Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 1 KPH

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 11 Mei 2012

Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 1 KPH adalah lanjutan dari
selamat membaca Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 1 KPH

Pesta pernikahan yang dirayakan orang di dusun biasanya jauh lebih meriah dari pada pesta pernikahan yang
dirayakan orang di kota itu. Meriah di sini bukan berarti mewahnya perayaan itu, melainkan kemeriahan yang
terasa benar di dalam hati mereka yang hadir, tercermin dari wajah mereka yang berseri-seri. Pesta pernikahan
di kota besar hanya merupakan pesta makan minum yang mewah dan berlebihan, kegembiraan yang timbul karena
pengaruh arak yang terlalu banyak memenuhi perut sehingga arak itu menguap memenuhi benak membuat orang menjadi
lupa diri.
Pesta di kota hanya merupakan perlombaan memamerkan kekayaan. Akan tetapi di dusun lebih terasa keakraban dan
kegotongroyongan, sehinga para tamu itu seolah-olah merasa sebagai keluarga dan sebagai orang yang ikut ambil
bagian dalam perayaan itu, bahkan seperti keluarga yang merayakan, bukan sekedar tamu yang datang untuk makan
minum. Pesta pernikahan antara Thio Siang Ci dan The Si Kun di dusun Ban-ceng itu sungguh amat meriah. Seluruh
penghuni dusun Ban-ceng ikut merayakannya. Hal ini tidak mengherankan karena keluarga yang dikenal sebagai
keluarga ramah dan baik, bahkan Thio Siang Ci dikenal sebagai kembangnya para gadis cantik di dusun itu. Bahkan
banyak pemuda luar dusun, sampai di kota Tai-goan, mengenal dan mendengar akan kecantikan Siang Ci. Akan tetapi
yang beruntung dan berhasil memetik kembang cantik ini adalah The Si Kun, putera seorang saudagar ikan yang
cukup kaya di kota Tai-goan.
Seperti telah menjadi kebiasaan para penduduk Ban-ceng yang berdasarkan ketahyulan dan perhitungan, pertemuan
pengantin juga dilakukan dengan dasar perhitungan dan menurut perhitungan para keluarga yang tua, pertemuan
pada hari itu jatuh pada jam enam sore! Sore itu, rumah keluarga Thio sudah penuh dengan tamu dan suasana
menjadi makin meriah dan gembira ketika sepasang mempelai dipertemukan di mana diadakan upacara sembahyang di
depan meja leluhur.
Biarpun wajah pengantin perempuan tidak dapat dilihat jelas karena tertutup oleh rumbai-rumbai atau hiasan
kepala yang berjuntaian ke depan muka, namun masih dapat dilihat bentuk tubuhnya yang langsing dan padat,
sebagian dari kulit leher dan kulit tangannya yang putih halus. Pengantin laki-laki juga kelihatan ganteng,
wajahnya yang muda dan tampan itu nampak berseri-seri, mulutnya mengulum senyum malu-malu karena banyak
sahabatnya yang mengeluarkan suara atau membuat gerakan-gerakan yang menggodanya. Sepasang mempelai itu memang
merupakan pasangan yang cocok dan manis sekali.
Thio Siang Ci adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang cantik jelita, bagaikan bunga sedang mekar.
Adapun The Si Kun adalah seorang pemuda yang usianya dua puluh tahun, tampan dan sehat dan pandai berdagang
karena sejak kecil telah membantu ayahnya. Keluarganya adalah pedagang ikan, membeli ikan dari para nelayan di
Sungai Fen-ho, mengumpulkan ikan-ikan itu, sebagian menjualnya ke kota Tai-goan dan sebagian pula dibuat
menjadi ikan asin.
Setelah sepasang mempelai selesai melakukan upacara sembahyang lalu mohon doa restu dari para anggota keluarga
yang lebih tua, kemudian sekali setelah lelah menjalankan semua upacara itu mereka baru diperbolehkan duduk
bersanding di tempat yang sudah dipersiapkan, para tamu mulai dengan perjamuan makan. Hari telah mulai gelap
dan para pelayan mulai menyalakan lilin dan lampu-lampu yang diatur indah dan nyeni untuk menambah meriahnya
suasana pesta pernikahan itu. Api lilin yang bergerak-gerak tertiup angin semilir sungguh seperti penari-penari
yang sedang bergembira menari-nari.
Suasana gembira ini menjadi agak bising karena para tamu kini bicara sendiri dan bermacam-macamlah yang mereka
bicarakan, dari membicarakan cantik dan tampannya sepasang mempelai sampai ke urusan yang sama sekali tidak ada
sangkut-pautnya dengan pesta pernikahan itu. Tiba-tiba terdengar teriakan kaget dan seorang pelayan yang sedang
memasang lilin di bagian luar melepaskan tempat lilin sambil berteriak tadi. Semua orang menengok dan Thio Ki,
ayah mempelai wanita cepat berlari keluar. "Ada apa?" tanyanya kepada pelayannya dengan alis berkerut karena
kecerobohan pelayan itu. Akan tetapi pelayan itu nampak tubuhnya menggigil dan hanya menunjuk ke arah dinding
di depannya. Tuan rumah lalu mengambil sebuah tempat lilin dan mengangkat benda itu ke atas sambil mendekati
dinding dan tiba-tiba mukanya pun berubah pucat ketika dia melihat sebuah gambar tengkorak merah dan agaknya,
benda cair yang dipakai menggambar tengkorak itu adalah darah yang masih basah, tanda bahwa gambaran itu baru
saja dibuat orang! Agaknya, pelayan tadi menyalakan lilin dekat dinding dan melihat lukisan itu, maka dia
berseru kaget dan menjatuhkan tempat lilin. Thio Ki sendiripun terkejut.
"Aihh...!"
Para tamu berlari mendekat dan kini banyak orang mengerumuni tempat itu dan semua memandang kepada gambar
tengkorak dari darah itu dengan muka pucat. Sudah ada tiga kali peristiwa seperti itu, ialah gambar-gambar
tengkorak darah pada rumah-rumah orang, di pintu atau dinding depan dan akibatnya, pada malam harinya ada tiga
orang gadis terculik! Dan sekarang, justru pada saat gadis tuan rumah merayakan hari pernikahannya, terdapat
gambar pada dinding rumah itu!
"Siluman Guha Tengkorak...!" Terdengar bisikan seorang tamu dan semua orang menggigil ketakutan.
Nama ini, biarpun baru muncul beberapa kali, telah menjadi semacam momok yang menakutkan di daerah Tai-goan
dan sekitarnya. Pengantin pria, The Si Kun yang juga tertarik dan sudah mendekati dinding itu, mengepal
tinjunya. Dia bukan seorang pemuda yang penakut dan lemah. Sejak semula dia sudah menduga bahwa yang membuat
gambar-gambar tengkorak dan menculik gadis-gadis itu adalah segerombolan penjahat. Dan dia tidak takut karena
para nelayan yang menjadi anak buahnya adalah orang-orang yang sudah biasa menghadapi kekerasan-kekerasan para
penjahat dan para bajak sungai. "Biarkan dia datang! Kami akan melawannya! Bukankah begitu, kawan-kawan?"
teriaknya.
Belasan orang nelayan muda yang bertubuh tegap-tegap dan yang menjadi kawan-kawan pengantin pria, segera
mengangkat kepalan tangan ke atas dan berteriak,
"Benar, kita akan lawan dia dan akan tangkap jahanam itu!"
Betapapun juga, para tamu sudah merasa ketakutan dan perjamuan itu dilanjutkan dalam suasana tegang. Para tamu
lalu berpamit dan seorang demi seorang bangkit dari tempat duduk, lalu berbondong-bondong minta diri dan
meninggalkan rumah keluarga Thio. Suasana menjadi sunyi setelah tempat itu tadinya bising dengan para tamu.
Yang masih tinggal di situ hanya dua belas orang nelayan muda yang menjadi sahabat pengantin pria. Mereka ini
masih tetap makan minum dengan gembira di tempat pesta yang sudah kosong itu. Sementara itu, sepasang mempelai
telah meninggalkan ruangan dan mendapat kesempatan untuk mengaso dalam kamar mereka karena para tamu sudah
tidak bernafsu lagi untuk menggoda sepasang mempelai di malam pertama itu. Seluruh keluarga Thio yang sudah
memasuki kamar masing-masing tak dapat memejamkan mata karena hati mereka semua merasa tegang dan khawatir.
Atas permintaan pihak tuan rumah, duabelas orang nelayan muda, teman-teman dari The Si Kun itu kini pindah ke
ruangan yang berada di luar kamar pengantin. Mereka tetap dijamu di tempat itu, tempat yang berdekatan dengan
kamar pengantin untuk menjaga kalau-kalau ada penjahat yang datang mengganggu. Setelah melihat dua belas orang
laki-laki muda yang bertubuh kekar itu berada di depan kamar pengantin, barulah hati Thio Ki merasa lega dan
diapun pergi ke dalam kamamya untuk mengaso.
Namun, di dalam kamar inipun dia dan isterinya rebah dengan hati gelisah dan tidak dapat pulas sama sekali.
Malam semakin larut dan amat sunyi. Terdengar suara anjing menggonggong dari kejauhan, suara gonggongan yang
menyedihkan yang kemudian berobah menjadi suara menyeramkan. Lolong anjing berkepanjangan ini biasanya
dilakukan anjing-anjing sambil mengangkat muka tinggi-tinggi ke atas memandang bulan dan orang menjadi
ketakutan karena katanya saat seperti itu adalah saatnya para iblis gentayangan di permukaan bumi! Dua belas
orang nelayan muda itu sudah tidak lagi makan minum, melainkan duduk di ruangan depan pengantin dengan sikap
siap siaga. Pengantin pria juga tidak dapat menikmati malam pengantinnya, bahkan terpaksa dia tadi meninggalkan
isterinya untuk ikut berjaga bersama kawan-kawannya. Baru setelah kawan-kawannya mendesaknya dengan sikap
setengah menggoda agar dia tidak membiarkan isterinya kedinginan seorang diri dalam kamar, pengantin pria
memasuki kamarnya lagi. "Aku mengandalkan penjagaan kalian di luar, sedangkan aku sendiri akan berjaga di dalam
kamar," katanya. Sebagian untuk menutupi rasa malunya kepada kawan-kawannya yang tentu sudah menggodanya pada
malam pertama itu.
"Hayaaaa... kami mengerti, Si Kun!" kata seorang temannya.
"Sudahlah, nikmati malam pengantinmu, biar kami yang berjaga di sini dan menangkap siluman itu kalau benar dia
berani muncul."
"Hushh!" cela seorang kawan lain. "Jangan bicara sembarangan di malam seperti ini. Dan masuklah Si Kun, engkau
akan merasa aman dalam pelukan istrimu, ha-ha!"
Dua belas orang itu tersenyum.
"Aihh, kalian ini bisa saja menggoda orang. Siapa dapat bersenang dalam keadaan seperti ini?" The Si Kun lalu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, menutupkan kembali kamarnya.
Isterinya juga tidak tidur, melainkan duduk di tepi pembaringan sambil menundukkan muka karena malu. Muka yang
cantik memang, dan kini setelah tidak tertutup kerudung, nampak betapa sepasang pipi itu halus kemerahan.
Biarpun tadinya dia merasa tegang dan khawatir, kini melihat kecantikan istrinya, Si Kun tak dapat menahan
hatinya dan duduklah dia disamping isterinya, tangannya merangkul dan dengan lembut dia menarik muka itu untuk
diciumnya. Tiba-tiba lilin yang berada di atas meja kamar itu padam. Hal ini diketahui oleh para penjaga di
luar kamar, maka merekapun tertawa-tawa karena padamnya lilin dalam kamar itu membuat mereka mengira bahwa
sepasang pengantin baru itu tentu merasa malu, memadamkan penerangan agar dapat mencurahkan perasaan hati
mereka berdua dengan leluasa. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa terkejut rasa hati dua belas orang itu
ketika tiba-tiba terdengar teriakan The Si Kun disusul suara gedobrakan di dalam kamar dan tak lama kemudian
terdengar jeritan pengantin wanita, akan tetapi jeritan itu terdengar jauh dari situ!
Dua belas orang itu segera menghampiri pintu kamar dan mendobraknya karena tidak ada jawaban dari dalam ketika
mereka memanggil-manggil. Thio Ki dan isterinya dan seluruh penghuni rumah yang tadinya memang sudah gelisah
itu keluar semua dari kamar masingmasing dan berlarian menuju ke kamar pengantin. Pintu kamar didobrak jebol
dan mereka berebut masuk. Dari penerangan lampu yang dibawa oleh mereka yang masuk, nampak pemandangan yang
mengerikan. The Si Kun, pengantin pria itu, dengan tubuh bagian atas telanjang, hanya menggunakan celana saja,
rebah di lantai dengan leher hampir putus. Darah merah masih mengalir dari lehernya dan membasahi lantai.
Pemuda ini sudah tewas, dan pengantin wanitanya tidak nampak bayangannya.
Langit-langit kamar itu terbuka dan berlubang. Maka tahulah semua orang bahwa penjahat telah masuk dari atas
genteng dengan membobol langit-langit kamar. Para wanita menjerit-jerit dan riuh rendah suara orang menangis.
Siluman Guha Teng-korak benar-benar telah datang, menculik pengantin wanita dan membunuh pengantin pria!
Gegerlah dusun Ban-ceng! Mengapakah penjahat yang selama beberapa minggu ini mengacau di daerah Tai-goan dan
sekitarnya dijuluki orang Siluman Guha Tengkorak? Pertama-tama adalah karena gambar itu. Setiap kali hendak
melakukan kejahatan, terutama sekali mencuri perhiasan-perhiasan yang serba mahal dan menculik gadis-gadis
cantik, penjahat itu pada siang atau sore harinya selalu tentu memberi tanda gambar tengkorak darah pada pintu
atau dinding rumah yang akan didatangi! Inilah yang mula-mula membuat dia dinamakan Tengkorak. Kemudian, pernah
dia dikejar-kejar dan penjahat itu dapat berlari cepat seperti iblis, dan larinya menuju daerah pegunungan yang
gundul, dimana terdapat penuh batu-batu besar dan guha-guha. Tempat ini dikenal dengan sebutan Guha Tengkorak,
karena memang di situ terdapat banyak sekali guha-guha besar dan diantaranya memang ada guha-guha yang bentuknya
seperti tengkorak. Karena inilah, maka penjahat yang telah menggegerkan daerah Tai-goan itu dinamakan Siluman
Guha Tengkorak. Pemerintah daerah yang dibantu oleh para pendekar setempat telah berusaha untuk mencari dan
menangkap penjahat itu, namun hasilnya sia-sia.
Guha-guha itu telah diperiksa, namun tidak nampak sesuatu yang mencurigakan. Tempat itu memang berbahaya dan
tandus, terdapat jurang-jurang dalam dan jalannya amat licin sehingga tidak ada orang yang pernah datang ke
tempat yang tidak ada gunanya itu. Pembunuhan The Si Kun yang menjadi pengantin itu dan penculikan isterinya,
yaitu Thio Siang Ci, merupakan kejahatan yang keempat selama hampir dua bulan penjahat itu muncul. Biarpun
orang belum pernah dapat melihat wajahnya karena penjahat itu pandai bergerak cepat seperti menghilang saja,
namun orang-orang tahu bahwa penculikan-penculikan wanita dan pencurian itu dilakukan oleh orang yamg sama,
yang mereka juluki Siluman Guha Tengkorak karena cara-caranya yang sama, yaitu sebelum datang, telah memberi
tanda gambar tengkorak darah dan caranya bekerja juga sama, amat cepat sehingga jarang dapat dilihat orang.
Seperti terjadinya penculikan atas diri Thio Sang Ci, sungguh amat mengherankan dan menakutkan orang. Di luar
kamar pengantin itu terdapat dua belas orang nelayan muda yang kuat-kuat dan yang masih berjaga, sama sekali
tidak ada yang tidur. Namun, penjahat itu dapat memasuki kamar pengantin tanpa ada yang mengetahuinya-,
membunuh pengantin pria yang mungkin melawan dan menculik pengantin wanita.
Peristiwa itu terjadi sedemikian cepatnya sehingga yang terdengar hanya teriakan pengantin pria dan ketika
kamar didobrak, penjahatnya telah lenyap bersama pengantin wanita yang diculiknya. Daerah Guha Tengkorak
terletak di luar kota Tai-goan, di sebelah selatan, di lereng Pegunungan Lu-liang-san di lembah Sungai Fen-ho.
Guha-guha ini selain sukar dikunjungi dan tidak pernah didatangi manusia, juga angker dan menurut penduduk yang
masih percaya akan cerita tahyul, kabarnya tempat itu menjadi sarang para iblis dan arwah-arwah yang penasaran.
Ada yang mengabarkan dengan sumpah betapa mereka mendengar suara-suara aneh dan menyaksikan
penglihatan-penglihatan menyeramkan di daerah itu di waktu malam. Tentu saja cerita-cerita ini membuat tempat
itu menjadi angker dan membuat orang semakin tidak berani mendekati. Para pendekar dan juga para komandan
penjaga keamanan tahu belaka bahwa tempat itupun menjadi tempat pelarian para buronan. Bagi para penjahat yang
menjadi buronan pemerintah, memang daerah itu amat baik untuk menyembunyikan diri. Guha-guha itu mempunyai
banyak terowonganterowongan di bawah gunung yang sambung-menyambung sehingga sekali sang buronan lari memasuki
guha yang ada terowongannya, amat sukar untuk dapat ditemukan. Juga amat berbahaya bagi si pengejar karena
tempat itu memang berbahaya sekali. Daerah Guha Siluman ini hanya indah dilihat dari jauh, dari kaki bbukit,
dan dapat pula dilihat dari Sungai Fen-ho kalau orang naik perahu lewat di kaki bukit itu. Dari jauh nampaklah
dinding bukit yang berbatu-batu dan berlubang-lubang dengan lubang-lubang berbentuk tengkorak, seolaholah dari
jauh kelihatan tengkorak-tengkorak yang dipasang berderet-deret di dinding batu karang itu.
Akan tetapi, keindahan ini mengandung sesuatu yang menyeramkan, seolah-olah ada sesuatu yang mengancam mereka
yang teralu lama memandang ke arah tempat itu. Para nelayan menganggap tempat ini sebagai tempat keramat dan
mereka selalu menundukkan muka kalau melewati tempat ini dan tidak berani memandang langsung terlalu lama ke
arah Guha-guha Tengkorak itu. Nama Siluman Guha Tengkorak menggegerkan kota Tai-goan dan daerahnya selama
kurang lebih dua bulan ini karena sepak terjangnya yang amat mengerikan itu. Letak daerah Guha Tengkorak hanya
tiga puluh li dari Tai-goan. Tentu saja para pendekar di kota Tai-goan merasa penasaran dan marah melihat
betapa kota mereka dilanda malapetaka dengan munculnya seorang penjahat yang begitu beraninya. Perbuatan
penjahat itu seolah-olah merupakan tamparan bagi mereka. Mereka, bersama pasukan penjaga keamanan kota, telah
berusaha untuk mencari dan menangkap penjahat itu. Namun, penjahat itu benar-benar seperti siluman, kalau
nampak bayangannya, sukar disusul dan ketika dicari di daerah Guha Tengkorak, tidak dapat ditemukan jejaknya.
Sudah ada dua orang gadis cantik di kota Tai-goan diculiknya, dan beberapa orang hartawan telah dicuri
barang-barang berharga berupa perhiasan-perhiasan mahal yang disimpan di dalam tempat-tempat rahasia.
Di antara para pendekar yang merasa penasaran terhadap Siluman Guha Tengkorak, terdapat seorang laki-laki
bernama Cia Kok Heng. Dia bekerja sebagai ahli bangunan bagian pertulangan kayu dan nama Cia Kok Heng ini cukup
terkenal di kota Tai-goan sebagai seorang ahli silat, bahkan seorang pendekar karena dia adalah seorang murid
lulusan perguruan Hong-kiam-pai (Perkumpulan Pedang Angin) di Tai-goan. Hong-kiam-pai ini adalah sebuah
perkumpulan silat pedang yang menjadi cabang dari persilatan besar Kun-lun-pai. Ilmu Pedang Hong-kiam-hoat
(Ilmu Pedang Angin) adalah ilmu pedang dari Kun-lun-pai dan karena perguruan itu khusus mengajarkan ilmu pedang
ini, maka tidak memakai nama Kun-lun-pai, melainkan Hong-kiam-pai. Yang menjadi anggota atau murid dari
Hong-kiam-pai hanyalah orang-orang yang sudah memiliki dasar ilmu silat yang mahir dan boleh saja memiliki
dasar ilmu silat dari partai lain asalkan tingkatnya sudah cukup untuk mempelajari Ilmu Pedang Hong-kiam-sut.
Akan tetapi, Cia Kok Heng memang seorang murid Kun-lun-pai aseli sehingga dia memiliki dasar-dasar ilmu silat
Kunlun-pai. Dengan adanya perkumpulan Hong-kiam-pai ini maka para pendekar dari semua aliran dapat bersatu dan
menjadi murid atau anggota dan karena dia sendiri anggota Hong-kiam-pai, maka tentu saja Cia Kok Heng mengenal
banyak pendekar yang juga menjadi anggauta perkumpulan itu. Kok Heng hidup rukun bersama isterinya dan dua
orang anaknya. Dia sendiri berusia tiga puluh tahun dan isterinya berusia dua puluh tujuh tahun. Isterinya
adalah seorang wanita yang amat cantik jelita dan biarpun kini telah mempunyai dua orang anak, namun
kecantikannya tidak berkurang. Anak mereka, yang pertama laki-laki berusia sembilan tahun dan yang kedua
perempuan berusia tujuh tahun.
Hidup mereka tidak dapat dikatakan kaya, namun penghasilan Kok Heng sebagai tukang kayu yang ahli cukup untuk
hidup pantas bagi keluarga itu. Cia Kok Heng bukanlah seorang ahli silat biasa saja di kota Tai-goan. Dia
adalah seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan! Dan biarpun di antara mereka bertujuh dia termasuk yang
paling muda, namun bukan berarti bahwa kepandaiannya yang paling rendah. Biarpun tujuh orang pendekar itu belum
pernah bentrok sendiri dengan siluman yang mengacau kota mereka namun mereka menaruh perhatian dan sudah sering
mereka bertujuh itu berkumpul untuk membicarakan penjahat itu. Bahkan mereka saling berdebat, ada yang percaya
akan desasdesus bahwa penjahat itu lihai seperti siluman dan pandai ilmu menghilang, ada pula yang tidak
percaya. Percaya dan tidak percaya mempunyai dasar yang sama. Dasarnya adalah ketidaktahuan. Hanya orang yang
tidak mengerti atau tidak tahu sendirilah yang bisa menjadi orang yang percaya atau yang tidak percaya. Oleh
karena itu, orang yang percaya dan yang tidak percaya sesungguhnya tidak berhak membicarakan sesuatu yang
mereka percaya atau tidak percaya itu, karena keduanya sama-sama tidak mengerti atau tidak tahu. Kalau sudah
tahu, maka tidak mungkin timbul percaya atau tidak percaya lagi. Sebelum manusia mendarat di bulan, gambaran
tentang bulan tentu menimbulkan percaya atau tidak percaya, tergantung dari siapa yang menceritakan dan siapa
yang mendengarkan. Akan tetapi sekarang, hal itu tidak lagi membutuhkan percaya atau tidak percaya.
Bagaimanapun juga, anehnya, orang-orang yang percaya atau yang tidak percaya inilah, di dalam ketidaktahuan
merupakan orang-orang yang paling suka untuk membicarakannya dan memperdebatkannya. Pagi hari itu, Kok Heng
berangkat ke tempat pekerjaannya, di pusat kota di mana sedang diadakan pembangunan oleh kepala daerah, dengan
hati agak kesal. Malam tadi isterinya berbelanja ke pasar, isterinya bertemu dengan Phang-kongcu, putera
seorang pembesar yang kaya raya dan pemuda itu bersikap kurang ajar. Dengan lagak memikat, Phang-kongcu
mengeluarkan kata-kata memuji kecantikannya dan mengatakan sayang bahwa wanita secantik itu hidup miskin.
Demikian kata isterinya dan biarpun Kok Heng menganggap kekurangajaran mulut pemuda bangsawan dan hartawan itu
merupakan pnyakit umum dan tidak begitu aneh, tetap saja hatinya diliputi rasa cemburu dan penasaran. Namun,
se-bagai seorang pendekar dia mampu menenangkan batinnya dan berangkat kerja dengan wajah- agak muram. Siang
hari itu dia pulang lebih pagi dari pada biasanya. Di depan rumah, dia melihat dua orang anaknya, Cia Liong dan
Cia Ling, main-main dengan anak-anak tetangga. Akan tetapi, timbul keheranannya ketika melihat anak-anak itu
berdiri berkerumun di depan dinding dekat pintu, memandang ke arah dinding dan menunjuk--nunjuk, nampak
keheranan. Diapun cepat melangkah, mendekat dan tiba-tiba saja wajah pendekar- ini berubah merah lalu pucat,
dan merah lagi. Matanya terbelalak memandang ke arah dinding yang dirubung anak-anak itu.
Di atas dinding putih itu nampak jelas gambar tengkorak dan dilukis dengan darah yang masih mengkilat basah!
"Ayah, apakah itu?" tanya Cia Ling. Kok Heng menggandeng tangan kedua orang anaknya, membawa mereka masuk rumah
setelah dia menyuruh anak-anak lain pulang ke rumah masing-masing. Jantungnya tergetar penuh ketegangan dan
hatinya lega ketika dia melihat isterinya menyongsong kedatangannya dari dalam dapur. "Eh, ada apakah? Engkau
kelihatan..." Isteri-nya bertanya khawatir melihat wajah suaminya. "Tidak apa, tenanglah. Mari kita bicarakan
dalam kamar, ajak anak-anak," kata suaminya. Biarpun sikap suaminya tenang, namun istri pendekar itu dapat
menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu. Mereka memasuki kamar dan Kok Heng lalu menceritakan gambar
tengkorak yang dilihatnya di dinding rumah mereka. "Siluman Guha Tengkorak...? Isterinya ber-bisik, bibirnya
gemetar mukanya pucat. "Jangan khawatir. Siapapun adanya badut atau penjahat itu, dia akan ketemu batunya
sekarang. Aku akan mempersiapkan saudara-saudaraku untuk menghadapinya. Sudah tiba saatnya Tujuh Pendekar
Tai-goan bergerak dan membasmi siluman itu," kata Kok Heng dengan penuh semangat. Sikap dan ucapan suaminya ini
membuat hati isterinya agak tenang, biarpun nyonya muda itu masih saja merasa khawatir. Kok Heng lalu menulis
sepucuk surat dan minta kepada seorang tetangganya untuk mengantarkan surat itu ke alamatnya. Keluarga Cia lalu
makan siang dan sikap tenang pendekar itu mempengaruhi isterinya yang juga merasa tenang.
Mereka melarang anak-anak mereka bermain-main di luar rumah dan karena kesal tidak boleh bermain di luar rumah
Cia Liong dan Cia Ling yang mentaati kedua orang tuanya itu lalu tidur di kamar mereka pada siang hari itu. Kok
Heng bercakap-cakap dengan isterinya di ruangan dalam, dan baru sekarang mereka memperoleh kesempatan untuk
membicarakan ancaman itu setelah kedua orang anak mereka tertidur. Kok Heng mengambil pedangnya dan
mengeluarkan pedang itu dari sarungnya untuk memeriksanya. Dia sudah bersiap dan kini dia meggantungkan
pedangnya di punggung, siap setiap saat menghadapi siluman yang mengancam keluarganya itu. "Akan tetapi mengapa
kita...?" isterinya bertanya dengan wajah yang agak pucat. Kok Heng memegang lengan isterinya. "Tenanglah,
mukamu begini pucat. Percayalah, kami bertujuh akan dapat menghadapinya, bahkan mungkin menangkap atau membunuh
siluman itu." "Tapi... mengapa kita yang diancamnya? Kita bukan orang kaya..." "Engkau tahu, isteriku. Siluman
itu bukan hanya suka mencuri barang-barang berharga, bahkan suka pula menculik wanita..." Muka yang pucat itu
berubah merah. "Tapi... yang diculiknya selama ini adalah gadis-gadis cantik..." Kok Heng menatap wajah
isterinya dan tersenyum bangga. "Dan engkau adalah wanita yang amat cantik, yang tercantik di antara mereka."
"Ah, jangan bergurau, suamiku. Aku adalah seorang wanita yang sudah mempunyai dua orang anak..." "Aku tidak
bergurau. Biarpun engkau sudah menjadi ibu dari dua orang anak, akan tetapi engkau masih kelihatan amat muda
dan cantik jelita. Ingat saja kekurangajaran pemuda bangsawan itu..." Tiba-tiba pendekar itu mengerutkan
alisnya dan memandang wajah isterinya dengan aneh. Wajah itu menjadi semakin merah. "Si keparat itu... ah,
mengapa engkau memandangku seperti itu...?" "Pemuda she Phang itu... kemarin dia meng-godamu dan hari ini
siluman itu memberi tanda-nya! Hem... ada hubungan apakah di antara kedua peristiwa ini...?" "Hubungan
bagaimana maksudmu?" tanya isterinya bingung. "Pemuda itu adalah putera seorang pembesar, sedangkan siluman
itu... bukankah katamu dia itu seorang penjahat besar? Mana ada hubungannya...?" "Akupun merasa heran, kenapa
begini kebetulan ? Ah, biarlah akan kubicarakan dengan saudara-saudaraku."
Jauh lewat tengah hari, menjelang sore, datanglah enam orang di rumah Cia Kok Heng. Disambut oleh tuan rumah
dengan hati gembira sekali dan juga penuh perasaan lega. Bahkan nyonya rumah juga kini dapat tersenyum dan
wajahnya tidak pucat lagi. Bagaimanapun juga, dengan berkumpulnya Tujuh Pendekar Tai-goan, apa yang perlu
ditakuti? Tujuh orang yang terkenal dengan sebutan Tujuh Pendekar Tai-goan itu memang bukan orangorang
sembarangan. Pertama adalah Cia Kok Heng sendiri yang menjadi orang termuda namun bukan-lah yang paling rendah
ilmunya. Orang kedua adalah yang dikirimi surat oleh Kok Heng dan dimintai tolong untuk mengumpulkan semua
saudara mereka dan datang ke tempat pendekar she Cia itu. Orang ini bernama Kwee Siu berusia empat puluh lima
tahun dan dia adalah murid per-guruan Siauw-lim-pai yang lihai, dan kemudian belajar ilmu pedang pula dari
Hong-kiam-pai sehingga dia masih terhitung saudara seperkumpulan dengan Cia Kok Heng. Walaupun dalam hal ilmu
pedang dia masih kalah lihai dari Kok Heng ka-rena Kok Heng memang murid Kun-lun-pai, akan tetapi Kwee Siu ini
memiliki kelebihan lain, yaitu ilmu-ilmu silat dari Siauw-lim-pai. Orang ke tiga adalah Louw Ciang Su, berusia
empat puluh tahun, murid Butong-pai yang lihai sekali dengan senjata rantai bajanya. Orang ke empat dan ke lima
adalah kakak beradik she Ciok, yaitu Ciok Lun yang berusia lima puluh tahun dan Ciok Khim berusia empat puluh
lima tahun, keduanya tokoh-tokoh dari Tiat-ciang-pai (Perkumpulan Tangan Besi) yang disegani dari kota raja.
Tentu saja keduanya memiliki tangan yang amnat kuat dan terlatih sehingga mahir dalam ilmu tangan besi, ha-nya
bedanya kalau Ciok Lun biasa mempergunakan senjata toya, adiknya, Ciok Khim mempergunakan senjata golok. Orong
ke enam adalah Siok Bu Ham, berusia empat puluh tabun, tidak berpartai dan murid seorang tosu perantau yang
mahir mempergunakan senjata sepasang tombak pendek. Orang ke tujuh adalah Liu Ji, berusia empat puluh lima
tahun, seorang tokoh Thian-kiam-pang, seorang ahli piauw dan pedang. Pendeknya, untuk Tai-goan dan sekitarnya,
nama tujuh pendekar ini sudah terkenal sebagai orang-orang gagah yang menentang kejahatan dan seringkali
membantu pmerintah untuk menghadapi penjahat lihai. Begitu enam orang saudaranya itu datang, Kok Heng lalu
mengajak mereka ke depan dan mereka bertujuh memeriksa gambar tengkorak darah itu dengan teliti. Ciok Lun
meraba lukisan itu dan mengerahkan sin-kangnya. Tangannya yang memiliki Ilmu Tiat-ciang (Tangan Besi) itu
tergetar dan menjadi panas, lalu tercium bau amis. "Hem, darah tulen...!" gumamnya. "Mungkin bukan darah
manusia," kata Kok Heng. "Setiap kali mengancam, siluman itu menggunakan lukisan tengkorak darah, dan agaknya
dia menggunakan darah binatang." Louw Ciang Su, murid Bu-tong-pai, menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya.
"Belum tentu. Aku pernah mendengar dahulu tentang seorang penjahat yang mempelajari ilmu hitam dan sering kali
mempergunakan darah dalam surat ancamannya dan darah itu ternyata darah manusia. Entah dari mana diambilnya
karena memang orang-orang macam itu sudah sedemikian jahat dan kejamnya seperti iblis." Para pendekar itu
berdiam diri dan merasa ngeri juga. Yang mereka hadapi adalah seorang penjahat yang menurut kabar angin
memiliki kepandaian seperti siluman, maka merekapun harus bersikap hati-hati. Mereka lalu dijamu oleh nyonya
rumah dan ketika Kok Heng menceritakan tentang pemuda bangsawan Phang yang menggoda isterinya kemarin, enam
orang pendekar itu mengerutkan alisnya.
Lalu terdengar Liu Ji berkata, "Tidak mungkin dia! Aku mengenal pemuda Phang itu. Memang, dia seorang pemuda
mata keranjang, terkenal di dunia pelacuran dan tidak segansegan untuk mempergunakan kedudukan dan hartanya
untuk bisa mendapatkan dan menguasai setiap wanita yang disukainya. Akan tetapi dia belum pernah menggunakan
kekerasan, apa lagi olehnya sendiri karena dia tidak becus apa-apa, bahkan tubuhnya lemah karena terlalu banyak
mengobral nafsunya." Cia Kong Heng mengangguk-angguk. "Akupun mencurigai dia karena kalau dia itu lihai tentu
kita sudah mengetahuinya. Akan tetapi karena kemarin dia menggoda isteriku dan hari ini siluman itu muncul maka
sungguh kebetulan sekali dan mau tidak mau, menimbulkan kecurigaan." Tiba-tiba Kwee Siu, murid Siauw-lim-pai,
yang juga menjadi murid Hong-kiam-pai itu mengepal tinju dan memukul meja. "Bruk!" Semua orang memandang dan
orang tinggi besar ini melotot dengan muka merah. "Siapaapun adanya iblis itu, harus kita hadapi dan malam ini
kalau dia berani datang, kita akan menangkap atau membunuhnya!" Aku bersumpah, kalau dia berani menjamah
sehelai rambut saja isteri Heng-te, aku akan mematahkan tangannya!" Ciok Lun, orang tertua diantara mereka,
menarik napas panjang. "Menghadapi seorang penjahat yang dikenal licin seperti siluman itu, yang pernah diserbu
oleh pasukan dan para pendekar namun tetap dapat meloloskan diri, kita harus bersikap tenang. Bagaimana juga,
seperti kebiasaannya yang sudah-sudah, dia selalu memberi peringatan atau mengancam calon korban di waktu siang
atau sore, kemudian baru dia turun tangan pada malam harinya.
Maka, kita masih memiliki waktu untuk bersiap siaga. Kita harus mengatur penjagaan, membagi-bagi tugas namun
harus di-atur agar kita dapat saling membantu." Setelah malam tiba, Tujuh Pendekar Tai-goan itu telah mengatur
siasat. Cia Kok Heng sendiri berjaga di dalam kamar, menjaga isteri dan dua orang anaknya dengan pedang tak
pernah terpisah dari badannya. Kwee Siu yang tinggi besar dengan pedang di tangan menjaga di dalam ruangan di
luar kamar, ditemani oleh Louw Ciang Su yang dililitkan di pinggang. Siok Bu Ham dengan sepasang tombak
pendeknya menjaga di belakang rumah. Liu Ji tokoh Thian-kiam-pang itu menjaga di luar, di depan rumah sambil
meronda. Adapun kedua saudara Ciok Lun dan Ciok Khim telah berada di atas. Rumah dan kamar keluarga Cia itu
telah dijaga ketat, dikepung oleh para pendekar dan agaknya iblis sendiripun tidak akan mampu memasuki kamar
itu tanpa diketahui dan mendapat rintangan yang amat ketat dan berat. Malam semakin larut dan suasana semakin
sunyi menegangkan. Seluruh penghuni rumah itu, kecuali dua orang anak kecil yang sudah pulas, tidak seorangpun
yang dapat memejamkan mata barang sejenak. Semua merasa tegang. Yang ada di dalam rumah itu hanyalah Cia Kok
Heng bersama isteri dan dua anaknya, dan enam orang rekannya. Dua orang pelayan telah disuruh mengungsi sore
tadi. Menjelang tengah malam, suasana sunyi itu menjadi makin lengang. Rumah keluarga Cia ini terletak agak di
pinggir kota, perumahan di situ semua memiliki pekarangan dan kebun yang luas sehingga agak jauh dari tetangga.
Tidak ada bulan di langit, dan cahaya laksaan bintang yang lemah mendatangkan cuaca yang remang-remang
menyeramkan. Kesunyian yang mencekam itu kadang-kadang dipecahkan oleh bunyi burung malam yang mendatangkan
suasana lebih menyeramkan, dan kadang-kadang terdengar bunyi lemah kelepak burung malam terbang lalu.
Gonggong anjing di kejauhan menambah dalamnya kesunyian yang mencekam di hati, mengingatkan orang akan sesuatu
yang tidak mereka lihat dan tidak mereka ketahui, menimbulkan dugaan-dugaan yang mendatangkan rasa gelisah dan
takut. Telah beberapa kali para pendekar itu saling mengunjungi tempat penjagaan masing-masing dan juga
memeriksa keluarga Cia yang masih berada di kamar. Hati mereka terasa lega dan diamdiam hati yang tegang itu
mengharapkan siluman itu menjadi jerih dan tidak berani muncul melihat persiapan Tujuh Pendekar Tai-goan. Akan
tetapi ketika waktu menunjukkan tepat tengah malam, terdengar bunyi burung malam dan kelepak sayapnya
seolah-olah rumah keluarga Cia itu didatangi oleh burung-burung malam. Dan para pendekar mulai merasa
seolah-olah mereka atau tempat itu terkepung. Terdengar suara Siok Bu Ham yang berjaga di belakang rumah
batuk-batuk, batuk buatan yang biasa dilakukan orang untuk mengusir rasa serem di hati. Suara batuk-batuk ini
dibalas oleh Ciok Khim yang menjaga di atas wuwungan bersama kakaknya, Ciok Lun. Mendengar suara dua orang
rekannya batuk-batuk itu, hati para pendekar yang lain menjadi agak lega. Namun mereka tetap waspada karena
naluri mereka yang membuat mereka peka terhadap ancaman lawan tergetar oleh sesuatu yang membuat mereka lebih waspada dan siap siaga.
Tiba-tiba... "ngeonggg...!" terdengar suara nyaring disusul geraman-geraman dan gedobrakan di atas genteng
rumah tetangga. Jantung mereka yang sedang tegang itu seperti copot rasanya, akan tetapi mereka segera mengenal
suara itu dan di dalam batin menyumpah-nyumpah karena itu ada-lah suara dua ekor kucing yang sedang berkelahi
atau sedang bercanda! Karena kebisingan dua ekor kucing yang sedang bermain cinta ini amat mmgejutkan dan
tiba-tiba, perhatian para pendekar itu sejenak tertumpah kepada suara itu dan ketika perhatian dua saudara Ciok
kembali kepada pen-jagaan mereka, dengan kaget mereka melihat sesosok bayangan orang tahu-tahu telah berdiri di
atas wuwungan rumah keluarga Cia, hanya beberapa tombak jaraknya dari mereka! Tentu saja dua orang saudara Ciok
itu terkejut dan sejenak mereka memandang bengong. Kini mereka dapat melihat jelas. Orang itu memakai pakaian
dan jubah serba putih dari sutera mengkilap dan di bagian dadanya terdapat gambar tengkorak darah, yaitu
lu-kisan tengkorak dari darah merah yang menetes-netes. "Iblis keparat!" Ciok Khim sudah membentak dan pendekar
ini meloncat ke depan, dan menyerang orang itu dengan goloknya. Gerakannya ce-pat dan kuat, dan biarpun yang
diinjaknya hanya wuwungan yang lebarnya tidak lebih dari satu kaki saja, namun Ciok Khim dapat meloncat dengan
sigap dan menyerang dengan dahsyat. Akan tetapi, orang itu dengan tenang saja menggerakkan tangan menyambut ke
depan. "Tringgg...!" Dan mata golok yang tajam itu telah ditangkis begitu saja oleh jari-jari tangan-ya yang
memakai cincin. Ciok Khim merasa betapa tangan kanannya yang memegang golok tergetar hebat, tanda betapa
kuatnya tangkisan itu. Orang itupun sudah meloncat ke kanan, ke atas wuwungan melintang dengan cepat. "Siluman
jahat!" Ciok Lun sudah menerjang dengan toyanya. Mula-mula toyanya menyambar ke arah kepala lawan. Ketika
dengan gerakan ri-ngan dan mudah toya itu dielakkan oleh lawan dan menyambar lewat, secepat kilat toya itu
sudah dilanjutkannya dengan tusukan ke arah dada, tepat ke arah tengkorak merah itu.
Akan tetapi, hebat-nya, lawan itu sama sekali tidak menangkis, bah-kan seperti memasang dadanya untuk ditusuk
toya yang digerakkan dengan amat kuat. "Dukk!" Toya itu tepat mengenai dada dan ternyata tusukan ini bahkan
dipergunakan oleh lawan untuk meminjam tangannya dan kini tubuh itu terjengkang jauh ke belakang, membuat
gerakan jungkir balik beberapa kali ketika melayang ke bawah. Sungguh gerakan yang indah, dan terutama sekali,
menerima serangan tusukan toya dengan dada begitu saja menunjukkan bahwa orang itu benar-benar memiliki
kekebalan yang amat kuat! "Keparat, mau lari ke mana kau?" Dua orang saudara Ciok ini mengejar dan melayang
turun. Di bawah, lawan mereka itu sekali lagi berkelebat sudah lenyap! Selagi mereka kebingungan dan mencari
dengan pandang matanya, mereka melihat lawan tadi sudah berada di belakang mereka, berdiri sambil bertolak
pinggang! Diam-diam mereka terkejut. Lawan ini sungguh dapat bergerak seperti setan saja cepatnya. Dan kini, di
bawah sinar penerangan lampu, mereka dapat melihat wajah lawan. Ternyata orang itu memakai kedok siluman
tengkorak! Mereka berdua segera berteriak keras dan menyerang.
Teriakan itu mereka lakukan untuk memberi tahu temanteman mereka. Akan tetapi pada saat itu, teman-teman
merekapun sedang sibuk! Siok Bu Ham yang sedang berjaga di bagian belakang rumah, ketika mendengar suara kucing
tadipun terkejut sekali dan tentu saja perhatiannya juga tertuju ke genteng tetangga dari mana suara
hiruk-pikuk itu datang. Dan ketika dia mengembalikan perhatiannya kepada tempat di sekelilingnya, tahu-tahu di
belakangnya telah berdiri seorang yang memakai topeng tengkorak, berpakaian sutera putih dan di dadanya
terdapat gambar tengkorak darah! "Siluman jahanam, berani engkau datang?" bentak Siok Bu Ham dan pendekar ini
segera menerjang dengan sepasang siang-kek yang sejak tadi sudah dipersiapkan. Nampak dua sinar menyambar
ketika sepasang tombak pendek itu meluncur dan membuat gerakan menggunting, menyerang dari kanan kiri. Akan
tetapi, yang diserangnnya dengan ringan meloncat ke belakang dan serangan berganda itupun mengenai tempat
kosong. Sebelum Siok Bu Ham menyerang lagi, orang itu sudah meloncat ke depan. "Bangsat, jangan lari kau!" Siok
Bu Ham membentak sambil mengejar menuju ke depan rumah. Akan tetapi bayangan itu menghilang dan ketika dia tiba
di depan rumah, dia melihat Liu Ji sudah bertanding dengan seorang yang serupa dengan orang yang dikejarnya
tadi. Orang bertopeng tengkorak, bertangan kosong akan tetapi lihai bukan main sehingga Liu Ji yang
bersenjatakan pedang itupun terdesak hebat. Pada saat Siok Bu Ham datang, Liu Ji yang terdesak itu terkena
tamparan pada pundaknya dan pendekar itu jatuh, terus menggulingkan tubuhnya dan tangan kirinya bergerak.
Tahulah Siok Bu Ham bahwa rekannya itu tentu mempergunakan senjata rahasianya, yaitu piauw yang memang menjadi
keahliannya. Tiga sinar menyambar ke arah perut, dada dan leher orang berkedok tengkorak itu. Akan tetapi orang
itu tidak mengelak dan terdengar suara nyaring ketika tiga batang piauw itu mengenai sasaran, akan tetapi tiga
batang piauw itu runtuh tanpa melukai siluman tengkorak itu. Melihat ini, Siok Bu Ham maklum bahwa orang itu
memang kebal. Ketika melihat orang itu hendak mendesak Liu Ji yang belum sempat meloncat bangun, diapun
membentak marah sambil menggerakkan sepasang tombaknya. "Siluman keparat, rasakan tombakku!" Dan diapun sudah
menerjang dengan dahsyat. Siluman itu mengeluarkan suara dari hidungnya dan cepat mengelak. Kesempatan ini
dipergunakan oleh Liu Ji untuk meloncat bangun dan menerjang lagi dengan pedangnya, membantu Siok Bu Ham
mengeroyok siluman yang lihai ini. Pundak kanannya tergores kuku dan bajunya robek, terluka sedikit akan tetapi
rasanya panas dan perih sekali. Baru mengeroyok sebentar saja, dua orang pende-kar ini maklum bahwa lawan
mereka sungguh amat lihai, maka mereka berduapun bersuit-suit memberi tanda kepada para teman mereka. Akan
tetapi tidak ada seorangpun yang muncul. Mereka tidak tahu bahwa pada saat itu, Ciok Khim dan Ciok Lun juga
sedang mengeroyok seorang siluman, dan bagaimana dengan Kwee Siu dan Siu Louw Ciang Su yang berjaga di ruangan
dalam, di depan kamar keluarga Cia? Sama saja! Kedua orang ini tadi juga mendengar suara bising kucing di luar
rumah itu, dan tiba-tiba muncul seorang bertopeng tengkorak berjubah putih yang bagian dadanya digambari
tengkorak darah. Karena orang ini berdiri di bawah lampu, mereka berdua dapat melihat jelas. Tentu saja mereka
berdua kaget sekali karena munculnya siluman ini sungguh secara tiba-tiba, berbareng dengan suara ribut kucing
tadi, seperti setan yang pandai menghilang saja. Akan tetapi karena mereka maklum bahwa inilah musuh yang
ditunggu-tunggu, keduanya lalu menerjang ke depan dengan marah. Kwee Siu menggunakan pedangaya sedangkan Louw
Ciang Su menggerakkan sabuk atau rantai baja yang dipakai sebagai ikat pinggang.
Segera terjadi pertempuran seru ketika dua orang ini mengeroyok siluman itu. "Cia-hiante, hati-hati...!" Kwee
Siu berseru untuk memperingatkan Cia Kok Heng. Akan tetapi Kok Heng sudah mendengar keributan di luar kamar.
Diapun tidak mungkin tinggal diam saja. Dibukanya pintu kamar dan melihat betapa dua orang rekannya mengeroyok
seorang bertopeng tengkorak yang gerakannya amat lihai, diapun menyuruh isterinya menjaga kedua anak mereka dan
dia sendiri lalu melompat keluar dengan pedang di tangan. "Siluman keparat, engkau mengantar nyawa!" bentaknya
dan diapun membantu kedua orang rekannya mengeroyok. Karena marah melihat musuh yang mengancam isterinya ini
berani muncul di depannya, Cia Kok Heng segera menerjang dan menggunakan jurus paling ampuh dari Hongkiam-hoat,
yaitu jurus Hui-hong-bu-liu (Angin Meniup Pohon Cemara). Jurus ini dilakukan dengan tu-sukan pada pinggang
lawan, akan tetapi itu hanya merupakan gertakan betaka karena jurus itu dilanjutkan dengan sambaran pedang
secara berputar mengarah kaki dan naik terus sampai ke leher. Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya. Akan tetapi,
betapa kaget hati Kok Heng melihat lawan itu mengeluarkan suara mendengus dan agaknya tidak memperdulikan
tusukan gertakan itu dan ketika pedang menyambar dengan gerakan memutar, orang itu telah meloncat tinggi di
udara sehingga jurus itupun tidak ada gunanya sama sekali. Orang itu seolah-olah telah mengenal baik jurus itu
dan menggunakan kesempatan selagi meloncat, bukan hanya untuk memunahkan jurus Hui-hong-bu-liu, melainkan
loncatan itu langaung disambung dengan gerakon pok-sai (salto) jungkir balik dan tahu-tahu tubuh yang jangkung
itu telah meluncur dan melayang ke dalam kamar melalui pintunya yang terbuka.
Tentu saja hal ini sama sekali tak pernah diduga oleh tiga orang pendekar itu yang sejenak memandang dengan
mata terbelalak. Akan tetapi Cia Kok Heng sudah mengejar sambil membentak marah, "Siluman curang, mari hadapi
pedangku!" Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tiba di dalam kamar, dia melihat isterinya
telah dipanggul dalam keadaan lemas oleh siluman itu dan dua orang anaknya juga dicengkeram, kemudian siluman
itu sambil tertawa mengejek meloncat keluar melalui jendela belakang! "Lepaskan isteri dan anak-anakku!" Kok
Heng membentak dan mengejar, dan dua orang rekannya, Kwee Siu dan Louw Ciang Su juga membentak dan mengejar.
Siluman itu tidak menemui perlawanan di belakang, karena Siok Bu Ham yang tadinya berjaga di belakang itu kini
telah terlibat dalam perkelahian membantu Liu Ji di pekarangan depan rumah. Siluman itu masih menodong tubuh
isteri Kok Heng dan mengempit dua tubuh anak itu ketika dia melompat naik ke atas wuwungan rumah "Lepaskan
mereka!" Kok Heng yang merasa gelisah dan marah itu mengejar secepatnya. "Jahanam curang! Jangan lari!" Kwee
Siu juga berteriak mengejar. "Kalau jantan lawanlah kami!" Louw Ciang Su membentak sambil meloncat pula
mengejar ke atas genteng. "Kejar...!" Kok Heng berteriak lagi. "Ha-ha-ha!" Suara ketawa dari balik topeng itu
terdengar menyeramkan sekali dan tiba-tiba siluman itu menggerakkan tangan kirinya yang men-cengkeram baju dua
orang anak itu. Tubuh dua orang anak itu melayang ke arah Kwee Siu dan Louw Ciang Su! Tentu saja dua orang
pendekar amat terkejut bukan main, juga Kok Heng lalu berteriak dengan gelisah. "Sambut anak-anakku itu...!"
Untung bahwa dua orang pendekar itu benar-benar memiliki gerakan lincah. Melihat tubuh dua orang anak itu
melayang ke bawah, mereka cepat- melempar senjata mereka dan membalik dan nyaris anak-anak itu terbanting remuk
di atas tanah kalau tidak kedua orang pendekar itu berhasil menangkap tubuh mereka! Terdengar suara ketawa dan
kini siluman itu sudah mengelak dari sambaran pedang di tangan Kok Heng yang membabat ke arah kedua kakinya.
Dia meloncat ke atas, terus saja melompat jauh ke depan, turun dari atas wuwungan ke pekarangan belakang rumah
tetang-ga.
Tentu saja Kok Heng melakukan pengejaran sambil membentak nyaring, "Lepaskan isteriku!" -Kwee Siu agak
terpincang karena ketika dia tadi menangkap tubuh Cia Liong, putera Kok Heng, terpaksa dia harus mendahului
anak itu, menangkapnya dan membiarkan dirinya lebih dulu menimpa tanah. Karena ini, kakinya agaknya salah urat.
Melihat ini Louw Ciang Su berkata, "Kwee-twako, sebaiknya engkau menyelamatkan kedua orang anak ini dan aku
akan membantu Cia-te mengejar siluman itu!" Louw Ciang Su sudah mengambil senjata rantai bajanya lagi yang tadi
terpaksa dilepaskannya ketika dia menyelamatkan Cia Ling, anak perempuan itu. "Baik!" kata Kwee Siu yang sudah
merangkul dua orang anak kecil yang masih menggigil dan menahan isak tangis itu. Louw Chang Su melompat ke atas
genteng dan melakukan pengejaran ke arah larinya siluman yang menculik nyonya Cia. Sambil menggandeng dua orang
anak itu, Kwee Siu mengambil lagi pedangnya yang tadi dilepaskannya dan dia merasa heran mengapa empat orang
rekannya yang lain tidak muncul. Hatinya terasa tidak enak dan sambil menggandeng dua orang anak itu, dia
menuju ke samping rumah. Hampir saja dia berteriak keras ketika dia melihat betapa dua orang rekannya, Siok Bu
Ham dan Liu Ji telah menggeletak di situ dengan badan mandi darah. Ketika dia mendekat dan memeriksa, ternyata
kedua orang rekannya ini telah tewas! Sebatang tombak pendek, senjata dari Siok Bu Ham sendiri, nampak menembus
dadanya, sedangkan Liu Ji tewas dengan leher hampir putus oleh pedangnya sendiri yang terletak di dekatnya!
Dengan kedua kaki menggigil dan menahan tangisnya, Kwee Siu membawa Cia Liong dan Cia Ling keluar dan kembali
dia mengalami guncangan batin hebat ketika melihat dua orang rekannya lagi, yaitu kakak beradik Ciok Lun dan
Ciok Khim juga sudah menggeletak menjadi mayat di pekarangan depan. Dan seperti juga keadaan dua orang rekannya
yang tewas di samping rumah dua orang saudara Ciok inipun tewas oleh senjata mereka sendiri. Agaknya lawan
mereka yang kuat dan bertangan kosong itu telah merobohkan mereka dengan merampas senjata mereka dan
mempergunakan senjata itu untuk membunuh tuannya sendiri. Melihat betapa empat orang rekan atau sahabat yang
seolah-olah telah menjadi saudaranya sendiri itu tewas dalam keadaan yang demikian menyedihkan, hati Kwee Siu
penuh dengan kedukaan dan kemarahan. Apa lagi dia mengingat bahwa masih ada dua orang rekannya lagi yang kini
melakukan pengejaran terhadap siluman itu.
Dia harus membantu mereka! Maka, dia lalu membawa dua orang anak itu kepada seorang tetangga yang menjadi panik
mendengar bahwa di rumah keluarga Cia terjadi pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Siluman Guha Tengkorak
dan tetangga ini memberitahukan kepada semua penghuni rumah di sekitar tempat itu. Sebentar saja gegerlah
keadaan di perkampungan itu. Akan tetapi setelah menitipkan dua orang anak she Cia itu, Kwee Siu sendiri sudah
berloncatan untuk menyusul ke arah perginya siluman yang tadi dikejar oleh Cia Kok Heng dan Louw Ciang Su.
Hatinya penuh dengan kekhawatiran dan juga dendam terhadap siluman yang telah membunuh empat orang saudaranya.
Akan tetapi Kwee Siu tidak perlu menyusul terlalu jauh. Di dekat tembok kota dia melihat bayangan berlari
terhuyung-huyung,dan ketika dia mendekati, ternyata bayangan itu adalah Cia Kok Heng yang berlari sambil
terhuyung dan kedua mendekap lehernya karena dari situ bercucuran darah segar dari sebuah luka yang menganga!
"Cia-hiante...! Kau kenapa...?" Kwee Siu meloncat dan menubruk sahabatnya, juga saudara seperguruan di
Hong-kiam-pai. Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hatinya melihat luka di le-her pendekar she Cia itu
sungguh hebat sekali dan amat mengherankan kalau Cia Kok Heng masih dapat berlari. Dan begitu melihat Kwee Siu,
Cia Kok Heng sudah roboh terguling dan tubuhnya di-sambar dan dipeluk oleh Kwee Siu. "Anak-anakku...
anak-anakku..." Cia Kok Heng berbisik dalam rangkulan sahabatnya itu. "Mereka sudah kuselamatkan di
tetangga..." kata Kwee Siu. "Mana Louw-te...?" "Louw-twako... su... dah tewas... ahhh... Kwee-twako, bawa
anak-anakku kepada suhu... cepat... ahhh..." Cia Kok Heng berbisik-bisik akan tetapi dari leherya terdengar
suara mengorok. "Apa katamu, hiante? Kau bilang apa...?"
Kwee Siu yang hatinya menjadi hancur itu mendekatkan telinganya ke mulut itu yang masih bergerak-gerak dan
berbisik lemah sekali. Kwee Siu mendengarkan dan tiba-tiba mukanya menjadi pucat sekali, sepucat muka Cia Kok
Heng yang tiba-tiba terkulai dan tewas pula! Kwee Siu tidak dapat menahan lagi tangisnya. Air matanya
menetes-netes ketika dia memandang tubuh rekannya ini dan sambil menangis diapun lalu memondong tubuh yang
telah menjadi mayat itu dan berlari kembali ke rumah keluarga Cia yang telah dipenuhi orang, yaitu para
tetangga yang datang melayat. Mereka semua yang sudah merasa ngeri menyaksikan empat mayat di dalam rumah itu,
menjadi semakin ngeri dan ketakutan katika melihat Kwee Siu datang membawa mayat Cia Kok Heng! Suasana menjadi
semakin geger dan menyedihkan. Sebelum malam terganti pagi, telah tersebarlah berita yang mengejutkan itu,
bahwa enam orang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan telah tewas oleh Siluman Guha Tengkorak dan isteri pendekar
Cia Kok Heng telah diculik oleh siluman itu! Tentu saja berita ini menggegerkan bukan hanya seluruh Tai-goan,
akan tetapi bahkan jauh di luar Tai-goan dan sebentar saja menjadi berita yang menggegerkan di dunia kang-ouw.
***
Kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda itu dilarikan cepat menembus kabut di pagi hari. Akan tetapi setelah
kereta itu memasuki hutan di sebelah barat daya, di sepanjang lembah Sungai Fen-ho, terpaksa larinya
diperlambat karena jalannya buruk dan becek. Kwee Siu yang duduk di tempat kusir memegang cambuk dan mukanya
masih pucat dan diliputi kedukaan. Di dalam kerata itu terdapat Cia Liong dan Cia Ling, dua orang anak keluarga
Cia yang hancur oleh perbuatan Siluman Guha Tengkorak itu. Dua orang anak ini tidak diberi kemsempatan untuk
berkabung, bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengantar jenazah ayah mereka yang penguburannya akan diurus
oleh para tetangga. Setelah terjadi peristiwa mengerikan semalam, pada keesokan harinya pagi-pagi buta Kwee Siu
membawa mereka pergi dengan kereta ini. "Paman Kwee, kita hendak pergi ke mana?" tanya Cia Liong yang matanya
masih merah sam-bil merangkul adiknya ketika mereka dibangunkan dari tidur di pagi buta dan diajak pergi oleh
Kwee siu. Dua orang anak ini sudah tahu bahwa ayah mereka tewas dan ibu mereka dilarikan penjahat-. Tentu saja
mereka berdua menangis dan selain merasa berduka juga merasa ketakutan. Akan te-tapi kedukaan hati seorang anak
berbeda dengan kedukaan hati seorang tua. Anak-anak tidak me-nyimpan dendam yang berlarut-larut, tidak
me-nyimpan duka sampai menembus batin. Batin kanak-kanak masih bersih dan wajar, masih kuat seperti puncak
cemara sehingga biarpun digerakkkan angin ribut ke arah manapun juga, setelah angin lewat akan tegak kembali,
tidak mudah patah. Tangis bagi anak-anak merupakan obat penenang yang mengusir kedukaan dari dalam batin,
sebaliknya orang tua bahkan menggunakan tangis untuk memperhebat luka di hati dengan rasa iba diri yang
berlebihan.
"Kita pergi ke tempat kakek gurumu, ke Kuil Thian-hong-bio. Ayahmu berpesan agar aku mengantar kalian ke sana
dan untuk sementara kalian tinggal di sana bersama sukong kalian..." "Aku tidak mau..." Tiba-tiba Cia Ling
berkata merengek. "Aku mau tinggal di rumah bersama ibu!" Kwee Siu merangkul anak perempuan berusia tujuh tahun
itu, menghiburnya. "Tentu saja, kalau ibumu sudah pulang, engkau akan tinggal di rumah bersama ibumu. Sementara
kami mencari ibumu, engkau tinggal dulu bersama kakek gurumu. Ayahmu berpasan demikian, kalian harus menurut
pesan ayah kalian." Akhirya dua orang itu dapat dibujuk dan dengan membawa pakaian dan barang berharga yang
terdapat dalam rumah itu, Kwe Siu lalu mengantar dua orang anak itu pagi-pagi buta berangkat meninggalkan
Tai-goan menuju ke kuil yang letaknya di luar kota, kira-kira tiga puluh li dari kota Tai-goan. Setelah
meninggalkan kota sejauh kurang lebih sepuluh li, terpaksa Kwee Siu memperlambat jalannya kereta karena jalan
itu mulai memasuki hutan dan menjadi buruk, tidak rata dan becek. Pagi itu sunyi sekali, dalam arti kata tidak
ada seorangpun manusia nampak di sekeliling tempat itu. Akan tetapi suara burung-burung hutan menyambut pagi
mengusir kesunyian dan mendatangkan suasana yang cerah gembira, walaupun kegembiraan itu sama sekali tidak
dapat menyentuh hati Kwee Siu yang sedang dirundung kedukaan dan juga dendam membara. Diapun seorang murid
Hong-kiam-pai, oleh karena itu, malapetaka yang menimpa diri Cia Kok Heng itu sungguh terasa olehnya sebagai
dendam pribadi.
Apalagi, seluruh saudaranya, enam orang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, telah tewas dalam keadaan
mengenaskan. Jenazah Louw Ciang Supun telah ditemukan dan dibawa dari tepi jalan itu ke rumahnya. Jenazah enam
orang pendekar itu kini telah berada di dalam peti, di rumah masing-masing dan ditangisi keluarga
masing-masing, kecuali jenazah Cia Kok Heng karena isteri dan anak-anaknya tidak ada di dekat peti mati. "Aku
harus membalas dendam ini!" Kwee Siu memegang cambuknya erat-erat dan sinar matanya berkilat. Dia akan mohon
bantuan gurunya, ketua Hong-kiam-pai. Kalau para tokoh Hong-kiam-pai mendengar akan hal ini, tentu mereka
takkan tinggal diam saja. Tiba-tiba Kwee Siu mengerutkan alisnya. Teringat dia akan bisikan-bisikan yang
didengarnya sebagai pesan terakhir Cia Kok Heng dan hatinya menjadi bimbang dan bingung. Jalan itu makin buruk
dan masuk ke bagian hutan yang makin lebat, makin gelap karena sinar matahari pagi tidak dapat menembus
sepenuhnya. Tiba-tiba dua ekor kuda itu meringkik-ringkik dan nampak panik. Kwee Siu memegang kendali kuda
erat-erat untuk menguasainya Kuda, seperti juga binatang-binatang lain memiliki naluri yang amat kuat. Kepekaan
ini terdapat dalam diri semua makhluk hidup, sebagai pelengkap bawaan untuk memiliki kepekaan ini, namun
sayang, oleh nafsu-nafsu mengejar kesenangan, oleh kesenangan-kesenangan itu sendiri yang tak pernah memuaskan
hati dan selalu kurang, manusia telah merusak kepekaan diri sendiri lahir batin. Kesenangan-kesenangan untuk
memenuhi nafsu keinginan sebagian besar merusak kepekaan diri lahir batin dan hal ini tidak diperdulikan
manusia. Makanan-makanan yang tidak baik bagi kesehatan badanpun dimakan saja karena enak. Kebiasaan-kebiasaan
yang sebenarnya merusak diri dilakukan saja karena enak dan menyenangkan. Hukum-hukum kesehatan lahir batin
dilanggar demi memperoleh kepuasan nafsu keinginan. Tidak mengherankan apabila manusia kehilangan kepekaan
nalurinya. Badan dan batin menjadi bebal dan dungu, hanya menjadi alat pemuas nafsu belaka. Kwee Siu masih
belum curiga, hanya mengira bahwa hutan itu mungkin menakutkan dua ekor kudanya dan mungkin saja kudanya
mencium bau binatang buas.
Tentu saja dia tidak merasa takut dan dengan hati-hati dia mengendarai kereta itu dan menahan kendali untuk
menguasai dua ekor kudanya. Tiba-tiba kedua ekor kuda itu meringkik lagi bahkan mereka mencoba mengangkat kaki
depan. Kwee Siu menarik kendali kuda dan tiba-tiba seekor di antara kuda itu mengeluarkan suara memekik dan
roboh. Di lehernya menancap sebatang tombak sampai menembus dan kedua kuda itu tewas seketika, berkelojotan
sebentar saja. Barulah Kwee Siu terkejut dan dengan cekatan diapun meloncat turun sambil mencabut pedangnya.
Matanya menatap ke depan dan bulu tengkuknya meremang ketika dia melihat sesosok tubuh melangkah perlahan-lahan
menghampirinya dari depan. Seorang laki-laki jangkung yang berpakaian jubah putih dengan gambar tengkorak darah
di dadanya, juga mukanya tertutup topeng tengkorak! Siluman Guha Tengkorak! Rasa takutnya lenyap ketika dia
membayangkan kematian enam orang saudaranya. Dengan suara penuh dendam Kwee Siu melangkah maju menyambut
siluman itu sambil memutar pedangnya. "Siluman keparat, sekarang aku akan mengadu nyawa denganmu!" Dan Kwee Siu
lalu menerjang ke depan, menyerang dengan pedangnya.
Siluman itu mengeluarkan suara ketawa panjang dan segera menyambut serangan itu dengan gerakan- gerakannya yang
lincah dan aneh. Namun, Kwe Siu yang dikuasai dendam dan kemarahan, menerjang dengan dahsyat dan mati-matian.
Sementara itu, Cia Liong dan Cia Ling, yang berada di dalam kereta, terkejut ketika kereta berhenti dan kuda
meringkik-ringkik. Mereka membuka tirai dan melihat ke depan. Melihat Kwee Siu berkelahi dengan seorang
berjubah putih yang mukanya menakutkan, Cia Ling menangis. Akan tetapi Cia Liong merangkulnya dan mendekap
mulut adiknya. "Diam... jangan menangis, kita harus pergi dari sini..." bisik anak laki-laki itu dan mereka
berdua lalu diam-diam keluar dari dalam kereta itu, berindap-indap mereka menyelinap ke belakang sambil
memandang ke arah Kwee Siu yang masih berkelahi didesak hebat oleh orang bertopeng tengkorak. Kwee Siu melawan
mati-matian, namun siluman itu sungguh amat lihai, terlalu lihai baginya. Apa lagi karena semua serangannya
agaknya telah dikenal baik oleh lawan sehingga lawan dapat menghindarkan semua serangannya itu dengan amat
mudahnya dan balasan serangan lawan itu membuat Kwee Siu terdesak dan kewalahan. Bagaimanapun juga, pendekar
yang merasa dendam, marah dan penasaran ini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk melawan dengan
tekad bulat melawan sampai mati. Sementara itu, di lain bagian dari hutan itu, hanya dua tiga li dari tempat
itu, terdapat dua orang yang sedang berburu kelinci dengan naik kuda. Mereka berdua itu nampak gembira sekali,
berburu kelinci sambil bersendau gurau dengan si-kap amat mesra. Mereka adalah seorang pemuda dan seorang
gadis, dan melihat sikap mereka, se-nyum mereka, pandang mata dan kata-kata diketahui bahwa mereka adalah
sepasang orang muda yang saling mencinta.
Dan mereka merupakan pasangan yang amat setimpal, yang pria masih muda, antara dua puluh satu atau dua puluh
dua tahun, berwajah tampan sekali, ganteng dan gagah, pakaiannya rapi, indah mewah walaupun dia bukan seorang
pesolek tanpa merias muka, akan tetapi mukanya terawat baik-baik, sisiran rambutnya rapi, gelung rambutnya
dihias dengan hiasan rambut terbuat dari batu kemala, pakaiannya terbuat dari pada sutera halus, sepatunya
masih baru. Pendeknya, dia seorang pemuda yang amat ganteng dan gagah, pantasnya seorang pemuda terpelajar yang
kaya, dan melihat cara dia menunggang kuda mengejar kelinci, dapat pula diketahui bahwa dia adalah- seorang
ahli menunggang kuda. Seorang pemuda yang akan membuat setiap orang gadis yang bersua dengannya menengok sampai
beberapa kali dengan pandang mata kagum! Akan tetapi, temannya yang gadis, juga merupakan seorang wanita
pilihan. Usianya sebaya dengan pemuda itu, wajahnya sungguh amat cantik jelita dan gagah perkasa dengan raut
muka sempurna, dengan kulit halus kemerahan tanda sehat, dengan mata yang indah berkilauan seperti mata burung
hong keramat, senyumnya yang semanis madu dan suaranya yang bening merdu. Juga gadis ini memakai pakaian sutera
halus yang indah, gerakannya ketika mengejar kelinci juga amat cekatan dan gagah.
Seorang gadis yang cantik jelita dan gagah pula! Sungguh merupakan pasangan yang amat setimpal dan seimbang.
Kalau orang mengenal siapa kedua orang muda ini, dia tentu takkan heran melihat kegagahan mereka dan mungkin
orang itu akan memandang kagum atau juga mungkin lari menyembunyikan diri. Pemuda yang bertubuh tegap sedang
dan berwajah tampan ini bukan lain adalah seorang pendekar yang namanya pernah menggemparkan kota raja, bahkan
pernah menggegerkan seluruh dunia persilatan. Dia adalah Pendekar Sadis! Dia adalah seorang pemuda berdarah
bangsawan, karena ayah kandungnya adalah seorang pangeran. Pendekar Sadis ini bernama Ceng Thian Sin, putera
dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw. Ayahnya itu adalah putera kandung dari mendiang Kaisar Ceng Tung dan
ibunya adalah Puteri Khamila isteri Raja Sabutai. Ayahnya itu, selain pangeran, juga terkenal sebagai seorang
ahli silat yang pernah menggegerkan dunia persi-latan dengan usahanya untuk menjadi Jagoan No-mor Satu Di
Dunia. Yang sudah mengenal Pendekar Sadis tentu te-lah mengetahui bahwa dalam hal ilmu silat Ceng Thian Sin si
Pendekar Sadis ini tidak kalah lihai dibandingkan mendiang ayahnya. Semenjak kecil dia telah digembleng oleh
ayah kandungnya sendiri, bahkan kemudian dia digembleng oleh ketua Cin-ling-pai, mewarisi ilmu silat yang hebat
dan Cin-ling-pai.
Bukan hanya itu, dia malah mewarisi pula ilmu-ilmu mujijat dari pendekar-pendekar sakti yang masih keluarga
dari Cin-ling-pai, yaitu dari pendekar sakti Yap Kun Liong dan isterinya, yaitu Cia Giok Keng. Kakek dan nenek
ini menurunkan ilmu mereka kepadanya. Juga Pendekar Lem-bah Naga berkenan menurunkan ilmu-ilmu mujijat
kepadanya. Di samping itu, dia masih mewarisi ilmu-ilmu peninggalan ayahnya, ilmu-ilmu aneh pe-ninggalan Bu
Beng Hud-couw. Pendeknya, Ceng Thian Sin merupakan seorang pemuda gemblengan yang sukar dicari tandingannya
untuk masa itu. Temannya itu, dara yang cantik jelita dan ga-gah itu, bukan pula seorang wanita sembarangan.
Jauh daripada itu! Ia bahkan memiliki tingkat yang tidak jauh bedanya dengan Pendekar Sadis Ceng Thian Sin.
Wanita ini bernama Toan Kim Hong, juga berdarah bangsawan karena ia adalah puteri kandung dari mendiang
Pangeran Toan Su Ong, seorang pangeran pemberontak yang memiliki ilmu silat yang tinggi, dan ibunya adalah
seorang wanita yang telah mewarisi ilmu peninggalan Menteri Sakti The Hoo, yang bernama Ouwyang Ci.
Dengan ilmu kepandaian warisan ayah bundanya yang tinggi, Toan Kim Hong pernah menjagoi dunia selatan, bahkan
gadis ini menyamar sebagai seorang nenek tua, menaklukkan semua tokoh kang-ouw dan lioklim, kemudian ia sebagai
seorang nenek tua diangkat dan diakuin oleh semua tokoh dunia persilatan sebagai seorang datuk selatan yang
disebut Lam-sin (Malaikat Selatan). Ilmu silatnya amat hebat dan ketika ia untuk pertama kalinya bertemu dengan
Pendekar Sadis, mereka mengadu ilmu dan terjadi pertandingan yang luar biasa hebatnya. Hanya dengan amat susah
payah sajalah Pendekar Sadis mampu mengalahkan "nenek" itu yang kemudian menanggalkan penyamarannya, berubah
menjadi seorang dara yang amat cantik jelita. Karena sumpahnya bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepada pria
yang dapat mengalahkannya, juga karena merasa saling tertarik, Kim Hong menyerahkan diri kepada Thian Sin.
Keduanya semenjak itu lalu hidup bersama, merantau ke mana-mana, hidup sebagai suami istri tanpa pernikahan
yang sah. Keduanya memang tidak mau saling mengikat, namun di dalam hati mereka itu terdapat ikatan cinta kasih
yang amat mendalam. Dua orang ini pernah ditentang oleh para pendekar, bahkan oleh keluarga Cin-ling-pai karena
sepak terjang Thian Sin yang terkenal sebagai Pendekar Sadis.
Sepak terjangnya dianggap terlalu kejam dan para pendekar menentangnya. Karena berhadapan dengan keluarga
Cin-lingpai, terutama sekali dengan ayah angkatnya, yaitu Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong, maka Thian Sin
mengalah dan tidak berani melawan. Akhirnya dia dan kekasihnya diampuni dan diapun berjanji akan membuang
jauh-jauh sifatnya yang kejam terhadap para penjahat itu dan mereka berdua lalu pergi ke tempat yang terasing,
yaitu di Pulau Teratai Merah. Tempat ini adalah tempat di mana dahulu mendiang Pangeran Toan Su Ong, ayah
kandung Kim Hong, hidup bersama anak isterinya ketika dia menjadi buronan pemerintah karena sikapnya yang suka
memberontak dan menentang kaisar. Demikianlah perkenalan kita secara singkat dengan sepasang muda-mudi yang
hebat ini. Pada waktu-waktu tertentu kedua orang ini sering kali meninggalkan pulau mereka dan melakukan
perjalanan di daratan besar, merantau dan melakukan petualangan bersama-sama, menikmati hidup dan bersama-sama
menghadapi segala peristiwa dengan sikap sebagai sepasang pendekar yang menentang kejahatan.
Pada hari itu, kebetulan sekali mereka yang hendak melakukan pejalanan pesiar ke kota Taigoan, pada waktu
melewati hutan itu, timbul kegembiraan mereka untuk menangkap kelinci ketika mereka melihat beberapa ekor
kelinci yang gemuk dan sehat. "Lihat kelinci di sana itu!" Mula-mula Kim Hong berseru sambil menunjuk ke depan
dan mereka melihat seekor kelinci putih yang muda dan gemuk muncul dari semak-semak. "Gemuknya! Ihh, basah
mulutku membayangkan dagingnya dipanggang. Tentu lezat dan sedaaappp!" Thian Sin tertawa. Mendengar suara
ketawa yang tidak wajar itu, Kim Hong yang sudah menghentikan kudanya menengok dan menatap wajah kekasihnya
dengan sinar mata menyelidik dan menuntut. "Kenapa kau ketawa seperti itu? Menertawakan aku?" Thian Sin tertawa
makin geli. "Kim Hong, membayangkan dagingnya yang putih mulus dipanggang, menimbulkan selera seperti kalau
membayangkan tubuhmu... aih, seperti ada persamaannya membayangkan antara kalian berdua..." "Tarrr...!" Pecut
kuda di tangan Kim Hong meledak di dekat kepala kuda yang ditunggangi Thian Sin, membuat kuda itu meringkik
kaget dan mengangkat kedua kaki depan tinggi-tinggi. Kalau bukan Pendekar Sadis yang berada di punggungnya,
tentu gerakan tiba-tiba ini akan membuat penunggangnya terlempar dari atas punggung kuda! "Porno kau! Cabul
kau!" Kim Hong memaki akan tetapi Tian Sin hanya tertawa. Mereka lalu berlumba untuk berburu kelinci. "Yang
dapat lebih dulu bagian makan, yang lain bagian membersihkan dan memanggang dagingnya!" kata Kim Hong akan
tetapi sambil berkata demikian, kudanya sudah meloncat ke depan dan ia sudah mengejar seekor kelinci putih yang
berlari-larian ketakutan setengah mati dikejar kuda besar. Thian Sin tertawa dan tidak mau kalah.
Lalu diapun membedal kudanya mengejar kelinci. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat
tinggi, bahkan dapat dinamakan orang-orang sakti, akan tetapi pada waktu-waktu tertentu mereka kadang-kadang
bersikap seperti kanak-kanak dan juga mereka bersikap jujur sekali. Kalau mereka menghendaki, dengan sekali
gerakan tangan saja, tentu mereka akan merobohkan seekor kelinci.
Akan tetapi, pikiran ini sama sekali jauh meninggalkan benak mereka yang sedang bergembira dan begurau itu dan
mereka kini sungguh-sungguh mempergunakan kelincahan kuda mereka untuk berburu kelinci dan berlomba secara
wajar dan jujur, sama sekali tidak berniat untuk mempergunakan ilmu kepandaian mereka. Justru di sinilah letak
kegembiraannya. Mempergunakan kelincahan kuda saja berburu kelinci tanpa mengandalkan senjata atau kepandaian,
sungguh bukan merupakan hal yang mudah. Kelinci- kelinci itu terlampau gesit untuk kuda yang bertubuh besar dan
beberapa kali kelinci-kelinci itu menyelinap dan lenyap di dalam semak-semak atau lenyap di dalam lubang.
Mereka tertawa-tawa, berebut hendak menangkap kelinci sampai mereka tidak tahu kemana kuda mereka menuju.
Tiba-tiba mereka mendengar suara anak menahan tangis. Keduanya terkejut, menghentikan kuda mereka dan melihat
ke depan. Di situ, seorang anak laki-laki sedang merangkul seorang anak perempuan dan berusaha mendekap mulut
anak perempuan itu agar jangan menjerit atau terisak. Akan tetapi, dua pasang mata mereka itu menatap kepada
dua orang penunggang kuda dengan terbelalak dan penuh rasa takut. Mereka itu adalah Cia Liong dan Cia Ling, dua
orang anak yang melarikan diri dari dalam kereta yang dihadang oleh siluman itu. Ketika mereka tiba di situ dan
mendengar suara dua orang penunggang kuda yang tertawa-tawa dan mengejar- ngejar kelinci, kemudian melihat
mereka muncul, dua orang anak itu menjadi ketakutan, mengira bahwa yang muncul itu tentulah orang-orang jahat
pula. Cia Ling sudah hampir menjerit dan menangis, akan tetapi mulutnya didekap oleh kakaknya dan kini mereka
berdiri terbelalak memandang kepada dua orang penunggang kuda itu dengan ketakutan. Melihat dua orang anak
kecil yang ketakutan di dalam hutan ini, sekali melompat Kim Hong sudah berada di depan mereka. Loncatannya itu
memang luar biasa dan akan membuat seorang ahli silat dan seorang ahli gin-kang melongo dan kagum disertai
ketakjuban. Tidak mudah meloncat dari atas punggung kuda seperti itu, tanpa mem-buat kuda itu terkejut, dan di
udara membuat pok-sai (salto) sampai dua kali dan tahu-tahu meluncur turun di dekat dua orang anak itu. Seperti
seekor burung terbang saja. Dan ini memang merupakan satu di antara keistimewaan gadis itu, yakni gin-kang
(ilmu meringankan tubuh) yang amat hebat. Kim Hong sudah berjongkok di depan dua orang anak itu, tersenyum dan
memandang manis agar mereka tidak menjadi ketakutan. "Eh, siapakah kalian adik-adik kecil ini? Dan kenapa
berdua saja di dalam hutan dan kelihatan ketakutan? Jangan takut kepadaku, aku akan menolong kalian!" Dalam
keadaan seperti itu, batin anak-anak kecil lebih peka dari pada orang tua. Cia Ling memandang wajah yang cantik
kemudian tiba-tiba merangkul dan menangis di atas pundak Kim Hong yang lalu memondongnya, "Ceritakan, apa yang
telah terjadi? Kami akan menolongmu," kata Thian Sin yang juga sudah turun dari atas kudanya dan menghampiri
dua orang anak itu. Agaknya Cia Liong juga sudah dapat mempercayai kedua orang ini yang sama sekali tidak
kelihatan seperti orang-orang jahat, "Ayah kami dibunuh siluman..." "Apa...?" Thian Sin terkejut sekali dan
berseru keras, membuat Cia Liong terkejut. Kim Hong mengerutkan alisnya dan merengut. "Kasarmu ini!" celanya
dan iapun mendekati anak laki-laki itu, "Kenapa ayahmu dibunuh siluman dan di mana? Ceritakan, jangan takut.
Kami akan melawan siluman itu!" katanya.
"Ayah kami dibunuh malam tadi... dan ibu kami diculik siluman..."
"Ahh...!" Kim Hong juga terkejut "Dan bagaimana kalian bisa berada di sini?" "Kami dibawa lari oleh paman Kwee
Siu, naik kereta akan tetapi di jalan... di jalan... siluman itu menghadang dan sekarang berkelahi dengan paman
Kwee Siu... dan kami melarikan diri..." "Di mana pamanmu itu sekarang?" Thian Sin bertanya. "Di sana..." Cia
Liong menuding ke belakang. "Kim Hong, bawa mereka, aku akan ke sana!" Belum habis kata-katanya, orangnya sudah
lenyap ketika Thian Sin melompat dan tubuhnya berkelebat lenyap. Kim Hong menuntun dua ekor kuda dan
mendudukkan dua orang anak itu di atas punggung kuda, dan iapun menyusul ke arah larinya Thian Sin. Ketika Kim
Hong tiba di tempat perkelahian itu, ia melihat Thian Sin sedang berjongkok di de-kat sesosok tubuh yang
nampaknya sudah menjadi mayat. Thian Sin sedang berusaha membuat orang yang belum tewas benar itu memperoleh
kekuatan dengan jalan menotok sana-sini. Iapun menurun-kan dua orang anak itu dan cepat menghampiri. "Paman
Kwee..." Dua orang anak itu menangis dan mengertilah Thian Sin dan Kim Hong bahwa korban ini adalah paman yang
melarikan dua orang anak itu, agaknya hendak menyelamatkan mereka dan melarikan dari bahaya, namun tetap saja
bahaya maut itu datang menjemput. Akhirnya usaha Thian Sin berhasil. Orang yang dadanya luka oleh tusukan
pedangnya sendiri dan pelipisnya retak karena pukulan itu menggerakkan mata dan bibirnya, kemudian dia mengeluh
panjang, lalu terdengar suaranya berbisik lemah, "Si... siluman... guha... tengkorak... ahhhh... tewas semua...
su... susiok..." Kwee Siu tak mampu melanjutkan kata-katanya karena lehernya terkulai dan nyawanya melayang.
"Paman...!" Dua orang anak itu yang dapat menduga apa yang telah terjadi, menangis. Akan tetapi Kim Hong dapat
membujuk dan menghibur mereka, membawa mereka ke dalam kereta. Ke-mudian wanita perkasa ini membantu Thian Sin
untuk mengubur jenazah Kwee Siu di dalam hutan itu. Mereka berdua maklum bahwa di balik semua ini tentu
terdapat rahasia, dan mereka dapat me-rasakan bahaya maut mengancam dua orang anak itu. Oleh karena itulah maka
mereka tidak mau ribut-ribut, melainkan diam-diam mengubur jenazah Kwee Siu dan mengambil keputusan untuk
menye-lidiki urusan ini dan selain menghukum penjahat--penjahatnya, juga berusaha menolong ibu anak--anak itu
yang katanya diculik "siluman". Apa lagi mereka mendengar pesan terakhir paman dua orang anak itu tentang
Siluman Guha Tengkorak! Mereka belum pernah mendengar nama ini namun mudah diduga bahwa penjahat-penjahat itu
tentulah yang memakai nama Siluman Guha Tengkorak. Setelah selesai mengubur jenazah itu secara sederhana,
mereka lalu menghampiri Cia Liong dan Cia Ling yang masih terisak-isak dan nampak bingung. "Anak-anak, jangan
kalian khawatir. Kami akan mencari ibu kalian kami akan melindungi kalian. Sebaiknya sekarang ceritakan
semuanya agar kami tahu ke mana kami harus mencari ibumu itu," kata Kim Hong dengan suara membujuk. "Sebaiknya
katakan dulu, siapakah nama kalian dan siapa ayah kalian?" Thian Sin ikut bertanya sambil mengelus rambut
kepala Cia Ling. Cia Liong mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Nama saya Cia Liong dan adik saya ini Cia Ling, ayah kami bernama Cia Kok Heng..." "She Cia...?" Thian Sin
membelalak dan di dalam hatinya timbul perasaan mesra terhadap mereka. Hal ini tidaklah mengherankan. Nama
keturunan Cia merupakan nama keturunan yang amat dekat di hatinya. Orang-orang she Cia dari keluarga Cia, yaitu
keluarga Cia Sin Liong Pendekar Lembah Naga merupakan orang-orang yang paling dicintainya di dalam dunia
semenjak dia masih kecil. Oleh karena itu, begitu mendengar bahwa dua orang anak inipun she Cia, timbul
perasaan mesra terhadap mereka, walaupun dia tahu bahwa belum tentu persamaan she itu menunjukkan bahwa mereka
berdua itu masih keluarga dekat dengan Pendekar Lembah Naga. Apa yang dirasakan oleh Pendekar Sadis Ceng Thian
Sin ini juga dirasakan oleh kebanyakan dari kita. Timbulnya karena pengembangan dari si aku. Pementingan diri
atau perhatian yang dipusatkan kepada si aku inilah yang menimbulkan rasa suka tidak suka. Si aku tidak hanya
terbatas kepada pribadi belaka, melainkan dapat berkembang dan meluas menjadi keluargaku, milikku, sahabatku,
golonganku, bangsaku, agamaku dan sebagainya. Jadi, sesungguhnya, si akulah yang dipentingkan atau apapun juga
yang menguntungkan atau merugikan aku. Kedua orang anak kecil itupun sudah mempunyai arti yang lain bagi Thian
Sin begitu dia mengetahui bahwa mereka itu bermarga Cia! Tentu sikap dan perlakuannya akan jauh berbeda
andaikata mereka itu tidak bermarga Cia. Di sini sudah timbul penilaian yang membedakan, timbul pilih kasih,
timbul ketidakadilan. Dan segala seuatu yang bersumber kepada pementingan si aku, baik aku sebagai diri pribadi
maupun si aku yang telah berkembang, sudah pasti menimbulkan konflik dengan akunya orang lain pula. Biarpun dia
sendiri tidak mengetahui dengan jelas duduk persoalannya, namun Cia Liong dapat menceritakan dengan cukup
jelas. Bahwa ayahnya menerima ancaman gambar dari Siluman Guha Tengkorak di dinding luar rumah mereka, kemudian
ayahnya dan lima orang sahabat ayahnya tewas oleh penyerbuan siluman itu. Kemudian bahwa mereka dibawa lari
oleh Kwee Siu akan tetapi di dalam hutan itu dihadang oleh siluman.
"Jadi ibumu diculik penjahat malam tadi?" tanya Kim Hong sambil mengerutkan alisnya. Sayang, anak ini tidak
tahu mengapa penjahat yang dise-but Siluman Guha Tengkorak itu melakukan perbuatan yang demikian kejamnya. Ia
tidak tahu apakah ia menghadapi peristiwa kejahatan biasa ataukah ada sebab-sebab permusuhan di antara si
penjahat dan orang tua anak-anak ini. "Ibu dan kami dibawa terbang oleh siluman ke atas genteng, dan kami
berdua lalu dilempar ke bawah, untung ada paman-paman yang menyelamat-kan kami. Akan tetapi ibu dilarikan entah
ke mana," kata Cia Liong. Anak inipun menceritakan bahwa ayahnya dan enam orang paman itu adalah Tujuh Pendekar
Tai-goan. "Kim Hong, kita membagi tugas sekarang. Kau bawalah mereka ini pergi dari sini, sebaiknya kautitipkan
kepada keluarga yang boleh dipercaya di luar kota Tai-goan saja. Aku sendiri akan mencoba untuk mencari jejak
penjahat itu, siapa tahu dia belum pergi jauh." Kim Hong mengangguk.
"Baik, aku akan memakai kereta ini. Dan di mana kita akan bertemu dan kapan?"
"Lewat tengah hari di tempat ini. Kita saling menanti sampai sore."
Kim Hong mengangguk. Dua orang yang tadinya bersendau-gurau seperti kanak-kanak itu kini sama sekali telah
merubah sikap. Mereka bicara singkat, bersungguh-sungguh dan agaknya hanya dengan gerak-gerik dan pandang mata
saja, mereka telah mampu untuk saling mengerti. Memang, kedua orang yang saling mencinta ini selain perasaan
cinta kasih yang mendalam satu sama lain, juga memiliki pengertian yang mendalam pula, yang membuat mereka
dapat bekerja sama dengan baik dan kadang-kadang bahkan mereka merasa seolah--olah mereka terdiri dari dua
badan namun satu perasaan. Kim Hong lalu mengikat kudanya di belakang kereta, kemudian membawa dua orang anak
itu pergi meninggalkan hutan, menuju ke kota Tai-goan dengan maksud untuk mencari dusun di luar kota untuk
memilih keluarga yang hendak dititipi dua orang anak itu untuk sementara. Sedangkan Thian Sin juga lalu
meloncat ke atas punggung kudanya dan mencari-cari jejak di sekeliling tempat itu. Kadang-kadang dia meloncat
dari atas kudanya, memeriksa tanah dan rumput dan akhirnya dia menemukan jejak kaki, yaitu ujung sepatu yang
menginjak tanah meningalkan bekas atau jejak yang ringan sekali. Dia tahu bahwa pemakai sepatu itu adalah
seorang yang memiliki gin-kang yang amat tinggi, walaupun tidak sehebat gin-kang yang dikuasai Kim Hong, namun
cukup jelas menyatakan bahwa orang ini merupakan lawan yang tangguh. Maka diapun berhati-hati dan mulai
mengikuti jejak itu. Sementara itu, Kim Hong telah menemukan keluarga yang dianggapnya cukup dapat dipercaya
untuk dititipi dua orang anak itu. Keluarga petani itu sendiri mempunyai seorang anak kecil berusia lima tahun
dan di dusun itu dia dianggap sebagai orang yang dihormati karena dia cukup pandai menulis dan terkenal sebagai
orang yang jujur. Kim Hong memberinya uang, bahkan menyerahkan kereta berikut kudanya kepada petani itu dan
menitipkan dua orang anak she Cia untuk selama beberapa pekan lamanya. "Jaga mereka baik-baik dan jangan
biarkan mereka bermain terlalu jauh, sebaiknya bermain di dalam rumah saja. Setelah urusanku selesai, aku akan
datang menjemput mereka," katanya dan kepada dua orang anak itu, Kim Hong berpesan agar mereka itu menutup
mulut dan jangan menceritakan kepada siapa juga tentang urusan mereka. "Aku akan mencari ibu kalian sampai
dapat." demikian ia menjanjikan. Tentu saja dua orang anak itu merasa girang dan terhibur.
***
Menanti merupakan pekerjaan yang paling me-ngesalkan hati dan juga melelahkan. Waktu rasanya berhenti berjalan
atau berjalan juga dengan mera-yap perlahan seperti gerak maju seekor siput. Apalagi kalau di balik penantian
itu terdapat urusan yang menggelisahkan hati seperti halnya Kim Hong ketika ia menanti datangnya Thian Sin di
dalam hutan, di tempat yang telah dijanjikan tadi. Kim Hong membiarkan kudanya makan rumput dan ia sendiri
duduk di atas batu besar di tepi jalan. Kadang-kadang matanya ditujukan ke arah gundukan tanah yang menjdi
kuburan Kwee Siu, seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan. Berada seorang diri di dekat kuburan baru itu
menimbulkan rasa kesepian yang mencekam, menimbulkan bayangan pikiran yang bukan-bukan. Orang yang dikubur itu
adalah seorang pendekar, yang agaknya tewas dalam tugasnya sebagai seorang pendekar, dalam usahanya
menyelamatkan dua orang anak itu. Begitukah saat terakhir seorang pendekar? Tewas di tempat sunyi, tanpa ada
yang mengetahui, bahkan mungkin orang she Kwee ini meninggalkan keluarga yang masih belum tahu akan
kematiannya. Betapa menyedihkan! Akan seperti itu jugakah nasibnya? Nasib Thian Sin? Betapa menyedihkan.
Tiba-tiba gadis itu menepuk mati seekor semut yang merayap dan menggigit punggung tangannya. Ah, kenapa ia
tiba-tiba menjadi selemah itu? Kalau perlu, mati seperti yang dialami oleh orang she Kwee itu boleh saja!
Kematian takkan mungkin dapat dihindarkan oleh siapapun juga, soal kapan waktunya merupakan rahasia yang tak
terpecahkan dari manusia. Dan mati seperti yang dialami oleh orang she Kwe ini cukup terhormat! Sebagai seorang
pendekar yang sedang melaksanakan tugasnya sebagai pendekar, yaitu menolong orang lain, melindungi yang lemah
tertindas dan menentang yang kuat menindas. Kalah atau menang dengan akibat mati atau hidup hanyalah akibat
dari pada perjuangan dan bukankah hidup ini perjuangan juga? Bukankah kematian mengelilingi kita setiap saat?
Bukan kematian yang penting untuk direnungkan, melainkan cara dari kematian itu. Mati dalam kebenaran, mati
sebagai seorang pendekar perkasa penentang kejahatan seperti orang she Kwee itu adalah kematian yang patut
dibang-gakan dan dikagumi orang. Kematian itu sendiri bukan soal, melainkan suatu kewajaran. Akan tetapi dalam
keadaan bagaimana seseorang mati, itulah yang penting. Andai kata yang menanti datangnya Thian Sin di tempat
seperti itu bukan seorang wanita seperti Kim Hong, tentu hati wanita itu sudah menjadi kesal bukan main dan
tentu akan marah-marah kepada orang yang dinanti-nantinya. Akan tetapi Kim Hong bukanlah seorang wanita
cengeng. Sama sekali bukan, bahkan sebaliknya dari pada itu ia seorang pendekar wanita yang gagah perkasa yang
biasa mempergunakan akal budinya dan sama sekali tidak menuruti perasaannya dalam menghadapi urusan penting dan
gawat. Maka, biarpun ia telah menanti sampai matahari condong ke barat dan Thian Sin belum muncul, ia sama
sekali tidak pernah mempunyai perasaan menyalahkan pemuda itu. Kepercayaannya terhadap Thian Sin sudah penuh
dan tidak dapat diragukan lagi seperti juga kepercayaan pemuda itu terhadap dirinya. Ia merasa yakin bahwa kalu
Thian Sin belum muncul, hal itu hanya berarti bahwa pemuda itu memang belum sempat dapat datang, dan ini
berarti bahwa kekasihnya itu telah menemukan sesuatu dalam penyelidikannya! Dan, biarpun kecil sekali
kemungkinannya karena ia tahu dan mengenal benar orang macam apa adanya Thian Sin, bisa saja terjadi bahwa
kekasihnya itu mendapatkan halangan! Hal inilah yang dipikirkan dan setelah hari mulai gelap, kekhawatiran
mulai menyelubungi hatinya. Satu-satunya jalan baginya hanya menyelidiki dan menyusul! Akan tetapi, menyelidiki
jejak kaki kuda yang ditunggangi Thian Sin tidak mungkin dilakukan di malam hari, maka tidak ada jalan baginya
kecuali menanti sampai terlewatnya malam itu.
Malam yang tidak menyedapkan hati! Malam sunyi sepi, di dekat kuburan baru, menanti datangnya orang yang tak
kunjung muncul. Untung masih ada kudanya, setidaknya merupakan makhluk yang membuktikan adanya kehidupan yang
dapat bergerak, Kim Hong membuat api unggun, mencoba untuk tidur akan tetapi bayangan tentang Thian Sin
tertimpa bencana menggoda pikirannya sehingga harapan satu-satunya hanyalah agar malam itu cepat berlalu dan ia
dapat segera mulai menyusul kekasihnya. Malam seperti itu tentu menjadi malam yang menyeramkan dan menakutkan
bagi orang lain, apalagi bagi seorang wanita yang berada di tempat sunyi seorang diri saja. Orang mudah
dihinggapi rasa takut di tempat sunyi, apalagi di malam hari yang amat gelap seperti itu, lebih-lebih pula
kalau di situ terdapat sebuah kuburan yang baru siang tadi diisi jenazah yang mandi darah, pula kalau diketahui
bahwa ada musuh yang amat tangguh dan berbahaya yang mungkin saja mengancam diri. Namun, seorang pendekar
seperti Toan Kim Hong sudah dapat mengatasi rasa takut ini. Seperti para pendekar lainnya, dara ini sudah
maklum apa yang menimbulkan rasa takut, maka iapun dapat meniadakan sebab timbulnya rasa takut ini. Setiap
orang biar yang tidak memiliki ilmu silat seperti Kim Hong, tidak memiliki andalan untuk melindungi diri
sebaiknya, dapat saja menjadi orang yang memiliki ketabahan dan ketenangan hati seperti Kim Hong! Yang perlu
diselidiki adalah rasa takut itu sendiri. Apakah rasa takut itu? Dan dari mana timbulnya? Rasa takut tidak
terpisah dari pada batin, karena rasa takut adalah keadaan batin itu sendiri pada saat itu. Rasa takut timbul
karena ingatan membayangkan sesuatu yang akan amat tidak menyenangkan diri. Rasa takut tidak pernah terpisah
dari bayangan yang diciptakan oleh pikiran yang mengingat-ingat hal-hal yang lalu dan bayangkan hal-hal yang
mungkin terjadi di masa depan. Rasa takut sudah pasti merupakan pengintaian atau penjengukan masa depan yang
dibayangkan itu, atau rasa takut itu tentu takut akan sesuatu yang tidak ada atau belum ada! Yang takut akan
setan belum melihat setan itu sendiri, takutnya timbul karena pikiran membayangkan kemungkinan munculnya setan.
Demikian pula yang takut akan bencana tentu belum tertimpa bencana itu, takut akan kematian tentu karena hal
yang ditakutkan itu belum ada maka timbullah bayangan-bayangan yang mengerikan. Orang yang tidak membayangkan
setan tak mungkin takut akan setan, yang tidak membayangkan kematian tak mungkin takut kematian dan sebagainya.
Hal ini merupakan kenyatan yang dapat kita selidiki sendiri. Jadi jelaslah bahwa rasa takut adalah bayangan
pikiran yang dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain,
kemudian pikiran menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang tidak menguntungkan diri. Timbullah rasa takut. Dan
rasa takut ini sama sekali tidak ada manfaatnya bagi hidup. Bahkan rasa takut ini membuat kita kehilangan
kewaspadaan, segala tindakan kita terpengaruh olehnya. Biasanya kita menghadapi rasa takut sebagai sesuatu yang
terpisah dari pada batin kita. Kita ingin menghindari rasa takut, maka muncullah hiburan-hiburan untuk
melupakan hal-hal yang mendatangkan rasa takut itu. Akan tetapi hal ini hanya merupakan pelarian yang sia-sia
belaka. Rasa takut akan setan umpamanya, tidak mungkin lenyap hanya dengan melarikan diri dari rasa takut,
dengan jalan menghiburnya, mencari teman, pergi ke tempat ramai dan sebagainya. Lain saat rasa takut itu akan
muncul lagi setiap kali pikiran kita membayangkan tentang kengerian-kengerian bertemu setan. Mengapa tidak kita
hadapi saja rasa takut itu? Kita amati saja kalau rasa takut itu sewaktu-waktu muncul dan ini merupakan sesuatu
yang teramat menarik dan teramat berharga untuk diselami dan dihayati sendiri. Kalau rasa takut muncul, baik
rasa takut akan setan, rasa takut akan bencana, malapetaka, maupun rasa takut akan kematian, mengapa tidak kita
hadapi saja rasa takut itu tanpa ingin melarikan diri darinya? Hadapi saja, amati saja penuh perhatian sehingga
kita dapat melihat dengan sepenuhnya, dapat mengerti sepenuhnya, apa sesungguhnya rasa takut itu sehingga bukan
kita yang menghindarkan diri dari rasa takut melainkan rasa takut itu sendiri yang lenyap dari lubuk hati kita?
Mengapa kita tidak membebaskan diri saja dari rasa takut yang dapat menimbulkan berbagai macam akibat dalam
sikap dan tindakan dalam hidup kita?
Semalam suntuk Kim Hong hanya duduk bersila di dekat api unggun, tak pernah bergerak seperti patung. Hanya
kadang-kadang saja kalau harus menambah kayu bakar, ia bergerak sebentar kemudian duduk lagi. Suara api
membakar kayu menimbulkan suara dan menarik perhatiannya sehingga tidak mendengar suara lain dan tidak tahu
bahwa ada sosok tubuh orang menyelinap di antara pohon-pohon di sekelilingnya dan ada sepasang mata
mengintainya sejak tadi. Ketika itu, malam telah hampir habis dan fajar telah menyingsing di ufuk timur. Akan
tetapi karena nyamuk masih belum meninggalkan tempat yang masih gelap itu, Kim Hong masih terus menyalakan api
unggun dan duduk dengan tenangnya, hatinya mulai gembira melihat bahwa di sebelah timur telah mulai nampak
sinar kemerahan. Ringkik kudanya yang mula-mula membuatnya waspada. Cepat ia mencurahkan perhatiannya ke
sekeliling dan pandang matanya yang tajam itu menangkap berkelebatnya bayangan di balik pohon di sebelah
kirinya. Kudanya mendengus-dengus dan Kim Hong mengambil sikap tenang, pura-pura tidak tahu bahwa waktu itu ada
orang yang mengintainya. Mengapa orang itu mengintai saja dan tidak turun tangan sejak tadi, pikirnya. Apa-kah
munculnya orang ini ada hubungannya dengan penjahat yang menculik ibu dua orang anak itu? Ataukah ada
hubungannya dengan menghilangnya Thian Sin? Kalau orang itu adalah si penjahat yang suka menculik wanita,
mungkin sekali dia mengintaiku untuk kemudian turun tangan menangkap dan menculikku. Akan tetapi kalau ada
hubungannya dengan menghilangnya Thian Sin, kalau orang itu sudah tahu akan kelihaian Thian Sin, mungkin sekali
diapun berhati-hati kepadanya. Sungguh tidak enak menanti dan menduga-duga seperti ini. Lebih baik memberi
kesempatan dan memancing agar orang itu bergerak turun tangan. Api unggun mulai padam, sengaja dibiarkan saja
oleh Kim Hong dan dalam duduknya, dara itu kelihatan melenggut. Kemudian ia membiarkan dirinya, diserang hawa
dingin pagi, menggigil sedi-kit lalu menguap, menutupkan punggung tangan depan mulut, lalu merebahkan dirinya
bersandar pada batang pohon dan tidur. Sikap dan gerakannya demikian wajar sehingga siapapun juga tentu akan
menduga bahwa gadis ini merasa kedinginan dan mengantuk dan dengan mudahnya jatuh pulas ketika merebahkan diri
dan bersandar pada batang pohon itu. Dan agaknya, orang yang mengintainya dari balik batang pohon itupun
menduga demikian. Dia membiarkan sampai gadis itu tertidur selama setengah jam, barulah dengan gerakan kaki
yang amat ringan dia keluar dari balik pohon dan menghampiri. Sejenak dia berdiri memandang wajah dan tubuh
yang terlentang di depannya itu dan sepasang mata itu mengeluarkan sinar kagum. Memang, melihat Kim Hong rebah
terlen-tang setengah duduk bersandar batang pohon di pagi hari itu merupakan pemandangan yang indah menarik.
Hati siapa takkan tergerak melihat tubuh yang padat dan matang itu setengah terlentang, dan melihat wajah yang
luar biasa cantiknya itu, sedikit tertutup uraian rambut, dengan mata terpejam dilindungi bulu mata yang
lentik, bibirnya kemerahan mengulum senyum, lehernya yang panjang itu nampak terbuka sehingga kulit leher putih
mulus itu menantang pandang mata? Adapun Kim Hong sejak tadi sudah melihat orang dan jantungnya berdebar
tegang. Orang itu adalah seorang laki-laki yang memakai sutera putih dan di dadanya terdapat lukisan tengkorak
dari tinta merah atau darah, dan muka orang itu memakai topeng tengkorak pula! Sungguh mengerikan dan tentu
akan menakutkan orang melihat siluman ini muncul di pagi hari buta dan di tempat sunyi seperti itu. Akan
tetapi, di dalam hatinya, Kim Hong memasa geli, akan tetapi juga marah. Inikah orangnya yang telah membunuh
Tujuh Pendekar Tai-goan, dan sudah menculik ibu dua orang anak itu? Apakah dia ini berhasil menghindarkan diri
dari pencarian Thian Sin, kemudian malah datang ke sini untuk menculiknya? Orang bertopeng itu agaknya puas
memandang Kim Hong dan diapun mengangguk-angguk, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kertas dari dalam saku
bajunya. Dia melangkah dekat, lalu kertas dari dalam itu dibukanya dan begitu dia mengebutkan kertas itu,
bubukan berwarna merah berhamburan ke arah muka Kim Hong! Akan tetapi, pada saat itu, Kim Hong sudah bergerak
dengan amat cepatnya, meloncat dan menggunakan kakinya untuk menendang. "Wuuuttt...! Dukkk!" Tubuh orang
bertopeng itu terpelanting dan terlempar ke belakang. Tentu saja siluman itu terkejut setengah mati. Sama
sekali tidak pernah diduganya bahwa dara yabg cantik jelita itu, yang nampak tidur pulas, tahu-tahu dapat
mengirim tendangan yang demikian cepat dan hebatnya. Dia tadi masih mampu menangkis, akan tetapi karena kurang
cepat dan kurang mengerahkan tenaga, tendangan yang luar biasa kuatnya itu membuat tubuhnya terpelanting bahkan
terlempar ke belakang. Akan tetapi, begitu tubuhnya terbanting, cepat orang itu sudah mampu meloncat bangun
kembali! Dan dia menjadi semakin heran melihat betapa gadis itu tidak terpengaruh oleh bubuk obat biusnya!
Padahal bubuk obat bius merah itu amat kuat dan sukar dilawan oleh orang yang pandai sekalipun. Dia tadi tidak
melihat betapa dengan sehelai saputangan, Kim Houg mengebut bubuk merah itu dengan pengerahan sin-kang sehingga
bubuk merah itu tertiup pergi dan tidak ada yang mengenai mukanya. Karena kecelik, siluman itu agaknya merasa
penasaran sekali. Dia mengeluarkan gerengan marah dan tiba-tiba tubuhnya meluncur ke depan dan diapun sudah
menyerang Kim Hong dengan dahsyat. Tangan kananya meraih ke arah leher seperti hendak mencengkeram, sedangkan
jari tangan kirinya meluncur dan menotok ke arah jalan darah di pundak. Totokan ke arah pundak inilah yang
bahaya karena selain "tertutup" oleh cengkeraman tangan kanan, juga yang diarah itu jalan darah yang penting
dan yang akan membuat orang yang kena ditotoknya menjadi lemas takkan mampu bergerak lagi! Akan tetapi, tentu
saja serangan mnacam itu bukan apa-apa bagi Kim Hong. Gadis ini sudah dapat mengukur dalam tendangannya tadi
bahwa walaupun siluman ini memiliki kepandaian lumayan dan lebih dari pada penjahat-penjahat biasa, yang
memiliki tubuh yang kuat, namun bukan merupakan lawan yang terlalu tangguh baginya. Oleh karena itu, Kim Hong
menjadi marah dan ingin mempermainkan lawan, ingin menghajarnya, baru kemudian ia akan melucuti kedoknya dan
akan memaksanya mengaku tentang peran Siluman Guha Tengkorak dan ibu anak-anak yang telah diculiknya itu. Maka,
begitu serangan itu datang, ia menyambutnya dengan mudah sekali tanpa mengerahkan banyak tenaga dan kecepatan,
ia telah dapat menghindarkan diri dari dua serangan itu. Ia sengaja tidak mau membalas dan membiarkan siluman
itu menyerangnya secara bertubi-tubi untuk mengukur sampai di mana tingkat kepandaian lawan. Setelah ia
membiarkan lawannya menyerangnya sampai belasan jurus, iapun mengerti bahwa lawan ini memiliki dasar ilmu silat
campuran dan tidak dapat digolongkan sebagai seorang ahli yang sudah matang. Maka, iapun ingin menghentikan
perkelahian itu dan ketika orang itu menyerangnya lagi dengan tangan kanan mencengkeram ke arah dada, serangan
yang sungguh tak tahu malu dari seorang lawan pria terhadap seorang wanita, Kim Hong sudah menyelinap ke
samping dan begitu kakinya melayang, ia telah menendang perut orang itu dengan keras. "Desss...!" Tubuh orang
itu melayang untuk kedua kalinya, sekali ini melayang jauh dan terbanting jatuh dekat dengan kuda tunggangan
Kim Hong yang menjadi kaget dan meringkik. Tendangan tadi amat keras dan biarpun Kim Hong tidak bermaksud
membunuhnya, atau belum lagi, namun tendangan itu cukup hebat untuk membuat orang itu memuntahkan darah segar
dari mulutnya. Akan tetapi, memang orang itu memiliki tubuh yang kuat dan tahan uji, karena begitu terbanting
jatuh, dengan mulut mengeluarkan darah, dia sudah meloncat dan tahu-tahu dia sudah berada di atas punggung kuda
tunggangan Kim Hong. Kuda itu-pun dibedalkannya dengan cepat sekali meninggalkan tempat itu. "Hei, badut
keparat! Hendak lari ke mana engkau?" Kim Hong terkejut dan marah sekali, lalu menggerakkan kedua kakinya
mengejar. Dara ini seorang ahli gin-kang dan gerakannya luar biasa cepatnya, larinya tidak kalah oleh larinya
kuda. Akan tetapi karena siluman itu nampaknya jerih sekali dan tidak mau tersusul, kuda itu dibalapkannya dan
dipukulinya dengan tangan terbuka sehingga kuda itu berlari amat cepat. Kim Hong terus mengejar, bukan saja
hendak menangkap si penjahat melainkan juga untuk mendapatkan kembali kudanya. Kini kuda itu meninggalkan jalan
dan memasuki hutan. Kim Hong tetap mengejarnya sampai si penunggang kuda itu tiba di tepi jurang, jurang yang
menganga lebar dan dalam, selebar kurang lebih empat tombak. Dan Kim Hong melihat siluman itu terus saja
membedalkan kudanya, bahkan membawa kudanya meloncati jurang! "Heii, jangan...!" Kim Hong berteriak karena dari
jauh saja ia sudah melihat bahwa perbuatan itu merupakan tindakan nekat dan mempertaruh-kan nyawa dengan
sia-sia. Jurang itu terlalu lebar untuk dapat diloncati oleh kudanya. Kuda itu kini "terbang" di atas jurang
dan dengan mata terbelalak Kim Hong berhenti dan memandang, melihat betapa kaki depan kuda itu memang telah
menca-pai tepi jurang di seberang, akan tetapi karena sebagian besar badannya yang belakang belum sampai, maka
kuda itu terjengkang dan bersa-ma dengan penunggangnya meluncur jatuh ke da-lam jurang yang amat dalam itu! Kim
Hong me-ngepal tinju dan lari ke tepi jurang, menjenguk ke bawah dan ia melihat betapa kuda dan penunggangnya
terbanting-banting ke lereng bukit yang berbatu-batu, kemudian berhenti dan tidak bergerak--gerak lagi.
"Keparat!" Kim Hong mendesis dan ia merasa kecewa sekali dan menyesal mengapa tidak dari tadi ia merobohkan
saja orang itu agar dapat dikorek keterangan darinya. Sekarang, bukan saja penjahat itu telah mati dan tidak
ada gunanya lagi, juga kudanya ikut mati. Terpaksa ia kembali ke tempat tadi dan mulailah ia mencari jejak kuda
yang ditunggangi Thian Sin kemarin siang. Tidak mudah mencari jejak kuda yang sudah lewat sehari semalam.
Rumput yang diinjak kuda sudah berdiri lagi dan menutupi jejak pada tanah. Untung baginya, tanah di hutan itu
lembab dan hal ini membuat jejak kaki kuda itu agak tahan lama. Dengan hati-hati ia mencari, menemukan jejak
kaki kuda itu dan mengikutinya dengan jalan kaki. Ia harus menemukan Thian Sin. Ia tidak percaya bahwa riwayat
Siluman Guha Tongkorak akan habis begitu saja bersama jatuhnya orang tadi dengan kudanya ke dalam jurang. Kalau
siluman atau penjahat itu hanya seorang seperti itu kepandaiannya, tidak mungkin orang-orang yang sudah
dijuluki Tujuh Pendekar Tai-goan begitu mudah dibunuhnya. Apa lagi, tidak mungkin kalau Thian Sin sampai tidak
mampu menemukannya setelah pemuda itu mencari selama sehari semalam. Tentu ada apa-apa di balik semua ini, ada
kekuatan yang jauh lebih hebat dari pada sekedar penjahat bertopeng tengkorak tadi. Tanpa setahu Kim Hong,
jejak kuda yang ditunggangi Thian Sin itu membawanya kepada daerah Guha Tongkorak! Ia tidak menyadari hal ini
karena memang ia tidak mengenal daerah itu. Tidak ada kesempatan baginya dan juga bagi Thian Sin untuk
menyelidiki keadaan Siluman Guha Tengkorak yang baru pertama kali mereka dengar dari mulut Kwee Siu ketika
pendekar itu dalam keadaan sekarat. Peristiwa demi peristiwa terjadi susul menyusul demikian cepatnya.
Mula-mula pertemuan mereka dengan dua orang anak-anak yang mengatakan bahwa ayah dan pamanpaman mereka terbunuh
siluman dan bahwa ibu mereka terculik. Kemudian pertemuan mereka dengan Kwee Siu yang menghadapi maut. Lalu
menghilangnya Thian Sin yang mengikuti jejak siluman dan tak kunjung kembali ke dalam hutan seperti yang telah
mereka janjikan. Dan munculnya siluman yang mencoba untuk membiusnya, kemudian berakhir dengan kematian
mengerikan bagi siluman itu sebelum Kim Hong sempat membuka rahasianya. Semua itu terjadi dalam waktu semalam
saja dan kini ia telah mengikuti jejak kekasihnya. Melihat keadaan yang liar dan sunyi dari tempat ke mana
jejak itu membawanya, Kim Hong mulai merasa khawatir. Agaknya ia dibawa ke tempat yang berbahaya, karena makin
lama tempat itu semakin sunyi. Tak nampak ada seorangpun manusia dan ketika jejak itu tiba di tepi Sungai
Fen-ho yang berbatubatu karang, jejak itupun lenyap. Tentu Thian Sin melanjutkannya dengan jalan kaki,
pikirnya. Jalan itu mendaki tebing dan amat sukar dilalui manusia, apalagi kuda. Kim Hong tidak melanjutkan
perjalanannya. Ia meragu, karena tidak tahu ke mana ia harus melanjutkan perjalanan. Yang berada di depannya
itu merupakan jalan pendakian ke sebuah tebing yang curam dan ia tidak tahu ada apa di balik tebing atau di
sebelah atas itu. Ia tidak tahu ke mana Thian Sin melanjutkan perjalanannya dan tidak dapat menduga apa yang
telah terjadi setelah kekasihnya itu tiba di tempat ini. Tiba-tiba ketika ia memeriksa keadaan sekeliling dan
melihat-lihat, di atas bukit kecil di sebelah kiri terdapat sebuah bangunan kuil kecil kuno yang berdiri
terpencil. Agaknya sebuah kuil yang tidak dipergunakan lagi, dan mungkin saja untuk tempat tinggal seorang
pertapa atau bukan tidak mungkin tempat terpencil itu menjadi tempat persembunyian penjahat! Timbul semangatnya
karena ia berpendapat bahwa kalau Thian Sin tiba di sini dan melihat kuil itu tentu kekasihnya itupun akan
mengunjungi dan memeriksa tempat itu sebagai langkah pertama dalam penyelidikan mengenai Siluman Guha Tengkorak
itu. Kim Hong lalu mulai mendaki tebing yang amat sukar itu. Akan tetapi karena ia memiliki gin-kang yang amat
hebat, ia dapat mendaki tempat itu dengan cepat dan tak lama kemudian, tanpa banyak kesukaran ia telah tiba di
pekarangan kuil kuno. Akan tetapi, pekarangan itu ada bersih ada bekas sapuan di situ. Hal ini menandakan bahwa
tempat itu berpenghuni! Siapa tahu penghuninya adalah penjahat yang dicari-carinya. Pikiran ini membuat Kim
Hong bersikap hatihati dan iapun menyelinap dan menghampiri kuil kuno itu dari belakang. Ketika ia melihat
seekor kuda ditambatkan di bagian belakang dari kuil itu, jantungnya berdebar tegang dan girang. Ia mengenal
kuda itu, kuda tunggangan Thian Sin! Dihampirinya kuda itu dan ditepuk-tepuk punggungnya. Kuda itupun mengenal
Kim Hong dan membelai tangan dara itu dengan mukanya. Ah, kalau saja kuda ini mampu bicara, tentu banyak yang
diceritakannya dan ia tidak perlu bingung-bingung mencari tahu apa yang telah terjadi dengan Thian Sin sehingga
pemuda itu tidak kembali ke hutan. "Hei, siapa yang berani mencoba mencuri kuda?" Kim Hong terkejut dan cepat
membalikkan tu-buhnya. Kiranya yang menegurnya itu adalah seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun,
berpakaian seperti seorang tosu, tubuhnya kurus dan kedua pipinya cekung sehingga tanpa kedok tengkorak
sekalipun muka itu sudah hampir mendekati bentuk tengkorak. Tapi kakek itu jelas orang tosu, bukan orang
penjahat yang memakai jubah putih bergambar tengkorak, tidak pula memakai kedok. Akan tetapi Kim Hong bermaksud
mengejutkan hati pendeta itu dengan pertanyaan yang tiba-tiba datangnya. "Totiang, ke mana perginya pemilik
kuda ini?" Tosu itu berjalan menghampiri dan sejenak memandang Kim Hong penuh perhatian. "Pemilik kuda ini?
Ahh, apakah nona yang menjadi sahabatnya dan yang malam tadi menunggunya di dalam hutan?" Kim Hong mengangguk
dan memandang tajam. "Totiang, ke mana perginya sahabatku itu? Mengapa dia tidak kembali ke hutan?" "Ah, ah,
pinto telah menanti-nantimu, nona. Pinto merasa khawatir sekali akan nasib kongcu itu..." "Ada apakah, totiang?
Harap suka cepat ceritakan!" Kim Hong tertarik sekali dan juga merasa khawatir. "Kemarin siang kongcu yang
menjadi sahabatmu itu datang ke sini dan menitipkan kudanya ini. Kemarin dia menanyakan jalan menuju ke Guha
Tengkorak." Dia berhenti sebentar dan memandang jauh ke depan dengan sinar mata kosong akan tetapi mengandung
rasa takut. "Lanjutkanlah, totiang." Kim Hong mendesak tak sabar. "Pinto sudah memperingatkan bahwa tempat itu
bukan merupakan tempat pesiar melainkan tempat berbahaya sekali yang tidak pernah dikunjungi orang. Akan tetapi
dia membujuk pinto dan akhirnya pinto mengantarnya ke daerah itu. Ketika kami tiba di sana, pinto sudah
mengajaknya untuk segera pulang saja, akan tetapi kongcu itu memaksa hendak memasuki sebuah guha besar di sana.
Pinto memperingatkan dan mencegahnya, akan tetapi kongcu itu nekat memaksa, bahkan meninggalkan pesan kepada
pinto bahwa dia mempunyai seorang teman wanita yang menanti di dalam hutan, dan kalau pinto bertemu dengan nona
agar pinto memberitahukan semuanya. Nah, pinto tidak berhasil membujuknya dan diapun memasuki guha. Pinto
menunggu di luar guha sampai malam dan dia belum juga keluar. Terpaksa pinto pulang sendirian..." Kim Hong
mengerutkan alisnya. "Apakah totiang tidak menyusul dan memanggilnya?" Tosu itu nampak terkejut. "Ah, nona
belum tahu rupanya. Tempat itu amat keramat dan juga berbahaya. Kalau pinto tahu bahwa kongcu itu hendak
memasuki guha, tentu pinto tidak berani dan tidak mau mengantarnya. Guha-guha itu merupakan guha-guha keramat
yang tak pernah di datangi manusia dan kabarnya siapa yang berani masuk guha takkan dapat keluar kembali. Mana
pinto tidak berani memasukinya untuk menyusul kongcu." "Hemm, apakah totiang pernah mendengar tentang Siluman
Guha Tengkorak? Di situkah sarangnya?" Tosu itu menggeleng kepala. "Pinto hanya tahu bahwa tempat seperti itu
sudah pasti menjadi sarang para siluman dan iblis. Ah, pinto khawatir kalau-kalau kongcu telah mengalami
hal-hal yang tidak baik dan tertimpa malapetaka di dalam guha itu..." "Totiang, kalau begitu tolong antar saya
ke tempat itu!" Kim Hong yang merasa khawatir sekali itu mendesaknya. "Apa...? Nona... nona hendak menyusul ke
sana?" "Benar, akan saya susul dia ke dalam guha! Habis, kalau tidak ada yang berani memasuki guha menyusulnya,
bagaimana dapat menemukannya?" "Tapi itu berbahaya sekali, nona! Pinto tidak berani!" "Totiang tidak usah
masuk, biar aku sendiri yang masuk!" kata Kim Hong agak jengkel melihat pendeta itu ketakutan, padahal dari
gerak-gerik pendeta ini dapat menduga bahwa pendeta ini bukanlah orang sembarangan, bukan orang yang lemah.
"Tapi itupun berbahaya sekali, nona. Lihat, kongcu masuk ke dalam guha dan tidak keluar lagi. Kalau sekarang
nona juga masuk ke sana dan terjadi apa-apa, bukankah pinto yang menerima dosanya? Sebaiknya kalau nona minta
bantuan susiok..." "Susiok? Siapa dia?". "Pinto mempunyai seorang susiok (paman guru) yang pandai melihat
hal-hal jauh, pandai melihat hal-hal yang telah lampau. Susiok tentu akan dapat membantu kita memberi tahu
bagaimana keadaan kongcu sekarang dan di mana dia berada." Kim Hong tidak mau mempercaya segala macam
ketahyulan dan segala macam ilmu ramalan ini. Yang penting ia harus turun tangan mencari dan kalau perlu
menolong Thian Sin. Tentu telah terjadi sesuatu dengan pemuda itu. "Tidak, totiang, aku mau mencarinya sendiri.
Mari totiang tunjukkan di mana tempatnya. Totiang tidak usah mencampuri, aku akan mencarinya sendiri." Kakek
itu menarik napas panjang dan setelah menggeleng-geleng kepalanya diapun berkata, "Siancai... orang-orang muda
sekarang sungguh mem-punyai hati yang keras dan berani. Selama ini pinto hidup tenteram di sini, akan tetapi
sekarang pinto melihat orang-orang muda seperti kongcu dan nona berani menempuh bahaya. Sungguh membuat hati
pinto berduka dan penasaran. Marilah, nona, pinto antarkan ke daerah Guha Tengkorak." Berangkatlah mereka dan
ternyata jalan yang mereka lalui sekarang jauh lebih sukar dari pada jalan menuju ke kuil kuno yang dilalui Kim
Hong seorang diri tadi. Dan di sini dara perkasa itu mendapatkan kenyataan bahwa dugaannya memang benar, tosu
itu bukan seorang lemah karena dapat berjalan melalui jalan yang sukar, terjal dan licin, dan untuk dapat
melalui jalan seperti ini membutuhkan gin-kang yang lumayan. Maka, di tengah perjalanan mendaki tebing iapun
tidak dapat menahan keinginan tahunya. "Kulihat totiang bukan seorang lemah dan juga memiliki ilmu kepandaian,
kenapa totiang begitu ketakutan terhadap Guha Tengkorak? Ada apanya sih di sana?" Pendeta itu berhenti dan
berpegang pada batu karang yang menonjol. "Aih, apa, sih artinya kepandaian manusia kalau harus berhadapan
dengan para siluman?" Lalu dia berjalan lagi dan sekali ini dia bergerak lebih cepat, agaknya hendak
meninggalkan Kim Hong atau menurut persangkaan dara itu, si tosu sengaja memperlihatkan kepandaian atau sengaja
hendak mencoba dan mengujinya. Kim Hong tentu saja menganggap perjalanan itu mudah saja dan kalau ia mau, ia
dapat bergerak cepat, jauh lebih cepat dari pada si tosu. Akan tetapi ia tidak mau memamerkan kepandaian dan
iapun bergerak mengikuti tosu itu saja. Akhirnya, tibalah mereka di daerah berbatu-batu, di depan mereka
terbentang dinding batu karang yang tinggi dan penuh dengan guha-guha yang bentuknya menyeramkan, karena banyak
di antara guha guha itu yang bentuknya seperti tengkorak manusia. "Inikah Guha Tengkorak...?" Kim Hong
ber-tanya, seperti kepada diri sendiri ketika melihat kakek itu berhenti bergerak dan memandang ke arah dinding
karang yang tinggi dan panjang itu. Memang tempat itu amat sunyi dan kering kerontang, tempat yang terpencil
dan sukar sekali didatangi. Tempat yang patut menjadi tempat sembunyi sebangsa siluman atau setidaknya para
penjahat besar yang hendak menghindarkan diri dari pengejaran. "Lalu di guha yang manakah temanku itu masuk?-
"Di guha yang sana itu, nona. Tapi... tapi nona jangan masuk... ah, berbahaya sekali, nona." "Bagaimana totiang
tahu bahwa masuk ke sana berbahaya?" Kim Hong bertanya secara tiba-tiba dan menatap tajam wajah kakek itu.
"Bukankah kongcu masuk ke sana dan tidak keluar lagi? Bagaimana kalau nona juga tidak keluar lagi?" "Sudahlah,
lebih baik totiang kembali saja dan biarkan aku sendiri mencari temanku. Jadi, di guha itu masuknya?" "Benar,
nona. Dan pinto akan menanti di sini..." Kim Hong sudah berloncatan menuju ke guha yang ditunjukkan oleh kakek
itu. Sebuah guha yang bentuknya seperti tengkorak dan keli-hatan hitam gelap karena sinar matahari tidak dapat
memasukinya. Ia bersikap waspada, mengerahkan sin-kangnya dan memasuki guha itu dengan seluruh urat syaraf
tubuhnya siap siaga mengha-dapi segala kemungkinan. Di tempat seperti ini mungkin saja dipasangi alat-alat
rahasia dan jebakan-jebakan, pikirnya. Akan tetapi kkhawatirannya itu tidak terbukti. Di dalam guha itu ti-dak
ditemukan apa-apa. Guha yang lebar dan dalam, akan tetapi kosong dan penyelidikannya terbentur pada
dinding-dinding batu guha itu. Tidak terdapat terowangan atau pintu rahasia, tidak terdapat jebakan-jebakan dan
di situ ia tidak menemukan jejak Thian Sin. Dengan kecewa iapun keluar lagi dan ternyata tosu itu masih menanti
di tempat yang tadi. Melihat ia muncul kembali, tosu itu cepat menghampiri. Siancai... siancai... sungguh
gembira sekali hati pinto melihat nona keluar dalam keadaan selamat!" "Totiang, benarkah temanku itu masuk ke
dalam guha ini?" "Benar, nona." "Tapi, tidak kutemukan apa-apa di dalamnya. Guha biasa dan tidak ada jalan
tembusan. Bagaimana mungkin temanku itu lenyap begitu saja di dalamnya?" "Aih, nona, di tempat seperti ini...
apakah yang tidak mungkin? Siapa tahu akan rahasianya. Yang dapat membantu dan menerangkan nona pinto rasa
hanyalah susiok pinto itu seorang. Kalau nona mau, mari pinto antarkan nona ke sana menjumpainya." Hati Kim
Hong mulai tertarik. Kalau ia sendiri harus mencari tanpa adanya jejak sama sekali, mana mungkin? Tempat ini
penuh dengan guha-guha dan daerah ini berbatu-batu, tidak nampak sedikitpun jejak Thian Sin. Pemuda itu lenyap
secara aneh di dalam guha yang biasa saja. Ataukah kakek ini yang berbohong kepadanya? Dan kakek ini
menjanjikan bantuan melalui seorang susioknya yang pandai ilmu sihir. Hemm, sungguh mencurigakan, dan menarik.
Ada dua kemungkinan yang menguntungkan baginya, pertama, siapa tahu kalau-kalau paman guru dari pendeta ini
benar--benar sakti dan dapat memberitahu di mana ada-nya Thian Sin, ke dua, andaikata pendeta ini ber-bohong,
tentu ada sebabnya dan tentu ada hubung-annya dengan lenyapnya Thin Sin. Inilah agaknya jejak satu-satunya yang
harus ditelusurinya dan di-hadapinya, walaupun bukan tidak mungkin ia akan menghadapi bahaya. Untuk menolong
Thian Sin, ia sanggup manghadapi bahaya yang bagaimana-pun juga besarnya. "Baiklah, totiang. Tentu saja aku mau
memperoleh bantuan untuk dapat menemukan sahabatku itu. Akan tetapi aku belum mengenal totiang dan susiok dari
totiang itu..." "Nama pinto Siok Cin Cu dan sudah bertahun-tahun pinto bertapa di kuil itu, hidup tenteram
sampai munculnya kongcu dan nona. Adapun susiok pinto itu adalah seorang pertapa tua yang tidak lagi mau
dikenal namanya, akan tetapi tentu saja nona boleh mencoba untuk bertanya kepada beliau kalau berhadapan
sendiri. Beliau tidak lagi mau berurusan dengan orang luar, akan tetapi kalau pinto yang membawa nona
menghadap, tentu beliau akan mau menolong nona. Hanya susiok sajalah yang akan dapat mengetahui di mana adanya
teman nona itu. Marilah, nona." Kim Hong mengikutinya dan diam-diam ia berpikir. Mengapa tosu ini tidak pernah
menanyakan namanya atau nama Thian Sin? Sikap ini menunjukkan sikap tidak perduli, akan tetapi di lain pihak,
kakek ini mau bersusah payah mengantar mereka ke guha dan juga kini berusaha untuk menolong dengan membawanya
kepada susioknya. Ini menunjukkan sikap yang sangat perduli. Dan bilamana ada sikap yang amat bertentangan ini,
tentu ada apa-apanya! Atau tosu ini memang orang aneh sekali atau memang bermain sandiwara. Dan sebaiknya kalau
iapun ikut saja bermain sandiwara agar dapat melihat apa yang sedang terjadi di balik layar.
***
Gubuk kecil itu berada di atas bukit di balik dinding batu karang. Letaknya mengingatkan Kim Hong pada kuil
tempat tinggal Siok Cin Cu, yaitu di puncak bukit dari mana dapat nampak pemandangan di bawah, sampai ke
permukaan Sungai Fen-ho dengan jelasnya. Sebuah tempat penjagaan yang amat baik, seperti juga di kuil itu,
pikir Kim Hong. Mereka tiba di depan gubuk kecil panjang itu menjelang sore. "Harap nona menanti sebentar di
luar, pinto hendak menghadap dan membujuk susiok agar suka menerima nona. Kim Hong mengangguk, akan tetapi
ketika tosu itu memasuki pintu depan pondok, ia cepat mempergunakan gin-kangnya untuk menyelinap mendekati
pondok dan memasukinya dari belakang. Pondok itu kecil akan tetapi panjang dan ketika ia mendengar suara orang
bercakapcakap dari ruangan dalam, ia cepat mengintai dari balik jendela. Ia melihat sebuah ruangan panjang yang
gelap, dan Siok Cin Cu telah berada di situ, berlutut di atas lantai di depan seorang pendeta lain yang duduk
di tempat yang gelap, hanya nampak bentuk tubuhnya saja yang jangkung dan sepasang matanya yang seperti
mencorong di dalam gelap. Pendeta itu, yang dapat dikenal dari pakaiannya yang seperti jubah kebesaran, duduk
bersila di atas bantalan bundar, tidak bergerak seperti arca yang menyeramkan karena matanya seperti mata
harimau, atau seperti mata setan. "Susiok, harap susiok memaafkan teecu yang lancang datang menghadap. Teecu
mengantar seorang nona yang sedang menghadapi kegelisahan besar karena ia kehilangan seorang sahabatnya. Teecu
mohon kerelaan hati susiok untuk memberi petunjuk kepadanya." "Siancai... siancai... siancai...! Orang-orang
muda yang ceroboh, terlalu mengandalkan kepandaian sendiri untuk mencampuri urusan orang lain. Sungguh berani
sekali mereka itu menentang si-luman-siluman Guha Tengkorak... siancai...! Akan tetapi karena engkau telah
mengajak nona itu ke sini, Siok Cin Cu, biarlah akan kucoba menolongnya. Suruh ia masuk." Setelah melibat dan
mendengar ini, cepat Kim Hong meloncat keluar lagi dan jantungnya berdebar heran. Bagaimana kakek itu dapat
mengetahui bahwa ia dan Thian Sin menentang siluman-siluman Guha Tengkorak? Melihat sikap Siok Cin Cu ketika
menghadap tadi, keraguannya bahwa pendeta itu menipunya mulai berkurang dan mulailah ia percaya bahwa susiok
dari pendeta itu boleh jadi memang memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Ketika tosu itu muncul, Kim Hong
berlagak se-perti sedang melihat-lihat keadaan di bawah bukit. Ia mendapat kenyataan bahwa dari bukit itu,
seperti juga dari kuil si tosu, bagian bawah dari daerah Guha Siluman dapat nampak sehingga setiap ada orang
yang mendaki menuju ke tempat itu, tentu dapat terlihat dari kedua tempat ini. "Nona, sungguh beruntung sekali.
Susiok mau menerimamu. Mari, nona, silakan masuk." Kim Hong mengangguk dan mengikuti tosu itu masuk ke dalam
pintu depan dan begitu masuk, ia melihat betapa rumah itu di sebelah dalamnya gelap karena semua jendela
tertutup. Hanya ada sedikit sinar yang menerobos masuk melalui celah-celah dinding, membuat cuaca di dalam
ruangan dalam rumah itu remang-remang. "Silahkan, nona," bisik Siok Cin Cu yang memberi isyarat kepada dara itu
untuk maju ketika mereka tiba di ruangan yang tadi diintai oleh Kim Hong, Kim Hong masih bersikap waspada.
Seorang pendekar harus tidak pernah meninggalkan kecurigaan dan kewaspadaannya, demikianlah pelajaran yang
ditekankan di dalam hatinnya sejak dahulu oleh orang tuanya. Maka, biarpun ia mulai percaya kepada Siok Cin Cu
yang dianggapnya tidak mempunyai iktikad buruk, tetap saja dara perkasa ini bersikap waspada dan selalu siap
menghadapi bahaya dari manapun juga datangnya. Ia memandang kepada sosok tubuh yang duduk bersila di sudut
ruangan, lalu menjura kepada sosok tubuh itu. "Ah, selamat datang, nona. Silahkan duduk dan maafkan, di sini
pinto tidak mempunyai kursi dan meja, terpaksa duduk diatas lantai saja. Silahkan." Sosok tubuh itu berkata
tanpa bergerak. "Terima kasih, locianpwe," jawab Kim Hong yang duduk duduk bersimpuh di atas lantai dan
mempergunakan tangannnya menekan lantai sambil mengerahkan sin-kangnya untuk melihat apakah lantai itu aseli
ataukah ada rahasianya dan merupakan perangkap. Akan tetapi hatinya merasa lega ketika mendapatkan kenyataan
bahwa lantai itu merupakan lantai batu yang tidak mongandung sesuatu yang mencurigakan. "Sekarang katakan,
apakah yang dapat pinto lakukan untuk membantumu, nona?" Diam-diam Kim Hong memuji kakek itu. Biarpun ia tidak
akan melihat dengan jelas, ia dapat menduga bahwa orang itu tentulah seorang pria yang sudah tua, apa lagi
bukankah pria ini merupakan paman guru dari tosu Siok Cin Cu? Bagaimanapun juga, kakek ini tidak sombong,
biarpun sudah jelas tahu apa yang menjadi kesulitannya, namun kakek itu masih bertanya dan tidak mendahuluinya
menyombongkan pengetahuannya. "Locianpwe, saya mencari seorang sahabat saya yang hilang ketika dia memasuki
sebuah guha dan saya tidak lagi menemukan jejaknya. Mohon pertolongan locianpwe untuk memberi petunjuk di mana
adanya sahabat saya itu." Hening sejenak dan Kim Hong mencurahkan perhatiannya untuk mendengarkan jawaban dari
sosok tubuh yang masih bersila tanpa tergerak itu. Akhirnya, setelah menanti agak lama, kakek itu menjawab.
"Hemm, bukankah sahabatmu itu seorang pemuda perkasa dan berdarah bangsawan tinggi, she-nya Ceng?" Diam-diam
Kim Hong terkejut. Ternyata orang ini benar-benar hebat! "Dan engkau sendiri juga berdarah bangsawan tinggi she
Toan, bukan?" Kim Hong makin terkejut dan makin tertarik. "Benar, locianpwe," jawabnya dan kini ia mulai
percaya bahwa ia memang berhadapan dengan seorang tua yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Bahkan ia mulai
memelihara harapan bahwa kakek ini benar-benar akan dapat menolongnya dan dapat memberitahukan di mana adanya
Thian Sin. "Kalau begitu, engkau pandanglah ke sini, nona. Lihatlah baik-baik dan apa yang dapat nampak
olehmu?" Kim Hong mengangkat mukanya memandang. Matanya terbelalak melihat sebuah wajah yang remang-remang,
akan tetapi di atas kepala itu nampak sebuah sinar seperti lampu yang amat terang dan menyilaukan mata. "Engkau
merasa silau, nona? Kalau silau, pejamkan matamu sejenak. Nah... begiulah, pejamkan mata dan terasa enak bukan?
Enak untuk tidur. Engkau mulai mengantuk, maka tidurlah, nona. Di sini aman, aku akan melindungimu, tidurlah,
nona, tidurlah dengan nyenyak." Kim Hong tadinya tidak tahu bahwa ia telah terseret oleh kekuatan yang luar
biasa dan begitu ia menuruti permintaan suara itu tadi untuk memandang dan menjadi silau melihat sinar
menyilaukan, ia seakan-akan telah membiarkan semangatnya dikuasai orang yang memiliki ilmu sihir! Ketika suara
itu dengan lembutnya menyuruhnya memejamkan mata, otomatis iapun memejamkan matanya dan mendengar suara
menyuruhnya tidur, ia seperti tidak dapat lagi menahah rasa kantuknya yang membuat matanya berat dan tak dapat
dibukanya lagi. Ia ingin tidur, sungguh ingin sekali untuk tidur dan betapa nikmatnya kalau dapat tidur pulas
pada saat itu! Akan tetapi, Kim Hong bukanlah seorang dara biasa. Selain memiliki ilmu silat yang amat tinggi
dan tenaga sin-kang amat kuat, juga ia telah hidup berdua bersama Ceng Thian Sin selama beberapa tahun ini
sehingga dalam percakapan mereka kadang-kadang Ceng Thian Sin membuka rahasia tentang kekuatan sihir. Biarpun
ia tidak mempelajari ilmu itu, akan tetapi ia sudah mulai mengerti akan seluk-beluknya. Oleh karena itu, ketika
kekuatan sihir dari kakek itu mulai mempengaruhinya dan membelenggunya, ia terkejut dan teringat lalu
mengerahkan sinkangnya untuk memberontak! Kim Hong berhasil meronta, bahkan lalu meloncat berdiri. Akan tetapi,
saat ia masih sedang bersitegang melepas diri dari keadaan tidak sadar itu, tiba-tiba saja ada bayangan
berkelebat dan tahu-tahu kedua pundak Kim Hong telah ditotok orang. Dara perkasa ini baru dalam keadaan
setengah sadar, masih terpengaruh oleh kekuatan sihir, maka biarpun nalurinya yang amat kuat itu membuat ia
berusaha mengelak, namun tetap saja totokan pada pundak kirinya mengenai sasaran dan tubuhnya yang sebelah kiri
seketika menjadi kehilangan tenaga seperti lumpuh. Pada saat itu, ia sudah diringkus dan dibelenggu kaki
tangannya, kemudian jari tangan yang kuat menekan pundak kanannya dan habislah kekuatannya. Ia tertotok dan
tidak mampu bergerak lagi! "Bagus!" katanya menekan kemarahannya. "Ternyata engkau adalah Siluman Guha
Tengkorak!" Akan tetapi yang menjawabnya hanya suara ketawa saja dan tanpa dapat melawannya, Kim Hong melihat
dirinya dimasukkan ke dalam sebuah karung hitam dan kemudian ia dipondong orang dan dibawa pergi dari situ. Ia
tahu bahwa yang memondongnya bukan Siok Cin Cu, karena orang ini memiliki gin-kang yang jauh lebih lihai dari
pada tosu itu. Kim Hong tidak tahu ke mana ia dibawa. Dari dalam karung hitam itu ia tidak dapat melihat
sesuatu dan ia hanya merasa dibawa naik turun dengan cepat. Setelah lewat waktu cukup lama, akhirnya ia
dikeluarkan dari dalam karung dan dilemparkan ke dalam sebuah kamar, di atas dipan, dalam keadaan tertotok dan
terbelenggu kaki tangannya! Ternyata kamar itu hanya sebuah kamar yang tidak begitu besar, dari tembok tebal
dan pintunya dari besi, ada lubanglubang angin di bawah dan di atas. Sebuah kamar tahanan yang amat kuat. Pintu
itu sudah dikunci, akan tetapi dari jeruji yang terdapat di bagian atas pintu besi, ia dapat melihat ada orang
di luar pintu. Seorang laki-laki yang berjubah sutera putih, dengan gambar tengkorak darah di dadanya dan
mukanya tertutup topeng tengkorak! Tentu saja Kim Hong merasa ngeri. Bukankah siluman itu telah tewas bersama
kudanya di dasar jurang? Akan tetapi, ia dapat menenangkan dirinya dan mengertilah ia bahwa Siluman Guha
Tengkorak bukan hanya terdiri dari seorang penjahat saja. Hari telah menjadi malam dan kamar itu ha-nya
menerima cahaya lampu yang berada di luar kamar, melalui lubang-lubang angin dan jeruji pin-tu besi. Kim Hong
mengumpulkan kekuatannya dan menjelang tengah hari ia berhasil membebaskan diri dari pengaruh totokan. Setelah
pengaruh totokan itu punah, dengan pengerahan sin-kang ia dapat mematahkan belenggu kaki tangannya. Akan
tetapi, baru saja ia bangkit dan hendak mencari jalan keluar, terdengarlah suara mendesis-desis dan ia melihat
asap putih menyembur-nyembur masuk dari lubang-lubang angin. Begitu mencium asap ini tahulah ia bahwa asap itu
adalah asap yang me-ngandung racun bius! Maka iapun cepat bertiarap di atas lantai, akan tetapi tindakan ini
hanya mem-perpanjang sedikit waktu saja karena akhirnya ia terpaksa menyedot asap itu dan jatuh pingsan. Malam
telah larut ketika ia siuman kembali. Kamar telah bersih dari asap dan ia merasakan kepalanya agak pening, dan
kaki tangannya sudah terbelenggu lagi, bahkan kini tubuhnya sudah diletakkan orang di atas dipan. Ada suara di
pintu dan ketika ia menengok, ia melihat orang bertopeng tengkorak di luar pintu. "Nona, sekali lagi engkau
melepaskan belenggu dan mencoba lari, hukumannya tentu berat. Asap bius itu tak mungkin nona lawan. Sebaiknya
nona menyerah saja dan kami akan memperlakukan nona dengan baik-baik." Setelah berkata demikian, orang itu
meninggalkan pintu. Kim Hong maklum bahwa ia terjatuh ke dalam tangan gerombolan yang lihai sekali dan iapun
tahu bahwa pada saat itu ia tidak berdaya dan tidak mungkin meloloskan diri dengan kekerasan. Asap bius yang
sewaktu-waktu dapat masuk melalui lubang-lubang angin itu memang tak mungkin dapat dilawan dan dihindarkan, dan
biarpun tidak nampak adanya penjaga, ia tahu bahwa ada penjaga-penjaga bersembunyi dan selalu mengamati
gerak-geriknya. Celaka, pikirnya. Tentu Thian Sin juga sudah tertawan oleh mereka. Tenang, ia mencela diri
sendiri. Tenang! Hanya ketenangan batin sajalah satu-satunya hal yang mungkin akan dapat menolongnya dan juga
menolong Thian Sin. Maka iapun lalu memejamkan mata untuk tidur agar kekuatannya dapat pulih kembali.
***
Ke manakah perginya Ceng Thian Sin? Apa yang dikhawatirkan oleh Kim Hong memang benar. Pemuda itu sudah pasti
akan kembali ke dalam hutan seperti yang telah dijanjikannya kepada Kim Hong kalau tidak ada hal yang
membuatnya tidak mungkin melakukan hal itu. Seperti telah kita ketahui, setelah bertemu dengan Cia Liong dan
Cia Ling kemudian mendengar pesan terakhir dari Kwee Siu, setelah mengubur jenazah pendekar itu, Thian Sin lalu
membagi tugas dengan kekasihnya. Dia menyuruh Kim Hong menyelamatkan dua orang anak itu dan menitipkannya
kepada orang di tempat aman, kemudian dia sendiri lalu mencari jejak siluman yang telah membunuh Kwee Sin.
Jejak itu membawanya ke daerah Guha Tengkorak. Akan tetapi setelah tiba di kaki bukit di mana terdapat tebing
Guha Tengkorak, seperti juga Kim Hong, dia melihat kuil kuno itu dan hatinya tentu saja tertarik sekali. Dia
sendiri belum tahu di mana adanya Guha Tengkorak, tidak tahu bahwa daerah guha itu terdapat di atas tebing,
maka diapun lalu turun dari atas punggung kudanya dan menuntun kuda itu mendaki bukit menuju ke kuil yang
berdiri di puncak bukit. Ketika dia tiba di depan kuil, dia melihat seorang tosu sedang menyapu pelataran depan
kuil itu. Tosu itu berhenti menyapu dan menyambut kedatangan pemuda itu dengan pandang mata heran. "Maaf
totiang kalau saya mengganggu ketenteraman tempat ini," kata Thian Sin sambil menjura dengan hormat. Tosu itu
membalas dengan anggukan dan kedua tangan dirangkap di depan dada. "Siancai...! Sungguh merupakan hal yang amat
mengherankan melihat tempat ini kedatangan tamu seperti kongcu!" jawab tosu itu yang bukan lain adalah tosu
yang kemudian mengaku bernama Siok Cin Cu kepada Kim Hong. "Bagaimanakah kongcu dapat tiba di tempat yang
terasing ini dan ap-akah gerangan keperluan kongcu bersusah payah mendaki tempat ini?" "Maaf, totiang. Saya
mohon petunjuk totiang tentang tempat yang dinamakan Guha Tengkorak. Saya mencari tempat itu." Tosu itu tidak
memperhatikan perobahan pada wajahnya, namun pandang matanya bersinar dan tentu saja sedikit hal ini tidak
terlewat dari ketajaman pandang mata Thian Sin. "Guha Tengkorak...?" "Benar, apakah totiang mengetahui tempat
itu?" Kakek itu mengangguk lalu memandang kepada wajah pemuda itu dengan ragu-ragu. "Tapi... ada keperluan
apakah kongcu datang ke tempat seperti itu?" "Tempat seperti itu? Apa yang totiang maksudkan? Ada apakah dengan
tempat itu?" Thian Sin balas bertanya. Tosu itu nampak bingung oleh serangan kata-kata Thian Sin ini, lalu
menggeleng kepala. "Tidak apa-apa, hanya... selama bertahun-tahun ini belum pernah pinto melihat ada orang
mencari tempat itu, maka pinto merasa terkejut dan heran ketika tiba-tiba kongcu muncul dan mencari tempat
itu." Jawaban yang teratur sekali, pikir Thian Sin. Menghadapi tosu yang pintar ini tidak ada gunanya berputar
lidah, maka diapun lalu berkata, "Sesungguhnya saya hendak menyelidiki Guha Tengkorak dan hendak mencari
Siluman Guha Tengkorak, totiang." Kini tosu itu nampak terkejut dan agaknya dia tidak menyembunyikan rasa
kagetnya mendengar disebutnya Siluman Guha Tengkorak. Akan tetapi dia menentang pandang mata Thian Sin yang
tajam penuh selidik itu, lalu menarik napas panjang. "Siancai... jangan-jangan kongcu menyangka bahwa pintolah
orangnya yang terkenal dengan sebutan Siluman Guha Tengkorak!" Thian Sin diam-diam kagum akan kecerdikan orang
ini dan dia semakin waspada. Dia tersenyum ramah dan berkata, "Baru saja aku mendengar nama itu, totiang, tentu
saja aku tidak berani menuduh dan menduga sembarangan. Dan karena totiang juga mengenal nama itu, maka aku
mohon petunjuk totiang di mana kiranya aku bisa menemukan siluman itu. Di mana dia tinggal? Apakah di Guha
Tengkorak dan di mana letak guha itu?" Kakek itu kembali menghela napas. "Siapa yang tidak mendengar namanya,
kongcu? Akan tetapi siapa pula yang tahu di mana tempat tinggalnya? Baru kurang lebih sebulan lamanya, pasukan
kea-manan bersama banyak pendekar telah datang ke sini dan mereka mencari di daerah tebing Gu-ha Tengkorak akan
tetapi tidak berhasil menemu-kan apa-apa." Thian Sin mengangguk-angguk. "Ah, jadi nama itu sudah terkenal
sekali dan dicari oleh pasukan keamanan dan para pendekar, totiang?" Kakek itu mengangguk-angguk. "Mungkin
begitu. Pinto sendiri yang selamanya bertapa di sini tidak tahu menahu akan hal itu. Baru setelah pasukan itu
mencari di daerah ini pinto tahu bahwa semenjak dua tiga bulan ini nama itu dikenal orang. Akan tetapi apakah
benar dia berada di sini, tidak seorangpun tahu. Maka, pinto rasa akan percuma saja kalau kongcu mencarinya,
dan pula, amat berbahaya, kongcu." Thian Sin memandang tajam. "Kenapa berba-haya, totiang?" "Pinto sudah
mendengar berita dari pasukan itu bahwa orang ini amat lihai, ilmu kepandaiannya seperti dewa... dan guha-guha
itu merupakan tem-pat berbahaya, kabarnya keramat dan siapa berani memasukinya takkan dapat keluar lagi." "Aku
tidak takut, totiang. Harap totiang suka menunjukkan di mana tempatnya dan kalau memang benar Siluman Guha
Tengkorak berada di situ, totiang tidak usah ikut campur, biarlah aku sendiri yang akan menghadapinya." Kakek
itu memandang kepada Thian Sin dari kepala sampai ke kaki, kemudian menganggukangguk. "Ah, kiranya kongcu
adalah seorang pendekar muda yang gagah berani. Baiklah kalau begitu, mari pinto antar sampai di tempatnya.
Akan tetapi tak mungkin membawa kuda mendaki tempat itu dan setelah tiba di sana, pinto akan segera kembali."
"Terima kasih, totiang," Thian Sin berkata girang dan tosu itu menyuruh dia menambatkan kuda di belakang kuil.
Berangkatlah mereka mendaki tebing yang curam itu dan akhirya Thian Sin berdiri memandang dinding batu karang
yang penuh dengan guha yang menyeramkan, guha-guha yang sebagian besar berbentuk tengkorak manusia. Tempat yang
amat sunyi dan tidak ada tanda-tanda bahwa di tempat itu ada manusianya. "Guha-guha itu telah diperiksa oleh
pasukan akan tetapi tidak ada hasilnya," kata tosu itu dengan suara datar dan terdengar dingin. "Lalu kenapa
mereka mengejar dan mencari ke tempat ini, totiang?" "Itulah, mungkin karena desas-desus bahwa orang yang
mereka cari-cari itu kelihatan memasuki gua itu," kakek itu menudingkan telunjuknya ke arah sebuah guha, nomor
tiga dari kiri yang juga mirip tengkorak bentuknya. "Nomor tiga dari kiri itu?" "Betul. Nah, sudahlah, pinto
terpaksa harus meninggalkan kongcu seorang diri di sini. Ataukah kongcu sudah berbalik pikir dan hendak ikut
turun kembali bersama pinto?" Thian Sin memaksa tersenyum. "Kalau totiang mengira bahwa aku menjadi jerih atau
takut setelah mendengar cerita totiang atau setelah melihat tempat ini, totiang salah duga. Tidak, aku akan
mencari Siluman Guha Tengkorak dan aku yakin pasti akan dapat menemukan dia di sini kalau memang benar di sini
tempat tinggalnya." Pemuda perkasa itu melihat betapa pandang tosu itu sinar seperti orang tersinggung, akan
tetapi tosu itu segera menundukkan mukanya. "Siancai, semoga kongcu tidak menemui halangan apapun." Dan tosu
itupun lalu membalikkan tubuhnya dan turun kembali dari atas tebing. Setelah tosu itu lenyap di tikungan tebing
yang curam itu, Thian Sin lalu berloncatan cepat sekali menghampiri guha-guha di sebelah kiri. Dia memeriksa
guha-guha itu, dari guha pertama sampai lima buah guha banyaknya dan mendapatkan kenyataan bahwa guha ke tiga
itu memang yang terbesar dan dalam. Dia lalu memasuki guha ke tiga ini, sebuah guha yang dalamnya tidak kurang
dari duapuluh meter dan lebarnya ada empat meter. Guha ini merupakan ruangan yang cukup luas akan tetapi tentu
saja tidak enak untuk dijadikan tempat tinggal karena lantainya terdiri dari batu-batu yang tidak rata dan
bahkan makin mendalam makin menurun, merupakan lereng dan juga tajam-tajam seperti batu karang di lautan.
Dengan amat waspada dan hati-hati sekali, Thian Sin memeriksa guha ini. Dipandang sepintas lalu saja, tidak
mungkin ada yang bersembunyi di sini, karena walaupun guha itu merupakan tempat yang terasing akan tetapi
sungguh amat tidak enak untuk dijadikan tempat tinggal. Akan tetapi Thian Sin memeriksa ruangan yang gelap itu
dan tiba-tiba dia menemukan sebuah terowongan di sudut kanan, tempat yang paling gelap. Kalau tidak mendekat
dan meraba, sukar untuk menemukan terowongan ini. Dia tidak segera masuk, melainkan memeriksa dengap seksama.
Kalau memang tempat ini pernah diperiksa pasukan, tidak mungkin kalau pa-sukan tidak menemukan terowongan ini.
Ketika dia memeriksa dengan meraba-raba di bagian ambang pintu terowongan jantungnya berdebar meraba papan besi
di balik batu yang agaknya tadinya menutup terowongan itu. Jelaslah bahwa te-rowongan ini merupakan pintu
rahasia yang belum lama dibuka orang. Kalau pintu itu dikembalikan di tempatnya, maka akan lenyap dan dinding
di sudut itu akan lenyap dan dinding di balik batu itu ada terowongannya. Dan tentu saja, sedikitpun tidak
orang yang nampaknya menjadi satu dengan dinding guha. Penemuan yang kebetulan saja? Ataukah umpan jebakan?
Apapun juga, inikah jalan satusatunya, pikir Thian Sin dan aku akan mencari siluman itu sampai dapat! Setelah
mengambil keputusan ini, dengan tabah Thian Sin lalu memasuki terowongan yang gelap itu. Terowongan itu cukup
besar walaupun dia harus memasukinya dengan tubuh agak membungkuk. Akan tetapi ternyata lantainya lebih rata
dari pada lantai di ruangan depan guha itu. Hal ini mendatangkan dugaan bahwa tempat ini memang sengaja dibuat
orang. Ketika dia me-langkah maju dengan hati-hati di tempat yang re-mang-remang dan semakin gelap itu, kurang
lebih duapuluh langkah, tiba-tiba terdengar suara keras di belakangnya! Thian Sin cepat membalikkan tubuhnya
dan siap siaga menghadapi serangan, akan tetapi tidak terjadi sesuatu kepada dirinya. Suara keras itu diikuti
kegelapan yang menelan dirinya dan tahulah Thian Sin bahwa ada alat rahasia menggerakkan batu yang kini menutup
lubang terowongan! Dia menahan senyum dan tidak mau memperlihatkan kepanikan dengan kembali ke mulut terowongan
mencoba membuka pintu itu. Tidak, biarpun dia telah terjebak, dia harus terus ke dalam dan menghadapi bahaya
apapun juga! Maka Thian Sin dengan sikap tenang sekali melanjutkan perjalanannya, melalui jalan terowongan yang
gelap itu, melaju terus dan mencurahkan seluruh panca inderanya untuk menghadapi kalau-kalau ada bahaya
serangan dari sekelilingnya. Lantai terowongan itu tetap rata, bahkan kalau turun ada anak tangganya yang rapi.
Terowongan itu berbelak-belok dan menurut perhitungan Thian Sin, jarak yang ditempuhnya semenjak dia memasuki
terowongan tidak kurang dari satu li! Akan tetapi diapun maklum bahwa tempat itu masih berada di dalam daerah
Guha Tengkorak, karena biarpun jauh, terowongan itu berlika-liku. Dengan merentangkan kedua lengahnya, dia
dapat mengukur lebar sempitnya terowongan itu, juga tinggi rendahnya langitlangit karena dia harus selalu
menjaga agar jangan sampai kepalanya terbentur batu karang yang bergantungan dari langit-langit. Ketika dia
tiba di sebuah ruangan persegi empat, dia berhenti, meraba-raba dengan kedua tangannya karena dia merasa bahwa
dia tiba di tempat yang lebih lebar dan luas. Dan tiba-tiba terdengar suara seperti besi bertemu dengan batu.
Karena keadaan tetap gelap, Thian Sin tidak berani sembarangan bergerak, melainkan berdiri dan siap siaga untuk
melindungi tubuhnya. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu pada dirinya, tidak ada serangan yang datang walaupun
tadi dia merasakan ada sambaran angin dari benda-benda yang bergerak cepat dan kuat. Dan suara hiruk-pikuk
tadipun sudah berhenti lagi. Thian Sin menduga bahwa tentu terjadi pergerakan yang merupakan jebakan seperti
ketika pintu batu terowongan tadi menutup. Dengan hati-hati kakinya meraba-raba ke depan, demikian pula jari
tangan kirinya sedangkan tangan kanannya siap siaga untuk menangkis atau menyerang. Dan kaki serta tangan
kirinya itu menemukan kenyataan bahwa kini dirinya telah terkurung! Kanan dan kirinya adalah dinding batu yang
dingin dan dan keras, sedangkan di sebelah depannya adalah dinding besi atau baja yang setebal lengan manusia.
Dia telah terkurung! Mendadak tempat itu menjadi terang sekali dan ternyata ada bagian dinding di luar jeruji
besi itu yang terbuka. Sebuah pintu besi tiba-tiba saja muncul dan terbuka dan dari situlah datangnya cahaya
terang itu. Agaknya sinar matahari dapat memasuki tempat yang diduganya tentu berada di bawah tanah ini. Agak
silau juga mata Thian Sin sehingga terpaksa memejamkan kedua matanya tanpa mengurangi kewaspadaannya dan kini
dia menjaga diri dengan mengandalkan ketajaman pendengaran telinganya. Biarpun dia memejamkan kedua matanya,
namun dia mengetahui dari pengaruh bahwa di luar jeruji besi itu terdapat sedikitnya sepuluh orang yang
kesemuanya memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, terbukti dari gerakan kaki mereka yang gesit dan ringan
ketika mereka itu datang mendekat. Ketika dia membuka kedua matanya, dia melihat bahwa di luar jeruji itu
berdiri dua belas orang. Semua orang itu memakai jubah sutera putih dengan gambar tengkorak merah di dada
mereka dan muka mereka semua memakai topeng tengkorak! Dengan sekilas pandang saja tahulah pemuda perkasa itu
bahwa keadaannya sungguh terjepit dan tidak ada harapan baginya untuk dapat meloloskan diri mempergunakan
kekerasan. Dia benar-benar berada di dalam bahaya, terjebak di dalam terowongan bawah tanah dan menghadapi
banyak musuh yang agaknya tangguh juga. Akan tetapi, bukan watak Pendekar Sadis Ceng Thian Sin untuk berkecil
hati dalam keadaan bagaimanapun juga. Dia berdiri di tengah ruangan itu, menghadapi dua belas orang siluman
sambil tersenyum lebar. "Ha-ha, kiranya Siluman Guha Tongkorak yang disohorkan orang itu tiada lain, hanyalah
sekumpulan tikus gunung yang hebatnya cuma mengandalkan lubang-lubang tikus jebakan dan pengeroyokan belaka!"
Belasan pasang mata di balik topeng-topeng tengkorak itu mengeluarkan sinar berkilat tanda bahwa mereka marah
mendengar ucapan ini yang amat merendahkan dan menghina mereka. Seorang dari mereka yang berdiri di pinggir,
berkata, suaranya halus namun penuh mengandung ancaman. "Orang muda, engkau sudah tertawan dan nya-wamu berada
di telapak tangan kami, akan tetapi masih berani bersikap berani dan menghina. Engkau sungguh seorang muda yang
gagah perkasa akan tetapi juga bodoh dan bosan hidup. Siapapun orangnya yang berani lancang memasuki daerah
kami tanpa ijin, tentu mati. Akan tetapi karena Sian-su (Guru Dewa) ingin bertemu dan bicara denganmu, maka
engkau selamat. Sekarang menyerahlah untuk kami bawa menghadap Sian-su, siapa tahu engkau akan diampuni. Akan
tetapi kalau engkau melawan, tentu nanti akan dibunuh. "Orang itu memberi isyarat dengan tangannya dan sepuluh
orang temannya tiba-tiba mengeluarkan busur dan anak panah, menodongkan anak panah ke arah Thian Sin. Lain
orang di antara mereka melangkah maju, dan jeruji besi itu tiba-tiba saja tertarik ke atas, tentu digerakkan
oleh alat rahasia yang tersembunyi. Orang yang bicara itu sendiri sudah mengeluarkan sebatang pedang, agaknya
mereka bersiap-siap menyerang kalau Thian Sin menggunakan kekerasan. Thian Sin tidak berpikir panjang untuk
mengambil keputusan. Kalau dia menghendaki, kiranya dia akan mampu merobohkan dua belas orang ini dan lolos
dari dalam kurungan pada saat kurungan itu dibuka. Akan tetapi dia tahu bahwa perbuatan ini tidaklah bijaksana.
Mereka ini hanyalah anak buah saja dan dia perlu bertemu dan berhadapan muka dengan pemimpinnya, yang disebut
Sian-su oleh orang yang bicara tadi. Diapun dapat menduga bahwa yang bicara itu adalah tosu yang mengantarnya
ke tempat itu. Hal ini dapat dikenalnya dari kedudukan kepala orang itu yang agak miring ke kiri. Kepala yang
agak miring ke kiri itu dicatatnya sebagai tanda atau ciri dari tosu yang mengantarnya dan orang bertopeng
inipun kepalanya agak miring ke kiri! Dan andaikata dia bisa lolos dari sini, belum tentu dia akan dapat lolos
dari terowongan ini. Mungkin banyak dipasang alat-alat jebakan yang berbahaya, dan dia sendiri belum tahu
berapa banyaknya anak buah mereka dan sampai di mana kelihaian Sian-su mereka itu. Pula, dia ingin mengetahui
sampai sedalamnya dan ingin menolong pula ibu dari dua orang anak. Kalau sekarang dia mengamuk, mungkin saja
dia akan menggagalkan semua usahanya. "Kepala kalian ingin bicara denganku? Baiklah, akupun ingin bicara dengan
dia!" katanya dan dia membiarkan saja orang bertopeng yang masuk ke dalam ruangan tahanan itu membelenggu kedua
pergelangan tangannya ke belakang. Belenggu itu berupa rantai baja yang cukup kuat. Orang yang bertugas
membelenggunya itu agaknya tahu akan tugasnya. Setelah membelenggu kedua pergelangan tangannya, dia lalu
menggerakkan tangannya, menggunakan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya untuk monotok jalan darah
tiong-cu-hiat di tengkuk Thian Sin. Pendekar Sadis melihat dia tahu akan hal ini, akan tetapi dia tidak
bergerak dan pura-pura tidak tahu saja. "Tukk!" Dua jari tangan itu dengan tepat menotok bagian di mana
terdapat jalan darah tiong-cuhiat dan biasanya, totokan di tempat ini akan membuat orang yang ditotoknya roboh
pingsan. Akan tetapi, orang bertopeng itu mengeluarkan seruan kaget ketika dua jari tangannya bertemu dengan
kulit yang membungkus daging lunak, agaknya tanpa urat darah di situ, lunak sekali membuat totokannya itu
meleset seperti menotok agar-agar saja! Dan orang yang ditotoknya itu, sama sekali tidak memperlihatkan
tanda-tanda hendak pingsan, apa lagi pingsan, bahkan mengedipkan matapun tidak, seolah-olah totokannya tadi
seperti seekor lalat yang hinggap saja! Tentu saja orang bertopeng itu bukan hanya terkejut, melainkan juga
malu dan penasaran sekali. Kalau dia tidak memakai topeng, tentu akan nampak betapa wajahnya berobah merah
bukan main. Karena merasa betapa kulit daging tawanan itu tadi melunak lembek sekali, dia menduga bahwa orang
ini mungkin tidak memiliki kepandaian apa-apa, atau memiliki ilmu melembekkan daging sehingga jalan darah yang
ditotok itu dapat meleset ke sana-sini kalau ditotok. Cepat dia menggerakkan lagi tangan kanannya dan kini dua
jari tangannya itu menotok dengan pengerahan tenaga keras pulauntuk melawan tenaga lembek lawan. Sekali ini,
dia memilih jalan darah di belakang pundak, yaitu jalan darah hong-hu-hiat. "Tukkk...!" Sekali ini, orang
bertopeng itu tak dapat menahan teriakannya, teriakan kesakitan karena dua buah jari tangannya itu seperti akan
patah-patah tulangnya. Totokannya dengan pengerahan tenaga tadi bertemu dengan kulit yang sedemikian kerasnya,
seperti kulit baja tulen saja sehingga dua jari tangannya terasa nyeri bukan main. Kini orang kedua yang
bertubuh tinggi besar itu menghampiri Thian Sin. Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan nyaring dan tangan kirinya
sudah bergerak ke depan dan jari-jari tangannya sudah menotok ke arah dada Thian Sin. Gerakannya mantap dan
kuat. Melihat gerakan ini, tahulah Thian Sin bahwa orang tinggi besar ini menggunakan Ilmu Totok Tiam-hwe-louw,
yaitu ilmu totok dari perguruan Siauw-lim-pai! Seperti juga tadi, dia pura-pura tidak tahu akan tetapi
diam-diam mengerahklan sin-kang ke arah dada yang ditotok. "Dukk!" Dan orang tinggi besar itupun meloncat ke
belakang sambil menahan teriakannya karena jari tangannya bertemu dengan benda keras yang panas sekali!
Beberapa orang lain maju dan menotok tubuh Thian Sin, mempergunakan bermacam cara, namun semuanya gagal. Dan
Thian Sin sendiri menjadi terkejut. Orang-orang ini ternyata terdiri dari berbagai aliran perguruan silat, dan
beberapa orang di antaranya adalah murid dari partai-partai bersih seperti Siauw-lim-pai dan Thian-san-pai.
Tentu saja hal ini membuat dia merasa heran bukan main. "Hemm, orang muda, agaknya engkau memiliki Ilmu
I-kiong-hoan-hiat (Memindahkan Jalan Darah). Akan tetapi di depan kami tiada gunanya engkau berlagak," kata
orang pertama atau orang yang diduga oleh Thian Sin tentu tosu itu. Kini orang ini menggerakkan tangan menotok
dengan cara aneh, yaitu tanpa memilih jalan darah. Thiant Sin tahu bahwa ini adalah Ilmu Totok Coat-meh-hoat
dari Bu-tong-pai! Sekali ini Thian Sin ingin memperlihatkan kelihaiannya, juga ingin memberi pelajaran kepada
orang yang memandang rendah kapadanya ini, maka begitu totokan tiba, dia sengaja melontarkan tenaga sin-kang
dari tempat yang ditotok, "Dukkk!" Orang yang menotok itu mengaduh dan melangkah mundur, memegangi tangannya
yang tadi menotok karena buku- buku tulang jari tangannya terasa remuk dan salah urat! Semnua orang bertopeng
yang berada di situ siap dengan anak panah mereka. Thian Sin melihat hal ini dan diapun berkata, "Aku sudah
membiarkan diriku dibelenggu, kenapa kalian masih menghinaku? Kalau aku tidak ingin bertemu dengan pimpinan
kalian, apakah semudah ini kalian dapat membelengguku? Nah, tidak perlu main-main dengan totokan lagi, mari
bawa aku kepada pimpinan kalian!" Sepasang mata di balik topeng itu memandang ragu dan agaknya kini mereka
semua baru tahu bahwa tawanan muda itu sesungguhnya adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan
bahwa sejak tadi telah mempermainkan mereka dengan membiarkan mereka menotoknya berganti-ganti! Pemimpin
kelompok itu lalu memberi isyarat dan tanpa banyak cakap lagi Thian Sin lalu diiringkan keluar dari tempat itu.
Seorang anggauta sebagai petunjuk jalan berjalan di depan, diikuti oleh Thian Sin yang dibelenggu kedua
tangannya. Di belakang Thian Sin berjalan si pemimpin yang menodongkan pedangnya di tengkuk tawanan itu dan di
belakangnya berbaris sepuluh orang anak buah yang menodongkan anak panah. Sementara itu, dari lampu-lampu yang
dipa-sang di sepanjang lorong terowongan, maklumlah Thian Sin bahwa hari telah berganti malam. Jalan terowongan
itu makin menaik dan dia melihat banyak sekali kamar-kamar di kanan kiri, ada yang kosong akan tetapi ada pula
yang isi karena dia mendengar suara orang-orang, laki-laki dan wanita, dari dalam kamar-kamar itu. Akhirnya dia
tiba di sebuah ruangan yang luas sekali dan melihat dindingnya yang dari batu dan langitlangitnya yang juga
dari batu, dia menduga bahwa tentu dia masih berada di bawah tanah, biarpun tanah pegunungan kerena dia tentu
telah mendaki cukup tinggi sekarang. Ruangan itu diterangi cahaya banyak lampu, dan di situ telah berkumpul
banyak orang. Dengan pandang matanya, Thian Sin menyapu ruangan itu dan diam-diam dia merasa heran. Di situ
berkumpul sedikitnya dua puluh lima orang, akan tetapi orang-orang biasa dan ra-ta-rata mereka berpakaian
sebagai orang-orang hartawan, bahkan ada yang sikapnya seperti orang berpangkat, dan ada beberapa orang pula
yang sikapnya seperti seorang ahli silat atau pendekar! Mereka semua memandang kepadanya dengan sinar mata
orang memandang seorang penjahat atau seorang pengacau! Ada pula belasan orang lagi yang berpakaian seperti
siluman tengkorak, berdiri dan berjaga di sekitar tempat itu. Di bela-kang ruangan itu terdapat anak tangga
menuju ke atas, lebar dan lantainya ditutup permadani merah. Akan tetapi kini yang menjadi perhatian Thian Sin
adalah seorang laki-laki yang memakai jubah sutera putih dengan gambar tengkorak darah di dadanya. Jubah yang
serupa dengan yang dipakai oleh para anggautanya, akan tetapi ada perbedaan potongannya, karena yang dipakai
orang ini agak longgar seperti jubah pendeta dengan lengan baju yang panjang dan lebar, dan kalau para anggauta
itu mengenakan ikat pinggang putih, orang ini memiliki ikat pinggang yang keemasan. Topeng yang menutupi
mukanya juga topeng tengkorak, akan tetapi kalau para anggauta itu topengnya nampak jelas, orang ini
seolah-olah tidak bertopeng, melainkan mukanya memang muka tengkorak, kulit membungkus tulang belaka! Dan
sepasang matanya mencorong menakutkan. Thian Sin dapat menduga bahwa orang ini menggunakan topeng dari kulit
tipis, akan tetapi dia harus mengaku dalam hati bahwa orang ini merupakan lawan yang tidak boleh dipandang
ringan karena dari pandang matanya itu berpancar kekuatan yang dia tahu kekuatan ilmu hitam atau sihir! Mereka
yang mengiringkan Thian Sin kini berhenti dan Thian Sin dibiarkan berdiri di tengah ruangan. Pemuda ini berdiri
tegak dengan kedua tangan dibelenggu ke belakang. Suasana dalam ruangan itu seperti sedang pesta atau menjamu
tamu-tamu, dan agaknya perjamuan itu baru akan dimulai. Dia merasa betapa dia telah mengganggu sebuah
perjamuan, karena dia melihat kemarahan dan kejengkelan pada wajah orang-orang yang hadir di situ. Tiba-tiba
yang memakai jubah dan topeng siluman itu bangkit dari tempat duduknya dan ternyata tubuhnya cukup jangkung.
"Ahh, kita telah kedatangan seorang tamu kehormatan! Cu-wi yang hadir hendaknya melihat baik-baik, bukankah
benar bahwa tamu kita ini adalah Pendekar Sadis atau Sang Pangeran Ceng Thian Sin?" Thian Sin terkejut bukan
main. Dia mengerling ke arah para hadirin dan melihat beberapa orang di antara mereka mengangguk-angguk
membenarkan. Dia telah dikenal orang! Tentu mereka itu adalah orang-orang penting dan setelah kini dia
memperhatikan mereka, dia melihat bahwa di antara mereka itu terdapat pembesar-pembesar yang pernah dilihatnya
di kota raja! Diapun menanti dengan hati tegang, tidak dapat menduga dengan siapa dia sebenarnya berhadapan dan
dengan perkumpulan macam apa pula. Siluman itu kini berkata langsung kepadanya, "Orang muda yang gagah, tidak
kelirukah dugaan kami bahwa engkau adalah Pendekar Sadis Ceng Thian Sin?" Thian Sin merasa tidak perlu untuk
menyembunyikan diri lagi maka diapun mengangguk. Kini terdengar para hadirin saling berbisik dan suasana
menjadi tegang. Agaknya kenyataan yang telah diakui oleh orangnya bahwa tempat itu kedatangan Pendekar Sadis,
merupakan hal yang mengejutkan mereka. Akan tetapi, siluman itu melangkah maju dan menjura. "Ah, selamat
datang, Ceng-taihiap. Selamat datang! Hayo cepat lepaskan belenggunya dan kalian minta maaf!" katanya kepada
dua belas orang yang tadi mengawal Thian Sin. "Tidak perlu repot-repot!" Thian Sin berkata dan sekali dia
menggerakkan kedua lengannya yang terbelenggu di belakang tubuhnya, terdengar suara "krekk! krekkk!" dan
belenggu rantai besi pada kedua tangan itu patah-patah dan runtuh ke atas lantai. Karena semua orang memandang
dengan hati tegang dan suasana amat sunyinya, maka ketika belenggu itu jatuh ke atas lantai batu, terdengar
suara nyaring berdenting. Siluman Tengkorak itu tertawa, suaranya terdengar lebih nyaring dari pada denting
rantai belenggu. "Hebat, Ceng-taihiap memang hebat. Silahkan duduk!" "Terima kasih!" kata Thian Sin dan dia
menerima bangku yang disodorkan oleh seorang di antara para anggauta Siluman Tengkorak, lalu duduk menghadapi
ketua siluman yang sudah duduk pula itu. "Ingin sekali saya mendengar apa artinya semua ini. Mengapa
penyambutan terhadap saya seperti ini?" Thian Sin mulai membuka kartunya, tentu saja dengan maksud untuk
memancing pembukaan kartu lawan dan untuk melihat apa yang tersembunyi dalam hati pihak lawan. Siluman itu
tersenyum dan wajahnya nampak menyeramkan. Kini Thin Sin merasa yakin bahwa orang itu memakai topeng terbuat
dari pada kain atau karet tipis, tidak sehalus topeng yang pernah dipakai oleh Kim Hong ketika menyamar sebagai
nenek Lam-sin, akan tetapi juga tidak sekasar yang dipakai para anak buah Siluman Tengkorak itu. "Pertanyaan
itu sebenarnya harus dikembalikan kepadamu taihiap. Seingat kami, kami tidak pernah bersimpang jalan dengan
Pendekar Sadis, akan tetapi taihiap telah mendatangi tempat kami dan melakukan penyelidikan. Dari pengamatan
kami, kami hanya baru menduga saja bahwa taihiap adalah Pendekar Sadis, oleh karena itu karena taihiap telah
memasuki daerah terlarang kami, terpaksa teman-teman kami telah menangkapmu. Setelah berada di sini dan kami
yakin siapa adanya diri taihiap, tentu saja kami tidak berani mengambil sikap sebagai musuh. Nah, harap taihiap
suka jelaskan, mengapa taihiap memasuki daerah kami? Mengapa taihiap mencampuri urusan kami?" Thian Sin
mengangguk-angguk. "Sebelum saya memberi penjelasan dan menjawab pertanyaanpertanyaan itu, lebih dulu saya
ingin mengetahui, dengan siapakah sebenarnya saya bicara?" "Perlukah hal itu taihiap tanyakan lagi? Kalau
taihiap sudah datang menyelidiki tempat kami kiranya taihiap sudah dapat menduga siapa adanya saya." "Saya
mendengar tentang nama Siluman Guha Tengkorak, akan tetapi juga mendengar anak buah Siluman Tengkorak menyebut
Sian-su." "Siancai... siancai...! Apa yang taihiap dengar itu sudah cukup, dan terserah kepada taihiap."
"Baiklah, sayapun akan menyebut Sian-su kepadamu. Terus terang saja, selama ini belum pernah saya mendengar
tentang Siluman Guha Tengkorak dan hanya secara kebetulan saya melihat seorang bernama Kwee Siu tewas oleh
seorang yang memakai pakaian dan topeng sebagai anggauta Siluman Guha Tengkorak. Saya belum pernah bertindak
tanpa sebab. Saya mendengar dari mendiang Kwee Siu bahwa Siluman Guha Tengkorak telah membunuh Tujuh Pendekar
Tai-goan. Karena itulah saya datang ke sini hendak bertemu dengan Siluman Guha Tengkorak dan bertanya mengapa
tujuh orang pendekar itu dibunuh tanpa dosa?" "Ha-ha, sungguh pertanyaan ini terdengar lucu kalau keluar dari
mulut Pendekar Sadis! Taihiap sendiri dinamakan Pendekar Sadis karena tindakan taihiap terhadap musuh-musuh
taihiap jadi semua tindakan tentu ada sebabnya, bukan? Nah, demikian pula dengan tujuh orang itu. Mereka telah
berani menentang kami, maka anehkah kalau mereka itu roboh dan tewas di tangan kami? Kami hanya membela diri,
dan dalam perkelahian, wajarlah kalau kematian bagi yang kalah." "Memang, sebab melahirkan akibat dan akibat
menjadi sebab lagi. Kalau Tujuh Pendekar Taigoan menentang dan melawan Sian-su dan para anggautanya, hal itu
tentu ada sebabnya pula." "Dan sebabnya itu apa, taihiap?" "Ada seorang ibu muda keluarga Cia yang diculik
orang dan suaminya, seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, dibunuh. Apakah itu bukan merupakan suatu sebab
yang cukup berat?" "Siancai... siancai! Cu-wi yang hadir tentu sudah mendengar fitnah-fitnah itu. Ceng-taihiap
rupanya juga terkena pengaruh fitnah keji yang dilontarkan kepada kami. Taihiap, lihatlah orang-- orang
terhormat yang hadir di sini! Kalau me-mang kami demikian jahatnya, apakah mereka itu akan sudi hadir di sini
dan menjadi pengikut dan saudara sekepercayaan kami? Ketahuilah bahwa kami mengajak semua orang untuk menikmati
hi-dup dan menjadi anggauta agama baru kami. Dan tentang ibu muda keluarga Cia itu... ah, sebaiknya taihiap
menyaksikan sendiri. Kebetulan sekali kami sedang mengadakan pesta dan upacara peng-angkatan seorang anggauta
wanita baru. Lebih baik taihiap menyaksikan sendiri dari pada mendengar fitnah dari mulut lain orang." Thian
Sin tidak dapat membantah lagi. Siluman itu lalu mempersilahkan dengan suara lantang agar semua orang suka
mengikutinya ke apa yang dinamakannya sebagai "Panggung Puncak Bahagia" dan semua orangpun berdiri dengan wajah
gembira. "Saatnya telah hampir tiba, mari kita bersiap-siap menyambut turunnya Dewi Cinta dan mempersiapkan
upacaranya." Demikian dia berkata dan menghampiri Thian Sin yang masih duduk. "Ceng-taihiap, engkau menjadi
tamu kehormatan, silahkan mengikuti kami ke tempat upacara."- Thian Sin hanya mengangguk, lalu bangkit berdiri
dan berjalan mengikuti siluman itu yang diiringkan pula oleh semua yang hadir. Para anggauta siluman menjaga di
kanan kiri dan ada pula yang berada di depan dan belakang. Mereka itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan
gerakan kaki mereka hampir tidak menimbulkan suara. Semua orang kini mendaki anak tangga menuju ke atas yang
bertilam permadani merah dan diam-diam Thian Sin memperhatikan kanan kiri. Dindingnya masih terbuat dari pada
batu, akan tetapi kini dihias dengan kain-kain sutera, bahkan ada lukisan-lukisan kuno yang indah. Anak tangga
itu memutar beberapa kali, seperti anak tangga yang menuju ke menara sebuah istana kuno. Akan tetapi setelah
tiba di bagian teratas, Thian Sin terbelalak penuh kagum. Kalau tadi di kanan kiri anak tangga itu dihias dan
diterangi dengan lampu-lampu beraneka warna, kini langit-langit terbuka dan yang menghias langit-langit adalah
bintang-bintang yang sinarnya suram karena kalah oleh sinar bulan yang sudah naik tinggi! Bulan sepotong, akan
tetapi karena langit bersih, maka cuaca cukup terang. Kiranya tempat upacara itu berada di atas puncak bukit
yang dikelilingi puncak-puncak lain sehingga tidak akan nampak dari jauh, dan puncak itu merupakan tempat datar
yang cukup luas, yang dikurung jurang-jurang amat dalamnya sehingga orang tidak akan mungkin menuruni atau naik
puncak lewat jurang-jurang itu, kecuali lewat jalan rahasia terowongan! Luas puncak bukit datar itu tidak
kurang dari dua puluh lima kaki tombak persegi, kurang lebih seribu lima ratus meter persegi dan karena
terbuka, maka sinar bulan bintang atau matahari dari angkasa dapat menerangi seluruh tempat itu tanpa terhalang
sesuatu. Tempat itu dihiasi pohon, akan tetapi di sekitar tepinya terdapat tanaman bunga-bunga indah, kemudian
rumput-rumput hijau seperti permadani, dan di bagian tengahnya diberi rantai tembok yang halus mengkilap.
Kursi-kursi berjajar di sebelah kiri dan ke tempat inilah Siluman Tengkorak membawa para tamu. Semua orang
dipersilahkan duduk dan Thian Sin sendiri memperoleh tempat duduk kehormatan di sebelah kiri sang ketua atau
mungkin juga sang pendeta karena sebutannya Sian-su. Thian Sin memperhatikan sekeliling. Sungguh merupakan
tempat yang tersembunyi dan indah sekali. Tidak nampak dari dunia luar, terlindung dan tersembunyi. Di dekat
tempat duduk sang pemimpin terdapat sebuah meja sembahyang. Di samping kiri terdapat sekelompok pemain musik
yang pada saat itu memainkan alat musik mereka dengan lembut sehingga membuat suasana menjadi romantis dan
syahdu. Di depan mereka terdapat lantai tembok yang halus itu dan di sana-sini, bahkan sampai ke
lapangan-lapangan rumput, terdapat kasur-kasur kecil yang beraneka warna dengan selubung bersulam. Di
tempat-tempat yang dipasang secara nyeni terdapat lampu-lampu dengan penutup warna-warni dan di sana-sini
mengepul asap dupa wangi yang mendatangkan rasa nyaman dan menyenangkan. Di sebelah kanan, di tepi tempat itu,
terdapat bangunan-bangunan kecil yang agaknya belum selesai dibangun, dan Thian Sin dapat menduga bahwa
bangunan-bangunan kecil itu merupakan bangunan yang diperuntukkan para "dewa" seperti biasa dipergunakan untuk
tempat arca atau patung yang dipuja orang dalam kuil-kuil. Akan tetapi yang hebat bukan main adalah kenyataan
bahwa pondok-pondok itu kecil seperti pondok boneka itu terbuat dari pada emas terukir indah. Sukar dibayangkan
betapa mahalnya membuat pondok-pondok pemujaan dewa-dewa seperti itu. Tiba-tiba suara musik yang tadinya lembut
itu mulai berobah. Sang pemimpin mengangkat tangan kiri ke atas dan suara musik itu berobah menjadi makin keras
dan penuh semangat. Dan bersama dengan perobahan suara musik ini, dari sebuah anak tangga kiri, agaknya
menembus ke tempat yang lain lagi dari pada ruangan di mana Thian Sin diterima oleh siluman tadi, berlarilarian
naik belasan orang wanita. Mereka, itu semua terdiri dari wanita-wanita yang muda dan cantik-cantik dan mereka
memakai gaun panjang tipis yang membuat tubuh mereka nampak terbayang. Gaun dari kain sutera putih yang tembus
pandang itu tertimpa sinar bulan dan lampulampu, menciptakan lekuk lengkung tubuh ditimpa bayangan-bayangan
yang mengairahkan. Karena mereka adalah wanita-wanita muda, tentu saja tubuh mereka itu padat dan indah. Kaki
mereka yang tidak bersepatu itu berlari-larian dan membuat gerakan berjungkit dalam langkahlangkah tarian.
Rambut mereka yang hitam panjang terurai lepas ke belakang punggung dan kedua pundak, dihias bunga-bunga putih.
Kedua tangan mereka menyangga baki-baki yang agaknya terbuat dari pada emas pula! Dengan gerakan lemah gemulai
dan menggairahkan, lima belas orang penari wanita ini menari dan membuat gerakan berlarian kecil berputaran
secara teratur menurut irama musik dan sambil menari mereka itu menggerak-gerakkan tubuh mereka dengan
cara-cara yang menimbulkan pesona dan gairah, gerak-an pinggul yang memikat dan penuh nafsu, makin lama makin
liar ketika musik itu makin nyaring dibunyikan para penabuhnya. Sejenak Thian Sin sendiri tertarik dan
terpesona. Memang indah sekali. Suasananya demikian romantis, sinar bulan dan cahaya lampu-lampu beraneka warna
itu, di udara terbuka yang demikian sejuk, dengan harumnya kembang-kembang beercampur wanginya dupa. Dan
gadisgadis itu menjadi semakin cantik menarik karena tertimpa cahaya warna-warni yang redup, dan lekuk lengkung
tubuh gempal di balik pakaian yang tembus pandang, suara musik yang merangsang! Akan tetapi pemuda ini segera
dapat menguasai perasaannya dan diam-diam diapun mengerling ke arah para tamu. Dia tidak merasa heran melihat
betapa para tamu pria itu semakin terangsang, pandang mata mereka itu berseri-seri penuh nafsu berahi, wajah
mereka itu kemerahan, hidung kembang-kempis dan mulut tersenyum-senyum penuh gairah. Dari samping, nampak
betapa sering kalamenjing mereka naik turun ketika mereka menelan ludah. Bahkan ada pula yang memandang dengan
mata melotot, seolah-olah hendak menelan bulat-bulat dengan pandang matanya tubuh yang menggairahkan itu. Ada
pula yang berpakaian sebagai ahli silat, nampak tenang saja, akan tetapi tangannya mengepal keras, tanda bahwa
diapun terpesona dan berusaha untuk menekan perasaannya. Semua ini nampak oleh Thian Sin dan dia menemukan
sebab yang merupakan daya tarik bagi mereka itu, ialah pemuasan berahi dan rangsangan yang agaknya disengaja
disajikan kepada mereka oleh wanita-wanita cantik itu. Dan ketika dia mengerling ke arah siluman yang dipanggil
Sian-su itu, dia melihat orang bertopeng inipun seperti dia, sedikit juga tidak memperhatikan lagi kepada para
penari, melainkan memandang ke kanan kiri, memperhatikan wajah para tamu dengan senyum puas membayang pada
topeng tengkoraknya. Setelah menari-nari beberapa kali putaran dan setiap berputar di dekat tempat duduk para
tamu tercium bau harum winyak wangi dari tubuh mereka, Sian-su mengangkat tangan kirinya lagi dan inipun
merupakan isyarat karena suara musik tiba-tiba menurun. Para wanita yang menari itupun memperhalus tarian
mereka dan akhirnya mereka berkumpul menjadi suatu kelompok dan bersama-sama menjatuhkan diri berlutut di
hadapan Sian-su! Siluman ini mengangguk-angguk dan tangannya bergerak seperti menebarkan sesuatu di udara
dan... kelopak-kelopak bunga beterbangan dan melayang turun ke atas kepala lima belas orang penari yang
ditundukkan dalam penghormatan mereka itu. Kelopak-kelopak bunga itu hinggap di atas rambut-rambut hitam itu,
indah seperti kupu-kupu yang hinggap di atas bunga-bunga mekar. Thian Sin mengerutkan alisnya dan diam-diam dia
tahu bahwa orang itu sungguh lihai, bukan saja ahli ilmu silat tinggi seperti yang telah diduganya, akan tetapi
juga pandai mempergunakan kekuatan aihir untuk bermain sulap! Diapun cepat membuat tanggapan dengan sinar mata
penuh kagum dan heran seperti yang diperlihatkan oleh wajah semua orang yang hadir. Kebetulan sekali siluman
itu memandang kepadanya dan Thian Sin melihat dengan jelas betapa muka tengkorak itu tersenyum simpul, jelas
kelihatan girang dan bangga sekali akan kepandaiannya, terutama sekali karena ilmu sihirnya dikagumi oleh
seorang pendekar seperti Pendekar Sadis! Sekarang, lima belas orang penari itu bangkit berdiri, dengan gerakan
lemah gemulai dan memikat merekapun berjalan menghampiri para tamu dengan baki di kedua tangan. Si Muka
Tengkorak itu berkata sambil tersenyum kepada Thian Sin, "Maaf, taihiap, bukan kami mata duitan, akan tetapi
karena kebutuhan untuk pembangunan perkumpulan agama kami membutuhkan banyak biaya dan para anggauta dan
pengikut kami bermurah hati, maka acara sekarang ini adalah acara pemberian sumbangan suka rela yang dipungut
oleh para gadis penari. Akan tetapi taihiap sebagai tamu kehormatan tentu saja tidak diharapkan untuk
menyumbang..." "Ah, jangan sungkan, Sian-su. Akupun bersedia menyumbang, jangan khawatir!" Thian Sin lalu
merogoh saku dalam bajunya dan mengeluarkan sebongkah kecil emas dan ketika seorang penari lewat di depannya,
dia menaruh bongkahan emas yang sekepal besarnya itu di atas baki. Tentu saja penari itu terkejut bukan main,
terbelalak melihat emas yang berat itu dan melempar senyum manis dan kerling mata penuh daya memikat. Semua
tamu juga memandang heran dan mereka maklum betapa besarnya harga sumbangan yang diberikan oleh Pendekar Sadis.
Akan tetapi, tentu saja mereka tidak tahu bahwa Pendekar Sadis adalah seorang yang kaya raya dan sebongkah emas
itu tidak ada artinya sama sekali baginya! Melihat ini, siluman itu tertawa. "Siancai... taihiap sungguh
dermawan. Terima kasih, taihiap. Abwee, simpan kerlingmu itu, jangan khawatir, engkau boleh melayani
Ceng-kongcu malam nanti!" Gadis penari yang disebut A-bwee itu menahan senyum lalu berlari-lari ke arah tamu
lain. Thian Sin memperhatikan ke sekelilingnya dan dia melihat betapa royalnya para tamu itu ketika menyerahkan
sumbangan kepada para gadis penari, meletakkan sumbangan mereka di atas baki-baki yang disodorkan oleh para
gadis itu. Diantara mereka bahkan ada yang mengajak para gadis itu bersendau-gurau dan berbisik-bisik lirih.
Setelah selesai upacara sumbangan itu, para gadis itu lalu mengundurkan diri sambil berlari-larian menuju anak
tangga yang letaknya di belakang, yaitu tem-pat dari mana mereka tadi naik. Musik masih di-mainkan dengan
lembut, dan tak lama kemudian, nampak para gadis manis itu sudah kembali lagi dan kini baki-baki itu telah
berganti isi, yaitu cawan-cawan dan guci-guci arak dan ada pula- yang membawa piring-piring terisi makanan.
Sambil tersenyum-senyum para gadis itu menghidangkan arak dan makanan di atas meja para tamu, kemudian dengan
sikap lemah gemulai dan tersenyum--senyum ramah mereka lalu menuangkan arak dari guci ke dalam cawan para tamu.
Begitu arak di-tuangkan ke dalam cawan, tercium bau sedap arak yang baik dan tua. Kini bukan hanya lima belas
orang gadis penari tadi yang menjadi pelayan, melainkan ditambah lagi oleh beberapa orang lain yang sama muda
dan cantiknya sehingga jumlah mereka ada dua puluh lima orang. Setelah melihat betapa semua tamu menerima
suguhan arak dan cawan mereka telah dipenuhi arak harum, Siluman Tengkorak yang juga sudah menerima suguhan
secawan arak, lalu mengangkat cawan araknya ke atas dan berkata dengan suara ramah, "Cu-wi, silahkan minum
untuk persahabatan kita yang kekal!" Semua orang mengangkat cawan arak masing-masing dan Thian Sin juga
mengangkat cawan araknya, tetapi tidak memperlihatkan sikap curiga walaupun dia menduga bahwa tentu ada
apa-apanya di dalam suguhan arak ini. Akan tetapi dia mengandalkan kekuatan sin-kangnya untuk melindungi
tubuhnya apabila arak itu dicampuri racun. Pula, dia melihat sendiri bahwa arak untuknya itu dari satu guci
dengan arak untuk para tamu lain, maka dia ikut minum tanpa curiga sama sekali. Begitu arak itu melalui mulut
dan kerongkongannya, Thian Sin merasa bahwa arak itu memang lezat sekali dan ada sesuatu yang merupakan obat
keras namun halus. Dia merasa yakin bahwa itu bukanlah racun, walaupun dia tahu bahwa tentu arak itu dicampuri
semacam obat yang cukup keras. Beberapa lama kemudian setelah arak memasuki perutnya, barulah Thian Sin tahu
bahwa arak itu mengandung obat perangsang yang membuat tubuhnya hangat dan pikirannya gembira. Setelah merasa
yakin bahwa arak itu tidak mengandung racun, Thian Sin berani minum dengan hati tenang-. Dia melihat betapa
para tamu itu sudah mulai ter-pengaruh arak, mereka tertawa-tawa gembira. Hidanganpun dikeluarkan dan musik
kini mengiringi gadis-gadis yang datang dan menari-nari. Pakaian mereka merupakan gaun-gaun tipis warna-warni
sehingga selain indah, juga amat menggairahkan karena pakaian-pakaian itu tembus pandang gerakan-gerakan mereka
yang erotis membuat suasana menjadi semakin panas, ditambah pula pengaruh arak sehingga para tamu itu sudah ada
yang mulai nakal dengan kata-kata dan tangan mereka, menggoda dan menowel para pelayan wanita yang muda dan
cantik. Thian Sin melihat bahwa pelayan-pelayan itu agaknya juga sudah terpengaruh oleh sesuatu yang membuat
mereka itu bersikap genit-genit dan berani, padahal sikap mereka itu gadis-gadis dari golongan baik-baik. Makin
larut malam, suasana menjadi semakin panas. Thian Sin melihat betapa ada sudah beberapa orang di antara para
tamu itu yang berani menarik lengan seorang pelayan dan mendudukkannya di atas pangkuan dan menciuminya begitu
saja di depan orang hanyak! Agaknya siluman yang jadi ketua perkumpulan itu dapat melihat pula hal ini, maka
diapun memberi isyarat dengan tangan diacungkan ke atas dan seorang di antara para anggaran siluman itu lalu
membunyikan canang bertalu-talu. Mendengar ini, gadis-gadis pelayan itu melepaskan diri dan mundur, bahkan lalu
menghilang bersama-sama para gadis penari. Siluman Tengkorak itu bangkit berdiri dan suaranya terdengar lantang
namun lembut dan ramah. "Cu-wi yang terhormat, setelah diketahui malam hari yang suci ini akan dilakukan
upacara pengangkatan seorang anggauta baru. Oleh karena itu, sebelum acara tarian bebas gembira untuk memuja
dewa, terlebih dahulu akan dilakukan upacara pengangkatan murid atau anggauta baru itu. Harap cu-wi suka
menjadi saksi." Semua tamu yang sudah makan kenyang itu kini duduk tenang dan Thian Sin sendiripun mengikuti
perkembangan selanjutnya dengan penuh perhatian. Dia belum tahu di mana adanya ibu dari dua orang anak itu,
akan tetapi dia sabar menanti sampai semua upacara selesai, baru dia akan mendesak siluman itu. Dia harus
berhati-hati karena tempat ini sungguh amat berbahaya. Jumlah anak buah siluman ini kiranya tidak kurang dari
dua puluh lima orang, belum dihitung gadis-gadis itu dan siapa tahu bahwa di antara para tamu itu terdapat
orang-orang pandai yang agaknya tentu akan membantu siluman itu pula. Semua ini di tambah lagi dengan kenyataan
bahwa dia berada di dalam sarang musuh yang berbahaya sekali dan yang agaknya penuh dengan perangkap-perangkap
rahasia sehingga andaikata dia akan mampu meng-hadapi keroyokan begitu banyaknya orang, belum tentu dia mampu
mengatasi semua alat--alat jebakan di tempat itu. Biarlah bersabar sambil mencari kesempatan baik untuk turun
tangan sambil mengukur sampai dimana kekuatan pihak lawan. Siluman Tengkorak itu kemudian mengangkat tangan
memberi isyarat dan musikpun dimainkan lagi dengan lagu yang lembut akan tetapi juga mengandung kekerasan di
dalamnya, seperti dalam lagu puja-puji. Asap dupapun mengepul makin tinggi, semerbak baunya dan lampu--lampu
diganti dengan lampu yang warnanya hijau sehingga cuaca menjadi redup. Kini nampak tujuh orang gadis naik ke
tepat itu, bertelanjang kaki dan mengenakah pakaian yang begitu tipisnya sehingga pakaian itu seperti kabut
saja yang menu-tupi tubuh mereka, membuat tubuh di balik pa-kaian itu nampak membayang. Mereka berjalan
perlahan, penuh khidmat, dan mereka membawa bermacam-macam benda. Ada yang membawa se-ekor kelinci putih yang
gemuk, ada yang memba-wa sebuah bokor emas, ada yang membawa guci arak dan ada pula yang membawa sebatang
pedang kecil. Hebatnya, bokor, guci dan bahkan pedang kecil itu semua terbuat dari pada emas tulen! Tujuh orang
gadis ini melangkah perlahan, dengan kepala tunduk, ke arah tempat duduk Siluman Tengkorak, lalu mereka
berlutut dengan sikap menanti. Siluman itu lalu bangkit berdiri, melangkah maju dan gadis-gadis itu berlutut di
sekelilingnya. Siluman itu lalu menagangkat kedua tangannya ke atas kepala dengan lengan dikembangkan, muka
tengkorak itu tengadah lalu terdengar suaranya lantang dan mengandung getaran yang amat kuat sehingga diam-diam
Thian Sin terkejut bukan main. Itulah tenaga khi-khang yang kuat bercampur dengan kekuatan mujijat ilmu sihir!
"Yang Mulia Dewa Kematian, silahkan menjelma agar hamba sekalian dapat mengesahkan pengangkatan seorang pemuja
baru untuk paduka...!" Suara itu bergema dan semua hadirin memandang dengan sikap hormat dan juga dengan hati
tegang. Biarpun mereka yang hadir itu sudah beberapa kali menyaksikan peristiwa ini, namun selalu mereka
merasakan ketegangan luar biasa karena pada saat itu mereka merasakan getaran aneh yang seolah-olah mengguncang
jantung. Bahkan para pendekar yang hadir diamdiam harus mengakui bahwa sin-kang yang mereka kerahkan untuk
menekan getaran itu jauh kalah kuat, membuat mereka merasa semakin kagum terhadap Sian-su! Thian Sin bersikap
tenang, namun dengan mengerahkan tenaga dalam dan juga kekuatan sihirnya, dia mampu memandang lebih terang dan
tahulah dia bahwa dengan kekuatan sihir yang kuat, orang itu telah mempengaruhi semua orang dengan halus tanpa
mereka sadar bahwa mereka telah disihir melalui suara itu. Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan nampak
asap putih kebiruan mengepul tebal di tempat Siluman Tengkorak itu berdiri. Siluman itu lenyap terbungkus asap
tebal dan musik masih dimainkan dengan lagu yang aneh tadi. Selagi asap masih mengepul tebal, nampaklah dua
puluh orang lebih penari yang tadi, kini sudah berganti pakaian gaun tipis berwarna-warni. Me-reka berlari-lari
ringan dan menari-nari, membuat lingkaran mengelilingi Sian-su yang masih terbungkus asap di tengah-tengah
lingkaran tujuh orang gadis yang masih berlutut. Perlahan-lahan asap itu membuyar dan mulai nampak lagi tubuh
orang itu, dan kini semua orang memandang dengan hormat, bahkan ada di antara para hadirin yang menjatuhkan
diri ber-lutut memberi hormat. Thian Sin memandang ta-jam dan diapun terkejut melihat betapa wajah tengkorak
itu kini mengeluarkan cahaya cemerlang! Orangnya masih yang tadi, tidak ada perobahan, yang berobah hanya wajah
tengkorak itu yang mengeluarkan cahaya, sedangkan sepasang mata itupun kini bersinar-sinar mencorong lebih
terang dari pada tadi. Thian Sin maklum bahwa ledakan dan asap tadi hanya merupakan hasil dari pada bahan
ledakan saja, dan bahwa orang itu telah mempengaruhi pikiran dan semangat para hadirin dengan getaran suaranya.
Akan tetapi, dia sendiri tidak tahu apa yang membuat wajah tengkorak atau topeng tipis itu menjadi cemerlang
seperti itu. Dia tahu pula bahwa tentu semua yang hadir percaya bahwa kini Dewa Kematian telah menjelma dan
memasuki tubuh Sian-su! Tentu saja kepercayaan seperti ini membuat mereka itu semua tunduk dan kagum. Seorang
anggauta siluman mendekati Thian Sin dan dari kepalanya yang miring ke kiri itu Thian Sin dapat menduga bahwa
orang ini tentulah tosu yang pertama kali memancingnya masuk ke tempat ini. "Taihiap, saya bertugas untuk
memberi keterangan kepadamu sekiranya taihiap ingin mengetaui sesuatu." Thia Sin tersenyum dan merasa bahwa
pertunjukan ini, selain untuk mempengaruhi para hadirin dan menarik kepercayaan mereka, juga sengaja
diperlihatkan kepadanya! Maka diapun mengikuti permainan ini dan bertanya dengan suara dibuat bernada penuh
keheranan, "Aku ingin tahu mengapa wajah Sian-su menjadi bercahaya seperti itu?" Dengan suara yang serius dan
penuh hormat, siluman itu berbisik, "Taihiap, yang berdiri itu hanyalah tubuh Sian-su, akan tetapi sesungguhnya
adalah Dewa Kematian yang memasuki dirinya." "Ahhh...!" Thian Sin pura-pura heran dan mengangguk-angguk. Kini
dia melihat dua orang anggauta siluman naik dan menghampiri Sian-su. Siluman Tengkorak ini menggerakkan tangan
kiri ke udara dan tahu-tahu dia telah memegang secawan arak! Lalu dipercikkan arak dari cawan itu kepada dua
orang anggauta yang sudah belutut, mengenai kepala dan sebagian lehernya. Percikan cawan ini seolah-olah
menjadi isyarat bagi mereka berdua dan mereka sudah mencabut sebatang pe-dang pendek dari pinggang, kemudian
mulai menggurat leher dan pipinya dengan pedang itu. Darahpun muncrat dari luka-luka itu, akan tetapi kedua
orang ini seperti tidak merasakan sesuatu, lalu menari-nari dengan aneh diiringi suara musik dan ditanggapi
oleh para penari yang mengelilingi tempat itu dengan gerakan-gerakan pinggul yang memutar-mutar erotis. Dua
orang itu lalu sibuk menuliskan huruf-huruf dengan darah mereka di atas potongan-potongan kain putih. Anggauta
siluman yang duduk di dekat Thian Sin menerangkan tanpa diminta, "Itu adalah hui-hu yang ditulis dengan darah
mereka dan menjadi jimat penolak iblis yang akan dibagi-bagikan kepada para tamu. Sekarang akan diadakan
upacara injak bara api dan mandi minyak mendidih." Ternyata persiapannya untuk itu telah dikerjakan dengan amat
cepatnya oleh para anggauta siluman dan sebentar saja telah terhampar bara api dari arang yang membara
sepanjang tiga meter, dan tak jauh dari situ terdapat kuali besar penuh minyak yang dipanaskan sampai mendidih.
Semua tamu yang duduknya cukup jauh dari tempat itu masih merasakan panasnya bara api itu. Setelah persiapannya
selesai dan semua kain putih sudah ditulisi darah, dua orang anggauta perkumpulan siluman itu bangkit,
menari-nari, masih menggores-goreskan pisau atau pedang kecil itu pada dada mereka yang telanjang, kemudian
mereka menghampiri bara api dan berjalan dengan kaki telanjang di atas arang membara! Dua kali mereka jalan
melintasi arang membara itu, kemudian keduanya menghampiri kuali yang penuh minyak mendidih dan
mengoles-oleskan minyak mendidih itu pada tubuh mereka. Sungguh luar biasa sekali. Asap mengepul dari tubuh
mereka, akan tetapi kulit mereka sama sekali tidak melepuh atau terbakar, bahkan luka-luka goresan yang tadinya
berdarah itu menjadi sembuh dan pulih kembali, bahkan bekas goresan luka saja tidak ada lagi! Tontonan seperti
ini bukanlah tontonan baru bagi orang-orang yang hadir, juga bagi Thian Sin, akan tetapi selalu masih amat
menarik perhatian dan mendatangkan kengerian, membuat kepercayaan orang akan hal-hal yang aneh dan tidak mereka
mengerti menjadi semakin tebal menyelinap ke dalam hati, dan membuat mereka lebih condong menerima ketahyulan
dan membiarkan diri terpengaruh. Thian Sin pernah nonton beberapa kali pertunjukan dari para tangsin seperti
itu, yang dilakukan di kuil-kuil sewaktu ada upacara atau pesta. Maka, dia tidak merasa heran walaupun dia tahu
bahwa peristiwa itu sama sekali bukan hasil main sulap, melainkan akibat dari penyihiran diri sendiri melalui
kepercayaan yang mutlak. Sudah menjadi kelemahan kita manusia pada umumnya untuk merasa tertarik kepada hal-hal
yang aneh-aneh, peristiwa-peristiwa yang tak masuk akal dan penuh rahasia, keajaibankeajaiban dan
kemujijatan-kemujijatan. Kita selalu merasa haus akan hal-hal yang baru, yang aneh, yang tidak kita mengerti.
Kita begitu mendambakan hal-hal baru sehingga kita sudah melupakan hal-hal lain yang terjadi di sekeliling
kita, yang kita anggap lapuk dan lama, tidak menarik lagi. Padahal segala macam keajaiban dan kemujijatan
terjadi di sekitar kita, bahkan di dalam diri kita sendiri. Tumbuhnya setiap helai rambut di kepala dan bulu di
kulit kita merupakan keajaiban dan kemujijatan yang besar, detik jantung kita yang mengatur peredaran darah di
seluruh tubuh kita, kembang-kempisnya paru-paru kita yang menghidupkan, bekerjanya seluruh anggauta tubuh kita,
panca indera kita, be-kerjanya otak kita yang membuat kita dapat bicara, mendengar, melihat dan berpikir.
Bukankah semua itu merupakan sesuatu yang amat indah, sesuatu yang amat ajaib dan mujijat, di mana sepenuhnya
terdapat suatu kekuatan gaib yang sungguh maha kuasa? Kemudian, segala yang nampak di luar diri kita.
Gunung-gunung raksasa, tumbuh-tumbuhan dengan aneka warna, bunga, dan aneka rasa buahnya, segala mahluk hidup
yang bergerak dengan segala macam bentuk, corak dan sifatnya, lalu awan berarak di angkasa, menciptakan hujan,
hawa udara yang menghidupkan, sinar matahari, air, bumi, langit dan segala isi alam ini. Bukankah semua itu
merupakan keajaiban yang amat hebat? Namun kita sudah tidak menghargai semua itu lagi, kita sudah buta akan
keajaiban itu, kita menggapnya biasa saja sehingga melihat orang menginjak bara api saja kita kagum setengah
mati! Padahal, apa sih anehnya menginjak bara api itu kalau dibandingkan dengan tumbuhnya sehelai rambut kepala
atau kuku jari kita? Keajaiban atau sesuatu yang kita anggap aneh adalah karena kita belum mengerti. Karena
tidak mengerti, tidak tahu bagaimana proses terjadinya, maka kita lalu menganggapnya aneh, ajaib dan
menimbulkan khayal yang bukan-bukan. Akan tetapi, sekali orang sudah mengerti, hal yang tadinya dianggap ajaib
itupun menjadi biasa dan terlupakan, tidak menarik lagi, seperti tidak menariknya melihat segala keajaiban yang
terjadi sehari-hari di sekeliling kita. Kita memandang selalu jauh ke depan, mencari-cari yang baru. Kita ini
mahkluk pembosan. Tertarik akan hal-hal baru memang merupakan suatu sifat yang baik, seperti kanak-kanak yang
selalu ingin tahu. Akan tetapi sifat ini harus merupakan dorongan untuk menyelidiki sesuatu bukan menerima
segala sesuatu begitu saja sehingga men-ciptakan watak tahyul. Ketahyulan adalah suatu kebodohan, menerima
sesuatu dengan keyakinan padahal kita tidak mengerti, dan hal ini terjadi karena kita suka akan sensasi.
Menerima sesuatu dengan kata "percaya" maupun dengan kata "tidak percaya" adalah perbuatan bodoh dan tidak
bijak-sana, karena menerima sesuatu dengan kata seperti itu berarti bahwa kita belum atau tidak mengerti.
Sebaiknya kalau kita menghadapi sesuatu yang tidak kita mengerti itu dengan waspada, membuka mata dan telinga,
dan menyelami sendiri, menyelidiki sendiri sehingga kita mengerti. Karena kalau kita sudah mengerti, tidak ada
lagi istilah percaya atau tidak percaya. "Taihiap, sekarang akan dimulai upacara pengangkatan murid wanita yang
baru," kata pula anggauta siluman itu kepada Thian Sin ketika pertunjukan itu selesai dan tempat itu sudah
dibersihkan kembali. Tiba-tiba musik berbunyi lebih nyaring dan nampaklah seorang wanita berjalan
perlahan-lahan menaiki panggung atau puncak datar itu. Thian Sin memandang dan dia melihat bahwa wanita itu
cantik dan biarpun mukanya agak pucat, namun muka itu sungguh mempunyai daya tarik yang kuat. Wajah dan
tubuhnya menakjubkan bahwa wanita ini sudah masak, usianya tentu ada dua puluh tujuh tahun, rambutnya yang
hitam terurai lepas itu amat tebal dan panjangnya sampai ke pinggul, kedua kakinya yang kecil telanjang dan ia
memakai gaun yang sama tipisnya dengan gadis-gadis penari, gaun panjang menutupi kaki dan terseret ke atas
lantai, warnanya putih bersih. Dipandang sepintas lalu wanita ini seperti seorang mempelai yang akan
dipertemukan. Wanita itu berjalan perlahan, kemudian berhenti di depan Sian-su yang masih berdiri tegak dengan
wajah bercahaya, dan wanita itu sejenak memandang wajah itu lalu mengeluh lirih dan menjatuhkan diri berlutut
di depan kaki Sian-su! "Itukah anggauta baru?" Thian Sin bertanya.- "Benar, taihiap, dan ia itulah wanita yang
kau sebut-sebut ketika taihiap menghadap Sian-su." Thian Sin benar-benar terkejut sekali. "Apa? Kaumaksudkan ia
ibu muda dari kedua orang anak itu? Ibu dari keluarga Cia yang terculik?" Thian Sin bangkit berdiri. "Jadi
benarkah bahwa kalian telah menculiknya dan membawanya ke sini?" "Sabar dan tenanglah, taihiap," kata orang itu
dan dengan sudut matanya, Thian Sin dapat melihat betapa para anggauta perkumpulan itu agaknya selalu
memperhatikannya dan mereka telah siap untuk turun tangan apa bila nampak gejala bahwa dia akan memberontak.
"Jangan menuduh yang bukan-bukan. Nanti setelah diadakan upacara sembahyang, selalu para tamu diberi kesempatan
untuk mengajukan pertanyaan sendiri kepada calon anggauta atau murid baru." "Hemm, jadi akupun boleh mengajukan
pertanyaan langsung kepada wanita itu?" "Tentu saja boleh, akan tetapi nanti setelah upacara sembahyang." Thian
Sin menahan dorongan hatinya yang membuatnya penasaran. Jadi benar, wanita itu, ibu dari dua orang bocah she
Cia itu, telah berada di sini! Dan memakai gaun yang begitu tidak sopan sama sekali, gaun tipis tembus pandang
tanpa ada sehelai kain penutup tubuh di balik itu! Padahal, suami wanita ini terbunuh, demikian pula enam orang
pendekar lain. Ada apakah di balik semua ini? Tentu wanita itu berada dalam pengaruh sihir, pikirnya. Akan
tetapi, ada peristiwa seperti itu yang amat keji dan jahat kalau dugaannya memang benar, mengapa para tamu yang
terdiri dari orang-orang berpangkat dan para pendekar itu suka menjadi pengikut atau peminat? Apakah me-reka
itupan tersihir oleh Sian-su itu? Dia harus menyelidikinya dan kalau benar seperti apa yang diduganya itu, dia
harus menentang dan membas-minya! Akan tetapi, diapun bukan tidak tahu bahwa pihak lawan ini amat berbahaya dan
kuat, maka dia harus bersikap hati-hati sekali. Kini Sian-su mengulur tangannya ke arah wanita itu yang segera
menyambut uluran tangan itu dan wanita itupun bangkit berdiri, kemudian digandeng tangannya oleh Sian-su,
berjalan menuju ke tepi dataran itu di mana terdapat pondok kecil untuk pemujaan dewa. Sian-su atau siluman itu
lalu menerima sebongkok hio yang sudah dinyalakan dari seorang anggauta perkumpulan yang bertugas di situ. Dia
lalu mengacungkan hio ke empat penjuru, dan membagi-bagi hio itu menjadi tujuh. Kini wanita itu lalu
bersembahyang di depan tujuh pondok kecil, setiap kali selesai sembahyang sambil berlutut lalu menaruh hio di
depan pondok, di tempat abu hio. Setelah selesai, ia dituntun oleh Sian-su dan setelah dilepaskan, wanita itu
kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Sian-su yang berdiri di depannya. Tujuh orang gadis yang tadi
membawa kelinci dan bermacam barang itu selalu mengikuti mereka dari belakang dan kini mereka bertujuh juga
berlutut mengelilingi Sian-su. Orang itu lalu mengangkat kedua tangan ke atas kepala dan mengeluarkan suara
aneh, suara melengking dalam seperti bukan suara manusia dan ketika tangan kanannya melambai, tahu-tahu tangan
itu telah memegang sebatang bunga yang diberikannya kepada wanita itu. Wanita itu menerima bunga, mencium bunga
dengan khidmat, lalu menancapkan bunga itu di rambutnya yang tebal. Kemudian, kembali Sian-su mengangkat kedua
tangan ke atas dan mengembangkan kedua lengannya. Terdengar suara ledakan disusul asap seperti tadi. Seperti
juga tadi, asap itu menyelulubungi dirinya dan juga wanita itu sehingga tidak nampak, kemudian setelah asap
membuyar, Sian-su masih berdiri seperti tadi, hanya kini cahaya pada wajahnya tidak lenyap. "Sang Dewa Kematian
telah kembali ke asalnya," demikianlah si muka tengkorak yang menemani Thian Sin menerangkan hal yang memang
telah dapat diduga oleh Thian Sin. Siluman Tengkorak atau Sian-su itu kini meng-hadapi para tamunya dan berkata
dengan suara biasa, "Cu-wi yang mulia, seperti biasa, kalau ada yang ingin tahu, silahkan mengajukan pertanyaan
kepada murid baru ini." Mendapatkan kesempatan ini, Thian Sin tidak dapat menahan kesabaran hatinya lagi. Dia
lalu bangkit berdiri dan menghampiri Sian-su yang menyambutnya dengan sikap ramah. "Ah, Cengtaihiap suka
memberi kehormatan kepada murid baru kami untuk mengajukan pertanyaan? Silahkan, silahkan, taihiap!" Thian Sin
mengangguk dan semua tamu memandang dengan hati tertarik. Mereka semua adalah pengikut-pengikut yang setia dan
penuh kepercayaan, maka kini mendengar bahwa Pendekar Sadis hendak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tentu
saja maksudnya menguji, mereka merasa tertarik. Mereka sendiripun tadinya ragu-ragu ter-hadap perkumpulan agama
pemuja Dewa Kematian ini, akan tetapi setelah mereka menguji dan melihat hasil-hasil baiknya, mereka menaruh
kepercayaan sepenuhnya. Siapa yang tidak suka menjadi pengikut? Selagi hidup dapat menikmati kesenangan yang
amat luar biasa di tempat ini, dan selain itu, mereka semua telah menjadi pemuja Dewa Kematian sehingga telah
menjadi "sahabat" baik dewa itu. Dengan demikian, mereka akan terjamin kelak kalau terpaksa harus menghadapi
kematian karena dewanya telah menjadi sahabat baik mereka dan akan menurut wejangan Sian-su, karena menjadi
sahabat baik, maka Dewa Kematian akan berlaku murah terhadap mereka dan akan dapat "memperpanjang" kehidupan
mereka dan tidak cepat-cepat mencabut nyawa mereka. Janji-janji muluk yang selalu dipamerkan memang merupakan
umpan yang amat menarik bagi manusia pada umumnya yang selalu mengejar kesenangan dan keenakan, di manapun dan
kapanpun juga. Bahkan untuk mendapatkan janji-janji muluk ini, manusia tidak segan-segan untuk melakukan apa
saja, bahkan kalau perlu menyiksa diri. Betapa banyaknya orang menyiksa diri dengan berpuasa dan betapa di
tempat sunyi, penyiksaan diri karena di sana terdapat harapan atau janji bahwa mereka akan memperoleh ganjaran
batin yang tentu saja menyenangkan? Bahkan untuk keadaan mereka sesudah mati sekalipun, selagi masih hidup
manusia sudah hendak mengaturnya, se-mua itu demi memperoleh kepastian bahwa keadaannya kelak "di sana" akan
enak, keenakan yang diukur dengan keadaan di waktu masih hidup. Wanita itu masih berlutut dan Thian Sin
terpaksa juga berjongkok ketika menghampirinya dan hendak mengajukan pertanyaan. "Nyonya, bolehkah saya
mengetahui namamu?" Wanita itu mengangkat muka memandang kepada Thian Sin dan diam-diam Thian Sin harus
mengakui bahwa isteri Cia Kok Heng ini adalah seorang wanita yang cantik menarik dan manis sekali. Ketika dia
memandang matanya, dia mendapatkan kenyataan bahwa memang benar wanita itu berada dalam keadaan tersihir atau
setidaknya dalam keadaan tidak begitu sadar! Tentu saja dia menjadi marah. "Namaku Lu Sui Hwa..." jawab wanita
denga sikap ramah dan senyum manis menghias bibirnya. Thian Sin lalu mengerahkan tenaga saktinya dan
menggunakan kekuatan sihir untuk menyadarkan wanita itu sambil berkata, "Lu Sui Hwa, sadarlah engkau dan mulai
saat ini pergunakan pikiranmu sendiri!" Dengan gerakan tangan, Thian Sin membuat gerakan jari tangan kiri di
depan wajah wanita itu. Wanita itu segera terbelalak dan mengeluarkan seruan tertahan. "Ihhh...!" "Sui Hwa,
tenanglah dan jawab semua pertanyaan Pendekar Sadis. Ingat, engkau berada dalam keadaan aman!" Tiba-tiba
terdengar suara Sian-su yang lemah lembut. Ucapan itu membuat sepasang mata yang terbelalak itu menjadi suram
dan wanita itu memandang kepada Thian Sin dengan penuh kecurigaan! Akan tetapi, Thian Sin melihat bahwa
usahanya berhasil dan wanita itu kini benar-benar telah sadar. "Nyonya, kenalkah engkau kepada orang yang
bernama Cia Kok Heng?" tanyanya dengan lantang. Akan tetapi, betapa heran hatinya ketika wanita itu menjawab
dengan wajar, "Dia adalah suamiku." "Dan dua orang anak kecil, seorang anak laki-laki dan seorang wanita
bernama Cia Liong dan Cia Ling?" Wajah itu menjadi pucat sekali, akan tetapi suaranya masih terdengar tenang
dan lantang ketika menjawab, "Mereka adalah anak-anakku!" Thian Sin lalu bangkit berdiri dan suaranya lantang
dan penuh wibawa ketika dia berkata lagi, "Nyonya Cia, engkau yang mempunyai suami dan dua orang anak, kenapa
bisa berada di sini?" Suasana menjadi tegang. Semua tamu maklum bahwa Pendekar Sadis ini mencari-cari
permusuhan, dan semua telinga ditujukan kepada wanita itu, menanti jawabannya. Thian Sin sudah bersiap siaga
karena dia merasa yakin bahwa wanita ini tentu akan membuka rahasia Siluman Guha Tengkorak, bahwa ia telah
diculik oleh mereka. "Aku memang meninggalkan mereka untuk menjadi pengikut Sian-su!" Jawaban ini tentu saja
tidak disangka sama sekali oleh Thian Sin dan mukanya menjadi merah ketika dia mendengar suara ketawa tertahan
di sana-sini. Dia menggunakan kekuatan sihirnya untuk "mencuci" wanita yang masih berlutut itu dari hawa atau
pengaruh sihir yang mempengaruhi, akan tetapi mendapat kenyataan bahwa wanita itu tidak lagi dalam pengaruh
sihir, melainkan menjawab dalam keadaan sadar! "Engkau sebagai seorang nyonya terhormat rela merendahkan diri,
mengenakan pakaian seperti ini dan meninggalkan suami dan anak-anakmu?" Suara Thian Sin mengandung penasaran
dan dia tahu bahwa pertanyaannya itu tentu akan menikam perasaan seorang ibu dan isteri yang terhormat.
"Taihiap, pertanyaanmu itu sudah menyimpang dan merupakan penghinaan!" Terdengar Sian-su berkata halus dan
Thian Sin menoleh. Dia melihat betapa pandang mata para tamu ditujukan kepadanya dengan penuh penasaran, dan
wanita itupun menunduk dan menangis! "Sui Hwa, jawablah, apakah ada yang memaksamu menjadi pengikut kami dan
menjadi pemuja Dewa Kematian?" tanya Sian-su dengan suara lantang. "Tidak ada, aku masuk atas kehendakku
sendiri," jawab nyonya itu. "Dan engkau rela mengikuti semua upacara dan peraturan seperti yang sudah berlaku
di sini?" "Aku rela." Sian-su berpaling kepada Thian Sin. "Ceng-taihiap sudah mendengar cukup, maka harap
silahkan duduk dan menyaksikan upacara selanjutnya. Boleh saja orang luar merasa tidak setuju dengan cara-cara
kami, akan tetapi jelas bahwa orang luar tidak berhak mencampuri." "Aku tidak ingin mencampuri, hanya ingin
tahu keadaan yang sebenarnya," bantah Thian Sin. Akan tetapi, para anggauta perkumpulan itu sudah datang
mengurung dan para tamu juga memandang marah. Melihat ini, Thian Sin menggerakkan pundaknya dan kembali ke
tempat duduknya, mulai meragukan kebenaran tindakannya memasuki sarang berbahaya ini. Bagaimana kalau memang
wanita itu adalah wanita tak bermalu yang rela meninggalkan suami dan anak-anak untuk menjadi pengikut
perkumpulan yang cabul ini? Mungkin saja suaminya tidak rela melepaskan dan bersama kawan-kawannya yang
merupakan Tujuh Pendekar Tai-goan mereka memusuhi perkumpulan ini akan tetapi mereka dikalahkan sehingga semua
jatuh tewas. Kalau benar demikian keadaannya, maka persoalannya tentu saja menjadi lain sama sekali! Dengan
termangu-mangu Thian Sin menyaksikan upacara yang mulai dilakukan oleh Sian-su. Siluman atau pendeta siluman
ini mengambil ke-linci putih dari tangan seorang di antara tujuh orang gadis, lalu mengambil pedang emas. Dia
mengangkat kelinci itu di depannya, tepat di atas kepala Lu Sui Hwa atau nyonya Cia Kok Heng, kemudian pisau
atau pedang kecil dari emas itu dihunjamkan ke leher kelinci putih! Darah me-ngucucur keluar dari luka leher
itu ketika pisau dicabut nampak jelas sekali menodai bulu putih bersih, kemudian darah itu mengucur jatuh ke
atas kepala nyonya muda itu! Dari atas kepala, darah kelinci itu mengalir dan membasahi mukanya. Wa-nita itu
tengadah dan nampak tersenyum bahagia sambil memejamkan matanya dan dari jauh Thian Sin dapat melihat bahwa
wanita itu kembali telah berada dalam cengkeraman sihir. Akan tetapi karena tadi malam dalam keadaan sadar
wanita itu telah mengaku bahwa ia melakukan semua itu atas kehendak hatinya sendiri dan secara suka rela, apa
yang dapat dilakukannya? Dia hanya dapat memandang. Kini pendeta siluman itu membiarkan darah kelinci memasuki
bokor emas yang dipegang oleh salah seorang gadis, sampai darah itu tidak menetes lagi dari leher kelinci.
Tentu saja kelinci itu mati kehabisan darah. Akan tetapi, ketika pendeta siluman itu dengan bentakan nyaring
melemparkan kelinci ke bawah, kelinci yang mandi darah itu menggerakkan tubuhnya dan lari cepat ke tebing dan
menghilang di balik jurang! Thian Sin mengangguk-angguk. Memang pendeta ini seorang lawan yang tangguh, juga
dalam ilmu sihirnya! Sang pendeta lalu menuangkan arak atau anggur dari dalam guci-guci emas ke dalam bokor,
mencampur arak itu dengan darah kelinci. Kemudian musikpun dipukul dengan gencar penuh semangat, makin lama
makin panas ketika pendeta itu, diwakili oleh tujuh orang penari, membagibagikan isi bokor ke dalam cawan arak
para ta-mu! Thian Sin yang hendak diberi, menolak keras dengan menggeleng kepala dan mukanya menyatakan jijik.
Kini semua penari, berikut tujuh orang gadis yang jumlahnya tidak kurang dari tigapuluh orang, menari semua,
menurutkan irama musik yang makin lama semakin panas merangsang. Dan perla-han-lahan, Lu Sui Hwa juga
menggerak-gerakkan tubuhnya dan bangkit berdiri sambil menari. Agaknya ia tidak pernah belajar menari, akan
tetapi ia hanya menggerak-gerakkan kedua lengan dan pinggulnya, dan karena ia seorang wanita cantik yang
memiliki bentuk tubuh yang indah, biarpun begitu tetap saja ia nampak amat menarik! Seorang pemuda yang tadinya
duduk di bagian tamu, nam-paknya sudah mabok atau terseret oleh keadaan itu. Sambil tersenyum lebar dia maju
menghampiri Sian-su yang memegang tangannya dan menariknya mendekati Sui Hwa. Mereka agaknya berkenalan dan Sui
Hwa menyambutnya dengan senyum manis, kemudian pemuda yang kelihatan sudah mabok itu lalu merangkul dan
menjilati darah yang menodai wajah Sui Hwa, dan keduanya menari-nari dan berpelukan! Para tamu mulai gembira,
bersorak dan bertepuk tangan mengikuti irama musik. Agaknya setelah minum anggur bercampur darah tadi, mereka
semua menjadi mabok berahi! Serentak mereka berdiri dan menari-nari, masing-masing memilih pasangan
sendiri-sendiri di antara para penari dan terjadilah pemandangan yang hampir tidak dapat dipercaya oleh Thian
Sin kalau dia tidak menyaksikannya sendiri! Orang-orang itu mungkin telah menjadi gila, pikirnya. Mereka menari
ber-pasangpasangan, saling rangkul, saling belai dan saling cium, sedikitpun tidak merasa malu dan musikpun
semakin riuh rendah, keranjingan dan mereka semua seperti telah kerasukan iblis! Pendeta siluman itu sendiri
sudah meraih pinggang seorang wanita muda sekali, yang cantik manis dan yang agaknya memang menjadi kekasihnya.
Thian Sin tahu bahwa wanita muda ini adalah Thio Siang Ci, mempelai wanita di dusun Ban-ceng yang telah diculik
pada malam pengantin! Diculik karena pendeta siluman itu sendiri yang tertarik dan tergila-gila kepada kembang
dusun Ban-ceng ini. Juga Pendekar Sadis tidak tahu bahwa orang muda yang kini sudah bergumul sambil menari-nari
itu adalah seorang pemuda bangsawan she Phang dari Taigoan yang telah lama tergila-gila kepada isteri Cia Kok
Heng yang kini telah berada dalam pelukannya dan melayani hasrat hatinya dengan nafsu berahi bernyala-nyala
itu. Sebetulnya, perkumpulan yang menamakan diri-nya perkumpulan agama Jit-sian-kauw ini secara diam-diam sudah
lama bersarang di tempat itu. Perkumpulan ini dipimpin oleh orang yang hanya dikenal dengan sebutan Sian-su dan
secara diam-diam pula telah diakui oleh banyak anggauta yang terdiri dari orang-orang penting di sekitar
Tai-goan, bahkan ada pula yang dari kota raja. Secara resmi, agama ini mengadakan pelajaran-pelajaran agama
yang diambil dari Agama Buddha Hinayana dan Agama To, dicampur dengan unsur dari agama kuno seperti Im-yangkauw
dan lain-lain yang menjurus kepada pelajaran kebatinan yang mengejar hal-hal gaib. Di antara tujuh dewa yang
dipuja oleh Jit-sian-kauw (Agama Tujuh Dewa) itu yang terutama sekali dan menjadi pusat dari pemujaan mereka
adalah Dewa Kematian. Di bawah pimpinan Sian-su, para anggauta dituntun untuk memuja dewa ini yang dianggap
dapat memberi usia panjang dan dapat mengatur nasib mereka kelak setelah mereka mati. Pemimpin yang disebut
Sian-su itu adalah seorang yang selalu bersembunyi di balik topeng tengkorak sehingga belum pernah ada yang
melihat atau mengenal wajah aselinya.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 1 KPH dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 1 KPH ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cerita-silat-dewasa-siluman-gua.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 1 KPH ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 1 KPH sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Dewasa : Siluman Gua Tengkorak 1 KPH with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cerita-silat-dewasa-siluman-gua.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar