga malaikat bengis dari lautan) tiba, saat itulah ajalmu akan tiba." ata terakhir kedengaran berkumandang dari puluhan kaki jauhnya, jelas pemuda baju putih itu sudah berhasil kabur keluar kelenteng dengan kecepatan luar biasa. "Hm, sampai ke ujung langitpun akan kubekuk kau!" terdengar suara gadis bertopeng setan menggema dikejauhan. Diam2 Tian Pek menjulurkan lidah saking kagumnya, sungguh cepat sekali gerak tubuh mereka dan sukar dicari bandingannya. Suasana dalam kelenteng kembali hening, dengan pikiran kalut Tian Pek berbaring sendirian disitu, ia merasa sudah banyak pengalaman aneh yang dialaminya selama ini, tapi pertemuannya dengan gadis bertopeng setan serta pemuda berbaju putih inilah terhitung pengalaman yang paling aneh dan membingungkan. Ia pikir bila gadis bertopeng setan itu benar adalah Tengkorak cantik gadis topeng setan seperti apa yang dikatakan pemuda berbaju putih itu, maka aku harus bersyukur dapat terhindar dari cengkeramannya. Tapi kalau dipikir lagi hal inipun tak mungkin terjadi. Iblis keji itu sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, masa ia masih begitu muda dan kecil? Siapapun tak akan percaya. Juga pemuda berbaju putih yang tak dikenalnya itu mengapa sengaja datang membongkar rahasia gadis itu dengan menempuh bahaya? adahal setelah kepergok gadis bertopeng segera pula pemuda itu berusaha melarikan diri dan menggunakan nama Hay-gwa-sam-sat untuk me-nakuti si nona, siapa gerangan Hay-gwa-sam-sat yang dimaksudkan itu? Semakin dipikir Tian Pek semakin bingung, akhirnya dia anggap baik si gadis bertopeng setan maupun pemuda yang berbaju putih, keduanya bukan orang baik2, gerak-gerik mereka mencurigakan, asal-usulnya dirahasiakan, namapun sungkan dikatakan, semuanya serba tidak beres, bila terjatuh didalam cengkeraman mereka, tentu lebih banyak celaka daripada selamatnya. "Daripada menanggung derita di tangan mereka, lebih baik kucari tempat bersembunyi lain untuk merawat lukaku? Bila luka sudah sembuh, segera kucari jalan untuk membalaskan dendam ayah." Begitu timbul keinginan kabur, serta merta Tian Pek menggerakkan tangan kakinya dan rasa sakit ternyata sudah hilang ia mengerahkan pula hawa murninya dan terasa bisa terhimpun, betapa girangnya anak muda itu, ia tahu berkat pertolongan si nona bertopeng setan itu ia telah sehat kembali. Tapi ketika ia bangkit berduduk, seketika ia tertegun bingung. Kiranya ketika tak sadar, ia tak merasa tubuhnya dalam keadaan telanjang bulat. pakaiannya entah sejak kapan sudah dibelejeti. Dalam kagetnya Tian Pek coba meraba sekujur badannya, kecuali lengan dan kakinya yang dibalut dengan kain, boleh dibilang ia betul2 dalam keadaan telanjang bulat. Kejut Tian Pek sukar dilukiskan, cepat ia meraba disana-sini, akhirnya di tengah kegelapan ia berhasil menemukan bajunya, cuma pakaian itu sudah ter-koyak2 tak keruan. Sekarang Tian Pek baru mengerti, rupanya untuk membalut dan mencabut keluar senjata rahasia yang bersarang di tubuhnya, gadis bertopeng itu telah merobek bajunya. Teringat dirinya dibelejeti hingga bugil oleh seorang nona jelita, tanpa terasa muka Tian Pek menjadi merah. Tapi ada sesuatu yang membuatnya terlebih cemas daripada rasa malunya itu, yakni kitab pusaka Thian-hud-pit-kip yang dipandangnya lebih berharga daripada jiwanya kini ikut lenyap. Cepat ia meraba tempat lain, Pedang Hijau Bu-ceng-pek-kiam juga lenyap tak berbekas. aking gusarnya Tian Pek mencaci-maki kalang kabut Setelah mengetabui pedang pusakanya diambil orang, niatnya untuk kabur seketika lenyap, sekarang dia malah ingin menentui gadis bertopeng setan itu untuk menuntut kembali kitab pusaka Thian-hud-pit-kip serta Pedang Hijau. Pakaiannya sudah jelas tak mungkin bisa dikenakan lagi, dengan hati mendongkol ia merobek kain selimutnya menjadi beberapa potong lalu diikat di tubuh dengan kain bajunya yang robek, meski bentuknya menjadi lucu sekali, tapi paling sedikit bagian vital di tubuh dapat ditutupi dan juga untuk menolak hawa dingin. Selesai berdandan, dengan langkah cepat dia menyusup keluar, terlihat bulan telah condong ke barat, sinar yang bening menyoroti kelenteng yang bobrok itu menciptakan suatu pemandangan yang suram. ian Pek tak tahu kelenteng ini berada dimana, tapi segera ia menuju ke arah pergi pemuda baju putih serta si gadis bertopeng tadi. Beberapa li telah ditempuhnya tanpa terasa, namun tiada sesuatu tanda yang dilihatnya, yang melintang di depan mata adalah sebuah suugai yang lebar. Gemerlapan air sungai dengan suaranya yang men-debur2, tapi tiada bayangan seorangpun yang kelihatan. Tian Pek mengira dia salah arah, baru saja dia akan putar balik ke tempat semula, dari tepi sungai sebelah kiri sana mendadak terdengar suara langkah orang yang semakin dekat. Dari suaranya, Tian Pek menduga jumlah pendatang pasti lebih daripada satu dua orang, tergerak pikirannya, cepat ia menyusup ke balik semak2 dan bersembunyi. Di bawah cahaya rembulan yang terang, dengan jelas anak muda itu dapat menyaksikan munculnya serombongan orang dari balik alang2 di tepi sungai sana. Panjang juga barisan itu, ada berpuluh orang jumlahnya, semua bertubuh kekar, pada masing2 bahu mereka memanggul sebuah peti yang tampaknya berat sekali. Setiba di tepi sungai, orang2 itu menurunkan peti dan menyusunnya dengan rapi. Kebetulan Tian Pek bersembunyi dekat dengan tumpukan peti itu, maka semua dapat terlihat dengan jelas. Mereka terdiri dari laki2 kekar berpakaian ringkas, malahan diantaranya adalah jago pengawal berseragam yang sudah dikenal oleh Tian Pek. "Ah, bukankah mereka ini jago istana keluarga Kim?" demikian ia membatin. "Kenapa di tengah malam buta begini mereka menggotong peti sebanyak ini ketepi sungai? Tampaknya juga bukan pindah rumah, sungguh aneh . . ." Sementara Tian Pek masih ragu, terdengar seorang pengawal dengan napas ter- engah2 berkata: "Entah apa yang hendak dilakukan majikan kita ini? Tengah malam buta begini kita diperintahkan mengangkut peti2 berat ini ketepi sungai, tampaknya bukan pindah rumah, tapi kenapa barangnya diangkut semua kemari . . . ." "Ssst, Lo-su! Masa kau tidak tahu?" bisik rekannya dengan lirih, "kudengar orang2 yang kemarin dulu terkurung di dalam Sek-ki-tay-tin itu entah sebab apa tahu2 hari ini sudah kabur semua, mungkin majikan kita takut mereka akan datang membalas dendam, maka semua harta-benda diungsikan lebih dahulu, kalau tak kuat menahan serbuan musuh beliau dapat segera mengundurkan diri." "Ah, masa betul?" seru pengawal pertama tadi dengan kaget. "Bukankah sering kita dengar, katanya barang siapa terjebak di dalam Sek-ki-tay- tin, maka selamanya tak bisa lolos? Kenapa orang2 itu bisa kabur?" "Disitulah letak keanehannya, kudengar Sek-ki-tay-tin digerakkan bukan atas perintah majikan kita, melainkan Beng-siauya yang melakukan sendiri, karena peristiwa tersebut majikan jadi marah besar, ia menuduh Beng-siauya telah mengacaukan rencananya, malahan karena peristiwa ini Beng-siauya telah disekap dalam sel." "Bukankah Beng-siauya selalu menuruti perintah majikan? kenapa kali ini dia melanggar perintah? Apakah dia sudah sinting?" "Memangnya kau anggap dia belum sinting? Kalau dia tak sinting, tak mungkin Kongcu dan Siocia ikut dijebak pula disana." Pengawal yang bernama Lo-su itu menggeleng kepala berulang kali, katanya pula: "Lantas apa sebabuna dia sampai melakukan perbuatan sinting itu?" "Kenapa lagi? Tentu saja disebabkan anak keparat she Tian itu. Sebenarnya Beng-siauya dan Siocia dibesarkan bersama dalam satu keluarga, hubungan mereka b*ak sekali, besar hasrat Beng-siauya akan menperisterikan Siocia, malahan majikanpun sudah menyetujui persoalan ini. Apa mau dikata, sejak kedatangan anak keparat she Tian itu mendadak sikap Siocia terhadap Beng- siauya jadi dingin dan tawar, sebaliknya hubungannya dengan orang she Tian itu bertambah mesra, maka Beng-siauya menjadi gusar tidak kepalang, dalam suatu pertarungan sengit lengannya tertabas kutung oleh orang she Tian, tentu saja Beng-siauya tambah dendam dan benci. Dua hari yang lalu Beng-siauya bermaksud membalas dendam, siapa tahu ia malahan kena dipukul dan terluka oleh pemuda Tian, dari sakit hati Siauya menjadi sinting, pada kesempatan pemuda Tian berada dalam ruangan itulah. mendadak ia menggerakkan Sek-ki- tay-tin untuk membunuh saingan cintanya itu ...." Walaupun pelahan suara pembicaraan kedua orang itu, tapi berhubung Tian Pek bersembunyi dekat dengan mereka, maka semua pembicaraan tersebut dapat didengar olehnya dengan jelas. Tiba2 dari tepi pantai di seberang muncul cahaya lampu yang bergoyang kesana kemari, agaknya seorang diseberang sedang memberi tanda kepada orang yang ada di sebelah sini. Seorang laki2 berpakaian ringkas segera bersuit, lalu kepada rekan2nya ia berkata: "Bersiaplah, perahu hampir datang!" Dua orang pengawal yang sedang bercakap itupun menghentikan pembicaraan mereka. Suara dayung membelah air bergema di tengah kesunyian, bayangan perahu mulai mendekati pantai. Cepat sekali laju perahu itu, permukaan sungai yang luasnya puluhan tombak itu ternyata ditempuh dalam waktu singkat, menyusul munculnya perahu itu, belasan buah sampan juga bermunculan, rupanya sampan kaum nelayan. Pada sampan yang paling depan tampak seorang berduduk di atas sebuah kursi beroda, orang itu tak lain adalah Cing-hu-sin Kim Kiu. Setelah sampan menepi, orang2 yang berada di haluan sampan segera menggunakan gaetan untuk menghentikan perahu, sementara orang di daratan tadi segera menggotong peti2 itu dan diangkut ke atas perahu. Tersirap darah Tian Pek demi berjumpa dengan Cing-hu-sin Kim Kiu, musuh besar yang membunuh ayahnya, dia tak sanggup mengendalikan emosinya lagi sambil membentak, secepat kilat ia melompat keiuar dari tempat sembunyinya. "Kim Kiu bangsat tua! Serahkan jiwa anjingmu! . . . ." teriaknya penuh kebencian, suatu pukulan dahsyat segera menabas tubuh kakek yang lumpuh itu. Kemunculan Tian Pek sangat mendadak, cepat pula serangannya, sebelum kawanan jago yang ada didaratan mengetahui apa yang terjadi, tahu2 Tian Pek sudah menerjang musuh. Mimpipun Cing-hu-sin Kim Kiu tidak menyangka bakal disergap dalam keadaan begitu, dalam gugupnya ia masih sempat menangkis datangnya serangan tersebut. ===== Dapatkah Tian Pek membunuh Kim Kiu, mengapa tengah malam buta Kim Kiu hendak kabur? Siapa sebenarnya si gadis bertopeng setan itu? — Bacalah jilid ke 16 — Jilid 16 : Liu Cui-cui, gadis bertopeng setan "Blang!" di tengah beoturan keras, kursi berodanya berputar dan hampir saja tercebur ke dalam sungai. Untung banyak sekali jago2 pengawal berada di belakang kursi beroda ltu, cepat mereka menahan kursi tersebut, sekalipun demikian, akibat guncangan hebat perahu itu lantas terdorong meninggalkan pantai. Betapa gusar dan kejut Cing-hu-sin Kim Kiu setelah menyaksikan rahasianya terbongkar, dengan suara keras ia berteriak: "Cepat bekuk mereka, satupun jangan terlepas, bunuh tanpa perkara!" Rupanya ia tidak tahu banyak musuh yang datang, maka dia memberi perintah begitu. Diam2 Tian Pek menyesal karena terburu napsu, kini Cing-hu-sin telah kabur ke tengah sungai, tak mungkin lagi baginya untuk menyeraog lagi. Dalam pada itu belasan laki2 kekar tadi telah menurunkan peti mereka serta mengepungnya. Dengan tubuh hanya dibungkus dengan robekan kain selimut, Tian Pek tidak gentar menghadapi musuh. Sementara itu kawanan Busu ( jago silat ) teiah mengepung maju, setelah tahu bahwa lawan hanya Tian Pek seorang, keberanian mereka bertambah besar, diiringi suara bentakan, empat pengawal berbaju perang segera putar pedang dan menusuk anak muda itu. Dengan gesit Tian Pek putar badan menghindari serangan itu, telapak tangannya menyapu ke depan kontan empat pengawal itu menjerit dan mencelat. Terkejut kawanan Busu lainnya, serentak mereka menghentikan gerak majunya, nyata mereka menjadi jeri oleh perbawa Tian Pek yang sekali serang merobohkan empat orang itu. Tiba2 terdengar siulan nyaring, sesosok bayangan hitam melambung ke udara, sesudah berputar satu lingkaran mendadak menukik dan menerkam Tian Pek laksana burung rajawali menerkam mangsanya. Dari gaya serangannya segera Tian Pek mengenali orang ini adalah Tiat-ih-hui- peng (rajawali sakti bersayap baja) Pah Thian-bo, salah seorang di antara "sepasang pengawal baja". Semenjak mendapat ajaran ilmu sakti seratus hari dari Sin-lu-tiat-tan, kepandaian Tian Pek sudah maju pesat, makin besar juga ia percaya pada diri sendiri, kendatipun tahu bahwa Tiat-ih-hui-peng adalah jago utama istana keluarga Kim, pula mempunvai "baju sakti bersayap baja" yang dapat membantunya melambung ke udara, namun Tian Pek sama sekali tak gentar, Ketika musuh menubruk turun. bukannya berkelit atau menghindar, Tiap Pek malahan menyongsong ancaman tersebut dengan suatu pukulan dahsyat. Dua kekuatan kebentur dan menerbitkan suara gemuruh. Tian Pek tidak tergetar oleh benturan tersebut dan tetap berdiri di tempat, sebaliknya Tiat-ih-hui-peng yang berada di udara terpental dan berjumpalitan beberapa kali, lalu ia kuncupkan sayap dan melayang turun. Kejadian ini sangat mengejutkan kawanan jago istana Kim yang hadir di sekitar tempat itu, mereka tahu ilmu silat Tiat-ih-hui-peng sangat tangguh, jarang ada kekuatan yang mampu menahan gempurannya, tapi kini jago mereka ternyata menelan pil pahit yang mengenaskan. Setiba di permukaan tanah, Tiat-ih-hui-peng mengebas sayap bajabya, dalam kegelapan tak kelihatan bagaimana air mukanyu, tapi dapat diduga ia pun terkejut, ia sedang mengatur pernapasan untuk mempersiapkan serangan kedua. Berpuluh lentera mendadak menyala di atas sampan, cahaya yang terang itu menyorot ke arah Tian Pek. Di bawah cahaya lampu, semua orang dapat melihat jelas dandanan Tian Pek yang lucu itu, tubuhnya hanya dibungkus dengan robekan selimut, ikat pinggangnya cuma beberapa helai kain baju, bukan &aja tanpa bersepatu. malahan sebagian tubuhnya juga telanjang. Akan tetapi wajahnya yang cakap kelihatan kereng. Sebagian besar jago istana Kim kenal siapa dia, hampir semuanya bersuara heran: "He, dia ..." Cing-hu-sin Kim Kiu yang berada di perahunya dan berteriak lantang: "Tangkap bangsat cilik itu, jangan sampai kabur, tangkap dia!" Berpuluh orang dengan senjata terhunus segera bergerak maju, dalam waktu singkat Tian Pek terkepung rapat, namun tak seorangpun yang berani turun tangan lebih dahulu. Terdengar gelak tertawa menggema, seorang kakek bungkuk tampil ke depan. Inilah dia Tiat-pi to hong Kongsun Coh. Ia menghampiri Tian Pek, tegurnya: "Hahaha, saudara cilik. hanya beberapa hari tak bertemu, rupanya ilmu silatmu telah mendapat kemajuan lagi. Haha, ada satu persoalan ingin kutanyakan padamu apakah kau bersedia memberi jawaban?" Selama berada di istana keluarga Kim, beberapa kali Tian Pek mendapat bantuan dari kakek bungkuk ini, dengan sendirinya ia pun bcrkesan baik padanya. Maka dengan menahan rasa dendam yang berkobar ia menjawab: "Persoalan apa yang hendak Kongsun cianpwe bicarakan?" “Istana keluarga Kim menerima dirimu sebagai tamu terhormat, apa sebabnya saudara malahan memusuhi kami?" "Kongsun-cianpwe mungkin tidak tabu. Ayah-ku dibunuh oleh Cing-hu-sin Kim Kiu, dia adalah musuhku, dengan sendirinya aku ingin menur.tut balas, walau begitu aku masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, barang siapa tidak tersangkut dalam peristiwa itu, akupun tak ingin memusuhi dia, Kongsun-cianpwe, bila engkau bersedia cuci tangan di dalam persoalan ini, aku Tian Pek niscaya takkan memusuhi dirimu!" "Apakah aku boleh tahu siapakah mendiang ayahmu?" tanya Kongsuo Coh dengan melengak. "Tidak pantas seorang anak menyebut nama ayahnya, tapi kalau Cianpwe ingin tahu, terpaksa kukatakan, mendiang ayahku tak lain adalah Pek lek-kiam Tian In-thian!" "O, maaf. maaf, kiranya saudara cilik ini keturunan Tian-tayhiap ..." Di tengah kegelapan terdengar tuara dayung membelah air, Tian Pek kuatir Cing-hu-sin Kim Kiu kabur, cepat dia berseru: ' Perkataanku sudah cukup jelas, Kongsun-cianpwe tentunya bersedia untuk cuci tangan di dalam persoalan ini bukan?" Tiat pi-to liong mengunjuk wajah serta salah, ia menjadi ragu2. Sementara itu Tian Pek dapat menangkap suara dayung yang kian menjauh, tapi cahaya lampu yang menyorot terang itu membuatnya silau sehingga sukar melihat keadaan sana, segera ia membentak keras: "Bangsat tua Kim Kiu, jangan coba kabur.. .. " Dengan cepat dia menubruk ke tepi sungai. Tiat-pi-to-liong adalah jago yang mengutamakan setia kawan serta kebenaran, tentu saja iapun tabu siapa Pek lek-kiam Tian In-thian, sejak anak muda itu menyebutkan asal-usulnya, ia sudab mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari persoalan ini. Tapi dia bekerja dan terima upah, dia harus tahu kewajiban, maka ia menjadi ragu, melihat Tian Pek hendak bertindak pula, cepat ia berseru: "Nanti dulu, saudara cilik, dengar dulu perkataanku" Berbareng itu cepat ia mencengkeram ke arah Tian Pek. Tian Pek mengira Tiat-pi-to-liong sengaja me-nyerangnya, sedang musuh tampak akan kabur, tanpa pikir ia lantas menghantam. Tiat-pi-to-liong tidak menduga Tian Pek akan melancarkan serangan balasan, iapun tak menyangka anak muda itu memiliki gerakan tubub secepat itu, sedikit meleng jari tangan Tian Pek tahu2 sudah mengancam Kwan-goan-hiat sikunya. Kwan-goan-hiat adalah Hiat-to penting, kalau kena tertutuk, lengan itu akan lumpuh dan tak bisa digunakan lagi, ia jadi terkejut bercampur gusar. Dia terkejut lantaran usia Tian Pek begitu muda ternyata memiliki ilmu silat sehliay itu, dia marah karena maksud baiknya malahan dibalas pemuda itu dengan serangan mematikan. Sebagai seorang jago tua yang tinggi hati, tentu saja ia marah diperlakukan macam begitu, dia anggap lawan menghinanya, karena gusar dan mendongkolnya, mendadak ia balas menghantam punggung Tian Pek. Serangan yang dibalas dengan serangan ini merupakan pertarungan adu jiwa, bila Tian Pek tidak segera membatalkan ancamannya, sekalipun dia berhasil merusak lengan kanan Tiat-pi-to-liong, akan tetapi punggungnya juga akan termakan oleh pukulan maut musuh dan jiwanya pasti akan melayang. Tian Pek tahu bahaya ancaman maut itu, ia tidak bermaksud mengadu jiwa dengan kakek bungkuk itu, pada saat terakhir tiba2 ia tarik kembali serangannya, lalu melaysng jauh ke samping. Tiat-pi-to-liong semakin gusar, teriaknya dengan marah: "Saudara cilik, begini pongah sikapmu, apakah kau merasa ilmu silatmu teramat tinggi, ingin kucoba beberapa jurus seranganmu!" Sepuluh jari tangannya lantas dipentang lebar2, secepat kilat ia menubruk maju pula. Tian Pek terkesiap, dia tak berani menyambut serangan itu dengan keras lawan keras, segera ia melayang ke samping untuk menghindar. Belum sempat Tian Pek berdiri tegak, desingan angin tajam menyambar pula dari belakang, ia tahu ada orang menyergap, ia tak sempat berpaling, cepat ia menangkis ke belakaug, "blang!" benturan keras terjadi, begitu dahsyatnya hingga lengan Tian Pek terasa kaku kesemutan, darah bergolak, ia tergentak mundur tiga langkah. "Kuat sekali tenaga pukulan orang ini, entah jago lihay darimana?" pikir Tian Pek. Segera ia mengamati musuhnya, kiranya orang ini adalah Tiat ih-hui-peng, orang tua ini berdiri tegak di depanuya sambil melotot gusar. Rupanya tatkala melancarkan sergapan dari udara pertama kali tadi, Tiat-ih- hui-peng hanya menggunakan enam bagian tenaga saktinya dan dia mcnderita kerugian, maka dalam sergapan yang kedua ini ia sertakan segenap kekuatannya. Tian Pek sendiri karena harus menyambut pukulan itu dengan ter-gesa2, tentu saja hawa saktinya tak mampu digunakan sampai pada puncaknya, tidak heran kalau ia kalah kuat dalam adu tenaga ini. Sementara Tian Pek terktjut, suara bentakan Tiat-pi-to-liong telah menggelegar lagi dari belakang, menyusul segulung angin pukulan mengancam tiba. Gusar Tian Pek karena harus menghadapi sergapan maut dua jago ternama, ia tidak gentar, malahan semangat tempurnya semakin berkobar, menyaksikan datangnya ancaman itu dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan ilmu Hong-lui pat-kiam ajaran Sin-lu-tiat-tan, ia menggunakan telapak tangannya sebagai pengganti pedang, dia bacok musuh dengan jurus Sim-hong-ci-lui. "Bluk!" pukulan maut Tian Pek bersarang telak di punggung musuhnya yang bungkuk Kiranya Tiat-pi-to-liong telah dibikin gusar oleh Tian Pek, setelah serangan dengan jurus Ciong-liong-si-jiau (naga sakti unjuk cakar) berhasil di-hindari lawan, sebagai orang yang pemberang, kegusarannya makin memuncak, ketika dilihatnya pemuda itu sedang menyambut pukulan rekannya Tiat-ih-hui-peng, dengan keras lawan keras, segera ia pun menghantam punggung Tian Pek dengan jurus Ciang-liong-tham-hay (naga selulup ke laut). Maksudnya hendak mencengkeram punggung musuh, apa mau dikata gerakan Tian Pek terlampau cepat, bukan dia yang berhasil, bacokan lawan yang malahan bersarang di punggungnya yang bungkuk. Sebagaimana julukannya, Tiat-pi to liong (naga bungkuk berpunggung baja) memiliki kekebalan pada punggungnya itu, dengan demikian sekalipun bacokan Tian Pek berhasil dengan telak tapi sama sekali ia tak terluka, malahan Tian Pek sendiri yang merasakan telapak tangannya jadi sakit. Walaupun demikian Tiat pi-to liong sendiri pun terpental oleh tenaga pukulan itu, setelah sempoyongan beberapa puluh langkah dia baru berhasil mengembalikan keseimbangan badannya. Dapat dibayangkan betapa gusarnya Tiat-pi to liong karena berulang kecundang, semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, belum pernah ia menderita kekalahan sehebat ini, dalam gusarnya cepat ia menerkam ke depan pula, kakinya secepat kilat menendang lambung Tian Pek dengan jurus Liong-jut- jim tam (naga sakti muncul dari telaga). Malahan telapak tangan kirinya segera pula hendak mencukil kedua mata pemuda itu dengan gerakan Siang liong-ciang-cu (sepasang naga berebut mutiara), satu gerakan dengan tiga serangan yang berbeda, benar2 ancaman yang mengerikan. Tian Pek menghadapinya dengan tenang, ia keluarkan ilmu langkah Kiu-kiu- kui-goan untuk menghadapi musuh, gerakanoya seperti maju tapi tidak maju, mundur bukan mundur, namun serangan gencar musuh jangan harap akan menyentuh tubuhnya. Ilmu langkah inipun ajaran oleh Sin-lu-tiat-tan khusus untuk mengalahkan Ni- gong-hoan-ing, ilmu khas andalan Sin-kau Tiat Leng dan ternyata kepandaian ini juga bermanfaat dipakai untuk menghindari tiga serangan berantai dari Tiat pi- to-liong barusan. Setelah Tian Pek unjuk kepandaian tangguhnya, baru semua jago terkejut, semua orang heran dan terbelalak. Tian Pek sendiri sama sekali tidak menggubris keheranan lawannya, dengan enteng bagaikan awan bergeirak diangkasa ia maju tiga langkah ke kiri, mundur tiga langkah ke kanan, tiap tiga langkah kali tiga langkah ia segera berputar kembali ke tempat semula, ternyata tubuhnya selalu berkisar di tempat semula, sekalipnn begitu semua serangan gencar yang dilancarkan musuh berhasil dihindar dengan manis. Sekarang semua orang baru terbelalak dan melongo siapa yang tak heran melihat ketangguhan seorang pemuda macam Tian Pek? Melihat temannya sudah sekian lama tak berdaya terhadap anak muda itu, segera Tiat-ih-hui-peng pentang sayap dan ikut terjun di tengah gelanggang. Sstelah sepasang pengawal baja turun tangan bersama baru terlihat kekuatan mereka yang ampuh dan serangan mereka makin berbahaya, satu dari udara dan yang lain dari daratan, pukulan demi pukulan dilancarkan dengan gencar dan dahsyat. Dalam keadaan begini Tian Pek terpaksa memberikan perlawanan dengan lebih gigih, kakinya bergerak dengan ilmu langkah Kiu-kiu-kui-goan, sementara tangannya memainkan jurus2 serangan Hong-lui-pat-kiam, meskipun tanpa menggunakan pedang, namun setiap bacokan telapak tangannya segera mematahkan setiap serangan musuh. Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun keadaan tetap seimbang, siapapun tak berhasil mendesak mundur musuhnya. Tian Pek pernah menyaksikan kerja sama dari kedua pengawal baja ini ketika mereka menghadapi barisan bambu hijau kaum pengemis di bukit "dua belas gua karang", sekarang setelah mengalami sendiri kerubutan tersebut baru ia mengakui betapa hebatnya kerja sama mereka ini. Tiat-ih-hui-peng andalkan sayap bajanya selalu menerjang dan menubruk dari udara dengan pukulan beratnya, sementara Tiat-pi-to-liong yang berada d1 daratan melepaskan pukulan dan cakar mautnya dengan kekuatan mengerikan ditambah pula ilmu punggung bajanya yang tahan pukulan, terkadang Tian Pek tak mampu menghindarkan diri dan terpaksa harus melayani serangan keras lawan keras. Dalam waktu singkat Tian Pek sudah terlibat dalam suatu pertempuran yang harus memeras tenaga, berbicara soal tenaga dalam. walaupun harus menghadapi kerubutan kedua pengawal baja, sekuatnya ia masih mampu bertahan sehingga tak sampai kalah, akan tetapi berhubung pakaian yang dikenakan hanya sobekan kain selimut yang dibalutkan, setelah tersampuk angin pukulan musuh kain selimut itu jadi terlepas dari ikatan hingga gerak geriknya jadi kurang leluasa, ia kuatir kain penutup tubuhnya terlepas hingga badannya jadi telanjang, hal ini bisa membuatnya runyam. Ia bermaksud kabur saja, apa mau dikata kalau selimut itu se-akan2 membelenggu kakinya, sergapan Tiat-ih-hui-peng dari atas juga selalu mengintai. Lama2 Tian Pek jadi gelisah bercampur panik terpaksa dia harus menggigit bibir dan meneruskan perlawanannya dengan gigih. Beberapa gebrakan kemudian, kain selimut pembalut tubuhnya sudah makin kendur, malahan separuh di antaranya telah merosot hingga di bawah perut, badan bagian atas jadi bugil, ini membuat gerak-geriknya semakin tidak leluasa tampaknya sebentar lagi ia bakal kalah .... Pada saat yang gawat inilah tiba2 terdengar bentakan nyaring, sesosok bayangan manusia dengan disertai kilatan cahaya tajam membelah udara menyusup ke tengah gelanggang. Tiat-ih hui-peng berpekik nyaring, bagaikan layang2 yang putus benangnya, tahu2 tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh di tempat lima-enam tombak jauhnya. Setelah merangkak bangun Tiat-ih-hui-peng melihat sebelah baju ajaib yang menjadi sayapnya itu telah patah satu. Pucat wajah orang tua itu, rasa kaget menghiasi mukanya, jelas ia merasa ngeri dan takut sebab sayap andalannya berhasil dipatahkan pendatang yang tak dikenal ini. Waktu ia mengamati, seorang manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah dengan pedang terhunus berdiri angker di tengah gelanggang. Bagi Tian Pek tentu saja kemunculan manusia aneh ini tidak mengherankan, berbeda dengan kawanan jago dari istana Kim, mereka sama terkesiap. Tiat-pi-to-liong melihat rekannya kehilangan sebelah sayap, dalam kejutnya ia jadi gusar, sambil membentak, segera ia menghantam manusia aneh itu. Tenaga dalam Tiat-pi-to liong memarg lihay, ditambah pula serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan gusar, makin dahsyat hawa pukulan yang terpancar. Seperti gulungan ombak samudera, angin pukulan itu langsung menerjang dada manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu. Manusia aneh itu mendengus, dengan suatu gerakan enteng dia mengayunkan pula telapak tangannya untuk menangkis. "Blang!" Tiat-pi-to-liong tergetar sejauh lima langkah ke belakang. Jago bungkuk itu melotot, ia tak menduga musuhnya akan begini tangguh, mukanya merah padam dan cambangnya pada berdiri kaku bagaikan duri landak, dia tambah murka. Setelah tertegun sejenak tiba2 ia membentak, seperti roda kereta, mendadak ia menyeruduk manusia aneh bermuka hijau itu dengan punggung bajanya yang keras. “Kau cari mampus!" hardik manusia aneh bermuka hijau itu sambil tertawa. Baru habis ucapannya, Pedang Hijau di genggamannya tiba2 menusuk ke depan dan "Crasss", dengan telak pedang menikam punggung Tiat pi-to liong itu. Jago bungkuk itu menjerit kesakitan, jeritan keras bagaikan longlong srigala di tengah malam buta, ia sempoyongan sejauh beberapa kaki sebelum berhasil berdiri tegak, darah segar bagaikan pancuran segera menyembur keluar dari punggungnya yang terluka itu. Ilmu kebal Bang-yu-ceng-gi (hawa sakti kerbau dungu) yang dimiliki Tiat-pi-to- liong bukan saja membuat badannnya kebal senjata, terutama sekali punggungnya amat keras melebihi baja, siapa tahu hanya sekali tusuk semua kekebalan yang dimilikinya telah punah dengan begitu saja. Jeritan melengking Tiat-pi-to-liong amat menyayatkac hati, seluruh kulit tubuhnya berkerut tanda rasa sakit yang tak terhingga, setelah ilmu kebalnya punah, maka peredaran darah dalam tubuhnya bergolak, penderitaannya jauh lebih mengerikan daripada orang biasa. Para jago istana keluarga Kim sama ngeri dan jeri oleh peristiwa itu, kedua tokoh utama yang paling mereka andalkan kini dikalahkan secara mengerikan oleh seorang manusia aneh apa lagi yang mereka harapkan? Dengan suatu gerakan secepat kilat. mendadak manusia aneh bermuka hijau itu meluncur ke depan, Pedang Hijaunya berkelebat kian kemari dengan cepatnya, darah segar berhamburan di sana-sini, beberapa orang ysng menjerit tadi seketika terkutung kepalanya dan mampus seketika. "Hm, inilah contohnya bagi mereka yang berjiwa pengecut dan suka menjerit seperti setan!" seru manusia aneh bermuka hijau setelah membinasakan beberapa orang. Jago istana keluarga Kim yang masih tertinggal di situ benar2 mati kutunya, mereka benar2 pecah nyalinya sampai bersuarapun tidnk berani, mata mereka terbelalak dan mulut melongo lebar, dengan muka pucat seperti mayat mereka berdiri seperti patung. Alis Tian Pek berkerut, ia merasa tak tega menyaksikan pembantaian tersebut, ia tahu di balik topeng setan itu adalah seorang dara cantik bak bidadari dari kahyangan, namuu kekejamannya ternyata di luar dugaan. Tian Pek segera kenali juga Pedang Hijau di-tangan si nona tak lain adalah Bu- cing-pek-kiam milik sendiri, dengan langkah lebar ia lantas mendekatinya dan berseru: "Serahkan pedang pusaka itu kepadaku!" "Eh, kenapa hatimu jadi lembek?" kata manusia aneh bermuka hijau itu seraya berpaling, "masa kau lupa cara bagaimana mereka mengerubuti dirimu barusan ini?” Berbicara sampai di sini, mendadak ia membungkam dan tak melanjutkan. Untung ia mengenakan topeng, kalau tidak niscaya Tian Pek dapat menyaksikan betapa merah wajah anak dara itu saking malunya. Kiranya kain selimut yang menutupi tubuh Tian Pek telah merosot sampai pangkal paha sehingga bagian badannya yang harus dirahasiakan mulai meng- intip2. Tapi anak muda itu masih belum berasa, ia malahan berseru: "Peduli amat, pokoknya aku tak ingin bertemu dengan kau, apalagi kau memakai pedangku untuk membantai orang, cepat serahkan pedang itu kepadaku!" Manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu mendadak tertawa cekikikan seraya melengos ke arah lain, serunya: "Hai, lihatlah potongan-mu, lekas betulkan pakaianmu ...” Tian Pek lantas menunduk kepala, ketika mengetahui keadaannya yang hampir2 polos, seketika mukanya merah panas, buru2 ia tarik naik kain penutup badannya dan mengikatnya lagi. Sementara Tian Pek membereskan pakaiannya, beberapa jago istana keluarga Kim yang bernyali kecil diam2 hendak mengeluyur pergi. Namun gerak-gerik mereka tak terlepas dari ketajaman mata manusia aneh bermuka hijau, baru saja mereka hendak kabur. segera ia meleset ke sana, di mana Pedang Hijau berkelebat, kepala bergelindingan pula di tanah dan darah segar bermuncratan. Tian Pek tak tega, ia berseru: "Hai, kembalikan pedang itu kepadaku, jangan lakukan pembunuhan lagi, kalau tidak, terpaksa aku tidak sungkan2 lagi padamu!" Kali ini manusia muka setan tidak membangkang, dia kembalikan pedang itu kepada Tian Pek sambil mengomel: "Namanya pedang tak berperasaan (Bu- ceng), hanya kugunakan untuk mencabut nyawa beberapa ekor tikus saja kenapa mesti ber-kaok2?” Dengan mendongkol Tian Pek menerima pedang dan berkata: "Kenapa kau omong begitu, mereka kan orang tak berdosa." "Huh, kan demi membela kau, maka kubunuh mereka," kata si nona. Tanpa terasa nada ucapannya memperdengarkan nada seorang gadis, tapi lantaran mukanya memakai topeng sehingga kedengarannya menjadi janggal, hal ini menimbulkan perasaan heran dan sangsi dalam hati kawanan jago silat termasuk pula kedua pengawal baja yang terluka, mereka memandang wajah manusia aneh itu dengan melenggong. "Aneh sekali!" pikir mereka, "manusia aneh ini jelas bermuka seram seperti iblis, kenapa suaranya seperti suara gadis. Sementara itu Tian Pek telah melangkah ke tepi sungai dengan pedang terhunus, tapi setibanya di pantai, yang tertampak hanya beberapa buah perahu kosong. sedangkan perahu yang ditumpangi Cing-hu sin Kim Kiu entah sudah kemana kabur-nya. Peti2 tadi juga tidak tampak pula, rupanva di kala Tian Pek bertempur melawan kedua pengawal baja, Cing hu-sin Kim Kiu telah mengangkut peti2 itu dan kabur, sementara orang2 yang ditinggalkan itu dijadikan tumbal bagi keselamatannya. Termangu Tian Pek memandangi air sungai, diam2 mansia aneh bermuka setan meadekatinya dan menegur: "Hei, apa yang kau cari?" "Musuh besarku telah kabur, aku ingin menyeberangi sungai ini!" "Kalau begitu, mengapa tidak naik ke atas perahu?" Tapi, aku tak bisa mendayung perahu!" kata Tian Pek. "Kau tak bisa, aku bisa, tanggung kuantar sampai ke seberang!" seru manusia aneh itu sambil tertawa. Apa yang dipikirkan Tian Pek sekarang adalah bagaimana caranya memburu jejak musuh, demi mecdengar ucapan itu, tanpa pikir ia terus melompat ke atas perahu. Selama hidup Tian Pek belum pernah naik perahu, ketika melompat ke atas sampan yang sempit dan kecil itu, ia kehilangan imbangan badan karena berdiri terlalu ke samping, sampan oleng, buru2 ia menahan keseimbangan tubuhnya dengan kaki menolak tepi sampan. Apa mau dikata injakan tersebut kelewst keras, sampan tersebut segera oleng ke samping lain lagi dan membuat tubuh anak muda itu hampir saja terlempar ke dalam sungai. "Aduh " Tian Pek menjerit kuatir. Untung pada saat yang gawat itu tangannya ditangkap orang, habis itu sampan itu terus meluncur ke tengah sungai deagan cepat. Kembali Tian Pek kehilangan keseimbangan badan dan jatuh telentang, untung seorang lantas mendekapnya, Orang yang menahan tubuh Tian Pek jelas ada gadis bertopeng itu, ia sangat menguasai kendaraan air karena sejak kecil dibesarkan di sebuah pulau, bermain perahu baginya selincah orang daratan menunggang kuda. Segera iapun melompat ke atas perahu setelah menolak perahu ke tengah sungai. Karena itu, ketika Tian Pek jatuh ke belakang, segera ia merangkul tubuhnya, karena iapun tidak ber-jaga2 sebelumnya, keduanya lantas roboh bersama. Mereka berbaring telentang, Tian Pek berada di atas dan gadis muka setan berada di bawah, untung perahu itu tak sampai terbalik akibat kejadian itu. Sesaat kemudian mereka sama meronta bangun, tapi karena sempitnya ruang perahu untuk sementara waktu mereka sulit untuk berdiri. Akhirnya Tian Pek membalik badan dan merangkak bangun sedang gadis muka setan melepaskan topengnya dan ikut bangun, serta merta kedua orang itu beradu pandang. Di bawah cahaya rembulan, gadis itu bukan berwajah setan lagi, tapi tampak cantik mempesona, timbul perasaan aneh dalam benak Tian Pek. ia merasakan tubuh si gadis yang halus, empuk dan harum ... tangannya jadi lemas dan badan yang sudah setengah terangkat jatuh kembali menindihi tubuh gadis itu. Sebenarnya gadis ini bukan Kui-bin kiau-wa (gadis cantik muka setan) yang tersohor akan kecabulannya, Kui bin-kiau-wa adalah seorang yang lain, tapi orang lain salah sangka padanya. Gadis ini ibarat bunga yang baru mekar, dia adalah seorang gadis yang polos, karena tubuhnya ditindih seorang pemuda ganteng, kontan iapun merasa sekujur badan jadi lemas, suatu perasaan aneh segera menyelimuti perasaannya, belum pernah ia temui pengalaman semacam ini sepanjang hidupnya, jantungnya berdebar keras, tenaganya jadi lenyap, dengan napas terengah dia pejamkan matanya rapat2. Untuk beberapa waktu lamanya, kedua orang sama2 diam saja. dibuai oleh perasaan yang aneh itu, perahu terhanyut seadiri terbawa oleh arus. Sementara itu kawanan jago istana Kim dan kedua pengawal baja yang berada didaratan hanya berdiri termangu dengan rasa keheranan, melihat sampan yang memuat kedua orang itu lenyap di tengah sangai. Bulan masih bulat meskipun malam itu tanggal tujuh belas, sinarnya tidak secerah malam tanggal lima belas, sampan itu bergerak mengikuti arus sungai, terombang-ambing tanpa tujuan memuat sepasang muda-mudi yang sedang mabuk oleh perasaan aneh Malam amat sepi, udara dingin, tiada terdengar suara lain kecuali debaran jantung kedua muda-mudi yang saling tindih itu. Di teagah kcheningan itu, tiba2 si gadis menggeliatkan tubuhnya, entah karena merasa sakit lantaran tertindih seorang laki2 kekar ataukah karena lengannya yang kesemutan. Tian Pek tersentak sadar, ia ingin merangkak bangun, tapi mendadak kedua tangan gadis itu mulai meraba punggungnya dengan perlahan. Bagaikan kena aliran listrik, sekujur badan pemuda itu gemetar, ia merasa rabaaan gadis itu se-olah2 disertai aliran listrik yang menimbulkan hawa panas darah bergolak keras. Waktu ia membuka mata, ia lihat gadis yang ditindihnya itu berada beberapa senti di depan matanya dengan bibirnya hampir menempel bibir, mata yang jeli setengah terpejam, mulut yang mungil setengah terbuka, dengus napas yang memburu mencerminkan sesuatu kehendak, rangkulan pada Tian Pek tambah erat dan tiada berhenti merabanya. Tian Pek memang tidak berpakaian, dengan sendirinya sentuhan langsung itu sangat merangsang dengan sendirinya pula pemuda itu balas memeluk gadis itu, diciumnya bibir yang mungil dengan ber-napsu, makin dicium semakin kalap. Betapapun nona itu tidak tahan reaksi Tian Pek yang gila ini, napasnya terengah dan tiada hentinya merintih, bagaikan ular tubuhnya menggeliat ke sana kemari . Tiba2 awan hitam menutupi rembulan yang menerangi jagat, pantulan sinar di permukaan air juga lenyap, suasana jadi gelap, sampan itupun berubah sesosok bayangan hitam yang samar2, tak jelas lagi pemandangan di atas perahu itu, sayup2 cuma terdengar suara air sungai yang beriak di bawah. xxxx Fajar telah mulai menyingsing, sinar keemasan mulai mengintip di ufuk timur. Sampan kecil yang terombang-ambing tanpa tujuan itu akhirnya terhanyut ke tepian dan "duuk", sampan menumbuk pantai pasir. Guncangrm keras itu mengejutk
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Dewasa Hikmah Pedang Hijau 3 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Dewasa Hikmah Pedang Hijau 3 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/09/cerita-dewasa-hikmah-pedang-hijau-3_6093.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Dewasa Hikmah Pedang Hijau 3 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Dewasa Hikmah Pedang Hijau 3 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Dewasa Hikmah Pedang Hijau 3 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/09/cerita-dewasa-hikmah-pedang-hijau-3_6093.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

hendri prastio mengatakan...

artikelnya bagus sekali sob,,menambah pengetahuan dan wawasan.. terima kasih banyak atas sharenya..semoga selalu menciptakan karya" terbaiknya,,,dan ditunggu UPDATEan terbarunya sob,,,pokoknya mantap deh! keren buat blog ente ! dan saya mohon dukungannya sob buat lomba kontes SEO berikut:
Ekiosku.com Jual Beli Online Aman Menyenangkan
Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia
terima kasih atas dukungannya sob,, saya doakan semoga ente selalu mendapatkan kebaikan,, dan terus sukses!! amin hehe sekali lagi terima kasih banyak ya sob...thaks you verry much...

Posting Komentar