Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 2

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 11 Mei 2012

Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 2
an Tiong tadinya ingin minta diri saja, akan tetapi melihat wajah adiknya dia tahu betapa adiknya ingin sekali
nonton pertandingan, dan dia sendiripun diam-diam amat tertarik dan ingin menyaksikan sampai di mana kehebatan
tuan rumah ini yang agaknya hendak melayani tamu yang berjuluk Kang-thouw-kwi itu. Maka diapun mengangguk dan
menjawab, "Kalau kami tidak mengganggu, kami ingin melihat."
"Bagus! Mari silakan ikut bersamaku!" kata pemuda itu dengan sikap gembira karena betapapun juga, dia ingin
memamerkan kepandaiannya kepada dua orang tamu ini. Han Tiong dan Thian Sin mengikuti tuan rumah meninggalkan
pondok dalam taman, memasuki gedung itu dari pintu belakang dan menuju ke sebuah ruangan yang amat luas, sebuah
ruangan lian-bu-thia, yaitu ruangan tempat berlatih silat yang mewah sekali, dengan hiasan dinding berbentuk
lukisan-lukisan binatang yang gagah seperti harimau, burung bangau, naga, dan lain-lain binatang yang dianggap
mempunyai gerakan-gerakan gagah dan yang dijadikan dasar bermacam gerakan ilmu silat. Di sudut ruangan yang
luas itu terdapat beberapa rak tempat senjata yang penuh dengan belasan alat-alat berlatih dan olah raga
seperti batu-batu besar untuk diangkat, karung-karung pasir dan sebagainya.
Di sebelah kiri, dekat dinding, terdapat belasan bangku dan seorang kakek bangkit dari bangku yang didudukinya
ketika melihat tiga orang pemuda itu memasuki ruangan. Han Tiong dan Thian Sin memandang penuh perhatian. Kakek
itu usianya lebih dari enam puluh tahun, rambutnya sudah putih sebagian, sinar matanya mengandung kecemasan dan
kedukaan, pakaiannya sederhana dan pandang matanya ditujukan kepada Siangkoan Wi Hong setelah dengan sikap tak
acuh dia melempar pandang kepada Han Tiong dan Thian Sin.
Dengan sikap tenang Siangkoan Wi Hong mempersilakan dua orang tamunya duduk di atas bangku. Han Tiong dan Thian
Sin lalu duduk dan hati mereka tertarik sekali untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah berdiri berhadapan dan saling pandang dengan sinar mata penuh selidik, akhirnya kakek itu berkata,
"Maaf, apakah saya berhadapan dengan Siangkoan-kongcu?"
Yang ditanya mengangguk, tangan kanannya mempersilakan tamunya untuk duduk. "Silakan duduk, Lo-enghiong." Kakek
itu nampak tidak sabar, akan tetapi melihat sikap pemuda itu yang amat tenang, diapun duduklah sambil menarik
napas panjang. Siangkoan Wi Hong sendiripun lalu duduk menghadapi kakek itu.
"Apakah Lo-enghiong ini yang berjuluk Kang-thouw-kwi? Dan kepentingan apakah yang mendorong Lo-enghiong untuk
datang berkunjung?"
Tiba-tiba sinar mata kakek itu menjadi keras dan suaranyapun penuh dengan nada marah ketika dia menjawab, "Saya
datang untuk bicara tentang cucu saya Lee Si!"
Siangkoan Wi Hong agaknya memang sudah maklum, maka jawaban itu tidak mengejutkannya. Sambil tersenyum ramah
dia berkata. "Tentang Lee Si? Ada apakah dengan dia, Lo-enghiong? Sudah lama saya tidak berjumpa dengan dia.
Baik-baik sajakah cucumu itu, Lo-enghlong?"
"Siangkoan-kongcu, harap kongcu tidak berpura-pura lagi. Saya datang untuk mendapatkan pertanggungan jawab
kongcu atas diri cucu saya itu."
"Pertanggungan jawab yang bagaimanakah yang kaumaksudkan, Lo-enghiong?"
Kakek itu semakin tidak sabar nampaknya. Dia mengepal tangan kanannya dan suaranya terdengar lantang. "Cucuku
Lee Si itu baru berusia lima belas tahun dan kongcu telah mencemarkan dia! Pertanggungan jawab apalagi kalau
bukan minta agar kongcu mengawininya?"
Han Tiong dan Thian Sin terkejut, memandang dengan hati tegang. Tak mereka sangka bahwa kakek ini datang untuk
urusan begitu! Mereka memandang kepada Siangkoan Wi Hong dengan alis berkerut karena tidak mengira bahwa pemuda
kaya itu dapat berbuat sejahat itu, mencemarkan gadis orang!
Akan tetapi Siangkoan Wi Hong tersenyum lebar, sikapnya tenang-tenang saja. "Hemm, aku tidak pernah mencemarkan
siapapun..."
"Kongcu hendak menyangkal? Cucuku telah mengaku dan harap kongcu bersikap sebagai sebagai jantan untuk tidak
menyangkal perbuatan kongcu sendiri!" Kakek itu membentak marah.
"Siapa menyangkal?" Dia lalu menoleh kepada dua orang pemuda yang menjadi tamunya. "Coba ji-wi dengarkan
baik-baik. Aku mengenal sebagai dara manis bernama Lee Si, dan dia sendiri yang jatuh cinta padaku. Kami
berdua, dengan suka sama suka, suka rela tanpa unsur paksaan dari fihak manapun, telah memadu kasih. Eh, kini
tahu-tahu Lo-enghiong ini datang menuntut pertanggungan jawab! Pertanggungan jawab apa? Tidak ada janji antara
Lee Si dan aku untuk menikah! Hubungan kami adalah suka rela dan suka sama suka, bukan aku yang memaksa dia..."
"Siangkoan-kongcu! Aku adalah sebagai tua, tidak perlu menggunakan kata-kata sangkalan yang tak berujung
pangkal! Jelas bahwa cucuku telah kau rusak, sekarang kami datang untuk minta pertanggungan jawab, agar engkau
suka mengawini cucuku. Bukankah hal ini sudah wajar? Apakah engkau hendak menolak?" Kakek itu bangkit berdiri.
Melihat sikap kakek itu mulai kasar, Siangkoan Wi Hong mengerutkan alisnya dan senyumnya lenyap. Dia juga
bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu. "Kang-thouw-kwi, jangan kau bicara
sembarangan! Aku, orang she Siangkoan adalah sebagai laki-laki yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya!
Hubunganku dengan Lee Si adalah hubungan suka sama suka, tidak ada janji ikatan perjodohan. Dan tidak ada setan
manapun yang akan dapat memaksaku kawin dengan dia!"
"Siangkoan-kongcu! Berani engkau menghina seorang tua seperti aku dan hendak menodai nama keluargaku?" Kakek
itu membentak.
"Hemm, apakah karena engkau berjuluk Kang-thouw-kwi aku lalu harus takut dan tunduk kepadamu?"
"Siangkoan Wi Hong! Jangan mengira bahwa aku tidak tahu siapa engkau! Engkau adalah putera Pak-san-kui
Siangkoan Tiang locianpwe yang kubormati. Sungguh tidak tahu diri kalau aku berani menentang putera beliau!
Akan tetapi, engkau sebagai putera sebagai locianpwe telah mempergunakan kekayaanmu, ketampananmu dan
kepandaianmu untuk merayu cucuku yang masih terlalu muda sehingge dia terjatuh dan kaucemarkan, kemudian
sekarang engkau tidak mau bertanggung jawab! Hemm, orang muda. Aku tahu bahwa aku bukanlah lawan keluarga
Siangkoan Tiang locianpwe, akan tetapi untuk membela kehormatan keluargaku, aku siap untuk mempertaruhkannya
dengan nyawa sekalipun! Kalau engkau mau bertanggung jawab dan mengawini Lee Si, kami akan menganggapnya
sebagai suatu kehormatan besar, akan tetap kalau engkau menolak, biarlah kutebus dengan nyawaku!"
Siangkoan Wi Hong tersenyum mengejek. "Maksudmu, engkau hendak menantangku mengadakan pibu?"
"Hanya ada dua pilihan, engkau menerima permintaanku atau sebagai di antara kita akan mencuci noda itu dengan
darah."
"Bagus sekali, memang akupun ingin merasakan sampai bagaimana kerasnya kepala itu sehingga dijuluki Setan
Kepala Baja!" Setelah berkata demikian, sekali bergerak, tubuh muda itu telah melayang ke tengah ruangan itu
dan dia menggapai dengan sikap menantang sekali, "Mari, Kang-thouw-kwi!"
Kakek itu memandang dengan muka merah dan mata mendelik, kemudian dengan langkah lebar diapun menghampiri
pemuda itu. Mereka berdiri berhadapan dan dengan sikap masih marah, sambil tersenyum pemuda itu berkata,
"Kang-thouw-kwi, kita bertanding sebagai sahabat ataukah sebagai musuh? Mengingat akan wajah Lee Si yang manis,
tentu aku suka memaafkan kekasaranmu tadi dan biarlah kita mengadu ilmu sebagai sahabat."
"Tidak! Aku tidak menganggapmu sebagai putera Pak-san-kui, melainkan sebagai sebagai laki-laki pengecut yang
telah mencemarkan kehormatan keluarga kami dan menodai cucuku. Engkau harus mampus di tanganku atau aku yang
mati di tanganmu!"
Siangkoan Wi Hong mejebikan bibirnya. "Hemm, melihat usiamu, engkau tidak lama lagi hidup di dunia, akan tetapi
agaknya engkau sudah bosan hidup. Nah, kalau engkau ingin mati, majulah!"
Kakek itu mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah menerjang dengan dahsyatnya, gerakannya mantap dan kuat
sekali ketika tubuhnya menerjang maju, tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar disusul tangan kanan yang
mencengkeram ke arah kepala lawan. Gerakannya itu seperti gerakan seekor harimau buas yang menggunakan kedua
kaki depan untuk mencengkeram dan dari jari-jari kedua tangannya terdengar suara berkerotokan tulang-tulang
yang amat kuat! Namun, Siangkoan Wi Hong sudah dapat mengelak dengan gerakan lincah.
Sementara itu, ketika tadi mendengar disebutnya nama Pak-san-kui, dua orang pemuda itu terkejut tukan main dan
saling pandang. Kini, rasa kagum dan suka di dalam hati Thian Sin mulai berubah oleh rasa marah. Pamannya, atau
ayah angkatnya, sudah bercerita tentang Pak-san-kui, bahkan Han Tiong sendiri bersama ibunja pernah menjadi
tawanan Pek-san-kui, kemudian menjadi tawanan yang diperlakukan manis seperti tamu-tamu agung. Pak-san-kui
adalah datuk kaum sesat di wilayah utara dan ternyata pemuda ini adalah putera datuk itu! Pantas saja demikian
lihai dan juga kaya raya. Dan mendengar jawaban-jawaban pemuda itu terhadap Kang-thouw-kwi, mendengar betapa
pemuda itu telah mencemarkan gadis cucu kakek itu, Han Tiong mengerutkan alisnya dan diam-diam dia berfihak
kepada Kang-thouw-kwi walaupun dia sendiri tidak pernah mengenalnya dan tidak tahu orang macam apa adanya kakek
itu.
Sedangkan Thian Sin kini diam-diam ingin sekali mencoba kepandaian Siangkoan Wi Hong yang dalam pandangannya
kini nampak sebagai scorang pemuda yang sombong, angkuh dan memandang rendah orang lain! Memang ada sifat-sifat
yang mengagumkan hatinya terdapat pada diri pemuda itu, akan tetapi setelah dia mengetahui bahwa pemuda itu
adalah putera Pak-san-kui yang pernah mengganggu ayah dan ibu angkatnya, timbul rasa tidak senang dan bermusuh
di dalam hatinya terhadap Siangkoan Wi Hong.
"Heiiiiittttt...!" Untuk kesekian kalinya kakek itu menyerang dengan dahsyatnya. Dari gerakannya di waktu
menyerang, nampak jelas betapa benci dan marahnya kakek itu kepada Siangkoan Wi Hong dan semua serangannya itu
adalah serangan maut yang amat dahsyat dan berbahaya. Namun, pemuda itu benar-benar memiliki kelincahan yang
luar biasa dan dengan gin-kang yang lebih sempurna, dia selalu dapat mengelak dan menghindarkan diri dari
setiap serangan, bahkan membalas pula dengan tamparan-tamparan yang tidak kalah hebatnya. Akan tetapi, kalau
pemuda itu lebih mengandalkan kelincahannya sehingga selalu dapat mengelak dari serangan lawan, sebaliknya
Kang-thouw-kwi ini lebih mengandalkan kekebalan tubuhnya sehingga biarpun sudah tiga kali dia terkena tamparan
tangan pemuda itu, namun dia hanya terhuyung saja dan tidak terluka.
"Hemm, engkau masih dapat bertahan juga?" kata Siangkoan Wi Hong setelah pertandingan itu berlangsung lima
puluh jurus dan melibat betapa kakek itu tidak roboh oleh tiga kali pukulannya. Kini dia mengubah gerakan
silatnya dan ternyata dia mempergunakan gerakan meliuk-liuk seperti seekor ular. Kedua lengannya itu seperti
kepala ular yang mematuk-matuk dan kini setiap patukan itu ditujukan kepada jalan darah maut dari tubuh lawan.
Menghadapi serangan ini yang agaknya merupakan satu di antara ilmu-ilmu simpanan pemuda itu, Kang-thouw-kwi
mulai terdesak hebat dan beberapa kali dia terhuyung terkena totokan-totokan yang sebenarnya merupakan
totokan-totokan maut, akan tetapi agaknya kekebalan tubuh kakek itu yang membuat dia hanya terhuyung saja.
Marahlah Kang-thouw-kwi. Memang dia sudah tidak mempedulikan keselamatan nyawanya lagi. Maka dia lalu
mengeluarkan teriakan panjang dan tiba-tiba dia meloncat ke belakang, kemudian, bagaikan seekor kerbau yang
marah, dia lari ke depan dengan kepala menunduk, seperti seekor kerbau merendahkan diri dan hendak menerjang
fihak lawan menggunakan kepalanya untuk menyeruduk! Melihat kni, Siangkoan Wi Hong tersenyum dan pemuda ini
lalu berdiri tegak, sengaja memasang perutnya untuk diseruduk sambil bertolak pinggang dengan sikap angkuh
sekali. Dua orang pemuda Lembah Naga memandang dengan mata terbelalak. Dari Cia Sin Liong mereka pernah
mendengar akan adanya ilmu serangan menggunakan kepala ini. Kepala yang terlatih baik dapat menyeruduk tembok
sampai jebol dan kalau kepala yang terlatih dan sudah kebal itu menyerang lawan, maka akibatnya amat berbahaya,
tulang-tulang iga akan patah-patah dan setidaknya isi perut akan terguncang dan terluka parah! Akan tetapi
pemuda itu bukannya siap menyingkir atau menangkis, sebaliknya malah memasang perutnya, sengaja membiarkan
perutnya untuk diseruduk! Mereka dapat menduga pemuda itupun memiliki sin-kang yang amat kuat dan dengan tenaga
sin-kang yang memenuhi perut, memang dapat juga dia menerima serudukan itu tanpa terluka karena perutnya
terlindung oleh hawa yang padat dan kuat, dan paling hebat dia akan terdorong saja tanpa mengalami luka. Akan
tetapi kalau tenaga sin-kangnya itu tidak jauh lebih kuat daripada tenaga dorongan kepala lawan, banyak
bahayanya dia akan menderita luka guncangan di dalam perutnya.
Kang-thouw-kwi yang merundukkan kepalanya itu, dengan kerling mata ke depan diapun melihat posisi lawan, maka
dia merasa dipandang rendah dan kemarahannya memuncak. Dia mengerahkan seluruh tenaga karena dia mengandalkan
kalah menangnya dalam serangan terakhir ini. Larinya makin kencang dan setelah jarak antara dia dan lawan
tinggal dua meter lagi, tubuhnya lalu meloncat dan meluncur ke depan, kepalanya lebih dulu mengarah perut lawan
yang sengaja dikembungkan itu.
Akan tetapi, begitu kepala itu menyentuh perut, tiba-tiba saja perut yang dikembungkan itu tiba-tiba membalik
menjadi dikempiskan dan dari dalam perut itu timbul daya sedot yang amat kuat sehingga kepala itu tersedot
masuk ke dalam rongga perut sampai ke bawah hidung! Dan kedua jari tangan Siangkoan Wi Hong sudah bergerak
dengan kecepatan kilat menotok ke arah kedua pundak lawan tiba-tiba menjadi lumpuh tergantung lemas! Bukan main
kagumnya hati Kang-thouw-kwi. Dia merasa betapa kepalanya seolah-olah memasuki sebuah perapian yang panas
sekali. Maklum dia akan kelihaian pemuda ini, maka diapun cepat mengerahkan sin-kang di tubuhnya untuk menahan
karena dia tidak dapat meronta lagi untuk melepaskan diri, apalagi setelah kedua lengannya lumpuh tertotok itu.
Akan tetapi, betapapun dia menahannya, tetap saja dia merasa kepalanya seperti direbus dan perlahan-lahan,
seluruh tubuhnya mulai menggigil, dia maklum bahwa sekali dia kehilangan kesadaran, dia akan tewas!
Han Tiong dan Thian Sin yang melihat peristiwa ini, diam-diam terkejut bukan main dan mereka itu kagum akan
kelihaian Siangkoan Wi Hong. Tahulah mereka bahwa kini nyawa kakek itu berada delam bahaya, aplagi melihat
betapa pemuda itu dengan berdiri dan bertolak pinggang masih mengerahkan sin-kang untuk membunuh kakek itu,
sedangkan tubuh kakek itu mulai menggigil, kedua lengannya lumpuh seperti seekor cecak yang kepalanya terjepit
pintu, hanya kedua kaki saja yang meronta sedikit. Thian Sin tak dapat menahan kemarahannya lagi, akan tetapi
dengan sikap tenang dia lalu bangkit dari bangkunya, menghampiri ke tengah ruangan itu. Siangkoan Wi Hong
memandang kepadanya, agaknya merasa heran dan tidak dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh pemuda pelajar
yang lemah namun pemberani itu.
"Kakek bodoh, kalau kepandaianmu hanya sebegini, bagaimana kau berani bermain gila di depan putera
Pak-san-kui?" kata Thian Sin lirih sambir menggunakan tangan kirinya menepuk pinggul kakek itu yang menonjol.
"Plak-plak-plak!" Tiga kali dia menepuk dan akibatnya sungguh hebat. Mula-mula wajah Siangkoan Wi Hong berubah
pucat, kemudian pada tepukan ke tiga, pemuda itu meloncat ke belakang sambil melepaskan kepala kakek itu dari
jepitan perutnya dan dia kini berdiri sambil menarik napas panjang untuk melindungi perutnya yang tadi tergetar
hebat, matanya menatap wajah Thian Sin. Dia tadi merasa betapa ada tenaga yang amat dingin menyerbu ke perutnya
melalui kepala kakek itu, yang membuat seluruh isi perutnya terasa dingin sampai menusuk jantung. Maka dia
terkejut sekali dan terpaksa melepaskan korbannya. Kakek itu begitu terlepas lalu terguling dan sekali Thian
Sin menyambar pundaknya dan menariknya bangun, ternyata dia telah terbebas dari totokan!
Melihat keadaan yang gawat ini, Han Tiong cepat menghampiri adiknya dan dia sudah menjura dengan sikap hormat
sekali kepada Siangkoan Wi Hong. "Ah, Saudara Siangkoan, adikku telah berlaku lancang, harap kau sudi memaafkan
kami dan suka menghabiskan urusan dengan orang tua ini sampai di sini saja."
Siangkoan Wi Hong masih terkejut sekali dan dia sudah melupakan kakek itu, kini seluruh perhatiannya tercurah
kepada dua orang tamunya yang benar-benar mengejutkan hatinya ini. Mendengar ucapan Han Tiong, dia hanya
berkata, "Bukan aku yang mencari perkara, melainkan dia."
Han Tiong lalu menghadapi kakek itu dan berkata, "Loenghiong, berlaku nekat bukanlah sikap yang bijaksana dan
gagah. Membuang nyawa dengan sia-sia bukan merupakan obat untuk menyembuhkan penyakit dalam keluargamu."
Kakek itu kini sudah terbuka matanya, tahu bahwa dua orang muda itu telah menyelamatkan nyawanya dan bahwa
mereka itu lihai bukan main. Tepukan-tepukan pada pinggulnya tadi mendatangkan hawa dingin luar biasa yang
meluncur melalui tubuhnya dan sampai di kepalanya, membuat perut yang menjepit kepalanya terpaksa
melepaskannya. Dia tahu berhadapan dengan orang-orang pandai, maka diapun menarik napas panjang dan menjura
kepada Thian Sin dan Han Tiong.
"Aku tua bangka yang tiada berguna memang seharusnya lebih keras mendidik cucu, salah kami sendiri dan terima
kasih atas pertolongan ji-wi taihiap." Maka diapun pergi dari tempat itu tanpa berpamit lagi kepada Siangkoan
Wi Hong yang memandang tak peduli karena kini dia terus memandang kepada dua orang muda itu. Setelah kakek itu
pergi, barulah dia berkata sambil memandang kepada dua orang muda itu berganti-ganti.
"Hemm, kiranya dugaan dan kecurigaanku ternyata benar! Kalian adalah dua orang pandai yang menyembunyikan
kepandaian dan berpura-pura lemah dan bodoh." Dia menatap tajam kepado Han Tiong, lalu berkata. "Dan bukankah
Saudara Cia Han Tiong ini benar-benar putera Pendekar Lembah Naga yang pernah menjadi tamu ayah heberapa tahun
yang lalu?"
Han Tiong tahu bahwa kini tidak mungkin lagi baginya untuk menyembunyikan diri. Dengan tenang diapun berkata,
"Dugaanmu memang benar, sobat. Aku sekeluarga pernah menerima penghormatan dari Pak-san-kui, ayahmu."
"Dan aku adalah Ceng Thian Sin!" Thian Sin menyambung cepat.
"She Ceng...?" Siangkow Wi Hong terkejut memandang pemuda tampan yang pandai pula bersajak dan bernyanyi itu.
"Benar!"
"Kalau begitu... mendiang Ceng Han Houw..."
"Dia adalah ayahku!"
"Ah, jadi engkau inilah puteranya yang dikabarkan terlepas dari pembasmian dan berhasil menghilang itu? Sungguh
tak kusangka akan dapat bertemu dengan dua orang seperti kalian!" Siangkoan Wi Hong nampak gembira bukan main,
wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar.
Diam-diam Han Tiong terkejut mendengar pengakuan Thian Sin. Adiknya itu sungguh lancang sekali memperkenalkan
diri. Mereka masih berada di kota raja dan memperkenalkan diri sebagai putera Ceng Han Houw yang dimusuhi
pemerintah itu sungguh amat berbahaya. Maka dia cegat menjura ke arah Siangkoan Wi Hong.
"Saudara Siangkoan, kami berterima kasih atas semua kebaikanmu kepada kami. Nah, perkenankan kami untuk
melanjutkan perjalanan."
Akan tetapi, pemuda hartawan itu cepat mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata dengan cepat, "Nanti dulu,
tahan dulu, sahabat-sahabatku yang baik! Setelah mengetahui siapa kalian, dua orang muda yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi, tidak mungkin aku membiarkan kalian pergi begitu saja tanpa lebih dulu berkenalan dengan
ilmu silat kalian. Kesempatan baik ini tak boleh kulepaskan begitu saja! Kalian harus lebih dulu menandingi aku
dalam pibu, baru kulepaskan kalian pergi!"
"Akan tetapi, kami bukanlah musuh-musuhmu!" Han Tiong membantah dan menolak.
Siangkoan Wi Hong tertawa gembira. "Ha-ha-ha! Sahabat atau musuh bagiku sama saja, asal orangnya lihai. Tidak
seperti kakek kerbau tadi yang menjemukan! Bagiku punya teman lihai atau musuh lihai, itulah yang amat
menyenangkan. Sekarang, putera Pendekar Lembah Naga dan putera Pangeran Ceng Han Houw, kedua-duanya merupakan
pendekar-pendekar sakti yang namanya pernah menggemparkan dunia, telah berada di sini berhadapan dengan aku,
maka bagaimanapun juga kalian harus menandingi aku dalam adu ilmu silat!" Setelah berkata demikian sebelum dua
orang pemuda itu menjawab, Siangkoan Wi Hong bertepuk tangan tiga kali dan bermunculan enam orang dari pintu
belakang. Mereka ini bukan lain adalah pemuda tinggi besar dan lima orang temannya yang pernah mengganggu dua
orang pemuda itu di pasar. Si tinggi besar itu memandang kepada dua orang pemuda Lembah Naga dengan senyum
mengejek dan mereka semua menanti perintah dari tuan muda mereka.
"Kia Tong, sekarang engkau dan kawan-kawanmu boleh mencoba mereka ini. Hati-hati, mereka berdua bukanlah
orang-orang lemah seperti yang kalian kira," kata Siangkoan Wi Hong dengan senyum gembira.
"Tapi, kongcu, perlukah kami berenam yang maju? Biarkan saya sendiri menghajar dua cacing buku ini!" kata Si
Tinggi Besar yang dipanggil Kia Tong itu.
Sepasang mata Siangkoan Wi Hong biasanya lembut dan ramah itu tiba-tiba mendelik dan suaranya terdengar ketus,
"Tolol! Kalian maju berenam pun jangan harap akan menang!" Terkejutlah Kia Tong dan dia tidak berani membantah
pula, lalu memberi isyarat kepada lima orang temannya untuk maju kersama.
Sementara itu, Thian Sin sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. "Tiong-ko, sekali ini kita tidak bisa
membiarkan tikus-tikus ini berlagak. Biarkan aku menghajar mereka!"
Han Tiong juga maklum bahwa sekarang tidak mungkin lagi mereka menyingkirkan diri dan menghindarkan
perkelahian, maka dia mengangguk, akan tetapi berkata dengan suara penuh peringatan, "Ingat, jangan kau
membunuh orang, Sin-te!"
Giranglah hati Thian Sin memperoleh perkenan kakaknya ini. Dia lalu melangkah maju ke tengah ruangan yang luas
itu. Dengan anggukan kepalanya, Siangkoan Wi Hong lalu memberi isyarat kepada enam orang itu yang segera maju
mengepung Thian Sin. Si Tinggi Besar masih bersikap sombong, karena betapapun juga, dia masih memandang rendah
kepada pemuda yang kelihatan lemah dan yang pernah melarikan diri tunggang-langgang ketika dia mengganggunya di
pasar itu.
Melihat betapa enam orang itu hanya mengepungnya, Thian Sin membentak, "Tikus-tikus busuk, majulah kalau kalian
memang berani!"
Si Tinggi Besar menjadi marah. "Serbu...!" dia memberi aba-aba dan lima orang pembantunya serentak maju
menyerang Thian Sin dari lima jurusan. Mereka berlima ini merupakan pembantu-pembantu Siangkoan Wi Hong, maka
tentu saja kepandaian mereka sudah cukup tangguh, lebih tinggi dibandingkan dengan para tukang pukul biasa
saja. Maka kini serangan merekapun merupakan serangan gaya silat yang cukup kuat dan cepat, bukan sekedar
mengandalkan tenaga kasar belaka.
Thian Sin teringat akan pesan kakaknya, maka dia menahan kemarahannya dan tidak ingin menurunkan tangan maut.
Akan tetapi teringat betapa dia dan kakaknya dihina di pasar, betapa buah-buah yang dibelinya jatuh berhamburan
di atas tanah, betapa dia dan kakaknya ditertawakan dan diejek, maka kini dia menggerakkan tangan menangkis
setiap pukulan sambil mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang! Terdengar bunyi "krek!" setiap kali dia menangkis
dan lima kali dia menangkis pukulan lima orang itu. Akibatnya, lima orang itu terpelanting roboh dan ketika
mereka merangkak bangun, mereka mengaduh-aduh sambil memegangi lengan mereka yang tadi tertangkis karena lengan
mereka itu ternyata telah patah tulangnya dan tentu saja mereka tidak dapat menyerang lagi.
Rasa nyeri membuat mereka meringis dan melangkah mundur sambil memandang kepada pemuda itu dengan mata
terbelalak. Juga Siangkoan Wi Hong terkejut bukan main. Dia memang sudah dapat menduga akan kelihaian Thian Sin
putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw itu, akan tetapi tidak disangkanya bahwa pemuda yang halus itu ternyata
demikian tangkas, kuat dan ganas, bertangan besi, sekali tangkis mematahkan lengan lima orang penyerangnya!
Tahulah dia bahwa orang-orangnya itu sama sekali bukan merupakan tandingan pemuda ini akan tetapi untuk
mencegahnya dia sudah terlambat, karena kini Si Tinggi Besar sudah menyambar sebatang golok besar dari rak
senjata dan dengan marah dia sudah menerjang dengan goloknya ke arah Thian Sin. Kalau dia mau, tentu saja
Siangkoan Wi Hong dapat dan masih ada kesempatan untuk mencegah pembantunya ini, akan tetapi dia memang ingin
melihat bagaimana Thian Sin akan menghadapi serangan golok dari pembantunya yang cukup lihai ini.
Thian Sin tetap tidak bergerak dari tempatnya. Dia menanti sampai bacokan golok itu menyambar dekat dengan
kepalanya, lalu tiba-tiba tangan kirinya bergerak menangkis golok besar itu dengan jari-jari tangannya dengan
pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang.
"Krokkk!" Golok itu patah menjadi dua potong dan secepat kilat tangan Thian Sin bergerak dua kali disusul
gerakan kaki dua kali dan... tubuh Si Tinggi Besar itu terlempar, terjengkang dan terbanting ke belakang,
goloknya terlepas jauh. Dia tidak dapat merangkak bangkit seperti teman-temannya tadi karena kalau
teman-temannya itu hanya menderita tulang sebelah lengan yang patah, dia sendiri menderita patah tulang kedua
lengan dan kedua kakinya! Terpaksa teman-temannya, dengan sebelah tangan saja, membantunya dan menggotongnya
keluar dari tempat itu!
Siangkoan Wi Hong menjadi semakin kagum akan tetapi juga terkejut. Pemuda putera mendiang Pangeran Ceng Han
Houw itu benar-benar hebat dan bertangan maut, pikirnya. Teringat dia akan cerita tentang mendiang pangeran
yang pernah menjagoi di dunia kang-ouw itu dan diam-diam diapun bersikap waspada karena maklum bahwa pemuda itu
benar-benar tidak boleh dipandang ringan. Akan tetapi dengan wajah penuh senyum ramah dia melangkah maju
menghadapi Thian Sin sambil menjura, "Ah, kiranya ilmu kepandaian Saudara Ceng amat hebat dan tinggi! Sungguh
aku seperti katak dalam tempurung, tidak melihat Gunung Thai-san menjulang tinggi di depan mata!"
Akan tetapi Han Tiong sudah menjura kepadanya, "Saudara Siangkoan harap suka maafkan adikku, dan perkenankanlah
kami pergi dari sini dan tidak merusak suasana persahabatan antara kita."
Siangkoan Wi Hong menoleh kepada Han Tiong. Dia memang seorang pemuda yang cerdik sekali. Dia sudah mendengar
akan hubungan antara Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong dengan mendiang Pangeran Ceng Han Houw. Pangeran itu
merupakan kakak angkat dari Cia Sin Liong, dan juga ada hubungan darah antara isteri pangeran itu dengan
Pendekar Lembah Naga, yaitu saudara misan, keduanya adalah cucu-cucu dari pendiri Cin-ling-pai. Maka diam-diam
diapun melakukan pilihan. Menurut riwayat sang pangeran, maka keturunan ini lebih condong untuk menjadi
segolongan dengan dia, sedangkan pemuda she Cia itu tentu saja merupakan ahli waris Cin-ling-pai dan tetap
menjadi musuh golongannya. Maka, sedapat mungkin dia harus menjadikan Ceng Thian Sin ini sebagai sebagai
sahabat, sedangkan Cia Tiong harus dimusuhinya!
"Ah, Saudara Cia Han Tiong. Sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak peduli apakah kalian menjadi kawan atau lawan,
bagiku sama saja asalkan kawan atau lawan itu lihai, semua menyenangkan hatiku. Keturunan mendiang Pangeran
Ceng Han Houw sudah jelas amat hebat kepandaiannya dan membuat hatiku kagum sekali, tidak tahu sampai di mana
kelihaian keturunan dari ketua Cin-ling-pai. Apakah lebih hebat daripada kepandaian keturunan Pangeran Ceng?
Kiranya begitulah, dan aku ingin sekali mencoba kepandaianmu. Mari, majulah!" Jelas bahwa kini pemuda hartawan
itu menujukan tantangan kepada Cia Han Tiong.
Akan tetapi pancingan dan tantangannya itu tidak mengenai sasaran. Han Tiong menggelengkan kepalanya dan
berkata, "Aku datang ini bukan untuk berkelahi, melainkan memenuhi undanganmu, sebagai kenalan."
"Hemm, apakah engkau takut, Saudara Cia?"
"Terserah penilaianmu," jawab Han Tiong tenang.
Akan tetapi, Thian Sin sudah mengerutkan alisnya dan wajahnya menjadi merah. "Siapa bilang kami takut padamu?"
bentaknya. "Tiong-ko, biarlah aku melawan si sombong ini!"
Thian Sin tidak memberi kesempatan kepada kakaknya untuk menjawab dan dia langsung maju menghadapi Siangkoan Wi
Hong sambil membentak, "Tidak perlu kakakku turun tangan, akupun sudah cukup untuk menandingimu!"
Biarpun hatinya menyesal mengapa pemuda keturunan ketua Cin-ling-pai itu tidak melayaninya dan kini bahkan
putera pangeran itu yang maju, akan tetapi Siangkoan Wi Hong tidak menolak. Betapapun juga dia harus
menunjukkan kelihaiannya dan karena selama ini dia belum pernah kalah oleh siapapun juga, timbul semacam
kesombongan di dalam hatinya dan kepercayaan diri yang berlebihan sehingga dia memandang ringan semua orang.
"Baik sekali, biariah kita main-main sebentar, Saudara Ceng!" Baru saja kata-katanya terhenti, tangannya sudah
melakukan serangan. Dengan tangan terkepal, tangan itu menyambar dari pinggang kanannya, dengan kepalan
terputar amat kuatnya menyambar ke arah pusar Thian Sin! Pemuda ini tahu akan bahayanya pukulan seperti itu.
Kepalan terputar itu laju seperti peluru baja saja dan dapat minimbulkan luka-luka hebat di dalam rongga perut,
maka dia pun cepat menggerakkan lengan kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaga sedangkan tangan kanannya
dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah dada lawan.
"Dukkk!" Tangkisan Thian Sin itu bertemu dengan lengan Siangkoan Wi Hong, membuat mereka berdua tergetar, dan
pemuda hartawan itu juga menggunakan lengan kirinya untuk menangkis hantaman tangan kiri dengan jari-jari
terbuka yang amat kuat dan yang akan mampu mematahkan tulang-tulang dadanya itu.
"Dukk!" Kembali kedua lengan mereka bertemu dan keduanya tergetar hebat. Hal ini mengejutkan Siangkoan Wi Hong
karena dari pertemuan lengan dua kali ini saja maklumlah dia bahwa Thian Sin memiliki tenaga sin-kang yang amat
kuat! Maka, mengingat betapa pemuda ini tadi merobohkan semua pembantunya, dan melihat kenyataan akan kuatnya
tenaga sin-kangnya, Siangkoan Wi Hong tidak berani memandang rendah lagi.
Senyumnya menghilang dari wajahnya yang tampan dan mulailah dia menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga dan
kepandaiannya. Kedua tangannya mengeluarkan hawa pukulan dahsyat ketika dia menghujankan serangan kepada Thian Sin.
Namun Thian Sin sudah siap menghadapinya. Pemuda Lembah Naga inipun sudah tahu bahwa putera Pak-san-kui ini
merupakan seorang lawan yang tangguh, maka diapun cepat menggerakkan tubuhnya untuk mengelak, menangkis dan
juga membalas dengan pukulan-pukulan yang tidak kalah dahsyatnya.
Terjadilah serang menyerang, saling pukul elak dan tangkis bertubi-tubi. Berkali-kali kedua lengan mereka
saling bertemu, makin lama makin kuat sehingga pertemuan itu seperti menggetarkan seluruh ruangan dan
kadang-kadang kelau pertemuan antara kedua lengan itu amat kuatnya, tubuh mereka tidak hanya tergetar, bahkan
terdorong mundur. Pertandingan itu makin lama makin seru dan agaknya mereka itu seimbang, baik mengenai
kecepatan maupun tenaga. Setelah lewat lima puluh jurus dan belum dapat mendesak lawannya sama sekali,
Siangkoan Wi Hong baru benar-benar terkejut karena tahulah dia bahwa kepandaian Thian Sin ternyata tidak kalah
olehnya! Dia lalu mengeluarkan suara melengking tinggi dan menyerang lawan dari atas, dengan kedua lengan
bergerak-gerak, kedua tangan membentuk cakar seperti seekor burung garuda yang menyambar-nyambar dari atas.
"Brettt-brettt...!" Thian Sin meloncat ke belakang dengan kaget. Serangan lawan yang amat cepat dan aneh itu
biarpun telah dielakkan dan ditangkisnya, tetap saja masih mengenai pundaknya dan membuat bajunya terobek di
bagian kedua pundaknya! Dia terkejut sekali sungguhpun kulit dagingnya dilindungi kekebalan Thian-te Sin-ciang
dan tidak terluka. Memang gerakan lawan itu amat aneh dan tidak mudah menghadapi seorang lawan yang menyerang
dari atas seperti itu. Ilmu silatnya dilatih untuk menghadapi lawan sebagai manusia, yaitu yang bergerak di
sekeliling dirinya, bukan menghadapi manusia burung yang datang dari atas.
Setelah berhasil merobek baju di kedua pundak lawan, timbul kembali kesombongan Siangkoan Wi Hong dan diapun
tertawa dengan gembira. Hal ini membuat wajah Thian Sin menjadi merah dan dia sudah menjadi marah sekali.
"Wuuutt... wuuuttt...!" Angin menyambar-nyambar hebat ketika dia menggunakan pukulan dan tamparan Thian-te
Sin-ciang yang amat hebat. Siangkoan Wi Hong terkejut bukan main karena hawa pukulan itu saja sudah terasa
olehnya dan dia cepat berloncatan mundur.
"Sin-te, jangan...!" Han Tiong memperingatkan dan Thian Sin sadar bahwa kalau dia mendesak lawan dengan
pukulan-pukulan sakti itu, memang kalau sampai lawan terkena mungkin saja dia akan melakukan pembunuhan. Maka
diapun cepat mengubah gerakannya dan kini dia mainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun. Dengan ilmu silat yang
tangguh di bagian pertahanan ini, dia mampu membendung serangan-serangan lawan yang menggunakan ilmu silat
seperti burung garuda beterbangan itu, mampu mengelak, menangkis dan juga membalas serangan. Betapapun juga,
tetap saja dia berada di fihak yang diserang dan didesak, kira-kira dalam perbandingan satu kali menyerang tiga
kali diserang! Hal ini membuat Thian Sin merasa penasaran sekali. Memang hebat sekali ilmu silat lawannya itu.
Memang ilmu yang dimainkan Siangkoan Wi Hong itu adalah ilmu silat keluarganya yang amat diandalkan dan hanya
dikeluarkan kalau menghadapi lawan tangguh. Ilmu silat itu diberi nama Go-bi Sin-eng-jiauw (Cakar Garuda Go-bi)
yang bersumber pada ilmu silat Go-bi-pai. Akan tetapi oleh Pak-san-kui dasar ilmu silat Go-bi-pai itu telah
diubah dan ditambah sedemikian rupa, dicampur dengan ilmu Eng-jiauw-kang yang berasal dari daerah Korea
sehingga terciptalah ilmu Go-bi Sin-eng-jiauw yang amat ampuh itu. Selain gerakan dalam ilmu silat ini aneh,
tubuh berloncatan seperti garuda yang beterbangan menyambar-nyambar lawan, juga jari-jari tangan yang membentuk
cakar itu seolah-olah berubah menjadi cakar baja yang amat kuat, dapat dipakai untuk menahan senjata tajam dan
memiliki kekebalan seperti ilmu Thian-te Sin-ciang!
Sudah seratus jurus mereka bertanding dan Thian Sin masih terus terdesak, bahkan beberapa kali tubuhnya kena
cakaran yang untung tidak sampai terluka, hanya bajunya saja yang robek karena kulit tubuhnya telah terlindung
oleh sin-kangnya. Hal ini membuat Siangkoan Wi Hong tertawa-tawa dan membuat Thian Sin makin penasaran. Ketika
dia melihat tangan kiri lawan yang berbentuk cakar itu menyerang ke arah mukanya, dia cepat menangkis, akan
tetapi cakaran tangan kanan lawan ke arah dadanya sama sekali tidak ditangkis atau dielakannya.
"Plak!" Cakar tangan kanan Siangkoan Wi Hong mengenai dada Thian Sin.
"Ahhhhh...!" Siangkoan Wi Hong berteriak kaget, matanya terbelalak ketika dia merasa betapa tangan kanannya itu
melekat pada dada lawan dan tenaga sin-kangnya membanjir keluar melalui telapak tangannya yang tersedot oleh
dada lawan. Dalam kagetnya, pemuda ini mengerahkan sin-kang untuk menarik kembali tangannya, akan tetapi makin
hebat dia mengerahkan tenaga, makin hebat pula tenaga sin-kangnya tersedot keluar.
"Thi-khi-i-beng..." teriaknya kaget dan mukanya menjadi pucat. Dia telah mendengar dari ayahnya akan ilmu yang
istimewa ini. Akan tetapi sebelum dia sempat melakukan sesuatu, tangan kiri Thian Sin sudah menyambar dan
menampar punggungnya.
"Bukkk!" Tubuh Siangkoan Wi Hong terpelanting dan dia roboh, lalu muntahkan darah segar. Hantaman dengan tenaga
Thian-te Sin-ciang pada punggungnya itu biarpun tidak melukai punggung yang terlindung kekebalan, namun telah
mengguncangkan isi dadanya dan membuat dia terluka di sebelah dalam, tidak terlalu parah namun cukup membuat
dia muntah darah dan tidak mungkin melanjutkan pertandingan.
Melihat ini, Han Tiong cepat meloncat menghampiri dan dengan ilmu It-sin-ci, yaitu dengan satu jari telunjuk
tangan kanannya, dia menotok tiga tempat, di sepanjang tulang punggung Siangkoan Wi Hong untuk menyembuhkan
orang itu, sambil menariknya bangun, lalu dia menjura dengan hormat.
"Harap Saudara Siangkoan sudi memaafkan kami berdua," katanya, kemudian dia memberi isyarat kepada adiknya dan
mereka berdua meninggalkan ruangan itu, terus keluar dari dalam rumah dan bergegas meninggalkan kota raja yang
oleh Han Tiong dianggap sebagai tempat berbahaya itu. Siangkoan Wi Hong masih terlalu kaget dan merasa terpukul
kehormatannya karena dia telah dikalahkan, maka diapun hanya menarik napas panjang berulang-ulang. Dia tahu
dari totokan-totokan tadi bahwa kepandaian Cia Han Tiong kiranya bahkan lebih lihai daripada kepandaian Thian
Sin yang telah mengalahkannya. Timbul rasa penasaran dan dia ingin memperdalam ilmunya kepada ayahnya dan
diapun merasa kecewa, mengapa tadi dia tidak mempergunakan yang-kim untuk melawan pemuda Lembah Naga itu. Dia
telah menderita rugi sebagai akibat memandang rendah lawan. Akan tetapi menyesalpun tiada guna. Dua orang
pemuda itu telah pergi dan dalam keadaan terluka itu tak mungkin dia akan dapat melawan lagi. Dengan hati penuh
rasa penasaran dan menyesal, hari itu juga Siangkoan Wi Hong meninggalkan kota raja dan kembali ke Tai-goan,
tempat tinggal Pak-san-kui Siangkoan Tiang, ayahnya yang hidup sebagai datuk kaya raya.
***
Han Tiong dan Thian Sin yang baru saja meninggalkan kota raja, kini merasa amat gembira dan takjub menikmati
pemandangan alam yang amat indah di Pegunungan Cin-ling-san. Setelah berhari-hari tinggal di kota raja yang
demikian sesak dengan manusia yang demikian bising dan di mana mereka menemukan masalah-masalah yang tidak enak
sekali, kini tempat yang berhawa sejuk dan segar, bersih dan hening itu nampak teramat indah dan menyenangkan!
Memang sesungguhnyalah, kita harus mengakui adanya kenyataan betapa ulah manusia, yaitu diri sendiri, telah
membuat dunia ini menjadi suatu tempat tinggal yang kotor dan tidak enak ditinggali. Alam yang begitu sejuk,
segar dan bersih seperti yang terdapat di pegunungan atau di dusun-dusun sunyi, segera berubah menjadi panas,
pengap dan kotor setelah penuh oleh manusia. Banyak memang terdapat mahluk hidup di dunia ini, namun, betapapun
nyaring suara mahluk-mahluk itu, tidak ada yang seperti suara manusia ketika mereka saling bicara. Suara
manusia pada umumnya sudah penuh dengan nafsu, penuh dengan keinginan mengejar senang, penuh dengan kedukaan,
penuh dengan kemarahan, kebencian! Kalau kita memasuki sebuah pasar yang penuh manusia, mendengarkan suara,
manusia dalam pasar itu, lalu membandingkannya dengan suara burung-burung dan binatang-binatang di dalam hutan,
akan nampak perbedaan yang teramat besar.
Kita tidak pernah dapat menikmati hidup, tidak pernah dapat menikmati sebuah tempat. Yang tinggal di kota ingin
lari ke gunung, lari dari kebisingan dan menganggap bahwa keheningan akan lebih menyenangkan. Sebaliknya, kalau
dia sudah tinggal di gunung, diapun masih akan menderita karena merasa kesepian dan ingin kembali ke kota!
Jarang terdapat orang yang benar-benar dapat menikmati keindahan alam, dan kalaupun ada, hanya dapat dihitung
dengan jari saja agaknya! Kita baru dapat menikmati keindahan alam apabila kita tidak membanding-bandingkan,
apabila pikiran kita kosong, tidak dipenuhi kesibukan, apabila di dalam pikiran tidak terdapat gambaran tentang
si aku dan tentang apa yang kusenangi dan tidak kusenangi. Keindahan dan kebahagiaan bukan berada di luar diri
kita sendiri, keindahan dan kebahagiaan hanya terdapat pada jiwa yang bebas, bebas dari ikatan suka dan tidak
suka yang menjadi permainan pikiran, yaitu pencipta si aku.
Senja itu memang indah bukan main! Han Tiong dan Thian Sin yang kebetulan datang dari arah timur, dapat
menikmati keindahan senja itu sepenuhnya. Kata-kata tidaklah cukup untuk menggambarkan keindahan pada saat itu,
keindahan senja tidak dapat digambarkan, hanya dapat dirasakan. Seakan-akan terbuka pintu sorga dalam
dongeng-dongeng nun jauh di langit barat. Langit yang pada kakinya seperti terjadi kebakaran, memerah jingga di
lereng belakang bukit. Makin tinggi makin muda warna merah itu sampai menjadi warna setengah merah setengah
kuning, dilatarbelakangi warna kebiruan, biru yang mengandung kehijauan, maka terjadilah percampuran warna
antara merah, kuhing dan biru, warna-warna pokok, yang membentuk segala macam warna yang sukar untuk dilukiskan
dengan kata-kata. Dan di antara langit yang dicoreng-moreng bermacam warna itu, di antara awan-awan yang
menghitam kelabu dan yang membentuk bermacam corak dan bentuk yang melampaui segala yang dapat dikhayalkan
otak, nampak sinar-sinar kuning emas dari matahari senja yang sudah mulai bersembunyi di balik puncak Gunung
Cin-ling-san.
Makin jauh matahari tenggelam, makin remang-remang cuaca dan keremangan itu seperti mendatangkan suatu
keheningan yang baru, keheningan yang ajaib menyelimuti seluruh permukaan bumi. Pohon-pohon mulai
menyembunyikan diri, menarik diri dari penonjolan di waktu siang, membuat persiapan untuk tenggelam dalam
kegelapan yang segera akan tiba. Sebatang pohon yang-liu yang tinggi nampak di kejauhan, terpencil dan
merupakan sesuatu yang hitam menentang keindahan warna-warni itu, dengan cabang-cabangnya yang melengkung indah
dan halus, seolah-olah menunduk dan menghormati suasana yang hening, sedikitpun tidak bergerak, tidak seperti
pada saat-saat lain di mana pohon yang-liu itu merupakan pohon yang paling luwes menari-nari lemah gemulai
tertiup angin berdesir.
Beberapa burung merupakan kelompok terbang mendatang dari selatan, seolah-olah merupakan seekor mahluk besar
yang bergerak sambil mengeluarkan bunyi bercicit-cicit nyaring karena gerakannya yang seirama. Anehnya gerakan
terbang dan bunyi bercicit itu tidak mengganggu keheningan, bahkan merupakan bagian dari keheningan yang maha
mendalam itu, sehingga terdapat perpaduan yang aneh antara yang hening dan yang bising, yang diam dan bergerak.
Keadaan tadi yang diam dan hening seperti keadaan mati mengandung gerah dan bunyi yang menjadi pertanda hidup
itu, sehingga di dalam kematian itu terkandung kehidupan dan di dalam kehidupan itupun terkandung kematian,
keduanya tak terpisahkan lagi.
Dua orang kakak beradik itu juga merupakan bagian daripada keheningan maha luas itu dan mereka seperti dua
titik tenggelam ke dalam suatu keluasan yang membuat mereka tidak ada artinya lagi, yang berarti hanyalah
keluasan itu sendiri, keheningan itu sendiri di mana mereka tergulung. Sampai beberapa lamanya, mereka berdua
terpesona, melangkah tanpa terasa, namun dengan batin yang sadar akan semua itu, dan kebahagiaan yang mujijat
memenuhi rongga dada.
"Ah, tak terasa hari telah mulai gelap. Mari kita mempercepat langkah, itu puncak Cin-ling-san sudah nampak
dari sini, Sin-te." kata Han Tiong dan ucapan ini seperti menyeret mereka kembali ke dalam alam dunia fana.
"Mari, Tiong-ko," jawab Thian Sin singkat, hatinya masih penuh pesona.
Baru saja tiba di luar pintu gerbang pagar tembok yang mengelilingi perkampungan Cin-ling-pai, mereka telah
disambut oleh para murid Cin-ling-pai yang melakukan penjagaan. Karena kini Han Tiong telah menjadi seorang
pemuda dewasa dan ketika dia mengunjungi Cin-ling-pai dia masih kecil, pula karena waktu itu malam telah tiba
dan tempat itu hanya diterangi oleh beberapa buah teng yang tergantung di pintu gerbang, maka tidak ada murid
Cin-ling-pai yang mengenalnya.
"Berhenti!" bentak murid Cin-ling-pai dan beberapa orang murid telah mengepung dua orang pemuda itu, "Siapakah
kalian dan ada perlu apa malam-malam begini datang ke sini?"
Melihat sikap mereka yang gagah itu, Han Tiong tersenyum. "Agaknya saudara-saudara tidak lagi mengenalku.
Beberapa tahun yang lalu, kurang lebih delapan tahun yang lalu, aku pernah datang bersama ayah dan ibu untuk
berkunjung kepada ketua Cin-ling-pai."
"Eh, siapakah engkau...?" tanya pemimpin para penjaga itu sambil mencoba untuk mengenal wajah yang nampak
tenang dan jujur itu.
"Kami datang dari Lembah Naga!" kata Thian Sin yang sudah tidak sabar lagi. Kini semua murid Cin-ling-pai
terkejut dan makin mendekat untuk melihat wajah mereka. Mereka masih belum dapat mengenal Han Tiong bahkan sama
sekali tidak mengenal wajah Thian Sin yang tampan itu.
"Lembah Naga...?" tanya mereka gagap.
"Ketua Cin-ling-pai Cia Bun Houw adalah kakek kami." kata Han Tiong.
"Ohhh...! Jadi kongcu ini adalah putera Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong...?"
Han Tiong mengangguk dan para murid Cin-ling-pai itu dengan gembira lalu mengiringkan Han Tiong dan Thian Sin
masuk, sedangkan beberapa orang anak murid Cin-ling-pai sudah lebih dulu berlari-lari ke dalam untuk memberi
kabar gembira itu kepada ketua mereka.
Tak lama kemudian, nampak Kakek Cia Bun Houw dan Nenek Yap In Hong keluar menyambut. Cia Bun Houw telah menjadi
seorang kakek yang usianya enam puluh tahun, sedangkan Nenek Yap In Hong sudah berusia lima puluh delapan
tahun. Akan tetapi, ketua Cin-ling-pai itu masih nampak sehat dan segar, sedangkan isterinyapun memiliki tubuh
yang langsing dan biarpun rambutnya sudah banyak yang putih, namun garis-garis mukanya masih jelas membayangkan
bekas-bekas kecantikan dan kegagahan.
Biarpun sudah bertahun-tahun dia tidak pernah jumpa dengan kakek dan neneknya itu, dan biarpun mereka sudah
menjadi tua, namun Han Tiong masih mengenal mereka dan cepat diapun maju menghampiri, menjatuhkan diri berlutut
di depan dua orang tua itu. Thian Sin juga mengikuti perbuatan kakaknya, karena betapapun juga, kakek yang kini
menjadi ketua Cin-ling-pai ini adalah paman dari ibunya.
Cia Bun Houw dan Yap In Hong ketika tadi mendengar laporan bahwa ada tamu dua orang pemuda yang mengaku datang
dari Lembah Naga dan mengaku bahwa ketua Cin-ling-pai adalah kakeknya, bergegas keluar dengan gembira. Mereka
sudah menduga bahwa tentu Cia Han Tiong yang datang, hanya mereka agak merasa heran mengapa ada dua orang
pemuda. Setahu mereka, Han Tiong tidak mempunyai adik.
Yap In Hong tersenyum memandang kepada Han Tiong. Cucunya ini telah menjadi seorang pemuda yang bersikap gagah
dan wajahnya membayangkan kejujuran dan ketenangan, sedangkan sinar matanya tajam penuh wibawa. "Aih, engkau
tentu Han Tiong! Sudah menjadi seorang pemuda dewasa sekarang? Bagaimana dengan ayah-bundamu? Mereka baik-baik
sajakah?"
"Terima kasih, ayah dan ibu dalam keadaan baik-baik dan mereka menitipkan salam hormat kepada kakek dan nenek
berdua," jawab Han Tiong dengan sikap hormat.
"Han Tiong, siapakah pemuda ini?" tanya Cia Bun Houw dan dia bersama isterinya memandang kepada wajah yang
tampan, sinar mata yang tajam penuh membayangkan kecerdikan dan sikap yang lemah lembut dari pemuda yang
berlutut di dekat Han Tiong itu.
"Dia ini adalah adik angkat saya, akan tetapi sesungguhnya diapun masih keluarga sendiri, karena dia adalah
putera tunggal mendiang Bibi Lie Ciauw Si. Namanya adalah Ceng Thian Sin."
"Ahhh...!" Yap In Hong menahan seruannya.
Cia Bun Houw juga terkejut dan terbayanglah olehnya akan segala yang dialami oleh keponakannya, Lie Ciauw Si
itu. "Dia she Ceng, jadi dia adalah keturunan dari Ceng Han Houw?" Kemudian disambungnya dengan suara lirih,
"Dan Lie Ciauw Si telah meninggal dunia?"
Thian Sin memberi hormat. "Benar sekali, Ceng Han Houw dan Lie Ciauw Si adalah mendiang ayab-bunda saya."
Cia Bun Houw merasa terharu dan dia cepat membangkitkan pemuda ini sedangkan Yap In Hong juga memegang pundak
Han Tiong menyuruhnya bangun. "Mari, mari kita bicara di dalam..." kata kakek dan nenek itu dengan ramah dan
merekapun lalu memasuki rumah induk Cin-ling-pai yang cukup besar itu.
Setelah mandi dan makan malam, baru kedua orang pemuda Lembah Naga itu dipersilakan memasuki ruang duduk di
mana telah menanti kakek dan nenek mereka. Tadinya Han Tiong mengira bahwa tentu dia akan bertemu dengan Cia
Kong Liang, pamannya yang sebaya dengan dia hanya tiga tahun lebih tua, akan tetapi ketika dia tidak melihat
adanya pemuda yang telah dikenalnya itu di ruangan duduk, dia yang sudah disuruh duduk bersama Thian Sin,
segera bertanya, "Kong-kong, di manakan adanya Paman Cia Kong Liang? Kenapa sejak tadi saya tidak melihatnya?"
"Ah, pamanmu? Dia baru kemarin berangkat pergi ke Bwee-hoa-san untuk menengok bibinya, yaitu Enci Cia Giok Keng
yang kabarnya sakit," jawab Cia Bun Houw. Mendengar disebutnya nama Cia Giok Keng ini, Thian Sin mengerutkan
alisnya dan sambil memandang kepada kakaknya dia berkata, suaranya lirih dan mengandung getaran haru.
"Bukankah... beliau itu... nenekku, ibu mendiang ibuku? Ah, Tiong-ko, betapa ingin hatiku untuk berjumpa dengan
nenekku itu... sudah begitu sering kumendengar tentang beliau dari ibu..."
Dia berhenti bicara karena teringat bahwa dia berada di depan ketua Cin-ling-pai dan isterinya, dan betapa
kekanak-kanakan sikapnya tadi.
Akan tetapi Cia Bun Houw mengelus jenggotnya, diam-diam merasa terharu juga teringat akan riwayat kehidupan
pemuda yang amat tampan ini. "Sungguh baik sekali kalau engkau mempunyai keinginan itu di hatimu, Thian Sin.
Memang sudah sepatutnyalah kalau engkau pergi mengunjungi nenekmu. Beliau sudah tua dan kunjunganmu sebagai
wakil mendiang ibumu tentu akan menggirangkan hatinya."
Kedatangan dua orang pemuda itu sungguh merupakan suatu hal yang amat membahagiakan hati Cia Bun Houw dan
isterinya sehingga hampir semalam suntuk mereka berempat bercakap-cakap dalam ruangan itu, di mana kakek dan
nenek itu minta kepada Thian Sin untuk menceritakan segala hal yang telah terjadi dan menimpa keluarga Ceng Han
Houw yang menyedihkan itu. Cia Bun Houw dan isterinya hanya dapat saling pandang dan kadang-kadang menarik
napas panjang ketika mendengar betapa Pangeran Ceng Han Houw tewas dalam pengeroyokan dan betapa isterinya Lie
Ciauw Si, dengan gagah perkasa membela suaminya sampai darah terakhir.
"Ibumu adalah seorang isteri yang hebat!" demikian komentar kakek dan nenek itu kepada Thian Sin setelah mereka
mendengar penuturannya. Mereka sama sekali tidak memberi komentar apa-apa mengenai diri Pangeran Ceng Han Houw.
Dan Thian Sin bukan seorang bodoh. Dia amat cerdik dan diapun sudah tahu apa yang terkandung dalam hati kakek
dan nenek itu setelah mendengar ceritanya. Dia tahu bahwa dalam pandangan mereka, dalam pandangan semua
keluarga Cin-ling-pai, ayahnya hanyalah seorang laki-laki yang berambisi besar dan tidak segan-segan untuk
memberontak, sehingga kematian ayahnya adalah kematian seorang pemberontak yang sudah wajar menerima hukuman,
sebaliknya kematian ibunya adalah kematian seorang wanita perkasa yang setia dan mencinta suaminya!
Mendengar betapa neneknya, Cia Giok Keng, yang hidup bersama suaminya, yaitu pendekar Yap Kun Liong di puncak
Bwee-hoa-san kini telah berusia kurang lebih tujuh puluh lima tahun itu, Thian Sin merasa khawatir kalau-kalau
dia tidak akan dapat bertemu lagi dengan neneknya yang sudah tua itu. Maka kemudian diambil keputusan bahwa dua
orang pemuda itu pada besok pagi-pagi akan berangkat ke Bwee-hoa-san menyusul Cia Kong Liang yang telah menuju
ke pegunungan itu pada hari kemarin.
Sebaiknya kita mengikuti perjalanan Cia Kong Liang. Seperti kita ketahui, suami isteri pendekar ketua
Cin-ling-pai itu hanya mempunyai seorang putera, yaitu Cia Kong Liang. Adapun Cia Sin Liong, Pendekar Lembah
Naga, adalah putera dari ketua Cin-ling-pai itu dari seorang wanita yang lain (baca cerita Pendekar Lembah
Naga). Sebagai putera tunggal, tentu saja Cia Kong Liang sejak kecil digembleng oleh ayah bundanya yang berilmu
tinggi dengan bermacam ilmu silat. Dari ayahnya, dia digembleng dengan ilmu-ilmu khas Cin-ling-pai seperti
Thai-kek Sin-kun, San-in-kun-hoat dan sebagainya, dan dari ayah bundanya itu dia menerima ilmu Thian-te
Sin-ciang yang hebat, karena merupakan penggabungan dari Thian-te Sin-ciang kedua orang tuanya, bahkan ibunya
juga mengajarkan penggunaan Siang-tok-swa (Pasir Harum Beracun). Akan tetapi, sesuai dengan watak seorang
pendekar, pemuda ini tidak menggunakan pasir beracun, melainkan kepandaian itu dapat dilakukan dengan segala
macam pasir atau tanah. Pendeknya, segala macam tanah kalau sudah berada di tangan pemuda ini dan
dipergunakannya sebagai senjata rahasia, merupakan serangan yang amat berbahaya bagi lawan.
Cia Kong Liang bertubuh tegap dan gagah sekali. Pakaiannya tidak mewah akan tetapi juga tidak terlalu sederhana
dan selalu rapi. Sinar matanya yang tajam pada wajahnya yang tampan gagah itu mengandung keangkuhan,
seolah-olah memandang rendah kepada orang lain, memandang orang lain dari tempat ketinggian! Memang
sesungguhnyalah bahwa pemuda Cin-ling-pai ini memiliki watak yang agak tinggi hati. Dia tidak sombong,
melainkan agak memandang rendah kepada orang lain. Dia berwatak pendekar, dan merasa dirinya seorang pendekar
perkasa, putera ketua Cin-ling-pai yang terkenal dan disegani, oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila
ketinggian hati menyentuh batin pemuda yang perkasa dan masih belum masak ini, sungguhpun usianya sudah dua
puluh dua tahun.
Kong Liang melakukan perjalanan seenaknya sambil menikmati keindahan pemandangan alam di sepanjang
perjalanannya. Dia mewakili ayah bundanya untuk dua urusan. Pertama adalah manengok suami isteri pendekar Yap
Kun Liong dan Cia Giok Keng, kakek dan nenek yang menjadi kakak dari ayah dan ibunya itu, dan kedua kalinya dia
harus mewakili ayah bundanya, bahkan mewakili Cin-ling-pai untuk hadir dalam pesta ulang tahun dari datuk
persilatan di pantai timur, yaitu Tung-hai-sian (Dewa Laut Timur) yang juga mengirim undangan kepada ketua
Cin-ling-pai.
Masih banyak waktu, pikirnya, karena hari ulang tahun itu masih satu bulan lebih lagi. Karena perjalanan yang
dilakukan seenaknya itu, maka dua hari kemudian barulah Kong Liang tiba di Bwee-hoa-san. Hati pemuda ini lega
melihat betapa paman dan bibi tuanya itu dalam keadaan selamat, walaupun memang benar bibi tuanya nampak lesu
dan tidak bersemangat.
Yap Kun Liong yang dahulu terkenal sekali sebagai seorang pendekar yang berilmu tinggi (baca cerita Petualang
Asmara), kini telah menjadi seorang kakek yang usianya sudah tujuh puluh enam tahun. Rambutnya sudah hampir
putih semua, akan tetapi tubuhnya yang tinggi agak kurus itu masih dapat berdiri tegak dan gerak-geriknya masih
sigap dan ringan. Demikian pula, Cia Giok Keng, puteri pendiri Cin-ling-pai itupun masih kelihatan sigap, akan
tetapi pada saat itu wajahnya agak pucat dan nampak tidak bersemangat, lesu seperti orang yang tidak sehat.
Yap Kun Liong dan isterinya merasa gembira sekali melihat kedatangan keponakan mereka itu dan setelah Kong
Liang menceritakan tentang keadaan orang tua mereka yang berada dalam keadaan selamat dan sehat, Yap Kun Liong
lalu berkata, sikapnya tenang akan tetapi alisnya berkerut, "Kong Liang, tentu saja kami merasa gembira melihat
engkau datang berkunjung dan menjenguk kami dua orang tua yang kesepian ini. Akan tetapi, di samping
kegembiraan kami, juga hati kami merasa risau karena sebelum urusan kami selesai, engkau datang. Kami harap
saja engkau tidak akan terlibat dalam urusan kami ini."
Pemuda itu memandang wajah paman dan bibinya dengan sinar mata tajam penuh selidik. Memang sejak tadi dia dapat
menduga bahwa tentu ada sesuatu yang merisaukan hati mereka terutama sekali hati bibinya.
"Paman, urusan apakah yang merisaukan hati paman dan bibi berdua?" Dia merasa heran bagaimana ada urusan yang
dapat merisaukan hati paman dan bibinya yang gagah perkasa ini, apaiagi dalam usia setinggi itu dan berada di
tempat yang demikian sunyi. Agaknya tak mungkin lagi mereka itu menemui urusan-urusan yang menimbulkan
kesukaran.
Yap Kun Liong menarik napas panjang. "Karena bibimu sedang kurang sehat, ditambah dengan munculnya urusan ini,
sungguh menimbulkan ketidaktenteraman juga."
"Kong Liang, setua ini kami masih diancam oleh orang-orang jahat, dan aku telah siap menghadapi mereka dengan
kekerasan, akan tetapi pamanmu ini telah menjadi lemah, dia tidak setuju sehingga timbul pertentangan di antara
kami." Tiba-tiba Cia Giok Keng berkata sambil melirik ke arah suaminya. Kong Liang sudah mendengar bahwa
bibinya ini memiliki watak yang keras di waktu mudanya, dan agaknya, biarpun sekarang sudah tua, namun
kekerasan dalam menghadapi musuh itu masih nampak, berbeda dengan pamannya yang agaknya sudah menjadi orang
yang tidak bersemangat untuk menghadapi kekerasan.
"Paman dan bibi, apakah yang telah terjadi? Musuh siapakah yang berani mengancam ji-wi (anda berdua)?"
Yap Kun Liong memandang isterinya, kemudian menoleh kepada keponakannya dan berkata, "Kong Liang, urusan ini
tidak ada sangkut-pautnya denganmu, akan tetapi oleh karena engkau sudah dewasa dan kebetulan engkau berada di
sini, biarlah engkau ketahui semuanya. Nah, dua hari yang lalu kami menerima surat ini, kaubacalah sendiri."
Cia Kong Liang menerima gulungan surat itu dan membukanya dengan sikap tenang, sikap yang mengagumkan paman dan
bibinya yang mengamati semua gerak-geriknya. Lalu dibacanya surat itu, dengan alisnya yang tebal itu berkerut,
sepasang matanya bersinar-sinar ketika dia membaca surat itu, wajahnya sema sekali tidak menunjukkan perasaan
apa-apa akan tetapi pandang matanya berkilat mengejutkan ketika dia menatap wajah paman dan bibinya
berganti-ganti. Kemudian, untuk meyakinkan hatinya, dia membaca sekali lagi.
Pada hari ke tiga setelah surat ini dibaca sebelum matahari terbit, Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng akan
mati berikut semua mahluk bernyawa yang berada pada kalian, sebagai pembayar hutang Tertanda,

KETURUNAN PADANG BANGKAI.
"Paman dan bibi, apa artinya surat ini? Siapa pengirimnya dan mengapa dia mengirimkan surat seperti ini?"
Akhirnya Kong Liang bertanya, suaranya tetap tenang akan tetapi pada pandang matanya terkandung kemarahan
terhadap si penulis surat.
Yap Kun Liong menghela napas. "Siancai (damai)... sungguh tak kusangka bahwa setua ini kami masih saja dicari
musuh dan dimusuhi orang. Kami sendiri tidak tahu siapa penulis surat ini, akan tetapi melihat yang
menandainya, kiranya mudah diduga bahwa mereka ini tentulah keturunan atau segolongan dengan Ang-bin Ciu-kwi
(Setan Arak Muka Merah) dan isterinya, Coa-tok Sian-li (Bidadari Racun Ular), suami isteri yang dulu pernah
menjadi majikan dari Padang Bangkai di dekat Lembah Naga. Kurang lebih empat puluh tahun yang lalu (baca Cerita
Dewi Maut), dalam suatu pertandingan ketika kami membantu pemerintah untuk menghadapi pemberontak, yaitu
pasukan liar Sabutai, kami telah menewaskan mereka, aku merobohkan Ang-bin Ciu-kwi dan bibimu itu menewaskan
isterinya, yaitu Coa-tok Sian-li. Kami sama sekali tidak mengira bahwa urusan empai puluh tahun yang lalu itu
akan berekor sampai sekarang. Ah, usia setua ini, sudah mendekati akhir usia, masih saja dimusuhi orang."
Kembali kakek itu menarik napas panjang.
"Aku tidak takut!" tiba-tiba Nenek Cia Giok Keng berkata. "Biarpun sudah tua begini, aku tidak akan undur
selangkahpun menghadapi musuh!"
"Aihh... sudahlah, engkau sedang tidak sehat, mengapa harus menuruti perasaan marah? Kemarahan amatlah tidak
baik bagi orang-orang tua seperti kita," Suaminya menghibur.
"Paman dan bibi harap jangan khawatir. Serahkan saja hal ini kepada saya. Tiga hari berarti besok pagi kalau
surat ini sudah dua hari paman terima. Kalau musuh datang, biarlah saya yang akan menghadapi mereka!" kata Kong
Liang dengan sikap gagah.
"Engkau tidak perlu ikut campur, anakku."
"Tapi, paman. Bukankah mereka itu mengaku keturunan dari Padang Bangkai? Dan kalau sekarang yang menghadapi
adalah saya, sebagai keturunan paman pula, bukankah hal itu sudah adil dan selayaknya? Dahulu, penghuni Padang
Bangkai lawan paman dan bibi, sekarang keturunan mereka biarlah saya yang menghadapinya."
Yap Kun Liong menarik napas panjang. "Kong Liang, menurut kata hati bibimu, kita harus melawan dan bibimu
memang benar, biarpun kami berdua sudah tua, namun karena kami selama ini hidup dalam sehat maka kiranya kami
masih dapat melidungi diri sendiri. Akan tetapi, sampai sekarang aku masih merasa menyesal kalau kuingat betapa
dahulu aku menanam banyak sekali benih-benih permusuhan sehingga sampai di hari tua masih saja dimusuhi orang."
"Tapi itu sudah kewajiban paman dan bibi sebagai pendekar-pendekar! Kita harus selalu menentang kejahatan!"
Yap Kun Liong menggeleng kepalanya. "Sejak ribuan tahun kita dibuai oleh khayal seorang pendekar, anakku. Akan
tetapi, bagaimana, hasilnya? Sudah banyak sekali orang-orang yang kita anggap jahat itu kita basmi, kita bunuh,
akan tetapi kejahatan tetap saja merajalela sampai sekarang! Kita bisa membunuh orangnya dengan kekerasan, akan
tetapi kejahatan tidak mungkin dapat terbasmi oleh kekerasan."
"Tapi, kebenaran hanya dapat ditegakkan melalui kekerasan!"
"Demikianlah pendapat kaum pendekar pada umumnya. Akan tetapi begitukah sesungguhnya? Berhasilkah semua
kekerasan yang dilakukan untuk membasmi kejahatan? Kurasa tidak mungkin! Kejahatan adalah kekerasan, maka
membasminya dengan kekerasan berarti melakukan kejahatan dalam bentuk lain. Bayangkan saja. Kita menganggap
seorang pembunuh itu jahat dan kita menentangnya lalu membunuhnya! Berarti kitapun menjadi pembunuh yang tiada
bedanya dengan pembunuh yang kita bunuh!"
"Tapi, paman!" Kong Liang membantah. "Biarpun keduanya itu sama membunuhnya, akan tetapi alasannya sungguh
berbeda! Penjahat membunuh karena hendak berbuat jahat demi keuntungan dirinya sendiri, akan tetapi seorang
pendekar membunuh justeru untuk menolong orang lain terbebas daripada kejahatan selanjutnya!"
Yap Kun Liong tersenyum. "Memang demikianlah anggapan setiap orang pendekar dan kami berdua dulupun beranggapan
demikian, bahkan bibimu masih sukar melihat kejahatan betapa tidak benarnya anggapan seperti itu. Apapun
alasannya, melakukan kekerasan, melakukan pembunuhan, sudah pasti mengandung kebencian dan pembunuhan. Dan
setiap kebencian itu sudah pasti mendatangkan pertentangan dan permusuhan yang tiada hentinya. Tidak mungkin
memadamkan api dengan api lain. Tidak mungkin melenyapkan kekerasan dengan kekerasan pula."
"Saya masih tetap belum mengerti, paman. Bukankah dengan tindakan kita yang menentang kaum penjahat, berarti
kita berusaha untuk membuat dunia ini tenteram dan melenyapkan semua bentuk kejahatan agar rakyat dapat hidup
dengan tenang dan makmur?"
"Kejahatan memang dapat ditundukkan oleh kekerasaan, akan tetapi penundukan itu hanya sementara karena yang
tunduk oleh paksaan hanyalah orang-orang yang menyimpan dendam dan sakit hati. Buktinya, kami dahulu berhasil
menundukkan majikan-majikan Padang Bangkai yang dianggap jahat, bahkan berhasil membunuh mereka. Akan tetapi
apakah hal itu berarti kami berhasil menghentikan kejahatan? Bahkan yang jelas, keturunan mereka mendendam
kepada kami dan sekarang buktinya mereka itu, agaknya setelah merasa kuat, datang untuk menuntut balas.
Kekerasan selalu menghasilkan kekerasan lain! Kebencian lain. Perdemalan tidak mungkin diciptakan oleh
peperangan! Kalau toh dapat, itu hanya karena satu fihak kalah dan terpaksa tunduk, namun dendam bernyala di
hati yang kalah dan setiap ada kesempatan, tentu mereka akan menuntut balas dan damai macam itu hanya sementara
saja."
Baru sekarang ini Cia Kong Liang mendengar hal seperti itu, maka dia merasa bingung sekali dan akhirnya dia
bertanya. "Habis, kalau begitu, apakah semua orang jahat itu harus didiamkan saja dan kita kaum pendekar tidak
harus menentang mereka? Lalu kalau begitu, dengan apakah kejahatan dapat dihilangkan dari dunia ini, paman?"
Yap Kun Liong tersenyum. "Jangan tanya kepadaku, aku sendiri juga tidak tahu, Kong Liang. Agaknya hanyalah
penyadaran lewat batin, agaknya hanyalah cinta kasih saja yang akan dapat melenyapkan kejahatan. Yang jelas,
kalau menggunakan pedang, melalui darah dan pembunuhan, rasanya tidak mungkin kejahatan akan lenyap dari
permukaan bumi ini."
Kong Liang tidak berani membantah lagi, akan tetapi di dalam hatinya dia merasa tidak setuju sama sekali.
"Habis, apakah yang harus kita lakukan pada besok pagi-pagi kalau mereka itu datang dan hendak membunuh paman
dan bibi berdua?" Akhirnya dia bertanya dengan suara mengandung kekhawatiran.
"Jangan engkau sembarangan turun tangan, Kong Liang. Biarkan aku seorang menghadapi mereka. Aku ingin
mendamaikan urusan ini. Akan kuhadapi dengan kelembutan agar mereka itu sadar dan tidak melanjutkan dendam
permusuhan yang tiada gunanya ini."
"Hemm, kaum sesat yang jahat itu mana mau tahu tentang damai? Bagaimana kalau mereka itu berkeras dan hendak
membunuh kita? Apakah kita akan diam saja?" Cia Giok Keng bertanya penasaran.
"Tenanglah, biarkan aku menghadapi mereka. Kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya. Aku tidak percaya
bahwa mereka tidak akan mau mendengarkan kata-kata yang baik."
Karena Yap Kun Liong berkeras dengan kehendaknya untuk menghadapi fihak musuh dengan jalan damai, akhirnya
isterinyapun tidak mau membantah dan mereka lalu membicarakan hal yang mengenai keadaan fihak kedua keluarga
dan bercakap-cakap dengan gembira. Kesehatan Cia Giok Keng agaknya pulih kembali dengan kedatangan keponakannya
itu. Memang sesungguhnyalah, dia merasa gembira sekali dengan kedatangan Cia Kong Liang, bukan hanya gembira
karena memperoleh kunjungan keponakannya yang disayangnya itu, akan tetapi juga diam-diam hatinya lega karena
dia maklum bahwa pemuda itu merupakan seorang pemuda yang sakti dan telah mewarisi kepandaian adiknya yang
menjadi ketua Cin-ling-pai, maka tentu saja dia dapat mengandalkan bantuan Kong Liang kalau musuh yang datang
itu terlalu kuat. Memang dia amat percaya akan kesaktian suaminya, Yap Kun Liong, akan tetapi suaminya, juga
dia sendiri, sudah amat tua dan sudah belasan tahun lebih tidak pernah berkelahi.
Malam itu Yap Kun Liong tidur dengan nyenyak. Pendekar tua ini seolah-olah sudah melupakan ancaman dalam surat
itu. Akan tetapi tidak demikian dengan Cia Giok Keng. Nenek ini sukar sekali pulas karena perasaannya selalu
membayangkan datangnya musuh-musuh yang tentu amat tangguh itu. Fihak musuh tentu bukanlah orang-orang tolol
yang hendak mengantar nyawa. Kalau mereka sudah berani datang secara itu, yaitu dengan mengirim dulu
peringatan, tentu mereka itu sudah merasa yakin akan kekuatan mereka sendiri. Nenek ini tidak tahu bahwa
keponakannya, Cia Kong Liang, malam itu beberapa kali bangun dan keluar dari kamar untuk meronda, memeriksa di
sekitar pondok sunyi itu, kemudian lewat tengah malam, Kong Liang tidak tidur lagi melainkan duduk bersila
untuk berjaga-jaga.
Pada keetokan harinya, pagi-pagi sekali puncak Bwee-hoa-san diselimuti kabut. Pondok kecil tempat tinggal suami
isteri tua itu juga terbungkus kabut. Hawa cukup dingin dan suasana amatlah sunyinya. Bahkan burung-burung
agaknya malas untuk meninggalkan pohon karena kabut demikian tebalnya. Matahari juga masih jauh tenggelam di
balik bukit di timur, akan tetapi cahayanya sudah mulai mengusir kegelapan malam sehingga kabut mulai nampak
keputihan bergerak perlahan seperti sekumpulan domba malas yang digiring meninggalkan puncak.
"Kukuruyuuuuukkk...!" Tiba-tiba keruyuk jago di dalam kandang di belakang pondok itu terdengar nyaring dan
merdu. Keruyuk perlama yang bergema di seluruh permukaan puncak. Keruyuk pertama ini segera disambut oleh
keruyuk ayam hutan yang pendek-pendek suaranya, namun yang nyaringnya melebihi suara ayam jago peliharaan
penghuni pondok itu. Dan nun jauh di bawah puncak, terdengar keruyuk ayam yang lain lagi. Mulailah keruyuk ayam
bersahut-sahutan, sebagai permulaan tanda bahwa sang malam telah mulai mengundurkan diri untuk memberi tempat
kepada matahari.
"Kukuru... kokkk!" Keruyuk itu terhenti di tengah-tengah.
Cia Kong Liang membuka mata. Dia masih duduk bersamadhi. Dia dapat mendengar dengan jelas suara keruyuk yang
putus di tengah-tengah tadi, mengerti bahwa hal itu tidak wajar. Ada sesuatu yang membuat ayam jantan itu
menghentikan keruyuknya. Sesuatu yang tidak wajar dan mencurigakan sekali.
Tiba-tiba terdengar gonggong anjing peliharaan pamannya, anjing kecil berbulu tebal. Akan tetapi, tiba-tiba
gonggong itupun terhenti tiba-tiba dengan bunyi "kokk!" dan suasana menjadi sunyi bukan main. Sunyi yang
menyeramkan dan menegangkan, karena terhentinya bunyi keruyuk ayam jago dan anjing itu sungguh tidak wajar dan
menjadi tanda bahwa pasti telah terjadi sesuatu yang menyeramkan. Dengan hati-hati sekali Cia Kong Liang lalu
turun dari atas pembaringan, menyambar pedang Hong-cu-kiam, memakai pedang pemberian ayahnya itu sebagai sabuk
pada pinggangnya, kemudian memakai sepatunya dan dengan hati-hati sekali dia membuka daun jendela. Dia tidak
berani lancang meloncat keluar, melainkan dengan hati-hati dia naik ke ambang jendela, kemudian keluar dan
berjingkat-jingkat menuju ke belakang melalui samping rumah, lalu bersembunyi di balik tiang di samping pondok.
Cuaca masih remang-remang, akan tetapi dia dapat melihat bahwa ada beberapa buah benda hitam berserakan di
pelataran belakang. Ketika dia memandang dengan penuh perhatian, jantungnya berdebar tegang. Tidak salah lagi,
benda-benda itu adalah bangkai beberapa ekor ayam dan seekor anjing! Dia mengepal tinju. Musuh-musuh pamannya
telah datang! Dan, sesuai dengan isi surat, telah mulai melakukan pembunuhan-pembunuhan, mula-mula mereka
membunuh ayam-ayam dalam kandang kemudian membunuh anjing yang agaknya dapat mencium kedatangan mereka tadi.
Kong Liang merasa betapa jantungnya berdebar dan hatinya panas sekali. Sungguh kurang ajar musuh-musuh yang
datang ini, pikirnya. Dia sudah ingin meloncat keluar dan menantang musuh-musuh itu ketika tiba-tiba dia
melihat berkelebatnya orang dan kiranya pamannya, Yap Kun Liong, telah berada di situ, berdiri di tengah-tengah
pekarangan itu dengan tegak.
"Yap Kun Liong telah berada di sini, yang mempunyai urusan dengan aku silakan datang!" terdengar pendekar tua
itu berkata dengan suaranya yang halus dan tenang.
"Bagus sekali, orang she Yap telah siap menerima kematian!" terdengar suara wanita yang nyaring dan
berturut-turut, dari tiga penjuru nampak bayangan-bayangan berkelebatan cepat dan tahu-tahu di situ telah
muncul empat orang! Orang pertama yang muncul adalah seorang dara yang usianya masih muda, tidak lebih dari
sembilan belas tahun, pakaiannya terbuat dari sutera yang halus namun potongannya ringkas sehingga mencetak
tubuhnya yang langsing dan padat, rambutnya digelung dengan hiasan emas permata, di punggungnya tergantung
sebatang pedang yang gagang dan sarungnya diukur indah, dihias ronce-ronce warna kuning, kedua lengannya
memakai gelang emas. Seorang dara yang manis sekali dan diapun sama sekali tidak kelihatan seperti orang jahat
karena selain manis diapun berwajah ramah penuh senyum, sungguhpun pada saat itu dia memandang kepada kakek Yap
Kun Liong dengan sinar mata mengandung kemarahan dan kebencian.
Adapun tiga orang lainnya adalah laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, ketiganya mengenakan pakaian
serba putih seperti orang berkabung dan wajah mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang
biasa hidup menghadapi kesulitan dan kekerasan. Yang termuda di antara mereka mempunyai tahi lalat besar di
tepi hidungnya, seorang lagi berjenggot panjang sampai ke dada, sedangkan yang tertua kehilangan sebelah
telinga kirinya. Tiga orang kakek inipun masing-masing mempunyai sebatang pedang tergantung di punggung mereka.
Kalau dara itu hanya tersenyum dan memandang tajam, tiga orang kakek itu tertawa girang dan orang tertua yang
telinga kirinya lenyap itu berkata, "Setelah Yap Kun Liong muncul, mana wanita bernama Cia Giok Keng itu? Suruh
dia keluar sekalian menerima kematian!"
Yap Kun Liong sudah memesan kepada isterinya agar jangan keluar, akan tetapi dia merasa khawatir melihat sikap
orang-orang yang datang ini. Kalau mereka mengeluarkan kata-kata kasar, dia tidak berani menentukan bahwa
isterinya akan dapat bersabar untuk tidak keluar. Maka cepat dia lalu menjura kepada mereka.
"Cu-wi berempat telah datang," katanya sambil melirik ke arah bangkai anjing dan beberapa ekor ayam itu, "dan
kalau aku tidak salah menduga, agaknya cu-wi yang mengirim surat tiga hari yang lalu. Apakah cu-wi masih ada
hubungan dengan Padang Bangkai? Bukankah Padang Bangkai telah menjadi wilayah kediaman Pendekar Lembah Naga?"
Dia memancing, karena dia tahu bahwa kini yang mendiami Istana Lembah Naga adalah Cia Sin Liong dan Padang
Bangkai merupakan bagian dari Lembah Naga.
"Yap Kun Liong, lupakah engkau kepada Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li? Mereka itu adalah kakek dan nenekku,
aku So Cian Ling hari ini datang untuk membalas dendam kematian mereka! Suruh Cia Giok Keng keluar untuk
menebus kematian nenekku seperti engkau, yang harus menebus kematian kakekku!" kata dara itu dengan suaranya
yang nyaring.
"Dan kami bertiga adalah murid-murid mereka, kami bertigalah yang mewarisi ilmu-ilmu dari suhu Ang-bin Ciu-kwi
dan subo Coa-tok Sian-li. Sayang ketika mereka terbunuh, kami baru berusia sepuluh tahun lebih, akan tetapi
kami mewarisi ilmu-ilmu mereka dan setelah belajar selama puluhan tahun, hari ini kami datang untuk membalas
dendam!" kata kakek yang telinga kirinya buntung.
Yap Kun Liong mengangguk-angguk. "Memang, tidak perlu kusangkal bahwa Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang
ketika itu menjadi penghuni Padang Bangkai telah tewas di tangan kami. Akan tetapi tahukah kalian berempat
mengapa mereka itu bertentangan dengan kami dan tewas dalam pertempuran? Karena mereka berdua itu membantu
pemberontak, yaitu Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko dua orang iblis yang menjadi guru raja liar Sabutai.
Antara mereka dan kami tidak ada urusan pribadi dan pada waktu itu mereka membantu pemberontak dan kami
membantu pemerintah. Nah, dengan demikian, kematian mereka itu adalah kematian yang wajar, bukan karena urusan
pribadi. Oleh karena itu, perlukah ada dendam sakit hati? Andaikata kami gugur ketika mengabdi kepada
pemerintah, apakah keluarga kami juga akan mendendam dan sakit hati atas kematuan kami? Kami rasa tidak. Nah,
terutama sekali engkau, nona! Engkau masih begini muda, perlukah engkau hidup menanggung dendam yang tidak ada
artinya itu? Bukankah sebaiknya kalau nona sadar dan bahwa kakek dan nenek nona itu tewas karena akibat
daripada perbuatan mereka sendiri dan bahkan dapat dijadikan contoh agar nona sendiri tidak sampai melakukan
penyelewengan di dalam hidup?"
"Tua bangka she Yap! Tidak perlu kau membujuk-bujuk!" bentak kakek bertelinga satu.
"Hemm, pengecut kau! Saking takut mati engkau hendak membujuk kami?" bentak kakek berjenggot panjang.
Yap Kun Liong tetap tenang, "Kalian tidak mengerti. Orang setua aku ini sudah tidak takut akan kematian lagi.
Tanpa kalian bunuhpun kematian agaknya sudah dekat denganku dan sewaktu-waktu akan datang menjemputku dan aku
sudah siap untuk itu. Aku hanya tidak ingin nona muda ini melakukan hal yang akan membuat dia menyesal kelak.
Nona So, sekali lagi kuharap engkau suka merenungkan hal ini."
So Cian Ling, dara muda itu, mengerutkan alisnya dan diapun meragu. Sesungguhnya dia hanyalah cucu angkat saja
dari Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li. Mereka, majikan Padang Bangkai itu, tidak mempunyai anak, hanya
pernah memungut anak perempuan yang ketika terjadi keributan yang mengakibatkan mereka tewas itu dapat
menyelamatkan diri. Anak perempuan ini akhirnya menikah dengan seorang anak buah dari See-thian-ong, yaitu yang
kini menjadi datuk nomor satu di wilayah barat.
Anak perempuan itu adalah ibu dari So Cian Ling! Dari ibunyalah dia tahu bahwa ibunya itu, anak angkat dari
Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang tewas oleh pendekar-pendekar sakti Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng.
Tentu saja hal itu sama sekali tidak menimbulkan kesan di dalam hatinya. Akan tetapi ibunya sering kali
mengingatkannya akan hal itu. Dan kebetulan sekali ayahnya adalah anak buah See-thian-ong dan pada suatu hari,
See-thian-ong melihat dia dan memuji bakatnya, bahkan lalu dia diangkat menjadi murid oleh datuk yang sakti itu
sampai dia memperoleh ilmu silat yang tinggi! Akan tetapi, biarpun demikian, dia tidak pernah mempunyai pikiran
untuk mencari pembunuh kakek dan nenek angkatnya itu.
Kemudian, muncullah tiga orang kakek itu. Mereka ini adalah pewaris dari kitab-kitab yang terisi ilmu-ilmu
kepandaian dari mendiang Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang berhasil dilarikan oleh seorang anak buah
Padang Bangkai ketika terjadi keributan. Dan mereka bertiga inilah yang diam-diam merasa sakit hati dan
mendendam. Setelah mempelajari ilmu-ilmu itu mereka lalu terkenal dengan julukan See-ouw Sam-ciu-ong (Tiga Raja
Arak dari Telaga Barat). Akan tetapi pada suatu hari mereka bentrok dengan See-thian-ong dan mereka itu
ketiganya ditundukkan dan menakluk! Di sinilah mereka bertemu dengan ibu So Cian Ling dan oleh bujukan-bujukan
See-ouw Sam-ciu-ong itulah akhirnya So Cian Ling, dibujuk pula oleh ibunya, pergi dan membantu tiga orang kakek
itu untuk menuntut balas kepada Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng yang telah ditemukan tempat tinggalnya oleh
tiga orang kakek itu. Demikianlah sedikit keadaan So Cian Ling, dara murid See-thian-ong yang amat lihai itu.
"Nona So, kalau memang nona masih berkeras dan merasa bahwa nona benar untuk menuntut balas, nah, silakan. Aku
orang tua Yap Kun Liong tidak takut mati dan daripada dalam usia setua ini harus menanam permusuhan lagi,
biarlah nona membunuhku dan aku tidak akan melakukan perlawanan."
Mendengar kata-kata ini dan melihat sikap kakek yang berdiri tegak dengan agung itu, hati So Cian Ling sudah
menjadi gentar dan tunduk. Tak mungkin dia dapat turun tangan membunuh seorang kakek yang begini agung sikapnya
dan gagah perkasa. Dia sudah tunduk dan merasa kagum, bahkan mulai merasa malu atas sikapnya dan juga atas
perbuatan tiga orang kakek itu membunuhi anjing dan ayam-ayam itu. So Cian Ling ragu-ragu dan bengong, tidak
tahu apa yang harus dilakukan atau bahkan dikatakan.
Akan tetapi, kakek ke tiga yang bertahi lalat di dekat hidungnya, agaknya sudah tidak dapat menahan
kemarahannya lagi. "Tua bangka pengecut!" teriaknya dan dia sudah menerjang ke depan dan memukulkan tangan
kanannya yang terkepal ke dada Yap Kun Liong. Tentu saja, sebagai seorang pendekar yang telah memiliki tingkat
kepandaian ilmu silat yang amat tinggi, secara otomatis tenaga sin-kang dari pusar telah menjalar ke arah dada
yang akan terpukul. Kakek ini amat lihai, bahkan dialah pewaris pertama dari ilmu mujijat Thi-khi-i-beng dari
pendiri Cin-ling-pai sehingga kalau dia menghendaki, tentu saja dengan mudah dia dapat menangkis, mengelak atau
juga menerima pukulan itu tanpa melukai dirinya. Akan tetapi, kakek ini sudah mengambil keputusan untuk
menghindarkan kekerasan dan menghadapi kekerasan lawan dengan kelembutan dan usaha damai, maka diapun cepat
menarik kembali tenaganya dan menerima pukulan itu dengan begitu saja, tanpa disertai tenaga sin-kang yang
melindungi tubuhnya.
"Bukkk!" Pukulan itu keras sekali dan karena tubuh tua itu tidak terlindung sin-kang, maka tubuh Yap Kun Liong
terlempar sampai tiga meter jauhnya lalu terbanting ke atas tanah sampai bergulingan!
Sejak tadi, Cia Kong Liang sudah merasa marah bukan main dan hanya karena hormatnya kepada kakek yang menjadi
kakak ibunya itu maka dia bertahan diri dan hanya mengintai saja dengan muka berubah merah mendengar betapa
kakek itu dihina orang. Akan tetapi ketika dia melihat paman tuanya itu dipukul sampai tunggang langgang dan
dia tahu bahwa pamannya itu sama sekali tidak mau mengerahkan tenaga, dia terkejut bukan main. Pukulan itu bisa
mematikan! Akan tetapi pada saat itu, dua orang kakek, yaitu yang bertahi lalat dan yang berjenggot panjang,
kakek ke tiga dan ke dua, sudah berloncatan untuk menyerang Yap Kun Liong yang belum bangkit duduk. Dan pada
saat itu nampak berkelebat bayangan dua orang yang tahu-tahu sudah tiba di depan Yap Kun Liong dan dua orang
pemuda telah menangkis pukulan dua orang kakek itu.
"Plak! Plak!" Dua orang kakek itu terkejut merasakan betapa kuatnya lengan yang menangkis serangan mereka
terhadap Yap Kun Liong sehingga mereka itu cepat meloncat ke belakang sambil memandang dengan penuh selidik.
Kiranya yang muncul dengan cepat dan tak terduga-duga itu adalah dua orang pemuda yang usianya belum ada dua
puluh tahun, yang seorang bertubuh tegap berwajah gagah dengan sepasang mata yang penuh wibawa, sedangkan
pemuda yang kedua amat tampan dan juga bersikap gagah.
"Hemm, tidakkah kalian malu, memukul orang tua yang sama sekali tidak mau melawan?" Thian Sin, pemuda yang
tampan itu, menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek bertahi lalat di dekat hidung.
Mereka itu adalah Han Tiong dan Thian Sin. Biarpun mereka itu berangkat belakangan, namun karena mereka berdua
melakukan perjalanan cepat, maka pada pagi itu mereka telah dapat menyusul dan tiba di puncak Bwe-hoa-san dan
kebetulan sekali mereka sempat melihat munculnya empat orang musuh yang datang untuk membunuh kakek dan nenek
itu! Begitu melihat Yap Kun Liong dipukul, Han Tiong yang sudah pernah bertemu dengan mereka dan mengenal
mereka, cepat meloncat disusul adiknya yang telah dibisiki bahwa kakek itu adalah kakek tirinya, atau ayah tiri
ibunya, dan cepat mereka menangkis serangan ke dua itu.
Sementara itu, dengan terheran-heran, Kong Liang juga meloncat keluar, bersama dengan Cia Giok Keng yang juga
sudah meloncat keluar. Melihat munculnya mereka itu, dua orang kakek yang tadi ditangkis oleh Han Tiong dan
Thian Sin, menjadi marah dan mereka sudah mencabut pedang masing-masing dan menyerang dua orang pemuda yang
melindungi kakek yang hendak mereka bunuh itu.
"Bagus, kalian hendak menjadi pembuka jalan ke akhirat bagi kakek dan nenek itu? Mampuslah!" bentak kakek
berjenggot panjang sambil menyerang Han Tiong. Pemuda ini cepat mengelak dan balas menyerang. Juga kakek
bertahi lalat telah menusukkan pedangnya ke arah leher Thian Sin yang cepat mengelak.
"Manusia-manusia berwatak iblis!" Thian Sin berteriak marah sekali dan membalas dengan dahsyat, memukul dengan
Thian-te Sin-ciang.
Mula-mula, Yap Kun Liong yang sudah bangkit berdiri tanpa terluka, hanya merasa dadanya agak nyeri, juga
isterinya dan Kong Liang, terkejut dan terheran melihat munculnya dua orang pemuda itu, kemudian mereka merasa
khawatir sekali melihat betapa dua orang kakek yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu mencabut pedang dan
menyerang dua orang pemuda itu untuk kemudian terheran-heran ketika melihat betapa pemuda-pemuda itu dapat
mengelak dengan lincahnya dan ketika mereka mengenal pukulan Thian-te Sin-ciang!
Ketika Yap Kun Liong melihat gerakan Han Tiong dan Thian Sin yang berdasarkan ilmu silat Thai-kek Sin-kun,
wajahnya berseri-seri dan dia mulai mengenal Han Tiong. "Eh, bukankah dia itu Han Tiong?" teriaknya sambil
menuding ke arah Han Tiong yang masih diserang bertubi-tubi oleh lawannya.
"Benar! Dia itu Han Tiong putera Sin Liong!" kata Cia Giok Keng girang. Kong Liang juga teringat dan mengenal
Han Tiong, maka diapun menjadi girang sekali melihat bahwa seorang di antara dua pemuda itu adalah keponakannya
sendiri.
Kini mereka bertiga menduga-duga siapa adanya pemuda tampan yang datang bersama Han Tiong. Melihat sepak
terjangnya, ternyata dia lebih ganas, jauh bedanya dengan gerakan Han Tiong yang tenang sehingga Yap Kun Liong
mengerutkan alisnya. Pemuda itu memiliki pukulan-pukulan yang amat ganas, pikirnya. Akan tetapi jelas bahwa
semua gerakannya menunjukkan bahwa dia adalah murid Cin-ling-pai yang sudah pandai sekali, yaitu memiliki
ilmu-ilmu yang amat dikenalnya. Demikian pula dengan Cia Giok Keng dan Kong Liang yang menduga bahwa tentu
pemuda itu setidaknya merupakan adik-adik seperguruan dari Han Tiong. Kini mereka hanya menonton dan tidak
merasa khawatir lagi karena ternyata dua orang pemuda itu biarpun bertangan kosong, mampu menghadapi dua orang
lawan yang berpedang. Hanya Kong Liang yang masih mengerutkan alisnya dengan khawatir. Keponakannya itu masih
muda dan lawan itu bukan lawan yang ringan. Ingin dia maju membantu, akan tetapi dia tahu bahwa pamannya tidak
akan menyukai itu, dan pula dia sendiripun pantang untuk melakukan pengeroyokan.
"Han Tiong, kau mundurlah dan biarkan pamanmu menghadapi iblis itu!" teriaknya.
"Biarlah, Paman Kong Liang, saya masih sanggup menandinginya!" jawab Han Tiong dan mendengar itu, tahulah Thian
Sin bahwa pemuda gagah perkasa itu adalah Cia Kong Liang, putera ketua Cin-ling-pai. Diam-diam dia merasa tidak
senang. Paman yang muda dan sebaya itu sombong, terlalu memandang rendah kepada Han Tiong. Maka diapun lalu
mengubah gerakannya dan tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya untuk mendesaknya dengan pedang. Dia
bergerak lebih cepat daripada gerakan pedang lawan. Kakek bertahi lalat di dekat hidung itu terkejut bukan main
dan dia menjadi bingung karena tubuh lawannya yang muda itu seolah-olah telah berubah menjadi beberapa orang
banyaknya, saking cepatnya pemuda itu bergerak. Tak disangkanya sama sekali bahwa dia akan berhadapan dengan
seorang pemuda selihai ini. Dan sebelum dia sempat memperkuat segi pertahanan, tiba-tiba sebuah tamparan yang
amat keras mengenai pergelangan tangannya. Padahal pedangnya tadi menyambar dengan ganas dan ternyata pemuda
itu menerima pedang itu dengan tangan telanjang, menangkis pedang dan melanjutkan dengan tamparan yang mengenai
pergelangan tangannya.
"Plakk!" Pedang itu terlepas dan terlempar sedangkan kakek itu berteriak kesakitan dan terhuyung ke belakang.
Thian Sin meloncat dan mengirim pukulan maut dengan Thian-te Sin-ciang, akan tetapi tiba-tiba Han Tiong
meloncat dan menangkis pukulannya.
"Sin-te, jangan bunuh orang!" Kakak ini membentak dan pukulan Thian Sin pun ditarik kembali. Pada saat Han
Tiong mencegah adiknya ini, kakek berjenggot panjang melihat kesempatan baik dan menusukkan pedangnya ke arah
dada Han Tiong pada saat Han Tiong menangkis pukulan maut adiknya itu. Semua orang terkejut melihat ini, dan
hampir saja Kong Liang bergerak meloncat, akan tetapi dengan gerakan indah sekali Han Tiong melempar diri ke
bawah dan kakinya menyambar.
"Desss!" Tendangan itu tepat mengenai tangan yang memegang pedang dan pedang itupun terlepas! Akan tetapi kakek
berjenggot itu masih penasaran dan diapun menubruk tubuh Han Tiong yang masih rebah di atas tanah sehabis
menendangnya tadi.
"Plakk!" Tubuh kakek berjenggot panjang itu terpelanting dan kiranya dia telah kena ditampar oleh Thian Sin
yang sudah marah sekali. Hanya karena teringat akan larangan kakaknya, maka tamparan itupun ditujukan kepada
pundak kiri kakek itu. Kakek itu bangkit sambil meringis karena tulang pundaknya yang kena tamparan itu
patah-patah, sepertl juga kakek yang terpukul pergelangan tangannya itupun kini memegangi pergelangan tangannya
yang patah tulangnya. Tentu saja kakek bertahi lalat dan kakek berjenggot panjang itu tidak mungkin dapat
bertempur lagi setelah tulang pergelangan tangan dan tulang pundaknya patah.
Kini kakek pertama yang kehilangan telinga kirinya itu maju. Wajahnya agak pucat karena dia sangat terkejut
menyaksikan kekalahan dua orang sutenya. Berbeda dengan dua orang kakek pertama tadi, kakek yang buntung
telinga kirinya ini bersikap hati-hati.
"Ah, kiranya di sini berkumpul orang-orang muda yang lihai," katanya untuk menutupi rasa kaget dan kecewanya.
"Baiklah, dua orang dari kami telah kalah, akan tetapi bukan berarti bahwa kami semua telah menyerah. Masih ada
kami berdua yang belum maju. Nah, siapakah yang akan menghadapi aku?" katanya sambil mencabut pedangnya. Dari
cara dia mencabut pedang dan dari bunyi pedangnya, yang berdesing nyaring sekali ketika dicabut, jelaslah bahwa
tingkat kepandaian kakek yang buntung telinga kirinya ini lebih tinggi dibandingkan dengan dua orang kakek
tadi. Melihat ini, Kong Liang menjadi khawatir akan keselamatan keponakannya, maka dia sudah meloncat ke depan
dan memegang lengan Han Tiong.
"Han Tiong, kau mundurlah. Kakek ini lawanku!"
"Paman," kata Han Tiong yang memberi isyarat kepada Thian Sin untuk mundur pula. Karena keadaan, maka Han Tiong
belum sempat banyak bicara dengan kakek dan nenek itu, hanya memberi hormat sambil berlutut yang diturut pula
oleh Thian Sin yang juga belum sempat memperkenalkan diri. Yap Kun Liong memberi isyarat dengan tangan menyuruh
mereka berdiri dan mereka semua kini menonton Kong Liang yang menghadapi kakek telinga buntung. Kakek itu
menyilangkan pedangnya di depan dada sambil berkata. "Orang muda, aku telah siap, engkau mulailah!"
Sebetulnya, dengan segala ilmu kepandaian yang telah diwarisinya dari ayah dan ibunya, biar dia menghadapi
lawan berpedang ini dengan tangan kosong sekalipun belum tentu Kong Liang akan kalah. Akan tetapi pemuda ini
tidak mau membuang waktu, maka diapun sudah mencabut pedang yang melingkar di pinggangnya dan nampaklah sinar
keemasan berkelebat ketika Hong-cu-kiam telah berada di tangannya. Pedang tipis ini mengeluarkan sinar
berkilauan dan melihat ini agak gentar jugalah kakek buntung telinganya itu. Dan tanpa banyak cakap lagi, Kong
Liang sudah menyerang dengan pedangnya dan begitu menggerakkan pedang, dia sudah mainkan Siang-bhok Kiam-sut yang hebat!
Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut (Pedang Kayu Harum) merupakan ilmu pedang pusaka dari Cin-ling-pai, yaitu
merupakan ilmu pedang asli dari pendiri Cin-ling-pai, pendekar sakti Cia Keng Hong dan tentu saja hanya
keturunan pendekar itu saja yan mewarisi ilmu pedang ini. Cia Bun Houw mewarisinya dari Cia Keng Hong dan kini
ilmu pedang itu diwariskan pula kepada Cia Kong Liang. Maka, begitu pemuda ini memainkan Ilmu Pedang Siang-bhok
Kiam-sut, dengan menggunakan sebatang pedang pusaka seperti Hong-cu-kiam yang amat tipis dan ringan sehingga
sesuai sekali kalau dipakai untuk mainkan Siang-bhok Kiam-sut, kakek yang buntung telinganya itu menjadi
terkejut dan bingung sekali.
Cia Kong Liang memang memiliki gerakan yang amat tangkas dan kuat, diapun tidak mau memberi hati kepada
lawannya, maka begitu mereka bergebrak, dia sudah terus mendesak amat dahayatnya, sedikitpun tidak memberi
kelonggaran sehingga dari jurus pertama, kakek yang buntung telinganya itu sama sekali tidak mampu balas
menyerang, melainkan hanya menangkis, mengelak sambil main mundur terus.
Han Tiong dan Thian Sin memandang kagum. Mereka juga banyak mempelajari ilmu silat, akan tetapi mereka tidak
mengenal Siang-bhok Kiam-sut dan kini mereka memandang dengan kagum karena memang gerakan ilmu pedang ini
selain amat indah juga aneh. Dan memang hal ini disengaja oleh Kong Liang yang tahu dengan pasti bahwa Pendekar
Lembah Naga, yaitu kakak tirinya, biarpun terkenal amat lihai, tidak pernah menerima pelajaran Siang-bhok
Kiam-sut, dan oleh karena itu kedua pemuda itupun sudah pasti tidak akan mengenal Siang-bhok Kiam-sut! Kalau
dia mainkan ilmu lain, besar kemungkinan dua orang pemuda itu akan mengenalnya dan hal itu tentu tidak
menimbulkan kesan. Memang, biarpun dia sendiri mencoba untuk menutupinya, namun pada diri pemuda Cin-ling-pai
ini terdapat suatu watak yang ingin dipuji dan dikagumi. Mungkin hal ini timbul karena dia merasa dimanjakan
oleh kedua orang tuanya yang selain hanya mempunyai putera dia seorang, juga telah berusia agak lanjut ketika
memperoleh dia sebagai keturunan tunggal.
Dan memang ilmu pedang itu luar biasa sekali, apalagi dimainkan dengan baiknya oleh Kong Liang. Biarpun kakek
bertelinga buntung satu itu berusaha mati-matian, namun dia sama sekali tidak mampu membalas dan sampai hampir
tiga puluh jurus dia selalu diserang dan didesak hebat. Tiba-tiba kakek itu menggerakkan tangan kirinya dan
sinar kehijauan yang halus meluncur dari tangan kiri ke arah tubuh Kong Liang. Thian Sin dan Han Tiong terkejut
bukan main karena mereka maklum apa artinya sinar-sinar lembut itu. Itu adalah jarum-jarum halus sebagai
senjata rahasia kakek itu. Jarum-jarum ini amat berbahaya, disebut Coa-tok-ciang (Jarum Racun Ular) dan kalau
jarum ini sampai mengenai kulit lawan, racun yang berada di ujung jarum itu dapat terbawa darah dan akibatnya
seperti orang digigit ular berbisa saja. Bahkan Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng juga terkejut dan khawatir.
Akan tetapi Cia Kong Liang tidak mengecewakan menjadi putera Cin-ling-pai. Begitu melihat menyambarnya sinar
hijau, dia sudah memutar pedangnya dan meloncat ke belakang, kemudian berjungkir balik ke atas dan meluncur
turun setelah semua jarum itu dapat ditangkis pedangnya dan lewat di bawah kakinya. Begitu tubuhnya meluncur,
pedangnya sudah menyambar dengan kecepatan kilat ke arah ubun-ubun, kedua pundak, dada dan pusar lawan,
demikian cepatnya bertubi-tubi sehingga seolah-olah yang menyerang itu bukan sebatang pedang, melainkan lima
batang!
"Ihhh...!" Kakek itu terkejut dan mengelak mundur sambil menangkis. Terdengar bunyi berdencingan ketika dua
pedang itu bertemu dengan keras berkali-kali, akan tetapi tiba-tiba kakek itu berteriak kaget dan terjengkang!
Sebatang jarum, jarumnya sendiri, telah menancap di dadanya sebelah kiri, menembus bajunya dan menancap sampai
setengahnya lebih. Itulah sebatang jarum yang tadi dapat ditangkap oleh tangan kiri Kong Liang tanpa dapat
dilihat oleh lawan dan kini jarum itu telah makan tuannya!
Kong Liang menerjang terus, hendak mengirim tusukan maut, akan tetapi Yap Kun Liong berseru keras, "Kong Liang,
jangan...!"
Namun pedang telah digerakkan, tak mungkin dapat ditarik kembali dan pemuda itu hanya dapat memiringkan
tangannya saja sehingga pedang yang tadi menusuk dada, kini menyeleweng dan hanya mengenai pangkal lengan.
Namun luka yang didatangkan tusukan itu cukup lebar dan dalam, membuat kakek itu mengaduh dan meloncat mundur.
Pangkal lengak kanannya luka, juga dadanya yang sebelah kiri terkena jarum beracun yang perlu harus cepat
diobatinya, maka tentu saja dia tidak dapat melanjutkan pertandingan dan melangkah mundur dengan muka pucat.
"Hemm, sungguh sayang para paman ini telah gagal. Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng, kuharap kalian suka maju
sendiri agar perhitungan antara kita dapat dilunaskan sekarang juga. Kalian mati di tanganku atau aku yang akan
tewas di tangan kalian seperti kakek dan nenekku." Kata dara manis itu dan tidak nampak dia menggerakkan
kakinya, akan tetapi tahu-tahu tubuhnya telah melayang ke tengah taman itu. Ini saja sudah menunjukkan betapa
lihainya dara ini dan melihat betapa ketika tubuhnya melayang tadi kedua tangannya digerakkan seperti burung,
menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang ahli dalam ilmu gin-kang yang disebut Hui-heng-sut (Ilmu Lari
Terbang) dan orang yang memiliki ilmu ini amat berbahaya karena gerakannya amat ringan seperti seekor burung saja.
Dara itu berdiri tegak menghadap ke arah kakek dan nenek itu, sikapnya tenang dan tabah, nampak gagah sekali
sehingga diam-diam Thian Sin merasa kagum bukan main. Hebat dara ini, pikirnya dengan jantung berdebar karena
dia merasa tertarik sekali. Tanpa disadari dia sudah melangkah maju dan berkata, "Biarlah aku menghadapi nona ini!"
"Sin-te, jangan lancang!" Han Tiong mencela adiknya.
"Kalian mundurlah," kata Kong Liang yang masih memegang pedang Hong-cu-kiam di tangannya, sambil melangkah
maju. "Nona ini agaknya memiliki kepandaian, biarlah aku yang mewakili paman dan bibi memberi hajaran kepadanya!"
Dara itu tadi sudah menatap wajah Thian Sin dan sejenak keduanya saling pandang, dan keduanya merasa tertarik.
Dara itu mendapat kenyataan betapa tampan dan gagahnya pemuda yang pertama kali maju ini dan harus diakuinya
bahwa belum pernah dia bertemu dengan seorang pemuda yang begini menarik hatinya. Akan tetapi, majunya Kong
Liang dan teguran kakaknya itu membuat Thian Sin mundur kembali sungguhpun dia masih terus memandang wajah dara
yang amat manis dan menarik hatinya itu. Dan dara itupun terpaksa kini memandang Kong Liang yang tadi telah
merobohkan kakek telinga buntung. Tahulah dara ini bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tangguh, akan tetapi
sedikitpun dia tidak gentar.
"Pertandingan ini adalah untuk mengadu nyawa, oleh karena itu aku tidak ingin membunuh atau terbunuh oleh orang
yang tidak kuketahui siapa. Kalau aku tidak salah, engkau adalah orang dari Cin-ling-pai, bukan?" Dara itu
bertanya. "Aku telah memperkenalkan diriku. Aku bernama So Cian Ling, murid dari See-thian-ong. Akan tetapi aku
datang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan guruku, melainkan mewakili arwah nenek dan kakekku untuk
membalas dendan kepada Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng."
Sikap dara itu sungguh tenang dan juga gagah, tidak seperti orang dari golongan jahat dan kasar. Apalagi ketika
dia mengaku bahwa dia adalah murid See-thian-ong, Yap Kun Liong dan isterinya, juga para pemuda itu terkejut
sekali. Mereka sudah mendengar akan nama See-thian-ong yang dianggap sebagai datuk dunia bagian barat, yang
setingkat dengan Pak-san-kui dari utara, atau dengan Tung-hai-sian dari timur dan Lam-sin dari selatan! Kiranya
dara ini adalah murid datuk barat, maka dapat diduga bahwa dia tentu lihai sekali, jauh lebih lihai daripada
tiga orang kakek yang telah kalah tadi.
Diam-diam Cia Kong Liang juga terkejut, bukan hanya karena ternyata bahwa dara ini adalah murid See-thian-ong
yang terkenal, akan tetapi juga betapa dara ini telah dapat menduga bahwa dia datang dari Cin-ling-pai hanya
dengan melihat gerakan-gerakannya tadi. Maka diapun menjawab cepat. "Memang benar, aku adalah putera ketua
Cin-ling-pai dan keponakanku di sana itu adalah putera Pendekar Lembah Naga. Nah, kami semua telah berada di
sini untuk melindungi paman dan bibiku yang sudah tua. Engkau sungguh sudah bosan hidup berani menentang paman
dan bibiku."
Dara itu juga terkejut, bukan hanya mendengar bahwa pemuda di depannya ini adalah putera ketua Cin-ling-pai,
akan tetapi juga mendengar bahwa pemuda-pemuda yang lain itu datang dari Lembah Naga, bahkan seorang di
antaranya adalah putera Pendekar Lembah Naga. Tahulah dia bahwa dia benar-benar sial, akan tetapi karena sudah
terlanjur, dia tidak akan undur lagi.
"Siapapun yang melindungi mereka, aku tidak peduli. Kematian kakek dan nenekku harus ditebus! Nah, majulah!"
tantangnya dan sekali tangannya bergerak ke belakang dia telah mencabut pedangnya dan nampak sinar putih
seperti perak. Ternyata pedangnya itupun merupakan sebatang pedang pusaka yang indah dan juga ampuh.
"Bagus! bersiaplah engkau!" bentak Kong Liang dan sekali bergerak dia sudah mengirim serangan bertubi-tubi
sampai lima kali beruntun! Akan tetapi, dengan tangkas sekali nona itu menangkis sampai lima kali dan balas
menyerang, sekali serang juga sudah mengirim tusukan dan bacokan sampai lima kali berturut-turut yang semua
telah dapat dielakkan dan ditangkis oleh Kong Liang. Ketika pemuda ini menangkis untuk ke lima kalinya, dia
sengaja mengerahkan tenaganya.
"Trang...!" Bunga api berpijar menyilaukan mata dan keduanya merasa betapa lengan tangan mereka tergetar hebat.
Cepat mereka memeriksa pedang masing-masing, akan tetapi dengan hati lega mereka mendapat kenyataan bahwa
pedang mereka tidak rusak.
Pada saat itu, Yap Kun Liong sudah meloncat datang dan menengahi. "Kong Liang, kau mundurlah dan biarkan aku
sendiri menyelesalkan urusan pribadiku ini." Mendengar ucapan pamannya ini, tentu saja Kong Liang cepat mundur
dan menyimpan kembali pedangnya, memakainya sebagai ikat pinggang.
"Nona So, sungguh sedih sekali hatiku melihat bahwa urusan ini berlarut-larut. Aku tidak ingin membuat
keluargaku terikat dengan urusan permusuhan yang tidak ada artinya ini. Nah, kalau memang benar-benar engkau
mendendam atas kematian Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li, kaubunuhlah aku, dan aku tidak akan melawan sama
sekali. Aku tidak menyesal bahwa dahulu aku menentang mereka, karena sesungguhnyalah bahwa mereka berdua itu
adalah suami isteri yang amat jahat dan menyeleweng dalam kehidupan mereka! Aku melihat nona bukanlah orang
seperti mereka itu, akan tetapi nona berkeras hendak membalas dendam kematian mereka. Nah, aku menyerahkan
nyawaku kepadamu agar dendam ini dapat dihabiskan sampai di sini saja."
Melihat kakek yang penuh wibawa itu memasang dada dan siap menerima kematian, dara itu melangkah mundur dan
mukanya berubah agak pucat. Dia memandang ragu-ragu dan melihat keadaan suami isteri tua yang gagah perkasa,
apalagi tiga orang pemuda yang jelas merupakan pendekar-pendekar perkasa dan amat mengagumkan itu, dia sudah
mulai dapat melihat bahwa agaknya tidak salah lagi bahwa permusuhan antara kakek dan nenek angkatnya bersama
suami isteri pendekar ini tentu terjadi karena kesalahan kakek dan nenek angkatnya. Apalagi kalau mendengar
penuturan Yap Kun Liong bahwa kematian itu terjadi dalam perang. Akhirnya dia membalikkan tubuhnya dan berkata kepada tiga orang kakek yang sudah terluka tadi.
"Sudahlah, mari kita pergi dari sini!"
"Tetapi... tetapi... dendam kita..." Kakek yang buntung telinga kirinya membantah.
"Sudah, tidak ada urusan dendam lagi bagiku. Aku tidak mau lagi mendengar bujukan kalian!" kata So Cian Ling
dan dia lalu menengok, memandang kepada Thian Sin lalu bibirnya membentuk senyum yang mewakili hatinya, dan
sekali meloncat dia lenyap dari situ. Tiga orang kakek itu tentu saja sudah kehilangan nyalinya melihat dara
itu tidak mau membantu mereka, dan tanpa pamit mereka itupun berlari pergi.
Baru sekarang, setelah semua pengacau pergi, kakek dan nenek itu merasa gembira sekali. Yap Kun Liong lalu
memandang Han Tiong dan berkata, "Bocah nakal, mengapa kau datang tanpa memberi tahu? Mengagetkan saja! Dan kau
sudah begini besar, dan gagah perkasa seperti ayahmu. Hebat sekali gerakan-gerakanmu tadi."
"Ah, saya masih banyak mengharapkan petunjuk dari locianpwe," kata Han Tiong dengan sikap merendah, lalu
memandang kepada Kong Liang sambil berkata, "Paman Kong Liang, ilmu pedangmu tadi sungguh membuat aku kagum
bukan main!"
Kong Liang tersenyum, diam-diam merasa bangga. Akan tetapi dia memandang kepada Thian Sin dan bertanya kepada
Han Tiong. "Siapakah temanmu ini, Han Tiong?"
"Ya, siapakah dia ini?" Cia Giok Keng menyambung dan sejak tadi dia menatap wajah pemuda yang tampan itu.
Ditanya begini, sebelum Han Tiong menjawab, Thian Sin sudah menjatuhkan diri di depan Cia Giok Keng sambil
berkata. "Nenek, cucumu yang bodoh mohon ampun bahwa baru sekarang dapat datang menghadap."
Tentu saja Cia Giok Keng menjadi kaget dan bingung, akan tetapi pada saat itu Han Tiong berkata dengan hati
terharu, "Dia ini adalah Ceng Thian Sin yang menjadi adik angkat saya dan menjadi murid ayah, dia adalah putera
dari Paman Ceng Han Houw dan Bibi Lie Ciauw Si."
"Ehh...?" Cia Giok Keng menjerit dan mengangkat bangkit pemuda itu, menatap wajahnya dan kemudian merangkulnya.
"Cucuku...! Ah, cucuku, tak kusangka bahwa aku akan dapat berjumpa dengan anak Ciauw Si..." Suaranya mengandung
isak. "Cucuku, di manakah mereka? Mengapa ibumu tidak ikut datang bersamamu menengokku...?"
Ditanya tentang ibunya, tentu saja Thian Sin merasa seperti ditusuk jantungnya. Dia menunduk, menahan air
matanya agar tidak keluar dari matanya yang terasa panas itu, kemudian dapat juga dia berkata lirih. "Maafkan
nek... mereka... ayah dan ibu telah tiada..."
Sepasang mata tua itu terbelalak, muka yang memang sudah agak pucat itu menjadi semakin pucat. "Apa...?
Bagaimana...?" Dan nenek itu tentu sudah roboh kalau tidak dipeluk cucunya. Yap Kun Liong cepat menghampiri dan
memondong tubuh isterinya yang pingsan, lalu berkata kepada tiga orang muda itu.
"Mari kita bicara di dalam..."
Keadaan menjadi menyedihkan ketika tiga orang pemuda itu mengikuti kakek yang memondong tubuh nenek yang
pingsan itu memasuki pondok, setelah merebahkan Cia Giok Keng di atas dipan dan mengurut beberapa jalan
darahnya, akhirnya nenek itu mengeluh dan membuka matanya. Akan tetapi begitu dia melihat Thian Sin duduk di
dekat situ, diapun menangis dan teringat lagi.
"Ah, Ciauw Si... Ciauw Si anakku... mengapa engkau yang masih muda telah mati lebih dulu? Betapa buruk nasibmu,anakku..."
Thian Sin menggigit bibirnya dan menahan agar jangan ikut menangis mendengar neneknya itu menangis sambil meratap. Yap Kun Liong menghibur isterinya.
"Sudahlah, kematian akan datang kepada siapapun juga, muda maupun tua. Menyedihi si mati hanya melemahkan batin
dan badan saja, dan tidak ada manfaatnya. Lebih baik kita mendengarkan Thian Sin menceritakan kematian ayah bundanya."
Cia Giok Keng menyusut air matanya lalu memandang kepada cucunya, menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang tertekan, "Cucuku, ceritakanlah bagaimana ibumu sampai tewas?"
Dengan lirih dan hati-hati Thian Sin lalu bercerita tentang pengeroyokan pasukan, baik pasukan dari Kerajaan
Beng yang dibantu oleh pasukan dari Raja Agahai di utara, dan betapa dia sendiri oleh ibu dan ayahnya
diungsikan sebelum malapetaka itu datang, mengungsi ke kuil pamannya, yaitu Hong San Hwesio Lie Seng dan
belajar di bawah asuhan pamannya itu bersama Han Tiong, dan betapa kemudian dia ikut bersama kakak angkatnya
itu dan mempelajari ilmu silat di Lembah Naga.
Mendengar penuturan itu, Yap Kun Liong berkata, "Hemm, segala macam perbuatan manusia tiada bedanya dengan
menanam benih yang tentu akan menumbuhkan pohon yang berkembang dan berbuah. Bunga dan buahnya tidak akan lepas
daripada sifat benih yang ditanam itu sendiri. Oleh karena itu, segala akibat takkan lepas daripada sebabnya
dan kita tidak perlu menyesal. Ciauw Si terbawa oleh akibat daripada perbuatan suaminya, maka hal itupun tidak
perlu disesalkan."
"Tapi, anakku adalah seorang wanita gagah. Tidak semestinya terbunuh demikian menyedihkan. Kematiannya tidak
mungkin dapat didiamkan saja! Para pembunuhnya tidak dapat membedakan siapa salah siapa benar, dan para
pembunuhnya itu harus dibalas!"
Yap Kun Liong memegang lengan isterinya. "Tenang dan sabarlah. Apakah engkau akan mengulang apa yang telah
dilakukan oleh cucu dari para penghuni Padang Bangkai tadi, yaitu hidup diracuni dendam?"
"Ah, tapi mereka itu lain lagi! Kakek dan nenek mereka adalah orang-orang jahat yang sudah sepatutnya dibunuh!
Akan tetapi Ciauw Si anakku! Apa salahnya? Salahnya dia hanya jatuh cinta kepada seorang yang..."
"Sudahlah, perlu apa menggali hal-hal yang sudah lalu? Mereka telah tiada, akan tetapi mereka meninggalken
seorang putera dan dia telah menjadi seorang pemuda yang begini gagah," kata Yap Kun Liong yang cepat mencegah
isterinya melanjutkan kata-katanya mencela mendiang Ceng Han Houw di depan puteranya sendiri.
"Cucuku...!" Cia Giok Keng lalu merangkul Thian Sin dan menangis.
Betapapun juga, kunjungan tiga orang pemuda itu, terutama sekali hadirnya Thian Sin di situ, mendatangkan
kegembiraan dalam hati nenek itu dan membuatnya sehat kembali. Tiga orang pemuda itu tinggal di puncak
Bwee-hoa-san, melayani kakek dan nenek itu sehingga mereka merasa berbahagia sekali.
Giok Keng merasa amat gembira dan amat mencinta cucunya. Saking girang dan senangnya terhadap cucunya, dia
menyerahkan pedang pusakanya, yaitu Gin-hwa-kiam kepada Thian Sin, bahkan mengajarkan ilmu silat memainkan
sabuk sebagai senjata yang ampuh. Memang nenek ini amat ahli mempergunakan sabuk panjang sebagai senjata dan
sabuk ini memang lihai bukan main, dapat mempergunakan untuk menghadapi senjata tajam lawan dan melilit serta
merampasnya.
Juga Yap Kun Liong tidak tinggal diam. Dia merasa gembira dekat dengan tiga orang pemuda yang berbakat dan
gagah perkasa itu, dan dia tahu bahwa inilah kesempatan terakhir baginya. Dia sudah tua, tidak mempunyai anak
kecuali Yap Mei Lan yang telah pergi keluar negeri bersama suaminya, Souw Kui Beng (baca cerita Pendekar Lembah
Naga). Maka kalau dia tidak meninggalkan ilmu-ilmunya tentu tak lama lagi akan terbawa mati. Dan siapa lagi
yang lebih pantas menerima ilmu-ilmunya itu kecuali tiga orang pemuda ini?
Yap Kun Liong merasa kagum bukan main melihat watak Cia Han Tiong. Dia tahu bahwa pemuda ini memiliki
kebijaksanaan yang luar biasa, yang amat menonjol dan jauh melampaui dua orang pemuda lainnya. Dan diapun
diam-diam merasa prihatin dan khawatir melihat sifat-sifat ganas yang dimiliki Thian Sin. Dalam percakapan
berdua dengan Thian Sin, Yap Kun Liong banyak memberi nasihat-nasihat dan menanamkan jiwa kependekaran kepada
pemuda ini, dan diapun mengajarkan Ilmu Pat-hong Sin-kun dan Pek-in-ciang yang amat lihai kepada Thian Sin.
Kepada Cia Kong Liang dia mengajarkan Siang-liong-pang dan Im-yang Sin-kun. Dan kepada Cia Han Tiong dia telah
memberikan kitab yang selama ini merupakan pusakanya yang amat disayangnya, yaitu kitab Keng-lun Tai-pun
ciptaan Bun Ong yang mengandung pelajaran yang amat halus dan hanya dapat dimengerti oleh orang yang
benar-benar berbakat!
Demikianlah, tiga orang pemuda itu tinggal di situ sampai hampir satu bulan lamanya, dan mereka bertiga merasa
gembira bukan main memperoleh ilmu-ilmu dari kakek dan nenek itu. Kemudian karena waktunya bagi Cia Kong Liang
telah tiba untuk mewakili orang tuanya menghadiri undangan dari Tung-hai-sian di Ceng-tao Propinsi Shan-tung
yang merayakan ulang tahun, mereka bertiga meninggalkan puncak Bwee-hoa-san, diantar oleh pandang mata kesepian
oleh kakek dan nenek itu!

***

Han Tiong dan Thian Sin diajak Kong Liang untuk ikut ke Ceng-tao, menemaninya mengunjungi pesta ulang tahun
itu. Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng juga menganjurkan kepada dua orang pemuda itu untuk ikut.
"Tung-hai-sian adalah datuk kang-ouw yang amat disegani di dunia timur, oleh karena itu dalam pesta perayaan
itu tentu hadir banyak sekali orang-orang kang-ouw dan tokoh-tokoh besar. Pertemuan dengan mereka itu amat
penting bagi kalian orang-orang muda," demikian Yap Kun Liong berkata.
Han Tiong dan Thian Sin memang juga ingin meluaskan pengalaman, maka tentu saja ajakan itu mereka terima dengan
hati gembira. Mereka melakukan perjalanan ke timur dengan cepat dan di sepanjang perjalanan mereka bertiga itu
bergembira. Maklumlah, biarpun Kong Liang disebut paman oleh mereka, namun usia mereka sebaya. Kong Liang
berusia dua puluh dua tahun, Han Tiong sembilan belas tahun dan Thian Sin delapan belas tahun.
"Ingat, kita bertiga mewakili Cin-ling-pai dan karena Cin-ling-pai sudah dikenal di seluruh dunia, maka kita
harus menjaga gerak-gerik kita yang tentu akan diperhatikan orang. Dan karena aku yang bertanggung jawab atas
nama Cin-ling-pai, maka kuminta agar kalian tidak sembarangan melakukan sesuatu sebelum ada ketentuan dariku.
Di sana berkumpul banyak sekali orang kang-ouw, maka kalau kalian salah bertindak sedikit saja dapat
menimbulkan kegemparan dan kalau sampai nama Cin-ling-pai terbawa, tentu ayah akan marah kepadaku."
"Baiklah, paman. Kami hanya ikut saja dan nonton, tentu saja kami tidak akan berani membuat ribut. Bukankah
begitu, Sin-te?" Thian Sin hanya mengangguk, akan tetapi karena dia memang kadang-kadang mendongkol melihat
sikap Kong Liang yang seolah-olah menganggap mereka berdua masih "hijau" dan bersikap kepada mereka seolah-olah
mereka itu masih kanak-kanak, lalu berkata.
"Kami mengerti, Paman Kong Liang. Pendeknya, biarlah engkau yang menjadi pemimpinnya, dan kami hanya mentaati
saja." Ucapan ini sewajarnya saja bagi Kong Liang yang mengangguk senang, akan tetapi Han Tiong yang telah
mengenal watak adik angkatnya ini, benar-benar tahu bahwa adiknya itu merasa mendongkol dan dalam kata-katanya
tadi terkandung ejekan.
Siapakah adanya Tung-hai-sian (Dewa Laut Timur) ini? Mari kita berkenalan dengan tokoh yang terkenal sebagai
datuk kaum persilatan di wilayah timur dan bahkan di sepanjang pantai timur. Sebetulnya, Dewa Laut Timur ini
adalah bekas seorang bajak laut yang pernah menggemparkan seluruh permukaan laut yang amat luas dan namanya
dikenal oleh semua pelaut baik pelaut Tiongkok, Jepang, maupun Korea. Dia adalah seorang "samurai" Jepang,
seorang pendekar Jepang yang pernah menjadi pengacau atau pemberontak yang amat terkenal di Jepang. Sebetulnya
dia bukanlah seorang samurai biasa saja. Kakeknya adalah seorang panglima besar yang bernama Minamoto, seorang
pengikut Daig II yang dijatuhkan dari kedudukannya oleh Ashikaga Takauji. Karena junjungannya kalah dan jatuh,
Panglima Besar Minamoto ini melarikan diri dan bersembunyi di pulau kosong bersama keluarganya. Di tempat ini
mereka hidup sebagai nelayan biasa, akan tetapi bekas panglima itu tidak pernah padam cita-citanya, yaitu untuk
sekali waktu keturunannya kembali ke Jepang untuk membalas dendam terhadap kaisar baru! Dia menurunkan
ilmu-ilmunya kepada seorang cucunya yang berbakat, dan cucunya inilah yang sekarang menjadi Dewa Laut Timur!
Tung-hai-sian ini dikenal di Tiongkok sepanjang pantai timur dengan nama Bin Mo To, yaitu sebutan dalam bahasa
Tionghoa untuk nama Minimoto, karena dia memakai nama besar kakeknya. Setelah dia dewasa dan memiliki ilmu
kepandaian tinggi, Minimoto muda ini meninggalkan pulau kosong untuk memenuhi cita-cita kakeknya. Di Jepang dia
mengalahkan banyak jagoan samurai, menjadi pemimpin pemberontak dan berusaha memberontak terhadap istana yang
pada waktu itu diperintah oleh Kaisar Muromaci. Akan tetapi usahanya gagal oleh karena usahanya ini ditentang
oleh para pengikut aliran Zen Buddhis yang amat kuat. Dia gagal, pasukannya dihancurkan dan diapun
dikejar-kejar. Maka larilah Minimoto dan menjadi buronan. Mulai saat itulah dia memasuki dunia penjahat,
menjadi bajak laut dan karena dia terlahir di pulau kosong dan digembleng oleh segala macam ilmu oleh kakeknya,
maka diapun memiliki keahlian ilmu dalam air laut yang amat hebat. Maka ketika dia menjadi bajak laut, sebentar
saja namanya ditakuti semua orang. Pekerjaannya membajak kapal-kapal ini membuat dia berhasil mengumpulkan
banyak harta. Pada usia empat puluh tahun, dia menghentikan pekerjaannya membajak dan bertempat tinggal di
Korea, di mana dia hidup menjadi semacam "datuk" yang menerima "bagi hasil" dari para penjahat yang takut dan
segan kepadanya. Namun, setelah tinggal di Korea selama lebih dari sepuluh tahun, kembali dia harus angkat kaki
karena dimusuhi oleh Kerajaan Korea.
Itulah sebabnya, dalam usia kurang lima puluh tahun, Minimoto atau Bin Mo To yang berjuluk Tung-hai-sian,
julukan yang diperolehnya setelah dia tinggal di Ceng-tao, pindah ke kota itu dan di situ dia tidak lagi berani
menjadi datuk secara terang-terangan. Tung-hai-sian Bin Mo To berusaha untuk membersihkan namanya dan
mendirikan perkumpulan yang dinamai Mo-kiam-pang (perkumpulan Pedang Iblis), sebuah perkumpulan silat.
Perkumpulan ini tidak secara terang-terangan melakukan kejahatan, akan tetapi seluruh penjahat di wilayah itu
semua tunduk terhadap perkumpulan ini karena setiap penjahat yang tidak tunduk tentu akan berhadapan dengan
pedang iblis yang amat ganas. Maka diam-diam Tung-hai-sian diangkatlah oleh dunia hitam sebagai datuk yang
mereka takuti. Tung-hai-sian yang kaya raya dan lihai ini amat berpengaruh, dapat menguasai para pembesar
setempat dengan sogokan-sogokan yang berani. Sebagian besar perusahaan pengawal, yaitu piauwkiok, seolah-olah
menjadi anak buahnya dan semua membayar semacam "pajak" kepadanya kalau menghendaki pekerjaan mereka tidak
terganggu. Perusahaan pengawal yang memakai bendera kuning kecil bergambarkan pedang bersilang dan tengkorak,
yaitu tanda dari Mo-kiam-pang, dapat terlindung karena tak seorangpun penjahat berani mengganggunya. Dan untuk
memperoleh bendera kecil ini tentu saja perusahaan itu harus membelinya dengan harga mahal. Juga Tung-hai-sian
menanam banyak modal dalam perusahaan-perusahaan besar di kota-kota pelabuhan besar sehingga kekayaannya
semakin bertambah.
Tung-hai-sian Bin Mo To ini mempunyai banyak isteri atau selir, tidak kurang dari dua puluh orang, akan tetapi
di antara para isterinya itu, hanya isteri ke dua sajalah yang mempunyai seorang anak perempuan. Isteri ke dua
itu adalah seorang wanita Korea dan diperisterinya ketika dia masih tinggal di Korea, bahkan anaknyapun
terlahir di Korea. Anak itu baru berusia tujuh tahun ketika dia pindah ke Ceng-tao dan kini anak itu telah
berusia tujuh belas tahun, seorang anak perempuan yang cantik, bertubuh tinggi langsing seperti ibunya, berani
dan tangkas dan lincah seperti ayahnya. Dara ini diberi nama Bin Biauw, dan tentu saja sebagai seorang puteri
Tung-hai-sian yang menjadi pendiri dan ketua perkumpulan Mo-kiam-pang, Bin Biauw ini adalah seorang ahli
pedang.
Demikianlah sedikit riwayat dari Tung-hai-sian. Kini datuk ini mengadakan pesta untuk merayakan ulang tahunnya
yang ke enam puluh, suatu hal yang baru dapat dilakukannya di bumi Tiongkok ini, di mana dia dapat hidup bebas
dari pengejaran yang berwajib dan hidup sebagai seorang terhormat! Undangan itu tentu saja mengandung maksud.
Pertama, dia hendak memperkenalkan diri kepada para tokoh kang-ouw sebagai datuk timur yang sepuluh tahun lebih
ini tak pernah menemui tanding! Dan selain itu, juga dia hendak mencari-cari jodoh untuk puterinya yang telah
berusia tujuh belas tahun. Tentu saja dia tidak sudi mencari mantu di antara tokoh-tokoh sesat. Puterinya tidak
akan menjadi isteri seorang bajingan! Dia sendiri adalah keturunan samurai, keturunan jago dan pendekar
kenamaan, maka puterinya harus memperoleh jodoh setidaknya seorang pendekar gemblengan pula! Inilah sebabnya
maka dia mengundang semua perkumpulan besar kecil di dunia kang-ouw, bukan terbatas pada golongan sesat belaka.
Dan demikian pula sebabnya maka Cin-ling-pai juga menerima undangan yang kini diwakili oleh Cia Kong Liang yang
mengajak dua orang keponakannya.
Rumah gedung milik Tung-hai-sian di kota Ceng-tao itu amat besar, dengan pekarangan depan luas sekali, juga
dengan sebuah taman yang indah dan luas di sebelah kiri dan belakang rumah gedung yang seperti istana pembesar
tinggi itu. Di sebelah kanan gedung itu terdapat rumah-rumah petak tempat tinggal para murid atau pembantunya,
tokoh-tokoh Mo-kiam-pang yang tingkatnya sudah tinggi, ada belasan orang banyaknya. Adapun para murid lainnya
berkumpul di sebuah rumah perkumpulan yang lebih besar lagi, yang berada di jalan itu juga, tidak begitu jauh
dari rumah gedung tempat tinggal Tung-hai-sian.
Pada hari yang telah ditentukan itu, para tamu membanjiri kota Ceng-tao dan suasana di gedung keluarga itu amat
meriah. Pekarangan depan yang amat luas itu dijadikan ruangan tamu yang dihias dengan bunga-bunga dan
kertas-kertas berwarna. Tempat itu dapat menampung seribu orang, dan tamu yang datang sedikitnya ada lima ratus
orang dari bermacam golongan. Boleh dibilang dari hampir semua perkumpulan-perkumpulan dunia persilatan, baik
dari golongan bersih maupun dari golongan kotor, apa yang disebut kaum putih dan kaum hitam, mengirimkan wakil,
bahkan banyak pula yang ketuanya memerlukan hadir sendiri.
Thian Sin dan Han Tiong yang mengikuti Kong Liang hadir di tempat yang luas itu, dari jauh melihat pula
hadirnya seorang pemuda pesolek tampan yang membuat mereka terkejut karena tidak disangkanya mereka akan
melihat pemuda itu di situ. Pemuda itu bukan lain adalah Siangkoan Wi Hong. Si pemuda pesolek, pemain yang-kim
yang pandai. Kiranya pemuda itu hadir mewakili ayahnya, yaitu Pak-san-kui yang dianggap sebagai datuk utara.
Tidaklah mengherankan kalau dia disambut sebagai tamu agung ditempatkan di ruangan kehormatan, yaitu panggung
yang dibuat sengaja untuk menyambut tamu-tamu yang dihormati. Siangkoan Wi Hong datang bersama tiga orang kakek
yang juga dikenal oleh Han Tiong. Dia teringat betapa dahulu ayahnya pernah diuji oleh Pak-san-kui, diadu
dengan tiga orang kakek itu yang berjuluk Pak-thian Sam-liong, yaitu murid-murid Pak-san-kui yang lihai.
Dan tiga orang pemuda itupun terkejut ketika melihat hadirnya seorang dara manis yang bukan lain adalah So Cian
Ling, murid dari See-thian-ong atau keturunan penghuni Padang Bangkai yang pernah datang untuk membalas dendam
kepada Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng itu! Dara cantik manis itu datang mewakili suhunya, ditemani oleh
seorang suhunya yang kelihatan gagah dan berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun. Juga wakil-wakil dari
See-thian-ong in memperoleh kursi di panggung kehormatan. Tiga orang pemuda yang mengaku wakil Cin-ling-pai itu
tidak memperoleh kursi di panggung kehormatan dan hal ini saja menyatakan bahwa datuk kaum sesat itu tidak
memandang tinggi kepada fihak Cin-ling-pai! Akan tetapi hal itu tidak mendatangkan perubahan pada wajah Kong
Liang yang tampan itu, sungguhpun sebenarnya hati merasa panas sekali! Memang pemuda ini sudah pandai menyimpan
perasaannya. Betapapun juga Han Tiong dan Thian Sin yang merasa lega karena dengan mendapat duduk di golongan
tamu biasa mereka tidak harus bertemu muka dengan Siangkoan Wi Hong dan So Cian Ling.
Semua tokoh kang-ouw melihat-lihat dan merasa heran mengapa seorang di antara empat datuk, yaitu Lam-sin
(Malaikat Selatan) tidak nampak mengirim wakilnya, padahal nama Lam-sin juga amat terkenal sungguhpun jarang
ada orang yang pernah bertemu dengan orangnya. Hanya namanya sajalah yang amat terkenal, dan nama itu dibuat
terkenal oleh para anggautanya, yaitu golongan pengemis! Lam-sin ini di selatan menjadi ketua dari sebuah
perkumpulan pengemis yang terkenal dengan nama yang amat sombong, yaitu Bu-tek Kai-pang (Perkumpulan Pengemis
Tanpa Tanding)! Dan memang menurut kabar angin, perkumpulan ini memiliki anggauta-anggauta yang semua memiliki
ilmu kepandaian yang amat tinggi dan anggauta mereka tidaklah banyak, ketanya hanya dua puluh orang lebih namun
rata-rata amat lihai sehingga nama Bu-tek Kai-pang itu ditakuti semua orang, apalagi ketuanya yang hanya
dikenal sebagai Lam-sin atau Malaikat Selatan. Lam-sin sendiri tidak pernah keluar, akan tetapi setiap ada
pengemis sakti dari Bu-tek Kai-pang melakukan sesuatu yang menggemparkan dunia kang-ouw, tentu nama Lam-sin
semakin terangkat karena setiap pengemis sakti itu amat menjunjung tinggi nama Lam-sin sebagai guru dan majikan
mereka! Pendeknya, sampai sekarang nama Lam-sin merupakan tokoh misterius yang hanya dikenal nama namun belum
dikenal rupanya itu.
Pesta itu berjalan dengan amat meriah. Suguhan-suguhan yang dihidangkan adalah masakan-masakan yang mahal dan
araknya juga arak pilihan, pendeknya benar-benar merupakan pesta seorang yang kaya raya. Semua ini masih
diramaikan dengan serombongan penari dan penyanyi yang didatangkan dari Nan-king, yang tentu saja amat mahal
bayarannya.
Selagi pesta itu berlangsung meriah, tiba-tiba seorang pembantu fihak tuan rumah yang bertugas sebagai
pengacara bangkit berdiri di atas panggung di mana para penari baru saja mengundurkan diri. Musikpun berhenti
dan terdengar suara orang itu lantang, "Dimohon perhatian cu-wi yang mulia! Atas perintah fihak tuan rumah,
kami memberitahukan bahwa acara hiburan ditunda untuk memberi kesempatan kepada Bin-siocia yang hendak memberi
selamat kepada Bin-loya (tuan Besar Bin). Hendaknya cu-wi maklum bahwa Bin-siocia adalah puteri tunggal dari
Tuan Besar Bin Mo To yang mulia. Dan sebagai hadiah untuk ayahnya, Bin-siocia berkenan hendak mempertunjukkan
tarian pedang!"
Tentu saja pengumuman itu disambut dengan tepuk sorak riuh karena para tamu tentu saja ingin sekali melihat
ilmu pedang dari puteri Tung-hai-sian Bin Mo To. Hanya beberapa orang saja di antara para tamu, termasuk para
pembesar di Ceng-tao, yang sudah tahu bahwa Bin-siocia adalah seorang dara yang amat cantik dan manis, dan yang
kabarnya memiliki ilmu silat yang amat tinggi, paling tinggi di antara anak buah atau murid-murid datuk itu
sendiri!
Tiba-tiba terdengar musik ditabuh, yaitu tambur dan gembreng dan terompet. Selagi tambur dipukul gencar, dari
dalam keluarlah seorang dara berpakaian serba merah, baju dan celana merah muda, ikat pinggang merah tua, pita
rambut merah tua dan di dadanya terdapat hiasan dari sutera kuning, kedua kakinya mengenakan sepatu hitam yang
mengkilap. Bukan main cantik manis dan gagahnya dara itu nampaknya. Pakaiannya dari sutera tipis itu menempel
ketat di tubuhnya, membuat tubuhnya nampak menonjol dan padat menggairahkan, namun juga menimbulkan segan
karena sikapnya amat gagah. Dia berlari keluar, berlari kecil seperti seorang penari yang lincah, dan wajahnya
yang manis itu tersenyum ketika dia memandang kepada para tamu dan mengangguk sebagai tanda terima kasih karena
para tamu menyambutnya dengan tepuk tangan riuh. Ketika dara itu tersenyum, nampak dua buah lesung pipit di
kanan kiri mulutnya, dan memang dara ini manis sekali. Mulutnya merupakan daya tarik yang paling kuat dari
wajahnya, sebuah mulut yang amat indah, dengan bibir melengkung penuh berkulit tipis seolah-olah setiap saat
bibir itu akan pecah dan mengeluarkan darah karena bibir itu nampak demikian merah dan basah. Ketika dia
tersenyum dan kedua bibir itu agak terpisah merenggang, nampak kilauan gigi putih seperti mutiara. Di
punggungnya tergantung sebatang pedang dengan ronce berwarna kuning emas. Dara itu adalah Bin Biauw, puteri
remaja berusia tujuh belas tahun yang merupakan anak tunggal dari Tung-hai-sian Bin Mo To! Setelah berlari
berputaran di atas panggung sambil memberi hormat dengan kedua tangan dirangkap di depan dada kepada para
penonton yang menjadi tamu, Bin Biauw lalu menghampiri panggung di mana ayahnya duduk. Semua mata kini
memandang ke arah tuan rumah.
Tung-hai-sian adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun yang mengenakan pakaian mewah, di kanan kirinya
duduk dua orang wanita setengah tua yang juga berpakaian mewah. Di sebelah kanan itu adalah isterinya yang
pertama, sedangkan di sebelah kirinya adalah isterinya yang ke dua atau ibu kandung Bin Biauw. Isteri
pertamanya tidak mempunyai anak dan dia adalah seorang wanita Jepang, tidak seperti ibu Bin Biauw yang
merupakan wanita Korea, bertubuh tinggi langsing seperti Bin Biauw.
Tung-hai-sian sendiri bertubuh pendek tegap dan bersikap gagah, biarpup usianya sudah enam puluh tahun namun
dia masih nampak kuat, hanya kepalanya saja yang sudah botak kelimis, hanya ditumbuhi rambut di bagian belakang
dan dekat telinga sampai ke pelipis. Ubun-ubun dan atas dahinya sudah tidak ada rambutnya sama sekali. Di
pinggangnya tergantung sebatang pedang samurai yang sarungnya amat indah. Sepasang matanya yang lebar itu amat tajam, dan alisnya hanya merupakan bundaran hitam kecil saja yang ditumbuhi rambut pendek-pendek. Biarpun Tung-hai-sian sudah menjadi datuk dunia persilatan di daratan Tiongkok, bahkan sudah berganti nama dengan nama
Bin Mo To sebagai pengganti nama Minamoto, namun kakek ini dalam kesempatan gembira merayakan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh tahun itu mengenakan pakaian seorang Samurai Jepang! Kakinya juga memakai sandal
model Jepang dan dia kelihatan bangga sekali berpakaian seperti itu!
Bin Biauw menghampiri ayahnya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya. Kakek ini merangkul dan
mencium kepala puterinya sambil tertawa gembira. Setelah mengucapkan selamat dengan suara lirih yang tertindih
oleh suara musik, dara itu lalu bangkit dan berlari lagi ke atas panggung, sesudah menghormat ke empat penjuru,
tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan tahu-tahu dia sudah mencabut sebatang pedang yang
mengeluarkan sinar kilat sehingga mengejutkan semua orang. Itu adalah sebatang pedang pusaka yang hebat, pikir
mereka. Kemudian dara itu mulai bersilat pedang, atau menari pedang, karena gerakannya lemah gemulai seperti
orang menari mengikuti irama tambur dan gembreng, akan tetapi di dalam gerakan tari lemah gemulai ini
terkandung kekuatan yang dahsyat, yang menyambar setiap kali pedang berkelebat dan semua orang yang hadir,
kebanyakan ahli-ahli silat, dapat melihat betapa ujung pedang tergetar setiap kali digerakkan, getaran yang
mendatangan suara mengaung! Jelaslah bahwa dara ini bukan sekedar menari biasa. Sungguhpun tari-tarian itu
merupakan gerakan-gerakan yang amat indah, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi langsing, namun jelas bahwa dara
itu sedang mainkan ilmu silat yang selain indah juga amat tangguh sekali! Dan benarlah dugaan mereka karena
semakin lama, gerakan itu semakin cepat dan ketika bunyi tambur dan gembreng sudah menjadi cepat sekali, dara
itu lenyap, yang nampak hanya bayangan merah terbungkus oleh gulungan sinar pedang putih berkeredepan
menyilaukan mata. Semua orang bertepuk tangan memuji karena memang harus mereka akui bahwa jarang mereka
menyaksikan ilmu pedang yang demikian hebatnya.
Tiba-tiba Tung-hai-sian mengambil sebatang lilin merah yang bernyala, dan dia melontarkan lilin itu ke arah
puterinya sambil berseru. "Sambutlah, anak Biauw!"
Tiba-tiba bayangan yang dibungkus gulungan sinar itu berhenti dan nampak dara itu berdiri tegak menanti sampai
lilin yang dilontarkan itu tiba di atasnya, kemudian, secepat kilat pedangnya bergerak ke kanan kiri... dan
lilin bernyala itu agaknya seperti tertahan oleh sesuatu di udara, dan barulah sesudah dara itu menghentikan
gerakannya, lilin itu terjatuh ke atas lantai dan... berserakan menjadi belasan potong, sedangkan ujung lilin
yang bernyala kini ternyata telah menempel di ujung pedang! Tentu saja kepandaian seperti itu adalah kepandaian
yang merupakan keahlian karena dilatih, akan tetapi betapapun juga, tanpa memiliki gerakan yang cepat dan kuat,
tidak mungkin dapat melakukan seperti itu. Dan meledaklah tepuk tangan para tamu yang merasa kagum sekali.
"Bagus, kiam-hoat (ilmu pedang) yang bagus sekali!" Tiba-tiba terdengar seruan nyaring mengatasi kegaduhan
tepuk tangan itu. Semua orang menoleh, juga Bin Biauw menoleh. Ternyata yang berseru itu adalah Thian Sin!
Saking kagumnya, bahkan hanya melihat ilmu pedang itu melainkan terutama sekali melihat kecantikan dara itu,
Thian Sin lupa diri dan dia memuji sambil bangkit berdiri.
Melihat ulah adiknya, Han Tiong terkejut sekali dan dia maklum bahwa adiknya itu tentu tertarik sekali kepada
dara yang cantik itu, karena diapun sudah tahu akan kelemahan hati adiknya terhadap wanita cantik. Sementara
itu, ketika menengok dan melihat pemuda yang amat tampan itu, Bin Biauw menjadi merah mukanya, akan tetapi dia
menahan senyum dan mengerling malu-malu. Hati siapa takkan merasa girang dan bangga kalau dipuji, terutama
sekali hati seorang wanita yang selalu haus akan pujian, dan lebih-lebih lagi kalau pemujinya itu seorang
pemuda yang demikian gantengnya? Juga Bin Mo To yang bangkit berdiri, dari atas dapat melihat pemuda tampan
gagah yang mengeluarkan seruan pujian itu, maka dia lalu tersenyum dan memberi perintah kepada pengacara dengan
kata-kata lirih.
Pengacara itu segera bangkit dan menuju ke panggung, lalu berkata dengan lantang, "Kami menyampaikan permintaan
Bin-loya kepada cu-wi yang terhormat, bahwa untuk meramaikan pesta dan untuk menguji kepandaian Bin-siocia,
maka dipersilakan kepada para pendekar muda yang mau menambah meriah pesta ini untuk melayani Bin-siocia
bermain pedang!"
Ucapan itu tentu saja disambut dengan riuh-rendah dan semua tamu tertawa. Pengumuman itu sudah tidak aneh lagi
artinya bagi orang-orang kang-ouw. Kalau seorang ayah memberi kesempatan kepada orang-orang muda untuk
bertanding dengan puterinya, hal itu dapat diartikan bahwa sang ayah hendak mencarikan jodoh bagi puterinya!
Hampir semua tokoh kang-ouw tentu saja menghendaki mantu yang lihai bagi puterinya, maka selalu diadakan
sayembara pertandingan silat untuk memilih mantu. Dan agaknya datuk wilayah timur inipun tidak ketinggalan.
Akan tetapi, siapakah yang berani untuk maju? Sebagian besar dari mereka sudah kehilangan nyali menyaksikan
permainan pedang dari Bin Biauw tadi, yang memang amat lihai. Apalagi kalau diingat bahwa dara itu adalah
puteri tunggal dari Tung-hai-sian, mereka merasa lebih sungkan dan segan lagi. Tidak boleh main-main dengan
keluarga datuk itu!
Semua orang memandang ke arah Thian Sin yang masih berdiri, juga dara itu sendiri memandang kepadanya, agaknya
mengharapkan pemuda tampan itu untuk maju. Dan Thian Sin memang sudah merasa gatal tangan dan hatinya untuk
maju menandingi nona manis itu, akan tetapi tiba-tiba dia merasa tangannya disentuh dan ditarik oleh kakaknya
dan terdengar bisikan Kong Liang, "Thian Sin, kau duduklah!"
Teringatlah Thian Sin bahwa dia hanya ikut saja dengan pamannya itu dan dia sama sekali tidak diperbolehkan
bergerak sebelum mendapat perkenan Cia Kong Liang, maka diapun lalu duduk kembali. Bin Biauw kelihatan kecewa,
akan tetapi tidak demikian dengan Tung-hai-sian, karena datuk ini tentu saja tidak menghendaki seorang mantu
dari golongan rendah, yaitu golongan tamu yang duduk di bawah panggung. Sejak tadi perhatiannya tertuju kepada
Siangkoan Wi Hong. Pemuda yang baru pertama kali dilihatnya ini tentu saja amat menarik perhatiannya, setelah
memperkenalkan diri sebagai putera Pak-san-kui! Pemuda yang cukup tampan dan gagah, apalagi putera Pak-san-kui,
sungguh akan merupakan pasangan yang cocok bagi puterinya, setingkat, bahkan segolongan! Maka, diam-diam dia
mengharapkan pemuda itu untuk maju menandingi puterinya agar dia dapat melihat kelihaian pemuda itu yang dia
yakin tentu berkepandaian tinggi sebagai putera Pak-san-kui.
Ternyata tidak ada orang yang berani sembarangan naik ke panggung untuk menyambut ajakan Tung-hai-sian tadi.
Banyak di antara mereka yang merasa jerih untuk menandingi ilmu pedang yang demikian lihainya dari Bin Biauw,
akan tetapi sebagian besar di antara mereka itu lebih merasa segan terhadap Tung-hai-sian sendiri. Apalagi
mereka yang duduk di bawah panggung, andaikata di antara mereka ada yang merasa kuat melawan Bin Biauw
sekalipun, agaknya mereka masih harus pikir-pikir beberapa kali untuk berani memamerkan kepandaian di depan
datuk itu, apalagi dalam kesempatan di mana hadir begitu banyak tokoh-tokoh besar dunia persilatan.
Pembicaraan atau pengatur acara tadi telah menerima bisikan-bisikan dari Tung-hai-sian, maka setelah melihat
bahwa di antara para tamu tidak ada yang berani maju dia lalu angkat bicara lagi dengan sikap ramah, "Bin-loya
telah mohon kepada cu-wi untuk meramaikan pesta dan melayani Bin-siocia beberapa jurus, apakah cu-wi merasa
sungkan? Kami melihat bahwa di sini hadir wakil-wakil dari tokoh-tokoh besar, bahkan ada wakil-wakil dari
See-thian-ong dan dari Pak-san-kui Locianpwe, diharap agar cu-wi yang mewakili kedua locianpwe sudi memberi
petunjuk kepada Bin-siocia, selain untuk memeriahkan pesta juga hitung-hitung untuk memperkekal persahabatan,
demikian pesan Bin-loya."
Mendengar ucapan itu, So Cian Ling bergerak di tempat duduknya, akan tetapi dia dilarang oleh suhengnya dan
sang suheng inilah yang bangkit berdiri. Dia adalah seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun,
bertubuh tinggi kurus, mukanya agak pucat dan matanya sipit, pakaiannya sederhana dari kain berwarna kuning.
Pria ini bernama Ciang Gu Sik dan merupakan murid pertama atau murid kepala dari See-thian-ong, itu datuk
wilayah barat yang terkenal. Akan tetapi, dalam hal ilmu silat, dia masih sedikit di bawah tingkat So Cian
Ling, sungguhpun dara itu merupakan sumoinya. Hal ini adalah karena So Ciang Ling amat disayang oleh
See-thian-ong sehingga murid wanita inilah yang menerima ilmu-ilmu simpanan Sang Datuk! Betapapun juga, tingkat
kepandaian Ciang Gu Sik sudah terhitung tinggi dan karena sudah percaya penuh akan kepandaiannya, maka dia
dipercaya untuk mewakili See-thian-ong dalam memenuhi undangan Tung-hai-sian itu, sedangkan So Cian Ling hanya
ikut suhengnya untuk menambah pengalaman saja.
Ketika tadi melihat puteri tuan rumah itu bermain pedang, diam-diam So Cian Ling juga merasa kagum akan
keindahan ilmu pedang itu. Akan tetapi dia merasa bahwa dia akan sanggup menandingi ilmu pedang yang indah itu,
akan tetapi tentu saja dia tidak peduli, karena kedatangannya hanya ikut sang suheng dan hanya ingin menambah
pengalaman dengan menjumpai orang-orang pandai dari segala fihak. Akan tetapi ketika dia melihat seorang pemuda
di bawah panggung memuji ilmu pedang itu dan dia mengenal Thian Sin sebagai pemuda tampan yang amat menarik
hatinya ketika dia dan para pamannya bertemu dengan pemuda itu di puncak Bwee-hoa-san, diam-diam hatinya
merasa... cemburu dan panas! Inilah sebabnya maka dia berniat untuk menandingi Bin Biauw, bukan hanya untuk
mengalahkan dara itu, melainkan terutama sekali untuk memperlihatkan kepada Thian Sin bahwa dia tidak kalah
oleh dara puteri tuan rumah. Akan tetapi suhengnya melarangnya karena suheng ini maklum bahwa yang dikehendaki
oleh tuan rumah adalah majunya tamu-tamu pria! Dia sendiri bukan seorang pria yang suka kepada wanita sehingga
sampai berusia tiga puluh lima tahun dia masih belum menikah. Dia tidak merasa tertarik kepada Bin Biauw, akan
tetapi pemuda ini amat menjunjung tinggi nama gurunya. Oleh karena itu, ketika nama gurunya disebut-sebut, dia
merasa penasaran juga. Kalau dia tidak maju, tentu orang-orang di situ akan mengira bahwa wakil dari
See-thian-ong takut untuk menghadapi puteri tuan rumah dan hal itu berarti gurunya akan dipandang rendah.
Begitu Ciang Gu Sik bangkit berdiri dan tubuhnya yang tinggi kurus itu melangkah maju ke depan, semua tamu
memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang, juga gembira karena ternyata ajakan atau tantangan itu kini
diterima seorang tamu yang duduk di bagian kehormatan. Bin Biauw juga memandang kepada pria itu dan alisnya
sedikit berkerut. Dia sudah bermufakat dengan ayahnya untuk memilih calon jodoh, dan melihat pria yang maju
ini, jelas bahwa dia tidak akan sudi berjodoh dengan orang ini! Sungguhpun dia tahu dan sudah diperkenalkan
tadi bahwa pria ini adalah murid kepala dari See-thian-ong!
Ciang Gu Sik maklum bahwa majunya itu diikuti oleh pandang mata semua tokoh kang-ouw yang hadir, dan bahwa
majunya itu bukanlah suatu hal yang boleh dibuat main-main karena dia mewakili gurunya, maka dia lalu memberi
hormat ke arah tempat duduk Tung-hai-sian, kemudian dia menjura ke empat penjuru, kemudian dia bicara,
ditujukan kepada para tamu, "Cu-wi yang mulia. Sesungguhnya saya tidak akan berani lancang maju ke panggung ini
untuk memamerkan kepandaian. Akan tetapi karena tadi wakil dari Bin-locianpwe menyebut nama guru kami, yaitu
See-thian-ong, maka sebagai wakil beliau dan murid kepala, terpaksa saya maju untuk atas nama suhu membantu
memeriahkan pesta ini." Setelah berkata demikian, dia lalu membalikkan tubuh menghadapi Bin Biauw, menjura dan berkata.
"Maafkan saya yang lancang berani memajukan diri untuk melayanimu, nona."
"Ah, aku malah gembira sekali bahwa murid utama dari See-thian-ong Locianpwe mau untuk maju dan memberi petunjuk kepadaku yang bodoh." kata Bin Biauw dengan gayanya yang lincah.
Sementara itu, pembicara yang mewakili Tung-hai-sian sudah memperoleh bisikan pula dari majikannya dan dia
berkata dengan lantang. "Permainan silat bersama diadakan selama lima puluh jurus saja. Kalau selama lima puluh
jurus tidak ada fihak yang kalah, berarti bahwa kedua fihak sama kuatnya dan memiliki tingkat yang sama!
Demikianlah keputusan dari Bin-loya!"
Bin Biauw tersenyum manis, menggerakkan pedangnya di depan dada dan berkata. "Silakan Ciang-sicu memilih
senjata!"
Ciang Gu Sik meraba pinggangnya dan mengeluarkan senjatanya yang ternyata adalah sebuah senjata yang disebut
Kim-coa-joan-pian (Cambuk Ular Emas), semacam ruyung lemas yang dapat dipergunakan sebagai ikat pinggang,
gagangnya berbentuk kepala ular terbuat dari pada emas.
"Tar-tarr!" Pecut itu meledak dua kali di atas kepalanya.
"Bin-siocia, saya sudah siap!" katanya dengan tangan kanan yang memegang joan-pian di atas kepala dan tangan
kiri miring di depan dada, kaki kiri diangkat dan ditekuk di depan tubuhnya, sikapnya tenang dan kokoh sekali.
Bin Biauw tersenyum, lalu membentak. "Lihat serangan!" Pedangnya sudah meluncur dengan cepat membentuk sinar
kilat menuju ke dada lawan.
"Tar! Tringgg...!" Joan-pian itu berubah menjadi lurus kaku dan menangkis pedang, kemudian meluncur ke samping.
Pada saat itu, pedang yang tertangkis sudah menerjang lagi, dan pecut itu dari samping menyambar ke arah pundak
dan sambungan siku yang memegang pedang, melakukan totokan untuk mendahului gerakan pedang.
"Hemm...!" Bin Biauw terpaksa mengelak dan dengan sendirinya tusukannyapun batal, dan diam-diam dia tahu bahwa
lawannya ini amat tenang dan amat lihai maka dia berlaku hati-hati dan segera memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga tubuhnya diselimuti gulungan sinar pedang yang berkilauan!
Melihat ini, murid See-thian-ong itupun cepat memutar joan-pian di tangannya sehingga nampak sinar keemasan bergulung-gulung. Joan-pian itu memang gagangnya terbuat dari emas murni dan joan-piannya sendiri terbuat
daripada baja diselaput emas maka sinarnya menjadi keemasan. Nampaklah pemandangan yang amat indah menyilaukan
mata ketika dua gulungan sinar yang putih berkilauan dan keemasan saling sambar dan saling desak. Bagi mata
orang yang kurang tinggi kepandaiannya, tentu sukar untuk dapat mengikuti gerakan kedua orang itu. Gerakan
mereka cepat dan kuat, dan keduanya mengadu kepandaian dengan pengerahan tenaga dan keduanya berusaha untuk
menang karena pertandingan itu bagi mereka merupakan adu kepandaian untuk mempertahankan nama guru mereka
masing-masing.
Bin Biauw tidak lagi bertanding untuk menguji kepandaian seorang pria yang mungkin menjadi calon jodohnya,
melainkan hendak mempertahankan nama ayah dan juga gurunya agar tidak kalah oleh murid See-thian-ong datuk dari
barat itu, sebaliknya Ciang Gu Sik sama sekali bukan melawan dara itu karena tertarik kepadanya melainkan juga
hendak memperlihatkan bahwa See-thian-ong tidak kalah dari Tung-hai-sian! Jadi pertandingan itu mewakili datuk
barat dan datuk timur, masing-masing tidak mau kalah. Oleh karena itu, pertandingan itu hebat sekali dan hal
ini dirasakan oleh semua orang, terutama sekali oleh mereka yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan yang dapat
mengikuti jalannya pertandingan itu dengan jelas.
So Cian Ling memandang jalannya pertandingan itu dengan alis berkerut. Dia mengerti bahwa suhengnya itu terus
didesak dan dia merasa menyesal mengapa suhengnya tidak membiarkan dia saja yang maju tadi, karena dia merasa
dapat menandingi puteri Tung-hai-sian itu. Biarpun suhengnya cukup lihai dengan joan-piannya, akan tetapi
dibandingkan dengan lawan, dia itu kalah senjata, dalam arti kata kalah ampuh senjatanya sehingga keunggulan
senjata itu membuat lawan dapat lebih menindih dan mendesaknya. Memang kalau hanya lima puluh jurus saja, belum
tentu Bin Biauw akan mampu mengalahkan suhengnya, akan tetapi kini jelas nampak oleh semua tokoh kang-ouw bahwa
suhengnya itu telah terdesak dan lebih banyak menangkis daripada menyerang! Dan semua orang yang sudah memiliki
ilmu kepandaian tinggi tentu sudah dapat menduga bahwa kalau dilanjutkan lebih dari lima puluh jurus, suhengnya
itu tentu akan kalah!
Penglihatan So Cian Ling itu memang benar. Dengan ilmu pedangnya yang hebat, Bin Biauw mulai mendesak lawannya
dan betapapun murid See-thian-ong itu berusaha untuk balas menyerang, tetap saja dia harus melindungi diri
lebih dulu dan setelah lawan menyerang tiga jurus, barulah dia mampu membalas dengan satu kali serangan. Dia
didesak terus dan main mundur, akan tetapi dia masih mampu mempertahankan sampai wakil Tung-hai-sian berseru,
"Lima puluh jurus telah lewat! Kedua fihak tidak ada yang kalah, berarti keduanya sama kuat!"
Bin Biauw menarik pedangnya dan berdiri sambil tersenyum manis, melintangkan pedangnya di depan dada. Ciang Gu
Sik juga menarik joan-piannya, dan dia menjura. "Ilmu pedang Bin Siocia sungguh amat tangguh!" katanya dengan
jujur.
"Ah, Ciang-sicu terlalu merendah dan mengalah!" kata Bin Biauw sambil tetap bersenyum. Para penonton menyambut
dengan tepuk sorak, dan tentu saja tepuk sorak itu ditujukan untuk memuji Bin Biauw. Dengan muka agak
kemerahan, murid See-thian-ong itu kembali ke tempat duduknya, disambut oleh So Cian Ling dengan alis berkerut
karena betapapun juga, peristiwa itu membuat dara ini merasa penasaran dan tersinggung.
Bin Biauw masih berdiri di atas panggung. Hatinya merasa penasaran. Mengapa pemuda tampan di bawah panggung
tadi tidak berani naik? Kalau pemuda itu yang melayaninya, tentu dia akan merasa gembira sekali! Tapi Kong
Liang sudah berbisik-bisik kepada dua orang keponakannya itu. "Jangan kalian sembarangan bergerak. Di sini
terdapat banyak sekali tokoh kang-ouw yang lihai. Dan ternyata tuan rumah tidak menghargai Cin-ling-pai. Hemm,
kalian lihat saja hal ini tak dapat kudiamkan saja!"
"Apakah paman hendak melayani nona itu?" Thian Sin berbisik.
"Kalau perlu, akan kuperlihatkan bahwa kita tidaklah kalah oleh mereka yang duduk di atas panggung!" Diam-diam
Kong Liang merasa penasaran dan marah karena dia dan dua orang keponakannya, walaupun sudah mengaku sebagai
wakil Cin-ling-pai, tetap saja dipersilakan duduk di bawah panggung. Ini dianggapnya suatu penghinaan bagi
Cin-ling-pai!
"Ah, di sinipun tidak apa-apa, apa sih bedanya dengan di atas panggung, paman?" Han Tiong berkata karena memang
di dalam hatinya, dia sama sekali tidak merasa penasaran, tidak seperti Thian Sin yang setuju dengan pendapat
paman itu.
"Bagi kita pribadi memang tidak ada bedanya, akan tetapi kita membawa nama Cin-ling-pai, dan kalau orang tidak
menghormati Cin-ling-pai, aku tidak bisa tinggal diam saja!"
"Biarlah aku menghadapi nona itu, paman, mewakilimu dan Cin-ling-pai," kata Thian Sin.
"Thian Sin, jangan kau gegabah! Nona itu lihai sekali ilmu pedangnya. Kalau kau mewakili Cin-ling-pai dan
sampai kalah, bukankah berarti nama Cin-ling-pai makin hancur lagi? Pula, kalau engkau sampai terluka oleh
pedang nona itu, bukankah aku akan mendapat marah dari ayah? Aku yang bertanggung jawab atas keselamatan kalian
berdua. Selain nona itu, di sini banyak orang pandai. Lebih baik kalian diam saja dan hanya bersiap-siap
membantu kalau ada terjadi kecurangan terhadap diriku."
Thian Sin hendak membantah akan tetapi pandang mata Han Tiong membuat dia terdiam. Sementara itu, pembantu
Tung-hai-sian sudah berseru lagi dengan suara lantang dan gembira, "Siapa lagi di antara para pendekar yang
ingin memeriahkan pesta, silakan maju. Tadi dari fihak Locianpwe See-thian-ong telah ada waklinya yang maju,
maka oleh Bin-loya diharapkan majunya wakil dari Pak-san-kui Locianpwe dan juga dari Lam-sin Locianpwe yang
belum nampak wakilnya. Silakan, silakan. Nona kami masih sabar menunggu!"
Siangkoan Wi Hong berbisik-bisik dengan Pak-thian Sam-liong, tiga orang laki-laki gagah yang menjadi murid
kepala Pak-san-kui. Mereka bertiga itu setuju kalau Siangkoan Wi Hong maju karena mereka tahu bahwa
Siangkoan-kongcu mereka itu memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripada mereka sendiri dan lebih pantas
kalau kongcu itu yang menandingi puteri tuan rumah, selain untuk mempertahankan nama Pak-san-kui, juga untuk mencoba kalau-kalau berjodoh dengan nona manis puteri Tung-hai-sian itu.
"Akan tetapi kalian tahu bahwa aku tidak ingin menikah, suheng!" kata Siangkoan Wi Hong berbisik. Tiga orang suheng itupun tahu akan hal ini. Siangkoan Wi Hong adalah seorang pemuda yang sejak remaja sudah suka
bermain-main dengan wanita, bahkan banyak mempunyai selir di mana-mana. Akan tetapi anehnya, pemuda ini tidak
pernah mau mengikatkan diri dengan pernikahan, maka biarpun dia kagum melihat kecantikan Bin Biauw, tetap saja
dia tidak bermaksud untuk membiarkan diri menjadi calon suami nona itu. Kalau hanya berkenalan dan
bermain-main, tentu dia akan menyambutnya dengan senang sekali!
"Kongcu, saat ini, soal perkawinan tidaklah begitu penting. Yang terpenting adalah mempertahankan kehormatan
ayah kongcu sebagai datuk utara! Kalau kini puteri datuk timur dan murid datuk barat telah memperlihatkan
kepandaian, apa kata orang kalau kita diam saja? Disangka bahwa wakil-wakil datuk utara tidak berani muncul!"
Siangkoan Wi Hong menarik napas panjang dan diapun bangkit berdiri. Melihat ini, hati Tung-hai-sian girang
sekali. Dia ingin sekali melihat sampai di mana kelihaian putera Pak-san-kui itu yang kabarnya merupakan
seorang yang selain lihai dan dikenal sebagai datuk, juga seorang yang amat kaya raya. Kiranya sudah cocoklah
kalau dia berbesan dengan Pak-san-kui, akan tetapi dia harus melihat dulu kemampuan pemuda yang tampan dan
pesolek itu. Maka dengan girang dia lalu bertepuk tangan, diikuti oleh para tamu yang duduk di ruangan
kehormatan, dan wakil pembicara itu lalu berteriak "Siangkoan-kongcu, putera dari Locianpwe Pak-san-kui,
berkenan untuk maju meramaikan pesta!" Mendengar ini semua orang memandang dan ketika melihat seorang pemuda
yang tampan dan berpakaian mewah menuju ke tengah panggung sambil membawa sebuah alat musik yang-kim yang kedua
ujungnya berbentuk gagang dan runcing pedang, mereka bertepuk tangan.
Akan tetapi Siangkoan Wi Hong menghampiri tempat duduk Tung-hai-sian, lalu menjura dengan hormat. "Paman
Tung-hai-sian," katanya dengan sikap ramah dan dia sengaja menyebut "paman" agar lebih akrab. "Saya mewakili
ayah, Pak-san-kui Siangkoan Tiang, untuk menyampaikan selamat kepada paman dan semoga paman diberi berkah
panjang umur. Sekarang, karena diundang untuk memeriahkan pesta, terpaksa saya berlancang tangan untuk turut
memperlihatkan kebodohan. Akan tetapi tentu paman tahu bahwa di antara kita terdapat ikatan persahabatan, oleh
karena itu saya tidak setuju kalau main-main ini dianggap sebagai pertandingan. Biarlah saya nenemani saja
puteri paman untuk sekedar meramaikan pesta."
Hati Tung-hai-sian makin girang menyaksikan sikap yang ramah dan halus ini. Pemuda ini patut menjadi jodoh Bin
Biauw, pikirnya. Dia mengangguk. "Baiklah, dan terima kasih atas kebaikanmu dan kebaikan keluarga Pak-san-kui
yang terhormat."
Siangkoan Wi Hong lalu menghampiri panggung, lalu menjura ke empat penjuru dan berkata lantang. "Kami sebagai
wakil dari ayah Pak-san-kui Siangkoan Tiang terpaksa maju melayani Bin-siocia untuk bermain-main sebentar agar
fihak kami jangan djanggap tidak bersedia memeriahkan pesta," ucapannya mendapat sambutan tepuk tangan pula.
"Nona, harap jangan bersikap kejam terhadap saya," kata Siangkoan Wi Hong sambil tersenyum manis ketika dia
menjura kepada Bin Biauw. Nona ini sejak tadi memandang kepada tamu ini dan memang dia sudah tahu bahwa putera
Pak-san-kui ini seorang pemuda yang tampan gagah dan pesolek. Akan tetapi sejak pertemuan pertama, ketika dia
diperkenalkan, dia merasa tidak begitu suka kepada pemuda ini karena pandang mata pemuda ini kepadanya
seolah-olah orang yang meremehkan! Pemuda ini amat angkuh terhadap wanita! Sungguhpun pandai bersikap manis dan
mengeluarkan kata-kata merayu, namun pemuda seperti ini tentu akan selalu memandang ringan kepada wanita.
"Sebaliknya, saya mohon petunjuk dari Siangkoan-kongcu," jawabnya dengan ramah pula. Dia sendiri seorang dara
yang lincah gembira, maka kalau dia hanya menjadi sahabat, tentu keduanya akan merasa cocok.
"Bin-siocia, engkau pandai sekali menari, dan sedikit banyak aku sudah biasa memainkan yang-kim, maka kalau
engkau menari pedang dan aku mainkan yang-kim, bukankah cocok sekali?" Siangkoan Wi Hong berkata, lalu dia
memegang gagang yang-kim yang seperti gagang pedang itu, mengayun benda itu, jari-jari tangan kirinya mengejar
dan terdengarlah bunyi "tang-ting-tang-ting" yang berirama dan merdu! Banyak tamu tertawa melihat lagak kongcu
ini, dan mengira bahwa kongcu itu hanya berkelakar saja. Akan tetapi beberapa orang yang tajam pandang matanya,
terkejut karena dalam suara tang-ting-tang-ting itu terkandung tenaga getaran yang mengejutkan. Jelas bahwa
yang-kim itu bukan dibunyikan sembarangan saja! Dan kini yang-kim itu mulai menyambar turun dan membentuk
kuda-kuda yang kokoh kuat.
"Silakan, nona!"
Bin Biauw juga sudah menduga akan kelihaian lawan ini. Sebagai putera tunggal Pak-san-kui, sudah pasti pemuda
ini lihai sekali, apalagi ketika yang-kim itu berbunyi tadi diapun merasakan getaran yang kuat menyerangnya,
membuat dia cepat mmggunakan hawa murni untuk melindungi dadanya. Kini melihat fihak lawan sudah memasang
kuda-kuda, dia juga membentak. "Lihat pedang!" Dan pedangnya sudah menerjang ke depan dengan kecepatan kilat,
disusul dengan gulungan sinar pedang yang sudah berkelebatan ke sana-sini bagaikan halilintar menyambar-nyambar
ke atas kepala lawan!
"Bagus!" Siangkoan Wi Hong menggerakkan yang-kimnya menangkis. "Trangg...!" kemudian diapun memutar yang-kimnya
dan segera nampak sinar bergulung-gulung dan di dalam sinar itu muncul suara yang-kim yang merdu! Kiranya
pemuda itu mainkan yang-kim, mainkan sebagai senjata ampuh dan juga dengan sentilan-sentilan jari-jari tangan
kiri yang membuat yang-kim itu mengeluarkan suara! Dan memang ilmu pedang yang dimainkan Bin Biauw amat
indahnya, maka segera nampak perpaduan yang amat indah.
Nona itu seolah-olah tidak sedang menyerang, melainkan sedang menari-nari dan mereka itu lebih patut menjadi
pasangan, yang wanita menari yang pria mengikutinya dengan suara yang-kim! Akan tetapi, sesungguhnya keduanya
sedang mengeluarkan kepandaian masing-masing.
Diam-diam, Thian Sin dan Han Tiong menonton pertempuran itu dengan penuh perhatian dan mereka berdua
mendapatkan kenyataan bahwa setelah mempergunakan yang-kim sebagai senjata, putera Pak-san-kui itu ternyata
lihai bukan main! Kiranya memang keistimewaannya adalah mempergunakan yang-kim itu sebagai senjata! Kalau dulu
ketika berhadapan dengan Thian Sin dia mempergunakan yang-kimnya itu, agaknya tidak akan mudah bagi Thian Sin
untuk mengalahkannya.
Memang hebat pemuda itu. Yang-kimnya bukan hanya merupakan senjata yang ampuh, terbuat dari logam yang dapat
dipakai untuk menangkis senjata pusaka, akan tetapi juga suara yang keluar dari yang-kim itu merupakan
serangan-serangan ke arah batin dan jantung lawan! Fihak lawan dapat digetarkan jantungnya lewat suara-suara
itu, bahkan dapat dikacaukan pikirannya selagi mereka bertanding! Hal ini agaknya belum diketahui benar oleh
Bin Biauw, maka dara ini merasa penasaran ketika melihat betapa semua serangannya gagal oleh tangkisan alat
musik lawan.
Bin Biauw mulai marah. Harus diakuinya bahwa pemuda itu cukup tampan dan gagah, akan tetapi melihat betapa
pemuda itu melawannya sambil tersenyum-senyum mengejek dan setiap gerakannya diikuti suara yang-kim sehingga
seolah-olah mempermainkannya atau mengejeknya. Hal ini membuat dia penasaran sekali dan akhirnya dia menjadi
marah. Dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan gerakannya berubah semakin cepat sehingga akhirnya
Siangkoan Wi Hong menjadi kelabakan dan terdesak juga.
Akan tetapi tiba-tiba yang-kim itu mengeluarkan bunyi yang aneh, suaranya nyaring sekali dan makin lama
meninggi dan tiba-tiba saja permainan pedang Bin Biauw menjadi kacau-balau! Ternyata suara yang-kim itu
merupakan serangan suara yang amat hebat, membuat dara itu merasa kacau pikirannya dan pening kepalanya,
jantungnya berdebar-debar! Maka, kalau tadi dia mendesak, sekarang sebaliknya malah gerakan pedangnya menjadi
kacau dan kadang-kadang nampak dia terhuyung! Melihat ini, diam-diam Tung-hai-sian menjadi terkejut dan juga
girang. Ternyata kepandaian pemuda putera Pak-san-kui itu hebat! Maka dia memberi isyarat kepada pembantunya
agar membiarkan kedua orang muda itu melanjutken pertempuran karena dia percaya bahwa keduanya mampu menjaga
diri dan juga dia merasa yakin bahwa pemuda itu tidak akan mau mencelakai puterinya.
Dan memang sesungguhnya demikianlah. Dengan bantuan suara yang-kimnya, kini keadaannya menjadi terbalik dan
kalau Siangkoan Wi Hong menghendaki, kiranya dia akan dapat mengalahkan Bin Biauw, atau setidaknya mendesaknya
dengan hebat. Akan tetapi dia adalah seorang yang cerdik. Biarpun dia tidak berniat untuk diambil mantu, akan
tetapi dia tahu bahwa dia harus bersahabat dengan fihak Tung-hai-sian dan kalau dia dapat berpacaran dengan
dara ini, berpacaran saja tanpa ikatan perkawinan, tentu dia akan gembira sekali! Maka diapun hanya menyerang
tanpa mendesak, sungguhpun kini permainan Bin Biauw tidak setangkas tadi karena dia merasa bingung oleh suara
yang-kim yang seperti menusuk-nusuk telinganya itu.
Tiba-tiba mendengar suara tambur dan gembreng dibunyikan riuh-rendah, tentu saja suara ini menelan suara
yang-kim dan tiba-tiba Bin Biauw memperoleh ketangkasannya kembali setelah dia tidak lagi terganggu oleh suara
yang-kim. Dia merasa penasaran dan marah oleh gangguan yang-kim tadi. Dianggapnya pemuda tadi curang dan
berkelahi mengandalkan ilmu siluman dengan suara yang-kim tadi. Kini Bin Biauw kembali mengamuk dan kembali
Siangkoan Wi Hong terdesak. Pada saat itu, Tung-hai-sian sendiri melompat ke tempat pertempuran sambil tertawa.
"Cukup... cukup... sudah mendekati seratus jurus!" Hebat sekali kakek ini, begitu dia "masuk", dia mampu
menolak yang-kim dan pedang dengan hawa pukulan tangannya yang dikembangkan ke kanan kiri dan dua orang muda
itu terdorong ke belakang! Siangkoan Wi Hong terkejut dan kagum sekali, maklum bahwa tingkat kepandaian kakek
pendek ini amat tinggi, setingkat dengan ayahnya barangkali.
"Maafkan kebodohan saya!" Siangkoan Wi Hong menjura.
Kembali Tung-hai-sian tertawa. "Kepandaian putera Pak-san-kui benar-benar hebat!" katanya dan kesempatan ini
dipergunakan oleh Siangkoan Wi Hong untuk menjura kepada kakek itu sambil berkata, suaranya halus dan lantang,
terdengar oleh semua tamu.
"Paman, saya kira Bin-siocia sudah terlalu banyak bermain pedang dan sudah lelah. Oleh karena itu, kalau
diperkenankan, biarlah saya mewakilinya melayani orang-orang yang masih ingin memperlihatkan kepandaian di
panggung ini untuk meramaikan pesta."
Tung-hai-sian tertawa. "Aih, engkau baik sekali, Siangkoan-kongcu dan kami menghargai sekali bantuanmu untuk
meramaikan pesta kami. Akan tetapi siapakah lagi di antara sahabat-sahabat yang berada di panggung ini yang
masih suka maju memperlihatkan kepandaian dan meramaikan pesta?"
"Paman Tung-hai-sian yang terhormat, bukankah di bawah panggung masih terdapat banyak sekali tamu yang lihai?"
Siangkoan Wi Hong berkata sambil tertawa dan secara sambil lalu dia mengerling ke arah para tamu di bawah
panggung sebelah kanan di mana duduk Han Tiong dan Thian Sing "Bahkan jumlah tamu di bawah itu jauh lebih
banyak dibandingkan dengan para tamu yang duduk di atas panggung."
"Aih, anak yang baik, jangan main-main. Sedangkan para tamu yang duduk di atas panggung saja tidak ada yang maju memperlihatkan kepandaian, apalagi yang berada di bawah panggung."
"Eh, apakah paman hendak mengatakan bahwa mereka itu hanyalah orang-orang kelas rendahan saja? Ha-ha, tak kusangka sama sekali bahwa keturunan mendiang Pangeran Ceng Han Houw kini hanya menjadi tokoh kelas rendahan saja!"
"Keturunan Pangeran Ceng Han Houw?" Datuk yang bertubuh katai itu berseru kaget dan memandang heran, bahkan semua tamu yang mendengar disebutnya nama ini menjadi terkejut. Mereka memandang ke kanan kiri untuk
mencari-cari keturunan orang yang pernah menggemparkan seluruh dunia persilatan itu. Benarkah pangeran yang amat terkenal itu mempunyai keturunan dan bahkan sekarang hadir di tempat itu?
Sementara itu, mendengar semua kata-kata itu, Thian Sin tak mampu lagi menahan kemarahannya dan tanpa dapat
dicegah oleh Kong Liang dan Han Tiong, dia sudah meloncat naik ke atas panggung sambil berteriak. "Siangkoan Wi
Hong, siapa takut padamu? Hayo majulah kalau engkau memang laki-laki!"
Melihat majunya pemuda yang amat tampan ini, Tung-hai-sian terkejut dan juga memandang heran.
"Apakah... apakah engkau yang disebut keturunan Pangeran Ceng Han Houw?" tanyanya.
"Benar, saya Ceng Thian Sin adalah putera tunggal Pangeran Ceng Han Houw. Tadi orang she Siangkoan ini
mengajukan tantangan, nah, saya datang untuk menyambut tantangannya itu!" kata Thian Sin sambil menjura kepada
orang tua itu. Tung-hai-sian menjadi gembira sekali. Tentu saja sebagai seorang datuk persilatan, diapun
mempunyai semacam penyakit, yaitu suka sekali menonton pertandingan silat, apalagi kalau hal itu dilakukan oleh
orang-orang yang pandai. Putera Pangeran Ceng Han Houw? Dia sendiri belum pernah bertemu dengan pangeran yang
telah meninggal dunia itu, akan tetapi nama besarnya telah didengarnya, sebagai seorang jagoan yang tak pernah
terkalahkan, demikian menurut kabar yang didengarnya. Tentu saja dia memandang pemuda itu dengan sinar mata
lain dan dia ingin sekali melihat bagaimana kepandaian putera pangeran yang amat terkenal itu. Dan pemuda ini
putera seorang pangeran! Biarpun pangeran yang sudah menjadi pemberontak, betapapun juga putera pangeran,
berdarah bangsawan tinggi! Ini saja sudah menarik perhatiannya dan dia segera mundur sambil berkata,
"Silakan... silakan...!"
Siangkoan Wi Hong adalah seorang pemuda yang amat cerdik. Ketika tadi dia melihat hadirnya Han Tiong dan Thian
Sing sudah timbul akalnya untuk membalas kekalahannya tempo hari, dan kalau mungkin mengalahkan dan menghina
pemuda-pemuda itu di depan orang banyak, dan kalau tidak mungkin, mengadu domba antara mereka dengan fihak tuan
rumah! Itulah sebabnya maka dia sengaja merendahkan mereka atau memanaskan hati mereka, yang hanya diterima
sebagai tamu-tamu rendahan saja oleh Tung-hai-sian! Tapi sungguh tak disangkanya bahwa Thian Sin demikian
beraninya untuk muncul juga dan mengaku sebagai putera Pangeran Ceng Han Houw dan menantangnya! Akan tetapi dia
sama sekali tidak merasa takut!
Memang dia pernah kalah oleh Thian Sin, akan tetapi kekalahannya itu adalah karena dia menghadapi pemuda itu
dengan tangan kosong, dan dia tidak mengira bahwa putera pangeran itu memiliki Ilmu Thi-khi-i-beng yang amat
lihai itu. Kini dia memegang yang-kimnya, dan dia tahu bahwa lawannya memiliki Thi-khi-i-beng, dia tahu
bagaimana harus menghadapinya dan sekali ini dia tidak akan kalah! Maka sambil tersenyum dia menghadapi Thian
Sin.
"Ha-ha-ha, engkau anak pemberontak, masih berani banyak lagak? Bersiaplah dan keluarkan senjatamu!" Siangkoan
Wi Hong menantang.
Thian Sin tersenyum mengejek. "Engkau boleh berbesar hati karena memegang senjata yang-kimmu, Siangkoan Wi
Hong, akan tetapi aku merasa cukup menghadapimu dengan kedua tangan kosong saja!"
Semua orang termasuk Tung-hai-sian, terkejut mendengar ini dan menganggap pemuda keturunan Pangeran Ceng Han
Houw itu terlalu tinggi hati. Menghadapi yang-kim putera Pak-san-kui yang amat lihai itu dengan tangan kosong?
Akan tetapi, sikap dan wajah Thian Sin sudah menarik hati Bin Biauw, dan memang tadipun dia sudah mengharapkan
pemuda yang memuji ilmu pedangnya ini untuk naik ke panggung sebelum Siangkoan Wi Hong muncul. Maka, melihat
kini pemuda itu muncul dan mendengar bahwa pemuda tampan itu adalah putera seorang pangeran, dan melihat
kegagahannya yang hendak melayani Siangkoan Wi Hong yang bersenjata yang-kim dengan tangan kosong, Bin Biauw
segera melangkah maju dan berkata kepada Siangkoan Wi Hong.
"Harap Siangkoan-kongcu suka mundur. Aku sendiri akan menghadapi orang she Ceng ini!"
Siangkoan Wi Hong pura-pura kaget, sungguhpun di dalam hatinya dia merasa senang. Betapapun juga, agaknya dia
akan berhasil mengadu domba antara Thian Sin dan fihak tuan rumah! "Ah, tapi aku sudah sanggup untuk
menandinginya..."
"Siangkoan-kongcu, ingat bahwa engkau tadi bertindak sebagai wakilku, tanpa bertanya apakah aku mau kauwakili
ataukah tidak. Dan sekarang aku mau menyatakan bahwa aku tidak ingin kauwakili untuk menghadapi siapapun yang
naik ke panggung ini. Aku hendak menghadapinya sendiri!" Bin Biauw tidak tersenyum lagi, melainkan memandang
Siangkoan Wi Hong dengan mata bersinar-sinar penuh tantangan!
Siangkoan Wi Hong menggerakkan pundak seperti orang yang tidak berdaya, lalu memandang kepada Thian Sin. "Hemm,
agaknya belum tiba saatnya engkau roboh di tanganku, Ceng Thian Sin. Biarlah kita bertemu di lain kesempatan!"
Dia lalu menghadapi Bin Biauw dan berkata kepada nona itu, "Silakan, nona. Akan tetapi hati-hatilah, bocah
setan ini berbahaya juga. Awas, jangan sampai dia menggunakan Thi-khi-i-beng!"
Mendengar disebutnya ilmu mujijat yang bagi kebanyakan orang kang-ouw hanya merupakan semacam dongeng itu,
semua orang terkejut, tidak terkecuali Tung-hai-sian. Akan tetapi Bin Biauw menjadi marah. "Aku tahu bagaimana
harus menghadapi lawan-lawanku!" bentaknya dan Siangkoan Wi Hong lalu kembali ke tempat duduknya.
Thian Sin menjadi bingung setelah Siangkoan Wi Hong pergi meninggalkan dia dan berhadapan dengan nona manis
itu. Dia memandang dengan penuh keraguan, tidak tahu harus berbuat apa.
"Akan tetapi... aku... aku tidak hendak melawanmu, nona..."
Bin Biauw tersenyum manis. "Apakah engkau menganggap aku kurang berharga untuk menandingimu dalam ilmu silat?"
"Bukan... bukan begitu... tapi..."
Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh Kong Liang telah berada di atas panggung. Semua
tamu terkejut. Itulah gerakan yang amat ringan dan cepatnya, membayangkan gin-kang tingkat tinggi! Dan kini
semua mata ditujukan kepada pemuda yang bertubuh tegap dan gagah ini, yang berdiri tegak dan memandang kepada
Thian Sin lalu berkata, "Thian Sin, kau kembalilah ke tempatmu!"
Thian Sin memandang pamannya dan dia tahu bahwa pamannya itu marah sekali kepadanya. Teringatlah dia bahwa dia
datang sebagai "anggauta" rombongan wakil Cin-ling-pai dan bahwa tadi dia meloncat ke atas panggung tanpa
perkenan pamannya, maka dia merasa bersalah. Tadi dia berbuat seperti itu karena tak dapat menahan kemarahan
hatinya ketika nama ayahnya disebut-sebut oleh Siangkoan Wi Hong. Kini, berhadapan dengan pamannya yang marah,
dia mengangguk. "Maafkan, paman," katanya dan diapun melompat turun, kembali ke tempat duduknya di dekat Han
Tiong yang memegang lengan adiknya dan menyuruhnya sabar dengan tepukan tangan pada bahunya.
Sementara itu, Cia Kong Liang yang kini telah berdiri di atas panggung, segera memberi hormat ke arah tempat
duduk Tung-hai-sian dan ke empat penjuru, ke arah penonton. Sikapnya dingin dan sinar matanya angkuh. Memang
sejak tadi dia sudah menjadi marah. Pertama-tama, karena dia sebagai wakil, apalagi putera ketua Cin-ling-pai
diberi tempat duduk di bawah panggung. Kemudian, percakapan antara fihak tuan rumah dan putera Pak-san-kui itu
sungguh menyinggung perasaannya, yaitu bahwa mereka yang duduk di bawah panggung hanyalah tamu-tamu kelas
rendahan saja! Hal ini tak mungkin dapat dibiarkannya saja, karena dengan membiarkan hal itu berarti dia
mengakui bahwa Cin-ling-pai adalah perkumpulan "kelas rendahan" dan hal ini tentu akan menjadi buah tertawaan
dunia kang-ouw kalau mendengar bahwa putera ketua Cin-ling-pai dihina dalam pesta datuk kaum sesat itu!
Betapapun juga, dia masih menahan sabar, teringat akan pesan ayahnya agar dia tidak sembarangan membikin ribut
di luar.
Akan tetapi, dengan majunya Thian Sin, dia tidak mungkin dapat mendiamkannya saja. Thian Sin adalah
keponakannya, dan dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan keponakan itu. Juga, dia khawatir kalau-kalau
Thian Sin akan celaka kalau maju bertanding. Semua itu ditambah lagi dengan rasa penasaran ketika mendengar
Siangkoan Wi Hong menyebut-nyebut Ilmu Thi-khi-i-beng yang dikatakannya dimiliki oleh Thian Sin. Dia sendiri
belum tahu bahwa ilmu mujijat dari kakeknya, yaitu pendiri Cin-ling-pai itu telah diturunkan kepada Thian Sin,
padahal ayahnya sendiri yang kini menjadi ketua Cin-ling-pai juga tidak mewarisi ilmu itu, apalagi dia!
Benarkah ilmu itu telah diwarisi oleh Thian Sin putera dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang kabarnya jahat
itu? Dia merasa penasaran, maka dia lalu meloncat ke atas panggung dan menyuruh Thian Sin turun, yang diturut
oleh keponakannya itu.
Kini dia harus memberi penjelasan akan sikapnya. "Cu-wi yang terhormat," katanya ditujukan kepada fihak tuan
rumah dan juga para tamu. "Saya adalah Cia Kong Liang, datang ke sini untuk mewakili ayah saya, yaitu ketua
Cin-ling-pai, memenuhi undangan fihak tuan rumah, bersama dua orang keponakan saya, yang seorang diantaranya
adalah Ceng Thian Sin tadi. Nah, sebagai wakil Cin-ling-pai, kami mengajukan diri, bukan untuk memamerkan
kepandaian, melainkan memperlihatkan bahwa kepandaian seseorang tidak dapat diukur dari kekayaan atau nama
besar, juga untuk sekedar membantu memeriahkan suasana pesta. Biarlah kami sekalian menjadi wakil dari para
tamu kelas rendahan yang duduk di bawah panggung!"
Ucapan Cia Kong Liang ini nadanya keras sekali, seolah-olah menampar muka tuan rumah sehingga wajah
Tung-hai-sian seketika menjadi pucat, kemudian berubah merah. Dia merasa tidak enak sekali dan diam-diam
menyesalkan para pembantunya yang kurang teliti sehingga pemuda-pemuda wakil dari perkumpulan-perkumpulan besar
diberi tempat di bawah, bahkan putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw juga diberi tempat di bawah panggung!
Akan tetapi, diam-diam diapun gembira melihat bahwa pemuda perkasa deri Cin-ling-pai itu mau melayani
puterinya. Dengan demikian, semakin banyak kini bermunculan pemuda-pemuda yang baik sehingga memudahkan
pemilihannya. Mula-mula Siangkoan Wi Hong, lalu putera pangeran itu yang belum sempat disaksikannya sampai di
mana tingkat ilmu silatnya sungguhpun dia sudah girang sekali mendengar dari Siangkoan Wi Hong tadi bahwa
putera pangeran itu memiliki ilmu mujijat Thi-khi-i-beng. Selain putera pangeran itu, kini putera ketua
Cin-ling-pai! Dia sendiri pernah mendengar tentang Cin-ling-pai, akan tetapi karena sudah lama sekali
Cin-ling-pai tidak pernah menonjolkan diri di dunia kang-ouw, maka nama Cin-ling-pai tidak terkenal lagi dan
nama besarnya seolah-olah semakin pudar. Maka kini kemunculan putera ketua Cin-ling-pai menarik perhatian para
tokoh kang-ouw, terutama sekali kaum tuanya yang dulu pernah mengalami masa jayanya perkumpulan itu.
Sejak tadi Bin Biauw memandang dan memperhatikan Cia Kong Liang dari kepala sampai ke kaki dan dara ini merasa
kagum bukan main! Pemuda ini sungguh gagah! Biarpun tidak setampan pemuda putera pangeran tadi, namun pemuda
ini gagah perkasa dan sikapnya demikian penuh wibawa dan matang, kokoh kuat dan penuh keberanian! Kalau saja
ilmu silatnya sehebat sikapnya ini, maka dia adalah seorang pemuda yang amat hebat! Maka ingin sekali dia
menguji kepandaian pemuda ini, apakah selihai ilmu silat Siangkoan Wi Hong yang agaknya memandang rendah wanita
itu? Pemuda ini sama sekali tidak memandangnya dengan sikap merendahkan, bahkan memandangnya dengan sekilas
saja dengan pandang mata sopan!
"Terima kasih bahwa Cia-enghiong suka memberi petunjuk kepadaku yang bodoh," katanya sambil tersenyum manis.
Akan tetapi sikap Kong Liang biasa saja tidak membalas senyum itu, melainkan berkata dengan sikap hormat dan
tegas, "Silakan, ilmu pedang nona indah dan lihai, namun saya kira saya akan mampu menjaga diri."
Bin Biauw gembira sekali dan dia sudah mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat. Kong Liang juga
melepaskan pedang Hong-cu-kiam yang tadinya melingkari pinggangnya dan nampaklah sinar keemasan yang
menyilaukan mata.
Melihat ini, Bin Biauw memuji, "Po-kiam (pedang pusaka) yang bagus! Cia-enghiong, bersiaplah dan lihat
serangan!" Dia menyebut eng-hiong (pendekar) kepada pemuda yang berwibawa ini, dan di dalam hatinya, dara ini
sudah tunduk kepada putera Cin-ling-pai ini!
Bin Biauw sudah menyerang dengan gerakan yang amat cepat. Akan tetapi Kong Liang tidak pindah dari tempat dia
berdiri, bahkan kakinyapun tidak tergeser. Dia tidak mempedulikan sinar pedang yang bergulung-gulung itu, hanya
setiap kali sinar pedang berkelebat ke arahnya, dia menggerakkan Hong-cu-kiam menangkis.
"Cringgg...!" Tangkisan pertama itu mengejutkan hati Bin Biauw karena seluruh tangan kanannya tergetar hebat.
Tahulah dia bahwa pemuda ini memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat dan bahwa pedang tipis bersinar emas itu
benar-benar merupakan pedang yang ampuh. Maka dia bersikap hati-hati dan menyerang dengan lebih cepat. Namun,
ke mana juga pedangnya menyambar, selalu bertemu dengan sinar emas yang menangkisnya! Padahal pemuda itu sama
sekali tidak menggeser kaki. Bahkan ketika dia menyerang dari belakang, sinar emas itupun sudah menangkis di
belakang tubuh pemuda itu.
Terdengar bunyi berdencing nyaring berkali-kali dan nampak bunga api berpijaran menyilaukan mata ketika semakin
lama semakin seringlah pedang Bin Biauw bertemu dengan pedang yang berubah menjadi gulungan sinar emas yang
menyilaukan mata itu. Hebatnya, pemuda itu selain tidak pernah membalas serangan, juga tubuhnya hampir tidak
mengubah kedudukan kakinya, hanya memutar tubuh ke kanan atau kiri dan ke manapun sinar pedang Bin Biauw
menyambar, selalu tentu bertemu dengan sinar emas yang menangkisnya.
Dengan ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut, Kong Liang dapat membentuk pertahanan yang seperti benteng baja
kokohnya dan tidak mudah ditembus oleh sinar pedang Bin Biauw. Apalagi dia memang memiliki sin-kang yang kuat
sekali, sehingga setiap tangkisan yang disertai tenaga membuat lengan dara itu merasa tergetar hebat. Makin
lama, serangan Bin Biauw menjadi semakin lemah dan belum lima puluh jurus kemudian, ketika Kong Liang
memperkuat tenaganya dan menangkis terdengar bunyi "trangg...!" keras sekali dan tubuh Bin Biauw terhuyung ke
belakang. Dia menghentikan serangannya, dahinya penuh keringat dan wajahnya menjadi merah sekali, mulutnya
tersenyum malu-malu dan matanya mengerling tajam melebihi tajam pedangnya, dan diapun menjura.
"Cia-enghiong sungguh pandai, saya mengaku kalah!"
Setelah berkata demikian, dara itu lalu mundur dan lari menuju ke tempat duduk ayahnya dengan muka merah dan
sikap malu-malu! Melihat ini, Tung-hai-sian mengerti bahwa selain pemuda putera ketua Cin-ling-pai itu memang
lebih lihai dari puterinya, juga agaknya Bin Biauw sudah jatuh hati kepada pemuda itu, maka mengalah sebelum
dikalahkan. Diapun bangkit berdiri dan di bawah tepuk tangan para tamu yang menyambut kemenangan Cia Kong Liang
dengan girang, terutama mereka yang duduk di bawah panggung, karena betapapun juga, tadi Kong Liang mengatakan
bahwa dia mewakili para tamu di bawah panggung, dia menghampiri pemuda itu.
"Cia-sicu sungguh memiliki ilmu pedang yang lihai sekali. Itukah yang disohorkan orang sebagai Siang-bhok
Kiam-sut?" kata datuk itu sambil tersenyum.
Diam-diam Kong Liang terkejut juga. Ilmu pedang ini menurut ayahnya, selama belasan tahun tidak pernah
dimainkan di depan umum, apalagi dipergunakan dalam pertandingan, maka kini begitu melihatnya, padahal hanya
dipergunakan sebagai pertahanan saja, kakek ini telah mampu menerkanya dengan tepat, menandakan bahwa kakek ini
memang memiliki pengetahuan yang luas sekali.
"Pandangan locianpwe amat tajam dan memang tadi adalah Siang-bhok Kiam-sut dari perkumpulan kami."
"Bagus, bagus... dan maafkan kami yang telah berlaku kurang teliti sehingga sicu dan rombongan memperoleh
tempat duduk di bawah panggung. Sekarang silakan sicu dan dua orang keponakan sicu untuk duduk di atas
panggung, agar kita dapat bicara dengan enak."
Kong Liang adalah seorang pemuda yang angkuh, akan tetapi dia bukan orang yang suka disanjung. Kalau tadi dia
maju untuk memperlihatkan kepandaiannya, hanyalah agar orang jangan memandang rendah kepada Cin-ling-pai, bukan
berarti dia ingin disanjung dan dipuji. Andaikata nama Cin-ling-pai tidak disebut-sebut, atau andaikata para
tamu yang duduk di bawah panggung tidak dianggap sebagai kelas rendahan, kiranya diapun akan menahan rasa
penasaran dan kemarahannya. Kini, setelah dia berhasil memperlihatkan kepandaiannya yang tidak usah kalah
dibandingkan dengan puteri tuan rumah atau para tamu dari panggung, sudah cukuplah baginya.
"Terima kasih, locianpwe. Bagi kami, duduk di bawah panggungpun tidak mengapa asal orang tidak memandang rendah
kepada kami yang duduk di bawah!" jawabnya sambil membalas dengan penghormatan, kemudian dia melompat turun
dari atas panggung.
"Cia-sicu, sebelum pulang aku ingin bicara dengan sicu lebih dulu!" Kakek itu berseru dari atas panggung.
"Baik, locianpwe." jawab Kong Liang yang kembali ke tempat duduknya semula. Dia disambut oleh Han Tiong dengan
senyum akan tetapi Thian Sin nampak muram wajahnya. Pemuda ini merasa tidak puas dengan sikap pamannya itu. Cia
Kong Liang terlalu sombong dan mengandalkan dirinya sendiri, seolah-olah dia yang paling lihai! Sikap pamannya
itu seolah-olah menganggap dia dan kakaknya masih kanak-kanak saja! Dan caranya mencegah dia bertanding dengan
Bin Biauw benar-benar membuat dia kecewa dan mendongkol. Akan tetapi diapun tidak banyak cakap, hanya menunduk
saja.
Setelah para tamu mulai berpamitan, Thian Sin berkata kepada Han Tiong sengaja bicara keras agar terdengar pula
oleh Kong Liang, "Tiong-ko, mari kita pulang. Kita harus segera pergi ke Lok-yang, memenuhi pesan ayah
mengunjungi Paman Ciu Khai Sun."
"Engkau benar, adikku. Paman, marilah kita berpamit. Para tamu mulai pulang dan kami berdua masih harus
melakukan perjalanan jauh ke Lok-yang."
Kong Liang bangkit berdiri dan menarik napas panjang. Dia tadi sedang termenung ketika beberapa kali dia
memandang ke arah tempat duduk Bin Biauw dan melihat betapa dara itu selalu memandang ke arahnya dan
kadang-kadang tersenyum manis. Tadi, ketika dia naik ke panggung untuk memperlihatkan kepandaian, sedikitpun
tidak mempunyai niat untuk memperhatikan dara itu, dan biarpun seperti para tamu lain dia dapat menduga bahwa
majunya Bin Biauw ke atas panggung sesungguhnya untuk mencari jodoh, namun sedikitpun juga dia tidak mempunyai
niat untuk memasuki sayembara yang tidak diumumkan itu. Kini, setelah dia dapat menangkan Bin Biauw dan
mendengar ucapan dan melihat sikap Tung-hai-sian, diam-diam dia mengerti bahwa agaknya fihak keluarga itu
tertarik kepadanya dan diam-diam diapun baru merasa bingung karena sesungguhnya dia sama sekali belum mempunya
pikiran untuk mencari jodoh, sungguhpun sudah sering ayah bundanya mengemukakan keinginan mereka untuk mempunya
mantu.
Mereka bertiga lalu bersama para tamu yang lain menghampiri panggung di mana Tung-hai-sian menerima para tamu
yang berpamit. Ketika melihat Kong Liang dan dua orang pemuda keponakannya, Bin Biauw bangkit dengan kaget dan
memegang tangan ayahnya, alisnya berkerut seakan-akan hendak memperlihatkan kekecewaannya melihat pemuda gagah
perkasa itu hendak meninggalkan tempat itu. Tung-hai-sian Bin Mo To juga segera melangkah maju menyambut Kong
Liang, Han Tiong dan Thian Sin.
"Locianpwe, kami bertiga mohon diri dan kami menghaturkan terima kasih atas segala penyambutan Locianpwe
sekeluarga," kata Kong Liang sambil memberi hormat, diturut oleh dua orang keponakannya.
"Eh, Cia-sicu, kenapa tergesa-gesa? Saya ingin bicara dengan sicu... penting sekali..." kata kakek itu, akan
tetapi pada saat itu terdapat tamu-tamu lain yang datang berpamit, maka dia tidak dapat bicara dengan leluasa.
Setelah rombongan tamu itu disambutnya dan terbuka kesempatan, Kong Liang berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Maaf, locianpwe, bukan saya tidak bersedia, hanya karena kami masih ada urusan yang harus segera kami
selesaikan, maka terpaksa kami tidak dapat menanti lebih lama lagi. Kami mohon diri."
"Cia-sicu... kalau begitu, begini saja. Sampaikan hormat dan salamku kepada ketua Cin-ling-pai, ayahmu, dan
sampaikan kepada beliau bahwa dalam waktu dekat ini saya akan datang berkunjung kepada beliau di Cin-ling-san,
untuk... bicara... eh, untuk mempererat persahabatan antara kita."
Wajah Kong Liang berubah merah akan tetapi sikapnya tetap tenang. Dia tahu apa yang dimaksud oleh kakek itu.
Tiada lain tentu akan membicarakan urusan perjodohan. Apalagi? Antara Cin-ling-pai dan para datuk kaum sesat
tidak ada sangkut-paut dan urusan apa-apa.
"Baiklah, akan saya sampaikan, locianpwe. Selamat tinggal, dan... Nona Bin, selamat tinggal dan terima kasih."
Bin Biauw membalas penghormatan pemuda itu. "Sampai berjumpa kembali, Cia... koko..." kata dara itu dengan
sikap manis sekali.
Setelah mereka bertiga meninggalkan tempat itu, di tengah perjalanan Thian Sin tidak dapat menahan perasaan
hatinya dan berkata sambil tersenyum masam. "Ah, Paman Kong Liang telah berhasil sekali ini."
Kong Liang memandang kepada putera pangeran itu. "Berhasil? Apa maksudmu?"
"Paman tidak hanya telah mengalahkan pedang Nona Bin, melainkan juga telah menundukkan hatinya dan juga
menaklukkan ayahnya."
"Hemm, Thian Sin, coba jelaskan, apa maksud kata-katamu ini!"
"Kenapa paman masih pura-pura lagi? Tung-hai-sian sudah menjelaskan sikapnya, hendak datang menemui ketua
Cin-ling-pai. Apalagi kalau tidak hendak membicarakan urusan pernikahan? Ah, kionghi (selamat), paman!" Dan
Thian Sin benar-benar memberi selamat dengan kedua tangan dirangkapkan di depan dada.
"Gila!" Kong Liang membentak, mukanya berubah merah. "Apa kaukira begitu mudah menentukan urusan kawin? Yang
penting adalah dua orang yang bersangkutan!"
"Wah, sikap Nona Bin sudah jelas. Bukankah tadi diapun tiba-tiba saja menyebutmu... dengan sebutan koko yang
mesra? Dan paman sendiri, ahh, masih pura-pura lagi?"
"Thian Sin, jangan sembarangan bicara kau!" Kong Liang yang merasa malu itu menjadi marah, atau pura-pura marah.
Melihat ini, Han Tiong yang sejak tadi memperhatikan adiknya, cepat menengahi dan berkata, "Paman, Thian Sin
hanya main-main saja. Sin-te, jangan kaugoda paman. Mari kita percepat perjalanan kita yang masih jauh."
Akan tetapi ketika mereka baru saja keluar dari kota Ceng-tao dan tiba di kaki pegunungan yang sunyi, mereka
melihat beberapa orang berdiri menghadang mereka di tengah jalan dan tiga orang pemuda ini memandang dengan
penuh perhatian. Mereka segera mengenal dua orang diantara mereka, yaitu Siangkoan Wi Hong yang memanggul
yang-kimnya dan seorang dara cantik manis berpakaian mewah yang bukan lain adalah So Cian Ling murid dari
See-thian-ong, dara keturunan penghuni Padang Bangkai yang pernah datang untuk membalas dendam kepada Kakek Yap
Kun Liong dan Nenek Cia Giok Keng itu!
Di samping dua orang muda yang lihai ini nampak tiga orang kakek yang dikenal oleh Han Tiong, yaitu Pak-thian
Sam-liong, tiga orang kakek murid-murid Pak-san-kui yang pernah dikalahkan oleh ayahnya beberapa tahun yang
lalu. Juga di samping dara manis itu berdiri Ciang Gu Sik, murid kepala See-thian-ong yang berusia tiga puluh
lima tahun itu, yang pernah bertanding melawan Bin Biauw dan amat lihai dengan joan-pian berselaput emas itu.
Melihat betapa enam orang itu bersikap mengancam, Kong Liang mengerutkan alisnya dan berkata kepada dua orang
keponakannya dengan bisikan.
"Kalian diamlah saja. Mereka itu lihai, biar aku yang menghadapi mereka kelau terpaksa aku harus melawan
mereka. Kalian boleh melihat saja dan siap-siap saja untuk membela diri kalau diserang."
Thian Sin tersenyum mengejek, akan tetapi Han Tiong mengangguk, dan menyentuh lengan adiknya yang sudah
gatal-gatal tangan hendak menantang musuh itu.
Dengan sikap yang tenang namun berwibawa, ketabahan yang amat besar, Kong Liang mendahului dua orang
keponakannya dan mengambil sikap seolah-olah dia hendak melindungi dua orang pemuda keponakannya itu. Dia
berjalan terus sampai tiba di depan enam orang yang menghadangnya, lalu berkata dengan sopan namun tegas,
"Harap cu-wi suka minggir dan membiarkan kami lewat."
Bagaimanakah putera Pak-san-kui dan murid See-thian-ong itu dapat berkumpul menjadi satu dan menghadang di
tempat itu? Memang, di antara empat orang datuk, yaitu See-thian-ong, Pak-san-kui, Tung-hai-sian dan Lam-sin,
maka datuk dari barat See-thian-ong dan dari utara Pak-san-kui telah lama saling mengadakan hubungan seperti
rekan seangkatan atau segolongan, maka tidak mengherankan apabila Siangkoan Wi Hong sudah lama mengenal So Cian
Ling. Ketika Siangkoan Wi Hong melihat betapa pemuda putera ketua Cin-ling-pai itu dapat mengalahkan, bahkan
menundukkan hati Bin Biauw dan bahkan Tung-hai-sian nampak tertarik untuk mengambil mantu pemuda itu, diam-diam
Siangkoan Wi Hong merasa tidak senang sekali. Bukan karena dia sendiri ingin memperisteri Bin Biauw, melainkan
karena Tung-hai-sian telah dianggapnya sebagai orang segolongan dengan ayahnya sebagai datuk timur. Adapun
pemuda itu adalah putera Cin-ling-pai, golongan yang menamakan dirinya "pendekar" dan yang sejak dahulu telah
menjadi fihak yang menentang dan ditentang golongan para datuk. Kalau sampai Tung-hai-sian menjadi besan ketua
Cin-ling-pai, tentu hal itu berarti akan melemahkan golongan mereka. Inilah sebabnya maka Siangkoan Wi Hong
lalu cepat-cepat menghubungi para murid See-thian-ong mengajak dua orang murid See-thian-ong untuk melakukan
penghadangan terhadap tiga orang dari Cin-ling-pai itu. Hal ini disetujui Ciang Gu Sik yang berpemandangan sama
dengan Siangkoan Wi Hong, sedangkan So Cian Ling yang pernah berhadapan dengan tiga orang pemuda itu sebagai
lawan ketika dia hendak membalas dendam kepada Kakek Yap Kun Liong dan Nenek Cia Giok Keng, juga penuh semangat
menyokong maksud ini. Demikianlah, Siangkoan Wi Hong ditemani tiga orang Pak-thian Sam-liong, dan dua orang
murid See-thian-ong itu bersama-sama memotong jalan dan menghadang tiga orang pemuda yang tadi menjadi tamu
sebagai wakil Cin-ling-pai itu.
"Tring-tranggg...!" Yang-kim di tangan Siangkoan Wi Hong itu berbunyi, disusul suara tertawa pemuda tampan
pesolek itu. "Ha-ha-ha, sudah lengkap tiga-tiganya berkumpul di sini, ha-ha-ha! Putera ketua Cin-ling-pai,
putera Pendekar Lembah Naga, dan putera Pangeran Ceng Han Houw! Wah-wah, tiga serangkai yang cocok! Pantas saja
sikapnya sombong bukan main!"
Han Tiong yang pernah berkenalan dengan pemuda ini, bahkan pernah disambut sebagai sahabat dan dijamu makan,
merasa tidak enak kalau harus bermusuhan dengannya, maka dia sudah cepat berkata, "Saudara Siangkoan, kami
adalah orang-orang yang lebih mengutamakan persahabatan, tidak ingin mencari permusuhan, harap engkau tidak
mengganggu kami."
"Han Tiong, mundurlah dan biarkan aku menghadapi orang-orang liar ini!" Cia Kong Liang berkata dengan suara
nyaring dan tajam karena memang dia sudah marah sekali menyaksikan sikap Siangkoan Wi Hong. Mendengar ucapan
Han Tiong yang dianggapnya terlalu merendahkan diri itu kemarahannya makin berkobar. Dia sudah melangkah maju
di depan Han Tiong dan dia menghadapi Siangkoan Wi Hong dengan sikap penuh wibawa dan sepasang matanya
mencorong seperti mata seekor naga saja.
"Memang benar bahwa kami tidak mencari permusuhan, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kami takut
menghadapi siapapun juga yang hendak memusuhi kami! Kalau aku tidak salah melihat, kalian ini adalah
orang-orangnya Pak-san-kui dan See-thian-ong, bukan? Nah, apa maksud kalian menghadang perjalanan kami dan
bersikap seperti ini?"
Enam orang itu nampak jerih juga menyaksikan sikap yang gagah dari putera ketua Cin-ling-pai itu, bahkan
Siangkoan Wi Hong yang biasanya tenang dan tertawa-tawa itu, yang biasanya amat mengandalkan kepada diri
sendiri, kini diam-diam merasa girang bahwa dia mempunyai teman-teman yang lihai karena terus terang saja,
kalau dia harus menghadapi pemuda Cin-ling-pai ini seorang diri saja, dia masih akan berpikir panjang.
Akan tetapi pada saat itu, sebelum ada yang menjawab pertanyaan Kong Liang, terdengar suara keras, "Mana orang
Cin-ling-pai? Biar kami menghadapinya!" Dan nampaklah bayangan orang berkelebat dari atas pohon dan dua tubuh
yang melayang itu berjungkir balik seperti bola-bola besar, berputar-putar dan baru turun di depan Kong Liang.
Cara mereka meloncat dari atas dan berjungkir balik itu hebat sekali, seperti permainan akrobatik para pemain
sirkus yang terlatih baik saja. Dan ketika semua orang memandang, kiranya mereka itu adalah dua orang laki-laki
berpakaian pengemis! Usia mereka sekitar lima puluh tahun, pakaian mereka terbuat dari kain tambal-tambalan
beraneka macam dan warna, akan tetapi pakaian itu tidak butut seperti pakaian pengemis-pengemis biasa,
melainkan bersih dan agaknya memang hanya merupakan pakaian model pengemis, yaitu berbagai macam kain baru
ditembel-tembel menjadi pakaian. Di punggung mereka, seperti model orang membawa pedang, nampak sebatang
tongkat, entah terbuat dari bahan apa, hanya kelihatan hitam dan butut.
"Aha, kiranya dua orang gagah dari Bu-tek Kai-pang?" seru Siangkoan Wi Hong dengan girang sekali ketika melihat
munculnya dua orang kakek pengemis ini. Dia tidak mengenal pribadi semua anggauta Bu-tek Kai-pang yang
jumlahnya dua puluh empat orang itu, akan tetapi melihat pakaian mereka dan tongkat yang mereka namakan
"Hok-mo-pang" (Tongkat Penakluk Iblis) itu, tahulah dia bahwa mereka itu adalah dua orang anggauta Bu-tek
Kai-pang yang dipimpin atau diketuai Lam-sin (Malaikat Selatan) yaitu datuk selatan.
Dua orang pengemis itu menjura ke arah Siangkoan Wi Hong dan seorang di antara mereka, yang hidungnya
melengkung seperti hidung burung hantu, berkata, "Selamat bertemu, Siangkoan-kongcu dan bukankah sam-wi (tuan
bertiga) adalah Pak-thian Sam-liong yang perkasa? Selamat jumpa!" Pak-thian Sam-liong, tiga orang murid
Pak-san-kui menjura dengan hormat.
"Dan selamat bertemu pula kepada dua orang murid See-thian-ong Locianpwe!" pengemis ke dua, yang mukanya merah
sekali, berkata kepada So Cian Ling dan Ciang Gu Sik yang cepat membalas pemghormatan mereka pula. Diam-diam
mereka terkejut bahwa para pengemis ini telah mengenal mereka, menunjukkan bahwa pengemis-pengemis itu
mempunyai mata tajam, atau mungkin sekali mereka sudah lama mengintai ketika terjadi keributan di dalam pesta
yang diadakan Tung-hai-sian.
Ciang Gu Sik yang pendiam itu membalas penghormatan sambil berkata, "Kami merasa terhormat sekali dapat bertemu
dengan ji-wi dari Bu-tek Kai-pang yang terkenal!"
"Akan tetapi mengapa ji-wi tidak terang-terangan hadir dalam pesta ulang tahun Locianpwe Tung-hai-sian?" So
Cian Ling bertanya, yang merupakan teguran dan juga sindiran bahwa dia sudah menduga mereka berdua tentu hadir
dengan sembunyi.
"Dan memalukan fihak tuan rumah dengan kehadiran pengemis-pengemis macam kami?" Jawab si hidung melengkung.
"Ah, mana kami berani?"
Han Tiong dan Thian Sin memandang kepada mereka semua itu dengan penuh perhatian dan dengan hati tegang. Kini
mereka berdua sudah bertemu dengan orang-orang dari empat datuk yang terkenal itu! Dan kini yang menghadang
mereka adalah orang-orang atau para murid dari Pak-san-kui, See-thian-ong dan Lam-sin! Akan tetapi, Kong Liang
sudah menjadi marah sekali. Pemuda ini biasanya dihormati orang, dan memang sebagai putera ketua Cin-ling-pai
tentu saja dia merasa dirinya tinggi, dan sekarang, orang-orang dari golongan hitam atau kaum sesat ini saling
bertemu dan bicara gembira, bersikap seolah-olah dia tidak berada di situ, atau dia dianggap sebagai patung
atau semut saja! Di dalam pesta dia sudah tidak dihargai, mendapat tempat duduk di bawah panggung, dan kini
orang-orang inipun tidak menghargainya. Sungguh membuat perut terasa panas!
"Jalan ini adalah jalan umum! Kalau mau bicara minggirlah dan biarkan kami lewat!" kata Kong Liang yang sudah
melangkah ke depan dan menggunakan kedua tangannya mendorong ke arah dua orang pengemis yang berada paling
dekat dan menghadang jalan. Dorongannya ini disertai tenaga Thian-te Sin-ciang, maka terdengar angin menyambar
keras. Dua orang pengemis itu menggerakkan tubuh mereka mengelak, dan masing-masing telah mencabut tongkat
mereka, lalu membentak.
"Hemm, inikah putera ketua Cin-ling-pai? Sebelum kau melanjutkan perjalanan, hayo lebih dulu kauhadapi kami!"
bentak si hidung melengkung sambil melintangkan tongkat di depan dadanya. Kiranya tongkat itu berwarna hitam
mengkilap dan bentuknya seperti tubuh ular. Itu adalah sebatang tongkat yang terbuat daripada tumbuh-tumbuhan
dalam laut yang melingkar-lingkar atau saling lingkar sehingga kalau diambil dan dikeringkan menjadi bentuk
seperti ular, semacam kayu akar bahar yang kuat dan ulet sekali, juga yang menurut kepercayaan umum yang tahyul
mengandung kekuatan mujijat!
"Akulah Cia Kong Liang, putera ketua Cin-ling-pai! Kalian ini jembel-jembel dari mana dan mengapa memusuhi
Cin-ling-pai?"
"Kami adalah anggauta Bu-tek Kai-pang dari Heng-yang. Guru, ketua dan pemimpin kami, yang mulia Lam-sin akan
membenarkan sikap kami memusuhi putera Cin-ling-pai! Sejak dahulu, Cin-ling-pai adalah musuh golongan kami,
akan tetapi engkau putera ketuanya berani sekali menghina dan hendak memperisteri puteri Tung-hai-sian
Locianpwe! Sungguh tak tahu malu dan bosan hidup!"
"Pendapat Bu-tek Kai-pang cocok dengan pendapat kami!" kata Siangkoan Wi Hong dengan girang dan untuk menambah
semangat kepada dua orang pengemis itu. Hati pemuda ini menjadi lebih besar setelah muncul dua orang pengemis
itu yang memperkuat fihaknya.
Wajah Cia Kong Liang menjadi merah sekali mendengar ucapan pengemis itu. Sedikitpun juga dia tidak bermaksud
memperisteri Bin Biauw, akan tetapi menyangkal hal ini sama saja dengan membela diri, seolah-olah dia merasa
takut. "Jembel busuk lancang mulut. Apapun yang akan kuperbuat, apa sangkut-pautnya dengan kalian? Pergilah
sebelum aku kehilangan kesabaran dan membuat kalian roboh!"
"Bagus! Coba saja, orang Cin-ling-pai sombong!" Dua orang pengemis itu sudah mengerakkan tongkat mereka dan
mengeroyok dari kanan kiri Kong Liang tidak mau memberi hati dan pemuda perkasa inipun sudah mencabut
Hong-cu-kiam yang melilit pinggang sehingga nampak sinar emas bergulung-gulung.
Dua orang pengemis ini seperti sebagian besar dari pada anggauta Bu-tek Kai-pang, dahulu adalah tokoh-tokoh
yang tunduk kepada Lam-thian Kai-ong (Raja Pengemis Dunia Selatan). Akan tetapi semenjak munculnya Lam-sin yang
menjatuhkan Lam-thian Kai-ong dan yang mengangkat diri sendiri sebagai Malaikat Selatan yang menguasai seluruh
pengemis bahkan Lam-thian Kai-ong yang sudah tua itu menjadi pembantu utamanya, maka para tokoh pengemis di
seluruh wilayah selatan menjadi anggauta Bu-tek Kai-pang. Jumlah mereka tidak banyak, hanya dua puluh empat
orang karena Lam-sin tidak mau mengambil pengemis sebagai anggautanya tanpa diuji dulu. Ujian yang amat berat
dan hanya para tokoh yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi sajalah yang berhasil lulus dan jumlah mereka
tidak lebih dari dua puluh empat orang untuk seluruh wilayah selatan! Tentu saja, dengan para anggauta yang
memiliki kepandaian tinggi itu, nama Bu-tek Kai-pang menjadi terkenal sekali.
Dan seperti para anggauta lain, dua orang tokoh inipun amat lihai, terutama sekali dalam menggunakan tongkat
akar bahar hitam itu karena mereka semua telah mempelajari ilmu tongkat ciptaan ketua baru mereka, yaitu
Lam-sin, Ilmu tongkat yang diberi nama Hok-mo-pang (Tongkat Penakluk Iblis). Mereka berdua itu sengaja diutus
oleh Lam-sin untuk mewakilinya memenuhi undangan Tung-hai-sian, akan tetapi karena watak Lam-sin ini yang
paling aneh di antara empat datuk, dan selalu merahasiakan dirinya, maka diapun memesan kepada dua orang
wakilnya itu untuk hadir secara bersembunyi saja!
Baru setelah terjadi sesuatu, dua orang pengemis itu memperlihatkan diri, dan mereka mempunyai pendapat yang
sama dengan pendapat Siangkoan Wi Hong, yaitu kalau sampai Tung-hai-sian memilih putera Cin-ling-pai sebagai
mantu, maka kekuatan empat datuk akan menjadi retak dan hat itu amat membahayakan mereka sendiri. Karena inilah
maka dua orang pengemis ini lalu turun tangan menentang.
Akan tetapi, sekali ini mereka berdua bertemu dengan batu karang. Begitu tongkat-tongkat mereka itu bertemu
dengan Hong-cu-kiam, keduanya terkejut karena lengan tangan mereka yang memegang tongkat itu tergetar hebat dan
hampir saja tongkat mereka terlepas dari pegangan! Maka mereka lalu mengerahkan tenaga dan mengeluarkan ilmu
mereka Hok-mo-pang untuk mengeroyok dan terjadilah perkelahian yang amat seru! Han Tiong memandang dengan ails
berkerut, tidak senang dengan terjadinya perkelahian dan permusuhan yang dia tahu dapat menjadi besar ini. Akan
tetapi sebaliknya, Thian Sin memandang dengan senyum tenang sehingga So Cian Ling yang memang sudah tertarik
kepada pemuda ini, merasa semakin kagum. Dia tahu bahwa pemuda tampan ini, yang kabarnya adalah putera Pangeran
Ceng Han Houw yang terkenal sebagai seorang perayu wanita yang tampan dan juga seorang jagoan tanpa tanding
yang pernah menggemparkan dunia persilatan, adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Ingin
sekali dia berkenalan lebih intim dengan pemuda ini, akan tetapi sayangnya, keadaan membuat mereka berdiri
saling berhadapan sebagai lawan.
Sementara itu, perkelahian antara Kong Liang yang dikeroyok oleh dua orang pengemis Bu-tek Kai-pang terjadi
dengan serunya karena dua orang pengemis itu kini semakin penasaran dan mereka telah mengerahkan seluruh tenaga
dan mengeluarkan semua kepandaian mereka untuk mengalahkan orang muda itu. Namun, kiranya masih harus
membutuhkan sedikitnya enam orang seperti mereka untuk dapat mengalahkan Cia Kong Liang, pemuda yang sudah
mewarisi kepandaian ketua Cin-ling-pai itu dan perlahan-lahan, sinar pedang berwarna keemasan itu makin kuat
dan makin menindih sinar dua batang tongkat hitam mereka.
Melihat betapa dua orang pengemis Bu-tek Kai-pang itu takkan menang, diam-diam Siangkoan Wi Hong lalu memberi
isyarat kepada tiga orang suhengnya yang juga menjadi anggauta atau anak buah ayahnya, Pak-thian Sam-liong.
Tiga orang laki-laki gagah yang merupakan murid-murid kepala Pak-san-kui ini, biarpun termasuk golongan kaum
sesat, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi sehingga segan melakukan hal yang
dianggapnya rendah seperti misalnya pengeroyokan, karena mereka itu menganggap kedudukan mereka tinggi sehingga
malu untuk mengeroyok, bukan karena memang sungguh-sungguh berwatak jantan atau gagah. Maka, melihat isyarat
sute mereka yang juga merupakan tuan muda mereka, ketiganya saling pandang, lalu mereka melepaskan jubah
masing-masing sehingga nampak pakaian mereka yang ringkas, putih-putih dengan sabuk biru dan di punggung
masing-masing nampak sebatang pedang.
"Ji-wi Sin-kai, mundurlah, biar kami yang menggantikan ji-wi!" kata seorang di antara mereka kepada dua orang
pengemis yang sudah terdesak hebat itu.
"Kami belum kalah!" teriak seorang di antara dua pengemis itu sambil mencoba untuk membalas serangan lawan dengan tongkatnya.
Melihat kebandelan dua orang pengemis itu, Pak-thian Sam-liong mendongkol. Sudah jelas terdesak, dan tinggal
menanti mampus saja, mengapa masih berlagak, pikir mereka.
"Orang she Cia, lawanlah kami Pak-thian Sam-liong kalau memang engkau jagoan!" Mereka berteriak, kini
menggunakan akal lain, menantang putera ketua Cin-ling-pai itu.
Kong Liang juga mendongkol bahwa sampai begitu lamanya dia belum juga berhasil merobohkan dua orang lawannya,
padahal dia sudah mendesak mereka dengan hebat. Kini mendengar tantangan Pak-thian Sam-liong, dia berseru
keras. "Kalau kalian sudah bosan hidup, majulah sekalian, siapa takut kepada orang-orangnya Pak-sam-kui?"
Tantangan ini terlalu tekebur, pikir Han Tiong yang mengerutkan alisnya.
"Paman, biarkan aku menghadapi mereka!" katanya karena dia mengkhawatirkan pamannya kalau sampai dikeroyok
lima!
"Han Tiong, jangan! Biarkan aku sendiri merobohkan mereka!" jawab Kong Liang tegas, ucapan yang menunjukkan
wataknya yang angkuh, tidak mau dibantu dan seolah-olah dia sudah yakin akan menang sehingga dia menggunakan
kata-kata "merobohkan" mereka. Han Tiong tidak berani membantah dan Thian Sin tersenyum kepadanya ketika
melihat Pak-thian Sam-liong kini sudah terjun ke dalam medan pertempuran membantu dua orang kakek pengemis,
karena mereka tadi ditantang, jadi merekapun tidak segan-segan lagi untuk mengeroyok!
"Tiong-ko, fihak mereka masih ada, mengapa tidak sikat mereka ini saja? Orang she Siangkoan ini agaknya masih
belum kapok! Hayo Siangkoan Wi Hong, kalau engkau ingin kurobohkan untuk ke dua kalinya, majulah engkau!"
Siangkoan Wi Hong tertawa untuk menyembunyikan rasa marah dan malunya ketika diingatkan akan kekalahannya
melawan pemuda ini di depan orang-orang lain, terutama di depan para murid See-thian-ong dan Lam-sin,
"Ha-ha-ha, bocah sombong, kalau engkau mampu mengalahkan yang-kimku ini, biarlah engkau boleh membuka mulut
lebar!"
Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan So Cian Ling yang sudah maju menyambut Thian Sin sambil berseru
kepada Siangkoan Wi Hong, "Siangkoan-kongcu, biarlah aku yang menghadapi dia ini!" Dan tanpa banyak cakap lagi
So Cian Ling menerjang dan menyerang dengan pedangnya yang bersinar putih!
Thian Sin cepat mengelak dan menegur dengan suara penuh sesalan.
"Hemm, kukira engkau telah sadar ketika kita saling berjumpa di Bwee-hoa-san, ternyata sekarang engkau kembali
memusuhi kami tanpa sebab!"
Akan tetapi, So Cian Ling sudah menyerang lagi sambil berkata, "Orang she Ceng, keluarkanlah senjata dan
kepandaianmu!" dara ini memang merasa tertarik kepada Thian Sin, kagum dia melihat ketampanan, kegagahan dan
juga sikap Thian Sin, maka sekarang dia hendak melihat sampai di mana ilmu kepandaian pemuda ini. Pernah dia
melihat Thian Sin mengalahkan seorang di antara tiga orang pewaris ilmu-ilmu kakeknya, akan tetapi memang
tingkat kepandaian tiga orang paman itu masih rendah dan dia belum menguji sendiri sampai di mana kelihaian
Thian Sin. Oleh karena itu, melihat kesempatan ini dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan segera
menandingi Thian Sin, biarpun di dalam hatinya dia sama sekali tidak membenci atau memusuhi Thian Sin.
Sebaliknya malah, dia ingin sekali mengenal Thian Sin lebih dekat, sebagai sahabat baik!
Akan tetapi Thian Sin tidak mau mengeluarkan pedang pemberian neneknya, yaitu Gin-hwa-kiam. Pedang itu
dianggapnya benda pusaka warisan neneknya. Dan dia menganggap bahwa lawannya ini, murid See-thian-ong, bukankah
lawan yang perlu dihadapi dengan pedang. Dengan amat gesitnya dia mengelak ke kanan kiri dari sambaran pedang
yang bersinar putih itu, dan sambil mengelak diapun balas menyerang dengan tamparan-tamparan yang amat kuat,
karena tamparan itu mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang.
"Wuut-wuuut-singgggg...!" Pedang di tangan So Cian Ling bergerak cepat sekali dan menyambar-nyambar kuat, namun
Thian Sin dapat mengelak lebih cepat lagi dan ketika pedang itu masih meluncur menyambar dengan tusukan kilat
ke arah lehernya, tangan kirinya menangkis.
"Eh...?" So Cian Ling terkejut dan berusaha menarik pedangnya karena dia tidak ingin pedangnya bertemu dengan
tangan kosong pemuda itu, membayangkan betapa tangan itu tentu akan robek atau putus kalau bertemu dengan
pedang pusakanya. Namun gerakannya kalah cepat dan pedang itu bertemu dengan tangan kiri Thian Sin.
"Plakk!"
Dara itu terpekik dan meloncat ke belakang. Tangan itu seperti daging yang amat lunaknya terasa oleh tangannya
yang memegang pedang, akan tetapi sama sekali tidak terluka. Dia memandang kagum bukan main. Tahulah dia bahwa
pemuda ini telah memiliki tenaga sin-kang yang tingkatnya sudah amat tinggi sehingga bukan hanya dapat membuat
tangan menjadi sekeras baja, akan tetapi juga membuat tangan itu menjadi selemas kapas dan tidak mungkin dapat
terluka! Itulah tingkat sin-kang yang baginya masih terlalu tinggi dan mungkin hanya gurunya saja yang sudah
mencapai tingkat itu!
"Engkau hebat...!" katanya berbisik, namun cukup untuk dapat terdengar oleh Thian Sin. Pemuda ini merasa
mukanya agak panas karena merasa malu dan juga senang sekali mendapat pujian lawannya. Maka diapun lalu mencoba
ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kakeknya, yaitu Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru
Angin) yang dipelajarinya dari Yap Kun Liong. Dan benar hebat ilmu ini, apalagi dimainkan oleh orang yang sudah
memiliki tingkat gin-kang dan sin-kang seperti dia!
Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun adalah ilmu silat tingkat tinggi yang tidak mungkin dapat dikuasai sepenuhnya oleh
Thian Sin yang baru mempelajari selama sebulan saja! Akan tetapi, karena memang pada dasarnya pemuda ini telah
memiliki ilmu-ilmu silat tinggi, terutama setelah dia menguasai Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang merupakan
biang ilmu-ilmu silat tinggi, gerakannya sudah amat cepat dan juga hebat ketika dia mainkan Pat-hong Sin-kun
sehingga dia dapat membalas serangan pedang lawan dengan sama cepat dan seringnya. Hal ini amat mengagumkan
Cian Ling sehingga berkali-kali dara ini mengeluarkan suara memuji.
Siangkoan Wi Hong sejak tadi menonton pertandingan ini dan hatinya merasa semakin tidak senang mendengar betapa
Cian Ling memuji-muji pemuda putera Pangeran Ceng Han Houw itu. Pemuda putera Pak-san-kui ini tadinya selalu
merasa bahwa di dunia ini tidak akan ada pemuda yang melebihi dia! Akan tetapi, dia harus mencatat kenyataan
pahit ketika dia dikalahkan oleh Thian Sin dan sekarang, selagi dia ingin membalas kekalahannya itu dengan
mengandalkan yang-kimnya sebagai senjatanya yang paling diandalkan didahului oleh Cian Ling dan mendengar
betapa Cian Ling memuji-muji Thian Sin.
"Bocah sombong!" teriaknya dan dia sudah menerjang maju.
"Plakk!" Ujung yang-kim yang menyerang Thian Sin dengan hebatnya itu tersampok miring dan ternyata yang
menangkis itu adalah tangan kiri Han Tiong yang berkata dengan tenang, "Saudara Siangkoan yang gagah, apakah
tidak malu untuk melakukan pengeroyokan?"
Kemarahan Siangkoan Wi Hong makin berkobar, "Keparat, siapa takut berhadapan dengan putera Pendekar Lembah
Naga?" Setelah berkata demikian, yang-kimnya bergerak cepat meluarkan suara berdering dan yang-kim itu sudah
menyambar ke arah kepala Han Tiong.
Han Tiong dengan sikapnya yang selalu tenang dan waspada itu dengan mudah mengelak sampai belasan kali sambil
diam-diam mempelajari gerakan-gerakan senjata aneh itu. Hanya kadang-kadang saja dia membalas dengan tamparan
Thian-te Sin-ciang untuk menahan serangan lawan yang bertubi-tubi datangnya dan amat berbahaya itu.
Sementara itu, melihat betapa sumoinya yang berpedang, dia tahu lebih daripada dia sendiri itu, belum juga
mampu mendesak lawannya yang bertangan kosong, dan mendengar betapa sumoinya itu memuji-muji lawan, Ciang Gu
Sik juga menjadi penasaran dan marah. Diam-diam perjaka tua yang berusia tiga puluh lima tahun ini tergila-gila
kepada sumoinya, maka kini melihat adanya tanda-tanda bahwa sumoinya tertarik kepada pemuda ganteng yang lihai
ini, tentu saja dia merasa cemburu dan iri hati. Tanpa banyak cakap lagi dia sudah mencabut joan-pian
terselaput emas itu dan nampaklah sinar keemasan ketika joan-pian itu bergerak menyambar dan menyerang Thian Sin.
"Suheng! Jangan main keroyok! Aku tidak perlu bantuan!" Cian Ling berseru kaget melihat gerakan suhengnya. Akan
tetapi Ciang Gu Sik tidak mau peduli, bahkan mempercepat gerakannya menyerang Thian Sin dengan senjatanya.
Namun dengan mudahnya Thian Sin mengelak, bahkan dua kali dia menangkis dengan tangan telanjang, membuat ujung
cambuk baja terselaput emas itu membalik dan mengejutkan pemegangnya.
Sementara itu, Cia Kong Liang juga sudah dikeroyok oleh lima orang, yaitu dua orang pengemis dari Bu-tek
Kai-pang dan tiga orang Pak-thian Sam-liong! Pendekar muda putera ketua Cin-ling-pai ini mengamuk dengan
pedangnya, namun karena lima orang lawannya itu tergolong tokoh-tokoh yang lihai, dia dikepung rapat oleh
Pak-thian Sam-liong yang masing-masing memegang pedang dan dua orang pengemis yang masing-masing memegang
tongkat. Kong Liang terpaksa harus memutar pedangnya dan mainkan Siang-bhok Kiam-sut, ilmu pedang yang luar
biasa itu dan yang memang merupakan ilmu pedang yang amat kuat dalam pertahanan. Seluruh gulungan sinar
pedangnya seolah-olah menyelimuti tubuhnya, merupakan benteng baja yang kokoh kuat sehingga semua serangan lima
orang lawan itu selalu tertangkis dan tidak pernah dapat menembus benteng gulungan sinar keemasan yang amat
kuat itu. Betapapun juga, tidaklah mudah bagi Kong Liang untuk balas menyerang karena lima orang pengeroyoknya
itu benar-benar dapat bekerja sama dengan baiknya, terutama setelah Pak-thian Sam-liong membentuk barisan
Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga), dibantu pula oleh dua orang kakek pengemis yang lihai.
Juga pertandingan antara Siangkoan Wi Hong dan Han Tiong berlangsung dengan seru dan kelihatannya seimbang.
Padahal, sesungguhnya bukanlah demikian. Memang harus diakui bahwa setelah dia mempergunakan senjatanya yang
aneh, yaitu yang-kim, Siangkoan Wi Hong kini jauh lebih lihai daripada ketika dia dengan tangan kosong melawan
Thian Sin, bagaikan seekor harimau tumbuh sayap. Akan tetapi, dibandingkan dengan putera Pendekar Lembah Naga
itu, dia masih kalah jauh, apalagi dalam kehebatan ilmu silat yang dipelajari oleh putera pendekar sakti itu.
Biarpun Han Tiong bertangan kosong, namun kalau dia menghendaki, dia dapat mendesak lawan dengan
serangan-serangan ampuhnya. Akan tetapi Han Tiong tidak mempunyai keinginan untuk merobohkan lawan. Antara dia
dan Siangkoan Wi Hong tidak ada permusuhan apapun, dan dia tidak membenci pemuda ini, maka mengapa dia harus
merobohkannya dan melukainya? Dia lebih banyak bertahan saja dan mencoba untuk mengalahkan lawan tanpa
melukainya, dan tentu saja hal ini tidak mudah mengingat bahwa Siangkoan Wi Hong merupakan seorang lawan yang
cukup pandai, bahkan berbahaya sekali.
Berbeda dengan Han Tiong, begitu Ciang Gu Sik maju mengeroyoknya, Thian Sin segera menghadapinya dengan
kekerasan. Sejak tadi dia mainkan Pat-hong Sin-kun untuk menghadapi Cian Ling, sekalian untuk melatih ilmu
silat baru ini, dan begitu dia melihat Ciang Gu Sik memasuki medan perkelahian dan menyerangnya dengan hebat,
dia cepat mencoba pula ilmu barunya yang dipelajarinya dari Kakek Yap Kun Liong, yaitu Pek-in-ciang. Begitu dia
mengerahkan sin-kang dan menggunakan pukulan dengan tangan kirinya mengerahkan Pek-in-ciang nampak uap mengepul
dari telapak tangannya. Itulah sebabnya ilmu ini dinamakan Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih).
Ciang Gu Sik adalah murid pertama See-thian-ong, sungguhpun tingkat kepandaiannya masih di bawah So Cian Ling,
namun dia memiliki banyak pengalaman pertempuran dan termasuk seorang tokoh pandai. Akan tetapi dia terkejut
ketika merasa betapa uap putih itu menyambar dahsyat, membuat ujung joan-pian yang dipergunakan untuk menyerang
itu membalik! Pada saat itu, Cian Ling sudah menusukkan pedangnya ke arah leher Thian Sin sambil membentak
nyaring, bentakan yang dikeluarkan agar pemuda itu dapat peringatan lebih dulu sebelum dia menyerang karena
majunya suhengnya yang mengeroyok ini membuat hatinya tidak enak. Thian Sin yang ingin memamerkan
kepandaiannya, masih tetap menggunakan Pek-in-ciang, mendorongkan tangannya yang mengeluarkan uap putih itu ke
arah pedang sehingga pedang itupun menyeleweng.
Akan tetapi, Thian Sin kurang pengalaman dan tidak tahu bahwa Pek-in-ciang lebih tepat dan ampuh kalau
dipergunakan untuk melawan orang yang bertangan kosong. Kini, menghadapi dua lawan yang bersenjata dia
mengandalkan Pek-in-ciang, tentu saja tidak tepat karena Pek-in-ciang itu baru ampuh kalau bertemu dengan tubuh
dan tangan lawan, dan kalau untuk menghadapi senjata tajam yang keras, hanya mampu mendorongnya sedikit saja.
Maka kini dia dihujani serangan dan akhirnya ujung joan-pian di tangan Ciang Gu Sik itu berhasil pelecut
pundaknya dan ujung joan-pian yang digerakkan dengan ahli itu terus melilit lehernya!
"Aihhh...!" Cian Ling memekik kaget, dan menahan tusukan pedangnya. Akan tetapi sesaat kemudian, bukan Thian
Sin yang mengeluh, melainkan Gu Sik sendiri.
"Auhhhhh... ah, lepaskan...!" Murid See-thian-ong ini terbelalak, terengah dan menarik-narik joan-piannya yang
melingkari leher Thian Sin! Sungguh suatu pemandangan yang aneh sekali, jelas nampak betapa joan-pian itu tadi
mengenai pundak Thian Sing bahkan ujungnya, seperti seekor ular, melilit leher pemuda itu. Akan tetapi kenapa
bukan pemuda itu yang menderita, sebaliknya malah Gu Sik yang memegang gagang cambuk atau joan-pian itu?
Ternyata bahwa Gu Sik merasa betapa tenaga sin-kang dari tubuhnya tersedot keluar melalui joan-pian, membanjir
keluar dan hal ini amat mengejutkannya. Semakin dia mengerahkan tenaga untuk membetot joan-pian, makin hebat
pula tenaga sin-kangnya membanjir keluar. Hal ini amat mengejutkan dan mendatangkan kengerian sehingga akhirnya
dia berteriak-teriak minta dilepaskan! Thian Sin sudah melangkah dekat dan tangan kirinya menampar.
"Plakk!" Tubuh Gu Sik terpelanting dan joan-pian itu terlepas dari tangannya. Akan tetapi Thian Sin masih
teringat akan larangan kakaknya untuk tidak membunuh, maka tamparannya yang mengandung tenaga Thian-te
Sin-ciang itu hanya diarahkan ke pundak lawan sehingga Gu Sik tidak sampai menderita luka parah yang
membahayakan nyawanya.
Pada saat Gu Sik berteriak-teriak tadi, Cian Ling terkejut dan dia ingin membantu suhengnya, akan tetapi diapun
tidak ingin mencelakai Thian Sin, maka tangan kirinya yang maju dan mencengkeram ke arah pundak pemuda itu.
Akan tetapi, Thian Sin tidak mengelak dan membiarkan pundaknya dicengkeram. Dia melanjutkan dengan menampar Gu
Sik dan membiarkan tangan dengan jari-jari yang kecil meruncing itu mencengkeram pundak.
"Ehhh...!" Cian Ling juga mengeluarkan seruan kaget ketika merasa betapa sin-kangnya tersedot secara hebat
sekali melalui tangannya yang mencengkeram. Dan pada saat itu, Thian Sin sudah melangkah dekat dan tangannya
bergerak untuk menampar! Cian Ling terkejut bukan main, maklum bahwa nyawanya terancam maut, akan tetapi dia
yang sudah tersedot sin-kangnya itu saking kagetnya tidak mampu berbuat apa-apa, hanya memandang kepada Thian
Sin dengan sepasang matanya. Justeru daya tarik kewanitaan So Cian Ling terletak pada hidung dan terutama
matanya. Mata itu jeli dan indah sekali, dan melihat sepasang mata itu memandang kepadanya seperti itu, Thian
Sin yang sudah menggerakkan tangan itu, tiba-tiba mengubah gerakannya sehingga tangannya tidak jadi menampar,
melainkan... meraba dan mengelus dagu yang halus itu lalu mencubitnya dan melangkah mundur melepaskan tenaga Thi-khi-i-beng.
Cian Ling mengeluh lirih dan meloncat ke belakang. Seluruh tubuhnya terasa panas dingin dan kedua kakinya masih
gemetar teringat akan bahaya maut tadi, dan mukanya merah sekali teringat betapa pemuda itu mengelus dan mencubit dagunya!
"Ahhh... kau... kau..." dan dia tersenyum malu-malu, menundukkan mukanya yang menjadi semakin merah. "Kenapa
kau... tidak memukulku...?" bisiknya.
"Aku tidak bisa memukul wanita..." kata Thian Sin.
Pada saat itu, Han Tiong juga sudah mendesak Siangkoan Wi Hong. Kalau dia menghendaki, kiranya belum sampai
lima puluh jurus dia akan mampu merobohkan pemuda putera Pak-san-kui itu, akan tetapi Han Tiong tidak ingin
merobohkan orang, apalagi membunuhnya.
Pada saat Thian Sin hendak membantu kakaknya agar lawan dapat segera dikalahkan, tiba-tiba terdengar suara
halus, "Tahan, jangan berkelahi...!" Dan muncullah Tung-hai-sian bersama Bin Biauw dan belasan orang anak buah
Tung-hai-sian.
Melihat betapa Kong Liang dan lima orang pengeroyoknya masih terus berkelahi, kakek cebol itu cepat memasuki
medan perkelahian dan dengan tenang dia beberapa kali menggerakkan kedua tangannya. Terdengar seruan-seruan
kaget, juga Kong Liang sendiri cepat mencelat ke belakang karena dari kedua tangan kakek itu menyambar hawa
pukulan yang luar biasa dinginnya dan kuatnya, yang membuat mereka yang mengeroyoknya terhuyung ke belakang dan
dia sendiri harus meloncat ke belakang kalau tidak mau terdorong oleh hawa dingin yang amat kuat itu. Tahulah
putera ketua Cin-ling-pai ini bahwa kakek cebol itu sungguh memiliki tenaga sin-kang yang amat luar biasa.
"Tahan, jangan berkelahi antara orang sendiri. Ada urusan boleh dibicarakan dengan baik!" kata pula
Tung-hai-sian. Sedangkan sejak tadi Han Tiong telah melompat mundur meninggalkan lawannya dan Siangkoan Wi Hong
juga tidak berani melanjutkan perkelahian setelah melihat adanya Tung-hai-sian yang melerainya. Hanya Kong
Liang sajalah yang tadi tidak peduli dan memaksa lima orang lawannya untuk melanjutkan pertempuran. Di antara
lima orang itu, ada dua orang dari Pak-thian Sam-liong dan seorang dari pengemis-pengemis Bu-tek Kai-pang yang
terluka oleh pedang Kong Liang, walaupun bukan luka yang berat, sedangkan Kong Liang kelihatan mandi keringat
karena dia tadi harus terus memutar pedangnya secepat mungkin untuk membendung serangan bertubi-tubi dari lima
oreng pengeroyoknya.
Tung-hai-sian memandang kepada Kong Liang dan dua orang keponakannya, kemudian kepada para murid tiga datuk
dari barat, utara, dan selatan itu, lalu menarik napas panjang. "Hemm, kiranya para wakil dari sahabat-sahabat
See-thian-ong, Pak-san-kui, dan Lam-sin yang berkelahi di sini menghadapi wakil Cin-ling-pai. Kalian semua
adalah tamu-tamu kami maka kami harap, menghabisi urusan dan tidak berkelahi di wilayah ini. Tentu kalian tahu
bahwa kami tidak menghendaki tamu-tamu kami yang terhormat sampai ada yang terganggu di wilayah kami."
Ucapannya itu halus namun mengandung ketegasan seorang datuk yang merasa bahwa kekuasaan atas wilayahnya
dilanggar.
"Maaf, locianpwe. Kami dari Cin-ling-pai sama sekali tidak mencari permusuhan, akan tetapi kalau dalam
perjalanan pulang kami dihadang dan ditantang, tentu saja kami tidak akan undur selangkahpun!" jawab Kong Liang
dengan sikap gagah.
Tung-hai-sian menoleh kepada Siangkoan Wi Hong, dan pemuda inipun segera berkata dengan suara mengandung rasa
penasaran, "Paman, sejak dahulu Cin-ling-pai adalah musuh kita, apakah sekarang paman hendak mengubah keadaan
itu? Apakah kita harus tunduk kepada manusia-manusia sombong yang mengangkat diri sebagai pendekar-pendekar?"
Tung-hai-sian menarik napas panjang. Sebagai seorang datuk, dia sudah tahu akan maksud kata-kata itu dan tahu
pula akan isi hati para putera dan murid tiga orang datuk itu. Mereka ini tentu merasa tidak rela kalau melihat
dia hendak berbesan dengan ketua Cin-ling-pai yang dianggapnya sebagai golongan putih yang selalu dianggap
musuh oleh golongan hitam! Akan tetapi, bicara tentang urusan pribadinya dengan orang-orang muda yang hanya
merupakan murid-murid tiga orang datuk lain itupun terlalu rendah baginya. Dia akan bicara kalau yang
dihadapinya itu tiga orang datuk itu sendiri. Maka diapun lalu berkata, suaranya lantang sekali dan penuh
wibawa.
"Cu-wi, kami tidak peduli dari golongan mana, akan tetapi sekali menjadi tamu kami, keselamatannya harus kami
lindungi selama mereka berada dalam wilayah kami! Kami harus menjaga nama sebagai tuan rumah yang baik dan
selama menjadi tamu kami, maka semua urusan pribadi untuk sementara tidak ada! Tamu tetap tamu yang harus
diterima dengan baik dan keselamatannya adalah keselamatan kami. Oleh karena itu, kami melarang siapapun juga
untuk menggunakan kekerasan di dalam wilayah kami. Di luar wilayah kami, hal itu bukan urusan kami lagi. Harap
cu-wi mengerti dan mentaati hal ini!"
Cia Kong Liang menjura dan menghindarkan pandang mata penuh kemesraan disertai senyum simpul manis sekali dari
Bin Biauw, dan dia berkata, "Kami dari Cin-ling-paipun sama sekali tidak ingin mencari permusuhan dengan
siapapun juga. Nah, kami mohon diri, locianpwe."
Tung-hai-sian yang diam-diam merasa suka untuk mempunyai seorang mantu yang demikian lihai, halus dan sopan,
mengangguk dan balas menjura. "Selamat jalan, Cia-sicu, dan sampai jumpa."
"Selamat jalan, Cia-koko..." kata Bin Biauw, suaranya merdu merayu dan sikapnya manis sekali.
Terpaksa Kong Liang menjawab, "Selamat tinggal, nona." Tanpa berkata apa-apa lagi, Han Tiong dan Thian Sin
mengikuti paman mereka itu pergi dengan cepat meninggalkan tempat itu. Baru setelah tiga orang pemuda itu pergi
dan kini sikap dan cara mereka bicara sungguh berlainan sekali dibandingkan dengan tadi ketika mereka bicara di
depan tiga orang pemuda itu atau di dalam pesta. Kini sikap orang-orang muda itu tidaklah sehalus dan sesopan
tadi, dan juga sikap mereka lebih terbuka. Kong Liang, Han Tiong dan Thian Sin tentu akan merasa terheran-heran
kalau mereka bertiga itu mendengarkan percakapan antara mereka itu sekarang.
"Paman Tung-hai-sian!" kata Slangkoan Wi Hong dengan sinar mata memandang penuh teguran. "Kita adalah golongan
srigala atau harimau. Patutkah kalau srigala berbesan dengan golongan anjing atau harimau berjodoh dengan
kucing? Datuk timur ingin berbesan dengan ketua Cin-ling-pang? Huh, betapa menyebaikan!"
"Ha-ha-ha-ha, agaknya locianpwe dari timur sudah mulal lemah dan jerih menghadapi Cin-ling-pai, maka ingin
berbaik dengan mereka!" Seorang di antara dua pengemis Bu-tek Kai-pang juga berkata, suaranya mengejek.
"Kalian ini cacing-cacing busuk!" Tiba-tiba Bin Biauw yang tadinya bersikap amat halus dan sopan itu kini
memaki-maki. "Urusan perjodohanku apa perlunya kalian ikut bicara? Apakah kalian ini nenek moyangku yang akan
mencampuri urusan jodohku?"
Tung-hai-sian memegang tangan puterinya untuk menyabarkannya, kemudian dia berkata sambil memandang, bergantian
kepada Siangkoan Wi Hong dan pengemis itu, "Kalau tidak ingat bahwa kalian mewakili Pak-san-kui dan Lam-sin,
tentu sudah kurobek mulut kalian yang lancang! Siapa yang mau berbesan dengan Cin-ling-pai? Andaikata hal itu
kulakukan juga, apakah aku harus menyembah-nyembah minta ijin dari datuk lain lebih dahulu? Sudahlah, kalian
pergi dari sini dan jangan membuat aku marah."
"Hemm, aku akan lapor kepada ayah, lihat apa pendapatnya tentang keanehan ini!" kata Siangkoan Wi Hong yang
segera mengajak tiga orang suhengnya pergi dari situ.
"Orang-orang lelaki memang mulutnya busuk!" tiba-tiba So Cian Ling mengomel. "Mereka sendiri seenaknya memilih
perempuan, akan tetapi melarang perempuan memilih lelaki! Huh, menyebalkan!" Dan diapun lalu meloncat pergi,
diikuti oleh Ciang Gu Sik.
"Kamipun akan membawa oleh-oleh cerita lucu dan baik untuk pimpinan kami. Selamat tinggal, locianpwe!" kata dua
orang pengemis itu yang segera berlari pergi pula dari situ. Tung-hai-sian tidak menjawab dan memang sopan
santun tidak berlaku dalam dunia mereka, kecuali hanya untuk berpura-pura di depan tamu-tamu lain. Di antara
golongan mereka sendiri, sopan santun hanya dianggap sebagai lelucon yang menggelikan, suatu kepura-puraan
palsu. Bin Biauw masih mendongkol dengan sikap orang-orang yang agaknya hendak menghalangi perjodohannya dengan
putera Cin-ling-pai yang membuatnya tergila-gila itu, maka diapun lalu pergi dengan sikap marah, diikuti oleh
ayahnya dan orang-orangnya.
Sementara itu, di tengah perjalanan, Ciang Gu Sik mengomeli Cian Ling. "Sumoi, sikapmu tadi sungguh memalukan.
Engkau hendak main gila dengan putera Pangeran Cen Han Houw itu!"
Cian Ling berhenti melangkah, sepasang matanya memandang tajam. Matanya masih indah, akan tetapi kini dari
sepasang mata itu bersinar sesuatu kemarahan yang menyeramkan. "Suheng, dia itu gagah dan tampan dan aku suka
padanya! Apa salahnya kalau timbul berahiku melihatnya dan kalau aku ingin bermain cinta dengan dia, engkau mau
apakah?" Suaranya penuh tantangan, dadanya yang sudah membayangkan tonjolan di balik pakaiannya itu
dibusungkan, bibirnya tersenyum mengejek.
Wajah Ciang Gu Sik menjadi merah, akan tetapi sebentar kemudian kembali menjadi warna aselinya, yaitu pucat
seperti wajah orang berpenyakitan. "Mau apa? Hanya ingin membunuhnya!"
"Hi-hi-hik! Mau membunuhnya? Silakan kalau engkau mampu, suheng!"
"Tentu saja aku mampu! Aku tadi kalah karena terkejut oleh ilmu silumannya. Ilmu itu tentu yang dinamakan
Thi-khi-i-beng. Aku akan bertanya kepada suhu bagaimana caranya menundukkan Thi-khi-i-beng!"
"Sesukamulah! Aku sih ingin menundukkan hatinya. Hemmmmm... dia ganteng dan menarik sekali!" Dara itu lalu berloncatan ke depan melanjutkan perjalanannya.
Memang mengejutkan kalau melihat sikap datuk Tung-hai-sian dan para murid datuk-datuk yang lain itu. Mereka
begitu kasar, akan tetapi juga blak-blakan mengucapkan segala hal yang terkandung di dalam hati mereka, tanpa
mempedulikan tata susila dan kesopanan lagi. Bagi mereka, kesopanan adalah sesuatu yang palsu, kepura-puraan
dan kemunafikan yang menggelikan. Pandangan mereka itu bagaikan bumi dan langit, sama sekali menjadi kebalikan
dari pandangan golongan yang menamakan diri mereka golongan bersih atau kaum pendekar. Mereka ini mengutamakan
kesusilaan, kesopanan dan kebudayaan. Kehormatan bagi seorang pendekar lebih berharga daripada nyawanya
sendiri. Nama baik didahulukan, nama baik pribadi yang mengembang menjadi nama baik keluarga dan mungkin
dikembangkan lagi menjadi nama baik golongan.
Manakah yang benar di antara dua pandangan ini? Keduanya mengandung kebenaran dan kekeliruan, seperti pada
umumnya segala hal di dunia ini. Sekali dinilai, maka akan nampaklah kebenarannya, baik buruknya, untung
ruginya dan sebagainya lagi. Yang penting bagi kita adalah membuka mata, waspada sehingga mengenal apa yang
menjadi kenyataan, apa yang palsu di dalam segala hal.
Karena kewaspadaan ini akan menimbulkan kesadaran dan pengertian yang selanjutnya akan mendatangkan tindakan
seketika, yaitu melepaskan yang palsu itu, seperti kalau kita melihat dan mengerti bahwa yang kita genggam
adalah kotoran dan kita melepaskan kotoran itu tanpa dipikirkan lagi!
Semenjak kecil, kita diajar oleh orang tua, oleh guru, oleh masyarakat di sekeliling kita, untuk bersopan-sopan
untuk bersusila. Kita diperkenalkan kepada hal-hal yang dianggap tidak sopan dan tidak bersusila, hal-hal yang
dianggap sopan dan bersusila. Ditekankan kepada kita sampai mendalam sekali bahwa yang tidak sopan itu tidak
baik dan yang sopan itu baik, dan sebagainya. Ditekankan pula bahwa hidup haruslah baik dan sebagainya.
Tekanan-tekanan inilah yang mendorong kita untuk menjadi baik! Untuk dianggap baik! Dan keinginan baik inilah
yang melahirkan kepalsuan, kemunafikan, sehingga kita pandai sekali berpura-pura, lain mulut lain di hati. Kita
terdorong oleh keinginan agar "menjadi orang baik" termasuk orang sopan, bersuslia dan sebagainya, sehingga
kita melakukan hal-hal yang palsu, berpura-pura berlawanan dengan isi batin sendiri, hanya demi agar dianggap
sebagai orang baik. Maka timbullah sikap manis di mulut pahit di hati, penghormatan-penghormatan yang sifatnya
menjilat-jilat, dan kepalsuan-kepalsuan dalam hampir setiap gerak-gerik kita dalam kehidupan sehari-hari. Kalau
kita mau membuka mata dengan waspada dan memandang dengan sewajarnya dan sejujurnya kepada diri sendiri, akan
nampaklah semua kepalsuan ini. Sikap dan ucapan kita terhadap isteri atau suami, terhadap pacar, terhadap anak
atau orang tua, terhadap sahabat, terhadap orang-orang lain. Bahkan sikap kita dalam sembahyang misalnya,
terhadap Tuhan! Kita ini orang-orang munafik. Beranikah kita melihat kenyataan ini?
Melihat kenyataan ini bukan berarti bahwa kita harus hidup bebas semau gue, seperti golongan para datuk, boleh
bersikap dan bicara sesuka hatinya, bersikap kasar dan keras sekali terhadap orang lain. Sama sekali bukan
demikian! Melainkan melihat kenyataan akan kepalsuan kita agar kita tidak palsu lagi, agar kita bebas dari
sikap pura-pura itu. Agar kalau kita menghormat seseorang, maka penghormatan itu datang dari lubuk hati, agar
kalau mulut kita tersenyum, agar kalau kita mengucapkan kata-kata sayang kepada isteri atau suami, pacar atau
anak, batin juga penuh dengan kasih sayang itu! Belajar hidup dalam keadaan utuh! Betapa indahnya ini! Utuh
dalam arti kata SATUNYA HATI, KATA DAN PERBUATAN! Betapa akan indahnya! Bebas dari kepalsuan dan kepura-puraan.
Dapatkah... atau lebih tepat lagi, maukah kita mulai sekarang juga, saat ini juga? Kehidupan akan mengalami
perubahan yang luar biasa hebatnya dan ini hanya dapat dibuktikan dengan penghayatan, bukan dengan teori belaka!

Dua orang pemuda itu memandang kepada Kong Liang yang berdiri di depan mereka, di persimpangan jalan, dan kalau
Han Tiong memandang kepada pamannya dengan bayangan perasaan heran dan iba, sebaliknya Thian Sin mengerutkan
alisnya dan kelihatan penasaran sekali.
"Akan tetapi, mengapa paman mencela kami? Bukankah kami berdua membantu paman menghadapi musuh yang mengeroyok
paman?" Thian Sin membantah dengan suara bernada penasaran.
"Kalian sungguh gegabah sekali! Fihak lawan begitu lihai, bagaimana kalau sampai kalian terluka atau lebih
celaka lagi, terbunuh dalam perkelahian itu? Aku yang bertanggung jawab terhadap keselamatan kalian," Kong
Liang mengomel.
"Tapi kami dapat menjaga diri, paman," Han Tiong berkata dengan tenang, sama sekali tidak terdengar penasaran
seperti adiknya.
"Hemm, betapapun, aku sendiri cukup untuk melayani dan mengalahkan mereka semua. Tanpa bantuan kalianpun, kalau
tidak keburu Tung-hai-sian datang, mereka semua akan roboh oleh pedangku."
Dua orang pemuda dari Lembah Naga itu tidak membantah lagi. "Maafkan kami, paman." akhirnya Han Tiong berkata.
"Dan sekarang kami akan melanjutkan perjalanan kami ke Lok-yang. Harap sampaikan hormat kami kepada ayah bunda
paman."
"Sampaikan pula hormat dan terima kasihku kepada mereka, terutama kepada nenek, paman," kata pula Thian Sin.
Kong Liang mengangguk. "Baik, akan kusampaikan. Dan hati-hatilah kalian dalam perjalanan. Kalian belum banyak
pengalaman dan di dunia ini banyak orang jahat yang amat lihai, hindarkanlah bentrokan-bentrokan dengan
orang-orang kang-ouw." Dia menasihati dengan sikap seperti seorang dewasa menasihati anak-anak yang masih bodoh.
Setelah mereka berpisah, dua orang pemuda Lembah Naga itu melanjutkan perjalanan ke Lok-yang. Diam-diam Thian
Sin merasa heran kalau mengenangkan sikap Cia Kong Liang. Pamannya itu harus diakui seorang yang gagah perkasa.
Akan tetapi kalau dibandingkan dengan kakaknya, sepatutnyalah kalau Han Tiong kakaknya itu yang menjadi paman
sedangkan Kong Liang yang menjadi keponakan. Sikap kakaknya yang pendiam dan penuh wibawa, yang selalu merendahkan diri dan tidak suka menonjolkan kepandaian, juga yang selalu menghindarkan kekerasan itu jauh lebih "matang" dibandingkan dengan sikap Kong Liang yang gagah perkasa namun mentah itu. "Tiong-ko, kenapa sikap paman Kong Liang seperti itu?" Akhirnya dia tidak dapat menahan rasa penasaran di dalam hatinya dan bertanya kepada kakaknya.
Han Tiong menarik napas panjang dan menjawab sambil lalu, "Sudahlah,adikku, Paman Kong Liang itu memang paman kita akan tetapi diapun masih muda."
Dari jawaban ini saja Thian Sin merasa betapa kakaknya sungguh lebih "tua" dan matang dibandingkan dengan Cia
Kong Liang, dan dia merasa yakin bahwa dalam hal kepandaianpun kakaknya itu agaknya tidak kalah dibandingkan
dengan putera ketua Cin-ling-pai.
Lok-yang adalah sebuah kota yang besar dan ramai. Seperti kita telah ketahui, di kota inilah Gu Khai Sun
tinggal bersama dua orang isterinya, yaitu wanita kembar Kui Lan dan Kui Lin, bersama dua orang anak mereka,
yaitu Ciu Bun Hong putera Kui Lin yang telah berusia kurang lebih tujuh betas tahun dan Ciu Lian Hong puteri
Kui Lan yang telah berusia enam belas tahun.
Ciu Khai Sun, jagoan lihai murid Siauw-lim-pai ini hidup berbahagia dengan keluarganya, membuka sebuah
perusahaan pengawalan barang yang bernama Hui-eng-piauwkiok (Perusahaan Ekspedisi Garuda Terbang), yaitu
melanjutkan perusahaan yang tadinya dipegang oleh mendiang Na Tiong Pek, yaitu suami Kui Lin yang pertama.
Setelah dipimpin oleh Ciu Khai Sun yang dikenal sebagai murid Siauw-lim-pai yang pandai, perusahaan ini semakin
maju dan semakin banyak orang mempercayainya untuk mengawal barang-barang yang berharga atau keluarga mereka
yang dikirim atau pergi ke tempat jauh melalui daerah-daerah berbahaya. Bendera kecil yang bergambar seekor
burung garuda terbang itu amat terkenal di kalangan liok-lim, yaitu para bajak sungai dan para perampok hutan,
dan tidak ada penjahat yang berani mencoba-coba mengganggu rombongan yang dikawal oleh piauwsu (pengawal) dari
Hui-eng-piauwkiok. Baru melihat kereta-kereta yang atasnya ditancapi sebuah bendera kecil bergambar burung
garuda terbang itu saja, para penjahat sudah mundur kembali dan tidak berani mengganggunya. Tentu saja untuk
memperoleh nama besar yang ditakuti para penjahat ini bukan merupakan hal yang mudah. Selama bertahun-tahun Ciu
Khai Sun mengawal sendiri setiap pengiriman barang berharga dan entah sudah berapa puluh kali dia harus
menggunakan kepandaiannya menundukkan para perampok dan merampas kembali barang-barang yang dirampok mereka.
Setelah melihat kegagahan pimpinan Hui-eng-piauwkiok ini, barulah perusahaan itu memperoleh nama besar dan
sampai bertahun-tahun selama ini, tidak pernah ada gangguan dalam perjalanan. Oleh karena itu, Ciu Khai Sun
yang sudah berusia empat puluh enam tahun itu, selama beberapa tahun ini hanya mengandalkan kebesaran namanya
dan membiarkan semua barang atau keluarga dikawal oleh para pembantunya. Sedangkan dia sendiri lebih banyak
berada di rumah, menerima tamu-tamu yang hendak mempercayakan barang-barang atau keluarga mereka untuk dikawal,
dan semua sisa waktunya dipergunakan untuk melatih silat kepada dua orang anaknya, yaitu Ciu Bun Hong dan Ciu
Lian Hong. Semua ilmu silat yang dimilikinya dia ajarkan kepada dua orang anaknya itu sehingga mereka menjadi
dua orang muda yang pandai.
Ciu Bun Hong kini telah menjadi seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang bertubuh tinggi besar seperti
ayahnya. Adapun Ciu Lian Hong telah menjadi seorang dara remaja berusia enam belas tahun yang amat cantik
jelita, dengan tubuh yang sedang dan langsing, seperti ibunya. Kecantikan Lian Hong memang mengagumkan sekali
sehingga dia terkenal di kota Lok-yang sebagai ratu di antara semua dara karena cantiknya. Orang tuanya amat
mencintanya dan mereka bertiga, yaitu ayahnya dan dua orang ibunya, merasa bangga sekali akan dia. Juga dalam
hal ilmu silat, dia tidak kalah dibandingkan dengan kakaknya, sedangkan dalam ilmu kesusasteraan dan kesenian,
dia meninggalkan kakaknya itu jauh di belakang. Memang, Lian Hong adalah seorang dara yang amat mengagumkan,
seorang dara pilihan dan selain menjadi kebanggaan orang tuanya, juga menjadi kembang mimpi para muda di
Lok-yang. Akan tetapi sampai dia berusia enam belas tahun, orang tuanya masih belum dapat menentukan jodohnya.
Agaknya bagi orang tua dara ini, tidak ada seorangpun pemuda yang pantas menjadi jodoh puteri mereka,
setidaknya, selama ini mereka telah menolak entah berapa banyak lamaran yang datang. Lian Hong sendiri agaknya
sama sekali belum memikirkan soal perjodohan.
Cia Han Tiong pernah berkunjung ke Lok-yang dan dia masih teringat akan tempat tinggal kedua orang bibinya itu.
Ternyata kini rumah gedung itu semakin besar dan megah, dan kantor yang berpapan Hui-eng-piauwkiok dengan
huruf-huruf besar itupun agaknya telah diperbesar. Dari keadaan rumah dan kantor ini saja Han Tiong sudah dapat
mengerti bahwa perusahaan pamannya itu telah memperoleh kemajuan pesat, maka diam-diam diapun mereka gembira.
Pagi telah melarut menjelang siang ketika dua orang pemuda Lembah Naga ini memasuki pekarangan rumah gedung
keluarga Ciu. Han Tiong memandang dengan wajah berseri dan senyum gembira ketika dia mengenal kedua orang
bibinya itu sedang duduk di ruangan depan, dan dia sendiripun bingung karena tidak dapat membedakan mana Bibi
Lan dan mana Bibi Lin! Mereka begitu sama, bukan hanya bentuk wajah mereka, bahkan bentuk tubuh merekapun tiada
bedanya. Adapun dua orang nyonya kembar itu, yang kini sudah menjadi nyonya setengah tua berusia kurang lebih
empat puluh tiga tahun, menghentikan percakapan mereka dan memandang dengan heran ketika melihat ada dua orang
pemuda memasuki pekarangan rumah mereka. Biasanya, semua tamu tentu datang ke kantor di sebelah dan kalau ada
yang hendak bertemu dengan Ciu Khai Sun sendiri, tentu pegawai kantor akan melaporkan kepada majikannya dan
Khai Sun akan menemui tamu itu di kantor pula. Memang ada beberapa orang sahabat baik yang langsung datang ke
rumah untuk berkunjung kepada keluarga itu, akan tetapi kini dua orang wanita itu sama sekali tidak mengenal
dua orang pemuda yang datang ini, maka keduanya memandang heran.
Han Tiong dengan wajah gembira, sudah melangkah ke depan dan menjura dengan hormatnya kepada mereka, diikuti
pula oleh Thian Sin.
"Saya harap bibi berdua sekeluarga berada dalam keadaan baik-baik saja selama ini," kata Han Tiong dengan sikap halus.
"Siapa kalian...?" tanya Kui Lan.
"Dan ada keperluan apakah?" sambung Kui Lin. Han Tiong tentu saja tidak tahu yang mana bibi pertama dan mana bibi ke dua.
"Ah, harap bibi berdua suka memaafkan kami kalau kami membikin kaget. Agaknya bibi tidak mengenal saya. Saya
adalah Cia Han Tiong..."
"Han Tiong...?"

"Putera Sin-koko...?"
Dua orang wanita itu melangkah maju dan mereka segera memegang kedua tangan Han Tiong dengan wajah gembira sekali.
"Aihhh, sudah menjadi seorang dewasa!"
"Dan gagah benar kau, Han Tiong!"
"Mana mungkin kami dapat mengenalmu, dulu ketika kau datang, engkau masih kecil dan sekarang telah menjadi
begini besar!"
Han Tiong menjadi bingung. Dia tidak tahu yang mana Bibi Lan dan mana Bibi Lin yang bicara sambil sambung itu.
"Maaf... maaf... saya sendiri juga tidak dapat mengenal dan membedakan antara bibi berdua..."
Kedua orang wanita itu tersenyum lebar. Bagi mereka tidaklah aneh melihat kebingungan orang yang tidak dapat
membedakan antara mereka. "Aku Bibi Lan," dan kata Kui Lan.
"Dan aku Bibi Lin." kata yang kedua.
"Dan siapakah pemuda ini?" Kui Lan dan Kui Lin memandang kepada Thian Sin yang sejak tadi hanya diam saja dan
melihat pertemuan antara Han Tiong dan dua orang bibinya itu. Dia tahu bahwa kedua orang wanita itu adalah
adik-adik tiri dari ayah angkatnya, merupakan dua orang wanita kembar. Akan tetapi dia sendiri sudah dapat
melihat perbedaan antara kedua orang wanita itu, sungguhpun memang pada lahirnya mereka itu serupa benar. Thian
Sin memiliki pandangan yang amat tajam dan dia sudah melihat bahwa perbedaan yang cukup besar antara mereka itu
terdapat pada pandang mata mereka. Yang mengaku sebagai Bibi Lan itu mempunyai sinar mata yang mengandung
keriangan atau kelincahan, sebaliknya yang mengaku sebagai Bibi Lin itu mempunyai sinar mata yang lebih dalam
dan juga pendiam dan lebih tenang. Dan hanya kalau keduanya dilanda kegembiraan seperti ketika mengetahui bahwa
pemuda itu adalah keponakan mereka, maka keduanya sukar dibedakan karena sinar mata mereka itu keduanya berseri-seri.
"Dia ini adalah Ceng Thian Sin, putera mendiang Paman Ceng Han Houw dan Bibi Lie Ciauw Si." Han Tiong
memperkenalkan dan kembali Thian Sin menjura. Karena dia menjura sambil menundukkan muka, maka dia tidak
melihat betapa sejenak wajah kedua orang wanita itu berubah dan mata mereka agak terbelalak mendengar nama Ceng
Han Houw. Thian Sin hanya mendengar kakaknya menyambung kata-katanya dengan agak tergesa-gesa.
"Thian Sin ini juga menjadi saudara angkat saya dan putera angkat dari ayah, maka dia boleh dibilang juga
menjadi keponakan bibi berdua pula."
"Ahhh... syukurlah kalau begitu," kata Kui Lin.
"Dia tampan sekali!" puji Kui Lan. "Mari-mari, kita masuk saja. Pamanmu sedang melatih silat kepada Bun Hong
dan Lian Hong." Dengan ramah dua orang wanita itu lalu mengajak Han Tiong dan Thian Sin memasuki gedung dan
mempersilakan mereka duduk di ruangan dalam. Kui Lan sudah berlari ke belakang untuk mengabarkan tentang
kedatangan dua orang muda itu kepada suaminya dan dua orang anak mereka.
Tak lama kemudian wanita itu datang lagi bersama suaminya dan dua orang anak mereka. Han Tiong dan Thian Sin
cepat bangkit dari tempat duduk mereka dan menghormat kepada laki-laki tinggi besar yang gagah perkasa itu. Ciu
Khai Sun sudah berusia empat puluh enam tahun, sebagian rambutnya sudah mulai memutih, akan tetapi dia masih
nampak gagah dan tubuhnya yang tinggi besar itu nampak kokoh kuat. Dengan wajah berseri pendekar yang gagah
perkasa ini menerima penghormatan Han Tiong dan Thian Sin, tertawa dan dia memegang kedua pundak Han Tiong.
"Ah, engkau telah menjadi seorang pemuda dewasa Han Tiong!" katanya dengan ramah sekali, kemudian menoleh dan
memandang kepada Thian Sin. "Dan ini Ceng Thian Sin, adik angkatmu? Tampan dan gagah dia!" Hati Thian Sin
merasa lega bahwa tidak nampak keheranan mendengar bahwa ia putera Pangeran Ceng Han Houw, seperti yang sering
kali dia lihat kalau dia diperkenalkan sebagai putera pangeran itu.
"Tiong-koko!" kata Bun Hong sambil maju memberi hormat.
"Hai, engkau sudah menjadi seorang pemuda yang lebih tinggi daripada aku!" Han Tiong berseru gembira sambil
membalas penghormatan pemuda yang bertubuh seperti ayahnya itu. Memang Bun Hong nampak gagah perkasa seperti
ayahnya, apalagi pada saat dia mengenakan pakaian ringkas, pakaian berlatih silat sehingga nampaklah bentuk
tubuhnya yang kekar.
"Tiong-koko!" Dara itu memberi hormat dan memanggil pula. Han Tiong memandang dan jantungnya berdebar. Belum
pernah dia merasakan jantungnya berdebar seperti ini kalau dia bertemu dengan seorang dara. Akan tetapi gadis
ini memang luar biasa sekali, sukar baginya untuk menggambarkan bagaimana cantiknya. Semua bagian tubuh dara
itu, dari rambutnya yang agak kusut karena habis berlatih silat, dahinya yang masih agak basah oleh peluh,
sampai kepada cara dia berdiri dan memberi hormat, semua itu memiliki daya tarik yang demikian mempesonakan
sehingga untuk sekejap Han Tiong seperti terpesona dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Akhirnya, dengan
kekuatan hatinya dia mampu juga membuat dirinya bergerak dan keluar dari pesona yang melumpuhkan itu.
"Ah, adik Lian Hong! Engkaupun telah menjadi seorang gadis yang dewasa...!" hanya demikian dia mampu berkata,
setelah menahan sekuat hatinya agar mulutnya tidak mengatakan "yang sangat cantik jelita" sungguhpun hatinya
meneriakkan demikian. Kemudian dia teringat Thian Sin dan menyambung kata-katanya, "O ya, Bun-te dan Lian
Hong-moi, perkenalkan dia ini adalah Ceng Thian Sin, adik angkatku, juga boleh dibilang suteku sendiri karena
diapun menjadi anak angkat dan murid ayah. Sin-te, inilah adik Bun Hong dan Lian Hong yang sering kuceritakan
kepadamu." Akan tetapi sudah sejak tadi sepasang mata Thian Sin seperti melekat pada diri Lian Hong! Semenjak
dara itu muncul, dia sudah memandang wajah dan tubuh dara itu dan dia seperti melihat seorang bidadari dari
kahyangan turun! Kedua matanya hampir tidak dapat dikejapkan lagi, karena dia sudah terpesona. Banyak sudah dia
melihat wanita cantik, akan tetapi belum pernah rasanya dia bertemu dengan seorang dara seperti ini bahkan
dalam mimpipun belum. Begitu melihat, dia sudah jatuh cinta sepenuhnya.
Sesungguhnya, tidak tepatlah kalau dikatakan bahwa Lian Hong adalah seorang dara yang cantiknya melebihi
wanita-wanita lain atau seorang yang tanpa cacad. Akan tetapi, sungguh merupakan kenyataan bahwa bukan jarang
seorang wanita berubah menjadi bidadari tanpa cacad di dalam pandang mata pria, kalau pria itu telah jatuh
cinta atau sudah tergila-gila. Setiap gerakan, setiap bagian tubuh, bahkan apapun juga yang menempel pada
wanita yang menjatuhkan hati seorang pria, akan nampak cantik dan indah tanpa cacad! Rambut kusut
melingkar-lingkar yang bagi umum akan nampak kacau, bagi orang yang jatuh hati akan nampak sebagai penambah
manis yang menggairahkan! Dan demikian selanjutnya dan hal itu bukanlah semata-mata terjadi pada diri seorang
wanita yang telah menjatuhkan hati seorang pria. Segala keindahan itu bukanlah melekat kepada sesuatu yang
berada di luar, melainkan diciptakan oleh rasa peka akan keindahan, yaitu yang bersumber di dalam batin kita
sendiri. Keindahan bukan melekat pada sang bunga, melainkan orang yang memiliki rasa keindahan sajalah yang
dapat melihat betapa indahnya bunga itu.
"Sin-te...!" Dengan suara halus Han Tiong menegur.
Thian Sin terkejut dan cepat dia menjura dengan sikap hormat sambil menundukkan mukanya yang berubah merah.
Akan tetapi dia memang seorang pemuda yang pandai membawa diri, maka dengan riang dia berkata, "Maaf, maafkan,
karena sesungguhnya saya terkejut sekali. Tiong-ko pernah menceritakan tentang adik berdua masih kecil-kecil,
dan kiranya adalah seorang pemuda dan seorang dara yang sudah dewasa. Maafkan..."
Mereka semua tertawa dan dengan ramah Khai Sun lalu mempersilakan mereka duduk. Seorang pelayan datang membawa
minuman dan Han Tiong yang menjadi pusat perhatian dan pertanyaan, harus menjawab hujan pertanyaan yang
diajukan oleh keluarga itu.
Dengan sikap hormat Han Tiong lalu menyerahkan surat dari ayahnya yang ditujukan kepada Ciu Khai Sun dan dua
orang isterinya itu. Setelah membaca surat itu, wajah pendekar ini berseri-seri dan sambil tersenyum dia
menyerahkan surat itu kepada dua orang isterinya yang membacanya secara bergilir kemudian menyimpan surat itu.
Isi surat dari Pendekar Lembah Naga itu adalah di samping mengabarkan keselamatan, dan memperkenalkan dua orang
muda itu, juga mengajukan usul kepada keluarga Ciu untuk menjodohkan puteri keluarga Ciu dengan seorang di
antara mereka.
Pertemuan itu sungguh mendatangkan kegembiraan besar di dalam hati semua anggauta keluarga di Lok-yang itu. Di
dalam kegembiraan Ciu Khai Sun dan dua orang isterinya terdapat kebingungan dan keraguan pula karena sungguh
tidaklah mudah bagi mereka untuk memilih di antara Han Tiong dan Thian Sin! Kalau melihat keadaan lahiriah,
jelas bahwa Thian Sin jauh lebih tampan dibandingkan dengan Han Tiong. Dan tentang sikap, biarpun Thian Sin
tidak sependiam seperti Han Tiong, namun dia tergolong pemuda yang sikapnya sopan dan pandai membawa diri,
bahkan ramah sekali dibandingkan dengan Han Tiong yang hanya bicara kalau perlu saja. Akan tetapi kalau
mengingat ayah mereka, tentu saja hati keluarga ini condong memilih Han Tiong. Han Tiong adalah putera dari
Pendekar Lembah Naga, sehingga tidak diragukan lagi. Akan tetapi, Thian Sin adalah putera Pangeran Ceng Han
Houw yang demikian jahatnya!
"Kita tidak boleh menilai seseorang dari keadaan ayahnya atau ibunya!" kata Kui Lin dan ucapan ini tentu saja
didukung seratus persen oleh Kui Lan. Bukankah mereka berduapun anak kandung dari seorang ayah yang tak dapat
dibilang mempunyai watak yang baik? Ciu Khai Sun adalah orang yang bijaksana, maka diapun mengerti isi hati kedua orang isterinya itu. Dia mengangguk-angguk menyatakan setuju."Dan sepatutnyalah kalau membiarkan Lian Hong menentukan pilihannya sendiri," kata Kui Lan.
Ciu Khai Sun kembali mengangguk. "Apa yang kalian katakan adalah benar dan tepat. Betapapun juga, kita sebagai
orang tua tentu saja tidak boleh menutup mata kalau melihat puteri kita melakukan pilihan yang keliru. Sudah
sepatutnya kalau kita membantunya dan memperingatkan dia kalau dia salah pilih agar kelak dia tidak menyesal.
Memang amat sukar memilih di antara dua orang pemuda itu. Keduanya gagah perkasa dan telah mewarisi ilmu-ilmu
yang amat lihai dari Pendekar Lembah Naga. Kitalah yang untung besar kalau dapat mempunyai mantu seorang di
antara mereka. Betapapun juga, kita harus hati-hati dan membuka mata lebar-lebar untuk melihat, siapa di antara
mereka itu yang lebih cocok untuk menjadi suami anak kita."
Selama beberapa hari semenjak dua orang pemuda Lembah Naga itu tiba di rumah keluarga Ciu, hubungan antara
mereka dengan Bun Hong dan Lian Hong menjadi amat akrabnya. Kedua orang saudara she Ciu itu minta petunjuk
dalam hal ilmu silat kepada mereka, dan dua orang pendekar muda Lembah Naga itupun dengan senang hati memberi
petunjuk. Terutama sekali Thian Sin yang dengan pandai berusaha menarik hati Lian Hong atau memperlihatkan
sikap yang amat mesra dan baik terhadap diri gadis itu.
Melihat sikap Thian Sin itu, Han Tiong seperti biasa menahan dirinya dan Han Tiong lebih banyak mendekati Bun
Hong untuk memberi petunjuk dalam hal ilmu silat, dan membiarkan Thian Sin lebih mendekati Lian Hong.
Hal itu adalah karena memang Thian Sin jauh lebih pandai bergaul dibandingkan dengan Han Tiong, apalagi bergaul
dengan wanita. Thian Sin memiliki bakat untuk itu, dan dia tidak malu-malu untuk bersikap manis terhadap
wanita, tidak seperti Han Tiong yang merasa malu-malu. terutama sekali malu diketahui orang lain bahwa dia
hendak bermanis-manis terhadap wanita. Apalagi, pemuda ini memiliki perasan yang amat peka, dan melihat betapa
Thian Sin tidak menyembunyikan perasaan suka terhadap Lian Hong yang mudah dilihat dari sikapnya, maka diapun
mundur teratur, sungguhpun harus diakuinya di dalam hatinya sendiri bahwa dia telah jatuh hati kepada dara itu!
Kurang lebih dua minggu kemudian, pada suatu senja ketika keluarga itu bersama dua orang tamunya berkumpul,
makan malam sambil bercakap-cakap, datanglah seorang tamu dari Su-couw yang membawa kabar yang amat
mengejutkan. Tamu itu adalah seorang pegawai Pouw-an-piauwkiok di Su-couw, yaitu perusahaan pengawal atau
ekspedisi yang dipimpin oleh Kui Beng Sin. Piauwsu (pengawal) dari Su-couw itu menceritakan bahwa Kui Beng Sin
yang mengawal sendiri sebuah kereta yang penuh terisi barang-barang berharga milik seorang pembesar di Su-couw
yang dikirim ke selatan, yaitu ke Sin-yang, telah diganggu gerombolan perampok yang mengakibatkan kereta itu
dilarikan perampok. Kui Beng Sin terluka cukup parah dan sebagian besar anak buah piauwkiok itu telah tewas.
Mendengar laporan itu, Ciu Khai Sun mengerutkan alisnya. "Di mana terjadinya perampokan itu dan apakah sudah
diketahui siapa perampoknya?"
"Perampokan itu terjadi dekat kota Sin-yang di sebelah utara kota itu, di hutan yang berada di lembah Sungai
Luai. Kui-piauwsu mengawainya sendiri mengingat bahwa barang-barang itu amat berharga, akan tetapi tetap saja
dia dan semua pembantunya tidak kuat menghadapi gerombolan yang amat kuat itu."
"Hemm... di lembah Sungai Luai? Setahuku di sana biasanya aman, tidak terdapat perampok, dan andaikata ada
juga, tentu para perampok itu telah mengenal bendera Pouw-an-piauwkiok," Ciu Khai Sun berkata sambil mengelus
jenggotnya. Sebagai seorang piauwsu tentu saja dia mengetahui daerah itu, yang masih termasuk daerah Propinsi
Ho-nan dan tidak jarang anak buahnya mengawal barang melalui daerah selatan itu.
"Itulah yang mengejutkan, Ciu-piauwsu," kata orang itu. "Gerombolan perampok itu agaknya merupakan gerombolan
baru di daerah itu yang datang dari lain tempat. Menurut para anggauta Pouw-an-piauwkiok yang berhasil
menyelamatkan diri, gerombolan itu dipimpin oleh dua orang laki-laki setengah tua yang memiliki kepandaian yang
tinggi sekali, dan anak buah merekapun tidak lebih hanya sepuluh orang saja yang rata-rata memiliki ilmu silat
yang tangguh."
"Engkau harus tolong Beng Sin-twako," kata Kui Lan juga Kui Lin mendesak suaminya untuk menolong. Kui Beng Sin
adalah kakak tiri dua orang wanita kembar ini, satu ayah berlainan ibu, oleh karena itu, mendengar akan
malapetaka yang menimpa diri kakak tiri mereka itu, tentu saja mereka membujuk suami mereka untuk menolongnya.
"Barang-barang milik pembesar itu berharga sekali, dan inilah yang menyusahkan Kui-piauwsu. Pembesar itu
menuntut penggantian, dan agaknya, biar seluruh harta milik Pouw-an-piauwkiok dijual sekalipun, belum tentu
akan dapat mengganti harga barang-barang itu yang jumlahnya ribuan tail emas. Dalam keadaan terluka parah,
Kui-piauwsu menghadapi semua ini dan dia benar-benar merasa tak berdaya. Kami mengingat akan hubungan keluarga
dengan Ciu-piauwsu, maka kami memberanikan diri untuk menyampaikan berita ini."
Cim Khai Sun mengangguk-angguk. "Pulanglah, dan kami akan mempertimbangkan apa yang kiranya akan dapat kami
lakukan."
Setelah orang itu pergi, Kui Lan dan Kui Lin menangis. Mereka merasa kasihan dan juga khawatir sekali mendengar
akan kemalangan yang menimpa kakak tiri mereka itu.
Pada saat itu, Thian Sin berkata, "Harap paman dan bibi suka menenangkan hati. Biarlah saya yang akan berangkat
mengejar perampok-perampok laknat itu, membasmi mereka dan merampas kembali barang-barang yang mereka rampok
untuk menolong Pouw-an-piauwkiok."
"Benar apa yang dikatakan oleh Sin-te, paman," kata Han Tiong. "Biarlah kami berdua pergi mengejar perampok-
perampok itu."
"Aku ikut!" kata Lian Hong.
"Akupun ikut!" kata Bun Hong.
Ciu Khai Sun tersenyum dan dua orang isterinya memandang kepada dua orang pemuda Lembah Naga itu dengan kagum.
"Ah, kalian anak-anak baik. Bagaimana mungkin aku dapat membiarkan kalian pergi menghadapi perampok-perampok
lihai itu? Ayah kalian tentu akan marah kalau sampai terjadi sesuatu dengan kalian dan bagaimana
tanggung-jawabku?"
"Tidak, paman," kata Han Tiong, suaranya tegas. "Bahkan sebaliknya, kalau ayah mendengar bahwa kami diam saja
melihat malapetaka yang menimpa diri Paman Kui Beng Sin yang sudah saya kenal itu, tentu ayah akan sangat marah
kepada kami. Biarkan kami pergi, paman."
"Aku tanggung bahwa kami akan dapat merampas kembali barang-barang yang mereka rampok itu, paman!" kata Thian Sin tegas.
Ciu Khai Sun menarik napas panjang, hatinya lega. Tentu saja dia percaya sepenuhnya kepada mereka berdua,
karena dia yakin bahwa kepandaian mereka, melihat cara mereka memberi petunjuk kepada Lian Hong dan Bun Hong,
tentu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kepandaiannya sendiri.
"Baiklah, kalau begitu, biar kupersiapkan pasukan piauwsu untuk membantu kalian."
"Tidak perlu, paman. Biar kami berdua pergi sendiri saja," jawab Han Tiong.
"Ayah, aku ikut!" kata pula Lian Hong.
"Aku juga, biarkan kami ikut bersama Sin-ko dan Tiong-ko!" sambung Bun Hong.
"Aihh, anak-anak, apa kalian kira dua orang kakakmu itu hendak pergi pelesir?" Kui Lan mencela.
"Kalian ini seperti anak kecil saja. Kedua orang kakakmu hendak menempuh bahaya, masa kalian hendak ikut?" Kui
Lin juga mengomel.
"Ayah selama ini mengajarkan ilmu silat, dan sekarang terbuka kesempatan bagi kami untuk menambah pengalaman,
kenapa kami tidak boleh ikut?" Lian Hong membantah.
"Benar, kita hanya boleh ikut dengan rombongan piauwsu saja, dan hanya diberi kesempatan berhadapan dengan
segala pencopet, maling dan perampok kecil saja. Ayah, sekarang Sin-ko dan Tiong-ko hendak melakukan urusan
besar, menghadapi perampok-perampok lihai, maka biarlah kami meluaskan pengalaman dan ikut dengan mereka," kata
Bun Hong.
"Setidaknya, kita tidak boleh enak-enak saja mambiarkan mereka pergi menghadapi bahaya sendiri!" Lian Hong
menambah pula.
Ciu Khai Sun menarik napas panjang. "Kalian ini sungguh seperti anak-anak kecil saja. Menurut pelaporan,
perampok-perampok itu amat lihai sehingga para piauwsu Pouw-an-piauwkiok sampai banyak yang tewas, bahkan
Saudara Kui Beng Sin sendiri sampai terluka parah. Jangan kalian main-main, ini bukan urusan kecil."
Melihat wajah Lian Hong cemberut dan mendekati tangis karena kecewa mendengar pencegahan ayahnya itu, Thian Sin
segera berkata, "Paman, sayalah yang akan melindungi adik Lian Hong dan menjamin keselamatannya dan bertanggung
jawab kalau ada apa-apa menimpa dirinya!" Ucapannya itu dilakukan dengan penuh kesungguhan hati sehingga suami
dan dua orang isterinya itu diam-diam saling lirik. Juga Han Tiong terkejut mendengar pernyataan yang membayangkan keadaan hati adiknya itu, dan merasa tidak enak mendengar betapa adiknya itu hanya berjanji melindungi Lian Hong saja. Maka diapun cepat berkata dengan suara tenang.
"Benar, paman. Dan saya akan melindungi adik Bun Hong. Kami berdua yang menjamin keselamatan mereka."
Mendengar ucapan dua orang pemuda Lembah Naga itu, Bun Hong dan Lian Hong menjadi girang sekali. "Kami akan
berhati-hati, ayah!" kata Lian Hong.
"Kami hanya akan menonton Sin-ko dan Tiong-ko menundukkan penjahat, dan kalau perlu membantu," sambung Bun Hong.
Akhirnya, keluarga itu merasa tidak enak kalau menolak terus. Dua orang pemuda Lembah Naga itu siap untuk menghadapi penjahat, bahkan berjanji untuk melindungi dua orang anak mereka. Kalau mereka berkeras tidak membolehkan, bukankah hal itu membayangkan bahwa mereka takut kalau-kalau terjadi sesuatu menimpa diri anak mereka? Dan sikap seperti itu jelas tidak membayangkan kegagahan seorang pendekar!
"Baiklah, baiklah..." Akhirnya Ciu Khai Sun berkata dan dua orang anaknya itu girang sakali. Mereka lalu
berkemas karena dua orang pemuda Lembah Naga itu akan berangkat besok pagi-pagi sekali. Kebetulan sekali, Bun
Hong pernah ikut rombongan piauwsu melakukan perjalanan ke selatan, maka dia tahu di mana adanya lembah Sungai
Luai itu dan dapat bertindak sebagai penunjuk jalan.
***
Dua belas orang itu duduk melingkari api unggun yang besar. Malam itu amat dingin mereka lebih suka duduk di
luar mengelilingi api unggun besar daripada tidur di dalam pondok-pondok di mana mereka tidak dapat membuat api
unggun besar. Biarpun mereka itu tidak dapat tidur karena hawa dingin, namun mereka bergembira, minum-minum
arak sampai sepuas mereka dan makan daging panggang dan roti yang halus.
"Ha-ha-ha, sungguh sayang, di malam sedingin ini kita terpaksa harus tinggal sendirian di tempat dingin ini."
"Alangkah senangnya kalau kita bisa berada di kota ditemani oleh wanita cantik!"
Macam-macam ucapan keluar dari mulut mereka, diseling suara ketawa ringan, akan tetapi juga ucapan mereka
bernada kecewa karena mereka agaknya terpaksa bersembunyi di tempat sunyi dalam hutan di tepi sungai itu.
Dua orang yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, yang bersikap penuh wibawa dan jelas merupakan pimpinan
mereka, sedang menggerogoti paha kijang yang mereka panggang tadi.
"Hemm, mengapa kalian ini cerewet seperti nenek-nenek bawel saja?" tegur seorang di antara dua orang pemimpin
itu, yang tubuhnya tinggi besar seperti raksasa dan mukanya hitam. "Taijin (pembesar) hanya menyuruh kita
bersembunyi selama tiga hari tiga malam, dan kalian masih terus mengomel. Tinggal semalam ini dan besok kita
boleh pergi sesuka hati."
"Dengan hadiah uang yang memenuhi kantong, kalian akan dapat hidup seperti raja di kota, setiap malam ditemani
wanita cantik dan membeli apa saja yang kalian inginkan. Untuk semua itu, kita hanya diharuskan menyembunyikan
diri tiga hari, apa susahnya?" kata orang ke dua, yaitu pemimpin yang mukanya penuh brewok, akan tetapi
tubuhnya kecil kurus, sungguh tidak sepadan dengan mukanya yang menyeramkan.
"Maaf, kami tidak mengomel, hanya kedinginan," kata seorang anak buah.
"Ha-ha-ha, sungguh lucu kalau diingat tingkah piauwsu gendut itu. Kenapa twako (kakak tertua) tidak membunuhnya
saja seperti para piauwsu lainnya?"
Si Tinggi Besar itu minum araknya, lalu mengusap bibir dengan lengan baju dan berkata, "Enak saja kau bicara!
Si Gendut itu memiliki ilmu golok Go-bi-pai yang lumayan dan kita dikeroyok jumlah yang lebih besar. Sudah
untung kita berhasil melarikan kereta dan tidak seorangpun di antara kita yang terluka parah."
"Kalau tidak dikeroyok banyak, Si Gendut itu tentu telah mampus di tanganku!" kata pemimpin ke dua yang
bertubuh kecil dan mukanya brewok.
"Akan tetapi mengapa taijin menyuruh kita bersembunyi? Takut apa sih?" seorang anak buah bertanya.
"Orang bodoh macam engkau ini tahu apa? Barang-barang itu harus diselamatkan dulu sampai ke Sin-yang tanpa ada
yang tahu. Kalau sudah selamat, barulah keadaan benar-benar beres dan berhasil, dan kita boleh pergi
meninggalken tempat persembunyian ini. Sebelum lewat tengah malam ini, kita masih bertugas sebagai
perampok-perampok lembah Sungai Luai, ha-ha-ha!" Si Muka Hitam tinggi besar yang merupakan pimpinan pertama itu
tertawa dengan gembira sekali.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dengan penuh kegembiraan dua belas orang itu meninggalkan hutan. Akan
tetapi ketika tiba di tepi hutan, tiba-tiba mereka berhenti karena mereka melihat empat orang muda, yaitu tiga
orang pemuda dan seorang dara, berjalan memasuki hutan itu.
"Ah, dara itu cantik sekali, seperti bidadari!" kata Si Muka Hitam raksasa. "Patut kalau malam nanti menemani aku, ha-ha-ha!"
"Twako, ingat, mulai hari ini kita sudah bukan perampok-perampok lagi!" kata pemimpin ke dua memperingatkan kawannya.
"Sute, kau bodoh! Justeru sebelum kita meninggalkan hutan, berarti kita masih perampok dan munculnya mereka itu
sungguh kebetulan sekali. Kita serang dan lukai mereka, rampok pakaian dan bekal mereka, dan tentang gadis
itu... ha-ha, jangan khawatir, aku yang akan membawanya. Dengan demikian, tiga orang muda itu akan mengabarkan
bahwa kita memanglah perampok-perampok lembah Sungai Luai. Ha-ha, dan mereka boleh mencari-cari sampai mati
perampok-perampok itu yang tentu saja akan lenyap."
Semua orang setuju dan tertawa-tawa, dan mengikuti Si Tinggi Besar itu keluar dari hutan, dengan langkah lebar
menyambut empat orang muda yang datang dari luar hutan itu. Empat orang muda ini bukan lain adalah Han Tiong,
Thian Sin, Bun Hong dan Lian Hong!
Melihat belasan orang yang menyeringai dan bersikap kasar itu keluar dari dalam hutan, Han Tiong memberi
isyarat kepada saudara-saudaranya dan mereka berhenti dan menanti dengan sikap tenang. Matahari pagi telah
menerobos masuk melalui celah-celah daun pohon dan biarpun cuaca belum terlalu terang, akan tetapi mereka sudah
dapat melihat dengan jelas dua belas orang pria yang keluar dari dalam hutan itu. Yang berjalan di depan
sendiri adalah seorang pria tinggi besar seperti raksasa yang bermuka hitam bersama seorang laki-laki kecil
kurus yang tingginya sampai di pundak orang pertama, akan tetapi muka pria ke dua ini penuh brewok dan
kelihatan menyeramkan sekali. Akan tetapi yang mengherankan hati Han Tiong dan Thian Sin adalah kenyataan yang
nampak oleh pandang mata mereka yang tajam bahwa mereka itu bersikap kasar yang dibuat-buat agar mendatangkan
kesan bahwa mereka itu orang-orang kasar!
"Agaknya merekalah orang-orangnya," kata Thian Sin lirih.
"Mungkin, akan tetapi kita harus hati-hati dan jangan salah turun tangan terhadap orang lain," kata Han Tiong.
Kini dua belas orang itu telah tiba di depan mereka dan Si Tinggi Besar yang sejak tadi menatap dengan pandang
mata penuh kekurangajaran kepada Lian Hong, kini berdiri sambil bertolak pinggang, memandang mereka berempat
itu dan kembali pandang matanya berhenti pada wajah Lian Hong, kemudian tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, empat orang muda sungguh bernyali besar berani lewat di wilayah kekuasaan kami! Hayo cepat keluarkan
pajak jalan kalau kalian ingin selamat!" Si Tinggi Besar ini, walaupun lagaknya agak dibuat-buat, mencoba untuk
menirukan lagak seorang kepala rampok tulen.
Akan tetapi Ciu Bun Hong, sebagai putera seorang kepala piauwsu yang sudah sering juga ikut mengawal
barang-barang bersama para piauwsu dan sudah mengenal perampok-perampok dan lagak serta kebiasaan mereka,
memandang agak ragu-ragu kepada belasan orang itu. Sikap orang-orang ini bukan seperti sikap perampok-perampok
yang berkellaran di hutan-hutan dan biasa dengan kehidupan yang keras dan sukar.
Kulit mereka tidak kasar, rambut dan pakaian mereka terawat, hanya sikap mereka saja yang kasar dan seperti
lagak para perampok, akan tetapi sikap ini dapat ditiru atau dibuat-buat. "Mereka bukan perampok," bisiknya
kepada Thian Sin yang berdiri di dekatnya.
Sementara itu, Han Tiong yang mewakili rombongannya, sudah menghadapi Si Tinggi Besar itu, sikapnya tenang dan
dia memandang penuh selidik, meragu apakah gerombolan di depannya ini yang telah merampok barang-barang kawalan
Kui Beng Sin.
"Saudara-saudara yang gagah, kami tidak tahu apa yang kalian maksudkan. Kami adalah empat orang muda yang
sedang melancong, tidak mempunyai apa-apa yang berharga. Harap kalian suka membiarkan kami lewat."


Mendengar ucapan Han Tiong itu Si Tinggi Besar tertawa bergelak, diikuti oleh teman-temannya karena ucapan
pemuda yang kelihatan lemah itu mereka anggap sebagai tanda ketakutan, sungguhpun pada sikap empat orang muda
itu sama sekali tidak nampak tanda-tanda takut.
"Ha-ha-ha, kamipun tahu bahwa kalian hanyalah empat muda yang sederhana dan agaknya tidak memiliki apa-apa.
Akan tetapi kami melihat bahwa kalian membawa sesuatu yang amat berharga, yang tak dapat disamakan dengan
barang berharga apapun dan tak dapat terbeli dengan uang. Nah, kami menginginkan kalian meninggalkannya kepada
kami."
Han Tion mengerutkan alisnya. "Benda berharga? Apa yang kalian maksudkan? Kami tidak membawa apapun kecuali
sedikit uang untuk bekal membeli makan..."
Akan tetapi dua belas orang itu tertawa-tawa dan Si Tinggi Besar menudingkan telunjuknya ke arah Lian Hong
sambil berkata, "Apakah yang lebih berharga daripada nona manis ini? Kami tidak butuh uang, kami sendiri sudah
mempunyai cukup banyak, akan tetapi nona manis ini amat menarik hatiku, kalian harus meninggalkannya
untukku...!"
"Keparat bermulut busuk!" Tiba-tiba Thian Sin sudah meloncat ke depan dan berdiri dekat sekali di depan Si
Tinggi Besar itu, sepasang mata pemuda ini mengeluarkan sinar mencorong dan melihat ini, Si Tinggi Besar itu
terkejut juga. Akan tetapi karena dia memandang rendah kepada empat orang muda itu, maka diapun tidak menjadi
gentar, sebaliknya mentertawakan sikap Thian Sin.
"Engkau ini bocah kemarin sore hendak berlagak? Pilih saja, kalian tiga pemuda ini dapat melanjutkan perjalanan
dengan selamat akan tetapi meninggalkan gadis ini kepadaku, atau kami harus bunuh dulu kalian bertiga dan
merampas gadis ini dengan paksa."
"Iblis yang layak mampus!" Thian Sin sudah hendak menerjang dan menyerang dengan serangan maut, karena hatinya
telah dibakar oleh kemarahan hebat mendengar betapa orang kasar itu menghina Lian Hong, akan tetapi lengan
kirinya sudah dipegang dengan halus oleh Han Tiong. Thian Sin menoleh dan melihat sinar mata kakaknya,
kemarahannyapun lenyap, dan dia menarik napas panjang lalu melangkah mundur.
"Sobat," kata Han Tiong dengan tenang, "terus terang saja, kami berempat ini melancong sambil ingin mencari
gerombolan yang beberapa hari yang lalu telah merampas barang-barang yang dikawal oleh Pouw-an-piauwkiok di
Su-couw. Melihat tempat perampokan yang terjadi di hutan ini, apakah sobat sekalian yang telah melakukan
perampokan itu?"
Si Tinggi Besar mengangkat alisnya, memandang dengan mata terbelalak lalu bertukar pandang dengan para anak
buahnya. Akan tetapi, karena dia memang memandang rendah kepada empat orang itu, dia malah memberi isyarat
dengan tangannya dan belasan orang itu lalu mengepung empat orang muda ini dari berbagai penjuru karena
pertanyaan Han Tiong tadi membuktikan bahwa empat orang muda itu adalah musuh-musuh yang datang berhubungan
dengan perampokan itu.
"Ha-ha-ha, kiranya kalian datang untuk barang-barang itu? Wah, kalau begitu kalian tak boleh pergi lagi dari
sini dan menjadi tawanan kami!" kata Si Tinggi Besar.
"Sobat, kalian telah melakukan sesuatu yang keliru besar. Bukankah Kui-piauwsu yang memimpin Pouw-an-piauwkiok
selalu bersikap baik terhadap orang-orang kang-ouw? Kenapa kalian telah mengganggunya dan dengan demikian
merusak perhubungan baik antara para piauwsu dan orang-orang di kalangan liok-lim? Harap kalian suka
menyerahkan kembali barang-barang itu kepada kami dan tentu kami akan membalas budi itu dan Pouw-an-piauwkiok
akan kami anjurkan untuk mengirim sumbangan kepada kalian." Han Tiong bersikap tenang dan sabar. Hal ini amat
menjengkelkan hati Thian Sin yang menganggap tidak semestinya kakaknya bersikap demikian mengalah dan lunaknya
terhadap orang-orang jahat seperti perampok-perampok ini yang bukan hanya telah merampas barang-barang kawalan
Pouw-an-piauwkiok, akan tetapi bahkan telah menghina Lian Hong. Akan tetapi diam-diam Bun Hong dan Lian Hong
merasa kagum akan sikap Han Tiong itu. Sebagai putera puteri ketua piauw-kiok, tentu saja mereka tahu betapa
pentingnya sikap Han Tiong itu. Betapapun juga, akan jauh lebih baik bagi para piauwsu untuk mengikat semacam
hubungan yang baik dengan orang-orang di kalangan liok-lim (perampok dan bajak) dan kang-ouw, karena kalau
sampai terjadi ikatan permusuhan, tentu pekerjaan mereka tidak akan pernah aman lagi. Tentu saja kalau sudah
tidak dapat ditempuh jalan damai, barulah mengandalkan kepandaian untuk menundukkan para penjahat itu.
"Ha-ha-ha, kami telah mengambil barang-barang itu dengan tenaga dan kepandaian. Apakah kalian empat orang muda
ini datang hendak mengambilnya begitu mudah, dengan kata-kata manis belaka? Kami telah mengambil dengan
kepandaian, dan siapapun jangan harap dapat mengambil dari kami tanpa lebih dulu mengalahkan kami!" kata Si
Tinggi Besar dengan sikap congkak.
"Aku akan merampasnya dengan kepandaianku!" Tiba-tiba Thian Sin berseru lagi dengan suara penuh tantangan.
"Tentu saja kalau kau berani melawanku, manusia busuk!"
Mendengar tantangan ini, tentu saja kepala perampok itu menjadi marah sekali. Dia menganggap Thian Sin amat
lancang, tidak seperti pemuda pertama yang bersikap halus dan sopan kepadanya. "Keparat, engkau bocah kemarin
sore sungguh bermulut besar. Tentu saja aku berani melawanmu, dan bagaimana kalau dalam beberapa jurus engkau
kalah?" tanyanya dengan nada mengejek.
Thian Sin tersenyum untuk menekan kemarahannya. Dia sudah tenang lagi sekarang, dan dia merasa betapa bodohnya
dapat dipancing kemarahannya tadi. Akan tetapi diapun maklum bahwa kemarahannya itu terutama sekali adalah
karena mendengar betapa Lian Hong dihina oleh orang itu.
"Kalau aku kalah, aku menyerahkan nyawaku kepadamu."
"Ha-ha, tidak begitu mudah. Aku bukannya orang yang suka membunuh orang muda. Kalau kau kalah, engkau akan
menjadi tawananku, juga dua orang muda lainnya itu, sedangkan gadis ini... hemm, biarlah dia menjadi tamuku
yang baik, ha-ha-ha!"
"Majulah dan jangan banyak bicara!" Thian Sin membentak karena dia sudah marah lagi mendengar betapa kepala
rampok itu kembali telah menghina Lian Hong.
Sambil ketawa kepala perampok itu sudah menggulung lengan bajunya, memperlihatkan dua buah lengan yang besar
dan berotot tanda bahwa dua batang lengan itu kuat sekali. Akan tetapi sebelum mereka bergerak, Lian Hong sudah
berkata dengan suara nyaring, "Sin-ko, karena dia telah menghinaku, biarkan aku menghadapinya!"
Thian Sin juga maklum bahwa gadis itu telah memiliki kepandaian yang lumayan karena ayahnya yang melatihnya
sendiri adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang lihai. Pula, dia tidak ingin mengecewakan hati Lian Hong, maka
diapun melangkah mundur dan membiarkan gadis itu maju untuk menghadapi kepala perampok itu.
Han Tiong mengerutkan alisnya, merasa khawatir, akan tetapi diapun merasa tidak enak kalau melarang, karena
melarang akan bisa menimbulkan salah faham dan bisa disangka memandang rendah dan tidak percaya kepada gadis
itu. Maka diapun hanya berkata, "Hati-hatilah Hong-moi."
Sementara itu, kepala perampok tinggi besar itu girang bukan main melihat majunya gadis yang sejak tadi telah
membuat dia tergila-gila itu. "Bagus, engkau hendak menyerahkan diri ke dalam pelukanku sekarang juga? Mari,
mari... nona manis, ha-ha-ha!"
Dengan marah Lian Hong sudah menerjang maju dan mengirim pukulan ke arah leher orang tinggi besar itu. Pukulan
dara ini cukup mantap dan keras sehingga Si Tinggi Besar yang memiliki kepandaian tinggi itu maklum akan
bahayanya pukulan lawan dan biarpun sikapnya memandang ringan, akan tetapi ternyata gerakannya cepat sekali,
dan sambil mengelak, kakinya telah menyambar dan menendang ke arah lutut Lian Hong. Sungguh gerakan yang cukup
bagus, cepat dan berbahaya sehingga mengejutkan hati Bun Hong yang mengkhawatirkan keselamatan adiknya. Akan
tetapi, dengan cekatan Lian Hong dapat meloncat dan menyelamatkan lututnya, dan membalas dengan pukulan
berbahaya ke arah lambung dari samping. Akan tetapi dengan mudahnya kepala rampok itu menangkis dan
menggerakkan tangan untuk mengubah tangkisan menjadi cengkeraman untuk menangkap lengan gadis itu. Akan tetapi,
dengan memutar pergelangan tangannya, gadis itu mampu menghindarkan lengannya untuk ditangkap.
Perkelahian itu terjadi semakin seru dan Liang Hong yang maklum akan kepandaian kepala perampok yang telah
mengalahkan dan melukai Kui Beng Sin dan anak buahnya ini, mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan
seluruh kepandaian silat yang pernah dipelajarinya dari ayahnya.
Akan tetapi, tiga puluh jurus kemudian, nampaklah bahwa Lian Hong bukan lawan kepala perampok itu. Jelas bahwa
dia kalah tenaga dan biarpun dalam hal kecepatan dara ini tidak kalah, namun kekalahan tenaga itu membuat ia
repot sekali. Setiap kali lengan mereka beradu, tubuh dara itu terhuyung dan kedua lengannya terasa nyeri dan
di balik bajunya, kulit lengannya telah menjadi matang biru semua! Melihat adiknya terdesak hebat seperti itu,
Bun Hong tak dapat tinggal diam lagi dan diapun meloncat dan menyerang kepala rampok itu.
Melihat ini, si kepala rampok tertawa dan berseru kepada kawan-kawannya, "Hayo tangkap mereka semua, ha-ha-ha!"
Akan tetapi, sungguh ia terkejut bukan main ketika melihat betapa empat orang teman-temannya yang maju hendak
menerjang Thian Sin dan Han Tiong, tiba-tiba saja terjengkang ke belakang begitu dua orang muda itu
menggerakkan tubuh mereka!
"Hong-moi, tinggalkan babi hutan ini, biar aku yang menghajarnya." kata Thian Sin yang sudah meloncat ke depan
dan menghadapi Si kepala perampok. "Bun Hong-te, hadapi saja anak buahnya, babi ini bagianku!" katanya pula
kepada Bun Hong.
Karena melihat betapa kepala perampok itu memang lihai sekali, Bun Hong dan Lian Hong lalu meloncat mundur dan
mereka siap untuk menghadapi para anak buah perampok yang sudah mengepung mereka.
Kepala perampok itu kini maklum bahwa empat orang muda yang datang ini adalah orang-orang muda yang lihai dan
agaknya memang mereka berempat itu merupakan jagoan-jagoan yang didatangkan oleh pihak Pouw-an-piauwkiok untuk
merampas kembali barang-barang kawalan itu. Maka diapun lalu mencabut sebatang golok besar dari punggungnya dan
perbuatannya ini ditiru oleh semua anak buahnya yang masing-masing kini telah memegang sebatang golok yang
tajam. Kepala perampok itu tidak mau main-main lagi sekarang, maklum akan keadaan lawan yang tangguh, maka
diapun berteriak, "Bunuh tikus-tikus muda ini, tapi sedapat mungkin tangkap yang wanita!"
Akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Thian Sin yang sudah marah itu kini telah
menerjangnya dengan dahsyat sekali. Si Tinggi Besar itu cepat menyambut serangan lawan yang bertangan kosong
dengan goloknya, menyambut dengan bacokan golok ke arah kepala Thian Sin sambil berteriak menyeramkan.
"Plakkkkk! Dess...!" Si Tinggi Besar berseru kaget karena tangkisan Thian Sin yang disertai tamparan itu telah
membuat dia terhuyung dan hampir saja goloknya terlepas dari pegangannya. Hampir dia tidak dapat percaya akan
hal ini! Mana mungkin pemuda itu menangkis golok besarnya dengan tangan kosong saja malah berbalik menamparnya
dengan sedemikian dahsyatnya sehingga sekali gebrakan saja hampir membuatnya roboh? Sementara itu, belasan
orang itu telah mengepung dan menyerang, akan tetapi mereka berhadapan dengan Han Tiong yang begitu
menggerakkan kaki tangannya telah menahan mereka, merobohkan mereka dan golok-golok mereka terpelanting ke
sana-sini. Rata-rata belasan orang itu memiliki kepandaian yang cukup tangguh, akan tetapi, menghadapi Han
Tiong tentu saja mereka ini merupakan lawan yang terlalu lunak. Hanya dua orang kakak beradik Ciu itu yang
merupakan lawan seimbang dan mereka sudah melawan dua orang perampok yang berusaha untuk merobohkan mereka,
namun dua orang muda ini telah mengeluarkan sebatang pedang dan melawan dengan pedang mereka dengan gigih.
Perkelahian antara kepala perampok dan Thian Sin tidak berlangsung terlalu lama. Kalau saja dia tidak sungkan
kepada kakaknya yang telah meneriakinya agar dia jangan membunuh orang, tentu dalam satu gebrakan saja Thian
Sin akan mampu merobohkan lawan dan menewaskannya. Dia membiarkan kepala perampok itu menghujaninya dengan
serangan golok bertubi-tubi, setelah lewat beberapa jurus, barulah dia membiarkan golok itu lewat dekat
kepalanya dan dia hanya sedikit miringkan tubuhnya kemudian sekali tangan kirinya menyambar, dia sudah berhasil
menangkap siku tangan kanan lawan yang memegang golok.
Tangkapannya itu seperti sepasang jepitan baja yang amat kuat sehingga si kepala perampok berteriak kesakitan
karena tiba-tiba saja lengannya terasa lemas dan lumpuh dan sambungan tulang sikunya seperti remuk. Namun dia
masih menggerakkan tangan kiri untuk mencengkeram ke arah kepala Thian Sin. Pemuda ini membiarkan tangan lawan
sampai dekat, kemudian tangan kanannya menyambut dan dua tangan itu saling cengkeram. Terdengar suara
berkerotokan, dan akibatnya, tulang-tulang jari tangan kiri kepala perampok itu ketika dicengkeram jari-jari
tangan kanan Thian Sin, menjadi patah-patah. Rasa nyeri seperti ujung pedang karatan menusuk jantung, membuat
kepala perampok itu menjerit-jerit seperti babi disembelih! Terdengar bunyi "krek-krekk!" dan ketika Thian Sin
mendorong tubuh kepala perampok itu terguling dan dia bergulingan dan berkelojotan karena rasa nyeri yang amat
sangat terasa oleh kedua tangannya. Jari-jari tangan kirinya remuk-remuk dan sambungan tulang siku kanannya
terlepas! Goloknya terlempar entah ke mana.
Sementara itu, biarpun dengan lebih lunak, Han Tiong juga sudah merobohkan enam orang perampok yang tidak
mungkin dapat melawan lagi karena mereka itu roboh dengan kaki atau tangan yang patah tulangnya. Empat orang
masih mengeroyoknya dan dua orang lagi masih bertanding melawan Bun Hong dan Lian Hong, akan tetapi keadaan dua
orang inipun sudah terdesak hebat. Thian Sin yang baru saja merobohkan si kepala rampok, kini cepat bergerak
membantu dan dengan dua kali tendangan saja dia sudah merobohkan dua orang lawan Bun Hong dan Lian Hong,
sedangkan bersama Han Tiong dia merobohkan empat orang sisa perampok. Kini, dua belas orang perampok itu sudah
rebah semua tak dapat bangkit kembali. Peristiwa ini terlalu cepat dan mengejutkan sehingga di samping rasa
nyeri yang mereka derita, juga mereka itu masih belum pulih dari rasa kaget dan heran sehingga mereka memandang
kepada empat orang muda itu dengan mata terbelalak, juga dengan sikap takut-takut! Tahulah mereka bahwa mereka
berhadapan dengan empat orang pendekar muda, dan terutama dua orang pendekar yang sakti!
"Hemm, sudah kami katakan bahwa perbuatan kalian merampok barang kawalan Pouw-an-piauwkiok adalah perbuatan
bodoh. Nah, sekarang di mana adanya barang-barang itu?" Han Tiong berkata kepada kepala perampok yang masih
merintih-rintih kesakitan itu.
Akan tetapi kepala perampok itu hanya mendelik saja dan tidak menjawab. Agaknya dia sudah nekad dan hendak
menebus kekalahan itu dengan tutup mulut dan tidak mau menyerahkan kembali barang-barang rampasan itu!
"Biar kupaksa dia, Tiong-ko!" Thian Sin melangkah maju menghampiri kepala perampok itu, akan tetapi kembali Han
Tiong mencegahnya.
"Sin-te, orang nekad seperti dia percuma juga dipaksa bicara. Bukankan dia sudah cukup tersiksa dan tetap saja
dia tidak mau bicara?"
Thian Sin maklum juga akan hal ini. Kalau tadi dia memilih si kepala rampok untuk disiksanya adalah karena
hatinya masih panas mengingat betapa kepala rampok itu tadi menghina Lian Hong dengan kata-kata kotor. Maka
diapun lalu menghampiri para anak buah perampok dan memilih di antara mereka seorang perampok yang mukanya
pucat ketakutan, tubuhnya sudah menggigil ketika Thian Sin menghampirinya. Perampok ini tadi roboh oleh
tendangan kaki Thian Sin yang membuat tulang kering kakinya patah dan membuat dia tidak mampu bangkit berdiri lagi.
"Nah, katakan di mana barang-barang rampokan itu kalau kau tidak ingin kakimu yang sebelah lagi juga kupatahkan
tulangnya!" kata Thian Sin dengan suara dingin dan sinar matanya mencorong menyeramkan.
"Tapi... tapi..." orang itu berkata denga ketakutan dan menoleh kepada kepala rampok yang mendelik kepadanya itu.
Tahulah Thian Sin bahwa anak buah perampok itu takut kepada kepalanya, maka diapun tersenyum mengejek dan
berkata, "Dengar baik-baik, perlu apa kau takuti dia yang sudah tak berdaya itu? Dia tidak dapat mengganggumu
lagi, akan tetapi aku dapat! Dan ingat apa yang akan kulakukan padamu. Tidak hanya mematahkan dua batang tulang
kakimu, juga dua tulang lenganmu, kemudian kupatahkan kedua tulang pundakmu, kubuntungi dua telingamu dan
hidungmu. Lihat, sesudah itu apakah engkau masih dapat disiksa yang lebih hebat lagi." Dan Thian Sin meraba
kaki kanan orang itu yang belum patah tulangnya, mengerahkan sin-kangnya sehingga tampak tangannya terasa
dingin menembus celana kaki kanan itu. Orang itu menarik kakinya seperti disengat binatang berbisa dan mukanya
menjadi lebih pucat lagi.
"Tidak... jangan..."
"Katakan di mana barang-barang itu! Jangan kira kalau tidak diberi tahu kami tak dapat mencari dan
menemukannya!"
"Di dalam... gua... di dalam hutan ini..."
"Di mana letaknya itu?" bentak Thian Sin.
"Sin-ko, aku tahu di mana letak gua dalam hutan ini. Mari!" kata Bun Hong. Thian Sin mengangguk dan memandang
kepada Han Tiong.
"Pergilah, Sin-te. Kau dan Bun Hong pergi mencari barang-barang itu dan aku akan menjaga dan mengurus mereka
ini."
"Aku akan membantumu, Tiong-ko." kata Lian Hong. Thian Sin memandang kecewa karena dia ingin agar gadis itu
tidak pernah berpisah lagi dari sampingnya. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah dan diapun
mengajak Bun Hong mencari gua itu. Mereka memasuki hutan tak lama kemudian tibalah mereka di depan sebuah gua di mana terdapat dua orang penjaga. Dua orang perampok yang melihat munculnya dua orang pemuda itu, menjadi terkejut dan segera mereka mencabut golok.
Akan tetapi, hanya dengan dua kali gerakan saja, Thian Sin telah membuat mereka roboh dan pingsan. Melihat ini,
Bun Hong kagum bukan main dan diam-diam dia merasa ngeri juga menyaksikan sepak terjang Thian Sin dan tahulah
dia bahwa pemuda ini sungguh memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Akan tetapi diapun tahu bahwa pemuda
ini juga seorang yang memiliki hati yang ganas terhadap penjahat, tanpa mengenal ampun, sungguh wataknya
menjadi kebalikan dari watak Han Tiong yang selalu tenang, sabar dan penuh kebijaksanaan itu.
Setelah mereka memasuki gua, benar saja, di dalam gua yang besar itu terdapat dua gerobak barang-barang itu,
dan mereka berdua bahkan berhasil menemukan beberapa ekor kuda tak jauh dari gua. Thian Sin dan Bun Hong lalu
bekerja cepat. Mereka menangkap beberapa ekor kuda itu, lalu memasang mereka di depan kereta dan melemparkan
tubuh dua orang perampok yang pingsan itu ke atas kereta, kemudian membawa dua buah kereta itu ke tempat di
mana terjadi pertempuran tadi. Ketika mereka tiba di situ, mereka melihat betapa Han Tiong dibantu oleh Lian
Hong sibuk merawat para perampok itu! Dengan ilmunya yang tinggi, Han Tiong telah mengobati mereka dengan
totokan-totokan dan bahkan menyambung tulang-tulang yang patah, dan membalut kaki dan tangan yang patah
tulangnya. Melihat ini, Thian Sin meloncat turun dari kereta dan menghampiri kakaknya dengan alis berkerut.
"Tiong-ko, mengapa kaulakukan itu? Bahkan minta kepada Hong-moi untuk membantumu? Sungguh tidak pantas
manusia-manusia binatang ini ditolong, apalagi oleh tangan Hong-moi, Sepatutnya mereka ini dibasmi dan dibunuh
saja!"
Han Tiong tersenyum dan bangkit berdiri. "Sin-te, jangan begitu. Bagaimanapun juga, mereka ini adalah
manusia-manusia dan yang jahat hanyalah perbuatan mereka yang mereka lakukan karena kegelapan batin mereka.
Merekapun dapat menderita seperti kita, mana mungkin aku dapat membiarkan saja mereka merintih dan mengeluh?"
Thian Sin makin tidak puas dengan jawaban itu. "Habis, mereka ini mau diapakan? Kalau kita yang kalah tadi,
kiranya mereka tidak akan mau peduli kepada kita, bahkan mungkin mereka akan membunuh kita, dan Hong-moi... ah,
mereka akan melakukan hal-hal yang lebih jahat lagi!"
Han Tiong menarik napas panjang. "Mungkin saja mereka lakukan itu, akan tetapi kita bukan mereka dan kita tidak
akan melakukan hal-hal yang seperti mereka. Inilah yang membedakan antara orang-orang sadar dan orang tidak
sadar, Sin-te, antara orang yang dikuasai nafsu kejahatan dan orang yang tidak membiarkan diri diseret nafsu."
"Lalu mereka ini mau diapakan?" desak Thian Sin.
"Kita bawa ke kota, kita serahkan kepada yang berwajib. Bukankah demikian semestinya? Biarlah yang berwajib
yang akan menghukum mereka, bukan kita yang akan menghukum mereka."
Perdebatan antara dua orang muda itu diperhatikan oleh semua perampok, dan terutama sekali amat diperhatian
oleh Lian Hong. Juga Bun Hong dapat melihat perbedaan besar antara dua orang muda yang memiliki kepandaian
hebat itu.
Semua perampok digiring ke kota Su-couw. Yang hanya luka dan patah tulang tangannya, diharuskan berjalan kaki,
akan tetapi yang tidak dapat berjalan karena tulang kakinya patah, dinaikkan ke atas gerobak yang ditarik oleh
kuda-kuda itu dan empat orang muda itu mengawalnya dari depan dan belakang. Di sepanjang perjalanan, para
penghuni dusun menyambut rombongan aneh ini dan sebentar saja tersiarlah berita bahwa empat orang muda itu
telah menangkap segerombolan perampok dan merampas kembali barang-barang yang dirampok.
Di kota Su-couw, mereka menyerahkan para penjahat kepada pembesar setempat dan mereka disambut dengan penuh
kehormatan dan kegembiraan oleh Kui Beng Sin yang mengerahkan semua anak buah Pouw-an-piauwkiok. Empat orang
muda itu, terutama Han Tiong dan Thian Sin, disambut dengan sorak-sorai, dengan puji-pujian dan Kui Beng Sin
seperti melupakan luka-luka di tubuhnya saking gembiranya melihat barang kawalan itu dapat dirampas kembali.
Apalagi ketika dia melihat dan mendapat keterangan bahwa yang menolongnya adalah putera Cia Sin Liong dan Ceng
Han Houw, kegembiraannya membuat dia menitikkan air matanya dan dia merangkul Han Tiong dengan girang sekali.
"Ah, kiranya putera Sin Liong jugalah yang menyelamatkan aku dan keluargaku!" katanya dengan bangga sekali. Ciu
Khai Sun yang mendengar akan hasil dua orang pemuda bersama dua orang putera-puterinya itu segera menyusul ke
Su-couw bersama isteri-isterinya dan pertemuan di antara mereka di rumah Kui Beng Sin sungguh merupakan
pertemuan yang amat menggembirakan.
Malam itu juga, Kui Beng Sin mengadakan pesta keluarga untuk menyambut usaha yang amat berhasil dari empat
orang muda itu, dan dalam kesempatan ini, Kui Beng Sin juga mengundang Phoa-taikin, yaitu pembesar di Su-couw
yang mempunyai barang-barang berharga yang telah dirampok dan berhasil dirampas kembali itu. Undangan terhadap
Phoa-taijin ini juga dimaksudkan untuk memberi selamat kepada pembesar itu yang memperoleh kembali
barang-barangnya kembali, juga untuk menyerahkan kembali barang-barangnya karena belum sampai terkirim ke
Sin-yang.
Ruangan lebar yang biasanya dipakai untuk tempat berlatih silat itu, di bagian belakang rumah Kui Beng Sing
telah dihias dengan meriah dan tempat itu nampak bersih dan rapi. Beberapa meja ditempatkan di ruangan itu,
mengelilingi sebuah meja besar yang merupakan meja pusat, di mana Kui Beng Sin akan menjamu tamu-tamunya yang
terdiri dari keluarga Ciu dari Lok-yang, lalu dua orang pemuda pendekar yang telah berjasa itu, kemudian
Phoa-taijin yang kedatangannya masih sedang ditunggu.
Para anak buah Pouw-an-piauwkiok juga ikut berpesta, dan mereka itu duduk melingkari meja-meja yang lain,
dengan sikap gembira, akan tetapi juga hormat karena di tengah-tengah ruangan itu terdapat keluarga majikan
atau ketua mereka sedang menjamu tamu-tamu agung itu.
Akhirnya, tamu yang ditunggu-tunggu, Phoa-taijin, datang juga, diiringkan oleh dua orang pengawalnya.
Phoa-taijin adalah seorang pembesar yang terkenal di kota Su-couw, sebagai seorang pembesar yang kaya raya dan
juga terkenal suka memberi sumbangan kepada semua golongan. Dia dikenal sebagai seorang pembesar kaya raya yang
dermawan! Orang tidak mau lagi peduli dari mana pembesar itu memperoleh kekayaannya yang besar. Bagi
orang-orang itu, apalagi yang menerima sumbangan langsung, tidak mau tahu lagi dari mana kekayaan si penyumbang
didapatkan. Dari manapun datangnya harta yang disumbangkan, seorang penyumbang akan dipuji-puji sebagai seorang
dermawan yang baik hati! Padahal, kalau orang mau menaruh perhatian dan menyelidiki, tentu dia akan merasa
heran bukan main bagaimana seorang yang menjadi pembesar dapat mengumpulkan kekayaan yang demikian melimpah,
padahal kalau melihat dari hasilnya sebagai pejabat, biar dia bekerja sampai seratus tahun sekalipun, hasil
dari gajinya belum dapat menyamai jumlah seperseratus jumlah kekayaannya yang terkumpul bukan dari hasil
kerjanya itu.
Memang Phoa-taijin seorang yang pandai sekali, bukan hanya pandai mengumpulkan kekayaan, akan tetapi juga
pandai mengambil hati orang-orang sehingga dia memperoleh nama sebagai seorang pembesar yang baik dan berhati
dermawan. Dia muncul di ruangan itu dengan wajah cerah, mulutnya tersenyum lebar dan pandang matanya
berseri-seri. Dia disambut dengan sopan dan gembira oleh Kui Beng Sin dan isterinya. Juga Ciu Khai Sun dan dua
orang isterinya bangkit berdiri memberi hormat karena biarpun dia tinggal di Lok-yang, namun sebagai seorang
ketua piauwkiok yang terkenal, tokoh Siauw-lim itu tentu saja mengenal pembesar yang cukup terkenal di daerah
Propinsi Ho-nan ini.
Phoa-taijin membalas penghormatan mereka sambil tertawa gembira dan diapun memandang kepada Ciu Khai Sun, lalu
berkata, "Ah, Ciu-piauwsu juga telah hadir di sini! Kami mendengar bahwa barang-barang kami itu berhasil
dirampas kembali berkat keluarga Ciu-piauwsu di Lok-yang, benarkah itu?" Dia melirik ke arah Thian Sin dan Han
Tiong, lalu disambungnya. "Kami mendengar dari Ji-ciangkun yang menerima dan menahan para perampok itu." Yang
disebut Ji-ciangkun adalah pembesar penjaga keamanan yang telah menerima penyerahan para perampok oleh empat
orang muda itu.
"Ah, sesungguhnya saya tidak berjasa, dan kedua anak sayapun hanya ikut saja, taijin," kata Ciu Khai Sun
merendah. Kui Beng Sin tertawa.
"Taijin, yang berjasa adalah dua orang keponakan kami inilah!" Dia menunjuk kepada Thian Sin dan Han Tiong yang
tadi telah memberi hormat dan kini telah duduk kembali. "Ketahuilah, taijin, mereka ini adalah
keponakan-keponakan saya yang gagah perkasa. Ini adalah Cia Han Tiong, putera dari saudara tiri saya yaitu
Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong! Dan seorang ini adalah muridnya, yaitu bernama Ceng Thian Sin. Taijin tentu
tidak tahu siapa dia ini! Dia adalah putera dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang namanya pernah
menggemparkan dunia persilatan itu!"
Baik Ciu Khai Sun maupun Han Tiong telah memberi isyarat kepada Beng Sin agar tidak memberitahukan hal itu,
namun agaknya piauwsu gendut itu tidak sadar akan hal ini. Dia terlalu bersyukur, berterima kasih dan
bergembira sehingga dia memperkenalkan dua orang muda yang dibanggakannya itu, lupa bahwa pembesar itu adalah
"orang luar" dan bahwa nama Ceng Han Houw bukanlah sembarangan nama yang boleh diumumkan begitu saja, mengingat
keadaannya ketika masih hidupnya. Pangeran itu adalah seorang yang bukan hanya menggegerkan dunia kang-ouw,
akan tetapi bahkan menggegerkan pemerintah dan kota raja, dan sebagai seorang pemberontak malah! Maka, amat
tidaklah enak untuk memperkenalkan putera pangeran itu!
Akan tetapi, Kui Beng Sin telah menceritakan hal itu, semua telah terjadi dan Thian Sin hanya duduk dengan
tenang. Juga pembesar itu tidak memperlihatkan sikap lain, kecuali membelalakkan kedua matanya memandang kepada
dua orang muda itu dan berseru. "Ah, siapa kira dua orang muda remaja ini telah memiliki kepandaian yang
demikian hebatnya."
Pesta itu berlangsung dengan gembira dan ketika Kui Beng Sin menyampaikan kembali barang-barang milik pembesar
she Phoa itu, Phoa-taijin mengucapkan terima kasih dan biarpun barang-barang itu belum dikirim ke tempat
tujuan, yaitu Sin-yang, namun pembesar itu merasa girang bahwa tidak ada sedikitpun di antara barang itu yang
hilang. Phoa-taijin minta agar barang-barang itu besok dikembalikan ke gudangnya dan dia tidak lupa untuk
memberi hadiah kepada Pouw-an-piauwkiok.
***
Beberapa hari kemudian, Han Tiong dan Thian Sin berpamit dari keluarga Ciu untuk pulang ke utara. Ciu Khai Sun
telah mempersiapkan surat balasan untuk Cia Sin Liong dan menyerahkan surat itu kepada Han Tiong yang segera
menyimpannya dalam bungkusan pakaiannya. Merekapun menerima pemberian kuda-kuda yang cukup baik dari keluarga
Ciu dan mereka berdua diantar sampai ke tepi kota oleh Ciu Bun Hong dan Ciu Lian Hong.
"Hong-te dan Hong-moi, terima kasih atas semua kebaikan kalian. Selamat tinggal, cukup kalian mengantar sampai
di sini saja," kata Han Tiong setelah mereka tiba di batas kota.
"Hong-te, terima kasih dan selamat berpisah, Hong-moi... kuharap... kita akan dapat saling bertemu kembali
dalam waktu dekat..." kata Thian Sin sambil memandang wajah dara itu dan suaranya terdengar mengandung nada
bersedih oleh perpisahan yang amat memberatkan hatinya itu.
"Tiong-ko, Sin-ko, selamat jalan dan selamat berpisah," kata kakak beradik itu dan ketika dua orang pemuda itu
meloncat ke atas punggung kuda dan mulai menjalankan kuda mereka meninggalkan tempat itu, kakak beradik ini
melambaikan tangannya sampai dua orang pemuda itu lenyap di sebuah tikungan. Melihat adiknya masih melambaikan
tangan seperti orang yang merasa sukar sekali untuk melepaskan mereka pergi, Bun Hong berkata sambil tersenyum,
"Tiong-ko tidak akan lama pergi, tentu akan segera ada kabar dari keluarga Cia."
Lian Hong terkejut dan sadar bahwa dia masih melambaikan tangannya. Mukanya yang cantik itu berubah merah
sekali dan dia lalu mencubit lengan kakaknya. "Ih, siapa yang mengharap-harap kedatangannya?"
Bun Hong hanya tertawa akan tetapi dia tahu bahwa adiknya ini telah jatuh cinta kepada Han Tiong dan dia merasa
setuju dan gembira sekali karena diapun lebih suka kalau adiknya menjadi isteri Han Tiong daripada kalau
adiknya memilih Thian Sin. Memang harus diakuinya bahwa dalam hal ketampanan wajah dan daya tariknya sebagai
seorang pria, Thian Sin lebih tampan dan lebih menarik. Akan tetapi, dia melihat betapa Thian Sin berwatak
ganas dan bahkan kejam terhadap musuh, sedangkan Han Tiong memiliki watak yang amat mengagumkan hatinya, watak
seorang pendekar budiman tulen! Maka dia yang diberi tugas oleh ayah bundanya untuk mengamat-amati sikap Lian
Hong terhadap dua orang pemuda itu, melaporkan apa adanya dan Ciu Khai Sun lalu memberi surat kepada Cia Sin
Liong bahwa keluarga mereka menyetujui kalau Lian Hong dijodohkan dengan Cia Han Tiong.
Ketika mereka meninggalkan kota Lok-yang, di sepanjang jalan Thian Sin tiada hentinya membicarakan tentang
kebaikan keluarga itu, terutama sekali kebaikan Lian Hong. Antara lain dia berkata, "Lian-moi sungguh seorang
gadis yang amat hebat! Dia memiliki ilmu silat yang sudah cukup tinggi di antara gadis-gadis lainnya, dan
diapun gagah berani. Ingat saja ketika kita menyerbu gerombolan di hutan itu!"
Han Tiong hanya tersenyum, akan tetapi diam-diam hatinya merasa agak gelisah. Harus diakuinya bahwa dia jatuh
cinta kepada Lian Hong, dan dia melihat dengan jelas pula betapa adiknya inipun mencinta mati-matian kepada
dara itu! Melihat betapa kakaknya diam saja, Thian Sin segera menoleh, memandangnya dan berkata, "Bagaimana
pendapatmu, Tiong-ko?" Thian Si menatap tajam wajah kakaknya karena diam-diam diapun mempunyai dugaan bahwa
kakaknya ini kelihatan tertarik dan amat kagum kepada dara itu.
"Maksudmu?" Han Tiong berbalik mengajukan pertanyaan karena sungguhpun dia sudah mengerti maksudnya, namun dia
tidak dapat segera menjawab dan merasa gugup.
"Eh, kau sedang melamunkan apa sih, Tiong-ko sehingga tidak mengerti apa yang kutanyakan? Aku tadi bicara
tentang Hong-moi dan aku menanyakan pendapatmu tentang Hong-moi."
"Apa? Hong-moi...? Ah, dia seorang gadis yang baik sekali, mengapa?"
"Tidak apa-apa, Tiong-ko, hanya aku membayangkan betapa akan bahagianya seorang pria kelak yang dapat menjadi
suaminya."
Wajah Han Tiong menjadi merah karena ucapan itu dengan tepat menusuk hatinya. Tepat sekali seperti apa yang
sering dia renungkan tentang diri Lian Hong. "Ah, engkau ini aneh-aneh saja, Sin-te. Setiap orang suami dari
wanita manapun juga tentu akan berbahagia sekali kalau dia menikah dengan wanita yang dicintanya dan juga yang
mencintanya."
Agaknya karena ada sesuatu yang menahan perasaan hati mereka di Lok-yang, maka biarpun mereka melakukan
perjalanan dengan kuda, namun perjalanan itu amatlah lambatnya. Mereka itu seperti dua orang pemuda yang sedang
pesiar saja, menjalankan kuda mereka seenaknya, atau bahkan nampak seolah-olah mereka tidak rela meninggalkan
Lok-yang. Dan memang sejak tadi, bayangan Lian Hong seolah-olah melambaikan tangan dan seperti terdengar suara
merdu dara itu memanggil mereka agar kembali ke Lok-yang, atau agar tidak meninggalkannya.
Seperti orang kehilangan sesuatu, dua orang pemuda itu tidak begitu bersemangat melakukan perjalanan dan hari
mulai sore ketika mereka berhenti di sebuah dusun dan bermalam di sebuah rumah penginapan sederhana. Setelah
makan sore yang sederhana pula di dusun itu, mereka beristirahat. Padahal, bukan tubuh mereka yang lelah,
melainkan semangat mereka yang padam atau seperti tertinggal di dekat Lian Hong. Bahkan tak lama kemudian
merekapun nampaknya sudah tidur dan tidak terdengar bercakap-cakap lagi di dalam kamar mereka.
Akan tetapi sesungguhnya mereka itu belum tidur walaupun keduanya sudah memejamkan mata seperti orang pulas.
Thian Sin bangkit dengan hati-hati dan pemuda ini lalu mengulurkan tangannya ke arah bungkusan pakaian mereka
yang diletakkan di atas meja. Dengan hati-hati pula dikeluarkan surat titipan dari Ciu Khai Sun kepada Han
Tiong ketika mereka berangkat tadi, dan dengan jantung berdebar dibukanya sampul surat dan dikeluarkannya
sehelai surat itu dan dibacanya di bawah sinar lilin yang tidak begitu terang itu.
Kedua tangan yang memegang surat itu gemetar dan wajah Thian Sin menjadi pucat ketika dia membaca isi surat.
Diulanginya lagi dan tetap isi surat itu antara lain bahwa keluarga Ciu menyetujui diikatnya perjodohan antara
Lian Hong dan Han Tiong! Thian Sin memejamkan kedua matanya dan merasa seolah-olah semua isi kamar
terputar-putar. Dia berusaha menenangkan hatinya, akan tetapi makin lama hatinya menjadi semakin panas dan
tidak enak. Dimasukkannya lagi surat itu ke dalam sampulnya dan disimpannya kembali ke dalam buntalan pakaian,
kemudian dia melirik ke arah Han Tiong yang masih tidur nyenyak. Lalu dengan sikap aneh, dengan sepasang mata
yang kadang-kadang bersinar-sinar kadang-kadang meredup, dia turun dari atas pembaringan, membuka daun pintu
dan keluar dari kamar itu.
Han Tiong tahu akan semua perbuatan Thian Sin itu. Di dalam hatinya, dia terkejut dan merasa tidak senang
sekali menyaksikan kelancangan adiknya yang berani membuka surat dari Ciu Khai Sun untuk ayahnya. Akan tetapi
karena merasa heran dengan kelakuan adiknya ini, juga karena dia tidak tega untuk membikin malu adiknya dengan
menegurnya pada saat itu juga, maka Han Tiong pura-pura tidak tahu dan pura-pura tidur nyenyak. Ketika dia
melihat Thian Sin mengembalikan surat lalu keluar dari kamar, dia mengira bahwa Thian Sin agaknya tidak dapat
tidur dan hanya ingin mencari hawa sejuk di luar. Dan diapun tidak akan menegurnya tentang surat itu, karena
dianggapnya bahwa Thian Sin tentu hanya ingin tahu saja dan tidak bermaksud buruk, buktinya surat itu
dikembalikannya tanpa diganggu. Maka tidurlah Han Tiong, tidak menyangka sama sekali apa yang telah terjadi di
luar.
Thian Sin sama sekali bukan seperti yang disangkanya berjalan-jalan di luar! Pemuda itu setelah tiba di luar
rumah penginapan, lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan gin-kangnya, lalu secepatnya kembali ke kota
Lok-yang! Perjalanan yang dilakukannya ini jauh lebih cepat daripada ketika mereka berdua meninggalkan kota
Lok-yang yang berkuda siang tadi karena Thian Sin menggunakan ilmu berlari cepat. Dia tidak mau menunggang kuda
karena tidak ingin kakaknya mengetahui bahwa dia pergi ke Lok-yang. Dia harus pergi ke sana, harus menemui Lian
Hong! Tekad inilah yang membuat dia lari secepat angin menuju ke kota itu.
Rumah keluarga Ciu sepi sekali malam itu. Agaknya semua orang telah tidur. Akan tetapi benarkah itu? Kiranya
tidak semua penghuninya telah pulas. Lian Hong belum tidur dan dara ini masih duduk di atas pembaringannya.
Sejak ia merebahkan diri tadi, hatinya terasa gelisah saja dan ia tidak dapat tidur. Bayangan dua orang pemuda
ying siang tadi pergi, selalu terbayang olehnya.
Dia tidak tahu bahwa ada bayangan berkelebat dengan kecepatan luar biasa di atas genteng rumahnya. Bayangan itu
adalah Thian Sin yang sudah mengenal benar di mana letak kamar Lian Hong dan ke situlah dia menuju. Setelah
mengintai dari atas genteng dan melihat bayangan Lian Hong di dalam kesuraman cahaya lilin kecil itu masih
duduk di atas pembaringan, Thian Sin menjadi girang sekali. Gadis itu belum tidur! Maka diapun lalu meloncat
turun dengan hati-hati sekali dari atas genteng, menghampiri jendela kamar itu dan mengetuknya dengan lirih tiga kali.
Hening sejenak, lalu terdengar suara Lian Hong, "Siapa...?"
"Ssttt... aku, Hong-moi... aku Thian Sin..."
"Hehh...? Sin-ko...? Ada apa... mengapa...?"
"Hong-moi, keluarlah, kita bicara di luar. Aku ingin bicara denganmu, penting sekali!" Bisik pula Thian Sin.
Daun pintu kamar itupun dibuka dari dalam dan keluarlah Lian Hong. Dia terpesona memandang dara itu yang nampak
lebih cantik daripada biasanya! Lian Hong telah mengenakan pakaian ringkas dan ditutupnya dengan mantel merah.
Rambutnya agak kusut karena tadi sudah rebah untuk tidur. Sepasang matanya terbelalak penuh keheranan memandang
wajah pemuda itu.
"Sin-ko, kau di sini...? Apa yang terjadi dan..."
"Ssttt... mari kita bicara di taman, Hong-moi. Jangan sampai mengagetkan keluargamu."
Thian Sin mendahului gadis itu berjalan keluar dari situ, menuju ke taman yang letaknya di samping kanan rumah.
Dengan ragu-ragu dan heran akan tetapi tanpa bertanya atau membantah lagi, Lian Hong mengikutinya. Ia tentu
saja tidak menaruh curiga apa-apa terhadap pemuda yang telah dipercayakan sepenuh hatinya itu.
"Duduklah, Hong-moi, aku mau bicara," kata Thian Sin dan melihat sikap pemuda itu begitu sungguh-sungguh, Lian
Hong menjadi makin terheran-heran, akan tetapi diapun lalu duduk di atas bangku batu, berhadapan dengan pemuda
itu, dipisahkan oleh meja batu yang bundar.
"Sin-ko, ada apakah? Mengapa engkau berada di sini? Bukankah kalian telah berangkat tadi? Dan di mana
Tiong-ko?"
"Hong-moi, aku minta dengan sangat agar engkau suka bersikap jujur dan berterus terang kepadaku, karena hal ini
sama saja dengan urusan mati hidup bagiku."
apa artinya ini, Sin-ko? Apa yang kaumaksudkan dengan ucapanmu itu? Aku sungguh tidak mengerti!"
, Hong-moi, bahwa aku... aku cinta padamu."
Lian Hong memandang bayangan pemuda itu dengan mata terbelalak. Tempat itu hanya diterangi oleh bintang-bintang
di langit sehingga biarpun mereka duduk berhadapan, hanya terhalang sebuah meja batu, namun mereka hanya dapat
melihat bayangan masing-masing. Lian Hong bukan terkejut mendengar pernyataan cinta dari penuda itu, karena
memang sudah dapat menduganya, karena sinar mata, juga suara pemuda itu jelas membayangkan perasaan hatinya. Ia
hanya terheran-heran mendengar betapa Thian Sin yang sudah meninggalkan kota Lok-yang itu, kini datang pada
malam hari untuk menyatakan cintanya!
Melihat dara itu hanya diam saja dan agaknya memandang kepadanya dengan penuh keheranan, Thian Sin yang sudah
dapat melampaui garis yang menggelisahkan hatinya, yaitu pengakuan cinta tadi, kini melanjutkan, suaranya lebih
tenang. "Hong-moi, lebih baik aku bicara terus terang, dan kuharap engkau juga suka bersikap jujur, Hong-moi,
sejak aku bertemu denganmu, aku telah jatuh cinta padamu. Engkau tentu merasakan pula hal ini dan kalau aku
tidak salah sangka, melihat sikapmu kepadaku, kalau belum boleh dikatakan mencinta. Hong-moi, benarkah ucapanku
ini bahwa engkaupun mencintaku?"
Setelah didesak-desak, akhirnya Lian Hong yang sejak tadi belum dapat menghilangkan rasa terkejut dan herannya,
kini menarik napas panjang. Ia merasa sukar untuk menjawab pertanyaan yang begitu tiba-tiba datangnya, apalagi
pertanyaan tentang cinta! "Sin-ko... bagaimana aku harus menjawabmu? Engkau adalah putera angkat dan juga murid
Paman Cia Sin Liong, dan engkau bersama Tiong-ko sudah begitu baik kepada kami, bahkan kalian telah
memperlihatkan kegagahan dengan merampas kembali barang-barang yang dirampok gerombolan itu. Tentu saja aku
merasa kagum dan suka padamu..."
"Dan engkau bersedia untuk menjadi isteriku, Hong-moi?"
"Aihhh...!" Lian Hong setengah menjerit karena sungguh tidak mengira akan menerima pertanyaan semacam itu.
"Jawablah sejujurnya, kuminta kepadamu, berterus-teranglah..."
"Ah, Sin-ko, bagaimana aku harus menjawab pertanyaan seperti itu? Soal perjodohan... ah, itu adalah urusan
orang tuaku, soal jodoh adalah urusan mereka... mana mungkin aku dapat menjawab sendiri...?"
"Hong-moi, mari kita bicara secara terbuka saja, karena jawaban-jawananmu yang berterus-terang amat penting
bagiku. Dengarlah. Aku sudah tahu bahwa ayahmu telah menitipkan surat kepada Tiong-ko. Nah, sekarang katakanlah
terus terang, apakah engkau mencinta Tiong-ko? Jawablah Hong-moi, apakah engkau lebih mencinta Tiong-ko
daripada aku? Karena aku mempunyai keyakinan bahwa engkau cinta kepadaku, maka berita tentang ikatan jodoh
antara engkau dan Tiong-ko itu sungguh mengejutkan hatiku. Aku harus mengetahui isi hatimu, Hong-moi. Siapakah
yang kaupilih antara kami? Siapakah yang lebih kaucinta?"
Lian Hong menundukkan mukanya. Ia tentu saja sudah diberi tahu oleh kakaknya, Bun Hong, tentang ikatan jodoh
itu dan memang ia sudah ditanya oleh kakaknya tentang itu dan ia sudah mengambil keputusan dan berterus terang
kepada kakaknya bahwa ia memilih Han Tiong. Berdasarkan pilihannya itulah ayahnya mengirim surat kepada
Pendekar Lembah Naga.
"Sin-ko, bagaimana harus kukatakan? Aku suka kepada kalian berdua, kagum dan juga bangga. Kalian adalah dua
orang pemuda yang hebat."
"Tapi... tapi... kalau engkau dihadapkan pada pilihan ini, siapakah yang lebih kauberatkan, Hong-moi...? Aku
ataukah Tiong-ko? Jawablah, agar hatiku tidak merasa penasaran lagi, Hong-moi!" Thian Sin mendesak.
Lian Hong menarik napas panjang. Memang sesungguhnya ia merasa bingung dan amat sukar untuk mengakui hal itu di
depan yang bersangkutan. Di depan kakaknya, ia dapat mengaku terus terang dengan rasa canggung sedikit saja,
akan tetapi bagiamana mungkin ia dapat mengaku terus terang di depan orang yang bersangkutan? Apalagi karena ia
tahu bahwa pengakuannya tentu akan menyakitkan perasaan hati Thian Sin karena ia memilih Han Tiong! Akan tetapi
ia teringat bahwa Thian Sin, seperti juga Han Tiong, adalah seorang pemuda yang gagah perkasa lahir batin, maka tentu akah dapat menerima segala kenyataan, betapa pahit sekalipun. Dan terhadap seorang pendekar seperti Thian Sin, tidak baiklah kalau tidak berterang terang.
Maka dara ini lalu menarik napas panjang, mengambil keputusan tetap dan terdengarlah jawabannya yang
didengarkan oleh Thian Sin dengan penuh perhatian.
"Sin-ko, baiklah, aku akan berterus terang karena engkau menghendakinya. Sesungguhnya, sejak engkau dan
Tiong-ko berada di sini, melihat kegagahan kalian berdua, aku merasa amat tertarik dan terpikat. Terus terang
saja, belum pernah aku mempunyai perasaan terhadap seorang pria seperti perasaanku terhadap kalian berdua. Dan
kalau ditanya siapakah di antara kalian yang lebih kusukai, akan sukarlah aku untuk menjawabnya. Kalian
memiliki daya tarik yang sama kuatnya bagiku dan andaikata aku disuruh memilih di antara kalian, aku akan
menjadi bingung. Akan tetapi, terus terang saja, ada sesuatu yang membuat aku lebih condong kepada Tiong-ko.
Yaitu... maafkan aku, Sin-ko, karena... karena aku menyaksikan keganasanmu terhadap para gerombolan itu.
Engkau... engkau agak kejam, Sin-ko. Dan Tiong-ko begitu bijaksana..."
Hening sekali saat itu setelah Lian Hong menghentikan kata-katanya. Dara itu menundukkan mukanya. Biarpun ia
tidak dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas di dalam cuaca yang suram itu, namun ia tetap tidak berani
mengangkat mukanya. Sementara itu, Thian Sin mengepal tinju dan merasa penasaran. Kalau hanya itu yang membuat
Lian Hong memilih Han Tiong daripada dia, sungguh membuatnya penasaran!
"Akan tetapi, Hong-moi. Aku bersikap ganas dan kejam terhadap penjahat! Dan memang demikian watak seorang
pendekar sejati, bukan? Kalau kita sebagai pendekar-pendekar yang mempertahankan kebenaran dan keadilan tidak
menghukum keras penjahat-penjahat itu, tentu di dunia ini semakin banyak kejahatan merajalela dan para penjahat
tidak akan takut melakukan segala macam kejahatan yang paling keji karena tidak ada yang ditakutinya lagi!"
"Maaf, Sin-ko. Aku tidak dapat membantahmu, akan tetapi aku merasa lebih setuju dengan sikap Tiong-ko yang
menundukkan kejahatan tidak dengan kepandaian akan tetapi menundukkan hati para penjahat itu dengan kelembutan
dan cinta kasih. Aku tidak dapat melupakan betapa Tiong-ko dengan perasaan penuh kasih mengobati para penjahat
itu, dan kalau engkau melihat pandang mata para penjahat itu terhadap Tiong-ko... ah, aku tidak dapat melupakan
itu dan saat itulah yang meyakinkan hatiku bahwa aku akan hidup tenang dan bahagia di samping Tiong-ko..."
"Akan tetapi, kalau penjahat-penjahat itu dimanjakan, tentu mereka tidak akan pernah merasa kapok! Terlalu enak
bagi mereka yang jahat dan keji itu memperoleh pengampunan dan memperoleh perlakuan yang lunak. Tiong-ko
terlalu lemah dan kelemahan hatinya itu sewaktu-waktu bahkan akan mencelakainya sendiri!"
Lian Hong merasa tidak setuju dalam hatinnya, akan tetapi ia tidak mampu membantah atau menjawab, maka iapun
hanya mendengarkan saja semua kata-kata Thian Sin yang berusaha membenarkan sikap dan tindakannya.
Pendapat Thian Sin itu mungkin sekali juga merupakan pendapat umum atau kebanyakan dari kita, yaitu yang
berpendapat bahwa tindakan kekejaman terhadap orang-orang yang bersalah atau yang melakukan kejahatan adalah
tindakan yang benar. Biasanya, tindakan itu kita namakan keadilan! Akan tetapi benarkah demikian? Benarkah itu
kalau kita menyiksa seorang yang kita namakan penjahat, bahkan kalau kita membunuhnya, maka penyiksaan atau
pembunuhan itu dapat dinamakan keadilan? Sebaiknya kalau kita menyelidiki dulu persoalan ini sebelum kita
memberinya suatu nama seperti keadilan! Kita selidiki apa perbedaan antara perbuatan kejam dan dianggap adil!
Apakah dasar yang mendorong ke arah tindakan yang kejam, menakuti orang, menyiksa orang? Atau bahkan membunuh
orang? Semua perbuatan kejam itu tentu mempunyai dasar yang sama, yaitu kebencian. Kebencianlah yang membuat
seorang melakukan tindakan kejam, baik itu dinamakan kejahatan maupun keadilan. Kebencian di dalam hati ini
tentu saja meniadakan cinta kasih. Siapapun yang melakukan tindakan kejam, baik dia itu dinamakan penjahat
ataupun pendekar, pada dasarnya sama saja, yaitu melampiaskan kebencian.
Ini bukanlah berarti bahwa kejahatan atau kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang yang kita namakan jahat itu
harus didiamkan saja! Sama sekali tidak demikian. Akan tetapi, alangkah jauh bedanya antara hukuman yang
sifatnya mendidik dan hukuman yang sifatnya membalas dendam! Balas dendam adalah akibat kebencian yang
melahirkan perbuatan-perbuatan kejam seperti menyiksa dan membunuh. Sebaliknya, hukuman yang sifatnya mendidik
tidak dapat dinamakan kekejaman karena tidak dilakukan dengan hati yang membenci.
Jeweran pada telinga anak dari seorang ayah dapat merupakan hukuman mendidik, dapat pula merupakan pelampiasan
kebencian. Kalau si ayah itu marah, jengkel di waktu menjewer, maka perbuatannya itu adalah perbuatan yang
didorong oleh kebencian. Sebaliknya, kalau jeweran itu dilakukan tanpa kebencian, maka itu adalah perbuatan
yang mengandung maksud mendidik, dan antara dua jeweran yang sama ini terdapat perbedaan bumi langit. Biasanya,
kata keadilan hanya dipergunakan oleh mereka yang dipenuhi kebencian untuk menuntut balas. Jelaslah bahwa
segala macam perbuatan yang didasari oleh kebencian, maka perbuatan semacam itu sudah pasti kejam dan jahat.
Sebaliknya, perbuatan apapun yang dilakukan dengan dasar cinta kasih, maka perbuatan itu pasti benar dan baik.
"Kalau bukan para pendekar yang membasmi orang-orang jahat, habis siapa lagi? Sebagian besar para pejabat
pemerintah malah menjadi sahabat-sahabat para penjahat! Mana mungkin mengandalkan para pejabat untuk membasmi
kejahatan? Siapa yang akan membela dan melindungi rakyat daripada penjahat-penjahat yang keji? Siapa lagi kalau
bukan para pendekar yang harus membasmi habis para penjahat keji dan pembunuh-pembunuh itu?"
"Sin-ko, aku tidak mengerti, akan tetapi dengan membunuhi dan membasmi para pembunuh, bukankah itu berarti kita
telah menciptakan segolongan pembunuh lain?"
"Ah, tidak bisa! Para pendekar tidak akan membunuhi rakyat atau orang-orang yang benar, hanya akan membasmi
orang-orang jahat!"
Lian Hong tidak bicara lagi karena iapun tidak mengerti benar akan apa yang diperdebatkan oleh Thian Sin yang
dikecewakan hatinya itu. Ia hanya tidak suka akan kekejaman yang diperlihatkan Thian Sin, sebaliknya ia setuju
dan kagum akan kebijaksanaan dan kelembutan yang dilakukan oleh Han Tiong terhadap para penjahat.
Tiba-tiba Thian Sin berhenti bicara dan dia meloncat berdiri dengan demikian cepatnya sehingga Lian Hong
menjadi terkejut sekali. Akan tetapi pemuda itu sudah memegang lengannya dan berbisik, "Awas... ada banyak
orang..." dan dia mengajak Lian Hong lari menyusup ke dalam taman, di balik semak-semak dan mengintai keluar.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat banyak sekali orang telah mengepung rumah dan taman
itu, orang-orang itu adalah pasukan besar, karena pakaian mereka seragam! Dan di antara banyak pasukan itu,
Thian Sin melihat banyak orang pula yang berpakaian biasa dan gerakan mereka gesit dan tangkas, tanda bahwa
mereka ini memiliki ilmu silat yang lihai! Dan yang membuat mereka merasa lebih kaget lagi adalah ketika
melihat betapa di antara pasukan itu ada yang mulai membakar rumah itu! Segera terjadi kegaduhan ketika
keluarga Ciu terbangun dan menyerbu keluar rumah mereka yang mulai terbakar itu. Ciu Khai Sun meloncat ke luar
dan berteriak dengan nyaring. "Siapa membakar rumah? Eh, apa artinya semua pasukan ini?"
"Tangkap pemberontak! Tangkap anak pemberontak Ceng Han Houw! Basmi pemberontak dan pengkhianat...!"
Teriakan-teriakan itu terdengar dari seluruh penjuru rumah di mana terdapat pasukan yang besar jumlahnya dan
kini pasukan-pasukan itu telah maju menyerbu. Mereka itu sama sekali bukan hendak menangkap pemberontak seperti
yang mereka teriakkan, melainkan mereka itu langsung menyerang Ciu Khai Sun bersama dua orang isterinya dan
juga Bun Hong yang sudah berdiri di depan pintu!
Tentu saja keluarga itu segera bergerak membela diri dan mereka tidak diberi kesempatan lagi untuk bertanya
atau memprotes. Pasukan itu sudah menyerbu dengan membabi-buta, bahkan dibantu oleh beherapa orang yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi dan yang berpakaian biasa, bukan pasukan pemerintah. Ciu Khai Sun, Kui Lan, Kui
Lin dan Bun Hong terpaksa melawan dan mengamuk untuk mempertahankan nyawa mereka karena para penyerbu itu
menyerang untuk membunuh, bukan untuk menangkap. Percuma saja Ciu Khai Sun berteriak-teriak untuk mencoba
menghentikan mereka. Agaknya mereka memang telah menerima perintah untuk membunuh semua penghuni rumah yang
mereka bakar itu. Bahkan di antara para penyerbu itu ada yang sudah menyerbu masuk melalui pintu samping dan
merampoki segala macam barang yang berada di dalam rumah. Dan mereka tidak peduli, siapa saja yang nampak dalam
rumah itu, sampai pelayan-pelayan, mereka bunuh dengan bacokan-bacokan golok.
Sementara itu, ketika melihat betapa pasukan itu membakar rumah, Thian Sin dan Lian Hong menjadi terkejut dan
marah sekali. Apalagi setelah Lian Hong mendengar teriakan-teriakan ayahnya, juga teriakan-teriakan kedua
ibunya dan kakaknya yang agaknya telah melawan para penyerbu.
"Keparat!" teriaknya dan iapun lari hendak menuju ke depan hendak membantu ayah bundanya. Akan tetapi di situ
telah muncul pula banyak pasukan yang langsung menyerangnya. Melihat ini, Thian Sin mengeluarkan seruan panjang
dan tubuhnya telah menerjang maju menyambut pasukan yang menyerang Lian Hong itu dan sekali terjang, dia sudah
merobohkan empat orang perajurit! Dalam waktu singkat saja, Thian Sin telah dikepung oleh banyak perajurit,
juga oleh beberapa orang berpakaian preman yang lihai. Dia mengamuk dan hatinya khawatir sekali karena dia
tidak melihat Lian Hong yang terpisah dengan dia dalam pengeroyokan demikian banyaknya pasukan. Karena
mengkhawatirkan keadaan keluarga Ciu, terutama keselamatan Lian Hong, Thian Sin menjadi marah bukan main.
Apalagi dia tadi mendengar teriakan-teriakan itu, yang katanya hendak menangkap pemberontak, putera dari
pemberontak Ceng Han Houw.
"Di sinilah aku! Di sinilah Ceng Thian Sin, putera Ceng Han Houw!" bentaknya nyaring dan kakinya merobohkan
seorang pengeroyok yang hendak membacoknya dari belakang. "Jangan ganggu orang lain, inilah aku putera Ceng Han
Houw!"
Terjadilah perkelahian yang amat hebat. Tidak kurang dari tiga puluh orang perajurit dan dibantu oleh beberapa
orang yang lihai-lihai, mengepung dan mengeroyok Thian Sin. Thian Sin sudah merobohkan belasan orang, namun
pengeroyoknya tidak berkurang, bahkan mengepungnya semakin ketat. Dengan kemarahan meluap-luap, apalagi karena
rumah itu telah terbakar semakin berkobar, Thian Sin lalu mencabut pedang Gin-hwa-kiam pemberian neneknya dan
mulailah dia mengamuk dengan pedangnya, dengan tamparan-tamparan tangan kirinya atau dengan tendangan-tendangan
bertubi-tubi yang dilakukan oleh kedua kakinya. Hebat bukan main sepak terjangnya dan para pengeroyoknya banyak
yang roboh. Darah muncrat-muncrat dari tubuh para pengeroyoknya yang kena disambar sinar perak pedangnya, dan
kini yang mengeroyoknya hanyalah orang-orang yang tidak berpakaian seragam, melainkan orang-orang berpakaian
preman yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi. Di antara mereka itu ada yang berpakaian pengemis,
mengingatkan Thian Sin kepada para anggauta Bu-tek Kai-pang, anak buah Lam-sin, datuk selatan itu. Tidak kurang
dari lima belas orang yang rata-rata berilmu tinggi mengeroyoknya, dengan berbagai macam senjata. Namun Thian
Sin tidak menjadi gentar, dan dia terus mengamuk. Akan tetapi kini dia merasa gelisah sekali karena dia tidak
tahu bagaimana dengan keadaan keluarga Ciu, terutama Lian Hong! Maka, sambil melawan dia mulai mengalihkan
gelanggang pertempuran menuju ke depan rumah, di mana dia tadi mendengar teriakan-teriakan keluarga Ciu.
Melihat gerakan ini, para pengepung itu mengira bahwa Thian Sin hendak melarikan diri, maka merekapun mengejar
dan tetap mengepungnya, bahkan kini agaknya perkelahian hanya terpusat di sini karena tidak terdengar
perkelahlan di tempat lain.
Ketika dia tiba di depan rumah, Thian Sin terbelalak dan wajahnya pucat sekali. Api yang berkobar membakar
rumah itu cukup menerangi tempat itu dan dengan jelas dia dapat melihat mayat-mayat berserakan banyak sekali,
mayat-mayat pasukan yang berpakaian seragam dan di antara mereka itu terdapat pula mayat Ciu Khai Sun, kedua
isterinya, dan Bun Hong! Hampir saja Thian Sin menjerit ketika dia melihat ini dan dia meloncat ke arah mayat
Ciu Khai Sun dengan cepat sekali, berjongkok dan memeriksa. Akan tetapi sebatang tombak menyambar dari
belakang, disusul bacokan pedang dari samping.
"Tranggg... desss! Creppp!" Dua orang itu memekik dan roboh, seorang terkena tamparan tangan kiri Thian Sin dan
yang ke dua tertusuk lambungnya oleh pedang Gin-hwa-kiam. Thian Sin cepat memeriksa dua orang isteri Ciu Khai
Sun dan juga mayat Bun Hong. Semuanya telah tewas! Tewas dengan tubuh penuh luka-luka, tanda bahwa mereka itu
telah mengamuk dengan mati-matian dan hal inipun dapat dibuktikan dengan banyaknya korban, yaitu mayat-mayat
pasukan pengeroyok yang berserakan di sekeliling tempat itu! Keluarga ini telah tewas dalam keadaan yang
menyedihkan, namun harus diakui tewas dalam keadaan gagah perkasa. Dan semuanya itu karena dia! Bukankah
pasukan itu datang untuk mencari dia sebagai putera Pangeran Ceng Han Houw? Dan dia tidak tahu apa yang telah
terjadi dengan diri Lian Hong!
"Hai, keparat semua! Inilah Ceng Thian Sin putera Ceng Han Houw! Majulah dan terimalah pembalasanku!"
Dan diapun mengamuk lagi. Sepak terjangnya amat menggiriskan karena tidak ada lawan manapun yang sanggup
menahan sambaran pedangnya, pukulan tangan kirinya atau tendangan kakinya! Dia dikepung, dikeroyok, akan tetapi
yang mawut adalah para pengeroyok itu sendiri. Banjir darah terjadi di dekat rumah yang terbakar itu.
Entah herapa jam lamanya Thian Sin mengamuk. Seluruh tubuhnya menjadi basah oleh keringatnya sendiri dan basah
oleh darah musuh. Makin lama makin banyak saja pihak pengeroyok yang roboh tewas. Sedikitnya, sejak dia mulai
mengamuk tadi, ada tiga empat puluhan orang yang roboh di tangan Thian Sin dan dia seperti seekor harimau yang
haus darah saja, tidak mengenal puas. Bahkan dia menjadi semakin buas dan sepak terjangnya makin menggiriskan.
Akhirnya, para pengeroyok itu menjadi gentar. Mereka maklum bahwa kalau dilanjutkan, agaknya pemuda ini akan
membunuh mereka semua sampai tidak ada seorangpun yang ketinggalan! Maka, larilah mereka, dan sisa pasukan
pemerintah juga melarikan diri ketika melihat orang-orang yang lihai itu tidak berani melawan lagi.
Thian Sin mengejar dan merobohkan sebanyak-banyaknya orang yang mungkin dia lakukan. Kemudian dia menangkap
seorang perwira yang mencoba untuk menyelinap ke tempat gelap. Dibantingnya perwira itu ke atas tanah.
"Ngekk!" Dan perwira itu merintih, tulang pundaknya patah.
Thian Sin menempelkan pedangnya yang berlumuran darah itu ke leher perwira itu. "Cepat, ceritakan mengapa
pasukan melakukan ini!" Ketika dia melihat perwira itu meragu, dia menekan pedangnya dan kulit leher itupun
terobek sedikit dan berdarah.
"Baik... baik... kami hanya diperintah... mula-mula komandan kami menerima laporan dari... dari Su-couw..."
Thian Sin adalah pemuda yang cerdik sekali. Mendengar disebutnya kota Su-couw, diapun langsung menghubungkan
tentang perampokan barang-barang kawalan Pouw-an-piauwkiok itu dengan peristiwa hebat ini. Dia teringat bahwa
yang mendengar akan keadaan dirinya, yaitu sebagai orang luar, bahwa dia adalah putera Pangeran Ceng Hen Houw,
hanyalah seorang saja, yaitu Phoa-taijin.
"Phoa-taijin...?" Dia membentak dengan sikap mengancam.
"Ya... ya benar...!"
"Mengapa? Hayo katakan mengapa dia melakukan ini?" bentaknya dan perwira itu menggeleng-geleng kepala karena
memang dia tidak tahu. Dia hanya tahu bahwa Phoa-taijin melaporkan tentang adanya putera pemberontak Ceng Han
Houw di rumah ketua Hui-eng-piauwkiok di Lok-yang, dan komandannya segera bertindak mengepung rumah itu.
Anehnya, Phoa-taijin dari Su-couw itu juga mengirim bala bantuan berupa dua puluh lebih orang-orang yang
berilmu tinggi di antaranya ada beberapa orang pengemis.
"Tidak... tidak tahu..." perwira itu berkata dan kata-katanya berhenti di tengah jalan karena Thian Sin telah
menggerakkan pedangnya dan perwira itu tewas seketika dengan leher hampir putus!
Malam itu juga, lewat tengah malam, Thian Sin telah berada di atas gedung tempat tinggal Phoa-taijin! Sejak
mengamuk tadi, dia tidak pernah lagi menyimpan pedangnya yang masih berlepotan darah dan kalau saja ada sinar
menerangi wajahnya, orang tentu akan merasa ngeri melihat wajah yang tampan itu, kini penuh dengan kekejaman,
penuh dengan kemarahan, dan sinar matanya mencorong penuh dendam seperti mata iblis dalam dongeng! Dia tidak
ingin langsung turun tangan, melainkan hendak menyelidiki terlebih dahulu mengapa pembesar ini melakukan
hasutan agar keluarga Ciu dibasmi. Kalau memang niatnya hanya menangkap dia sebagai putera Ceng Han Houw,
mengapa pasukan itu bertindak demikian? Membakar dan menyerang sampai seluruh anggauta keluarga Ciu terbasmi
habis?
Tiba-tiba dia melihat tiga orang yang berpakaian preman dan seorang komandan pasukan memasuki rumah itu dengan
sikap tergesa-gesa. Dia dapat menduga bahwa tentu mereka ini adalah orang-orang yang tadi ikut menyerbu rumah
keluarga Ciu dan kini dengan tergopoh-gopoh mereka tentu hendak melapor kepada Phoa-taijin! Maka diapun cepat
menyelinap, meloncat turun dari atas, memasuki pekarangan belakang, lalu menyelinap ke dalam melalui tembok
belakang. Akhirnya dia dapat mengintai dari belakang jendela, ke dalam ruangan di mana dia mendengar orang
bicara dengan suara perlahan namun serius sekali. Jantungnya berdebar penuh amarah yang ditahan-tahannya ketika
dia mengenal suara Phoa-taijin yang sedang bicara dengan suara mengandung penyesalan besar.
"Apa? Anak pangeran pemberontak itu tidak dapat ditangkap atau dibunuh dan bahkan telah membunuh banyak orang?
Dan puteri Ciu-piauwsu juga dapat lolos? Ah, bagaimana kalian ini? Pasukan seratus orang ditambah orang-orang
yang terkenal sebagai anak buah tiga datuk See-thian-ong, Lam-sin dan Pak-san-kui, masih tidak mampu merobohkan
seorang pemuda remaja seperti anak pemberontak she Ceng itu? Sungguh celaka, kalian tiada guna sama sekali!"
"Tapi, taijin. Keluarga Ciu telah dapat dibasmi, lolos seorang anak perempuan saja mengapa? Dan tentang
pemberontak she Ceng itu, memang dia lihai sekali..." terdengar suara orang lain.
"Saya belum mengerti mengapa taijin memusuhi keluarga Ciu?" seorang lain dengan suara serak.
"Bodoh, apakah kau tidak mendengar betapa keluarga Ciu dan dua orang keponakannya itu yang telah menggagalkan
siasat kami ketika kami menyuruh orang-orang menyamar perampok untuk merampok barang-barang yang kusuruh kawal
Pouw-an-piauwkiok? Kalau mengandalkan orang-orang bodoh seperti kalian, mana mungkin kita berhasil mengumpulkan
harta untuk menyokong gerakan kawan-kawan di utara?"
Thian Sin mengerutkan alisnya. Biarpun hanya samar-samar saja, dia kini dapat menduga bahwa para perampok itu
adalah orang-orangnya Phoa-taijin sendiri yang diutus untuk menyarnar sebagai perampok dan merampas
barang-barangnya sendiri! Mungkin dengan maksud memeras Pouw-an-piauwkiok untuk bertanggung jawab dan mengganti
barang-barangnya yang berharga. Dan karena kemudian barang-barang itu ditemukan kembali, usaha itu gagal oleh
dia dan Han Tiong yang menjadi tamu keluarga Ciu, maka pembesar itu kini melakukan serangan balasan dan
kebetulan dia mendengar tentang putera Pangeran Ceng Han Houw, maka hal itu dijadikan dalih untuk melaporkan
bahwa di rumah Ciu-piauwsu terdapat putera pangeran pemberontak Ceng Han Houw.
"Aku berada di sini!" Tiba-tiba Thian Sin tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan dia sudah menerjang jendela
itu. "Braakkkkk!" daun jendela itu pecah dan diapun sudah meloncat ke dalam.
"Pembesar keparat she Phoa! Inilah Ceng Thian Sin, putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw, datang untuk
mengirim nyawa kotormu ke neraka jahanam!"
Akan tetapi empat orang yang berada di dalam kamar itu, yaitu tiga orang berpakaian preman dan seorang
berpakaian komandan telah mencabut senjata masing-masing dan segera menubruk dan menyerangnya dengan ganas,
akan tetapi juga dengan hati gentar ketika mengenal bahwa yang menerobos masuk ini bukan lain adalah pemuda
putera pangeran pemberontak yang amat lihai itu. Melihat serangan empat orang ini, Thian Sin sama sekali tidak
mengelak atau menangkis, melainkan mengerahkan tenaga sin-kangnya, membuat tubuhnya menjadi lunak seperti
karet, lunak namun kuat sekali dan begitu tiga batang pedang dan sebatang ruyung itu menimpa tubuhnya, tenaga
sin-kang itu menyambut empat senjata itu dan langsung dia mengerahkan Thi-khi-i-beng sehingga daya pukulan yang
mengandung tenaga sin-kang empat orang itu tersedot seketika. Empat orang itu berteriak kaget, maka mereka
mengerahkan tenaga untuk menarik kembali senjata masing-masing. Namun, mereka tidak mengenal Thi-khi-i-beng.
Makin mereka mengerahkan tenaga, makin hebat pula tenaga sin-kang mereka tersedot dan pada saat itu, sinar
pedang perak berkelebat dan robohlah empat orang itu dengan mandi darahnya sendiri dan tewas seketika.
Phoa-taijin sudah melarikan diri melalui sebuah lorong, akan tetapi tiba-tiba bayangan Thian Sin menyambar dan
pemuda ini sudah menangkap tengkuk si pembesar yang segera menjerit-jerit seperti seekor anjing tersiram air panas.
"Ampun... ampun... taihiap...!"
"Keparat jahanam! Engkau mengerahkan orang-orang untuk membunuhku, ya? Nah, ini aku Ceng Thian Sin, putera
mendiang Pangeran Ceng Han Houw. Kau mau apa sekarang!"
"Ampuun... aku... aku hanya melakukan tugas sebagai pejabat pemerintah. Aku harus membantu pemerintah... dan
karena... ayahmu dahulu pernah memberontak maka... aku... aku..."
"Cacing busuk! Kalau begitu, kenapa bukan hanya aku saja yang hendak dibunuh, akan tetapi seluruh keluarga Ciu
dibasmi? Engkau membalas karena kami mengagalkan siasatmu ketika menyuruh orang-orang merampok barang-barangmu
sendiri dari tangan Pouw-an-piauwkiok itu, ya? Hayo katakan, siapa itu kawan-kawanmu yang berada di utara..."
Wajah yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat, akan tetapi sinar matanya nampak penuh harapan ketika
pembesar itu memandang kepada wajah Thian Sin kemudian kepada apa yang berada di belakang pemuda itu melalui
atas pundak Thian Sin. Pemuda ini cukup waspada. Pandang mata pembesar itu membuatnya mencurahkan perhatian
pendengarannya ke belakang dan tahulah dia bahwa ada dua tiga orang bergerak di belakangnya. Dia menanti sampai
angin serangan mereka menyambar dekat dan tanpa menoleh dia menggerakkan pedang Gin-hwa-kiam ke belakang. Tiga
orang itu menjerit dan roboh mandi darah! Melihat ini, Phoa-taijin berlutut dan tubuhnya menggigil ketakutan.
"Hayo jawab!"
"Mereka... mereka itu... ah... para datuk kaum kang-ouw... telah bersekutu... eh, dengan mereka yang bergerak
di utara... orang-orang bangsa Mancu..."
"Siapa para datuk itu? Hayo jawab, cepat!"
"See-thian-ong, Lam-sin, dan Pak-san-kui..."
"Hem, juga Tung-hai-sian?"
"Tidak... tidak... belum, sedang dihubungi... dia yang keras kepala..."
"Setan, mampuslah kau!" Thian Sin menggerakkan pedangnya beberapa kali, terdengar tulang terbacok beberapa kali
disusul jerit-jerit melengking dari pembesar itu dan ketika Thian Sin meninggalkannya dan meloncat pergi, yang
tertinggal pada Phoa-taijin itu hanyalah sebuah tubuh tanpa kaki tanpa tangan telinga dan tanpa hidung. Tubuh
yang menjadi pendek karena kedua kakinya terputus sebatas paha dan kedua lengan terputus sebatas pundak itu
bergerak-gerak aneh dan mandi darah. Sungguh merupakan pemandangan yang amat mengerikan. Matanya melotot dan
mulutnya mengeluarkan suara aneh, seperti tangis setengah tawa. Menyeramkan sekali.
Sekarang Thian Sin sudah dikepung lagi dan kembali dia mengamuk. Kiranya para pengawal di rumah pembesar Phoa
itu telah mengambil bala bantuan dan kini tidak kurang dari tiga puluh pasukan keamanan kota Su-couw telah
mengeroyoknya. Namun Thian Sin tidak mau melarikan diri, hal yang sebetulnya mudah baginya.
Tidak, dia tidak akan lari, dia akan mengamuk sampai semua pengeroyoknya terbasmi habis! Tubuhnya telah lelah
sekali, dan batinnya tertekan hebat karena kematian keluarga Ciu dan lenyapnya Lian Hong, akan tetapi
kemarahannya membuat dia lupa akan segala itu, dan dia mengamuk seperti seekor harimau yang haus darah.
Pakaiannya telah robek-robek terkena senjata sejak dia mengamuk di Lok-yang tadi, akan tetapi tidak
dipedulikannya, karena tubuhnya yang dilindungi kekebalan Thian-te Sin-ciang membuat senjata-senjata itu tidak
melukai kulit dagingnya.
Dan memang sepak terjang Thian Sin hebat sekali. Biarpun pengeroyoknya kini merupakan orang-orang yang baru
saja terjun ke dalam gelanggang pertempuran, masih segar badannya, namun sebentar saja sudah ada enam orang
yang roboh mandi darah oleh sambaran pedangnya.
"Inilah Ceng Thian Sin! Inilah putera Pangeran Ceng Han Houw! Hayo majulah kalian semua anjing-anjing keparat
kalau ingin kuantar nyawa kalian ke neraka!" Thian Sin mengamuk sambil berteriak-teriak.
"Sin-te...!"
Sesosok bayangan berkelebat dan sebuah tangan yang kuat menangkap pergelangan tangan kanan Thian Sin.
Teriakan-teriakan Thian Sin tadilah yang mendatangkan Han Tiong! Ketika Han Tiong mendusin dari tidur nyenyak
dan tidak melihat Thian Sin, dia merasa terkejut dan juga terheran-heran sekali. Ke manakah adiknya itu yang
belum juga pulang? Dia lalu keluar dan semakin heran karena tidak menemukan adiknya di luar rumah penginapan
kecil itu. Di luar sunyi sekali karena malam telah larut. Dua ekor kuda mereka masih ada. Hatinya terasa tidak
enak dan diapun kembali ke dalam kamarnya, menyalakan lilin dan mengambil sampul surat yang tadi dibaca oleh
Thian Sin. Biarpun dia tahu bahwa perbuatannya ini sungguh melanggar aturan, yaitu melihat isi surat yang
ditujukan kepada ayahnya, akan tetapi karena khawatir akan keadaan Thian Sin, dia memaksakan diri mengambil
surat itu dan membacanya.
Kedua tangannya gemetar ketika dia membaca tentang ikatan jodoh antara dia dan Lian Hong. Hatinya gembira dan
girang sekali, akan tetapi juga berdebar penuh ketegangan ketika dia teringat kepada Thian Sin. Mengertilah dia
sekarang mengapa Thian Sin kelihatan gelisah. Akan tetapi, ke mana perginya adiknya itu? Kudanya masih ada dan
pakaian adiknya juga masih terbungkus dan berada di atas meja. Tiba-tiba dia merasa khawatir sekali,
membayangkan betapa dalam kekecewaannya itu Thian Sin kembali ke Lok-yang untuk memprotes ikatan jodoh itu!
Siapa tahu! Thian Sin memiliki watak aneh dan keras. Dugaan ini semakin kuat ketika dia menanti-nanti dan belum
juga adiknya pulang. Maka dia lalu mengambil keputusan nekad untuk pergi menyusul adiknya. Dia membawa
buntalan-buntalan pakaian lalu menitipkan dua ekor kuda itu pada penjaga rumah penginapan dan dengan cepat dia
lalu mengerahkan ilmu berlari cepat, menyusul adiknya yang disangkanya tentu pergi ke Lok-yang itu.
Tak pernah disangkanya sama sekali betapa waktu itu, ketika dia sedang berlari cepat sekali menuju ke kota
Lok-yang dan baru tiba di pertengahan jalan, adiknya itu sedang mengamuk mati-matian di luar rumah keluarga Ciu
yang terbakar! Dan ketika akhirnya Han Tiong tiba di kota Lok-yang, dia telah melihat nyala api berkobar itu
dari arah rumah keluarga Ciu dan mendengar orang-orang yang kelihatan panik di luar rumah-rumah mereka dan
bicara simpang siur tentang penyerbuan pasukan di rumah Hui-eng-piauwkiok! Dapat dibayangkan betapa cemas rasa
hati Han Tiong mendengar itu dan dia mempercepat larinya ke arah rumah keluarga Ciu. Dan dapat dibayangkan
betapa terkejut dan hancur hatinya ketika dia melihat puluhan mayat berserakan di antara puing-puing dan di
luar rumah yang masih terbakar, dan di antara mayat-mayat itu dia melihat mayat Ciu Khai Sun, Kui Lan, Kui Lin
dan Ciu Bun Hong! Tentu saja Han Tiong segera menubruk mayat-mayat itu dan dia bahkan menangis.
Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya dipegang oleh beberapa buah tangan yang kuat dari belakang dan kanan kiri. Han
Tiong menoleh dan melihat, bahwa yang menangkapnya adalah tangan-tangan dari tiga orang perajurit. Melihat
bahwa pakaian para perajurit yang telah menjadi mayat berserakan di tempat itu, tahulah dia bahwa mereka ini
adalah teman-teman dari orang-orang yang telah menyerbu, membakar rumah dan membunuh keluarga Ciu. Maka diapun
lalu meloncat dan sekali menggerakkan tubuhnya, tiga orang yang memegangnya itu terpelanting. Mereka bangkit
lagi dan mencabut senjata, bahkan kini banyak berdatangan perajurit-perajurit yang bertugas menjaga di tempat
itu dan Han Tiong sudah dikepung. Akan tetapi pemuda ini tidak mengamuk seperti yang telah dilakukan oleh
adiknya tadi, dia lalu menghindarkan semua serangan, mengelak, menangkis, kemudian menangkap seorang di antara
mereka dan melarikan diri ke tempat gelap. Para perajurit mengejar-ngejarnya, namun tak seorang di antara
mereka mampu menyusul dan sebentar saja Han Tiong telah pergi jauh membawa seorang yang telah ditotoknya.
Di tempat sunyi, Han Tiong melepaskan orang itu dan membebaskan totokannya. "Aku tidak akan mengganggumu lagi
kalau engkau suka memberitahukan apa yang telah terjadi."
Melihat sikap Han Tiong yang halus itu, si perajurit tidak takut lagi dan diapun lalu menceritakan dengan
singkat bahwa pasukan diutus oleh komandan mereka, atas laporan Phou-taijin, untuk menangkap pemberontak yang
katanya keturunan Pangeran Ceng Han Houw, di rumah Ciu-piauwsu. Akan tetapi, para pembantu yang dikirim oleh
Phoa-taijin, yang rata-rata amat lihai itu, begitu datang lalu langsung saja membakar rumah dan menyerbu
sehingga terjadi pertempuran hebat yang mengakibatkan keluarga Ciu tewas semua.
"Dan keturunan Pangeran Ceng Han Houw itu sendiri?" Han Tiong mendesak, jantungnya berdebar tegang karena dia
seperti melihat bekas amukan adiknya. Siapa lagi yang dapat mengamuk seperti itu, membunuh puluhan perajurit,
kalau bukan adiknya?
"Pemuda itu luar biasa, menyeramkan sekali. Siapa yang dekat dengannya tentu mati!"
"Di mana dia sekarang?"
"Tidak tahu... tidak tahu, dia telah pergi menghilang begitu saja."
"Dan di mana pula Nona Ciu? Puteri dari keluarga Ciu yang tewas itu?"
"Tidak tahu... hanya kabarnya lolos..."
Han Tiong lalu menotok orang itu sampai pingsan dan diapun lalu cepat melarikan diri menuju ke Su-couw. Dia
menduga bahwa tentu adiknya itupun melakukan seperti yang dia perbuat tadi, yaitu memaksa seorang perajurit
untuk menceritakan keadaannya dan begitu mendengar bahwa semua penyerbuan itu gara-gara Phoa-taijin yang secara
kebetulan mendengar bahwa Thian Sin adalah putera Pangeran Ceng Han Houw, tentu adiknya itu pergi ke Su-couw.
Cepat diapun menyusul ke sana dengan hati berat dirundung duka kalau dia membayangkan kembali mayat-mayat
keluarga Ciu. Tak disangkanya akan terjadi hal seperti itu, kalau saja dia mengundurkan kepergiannya satu hari
saja. Kalau dia masih berada di situ ketika terjadi penyerbuan, siapa tahu dia akan mampu mencegah terjadinya
malapetaka hebat itu. Akan tetapi, semua telah terjadi. Keluarga Ciu telah tewas dan sekarang yang terpenting
adalah mencari Thian Sin dan Lian Hong, dua orang yang dia harap mudah-mudahan masih dalam keadaan selamat.
Ketika dia tiba di Su-couw, langsung dia mencari rumah gedung Phoa-taijin dan sungguh kebetulan sekali dia
mendengar teriakan Thian Sin yang menantang-nantang. Cepat dia meloncat ke atas genteng dan melayang ke dalam.
Melihat keadaan Thian Sin, di bawah sinar lampu yang cukup terang di pelataran itu, Han Tiong bergidik! Pakaian
adiknya sudah robek-robek dan penuh dengan darah! Pedangnya juga berlepotan darah dan sinar mata adiknya itu
seperti bukan manusia lagi! Maka, tanpa membuang waktu lagi, dia meloncat turun dan menangkap pergelangan
tangan kanan adiknya.
"Sin-te, ingatlah...!" Dia berkata lagi.
Thian Sin menoleh dan melihat kakaknya, dia merintih, kemudian roboh pingsan di dalam pelukan Han Tiong. Cepat
Han Tiong memondong tubuhnya, menyambar pedang Gin-hwa-kiam dan membawa adiknya itu lari sambil memutar pedang
untuk menangkis semua senjata yang menyambar ke arah mereka. Berkat ketangkasannya, Han Tiong dapat cepat
melarikan diri keluar dari Su-couw dan langsung dia melarikan diri ke dalam hutan di lereng gunung. Setelah
melihat bahwa tidak ada lagi orang yang mengejar mereka, dia lalu menurunkan tubuh Thian Sin di bawah sebatang
pohon besar. Dia memeriksa tubuh adiknya itu. Tidak ada luka, baik luar maupun dalam. Adiknya pingsan karena
lelah, karena tertekan batinnya. Maka diapun lalu mendiamkannya saja, dan diapun duduk bersila di dekat adiknya
untuk mengatur pernapasan karena dia sendiri juga tertekan dengan kedukaan dan kekhawatiran.
Baru saja terang tanah, Thian Sin mengerang dan tiba-tiba meloncat bangun. Ketika Han Tiong juga meloncat
berdiri, Thian Sin tiba-tiba menyerangnya dengan hebat, dengan pukulan-pukulan mematikan. Baiknya Han Tiong
bersikap waspada maka dia dapat mengelak dan menangkis beberapa kali sambil berseru,
"Sin-te, sudah gilakah engkau sehingga tidak mengenalku? Kau lihat baik-baik, aku adalah Han Tiong!"


Tiba-tiba Thian Sin menghentikan serangannya, memandang kepada wajah Han Tiong, kemudian dia menjadi lemas,
menjatuhkan dirinya berlutut dan menangis mengguguk seperti anak kecil! Han Tiong juga berlutut dan merangkul
adiknya, diam-diam dia menyusut beberapa butir air matanya.
"Adikku... ah, Sin-te... tenangkanlah hatimu. Aku tahu... aku telah melihatnya... akan tetapi, kita harus dapat
menenangkan hati kita, Sin-te."
"Tiong-ko... aduh, Tiong-ko... betapa aku tidak akan sedih? Semua itu adalah gara-gara aku! Keluarga Ciu binasa
karena aku! Karena aku yang menjadi anak pangeran terkutuk itu!"
"Sin-te! Jangan bicara yang bukan-bukan. Ceritakan, apa yang telah terjadi dan mengapa engkau berada di
Lok-yang dan Su-couw?"
Thian Sin menenangkan hatinya, lalu duduk bersila sejenak. Han Tiong membiarkan adiknya, bahkan diapun lalu
duduk bersila. Akhirnya terdengar Thian Sin menarik napas panjang dan suaranya telah menjadi tenang kembali
ketika dia bercerita.
"Tiong-ko, maafkanlah aku, Tiong-ko. Aku... aku malam tadi membaca surat titipan Paman Ciu untuk ayah..."
"Aku sudah tahu, adikku."
"Kau tahu? Dan kau diam saja..."
Han Tiong tersenyum duka. "Keinginan tahu seorang muda bukanlah kesalahan yang terlalu besar, lupakanlah saja,
Sin-te."
"Lupakanlah? Ah, Tiong-ko, engkau tidak tahu betapa jahat adikmu ini. Aku membaca surat itu, isinya mengikatkan
perjodohan antara engkau dan Hong-moi. Dan aku penasaran! Aku yang tak tahu diri ini! Aku penasaran dan aku
kembali ke Lok-yang. Aku harus bicara dengan Hong-moi!"
"Ah!" Han Tiong terkejut sekali dan hatinya cemas. Apakah yang telah dilakukan adiknya ini? Itulah yang
dicemaskannya.
"Aku berhasil memanggil Hong-moi keluar dan kami bicara penjang lebar. Dan dia memang cinta kepadamu, Tiong-ko,
dia memilih engkau karena... karena aku... hemm, aku orang yang kejam dan jahat!"
"Sin-te, jangan berkata demikian. Kau seperti merasa penasaran!"
"Pada waktu itu memang aku penasaran! Dan selagi kami bicara, terdengar suara ribut-ribut dan pasukan anjing
jahanam itu telah menyerbu. Mereka berteriak-teriak katanya hendak menangkap aku, anak pemberontak, akan tetapi
kenyataannya mereka membakar rumah dan menyerbu. Aku tentu saja tidak tinggal diam. Melihat Paman Ciu
sekeluarganya melawan, akupun lalu mengamuk. Akan tetapi, eh... betapa hancur hatiku melihat mayat-mayat mereka
berempat..." Dan pemuda itu memejamkan mata dan mengerutkan alisnya, menahan gelombang duka yang menyerangnya.
"Akupun telah melihat mereka, Sin-te. Dan... dan... Hong-moi, bagaimana dengan dia?" tanya Hen Tiong, suaranya
agak gemetar.
"Tidak tahu, Tiong-ko... tidak tahu... lenyap begitu saja... aku tidak tahu ke mana ia pergi... ah, hal itu
membuatku semakin sedih karena malapetaka yang menimpanya adalah karena aku. Aku harus mencarinya sampai dapat,
Tiong-ko!"
"Jangan, Sin-te. Urusan yang terjadi ini terlalu besar. Ingat, pasukan pemerintah mencampuri dan setelah engkau
membunuh sekian banyaknya perajurit, tentu pemerintah takkan tinggal diam saja. Tentang Hong-moi, ke mana
engkau hendak mencarinya? Tidak ada jejak darinya..."
"Kalau perlu, aku akan siksa semua perajurit yang ada di Lok-yang, dan memaksa mereka itu mengaku di mana
adanya Hong-moi!"
"Hemm, perbuatan itu bodoh, Sin-te. Kukira Hong-moi berhasil melarikan diri. Kalau ia tertawan misalnya, tentu
engkau atau aku sudah mendengarnya. Engkau tidak boleh sembarangan pergi mencarinya setelah apa yang terjadi
malam tadi, Sin-te."
"Habis apakah kita harus mendiamkan saja Hong-moi terancam bahaya dan tidak kita ketahui bagaimana nasibnya?
Begitu kejamkah engkau, Tiong-ko? Dan... ia adalah calon isterimu sendiri!" Kalimat terakhir ini diucapkan
dengan nada berteriak penuh rasa penasaran.
Han Tiong menarik napas panjang. "Sin-te, haruskah aku memperlihatkan atau memamerkan rasa dukaku karena
kematian keluarga Ciu dan kegelisahanku karena hilangnya Hong-moi? Kita harus bersikap tenang dalam menghadapi
segala hal, Sin-te. Saat ini, pemerintah tentu telah mendengar tentang peristiwa itu dan mata-mata tentu telah
disebar untuk mencari kita. Menghadapi persoalan yang besar ini, tiada lain jalan bagi kita selain
melaporkannya kepada ayah dan minta pendapat ayah bagaimana selanjutnya kita harus bertindak. Kita tidak boleh
bertindak sembarangan. Ingat, kita menghadapi pemerintah yang tidak mungkin kita lawan begitu saja, Sin-te."
Akhirnya, biarpun dengan hati penuh rasa penasaran, Thian Sin mentaati kakaknya. Dia bukan takut, melainkan
segan untuk membantah dan membikin susah atau marah kakaknya yang amat dikasihinya ini. Biarpun pilihan Lian
Hong kepada kakaknya itu sedikit banyak mendatangkan rasa iri hati dan juga menghancurkan perasaannya yang
sudah jatuh cinta kepada dara itu, namun dia tidak dapat membenci kakaknya ini. Dia terlampau sayang dan
terlampau kagum terhadap kakaknya sehingga tidak mungkin dia membencinya, bahkan sekarangpun dia tidak mau
membantahnya terus karena tidak mau menyusahkan hati kakaknya yang dia tahu amat sayang kepadanya itu. Maka,
dengan cepat, setelah mengambil kuda mereka, dua orang muda inipun melakukan perjalanan pulang ke Lembah Naga.
***
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Cia Sin Liong dan Bhe Bi Cu, isterinya, ketika mereka berdua melihat
dua orang putera itu datang dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki mereka sambil menangis! Han Tiong dan
Thian Sin menangis! Tentu telah terjadi sesuatu yang luar biasa hebatnya maka dapat membuat dua orang muda yang
tak pernah menangis ini sekarang mengguguk sambil berlutut di depan mereka, tanpa dapat mengeluarkan kata-kata
sedikitpun.
Melihat keadaan dua orang muda, Bhe Bi Cu sudah menjadi gelisah sekali. Dia berlutut pula di dekat Han Tiong
dan mengguncang-guncang pundak putera kandungnya itu. "Apakah yang telah terjadi? Tiong-ji... ada apakah?
Mengapa kalian menangis? Thian Sin, ceritakanlah, apa yang telah terjadi?"
Melihat kegelisahan isterinya, Cia Sin Liong Si Pendekar dari Lembah Naga itu segera menyentuh pundaknya dengan
halus, memberi isyarat dengan pandang matanya agar isterinya itu tenang kembali. Bi Cu yang melihat pandang
mata suaminya, menahan tangis dan duduk kembali sambil memandang dua orang muda itu dengan khawatir sekali.
Kini Sin Liong yang berkata-kata dengan suara yang penuh wibawa.
"Han Tiong! Thian Sin! Kalian ini pemuda-pemuda macam apa? Menangis seperti anak-anak kecil. Lupakah kalian
bahwa nafsu kedukaan, seperti juga nafsu-nafsu lain, hanya akan melemahkan batin kita dan menghilangkan
kewaspadaan? Tidak ada hal yang bagaimana pahit sekalipun yang akan dapat meruntuhkan ketenangan hati seorang
pendekar! Hayo hentikan tangis kalian itu dan berceritalah dengan tenang!"
Dua orang muda itu memejamkan kedua mata dan menahan napas, dan akhirnya mereka berdua dapat menenangkan hati
mereka dan tidak terisak-isak lagi sungguhpun kedua mata mereka masih basah.
Kemudian Han Tiong menceritakan perjalanan mereka dan semua yang mereka alami, mulai dari pengalaman mereka di
kota raja, pertemuan mereka dengan putera Pak-san-kui yaitu Siangkoan Wi Hong, kemudian kunjungan mereka berdua
ke Cin-ling-san lalu kunjungan ke Bwee-hoa-san, tempat kediaman Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng. Di bagian ini,
Thian Sin membantu kakaknya, bahkan dia menceritakan kegembiraannya bertemu dengan neneknya, ibu dari mendiang
ibunya dan betapa neneknya itu telah memberikan Gin-hwa-kiam kepadanya, dan betapa mereka berdua menerima
latihan-latihan ilmu silat tinggi dari kakek dan nenek itu.
Pendekar Lembah Naga dan isterinya tertarik sekali mendengarkan penurutan dua orang muda itu, apalagi ketika
mereka menceritakan tentang kunjungan mereka ke dalam pesta ulang tahun Tung-hai-sian di Ceng-tao bersama Cia
Kong Liang, tentang peristiwa yang terjadi di dalam pesta ulang tahun yang dikunjungi oleh wakil-wakil para
datuk itu. Kemudian dua orang muda itu menceritakan kunjungan mereka ke Lok-yang di mana mereka telah berjumpa
dengan keluarga Ciu dan menyerahkan surat yang dititipkan oleh Pendekar Lembah Naga kepada mereka. Dan begitu
menceritakan keadaan mereka di Lok-yang, sikap dan suara dua orang muda itu berubah dan kedukaan menyelimuti
wajah mereka sehingga mudah bagi Sin Liong dan isterinya untuk menduga bahwa tentu terjadi sesuatu di Lok-yang.
Membayangkan betapa terjadi sesuatu atas diri keluarga dua orang adiknya, adik seibu berlainan ayah, yaitu Kui
Lan dan Kui Lin, berdebar juga rasa jantung pendekar itu dan kegelisahan mulai menyelimuti hatinya.
Akhirnya cerita dua orang muda itu sampailah kepada peristiwa yang mengerikan itu, dan untuk ini, Thian Sin
yang merasa betapa dialah yang bersalah dan menjadi biang keladi peristiwa itu, hanya menundukkan kepalanya dan
membiarkan kakaknya yang bercerita.
"Sungguh tidak pernah kami kira bahwa peristiwa perampasan kembali barang-barang kawalan Paman Kui Beng Sin itu
mendatangkan akibat yang amat hebat, ayah." Han Tiong melanjutkan ceritanya dengan suara agak gemetar. "Pada
malam terakhir kami berada di Lok-yang secara tiba-tiba saja pasukon pemerintah menyerbu, membakar rumah Paman
Ciu dan menyerang secara membabi-buta! Kami berdua tentu saja membantu keluarga Ciu, mengadakan perlawanan,
namun fihak musuh terlalu banyak, bahkan pasukan itu dibantu oleh orang-orang pandai yang ternyata adalah anak
buah dari tiga datuk sesat See-thian-ong, Lam-sin, dan Pak-san-kui. Dan dalam pertempuran itu, rumah keluarga
Ciu terbakar habis dan Paman Ciu Khai Sun, kedua Bibi Kui Lan dan Kui Lin, juga Ciu Bun Hong... mereka berempat
itu... ah, mereka semua tewas...!"
"Ohhhhh...!" Bi Cu menjerit dan terbelalak, mukanya pucat sekali.
"Hemm...!" Cia Sin Liong memejamkan kedua matanya seolah-olah hendak menolak penglihatan yang nampak oleh
cerita puteranya itu. Sejenak keadaan hening sekali dan dua orang muda itupun menundukkan muka.
"Tapi mengapa? Mengapa?" Akhirnya Sin Liong berkata.
"Aku yang bersalah, ayah! Karena kesalahankulah maka hal itu terjadi! Karena aku putera pangeran pemberontak
Ceng Han Houw maka hal itu terjadi! Mereka itu berteriak-teriak hendak menangkap putera pangeran pemberontak,
akulah yang berdosa, keluarga Ciu tewas semua karena aku seorang! Aku anak keturunan pangeran terkutuk...!"
"Thian Sin!" Cia Sin Liong membentak dengan keren. Akan tetapi Thian Sin yang seperti merasa dikejar-kejar dosa
itu seolah-olah tidak mendengar bentakan ayah angkatnya.
"Aku telah meneriakkan bahwa aku di situ, agar mereka jangan mengganggu keluarga Ciu, aku telah mengamuk, aku
telah membunuh puluhan orang perajurit, akan tetapi tidak berdaya menyelamatkan mereka. Ayah, ibu, aku telah
membasmi mereka sebanyak mungkin, lalu aku memaksa mereka mengaku dan ternyata yang menghasut adalah
Phoa-taijin! Pembesar laknat itu ternyata telah mengatur sendiri perampokan barang-barangnya yang dikawal Paman
Kui Beng Sing untuk mengumpulkan uang pengganti, dia... dia bersekongkol dengan para datuk, dan mereka itu
berhubungan dengan orang-orang di utara, bangsa Mangcu yang katanya hendak memberontak. Aku telah menyiksa
pembesar itu, memaksanya mengaku, kemudian aku telah menghukumnya, membuntungi kaki tangannya, telinganya,
hidungnya..."
"Sin-te...!" Han Tiong berseru.
"Biarlah, Tiong-ko, akulah yang berdosa, akulah yang menyebabkan keluarga Ciu terbasmi. Namun kematian mereka
telah diantarkan oleh kematian puluhan orang musuh, dan akan masih banyak lagi, lebih banyak lagi
penjahat-penjahat yang akan kubunuh untuk membalaskan kematian mereka! See-thian-ong, Lam-sin, Pak-san-kui...
dan semua penjahat di dunia ini akan kubasmi untuk membalaskan sakit hatiku ini!"
"Thian Sin! Diam kau!" Tiba-tiba Sin Liong membentak, bentakan yang disertai pengerahan tenaga khi-kang
sehingga ruangan itu tergetar dan Thian Sin sendiri yang langsung diserang itu melonjak dan terkejut sekali.
Dia memandang wajah ayah angkatnya, melihat sepasang mata yang seperti naga itu, dan diapun sadarlah. Dia
menyentuh lantai dengan dahinya berulang kali sambil merintih minta maaf.
Mereda kemarahan Sin Liong melihat Thian Sin minta-minta maaf seperti itu dan terbayanglah wajah Pangeran Ceng
Han Houw. Dia menarik napas panjang dan merasa kasihan sekali kepada pemuda ini, akan tetapi juga khawatir.
"Sudahlah, engkau patut selalu ingat bahwa ketenangan batin seorang pendekar tidak akan tergoyahkan oleh
peristiwa apapun juga. Kalau engkau menuruti perasaan dan nafsu dendam menguasai batinmu, maka engkaupun akan
menjadi sama jahatnya dengan mereka. Han Tiong, teruskan ceritamu."
Wajah pemuda ini agak pucat oleh sikap Thian Sin yang penuh emosi tadi. Dia tadi sudah berusaha untuk
menyembunyikan segala perbuatan Thian Sin di Lok-yang, akan tetapi dalam kedukaan dan kemarahannya, Thian Sin
malah mengakui sendiri sehingga diapun tidak akan banyak bicara lagi.
"Ayah, melihat Sin-te mengamuk di rumah pembesar di Su-couw itu, aku segera memaksanya pergi. Keluarga Ciu
tewas semua, kecuali Adik Ciu Lian Hong yang lenyap entah ke mana. Mungkin sekali dia berhasil melarikan diri,
karena kalau tertawan, tentu kami telah mendengarnya. Sin-te hendak nekat mencarinya, akan tetapi karena
peristiwa itu hebat sekali, membawa pasukan pemerintah yang banyak tewas di tangan Sin-te, maka aku memaksanya
untuk pulang dan melaporkannya kepada ayah. Dan ini... ini adalah surat yang sebelum peristiwa itu terjadi,
pada pagi harinya, diberikan kepada Paman Ciu Khai Sun untuk disampaikan kepada ayah." Han Tiong menyerahkan
surat itu kepada ayahnya.
Pada wajah yang gagah dari pendekar sakti yang telah mulai tua ini, nampak keharuan ketika dia membaca surat
tulisan adik iparnya yang telah tewas! Tulisan seorang yang telah mati, berarti pesannya yang terakhir. Pesan
untuk menjodohkan Lian Hong dengan Han Tiong! Jadi Han Tiong yang dipilih oleh keluarga itu, keluarga yang
terbasmi habis, kecuali Lian Hong seorang.
"Han Tiong... kau harus... harus mencari Lian Hong, calon isterimu itu sampai dapat. Sekarang juga!" akhirnya
dia berkata.
"Ah, dia baru saja datang!" bantah isterinya yang tidak rela melepaskan puteranya untuk pergi lagi pada hari
dia kembali dari perantauannya selama hampir setahun itu.
Suaminya menyerahkan surat itu kepada isterinya. Bhe Bi Cu membacanya dan diapun merasa terharu sekali.
"Bagaimanapun juga, jangan sekarang kau pergi, Tiong-ji, kau baru saja tiba dan belum beristirahat, juga belum
menyediakan perlengkapan. Kini kau melakukan perjalanan yang tak tentu tujuannya, mencari tunanganmu yang belum
kauketahui jejak kepergiannya."
"Kau boleh bersiap-siap, Han Tiong. Demi ibumu, biarlah kau berada di rumah selama dua hari dan besok lusa
engkau harus berangkat mencarinya sampai dapat. Ini merupakan tugas suci bagimu."
"Baik, ayah."
Kemudian pendekar itu memandang Thian Sin lalu berkata, "Dan engkau perlu untuk berlatih lagi, Thian Sin. Ilmu
silatmu sudah cukup, apalagi engkau telah menerima petunjuk-petunjuk dari kakek dan nenekmu. Akan tetapi,
menyaksikan sepak terjangmu di Lok-yang dan Su-couw, dan sikapmu tadi, engkau sungguh masih harus berlatih diri
dengan keras untuk memperkuat batinmu. Ingat, Thian Sin, kelemahan batin merupakan suatu yang amat gawat bagi
seorang pendekar, karena hal itu kelak bisa mencelakakan dirimu sendiri. Nah, mulai sekarang engkau harus lebih
banyak berlatih samadhi dan menguasai nafsu itu, bukannya diperbudak atau sewaktu-waktu engkau dapat
dikuasainya sehingga melakukan perbuatan secara membuta, hanya menurutkan dorongan nafsu. Mengerti?"
"Tapi... tapi, ayah... saya ingin sekali membantu Tiong-ko mencari Hong-moi..."
"Tidak! Dengan kelemahan batinmu seperti sekarang ini, engkau bukannya membantu, bahkan mungkin saja
menimbulkan kekacauan yang lain dan malah bisa menggagalkan tugas suci Han Tiong yang cukup berat. Engkau
tinggal di rumah dan berlatih samadhi!"
Thian Sin mengangguk dan menundukkan mukanya, tidak membantah lagi. Setelah mendengarkan penuturan Han Tiong
lebih lanjut tentang segala yang mereka tanyakan mengenai perjalanan mereka berdua selama hampir setahun ini,
kedua orang muda ini lalu mengundurkan diri untuk beristirahat.
Akan tetapi pada keesokan harinya, ketika Han Tiong bangun pagi-pagi sekali, ternyata Thian Sin telah tidak ada
di dalam kamarnya dan melihat pembaringannya, memang pemuda itu agaknya tidak tidur sama sekali. Thian Sin
telah pergi tanpa pamit! Dan agaknya kepergian itu dilakukan malam tadi sehingga setelah ketahuan kini, tentu
sudah amat jauh karena sudah semalam melarikan diri.
Cia Sin Liong menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya, lalu menggeleng-geleng kepalanya. "Ah, kukira akan
dapat menundukkannya, setelah dia digembleng pula oleh Lie Seng Koko, siapa kira dia masih seperti seekor kuda
binal yang sukar untuk ditundukkan. Melihat sikapnya kemarin... hemm, sungguh aku merasa khawatir sekali. Han
Tiong, kalau engkau berangkat mencari tunanganmu, engkau juga perhatikanlah kalau-kalau dapat menemukan
jejaknya dan kalau bisa, kaubujuklah dia agar pulang atau biarlah kauperbolehkan dia ikut bersamamu dan
membantumu. Kulihat hanya kepadamu sajalah dia itu dapat tunduk."
"Baik, ayah," jawab Han Tiong yang diam-diam merasa prihatin sekali. Dia tahu bahwa hati adiknya itu hancur,
bukan hanya oleh kematian keluarga Ciu, akan tetapi juga karena patah hati. Adiknya itu mencinta Lian Hong, dan
melihat kenyataan betapa Lian Hong dijodohkan dengan dia tentu saja hati Thian Sin menjadi sakit. Biarlah dia
tidak perlu menceritakan hal itu kepada ayah bundanya, dan kelak, kalau Lian Hong sudah dapat ditemukan, baru
dia akan bicara tentang hal ini kepada ayah bundanya. Kalau perlu, dia akah mengalah dan mundur, membiarkan
Thian Sin berbahagia di samping Lian Hong. Tentu saja kalau gadis itu memang menghendakinya, yang penting
sekarang adalah menemukan dara itu.
Tiga hari kemudian, barulah Han Tiong berangkat, dibekali cukup uang dan nasihat-nasihat oleh ayah bundanya
yang mengantar kepergiannya dengan pandang mata prihatin. Dan karena Han Tiong sendiri tidak tahu di mana
adanya Lian Hong atau ke mana perginya, maka satu-satunya jalan baginya hanyalah mengunjungi Lok-yang kembali,
atau setidaknya dia akan mencari di sekitar daerah Propinsi Ho-nan.
Memang tepat dugaan Han Tiong. Thian Sin nekat malam itu minggat meninggalkan Lembah Naga karena patah hati!
Dia tidak merasa perlu lagi tinggal di Lembah Naga. Untuk apa? Lian Hong sudah menjadi calon isteri kakaknya,
dan malah dia tidak boleh membantu kakaknya mencari dara itu! Kalau dia tinggal di Lembah Naga, setiap hari dia
hanya akan menyesali dirinya sendiri saja. Tidak, dia harus pergi! Dia harus mempelajari ilmu-ilmu peninggalan
ayahnya. Dia memang putera kandung Pangeran Ceng Han Houw yang dicap pemberontak. Dia memang anak orang jahat,
dan sekarang dia telah menjadi pemberontak pula setelah dia membunuh pasukan pemerintah. Biarlah dia hidup
sendiri dengan segala kejelekannya. Dan dia akan membalas dendam kematian keluarga Ciu, juga dendamnya sendiri.
Telah terlalu sering hatinya dibikin sakit oleh para penjahat dan betapa dia selama ini selalu menahan-nahan
dendamnya. Beberapa kali dia harus merasa kecewa dalam hidupnya. Ayahnya dan ibunya dibunuh orang, dan karena
teringat bahwa ayah bundanya dibunuh oleh para pasukan pemerintah itulah maka dia malam itu mengamuk dan
membunuhi para prajurit itu dengan penuh kebencian, bukan semata-mata karena ingin membela keluarga Ciu. Berapa
kali dia patah hati karena putus cinta. Pertama dengan Cu Ing yang dipisahkan darinya dengan paksa. Ke dua, dia
kehilangan Loa Hwi Leng yang terbunuh oleh orang-orang Jeng-hwa-pang. Dia sakit hati dan mendendam kepada
banyak orang! Kepada pasukan kerajaan yang membunuh orang tuanya dan membunuh keluarga Ciu, kepada Raja Agahai
pamannya di utara yang ikut pula mencelakakan orang tuanya, kepada Jeng-hwa-pang, kepada See-thian-ong, kepada
Lam-sin, Pak-san-kui dan masih banyak lagi, dan pendeknya, kepada semua penjahat di dunia ini!
"Aku akan basmi mereka!" berkali-kali dia berkata ketika dia lari di malam hari itu, menuju ke selatan dan
dengan cerdik dia mengambil jalan liar, bukan jalan umum karena dia tahu bahwa mungkin sekali kakaknya akan
menyusul dan mencarinya. Dia harus pandai menyembunyikan diri dan tidak sampai berjumpa dengan kakaknya, karena
dia tahu bahwa kalau sampai dia berhadapan muka dengan Han Tiong, dia tidak mungkin dapat membantah lagi kalau
kakaknya itu mengajaknya pulang.
Sekali ini, kepergiannya memang sudah direncanakan sejak dia pulang dan menghadap ayah angkatnya bersama Han
Tiong. Maka dia tidak lupa membawa kitab-kitab peninggalan ayahnya. Selama ini dia belum sempat mempelajarinya,
karena ayah angkatnya melarangnya. "Ilmu milik mendiang ayah kandungmu memang hebat, Thian Sin, akan tetapi
sayang, ilmu itu mengandung pengaruh yang amat tidak baik. Sifat ayahmu banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmunya
itulah." Demikian ayah angkatnya berkata dan selama ini dia mentaati dan tidak pernah menyentuh kitab-kitab
itu. Akan tetapi, kini dia membawa kitab-kitab itu dan dia harus mempelajarinya. Dia sudah pernah
membalik-balik lembarannya dan dapat mengerti dengan mudah. Juga kunci-kunci rahasia kitab itu masih diingatnya
baik. Kitab-kitab tulisan ayah kandungnya itu memang mengandung rahasia-rahasia yang hanya depat dipecahkan
olehnya, dengan menggunakan kunci-kunci rahasia yang pernah diajarkan ayahnya kepadanya.
Pertama-tama dia akan mencari Pak-san-kui. Datuk kaum sesat ini adalah ayah Siangkoan Wi Hong dan sekarang,
tanpa adanya Han Tiong di sampingnya, dia akan menghajar Siangkoan Wi Hong dan akan membunuhnya! Juga dia akan
menantang Pak-san-kui yang sudah mengirim anak buahnya ikut mengeroyok dan membunuh keluarga Ciu Khai Sun. Dia
sudah banyak mendengar tentang Pak-san-kui, bahkan ayah angkatnya sudah banyak bercerita tentang datuk kaum
sesat di daerah utara ini. Dia tahu bahwa Pak-san-kui tinggal di kota Tai-goan, di Propinsi Shan-si dan ke
sanalah dia kini menuju.
Pada saat itu, Ceng Thian Shin telah berusia sembilan belas tahun. Wajahnya memang tampan sekali,
gerak-geriknya halus. Dilihat sepintas lalu saja, dia lebih pantas menjadi seorang pemuda pelajar yang lemah.
Siapa mengira bahwa pemuda ini menyembunyikan ilmu silat yang amat hebat, banyak macam ilmu silat tinggi
dikuasainya dan dia merupakan seorang pendekar sakti yang amat lihai. Pedang Gin-hwa-kiam pemberian neneknya
disembunyikannya di balik jubahnya dan dia melakukan perjalanan cepat menyusup-nyusup hutan, naik bukit dan
menuruni jurang, mengambil jalan liar agar tidak sampai dapat disusul oleh kakaknya.
Pak-san-kui adalah seorang kakek yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, hampir tujuh puluh tahun malah, dan
dia memang diakui sebagai datuk oleh kaum sesat atau golongan hitam di deerah utara. Namanya adalah Siangkoan
Tiang dan di kota Tai-goan di mana dia hidup sebagai seorang hartawan besar, dia lebih dikenal sebagai
Siangkoan-wangwe (hartawan Siangkoan). Rumah gedungnya besar seperti istana, dikelilingi pagar tembok yang
tebal seperti benteng dan di depan pintu gerbangnya selalu terdapat penjaga-penjaga yang berpakaian seragam
kuning, pakaian ahli-ahli silat yang gagah. Pak-san-kui Siangkoan Tiang ini tidak seperti para datuk lainnya,
tidak mempunyai perkumpulan yang dipimpinnya. Akan tetapi jangan dikira bahwa dia tidak mempunyai anak buah!
Dia mempunyai tidak kurang dari lima puluh orang anak buah yang menjadi pesuruh-pesuruh atau tukang-tukang
pukulnya yang rata-rata memiliki ilmu silat lumayan karena tentu saja sebagai seorang datuk, Pak-san-kui tidak
sudi mempunyai anak buah yang lemah! Dan biarpun dia tidak mempunyal perkumpulan dan tidak membuka perguruan,
namun dia mempunyai kurang lebih sepuluh orang anak buah yang dipilihnya dari semua anak buahnya, yang
merupakan orang-orang berbakat, lalu mengambil mereka sebagai muridnya. Sebagian besar dari anak-anak buah itu
adalah bekas-bekas penjahat di daerah utara yang takluk kepada datuk ini. Murid-murid kepala yang paling
diandalkan oleh Pak-san-kui adalah Pak-thian Sam-liong, tiga orang kakek berusia lima puluh tahun yang terkenal
dengan ilmu gabungan mereka, yaitu Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga). Pakaian tiga orang murid kepala inipun
ringkas dan gagah, berwarna putih-putih dengan sabuk biru dan kemanapun mereka pergi, tiga orang ini selalu
membawa pedang di punggung mereka.
Di bawah murid kepala ini, terdapat beberapa orang murid lagi yang cukup tangguh dan mereka semua inilah
pelaksana-pelaksana yang mewakili Pak-san-kui dalam berurusan dengan segala golongan di daerah utara.
Pak-san-kui bukan hanya terkenal kaya raya, akan tetapi dia juga mempunyai hubungan yang amat erat dengan para
pembesar di kota-kota, sampai di kota raja! Pengaruhnya luas sekali dan dialah, atau setidaknya murid-muridnya
yang dipercayalah, yang menjadi semacam jembatan bagi setiap orang yang memerlukan bantuan para pembesar itu.
Melalui Pak-san-kui maka pembesar itu suka memberi jasa-jasa baik terhadap para pedagang, para hartawan yang
membutuhkan bantuan pembesar-pembesar itu dengan imbalan yang cukup besar. Dan semua hubungan itu melalui
Pak-san-kui! Tentu saja sebagai jembatan, Pak-san-kui memperoleh tanda terima kasih dari kedua fihak. Selain
itu, juga Pak-san-kui telah menundukkan semua gerombolan penjahat sehingga dari mereka inipun dia memperoleh
banyak sumbangan sebagai tanda takluk. Bahkan semua rumah judi, rumah pelacuran, dan rumah pemadatan yang
besar-besar, berada di bawah kekuasaan Pak-san-kui. Maka tidaklah mengherankan kalau pengaruhnya besar dan
kekayaannya makin lama semakin besar juga.
Seperti telah kita kenal, hartawan ini mempunyai seorang putera saja, yaitu Siangkoan Wi Hong yang tampan,
halus dan pandai main musik, bersajak, akan tetapi juga lihai ilmu silatnya itu. Jarang ada orang sempat
menyaksikan ilmu silat kakek hartawan ini. Akan tetapi didesas-desuskan bahwa kepandaiannya seperti malaikat,
dan huncwe panjang bergagang emas yang selalu dibawanya ke mana-mana itu merupakan senjata yant amat ampuh. Dan
hartawan ini memang lebih patut menjadi hartawan daripada ahli silat tinggi, karena tubuhnya yang jangkung,
wajahnya yang terpelihara baik-baik dan tampan, sikapnya yang ramah, pakaiannya yang mewah, semua itu sama
sekali tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang datuk yang sakti.
Amat mudah bagi Thian Sin untuk menemukan rumah gedung Pak-san-kui di kota Tai-goan itu. Setiap orang, siapapun
juga yang ditanyainya, tentu tahu di mana letak rumah gedung itu walaupun orang lebih mengenal Pak-san-kui
sebagai Siangkoan-wangwe. Tadinya Thian Sin sendiri bingung melihat yang ditanya tentang Pak-san-kui tidak
tahu, akan tetapi ketika pemilik restoran di mana dia makan mendengar disebutnya Pak-san-kui, dia cepat berkata
bahwa yang dicari pemuda itu tentulah Siangkoan-wangwe. Dan Thian Sin segera membenarkan karena dia teringat
bahwa nama putera Pak-san-kui adalah Siangkoan Wi Hong.
"Ya, benar. Siangkoan-wangwe, di mana rumahnya?" Semua orang dengan cepat memberi keterangan di mana adanya
rumah gedung hartawan itu, dan di luar tahunya Thian Sin, pemilik restoran diam-diam telah mengutus seorang
pegawainya untuk memperingatkan kepada hartawan itu atau anak buahnya bahwa ada seorang pemuda tampan asing
yang mencarinya. Mudah diketahui bahwa pemuda yang mencari itu tentulah seorang asing yang datang dari jauh,
pertama karena logat bicaranya berbeda, ke dua, kalau pemuda itu orang daerah Tai-goan, tak mungkin tidak tahu
di mana adanya rumah Siangkoan-wangwe!
Karena adanya laporan inilah maka ketika Thian Sin berhadapan dengan para penjaga pintu gerbang rumah gedung
yang berpakaian serba kuning itu dan mendengar bahwa dia minta berjumpa dengan Siangkoan-wangwe, dia
dipersilakan memasuki pintu gerbang, akan tetapi begitu dia masuk, daun pintu gerbang dari besi itu ditutup
rapat dan dia telah dikurung oleh beberapa orang penjaga yang membawa tombak dan golok!
Thian Sin bersikap tenang sekali. Setelah kini merantau seorang diri dan seorang diri pula menghadapi bahaya,
dia bersikap tenang. Dia tahu bahwa dia telah berani memasuki gua macan, oleh karena itu dia tidak mau menuruti
perasaan hatinya. Dia sudah memperoleh pelajaran pahit dan sekarang dia harus bersikap cerdik. Dia bukan
seorang tolol yang nekat mencari mati dengan menantang Pak-san-kui begitu saja. Dia harus pandai bersiasat.
Maka, dikepung oleh beberapa orang yang berpakaian kuning itu, dia tersenyum saja.
"Hemm, beginikah caranya Pak-san-kui yang terkenal itu menyambut seorang tamu yang hendak bertemu dengannya?
Menyambut dengan pengeroyokan seperti sikap seorang tukang pukul murahan saja?" katanya mengejek dan sengaja
menaikkan nada suaranya, agar terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam gedung besar itu!
Dan pancingannya itu memang berhasil. Dari dalam gedung muncullah seorang pemuda tampan yang membawa yang-kim,
dan bukan lain dia adalah Siangkoan Wi Hong. "Aha, kiranya si pemberontak berani muncul di sini!" kata
Siangkoan Wi Hong dengan suara mengejek, akan tetapi dia tersenyum dan memandang kepada Thian Sin dengan sinar
mata menunjukkan kekagumannya. Memang putera Pak-san-kui ini merasa kagum kepada Thian Sin yang dianggapnya
seorang pemuda yang pandai bersajak, penuh keberanian, dan mempunyai ilmu kepandaian hebat. Dia sendiri harus
mengakui bahwa dia tidak mampu menandingi putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw ini!
Melihat munculnya putera Pak-san-kui itu, Thian Sin tersenyum pula dan membungkuk. "Nah, kalau puteranya yang
keluar menyambut masih mendingan! Siangkoan-kongcu, jangan sembarangan bicara tentang pemberontak, nanti engkau
bisa mendapat marah dari ayahmu. Ada banyak macam pemberontak di dunia ini dan yang paling berhahaya adalah
para pemberontak yang bersembunyi dan tidak melakukan pemberontakannya secara berterang!" Thian Sin teringat
akan pengakuan Phoa-taijin, maka dia berani menyindir dengan kata-kata itu. Dia merasa yakin bahwa datuk utara,
ayah dari pemuda di depannya ini tentu bersekutu dengan orang-orang Mancu yang merencanakan pemberontakan.
"Bocah sombong! Engkau telah berani memberontak dan mengacau di Lok-yang dan Su-couw, dan sekarang berani
muncul di sini, menjual lagak? Tangkap dia!" bentak Siangkow-kongcu yang sudah meloncat maju. Beberapa orang
penjaga sudah mengurung pula, siap untuk menyerang Thian Sin yang sudah terkurung di tengah-tengah. Akan tetapi
Thian Sin bersikap tenang dan masih tersenyum, sama sekali tidak kelihatan gentar.
"Aku tidak percaya bahwa Siangkoan Wi Hong, putera tunggal Pak-san-kui yang terkenal lihai itu kini hendak
mengandalkan pengeroyokan anak buahnya yang tidak berarti untuk menyambut seorang tamu yang hendak bicara!"
Ucapan ini membuat Siangkoan Wi Hong meragu. Kalau dia melanjutkan pengeroyokan, sungguh sama saja dengan
menjatuhkan namanya sendiri di depan mata para anak buahnya! Akan tetapi, pada saat itu, terdengar suara
tertawa dari dalam gedung dan tiba-tiba saja muncul seorang kakek bertubuh jangkung yang memegang sebatang
huncwe panjang.
Biarpun selama hidupnya belum pernah berjumpa dengan Pak-san-kui, akan tetapi Thian Sin sudah memperoleh
gambaran tentang datuk ini dari kakaknya yang pernah bertemu ketika masih kecil, maka begitu kakek itu muncul,
dia sudah dapat menduganya dan cepat dia menjura dengan sikap hormat, menyembunyikan kebencian hatinya di balik
senyum ramah.
"Siangkoan-locianpwe suka keluar sendiri, ini berarti suatu kehormatan besar begiku!" katanya sambil memberi
hormat.
Kakek itu tertawa dan matanya terbelalak kagum. "Inikah putera Pangeran Ceng Han Houw yang telah membikin geger
dan telah membuntungi orang she Phoa itu? Ha-ha-ha, sungguh pantas menjadi putera pangeran yang pernah merebut
gelar Jagoan Nomor Satu di dunia! Hei, Ceng Thian Sin, engkau sungguh menyenangkan sekali, tepat seperti yang
telah diceritakan oleh puteraku. Mari, mari, kita ke lian-bu-thia karena sebelum bicara lebih lanjut aku ingin
sekali menguji kepandaianmu."
Thian Sin menyembunyikan kekhawatirannya. Dia tahu bahwa dia berada di tempat berbahaya, dan sekali masuk,
entah dia akan dapat keluar lagi atau tidak. Maka sambil tersenyum diapun berkata, "Saya sama sekali tidak
dapat percaya bahwa seorang datuk seperti Siangkoan-locianpwe akan sudi untuk menjebak dan mencelakai seorang
pemuda tanpa nama seperti saya ini!"
Kakek itu menghembuskan asap dari pipa tembakaunya dan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, berani, lihai dan cerdik
pula! Orang muda, apa kaukira kau akan mampu lolos dari jangkauan huncweku kalau aku menghendaki nyawamu? Perlu
apa aku mesti pakai menjebak seperti perbuatan seorang pengecut? Masuklah dan aku sendiri menjamin bahwa tidak
akan ada yang mengganggumu, apalagi menjebakmu. Kita adalah orang-orang segolongan, atau setidaknya, mendiang
Pangeran Ceng Han Houw andaikata sekarang masih hidup, tentu merupakan seorang sahabatku yang paling baik."
Lega rasa hati Thian Sin. Ternyata siasatnya ketika dia bicara tentang pemberontakan sambil menyinggung keadaan
Pak-san-kui tadi berhasil. Kakek itu tidak akan memusuhinya, bahkan agaknya, melihat sikapnya, akan menariknya
sebagai sekutu atau sahabat. Baik, dia akan melihat keadaan dan tidak akan terburu nafsu membalas dendam
kematian keluarga Ciu. Sekarang dia tidak mempunyai siapapun juga, maka dia harus pandai menjaga diri sendiri
dan berlaku cerdik.
"Baiklah, locianpwe, aku percaya penuh kepada ucapan seorang besar seperti locianpwe." Dan dengan sikap tenang
diapun melangkah masuk mengikuti kakek itu. Di belakangnya berjalan Siangkoan Wi Hong yang juga amat kagum
kepada pemuda remaja ini.
Lian-bu-thia itu luas sekali, dindingnya putih bersih dan dihias tulisan-tulisan yang bergaya gagah. Di sudut
ruangan itu terdapat sebuah rak senjata yang penuh dengan senjata-senjata selengkapnya. Juga terdapat alat-alat
untuk latihan silat, bahkan ada patok-patok bunga bwee untuk latihan kuda-kuda dan langkah-langkah silat, ada
karung-karung terisi bubuk pasir dan bubuk besi untuk latihan mengeraskan tangan dan sebagainya. Hawa dalam
ruangan lian-bu-thia (ruangan bermain silat) itu cukup segar karena dikelilingi jendela beruji besi. Lantainya
juga bersih dan tidak licin. Pendeknya, lian-bu-thia yang terawat dan baik sekali.
Ketika mereka memasuki lian-bu-thia itu terdapat tiga orang kakek setengah tua yang sedang latihan silat dan
mereka ini ternyata adalah Pak-thian Sam-liong! Melihat guru dan juga majikan mereka masuk bersama
Siangkoan-kongcu dan seorang pemuda, mereka segera memberi hormat dan mengenakan pakaian mereka yang tadi
mereka buka dan mereka hanya memakai celana. Akan tetapi ketika ini melihat dan mengenal Thian Sin, mereka
terkejut sekali dan memandang dengan alis berkerut.
Akan tetapi dengan sikap gembira sekali, Pak-san-kui lalu melepaskan mantelnya yang terbuat dari bulu tebal dan
dia menyerahkan huncwenya kepada seorang di antara Pak-thian Sam-liong yang segera mengisinya dengan tembakau
dari sebuah kantong tembakau yang diberikan oleh kakek itu kepadanya. Baju sutera hartawan itu mewah sekali dan
dia tersenyum memandang kepada Thian Sin.
"Ceng-sicu, aku telah mendengar bahwa sebagai putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw, engkau memiliki ilmu
silat yang hebat sekali!"
"Ah, berita itu terlalu dilebih-lebihkan, locianpwe," Thian Sin berkata merendah, sikap yang memperlihatkan
kecerdikannya. Sebelum dia tahu sampai di mana kehebatan kepandaian musuh ini, dia harus bersikap hati-hati,
pikirnya, apalagi dia berada di dalam rumah datuk ini.
"Hemm, sama sekali tidak dilebih-lebihkan kalau engkau sudah dapat mengalahkan tiga orang muridku dan juga
puteraku. Bahkan kabarnya engkau telah mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, sungguh luar biasa. Semuda ini
kabarnya telah memiliki Thi-khi-i-beng, benarkah itu?"
"Locianpwe terlalu memuji," kata Thian Sin.
"Ha-ha-ha, oleh karena itu, untuk membuktikan apakah benar semua berita yang kuterima itu, apakah benar engkau
sedemikian lihainya ataukah hanya murid-muridku dan puteraku saja yang tolol, maka sungguh kebetulan sekali
engkau datang. Sebelum kita bicara lebih lanjut, marilah kita main-main barang beberapa jurus dan harap engkau
tidak perlu untuk mengeluarkan seluruh ilmu kepandaianmu." Setelah berkata demikian, kakek itu melangkah ke
tengah ruangap lian-bu-thia, menggapaikan tangan ke arah muridnya yang mengisi huncwe tadi. Sang murid cepat
mengantarkan huncwe gurunya dan dengan penuh hormat lalu menyalakan geretan api dan membakar tembakau di ujung
huncwe sehingga tak lama kemudian nampak asap putih mengepul dan tercium bau tembakau yang harum.
Pak-san-kui mengepulkan asap dari hidungnya dan mengangguk kepada Thian Sin. "Ceng Thian Sin, kau majulah dan mari kita main-main!"
Thian Sin segera melangkah maju dan bersikap waspada. Memang dia ingin sekali mencoba sampai di mana kelihaian
orang tua ini, seorang di antara para datuk. Kalau dia mampu menandinginya, dia tentu akan membunuh datuk ini,
untuk membalaskan kematian keluarga Ciu. Akan tetapi kalau datuk ini terlalu pandai dan terlalu lihai baginya,
dia akan menggunakan akal. Sambil tersenyum dia lalu menjura dan berkata, "Aku yang muda hanya melayani
kehendak locianpwe, silakan, locianpwe!"
"Baik-baik, kau siaplah, orang muda!" Tiba-tiba kakek ini melangkah maju, tangan kirinya menyambar sembarangan
saja ke arah kepala Thian Sin. Biarpun tangan itu hanya menyambar perlahan saja, namun ada angin sambaran yang
amat kuat mendahului tangannya. Thian Sin menggeser kaki ke belakang untuk mengelak, akan tetapi sebelum dia
membalas serangan oembarangan itu, tahu-tahu tangan yang sudah dielakkannya dan lewat itu masih terus menyambar
ke arah kepalanya, bahkan kini dua jari dari tangan itu menusuk ke arah matanya dengan kecepatan kilat! Tentu
saja dia terkejut bukan main, karena lawannya itu tidak melangkah maju, akan tetapi bagaimana tangannya masih
terus depat mengejarnya? Ketika dia memandang sambil meloncat cepat ke kiri untuk mengelak, kiranya lengan kiri
kakek itu dapat diulur panjang sampai hampir dua kali panjang lengan biasa! Itulah ilmu yang amat luar biasa
dan amat berbahaya, pikirnya. Maka sambil mengelak tadi, diapun sudah membalas dengan tamparannya dengan
menggunakan Ilmu Thian-te Sin-ciang! Dari tangannya sampai terdengar suara bersuit keras saking hebatnya
pukulan itu. Memang Thian Sin yang maklum bahwa dia menghadapi lawan yang amat tangguh, telah mempergunakan
semua tenaganya dalam mengirim serangan balasan ini.
Agaknya kakek ini sudah menduga akan tamparan ini dan diapun sengaja menangkis dengan lengan kirinya yang sudah
ditarik kembali tentu saja sambil mengerahkan tenaganya karena dia maklum bahwa pemuda ini hebat bukan main.
"Dukkk...!" Keduanya tergetar dan terpaksa mundur selangkah. Kakek itu memandang kagum sekali.
"Itukah Thian-te Sin-ciang? Bukan main hebatnya!" katanya memuji sambil tersenyum. Sudah lama dia mendengar
akan ilmu ini dan hari ini dia benar-benar menghadapi ilmu itu yang dilakukan oleh seorang pemuda gemblengan.
Akan tetapi Thian Sin mengira bahwa kakek itu memandang rendah kepadanya, maka diapun lalu mainkan Ilmu Silat
San-in Kun-hoat yang hebat, yaitu ilmu pusaka dari Cin-ling-pai. Menghadapi desakan serangan ilmu silat tinggi
ini, apalagi kalau setiap pukulannya mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang, kakek itu mengeluarkan seruan kagum
dan kini diapun bergerak aneh, tubuhnya kadang-kadang berputar untuk mengelak dan lagi-lagi tangannya kirinya
dengan lemas yang dapat terulur panjang itu membalas dengan serangan yang tak terduga-duga.
"Ha-ha. Inikah San-in Kun-hoat? Bagus sekali!"
Thian Sin merasa penasaran. Ilmu silatnya dapat dikenal orang, maka diapun lalu menggantinya dengan teriakan
dari ilmu silat yang baru saja dipalajarinya dari Kakek Yap Kun Liong, yaitu Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun.
Pukulan-pukulannya seperti angin cepatnya dan tubuhnya berputaran, menyerang lawan dari delapan penjuru. Memang
Pat-hong Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) ini amat cepatnya.
"Eh, eh, apa ini? Seperti gerakan Pat-kwa..." Kakek itu menebak-nebak heran akan tetapi harus diakui bahwa dia
lihai sekali karena semua serangan Thian Sin dapat dielakkannya dengan tangkisan atau dengan putaran-putaran
tubuh secara aneh, bahkan setiap pukulan selalu dibalasnya dengan kontan. Namun, Thian Sin juga selalu dapat
menangkis semua pukulan itu dan dia tetap waspada karena sebegitu jauhnya, kakek itu belum pernah menggunakan
huncwenya untuk menyerang. Padahal, seperti yang pernah dia dengar, huncwe itulah yang merupakan senjata maut
kakek itu, maka kini perhatian Thian Sin selalu ditujukan ke arah huncwe itu.
Dan dugaannya memang tepat. Ketika kakek itu agak repot menghadapi Pat-hong Sin-kun, tiba-tiba saja setelah
mengelak, huncwenya menyambar. Thian Sin cepat mengelak, akan tetapi ketika huncwe itu lewat di atas kepalanya,
tiba-tiba saja ada api menyambar ke arah mukanya. Api itu keluar dari tempat tembakau dan merupakan bunga api
yang menyambar cepat sekali ke arah matanya! Tentu saja Thian Sin menjadi terkejut bukan main dan ketika dia
dengan kecepatan kilat melempar tubuh ke belakang, tangan kiri kakek itu yang mulur panjang telah menampar
punggungnya! Tamparan yang dilakukan ketika dia mengelak dari sambaran api sehingga tubuh yang lagi dilempar ke
belakang itu tidak mungkin mengelak lagi dan untuk menangkispun tidak sempat lagi, maka pemuda itu hanya dapat
mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang melindungi punggungnya.
"Plakk!"
Thian Sin melompat untuk mengurangi tenaga tamparan itu, dan kakek itupun berseru heran ketika tamparannya itu
merasa betapa kulit punggung itu lemas dan lunak seperti karet. Tahulah dia bahwa punggung itu terlindung oleh
tenaga sin-kang yang amat kuatnya dan sama sekali tidak terluka oleh pukulannya tadi. Dia menjadi semakin
kagum, tahulah dia bahwa Ilmu Thian-te Sin-ciang yang disohorkan dunia kang-ouw itu ternyata tidak kosong
belaka.
Thian Sin merasa penasaran. Memang benar dia belum kalah, akan tetapi karena dia telah terkena satu kali
tamparan, maka berarti dia yang terdesak. Kini dia maju dan menyerang lagi dengan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun!
Begitu dia mulai mainkan ilmu silat yang amat indah dan juga amat kuat ini kakek itu sudah berseru kagum.
"Wah, inilah Thai-kek Sin-kun! Bukan main!" Dan diapun mencoba untuk membobolkan benteng pertahanan ilmu silat
itu dengan serangan-serangan huncwenya, sambil mencoba untuk mengacaukan garis pertahanan lawan dengan lengan
kirinya yang dapat mulur itu. Namun, pertahanan Thian Sin amat kuatnya sehingga ke manapun juga huncwe dan
tangan kiri itu menyerang, dia selalu sudah dapat menyambutnya dengan tangkisan kuat ataupun dengan elakan yang
indah. Kedua lengannya berani menangkis huncwe itu karena dilindungi tenaga Thian-te Sin-ciang.
Beberapa kali kakek itu memuji. Biarpun dia telah mengerahkan tenaganya, namun belum juga dia mampu merobohkan
lawan. Memang, dia tidak sepenuhnya mainkan huncwenya, melainkan huncwenya itu hanya lebih banyak menggertak
saja dan dia menyerang dengan tangan kirinya. Hal ini adalah karena dia merasa malu kalau harus merobohkan
lawan dengan huncwenya, padahal pemuda itu juga bertangan kosong.
Memang hal ini juga yang dimaklumi oleh Thian Sin. Setiap kali kakek ini menggunakan huncwenya, dia memandang
silau oleh hamburan api yang muncrat ke sana-sini, dan gerakan huncwe itu memang aneh bukan main, bahkan kalau
kakek itu mau, agaknya pertahanan Thai-kek Sin-kun juga tidak mampu mempertahankan dirinya. Akan tetapi kakek
itu selalu menahan huncwenya dan melanjutkan dengan serangan tangan kiri yang cukup aneh dan ampuh itu.
Setelah lewat lima puluh jurus, kakek itu kini menggerakkan huncwenya dengan aneh. Huncwe itu diputar-putar,
menjadi gulungan sinar api yang menyilaukan mata. Terpaksa Thian Sin mencurahkan perhatiannya untuk menghadapi
huncwe ini dan kembali dia kecurian! Lengan kiri kakek itu memanjang dan menghantamnya dari belakang, kini
bukan ditujukan ke punggung, melainkan ke tengkuknya! Tentu saja hal ini amat berbahaya, maka pada saat
terakhir, Thian Sin sudah mengerahkan Thi-khi-i-beng.
"Plakkk! Aughhhhh...!" Kakek itu mengeluarkan teriakan kaget, lalu disambungnya, "Wah, ini Thi-khi-i-beng, ya?"
Dan huncwenya menyambar, lalu ada rasa panas pada tengkuk Thian Sin sehingga sesaat tenaga Thi-khi-i-beng
membuyar dan kakek itupun sudah dapat menarik kembali tangan kirinya! Kiranya kakek itu mampu memunahkan
Thi-khi-i-beng dengan bantuan api huncwenya!
"Ha-ha, hebat sekali kau, Ceng Thian Sin! Semuda ini sudah banyak ilmunya yang hebat-hebat! Tapi jangan harap
kau akan dapat menangkan aku, orang muda. Keluarkan pedangmu di balik jubah itu, dan mari hadapi huncweku
dengan senjata!"
Kembali Thian Sin terkejut. Bukan saja kakek ini berhasil memunahkan Thi-khi-i-beng, akan tetapi juga tahu akan
pedangnya dan menantangnya menggunakan pedang. Apa artinya dia menggunakan pedang kalau Thian-te Sin-ciang,
Thi-khi-i-beng dan Thai-kek Sin-kun saja tidak mampu mengalahkan kakek ini? Dan kakek itu agaknya belum
mengeluarkan ilmu huncwenya yang sungguh-sungguh! Mengertilah Thian Sin bahwa dia memang masih kalah oleh kakek
ini, maka dia menekan rasa penasaran di dalam hatinya dan dia berkata dengan suara ramah dan merendah, "Saya
datang bukan dengan maksud memusuhi locianpwe, mengapa saya harus mempergunakan pedang?"
Kakek itu tertawa bergelak, "Ha-ha-ha-ha, kata-katamu memang enak didengar. Akan tetapi aku sudah mendengar
betapa ganasnya engkau menggunakan pedangmu ketika engkau mengamuk di Lok-yang dan Su-couw. Nah, orang muda,
engkau berpedang dan aku memegang huncwe, kita lihat siapa lebih unggul!"
"Ayah, agaknya dia tidak berani kalau-kalau pedangnya akan melukai dirinya sendiri, ha-ha!" Siangkoan Wi Hong
tertawa, sengaja membakar hati Thian Sin. Thian Sin sudah siap dengan siasatnya dan menekan semua kemarahan dan
kebencian, akan tetapi ternyata dia masih belum kuat dan mendengar ejekan ini, tangan kanannya bergerak dan
nampaklah sinar perak ketika Gin-hwa-kiam tercabut. Melihat pedang yang tipis dan pendek ini, Pak-san-kui tertawa.
"Ha-ha-ha, kiranya pedang seorang wanita! Eh, Ceng Thian Sin, apakah pedang itu pedang tanda mata dari seorang kekasihmu?"
"Harap locianpwe jangan menghina!" Thian Sin berteriak, menahan diri agar tidak memaki kakek itu. "Ini adalah
pedang pemberian nenekku! Nah, sambutlah!" Diapun lalu menggerakkan pedang itu dan karena dia tidak mempelajari
ilmu pedang khusus, maka diapun lalu mainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang kalau dimainkan dengan pedang
dapat menjadi Thai-kek Sin-kiam. Cukup hebat gerakannya dan begitu pedang diputar nampak gulungan sinar perak.
"Hemm!" Kakek itu mendengus dan nampak kecewa, lalu menggerakkan huncwenya dan begitu huncwe bergerak,
terkejutlah Thian Sin. Sudah diduganya memang bahwa senjata huncwe ini adalah keistimewaan kakek itu, akan
tetapi tak pernah disangkanya demikian hebat huncwe itu. Baru belasan gebrakan saja dia sudah tidak mampu balas
menyerang. Gerakan huncwe itu merupakan gulungan api! Dan selain cepat, juga amat aneh sehingga sukar diikuti.
Dia mempertahankan dengan memutar pedang melindungi tubuhnya, akan tetapi tiba-tiba, setelah lewat dua puluh
jurus, terdengar suara keras sekali dan pedangnya terpental, hampir terlepas dari pegangan tangannya, kemudian
huncwe itu sudah datang dekat sekali dengan mukanya, seperti hendak membakarnya, maka dia melempar tubuh ke
belakang, berjungkir balik dan baru dapat menghindarkan diri. Kakek itu tertawa. "Orang muda she Ceng, jangan
kau terlalu pelit! Yang kaukeluarkan sejak tadi adalah ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai. Mengapa engkau tidak
mengeluarkan ilmu peninggalan ayah kandungmu? Jangan dikira aku tidak tahu. Aku sudah mendengar bahwa Ceng Han
Houw pernah merajai dunia persilatan karena dia memiliki ilmu silat jungkir balik yang amat lihai. Hayo,
kaukeluarkanlah ilmu itu dan kita bertanding sungguh-sungguh!"
Thian Sin kaget bukan main. Tak disangkanya bahwa kakek ini tahu pula akan hal itu. "Sayang, aku baru saja
meninggalkan Lembah Naga dan belum sempat mempelajari ilmu-ilmu itu. Tunggulah setahun lagi, kalau aku sudah
melatih ilmu-ilmu itu, aku akan mencarimu dan kita bertanding lagi, locianpwe."
"Ha-ha-ha, siapa mau kaubohongi? Kalau kudesak engkau, tentu engkau terpaksa akan mengeluarkan ilmu simpanan
itu untuk kulihat!" Setelah berkata demikian, kembali huncwe maut itu bergerak dengan kecepatan kilat.
Thian Sin memutar pedang melindungi dirinya dan berusaha melawan sekuat tenaga. Namun, dia hanya dapat bertahan
sampai tiga puluh jurus saja dan tiba-tiba kembali terdengar suara keras. Kini huncwe atau gulungan sinar api
itu berputar-putar dan pedangnya seperti "terlibat" dan ikut berputar, kemudian, tiba-tiba saja pedangnya
terlepas dan huncwe itu menyambar. Dia mengelak untuk disambut tangan kiri dan dia cepat mengerahkan
Thi-khi-i-beng, akan tetapi terasa panas pada punggungnya dan Thi-khi-i-beng itu membuyar, lalu dia menggunakan
tenaga Thian-te Sin-ciang untuk melindungi punggungnya yang dicengkeram tangan kiri lawan. Akan tetapi,
jari-jari tangan itu meremas dan memutar sedemikian rupa sehingga otot-ototnya terkena remasan dan tiba-tiba
saja Thian Sin roboh dengan lemas. Kakek itu tertawa dan dengan marah Thian Sin berusaha untuk bangun, akan
tetapi setiap kali dia menggerakkan tubuhnya, dia menahan rasa nyeri yang amat sangat di punggungnya dan roboh
lagi. Punggungnya itu seolah-olah patah tulangnya dan dengan punggung seperti itu, maka tentu saja dia tidak
mampu menggerakkan lagi tangan kakinya karena setiap gerakan kaki tangan sudah tentu mengandalkan kekuatan dari punggung.
"Ayah, kenapa tidak dibunuh saja orang ini?" Tiba-tiba Siangkoan Wi Hong berkata sambil meloncat maju dengan
yang-kim yang berbahaya itu di tangannya. Thian Sin maklum bahwa sekali pukul saja, dia sudah tidak berdaya
menghindar dan nyawanya akan melayang. Akan tetapi dia kini rebah terlentang dengan sinar mata terbelalak penuh
keberanian, seolah-olah dengan sinar matanya itu dia menantang maut!
"Ha-ha, jangan dibunuh. Aku sudah berjanji bahwa dia masuk ke sini dalam keadaan hidup, maka keluarnya dari
sinipun dalam keadaan hidup. Akan tetapi hidup yang bagaimana? Ha-ha-ha, ingin aku melihat bagaimana wajah
Pangeran Ceng Han Houw, jagoan nomor satu itu kalau dapat melihat puteranya yang tampan gagah, berubah menjadi
seorang manusia tapadaksa yang tidak berguna sama sekali."
Thian Sin merasa ngeri juga membayangkan ancaman ini. Tentu kakek itu akan membuatnya sebagai seorang manusia
dengan cacad yang membuat dia selama hidupnya tidak berguna. Itu lebih hebat daripada kalau dia dibunuh! Maka
diapun cepat mempergunakan akal.
"Pak-san-kui, kalau ayahku masih hidup, atau kalau aku sudah mempelajari ilmu-ilmu dari ayahku, aku yakin
engkau tidak akan berani bersikap seperti ini!"
Pak-san-kui memandang kepadanya dan mengangguk-angguk. "Mungkin sekali, akan tetapi sayang, ayahmu telah tidak
ada lagi dan engkau ternyata hanya merupakan murid Cin-ling-pai yang baik sekali, sama sekali tidak mewarisi
kepandaian ayahmu. Dan engkau sudah membuat Phoa-taijin menjadi manusia yang hidup tidak matipun tidak, maka
akupun hendak membikin engkau seperti dia."
"Orang macam Phoa-taijin itu tidak dibunuhpun masih untung! Apa gunanya orang seperti dia yang begitu ceroboh?
Menggunakan perampok-perampok tolol untuk menjalankan siasat, kemudian membasmi keluarga Ciu. Tahukah locianpwe
siapa Ciu Khai Sun? Dia tokoh besar Siauw-lim-pai dan apa artinya itu? Artinya bahwa gerakan sekutu locianpwe
itu akan mendapat tentangan yang besar dan kuat. Kalau Phoa-taijin cerdik, tentu dia mempergunakan orang-orang
yang lebih lihai agar usaha merampok itu berhasil baik, dan juga tidak nanti membunuh orang Siauw-lim-pai!
Locianpwe, aku adalah putera Pangeran Ceng Han Houw, karena itu aku membunuh sebanyak mungkin pasukan
pemerintah. Apakah kenyataan ini tidak cukup membuka mata bahwa aku adalah seorang sekutu locianpwe yang cukup
baik, bahkan jauh lebih baik daripada orang she Phoa yang tolol itu?"
Kakek itu mendengarkan dengan alis berkerut, akan tetapi wajahnya mulai berubah dan sinar matanya berseri. "Dan
andaikata benar omonganmu, dan aku menjadikan engkau sekutu, lalu apa gunanya engkau bagiku?"
"Locianpwe, mendiang ayahku adalah seorang jagoan nomor satu di dunia. Tentu locianpwe sudah mendengar akan
ilmu-ilmu yang dimilikinya, ilmu-ilmu hebat dan mujijat Hok-lion Sin-ciang (Tangan Sakti Penakluk Naga), dan
ilmu dengan jungkir balik yang disebut Hok-te Sin-kun (Silat Sakti Balikkan Bumi)."
Wajah kakek itu makin berseri dan dia mengangguk. "Hanya dongeng saja! Buktinya, putera tunggalnyapun tidak
mampu mainkan dua ilmu itu!"
"Sudah kukatakan bahwa karena selama ini aku ikut di Lembah Naga dan mempelajari ilmu-ilmu Cin-ling-pai, maka
aku tidak sempat mempelajarinya. Akan tetapi kalau locianpwe berminat, bebaskanlah dulu aku dan kita dapat bicara."
"Ayah, hati-hati terhadap anak ini, dia pandai bicara pula," kata Siangkoan Wi Hong.
Akan tetapi kakek itu yang haus akan kepandaian silat yang hebat tidak peduli dan dia sudah menggerakkan
tangan, menotok ke beberapa bagian punggung Thian Sin. Pemuda ini dapat bergerak kembali lalu bangkit berdiri
dan menjura. "Locianpwe telah mengambil keputusan yang tepat sekali dan menguntungkan kedua fihak."
"Ceng Thian Sin, jelas untung bagi fihakmu, akan tetapi aku tidak melihat apa keuntungannya bagi ayah!" kata
Siangkoan Wi Hong.
"Siangkoan-twako, engkau tahu bahwa aku bukan seorang laki-laki yang suka membohong. Aku tidak takut mati, tadi
aku hanya menawarkan kerja sama yang baik dan menguntungkan kedua fihak. Aku mempunyai kitab-kitab ayahku itu
dan kutawarkan kepada Siangkoan locianpwe."
"Di mana kitab-kitab itu?" tanya Pak-san-kui dengan girang.
"Nanti dulu, locianpwe. Locianpwe tentu akan dapat mempelajari ilmu-ilmu ayahku itu, hal ini kutanggung dengan
taruhan nyawa. Akan tetapi apa imbalannya? Seorang gagah bukan memberi ilmu dengan cuma-cuma, juga tidak
menerima ilmu secara cuma-cuma pula."
"Hemm, apa yang kaukehendaki? Aku sudah membebaskanmu!"
"Ah, itu bukan imbalan namanya. Di antara kita tidak ada permusuhan, bahkan mengingat akan keadaanku yang tentu
dianggap pemberontak oleh pemerintah, kita ini mempunyai persamaan, bukan? Sungguhpun locianpwe bekerja di
dalam selimut dan aku di luar selimut."
"Ha-ha-ha-ha, engkau memang cerdik. Nah, apa yang kauminta sebagai penukar ilmu-ilmu peninggalan Pangeran Ceng
Han Houw?"
"Locianpwe, di antara ilmu-ilmu locianpwe, yang amat menarik dan mengagumkan hatiku adalah ilmu huncwe dari
locianpwe tadi. Maka, aku mau menukar kedua ilmu peninggalan ayahku dengan ilmu huncwe dari locianpwe."
"Ha-ha-ha, engkau memang cerdik bukan main! Selama hidupku, belum pernah ada orang yang mampu menandingi ilmu
huncweku ini, dan sekarang engkau ingin mempelajarinya. Ha-ha-ha, baiklah, kita tukar dua ilmu itu!"
"Ayah...!" Siangkoan Wi Hong berseru kaget. Dia sendiri sebagai putera datuk itu belum diberi pelajaran ilmu
itu yang menurut ayahnya tidaklah mudah dan selain harus memiliki bakat yang amat baik, juga membutuhkan waktu
yang amat lama sekali dan di samping itu harus menjadi ahli mengisap asap tembakau pula! Padahal Siangkoan Wi
Hong tidak suka mengisap pipa tembakau, oleh karena itu selama ini dia belum pernah mempelajari ilmu simpanan
ayahnya itu.
"Aku sudah berjanji!" Ayahnya memotong. "Dan kita masing-masing mempelajari ilmu-ilmu itu selama enam bulan.
Setujukah engkau, Ceng Thian Sin?"
"Baik, locianpwe. Enam bulan sudah cukup bagiku!" Pemuda itu lalu menanggalkan jubahnya, tidak melihat betapa
Siangkoan Wi Hong tersenyum-senyum karena pemuda ini sudah dapat menangkap siasat ayahnya. Menurut ayahnya,
untuk dapat mempelajari ilmu huncwe itu secara sempurna, seorang yang berbakat baik sekalipun membutuhkan waktu
sedikitnya tiga tahun! Dan kini ayahnya berjanji akan mengajarkan ilmu itu selama setengah tahun saja. Mana
mungkin Thian Sin akan dapat menguasainya dalam waktu setengah tahun? Sebaliknya, ayahnya adalah seorang yang
bakatnya luar biasa sekali dalam ilmu silat. Ilmu silat apapun, setelah dilatihnya dua tiga kali saja tentu
sudah dapat ditangkap sarinya dan dapat dikuasainya! Sekali ini, Thian Sin kena batunya dan bertemu dengan
seorang datuk yang selain lihai juga amat cerdik.
Akan tetapi, ayah dan anak ini sama sekali tidak menduga bahwa Thian Sin memiliki kecerdikan yang akan
mengejutkan mereka. Biarpun selama ini, sejak kecilnya, Thian Sin dididik oleh orang-orang yang mengutamakan
kebajikan dan menjauhi kepalsuan dan kejahatan, namun dasarnya dia memiliki kecerdikan yang luar biasa dan
kalau dia menghendaki, dia mampu menciptakan siasat dan muslihat yang amat cerdik. Dia menerima janji enam
bulan itu dengan hati girang, karena dia merasa yakin bahwa kitab-kitab peninggalan ayahnya itu tidak akan
dapat dipelajari oleh siapapun kecuali oleh dia yang tahu akan kuncinya. Bahkan, makin lama dipelajari orang
begitu saja, orang itu akan tersesat semakin jauh. Sedangkan bagi dia, sama sekali dia tidak ingin belajar
mainkan huncwe itu, melainkan dia ingin mengenal inti gerakannya, mengenal kekuatannya dan juga
bagian-bagiannya yang lemah sehingga dia akan lebih mampu menghadapinya kelak!
Thian Sin kini merobek pinggiran jubahnya, dan ternyata dua buah kitab tipis digulungnya dan disembunyikannya
di dalam atau di balik jahitan jubah itu, di antara dua kain jubah dirangkapkan.
"Nah, inilah kitab-kitab peninggalan ayah, locianpwe. Mulai hari ini, locianpwe boleh mempelajarinya bersama
aku, karena aku sendiri juga belum sempat mempelajarinya, dan di samping itu harap locianpwe mulai memberi
petunjuk kepadaku tentang ilmu huncwe itu."
Sambil membuka-buka dua buah kitab penuh tulisan tangan dan lukisan tangan dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw
yang cukup jelas itu, Pak-san-kui berseri-seri wajahnya dan mengangguk-angguk. "Tentu saja, anak yang baik, aku
akan mengajarkan ilmu huncwe kepadamu." Dia merasa girang sekali karena sedikit keraguannya bahwa kitab itu
palsu lenyap oleh pernyataan Thian Sin yang mempelajarinya juga bersamanya. Agaknya pemuda yang gagah perkasa
ini amat jujur, suatu sifat yang amat buruk dan lemah dari kaum pendekar, berbeda dengan mereka dari golongan
hitam yang selalu mengutamakan kecerdikan!
Demikianlah, mulai hari itu, Thian Sin diterima di dalam gedung besar indah itu sebagai seorang tamu, bahkan
Siangkoan Wi Hong yang tadinya menaruh curiga, setelah melihat betapa penukaran ilmu sungguh sama sekali tidak
merugikan ayahnya bahkan menguntungkan, kini kembali tertarik lagi kepada Thian Sin dan menganggapnya sebagai
seorang sahabat baik. Malah dia sering mengajak Thian Sin berlatih untuk memperdalam ilmu silatnya, karena dia
tahu bahwa pemuda itu memang pandai bukan main. Ayahnya sendiri dengan terus terang mengatakan bahwa andaikata
ayahnya tidak memiliki ilmu huncwe yang lihai itu, kirahya akan sukar untuk mengalahkan pemuda ini!
Setiap hari Pak-san-kui dan Thian Sin mempelajari ilmu-ilmu dari kitab peninggalan Ceng Han Houw, mula-mula
Ilmu Hok-liong Sin-ciang, ilmu ini adalah ilmu silat yang gerakannya aneh sekali, dan dengan lahapnya,
Pak-san-kui menghafalkan jurus-jurus ilmu silat ini yang hanya terdiri dari delapan belas jurus saja, akan
tetapi di dalam delapan belas jurus ini terkandung bermacam gerakan yang amat lihai kalau dipakai menyerang.
Yang dirahasiakan oleh Pangeran Ceng Han Houw dan hanya diketahui kuncinya oleh Thian Sin dalam ilmu Hok-liong
Sin-ciang ini adalah bagian yang melindungi tubuh di waktu menyerang. Memang serangan itu sama kuat dan
lihainya, hanya bedanya, ilmu yang aseli memiliki bagian yang melindungi tubuh sendiri di waktu menyerang, dan
karena bagian ini dirahasiakan, maka yang dipelajari oleh Pak-san-kui hanyalah bagian yang menyerang saja dan
tanpa disadarinya, tentu saja selagi melakukan serangan ini maka ada bagian tubuh yang terbuka dan tidak
terlindung. Saking girangnya melihat betapa hebatnya jurus serangan itu, Pak-san-kui tidak tahu bahwa serangan
itu mengandung kelemahan yang hebat pula! Hanya dalam waktu sebulan saja dia telah dapat menghafal delapan
belas jurus itu dan merasa sudah sempurna, tinggal melatihnya saja.
Juga Thian Sin memiliki bakat yang sama besarnya dengan Pak-san-kui, bahkan dia tidak kalah cerdiknya.
Diam-diam dia menggunakan kunci latihan itu dan dia dapat melakukan gerakan yang lebih sempurna, karena
mencakup segi perlindungan diri. Perbedaannya terletak pada letak kaki atau tangan di waktu menyerang. Sebagai
contohnya, pada jurus ke empat kaki kanan menerjang dari samping dengan menyilang. Di waktu menendang ini,
menurut kitab itu, lengan kiri diangkat sebagai keseimbangan tubuh, padahal menurut kuncinya, yang diangkat
adalah lengan kanan sehigga lengan kiri dapat diturunkan dan menjaga selangkangan yang terbuka dan pada detik
tendangan dilakukan tentu saja terbuka dan tidak terlindung. Akan tetapi di waktu dia melakukan latihan di
depan Pak-san-kui, tentu saja Thian Sin tidak memperlihatkan hal ini. Dan kalau Pak-san-kui kelihatan girang
karena sudah menguasai semua jurus, Thian Sin sengaja memperlihatkan bahwa dia belum menguasai sepenuhnya dan
di sinilah letak kecerdikan pemuda itu!
Pada bulan ke dua, karena dia sendiri merasa sudah dapat menguasai Hok-liong Sin-ciang, Pak-san-kui lalu
mengajak Thian Sin untuk mulai dengan pelajaran dari kitab ke dua, yaitu ilmu Hok-te Sin-kun! Ilmu ini jauh
lebih rumit karena mengandung ilmu bersamadhi yang aneh, yaitu dengan kepala di bawah dan kedua kaki di atas!
Thian Sin menurut saja, biarpun dia sendiri belum dapat melatih ilmu Hok-liong Sin-ciang dengan baik.
Maka, pada bulan ke dua, mulailah mereka berdua melatih diri dengan siulian menurut kitab pelajaran Hok-te
Sin-kun, yaitu jungkir balik. Dan sementara itu, hampir setiap hari Pak-san-kui mengajarkan ilmu silat huncwe
itu, karena memang maksudnya bukan ingin mempelajari bagaimana untuk dapat bermain ilmu silat itu, melainkan
untuk mencari kelemahan-kelemahannya. Dan kakek itu adalah seorang datuk, tentu saja diapun tidak mau
menyembunyikan ilmunya, bahkan dia bermain silat huncwe secepatnya sehingga akan sukarlah bagi Thian Sin untuk
mempelajarinya. Dan pemuda ini memang dapat melihat betapa hebat dan tangguhnya ilmu silat ini, di samping
gerakan-gerakannya yang aneh. Akan tetapi dia mulai dapat melihat bahwa pada dasarnya, ilmu silat itu adalah
ilmu silat pedang yang hebat. Huncwe yang panjangnya sampai tiga kaki itu digerakkan seperti pedang, jadi pada
hakikatnya tidak berbeda dengan ilmu silat yang-kim yang dimainkan oleh Siangkoan Wi Hong. Ilmu silat yang-kim
itu pada dasarnya juga ilmu pedang yang disesuaikan dengan yang-kim. Ini pun merupakan ilmu pedang yang
disesuaikan dengan huncwe sehingga tusukan pedang menjadi totokan huncwe. Hanya hebatnya, ditambah lagi dengan
penggunaan panasnya huncwe dan api yang keluar dari mulut huncwe, juga asap yang dapat dipergunakan untuk
menyerang lawan.
Kunci-kunci yang terdapat dalam ilmu Hok-te Sin-kun ini lebih hebat lagi. Memang dilihat begitu saja, cara
Thian Sin bersamadhi tidak ada bedanya dengan yang dilakukan Pak-san-kui dalam melakukan latihan menurut kitab
itu. Akan tetapi sesungguhnya terdapat perbedaan yang amat besar. Berjungkir-balik dengan kepala di bawah dan
kedua kaki di atas, dengan punggung tegak lurus, merupakan kedudukan tubuh yang baik sekali untuk membantu
gerakan perjalanan darah ke dalam otak, juga untuk "menurunkan" hawa murni dari bawah pusar ke otak melalui
punggung. Akan tetapi, perjalanan darah ini harus berjalanan dengan sewajarnya, dibantu dengan pernapasan yang
panjang dan tanpa paksaan sama sekali, dengan pikiran yang kosong dan membiarkan hawa yang panas dari pusar itu
perlahan-lahan menjalar turun sampai ke ubun-ubun kepala. Akan tetapi, kalau demikian adanya pelajaran yang
sebenarnya, yang kuncinya sudah dipegang oleh Thian Sin, kalau menurut kitab yang menyesatkan itu, si pelatih
diharuskan menekan tenaga dari tiantan itu turun dan menembus jalan darah secara paksa.
Mula-mula Pak-san-kui memang merasa girang sekali karena setelah berlatih seperti itu, dia merasa betapa hawa
sakti itu dapat digerakkannya jauh lebih mudah daripada kalau dia bersamadhi sambil duduk bersila. Akan tetapi,
setelah dia berlatih selama seminggu, dia merasa agak pening pada kepalanya dan setelah berlatih, maka pandang
matanya berkunang-kunang. Sedangkan pada Thian Sin, tidak nampak tanda apa-apa. Akan tetapi dia menghibur diri
dan menganggap bahwa ini adalah tanda bahwa latihannya berhasil! Lalu dia mulai berlatih dengan ilmu silat aneh
Hok-te Sin-kun itu, yaitu bersilat dengan kepala di bawah, menggunakan kedua kaki sebagai penyerang utama dan
kedua tangan sebagai penyerang pembantu. Dan karena memang kakek ini sudah memiliki dasar ilmu silat yang
tinggi, maka gerakan-gerakan itu tidaklah sukar baginya. Sebaliknya, diam-diam Thian Sin juga mempelajari ilmu
silat ini menurut catatan yang sebenarnya, yaitu menurut petunjuk dalam kitab yang sudah diubahnya menurut
kunci yang telah dipelajarinya sejak kecil dan dia mulai merasakan hasilnya. Tubuhnya menjadi semakin ringan,
tenaga sin-kang di tubuhnya terasa mengalir dengan cepat dan amat kuat di seluruh tubuhnya, akan tetapi hal ini
tidak dia nyatakan sehingga kakek itu sendiripun tidak mengetahuinya.
Lewat empat bulan lebih, hampir lima bulan. Thian Sin sudah merasa yakin bahwa dia telah mempelajari dengan
teliti dan melihat kelemahan-kelemahan pada ilmu silat huncwe dari Pak-san-kui dan dia menganggap bahwa
waktunya telah tiba baginya untuk memperlihatkan diri dengan sesungguhnya dan mengalahkan kakek itu! Dia sudah
tinggal cukup lama di situ dan sudah memperoleh tambahan ilmu dengan mempelajari ilmu huncwe yang walaupun
tidak dapat dikuasainya sepenuhnya namun telah dipelajarinya gerak-geraknya dan kelemahan-kelemahannya itu.
Di samping itu, diapun telah mempelajari dua ilmu peninggalan ayahnya, biarpun belum sempurna benar, akan
tetapi jelas jauh lebih baik daripada Pak-san-kui sendiri yang memperoleh ilmu-ilmu itu dengan cara yang
terbalik bahkan tersesat!
Dan dia akan memperlihatkan kemenangan atau keunggulannya itu kepada Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong!
Maka dia memilih saat ketika putera dan murid-murid kepala Pak-san-kui itu pada suatu sore nonton
latihan-latihan mereka dan memang dia sudah mempersiapkan segala-galanya. Maka ketika Pak-san-kui yang tadinya
bercakap-cakap dengan murid-murid kepalanya setelah menerima laporan tentang segala tugas yang dilakukan oleh
murid kepala ini yang berhubungan dengan pekerjaan mereka, Pak-san-kui lalu berkata, "Thian Sin, mari kita
berlatih. Diam-diam telah hampir lima bulan engkau di sini dan mari kauperilhatkan apa yang telah kauperoleh
selama ini!" Kakek itu tertawa dan melirik ke arah puteranya. Diam-diam Thian Sin tergetar. Dalam lirikan itu
dia seperti melihat sesuatu dan tentu ada apa-apanya di balik ajakan berlatih ini! Apakah di dalam hati kakek
itu juga terdapat keinginan yang sama dengan keinginannya sendiri, yaitu hendak menjatuhkan dalam latihan itu?
"Baik, locianpwe!" katanya dan dia mengangkat tempat air minumnya, lalu minum beberapa teguk air jernih itu,
baru dia meloncat ke tengah ruangan lian-bu-thia itu. Pak-thian Sam-liong dan Siangkoan Wi Hong segera mengatur
tempat duduk, menyingkirkan meja di pinggir dan mereka sendiri lalu duduk nonton karena merekapun ingin sekali
mellhat apa yang selama ini dilatih oleh pemuda itu dan Pak-san-kui.
"Mari kita lebih dulu berlatih ilmu Hok-liong Sin-ciang!" kata kakek itu dengan gembira sambil menyelipkan
huncwenya di ikat pinggangnya. Biarpun tembakau di huncwenya masih belum padam, akan tetapi karena tidak
dihisap maka asapnya hanya sedikit saja. Dia sudah siap dengan kuda-kuda dari Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang
menurut petunjuk dalam kitab, wajahnya gembira sekali karena dia yakin bahwa dalam ilmu silat baru ini dia
tentu dapat mengalahkan Thian Sin yang dia lihat belum sempurna benar gerakannya, masih kaku. Juga dia tahu
bahwa perhatian pemuda itu terhadap Hok-liong Sin-ciang harus dibagi perhatiannya untuk mempelajari ilmu huncwe
yang belum ada sepersepuluhnya dipelajari oleh pemuda itu, bahkan boleh dibilang pemuda itu belum mempelajari
apa-apa selama ini kecuali hanya nonton saja dia bermain silat dengan huncwenya. Dan dia tidak dapat
dipersalahkan, tidak dapat dikatakan licik karena dia telah mainkan semua jurus simpanannya yang ada dengan
huncwenya, tentu saja terlalu cepat dan tidak mungkin dapat ditangkap semua oleh pemuda itu!
Thian Sin hanya mengangguk dan diapun cepat menyerang dengan jurus-jurus Hok-liong Sin-ciang yang dilatihnya
bersama dengan kakek itu. Pak-san-kui mengelak dan membalas serangan itu dengan gerakan yang sama anehnya,
bahkan dari tangannya keluar hawa pukulan yang mengeluarkan suara bersuitan saking kerasnya. Namun, Thian Sin
dapat menangkis dan balas menyerang. Mereka saling serang dengan jurus-jurus Hok-liong Sin-ciang itu dan
keduanya ternyata sama tangguhnya. Akan tetapi, Thian Sin segera dapat melihat lowongan-lowongan pada setiap
kali kakek itu menyerang. Dia melihat betapa kedudukan kaki atau tangan kakek itu terbalik, maka ketika dia
melihat kakek itu menggunakan jurus ke sebelas untuk menyerangnya, dengan pukulan tangan kiri dari samping
dibarengi pukulan tangan kanan dari atas, padahal seharusnya dari bawah, dia melihat lowongan dan sambil
mengelak, kakinya menyambar ke arah lambung yang "terbuka".
"Plak! Plak! Aihhh...!" Pak-san-kui terhuyung ke belakang, dan biarpun dia tadi dalam gugupnya masih mampu
menangkis, namun kedudukannya terguncang dan dia terhuyung ke belakang. Wajah kakek itu menjadi merah karena
jelas nampak oleh siapapun juga bahwa dalam hal ilmu baru itu dia kalah oleh pemuda ini!
"Hyaaaaattt...!" Tiba-tiba dia sudah berjungkir balik dan mainkan ilmu kedua, yaitu Hok-te Sin-kun. Tanpa
mengeluarkan kata apapun Thian Sin juga menggerakkan tubuhnya berjungkir balik dan mainkan Hok-te Sin-kun. Kini
terjadilah pertandingan yang membuat Siangkoan Wi Hong dan tiga orang kakek Pak-thian Sam-liong menjadi bengong
dan terheran-heran bercampur kagum. Dua orang itu telah saling serang mempergunakan sepasang kaki yang dibantu
sepasang tangan, dan sambaran kaki mereka itu mendatangkan angin yang amat dahsyat! Itu adalah ilmu yang amat
hebat. Mereka semua tidak tahu betapa wajah kakek itu menjadi pucat, sedangkan wajah Thian Sin merah dan nampak
berseri, sepasang matanya nampak mencorong. Ini tandanya bahwa tenaga yang dipergunakan oleh Pak-san-kui adalah
tenaga yang terbalik dan salah! Setelah saling serang dengan hebatnya, tiba-tiba kedua kaki mereka beradu.
"Desss...!" Dan akibatnya tubuh Pak-san-kui terdorong dan tentu dia sudah jatuh terbanting kalau dia tidak
cepat meloncat bangun. Mukanya pucat sekali dan dia menyeringai karena merasa betapa kepalanya berdenyut
pening. Itulah akibatnya karena dia terlampau banyak menggunakan tenaga terbalik yang memukul dirinya sendiri
itu! Sebagai seorang ahil silat kelas tinggi, seketika maklumlah kakek ini bahwa selama ini dia tertipu! Kalau
tidak tertipu, tidak mungkin dia kalah dalam kedua ilmu itu oleh Thian Sin! Dan pula, pertemuan kaki tadi
memberi tahu padanya bahwa dia telah salah mempergunakan tenaga, padahal semua itu menurut petunjuk kitab.
Tahulah dia bahwa dia telah tertipu, maka dengan marah dia berkata.
"Thian Sin, sekarang ini mari kita lihat kemajuanmu mempelajari ilmu huncwe!" Setelah berkata demikian, dia
sudah maju menyerang dengan huncwenya!
Thian Sin terkejut sekali, maklum bahwa agaknya kakek ini sudah curiga, buktinya begitu menyerang terus saja
menggunakan jurus-jurus maut terampuh dari huncwenya! Dia cepat mengelak ke sana-sini, dan karena dia sudah
memperhatikan dengan teliti ketika dia mempelajari ilmu ini, dia mengenal setiap gerakan dan tahu akan inti
kekuatan huncwe itu.
Dia membalas dengan serangan-serangan Thian-te Sin-ciang karena hanya ilmu inilah yang membuat tubuhnya kebal
dan tamparannya cukup kuat untuk membuyarkan serangan huncwe. Agaknya kakek itu juga maklum hal ini dan tidak
lagi mengherankan mengapa pemuda itu kini mainkan ilmu silat itu, dan tahulah dia bahwa memang saat inilah yang
ditunggu-tunggu oleh pemuda itu untuk melawannya mati-matian. Maka diapun lalu mengerahkan seluruh tenaga dan
kepandaiannya, sekali ini mengambil keputusan untuk membunuh pemuda ini yang dianggap amat berbahaya baginya.
"Cringgg...!" Tiba-tiba nampak sinar perak berkelebat dan Thian Sin telah menangkis huncwe itu. Kini, tiba-tiba
huncwe itu diputar sedemikian rupa oleh Pak-san-kui dan nampaklah gulungan sinar api! Ternyata kakek itu telah
mempergunakan jurus-jurus yang paling ampuh, yaitu dengan bantuan api huncwenya yang tangguh, dan kini dari
mulutnya bahkan menyambar asap hitam yang baunya amat keras!
Thian Sin sudah maklum akan hal ini, dan dia sudah menanti-nanti, bahkan bersiap untuk menghadapi jurus ini.
Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan dengan suara aneh dan dari mulutnya itu menyambar air ke arah kepala
huncwe. Itulah air yang tadi diminumnya sebelum dia mulai menghadapi Pak-san-kui! Air itulah yang
dipergunakannya untuk menghadapi api huncwe lawan. Dia tahu, dan hal ini telah dipelajarinya selama
berbulan-bulan, bahwa satu-satunya kelemahan huncwe itu adalah terhadap air! Dan begitu kepala huncwe tersiram
air, terdengar suara "Cessss" dan apinya tentu saja menjadi padam nampak asap hitam yang baunya keras bukan
main dan pada saat itu Thian Sin sudah berjungkir balik, pedangnya dilemparkan dari bawah ke arah perut lawan,
disusul kedua tangannya menotok ke arah kaki dan kakinya sendiri menyerang ke depan dengan amat cepatnya!
Itupun merupakan serangan gabungan yang sudah dipelajari dan diperhitungkan selama berbulan-bulan ini.
"Tringg...!" Pedang itu tertangkis huncwe dan Si Kakek meloncat menghindarkan totokan pada kakinya, akan tetapi
dia disambut oleh tendangan kaki.
"Blukkk!" Kedua kaki Thian Sin menendang dada dengan amat kerasnya dan akibatnya tubuh kakek itu terlempar dan
terbanting, dan diapun roboh pingsan!
Siangkoan Wi Hong dan tiga orang kakek Pak-thian Sam-liong berteriak marah dan segera menyerang dengan senjata
mereka, pemuda itu menggunakan yang-kim untuk menyerang dan dua orang kakek itu menggunakan pedang mereka.
Sementara itu, Thian Sin yang mengerahkan tenaga ketika merobohkah kakek tadi, merasa tubuhnya tergetar hebat
dan napasnya agak terengah. Perlawanan tenaga kakek itu sungguh amat hebat dan dia tahu bahwa kalau dia harus
melayani empat orang itu, dia bisa celaka, apalagi kalau para penjaga nanti datang mengeroyok, maka dia segera
menyambar pedangnya dan menangkis terus meloncat keluar. Gerakannya cepat sekali dan biarpun empat orang itu
berteriak-teriak sambil mengejar, namun Thian Sin sudah dapat melarikan diri keluar rumah dan terus lari dengan
cepat. Sementara itu, malam telah tiba dan kegelapan menolong pemuda itu dapat menyelamatkan diri dari para
pengejarnya. Hatinya lega bukan main. Biarpun dia sangsi apakah dia berhasil membunuh kakek itu, namun
setidaknya dia telah merobohkannya dan dia yakin bahwa kalau dia sudah matangkan Hok-liong Sian-ciang dan
Hok-te Sin-kun dengan sempurna, setelah dia tahu akan kelemahan-kelemahan ilmu huncwe maut itu, dia tidak takut
lagi terhadap datuk utara itu!
Sementara itu, Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong tidak melanjutkan pengejaran, karena mereka sendiripun
masih terlalu kaget melihat betapa Pak-san-kui dapat dirobohkan pemuda itu dan hal ini cukup membuat mereka
berhati-hati untuk mengejar pemuda selihai itu, yang menghilang di dalam cuaca yang sudah mulai gelap. Mereka
lalu kembali untuk cepat menolong Pak-san-kui. Kakek itu masih pingsan akan tetapi setelah memeriksanya, hati
Siangkoan Wi Hong agak tenang karena ayahnya tidak tewas, melainkan pingsan dan terluka cukup parah, antara
lain dua buah tulang iganya retak-retak! Tentu saja setelah siuman, kakek itu menyumpah-nyumpah dan berjanji
akan mencari pemuda yang telah merobohkannya itu, yang dianggapnya amat curang. Tahulah kini kakek itu bahwa
lawannya sungguh seorang pemuda yang selain lihai, juga amat cerdik seperti setan sehingga "tukar menukar" ilmu
itu hanya tipu muslihat saja. Dia memperoleh ilmu yang palsu, sedangkan pemuda itu berhasil mencari
kelemahan-kelemahan huncwenya sehingga dia dapat dirobohkan.
Setelah pengalaman pahit itu, Pak-san-kui menyempurnakan ilmu huncwenya bahkan kini diapun menggembleng
puteranya dengan ilmu huncwe maut, juga dua ilmu dari Thian Sin itu mereka selidiki bersama, mereka cari
bagiannya yang berguna dan oleh Pak-san-kui ilmu-ilmu itu dikembangkan dan dicampur dengan ciptaannya sendiri.
***
Setelah berhasil merobohkan Pak-san-kui, hati Thian Sin terasa agak terhibur juga. Bukan hanya karena dia
merasa dapat mengungguli seorang di antara datuk-datuk sesat yang pada waktu itu sedang merajai dunia
persilatan, akan tetapi terutama sekali karena sedikit banyak dia telah dapat membalaskan kematian keluarga
Ciu. Dia akan berusaha terus membasmi semua penjahat di dunia ini dengan mati-matian untuk membalaskan semua
sakit hati yang bertumpuk di dalam hatinya, akan tetapi sebelum dia memulai usaha itu, dia harus yakin lebih
dulu bahwa dia dapat mengalahkan semua penjahat, dan untuk mengukur hal itu, tiada jalan lain kecuali mengukur
kepandaiannya melawan empat datuk kaum sesat! Dan sekarang, dia harus dapat mencari See-thian-ong! Dia harus
dapat mengalahkan See-thian-ong pula, sebelum dia mulai dengan usahanya membasmi seluruh penjahat dari
permukaan bumi!
Siapakah See-thian-ong (Raja Wilayah Barat) itu? Dia adalah seorang kakek yang usianya kurang lebih lima puluh
lima tahun, bertubuh tinggi besar seperti raksasa berkulit agak kehitaman. Dia memang gagah perkasa, kelihatan
menyeramkan seperti tokoh Thio Hwi dalam cerita sejarah Sam Kok dan wataknya juga sesuai dengan tubuhnya yang
tinggi besar. Dia seorang yang kasar, kalau bicara tanpa tedeng aling-aling, terbuka, jujur dan juga wataknya
keras, akan tetapi kadang-kadang dia dapat juga bersikap lembut. Hal ini adalah karena dia dulunya seorang
bekas pendeta Lama, yaitu pendeta budhis dari Tibet. Karena dia melakukan pelanggaran berat, dia dikeluarkan
dari Tibet dan dengan mengandalkan kepandaiannya, dia merantau ke timur dan memperdalam ilmu silatnya di
sepanjang perjalanan, bahkan lalu berganti agama dan menganut Agama To yang menjurus ke arah ilmu gaib. Dia
malah mempelajari ilmu sihir dari para pertapa di sepanjang perjalanan sehingga ketika akhirnya dia tiba di
daerah Telaga Ching-hai, dia berkeliaran di sekitar telaga itu dan segera terkenal sebagai seorang yang amat
ahli dalam ilmu silat maupun dalam ilmu sihir. Satu demi satu jago silat dijatuhkannya dan akhirnya tidak ada
seorangpun ahli silat, baik golongan bersih maupun kotor, yang mampu mengalahkannya dalam waktu satu tahun,
selama dia berkellaran di daerah Telaga Ching-hai di Propinsi Ching-hai itu. Akhirnya, namanya makin terkenal
dan diapun disebut orang sebagai See-thian-ong, nama julukan yang terus dipakainya dan setiap kali
memperkenalkan diri, diapun menggunakan nama itulah! Tidak ada seorangpun yang tahu siapa nama sebenarnya, dan
dia hanya merupakan seorang kakek raksasa berpakaian seperti tosu yang amat lihai.
Akhirnya, beberapa tahun belakangan ini See-thian-ong telah menetap di kota Si-ning di dekat telaga besar
Ching-hai, bahkan rumahnya bukanlah di dalam kota, melainkan di bagian luar kota Si-ning, dekat telaga dan
merupakan daerah yang cukup sunyi. Dan karena dia amat lihai, tentu saja di antara para penjahat yang takluk
kepadanya lalu mengangkatnya menjadi guru. Akan tetapi, dalam hal memilih murid See-thian-ong amat teliti.
Kalau tidak berbakat, dia tidak mau mengajarkan ilmu silat kepada sembarang orang, dan biarpun akhirnya dia
menerima tidak kurang dari lima puluh orang sebagai anggautanya atau pembantunya dan yang disebut juga
murid-muridnya, namun dia tidak pernah mau mengajar mereka sendiri dan hanya menyerahkan kepada murid-muridnya
yang harus mengajar para anggauta atau pembantu itu. Dan di antara murid-muridnya yang termasuk pilihan,
pertama-tama adalah So Cian Ling, dara cantik manis pesolek yang lihai itu dan ke dua yang merupakan murid
kepala dan bertugas mewakili See-thian-ong dalam segala hal, adalah Ciang Gu Sik yang berusia tiga puluh lima
tahun itu.
Akan tetapi, See-thian-ong mempunyai watak yang mata keranjang atau suka kepada wanita muda dan cantik! Dia
tidak pernah menikah, akan tetapi banyak simpanannya wanita cantik. Bahkan muridnya sendiri, So Cian Ling,
adalah seorang di antara kekasihnya! Akan tetapi karena wanita ini juga menjadi muridnya, maka jaranglah dia
menyuruh murid ini melayaninya, apalagi karena sebagai pengganti dirinya, So Cian Ling telah banyak mencarikan
gadis-gadis cantik untuk gurunya yang tak pernah mengenal puas itu.
Seperti juga para datuk lainnya, kehidupan See-thian-ong terjamin oleh para tokoh kaum sesat yang setiap bulan
memberi sumbangan kepadanya. Kalau tidak memberi sumbangan kepada See-thian-ong, jangan harap mereka itu dapat
membuka praktek pekerjaan mereka, baik pekerjaan itu merupakan pencurian, pencopetan, perampokan, perjudian,
pelacuran dan sebagainya lagi. Pendeknya, nama See-thian-ong merupakan semacam "pelindung" agar mereka dapat
bekerja dengan tenang. Karena sumbangan ini datang dari boleh dibilang seluruh penjahat di daerah Propinsi
Chiang-hai, maka penghasilan kakek raksasa ini tentu saja amat besar dan membuatnya hidup sebagai seorang yang
cukup kaya raya, sungguhpun dia, berbeda dengan murid-muridnya, selalu nampak berpakaian dan bersikap
sederhana.
See-thian-ong amat terkenal, sungguhpun jarang dia memperlihatkan ilmu kepandaiannya kalau tidak amat perlu.
Murid-muridnya sudah cukup untuk "membereskan" setiap fihak yang berani menentangnya. Dan kalau sekali waktu
dia mengeluarkan kepandaiannya, maka akibatnya amat mengerikan! Dalam ilmu silat, di antara ilmu-ilmu silat
tinggi yang rata-rata amat ganas, dia memiliki ilmu yang amat aneh, yaitu tubuhnya dapat menggembung seperti
bola karet ditiup dan kalau tubuhnya sudah menggembung seperti itu, penuh dengan hawa, maka jangankan hanya
pukulan dan tendangan, bahkan senjata-senjata tajam tidak akan mampu melukai tubuhnya! Selain ini, juga dia
ahli menggunakan senjata toya, tongkat atau sepotong kayu sekalipun. Di samping semua ilmu silatnya, juga dia
pandai bermain sihir dan dapat menguasai lawan hanya dengan pandang mata atau bentakan suaranya yang
berpengaruh! Pendeknya, See-thian-ong merupakan tokoh yang amat ditakuti orang karena lawan yang berani
menentangnya tentu akan roboh atau tewas dalam keadaan mengerikan.
Dan kini, tokoh macam itulah yang hendak ditentang oleh Thian Sin! Dengan hati penuh keberanian, pemuda ini
tiba di telaga besar Ching-hai. Dia berlaku hati-hati sekali dan lebih dulu menyelidiki di mana tempat tinggal
datuk itu dan orang macam apa adanya. Dia bermalam di sebuah rumah penginapan dan di tempat inilah dia mencoba
untuk mengajak pelayan rumah makan penginapan untuk bicara tentang See-thian-ong.
"Twako, aku adalah seorang pelancong dari utara yang tertarik akan berita tentang keindahan Telaga Ching-hai,"
dia memulai ketika terbuka kesempatan bicara dengan pelayan itu.
"Ah, kongcu tidak salah kalau memilih tempat ini untuk berpesiar. Pada musim semi seperti ini, Telaga Ching-hai
menjadi pusat tempat pelesir dari penduduk di seluruh penjuru di propinsi ini dan terutama penduduk kota
Si-ning setiap hari memenuhi telaga. Kongcu dapat berperahu, mengajak penyanyi dan tukang musik, atau kongcu
dapat bermain judi kalau kongcu suka, dan ada perahu..." dia berbisik, "yang menyediakan gadis-gadis cantik..."
Thian Sin tertawa berlagak seperti seorang kongcu tukang pelesir. "Aih, menyenangkan sekali! Akan tetapi aku
juga mendengar berita yang menakutkan, tentang orang yang bernama See-thian-ong..."
Wajah pelayan itu berubah pucat. "Ssst, jangan kongcu sebut-sebut itu. Akan tetapi sesungguhnya tidak
menakutkan, asal kongcu tidak menyebutnya dan tidak melakukan sesuatu yang mendatangkan keributan. Nama itu
bahkan merupakan jaminan keamanan di mana-mana. Karena nama itulah maka di mana-mana tidak ada yang berani
melakukan kejahatan. Sudah, kongcu tidak perlu bicara tentang itu..."
Melihat sikap pelayan itu, Thian Sin tidak mau mendesak karena maklum bahwa selain pelayan itu tidak akan
berani bicara, juga mungkin saja dia dicurigai dan orang yang takut seperti pelayan ini bukan tidak mungkin
untuk mencari muka dan melaporkan! Dia mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan sendiri ke telaga.
Mustahil dia tidak akan dapat menemukan tempat tinggal tokoh itu, pikirnya.
Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi dan dia sudah mandi dan bertukar pakaian bersih, sebagai
seorang kongcu atau seorang pelajar yang halus sikapnya dan amat tampan wajahnya, pergilah Thian Sin
berjalan-jalan menuju ke telaga. Benar saja, biarpun matahari baru saja naik, di situ sudah terdapat banyak
orang yang berdatangan untuk pesiar. Telaga itu besar sekali dan airnya jernih, berkilauan seperti cermin
menampung sinar matahari pagi yang masih membuat jalan kemerahan panjang di atas air yang belum begitu bergerak
karena tukang-tukang perahu masih sedang sibuk menawarkan perahunya di tepi telaga. Orang-orang yang pesiar
agaknya masih lebih senang berjalan-jalan di sepanjang telaga, menikmati pemandangan yang indah, baik
pemandangan tumbuh-tumbuhan, bunga maupun pemandangan lain, yaitu para pelancong itu sendiri, terutama
gadis-gadisnya.
Thian Sin memilih sebuah perahu yang agak butut dan pemiliknya, tukang perahu tua yang kurus, agaknya enggan
berebut penumpang dengan rekan-rekannya, maka pemilik perahu itu hanya jongkok di dekat perahu bututnya,
menanti datangnya rejeki. Dan rejeki itupun datang ketika Thian Sin menghampirinya.
"Paman yang baik, maukah engkau mengantarku naik perahu berputar-putar di telaga?"
Wajah yang keruh itu seketika berseri. Rejeki besar datang! "Tentu saja, kongcu. Perahuku ini biarpun tua, akan
tetapi tidak ada yang bocor dan dapat meluncur cepat sekali."
Thian Sin tersenyum. "Aku sedang melancong dan melihat-lihat, bukan ingin berlumba, paman. Tidak perlu
cepat-cepat!" Setelah tawar-menawar harga sewa perahu, akhirnya Thian Sin naik perahu itu, duduk di atas papan
yang lebih dulu digosok sampai bersih oleh tukang perahu itu, dan meluncurlah perahu ke tengah telaga,
dipandang oleh rekan-rekan tukang perahu dengan heran mengapa ada kongcu yang memilih perahu butut itu!
Di atas telaga itu masih sunyi. Namun, sebuah perahu tunggal di atas telaga yang amat luas itu merupakan
pemandangan yang amat indah, mempunyai pesona tersendiri dan tentu akan menjadi obyek yang menggairahkan bagi
seorang pelukis atau seprang penyair. Matahari yang masih cukup rendah itu bersinar dari depan, membuat
bayangan orang dan perahu mengikuti perahu itu dengan lembut dan perjalanan perahu hanya mengakibatkan
permukaan telaga terusik sedikit saja.
"Paman, coba bawa perahu ke sebelah kanan sana yang penuh pohon-pohon."
"Tapi di sana sunyi sekali, kongcu."
"Biarlah, aku justeru suka akan kesunyian."
Tukang perahu itu mendayung perahunya perlahan-lahan menuju ke kanan, menjauhi pantai yang ramai itu, ke pantai
yang penuh dengan pohon-pohon karena bagian itu merupakan sebuah hutan yang masih liar. Setelah mereka berada
jauh dari keramaian orang, Thian Sin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memang menjadi tujuan utamanya
naik perahu milik tukang perahu tua ini.
"Paman, di sini sunyi, tidak ada orang yang mendengarkan kita, maukan paman memberi keterangan kepadaku tentang
sesuatu?"
Kakek uang usianya sudah ada enam puluh tahun itu menatap wajah Thian Sin yang muda dari tampan, lalu bertanya
sambil tersenyum, "Keterangan tentang apakah, kongcu? Tentu saja saya mau menjelaskan kalau saya tahu, mengapa
mesti mencari tempat sunyi?"
"Karena setiap orang yang kutanya agaknya tidak ada yang berani menjawab sejujurnya, paman. Aku adalah seorang
pelancong yang datang jauh dari utara dan aku mendengar hal ini menjadi tertarik sekali dan rasanya tidak akan
puas sebelum memperoleh keterangan yang memuaskan."
"Tentang apakah, kongcu?"
"Tentang orang yang bernama See-thian-ong..."
"Ahh...!" Kakek itu menjadi pucat wajahnya dan segera menoleh ke kiri kanan dan belakang.
"Tidak ada seorangpun manusia di sini, paman. Paman adalah seorang tua yang miskin, siapa yang mau
menyusahkanmu? Karena itulah maka aku memilih dan menyewa perahumu, dan kuharap paman suka memberi keterangan
kepadaku, untuk itu aku mau untuk menambah biaya sewa perahu."
Kakek itu menarik napas panjang. "Kongcu benar, tidak ada orang lain di sini, dan aku sudah tua dan miskin.
Takut apa? Nah, kongcu hendak tanya tentang apa?"
"Siapakah sebenarnya See-thian-ong itu dan mengapa semua orang takut membicarakannya?"
"Dia adalah seorang tokoh besar di daerah ini, kongcu, dia menguasai semua orang, dan semua orang agaknya
tunduk kepadanya, atau setidaknya kepada anak buahnya karena dia sendiri jarang nampak di luar. Kabarnya dia
memiliki kepandaian seperti dewa, bahkan pandai sihir sehingga semua orang takut. Katanya baru dibicarakan saja
dia sudah dapat mengetahuinya, akan tetapi aku tidak membicarakan keburukan maka biarlah kalau didengar juga."
"Hemm, di manakah rumahnya, paman?"
"Rumahnya tak jauh dari telaga, di sebelah barat telaga, di bagian yang sunyi, yang nampak merah-merah dari
sini itu." Kakek itu menunjuk ke kiri. "Di sana dia memiliki sebuah rumah besar, dan di sanalah anak buahnya
yang puluhan orang banyaknya berkumpul, mereka semua ahli-ahli silat yang lihai, demikian kata orang."
"Semua anak buahnya yang puluhan itu tinggal di sana?"
"Ya, di rumah-rumah yang dibangun di sekeliling rumah induk tempat tinggal See-thian-ong, merupakan sebuah
perkampungan tersendiri. Pernah aku mengirim kayu bakar ke sana. Rumah-rumah yang indah dan mewah, kongcu." "Dan keluarganya?"
"Dia hanya hidup bersama para pembantunya dan kabarnya... dia mempunyai belasan orang selir karena katanya, dia
tidak pernah beristeri, tidak mempunyai anak..."
"Hemm, begitukah?" Thian Sin merasa girang sekali karena dia telah memperoleh keterangan secukupnya. Setelah
melihat banyak perahu-perahu mulai bergerak ke tengah, dan karena semua keterangan yang dikehendakinya sudah
didapatkan maka dia lalu menyuruh tukang perahu mendayung kembali perahunya ke tepi yang ramai itu. Kini banyak
perahu berseliweran dan mulailah terdengar suara musik di antara perahu-perahu itu, ada suara orang bernyanyi,
suara tertawa dan banyak di antaranya nampak perahu-perahu yang indah, dihias dan ditumpangi oleh gadis-gadis
cantik yang melambai-lambaikan tangan ke arah pria-pria muda yang berkendaraan sendirian. Mereka itu torkekeh
genit, dan ada pula di antara mereka yang bernyanyi-nyanyi menurutkan irama yang-kim yang dimainkan oleh
temannya. Suasana di tempat itu sungguh meriah sekali dan perahu-perahu berseliweran, terutama sekali di
sekeliling perahu-perahu pelesiran yang ditumpangi wanita-wanita penghibur itu.
Karena si tukang perahu tua menduga bahwa tentu saja penyewa perahunya suka mendekati perahu itu, diapun
mendayung perahunya mendekat. Dan begitu melihat Thian Sin yang amat tampan, muda dan sendirian pula di atas
perahunya, riuh rendah wanita-wanita itu melambai kepadanya.
"Kongcu yang tampan... mengapa sendirian saja..."
"Aihh... kongcu seorang manusia ataukah dewa yang baru turun dari kahyangan?"
"Mari, kongcu... mari kami layani kongcu bersenang-senang... dengan kongcu, tidak usah bayarpun tidak
mengapa..."
"Aduh gantengnya..."
Bermacam-macam teriakan mereka disertai lambaian tangan, saputangan dan lontaran kerling dan senyum memikat ke
arah Thian Sin, dibarengi gelak tawa genit. Melihat ini, beberapa orang muda dalam perahu-perahu yang
berdekatan menjadi iri hati. Ada sebuah perahu bercat merah yang ditumpangi empat orang muda lalu didayung oleh
empat pasang tangan, didayung laju menabrak perahu yang dinaiki Thian Sin.
"Eh... eh... jangan nabrak...!" Tukang perahu tua berterian ketakutan. Perahu merah itu jauh lebih besar dan
didayung oleh empat orang, maka sekali kena ditabrak tentu perahunya akan pecah, atau setidaknya tentu akan
terguling bersama penumpangnya. Bagi dia sendiri bukan soal besar kalau hanya terguliung di telaga, akan tetapi
kongcu yang menjadi penumpangnya itu!
Melihat ini, Thian Sin yang tidak tahu sebabnya mengapa perahu yang lebih besar itu hendak menabrak, mengira
bahwa mereka itu tidak sengaja, maka diapun cepat merampas dayung dari tangan kakek tukang perahu dan
menodongkan dayungnya ke luar perahu, hendak menyambut perahu besar itu dengan dayung. Tukang perahu tua itu
terkejut sekali. Mana mungkin tangan kuat menahan perahu besar yang meluncur cepat itu. Selain tidak kuat,
dayung itu bisa patah dan lengan tangan yang memegangnya dapat patah!
"Jangan, kongcu...!" teriaknya. Akan tetapi perahu itu sudah datang dan dengan tenang, cepat namun perlahan
saja Thian Sin mendorongkan dayungnya, mengenai moncong perahu besar dan... perahu besar itu meluncur lewat
perahu kecil, hanya selisih beberapa senti saja akan tetapi tidak menabrak. Melihat ini, tukang perahu yang
tadinya sudah pucat itu menarik napas panjang dan mengira bahwa hal itu kebetulan saja.
"Aduhh... kita selamat..." katanya.
"Paman, mereka itu kenapa sih? Lihat, mereka datang lagi!"
Tukang perahu itu menengok dan mukanya menjadi pucat lagi. "Celaka, agaknya mereka itu iri kepada kongcu karena
ulah perempuan-perempuan itu dan mereka menjadi marah, sengaja hendak menggulingkan perahu kita." Bergegas
tukang perahu itu mendayung perahunya hendak pergi dari situ.
"Jangan melarikan diri, paman. Biarkan mereka datang." kata Thian Sin yang menjadi marah setelah dia tahu bahwa
empat orang muda itu memang sengaja hendak menggulingkan perahunya. Kakek itu tertegun, akan tetapi melihat
sinar mata yang mencorong dari pemuda itu, dia menjadi ketakutan. Sementara itu, laripun tiada gunanya karena
perahu merah itu datang dengan cepat sekali, kini meluncur dan hendak menabrak perahu kecil itu dari belakang.
Sedangkan para pelancong lain yang berada di perahu masing-masing menonton dengan hati tertarik dan ada di
antaranya yang bersorak-sorak seperti menonton pertunjukan yang amat menyenangkan. Dengan gerakan tubuhnya,
Thian Sin membuat perahunya berputar sehingga dia duduk di bagian perahu yang kini tepat akan ditabrak. Tukang
perahu terkejut bukan main ketika perahunya terputar sedemikian rupa seperti dari bawah digerakkan oleh ikan
yang besar dan pada saat itu, moncong perahu merah telah datang dekat sekali.
Sekali ini, Thian Sin tidak menggunakan dayung yang masih dipegang oleh si tukang perahu, melainkan menggunakan
tangan kirinya. Akan tetapi dia menanti sampai moncong perahu besar itu sudah hampir menyentuh perahunya, dan
berada demikian dekat sehingga nampak olehnya betapa empat orang pemuda itu memandangnya dengan mulut
menyeringai girang. Tiba-tiba jari tangannya menyentuh moncong perahu, dia mengerahkan tenaga, mencengkeram
moncong perahu itu dan sekali dia mengangkat dan mendorong, perahu merah itu seperti seekor kuda mengangkat
kedua kaki depannya, terangkat lalu terbanting menelungkup dan terguling!
Terdengar jeritan-jeritan dan teriakan-teriakan kaget. Demikian cepatnya Thian Sin menggerakkan tangannya
sehingga tidak ada seorangpun, kecuali si tukang perahu yang duduk dekat dengannya, yang tahu benar bagaimana
perahu besar itu tiba-tiba terguling sendiri sedangkan perahu kecil yang ditabraknya sama sekali tidak apa-apa!
Empat orang pemuda itu gelagapan dan berteriak-teriak minta tolong, karena mereka tidak pandai renang. Akhirnya
mereka ditolong oleh tukang-tukang perahu, di bawah sorakan dan tertawaan para pelancong lain. Karena mereka
basah kuyup, empat orang pemuda itu tidak banyak lagak lagi, lalu cepat minggir dengan perahu lain dan
melarikan diri dari tempat itu!
"Eh, bagaimana bisa terjadi itu?"
"Luar biasa sekali!"
"Tentu ada setan air yang menolongnya!"
"Ah, dia tentu benar-benar dewa kahyangan...!" terdengar seorang wanita penghibur berseru.
Semakin ramailah keadaan di situ dan kini Thian Sin menjadi pusat perhatian orang, terutama sekali para pelacur
itu yang agaknya hendak berlumba untuk merebut hati pemuda ganteng yang bernasib amat baik itu sehingga perahunya ditabrak perahu besar malah si penabrak itu sendiri yang terbalik.
Pada saat Thian Sin yang merasa jemu itu hendak menyuruh tukang perahu membawanya ke pinggir karena perahunya
dikepung, tiba-tiba terdengar bentakan wanita yang nyaring dan berwibawa, "Minggir semua!"
"Wah, celaka, kongcu...!" Tukang perahu tua itu berbisik dengan muka pucat.
Mendengar ini, Thian Sin menoleh ke arah suara itu dan melihat betapa perahu-perahu pada minggir cepat-cepat
untuk memberi ruang kepada sebuah perahu kecil yang datang dengan cekatan sekali.
"Silakan, nona...!"
"Silakan, siocia...!"
Suara mereka itu penuh dengan hormat dan Thian Sin memandang seorang dara yang mendayung perahu hitam kecil itu
dan wajahnya segera berseri. Kiranya nona itu adalah So Cian Ling! Tentu saja dia mengenal nona ini, nona
cantik manis dengan pakaian yang mewah dan pesolek, dengan wajahnya yang riang dan lincah, terutama sekali
hidungnya yang mancung dan sepasang matanya yang amat jeli, yang pada saat itu menatap wajahnya dan bibir yang
merah itu mulai tersenymn ketika perahu hitam itu akhirnya berhenti di dekat perahu yang ditumpangi Thian Sin!
Pemuda ini memandang dengan jantung berdebar, bukan apa-apa, melainkan girang karena dia melihat jalan yang
terbaik untuk dapat berhubungan dengan See-thian-ong tanpa menimbulkan curiga, yaitu lewat dara ini! Bukankah
So Cian Ling ini murid tersayang dari See-thian-ong?
Thian Sin segera mengangkat kedua tangan di depan dada sambil berkata, "Selamat bertemu, Nona So Ciang Ling!"
Wajah ini segera menjadi cerah sekali, senyumnya lebar dan gembira.
"Aihhhhh...! Kiranya benar-benar Saudara Ceng yang muncul di tempat ini! Ah, siapa lagi yang dapat mendatangkan
keributan kalau bukan engkau. Mari, mari... kau pindahlah ke perahuku dan kita mengobrol!"
"Akan tetapi... perahu ini kusewa..."
"Aih, sudahlah, kongcu. Tidak mengapa, siocia telah memanggilmu..." kata si tukang perahu.
"Hei, tukang perahu, engkau beruntung sekali perahumu disewa oleh kongcu ini!" kata So Cian Ling dan dia
melemparkan sepotong uang emas kepada tukang perahu itu. Uang itu jatuh ke lantai perahu mengeluarkan bunyi
nyaring. "Nah, itu ongkosnya!"
"Terima kasih... ah, terima kasih atas kebaikan siocia yang mulia. Eh, kongcu, kau cepatlah pindah ke perahu
siocia..." kata tukang perahu itu sambil mendorong-dorong perlahan ke pundak Thian Sin. Pemuda ini tersenyum,
lalu bangkit berdiri dan melompat ke atas perahu So Cian Ling. Akan tetapi pada saat itu, So Cian Ling
mendayung perahunya keras sekali sehingga perahunya meluncur jauh! Semua orang berteriak melihat ini, juga
tukang perahu itu berteriak keras karena mengira bahwa tentu pemuda itu akan jatuh tercebur ke dalam air
telaga! Pemuda itu telah maju tidak kurang dari lima meter jauhnya! Akan tetapi, mereka melihat betapa pemuda
itu mengeluarkan seruan nyaring dan tubuhnya sudah berjungkir balik di udara dan meluncur ke arah perahu nona
itu dan dapat turun dengan enaknya di atas perahu! Melihat ini, semua orang berseru kagum dan So Cian Ling
tertawa.
"Wah, engkau sungguh nakal!" kata Thian Sin, juga tersenyum karena dia tahu bahwa dara itu memang sengaja
mencobanya. Andaikata dia tidak sedang mendekatinya karena dia ingin mengadakan hubungan dengan See-thian-ong
lewat nona ini, tentu dia sudah mendongkol dan akan membalas.
"Hi-hik, siapa takut kau tercebur?"
So Cian Ling lalu mendayung perahunya dan melihat betapa perahu besar yang ditumpangi para pelacur itu
menghalang dan para pelacur itu memandang kepada Thian Sin dengan mata melotot penuh kekecewaan seperti mata
kucing-kucing yang melihat sepotong ikan dibawa pergi, dia lalu mendorong dengan dayungnya sambil berseru,
"Minggir! Apa kalian ingin perahumu kujungkirkan?"
Nona ini mendorong perlahan, akan tetapi perahu besar itu menjadi terputar-putar cepat sekali. Terdengar
jerit-jerit ketakutan dan semua pelacur itu segera mendekam di atas papan perahu sambil menjerit-jerit karena
perahu itu terputar-putar keras, bahkan ada yang terkentut-kentut dan terkencing-kencing! Dua orang tukang
perahu dengan sekuat tenaga berusaha untuk menghentikan perahunya, namun tidak berhasil.
"Sudahlah, kenapa main-main dengan perahu orang yang tak berdosa?" Thian Sin berkata dan dia mendoyongkan
tubuhnya ke pinggir perahu. Perahu hitam kecil itu menjadi miring dan dengan sendirinya terputar mendekati
perahu besar yang terputar. Dengan tangannya Thian Sin menahan dan seketika perahu besar itu berhenti dari
putaran!
"Hi-hik!" Cian Ling mendayung perahunya meninggalkan mereka semua, bukan ke tepi, melainkan ke tengah telaga.
Cepat sekali perahunya meluncur sehingga sebentar saja orang-orang itu hanya melihat sebuah titik hitam jauh di
tengah danau yang luas itu. Semua orang menarik napas panjang dan menduga siapa adanya pemuda itu.
"Pantas, kiranya sahabat So-siocia..." akhirnya mereka berkata-kata sebentar kemudian tempat itu menjadi ramai
kembali.
"Kau bilang perahu itu perahu orang yang tidak berdosa?" tiba-tiba dia memandang Thian Sin dan bertanya,
matanya yang jeli itu menyelidiki wajah yang tampan itu.
"Tentu saja, apa dosa mereka kepadamu?"
"Kepadaku sih tidak, akan tetapi... eh, tak tahukah engkau siapa mereka itu?"
"Mereka? Mereka adalah wanita-wanita yang sedang melancong..."
"Aih... jangan kau pura-pura, Ceng Thian Sin!" Cian Ling berkata sambil mengerling tajam dan tersenyum
mengejek. Diam-diam Thian Sin terheran-heran dan hampir dia tidak percaya bahwa ini adalah Nona So Cian Ling
yang pernah ditemuinya dua kali dahulu itu. Dahulu, baik untuk pertama kalinya ketika dia bertemu dengan Cian
Ling yang hendak membalas kepada Kakek Yap Kun Liong dan kedua kalinya ketika dia bertemu dengan dara ini di
dalam pesta Tung-hai-sian, dara ini merupakan seorang gadis gagah perkasa yang keras dan serius. Akan tetapi
yang dilihatnya sekarang adalah seorang gadis yang manis dan jenaka, juga yang murah senyum dan sikapnya penuh
dengan daya pikat! Seperti langit dan bumu bedanya!
"Hayaaa... apa yang kaulihat pada mukaku? Apakah ada kotoran di mukaku?" Cian Ling mengusap mukanya yang
berkulit putih halus itu.
"Ah, tidak... hanya... ah, kenapa kau bilang aku pura-pura?"
"Habis, engkau memang pura-pura sih! Apa benar engkau tidak tahu bahwa mereka itu adalah wanita-wanita
pelacur?"
Thian Sin terbelalak. Memang tadipun dia sudah terheran-heran akan sikap wanita-wanita itu yang demikian
beraninya akan tetapi karena memang dia belum pernah bergaul dengan pelacur dan pertama kali melihat pelacur
hanya ketika Siangkoan Wi Hong menjamunya bersama Han Tiong dahulu, maka dia tidak menyangka demikian.
"Ah, kiranya begitukah? Aku sungguh tidak tahu. Akan tetapi, andaikata mereka itu benar pelacur-pclacur, habis
apa dosanya?"
"Wah, apa dosanya? Mereka menjual cinta..."
"Berdosakah itu?"
"Jelas! Bercinta sih tidak mengapa, akan tetapi kalau dijual, mencinta demi uang, wah, itu namanya hina! Eh,
benarkah engkau belum pernah bergaul dengan pelacur?"
Thian Sin mengerutkan alisnya. "Hemm, untuk apa?"
Tiba-tiba dara itu terkekeh dan menutupi mulutnya, sikapnya centil akan tetapi juga menarik hati sekali. Perahu
yang tidak didayungnya itu meluncur tenang di tengah-tengah danau yang sunyi.
Thian Sin merasa mendongkol juga ditertawakan, tanpa dia ketahui mengapa dara itu tertawa.
"Eh, kenapa engkau tertawa?" tanyanya, suaranya mengandung kemengkalan hatinya. Dara itu menengok memandangnya
dan agaknya menjadi semakin geli melihat dia marah.
"Ceng Thian Sin, berapa sih usiamu?" tiba-tiba dia bertanya tanpa menjawab pertanyaan mengapa dia tertawa tadi.
"Usia? Sembilan belas tahun, mengapa?"
"Hemm, benar kata Siangkoan-kongcu..."
"Apa yang dikatakan orang itu?" Thian Sin berkata, suaranya dingin.
"Dia berkata bahwa engkau adalah seorang pria yang benar-benar belum pernah bergaul dengan wanita pelacur,
bahkan dengan wanita manapun. Bahwa engkau masih perjaka tulen. Benarkah itu?"
Wajah Thian Sin menjadi merah seperti udang direbus. Dia merasa ditertawakan dan merasa terbelakang dan dusun
sekali. "Kalau benar, habis mengapa?"
"Kau memang hebat! Ilmu kepandaianmu tinggi sekali, engkau keturunan seorang pangeran, malah seorang pangeran
yang jagoan dan pernah menggegerkan dunia, dan engkau malah mewarisi ilmu-ilmu mujijat dari Cin-ling-pai, dan
engkau... engkau masih perjaka tulen! Siapa bisa percaya itu? Akan tetapi aku percaya dan aku... aku kagum,
Thian Sin." Berkata demikian, dara itu lalu mengacungkan jempolnya dan ketika tangannya turun, tangan itu
diletakkan ke atas paha kaki Thian Sin. Pemuda ini terkejut, akan tetapi dia diam saja, tidak berani berkutik
sedikitpun dan seluruh tubuhnya seperti terasa dingin, bulu-bulu di tubuhnya seperti bangkit semua!
Melihat keadaan pemuda ini, So Cian Ling yang sejak pertemuan pertama sudah tergila-gila kepada Thian Sin, lalu
mendekatkan tubuhnya sehingga terasa kehangatan tubuh gadis itu oleh Thian Sin. Lalu Cian Ling berbisik,
"Kau... kau takut...?"
Thian Sin tetap menegakkan tubuhnya yang duduk di atas perahu, tapi dia menoleh ke arah muka yang begitu dekat
dengan mukanya sehingga terasa kehangatan napas dari mulut dan hidung wanita itu. "Takut apa...?" Dia sudah
memberani-beranikan diri, menekan debar jantungnya, namun tidak urung suaranya gemetar dan hampir tidak
terdengar, seperti bisikan saja.
Gadis itu tersenyum, manis sekali senyumnya dan nampak deretan gigi yang teratur rapi dan putih bersih.
Keharuman yang aneh keluar dari balik baju di lehernya. "Engkau... pemuda yang gagah perkasa, yang sakti, yang
tampan, engkau... eh, takut kepada wanita, ya? Hi-hik...!"
Tersinggung rasa harga diri Thian Sin. Dia pernah bercinta, walaupun hanya saling dekap dan saling berciuman.
Dia sudah pernah bercinta, terutama sekali yang terakhir dengan Loa Hwi Leng! Maka, mendengar kata-kata bisikan
yang sifatnya mengejeknya itu, dia menjawab penasaran.
"Siapa takut kepada wanita? Huhh...!"
Cian Ling tertawa geli. "Benarkah? Benar engkau tidak takut padaku? Aku seorang gadis muda cantik, bukan? Dan
amat dekat denganmu! Engkau tidak takut?"
"Tidak!"
"Kalau benar tidak takut, beranikah engkau menciumku?"
Thian Sin makin bingung dan malu, jantungnya berdebar keras. Menghadapi dara-dara sederhana dan malu-malu
seperti Hwi Leng dahulu, dialah yang menyerang, dialah yang menggoda dan dialah yang menjadi guru. Akan tetapi
kini, berhadapan dengan seorang dara seperti ini, yang begini berani, dia merasa kikuk dan malu-malu. Hal ini
membuatnya penasaran karena di lubuk hati Thian Sin terdapat suatu ketinggian hati yang membuat ia enggan kalah
oleh siapapun juga dan dalam hal apapun juga.
"Mengapa tidak berani? Akan tetapi, mengapa kita harus melakukan itu?" tanyanya, membayangkan keberanian akan
tetapi juga keraguan.
Dengan bibir masih terbuka dalam senyum, dan mata memandang sayu dari balik bulu-bulu mata yang panjang, penuh
daya pikat, dara itu berbisik, "Mengapa? Aih... karena kita saling menghendakinya, aku cinta padamu, Ceng Thian
Sin. Nah, beranikah engkau menciumku?"
Thian Sin merasa ditantang, dan pula, dekatnya tubuh yang hangat itu, bibir yang setengah terbuka penuh
tantangan itu, pandang mata sayu yang penuh daya tarik itu, telah mendatangkan gairah dalam hatinya. Diapun
lalu merangkul dan mencium, tadinya sekedar memperlihatkan bukti bahwa dia tidaklah begitu "dusun" dan "hijau".
Akan tetapi begitu bibir mereka saling bertemu, dia tidak perlu lagi bersandiwara, dan tidak perlu lagi
khawatir tidak akan dianggap jantan karena Cian Ling yang malah memagutnya, mendekapnya dan menciuminya dengan
kemesraan yang menyesakkan napas Thian Sin. Tanpa disadarinya lagi, dia telah dibawa rebah oleh Cian Ling dan
juga dalam keadaan setengah sadar, karena terbius oleh kenikmatan yang belum pernah dirasakannya, baik ketika
bercintaan dengan Hwi Leng sekalipun. Thian Sin membiarkan dirinya hanyut oleh buaian nafsu. Dan dalam hal ini,
Cian Ling merupakan seorang guru yang amat pandai, amat manis dan yang agaknya tak mengenal puas.
Setiap manusia di dunia ini, baik wanita maupun pria, yang hidup dalam keadaan normal dan biasa, kecuali mereka
yang hidup diperuntukkan menjadi pendeta atau yang berpantang sanggama, sudah pasti akan sekali waktu mengalami
hubungan pertama dalam hidupnya. Hubungan kelamin antara pria dan wanita untuk pertama kalinya sudah pasti akan
terjadi pada setiap orang, dengan berbagai cara dan jalan. Dan agaknya sudah diterima oleh umum sebagai hal
yang wajar dan biasa, terutama di dunia timur, bahwa kehilangan keperjakaan seorang pria bukanlah hal yang aneh
dan patut diributkan, sebaliknya, kehilangan keperawanan seorang wanita dapat menimbulkan bencana, urusan,
permusuhan, pembunuhan, bahkan dapat mempengaruhi kehidupan wanita itu selanjutnya! Hubungan antara pria dan
wanita, hubungan yang menyangkut kelamin sekalipun, bukanlah merupakan hal yang aneh. Hubungan itu adalah wajar
saja, seperti hubungan antara jantan dan betina pada semua makhluk, baik makhluk bergerak maupun tidak, baik
tanam-tanaman, binatang-binatang, manusia-manusia. Jodoh dalam bentuk pertemuan antara Im dan Yang merupakan
kewajaran, karena pertemuan antara jantan dan betina inilah yang menciptakan semua keadaan.
Demikian pula, hubungan kelamin antara pria dan wanita merupakan kewajaran, bahkan merupakan sarana bagi
perkembangan manusia, bagi kelahiran manusia, oleh karena itu, sungguh sesat kalau menganggap hubungan itu
sebagai sesuatu yang kotor! Sama sekali tidak. Hubungan itu adalah sesuatu yang suci, sesuatu yang bersih dan
indah, sesuatu yang wajar dan tidak bertentangan hukum alam.
Akan tetapi, segala macam perbuatan di dunia ini, kalau dilakukan dengan dasar mengejar kesenangan, tentu
menimbulkan penyelewengan-penyelewengan yang dianggap sebagai kejahatan. Dan perbuatan yang dilakukan dengan
pamrih mencari kesenangan, sudah pasti akan mendatangkan gangguan-gangguan dalam hidup, mendatangkan awal
daripada kesengsaraan. Umpamanya, makan adalah suatu gerakan wajar yang merupakan kepentingan hidup, kebutuhan
jasmani, dan memang segala kebutuhan jasmani itu pelaksanaannya mengandung kenikmatan. Inilah berkah
berlimpahan yang patut membuat manusia bersyukur. Akan tetapi, kalau dalam melakukan perbuatan makan ini kita
mendasarkannya atas pamrih mengelar kesenangan, yaitu kenikmatan makan tadi, maka terjadilah penyelewengan.
Kita lalu makan asal enak saja, tanpa mengingat lagi bahwa fungsi makan sebenarnya adalah untuk syarat hidup,
untuk perut. Dan terjadilah akibat-akibat yang amat mengganggu seperti sakit perut dan sebagainya yang
merupakan awal kesengsaraan! Demikian pula dengan perbuatan sebagai pelaksana hubungan kelamin antara pria dan
wanita.
Gairah yang ada dalam hubungan seksuil adalah wajar. Rasa tertarik antara pria dan wanita adalah wajar. Rasa
nikmat yang didapat dalam hubungan itupun adalah wajar, merupakan satu di antara berkah yang berlimpahan bagi
manusia. Namung kalau kita melaksanakan perbuatan itu dengan dasar mengejar kenikmatan, mencari kesenangan,
maka kita telah menyalahgunakan berkah itu. Dan timbullah perbuatan-perbuatan yang merupakan
penyelewengan-penyelewengan hanya demi mencapai kesenangan belaka, seperti perjinaan-perjinaan dan sebagainya,
yang kesemuanya itu dilakukan hanya karena dorongan nafsu berahi belaka, hanya untuk mencari kenikmatan belaka.
Dan muncullah akibat-akibat seperti pelanggaran dari norma-norma kesusilaan manusia yang telah terbentuk.
Akibat-akibat itu bermacam-macam, misalnya, kandungan di luar nikah, permusuhan karena memperebutkan wanita,
permusuhan karena merasa dilanggar kehormatannya, permusuhan karena perkosaan, penyakit-penyakit kelamin, dan
sebagainya lagi.
Kebijaksanaan sajalah yang dapat menertibkan semua ini. Kebijaksanaan yang timbul kalau kita berada dalam
keadaan waspada dan sadar. Hanya dasar cinta kasih sajalah yang akan menghalalkan semua perbuatan hubungan
seksuil ini. Dengan cinta kasih, maka segalanyapun baik. Dan cinta kasih itu bukan sekali-kali berarti hubungan
seks! Sungguhpun hubungan seksuil merupakan sebagian daripada cinta kasih antara pria dan wanita dalam hubungan
suami isteri, suatu pencurahan daripada kasih sayang dan kemesraam. Dan sebagai manusia tentu saja kita tidak
mungkin terlepas daripada norma-norma kesusilaan, daripada hukum-hukum yang telah diterima oleh masyarakat.
Kalau hukum itu mengatakan bahwa hubungan seksuil antara pria dan wanita barulah benar kalau dilakukan antara
suami dan isteri yang sudah menikah secara sah, maka sudah tentu kita tidak mungkin dapat melepaskan dari
ketentuan itu. Sebaliknya, andaikata masyarakat kita tidak mengadakan peraturan itu, tentu saja kitapun terikat
oleh hukum tentang pernikahan. Semua hukum itu hanyalah menjaga ketertiban lahiriah belaka. Akan tetapi yang
terpenting adalah ketertiban menyeluruh yang berpusat kepada batin.
Kenikmatan memiliki kekuatan besar sekali untuk mengikat manusia melalui kesenangan. Mengingat-ingat dan
mengenangkan pengalaman yang nikmat selalu mendorong manusia untuk mengulang kenikmatan itu.
Di dalam perahu kecil itu, yang terapung di atas danau yang amat sunyi, Thian Sin terseret dalam buaian yang
mendatangkan nikmat dan memabukkan. Cian Ling yang menemukan sesuatu yang selama ini selalu diimpikan dan
dibayangkannya, mempergunakan kesempatan itu untuk memuaskan dirinya tanpa mengenal batas, menyeret Thian Sin
ke dalam kenikmatan nafsu berahi! Setelah bertemu dengan Thian Sin dan merasa kagum, suka dan cocok sekali
dengan pemuda putera pangeran ini, yang selain tampan, gagah dan menyenangkan, juga yang ia tahu memiliki ilmu
kepandaian amat tinggi, timbul rasa cinta dalam hati Cian Ling. Ingin ia dapat mengikat dan memiliki pemuda
itu, bukan hanya memiliki tubuhnya, melainkan juga memiliki hatinya, cintanya. Maka, dengan segala kelembutan
kewanitaannya, ditambah segala pengalaman dan siasatnya dalam bermain cinta, Cian Ling hendak menaklukkan Thian
Sin agar pemuda itu jatuh dan tidak akan mampu melepaskan diri dari cengkeramannya. Akan tetapi, setelah mereka
tinggal di dalam perahu itu sampai semalam suntuk, bukannya Thian Sin yang bertekuk lutut, bahkan sebaliknya
Cian Ling sendiri yang semakin tergila-gila! Pemuda itu memiliki pribadi yang amat kuat, memiliki kejantanan
yang bahkan mengalahkan seorang wanita seperti Cian Ling yang sudah berpengalaman dalam hal bermain cinta.
Maka, setelah mereka berada di dalam perahu itu, dan hanya minggir untuk mencari makanan, kadang-kadang
keduanya berenang-renang di sekitar perahu, kadang-kadang mereka bercakap-cakap, bercanda dan bermain cinta di
dalam perahu atau di air yang jernih selama dua hari, maka gadis itulah kadang-kadang menyatakan cintanya. Cian
Ling sampai bersumpah menyatakan cintanya kepada Thian Sin. Sebaliknya, pemuda itu hanya tenang-tenang saja dan
tersenyum penuh kemenangan. Dia menikmati hubungannya dengan Cian Ling, akan tetapi sama sekali dia tidak jatuh
cinta. Dia suka kepada gadis itu, tentu saja. Siapakah orangnya, kalau dia laki-laki normal, yang tidak suka
kepada seorang gadis yang cantik jelita, berkepandaian, dan memiliki gairah yang demikian besar, dan yang
meminta pula? Aken tetapi, dalam pandangan Thian Sin, Cian Ling hanyalah seorang gadis yang selain
menyenangkan, juga merupakan suatu jembatan untuk dia mendekati See-thian-ong!
Setelah dua hari dua malam berada di perahu itu, seperti sepasang suami isteri berbulan madu, akhirnya keduanya
merasa bosan tinggal di atas danau dan merekapun mendarat. Inipun adalah kehendak Thian Sin yang ingin dapat
bertemu dan memasuki sarang See-thian-ong.
Dari Cian Ling, dia sudah mendengar segalanya tentang See-thian-ong. Dan menurut penuturan gadis itu, dia tahu
bahwa selain amat lihai ilmu silatnya, terutama ilmu tongkatnya, juga See-thian-ong amat pandai dalam ilmu
sihir.
"Banyak sudah tokoh-tokoh kang-ouw yang memiliki ilmu silat tinggi, yang tingkat ilmu silatnya mungkin tidak
kalah atau setidaknya setingkat dengan kepandaian suhu, terpaksa harus tunduk karena ilmu sihir dari suhu,"
antara lain Cian Ling berkata.
Ketika mereka meninggalkan telaga, Cian Ling mengajaknya ke dalam sebuah hutan yang amat indah. Hutan itu
berada di lereng yang penuh dengan pohon-pohon dan bunga-bunga, dan di tengah-tengah hutan terdapat padang
rumput yang tidak tinggi dan dapat hidup subur, maka pandang rumput itu tebal sekali dan kalau diinjak rasanya
seperti menginjak beludru tebal saja. Luar biasa indahnya tempat itu.
"Ini adalah tempat yang paling kusuka, Thian Sin. Kalau aku sedang kesal hati, di sinilah aku pergi untuk
melupakan semua kekesalan hatiku. Dan sekarang, kau kuajak ke sini! Engkaulah laki-laki pertama yang kuajak ke
tempat ini..."
Thian Sin tersenyum. Dia duduk di atas rumput, menyandarkan kepalanya di atas kedua pahanya. Mereka saling
rangkul dengan sikap mesra.
"Cian Ling, engkau seorang gadis yang amat luar biasa. Akan tetapi... bagaimana engkau dapat menjadi murid
See-thian-ong? Dan sepanjang pendengaranku tentang dia, dia itu suka sekali dengan wanita-wanita muda." Thian
Sin setengah memancing untuk mengetahui lebih banyak tentang hubungan antara wanita ini dan gurunya.
Cian Ling menarik napas panjang, seperti seekor kucing yang dipangku dan dibelai, karena Thian Sin dengan
pandai menggunakan jari-jari tangannya untuk membelai anak rambut halus di sekitar tengkuk dan dahi itu.
"Memang suhu seorang laki-laki yang aneh. Dan tentang wanita, yahh... dia suka sekali dan setiap hari, maksudku
setiap malam, harus ada wanita muda cantik yang mendampinginya. Dia... dia kuat sekali, akan tetapi
dibandingkan dengan engkau, dia bukan apa-apa..." Cian Ling menarik leher pemuda itu dan menciumnya... Thian
Sin membiarkan gadis itu, kemudian melepaskan diri dan berkata lagi.
"Dan engkau begini cantik dan muda, mustahil kalau dia melepaskanmu..."
"Kau... kau cemburu?" Cian Ling bangkit duduk dan memandang tajam, akan tetapi bibirnya yang manis tersenyum.
Thian Sin menggeleng kepala sambil menunduk dan melihat gadis itu mengangkat muka memandangnya dari atas
pangkuan. "Tidak, aku hanya menduga begitu saja."
Cian Ling menarik napas panjang, nampaknya kecewa. "Aihhh... ingin aku melihat engkau cemburu. Kata orang,
cemburu itu tandanya cinta."
Thian Sin hanya tersenyum dan berkata singkat, penuh kecerdikan tersembunyi, "Nona manis, kalau aku tidak cinta
padamu, masa aku mau menemanimu seperti ini?"
Cian Ling gembira sekali, bangkit duduk dan merangkul leher Thlan Sin, menciuminya penuh nafsu. Akan tetapi
Thian Sin perlahan-lahan melepaskan diri dan berkata, "Duduklah yang baik dan kita bicara tentang gurumu. Aku
ingin sekali mendengar tentang datuk barat itu."
"Bukankah sudah hanyak aku bercerita tentang dia? Memang dugaanmu benar. Orang laki-laki seperti guruku itu,
mana mau melepaskan aku? Terus terang saja, dialah yang pertama kali menggauliku. Dia adalah guruku, juga
pengganti orang tuaku yang amat baik kepadaku, dan juga dialah laki-laki pertama yang pernah menyentuhku dan
mengajariku tentang cinta seperti... seperti aku mengajarimu, Thian Sin." Gadis itu tersenyum lebar.
Thian Sin tidak merasa cemburu, hanya merasa tak senang dan agak muak mendengar akan hubungan guru dan murid
seperti itu. Guru tiada jauh bedanya dengan kedudukan seorang ayah, maka hubungan kelamin antara guru dan murid
sungguh menimbulkan perasaan tidak enak baginya. Akan tetapi karena dia hendak menggunakan gadis ini sebagai
jembatan untuk berkenalan dengan See-thian-ong dan mencari rahasianya agar dia mampu mengalahkannya, maka
diapun tidak memberi komentar atas hal itu.
"Cian Ling, coba kaujelaskan. Dua macam ilmunya yang pernah kauberitahukan kepadaku itu, yaitu ilmu khi-kang
yang membuat tubuhnya penuh dengan hawa sampai menggembung besar, dan ilmu tongkatnya, mana yang lebih
berbahaya?"
"Thian Sin, sungguh menyesal sekali aku tidak dapat menjelaskan secara terperinci, karena biarpun aku merupakan
murid tersayang dari suhu dan agaknya di antara semua muridnya akulah yang paling unggul, namun kedua ilmu itu
merupakan ilmu simpanan suhu pribadi, tidak pernah diajarkan kepada orang lain. Bahkan Twa-suheng Ciang Gu Sik
juga tidak diajar ilmu itu, padahal dia disebut sebagai murid kepala. Kalau dia diajari dua ilmu itu, tentu
akupun akan kalah olehnya."
"Sayang, aku ingin sekali tahu sampai dimana kehebatan dua ilmu itu."
"Aku hanya dapat memberi tahu bahwa ilmu khi-kang yang membuat tubuhnya menggembung itu disebutnya ilmu
Hoa-mo-kang. Kalau suhu sudah mengeluarkan ilmu ini, tubuhnya menggembung besar seperti balon terisi angin dan
segala macam senjata tidak mampu menembus kulitnya dan selain itu, juga dengan hembusan khi-kang melalui
pukulan-pukulannya, maka jarang ada lawan mampu menahannya. Sedangkan ilmu tongkatnya dinamakan
Giam-lo-pang-hoat (Ilmu Tongkat Malaikat Kematian) dan segala macam tongkat atau bahkan sepotong kayupun kalau
berada di tangannya dan dimainkan dengan ilmu itu akan berubah menjadi senjata yang amat ampuh. Hanya itulah
yang kuketahui, kekasihku." Kemudian, gadis itu memegang tangan Thian Sin dan bertanya, "Engkau bertanya-tanya
tentang suhu, sebenarnya mau apakah?"
Thian Sin sudah mempersiapkan diri untuk pertanyaan seperti itu yang memang sudah diduganya sekali waktu akan
keluar dari mulut Cian Ling. Maka sambil memeluknya dan merebahkan gadis itu terlentang kembali ke atas
pangkuannya, dia menjawab.
"Cian Ling, engkau tentu sudah mendengar akan riwayatku, kumaksudkan, riwayat mendiang ayahku, bukan?"
Gadis itu tertawa dan meraih dagu pemuda itu untuk dibelainya, pandang matanya penuh rasa kagum karena
pertanyaan itu mengingatkan ia akan kenyataan yang membuat ia merasa bangga, yaitu bahwa pemuda yang telah
menjadi miliknya ini, yang menyerahkan keperjakaannya, adalah putera Pangeran Ceng Han Houw yang namanya selalu
mendatangkan rasa kagum dalam hatinya.
"Tentu saja! Siapa yang tidak pernah mendengar nama Pangeran Ceng Han Houw yang menggemparkan dunia, seorang
pangeran muda yang tampan dan yang telah menjatuhkan hati seluruh wanita di dunia ini, yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi dan bahkan pernah dianggap sebagai seorang jagoan nomor satu di dunia..."
"Itulah yang kumaksudkan. Aku ingin memenuhi keinginan mendiang ayahku, dan akan kuperlihatkan kepada dunia
bahwa puteranya ini mampu memenuhi cita-cita ayahnya, yaitu aku ingin mengalahkan semua datuk di empat penjuru.
Dan, aku ingin sekali mencoba kepandaian See-thian-ong dan mengalahkannya."
"Ahhh... untuk mengalahkan suhu, sungguh merupakan suatu hal yang amat sukar, kekasihku."
"Aku hanya mengharapkan bantuanmu, Cian Ling. Siapa lagi yang dapat membantuku kecuali engkau dalam menghadapi
suhumu itu."
"Tentu saja aku mau membantumu dalam segala hal, akan tetapi bagaimana aku dapat membantumu menghadapi suhu?
Kalau suhu mengeluarkan dua macam ilmu itu, aku tidak berdaya sama sekali, dan pula... mana mungkin aku dapat
melawan suhu yang begitu baik terhadap diriku seperti terhadap anak sendiri?"
"Hemm, seperti anak atau seperti kekasih?"
"Hi-hik, kau cemburu?"
Thian Sin tidak menjawab, melainkan merangkul dan dibalas oleh Cian Ling. Mereka tidak bicara lagi melainkan
mengulang kembali apa yang telah sering mereka lakukan di dalam perahu selama dua malam itu. Agaknya tiada
bosan-bosannya bagi mereka berdua untuk bermesraan dan menumpahkan rasa cinta berahi mereka.
Ketika mereka sedang berkasih mesra, Cian Ling dapat melihat bahwa suhengnya, yaitu Ciang Gu Sik, datang dan
mengintai dari tempat yang tidak jauh dari situ dari balik sebatang pohon. Karena Gu Sik datang dari arah
belakang Thian Sin yang sedang asyik bermesraan itu, maka pemuda ini tidak melihatnya. Akan tetapi, Cian Ling
dapat melihatnya, dan diam-diam gadis ini tersenyum. Kemudian gadis ini memperlihatkan sikap yang lebih mesra
daripada biasanya, bahkan sengaja mengeluarkan suara-suara manja agar terdengar oleh Gu Sik.
Ciang Gu Sik, murid kepala dari See-thian-ong itu, seorang pemuda berusia kurang lebih tiga puluh enam tahun,
adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus, bermuka pucat dan matanya sipit sekali, pakaiannya kuning
sederhana dan dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Karena dia dekat dengan sumoinya, maka tentu saja
diapun tidak dilewatkan oleh Cian Ling dan antara suheng dan sumoi ini memang telah beberapa kali terjadi
hubungan badan, seperti yang terjadi antara Cian Ling dan See-thian-ong. Di kalangan mereka, peristiwa seperti
ini tidaklah dianggap aneh atau kotor. Mereka adalah tokoh-tokoh kaum sesat yang sama sekali tidak mau terikat
oleh segala macam aturan dan susila. Akan tetapi, kalau Cian Ling hanya menganggap suhengnya itu sebagai
seorang diantara para pria yang pernah menggaulinya dan tidak begitu mendatangkan kesan di dalam hatinya,
sebaliknya Gu Sik telah jatuh cinta kepada sumoinya ini, mengharapkan kelak sumoinya mau menjadi isterinya.
Telah dua hari ini Ciang Gu Sik merasa gelisah. Dia mencari-cari sumoinya. Dia mendengar peristiwa di telaga di
mana sumoinya bertemu dengan seorang pemuda yang tampan dan juga kabarnya memiliki kepandaian tinggi. Baginya,
mendengar sumoinya bermain cinta dengan pemuda lain, bukanlah hal yang aneh sungguhpun dia mulai diamuk cemburu
karena dia ingin menguasai tubuh dan hati sumoinya itu untuk dirinya sendiri. Akan tetapi biasanya, kalau
sedang bermain glia dengan laki-laki lain, Cian Ling tidak pernah sembunyi-sembunyi, dan juga paling lama
sehari semalam sumoinya itu tentu akan pulang. Tidak pernah ada pria yang dapat menahannya dalam pelukannya
selama lebih dari satu hari satu malam. Dan sekarang, telah dua hari dua malam sumoinya tidak pulang, maka
timbul kekhawatiran hatinya kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk pada sumoinya. Pada hari ke tiga pergilah
dia mencari sumoinya. Dia tahu akan padang rumput di dalam hutan yang menjadi tempat kesayangan sumoinya itu,
maka ke situlah dia pergi.
Ketika dia mengintai dan melihat sumoinya bermesraan dengan seorang pemuda tampan yang dikenalnya sebagai
putera Pangeran Ceng Han Houw, tentu saja dia merasa cemburu sekali. Sumoinya itu pernah secara berterang
menyatakan tertarik oleh pemuda itu, dan kini mereka telah bercinta-cintaan di tempat itu.
Dan sumoinya kelihatan begitu mesra dan amat mencinta pemuda itu! Kalau menurutkan hatinya yang panas oleh
cemburu, ingin dia pada saat itu juga meloncat dan menyerang, membunuh Thian Sin. Akan tetapi, dia merasa
sungkan kepada sumoinya. Oleh karena itu, dia menanti sampai kedua orang muda itu duduk kembali dalam keadaan
pantas, barulah dia muncul sambil membentak marah, "Kiranya si pemberontak Ceng Thian Sin berada di sini!" Dan
diapun sudah meloncat dan mencabut senjatanya, yaitu sebatang joan-pian (ruyung lemas), terbuat daripada emas.
Akan tetapi, Cian Ling meloncat dan menyambut suhengnya itu dengan berdiri tegak dan kedua tangannya bertolak
pinggang, mukanya merah dan pandang matanya mengandung kemarahan sedangkan Thian Sin masih enak-enak saja duduk
bersandar batang pohon, memandang tak acuh.
"Suheng, mau apa kau datang ke sini? Apakah engkau hendak menggangguku?"
Menghadapi sumoinya, Ciang Gu Sik yang berwajah pucat itu menjadi ragu-ragu. "Sumoi, dia itu adalah musuh kita,
dan kini dia memasuki wilayah kita tanpa ijin dari suhu!"
"Dia bukan musuh. Lihat saja baik-baik. Kalau dia musuh masa sikapnya begini baik terhadap diriku? Kami saling
mencinta dan harap kau tidak mengganggu. Dia memasuki tempat ini adalah karena ajakanku. Pergilah!"
"Sumoi, engkau harus ingat, dia ini di Lok-yang dan Su-couw... telah..."
"Sudahlah, suheng. Aku sedang bersenang-senang, kenapa kau berani menggangguku?"
"Sumoi, suhu tentu akan marah..."
"Suhu tidak akan marah padaku. Akan tetapi engkau yang cemburu, yang tolol!" Ciang Ling mencabut pedangnya.
"Atau engkau hendak mengandalkan joan-pianmu itu untuk memaksa aku melawan?"
Melihat ini, Ciang Gu Sik semakin marah. Dua orang kakak beradik seperguruan itu berdiri saling berhadapan
dengan senjata di tangan. Thian Sin hanya menonton saja, sikapnya tenang dan menanti perkembangan selanjutnya.
Akan tetapi, setelah mereka berdua sejenak beradu pandang yang penuh kemarahan, akhirnya Ciang Gu Sik menarik
napas panjang dan menyimpan kembali senjatanya. "Baiklah, aku pergi, akan tetapi suhu tentu tidak senang
melihat ini..." Dan setelah melempar pandang mata penuh kebencian kepada Thian Sin, laki-laki tinggi kurus
bermuka pucat itu lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ dengan cepat.
"Suheng, kalau melapor yang bukan-bukan kepada suhu, aku tidak akan mau bicara denganmu lagi!" Cian Ling
menyusulkan teriakannya kepada laki-laki itu. Setelah suhengnya tidak nampak lagi, gadis itu lalu menyarungkan
pedangnya dan duduk di dekat Thian Sin, merebahkan kepalanya di atas pangkuan pemuda itu dan menarik napas
panjang.
"Uuhhhhh, laki-laki pencemburu macam dia...!"
Thian Sin mengelus rambut gadis itu. "Engkau telah membikin sakit hatinya, Cian Ling."
"Peduli amat! Orang macam dia yang pencemburu itu tidak patut dihadapi dengan manis."
"Akan tetapi dia tentu akan melapor kepada See-thian-ong."
"Apakah engkau takut?"
"Hemm, aku tidak takut, karena memang aku ingin sekali mencoba kepandaiannya. Akan tetapi, dia tentu akan
datang membawa banyak anak buahnya..."
"Ih, engkau belum mengenal betul watak suhuku!" Cian Ling berkata mencela. "Dia adalah seorang datuk yang gagah
perkasa dan tinggi kedudukannya. Kaumaksudkan dia mau mengeroyokmu? Jangan memandang rendah, Thian Sin. Guruku
tidak pernah mengeroyok orang!"
"Kalau begitu, biar dia datang dan aku akan mencoba kepandaiannya."
"Hemm, engkau akan kalah."
"Kalau begitu, biar engkau melihat aku mati di tangannya."
Cian Ling lalu merangkul. "Ih, kau begitu kejam, mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kalau engkau mati, aku
akan merana, aku akan berduka, aku akan kehilangan kekasihku. Aku amat mencintamu dan aku yang akan
melindungimu, jangan kau khawatir!" Memang Thian Sin tadi sengaja hendak membuat wanita ini benar-benar tunduk
kepadanya. Dia dapat menduga bahwa dengan wajah cantiknya, dengan tubuh mudanya, sedikit banyak wanita ini
tentu memiliki pengaruh terhadap See-thian-ong, bahkan suhengnya tadipun tunduk kepadanya. Dengan kewanitaannya
yang memiliki daya tarik luar biasa ini, tentu Cian Ling dapat menguasai suhengnya dan juga gurunya sendiri
kalau benar seperti yang diceritakan Cian Ling bahwa See-thian-ong bukan hanya gurunya dan pengganti orang
tuanya, melainkan juga mengenggapnya sebagai kekasih.
Dua orang muda itu seperti lupa akan segala, hanya menuruti gairah nafsu berahi dan mabuk dengan permainan
cinta mereka. Mereka itu tiada ubahnya sepasang pengantin baru yang tahunya hanya makan minum dan bermain
cinta. Cian Ling melayani kekasihnya dengan mencarikan buah-buahan, memanggang daging kelinci dan kambing hutan
dan hubungan antara mereka menjadi semakin mesra saja.
Dan pada keesokan harinya, ketika matahari meneroboskan cahaya melalui celah-celah daun pohon dan menimpa tubuh
mereka, menhgugah mereka dari tidur nyenyak karena kelelahan, mereka terbangun dengan gembira dan dengan sinar
mata saling pandang penuh kemesraan. Thian Sin maklum bahwa kalau dia tidak hati-hati, dia bisa benar-benar
jatuh cinta kepada wanita cantik yang merupakan wanita pertama yang pernah memilikinya. Akan tetapi, setelah
mereka mandi di sumber air dalam hutan dan sarapan pagi dengan daging panggang, tiba-tiba muncullah
See-thian-ong yang memang sudah mereka duga sewaktu-waktu tentu akan muncul juga.
Kemunculan datuk kaum sesat wilayah barat ini hebat sekali. Mula-mula terdengar suaranya, suara yang berat dan
parau, namun yang datangnya entah dari mana, tahu-tahu terdengar suara itu seperti dekat sekali dengan mereka,
memanggil nama muridnya. "Cian Ling... di mana kau...?"
Mendengar suara ini, agak berubah wajah gadis itu. Betapapun juga, diam-diam dara ini memang merasa jerih
sekali terhadap suhunya yang sakti, dan diam-diam ia mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya. Mendengar suara
ini, iapun tidak berani berayal lagi dan menjawab sambil mengerahkan khi-kangnya, karena ia tahu bahwa suhunya
itu masih jauh, mungkin masih berada di luar hutan, "Teecu di sini, suhu...!"
Berkata demikian, ia memberi isyarat kepada Thian Sin untuk berhati-hati. Pemuda itu tetap duduk di atas
rumput, kelihatan tenang saja walaupun jantungnya berdebar tegang dan seluruh syaraf di tubuhnya telah siap
siaga menghadapi segala kemungkinan.
Tiba-tiba ada angin bertiup dari arah selatan. Thian Sin cepat memandang dengan penuh perhatian ke arah itu.
Terdengar suara berkerosakan seperti ada binatang buas datang dari tempat itu dan nampak daun-daun kering
berhamburan seperti dilanda angin ribut. Melihat ini, Cian Ling sudah menghadap ke arah itu sambil merangkap
kedua tangannya memberi hormat sambil berkata, "Suhu...!"
Pemberian hormat dari Cian Ling ini sederhana saja, tidak berlutut seperti kebiasaan murid terhadap gurunya.
Hal ini saja sudah membuktikan bahwa hubungan antara guru dan murid ini lebih akrab daripada guru-guru dan
murid-murid lainnya.
Thian Sin memandang penuh perhatian dan dia kagum juga ketika melihat bayangan seorang laki-laki tinggi besar
datang dengan gerakan yang amat gagah dan tangkas. Apalagi setelah laki-laki itu berdiri tak jauh dari tempat
itu, dia memandang kagum. Tidak seperti Pak-san-kui yang berpakaian seperti seorang kakek hartawan,
See-thian-ong ini merupakan seorang kakek yang bertubuh tinggi besar dan gagah sekali. Usianya lebih muda
daripada Pak-san-kui, belum ada enam puluh tahun, dan tubuhnya yang tinggi besar itu cocok dengan kulit mukanya
hitam. Namun, bukan hitam buruk, melainkan hitam legam yang halus dan membuat dia nampak gagah, mengingatkan
orang akan tokoh Thio Hwi, yaitu tokoh cerita Sam-kok yang gagah perkasa, dengan pakaian yang tidak terlalu
mewah, mukanya yang hitam itu dihias sepasang mata yang lebar dan bundar, bersinar-sinar seperti mata harimau.
Dari gerak-geriknya dan wajahnya terbayanglah kejantanan, kegagahan, kekasaran dan tidak suka berpura-pura.
Rambutnya digelung ke atas, model rambut tosu dan tangan kirinya memegang sebatang tongkat. Inilah
See-thian-ong yang amat terkenal itu, pikir Thian Sin tanpa bangun dari tempat duduknya. Dia memang sengaja
bersikap tak acuh untuk membangkitkan penasaran dalam hati datuk itu.
"Apakah suhu datang karena dibakar oleh ocehan dari Ciang-suheng?" Cian Ling bertanya dan cara dara itu
bertanya demikian terbuka juga menunjukkan bahwa ia memang sudah biasa bersikap biasa seperti itu terhadap
gurunya.
Semenjak kemunculannya, sepasang mata yang terbelalak itu sungguh mengingatkan Thian Sin akan mata tokoh Thio
Hwi, selalu menatap kepada Thian Sin yang masih duduk di atas rumput. Menurut cerita Sam-kok, sepasang mata
Thio Hwi juga selalu terbelalak dan tidak pernah atau jarang sekali dipejamkan sehingga pernah ketika tokoh
Thio Hwi itu berjaga sambil tertidur, sepasang matanya tetap terbelalak, membuat pasukan musuh ketakutan karena
mengira bahwa orang gagah ini tidak tidur!
"Ha-ha-ha-ha! Siapa mendengar ocehan orang? Aku hanya tertarik, mendengar dari suhengmu, bahwa putera mendiang
Pangeran Ceng Han Houw datang berkunjung! Dia itulah orangnya?"
"Benar, suhu, dia adalah Ceng Thian Sin, putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw jagoan nomor satu di dunia itu.
Dia datang karena ingin berkenalan dengan suhu."
"Ha-ha-ha, yang jelas, dia telah berkenalan denganmu! Dan aku tidak menyalahkan engkau, Cian Ling. Dia memang
tampan dan ganteng, mungkin seperti itulah ayahnya dahulu, si penakluk wanita itu seperti dikabarkan orang.
Akan tetapi jagoan nomor satu di dunia? Ha-ha, hal itu harus dibuktikan dulu. Orang muda, mendengar engkau
putera Pangeran Ceng, mari kaulayani aku barang sepuluh jurus. Aku sudah mendengar akan sepak terjangmu selama
ini."
Thian Sin bangkit berdiri dan menjura. Dia dapat menilai watak kakek ini. Seorang datuk yang kasar akan tetapi
jauh lebih gagah dibandingkan dengan Pak-san-kui yang mempunyai sifat licik. Boleh jadi datuk ini kasar dan
kejam, tidak pedulian, dan mau menang sendiri saja, akan tetapi setidaknya dia ini jujur dan tidak curang.
Tentu kakek ini sudah mendengar tentang dia, mendengar bahwa dia telah mengalahkan murid-muridnya dan juga
mengalahkan putera Pak-san-kui maka kini tertarik dan hendak mengujinya. Dia harus berhati-hati. Kalau seorang
datuk sakti seperti itu sudah tahu akan keunggulannya, maka tentu datuk itu tidak akan memandang rendah dan
akan mengeluarkan kepandaiannya.
"Locianpwe, sungguh aku merasa beruntung sekali dapat berhadapan dengan locianpwe, karena sudah lama aku
mendengar bahwa locianpwe adalah seorang di antara locianpwe di empat penjuru dunia yang memiliki kesaktian
tinggi. Aku yang muda memang mengharapkan petunjuk darimu." Setelah berkata demikian, Thian Sin menjura dan
berdiri dengan sikap menanti, waspada dan tenang.
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Ternyata engkau patut menjadi putera pangeran yang pernah menggetarkan dunia kang-ouw
itu. Nah, bersiaplah, orang she Ceng! Biar muridku menjadi saksi siapa di antara kita yang lebih unggul, aku,
See-thian-ong, ataukah engkau, yang menggantikan Pangeran Ceng Han Houw!" Ketika tertawa kakek itu kelihatan
jauh lebih muda dari usianya, dan Thian Sin tahu bahwa seorang laki-laki penuh kejantanan seperti ini tentu
dapat menarik hati banyak wanita.
Akan tetapi, sebelum kakek raksasa itu bergerak, Cian Ling sudah melangkah maju menghadapi suhunya dan berkata,
"Suhu...!"
"Eh, ada apa manis?"
"Jangan suhu mencelakakan dia...!"
"Ha-ha-ha, kau khawatir aku merusak boneka mainanmu sayang? Jangan khawatir, di dunia ini masih banyak
pemuda-pemuda yang lebih ganteng deripada dia."
Anda sedang membaca artikel tentang Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 2 dan anda bisa menemukan artikel Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 2 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/kho-ping-hoo-pendekar-sadis-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 2 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Kho Ping Hoo : Pendekar Sadis 2 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/kho-ping-hoo-pendekar-sadis-2.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...