Cerita Silat KPH : Harta Karun Jenghis Khan 1

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 11 Mei 2012

Harta Karun Jenghis Khan adalah lanjutan dari Cerita Silat Pendekar Sadis, ada 2 postingan untuk seri ini. Selamat Menikmati...

KOTA An-keng terletak di tepi Sungai Yang-ce, sebuah kota besar di utara Sungai itu dari Propinsi An-hwi. Karena letaknya yang strategis, dekat dengan Sungai besar Yang-ce yang datang dari kota besar Wu-han dan menuju ke kota Nan-keng, maka kota An-keng ini amat ramai dan menjadi pusat perdagangan yang diangkut melalui Sungai itu. Perdagangan yang amat ramai di kota itu membuat An-keng menjadi tempat yang banyak dikunjungi para pedagang sehingga bukan hanya toko-toko besar, akan tetapi juga restoran-restoran dan hotel-hotel tumbuh bagaikan jamur di musim hujan.

Selain terkenal sebagai kota dagang yang ramai, juga An-keng mempunyai tempat plesiran di tepi Sungai Yang-ce yang sengaja dibuat oleh pemerintah daerah. Tempat ini adalah sebuah telaga buatan yang mendapatkan airnya dari sungai itu dan di sekitar telaga ini ditanami bunga-bunga yang indah. Juga telaga itu sendiri merupakan tempat bersantai yang menarik. Di satu bagian terdapat tanaman bunga teratai merah putih yang melatarbelakangi angsa-angsa putih berleher panjang yang berenang-renang dengan cantiknya di sekitar bunga-bunga teratai itu. Ada bagian di mana orang dapat memancing ikan, berperahu, atau duduk dengan santainya di restoran-restoran di tepi danau buatan, minum arak sambil menikmati pemandangan indah, melihat perahu-perahu berlalu lalang ditumpangi muda mudi yang asik berpacaran. Angin yang sejuk membuat orang makin betah dan suasana yang nyanian itu membuat orang lupa bahwa dia telah menghabiskan seekor bebek panggang yang terkenal di tempat itu, ditemani arak seguci kecil! Makin mabok, makin menarik dan indahlah suasana di sekitar Telaga Teratai Merah Putih di kota An-keng dan di sana sini terdengar sasterawan-sasterawan yang sudah mabok bernyanyi atau membaca sajak-sajak yang indah. Makin siang, suasana menjadi semakin meriah, apa lagi karena beberapa orang hartawan telah menyewa sekelompok wanita pemain musik dan penyanyi, membawa mereka ke dalam perahu dan suara nyanyian dan yang-kim mengalun bersama-sama permukaan air danau yang diguncang oleh perahu-perahu itu.

Di dalam sebuah di antara restoran-restoran yang dibangun di tepi pantai, bangunannya merupakan panggung agak tinggi yang menjulur ke air sehingga para tamu yang duduk makan minum seolah-olah merasa berada di atas perahu besar yang tidak bergerak, nampak sepasang orang muda duduk sambil menghadapi bebek panggang dan arak. Mereka itu merupakan pasangan yang cocok dan sedap dipandang. Yang pria berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, berkulit muka putih dengan sepasang alis hitam berbentuk golok, wajahnya tampak sekali dan gerak-geriknya amat halus. Pakaiannya seperti pakaian seorang pemuda pelajar, akan tetapi kulau biasanya para pelajar itu berpakaian dan bersikap sederhana, sebaliknya pakaian pemuda itu rapi sekali, bahkan mendekati pesolek walaupun sikapnya tidak berlebih-lebihan seperti biasa sikap pemuda-pemuda bangsawan yang kerjanya hanya menjual tampang dan memamerkan kekayaan padahal batinnya kosong. Pemuda ini berpakaian rapi, bersikap halus dan senyum manis selalu tersungging di bibirnya. Akan tetapi, kalau ada orang yang sudah biasa berkecimpung di dunia persilatan dan mempunyai pandang mata seorang ahli, tentu dia curiga terhadap pemuda halus tampan ini. Sepasang matanya mencorong penuh kekuatan, tajam menusuk seperti hendak menembus dada orang lain untuk menjenguk isi hatinya. Selain itu, juga ada sesuatu tersembunyi dalam gerakan halus itu, sesuatu yang membayangkan kekuatan yang amat hebat. Regangan-regangan jari tangannya kalau bergerak, kedudukan tubuh dan kedua lengannya, bagi orang yang berpemandangan tajam tentu akan mengenal gerakan otomatis seorang ahli silat!

Temannya juga amat menarik perhatian. Seorang wanita muda yang usianya sebaya, andaikata lebih tua sedikitpun tidak akan ketahuan karena memang wanita itu cantik sekali dan ada kelembutan yang membuat ia nampak lebih muda dari pada temannya. Wanita muda itu cantik jelita dan manis, kulitnya putih kemerahan dan seperti juga temannya itu, iapun berpakaian indah. Wajahnya yang cantik manis itu tidak memakai hiasan terlalu tebal, dan memang hal itu tidak perlu, bahkan mungkin akan merusak kecantikannya yang aseli. Bibir yang tipis penuh itu memang tidak membutuhkan pemerah lagi karena sudah merekah merah dan selalu seperti basah. Alisnya yang kecil panjang itu memang sudah hitam sekali, tidak perlu ditambah penghitam alis lagi. Ketawanya cerah dan suaranya merdu. Sepasang matanya juga akan membuat ahli silat yang berpemandangan tajam terkejut karena mata itu kadang-kadang mencorong, kadang-kadang mengeluarkan sinar yang demikian dingin menyeramkan, akan tetapi kadang-kadang juga penuh gairah yang hangat dan hidup. Sejak tadi keduanya duduk di restoran itu, makan minum, bercakap-cakap, kadang-kadang berbisik-bisik dan nampak nyata kasih sayang terpancar pada pandang mata mereka kalau mereka sudah berbisik-bisik saling pandang seperti itu. Ada kalanya mereka kelihatan seperti sepasang muda mudi yang asik berpacaran, akan tetapi kadang-kadang mereka bicara serius. Ketika terdengar suara nyanyian dan suara sasterawan-sasterawan tua yang mabok bersajak di atas perahunya yang meluncur tanpa tujuan di atas air, terdengar wanita muda itu tertawa merdu dan tangan kirinya menutupi mulut dengan gaya yang menarik.



"Apa yang kauketawakan?" tanya pemuda itu sambil menatap wajah temannya dengan penuh kagum. Sudah tiga tahun dia hidup di samping gadis ini namun setiap kali dia masih terpesona mengagumi kecantikannya. Kalau gadis itu sudah tertawa, dengan sepasang matanya ikut tertawa, hidungnya yang kecil itu agak dikernyitkan seperti itu, ada sesuatu yang membuatnya merasa terharu, keharuan yang muncul karena rasa sayang yang amat besar yang seolah-olah menembus jantungnya dan membuat dia yakin betapa besar rasa cintanya kepada gadis ini. Rasa cinta inilah yang mendatangkan semua keindahan dan kecantikan itu. Bagi pandang mata orang lain, belum tentu gadis itu akan nampak sedemikian cantik dan indahnya di waktu tertawa seperti itu, akan tetapi bagi dia, dunia seolah-olah ikut tertawa bersama mata yang bersinar-sinar, hidung yang tertarik ke atas dan gigi yang mengintai sekilas di balik sepasang bibir merah basah yang terbuka itu.

"Kau tidak dengar sajak sasterawan tua yang berdiri bergoyang-goyang mabok di atas perahunya yang lewat tadi?"



"Tentu saja. Sajaknya indah dan dia mengeluh tentang hari tuanya. Dia ingin selamanya tinggal muda untuk menikmati keindaban Danau Teratai Merah Putih." jawab si pemuda. "Sajak itu menyedihkan, kenapa kau tertawa mendengarnya? Kurasa tidak ada lucunya di situ."

"Hi-hik, itulah karena engkaupun sama dengan dia. Beberapa tahun lagi dan engkaupun akan menangisi usia tuamu seperti dia, hidup sebatang-kara dan kesepian, hi-hik!"

"Ihh, mana mungkin? Kan ada engkau di sisiku?"

"Akupun akan tua dan meratapi nasibku kalau aku bersikap sepertimu. Itulah yang lucu. Kenapa dia menyesali hari tuanya? Lihat, bukankah danau ini, Sungai Yance itu, jauh lebih tua dari pada kita, dari pada sasterawan cengeng tadi? Namun lihat, berkurangkah keindahannya? Nampakkah tuanya? Adakah penyesalan pada danau dan sungai, dan pohon-pohon tua di seberang itu, akan ketuaannya? Sama sekali tidak, mereka semua itu masih tetap muda, cantik menarik bahkan dalam ketuaan mereka sekalipun."

Pemuda itu memandang serius dan mengangguk-angguk. "Ada isinya dalam ucapanmu itu, sayang. Memang. keindahan dan kebahagiaan terdapat di mana-mana dan pada saat apapun. Seorang mudapun tidak akan dapat melihat keindahan dan menikmati kebahagiaan kalau dia tidak mengenal indahnya SAAT INI. Dia, seperti sasterawan itu, hanya akan menyesali diri, menyalahkan nasib, menginginkan hal-hal yang tidak ada, maka datanglah kekecewaan, penyesalan dan duka cita. Wah, wah, sepagi ini engkau sudah mulai berfilsafat!"

Gadis itu tertawa. "Alam seindah ini, cuaca senyaman ini, hawa sesejuk ini, siapa orangnya yang tidak berobah menjadi penyair dan ahli filsafat?"

Tiba-tiba pemuda itu menyentuh tangan si gadis yang terletak di atas meja. Gadis itu terkejut karena sentuhan itu bukan sentuhan biasa, melainkan sentuhan yang menyatakan guncangan perasaan. Maka iapun menengok dan memandang ke arah pemuda itu memandang ke luar jendela dan iapun melihat seorang laki-laki mendayung perahunya lewat di bawah tempat itu dengan tergesa-gesa. Laki-laki itu sudah setengah tua dan dari pakaiannya mudah diketahui bahwa dia adalah seorang dusun sederhana. Akan tetapi wajahnya pucat dan matanya terbelalak ketakutan. Dan agak jauh di belakangnya, sebuah perahu lain meluncur dengan cepatnya. Perahu ini ditumpangi oleh dua orang laki-laki yang kelihatan kokoh kuat dan kasar, yang mendayung perahu itu dengan amat cepatnya, mengejar perahu pertama itu dan pada wajah mereka terbayang kemarahan dan keganasan. Karena banyak perahu berlalu lalang di situ, orang tidak akan tahu bahwa perahu yang ditumpangi oleh kakek dusun itu sedang dikejar oleh dua orang dalam perahu yang lebih besar itu. Hanya karena pemuda dan gadis itu duduk di atas dan kebetulan memandang ke telaga dan melihat wajah orang di perahu pertama, mereka melihat hal yang tidak wajar ini. Apa lagi karena memang keduanya memiliki pandang mata yang amat tajam, berbeda dari kebanyakan orang lain.

"Lihat, dia terluka..." bisik gadis itu. Pemuda itu mengangguk. Diapun sudah tahu bahwa kakek petani yang dikejar-kejar itu telah mengalami beberapa luka di tubuhnya. Luka memar dan gosong akibat pukulan-pukulan berat di leher dan tengkuknya yang coba ditutupinya dengan leher baju dan juga lengan bajunya yang kanan berlepotan darah yang sudah mulai mengering. Dan semua ini dapat nampak oleh pemuda dan gadis itu dari jarak jauh! Hal ini saja sudah membuktikan bahwa sepasang muda mudi ini memiliki ketajaman mata yang lain dan jauh lebih dari pada mata orang biasa.

Kini perahu petani itu sudah tiba di darat dan petani itu naik ke darat, lalu tergesa-gesa meninggalkan perahunya.

"Mari kita lihat!" kata pemuda itu dengan tenang dan diapun memanggil pelayan, membayar harga makanan minuman, kemudian bersama gadis itu mereka keluar dari restoran, agaknya tidak tergesa-gesa akan tetapi langsung mereka menuju ke arah larinya petani yang kini dikejar-kejar oleh dua orahi itu. Petani itu bukan lari ke arah kota An-keng, melainkan keluar kota, ke tempat yang sunyi, agaknya memang ingin melarikan diri dari kejaran dua orang itu. Dia seorang petani biasa agaknya, usianya kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya kurus dan kasar, kulitnya kehitaman karena terlalu sering tertimpa terik matahari. Jelas merupakan seorang miskin yang biasa bekerja keras dan kasar. Sepasang matanya yang kadang-kadang dipakai memandang ke belakang dengan ketakutan itu kini terbelalak. Mukanya pucat dan jalannya terpincang-pincang, tanda bahwa di bagian kakinyapun sudah menderita luka.

Dari belakang, dua orang yang tadi mengejarnya dengan perahu, sudah hampir dapat menyusulnya. Seorang di antara mereka bertubuh tinggi kurus, mulutnya yang lebar itu menyeringai dan selalu seperti mengejek, matanya yang sipit sekali itu seperti terpejam dan lehernya mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh seperti orang yang berpenyakit batuk kering. Orang ke dua gemuk pendek, dengan mata lebar yang mengeluarkan sinar kejam, mukanya seperti muka babi dengan kulit bertotol-totol merah. Di kedua punggung mereka nampak tergantung sebatang golok besar.

"Petani busuk, kau hendak lari ke mana? Ha-ha-ha!" Si gendut berteriak mengejar dan tentu saja petani yang berlari menggunakan kekuatan biasa, apalagi dengan kaki terpincang-pincang itu, bukan lawan dua orang yang agaknya mempunyai kepandaian ilmu silat den pandai berlari cepat itu. Tahu-tahu dua orang itu telah menghadang dari depan den melihat ini, kakek petani itu dengan mata terbelalak lalu membalik ke kanan dan lari sekuatnya, kembali ke arah danau! Akan tetapi sekali ini dia tiba di bagian tepi danau yang sunyi dan tidak ada orangnya. Sambil tertawa mengejek, dua orang itu mengejar, mempermainkannya seperti dua ekor kucing yang mempermainkan seekor tikus yang sudah tersudut, tidak segera menerkamnya, seolah-olah hendak menikmati lebih dulu melihat tikus itu ketakutan setengah mati.

"Heh-heh-heh, petani tua bangka, lebih baik lekas berikan benda itu kepada kami dan kami akan membunuhmu dengan lunak."

"Tidak, tidak! Sampai mati tidak!" Petani itu berteriak dan tiba-tiba dia menubruk seorang di antera mereka yang menghadang di depannya. Tubrukan petani ini sama sekali tidak memakai perhitungan, tidak memakai teori ilmu berkelahi, melainkan tubrukan yang dilakukan karena terjepit den terpaksa. Akan tetapi justeru serangan seperti ini yang kadang-kadang membingungkan ahli silat yang masih rendah tingkatannya dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh kakek itu menabrak dada orang tinggi kurus itu sampai terjengkang!

"Keparat! Kau berani melawan?" bentak si gendut dan nampak sinar golok berkelebat ketika goloknya membacok. Kakek petani yang sudah nekat itu tidak mengelak, melainkan terus menubruknya. Mengelakpun akan sia-sia karena dia tidak biasa berkelahi den tidak tahu bagaimana caranya mengelakkan diri dari sambaran golok itu.

"Crakkk...!" Tubuh kakek itu terguling, pundaknya terluka parah oleh bacokan golok dan sebuah tendangan mengenai lambungnya, membuat dia terguling-guling. Kembali golok itu menyambar ke arah leher kakek petani.

"Desss... aughhh...!" Si gendut berteriak mengaduh ketika pergelangan tangannya bertemu dengan sepatu yang menendangnya dari samping. Demikian kerasnya tendangan pemuda tampan itu, sehingga bukan hanya golok yang terlempar, akan tetapi juga pergelangan tangan itu menjadi patah tulangnya.

Si tinggi kurus menjadi marah. Goloknya menyambar, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara "ngekkk!" dan diapun roboh terguling karena tengkuknya disambar tangan halus gadis teman pemuda itu. Pasangan muda mudi itu ternyata telah tiba di situ, agak terlambat sehingga kakek petani telah menerima bacokan dan tendangan, akan tetapi masih belum terlambat untuk mencegah terjadinya pembunuhan. Mereka menggerakkan kaki menendang dan tubuh dua orang penjahat itu terlempar ke arah danau.

"Byurrrr...!" Dua orang itu gelagapan dan berdaya upaya sekuatnya agar jangan sampai tenggelam. Mereka telah terluka, akan tetapi karena terancam bahaya mati tenggelam, mereka seperti memperoleh tenaga baru dan berenang ke darat, menjauhi pemuda dan gadis yang amat lihai itu. Sepasang muda mudi yang lihai ini tidak lagi memperdulikan mereka, melainkan cepat menolong petani tua yang menggeletak dengan napas empas-empis.

"Bagaimana keadaanmu, lopek?" tanya si pemuda sambil memeriksa luka-luka yang diderita oleh kakek itu.

"Lekas... lekas bawa aku pergi... tolonglah... auhhh... jumlah para penjahat itu banyak sekali... lekas sembunyikan aku... ahhhh!" Dan kakek itu tak sadarkan diri. Pemuda dan gadis itu saling pandang dan mereka melihat dua orang penjahat tadi telah berhasil mendarat dan melarikan diri.

"Bagaimana?" tanya si gadis tenang. "Kita menanti di sini dan menghajar mereka semua?"

Pemuda itu menggeleng. "Lebih baik kita sembunyikan dia dan merawatnya. Kurasa ada tersembunyi rahasia yang menarik di balik peristiwa ini. Aneh kalau penjahat-penjahat itu mengejar-ngejar dan mendesak seorang kakek petani miskin seperti ini. Dan tadi agaknya mereka menghendaki suatu benda..."

"Baik," jawab gadis itu. Pemuda itu memondong tubuh si kakek petani dan sebentar saja dia bersama temannya telah berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu. Cara mereka berjalan cepat tentu akan mengejutkan hati seorang ahli silat kelas tinggi sekalipun karena mereka telah mempergunakan gin-kang atau ilmu meringankan tubuh yang amat luar biasa!

Siapakah gerangan pemuda dan gadis yang luar biasa ini? Orang yang mengenal mereka tentu tidak akan heran menyaksikan kehebatan ilmu kepandaian mereka karena pemuda itu bukan lain adalah tokoh dunia persilatan yang pernah menggegerkan dunia persilatan dengan julukannya yang menyeramkan, yaitu Pendekar Sadis! Dan temannya, gadis cantik jelita itupun pernah menjadi datuk kaum sesat yang berjuluk Lam-sin atau Malaikat Selatan!

Pendekar Sadis itu bernama Ceng Thian Sin. Dalam usianya yang baru dua puluh tiga tahun, pemuda ini telah berhasil mewarisi ilmu-ilmu yang amat hebat dan yang pada waktu itu jarang dapat dicari bandingannya. Dia bukan keturunan sembarangan orang, karena mendiang orang tuanya adalah Pangeran Ceng Han Houw atau Pangeran Oguthai, seorang pangeran yang pernah berambisi untuk menjadi Jagoan Nomor Satu di dunia, sedang mendiang ibunya adalah Lie Ciauw Si, cucu dari ketua Cin-ling-pai! Pendekar Sadis ini bukan hanya mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, bahkan telah menerima gemblengan banyak orang sakti, dan terutama sekali dia telah mewarisi peninggalan ilmu yang mujijat dari mendiang ayah kandungnya.

Adapun temannya itu, yang pernah menyamar sebagai seorang nenek dengan julukan Lam-sin sebagai datuk selatan, bernama Toan Kim Hong, juga bukan orang sembarangan. Seperti juga Ceng Thian Sin, nona cantik ini adalah keturunan bangsawan karena ia adalah puteri seorang pangeran bernama Toan Su Ong yang sakti, ibu kandungnya adalah seorang wanita sakti pula bernama Ouwyang Ci yang mewarisi ilmu rahasia dari Perdana Menteri The Hoo yang terkenal itu. Seperti juga Thian Sin, orang tua Kim Hong telah tiada dan ia hidup seorang diri, mewarisi ilmu-ilmu yang hebat.

Kedua orang muda yang sama-sama keturunan bangsawan tinggi ini, dalam petualangan mereka, berjumpa dan saling tertarik, saling mencinta. Sudah tiga tahun mereka hidup bersama, hidup sebagai kekasih, sebagai suami isteri walaupun mereka berdua tidak pernah menikah dengan sah. Hal ini sudah mereka kehendaki berdua, dan walaupun mereka tidak disahkan dengan upacara pernikahan, namun mereka saling mencinta, melebihi suami isteri yang menikah dengan sah.

Thian Sin dan Kim Hong hidup berdua di sebuah pulau kosong yang bernama Pulau Teratai Merah, jauh dari daratan Tiongkok. Mereka hidup di pulau kosong itu dengan penuh kebahagiaan, tetangga mereka hanya penghuni pulau-pulau lainnya yang berdekatan dan kadang-kadang mereka naik perahu mendarat. Sudah tiga tahun lamanya mereka bertualang berdua, penuh kasih sayang, penuh kebahagiaan dan menghadapi apapun, mereka bersatu padu, saling mencinta, saling setia, walaupun kekerasan hati masing-masing membuat mereka kadang-kadang bercekcok! Akan tetapi, setiap percekcokan mereka seolah-olah merupakan pupuk bagi cinta kasih mereka karena setiap kali habis bercekcok, mereka menjadi lebih mesra lagi! Demikianlah riwayat singkat dari Ceng Thian Sin dan Toan Kim Hong, dua sejoli yang sama cantik sama tampan, juga sama lihai ini. Telah lama Ceng Thian Sin tidak lagi mau menggunakan nama julukan Pendekar Sadis, juga Toan Kim Hong tidak lagi menggunakan nama julukan Lam-sin. Betapapun juga, para tokoh haum sesat masih ngeri mendengar kedua nama julukan ini. Setelah berkenalan sejenak dengan Thian Sin dan Kim Hong, mari kita lanjutkan dengan mengikuti perjalanan mereka yang penuh dengan petualangan itu.

***

Luka-luka yang diderita oleh petani tua itu amat parah, Thian Sin dan Kim Hong melihat kenyataan ini dan mereka berdua hanya dapat memberi obat untuk mengurangi rasa nyeri saja, akan tetapi mereka maklum bahwa nyawa petani itu tidak mungkin dapat ditolong lagi. Petani itu agaknya juga merasa bahwa keadaannya amat parah dan bahwa dia harus meninggalkan rahasianya kepada dua orang yang telah menolongnya itu, maka dengan suara tersendat-sendat dan napas terengah-engah dia lalu menceritakan keadaannya.

Petani itu bernama Ciang Gun, hidup di dusun Cin-bun-tang bersama dengan isterinya dan seorang puteranya yang sudah berusia duapuluh lima tahun. Keadaan mereka sedemikian sederhana dan miskinnya sehingga untuk mengawinkan Ciang Kim Su saja, yaitu putera tunggal mereka, tidak ada biaya. Sebidang tanah yang tidak begitu subur menjadi sumber nafkah mereka, hanya cukup untuk mencegah mereka mati kelaparan saja. Itupun mereka bertiga, Ciang Gun, isterinya dan Ciang Kim Su, harus mengerahku tenaga bekerja di ladang mereka.

Pada suatu hari, kurang lebih setahun yang lalu, karena membutuhkan air yang mahal karena musim kering terlampau lama, keluarga ini menggali sumur di tengah ladang mereka. Ketika mereka sudah menggali tanah sedalam kurang lebih dua meter, cangkul mereka bertemu dengan sebuah peti hitam kecil. Dengan hati penuh ketegangan mereka mengeluarkan peti itu, membukanya dan di dalam peti itu mereka menemukan sebuah peta dengan catatan huruf-huruf kuno, dan sebuah kunci yang terbuat dari pada emas.


"Kunci ini terbuat dari emas!" kata isteri Ciang Gun. "Cukup untuk dapat ditukar dengan beberapa karung gandum!"

"Dan sebaglan untuk membeli bibit!" kata Ciang Gun girang.

Akan tetapi Kim Su, putera mereka yang pernah duduk di bangku sekolah walaupun hanya untuk dua tahun, menggeleng kepala. "Ayah dan ibu, kurasa kita telah menemukan sesuatu yang amat berharga, yang jauh lebih berharga dari pada kunci emas ini."

Ayah itu memandang wajah puteranya dengan heran. "Maksudmu, gambaran corat-coret ini?"

Kim Su mengangguk. "Ini adalah sebuah peta dan kurasa peta ini menunjukkan tempat penyimpanan sesuatu yang amat berharga dan kunci ini untuk membukanya. Bayangkan saja. Baru kuncinya terbuat dari emas, apa lagi barang-barang yang disimpan di dalam tempat terkunci itu!"

"Harta karun...?" Ayahnya bertanya dan ibunya terbelalak.



"Aku belum tahu benar, ayah. Itu hanya dugaanku. Sayang bahwa huruf-huruf ini amat kuno dan aku tidak dapat membacanya. Akan tetapi, bukankah paman Su yang tinggal di kota raja mengenal banyak sasterawan pandai?"



"Kau benar, Kim Su!" kata ibunya yang merasa bangga akan adiknya yang tinggal di kota raja dan yang dianggapnya memiliki pengetahuan banyak dan kenalan-kenalan orang besar. "Dia tentu dapat membantumu membaca huruf-huruf itu."



"Sebaiknya, sekarang juga aku berangkat ke kota raja membawa peta ini, ayah. Dan kuncinya ayah simpan saja baik-baik, jangan sampai hilang dan menunggu sampai aku pulang dari kota raja dan mengetahui rahasia peta ini."



Berangkatlah Kim Su ke kota raja dan ayah ibunya menanti dengan penuh harapan. Akan tetapi, bulan berganti bulan dan sampai setahun lamanya Kim Su tidak pulang, juga tidak pernah ada beritanya ke rumah. Setelah lewat setahun lebih, pada suatu siang muncullah empat orang laki-laki yang sikapnya kasar. Kakek Ciang Gun menerima kedatangan mereka dengan heran dan menanyakan maksud kedatangan mereka.



Seorang di antara mereka yang bercodet di pipi kirinya, dengan suara lantang menerangkan maksud kedatangan mereka. "Kami disuruh oleh Ciang Kim Su..."



Baru sampai di sini, kakek dan isterinya itu girang bukan main. "Bagaimana kabarnya dengan Kim Su? Di mana dia sekarang dan mengapa sampai sekarang dia tidak pulang dan tidak memberi kabar? Apakah dia telah bertemu dengan pamannya?" Pertanyaan bertubi-tubi diajukan oleh suami isteri itu kepada empat orang pengunjung ini.



"Dia baik-baik saja dan dia menyuruh kami untuk datang mengabarkan kepada lopek berdua bahwa semua urusan berjalan beres. Dia menyuruh kami datang untuk menerima sebuah kunci dari lopek." Sambil berkata demikian, si codet ini memandang tajam kepada petani tua itu.



Ciang Gun mengerutkan alisnya. "Kunci? Kunci apa?" Biarpun dia seorang petani dusun, namun dia telah hidup cukup lama untuk dapat mengenal ciri-ciri orang yang tidak dapat dipercaya dan dia tidak percaya kepada empat orang ini. Selain itu, puteranya ketika hendak pergi dahulu pernah berpesan bahwa kunci emas itu tidak boleh diberikan kepada siapapun juga selain kepadanya sendiri. Bahkan membicarakan soal kunci emas itupun dilarang.



"Sebuah kunci emas!" Si codet mendesak.



"Kunci emas...? Aku tidak mengerti." Ciang Gun menjawab.



Tiga orang tamu yang lain mengerutkan alis dan kelihatan marah, akan tetapi si codet memberi isyarat dengan tangannya agar mereka bersabar. "Kamipun tidak tahu. Puteramu itu, Ciang Kim Su, hanya menyuruh demikian dan katanya engkau akan mengerti sendiri, lopek."

"Tapi... tapi..."

"Jangan ragu-ragu, lopek. Kami berempat adalah sahabat-sahabat baik puteramu dan Kim Su yang mengutus kami. Serahkan saja kunci emas itu kepadaku, lopek."

"Tidak mungkin!" Tiba-tiba isteri petani itu berteriak. "Tidak mungkin Kim Su bersahabat dengan kalian!"

Empat orang itu kini menjadi marah dan mereka mengurung suami isteri itu. Si codet kini menanggalkan kedok matanya dan dengan suara geram dia mendekati petani itu dan menghardik, "Tidak perlu banyak cerewet lagi. Serahkan kunci emas itu kalau engkau ingin selamat!"

Ciang Gun terkejut sekali dan mukanya pucat, matanya terbelalak dan dia cepat mundur-mundur sambil menggeleng kepala. Isterinya, seorang wanita yang berani karena sejak kecil sudah terlampau kenyang menghadapi hidup sukar, kini melangkah ke depan, seperti hendak melindungi suaminya dan membentak dengan suara marah, "Kalian ini orang-orang jahat! Sejak tadi aku tidak percaya bahwa anak kami bersahabat dengan orang-orang seperti kalian. Hayo kalian pergi dari sini! Kami orang-orang miskin tidak mempunyai apa-apa..."

"Pkakkk!" Sebuah tamparan yang keras membuat tubuh wanita itu terpelanting dan roboh di atas tanah. Suaminya berteriak kaget, akan tetapi hanya dapat memandang dengan mata terbelalak saja ketika melihat si codet itu menubruk ke depan, menginjak punggung isterinya dengan lutut dan mencengkeram rambut wanita itu keras-keras ditarik ke belakang.



"Petani busuk! Serahkan kunci emas atau leher binimu akan kupatahkan!"

"Tidak... tidak... jangan kaulakukan itu. Lepaskan isteriku... harap kalian jangan sekejam itu..." Petani itu meratap.

"Serahkan kunci emas dan kalian akan selamat!" Si codet menghardik lagi.

"Jangan berikan!" Tiba-tiba isteri petani itu berteriak lantang kepada suaminya. "Jangan berikan. Ingat, mungkin anak kita telah mereka bunuh pula!"

Teriakan isterinya ini mengingatkan si petani dan wajahnya menjadi pucat, matanya terbelalak memandang kepada si codet yang membekuk isterinya itu dan petani ini menggeleng kepala keras-keras.

"Ciang Gun, lekas berikan kunci emas itu kepada kami, atau engkau akan melihat isterimu kami siksa sampai mati, kemudian engkau sendiripun akan kami siksa sampai mati dan akhimya kunci itupun akan dapat kami rampas!"

"Jangan percaya! Mereka ini penjahat-penjahat kejam, pembohong dan penipu semua!" isterinya menjerit lagi memperingatkan suaminya.



"Tangkap dia, geledah seluruh rumah!" bentak si codet kepada teman-temannya dan seorang di antara mereka menubruk kakek Ciang Gun, merobohkannya dan mengikat kaki tangannya. Isteri petani itu juga diikat kaki tangannya dan empat orang itu lalu menggeledah-geledah pakaian yang mereka pakai sampai hampir menelanjangi mereka. Setelah tidak berhasil menemukan kunci emas pada tubuh mereka, empat orang itu menggeledah seluruh tempat di dalam rumah itu, mengobrak-abrik semua barang. Akan tetapi tetap saja kunci itu tidak dapat mereka temukan. Mengertilah si codet bahwa kunci emas itu tentu disembunyikan oleh suami isteri itu di suatu tempat yang sukar untuk dapat dia temukan tanpa pemberitahuan mereka berdua.



"Hayo katakan, di mana kunci emas itu!" si codet menghardik sambil menjambak rambut isteri petani itu. Akan tetapi wanita tua yang sudah nekat ini memandang penuh kebencian dan ia meludah.



"Cuhh! Engkau boleh membunuh kami, akan tetapi jangan harap dapat menemukan kunci itu!"



"Plak! Plakk!" Dua kali si codet menampar lalu meninggalkan wanita itu yang berdarah pada mulutnya akan tetapi yang sedikitpun tidak mengeluh. Kini codet kejam itu menghampiri Ciang Gun.



"Hayo katakan, di mana kunci itu? Atau engkau lebih senang melihat isterimu kusembelih di depan matamu?"



"Suamiku, jangan katakan! Jangan kira dia akan melepaskanmu kalau kunci kauserahkan. Kita serahkan, tetap saja kita akan mereka bunuh. Biarlah kita mati, berkorban demi anak kita. Jangan beritahukan, jangan serahkan kunci!"



"Perempuan keparat!" Si codet meninggalkan petani itu, melompat ke dekat si wanita dan menendang tubuh yang terbelenggu itu sampai bergulingan dekat suaminya. Kakek Ciang Gun memejamkan matanya dan menangis.



"Kuatkan hatimu, suamiku. Paling-paling kita mati, akan tetapi mereka ini, binatang-binatang buas ini takkan dapat merampas kunci kita, demi untuk Kim Su... aughhh..."



Sebuah tendangan mengenai dadanya dan wanita itu tak mampu bicara lagi. Si codet mencabut goloknya dan memodongkan goloknya pada leher wanita yang sudah setengah pingsan itu.



"Petani busuk, engkau lebih memberatkan kunci keparat itu dari pada nyawa isterimu? Lihat ini!" Ujung golok itu menggores sedikit kulit leher. Darah muncrat membasahi leher dan baju. Melihat ini, kakek Ciang Gun kembali memejamkan matanya dan dia tidak mampu bersuara lagi, hanya menggeleng-geleng kepala keras-keras sambil menangis.



"Hi-hi-hik! Kalian anjing-anjing busuk, tak mungkin dapat memaksa suamiku. Dia adalah seorang gagah, benar, suamiku seorang gagah perkasa yang tak takut mati!"



Ujung golok itu menusuk dada dan kembali darah muncrat.



"Petani Ciang, sekali lagi, kunci emas itu atau nyawa isterimu?"



"Suamiku, kutunggu engkau di akhirat..." Isterinya masih sempat menjerit sebelum golok itu membacok lehernya dan iapun tewas seketika.



Blarpun dia memejamkan kedua matanya, petani itu dapat mengikuti penderitaan isterinya melalui pendengarannya dan telinga pulalah yang memberi tahu kepadanya akan keadaan isterinya. Dia membuka matanya dan melihat isterinya menggeletak dengan mandi darah dan tidak bergerak-gerak lagi. Dia hanya dapat merintih dan memanggil nama isterinya sambil menangis.



"Lihat, isterimu mati karena membandel. Hayo kaukatakan, di mana kunci itu!" Si codet membentak.



"Kalian bunuhlah aku! Bunuhlah aku...!" Kakek Ciang Gun berteriak-teriak dan menangis. Si codet menendang dan memukulinya, akan tetapi tidak sampai membunuhnya karena para penjahat ini maklum bahwa mayat tidak mungkin dapat memberitahukan di mana adanya kunci emas yang mereka cari-cari itu. Bahkan atas isyarat si codet, mereka lalu meninggalkan kakek Ciang Gun setelah membebaskannya dari belenggu, membiarkan kakek itu menangisi isterinya. Kakek itu, dibantu oleh para tetangganya yang tidak ada yang berani mencampuri urusan itu, mengubur jenazah isterinya dan berkabung dengan penuh kedukaan. Empat orang penjahat itu tidak muncul lagi. Akan tetapi kakek Ciang teringat akan nasihat dan kata-kata isterinya yang diucapkan di waktu mereka menghadapi penjahat-penjahat itu, maka diapun dapat menduga bahwa tentu para penjahat itu tidak mau melepaskan dia begitu saja. Dia menduga bahwa para penjahat itu tentu diam-diam membayanginya.



Untuk meyakinkan dugaan hatinya, beberapa hari kemudian, pada tengah malam, kakek Ciang diam-diam meninggalkan rumahnya lalu pergi ke sudut ladangnya, berindap-indap. Kemudian, seperti habis mengambil sesuatu, dia kembali ke rumahnya dan benar saja seperti yang telah diduganya, begitu memasuki rumahnya, di situ telah menanti empat orang penjahat itu!



"Ha-ha-ha, bagus sekali. Engkau telah mengambilkan kunci itu untuk kami, ya? Serahkan kepadaku!" kata si codet.



Kakek Ciang menggeleng kepala. "Tidak ada kunci!"



Si codet marah dan menubruk maju. Kakek itu dipegangi dan digerayangi seluruh tubuhnya, akan tetapi memang benar tidak ada ditemukan kunci padanya. Kembali, seperti tempo hari, rumah itu diobrak-abrik, akan tetapi semua usaha itu sia-sia saja, tidak mereka temukan kunci yang dicari-cari. Setelah memukuli kakek itu tanpa membunuhnya untuk melampiaskan kedongkolan hati, mereka lalu meninggalkan Ciang Gun yang hanya dapat mengeluh dan meratapi nasibnya yang buruk. Semenjak ditemukan benda aneh dari dalam tanah itu, keluarganya tertimpa malapetaka hebat. Isterinya mati dibunuh penjahat, anaknya masih belum diketahui nasibnya dan dia sendiri kini berada dalam ancaman penjahat-penjahat kejam.



Kakek Ciang tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu. Pertama-tama, dia harus dapat melepaskan diri dari pengamatan para penjahat itu, kemudian mengambil kunci emas yang disimpannya di suatu tempat tersembunyi. Setelah itu, dia harus cepat pergi ke kota raja menyusul anaknya. Hanya itulah satu-satunya jalan. Dia pernah pergi ke kota raja menengok adik laki-laki isterinya, yaitu alamat yang hendak dikunjungi oleh Kim Su ketika pemuda itu meninggalkan dusun menuju ke kota raja.



Kakek Ciang mencari kesempatan dan kesempatan itu terbuka baginya ketika dia mengadakan sembahyangan untuk arwah isterinya. Para tetangga berdatangan pada malam hari itu dan seperti telah diduganya, dalam keadaan menerima tamu-tamu para tetangga, para penjahat agak lengah. Para penjahat yang mengamati dan membayanginya tentu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa kakek itu akan melarikan diri justeru pada malam hari ketika para tetangga menjadi tamunya itu.



Petani Ciang Gun berhasil menyelinap pergi malam itu. Bahkan para tetangganya yang menjadi tamunya pada malam itupun tidak tahu akan kepergiannya. Mereka mengira bahwa tuan rumah itu pergi ke belakang, ke kamar mandi untuk buang air atau sebagainya. Setelah lama dia tidak muncul, barulah para tamu menjadi heran dan mencari-carinya tanpa hasil. Kakek Ciang telah pergi dan tak seorangpun tahu ke mana perginya! Tentu saja empat orang penjahat yang mengamati tempat itu dari jauh menjadi bingung dan marah-marah. Mereka mencari ke sana sini tanpa hasil pula. Sambil menyumpah-nyumpah mereka lalu berpencaran dan mencari terus.



Ciang Gun berhasil menyelinap pergi dan mengambil kunci emas yang disembunyikan di antara akar pohon besar. Kemudian dia membawa kunci itu, diikatkannya di pinggang dan larilah petani ini pada malam hari itu juga meninggalkan dusunnya, menuju ke kota raja. Karena para penjahat yang mengamatinya tidak mengira bahwa kakek ini berani melarikan diri ke kota raja, maka mereka mencari di sekitar dusun dan karena ini, petani Ciang memperoleh banyak waktu untuk melarikan diri dengan aman.



Akan tetapi, bagaimanapun juga, dia hanyalah seorang petani lemah biasa saja sedangkan para pengejarnya adalah penjahat-penjahat yang ulung. Empat orang penjahat itu berpencar, bahkan mereka sudab menghubungi kawan-kawan mereka yang mencari ke berbagai jurusan. Oleh karena itu, tidak aneh ketika tiba di daerah An-keng, jejak petani Ciang itu ditemukan dan dia dikejar-kejar oleh dua orang penjahat. Dan seperti telah kita ketahui, secara kebetulan dia tertolong oleh sepasang pendekar yang sakti, yaitu Pendekar Sadis dan kekasihnya, yang berhasil menyelamatkannya setelah petani itu menderita luka-luka berat.

***

Setelah selesai menceritakan riwayatnya, kakek petani itu memandang kepada Thian Sin dan Kim Hong dengan napas empas-empis, tinggal satu-satu. Diapun tahu bahwa tidak ada harapan lagi baginya untuk hidup, maka harapannya untuk dapat menyampaikan kunci emas kepada puteranya hanyalah muda mudi yang gagah perkasa ini.



"Ji-wi (anda berdua)... telah menolongku... ji-wi terimalah ini..." Dia mengeluarkan kunci emas yang digantungkan pada lehernya itu. "Carilah Kim Su di kota raja... petanya ada padanya... ji-wi adalah orang-orang gagah yang baik... bantulah dia membuka rahasia harta karun itu... bagi-bagilah antara kalian... dan..." Kakek itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya, terkulai dan tewas.



Thian Sin cepat memeriksa dan saling pandang dengan Kim Hong. Kemudian dengan sederhana mereka berdua lalu mengubur jenazah kakek itu di tepi telaga. Karena adanya rahasia kunci emas di tangan mereka, kedua orang ini merasa tidak perlu untuk memberi tahu orang lain atau melaporkan kepada petugas keamanan tentang adanya peristiwa itu.



Setelah mereka selesai mengubur jenazah petani itu, Kim Hong bertanya, "Apa yang akan kita lakukan sekarang dengan kunci emas ini? Mencari orang bernama Ciang Kim Su itu?"



"Kau tertarik?" balas tanya Thian Sin.



Yang ditanya tersenyum, semacam senyuman yang tak pernah gagal mengguncangkan hati pemuda yang jatuh cinta itu. Diciumnya Kim Hong karena Thian Sin tidak pernah dapat menahan hatinya untuk tidak mencium setiap kali melihat senyum khas ini, sehingga bagi keduanya, senyuman khas itu seperti menjadi tanda agar Thian Sin mencium Kim Hong! Cinta kasih antara pria dan wanita memang melahirkan atau menciptakan bahasanya sendiri tanpa kata!



"Kau tahu, aku bukan gila harta. Akan tetapi aku kasihan kepada petani itu yang telah menjadi korban kejahatan dan ingin tahu apakah anaknya itu masih hidup. Selain itu, biarpun kita tidak gila harta, kalau benar ada harta karun sampai terjatuh ke tangan penjahat, kan sayang?"



Thian Si mengangguk. "Bagaimanapun juga, kakek petani itu telah percaya kepada kita dan pesan terakhir seorang yang mati sungguh tak baik untuk diabaikan begitu saja."



"Jadi kita ke kota raja?"



"Bagaimana kaupikir sebaiknya?" Thian Sin balas bertanya sambil memandang dengan sikap bertanya dan menguji. Kim Hong memang tidak perlu banyak bicara dengan kekasihnya ini. Dari pandang mata saja mereka sudah dapat saling mengutarakan isi hati masing-masing. Dara cantik itu tersenyum manis, bukan senyuman khas minta cium.



"Mari kita tulis pendapat masing-masing," katanya sambil membalikkan tubuhnya dan berjongkok, membuat corat-coret di atas tanah. Thian Sin tersenyum dan juga membalikkan tubuhnya, seperti juga yang dilakukan kekasihnya itu dia mencorat-coret di atas tanah. Hampir berbareng mereka selesai dan tanpa bicara, keduanya membaca tulisan masing-masing. Mereka lalu tertawa dan saling rangkul. Tulisan mereka, walaupun dengan kalimat yang berbeda, isinya sama! Mereka berdua berpendapat bahwa mereka akan mempergunakan kunci itu untuk memancing datangnya para penjahat sebagai pintu atau jembatan pertama ke arah perkara kakek petani itu!



Mereka masih tertawa-tawa geli dan juga girang ketika mereka kembali ke rumah penginapan mereka di kota An-keng, berjalan bergandeng tangan dan tidak tergesa-gesa karena mereka sengaja hendak meninggalkan jejak atau memberi kesempatan kepada para penjahat untuk membayangi mereka dan mengetahui di mana mereka tinggal. Akan tetapi, begitu tiba di dalam kamar di rumah penginapan, diam-diam Thian Sin mempergunakan kepandaiannya untuk lolos dari dalam kamar, membawa kunci emas itu dan pergilah dia ke tukang pembuat perhiasan emas dan minta kepada tukang itu untuk membuatkan sebuah kunci emas untuknya. Tentu saja banya bentuknya yang mirip, akan tetapi dengan mata kunci yang jauh berbeda. Setelah selesai, dibawanya kunci emas palsu itu kembali ke hotel dan dia memberikan kunci emas yang aseli kepada Kim Hong, sedangkan yang palsu dia simpan dalam saku bajunya. Setelah membuat persiapan ini merekapun hanya tinggal menanti.



Dan mereka tidak usah menanti terlalu lama. Malam itu juga, selagi keduanya duduk di serambi samping rumah penginapan, menghadapi taman bunga yang diatur cukup nyeni bercakap-cakap menikmati malam cerah penuh bintang dan merasakan nyamannya angin malam bersilir sepi, tiba-tiba nampak sinar berkelebat karena adanya benda meluncur tertimpa sinar lampu. Akan tetapi, dua orang muda perkasa itu dapat mengikuti luncuran benda ini dengan pandang mata mereka dan maklum bahwa benda itu masih jauh dari tubuh mereka.



"Ceppp!" Sebatang pisau runcing menancap di daun jendela di belakang mereka, hanya lewat beberapa belas sentimeter di atas kepala mereka. Kalau bukan ahli yang telah memiliki kematangan dalam ilmu silat sehingga ilmu itu seolah-olah sudah mendarah daging di tubuh mereka, tentu keduanya tadi sudah kaget dan mengelak. Kim Hong hendak meloncat ke arah datangnya pisau, akan tetapi sentuhan halus tangan Thian Sin menahannya dan iapun melirik ke arah jendela, melihat bahwa pisau itu membawa sesampul surat yang kini tertancap di daun jendela. Mengertilah ia akan maksud kekasihnya. Pihak lawan telah mulai mengadakan hubungan dan karena lawan mengirim surat, maka tidak baik kalau mempergunakan kekerasan. Pula, yang melemparkan pisau secara ahli itupun tentu hanya merupakan anak buah belaka dan tidak ada artinya kalau hanya berurusan dengan anak buah.



Isi surat itu singkat saja, ditulis oleh orang yang agaknya lebih biasa memegang golok dan pedang dari pada pena. Namun cukup jelas bagi Thian Sin dan Kim Hong yang membaca bersama.



"Kalian mengetahui rahasia Ciang Gun, kami mengetahui rahasia Ciang Kim Su. Kita dapat saling menukar pengetahuan itu besok pagi di hutan cemara sebelah utara telaga."



Surat itu tidak ditandatangani akan tetapi isinya sudah jelas. Pihak penjahat, agaknya teman-teman dari dua orang penjahat yang menyerang mendiang Ciang Gun, menawarkan semacam kerjasama atau saling menukar rahasia. Tentu maksud mereka untuk mengetahui sebagian dari rahasia yang ditemukan keluarga petani Ciang.



"Hemm, umpan mulai didekati ikan," kata Thian Sin sambil merobek-robek surat itu.



"Baik kalau yang mendekati itu ikan kakap, bagaimana kalau hanya teri?" kata Kim Hong.



"Kakap atau teri, setidaknya lebih mendekatkan kita kepada rahasia Ciang Kim Su. Melalui mereka kita dapat mengetahui tentang putera petani itu dan ke mana harus mencarinya, atau apa yang telah terjadi dengan dirinya. Nah, kita boleh bersabar sampai besok pagi."



Pada keesokan harinya, setelah semalam tidak terjadi sesuatu yang mengganggu tidur mereka, pergilah Thian Sin dan Kim Hong menuju ke luar kota An-keng, ke hutan cemara yang berada di sebelah utara telaga. Sunyi sekali tempat di hutan itu, bukan hanya karena hari masih terlalu pagi, melainkan karena memang tempat ini jarang didatangi pelancong. Tempat ini agak liar dan pemandangannya juga tidak indah, di antara pohon-pohon cemara terdapat banyak semak-semak belukar yang berduri dan jalannyapun tidak rata. Karena sunyinya, jarang ada yang tertarik untuk mendatangi tempat ini, apa lagi tempat-tempat yang sunyi biasanya merupakan daerah rawan.



Dengan sikap tenang, seperti sepasang suami isteri muda pelancong saja, Thian Sin dan Kim Hong memasuki hutan ini. Biarpun hutan, akan tetapi karena pohon-pohonnya adalah pohon cemara, maka tidaklah begitu rimbun dan gelap. Cahaya matahari pagi mulai menerobos di antara celah-celah batang dan daun pohon, menciptakan berkas-berkas cahaya yang putih kekuningan dan amat indahnya. Burung-burang pagi berkicau di antara pohon-pohon cemara, menambah indahnya suasana dan kegembiraan yang mendalam terasa sekali dalam hati muda mudi itu. Mereka adalah dua orang pendekar yang sudah terlalu sering menghadapi bahaya-hahaya besar, maka urusan yang mereka hadapi sekarang ini merupakan persoalan kecil saja yang sama sekali tidak mengganggu ketenangan batin mereka, bahkan ketika mereka berdua menikmati suasana hening di pagi hari itu, urusan kunci emas sudah mereka lupakan!



Akan tetapi, panca indera mereka yang terlatih dan amat tajam segera membuyarkan keheningan itu. Mereka maklum bahwa terdapat banyak sekali orang, ada dua puluh orang lebih yang diam-diam berada di sekitar tempat itu dan diam-diam telah mengurung mereka dari jarak jauh. Akan tetapi keduanya hanya saling pandang saja sambil tersenyum-senyum, seperti dua orang dewasa yang melihat tingkah anak-anak kecil yang nakal. Kemudian, muncullah dua orang laki-laki dari balik semak-semak. Seorang di antara mereka adalah seorang kakek yang pendek, gendut berkepala botak bermata lebar. Di punggungnya tergantung sebatang ruyung yang besar dan berat dan kakek yang usianya sudah lima puluh lebih ini nampak kuat sekali. Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, tubuhnya kurus kering dan mukanya seperti tikus, membayangkan kelicikan dan kecerdikan. Melihat dua orang ini menghadang di depan dan bersikap seolah-olah mereka itu hanya berdua saja, Thian Sin dan Kim Hong kembali saling pandang dan mengulum senyum. Mereka segera maju menghampiri dan Thian Sin lalu bertanya dengan suara ramah.



"Maaf, kami mencari orang yang mengenal Ciang Kim Su. Dapatkah ji-wi menunjukkan?"



Si pendek gendut tertawa bergelak, suara ketawa yang kasar dan biarpun dia sudah mendengar bahwa sepasang orang muda ini sudah mengalahkan dua orang pembantunya yang paling lihai, yaitu si codet dan temannya, akan tetapi melihat keadaan pemuda dan gadis itu, si gendut ini memandong rendah. Betapapun juga, karena dia membutuhkan kunci emas yang diduganya tentu berada pada muda mudi ini, dia memaksa diri bersikap ramah. Setelah tertawa, dia berkata, "Kamilah orangnya yang mengenal Ciang Kim Su. Kalian berdua mengenal Ciang Gun. Nah, mari kita saling menukar pengetahuan kita."



Thian Sin mengangguk-angguk, nampak gembira seperti sikap seorang pemuda yang masih hijau dan bodoh, mudah untuk ditipu orang. "Baik sekali. Nah, harap engkau suka memberi tahu kepada kami tentang Ciang Kim Su, dan kami akan memberi tahu tentang rahasia Ciang Gun."



"Tentang kunci emas?" tanya si gendut sambil memandang tajam. Dia masih meragukan dan tidak mau lancang turun tangan sebelum dia tahu pasti apakah muda mudi ini telah menguasai kunci emas. Kalau belum, dia tidak akan turun tangan, karena kini setelah kakek Ciang Gun meninggal dunia, kiranya orang-orang yang tahu akan kunci emas itu hanyalah muda-mudi ini.



"Benar, tentang kunci emas. Nah, ceritakan dulu tentang pemuda putera petani itu."



"Dan engkau akan menunjukkan kepada kami di mana adanya kunci emas?"



"Benar sekali." jawab Thian Sin. Tentu saja kakek gendut yang merupakan kepala gerombolan penjahat itu menjadi girang sekali. Kegirangan ini dicobanya untuk ditutupi, akan tetapi masih nampak jelas oleh Thian Sin dan Kim Hong.



"Baik, dengarlah ceritaku. Pemuda petani tolol Ciang Kim Su itu telah tiba di kota raja setahun yang lalu. Dia berhasil menemui pamannya, yaitu Su Tong Hak yang menjadi pedagang rempah-rempah di kota raja. Mereka berdua membagi peta rahasia harta karun yang dibawa pemuda dari dusun itu menjadi dua dan masing-masing menyimpan potongan peta. Akan tetapi, tiba-tiba saja pemuda itu menghilang dan karena mereka berdua itu ceroboh, rahasia mereka ketahuan oleh Mo-ko." Si gendut itu berhenti dan menarik napas panjang.



"Mo-ko? Siapakah itu?"



"Ah, engkau tidak mengenal Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng yang menjadi raja dunia hitam di kota raja?" si gendut itu bertanya dengan heran. Hampir semua orang kang-ouw mengenal Mo-ko, kenapa muda mudi ini tidak mengenalnya?



"Kami fidak mengenalnya, akan tetapi... lanjutkanlah ceritamu dan bagaimana engkau sendiri sampai mengetahui rahasia itu?" kata Thian Sin.



Si gendut pendek itu tertawa, "Pat-pi Mo-ko boleh jadi lihai dan menjadi raja dunia hitam di kota raja, akan tetapi aku Liong-tut-pian Ban Lok, tidak ada keduanya di kota raja dalam hal membongkar rahasia orang! Sebelum diketahui oleh Mo-ko, aku telah mengetahui lebih dahulu rahasia besar yang dibawa dari dusun oleh pemuda she Ciang itu, bahkan aku tahu bahwa selain peta rahasia itu, terdapat pula kunci emasnya yang dipegang oleh ayah pemuda itu. Tanpa adanya kunci emas ini, peta itupun tidak akan ada gunanya."



"Jadi peta itu dibagi dua, masing-masing bagiannya disimpan oleh Su Tong Hak dan Ciang Kim Su yang lenyap secara tiba-tiba?" tanya pula Thian Sin.



Si gendut mengangguk. "Benar dan apa yang kuceritakan ini adalah yang sebenarnya. Nah, aku telah menceritakan tentang peta dan Ciang Kim Su, sekarang giliranmu untuk menukarnya dengan penjelasanmu tentang kunci emas..."



Thian Sin menepuk kantung di bajunya. "Kunci emas itu telah berada di sini, oleh kakek Ciang Gun diberikan kepadaku sebelum dia tewas karena luka-luka di tubuhnya yang dilakukan oleh anak buahmu."



Mendengar ini, sinar aneh terpancar dari sepasang mata kakek gendut itu ketika dia memandang ke arah baju Thian Sin. Akan tetapi, si gendut yang mengaku bernama Ban Lok dan berjuluk Liong-kut-pian (Ruyung Tulang Naga) itu agaknya menahan keinginan hatinya untuk dapat segera merampas kunci yang diinginkannya itu.



"Kalau aku tidak melihat sendiri, bagaimana aku dapat percaya omonganmu? Siapa tahu engkau membohong atau kunci itu hanya kunci palsu belaka?"



"Kalau orang tidak percaya kepada kita, perlu apa kita melayaninya?" Tiba-tiba Kim Hong berkata dengan sikap mendongkol. "Mari kita pergi saja mencari kerjasama dengan orang lain yang akan lebih dapat menghargai dan percaya kepada kita!"



Melihat Tbian Sin dan Kim Hong hendak pergi, Ban Lok cepat berkata, "Eiit, nanti dulu. Aku sudah memberi keterangan tentang rahasia pemuda she Ciang itu, dan kalian belum memberi penukarnya. Bukan aku tidak percaya, hanya aku harus berhati-hati karena aku belum mengenal kalian. Nah, biarkan aku melihat kunci itu."



Thian Sin memperlihatkan sikap ragu-tagu dan khawatir, sikap orang yang merasa enggan berpisah dari sebuah benda yang amat berharga, lalu mengeluarkan kunci emas dari saku bajunya sebelah dalam. Setelah mengirim pandang mata curiga, dia lalu mengacungkan kunci emas itu ke atas dan berkata, "Nih, lihatlah. Kunci emas yang tulen!"



Sinar matahari pagi menimpa kunci emas itu dan nampaklah sinar mencorong membuat Ban Lok menelan ludahnya dan matanya bersinar-sinar. Memang sebuah kunci emas tulen! Dia mengulur tangan hendak meraih, akan tetapi Thian Sin menariknya kembali. "Lihat sajapun cukuplah...!" katanya.



Si gendut itu mendelik. "Kau tidak percaya padaku? Bagaimana hatiku dapat yakin kalau hanya melihat? Aku harus memegangnya dan memeriksanya dengan teliti." Dia menghardik disertai sikap mengancam.



"Berikanlah, dari pada ribut-ribut!" terdengar Kim Hong berkata, sikapnya agak takut-takut membuat kepala penjahat itu tersenyum mengejek. Thian Sin menyerahkan kunci emas itu dan Ban Lok yang gendut cepat menyambarnya dan memeriksanya dengan jantung berdebar penuh rasa tegang dan gembira. Sebuah kunci yang benar-benar terbuat dari pada emas dan bentuknya aneh dan kuno. Emas itu saja sudah menjanjikan harta karun yang tentu luar biasa besarnya. Tiba-tiba, sambil menyimpan kunci emas itu di delam saku bajunya sebelah dalam, Ban Luk meloncat ke belakang dan berteriak kepada anak buahnya yang masih bersembunyi di belakangnya.



"Serbu dan bunuh mereka!"



Thian Sin dan Kim Hong sama sekali tidak merasa kaget melihat betapa dari balik semak-semak dan pohon-pohon besar muncul berlompatan banyak sekali orang-orang kasar. Jumlah mereka kurang lebih ada tiga puluh orang dan mereka semua membawa senjata tajam dan kini mereka telah bergerak mengurung. Akan tetapi, Thian Sin bersikap kaget dan penasaran.



"Eh, apa artinya ini? Kembalikan kunci emas itu kepadaku!"



Kepala penjahat yang gendut itupun membuang sikap palaunya dan dia tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha! Kalian sudah mendengar rahasia peta yang kuceritakan tadi, berarti kalian tidak boleh hidup lebib lama lagi. Sudah berbulan-bulan aku mencari kunci ini, setelah kudapatkan, mana mungkin kulepas lagi?"



"Curang! Engkau sudah berjanji saling menukar keterangan!" Kim Hong berteriak.



Kembali kepala penjahat itu tertawa bergelak. "Engkau seorang wanita yang cantik sekali, untung bertemu denganku sehingga engkau akan mati tanpa ternoda. Kalau engkau bertemu dengan Pat-pi Mo-ko, jangan harap dapat mati seenak itu, tentu engkau akan dipermainkannya sampai rusak binasa. Ha-ha-ha! Hayo serbu...!" Dia memberi aba-aba lagi. Puluhan orang itu memperketat kurungan dan mereka mulai mendekat dengan senjata ditodongkan.

Tentu saja ancaman maut yang bagi orang lain tentu akan menimbulkan kengerian itu, bahkan nampak menggelikan bagi pasangan pendekar yang memiliki kepandaian amat tinggi itu. Thian Sin membuang sikapnya yang pura-pura takut tadi dan diapun tersenyum.



"Baiklah, kalian mencari penyakit sendiri!" Dia dan Kim Hong masih berdiri dengan sikap seenaknya saja, sama sekali tidak memasang kuda-kuda seperti biasanya ahli silat kalau menghadapi ancaman lawan menghadapi ancaman begitu banyak orang. Mereka hanya saling pandang dan keduanya mengerti apa yang mereka harus kakukan, yaitu menghajar para pengepung itu habis-habisan tanpa melakukan pembunuhan.



Beberapa tahun yang lalu, Ceng Thian Sin terkenal dengan julukan Pendekar Sadis. Dari julukannya ini saja mudah diduga bahwa dia mempunya hati yang amat kejam terhadap para penjahat. Dia amat membenci para penjahat sehingga setiap kali bentrok dengan tokoh-tokoh penjahat, dia bukan hanya menurunkan tangan sakti membunuhnya, akan tetapi menyiksanya terlebih dahulu dengan cara-cara yang amat sadis. Dia memperoleh kenikmatan dengan menyiksa orang-orang yang dianggapnya jahat itu sebagai peluapan rasa dendamnya yang amat besar terhadap para penjahat. Semenjak kccil, dia telah mengalami banyak kesengsaraan hidup sebagai akibat dari perbuatan para penjahat sehingga dia menaruh dendam yang amat hebat. Adapan Toan Kim Hong, wanita muda yang cantik jelita itu, tadinya pernah menyamar sebagai seorang nenek yang berjuluk Lam-sin (Malaikat Selatan) yang merupakan seorang di antara empat datuk kaum sesat. Iapun amat ganas dan kejam, membunuh lawan dengan tangan dingin (baca tentang Pendekar Sadis dan Lam-sin dalam cerita Pendekar Sadis). Akan tetapi, semenjak keduanya saling bertemu, saling jatub cinta, kemudian bersama-sama menghadapi para pendekar sakti, sampai akhirnya mereka berhadapan dengan para pendekar Cin-ling-pai dan Lembah Naga yang mereka cinta, puja dan takuti, keduanya telah berubah. Mereka berdua kini tinggal di Pulau Teratai Merah dan tidak lagi menuruti hati yang ingin membasmi para penjahat. Bahkan keduanya berjanji bahwa mereka akan menghadapi penjahat-penjahat dengan keadilan, bukan lagi dengan kekejaman. Karena inilah maka sekarang, biarpun mereka diancam oleh para penjahat dan bahkan dicurangi, mereka yang saling pandang itu maklum akan isi hati masing-masing, yaitu bahwa mereka masih ingat untuk tidak membunuh orang walaupun mereka harus menghajar kumpulan penjahat yang kejam itu. Karena jumlah mereka yang terlalu banyak dan tidak mungkin tiga puluh orang itu maju serentak melakukan serangan, maka kini begitu gerombolan itu bergerak, hanya ada delapan orang yang dapat maju menggerakkan senjata mereka menyerang Thian Sin dan Kim Hong yang kelihatan masih bersikap enak-enakan dan bagi para penjahat itu dianggap sebagai makanan lunak. Akan tetapi, begitu mereka delapan orang itu maju, tiba-tiba saja nampak dua bayangan berkelebatan dan delapan orang itu merasa seperti disambar halilintar! Delapan orang itu sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi dan selamanya mereka itu takkan sanggup menceritakan apa yang telah menimpa mereka. Tadinya mereka dengan ganas menyerbu dan menyerang pemuda dan gadis itu, akan tetapi tiba-tiba kedua orang muda itu lenyap dan sebagai gantinya, mereka hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu dunia tiba-tiba menjadi gelap bagi mereka! Ketika mereka siuman kembali, mereka telah mendapatkim tubuh mereka malang melintang, senjata mereka entah terbang ke mana dan tubuh mereka luka-luka, ada yang benjol-benjol kepalanya, ada yang patah tulang lengannya, ada pula yang memar-memar badannya, ada yang pingsan ada pula yang hanya nanar saja. Pendeknya, secara aneh dan dalam waktu segebrakan saja, delapan orang itu telah terlempar ke sana sini dan terbanting tanpa dapat bangun kembali! Bahkan di antara mereka ada yang tidak sempat lagi berteriak karena sudah keburu tidak sadar.



Melihat ini, kawanan penjahat itu terkejut dan marah sekali. Mereka berebut maju dan mengeroyok dengan buas. Akan tetapi, mereka itu seperti sekumpulan nyamuk menyerbu api lilin saja, karena siapa yang maju lebih dulu tentu terkapar atau terlempar, terbanting keras, berteriak kesakitan den berobohanlah para pengeroyok itu malang melintang, senjata mereka terlempar ke empat penjuru, bahkan ada yang patah-patah bertemu dengan lengan dua orang pendekar muda itu. Menyaksikan kehebatan dua orang muda itu, tentu saja si gendut Ban Lok merasa terkejut den gentar. Boleh jadi dia mendapatkan nama besar dari kepandaiannya atau juga dari kekejamannya, dan julukannya adalah Liong-kut-pian karena senjata ruyungnya itu memang hebat. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia hanyalah seorang yang kejam dan orang kejam itu biasanya berwatak pengecut dan penakut. Hanya penakut sajalah yang dapat bersikap kejam, karena seorang penakut itu selalu khawatir akan keselamaten dirinya maka dia condong untuk meniadakan ancaman bagi dirinya. Biarpun tidak akan diakuinya sendiri, namun jelas bahwa di sudut hatinya, seorang yang kejam selalu dibayangi oleh rasa takut yang hebat. Demikian pula halnya dengan Liong-kut-pian Ban Lok ini. Begitu melihat bahwa keadaannya tidak aman baginya, hatinya merasa gentar den lupalah dia akan kedudukannya sebagai seorang kepala atau pemimpin. Kiranya keganasan dan kekejamannya itu hanya menjadi selimut dari kepengecutannya, dan semua keberaniannya hanya timbul karena dia merasa ada banyak anak buah di belakangnya. Biasanya memang demikianlah. Segerombolan orang akan menjadi nekat den berani, akan tetapi kalau seseorang terpisah dari kelompoknya, maka keberaniannyapun akan lenyap.



Ban Lok yang sudah merasa berhasil mengantongi kunci emas, ketika melihat betapa mudahnya sepasang pendekar muda itu merobohkan anak buahnya, lalu mengambil langkah seribu, melarikan diri dari situ untuk menyelamatkan diri dan kunci emas. Melihat ini, Kim Hong berkata kepada kekasihnya. "Thian Sin, kauhajar semua anjing ini dan aku akan mencegah anjing besar melarikan diri!" Tanpa menanti jawaban karena ia sudah tahu bahwa kekasihnya akan menyetujuinya, sekali menggerakkan tubuh, Kim Hong telah meloncat dan melayang dengan kecepatan seekor burung walet terbang, mengejar Ban Lok.



"Ehh...?" Kepala penjahat yang gendut ini terbelalak ketika melihat berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang gadis cantik jelita, berdiri dengan santainya, bertolak pinggang dan tersenyum seperti seorang guru menghadapi seorang murid taman kanak-kanak yang bandel! Lebih terkejut lagi hati kepala garong ini ketika mengenal bahwa gadis ini bukan lain adalah gadis yang dikeroyok tadi. Dia menoleh dan melihat betapa sisa anak buahnya masih mengeroyok si pemuda. Maklumlah dia bahwa dia harus berkelahi mati-matian untuk mempertahankan kunci emas itu. Maka tangan kanannya moraba ke belakang dan ruyung itu telah berada di tangannya. Ruyung yang mengangkat namanya tinggi-tinggi itu dilintangkan di depan dada. Ruyung itu terbuat dari pada baja dan kelihatan amat berat. Agaknya bentuk ruyung yang diukir seperti ekor ular itulah yang membuat ruyung itu dinamakan Liong-kut-pian (Ruyung Tulang Naga), jadi bukanlah tulang naga atau ular sungguh-sungguh.



"Minggir kalau tidak ingin hancur kepalamu!" bentaknya sambil mengamang-amangkan ruyung yang berat itu.



Kim Hong tersenyum mengejek, senyum yang manis sekali akan tetapi kalau orang sudah lama mengenal wanita jelita ini, tentu akan bergidik karena senyum mengejek itu adalah senyuman khas yang menyembunyikan ancaman hebat! "Hati-hatilah main-main dengan ruyung berat itu. Jangan-jangan kepalamu sendiri yang akan terpukul dan pecah. Lebih baik kembalikan kunci emas tadi dan engkau boleh pergi sebagai anak yang baik." Ucapannya sungguh seperti ucapan seorang guru menasihati seorang anak kecil yang nakal. Tentu saja Liong-kut-pian Ban Lok menjadi marah sekali. Dia adalah seorang kepala penjahat yang sudah biasa merampok dan menodong selama puluhan tahun. Kini usianya sudah lima puluh tahun lebih dan dia diperlakukan sebagai anak kecil oleh seorang gadis yang masih begitu muda.



"Bocah lancang bosan hidup!" Bentaknya dan ruyungnya sudah menyambar dengan dahsyat. Melihat gerakan ini, Kim Hong maklum bahwa si gundul ini memang memiliki tenaga besar. Akan tetapi hanya tenaga besar itu sajalah modalnya, di samping kenekatan karena gerakannya tidak menunjukkan ilmu silat yang tinggi. Maka dengan mudahnya ia mengelak hanya dengan menarik kepala ke belakang saja. Ruyung itu lewat di atas kepalanya, membawa suara berdesir dan menimbulkan angin yang kuat sehingga rambut di kepala Kim Hong berkibar dibuatnya.



Ban Lok menjadi semakin penasaran. Dia mengeluarkan suara geraman nyaring dan menggunakan jurus Hun-in-toan-san (Awan Melintang Memutuskan Gunung). Jurus ini dilakukan dengan gerakan ruyung dari atas menyambar dengan gerakan menyerong ke arah leher lawan. Ketika lawan mengelak, ruyung itu membalik dan menyambar pula ke arah dada, dilanjutkan sambaran ke arah perut. Serangan beruntun ini merupakan perkembangan jurus Hun-in-toan-san. Namun, dengan mudah dan indah, seperti gerakan seorang anak manis bermain loncat tali dengan lincah dan cekatan, Kim Hong berhasil menghindarkan diri dari sambaran ruyung yang bertubi-tubi itu. Ban Lok melanjutlan jurus Hun-in-toan-san yang gagal itu dengan jurus Sin-liong-tiauw-wi (Naga Sakti Menyabetkan Ekor), tubuhnya memutar dan membalik, ruyungnya mendahului gerakannya sehingga ruyung itu seperti ekor naga yang membalik dan menyambar amat ganasnya. Melihat jurus yang selain cepat kuat juga mematikan ini, Kim Hong mengerutkan alisnya. Kepala penjahat ini terlalu kejam, pikirnya dan ia membayangkan, entah sudah berapa ratus nyawa orang yang tidak berdosa melayang oleh ruyung ini. Melihat sambaran ruyung yang diayun dari belakang dengan gerakan tubuh memutar itu ke arah pinggangnya, Kim Hong mengangkat kaki kirinya dan menotol dengan ujung kakinya ke arah ujung ruyung! Sungguh merupakan perbuatan yang amat berani karena meleset sedikit saja, tentu tulang kakinya akan dihajar ruyung sampai remuk-remuk! Akan tetapi, ternyata ujung sepatunya dapat mendorong dengan tepat sehingga ruyung itu menyeleweng gerakan meluncurnya dan membuat pemegangnya kehilangan keseimbangan dirinya. Ban Lok terkejut dan marah. Tubuhnya terbawa oleh luncuran ruyung sehingga dia terhuyung. Akan tetapi, kepala penjahat ini sengaja membuang diri ke bawah dan menggelundung, tubuhnya yang gendut itu menggelinding seperti bola dan ternyata kepala penjahat ini telah melanjutkan dengai jurus yang dinamakan Thi-gu-keng-te (Kerbau Besi Membajak Tanah). Tubuhnya yang menggelinding ini menyerbu ke arah lawan dan tiba-tiba saja dia meloncat dan menyeruduk dengan ruyungnya ke arat perut Kim Hong. Gerakan ini dahsyat dan berbahaya bukan main. Akan tetapi kini Kim Hong telah mengambil keputusan untuk merobohkan Ban Lok. Ia herdiri tegak dan seolah-olah tidak dapat mengelak lagi, akan tetapi diam-diam ia menanamkan tenaga sin-kang kepada kedua kakinya. Lalu tangan kirinya membuat gerakan dari samping, menangkis ruyung dan melanjutkan dengan dorongan tangan kanan ke arah ruyung. Sebetulnya, gadis sakti itu bukan menangkis, melainkan memapaki ruyung dengan telapak tangannya, seperti menempel atau menangkap, lalu melanjutkannya dengan mengalihkan tenaga luncuran ruyung itu membuat gerakan menyerong dan membalik. Tenaga luncuran oleh tangan Ban Lok itu masih kuat, kini ditambah tenaga dorongan tangan kanan Kim Hong, melayang ke arah kepala Ban Lok sendiri.



"Prakk...!" Ban Lok mengeluarkan suara mengorok dari lehernya dan tubuhnya terpelanting ke kanan, roboh dengan kepala berlumuran darah, kepala yang sudah retak-retak oleh hantaman ruyungnya sendiri! Kim Hong berdiri dan bertolak pinggang, memandang ke arah korbannya, lalu menarik napas panjang.



"Hemm, kau membunuhnya juga?" terdengar suara orang bertanya.



Kim Hong menoleh dan melihat bahwa kekasihnya juga sudah selesai merobohkan semua orang yang mengeroyoknya tanpa membunuh seorangpun di antara mereka. Tiga puluh lebih anak buah penjahat yang menggeletak malang melintang itu, hanya dapat memandang kepada sepasang pendekar itu dengan mata terbelalak penuh ketakjuban. Tak mereka sangka sama sekali bahwa mereka semua roboh seperti itu, bahkan kepala mereka telah tewas! Kini baru terbuka mata mereka bahwa mereka telah kecelik, menabrak batu karang.



"Aku tidak membunuhnya, melainkan dia yang hendak membunuhku dan salah pukul sehingga ruyungnya memukul kepalanya sendiri!" jawab Kim Hong setengah berkelakar. Thian Sin mengerti akan isi hati kekasihnya. Dia menarik napas panjang.



"Dia manusia licik den jahat. Entah sudah berapa banyak orang dibunuhnya den membiarkan orang seperti dia tinggal hidup, berarti memperbanyak jumlah calon korban saja. Engkau benar Kim Hong, sudah sepatutnya dia dibunuh dan anak buahnya diberi hajaran seperti ini."



Thian Sin lalu menghampiri tubuh si gendut yang sudah menjadi mayat itu, membalikkan tubuh menelungkup itu dengan kakinya, lalu mencari dan mengambil kembali kunci emas dari saku baju kepala penjahat itu. Dia sengaja mengangkat kunci emas itu tinggi-tinggi agar nampak oleh para anak buah penjahat yang rebah malang melintang karena dia ingin mempergunakan kunci itu untuk memancing semua pihak yang tersangkut dalam perkara harta karun yang peta dan kuncinya ditemukan oleh keluarga petani Ciang yang sial itu.

***

Kota raja Peking nampak tenang-tenang saja, penduduknya nampak hidup makmur dan perdagangan berjalan dengan lancar dan ramai. Akan tetapi, keadaan di kota raja ini sesungguhnya tidak dapat dipakai sebagai ukuran keadaan negara pada waktu itu. Walaupun kerajaan di bawah pimpinan Kaisar Hung Chih, yaitu kaisar yang menggantikan Kaisar Ceng Hwa, masih cukup kuat dan tidak lagi terjadi pemberontakan-pemberontakan, akan tetapi kejahatan-kejahatan merajalela den agaknya pemerintah tidak cukup tangguh untuk dapat mengatasi kekacauan-kekacauan kecil yang cukup membuat rakyat menderita ini. Tentu saja semua kekacauan itu terjadi di luar kota raja, karena kota raja sendiri di mana kaisar dan para pembesar tinggi berada, selalu terjaga kuat dan dibersihkan dari pengacauan. Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa tidak ada kejahatan terjadi di kota raja. Banyak masih. Bahkan penjahat-penjahat berkaliber besar juga berpusat di kota raja. Hanya saja, para tokoh penjahat itu tidak berani melakukan kejahatan di kota raja secara menyolok dan mereka itu lebih banyak beroperasi di luar kota raja.



Kota raja yang ramai ini menyimpan banyak rahasia-rahasia besar. Pernah menyaksikan jatuh bangunnya para kaisar dan dinasti yang berganti-ganti saling memperebutkan kekuasaan. Menjadi saksi bisu pula dari peristiwa-peristiwa kejahatan yang menjadi rahasia selamanya bagi penduduknya. Di kota raja ini pula tersimpan rahasia hilangnya pemuda dusun Ciang Kim Su yang datang ke kota raja membawa peta rahasia yang ditemukannya bersama ayahnya di ladang mereka. Apakah yang telah terjadi setahun yang lain ketika pemuda itu datang berkunjung ke kota raja? Benarkah seperti yang diceritakan oleh Liong-kut-pian Ban Lok kepada Pendekar Sadis dan Lam-sin itu?



Pertanyaan-pertanyaan itu mengaduk di dalam otak Thian Sin dan Kim Hong ketika pada suatu pagi mereka memasuki kota raja yang ramai. Beberapa tahun yang lalu, sebagai Pendekar Sadis, Thian Sin pernah menggegerkan kota raja. Akan tetapi ketika itu, hanya namanya saja dikenal orang sebagai Pendekar Sadis, akan tetapi jarang ada orang pernah melihatnya. Maka sekarangpun dengan tenang dia memasuki kota raja tanpa khawatir akan dikenal orang sebagai Pendekar Sadis. Betapapun juga, ketika dia bersama Kim Hong melewati pintu gerbang istana yang megah, dari jauh jantungnya berdebar tegang. Dia teringat akan mendiang ayahnya, yaitu Ceng Han Houw, yang masih keturunan kaisar yang menempati istana itu. Darahnya sendiripun yang mengalir di tubuhnya masih darah keluarga istana ini!



Kim Hong agaknya dapat membaca isi hati kekasihnya ketika melibat sinar mata kekasihnya memandang dengan termenung ke arah istana ketika mereka lewat perlahan.



"Ingin menjenguk keluarga di dalam?"



Thian Sin terkejut, menengok, saling pandang. Lalu tersenyum pahit dan balas bertanya. "Kaukira aku haus akan kedudukan dan kehormatan kosong itu?"



Kim Hong sadar bahwa pertanyaannya tadi menyinggung, maka iapun cepat berkata menutupi rasa sesalnya. "Maksudku, kalau engkau ingin melihat-lihat ke dalam istana, apa salahnya kalau malam nanti kita masuk? Sudah sampai di kota raja, rugi kalau tidak melihat-lihat dalam istana. Kau kan tidak takut?"



"Hushh, siapa takut? Hanya kau lupa bahwa yang membawa kita ke kota raja bukan untuk pelesir. Sebelum urusan ini selesai, kita main-main di istana dan ketahuan, bukankah itu akan menggagalkan usaha kita?"



Kim Hong mengangguk-angguk, menyadari kesalahannya. "Mari kita cari orang bernama Su Tong Hak itu."



"Mudah-mudahan dia masih hidup," kata Thian Sin. "Dialah satu-satunya orang yang dapat kita harapkan untuk menemukan peta."



"Kaupikir dia..."



"Belum tentu. Akan tetapi kita tahu bahwa urusan ini telah tercium oleh gerombolan penjahat. Siapa tahu diapun sudah dibereskan dan petanya dirampas."



"Kalau memang demikian, masih ada jalan. Kita datangi Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng!" kata Kim Hong penasaran.



"Ssttt, jangan keras-keras. Nama itu amat terkenal di sini. Sebaiknya kita mencari kamar rumah penginapan lebih dahulu, untuk menaruh pakaian dan menjadi tempat peristirahatan kita."



Keduanya memilih dan mendapatkan sebuah kamar yang cukup bersih dan besar di rumah penginapan Hi-lok-li-koan. Setelah menaruh buntalan pakaian di kamar itu, mereka lalu keluar dari rumah penginapan dan mencari Su Tong Hak yang telah mereka ketahui nama dan alamatnya dari seorang anak buah mendiang Ban Lok.



Orang yang mereka cari itu, Su Tong Hak, adik ipar dari mendiang petani Ciang Gun, ternyata telah berhasil dalam usahanya dan kini menjadi seorang saudagar hasil bumi yang cukup kaya di kota raja. Tokonya cukup besar dan ketika pegawai toko melihat tamu suami isteri yang tampan dan jelita, juga yang berpakaian rapi dan mewah, dengan mudah tamu yang dianggap penting dan hendak berdagang ini dipersilahkan masuk ke dalam ruangan tamu dan diterima sendiri oleh majikan toko.



Laki-laki itu berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh tinggi tegap dan biarpun di wajahnya masih ada bekas membayang kekerasan yang merupakan garis-garis mendalam seorang petani yang biasa hidup sukar, namun pakaian dan sikapnya menyelimuti bekas ini dan dia lebih patut menjadi tuan Su Tong Hak saudagar yang cukup berhasil di kota raja. Wajahnya masih menunjukkan keterbukaan seorang petani, akan tetapi sinar matanya sudah penuh kecerdikan seperti sinar mata para pedagang yang pandai bersandiwara.



Setelah saling memberi hormat, pedagang itu berkata, "Saya Su Tong Hak, dan siapakah ji-wi dan datang dari mana? Kabar baik apakah yang ji-wi bawa untuk kami?" Sikapnya ramah seperti biasa seorang pedagang.



"Paman Su Tong Hak, kami datang untuk mencari seorang bernama Ciang Kim Su dari dusun Ciu-bun-tang yang setahun yang lalu datang ke sini mencari paman. Di manakah adanya Ciang Kim Su sekarang?" Pertanyaan ini diajukan oleh Thian Sin dengan tiba-tiba dan dia bersama Kim Hong lalu menatap wajah tuan rumah dengan sinar mata tajam penuh selidik.



Akan tetapi pedagang itu ternyata adalah seorang yang mampu menguasai perasaannya. Kekagetan hatinya mendengar ucapan tamunya itu hanya nampak pada sinar matanya yang agak terbelalak, akan tetapi sikapnya tetap tenang, bahkan kini diapun memandang tamunya dengan alis berkerut dan pandang mata curiga.



"Hemm, siapakah ji-wi sebenarnya? Ciang Kim Su adalah keponakanku, anak dari kakakku perempuan. Memang pernah dia datang ke sini, akan tetapi... sebelum kuceritakan tentang dia, harap ji-wi suka memberi tahu apa keperluan ji-wi mencari keponakanku itu?"



"Kami berdua adalah utusan dari Ciang Gun, ayah Ciang Kim Su, untuk mencarinya di sini."



Pedagang itu masih mengerutkan alisnya. "Nama ji-wi?"



"Aku Ceng Thian Sin dan ia adalah Toan Kim Hong."



"Hemm, aku tidak pernah mendengar nama itu dan tidak pernah mengenal ji-wi. Mustahil kalau kakak iparku Ciang Gun menyuruh ji-wi, karena ji-wi jelas bukanlah orang-orang dusun sedangkan kakakku..."



"Masih tidak percayakah paman kalau melihat ini?" Thian Sin sengaja mengeluarkan kunci emasnya, tentu saja yang palsu.



"Apa... apa itu...?" Su Tong Hak bertanya, akan tetapi jelas bahwa dia terkejut sekali dan pura-pura tidak tahu karena matanya terbelalak dan wajahnya berobah ketika dia melihat kunci emas itu.



"Tentu paman pernah mendengar tentang ini. Kunci emas yang ada hubungannya dengan peta yang dibawa Ciang Kim Su. Nah, percayakah sekarang paman bahwa kami diutus oleh paman Ciang Gun? Ceritakanlah di mana adanya Ciang Kim Su."



"Baik, baik... akan tetapi aku tidak tahu ke mana perginya anak itu. Baiklah kuceritakan dari awal, setahun yang lalu..." Pedagang ini setelah melihat kunci emas, lenyap keangkuhannya dan agaknya ingin sekali bekerja sama, maka diapun lalu menceritakan penuturannya yang lain lagi dengan penuturan yang pernah didengar oleh dua orang pendekar itu dari mendiang Ban Lok. Cerita dari pedagang she Su ini lebih lengkap.



Menurut cerita itu, setahun lebih yang lalu Ciang Kim Su memang datang ke kota raja dan berhasil bertemu dengan pamannya, adik ibunya, yang telah menjadi seorang saudagar hasil bumi yang cukup berhasil. Setelah Kim Su menceritakan pamannya tentang dia dan ayahnya menemukan peta rahasia dan ingin mencari orang pandai yang dapat menerangkan isi peta itu, Su Tong Hak tertarik sekali.



"Untuk dapat menterjemahkan tulisan kuno itu, kita harus dapat bantuan seorang sasterawan yang pandai," kata Su Tong Hak. "Kebetulan sekali aku tahu akan seorang sasterawan tua yang kabarnya ahli dalam huruf-huruf kuno. Mari kita kunjungi Louw Siucai."



Louw Siucai adalah seorang siucai (gelar lulusan ujian negeri) yang miskin dan usianya sudah enam puluh tahun. Dia hidup menyendiri di tepi kota raja yang sunyi, tanpa keluarga karena isterinya telah meninggal dunia tanpa anak. Hidupnya amat sederhana dan setiap hari dia hanya termenung, baca kitab, menulis sajak dan mabuk-mabukan.



Ketika Su Tong Hak dan keponakannya datang berkunjung dan memperlihatkan peta itu sambil mohon pertolongan si sasterawan untuk menterjemahkan, Louw siucai meneliti peta itu dengan penuh perhatian. Wajahnya yang kurus itu berseri dan matanya bersinar-sinar.



"Ya Tuhan...!" Dia berseru. "Kalian telah menemukan sebuah benda yang tak ternilai harganya! Peta ini sudah ada seribu tahun usianya dan di sini terdapat tulisan tangan Sang Raja Besar Jenghis Khan!" Bagi sasterawan tua itu, yang dianggap tak ternilai harganya adalah kekunoan peta dan terutama sekali tulisan tangan Raja Besar Mongol yang pertama itu, pendiri dari dinasti Goan-tiauw.



AKAN tetapi, Su Tong Hak tidak tertanik akan kekunoan benda itu. "Apa isinya? Bagaimana bunyinya dan apa artinya peta ini?"



Mendengar pertanyaan yang membayangkan kehausan akan keuntungan besar ini, si sasterawan tua mengerutkan alisnya, memandang tajam lalu menarik napas panjang, kemudian menjawab dengan sebuah pertanyaan pula, "Dari manakah ji-wi bisa memperoleh benda yang amat langka ini?"



"Louw siucai, kedatangan kami ini adalah untuk minta bantuanmu membaca isi peta, dan untuk itu kami sanggup membayarmu. Tidak perlu kauhiraukan dari mana kami memperolehnya, yang penting bacalah dan apa isinya?" Suara saudagar itu terdengar tidak sabar dan marah.



Kembali sasterawan itu menarik napas panjang, kemudian menjawab dengan suara perlahan, didengarkan dengan penuh perhation oleh paman dan keponakan itu. "Tulisan tangan Raja Jenghis Khan ini dapat dengan mudah kubaca. Bunyinya begini : Harta karun ini milik Jenghis Khan yang maha besar, yang mengutus Yelu Kim untuk menyelidikinya. Nah, hanya tulisan inilah yang dapat kubaca. Untuk dapat membaca huruf-huruf di peta itu sendiri, membutuhkan waktu sedikitnya sehari semalam."



Su Tong Hak sudah kegirangan luar biasa mendengar kata "harta karun" tadi, dan dia meragu untuk meninggalkan peta itu. Akan tetapi keponakannya yang berasal dari dusun den kepercayaannya terhadap sesama manusia jauh lebih tebal dari pada orang kota yang sudah terlalu sering mengenal kepalsuan manusia, berkata, "Kalau memang membutuhkan waktu, biarlah kita tinggalkan peta itu di sini untuk sehari semalam. Besok kita datang lagi untuk mengambilnya."



"Tapi..." pamannya mencela.



"Biarlah, paman. Apa artinya peta ini kalau kita tidak tahu bagaimana bunyinya?"



Akhirnya Su Tong Hak mengalah den sambil memandang tajam kepada sasterawan itu dia berkata, "Louw siucai, ingat! Peta ini milik kami dan amat berharga. Kami menitipkannya kepadamu untuk sehari semalam, agar dapat kauterjemahkan. Akan kubayar berapa saja uang lelahmu. Akan tetapi hati-hati, jangan sampai dilihat atau terdengar orang lain. Apa lagi kalau sampai hilang, nyawamu gantinya!"



Sasterawan tua itu mengangguk-angguk dan memandang kepada Ciang Kim Su, lalu berkata lirih seperti kepada diri sendiri, "Orang muda dari dusun membawa benda seperti ini, betapa bahayanya..." Diam-diam sasterawan itu agaknya maklum bahwa peta itu adalah milik si pemuda, nampak dari sikap paman den keponakan tadi. Maka ditinggalkanlah peta itu oleh mereka kepada si sasterawan yang akan mempelajarinya selama sehari semalam.



Pada keesokan harinya, paman dan keponakan itu datang lagi ke rumah Louw siucai dan dengan girang mereka menerima kembali peta bersama terjemahannya. Dan ternyatalah bahwa peta itu merupakan peta yang menunjukkan tempat disimpannya harta karun Jenghis Khan atau harta karun kuno yang sudah seribu tahun lebih umurnya dan yang oleh Jenghis Khan ditemukan petanya. Kemudian kaisar itu mengutus seorang pembantunya bernama Yelu Kim untuk menyelidiki tempat rahasia itu.



"Agaknya, Yelu Kim itu gagal dalam usahanya dan mungkin peta itu terampas orang lain, kemudian lenyap dan tahu-tahu ditemukan oleh ji-wi." kata si sasterawan. "Akan tetapi peta ini tidak lengkap kalau tidak ada kuncinya."



"Kuncinya? Apa maksudmu?" Su Tong Hak bertanya.



"Kunci emas. Ada disebutkan di situ, sudah kuterjemahkan, bahwa untuk menemukan tempat rahasia itu harus dengan bantuan peta ini, akan tetapi untuk dapat masuk, harus menggunakan kunci emas. Tidak tahu apakah kunci emas itu juga ji-wi temukan?"



Su Tong Hak menoleh dan memandang kepada keponakannya. Tentu saja Ciang Kim Su tahu apa yang dimaksudkan dengan kunci emas itu, ialah benda yang ditemukannya bersama peta ini dan yang kini disimpan oleh ayahnya. Akan tetapi pemuda ini menggeleng kepala, tanda bahwa diapun tidak tahu.



Su Tong Hak meninggalkan uang yang cukup sebagai pembayaran jerih payah sasterawan Louw, kemudian mengajak keponakannya pulang. Sampai di rumah, mereka berdua lalu memeriksa terjemahan peta itu dan keduanya merasa girang sekali. Dengan jelas ditunjukkan pada peta itu bahwa tempat harta karun itu berada di suatu tempat, di satu di antara puncak-puncak Pegunungan Beng-san. Memang amat sukar didatangi dan kiranya takkan mungkin ditemukan tanpa bantuan peta itu!



Kim Su, apakah engkau dan ayahmu tidak menemukan kunci emasnya?" paman itu bertanya sambil memandang tajam kepada wajah keponakannya.



"Setahuku tidak, paman. Akan tetapi aku akan bertanya kepada ayah tentang itu."



"Baiklah, sekarang sebaiknya engkau pulang ke dusun dan membuat laporan kepada ayahmu tentang peta ini, dan sekilian kalian mencari kunci emas itu. Kalau belum kalian temukan, mungkin masih terpendam di tempat di mana kalian menemukan peta."



"Akan tetapi peta itu..."



"Sebaiknya kita bagi dua saja, Kim Su. Ingat, benda ini amat berharga dan kalau kaubawa semua, sungguh amat berbahaya bagimu. Biarlah kita potong menjadi dua bagian, kita masing-masing membawa sepotong. Kaubawa yang sepotong pulang ke dusun, kemudian bersama ayahmu mencari kunci emas itu. Kalau sudah ketemu, engkau ayah dan ibumu datanglah ke sini dan kita bersama akan pergi mencari harta karun itu. Semua biaya perjalanan mencarinya akan kutanggung."



Ciang Kim Su menyetujui pendapat ini dan demikianlah, peta itu dipotong menjadi dua dan mereka masing-masing menyimpan sepotong. Kemudian, pemuda dusun itu pulang ke dusun naik kuda pemberian pamannya dan membawa bekal secukupnya, jauh bedanya dengan keadaannya di waktu dia datang ke kota raja.



"Demikianlah apa yang telah terjadi," Su Tong Hak mengakhiri ceritanya yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Thian Sin dan Kim Hong.



"Lalu ke mana perginya Ciang Kim Su?" tanya Kini Hung. "Kenapa dia tidak pernah pulang ke dusun sehingga ayahnya mencarinya?"



Pedagang itu menggeleng kepala. "Aku tidak tahu aku sendiripun menanti-nantinya dan tidak pernah ada berita darinya."



"Hemm, sungguh aneh sekali." kata Thian Sin sambil mengerutkan alisnya dan diam-diam dia mengkhawatirkan nasib pemuda dusun itu. Paman pemuda itu, yang kini duduk di depannya, mempunyai sikap yang palsu dan patut dicurigai, maka di dalam hatinya, dia tidak mau percaya begitu saja akan apa yang diceritakan oleh pedagang itu."



"Dan paman masih memegang sepotong dari peta yang dibagi dua itu?" tanyanya.





Pedagang itu memandang tajam, alisnya berkerut. Lalu dia menggeleng kepala keras-keras. "Tidak lagi! Peta harts karun itu membawa malapetaka! Baru sebulan setelah Kim Su pergi, rumahku kemalingan dan selain uang dan barang berharga, juga potongan peta itu dicurinya."



"Bohong...!" Kim Hong berseru dengan marah. "Mungkin kaubunuh keponakanmu itu dan kaurampas potongan peta yang ada padanya!"



Thian Sin hendak mencegah namun sudah tidak keburu dan anehnya, pedagang itu tidak merasa takut, bahkan nampak marah dan bangkit dari duduknya sambil bertolak pinggang. "Apa kau bilang? Kalian datang membawa kunci emas dan mengaku utusan dari kakak iparku, datang-datang berani kau menuduhku yang bukan-bukan? Ah, jangan-jangan kalian inilah penjahat-penjahat yang telah membunuh keponakanku dan selain merampas kunci emas dari ayahnya, juga merampas sebagian peta itu dan kini datang untuk mendapatkan potongan lainnya dariku!"



Thian Sin bangkit menyabarkan kekasihnya lalu berkata kepada pedagang itu, "Paman Su, kami sungguh diutus oleh mendiang paman Ciang Gun..."



"Mendiang?"



"Ya, dia terbunuh oleh Liong-kut-pian Ban Lok dan kaki tangannya..."



"Ban Lok? Si keparat! Berani dia...!" Saudagar itu menahan kata-katanya seperti baru sadar bahwa sikapnya itu menunjukkan bahwa dia mengenal baik kepala penjahat itu. "Lalu... apa yang terjadi?" tanyanya, menahan rasa kagetnya.



"Sebelum meninggal, paman Ciang Gun menyerahkan kunci emas ini kepada kami dan memesan agar kami mencari puteranya di sini."



"Tapi peta itu..."



"Kami akan cari sampai dapat."



"Kalau sudah dapat?"



"Akan kami cari harta karun itu untuk kami serahkan kepada yang berhak."



"Akulah yang berhak. Akulah keluarga terdekat dari keluarga Ciang."



"Bukan engkau, akan tetapi Ciang Kim Su." Kata Kim Hong yang masih marah.



"Akan tetapi dia... dia telah mati!"



Tiba-tiba Thian Sin memegang lengan tangan pedagang itu. Pedagang itu meronta dan agaknya dia juga kuat dan menguasai ilmu silat sehingga dia berhasil melepaskan pegangan itu karena Thian Sin juga memegang secara biasa saja. "Bagaimana kau bisa tahu?" bentak Thian Sin yang belum mau memperlihatkan kepandaiannya.



"Ku... kurasa demikian, karena kalau dia masih hidup, di mana dia? Mengapa tidak memberi kabar kepadaku? Orang muda, marilah kita bekerja sama. Serahkan kunci emas itu kepadaku dan aku akan mengusahakan kembalinya peta dan..."



"Tidak! Kami akan mencari sendiri dan memenuhi pesan mendiang Ciang Gun yang telah menjadi korban, bersama isterinya pula dan putera tunggalnya juga masih belum ketahuan bagaimana nasibnya."



"Tapi... tanpa peta, apa gunanya kunci emas itu?"



"Kami akan mencarinya."



"Ke mana? Peta itu telah hilang."



"Bagaimana nanti sajalah. Akan tetapi, mungkin saja kita masih akan saling bertemu!" Setelah berkata denlikian, Thian Sin dan Kim Hong lalu meninggalkan pedagang itu yang masih memandang dengan bengong.



Setelah tiba di luar gedung itu, Thian Sin dan Kim Hong tentu saja tahu bahwa tak lama kemudian, ada tiga bayangan orang mengikuti mereka dari jauh. Mereka tidak merasa heran karena memang mereka sudah menduga bahwa Su Tong Hak bukanlah orang baik-baik dan tiga bayangan orang itu tentulah kaki tangan pedagang itu yang hendak memata-matai mereka. Mereka berpura-pura tidak tahu dan langsung kembali ke rumah penginapan mereka. Memang sesungguhnya kunjungan mereka kepada Su Tong Hak itupun hanya merupakan gerakan pancingan saja untuk memancing keluar kakap-kakap yang ada hubungannya dengan rahasia peta harta karun. Bagaimanapun juga, dua orang pendekar ini masih merasa ragu-ragu di mana adanya peta itu sekarang. Benarkah yang sepotong masih berada di tangan Kim Su yang lenyap tanpa meninggalkan jejak itu? Dan di mana adanya yang sepotong lagi? Mereka tahu bahwa tanpa peta itu, memang kunci emas tidak ada gunanya, sebaliknya, si pemegang petapun tidak akan berhasil tanpa memiliki kunci emas. Inilah sebabnya mengapa mereka menanti. Mereka merasa yakin bahwa dengan memegang kunci emas, akhirnya mereka pasti akan dicari oleh pemilik peta!

***

Mereka tidak usah menanti terlalu lama. Malam itu juga para penjahat telah mulai beraksi. Pada malam hari itu, karena maklum bahwa mereka menghadapi urusan besar dan ancaman bahayat, Thian Sin dan Kim Hong tidak tidur seranjang seperti biasanya. Di dalam kamar itu terdapat dua buah tempat tidur berdampingan, hanya terhalang sebuah meja kecil dan keduanya duduk bersila di atas pembaringan masing-masing. Menjelang tengah malam, tanpa mengeluarkan suara, Kim Hong meniup padam lampu penerangan yang terletak di atas meja dan kamar itupun menjadi gelap.



Lima bayangan orang berkelebat di atas genteng rumah penginapan itu. Gerakan mereka amat gesit, tanda bahwa mereka berlima telah memiliki gin-kang yang cukup tinggi. Bagaikan lima ekor kucing saja, mereka bergerak di atas genteng dan kemudian satu demi satu mereka melayang turun dari atas genteng. Ketika kaki mereka menginjak tanah, tidak terdengar suara sedikitpun. Mereka adalah lima orang laki-laki bertubuh kuat yang dipimpin oleh seorang yang tubuhnya jangkung. Di punggung mereka nampak terselip sepasang golok tipis yang kadang-kadang mengeluarkan cahaya berkilauan kalau tertimpa sinar lampu. Mereka tidak pernah mengeluarkan suara, dan si jangkung hanya memberi aba-aba dengan isyarat tangan saja. Tak lama kemudian mereka telah berada di luar jendela dan pintu kamar yang dihuni oleh Thian Sin dan Kim Hong.



Tanpa mengeluarkan suara, mereka berlima mengeluarkan saputangan hitam dan memasang saputangan itu di depan hidung dan mulut sebagai kedok.



Kemudian, mereka menyalakan hio dan bau yang harum aneh berhamburan dari asap hio. Melalui celah-celah daun pintu di bawah, juga dari celah-celah jendela, mereka memasukkan hio-hio yang terbakar itu ke dalam kamar sehingga mulailah asap-asap harum memenuhi kamar.



Beberapa menit kemudian, terdengarlah gerakan di dalam kamar itu. Suara orang terbatuk-batuk kecil, kemudian disusul suara menguap. Suara itu jelas menunjukkan bahwa yang berada di dalam kamar adalah seorang pria dan seorang wanita. Tentu saja lima orang berkedok saputangan hitam itu menjadi girang dan mereka saling pandang dengan sinar mata berkilat dan berseri. Batuk-batuk dan menguap? Itu membuktikan bahwa asap hio mereka yang mengandung obat bius kuat itu telah mengenai sasaran dan berhasil. Memang orang akan lebih dulu terbatuk-batuk, kemudian setelah menguap takkan dapat tertahan lagi, pasti jatuh pulas seperti pingsan saja!



Mereka menanti sampai kurang lebih sepuluh menit dan pada waktu itu, kamar telah penuh dengan asap hio. Mereka juga mendengarkan dengan penuh perhatian dan agak kecewa karena tidak mendengar suara orang mendengkur yang menjadi tanda mutlak bahwa orang-orang di dalam kamar itu telah tidur pulas. Akan tetapi, tidak semua orang tidur mendengkur. Biasanya, hanya orang-orang yang gendut sajalah yang tidur mendengkur dan mereka tahu bahwa pria dan wanita yang berada di dalam kamar itu sama sekali tidak gendut. Setelah hio-hio itu terbakar habis dan padam, dan asap harum mulai melayang keluar dari celah-celah jendela, si jangkung memberi isarat dengan tangan. Mereka lalu membongkar daun jendela dengan amat mudahnya karena mereka memiliki tenaga yang kuat.



Nampak sinar-sinar berkilau ketika lima orang itu menghunus golok-golok mereka dengan kedua tangan dan dengan sepasang golok di tangan merekapun berloncatan memasuki kamar melalui jendela, muka mereka terlindung oleh saputangan hitam yang sudah diberi penawar obat bius. Melihat ada tubuh terseilmut membujur di atas dua buah pembaringan itu, lima orang pendatang ini menjadi ganas. Dengan isyarat si jangkung, mereka lalu menyerbu dengan golok terangkat dan dalam sekejap mata saja sepuluh batang golok di tangan mereka itu sudah membacok dan menusuk ke arah dua batang tubuh terseilmut yang nampak remang-remang di atas dua buah pembaringan.



Terdengar suara crak-crok-crak-crok disusul seruan-seruan kaget dan heran ketika lima orang itu merasa betapa golok-golok mereka bertemu dengan "tubuh" yang lunak, yaitu guling dan bantal yang ditutupi seilmut!



"Celaka, kita terjebak. Keluar!" kata si jangkung dengan suara mendesis karena marah. Dan pada saat itu terdengarlah suara ketawa dari atas genteng, suara ketawa yang merdu dari seorang wanita dan suara ketawa mengejek seorang pria!



Lima orang itu menjadi marah dan dengan gerakan cepat mereka berlima sudah meloncat keluar dari dalam kamar yang masih penuh dengan asap itu, kemudian mereka langsung berloncatan ke atas wuwungan rumah dengan sepasang golok masih berada di tangan masing-masing. Dan di sana, di atas wuwungan, diterangi oleh bulan muda dan bintang-bintang, nampak seorang pemuda dan seorang gadis berdiri dengan kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pinggang, tersenyum-senyum mentertawakan mereka. Si jangkung merenggut saputangan hitam dari mukanya, diturut oleh empat orang kawannya ketika mereka mengejar ke depan.



Melihat gerakan lima orang itu yang cukup gesit menandakan bahwa mereka itu bukan penjahat-penjahat sembarangan melainkan orang-orang yang telah memiliki kepandaian tinggi, Thian Sin lalu mengacungkan sebuah kunci emas ke atas kepala sambil berkata, "Kalau kalian datang untuk mencari ini, ikutilah kami!" Dan diapun meloncat turun bersama Kim Hong, lalu melarikan diri menjauhi tempat ramai itu menuju ke pinggir kota yang sunyi, di bagian yang dipergunakan orang untuk bercocok tanam. Di situ sunyi sekali dan cuaca hanya remang-remang diterangi bulan muda dan bintang-bintang. Lima orang itu tentu saja menjadi penasaran dan agaknya melihat berkilaunya kunci emas tadi, semangat mereka bertambah dan merekapun melakukan pengejaran. Kejar mengejar ini dipergunakan oleh Thian Sin dan Kim Hong untuk mengukur ilmu berlari cepat lima orang itu dan mereka berdua harus mengakui bahwa lima orang itu benar-benar cukup lihai. Mereka menjadi girang karena makin lihainya lawan yang datang mencari mereka, hal itu dapat diartikan bahwa semakin dekatlah mereka dengan orang yang menguasai peta yang mereka cari!



Thian Sin dan Kim Hong berdiri tegak menanti lima orang calon lawan yang kinipun mulai mengerti bahwa dua orang muda mudi yang dikejarnya itu bukan orang sembarangan. Dan melihat cara mereka menipu di dalam kamar, kemudian melihat cara mereka berdua lari, lima orang ini maklum bahwa ternyata pemilik kunci emas itu adalah dua orang muda yang lihai. Maka, sambil mengejar tadi, si jangkung memberi peringatan kepada teman-temannya agar berhati-hati.



Setelah saling berhadapan, Thian Sin dan Kim Hong kini dapat melihat wajah mereka dengan jelas, walaupun dalam cuaca remang-remang. Dan mereka berdua itu merasa heran karena wajah mereka itu bukan wajah penjahat yang kasar. Wajah orang-orang yang bersikap tenang, pantasnya wajah jagoan-jagoan yang merasa yakin akan kepandaian sendiri, akan tetapi, melihat sepak terjang mereka ketika menyebarkan obat asap bius dan ketika mereka menyerang guling dan bantal yang diseilmuti, sungguh merupakan perbuatan kejam sekali.



"Hemm, kalian ini lima orang maling kecil, tentu hendak merampas kunci emasku ini, bukan?" Thian Sin kembali mengacungkan kunci emas itu di tangan kanannya.



Si jangkung menghardik, suaranya nyaring dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, "Kalau sudah tahu begitu, orang muda, lebih baik kauserahkan kunci itu kepada kami dan kalian boleh pergi dengan selamat."



"Wah, wah, lima ekor tikus sawah, yang hanya maling-maling kecil ini sombong sekali!" kata Kim Hong.



"Kalian hanyalah pesuruh-pesuruh rendah," kata Thian Sin. "Kalau memang menghendaki kunci, suruhlah kepala kalian, atau orang yang memegang peta rahasia itu untuk menemui kami. Kami sudah bosan berurusan dengan anak buah rendahan!"



Lima orang itu jelas kelihatan marah sekali dan golok-golok di tangan mereka itu tergetar. "Orang muda yang sombong!" bentak si jangkung, "Kalian berdua tidak tahu dengan siapa kalian berhadapan! Kami adalah Siang-to Ngo-houw (Lima Harimau Bergolok Pasangan) dan bukan sekedar golongan rendahan!"



Thian Sin dan Kim Hong tidak pernah mendengar nama julukan Siang-to Ngo-houw ini karena memang sudah bertahun-tahun mereka tidak lagi berkecimpung di dunia kang-ouw. Tentu saja nama ini tidak berarti apa-apa bagi mereka.



"Siang-to Ngo-houw, kami hanya mau bicara tentang kunci emas kepada orang yang memiliki peta rahasia itu. Apakah kalian menguasai peta itu? Kalau benar, keluarkanlah dan mari kita bicara!" kata pula Thian Sin.



"Tidak perlu banyak cakap. Serahkan kunci emas itu atau terpaksa kita harus menggunakan kekerasan untuk merampasnya!" teriak pula si jangkung.



"Hi-hik, masih mengancam lagi. Padahal, bisanya hanya menggunakan asap bius dan membacoki bantal guling seperti maling-maling kecil." Kim Hong berkata mengejek lalu berpaling kepada kekasihnya. "Perlu apa melayani segala maling-maling kecil? Mereka ini tentu hanya kaum rendahan saja!"



"Serbu!" Si jangkung sudah memberi komando karena tidak sabar lagi melihat sikap dua orang yang jelas memandang rendah kepada mereka itu.



Thian Sin menyimpan kunci emasnya dan hendak bergerak, akan tetapi Kim Hong sudah berkata kepadanya, "Biarkan aku menghadapi mereka sendiri!"



"Ah, bukan waktunya untuk main-main, Kim Hong!" Thian Sin membantah. Dia melihat bahwa lima orang ini tidak boleh dipandang ringan dan biarpun dia tahu betapa lihainya kekasihnya itu, dan kalau menghadapi mereka ini satu lawan satu tentu tidak sukar bagi Kim Hong untuk merobohkan mereka semua, akan tetapi kalau mereka itu maju berlima, kiranya bukan tidak berbahaya bagi kekasihnya.



"Siapa main-main? Justeru sudah lama aku tidak latihan menghadapi lawan tangguh. Biarkan aku, Thian Sin, sekali ini saja ya...?" Kalimat terakhir itu terdengar demikian manja dan penuh keinginan sehingga Thian Sin terpaksa tersenyum sambil melangkah mundur.



"Bandel! Sesukamulah, tapi jangan salahkan aku kalau kau tergores golok!" Biarpun mulutnya berkata demikian, akan tetapi tentu saja diapun siap waspada, tidak mungkin dia membiarkan kulit halus kekasihnya itu tergores golok orang.



Kim Hong tersenyum manis dan kalau saja gadis itu tidak sedang menghadapi perkelahian, tentu Thian Sin akan merangkul dan menciumnya karena senyuman itu adalah senyuman khas dari kekasihnya kalau lagi senang hatinya dan sedang mencumbu. Tentu senyum itu sebagai tanda terima kasih yang akan dibayar kalau kesempatan memungkinkan nanti. Lalu gadis itu melompat ke depan, dengan gaya yang menantang sekali ia lalu menggulung kedua lengan bajunya, sehingga nampaklah lengan yang bulat dan berkulit putih halus. Demikian tipis dan halusnya kulit lengan Kim Hong ini sehingga kalau saja cuaca tidak segelap itu akan nampak urat-urat halus membayang di balik kulitnya. Nampaknya demikian halus dan lunak, akan tetapi jangan sekali-kali mengira demikian karena kedua lengan itu dapat terisi tenaga yang amat hebat dan sedemikian kuatnya sehingga mampu menangkis senjata tajam tanpa terluka!



"Tahan...!" Tiba-tiba si jangkung berseru kepada teman-temannya. Bagaimanapun juga, nama Siang-to Ngo-houw terlalu besar untuk dikotori dengan pengeroyokan terhadap seorang gadis muda yang bertangan kosong. Di kota raja, nama Siang-to Ngo-houw sudah terkenal sekali. Mereka ini adalah bekas tokoh-tokoh besar di perkumpulan Hwa-i Kai-pang yang bertugas di luar kota raja. Baru setelah Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) mengalami musibah, yaitu dengan terbunuhnya dua orang pimpinannya, yaitu Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai sehingga perkumpulan itu menjadi berantakan, maka kelima orang ini datang ke kota raja. Kedua orang pemimpin Hwa-i Kai-pang ini terbunuh oleh Pendekar Sadis dan hanya itulah yang diketahui oleh Siang-to Ngo-houw. Mereka sama sekali tidak pernah mengira bahwa Pendekar Sadis pembunuh dua orang suheng mereka itu adalah pemuda yang kini berhadapan dengan mereka inilah!



Seperti telah diceritakan dalam cerita Pendekar Sadis, dua orang pimpinan Hwa-i Kai-pang itu dibunuh oleh Pendekar Sadis Ceng Thian Sin karena mereka berdua pernah membantu pengeroyokan sehingga tewasnya ayah bunda pendekar itu. Dan karena hanya sedikit saja orang yang mengenal muka Pendekar Sadis, maka lima orang jagoan inipun hanya mendengar namanya saja akan tetapi tidak mengenal Thian Sin.



Siang-to Ngo-houw adalah sute dari Lo-thian Sin-kai, dan memiliki tingkat kepandaian yang tidak banyak selisihnya dengan bekas tokoh Hwa-i Kai-pang itu. Tentu saja mereka itu lihai sekali, apa lagi kalau mereka maju berlima karena mereka telah menciptakan bersama suatu ilmu silat gabungan yang amat dahsyat. Mereka kembali ke kota raja setelah dua orang pimpman Hwa-i Kai-pang tewas dan melihat bahwa perkumpulan itu sudah tidak begitu baik lagi namanya, maka lima orang inipun tidak lagi mau membangunnya, bahkan mereka lain membantu tokoh sesat yang pada waktu itu paling terkenal di kota raja, yaitu Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng. Inilah sebabnya, maka sebagai tokoh-tokoh besar yang terkenal dan memiliki ilmu tinggi yang mereka andalkan, si jangkung yang memimpin adik-adiknya itu merasa malu untuk mengeroyok seorang gadis yang bertangan kosong, sehingga dia berteriak menahan adik-adiknya sebelum mereka itu sempat menggerakkan golok mereka. Empat orang adiknya memandang kepada si jangkung dengan sinar mata penuh pertanyaan. Akan tetapi si jangkung lalu menghadapi Kim Hong den mengangkat dada untuk menunjukkan kegagahan.



"Nona, Siang-to Ngo-houw memang sudah biasa maju bersama, akan tetapi belum pernah mengganggu wanita yang bertangan kosong. Maka, kami minta agar kalian berdua menyerahkan kunci atau maju bersama dengan menggunakan senjata."



Melihat sikap ini, Kim Hong malah mentertawakan. "Hik-hik, lagaknya! Apa sudah lupa betapa tadi yang berjuluk Siang-to Ngo-houw sama sekali tidak bersikap jantan, tidak seperti Lima Ekor Harimau akan tetapi lebih pantas menjadi Lima Ekor Tikus yang curang dan pengecut, menggunakan obat bius den menyerang orang-orang yang sedang tidur pulas? Hi-hik, kini berlagak lagi! Sungguh tidak lucu, malah menjemukan. Hayo tak perlu cerewet lagi, ingin kulihat apakah ilmu kalian juga sebesar kecurangan kalian!"



"Perempuan sombong!" Teriakan ini dilakukan oleh dua orang di antara lima tokoh sesat itu dan merekapun sudah menerjang maju dengan sambaran sepasang golok mereka. Terdengar bunyi berdesingan ketika empat batang golok itu menyambar dengan dahsyat menghujankan serangan maut ke arah tubuh Kim Hong. Akan tetapi, hanya dengan sedikit gerakan tubuh saja, sambaran golok-golok itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Kim Hong den hanya mengenai tempat kosong saja. Tiga orang lainnya kini tidak ragu-ragu lagi, apa pula mereka juga amat marah dan merasa terhina oleh ejekan Kim Hong tadi. Mereka mengeluarkan suara bentakan den mulailah lima orang itu mengurung Kim Hong sambil membuat langkah-langkah lebar memutari gadis itu. Mereka yang dapat menduga bahwa seorang gadis muda yang demikian tabahnya menantang mereka pasti memiliki kelihaian, kini segera menggerakkan ilmu yang mereka andalkan, yaitu Ngo-lian To-tin (Barisan Golok Lima Teratai). Langkah-langkah mereka teratur dan mereka itu merupakan rangkaian yang bekerja sama secara otomatis. Kadang-kadang sambil melangkah mengitari lawan, terdengar golok mereka bersiutan, digerakkan menembus udara, kadang-kadang berdencing karena saling sentuh sehingga suasana menjadi menegangkan.



Akan tetapi Kim Hong berdiri dengan tenang saja, same sekali tidak bergerak den hanya sepasang matanya yang bergerak-gerak mengikuti gerakan lima orang pengepungnya dan tentu saja pendengarannya juga mengikuti setiap gerakan orang yang berada di belakangnya. Seluruh urat syarafnya sudah siap siaga dan menegang, walaupun tubuhnya nampak tenang-tenang seenaknya saja. Gadis ini maklum bahwa lima orang pengepungnya bukanlah lawan ringan dan sama sekali tidak boleh dipandang rendah. Akan tetapi ia masih belum merasa perlu untuk mengeluarkan sepasang pedangnya, yaitu Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penaluk Iblis) yang berwarna hitam dan yang selalu disimpannya di balik baju itu. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, kalau tidak amat terpaksa, Kim Hong tidak akan mau mempergunakan pedang.



"Hiaaattt...!" Tiba-tiba si jangkung mengeluarkan teriakan nyaring dan sepasang goloknya sudah menyambar dengan gerak tipu Hong-cui-pai-hio (Angin Meniup Runtuh Dedaunan), sepasang golok itu berkelebat saling susul, yang kiri menyambar leher dan yang kanan menusuk lambung. Serangan ini dilakukan ketika dia berada di sebelah kanan dari Kim Hong.



"Hemm...!" Kim Hong menggeser kaki mengelak dan cara mengelaknya memang istimewa sekali, kakinya tidak terangkat, melainkan menggeser atau meluncur seolah-olah di bawah sepatunya terdapat roda yang membuat tubuhnya dapat meluncur. Akan tetapi cepatnya bukan main sehingga serangan sepasang golok itu gagal total. Akan tetapi, kiranya serangan pertama dari si jangkung ini merupakan pembukaan atau aba-aba, karena kini mereka berlima sepenuhnya mulai menggerakkan Ngo-lian To-tin atau Barisan Golok Lima Teratai itu dan memang hebat sekali gerakan mereka. Sepuluh batang golok itu bekerja sama dengan demikian rapi dan cekatan, susul menyusul dan bertubi-tubi, seolah-olah digerakkan oleh satu otak saja, saling bantu dan ke manapun tubuh Kim Hong mengelak, tentu ia sudah dipapaki oleh lain golok. Dan susunan serangan mereka itupun makin lama makin kuat dan berbahaya!



"Ciaaattt...!" Seorang di antara mereka yang berada di depan Kim Hong, menggunakan jurus Sin-eng Hoan-sin (Garuda Sakti Memutar Tubuh), sepasang goloknya itu tiba-tiba meluncur dengan gerakan membalik, amat berbahaya sekali dan saking cepatnya, sepasang golok itu lenyap bentuknya berobah menjadi dua berkas sinar yang menyilaukan mata. Kim Hong cepat mengelak dan sekali ini dengan loncatan ringan ke kiri, di mana ia disambut oleh sepasang golok yang dimainkan dengan jurus Kim-liong-hian-jiauw (Naga Emas Mengulur Cakar) dengan sepasang golok itu menusuk secara berantai. Kembali Kim Hong mengelak ke belakang di mana ia disambut pula oleh scrangan golok yang lebih berbahaya karena penyerangnya menggunakan jurus Giok-tai-wi-yauw (Sabuk Kemala Melilit Pinggang), sebuah gerakan yang indah sekali dan golok itu seolah-olah melengkung melalui belakang pinggang dan langsung menuju ke pinggang lawan. Untuk kesekian kalinya Kim Hong mengelak dan lawan ke lima yang berada di belakangnya sudah menyambutnya dengan sebuah tendangan kilat yang disusul oleh sambaran golok ke leher. Sepasang golok itu membuat gerakan menggunting dari kanan kiri dan itulah jurus yang dinamakan Ji-liong-jio-cu (Sepasang Naga Berebut Mustika).



Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilakukan dengan gencar, cepat dan kuat, juga saling membantu ini, yang maksudnya untuk menutup jalan keluarnya dan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk balas menyerang melainkan dipaksa untuk mengelak terus, Kim Hong lalu mengeluarkan suara melengking nyaring dan iapun sudah mainkan ilmu silat tangan kosong yang dinamakan Kong-jiu-jip-pek-to (Tangan Kosong Menyerbu Ratusan Golok) dan tubuhnya berkelebatan secara cepat bukan main! Lima orang jagoan itu terkejut sekali melihat betapa tubuh lawan mereka itu kadang-kadang lenyap dan demikian cepat gerakan gadis itu sehingga membuat mata mereka menjadi silau dan kabur pandangannya. Hebatnya, gadis itu kadang-kadang berani menyampok golok dengan tangan kosong dan tangan itu terasa demikian lunak seperti kapas sehingga tidak terluka oleh golok, namun di bawah kelunakan itu terkandung tenaga yang luar biasa kuatnya! Maklumlah Siang-to Ngo-houw bahwa mereka menghadapi seorang gadis yang benar-benar amat lihai, maka mereka bergerak dengan hati-hati sekali. Kerja sama mereka yang amat rapi itu tetap saja dapat mengimbangi ilmu silat istimewa dari Kim Hong dan membuat gadis itu masih sulit untuk dapat merobohkan seorang di antara mereka karena mereka itu selalu dalam posisi saling bantu dan saling melindungi. Memang lima orang itu telah memiliki ilmu silat yang kuat sekali. Seperti juga ilmu kepandaian mendiang suheng mereka, yaitu Lo-thian Sin-kai tokoh nomor satu dari Hwa-i Kai-pang, mereka memiliki dua macam ilmu silat yang menjadi andalan mereka. Pertama adalah ilmu silat tangan kosong yang disebut Ta-houw Sin-ciang-hoat (Ilmu Silat Sakti Pemukul Harimau) yang membuat tangan mereka menjadi sedemikian kerasnya sehingga kepalan tangan mereka itu mampu mengalahkan harimau dan memecahkan kepala binatang itu. Dan yang ke dua adalah ilmu yang berdasarkan ilmu silat tongkat Ngo-lian Pang-hoat (Silat Tongkat Lima Teratai). Ilmu ini mereka robah menjadi Ngo-lian To-hoat (Silat Golok Lima Teratai) dan dengan ilmu golok ini, mereka berlima telah menciptakan Ngo-lian To-tin (Barisan Go. lok Lima Teratai) yang amat tangguh itu.



Tentu saja kalau dibandingkan satu lawan satu, tingkat kepandaian Kim Hong masih jauh lebih tinggi, baik dalam ilmu silat maupun tenaga sin-kang, terutama sekali dalam hal gin-kang karena memang gadis ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang sukar dicari bandingannya. Akan tetapi karena mereka itu maju berlima dan membentuk barisan golok yang amat tangguh itu, Kim Hong yang bertangan kosong mengalami kesulitan juga untuk menundukkan mereka. Ia tetap tidak mau mengeluarkan pedangnya, karena merasa bahwa ia belum terdesak, hanya belum mampu merobohkan mereka.



"Heh, bandel, kenapa tidak menggunakan siang-kiammu itu?" berkali-kali Thian Sin berseru, akan tetapi Kim Hong hanya tersenyum saja.



"Darah lima ekor tikus ini terlalu busuk untuk mengotori pedang-pedangku!" akhirnya ia menjawab dan jawaban ini membuat Siang-to Ngo-houw menjadi semakin marah.



"Perempuan sombong!" Si jangkung berteriak marah dan memimpin adik-adik seperguruannya untuk mendesak semakin ganas. Akan tetapi tiba-tiba teriakannya itu yang disusul dengan tusukan golok ke arah dada Kim Hong, berobah menjadi teriakan kesakitan ketika tiba-tiba ada sinar hitam berkelebat dan terdengar suara meledak kecil yang diakibatkan oleh lecutan ujung rambut Kim Hong yang menotok pergelangan tangan yang memegang golok.



"Aduhhh...!" Golok itu terlepas dari pegangan tangan yang tiba-tiba terasa lumpuh dan sebelum si jangkung dapat memperbaiki posisinya, sebuah tendangan kaki kiri Kim Hong mengenai pahanya.



"Dess...!" Si jangkung terlempar dan menyeringai kesakitan, berusaha bangkit, akan tetapi jatuh terduduk lagi karena bekas tendangan pada pahanya itu membuat pahanya memar, matang biru dan rasa nyeri menusuk-nusuk sampai ke jantung!



Empat orang yang lain menjadi terkejut dan marah. Mereka bergerak cepat dan memang ilmu barisan Lima Teratai mereka itu sudah terlatih baik, bahkan sudah terlatih kalau-kalau ada di antara mereka yang terluka. Barisan itu memang berlima, akan tetapi mereka telah melatih sedemikian rupa sehingga dapat mereka mainkan berempat, bertiga, atau bahkan berdua tanpa menjadi kaku dan canggung. Kini, empat orang itu berkelebatan dan gerakan mereka berbeda dari gerakan ketika mereka berlima tadi, akan tetapi tidak mengurangi ketangguhan mereka.



Bagaimanapun juga, kini Kim Hong tidak hanya menghadapi mereka dengan kaki tangan kosong, melainkan ia telah mempergunakan senjatanya yang ampuh, yaitu rambutnya! Senjata ini bahkan lebih ampuh dari pada senjata lain, karena selain tidak terduga-duga datangnya, digerakkan oleh kepala, juga senjata ini dapat menjadi kaku atau lemas tergantung penggunaan tenaga sin-kang yang dikerahkan oleh gadis perkasa itu. Empat orang itu biarpun telah lama berkecimpung di dunia persilatan dan telah banyok menghadapi lawan tangguh, akan tetapi baru sekaranglah mereka bertemu lawan seperti itu, dan melihat betapa suheng mereka telah roboh, maka merekapun menjadi panik. Hal ini dapat terasa oleh Kim Hong, terasa dalam gerakan kerja sama yang tidak serapi tadi. Banyak terdapat lowongan-lowongan dan gadis perkasa itupun segera merempergunakannya.



"Hiaaaattt...!" Ia melengking dan tubuhnya menerjang ke depan, melompat ke atas dan kaki kirinya meneadang ke arah sepasang golok yang menyambutnya. Pemegang golok itu berteriak kesakitan dan sepasang goloknya terlempar, akan tetap sebelum dia dapat mengelak, kaki kanan Kim Hong sudah tiba.



"Bukkk!" Orang itu terlempar ke belakang dan terbanting keras, terjengkang dan napasnya terasa sesak, dadanya terasa jebol. Sampai lama dia hanya dapat terengah-engah sambil menekan dadanya.



"Haiiitttt...!" Kim Hong melengking lagi, rambutnya menyambar seperti seekor ular hitam, tepat menotok pundak seorang pengeroyok yang tiba-tiba saja berobah menjadi patung, tidak mampu bergerak dengan tangan kanan mengacungkan golok ke atas dan tangan kiri menusukkan golok ke depan. Kim Hong yang berhasil menotoknya dengan ujung rambutnya, segera menggerakkan tangan kiri menampar. "Plakkk!" Tubuh orang ke tiga inipun terpelanting dan sepasang goloknya terlempar, matanya menjadi juling dan dia duduk dengan kepala bergoyang-goyang karena bumi terasa berpusing di depannya.



"Hyaaaaattt...!" Kembali Kim Hong mengeluarkan suara lengkingan panjang, tubuhnya sudah melayang ke atas. Dua orang lawannya yang sudah menjadi gentar sekali itu menyambut tubuhnya dengan tusukan dan bacokan golok. Akan tetapi tiba-tiba tubuh yang ramping itu membuat gerakan salto di udara dan tahu-tahu dua orang itu kehilangan lawan mereka! Sebelum mereka sadar bahwa lawan yang amat lincah seperti burung walet itu berada di belakang mereka, tahu-tahu rambut kepala mereka dijambak oleh sepasang lengan yang kecil halus namun kuat.



"Dukkk...!" Keduanya mengeluh dan roboh, di kepala mereka tumbuh sebutir telur angsa dan kepala mereka terasa nanar dan pandang mata terasa berkunang!



Terdengar tepuk tangan dan Kim Hong menoleh sambil tersenyum memandang kepada kekasihnya yang bertepuk tangan memujinya. Bulan sudah naik tinggi dan sinarnya semakin cerah. Langit bersih sekali sehingga cuaca menjadi semakin terang.



"Bagus sekali cara engkau menjatuhkan mereka, Kim Hong." kata Thian Sin memuji.



Yang dipuji girang sekali dan bangga. "Ah, latihan yang menyenangkan. Tubuh terasa enak sekali!" kata Kim Hong sambil menggeliat seperti seekor kucing malas, muka diangkat seperti memandangi bulan, dada yang sudah membusung itu makin dibusungkan, pinggang ditekuk, kedua lengan yang masih tersingsing lengan bajunya itu diangkat ke atas dan ke belakang, menyanggul rambut yang tadi terlepas.



Di antara semua keindahan gerakan wanita, satu di antaranya yang paling mempesonakan hati pria adalah kalau wanita itu membereskan rambut kepalanya dengan mengangkat kedua lengan ke atas dan ke belakang! Gerakan ini mengandung kelembutan, keindahan dan kehalusan wanita sepenuhnya, bahkan nampak pada saat itu seperti gerakan yang penuh gairah yang menantang. Thian Sin merasa betapa bulu tengkuknya meremang dan ini tandanya bahwa dia telah terangsang memandang kekasihnya seperti itu. Diapun melangkah maju dan dipeluknya pinggang yang ramping dan sedang meliuk itu, ditariknya tubuh itu dan didekapnya kuat-kuat, lalu diciumnya mulut yang agak terbuka itu. Terdengar Kim Hong mengeluarkan suara seperti seekor kucing dan kedua lengan yang sedang menyanggul rambut itupun melingkar di leher Thian Sin, membuat rambut yang belum selesai disanggul itu terlepas dan terurai lagi. Mereka berdua tidak memperdulikan lagi lima orang yang telah dirobohkan tadi, tenggelam dalam buaian asmara, saling berangkulan, saling berciuman. Bahkan kesempatan itu dipergunakan oleh lima orang Siang-to Ngo-houw untuk bangkit perlahan-lahan, menahan keluhan sambil menyeringai, kemudian perlahan-lahan merekapun melarikan diri dari tempat itu.



"Eh, kita harus menangkap seorang!" Tiba-tiba Thian Sin melepaskan ciumannya. Akan tetapi Kim Hong menahan dengan rangkulannya, lalu gadis itu menggunakan tangan kiri melepas sebuah tusuk konde di atas telinga, mengayun tangannya. Terdengar jerit kesakitan dan seorang di antara Siang-to Ngo-houw terjungkal roboh dan tidak mampu bangkit lagi. Empat orang temannya melarikan diri dan agaknya melupakan seorang kawan mereka yang roboh. Sedangkan Kim Hong sudah menarik muka Thian Sin lagi, melanjutkan permainan mereka yang tertunda tadi, tenggelam dalam kemesraan dan pencurahan kasih sayang.



Bagi yang belum mengenal kedua orang muda ini tentu akan merasa heran melihat keadaan mereka. Akan tetapi, bagi pembaca yang sudah mengikuti perjalanan hidup mereka dalam cerita Pendekar Sadis, tentu tidak akan merasa heran. Latar belakang kehidupan mereka demikian suram dan gelapnya, pengalaman-pengalaman pahit getir telah membuat hati kedua orang muda ini terasa hambar akan segala peraturan yang dibuat oleh manusia, termasuk pernikahan. Mereka berdua itu saling menyinta, cinta yang tidak dibuat-buat, cinta yang memang timbul dari dalam hati mereka, bebas dari ikatan peraturan-peraturan umum. Mereka mengenal watak dan cacat masing-masing. Mereka saling mencinta dengan mata terbuka. Mereka tidak mau mengikat diri dengan pernikahan, walaupun di dalam hati mereka terdapat kasih sayang mendalam yang agaknya tidak memungkinkan mereka tertarik kepada orang lain. Kemesraan bisa saja timbul di antara mereka, di manapun juga, di saat apapun juga dan mereka tidak akan menyembunyikan perasaan mesra itu. Mereka berani bermesraan di manapun karena mereka berdua sudah tidak begitu mau memperdulikan lagi soal-soal peraturan dan hukum yang mereka anggap palsu dan pura-pura. Kalau mereka saling menyayang dan timbul gairah untuk saling memperlihatkan kasih sayang, untuk saling meraba memeluk dan mencium, mengapa harus disembunyi-sembunyikan? Mereka menganggap hal itu wajar dan tidak merugikan orang lain! Inilah sebabnya, maka biarpun sudah beberapa tahun hidup bersama di pulau kosong, sebagai suami isteri, mereka belum pernah menikah dalam arti kata disaksikan upacaranya oleh orang-orang lain, baik berdasarkan hukum agama, tradisi atau umum.



Tentu banyak orang yang akan mengernyitkan hidung dan mencibirkan bibir melihat keadaan mereka itu. Tentu banyak yang memberi komentar : tak tahu malu, tidak sopan, jorok dan cabul, kotor dan sebagainya. Di samping itu, mungkin ada pula yang membenarkan. Akan tetapi, bukan di situlah letaknya kebenaran. Bukan di dalam sehelai surat nikah, di dalam upacara agama, di dalam upacara tradisi, atau di dalam kesaksian para handai taulan letaknya kebahagiaan perjodohan. Melainkan di dalam cinta kasih! Apa artinya memiliki surat-surat lengkap, dengan upacara yang megah, dengan perayaan yang meriah, dengan penghormatan yang berlebihan, kalau di dalam sebuah pernikahan tidak terdapat cinta kasih? Bahkan banyak sekali suami isteri yang saling tidak merasa cocok, namun memaksa diri untuk hidup bersama karena adanya ikatan berupa surat atau upacara atau hukum-hukum itu. Akibatnya, biarpun pada lahirnya, oleh orang-orang lain, mereka nampak sebagai suami isteri yang hidup serumah dan rukun sampai kakek nenek, namun pada hakekatnya batin keduanya menderita hebat! Mau terbang menghindar, kaki sudah terikat oleh segala hukum dan pendapat umum.



Karena itu, tidak begitu penting mempertimbangkan benar tidaknya orang menjadi suami isteri dengan surat, dengan upacara, dan sebagainya. Yang terpenting adalah bahwa perjodohan merupakan pendekatan antara dua orang, pria dan wanita, untuk hidup bersama dan hal ini baru benar kalau dilakukan dengan dasar saling mencinta! Hanya ini syarat utamanya, yang lain-lain itu hanya embel-embel yang tidak begitu penting bagi kebahagiaan bersuami-isteri. Syarat utama itu, yalah cinta kasih kedua fihak, harus dipenuhi lebih dahulu, baru orang boleh memikirkan syarat-syarat lain yang umum.



Antara Thian Sin dan Kim Hong kadang-kadang terdapat ketidakcocokan karena memang keduanya memiliki kekerasan hati yang membuat mereka kadang-kadang tidak mau saling mengalah dan terjadi bentrokan. Namun, pada hakekatnya, di dasar atau lubuk hati mereka, kedua orang ini saling mencinta dengan amat mendalam sehingga pertentangan-pertentangan yang ada selalu dapat dikalahkan oleh rasa saling menyayang itu. Dan selain cinta kasih kedua pihak, juga di antara keduanya sudah terdapat suatu kepekaan bersama sehingga hanya dengan saling pandang saja mereka dapat menjenguk isi hati masing-masing.



Setelah mencurahkan kasih sayang yang timbul pada saat itu, keduanya menjadi lebih tenang dan Kim Hong melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, lalu menengok, memandang ke arah seorang di antara Siang-to Ngo-houw yang dirobohkarmya dengan tusuk konde tadi. "Akan kita apakan dia itu?"



"Dia penting sekali untuk membawa kita kepada kepalanya, kepada yang mengutusnya, atau kepada pemilik atau pemegang peta itu." kata Thian Sin dan keduanya lalu menghampiri orang itu.



Sambitan tusuk konde tadi menembus paha dan orang itu tidak mampu bangkit berdiri, hanya duduk sambil memijit-mijit pahanya, menggigit bibir menahan rasa nyeri. Dia menyumpah-nyumpahi empat orang saudaranya yang meninggalkannya begitu saja. "Bedebah! Pengkhianat mereka itu! Tidak mempunyai setia kawan sama sekali, keparat!" demikian dia menyumpah-nyumpah akan tetapi dia memandang dengan cemas ketika melihat Thian Sin dan Kim Hong menghampirinya. Baru sekarang dia tahu bahwa dua orang muda itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian hebat sekali. Baru gadis itu saja sudah mampu merobohkan mereka berlima, belum lagi pemuda itu! Mulailah dia menduga-duga siapa gerangan pasangan muda mudi yang demikian lihainya.



"Nah, engkau sudah membuktikan kelihaian kami?" Kim Hong mengejek. "Sekarang lebih baik engkau mengaku terus terang!"



"Aku telah kalah dan telah ditinggalkan teman-temanku, kalian mau bunuh, terserah. Mengaku apa lagi?" Orang itu mencoba untuk menutupi rasa takutnya dengan sikap gagah. Siang-to Ngo-houw terkenal sebagai orang gagah, maka diapun harus bersikap gagah.



"Sobat, kalian Siang-to Ngo-houw datang dan berusaha membunuh kami, berusaha merampas kunci emas yang ada padaku," kata Thian Sin. "Akan tetapi kami masih menaruh kasihan, tidak membunuh kalian. Maka, ceritakaniah, siapa yang mengutus kalian? Siapakah yang telah menguasai peta rahasia itu? Katakan dan kami akan membebaskanmu."



Wajah yang sudah pucat itu kelihatan semakin ketakutan. Orang itu menoleh ke kanan kiri, sikapnya ngeri dan ketakutan, lalu dia menggelengkan kepala keras-keras. "Tidak! Tidak ada yang mengutus kami. Aku tidak tahu!"



Thian Sin dan Kim Hong sudah cukup berpengalaman untuk dapat mengerti bahwa orang ini amat takut kepada yang mengutusnya. Lalu Thian Sin berkata kembali, "Sobat, engkau tentu tidak asing dengan Hwa-i Kai-pang, bukan?"



Orang itu nampak terkejut dan memandang kepada wajah Thian Sin dengan mata terbelalak. "Bagaimana engkau tahu?" dia balas bertanya.



"Aku mengenal dasar-dasar gerakan Ngo-lian Pang-hoat dalam ilmu golok kalian. Tentu kalian masih mempunyai hubungan dengan Hwa-i Kai-pang, atau lebih tepat lagi dengan Lo-thian Sin-kai tokoh utama Hwa-i Kai-pang itu."



"Dia adalah mendiang suheng kami! Siapa... siapakah engkau?"



Thian Sin maklum bahwa orang yang amat takut kepada kepalanya ini perlu dibuat gentar agar suka mengaku. "Aku adalah kenalan lama Hwa-i Kai-pang, dahulu aku dikenal sebagai Pendekar Sadis..."



"Ahhhh...!" Orang itu terbelalak dan berusaha menjauh seperti tiba-tiba melihat seekor ular yang amat berbabaya. "Pendekar... Sadis...?"



Diam-diam Thian Sin merasa girang melihat ketakutan terbayang di wajah itu. "Benar, dan engkau mengerti bahwa sebaiknya mengaku dari pada harus merasakan tanganku!" Dia sengaja mengancam.



"Tapi... tapi... aku takut..."



"Dan tidak takut kepada Pendekar Sadis?" kembali Thian Sin menghardik.



"Ahhh... ampunkan nyawaku... kami... kami disuruh..." Tiba-tiba terdengar suara berdesing-desing dan dua orang pendekar itu cepat meloncat untuk menghindarkan diri dari sambaran anak panah kecil yang meluncur dengan kecepatan kilat ke arah dada mereka tadi. Akan tetapi, pada saat itu terdengar pekik mengerikan dan orang yang mereka tanyai tadi terjengkang, berkelojotan dengan anak panah menembus dadanya!



"Setan...!" Kim Hong yang memiliki gerakan cepat itu sudah melayang ke arah dari mana datangnya anak panah tadi, akan tetapi ia tidak dapat menemukan orang. Selain cuaca remang-remang yang menjadi penghalang, juga agaknya pelepas anak panah itu memiliki kecepatan yang hebat pula, maka secepat itu telah menghilang. Ketika Kim Hong kembali lagi, ia melihat Thian Sin melepaskan tubuh yang tadi diperiksanya itu. Tubuh itu terkulai lemas tanda tidak bernyawa lagi.



"Orangnya sudah pergi, terlalu gelap untuk dapat mengejarnya. Kaukira siapa yang melakukannya? Teman-temannya tadi?"



Thian Sin menggelengkan kepala. "Tentu orang lain. Anak panah itu menembus jantung, bahkan mematahkan tulang iga. Jelas bahwa tenaga orang yang melepaskannya amat kuat, lebih kuat dari pada tenaga bekas-bekas lawanmu tadi. Dan ini membuktikan bahwa yang mengutus Siang-to Ngo-houw tadi, atau orang yang menguasai peta rahasia itu, bukanlah orang sembarangan. Kita berhadapan dengan penjahat besar yang mempunyai banyak pembantu lihai, maka kita harus berhati-hati."



Kim Hong menarik napas panjang, menyesal. "Akan tetapi ke mana kita harus mencarinya? Satu-satunya orang yang dapat menghubungkan kita kepadanya telah dibunuh."



"Tiada jalan lain kecuali menunggu. Dia telah mengirim Siang-to Ngo-houw dan gagal, kurasa seorang penjahat besar seperti dia tentu tidak mudah putus asa dan akan mengutus pembantu lain yang lebih cakap dan lebih kuat. Kita menanti saja. Umpan kunci emas masih ada pada kita dan tentu kakap-kakap besar akan berdatangan. Kita hanya tinggal waspada saja melihat ikan macam apa yang akan menyambar umpan."



Thian Sin dan Kim Hong meninggalkan mayat itu dan kembali ke rumah penginapan mereka. Karena tahu akan lihai dan berbahayanya musuh, ada sedikit ketegangan dalam hati mereka. Akan tetapi ketegangan ini membuat mereka menjadi semakin akrab, merasa semakin dekat dan harus saling melindungi. Semua ini membuat mereka akhirnya menumpahkan perasaan masing-masing dalam keadaan amat mesra, sehingga malam itu mereka sama sekali sudah melupakan ketegangan dan ancaman bahaya, hanyut dalam kemesraan.



Selama dua hari tidak terjadi sesuatu dan hal ini membuat Thian Sin dan Kim Hong merasa kecewa dan tidak sabar. Ikan yang dinanti-nanti tak kunjung muncul! Thian Sin tidak percaya bahwa kepala penjahat itu menjadi jerih. Perbuatannya membunuh seorang di antara Siang-to Ngo-houw itu saja sudah membuktikan bahwa kepala penjahat itu tidak menjadi jera dan jerih. Pasti akan muncul, pikirnya penuh keyakinan.



Malam itu mereka berdua pergi ke rumah makan terbesar di kota raja. Rumah makan ini terkenal sekali dengan masakan ikan-ikan laut. Rumah makan besar itu sudah setengah penuh ketika Thian Sin dan Kim Hong memasukinya, disambut oleh seorang pelayan dengan ramah dan pelayan itu menyodorkan daftar masakan.



Thian Sin dan Kim Hong tersenyum-senyum gembira membaca daftar masakan itu. Daftar yang sungguh luar biasa dan amat berbeda dengan yang terdapat di restoran-restoran lainnya. Selain terbuat dari kain yang indah, juga tulisannya amat indah, daftar itu memuat nama-nama masakan yang aneh-aneh.



"Jantung ular laut?" Kim Hong membaca sambil terbelalak. "Benarkah itu?"



"Ah, paling-paling hanya daging belut laut. Coba lihat ini. Masak Burung Hong Merah! Bukan main! Aku berani bertaruh bahwa ini tentu hanya masak ayam saus tomat, tentu saja kemerahan."



"Wah, ini ada Ca Kaki Biruang, ada Otak Ki-lin goreng, Sup Naga Hitam, dan Panggang Daging Srigala!" Teriak Kim Hong.



"Ha-ha, biruangnya tentu hanya babi, ki-lin itu tak salah lagi tentu babi hutan, naga hitam itu boleh jadi hanya daging ular hitam saja, dan srigala itu, apa lagi kalau bukan anjing?"



Mereka tertawa-tawa dan ketika pelayan datang, mereka bertanya dan memang sebagian besar dugaan Thian Sin tadi benar adanya. "Selain untuk penambah selera, juga untuk menguji kecerdasan tamu yang suka menduga-duga." kata si pelayan sambil tersenyum ramah. Maka sibuklah Kim Hong memillh masakan yang namanya serem-serem dan aneh-aneh itu. Ada yang disebut "siluman laut bongkok" yang ternyata hanyalah udang besar saja! Rajawali leher panjang ternyata hanya bebek! Betapapun juga, setelah hidangan dikeluarkan, sepasang muda mudi ini harus mengakui bahwa masakan di rumah makan itu memang istimewa lezatnya.



Ketika mereka berkelakar tentang nama-nama hebat dari masakan-masakan itu, seorang pemuda yang telah lebih dulu duduk tak jauh dari meja mereka, memandang kepada mereka dengan wajah ramah. Thian Sin melihat ini dan diam-diam dia memuji wajah yang tampan dan sepasang mata yang kelihatan cerdas itu. Akan tetapi, ketika pernah satu kali Kim Hong bertemu pandang mata dengan pemuda itu, ia tersenyum dan kedua pipinya menjadi agak merah. Sebagai wanita, ia segera merasa betapa sinar mata yang ditujukan kepadanya itu penuh dengan kekaguman dan kegairahan yang tidak disembunyikan. Kalau saja si pemandang tidak berkenan di hatinya, tentu Kim Hong sudah marah, akan tetapi, ada sesuatu pada wajah pemuda itu yang menarik hatinya, wajah tampan dan halus, sinar mata tajam dan dagu yang membayangkan kegagahan. Seorang pemuda yang tentu bukan orang sembarangan, pikirnya. Pula, melihat betapa pemuda itu diam-diam memperhatikan mereka dan tersenyum serta bersikap ramah bersahabat terhadap mereka, diam-diam di dalam hati Thian Sin dan Kim Hong sudah timbul kecurigaan. Mereka saling pandang dan tahu akan isi hati masing-masing yang menaruh curiga terhadap pemuda tampan itu. Siapa tahu, itulah ikan kakap yang mereka nanti-nanti selama dua hari ini! Secara sambil lalu, mereka mulai memperhatikan pemuda itu. Seperti juga mereka, pemuda itu memesan beberapa macam masakan dan kelihatannya cukup royal, sungguhpun tidak sangat gembul karena masakan-masakan itu hanya dicicipi sedikit-sedikit saja. Akan tetapi pemuda itu sungguh kuat sekali minum arak. Sudah ada sepuluh cawan diminumnya, dan mukanya masih nampak berseri, sama sekali tidak menjadi pucat atau merah seperti biasanya kalau orang mulai terpengaruh arak.



Pemuda itu berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, pakaiannya seperti pelajar, sederhana walaupun terbuat dari sutera yang cukup halus. Ketika itu, guci kecil araknya sudah kosong dan diapun menggapai kepada seorang pelayan yang lewat dekat. Setelah pelayan mendekat, dengan suara yang cukup lantang sehingga dapat terdengar oleh Thian Sin dan Kim Hong, pemuda itu bertanya, sambil memandang catatan pada daftar makanan, "Bung, selain Arak Bunga Surga seperti yang kausuguhkan tadi, apakah ada Arak Dewa Panjang Usia yang disimpan di dalam kamar pusaka dengan kunci emas?" Suaranya berlagu, terdengar lucu seperti orang membaca sajak sehingga beberapa orang menengok dan tersenyum. Pelayan itu sendiri tertawa.



"Ha-ha-ha-ha, kongcu pandai sekali membuat nama yang bagus. Biar saya usulkan kepada majikan agar menambahkan nama itu. Arak Dewa Panjang Usia! Bagus sekali!" kata si pelayan. "Akan tetapi sayang, arak yang ada di sini, yang terbaik hanyalah Arak BungA Sorga tadi."



"Baiklah, tambah seguci lagi." kata si pemuda yang wajahnya bulat itu. Alisnya yang hitam tebal itu bergerak-gerak, matanya berkilat dan senyumnya berseri. "Awas, jangan keliru mengambilkan Arak Bunga Neraka, ya?"



Beberapa orang tertawa keras atas kelakar pemuda ini. Thian Sin dan Kim Hong saling pandang. Bagi mereka, yang terpenting adalah disebutnya "kunci emas" tadi oleh si pemuda. Tak salah lagi, tentu pemuda ini mempunyai hubungan dengan urusan yang sedang mereka selidiki. Seorang utusan lainkah? Kalau benar demikian, sungguh luar biasa sekali kepala penjahat itu. Bermacam-macam saja pembantunya. Ataukah pemuda ini tidak sengaja dan hanya kebetulan saja menyebut kunci emas tadi? Kelihatannya begitu tenang saja, tidak memperlihatkan tanda-tanda hendak menghubungi mereka. Pemuda itu minum lagi sambil menyumpit hidangan di depannya, kemudian dengan lagak orang mabok, menggoyang-goyang kepala sedikit padahal matanya masih bening, diapun bernyanyi.



"Mengganyang kaki biruang

melahap sup naga

mengunyah daging srigala

minum arah bunga sorga!

betapa enak tak terkira

akan tetapi biruang naga dan srigala

mengepung diri kita!

betapa mengerikan jadinya! Hiiiiiihh!"



Kembali terdengar orang tertawa di sana sini mendengar sajak yang lucu ini. Kim Hong juga memandang dan memang pemuda tampan itu nampak lucu ketika menggoyang-goyang kepala sambil membaca sajak itu. Apa lagi kata terakhir yang membayangkan ketakutan itu, diucapkan dengan mata terbelalak dan muka membayangkan kengerian.



Thian Sin berbisik, "Dia inikah...?"



Kim Hong menggeleng. "Entah, tapi dia lucu."



Pada saat itu nampak seorang gadis muda memasuki rumah makan, disambut dengan penuh kehormatan oleh kepala pelayan sendiri. "Selamat sore, nona. Silahkan duduk. Apakah nona sudah pesan seperti biasa? Untuk beberapa orangkah?"



Gadis itu tersenyum dan jantung Thian Sin berdebar. Gadis yang manis dan memiliki daya pesona yang kuat! Terutama sekali lesung pipit di pipi kiri dan tahi lalat kecil di bawah mata kanan itu. Sungguh menyegarkan mata! Usia gadis itu kurang lebih dua puluh satu tahun dan melihat dandanannya, tentu seorang nona yang kaya raya. Pinggangnya tidak seramping pinggang Kim Hong, akan tetapi dada dan pinggul yang membusung itu mendatangkan gairah. "Kali ini aku sendirian saja, Kwa-lopek. Sediakan masakan kesukaanku, cepatan sedikit karena aku tidak akan lama di sini." jawab gadis itu dan dari percakapan antara gadis itu dan si kepala pelayan, mudah diduga bahwa tentu gadis ini amat dikenal dan merupakan seorang langganan yang baik dari restoran besar ini. Thian Sin juga melihat betapa beberapa orang yang berada di situ, mengangguk dengan hormat kepada si nona manis.



"Lopek, aku ingin duduk di meja ini, tidak begitu panas di sini, memperoleh angin dari luar. Malam ini panas sekali!" katanya sambil mengipasi leher dengan kipasnya. Bau harum menyambar ke arah meja Thian Sin dari gerakan kipas itu.



Meja yang dipilih adalah meja yang berdekatan dengan meja Thian Sin, di antara meja pendekar itu dan meja pemuda yang bersajak tadi. Akan tetapi meja itu dipakai oleh dua orang laki-laki bersama isteri mereka. Ketika mendengar bahwa nona itu memilih meja mereka, empat orang itu cepat-cepat bangkit berdiri dan berkata kepada kepala pelayan, "Biarlah hidangan kami dipindahkan ke meja lain agar meja ini dapat dipakai oleh nona..."



Gadis manis itu hanya memandang kepada mereka dengan anggukan sedikit sebagai pernyataan terima kasih. Mendongkol juga rasa hati Kim Hong melihat ini. "Ini namanya tidak mengenal budi!" katanya agak keras sehingga tentu saja terdengar oleh nona itu, akan tetapi karena ia bicara bukan sebagai penyerang langsung, nona itupun hanya melirik saja. Setelah dua pasangan itu pindah dan meja dibersihkan, nona itu lalu duduk sambil mengipasi lehernya. Kemudian diamblinya sebuah tas kecil, dibukanya dan dibereskan rambutnya sambil memandang sebuah cermin kecil yang berada di dalam tas. Akan tetapi, Thian Sin yang berada di belakang gadis itu agak ke samping, sempat melihat cermin itu dan melihat sepasang mata jeli memandang langsung kepadanya, kemudian sebuah di antara dua mata jeli itu berkedip kepadanya! Kedipan yang disengaja, kedipan yang ada maksudnya! Dan kini nampak sepasang bibir merah di cermin itu tersenyum kepadanya, memperlihatkan deretan gigi putih mengintai dari balik daging merah mulut itu! Sebuah tantangan yang manis!



Akan tetapi, kalau Thian Sin tertarik memandang kepada gadis manis itu melalui cermin di dalam tas yang sengaja diarahkan kepadanya, Kim Hong sebaliknya diam-diam memperhatikan pemuda yang bersajak tadi. Pemuda itupun jelas kelihatan tertarik sekali kepada gadis ini, dun wajah yang tadinya mengandung seri jenaka itu kini berobah serius, akan tetapi tetap saja kekaguman terbuka terpancar dari matanya ketika memandang gadis itu, seperti ketika memandang kepadanya. Diam-diam ada rasa tidak enak di hati Kim Hong, seolah-olah ia merasa bahwa ia telah memperoleh seorang saingan yang cukup berat! Maka ia mengerling ke arah gadis itu dan matanya yang tajam sempat melihat wanita itu mempermainkan cermin kecil di dalam tasnya. Akan tetapi, biarpun ia tahu bahwa melalui cemain itu si gadis manis tentu sedan menyelidiki sesuatu, Kim Hong tidak tahu bahwa wajah Thian Sin-lah yang terpantul di dalam cermin yang dipermainkan oleh jari-jari tangan gadis itu.



Tentu saja, sebasai seorang langganan yang baik, pesanan nona itu memperoleh pelayanan yang cepat sekali. Sebentar saja, semua hidangan yang dipesannya telah datang, diatur di atas meja depan nona itu, mengepulkan uap panas. Karena ia hanya seorang diri saja, maka yang dipesannya hanya empat macam masakan dan meja itu terlalu besar baginya, masih sebagian besar meja yang kosong. Nona itupun mulai makan dengan sikap tenang, sedikitpun tidak merasa canggung biarpun ia tahu bahwa banyak pasang mata pria memandang kepadanya, sebagian besar secara melirik sembunyi-sembunyi, kecuali mata beberapa orang pria, termasuk mata pemuda sastrawan tadi yang duduk berhadapan dengannya, dari mata Thian Sin yang duduk di arah belakangnya.





Thian Sin melihat pula betapa pemuda sastrawan itu menatap wajah orang yang sedang makan dengan asyik sekali. Hemm, agaknya dia akan membuat sajak dari gerakan mulut gadis yang sedang makan itu, pikirnya mendongkol karena tempat duduk pemuda itu lebih "strategis" dibanding dengan tempat duduknya yang hanya memungkinkan dia memandang wajah itu dari samping agak belakang saja.



"Huh, jalangmu kumat pula!" Tiba-tiba terdengar bisikan Kim Hong dan sebuah cubitan pada pahanya hampir membuat Thian Sin menjerit.



"Hushhh..." Bisiknya membalas. "Siapa tahu ia kakap pula..."



"Memang kakap untuk kejalanganmu!" Kim Hong masih panas hatinya. Melihat pemuda sastrawan itu agaknya mengalihkan perhatian, tertarik kepada si gadis yang baru datang saja sudah membuat hatinya panas, merasa tersaing. Apa lagi melihat Thian Sin juga longak longok! Ia mengenal watak Thian Sin yang romantis, yang suka akan kecantikan wanita dan mudah jatuh hatinya terhadap wajah cantik, akan tetapi iapun tahu bahwa di lubuk hatinya, Thian Sin hanya mencinta ia seorang. Dan iapun tahu bahwa ia tidak dapat menyalahkan Thian Sin, karena ia sendiri selalu tertarik dan kagum kalau melihat pria tampan dan gagah, walaupun cintanya hanya untuk Thian Sin seorang.



Tiba-tiba semua orang menengok ketika melihat masuknya seorang laki-laki tinggi besar yang berjalan agak sempoyongan. Jelaslah bahwa laki-laki tinggi besar ini sudah agak mabok, maka sungguh mengherankan sekali. Mengapa orang yang sudah agak mabok, yang berarti sudah terlalu banyak minum arak, sekarang memasuki restoran? Seorang pelayan segera menyambutnya.



"Tuan hendak makan? Silahkan, di sudut belakang masih ada meja kosong." Biarpun di ruangan depan juga masih ada beberapa buah meja yang kosong, akan tetapi pelayan yang cerdik ini sengaja memilihkan di sudut belakang agar orang tinggi besar yang sudah agak mabok dan kelihatannya kasar ini tidak mengganggu tamu-tamu lainnya.



Si tinggi besar yang usianya hampir empat puluh tahun itu melotot. Mukanya kasar dan kumis serta jenggotnya tidak terpelihara, pakaiannya juga kumal akan tetapi keseluruhan tubuhnya membayangkan kekuatan dan kekasaran. "Apa katamu? Di belakang? Tidak. Aku ingin duduk di meja ini!" Sambil berkata demikian, dia menunjuk ke arah meja yang sudah ditempati nona manis yang sedang makan itu.



Pelayan itu terkejut. "Harap tuan tidak membikin ribut, meja ini sudah ditempati oleh nona ini, apakah tuan tidak melihatnya?"



"Peduli apa? Yang dipakai hanya separuh meja juga tidak ada, masih banyak yang kosong! Ia hanya sendirian, dan meja ini untuk delapan orang! Masa hendak diborong sendiri? Pula, tidak baik membiarkan wanita muda dan cantik seperti ia ini duduk makan sendirian saja! Boleh kan aku duduk di sini menemanimu, manis?"



Gadis itu berhenti makan, memandang dengan alis berkerut. "Hemm, siapakah engkau? Tidak kenalkah engkau siapa aku maka berani kurang ajar?" gadis itu bertanya.



Si tinggi besar tertawa bergelak. "Hua-ha-ha-ha, karena belum kenal maka sekarang kita berkenalan! Aku Can Hoa, orang-orang menyebutku Hai-pa-cu (Macan Tutul Laut), di Yen-tai namaku terkenal sekali. Nona siapakah?" Dan si tinggi besar ini mau duduk begitu saja di atas bangku dekat nona itu.



"Pergilah dan jangan ganggu aku!" Nona itu berseru dan tangannya menampar ke arah muka orang itu.



"Plakkk!" Si tinggi besar itu menangkis dan akibatnya, nona itu hampir saja terjatuh dari atas bangkunya! Kiranya si tinggi besar itu menggunakan tenaga keras.



"Ha-ha-ha, nona manis, jangan terlalu galak Hai-pa-cu tidak biasa menghadapi wanita galak karena biasanya semua wanita jinak kepadaku, ha-ha-ha!" Hai-pa-cu Can Hoa itu tertawa bergelak.



Nona itu terkejut akan tetapi tidak kelihatan takut, bahkan ia menjadi marah dan meloncat turun dari atas bangkunya, alisnya terangkat dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi.



"Bangsat kurang ajar! Berani engkau mengganggu orang di tempat ini?" teriaknya dan iapun sudah siap untuk menyerang si tinggi besar itu. Dari gerak-geriknya, Thian Sin dan Kim Hong maklum bahwa gadis itupun bukan orang sembarangan dan belum tentu kalah kalau hanya oleh penjahat kasar itu saja. Kalau tadi nona itu hampir jatuh dari atas bangkunya ketika si penjahat menangkis, adalah karena nona itu tidak mengira bahwa si penjahat akan menangkis dengan pengerahan tenaga besar.



Akan tetapi sebelum gadis itu bergerak, tiba-tiba terdengar suara nyaring, "Maaf, nona. Saya kira untuk memukul seekor anjing kudisan tidak layak mempergunakan sebatang tongkat gading. Hanya akan mengotori tongkat indah itu saja."



Gadis itu memutar tubuh menengok ke kanan dan ternyata yang bicara itu adalah si sastrawan muda yang makan seorang diri tadi. Kini pemuda itu sudah bangkit dan meninggalkan mejanya, menghampiri nona muda yang cantik manis itu, lalu menjura dengan sikap sopan sekali.



Gadis itu memandang heran karena ia tidak pernah mengenal pemuda itu. Pula, iapun tidak mengerti apa yang dimaksudkannya. "Apa maksudmu?" tanyanya ragu.



Pemuda itu tersenyum dan nampak betapa tampannya wajah itu, sepasang matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan. "Maksudku, nona. Untuk menghajar anjing ini tidak sepatutnya kalau mempergunakan tangan nona. Biarlah aku yang mewakilimu untuk menghajarnya agar dia tahu sopan santun sedikit!"



Tanpa menanti jawaban nona itu, si sastrawan muda lalu membalik dan menghadapi penjahat tinggi besar yang kelihatan agak ragu-ragu melihat ada orang berani campur tangan.



"Hai, kamu Hai-ci-cu (Tikus Laut), apakah kamu tidak pernah sekolah?"



Pertanyaan itu begitu wajar dan akrab terdengarnya sehingga si tinggi besar terbawa hanyut dan otomatis diapun menggeleng kepala. "Tidak..." Akan tetapi diapun sadar dan mukanya menjadi merah, lalu mengepal tinju.



"Bocah lancang! Mau apa engkau mencampuri urusanku?" Dia melangkah maju, mengamangkan tinjunya yang besarnya hampir sama dengan besar kepala pemuda itu. "Apa kau ingin kepalamu pecah?"



Pemuda itu dengan lagak lucu meraba-raba kepalanya. "Kepala pecah? Wah, jangan ah, kepala cuma satu dipecah, lalu ke mana aku harus mencari gantinya?"



"Pemuda gila, pergilah jangan sampai aku marah!" Hai-pa-cu Can Hoa membentak lagi sambil mengamangkan tinjunya ke depan hidung pemuda itu. Si pemuda mengernyitkan hidungnya, lalu menggunakan dua jari tangannya untuk menutup lubang hidung sambil mundur dan menggeleng-gelengkan kepalanya.



"Huh, tanganmu bau! Tentu engkau tidak pernah mencuci tangan, tidak pernah mandi!" katanya dan karena hidungnya dijepit jari, maka suaranya menjadi lucu dan bindeng, membuat beberapa orang yang berada di situ tak dapat menahan ketawa mereka. Biarpun semua tamu maklum bahwa si tinggi besar itu adalah seorang penjahat, akan tetapi karena tidak ada yang mengenalnya, maka kesannya tidak begitu menakutkan. Apa lagi mereka semua rata-rata mengenal siapa adanya gadis manis yang diganggu itu maka tentu saja mereka semua berpihak kepada si nona dan semua orang menganggap bahwa si tinggi besar itu sungguh mencari penyakit. Munculnya pemuda sastrawan yang juga tidak dikenal orang itu mendatangkan kegembiraan dan keinginan tahu.



Si Macan Tutul Laut menjadi marah bukan main. Tadi dia sudah dimaki Tikus Laut, dan sekarang dikatakan tangannya bau dan dia tidak pernah mandi. Mukanya yang berkulit kasar hitam itu menjadi semakin hitam.



"Bangsat bermulut lancang! Engkau benar-benar sudah bosan hidup!" Setelah berteriak demikian, si tinggi besar ini sudah menubruk ke depan, kedua lengannya yang panjang itu bergerak ke depan mengirim serangan. Memang serangannya itu cukup dahsyat, yang kanan menghantam ke arah kepala lawan sedangkan yang kiri mencengkeram ke arah dada. Semua serangan ini dilakukan dengan pengerahan tenaga yang besar sehingga membawa angin pukulan yang cukup kuat. Akan tetapi, pemuda yang kelihatan lemah dan lucu itu sama sekali tidak merasa takut atau gentar, juga tidak nampak gugup sedikitpun juga. Menghadapi serangan seperti itu, dengan tenang saja dia melangkah mundur dan menarik kepalanya ke belakang dan kedua tangan lawan yang menyerangnya itu hanya mampu mendekati saja akan tetapi sama sekali tidak sampai mengenai tubuhnya! Dan diapun masih sempat menengok ke arah nona manis itu sambil tersenyum dan mengedipkan matanya, seolah-olah memberi isyarat, bahkan diapun sempat berkata, "Mari kita semua lihat, siapa yang bosan hidup. Anjing kudisan macam dia ini berani mengganggu seorang siocia terhormat di tempat umum, sungguh dialah sesungguhnya yang bosan hidup!"



Dia masih berkata-kata ketika serangan ke dua datang dengan hebatnya. Sekali ini, karena si tinggi besar sudah dapat menduga bahwa pemuda itu yang kelihatannya lemah sesungguhnya bukan lawan yang boleh dipandang ringan, telah mengirim serangan dengan lebih dahsyat lagi, terdorong oleh rasa marahnya. Dan nona itupun memandang dengan bingung. Thian Sin dan Kim Hong yang sejak tadi duduk tenang sambil memperhatikan, melihat betapa nona itu kelihatan bingung melihat ada orang membantunya. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari pandang mata mereka yang tajam den mereka merasa betapa anehnya sikap nona itu. Seolah-olah nona manis itu tidak menghendaki bantuan pemuda tampan itu.



Sementara itu, serangan ke dua itupun dielakkan dengan amat mudahnya oleh si pemuda yang masih tersenyum?senyum. "Hati?hati, jangan kau membuat rusak prabot rumah makan ini, karena engkau harus menggantinya nanti!" Pemuda itu masih sempat memperingatkan kepada penyerangnya yang menjadi semakin marah. Setelah empat lima kali menyerang tapi gagal dan selalu mengenai tempat kosong, akhirnya si tinggi besar itu mencabut senjatanya dari pinggangnya, yaitu sepotong rantai baja yang tadinya dipergunakan sebagai ikat pinggang atau sabuk. Ranta ini besar den berat, terbuat dari pada baja, seperti rantai yang biasa dipergunakan oleh tukang perahu. Sepasang matanya yang besar melotot den kemerahan, mulutnya cemberut dan hidungnya kembang kempis ketika si tinggi besar itu melangkah maju menghampiri pemuda yang mengganggunya.



"Wah. apakah engkau tukang perahu? Ataukah biasa menjagal kerbau dan rantai itu biasa kaupakai untuk mengikat kerbau yang hendak kausembelih? Hati?hati, rantai itu berat, jangan main?main, bisa-bisa menimpa kepalamu sendiri benjol!" Pemuda itu memperolok den semua orang yang kini sudah mulai percaya bahwa pemuda itu adalah seorang yang memiliki kepandaian lihai tertawa, bahkan ada yang berteriak agar si pemuda menghajar orang kasar yang telah menghina gadis itu. Si gadis itu sendiri tidak lagi duduk menghadapi mejanya, melainkan mundur-mundur mendekati meja Thian Sin dan Kim Hong. Ketika Thian Sin memandang dan gadis itupun kebetulan memandang kepadanya, sepasang mata Thian Sin bertemu dengan sepasang mata yang bening dan jeli, yang mengeluarkan sinar lain dari pada tadi. Kalau tadi sepasang mata di dalam cermin itu seperti menantang dan merangsang, kini sepasang mata itu seperti mengirim suatu permohonan, yaitu agar Thian Sin membantunya. Hal ini terasa benar oleh Thian Sin! Akan tetapi karena penjahat kasar itu sudah dihadapi oleh si pemuda sastrawan dan dia mulai percaya bahwa pemuda itu akan dapat mengatasinya, maka Thian Sin tidak bergerak dari tempat duduknya. Kim Hong juga diam-diam kagum terhadap pemuda sastrawan itu. Tak disangkanya bahwa pemuda sastrawan yang tadi bersajak dengan lucu, selain memiliki watak gagah berani membela wanita yang diganggu orang, juga ternyata memiliki kepandaian yang mengagumkan. Cara pemuda itu mengelak, tanpa gerak silat, seperti gerakan biasa saja, akan tetapi sedikitpun serangan-serangan si tinggi besar tidak pernah mampu menyentuhnya, menjadi bukti bahwa pemuda itu memang memiliki ilmu silat yang sudah mendarah daging dan tinggi sehingga setiap gerakannya sudah mengandung gerakan silat. Juga pemuda itu memiliki keberanian yang besar, terbukti ketika melihat lawannya mengeluarkan senjata rantai baja yang berbahaya itu, dia masih mampu menghadapinya dengan olok-olok, sedikitpun tidak merasa gentar. Padahal, Thian Sin dan Kim Hong dapat melihat bahwa penjahat itu bukan hanya kasar dan bertenaga besar, melainkan juga memiliki kepandaian yang tidak rendah dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Melihat gerakan orang kasar itu, Thian Sin dan Kim Hong dapat mengukur bahwa kepandaian si kasar ini sedikitnya tidak kalah oleh tingkat kepandaian seorang di antara Siang-to Ngo-houw! Jadi, bukan penjahat sembarangan saja, melainkan seorang penjahat yang sudah boleh dianggap sebagai tokoh dalam dunia kaum sesat.





Dugaan Pendekar Sadis dan kekasihnya ini memang tidak keliru. Hai-pa-cu Can Hoa memang sudah terkenal sekali di kota Yen-tai dan sekitarnya. Tentu saja dia tidak dikenal di kota raja dan dia belum cukup besar untuk berani beraksi di kota raja, di mana banyak terdapat penjahat besar dan orang-orang pandai. Maka, sungguh merupakan suatu keanehan kalau sekarang penjahat ini berani beraksi di kota raja, apa lagi mengganggu seorang nona cantik yang sudah dikenal banyak orang di tempat umum. Seolah-olah penjahat dari Yen-tai itu memang sengaja mencari perkara!



"Wirrr... siuuuuttt...!" Rantai baja itu yang panjangnya ada satu setengah meter, menyambar ganas dari atas ke bawah, ke arah kepala si pemuda sastrawan.



"Uhhh... luput!" Pemuda itu pada detik terakhir meloncat ke kiri sehingga rantai itu menyambar tempat kosong. Sebelum rantai itu menyentuh lantai, tangan yang kuat itu menyendalnya dan rantai itu sudah membalik dan kini dari bawah menyambar ke samping, ke arah kedua kaki lawan. Gerakan ini saja menunjukkan bahwa Hai-pa-cu memang sudah mahir sekali memainkan rantainya, dan juga tenaganya amat besar sehingga rantai itu seolah-olah hidup di tangannya.



"Eeiiittt... tidak kena lagi!" Si pemuda mengejek sambil meloncat ke atas, membiarkan rantai itu menyambar lewat di bawah kedua kakinya. Akan tetapi baru saja kakinya turun, rantai itu sudah menyambar lagi, kini dari atas ke bawah lagi, dengan gerakan menyerong ke kiri.



"Heiiit, luput lagi, sayang!" Si pemuda lagi-lagi mengelak dengan cepat bukan main, gerakannya seperti kacau balau, seperti monyet menari saja, akan tetapi dalam pandangan Thian Sin dan Kim Hong, mereka melihat kematangan gerak yang mengagumkan dan mereka menduga bahwa pemuda itu ternyata adalah seorang ahli silat tinggi, tentu seorang pendekar yang menyamar. Maka tentu saja keduanya merasa tertarik sekali.



"Wuuuttt... prakkk..." Sambaran rantai yang luput mengenai tubuh si sastrawan muda untuk ke sekian kalinya, kini menimpa meja. Pecahlah meja itu dan mangkok piringpun pecah berhamburan.



"Wah-wah-wah, apa kukata? Engkau memecahkan meja dan mangkok yang tadi kupakai. Engkau harus menggantinya! Sialan, jangan-jangan aku yang disuruh mengganti. Engkau pantas dihajar!"



Hai-pa-cu menjadi semakin marah dan kini dia sudah menubruk lagi, rantainya menyambar dengan membuat gulungan sinar melengkung lebar dari samping. Si pemuda menyambutnya dengan tangan.



"Plakk!" Dan ujung rantai itu membelit lengan si pemuda. Wajah si tinggi besar itu menyeringai kegirangan dan mengira bahwa dia kini dapat membalas. Ditariknya dengan pengerahan tenaga agar pemuda itu terbawa dan terpelanting. Namun, ternyata tubuh pemuda itu sama sekali tidak bergerak, seolah-olah seorang anak kecil menarik batu karang saja!



Dan pemuda itupun tersenyum-senyum, lalu tiba-tiba kakinya bergerak menendang, mula-mula kaki kiri lalu disusul kaki kanan. Tendangan pertama mengenai pergelangan tangan si tinggi besar yang memegang gagang rantai. Tidak keras, akan tetapi karena ujung sepatunya dengan tepat mengenai jalan darah, Hai-pa-cu mengeluarkan seruan kaget, lengannya seperti lumpuh dan tangannya tidak mampu lagi mempertahankan rantainya yang terampas. Sebelum dia tahu apa yang terjadi, tendangan ke dua datang. Kiranya pemuda itu menggunakan tendangan Soan-hong-twi, yaitu semacam tendangan berantai yang dapat dilakukan terus-menerus secara bergantian oleh kedua kaki.



"Desss...!" Tendangan itu keras sekali dan tepat mengenai dada Hai-pa-cu. Agaknya si pemuda sekali ini mengerahkan tenaga sin-kangnya karena tubuh lawan yang tinggi besar itu terlempar keras ke arah... meja Thian Sin dan Kim Hong!



KALAU tubuh tinggi besar yang terlempar itu terbanting dengan kerasnya ke atas meja, tentu meja itu akan remuk dan akan menimpa masakan-masakan di dalam mangkok yang tentu akan membuat kuah masakan memercik ke muka dan pakaian Thian Sin dan Kim Hong. Mereka tentu saja tidak menghendaki hal ini terjadi, maka keduanya sudah bangkit berdiri dan mengulur lengan. Dengan berbareng tangan mereka menerima tubuh itu dan mendorongnya kembali ke arah si pemuda sastrawan!



Melihat ini, pemuda sasterawan itu berseru kagum. "Bagus sekali!" Memang gerakan Thian Sin dan Kim Hong itu hebat dan hal ini hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Dapat mendorong kembali tubuh yang sedang melayang itu membutuhkan tenaga sin-kang yang lembut dan kuat. Bukan melawan tenaga luncuran tubuh yang melayang itu, melainkan memutarnya sedemikian rupa sehingga tenaga luncuran itu tidak patah bahkan ditambah oleh tenaga mereka berdua sehingga si tinggi besar itu kini melayang ke arah si sastrawan muda dengan lebih cepat dari pada tadi!



Hal ini memang disengaja oleh Thian Sin dan Kim Hong. Mereka tahu bahwa pemuda itu sudah mengenal mereka, atau setidaknya telah maklum akan kepandaian mereka, maka tadi si pemuda sengaja melontarkan Hai-pa-cu ke arah mereka. Tentu dengan maksud menguji, maka kini merekapun ingin menguji pemuda sastrawan yang aneh itu. Akan tetapi, agaknya pemuda sastrawan itu tidak berani menyambut lontaran yang kuat itu dengan tenaga sin-kang, melainkan dia miringkan tubuhnya dan mencengkeram leher baju si tinggi besar itu, kemudian dengan bentakan nyaring dia langsung melemparkan tubuh itu ke arah pintu rumah makan sambil berseru, "Pergilah!"



Tubuh Hai-pa-cu terbanting keluar rumah makan diiringi sorakan dan ejekan banyak orang. Si tinggi besar yang tadi bersikap sombong dan mengaku sebagai jagoan dari Yen-tai itu tidak berani banyak lagak lagi. Tanpa menoleh diapun merangkak bangkit dan segera melarikan diri dengan terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu.



Pemuda sastrawan itu kini menghampiri si gadis manis yang masih berdiri di dekat meja Thian Sin, menjura dengan senyum ramah. "Jangan khawatir, nona. Anjing itu telah kuusir dan persilahkan nona melanjutkan hidangan nona."



Gadis itu yang tadinya sedang memandang kepada Thian Sin, kini menoleh dan terpaksa menghadapi pemuda itu, mengangguk dan tanpa berkata apapun lalu kembali duduk menghadapi mejanya. Tentu saja pemuda sastrawan itu melongo menghadapi sikap dingin ini. Bukankah dia telah menolongnya dan mengusir laki-laki yang kasar tadi? Akan tetapi gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan terima kasih, bahkan ramah sedikitpun tidak! Dan pada saat itu, kepala pelayan sudah datang dan menghampirinya, menjura dan berkata dengan suara lirih dan hati-hati.



"Maaf, kongcu. Meja dan prabot makan itu..."



Pemuda itu agaknya masih merasa mendongkol oleh sikap si gadis yang tidak mengenal budi, maka kini dia menoleh memandang meja yang pecah-pecah dan prabot makan yang hancur, lalu mengangkat pundaknya. "Kau melihat sendiri, yang membikin rusak adalah anjing besar tadi. Apakah aku yang harus menggantinya?"



"Tapi... maaf, orang tadi sudah pergi dan dia berkelahi di sini dengan kongcu..." biarpun merasa segan, namun kepala pelayan itu terpaksa menuntut karena diapun takut mempertanggungjawabkan kerusakan dan kerugian itu kepada majikannya. Dan apa yang dilakukannya itu, menuntut kepada si pemuda sastrawan, juga bukan merupakan hal yang tidak benar karena bukankah perkelahian itu terjadi antara si tinggi besar dan si pemuda sastrawan? Dan karena si tinggi besar sudah pergi, siapa lagi kalau bukan pemuda itu yang harus menggantinya? Apa lagi pemuda itu bukan kelihatan sebagai seorang miskin.



"Sudahlab, lopek. Masukkan semua kerugian itu ke dalam perhitunganku. Aku yang akan membayar ganti ruginya." Tiba-tiba gadis itu berkata, tanpa mengangkat muka dan melanjutkan makan seolah-olah tidak terjadi sesuatu.



Pemuda sastrawan itu tersenyum dan mendekati meja nona itu. "Ah, sebenarnya tidak perlu begitu, nona. Biarlah aku saja yang mengganti semua kerugian."



"Biarlah, karena aku yang menjadi gara-gara semua itu, sungguhpun aku sama sekali tidak pernah minta atau mengharapkan bantuan darimu." Jawaban ini sungguh dingin dan anehnya, kembali nona itu melirik ke arah Thian Sin sehingga Kim Hong yang sejak tadi melihat ini, mengerutkan alisnya. Pasti ada apa-apanya sikap gadis ini terhadap Thian Sin, pikirnya. Bagi Kim Hong, tidak heranlah melihat gadis-gadis tertarik kepada kekasihnya yang memang tampan dan ganteng, akan tetapi mengapa gadis itu begitu memperhatikan Thian Sin, padahal, bukankah yang telah membantunya adalah pemuda sastrawan itu dan pemuda itupun sama sekali tidak dapat dibilang buruk, bahkan tampan dan menarik sekali!



Akan tetapi, pemuda itu tidak nampak bingung atau kecewa mendengar ucapan itu. "Aku mengerti, nona. Aku tahu bahwa tanpa bantuanku sekalipun, anjing itu sama sekali tidak akan mampu mengganggumu. Hanya kupikir, tidak sepantasnya kalau nona sendiri yang turun tangan menghajar orang kasar macam dia. Padahal, andaikata tidak ada aku sekalipun, di depan nona, terutama dengan hadirnya dua orang pendekar yang berilmu tinggi seperti kedua orang yang duduk di sebelah kiri itu, penjahat kecil macam Hai-pa-cu itu akan mampu berbuat apakah?" Berkata demikian, pemuda itu menoleh kepada Thian Sin dan Kim Hong, lalu menjura ke arah mereka. Gadis itupun menoleh dan iapun tersenyum manis kepada Thian Sin.



"Akupun tahu dan merasa kagum sekali kepada mereka." katanya.



Mendengar ini, Kim Hong tertawa dan berkata, "Eh, sobat sastrawan yang hebat, setelah mejamu remuk, mengapa engkau tidak makan bersama kami sekalian belajar kenal?"



Thian Sin juga cepat bangkit dan menjura kepada gadis itu. "Agaknya kita semua saling mengagumi, bagaimana kalau kita berempat makan semeja dan minta disediakan hidangan baru yang segar? Sudikah nona...?"



Tidak seperli ketika menghadapi pemuda sastrawan tadi, kini gadis ini tersenyum manis dan berkata, "Terima kasih, akupun ingin sekali berkenalan dengan ji-wi..." Lalu gadis tu memanggil pelayan, menyuruh pelayan membersihkan meja baru dan mereka berempatpun lalu duduk di satu meja.



"Ha-ha, sungguh baik sekali nasibku hari ini. Perkenalkanlah, aku she Be bernama Kok Siang seorang pelancong dari Thian-cin. Sungguh berbahagia sekali hatiku dapat berkenalan dengan tiga orang yang lihai dan amat mengagumkan." Sambil berkata demikian, pemuda itu bangkit dan menjura kepada mereka bertiga, satu demi satu, sikapnya akrab, ramah dan kocak sekali sehingga Kim Hong tersenyum dan merasa semakin suka kepada sastrawan yang berwatak lembut, tidak pemarah dan gembira ini.



"Aku she Bouw, bernama In Bwee." kata gadis itu, lebih ditujukan kepada Thian Sin dari pada kepada dua orang yang lain karena ketika memperkenalkan dirinya, matanya tidak pernah melepaskan wajah Thian Sin.



"Nama yang indah sekali!" kata Bu Kok Siang, sastrawan muda yang usianya kurang lebih dua puluh tiga tahun itu. "Dan aku pernah mendengar bahwa di kota raja ada seorang hartawan besar. Nama Bouw-wan-gwe (Hartawan Bouw) amat terkenal bukan hanya karena kaya raya melainkan juga karena dermawan..."



"Ah, berita dilebih-lebihkan. Bouw-wan-gwe adalah ayahku, dan jangan terlalu memuji..." kata Bouw In Bwee dan sekali ini mau tidak mau dipandangnya Kok Siang sambil tersenyum simpul.



"Aha, kiranya puteri Bouw-wan-gwe! Wah, dibandingkan dengan harta kekayaan orang tuamu, aku tidak lebih hanya seorang jembel saja, siocia!" kata pula Kok Siang.



"Hemm, saudara Bu terlalu merendahkan diri." tegur Kim Hong tersenyum.



"Eh, eh, sampai lupa. Ji-wi (kalian berdua) belum memperkenalkan diri," kata Kok Siang, dan sepasang pendekar itu melihat sinar aneh berkilat dari kedua mata pemuda itu, sinar kecerdasan sehingga mereka dapat menduga bahwa di balik sikap yang tak acuh itu sebenarnya tersembunyi perhatian yang besar.



"Namaku Ceng Thian Sin dan ia adalah Toan Kim Hong." kata Thian Sin sambil lalu, akan tetapi dia memperhatikan kalau-kalau kedua orang itu mengenal namanya. Akan tetapi, gadis itu tidak kelihatan terkejut, dan pemuda itupun hanya mengerutkan alisnya.



"Ceng Thian Sin...? Serasa pernah aku mendengar nama ini, seperti tidak asing bagiku, akan tetapi... baru sekarang aku berjumpa dengan taihiap..."



"Ah, buang saja taihiap itu, engkau sendiripun berkepandaian hebat, saudara Bu."



"Tidak ada sekuku hitam Ceng-taihiap dan juga Toan-lihiap... ah, nama Toan Kim Hong sungguh indah sekali!"



Kim Hong tersenyum dan menatap wajah ganteng itu. "Hi-hik, agaknya saudara Bu Kok Siang ini selain pandai bersajak, pandai ilmu silat, juga mempunyai kepandaian untuk merayu dan memuji-muji nama wanita. Sungguh mempunyai banyak macam kepandaian!"



Ucapan ini sebenarnya dapat dianggap sebagai tamparan, akan tetapi karena Kim Hong mengucapkannya dengan nada sungguh-sungguh, bukan mengejek, dan sambil tersenyum, maka pemuda itupun tertawa gembira.



Mereka makan minum sambil bercakap-cakap gembira. Thian Sin dan Kim Hong mendengar bahwa In Bwee selain menjadi puteri seorang hartawan yang kaya, juga ia sejak kecil mempelajari ilmu silat sehingga mencapai tingkat yang cukup tinggi sehingga andaikata tadi Kok Siang tidak turun tangan, ia sendiripun akan sanggup menghajar penjahat kasar itu. Karena selain sebagai seorang gadis kaya, juga ia merupakan seorang gadis ahli silat, maka tidaklah mengherankan kalau In Bwee suka melakukan perjalanan seorang diri, dan malam itu memasuki restoran tanpa teman lagi, seperti biasa seorang gadis kang-ouw yang bebas. Adapun Bu Kok Siang menurut pengakuannya adalah seorang perantau yang bertempat tinggal di Thian-cin dan kebetulan sedang melancong ke kota raja. Baru tiga hari dia berada di kota raja. Semua nampaknya kebetulan saja, akan tetapi diam-diam pasangan pendekar ini menduga dengan penuh keyakinan bahwa kedua orang muda yang menjadi sahabat baru itu sama sekali bukan secara kebetulan saja bertemu dengan mereka. Bahkan pemunculan Hai-pa-cu tadipun bukan tidak mungkin sudah direncanakan terlebih dahulu. Akan tetapi, tentu saja mereka tidak mau menyinggung hal ini. Makin cerdik keadaan lawan, makin menariklah permainan itu! Mereka sendiri mengaku sebagai dua orang yang melancong kota raja, datang dari utara tanpa memberi tahu tentang hubungan mereka berdua. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka adalah teman-teman baik saja.



Mereka lalu berpisah sebagai sahabat-sahabat baru setelah saling berjanji akan mengunjungi Bouw In Bwee yang mengundang mereka. Akan tetapi yang terutama mendapat perhatian dan undangan khusus dari In Bwee adalah Thian Sin.



"Tidak salah lagi mereka berdua itu tentu ada hubungannya dengan urusan ini," demikian kati Thian Sin setelah mereka tiba di kamar hotel mereka.



"Akupun berpendapat demikian. Dan gadis itu she Bouw, sungguh kebetulan sekali sama dengan she dari kepala penjahat besar di kota raja yang pernah kita dengar dari Liong-kut-pian Ban Lok itu."



"Kau maksudkan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng?"



Kim Hong mengangguk. "Sikapnya amat mencurigakan dan... dan... ia selalu memperhatikan engkau, dan kelihatan selalu hendak memikat..."



"Eh, kau cemburu?" Tentu saja Thian Sin sudah dapat mengetahui sejak tadi betapa In Bwee selalu memikatnya dan betapa Kim Hong melihat hal ini dengan cemburu yang disembunyikan.



"Siapa cemburu? Sastrawan itupun ganteng dan menarik sekali!" jawab Kim Hong.



Thian Sin maklum bahwa kekasihnya itu sengaja menyebut nama Kok Siang untuk membalasnya.



"Pemuda itupun patut diperhatikan, dia tidak kalah menarik dan mencurigakan dari pada In Bwee. Karena itu, aku ingin agar engkau mencari dan menyelidikinya."



"Dan engkau sendiri akan menyelidiki In Bwee?"



"Tepat! Kita membagi tugas dan kurasa dari mereka itulah kita akan mengetahui tentang rahasia peta yang hilang."



"Hemm, tugas yang manis dan menyenangkan bagimu, ya?"



"Kim Hong, keadaan kita sama saja."



"Maksudmu?"



"Aku bisa tertarik kepada In Bwee yang manis, akan tetapi engkaupun bisa tertarik kepada Kok Siang yang ganteng. Bukan engkau saja yang bisa cemburu, akupun bisa."



"Jadi..."



"Nah, kita uji diri dan batin sendiri. Sedikit main-main, apa salahnya? Dan yang terpenting, kita bukan mengejar asmara, melainkan mengejar rahasia peta. Ingat!" Thian Sin tersenyum. Kim Hong membalas pandang mata itu, tersenyum pula. Keduanya mengerti lalu saling rangkul dan keduanya roboh di atas pembaringan sambil tertawa-tawa dan segera mereka tenggelam dalam kemesraan dan pencurahan kasih sayang mereka satu sama lain.

***

Gadis yang sedang membaca kitab seorang diri di pondak mungil tengah taman bunga itu sungguh nampak cantik manis di bawah sinar lampu merah. Dan pondok yang terbuka jendelanya itu dipenuhi oleh keharuman bunga-bunga mawar yang sedang mekar dan juga bunga-bunga lain yang memenuhi taman. Tidak ada seorangpun pelayan menemani Bouw In Bwee. Memang In Bwee ingin bersendirian membaca kitab dan ia mengusir semua pelayan dari pondok di taman bunga keluarganya yang kaya raya. Bulan di luar pondok cemerlang karena memang malam itu menjelang bulan purnama yang akan muncul dua malam lagi. Bulan sudah nampak bundar dan cerah.



Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di dalam pondok itu sudah berdiri seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan hermuka hitam. Sekali pria itu mengebutkan lengan bajunya, lampu yang terletak agak jauh, terietak di atas meja, padam! Ini membuktikan betapa hebatnya tenaga sin-kang dari pria itu. Keadaan dalam pondok menjadi gelap remang-remang karena kini hanya mendapatkan penerangan sedikit sinar bulan.



Akan tetapi In Bwee tidak nampak terkejut. Memang ia sudah menanti sejak tadi. Ia hanya bangkit berdiri, menoleh ke arah pria itu.



"Paman..." katanya lirih sebagai sambutan.



"In Bwee, bagaimana hasilnya?"



"Aku sudah berhasil menghubungi mereka, paman. Akan tetapi aku harus bertindak hati-hati sekali. Mereka berdua memiliki ilmu yang amat tinggi, dan mengingat bahwa pemuda itu adalah Pendekar Sadis, hatiku sungguh tidak tenang sekali."



"Hemm, sudah kukatakan bahwa engkau tidak perlu mengandalkan ilmu silatmu. Untuk menghadapinya dalam hal itu, serahkan kepadaku kelak. Yang penting, engkau harus dapat memikatnya, menarik perhatiannya sehingga dia dapat menceritakan dengan terus terang tentang kunci emas itu. Bagaimana hasilnya malam kemarin itu?"



"Sudah kuatur dengan bantuan Hai-pa-cu seperti yang paman kehendaki. Akan tetapi sungguh sial, ada yang campur tangan dan sama sekali di luar rencana kita. Muncul seorang sastrawan muda dari Thian-cin bernama Bu Kok Siang yang memiliki kepandaian tinggi juga. Melihat gerakannya ketika dia mengalahkan Hai-pa-cu, tentu kepandaiannya lebih tinggi daripada tingkatku."



"Hemm... jadi engkau gagal karena ulah sastrawan jail itu?"



"Gagal sama sekali sih tidak. Aku berhasil berkenalan dengan mereka, juga dengan sastrawan itu tentu saja, dan aku sudah menjadi kenalan mereka, malah sudah kuundang dia untuk datang ke sini..."



"Bagus, kau atur saja dan jangan engkau main-main, In Bwee. Kalau berhasil, selain engkau akan mewarisi ilmu-ilmu simpananku, juga engkau akan memperoleh sebagian dari harta pusaka Jenghis Khan itu. Akan tetapi kalau engkau menolak dan mengkhianatiku, awas kau, aku tidak akan mengampunimu lagi. Ayah bundamu akan mendengar semuanya!"



"Paman..." Gadis itu terisak.



"Jangan khawatir, aku tidak akan sekejam itu, engkau adalah keponakanku sendiri. Akan tetapi engkau harus mentaati perintahku, hanya sekali ini. Mengerti?"



"Baik, paman."



"Nah, aku pergi. Lakukan secepat mungkin dan harus berhasil!" Tiba-tiba orang tinggi besar itu berkelebat dan lenyap dari situ seperti setan saja.



In Bwee menyalakan lampu dengan jari-jari tangan gemetar. Wajahnya masih agak pucat dan jantungnya berdebar tegang. Setelah lampu menyala, barulah hatinya tenang, akan tetapi pikirannya mengenang keadaan dirinya dan tidak dapat ditahan lagi gadis itupun menangis sambil meletakkan kepala di atas kedua lengannya di atas meja. Entah berapa lamanya ia terhanyut dalam kedukaan ini ia tidak ingat lagi.



"Nona In Bwee... kenapa kau menangis...?"



In Bwee terkejut sekali dan sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat keluar dari kamar pondok itu dan ia berhadapan dengan seorang pemuda yang tadi berdiri di luar jendela, pemuda yang bersikap tenang dan bukan lain adalah Bu Kok Siang!



"Ah, engkau..." In Bwee berkata dengan hati lega ketika melihat siapa orangnya yang menegurnya tadi. Akan tetapi segera ia teringat akan kedatangan orang pertama tadi, maka sambil berusaha menatap wajah di bawah sinar bulan yang sayu itu, ia bertanya, "Sudah lamakah engkau tiba di sini?"



Kok Siang mengangguk. "Lama juga, aku tadi berlindung di balik rumpun bunga di sana."



"Ahh...! Jadi... jadi kau tadi melihat...?"



Pemuda itu mengangguk.



"Ahh...!" In Bwee menjadi terkejut sekali dan menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya.



Sentuhan tangan pemuda pada pundaknya itu halus sekali, sama sekali tidak mengandung kekurang ajaran dan suara itu tergetar penuh perasaan. "In Bwee... nona... tenangkanlah hatimu. Aku tidak sengaja melihat semua itu tadi, tapi... percayalah aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun juga. Aku bersumpah! Dan kau jangan khawatir, aku... aku siap untuk melindungimu terhadap ancaman apapun juga, dengan taruhan nyawaku!"



Gadis itu menurunkan kedua tangannya dan sampai lama ia memandang wajah pemuda itu, memandang dengan penuh keheranan dan keraguan. Kemudian ia berkata. "Mari kita bicara di dalam. Di sini bisa terlihat orang lain."



Tanpa berkata-kata, In Bwee memasuki pondok itu diikuti oleh Kok Siang. Kemudian, setelah menutupkan daun jendela, In Bwee bersikap agak tenang dan mencoba untuk menahan getaran suaranya yang masih terguncang.



"Bu-kongcu... eh, saudara Kok Siang, kau duduklah."



Mereka duduk berhadapan dan kembali di bawah penerangan lampu kini morcka saling pandang dan sinar mata mereka bertaut sampai lama sekali. Gadis itu lalu menunduk dan menarik napas panjang.



"Jawab pertanyaan-pertanyaanku. Pertama, mengapa malam-malam begini engkau datang ke sini, bukan berkunjung sebagai tamu melainkan datang seperti ini, seperti pencuri melalui taman?"



Pertanyaan itu tidak mengandung kemarahan, akan tetapi tatapan mata itu demikian tajam seolah-olah gadis itu hendak menjenguk isi hati pemuda itu. Kok Siang yang biasanya berjenaka itu, sekarang nampak serius.



"Entahlah... aku tidak dapat tidur... siang tadi ingin mengunjungimu akan tetapi selalu teringat akan perbedaan keadaan antara kita, membuat aku ragu-ragu. Tapi malam ini... aku begitu gelisah, ingin sekali bertemu denganmu, atau setidaknya melihatmu, atau paling tidak melihat rumahmu dan... di sinilah aku. Ketika lewat di rumahmu, aku semakin ingin melihatmu, maka dengan lancang aku meloncati tembok dan ke taman ini dan sungguh kebetulan sekali aku melihatmu dan tadi..."



"Cukup. Kini pertanyaan ke dua. Apakah kau tadi mengenal orang itu?"



Pemuda itu menggeleng. "Terlalu gelap untuk dapat melihatnya dan gerakannya demikian cepat, seperti setan menghilang saja. Akan tetapi dia itu pamanmu, bukan?"



Kedua tangan gadis itu mencengkeram lengan pemuda itu, bukan serangan, melainkan cengkeraman karena terkejut. "Kau... kau tahu...?"



Kok Siang menggeleng kepala. "Aku tadi lapat-lapat mendengar engkau menyebut dia paman, dan... aku... aku tidak sengaja mendengar ancamannya yang terakhir tadi, yaitu kata-kata ini : Nah, aku pergi, lakukan secepat mungkin dan harus berhasil."



"Ahhh...!" Entah apa artinya keluhan ini, mungkin juga lega karena pemuda itu tidak mengetahui semuanya, atau juga khawatir. Kok Siang tidak dapat menyelami hati gadis ini. Akan tetapi In Bwee melepaskan cengkeraman tangannya, lalu duduk kembali.



"Sekarang, jawablah sejujurnya, ah, jangan sembunyikan rahasia, jawablah sejujurnya... mengapa engkau bersikap seperti ini kepadaku? Mengapa engkau tadi mengatakan bahwa engkau hendak melindungi aku terhadap ancaman apapun juga, dengan taruhan nyawamu?" Sekali ini, dengan terang-terangan In Bwee memandang wajah pemuda itu, sinar matanya seperti hendak menembus dan mengetahui isi hati pemuda itu.



Berdebar rasa jantung Kok Siang. Beberapa kali dia menelan ludah sebelum menjawab, lalu diapun berkata, suaranya lirih dan tergetar penuh perasaan, "Demi Tuhan, aku bersumpah bahwa apa yang hendak kukatakan ini adalah sejujurnya. Nona... eh, Bwee-moi, terus terang saja, selama hidupku belum pernah aku jatuh cinta. Akan tetapi sejak aku bertemu denganmu di restoran itu, melihat sikapmu menghadapi penjahat, aku sudah jatuh hati kepadamu dan aku sudah mengambil keputusan bahwa engkaulah satu-satunya wanita yang kuingin agar menjadi jodohku. Akan tetapi... mendengar bahwa engkau adalah puteri seorang hartawan besar, timbul keraguanku karena aku tidak ingin dinamakan pengejar harta dan hendak mengawini hartamu. Aku... aku cinta padamu, Bwee-moi. Nah, terus terang saja kukatakan ini, dari pada kusimpan-simpan menjadi racun hatiku. Dan melihat engkau menangis begitu sedih tadi... aku merasa bahwa akulah orangnya yang harus melindungimu dengan taruhan nyawaku."



"Ah, tidak... tidak...!" Dan tiba-tiba In Bwee menutupi mukanya dan menangis lagi!



"Bwee-moi, jangan salah sangka. Aku sungguh tidak menginginkan hartamu. Aku sendiri bukan orang yang terlalu miskin, walaupun tidak sekaya ayahmu. Akan tetapi aku mempunyai cinta dan biarpun baru satu kali kita saling berjumpa, akan tetapi aku sudah yakin bahwa aku cinta padamu dan... aku bersedia menjadi jodohmu walaupun engkau tidak membawa harta secuwilpun."



Akan tetapi ucapan itu bahkan membuat In Bwee menangis semakin sedih.



"Bwee-moi, maafkan aku... ampunkanlah kalau aku menyinggung perasaanmu..."



In Bwee menggeleng kepala. "Biarkan aku menangis... biarkan aku menangis..." dan iapun mengguguk. Kok Siang diam saja hanya memandang dengan hati terharu dan ia tahu bahwa gadis itu bukan tersinggung melainkan berduka dan agaknya baru sekarang memperoleh kesempatan untuk menumpahkan semua kedukaan hatinya melalui air matanya.



Setelah tangisnya mereda, akhirnya gadis itu mengangkat muka dan memandang kepada pemuda itu dengan wajah pucat dan mata merah. Sampai lama ia memandang, kemudian berkata lirih, "Aku percaya... sudah kurasakan kemarin malam akan tetapi, aku... aku sungguh tidak berharga untuk menjadi isterimu atau isteri siapapun juga." Kembali ia menangis.



Kok Siang terkejut dan cepat memegang tangan yang tergetar itu. "Ah, moi-moi... kenapa engkau bicara seperti itu? Engkau seribu kali lebih berharga dari pada aku!"



"Engkau tidak mengerti... ah, baiklah, dengarkan akan kuceritakan padamu. Duduklah yang tenang, dan dengarkan ceritaku. Tiga tahun yang lalu terjadinya malapetaka itu...! Kautahu, sejak kecil aku berlatih silat, dibimbing oleh pamanku yang amat tinggi ilmu silatnya. Aku berlatih dengan beberapa orang murid pamanku. Setelah aku dewasa, tiga tahun yang lalu, aku berusia delapan belas tahun... dan keadaan pamanku itu, biarpun dia lihai... ah, dia bukan orang baik-baik... dia bergaul dengan orang-orang jahat, bahkan menjadi pemimpin mereka... demikian pula murid-muridnya... ah, aku terpikat oleh seorang suhengku... sampai... sampai pada suatu hari, dalam kemabokanku karena kami minum arak, agaknya disengaja oleh suhengku itu, aku... aku menyerahkan diriku padanya..." Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali. Kemudian ia mengepal tinjunya dan mengangkat muka. "Nah, sudah kaudengar baik-baik? Apakah engkau masih berani mengaku cinta padaku?"



Pengakuan itu bagaikan halilintar menyambar kepala pemuda itu. Dia menjadi nanar dan mukanya pucat, matanya menjadi sayu dan merenung kosong. Akan tetapi, dia segera menggoyang kepalanya dan juga mengepal tinju.



"Bwee-moi, aku cinta padamu sekarang! Yang kucinta adalah engkau sekarang ini, bukan engkau dahulu-dahulu dan bukan pula keperawananmu! Nah, sudah dengarkah engkau?"



Ucapan yang keras itu mengejutkan In Bwee, juga mengherankannya. "Tapi... tapi..."



"Lanjutkan ceritamu!"



"Aku merasa menyesal sekali dengan peristiwa itu dan aku... aku lalu membunuh suhengku itu! Aku tahu bahwa dia sengaja memikat dan melolohku dengan arak keras, dan aku tahu bahwa aku sama sekali tidak cinta padanya dan bahwa diapun hanya mau mempermainkan aku. Paman, yaitu suhu kami, tahu akan hal itu. Dia membantuku, merahasiakan hal itu. Kalau dia memberitahu kepada ayah, tento ayah akan marah sekali dan mungkin aku akan diusir, tidak akan menjadi ahli warisnya karena ayahku tidak suka anak perempuan. Nah, paman membantuku, menyimpan rahasia itu akan tetapi sebaliknya aku harus membantunya."



"Membantunya? Membantu apa?"



"Macam-macam, pokoknya yang mendatangkan uang. Bahkan sering aku disuruh mencuri barang-barang berharga milik ayah dan ibu untuknya, dan aku disuruh pula melakukan kejahatan bersama murid-murid dan anak buahnya..."



"Ahhh!"



"Aku terpaksa... aku takut kalau sampai ayah ibu tahu bahwa aku sudah bukan gadis lagi... aku bahkan terus menerus menolak kalau mau dikawinkan... ah, betapa aku telah menderita hebat... bukan hanya karena keadaanku, akan tetapi juga karena penekanan paman..." Gadis itu menangis lagi dan kini tanpa ragu-ragu lagi pemuda itu maju dan memegang tangannya.



"Bwee-moi, pandanglah aku. Nah, percayakah engkau bahwa aku cinta padamu? Mencinta dengan murni dan tulus, bukan hanya mencinta keperawananmu atau harta bendamu?"



Mereka saling pandang dan gadis itu mengangguk. "Kalau engkau percaya dan engkau dapat membalas atau menerima cintaku, dengarkan baik-baik. Engkau telah bertindak keliru. Semestinya, engkau berterus terang kepada ayah bundamu dan menghadapi segala akibatnya. Dengan membiarkan dirimu diperalat oleh orang lain, berarti engkau semakin dalam terperosok. Sekarang, kauceritakanlah kesemuanya kepadaku..."



"Tidak... aku tidak berani... engkau tidak tahu betapa lihainya pamanku." Gadis itu berkata dengan muka pucat dan mata liar memandang ke kanan kiri. "Engkau pergilah, Siang-ko, pergilah dulu... biarkan aku berpikir dengan matang... kedatanganmu terlalu tiba-tiba. Besok... besok atau lusa kita bertemu lagi, di sini... malam-malam begini... sekarang kau pergilah..."



Kok Siang menghela napas, tidak berani memaksa. "Baiklah, akan tetapi ingatlah selalu bahwa di dunia ini ada Bu Kok Siang yang akan melindungimu dengan taruhan nyawa, yang akan tetap mencintamu dan tidak memperdulikan riwayatmu yang sudah lalu. Nah, selamat tinggal, sampai jumpa besok atau lusa malam."



"Baik, Siang-ko... kalau engkan melihat lampu merah di pondok ini, jendelanya terbuka, berarti aku menantimu di sini..."



Pemuda itu mengangguk, menggenggam kedua tangan itu, kemudian mcloncat keluar dan lenyap dalam kegelapan malam. In Bwee memandang ke arah lenyapnya pemuda itu dengan mata sayu, kemudian termenung-menung dan akhirnya iapun menangis lagi sendirian, menahan isaknya agar tidak menimbulkan suara. Peristiwa yang baru saja terjadi itu terlalu hebat baginya. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan yang mendekatinya, kemudian terdengar suara orang di balik jendela.



"Hemm, engkau diam-diam telah mempunyai pacar, ya? Baik, selesaikan tugasmu sampai berhasil dan engkau akan menikah dengan pacarmu itu, aku yang akan membujuk orang tuamu agar setuju. Akan tetapi kalau engkau mengkhianatiku, pacarmu itu akan kubunuh dan rahasiamu akan kuumumkan tidak hanya kepada ayah bundamu, akan tetapi kepada semua orang!"



"Paman...!" In Bwee berseru kaget sekali akan tetapi bayangan itu telah berkelebat lenyap dan In Bwee hanya dapat merenung dengan muka pucat. Kemunculan guru atau pamannya yang lihai itu seketika membuyarkan harapan dan khayalnya yang timbul bersama munculnya pemuda sastrawan itu. Sedikit harapan itu bagaikan awan tipis tersapu badai.



***





"Bu-kongcu...! Tunggu sebentar...!"



Bu Kok Siang yang sedang berjalan seorang diri di pagi hari itu, tentu saja mendengar teriakan suara wanita ini dan diapun cepat berhenti melangkah dan menoleh. Wajahnya segera berseri dan bibirnya tersenyum ketika dia melihat siapakah wanita yang memanggilnya itu. Kiranya yang memanggiinya itu adalah wanita cantik yang telah dikenalnya di dalam rumah makan, yang bernama Toan Kim Hong!



Setelah wanita itu tiba di depannya, Kok Siang cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil berkata, "Ah, kukira siapa, tidak tahunya nona Toan. Dan harap jangan menyebutku kongcu (tuan muda), membuat aku menjadi malu saja."



"Selamat pagi, Bu... twako! Biar kusebut twako, biarpun mungkin aku lebih tua. Engkau tahu, wanita selalu ingin dianggap lebih muda." kata Kim Hong tersenyum.



Kok Siang tertawa. "Dan memang nampaknya engkau jauh lebih muda dari pada aku, nona. Sepagi ini engkau hendak ke manakah? Dan mengapa nona sendirian saja? Mana saudara Ceng Thian Sin yang gagah perkasa itu?"



"Dia thiggal di kamarnya di hotel. Aku memang sengaja keluar hendak mencarimu."



Pemuda itu mengangkat kedua alisnya dan memandang heran. "Lihiap... eh, nona mencari aku? Ya nasib mujur! Sungguh beruntung sekali. Ada keperluan apakah gerangan...?"



Kim Hong tertawa, manis sekali. "Kita sudah saling berkenalan, apakah kalau tidak ada urusan penting tidak boleh mencari dan mengunjungi? Tadi aku lewat di hotelmu dan engkau tidak ada, lalu kulihat engkau berjalan sendirian, seperti orang tergesa-gesa, maka kupanggil. Apakah aku mengganggumu? Kalau begitu biarlah aku pulang lagi saja."



"Eh, eh... nanti dulu. Tentu saja aku girang dapat bertemu denganmu, nona. Akupun belum sempat mengunjungi rumah penginapan kalian, dan kebetulan berjumpa di sini. Nah, ke mana kita pergi sekarang untuk merayakan pertemuan ini?"



"Aku ingin bercakap-cakap denganmu, Bu-twako."



"Kalau begitu, mari kita pergi ke taman umum di tepi sungai, di sana indah dan sepi. Tidak enak bercakap-cakap di tepi jalan seperti ini."



Mereka lalu berjalan bersama menuju ke taman yang luas itu. Kota raja terkenal dengan taman-tamannya yang indah, akan tetapi hanya beberapa buah saja yang terbuka untuk umum, di antaranya taman di tepi sungai yang dikunjungi oleh dua orang muda itu Banyak mata yang bertemu dengan mereka di jalan memandang pasangan ini dengan kagum karena memang pasangan ini cocok sekali. Yang wanita cantik jelita, yang pria juga tampan dan ganteng. Dan keduanya tidak merasa canggung berjalan bersama, seolah-olah memang mereka telah menjadi sababat baik sejak dahulu. Di sepanjang perjalanan menuju ke taman bunga itu, Kim Hong mendapat kenyataan bahwa pemuda itu sudah hafal akan keadaan kota raja dan menunjukkan tempat-tempat penting kepadanya, seperti seorang penunjuk jalan yang pandai dan ramah.



Pagi itu di taman tepi sungai masih sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang mengunjungi dan berjalan-jalan di dalam taman, dan mereka itu tentulah pendatang-pendatang dari luar kota. Ada pula yang pesiar naik perahu di tepi sungai. Kim Hong dan Kok Sang memilih tempat duduk di tepi kolam ikan emas, di atas sebuah bangku panjang di mana mereka duduk berdampingan.



"Nah, sekarang kita berada di tempat sepi, berdua saja. Apakah yang hendak kaukatakan kepadaku, nona?"



"Bu-twako, bukan aku yang hendak mengatakan sesuatu, akan tetapi engkaulah yang sebaiknya mengatakan dengan terus terang kepadaku tentang dirimu..." kata Kim Hong sambil menatap wajah tampan itu dengan tajam dan penuh selidik.



Pemuda itu mengerutkan alisnya. "Maksudmu?"



Kim Hong memutar tubuhnya, sepenuhnya menghadapi pemuda itu dan pandang matanya mencorong, mengejutkan hati pemuda itu. "Bu-twako, kiranya tidak perlu lagi engkau bersandiwara. Kemunculanmu di restoran itu tentu bukan hal yang kebetulan saja. Engkau membawa suatu rahasia dan engkau tentu telah mengenal kami, setidaknya engkau mengetahui sesuatu tentang kami. Benarkah itu?"



Hening sejenak. Pemuda itu masih mengerutkan alisnya dan kini pandang matanya juga serius, berkilat dan penuh semangat, tidak lagi disembunyikan di balik kejenakaan dan kegembiraannya.



"Bagaimana engkau dapat menduga seperti itu, nona? Adakah sesuatu yang mencurigakan dalam tindak tandukku selama ini?" Dia memancing karena masih meragukan ucapan Kim Hong tadi yang dianggapnya hanya duga-dugaan belaka.



Kim Hong tersenyum, senyum yang mengandung ejekan. "Kaukira kami begitu bodoh? Engkau seorang yang memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi engkau bersikap bodoh dan berkelakar. Kemudian, dengan sengaja engkau melemparkan Hai-pa-cu Can Hoa yang kaurobohkan di restoran itu kepada kami. Ya, kami tahu bahwa dengan sengaja engkau melemparnya kepada kami, dan tentu saja ini berarti bahwa engkau ingin menguji kami dan berarti pula bahwa engkau telah tahu atau menduga sesuatu tentang kami. Nah, kuminta engkau bicara blak-blakan saja, kecuali kalau engkau hendak menganggap kami sebagai musuh."



Sejenak pemuda itu memandang kagum, lalu menarik napas panjang. "Aihh, sungguh aku telah berlaku ceroboh sekali, tidak tahu menghadapi gunung Thai-san yang menjulang tinggi, tidak tahu bahwa nona amatlah cerdas dan pandai. Tentu sikapku itu telah memancing tertawa dalam hati kalian. Maafkanlah. Terus terang saja aku mengetahui ketika kalian menghadapi Siang-to Ngo-houw, dan biarpun aku tidak mendengar sendiri percakapan antara kalian dengan mereka, akan tetapi aku dapat menduga mengapa kalian dicari oleh mereka itu. Tentu karena urusan... peta rahasia dan kunci emas, bukan?"



Kim Hong tidak terkejut, melainkan tersenyum. Memang ia dan Thian Sin sudah menduga bahwa pemuda ini tentu ada kaitannya dengan urusan itu. "Bagus, kiranya engkaupun tersangkut. Tidak tahu engkau berdiri di pihak manakah?" katanya sambil melirik tajam.



Kok Siang menggelengkan kepala. "Tidak berdiri di pihak manapun, melainkan di pihakku sendiri. Aku hendak menyelidiki siapa yang telah membunuh pamanku."



"Pamanmu?"



"Ya, Louw siucai adalah pamanku."



"Ahhh...!"



"Engkau tentu pernah mendengarnya."



Kim Hong mengangguk. "Sastrawan yang telah membantu keluarga Ciang menterjemahitan peta kuno itu?"



"Benar, dia itu pamanku. Paman membantu mereka menterjemahkan peta kuno dan beberapa hari kemudian dia terbunuh. Tentu pembunuhnya menghendaki agar dia tidak membocorkan rahasia tentang peta itu."



"Hemm, mungkin saja Su Tong Hak, paman Ciang Kim Su yang kurasa bukan orang baik-baik itu." kata Kim Hong.



"Akupun tadinya menduga demikian. Akan tetapi aku ingin tahu secara pasti agar tidak salah tangan. Aku harus membalas kematian pamanku itu. Dia amat mencintaku dan dia seperti ayahku sendiri. Aku sudah tidak mempunyai ayah bunda dan paman Louw itu kakak dari mendiang ibuku, merupakan pengganti orang tua bagiku. Dan dia dibunuh orang tanpa dosa!" Pemuda itu mengerutkan alis dan mengepal tinju.



Kim Hong merasa kasihan. "Jangan khawatir, Bu-twako, aku... kami akan membantumu. Kamipun sedang menyelidiki mereka, yaitu mereka yang merampas peta kuno itu. Kami adalah utusan dari petani Ciang Gun atau mendiang petani itu karena diapun dibunuh orang. Kami sedang menyelidiki perkara ini. Menurut keterangan Su Tong Hak, Ciang Kim Su juga lenyap. Kami merasa curiga. Tentu ada permainan kotor dalam urusan ini dan diapun bilang bahwa peta yang mereka bagi dua itu, yang berada di tangannya, juga dicuri orang. Kami sedang menyelidiki, di tangan siapa gerangan peta itu."



"Hemm, dan kunci emas itu berada di tangan kalian, bukan? Aku sudah tahu bahwa rahasia itu meliputi peta dan kunci emas."



"Ya, dan kami hendak menggunakan kunci emas itu untuk menjadi umpan memancing datangnya ikan yang menguasai peta."



"Dan lihat, kurasa ada ikan-ikan yang datang!" tiba-tiba pemuda itu berkata sambil melirik ke arah kiri. Kim Hong juga melirik ke kiri dan memang benar ada sekelompok orang, sepuluh orang jumlahnya, mendatangi taman itu dan mereka itu nampaknya bukan seperti pelancong biasa.



"Hemm, agaknya benar, mereka tentu anak buah yang dikirim ke sini." kata Kim Hong.



"Jangan khawatir, aku akan membereskan mereka kalau mereka berani mengganggumu!" Kok Siang berkata sambil bangkit berdiri. Akan tetapi Kim Hong memegang lengannya dan menariknya duduk kembali.



"Jangan, Bu-toako. Kalau mereka bergerak, tentu mereka itu bermaksud untuk menyerangku, menangkap atau merampas kunci. Mereka datang untuk aku, sama sekali tidak ada hubungannya dengan engkau. Kau duduk sajalah dan biar aku menghajar mereka."



Ketika sepuluh orang itu tiba di situ, Kim Hong masih saling berpegang tangan dengan Kok Siang dengan maksud mencegah pemuda ini menghadapi orang-orang yang kelihatan kasar dan kuat-kuat itu. Seorang di antara mereka, yang rambutnya riap-riapan dan matanya agak juling, yang nampaknya sebagai pemimpin sepuluh orang itu, tertawa. Perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang.



"Ha-ha-ha-ha, kiranya si manis ini mempunyai pacar di mana-mana, sering berganti pacar! Kawan-kawan, sekali ini kita tidak boleh gagal. Tangkap si manis ini dan bunuh saja pacar barunya!"



Kim Hong adalah seorang wanita yang pernah menyamar sebagai Lam-sin selama beberapa tahun, hal ini berarti bahwa ia pernah berkecimpung di dunia sesat, kaum penjahat, maka ucapan itu sesungguhnya tidak aneh atau asing baginya. Ia sudah terbiasa mendengar kata-kata kasar. Ucapan kasar tidak akan memarahkannya, akan tetapi tuduhan bahwa ia berganti-ganti pacar, bahwa Kok Siang adalah pacarnya yang baru, membuat kedua pipinya berobah merah. Hanya biasanya, Kim Hong tidak pernah memperlihatkan perasaan hatinya. Tidak ada seorangpun di dunia ini, kecuali Thian Sin tentunya, yang dapat menduga isi hatinya. Maka, biarpun pada saat itu ia sedang marah, namun wajahnya tetap berseri dan senyumnya bertambah manis.



Sepuluh orang itu telah mengepung bangku di mana Kim Hong dan Kok Siang tadi duduk dan dari gerakan kaki mereka tahulah Kim Hong bahwa biarpun orang-orang ini nampak kasar, namun mereka adalah ahli-ahli silat pilihan! Terutama sekali si mata juling itu ternyata memiliki kepandaian yang tinggi, dengan gerakan yang begitu ringan tanda bahwa gin-kangnya sudah mencapai tingkat yang tinggi. Maka diam-diam iapun terkejut sekali. Melihat gerakan si mata juling ini, agaknya akan merupakan lawan yang berat dan amat berbahaya bagi Kok Siang, maka iapun mengambil keputusan untuk menandingi sendiri pemimpin gerombolan ini. Maka, sebelum gerombolan itu menyerbu dan membahayakan Kok Siang, ia sudah melangkah maju mendekati pemimpin gerombolan itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah hidung orang.



"Eh, mata juling gendut yang bermulut busuk! Kalau engkau dan anjing-anjingmu ini mampu menangkapku, biar aku berjanji akan memberi ciuman sepuluh kali kepadamu!"



Mendengar ucapan ini, si mata juling dan teman-temannya tertawa. "Ha-ha-ha, nona manis, sungguhkah itu? Memberi ciuman dengan suka rela? Ha-ha-ha!"



"Tentu saja, aku tidak pernah berbohong!" jawab Kim Hong dan mendengar ini, Kok Siang mengerutkan alisnya. Kenapa wanita cantik dan gagah perkasa ini melayani segala macam orang kasar seperti mereka?



Akal Kim Hong ini berhasil. Tadinya, kepala gerombolan yang sudah mendengar betapa pemuda sastrawan itu pernah mengalahkan Hai-pa-cu, bermaksud untuk lebih dulu mengeroyok dan membunuh si pemuda, baru kemudian, menawan gadis itu seperti yang telah diperintahkan kepadanya. Akan tetapi, mendengar ucapan Kim Hong dan melihat betapa manisnya gadis itu tersenyum kepadanya, dengan janji yang demikiain mesra, diapun tak mampu menahan gejolak hatinya lagi. Bagaimanapun juga, dia percaya kepada kepandaiannya sendiri dan kepada kekuaten anak buahnya yang sebenarnya adalah beberapa orang sutenya dan murid-muridnya.



"Ha-ha-ha, bagas sekali! Nona manis, engkau agaknya belum pernah mendengar nama Tiat-ciang Lui Cai Ko, maka berani menantangku. Bersiaplah untuk menciumku sepuasnya, ha-ha-ha!" Setelah tertawa bergelak, dia memberi isyarat kepada dua orang sutenya untuk membantunya, sedangkan kepada tujuh orang muridnya dia berkata tegas, "Bunuh kutu buku itu!"



Tujuh orang kasar itu adalah murid-murid pilihan dari Tiat-ciang Lui Cai Ko. Mendengar perintah suhu mereka, tujuh orang ini lalu mencabut pedang masing-masing dan dengan gerakan gagah mereka melintangkan pedang di depan dada, lalu memasang kuda-kuda yang nampak kokoh kuat. Kuda-kuda mereka bermacam-macam, ada yang memasang kuda-kuda dengan kedudukan kaki Jao-pian-se, Tu-li-se, Kung-se biasa atau Su-se, dengan kedudukan pedang yang bermacam-macam pula. Ada yang dilintangkan di depan dada, ada yang diangkat ke atas kepala, ada yang menuding ke bumi dan ada yang menjulang ke langit.



Akan tetapi, rata-rata mereka itu memiliki kuda-kuda yang indah dan kuat, tanda bahwa mereka telah memiliki ilmu pedang yang bukan sembarangan. Melihat ini, diam-diam Kok Siang terkejut juga. Dia pernah mendengar nama Tiat-ciang(Tangan Besi) Lui Cai Ko itu, seorang begal atau perampok tunggal yang pernah membuat nama besar di sebelah utara kota raja. Maka dia amat mengkhawatirkan keadaan Kim Hong dan karena dia dapat melihat dari gerakan para pengepungnya yang tujuh orang itu bahwa mereka adalah orang-orang yang merupakan lawan tangguh, maka Kok Siang tidak berani bersikap ceroboh. Diapun cepat mengeluarkan sepasang senjatanya, yaitu Im-yang Siang-pit (Sepasang Tangkai Pena Im Yang), yang kiri terbuat dari pada perak dan yang kanan terbuat dari pada emas. Dan sepasang pit ini memang benar-benar dapat dipergunakan untuk menulis di samping untuk senjata.



Melihat betapa pemuda itu mengeluarkan senjata sepasang pit itu, tiba-tiba seorang di antara para pengepung itu berseru, "Kiranya engkaua dalah Im-yang Siang-pit Bu Siucai!" Memang sebenarnya, nama pemuda sastrawan itu banyak dikenal di dunia kang-ouw. Yang membuat dia terkenal, pertama adalah gurunya dan ke dua adalah sepasang senjatanya itulah. Gurunya adalah datuk kaum sesat di utara, yaitu Pak-san-kui, biarpun pemuda ini tidak menerima datuk itu sebagai guru langsung. Pak-san-kui tertarik melihat bakat pemuda ini dan menurunkan beberapa macam ilmunya yang tinggi, sedangkan Bu Kok Siang juga hanya tertarik akan ilmu silat yang tinggi dari datuk itu, akan tetapi dia tidak suka melihat cara hidup gurunya sehingga setelah menerima pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi, terutama ilmu Im-yang Siang-pit itu, diapun melepaskan diri dan tidak pernah mau berdekatan atau mencampuri urusan suhunya yang terkenal sebagai seorang datuk sesat. Dan di dunia kang-ouw, pemuda yang telah mempunyai titel siucai ini, yang menerima ilmu silat tinggi dari seorang datuk sesat, menggunakan senjatanya untuk menentang kejahatan itu sendiri. Maka nama julukannya adalah sepasang senjatanya itu yang lebih dikenal orang dari pada wajahnya. Kalau dia tidak mengeluarkan senjatanya itu, jarang ada yang mengenal mukanya.



"Hemm, bagus kalian mengenal senjataku. Lui Cat Ko adalah seorang perampok tunggal yang jahat, maka anak buahnya tentulah bukan manusia baik-baik!" kata Kok Siang sambil memasang kuda-kuda dan mengangkat pit emas di atas kepala, menunjuk ke langit, sedangkan pit perak dipegang ke bawah, menuding bumi. Inilah kuda-kuda yang dinamakannya Seng-thian Jip-te (Naik ke langit, Masuk ke tanah), pembukaan dari pada ilmu silat Im-yang Siang-pit.



Tujuh orang murid utama dari Tiat-ciang Lui Cai Ko itu menjadi marah mendengar ucapan ini dan dengan dahsyat merekapun mulai menerjang dengan pedang mereka. Setiap gerakan mereka cukup dahsyat karena memang Tiat-ciang Lui Cat Ko, selain terkenal memiliki sepasang tangan yang kuat dan keras seperti besi sehingga dia berjuluk Tiat-ciang, juga merupakan seorang ahli silat pedang yang tangguh.



Melihat datangnya serangan yang bertubi-tubi itu, yang membawa kilatan sinar pedang yang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar ganas, Kok Siang cepat menggerakkan tubuhnya dan sekarang pemuda sastrawan ini baru memperlihatkan kepandaiannya. Gerakannya cepat bukan main dan ternyata sepasang senjatanya itu mengandung tenaga yang berlawanan. Sepasang senjatanya diputar melindungi tubuhnya dan setiap kali pedang lawan bertemu dengan kim-pit (Pit emas) maka terdengar suara nyaring dan pedang itu tentu terpental keras, sebaliknya kalau bertemu dengan ghi-pit (Pit perak) tidak terdengar suara, akan tetapi tenaga si pemegang pedang seperti lenyap, seolah-olah pedang mereka bertemu benda lunak atau seperti membacok atau menusuk air saja. Selain melindungi tubuhnya, juga sepasang pit itu mengirim serangan balasan berupa totokan-totokan ke arah jalan darah yang tidak kalah dahsyatnya, membuat tujuh orang itu berputaran saling melindungi teman sendiri. Terjadilah pertandingan keroyokan yang amat seru, namun sedikit juga pemuda sastrawan yang dikeroyok tujuh itu tidak nampak kewalahan!



Di lain pihak, Kim Hong yang dihadapi oleh Tiat-ciang Lui Cai Ko dan dua orang sutenya itu, menarik napas lega. Kalau si juling ini yang diduganya paling lihai telah menghadapinya dan tidak ikut mengeroyok, ia tidak begitu mengkhawatirkan keadaan pemuda itu. Apa lagi setelah ia melihat cara Kok Siang memutar sepasang pitnya, membuat ia merasa yakin bahwa pemuda itu akan dapat mengatasi para pengeroyoknya, walaupun tujuh orang pengeroyok itu tidak boleh dipandang ringan. Setelah ia tidak lagi mengkhawatirkan pemuda keponakan mendiang Louw-siucai itu, Kim Hong dengan tersenyum tenang menghadapi tiga orang calon lawannya. Tidak seperti tujuh orang yang bertugas membunuh Kok Siang, si juling bersama dua orang sutenya itu tidak mengeluarkan senjata. Mereka bertugas untuk menawan nona ini hidup-hidup, dan hal inipun diketahui baik-baik oleh Kim Hong. Para penjahat itu tidak membutuhkan dirinya, melainkan kunci emas, maka tentu saja mereka tidak akan membunuhnya sebelum mereka menemukan kunci emas itu!



Tiat-ciang Lui Cai Ko juga sudah mondengar bahwa nona ini pandai ilmu silat dan biarpun dia tidak merasa takut, akan tetapi diapun tidak berani memandang rendah. Maka diapun lalu menubruk ke depan sambil menampar dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sudah mencengkeram ke arah pundak nona itu. Tamparan tangan kirinya itu antep sekali dan agaknya jagoan ini memang telah mengerahkan tenaga dan mempergunakan tenaga sakti Tiat-ciang-kang (Tenaga Tangan Besi) untuk menggertak. Telapak tangan orang she Lui ini nampak hitam kehijauan. Belasan tahun dia melatih kedua tangannya itu, setiap hari menggunakan telapak tangan untuk memukuli bubuk besi dan pada malam harinya merendam kedua tangan itu ke dalam adonan bubuk besi dengan racun yang membuat tangan itu selain kuat, juga beracun dan amat berbahaya bagi lawan. Demikian kuat dan kerasnya telapak tangan Lui Cai Ko ini sehingga kedua telapak tangannya tidak hanya mampu memukul hancur batu karang seperti sepasang palu besi yang kuat, akan tetapi juga mampu menangkis senjata tajam tanpa khawatir terluka! Itulah sebabnya maka dia terkenal dengan julukan Tiat-ciang (Si Tangan Besi).



"Wuuuttt...! Plakk!" Kim Hong mengelak dengan mudah dan membiarkan tamparan itu lewat, kemudian ketika cengkeraman tangan kanan itu sudah mendekati pundaknya, tangan kirinya menyambar dari bawah, bukan menangkis melainkan menampar dengan tangannya ke arah sambungan siku tangan kanan itu. Biarpun tamparan itu tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga, namun sambungan siku bagian bawah yang seperti hanya diusap itu, tiba-tiba terasa nyeri dan lengan kanan itu seperti menjadi lumpuh seketika! Tentu saja Lui Cai Ko tidak dapat melanjutkan cengkeramannya, bahkan mengeluarkan seruan kaget dan cepat melompat ke belakang dengan mata terbelalak. Tak disangkanya bahwa wanita itu sedemikian hebatnya, dalam segebrakan saja membuat lengan kanannya terasa lumpuh! Hanya orang yang berilmu sangat tinggi sajalah yang begitu tenangnya menghadapi cengkeraman mautnya, bukan mengelak atau menangkis untuk menghadapinya, melainkan mendahului menyerang siku sehingga lengan itu menjadi lumpuh dan tentu saja serangan cengkeraman itupun gagal.



Kim Hong hanya berdiri tenang sambil tersenyum. Ia maklum akan kelihaian Tiat-ciang Lui Cai Ko ini, akan tetapi tentu saja ia tidak merasa gentar, yakin benar akan kelebihannya dibandingkan dengan tiga orang pengeroyoknya. Dua orang sute dari Si Tangan Besi segera menyerang dari kanan kiri, bukan menyerang untuk merobohkan, melainkan untuk membuat nona itu tidak berdaya dan dapat ditawan. Merekapun, seperti suheng mereka, mendapat perintah untuk menawan si nona cantik ini. Namun, Kim Hong dapat menghindarkan diri dari tubrukan kanan kiri itu dengan langkah-langkah ajaibnya. Dengan seenaknya saja kedua kakinya bergeser, melangkah mundur maju dan tubrukan-tubrukan mereka itu semua hanya mengenai tempat kosong saja walaupun tadinya nampak seolah-olah akan berhasil.



Kok Siang juga mengamuk dan sepasang pit-nya menyambar-nyambar seperti sepasang naga. Lewat tiga puluh jurus saja, dua orang di antara para pengeroyoknya telah roboh tertotok sehingga lima orang sisa pengeroyoknya menjadi agak gentar. Di lain pihak, Kim Hong mempermainkan tiga orang pengeroyoknya dengan langkah-langkah ajaibnya yang membuat Tiat-ciang Lui Cai Ko dan dua orang sutenya kewalahan dan juga semakin penasaran. Mereka menubruk dan mencoba untuk menangkap, akan tetapi jangankan orangnya, ujung baju gadis itupun tak pernah dapat tersentuh oleh tangan mereka. Hal ini membuat mereka menjadi penasaran dan marah sehingga kini mereka tidak hanya menubruk dan mencoba untuk menangkap saja, melainkan juga mulai menyerang dengan sungguh-sungguh untuk morobohkan nona yang amat lincah itu. Betapapun juga, makin ganas mereka bergerak, makin cepat pula nona itu mengelak, sehingga pandang mata mereka seperti kabur dan kadang-kadang mereka tidak tahu ke mana nona itu mengelak atau bergerak.



"Duk-duk-duk-dukk...!" Empat kali Lui Cai Ko terpaksa menangkis sambil mundur terdesak hebat. Padahal, sejak menampar sikunya tadi, baru sekaranglah Kim Hong membalas scrangan tiga orang lawannya yang bertubi-tubi sampai tigapuluh jurus itu! Dan sekali membalas, Kim Hong telah mendesak Si Tangan Besi dengan empat kali tamparan berturut-turut. Setiap tamparan mengandung tenaga sin-kang yang membuat tubuh si gendut yang rambutnya riap-riapan itu terhuyung-huyung. Melihat ini dua orang sutenya cepat menubruk dari kanan kiri membantu, akan tetapi Kim Hong menanti sampai keduanya menyerang dekat, lalu tiba-tiba tubuhnya meloncat ke atas dan kedua kakinya terpentang ke kanan kiri. Itulah tendangan yang istimewa sekali, yang sekaligus menghantam dada kedua orang yang menyerang dari kanan kiri itu, mendahului serangan mereka dengan tangan yang belum sampai!



"Dess! Desss!" Tubuh dua orang itu terlempar ke kanan kiri dan mereka menyeringai karena dada mereka terasa sesak dan napas mereka seperti berhenti. Sambil memegangi dada mereka bangkit dan mata mereka menjadi merah. Juga Lui Cai Ko marah sekali. Tak disangkanya bahwa dia, jagoan yang terkenal, dibantu oleh dua orang sutenya, bukan hanya tidak mampu menawan gadis ini, bahkan mereka bertiga sudah mengalami malu karena terpukul dan tertendang oleh gadis itu. Akan tetapi, ada kekuasaan yang lebih tinggi dari pada Lui Cai Ko yang membuat dia masih ingat akan perintah yang diberikan kepadanya. Dia tidak berani melanggar perintah itu hanya karena perasaan pribadi yang marah dan penasaran. Dia tidak berani mempergunakan senjata untuk menyerang, tidak berani melukai apa lagi membunuh wanita ini karena hal itu berarti melawan perintah dan dia merasa ngeri untuk mempertanggungjawabkan hal itu. Maka, biarpun dia merasa marah dan mendongkol sekali, terpaksa dia lalu membuka mulut dan terdengarlah suara suitan panjang dan nyaring keluar dari mulut si gendut ini. Kim Hong terkejut dan menduga-duga apa maksud tanda rahasia itu. Memanggil kawan? Dia tentu merasa kewalahan dan memanggil kawannya, pikir Kim Hong. Mungkinkah sekarang ia memperoleh kesempatan untuk berhadapan dengan kepala penjahat yang mendalangi ini semua dan yang menguasai peta? Jantungnya berdebar tegang dan iapun menanti saja. Ia mengerling ke arah Kok Siang dan melihat bahwa lawan pemuda itu kini tinggal empat orang lagi karena yang tiga telah roboh oleh pena sastrawan yang lihai itu, dan empat orang itupun kini mundur sambil mengepung setelah mendengar guru mereka mengeluarkan suara bersuit tadi.



Tak lama kemudlan muncullah banyak orang mengepung tempat itu dan Kim Hong benar-benar merasa heran dan terkejut melihat bahwa yang mengepung tempat itu adalah pasukan pemerintah! Yang memimpin pasukan itu adalah seorang perwira yang berpakaian indah dan gagah, berusia empatpuluh lima tahun dan bertubuh tinggi besar. Cepat Kim Hong meloncat mendekati Kok Siang yang juga memandang dengan heran.



"Berhenti semua dan lepas senjata!" Bentak perwira itu dengan suara yang agaknya sudah terbiasa mengeluarkan aba-aba atau perintah yang harus ditaati. "Yang berani bergerak dianggap pemberontak dan akan dihukum! Kalian telah menimbulkan perkelahian dan kekacauan di tempat umum, semua harus menyerah dan ikut bersama kami ke kantor untuk dibawa ke pengadilan!"



Kim Hong dan Kok Siang saling pandang, tiba-tiba Kok Siang berbisik halus sekali sehingga hanya gadis itulah yang mungkin dapat mendengarnya, "Aku tahu di mana peta yang aseli."



Kim Hong terkejut. Otaknya bekerja dengan cepat. Ia tidak meragukan kebenaran omongan pemuda ini dan tentu karena melihat bahaya maka pemuda sastrawan ini membuka rahasia itu, atau karena sudah pereaya penuh kepadanya. Bagaimana pemuda ini dapat mengetahui di mana adanya peta yang aseli? Kalau begitu, yang kini menguasai peta tentu hanya menguasai peta palsu! Bagaimana mungkin terjadi demikian? Bukankah Ciang Kim Su dan pamannya, Su Tong Hak, telah membagi dua peta itu dan peta yang dibawa Ciang Kim Su itu adalah peta yang aseli? Apa yang sesungguhnya telah terjadi? Pikirannya yang cerdas segera mencari sebab-sebab dan dugaan-dugaan. Tentu ada hubungannya dengan mendiang Louw siucai! Di antara mereka yang pertama kali mengetahui akan rahasia peta itu, adalah Liuw Siucai. Bahkan dialah orang pertama yang sudah dapat mengetahui akan isi peta sesungguhnya, karena dialah yang menterjemahkannya! Akan tetapi, bagaimana siucai itu dapat menguasai peta aselinya? Apa yang telah terjadi? Ia tidak sempat untuk bertanya, karena di situ terdapat banyak orang dan pasukan itu telah mengepung ketat. Ketika ia melihat pasukan mengepungnya, timbul kemarahan di dalam hatinya. Akan tetapi Kok Siang bersikap lain.



"Ciangkun, kami berdua tidak bersalah. Kami berdua sedang duduk bercakap-cakap di sini lalu gerombolan ini datang menyerang kami, agaknya mereka hendak merampok kami!" katanya membela diri.



"Bohong! Mana buktinya kami merampok?" Lui Cai Ko membentak marah.



"Cukup, tidak perlu cekcok!" Perwira itu menegur. "Tidak perduli siapa di antara kalian yang bersalag. Yang sudah jelas, kalian berkelahi di sini dan hal ini berarti mendatangkan kekacauan. Kalian semua harus menyerah untuk kami bawa ke pengadilan!"



Kim Hong mengerutkan alisnya hendak membantah, akan tetapi Kok Siang lalu berkata, sikapnya halus menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang terpelajar. "Baik, ciangkun. Kami percaya bahwa pengadilan tentu akan menyelidiki dan memberi keputusan yang seadil-adilnya. Mari, adik Hong, kita ikut ke kantor pengadilan."



Kim Hong cukup cerdik untuk mengerti mengapa pemuda itu bersikap mengalah. Kok Siang adalah penduduk Thian-cin yang sudah dikenal, maka baginya amatlah berbahaya kalau sampai dia dianggap melawan pasukan dan pemberontak. Berbeda dengan Kim Hong yang tidak dikenal, apa lagi mengingat bahwa tempat tinggal wanita ini juga jarang ada yang mengetahuinya. Untuk membiarkan Kok Siang ditangkap sendiri dan ia melarikan diri, Kim Hong merasa tidak tega. Apa lagi setelah ia tahu bahwa pemuda itu tahu di mana peta yang aseli, maka pemuda itu menjadi amat penting baginya. Ia harus melindungi pemuda ini, jangan sampai peta yang aseli terjatuh pula ke tangan penjahat. Maka iapun mengangguk dan menyetujui.



Sepuluh orang gerombolan itu bersama Kim Hong dan Kok Siang lalu digiring oleh pasukan menuju ke kantor kejaksaan. Sepuluh orang itu langsung dimasukkan ke dalam kamar tahanan besar, sedangkan Kim Hong dan Kok Siang dibawa ke bagian belakang di mana terdapat beberapa buah kamar tahanan.



"Kalian harus menunggu dulu di dalam kamar tahanan ini sambil menanti datangnya pembesar yang akan membuka sidang pengadilan." kata perwira itu sambil membuka daun pintu kamar tahanan. Tentu saja Kim Hong merasa marah dan mengerutkan alisnya.



"Kami bukan penjahat, kenapa mesti dijebloskan dalam kamar tahanan?"



Akan tetapi, kembali Kok Siang yang berkata dengan sikap tenang dan suara halus. "Kalau memang demikian peraturannya, kita tidak perlu membantah. Pula, kita sama sekali tidak bersalah, takut apa? Biarlah kita menunggu di sini." Dan pemuda itupun lalu memasuki kamar tahanan. Melihat sikap pemuda ini, terpaksa Kim Hong mengalah dan sambil cemberut dan mukanya merah saking marahnya, iapun terpaksa ikut masuk. Pintu kamar sel yang terbuat dari pada besi itu lalu dikunci dari luar. Perwira itu bersama pasukannya masih berjaga di situ dan melihat wajah perwira itu yang kelihatan girang sekali, diam-diam Kim Hong merasa tidak enak. Ia merasa seperti seekor harimau yang dijebak ke dalam kerangkeng. Akan tetapi ia sama sekali tidak merasa khawatir. Bagaimanapun juga, ia terjatuh ke tangan petugas pemerintah, bukan tangan penjahat. Dan kalau ia mengbendaki, apa sih sukarnya untuk membongkar pintu kamar itu dan meloloskan dirinya? Pikiran ini membuatnya menjadi tenang, akan tetapi karena perwira dan para anak buahnya masih berada di luar kamar, ia tidak dapat bicara dengan leluasa kepada Kok Siang Sesungguhnya, ingin sekali ia mengajukan banyak pertanyaan mengenai peta itu dan rahasianya. Karena hal itu tidak mungkin dilakukan pada saat itu, Kin Hong lalu duduk bersila di tengah ruangan yang tidak berapa luas itu untuk mengumpulkan tenaga dan menenangkan hatinya yang diliputi rasa penasaran dan kemarahan itu. Sedangkan Kok Siang sendiri juga duduk di sudut ruangan itu dengan tenang-tenang saja. Urusan perkelahian adalah urusan kecil dan para pembesar pengadilan tentu akan lebih percaya kepada keterangannya dari pada keterangan orang macam Lui Cai Ko yang kasar. Setidaknya, dia lebih pandai bicara, lebih sopan dan sebagai seorang terpelajar, tentu dia akan memperoleh perhatian dan penghormatan dari para petugas pengadilan.





Tak dapat disangkal lagi bahwa Bu Kok Siang adalah seorang pemuda pilihan, pandai dalam ilmu silat, juga ahli sastera dan memiliki pengetahuan yang cukup luas. Akan tetapi, bagaimanapun juga, dia masih muda dan belum mengenal benar akan kepalsuan manusia seperti keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran dan keadilan selalu menjadi lemah dan goyah di mana terdapat kekuasaan yang jauh lebih kuat, yaitu ketamakan akan uang! Uang berarti kesenangan. Di manapun di bagian dunia ini, manusia benar-benar telah dicengkeram dan dikuasai oleh uang atau lebih luas lagi, dikuasai oleh keinginan untuk memperoleh kesenangan. Dan kesenangan ini, harus diakui, hanya bisa dicapai kalau orang mempunyai uang. Untuk memperoleh uang sebagai sarana utama hidup senang ini, orang tidak segan-segan melakukan apa saja! Dari yang paling licin sampai yang paling keji dan kejam. Orang tidak segan-segan untuk berpura-pura, untuk merendahkan diri sedemikian rupa, untuk menipu, untuk menyiksa kalau perlu membunuh, menjadi penjahat-penjahat, wanita menjual diri menjadi pelacur, pendeknya segala kemaksiatan itu terdorong oleh keinginan memperoleh uang sebanyaknya. Uang membuat apa sgja dapat terjadi, yang nampaknya tidak mungkin sekalipun! Kok Siang tidak atau belum sadar bahwa karena kekuasaan uang, dia akan menghadapi hal-hal yang nampaknya tidak mungkin. Dia tidak pernah menduga bahwa seorang pembesar tinggi bisa saja melakukan hal-hal yang lebih rendah dari pada pencuri atau perampok, karena kehausan akan uang. Kedudukan disalah-gunakan, kekuasaan menjadi alat untuk mencari uang sebanyaknya, martabat terlupa, hati nurani tiada bisikan murni lagi, prikemanusiaan menipis, semua ini terjadi apabila manusia telah dikuasai oleh pengejaran kesenangan melalui pengumpulan uang. Halal atau tidak sudah tidak diperhitungkan lagi. Dan hal ini kemudian menjadi suatu kebiasaan dan kalau sudah menjadi kebiasaan, ahlak makin menipis sehingga keburukannya tidak terasa atau teringat lagi. Orang yang untuk pertama kali melakukan pencurian, tentu akan merasa adanya penyesalan dalam hatinya, penyesalan yang datang kerena kesadaran bahwa apa yang dilakukannya itu adalah tidak baik atau tidak benar. Akan tetapi kalau dia sudah terbiasa dengan perbuatan mencuri, maka penyesalan itu akan makin menipis dan akhirnya lenyap sama sekali. Demikian pula dengan segala macam kemaksiatan lainnya.



Bu Kok Siang masih tebal kepercayaannya akan kebenaran dan keadilan. Dia tidak tahu bahwa pengaruh kesenangan melalui penumpukan uang sudah menjalar sampai ke manapun, sampai ke dalam kantor-kantor para pembesar, bahkan sampai ke istana. Dan kantor kejaksaan itupun tidak terluput, kantor pengadilanpun digerayangi oleh setan ini sehingga yang namanya keadilanpun dikemudikan oleh uang!



Selagi kedua orang muda itu tenggelam ke dalam keheningan masing-masing, tiba-tiba terdengar suara keras dan lantai dalam kamar tahanan itupun terbuka ke bawah! Hat ini terjadi sedemikian cepat dan tiba-tiba sehingga mengejutkan Kim Hong dan Kok Siang karena mendadak tubuh mereka kehilangan tempat berpijak dan terjeblos ke bawah. Akan tetapi, mereka adalah dua orang yang terlatih baik dan telah menguasai ilmu silat sehingga gerakan ilmu itu telah mendarah daging dalam tubuh mereka. Terutama sekali Kim Hong yang memiliki gin-kang tinggi. Begitu tubuhnya tetjeblos ke bawah, ia mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuh yang sudah meluncur ke bawah itu tiba-tiba membuat gerakan dengan kaki yang mengenjot atau menendang ke bawah, kedua tangannya bergerak seperti sayap dan tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas! Kok Siang juga berhasil melompat ke atas, akan tetapi gin-kangnya tidak sehebat Kim Hong sehingga kembali tubuhnya meluncur ke bawah karena dia tidak dapat berpegang kepada sesuatu. Berbeda dengan Kim Hong yang mampu membuat gerakan menyamping sehingga tubuhnya yang mencelat ke atas itu dapat meluncur ke arah pintu besi. Ia mengerahkan tenaga sin-kangnya dan sambil meluncur ke arah pintu, ia menggerakkan kaki tangannya untuk menerjang pintu dan membobolkannya. Akan tetapi ia melihat seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh hitam tinggi besar, tiba-tiba muncul di luar daun pintu berjeruji itu dan kakek itupun mendorongkan kedua tangannya menyambut terjangan Kim Hong. Dari dorongan kedua tangan ini menyambar hawa pukulan dahsyat sekali yang amat mengejutkan pendekar wanita itu. Ia mengenal tenaga yang amat kuat, maka Kim Hong lalu mengerahkan seluruh tenaganya pula.



"Brakkk...!" Pintu besi yang kokoh kuat itu tidak dapat menahan himpitan dua tenaga raksasa dari dalam dan luar kamar, pecah dan patah-patah berantakan. Akan tetapi, tubuh Kim Hong yang tertahan oleh tenaga kakek itupun terdorong ke belakang dan tentu saja kini meluncur ke bawah tanpa dapat dicegah pula. Sebaliknya, kakek itu sendiripun terdorong mundur sampai empat langkah. Agaknya dia kaget bukan main, mengeluarkan seruan aneg, mukanya pucat dan matanya terbelalak. Dia tidak mengira bahwa gadis muda itu sedemikian lihainya.



Sementara itu, tubuh Kim Hong yang meluncur ke bawah itu tiba-tiba diterinia oleh sepasang lengan yang kuat. Karena di tempat itu amat gelap, maka Kim Hong tidak dapat melihat siapa yang menerimanya dengan pondongan kedua lengan itu, akan tetapi ia merasa jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas ketika mendengar suara yang dikenalnya, "Hong-moi, engkau tidak apa-apa?"



Kiranya yang menerima tubuhnya itu adalah Kok Siang! Tentu saja ia merasa malu dan cepat meloncat turun. "Aku tidak apa-apa, dan engkau?"



"Untung bahwa lantai yang menjadi dasar tempat ini lunak sehingga aku tidak sampai terluka. Ketika aku melihat tubuh meluncur dari atas, aku khawatir dan menangkapmu. Maafkan aku, adik Hong."



Betapa sopan pemuda ini, pikir Kim Hong. Ia mengerti bahwa pemuda itu sama sekali tidak mempunyai bayangan pikiran kotor ketika menerima tubuhnya. Dan sekarang, melihat ia tidak apa-apa dan sesungguhnya tidak perlu ditangkap dalam pondongan, pemuda itu minta maaf. Bagaimana mungkin ia bisa marah terhadap pemuda seperti ini?



"Tidak apa dan terima kasih, Bu-twako. Kita berada di mana? Kita harus dapat keluar dari tempat ini. Tak kusangka bahwa kita telah terjebak."



"Sudah kuperiksa dengan teliti tadi, akan tetapi baru sebentar karena engkau kulihat jatuh ke bawah. Agaknya tempat ini buntu, merupakan lubang seperti sumur. Tidak ada jalan keluar dari sini kecuali melalui atas."



"Belum tentu. Mari kita periksa lagi dengan meraba-raba."



Merekapun mulai meraba-raba di sepanjang dinding yang bentuknya bundar seperti sumur itu.



"Apakah yang terjadi? Bukankah kita dimasukkan kamar tahanan kantor kejaksaan? Kenapa kita terjebak seperti ini? Mungkinkah di kantor pemerintah ada tempat jebakan seperti ini?" Sambil memeriksa dinding, Kok Siang mengomel karena dia sungguh merasa penasaran dan terheran-heran.



"Ah, twako. Di manapun juga, apapun juga kedudukannya, manusia tetap merupakan mahluk yang palsu dan kejam. Aku sebetulnya sudah tidak setuju menyerahkan diri. Kurasa penangkapan itu memang sudah diatur sebelumnya. Tentu ada hubungannya antera Tiat-ciang Lui Cai Ko dengan perwira itu. Dan kulihat tadi kakek yang menyambut pukulanku ke arah pintu, hemmm... sungguh dia seorang lihai, seorang lawan tangguh."



"Siapa dia?"



"Aku tidak pernah mengenalnya, akan tetapi aku dapat menduganya. Mungkin dia itulah yang menjadi dalang dan biang keladi ini semua, yang menjadi raja penjahatnya."



"Siapa?" Pemuda itu berhenti meraba-raba karena memang sekeliling dinding ruangan itu tanah padas belaka.



"Kalau tidak salah tentu yang bernama Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng."



"Ahhh...!"



"Kau mengenal dia?"



"Mengenal orangnya belum, akan tetapi siapa yang tidak pernah mendengar namanya? Pat-pi Mo-ko adalah nama seorang datuk kaum sesat yang baru. Boleh dibilang semenjak keempat datuk kaum sesat itu lenyap, dia inilah yang terkenal sebagai datuk. Engkau tentu pernah mendengar nama keempat datuk kaum sesat, bukan? Pertama adalah See-thian-ong datuk dunia barat yang kabarnya telah tewas oleh Pendekar Sadis. Ke dua adalah Pak-san-kui Siongkoan Tiang yang kabarnya juga tewas di tangan Pendekar itu. Ke tiga adalah Tung-hai-sian datuk timor yang kini melepaskan kedudukannya dan mencuci tangan, hidup sebagai seorang saudagar dan tidak pernah mencampuri urusan dunia kang-ouw. Ke empat adalah Lam-sin datuk selatan yang lenyap tanpa ada yang tahu ke mana perginya. Nah, setelah empat orang datuk kaum sesat itu lenyap, muncullah Pat-pi Mo-ko ini!"



Tentu saja apa yang diceritakon oleh Kok Siang itu diketahui dengan baik oleh Kim Hong karena dia sendirilah yang dahulu menyamar sebagai seorang nenek berjuluk Lam-sin. Dengan sendirinya ia tidak tertarilk oleh cerita itu, akan tetapi ia amat memperhatikan nama Pat-pi Mo-ko.



"Jadi Pat-pi Mo-ko ini mengangkat diri menjadi pengganti para datuk itu?"



"Bukan mengangkat diri menjadi datuk, tetapi semua penjahat di seluruh empat penjuru takut dan menganggap dia sebagai datuk mereka karena ilmunya yang amat hebat dan kekejamannya terhadap siapa saja yang tidak mau tunduk kepadanya. Akan tetapi, dia bekerja secara rahasia, bahkan para anak buahnya sendiri tidak pernah berhubungan langsung dengannya dan siapa saja yang ingin mengetahui rahasianya tentu dibunuhnya. Apa lagi membuka rahasianya. Dia orang aneh dan hanya dugaan orang saja dia berada di kota raja sebagai sarangnya, karena dia sering mengirim perintah dari kota raja. Kalau benar dia yang berdiri di belakang urusan harta karun Jenghis Khan ini..." Kok Siang berhenti seolah-olah merasa terlanjur bicara. Keadaan di situ gelap, mereka hanya saling dapat melihat bayangan masing-masing. Akan tetapi suara ini cukup bagi Kim Hong yang segera mendesak.



"Harta karun Jenghis Khan? Peta dari dusun itu?"



"Ya, kalau benar dia yang memimpin semua itu, celakalah. Agaknya hanya Pendekar Sadis saja yang akan mampu menghadapinya dan kabarnya, dia tidak pernah muncul karena jerih terhadap Pendekar Sadis yang telah membunuh See-thian-ong dan Pak-san-kui. Dia sendiri kabarnya adalah seorang sute dari mendiang See-thian-ong. Ah, kalau saja Pendekar Sadis dapat muncul... aku... sungguh mengagumi kegagahan pendekar itu."



Kim Hong diam saja. Iapun memikirkan Thian Sin. Di sini ia terjebak bersama Kok Siang! Apa dayanya? Dan apakah Thian Sin akan dapat menemukannya sebelum terlambat?



Tiba-tiba terdengar suara mendesis dan tempat itu segera penuh dengan asap! "Celaka, asap beracun!" seru Kok Siang sambil mendekap hidung dan mulutnya.



"Ah, terlambat...!" Kim Hong juga berseru, melanjutkan lamunannya tentang Thian Sin tadi.



"Cepat tiarap dan rapatkan muka ke lantai!"



Mereka bertiarap. Akan tetapi usaha ini hanya dapat menclong sejenak saja dan memperpanjang siksaan mereka karena akhirnya tempat itu penuh dengan asap dan setelah hawa udara di atas tanah itu habis, asappun tersedot oleh mereka. Mereka terbatuk-batuk dan akhirnya keduanya roboh pingsan.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat KPH : Harta Karun Jenghis Khan 1 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat KPH : Harta Karun Jenghis Khan 1 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cerita-silat-kph-harta-karun-jenghis.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat KPH : Harta Karun Jenghis Khan 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat KPH : Harta Karun Jenghis Khan 1 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat KPH : Harta Karun Jenghis Khan 1 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cerita-silat-kph-harta-karun-jenghis.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

poker mengatakan...

poker online terpercaya
poker online
Agen Domino
Agen Poker
Kumpulan Poker
bandar poker
Judi Poker
Judi online terpercaya

Posting Komentar