Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 1

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 08 Mei 2012

Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 1

BETAPA INDAHNYA ALAM! Betapa indahnya susunan tubuh kita sendiri! Betapa indah dan juga ajaibnya keadaan diri kita sendiri dan di sekeliling kita. Akan tetapi sayang kita seperti buta terhadap itu semua. Kita tidak pernah membuka mata menikmati semua keindahan dan keajaiban itu, melainkan menerawang jauh, menginginkan hal-hal yang tidak terjangkau oleh kita. Kalau kita tinggal di tepi laut, pemandangan laut tidak lagi menarik perhatian kita karena perhatian kita diterbangkan oleh pikiran yang menginginkan pemandangan di gunung-gunung. Sebaliknya kalau kita tinggal di gunung, kita menganggap bahwa pemandangan di laut yang jauh dari kita itu lebih indah.

Betapa bahagianya manusia yang selalu membuka mata memandang penuh perhatian akan segala sesuatu di dalam dan di luar dirinya sendiri. Dialah yang akan melihat segala keindahan dan keajaiban itu. Dialah yang akan menyaksikan kekuasaan Tuhan yang penuh berlimpah dengan berkah, dengan keindahan, dengan keajaiban, dengan CANTA KASIH!

Di kaki Pegunungan Khing-an-san, di tikungan Sungai Luan-ho, di luar tembok besar dan termasuk daerah Mongol, terdapat Lembah Naga. Lembah yang amat liar dan penuh dengan hutan lebat, binatang-binatang buas, dan jarang didatangi manusia. Memang sekali waktu ada para pemburu yang menyusup-nyusup memasuki hutan, namun mereka tidak berani sampai Lembah Naga karena lembah itu terkenal sebagai tempat keramat yang amat berbahaya. Kabar angin mengatakan bahwa di lembah itu terdapat sebuah istana yang dihuni oleh iblis-ibils dan siluman-siluman. Dan karena sudah ada beberapa orang tewas ketika berani mendekati istana itu, maka akhirnya tidak ada seorangpun pemburu yang berani memasuki daerah Lembah Naga, betapapun gagah dan beraninya pemburu itu.

Pemandangan di lembah ini sungguh amat mentakjubkan. Jauh di bawah kaki lembah membentang luas sebuah padang rumput dan terutana karena keadaan padang ini pulalah yang membuat orang makin segan mendekati Lembah Naga. Padang itu dinamakan orang Padang Bangkai karena di sekitar padang itu terdapat banyak rangka-rangka manusia dan binatang, bahkan ada suatu bagian yang berlumpur di mana terdapat mayat-mayat manusia dan bangkai-bangkai binatang yang tidak dapat membusuk, sampai bertahun-tahun masih menjadi bangkai terbungkus lumpur. Namun, dipandang dari atas, sungguh tidak kelihatan semua kengerian itu, yang nampak hanyalah keindahan yang amat mentakjubkan. Apalagi di waktu matahari terbit atau waktu matahari tenggelam, bukan main indahnya pemandangan di kaki langit, di waktu bumi terbakar oleh sinar keemasan dan segala sesuatu nampak jelas dan indah.

Memang tidak mengherankan kalau orang mendekati lembah itu, apalagi mendekati Istana Lembah Naga yang kelihatan angker itu. Sebuah istana yang besar dan kokoh kuat, penuh dengan ukiran dan arca-arca indah. Sayang istana itu tidak terawat sehingga tembok-temboknya yang tadinya putih itu kini penuh dengan lumut hijau, demikian pula arca-arca itu. Istana ini dibangun oleh Raja Sabutai, raja liar dari Suku Bangsa Mongol bercampur suku bangsa lain yang menguasai daerah tak bertuan di utara. Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan siapa adanya Raja Sabutai ini. Dia adalah keturunan seorang jenderal besar di jaman Dinasti Goan, di waktu bangsa Mongol menguasai seluruh daerah Tiongkok. Sebagai keturunan seorang jenderal gagah perkasa, Sabutai inipun amat besar ambisinya, cita-citanya setinggi langit dan dia mengangkat diri sendiri menjadi raja di antara suku bangsa Mongol yang sudah terpecah-pecah dan lemah itu, dan dia pemah bercita-cita untuk menyerbu ke selatan dan untuk menegakkan kembali kebesaran bangsa Goan seperti pada ratusan tahun yang lalu. Akan tetapi cita-citanya itu gagal dan kandas di tengah jalan (baca cerita Dewi Maut) dan kini dia hanya puas dengan menjadi raja kecil di utara, jauh dari perbatasan.

Istana Lembah Naga itu dahulunya di bangun oleh Raja Sabutai, dijadikan sebagai istananya dan markasnya. Kemudian, dia memperbaiki istana itu setelah dia melakukan gerakan ke selatan dan gagal dan memberikan istananya itu kepada kedua orang gurunya, yaitu Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko, nenek dan kakek iblis dari Sailan yang amat sakti. Dalam pertempuran melawan orang-orang gagah yang dipimpin oleh kakek Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai, tewaslah Pek-hiat Mo-ko dan kalau tidak cepat muncul Raja Sabutai yang menyelamatkannya, tentu Hek-hiat Mo-li yang sudah terluka parah itu akan tewas pula. Pek-hiat Mo-ko telah tewas dan Hek-hiat Mo-li yang terluka itu dibawa pergi oleh Raja Sabutai, semua orang gagah telah pergi meninggalkan Lembah Naga, dan istana itu menjadi sepi, sunyi dan menyeramkan. Semenjak itu, tidak ada lagi seorangpun manusia dari luar yang berani mendekati istana itu.

Akan tetapi, benarkah demikian? Benarkah istana itu kosong tidak ada penghuninya? Sesungguhnya tidak demikian. Setelah semua orang meninggalkan istana itu dalam keadaan sunyi dan menyeramkan, masib nampak bekas-bekas pertempuran yang mengorbankan nyawa puluhan orang perajurit dan anak buah kedua fihak, pada malam hari itu nampak sesosok tubuh wanita berjalan seorang diri di lembah ini, sambil menundukkan mukanya dan menangis. Dia lalu menghampirl istana, memasuki istana seperti bayangan setan yang bangkit dari kuburan, langkahnya ringan namun terhuyung-huyung dan dia langsung memasuki sebuah kamar di dalam istana itu dan melemparkan tubuhnya ke atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu! Terbayanglah dalam benaknya ketika dia menyerahkan dirinya, menyerahkan kehormatannya kepada seorang pemuda yang amat dicintainya, seorang pemuda yang sama sekali tidak mau mengakuinya, tidak mau menerimanya, seorang pemuda yang dijunjung tinggi, dikaguminya dan dicintainya. Pemuda gagah perkasa yang kini telah pergi pula meninggalkannya seorang diri di tempat itu, padahal dia telah menyerahkan kehormatan tubuhnya, menyerahkan cinta hatinya, bahkan pula tangan kirinya! Tangan kirinya, sebatas pergelangan tangan telah putus, dibabat putus sebagai hukuman karena dia berani menolong pemuda itu yang tadinya menjadi tawanan di situ, ketika tempat itu masih dikuasai oleh kakek dan nenek iblis Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li. Dan kini, Cia Bun Houw, pemuda itu, telah meninggalkannya dan tidak mau menerimanya!

Wanita itu masih muda, usianya baru dua puluh lima tahun, wajahnya manis sekali, dan pakaiannya serba merah ber potongan ketat membungkus tubuhnya yang ramping padat. Dia bernama Liong Si Kwi dan dia bukanlah wanita sembarangan. Dia adalah murid tunggal dari seorang nenek yang sakti berjuluk Hek I Siankouw, seorang nenek yang selalu berpakaiain hitam dan amat terkenal di dunia kang-ouw. Sebagai seorang wanita muda yang berilmu tinggi Liong Si Kwi juga terkenal di dunia kang-ouw dan karena dia memiliki keistimewaan dan gerakan ringan dalam limu gin-kang, seperti burung terbang saja kalau dia bergerak, maka dia terkenal dunia kang-ouw dengan julukan Ang-yan­-cu (Burung Walet Merah).

Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan betapa Si Kwi menolong pemuda Cia Bun Houw yang tertawan, dan karena pemuda itu diberi makanan yang bercampur racun pembangkit nafsu berahi, maka dalam keadaan seperti orang mabok itu Bun Houw lalu melakukan hubungan kelamin dengan Si Kwi. Wanita muda ini memang menaruh rasa hati cinta kepada Bun Houw, maka dia tidak menolak, bahkan dia membantu pemuda itu makin tenggelam dalam amukan nafsu sehingga terjadilah hubungan itu. Setelah sadar, tentu saja Bun Houw merasa menyesal sekali dan tentu saja dia tidak mau menerima Si Kwi sebagai kekasih atau jodohnya, dan pemuda ini meninggalkan Si Kwi yang menjadi hancur hatinya. Dia kehilangan sebelah tangan, kehilangan kehormatannya sebagai seorang gadis perawan, dan kehilangan pria yang dicintainya! Dia kehilangan segala-galanya. Gurunyapun telah tewas dalam pertempuran itu ketika gurunya membantu kakek dan nenek iblis. Keluarga dia sudah tidak punya. Dia hanya sebatangkara saja di dunia ini dan harapannya untuk hidup bahagia telah dibawa pergi oleh pemuda yang dicintainya itu.

Demikianlah, Liong Si Kwi menjadi penghuni tunggal istana Lembah Naga. Mula-mula dia memang hendak menghibur diri dengan bersembunyi di tempat sunyi itu, jauh dari dunia ramai, dengan harapan akan dapat melupakan Bun Houw, dapat melupakan kedukaannya. Akan tetapi, kegairahannya untuk hidup itu yang mulai timbul sehingga dia mulai memperhatikan dirinya dan membuat pakaian-pakaian dari bahan-bahan kain yang terdapat di dalam istana itu, mulai menyulam dan akhirnya malah merupakan tekanan hebat bagi batinnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa dia telah mengandung! Dia seorang perawan dan kini dia mengandung tanpa suami. Kiranya, hubungan kelamin yang dilakukannya dengan Bun Houw, dalam keadaan mabok dilanda nafsu itu, telah menghasilkan kandungan di dalam perutnya!

Makin tua kandungannya, makin ter­tekan rasa hati wanita yang bernasib malang itu. Bernasib malang? Benarkah NASIB yang membuat Liong Si Kwi seperti itu? Benarkah NASIB yang mem­buat lengannya buntung, hidupnya terasa merana, perutnya terisi kandungan anak tanpa ayah? Betapa mudahnya kita melontarkan segala peristiwa yang menimpa diri kita kepada nasib! Nasib baik, nasib baik dan sebagainya! Tidak ada sesuatu terjadi tanpa sebab, dan sebab itu sama sekali bukanlah nasib! Sebab itu pada hakekatnya SUDAH PASTI timbul dari hasil perbuatan kita sendiri, perbuatan termasuk sikap, kata-kata, pikiran dan sebagainya. Sumber dari segala sesuatu yang terjadi pada diri kita terletak di dalam diri kita sendiri! Akan tetapi, kita tidak pernah mau memandang diri sendiri, dan kita lebih condong untuk mencari kambing hitam pada diri orang lain, pada keadaan di luar diri, atau kalau sudah kehabisan calon kambing hitam, kita lalu meraih NASIB dan menjadikannya sebagai kambing hitam! Kapankah kita mau membuka mata memandang diri sendiri di mana terdapat sumber segala rahasia hidup ini?

Setelah tahu bahwa dirinya mengandung, mulal terjadi perubahan dalam kehidupan Si Kwi. Mulailah dia merana dan tidak memperdulikan pakaiannya sehingga dia berkeliaran di sekitar Lembah Naga dengan pakaian yang kotor dan butut, dan sikapnya seperti orang yang sudah miring otaknya! Makin tua kandungannya, makin tersiksa rasa hati­nya dan hampir setiap malam, di waktu tubuhnya mengaso dan tidak ada hiburan yang membuatnya terlupa, dia menangis mengguguk seorang diri di dalam kamarnya di istana yang besar itu.

Ada terpikir oleh Si Kwi untuk mengakhiri penderitaan batinnya dengan jalan membunuh diri saja. Akan tetapi, dia tidak mempunyai keberanian untuk melakukan hal itu. Ataukah dia masih terlampau sayang kepada kehidupan ini dan masih mengharapkan untuk kelak menemui kebahagiaan? Apapun juga alasannya, Si Kwi tidak sampai hati untuk membunuh diri, maka dia rela hidup menderita, penuh kebingungan. Dia tidak tahu bagaimana dia harus menghadapi kelahiran anak dalam kandungannya. Untuk pergi ke dusun-dusun di sekitar kaki pegunungan itu, dia merasa malu sekali. Kalau ada orang bertanya mana suaminya, mana ayah dari anak yang dikandungnya, apa yang akan dijawabnya? Tidak, dia lebih baik mati dari pada harus menderita aib seperti itu di mata orang-orang lain. Tentang melahirkan, dia menyerahkan diri kepada Tuhan saja. Dalam kesengsaraan ini, satu-satunya yang menjadi pegangan Si Kwi hanyalah Thian dan kesengsaraannya itu lebih mempertebal kepercayaannya kepada Thian yang diharapkan sebagai penolongnya yang tunggal.

Betapa banyaknya manusia yang tidak kuat menghadapi penderitaan hidup dan selalu mencari jalan pelarian untuk menjauhkan diri atau membebaskan diri dari penderitaan hidup itu. Banyak macam cara pelarian ini, di antaranya yang terburuk dan paling mengerikan adalah bunuh diri! Ada yang bersembunyi di balik hiburan-hiburan, kesenangan-kesenangan yang dicari-cari, atau menggantungkan kepercayaan kepada sesuatu. Kita tidak sadar bahwa semua bentuk pelarian itu adalah sia-sia belaka. Mengapa sia-sia? Karena apa yang kita namakan penderitaan hidup itu sesungguhnya tak lain tak bukan adalah permainan pikiran kita sendiri! Pikiran kita selalu melekat kepada masa lalu, kepada hal-hal yang telah terjadi, kepada hal-hal yang akan terjadi! Pelekatan pikiran ini tentu saja menimbulkan sesal, duka, dan khawatir. Kita tidak pernah mau menghadapi setiap peristiwa sebagai sesuatu
yang wajar, menghadapi langsung, mempelajarinya setiap saat, dengan penuh perhatian tanpa menyalahkan sana-sini, tanpa rasa iba kepada diri sendiri. Kita hanya dapat bebas dari semua penderitaan kalau kita menghadapinya secara langsung apa yang kita anggap penderitaan itu! Kalau kita menghadapinya lang­sung, memandang dan mengamatinya secara langsung, melihat apa adanya, kewajarannya sebagai suatu fakta, maka sudah pasti bahwa penderitaannya akan lenyap. Kita akan bebas dari penderititan karena penderitaan itu adatah PENDAPAT PIKIRAN yang terdorong oleh kekecewa­an, iba diri dan sebagainya.

Setelah Si Kwi menghitung bahwa bulan ke sembilan dari kandungannya telah tiba dia segera keluar dari istana itu. Istana itu dianggapnya sebagai tempat yang keramat, karena di tempat itulah dia menyerahkan kehormatannya, di tempat itulah adanya kenang-kenangan manis dan penuh babagia ketika dia menyerahkan diri, bermain cinta dengan Cia Bun How, ingatan yang tidak pernah dapat dilupakannya selama ini. Dia tidak mau mengotori istana yang keramat itu dengan kelahiran anak dalam kandung­annya! Anak inilah yang menjadi pe­nyebab penderitaannya! Anak ini adalah anak yang tidak diharap-harapkan dan karena itu amat dibencinya sebelum ter­lahir. Akan tetapi ada sesuatu yang membuat dia merasa mesra dan memaaf­kan semua akibat kehadiran anak dalam kandungannya itu, yaitu kenyataan bahwa anak itu keturunan Bun Houw, pria yang dicintanya, dan masih dicintanya biarpun Bun Houw telah menolak dan menghina­nya. Dia tidak ingin melahirkan di dalam Istana Lembah Naga. Seolah-olah istana yang pernah dihuni banyak orang itu mempunyai mata untuk memandangnya dan dia merasa malu! Tidak, dia tidak mau mengotori istana itu dan seperti orang gila, Si Kwi lalu pergi meninggalkan istana itu dan tinggal di dalam sebuah gua, tidak jauh dari istana itu.

Di dalam hutan sekitar Istana Lembah Naga itu terdapat banyak sekali kera dan monyet besar semacan orang hutan. Mereka itu tadinya menjauhkan diri dari istana ketika tempat itu dihuni oleh Pek-hiat Mo-ko, Hek-hiat Mo-li dan anak buah mereka yang seratus orang banyaknya, karena mereka itu suka mengganggu monyet-monyet, bahkan membunuh untuk dimakan dagingnya. Akan tetapi setelah kini istana itu sunyi dan yang tinggal di situ hanya Si Kwi seorang yang tidak pernah mau memperdulikan monyet-monyet itu, maka mulai berdatangan pulalah binatang-binatang itu karena di sekitar istana itu terdapat banyak pohon-pohon buah yang tadinya ditanam oleh anak buah Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li. Si Kwi tidak pernah mengganggu mereka karena dia sendiri tidak pernah kekurangan makanan. Di situ terdapat banyak buah-buahan, tanaman-tanaman sayur dan binatang yang dapat dimakan dagingnya seperti kelinci, kijang, burung dan lain-lain. Maka tidak mengherankan apabila binatang-binatang itu menjadi makin jinak, bahkan mereka tidak lari melihat munculnya Si Kwi. Apalagi monyet-monyet yang besar, mereka tidak merasa takut sunaguhpun mereka juga tidak pernah mengganggu Si Kwi.

Beberapa ekor monyet besar malah menggunakan sebatang pohon besar di belakang istana sebagai sarang mereka atau tempat berteduh di siang hari. Kalau malam mereka bersembunyi dan tidur di dalam guha-guha yang hanyak terdapat di sekitar tempat itu. Pada siang hari itu, terdengar suara hiruk-pikuk di atas pohon besar itu. Seekor monyet betina yang besar sedang berkelahi dengan seekor ular yang telah membunuh anaknya. Anak monyet yang masih bayi itu mati dengan kepala berdarah bekas gigitan ular, dan induk monyet menjadi marah, dengan nekat menangkap ular itu dan menggigit lehernya, Ular itu melawan, membelit-belit tubuh monyet betina, akan tetapi dengan kedua tangan atau kaki depannya, monyet besar itu menarik-narik dengan sekuat tenaga sehingga akhirnya tubuh ular itu tercabik-cabik dan lehernya hampir putus oleh gigitan mulut yang penuh dengan gigi yang kuat terhias beberapa buah gigi taring yang runcing itu. Monyet betina itu lalu memondong anaknya yang telah mati mengeluarkan suara merintih seperti menangis dan menjauhkan diri dari teman-temannya sambil memondong bangkai anaknya itu.

Sementara itu, dari dalam sebuah guha yang besar dan gelap terdengar rintihan pula yang hampir sama suaranya dengan rintihan induk monyet yang kematian anaknya. Rintihan ini keluar dari mulut Liong Si Kwi. Wanita muda ini rebah terlentang di dalam guha, di atas tanah dan punggungnya bersandar pada batu-batuan di dinding guha. Wajahnya pucat sekali, matanya memandang liar dan ketakutan, tubuhnya hanya tertutup jubah panjang karena dia telah melepaskan celananya. Rintihan dan keluhan yang keluar dari mulutnya sungguh mengenaskan, dan pada saat-saat tertentu Liong Si Kwi menyebut-nyebut ibu dan ayahnya yang telah tiada! Air mata bercucuran, bercampur dengan peluh yang memenuhi dahi dan lehernya, membuat mukanya basah semua. Tubuhnya kadang-kadang menggigil, napasnya sesak dan terengah-engah menahan rasa nyeri yang amat hebat.

Kelahiran merupakan suatu periatiwa yang amat suci, merupakan suatu keajaiban yang amat hebat, merupakan kekuasaan Tuhan yang amat mengharukan. Dalam peristiwa ini terjadilah pengorbanan yang tiada taranya yang dapat dilakukan oleh seorang manusia. Ibu! Betapa luhurnya sebutan ini! Derita kenyerian yang ditanggung seorang ibu dalam melahirkan anaknya saja sudah cukuplah merupakan suatu alasan yang amat kuat bagi seorang anak untuk mencintai ibunya, dan bagi seorang suami untuk menghormati isterinya. Seorang ibu yang melahirkan menghadapi suatu rasa kenyerian yang sukar dilukiskan, bahkan menghadapi pula ancaman bahaya yang bukan tidak mungkin merenggut nyawanya. Namun betapa kejam dan kejinya, banyak sekali manusia yang melupakan pengorbanan ibunya sendiri ketika mengandung, melahirkan dan menyusuinya ketika dia masih kecil, betapa banyak sekali manusia yang melupakan penderitaan isterinya ketika melahirkan anaknya!

Ibu, betapapun manusia melupakan jasa dan pengorbananmu, namun kenyataan tidak akan dapat disangkal bahwa di waktu melahirkan, engkaulah manusia suci!

Malam mulai tiba. Dalam guha itu gelap sekali. Rintihan dari guha masih terdengar, kadang-kadang mulai lagi, sesuai dengan rasa nyeri yang kadang-kadang terasa oleh Si Kwi dan kadang-kadang lenyap lagi. Tanda-tanda dari seorang yang akan melahirkan. Perlahan-lahan, sinar bulan merayap mendekati guha dan akhirnya ada sinar bulan yang memasuki guha sampai menerangi bagian bawah tubuh Si Kwi. Si Kwi yang masih tersandar dengan tubub lemah, mengerang dan menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri, lidahnya merijilat-jilat bibirnya yang kering dan dia berusaha menelan ludah yang kering, kemudian dengan mata masih terpejam dan alis berkerut, bibirnya komat-kamit, terdengar bisikannya, “Air... air... aku haus... air...!”

Akan tetapi tentu saja tidak ada yang mendengar bisikannya.

“Air... aku ingin minum...!” Dia kini berseru nyaring. “Ibu... ayah... aku ingin minum...! Cia Bun Houw, tolong ambilkan air...!”

Yang menjawab hanya gema suaranya yang membalik keluar dari guha. Anehnya, yang terdengar olehnya hanyalah gema suara yang memanggil, “Cia Bun Houw...!”

Suara ini membuat dia sadar dan membuka matanya. Ketika dia melihat sinar bulan, dia menoleh ke kiri, lalu dia merangkak menuju ke sebuah poci air yang disediakannya di situ. Diminumnya air jernih itu dengan lahapnya. Dan segarlah rasa tubuhnya. Kemudian dia meletakkan kembali poci air di sudut guha dan matanya memandang ke luar. Ketika melihat bulan di angkasa, Si Kwi merangkak keluar dari dalam guha. Dia hanya bisa merangkak, tidak kuat bangkit berdiri karena kedua kakinya gemetar, tubuhnya terasa berat. Dia berlutut di luar guha, memandang bulan dan dilihatnya bulan seperti wajah Bun Houw. Diangkatnya kedua tangannya ke atas, tangan kanan dan lengan kiri yang buntung menghadap bulan.

“Bun Houw... Bun Houw... tidak kasihankah kau kepadaku...? Anakmu... anakmu... akan terlahir... ohhh!”

Dia cepat-cepat merangkak kembali ke dalam guha karena merasa betapa perutnya sakit sekali. Dengan terengah-engah dia merebahkan diri terlentang lagi di tempat tadi, menyandarkan punggungnya yang terasa seperti patah-patah itu ke atas batu-batu dinding guha.

Mulailah lagi datang rasa nyeri yang bertubi-tubi, membuat seluruh tubuhnya menggigil, wajahnya makin pucat dan dia memejamkan mata, mengerahkan tenaga untuk mendorong keluar bayi yang meronta dalam perutnya, terengah-engah dan merintih-rintih. Dia tidak tahu bahwa kemunculannya di luar guha tadi menarik perhatian beberapa ekor monyet yang ketika melihat dia merangkak masuk guha diam-diam lalu berdatangan dan memasuki guha. Melihat Si Kwi ter­engah-engah itu, monyet-monyet yang mengikutinya masuk ke dalam guha, berjongkok dan memandang dengan sikap seperti menaruh kasihan dan ada yang menyeringai. Mereka sedah-olah me­ngerti apa yang sedang terjadi dengan manusia wanita ini. Dan di antara monyet-monyet itu terdapat pula monyet betina besar yang masih memondong bangkai anaknya yang mati digigit ular tadi!

Kegelisahan mendesak di dalam hati Si Kwi. Gelisah kalau-kalau anak di dalam kandungannya itu tidak akan dapat keluar. Demikian sukar agaknya. Demi­kian menyakitkan. Di tidak perduli lagi bagaimana kalau anak itu sudah keluar nanti. Pikirannya tidak sempat memikir­kan soal nanti. Rasa nyeri menguasai seluruh pikirannya dan keinginan satu-satunya hanyalah mengeluarkan anak yang menyiksanya itu!

Akhirnya, setelah berkali-kali diserang oleh rasa nyeri yang nyaris membuatnya pingsan, menjelang tengah malam, lahirlah bayi itu. Tangis nyaring meledak dan memecahkan kesunyian di dalam guha. Si Kwi merasa kelegaan yang amat luar biasa menyelubunginya dibarengi keharuan yang membuat dia sesak napas dan begitu mendengar suara jerit tangis pertama dari bayi yang tergolek di antara kedua pahanya, Si Kwi mengeluh dan pingsan.

Segala sesuatu yang terdapat di alam ini memang telah mempunyai ketertiban sendiri. Bukan ketertiban terpisah-pisah dan terpecah-pecah, melainkan ketertiban yang menyelimuti seluruh alam semesta. Segalanya bergerak dengan tertib seolah-olah diatur dengan tenaga tak nampak. Lihatlah keluar, awan berarak di angkasa, berlapis-lapis ada yang ke kanan ada yang ke kiri gerakan mereka, mendung berkumpul di tempat-tempat tertentu digerakkan angin besar sebelum turun hujan. Perjalanan dunia, bulan, bintang, kekuasaan matahari dan kegunaan sinarnya. Tumbuhnya pohon-pohon dengan batangnya, akar-akarnya, daunnya, bunganya, buahnya. Rontoknya daun menguning menjadi satu di antara pupuk menyuburkan tanah. Kemudian lihatlah ke dalam, lihatlah diri kita sendiri. Setiap bagian tubuh kita mengandung keajaiban yang amat besar, dari pertumbuhan setiap helai rambut di tubuh kita sampai pada denyut jantung, peredaran darah, pemapasan, otak, hati dan segala ini yang membuat kita hidup, bergerak, mengerti, memandang, mendengar dan sebagainya. Betapa ada api panas yang terus-menerus bernyala atau membara dalam diri kita di waktu kita masih hidup. Segala keajaiban ini lewat begitu saja bagi mata kita yang seperti buta, tidak memperhatikannya, tidak memperdulikannya, dan kita mengalihkan pandangan mata kepada hal-hal ajaib lain yang kita anggap menguntungkan kita, mistik, dan sebagainya!

Kekuasaan alam memang amat luar biasa, tidak terukur oleh hati dan pikiran kita. Kelahiran yang terjadi di dalam guha itu, yang dialami oleh Liong Si Kwi, tanpa pembantu sama sekali, merupakan satu di antara keajaiban-keajaiban yang terjadi setiap saat di dunia ini, namun yang tidak nampak oleh orang-orang yang memang tidak memperhatikannya. Si Kwi pingsan dan segala sesuatunya tergantung sepenuhnya kepada ketertiban alamiah itu. Pemulihan segala yang rusak oleh kelahiran itu, datang dengan sendirinya. Dalam keadaan pingsan itu, pulih kembali kenormalan dalam diri Si Kwi, napasnya menjadi teratur, wajahnya menjadi merah lagi, dan darahpun berhenti mengalir.

Himpitan perasaan batin yang lebih banyak mempengaruhi pingsannya Si Kwi yang membuat dia tak sadarkan diri sampai keesokan harinya, ketika sinar matahari pagi telah menerobos masuk ke dalam guha yang amat sunyi itu. Tidak ada seekorpun monyet yang berada di situ lagi ketika Si Kwi menggerak-gerakkan pelupuk matanya, tanda datangnya kesadaran pertama. Pelupuk mata yang tergetar dan bergerak-gerak itu diikuti gerakan bulu mata, lalu mata itu terbuka. Sinar mata yang lesu menerawang langit-langit guha, kemudian dia mengeluh dan rasa nyeri yang tersisa itu menyadarkannya sama sekali.

Teringat dia akan yang yang terakhir memasuki benaknya, yaitu tangis bayi.

“Ahh...!” Dia berseru dan cepat dia meluruskan punggungnya, matanya mencari-cari ke bawah, ke atas tanah di
antara kedua kakinya. Dia melihat sebuah benda kecil di antara kedua pahanya itu, tidak begitu jelas karena matahari masih muda sinarnya. Dengan tangan gemetar Si Kwi mengambil benda itu, dibantu oleh lengan kiri yang buntung, mengangkat benda itu dekat dengan matanya, memandang dan tiba-tiba dia menjerit dengan mata terbelalak, melemparkan benda itu dan dia sendiri lalu terkulai dan pingsan lagi! Benda yang dilemparkan itu adalah bangkai seekor monyet kecil yang kepalanya masih berdarah!

Sementara itu, jauh dari tempat itu, di atas cabang pohon tertinggi, induk monyet besar menyusui seorang bayi. Bayi yang tadinya menangis teroeh-oeh itu berhenti menangis ketika mulutnya disumbat puting susu yang besar dari mana mengalir air susu yang cukup banyak. Dengan penuh sikap sayang monyet betina itu mendekap tubuh bayi manusia itu. Dialah yang tadi menukarkan bangkai bayinya dengan bayi manusia yang baru terlahir. Perbuatannya ini entah digerakkan oleh apa, karena pada umumnya, binatang tidak menggunakan pikiran dan akal budi. Mungkin karena tangis bayi itulah maka dia tergerak, atau oleh naluri yang memberi tahu dia bahwa anaknya telah mati.

Setiap ada seekor monyet lain yang mencoba mendekatinya untuk melihat bayi manusia itu, induk monyet ini meringis dan mengeluarkan bunyi geraman, matanya memandang penuh ancaman dan siap mempertahankan bayinya dengan nyawa. Bahkan ketika seekor monyet jantan besar sekali berani mendekat, tangan kirinya mencakar dan monyet jantan itu terpaksa menjauhkan diri pula. Induk monyet itu menjadi curiga dan tidak percaya kepada siapapun juga se­telah dia kehilangan bayinya yang digigit ular dan kini memperoleh penggantinya.

Demikianlah, bayi manusia anak Si Kwi itu semenjak lahir dibawa ke atas puncak pohon oleh monyet betina itu. Biarpun tidak secepat bayi-bayi monyet lainnya, namun beberapa hari kemudian bayi itu telah pula pandai bergantung kepada rambut-rambut dada dan leher induknya dan enak saja dibawa berloncat­an dari cabang ke cabang, disusui diberi makan buah dan kadang-kadang juga ulat dan cacing!

Entah ada pula yang menyebabkan monyet betina itu kini menjauhi Istana Lembah Naga, menjauhi tempat di mana wanita yang melahirkan bayi itu tinggal. Mungkin juga hanya nalurinya, karena dia tidak ingin manusia itu melihat anak yang dirawatnya, yang kini menjadi anak­nya sendiri. Dia membawa anak itu jauh dari istana, di dalam hutan-hutan yang paling lebat dan liar dan dia jarang se­kali turun ke tanah kecuali untuk men­cari makan.

Baru setelah anak itu berusia enam bulan dan sudah pandai berayun-ayun, sudah kuat tubuhnya induk kera ini membawanya turun. Anak itu belum dapat berjalan seperti manusia, akan tetapi sudah pandai merangkak dan berloncatan dari cabang ke cabang. Seorang anak laki-laki yang sehat dan berwajah tampan, rambutnya lebat dan hitam se­kali, mukanya bundar dan matanya ber­sinar tajam dan liar seperti mata monyet-monyet.

Pada suatu pagi, ketika anak yang baru berusia enam bulan itu mencokel-cokel batu di bawah pohon mencari ca­cing, tiba-tiba terdengar suara mengaum. Anak itu mengangkat muka dan me­mandang terbelalak ketakutan kepada seekor harimau yang tahu-tahu telah berada di depannya! Harimau itu besar sekali, sudah tua dan tubuhnya agak kurus seperti harimau kurang makan! Akan tetapi justeru hal ini membuat dia lebih buas daripada biasanya. Kelaparan membuat binatang menjadi buas dan galak!

“Aaauuughhhmmm!” Harimau itu menggereng melangkah maju. Agaknya dia masih terheran-heran melihat mahluk yang tidak berbulu ini. Dia sudah terbiasa menubruk dan menjadikan mangsanya binatang-binatang yang lebih kecil dan lemah, akan tetapi hampir semua binatang itu berbulu, tidak seperti mahluk ini. Seperti segumpal daging yang lunak dan tinggal menelan saja! Air liur membusa keluar dari mulut harimau itu.

Pada saat itu, dengan kecepatan yang amat luar biasa bagi seorang anak berusia enam bulan, anak itu meloncat dan menggunakan kedua tangan dan kaki menangkap batang pohon. Akan tetapi lompatannya tidak begitu tinggi dan harimau itupun dengan cepatnya meloncat dan menerkam ke arah batang pohon itu sambil berdiri. Cakar yang amat tajam meruncing dari kaki kirinya menancap d pundak kiri anak itu. Anak itu mengeluarkan pekik mengerikan dan terbanting lagi ke bawah. Pundaknya robek dan nampak darah mengalir keluar dari luka memanjang di pundaknya, dari pundak ke punggung.

Sebelum harimau itu menubruk lagi, tiba-tiba terdengar pekik dan gerengan dahsyat induk monyet itu sudah melayang turun, menyambar tubuh anak itu dengan lengan kanannya dan dengan taring nampak mengancam dia menghadapi harimau, tangan kirinya bergerak-gerak dan mengeluarkan pekik berkali­-kali. Monyet betina itu siap untuk melindungi anaknya dengan taruhan nyawanya. Padahal biasanya, melihat harimau ini dia tentu akan lari dan mengamankan diri di cabang tertinggi dari pohon-pohon besar. Akan tetapi, melihat anaknya terluka dan terancam, dia lupa rasa takut dan menghadapi harimau itu dengan memperlihatkan taring dan memberi tanda kepada kawan-kawannya!

Di antara binatang liar, rombongan monyet memang mempunyai naluri untuk bersetia kawan. Biarpun mereka semua takut dan ngeri menghadapi harimau yang sudah biasa makan seekor di antara kawan-kawan mereka yang lengah akan tetapi kini melihat induk monyet itu terancam, dan juga melihat anak manusia yang telah mereka terima sebagai satu di antara kawan-kawan mereka sendiri itu terluka, mereka berlompatan dan berdatangan ke bawah, menggereng dan menghadapi harimau itu dengan marah!

Harimau itu mengaum, akan tetapi monyet-monyet itu menggereng. Sang harimau kalah gertak agaknya, maka dia lalu menggereng dan menyambar ke kanan di mana terdapat seekor monyet jantan yang masih muda. Monyet ini memekik, akan tetapi sekali sambar saja sang harimau sudah menggigit tengkuknya dan bihatang buas itu lalu melarikan diri sambil membawa korbannya yang telah digigit patah batang lehernya dan sudah tidak berkutik lagi itu.

Anak kecil itu menangis dan monyet betina itu lalu merawat luka anaknya dengan penuh kasih sayang, menjilati luka itu sampai bersih. Setiap hari dijilatinya luka di pundak anak pungutnya itu dan karena ini agaknya maka luka itu cepat sekali sembuh. Belum sebulan lamanya, luka itu sembuh sama sekali, hanya nampak bekas luka memanjang dari pundak ke punggung. Kini anak itu sudah bermain-main dan mencari makan lagi seperti biasa, berayun-ayun di antara cabang-cabang pohon dengan cekatan sekali.

Kehidupan di dalam hutan memang penuh dengan bahaya. Oleh karena itu, binatang-binatang hutan, terutama golong­an monyet yang lebih cerdik di antara binatang-binatang itu, memiliki naluri tajam sekali dan pertumbuhannya cepat. Sayang bahwa anak manusia itu sesuai dengan hukum alam, tidak sama per­tumbuhannya dengan monyet, maka oleh para monyet lain dianggap sebagai monyet aneh yang lemah. Monyet-monyet lain, dalam usia setahun telah menjadi monyet yang dapat berdiri sendiri, tidak lagi mengandalkan induknya. Akan tetapi anak yang tak berbulu itu tidak mungkin hidup tanpa pengawasan dan penjagaan induknya. Dan agaknya monyet betina itu maklum akan keadaan anaknya yang lemah ini. Dia tidak mau lagi didekati monyet jantan dan seluruh waktunya dipergunakan untuk mengasuh anak itu, diasuh dan diikutinya ke manapun anak itu pergi.

Setahun kemudian, anak itu sudah mulai dapat berdiri akan tetapi jalan­nya membungkuk setengah merayap, meniru gerakan monyet hanya dia makin pandai memanjat pohon, pandai melonca­t dari dahan ke dahan. Bagi seorang manusia, atau bagi ukuran manusia tentu saja gerakannya amat mentakjubkan, cepat bukan main. Akan tetapi bagi ukuran monyet, tentu saja dia amat lamban dan lemah! Betapapun juga, agaknya karena dia jauh lebih cerdik daripada monyet, memiliki daya tangkap lebih tajam dengan pikirannya, maka anak itu dalam banyak hal mengalahkan monyet-monyet itu dan diapun tidak sebuas monyet-monyet itu sehingga dia disukai oleh semua monyet dari yang kecil sampai yang besar.

Pada suatu hari, ketika anak itu sedang bermain-main dengan monyet-monyet kecil setelah kenyang makan buah, tiba-tiba terdengar pekik seekor monyet kecil yang bermain agak jauh dari teman-temannya. Semua monyet cepat meloncat ke pohon dan mencari tempat sembunyi yang aman. Akan tetapi anak itu sebaliknya malah cepat meng­hampiri tempat temannya itu menjerit dan dia melihat bahwa seekor monyet kecil sedang berhadapan dengan seekor ular. Ular itu kecil saja, sebesar lengan anak-anak dan panjangnya hanya kurang lebih tiga kaki, kulitnya belang-belang dan lehernya berkembang lebar. Ular itu mengangkat kepalanya, mengeluarkan suara mendesis sehingga monyet kecil itu ketakutan, seperti lumpuh saking takut­nya dan hanya dapat menjerit-jerit.

Anak manusia itu tiba-tiba meloncat sambil menyambar sebatang ranting, lalu dipukulnya kepala ular itu. Ular yang
marah itu mengelak, lalu kepalanya meluncur dan tiba-tiba anak itu berteriak keras ketika betis kakinya tergigit oleh ular. Dia roboh dan berusaha menggigit leher ular. Mereka bergumul dan monyet kecil tadi segera lari dan naik ke atas pohon sambil memekik-mekik.

Terdengar gerengan keras dan monyet betina besar yang sudah cepat datang ke tempat itu, kini melayang turun, diikuti teman-temannya. Melihat anaknya ber­gumul dengan ular yang menggigit betis anak itu, monyet betina marah sekali, Demikianpun teman-temannya. Mereka menubruk ular itu, menggigit leher dan seluruh tubuhnya, mencabik-cabiknya sehingga sebentar saja ular itu sudah putus-putus tubuhnya. Akan tetapi anak itu menggeletak dalam keadaan pingsan dan kaki yang tergigit ular itu membengkak dan berwarna biru!

Bagi monyet-monyet itu, mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh racun ular. Mungkin dari perbedaan susunan dalam tubuh, entah bagaimana, akan tetapi bisa ular tidak mudah mencelakakan mereka sehingga gigitan seekor ular berbisa itu kiranya tidak akan membuat mereka tewas. Akan tetapi berbeda de­ngan anak manusia itu. Anak itu pingsan dan kalau tidak memperoleh pengobatan yang tepat, tentu dia akan tewas dalam waktu sehari dua hari saja.

Monyet betina besar itu dengan nalurinya tahu bahwa anaknya terancam bahaya maut. Dia memondong tubuh anak itu seperti tubuh bangkai anaknya dahulu, dibawanya lari ke sana-sini dan berloncatan dari dahan ke dahan, menjauhi teman-temannya dan akhirnya dia tiba di dekat guha di mana dulu dia mengambil anak itu yang baru terlahir, setahun yang lalu.

Dengan suara menguik-nguik seperti orang menangis, monyet betina itu memasuki guha. Ada tiga ekor temannya mengikutinya dengan takut-takut. Monyet betina itu memandang ke kanan kiri akan tetapi guha itu kosong. Bahkan bangkai anak monyet ataupun rangkanya tidak nampak di situ.

Ke manakah perginya Liong Si Kwi? Seperti kita ketahui, setahun yang lalu, wanita ini roboh pingsan lagi ketika dia siuman di waktu paginya dan melihat bahwa yang menggeletak di antara paha­nya adalah bangkai seekor anak monyet. Rasa kaget dan ngeri membuatnya ping­san kembali. Akan tetapi sekali ini, karena tubuhnya sudah mulai pulih ke­kuatannya, dia tidak lama dalam keadaan tidak sadar itu. Setelah dia siuman kembali, dia lebih tenang dan pikirannya bekerja sambil dia duduk dan memandang ke arah bangkai monyet itu. Diambilnya bangkai itu dan diperiksanya. Benar-benar bangkai seekor monyet kecil. Jelas dia tidak melahirkan anak monyet! Tentu anaknya telah terlahir dan ada yang mengambil anaknya itu, menukarnya dengan seekor monyet kecil yang mati dengan kepala terluka. Ini bukan anak monyet yang baru saja terlahir, pikirnya. Hatinya lega. Tidak, dia tidak melahirkan monyet! Tidak mungkin keturunan Cia Bun Houw berupa monyet! Akan tetapi timbul kekhawatiran lain di dalam hati­nya. Siapakah yang menculik anaknya?

Jantungnya berdebar. Jangan-jangan ayah kandungnya yang datang mengambil­nya? Mudah-mudahan begitu, pikirnya penuh harap. Akan tetapi kalau Bun Houw yang datang, mengapa pemuda itu membiarkan saja dia pingsan tanpa me­nolongnya? Bukan demikian watak pen­dekar sakti itu. Dan mengapa pula menukar anaknya dengan bangkai seekor monyet kecil? Inipun tidak masuk akal! Yang dapat melakukan hal sekeji dan seaneh itu pantasnya hanyalah seorang tokoh kaum sesat. Akan tetapi siapa­kah yang akan melakukan hat seperti itu kepada anaknya? Di antara tokoh sesat yang tadinya membantu Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li di Istana Lembah Naga, semua telah tewas ketika terjadi pertempuran melawan para pen­dekar sakti. Hanya Hek-hiat Mo-li se­orang yang tidak tewas dan nenek iblis itu telah pergi bersama muridnya, yaitu Raja Sabutai. Nenek itukah yang melaku­kannya? Dia bergidik kalau teringat ke­pada nenek bermuka hitam yang mengeri­kan itu. Akan tetapi mengapa nenek itu melakukan hal seperti ini, menculik seorang bayi yang baru terlahir.

Si Kwi bangkit berdiri, mengepal kedua tangannya dan memandang keluar guha. “Hek-hiat Mo-li, agaknya engkaulah yang melakukan ini. Nenek jahanam, iblis laknat, sungguh engkau bukan manusia, melainkan iblis betina yang keji!” Dia lalu menangis karena merasa tidak berdaya menghadapi nenek itu. Gurunya sendiri, Hek I Siankouw, takut terhadap nenek bermuka hitam itu. Apalagi dia. Andaikata benar nenek itu yang melakukan dan dia dapat mencarinya, apa yang dapat dia lakukan terhadap nenek itu? Kepandaian nenek itu jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sen­diri. Dan dia teringat bahwa memang terdapat ilmu-ilmu sesat yang syaratnya untuk dikuasai adalah makan dan minum darah bayi yang baru terlahir. Dia bergidik dan menangis lagi.

“Bun Houw... Cia Bun Houw... hanya engkau seoranglah yang sanggup melawan nenek itu, hanya engkau seoranglah yang akan dapat menyelamatkan anak itu, anakmu, darah dagingmu... akan tetapi mana engkau sudi melakukannya...?” Si Kwi menangis sesenggukan.

Setelah reda tangisnya, dia lalu keluar dari dalam guha, membawa bangkai anak monyet itu. Entah bagaimana, melihat bangkai anak monyet itu, dia merasa kasihan. Seolah-olah dia teringat bahwa anaknya sendiripun berada di dalam bahaya, dan mungkin saja mati seperti anak monyet ini. Membayangkan betapa anak yang dikandungnya itu mati tanpa ada yang menolong, timbul rasa iba di hatinya terhadap anak monyet itu dan biarpun tubuhnya masih lemah, dia memaksa diri mengubur bangkai itu baik­-baik.

Semenjak melahirkan dan anaknya hilang, Si Kwi hidup makin tidak peduli lagi. Pakaiannya jarang diganti, tubuhnya
kurus, mukanya pucat, rambutnya awut-awutan dan dia lebih sering tidur di dalam kamamya di Istana Lembah Naga, bermalas-malasan dan hanya kalau rasa lapar di dalam perutnya sudah terlalu hebat saja dia terpaksa keluar mencari bahan makanan. Hidupnya terasa kosong dan hampa dan dia seperti mayat hidup saja.

Kecewa menimbulkan iba diri, dan iba diri menimbulkan duka. Duka makin mendalam karena dorongan ingatan dan sengsaralah manusia yang sudah menjadi korban dari duka. Hidup terasa kosong dan sengsara, lenyaplah segala keindahan dan kegembiraan, hati selalu tersiksa dan pikiran selalu melamun dan melayang jauh. Padahal, sebelum terjadi peristiwa dengan Bun Houw di Lembah Naga, se­belum dia bertemu dengan pemuda yang amat dikaguminya itu, Liong Si Kwi adalah seorang dara cantik manis angkuh, yang mengandalkan kepandaian dan me­rasa tidak pernah kekurangan sesuatu dalam hidupnya!

Sebetulnya Liong Si Kwi bukanlah keturunan orang jahat, tidak pula men­jadi murid orang jahat. Mendiang ayah­nya adalah seorang piauwsu (pengawal kiriman barang berharga) yang terkenal gagah dan jujur. Akan tetapi ayahnya tewas di tangan penjahat, dan ibunya meninggal karena duka setelah ayahnya meninggal. Dia dirawat dan dididik oleh Hek I Siankouw. Gurunya itu, Hek I Siankouw, sesungguhnya juga bukan se­orang jahat. Sebaliknya malah, Hek I Siankouw adalah seorang pendeta wanita, seorang penganut Agama To dan selain memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, juga tokouw ini tidak pernah melakukan kejahatan, bahkan selalu menentang para penjahat yang mengganggu ketentraman.

Akan tetapi sayang, seperti halnya setiap orang pandai, dia tetap manusia seperti para manusia lain, tetap memiliki kelemahan. Sejak masih mudanya, Hek I Siankouw telah menjadi pendeta, menguasai segala macam nafsunya, terutama nafsu berahi. Akan tetapi ketika dia bertemu dengan seorang pendeta Agama To lain, yaitu Hwa Hwa Cinjin, seorang tosu yang amat sakti, yang bersikap lemah-lembut, yang di waktu mudanya memang tampan sekali, dia tidak kuat menahan gelora hatinya yang tertarik! Demikian pula Hwa Hwa Cinjin, ketika bertemu dengan Hek I Siankouw yang ketika itu sudah berusia lima puluh tahun, dia tertarik sekali dan terjadilah hal yang aneh di antara kedua orang pendeta ini! Mereka tidak dapat menahan nafsu berahi mereka dan terjadilah hubungan cinta gelap di antara mereka! Memang aneh sekali, akan tetapi kalau diingat bahwa mereka hanyalah manusia-manusia biasa dengan segala macam kelemahan mereka, sebenarnya hal itu tidak pula aneh. Apakah bedanya tua atau muda kalau nafsu sudah menguasai diri?

Baik Hek I Siankouw maupun Hwa Hwa Cinjin, keduanya bukan pula ter­masuk golongan jahat, bukan tokoh-tokoh kaum sesat. Akan tetapi keadaan me­nyeret mereka sehingga mereka terpaksa bersekutu dengan kaum sesat dan me­musuhi golongan pendekar. Yang menjadi sebab adalah karena mendiang suheng dari Hwa Hwa Cinjin yang bernama Toat­-beng Hoatsu, telah tewas di tangan kaum pendekar. Untuk membalas dendam kematian suhengnya inilah maka Hwa Hwa Cinjin sampai bermusuhan dengan ketua Cin-ling-pai, yaitu Pendekar Keng Hong! Dan karena Hek I Siankouw adalah kekasih dari Hwa Hwa Cinjin, maka tentu saja tokouw ini membela kekasihnya. Dan karena Cia Keng Hong dan keluarganya adalah keluarga yang memiliki kesaktian hebat, maka mereka terpaksa bergabung dengan Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari mereka. Untuk menghadapi keluarga Cia itu sendiri, tentu mereka berdua tidak akan sanggup melawan!

Demikianlah, setelah Hek I Siankouw berdiri di fihak musuh keluarga Cia, dengan sendirinya sebagai murid tokouw itu, Liong Si Kwi terpaksa pula membela gurunya dan berdiri di fihak gurunya bermusuhan dengan kduarga Cia. Akan tetapi sungguh celaka baginya, dia jatuh cinta kepada Cia Bun Houw, putra dari ketua Cin-ling-pai itu, bahkan dia telah menyerahkan kehormatannya kepada pemuda itu!

Semua itu telah dituturkan dalam cerita “Dewi Maut” dengan jelas. Liong Si Kwi bukan keturunan orang jahat, akan tetapi dia terjerumus ke dalam lingkungan jahat sehingga diapun terseret dan menerima akibatnya. Dan kini, sungguh dia merupakan seorang wanita muda yang patut dikasihani. Dia telah kehilangan kehormatannya, kehilangan tangan kirinya, kehilangan pria yang dicintanya, kehilangan harapan, kini setelah melahirkan dia kehilangan anak­nya pula! Segala-galanya telah habis bagi Si Kwi dan agaknya dia hanya menanti datangnya kematian di tempat sunyi itu seorang diri saja.

Akan tetapi kehidupan manusia selalu berubah. Hidup adalah gerakan seperti air sungai mengalir yang selalu baru dan berubah. Hari ini boleh jadi berduka, besok belum tentu demikian. Hari ini menangis, besok mungkin tertawa. Hari ini melakukan kejahatan, besok mungkin melakukan kebaikan. Sebaliknya kesenang­an hari ini mungkin berubah menjadi kesusahan di hari esok dan selanjutnya. Oleh karena itu, kelirulah menilai hidup dan keadaan seseorang dari perbuatan atau keadaannya di masa lalu! Dan tidak benar pula mengukur baik buruknya se­seorang dari SATU perbuatan saja!

Keadaan Si Kwi yang sudah putus asa itu, yang menganggap kehidupan sebagai tempat derita belaka, tanpa adanya harapan akan terjadi perubahan, yang menganggap bahwa tidak mungkin bagi dia untuk dapat bergembira lagi, ternyata tidaklah demikian. Terjadilah per­ubahan yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya dalam mimpi.

Hari itu, pagi-pagi sekali Si Kwi sudah meninggalkan istana untuk mencari makanan karena perutnya terasa lapar sekali. Dia pergi memetik sayur-sayuran di ladang yang sudah tidak terawat itu dan ketika hendak pulang dia melihat seekor kelinci lari dari ladang. Dia cepat mengejarnya dan kelinci itu memasuki hutan. Dengan sebuah batu yang disambitkannya, dia dapat merobohkan kelinci itu. Akan tetapi ketika dia mengambil bangkai kelinci dan hendak pulang, dia melihat guha besar di mana dia dahulu melahirkan. Melihat guha ini dari jauh, hatinya tertarik dan seperti di luar kehendaknya sendiri, kedua kakinya melangkah menuju ke guha itu. Setelah tiba di depan guha, niatnya hanya ingin menjenguk ke dalam sebentar lalu pergi lagi. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara tangis anak-anak yang aneh sekali dari dalam guha!

Si Kwi terkejut setengah mati. Dengan mata terbelalak dia memandang ke arah guha, sayur dan bangkai kelinci yang dipegangnya terlepas dari kedua tangannya, muka menjadi pucat dan dia merasa bulu tengkuknya meremang. Setan? Roh anaknya? Bermacam bayangan yang mengerikan terbayang dalam benak­nya. Akan tetapi rasa takutnya itu dibantahnya sendiri. Mana mungkin di siang hari muncul setan? Telah hampir dua tahun dia tinggal seorang diri di tempat itu dan belum pernah dia bertemu setan! Tahyul belaka! Si Kwi adalah seorang wanita perkasa, maka segera rasa takut itu dibuangnya dan dengan langkah lebar dia memasuki guha besar itu. Tadinya di hanya berdiri karena menyangka bahwa tentu telinganya yang salah dengar, mungkin karena memikirkan anaknya maka telinganya mendengar suara khayal. Akan tetapi ketika tangis itu terus bahkan makin keras terdengar, dia cepat memasuki guha.

Dan di tengah guha itu, di tempat di mana dia dahulu melahirkan anaknya, nampak seorang anak kecil rebah terlentang sambil menangis! Kaki kiri anak itu membengkak hitam, dan di situ ter­dapat empat ekor monyet besar-besar yang menjaga anak itu. Seorang anak laki-laki, anak manusia dijaga empat ekor monyet! Seketika, bagaikan cahaya kilat memasuki benaknya, Si Kwi mengerti bahwa itulah anaknya! Bahwa itulah anak­nya yang lenyap setahun yang lalu, di­culik oleh monyet-monyet itu! Dan kini mengertilah dia bahwa yang menukar anaknya dengan monyet adalah monyet-monyet besar ini!

Entah siapa yang lebih dulu mener­jang maju. Si Kwi sudah marah karena menduga bahwa monyet-monyet itu yang mencuri anaknya, sedangkan empat ekor monyet itu, didahului oleh induk monyet, marah karena melihat wanita itu menghampiri anaknya. Mereka sudah saling terjang dan Si Kwi dikeroyok oleh empat ekor monyet besar yang mencakar dan menubruk, dengan mulut bertaring dah hendak menggigitnya. Namun, selama dua tahun kurang itu, Si Kwi tidak kehilang­an kepandaiannya dan kesigapannya biar­pun dia tidak pernah berlatih. Ilmu silat yang dipelajarinya dan dilatihnya selama bertahun-tahun dahulu itu telah mendarah daging di tubuhnya sehingga gerakannya sudah menjadi otomatis. Kedua kakinya bergerak-gerak menendang, tangan kanan­nya menampar dan tubuhnya bergerak dengan sigapnya mengelak dari setiap tubrukan. Tendangan-tendangan dan tam­parannya mengenai tubuh monyet-monyet itu dengan tepat sehingga dalam be­berapa gebrakan saja dia telah dapat menghajar monyet-monyet itu yang ter­lempar dan terbanting jatuh bergulingan. Akhirnya, tiga ekor monyet melarikan diri, tinggal seekor monyet betina besar itu yang masih melawan. Akan tetapi dia bukanlah lawan Si Kwi dan beberapa kali dia kena ditendang dan dihantam. Pukulan tangan kanan Si Kwi yang terakhir, tepat mengenai tengkuk monyet betina itu, membuat monyet itu terpelanting roboh dan tak bergerak lagi, pingsan.

Si Kwi lalu menghampiri anak laki-laki yang masih menangis itu. Dia me­megangnya, akan tetapi dia bergerak kaget dan mengelak ketika anak itu tiba-tiba menggunakan mulut untuk menggigit tangannya sambil mengeluarkan suara gerengan! Si Kwi berdiri bengong. Benarkah ini anaknya! Benar bahwa anak ini tidak salah lagi adalah seorang anak manusia, bocah laki-laki yang bertubuh sehat dan kuat, akan tetapi kaki kirinya bengkak menghitam, agaknya keracunan. Dan anak ini memang usianya kurang lebih satu tahun, tepat sekali kalau anak ini adalah anak yang dilahirkannya se­tahun yang lalu. Akan tetapi anak ini merupakan seekor monyet bertubuh dan berwajah manusia! Kemudian teringatlah dia bahwa mungkin sejak lahir, anak ini tumbuh di tengah-tengah sekumpulan monyet, maka tentu saja tingkah lakunya mirip monyet. Pikiran ini membuat dia merasa terharu sekali.

“Anakku...!” bisiknya dan air matanya jatuh bercucuran. Dia memondong anak itu, tidak memperdulikan anak itu menggigit lengannya karena dengan kulit tubuhnya yang terlatih dan kuat, tentu saia gigitan anak berusia setahun itu tidak menyakitkan. Melihat keadaan kaki anak itu yang membengkak dan membiru, Si Kwi cepat berlari pulang, memasuki istana dan langsung dia menuju ke dalam kamarnya. Anak itu yang meronta-ronta kini tidak bergerak lagi, agaknya pingsan.

Si Kwi cepat mengambil obat yang banyak terdapat dalam sebuah kamar di istana itu. Sebagai orang-orang sakti yang mempunyai banyak anak buah ketika mereka tinggal di istana ini, Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li tentu saja menyimpan segala macam obat-obatan, amat banyak sampai memenuhi satu kamar dan mereka adalah ahli-ahli racun yang tentu menyimpan obat-obat untuk orang keracunan pula. Sedangkan Si Kwi adalah murid dari Hek I Sainkouw yang juga ahli dalam mengobati segala macam luka yang keracunan, kepandaian yang penting bagi orang-orang kang-ouw yang banyak melakukan perantauan, banyak pula menghadapi bahaya dari lawan yang menggunakan senjata beracun, maka tentu saja wanita muda ini mengerti pula tentang pengobatan luka beracun.

Dia telah memeriksa luka di kaki anak itu dan dapat menduga bahwa tentu luka itu disebabkan oleh gigitan binatang beracun, agaknya ular melihat ada lubang kecil di kaki itu, bekas taring ular. Maka dia cepat memilih obat-obat yang khusus untuk menghadapi racun ular. Dengan hati penuh kekhawatiran dan dengan cekatan sekali dia lalu menggunakan obat gosok untuk pertama-tama mengobati luka itu. Dengan ujung sebatang pisau runcing yang dibakarnya dulu, dia merobek kulit daging betis kaki itu, lalu mengisap dengan mulutnya, mengeluarkan darah menghitam dari dalam luka. Kemudian dia memaksakan obat yang telah digodoknya ke dalam mulut anak itu sedikit demi sedikit.

Dengan penuh ketelitian Si Kwi merawat anak itu dan dalam waktu satu hari satu malam saja dia telah berhasil menolong anak itu terbebas dari ancaman racun yang dapat membawa maut. Anak itu siuman kembali, mula-mula hendak meronta, akan tetapi karena tubuhnya lemah, dia diam saja hanya memandang kepada Si Kwi penuh kecurigaan dan kadang-kadang mengeluarkan suara menggereng dan memperlihatkan giginya!

Si Kwi makin terharu. Anak ini sudah hampir menjadi monyet karena gerak-geriknya! Dia lalu menimang-nimangnya, memberinya makan. Akan tetapi mula-mula anak itu tidak mau makan segala macam masakan, kecuali hanya buah-buahan. Persis seperti seekor monyet. Naluri seorang ibu amat kuat. Cinta kasih seorang ibu memang memiliki getaran halus yang amat kuat, yang dapat menembus kebodohan anak itu. Agaknya sebagai seorang manusia pula, anak itu juga memiliki perasaan dan dapat menerima getaran cinta kasih ibu kandungnya sehingga dalam waktu beberapa hari saja dia telah menjadi “jinak”! Makin berkurang kebuasannya, dan dalam waktu sebulan, dia sudah begitu melekat kepada Si Kwi sehingga mau digandeng dan diajar berjalan karena jalannya masih seperti orang hutan, dengan kedua kaki ditekuk rendah, kedua lengan bergantung hampir mencapai tanah dan punggung membungkuk! Kini, dia mulai meniru cara Si Kwi berjalan! Juga dia mulai mau makan masakan sayuran dan daging yang disuguhkan oleh ibu kandungnya. Pertama kali Si Kwi memberi pakaian kepadanya, dia ketakutan. Ketika pakaian itu oleh Si Kwi dipakaikan di tubuhnya, dia merobek-robeknya. Akan tetapi agak­nya karena meniru Si Kwi pula, akhirnya dia mau juga mengenakan pakaian, mau pula dimandikan dan lain-lain. Persis seperti menjinakkan seekor kera.

Si Kwi sering kali mengamat-amati anak itu di waktu anak tidur. Hatinya penuh rasa haru, penuh rasa sayang dan dibelainya anak itu, diusapnya dengan jari-jari tangan gemetar luka-luka di tubuh anak itu, terutama sekali luka memanjang di pundak sampai ke pung­gung. Luka itu memanjang dan bentuknya seperti seekor naga. Bekas luka inilah yang membuat Si Kwi mengambil ke­putusan untuk memberi nama Liong (Naga) kepada anaknya. Dan karena dia teringat akan kegagahan ayah kandung anak ini, akan kesaktiannya, maka dia mengharapkan agar anaknya kelak dapat menjadi seorang naga sakti. Maka dia lalu menamakan anak itu Sin Liong (Naga Sakti) dan tentu saja dia me­nambahkan she Cia kepada Sin Liong. Cia Sin Liong, demikianlah nama anak yang sejak bayi dipelihara oleh monyet, hidup di antara monyet-monyet dan hampir saja dia menjadi seekor monyet yang aneh itu.

Setelah menemukan anaknya, terjadi­lah perubahan besar sekali dalam ke­hidupan Si Kwi. Kini dia dapat ter­senyum lagi, dapat tertawa terkekeh-kekeh melihat kelucuan anaknya, dapat berseru kagum melihat ketangkasan anak berusia setahun lebih itu yang pandai sekali melompat, pandai memanjat pohon dan memiliki kekuatan yang jauh melebihi anak biasa. Kini Si Kwi mulai merasa gembira, wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar dan mulutnya sering kali tersenyum. Mulai pula dia memperhatikan dirinya, membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian yang patut-patut. Dia seolah-olah mulai suatu kehidupan baru! Mulai dia mengkhawatirkan sesuatu, memperdulikan sesuatu, tidak lagi seperti biasa hidup seperti mayat berjalan tanpa memperdulikan apa-apa. Mulai dia melihat keindahan-keindahan lagi di dalam kehidupannya.

Tiga bulan kemudian, keadaan di Istana Lembah Naga itu telah berubah sama sekali. Dari dusun-dusun yang berada di kaki Pegunungan Khing-an-san, Si Kwi mengundang lima orang wanita yang dipekerjakan sebagai pelayan. Istana itu dibersihkan, dirawat baik-baik, ladang-ladangnya ditanami sayur-sayur lagi, bahkan di samping istana dibuat sebuah taman yang penuh bunga. Pendeknya, dalam waktu beberapa bulan saja, keadaan diri Si Kwi dan sekelilingnya telah mengalami perubahan luar biasa. Wanita itu kini mau berdandan kembali, mengenakan pakaian indah karena memang banyak terdapat kain-kain yang serba indah di dalam istana itu, semangatnya bangkit dan hidup kembali.

Lima orang wanita yang menjadi pelayan-pelayan itu juga suka bekerja di situ. Dua orang di antara mereka adalah orang-orang Han dan yang tiga lagi peranakan Mongol. Mereka itu biasanya ikut dengan rombongan suka bangsa yang suka berpindah-pindah, hidup serba kekurangan dan selalu menghadapi kesukaran. Kini, mereka hidup di istana yang besar dan indah, dan tidak kekurangan makan dan pakaian, tentu saja mereka suka berada di situ. Apalagi, mereka hanya melayani seorang ibu dan seorang anak, tentu saja pekerjaan mereka tidak berat.

Akan tetapi, ternyata tidaklah mudah untuk mengasuh Sin Liong. Anak ini sudah mulai belajar bicara, akan tetapi sekali waktu, dalam keadaan marah atau khawatir, timbul saja semacam sifat monyetnya, menggereng, mencakar dan hendak menggigit, bahkan lari memanjat pohon sampai di ranting yang paling puncak, tidak mau turun! Akan tetapi sisa watak seperti monyet ini makin lama makin menipis sungguhpun tidak daoat lenyap sama sekali seperti luka di pundak dan betisnya, biarpun sudah sembuh sama sekali, namun masih ada saja nampak bekas-bekasnya.

SERING sekali para pelayan dan juga Si Kwi sendiri, memergoki monyet mendekati istana, bahkan ada satu dua kali mereka melihat Sin Liong bermain-main dengan mereka. Dan pada suatu malam, ketika anak itu sudah berusia dua tahun, anak itu lenyap dari dalam kamarnya! Sudah tentu saja para pelayan menjadi panik. Akan tetapi Si Kwi yang melihat jendela kamar itu terbuka, bersikap tenang biarpun jantungnya berdebar penuh ketegangan dan kegelisahan. Dia tidak mau kehilangan putranya untuk kedua kali! Akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu anaknya itu pergi “mengunjungi” teman-temannya, yaitu rombongan monyet-monyet itu. Maka pada pagi hari itu, dia bersama para pelayannya lalu menuju ke sebuah hutan lebat tak jauh dari situ karena dia tahu bahwa di hutan inilah monyet-monyet itu berkumpul dan hidup.

Setelah mereka berenam tiba di tengah hutan, benar saja mereka melihat Sin Liong berada di antara monyet-monyet besar. Si Kwi mengerutkan alisnya dan marah sekali melihat betapa anak itu bermain-main, berloncatan dengan pakaian sudah cabik-cabik tidak karuan, bersama monyet-monyet kecil makan ulat dan cacing!

Monyet-monyet besar itu jumlahnya hanya belasan ekor, tidak lebih dari lima belas ekor. Banyak memang monyet-monyet kecil di situ dari lain jenis, akan tetapi monyet-monyet kera kecil ini tidak berani mendekati monyet-monyet orang hutan yang besar-besar itu, yaitu kelompok yang menjadi teman Sin Liong.

“Sin Liong...!” Si Kwi memanggil sambil memandang ke atas pohon di mana anak itu nongkrong dengan sikap gembira.

Sin Liong memandang ke bawah dan mengeluarkan suara teriakan, “Ibu...!” Hanya satu kata inilah yang selalu teringat oleh anak itu dan yang diucapkan­nya dengan baik. Akan tetapi dia tidak mau turun, bahkan meloncat ke dahan yang lebih tinggi lagi.

“Sin Liong, kau turunlah! Mari pulang bersama ibu!” teriak Si Kwi lagi.

Sin Liong tetap tidak mau turun dan kini yang turun malah seekor orang utan jantan yang amat besar. Orang utan ini adalah pemimpin dari kelompok itu, orang utan jantan yang paling besar dan kuat. Dia berloncatan turun diikuti oleh lima ekor orang utan jantan yang lain, sikap mereka mengancam dan pemimpin monyet itu sudah memperlihatkan taring­nya.

Akan tetapi Si Kwi tidak merasa gentar dan dia tetap berdiri tegak di bawah pohon sambil memanggil-manggil Sin Liong. Lima orang pelayannya, biar­pun sudah mulai dilatih silat oteh Si Kwi, merasa ngeri dan mundur-mundur ketakutan, menjauhi pohon itu. Kini enam monyet besar itu sudah menghadapi Si Kwi. Pemimpin monyet menggereng-gereng seperti menggertak, diikuti oleh lima ekor anak buahnya. Akan tetapi
tiba-tiba terdengar gerengan lain dan sesosok tubuh kecil melayang turun dari atas pohon, dari cabang pohon paling rendah dan tahu-tahu Sin Liong sudah berada di situ, di tengah-tengah antara monyet-monyet itu dan ibunya. Dan anak inipun menggereng-gereng dan memperlihatkan giginya yang kecil-kecil dan sama sekali tidak menyeramkan, menghadapi monyet-monyet seolah-olah dia marah kepada mereka dan hendak membela ibunya. Melihat pertunjukan ini, jantung di dalam dada Si Kwi berdebar penuh keharuan dan kekaguman. Anaknya, yang baru berusia dua tahun itu telah tahu bagaimana membela ibunya!

Akan tetapi, monyet besar itu menggereng dan tangannya bergerak hendak mencengkeram atau mendorong pergi Sin Liong. Seperti sikap seekor monyet kecil menghadapi monyet besar, Sin Liong mengelak dan tidak berani melawan, hanya menggereng-gereng dan memperlihatkan giginya menyeringai.

Si Kwi menjadi marah. “Sin Liong, minggirlah! Biar kuhajar monyet-monyet biadab ini!” Setelah berkata demikian, Si Kwi menerjang maju, dua kali kakinya bergerak dan dua ekor monyet terpelanting! Empat ekor lainnya maju, akan tetapi Si Kwi yang sudah marah itu kini tidak mau membuang waktu lagi. Dengan gerakannya yang amat gesit, dia mengelak ke kanan kiri sambil membalas dengan tendangan kakinya dan dengan pukulan tangan kanannya. Akan tetapi, tubuh monyet-monyet besar itu kebal dan kuat sekali. Begitu mereka roboh, mereka sudah meloncat bangun lagi dan menyerang makin ganas, dengan mata merah dan mulut membusa, menyerang kalang kabut dengan tubrukan-tubrukan dahsyat! Si Kwi merasa kewalahan juga karena sudah tiga empat kali dia merobohkan monyet-monyet itu, namun untuk kesekian kalinya kembali mereka bangkit dan menyerang makin ganas.

“Hemm, kalian ingin mampus!” Si Kwi berteriak marah sambil meloncat ke belakang. Ketika pemimpin monyet yang terbesaran paling ganas itu menyerang ke depan, Si Kwi menggerakkan tangan kanannya dan sebatang paku hitam meluncur.

“Capp...!” Paku itu menancap dan lenyap ke dalam tenggorokan monyet besar itu. Monyet itu mengeluarkan pekik aneh dan roboh bergulingan, berkelojotan dan tak lama kemudian tewaslah monyet itu. Monyet-monyet yang lain, aneh sekali, menjadi ketakutan dan lari berloncatan ke atas pohon.

“Grrhhhh...!” Tiba-tiba Si Kwi mengelak dan alangkah kagetnya ketika dia melihat anaknya sudah menerjang dan mencakarnya! Dia menangkap tangan anaknya, lalu diangkatnya, dipondongnya dan diciuminya, dipeluk erat-erat.

“Sin Liong... aku terpaksa membunuhnya... terpaksa...!” Lalu dia mengajak anaknya itu pulang dengan setengah memaksa. Sin Liong tidak meronta lagi, akan tetapi dia diam saja, dan wajahnya memperlihatkan kemarahan.

Semenjak peristiwa pembunuhan pimpinan monyet itu, watak Sin Liong menjadi pendiam dan sering kali dia memandang kepada Si Kwi dengan curiga.

Akan tetapi karena sikap Si Kwi yang amat baik kepadanya, akhirnya kecurigaannya itu lenyap dan dia mulai mau tersenyum lagi kepada ibunya itu.

Liong Si Kwi juga bersikap bijaksana. Dia tahu bahwa putranya itu tidak akan mudah menghapuskan kenangan lama, kebiasaan lama ketika hidup selama setahun bersama monyet-monyet itu, maka diapun tidak melarang anaknya untuk bermain-main dengan monyet-monyet itu. Betapapun juga, ada rasa terima kasih di hatinya terhadap monyet-monyet itu, karena tanpa adanya monyet-monyet itu, entah apa jadinya dengan anaknya karena ketika melahirkan, dia terus pingsan! Diam-diam Si Kwi membayangkan betapa anehnya kehidupan ini. Anaknya terlahir tanpa bantuan, kemudian begitu lahir diculik oleh monyet besar. Heran, dia memikirkan bagaimana dan apa jadinya dengah ari-ari yang ikut keluar bersama anaknya itu. Bagaimana caranya monyet­-monyet itu memelihara bayinya? Bagaimana cara pemotongan pusarnya? Dia melihat pusar Sin Liong biasa saja seperti anak-anak lainnya.

Memang demikianlah. Kita manusia lupa bahwa segala sesuatu di dunia ini sudah dalam keadaan tertib, dan sudah tertib dengan sendirinya, sempurna segala-galanya. Karena manusia berakal budi, maka manusia senantiasa mempunyai kecondongan untuk membantu jalannya kekuasaan alam, membantu kelancarannya. Dan karena semenjak jutaan tahun bantuan-bantuan manusia ini makin berkembang, maka manusiapun telah menjadi terbiasa karenanya, dan manusia merasa kehilangan tanpa adanya bantuan-bantuan itu. Dan mungkin sekali, karena terbisa oleh bantuan-bantuan dari luar ini, jasmani manusia kehilangan kepekaannya, kehilangan kecerdasannya, bahkan mungkin juga daya ketertiban yang ajaib itu bahkan berkurang sehingga manusia akan merasa tidak berdaya tanpa adanya bantuan-bantuan luar yang sudah biasa diterimanya itu. Kita dapat melihat bukti adanya ketertiban alamiah yang amat dahsyat dan ajaib itu dalam kehidupan binatang-binatang hutan yang masih jauh dari “peradaban” manusia. Kelahiran di
antara binatang-binatang itu terjadi di mana-mana, dan tentu saja di dunia mereka itu tidak mengenal adanya bantuan dari luar! Namun, semua kelahiran berjalan lancar dan sempurna! Hanya binating-binatang, yang sudah dekat dengan manusia saja, yang biasa menerima bantuan-bantuan dari manusia, akan merasa kehilangan dan mungkin akan terancam bahaya kegagalan apabila mereka terlepas daripada bantuan manusia yang sudah biasa mereka terima turun-temurun itu.

Kini Sin Liong sering kali bermain-­main dengan para monyet, bahkan melihat betapa Si Kwi tidak pernah marah dan tidak pernah mengganggu mereka, monyet-monyet itu mulai berani men­dekati istana, bahkan berani bermain-main dengan Sin Liong di istana. Si Kwi memesan kepada para pelayannya agar jangan mengganggu mereka. Di dalam hatinya wanita muda ini dapat me­maklumi bahwa tidak mungkin Sin Liong dapat melupakan kehidupan di antara para monyet setelah sejak bayi dia minum air susu dari dada monyet betina besar yang dia lihat sering kali datang dan memandang kepada Sin Liong dengan matanya yang seperti mata seorang manusia! Monyet betina besar yang hanya memandang dari jauh, bersikap diam saja, namun sinar matanya penuh dengan kasih sayang yang dapat terasa oleh Si Kwi.

Malam itu bulan bersinar terang. Si Kwi bermain-main dengan anaknya di serambi depan, sedangkan para pelayan telah mengaso di kamar belakang. Para pelayan itu kini telah merupakan wanita-wanita yang tidak lemah lagi. Telah beberapa bulan lamanya mereka dilatih ilmu silat oleh Si Kwi dan biarpun mereka tentu saja belum dapat menguasai jurus-jurus silat yang tinggi, namun setidaknya mereka telah memperoleh ke­sigapan dan kekuatan yang lumayan.

Si Kwi sedang mengajar anaknya ber­cakap-cakap. Sudah lumayan juga kemaju­an yang diperoleh Sin Liong dalam hal ini. Tentu saja kalau dibandingkan dengan anak-anak biasa, dia ketinggalan jauh sekali. Usianya sudah dua tahun setengah, namun dia hanya baru bisa mengeluarkan beberapa patah kata saja, di antaranya yang paling jelas adalah “ibu”, “makan”, “minum”, “tidur”, “ya” dan “tidak”. Akan tetapi dengan bahasa isyarat dia sudah mengerti jauh lebih banyak dan pengerti­annya menangkap kata-kata jauh lebih daripada kepandaiannya mengucapkan kata-kata. Juga kini dia sering kali ter­tawa-tawa ditimang oleh Si Kwi, dan dapat pula menunjukkan kasih sayangnya dengan memeluk leher ibunya kalau dia dipangku.

Tiba-tiba terdengar bunyi cecowetan dan di antara bayangan pohon-pohon nampak beberapa ekor monyet kecil menghampiri serambi itu. Si Kwi me­ngerutkan alisnya, akan tetapi dia tidak melarang ketika Sin Liong merosot turun dari atas pangkuannya dan berlari keluar, menyambut kedatangan monyet-monyet itu. Biarlah, pikirnya. Anak itu berhak untuk bergembira dan bermain-main, seperti anak-anak lain. Dan karena di situ tidak ada anak lain, maka tentu saja anak itu bersababat dengan monyet-monyet yang memang sejak lahir telah menjadi sababatnya. Hatinya lega ketika melihat Sin Liong tidak merobek-robek pakaiannya lagi dan bahkan dalam kegembiraamya itu, terdengar gelak tawanya seperti seorang anak manusia diantara suara cecowetan monyet. Anak itu sudah makin mendekati sifat manusia daripada sifat monyet, pikirnya dan diapun melangkah masuk ke dalam kamarnya, membiarkan anak bermain-main di luar karena dia tahu bahwa kini Sin Liong, semenjak peristiwa pertempurannya melawan monyet-monyet itu, tidak mau pergi jauh dari halaman depan istana.

Si Kwi sedang membaca kitab yang terisi cerita kuno sambil rebah di atas pembaringannya, ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dari luar dan nampak anaknya memasuki kamar sambil berlari setengah merangkak cepat sekali. Si Kwi bangkit duduk dan terkejut. Kalau Sin Liong sudah melupakan pesannya bahwa anak itu tidak boleh merangkak melainkan harus berjalan seperti manusia, dan kini anak itu berjalan setengah merangkak karena hal ini membuat dia dapat bergerak lebih cepat, tentu ada apa-apa yang penting pikirnya.

“Liong-ji... ada apakah...?” Hatinya lega melihat Sin Liong tidak terluka, dan agaknya tidak terjadi apa-apa dengan anak itu, akan tetapi anak itu kelihatan gugup dan takut.

“Ibu... keluar... keluar...!” Dia berkata, sukar sekali, akan tetapi kedua tangannya jelas memberi isyarat kepada ibunya agar ibunya suka keluar dari dalam kamar itu. Si Kwi meloncat turun dan mengikuti anaknya yang kembali lari setengah merangkak dan berloncatan keluar dari dalam kamar, terus ke serambi depan dan hendak terus keluar dari halaman istana. Akan tetapi Si Kwi memegang lengan anaknya dan berdiri tegak di tengah halaman istana yang amat sunyi itu. Sinar bulan menerangi tempat itu.

“Ibu...!” Sin Liong menuding ke depan.

“Sstttt...!” Si Kwi menaruh telunjuk di depan mulut, isyarat yang dikenal oleh Sin Liong agar dia berdiam diri. Si Kwi yang memiliki pendengaran tajam terlatih itu telah mendengar sesuatu dari jauh. Maklumlah dia bahwa ada datang beberapa orang pengunjung. Siapa pula yang berani datang mengunjungi tempat ini? Pernah dahulu, sebelum dia melahirkan, beberapa kali ada orang-orang berkeliaran di dekat istana, mungkin pemburu-pemburu binatang. Akan tetapi dia telah mempergunakan kepandaiannya, menyabit mereka dari jauh dengan kerikil-kerikil kecil dan membuat mereka lari ketakutan karena sambitannya tepat mengenai mereka dan cukup menyakitkan. Akan tetapi sekali ini, malam-malam ada orang-orang datang. Siapa mereka dan apa maksud kedatangan mereka?

“Liong-ji, kau masuklah ke dalam!” kata Si Kwi sambil menuding ke arah serambi istana. Si Liong yang memiliki naluri monyet dan tahu bahwa ada bahaya mengancam, cepat berloncatan dan dia sudah bersembunyi di balik tiang di serambi itu sambil mengintai ke arah ibunya yang berdiri tegak dan tenang menanti datangnya orang-orang yang sudah dia dengar langkah kaki dan suaranya itu.

Tak lama kemudian nampaklah enam orang laki-laki tinggi besar yang melihat lagak dan pakaiannya, tentulah bangsa orang-orang kasar yang biasa mengandalkan keberanian dan kekuatan mereka untuk melakukan apa saja tanpa memperdulikan hukum dan perikemanusiaan.

Mereka torcengang ketika melihat Si Kwi yang berdiri di tengah halaman istana itu dan mereka semua menahan langkah kaki, memandang ke depan dan memperhatikan Si Kwi dari kepala sampai ke kaki.

“Bukan main...! Cantik sekali...!”

“Seperti bidadari! Dewi kahyangan rupanya!”

“Orang bilang, di sini ada setannya, kiranya yang ada hanyalah dewi manis!”

“Sayang tangan kirinya buntung!”

“Tidak apa, yang penting kan bukan tangan kirinya, heh-heh!”

Mereka bergelak tertawa dan masih terdengar ucapan-ucapan tidak senonoh yang membuat muka Si Kwi menjadi merah dan terasa panas. Kini mereka melangkah maju dan menghadapi Si Kwi sambil menyeringai.

Seorang di antara mereka, yang muka­nya hitam dan mukanya brewok matanya lebar, tubuhnya tinggi besar dan agaknya dia yang memimpin rombongan enam orang itu, berkata, “Heh-heh, nona manis. Inikah yang dinamakan Istana Lembah Naga?”

Si Kwi bersikap tenang dan menahan kemarahannya, akan tetapi mendengar pertanyaan itu dia menjawab, “Benar!”

Laki-laki itu tertawa. “Ha-ha-ha, kami dengar di sini ada setannya. Mana setannya? Dan siapa engkau, nona manis?”

“Penghuni istana ini adalah aku! Lebih baik kalian lekas pergi dari sini! Tidak ada seorangpun boleh mendatangi tempat ini!” kata Si Kwi dengan nada suara dingin mengancam.

Akan tetapi enam orang laki-laki itu tentu saja memandang rendah dan mereka semua tertawa. Si brewok itu tertawa paling keras dan berkata, “Ha-­ha-ha, boleh jadi engkau aneh, nona, seorang wanita muda cantik manis ting­gal di istana besar seorang diri. Akan tetapi engkau hanya seorang wanita muda yang lemah, berpakaian indah serba merah, tangan kirimu buntung malah. Andaikata engkau benar setan, heh-heh, aku senang berteman dengan setan seperti engkau ini. Aku tidak takut kaugigiti. Ha­-ha-ha!”

“Ha-ha-ha-heh-heh!” Lima orang temannya tertawa semua. “Bhong-twako, boleh engkau nikmati dia, kami akan menikmati barang-barang di dalam istana itu saja, heh-heh!”

Pada saat itu, mereka semua ter­cengang dan memandang ke serambi depan. Kiranya lima pelayan sudah berada di situ semua. Mereka itu semua ditarik-tarik dan diajak keluar oleh Sin Liong dan kini mereka berdiri di serambi sedangkan Sin Liong sudah sembunyi lagi sambil mengintai.

“Wah, wah, kiranya masih ada lima orang lagi? Ha-ha, sungguh tepat. Enam lawan enam! Ah, Bhong-twako, kami juga sudah dijemput, biarpun tidak secantik si buntung ini, akan tetapi mereka itu je­las perempuan, tidak banci. Itu saja sudah cukup, ha-ha!” Lima orang itu ter­tawa-tawa, mata mereka memandang ke arah lima orang pelayan itu. Para pelayan itu terdiri dari wanita-wanita yang usianya antara dua puluh sampai tiga puluh lima tahun, dan karena mereka itu sehat-sehat dan berpakaian cukup bersih, maka nampak pula sifat kewanitaan mereka. Lima orang itu sambil bersorak sudah bergerak hendak menyerbu ke serambi.

“Tahan!” Tiba-tiba Si Kwi berseru, suaranya nyaring dan penuh wibawa karena ia berseru sambil mengerahkan khi-kangnya. “Tahan atau kalian akan mati di tempat!”

Enam orang itu terkejut dan si bre­wok memecahkan perasaan kaget yang mencekam itu dengan suara ketawanya. “Ha-ha-ha, lagakmu amat hebat, nona. Seorang wanita muda sepertimu ini, dan lima orang temanmu itu, apa gunanya melawan kami? Lebih baik menurut saja, menyerah dan kalian akan memperoleh kesenangan dan selanjutnya hidup bersama kami...”

“Hemm, kalian enam orang sungguh lancang. Katakan dulu siapakah kalian, dari mana kalian datang sehingga kalian tidak mengenal tempat ini dan berani melanggarnya?”

“Kami? Ha-ha-ha, kami datang dari Padang Bangkai dan...”

“Padang Bangkai?” Si Kwi memotong cepat dan terheran-heran. “Bukankah Padang Bangkai telah kosong dan peng­huninya telah tewas semua? Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li telah tewas, anak buahnya juga telah terbasmi habis. Bagaimana kalian berani mengaku datang dari Padang Bangkai?”

Dalam cerita “Dewi Maut” telah di­ceritakan betapa Padang Bangkai dijadi­kan sarang oleh suami isteri kaum sesat yang amat terkenal, yaitu Ang-bin Ciu-kwi dan isterinya Coa-tok Sian-li, dan suami isteri ini bersama anak buah mereka juga takluk terhadap kakek dan nenek iblis penghuni Istana Lembah Naga dan menjadi pembantu-pembantu mereka. Adalah Ang-bin Ciu-kwi inilah yang men­jadi sebab pertama mengapa Si Kwi jatuh cinta kepada Cia Bun Houw, yaitu ketika dia dirobohkan dan akan diperkosa oleh Ang-bin Ciu-kwi si pemabok itu, dia diselamatkan oleh pendekar sakti muda itu. Ketika terjadi pertempuran-pertem­puran hebat di antara para penghuni Istana Lembah Naga dengan para pen­dekar perkasa, Ang-bin Ciu-kwi, isterinya, dan semua anak buahnya telah tewas dan Padang Bangkai, tempat yang amat ber­bahaya dan mengerikan itu telah menjadi kosong. Bagaimana kini dapat muncul enam orang ini yang mengaku datang dari Padang Bangkai?

Si brewok itu tertawa, “Aha, kiranya engkau mengenal nama-nama mendiang Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li, nona? Ketahuilah bahwa tai-ong (raja sebutan untuk kepala perampok) kami adalah sahabat baik dari mereka, dan melihat bahwa Padang Bangkai telah kosong, maka tai-ong kami lalu mengambilnya sebagai tempat tinggal kami sejak setengah tahun yang lalu. Tai-ong mendengar bahwa di sini terdapat Istana Lembah Naga dan ada... eh, setannya, maka dia mengutus kami untuk menyelidikinya. Siapa kira, bukan setan yang kami dapatkan, melainkan... sorga tempat para bidadari. Heh-heh-heh!”

“Bhong-twako, perlu apa banyak bicara dengan dia? Tubruk dan peluk saja, habis perkara! Kami akan menang­kap lima ekor kelinci gemuk di sana! Ha-ha!” Seorang di antara anak buahnya berkata dan mereka berlima tertawa semua itu menyerbu ke serambi.

“Kiranya perampok-perampok laknat! Keparat, mampuslah kalian!” Si Kwi membentak dan tubuhnya bergerak cepat sekali ke depan, menghadang lima orang yang menyerbu ke serambi itu. Dengan kemarahan meluap, Si Kwi menggunakan tangan kanan, dua kali dia menghantam kepada dua orang terdepan, disusul ten­dangan kakinya yang menyambar ke arah bawah pusar mereka.

“Plak-plak! Dess-desss!”

Dua orang itu memekik dan terpental ke belakang, menimpa teman-temannya dan mereka terbanting, berkelojotan dan... tewas! Melihat ini, empat orang lainnya menjadi kaget setengah mati, kaget dan juga marah. Si brewok mencabut goloknya, diikuti oleh tiga orang anak buahnya.

“Kiranya engkau benar-benar setan!” teriak si brewok dan dia sudah menerjang maju, membacokkan goloknya ke arah leher Si Kwi. Tiga orang anak buahnya juga sudah menggerakkan golok mereka menyerang.

Namun Si Kwi sudah siap sedia. Wanita muda ini merasa menyesal meng­apa dia tadi tidak membawa pedangnya atau kantung pakunya. Akan tetapi, menghadapi perampok-perampok kasar ini tentu saja dia tidak menjadi gentar. Dengan gin-kangnya yang luar biasa, dia mengelak dan berloncatan ke sana-sini sedemikian cepatnya sehingga empat orang pengeroyoknya kadang-kadang menjadi bingung karena wanita itu lenyap ­dari pandang mata mereka saking cepatnya gerakan itu.

Sementara itu, lima orang pelayan yang baru saja belajar ilmu silat, me­nonton dengan mata terbelalak. Tadinya mereka tidak mengira bahwa nona maji­kan mereka benar-benar amat lihai sekali sehingga dikeroyok enam orang laki-laki sekasar itu, mampu melawan bahkan se­gebrakan saja telah merobohkan dua orang! Timbul gairah dalam hati mereka untuk belajar silat makin mendalam karena majikan mereka ternyata merupa­kan guru yang amat hebat! Dan Sin Liong yang tadinya mengintai, kini sudah meloncat naik ke atas meja, menonton dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Ibunya hebat!

“Mampuslah kalian, perampok-perampok laknat!” bentak Si Kwi dan tangan kanan­nya menyambar.

Krekkk!” Jari-jari tangan yang halus namun karena diisi oleh tenaga sin-kang menjadi kaku dan keras seperti baja itu menghantam tenggorokan si brewok yang besar. Tulang-tulang tenggorokan itu menjadi remuk dan si brewok mengeluar­kan suara seperti babi disembelih, tubuh­nya roboh berkelojotan. Sebuah tendang­an kilat dari Si Kwi mengenai pelipisnya, membuat kepalanya retak dan dia tidak berkelojotan lagi!

Tiga orang perampok itu makin terkejut dan kini mereka mulai menjadi gentar. Namun Si Kwi tidak memberi ampun. Ketika dia meloncat ke kiri, seorang perampok membacokkan goloknya dari belakang. Sambaran golok memecah angin dari belakangnya dapat ditangkapnya dan cepat dia miringkan tubuh. Golok menyambar di samping pundaknya, dia membalik dan memutar kaki, lengan kiri yang ujungnya hanya tinggal tulang terbungkus kulit, tangan itu menotok siku tangan orang yang memegang golok.

“Dukk! Uhhh...!” Golok besar itu terlepas dan sebelum jatuh ke tanah, sudah disambar oleh tangan kanan Si Kwi yang langsung membuat gerakan membalik.

“Cappp...!” Golok itu amblas ke dalam perut pemiliknya sampai menembus punggung! Si Kwi mencabut golok itu sambil meloncat ke kanan sehingga darah yang mengucur keluar dari perut itu tidak sampai mengenai bajunya. Dua orang perampok itu cepat membalikkan tubuhnya dan lari tunggang­ langgang. Akan tetapi, golok di tangan Si Kwi terbang menyambar dan menancap punggung seorang di antara mereka. Orang itu terhuyung dan roboh menclungkup. Yang seorang lagi sudah menghilang di dalam gelap. Si Kwi mengejar, akan tetapi orang itu sudah lenyap sehingga terpaksa dia kembali ke pekarangan Istana Lembah Naga. Dengan tenang dia lalu memerintahkan para pelayan untuk membantu dia menyeret mayat lima orang itu dan melempar-lemparkah mayat-mayat itu ke dalam jurang di belakang istana. Jurang-jurang itu dalam sekali, sampai tak nampak dasarnya, maka mayat-mayat itupun menghilang di dalam jurang gelap. Kemudian Si Kwi kembali ke dalam istana, diikuti oleh lima orang pelayan yang mula-mula merasa ngeri akan tetapi kini merasa bangga sekali!

“Ibu...!” Sin Liong meloncat ke dada ibunya. Si Kwi memeluknya dan berkata, “Liong-ji. Sekarang engkau tidak boleh bermain-main terlalu jauh, ya? Lihat, banyak orang jahat berkeliaran!”

“Toanio, siapakah mereka itu? Mengapa mereka memusuhi toanio?” se­orang di antara para pelayannya bertanya.

Si Kwi duduk sambil memangku Sin Liong, kemudian dia mengumpulkan lima orang pelayannya dan bercerita. “Padang Bangkai adalah padang rumput yang nampak dari atas itu, tempat yang amat berbahaya. Dahulu menjadi sarang orang-orang jahat yang amat pandai, akan tetapi sekarang telah kosong dan ternyata ditempati oleh segerombolan pe­rampok yang anak buahnya tadi mengacau ke sini. Sayang seorang diantara mereka sempat melarikan diri dan tentu kepala perampoknya akan datang ke sini. Akan tetapi jangan kalian khawatir, aku sang­gup menghadapi mereka!” kata Si Kwi dengan gemas. “Mereka itu sudah bosan hidup, tidak tahu bahwa Ang-yan-cu yang tinggal di sini!” katanya pula dengan sikap angkuh dan timbul kembali sifatnya yang gagah yang selama dua tahun lebih, hampir tiga tahun, terpendam di tempat sunyi itu.

Melihat sikap majikan mereka yang gagah dan karena sudah menyaksikan sendiri kelihaian majikan mereka, lima orang pelayan itu berbesar hati, bahkan merekapun menjadi bersemangat sehingga malam itu sebelum tidur mereka giat melakukan latihan gerakan silat yang telah diajarkan oleh majikan mereka.

Apa yang diduga oleh Si Kwi memang terbukti kebenarannya. Tiga hari kemudi­an, pada suatu pagi, muncullah dua puluh orang lebih yang dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi kurus berusia empat puluh tahun. Laki-laki ini memegang sebatang tombak gagang panjang, sikapnya gagah dan pakaiannya mewah. Wajahnya yang kurus itu kekuning-kuningan, matanya sipit namun sinarnya tajam. Sikapnya tidak sekasar para anak buahnya yang rata-rata memiliki tubuh tinggi besar dan nampak kuat-kuat, orang-orang yang biasa mengandalkan kekasaran dan ke­kerasan.

Sekali ini Si Kwi sudah siap siaga. Dengan pedang di pinggang dan sekantung Hek-tok-ting tergantung pula di pinggang, dia menyambut kedatangan mereka di pekarangan istana. Lima orang pelayan­nya, biarpun belum pandai ilmu silat, namun merekapun sudah berdiri di serambi, berjajar dengan pedang di tangan dan hati berdebar tegang! Sin Liong sudah bersembunyi lagi, seperti seekor monyet kini dia memanjat gen­teng dan bersembunyi di wuwungan gen­teng istana, sambil mengintai!

Dengan kedua tangan bertolak ping­gang dan kedua kaki terpentang lebar, sikap gagah dan tenang sekali, Si Kwi berdiri menanti kedatangan mereka. Setelah gerombolan itu tiba di dalam pekarangan depan istana yang lebar, si kepala rampok mengangkat tangan kiri ke atas dan anak buahnya berhenti, lalu membuat barisan melengkung setengah lingkaran menghadapi Si Kwi yang sama sekali tidak bergerak, berkedippun tidak, akan tetapi dengan pandang matanya Si Kwi sudah mengukur dan mengira-ngira berapa orang akan dapat dirobohkan kalau sekaligus dia menyebarkan paku-paku hitamnya! Ditaksirnya bahwa sedikitnya sepuluh orang akan dapat dirobohkannya dan persediaan paku di kantungnya ada lima puluh batang lebih. Dia sama sekali tidak khawatir dan dia menatap langsung kepada kepala perampok itu, menaksir-naksir dan menyelidiki. Biarpun orang itu kelihatan paling lemah tubuhnya, namun tentu merupakan orang yang terlihai di antara mereka. Orangnya tidak tinggi besar, akan tetapi tombak di tangannya itu kelihatan berat, tanda bahwa kepala perampok itu tentu seorang ahli lwee-keh yang mengandalkan tenaga dalam yang kuat. Juga, seorang yang mengandalkan ilmu tombak adalah seorang ahli silat yang sudah tinggi ilmunya, karena ilmu tombak lebih sukar dipelajari daripada ilmu senjata lainnya. Maka dia memandang orang itu dengan sikap hati-hati.

Si kepala perampok juga bukan seorang yang bodoh atau ceroboh seperti anak buahnya yang datang tiga hari yang lalu itu. Dia sudah mendengar pelaporan anak buahnya yang berhasil menyelamat­kan diri betapa siluman wanita cantik dari Istana Lembah Naga, seorang diri saja berhasil membunuh lima orang anak buahnya dengan mudah! Maka diapun sudah dapat menduga bahwa tentu wanita muda cantik itu seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan.

Akan tetapi, setelah berhadapan kepala perampok itu merasa heran. Belum pernah dia melihat tokoh kang-ouw seperti wanita ini, dan belum pernah dia mendengar tentang seorang tokoh wanita yang buntung tangan kirinya di dunia persilatan. Dia meragu, dan setelah melihat anak buahnya berhenti, dia lalu melangkah maju sampai dia berhadapan dalam jarak tiga tombak dari wanita itu. Sejenak mereka saling pandang, seperti dua ekor jago yang hendak bertarung dan saling menaksir keadaan lawan masing-masing.

“Toanio,” si kepala perampok akhirnya berkata, sikapnya cukup hormat, akan tetapi dia tidak memberi hormat. “Saya adalah Coa Lok, di dunia kang-ouw ter­kenal dengan julukan Sin-jio (Tombak Sakti). Bersama para pengikut saya, kami tinggal di Padang Bangkai dan boleh dibilang semenjak setengah tahun yang lalu, saya adalah majikan Padang Bangkai.”

Si Kwi menjebikan bibirnya. “Hemm, majikan Padang Bangkai adalah mendiang Ang-bin Ciu-kwi yang sekarang telah mati dan setahuku, dia tidak mewariskannya kepada siapapun juga.”

Sin-jio Coa tok memandang dengan alis berketut dan mukanya yang berwarna kuning itu menjadi agak kemerahan. Untuk mengatasi rasa tidak enak di hatinya ini dia menumbuk tanah dengan gagang tombaknya, kemudian dia berkata lantang, “Memang tidak ada yang mewariskan kepadaku, akan tetapi mendiang Ang-bin Ciu-kwi adalah seorang sahabatku yang baik, maka kurasa sudah se­pantasnya kalau aku melanjutkan pemeliharaan atas bekas tempat tinggalnya itu. Apakah ada yang berkebaratan terhadap hal itu?” Pertanyaan itu mengandung tantangan dan matanya memandang tajam kepada Si Kwi.

Kembali Si Kwi mengeluarkan ejekan dari hidungnya. “Huh, siapa perduli ten­tang Padang Bangkai tempat buruk terkutuk itu? Aku adalah pemilik dan peng­huni Istana Lembah Naga dan aku tidak perduli siapa yang menempati Padang Bangkai!”

Kepala perampok itu menarik napas lega, kemudian suaranya tidak begitu lantang ketika dia berkata lagi, “Toanio yang sudah mengenal mendiang Ang-bin Ciu-kwi, tentu bukan sembarang orang dan bolehkan kami mengetahui nama dan julukan toanio?”

“Namaku Liong Si Kwi, orang me­nyebutku Ang-yan-cu, dan mendiang suboku adalah Hek I Siankouw dan suhuku adalah Hwa Hwa Cinjin.” Si Kwi yang tidak ingin mencari perkara itu sudah sengaja menyebut nama mendiang subo­nya dan kekasih subonya untuk membikin keder hati orang itu. Dan usahanya memang berhasil. Kepala perampok itu terbelalak dan tercengang, kelihatan gentar juga. Akan tetapi dia segera ter­ingat bahwa tokoh-tokoh kaum sesat yang pernah menggemparkan dunia kaum sesat itu sekarang telah mati, hanya tinggal namanya saja, maka dia ter­senyum dan berkata. “Ah, kiranya Liong-toanio adalah murid para locianpwe itu!”

“Kalau engkau sudah mengenal men­diang subo dan suhu, itu baik sekali dan kuharap kau suka pergi saja secepatnya dari sini,” kata Si Kwi yang sebenarnya sama sekali tidak merasa takut atau gentar, hanya dia segan untuk bermusuh­an. Apalagi orang-orang ini adalah peng­huni Padang Bangkai yang boleh dibilang adalah tetangganya, maka hidupnya dan hidup anaknya tidak akan menjadi tenang dan tenteram kalau dia bermusuhan dengan Padang Bangkai.

“Toanio, sebenarnya kamipun tidak ingin mengganggu toanio kalau saja toanio tidak membunuh lima orang anak buah kami tiga hari yang lalu.” Kepala perampok itu mulai mengakui maksud kedatangannya, akan tetapi, dengan hati-hati dan tidak mau sembrono setelah dia mendengar bahwa Ang-yan-cu Liong Si Kwi ini adalah murid Hek I Siankouw.

Si Kwi maklum bahwa kepala pe­rampok itu telah mulai membuka kartu­nya. Maka diapun tidak berlaku sungkan lagi dan segera dia berkata dengan suara lantang, “Sin-jio Coa Lok! Apakah engkau tidak memperoleh laporan lengkap dari anak buahmu yang dapat lolos dari tanganku itu? Tanyakan saja kepadanya apa yang menyebabkan lima orang anak buahmu mati di sini terbunuh olehku!”

Wajah kepala perampok itu menjadi merah, akan tetapi di depan anak buahnya dia tidak boleh memperlihatkan sikap terlalu mengalah, apalagi jerih meng­hadapi wanita cantik ini. Maka dia ber­kata, “Liong-toanio, tentu saja aku sudah menerima laporah, akan tetapi aku ingin mendengar keterangan dari pembunuhnya sendiri.”

“Hemmm, begitukah? Nah, dengarlah baik-baik. Tiga hari yang lalu, di malam hari muncul enam orang anak buahmu. Mereka muncul dan menghinaku, me­ngeluarkan kata-kata kotor dan tidak se­nonoh, kemudian mereka hendak menggunakan kekerasan menghina aku dan lima orang pelayanku. Coba kaujawab, tai-ong, apakah perbuatan mereka itu tidak patut untuk dihukum mati? Apakah kau sengaja datang untuk membela mereka yang telah berani menghina aku?” Pertanyaan terakhir ini merupakan tan­tangan yang tidak langsung.

Coa Lok menoleh kepada anak buahnya dan melihat betapa wajah anak buahnya kelihatan penasaran dan marah, dia merasa tidak enak kalau tidak memperlihatkan sikap marah dan penuh teguran kepada wanita ini. “Liong-toanio, tentu engkau tahu akan sikap laki-laki yang telah lama tinggal di hutan belukar dan jauh dari wanita. Tentu saja aku datang bukan untuk membela kekurangajaran mereka, akan tetapi sebagai seorang pemimpin mereka, tentu saja aku tidak merelakan kematian mereka begitu saja, baik olehmu maupun oleh siapapun juga.”

“Bagus! Lalu kau mau apa? Mau mengeroyok aku? Majulah, jangan kira aku takut menghadapi pengeroyokan semua anak buahmu!” Si Kwi sengaja mengeluarkan gertakan ini untuk menying­gung kehormatan Coa Lok sebagai seorang kepala perampok yang berkepandaian.

“Ho-ho, kau sungguh tekebur, toanio. Aku tahu bahwa engkau lihai, akan tetapi jangan kira bahwa engkau akan mudah mengalahkan tombakku. Kalau engkau mampu mengalahkan tombakku ini, barulah aku mengakui kelihalanmu dan akan bersedia mintakan maaf kepada­mu bagi para anak buahku dan selanjut­nya tidak akan mengganggu Istana Lembah Naga.”

“Baik, hendak kucoba bagaimana kepandaianmu, tai-ong. Dan akupun sama sekali tidak berniat untuk memusuhi Padang Bangkai. Akan tetapi siapapun yang datang mengganggu, baik dari Padang Bangkai maupun dari akhirat, tentu akan kuhadapi dengan pedang di tangan!” Setelah berkata demikian, tangan kanan wanita itu bergerak ke pinggang.

“Singgg...!” Nampak sinar menyilaukan dan pedang itu telah dicabutnya, pedang yang berkilauan saking tajamnya karena semenjak terjadi penyerbuan maka tiga hari yang lalu, Si Kwi menyuruh pelayannya mengasah pedang itu sampai mengkilap.

“Liong-toanio!” kata Coa Lok sambil melintangkan tombaknya di depan dada dengan sikap gagah. “Aku sudah berianji bahwa kalau engkau dapat mengalahkan tombakku, aku berjanji tidak akan memperbolehkan siapapun menggangu Istana Lembah Naga. Akan tetapi bagaimana kalau engkau tidak mampu mengalahkan tombakku dan sebaliknya aku mengalah­kan pedangmu?”

Si Kwi berpikir sejenak. Mereka ini adalah sebangsa perampok, gerombolan orang kasar yang kejam. Tentu mereka akan melakukan kekerasan kalau dia sampai kalah oleh kepala perampok itu. Maka dia harus menjanjikan hal yang lebih menguntungkan mereka untuk mencegah mereka melakukan pemerkosaan dan siksaan kalau sampai dia benar kalah, hal yang dia anggap mustahil.

“Kalau aku sampi kalah olehmu, Sin-jio Coa Lok, aku berjanji akan pergi bersama anakku dan para pelayanku meninggalkan tempat ini dan menyerah­kan Istana Lembah Naga ini kepadamu.”

Berseri wajah kepala perampok itu. “Bagus! Itu janji yang adil!” serunya.

Si Kwi tidak menjanjikan hal terdorong oleh pikiran pendek. Wanita ini maklum bahwa tanpa dijanjikan sekalipun, kalau sempai dia kalah bukan saja dia dan para pelayannya akan mengalami malapetaka dan akan diperkosa, akan tetapi mungkin anaknya akan dibunuh dan istana itu tidak urung tentu akan dikuasai oleh mereka!

“Nah, kita sudah berjanji sebagai orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan. Mulailah, tai-ong!” dia menantang, pedangnya melintang depan dada, kedua lutut ditekuk dan lengan kiri yang tidak bertangan itu menunjuk ke samping dengan lengan dikembangkan.

“Jagalah, toanio!” Coa Lok yang diingatkan akan kegagahan itu lalu berlagak, memperingatkah dulu sebelum menyerang seperti sikap seorang gagah tulen, padahal dia adalah kepala perampok yang biasanya tidak memperdulikan sopan santun para pendekar persilatan! Tombaknya membuat lingkaran lebar dan ujungnya tergetar ketika menusuk ke arah dada Si Kwi dengan kecepatan seperti kilat menyambar.

“Hyaaaahhhh...!” kepala perampok itu membentak ketika mata tombaknya menyambar ganas.

“Haaaaiiiitttt...!” Si Kwi cepat mengelak dan dia terkejut juga menyaksikan betapa tombak itu menyambar luar biasa cepatnya. Tahulah dia bahwa lawannya ini tidak percuma memiliki julukan Sin-jio (Tombak Sakti) karena ternyata ilmu
tombaknya memang amat cepat gerakannya. Dia tidak hanya mengelak, melainkan mengelak sambil mengirim serangan balasan, yaitu menusuk dari samping sambil mencondongkan tubuhnya.

“Singg...tranggg...!” Kini Coa Lok yang terkejut. Tak disangkanya bahwa wanita bertangan kiri buntung itu dapat membalas demikian cepatnya, maka diapun memutar tombaknya menggunakan gagang tombak untuk menangkis tusukan pedang. Sambil me­mutar tombaknya membentuk lingkaran lebar, dia kembali menyerang, ujung tombaknya tergetar dan pecah-pecah bayangannya menjadi empat lima batang yang kesemuanya menyerang Si Kwi dari berbagai jurusan dan selain itu, juga tombaknya yang tergetar itu mengeluar­kan bunyi nyaring.

“Bagus...!” Si Kwi memuji karena memang dia kagum menyaksikan ilmu tombak yang dahsyat ini. Diapun tidak mau membiarkan dirinya terancam bahaya. Maklum akan kehebatan ilmu tombak lawan, dia lalu mengeluarkan suara melengking nyaring dan dia memutar pedangnya dan mainkan ilmu pedangnya yang amat hebat. Itulah ilmu pedang yang berdasarkan ilmu Im-yang-lian-hoan-kun. Ilmu ini sebenarnya adalah gabungan dari ilmu Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw, ilmu yang dimainkan oleh dua orang kakek dan nenek itu merupakan ilmu pasangan yang amat tangguh. Akan tetapi kakek dan nenek itu telah menciptakan ilmu gabungan ini menjadi semacam ilmu silat yang disarikan dari penggabungan itu, dan ilmu yang berdasarkan percampuran sifat Im dan Yang ini dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan senjata, terutama senjata pedang.

“Eh...!” Coa Lok terkejut bukan main ketika melihat sinar berkilauan, bergulung-gulung, seperti seekor naga yang bermain-main di angkasa itu. Sinar yang bergulung-gulung itu kini menggulung sinar tombaknya, merupakan benteng sinar yang mencegah tombaknya menembus dan di lain fihak dari gulungan sinar itu mencuat sinar-sinar ujung pedang yang menyerangnya secara bertubi dan amat berbahaya.

Setelah mengerahkan gin-kangnya dan mendesak kepala perampok itu, mengertilah Si Kwi bahwa tingkat kepandaian perampok ini memang sudah cukup tinggi, tenaga sin-kangnya juga sudah cukup kuat sehingga dia hanya dapat mengandalkan gin-kangnya saja yang masih melebihi lawan, sehinga kalau dia mau, tentu dia dapat merobohkan dan menewaskan kepala perampok itu. Akan tetapi dia mengerti bahwa hal itu amatlah tidak baik. Kecuali kalau dia berkeinginan menundukkan para perampok dan me­rampas kedudukan kepala dari Coa Lok. Akan tetapi dia tidak ingin mengepalai para perampok ini, apalagi menguasai Padang Bangkai. Dia harus berbaik dengan mereka ini dan menaklukkan mereka tanpa membunuh sehingga dia dapat mempunyai tetangga yang boleh diandalkan bantuannya kalau dia memerlu­kannya.

Akan tetapi, karena dalam hal ilmu silat dan tenaga dia tidak menang ba­nyak, dan dia hanya mengandalkan gin-kang, maka tidaklah mudah baginya untuk merobohkan lawan tanpa melukainya. Maka dia lalu menggunakan akal.

Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan ke­ras dan tubuhnya yang bergerak cepat sekali ltu telah mencelat ke belakang, berjungkir balik dan terdengar dia ber­seru, “Tai-ong, awas paku!”

Sin-jio Coa Lok sudah mendengar dari pelaporan seorang anak buahhya yang berhasil lolos dari tangan maut Si Kwi bahwa wanita ini mahir sekali mengguna­kan senjata dengan melontarkannya, maka dia terkejut dan siap-siap. Akan tetapi, tiba-tiba saja ada tiga sinar menyambar dari tangan Si Kwi yang sudah menyimpan pedangnya dan telah menggunakan tiga batang paku untuk menyerang. Tiga batang paku itu meyambar ke arah tangan kanan lawan, dan yang dua menyambar ke arah kedua kakinya.

Sin-jio Coa Lok terkejut dan cepat meloncat ke atas sambil memutar tom­bakny
a. Dua batang paku dapat dielakkannya dan yang sebatang lagi dapat dit­angkisnya dengan gagang tombak, akan tetapi dengan kecepatan kilat, menyusul paku-pakunya tadi, Si Kwi telah menerjang lagi dengan pedangnya secara hebat sekali.

“Trang-cringgg... plakkk!” Dua kali pedangnya dapat ditangkis oleh Coa Lok yang sudah terhuyung, akan tetapi sebuah tendangan kilat dari kaki kiri Si Kwi dengan tepat mengenai lutut kaki kanan kepala perampok itu sehingga tak dapat ditahannya lagi dia jatuh berlutut dengan kaki kanannya. Tubuh Si Kwi berkelebat, tombak menyambar akan tetapi Si Kwi menendang gagang tombak, sehingga serangan tombak menyeleweng dan sebelum Coa Lok dapat mengulangi serangan sambil berlutut itu, pedang di tangan Si Kwi telah menempel di lehernya dari belakang!

“Sin-jio Coa Lok, engkau terlambat!” kaka Si Kwi, akan tetapi dia lalu me­loncat lagi ke belakang dan menyimpan pedangnya.

Wajah Sin-jio Coa Lok berubah pucat, lalu menjadi merah sekali dan dia bangkit berdiri, menyeringai dan mengurut-urut lututnya yang kena tendang, lalu menancapkgn tombaknya di atas tanah di depannya. Di maklum bahwa sudah jelas wanita itu tadi memperoleh kemenangan dan kalau wanita itu menghendaki, tentu dia sudah menggeletak tak bernyawa lagi. Maka, dia lalu menjura dan berkata, “Liong-toanio, sungguh engkau amat gagah perkasa. Aku Sin-jio Coa Lok mengaku kalah dan aku berjanji tidak akan mengganggu lagi Istana Lembah Naga, bahkan siapapun orang luar yang berani memasuki daerah Lembah Naga, sebelum bertemu dengan toanio akan berhadapan lebih dulu dengan tombakku.”

Si Kwi tersenyum dengan hati girang sekali. Dia telah menaklukkan orang-orang kasar ini. Maka diapun balas menjura. “Tai-ong terlalu merendah. Ilmumu amat hebat dan kalau tidak mengandalkan Hek-tok-ting, belum tentu aku dapat
menang. Kita adalah tetangga dan sudah sepatutnya kalau kita berbaik. Maafkan tentang peristiwa tiga hari yang lalu, tai-ong, karena hal itu terjadi karena salah paham.”

“Toanio baik sekali, gagah sekali, maafkan kami.” Sin-jio Coa Lok lalu terpincang-pincang meninggalkan tempat itu sambil menyeret tombaknya setelah memberi isyarat kepada anak buahnya. Para perampok itu memandang kepada Si Kwi dengan penuh kagum, mereka juga membungkuk sebagai tanda penghormatan kepada wanita lihai itu lalu mereka semua pergi mengikuti kepala mereka, Si Kwi memang cerdik sekali. Dia telah berhasil menundukkan hati para perampok yang ganas itu. Mula-mula dia memperli­hatkan kelihaiannya dan juga kekejamannya yang tidak mengenal ampun ketika dia membunuhi para perampok yang berani menyerbu istana. Kemudian, ketika kepala perampok datang bersama anak buahnya, dia mengalahkan kepala perampok tanpa membunuhnya! Sekaligus dia memperlihgtkan bahwa dia berbahaya namun juga pengampun kalau tidak di­ganggu! Dan kepala perampok yang ber­juluk Sin-jio (Tombak Sakti) itu benar-benar merasa takluk dan tunduk, se­hingga dia segera melupakan kematian anak buahnya karena dengan kepandaian­nya kalau wanita yang buntung tangan kirinya itupun telah mengampuninya, dan dia tahu kalau wanita itu meinghendaki, tentu dia tadi akan dapat dibunuhnya dengan mudah! Hal ini sekaligus men­datangkan rasa takluk, segan dan juga hormat di dalam hatinya dan semua hal ini tentu saja merupakan keuntungan besar bagi Si Kwi.

Keadaan di dalam istana itu penuh dengan harta yang besar sehingga Si Kwi dapat hidup mewah dan cukup terjamin. Kini wanita ini nampak penuh gairah hidup, gembira dan bersemangat, kelihatan cantik dan selalu berpakaian indah serba merah. Dia kini lebih tekun melatih diri bersama lima orang pelayannya, dan hanya kadang-kadang saja wanita ini duduk melamun seorang diri dengan hati penuh kerinduan. Rindu kepada Bun Houw dan rindu kepada cinta kasih seorang pria! Hanya Sin Liong seorang yang menjadi penghiburnya, akan tetapi anak ini masih suka untuk bermain-main dengan para monyet besar. Si Kwi tidak melarangnya, karena dia maklum bahwa kalau dia melarang, terdapat bahaya bahwa dia akan kehilangan kasih sayang anak itu yang mulai diperlihatkan ter­hadap dirinya. Demikianlah, biarpun hidup di tempat terasing, namun Si Kwi me­rasa cukup bergembira.

Di kaki Pegunungan Khing-an-san se­belah selatan itu terdapat sebuah dusun yang cukup besar dan ramai. Dusun itu selama beberapa tahun ini mengalami kemajuan setelah penghuninya mengusaha­kan rempah-rempah dan daun atau akar obat yang banyak tumbuh di sekitar kaki gunung itu. Setelah mendapat kenyataan bahwa kota-kota besar amat membutuh­kan barang-barang itu, maka penghuni dusun Pek-hwa-cung lalu beramai-ramai menanam dan memelihara tanaman-tanaman berharga itu.

Tempat yang ramai dan makmur se­lalu menarik perhatian orang, Pek-hwa-cung juga demikian. Mendengar betapa dusun itu ramai dan mencari penghasilan di daerah itu mudah sekaii dibandingkan dengan daerah lain, maka banyaklah penduduk-penduduk baru berdatangan dari lain daerah, sehingga dusun itu makin menjadi besar dan ramai.

Akan tetapi, Bhe Coan bukanlah penghuni baru di dusun itu. Dia terhitung penghuni lama karena ayahnya yang telah meninggal merupakan seorang di antara para pembangun atau penemu tempat itu dan dia sejak kecil tinggal di Pek-hwa-cung. Seperti mendiang ayahnya, Bhe Coan juga merupakan seorang pandai besi yang ahli dan pandai. Boleh dibilang segala keperluan penduduk Pek-hwa-cung yang berupa besi adalah buatan orang she Bhe inilah. Akan tetapi, kalau hanya membuat alat-alat besi saja keahlian Bhe Coang agaknya namanya tidak akan ter­kenal dan dia tentu hanya menjadi seorang pandai besi biasa saja yang banyak terdapat di dunia ini. Tidak, Bhe Coan bukanlah pandai besi biasa dan dia memiliki suatu keahlian lain dalam menggembleng dan membentuk baja, keahlian yang tidak dimiliki oleh ayahnya dan yang dia pelajari dari seorang sakti yang kebetulan pada suatu waktu lewat di Pek-hwa-cung dan mengajarkan kepandaian itu kepada Bhe Coan. Kepandaian itu adalah keahlian membuat senjata, khususnya senjata pedang.

Pedang buatan Bhe Coan mempunyai bentuk yang indah dan yang lebih penting lagi, memiliki berat yang seimbang antara gagang dan mata pedang sehingga enak sekali dipakai. Selain itu, juga pandai besi ini memilih bahan pedang yang amat baik. Ilmu ini merupakan kepandaian istimewa yang tidak mudah ditiru orang, dan membuat namanya menjadi terkenal di dunia kang-ouw, sungguhpun Bhe Coan bukan seorang ahli silat yang pandai, melainkan seorang pandai besi yang bertubuh kuat, berwatak keras dan jujur, dan mengenal ilmu silat, biarpun dia pernah mempelajarinya, namun tidak secara mendalam. Ketenaran­nya di dunia kang-ouw bukan karena ilmu silatnya melainkan karena kepandaiannya membuat pedang itulah. Banyak sudah tokoh-tokoh kang-ouw yang mengunjunginya dan minta dibuat­kan pedang. Mereka itu, berani membayar berapapun juga sehingga Bhe Coan tidak kckurangan penghasilan dan di dalam dusun Pek-hwa-cong dia terkenal sebagai seorang yang cukup mampu karena penghasilannya membuat pedang-pedang itu. Bahkan dia mengenal banyak tokoh kang-ouw yang semua, baik dari golongan hitam maupun putih, datang minta dibuat­kan pedang olehnya.
Akan tetapi, kalau pandai besi ini dapat dikatakan berhasil dalam pekerjaannya, sebaliknya dalam kehidupan rumah tanggahya dia tertimpa nasib buruk. Kurang lebih dua tahun yang lalu isterinya meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang pertama. Pandai besi ini menikah ketika dia berusia tiga puluh lima tahun, menikah dengan seorang gadis Pek-hwa-cung juga, seorang gadis petani biasa yang sederhana. Selama tiga tahun menikah, barulah isterinya mengandung. Akan tetapi, dua tahun yang lalu, ketika melahirkan seorang bayi perempuan, isterinya itu meninggal dunia!

Bhe Coan yang amat mencinta isterinya, hampir gila oleh kedukaan. Kalau pada waktu itu tidak ada banyak orang, yaitu para tetangganya, mungkin saja akan dibanting dan dibunuhnya anak perempuan yang terlahir selamat itu karena dia menganggap anak itulah yang menyebabkan kematian isterinya tercinta! Para tetangga mengingatkan dia dan akhirnya dia sadar, biarpun sukar baginya untuk mengatasi kesedihannya ditinggal mati oleh isterinya yahg tercinta itu. Dia hidup menduda dan memanggil seorang inang pengasuh untuk merawat anaknya yang diberi nama Bhe Bi Cu.

Seperti kita ketahui, dusun Pek-hwa-cung yang makin makmur itu menarik banyak penghuni baru dah beberapa bulan semenjak kematian isteri Bhe Coan, di dusun Pek-hwa-cung itu datanglah se­orang janda muda yang cantik manis dan bersikap genit. Janda muda ini telah tiga tahun ditinggal mati suaminya, tanpa anak dan usianya baru tiga puluh tahun. Wajahnya memang manis dan sikapnya menarik. Dia tinggal bersama ibunya yang sudah tua di dusun Pek-hwa-cung. Sebagai penghuni baru dan karena janda ini pandai menyulam dan menjahit, maka dia segera dapat bekerja dan memperoleh penghasilan yang cukup lumayan di dusun yang mulai maju itu dari hasil menjahit pakaian.

Banyak pria di Pek-hwa-cung terpikat oleh kecantikan janda muda itu dan di antara mereka yang terpikat, termasuk pula Bhe Coan! Dan karena keadaan pandai besi ini cukup mampu, juga dia merupakan seorang duda yang baru se­tahun ditinggal mati isterinya maka menanglah Bhe Coan dalam persaingan itu dtn pada suatu hari, secara resmi dia memboyong janda itu menjadi isterinya! Dan ternyata bahwa janda itu amat pandai merayu hati pria sehingga ter­obatlah kedukaan Bhe Coan ditinggal mati isterinya dan dia jatuh bertekuk lutut di depan kaki isterinya dalam waktu beberapa bulan saja!

Karena dia tergila-gila, maka dia menurut saja ketika isterinya minta kepadanya agar Bhe Bi Cu, anak perempuannya yang baru berusia setahun itu, disingkirkan dari dalam rumah.

“Suamiku, kalau engkau menghendaki agar hubungan cinta kasih antara kita lancar dan bersih dari gangguan, sebaiknya kalau Bi Cu itu kauserahkan kepada orang lain agar dirawatnya, jangan dirawat di dalam rumah ini. Kalau dia masih di sini, mana mungkin aku melupakan bahwa engkau bukanlah milikku sepenuhnya, melainkan masih ada ikatan dengan mendiang isterimu? Ingat, aku sendiri telah bebas dan terlepas sama sekali dari mendiang suamiku yang tidak meninggalkan apa-apa untuk diingat.”

Bhe Coan adalah seorang pandai besi yang kasar dan jujur, dan karena ini agaknya dia seperti seorang yang bodoh. Dia menganggap bahwa pendapat isterinya itu benar belaka dan akhirnya, setelah memilih-milih, dia lalu menyerahkan Bhe Bi Cu kepada seorang piauwsu (pengawal barang berharga) yang dikenalnya dengan baik. Piauwsu ini adalah seorang kepala piauwsu yang terkenal di kota Shen-yang di Propinsi Liao-ning dan dia terkenal sebagai pengawal barang-barang yang keluar masuk batas propinsi di utara, kcluar atau masuk daerah propinsi itu.

Piauwsu itu bernama Na Ceng Han dan sudah lama mengenal Bhe Coan karena pandai besi inilah yang selalu dipesannya membuat pedang untuk dia sendiri dan para anak buahnya, bahkan Na-piauwsu itu pernah membawa bahan baja yang luar biasa, yang didapatnya di daerah suku liar di utara, kemudian baja murni yang mengeluarkan sinar ini dijadikan sebatang pedang oleh Bhe Coan yang kemudian menjadi pedang kesayangan Na-piauwsu. Ketika pada suatu hari Na-piauwsu lewat di dusun Pek-hwa-cung dan mengunjungi Bhe Coan, maka pandai besi ini lalu memilihnya sebagai ayah angkat Bhe Bi Cu. Dan kebetulan sekali bahwa Na-piauwsu memang sudah lama menginginkan seorang anak perempuan. Dia hanya mempunyai seorang anak laki-laki saja, anak tunggal yang kini telah berusia empat tahun. Maka ketika dia ditawari oleh sahabatnya itu untuk menjadi ayah angkat dan merawat Si Cu, dia menjadi girang bukan main. Dia mengerti akan keadaan Bhe Coan yang menikah dengan janda cantik itu.

Na Ceng Han adalah seorang kango-uw yang sudah banyak pengalaman, dan dia mempunyai pandangan yang bijaksana sekali. Andaikata sahabatnya itu belum menikah dengan janda itu, tentu dia dapat memberi nasehatnya. Akan tetapi, Bhe Coan telah menjadi suami isteri dengan wanita itu, maka dia tidak dapat berkata apa-apa lagi dan maklum bahwa kehadiran anak perempuan itu hanya akan menjadi bahan percekcokan antara suami isteri itu yang akhirnya akan membuat Bhe Coan merasa tersiksa hidupnya. Selain ini, juga dia suka sekali melihat Bi Cu yang sehat dan mungil, maka dia menerimanya dan dibawanyalah anak perempuan berusia setahun lebih itu pulang ke Shen-yang.

.

Seperti juga semua orang Han yang meninggalkan kampung halaman dan merantau jauh di luar tembok besar, seperti keturunan Bhe Coan yang sudah dua keturunan tinggal di luar tembok besar, tentu saja Bhe Coan juga merasa rindu untuk kembali ke selatan dan sebelum isteri pertamanya meninggal, diapun sudah bercita-cita untuk memboyong keluarganya itu ke sebelah dalam tembok besar apabila dia sudah cukup mengumpulkan uang, karena kehidupan di selatan tidaklah mudah. Akan tetapi, setelah dia menikah dengan janda manis itu, harapannya ini membuyar. Isteri barunya itu sama sekali tidak setuju untuk pergi ke selatan. Berbeda dengan Bhe Coan isterinya itu adalah seorang peranakan Mancu sehingga sudah meng­anggap daerah Pegunungan Khing-an-san sebagai kampung halamannya bahkan daerah selatan di sebelah dalam tembok besar merupakan daerah asing baginya.

Betapapun juga, isterinya itu ber­sikap manis kepadanya sehingga dia ter­hibur juga dan biarpun isteri barunya itu belum juga kelihatan mengandung setelah satu tahun menjadi isterinya namun dia merasa cukup gembira, hidup, rukun dengan isterinya yang cantik dan merasa dirinya cukup berbahagia. Bahkan kini isterinya merupakan pendorong baginya untuk bekerja lebih giat, karena isterinya yang baru ini selalu ingin memajukan keadaan mereka, memperbaiki rumah, membeli perabot-perabot baru dan sebagai­nya. Dorongan ini membuat Bhe Coan bersemangat sekali, bekerja dari pagi sampai sore tanpa mengenal lelah, dan malamnya menikmati pelayanan isterinya yang kelihatan amat mencintainya.

Pada suatu hari, selagi Bhe Coan sibuk di dalam dapur kerjanya, menempa besi untuk dibentuknya menjadi tapal kuda memenuhi pesanan para pemilik kuda di dusun itu, muncul seorang laki-laki di pekarangan rumahnya. Pada waktu itu, isteri Bhe Coan kebetulan berada di luar, maka ketika melihat ada seorang pria memasuki pekarangan rumahnya, dia mengangkat muka memperhatikan dan hampir saja kain yang sedang disulamnya itu terlepas dari pegangannya, jantungnya berdebar dan kedua pipinya menjadi ke­merahan, sepasang matanya memandang wajah yang tampan itu penuh kagum. Yang datang itu adalah seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berwajah tampan dan berlenggang dengan lagak sopan santun namun gagah dan agung, lagak seorang sasterawan atau se­orang kongcu golongan atas! Laki-laki itu memiliki wajah yang manis, sepasang matanya tajam bersinar-sinar, mulutnya selalu tersenyum, senyum penuh pikatan, senyum seorang laki-laki yang bisa me­nundukkan hati wanita, seorang laki-laki petualang asmara! Pakaiannya indah dan rapi sekali, pakaian seorang kongcu yang terpelajar atau seorang putera hartawan, dari kain sutera yang halus dan baru, demikian pula sepatutnya masih baru, biarpun waktu itu sepatu dan jubahnya tertutup debu, tanda bahwa dia melakukan perjalanan jauh. Tangan kirinya memegang kendali seekor kuda yang kelihatan juga kelelahan, kuda besar pilihan, kuda yang baik dan mahal pula.

Isteri dari Bhe Coan cepat sadar akan keadaannya dan menurut sepantasnya, dia harus cepat menyembunyikan diri, akan tetapi tadi dia terlongong kagum, maka dia terlambat dan kini pria itu telah berdiri di depannya, menjura penuh hormat dan dengan senyum di bibir dan lirikan mata penuh daya pikat seperti biasa dilakukannya kalau dia berhadapan dengan seorang wanita, apalagi kalau wanita itu muda lagi cantik seperti Leng Ci, isteri dari Bhe Coan itu.

“Nona, harap sudi memaafkan saya kalau saya berani lancang memasuki pekarangan rumah nona. Akan tetapi, saya seorang dari luar daerah ini, datang dari jauh dan tidak mengenal tempat ini. Kalau boleh saya bertanya, benarkah di sini tempat tinggal saudara Bhe Coan, pandai besi ahli pembuat pedang yang terkenal itu?”

Suara pria muda itu halus, tutur sapanya sopan dan sikapnya ramah sehi
gga seketika itu juga hati Leng Ci, nyonya Bhe Coan itu terpikat dan dengan suara gemetar dia menjawab tanpa berani mengangkat muka, menunduk akan tetapi kadang-kadang sepasang matanya yang tajam mengerling dari bawah. “Benar, kongcu, di sini rumah Bhe Coan...”

Suaranya merdu dan lirih, agak gemetar dan tersendat karena jantungnya telah berdegup kencang.

“Ahh... sungguh beruntung sekali saya! Tadi saya mendengar bunyi dencing gemblengan besi di landasan, maka secara untung-untungan saya masuk ke sini. Kiranya benar! Aht nona yang baik, bolehkah saya bertemu dengan dia? Apakah nona ini puterinya?”

Leng Ci tersenyum, senyum simpul yang manis dan tangannya segera menutupi mulut, matanya menyambar seperti gunting tajam lalu terdengar dia menahan kekehnya secara genit. “Ih-hi-hik... saya bukan anaknya, melainkan isterinya... hi-hik.”

“Apa...?” Pemuda sasterawan itu membelalakkan matanya dengan lebar seolah-olah dia mendengar berita tentang sesuatu yang luar biasa dan amat mengherankan. “Nona... eh, nyonya tidak main-main?”

“Mengapa?” Leng Ci bertanya, kini lebih berani dan tidak lagi menutupi mulutnya sehingga mulut yang tersenyum lebar itu memperlihatkan kilauan gigi yang berderet rapi.

“SUNGGUH MATI siapa dapat menduganya? Kouw-nio... eh, toanio sungguh kelihatan masih sangat muda... dan saya mendengar... eh, maaf, saudara Bhe Coan itu sudah berusia hampir empat puluh tahun dan toanio masih kelihatan amat muda... maaf...”

Bukan main senangnya hati Leng Ci mendengar ini. Tidak ada pujian yang lebih mendebarkan jantung seorang wanita daripada dikatakan masih kelihatan muda, apalagi kalau cara mengatakannya seperti pemuda sasterawan ini! “Ahh, kongcu terlalu memuji...” katanya tersipu-sipu, kedua pipinya menjadi kemerahan menambah kemanisannya. “Suami saya memang berusia hampir empat puluh, akan tetapi sayapun sudah... eh, hampir tiga puluh tahun...”

“Ahhh...! Siapa dapat percaya? Menurut pandangan saya, toanio tidak akan lebih dari dua puluh tahun, atau jauh kurang dari itu!”

Jantung nyonya itu makin berdebar, akan tetapi dia khawatir kalau-kalau percakapan yang tidak semestinya itu akan terdengar orang lain, maka dia lalu cepat-cepat berkata, “Kongcu hendak bertemu dengan suami saya?”

“Benar, toanio. Saya bernama Hok Boan she Kui. Saya datang jauh dari selatan dan sengaja mencari suami nyonya untuk memesan pedang yang baik. Berapapun harganya akan saya bayar, karena saya mendengar dari teman-teman bahwa suami nyonya adalah seorang ahli membuat pedang yang pandai. Dan melihat... ehh...” di sini dia menyambung kata-katanya dengan suara berbisik “...melihat nyonya sebagai isterinya, saya tidak ragu-ragu lagi akan kepandaiannya, dia pandai sekali memilih...”

Ucapan itu sudah melewati batas pujian dan sepasang mata Leng Ci mengeluarkan sinar marah. Dia meng­angkat muka memandang wajah itu, siap untuk memaki, akan tetapi melihat wajah itu, melihat sinar mata yang seolah-olah membelainya, senyum yang penuh pikatan dan tantangan itu, hatinya luluh dan dia menunduk kembali.

“Dia bekeria di dapur, harap kongcu langsung masuk ke sana melalui jalan samping. Silakan.” Setelah berkata demikian, Leng Ci lalu memasuki rumah­nya, langsung dia memasuki kamarnya dan menuju ke depan cermin untuk memeriksa keadaan wajah dan bentuk tubuh­nya yang baru saja mendapat pujian se­cara tidak langsung namun amat menyenangkan hatinya itu dari seorang pe­muda yang amat menarik hatinya. Dia tersenyum-senyum melihiat wajahnya kemerahan dan berseri, matanya bersinar-sinar dan otomatis tangannya menyentuh dadanya yang membusung untuk merasa­kan debar jantungnya yang membuat dadanya tergetar.

Sementara itu, sasterawan itu ter­senyum mengikuti langkah nyonya muda yang memasuki rumah itu dengan sinar mata kagum, melihat betapa buah pinggul itu bergerak-gerak membayang di balik pakaian ketika nyonya itu memasuki rumah. Tentu saja sejak pertama kali bertemu dia sudah tahu bahwa yang berdiri di depannya itu adalah seorang wanita muda yang usianya sudah kurang lebih tiga puluh tahun, wanita yang sudah matang. Tentu saja dia tidak ragu-ragu lagi bahwa wanita itu bukanlah seorang gadis dan dia tidak heran mendengar bahwa wanita manis itu adalah isteri ahli pembuat pedang Bhe Coan. Akan tetapi, kebiasaan membuat dia ber­sikap seperti tadi, sikap yang selalu memikat hati wanita manapun yang di­jumpainya, terutama kalau wanita itu muda dan manis seperti Leng Ci.

Setelah mengikat kendali kudanya pada batang pohon yang tumbuh di depan rumah pandai besi itu, sasterawan muda yang bernama Kui Hok Boan itu sambil tersenyum lalu melangkah memasuki pintu di samping rumah dari mana ter­dengar suara berdentang dan berdencing­nya besi bertemu besi.

Ketika dia melangkah memasuki pintu pekarangan samping, tiba-tiba suara ber­dencing itu berhenti, dan ketika dia memasuki pintu dapur di mana suara itu tadi terdengar, dia melihat seorang laki-laki yang hanya memakai celana hitam tanpa baju, muka dan dadanya berlepotan angus, bangkit berdiri dari sebuah bangku yang kotor oleh bubuk besi. Nampak olehnya nyonya rumah yang manis tadi baru saja meninggalkan tempat kerja pandai besi itu, memasuki pintu rumah samping dan melempar kerling dari sudut matanya yang menunduk.

Karena pandai besi itu sudah berdiri dan memandangnya, Kui Hok Boan mem­bungkuk memberi hormat kepada nyonya rumah yang lewat, dengan sikap sopan sekali dan muka tunduk, sedikitpun tidak mengerling kepada wanita yang manis itu, kemudian, setelah wanita itu lenyap di balik pintu, dia mengangkat muka dan menghampiri pandai besi itu. Mereka saling berhadapan, seorang sasterawan muda yang tampan dan bersikap halus, dan seorang pandai besi yang bertubuh kuat berotot dan bertelanjang baju. Keadaan mereka sungguh jauh berbeda, bahkan merupakan kebalikan, maka tidak­lah mengherankan kalau Leng Ci tadi begitu tertarik melihat pemuda sastera­wan itu.

Sejenak Bhe Coan tercengang. Biasanya, mereka yang datang mencarinya untuk memesan pedang adalah orang-orang kang-ouw yang kasar, atau tokoh yang aneh, para piauwsu, para kauwsu (guru silat), atau perwira-perwira dan bahkan dan pula utusan pembesar-pembesar. Akan tetapi belum pernah ada seorang sasterawan memesan pedang! Biasanya, sepanjang pengetahuannya, sasterawan biasa memegang kertas dan pensil untuk menulis, suling atau yangkim untuk bermain musik, atau kwas untuk melukis, sama sekali bukan pedang. Maka dia tercengang dan hanya memandang bengong kepada sasterawan yang bersikap sopan dan berwajah terang berseri itu.

Kui Hok Boan agaknya maklum akan keheranan tuan rumah, maka dia cepat melangkah maju dan menjura dengan hormat. “Tadi saya diperkenankan oleh nyonya rumah yang terhormat untuk masuk ke dapur pekerjaan ini. Benarkah saya berhadapan dengan saudara Bhe Coan, ahli pembuat pedang yang terkenal sampai ke dalam tembok besar?”

Sepasang mata pandai besi itu ber­sinar, tanda bahwa ucapan pemuda saste­rawan itu berkenan di hatinya. Diapun terheran. Biasanya, orang-orang yang kaya, atau berkedudukan, atau berke­pandaian seperti para sasterawan ber­sikap angkuh dan merasa lebih tinggi daripada orang-orang kasar seperti dia, akan tetapi pemuda ini sungguh bersikap sopan dan menyenangkan sekali.

“Ahh, kongcu terlalu memuji. Silakan duduk... ah, akan tetapi bangkunya kotor, khawatir akan mengotorkan pakaian kongcu saja...”

Kui Hok Boan tersenyum lebar, nam­pak giginya yang putih bersih. “Bhe-twako, kiranya twako seorang yang ramah dan gagah. Terimalah salam hor­mat saya, saya Kui Hok Boan, dari kota Shen-yang...”

“Ahhh...!” pandai besi itu kelihatan berseri wajahnya mendengar disebutnya kota ini, dan dia cepat bertanya. “Dari Shen-yang? Apakah kongcu mengenal piauwsu yang juga tinggal di Shen-yang?”

Pemuda she Kui itu mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tahu siapa yang dimaksudkan itu. Nama Na Ceng Han cukup terkenal di Shen-yang. Akan tetapi sebagai seorang yang cerdik sekali, pemuda ini tidak segera menjawab, melainkan memperlihatkan wajah seperti orang kaget dan heran lalu berbalik dia bertanya. “Ada hubungan apakah Bhe-twako dengan Na-piauwsu?”

“Hubungan baik sekali!” Bhe Coan berkata sambil mengangguk. Dia memang orang jujur yang tidak pernah mau menyimpan rahasia. “Dialah sahabat baik saya nomor satu! Bahkan anakku satu-satunya menjadi anak angkat dari Na-piauwsu. Apakah kongcu mengenalnya?”

Wajah sasterawan muda itu berseri dan dia tersenyum, lalu mengangkat kedua tangan menghormat lagi kepada pandai besi itu. “Aihh, kiranya twako adalah sahabat baik piauwsu Na Ceng Han yang terhormat itu? Tentu saja saya mengenalnya, twako. Saya kagum kepada piauwsu yang gagah perkasa itu!”

Wajah pandai besi itu makin berseri dan dia melangkah maju, memegan­g kedua tangan sasterawan itu. “Lui-kongu, saya girang sekali mendengar ini! Apakah kongcu pernah melihat seorang anak perempuan yang kira-kira berusia dua tahun di rumah piauwsu itu? Bagaimana keadaan anak itu?”

Sebagai seorang yang amat cerdik Kui Hok Boan tidak lama-lama menjawab. Dia tersenyum dan dengan wajah gembira, dia berkata, “Bulan yang lalu saya mengunjungi Na-piauwsu dan memang saya melihat seorang anak perempuan kecil, dipangku dan ditimang-timang oleh Na-piauwsu. Bukankah anak itu manis, mungil dan montok sekali?”
Bhe Coan mengangguk-angguk. “Benar... benar... itulah anak saya, itulah Bi Cu anak saya...” Suaranya terdengar agak tergetar karena keharuan dan kegirangan hatinya mendengar bahwa anaknya sehat dan selamat. Dia tidak ingat bahwa sudah tentu saja anak perempuan kecil semua juga manis, mungil dan montok kalau anak itu sehat!

“Kiranya anak itu anak twako? Ah, selamat, twako. Anak twako begitu manis!”

“Ha-ha-ha-ha, Thian agaknya mengutus kongcu untuk datang dan menyampaikan berita menggirangkan itu kepada saya! Ah, kongcu, mari kita duduk di dalam dan bicara. Kongcu merupakan seorang tamu agung bagi saya, tamu yang membawa berita baik sekali. Marilah, kongcu, eh... saya akan mencuci tangan dulu...” Pandai besi itu menghampiri bak air dan mencuci muka dan kedua tangannya sebelum memakai bajunya yang juga hitam kotor.

Dengan wajah gembira dan sikap ramah dan wajar, Bhe Coan lalu meng­gandeng lengan tamunya, dibawa masuk ke dalam rumah. Isterinya menyambut mereka dengan wajah berseri akan tetapi pandang matanya agak terheran melihat tamu yang tampan itu oleh suaminya digandeng dan diajak memasuki rumah.

“Kui-kongcu, perkenalkan, ini isteri saya. Ah, tadi kongcu telah bertemu dengan dia, bukan? Isteriku, ini adalah kongcu Kui Hok Boan dari Shen-yang. Dia membawa berita baik sekali tentang Bi Cu. Anak kita itu selamat dan sehat.”

Kui Hok Boan menjura dan meng­angkat kedua tangan di depan dada sambil menundukkan mukanya dan berkata kepada nyonya muda. itu, “Twaso, maafkan kalau saya mengganggu.”

Wajah nyonya muda itu berseri, kedua pipinya berubah merah dan diapun cepat-cepat menjura dan berkata, “Kongcu adalah sahabat dan tamu suami saya tentu saja tidak mengganggu.”

“Ha-ha-ha, isteriku yang baik, lekas kausediakan masakan dan arak. Kita harus menjamu Kui-kongcu!” kata pandai besi itu dan Leng Ci bergegas meninggal­kan mereka, memasuki dapur dan segera sibuk dengan persiapan hidangan. Diapun merasa gembira sekali dan wajahnya selalu berseri, bibirnya tersenyum dan matanya termenung.

Bhe Coan duduk menghadapi meja dan tamunya duduk di seberangnya. Pandai besi itu menghujankan pertanyaan kepada Kui Hok Boan tentang anaknya di Shen-yang, tentang keadaaan dan keluarga Na Ceng Han, tentang kota Shen-yang dan tentang tokoh-tokoh yang dikenalnya ketika mereka memesan pedang kepadanya. Dan ternyata Kui Hok Boan memiliki pengetahuan yang amat luas. Pemuda ini pandai sekali berbicara sehingga sebentar saja Bhe Coan yang jujur dan bodoh merasa amat tertarik dan kagum, mendengarkan semua penuturan pemuda itu dengan wajah berseri.

Beberapa kali Leng Ci datang menghampiri mereka, menyuguhkan arak dan masakan yang telah diselesaikannya. Dan setiap kali dia mendekati meja, jantungnya berdebar tegang, matanya mengerling tajam dan dia melihat betapa pcmuda tampan itupun mengerling kepadanya secara diam-diam dan halus sambil tetap bercakap-cakap dengan Bhe Coan.

“Kui-kongcu adalah seorang terpelajar, dan pengetahuan kongcu luas sekah sehingga kongcu mengenal semua tokoh kang-ouw dan para pembesar. Akan tetapi, saya sungguh merasa heran mendengar bahwa kongcu hendak memesan pedang! Untuk apakah sebatang pedang bagi seorang sasterawan seperti kongcu?” Akhirnya Bhe Coan bertanya sambil memandang wajah orang itu dengan kagum.

Kui Hok Boan tersenyum lebar dan pada saat itu Leng Ci datang lagi membawer mangkok besar terisi masakan terakhir. Dia meletakkan mangkok itu di atas meja, di samping masakan-masakan lain yang dipersiapkannya secara cepat tadi, dan kini dia berdiri di dekat meja, lalu menyambung ucapan suaminya, “Saya sendiripun belum pernah mendengar suami saya membuatkan pedang untuk seorang sekolahan!”

Bhe Coam tertawa. “Nah, Kui-kongcu. Isteri saya berkata benar. Diapun tentu heran mendengar bahwa kongcu memesan pedang. Kongcu datang berkuda, kalau kongcu memesan tapal kaki kuda, hal itu tentu saja tidak mengherankan. Akan tetapi, pedang...”

“Benar, untuk apakah sebatang pedang bagi kongcu?” Leng Ci bertanya juga, pertanyaan yang diajukan seolah-olah dia juga terheran dan ingin sekali mendengar alasan pemuda itu.

Kui Hok Boan menarik napas panjang. Dia mengerutkan alisnya lalu menjawab, “Sesungguhnya, pedang yang saya pesan bukanlah untuk saya sendiri. Hendaknya Bhe-twako dan twaso mengetahui bahwa tahun ini saya akan mengikuti ujian di kota raja. Saya mengenal pengujinya sebagai seorang pembesar yang suka sekali pedang yang bagus, maka saya hendak membawa oleh-oleh sebatang pedang yang baik sekali untuk hadiah kepadanya. Dan saya mendengar bahwa Bhe-twako di sini adalah seorang ahli pedang yang hebat, maka jauh-jauh saya datang untuk memesan sebatang pedang yang baik dan indah yang akan saya hadiahkan kepada pembesar itu. Saya bersedia untuk membayar berapa saja harga pedang itu...”

“Ahhhh... begitukah? Ha-ha-ha, Kui-kongcu tidak keliru kalau datang kepada saya. Tentang harga pedang, ah, mari kita makan dulu. Urusan itu dapat kita bicarakan nanti.”

“Benar, kongcu. Silakan makan seada­nya, dan maklumlah, karena di dusun maka kami tidak berkesempatan untuk menyajikan masakan yang baik.”

Kui Hok Boan bangkit berdiri dan menjura kepada Bhe Coan, lalu kepada Leng Ci, “Twako dan twaso sungguh budiman dan ramah sekali terhadap saya, menerima kedatangan saya sebagai se­orang anggauta keluarga saja. Oleh karena itu, tidak enak rasanya kalau saya makan sendiri masakan twaso yang sudah berjerih telah membuatkan masak­an-masakan ini. Kalau boleh, saya per­silakan twaso ikut pula makan bersama kami, karena bukankah kalian berdua memperlakukan saya sebagai anggauta keluarga sendiri?”

Bhe Coan adalah seorang dusun yang jujur dan penuh kepercayaan kepada orang lain. Apalagi dia adalah keturunan pandai besi dan sudah menjadi kenyataan bahwa orang-orang yang bekerja sebagai pandai besi sejak kecil biasanya berwatak polos, jujur dan mudah percaya, juga dapat dipercaya. Mendengar ucapan ini dan melihat sikap sasterawan muda yang begitu halus dan ramah, dia tertawa girang dan menarik tangan isterinya yang berdiri menunduk dengan muka merah.

“Ha-ha-ha, Leng Cip isteriku. Kenapa mesti malu-malu? Kui-kongcu berkata benar. Dia adalah seorang tamu agung, seorang sahabat, dan memang seperti anggauta keluarga sendiri. Maka tidak ada salahnya kalau kau menemani kami makan. Duduklah!”

Leng Ci tersenyum malu-malu dan duduk di samping kiri suaminya, berhadapan dengan tamunya yang agak di sebelah kirinya karena Hok Boan duduk tepat berhadapan dengan Bhe Coan. Dengan cekatan nyonya rumah ini lalu menuangkan arak ke dalam cawan tamunya dan suaminya, lalu berkata, “Silakan minum, Kongcu.”

Bhe Coan mengangkat cawannya dan berkata, “Kui-kongcu, mari kita minum untuk menyatakan selamat datang kepada kongcu!”

Hok Boan melirik ke arah Leng Ci dan melihat wanita ini agaknya tidak turut minum, dia lalu tertawa dan berkata, “Twaso, mana arakmu?”

“Ha-ha, benar isteriku, hayo kau ikut minum untuk menghormati Kui-kongcu!”

Leng Ci hanya tersenyum ketika dengan cekatan Hok Boan menuangkan arak dari guci ke dalam cawan di depan nyonya itu. Mereka bertiga lalu minum arak mereka.

“Dan kini saya ingin mengajak twako dan twaso minum untuk menghaturkan terima kasih saya.” Hok Boan berkata, lalu sambil menuangkan arak lagi ke dalam cawan mereka. Kembali mereka minum secawan arak. Mereka silih berganti menghaturkan selamat sambil makan minum dan setelah menghabiskan lima cawan arak, wajah yang manis dari nyonya rumah itu menjadi makin merah, senyumnya makin genit dan matanya yang tajam lebih scring menyambar dengan kerlingan dari sudut matanya ke arah tamunya. Bhe Coan yang juga sudah mulai dipengaruhi arak, tidak melihat perubahan sikap isterinya ini dan kegembiraan isterinya dianggap wajar saja karena tamu mereka itu amat menyenangkan.

Kui Hok Boan tentu saja melihat perubahan sikap wanita di depannya, agak di sebelah kanannya itu. Dia telah banyak berpengalaman dengan wanita, maka bukanlah hal yang lancang atau tidak diperhitungkan ketika tiba-tiba kakinya menyentuh betis kaki nyonya muda itu di bawah meja. Leng Ci sedang membawa sepotong daging ke mulutnya.

“Ihhkk...!” serunya dengan kaget sekali ketika merasa betapa betis kakinya diusap oleh sebuah kaki, matanya terbelalak saking kagetnya melihat keberanian tamu itu.

“Eh, kenapa kau...?” Suaminya bertanya heran.

Wajah itu menjadi merah sekali dan tak dapat menjawab.

“Apakah twaso tersedak? Baiknya diberi minum teh, twaso.” kata Hok Boan dengan kaki masih mengusap betis itu.

Wanita itu menarik kakinya menjauh dan cepat menyambar cangkir teh dan diminumnya teh itu untuk menutup mukanya yang menjadi merah. Jantungnya berdebar keras sekali, akan tetap kini dia menjadi tenang. Setelah minum dia memandang suaminya dan tersenyum.

“Aku tersedak memang, agaknya terlalu banyak minum membikin orang mabok dan tidak menyadari apa yang dilakukannya.” Sambil berkata demikian, dia mengangkat muka memandang wajah pemuda itu dengan sinar mata penuh teguran.

Kui Hok Boan tertawa. “Ha-ha, memang bagi yang tidak biasa minum, arak dapat memabokkan. Akan tetapi bagi yang biasa seperti saya, sukar untuk mabok oleh arak, biarpun tentu saja saya bisa mabok oleh yang lain.” Ucapan ini mengandung arti mendalam dan kembali kedua pipi wanita itu menjadi merah.

Bhe Coan yang polos itu memandang kepada tamunya. “Kongcu, kalau bukan arak yang dapat membikin engkau mabok, habis apa?”

Sasterawan muda itu tersenyum. “Ha-ha twako. Banyak yang dapat membikin mabok orang, yang lebih hebat dari pengaruh arak. Keindahan misalnya, saya bisa mabok melihat sesuatu yang indah menarik...” kembali kongcu itu melirik ke arah nyonya rumah yang kini menunduk karena nyonya ini jelas sekali dapat menangkap arti kata-kata pemuda itu. Apalagi kini tiba-tiba dia merasa ada tangan yang dengan halus mengusap pahanya! Nyonya itu tidak berani bergerak, takut kalau diketahui suaminya, akan tetapi tangan itu merayap-rayap membuat semua bulu di tubuhnya meremang dan jantungnya berdegup demikian kerasnya sehingga dia khawatir suaminya akan mendengar bunyi degup jantungnya itu. Maka dia lalu bangkit berdiri sehingga tentu saja tangan Bok Hoan itu terlepas dari pahanya.

“Sebaiknya aku menyingkirkan mang­kok-mangkok kosong dan mencucinya.” Memang masakan-masakan itu telah mereka makan habis. Mukanya merah sekali, akan tetapi tentu saja kalaupun suaminya melihat ini, tentu akan disangkanya bah­wa muka isterinya itu merah karena terlalu banyak minum arak.

“Dan sayapun harus berpamit untuk mencari penginapan. Twako, berapa lamakah engkau dapat menyelesaikan sebatang pedang yang baik dan indah untukku?”

“Kurang lebih tujuh hari.”

“Sepekan? Kalau begitu aku harus mencari kamar penginapan yang baik untuk tinggal selama sepekan di dusun ini.” Kongcu itu bangkit pula dan men­dengar ini, Leng Ci tidak jadi meninggal­kan meja dan hanya berdiri memandang wajah tampan yang kini agak kemerahan itu. Wajah suaminya juga merah dan kalau kemerahan wajah sasterawan muda itu menambah ketampanannya, adalah kemerahan wajah suaminya baginya me­nambah keburukan dan kebodohan wajah suaminya itu. Betapa jauh perbedaan yang terdapat antara dua orang pria ini! Dan Leng Ci untuk ke sekian kalinya menghela napas panjang.

“Kui-kongcu adalah seperti keluargaku sendiri, suamiku, kalau dia sudi tinggal di rumah kita yang buruk, kamar di belakang itu dapat kubersihkan untuk dia pakai selama dia menunggu jadinya pedang itu,” katanya dengan suara datar sambil memandang suaminya. Sikapnya begitu wajar sebagai seorang nyonya rumah yang baik.

“Kau setuju? Ha-ha, tadinya aku hendak menawarkan kepadanya akan tetapi khawatir engkau tersinggung, maka aku ragu-ragu. Nah, Kui-kongcu, setelah isteriku berkata demikian, aku minta kepadamu untuk tinggal saja di rumah kami...”

“Ah, twaso dan twako sungguh budi­man dan baik sekali kepadaku. Akan tetapi, mana aku berani mengganggu seperti itu?”

“Tidak ada yang mengganggu! Kami persilahkan kongcu tinggal di sini, kecuali tentu saja kalau kongcu merasa rumah ini terlalu buruk dan kotor, maka kami tidak dapat memaksa kalau kongcu mencari kamar lain...” kata Leng Ci.

“Ha-ha-ha, Kui-kongcu, isteriku amat pandai berdebat. Engkau takkan menang, maka harap engkau suka menerima saja, tinggal di sini bersama kami agar kita dapat bercakap-cakap kalau aku sedang berhenti bekerja. Dan selagi aku bekerja, kongcu dapat pergi ke manapun untuk melewatkan waktu menganggur.”

Kui Hok Boan menghela napas mem­perlihatkan sikap kewalahan, lalu dia menjura den berkata, “Baiklah, kalau twako dan twaso menghendaki demikian. Mana mungkin saya berani menolak lagi? Biarlah segala kebaikan kalian itu dapat saya balas dengan imbalan apa saja yang mampu saya lakukan.”

“Ha-ha, bagus sekali! Saya girang sekali, Kui-kongcu...”

“Bhe-twako, sudah menerima segala kebaiken ini, harap twako jangan me­nyebut kongcu kepadaku. Bukankah kita sudah seperti keluarga sendiri? Sebaiknya twako menyebut siauwte saja kepadaku.”

“Ah, mana saya berani?”

“Kalau twako dan twaso bersikap sungkan, mana aku berani tinggal di sini?”

“Ha-ha, engkau pandai berdebat seperti twasomu! Baiklah, Kui-siauwte, sungguh merupakan kehormatan besar bagiku.”

Demikianlah, Hok Boan tinggal di rumah Bhe Coan dan isterinya, tinggal di sebuah kamar di belakang yang telah dibersihkan oleh Leng Ci. Kamar itu berada di bagian paling belakang dan mempunyai pintu belakang yang menembus ke kebun belakang. Dan ternyata sastera­wan muda itu dapat bersikap amat me­nyenangkan, sopan dan ramah. Hal ini membuat Bhe Coan menjadi makin suka sehingga ketika beberapa kali Hok Boan menanyakan harga pedang, dia bilang bahwa hal itu akan dibicarakan kalau pedang telah selesai saja! Dia bermaksud menghadiahkan sebatang pedang kepada tamunya yang amat menyenangkan itu.

Tidak demikian dengan keadaan Leng Ci. Wanita ini merasa tersiksa sekali. Dia makin tertarik, bahkan tergila-gila kepada sasterawan itu. Apalagi ketika dia mendengar suara nyanyian atau tiup­an suling Hok Boan yang sering bermain suling dan bernyanyi seorang diri di dalam kamarnya, dia makin tergila-gila. Bahkan di waktu dia tidur dengan suami­nya, dia sering membayangkan betapa akan senangnya kalau yang tidur di sampingnya itu adalah Hok Boan, bukan suaminya yang kalau tidur mengorok seperti babi disembelih! Akan tetapi, dia adalah isteri Bhe Coan, dan tinggal serumah, tentu saja dia takut untuk men­dekati Hok Boan dan dia selalu meng­hindar, sungguhpun hatinya amat ingin, namun dia tidak berani melayani bujuk rayu yang terpancar dari sepasang mata sasterawan itu apabila bertemu dengan dia.

Kui Hok Boan sendiri merasa penasaran. Dia merasa yakin bahwa nyonya rumah yang manis itu sudah pasti terpikat olehnya dan seperti biasa, dia merasa yakin bahwa dia tidak akan gagal mendekati Leng Ci. Kalau nyonya rumah itu tidak muda dan manis seperti Leng Ci, sudah tentu dia tidak suka tinggal di rumah pandai besi itu, lebih senang ditinggal di penginapan di mana dia dapat bersenang-senang dengan bebas! Kini, melihat betapa nyonya muda yang sudah jelas terpikat olehnya itu seolah-olah takut dan tidak pernah mau mendekatinya, dia merasa penasaran dan nafsunya makin memuncak! Gemaslah rasa hatinya dan dia bertekad untuk mendapatkan wanita itu dengan akal apapun juga!

Demikianlah memang sifat nafsu apapun kalau sudah mencengkeram batin seseorang. Nafsu terdorong oleh pikiran yang membaygkan kesenangan yang akan dinikmatinya. Nafsu adalah keingin­an memperoleh sesuatu yang dianggap amat menyenangkan, bayangan dari pengalaman-pengalaman lalu yang dinikmati, dikunyah kembali seperti seekor kerbau mengunyah daun-daun muda yang tadi telah dimakannya. Kenangan akan kesenangan ini, bayangan akan kesenangan yang diharapkan akan dinikmati nanti, menimbulkan nafsu atau keinginan. Dan makin sukar sesuatu yang diinginkan itu diperoleh, makin berkobarlah nafsu keinginan itu. Nafsu berahi, seperti juga nafsu keinginan lain, akan makin mendorong kita sehingga membuat kita mata gelap, tidak lagi perduli akan cara-cara yang bagaimanapun untuk memperoleh apa yang kita inginkan itu, baik dengan cara yang benar maupun cara yang kotor!

Setelah tinggal di situ selama dua malam dan belum nampak tanda-tanda bahwa dia berkesempatan mendekati nyonya rumah karena di waktu siang nyonya rumah sibuk di dapur kemudian setelah selesai lalu menyembunyikan diri dalam kamar sambil menyulam sedangkan di waklu malam tentu saja Leng Ci tak pernah dapat meninggalkan suaminya. Hok Boan tidak sabar lagi. Sejak pagi itu, telah terdenger suara berdencing di dapur atau bengkel kerja di mana Bhe Coan bekerja dengan giat menyelesaikan pembuatan pedang untuk tamunya.

Hok Boan maklum bahwa setiap pagi Leng Ci mengantarkan secangkir teh kental untuk suaminya di bengkel itu. Dia menanti dan mengintai dari belakang. Ketika dia melihat wanita itu keluar dari kamarnya menuju ke bengkel suaminya, dia cepat berjalan membayanginya dan begitu melihat nyonya itu memasuki pintu bengkel, dia lalu masuk pula dan berkata, “Twako... ah... maaf aku kesiangan... aku... agaknya terserang penyakit demam panas...” Dia berhenti lalu menoleh kepada isteri tuan rumah yang memegang cangkir lalu berkata, “Ah, maafkan, twaso... aku tidak bermaksud mengganggu...”

Bhe Coan terkejut dan cepat bangkit, membersihkan tangannya kepada kain yang tersedia di situ dan memandang pemuda itu. Memang wajah Hok Boan pucat sekali dan kelihatan seperti orang sakit, bahkan berdirinya juga bergoyang-goyang seperti akan jatuh. Bhe Coan cepat menghampiri dan memegangnya agar tidak sampai jatuh, dan ketika dia memegang tangan sasterawan itu, dia terkejut.

“Ah, badanmu panas sekali! Kui-siauwte, kau tidak perlu datang ke sini... ah, jangan-jangan kau terkena penyakit yang berbahaya. Sebaiknya kau pergi saja tidur dan mengaso di kamarmu, siauwte!”

“Agaknya... agaknya... begitulah.” Hok Boan melepaskan tangan tuan rumah dan hendak melangkah ke pintu, akan tetapi dia terhuyung dan tentu jatuh kalau tidak berpegang kepada pintu.

“Aihhh...!” Leng Ci bertertak kaget dan khawatir sekali. “Kau benar-benar sakit, kongcu...!” Dia masih belum dapat menyebut sasterawan itu “adik” seperti yang dilakukan sueminya. “Sebaiknya kita pangglikan tabib...”

“Benar, kau kemballiah ke kamarmu, mari kubantu, siauwte. Nanti kupanggli­kan tabib untukmu.” She Coan lalu memapah pemuda itu keluar dari bengkel­nya, diikuti oleh Leng Ci yang memandang dengan hati kasihan sekali ter­hadap sasterawan itu.

Dengan bantuan Bhe Coan, Hok Boan merebahkan diri di atas pembaringannya, mengeluh lirih dan mukanya makin pucat, dahinya penuh keringat.

“Biar kupangglikan tabib sekarang,” kata Bhe Coan.

“Tidak usah... tidak perlu, twako. Aku hanya mengganggu pekerjaan twako, dan... dan pedang itu menjadi makin terlambat jadinya. Aku pernah terserang penyakit demam seperti ini dan aku... aku bisa... menulis resep obatnya. Tolong ambilkan kertas dan pena bulu... oughhh...” Dia menuding ke atas meja di kamar itu, lalu bangkit duduk dengan sukar.

Leng Ci yang melihat perabot tulis di atas meja lalu mengambilkan apa yang diminta pemuda itu. Dengan jari-jari tangan gemetar, Hok Boan membuat corat-coret di atas kertas, lalu menyerah­kannya kepada Bhe Coan. “Tolong twako suruhan orang membeli obat ini... dan tolong panggil seorang tetangga yang suka melayaniku untuk menggodok obat dan memberi minum setiap jam sekali...”

“Ah, kenapa siauwte demikian sungkan? Isteriku dapat membelikan obat dan untuk melayanimu di waktu sakit, bukankah di sini ada twasomu?”

“Ah, ...aku tidak ingin... membikin susah twaso saja...”

Leng Ci berkata dengan suara terharu. “Kui-kongcu, kau sedang sakit, jangan berpikir yang tidak-tidak dan jangan sungkan. Aku suka untuk merawatmu, bukankah kau seperti adik suamiku sendiri? Nah, aku akan membeli obat.”

Wanita itu melangkah pergi dan Bhe Coan lalu duduk di atas bangku dalam kamar. “Kuharap saja penyakitmu tidak parah, siauwte.”

Hok Boan kembali merebahkan dirinya mencoba untuk tersenyum. “TIdak apa-apa, twako, aku pernah diserang penyakit ini. Asal aku dapat beristirahat beberapa hari dalam kamar dan setiap jam minum obat itu, tentu akan sembuh kembali. Jangan membikin repot twako, dan harap twako kembali ke bengkel menyelesaikan pedang itu...”

“Baiklah kalau begitu. Jangan kau sungkan-sungkan kepada twasomu, siauwte. Anggaplah dia seperti kakak iparmu sendiri. Dia akan merawatmu.”

“Sebaiknya panggilkan saja orang lain... aku... aku merasa tidak enak kalau harus merepotkan twaso...”

“Aaahh, kau terlalu sungkan, sudahlah. Aku akan memberi tahu dia agar merawatmu sebaik mungkin, jangan kau khawatir.” Pandai besi itu lalu meninggalkan Hok Boan yang masih mengeluh lirih, dengan hati-hati menutupkan daun pintu kamar pemuda itu.

Setelah langkah-langkah tuan rumah tidak terdengar lagi dan tak lama kemudian terdengar bunyi dencing besi dipukul, Hok Boan tidak mengeluh lagi, bahkan tersenyum! Dia mengusap peluh di dahinya dan mukanya kembali menjadi merah, lalu dia bangkit duduk, tersenyum dan mengepal tinju. Dapat kau sekarang olehku, manis! Demikian dia berkata kepada diri sendiri. Akal ini sudah di­rencanakan sejak malam tadi dan ternyata berhasil baik sekali.

Siapakah sebenarnya sasterawan muda ini? Orang macam apakah dia dan bagai­mana dia mampu bermain sandiwara sehebat itu sehingga dia dapat berpura-pura sakit sampai dahi dan lehernya mengeluarkan keringat, dan tubuhnya terasa panas, mukanya menjadi pucat sekali?

Tentu saja Kui Hok Boan dapat melakukan hal ini karena dia adalah se­orang ahli lwee-keh yang memiliki sin-kang amat kuat sehingga dengan memperguna­kan sin-kangnya, dia dapat membuat wajahnya pucat, keringatnya bercucuran, dan tubuhnya panas! Sebenarnya, Kui Hok Boan yang selalu berpakaian sebagai sasterawan itu bukan hanya pandai dalam hal sastera, melainkan dia juga seorang ahli silat yang tinggi ilmunya! Di selatan, di dalam tembok besar, namanya sudah terkenal dan dia malang-melintang sebagai seorang petualang besar yang sering kali mengandalkan ilmunya untuk melakukan apa saja yang disenanginya!

Sesungguhnya, orang she Kui yang baru berusia tiga puluh tahun ini bukan­lah seorang jahat, bukan pula termasuk golongan kaum sesat. Sama sekali bukan. Dia seorang petualang yang hidup sen­dirian, malang-melintang mengandalkan kepandaiannya. Akan tetapi dia amat cerdik sehingga dia mempunyai banyak sahabat, baik di kalangan kaum sesat maupun di kalangan para pendekar. Dia sendiri berdiri di tengah-tengah, tidak bergabung pada suatu golongan tertentu. Kadang-kadang, kalau memang hatinya menghendaki dan tentu saja kalau dia melihat keuntungan di dalamnya, dia tidak segan-segan untuk menentang golongan hitam. Akan tetapi, dia sendiri­pun memiliki kelemahan terhadap kesenangan dunia sehingga tidak heran pula melihat dia berhari-hari menghabiskan waktu di rumah judi atau di rumah pelacuran. Juga, dia tidak segan-segan untuk menggunakan wajahnya yang tampan, gerak-geriknya yang halus, dan ilmu silatnya yang tinggi untuk menggoda wanita baik-baik. Akan tetapi dia tidak pernah melakukan perkosaan, tidak pernah menggunakan kekerasan untuk memaksa seorang wanita. Dan memang dengan modal yang ada pada dirinya, jarang sekali dia dikecewakan wanita, jarang sekali ada wanita yang mampu menolak bujuk rayunya!

Beberapa bulan yang lalu, dengar kepandaiannya membujuk rayup dia berhasil menundukkan hati seorang gadis, puteri seorang guru silat di kota Koan-sui. Akan tetapi guru silat itu tidak menyetujui, dan hampir saja dia ter­tangkap basah dan tentu akan dikeroyok kalau dia tidak cepat-cepat melarikan diri. Kalau dia mau melawan, agaknya dia akan dapat mengalahkan guru silat itu dan semua muridnya. Akan tetapi Hok Boan adalah seorang yang cerdik. Dia tidak mau melihat dirinya dimusuhi dunia kang-ouw hanya karena seorang wanita dan di kota Koan-sui terdapat banyak orang pandai. Maka dia terus melarikan diri, dan karena mendengar akan kepandaian Bhe Coan membuat pedang, maka dia sampai tiba di Pek­-hwa-cung, yaitu pertama untuk menjauh­kan diri dari Koan-sui sementara waktu ini, kedua kalinya karena dia ingin memiliki sebatang pedang yang baik. Tentu saja cerita yang dituturkan kepada Bhe Coan dan isterinya bahwa dia hendak mengikuti ujian di kota raja, hanya bohong belaka dan hanya diperguna­kan untuk menarik perhatian mereka ter­utama perhatian nyonya muda itu dan untuk menyembunyikan kepandaiannya dalam ilmu silat.

Kui Hok Boan adalah seorang bekas murid dari Go-bi-pai yang murtad. Dia adalah murid seorang tokoh Go-bi-pai yang terkenal gagah perkasa dan saleh, yaitu Kauw Kong Hwesio yang sudah tua. Sebenarnya, Kauw Kong Hwesio amat sayang kepada pemuda yang cerdas ini, akan tetapi ketika pada suatu hari dia mendapatkan muridnya yang tersayang itu melakukan hubungan gelap dengan isteri seorang petani di kaki gunung, dan pendeta itu menerima pelaporan dari si suami yang tidak berani menegur atau melawan Kui Hok Boan, pendeta ini menjadi marah dan mengusir Kui Hok Boan, tidak mengakuinya lagi sebagai murid dan dia melarang pemuda itu menggunakan nama Go-bi-pai sebagai golongannya.

Masih untung bagi Hok Boan bahwa dia tidak sampai dipukul mati oleh guru­nya. Kauw Kong Hwesio sudah tua sekali, sudah delapan puluh tahun lebih usianya ketika hal itu terjadi, dan dia sudah lebih condong kepada keagamaan daripada kepada urusan dunia. Maka dia dapat memaafkan muridnya dan tidak mem­bunuhnya, apalagi kalau diingat bahwa hubungan gelap itu dilakukan atas dasar sama-sama suka, jadi muridnya tidak melakukan kekerasan, tidak menggunakan ilmu silat untuk menaklukkan atau merampas isteri orang. Tentu saja per­buatan itu tidak dibenarkan oleh hwesio tua ini, maka diapun dengan hati berat mengusir dan tidak mengakui lagi murid berbakat yang sebenarnya disayangnya itu.

Setelah terlepas dari pengawasan gurunya, Hok Boan yang memang hidup sebatangkara tanpa keluarga ini mulai dengan petualangannya. Dia seperti seekor burung liar yang terbebas dari kurungan! Semenjak kecil dia telah belajar sastera karena sebelum keluarga ayahnya terbasmi dalam perang pemberontakan yang lalu, ayahnya adalah seorang kaya dan dia diberi kesempatan mempelajari sastera sampai mendalam. Setelah keluarganya tewas dalam kerusuhan perang, dia seorang yang selamat dan akhirnya dia diambil murid oleh Go-bi-pai itu, dan disamping giat mempelajari ilmu silat tinggi, dia juga masih tekun memperdalam ilmunya tentang sastera.

Setelah dia diusir oleh gurunya, Hok Boan mencoba untuk mengikuti ujian di kota raja dengan pengharapan akan lulus dan memperoleh pangkat. Akan tetapi harapannya membuyar karena gagal dalam ujian. Dia merasa bosan untuk mengulang lagi dan mulailah dia merantau dan bertualang. Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak sukarlah baginya untuk memperoleh uang karena dia tidak pantang memasuki gedung harta seorang hartawan dan mengambil beberapa kati uang emas atau perak untuk keperluannya bertualang. Selama beberapa tahun, dia berpindah-pindah, sampai akhirnya dia hampir dikeroyok oleh guru silat dan anak muridnya di Koan-sui itu.
Kini dalam perjalanannya ke utara, ke dusun Pek-hwa-cung untuk memesan sebatang pedang yang baik, buatan pandai besi Bhe Coan yang terkenal, dia bertemu dengan isteri Bhe Coan yang demikian manis menarik, yang bertubuh montok dan padat, tentu saja wanita seperti Leng Ci itu tidak dapat terlewatkan begitu saja dari pandang mata Hok Boan yang berminyak! Dan ketika mereka makan bersama dan dia mengujinya dengan rabaan di bawah meja, mendorong Hok Boan untuk melanjutken petualangan­nya sampai berhasil.

Tak lama kemudian, suara dencing di bengkel itu berhenti dan terdengarlah langkah kaki Bhe Coan dan isterinya menuju ke kamar. Hok Boan cepat merebahkan dirinya lagi dan dengan pengerahan sin-kangnya, dia kini ber­keringat dan mukanya pucat lagi. Terengah-engah dia rebah terlentang seperti orang kepanasan.

Bhe Coan den isterinya masuk ke kamar itu. “Siauwte, ini obatnya. Akan tetapi tidak kelirukah? Menurut isteriku...”
Bhe Coan memandang isterinya.

“Kui-kongcu, tukang obat yang menjual obat-obat menurut catatanmu tadi mengatakan bahwa ini bukanlah obat untuk penyakit demam panas. Ketika aku bertanya obat apa, dia hanya tertawa dan dia tidak mau menjawab, hanya ber­kata bahwa ini bukan obat penyakit panas. Jangan-jangan kau keliru membuat catatan, kongcu.”

“Ahh... tukang obat kampungan... mana dia tahu...? Aku sudah pernah mengobati penyakit ini dengan obat itu... harap twaso suka cepat menggodoknya, dengan air tiga mangkok sampai tinggal semangkok... dan sediakan arak yang keras... untuk campuran...” Dia kembali merebahkan diri dan terengah-engah, napasnya memburu dan keringatnya makin banyak.

“Cepat masak obat ini!” kata Bhe Coan kepada isterinya den wanita itu cepat melakukan perintah suaminya. Lalu Bhe Coan mendekati tamunya. “Bagai­mana siauwte? Berbahayakah keadaanmu?”

Hok Boan memaksa senyum den menggeleng kepala. “Jangan khawatir, twako... kalau berbahaya tentu aku juga tahu... aku, aku pernah mengalaminya, lebih hebat dari sekarang, tapi obat itu pasti akan menyembuhkan aku... tinggalkanlah aku, lanjutkan pembuatan pedang itu agar tidak terlambat... aku berterima kasih kepada twako dan twaso...”

Bhe Coan menarik napas lega dan menepuk-nepuk pundak sasterawan muda itu. “Jangan berkata demikian, jangan sungkan-sungkan, kami hanya mengharap­kan kesembuhanmu.” Dia lalu pergi dan tak lama kemudian terdengar lagi bunyi dencing palunya yang memukul-mukul.

Leng Ci melangkah memasuki kamar itu membawa semangkok obat yang ber­warna hitam dan seguci arak. Diletakkannya obat dan arak di atas meja, kemudian dia mendekati pembaringan di mana Hok Boan masih rebah terlentang dengan muka pucat.

“Kui-kongcu, obatnya sudah selesai kumasak, dan sudah kudinginkan. Mau diminum sekarang?”

“Baik... baik...” Dia mencoba untuk bangkit, akan tetapi mengeluh. “Auhhh...” Dan dia hampir terguling.

Leng Ci cepat merangkul pundaknya dan membantunya bangkit duduk. Hampir tidak kuat rasa hati Hok Boan ketika merasakan kehangatan tubuh itu dan mencium bau minyak harum bercampur bau khas wanita. Akan tetapi dia me­mejamkan matanya dan duduk.

“Pusingkah, kongcu...?”

Dia mengangguk dan membuka matanya “Ya, agak pusing, twaso...”

“Mau minum obat sekarang? Sudah kusediakan bersama araknya.”

“Nanti dulu, twaso. Ketahuilah, penjual obat itu benar, obat ini sama sekali bukan obat untuk demam panas. Akan tetapi penyakitku ini aneh, twaso. Dan kalau sampai obat yang kaubeli itu tidak cocok dan mendatangkan hawa dingin, bisa merupakan racun bagiku dan dapat membunuhku seketika...”

“Ihhh...!” Wanita itu mundur selangkah dan mukanya berobah pucat, matanya terbelalak memandang kepada obat di atas meja itu. “Kalau begitu, jangan diminum, kongcu!”

Kui Hok Boan tersenyum. “Akan tetapi obat itu tidak berbahaya sama sekali bagi orang yang sehat, bahkan kalau ada yang mau, dapat menolongku untuk mengujinya, apakah cocok atau tidak untukku. Bagi yang sehat seperti twaso umpamanya, obat itu sama sekali tidak berbahaya, bahkan menyehatkan. Akan tetapi... ah, aku hanya akan merepotkan twaso saja...”

“Ah, tidak, kongcu. Sama sekali tidak. Bagaimana cara mengujinya?”

“Campurannya adalah, setengah mangkok obat itu dicampur setengah mangkok arak, lalu diminum. Kalau orang sehat yang meminumnya lalu terasa hangat, berarti obat itu cocok untukku dan pasti akan menyembuhkan aku. Akan tetapi kalau orang sehat meminumnya lalu terasa agak dingin, berarti aku tidak boleh minum obat itu. Harap twaso suka mencari seorang tetangga yang suka menguji obat itu dan menolongku.”

“Kalau cuma begitu saja, aku dapat menolongmu, kongcu. Akan tetapi benarkah tidak berbahaya obat itu?”

“Aku tanggung dengan nyawaku, twaso. Apakah twaso tidak percaya kepadaku?”

Leng Ci menahan senyum lalu melangkah mendekati meja, memberi kesempatan kepada Hok Boan untuk melihat gerak pinggulnya. Dia menuangkan obat yang semangkok itu ke dalam mangkok lain, setengah mangkok banyak­nya, lalu dicampurinya dengan setengah mangkok arak. Baunya sedap sekali.

“Aku akan mencobanya, kongcu.”

“Minumlah, twaso, dan kalau terasa hangat, berarti aku akan sembuh dengan cepat.”

Nyonya muda itu tanpa curiga lalu minum obat semangkok itu, rasanya agak ­manis dan memang bukan tidak enak, apalagi karena dicampur arak yang keras. Hanya arak itu terlalu keras baginya namun ditahannya dan habislah obat semangkok itu.

“Kalau arak itu terlalu keras, duduklah, twaso...”

Leng Ci tidak menjawab melainkan duduk dan memang kepalanya agak pening, maka dia duduk di atas bangku dan memejamkan mata. Sunyi di kamar itu. Bunyi dencing besi dipukul dari bengkel terdengar satu-satu dengan jelas sekali.

“Bagaimana, twaso?” Hok Boan bertanya lagi ketika melihat wanita ini membuka matanya. Wajah wanita itu menjadi kemerahan dan napasnya agak memburu, matanya bersinar aneh.

“Panas... rasanya panas dan hangat di seluruh tubuh...”

“Ah, kalau begitu cocok untukku!” Hok Boan bangkit duduk. “Tolong campur­kan obat itu dengan arak seperti tadi...”

Leng Ci bangkit berdiri dan menuangkan arak ke dalam mangkok, obat yang tinggal separuh itu, lalu mendekati pembaringan. Hok Boan menerimanya dan meminumnya sampai habis, kemudian dia merebahkan diri. Seketika dahinya penuh dengan keringat, juga lehernya. Dia ber­gerak gelisah sedangkan Leng Ci duduk kembali dan memandangnya.

“Ahhh... panas sekali... panas...!” Hok Boan merintih dan berguling ke kanan kiri.

“Bagaimanap kongcu?” Leng Ci bangkit dan menghampiri pembaringan, lalu duduk di tepi pembaringan dengen kha­watir. Dia tidak sadar bahwa dia sendiri mulai berkeringat halus membasahi dahi dan lehernya.

“Panas, tolong bukakan kancing bajuku...” Hok Boan merintih.

Jari-jari tangan yang kecil itu agak gemetar ketika membukakan kancing-kancing baju Hok Boan, apalagi karena pemuda itu menggerakkan tubuhnya, maka jari-jari tangannya kadang-kadang mengusap kulit dada yang putih halus itu.

“Panas sekali...” kembali Hok Boan merintih.

“Aku... akupun merasa panas dan gerah, kongcu. Mungkin obat itu...”

“Kalau begitu, kenapa tidak dibuka saja bajumu?”

“Kongcu... ehh...?” Akan tetapi kedua lengan pemuda itu telah merangkulnya, merangkul leher dan pinggangnya, dan tubuh Leng Ci telah ditariknya ke atas pembaringan. Wanita itu hendak meronta namun terlambat. Hok Boan memeluk dan menciumnya, dan Leng Ci telah diamuk oleh nafsunya sendiri yang didorong oleh obat yang diminumnya, karena memang obat itu adalah obat perangsang!

Nyonya muda itu memang sudah mempunyai hati terpikat dan meny
eleweng terhadap Hok Boan. Kini, berada begitu dekat dengan pemuda yang amat menarik hatinya itu, apalagi didorong oleh obat yang diminumnya, dia lupa segala, lupa bahwa tak jauh dari kamar itu, suaminya sedang bekerja dan bunyi dencing besi dipukul terdengar jelas dari situ.

“Sakitku adalah sakit rindu kepadamu, Leng Ci... dan hanya engkau seorang yang dapat menyembuhkan aku...” Hok Boan berbisik kepada wanita yang sudah diamuk nafsu itu, yang kini sama sekali tidak lagi menolak, bahkan bersama Hok
Boan dengan suka rela memasuki jurang perjinaan!

Yang terdengar hanya suara puputan pembuat api dan suara dencing besi dipukul. Pekerjaan pandai besi adalah pekerjaan yang mengeluarkan suara hiruk-pikuk, dan Hok Boan tidaklah lupa daratan sama sekali seperti halnya Leng Ci. Tidak, dia amat hati-hati dan telinganya tidak pernah meninggalkan suara dari bengkel itu sehingga dia tahu bahwa suami wanita ini masih sibuk bekerja!

Menjelang tengah hari, barulah dia mendorong tubuh Leng Ci yang kelelahan itu dan menyuruhnya cepat membereskan pakaiannya. “Suamimu sudah berhenti bekerja...” bisiknya dan dia sendiri cepat membereskan pakaian dan sudah rebah terlentang lagi ketika terdengar langkah kaki Bhe Coan menuju ke kamar itu! Dengan tergesa-gesa Leng Ci membereskan pakaiannya dan rambutnya, dan ketika suaminya muncul di pintu, dia sedang membawa mangkok-mangkok kosong itu keluar dari kamar. Bhe Coan tidak memperhatikan isterinya, kalau dia memperhatikan tentu dia akan melihat wajah yang kemerahan, napas yang masih memburu dan rambut yang agak awut-awutan itu. Akan tetapi pandai besi ini segera menghampiri Hok Boan dan sejak memasuki kamar dia sudah memandang ke arah pemuda itu karena memang sama sekali dia tidak pernah menaruh kecurigaan apapun terhadap isterinya.

“Bagaimana, Kui-siauwte?” tanyanya. “Wajahmu tidak sepucat tadi, agak merah, akan tetapi engkau kelihatan basah semua penuh keringat...”

“Ah, terima kasih, twako. Keadaanku sudah banyak baik. Obat yang dimasak twaso itu sungguh hebat dan menyembuh­kan. Aku hanya perlu beristirahat dan terus minum obat itu. Nyawaku tertolong berkat kebaikanmu dan terutama sekali berkat rawatan twaso, twako.”

Bhe Coan tersenyum. “Ah, jangan sungkan, siauwte. Aku girang mendengar engkau sudah mendingan.”

Demikianlah, semenjak saat itu, hampir setiap saat selagi Bhe Coan sibuk di bengkelnya membuat pedang, Hok Boan dan Leng Ci tidak pernah mem­buang kesempatan itu untuk bermain cinta, melakukan hubungan jina yang kotor itu. Mereka berenang dalam nafsu mereka, terseret oleh gelombang nafsu berahi yang memabokkan.

Memang demikianlah nafsu. Seperti api. Makin diberi umpan dan bahan bakar, makin berkobar. Seperti babi yang rakus. Makin diberi makan, makin kurang! Segala macam bentuk nafsu keinginan selalu demikian, makin dituruti keinginan itu, makin banyak yang didapatnya makin serakah. Seorang yang gila uang, makin banyak mendapat uang, makin serakahlah dia, tidak akan ada puasnya seolah-olah makin diberi minum makin haus. Seorang yang gila kekuasaan, gila kedudukan, gila nama dan sebagainya juga demikian. Makin dikejar nafsu ke­inginannya, makin banyak yang didapatkannya, makin kuranglah dia merasa! Sama pula dengan semua itu, nafsu berahipun demikian. Karena makin banyak dialami dalam pemuasannya, makin bertumpuk kenangan di dalam ingatan, makin kuat pula pendorong yang mem­buat orang ingin mengulanginya kembali, bahkan ingin mendapatkannya lebih banyak lagi.

Leng Ci dan Hok Boan yang sudah sekali terjun memasuki pengejaran kenikmatan melalui pelampiasan nafsu berahi, menjadi makin haus dan selalu ingin lebih banyak lagi memperoleh kesempatan untuk mengulanginya. Kini mereka seperti orang-orang yang kelapar­an, bahkan kadang-kadang mereka lupa akan kewaspadaan. Kini mereka mulai berani saling bertemu di waktu malam, di waktu Bhe Coan tidur mendengkur dan diam-diam Leng Ci menyelinap meninggal­kan kamarnya untuk menikmati kepuasan sejenak dengan kekasihnya di dalam kamar tamu itu, kemudian menyelinap kembali ke dalam kamar suaminya sambil mencebirkan bibirnya kepada tubuh suami­nya yang tidur mendengkur!

Beberapa hari lewat dan bagi Bhe Coan, tamu yang dihormatinya itu masih beristirahat di kamar saja! Juga dia tidak menaruh curiga kalau di waktu malam, isterinya selalu menolak dia melakukah pendekatan dengan dalih lelah karena harus melayani makan dua orang ditambah merawat dan memasakkan obat untuk Hok Boan! Karena di situ terdapat tamu, maka Bhe Coan mengalah dan tidak mau ribut-ribut dengan isterinya.

Sementara itu, pedang yang dibuatnya sudah mulai mendekati kerampungannya. Sudah berbentuk pedang yang baik sekali. Pedang itu pedang pendek, sepanjang lengan Hok Boan, ringan dan indah bentuknya, seperti yang dipesan oleh sasterawan itu. Terbuat dari baja murni yang diperhitungkan dengan tepat waktu pembakarannya dan pembenamannya di dalam air. Dengan hati puas Bhe Coan menyentil ujung pedang dengan kuku jari tangannya dan terdengar suara berdencing nyaring! Tanda bahwa pedang itu me­mang hebat! Bentuknya sudah sempurna, hanya tinggal memperhalus dan memper­indah gagangnya saja.

Dengan senyum di mulut Bhe Coan dengan girang membawa pedang itu ke kamar tamunya. Sekali ini, karena ke­girangan dan tidak sabar untuk cepat-cepat memamerkan hasil karyanya ke­pada tamunya, dia masih tak berbaju dan melepas sepatu karena memang dia masih bekerja. Tiba-tiba, dia mendengar suara ketawa isterinya, ketawa cekikikan yang membuat dia terheran-heran! Itu hanyalah suara ketawa Leng Ci di waktu wanita itu bergurau di dalam kamar dengan dia!

Akan tetapi ketika dia tiba di depan pintu kamar yang terbuka, dia melihat Hok Boan masih rebah terlentang, dan Leng Ci cepat mengambil guci arak dan mangkok obat, meninggalkan kamar.

Wajah isterinya biasa saja dan ketika Bhe Coan memandang ke arah pembaringan, dia melihat pemuda itu masih tidur dengan dengkur halus! Ah, tak mungkin. Dia cepat keluar lagi dan mengejar isterinya.

“Leng Ci...!” panggilnya perlahan.

Isterinya berhenti dan memutar tubuh, memandangnya dengan heran. “Ada apakah?”

“Tadi aku mendengar suara tertawa... seperti ketawamu. Apakah aku salah dengar?”

Isterinya tersenyum. “Hi-hik, lucu! Ketika aku masuk mengambil mangkok. aku melihat Kwi-kongcu mengigau dan bernyanyi kecil, lalu tertawa-tawa. Aku, geli melihatnya, dan mungkin saja aku menahan ketawaku.”

“Ahh...” Bhe Coan mengangguk dan pada saat itu terdengarlah suara dari dalam kamar tamunya

“Nah, kaudengar...?” Leng Ci berkata lalu melanjutkan langkahnya pergi dari situ untuk mencuci mangkok.

Berindap-indap Bhe Coan mendatangi kamar itu, menjenguk dan benar saja. Dia melihat pemuda itu mengigau, kedua tangan bergerak-gerak dan mulutnya mengeluarkan nyanyian sumbang.

Peristiwa itu menghapus keheranan hati Bhe Coan. Akan tetapi, ada sesuatu yang mengganggu hatinya. Dia tadi mencium bau harum ketika menghentikan Leng Ci dan melihat betapa isterinya itu merias wajahnya dan memakai wangi-wangian. Padahal, biasanya di waktu pagi isterinya tidak pernah merias diri seperti itu apalagi memakai wangi-wangian. Dan anehnya pula, biarpun muka isterinya memakai bedak dan gincu, akan tetapi gincu di bibirnya agak rusak terhapus dan rambutnya yang disisir rapi itu agak awut-awutan di bagian dahinya. Dia belum menduga yang bukan-bukan, hanya merasa aneh dan heran saja.

Sore hari itu Bhe Coan berpamit dari isterinya dan juga Hok Boan untuk pergi ke kota yang berdekatan untuk membeli sarung pedang. Sarung pedang terbuat dari kayu dan di kota itu terdapat tukang kayu yang pandai dan yang biasa membuat sarung pedang atau senjata lain. Setelah pandai besi itu pergi, biarpun kepergiannya itu tidak akan lama, tetap saja merupakan peluang yang tidak disia-siakan oleh Hok Boan dan Leng Ci. Mereka bersenda-gurau dan bergumul dalam kamar, melampiaskan nafsu mereka yang tak kunjung padam dan tidak pernah mengenal kenyang itu.

Di kota kecil itu, secara kebetulan saja Bhe Coan bertemu dengan tukang obat yang sudah lama dikenalnya. Melihat Bhe Coan, tukang obat itu tersenyum lebar menyeringai dan mengacungkan telunjuknya ke arah muka pandai besi itu sambil berkata, “Hemm, orang she Bhe! Engkau makin tua makin muda saja hatimu, ya.”

Bhe Coan memandang tukang obat itu dengan alis berkerut, “Eh, Lao Tung, apa maksudmu berkata demikian? Sudah lama tidak bertemu, sekarang sekali berjumpa kau mengatakan demikian. Apa maksudmu?”

“Ha-ha-ha, pura-pura tidak tahu lagi! Dan masih berani menyuruh isterinya lagi yang membeli, tidak mau membeli sendiri, bahkan dengan dalih untuk mengobati orang sakit demam. Sakit demam? Ha-ha-ha, memang demam, demamnya orang yang berhati muda!” Orang itu tertawa lagi, membuat Bhe Coan makin penasaran.

“Lao Tung, jangan mempermainkan aku. Katakanlah, apa maksudmu? Isteriku memang membeli obat penyakit demam, apakah dia membeli darimu? Kalau begitu mengapa?”

“Memang dia membeli obat dariku, akan tetapi menurut resep itu, ha-ha-ha, sama sekali bukan obat untuk penyakit demam!”

Bhe Coan teringat akan kata-kata isterinya ketika pulang dari membeli obat. Isterinya menyatakan bahwa penjual obat berkata tentang obat itu yang dianggapnya bukan obat penyakit demam panas akan tetapi tidak mau mengaku obat untuk apa.

“Lao Tung, kalau obat itu bukan untuk penyakit demam, lalu untuk apakah?”

Dengan mulut masih menyeringai Lao Tung menjawab, “Benar-benar kau tidak tahu? Itu adalah obat perangsang, obat untuk membangkitkan gairah nafsu berahi, obat untuk orang-orang yang suka pelesir. Ha-ha-ha!”

Bhe Coan menjadi bengong. Dia meninggalkan tukang obat yang masih tertawa-tawa itu dan biarpun dia melanjutkan pergi mencari tukang kayu dan memesan sarung pedang namun hati dan pikirannya tidak karuan. Obat perangsang? Untuk apa? Kui Hok Boan membeli obat perangsang? Akan tetapi, dia melihat sendiri betapa sasterawan muda itu memang sakit. Wajahnya yang pucat, keringatnya yang bercucuran, badannya yang panas! Tidak mungkin semua itu pura-pura belaka. Dan mungkin saja obat yang dianggap obat perangsang oleh tukang obat itu memang merupakan obat penyembuhnya. Dia tidak tahu tentang obat-obatan. Dia sendiri tidak pernah minum obat. Tubuhnya selalu sehat. Akan tetapi sikap isterinya...! Mulailah kecurigaan dan kecemburuan menggerogoti hati dan pikirannya. Wajah isterinya kini selalu gembira, sepasang matanya bersinar-sinar. Anehnya, semenjak ada Kui Hok Boan, telah enam malam ini isterinya tidak pernah mau didekatinya di waktu malam. Seperti orang murung dan lelah, akan tetapi kalau siang kelihatan demikian penuh semangat dan kegembiraan. Ada apakah yang terjadi dengan isterinya? Dan isterinya demikian tekun merawat Hok Boan, sampai-sampai pernah heberapa kali isterinya terlupa mengirim minuman kepadanya!

Ketika tiba kembali ke rumahnya, Bhe Coan datang bersama seorang anak laki-laki tanggung berusia tiga belas tahun. Dia mendapatkan Hok Boan dan isterinya duduk di serambi depan. Melihat tamunya itu kini sudah keluar dari kamar dan kelihatan wajahnya kemerahan dan sehat, Bhe Coan tersenyum girang. “Ah, kiranya engkau sudah sembuh, Kui-siauwte!” katanya dan dia mengerling ke arah isterinya yang juga kelihatan berseri gembira wajahnya, dengan riasan muka yang baru sehingga wajah yang manis itu kelihatan makin cantik karena makin putih oleh bedak, rambutnya licin sekali, tentu baru saja disisir rapi, pakaiannya juga baru dan berbeda dengan malam tadi, agaknya isterinya baru saja berganti pakaian. Hal ini saja sudah aneh. Biasanya tidak demikian. Isterinya biasanya baru bergantl pakaian di sore hari.

“Terima kasih, twako. Sudah banyak baik, hanya masih tinggal lemas dan masih perlu minum obat untuk beberapa hari ini. Apakah pedang itu sudah selesai, twako?”

“Sudah, tinggal memperhalus saja yang akan makan waktu dua hari sambil membuatkan hiasan sarung pedang yang kubeli ini. Mudah-mudahan dalam dua hari ini akan selesailah pesananmu, siauwte.”

“Terima kasih, twako. Engkau baik sekali, dan twaso juga...”

“Eh, siapakah anak ini dah mengapa kauajak ke sini?” tiba-tiba Leng Ci bertanya sambil menuding kepada anak laki-laki itu.

“Dia adalah anak tetangga di sudut dusun, kumintai bantuan untuk mendorong puputan api agar pekerjaan lebih lancar,” jawab Bhe Coan singkat dan dia lalu mengajak anak itu masuk ke dalam bengkelnya. Tak lama kemudian terdengarlah dua orang itu sibuk bekerja di bengkel.

Mengingat bahwa waktu berada di rumah itu tinggal dua hari, Hok Boan dan Leng Ci makin menggila dalam hubungan perjinaan mereka. Agaknya mereka bersepakat untuk mempergunakan sisa waktu dua hari itu untuk menikmati hubungan mereka sekenyang-kenyangnya dan sepuas-puasnya. Mereka seperti tidak mengenal lelah dan karena mereka mengandalkan pendengaran mereka untuk merasa yakin bahwa Bhe Coan selalu sibuk dalam bengkeinya, maka mereka menjadi lengah dan lalai, kini mereka berdua bermain cinta di dalam kamar tanpa mengunci daun pintu!

Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali Bhe Coan telah bekerja di bengkelnya, dibantu oleh anak itu dan terdengarlah suara berdencingnya palu baja menghantam pedang di landasan, nyaring dan tinggi rendah berirama. Sementara itu, di dalam kamamya, Hok Boan juga menyambut kedatangan Leng Ci yang kelihatan segar sehabis mandi. Begitu memasuki kamar pemuda itu, Leng Ci lari menghampiri dan menubruk pemuda itu, merangkul dan menangis!

HEH, mengapa menangis, sayang?” Hok Boan memeluk dan membelai rambut halus itu, mencium air mata yang membasahi pipi. “Tiada pertemuan tanpa perpisahan, dan kita masih mempunyai waktu sehari ini.”

“Kongcu, aku tidak tahan untuk berpisah darimu. Besok... besok kaubawalah aku besertamu, kongcu...”

“Hemm, mana mungkin begitu, manis? Engkau adalah isteri Bhe-twako dan...”

“Aku tidak sudi lagi menjadi isterinya! Setelah aku menjadi milikmu, setelah aku menyerahkan diri lahir batin kepadamu, bagaimana aku dapat didekatinya, kongcu?”

“Kau memang manis! Aku sungguh sayang padamu, Leng Ci.”

“Kongcu... kaukasihanilah aku, bawalah aku besok...”

“Ssstt... bagaimana besok sajalah.”

Leng Ci memang tidak dapat banyak cakap lagi karena dia sudah terbuai oleh belaian pemuda itu yang menariknya ke bawah selimut. Di luar terdengar suara berdencing yang berirama dan dua orang ini, yang sudah lupa segala, membiarkan saja pintu setengah terbuka. Yang berada dalam kamar sudah tenggelam lagi dalam lautan nafsu yang bergelora.

Bunyi suara berdencing yang berirama masih terdengar di luar kamar ketika Leng Ci rebah terlentang, kepalanya berbantalkan lengan kekasihnya yang membelai-belai rambutnya yang sudah terlepas dari sanggulnya.

“Kongcu...”

“Hemm...”

“Kalau kau tidak mau membawaku, aku ikan hidup seperti dalam neraka...!”

“Ah, jangan kau berkata demikian. Suamimu amat mencintaimu, Leng Ci.”

“Akan tetapi aku tidak cinta padanya.”

“Bukankah engkau sudah setahun lebih menjadi isterinya dan bukankah engkau menjadi isterinya secara sukarela?”

“Ya... akan tetapi setelah bertemu denganmu...”

“Kau memang manis!” Hok Boan membalikkan tubuh wanita itu dan menarik mukanya, lalu mencium mukanya.

Mereka tidak tahu bahwa pada saat itu, Bhe Coan telah berdiri di pintu dengan pedang di tangan! Memang pandai besi ini sengaja menyuruh anak yang membantunya untuk membuat tapal kaki kuda dan karena itulah maka suara berdencing berirama itu masih terdengar terus. Akan tetapi dia sendiri meninggalkan bengkel, membawa pedang yang sudah jadi itu untuk diperlihatkan kepada Kui Hok Boan, juga sekalian ingin melihat apakah isterinya tidak melakukan sesuatu yang tidak selayaknya. Dapat dibayangkan betapa kaget, heran, marah dan malunya ketika dia melihat isterinya sedang berciuman dengan pemuda itu dalam keadaan setengah telanjang!

“Jahanam busuk kau orang she Kui!” bentaknya dengan kemarahan yang berkobar-kobar!


Leng Ci dan Hok Boan terkejut setengah mati dan mereka sudah bangkit duduk. Leng Ci menjadi pucat sekali wajahnya dan dia menggigil, lalu men­coba untuk menyembunyikan tubuhnya di balik punggung kekasihnya yang duduk dengan mata terbelalak memandang pandai besi yang telah berdiri di depan pembaringan itu. Telinganya masih jelas mendengar suara dencing berirama di luar kamar dan tahulah pemuda ini bahwa yang memukul-mukulkan palunya itu adalah anak yang membantu pandai besi itu! Betapa bodohnya! Mengapa dia tidak membedakan suara pukulan yang jauh lebih lemah itu!

Sejenak Bhe Coan terheran-heran melihat sikap sasterawan muda itu. Demikian tenangnya! Sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan kini tersenyum! Kemarahannya memuncak karena kini terbayanglah olehnya betapa sasterawan muda ini sejak datangnya, sejak “sakit” itu tentu telah berjina dan bermain gila dengan isterinya! Pantas saja sejak pemuda ini menginap di rumahnya, isteri­nya tidak pernah mau melayaninya! Kiranya di waktu siangnya, dari pagi sampai petang, selagi dia bekerja setengah mati mengerjakan pedang pesanan sasterawan ini, isterinya berjina di dalam kamar ini dengan tamunya itu. Dan dia sudah menganggap tamunya sebagai keluarga sendiri!


“Bedebah, engkau layak mampus!” bentaknya dan tiba-tiba Bhe Coan menubruk ke depan menusukkan pedang yang selama sepekan ini digemblengnya itu ke arah dada Hok Boan.

Akan tetapi, gerakan yang amat cepat dan kuat itu dihadapi oleh Hok Boan seolah-olah tidak pernah ada bahaya yang mengancam dirinya. Setelah ujung pedang meluncur dekat, tiba-tiba dia meloncat turun dari atas pembaringan seperti seekor burung terbang saja ringannya.

“Creppppp... aiiiihhhh...!”

“Ohh, tidak...!” Bhe Coan berseru kaget, matanya terbelalak memandang kepada isterinya yang menjerit. Pedangnya yang tadi ditusukkan ke arah dada Hok Boan, kini amblas menusuk dada isterinya sendiri, tepat di ulu hati, di antara dua buah bukit dada membusung itu. Kemarahannya makin meluap terhadap Hok Boan. Dia mencabut pedangnya, darah muncrat dari dada Leng Ci dan nyonya muda ini terjengkangg terlentang di atas pembaringan, darahnya muncrat-muncrat menodai tilam kasur yang selama beberapa hari ini telah dinodai oleh perjinaannya dan kaki tangannya berkelojotan, matanya terbelalak seperti orang kaget dan takut.

“Keparat kau! Jahanam kau!” Bhe Coan memaki-maki dan membalik, menghadapi Hok Boan yang sudah membereskan pakaiannya dengan sikap tenang saja.

“Sudahlah, Bhe-twako, engkau telah membunuh isterimu. Sudah saja dan serahkan pedang itu kepadaku. Aku akan pergi dari sini sekarang juga.”

Sikap tenang dan kata-kata Hok Boan membuat Bhe Coan makin memuncak kemarahannya. Dia masih belum menduga bahwa tamunya ini memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.

“Bangsat hina Kui Hok Boan! Aku telah menerimamu sebagai keluarga sendiri, aku telah bersusah payah membuatkan pedang pesananmu, akan tetapi engkau menggoda isteriku. Nah, pedang ini akan merobek-robek perutmu, dan aku akan mencincang hancur lebur tubuhmu yang kotor dan hina!”

Bhe Coan kini menerjang dan pedang itu menyambar-nyambar. Namun, dengan tenang Hok Boan mengelak ke kanan kiri, kemudian selimut yang tadi dibawanya ketika dia meloncat itu menyambar ke depan, menutupi kepala tuan rumah.

“Wuuuttt... prakkk!”

Tubuh Bhe Coan terpelanting dan pedang itu sudah dirampas oleh tangan Hok Boan. Sasterawan muda ini lalu meninggalkan kamar itu, tidak memperdulikan lagi tubuh Bhe Coan yang kepalanya tertutup selimut dan perlahan-lahan selimut itu menjadi merah oleh darah dari kepala pandai besi itu yang retak-retak oleh pukulan tangan Hok Boan yang ampuh. Tanpa melihatpun sasterawan muda ini maklum bahwa tamparannya tadi telah merenggut nyawa orang! Dengan tenang, Hok Boan mengumpulkan pakaiannya dan tak lama kemudian sudah membalapkan kudanya keluar dari dusun itu.

Anak kecil pembantu Bhe Coan yang menanti kembalinya majikannya, kini menjadi tidak sabar karena dia harus menanyakan sesuatu mengenai tapal kaki kuda yang dibuatnya. Dia memasuki rumah dan mencari-cari Bbe Coan. Ketika dia menjenguk ke dalam kamar yang pintunya terbuka itu, dia terbelalak, mukanya pucat sekali dan tubuhnya menggigil. Nyonya majikannya menggeletak terlentang dengan tubuh bagian atas telanjang sama sekali, mandi darah dan tak bergerak lagi dengan mata terbelalak menakutkan, sedangkan majikannya terbujur di atas lantai, kepalanya tertutup selimut dan selimut itu penuh darah pula. Anak itu menjerit dan lari keluar, jatuh bangun dan sebentar saja, dusun Pek-hwa-cung menjadi gempar! Semua orang menduga bahwa Bhe Coan dan isterinya tentu terbunuh oleh tamunya seperti yang dituturkan oleh anak pem­bantu pandai besi itu, akan tetapi karena sejak datang ke dusun itu Hok Boan tidak pernah keluar pintu dan selalu mengeram diri saja di kamarnya bersama Leng Ci, maka tidak ada orang yang pernah melihatnya atau mengenalnya.

***



Sesungguhnyag munculnya Kui Hok Boan di Pegunungan Khing-an-san bukanlah semata-mata karena dia ingin memesan pedang, melainkan ada hal lain yang lebih penting baginya. Dia telah mendengar berita di dunia kang-ouw bahwa di utara, di kaki Pegunungan Khing-an-san, terdapat dua tempat yang amat terkenal dan amat menyeramkan. Dua tempat itu adalah Padang Bangkai dan Lembah Naga. Menurut berita yang seperti dongeng itu, di kedua tempat ini tersimpan harta pusaka yang tak ternilai harganya. Bahkan kabarnya, di dalam sebuah istana kuno di Lembah Naga, terdapat barang-barang berharga pening­galan Raja Sabutai. Berita inilah yang menarik hati Kui Hok Boan dan ketika dia tiba di dusun Pek-hwa-cung, dia ter­ingat akan nama Bhe Coan ahli pembuat pedang, maka dia singgah di situ dan memesan pedang sebelum dia mencari dua tempat yang amat menari hatinya itu.

Berita itu datang dari para perajurit yang pernah menyerbu Lembah Naga bersama para pendekar sakti (baca cerita Dewi Maut). Akan tetapi tidak ada orang kang-ouw yang berani mencoba untuk mengunjungi tempat-tempat itu. Pertama karena memang tempat itu berada amat jauh dari tembok besar, ke dua karena mereka tidak percaya akan berita itu dan ke tiga karena mereka tahu bahwa tempat-tempat itu amat berbahaya sehingga tidak sepadanlah menempuh bahaya yang amat besar itu untuk mencari sesuatu yang masih belum tentu kebenarannya.

Akan tetapi Kui Hok Boan adalah seorang petualang yang hidup malang-melintang seorang diri saja di dunia ini. Dan terutama sekali kesenangannya akan wanita membuat dia senang saja berada di manapun, karena di manapun dia mengharapkan untuk bertemu dengan wanita yang berkenan di hatinya. Dan ternyata benar, di Pek-hwa-cung dia bertemu dengan Leng Ci yang membuatnya cukup merasa senang dan puas.

Istana Lembah Naga sesungguhnya adalah bekas markas besar yang dijadikan tempat tinggal oleh Raja Sabutai pada belasan atau puluhan tahun yang lalu. Kemudian markas atau benteng itu oleh Raja Sabutai dirombak menjadi istana dan diberikan kepada dua orang gurunya, yaitu kakek dan nenek iblis yang berjuluk Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li. Lembah itu berada di kaki Pegunungan Khing-an-san, tepat di tepi Sungai Loan-ho yang menikung di situ kemudian diikuti oleh tikungan-tikungan kecil. Dilihat dari atas, Bukit Khing-an-san, lembah itu kelihatan seperti seekor naga yang tubuhnya berliku-liku. Karena inilah maka lembah itu dinamakan orang Lembah Naga. Karena lembah ini berada di luar Tembok Besar, di daerah Mongol yang berbahaya, penuh dengan pegunungan tinggi dan luas, hutan-hutan yang lebat dan padang-padang rumput yang seperti lautan tidak bertepi, diselingi gurun-gurun pasir yang tandus, maka daerah ini merupakan daerah terasing karena jarang ada orang berani mengunjunginya, bahkan mendekatinya.

Jalan menuju ke Lembah Naga hanya ada satu, yaitu dari selatan, karena mendatanginya melalui arah lain tidaklah mungkin mengingat bahwa lembah itu terkurung oleh jurang-jurang yang luar biasa dalamnya. Dari selatan inipun bukanlah merupakan jalan yang mudah. Sama sekali tidak! Hanya jalan dari selatan ini saja kelihatannya mungkin dilalui manusia, sungguhpun dalam kenyataannya, jalan yang kelihatan mudah ini penuh dengan ancaman bahaya maut yang mengerikan.

Mengapa demikian? Karena jalan melalui selatan ini berarti melalui Padang Bangkai. Dari namanya yang menyeramkan itu saja sudah dapat diduga bahwa daerah itu amat berbahaya. Dan memang benarlah. Padang rumput yang luas itu demikian aneh keadaannya, sehingga banyak binatang yang terjebak dan mati di sekitar tempat itu, hanya tinggal tulang-tulangnya saja yang nampak dan karena seringnya orang melihat bangkai binatang, kadang-kadang juga manusia yang melakukan perjalanan lewat di tempat itu dan tersesat kemudian menjadi korban pula, bangkai-bangkai dan mayat berserakan di sekitar padang rumput, maka tempat itu dinamakan Padang Bangkai.

Memang berbahaya sekali daerah Padang Bangkai ini. Banyak sekali tempat-tempat yang kelihatan indah menyenangkan, kiranya menyembunyikan tangan maut yang amat kejam. Ada bagian yang kelihatannya seperti padang rumput biasa saja, dengan rumput-rumputnya yang hijau segar seperti beludru, akan tetapi bagi mereka yang sudah mengenal daerah ini, bagian yang rumputnya hijau segar tanpa mengenal musim itu, baik musim panas maupun di musim semi tetap hijau segar itu merupakan tempat maut yang mengerikan. Salah sangka membuat banyak manusia maupun binatang yang kebetulan lewat, terperosok ke tempat ini dan sekali kaki mereka terjeblos, sukar untuk menyelamatkan diri karena rumput hijau segar itu seolah-olah merupakan umpan atau perangkap yang kalau diinjak ternyata bawahnya merupakan lumpur lembut yang dapat menyedot apa saja dengan kekuatan yang tidak terukur besarnya. Lumpur lembut itu amat dalam dan sekali kaki menginjak, sukarlah ditarik kembali sampai akhirnya orang atau binatang yang ter­jebak itu ditelan habis ke dasarnya! Ada pula yang sebelum tertelan habis, dapat berpegang kepada rumput-rumput dan biarpun mereka itu tetap dapat mempertahankan sehingga tubuh atas mereka berada di luar, tetap saja orang atau binatang itu mati dengan separuh tubuh masih di luar. Apa yang terjadi? Tubuh bawah yang terhisap lumpur itu sebentar saja akan habis dihisap darahnya dan digerogoti dagingnya oleh binatang-binatang kecil semacam lintah dan lain-lain binatang yang hidup di dalam lumpur itu! Ada pula terdapat bagian yang rumputnya berwarna aneh, berwarna kebiruan dan ternyata bahwa rumput di bagian ini mengandung racun yang amat berbahaya. Sekali saja kaki atau bagian tubuh lain yang terluka terkena getah rumput ini, orangnya atau binatangnya tentu akan roboh dan tewas. Juga terdapat bagian yang rumputnya merupakan ilalang setinggi orang dewasa dan yang dapat menyesatkan karena luasnya dan karena lorong di antara ilalang tinggi ini berliku-liku, bercabang-cabang dan bentuknya sama semua, yaitu lorong setapak yang di kanan kirinya diapit-apit oleh ilalang tinggi. Orang dapat tersesat dan sampai berhari-hari tidak mampu keluar dari tempat ini. Tentu saja tempat ini amat berbahaya, belum lagi diingat akan banyaknya binatang-binatang buas yang menghuni tempat ini, bersembunyi di dalam rumpun ilalang yang tinggi lebar itu.

Dan di tengah-tengah perjalanan antara tempat-tempat berbahaya itu dengan Lembah Naga, terdapat sebuah dusun kecil yang dikelilingi air sungai. Air yang mengelilingi dusun ini sengaja dibuat Raja Sabutai dahulu, karena tempat ini merupakan semacam pintu gerbang maut untuk menghalangi musuh yang hendak menyerbu Lembah Naga. Air yang mengelilingi dusun itu dialirkan dari Sungai Luan-ho sehingga siapapun juga yang hendak pergi ke Lembah Naga tentu akan terhalang dan harus lebih dulu menyeberangi sungai itu dengan jembatan yang terdapat di situ, jembatan satu-satunya yang menghubungkan orang ke dusun kecil itu, kemudian menyeberangi lagi melalui jembatan kecil di belakang dusun. Jalan lain menuju ke Lembah Naga tidak ada lagi, karena kalau orang tidak mau melewati dusun itu, dia harus mengambil jalan melalui padang rumput hijau berlumpur di bawahnya yang berada di sebelah kiri dusun, atau melalui padang rumput beracun yang berada di sebelah kanan dusun.

Melanjutkan perjalanan dengan perahu­pun tidak mungkin, karena selain tidak nampak sebuahpun perahu di situ, juga andaikata ada orang membuat perahu dan menggunakannya untuk mengelilingi dusun, sebelum tiba di tempat tujuan tentu perahunya sudah akan digulingkan oleh mereka yang menjadi penghuni dusun itu.

Beberapa tahun yang lalu, ketika Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li masih tinggal di Istana Lembah Naga, Padang Bangkai menjadi tempat tinggal suami isteri golongan sesat yang terkenal dan berilmu tinggi, yaitu Ang-bin Siu-kwi dan isterinya Coa-tok Sian-li. Akan tetapi, kurang lebih tiga tahun yang lalu, ketika rombongan pendekar sakti menyerbu Lembah Naga, suami isteri ini bersama semua anak buah mereka telah terbasmi habis, dan seperti juga Lembah Naga, maka Padang Bangkai juga menjadi tempat kosong yang menyeramkan sekali.

Akan tetapi, semenjak kepala pe­rampok Coa Lok yang berjuluk Sin-jio (Tumbak Sakti) dan anak buahnya men­jadi penghuni Padang Bangkai, tempat itu mulai terawat lagi, akan tetapi kini menjadi makin menyeramkan karena selain keadaan yang berbahaya dari tem­pat itu masih ditambah lagi ancaman bahaya yang datang dari para perampok itu sendiri. Seperti telah diceritakan di bagian depan, ada anak buah perampok yang berani mencoba untuk menyerbu Istana Lembah Naga dengan akibat yang mencelakakan mereka karena lima orang telah tewas di tangan Liong Si Kwi, penghuni dan juga majikan yang baru dari Istana Lembah Naga. Kemudian Sin-jio Coa Lok sendiri yang memimpin anak buahnya menyerbu, akan tetapi diapun ditundukkan oleh Liong Si Kwi sehingga dia takluk dan menganggap wanita itu sebagai seorang yang patut dihormati.

Demikianlah, Coa Lok hidup di Padang Bangkai bersama anak buahnya yang berjumlah kurang lebih tiga puluh orang. Tentu saja mereka tidak dapat mengharapkan hasil di tempat seperti itu, dan mereka tidak pula mau mengganggu para penduduk Khing-an-san, karena selain hal ini amat berbahaya,
juga penduduk dusun-dusun itu adalah petani-petani yang miskin. Bahkan mereka tidak berani mengganggu penduduk dusun-dusun yang lebih makmur seperti dusun Pek-hwa-cung dan lain-lain, karena mereka tahu bahwa di tempat-tempat itu terdapat banyak orang pandai, dan mereka tidak mau memancing kemarahan Raja Sabutai yang mempunyai pengaruh besar di sekitar tempat itu. Maka, para perampok ini hanya “mencari nafkah” dengan cara merampok para pedagang yang lewat di dekat tembok besar di perbatasan, atau di hutan-hutan yang dilewati oleh para pedagang yang keluar masuk daerah Propinsi Liao-ning. Jadi, Padang Bangkai itu hanya dijadikan sarang atau tempat sembunyi mereka saja.

Selama tinggal di Padang Bangkai, para perampok itu belum pernah melihat ada orang berani mendatangi sarang mereka. Apalagi mendatangi dusun yang mereka jadikan sarang itu, bahkan di sekitar daerah Padang Bangkai itu tidak pernah nampak seorangpun manusia kecuali mereka sendiri. Daerah itu memang merupakan daerah seram yang ditakuti, dan hal ini membuakt para pe­rampok itu merasa aman.

Akan tetapi pada suatu hari, pagi-pagi ketika matahari mulai menyinari bumi dengan cahaya keemasan, nampak seorang penunggang kuda datahg dari selatan. Ketika tiba di depan padang rumput yang luas itu, si penunggang kuda menghentikan kudanya dan memandang ke depan dengan penuh perhatian.

“Hemm, inilah agaknya yang dinamakan Padang Bangkai...” katanya seorang diri dan dia lalu turun dari atas kuda. Dibiarkan kudanya itu makan rumput di bawah pohon dan dia sendiri lalu meloncat naik ke atas pohon itu, mengintai jauh ke depan.
“Bukan main luasnya,” kata orang itu dan dia meloncat turun lagi, mengambil tempat air dari sela kuda dan sambil duduk di atas rumput, dia minum be­berapa teguk air, menyimpan kembali tempat air dan mengusap peluhnya di leher dan dahi dengan ujung lengan baju­nya yang lebar.

Orang ini bukan lain Kui Hok Boan. Setelah dia melarikan diri dari dusun Pek-hwa-cung di mana dia meninggalkan mayat Bhe Coan dan isterinya di kamar rumah mereka, pemuda sasterawan ini membalapkan kudanya, meninggalkan dusun itu dan langsung dia menuju ke Lembah Naga di kaki Pegunungan Khing-an-san. Sebelum dia menuju ke utara, dia memang telah menyelidiki dan mempela­jari keadaan Lembah Naga yang didengarnya dari penuturan beberapa orang anggauta pasukan tentara kerajaan yahg pernah melakukan penyerbuan ke Lembah Naga (baca cerita Dewi Maut). Dari para anggauta pasukan ini dia mendengar gambaran yang cukup jelas tentang Padang Bangkai dan Lembah Naga serta tempat-tempat yang berbahaya di sekitar Padang Bangkai.

Dia tidak mau tergesa-gesa dan tidak mau bertindak ceroboh. Hok Boan adalah seorang yang selalu berhati-hati dan cerdik sekali. Dari atas pohon tadi dia mendapat kenyataan bahwa dia telah melalui jalan yang benar seperti yang di­gambarkan oleh anggauta pasukan yang pernah datang ke tempat ini. Memang mengerikan keadaannya. Dari atas pohon nampak sinar matahari menimpa padang rumput yang luas dan terdapat bermacam-­macam warna di sepanjang padang yang luas itu.

“Ada lorong kecil menujd ke selatan. Lorong itu tidak berbahaya. Akan tetapi setelah lorong itu berhenti dan habis, tempat itu disambung dengan padang-padang rumput yang hanya mempunyai lorong-lorong setapak. Itulah tempat-tempat yang berbahaya dan jangan sembarangan memasuki lorong setapak ini tanpa lebih dulu mengetahui keadaannya.” Demikian antara lain penuturan anggauta pasukan kerajaan itu.

Setelah membiarkan kudanya makan rumput dan beristirahat, Hok Boan lalu meloncat naik lagi ke atas punggung kudanya dan menjalankan kudanya melewati lorong kecil yang menuju ke selatan itu. Matanya selalu awas memandang ke kanan kiri yang mulai penuh dengan rumpun ilalang, juga dia awas melihat ke depan, siap menghadapi bahaya yang mungkin datang dari mana­pun, sungguhpun tempat itu amat sunyi dan agaknya merupakan tempat yang aman.

Ketika matahari telah naik tinggi, tibalah dia ujung jalan kecil itu. Di depannya kini terbentang luas rumput hijau, diselang-seling dengan rumput-rumput yang lain warnanya, ada yang merah, ada yang kebiruan dengan bentuk yang aneh-aneh. Hok Boan tidak turun dari kudanya, akan tetapi dengan hati ngeri dia memandang ke arah rumput-rumput hijau segar itu. Dia mendengar penuturan anggauta pasukan itu bahwa di bawah rumput hijau segar ini bersembunyi tangan maut berupa lumpur yang dapat menghisap dan yang di dalamnya menanti binatang-binatang kecil yang suka meng­hisap darah dan menggerogoti daging! Mengerikan! Akan tetapi, melihat rumput-rumput hijau segar itu, sukar untuk dapat mempercaya cerita itu.

“Lebih baik menempuh bahaya di­serang ular dan binatang buas,” pikirnya. Dia mendengar bahwa ilalang kuning di sebelah kiri, di mana terdapat pula jalan setapak, akan membawa orang ke padang ilaiang yang tingginya seperti manusia dewasa di mana terdapat banyak ular dan binatang lain.

Tadi Hok Boan telah mematahkan cabang pohon dan kini tangannya sudah memegang sebatang tongkat panjang seperti toya, kemudian dia menggerakkan kudanya memasuki lorong setapak di antara rumput-rumput kuning itu. Kudanya bergerak perlahan memasuki lorong itu dan benar saja, makin lama lorong itu makin menurun agaknya karena rumput-rumput itu menjadi makin tinggi, ataukah rumput ilalang yang tumbuh di kanan kiri sudah setinggi paha kudanya.

Kuda yang ditunggangi Hok Boan maju terus. Tiba-tiba kuda itu berhenti melangkah, lalu meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depan ke atas, terdengar bunyi berkerosakan disusul oleh suara salak anjing dari jauh. Hok Boan terkejut, akan tetapi dia sudah siap dengan tongkatnya. Tak lama kemudian, muncullah delapan ekor anjing liar yang menyerang dari depan, kanan dan kiri. Akan tetapi, Hok Boan sudah siap dengan tongkatnya dan beberapa kali tongkatnya bergerak memukul. Setiap gerakannya tentu meremukkan kepala seekor anjing sehingga tak lama kemudian, bangkai delapan anjing liar itu berserakan di tempat itu.

Akan tetapi kuda itu menggigil, agak­nya ketakutan. Ketika Hok Boan me­maksanya untuk maju, kuda itu meringkik dan maju perlahan-lahan. Kini mereka tiba di lorong setapak yang memisahkan antara rumput ilalang tinggi dan rumput hijau segar yang berada sebelah kiri. Hok Boan menjaga benar-benar agar kudanya tidak makan rumput itu atau menginjak bagian kiri. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis dan berkero­sakan. Ilalang itu bergoyang-goyang dan kudanya kini makin ketakutan, meringkik-ringkik ganas, mendengus-dengus. Kembali Hok Boan mempersiapkan tongkatnya dan ketika dia melihat muncuinya ular-ular yang datang menyerang, dia me­mutar tongkatnya itu, memukul remuk kepala beberapa ekor ular yang datang dekat. Akan tetapi, kuda itu menjadi ketakutan, tiba-tiba meringkik dan me­loncat ke kiri, jauh sekali, ke arah padang rumput hijau.

“Blessss...!” Begitu empat buah kaki kuda itu tiba di atas tanah berumput hijau, seketika kaki itu amblas ke bawah
sampai seperut kuda! Hok Boan terkejut bukan main, namun dia memang cerdik. Dia tidak menjadi gugup dan masih ingat untuk tidak meloncat turun. Tahulah dia bahwa kudanya telah terperosok ke dalam lumpur maut yang menghisap dari bawah. Kuda itu tidak akan dapat tertolong lagi. Maka dia lalu menggunakan kuda itu sebagai batu loncatan, meloncat ke kanan dan tiba di lorong setapak tadi. Dia mendengar kudanya meringkik-ringkik dan mendengus-dengus. Ketika dia menoleh dan memandang, bulu tengkuknya meremang. Mengerikan sekali memang. Kuda itu tenggelam makin dalam, kini tubuhnya sudah tenggelam semua, tinggal leher dan kepalanya, ma­tanya terbelalak, hidungnya mendengus-dengus, mulutnya berbusa. Bagian tubuh yang tinggal inipun tidak lama karena leher dan kepalanya segera terbenam pula dan tidak nampak lagi bekas-bekas­nya. Rumput hijau itu sudah menjadi rata kembali seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Hok Boan menjadi marah sekali. Dengan menggunakan pedangnya dan batu yang terdapat di situ, dia membuat api dan membakar padang ilalang yang penuh dengan ular-ular tadi. Api berkobar dan menjalar, membakar seluruh padang ilalang itu!

Hok Boan sendiri menjauh, kembali ke tempat tadi karena dia merasa terlalu berbahaya untuk melanjutkan perjalanan. Biar tempat berbahaya itu habis ter­bakar lebih dulu sebelum dia melanjutkan perjalanan, pikirnya. Untung ketika dia meloncat dari atas kudanya tadi, dia tidak lupa untuk menyambar bungkusannya yang terisi pakaian dan bekal makanan. Kini, dia duduk memandang padang ilalang yang terbakar itu sambil menggerogoti roti kering. Benar juga penuturan anggauta pasukan kerajaan itu. Melaku­kan perjalanan menuju ke Lembah Naga akan melalui tempat-tempat berbahaya dan sampai berhari-hari tidak akan ber­temu dengan dusun, maka sebaiknya membawa bekal makanan. Kalau dia tidak membawa bekal roti kering, dia bisa kelaparan.

Kebakaran di Padang Bangkai itu hebat sekali. Padang ilalang itu penuh dengan ilalang kering dan sudah berbulan-bulan ini tidak turun hujan, maka ten­tu saja api yang mengamuk itu mem­peroleh bahan bakar secukupnya sehingga api berkobar-kobar membasmi seluruh padang ilalang itu selama sehari semalam!

Pada hari ke dua, setelah api kehabis­an makanan dan mulai padam, meninggal­kan puing, abu dan asap, muncullah serombongan orang dari Padang Bangkai, memeriksa keluar dan sampai di tempat yang kebakaran itu. Mereka ini adalah Sin-jio Coa Lok bersama tiga puluh orang anak buahnya. Ketika api sedang mengamuk, mereka ini tidak dapat ber­buat apa-apa, hanya menonton saja ketika api mengamuk hebat, merobah padang ilalang itu menjadi lautan api. Akan tetapi setelah api mulai padam, mereka lalu keluar dari sarang mereka untuk mengadakan pemeriksaan dan untuk menyelidiki apa yang menyebabkan kebakaran itu karena sepanjang penge­tahuan mereka, tidak pernah ada orang berani mendekati daerah Padang Bangkai, apalagi melakukan pembakaran.

Akan tetapi sekali ini mereka keliru dan memandang dengan penuh keheranan ketika mereka melihat seorang laki-laki muda berpakaian sasterawan duduk melenggut di bawah pohon. Melihat ada seorang asing di daerah ini, mereka bukan hanya merasa heran, akan tetapi juga curiga sekali. Andaikata bukan orang ini yang melakukan pembakaran, tentu orang ini melihat siapa yang melakukannya, maka atas isyarat tangan kepala perampok itu, gerombolan ini lalu menghampiri pohon di mana laki-laki itu duduk di bawahnya dan mengurung pohon itu.

Laki-laki itu adalah Kui Hok Boan. Tentu saja dia tahu ketika ada segerom­bolan orang kasar itu muncul dari Padang Bangkai. Mula-mula dia merasa heran bukan main, juga terkejut karena menurut keterangan yang diperolehnya dari angauta pasukan kota raja itu, bahwa Padang Bangkai maupun Lembah Naga kini merupakan tempat berbahaya yang kosong karena penghuninya telah dibasmi oleh para pendekar yang memimpin pasukan kerajaan. Bagaimana kini tahu-tahu muncul segerombolan orang itu? Dari gerak-gerik mereka, Kui Hok Boan, yang sudah banyak pengalamannya di dunia kang-ouw itu sudah dapat menduga bahwa mereka adalah gerombolan pen­jahat, setidaknya orang-orang yang kasar, yang hanya mengandalkan tenaga dan kekerasan untuk memaksakan kemauan dan keinginan mereka kepada orang-orang lain. Dan melihat laki-laki berusia empat puluhan tahun yang memegang sebatang tombak panjang itu, yang berjalan di muka dan memberi isyarat dengan tangan, dia dapat menduga pula bahwa laki-laki itu tentulah yang menjadi kepala dari gerombolan itu.

Hok Boan bersikap tenang saja, malah ketika mereka melihatnya dan meng­hampiri dari jauh, dia sudah duduk melenggut di bawah pohon, seolah-olah tidak melihat kedatangan mereka. Akan tetapi tentu saja seluruh urat syaraf di tubuhnya telah siap siaga. Pedangnya dia sembunyikan di bawah buntalan pakaian sedangkan tongkat ranting pohon itu menggeletak di dekatnya.

“Hemm, sungguh aneh, di tempat seperti ini ada seorang sasterawan kesasar!” kata Coa Lok sambil meraba dagunya, “Hai, kutu buku, bangunlah!”

Akan tetapi Hok Boan masih pura-pura tidur. Dia ingin melihat apa yang akan diperbuat oleh orang-orang ini sehingga dari perbuatan mereka, dia sudah dapat menilai orang-orang macam apa adanya mereka. Ketika melihat bahwa sasterawan muda itu masih enak saja melenggut, seorang anak buah perampok menjadi penasaran dan menghampiri, memegang pundak Hok Boan dan meng­guncangnya dengan kasar dan kuat-kuat. Tubuh Hok Boan tergoncang-goncang keras.

“Heh, babi malas! Tai-ong kami menegurmu! Bangun!”

Kui Hok Boan gelagapan, menggosok-gosok matanya, lalu bangkit duduk. Di depannya berdiri Coa Lok yang bermuka kekuning-kuningan dan yang memegang tombak panjang. Tombak itu dipegang dengan tangan dan berdiri di depannya. Sikap kepala perampok ini tidaklah begitu kasar dan buas, tidak seperti tiga puluh orang anak buahnya yang me­mandang dengan mulut menyeringai dan sinar mata buas.

“Ah, siapakah kalian? Dari mana kalian datang?” Hok Boan bertanya dan bangkit berdiri tanpa mengambil buntalan, pedangnya maupun kayu ranting itu.

Melihat sikap orang muda itu, Sin­-jio Coa Lok yang mengira bahwa pemuda itu tentu seorang sasterawan yang suka melancong dan kesasar di tempat itu, bersikap lunak dan berkata, “Orang muda, apakah engkau tidak tahu bahwa engkau berada di daerah Padang Bangkai?”

Hok Boan pura-pura terkejut. “Padang Bangkai? Betapa menyeramkan nama itu!”

“Ha-ha-ha, dan engkau akan menjadi bangkai pula di sini, kutu busuk!” ter­dengar seorang anak buah perampok mengejek dan terdengar suara ketawa di sana-sini.

“Orang muda, ketahuilah bahwa kami adalah penghuni-penghuni Padang Bangkai. Engkau telah memasuki wilayah kekuasa­an kami. Siapakah engkau?” Coa Lok bertanya.

“Namaku adalah Kui Hok Boan.”

“Bagaimana engkau bisa datang ke tempat ini?”

“Bagaimana? Dengan berkuda, melalui padang ilalang itu. Akan tetapi segerombolan anjing liar menyerangku dan untung aku dapat mengusir mereka. Ketika segerombolan ular datang menyerang, kudaku terkejut dan meloncat ke padang rumput hijau, terbenam dan tewas. Aku mendongkol sekali dan kubakar padang ilalang itu.”

“Setan alas!”

“Keparat jahanam!”

“Jadi kutu buku ini yang membakarnya!”

Tiga puluh orang itu sudah mengepung dengan sikap mengancam, akan tetapi Coa Lok mengangkat tangan kiri ke atas dan mengisyaratkan anak buahnya untuk mundur. Dia melihat sesuatu yang aneh dan mengherankan. Bagaimana sasterawan muda yang kelihatan lemah ini mampu mengusir gerombolan anjing liar yang amat galak dan buas itu? Dan setelah kudanya terbenam ke dalam lumpur maut, bagaimana sasterawan ini masih mampu menyelamatkan diri? Tentu orang ini bukanlah seorang sasterawan biasa yang lemah!

“Kui Hok Boan, engkau telah lancang tangan membakar padang ilalang. Apa maksudmu datang ke sini?” Coa Lok membentak lagi.

“Aku membakar padang ilalang itu karena padang itu membikin buruk tempat ini, membuat tempat ini merupakan tempat yang tersembunyi dan terputus dari dunia luar. Dan maksud kedatanganku ke sini? Aku hendak pergi ke Padang Bangkai dan Lembah Naga.”

Sejenak suasana menjadi sunyi ketika pemuda ini menjawab seperti itu, lalu menjadi berisik karena anak buah pe­rampok saling bicara sendiri. Akhirnya Coa Lok mengangkat tangan menyuruh mereka diam. Dia, memandang kepada pemuda sasterawan itu penuh perhatian, lalu berkata, suaranya mengandung ke­marahan. “Orang muda she Kui, jangan kau main-main! Padang Bangkai adalah daerah kekuasaan kami, seorangpun tidak boleh memasukinya, dan Lembah Naga adalah daerah terlarang bagi siapapun juga. Katakan, apa sebetulnya kehendak­mu?”

Kini Hok Boan tersenyum lebar dan memandang kepala perampok itu.”Engkau masih belum tahu? Aku datang untuk menaklukkan Padang Bangkai dan Lembah Naga!”

Terdengar suara ketawa bergelak ketika para perampok mendengar jawaban ini. Bahkan Coa Lok sendiri tersenyum masam. “Orang muda, agaknya engkau telah menjadi gila!” katanya.

“Tai-ong, serahkan kepadaku untuk menyembelih anjing ini yang telah berani membakar padang ilalang!” kata seorang anggauta perampok yang bertubuh tinggi besar dan bermuka brewok sehingga nampaknya menyeramkan sekali. Orang ini terkenal dengan tenaganya yang besar dan disegani di antara kawan-kawannya.
Karena merasa bahwa orang muda berpakaian sasterawan ini memang keterlaluan, apalagi telah bersalah membakar padang ilalang yang merupakan pelindung bagi Padang Bangkai, Coa Lok mengangguk memberi ijin. Semua orang mundur untuk memberi ruang kepada si brewok yang hendak menyembelih sasterawan itu.

Si brewok tinggi besar kini melangkah maju sambil menyeringai. Tangan kanannya memegang sebatang golok besar yang tajam mengkilap. Matanya yang lebar itu terbelalak penuh ancaman, dan hidungnya mendengus-dengus, dia seperti seekor harimau kelaparan haus darah dan agaknya tugas membunuh orang ini mendatangkan ketegangan yang menggembirakan hatinya!

Tentu saja Kui Hok Boan tidak merasa takut sama sekali. Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan di pinggang dan berkata mengejek, “Heh, babi gemuk, bukan aku yang akan menjadi korban golok pemotong babimu itu, melainkan engkau sendiri!”

Dimaki babi gemuk, si brewok itu menjadi marah, apalagi karena beberapa orang kawan-kawannya tertawa mendengar ini. “Anjing kurus! Kau berani memaki aku? Huh, terlalu enak kalau kau disembelih begitu saja! Aku akan merobek-robek seluruh tubuhmu dengan kedua tanganku ini saja!”

“Cappp!” Dia membanting goloknya ke bawah dan golok itu menancap di atas tanah sampai setengahnya, gagangnya bergoyang-goyang saking kerasnya bantingan itu.

“Bagus! Dengan melepaskan golok, berarti engkau menyelamatkan nyawamu sendiri, babi gemuk,” Hok Boan berkata dan ketika si brewok itu menerjangnya dengan kedua lengan dikembangkan seperti biruang besar, tiba-tiba pemuda sasterawan itu menggerakkan kedua kakinya dan si brewok menjadi bingung karena pemuda itu tiba-tiba saja lenyap dari depannya! Akan tetapi para anak buah perampok terkejut karena mereka melihat betapa tubuh sasterawan muda itu seperti seekor burung saja tadi telah melayang melalui atas kepala si brewok dan kini telah hinggap dengan kaki kirinya di atas gagang golok yang menancap di atas tanah itu! Gagang golok itu masih bergoyang-goyang dan tubuh si sasterawan juga ikut bergoyang-goyang, akan tetapi dia masih bertolak pinggang dengan kedua tangannya sedangkan kaki kanannya diangkat ke lututnya!

“Dengarlah kalian semua! Aku datang untuk memimpin kalian dan hanya kalau pemimpin lama kalian itu mau berlutut dan minta ampun, maka aku suka mengampuninya!”

Terdengar suara menggereng dan si brewok tadi sudah menubruk ke depan dengan kemarahan meluap. Karena Hok Boan yang berdiri di atas gagang golok itu menghadapi kepala perampok, maka si brewok menyerangnya dari belakang. Kedua tangan yang besar itu terbuka dan seperti cakar harimau hendak mencengkeramnya.

Tanpa menoleh, Hok Boan mengayun kaki kanan yang tadi ditekuk ke lutut kaki kiri, dengan gerakan yang cepat sekali.

“Wuuuuttt... desss...!” Tubuh si brewok terpelanting ketika perutnya bertemu dengan tendangan yang tiba-tiba ini. Kaki sasterawan itu telah lebih dulu mengenai perutnya sebelum kedua tangannya dapat menjamah tubuh lawan dan tendangan itu sedemikian kuatnya sehingga dia terpelanting dan terguling-guling.

Coa Lok sejak ditantang tadi sudah merah mukanya. Kini matanya terbelalak dan tahulah dia bahwa sasterawan itu memang sengaja datang untuk mencari perkara, untuk memusuhinya dan ternyata bahwa sasterawan itu memang bukan orang biasa, melainkan seorang yang lihai. Dipegangnya tombaknya erat-erat akan tetapi pada saat itu, si brewok yang merasa penasaran telah bangkit berdiri dan lari menerjang lawan yang masih berdiri di atas gagang golok. Coa Lok mendiamkannya saja karena dia ingin melihat sampai di mana kelihaian lawan itu. Para anggauta perampok yang lain kini juga memandang dengan penuh perhatian tidak lagi mentertawakan si pemuda sasterawan yang ternyata adalah seorang pandai itu.

Haiiiitttt...!” Si brewok itu mengeluarkan bentakan nyaring. Sekali ini dia tidak lagi mau bertindak sembrono. Dia sudah tahu bahwa lawannya memang amat pandai, maka dia tidak lagi menubruk secara membabi-buta seperti tadi, melainkan menyerang dengan gerakan ilmu silat, memukul bertubi-tubi dengan kedua tangannya yang berlengan panjang. Pukulannya keras sehingga mengeluarkan bunyi angin bersiutan.

“Plak-plak-plakk!” Semua pukulan dapat ditangkis dengan tenang saja oleh Hok Boan dan setiap kali tertangkis, lengan ii brewok yang amat kuat dan besar itu terpental dan mulutnya me­ringis karena tangkisan itu membuat lengannya terasa nyeri, tulangnya seperti akan pecah rasanya.

“Babi gendut, engkau masih juga belum jera? Nah, robohlah!” Tiba-tiba Hok Boan meloncat turun dan sekali kakinya bergerak, kaki kiri itu melayang ke arah muka si brewok. Tentu saja si brewok terkejut bukan main dan cepat mengangkat kedua tangan untuk menang­kis dan menangkap kaki lawan, akan tetapi tiba-tiba dia morata kakinya lumpuh dan dia terguling roboh. Kiranya tendangan kaki ke arah muka itu hanya pancingan belaka dan yang sungguh-sungguh menyerang adalah kaki yang so­belah lagi sambil melompat, kaki ini menendang lututnya sehingga dia roboh dengan sambungan tulang lutut terlepas! Dia hanya dapat rebah memegangi lututnya sambil mengeluh panjang pendek.

Hok Boan membungkuk dan sekali cabut, golok itu telah berada di tangan­nya. Dia memandang kepada si brewok dan berkata, “Kalau aku mau, betapa mudahnya membunuhmu, babi! Akan tetapi sudah kukatakan, aku membutuh­kan kalian untuk menjadi anak buahku, maka aku tidak akan membunuhmu!” Setelah berkata demikian, dengan kedua tangannya, dia menekuk-nekuk golok itu. Terdengar suara nyaring dan golok itu patah-patah menjadi beberapa potong yang kemudian dilemparkannya ke atas tanah. Potongan-potongan golok itu menancap dan lenyap amblas ke dalam tanah, hanya tinggal gagangnya saja yang dibuangnya dengan sikap tidak perduli.

Semua anak buah perampok terkejut setengah mati. Si brewok memandang pucat, lalu dia merangkak menjauhkan diri. Coa Lok yang menyaksikan ini makin kaget dan tahu bahwa dia benar-benar menghadapi seorang lawan berat. Maka timbullah kecurangannya dan dia lalu membentak, “Hayo maju semua, keroyok dan bunuh pengacau ini!”

Para perampok itu sudah biasa dengan perintah Coa Lok, maka mendengar bentakan ini mereka lalu mengacungkan senjata masing-masing, siap untuk maju mengeroyok. Hok Boan yang melihat hal ini, meloncat dan tubuhnya melayang ke dekat pohon di mana dia, menyimpan pedang dan buntalannya. Sekali sambar dia telah mengambil pedangnya dan menghunusnya, pedang yang kelihatan masih kasar namun mengeluarkan sinar menyeramkan, pedang buatan ahli pedang Bhe Coan itu. Dengan pedang melintang di depan dadanya, Hok Boan mem­bentak dengan suara yang menggetarkan jantung karena dia membentak dengan pengerahan tenaga khi-kang dari pusar, “Tahan semua! Dengar baik-baik! Aku datang untuk memimpin kalian dan aku menjanjikan penghidupan yang baik dan jauh lebih makmur daripada sekarang kepada kalian! Bukan berarti aku takut kepada kalian. Akan tetapi kalau kalian maju mengeroyok, terpaksa aku akan membunuh kalian semua dan aku harus susah payah mengumprulkan anak buah dari dusun-dusun. Biarkan aku berhadapan dengan kepala kalian dan kita lihat, siapa di antara kami berdua yang lebih patut menjadi pemimpin kalian, menjadi majikan Padang Bangkai!”

Ucapan itu berpengaruh dan semua perampok menjadi ragu-ragu. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hok Boan yang cerdik, untuk mencari kedudukan yang menguntungkan. “Hai, kau si muka ber­penyakitan yang berlagak jagoan dengan tombakmu dan hendak memimpin se­kelompok orang gagah ini! Dengar baik-baik! Kalau benar engkau jagoan, hayo kau maju melawan aku, dan aku akan menghadapi tombakmu itu dengan ranting ini saja. Pedangku tidak akan kuperguna­kan. Ha-ha, mukamu makin pucat dan engkau hanya seorang banci, seorang pengecut, seorang penakut yang berani­nya hanya mengandalkan bantuan banyak anak buah saja. Engkau tidak patut menjadi pemimpin!”

Sin-jio Coa Lok menjadi pucat saking marahnya. Kehormatannya tersinggung. Dia bukanlah seorang lemah. Sama sekali bukan. Tombaknya ditakuti banyak orang, bahkan dia telah dijuluki, Si Tombak Sakti. Kalau tadi dia hendak menggunakan pengeroyokan adalah karena dia ingin lebih yakin mengalahkan lawan ini. Sekarang, ditantang seperti itu, tentu saja dia tidak sudi untuk memperlihatkan sikap takut. “Mundur semua! Kerbau-kerbau tolol, mundur semua!” bentaknya marah kepada anak buahnya yang tidak cepat-cepat menyerang lawan sehingga memberi kesempatan kepada lawan untuk mengejeknya. “Mundur dan lihat tombakku akan mengeluarkan ususnya yang busuk!”

Perintah ini tidak perlu diulang dua kali karena semua anak buah perampok sudah melangkah mundur. Mereka ingin sekali melihat apakah kepala mereka itu benar-benar akan mampu membunuh pemuda sasterawan yang amat berani itu. Janji yang diucapkan oleh pemuda sasterawan itu menarik hati mereka. Juga mereka telah terkesan ketika melihat betapa pemuda itu tadi tidak membunuh si brewok tinggi besar yang menjadi teman mereka, padahal kalau pemuda itu mau, tentu si brewok itu telah tewas. Pemuda itu tidaklah sekejam dan seganas Si Tombak Sakti, maka hal ini saja sudah menimbulkan kesan baik di hati mereka.

Sin-jio Coa Lok yang sudah marah sekali itu maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang tangguh, akan tetapi tentu saja dia sama sekali tidak merasa takut. Dia terlalu percaya kepada tombaknya, maka dia sudah menubruk dengan kecepatan kilat, tombaknya digerakkan dan nampaklah sinar terang menyambar-nyambar ketika tombak itu membuat gerakan bergulung-gulung seperti ombak dahsyat menerjang ke arah Kui Hok Boan. Orang she Kui ini tidak melanggar janjinya, dia sudah menyambar ranting yang tadi berada di bawah pohon. Melihat gerakan lawan yang amat hebat itu, diam-diam dia terkejut dan cepat dia menggerakkan rantingnya untuk melindungi dirinya. Akan tetapi dia maklum bahwa senjata rantingnya tidak mungkin dapat dipergunakan untuk menangkis tombak lawan yang terbuat dari baja kuat itu, maka dia hanya mengandalkan gin-kangnya, mengelak dari sambaran tombak dan menggerakkan ranting untuk menotok jalan darah lawan di beberapa bagian dengan kecepatan kilat yang bertubi-tubi. Serangannya itu sudah merupakan penghambat bagi terjangan Coa Lok karena Si Tombak Sakti itu tentu saja maklum akan bahayanya totokan-totokan yang biarpun hanya dilakukan dengan sebatang ranting, namun didorong oleh tenaga sakti yang kuat.

Ilmu tombak yang dimainkan oleh Coa Lok adalah ilmu tombak keturunan yang amat hebat. Semenjak nenek besarnya, keluarga Coa telah secara turun-temurun mempelajari ilmu tombak itu dan selama beberapa keturunan, ilmu tombak itu telah mengangkat tinggi nama keluarga Coa. Sebagai ilmu simpanan keluarga, maka ilmu tombaknya itu berbeda sifat dan gerakannya dengan ilmu silat yang diajarkan oleh partai-partai persilatan umum, maka menghadapi ilmu tombak yang tidak dikenalnya itu, Kui Hok Boan menjadi repot dan kewalahan juga. Ujung tombak itu tergetar-getar menjadi beberapa batang banyaknya dan setiap batang seolah-olah bergerak sendiri-sendiri menyerang dari pelbagai jurusan.

Sebaliknya, Kui Hok Boan, anak murid Go-bi-pai itu, biarpun telah mempelajari permainan delapan belas macam senjata, namun memiliki keahlian dalam permainan pedang. Padahal, tingkat kepandaian­nya kalau dibandingkan dengan Coa Lok hanya lebih tinggi setingkat saja, maka kini dengan menggunakan sebatang ran­ting sebagai senjata, tentu saja kemena­ngan tingkatnya tidak banyak artinya, karena kalau lawan menggunakan senjata yang menjadi keahliannya, sebaliknya dia menggunakan senjata yang sama sekali tidak dapat menonjolkan kepandaiannya.

Betapapun juga, Hok Boan memang patut dipuji. Sampai hampir seratus jurus mereka bertanding, namun belum juga tombak di tangan Coa Lok mampu me­robohkannya, biarpun kadang-kadang membuat sasterawan itu repot bukan main dengan elakan ke sana-sini dan nyaris saja perutnya tertembus tombak ketika dia mengelak dan bajunya yang tertembus dan robek. Dia terkejut sekali dan terdengar suara tertawa mangejek dari para anak buah perampok yang menonton pertempuran mati-matian itu.

“Ha-ha, kutu buku sombong, bersiaplah kau untuk mampus!” Sin-jio Coa Lok ter­tawa mengejek dan menubruk lagi dengan tombaknya, memutar-mutar tombaknya sehingga lenyaplah mata tombak itu dan berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung menerjang ke arah Hok Boan.

Hok Boan maklum bahwa kalau dia mempertahankan terus senjata rantingnya, akhirnya dia akan kalah dan celaka. Dia tidak perlu menjaga kehormatannya ter­hadap orang-orang tidak terhormat ini, pikirnya. Bahkan omongan besarnya untuk menghadapi kepala perampok ini dengan sebatang ranting, dapat dia pergunakan demi keuntungannya, pikirnya pula. Dengan menggunakan ranting sehingga dia terdesak hebat, kepala perampok ini menjadi lengah oleh bayangan kemenangannya. Maka dia sengaja memperlambat gerakannya sehingga dia terdesak makin hebat dan bermain mundur terus. Seperti tidak disengaja, kakinya tergelincir dan dia jatuh ke atas tanah.

“Ha-ha, mampuslah kau...!” Coa Lok mengejar dengan tombaknya. Akan tetapi Hok Boan terus menggerakkan tubuhnya menggelundung dan menjauh. Ketika Si Tombak Sakti itu mengejar terut sambil tertawa-tawa dan berusaha menusukkan tombaknya ke arah tubuh lawan yang bergulingan, tiba-tiba Hok Boan mengeluarkan bentakan nyaring, tangan kanannya bergerak dan ranting itu meluncur seperti anak panah menuju ke arah dada Coa Lok!

“Ehhh...! Krekk-krekkk...!” Coa Lok terkejut, cepat menangkis dengan tombaknya dan mematahkan ranting itu.

Akan tetapi pada saat itu nampak sinar berkelebat dari depan. Coa Lok terkejut, melihat kecurangan lawan namun sudah terlambat karena pedang yang ditangkisnya itu masih meleset dan mcluncur memasuki perutnya.

“Blessss...!” Pedang itu menembus perutnya, lalu oleh Hok Boan diputar ke atas sehingga perut kepala perampok itu robek. Kepala perampok itu mengeluarkan teriakan mengerikan, tombaknya terlepas dan dia roboh terjengkang ketika Hok Boan mencabut pedang sambil menendangnya.

Para anak buah perampok memandang dengan mata terbelalak ke arah Coa Lok yang berkelojotan di atas tanah, kemudian memandang kepada Hok Boan yang berdiri tegak dengan pedang yang berlumuran darah itu di tangan kanan sambil tersenyum.

“Nah, kepala kalian telah mampus. Apakah di antara kalian ada yang ingin menemaninya ke neraka? Ataukah kalian mau mengangkat aku menjadi pemimpin kalian yang baru?” tantang Hok Boan.

Para perampok itu saling pandang. Mereka merasa ngeri karena maklum bahwa sasterawan ini benar-benar amat lihai. Beberapa orang di antara mereka yang termasuk tokoh-tokohnya lalu menjatuhkan diri berlutut, tentu saja segera diturut oleh yang lain dan mereka memberi hormat sambil berkata, “Tai-ong... kami mentaati perintah tai-ong...!”

Kui Hok Boan tersenyum dan menyimpan pedangnya setelah membersihkan darah dari pedang itu ke atas tubuh Coa Lok yang sudah tidak bergerak lagi. Dia berkata dengan suara halus namun penuh wibawa. “Kalian tidak akan menyesal mengangkatku menjadi pemimpin kalian. Aku akan membuat Padang Bangkai ini menjadi tempat yang indah dan baik, juga makmur setelah kalian membantuku mencari harta pusaka yang terpendam di sini. Aku dapat menduga bahwa kalian tentulah gerombolan perampok, bukan? Nah, mulai sekarang kita tidak perlu merampok lagi. Untuk apa melakukan pekerjaan hina dan memalukan itu kalau kita dapat mencari kekayaan dengan cara lain yang lebih mudah? Sekarang perintahku yang pertama adalah, kalian tidak boleh menyebut tai-ong. Aku bukan perampok. Kalian harus menyebutku taihiap (pendekar besar), mengerti? Namaku Kui Hok Boan dan kalian menyebutku Kui-taihiap, tidak kurang tidak lebih! Dan ingat, siapa yang berani melanggar pe­rintahku, akan kulemparkan ke lumpur maut!” Setelah berkata demikian, Hok Boan menyambar tangan mayat Coa Lok lalu mengerahkan tenaga, melontarkan mayat itu yang terlempar jauh dan ter­jatuh ke atas rumput hijau yang me­nyembunyikan lumpur di mana kudanya menjadi korban kemarin dulu. Lumpur itu menerima mayat Coa Lok dan karena mayat itu menimpa lumpur dengan ke­kuatan besar, seketika mayat itu lenyap ditelan lumpur.

Semua anggauta perampok itu meng­angguk-angguk dengan muka pucat. Pemuda sasterawan ini kelihatan halus, ramah dan tidak kasar, akan tetapi mempunyai sikap yang menyeramkan dan lebih menakutkan dari sikap Coa Lok yang kasar.

“Sekarang, tunjukkan aku jalan masuk ke dalam Padang Bangkai ini dan kita mulai dengan mencari harta pusaka yang tersimpan di suatu tempat yang sudah kuselidiki dari peta yang kudapat.”

Tiga puluh orang itu bersorak girang lalu mengantar ketua mereka yang baru memasuki padang yang luas itu menuju sarang mereka, dusun yang dikelilingi air itu. Memang tujuan Hok Boan datang ke Padang Bangkai dan Lembah Naga adalah untuk mencari harta-harta pusaka itu, yang dia dengar dari berita angin di antara para pasukan kerajaan. Bahkan dia secara teliti melakukan penyelidikan, mengumpulkan berita-berita itu dan menemukan sebuah peta tua yang me­nunjukkan di mana kiranya harta-harta pusaka itu disimpan di kedua tempat yang penuh rahasia itu.


Sesungguhnya berita yang didengarnya dari mulut ke mulut itu bukanlah hanya dongeng belaka. Harta pusaka itu adalah harta hasil perampokan dan rampasan dari pasukan-pasukan liar di bawah pimpinan Raja Sabutai ketika raja liar ini menaklukkan banyak suku bangsa Nomad di sekitar daerah padang dan gurun di utara. Karena tidak mungkin bagi pasukan itu untuk membawa-bawa harta yang amat banyak dan berat dalam perjalanan mereka menaklukkan suku-suku lain, maka sebagian dari harta itu mereka sembunyikan dan mereka tanam di beberapa tempat, di antaranya di Padang Bangkai dan lebih lagi di Lembah Naga. Raja Sabutai sendiri tidak tahu akan hal ini, karena pekerjaan itu dilakukan oleh anak buahnya yang ingin menyembunyikan sebagian dari harta rampasan itu. Dalam perang dan pertempuran-pertempuran selanjutnya, para penyimpan harta itu sudah gugur semua dan yang tinggal hanya cerita mereka yang diteruskan oleh teman-teman, dan akhirnya Hok Boan si petualang itulah yang berhasil menemukan penggambaran petanya dan yang percaya akan adanya harta itu dan kini benar-benar melakukan penyelidikan dan pencarian. Orang lain, biarpun percaya akan adanya harta itu, merasa jerih untuk menyelidiki karena selain tempat itu berada di wilayah kekuasaan Raja Sabutai, juga di situ banyak terdapat suku-suku liar dan kedua tempat itupun kabarnya merupakan daerah berbahaya yang tak mungkin dimasuki orang luar.

Dalam waktu setahun saja terjadilah perubahan besar-besaran di Padang Bangkai. Dusun di tengah padang yang dikelilingi air sungai itu, yang tadinya hanya terdiri dari rumah-rumah petak sederhana, kini telah berubah menjadi bangunan besar dan megah, dikelilingi taman bunga dan dipasangi jembatan-jembatan indah di atas sungai itu. Juga jalan menuju ke Padang Bangkai dibangun dan dibuat lebar dan tidak berbahaya. Bahkan kini mulai ada penduduk tinggal di luar padang itu, tidak lagi takut seperti dulu sehingga Padang Bangkai kini bukan lagi menjadi daerah “angker” yang menyeramkan dan tidak ada orang berani mendekati. Padang Bangkai kini berubah menjadi sebuah dusun makmur milik Kui-kongcu yang dikenal sebagai seorang hartawan yang ramah dan manis budi. Semua perubahan ini diadakan oleh Kui Hok Boan yang ternyata berhasil menemukan harta pusaka itu di sebuah guha. Harta pusaka yang amat banyak, terdiri dari emas permata yang mahal. Maka dibangunlah tempat itu, bukan hanya rumah gedung untuk dia sendiri, juga rumah-rumah petak yang indah untuk para anak buahnya yang tiga puluh orang banyaknya itu, dan pakaian-pakaian untuk mereka. Bahkan kini para anak buah itu ada yang mengambil isteri dan membentuk keluarga di Padang Bangkai. Hidup mereka tentram dan tenang, tidak lagi harus merampok seperti dulu, melainkan mengusahakan tanah yang subur di daerah itu untuk bercocok tanam. Selain dari hasil ini, juga secara halus Hok Boan mulai menentukan semacam “pajak” bagi para penghuni yang tinggal di sekitar Padang Bangkai, dengan dalih bahwa anak buah Padang Bangkai yang menjamin keselamatan mereka dari gangguan siapapun juga. Karena sikap Hok Boan yang halus, juga anak buahnya yang tidak boleh menggunakan kekerasan, maka para penghuni itu dengan suka hati suka menyerahkan sebagian dari hasil mereka sebagai semacam pajak atau upah menjaga keamanan mereka!

Beberapa kali Hok Boan ingin pergi melakukan penyelidikan ke Lembah Naga karena memang dia ingin mencari pula harta pusaka yang terpendam di tempat itu. Bahkan menurut kabar, harta yang berada di situ lebih banyak lagi di samping adanya sebuah istana di Lembah Naga itu sebagai peninggalan Raja Sabutai.

Akan tetapi, berkali-kali anak buahnya memperingatkan Hok Boan agar jangan sembarangan menyerbu atau memasuki Lembah Naga. “Mendiang ketua kami yang dahulu, Coa Lok, dengan keras melarang kami untuk mendekati istana itu, taihiap. Dan memang kamipun sudah jera untuk memasuki daerah Istana Lembah Naga, setelah lima orang teman kami tewas secara mengerikan oleh iblis betina itu.” Demikian antara lain anak buahnya memperingatkan.

Hok Boan lalu mendengar cerita mereka tentang wanita cantik bertangan kiri buntung yang amat hebat kepandaiannya. Betapa mendiang Coa Lok sendiri tidak mampu mengalahkannya, dan betapa lima orang di antara mereka tewas oleh wanita cantik itu.

“Kepandaiannya seperti iblis, taihiap, gerakannya cepat seperti pandai meng­hilang saja. Akan tetapi dia tidak pernah mengganggu kami selama ini. Oleh karena itu, apakah tidak sebaiknya kalau kita juga tidak mengganggunya? Kita sudah hidup senang dan makmur di sini berkat kebijaksanaan taihiap, dan kami sudah puas.”

Biarpun mulutnya tidak berkata apa-apa, namun di dalam hatinya Kui Hok Boan merasa penasaran sekali. Makin tertariklah hatinya untuk mengunjungi istana itu, di mana menurut cerita anak buahnya tinggal wanita cantik yang kepandaiannya seperti iblis betina itu, di­temani oleh lima orang pelayan wanita yang cantik-cantik pula. Mendengar wanita-wanita cantik, jantung sasterawan muda ini sudah berdebar tegang dan gembira. Sudah terlalu lama dia kesepian, semenjak dia meninggalkan Leng Ci yang cantik dan genit. Memang di antara para penghuni dusun terdapat pula wanita-wanita mudanya, dan dia sudah me­ngunjungi dan menghibur dirinya dengan dua tiga orang di antara mereka, akan tetapi hatinya tidak puas. Mereka adalah wanita-wanita dusun yang sederhana, bodoh dan juga berkulit kasar dan kehitaman karena kerja berat dan terbakar sinar matahari di sawah ladang.

Karena dia tidak ingin mengganggu ketentraman hidup para anak buahnya, maka dia mengambil keputusan untuk menyelidiki sendiri saja. Dia tahu bahwa anak buahnya adalah bekas-bekas pe­rampok yang berjiwa kasar dan ganas. Kini, oleh keadaan yang makmur dan tentram, anak buahnya itu bagaikan harimau-harimau yang kekenyangan dan tidur bermalas-malasan. Kalau sampai digerakkan dan bangkit kembali keganas­an mereka, maka akan repot jugalah dia untuk menanggulangi mereka. Biarkanlah mereka menjadi harimau-harimau jinak karena memang dia tidak membutuhkan tenaga mereka. Di tempat seperti itu, agaknya tidak akan ada musuh yang mengganggu.

Demikianlah, pada suatu pagi, tanpa diketahui oleh orang lain, diam-diam Kui Hok Boan memasuki daerah Lembah Naga dari selatan. Daerah yang luas dan indah, tanahnya subur dan tak lama kemudian, ketika jalan itu mulai menanjak berat, dia sudah melihat genteng istana dari jauh, kemerahan dan tinggi. Akan tetapi selagi dia melenggang seenaknya, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan merdu, “Hei, berhenti! Tidak boleh memasuki tempat itu tanpa ijin!”

DENGAN tenang Hok Boan menoleh dan melihat lima orang wanita bermunculan. Melihat kaki dan tangan mereka yang masih berlepotan lumpur, tahulah dia bahwa mereka tadi sedang asyik bekerja di sawah ketika mereka melihat kedatangannya dan menghadang di sini. Wanita-wanita itu tidak sangat cantik, akan tetapi dibandingkan dengan wanita-wanita dusun, mereka ini jauh lebib bersih menarik. Bahkan ada seorang di antara mereka, yang berbaju hijau, tentu belum ada tiga puluh tahun usianya, dan wajahnya manis. Dia sudah menduga bahwa tentu inilah mereka yang disebut pelayan­-pelayan dari wanita cantik bertangan buntung itu, maka dia tersenyum manis dan memasang aksi yang ramah.

Kui Hok Boan memang berwajah tampan. Apalagi pagi hari itu dia sengaja mengenakan pakaian baru yang indah dan bersih. Ketika melihat pemuda itu tersenyum dan sikapnya yang sopan dan lemah lembut, lima orang itu tercengang, kemudian seorang di antara mereka, kebetulan yang muda berbaju hijau itu, berseru, “Ah, bukankah Kui-taihiap... dari Padang Bangkai...?”

Seperti diketahui, kadang-kadang, untuk keperluan mereka, tentu ada di antara para pelayan dari istana lembah itu yang turun dari lembah dan pergi ke dusun-dusun untuk membeli keperluan mereka. Oleh karena, itu maka mereka mendengar belaka akan semua perubahan yang terjadi di Padang Bangkai. Mereka sudah melapor kepada majikan mereka, yaitu Liong Si Kwi, bahkan Padang Bangkai telah memiliki majikan atau pemimpin baru, dan betapa Padang Bangkai kini dibangun dan banyak penghuni dusun yang berdatangan dan membuka dusun-dusun baru di luar Padang Bangkai. Akan tetapi Si Kwi tidak mau mencampuri urusan itu. Untuk apa dia mencampuri urusan para perampok di Padang Bangkai? Biar berganti pimpinan seribu kalipun tetap saja perampok dan dia tidak sudi berurusan dengan para perampok. Maka dia hanya berpesan
kepada para pelayannya agar jangan berhubungan atau mencampuri urusan orang­ Padang Bangkai. Dia tidak akan perduli selama orang-orang Padang Bangkai tidak mengganggu Lembah Naga.

Akan tetapi, lima pelayan itu telah mendengar bahwa kepala di Padang Bangkai sekarang adalah seorang pemuda sasterawan yang tampan dan halus, dan yang disebut Kui-taihiap oleh para anak buah Padang Bangkai dan oleh semua penduduk dusun di sekitarnya. Dan ketika seorang dua orang di antara mereka pergi berbelanja, mereka mendengar penuturan para penduduk bahwa majikan Padang Bangkai itu amat ramah dan baik hati, sama sekali bukan bersikap sebagai kepala rampok, dan bahwa tidak pernah ada anggauta Padang Bangkai yang mengganggu dusun-dusun baru itu.

A Ciauw, pelayan berbaju hijau itu, sudah pernah satu kali melihat Kui Hok Boan dari jauh, maka kini dia mengenal pemuda itu. Mendengar teguran A Ciauw, empat orang temannya memandang penuh perhatian, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, sungguhpun majikan mereka sudah berpesan bahwa tidak ada orang luar, siapapun juga dia itu, yang boleh masuk ke Lembah Naga.

Hok Boan memperlebar senyumnya sehingga nampak giginya yang putih, lalu dia memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada. “Ah, kiranya cu-wi (anda sekalian) telah mengenal saya? Saya memang Kui Hok Boan, dari Padang Bangkai. Karena diantara kita adalah tetangga, maka saya ingin sekali datang mengunjungi Istana Lembah Naga, untuk berkenalan.”

Biarpun hanya A Ciauw seorang saja di antara mereka yang pernah melihat majikan Padang Bangkai yang disohorkan orang itu, namun mereka semua telah lama mendengar nama sasterawan muda itu dan kini melihat orangnya dengan sikapnya yang demikian halus dan ramah, lima orang pelayan itu merasa tidak enak kalau harus bersikap kasar. Bahkan untuk mengusirnya sekalipun mereka merasa malu hati. Maka kini mereka hanya saling pandang atau menatap wajah tampan itu dengan bingung. Akhirnya, A Ciauw yang merasa betapa pandang mata kongcu itu terutama ditujukan kepadanya dengan amat mesra, dengan kedua pipi berubah merah lalu menjura dengan hormat dan berkata, “Maafkan kami, Kui-taihiap. Bukan keinginan kami untuk bersikap kurang hormat kepada taihiap. Akan tetapi kami berlima hanyalah pelayan-pelayan dari nona kami yang mentaati perintah beliau...”

“Ah, kiranya cici (kakak) berlima adalah pelayan-pelayan dari Istana Lembah Naga? Sungguh mati, siapa dapat percaya hal ini kalau tidak mendengar sendiri? Biarpun cici berlima berlepotan lumpur karena habis kerja di ladang, namun melihat wajah dan sikap kalian... ah, sudahlah, betapapun juga, saya merasa amat gembira dapat bertemu dan berkenalan dengan kalian. Sekarang, cici berlima yang manis, tolonglah antar saya untuk menjumpai dan berkenalan dengan nona majikan kalian.”

“Itulah yang kami tidak berani lakukan, taihiap. Bahkan kalau bukan taihiap yang bertemu dengan kami di sini, tentu sudah sejak tadi kami minta untuk segera meninggalkan tempat ini. Ketahuilah, Kui-taihiap, bahwa nona majikan kami sudah berulang kali memesan bahwa tidak boleh orang luar datang memasuki Lembah Naga, apalagi hendak bertemu dengan beliau. Oleh karena itu, demi kebaikan kita bersama, taihiap, kami mohon dengan hormat sukalah taihiap kembali saja ke Padang Bangkai dan kami akan menyampaikan kepada nona majikan kami betapa baiknya keadaan dan sikap taihiap terhadap kami.”

Kui Hok Boan tersenyum dan memainkan matanya, lalu berkata, “Aihh, cici yang manis, mengapa demikian? Telah setahun saya tinggal di Padang Bangkai dan sudah banyak saya mendengar tentang nona majikanmu yang kabarnya cantik seperti bidadari dan juga manis budi. Kami adalah tetangga, kenapa saya tidak boleh menjumpai dan berkenalan dengan dia? Tidak, sekarang juga saya harus menemuinya, kalau tidak maka saya Kui Hok Boan tentu akan mati penasaran, setidaknya malam ini saya tidak akah dapat tidur.”

A Ciauw dan teman-temannya menjadi makin khawatir. “Jangan, taihiap, harap taihiap jangan memaksa, harap taihiap suka kembali saja...”

“Hemm, kalau saya tidak mau kembali, bagaimana? Saya mendengar bahwa lima orang dayang Istana Lembah Naga memiliki kepandaian tinggi, apalah kalian hendak menghajar saya dan memaksa saya pergi dari sini?”

“Ah, mana kami berani? Akan tetapi, kalau kami membiarkan saja taihiap memasuki istana, kami tentu akan mendapat marah besar dari nona majikan kami...”

“Karena itu, jangan kalian biarkan, cobalah kalian menghalangiku. Tentu saja aku tidak ingin menyusahkan kalian, para enci yang manis.” Hok Boan berkata dengan sikap main-main dan lebih akrab.

A Ciauw dan teman-temannya saling pandang, kemudian A ciauw menarik napas panjang dan berkata, “Apa boleh buat, Kui-taihiap. Kami hanyalah pelayan yang harus mentaati perintah nona majikan kami, kalau kami ingin selamat. Maafkan kami, terpaksa kami akan menghalangi taihiap. Harap saja taihiap menaruh kasihan kepada kami.” A Ciauw sudah memasang kuda-kuda diikuti oleh empat orang temannya.

“Mana aku sampai hati menyusahkan kalian?” jawab Hok Boan dan diapun lalu menerjang ke depan. Lima orang wanita itu menubruknya dan membuat gerakan menyerang untuk menangkap atau merobohkan tamu yang nekat ini, akan tetapi tentu saja mereka itu sama sekali bukan tandingan Kui Hok Boan. Dengan gerakan yang amat cepat, Hok Boan membagi-bagi totokan dan robohlah lima orang itu dalam keadaan lemas dan lumpuh tertotok!

Hok Boan tersenyum, lalu menghampiri A Ciauw, berlutut di dekatnya dan berkata, “Aku menyesal sekali, harap kalian maafkan aku. Akan tetapi hal ini perlu agar kalian tidak sampai mendapat marah. Kau manis sekali!” berkata demikian, Hok Boan mendekatkan mukanya dan mencium mulut wanita berbaju hijau itu, tangannya mengusap dan membelai. A Ciauw tidak mampu bergerak dan hanya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti orang merintih atau mengeluh, matanya dipejamkan dan setelah lama pria itu pergi, A Ciauw masih rebah terlentang dengan mata terpejam dan pikiran melayang jauh entah ke mana!

Sementara itu, dengan ilmu berlari cepat, Hok Boan sudah meninggalkan lima orang wanita yang dirobohkannya dengan totokan yang untuk beberapa lamanya akan membuat mereka lumpuh tak berdaya akan tetapi tidak membahayakan keselamatan nyawa mereka itu. Dia menuju ke istana, akan tetapi ketika mendengar suara anak kecil tertawa dan suara seorang wanita, dia tertarik dan mengalihkan langkahnya ke jalan kecil yang menuju ke dinding gunung penuh guha dari mana suara itu tadi datang.

Tak lama kemudian dia melihat seorang anak laki-laki kecil, usianya tentu antara dua dan tiga tahun, tubuhnya sehat dan kuat, sedang bermain-main di depan guha. Tak jauh dari situ, nampak seorang wanita dan Kui Hok Boan tercengang dan terpesona! Dia bukan seorang laki-laki yang hijau, sama sekali bukan. Dia adalah seorang petualang asmara, seorang kongcu hidung belang dan mata keranjang yang sudah biasa mempermainkan wanita dan mengobral cintanya di antara banyak sekali wanita. Dia sudah banyak bertemu, bahkan bercinta dengan wanita-wanita cantik. Akan tetapi melihat wanita yang duduk di atas batu itu, jantungnya berdebar keras dan dia tertarik sekali. Usia wanita itu belum ada tiga puluh tahun, wajahnya manis sekali dan di wajah itu terbayang watak seorang wanita yang mempunyai harga diri tinggi, yang memandang dunia dengan pandang mata seorang ratu, agung dan angkuh akan tetapi justeru sikap itulah yang bagi pandang mata Hok Boan kelihatan begitu menarik dan mempesona. Dia sudah terlalu biasa bertemu dengan wanita yang “murahan” seperti sikap lima orang pelayan tadi, atau wanita yang “jual mahal” agar dapat dinilai lebih tinggi. Namun wanita yang duduk di atas batu depan guha besar itu lain sama sekali, sikapnya wajar dan begitu agung, tangan kirinya yang buntung sebatas pergelangan itu tidak membuat dia menjadi buruk, bahkan menimbulkan rasa iba di hati Hok Boan. Wanita itu wajahnya manis, berbentuk bulat dengan dagu meruncing dan mulut kecil, sepasang matanya tajam dan dingin namun mengandung kesuraman dan kesayuan. Rambutnya digelung sederhana dengan hiasan tusuk konde dari perak terukir dan diikat dengan pita rambut yang berwarna kuning. Pakaiannya juga sederhana bentuknya, akan tetapi terbuat dari sutera halus dengan baju warna merah darah. Kombinasi warna pakaian yang menyolok sekali, dan anehnya, kebetulan sekali warna merah memang paling disuka oleh Hok Boan untuk dipakai oleh wanita! Dia sendiri merasa heran bukan main mengapa hatinya begitu tergetar dan tertarik sekali melihat wanita yang memiliki bentuk tubuh yang sudah matang itu, padat dan dengan lekuk lengkung yang sempurna!

Wanita itu bukan lain adalah Liong Si Kwi. Seperti telah diceritakan di bagian depan, semenjak wanita ini menemukan Sin Liong yang dia yakin adalah anak kandungnya sendiri, terjadi perubahan besar pada kehidupannya. Dia tidak lagi melamun dan terpendam ke dalam kedukaan. Timbul kembali gairah hidupnya, timbul pula kegembiraannya dan dia bahkan mendatangkan lima orang wanita sebagai pelayannya, untuk mengurus istana yang besar itu, melayaninya dan menjadi temannya tinggal di tempat yang sunyi itu. Biarpun Sin Liong masih suka bermain-main dengan monyet-monyet besar, namun karena tahu bahwa monyet-monyet itu adalah kawan-kawan pertama Sin Liong semenjak lahir dan setelah dia yakin bahwa binatang-binatang itu sama sekali tidak pernah mengganggunya, maka diapun tidak pernah melarang lagi. Kadang-kadang dia sendiri yang menemani Sin Liong bermain-main dan pagi hari itupun dia menemani anak itu bermain-main, suatu kesibukan yang mendatangkan kegembiraan besar di dalam hati wanita itu.

Biarpun Sin Liong belum pernah menerima gemblengan ilmu silat, namun nalurinya lebih tajam dari manusia biasa. Hal ini agaknya dia dapatkan dari air susu monyet yang menghidupinya sejak dia masih kecil, maka kedatangan Hok Boan lebih dulu dia ketahui sebelum ibunya, wanita yang telah digembleng ilmu silat tinggi itu mengetahui.

“Eeehhh...?” Sin Liong mengeluarkan teriakan dan menudingkan telunjuknya ke arah pria yang melangkah datang hati-hati itu.

Si Kwi cepat meloncat turun dari atas batu dan membalikkan tubuh. Matanya berkilat bercahaya ketika dia melihat datangnya seorang laki-laki muda tampan berpakaian sasterawan dan diam-diam dia memperhatikan ke kanan kiri karena dia merasa heran mengapa lima orang pelayannya membiarkan orang asing ini memasuki Lembah Naga!

Kui Hok Boan sudah lebih dulu menggunakan senjatanya yang biasanya amat ampuh dalam menghadapi wanita. Dia memainkan matanya, menggerakkan alisnya yang tebal dan tersenyum manis, lalu menjura dan merangkapkan kedua tangan di depan dada, memberi hormat dengan sikap sopan sekali.

“Harap nona sudi memaafkan kelancanganku kalau aku mengganggu.”

Si Kwi mengerutkan alisnya, tidak menjawab dan dia menoleh ke kanan kiri, merasa makin heran dan penasaran, bagaimana lima orang pelayannya yang setia itu sama sekali tidak tahu akan kedatangan orang ini. Melihat wanita yang mempesona itu mengerutkan ails dan dengan sikap angkuh tidak menjawab kata-katanya melainkan memandang ke kanan kiri jantung Hok Boan berdebar. Bukan main cantik dan manisnya wanita ini, pikirnya heran. Sudah banyak dia melihat wanita cantik, akan tetapi belum pernah ada yang menggerakkan hatinya seperti wanita bertangan kiri buntung ini! Dia maklum atau dapat menduga apa yang dicari oleh wanita itu, maka dia kembali menjura dan berkata halus, “Kalau nona mencari lima orang pembantumu itu, ketahuilah bahwa mereka tadi menghadang dan hendak menghalangiku untuk datang berkunjung ke Istana Lembah Naga, oleh karena itu secara terpaksa sekali aku menidurkan mereka secara lembut dengan totokan. Akan tetapi sama sekali tidak berbahaya, nona, sama sekali tidak berbahaya...”

Sinar mata itu berkilat menatap wajah Hok Boan, sinar mata itu merayap dari atas ke bawah, dalam sekejap saja telah meneliti keadaan jasmani pemuda itu, lalu sinar mata yang amat tajam itu kembali menentang wajah Hok Boan. Bibir yang merah tipis dan manis itu terbuka, bergerak dan terdengar bentakan halus, “Siapa engkau? Dan apa kehendakmu datang ke tempat ini secara memaksa?” Pertanyaan yang mendesak dan mengandung tegurang biarpun hati Si Kwi sama sekali tidak merasa heran kalau pemuda ini dapat menotok roboh lima orang pelayannya karena mereka itu baru dua tahun dilatih silat. Melihat keadaan pemuda yang lemah lembut ini, dia menduga bahwa tentu pemuda ini memiliki kepandaian tinggi. Dia sudah terbiasa akan hal ini. Sebagai orang muda yang berdarah panas, maka setiap pemuda yang memiliki kepandaian sedikit saja tentu akan bersikap sombong dan suka berkelahi. Akan tetapi, seorang pemuda yang dapat membawa diri, bersikap tenang dan halus, tidak menonjolkan kepandaian, pemuda seperti itulah yang berbahaya, dan biasanya menyembunyikan kepandaian yang hebat. Seperti Cia Bun Houw misalnya! Teringat ini, kedua pipi Si Kwi menjadi merah dan cepat diusirnya bayangan pemuda itu dan nama pemuda itu.

Mendengar pertanyaan yang singkat dan penuh teguran itu, kembali Hok Boan menjura dan menjawab halus, “Sekali lagi harap nona sudi memaafkan aku. Sesungguhnya, aku Kui Hok Boan sama sekali tidak mempunyai niat buruk terhadap nona atau semua penghuni Istana Lembah Naga. Seperti mungkin nona telah mengenal namaku...”

“Aku tidak mengenal namamu!” Si Kwi memotong cepat dan ketus.

Hok Boan tidak merasa menyesal atau menjadi marah mendengar pemotongan kata-katanya yang ketus itu. Dia tetap memandang dengan wajah berseri, lalu tersenyum dan berkata lagi, “Maaf, agaknya aku lupa bahwa penghuni Istana Lembah Naga tentu saja tidak mengenal nama seorang yang tidak berharga seperti aku ini. Karena itu, baiklah dalam kesempatan ini aku memperkenalkan namaku. Aku she Kui bernama Hok Boan dan aku memimpin teman-teman di Padang Bangkai.”

“Hemm, kiranya kepala perampok yang baru?”

Hok Boan mengerutkan alisnya. “Nona boleh memandang rendah kepadaku, akan tetapi harap suka melihat dengan jelas dan dapat membedakan orang. Aku datang ke Padang Bangkai kUrang lebih setahun yang lalu, dalam pertempuran membunuh kepala perampok Sin-jio Coa Lok dan karena kasihan kepada tiga puluh orang anak buahnya yang sudah menyerah maka aku memimpin mereka menuju ke jalan benar. Sekarang, mereka itu bukanlah perampok lagi, nona. Padang Bangkai telah mengalami perubahan besar dan bukan merupakan tempat angker dan menyeramkan lagi bagi manusia. Dusun-dusun baru telah mulai dibangun oleh mereka yang berdatangan.”

Si Kwi merasa tersindir. Memang dia sudah mendengar dari para pelayannya akan kemajuan Padang Bangkai dan betapa tempat itu kini mulai ramai de­ngan para penduduk baru yang membangun dusun-dusun, Lembah Naga masih saja merupakan tempat angker yang tidak boleh didatangi orang luar.

“Cukup, tidak perlu engkau memamer­kan dan mempropagandakan Padang Bangkai. Sekarang katakan apa keperluan­nya datang ke sini!”

Kembali Hok Boan menjura dengan hormat. “Tidak ada keperluan lain ke­cuali datang berkunjung sebagai tetangga, sebagai sahabat...”

“Seorang sahabat macam apa engkau ini! Begitu datang telah menotok roboh lima orang pelayanku.”

“Akan tetapi mereka yang memaksaku, nona...”

“Hemm, agaknya setelah engkau ber­hasil merampas Padang Bangkai, engkau hendak main gila di sini mengandalkan kepandaianmu, ya? Kaukira aku takut menghadapimu. Kaukira akan mudah saja merampas Istana Lembah Naga seperti yang telah kaulakukan dengan Padang Bangkai?”

“Eh... ah... bukan begitu, nona...”

“Cerewet! Perlihatkan kepandaianmu!” Si Kwi sudah menghardiknya dan seketika dia menerjang dengan tamparan tangan kanannya ke arah pipi Hok Boan. Pemuda sasterawan ini terkejut bukan main. Dia hanya melihat wanita itu menggerakkan tangan dan tahu-tahu ada angin me­nyambar dahsyat dan tangan itu telah menyambar dekat sekali dengan pipinya! Hanya dengan jalan melempar tubuh atas ke belakang saja dia berhasil menghindarkan diri dari tamparan itu. Angin tamparan itu masih menyambar pipinya, dingin dan kuat sekali. Bukan main, pikirnya. Pantas saja wanita ini ditakuti orang, kiranya memiliki gerakan yang sedemikian cepatnya.

Sementara itu, Si Kwi menjadi penasaran juga ketika tamparannya yang dilakukan cepat tadi dapat dielakkan lawan. Dia merasa gemas dan sambil mengeluarkan lengking nyaring dia menyerang secara hebat dan bertubi-tubi. Tubuhnya berkelebatan dan kadang-kadang meloncat tinggi sambil menerkam dan menyerang, kecepatannya seperti seekor burung walet terbang!

“Eh... ohh... nanti dulu, nona...!” Hok Boan berseru kaget dan meng­elak atau menangkis kalang kabut.

Nona itu hanya mempunyai satu tangan kanan saja, akan tetapi tangan kiri yang buntung itu ternyata dipergunakan pula untuk menyerang, dengan jalan menotok jalan darah! Yang amat mengagumkan hati Hok Boan adalah kecepatan wanita itu,
kecepatan yang luar biasa dan dia harus mengakui bahwa dalam hal limu gin-kang, agaknya dia sendiri tidak akan mampu menandingi nona ini. Karena dia berseru dan berkali-kali menahan, hampir saja sebuah tendangan kilat yang dilakukan selagi tubuh wanita itu berada di atas mengenai dagunya. Dia terkejut dan mengeluarkan keringat dingin ketika tubuhnya dia lempar ke belakang sambil berjungkir balik, membuat salto.

“Tahan, nona. Aku bukan musuh...”

“Tidak perduli. Engkau sudah merobohkan lima orang pelayanku, berarti engkau adalah musuhku!” Si Kwi membentak dan menyerang lagi karena hatinya makin penasaran melihat betapa serangan-serangannya yang sudah dilakukan sebanyak belasan jurus itu tidak pernah mengenai sasarannya.

“Baiklah, agaknya engkau berpegang kepada kebiasaan kang-ouw bahwa sebelum bertanding tidak kenal!” Hok Boan berkata dan mulailah dia membalas serangan Si Kwi. Pemuda sasterawan ini amat tertarik kepada Si Kwi dan kini dia ingin mengukur sampai di mana tingkat kepandaian wanita yang amat menyentuh perasaan hatinya ini.

Perkelahian hebat terjadi di depan guha. Melihat ini, Sin Liong mengeluarkan suara marah dan dia sudah melangkah maju perlahan-lahan, matanya mengeluarkan sinar berapi dan dia menyeringai, memperlihatkan giginya yang kecil-kecil seperti laku seekor monyet kalau marah! Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan monyet besar dan biang monyet yang selama ini selalu membayangi dan menjaga Sin Liong, cepat meloncat ke bawah dan menyambar tubuh Sin Long, dipondongnya dan dibawanya berloncatan naik melalui batu-batu di pinggir guha, terus dibawanya naik ke atas pohon di mana dia duduk nongkrong sambil memondong Sin Liong dan diajaknya anak itu menjadi penonton dari tempat yang aman itu.

Lega hati Si Kwi melihat ini. Dia tadi sudah khawatir kalau-kalau Sin Liong yang masih mempunyai watak liar dan kadang-kadang seperti seekor monyet yang susah dijinakkan itu akan menjadi marah dan maju membantunya. Hal itu kalau sampai terjadi, tentu saja membahayakan keselamatan anak itu sendiri. Lawannya ini seorang yang pandai, dan siapa tahu apa yang akan dilakukan oleh ketua Padang Bangkai ini terhadap anak itu kalau Sin Liong berani maju membantunya. Kini, melihat Sin Liong dalam keadaan aman di pohon tinggi, dijaga oleh monyet betina besar itu, Si Kwi dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada gerakan kaki tangannya dan mulailah dia menyerang dengan hebat. Dia tidak membawa pedang ataupun senjata rahasianya yang amat lihai, yaitu paku Hek-tok-ting, akan tetapi karena dia melihat bahwa pemuda sasterawan itupun tidak membawa senjata apapun, maka dia tidak merasa khawatir.

Liong Si Kwi adalah murid seorang tokoh besar dunia kang-ouw, yaitu mendiang Hek I Siankouw, bahkan dia menerima banyak gemblengan ilmu silat tinggi pula dari kekasih gurunya itu, yaitu Hwa Hwa Cinjin. Dari dua orang kakek dan nenek ini dia menerima ilmu silat gabungan yang diberi nama Im-yang Lian-boan-kung ilmu yang dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan senjata. Selain itu, juga Si Kwi
pandai sekali main silat dengan siang-kiam, yaitu sepasang pedang dan kini setelah tangan kirinya buntung, tentu saja dia tidak lagi dapat memainkan dua pedang, melainkan tinggal sebuah saja yang biasa dimainkan dengan tangan kanannya. Dan di samping ilmu senjata rahasia Hek-tok-ting, paku beracun hitam yang amat berbahaya, juga dia adalah seorang ahli ilmu gin-kang. Karena kecepatan gerakannya inilah maka di waktu dia belum bersembunyi di Istana Lembah Naga, di dunia kang-ouw dia dijuluki orang Ang-yang-cu (Burung Walet Merah) karena gerakannya seperti terbang dan pakaiannya selalu berwarna merah.

Kini, dalam keadaan marah dan penasaran, Liong Si Kwi menghadapi Hok Boan dan mainkan Ilmu Silat Im-yang Lian-hoan-kun yang hebat. Tubuhnya seperti beterbangan menyambar-nyambar dan dalam serangkaian serangan selama tiga puluh jurus pertama, Hok Boan yang terkejut dan kagum itu terdesak hebat! Namun, pemuda sasterawan ini adalah bekas murid Go-bi-pai yang pandai, ditambah lagi dengan pengalamannya yang banyak di dunia kang-ouw, maka dia masih berhasil mempertahankan diri dengan baik. Tentu saja dia tidak dapat mengandalkan kegesitannya untuk bergerak. Ketika dia menghadapi mendiang Sin-jio Coa Lok, dia kelihatan amat lincah dan gesit karena dia memang menang gesit dibandingkan dengan Coa Lok. Akan tetapi sekarang, bertemu dengan Si Kwi, dia kelihatan lamban! Dia kalah gesit, kalah cepat sehingga tidak mungkin dia dapat mengimbangi dan menandingi lawan ini kalau dia mengandalkan kecepatan. Maka dia tidak mau banyak mengelak, khawatir kalau didahului lawan yang lebih cepat. Dia lebih bersikap tenang dan mengandalkan pertahanannya yang kokoh kuat dengan jalan menangkis dan hanya kadang kala saja dia mengelak. Setiap tangkisannya dilakukan dengan pengerahan tenaga karena pemuda yang cerdik ini segera mengerti bahwa biarpun dalam hal gin-kang dia kalah cepat, namun dalam hal sin-kang dia menang kuat.

Setelah tiga puluh jurus lewat dan selama itu Hok Boan hanya dapat mempertahankan diri selalu, kini mulailah dia balas menyerang! Dan serangan-serangan Hok Boan amat kuatnya, mendatangkan angin bersuitan sehingga Si Kwi harus berhati-hati dan sebaliknya dari lawan, dia mengandalkan kecepatan gerakan ketika menghadapi serangan pemuda itu. Diam-diam Si Kwi terkejut dan juga kagum. Sasterawan muda yang bersikap sopan dan halus ini ternyata benar-benar hebat! Dia teringat akan Cia Bun Houw, pendekar sakti pujaan hatinya yang juga kelihatan seperti seorang pemuda sasterawan lemah namun sesungguhnya memiliki kesaktian yang amat luar biasa. Biarpun pemuda ini tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan pendekar muda yang sakti itu, namun keadaan pemuda yang menjadi ketua Padang Bangkai ini cukup menimbulkan rasa kagum di dalam hatinya.

Seratus jurus lewat dan pertandingan itu bertambah seru. Kalau diam-diam Si Kwi kagum bukan main dan rasa penasaran di hatinya mulai lenyap karena memang harus diakuinya bahwa lawan ini berbeda dengan Coa Lok dan memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, sebaliknya Hok Boan juga kagum bukan main dan kekagumannya diucapkan berkali-kali oleh mulutnya.

“Hebat sekali!”

“Ah, engkau amat cepat, nona!”

Si Kwi tidak memperdulikan pujian-pujian ini, akan tetapi sebenarnya di dalam hati wanita ini telah timbul semacam perasaan yang aneh. Tadi dia merasa penasaran dan membenci pemuda ini yang dianggap menghinanya. Akan tetapi kini lenyap rasa penasaran di hatinya kerena dia mengakui kehebatan pemuda ini, dan perlahan-lahan rasa bencinya juga menipis mendengar betapa pemuda itu memuji-mujinya dengan suara bersungguh-sungguh, bukan pujian yang bersifat mengejek. Apalagi ketika dia melihat munculnya lima orang pelayannya dalam keadaan sehat dan tidak mengalami cedera.

“Nona, cukuplah. Harap nona suka memaafkan aku, sungguh aku tidak berniat untuk memusuhi nona. Cukuplah, biar aku mengaku kalah!” berkali-kali Hok Boan berkata, akan tetapi Si Kwi masih terus mendesaknya. Wanita ini merasa malu ketika lima orang pelayannya muncul dan melihat pertempuran itu, malu bahwa dia masih juga belum dapat merobohkan laki-laki ini. Kalau tidak ada lima orang pelayan itu, agaknya dia akan mempertimbangkan permintaan Kui Hok Boan ini, akan tetapi di depan para pelayannya, dia tidak ingin dilihat bahwa dia memperoleh kemenangan karena lawannya telah mengalah dan mengaku kalah padahal sebenarnya tidak demikian!

“A Ciauw, kau cepat ambilkan pedangku!” teriaknya sambil terus menerjang.

Melihat A Ciauw mentaati perintah nona majikannya itu dan berlari-lari menuju ke istana, hati Hok Boan merasa tidak enak. Dia tidak takut biarpun nona ini menggunakan pedang, akan tetap hal itu hanya akan membuat permusuhan makin menjadi-jadi, dan dia sama sekali tidak menghendaki ini. Tidak, dia tidak bisa bermusuhan dengan nona yang telah mencuri hatinya ini! Diam-diam dia telah jatuh hati, jatuh cinta kepada Si Kwi dan dia sendiri merasa heran mengapa dia begini tertarik kepada Si Kwi yang tangan kirinya buntung, dan yang biarpun cantik manis, namun tidak lebih cantik dari pada kebanyakan wanita yang pernah dijumpai dan diperolehnya. Dia tidak tahu mengapa dia begitu tertarik dan suka kepada nona majikan istana lembah itu! Segala sesuatunya pada diri wanita itu menarik hatinya, bahkan buntungnya tangan kiri itu tidak menimbulkan jijik dan buruk, sebaliknya malah menimbulkan rasa iba dan juga kagum betapa dengan tangan kiri buntung nona itu masih demikian hebat!

Kalau sampai nona itu menggunakan pedang, maka tidak mungkin dia membiarkan dirinya terancam bahaya begitu saja, dan melawan orang yang bersenjata, apalagi kalau lawan itu selihai nona ini, akan memaksa dia menggunakan tangan besi pula dan sama sekali dia tidak menghendaki hal ini.

“Nona, mengapa engkau mendesak aku? Aku datang dengan niat baik, biarlah aku mohon maaf dan mohon diri, lain hari kalau hatimu sudah dingin kembali, aku akan datang berkunjung lagi. Selamat tinggal, nona.” Hok Boan lalu meloncat ke belakang, jauh sekali lalu melarikan diri dari tempat itu setelah melambaikan tangannya kepada Si Kwi sambil meninggalkan senyum dan lirikan matanya yang amat mesra dan memikat.

Si Kwi tidak mengejar dan sampai beberapa lamanya dia berdiri bengong memandang ke arah lenyapnya bayangan sasterawan muda itu. A Ciauw datang membawa pedang, akan tetapi melihat lawan nonanya sudah pergi, dia lalu berkata, “Memang sebaiknya kalau dia pergi. Kui-taihiap itu tidak berniat buruk maka tidak baik kalau sampai dia tewas di sini.” Ucapan itu ditujukan kepada teman-temannya atau kepada diri sendiri. Si Kwi menoleh dan memandang kepada pelayan manis berbaju hijau itu. Dia sudah menggerakkan bibirnya akan tetapi tidak mengeluarkan kata-kata, melainkan mengambil pedangnya dari tangan A Ciauw dan mencari-cari Sin Liong dengan matanya. Akan tetapi di atas pohon itu sudah tidak nampak Sin Liong yang tadi dipondong monyet besar, maka dia lalu kembali ke istana. Ada rasa malu di dalam hatinya untuk bicara tentang pria itu dengan para pelayannya, dan tentang Sin Liong dia tidak khawatir karena kini dia maklum bahwa anak itu mempunyai dua dunia, yaitu dunia bersama monyet-monyet di atas pohon dan dunia bersama dia di dalam istana. Dia tidak mengganggu lagi karena yakin bahwa nanti sebelum malam tiba, Sin Liong tentu akan pulang atau diantar pulang oleh monyet-monyet itu. Dugaannya benar karena sore hari itu, selagi duduk termenung di dalam kamarnya, Sin Liong meloncat masuk melalui jendela!

Semenjak peristiwa pertempurannya dengan Hok Boan itu, sering kali Si Kwi nampak duduk termenung di dalam kamarnya atau kadang-kadang di taman bunga di belakang istana. Apalagi semenjak hari itu, sering kali ada kiriman dari Padang Bangkai! Kadang-kadang ada kiriman sutera halus, sepatu baru model terakhir, emas dan permata berbentuk hiasan rambut, bahkan kadang-kadang ada kiriman masakan yang masih panas! Mula-mula, ditolaknya kiriman-kiriman yang datang dari Kui Hok Boan dan sengaja dikirim kepadanya itu, akan tetapi dibacanya surat terlampir yang berisi sajak-sajak indah yang memuji-muji kecantikannya, menghibur kesunyiannya dan huruf-huruf indah itu mengandung rasa cinta dan iba yang amat mengharukan hatinya. Akhirnya, diterimanya juga kiriman-kiriman itu, bahkan beberapa bulan kemudian, Kui Hok Boan yang datang berkunjung secara resmi itu, diterimanya sebagai seorang tamu terhormat!

Memang tidak terlalu mengherankah melihat kekerasan hati Liong Si Kwi mencair itu. Dia adalah seorang wanita yang masih muda, belum tiga puluh tahun usianya. Dia pernah jatuh cinta, pernah merasakan belaian cinta kasih seorang pria sungguhpun hal itu terjadi di luar kesadaran pria itu. Dia mencinta Cia Bun Houw dan di dalam batinnya dia sudah menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada pemuda itu. Namun, setelah Cia Bun Houw meninggalkannya (baca cerita Dewi Maut), dia melihat kenyataan yang mengerikan dan amat pahit. Cintanya ditolak. Hatinya hancur luluh. Kemudian, hati itu menjadi dingin membeku. Betapapun juga, dia adalah seorang wanita normal yang masih muda, yang di balik kebekuannya itu sebenarnya bernyala api gairah yang besar, bersembunyi kehausan akan belaian kasih sayang seorang pria. Keadaan di Istana Lembah Naga yang sunyi, jauh dari dunia ramai, jauh dari kaum pria, sedikit banyak menolong dan menghiburnya, mempertebal kebekuan hatinya terhadap pria.

Namun, kini muncul Kui Hok Boan, seorang pria yang masih muda, tampang halus dan juga lihai. Biarpun tidak sesakti Cia Bun Houw, setidaknya merupakah pemuda yang keadaannya seperti Bun Houw. Apalagi Hok Boan pandai merayu, pandai memuji-muji, dan dari sinar mata pemuda itu memancar kasih sayang yang besar dan mesra. Maka, herankah kalau hati wanita itu menjadi terbakar, kalau kebekuan itu mencair dan jantungnya berdebar penuh gairah? Anehkah itu kalau sebulan kemudian semenjak kunjungan resmi dari Hok Boan, dia mau pula membalas kunjungan pemuda itu, pergi ke Padang Bangkai dan mengagumi segala kemajuan yang dicapai oleh daerah itu dibawah pimpinan Kui Hok Boan? Dan anehkah kalau dia tidak marah, melainkan tunduk dengan muka merah dan jantung berdebar ketika pada suatu hari Kui Hok Boan menyatakan cintanya dan mengajukan pinangan kepadanya? Dia tidak mampu menjawab dan hanya menunduk, kedua pipinya merah sekali, bibirnya tersenyum malu-malu dan jari tangan kanannya memilin-milin rambutnya yang terlepas dari sanggul dan berjuntai ke depan dadanya.

“Liong-moi, engkau tahu bahwa lamaranku ini keluar dari hati yang tulus dan mencintamu, maka harap engkau bersikap jujur untuk menjawabku agar aku tidak tersiksa dalam kebimbangan.” Kui Hok Boan mengulang dan mendesak. Setelah berkenalan kurang lebih dua bulan saja, dia sudah menyebut moi-moi (adik) kepada Si Kwi dan wanita itu menyebutnya ko-ko (kakak)!

Jantung di dalam dada Si Kwi berdebar. Sungguh dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa akan ada seorang pria yang dapat jatuh cinta kepadanya, bahkan yang akan meminangnya sebagai isteri! Apalagi seorang pria setampan dan selihai Kui Hok Boan! Tentu saja hatinya menerima pinangan ini dengan rasa gembira dan terharu, akan tetapi dia bukanlah seorang wanita muda yang sembrono. Dia maklum bahwa ikatan pernikahan adalah hal yang tidak boleh dipandang ringan, dan merupakan suatu ikatan selama hidup. Oleh karena itu, sebelum diambil keputusan untuk mengikatkan diri dalam suatu pernikahan, dia harus bersikap terus terang, antara kedua fihak harus membuka diri sehingga tidak terdapat rahasia lagi di antara mereka yang kelak hanya akan menggagalkan ikatan itu. Biarpun hal yang dikeluarkan itu amat sukar dan membuatnya merasa malu sehingga dia bicara sambil menundukkan terus mukanya, namun akhirnya dapat juga dia bicara.

“Kui-koko, sobelum aku menjawab, sebaiknya engkaulah yang harus lebih dulu mempertimbangkan pinanganmu itu dengan baik dan tidak tergesa-gesa karena engkau belum mengenal betul siapa adanya diriku.”

“Liong-moi, apalagi yang harus kupertimbangkan? Biarpun baru dua bulan kita berkenalan, akan tetapi rasanya aku sudah mengenalmu bertahun-tahun lamanya. Aku tahu bahwa engkau adalah Liong Si Kwi, akan tetapi aku lebih tahu lagi bahwa engkau adalah seorang wanita yang hidup sebatangkara di tempat sunyi ini, hidup ditemani lima orang pelayan dan seorang anak angkat yang diasuh oleh monyet-monyet itu. Engkau belum mau menceritakan kepadaku mengapa engkau kehilangan tangan kirimu, akan tetapi agaknya hal itu yang membuat engkau merasa malu dan menyembunyikan diri di sini. Bagiku, engkau adalah seorang wanita yang pandai dan yang menimbulkan rasa iba di hatiku, yang membuat aku ingin menghibur hatimu yang seperti tertekan, melindungi dirimu yang seperti orang putus asa itu. Dan lebih dari semua itu, aku meminangmu karena aku cinta padamu, moi-moi.”

Si Kwi memejamkan matanya. Hatinya terharu sekali. Pernyataan itu dahu
lu dia rindukan dari mulut Bun Houw, akan tetapi pernyataan itu tidak kunjung muncul, dan kini keluar dari mulut Hok Boan! Selama hidupnya, baru sekali ini ada seorang pria mengaku cinta kepadanya, pengakuan yang dia tahu amat jujur dan setulus hati. Hampir dia menangis.

“Kui-koko...” katanya dengan suara gemetar. “Engkau belum tahu akan riwayatku, akan latar belakang hidupku...”

“Aku tidak perduli, moi-moi. Tidak perduli apapun latar belakang hidupmu, apapun riwayatmu yang telah lalu, yang kucinta bukanlah Liong Si Kwi yang dahulu, melainkan Liong Si Kwi sekarang ini, yang duduk di depanku ini!”

“Tapi, koko... aku... aku bukanlah seorang perawan seperti yang mungkin kau duga...” Muka wanita itu menjadi pucat dan dia tidak berani mengangkat muka.

“Hemm, perawan atau bukan bagiku tidak ada bedanya, moi-moi. Akan tetapi... apakah engkau sudah menikah? Ataukah seorang janda?”

Liong Si Kwi menggeleng kepalanya, lalu mengangkat ,uka menatap wajah pria itu penuh selidik dan hatinya girang melihat bahwa pernyataan bahwa dia bukan perawan itu, agaknya tidak merobah sikap pria itu terhadap dirinya. “Aku tidak pernah menikah, dan tentu saja bukan janda. Akan tetapi...” kembali dia menunduk, “Aku bukan perawan, bahkan aku... aku pernah melahirkan anak...”

Hening sejenak setelah kata-kata ini. Akan tetapi Hok Boan tidak terkejut. Bagi seorang petualang asmara seperti dia, soal perawan atau bukan tidaklah penting, apalagi kini dia benar-benar jatuh cinta kepada wanita ini. Dan diapun bukan seorang bodoh. Dia sudah banyak pengalaman sehingga sekali jumpa saja diapun sudah tahu bahwa Si Kwi bukanlah seorang perawan. Dan dia tidak perduli. Akan tetapi, mendengar bahwa Si Kwi pernah melahirkan, membuat dia terkejut juga. Bukan main-main kalau begitu hubungan antara Si Kwi dengan ayah dari anak yang dilahirkannya itu.

“Dan di mana sekarang dia? Ayah dari anak itu? Apakah masih ada ikatan antara engkau dan dia?” tanyanya meragu.

Si Kwi kembali mengangkat mukanya. Terheran dia, juga girang karena kembali tidak ada perubahan sikap Hok Boan setelah mendengar bahwa dia pernah melahirkan! Ah, dia tidak boleh bertindak terlalu jauh. Pria ini hebat, penuh pcngertian dan penyabar! Akan tetapi tentu ada batasnya, maka dia tidak boleh sekali-kali mengemukakan dugaannya Sin Liong adalah anak kandungnya yang dibesarkan oleh monyet. Hat itu tentu kelak akan mendatangkan hal-hal yang tidak enak! Pria ini baik sekali, akan tetapi dia tidak boleh terlalu mendesaknya, tidak boleh mengujinya terlalu berat.

“Dia? Dia masih hidup, entah di mana, akan tetapi, Kui-koko, bagiku dia telah mati.”

“Apakah dia mencintamu?”

Si Kwi menggeleng kepalanya keras-keras. “Sama sekali tidak! Seujung rambutpun tidak!”

“Hemm... dan kau? Cintakah kau kepadanya, moi-moi?”

Kembali Si Kwi menggeleng kepala, akan tetapi tidaklah begitu keras. “Tidak, kukira tidak, aku menganggapnya telah mati.”

“Baik sekali, kalau begitu berarti engkau bebas. moi-moi! Dan anak itu?”

“Dia... dia mati ketika terlahir.”

“Ah, kalau begitu, tidak ada hal yang memberatkanmu untuk menerima pinang­anku, Liong-moi!”

Si Kwi mengangkat mukanya, menatap wajah pemuda itu penuh selidik bercampur keheranan. “Koko! Engkau sudah mendengar semua itu dan engkau masih melanjutkan pinanganmu kepadaku? Engkau seorang pemuda sasterawan yang pandai dalam hal bun dan bu, bahkan kau telah menjadi majikan Padang Bangkai yang terhormat, seorang pemuda pilihan dan yang akan mudah saja men­cari isteri seorang dara cantik yang jauh lebih baik dari pada aku! Koko, berpikirlah dulu sebelum kelak engkau menyesal!”

“Ha-ha, engkau terlalu merendahkan diri, sayang. Aku sendiri, biarpun belum\ menikah dalam usia tiga puluh tahun lebih ini, mana berani mengaku perjaka? Ha-ha, apa sih artinya perjaka atau... atau bukan? Yang penting adalah kita saling mencinta. Dan aku cinta padamu, moi-moi, Dengan cintaku ini, aku menerimamu seperti apa adanya, aku menerimamu dengan keperawananmu, atau dengan kejandaanmu, dengan segala kebaikanmu berikut semua cacad-cacad­mu. Nah, engkau sudah mendengar semua, Liong-moi, sekarang jawablah, maukah engkau menerima pinanganku? Bersedia­kah engkau menjadi isteriku?”

Sepasang mata itu tak dapat menahan lagi air mata yang bercucuran keluar membasahi kedua pipinya. “Koko... engkau... engkau baik sekali... baik sekali...”

Hok Boan bangkit berdiri dan meng­hampiri wanita itu yang duduk sambil menangis dan menundukkan mukanya. Dengan lembut dan mesra, Hok Boan memegang dagu wanita itu, mengangkat muka yang basah itu menghadap kepada­nya, lalu dia bertanya, “Jawablah, moi-moi, maukah kau...?”

Dengan air mata masih bercucuran, Si Kwi menggerakkan kepalanya mengangguk dan bibirnya hanya dapat berbisik serak. “Aku mau... aku mau... ah, aku mau, koko...”

“Moi-moi...!” Hok Boan sudah mencium mulut itu, menciumi muka yang basah air mata itu, kemudian mencium lagi mulut Si Kwi. Si Kwi tersedu, lalu menggerakkan kedua lengannya, me­rangkul leher Hok Boan dan menariknya sehingga mereka berpelukan ketat.

Segala menjadi indah kalau cinta sudah berpadu. Cinta tidak membedakan baik buruk, tidak membedakan derajat atau tingkat. Cinta tidak memandang harta, kedudukan, kepandaian, kebangsaan, agama, kepercayaan, dan sebagainya lagi. Semua itu hanyalah pakaian belaka. Bagi cinta, yang mutlak adalah manusianya dan semua embel-embel itu sudah ter­cakup di dalamnya. Bagi cinta, yang terpenting adalah si dia! Apapun adanya dia, bagaimanapun adanya, karena dalam cinta, dia menjadi suatu kebutuhan dalam kehidupan, dan tanpa si dia yeng dicinta, hidup menjadi tidak lengkap! Dengan cinta, kita menjadi bijaksana dan kebijak­sanaan itu membuat kita dapat melihat bahwa tidak ada yang tanpa cacad di dunia ini. Setiap kali kita menilai segi kebaikannya, sudah pasti muncul segi keburukannya karena baik dan buruk itu adalah saudara kembar, seperti senang dan susah. Tiada sesuatu yang tanpa cacad, dan si dia yang kita cinta itupun termasuk di dalam segala sesuatu yang pasti ada cacadnya, itu kebaikannya dan juga ada keburukannya.

Padang Bangkai yang kini menjadi tempat yang indah dan tidak berbahaya untuk dikunjungi orang luar itu terhias meriah. Semua anak buah Padang Bangkai sibuk, dibantu oleh para penghuni dusun di sekitar tempat itu dan suasana yang gembira dan meriah diramaikan oleh suara musik itu menandakan bahwa di tempat itu sedang diadakan pesta.

Memang benarlah. Hari itu adalah hari yang gembira, semua orang ber­gembira karena hari itu adalah hari pernikahan antara majikan Padang Bangkai, Kui Hok Boan, dengan penghuni Istana Lembah Naga, Liong Si Kwi!

Dalam kesempatan ini, Kui Hok Boan memperlihatkan kepopulerannya di dunia kang-ouw dengan mengundang banyak tokoh kang-ouw! Dengan harta pusaka besar yang ditemukan di Padang Bangkai, tentu saja dia dapat mengadakan pesta besar dengan mengundang tukang-tukang masak dari selatan. Daerah kaki Pegunungan Khing-an-san yang biasanya amat sunyi dan jarang dikunjungi orang itu, pada hari itu menjadi ramai dan
sejak kemarin sudah berdatangan tamu-tamu dari selatan yang sebagian besar adalah orang-orang kang-ouw yang bersikap gagah. Dan memang hanya orang-orang kang-ouw sajalah yang berani dan sanggup mengadakan perjalanan sejauh dan sesukar itu.

Yang amat menggirangkan dan meng­harukan hati Hok Boan adalah ketika dia melihat munculnya seorang hwesio tinggi besar bermuka hitam dan bermata lebar. Hwesio ini adalah Lan Kong Hwesio, seorang tokoh Go-bi-pai. Lan Kong Hwesio masih terhitung sute dari Kauw Kong Hwesio, guru Hok Boan yang telah meninggal dunia. Ketika Hok Boan mengirim undangan kepada bekas gurunya, ternyata gurunya itu telah meninggal dunia dan sebagai wakilnya kini yang datang adalah Lan Kong Hwesio atau susioknya (paman gurunya). Sebetulnya, kedatangan Lan Kong Hwesio, tokoh Go-bi-pai yang telah berusia enam puluh lima tahun ini, sama sekali bukan hanya untuk menghadiri pernikahan bekas murid keponakannya itu. Akan tetapi sesungguh­nya dia berkewajiban untuk menyelidiki, apakah murid Go-bi-pai yang telah diusir oleh mendiang suhengnya dan tidak boleh mengaku sebagai murid Go-bi-pai itu telah berubah menjadi baik dan benar­-benar tidak lagi mencemarkan atau menggunakan nama Go-bi-pai.

Dan giranglah hati Lan Kong Hwesio ketika mendapat berita betapa Kui Hok Boan yang dikenal sebagai Kui-taihiap di daerah Khing-an-san, sama sekali tidak pernah menyebut Go-bi-pai, dan lebih lagi, nama sasterawan muda itu cukup baik, bahkan berjasa dalam membangun Padang Bangkai yang tadinya merupakan daerah maut yang berbahaya itu menjadi daerah terbuka dan maju. Maka hwesio ini memasuki ruangan pesta dengan hati gembira.

Selain tokoh Go-bi-pai ini, banyak pula terdapat wakil-wakil dari partai-partai persilatan lain, akan tetapi lebih banyak lagi adalah tokoh-tokoh dari golongan yang biasanya dinamakan golongan hitam atau golongan sesat! Memang Kui Hok Boan mempunyai hubungan yang luas sekali di dunia kang-ouw sehingga pesta pernikahannya itu merupakan pertemuan antara dua golongan yang menamakan dirinya golongan putih dan golongan hitam sehingga di dalam pesta itu terdapat ketegangan-ketegangan yang berbahaya.

Namun karena mereka semua menghormat tuan rumah yang menjadi pengantin, dan juga karena kedua fihak bersikap hati-hati mengingat bahwa mereka bukan berada di daerah sendiri, melainkan daerah liar yang sebenarnya termasuk wilayah kekuasaan raja liar Sabutai, maka mereka tidak berani menimbulkan kekacauan dan bersikap sabar menanti dan berjaga-jaga saja.

Pesta berjalan dengan lancar dan hidangan-hidangan yang dikeluarkan adalah hidangan-hidangan pilihan karena memang Kui Hok Boan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk menjamu para tamunya.

Selagi para tamu menikmati hidangan yang disuguhkan, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan teriakan-teriakan kaget itu menjalar ke dalam dan suasana gembira menjadi geger ketika para tamu melihat puluhan ekor monyet besar kecil menyerbu tempat pesta dipimpin oleh seorang anak kecil yang usianya belum ada empat tahun! Anak itu seperti juga monyet-monyet lainnya, berloncatan dengan gerakan yang amat cekatan dan mereka menyerbu makanan-makanan di atas meja sedangkah para tamu menjauhkan diri karena kaget dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Ketika para orang kang-ouw itu pulih kembali ketenangan mereka, tentu saja mereka menjadi marah ketika melihat bahwa­ yang menyerbu itu adalah monyet-monyet liar besar kecil, maka mereka sudah siap untuk menghajar binatang-binatang itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara merdu dan nyaring, “Cu-wi sekalian harap jangan turun tangan mengganggu monyet-monyet itu!”

Semua orang terkejut dan menoleh. Yang bicara pengantin wanita yang sudah bangkit berdiri di samping pengantin pria yang juga sudah berdiri. Dari balik tirai manik yang bergantungan di depan muka pengantin wanita, nampak sepasang mata yang tajam bersinar, lalu terdengar suara nyaring yang ditujukan kepada anak kecil yang masih menikmati makanan di atas meja bersama monyet-monyet itu, “Liong-ji (anak Liong), hayo kau lekas pergi ajak teman-temanmu! Lekas pergi!”

Anak itu memandang ke arah pe­ngantin wanita, kelihatan penasaran dan marah, mengeluarkan gerengan dari kerongkongannya seperti seekor kera marah.

“Sin Liong, lekas pergi ajak teman-temanmu!” Kembali Si Kwi membentak dan sekali ini di dalam suaranya terkandung kemarahan.

Anak itu menyambar sepotong paha ayam, kemudian meloncat turun, me­ngeluarkan teriakan dan berlari keluar, diikuti oleh monyet-monyet besar dan kecil itu. Lucunya, ada monyet yang menyambar seguci arak, ada pula yang menyambar mangkok dan sumpit. Melihat lagak monyet-monyet itu para tamu ter­tawa dan mereka terheran-heran me­mandang kepada pengantin wanita. Pengantin itu menyebut anak yang memimpin monyet-monyet tadi “anak Liong”! Apa artinya ini? Apakah pengantin itu, yang bagi seorang pengantin usianya sudah tidak muda lagi, telah mempunyai anak?

“Cu-wi sekalian yang mulia,” ter­dengar suara Hok Boan sambil menjura ke arah para tamu sedangkan Si Kwi sudah duduk kembali sambil menundukkan mukanya. “Harap cu-wi memaafkan kalau kedatangan rombongan monyet tadi mengejutkan dan mengganggu cu-wi. Hendaknya diketahui bahwa monyet-monyet itu adalah monyet-monyet yang tinggal di sekitar tempat ini dan dipimpin oleh seorang anak kecil. Ketahuilah, memang di sini terjadi hal aneh sekali. Anak itu dua tahun yang lalu ditemukan oleh isteri saya dalam keadaan luka-luka tergigit ular beracun dan dirawat oleh monyet-monyet besar. Isteri saya lalu menolongnya dan merawatnya sampai sembuh, kemudian mengangkatnya sebagai anak dan diberi nama Sin Liong. Akan tetapi, agaknya karena sejak kecil dirawat oleh monyet-monyet, anak itu masih suka bermain-main dengan rombongan monyet-monyet dan tidak kami sangka bahwa hari ini dia mengajak para monyet itu untuk ikut pesta!” Keterangan yang lucu ini disambut suara ketawa, akan tetapi semua tamu menjadi terheran-heran dan suasana menjadi berisik karena membicarakan peristiwa aneh ini. Seorang bocah yang jelas adalah seorang manusia cilik, dirawat oleh monyet-monyet dan hidup di antara monyet-monyet!

Akan tetapi, dengan cekatan para pelayan telah membereskan tempat-tempat yang dikacau oleh rombongan monyet tadi, mengganti semua hidangan masakan dan arak. Pesta dilanjutkan lagi dan kini suasana menjadi lebih gembira karena mereka memperoleh bahan percakapan yang mengasyikkan, yaitu anak kecil pemimpin monyet-monyet tadi. Mereka menduga-duga dan mengkhayal menurut perkiraan masing-masing.

“Hemm, anak angkatmu itu perlu dididik yang baik, kalau tidak kelak dia bisa menjadi binal,” bisik Hok Boan kepada isterinya.

Dengan muka masih menunduk, Si Kwi menjawab dengan bisikan pula. “Aku mengharapkan kebijaksanaanmu untuk mendidiknya.”

“Jangan khawatir, anak angkatmu berarti juga anak angkatku. Karena dia anak angkat kita, maka harus dididik. Bukankah akan memalukan kalau anak angkat kita berwatak seperti monyet?”

Hok Boan berkelakar, akan tetapi isterinya hanya tersenyum di balik tirai manik sehingga dia tidak melihat betapa wajah isterinya agak pucat dan betapa jantung wanita itu berdebar tegang.

Di antara para tamu itu terdapat seorang guru silat dari kota Koan-sun­-jiu, seorang yang bernama Tio Kok Le. Dia mengenal baik Hok Boan maka dia datang pula, akan tetapi diam-diam dia merasa iri hati melihat kemakmuran hidup Hok Boan. Dahulu, pernah dia bersama Hok Boan menjadi teman senasib, dalam keadaan yang kekurangan. Kini, betapa Hok Boan menjadi majikan Padang Bangkai dan menikah dengan wanita cantik, dapat mengadakan pesta pernikahan yang demikian mewah, mengundang banyak tokoh kang-ouw, hatinya menjadi iri. Dia tahu pula akan peristiwa di kota Koan-sui, di mana Hok Boan hampir dikeroyok oleh murid-murid guru silat yang juga dikenalnya, ketika Hok Boan berani main gila merayu anak perempuan guru silat itu. Bahkan dialah yang membantu Hok Boan menyembunyikan diri ketika dikejar-kejar dan membantunya mencari jalan keluar dan lari ke utara. Dia tahu pula siapakah Kui Hok Boan, tahu bahwa temannya ini adalah bekas murid Go-bi-pai yang telah diusir karena berjina dengan isteri petani dan ketahuan oleh gurunya.

Kini, melihat keadaan temannya dan melihat pula kehadiran seorang hwesio­ yang diketahuinya sebagai seorang tokoh Go-bi-pai, susiok dari temannya itu, dia memperoleh kesempatan untuk melampiaskan iri hatinya dengan jalan merusak suasana yang meriah dan tenang itu! Keberaniannya diperbesar karena dia minum terlalu banyak arak untuk menutupi iri hatinya, dan kini dia bangkit berdiri, membawa guci dan cawan arak, agak terhuyung menghampiri tempat duduk kedua mempelai.

“Ha-ha-ha, Kui-hiante, apakah engkau sudah lupa kepadaku?” Tio Kok Le berkata sambil tertawa, berdiri di depan pengantin pria yang masih duduk.

Kui Hok Boan tersenyum, “Tentu saja tidak, Tio-twako. Duduklah dan nikmatilah hidangan kami seadanya.”

“Cukup... cukup... aku hanya ingin memberi selamat kepadamu dengan secawan arak, Kui-hiante.” Biarpun dia agak limbung namun guru silat ini masih dapat menuangkan arak dalam cawan itu kepada Hok Boan.

Pengantin pria ini maklum bahwa bekas sahabat baiknya ini sudah mabok, maka dia menerima cawan itu dan berkata, “Terima kasih atas ucapan selamatmu, twako.” lalu dia minum cawan itu sampai kosong.

“Eh, mana walimu, Kui-hiante? Aku ingin memberi selamat kepada walimu.”

Hok Boan mengerutkan alisnya. “Tio-twako, agaknya engkau telah lupa bahwa aku tidak mempunyai ayah bunda lagi.”

“Ha-ha-ha, yang kumaksudkan adalah gurumu, hiante.”

Makin dalam kerut di antara kedua mata pengantin pria itu. “Tio-twako, kau tahu aku tidak mempunyai guru.”

“Ah, di hari baik begini mengapa membohong, hiante? Engkau adalah murid Go-bi-pai yang pandai dan terkenal! Engkau adalah Kui-taihiap, jagoan muda Go-bi-pai, seorang tokoh kang-ouw yang baru di bagian utara ini!” Suaranya meninggi dan mengeras sehingga kini banyak tamu yang sudah menoleh dan memperhatikan guru silat itu.

“Tio-twako, sudahlah. Bekas suhuku juga telah meninggal dunia. Kembalilah ke tempat dudukmu, twako, dan terima kasih atas kebaikanmu,” Hok Boan membujuk.

Akan tetapi tentu saja Tio Kok Le tidak mau berhenti sampai di situ, karena memang dia bermaksud untuk mengacau dan membongkar rahasia riwayat pengantin pria yang menimbulkan iri dalam hatinya itu. Dia menoleh ke arah tempat duduk hwesio tinggi besar muka hitam itu dan tiba-tiba wajahnya berseri, “Haaa, bukankah beliau itu Lan Kong Hwesio, tokoh Go-bi-pai yang menjadi susiokmu, hiante?” Tio Kok Le lalu menghdmpiri tempat itu sambil membawa guci arak dan cawan kosong.

“Tio-twako, jangan...!” Hok Boan mencoba untuk mencegah, akan tetapi guru silat itu telah menghampiri Lan Kong Hwesio dengan langkah lebar dan diikuti oleh pandang mata banyak tamu yang merasa tertarik, dia lalu menjura di depan hwesio bermuka hitam itu.

“Locianpwe, harap locianpwe sudi menerima pemberian selamat saya kepada locianpwe untuk hari yang berbahagia ini.”

Tentu saja pendeta itu tidak menerima suguhan cawan arak itu dan dengan alis berkerut dia bertanya, “Apakah maksudmu, sicu?”

Para tamu kini memandang ke arah mereka dengan penuh perhatian.

“Ah, bukankah locianpwe ini Lan Kong Hwesio tokoh Go-bi-pai?” Tio Kok Le bertanya dengan suara nyaring sehingga terdengar oleh para tamu yang kini makin memperhatikan.

“Benar, pinceng seorang murid Go-bi-pai, bukan ­tokoh besar. Habis, mengapa?”

“Ha, kalau begitu saya tidak keliru. Kui Hok Boan adalah murid mendiang Kaw Kong Hwesio tokoh Go-bi-pai dan pengantin pria adalah keponakan locianpwe. Bukankah sepantasnya kalau locianpwe saya anggap sebagai walinya dan saya memberi selamat kepada locianpwe dengan secawan arak?”

Pendeta itu memandang dengan penuh selidik kepada wajah guru silat itu. “Omitohud, pinceng tidak mengerti apa yang sicu maksudkan dengan sikap ini, akan tetapi ketahuilah bahwa sudah sejak lama Kui-sicu bukan lagi terhitung murid Go-bi-pai. Pinceng datang bukan sebagai paman gurunya, melainkan sebagai tamu biasa, karena itu tidak dapat menerima selamat itu.”

“Wah, wah ini namanya penasaran!” Guru silat itu berseru dengan muka merah, ditujukan kepada para tamu. “Pengantin pria adalah seorang gagah perkasa dan berkedudukan tinggi sebagai majikan Padang Bangkai dan sudah jelas dia adalah tokoh Go-bi-pai, kenapa tidak diakui oleh golongan atasan dari Go-bi-pai sendiri? Locianpwe, agar tidak membikin para tamu yang terdiri dari kaum kang-ouw menjadi penasaran, sukalah locianpwe memberi tahu apa sebabnya pengantin pria tidak lagi dianggap sebagai murid Go-bi-pai?”

Wajah Kui Hok Boan menjadi pucat dan dia memandang kepada guru silat itu dengan marah. Dia tidak tahu mengapa bekas sahabat baiknya itu secara tiba-tiba saja menyerangnya dengan ucapan seperti itu? Kalau saja dia tidak sedang menjadi pengantin dan menjadi tuan rumah, tentu sudah diserangnya bekas sahabat yang kini berkhianat itu, agaknya berusaha untuk mencemarkan namanya di dalam pesta ini!

“Sicu, urusan Go-bi-pai adalah urusan kami sendiri, sicu sebagai orang luar tidak berhak mencampuri atau bertanya-tanya!” ucapan hwesio itu dilakukan dengan nada suara menegur dan menggeledek sehingga terdengar oleh semua orang. Diam-diam Hok Boan kagum dan berterima kasih kepada bekas susioknya itu.

Tio Kok Le menyeringai ketika mendengar bentakan itu. Dia tidak berani main-main di depan hwesio ini, akan tetapi dia merasa belum puas kalau belum berhasil menyeret nama teman atau bekas teman yang kini makmur itu ke lumpur penghinaan, maka dia berkata lantang “Cu-wi sekalian, apakah cu-wi ingin mendengar mengapa pengantin pria tidak diakui lagi sebagai murid Go-bi-pai? Apakah cu-wi ingin mendengar apa yang terjadi di kota Koan-sui ketika pengantin pria masih menjadi sahabat baikku senasib sependeritaan? Ha-ha, cu-wi akan tertawa kegelian mendengar cerita-cerita saya yang amat lucu...”

“Orang she Tio! Apakah engkau bermaksud mengacau hari baikku ini?” Tiba-tiba terdengar Hok Boan berteriak karena dia sudah marah sekali.

“Siapa dia she Tio?” Suara ini nyaring merdu dan mengandung getaran sedemikian hebatnya sehingga mengatasi semua suara yang ada dan memaksa semua muka menoleh dan memandang ke arah pintu luar.

Sepasang pengantin itu sendiri terheran-heran ketika melihat bahwa tahu-tahu dari luar berjalan masuk seorang wanita yang amat luar biasa. Wanita ini kelihatan masih muda sekali, paling banyak dua puluh dua tahun agaknya, wajahnya mempunyai kecantikan campuran antara wajah orang Han dan wajah orang Mongol. Kulitnya halus kuning seperti wanita Han. Wajah yang cantik itu dirias dengan bedak dan yanci, juga bibirnya yang berbentuk indah itu dipermerah lagi dengan gincu. Rambutnya digelung seperti model gelung puteri kerajaan dan agaknya rambutnya panjang sekali karena gelung itu malang melintang dan terhias hiasan rambut dari emas permata. Pakaiannya juga merupakan kombinasi pakaian Han dan Mongol dan pantasnya dia adalah puteri bangsawan Mongol yang sudah “terpelajar”, yaitu sudah mempelajari kebudayaan Han.

DARI hiasan pakaian, tata rambut dan sikapnya yang angkuh, dengan dagu terangkat dan dada dibusungkan, dapat diduga bahwa dia tentu tergolong wanita keluarga bangsawan atau hartawan. Akan tetapi, sebatang pedang yang tergantung di punggungnya mendatangkan rahasia keanehan meliputi dirinya. Lebih aneh lagi, wanita cantik ini membawa sebungkus hio (dupa bergagang) yang membuka bagian gagangnya.

Semua mata mengikuti gerakan wanita ini yang melangkah memasuki ruangan pesta dengan sikap angkuh. Ketika dia menggerakkan tangan kiri yang memegang bungkusan hio itu, terdengar bunyi gelang-gelangnya berkerincing nyaring. Biarpun dia cantik manis dan memiliki bentuk tubuh yang padat menggiurkan, namun terdapat sesuatu yang amat dingin menyelubungi seluruh pribadinya, yang membuat orang-orang merasa serem dan berhati-hati. Di punggung wanita itu, selain sebatang pe­dang, juga tergantung sebatang kayu papan seperti salib bentuknya dan setelah tiba di tengah-tengah ruangan itu, mata yang berbentuk indah, lebar dan bersinar tajam itu memandang ke kanan kiri, lalu terdengar suaranya yang merdu dan nyaring seperti tadi.

“Siapa di antara kalian yang mem­punyai nama keturunan ini?” Tangan ka­nannya bergerak ke punggung melalui atas pundaknya dan tahu-tabu dia telah memegang papan kayu berbentuk salib tadi dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepalanya, membalikkan papan itu sehingga kini dapat terbaca tiga huruf besar yang tertulis di situ. Di atas papan yang melintang, terdapat tiga huruf yang berbunyi, CIA-YAP-TIO, tiga macam she (nama keluarga) Bangsa Han.

Semua orang membaca tiga huruf itu, akan tetapi tidak ada yang mengerti apa maksud wanita itu menanyakan tiga buah nama keturunan atau nama keluarga itu.

“Siapa tadi yang mengaku she Tio?” terdengar lagi dia bertanya, suaranya merdu sekali, akan tetapi juga nyaring melengking sehingga terdengar oleh mereka yang duduk di bagian paling sudut dari ruangan pesta itu.

Tio Kok Le yang tadi sedang berada di puncak hendak menyeret turun pe­ngantin pria yang membuat dia iri hati itu, sudah siap untuk mencemarkan nama Hok Boan di depan orang banyak, merasa mendongkol sekali dengan kemunculan wanita ini yang dianggapnya mengganggu dan menggagalkan usahanya melampias­kan isi hatinya. Akan tetapi, melihat wanita ini cantik dan berpakaian mewah, dia cepat melangkah maju dengan guci arak masih di tangan, menyeringai dan memandang wanita itu dengan mata haus.

“Sayalah she Tio bernama Kok Le, nona. Apakah saya akan menerima nasib baik seperti sahabatku Kui Hok Boan itu? Ha-ha, percayalah, mutu diriku tidak kalah oleh sahabatku itu!” Kok Le adalah manusia kasar, akan tetapi saat itu dia menjadi lebih kasar lagi karena pengaruh arak.

Akan tetapi suara ketawanya mendadak terhenti ketika tiba-tiba sinar mata wanita itu menyambar bagaikan kilat kepadanya. Dan wanita itu berseru lagi, “Siapa lagi yang she Cia, she Yap dan she Tio? Majulah yang merasa mempunyai she itu, jangan bersikap pengecut dan aku hendak bicara!”

Biarpun wanita itu memperlihatkan sikap luar biasa dan penuh rahasia, namun nampaknya dia hanyalah seorang wanita muda yang cantik, maka tentu saja tidak menimbulkan rasa takut kepada orang-orang kang-ouw itu. Ter­dengar suara tertawa-tawa dan nampak beberapa orang laki-laki maju dan meng­hampiri wanita itu. Dua orang mengaku she Tio dan tiga orang pula mengaku she Yap. Tidak ada seorang pun she Cia.

“Hemm, hanya tiga orang she Tio dan tiga orang she Yap?” Wanita cantik itu bertanya dengan suara kecewa. “tidak seorangpun she Cia di sini?”

Tidak ada yang menjawab, dan agaknya memang tidak ada, atau kalaupun ada, tentu orang itu diam saja. Dan memang ada seorang she Cia dan be­berapa orang lagi she Yap dan she Tio yang tidak mau melayani panggilan wanita itu. Enam orang laki-laki itu kini berdiri menghadapi si wanita, sikap mereka seperti anak-anak yang akan diberi hadiah, tersenyum-senyum agak malu-malu.

“He, nona manis. Engkau telah me­manggil kami berenam di sini, sebenarnya hendak memberi apakah?” tanya se­orang di antara mereka yang bernama keluarga Yap, orangnya tinggi besar dan kelihatan kuat sekali, di punggungnya terselip sebatang golok besar. Selain Tio Kok Le dan orang she Yap tinggi besar ini, empat orang yang lain juga jelas memperlihatkan diri sebagai orang-orang kang-ouw yang memiliki kepandaian. Bahkan seorang di antara mereka, she Tio yang bertubuh tinggi kurus, mem­bawa sepasang senjata siang-kek (sepasang tombak cagak) dan orang yang mahir memainkan senjata ini tentu memiliki ilmu silat yang sudah tinggi.

Akan tetapi, wanita itu mencibirkan bibirnya dan makin tampak nyata sebuah titik tahi lalat hitam yang menghias dagunya sebelah kiri, menambah manis wajahnya. Dia tidak menjawab, melainkan mengambil enam batang hio dari dalam bungkusan hio itu, kemudian menyelipkan sisa bungkusan di ikat pinggangnya.

Dengan sikap tenang sekali dia lalu membuat api dan menyalakan enam batang hio itu. Gerak-geriknya dilakukan dengan sikap tenang dan dingin sehingga dalam kesunyian yang mencekam itu semua orang mengikuti semua gerak-geriknya dan di dalam hati masing-masing semua orang menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh wanita luar biasa ini. Sementara itu, Kui Hok Boan sudah hendak bangkit dari tempat duduk­nya untuk menegur wanita yang aneh dan yang dianggapnya hendak mengacau pesta­nya itu, akan tetapi tiba-tiba tangannya disentuh oleh tangan kanan Si Kwi. Dia menoleh dan melihat isterinya memandang dengan mata terbelalak ke arah papan salib yang bertuliskan tiga buah nama keluarga itu, bibirnya berbisik, “Jangan bergerak...”

Kui Hok Boan terheran-heran, akan tetapi melihat sikap isterinya dan melihat wajah isterinya yang tiba-tiba berubah pucat itu, dia merasa serem dan tidak jadi melakukan sesuatu, hanya me­nonton saja dengan berdebar dan dengan urat syaraf siap menghadapi segala ke­mungkinan yang tidak wajar.

Kini wanita cantik itu telah selesai membakar enam batang hio. Enam orang she Tio dan she Yap itu sudah menjadi tidak sabar. Mereka berdiri seperti anak wayang, menjadi tontonan orang akan tetapi didiamkan saja oleh wanita yang memanggil mereka, seolah-olah wanita itu sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada mereka.

“Heiii! Engkau memanggil kami mau bicara apakah?” bentak orang she Yap yang tinggi besar itu, nadanya kehilangan kesabaran dan sudah mulai marah.

“Nona yang baik, kalau aku akan kauajak kawin, sebelum sembahyang harus memakai pakaian pengantin dulu!” Tio Kok Le berkelakar dan terdengar suara tertawa di sana-sini karena kelakar ini setidaknya mengurangi ketegangan hati mereka yang penuh dengan dugaan-dugaan.

“Aku akan menyembahyangi roh yang baru saja meninggalkan badannya.”

“Eh, dalam pesta pernikahan ini kenapa menyebut-nyebut orang mati? Siapa yang akan mati dan siapa yang akan kausembahyangi?” tanya Tio Kok Le dengan mulut masih menyeringai dan menganggap ucapan wanita itu sebagai kelakar belaka.

“Hari ini yang kusembahyangi adalah enam orang, yaitu tiga oreng she Tio dan tiga orang she Yap. Semua orang she Cia, Yap dan Tio harus mati!”

“Heiii...!” Tio Kok Le membentak marah akan tetapi tiba-tiba nampak sinar-sinar api menyambar. Orang she Yap yang tinggi besar itu cepat mencabut golok, demikian pula empat orang­ lain sudah siap, akan tetapi mereka itu tidak mampu menghindar ketika ada sinar-sinar api meluncur dan menyambar ke arah mereka.

“Oughhh...!”

“Aduhhh...!”

“Iiiihkkk...!”

Jerit-jerit mengerikan terdengar susul-menyusul dan enam orang itu roboh terpelanting, berkelojotan sebentar dan tak bergerak lagi. Mereka itu tewas seketika dengan gagang-gagang hio menancap di ulu hati mereka, menancap sampai dalam sekali, menembus jantung dan yang nampak hanya sebagian hio yang masih terbakar dan mengepulkan asap. Senjata-senjata mereka terlempar ke sana-sini dan guci arak di tangan Tio Kok Le yang masih dipegangnya erat-erat itu tumpah dan arak wangi berhamburan baunya. Setelah suara berisik dari jerit mereka, jatuhnya senjata-senjata mereka, lalu disusul robohnya tubuh mereka, disusul pula oleh teriakan dari para tamu, kini keadaan menjadi sunyi sekali. Sunyi yang menyeramkan dan semua wajah menjadi pucat, semua mata memandang kepada wanita itu dengan terbelalak dan kebanyakan dari para tamu merasa ngeri dan jerih. Menggunakan hio-hio biting sekaligus membunuh enam orang yang tidak lemah, hanya dengan sekali serang, benar-benar membayangkan tenaga dan kepandaian seperti iblis! Dan wanita cantik itu sama sekali tidak pernah ber­kedip menyaksikan hasil perbuatannya yang mengerikan. Dia hanya mencibirkan bibirnya dan memandang ketika enam orang itu berkelojotan dan mati, kemudian dengan tenangnya dia menyimpan salib yang bertuliskan nama she tiga macam itu, diselipkannya di punggung dengan terbalik sehingga hurul-huruf itu tidak nampak.

Tentu saja kawan-kawan dari enam orang yang dibunuh secara mengerikan itu menjadi marah. Mereka meloncat dan mencabut senjata mereka. Ada delapan orang laki-laki yang meloncat dan menerjang wanita cantik itu dengan senjata mereka.

“Siluman betina...!”

“Bunuh iblis keji ini!”

Mereka menyerbu dengan senjata pedang, golok dan sebagainya. Akan tetapi wanita itu dengan bibir masih tetap mencibir, bersikap tenang saja membiarkan mereka menerjangnya. Ketika mereka sudah datang dekat, tiba-tiba tangan kanannya yang sudah mengeluar­kan sehelai sabuk merah itu bergerak dan nampak sinar bergulung-gulung menyambar ke sekeliling tubuhnya. Ter­dengar bunyi ledakan-ledakan seperti pecut, delapan kali dan delapan orang itu terhuyung ke belakang, senjata mereka terlepas dan mereka mengaduh-aduh, memegangi lengan tangan yang tersambar sinar merah itu, bahkan ada yang ter­banting roboh dan ada pula yang lengan­nya berdarah, ada yang lepas sambungan tulang siku atau pergelangan tangan! Delapan orang itu mundur semua dan memandang dengan mata terbelalak.

Wanita itu kini tersenyum mengejek. Senyumnya dimaksudkan untuk mengejek, akan tetapi tahi lalat hitam di dagu itu benar-benar membuat dia nampak manis sekali ketika tersenyum, sungguhpun senyum itu dibuat-buat untuk mengejek.

“Untung bahwa kalian bukan orang-orang she Cia, Yap atau Tio, sehingga tidak perlu aku membunuh kalian!” Setelah berkata demikian, dengan langkah ringan dia lalu melangkah ke depan, hendak menghampiri sepasang mempelai.

“Omitohud, dari mana datangnya wanita yang begini kejam?”

Seruan itu keluar dari mulut Lan Kong Hwesio dan kakek pendeta besar bermuka hitam tokoh Go-bi-pai itu sudah berdiri menghadang di depan wanita itu. Lan Kong Hwesio adalah seorang tokoh Go-bi-pai dan sebagai hwesio, juga seorang ahli silat tingkat tinggi, tentu saja dia menentang segala bentuk kejahatan dan kekejaman, apalagi melihat wanita yang seperti iblis ini agaknya mengancam keselamatan sepasang mempelai.

Melihat hwesio tinggi besar itu meng­hadang dan menggerakkan ujung lengan baju yang menyambar dahsyat ke arah pinggangnya, ujung lengan baju yang dapat dipergunakan untuk menotok se­hingga serangan itu dahsyat dan hebat bukan main, wanita itu mengeluarkan seruan marah dan ujung sabuk merahnya menyambar ke depan.

“Prakkk!” Sabuk merah itu membalik keras, akan tetapi ujung lengan baju Lan Kong Hwesio juga pecah-pecah! Hwesio tinggi besar itu terkejut bukan main. Kiranya wanita yang masih amat muda ini telah memiliki tingkat tenaga sin-kang yang amat hebat, dan ujung sabuk itu merupakan senjata maut. Kalau tadi wanita itu menghendaki, tentu delapan orang itu sudah menjadi mayat semua!

Akan tetapi, sebagai seorang tokoh besar, yang tentu saja tidak mau men­diamkan fihak yang jahat merajalela, Lan Kong Hwesio kembali menubruk kedepan. Sekali ini dia menggunakan jurus pukulan tangan kosong yang amat lihai dari Go-bi-pai, yang bernama jurus Siang-liong-pai-hud (Sepasang Naga Memuja Buddha). Kedua tangannya menyambar dari luar, dari kanan kiri dan menyambarlah angin dari dua jurusan yang amat dahsyat, gerakan ini membuat dua buah ujung lengan baju yang panjang itu seperti dua ekor ular menotok ke arah leher dan pinggang, atas dan bawah dengan ke­cepatan yang sukar diduga mana lebih dulu.

“Plak-plak! Aihh...!” Wanita itu berhasil menangkis dua serangan itu dan meloncat ke belakang sambil melengking. “Losuhu adalah seorang tokoh Go-bi-pai yang berjubah pendeta, mengapa begitu kejam untuk menggunakan jurus Siang-liong-pai-hud untuk membunuh orang?”

Ketika tertangkis tadi, Lan Kong Hwesio merasakan betapa kedua lengan­nya tergetar. Dia kaget bukan main, apalagi ketika mendengar ucapan itu. Gadis muda ini mengenal ilmu silatnya! Padahal, jurus itu merupakan jurus sim­panan dan hanya dikenal oleh tokoh-tokoh Go-bi-pai yang sudah tinggi ilmu­nya. Seorang murid dengan tingkatan seperti Kui Hok Boan itupun tentu belum dapat mengenalnya! Dan melihat betapa wanita itu dapat menangkis dengan tepat, dia tidak akan heran kalau wanita itu bukan hanya mengenal melainkan juga dapat memainkan jurus itu! Akan tetapi, mendengar teguran itu, Lan Kong Hwesio menjadi makin penasaran.

“Omitohud...! Gadis muda yang kejam, engkau sendiri tanpa sebab membunuh enam orang yang tak berdosa, sekarang berani menegur pinceng yang hendak menentang kejahatahmu?”

Sementara itu, para tamu sudah bangkit semua dan kini mengurung gadis itu sambil meraba gagang senjata masing-masing. Jumlah tamu ada kurang lebih dua ratus orang dan mereka kelihatan sudah marah semua, baik golongan putih maupun golongan hitam karena di antara mereka tidak ada yang mengenal wanita muda ini! Mereka itu, kedua golongan yang biasanya saling bertentangan, sekali ini mempunyai niat yang sama, yaitu menentang wanita yang telah meng­ganggu kesenangan mereka berpesta.

“Losuhu, aku bukan orang gila yang membunuh orang tanpa sebab. Urusanku dengan semua orang she Cia, Yap dan Tio adalah merupakan urusan pribadi, merupakan permusuhan dan dendam turun-menurun yang seluas bumi, sedalam lautan dan setinggi langit. Apakah engkau hendak mencampuri urusan pribadi?”

Mendengar ini, hwesio itu tercengang. ­Dia menjadi ragu-ragu dan berkali-kali mengucapkan kata-kata. “Omitohud... omitohud...” untuk memohon kekuatan batin dari Sang Buddha yang dipujanya.

Sementara itu, para tamu berbeda pendapat dengan Lan Kong Hwesio. Mereka tidak ragu-ragu lagi dan mereka mulai berteriak-teriak.

“Bunuh siluman ini!”

“Tangkap iblis betina ini!”

“Kurung!”

“Serbu...!”

Akan tetapi tiba-tiba wanita itu mengangkat kedua tangannya dan ter­dengarlah bunyi ledakan keras bertubi-tubi empat kali dan terdengar suara berisik dari banyak sekali orang di empat penjuru mengurung gedung besar tempat pesta itu. Semua orang terkejut dan menengok keluar dan nampaklah banyak sekali perajurit berpakaian seragam dan bersikap gagah telah mengurung tempat itu dengan rapat seperti tembok benteng yang kokoh kuat!

“Hemm, kalian adalah orang-orang yang telah memasuki wilayah yang mulia Sri Baginda Raja Sabutai tanpa ijin, dan kini masih ingin berlagak? Tempat ini telah dikepung oleh tiga ratus orang perajurit-perajurit sri baginda, dan kaliam masih hendak mengurung aku? Aku adalah utusan sri baginda, hayo kalian semua mundur! Ataukah kalian ingin dibasmi semua sebagai pelanggar-pelanggar wilayah kami?”

Semua orang terkejut. Tentu saja mereka telah mendengar akan raja liar yang pernah menggemparkan Tiong-goan dengan serbuan-serbuannya itu (baca cerita Dewi Maut). Kiranya wanita ini adalah urasan raja itu untuk membasmi mereka! Para tamu yang berhati kecil menjadi panik, akan tetapi tiba-tiba Si Kwi bangkit berdiri, mengangkat tangan kanannya ke atas dan berkata dengan suaranya, “Cu-wi, sekalian, silakan duduk kembali dan harap tenang! Cu-wi adalah tamu-tamu kami dan kalau ada sesuatu, kamilah yang bertanggung jawab karena kedatangan cu-wi adalah atas undangan kami!”

Kui Hok Boan terkejut dan kagum menyaksikan keberanian isterinya. Dia sendiri sudah gemetar saking jerihnya menyaksikan kelihaian wanita itu yang dapat menandingi susioknya dan yang telah membunuh enam orang secara demikian mudah dan mengerikan. Tentu saja dia tidak pernah menyangka, karena memang isterinya belum pernah bercerita kepadanya, betapa isterinya itu pernah membantu suhu dan subonya yang menjadi kaki tangan Raja Sabutai! Karena itu, Si Kwi mengenal raja liar itu, juga, melihat tiga huruf yang menjadi nama keturunan tiga orang itu, Si Kwi segera mengerti siapa yang dimaksudkan dengan tiga huruf she itu. Maka, dia berani bertindak menenangkan semua tamu dan hendak menghadapi sendiri wanita yang mengaku utusan Raja Sabutai.

Kini wanita cantik itu sudah melangkah maju, berhadapan dengan Si Kwi. Pengantin wanita ini segera menjura dan membungkuk rendah sambil berkata, “Kami tidak tahu akan kunjungan utusan Sri Baginda Sabutai yang terhormat, maka tidak cepat-cepat menyambut. Harap sudi memaafkan kami.”

Wanita itu tersenyum, dan kini senyumnya ramah sekali, membuat wajahnya nampak makin manis saja. Dia bertepuk tangan tiga kali dan dari luar masuklah seorang perajurit Mongol yang tinggi besar memanggul sebuah peti hitam berukir indah. Atas isyarat wanita utusan Raja Sabutai itu, perajurit ini menurunkan peti di depan kaki sepasang mempelai, lalu mundur lagi dan keluar setelah memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki.

Wanita itu berkata lagi, “Liong-kouwnio, kami diutus oleh Sri Baginda Raja Sabutai untuk menyampaikan ucapan selamat beliau dan mengirimkan hadiah untuk sepasang mempelai, harap diterima dengan baik.” Dia menuding ke arah peti itu.

Wajah di balik tirai pengantin itu berseri saking girangnya. Sungguh tidak pernah disangka oleh Si Kwi bahwa Raja Sabutai masih ingat kepadanya, bahkan masih ingat untuk mengirim hadlah pernikahan. Hal ini selain menggirangkan hatinya, juga mengejutkan karena menjadi bukti bahwa daerah yang ditempatinya bersama suaminya ini bukanlah daerah bebas, melainkan milik Raja Sabutai dan bahwa raja itu agaknya tahu akan segala gerak-geriknya di Lembah Naga dan Padang Bangkai!

“Ahh...!” Dia cepat memberi hormat. “Sungguh mulia sekali sri baginda! Harap sampaikan permohonan ampun dari kami berdua bahwa kami tidak berani mengundang sri baginda. Maka harap saja nona yang menjadi utusan beliau suka duduk sebagai tamu agung kami.”

Akan tetapi wanita itu menggeleng kepala dan mengibaskan tangannya. “Tugas saya hanyalah menyampaikan selamat dan hadiah ini. Selain itu, juga kami diutus menyampaikan pesan sri baginda kepada Liong-kouwnio dan Kui-sicu.”

Sepasang mempelai itu saling pandang dengan hati berdebar tegang akan tetapi mereka sudah mendengarkan lagi suara wanita itu. “Tadinya, sri baginda sudah akan turun tangan melihat Padang Bangkai ditempati orang tanpa perkenan beliau. Kalau Liong-kouwnio memang dianggap orang sendiri dan boleh saja mendiami istana yang kosong itu. Akan tetapi kemudian Kui-sicu muncul dan melihat usaha Kui-sicu memajukan Padang Bangkai, maka sri baginda memberi ampun, apalagi setelah beliau mendengar bahwa Kui-sicu hendak menikah dengan Liong-kouwnio. Maka beliau malah memberi ucapan selamat dan hadiah, dengan pesah agar ji-wi dapat hidup bahagia di sini dan selalu ingat bahwa daerah ini termasuk daerah kekuasaan sri baginda dan sewaktu-waktu kalau diperlukan agar ji-wi suka menyerahkan dengan baik-baik kepada sri baginda.”

Si Kwi lalu memegang tangan suaminya dan menariknya sehingga mereka berdua beelutut. “Harap sampaikan terima kasih kami kepada sri baginda dan tentu kami akan selalu mentaati perintah beliau.”

Wanita itu menggangguk dan menjura ketika sepasang mempelai itu bangkit berdiri lagi. “Nah, tugasku sudah selesai, saya mohon diri, Kui-sicu dan Liong-kouwnio.” Tanpa menanti jawaban dia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan sepasang mempelai itu menuju keluar. Ketika tiba di tengah-tengah ruangan, dia berhenti, memandang sekeliling di antara tamu-tamu dan berkata, suaranya nyaring seperti tadi, penuh tantangan dan ancaman. “Kalau cu-wi sebagai orang-orang kang-ouw di selatan masih merasa penasaran, dengarlah bahwa aku adalah Kim Hong Liu-nio. Katakan kepada semua orang she Cia, Yap dan Tio bahwa mereka harus menjaga kepala mereka baik-baik, karena akan tiba saatnya Kim Hong Liu-nio akan datang mengambil kepala mereka sampai di dunia ini tidak ada lagi keturunan she Cia, Yap, dan Tio!” Setelah berkata demikian, wanita cantik yang mengaku bernama Kim Hong Liu-nio itu melangkah pergi, diikuti oleh pandang mata semua tamu sampai akhirnya dia lenyap di tengah-tengah pasukan Mongol yang berbaris pergi.

Kini sibuklah Kui Hok Boan menyuruh anak buahnya untuk menyingkirkan mayat-mayat itu, membersihkan tempat pesta dan melanjutkan pesta. Akan tetapi, suasana pesta sudah berubah dan para tamu tidak dapat bergembira lagi. Mereka semua menjadi tegang karena secara tak terduga-duga, di utara muncul seorang wanita yang demikian lihai, seorang wanita yang tidak saja memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, akan tetapi bahkan juga menjadi utusan dari Raja Sabutai sehingga tentu saja kedudukan wanita itu amat kuat. Wanita itu telah memperlihatkan kepandaian di depan hidung mereka tanpa mereka mampu menentangnya, karena wanita itu dilindungi oleh ratusan orang perajurit Mongol. Hal ini merupakan pukulan bagi orang-orang kang-ouw ini, baik golongan putih maupun hitam sehingga suasana pesta tidak lagi gembira. Bahkan sebelum pesta selesai, sudah banyak yang berpamit kepada sepasang mempelai dan sebelum lewat hari itu, semua tamu telah meninggalkan Padang Bangkai!

Setelah sepasang mempelai berada berdua saja di kamar malam itu, barulah Si Kwi memperoleh kesempatan untuk bercerita kepada suaminya yang merasa terheran-heran. Dia bercerita bahwa suhu dan subonya, yaitu mendiang Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw pernah mem­bantu Raja Sabutai, bahkan membantu kakek dan nenek iblis yang menjadi guru dari Raja Sabutai, yaitu mendiang Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li yang tinggal di Istana Lembah Naga. Dan ketika itu dia sendiripun ikut dengan subonya, tinggal di Lembah Naga sampai tempat itu diserbu oleh para pendekar sakti yang memimpin pasukan kerajaan.

Kui Hok Boan sudah mendengar sedikit-sedikit tentang penyerbuan itu dari para anggauta pasukan kerajaan ketika dia menyelidiki tentang keadaan Lembah Naga dan Padang Bangkai, akan tetapi dia tidak tahu akan keadaan yang sebenarnya, maka dia merasa tertarik sekali.

“Kiranya Raja Sabutai diam-diam masih memperhatikan tempat kita ini dan menganggap tempat ini sebagai daerahnya,” katanya.

“Tentu saja,” jawab isterinya. “Memang tempat ini bukan termasuk daerah kekuasaan kerajaan di selatan, akan tetapi aku tidak mengira bahwa beliau masih menaruh minat akan tempat-tempat kita ini.”

“Isteriku, tahukah engkau tentang orang-orang she Cia, Yap dan Tio itu?”

Si Kwi mengangguk dan menarik napas panjang. “Yang dimaksudkan adalah tiga orang pendekar yang memiliki kesaktian hebat. Tak kusangka bahwa Raja Sabutai menaruh dendam pribadi yang demikian mendalam terhadap mereka. Ataukah, barangkali bukan Raja Sabutai yang menyuruh Kim Hong Liu-nio itu memusuhi tiga pendekar itu?”

“Tiga pendekar? Siapakah mereka dan mengapa dimusuhi demikian hebat?”

“Pendekar she Cia itu adalah Cia Bun Houw, putera dari ketua Cin-ling-pai, pendekar sakti Cia Keng Hong...”

“Ahhh...!” Kui Hok Boan terkejut bukan main sehingga dia tidak melihat betapa terjadi perubahan pada wajah isterinya ketika menyebutkan nama Cia Bun Houw tadi.

“Kenapa kau terkejut?” Si Kwi bertanya, memandang wajah suaminya.

“Kenalkah kau dengan nama itu?”

“Kenal? Tentu saja orang seperti aku ini tidak mungkin dapat kenal secara pribadi dengan mereka, akan tetapi aku sudah mendengar nama Cia-taihiap tua dan muda itu. Ayah dan anak itu me­rupakan pendekar-pendekar sakti yang namanya menduduki deretan paling tinggi di dunia kang-ouw.”

Si Kwi menggangguk dan menunduk. Memang terlampau tinggi kedudukan Cia Bun Houw, terlampau tinggi sehingga tentu saja tidak mau memandang kepada­nya. Biarlah, dia yang duduk di tingkat rendah kini bertemu dengan suaminya yang juga mengaku sebagai seorang yang bertingkat rendah. Teringat akan ini, hatinya gembira dan dia memegang tangan suaminya. Gerakan ini disambut senyum oleh Hok Boan yang lalu me­rangkul. Mereka berangkulan dan ber­ciuman.

“Eh, nanti dulu, isteriku yang manis. Kau lupa untuk menceritakan dua she yang selanjutnya. She Yap dan Tio? Siapa mereka itu?”

“Yang she Yap itu adalah nona Yap In Hong, seorang pendekar wanita yang luar biasa lihainya, dan dia itu adalah
adik kandung dari pendekar sakti Yap Kun Liong...”

“Wah, aku belum pernah mendengar nama Yap In Hong, akan tetapi nama Yap Kun Liong, sama tingginya dengan nama ketua Cin-ling-pai! Hebat sekali, mengapa orang berani memusuhi dua orang pendekar Cia dan Yap itu? Dan yang she Tio?”

“Yang dimaksudkan adalah Tio Sun, juga seorang pendekar muda, putera dari seorang bekas panglima pengawal kota raja yang bernama Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan.”

“Wah-wah-wah...! Kakek bertenaga raksasa itupun amat terkenal! Heran sekali, mengapa mereka dimusuhi orang?”

“Merekalah yang dahulu selalu me­nentang orang-orang kang-ouw vang membantu Raja Sabutai, dan mereka pula yang mengobrak-abrik Istana Lembah Naga.”

“Kalau begitu, mereka juga termasuk musuh-musuh mendiang gurumu?”

Si Kwi mengangguk.

“Jadi termasuk musuh-musuhmu juga?”

Si Kwi menghela napas panjang. “Sudah sejak dahulu aku tidak setuju dengan sepak terjang subo yang membantu Raja Sabutai. Aku... aku tidak memusuhi mereka... karena aku tahu
bahwa para pendekar itu adalah patriot-patriot sejati, orang-orang gagah yang berani di fihak yang benar.”

“Ah, syukurlah, isteriku! Kalau engkau juga memusuhi mereka, sungguh... berbahaya sekali. Akan tetapi, membantu merekapun berbahaya! Wanita itu tadi sungguh amat lihai dan mengerikan. Engkau yang pernah mengenal para pem­bantu Raja Sabutai, mengapa tidak mengenal dia?”

“Entah, beberapa tahun yang lalu dia tidak ada, mungkin belum menjadi kaki tangan Raja Sabutai. Mungkin dia se­orang pembantu baru. Bahkan nama Kim Hong Liu-niopun baru sekarang aku men­dengarnya.”

Suami isteri pengantin baru ini lalu membicarakan soal mereka dan biarpun siang tadi terjadi hal yang amat menegangkan, namun penumpahan rasa cinta mereka pada malam pertama sebagai pengantin baru itu membuat mereka melupakan segala hal yang buruk dan mengkhawatirkan. Mereka saling men­cinta, dan ini sudah cukup bagi mereka, cukup kuat untuk menghadapi segala bahaya bersama-sama, sehidup semati, senasib sependeritaan. Kedua orang itu menemukan kebahagiaan mulai malam itu. Bahkan Kui Hok Boan yang benar-benar mencinta Si Kwi, merasa menyesal kalau dia teringat akan segala petualang­an dan perbuatannya di masa lalu, dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjadi suami yang mencinta dan baik dari isterinya.

Manusia selalu berubah. Tidak ada kedukaan yang abadi seperti juga tidak ada kesenangan yang kekal. Juga manusia tidak selalu baik atau selalu jahat, dalam diri manusia terdapat unsur ke­baikan dan unsur kejahatan ini. Sekali waktu kejahatannya menonjol, ada kala­nya kebaikannya nampak. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya, pikiran kita sendirilah yang menentukan, yang menguasai seluruh kehidupan, sehingga kita diombang-ambingkan antara susah dan senang, baik dan jahat, indah dan buruk, yang timbul dari pikiran yang menilai-nilai, membanding-bandingkan se­mua merupakan permainan dari pikiran kita sendiri yang selalu mengejar ke­senangan dan menolak kesusahan. Karena perbandingan dan penilaian ini, maka terciptalah sifat-sifat kebaikan, susah senang, baik jahat, dan sebagainya. Dan sifat-sifat kebaikan inilah yang menimbul­kan adanya kebaikan tunggal, kebalikan abadi yang menguasai dan menyengsara­kan kehidupan, yaitu kebalikan antara cinta dan benci. Yang menyenangkan atau dianggap menyenangkan kita cinta, sebaliknya yang kita anggap menyusahkan kita benci. Maka terjadilah pertentangan, permusuhan kelompok, bangsa, dan perang! Dapatkah kita terbebas dari cengkeraman pikiran yang menilai dan membandingkan? Mungkin dapat kalau kita bebas dari keinginan untuk mengejar kesenangan. Segala macam KEINGINAN, dalam bentuk apapun juga, adalah MENYESATKAN. Ingin baik, ingin bebas, ingin suka, ingin damai dan sebagainya, pada hakekatnya adalah INGIN SENANG! Betapapun tinggi dan mulianya nampaknya yang diinginkan itu, tetap saja itu merupakan keinginan untuk mencapai kesenangan, baik kesenangan batin maupun kesenangan lahir. Dan setiap pengejaran kesenangan, dalam bentuk apapun juga, pasti mendatangkan konflik dan ada yang menghalangi, ada yang merintangi, timbullah kekerasan dan pertentangan, timbullah rasa benci dan permusuhan. Betapa banyaknya hal ini terjadi di sekeliling kita! Betapa memang demikianlah hidup ini.

Contohnya, seorang pendeta bertapa untuk mencari kedamaian. Ini merupakan suatu keinginan, ingin mencapai kedamaian. INGIN SENANG! Karena kalau dalam keadaan damai, dianggapnya akan senang. Karena itu, setiap ada gangguan dalam pertapaannya, dia akan menentang si pengganggu ini dan terjadilah permusuhan. Dengan sendirinya kedamaian yang dicari-cari itupun hancur lebur! Betapa banyaknya hal ini dilihat dalam kehidupan kita sekarang ini! Bangsa-bangsa berteriak-teriak mencari perdamaian, INGIN DAMAI, yang berarti ingin senang pula! Bukan enggan perang, melainkan ingin damai, ingin senang. Maka, dalam mengejar perdamaian ini, kalau perlu dengan jalan perang! Dan kalau sudah perang, mana ada perdamaian? Padahal, perdamaian tidak perlu dikejar, tidak perlu dicari. Hentikan perang, jangan berperang, maka tanpa dicari sudah ada kedamaian itu! Demikian pula dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita terlalu
banyak MENGINGINKAN hal-hal yang tidak ada. Kita tidak mau membuka mata akan kehidupan kita sehari-hari, tidak mau memandang keadaan kita se­tiap saat, lahir batin. Kita INGIN sabar, padahal kita pemarah. Sama seperti ingin damai tapi dalam keadaan perang tadi. Kalau kita mengenal diri sendiri, melihat kemarahan sendiri, penglihatan ini me­nyandarkan dan menghentikan marah itu. Kalau sudah tidak ada marah perlukah belajar sabar lagi?

Kita manusia sebagai perorangan, sebagai kelompok, sebagai bangsa, agaknya lupa bahwa segala sumber peristiwa ber­ada di dalam diri kita sendiri. Kuncinya berada dalam diri kita sendiri. Akan tetapi kita selalu mencari ke luar. Kita tidak mau mempelajari diri sendiri dalam hubungannya dengan kehidupan. Kehidup­an adalah kita, kitalah pokoknya, kitalah, ujung pangkalnya, kitalah dasarnya, kitalah sebab akibatnya. Kita lebih suka mempelajari orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain dan mencari ke­senangan untuk diri sendiri belaka se­lama hidup. Maka tidaklah aneh kalau selama hidup kita diombang-ambingkan oleh gelombang kehidupan penuh suka-duka, jauh lebih banyak dukanya dari pada sukanya. Maukah kita menyadari semua ini dan mulai meneliti diri sendiri. Bercermin sepanjang hari setiap saat? Bercermin lahir batin? Kapan dimulai? SEKARANG JUGA!

Sang waktu berlalu terus tanpa mem­perdulikan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Matahari timbul tenggelam setiap hari tanpa memperdulikan segala yang terjadi, bebas tanpa ikatan, melalui jalan kehidupan dengan wajar. Itulah ABADI! Apapun yang terjadi atas dirinya, ada maupun tidak ada, begini maupun begitu, tidak mempengaruhinya. Tidak ada kemarin, tidak ada esok, yang ada hanya SEKARANG. Dan sekaranglah abadi!

Tanpa terasa karena tidak diingat-ingat, sepuluh tahun telah lewat semenjak hari pernikahan di Padang Bangkai antara Liong Si Kwi dan Kui Hok Boan itu. Sepuluh tahun telah lewat semenjak ter­jadinya peristiwa menggegerkan di dalam pesta pernikahan itu.

Dan selama sepuluh tahun itu, Liong Si Kwi hidup sebagai suami isteri yang saling mencinta dengan Kui Hok Boan. Hidup rukun dan damai, menikmati ke­bahagiaan hidup suami isteri yang se­belumnya belum pernah mereka rasakan. Dan sdama sepuluh tahun itu, terjadi perubahan hebat di tempat itu. Tempat yang dulu bernama Padang Bangkai dan merupakan tempat yang berbahaya dan menyeramkan, kini telah menjadi sebuah perkampungan besar. Sudah banyak di­buka toko dan pasar di tempat itu. Kui Hok Boan sendiri bersama isteri dan keluarganya telah pindah ke Istana Lembah Naga, dan kini Padang Bangkai hanya tinggal dongengnya saja. Kini telah menjadi dusun-dusun yang makmur karena tanah di daerah itu memang subur.

Kui Hok Boan dan isterinya telah mempunyai dua orang puteri. Dua orang anak perempuan kembar yang kini telah berusia sembilan tahun. Dua orang anak kembar itu diberi nama Lan dan Lin. Sukar sekali bagi orang lain untuk membedakan antara Kui Lan dan Kui Lin. Wajah mereka sama benar. Bahkan ayah bunda mereka sendiri kadang-kadang suka keliru memanggil dan hanya setelah melihat leher sebelah kiri dari seorang di antara mereka saja maka ayah bunda ini tahu mana yang Kui Lan dan mana yang Kui Lin. Di leher kiri Kui Lan terdapat sebuah titik berwarna merah, tanda semenjak lahir. Selain tanda itu, tidak ada lagi tanda lahiriah yang dapat mem­bedakan antara dua orang anak kembar itu. Segala-galanya samag dari ujung kaki sampai ke ujung rambut! Akan tetapi kalau dua orang anak itu berbicara atau bergerak, terdapat perbedaan antara mereka. Sejak kecil, Kui Lan atau yang biasa dipanggil Lan Lan selalu cerewet dan nakal, sedangkan Lin Lin lebih pendiam. Lan Lan agak bandel dan pem­berani, sebaliknya Lin Lin agak penakut dan cengeng. Akan tetapi kalau keduanya duduk diam dan Lan Lan tidak memperilhatkan tanda titik merah di leher kirinya biar ayah bundanya sendiripun tidak akan dapat mengenal dan membeda­kan mereka.

Selain Lan Lan dan Lin Lin, di dalam Istana Lembah Naga yang menjadi tempat tinggal sasterawan Kui Hok Boan dan isterinya itu, terdapat pula dua orang anak laki-laki yang sebaya, berusia kurang lebih dua belas tahun. Mereka ini adalah keponakan-keponakan dari Kui Hok Boan, yang oleh sasterawan itu diambil dari selatan untuk menjadi teman dua orang anak kembarnya. Yang seorang bersikap gagah dan berwajah tampan dan angkuh, bernama Kwan Siong Bu. Anak ini memang tampan dan biarpun usianya baru dua belas tahun, namun dalam segala hal dia meniru pamannya sehingga seperti juga pamannya, dia selalu ber­pakaian bersih dan rapi, rambutnya di­sisir rapi pula, muka, leher dan tangan­nya tidak pernah kotor. Wajahnya tampan dan sikapnya halus meniru pamannya, sikap seorang kongcu hartawan, dan wajah yang tampan itu membayangkan keangkuhan, keangkuhan yang timbul dari kesadaran bahwa dia adalah keponakan penghuni Istana Lembah Naga yang disegani, kaya raya dan lihai ilmu silatnya. Sedangkan anak ke dua sungguh jauh bedanya dengan Kwan Siong Bu. Anak ini juga keponakan dari Kui Hok Boan, akan tetapi biarpun wajahnya juga tidak buruk, bahkan boleh dibilang tampan, namun wajahnya bulat dengan sepasang pipi yang gendut, matanya lebar penuh kejujuran, mulutnya selalu menyeringai lucu, tersenyum bukan untuk melucu, akan tetapi memang wajahnya mempunyai garis-garis yang lucu. Tubuhnya juga kegemuk-gemukan sehingga cocok benar dengan wajahnya yang bulat dan bundar itu. Anak ini bernama Tee Beng Sin, seorang anak yang tidak bisa membohong dan terlalu jujur sehingga menyenangkan hati siapapun juga yang berhadapan dengan dia.

Sejak berusia lima tahun, Kwan Siong Bu dan Tee Beng Sin dibawa oleh paman mereka ke Istana Lembah Naga, menjadi teman bermain Lan Lan dan Lin Lin. Karena suaminya amat mencinta dua orang keponakan itu, dan karena dia sendiripun tidak mempunyai anak laki-laki dari suaminya, maka Si Kwi juga menyayang mereka. Tentu saja Si Kwi sama sekali tidak pernah menduga bahwa kedua anak laki-laki itu sebetulnya sama sekali bukan keponakan dari Kui Hok Boan, melainkan anak-anak kandungnya sendiri! Seperti diketahui, Kui Hok Boan di waktu mudanya adalah seorang petualang asmara, seorang yang gila perempuan dan entah sudah berapa ratus orang wanita yang dirayunya dan dijatuhkannya, menjadi kekasihnya. Baik wanita itu sudah bersuami, janda maupun perawan, jarang ada yang dapat bertahan terhadap rayuan petualang asmara ini. Dan tidak dapat dihindarkan lagi, di antara wanita-wanita yang telah dijatuhkannya itu, ada pula yang mengandung dan melahirkan anak keturunannya!

Kwan Siok Bu adalah anak keturunannya sendiri dari seorang janda bernama Kwan Sian Li, dan Tee Beng Sin adalah anak keturunannya dari seorang gadis yatim piatu bernama Tee Cui Hwa yang kini telah menjadi seorang nikouw. Tentu saja Kui Hok Boan tidak berani meng­akui mereka sebagai putera-puteranya sendiri, maka dia memakai she dari ibu anak masing-masing ketika dia mengajak Siong Bu dan Beng Sin ke Lembah Naga. Dan bagaimanakah dengan keadaan Sin Liong? Anak dari Si Kwi yang semenjak lahirnya dipelihara oleh monyet betina? Kini Sin Liong sudah besar pula, sudah berusia kurang lebih dua belas tahun. Tubuhnya tegap dan kuat karena anak ini semenjak kecil sering kali ber­gaul dengan monyet-monyet, berloncatan dari pohon ke pohon.

Ketika anak itu sudah berusia lima tahun, Kui Hok Boan mendesak kepada isterinya agar Sin Liong tidak lagi diperkenankan untuk hidup liar di hutan-hutan bersama para monyet. “Anak itu bukan monyet, melainkan manusia,” kata sasterawan ini. “Dan dia adalah anak angkat kita, maka sudah sepatutnya dididik menjadi calon manusia yang baik. Setidaknya, dia harus diajar baca tulis agar kelak menjadi manusia yang berguna.” Si Kwi yang masih merasa yakin bahwa anak itu adalah anak kandungnya, melihat betapa wajah anak itu mirip dengan pendekar sakti Cia Bun Houw, tidak membantah. Memang dia setuju dengan pendapat suaminya. Akan tetapi, melihat betapa suaminya amat mencintanya, amat baik terhadap dirinya dan dia menemukan kebahagiaan di samping suaminya dan dua orang anak kembarnya, Si Kwi sama sekali tidak berani membayangkan kepada suaminya bahwa Sin Liong adalah puteranya sendiri! Maka, biarpun dalam hatinya dia kadang-kadang merasa kasihan, rindu dan pribatin melihat putera kandungnya ini, namun pada lahirnya dia tidak pernah memperlihatkan sesuatu yang melebihi sikap seorang ibu angkat!

Sin Liong amat taat kepada ibu angkatnya. Maka ketika Si Kwi melarang dia berkeliaran di hutan lagi, dia menurut biarpun merasa berduka. Hanya kalau semua orang sudah tidur saja, anak berusia lima enam tahun itu masih suka keluar dari kamarnya untuk menemani para monyet itu bergembira di bawah sinar bulan. Dan diapun tidak pernah menolak ketika Kui Hok Boan memberi dia pekerjaan yaitu membersihkan rumah, menyapu halaman, dan menggembalakan sapi dan kuda. Bahkan dia sayang sekali kepada kuda dan sapi yang dipelihara oleh ayah angkatnya sehingga pekerjaan­nya amat memuaskan. Akan tetapi, karena sudah menjadi kebiasaan, dia tidak pernah dapat menjaga bersih pakai­annya sehingga pakaiannya selalu kotor. Akhirnya, demi untuk menanamkan ke­rajinan kepada anak itu, Kui Hok Boan menyuruh isterinya mengajar anak itu menjahit dan menambal sendiri pakaian­nya yang mudah robek karena dia tidak pernah menjaganya. Demikianlah, setelah berusia dua belas tahun, Sin Liong be­kerja di istana itu sebagai seorang jongos atau pelayan, berpakaian cukup bersih akan tetapi ada tambal-tambalannya, dan mempelajari membaca dan menulis huruf di bawah pimpinan Kui Hok Boan sendiri, bersama-sama dengan Lan Lan, Lin Lin, Siong Bu dan Beng Sin. Biarpun di waktu sama-sama mempelajari ilmu bun (sastera) ini dia duduk di sudut terpisah, namun ternyata bahwa Sin Liong amat cerdas dan dapat lebih cepat menghafal dibandingkan dengan empat orang anak yang lain itu. Juga dia telah memiliki bakat menulis baik, coretan-coretan tangannya ketika menulis huruf amat kuat dan mengandung keindahan dan gaya tersendiri yang mengagumkan. Dia pandai pula menggambar dan suka membaca kitab-kitab kuno. Anak ini berwatak sederhana, pendiam dan suka menyendiri. Wajahnya tampan dan matanya mem­punyai sinar yang tajam. Dia lebih ba­nyak mendengarkan daripada bicara, dan memiliki kekerasan hati yang amat luar biasa. Anak ini tidak pernah menangis! Atau setidaknya, tidak pernah kelihatan menangis oleh orang lain. Agaknya, dia mempunyai pantangan menangis di depan orang lain!

Dalam segala hal kecuali pakaian dan pelajaran ilmu silat, Kui Hok Boan tidak membedakan sikapnya terhadap Sin Liong dengan sikapnya terhadap dua orang “keponakannya” itu. Dia selalu bersikap baik dan manis terhadap anak angkatnya ini. Hal ini kadang-kadang membuat Si Kwi merasa tidak puas. Dia mengerti bahwa dalam hal pakaian, memang Sin Liong yang sembarangan itu patut memelihara pakaiannya sendiri, dan memang tidak mengapalah memakai pakaian sederhana karena seingatnya, ayah kandung anak ini, pendekar sakti Cia Bun Houw juga seorang pria berjiwa sederhana. Akan tetapi dia tidak setuju kalau Sin Liong tidak diberi latihan ilmu silat. Anak pendekar sakti Cia Bun Houw dan tidak belajar ilmu silat!

Akan tetapi, suaminya membantah, “Isteriku, kita harus mencegah Sin Liong kelak menjadi seorang manusia yang mudah menyeleweng ke dalam kejahatan. Ingatlah, anak itu sejak kecil dipelihara monyet dan sampai sekarangpun dia masih memiliki watak aneh, penuh rahasia dan pendiam sekali, kadang-kadang seperti masih mengandung watak atau sifat liar. Bayangkan saja, anak sebesar itu sejak kecil belum pernah menangis! Aku khawatir sekali, kalau dia diberi pelajaran ilmu silat dan sudah menguasai ilmu itu, kelak akan muncul sifat liarnya dan dia tentu sukar untuk dikendalikan lagi. Lebih baik jejali dia dengan pelajaran bun dan kebudayaan, karena pelajaran ini tentu akan dapat menahan keliarannya. Dan aku melihat dia amat tekun dan berbakat mempelajari sastera. Kalau kelak dia sudah pandai dan menempuh ujian di kota raja sampai berhasil, alangkah baiknya.”

Seperti biasa, Si Kwi tidak berani membantah lagi. Dia amat tunduk kepada suaminya yang telah mengembalikan kebahagiaan dalam kehidupannya itu. Dia tidak pernah dapat melupakan kebaikan suaminya, tiada habisnya dia berterima kasih kepada suaminya yang telah menuntunnya kembali ke dalam kehidupan yang berbahagia, setelah dia hampir kehilangan harapan untuk memperoleh kebahagiaan di dalam istana kuno yang sunyi itu. Apalagi, dia tahu bahwa suaminya amat baik hati dan menyayangi Sin Liong.

Dan memang sesungguhnyalah. Sama sekali tidak ada rasa benci dalam hati Kui Hok Boan terhadap anak itu. Dia menganggap anak itu sebagai anak angkat isterinya, dan diapun merasa kasihan kepada anak yang aneh sekali riwayatnya ini, anak yang tidak mengenal siapa ayah bundanya, anak yang ditemukan isterinya dalam rawatan monyet-monyet. Dia malah sudah mencoba untuk menyelidiki asal usul anak ini dengan bertanya-tanya kepada para penduduk dusun, namun tidak pernah dapat menemukan jejak orang tua anak itu. Maka dia juga tidak keberatan memberikan she Kui kepada anak yang tidak mempunyai nama keturunan itu. Hanya dia menekankan agar diketahui oleh Sin Liong bahwa she Kui hanyalah she “pinjaman” saja.

“Sin Liong, engkau tahu bahwa biarpun engkau memakai nama Kui Sin Liong, namun shemu itu bukanlah shemu yang sesungguhnya. Oleh karena itu, belajarlah yang tekun agar kelak engkau dapat memperoleh kedudukan yang tinggi dan engkau mendapat kesempatan untuk menyelidiki siapa orang tuamu yang sesungguhnya, atau kalau engkau memperoleh kedudukan, engkau tentu akan dihadiahi she oleh kaisar.” Memang pada waktu itu terdapat kebiasaan aneh bahwa orang yang berjasa dan membuat pahala, dihadiahi she yang terhormat oleh kaisar! Sejak kecil sudah tertanam dalam hati Sin Liong bahwa dia bukanlah anak dari ayah dan ibu angkatnya. Dia tahu diri dan tidak banyak minta. Hanya satu hal yang membuat hati Sin Liong kadang-kadang merasa tidak senang, yaitu bahwa dia tidak pernah diajar ilmu silat! Hanya satu kali saja dia pernah mengajukan permintaan dan pertanyaan ini kepada Hok Boan.

“Gihu (ayah angkat), kenapa saya tidak diberi pelajaran ilmu silat seperti yang gihu ajarkan kepada kedua siocia dan kedua kongcu?” Sin Liong menyebut siocia (nona) kepada Lan Lan dan Lin Lin, sedangkan kepada dua orang “keponakan” dari Kui Hok Boan itu dia menyebut kongcu (tuan muda). Hal ini adalah atas perintah dari Hok Boan dan ditaati oleh Sin Liong, juga tidak dibantah oleh Si Kwi. Hok Boan, betapapun juga menganggap bahwa Sin Liong bukanlah darah dagingnya, juga bukan keluarga dari isterinya. Sin Liong adalah seorang anak berdarah lain, maka sudah semestinya menyebut nona dan tuan muda kepada anak-anak kandungnya!

“Sin Liong, ilmu silat tidaklah tepat untuk kaupelajari. Bakatmu lebih baik dalam ilmu bun saja, maka kau tekunlah menghafal kitab dan memperdalam pelajaranmu dalam kesusasteraan agar kelak engkau dapat menjadi seorang sasterawan yang berkedudukan tinggi.”

Sekali saja bertanya dan meminta sekali ditolak, Sin Liong tidak mau minta lagi. Akan tetapi, kadang-kadang dia termenung dan ingin sekali mempelajari ilmu silat, bahkan secara diam-diam dia selalu memperhatikan kalau empat orang anak itu berlatih ilmu silat di bawah pimpinan Kui Hok Boan. Dan kadang-kadang juga dipimpin sendiri oleh Liong Si Kwi. Wanita ini tidak lagi prihatin melihat anak kandungnya, Sin Liong, tidak diperbolehkan belajar ilmu silat, karena dia menganggap suaminya benar. Lebih baik melihat Sin Liong kelak menjadi seorang sasterawan yang lemah lembut dan berhasil menjadi seorang yang berpangkat daripada anak itu terancam bahaya tersesat karena memiliki sifat keras dan liar setelah mempelajari ilmu silat.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Sin Liong sudah menyapu pekarangan belakang. Tidak banyak kotoran di pekarangan ini karena musim rontok telah tiba, pohon-pohon banyak yang gundul tak berdaun. Maka sebentar saja dia telah selesai menyapu. Pada pagi hari itu, Kui Hok Boan melatih ilmu silat di pekarangan belakang ini kepada empat orang anaknya.

“Kalian kurang giat berlatih,” terdengar dia mengomel. “Masa sudah hampir sebulan berlatih, jurus itu belum juga kalian kuasai dengan baik.”

“Ayah, jurus Heng-pai-hud (Memuja Sang Buddha dengan Tangan Miring) itu memang sukar sekali, terutama perubahan dari tangan memukul lalu menangkis dalam satu gerakan sukar sekali, ayah,” kata seorang di antara dua anak kembar itu. Baik ayah mereka sendiri maupun Siong Bu dan Beng Sin, tidak mungkin dapat yakin siapa yang bicara itu. Lan Lan ataukah Lin Lin. Akan tetapi Sin Liong yang berdiri di belakang dua orang anak kembar itu sambil memegang gagang sapunya, diam-diam dapat mengenal dan tahu bahwa yang bicara adalah Lan Lan. Bagi anak ini, dia bukan hanya mengenal dan dapat membedakan antara dua orang anak kembar itu dari tahi lalat merah di leher atau sifat mereka, akan tetapi dari gerak-gerik mereka dia dapat membedakan mereka. Kepekaan atau naluri ini didapatnya dari monyet-monyet itu. Tadi dia melihat betapa kepala anak perempuan yang bicara itu agak bergoyang, maka tahulah dia bahwa yang bicara adalah Lan Lan. Biarpun tidak diketahui orang lain, namun kewaspadaan Sin Liong yang didapat ketika dia hidup di antara monyet-monyet, dapat membuat dia mengenal kebiasaan dari gerakan yang sekecil-kecilnya. Lan Lan biasa menggoyang-goyangkan kepala tanpa disadarinya, mungkin dari perasaan yang menggerakkan syarafnya kalau bicara, sedangkan kebiasaan Lin Lin kalau bicara adalah agak menundukkan muka.

“Memang benar, paman. Agak sukarlah gerakan jurus itu, harap paman suka mengulang lagi dan memberi contoh,” kata Siong Bu.

“Saya sudah melatih diri setiap hari, namun belum juga dapat bergerak dengan baik!” Beng Sin juga berkata, matanya terbelalak dan sikapnya lucu.

Kui Hok Boan menarik napas panjang. “Ilmu silat bukan hanya membutuhkan ketekunan, akan tetapi juga membutuhkan bakat. Bagi yang berbakat, setiap gerakan akan terasa sampai di tulang sumsum, gerakan seperti menjadi otomatis dan berirama sehingga setiap jurus baru dapat dikuasai dengan mudah, seperti pada gerakan menari. Kalian jangan hanya menguasainya secara lahiriah saja, melainkan harus dapat menjiwai ilmu itu! Ah, memang tidak mudah! Ilmu kesusasteraan hanya pekerjaan otak, akan tetapi ilmu silat adalah pekerjaan seluruh tubuh, lahir batin, harus ada keserasian antara otak, otot, tulang dan syaraf. Nah, kalian lihat baik-baik, aku akan memberi contoh lagi bagaimana harus bergerak dalam jurus Heng-pai-hud.”

Kui Hok Boan lalu bersilat, memainkan jurus itu. Jurus ini adalah jurus serangan yang sekaligus juga merupakan jurus pertahanan. Jadi, menggunakan jurus ini dapat saja orang menyerang atau menangkis serangan lawan. Kedua tangan itu berganti gerakan, dari memukul ditarik ke depan dada dengan tangan miring untuk menghalau serangan lawan, dan dari menangkis ditarik ke pinggang lalu memukul lagi. Memang harus ada keseimbangan antara memukul dan menangkis dengan tangan miring di depan dada ini agar dapat menjadi otomatis dan tidak kaku. Jurus ini amat llhai, dalam keadaan diserang dapat membalas serangan dengan cepat, dan dalam keadaan menyerang selalu terjaga dan tidak terbuka.

“Nah, sekarang kaucoba lakukan jurus itu lebih dulu, Beng Sin!” kata Kui Hok Boan kepada si gendut itu. Siong Bu menonton penuh perhatian dan dia duduk setengah berlutut di atas batu sambil menunjang dagunya, sedangkan dua orang anak perempuan kembar berdiri berdampingan sambil memperhatikan dengan kedua mata terbuka lebar. Sin Liong masih berdiri di belakang mereka, memegang gagang sapunya dan juga menonton dengan hati tertarik. Dia tadi memperhatikan gerakan ayah angkatnya dan mencatat di dalam ingatannya semua gerakan yang sekecil-kecilnya. Apa sih sukarnya bergerak seperti itu, pikirnya. Di dalam benaknya dia menirukan gerakan itu dan merasa sudah dapat meniru dengan sempurna!

Beng Sin mulai mainkan jurus itu. Dengan penuh kesungguhan dia mencoha untuk menirukan gerakan pamannya. Anak ini mempunyai gerakan yang mantap dan tenaganya besar, akan tetapi gerakannya terlalu lamban.

“Keluarkan bentakan dan atur napas!” kata Kui Hok Boan.

“Heiiiittt! Ahh...! Heiiittt! Ahh...!” Anak gendut itu memukul dan menangkis sambil mengatur langkah, beberapa langkah maju ke depan setelah memukul dan menangkis, membalik dengan merubah kuda-kuda dan sekaligus memukul dan cepat menangkis, mulutnya terus mengeluarkan bentakan-bentakan.

Terlalu lamban, pikir Sin Liong dan ketika memukul, Beng Sin kurang memutar lengannya. Seharusnya lengan itu cepat diputar, dengan kepalan menelungkup ketika tiba di ujung pukulan sehingga ketika disambung gerakan menangkis, dapat dilakukan tangkisan dengan tangan miring di depan dada secara tepat. Nampak jelas olehnya kelemahan-kelemahan anak gendut itu. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani mengeluarkan pendapatnya itu dan hanya menonton.

Kui Hok Boan juga kurang puas dengan hasil yang diperlihatkan Beng Sin. Kadang-kadang dia menghentikan gerakan anak itu, dan memberi petunjuk-petunjuk. Beng Sin mainkan jurus itu berulang-ulang tanpa mengenal lelah.

“Masih belum sempurna, kau harus banyak belajar,” kata Kui Hok Boan dan kini tiba giliran Siong Bu.

Siong Bu juga mainkan jurus itu di bawah petunjuk pamannya. Gerakannya jauh lebih gesit daripada gerakan Beng Sin, dia lincah dan kuat, namun tidak semantap gerakan si gendut. Kedudukan kedua tangan Siong Bu sudah banyak baik daripada Beng Sin, akan tetapi gerakan kedua kakinya masih kurang berirama dan kurang sesuai dengan gerakan tangan sehingga diapun mendapat teguran dan harus mengulang terus. Demikian pula Lan Lan dan Lin Lin diharuskan melatih jurus itu dibawah petunjuk-petunjuk ayah mereka.

Agak jengkel hati Kui Hok Boan melihat betapa empat orang anaknya itu tidak mudah menguasai jurus Heng-pai-hud, maka ketika dia melihat Sin Liong sejak tadi berdiri saja menonton, ke­jengkelan hatinya membuat dia menegur ketus, “Sin Liong, mau apa engkau ber­diri di situ? Apakah tidak ada lagi pekerjaan yang lain?”

Sin Liong terkejut, menunduk dan melangkah pergi untuk mengurus kuda yang harus diberi makan dan sapi yang harus dibawa keluar. Akan tetapi, jurus Heng-pai-hud itu tidak pernah terlupa olehnya dan ketika dia mengambil makanan kuda, tanpa disadari kedua kakinya melakukan gerak langkah jurus itu, dari ketika dia sudah menaruh makanan kuda di depan lima ekor kuda itu, tanpa disadarinya pula kedua tangannya melakukan gerakan memukul dan menangkis dalam jurus Heng-pai-hud!

Diam-diam timbul iri di hatinya ter­hadap empat orang anak itu dan mulai saat itu dia mengambil keputusan untuk mengintai di waktu mereka berlatih dan menirukan gerakan-gerakan mereka. Dengan cara demikian, dalam waktu tiga bulan Sin Liong telah dapat “mencuri” empat macam jurus dan telah dapat melakukan gerakan-gerakan itu dengan baiknya. Dia selalu melihat gerakan itu dimainkan oleh ayah angkatnya, kemudian menirunya. Dia tidak mau meniru gerakan empat orang anak itu yang dianggapnya kaku dan tidak sama dengan gerakan ayah angkatnya.

Di dalam pergaulan sehari-hari, Sin Liong seperti sahabat-sahabat biasa dengan empat orang anak itu. Terutama sekali Lan Lan dan Lin Lin. Kedua orang anak perempuan ini suka sekali kepada Sin Liong yang ringan tangan dan kaki, mau memenuhi segala permintaan mereka sungguhpun Sin Liong kurang pandai bergaul, tidak banyak bicara dan lebih suka menyendiri. Beng Sin sering kali menggoda Sin Liong, akan tetapi diam-diam Sin Liong suka kepada anak gendut yang jujur dan suka melucu ini. Satu-satunya anak yang menimbulkan rasa tidak senang di hati Sin Liong hanyalah Siong Bu karena anak ini agak angkuh dan bersikap seperti seorang majikan terhadap dirinya. Bahkan kadang-kadang dia me­rasa sakit hati karena Siong Bu seringkali memakinya sebagai “anak monyet”!

Pada suatu hari, dengan tekun dan sungguh-sungguh Sin Liong berlatih “silat” yaitu gerakan-gerakan dari empat jurus yang dikenalnya dan dikuasainya dari hasil mengintai itu. Dia tidak tahu bahwa Lan Lan, Lin Lin dan Beng Su, mengintai dengan mata terbelalak heran dari balik semak-semak. Ketika itu, Sin Liong sedang menggembala sapi di padang rumput tak jauh dari taman istana. Tiga orang anak ini bermain-main dan akhirnya tiba di tempat itu, melihat dari jauh betapa Sin Liong bergerak-gerak seperti orang bersilat maka dengan penuh keheranan mereka menghampiri dan bersembunyi, mengintai.

Ketika melihat Sin Liong bergerak dengan jurus Heng-pai-hud, Beng Sin tak dapat menahan keheranannya dan dia meloncat keluar dari balik semak-semak sambil berseru, “Heii, itu adalah jurus Heng-pai-hud!”

Sin Liong terkejut sekali, cepat menghentikan gerakannya dan menengok. Wajahnya berubah merah ketika dia melihat Beng Sin dan dua orang anak perempuan itu berlari-lari menghampiri­nya.

“Hei, Sin Liong, dari mana engkau dapat memainkan jurus-jurus itu?” Beng Sin berkata dengan mata terbelalak, “Apakah paman diam-diam mengajarmu?”

Sin Liong menggelengkan kepala. “Ah, aku hanya main-main, Tee-kongcu.”

“Ahaaaa, kalau di sini tidak ada paman, jangan menyebut kongcu-kongcuan segala. Namaku Beng Sin dan kau Sin Liong. Bukankah kita sahabat?”

“Terima kasih, Beng Sin. Akan tetapi lebih baik aku menyebutmu kongcu sesuai dengen perintah gihu.”

“Sin Liong, aku melihat engkau tadi mainkan Heng-pai-hud. Dari mana kau dapat melakukan gerakan itu?” Kui Lin bertanya.

“Li-siocia, aku hanya menonton kalian berlatih dan meniru-niru saja...”

“Ah, tapi gerakanmu tadi baik benar!” Kui Lan juga memuji.

“Benar!” Kata Beng Sin. “Sebaliknya aku belum juga bisa melakukan gerakan jurus itu dengan baik.”

“Gerakanmu sudah baik, hanya perlu dipercepat, kongcu. Terlalu lamban se­hingga gerakan kedua tanganmu kalah cepat oleh kedua kakimu. Juga di waktu kau memukulkan tanganmu ke depan, engkau kurang memutar lenganmu se­hingga ketika gerakan memukul itu di­sambung gerakan menangkis, kurang tepat.”

Beng Sin membelalakkan matanya dan menjadi gembira. “Ah, begitukah? Biar kucoba!” Dan anak ini lalu bergerak melakukan jurus Heng-pai-hud dan meng­ubah gerakannya sesuai dengan petunjuk Sin Liong. Dia merasa betapa setelah dia mempercepat gerakan kedua lengannya, dia dapat mengikuti gerakan kaki secara baik, dan ketika dia memukul, dia memutar lengannya dan mendapat kenyataan bahwa perubahan, dari memukul menjadi menangkis dapat dia lakukan dengan baik!

“Horeeee...! Aku dapat melakukan­nya dengan baik!” Dia bersorak girang sekali dan dua orang anak perempuan itupun ikut gembira, tertawa-tawa melihat si gendut itu bersorak dan menari-nari dengan pinggul megal-megol.

“Hei, apa-apaan kalian di situ?” tiba-tiba terdengar teguran Siong Bu yang datang berlari ke tempat itu.

“AH, Bu-ko, terjadi keajaiban di sini!” Beng Sin berkata sambil tertawa dan menudingkan telunjuknya kepada Sin Liong. “Kaulihat, Sin Liong ternyata pandai mainkan Heng-pai-hud, dan dia telah memberi petunjuk sehingga gerakanku menjadi baik sekarang!”

“Benar, Bu-ko, dan Sin Liong dapat pula mainkan jurus-jurus lain dengan baiknya, padahal dia hanya melihat dan meniru-niru kita saja!” Lan Lan berkata.

Alis yang sudah kelihatan panjang tebal di atas sepasang mata Siong Bu berkerut ketika dia memandang kepada Sin Liong, akan tetapi dia memandang rendah anak angkat bibinya ini dan menganggap seorang bujang yang derajatnya lebih rendah daripada dia dan saudara-saudaranya. “Sin Liong, bukankah paman sudah melarangmuu untuk belajar silat?” bentaknya.

Sin Liong menundukkan mukanya. “Aku tidak belajar, hanya melihat dan ingat gerakannya.”

“Dia benar, Bu-ko. Dia hanya me­ngenal jurus yang pernah dilihatnya saja, akan tetapi gerakannya hebat. Dia bisa mainkan jurus Heng-pai-hud lebih baik daripada engkau, Bu-koko!” Beng Sin berkata lagi dengan jujur, tidak tahu betapa kata-katanya itu membuat hati Siong Bu menjadi makin panas dan iri.

“Hemmm, golongan monyet mana bisa bermain silat?” dia mengejek.

“Ahh, jangan begitu, Bu-ko. Menurut penuturan paman, bukankah banyak ilmu silat diambil dari gerakan-gerakan binatang, seperti harimau, bangau, monyet dan lain-lain?” bantah Beng Sin. “Ingat jurus-jurus seperti Hek-wan-hian-ko (Lutung Hitam Memberi Buah), Sin-kauw-pai-bwe (Kera Sakti Menggerakkan Ekor) dan lain-lain.”

“Hemm, jurus-jurus itu ciptaan manusia. Mana ada anak monyet bisa bersilat?” kembali Siong Bu mengejek.

“Bu-koko, kenapa kau menghina Sin Liong? Dia tidak mempunyai kesalahan apa-apa,” tiba-tiba Lin Lin mencela Siong Bu.

“Benar, kau sengaja hendak memakinya anak monyet. Kau terlalu, Bu-ko, dan kau mengganggu kami yang sedang bergembira di sini!” Lan Lan juga membela Sin Liong.

Melihat dua orang anak perempuan itu membela Sin Liong, makin panaslah rasa hati Siong Bu. Akan tetapi dia adalah seorang anak yang cerdik. Dia tidak mau mendesak lagi karena biarpun dia dapat memperolok Sin Liong, dia tidak mau kalau untuk itu dia menimbulkan rasa tidak suka di hati Lan Lan dan Lin Lin.

“Aku sebenarnya tidak menghina, hanya tidak percaya. Akan tetapi kalau Sin Liong mau berlatih silat bersamaku, baru aku percaya,” katanya sambil meng­hampiri Sin Liong.

Beng Sin berseru girang. “Bagus! Itu bugus sekali! Sin Liong, hayo layani Bu-­ko berlatih. Dia baru akan percaya setelah melihat sendiri dan engkaupun akan memperoleh kemajuan kalau mau berlatih dengan dia.”

Sin Liong tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksudkan. Dia memang ingin sekali belajar silat, akan tetapi dia tidak berani belajar dari ayah angkatnya yang sudah melarangnya. Kini dia meragu dan memandang kepada Lan Lan dan Lin Lin. Dua orang anak perempuan itupun mengangguk, dengan gembira. Mereka suka sekali belajar silat, dan melihat gerakan Sin Liong tadi, mereka mengira bahwa tentu Sin Liong sudah pandai pula, maka tiada buruknya untuk berlatih bersama Siong Bu.

Sin Liong adalah seorang anak yang keras hati. Tadinya dia ingin meninggal­kan mereka pergi, akan tetapi melihat Siong Bu berlagak menantang, hatinya menjadi panas. Dia menatap wajah Siong Bu dan berkata, “Kwa-kongcu, kau mau mengajarku?”

Siong Bu menyeringai. “Kata mereka engkau pandai. Kalau engkau lebih pandai, berarti engkaulah yang mengajariku. Mungkin engkau mempunyai jurus-jurus monyet lain yang belum kukenal.” Ucapan ini tentu saja bermaksud meng­ejek dan Beng Sin mengerti juga akan ejekan itu. Hati anak gendut ini berpihak kepada Sin Liong karena tidak jarang dia menjadi sasaran kenakalan dan ejekan-ejekan Siong Bu yang lebih tua beberapa bulan dari dia dan merasa lebih menang.

“Sin Liong, apakah kau takut? Aku tahu engkau kuat sekali, dan... hemmm, siapa tahu engkau benar-benar menyimpan jurus-jurus monyet sakti. Hayo, kaulayani Bu-ko!” Dia mendesak.

“Benar, kauhadapi dia, Sin Liong!” kata Lan Lan.

“Aku ingin sekali melihatnya!” sam­bung Lin Lin.

Sin Liong merasa tersudut, apalagi kini Siong Bu sudah menghampirinya dekat, lalu menggunakan jari tangan mendorong dada Sin Liong, dengan lagak angkuh berkata, “Kalau takut, kau ber­lutut saja minta ampun tiga kali!”

Marahlah Sin Liong. “Kwa-kongcu, terhadap setanpun aku tidak takut, apalagi terhadap engkau!”

“Heh-heh, dia memakimu setan, Bu-ko!” kata Beng Sin tertawa kcras. “Dia memaki engkau setan!” Anak nakal ini sengaja mempergunakan kesempatan ini untuk memaki kepada Siong Bu yang sering memakinya tanpa dia berani mem­balas.

Merahlah wajah Siong Bu. “Anak monyet! Berani kau!” Dan tangannya lalu memukul ke arah muka Sin Liong. Sin Liong terkejut, dan dengan gerakan otomatis dia memalingkan mukanya.

“Plakk!” Bukan hidungnya yang kena dijotos, melainkan pipinya. Sin Liong terhuyung ke belakang.

“Eh, kenapa kau memukulktu?” tanyanya, matanya terbelalak heran.

“Itu namanya latihan silat, tolol! Habis apa lagi artinya silat kalau bukan saling pukul? Nah, kau jaga ini!” Kembali Siong Bu menyerangnya dengan pukulan yang ditujukan ke arah dada Sin Liong.

Kini Sin Liong sudah siap. Kalau tadi mukanya terkena pukulan adalah karena dia tidak menyangka bahwa “latihan” itu berarti saling pukul! Kini diapun lalu teringat akan gerakan Heng-pai-hud, yaitu dengan tangan miring melakukan tangkisan, maka dia cepat memasang kuda-kuda seperti yang sering dilatihnya, melangkah mundur sambil miringkan tangan ke depan dada, menangkis pukulan itu.

“Desss!” Karena cara Sin Liong me­masang kuda-kuda tidak tepat, biarpun gerakannya benar namun dia tidak tahu untuk apa kuda-kuda itu, maka penanam­an tenaga di kakinya tidak benar dan dia terhuyung oleh pertemuan lengannya dengan lengan lawan, dan sebelum dia tahu harus berbuat apa, tiba-tiba kaki lawan sudah membabatnya dari samping, tepat mengenai belakang lututnya.

“Bresss...!” Tubuh Sin Liong terpelanting roboh.

“Hei, kenapa begitu mudah roboh?” Lan Lan berseru heran.

“Hayo, Sin Liong, jangan mengalah. Serampangan kaki itu mestinya dapat di­hindarkan dengan loncatan, dan kau boleh balas memukul!” Beng Sin berseru.

Sin Liong bangkit berdiri dan pada saat itu Siong Bu sudah menerjang lagi dengan pukulan bertubi-tubi. Sin Liong masih mencoba untuk bergerak dengan jurus-jurus yang pernah dilihat dan dilatihnya, akan tetapi tentu saja gerakan-gerakan itu biarpun amat baik akan tetapi tidak tepat, dipergunakan bukan pada saatnya maka mulailah dia menjadi bulan-bulanan pukulan tangan dan tendangan kaki Siong Bu. Empat kali mukanya menerima pukulan keras sehingga kedua pipinya menjadi biru dan mata kanannya membengkak!

“Bu-koko, jangan memukul sungguh-sungguh!” Lin Lin berseru marah.

“Sin Liong, kenapa kau tidak membalas? Kau boleh membalas! Latihan ini umpamakanlah kau sedang berkelahi! Kalau kau diserang harimau, masa diam saja?” Beng Sin berteriak-teriak gemas melihat Sin Liong dijadikan bulan-bulanan.

Mendengar ucapan “diserang harimau”, seketika bangkitlah kemarahan di hati Sin Liong. Seperti terbayang olehnya pengalamannya di waktu kecil ketika dia hampir mati oleh harimau dan diselamatkan oleh teman-temannya, yaitu para monyet. Kini dia tidak perduli akan latihan ilmu silat, tidak perduli akan jurus-jurus ilmu silat, akan tetapi menggunakan naluri dan tanggapan syarafnya terhadap ancaman dari luar. Dengan cekatan dia meloncat ke sana-sini, seperti seekor monyet dan dia dapat menghindarkan semua pukulan lawan. Ketika tangan kiri Siong Bu meluncur lewat, dengan cepat sekali dia menangkap tangan itu, memilinnya ke belakang sampai Siong Bu berteriak kesakitan, dan hampir saja dia lupa. Hampir saja Sin Liong menggigit leher lawannya! Akan tetapi dia masih teringat dan segera menggunakan kedua tangannya, mencengkeram pakaian lawan dan mengangkat tubuh Siong Bu ke atas dengan kedua tangan kemudian melemparkannya ke depan.

“Brukkk...!” Debu mengepul ketika tubuh Siong Bu terbanting.

“Hebat...! Kau hebat, Sin Liong...!” Beng Sin memuji dan bersorak, akan tetapi tiba-tiba Siong Bu yang sudah bangkit itu menerjang lagi dan sebuah tendangan mengenai perut Sin Liong, membuatnya terhuyung.

“Eh, kau curang, Bu-ko. Engkau sudah roboh dan latihan ini sudah berakhir,” kata Beng Sin.

Akan tetapi Siong Bu tidak perduli dan dia menerjang terus, menghujankan pukulan dan tendangan. Akan tetapi, Sin Liong yang tidak bisa silat itu memiliki tubuh yang jauh lebih kuat, mempunyai daya tahan yang kuat, kegesitan sewajarnya yang didapatkan karena pergaulannya dengan monyet-monyet. Dia dapat meng­elak ke kanan kiri dan satu dua kali pukulan yang mengenai tubuhnya tidak dirasakannya. Betapapun juga, mukanya sudah terasa panas dan nyeri karena pukulan-pukulan yang tadi, dan kemarah­annya memuncak ketika Siong Bu sambil menyerang memaki-makinya. “Anak monyet bocah hina!” Dia mengeluarkan suara menggereng seperti binatang dan tiba-tiba dia maju menubruk.

“Bukk!” Pukulan yang mengenai lehernya tidak dirasakannya dan kini kedua tangannya sudah mencengkeram pundak Siong Bu. Anak ini biarpun sudah mem­pelajari ilmu silat, akan tetapi kepandaiannya masih belum matang, maka ketika merasa pundaknya dicengkeram dan sakit, diApun Ialu mencengkeram dan terjadilah pergulatan yang tidak memakai jurus ilmu silat lagi! Mereka saling jambak, saling cengkeram dan saling cekik!

Sin Liong yang tadinya tidak ingin berkelahi sungguh-sungguh, ketika di­jambak rambutnya, merasa nyeri sekali, maka dia lalu membuka mulut dan meng­gigit daun telinga Siong Bu! Begitu keras gigitannya sehingga ujung daun telinga Siong Bu robek dan anak ini berteriak-teriak kesakitan!

“Heii, berhenti kalian!” terdengar bentakan keras dan tiba-tiba dua buah tangan yang kuat telah menarik tubuh Siong Bu dan Sin Liong ke kanan kiri dan mendorong mereka terpisah. Siong Bu terisak menangis sambil memegangi telinga kanannya yang berdarah sambil berlutut di depan pamannya, sedangkan Sin Liong berdiri dengan kepala tunduk, mukanya bengkak-bengkak dan biru-biru, akan tetapi sedikitpun tidak ada tanda-tanda bahwa dia menderita kesakitan atau menangis!

Kui Hok Boan berdiri dengan muka merah dan mata terbelalak marah. Tangannya sudah meraih sebatang ranting kayu dan dia menoleh kepada Siong Bu. “Kenapa telingamu?”

“Di... digigit... monyet cilik itu... aduhhhh...!” Siong Bu mengeluh ketika pamannya memeriksa telinga itu. Ternyata hanya ujungnya yang robek bekas gigitan.

“Bocah liar! Berani kau berkelahi dengan kong-cu dan menggigit telinganya? Kalau tidak dihajar, engkau tentu akan menjadi monyet liar!” Kui Hok Boan lalu menghampiri Sin Liong yang masih berdiri. “Hayo berlutut kau!”

Sin Liong berlutut dan sasterawan yang marah itu lalu mengayun ranting itu yang meledak-ledak dan melecuti tubuh anak itu. Kulit leher dan punggung Sin Liong pecah-pecah dan darah mulai mengalir keluar ketika ranting itu menyambar-nyambar ganas. Akan tetapi, anak itu hanya menunduk dan memejamkan matanya, menahan rasa nyeri dan sedikitpun tidak mengeluarkan suara mengeluh. Juga tidak nampak dia menangis.

“Prat-prat-prat-prat!” Ranting itu menari-nari dan setelah melihat baju itu berdarah, baru Hok Boan menghentikan sabetannya. Dia terengah-engah dan kemarahannya makin memuncak melihat anak itu sama sekali tidak mengeluh atau menangis. Hal ini diterimanya sebagai tantangan!

“Kau bandel, ya? Kau berkulit tebal, ya? Ingin kuhajar sampai mampus?” teriak Hok Boan yang makin marah mengingat bahwa puteranya digigit daun telinganya sampai pecah dan melihat Sin Liong sama sekali tidak menangis atau mengeluh.

“Ayah... harap ampunkan dia, ayah...!” Tiba-tiba terdengar suara Lin Lin meratap dan terdengar isak terkandung dalam suara itu. Anak ini tidak tega dan merasa kasihan melihat keadaan Sin Liong.

Hok Boan tidak jadi mencambuki lagi dan menoleh kepada Beng Sin. “Beng Sin, hayo katakan apa yang terjadi!” bentaknya.

Beng Sin berlutut dengan tubuh agak menggigil. “Mereka... mereka berkelahi... dan...” Dia melirik ke arah Siong Bu, melihat pandang mata kakaknya itu sehingga dia tidak berani untuk berterus terang. “Dan... paman lalu datang.” Dia menutup mulut dan menunduk.

“Sin Liong, engkau tak tahu diri! Berani engkau berkelahi dengan seorang dari mereka? Apakah kerjamu di sini hanya untuk menentang dan berkelahi? Hayo jawab!” Hok Boan membentak. Akan tetapi Sin Liong tetap menunduk, tidak mau menjawab.

“Kau sungguh bandel! Apa ingin dihajar lagi?”

“Ayah, Sin Liong tidak bersalah!” tiba-tiba Lan Lan berkata dengan suara lantang. Hok Boan memandang puterinya itu, dan Lan Lan melanjutkan kata-katanya. “Mula-mula kami bertiga di sini melihat Sin Liong berlatih silat seorang diri, dia pandai mainkan jurus Heng-pai-hud...”

“Ehhh...?” Hok Boan terkejut bukan main.

“Dia menonton kami berlatih, ayah, lalu dia meniru-niru gerakan kami. Akan tetapi gerakannya baik sekali dan selagi kami bergembira, datang Bu-koko yang menantang Sin Liong.”

“Dan Bu-koko memaki Sin Liong monyet,” sambung Lin Lin.
“Bu-koko menantang untuk berlatih silat, mereka berkelahi sungguh-sungguh,” sambung pula Lan Lan. “Akan tetapi Sin Liong didesak maka dia melawan, kalau tidak Bu-koko mendesak dan memaksa, tentu dia tidak akan balas memukul dan menggigit.”

Kui Hok Boan mengerutkan alisnya. Soal perkelahian antara anak kecil tidak begitu aneh baginya, akan tetapi men­dengar Sin Liong pandai bermain jurus Heng-pai-hud, benar-benar mengejutkan hatinya. Dan kenyataan yang mengejut­kan hatinya adalah bahwa Siong Bu yang sudah dilatihnya selama lima tahun ternyata kini tidak mampu mengalahkan Sin Liong biarpun muka Sin Liong matang biru dan kalau dia tidak datang, bukan tidak mungkin Siong Bu akan kalah!

“Sin Liong, benarkah engkau telah menonton jurus-jurus itu dan menirunya?” bentaknya kepada Sin Liong.

“Benar, gi-hu.”

“Mulai sekarang, engkau tidak boleh lagi menonton dan meniru-niru. Mengerti?”

“Baik, gi-hu.”

“Mulai malam nanti, engkau harus menuliskan kalimat ‘Saya tidak boleh melawan terhadap Kwa-kongcu dan Tee-kongcu’ sampai seribu kali di atas kertas!”

“Ayah, Sin Liong tidak bersalah!” Lan Lan dan Lin Lin berkata hampir berbareng.

“Diam kalian! Hayo semua pulang! Dan kau menjaga sapi-sapi itu baik-baik!” kata Hok Boan dengan bengis. Empat orang anak itu bangkit dan mengikuti Kui Hok Boan meninggalkan Sin Liong yang masih berlutut di situ. Setelah semua orang pergi, barulah Sin Liong menggunakan ujung lengan bajunya untuk mengusap darah dan keringat dari lehernya, dan cepat-cepat menghapus dua titik air mata dengan kepalan tangannya.

Malam itu, ketika semua orang belum tidur, Sin Liong dengan tekun mulai menuliskan kalimat hukuman itu di atas kertas. Akan tetapi setelah semua orang tidur, dia pergi menemui monyet-monyet, jauh tinggi di atas pohon dan monyet betina tua itu menjilati luka-luka bekas cambukan di leher, lengan dan punggungnya. Akhirnya Sin Liong tertidur di atas pohon dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia telah kembali ke dalam kamarnya.

***




Semenjak terjadi peristiwa itu, sikap Siong Bu makin angkuh dan menghina Sin Liong. Siong Bu masih merasa penasaran dan sakit hati karena daun telinganya digigit. Biarpun kini lukanya telah sembuh, namun ujung telinganya masih berbekas, dan ini mengingatkan dia betapa dia hampir kalah oleh “anak monyet” itu! Kekalahan inilah yang lebih menyakitkan daripada luka di daun telinganya. Akan tetapi kini Sin Liong tidak pernah mau melayaninya biarpun dia sudah sering kali menghinanya dan memancing suatu perkelahian lagi. Karena sikap Sin Liong yang mengalah ini, maka hal itu me­nimbulkan perasaan tidak senang di hati Beng Sin yang menganggap bahwa Sin Liong pengecut dan penakut. Juga Lan Lan dan Lin Lin merasa tidak senang. Rasa kagumnya terhadap Sin Liong yang berani melawan Siong Bu bahkan hampir menang, segera lenyap karena merekapun menganggap bahwa Sin Liong penakut. Padahal, bukan demikian sesungguhnya. Ada sebabnya mengapa Sin Liong tidak lagi mau melayani penghinaan Siong Bu yang merasa sakit hati kepadanya itu. Bukan karena takut dihajar lagi oleh ayah angkatnya.

Pada keesokan harinya setelah perkelahian itu, dia dipanggil oleh Si Kwi. Dalam pertemuan empat mata ini, Si Kwi menerimanya dengan alis berkerut dan memandang wajahnya dengan penuh perhatian.

“Sin Liong, aku mendengar bahwa kau berkelahi dengan Siong Bu?” tanya nyo­nya ini dengan suara halus. Semalam dia diceritakan oleh suaminya betapa Sin Liong mencuri belajar silat dan berani berkelahi melawan Siong Bu dan dalam keliarannya menggigit telinga Siong Bu hampir putus!

Sin Liong menunduk dan mengangguk. Satu-satunya orang yang dipandang dan dihormati serta dicintanya di dalam rumah itu hanyalah ibu angkatnya ini. Dia tidak ingin membuat ibu angkatnya ikut berduka atau marah kepadanya.

“Dan engkau telah mencuri dan mem­pelajari ilmu silat mereka?”

“Ibu... saya... saya hanya menonton dan meniru-niru saja.”

“Hemm, yang sudah lalu biarlah. Akan tetapi mulai sekarang jangan kau ikut mempelajari ilmu silat mereka, dan terutama sekali jangan engkau berkelahi dengan siapapun.”

Sin Liong menundukkan mukanya, wajahnya kelihatan berduka sekali, tetapi dia tidak menjawab. Melihat wajah itu, teringatlah Si Kwi kepada Cia Bun Houw dan dia menarik napas panjang. Dia sendiri merasa heran mengapa anak­nya ini, yang sejak kecil tidak pernah belajar ilmu silat, dapat bersilat hanya dengan menonton saja, dan yang lebih mengejutkan lagi, dapat melawan dan menandingi Siong Bu yang sudah memiliki kepandaian lumayan dan paling kuat di antara empat orang anak yang dipimpin suaminya!

“Sin Liong, mengapa kau ingin sekali belajar silat?” Tiba-tiba dia bertanya, pertanyaan yang digerakkan karena ter­ingat akan Cia Bun Bouw.

Tiba-tiba anak itu mengangkat muka­nya dan Si Kwi merasa jantungnya ter­getar ketika melihat sepasang mata yang mencorong dan tajam sekali itu! “Ibu, katakan... siapa yang membuntungi tangan kiri ibu?”

Wajah Si Kwi seketika menjadi pucat dan matanya terbelalak. “Ahhhh...!”

“Saya ingin membalasnya, saya ingin memotong dan membuntungi kedua ta­ngannya! Siapa dia, ibu?”

“Ohhh... Liong-ji...!” Si Kwi merintih dan tak dapat menahan air matanya. Dia cepat menggunakan saputangan untuk menyusuti air mata yang mengalir turun di atas kedua pipinya itu.

Melihat ini, Sin Liong cepat berlutut di depan kaki ibu angkatnya. “Ibu, ampunkan saya... sakit sekali hati saya melihat ada orang berbuat demikian keji terhadap ibu. Saya ingin belajar silat karena ingin membalasnya!”

Si Kwi menggunakan tangan kanannya mengelus rambut kepala anak itu. Sejenak tangannya membelai rambut itu dan jantungnya seperti diremas-remas. Anak ini adalah anaknya! Tidak salah lagi! Anak Cia Bun Houw!

“Jangan salah mengerti, anak yang baik. Tangan kiriku ini bukan dibuntungi oleh musuh, melainkan oleh mendiang guruku sendiri.”

“Ahh...!” Sin Liong memandang wajah ibu angkatnya dengan mata terbelalak. “Betapa kejamnya! Mengapa ibu?”

“Itulah kalau orang belajar silat, anakku. Guru-guru yang mengajar ilmu silat memang biasanya keras. lbumu ini telah melakukan kesalahan maka hukum­annya adalah potong tangan kiri! Oleh karena itu, jangan kau belajar ilmu silat, tidak ada gunanya, anakku. Ayah angkat­mu masih lunak ketika menghajarmu dengan cambukan. Maka, kalau engkau suka mendengarkan kata-kata ibumu, mulai sekarang, jangan engkau layani siapapun untuk berkelahi. Belajarlah dengan tekun, anakku, agar kelak engkau menjadi seorang manusia yang baik dan berguna.”

Sin Liong kecewa sekali, akan tetapi dia amat mencinta ibunya ini yang sejak dia kecil amat baik kepadanya, maka dia mengangguk. Lalu bangkit dan meninggal­kan kamar ibunya. Sampai di pintu, dia menengok. “Ibu, apakah sampai sekarang ibu belum juga mendengar siapa adanya ayah dan ibuku yang sesungguhnya?”

“Ahh...!” Si Kwi merasa ditampar lalu dicekik lehernya. Dia hanya memandang dengan wajah pucat. Entah sudah berapa kali anak ini menanyakan hal itu, dan selalu dijawabnya bahwa dia tidak tahu, bahwa dia akan berusaha untuk menyelidikinya. Dan sekarang anak itu kembali menanyakan hal itu. Dia tidak mampu menjawab, hanya menggeleng kepalanya. Sin Liong menunduk, memutar tubuh dan melangkah pergi.

“Liong-ji...!”

Sin Liong berhenti dan ibunya telah berada dekatnya. Dengan sentuhan mesra Si Kwi membuka baju anaknya, melihat jalur-jalur merah di punggungnya. Dia berkata, “Mari kuobati luka-lukamu akibat cambukan itu dan... heii, sudah kering semua...”

“Tidak perlu, ibu. Semalam luka-luka itu telah dijilati oleh monyet betina tua dan sudah sembuh.” Setelah berkata demikian, Sin Liong melangkah pergi, menghilang di dalam gelap.

Nah, itulah sebabnya mengapa Sin Liong tidak pernah mau melayani godaan dan ejekan Siong Bu. Dia selalu teringat akan pesan ibu angkatnya dan dia tidak ingin menyusahkan hati ibu angkatnya. Maka ditelannya semua hinaan dan godaan, dan dia sama sekali tidak pernah mau melayani.

Akan tetapi, sesungguhnya Sin Liong menderita batin yang sukar dapat dipertahankannya. Pada dasarnya dia memiliki watak keras dan tidak takut terhadap siapapun juga, maka ejekan, hinaan dan tantangan Siong Bu yang dilontarkan kepadanya dan tidak dijawabnya karena dia teringat akan ibu angkatnya, membuat hatinya sakit sekali. Akhirnya dia tidak dapat menahan kemarahannya lagi, apa pula ketika melihat betapa Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin mulai tidak suka kepadanya dan menganggap sebagai seorang anak yang pengecut dan penakut. Dia tahu bahwa tiga orang ini tadinya berfihak kepadanya dan tidak suka melihat dia dihina dan ditantang, mereka menghendaki agar dia melawan. Akan tetapi, bukan dia takut kepada Siong Bu, bukan pula takut akan hukuman dari ayah angkatnya, melainkan dia tidak ingin menyusahkan hati ibu angkatnya, tidak ingin melanggar pesan ibu angkatnya.

Akan tetapi kekerasan hatinya membuat dia makin tidak kuat bertahan, apalagi setelah dia merasa kesepian karena anak-anak yang lain mulai menjauhkan diri darinya. Maka pada suatu malam, diam-diam dia meninggalkan kamarnya, pergi menemui teman-temannya, yaitu para monyet besar dan bersama mereka dia memasuki hutan lebat dan tidak mau kembali lagi ke Istana Lembah Naga!

Pada keesokan harinya, semua orang di Istana Lembah Naga kehilangan. Si Kwi menjadi bingung sekali. “Biarlah,” kata suaminya. “Sudah kuketahui bahwa dia terlalu banyak terpengaruh oleh monyet-monyet itu sehingga dia tidak betah lagi tinggal bercampur dengan manusia biasa. Kita sudah terlalu baik kepadanya, dan kalau kita lebih baik lagi, aku khawatir dia akan menjadi manja dan rusak. Ingat akan sifat-sifatnya yang liar.”

Akan tetapi tentu saja Kui Hok Boan tidak tahu bahwa hati seorang ibu kandung mana mungkin bisa menegakan anaknya begitu saja? Si Kwi juga tidak berani membuka rahasianya. Kalau dia mau, tentu saja dia dapat mengerahkan tenaga para anak buah suaminya yang banyak jumlahnya. Akan tetapi dia tahu akan kekerasan hati dan keanehan watak Sin Liong. Kalau hanya mengandalkan para anak buah itu untuk mencari dan membujuknya sudah pasti anak itu tidak akan sudi pulang! Maka dia lalu diam-diam mencari sendiri dan dia tahu ke mana dia harus mencari.

Si Kwi membawa seperangkat pakaian dan memasuki hutan. Tepat dugaannya, lewat tengah hari dia tiba di tengah hutan dan dengan hati hancur dia melihat anaknya itu berloncatan dari dahan ke dahan di atas pohon-pohon yang amat besar dan tinggi bersama beberapa ekor monyet besar. Yang mengharukan hatinya adalah melihat anak laki-laki itu sama sekali telanjang bulat! Agaknya Sin Liong telah membuang semua pakaiannya dan bertelanjang seperti teman-temannya. Dan dari tempat dia mengintai, Si Kwi melihat betapa wajah anak itu menjadi tampan berseri-seri, penuh keberuntungan dan kegembiraan, bebas dari kungkungan manusia dengan segala peraturannya, iri hatinya, kebenciannya dan permusuhannya!

Melihat wajah yang tampan gembira itu, hampir saja Si Kwi pergi lagi. Tidak tega dia mengganggu kebahagiaan anak itu! Akan tetapi dia lalu teringat bahwa anaknya itu adalah seorang manusia. Dia akan merasa berdosa, berdosa terhadap Sin Liong, terhadap diri sendiri dan terhadap Cia Bun Houw kalau dia membiarkan saja anaknya menjadi monyet!

“Liong-ji...!” Dia meratap, memanggil dan air matanya bercucuran.

“Grrrr... grrrr...!” Monyet-monyet itu menggereng dan Sin Liong juga mengeluarkan suara gerengan seperti monyet. Akan tetapi ketika dia melihat ibu angkatnya di bawah pohon, dia terkejut sekali. Cepat dia meloncat ke dahan lain dan hendak melarikan diri.

“Sin Liong... kau... kau... tidak kasihankah kepada ibumu...? Sin Liong, anakku...!”

Mendengar seruan dan ratapan yang dikeluarkan dengan isak tangis ini, Sin Liong berhenti, termenung, kemudian dia berloncatan turun.

“Ibu...!” Dia meloncat ke atas tanah lalu berlutut di depan kaki ibunya. Sudah dua hari dua malam dia tinggal bersama monyet-monyet itu, dan kini ibunya menyusulnya. Kalau saja ibunya tidak menangis dan keadaannya demikian menyedihkan, tentu dia tadi sudah melarikan diri.

“Liong-ji... mengapa kau meninggalkan ibumu? Apakah kau tidak suka lagi kepada ibumu, anakku?”

“Ibu...” Sin Liong merasa lehernya seperti dicekik. Dua hari dua malam tidak bicara, hanya mengeluarkan suara seperti monyet-monyet itu, membuat lidahnya kaku dan sukar baginya untuk bicara. Akan tetapi akhirnya dapat juga dia berkata, “Aku tidak meninggalkan ibu, aku meninggalkan mereka itu!” Suaranya mengandung kemarahan.

“Akan tetapi, meninggalkan mereka berarti meninggalkan ibu, anakku. Mari­lah kita kembali, kau tidak boleh meninggalkan aku.”

Sin Liong mengangkat mukanya, matanya mengeluarkan sinar berapi. Kemudian dia menggeleng kepalanya. “Tidak, ibu! Tidak, aku tidak mau kembali ke sana untuk menerima hinaan mereka!”

Si Kwi merangkul dan memeluk anak­nya, mengelus kepala anaknya. “Salahku, Liong-ji, salahku. Sekarang aku berjanji bahwa tidak akan ada orang yang berani mengganggumu lagi. Aku akan melarang mereka! Ya, aku akan melindungi anakku!”

“Akan tetapi... mereka pandai silat dan aku tidak boleh...”

“Aku akan melatihmu, Liong-ji. Aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu.”

“Benarkah?” Sin Liong girang sekali. “Menurut Lan-siocia dan Lin-siocia...”

“Mulai sekarang kau boleh menyebut mereka moi-moi, jangan menyebut siocia!”

“Ahhh...! Menurut mereka, kepandaian ibu tidak kalah oleh gi-hu...”

“Asal engkau rajin belajar, engkau tentu akan pandai, anakku, karena engkau memiliki bakat dan tenaga yang kuat.”

“Akan tetapi, apa artinya belajar silat kalau aku tidak tahu siapa ayah dan ibuku?”

Si Kwi menarik napas panjang dan membantu anaknya memakai pakaian yang dibawanya dari rumah tadi. “Pakailah ini dan mari kita pulang, nanti akan kuceritakan kepadamu siapa adanya ayahmu...”

Janji dan bujukan ini berhasil. Wajah Sin Liong berseri, matanya terbelalak lebar penuh harapan. Dia tidak membantah lagi, mengenakan pakaian itu, kemudian dia mengikuti ibunya pulang. Mereka tiba di rumah di waktu senja. Karena tidak ingin melihat Sin Liong merasa malu dan sungkan bertemu dengan anggauta keluarga lain, maka dia langsung mengajak Sin Liong memasuki kamar anaknya itu di dekat kandang kuda. Sin Liong lalu menyalakan lampu minyak sederhana yang berada di atas meja kasar di dalam kamarnya. Semua gerak-geriknya diikuti oleh pandang mata Si Kwi dengan penuh keharuan. Insyaflah wanita ini bahwa dia memang telah membiarkan anak kandungnya ini terlantar! Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipinya ketika dia duduk di atas bangku dan melihat keadaan di kamar itu. Dia telah memperlakukan anaknya sendiri seperti seorang bujang saja! Hal itu dia terpaksa lakukan agar suaminya dan semua orang tidak akan ada yang menyangka bahwa Sin Liong adalah anak kandungnya.

Sin Liong menoleh. Melihat ibunya menangis, dia lalu menubruk, menjatuhkan diri berlutut di depan ibunya dan berkata, “Ibu... aku hanya tahu bahwa ibu merawatku sejak kecil, bahwa aku adalah anak angkat dari ibu... bahwa katanya ibu menemukan aku di antara monyet-monyet itu. Akan tetapi aku tahu, aku melihat perbedaan antara aku dengan mereka, aku tahu bahwa aku bukanlah anak monyet, melainkan anak manusia seperti juga kedua kongcu dan kedua siauw-moi. Hanya ibu yang tahu siapa ayah bundaku yang sesungguhnya...”

“Liong-ji...” Si Kwi memejamkan mata, membelai kepala anaknya yang rebah di atas pangkuannya itu. Biarpun anak itu lenyap sejak dilahirkan, biarpun dia tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa anak ini adalah anak yang dilahirkannya di dalam guha itu, namun dia yakin. Inilah anaknya itu!

Wajah anak ini mengingatkan dia kepada Bun Houw, terutama matanya. “Angkatlah mukamu anakku, lapangkan dadamu. Engkau bukan anak orang sembarangan saja, Sin Liong. Ayahmu adalah seorang pendekar sakti yang sukar dicari bandingannya di dunia ini.”

Sin Liong mengangkat mukanya, memandang kepada wajah wanita yang selama ini dianggap sebagai ibunya itu, “Ayah saya... siapa namanya, ibu?”

“Namanya adalah... Cia Bun Houw...”

“She Cia?” Sin Liong yang merasa tegang hatinya itu tidak memperhatikan suara ibunya yang tergetar penuh keharuan ketika menyebut nama itu. Ibunya mengangguk. “Engkaupun sesungguhnya she Cia...”

“Dan ibuku...?”

“Ibumu... ibumu... dia sudah meninggal dunia, anakku.”

“Ahhh...!” Sin Liong tertegun, mukanya berubah agak pucat, akan tetapi dia tidak menangis lagi. Tadipun dia hanya menitikkan beberapa butir air mata yang cepat diusapnya. Setelah mendengar bahwa ayahnya adalah seorang pendekar sakti yang tiada keduanya atau tiada bandingannya di dunia ini, dia merasa malu untuk menangis!

“Ya, dia sudah meninggal dunia, dia, adalah murid seorang wanita sakti yang berjuluk Hek I Siankouw dan yang sudah meninggal pula...”

“Namanya, ibu? Siapa namanya?”

“Aku tidak tahu. Kelak engkau akan mengetahuinya dari ayahmu... kalau... kalau engkau ada jodoh bertemu dengan dia...”

“Di mana ayah kandungku itu tinggal, ibu?”

Si Kwi menggeleng kepalanya. “Aku sendiri tidak tahu, anakku. Dia adalah putera dari ketua Cin-ling-pai di Pegunungan Cin-ling-san. Hanya itu saja yang kuketahui. Sudahlah, jangan kau bertanya lagi... mulai sekarang, kau belajarlah ilmu silat yang tekun dan kelak... siapa tahu, engkau akan dapat mencari ayahmu itu.”
“Baik, ibu!” Sin Liong berkata penuh semangat. Dia lalu bangkit berdiri, memandang kepada Si Kwi dengan sepasang matanya yang lebar. “Mulai sekarang, selain menjadi ibu angkatku, engkau juga menjadi guruku!” Dan anak ini lalu menjatuhkan diri berlutut dan memberi penghormatan dengan jalan menyentuhkan dahinya ke atas lantai di depan kali ibunya.

“Sin Liong...” Si Kwi merangkulnya penuh keharuan.

Ibu dan anak ini tidak tahu bahwa di dalam keremangan senja, ada orang di luar jendela yang sejak tadi mengintai dan mendengarkan percakapan mereka. Orang itu adalah Kwan Siong Bu yang memang sejak tadi sudah berada di dekat pondok itu sehingga dia tahu akan ke­datangan ibu dan anak itu dan dengan mudah dia dapat mengintai tanpa di­ketahui oleh Si Kwi yang pandai. Kalau anak itu banyak bergerak, atau kalau Si Kwi tidak sedang dilanda keharuan, tentu wanita yang lihai ini akan tahu bahwa ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka di luar jendela pondok itu.

Demikianlah, mulai saat itu, Sin Liong belajar silat di bawah asuhan ibunya sendiri. Dan Si Kwi menegur kedua orang “keponakan” dari suamihya itu agar jangan lagi mengejek dan menghina Sin Liong. Melihat pembelaan dan perlindung­an yang diberikan oleh isterinya kepada anak angkat itu, Kui Hok Boan pun hanya mengangkat bahu saja. Dia tentu saja tidak mau ribut-ribut dengan isteri yang dicintainya itu hanya karena urusan Sin Liong, si anak monyet. Dengan amat rajin dan tekun sekali Sin Liong mulai mempelajari dasar-dasar ilmu silat dan ternyata memang dia amat berbakat sehingga pclajaran ilmu silat itu dapat dikuasainya dengan lancar sekali. Hal ini membuat Si Kwi merasa girang. Akan tetapi, di samping mempelajari ilmu silat dari ibunya, Sin Liong masih tetap me­lakukan pekerjaannya sehari-hari, tidak pernah dia kelihatan malas. Anak ini tahu bahwa dia adalah seorang “luar” dalam keluarga itu, hanya seorang anak pungut atau anak angkat, maka diapun “tahu diri”. Karena sikapnya ini, biarpun di dalam hatinya Kui Hok Boan merasa tidak senang dengan anak ini, namun dia tidak menemukan alasan untuk memper­lihatkan ketidaksenangannya itu dan Sin Liong dapat bekerja seperti biasa.

Setahun telah lewat tanpa terasa. Pada suatu pagi yang cerah, terdengar suara nyaring dan merdu dari dua orang anak perempuan yang bermain-main di dalam taman indah Istana Lembah Naga. Mereka adalah Kui Lan dan Kui Lin yang sedang bermain-main di situ. Tadinya kedua orang anak perempuan kembar ini berlatih silat akan tetapi sebagai anak-anak yang baru berusia sepuluh tahun, mereka lalu merasa bosan dan bermain-main sambil tertawa-tawa. Mereka ber­kejar-kejaran, mengumpulkan bunga-bunga, kadang-kadang mengejar kupu-kupu yang beterbangan di antara bunga-bunga yang sedang mekar. Memang, musim bunga telah tiba dan taman itu penuh dengan bunga-bunga yang beraneka ragam dan warna.


Ah, bunga di pohon itu indah sekali, Lin Lin,” kata Kui Lan sambil menuju ke puncak pohon besar yang tumbuh di tengah-tengah taman.

“Benar,” jawab Kui Lin. “Ibu juga suka memakai kembang ini sebagai hiasan rambut. Nah, itu di sana ada beberapa tangkai yang gugur dari atas.” Kui Lin berlari dan mengambil bunga berwarna merah muda yang rontok, dari atas pohon.

“Ah, aku tidak suka bunga yang sudah gugur, sudah hampir layu dan kotor, Lin Lin. Kalau bisa mendapatkan yang masih segar di atas itu, baru indah!”

“Mana bisa, Lan Lan? Tempatnya begitu tinggi. Ngeri kalau harus me­manjat pohon setinggi ini dan cabangnya banyak yang basah pula, licin dan sukar.”

“Hei, Lin-moi! Kenapa engkau mulai lagi menyebut namaku begitu saja? Sudah berapa kali ibu mengharuskan engkau menyebut cici kepadaku?” Kui Lan menegur.

Kui Lin cemberut. “Memangnya ber­selisih berapa sih usia kita? Tidak ada sehari, hanya beberapa menit!”

“Kau memang bandel! Sudahlah, kita mencari bunga lain saja, aku tidak suka bunga yang layu itu.”

Tiba-tiba muncul Sin Liong yang tadi menyapu di pinggir taman. Jalan menuju ke taman itulah yang harus selalu bersih dan harus disapu setiap pagi karena penuh dengan daun dan bunga gugur.

“Kalian menginginkan bunga merah di atas itu? Biar kuambilkan untuk kalian.” katanya melihat dua orang anak perem­puan itu kecewa karena tidak dapat memperoleh bunga-bunga yang mereka inginkan.

“Kau bisa mengambil bunga itu?” Kui Lin menudingkan telunjuknya di atas.

“Tentu saja bisa! Dia ahli memanjat pohon! Lekas ambilkan, Sin Liong!” kata Kui Lan dengan girang.

“Lan Lan, bukankah ibu sudah me­mesan agar kita menyebut koko kepada­nya?” Kui Lin menegur kakaknya.

Kini Kui Lan yang cemberut dan melotot kepada adiknya. “Huh, kau sen­diri tidak mau menyebut cici kepadaku!”

Sin Liong tersenyum. “Sudahlah, segala sebut-sebutan itu apa bedanya sih? Lihat, aku akan mengambilkan bunga-bunga yang paling segar untuk kalian. Kuambilkan yang berada di paling puncak!”

Sebelum dua orang anak perempuan itu menjawab, Sin Liong sudah melompat dan bagaikan seekor kera saja, dengan cekat­an dan cepat sekali dia sudah memanjat pohon besar itu. Ketika tiba di atas, dia sengaja berayun-ayun di antara cabang-cabang pohon. Dua orang anak perempu­an kembar yang berada di bawah ber­tepuk tangan dan berteriak-teriak me­muji, kadang-kadang mereka menjerit karena merasa ngeri merryaksikan tubuh Sin Liong berayun-ayun seperti itu. Hati mereka merasa ngeri.

Semenjak kecil, manusia sudah me­ngenal pujian-pujian yang tentu saja mula-mula dimulai dengan timang dan puji dari ayah ibunya sendiri, lalu lama-kelamaan sifat suka dipuji ini dibentuk oleh keadaan sekeliling. Makin besar pertumbuhan anak itu, makin besar pula sifat suka dipuji ini, dan agaknya sifat ini dibawa terus sampai tua dan sampai mati. Betapa manusia ini selalu haus akan pujian. Sifat haus akan pujian ini makin memperbesar gambaran kita ten­tang diri kita sendiri dan hal ini me­nambah sukar bagi kita untuk me­mandang dan mengenal diri sendiri seperti apa adanya. Kita ini kerdil, namun gambaran-gambaran itu membuat kita melihat diri kita besar dan agung! Kita ini kotor, namun gambaran-gambaran itu membuat kita melihat bayangan kita se­bagai yang paling bersih! Sehingga kekotor­an kita sendiri itu tidak pernah nampak oleh kita, dan karena tidak pernah kelihatan maka tentu saja tidak pernah terjadi perubahan yang membersihkan kekotoran itu.

Sin Liong sebagai anak, baru berusia dua belas tahun, tentu saja tidak ter­lepas dari sifat ini. Mendengar dua orang anak itu bersorak memuji, dan kadang-kadang menjerit karena merasa ngeri, dia lalu sengaja hendak memamerkan kepandaiannya! Bagi dia, berayun-ayun dan bermain-main di pohon itu, betapa­pun tingginya, tiada bedanya dengan bermain-main dan berlarian di atas tanah saja. Melihat Sin Liong berayun-ayun demikian cepatnya, melepaskan cabang dan meloncat ke cabang lain, memutar-mutar tubuhnya dengan tangan berpegang pada ranting, mengenjot-enjot ranting, dua orang anak perempuan itu bersorak memuji. Akan tetapi tiba-tiba, pegangan Sin Liong terlepas dan tubuhnya melayang ke bawah!

“Aihhhh...! Dua orang anak perempuan itu menjerit dengan berbareng.

Akan tetapi, tiba-tiba kaki Sin Liong mengait ranting dan tubuhnya terayun dengan kepala di bawah dan dia tertawa-tawa, lalu berjungkir balik dan telah memanjat naik kembali. Dua orang anak perempuan itu juga tertawa, akan tetapi muka mereka berubah agak pucat. Ketangkasan Sin Liong bermain-main di atas pohon itu memang tidak ada bedanya dengan seekor monyet. Hal ini tentu saja tidak mengherankan kalau ingat bahwa sebelum dia dapat berjalan kaki, Sin Liong sudah pandai berayun-ayun di antara cabang-cabang pohon.

Tak lama kemudian Sin Liong sudah turun dari pohon itu membawa dua tangkai bunga merah segar yang indah. Dia menggigit tangkai bunga-bunga itu. Bunga-bunga itu segar dan masih basah oleh embun pagi.

“Engkau hebat, Sin Liong!” kata Kui Lin.

“Kembang itu indah sekali untuk hias­an rambut!” kata Kui Lan.

“Mari kupasangkan di rambut kalian, seorang satu,” kata Sin Liong.

Dua orang anak perempuan itu tertawa-tawa girang dan Sin Liong lalu memasangkan setangkai bunga pada rambut kepala Kui Lan, kemudian setangkai pula di rambut kepala Kui Lin. Setelah kembang itu berada di atas kepala dua orang anak perempuan kembar ini, Sin Liong memandang mereka dengan kagum. Cantik sekali mereka itu, cantik dan amat baik kepadanya. Dan kembang-kembang itu membuat mereka nampak makin mungil.

“Kalian cantik sekali...” dia memuji.

“Ah, engkau yang hebat, Sin Liong. Tangkas sekali engkau memanjat pohon tadi, dan aku berani bertaruh bahwa kedua suheng kamipun tidak mungkin bisa memetik kembang ini seperti yang kau­ lakukan tadi!” Kui Lan memuji.

“Dan sebagai hadiahnya, maka engkau boleh memasangkan kembang di rambut kami,” Kui Lin menambahkan.

Mereka tidak tahu bahwa di balik sebatang pohon, Kwan Siong Bu mengintai dan melihat serta mendengar semua itu dengan mata terbelalak, muka merah dan tangan terkepal. Dia merasa iri hati sekali. Tadi di mendengar sorak dan jerit kedua orang anak perempuan itu, maka dia menghampiri dan mengintai dari balik pohon. Kini hatinya menjadi panas oleh iri. Akan tetapi apa yang dapat dibuat­nya? Untuk memanjat pohon dan bermain-main di atas pohon seperti yang dilaku­kan Sin Liong tadi, tentu saja dia tidak mampu. Huh, kau anak monyet, tentu saja pandai memanjat pohon, pikirnya marah.

“Sin Liong, tangkapkan kupu-kupu kuning itu untukku!” tiba-tiba Kui Lan berkata sambil menudingkan telunjuknya kepada seekor kupu-kupu berwarna kuning yang gerakannya gesit sekali.

“Ya, untukku seekor, Sin Liong. Tadi kami mencoba-coba menangkapnya selalu gagal,” kata pula Kui Lin.

Mendengar ini, tentu saja Sin Liong ingin sekali menyenangkan hati dua anak perempuan itu. Untuk sementara dia melupakan pekerjaannya menyapu dan dia berkata dengan wajah berseri, “Baiklah, Lan-moi dan Lin-moi, kalian tunggu saja. Aku akan menangkap dua ekor kupu-kupu kuning untuk kalian!” Dan diapun sudah berlari mengejar kupu-kupu yang terbang menjauh itu.

Mendengar betapa Sin Liong bermain-main dengan dua orang sumoinya itu, dan menyebut pula moi-moi, hati Siong Bu
menjadi makin panas. Huh, anak monyet, sombong kamu! Demikian pikirnya. Kalau selama setahun ini dia hanya menahan­-nahan ketidaksenangan hatinya terhadap Sin Liong adalah karena dia takut kepada bibinya yang kini kelihatan melindungi Sin Liong. Kini melihat Sin Liong pergi mengejar kupu-kupu, Siong Bu cepat mencari akal untuk mengganggunya.

Iri hati selalu menimbulkan benci dan dendam. Benci dan dendam mendatangkan kecerdikan yang selalu didorong oleh kejahatan untuk mencelakakan orang lain dan menguntungkan diri sendiri. Oleh karena itu, sepatutnya kalau kita waspada terhadap diri sendiri yang mudah dikuasai oleh iri hati. Iri hati timbul dari perbandingan. Kita suka membandingkan keadaan kita dengan orang lain, meng­anggap orang lain lebih beruntung dari kita, lebih senang dan lebih enak dari­pada kita, maka timbullah iba diri yang berkawan dengan iri hati.
Dua orang anak perempuan itu sedang tersenyum-senyum dan saling pandang. Melihat saudaranya demikian cantik me­makai kembang di kepala, mereka tahu bahwa merekapun masing-masing seperti saudaranya itulah. Dan mereka merasa bangga dan girang.

“Wuutt... wuuttt...!” Dua buah benda menyambar.

“Pratt! Prattt!”

Kui Lan dan Kui Lin menjerit dan cepat memegang kepala. Bunga-bunga di kepala mereka tadi telah runtuh dan kepala mereka menjadi kotor terkena lumpur! Entah dari mana datangnya mereka tidak tahu, akan tetapi ada tanah berlumpur yang menyambar bunga mereka sehingga bunga itu runtuh dari atas kepala mereka dan rambut mereka menjadi kotor. Kui Lan dan Kui Lin adalah dua orang anak manja. Melihat bunga itu jatuh rusak dan rambut mereka kotor, yang mereka ketahui dari melihat rambut saudara mereka keduanya lalu menangis.

Mendengar jerit itu yang disusul tangis, Sin Liong terkejut. Kupu-kupu kuning tadi memang lincah sekali, kelihatan terbang rendah akan tetapi be­berapa kali ditubruknya selalu gagal dan luput. Ketika mendengar jerit kedua orang anak perempuan itu dia menoleh dan kagetlah hatinya melihat mereka menangis sambil memegangi kepala. Cepat dia berlari menghampiri. Napasnya sampai terengah-engah karena dia ter­kejut dan berlari cepat sekali. Ketika melihat betapa bunga itu rontok dari kepala mereka dan rambut mereka kotor terkena lumpur, Sin Liong mengerutkan alis dan memandang ke kanan kiri. Akan tetapi tidak nampak seorangpun di situ dan dia lalu membersihkan rambut kepala Kui Lan karena anak inilah yang lebih keras tangisnya, sambil menghibur.

“Sudahlah, biar nanti kucarikan lagi.”

Sin Liong menggunakan ujung lengan bajunya untuk membersihkan rambut kedua orang anak perempuan itu.

“Heeei Sin Liong, kau berani kurang ajar terhadap dua orang sumoiku? Kau telah menggoda mereka dan mengotorkan rambut mereka, ya?”

Sin Liong terkejut dan menoleh. Dia melihat Siong Bu tiba-tiba muncul dan selagi dia hendak membantah, Siong Bu telah menerjang dan menyerangnya de­ngan pukulan ke arah dadanya. Sin Liong mundur-mundur, akan tetapi dia tidak mampu menghindarkan pukulan itu.

“Bukkk...!” dan dia terhuyung ke belakang.

“Heeeiii, aku aku tidak...”

“Pengecut! Beraninya hanya menggoda anak perempuan!” Siong Bu menerjang lagi, kini mengirim tendangan ke arah perut Sin Liong. Gaya serangan Siong Bu kini sudah makin berisi, berbeda dengan setahun yang lalu. Sin Liong meloncat ke belakang mengelak, akan tetapi pemuda kecil yang tampan dan pemarah itu sudah mendesaknya dan mengirim pukulan bertubi-tubi.

Setahun yang lalu, biarpun Sin Liong belum pernah mempelajari ilmu silat, namun dia memiliki ketangkasannya karena hidup secara liar bersama para monyet. Kini, karena dia sudah mempelajari ilmu silat, maka menghadapi serangan-serangan Siong Bu yang marah tentu saja dia bergerak menurut itu silat yang selama ini dilatihnya di bawah bimbingan ibunya. Dan justeru hal inilah yang membuat dia menjadi bulan-bulanan serangan Siong Bu. Siong Bu telah mempelajari ilmu silat sejak kecil, maka dibandingkan dengan Sin Liong yang baru belajar satu tahun itu, tentu saja Siong Bu jauh lebih menang, maka kalau Sin Liong menghadapinya dengan mengandalkan gerak silat, tentu saja dia kalah jauh dan elakan-elakannya menurut gaya silat yang belum matang itu tidak berhasil menghindarkan dia dari serangan-serangan Siong Bu. Dengan kepandaian silatnya yang masih mentah, namun yang dipakainya dalam gerakan, Sin Liong bahkan mengurangi kecepatannya sendiri, kehilangan ketangkasannya yang didapat­nya secara wajar dan otomatis itu. Andai­kata dia tidak lagi terikat dengan gerak silat, kiranya dia akan dapat bergerak lebih cepat karena bebas, dan dia dapat mengandalkan nalurinya yang amat kuat untuk menghindarkan semua pukulan dan tendangan. Namun, dia menangkis dan mengelak dengan gerak silat yang masih mentah sehingga berkali-kali dia terkena hantaman dan tendangan Siong Bu. Beberapa kali dia terpelanting dan ter­banting roboh!

“Heii, suheng! Sin Liong! Jangan berkelahi...!” Beng Sin datang berlari-lari ke tempat itu dan mencoba untuk melerai. Akan tetapi hampir saja dia terkena sambaran tendangan kaki Siong Bu. “Sudah... sudah... kenapa berkelahi?” Beng Sin berseru lagi akan tetapi kini dia hanya berdiri dengan khawatir.

Akan tetapi, Sin Liong adalah seorang anak yang keras hati. Biarpun hidungnya sudah mengeluarkan darah dan mukanya benjol-benjol membiru, pakaiannya koyak-koyak dan tubuhnya babak belur, dia masih terus melawan dan sekali dua kali ada juga pukulannya yang mengenai tubuh Siong Bu. Akan tetapi, kembali dia terjengkang oleh tendangan kaki Siong Bu yang mengenai dadanya.

“Desss...!” Sin Liong terjengkang dan terbanting keras.

“Sudah... sudah, jangan berkelahi...!” Kui Lin berseru.

“Kwan-suheng, sudah jangan memukul dia lagi!” Kui Lan juga berteriak.

Akan tetapi Siong Bu bukan hanya marah, akan tetapi juga ingin memamer­kan kepandaiahnya di depan kedua orang sumoinya, untuk menonjolkan kelebihan­nya dari Sin Liong agar harga dirinya naik dalam pandangan dua orang sumoi­nya itu, juga untuk merendahkan Sin Liong di depan mereka.

“Hayo kau minta ampun, baru aku mau sudah!” bentak Siong Bu kepada Sin Liong yang sudah babak belur itu. Akan tetapi, bagi anak ini, dia lebih baik di­pukul mati daripada harus minta ampun kepada Siong Bu, minta ampun tanpa bersalah. Maka dia sudah merangkak bangun lagi dan dengan gerengan di dalam kerongkongannya, dia menubruk ke depan. Begitu terdengar gerengan ini, Sin Liong menyerang dengan ganas dan liar, tidak lagi menggunakan gerak silat. Dia sudah lupa akan silatnya, kini berubah menjadi seekor monyet marah, matanya mendelik dan mulutnya menyeringai, tubrukannya dahsyat sekali.

“Plak! Dukk!” Tendangan dan pukulan Siong Bu memapaki tubuhnya, akan tetapi kini Sin Liong seperti tidak mengenal rasa sakit lagi dan masih dia menubruk dan mencengkeram. Rambut kepala Siong Bu dijambak dan ditarik sekuatnya sehingga anak itu menjerit dan berusaha melepaskan jambakan. Namun, Sin Liong tetap mencengkeram rambut itu seperti seorang yang hanyut di sungai berpegang kepada ranting pohon penyelamat. Siong Bu kesakitan dan berteriak-teriak, kakinya menendang-nendang dan ketika lutut Sin Liong tertendang, dia terguling, akan tetapi karena jari-jari tangannya masih mencengkeram rambut Siong Bus anak inipun terbawa pula terguling bersamanya. Mereka kini bergulat dan bergulingan di atas tanah.

Tiba-tiba terdengar bentakan, “Lepas...!”

Mendengar suara ibunya, Sin Liong terkejut sekali dan melepaskan cengkeramannya. Juga Siong Bu melepaskan cekikannya dan kedua orang anak itu bangkit berdiri. Pakaian mereka penuh debu dan mereka berdiri dengan muka tunduk karena takut. Akan tetapi Sin Liong segera mengangkat mukanya dan memandang kepada ibunya.

Si Kwi terkejut bukan main melihat muka anaknya itu benjol-benjol biru dan berdarah di bibir dan hidungnya. Jelas bahwa Sin Liong telah dihajar oleh Siong Bu karena pada muka anak ini tidak ada bekas pukulan Sin Liong. Si Kwi adalah seorang wanita yang keras hati dan dia tidak mudah dipengaruhi oleh perasaan. Biarpun hatinya marah melihat muka anaknya seperti itu, namun dia tidak menuruti hatinya dan ingin tahu apa yang terjadi sebelum dia menyalahkan.

“Sin Liong, mengapa kau berkelahi dengan Siong Bu?”

Sin Liong menentang pandang mata ibunya. Sepasang matanya tajam menusuk dan diam-diam Si Kwi bergidik. Mata anak ini serupa benar dengan mata Cia Bun How, akan tetapi kalau dalam pandang mata Cia Bun Houw selain ketajaman luar biasa juga terkandung kelembutan, sebaliknya ketajaman pandang mata anak ini bercampur dengan sinar liar dan ganas! Dan anak itu sama sekali tidak menjawab, sebaliknya kini malah menunduk.

Si Kwi tahu akan watak aneh dari anaknya ini, maka dia menoleh kepada Siong Bu dan bertanya, “Siong Bu, hayo cepat katakan apa yang terjadi! Kenapa engkau memukuli Sin Liong?”

Siong Bu yang sejak tadi menunduk, kini mengangkat mukanya dan sambil menoleh ke arah Sin Liong dengan pandang mata marah, dia berkata, “Dia menggoda Lan-sumoi dan Lin-sumoi, mengotori rambut mereka dan membuat mereka menangis, maka saya lalu menghajarnya, bibi.”

Si Kwi menoleh kepada Sin Liong yang masih berdiri dengan muka tunduk. “Sin Liong, benarkah engkau menggoda Lan Lan dan Lin Lin?” tanyanya dengan alis berkerut.

Sin Liong mengangkat mukanya, memandang ibunya sejenak, lalu menunduk lagi tanpa menjawab! Si Kwi maklum bahwa kalau sudah begitu, diapakanpun juga, Sin Liong tidak akan mau menjawab. Dia menoleh kepada Beng Sin yang gemuk dan yang sejak tadi berdiri agak jauh tanpa berani ikut bicara. Melihat bibinya memandang kepadanya, dia tersenyum ramah akan tetapi tidak berkata apa-apa. Si Kwi tidak mau bertanya kepada Beng Sin, karena dia tahu bahwa Beng Sin tidak ikut-ikut dalam hal ini. Yang paling tepat adalah menanyai anak-anaknya sendiri.

“Lan Lan dan Lin Lin, benarkah Sin Liong menggoda kalian dan mengotori rambut-rambut kalian?”

“Tidak, ibu. Sama sekali tidak!” Kui Lin berkata.

“Hemm, kalau begitu mengapa mereka berkelahi?” Si Kwi mendesak. Kui Lan yang kini menjawab karena Kui Lin memang tidak begitu pandai bicara.

“Sesungguhnya Sin Liong tidak menggoda kami, ibu. Sin Liong malah mencarikan bunga dan bermain-main dengan kami. Tahu-tahu Kwan-suheng datang dan menuduh Sin Liong menggoda kami lalu memukulnya.”

Si Kwi menoleh dan memandang kepada Siong Bu dengan alis berkerut. Melihat ini Siong Bu cepat berkata, “Saya... saya melihat kedua sumoi menangis, maka tentu mengira Sin Liong menggoda mereka dan...”

“Kenapa kalian menangis?” Si Kwi memotong dan memandang kepada dua orang anaknya.

“Kembang kami jatuh...” Kui Lin berkata.

“Entah kenapa, ibu, kembang pemberian Sin Liong terjatuh dari rambut kami dan rambut kami menjadi kotor terkena tanah lumpur. Kami menangis, Sin Liong menghibur kami dan tahu-tahu Kwan-suheng muncul dan memukuli Sin Liong,” kata Kui Lan.

Si Kwi kini memandang Siong Bu dengan mata marah. Dia dapat menduga apa yang terjadi dan dia lalu melangkah maju mendekati Siong Bu. Tangannya bergerak ke depan menyambar ke arah muka anak itu. “Plak! Plakk!” Dua kali kedua pipi Siong Bu ditampar oleh nyonya itu, Siong Bu terpelanting, lalu berlari sambil menangis dan memegangi kedua pipinya.

Hemm, dia tentu akan mengadu kepada pamannya, pikir Si Kwi. Lalu dia menegur Sin Liong dengan suara halus, “Liong-ji, kenapa engkau mencari gara-gara? Kalau ada orang menyerangmu, mengapa engkau tidak pergi saja mencariku dan aku yang turun tangan. Mengapa engkau melawan sendiri sedangkan kepandaianmu masih amat rendah? Engkau mencari penyakit.” Akan tetapi Sin Liong tidak menjawab, bahkan lalu pergi meninggalkan ibunya untuk melanjutkan pekerjaannya menyapu lorong di taman itu. Si Kwi menarik napas panjang, tidak berani dia memperlihatkan kasih sayangnya secara terbuka kepada Sin Liong, maka diapun lalu menggandeng tangan kedua orang anak perempuan itu dan mengajaknya kembali ke dalam rumah.

Dugaan Si Kwi memang ternyata terbukti benar. Siong Bu yang merasa betapa pamannya amat menyayang dan memanjakannya, dan yang tahu pula bahwa pamannya itu tidak suka kepada anak angkat bibinya, sambil menangis lalu mengadu kepada pamannya bahwa dia ditampari oleh bibinya karena bibinya membantu Sin Liong.

Melihat kedua pipi keponakan yang sebenarnya adalah anaknya sendiri itu bengkak dan merah, marahlah Hok Boan. Apalagi ketika mendengar pengaduan Siong Bu bahwa perkelahian antara anak itu dengan Sin Liong disebabkan karena Sin Liong dianggap menggoda dua orang anak perempuannya.

“Anak monyet itu memang tak tahu diri!” bentaknya dan cepat dia menemui Si Kwi dengan muka merah dan mata mengandung kemarahan besar.

“Niocu, perbuatanmu sekali ini sungguh tidak menyenangkan hatiku!” Hok Boan berkata kepada isterinya yang sedang mencuci rambut kedua anaknya yang kotor terkena lumpur itu.

Si Kwi tahu bahwa suaminya marah dan tentu sudah terkena pengaduan Siong Bu, akan tetapi melihat betapa dalam kemarahannya Hok Boan masih bersikap halus kepadanya, diapun hanya memandang dan berkata dengan halus pula, “Kui-long (kakanda), apakah aku sebagai isterimu tidak boleh mengajar keponakanmu?”

HOK BOAN amat mencintaisterinya ini, maka biarpun marah, dia tidak dapat bersikap kasar. Kini, ditanya seperti
itu, pertanyaan yang mengandung teguran, dia menjadi gugup, lalu menarik napas panjang dan berkata, “Tentu saja engkau berhak dan boleh sekali mengajarnya karena keponakanku adalah keponakanmu pula. Bukan pengajaranmu itu yang tidak menyenangkan hatiku, niocu. Biar engkau mengajar Siong Bu lebih keras lagi, aku tidak akan merasa menyesal bahkan bersyukur bahwa engkau sebagai isteriku ikut memperhatikan pendidikan untuk keponakanku. Akan tetapi kalau engkau mengajarnya sebagai pembelaan terhadap anak monyet itu, sungguh hal ini amat tidak tepat!”

“Kui-long, aku sama sekali bukan hanya membela Sin Liong. Kalau Sin Liong melakukan hal yang tidak patut, tentu dia akan kuajar pula. Akan tetapi aku melihat Sin Liong dipukuli oleh Siong Bu tanpa salah. Suamiku, ingatlah bahwa kita mendidik anak-anak bukan untuk menjadi tukang pukul dan menjadi orang yang berhati kejam! Engkau tahu bahwa baru saja aku mengajar silat kepada Sin Liong dan dia tentu saja tidak akan mampu membela diri terhadap Siong Bu. Kalau dia tidak diserang, mana dia berani terhadap Siong Bu? Urusan ini adalah urusan anak-anak, dan kita sebagai orang tua wajib mendidik mereka, kalau perlu menghajar mereka yang menyeleweng. Kalau kini engkau membela Siong Bu, bukankah terdapat bahaya bahwa kita seolah-olah membela murid masing-masing?”

Diam-diam Hok Boan terkejut. Benar juga, pikirnya.

“Tia (ayah), Sin Liong tidak bersalah apa-apa dan suheng salah sangka, lalu datang-datang memukulnya. Suheng mengira Sin Liong menggoda kami berdua, padahal tidak sama sekali.” Kui Lan berkata, membela Sin Liong dan membela ibunya.

Mendengar ini, Hok Boan makin tidak mampu berkata apa-apa. Dia sendiripun tahu bahwa puteranya itu Siong Bu, memang berwatak keras. Dia menarik napas panjang lalu berkata kepada isterinya, “Maafkan aku, niocu. Aku tidak menyalahkan engkau karena memberi hajaran kepada keponakan kita itu. Aku hanya khawatir bahwa melihat engkau menampari di depan anak monyet itu, hal ini akan membuat dia besar kepala dan makin liar. Ingat, sejak kecil dia itu sudah terpengaruh oleh keliaran binatang buas, maka kalau dia merasa dimanja, bukan maksudku mengatakan kau memanjakannya, akan tetapi kalau dia merasa dimanja, dia bisa menjadi makir liar. Dia harus dididik secara keras seperti mendidik seekor monyet liar agar dia menjadi jinak sehingga kelak tidak akan mencemarkan nama baik kita sebagai orang tua angkatnya.”

Mendengar ini, Si Kwi mengangguk dan dia membenarkan pendapat suaminya. Dia mencinta Sin Liong yang diketahuinya adalah puteranya sendiri. Akan tetapi tentu saja dia lebih mencinta sauaminya ini. Suami yang sah, sedangkan Sin Liong bukanlah anaknya yang sah.

“Engkau memang benar, biar aku akan memperkeras pengawasanku terhadap Sin Liong.”

“Hemm, kurasa sebaiknya sekarang aku memberi hukuman kepadanya agar dia tahu bahwa lain kali dia tidak boleh berkelahi dengan orang.” Setelah berkata demikian, Hok Boan pergi mencari Sin Liong yang biasanya pada waktu itu tentu masih bekerja di belakang memberi makan kuda. Akan tetapi ketika Hok Boan tiba di kandang kuda, anak itu tidak berada di situ. Hanya kuda yang makan makanan kuda dari bak yang nampak di dalam kandang.

“Sin Liong...!” Hok Boan memanggil dengan suara marah. Tidak ada jawaban. Hok Boan sudah membawa sebatang ranting yang dipersiapkan untuk menghajar Sin Liong. Hatinya menjadi makin marah ketika dia tidak melihat anak itu dan tidak mendengar jawabannya, maka dia lalu meninggalkan kandang kuda dan mencari ke tepi hutan di belakang kandang kuda itu.

“Sin Liong...!” Suaranya memanggil-manggil menggema di dalam hutan.

***




Sementara itu, setelah mengadu kepada pamannya tentang dia ditampar oleh bibinya dan tentang Sin Liong, diam-diam Kwan Siong Bu menjadi takut sendiri. Dia tahu bahwa sesungguhnya dia yang lebih dulu memukuli Sin Liong karena hatinya panas melihat anak yang dianggapnya anak monyet itu bermain-main demikian akrabnya dengan Kui Lan dan Kui Lin. Biarpun dia disayang oleh pamannya, akan tetapi bibinya agaknya lebih menyayang Sin Liong, dan kalau pamannya mendengar akan semua yang terjadi, mungkin dia malah yang akan mendapat kemarahan pamannya itu. Oleh karena itu, setelah melapor sambil menangis di depan pamannya dan melihat pamannya pergi dengan marah, Siong Bu lalu pergi pula meninggalkan rumah dan masuk ke dalam hutan.

Dia memasuki hutan besar itu dan duduk di bawah pohon besar, tersembunyi di balik semak-semak belukar. Memang dia bermaksud untuk bersembunyi dan baru akan pulang kalau keadaan rumah sudah mereda, kalau paman dan bibinya tidak marah-marah lagi. Kalau dia teringat kepada Sin Liong hatinya menjadi makin panas. Terbayang dalam ingatannya ketika Sin Liong menangis dengan kepala di atas pangkuan bibinya, dibelai oleh bibinya. Hal itulah yang sesungguhnya menimbulkan iri di dalam hati anak ini. Dia sendiri tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Sejak kecil dia dibawa dengan paksa oleh pamannya ke Istana Lembah Naga. Melihat Sin Liong yang dikenalnya hanya sebagai seorang anak angkat, tidak ada hubungan darah daging sama sekali dengan paman dan bibinya, bahkan anak yang kabarnya ditemukan dari sekumpulan monyet, demikian disayang oleh bibinya, tentu saja dia merasa iri hati dan perasaan ini menimbulkan kebencian di dalam hatinya.

Kedua pipinya masih terasa panas dan nyeri. Gara-gara anak monyet itu, pikirnya sambil mengusap kedua pipinya. Bibinya telah menamparnya demi membela anak monyet itu! Hatinya merasa penasaran dan sakit sehingga dua tetes air mata kembali menuruni pipinya. Siong Bu merebahkan diri di atas rumput, berbantal lengan dan sebentar saja diapun tertidurlah.

Dia terkejut dan bangun mendengar suara-suara tak jauh dari situ. Dengan heran Siong Bu bangkit duduk dan ketika mendengar suara orang bercakap-cakao, dia cepat merangkak dan mengintai dari balik semak-semak. Jantungnya berdebar keras karena dia mendengar suara wanita, mengira bahwa bibinya yang datang mencarinya. Akan tetapi setelah dia sadar benar, dia mendapat kenyataan bahwa suara itu bukanlah suara bibinya. Timbul keberaniannya dan dia mengintai. Ternyata wanita itu adalah seorang wanita yang berpakaian amat indah, usianya sepantar dengan bibinya akan tetapi wanita ini cantik sekali, cantik dan pakaiannya mewah. Rambutnya digelung malang melintang dan membelit-belit seperti beberapa ekor ular saling belit dan rambut itu dihias dengan hiasan rambut yang gemerlapan. Lengan kirinya memakai gelang emas kecil-kecil yang banyak sehingga setiap kali dia menggerakkan tangan kiri, terdengar suara gemerincing nyaring. Wajah itu cantik dan manis, akan tetapi dingin sekali dan kelihatan angkuh sehingga menakutkan hati Siong Bu.

Siong Bu kini mengalihkan perhatiannya, memandang orang ke dua yang berdiri berhadapan dengan wanita itu. Orang ini adalah seorang pemuda kecil, usianya kurang lebih empat belas tahun, akan tetapi perawakannya tinggi tegap, setinggi orang dewasa. Seperti juga wanita itu, pemuda ini memakai pakaian yang amat mewah, topinya terhias mainan seekor naga dengan mata mutiara indah. Wajahnya tampan dan gerak-geriknya halus, mulutnya selalu tersenyum.

Siong Bu merasa terheran-heran. Memang banyak sudah orang tinggal di sekitar Lembah Naga, akan tetapi mereka itu semua adalah orang-orang dusun yang miskin dan berpakaian sederhana. Dari mana datangnya dua orang yang berpakaian seperti bangsawan-bangsawan tinggi itu? Dia mendengarkan percakapan mereka dengan penuh perhatian tanpa berani bergerak.

“Suci, kenapa kita harus meninggalkan kereta dan pengawal?” anak laki-laki itu bertanya kepada wanita yang disebutnya kakak seperguruan itu.

“Sute, di dunia kang-ouw, hal yang paling terpandang adalah keberanian dan kegagahan. Kalau kita datang bersama banyak pengawal, tentu orang akan mengira bahwa kita hanya mengandalkan kekuatan pasukan pengawal dan hal itu berarti mencemarkan nama sucimu ini.”

Mendengar ucapan itu, Siong Bu terheran dan kini dia memandang wanita itu dengan makin penuh perhatian. Tadi dia tidak berani memandang terlalu lama karena wajah wanita yang dingin dan angkuh itu menakutkan hatinya. Baru sekarang dia melihat bahwa wanita yang cantik dan berpakaian indah itu ternyata membawa sebatang pedang yang tergantung di punggungnya. Selain pedang ini, juga nampak sebuah kayu salib tergantung di punggung itu, kayu salib yang jelas kelihatan ada tulisan tiga huruf besar, yaitu CIA, YAP dan TIO.

“Suci, banyakkah jagoan-jagoan di dunia kang-ouw?”

Wanita itu menarik napas panjang. “Banyak? Sampai tidak terhitung, sute. Dan masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri. Di dunia ini penuh orang pandai, oleh karena itu, dalam melakukan perjalanan ke kota raja di selatan nanti bersama sucimu, engkau harus berhati-hati dan selalu menurut bimbingan sucimu, jangan bertindak ceroboh, sute.”

“Akan tetapi kenapa kita harus berhenti dulu di Lembah Naga, suci? Bukankah itu membuang-buang waktu belaka?” anak laki-laki itu mencela.

“Ayahmu sri baginda yang mengutus aku ke sini, sute. Selain itu, juga ada beberapa urusan pribadi yang harus kuselesaikan. Beberapa orang musuh menantang sucimu untuk mengadakan pertemuan di tempat ini.”

“Apakah mereka lihai, suci?”

“Ah, tidak berapa lihai, hanya beberapa orang yang datang hendak mengantar nyawa saja.”

“Suci, biarkan aku menghadapi mereka!”

“Bagaimana nanti sajalah...”

Pada saat itut terdengar bentakan nyaring. “Kim Hong Liu-nio, perempuan sombong! Kami datang menagih nyawa saudara-saudara kami!” Dan bermunculanlah lima orang laki-laki dari balik pohonpohon. Namun wanita cantik itu hanya tersenyum mengejek, sedangkan anak laki-laki itupun memandang dengan wajah gembira dan dia tersenyum lebar.

“Suci, kenapa baru sekarang mereka muncul? Bukankah sejak tadi mereka itu bersembunyi di balik pohon-pohon itu?”

Siong Bu terkejut. Kiranya anak laki-laki itu sudah tahu akan kedatangan lima orang ini! Jangan-jangan suci dan sute itupun sudah tahu akan tempat dia bersembunyi! Siong Bu makin ketakutan dan dia mengintai terus dengan hati penuh ketegangan. Dia melihat bahwa lima orang yang baru datang itu kelihatan gagah dan kuat, dikepalai oleh seorang laki-laki berusia enam puluh lima tahun lebih yang bertubuh pendek besar dan di pinggangnya tergantung sebatang golok besar. Orang ini pakaiannya serba hitam, dengan sabuk dan kain kepala berwarna kuning. Empat orang lainnya agak lebih muda, antara empat puluh tahun usia mereka dan sikap mereka juga gagah, dengan memegang bermacam senjata, sikap mereka penuh ancaman dan kemarahan.

Kim Hong Liu-nio, wanita cantik itu, menghadapi mereka dengan sikap memandang rendah, lalu dia mengangkat muka memandang kakek pendek besar itu, bertanya dengan sikap tak acuh, “Jadi kalian inilah yang mengirim surat tantangan agar aku datang ke tempat ini?”

“Suci, apakah mereka ini jagoan-jagoan kang-ouw?” Anak laki-laki itu bertanya setelah memandang kepada lima orang itu penuh perhatian.

Wanita itu mendengus dan bibirnya berjebi. “Sute, di dunia kang-ouw, orang-orang seperti mereka ini hanya merupakan cacing-cacing busuk yang tiada artinya.”

Kakek pendek besar yang membawa golok besar di pinggangnya itu membentak marah. “Perempuan sombong! Aku Twa-sin-to Kui Liok selamanya tidak pernah bermusuhan denganmu! Akan tetapi, tanpa dosa sama sekali, dua orang keponakanku telah kaubunuh, hanya karena mereka itu she Tio!”

“Semua orang she Cia, Yap dan Tio harus mampus di tanganku!” kata wanita itu sambil memperlihatkan papan kayu salib yang diamblinya dari punggung.

“Siluman betina, engkau juga telah membunuh sute kami yang she Yap!” Tiga orang laki-laki yang memegang pedang melangkah maju dengan sikap mengancam.

“Dan engkau membunuh ibuku yang she Cia!” kata orang ke lima, juga marah sekali.

“Sute, apakah engkau jadi ingin menghadapi cacing-cacing in!?”

“Benar, suci. Aku ingin mencoba apa yang telah kupelajari dari subo dan darimu.” Anak itu lalu melangkah maju, menghadapi lima orang itu dengan sikap tenang.

Lima orang itu saling pandang dengan ragu-ragu. Tentu saja mereka tidak sudi mengeroyok scorang anak laki-laki yang usianya belum dewasa ini. Mereka adalah orang-orang yang terkenal di perbatasan utara ini. Bahkan Twa-sin-to Kui Liok adalah seorang perampok tunggal yang amat terkenal di selatan.

“Kim Hong Liu-nio, suruh anak ini minggir! Kami hanya ingin membalas dendam kepadamu dan menagih nyawa!” bentak kakek itu sambil melangkah maju.

“Twa-sin-to, biarlah aku yang mewakili suci. Cabutlah golok besarmu dan kalian boleh maju semua, aku akan menghadapi kalian dengan tangan kosong saja,” kata anak laki-laki itu dengan sikapnya yang halus, namun senyum di bibirnya penuh ejekan dan penuh ketinggian hati.

Selagi Twa-sin-to Kui Liok meragu, seorang di antara mereka, yang termuda, kurang dari empat puluh tahun usianya, bermuka hitam, telah melangkah maju dan membentak. “Biariah aku melemparkan setan cilik yang sombong ini!”

Laki-laki itu bertubuh tinggi besar, bermuka hitam menyeramkan dan karena kedua lengan bajunya tergulung sampai ke atas siku, maka nampak kedua lengannya yang berotot dan amat kuat. Kini, menghadapi anak itu, dia menyimpan lagi pedangnya di sarung pedang yang tergantung di pinggangnya dan dia menghadapi anak itu dengan dua tangan kosong yang telah dikembangkannya ke kanan kiri, siap untuk menubruk.

“Nanti dulu!” kata anak yang tampan itu. “Apakah engkau juga seorang jagoan kang-ouw dan mempunyai nama julukan? Lebih baik kauberitahukan nama julukanmu itu agar aku dapat mencatat namamu sebagai jagoan kang-ouw pertama yang kurobohkan.”

Muka yang hitam itu menjadi makin hitam, matanya melotot. “Bocah sombong, setan cilik yang bosan hidup!” bentaknya dan dengan cepat, seperti seekor harimau kelaparan, si muka hitam ini sudah menerjang ke depan, menubruk dengan tangan kiri mencengkeram ke arah pundak anak itu dan tangan kanan mencekik ke arah leher!

“Hemm... kasar sekali, suci!” anak itu berseru dan sekali tubuhnya bergerak, dengan langkah kaki indah sekali, serangan orang itu mengenai tempat kosong, dan sambil mengelak itu kaki kanannya diangkat sedikit menyentuh lutut kiri lawan.

“Dukk...!” Perlahan saja tendangan itu, akan tetapi karena tepat mengenai sendi lutut tak dapat dicegah lagi si muka hitam jatuh berlutut!

“Wah, dia tahu aturan juga, suci. Lihat, belum apa-apa dia sudah berlutut minta ampun!” anak itu berkata mengejek.

Tentu saja si muka hitam menjadi makin marah dan malu. Dia adalah seorang jagoan yang telah terkenal memiliki kepandaian tinggi dan nama besar. Sekarang, dalam segebrakan saja dia telah dihina oleh seorang anak kecil belasan tahun!

“Bocah keparat!” Dia meloncat dan kini dia mengirim serangan hebat, bukan lagi serangan biasa karena memandang rendah seperti tadi, melainkan serangan yang berdasarkan ilmu silat, kedua tangannya secara bergantian menghantam ke arah leher dan pusar, sedangkan kaki kanannya menyusul dengan tendangan maut ke arah dada. Cepat sekali terjangan yang dilakukan oleh si muka hitam ini. Akan tetapi baru saja dia bergerak, anak itu telah berseru, “Wah, suci, bukankah ini jurus Go-houw-pok-sit (Macan Kelaparan Menyambar Makanan)? Kalau kutangkis begini, tentu dia menyusul dengan tendangan, nah baiknya kutangkap kakinya dari bawah dan kudorong terus ke atas, ya?” Sambil bicara demikian, dia melaksanakan kata-katanya.

Serangan pukulan kedua tangan si muka hitam itu berhasil ditangkisnya dan ketika kaki si muka hitam menyambar, dia cepat meloncat ke samping, lalu secepat kilat tangannya menyambar kaki yang lewat, menyangga dari bawah dan mendorongnya terus ke atas. Tanpa dapat dicegah lagi tubuh si muka hitam itu terjengkang dan terbanting berdebuk ke atas tanah sampai mengeluarkan debu mengepul!

“Bagus, sute, memang tepat perhitunganmu!” Wanita cantik itu memuji sambil mengangguk-angguk. “Akan tetapi jangan terlalu lama main-main dengan dia, masih ada empat ekor lagi yang lain!”

Si muka hitam itu menjadi marah bukan main. Marah dan malu sekali. Jagoan seperti dia sampai dua kali dirobohkan oleh seorang anak kecil dalam dua gebrakan saja! Saking marahnya sampai dia lupa diri, lupa bahwa yang dihadapinya adalah seorang anak laki-laki yang belum dewasa. Dia sudah bangkit berdiri, mukanya makin menghitam dan matanya mendelik lalu dia membungkuk seperti seekor kerbau marah, mendengus-dengus.

“Wah, tadi berlutut sekarang menjura. Sudahlah, muka hitam, jangan menggunakan terlalu banyak peradatan dan sopan santun. Aku tidak bisa menerima penghormatanmu!” Anak itu yang ternyata selain lihai juga memiliki lidah tajam dan pandai mengejek, menggerak-gerakkan kedua tangan ke depan seperti orang menolak. Melihat kehebatan anak laki-laki ini, diam-diam Siong Bu menjadi kagum bukan main. Akan tetapi terkejutlah dia ketika melihat tiba-tiba si muka hitam itu mengeluarkan suara gerengan seperti harimau, lalu tubuhnya sudah menerjang ke depan dengan kepala di depan, menyeruduk seperti seekor kerbau gila!

Siong Bu terkejut bukan main. Dia pernah mendengar dari pamannya tentang ilmu menyeruduk seperti ini, yang mengandalkan latihan lwee-kang yang dipusatkan di kepala, dan ilmu ini amat berbahaya karena lawan yang kena diseruduk tentu akan remuk tulang-tulang dadanya. Biarpun dia belum pernah menyaksikan kehebatan ilmu aneh ini, namun mendengarkan penuturan pamannya dia merasa ngeri dan kini melihat anak yang dikaguminya itu diserang dengan ilmu aneh ini, dia terbelalak dan merasa tegang. Juga empat orang laki-laki yang menjadi teman si muka hitam merasa tegang dan mereka hampir merasa yakin bahwa kini anak kecil itu tentu akan celaka. Anehnya, wanita cantik yang menjadi suci anak itu memandang dengan sikap tenang saja, sama sekali tidak merasa kaget atau gelisah.

Bagaikan seekor gajah atau seekor kerbau gila, si muka hitam menyeruduk dan nampaknya anak yang menjadi lawannya itupun tidak tahu harus berbuat apa. Dia sama sekali tidak mengelak dan berdiri tegak saja. Ketika kepala yang mengancamnya itu sudah meluncur dekat tiba-tiba anak itu menggerakkan tanga kanannya, dengan jari-jari terbuka dia menusuk ke depan, menyambut kepala itu dengan tusukan jari-jari tangannya.

“Crokk...!” Tubuh anak itu terhuyung ke belakang bergoyang-goyang dan mukanya agak pucat, akan tetapi tubuh si muka hitam terguling dan dari kepalanya mengalir darah merah bercampur cairan otak putih! Dia tewas seketika! Empat orang temannya menjadi kaget bukan main dan memandang dengan mata terbelalak. Akan tetapi, wanita cantik itu tidak memperdulikan mereka, cepat menghampiri sutenya dan dua kali dia mengurut dada sang sute yang menjadi tenang dan pulih kembali.

“Ah, sute, kenapa kau begitu ceroboh? Kau harus ingat bahwa orang yang menggunakan serangan dengan kepala adalah yang yang memiliki lwee-kang kuat, apakah kau lupa lagi? Dan melawan kekerasan dengan kekerasan merupakan kecerobohan besar. Untung bahwa lwee-kangnya tadi belum kuat benar, kalau lebih kuat setingkat saja, bukankah engkaupun akan menderita luka biarpun kau berhasil membunuhnya?” Anak laki-laki itu mengangguk. “Aku telah keliru, suci, mengharapkan petunjukmu.”

“Lihat baik-baik. Nah, kaulontarkan dia dalam kedudukan menyerang seperti tadi kepadaku!”

Anak itu mengangguk, lalu menghampiri mayat si muka hitam. Dicengkeramnya baju di tengkuk dan di belakang pinggul mayat itu dan sambil mengerahkan tenaga, dilontarkannya mayat itu ke arah sucinya. Mayat itu meluncur dengan cepat ke arah wanita tadi dengan kepala di depan, seperti ketika dia menyeruduk anak itu. Dan seperti juga sikap anak tadi, wanita ini tenang saja, baru setelah serudukan itu dekat, tiba-tiba dia menggeser kakinya, tubuhnya sudah berputar ke kiri dan ketika kepala yang menyeruduk itu lewat, secepat kilat jari-jari tangannya bergerak seperti gerakan anak tadi, menusuk ke arah pelipis kanan mayat yang lewat.

“Crokkk!”

Mayat itu terbanting dan pelipis kanannya nampak berlubang-lubang bekas jari tangan, sedangkan wanita itu tetap berdiri tegak. “Nah, kaulihat, sute? Kalau kau memapaki dari depan, selain melawan tenaga lwee-kangnya, juga tenaganya itu ditambah lagi dengan tenaga luncuran tubuhnya, tentu saja menjadi amat kuat. Sebaliknya, kalau kau menusuk dari samping, engkau tidak memapaki tenaga lawan secara langsung.”

Tadinya empat orang teman si muka hitam itu hanya memandang dan mendengarkan dengan mata terbelalak, akan tetapi kini mereka telah sadar dan menjadi marah sekali.

“Bocah setan, berani kau membunuh teman kami?” bentak Twa-sin-to Kui Lokg kakek berusia enam puluh tahun lebih yang pendek gemuk itu. Goloknya yang besar panjang tahu-tahu telah berada di tangan kanannya dan begitu dia menggerakkan tangan, terdengar suara berdesing dan golok itu lenyap berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata.

“Jangan lawan dengan tangan kosong, gunakan pedangmu!” tiba-tiba wanita cantik itu berseru setelah melihat gerakan Kui Lok.

Srattt...!” Nampak sinar berkeredepan dan tahu-tahu anak itupun telah mencabut pedangnya, sebatang pedang yang amat indah, gemerlapan dan mengkilat sekali seperti perak kebiruan, gaganngya berukir tubuh naga dan ronce-ronce merah berbentuk lidah yang keluar dari kepala naga yang terukir di ujung gagang.

Twa-sin-to Kui Lok yang dihadapi oleh anak itu, merasa dipandang rendah sekali, maka dia terus saja menggerakkan goloknya dengan dahsyat. Si pendek gemuk ini berjuluk Twa-sin-to (Si Golok Besar Sakti) maka tentu saja ilmu goloknya amat hebat dan dengan goloknya itu dia telah membuat nama besar di selatan. Kini dia dihadapi oleh seorang anak yang usianya baru empat belas tahun, tentu saja dia marah sekali dan ingin dia cepat membunuh anak ini agar dapat mencurahkan seluruh perhatian dan memusatkan tenaga dan kepandaian untuk menghadapi Kim Hong Liu-nio yang menjadi musuh besarnya itu. Dia tidak berlaku sungkan-sungkan lagi, maka goloknya yang berubah menjadi sinar bergulung-gulung itu kini seperti gelombang samodera datang menerjang anak yang telah melintangkan pedang di depan dada dan memandang permainan lawan dengan penuh perhatian.

“Awas, yang dimainkan itu adalah pecahan dari Lo-han-to yang tidak aseli lagi, namun masih memiliki dasar-dasar Lo-han-to!” tiba-tiba wanita cantik itu berseru ketika melihat gerakan golok Twa-sin-to Kui Lok. Diam-diam si gemuk pendek ini kaget bukan main, kaget dan juga marah. Dia merasa telah menguasai Lo-han-to, ilmu golok yang amat hebat dari cabang persilatan Siauw-lim-pai itu dengan baik, kini disebut pecahan yang tidak aseli lagi! Memang dia bukan murid langsung dari Siauw-lim-pai, akan tetapi dia mengira telah menguasai Ilmu Golok Siauw-lim-pai itu. Lo-han-to (Golok Orang Tua Gagah) memang merupakan Ilmu Golok Siauw-lim-pai yang hebat, gerakannya gagah bersemangat dan biarpun digerakkan dengan lambat, namun mengandong lwee-kang yang amat kuat dan sinarnya bergulung-gulung seperti ombak.

Akan tetapi, Kui Lok tidak mau perhatiannya terpecah oleh kata-kata wanita itu, dia sudah menerjang ke depan, gerakannya ringan dan goloknya menyambar-nyambar seperti kilat dari atas, mengarah tubuh atas anak itu.

“Itulah jurus Yan-cu-tiak-sui (Burung Walet Menyambar Air), engkau tahu sifatnya, sute, jaga yang atas jangan lupakan yang bawah!” kembali wanita itu berseru.

Anak itu menggerakkan pedangnya menangkis. Terdengar bunyi trang-tring-trang-tring nyaring sekali dan kemanapun golok itu menyambar dari atas, selalu bertemu dengan bayangan pedang. Kui Lok terkejut juga dan cepat kakinya bergerak. Memang tendangan merupakan imbangan dari serangan golok jurus itu, karena itulah maka wanita itu tadi mengingatkan sutenya untuk tidak melupakan yang bawah! Maka begitu kakinya bergerak menendang, tiba-tiba anak itu membalikkan pedangnya menyambut kaki yang menendang.

“Ehhh!” Si gemuk pendek cepat menarik kembali kakinya dan meloncat ke belakang sehingga dia agak terhuyung. Mukanya berubah dan keringat dingin membasahi leher karena dia mengingat betapa hampir saja dalam satu gebrakan kakinya dibikin buntung oleh bocah lihai ini. Dengan kemarahan meluap dia lalu menerjang lagi dengan kecepatan yang lebih dari tadi, dan sekali ini dia sengaja mengeluarkan ilmu golok simpanannya yang biasanya hanya dia pergunakan kalau menghadapi lawan tangguh.

“Sute, itulah Ngo-houw-toan-bun-to (Lima Harimau Menjaga Pintu) yang terkenal itu. Akan tetapi ini lebih palsu lagi, hanya tinggal gayanya saja, akan tetapi hati-hati terhadap tangan kirinya!” kembali wanita itu berseru dan makin marahlah hati Kui Lok. Tadi, Lo-han-to yang dikuasainya dikatakan tidak aseli, kini Ngo-houw-toan-bun-to yang dibanggakan itu dikatakan tinggal gayanya saja dan lebih palsu lagi! Maka goloknya sampai mengeluarkan suara berdesing-desing dan bersuitan ketika dia menyerang dengan dahsyat.

Anak itu ternyata hebat sekali. Dengan lincah anak itu bergerak dengan kedua kakinya digeser ke sana-sini, melangkah ke depan belakang, kanan kiri dengan cara yang aneh, dan semua sambaran sinar golok selalu mengenai tempat kosong. Kalau Kui Lok sudah merasa yakin bahwa goloknya akan mengenat tubuh lawan, ternyata kemudian bahwa yang diserangnya hanya bayangan saja dan anak itu sudah mengelak dengan cepat dan tak terduga-duga. Anak itu lebih mengandalkan gerak kakinya menghindarkan semua serangan-serangan daripada menangkis, sungguhpun kadang-kadang dia menangkis juga dengan pedangnya. Agaknya dia seperti orang sedang berlatih, melatih kelincahan atau melatih langkah-langkah kakinya menghadapi hujan serangan golok itu. Kui Lok yang memainkan goloknya sampai menjadi makin heran dan penasaran karena telah tiga puluh jurus dia menyerang, sama sekali goloknya belum mampu mengenai tubuh lawan, bahkan mencium ujung bajunya belum pernah!

Sementara itu, tiga orang saudara seperguruan yang tadi mengatakan hendak menuntut balas atas kematian sute mereka she Yap, kini telah mencabut pedang mereka dan menyerang ke depan untuk membantu Kui Lok merobohkan anak itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring disusul berkelebatnya sinar merah dan teguran suara halus wanita itu, “Jangan kalian berani mengganggu sute yang sedang berlatih!” Sinar merah itu bergulung-gulung menyambar ke arah tiga orang pemegang pedang itu. Mereka terkejut sekali melihat sinar yang panjang seperti seekor naga itu, dan cepat mereka menggerakkan pedang untuk membacok putus sinar yang ternyata adalah sehelai sabuk merah itu.

“Wuut-wuut-wuuttt...!” Pedang itu bertemu dengan sinar merah dan otomatis sinar merah itu melibat tiga batang pedang.

“Ouhhhh...!” Tiga orang itu terkejut bukan main ketika tahu-tahu pedang mereka terlibat sabuk merah dan ketika wanita itu menggerakkan tangan, sabuk itu menyendal dan tiga batang pedang itu sudah terampas biarpun mereka tadi sudah mengerahkan tenaga untuk mempertahankan. Mereka hanya melongo melihat tiga batang pedang mereka terbang ke atas terbelit sabuk merah dan beberapa kali tiga pedang itu beterbangan di atas kepala wanita itu.

“Terimalah!” Tiba-tiba wanita itu berseru dan ketika dia menggerakkan tangan, tiga batang pedang yang tadi terbelit sabuk itu meluncur ke depan, menuju ke arah pemiliknya masing-masing!

Tiga orang itu terkejut bukan main dan berusaha untuk mengelak, akan tetapi lontaran pedang dan belitan sabuk merah itu cepat bukan main dan pedang-pedang itu telah menembus tubuh mereka, ada yang terkena dadanya, ada yang tertembus perutnya. Mereka roboh berkelojotan dan tewas!

Wanita cantik itu sudah tidak memperhatikan mereka lagi sebelum mereka roboh, kini sudah memperhatikan lagi sutenya yang “berlatih” di bawah hujan sinar golok. Ilmu golok dari Kui Liok memang hebat. Biarpun ilmu atau jurus Ngo-houw-toan-bun-to yang dimainkannya itu tidak aseli, namun karena sudah sering dilatihnya, maka memiliki daya serang yang hebat dan lihai. Setiap serangan yang luput dari sasaran selalu disambung dengan serangan lain, tusukan disambung tikaman, bacokan disambung bacokan membalik. Dan sampai lima
jurus lamanya anak itu dapat selalu menghindarkan diri. Akan tetapi apa yang diperingatkan oleh wanita tadi tidak kunjung tiba, yaitu tangan kiri Kui Liok.

Wanita itu tadi memperingatkan sutenya agar berhati-hati terhadap tangan kiri si pemegang golok itu, akan tetapi setelah lewat lima puluh jurus, tetap saja Kui Liok belum pernah mempergunakan tangan kirinya. Hal ini sama sekali bukan karena peringatan itu keliru, melainkan karena Kui Liok sengaja tidak mau mempergunakan tangan kirinya yang belum apa-apa sudah diterka oleh wanita itu!

“Sute, sekarang latih serangan pedangmu!” tiba-tiba wanita yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertandingan itu berseru.

Anak itu tidak menjawab, melainkan mengubah gerakannya dan kini pedangnya mengeluarkan suara berdengung yang naik turun nadanya, seperti orang bersenandung! Kui Liok terkejut melihat pedang itu tahu-tahu telah berada di dekat lehernya.

“Tranggg...!” Dia menangkis dengan keras. Pedang terpental akan tetapi tahu-tahu telah hinggap dekat pundaknya. Pundaknya tentu akan putus kalau pedang itu membabat turun, maka cepat dia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik sambil bergulingan dan memainkan ilmu golok yang dinamakan Tee-tong-to (Ilmu Golok Bergulingan). Tubuhnya berguling dan dari gulingan itu goloknya menyambar, membabat ke arah kaki lawan. Kalau tadi dia bergulingan untuk menghindarkan diri dari ancaman pedang, kini tubuhnya bergulingan mengejar lawan untuk balas menyerang!

Namun, dengan cekatan anak itu melompat dan tahu-tahu pedangnya telah menusuk dari belakang ke arah tengkuk Kui Liok. Orang gemuk pendek ini merasa tengkuknya dingin, cepat dia meloncat dan menyapok ke belakang. Akan tetapi, anak itu menarik kembali pedangnya dan kini tahu-tahu pedang telah menodong lambung lawan! Kembali Kui Liok menahan jeritnya dan cepat dia meloncat ke belakang sambil menangkis. Bulu tengkuknya benar-benar meremang saking ngerinya menghadapi ilmu pedang yang amat aneh ini dan telinganya terus mendengar bunyi pedang bersenandung dan nampak sinar pedang putih bergulung-gulung dengan ujung pedang secara aneh dan tiba-tiba berada di sekitar tubuhnya, sudah menempel tinggal menusuk saja!

Twa-sin-to Kui Liok maklum bahkan biarpun yang dihadapinya itu masih kanak-kanak, namun ternyata telah memiliki kepandaian yang amat luar biasa. Maka dia cepat menangkis pedang dengar goloknya sambil mengerahkan tenaga sin-kang menyedot sehingga pedang dan golok melekat. Saat itu dipergunakannya untuk menggerakkan tangan kirinya, secepat kilat tangan itu terbuka dan menghantam ke arah dada anak itu. Itulah pukulan Ang-see-jiu yang amat hebat. Pukulan beracun yang telah dilatih dengan pasir merah beracun dan yang sejak tadi tidak dipergunakan karena telah didahului oleh peringatan wanita itu.

“Awas, sute!” Wanita itu memperingatkan, akan tetapi anak itu agaknya memang sejak tadi tidak pernah melupakan peringatan sucinya. Melihat sinar merah dari telapak tangan kiri lawan, dia lalu membuka mulut dan mengeluarkan bentakan nyaring.

Huiiiihhh!” Dari mulut anak itu menyambar sinar putih ke arah tenggorokan Twa-sin-to Kui Liok.

“Aughhh...!” Tubuh yang pendek gemuk itu terjengkang, matanya terbelalak, di tenggorokannya menancap sebatang jarum putih yang amblas sampai lenyap. Akan tetapi Kui Liok masih dapat melanjutkan pukulan tangan kirinya ke arah dada anak itu.

“Desss...!” Wanita itu mendorong dari samping dan biarpun tangannya tidak sampai menyentuh tubuh Kui Liok, namun angin pukulannya yang kuat membuat tubuh itu terpelanting roboh, pukulan Ang-see-jiu tadi tidak sampai mengenai dada anak itu dan begitu roboh, Kui Liok sudah tegang kaku dan tewas seketika!

Anak itu menyimpan kembali pedangnya dan memandang mayat Kui Liok. Ada sedikit peluh di dahinya dan sucinya cepat menghampiri dan menyusut peluh itu dengan saputangannya yang halus dan berbau harum.

“Sute, latihanmu berhasil dan baik sekali. Akan tetapi sayang, ketika engkau menyerangnya dengan pek-ciam (jarum putih) tadi, sasaran kurang tepat. Kalau sasaranmu kautujukan ke dahinya, tepat di antara kedua alisnya, tentu pukulan Ang-see-jiu dari tangan kirinya itu tidak dapat dilanjutkan. Karena kau memilih tenggorokan sebagai sasaran, maka hampir saja engkau terkena pukulan. Harap lain kali engkau lebih cermat lagi.”

Anak itu mengangguk. “Suci memang benar, dan akupun tadi sudah berpikir demikian. Akan tetapi aku merasa sangsi untuk menyerang antara sepasang keningnya, karena kupikir bagian itu lebih keras. Dengan sin-kang yang belum kuat seperti yang kumiliki ini, aku khawatir jarumku tidak akan dapat menembus tulang kepalanya dan tentu hal itu malah berbahaya sekali.”

“Ah, engkau kurang percaya kepada diri sendiri, sute. Sekarang engkau boleh mencoba!” Dia lalu menggunakan kakinya mencokel pundak mayat Kui Liok dan tiba-tiba mayat itu mencelat ke atas, berdiri dan seperti hendak menyerang anak itu. Anak itu tiba-tiba membuka mulut dan mengeluarkan seruan “Huuihhh...!” seperti tadi. Sinar putih menyambar, kini ke arah dahi mayat itu yang segera roboh kembali. Anak itu membungkuk dan memeriksa dahi yang ditembusi jarumnya dan dia tersenyum.

“Engkau benar, suci. Jarum itu masuk hampir seluruhnya!”

“Nah, engkau harus mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, sute. Kepercayaan kepada diri sendiri akan menambah kesanggupanmu dan menenangkan hatimu apabila engkau bertemu dengan lawan yang pandai. Akan tetapi jangan sekali-kali kepercayaan kepada diri sendiri itu berbalik menjadi kesombongan tanpa perhitungan. Sekarang, cabutlah pedangmu. Aku melihat ada beberapa gerakan inti yang kurang tepat tadi, maka sebaiknya kauperhatikan seranganku dan lawanlah dengan pedangmu sebaik mungkin!” Tanpa memberi kesempatan sutenya menjawab, wanita itu telah menggerakkan sabuknya.

“Wirrr... suitttt...!” Sabuk itu melayang ke udara, bergulung-gulung dan menukik ke bawah dan ujungnya sudah menotok ke arah ubun-ubun kepala sutenya.

“Wessss...!” Anak itu tahu-tahu sudah mencabut pedang dan cepat menangkis dengan niat untuk membabat sabuk itu. Namun sabuk lemas itu sudah bergerak lagi ke atas, seperti burung terbang dan berlatihlah dua orang kakak beradik seperguruan itu dengan cepat sekali.

Siong Bu yang masih mendekam di balik semak-semak merasa silau dan terpaksa memejamkan matanya yang menjadi berair karena kecepatan gerakan sinar-sinar bergulung itu benar-benar amat hebat. Dia tidak dapat melihat lagi dua orang itu, melainkan hanya dua sinar putih dan merah bergulung-gulung amat cepatnya. Jantungnya seperti berhenti berdetik ketika dia mendengar suara bersuitan dan angin menyambar sampai ke atas semak-semak itu dan dia melihat ujung semak-semak itu, daun-daun muda jatuh berhamburan seperti dibabat pisau tajam!

Tiba-tiba terdengar bunyi melengking dari dalam hutan sebelah utara. Sinar putih dan merah yang bergulung-gulung itu berhenti dan wanita itu telah berdiri tegak bersama anak laki-laki, sambil menoleh ke utara. Terdengarlah suara nyaring seorang pria, “Maaf, toanio. Saya hanyalah seorang utusan dari Jeng-hwa-pang, mohon menghadap toanio untuk menyampaikan undangan dari ketua kami!”

Wanita itu mencibirkan bibir dan mendengus, “Merangkaklah ke sini!” katanya dengan nada merendahkan.

Nampak bayangan berkelebat cepat dan seorang laki-laki berusia empat puluh tahun tinggi kurus berpakaian sederhana, di dada kirinya terhias setangkai bunga hijau terbuat daripada kertas dan lilin, membawa sebuah bungkusan yang besar, bentuknya persegi, kurang lebih tiga puluh sentimeter setiap seginya.

Siong Bu melihat betapa sebelum laki-laki ini muncul, wanita cantik itu telah mengenakan sepasang kaus tangan yang warnanya sama dengan kulitnya sehingga setelah dipakai, sama sekali tidak kentara. Kini, wanita itu memandang pria yang membawa bungkusan, lalu bertanya, “Selain menyerahkan undangan, engkau disuruh apalagi?”

Orang itu menjura dengan hormat, “Hanya menyampaikan undangan ini lalu diharuskan pergi agar jangan mengganggu toanio lebih lama.”

“Hemm, kalau begitu lemparkan undangan itu ke sini dan segera menggelindinglah pergi!” bentaknya.

Orang itu lalu melontarkan bungkusan itu ke arah anak laki-laki tadi. Anak itu cepat menggerakkan tangan hendak menyambut, akan tetapi ia didahului oleh sucinya yang meloncat dan menyambar bungkusan itu dengan kedua tangannya.

“Eh? Kenapa, suci?” tanya anak itu, heran sekali melihat sucinya berbuat seperti itu.

“Bungkusan ini pasti mengandung racun, sute.”

“Ah, keparat!” Anak itu menjadi marah dan begitu melihat di situ terdapat sebuah batu besar sekali, sebesar perut kerbau bunting, dia lalu menyambarnya dengan kedua tangan dan melontarkannya ke arah laki-laki yang sudah membalik dan pergi itu.

“Sute, jangan...!” Wanita itu sempat menepuk lengan sutenya sehinggi lontaran itu menyeleweng. Akan tetapi tetap
saja masih dapat melampaui laki-laki tadi dan jatuh berdebuk tidak jauh di depannya, melesak dalam sekali ke dalam tanah. Laki-laki itu terbelalak dan mukanya berubah pucat. Kalau dia tertimpa batu sebesar itu, tentu akan remuk tubuhnya! Dia menoleh dengan ngeri, akan tetapi melihat anak yang luar biasa itu tidak mengejarnya, dia cepat-cepat lari dari tempat itu.

“Suci, mengapa pula engkau mencegah aku membunuh keparat curang itu?”

“Dia hanya utusan dan engkau tentu lebih tahu bahwa kita sama sekali tidak boleh membunuh seorang utusan, sute. Bukan dia yang menaruh racun di bungkusan ini, melainkan orang yang menyuruhnya. Hemm, Jeng-hwa-pangcu sudah mengirim undangan, agaknya dia tidak main-main lagi sekarang. Hendak kulihat sampai di mana kelihaiannya!” Wanita ini lalu meletakkan bungkusan di atas batu besar.

“Jangan menyentuhnya, sute, dan kau lihat saja, jangan mendekat. Harap mundur lima langkah dari sini.”

Biarpun alisnya berkerut, anak itu menurut juga, melangkah mundur dan melihat dengan penuh perhatian. Juga Siong Bu menonton dengan jantung berdebar penuh ketegangan. Sejak tadi dia sudah merasa ngeri melihat orang-orang yang dibunuh itu, kini dia melihat hal lain yang lebih aneh membuat dia makin ketakutan.

Wanita cantik itu memandang kepada kedua telapak tangannya yang telah terbungkus sarung tangan, lalu tersenyum mengejek, “Kau lihat, sute.” Dia menggunakan kedua tangannya meraba rumput-rumput di dekatnya dan rumput-rumput itu seketika menjadi layu dan agak gosong seperti dibakar! “Racun yang dioleskan di bungkusan ini saja sudah cukup untuk membuat kulit tangan terbakar hebat.”

Kemudian, dengan hati-hati sekali dia membuka tali bungkusan itu. Ternyata isinya adalah sebuah doos merah. Dibukanya tutup doos merah dan hampir saja Siong Bu menjerit kalau dia tidak cepat mendekap mulutnya. Dari doos merah itu muncul seekor ular yang tiba-tiba saja menyerang ke arah leher wanita itu!

“Capppp!” Bagaikan sepasang gunting yang amat tajam, dua jari telunjuk dan jari tengah wanita itu bagian kiri telah menangkap leher ular dan sekali mengerahkan tenaga, leher ular itu putus!

“Hemm, kiranya hanya begini saja kepandaian orang Jeng-hwa-pang!” Wanita itu mengejek dan dia menarik keluar sebuah doos yang lebih tebal kecil dari dalam doos besar itu. Doos inipun tertutup.

“Suci, hati-hati. Mereka itu terlalu curang!” Anak itu berseru, tadi kaget menyaksikan ular yang demikian ganasnya. Dia tahu bahwa ular merah seperti itu amat berbahaya karena bisanya dapat membunuh orang dengan sekali gigit saja. Wanita itu menengok dan hanya tersenyum penuh kepercayaan kepada diri sendiri, lalu tanpa ragu-ragu lagi tutup doos yang lebih kecil itu dibukanya.

Nampak asap mengepul tiba-tiba dari dalam doos itu dibarengi suara mendesis. Wanita itu terkejut dan cepat sekali dia meloncat ke belakang, tepat pada saat terdengar ledakan keras. Banyak sekali paku dan jarum menyambar ke empat penjuru dan wanita yang sedang meloncat itupun terserang sambaran paku dan jarum. Akan tetapi, dengan cekatan kedua tangannya menyampok dan menangkap dan ketika dia meloncat turun, kedua tangannya penuh dengan jarum dan paku yang dapat ditangkapnya tadi. Asap masih mengepul dan doos itu pecah, memperlihatkan sehelai kertas yang sebagian hangus.

Wanita cantik itu lalu menghampiri batu dan melemparkan jarum dan paku yang beracun itu ke dalam doos yang telah hangus dan pecah-pecah, lalu dia mengambil kertas merah itu dan membaca huruf-huruf hitam yang tertulis di situ.

JENG HWA PANG MENGUNDANG KIM HONG LIU ? NIO UNTUK MEMBUAT PERHITUNGAN.



Demikianlah bunyi huruf-huruf besar yang tertulis di kertas merah. Wanita itu meremasnya hancur dan biarpun mulutnya masih tersenyum mengejek, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi karena marahnya. Sutenya telah mendekatinya, terbelalak memandang ke arah jarum-jarum dan paku-paku yang mengeluarkan sinar kehijauan itu.

Sungguh berbahaya...” katanya ngeri.

“Jeng-hwa-pang memang terkenal dengan caranya yang kotor, suka main racun. Akan tetapi aku akan membalas semua ini, sute. Memang aku sudah bersiap-siap sehingga aku menggunakan sarung tangan. Betapapun kebal tangan kita, kalau terkena racun yang berada di kertas pembungkus, atau tergigit oleh ular merah tadi, apalagi racun hijau di paku dan jarum itu, tentu kita celaka. Racun hijau pada puku dan jarum ini lebih lihai lagi, sute. Itulah racun jeng-hwa (bunga hijau) yang menjadi keistimewaan mereka sehingga nama perkumpulan merekapun memakai nama Jeng-hwa-pang (Perkumpulan Bunga Hijau).”

“Siapakah mereka itu, suci?”

Wanita itu menarik napas panjang. “Menurut penuturan subo, pendirinya adalah mendiang Jeng-hwa Sian-jin, seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw yang lihai dan selain tinggi ilmu silatnya, juga mahir ilmu sihir. Akan tetapi, kakek itu telah tewas dan kini perkumpulannya dipegang dan dipimpin oleh muridnya yang ahli dalam soal racun. Mereka bersarang di daerah perbatasan, di dekat tembok besar.”

“Mengapa perkumpulan itu memusuhi suci?”

Wanita itu melepaskan sarung tangannya yang melindunginya dari racun tadi. Sarung tangan itu memang istimewa sekali, bukan hanya dapat melindungi kulit tangan dari racun, akan tetapi juga segala macam racun yang tersentuh oleh sarung tangan itu menjadi hilang dayanya, dan di samping ini, juga sarung tangan itu dapat menahan bacokan senjata-senjata tajam. Setelah menyimpan sarung tangannya, wanita itu lalu menurunkan papan kayu salib dari punggungnya, mengangkatnya tinggi-tinggi dan berkata, “Seperti juga halnya lima orang tolol ini, Jeng-hwa-pang memusuhi aku karena ini.”

Anak itu sudah tahu akan maksud kayu salib yang ditulisi tiga huruf itu. Dia tahu bahwa tiga huruf itu adalah tiga nama keturunan yang menjadi musuh besar subo mereka dan sucinya telah bersumpah kepada subo mereka untuk membasmi semua orang yang bershe Yap, Cia dan Tio. Untuk tugas inilah maka subo mereka menurunkan seluruh kepandaiannya kepada sucinya ini sehingga sucinya menjadi seorang wanita yang bukan main saktinya.

“Suci, apakah ketua Jeng-hwa-pang itu she Yap, Cia, ataukah Tio?”

“Bukan, akan tetapi isterinya she Tio dan sembilan orang keluarga isterinya yang she Tio telah kubunuh semua. Itulah sebabnya dia memusuhi aku,” jawab sucinya dengan sikap tak perduli.

Anak laki-laki itu memandang ke arah papan kayu salib dan melihat betapa sucinya menggunakan kuku jari telunjuknya yang panjang terpelihara rapi untuk membuat guratan lima kali di bagian bawah papan salib itu. Itulah tanda bahwa sucinya telah membunuh lima orang. Setiap guratan menandakan satu nyawa dan hanya mereka yang dibunuh karena urusan permusuhan itu saja yang dicatat di papan kayu salib ini. Palang kiri untuk korban she Tio, papan atas untuk yang she Cia dan papan kanan untuk she Yap, sedangkan papan bagian bawah untuk orang-orang she lain yang membela tiga she itu dan terlibat dalam permusuhan ini. Anak itu melihat betapa yang banyak sekali coretannya justeru papan bawah di bagian she Tio lebih banyak dari papan bagian Cia dan she Yap. Akan tetapi di baglan papan atas, untuk yang she Cia, baru ada dua guratan saja.

Anak itu termenung. Dia selalu tertarik kalau membicarakan urusan permusuhan pribadi subonya yang aneh itu, dan yang pembalasannya diwakili oleh sucinya, karena subonya kini telah menjadi pikun dan lemah. “Suci, sudah berapa lamakah suci mulai melaksanakan perintah subo untuk membasmi orang-orang dari tiga she itu?”

“Sudah belasan tahun, sute, sejak aku berusia dua puluh tahun kurang.”

“Dan sampai kapan berakhirnya? Apakah selama hidupmu suci akan terus mencari orang-orang dari tiga she itu untuk dibunuh?” Anak itu merasa betapa tugas ini benar-benar gila!

Wanita itu menggeleng kepala. “Tugasku baru sempurna dan berakhir kalau musuh yang sesungguhnya dari subo telah dapat kubunuh. Mereka itu adalah Cia Bun Houw, Yap In Hong, dan Tio Sun. Mereka bukan orang-orang lemah, melainkan pendekar-pendekar yang berkepandaian tinggi sekali, akan tetapi aku sudah bersumpah tidak akan menikah sebelum berhasil membunuh mereka bertiga. Oleh karena itu, sekarang aku mengantarmu ke kota raja sambil bendak menyelidiki mereka, sute.”

“Aku akan membantumu, suci.”

Sucinya menggeleng kepala. “Engkau baik sekali, sute, dan biarpun usiamu baru empat belas tahun, namun kepandaianmu sudah boleh diandalkan. Akan tetapi mereka itu lihai sekali, terutama Cia Bun Houw itu. Subo pernah terluka ketika menghadapinya. Akan tetapi... aku telah mempelajari ilmu-ilmu khusus yang diciptakan oleh subo, istimewa untuk menghadapi mereka bertiga. Aku tidak takut.”

Tiba-tiba wanita itu lalu bersuit nyaring. Suaranya melengking bergema di seluruh hutan, dan Siong Bu yang mengintai hampir saja terjengkang. Dia cepat menutupi kedua telinganya dan menahan napas. Terdengar suara derap kaki kuda dan roda kereta, dan tak lama kemudian nampaklah sebuah kereta yang amat indah, ditarik oleh empat ekor kuda dan di belakang kereta itu nampak belasan orang penunggang kuda, semuanya gagah perkasa, tinggi besar dan berpakaian sebagai perwira-perwira. Mereka semua turun dari kuda dan memberi hormat secara militer kepada anak itu, dengan berlutut sebelah kaki. Anak itu mengangkat tangan ke atas sebagai tanda menerima salut mereka dan wanita itu lalu berkata, “Kalian antar kami sampai perbatasan, di sana harus berganti kuda. Akan tetapi kita singgah dulu di Istana Lembah Naga karena aku ada urusan dengan penghuninya.”

Para perwira itu mengangguk dan wanita tadi lalu memasuki kereta bersama sutenya. Kereta berderak-derak meninggalkan tempat itu diikuti oleh tujuh belas orang pengawal yang membuang ludah ketika melihat mayat lima orang tadi.

Setelah mereka pergi, barulah Siong Bu berani bernapas. Akan tetapi jantungnya berdebar tegang. Wanita itu mengatakan hendak singgah di Istana Lembah Naga! Ke rumah pamannya! Dan dia, teringat ketika dia mengintai ke kamar Sin Liong di dekat kandang kuda, ketika anak monyet itu menangis di pangkuan bibinya dan teringat dia betapa bibinya mengatakan bahwa Sin Liong adalah seorang she Cia, bahkan menyebutkan nama ayahnya, yaitu Cia Bun Houw! Dan bukankah Cia Bun Houw ini merupakan musuh utama dari wanita tadi? Siong Bu lalu menyelinap di antara semak-semak, menuju pulang dengan jantung berdebar penuh ketegangan.

Siapakah wanita cantik dan anak laki-laki yang tampan dan lihai itu? Pernah diceritakan di bagian depan cerita ini bahwa sepuluh tahun yang lalu, ketika diadakan pesta pernikahan di Istana Lembah Naga, pernikahan antara Liong Si Kwi dan Kui Hok Boan, muncul wanita cantik ini di dalam pesta di mana secara mengerikan dia telah membunuh enam orang di antara para tamu yang mempunyai she Tio, Yap, dan Cia.

Wanita ini adalah yang menjadi utusan Sabutai itu, seorang wanita cantik yang mengaku bernama Kim Hong Liu-nio, yang memiliki ilmu kepandaian amat mengerikan. Sekarang dia masih nampak cantik sekali, biarpun usianya sudah kurang lebih tiga puluh lima tahun sekarang, masih cantik dan agung, seperti seorang puteri raja saja, sikapnya angkuh, dingin, akan tetapi tahi lalat kecil di dagunya itu membuat dia nampak manis sekali.

Siapakah sebenarnya Kim Hong Liu-nio ini? Melihat wajahnya dan suaranya ketika bicara tadi, jelas bahwa dia adalah seorang wanita bersuku Han. Akan tetapi mengapa dia menjadi utusan raja liar Sabutai?

Kim Hong Liu-nio adalah seorang dayang atau pelayan wanita yang amat disayang oleh Permaisuri Khamila, yaitu isteri Raja Sabutai. Dia adalah seorang wanita Han yang ketika kecilnya menjadi tawanan perang, yaitu ketika pasukan Raja Sabutai menyerbu ke selatan (baca cerita Dewi Maut). Karena Raja Sabutai tertarik melihat kecantikan anak yang ketika itu baru berusia belasan tahun, maka dia tidak dibunuh, tidak pula dijadikan korban perkosaan oleh para perajurit dan perwira seperti yang menjadi nasib para wanita tawanan perang. Bahkan dia ditarik ke dalam istana dan dijadikan dayang. Karena ternyata dia cerdik, setia, dan cekatan, akhirnya sang permaisuri suka kepadanya dan diangkatlah dia menjadi dayang yang melayani sang permaisuri yang amat tercinta itu.


Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan betapa Raja Sabutai mempunyai dua orang guru yang memiliki kepandaian luar biasa, merupakan orang-orang sakti yang sukar dicari bandingannya pada waktu itu. Mereka berdua itu adalah Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, dua orang kakek dan nenek iblis yang tadinya berasal dari Negara Sailan. Dalam pertempuran mereka menghadapi para pendekar sakti, Pek-hiat Mo-ko tewas dan Hek-hiat Mo-li terluka parah. Raja Sabutai mengandalkan kekuasaannya, berhasil menyelamatkan subonya itu dari kematian dan membawa subonya itu untuk dirawat, meninggalkan Istana Lembah Naga di mana tadinya kakek dan nenek iblis itu tinggal.

Karena Hek-hiat Mo-li telah tua, pikun, berwatak aneh, suka marah dan mudah membunuh orang begitu saja, maka sukarlah untuk merawat dan melayaninya. Akan tetapi, Kim Hong Liu-nio yang cerdik sekali itu dapat merawatnya dengan baik sehingga amat menyenangkan hati nenek itu dan akhirnya dayang inilah yang ditugaskan untuk merawat Hek-hiat Mo-li. Kim Hong Liu-nio memang cerdik bukan main. Semenjak dia menjadi tawanan kemudian menjadi dayang, dia selalu mencari jalan untuk dapat meningkatkan kedudukannya dan akhirnya dia berhasil menjadi dayang kesayangan permaisuri, dan hal ini tentu saja sudah merupakan kemajuan besar karena kedudukannya menjadi jauh lebih tinggi daripada dayang-dayang istana yang biasa. Namun dia belum juga puas. Dia tahu bahwa nenek seperti iblis itu adalah guru dari sri baginda sendiri, maka tentu saja merupakan seorang yang amat terhormat dan disegani semua orang. Dan dia sendiri selama ini telah rajin berlatih silat dari para pelatih silat yang biasa melatih para pengawal di istana. Dia sendiri suka akan ilmu silat, maka melihat nenek itu terluka dan dirawat di istana, melihat betapa jarang ada yang berani dan mampu melayaninya, dia lalu “memperlihatkan” kesetiaannya, menawarkan diri untuk merawatnya! Dan dia berhasil!

Kim Hong Liu-nio melihat kesempatan baik sekali baginya. Bukan saja kesempatan untuk membikin senang hati nenek itu dan sri baginda, akan tetapi juga kesempatan untuk mempelajari ilmu kesaktian karena dia tahu bahwa Hek-hiat Mo-li adalah seorang nenek luar biasa yang memiliki ilmu kepandaian seperti dewa! Memang harus diakui bahwa wanita muda itu memang cerdik bukan main. Bukan hanya ilmu silat yang menariknya mendekati Hek-hiat Mo-li, sungguhpun memang dia ingin sekali menjadi seorang yang berilmu tinggi. Akan tetapi lebih dari itu, apabila dia bisa menjadi murid nenek itu, berarti dia menjadi adik seperguruan Sri Baginda Sabutai sendiri dan hal ini tentu saja akan mengangkat derajatnya, dari seorang dayang menjadi adik seperguruan raja!

Dan dia memang berhasil menyenangkan hati nenek itu. Hek-hiat Mo-li adalah seorang nenek yang sudah pikun, maka melihat dayang yang merawatnya penuh ketekunan, melayaninya dan merawatnya ketika dia masih menderita sakit sehingga dia berak dan kencing di atas pembaringan, dibersihkan dan dicuci, dimandikan oleh dayang ini, hatinya tertarik sekali dan dia menjadi suka kepada dayang itu. Nenek pikun ini mulailah mengajaknya bercakap-cakap, bahkan menceritakan tentang sakit hatinya terhadap para musuhnya. Menyatakan betapa dia sudah terlalu tua sehingga sakit hatinya itu tentu akan dibawanya sampai mati tanpa terbalas, karena muridnya yang hanya seorang, yaitu Sabutai, adalah seorang raja yang tidak mungkin mengurus urusan pribadi. Mendengar ini, secara cerdik sekali Kim Hong Liu-nio lalu menawarkan diri untuk mewakili nenek itu membalas musuh-musuhnya!

“Kau...? Hi-hi-hi-hi! Tiga orang musuh besarku itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Orang macam engkau mana mampu mewakili aku untuk membunuh mereka?” Nenek itu mentertawakan.

Kim Hong Liu-nio menjatuhkan diri berlutut. “Kalau locianpwe mendidik saya dan menurunkan semua kepandaian locianpwe kepada saya, apa sukarnya bagi saya untuk membunuh mereka sehingga kelak locianpwe boleh naik ke alam baka dengan hati tenang?”

Hek-hiat Mo-li terbelalak, berpikir dan akhirnya dia mengangguk-angguk. “Hendak kulihat dulu bakatmu!” Dia lalu mencoba dan menyuruh wanita itu mainkan ilmu silat yang pernah dipelajarinya. Hatinya girang sekali ketika mendapatkan kenyataan bahwa Kim Hong Liu-nio ternyata memiliki bakat yang amat baik!

“Baik! Kau berlututlah dan bersumpahlah! Aku menerimamu menjadi muridku!” akhirnya dia berkata.

Kim Hong Liu-nio ketika itu berusia dua puluh tahun lebih dan cepat dia menjatuhkan diri berlutut di depan pembaringan nenek itu. Hek-hiat Mo-li terkekeh, lalu mengelus kepala muridnya dan tiba-tiba bertanya, “Engkau masih perawan?”

Pertanyaan ini tentu saja amat mengejutkan dan mengherankan hati gadis itu, dan juga membuat pipinya menjadi merah sekali karena malu. Akan tetapi dia mengangguk.

“Bagus! Aku telah menciptakan beberapa ilmu yang hanya dapat dipelajari dengan sempurna oleh perawan-perawan dan jejaka-jejaka. Sekarang engkau harus bersumpah bahwa kelak engkau akan membunuh semua orang she Yap, Tio, dan Cia yang kautemukan, dan kau tidak akan berhenti melakukan pembunuhan terhadap keturunan tiga she itu sebelum engkau berhasil membunuh tiga orang musuh besarku, yaitu Yap In Hong dan kakaknya Yap Kun Liong, Cia Bun Houw, dan Tio Sun. Hayo bersumpahlah...!”

Sambil berlutut, Kim Hong Liu-nio lalu bersumpah menurutkan kata-kata nenek itu. Kemudian tiba-tiba gadis itu merasa dagunya sakit sekali ketika tangan nenek itu menyambar, kepalanya pening dan dia roboh pingsan! Ketika dia siuman kembali, dia merasakan dagunya masih amat sakit. Dia merabanya dan ternyata dagunya terluka.

“Biarkan saja, sudah kuobati. Nanti akan tumbuh sebuah tahi lalat kecil di situ, dan itu adalah tanda bahwa engkau masih perawan. Sekarang bersumpahlah lagi bahwa sebelum kau berhasil membunuh tiga orang musuh besarku itu, engkau tidak boleh menikah! Dan awas, sekali saja engkau melanggar pantangan itu dan keperawananmu lenyap, tentu tahi lalat di dagumu itupun akan lenyap dan aku akan membunuhmu!”

Bukan main kagetnya hati gadis itu. Akan tetapi dia tahu bahwa nenek ini memang amat sakti luar biasa dan keji. Dengan suara tenang dia lalu mengucapkan sumpahnya lagi bahwa dia tidak akan menikah sebelum berhasil membunuh tiga orang musuh besar dari gurunya.

Hek-hiat Mo-li tertawa terkekeh-kekeh dengan hati senang. “Hi-hi-hik, sekarang kau menjadi muridku, akan tetapi jangan kira bahwa engkau akan dapat melepaskan diri dari sumpahmu. Hayo lekas panggil suhengmu ke sini.”

“Su... suheng...?”

“Raja Sabutai itu! Siapa lagi dia kalau bukan suhengmu?” bentak nenek itu. “Hayo lekas minta supaya datang ke sini, sekarang juga.”

Bukan main girang dan bangganya rasa hati gadis itu. Raja Sabutai adalah suhengnya! Dia mengangguk lalu berlari ke luar, terus memasuki istana Raja Sabutai. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani selancang itu dan setelah tiba di depan sri baginda tetap saja dia bersikap hormat seperti biasanya.

“Eh, Kim Hong, mengapa engkau menringgalkan subo dan datang menghadap tanpa diundang?” sri baginda berkata dengan halus.

“Harap paduka sudi memaafkan hamba. Hamba diutus oleh... lo-thai-thai (nyonya tua) untuk minta paduka suka datang kepadanya beliau sekarang juga...” Tentu saja dia tidak berani lancang menyebut “subo” kepada nenek itu.

Raja Sabutai mengenal watak gurunya yang aneh, maka diapun bergegas pergi bersama Kim Hong Liu-nio memasuki kamar subonya. Begitu dia masuk, Hek-hiat Mo-li lalu berkata, “Eh, sri baginda, sekarang engkau mempunyai seorang sumoi.”

“Sumoi...?”

“Heh-heh, dia itulah sumoimu!”

“Kim Hong...?” Sabutai terbelalak.

Kim Hong Liu-nio merasa jantungnya berdebar tegang. Dia takut kalau raja marah dan merasa terhina, maka cepat-cepat dia menjatuhkan diri berlutut dan tanpa berani mengangkat muka dia lalu berkata, “Mohon paduka sudi memberi ampun kepada hamba. Hamba mendengar penuturan... lo-thai-thai...”

“Ih, kau menyebut nyonya tua kepadaku? Murid apa kau ini?” Tiba-tiba nenek itu membentak.

Kim Hong Liu-nio terkejut dan melanjutkan kata-katanya, “...subo bercerita tentang musuh-musuh beliau dan hamba merasa kasihan, maka hamba menawarkan diri untuk mewakili subo membalas sakit hati itu... lalu subo mengangkat hamba menjadi murid...”

Raja Sabutai menoleh kepada nenek itu. “Subo, apakah dia pantas menjadi murid subo? Apakah kelak dia tidak akan mengecewakan dan memalukan kita?”

“HUUH-HUH-HE-HEH! Sri baginda lihat saja, beberapa tahun lagi kepandaiannya sudah akan melampaui tingkat kepandaianmu sendiri, hi-hik! Dan pula dia sudah bersumpah akan membunuh tiga empat orang she Yap, Cia dan Tio itu. Sri baginda saya panggil ke sini untuk menjadi saksi. Lihatlah tahi lalat di dagunya itu, sekarang merupakan luka, beberapa hari lagi akan tumbuh tahi lalat di situ sebagai tanda keperawanannya. Dia bersumpah tidak akan menikah sebelum berhasil membunuh musuh-musuh kita dan kalau aku sudah mati, harap sri baginda mengawasinya. Kalau musuh-musuh belum mati dan tahi lalat itu lenyap, berarti dia melanggar sumpah dan harus dibunuh!”

Raja Sabutai mengangguk-angguk. “Jangan khawatir, subo, aku akan mengamatinya.”

Diam-diam Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main. Ketika dia tadi bersumpah, memang timbul perasaan mengejek di dalam hatinya. Nenek itu sudah tua mana bisa mengawasi dia terus? Dan tentang tahi lalat tanda keperawanan itu tentu tidak akan ada orang lain yang tahu. Siapa kira, nenek iblis itu kini membuka rahasia ini kepada Raja Sabutai, bahkan memesan kepada raja itu untuk mewakilinya menghukum kalau dia berani melanggar sumpahnya.

Demikianlah, mulai hari itu Kim Hong Liu-nio menjadi murid Hek-hiat Mo-li dan ternyata dia memang berbakat baik sekali. Dia masih bersikap hormat kepada raja, dan hanya di depan gurunya saja dia berani menyebut suheng kepada raja. Di tempat biasa, dia masih bersikap sebagai seorang dayang terkasih. Akan tetapi, semua orang dari pelayan terendah sampai panglima tertinggi tahu belaka, bahwa dayang ini adalah murid Hek-hiat Mo-li, adik seperguruan raja dan kepandaian yang amat hebat, maka tentu saja semua orang menghormatinya dan tidak ada yang memperlakukannya sebagai seorang dayang.

Apalagi setelah putera dari Raja Sabutai, mulai dilatih ilmu silat, maka pengaruh Kim Hong Liu-nio lebih besar lagi. Dialah yang diserahi tugas untuk mendidik anak laki-laki itu! Anak laki-laki itu bukan lain adalah Ceng Han Houw, putera tunggal dari Raja Sabutai. Nama Ceng Han Houw adalah nama pemberian dari Khamila, ibu kandung anak itu, sedangkan nama pemberian ayahnya adalah Pangeran Oguthai!

Mengapa Permaisuri Khamila memberi nama Ceng Han Houw kepada puteranya? Hal ini ada rahasianya yang hanya diketahui oleh Permaisuri Kharmila dan suaminya sendiri, yaitu Raja Sabutai. Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan peristiwa itu yang terjadi belasan tahun yang lalu. Ketika itu, Raja Sabutai dan isterinya yang tercinta, yang masih amat muda dan cantik jelita, belum mempunyai keturunan. Pada waktu itu, Kaisar Ceng Tung dari Kerajaan Beng, yang baru berusia dua puluh tiga tahun, dijebak oleh kecurangan dan pengkhianatan seorang pembesar. Di waktu melakukan perjalanan ke utara, kaisar muda ini telah menjadi tawanan raja liar, yaiti Raja Sabutai dan ditahan di daerah liar di utara. Kaisar Ceng Tung yang muda itu memperlihatkan sikap gagah perkasa, dan hal ini amat menarik dan mengagumkan hati Raja Sabutai. Kaisar Ceng Tung tidak dibunuh oleh Sabutai karena memang hendak dijadikan sandera kalau dia menyerbu ke selatan.

Ketika itu, Raja Sabutai merasa berduka dan kecewa karena dari permaisurinya yang amat cantik dan tercinta itu, dia belum juga memperoleh keturunan. Karena sejak dahulu sebelum menikah dengan isteri tercinta inipun belum pernah ada selirnya yang memperoleh keturunan, maka dia dapat menduga bahwa dialah yang tidak dapat memberikan keturunan kepada permaisurinya yang tercinta itu. Padahal dia ingin sekali mempunyai anak dari permaisurinya terkasih ini. Ketika dia kelihat kegagahan Kaisar Ceng Tung yang menjadi tawanannya, timbullah rencananya yang amat luar biasa. Dia hendak menggunakan kaisar yang dikaguminya itu agar dapat meninggalkan keturunan dalam rahim permaisurinya, keturunan yang kelak akan menjadi anaknya secara resmi! Dia tidak akan malu mempunyai anak yang sebetulnya mempunyai darah kaisar yang besar dan gagah perkasa itu. Bahkan kedudukan kaisar itu masih jauh lebih tinggi daripada kedudukannya sebagai raja liar.

Demikianlah, dengan sepengetahuannya, bahkan atas perintahnya, Sang Permaisuri Khamila yang muda dan cantik jelita itu mendekati tawanan terhormat itu. Kemudian terjadilah hal yang tidak mengherankan mengingat bahwa keduanya masih sama muda dan keduanya merupakan pria dan wanita yang tampan dan cantik. Kedua orang muda itu saling jatuh cinta! Kemudian, tepat seperti yang diharapkan oleh Raja Sabutai, permaisurinya mengandung, bahkan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan tampan. Sementara itu, Kaisar Ceng Tung telah dapat lolos dari tawanan dan kembali ke Tiong-goan untuk menjadi kaisar lagi.

Demikianlah cerita ringkas dari peristiwa itu yang dituturkan dengan jelas dalam cerita Dewi Maut. Rahasia tentang diri anak yang kini bernama Pangeran Oguthai alias Ceng Han Houw itu hanya diketahui oleh ayah dan ibunya sendiri. Raja Sabutai memberi nama Oguthai kepada puteranya, diambil dari nama seorang pangeran gagah perkasa bangsa Mongol, putera ke tiga dari raja besar Jenghis Khan yang termashur itu. Akan tetapi atas perinintaan Permaisuri Khamila, anak itu diberi nama Ceng Han Houw. She Ceng diambilnya dari nama Kaisar Ceng Tung yang sesungguhnya adalah ayah kandung dari anak itu, dan nama Han Houw adalah nama pemberian Kaisar Ceng Tung sendiri yang diam-diam disampaikan kepada bekas kekasihnya itu. Hal itu membuktikan bahwa sampai saat itupun sang permaiskiri itu masih belum dapat melupakan kekasihnya, ayah kandung dari anaknya.

Biarpun dia seorang raja, namun Sabutai adalah seorang yang suka akan kegagahan, maka tentu saja dia ingin melihat putera tunggalnya itu meniadi seorang gagah perkasa dan berilmu tinggi. Oleh karena itu, semenjak masih kecil, Oguthai atau Ceng Han Houw itu oleh Raja Sabutai diserahkan kepada subonya untuk digembleng, dan dengan sendirinya anak itu dekat sekali dengan sucinya, Kim Hong Liu-nio yang kadang-kadang mewakili gurunya untuk melatih sang pangeran ini.

Demikianlah keadaan anak laki-laki berusia empat belas tahun yang tampan dan lihai itu, yang bukan lain adalah Ceng Han Houw, dan Kim Hong Liu-nio yang kini telah menjadi seorang wanita yang luar biasa lihainya, dan tepat seperti apa yang pernah dijanjikan oleh Hek-hiat Mo-li kepada Sabutai, kepandaian Kim Hong Liu-nio kini sedemikian hebatnya sehingga sudah melampaui tingkat kepandaian Raja Sabutai sendiri! Banyak ilmu-ilmu baru ciptaan nenek yang sudah tua renta itu dikuasai oleh Kim Hong Liu-nio, ilmu-ilmu yang sengaja diciptakan oleh Hek-hiat Mo-li bagi muridnya ini untuk menghadapi musuh-musuh besarnya, ilmu yang bahkan Hek-hiat Mo-li sendiri tidak mampu menguasainya karena tidak sempat lagi melatih diri.

Pada hari itu, Kim Hong Liu-nio diutus kembali oleh Raja Sabutai untuk pergi ke Lembah Naga dan dalam kesempatan ini, Khamila diam-diam memanggil Kim Hong Liu-nio menghadap. Setelah wanita yang masih bersikap sebagai dayang di depan permaisuri itu menghadap. Permaisuri Khamila lalu memegang tangannya dan berkatat “Kim Hong, sebagai murid Hek-hiat MO-li, kurasa engkau telah tahu akan rahasia yang meliputi diri anakku, Oguthai. Benarkah dugaanku?” Permaisuri yang masih kelihatan cantik sekali itu memandang wajah Kim Hong Liu-nio dengan penuh selidik. Wajah ini masih cantik dan muda, bahkan kelihatan lebih muda daripada wajah sang permaisuri, sungguhpun usia Kim Hong Liu-nio pada waktu itu sudah tiga puluh lima tahun sedangkan usia sang permaisuri baru tiga puluh tahun lebih sedikit. Hal ini adalah karena Kim Hong Liu-nio menguasai suatu ilmu mujijat yang diajarkan oleh gurunya, ilmu yang akan membuat dia tidak akan pernah nampak tua!

Kim Hong Liu-nio yang dulu sebelum menjadi murid Hek-hiat Mo-li bersifat riang itu kini menjadi seorang yang pendiam sekali, pendiam dan dingin akan tetapi terhadap permaisuri dia masih tetap menghormat. Dia berlutut dan menjawab. “Hamba ada mendengar sedikit tentang hubungan sang pangeran dengan Kaisar Kerajaan Beng di selatan, akan tetapi mana hamba berani untuk mengetahui lebih banyak?”

Khamila tertunduk sejenak, lalu berkata lagi, “Kim Hong, engkau adalah seorang yang amat setia, bahkan engkau masih terhitung saudara seperguruan dari sri baginda sendiri dan juga engkaulah yang membantu gurumu mendidik anakku, oleh karena itu tidak perlu lagi aku merahasiakannya. Ketahuilah bahwa Han Houw adalah keturunan Kaisar Ceng Tung dari Kerajaan Beng.”

Akan tetapi Kim Hong Liu-nio tidak kelihatan kaget mendengar ini, karena memang dia telah dapat menduganya. Karena menduga itulah maka dia selalu menyebut “sute” kepada Han houw, bahkan selalu mengajarkan Han Houw untuk berbahasa Han sehingga anak itu selain pandai limu silat, juga pandai pula berbahasa Han dan pandai membaca dan menulis pula!

“Hamba telah mendengarkan dan terima kasih atas kepercayaan paduka. Apakah maksud paduka dengan membuka rahasia ini? Perintah apakah yang hendak paduka berikan kepada hamba?”

“Aku mendengar bahwa engkau diutus ke selatan, ke Lembah Naga. Benarkah?”

“Memang benar demikian, apakah ada sesuatu yang harus hamba lakukan?”

“Engkau diperintahkan apa oleh sri beginda?”

“Hamba disuruh menyampaikan kepada penghuni Lembah Naga bahwa dalam waktu setengah tahun mendatang ini, Lembah Naga harus dikosongkan karena Istana Lembah Naga akan dipakai oleh sri baginda.”

“Ehh? Untuk apa istana tua yang sudah bobrok itu?”

“Setengah tahun lagi usia sang pangeran sudah genap lima belas tahun. Sri baginda berniat mengundang kepada seluruh tokoh di dunia kang-ouw dan di dalam undargan itu nanti setelah mereka berkumpul, sri baginda akan memilih orang yang paling pandai di antara mereka, yaitu yang dapat mengalahkan hamba, untuk selanjutnya mendidik ilmu silat kepada sang pangeran.”

“Ihhh... Apa perlunya itu? Kepandaianmu dan kepandaiannya sendiri sudah hebat, dan masih ada Hek-hiat Mo-li yang mendidik puteraku. Mau dijadikan apa puteraku maka harus menerima pendidikan orang yang paling pandai di antara jagoan-jagoan itu?”

“Sri baginda ingin melihat sang pangeran menjadi jagoen nomor satu di dunia, dan hamba yakin melihat bakatnya, bahwa hal itu pasti akan terlaksana,” kata Kim Hong Liu-nio yang ikut merasa gembira dan bangga karena sesungguhnya dialah yang selama ini mendidik Han Houw.

“Aahhh, aku tidak mau tahu segala urusan tetek bengek itu! Dengar, Kim Hong, aku mempunyai urusan vang lebih penting lagi dan aku minta engkau suka melaksanakan perintahku ini. Aku telah memberi tahu kepada sri baginda dan beliau hanya setuju saja. Sanggupkah kau melaksanakan perintahku?”

“Paduka tentu telah memaklumi bahwa hamba akan melaksanakan segala perintah paduka dengan taruhan nyawa hamba.”

“Bagus, aku percaya kepadamu, Kim Hong. Begini, setelah engkau mengunjungi Istana Lembah Naga, bersama Han Houw yang harus kauajak serta, kauantarkanlah anakku itu melintasi Tembok Besar dan mengunjungi Kota Raja Kerajaan Beng.”

“Ahhh...!” Kim Hong Liu-nio benar-benar terkejut bukan main karena sama sekali tidak disangkanya bahwa tugas yang akan diserahkan kepadanya demikian hebatnya. “Hamba... hamba... mendengarkan...” katanya.

“Aku mendengar bahwa waktu ini, kaisar sedang menderita sakit. Hatiku merasa tidak enak sekali dan aku selamanya tentu akan menderita tekanan batin kalau puteraku itu belum sempat melihat wajah ayah kandungnya. Maka ajaklah dia menghadap dan pertemukan dia dengan kaisar sebelum... terjadi apa-apa dengan kaisar, Kim Hong.”

“Hamba siap melaksanakan tugas! Akan tetapi... hamba kira tidak akan mudah untuk dapat menghadap kaisar begitu saja, dan untuk menggunakan kekerasan... ah, rasanya hal itu tidak mungkin. Tenaga hamba seorang mana mampu melakukan hal seperti itu?”

Permaisuri Khamila tersenyum lembut, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil. “Kau bawalah ini, di dalamnya terdapat suratku dan sebuah benda yang pasti akan dikenal di sana dan akan membuka semua pintu istana untuk puteraku.”

Kim Hong Liu-nio menerima sambil berlutut, tidak banyak bertanya. Hati wanita ini merasa lega ketika sri baginda sendiri datang dan dengan wajah yang keras mengatakan, “Kim Hong, aku serahkan keselamatan Oguthai kepadamu. Engkau adalah sumoiku sendiri, bahkan Oguthai adalah sutemu juga. Maka, engkaulah yang bertanggung jawab atas keselamatan puteraku!”

“Akan hamba lindungi dengan pertaruhan nyawa hamba. Nyawa hamba yang menjadi tanggungannya, sri baginda!” jawab Kim Hong Liu-nio dengan tegas dan penuh dengan kebanggaan.

Demikianlah, pada hari itu Kim Hong Liu-nio berangkat bersama Ceng Han Houw menunggang kereta yang mewah menuju ke selatan dikawal oleh tujuh belas orang pengawal pilihan, yang bertindak sebagai anak buah dan juga melayani segala keperluan sang pangeran. Dan seperti diceritakan di bagian depan, perjalanan itu dihadang oleh orang-orang yang merasa sakit hati terhadap Kim Hong Liu-nio yang sudah banyak membunuhi orang-orang she Yap, Tio, dan Cia. Kim Hong Liu-nio mengajak sutenya untuk meninggalkan kereta karena dia ingin “melatih” sutenya itu menghadapi orang-orang yang dianggapnya tidak terlalu berbahaya itu dan seperti telah diceritakan di bagian depan, lima orang itu dengan mudah dapat mereka tewaskan dan setelah itu mereka menerima undangan dari Jeng-hwa-pang yang mengirim surat beracun yang berbahaya itu.

Seperti tidak pernah terjadi sesuatu kini Kim Hong Liu-nio bersama Han Houw telah menunggang kereta lagi, menuju ke Lembah Naga. Karena rombongan ini menggunakan kereta, maka mereka harus mengambil jalan raya yang lebar, jalan memutar, tidak seperti Siong Bu yang tadi mengintai dari tempat persembunyiannya dan kini anak ini dapat mendahului pulang ke Istana Lembah Naga melalui jalan yang jauh lebih dekat namun tidak mungkin ditempuh oleh kereta itu.

***




“Sin Liong...!” Hok Been memanggil-manggil dengan suara marah. Dia sudah membawa sebatang cambuk rotan yang sudah dipersiapkannya untuk menghajar anak itu. Hatinya menjadi makin marah ketika dia tidak melihat anak itu dan tidak mendengar jawabannya, maka dia lalu mencari ke belakang kandang kuda.

“Sin Liong, di mana kau? Hayo cepat ke sini...!” kembali Hok Boan berteriak.

Tiba-tiba terdengar jawaban Sin Liong dari atas sebatang pohon di tepi hutan dekat kandang itu. “Gi-hu memanggil saya? Saya berada di sini...”

Hok Boan lari ke bawah pohon itu, bertolak pinggang dan memandang ke atas. Dia melihat Sin Liong duduk di cabang pohon itu. “Hayo lekas turun kau, anak jahat dan kurang ajar!”

Sin Liong terkejut dan cepat dia merayap turun dari atas pohon dan berdiri di depan ayah angkatnya itu dengan kepala ditundukkan. Dia tahu bahwa ayah angkat ini kelihatan marah tentu berhubung dengan peristiwa perkelahiannya dengan Siong Bu pagi tadi.

“Engkau berani melawan Kwan-kongcu, ya?” bentak Hok Boan. “Bagaimanakah pesan dan laranganku dahulu itu? Engkau berani melanggarnya, ya. Hayo katakan, siapa yang kauandalkan? Hayo siapa??” Kemarahan Hok Boan sebenarnya tertuju kepada isterinya yang menurut pengaduan Siong Bu telah menampar anak itu, akan tetapi karena dia tidak mau ribut-ribut langsung dengan isterinya, maka kemarahan itu kini ditimpakan kepada Sin Liong dan ingin dia mendengar anak ini mengandalkan ibu angkatnya! Akan tetapi Sin Liong tidak menjawab. Dia tahu ayah angkatnya ini amat memanjakan dua orang keponakannya itu, maka tentu akan percuma saja kalau dia membela diri dengan kata-kata. Dia adalah seorang anak keras hati, maka kini dia berdiri menunduk sambil menggigit bibir.

“Kau tidak lekas berlutut minta ampun?” kembali Hok Boan menghardik, makin marah melihat anak itu berdiri dengan bandelnya. Akan tetapi Sin Liong hanya melirik ke arah wajah ayah angkatnya itu sebentar, lalu menunduk lagi.

Bagaimana dia mau minta ampun kalau dia tidak bersalah apa-apa? Dalam urusan antara dia dan Siong Bu, kalau mau bicara tentang minta ampun, sepatutnya Siong Bu yang harus minta ampun, karena anak itulah yang mulai lebih dulu menyerangnya. Maka dia mengeraskan hatinya dan tidak menjawab, juga tidak berlutut, apalagi minta ampun.

“Hayo kau minta ampun kepada Kwan-kongcu!” Hok Boan membentak dan dia mencengkeram pundak anak itu dan ditariknya kembali ke dalam rumah. Hok Boan mendorong-dorong sehingga tubuh Sin Liong terhuyung, bahkan ketika dia mendorong melangkahi anak tangga, dia terjatuh. Akan tetapi Hok Boan menyeretnya bangun dan menariknya memasuki ruangan samping di mana Lan Lan, Lin Lin, dan Beng Sin memandang dengan mata terbelalak!

Memang Hok Boan sengaja mengajak Sin Liong kembali ke rumah, untuk dihajar di rumah, bukan saja untuk minta ampun kepada Siong Bu, akan tetapi juga agar dilihat semua isi rumah sehingga Sin Liong akan merasa malu dan bertobat benar-benar. “Di mana Siong Bu?” tanya Hok Boan kepada tiga orang anak itu dengan suara membentak. “Suruh dia ke sini!”

“Dia tidak ada ayah,” jawab Lan Lan dan Lin Lin hampir berbareng.

“Dia tadi lari ke dalam hutan sambil menangis, paman,” kata Beng Sin dengan mata terbelalak ketakutan.

Mendengar ini, makin kasihanlah rasa hati Bok Hoan kepada Siong Bu, dan makin marahlah dia kepada Sin Liong. “Anak liar, hayo kau berlutut dan minta ampun!” bentaknya dan cambuk rotan di tangan kanannya mulai dikerjakannya. Terdengar bunyi cambuk menyambar lalu menimpa punggung Sin Liong, nyaring sekali suaranya, bertubi-tubi.

“Hayo berlutut!” bentak Hok Boan. Akan tetapi Sin Liong hanya berdiri menghadap jendela, kedua tangannya menekan tembok, mukanya pucat, bibirnya digigitnya sendiri untuk mencegah dia menangis.

“Tar-tar-tar-tar!” Kembali cambuk itu menghantam punggung dan pinggulnya. Sin Liong memejamkan mata dan menggigiti bibir makin keras karena rasa nyeri menggigit tubuhnya bagian belakang. Namun, dia sama sekali tidak menangis, tidak mengeluh, apalagi berlutut minta ampun!

“Tar-tar-tar-tar-tarrr...!” Hok Boan menjadi makin marah menyaksikan kebandelan ini, merasa seolah-olah dia ditantang!

Tiba-tiba Lan Lan dan Lin Lin menjatuhkan diri berlutut menghadap ayah mereka. “Ayah... jangan pukul dia...!” Lan Lan berkata dengan suara terisak.

“Ayah, dia... dia tidak bersalah... ampunkan dia, ayah!” Lin Lin juga berkata dan anak perempuan ini sudah menangis.

Melihat itu, Beng Sin juga berlutut. Anak yang gemuk ini merasa kasihan sekali kepada Sin Liong, apalagi melihat betapa permintaan kedua anak perempuan itu agaknya belum menggerakkan pamannya yang masih terus mencambuki punggung Sin Liong. Dia melihat warna merah dari balik baju Sin Liong, tanda bahwa kulit punggung itu tentu sudah pecah-pecah berdarah!

“Paman... harap paman sudi mengampuninya... sesungguhnya Sin Liong tidak bersalah... paman ampunkanlah dia...” anak gendut itupun minta ampun sambil berlutut.

Hok Boan terengah-engah, bukan karena lelah, melainkan karena dibakar oleh kemarahannya sendiri. Dia tadi tidak mendengar suara kedua orang anak perempuan itu, akan tetapi ketika Beng Sin juga mintakan ampun, dia agak merasa heran dan ragu, menghentikan cambukannya dan menoleh. Terbelalak dia memandang ke arah tiga orang anak yang berlutut itu. Mereka mintakan ampun untuk Sin Liong? Dia tertegung terheran dan agak bingung.

“Pamaaaann...! Celaka..., lekas... wah, celaka...!”

Hok Boan terkejut, juga tiga orang anak yang sedang berlutut terkejut bukan main lalu mereka cepat menoleh. Siong Bu memasuki ruangan itu sambil terengah-engah, wajahnya pucat sekali, matanya terbelalak ketakutan. Hanya Sin Liong yang masih bersikap tenang, bahkan masih berdiri seperti tadi, menghadap jendela, tidak memperdulikan segala yang terjadi, juga tidak memperdulikan apakah dia akan dicambuki lagi ataukah tidak.

“Siong Bu! Ada apa...?” Hok Bow bertanya dengan kaget sekali. Juga tiga orang anak itu sudah bangkit berdiri dan menghampiri Siong Bu dengan kaget dan heran.

“Paman, celaka... mereka datang... dan dia... siluman wanita itu... dia mau membunuh orang... mereka sudah membunuh banyak orang di hutan sana...” Siong Bu berkata dengan gagap dan dia kelihatan amat ketakutan.

Hok Boan mengerutkan alisnya. Dia tidak senang melihat Siong Bu yang disayangnya itu kelihatan begini ketakutan. Tidak patutlah kalau keponakannya, atau lebih tepat lagi muridnya atau anak kandungnya sendiri, puteranya sendiri, bersikap begini penakut!

“Bicaralah yang jelas!” bentaknya dan kini dia sudah melupakan Sin Liong, bahkan dia sudah membuang cambuk rotan itu ke atas lantai. “Apakah yang telah terjadi?”

Beberapa kali Siong Bu menelan ludah untuk menenteramkan hatinya yang terguncang. Memang anak ini tadi menyaksikan sepak terjang wanita cantik dan anak laki-laki yang membunuhi orang seenaknya itu. Setelah agak tenang hatinya karena teringat bahwa dia berada dalam perlindungan ayahnya, Siong Bu lalu berkata, “Di dalam hutan saya melihat seorang wanita yang seperti siluman, sakti dan kejam sekali, bersama seorang anak laki-laki yang seperti bangsawan. Mereka membunuhi orang-orang dan akhirnya mereka menunggang kereta yang amat indah, dikawal oleh belasan orang perajurit, katanya hendak ke sini! Dan wanita itu menyeramkan sekali, paman... dia cantik seperti puteri, akan tetapi kejam seperti iblis...”

Diam-diam Hok Boan terkejut juga, alisnya berkerut. Teringatlah dia akan wanita utusan Raja Sabutai sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, yang muncul ketika dia merayakan pernikahannya dengan isterinya sekarang. Maka tiba-tiba dia bertanya, “Apakah wanita itu membawa salib kayu yang ada tulisannya tiga macam she...?”

“Benar, paman...! She Yap, Tio, dan Cia...! Itulah celakanya, dia bilang mau membunuh semua orang dengan tiga macam she itu dan dia... dia bilang mau datang ke Lembah Naga ini...!”

]Kini yakinlah Hok Boan bahwa memang benar wanita lihai utusan Raja Sabutai itulah yang dimaksudkan oleh Siong Bu. Akan tetapi tentu saja dia tidak merasa khawatir, dan dia berkata sambil menarik napas panjang, menekan kengeriannya membayangkan wanita itu agar terlihat oleh anak-anak itu bahwa dia tidak takut. “Mengapa engkau ketakutan seperti itu? Wanita itu bukanlah musuh kita, dia mencari orang-orang she Yap, Tio, dan Cia. Apakah yang mesti dikhawatirkan? Di sini tidak ada seorangpun yang mempunyai she Yap, Tio, atau Cia. Jangan kau mudah sekali ketakutan, Siong Bu...”

“Tapi, paman, bukankah dia itu she Cia?”

Hok Boan terkejut ketika melihat Siong Bu menudingkan telunjuknya kepada Sin Liong yang masih berdiri di depan jendela. “Apa katamu...?” bentaknya.

“Dia... dia adalah she Cia... maka celakalah kalau wanita itu datang...”

Pada saat itu, terdengarlah suara halus dan nyaring, “Siapakah she Cia...?”

Hok Boan cepat menoleh dan bulu tengkuknya meremang ketika dia melihat wanita itu yang segera dikenalnya. Biarpun sudah lewat sebelas tahun, akan tetapi seolah-olah baru kemarin saja dia melihat wanita ini datang ke dalam ruangan pesta pernikahannya dan membunuhi orang. Tidak ada perubahan sama sekali pada wanita itu, wajahnya masih kelihatan cantik jelita seperti dulu, cantik dan agung, seperti seorang puteri raja, sikapnya dingin, angkuh, dan tahi lalat hitam kecil di dagunya membuatnya nampak makin manis. Masih kelihatan muda belia seperti dulu, padahal dibandingkan dengan kemunculannya yang pertama, tentu uslanya kini sudah bertambah sebelas tahun!

Cepat! Hok Boan melangkah maju dan menjura dengan hormat sekali, lalu tersenyum dan berkata lembut, “Aih, kitanya kouwnio (nona) yang datang mengunjungi kami. Selamat datang, kouwnio, dan mudah-mudahan selama ini kouwnio dalam keadaan baik-baik saja. Silakan masuk dan mari duduk di dalam, kouwnio!”

Akan tetapi, wanita itu seolah-olah tidak mendengar penyambutan yang amat menghormat itu. Sepasang matanya yang jeli dan tajam itu menyambar ke sekeliling, ke arah wajah lima orang anak itu, sejenak menatap wajah Sin Liong karena anak ini juga sudah membalikkan tubuh menghadap dan memandang kepadanya. “Siapakah yang she Cia?” kembali terdengar pertanyaannya, pertanyaan yang singkat, lirih, terdengar satu-satu dan membawa suasana dingin dan tegang sekali karena di dalam suara ini terkandung ancaman maut!

Hok Boan merasa mulutnya kering dan diam-diam dia mengerling ke arah Sin Liong. Baru tadi dia mendengar dari Siong Bu bahwa Sin Liong she Cia, hal ini sungguh amat mengherankan hatinya dan tidak dimengertinya. Akan tetapi tentu saja dia tidak bisa menunjukkan Sin Liong kepada wanita itu bahwa anak itu she Cia karena sekali wanita itu tahu, tanpa banyak cakap lagi tentu Sin Liong akan dibunuhnya. Dan Hok Boan maklum bahwa dia tidak boleh melakukan hal itu. Dia tahu betapa isterinya amat sayang kepada Sin Liong. Biarpun dia agak membenci Sin Liong karena dianggapnya terlalu disayang Si Kwi dan dianggapnya nakal dan bandel, akan tetapi dia tidak ingin melihat anak angkat isterinya itu dibunuh orang begitu saja. Maka dia cepat mengalihkan pandang matanya dari Sin Liong dan memandang kembali kepada wanita itu masih menanti dengan alis berkerut.

“Tidak... tidak ada yang she Cia...” kata Hok Boan sambil menggelengkan kepalanya.

“Hok Boan, berani engkau membohong kepadaku?” Tiba-tiba wanita itu suaranya dingin, amat menyeramkan.

“Tidak..., mana saya berani membohong, kouwnio?”

“Aku sendiri mendengar kalian tadi bicara tentang seorang she Cia di sini. Hayo mengaku, siapa she Cia di antara kalian?”

Sejak tadi Sin Liong diam saja dan hanya memandang dengan matanya yang terbelalak lebar. Dia tidak takut kepada
wanita ini, dan dia tahu bahwa dialah she Cia. Kini dia merasa heran mengapa ayah angkatnya yang membencinya itu tidak mau menyerahkan dia kepada wanita iblis itu. Bukankah wanita ini yang tadi diceritakan oleh Siong Bu dan yang hendak membunuh semua orang she Yap, Tio dan Cia? Kenapa ayah angkatnya tidak mau mengaku terus terang saja agar dia dibunuh oleh wanita itu? Dan dia melirik ke arah Siong Bu. Juga anak ini sama sekali tidak membuka mulut!

Hayo katakan, kalau tidak, akan kusiksa kalian seorang demi seorang!” Wanita itu kembali melayangkan pandang matanya, dari Hok Boan yang pucat mukanya sampai kepada semua anak yang tertunduk dan ketakutan. Hanya Sin Liong seorang yang berdiri dengan tegak, memandangnya dengan penuh keberanian. Kim Hong Liu-nio merasa heran dan mengerutkan alisnya, hatinya tidak senang dan tidak puas melihat seorang anak laki-laki yang tidak kelihatan takut kepadanya! Padahal anak inilah yang tadi dirangket oleh Hok Boan, dicambuki dan sedikitpun anak itu tadi tidak mengeluh, padahal dari baju anak itu dapat dilihat bahwa punggungnya pecah-pecah kulitnya dan berdarah! Lalu dia menoleh kepada Siong Bu yang tertunduk dan matanya melirik ke arah pamannya. Melihat wajah anak ini tampan dan mirip dengan wajah Hok Boan, Kim Hong Liu-nio mendapatkah skal.

“Hayo katakan, kalau tidak, anak ini akan kusiksa lebih dulu!” katanya sambil menghampiri Siong Bu. Anak laki-laki yang tadinya memang sudah merasa ngeri dan ketakutan menyaksikan sepak terjang wanita iblis ini, kini menggigil kedua kakinya den mukanya menjadi pucat sekali.

“Bukankah engkau tadi yang bilang tentang orang she Cia? Hayo katakan, di mana dia, kalau tidak, telingamu ini akan kucabut putus!” Berkata demikian, Kim Hong Liu-nio mencubit telinga kiri Siong Bu. Anak itu makin ketakutan dan menggeleng-geleng kepala tak mampu mengeluarkan suara. Diam-diam Sin Liong merasa makin heran den juga terharu. Biasanya, Siong Bu begitu kasar dan jahat terhadap dirinya, dianggap selalu memusuhinya, akan tetapi mengapa sekarang, biarpun diancam secara hebat, Siong Bu tidak mau mencelakainya dengan menunjukkan she-nya kepada wanita iblis itu? Dia tidak tahu bahwa dalam batin Siong Bu juga terdapat benih kegagahan yang tidak mau berbuat khianat!

“Harap jangan ganggu dia...!” Tiba-tiba Hok Boan berseru dan melangkah maju menghampiri wanita itu.

Kim Hong Liu-nio melepaskan Siong Bu, lalu membalikkan tubuhnya dengan perlahan, tersenyum dan mengangguk-angguk kepada Hok Boan. “Hemmm, jadi engkau berani menentangku, ya?
Kaukira sukar bagiku untuk membasmi kalian sekeluarga kalau aku menghendaki? Kalau aku membunuh anak ini, kau mau apa?”

“Kouwnio, harap jangan mengganggu kami sekeluarga. Percayalah, kami tidak mempunyai hubungan dengan musuh-musuhmu...”

“Kalau aku tetap hendak mengganggu keluargamu, kau mau apa, Kui Hok Boan?”
Hok Boan adalah orang yang biasanya amat mengandalkan kepandaian sendiri, bahkan biasanya dia memandang rendah orang lain karena percaya bahwa ilmu kepandaiannya sudah tinggi dan jarang menemui tanding. Biarpun dia tahu bahwa wanita ini amat lihai dan mungkin sekali dia tidak akan mampu menandinginya, akan tetapi karena dia didesak dan diejek terus, ditantang secara terang-terangan seperti itu, mukanya yang pucat tadi kini perlahan-lahan berubah memerah.

“Apa yang akan dilakukan orang kalau keluarganya diganggu? Tentu saja dia akan melawan sedapatnya!” katanya dengan sikap gagah, dan dadanya agak diangkat sedikit.

“Bagus! Sudah lama aku mendengar bahwa ilmu silat yang kauwarisi dari Go-bi-pai itu amat lihai. Nah, coba kauhadapi seranganku, apakah engkau dapat bertahan sampai sepuluh jurus?”

“Kouwnio, kami menyambut kedatangan kouwnio sebagai tamu yang kami hormati, dan saya sama sekali tidak hendak bermusuhan dengan kouwnio...”

“Cukup! Kau lekas katakan siapa orang she Cia itu atau kau harus menghadapi aku sampai sepuluh jurus!”

Melihat sikap wanita itu yang mendesak pamannya, Beng Sin diam-diam lalu merangkak ke pintu, hendak lari keluar dan melapor kepada bibinya. Dia tahu bahwa bibinya juga lihai, kabarnya tidak kalah lihai daripada pamannya, maka kalau bibinya itu membantu pamannya dan mereka berdua maju menghadapi wanita iblis ini, agaknya tidak akan kalah.

“Ke mana kau?” Tiba-tiba wanita itu membentak, tangannya bergerak ke arah pintu dan... aneh sekali, tanpa disentuh, tubuh Beng Sin yang gemuk itu terjengkang seperti ditarik dan bergulingan masuk kembali ke dalam ruangan itu. Melihat ini, terdengar Lan Lan dan Lin Lin menjerit. Akan tetapi ternyata Beng Sin hanya kaget saja dan sedikit sakit karena terbanting, selain itu dia tidak terluka apapun.

“Kouwnio, engkau terlalu mendesak orang!” Hok Boan berseru marah melihat keponakannya, yang sebetulnya juga puteranya, yang gemuk itu dirobohkan, maka dia lalu menerjang dengan kepalan tangannya, menyerang wanita itu.

“Hemm, ini adalah Hek-wan-hian-ko... (Lutung Hitam Memberi Buah) dari Go-bi-pai, bukan? Tidak terlalu jelek... tidak terlalu jelek...” Kim Hong Liu-nio berkata sambil melangkah mundur dan menangkis serangan itu. Hok Boan terkejut karena baru saja bergerak ternyata lawan telah dapat mengenal jurus ilmu silatnya, akan tetapi karena memang dia dapat menduga wanita ini lihai sekali, dia tidak perduli dan menyerang terus dengan jurus selanjutnya. Dan karena tahu lawan lihai sekali, diapun segera mengeluarkan jurus-jurus pukulan yang paling ampuh.

“Ehh? Berani kau menggunakan Hok-thian-hok-te (Membalikkan Langit dan Bumi) untuk membunuh aku? Hemm, kau harus dihajar!”

Memang Hok Boan telah menggunakan ilmu silat yang ampuh dari Go-bi-pai itu untuk menghadapi lawan tangguh ini. Akan tetapi, kembali lawannya telah mengenal ilmunya dan tiba-tiba, ketika kedua tangannya memukul ke arah kepala dan ke arah pusar dengan berbareng secara hebat sekali, dia merasa kedua tangannya itu bertemu dengan hawa pukulan yang merupakan benteng yang menghentikan gerakannya, dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, wanita itu telah menampar punggungnya dari samping.

“Plakk!”

“Aughh...!” Hok Boan terguling roboh dan dari mulutnya dia muntahkan darah segar!

“Berani kau melukai suamiku?” Teriakan ini keluar dari mulut Si Kwi yang baru saja datang. Si Kwi tadinya berada di dalam kamarnya, karena dia masih mendongkol sehabis cekcok sedikit dengan suaminya. Dia tahu bahwa Sin Liong tentu akan dihajar, akan tetapi diapun tidak mau sampai bentrok dengan suaminya hanya demi anak itu, dan memang dia juga tahu bahwa Sin Liong keras kepala dan bandel, mungkin perlu diberi sedikit hajaran pula. Maka dia diam saja di dalam kamarnya. Akan tetapi ketika tiba-tiba dia mendengar jerit Lan Lan dan Lin Lin, dia terkejut dan cepat melompat keluar sambil membawa pedangnya. Jerit dua orang anak perempuan yang terdengar oleh ibu mereka itu adalah ketika mereka melihat Beng Sin dirobohkan oleh wanita tadi.

Ketika Si Kwi memasuki ruangan itu dan melihat Kim Hong Liu-nio, dia terkejut dan segera mengenal wanita itu karena wanita itu memang sama sekali tidak berubah semenjak dilihatnya untuk pertama kali sebelas tahun yang lalu. Akan tetapi ketika dia melihat wanita itu merobohkan Hok Boan, Si Kwi menjadi marah sekali. Tidak perduli wanita itu utusan Raja Sabutai, kalau kini mengganggu keluarganya, harus dilawannya. Maka dia sudah membentak marah dan menerjang wanita itu dengan pedangnya!

Ilmu pedang dari Si Kwi amat hebat. Dahulu dia adalah seorang ahli menggunakan siang-kiam, yaitu sepasang pedang. Akan tetapi, sejak tangan kirinya buntung, dia hanya mempergunakan pedang tunggal, akan tetapi dengan menguasai Ilmu Im-yang Lian-hoan-kun maka dia dapat memainkan pedang tunggalnya secara hebat. Apalagi karena Si Kwi terkenal dengan gin-kangnya sehingga dahulu dia pernah mendapat julukan Ang-yan-cu (Si Walet Merah) karena gerakannya yang amat cepat seperti walet terbang dan kegemarannya mengenakan pakaian merah. Maka kini serangannya terhadap Kim Hong Liu-nio juga hebat sekali.

Namun, wanita cantik itu menghadapi serangan ini dengan sikap tenang bahkan mulutnya berkata mengejek, “Hemm, ilmu pedang apa ini yang kaupergunakan?” Dengan amat mudahnya, Kim Hong Liu-nio mengelak. Akan tetapi ilmu pedang dan gerakan Si Kwi luar biasa cepatnya, tahu-tahu sinar pedangnya sudah menyambar lagi ke arah leher lawan dengan kecepatan tinggi.

“Bagus! Kiranya diambil dari Im-yang Lian-hoan-kun, ya?”

Wanita cantik itu tidak mengelak dari sambaran pedang yang mengancam lehernya, melainkan mengangkat sedikit tangan kirinya.

“Cringgg...!” Tubuh Si Kwi tergetar dan terhuyung mundur. Pedangnya hampir saja terlepas dari pegangannya ketika tadi tertangkis oleh lengan wanita itu, lengan kiri yang memakai gelang emas kecil-kecil belasan buah banyaknya. Gelang-gelang kecil inilah yang tadi menangkis pedang dan membuat Si Kwi terhuyung. Bukan main!

Maklum bahwa dia bukan tandingan wanita itu, melihat bahwa suaminya sudah tidak lagi mengalami luka parah, hatinya lega dan diapun menghentikan serangannya.

“Kenapa kau menyerang suamiku?” demikian tanyanya sebagai pembelaan diri telah berani menyerang wanita itu. Dia teringat bahwa wanita ini adalah utusan Raja Sabutai, maka kalau saja tidak melihat wanita itu tadi merobohkan suaminya, dia akan berpikir panjang lebih dulu sebelum berani menyerangnya.

“Kouwnio, harap kouwnio suka memaafkan kami dan harap jangan mengganggu kami sekeluarga yang tidak mempunyai kesalahan terhadap kouwnio,” kini Hok Boan berkata karena dia maklum bahwa dia dan isterinya sama sekali tidak akan mampu menghadapi wanita ini. Pula, memusuhi utusan Raja Sabutai sama saja dengan membunuh diri karena mereka berada di daerah kekuasaan raja liar itu. Maka lebih baik mengalah dan melupakan penghinaan tadi, bersikap merendah.

Kim Hong Liu-nio kembali memandangi mereka itu satu demi satu dengan sinar matanya yang tajam dan dingin mengerikan. Lalu katanya, seperti tadi, lirih dan satu-satu namun penuh desakan dan ancaman, “Siapakah orang she Cia?”

Si Kwi terkejut mendengar pertanyaan ini.

“Orang she... Cia...? Apa maksudmu dengan pertanyaan itu, kouwnio?” tanyanya dengan wajah berubah pucat.

Kim Hong Liu-nio memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh selidik, sinar mata yang seolah-olah hendak menjenguk ke dalam isi hati wanita itu. “Nyonya buntung, siapakah orang she Cia di sini?” tanyanya, suaranya penuh ancaman.
Dalam keadaan biasa, tentu Si Kwi akan marah disebut nyonya buntung. Akan tetapi pada saat itu, disebutnya she Cia membuat jantungnya berdebar tegang sehingga dia tidak memperdulikan sebutan itu. “Aku tidak tahu, di sini tidak ada yang she Cia!” jawabnya tegas.

Sejenak Kim Hong Liu-nio beradu pandang dengan Si Kwi, kemudian wanita cantik itu menoleh kepada Kui Hok Boan, dengan suara seperti tadi, suara yang menyeramkan itu, dia mengajukan pertanyaannya kepada sasterawan itu, “Siapakah orang she Cia di sini?”

Hok Boan cepat menggeleng kepalanya. “Tidak ada... tidak ada yang she Cia!” jawabnya dengan suara tegas pula.

Juga kepada laki-laki ini, Kim Hong Liu-nio memandang dengan tajam. Kemudian dia menoleh kepada Lan Lan yang memandangnya dengan mata terbelalak. “Adik manis, siapakah orang she Cia di sini?”

Lan Lan menjawab sambil menggeleng kepala, suaranya tidak jelas, “Tidak tahu... tidak ada she Cia...”

Kim Hong Liu-nio berpaling kepada Lin Lin, yang menundukkan muka. “Dan kau, nona cilik, tahukah kau siapa orang she Cia di sini?”

Lin Lin mengangkat muka memandang wanita itu, lalu menunduk kembali dan menjawab, “Tidak tahu, tidak ada she Cia.”

Kim Hong Liu-nio terus memutar tubuhnya. Di samping Lin Lin berdiri Sin Liong akan tetapi dia tidak bertanya kepada anak itu. Percuma saja, pikirnya, dan anak ini agaknya tidak disayang oleh suami isteri itu maka tidak ada harganya bagi dia. Dipandangnya Beng Sin dan bertanyalah dia kembali, “Kau, bocah gemuk. Siapa orang she Cia di sini?”

“Tidak tahu! Tidak tahu! Tidak ada orang she Cia!” Beng Sin menjawab gagap dan tegas, lalu menundukkan mukanya.

Kini tiba giliran Siong Bu, Sin Liong yang sejak tadi terus mengikuti gerak-gerik wanita itu, kini ikut pula memandang kepada Siong Bu dan jantungnya berdebar penuh dugaan ketika mendengar wanita itu bertanya. “Sekarang engkau, yang tadi kudengar suaramu, hayo katakan siapakah orang she Cia di sini?”

Siong Bu mengangkat muka memandang, lalu menoleh kepada yang lain, akan tetapi dia melewati muka Sin Liong, lalu menggeleng kepala, “Aku tidak tahu. Di sini tidak ada orang she Cia!” Setelah berkata demikian, cepat dia menundukkan muka pula agar jangan sampai menoleh kepada Sin Liong. Kembali Sin Liong merasa terharu. Baru sekarang dia melihat kenyataan bahwa betapapun juga, keluarga ini tidak rela melihat dia terancam bahaya maut dan hal ini mendatangkan perasaan sedemikian gembira dan lega di dalam dadanya sehingga dia agak tersenyum dan wajahnya berseri-seri, rasa nyeri di punggungnya lenyap tak terasakan lagi!

Keadaan menjadi makin menegangkan dan Hok Boan bersama isterinya sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan kalau-kalau wanita itu akan memperlihatkan kemarahan dan kekecewaannya karena semua keluarga itu menjawab tidak tahu. Akan tetapi, wanita cantik itu tersenyum! Tersenyum manis sekali, senyum yang amat mengherankan hati Hok Boan akan tetapi membuat bulu tengkuk Si Kwi meremang karena dia yang sejak dahulu sudah biasa bergaul dengan tokoh-tokoh golongan sesat yang berwatak aneh-aneh, sudah mengerti senyum yang mengerikan ini. Manis memang, mungkin memikat bagi hati pria, akan tetapi di balik senyum itu terkandung ancaman maut mengerikan.

Senyum itu melebar sehingga nampak sekilas pandang gigi putih kemilau di balik belahan bibir merah basah itu, lalu bibir itu bergerak-gerak dan berkatalah dia, “Bagus sekali, agaknya memang harus ada seorang di antara kalian yang disiksa, baru kalian mau mengaku. Baik, anak manis ini tidak akan menjadi manis lagi kalau ujung hidungnya kupotong...!” Cepat bagaikan kilat, tahu-tahu tangannya telah mencengkeram pundak Lan Lan dan diangkatnya tubuh anak itu ke atas. Lan Lan menjerit, Si Kwi dan Lin Lin juga menjerit.

“Akulah orang she Cia!” Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan keras.

Semua orang terbelalak dan memandang kepada Sin Liong yang mengeluarkan kata-kata itu dengan suara lantang tadi. Anak ini berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, dada diangkat dan sepasang matanya memandang wajah Kim Hong Liu-nio dengan penuh kemarahan.

“Lepaskan dia, jangan ganggu orang-orang yang tidak bersalah. Akulah orang she Cia yang kaucari-cari!”

Perlahan-lahan tangan yang mencengkeraman pundak Lan Lan itu mengendur sehingga tubuh Lan Lan terlepas dan terhuyung. Anak perempuan ini terisak dan cepat dirangkul ibunya. Kim Hong Liu-nio kini memandang kepada Sin Liong lengan mata bersinar-sinar seperti kilat, penuh keheranan, kekagetan, dan juga kekaguman. Anak ini memang bukan anak biasa, pikirnya, ngeri juga menentang pandang mata yang mencorong seperti mata anak naga itu.

“Liong-ji...!” Si Kwi berkata lirih dengan muka pucat sekali. Timbul niat di dalam hatinya untuk melindungi anak itu, anak kandungnya sendiri itu, dengan taruhan nyawa.

Sin Liong menoleh kepada Si Kwi dan agaknya dia maklum akan niat dari ibu angkatnya itu. Dia masih kecil akan tetapi dia tahu bahwa wanita iblis itu lihai bukan main dan baik ibu angkatnya maupun ayah angkatnya bukanlah tandingan wanita itu. “Ibu, harap jangan mencampuri. Ibu hanyalah ibu angkatku, tidak perlu mempertaruhkan nyawa untuk aku.” Setelah berkata demikian, dia lalu melangkah maju menghampiri Kim Hong Liu-nio dengan sikap gagah sekali sehingga Si Kwi terbelalak dan tengkuknya meremang karena sikap Sin Liong itu membuat dia teringat kepada Cia Bun Houw. Anak ini benar-benar Cia Bun Houw kecil! Sinar matanya itu, keberaniannya, dan kegagahannya! Juga Kim Hong Liu-nio menjadi tertegun sehingga dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya terhadap anak kecil yang mengaku she Cia dan amat pemberani itu. Dan anak ini tadi dihajar oleh Kui Hok Boan, sedikitpun tidak mengeluh, bahkan dimintakan ampun oleh anak-anak lain!

“Benarkah engkau she Cia?” Kim Hong Liu-nio bertanya, diam-diam merasa sayang kalau anak ini she Cia dan dia terpaksa harus membunuhnya. Dia kagum melihat keberanian anak ini.

“Seorang gagah tidak akan mengingkari perbuatannya dan aku melihat bahwa engkau adalah seorang wanita yang berkepandaian tinggi sehingga ibu dan ayah angkatku sendiri tidak mampu menandingimu!” Sin Liong berkata dengan lantang, membuat ayah dan ibu angkatnya benar-benar merasa terkejut karena biasanya Sin Liong pendiam dan tidak banyak bicara. “Maka engkau tentu mau mengatakan pula mengapa engkau mencari orang she Cia?”

“Akan kubunuh! Semua orang she Cia harus kubunuh!” jawab Kim Hong Liu-nio.

“Mengapa? Apa salahnya orang-orang she Cia?” tanya pula Sin Liong.

“Anak kecil mau mampus kau tahu apa! Bersiaplah untuk mampus!”

“Membunuh seorang anak kecil seperti aku tentu saja mudah bagimu dan perbuatanmu itu tidak akan mengharumkan namamu. Kau membunuh aku sama dengan aku membunuh seekor semut, perbuatan itu mana dapat dibanggakan? Kalau kau memang gagah berani, hayo kauhadapi ayahku dan juga she Cia, barulah seimbang!”

“Monyet kecil, siapa ayahmu?” Kim Hong Liu-nio membentak marah. Dia tidak tahu bahwa Sin Liong paling benci kalau dimaki monyet kecil, karena memang dia suka bergaul dengan monyet, akan tetapi dia tahu bahwa dia manusia bukan monyet. Mendengar makian itu, dia melotot dan balas memaki. “Dan kau srigala betina besar! Kau mau tahu ayahku? Ayahku adalah pendekar paling hebat di dunia ini dan kalau kau bertemu dengan ayahku, tentu dia tidak akan memberi ampun kepada srigala betina yang kejam seperti engkau ini!”

Kim Hong Liu-nio hampir tak dapat menahan kemarahannya. Sinar merah menyambar dan terdengar bunyi “prakk!” ternyata meja di dekat Sin Liong hancur berkeping-keping terkena sambaran sinar merah itu yang bukan lain hanyalah ujung sabuk merah dari sutera yang diikatkan di pinggang wanita itu dan yang ujungnya masih berjuntai panjang. Hanya menggunakan ujung sabuk merah saja mampu menghancurkan meja batu, kepandaian ini benar-benar membuat Si Kwi dan Hok Boan menjadi pucat dan tubuh mereka mengeluarkan keringat dingin.

“Liong-ji, jangan banyak bicara!” Si Kwi memperingatkan anaknya.

“Bocah bermulut lancang! Kau layak mampus seribu kali, akan tetapi sebelum mampus, katakan dulu siapa ayahmu dan di mana dia!”

“Huh, karena berada di sini maka kau enak saja mengancam hendak membunuh aku, coba kalau ada ayah, mengganggu seujung rambutkupun engkau takkan mampu. Aku menantangmu untuk bertanding dengan ayahku, dan kalau ayah sampai kalah olehmu, biarlah tanpa kau turun tangan, aku akan menggorok leherku sendiri di depanmu. Kalau engkau sekarang membunuh aku tanpa berani memenuhi tantanganku, maka engkau ini tidak ada bedanya dengan seekor srigala pemakan bangkai yang beraninya hanya menyerang bangkai, dan kau beranimu hanya mengganggu orang-orang lemah seperti anak-anak kecil. Huh, sungguh memalukan sekali!”

“Liong-ji...!” Si Kwi mengeluh. Anak itu seperti bunuh diri saja, berani bicara seperti itu di depan wanita ini! Dan Kim Hong Liu-nio sendiri sampai tercengang, seolah-olah dia tidak percaya apa yang didengarnya. Selama hidupnya, belum pernah ada orang berani bicara seperti itu kepadanya, bahkan Sri Baginda Sabutai sendiri tidak pernah menghinanya seperti itu. Saking herannya, dia sampai lupa akan kemarahannya, atau mungkin juga saking marahnya, dia sampai tidak tahu lagi harus berbuat apa!

“Katakan siapa ayahmu, anak setan! Kalau aku tidak dapat membunuh ayahmu dan nenek moyangmu, aku tidak mau mmakai nama Kim Hong Liu-nio lagi!” Wanita itu akhirnya menjerit seperti seorang anak perempuan yang digoda sampai mengkal sekali hatinya dan Kim Hong Liu-nio juga sampai lupa diri, dia membanting kakinya ke atas lantai, seperti anak perempuan sedang berang.

“Bres!” Kaki wanita itu kecil mungil, akan tetapi begitu dibantingnya di atas lantai dengan pengerahan sin-kang, kaki itu amblas sampai hampir selutut dalamnya! Kembali Si Kwi dan Hok Boan menelan ludah. Bahkan Siong Bu dan Beng Sin terang-terangdn mengulurkan lidah mereka saking heran, kaget dan kagum. Kepandaian wanita itu benar-benar seperti sliuman!

“Ayahku adalah pendekar sakti Cia Bun Houw, putera dari ketua Cin-ling-pai kalau kau mau tahu!” Kata Sin Liong sambil mengangkat dada, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar. Dia maklum bahwa di tangan wanita iblis ini, ayah dan ibu angkatnya tidak mungkin akan dapat menyelamatkannya, maka dia hendak menghadapi kematian dengan gagah dan mengangkat tinggi-tinggi nama ayahnya yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya itu.

“Ahhhhh...!” Seruan ini bukan hanya terdengar dari mulut Kim Hong Liu-nio, akan tetapi juga dari mulut Kui Hok Boan yang menjadi kaget setengah mati dan terheran-heran bukan main mendengar pengakuan Sin Liong. Tentu saja dia sudah mendengar nama pendekar sakti Cia Bun How, dan membayangkan betapa bocah ini yang tadinya dikenal sebagai anak peliharaan monyet mengaku putera Cia Bun Houw, meremang bulu tengkuknya.

“Bohong!” Kim Hong Liu-nio berseru. “Macam engkau ini anak Cia Bun Houw? Huh, siapa percaya omonganmu? Jangan kira engkau akan boleh menakut-nakuti orang dengan nama Cia Bun Houw yang kauakui sebagai ayahmu!”

Sin Liong melangkah maju menghadapi wanita itu dengan kedua tangan bertolak pinggang, sikapnya sungguh penuh keberanian. “Dan kau bilang bohong untuk menutupi rasa takutmu! Aku adalah Cia Sin Liong, anak kandung dari Cia Bun Houw! Engkau mau percaya atau tidak adalah urusanmu, akan tetapi aku menantangmu untuk melawan ayah kandungku itu! Sekarang, mau bunuh, mau siksa, mau bakar, kau orang dewasa boleh berlaku sesuka hatimu terhadap anak kecil seperti aku. Akan tetapi awas, aku mati penasaran dan rohku akan selalu mengejar-ngejarmu sampai kau berani berhadapan dengan ayahku. Rohku baru tidak akan penasaran kalau kau sudah menggelinding mampus di depan kaki ayahku!”

Diam-diam Kim Hong Liu-nio merasa curiga dan ragu-ragu. Kalau benar anak Cia Bun Houw, sungguh mengherankan mengapa bisa berada di Lembah Naga? Bukankah anak ini katanya menjadi anak angkat Kui Hok Boan? Akan tetapi melihat sikapnya, anak ini jelas bukan anak sembarangan, dan memang ada pantasnya kalau menjadi anak seorang yang luar biasa. Membunuh anak ini memang mudah, akan tetapi hatinya akan selalu merasa penasaran, dan memang seperti dikatakan anak ini tadi, membunuh anak ini sama sekali bukan hal yang dapat dibanggakan, bahkan menodai nama besarnya sebagai seorang gagah perkasa. Tangan kirinya sudah diangkat, siap untuk mengeluarkan tamparan maut, akan tetapi tangan itu turun kembali. Bohwat (kehabisan akal) juga dia menghadapi anak yang luar biasa ini. Akan tetapi dia teringat akan sesuatu, lalu dia mengambil keputusan untuk menyelidiki keadaan anak ini sampai dia yakin betul sebelum dia turun tangan.

“Eh, anak setan! Kalau benar engkau putera Cia Bun Houw seperti yang kau akui itu, katakan siapa ibumu!” Kim Hong Liu-nio mendengar bahwa musuh besar utama gurunya itu, yaitu musuh utama yang bernama Cia Bun Houw, berjodoh dengan seorang pendekar wanita sakti yang menjadi musuh besar gurunya pula, yaitu yang bernama Yap In Hong. Akan tetapi dia tidak tahu apakah mereka itu terus menjadi suami isteri ataukah tidak karena kabarnya belum pernah mereka itu menikah, atau belum pernah pernikahan antara mereka itu dirayakan karena pernikahan mereke itu tidak direstui oleh ayah pendekar Cia Bun Houw itu.

Akan tetapi jawaban Sin Liong benar-benar mengejutkan Kim Hong Liu-nio. Anak itu dengan suara lantang berkata, “Aku tidak tahu siapa nama ibuku, akan tetapi ibu kandungku itu meninggal dunia dan dia juga seorang pendekar wanita yang sakti karena dia dahulu adalah murid mendiang Hek I Siankouw.”

“Ahhh...!” Sekali ini Kim Hong Liu-nio berseru kaget dan memandang kepada Si Kwi dengan mata terbelalak lebar. Wanita yang biasanya bersikap dingin dan angkuh itu sekali ini tidak mampu menyembunyikan perasaan herannya sehingga dia memandang bengong kepada Si Kwi seperti seorang yang tolol.

Si Kwi menundukkan mukanya dan seperti kepada diri sendiri dia berbisik-bisik tanpa ada suara keluar dari mulutnya. Kim Hong Liu-nio masih tetap menatap wajah Si Kwi dan tanpa mengalihkan pandang matanya, akan tetapi dia menujukan pertanyaannya kepada Sin Liong.

“Anak setan, kau bohong! Bagaimana kau tahu akan semua itu? Siapa yang memberi tahu kepadamu?”

“Kau berani bilang bohong? Yang memberi tahu kepadaku adalah ibu angkatku sendiri! Jangan menuduh yang bukan-bukan, kalau kau takut terhadap ayahku, katakanlah saja terus terang!”

Kini wanita itu melangkah maju menghadapi Si Kwi dan terdengar suaranya aneh sekali, agaknya seperti orang terheran-heran, “Liong Si Kwi, benarkah itu?”

Si Kwi menundukkan mukanya dan muka itu kini menjadi merah sekali. Dengan suara lirih dia berkata, “Benar... ibu kandungnya... sudah mati...”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring sekali dan Hok Boan bersama anak-anaknya yang berada di situ terkejut bukan main. Wanita itu kini tertawa, suara ketawanya aneh, merdu dan nyaring akan tetapi mendekati suara tangis! Wanita itu agaknya geli bukan main, tertawa-tawa sampai ada beberapa butir air mata membasahi pipinya dan dia masih tertawa seperti orang terisak ketika dia menggunakan ujung sabuk merah menghapus air matanya!

“Hi-hi-hik, Liong Si Kwi, kaukira rahasia busuk bisa ditutupi selamanya? Jadi, ketika engkau berjina dengan Cia Bun Houw dahulu itu, sampai tangan kirimu dibuntungi sebagai hukuman, ternyata hasilnya adalah bocah ini? Ah, kiranya engkau melahirkan keturunan Cia Bun Houw!”

“Ehhh...?” Kui Hok Boan terkejut bukan main. Rahasia itu sama sekali tidak pernah didengarnya dari isterinya, maka diapun memandang kepada isterinya dengan mata terbelalak.

Liong Si Kwi merasa bahwa dia tidak perlu menyangkal pula karena rahasia itu telah terbuka oleh pengakuan Sin Liong tadi. Pengakuan anak itu tentu tidak akan membuka rahasianya kalau didengar corang lain. Akan tetapi wanita ini adalah utusan Raja Sabutai, tentu saja telah mendengar akan semua peristiwa yang dialaminya belasan tahun yang lalu di Lembah Naga, ketika Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li menawan pendekar sakti Cia Bun Houw (baca cerita Dewi Maut). Mukanya menjadi merah dan karena sudah kepalang bahwa rahasianya telah diketahui orang, dia lalu berkata, “Benar, anak ini adalah anak kandungku dari pendekar sakti Cia Bun Houw!”

“Ibu...!” Sin Liong berseru, akan tetapi pada saat itu nampak segulung sinar merah berkelebat dan Sin Liong terguling roboh ketika dia hendak lari kepada ibunya, karena dia telah terdorong oleh sambaran ujung sabuk yang menyentuh pundaknya. Agaknya wanita itu tidak bermaksud membunuhnya, maka sentuhan ujung sabuk merah itu hanya membuat anak itu terguling. Lalu kelihatan asap mengepul dan ternyata wanita itu telah menyalakan sebatang hio (dupa biting) dan mengangkat kayu salib ke atas kepalanya.

“Liong Si Kwi, karena engkau telah melahirkan anak ketutunan Cia Bun Houw, maka engkau terhitung keluarga dari Cia Bun Houw, maka bersiaplah engkau untuk menebus dendam guruku, Hek-hiat Mo-li dengan nyawamu!”

“Tidak...! Jangan...!” Kui Hok Boan berteriak dan menerjang ke depan, akan tetapi kembali sinar merah berkelebat dan saterawan itu terpelanting.

Si Kwi maklum bahwa percuma saja mencoba untuk menyelamatkan dirinya dengan kata-kata terhadap wanita iblis ini, juga melarikan diri tidak akan ada gunanya, maka karena dia masih memegang pedangnya, dia lalu berteriak nyaring dan tiba-tiba saja tangan kanan yang memegang pedang itu bergerak menyerang dengan tusukan kilat ke arah dada wanita yang menyeramkan itu.

“Bagus, dengan begini kau patut mati sebagai keluarga Cia!” kata Kim Hong Liu-nio dengan suara girang sekali karena memang dia akan merasa terhina dan kecewa kalau membunuhi musuh-musuh gurunya tanpa perlawanan, seperti yang dikatakan oleh anak setan tadi. Kalau musuhnya melawan, berarti dia membunuh musuh yang dapat melawan, bukan sebagai srigala yang menggerogoti bangkai!

“Cringgg...!” Kembali pedang itu ditangkis oleh lengan kirinya yang memakai gelang.

“Ihhh...!” Si Kwi menjerit karena tertangkis oleh gelang di lengan wanita itu, dia merasa pergelangan targannya tertotok oleh ujung biting, nyeri sekali rasanya dan tanpa dapat dicegahnya lagi, jari-jari tangannya yang seperti lumpuh sesaat itu melepaskan gagang pedangnya yang jatuh berdenting ke atas lantai! Terdengar wanita itu tertawa, akan tetapi Si Kwi sudah cepat menggerakkan tangannya. Terdengar suara angin bersiutan dan sinar-sinar kecil hitam menyambar ke arah tujuh jalan darah di depan tubuh wanita itu. Itulah Hek-tok-ting (Paku Hitam Beracun), senjata rahasia yang ampuh dari Liong Si Kwi. Setiap paku merupakan ancaman maut dan tujuh batang paku itu menyambar dengan kecepatan yang amat hebat karena dilepaskan dari jarak yang hanya tiga meter jauhnya!

“Hemm...!” Wanita cantik itu benar-benar hebat bukan main. Dia tidak kelihatan gugup sama sekali, bahkan memandang rendah. Tangan kiri yang memegang sebatang hio itu tidak bergerak, akan tetapi tangan kanan yang memegang kayu salib bergerak cepat ke atas dan menyambar ke bawah. Dan ternyata bahwa paku-paku itu semua menancap di atas papan kayu berbentuk salib itu, dan hebatnya, semua paku-paku itu menancap di bagian ujung kayu yang bertuliskan huruf Cia! Wanita itu bukan hanya mampu menangkis semua paku, akan tetapi lebih daripada itu, dia mampu membuat semua paku itu menancap di tempat yang sama, yaitu di ujung yang ditulisi huruf Cia, seolah-olah menjadi tanda bahwa calon korbannya itu adalah keluarga marga atau she Cia!

Bukan main kagetpya hati Si Kwi. Dia tadi mendengar bahwa wanita ini adalah murid Hek-hiat Mo-li, akan tetapi dia yang pernah menyaksikan kesaktian Hek-hiat Mo-li, kini harus mengakui bahwa wanita iblis ini agaknya malah lebih lihai daripada gurunya. Akan tetapi dia telah nekat. Rahasianya telah dibuka dan tentu hal itu akan mempengaruhi hubungan antara dia dan suaminya. Selain itu, dia harus mencoba untuk membela Sin Liong, anak kandungnya sendiri, di samping itu, kini terancam bahaya maut dalam mempertahankan nama Cia Bun Houw, pria pertama yang pernah merebut kasih sayangnya, dia teringat akan pendekar itu dan hatinya dipenuhi oleh perasaan mesra dan bangga karena dia diperbolehkan membela nama pendekar sakti itu sebagai keluarganya! Maka dengan teriakan nyaring dia lalu menubruk ke depan, menggunakan tangannya untuk mencengkeram ke arah kepala lawan, sedangkan tangan kirinya yang buntung itu dipergunakannya untuk menotok ke arah ulu hati!

“ROBOHLAH engkau, ibu dari anak keturunan Cia Bun Houw!” Tiba-tiba Kim Hong Liu-nio membentak dan sinar api kecil meluncur ke depan ketika tubuhnya mencelat mundur. Itu adalah sinar api dupa biting yang masib bernyala dan yang kini melesat ke depan, mcluncur seperti anak panah cepatnya. Si Kwi pernah menyaksikan wanita ini membunuh orang dengan sebatang hio, maka dia terkejut sekali dan berusaha mengelak, namun dia kurang cepat karena dia tadi sedang dalam keadaan menyerang.

“Cuss...!” Dupa biting itu menyambar dahinya dan tepat sekali menusuk di antara kedua alisnya sampai semua gagang hio itu lenyap!

Si Kwi mengeluarkan jeritan lirih dan tubuhnya terjengkang, roboh terlentang dan tewas seketika dengan hio masih menancap di dahinya dan hio itu masih membara, mengeluarkan asap ke atas! Seolah-olah nyawa wanita itu melayang melalui asap yang keluar dari dahinya itu!

Kui Hok Boan terbelalak pucat dan terdengar jerit-jerit memilukan dari Lan Lan, Lin Lin yang menubruk ibu mereka sambil menangis. Terdengar suara gerengan liar seperti seekor monyet marah dan Sin Liong sudah meloncat, loncatan yang dilakukan menurutkan naturinya sebagai binatang, yang diperolehnya dalam pergaulan dengan para monyet, dan dia sudah menubruk ke arah Kim Hong Liu-nio! Wanita ini sedang memandang mayat lawannya dengan senyum penuh kepuasan ketika Sin Liong menubruk. Tentu saja dia tahu akan serangan anak itu dan dia sudah menggerakkan tangan kirinya untuk memapaki kepala anak itu dengan tamparannya. Akan tetapi dia teringat akan maki-makian dan tantangan anak itu tadi, maka dia menahan tangannya karena merasa malu kalau harus membunuh seorang bocah yang sudah berani menantangnya seperti itu. Karena dia menahan tangannya dan karena dia memandang rendah kepada Sin Liong, maka Sin Liong berhasil menubruknya dari belakang dan seperti seekor monyet marah atau seekor harimau kelaparan, Sin Liong mencengkeram dengan kedua tangannya. Tanpa disadarinya, kedua tangan itu memeluk Kim Hong Liu-nio dan kedua tangan itu yang mencengkeram sekenanya telah mencengkeram buah dada wanita itu! Kemudian Sin Liong membuka mulutnya dan menggigit tengkuk!

“Ihhhh...!” Kini Hong Liu-nio menjerit, bukan karena gigitan pada tengkuknya, melainkan karena cengkeraman pada kedua buah dadanya itu. Tiba-tiba dia merasa seluruh tubuhnya menggigil, jantungnya berdebar keras kepalanya menjadi pening! Patut diketahui bahwa Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang masih perawan, yang selama hidupnya belum pernah bersentuhan dengan pria walaupun sudah sering dia mimpi akan hal itu. Kini, merasa betapa tubuhnya dipeluk dan dadanya diraba tangan seorang laki-laki, biarpun laki-laki yang masih anak-anak, dia seperti kemasukan getaran halilintar, tubuhnya menjadi panas dingin dan tak terasa lagi dia menjerit. Akan tetapi, hanya sebentar saja dia dikuasai perasaan aneh itu. Sekali wanita sakti ini menggoyang tubuhnya, Sin Liong terlempar dan terbanting keras ke dinding ruangan itu. Sin Liong roboh dan pingsan!
Kui Hok Boan kini bangkit dan dengan terpincang-pincang dia berdiri menghadang di depan anak-anak itu, khawatir kalau-kalau anak-anaknya akan dibunuh semua oleh wanita iblis itu. Akan tetapi Kim Hong Liu-nio tersenyum dan menggeleng kepala. Kemudian menyimpan kembali kayu salib yang telah dicoretnya satu kali di bawah nama Cia, memasangnya di punggung dan dia lalu memandang kepada Kui Hok Boan.

“Jangan khawatir, karena engkau benar-benar tidak tahu-menahu tentang keluarga Cia, maka biarlah kau dan anak-anakmu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan keluarga Cia, kuampuni. Akan tetapi anak itu akan kubawa dia keturunan musuh besarku!” Kim Hong Liu-nio menuding ke arah tubuh Sin Liong yang masih pingsan.

Kui Hok Boan adalah seorang yang pada dasarnya memang mempunyai watak pengecut, yaitu kalau sudah terancam bahaya maut barulah sifatnya ini menonjol. Tadinya, dia masih berwatak gagah melindungi isterinya dan melindungi pula Sin Liong, akan tetapi kini semua kegagahannya itu luntur dan lenyap dan dia berubah menjadi seorang yang rendah diri. “Terima kasih atas pengampunan kouwnio...” katanya lirih sambil menundukkan mukanya.

“Sekarang dengarlah, Kui Hok Boan. Aku diutus oleh Sri Baginda Sabutai untuk memberi tahu kepadamu bahwa sebelum enam bulan, engkau harus sudah meninggalkan Istana Lembah Naga ini, dan semua penghuni dusun-dusun yang berada di sekitar tempat inipun semua harus pergi. Kalau sudah lewat enam bulan dan masih ada orang yang berada di sekitar sini, jangan salahkan kami kalau kami akan membunuhnya. Mengertikah kau?”

Kui Hok Boan terkejut sekali dan cepat dia mengangguk-angguk. “Baik... baik... akan saya taati...”

Melihat betapa Kui Hok Boan yang tadi gagah seperti harimau kini menjadi jinak seperti domba, padahal mayat isterinya masih hangat rebah di depannya, Kim Hong Lim-nio mengeluarkan suara mengejek, “Huh!” Lalu dia membalikkan tubuhnyap menyambar lengan Sin Liong yang diseretnya dan dibawanya keluar dari ruangan itu, tanpa menoleh sedikitpun ke belakang lagi.

“Sin Liong...!” Tiba-tiba Lin Lin menjerit dan bangkit berdiri, hendak lari mengejar agaknya.

“Lin Lin...!” Hok Boan membentak dan cepat dia menyambar lengan anaknya.

Kim Hong Liu-nio berhenti melangkah ketika sampai di pintu, menoleh dan melihat betapa empat orang anak-anak itu memandang ke arah Sin Liong sambil menangis. Maka berkatalah dia, “0rang she Kui, empat orang anak itu jauh lebih baik daripada engkau!” Lalu sekali berkelebat lenyaplah bayangan wanita itu dari situ.

Maka terdengarlah tangis dan ratap di dalam ruangan itu, dan tak lama kemudian, ratap tangis itu makin riuh ketika para pelayan melihat bahwa nyonya majikan mereka telah tewas. Istana Lembah Naga diliputi suasana berkabung. Lan Lan dan Lin Lin menangis tiada hentinya, dan Kui Hok Boan termenung dengan penuh penyesalan. Baru terhadap Si Kwi dia benar-benar pernah mencinta dan setelah menikah dengan Si Kwi, sifatnya yang mata keranjang menjadi reda. Akan tetapi kini Si Kwi telah tewas dan meninggalkan dia seorang diri bersama empat orang anak! Akan tetapi, kemudian dia teringat bahwa biarpun dia harus pindah dari Lembah Naga, dan dia memang bermaksud kembali ke selatan, namun dia telah menemukan harta karun dan kini telah menjadi seorang yang kaya raya, maka dia tidak merasa khawatir. Hanya sedikit kebimbangan mengganggu hatinya. Di selatan dia mempunyai banyak musuh!

***




Jeng-hwa-pang sekarang jauh berbeda dengan Jeng-hwa-pang belasan tahun yang lalu ketika perkumpulan itu dipimpin oleh Jeng-hwa Sian-jin. Dahulu, perkumpulan itu tidak sehebat sekarang ini, setelah Jeng-hwa Sian-jin meninggal dan perkumpulan itu dipimpin dan dibangun kembali oleh muridnya. Kalau Jeng-hwa Sian-jin sebagai bekas tokoh-tokoh Pek-lian-kauw selain berilmu silat tinggi juga ahli dalam ilmu sihir, maka muridnya ini yang menuruni kepandalan ilmu silatnya tanpa menuruni ilmu sihirnya, ternyata memiliki keahlian lain yang bahkan melebihi mendiang gurunya, yaitu dalam hal ilmu tentang racun.

Jeng-hwa-pang sendiri mendapatkan namanya dari julukan Jeng-hwa Sian-jin, dan kakek itu dijuluki Jeng-hwa Sian-jin karena dia telah menemukan kembang hijau yang hanya bisa ditemukan orang di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Himalaya. Kembang hijau ini mengandung racun yang amat hebat, yang boleh dibilang rajanya kembang-kembang beracun. Akan tetapi, kalau Jeng-hwa Sian-jin mempergunakan khasiat kembang mujijat itu untuk melatih dan memperdalam ilmu sihirnya, sebaliknya muridnya itu mempergunakan kembang hijau itu untuk memperdalam ilmu tentang racun-racun! Maka kini terkenallah perkumpulan Jeng-hwa-pang sebagai perkumpulan orang-orang yang ahli dalam mempergunakan racun sehingga tentu saja amat ditakuti oleh golongan lain.

Akan tetapi, ketika Kaisar Ceng Tung memperoleh kembali tahta kerajaannya yang tadinya diserahkan kepada adiknya ketika dia menjadi tawanan Raja Sabutai (baca cerita Dewi Maut), kaisar ini telah mengerahkan orang-orang pandai, mempergunakan tangan besi untuk menekan dan mengendalikan perkumpulan-perkumpulan golongan hitam yang suka menimbulkan kekacauan. Oleh karena itu, Jeng-hwa-pang yang termasuk sebagai perkumpulan yang diawasi dan dibatasi gerakannya, lalu mengungsi ke luar tembok besar dan untuk sementara mendirikan sarang di dekat tembok besar di utara.

Ketua Jeng-hwa-pang bernama Gak Song Kam dan karena keahliannya bermain racun, dia dikenal orang sebagai Tok-ong (Raja Racun)! Nama julukannya sebagai Tok-ong ini sama terkenalnya dengan nama Jeng-hwa-pang yang tersohor. Dahulu, ketika Jeng-hwa-pang masih dipimpin oleh mendiang Jeng-hwa Sian-jin, perkumpulan ini lebih condong mempelajari ilmu-ilmu sihir yang keji dan cabul. Jeng-hwa Sian-jin “ketemu batunya” ketika sedang melaksanakan praktek keji dan cabul itu muncul seorang kakek sakti yang membuatnya tewas dan anak buahnya menyerah dan bertobat. Kakek sakti itu bukan lain adalah Bun Hoat Tosu (baca cerita Dewi Maut). Untuk sementara perkumpulan itu benar-benar telah bubar. Akan tetapi setelah Gak Song Kam berhasil memperdalam ilmu-ilmunya di Pegunungan Himalaya dan mempelajari ilmu-ilmu tentang racun dari seorang pertapa di sebuah puncak pegunungan itu, dia lalu mengumpulkan kembali bekas anggauta Jeng-hwa-pang dan dia membangun kembali perkumpulan itu. Akan tetapi, tindakan tangan besi oleh Kaisar Ceng Tung membuat dia terpaksa membawa para anggautanya yang jumlahnya ada seratus orang itu untuk sementara waktu mengungsi ke perbatasan di utara, dekat tembok besar.

Jeng-hwa-pangcu she Gak ini telah menikah dengan seorang wanita she Tio, akan tetapi dia tidak mempunyai keturunan. Isterinya membawa beberapa orang sanak keluarganya yang juga she Tio ketika mengungsi ke utara dan mereka ini ikut hidup senang sebagai keluarga isteri ketua perkumpulan besar, dan di antaranya ada pula yang menjadi anggauta Jeng-hwa-pang.

Para anggauta Jeng-hwa-pang semua diberi pelajaran tentang racun oleh ketuanya sehingga mereka rata-rata selain pandai ilmu silat, juga pandai mempergunakan racun untuk mengalahkan lawan. Mungkin karena mengandalkan kepandaian sendiri dan mengandalkan nama besar perkumpulan mereka, setelah pindah ke perbatasan di utara, dalam beberapa tahun saja, Jeng-hwa-pang telah dikenal dan ditakuti, malang melintang di perbatasan itu karena mereka merasa terlepas dari jangkauan tangan besi kaisar.

Akan tetapi, pada suatu hari terjadilah malapetaka menimpa keluarga ketua Jeng-hwa-pang, yaitu pada suatu malam ketika ketua Jeng-hwa-pang sedang pergi bersama beberapa orang pembantunya menangkap beberapa ekor ular gurun pasir, muncullah seorang wanita yang mengaku bernama Kim Hong Liu-nio dan wanita ini secara kejam telah membunuh isteri ketua Jeng-hwa-pang dan juga sembilan orang keluarga wanita itu, kesemuanya she Tio! Tentu saja Jeng-hwa-pang menjadi geger, apalagi ketika para anak buah Jeng-hwa-pang yang mengeroyok dibuat kocar-kacir oleh wanita yang amat lihai itu.

Ketika Gak Song Kam pulang dan mendapatkan isterinya dan sembilan orang keluarga isterinya tewas semua, dengan cara kematian yang aneh, yaitu dahi atau bagian tubuh lain yang berbahaya tertancap oleh sebatang hio yang membara, tentu saja dia menjadi marah sekali. Akan tetapi segera tersiar berita bahwa wanita bernama Kim Hong Liu-nio itu telah merajalela, membunuh-bunuhi semua orang she Tio, Yap, dan Cia yang dapat ditemukan di daerah itu, yang tentunya tidak banyak karena yang dicari adalah orang-orang Han, sedangkan daerah itu lebih banyak didiami oleh orang-orang suku bangsa lain.

Tentu saja Gak Song Kam merasa sakit hati dan berusaha untuk mencari wanita itu. Dia merasa menyesal sekali mengapa dia pergi mengajak lima orang pembantunya yang pandai sehingga ketika wanita itu datang membunuh isterinya, Jeng-hwa-pang sedang kosong dari semua tokoh yang terpandai. Dia percaya bahwa kalau dia berada di situ, tentu Kim Hong Liu-nio tidak akan begitu mudah membunuh orang, apalagi membunuh isterinya! Akan tetapi, betapa kaget rasa hati Gak Song Kam ketika dia menyebar anak buahnya untuk mencari dan menyelidiki wanita itu, dia mendengar kabar bahwa wanita itu adalah seorang tokoh terkenal di utara, bahkan masih saudara seperguruan Raja Sabutai! Lemaslah rasa tubuh ketua Jeng-hwa-pang itu mendengar ini. Tidak mungkin baginya untuk menyerbu istana Raja Sabutai yang dilindungi ribuan orang pasukan itu dengan seratus orang anak buahnya! Akan tetapi, kematian isterinya harus dibalas! Oleh karena itu, Gak Song Kam ini selalu mencari kesempatan untuk menantang Kim Hong Liu-nio, menantangnya secarg pribadi, bukan sebagai keluarga Raja Sabutai! Tantangan yang lajim dilakukan oleh orang-orang di dunia persilatan dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kerajaan atau perkumpulan.

Demikianlah, kesempatan itu tiba ketika Kim Hong Liu-nio melakukan perjalanan menuju Lembah Naga bersama sutenya, yaitu Ceng Han Houw, hanya dikawal oleh tujuh belas perajurit pengawal. Kesempatan ini tidak disia-siakan dan cepat Gak Song Kam menyuruh seorang di antara pembantu-pembantunya yang pandai untuk mengirim surat tantangan kepada wanita itu. Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, pembantu itu berhasil mengirimkan surat tantangan istimewa itu yang merupakan senjata-senjata maut berbahaya bagi penerimanya, namun yang dapat diterima dengan baik oleh Kim Hong Liu-nio.

Setelah mendengar berita dari pembantunya bahwa surat tantangannya telah diterima oleh wanita itu yang akan datang bersama seorang sutenya dalam kereta indah yang dikawal oleh tujuh belas orang pengawal, Jeng-hwa-pang menjadi sibuk mempersiapkan penyambutan terhadap musuh istimewa itu.

Sementara itu, Kim Hong Liu-nio yang menyeret tubuh Sin Liong telah tiba di dalam hutan di luar Lembah Naga, di mana Ceng Han Houw sedang menanti dengan tidak sabar dalam keretanya sambil meniup seruling. Han Houw amat suka meniup seruling. Ketika melihat sucinya datang menyeret tubuh seorang anak laki-laki, Han Houw menyimpan sulingnya dan memandang heran. Apalagi ketika dia melihat anak laki-laki yang usianya lebih muda beberapa tahun darinya itu telah membuka mata, telah siuman akan tetapi sedikitpun anak itu tidak mengeluarkan kata keluhan, bahkan memandang dengan mata melotot, dia menjadi makin terheran-heran. Dia melihat sucinya melemparkan tubuh anak itu ke atas tanah dan memandang penuh kebencian. Sin Liong terguling, akan tetapi lalu merangkak dan bangkit berdiri. Kedua kakinya menggigil, tanda bahwa dia lelah dan menahan nyeri akan tetapi matanya melotot dan sikapnya angkuh!

“Eh, suci. Siapakah bocah ini?” tanyanya heran melihat betapa sucinya yang biasanya tenang itu kini kelihatan marah-marah dan mendongkol.

“Bocah setan dia! Anak iblis dari neraka!” Kim Hong Liu-nio memaki-maki sambil memandang dengan mata mendelik kepada Sin Liong. Anak itu juga membalas, memandangnya dengan melotot lebar.

“Wah, anak setan dan iblis?” Han Houw bertanya, matanya terbelalak dan dia memandang Sin Liong dari atas sampai ke bawah. “Kulihat tidak ada apa-apanya, kenapa disebut anak setan dan iblis?”

“Dia adalah anak dari Cia Bun Houw, musuh besar dari subo, musuh yang paling besar dari subo!” kata Kim Hong Liu-nio.

“Musuh yang paling besar dan paling ditakuti!” Tiba-tiba Sin Liong berkata. Dia mendongkol sekali, dia tidak akan dapat mampu membalas semua siksaan, akan tetapi biarlah dia membalas dengan kata-kata menghina agar menyakiti hati wanita ini!

“Ah, begitukah? Kenapa anaknya hanya begini saja?” Han Houw bertanya penuh keheranan. Kalau ayahnya menjadi musuh utama yang kabarnya memiliki kepandaian hebat tentu anaknyapun hebat. “Eh, kenapa kau bilang bahwa suci takut kepada ayahmu?” tanya Han Houw yang mulai tertarik akan sikap bandel dan sama sekali tidak takut dari anak itu.

Sepasang mata Sin Liong memandang anak laki-laki yang berpakaian amat mewah itu dan kembali Han Houw terkejut. Mata anak ini seperti mata harimau saja, pikirnya. Hatinya makin tertarik.

“Sudah jelas takut! Beraninya hanya mengganggu aku, anak ayah yang masih kecil, tidak berani langsung berhadapan dengan ayahku!”

Han Houw tersenyum. “Dan apakah kau tidak takut kepada suci?”

“Aku? Takut? Huh, paling-paling dia bisa membunuhku, akan tetapi dia pasti tidak akan lolos dari tangan ayahku. Anak harimau bisa saja dibunuh oleh kumpulan srigala, akan tetapi anak harimau tidak akan merasa takut.”

“Wah, wah, sombongnya! Kau menganggap dirimu anak harimau dan kami berdua kaunamakan srigala? Wah, bukankah srigala itu anjing hutan? Celaka, suci, dia berani memaki kita anjing hutan!”

“Itulah! Dia memang anak setan!” Kim Hong Liu-nio mengomel.

“Kenapa tidak bunuh saja dia agar mulutnya tidak banyak mengoceh lagi?”

“Hemm, sute. Kalau kita membunuh dia, maka makiannya itu terbukti, kita menjadi seperti srigala membunuh seekor anak harimau seperti yang dikatakannya itu.”

“Eh, maksudmu...?”

“Dia lemah akan tetapi penuh keberanian, dan kita berarti hanya membunuh dan mengganggu anak-anak lemah saja.”

Han Houw menggangguk-angguk, kini dia menoleh dan memandang kepada Sin Liong dengan pandang mata baru, penuh kagum. Bocah ini luar biasa, pikirnya. “Eh, siapa namamu?” dia bertanya, agak tersenyum dan suaranya ramah. Diam-diam Sin Liong juga mengagumi anak laki-laki ini. Demikian tampan dan gagah, pikirnya, dan sekecil itu telah menjadi sute dari wanita iblis ini!

“Namaku Sin Liong... eh, Cia Sin Liong!” tambahnya, menekankan nama keturunan itu.

“Sin Liong? Naga sakti? Hemm, namamu sama sombongnya dengan sikapmu.”

“Aku tidak sombong, hanya paling benci kalau dikatakan takut. Aku tidak takut apapun. Dan kau siapa? Benarkah kau masih sute dari Kim Hong Liu-nio ini?”

Ceng Han Houw mengangguk. Hatinya senang. Baru sekarang ada bocah yang bicara kepadanya dengan sikap biasa, seperti dua orang yang sama derajatnya, seperti teman. Biasanya, semua orang yang bicara kepadanya, apalagi anak-anak, tentu kelihatan takut-takut dan bahkan dengan berlutut, memandang wajahnyapun tidak berani!

“Namaku Han Houw, aku she Ceng.”

“Ceng Han Houw? Namamu juga gagah sekali. Apakah kau juga pandai silat seperti sucimu ini?”

Melihat dua orang anak itu bicara seperti dua orang sahabat saja, Kim Hong Liu-nio menjadi tak senang. “Anak cerewet! Kaukita engkau ini siapa? Tawanan, tahu? Sute, jangan layani dia!”

Akan tetapi Han Houw sudah seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru, merasa sayang untuk melepaskan begitu saja. “Eh, Sin Liong, kau benar-benar tidak takut kepada kami?”

“Tidak, seujung rambutpun tidak. Paling-paling kalian akan dapat membunuhku.”

“Kau tidak takut mati?”

Sin Liong menggeleng kepala. “Apa kau takut?” dia balas bertanya.

Han Houw terbelalak, berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Aku takut dan agak ngeri juga.”

“Apa kau pernah tahu bagaimana mati itu?”

“Tentu saja belum!”

“Kalau begitu, bagaimana bisa takut?”

Han Houw tercengang, bingung, lalu menjawab ragu, “Entahlah. Eh, kalau kau tidak takut kepada kami apakah kau berani bertanding melawan aku?”

Sin Liong memandang Han Houw dari atas sampai ke bawah. Anak itu tentu lebih tua dua tahun daripada dia, lebih tinggi dan tegap. Dan mengingat bahwa anak ini adalah sute dari Kim Hong Liu-nio, maka tentu ilmu silatnya juga hebat. “Aku tidak ada urusan apa-apa dengan engkau, mengapa mesti bertanding?”

“Kau takut?”

“Takut sih tidak.”

“Kalau begitu kau berani.”

“Tentu saja berani, akan tetapi, aku tidak mau. Tidak ada persoalannya, mengapa berkelahi?”

“Ha-ha, itu hanya alasan. Kau tentu takut kalah.”

“Mengapa takut kalah? Tentu saja aku kalah olehmu, akan tetapi aku tidek takut.” Dan melihat sinar mata penuh ejekan itu, Sin Liong melanjutkan. “Kalau ada alasannya yang kuat, tentu aku akan menerima tantanganmu.”

Tiba-tiba Kim Hong Liu-nio yang sejak tadi memang merasa mendongkol dan kini sedang duduk di atas batu dekat kereta sambil mendengarkan, berkata-kata dalam Bahasa Mongol kepada Han Houw. Sin Liong tidak mengerti artinya, akan tetapi kemudian Han Houw lalu menghampirinya dan berkata, “Ah, kiranya engkau ini anak monyet! Engkau anak gelap, anak haram!”

“Bohong! Keparat kau!” Sin Liong membentak marah.

“Kalau benar kau bukan anak monyet dan anak haram, kau tentu akan berani melawan aku!”

“Ceng Han Houw, biar matipun aku tidak takut padamu!” kata Sin Liong dan anak yang sudah marah sekali ini lalu menyerang dengan ganas!

Han Houw tertawa, dengan mudah saja dia mengelak ke samping dan sekali kakinya bergerak, kaki Sin Liong sudah ditendangnya dari samping, membuat Sin Liong terpelanting roboh. Akan tetapi, tanpa memperdulikan rasa nyeri akibat terbanting itu, Sin Liong sudah meloncat bangun lagi dan menyerang kembali. Sin Liong menggunakan jurus ilmu silat akan tetapi tentu saja gerakannya itu masih kaku dan lemah bagi Han Houw dan kembali sambil mengelak Han Houw menggerakkan tangannya, menampar pundak Sin Liong dan membuat anak itu terbanting lebih keras lagi! Namun berkali-kali Sin Liong bangun dan terus menyerang.

“Kau tidak mau mengaku kalah? Hayo mengaku kalah!” berkali-kali Han Houw mendesak, akan tetapi Sin Liong sama sekali tidak memperdulikannya dan terus dia menyerang dengan membabi-buta, biarpun kulit tubuhnya sudah lecet-lecet dan luka-luka di punggungnya yang dicambuki oleh ayah angkatnya itu terasa nyeri dan berdarah lagi.

Tadi Han Houw diberi tahu oleh sucinya dalam Bahasa Mongol bagaimana harus membangkitkan kemarahan dan perlawanan anak aneh itu dan benar saja setelah dia memaki anak monyet dan anak haram, Sin Liong melawannya mati-matian. Dan kini, Han Houw kewalahan melihat kenekatan bocah itu, yang biarpun sudah dibuatnya jatuh bangun, namun sama sekali tidak pernah mau menyerah dan mengaku kalah. Dia sebenarnya merasa kagum dan suka kepada anak ini dan tidak ingin melukainya hebat, apalagi membunuhnya. Maka, melihat kenekatan Sin Liong, tiba-tiba Han Houw menggunakan jari telunjuknya menotok yang tepat mengenai pundak kanan, yaitu jalan darah Kian-keng-hiat dan seketika Sin Liong roboh dengan lemas karena tubuhnya menjadi lumpuh seketika!

Han Houw menghapus keringat di dahinya dengan saputangan. “Wuuhhh, bocah ini benar-benar bernyali harimau!” katanya. “'Suci, engkau menawan harimau cilik ini untuk apakah?”

“Untuk memaksa ayah kandungnya muncul dan menghadapiku.”

“Hemm, untuk semacam sandera?”

“Begitulah.”

“Wah, hal itu akan repot sekali. Dia buas dan ganas seperti harimau, tentu hanya akan menyusahkan saja dalam perjalanan,” kata Han Houw. “Dan anak seperti ini, jika memperoleh kesempatan sedikit saja, tentu akan melarikan diri, suci.”

Kim Hong Liu-nio tersenyum dan mengeluarkan sebatang jarum putih terbuat daripada perak. “Aku mempunyai cara untuk memaksanya agar jangan meninggalkan kita, jangan melarikan diri.”

Dari saku bajunya, Kim Hong Liu-nio mengeluarkan sebuah bungkusan kertas, membukanya dan nampaklah bubukan berwarna kuning. Dia mengoleskan ujung jarum perak di bubukan kuning itu dan seketika ujung jarum itu berubah menjadi biru kehitaman, tanda bahwa bubukan itu mengandung racun. Kemudian Kim Hong Liu-nio menghampiri tubuh Sin Liong yang masih rebah terlentang. Anak ini tidak mampu bergerak karena tubuhnya seperti lumpuh, akan tetapi matanya masih memandang dengan mendelik penuh kemarahan, sama sekali tidak kelihatan takut.

“Biarlah dia melarikan diri kalau bisa. Andaikata bisapun, dia akhirnya akan mencari aku karena nyawanya berada di tanganku,” kata Kim Hong Liu-nio dengan tersenyum.

Han Houw membelalakkan matanya. “Suci hendak menggunakan Hui-tok-san (Bubuk Racun Api)?”

Kim Hong Liu-nio hanya tersenyum, lalu menghampiri Sin Liong. Dengan gerakan cepat dia menusukkan jarum perak yang ujungnya biru menghitam itu ke arah betis kaki kanan Sin Liong. Sin Liong merasa nyeri betis kanannya, akan tetapi dia tidak mengeluh, hanya memejamkan matanya. Betisnya terasa panas sekali seperti digigit ribuan ekor semut, dan dia harus menggigit bibirnya untuk menahan perasaan yang amat menyiksa ini, rasa panas gatal tanpa dapat menggaruknya!

Hah Houw lalu menotok pundaknya, membebaskan totokannya dan Sin Liong meraba betis kanannya, hendak menggaruk.

“Jangan garuk! Begitu kaugaruk, kau akan mati konyol!” Kim Hong Liu-nio berseru. Sin Liong terkejut dan tidak jadi meraba betisnya. Dia tidak takut mati, tetapi dia belum mau mati konyol. Masih banyak hal yang harus dilakukannya di dunia ini, pertama mencari ayahnya dan ke dua, sekali waktu membalas kepada iblis betina ini. Maka dia tidak mau membunuh diri secara konyol.

“Hui-tok-san telah berada di jalan darahnya.” Kim Hong Liu-nio berkata dengan suaranya yang merdu dan halus, bibirnya tersenyum akan tetapi kini Sin Liong mulai mengenal senyum seperti itu, senyum yang menyembunyikan kekejaman seperti iblis, “racun itu berhenti di betismu dan tidak akan berbahaya kalau tidak kaugaruk. Kalau kaugaruk, maka racun itu akan berjalan cepat karena panasnya akibat garukan, dan makin cepat dia bergerak naik, makin cepat pula dia mencapai jantung dan mencabut nyawamu. Kalau kaudiamkan saja, dalam waktu enam bulan barulah racun itu akan sampai di jantungmu dan mencabut nyawamu. Dan dalam waktu enam bulan itu, tentu aku sudah akan dapat berhadapan dengan ayah kandungmu!”

Han Houw bertepuk tangan memuji, “Wah kau hebat, suci! Dengan demikian, dia tidak akan berani melarikan diri. Bukankah hanya engkau yang mempunyai obat penawarnya, suci?”

Kim Hong Liu-nio mengangguk. “Mari kita berangkat ke Jeng-hwa-pang, sute!” Wanita itu lalu mencengkeram tengkuk Sin Liong dan membawanya masuk ke dalam kereta, diikuti oleh Han Houw!

“Biarkan dia duduk bersamaku, suci. Dia dapat menjadi teman seperjalananku.” Sin Liong lalu didudukkan di atas bangku kereta bersanding dengan Han Houw yang memandanginya penuh perhatian. Sin Liong duduk seperti seorang raja, tegak dan tidak mau melirik ke sana-sini, mulutnya cemberut dan dia seolah-olah tidak perduli sama sekali kepada dua orang yang berada di dalam kereta bersamanya itu.

Kim Hong Liu-nio bersuit dan muncullah tujuh belas orang pengawal itu. Dia mengeluarkan aba-aba dalam Bahasa Mongol dan bergeraklah kereta itu, ditarik oleh empat ekor kuda besar, berangkat menuju ke selatan, dikawal oleh para pengawal yang menunggang kuda. Diam-diam Sin Liong merasa kagum dan heran juga. Mulailah dia melirik ke arah Han Houw yang duduk di sebelah kirinya. Dia menduga-duga siapa adanya pemuda ini yhng ternyata amat lihai ilmu silatnya, jauh lebih lihai daripada Siong Bu atau Beng Sin. Dia mendengarkan wanita cantik itu berkata-kata kepada anak laki-laki ini, bicara dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Dia tidak tahu bahwa Kim Hong Liu-nio bercerita kepada Han Houw tentang dirinya.

Akhirnya percakapan mereka berhenti dan Han Houw menyentuh lengannya. Dia menoleh. Dua pasang mata yang sama tajam bersinar-sinar saling bertemu. Han Houw tersenyum dan berkata, “Kau memang hebat, adik kecil. Ayahmu patut dipuji.”

“Dan kau memang jahat, kekejaman kalian patut dicela!” jawab Sin Liong, memandang berani.

Han Houw tertawa. “Ha-ha-ha, belum pernah selama hidupku bertemu dengan bocah seperti engkau ini. Namamu Cia Sin Liong? Eh, Sin Liong, setelah kita saling bertanding dan kini duduk sekereta, tentu engkau mau menjadi sahabatku bukan?”

“Persahabatan bukan hanya omong kosong belaka, tapi ditentukan oleh perbuatan dan perbuatanmu dan suci terhadap diriku sama sekali tidak bersabat!” Jawab pula Sin Liong. Dia masih marah sekali dan tentu saja dia marah karena dia juga maklum bahwa di dalam tubuhnya telah mengeram racun jahat yang akan menewaskannya dalam waktu enam bulan, racun yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuhnya oleh wanita itu. Perbuatannya itu demikian kejam dan anak ini bicara tentang persahabatan!

Akan tetapi, Han Houw yang tadi mendengar dari sucinya tentang keadaan Sin Liong, tidak menjadi marah oleh jawaban itu. Dia amat tertarik lalu berkata, “Engkau sejak kecil dipelihara oleh monyet-monyet besar? Betapa aneh, hebat, dan pengalamanmu itu sungguh luar biasa. Ingin aku mengalami hal seperti yang telah kaualami itu, Sin Liong. Dan engkau putera kandung Cia Bun Houw, pendekar yang kabarnya amat sakti itu. Bukan main! Aku ingin menjadi sahabatmu!”

Akan tetapi Sin Liong tidak mau menjawab lagi, bahken membuang muka memandang ke luar jendela kereta, melihat betapa kereta dijalankan cepat melintasi padang rumput yang agak tandus dan dari jauh di depan nampak dinding yang amat panjang naik turun gunung, berbelok-belok seperti ular atau naga besar. Itulah agaknya Tembok Besar yang terkenal sebagai dongeng, yang pernah diceritakan kepadanya oleh Siong Bu dan Beng Sing, dua orang anak yang pernah menyeberangi tembok besar yang amat panjang itu.

***




Matahari telah mulai condong ke barat ketika rombongan itu memasuki sebuah butan di lereng bukit. Tembok besar nampak jelas dari bawah, akan tetapi ketika mereka memasuki hutan, tembok panjang yang seperti naga itu lenyap tertutup oleh pohon-pohon yang memenuhi hutan dan yang tumbuh secara liar. Tiba-tiba kereta berhenti dan pasukan pengawal segera menggerakkan kuda mereka mengurung kereta untuk melindungi.

“Mengapa berhenti?” Han Houw bertanya.

“Apa yang terjadi?” Kim Hong Liu-nio juga bertanya, nada suaranya tidak sabar.



Seorang pengawal mendekatkan kudanya dengan jendela kereta dan memberi laporan dalam Bahasa Mongol secara singkat.

“Hemmm, bagus! Mereka mencari mati di tempat ini? Sute, kau berdiam saja di sini dan lihat saja sucimu menghajar mereka!” kata Kim Hong Liu-nio dan tiba-tiba tubuhnya melesat keluar dari dalam kereta.

Han Houw membuka tirai-tirai kereta dan dari dalam kereta, dia dan Sin Liong dapat melihat apa yang terjadi di depan. Kiranya perjalanan rombongan itu dihadang oleh serombongan orang yang jumlahnya tidak kurang dari tujuh puluh orang, yang kini semua berdiri seperti patung mengurung kereta itu. Mereka bergerak tanpa mengeluarkan suara, dan tubuh mereka hanya bergeser secara teratur sehingga tahu-tahu tempat di mana kereta itu berhenti telah dikepung dalam jarak kurang lebih lima meter. Para pengepung itu memakai pakaian seragam hijau muda dengan gambar bunga yang bentuknya aneh, berwarna hijau tua di dada baju masing-masing. Karena pakaian yang berwarna serba hijau ini, maka pandang mata menjadi kabur karena warna pakaian mereka itu sama dengan warna di sekeliling tempat itu, warna daun dan semak-semak. Dan karena mereka mengurung dengan berdiri tegak dan sama sekali tidak bergerak atau mengeluarkan suara, maka keadaan menjadi makin menyeramkan. Akan tetapi Sin Liong melihat betapa Han Houw bersikap tenang saja, bahkan senyumnya mengandung ejekan dan memandang rendah sekali. Diam-diam dia merasa kagum terhadap ketabahan pemuda cilik yang tampan dan berpakaiah mewah ini.

Sementara itu, tujuh belas orang pengawal telah berbaris rapi mengurung kereta dan membelakanginya, siap melindungi kereta itu dengan taruhan nyawa mereka. Tujuh belas orang pengawal yang berpakaian seragam inipun kelihatan gagah dan tenang. Semua ini membuat hati Sin Liong menduga-duga siapa adanya anak ini sesungguhnya.

“Han Houw, sebenarnya siapakah engkau ini? Apakah anak bangsawan Mongol?” Akhirnya Sin Liong bertanya karena tidak dapat menahan lagi keinginan tahunya.

Han Houw menoleh kepadanya lalu tersenyum. Dia telah dipesan oleh ayah bundanya, juga sucinya, agar tidak mengaku sebagai putera Raja Sabutai, agar melakukan perjalanan dengan menyamar, karena jika dia dikenal sebagai putera Raja Sabutai, tentu keadaannya akan menjadi berbahaya sekali. Banyak kepala suku bangsa yang tentu saja akan mengincarnya, karena Sabutai mempunyai banyak sekali musuh di antara suku-suku bangsa di utara. Kini, mendengar pertanyaan Sin Liong, Han Houw tersenyum dan menjawab, “Kelak engkau akan mengetahui sendiri, Sin Liong.”

Sin Liong memang berwatak keras dan angkuh. Mendengar jawaban ini dia tidak sudi mendesak lagi, bahkan kini dia mengalihkan perhatiannya memandang ke luar jendela, ke arah Kim Hong Liu-nio yang telah berhadapan dengan para pimpinan gerombolan itu.

Wanita itu telah berdiri tegak menghadapi enam orang pimpinan gerombolan dengan sikap tenang dan mulut tersenyum-senyum yang menyembunyikan kemarahan hatinya karena gangguan gerombolan itu. Tadi pimpinan pengawal telah memberi laporan kepadanya bahwa gerombolan Jeng-hwa-pang telah menghadang di tengah perjalanan dan dia menjadi marah sekali. Setelah dia melompat turun dan melihat sekeliling, benar saja dia mengenal bahwa mereka itu adalah pasukan Jeng-hwa-pang! Tentu saja dia merasa marah sekali dan cepat dia menghampiri enam orang yang ia duga tentulah merupakan pimpinan Jeng-hwa-pang. Ketika dia pernah mengacau di Jeng-hwa-pang, membunuh-bunuhi orang-orang she Tio termasuk isteri ketua Jeng-hwa-pang, dia tidak bertemu dengan para pimpinan Jeng-hwa-pang yang kabarnya sedang pergi menangkapi ular-ular merah. Akan tetapi dia mendengar bahwa pimpinan Jeng-hwa-pang adalah ketuanya yang dibantu oleh lima orang tokoh Jeng-hwa-pang yang berkepandaian tinggi. Maka kini melihat ada enam orang berdiri tegak dengan sikap angkuh, mudah saja hati Kim Hong Liu-nio untuk menduga bahwa tentu mereka itulah para pimpinan Jeng-hwa-pang.

“Jeng-hwa-pang mengundang kami untuk datang ke sarangnya, akan tetapi sekarang di dalam hutan menghadang seperti kelakuan para perampok rendah!” Kim Hong Liu-nio berseru dengan suara nyaring. “Jeng-hwa-pang mengundang orang untuk mengadu kepandaian atau hendak melakukan pengeroyokan seperti pengecut-pengecut hina?”

Enam orang itu mengerutkan alis mereka dan memandang marah. Tak mereka kira wanita secantik itu ternyata mempunyai lidah yang amat tajam. Pria berusia lima puluh tahun yang bermuka merah dan bertubuh tegap gagah, yaitu Jeng-hwa-pangcu sendiri melangkah maju dan menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah muka Kim Hong Liu-nio.

“Kim Hong Liu-nio, baru sekarang kita ada kesempatan untuk saling bertemu! Engkau dan tujuh belas orang pengawalmu itu tidak ada artinya. Engkau telah dikurung oleh anak buah kami yang berjumlah tujuh puluh lima orang! Kekuasaan ada padaku dan kelemahan ada padamu, maka tidak perlu lagi kau bersikap sombong. Kamilah yang menentukan apakah akan membasmi kalian satu demi satu ataukah sekaligus! Dan...”

“Tunggu dulu!” Kim Hong Li-nio menghentikan kata-kata lawannya itu dengan mengangkat tangan ke atas. Tangan yang diangkat ke atas ini merupakan isyarat bagi para anggauta pasukan pengawalnya dan mereka itu cepat menurunkan busur dan anak panah dan siap dengan senjata itu di tangan mereka. “Agaknya engkau ini Jeng-hwa-pangcu Gak Song Kam! Eh, orang she Gak, apakah engkau tidak melihat keadaan pasukan pengawal itu?”



Gak Song Kam dan lima orang pembantunya memandang dan melihat tujuh belas orang pengawal itu memegang busur dan anak panah, mereka tertawa, diikuti pula oleh puluhan orang anak buah mereka yang menyeringai. Akan tetapi tidak ada suara ketawa keluar dari mulut mereka sehingga Sin Liong bergidik. Amat menyeramkan melihat puluhan orang itu menyeringai sehingga nampak gigi mereka akan tetapi tidak ada suara yang keluar!

“Ha-ha-ha, Kim Hong Liu-nio, sungguh lucu sekali melihat gertakanmu ini! Apa sih artinya tujuh belas orang pengawalmu yang memegang busur dan anak panah itu? Apakah kaukira kami ini hanyalah kijang-kijang dan kelinci-kelinci yang lemah sehingga mudah saja ditakut-takuti dan ditodong dengan anak panah seperti itu? Ha-ha-ha!”

“Jeng-hwa-pangcu, kalian bukan hanya kijang-kijang dan kelinci-kelinci lemah, akan tetapi malah adalah sekumpulan babi hutan yang tolol. Lihatlah baik-baik!” Kim Hong Liu-nio memberi isyarat dengan jari tangannya ke atas, ibu jari tangan kanannya diacungkan ke atas dan tujuh belas orang pengawal itu lalu menarik busur, dan para anggauta Jeng-hwa-pang sudah siap untuk menangkis atau mengelak. Akan tetapi tiba-tiba anak panah itu dihadapkan ke atas dan begitu tali busur dilepas meluncurlah tujuh belas batang anak panah. Setelah tiba di atas, anak-anak panah itu mengeluarkan ledakan dan nampaklah sinar merah bernyala di angkasa. Kiranya anak-anak panah itu adalah anak panah berapi yang dipergunakan untuk mengirim berita!

Orang-orang Jeng-hwa-pang terkejut, heran dan tidak mengerti. Akan tetapi tak lama kemudian mereka dikejutkan oleh suara gemuruh dari empat penjuru. Kemudian, terdengarlah derap kaki kuda yang banyak sekali disertai sorak-sorai dari banyak sekali orang. Dan tampaklah oleh mereka karena hutan itu berada di lereng bukit yang agak tinggi betapa dari empat penjuru berdatangan pasukan-pasukan yang masing-masing tidak kurang dari tiga ratus orang jumlahnya!

Gak Song Kam dan para pembantunya saling pandang dan muka Gak Song Kam yang biasanya berwarna merah itu kini menjadi agak pucat. Melihat ini, Kim Hong Liu-nio tertawa dan kini terdengar suara berbisik ketika pasukan-pasukan itu mulai mendekat dan mengurung hutan itu, siap untuk menyerbu jika ada tanda dari Kim Hong Liu-nio. Tempat itu termasuk daerah kekuasaan Raja Sabutai dan semua suku bangsa yang berada di sekitar tempat itu tentu saja merupakan bawahan-bawahan raja ini, maka begitu melihat tanda bahaya yang dilepas melalui anak panah tadi, berbondong-bondong mereka datang dari segenap jurusan ke hutan itu.

“Orang she Gak, kau masih mau bicara tentang siapa yang mengurung dan siapa yang dikurung, siapa yang kuat dan siapa yang lemah, siapa pula yang menentukan? Pengawalku memang hanya tujuh belas orang, akan tetapi anak buahmu hanya berjumlah tujuh puluh lima orang sedangkan pasukanku yang telah datang saja sudah lebih dari seribu orang, belum lagi yang sedang datang dari tempat yang agak jauh. Engkau mau bicara apa sekarang?”

Hati Gak Song Kam menjadi gentar. Memang maksudnya hendak menghadapi wanita in sebagai musuh pribadi dan dia memang tidak berani membawa-bawa nama Raja Sabutai yang dia tahu memiliki pasukan-pasukan yang amat kuat dan tidak mungkin dilawan oleh anak buahnya itu. Tadinya, melihat musuh besarnya itu hanya dikawal oleh tujuh belas orang pengawal, maka begitu mendengar berita ini, dia cepat mengumpulkan anak buahnya dan melakukan penghadangan jalan karena dia bermaksud membalas dendam dan membasmi semua orang di tengah hutan agar kalau Raja Sabutai mendengar tentang pembasmian itu, dia tidak akan menyangka bahwa orang-orang Jeng-hwa-pang vang melakukannya. Kalau Kim Hong Liu-nio tiba di sarang Jeng-hwa-pang, tentu saja Jeng-hwa-pang tidak memungkiri lagi dan berarti akan menanam bibit permusuhan dengan Raja Sabutai dan hal itu amatlah berbahaya. Akan tetapi, siapa kira wanita ini benar-benar amat cerdik dan tidak dapat ditundukkan dengan mengandalkan banyak anak buah karena ternyata di belakang wanita itu berdiri pasukan yang ribuan orang jumlahnya. Maka terpaksa Gak Song Kam tersenyum-senyum masam untuk menutupi rasa gentar dan kecewanya.

“Hemm, kiranya Kim Hong Liu-nio yang mengaku gagah perkasa itu hanya mengandalkan pasukan besar untuk menghadapi lawan!”

“Cih! Orang she Gak, sebaiknya engkau menelan kembali ludahmu itu! Engkaulah yang mengandalkan jumlah banyak! Sekarang katakanlah, engkau mengundang aku ke Jeng-hwa-pang kemudian menghadang di tengah jalan ini mempunyai maksud curang apakah?”

Gak Song Kam berdehem untuk menenangkan hatinya yang terguncang. Kemudian dia menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan pula, “Kim Hong Liu-nio, benarkah engkau yang telah membunuh isteriku dan sembilan orang keluarga isteriku beberapa bulan yang lalu?”

Kim Hong Liu-nio mengangguk, menurunkan papan salib dari punggungnya sambil memperlihatkan tulisan tiga huruf di atas papan. “Bukan salahku, pangcu, akan tetapi salahnya isterimu dan salahmu sendiri. Kenapa isterimu she Tio? Kenapa engkau menikah dengan seorang she Tio dan di rumahmu tinggal sembilan orang she Tio itu?”

Tentu saja jawaban ini amat bo-ceng-li (kurang ajar) dan mau menang sendiri saja. Wajah Gak Song Kam menjadi makin merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi, akan tetapi melihat keadaan yang tidak menguntungkan, dia tidak berani terlalu memperlihatkan kemarahannya.

“Kim Hong Liu-nio! Engkau tahu bahwa di dunia kang-ouw terdapat peraturan bahwa siapa hutang uang bayar uang, hutang budi bayar budi, dan hutang nyawa bayar nyawa,” kata orang she Gak itu dengan suara penuh ancaman dan tangan kanannya meraba gagang pedang di pinggangnya.

Wanita itu tersenyum mengejek. “Hemm, kaumaksudkan bahwa aku telah membunuh isterimu dan keluarganya, sekarang engkau hendak membunuhku?”

“Itu sudah merupakan kepantasan!” jawab ketua Jeng-hwa-pang.

Kim Hong Liu-nio mengangguk-angguk. “Memang pantas! Seorang suami tentu harus membalas kematian isterinya, atau mengikuti isterinya ke alam baka. Soalnya, engkau mampu membunuh aku ataukah sebaliknya. Dan apakah kau hendak mengandalkan pengeroyokan untuk membunuhku, pangcu?”

Diejek demikian, makin marahlah Gak Song Kam. Kalau dia tidak ingat bahwa tempat itu telah dikurung oleh seribu lebih pasukan, tentu dia akan menggerakkan anak buahnya untuk membunuh iblis betina ini.

“Ataukah engkau akan bersikap pengecut dan curang, mempergunakan racun-racunmu?” kembali wanita itu mengejek.

“Apakah engkau takut?” ketua Jeng-hwa-pang itu berkesempatan balas mengejek.

Wanita itu tersenyum, manis sekali sehingga diam-diam Gak Song Kam merasa heran dan juga sayang mengapa wanita secantik itu berhati kejam seperti iblis dan harus dibunuhnya untuk membalas kematian isterinya dan sembilan orang keluarga isterinya.

“Racun-racunmu hanya permainan kanak-kanak, siapa takut? Akan tetapi kalau engkau hendak menggunakan pengeroyokan anak buahmu, terpaksa akupun akan menggerakkan pasukanku.”

Tiba-tiba lima orang pembantu utama Gak Song Kam bergerak maju ke depan. Seorang di antara mereka berkata, “Tidak ada pengeroyokan! Pangcu kami mengundang untuk pibu. Kami berlima adalah pembantu-pembantu utamanya dan kami berlima biasa maju bersama. Biarlah kami mengawali pertandingan ini dan menjadi jago-jago fihak pangcu. Silakan kouwnio mengeluarkan jago kouwnio untuk menandingi kami!”

Kim Hong Liu-nio masih tersenyum dan memandang lima orang laki-laki itu. Usia mereka itu kurang lebih empat puluh sampai lima puluh tahun, semua bertubuh tegap dan nampaknya kuat, berpakaian ringkas dan mereka berlima memegang lima macam senjata pula. Ada yang memegang pedang, golok, tombak, toya dan ruyung. Dia sudah mendengar dari para penyelidiknya bahwa lima orang pembantu dari Jeng-hwa-pang ini lihai sekali, apalagi kalau mereka maju bersama karena kelimanya merupakan ahli dalam barisan Ngo-heng-tin. Dia sendiri banyak mempelajari ilmu-ilmu silat dari berbagai cabang persilatan, akan tetapi dia belum mengenal Ngo-heng-tin, maka hatinya tertarik sekali.

“Hemm, jadi kalian berlima ini pembantu-pembantu Jeng-hwa-pangcu yang terkenal dengan ilmu Ngo-heng-tin? Kabarnya kalian adalah perampok-perimpok dari Heng?san, benarkah?”

Wajah lima orang itu menjadi merah sekali. Memang mereka dahulunya sebelum menjadi tokoh Jeng-hwa-pang, adalah lima orang perampok di Heng-san yang terkenal. Ketika mereka dikalahkan dan ditundukkan oleh Jeng-hwa-pang, mereka lalu menggabung dan karena mereka itu lihai, maka kini mereka menjadi pembantu-pembantu utama dari Jeng-hwa-pangcu. Kini, disinggung masa lalu mereka, tentu saja mereka menjadi malu dan marah.

“Kami adalah Heng-san Ngo-houw, kami sudah siap membela pangcu kami, silakan kouwnio mengeluarkan jago kouwnio.”

“Suci, biarlah aku menghadapi mereka!” Tiba-tiba terdengar Han Houw berteriak dan dia sudah meloncat keluar dari dalam kereta dan lari menghampiri tempat itu. Melihat ini, Sin Liong merasa tertarik dan diapun meloncat keluar dan mengikuti Han Houw.

Kim Hong Liu-nio mengerutkan alisnya. Sutenya ini paling suka bertanding silat! Memang sudah pandai sutenya ini, sudah banyak menguasai ilmu-ilmu silat tinggi karena memang memiliki bakat yang amat hebat, akan tetapi sutenya yang baru berusia empat belas tahun ini tentu saja masih belum memiliki pengalaman bertempur dan juga belum dapat dikatakan matang ilmu-ilmunya, sedangkan dia dapat menaksir bahwa lima orang ini merupakan jago-jago yang sudah kawakan dan berbahaya.

“Lebih baik jangan sute. Mereka ini adalah orang-orang berbahaya.”

“Biarlah, suci. Aku tidak takut.”

“Dan aku akan membantu Han Houw!” tiba-tiba Sin Liong berkata. Kim Hong Liu-nio terkejut dan menoleh, memandang Sin Liong sambil mengerutkan alisnya. Anak ini sungguh lancang dan kurang ajar, menyebut sang pangeran dengan namanya begitu saja! Dan berlagak hendak membantu segala.

“Minggirlah engkau!” bentaknya. Kemudian dia menghadapi lima orang Hengsan Ngo-houw sambil berkata, “Kalian maju berbareng dengan berlima, sebaliknya suteku berani menghadapi kalian. Bagaimana kalau aku dan suteku maju bersama, jadi dua lawan lima? Aku ingin melatih suteku dan kalian merupakan lawan latihan yang baik sebelum aku membunuh kalian.”

Tentu saja lima orang itu menjadi makin marah karena ucapan itu jelas mengandung pandangan rendah sekali terhadap mereka. “Majulah!” bentak orang tertua di antara mereka, “Majulah kalian berdua, ditambah beberapa orang lagipun tidak mengapa!”

“Suci, menurut suci, di antara mereka ini, pemegang senjata mana yang paling berbahaya?” Han Houw bertanya, sikapnya tenang.

“Lima batang senjata itu mempunyai keistimewaan masing-masing, sute, seperti juga sute telah ketahui dan pelajari. Akan tetapi, kalau sute menghadapinya dengan pedang, tentu saja masing-masing mempunyai kelemahan sendiri. Engkau tentu masih ingat bahwa melawan pemegang senjata panjang harus merapat, sebaliknya menghadapi lawan bersenjata pendek harus merenggang.”

“Tapi, senjata mereka ini lima macam, ada yang pendek ada yang panjang kalau mereka maju bersama...”

“Itulah lihainya Ngo-heng-tin, harap sute berhati-hati dan mengerahkan gin-kang...”

Lima orang itu sudah tidak sabar lagi. Mereka dijadikan bahan pelajaran ilmu silat! Maka mereka lalu bergerak mengurung wanita dan anak laki-laki itu, kemudian terdengar mereka berseru hampir berbareng, “Lihat senjata!” Dan mulailah lima orang itu menggerakkan senjata masing-masing melakukan serangan!

“Cring-cring-cring...!” Nampak sinar terang berkelebatan dan ternyata Han Houw telah mencabut pedang dan menangkis tiga batang senjata lawan yang menyambar, sedangkan dua batang senjata lain telah dikebut oleh ujung sabuk merah Kim Hong Liu-nio! Akan tetapi, lima orang itu sudah menyerang lagi lebih hebat dan gerakan mereka benar-benar amat luar biasa.

“Jangan tangkis, elakkan, pergunakan gin-kang dan lindungi diri dengan sinar pedang!” terdenger Kim Hong Liu-nio berseru dan dua orang ini segera berkelebatan dengan cepat sekali di antara sambaran lima batang senjata itu. Han
Houw mengerti bahwa sucinya menyuruh dia mengelak untuk dapat memperhatikan cara lima orang lawan itu melakukan penyerangan dengan tersusun dalam Ngo-heng-tin. Dan memang demikianlah, Kim Hong Liu-nio diam-diam mempelajari gerakan lima orang itu dan dengan cepat dia sudah dapat menangkap inti dari kerja sama lima orang itu. Kiranya memang ada unsur ngo-heng di dalam gerakan-gerakan mereka yang saling membantu dan saling melindungi, seperti juga sifat dari lima zat pokok yaitu api, air, kayu, logam, dan tanah. Ilmu berdasarkan ngo-heng ini memang hebat bukan main, dan setelah saling melindungi maka menjadi amat kuat. Akan tetapi segera Kim Hong Liu-nio melihat bahwa dasar dari tingkat ilmu yang dimiliki oleh lima orang itu tidak begitu kuat. Inilah kelemahan mereka. Andaikata mereka itu terdiri dari orang-orang yang memiliki dasar ilmu yang kuat, maka Ngo-heng-tin ini benar-benar amat sukar ditundukkan. Setelah melihat kelemahan lawan, maka dia tersenyum dan berkata kepada sutenya, “Sute, kau sekarang boleh serang mereka yang memegang pedang dan golok! Pergunakaw gerakan Lian-cu Siang-kiam (Tikaman Ganda Berantai)!”

Han Houw mentaati perintah sucinya dan cepat pedangnya membuat gerakan berganda, melakukan serangan bertubi-tubi kepada pemegang pedang dan pemegang golok tanpa memperdulikan yang lain. Tiga orang lainnya tentu saja berdasarkan silat Ngo-heng-tin, telah menggerakan senjata secara otomatis melindungi kedua orang itu, akan tetapi nampaklah sinar merah panjang berkelebatan dan sinar yang dibuat dari sabuk merah Kim Hong Liu-nio ini telah membentuk benteng yang menghadang tiga orang lainnya sehingga mereka terpisah dari si pemegang golok! Terpaksa kedua orang ini menghadapi serangan pedang Han Houw, dan mereka terkejut bukan main menyaksikan sinar pedang yang berkeredepan dan amat cepat itu. Mereka kini terdesak dan menangkis kalang-kabut, dan lebih kaget lagi hati mereka ketika mereka menangkis, pedang dan golok mereka menjadi patah ujungnya, tidak kuat bertemu dengan pedang pusaka di tangan Han Houw. Apalagi karena anak itu memang mengerahkan sin-kang yang istimewa, yang dikuasainya di bawah gemblengan Hek-hiat Mo-li sendiri!

Sin Liong menonton dengan mata terbelalak penuh kagum. Bukan main, pikirnya. Kiranya Ceng Han Houw benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Pandang matanya sampai kabur menyaksikan anak itu mengamuk dikeroyok dua orang yang memegang pedang dan golok itu, sedangkan tiga orang lainnya ditahan oleh sinar merah dari Kim Hong Liu-nio, membuat mereka bertiga bergerak bingung karena ujung sinar merah itu kini berubah banyak sekali dan melakukan totokan-totokan pada jalan-jalan darah maut mereka!

Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan si pemegang golok roboh terguling, dari lehernya mengucur darah karena tenggorokannya telah tertembus oleh ujung pedang Han Houw! Dan kini si pemegang pedang dengan muka pucat berusaha untuk mempertahankan diri sambil memutar pedangnya yang telah buntung!

Semua ini tidak terlepas dari pandang mata Gak Song Kam. Menyaksikan semua itu, ketua Jeng-hwa-pang ini terkejut bukan main. Dia sendiri, setelah mengerahkan seluruh kepandaiannya, baru dapat mengimbangi Ngo-heng-tin. Dan kini, Ngo-heng-tin menjadi kocar-kacir hanya menghadapi seorang bocah yang dibantu oleh wanita cantik itu, bahkan seorang di antara mereka telah roboh dan tewas, sedangkan yang empat orang lagi dia tahu tentu hanya tinggal menanti waktu saja. Melihat gerakan sabuk merah dari Kim Hong Liu-nio, dia tahu bahwa kalau wanita itu menghendaki, tentu sudah sejak tadi tiga orang temannya itu dapat dirobohkan, akan tetapi agaknya wanita itu benar-benar hendak “melatih” sutenya dan membiarkan sutenya merobohkan lima orang itu dan dia hanya membantu hanya untuk mencegah tiga orang itu mengeroyok. Dan melihat ini semua, tanpa bertandingpun tahulah ketua Jeng-hwa-pang ini bahwa dia sendiri bukan lawan Kim Hong Liu-nio dan usahanya membalas dendam akan sia-sia belaka, bahkan dia hanya akan menyerahkan nyawanya. Maka timbullah akal yang curang di dalam benak Gak Song Kam. Sejak tadi dia melirik ke arah Sin Liong. Dia tidak tahu siapa anak itu, akan tetapi melihat gerak-geriknya, anak itu tidaklah selihai anak laki-laki yang memegang pedang itu, akan tetapi karena datang bersama Kim Hong Liu-nio, tentu anak itupun merupakan seorang anggauta keluarga atau anggauta rombongan. Maka diam-diam dia lalu memberi isyarat kepada para anak buahnya. Semua anggauta Jeng-hwa-pang adalah orang-orang yang telah bersumpah setia kepada Jeng-hwa-pang, maka begitu melihat isyarat itu, mereka lalu bergerak dan mencabut senjata, menyerang Kim Hong Liu-nio dan Ceng Han Houw!

Kim Hong Liu-nio terkejut dan marah sekali. Dia mengeluarkan suara melengking nyaring untuk memberi aba-aba kepada pasukan yang mengurung tempat itu, kemudian dia sendiri sudah mencabut pedangnya dan mengamuk sambil melindungi Han Houw. Ketika dia mencari-cari dengan pandang matanya di antara pengeroyokan anak buah Jeng-hwa-pang, dia tidak lagi melihat Gak Song Kam.

Ke manakah perginya ketua Jeng-hwa-pang ini? Orang yang cerdik ini setelah melihat anak buahnya menyerbu, lalu dia meloncat dan menyelinap di antara anak buahnya, bukan untuk mundur dan melarikan diri, melainkan untuk menghampiri kereta yang telah ditinggalkan oleh tujuh belas orang pengawal itu. Para pengawal yang melihat betapa anak buah Jeng-hwa-pang telah turun tangan mengeroyok, tentu saja cepat menggerakkan senjata dan menghadapi mereka dengan sengit. Kesempatan ini dipergunakan oleh Gak Song Kam untuk menyerang ke depan dan menangkap Sin Liong.

“Eh, kau mau apa?” Sin Liong membentak dan berusaha mengelak, akan tetapi tetap saja pundaknya telah kena dicengkeram oleh ketua Jeng-hwa-pang itu.

“Diam kau, dan kau ikut saja bersamaku!” bentak Gak Song Kam sambil mengangkat tubuh Sin Liong, mengempitnya dan mencengkeram tengkuknya, lalu ketua Jeng-hwa-pang ini melarikan diri.

Setiap kali bertemu dengan pasukan yang mulai berdatangan, dia mengancam, “Biarkan aku lewat, kalau tidak, kubunuh lebih dulu anak ini!”

Para anggauta pasukan tidak mengenal Sin Liong, akan tetapi karena pengawal yang tadi melihat Sin Liong naik kereta bersama sang pangeran, cepat berseru agar Gak Song Kam yang telah menawan anak itu tidak diganggu! Demikianlah, Gak Song Kam berhasil melarikan diri sambil mengempit tubuh Sin Liong.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Kim Hong Liu-nio yang nyaring. “Tahan dia itu! Tangkap ketua Jeng-hwa-pang yang curang itu!”

Kiranya, setelah melihat lenyapnya Gak Song Kam, Kim Hong Liu-nio menjadi marah bukan main. Sambil melindungi Han Houw, cepat dia merobohkan empat orang Heng-san Ngo-houw, kemudian dia mengajak Han Houw mundur, membiarkan tujuh belas orang pengawal itu menghadapi para anak buah Jeng-hwa-pang karena kini pasukan telah bergerak maju dan tentu puluhan orang Jeng-hwa-pang itu akan dibasmi habis. Bersama Han Houw dia lalu mencari-cari Gak Song Kam dan akhirnya dia melihat orang itu yang melarikan diri sambil mengempit tuhuh Sin Liong.

“Celaka, suci. Dia melarikan Sin long!”

Seruan Han Houw ini mengejutkan Kim Hong Liu-nio. Kalau Han Houw pada saat itu mengkhawatirkan keselamatan Sin Liong yang terjatuh ke tangan ketua Jeng-hwa-pang, sebaliknya Kim Hong Liu-nio khawatir kalau-kalau dia kehilangan Sin Liong yang akan dijadikan sandera untuk menemukan musuh besarnya, ayah kandung anak itu, dan menundukkannya. Jadi kekhawatiran kedua orang ini mempunyai dasar yang jauh berbeda. Han Houw diam-diam mengagumi dan merasa suka sekali kepada Sin Liong yang dianggapnya jauh berbeda dari anak-anak biasa, apalagi sikap Sin Liong terhadap dirinya yang tidak menjilat-jilat seperti anak-anak lain, benar-benar menimbulkan kesan di hatinya dan dia merasa suka bersahabat dengan anak itu.

Melihat Gak Song Kam melarikan Sin Liong, Kim Hong Liu-nio lalu berteriak menyuruh pasukan yang berada di belakang untuk menahan orang, itu. Akan tetapi pada saat itu, Gak Song Kam telah berhasil keluar dari kepungan dan kini mendengar seruan Kim Hong Liu-nio, kurang lebih tiga puluh orang perajurit anggauta pasukan kecil yang berada paling belakang, segera membalikkan tubuhnya dan mereka berlari-larl mengejar!

Melihat tiga puluh orang lebih mengejarnya dan melepaskan anak panah, Gak Song Kam cepat menggerakkan tangan kanannya dan tangan itu telah menyebar bubuk berwarna hitam di belakangnya. Bubuk itu tertiup angin berserakan di sepanjang jalan dan juga terbawa angin tersebar sampai jauh. Ketika tiga puluh orang lebih itu tiba di tempat itu tiba-tiba mereka itu menjerit dan robohlah tiga puluh lebih orang itu berkelojotan di atas tanah sambil kedua tangan mencekik leher sendiri. Mereka telah terkena hawa beracun dari bubuk hitam yang ditaburkan oleh ketua Jeng-hwa-pang itu!

Melihat ini, pasukan lain dari sebelah kiri bergerak maju untuk menghadang dan pada saat itu, Cak Song Kam melempar-lemparkan beberapa benda-benda kecil, terdengar ledakan dan nampak asap kehitaman mengepul memenuhi jalan.

“Jangan kejar! Kembali...!” Kim Hong Liu-nio berseru, namun terlambat karena belasan orang perajurit telah tiba di tempat itu dan kembali terdengar jerit-jerit mengerikan dan mereka itu terguling roboh. Asap beracun itu seketika membunuh mereka dan muka mereka berubah menjadi kehijauan!

“KEPARAT!” Kim Hong Liu-nio kini meninggalkan Han Houw. “Sute, jangan ikut mengejar!” teriaknya kemudian tubuhnya melesat, ketika tiba di tempat di mana disebar racun, dia mengerahkan sin-kangnya menahan napas, lalu meloncat seperti seekor burung terbang melampaui tempat itu dan tiba di sebelah sana yang aman. Akan tetapi, karena pada waktu itu senja telah datang dan di sebelah depan merupakan hutan yang gelap, dia tidak lagi melihat bayangan ketua Jeng-hwa-pang. Kim Hong Liu-nio berdiri termangu-mangu. Dia adalah seorang yang sakti dan jangankan baru menghadapi seorang seperti Gak Song Kam saja, biar ada lima orang Gak Song Kam dia tidak akan takut menandinginya. Akan tetapi, Gak Song Kam adalah seorang ahli racun, dan kini orang yang curang itu telah berada di dalam hutan gelap. Menghadapi seorang curang seperti ketua Jeng-hwa-pang itu, di tempat gelap dan orang itu ahli racun, benar-benar merupakan bahaya besar dan Kim Hong Liu-nio bukanlah seorang bodoh. Memang dia kehilangan Sin Liong, akan tetapi anak itu dalam waktu enam bulan akan mati juga. Pula, untuk mencari Cia Bun Houw tanpa bantuan Sin Liongpun dia masih sanggup. Maka setelah mengepal tinju memandang ke arah hutan gelap dan di dalam hatinya berjanji untuk kelak membunuh Gak Song Kam, dia lalu membalikkan tubuh kembali kepada sutenya yang telah menantinya di dalam kereta. Ternyata bahwa tujuh puluh lebih anggauta Jeng-hwa-pang, tidak ada seorangpun yang dapat lolos. Semua terbunuh oleh pasukannya, akan tetapi fihak pasukan juga kehilangan banyak orang, hampir dua ratus orang anggauta pasukan tewas karena orang-orang Jeng-hwa-pang tadi juga menggunakan racun-racun yang menjatuhkan banyak lawan.

Setelah memesan agar para komandan pasukan mengurus anak buah yang telah tewas, Kim Hong Liu-nio lalu memilih dua ekor kuda terbaik, kemudian bersama Han Houw dia melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda, menuju ke selatan, ke tembok besar untuk mulai dengan perjalanannya yang jauh dan penuh bahaya, menuju ke Kerajaan Beng, selain untuk memenuhi perintah permaisuri, yaitu mengusahakan agar Han Houw dapat berjumpa dengan kaisar, juga untuk mencari musuh-musuh besar gurunya, yaitu Cia Bun Houw, Yap In Hong, dan Tio Sun.

Sementara itu, Sin Liong terus dibawa lari oleh ketua Jeng-hwa-pang memasuki hutan lebat. Anak ini berusaha meronta, namun cengkeraman tangan Gak Song Kam amat kuat. Seorang dewasa yang bertenaga besarpun takkan dapat berkutik kalau dicengkeram oleh orang she Gak ini, apalagi seorang anak kecil seperti Sin Liong.

Malam telah tiba ketika Gak Song Kam berhenti berlari. Dia menotok jalan darah di punggung Sin Liong, membuat anak itu lemas tak mampu bergerak, lalu melemparkan Sin Liong ke atas rumput sedangkan dia sendiri lalu menjatuhkan diri di atas rumput, lalu kakek bertubuh tinggi tegap yang kelihatan gagah perkasa itu menangis! Menangis terisak-isak dan bercampur keluhan panjang pendek yang keluar dari kerongkongannya. Air matanya bercucuran, diusapnya dengan kedua tangan, seperti seorang anak kecil yang menangis karena kecewa hatinya. Semua ini daput dilihat oleh Sin Liong yang roboh terlentang karena ada sinar bulan yang cukup terang menerobos di antara celah-celah daun pohon dan menyinari muka kakek yang sedang menangis itu.

Watak anak itu memang aneh sekali. Hatinya keras dan dia akan menentang segala ketidakadilan dengan penuh keberanian dan dia tabah sekali menghadapi ancaman apapun juga. Akan tetapi di balik ini, dia memiliki watak yang mudah terharu, mudah menaruh iba kepada orang lain, maka begitu melihat kakek itu menangis demikian sedihnya, dia merasa terharu sekali dan kasihan, lupa bahwa kakek ini telah menangkapnya dan membuatnya tidak berdaya dengan totokan.

“Paman, mengapa engkau menangis demikian sedihnya?” tak tertahankan lagi dia bertanya, suaranya penuh keprihatinan.

Mendengat pertanyaan itu, Gak Song Kam menangis makin keras lagi, seolah-olah pertanyaan itu menggugah semua kenangan yang pahit dan dia merasa benar betapa dia kini hanya sendirian saja, kehabisan keluarga, kehabisan anak buah yang telah dibasmi musuh! Akan tetapi, semua ini mengingatkan dia akan kekejaman Kim Hong Liu-nio dan tiba-tiba tangisnya terhenti, dia terbelalak menoleh ke arah Sin Liong dan membentak, “Bocah setan! Mereka telah membasmi semua anak buahku dan keluargaku. Baik, biarpun aku belum dapat membalas kepada iblis betina itu, setidaknya aku sudah dapat memuaskan dendamku kepadamu!” Dia lalu meloncat, menyambar kedua kaki Sin Liong dan diseretnya tubuh anak itu ke bagian yang lebih dalam dari hutan itu. Tentu saja Sin Liong tersiksa sekali, tubuhnya lecet-lecet dan babak belur terkena duri-duri ketika dia diseret dan dia sama sekali tidak mampu bergerak karena tubuhnya masih tertotok. Akhirnya, kakek itu berhenti di sebuah lereng bukit dan di bawah pohon-pohon besar itu terdapat sebuah lubang yang dalamnya ada dua meter, seperti sebuah sumur.

“Ha-ha-ha, akan kulihat engkau mengalami siksaan yang paling mengerikan! Sekarang ini bagianmu untuk menebus dosa itu, kelak baru akan kuseret iblis betina ke tempat ini!” seperti orang gila Gak Song Kam tertawa bergelak dan karena ketika tertawa itu dia mengangkat muka, maka sinar bulan persis menimpa mukanya, membuat wajah itu kelihatan kelam dan seperti muka setan!

“Paman, apa yang akan kaulakukan kepadaku?” Sin Liong bertanya karena dia merasa tidak bermusuhan dengan orang ini akan tetapi kenapa orang ini menyiksanya?

“Ha-ha-ha, kau ingin tahu? Ingin melihat? Nah, kaulihatlah!” Dia menyambar tubuh Sin Liong dan menggantung tubuh itu dengan kaki di atas kepala di bawah, lalu dia menggantung tubuh itu di sumur. Dengan kepalanya tergantung itu, Sin Liong dapat melihat lubang sumur yang gelap menghitam, akan tetapi nampak olehnya beberapa ekor ular merah bergerak-gerak di dasar lubang sumur itu!

“Ha-ha-ha, sudah kaulihat? Itulah lima ekor ular merah yang kami kumpulkan di sini, kami pelihara untuk diambil racunnya. Lima ekor ular yang paling ganas di dunia ini, dan aku akan melemparmu ke dalam lubang itu!” Setelah berkata demikian, Gak Song Kam kembali melemparkan tubuh Sin Liong ke atas tanah di dekat lubang sumur yang mengerikan itu. Melihat ular-ular itu, Sin Liong bergidik. Ngeri juga hatinya melihat ular-ular itu, dan teringatlah dia akan cerita ibunya bahwa di waktu kecilpun dia pernah digigit ular dan hampir mati. Teringat akan hal itu, dengan sendirinya dia teringat akan ibunya dan terbayanglah di depan matanya betapa ibunya, yang tadinya dianggap sebagai ibu angkatnya akan tetapi kemudian ternyata adalah ibu kandungnya sendiri, telah tewas.

“Ibuuuu...!” Sin Liong menjerit dan tiba-tiba saja anak ini menangis! Tangisnya sesenggukan karena semenjak saat ibunya terbunuh sampai saat ini, dia selalu berada di dalam ketegangan dan dia belum memperoleh kesempatan untuk meluapkan kesedihannya. Kini, teringat akan kematian ibunya, ibu kandungnya, tiba-tiba saja dia merasa begitu berduka sehingga dia menjerit dan menangis tersedu-sedu. Air matanya bercucuran tak dapat diusapnya karena kaki tangannya lumpuh tertotok.

“Ha-ha-ha-haaaa...!” Gak Song Kam girang bukan main. Terhibur juga hatinya yang berduka melihat “musuhnya” tersiksa seperti itu. Dia mengira bahwa Sin Liong menangis karena ketakutan, maka memanggil-manggil ibunya!

“Ibuu... ah, ibuuu... bu-hu-huuuh...!”

“Ha-ha-ha-haahhh...!”

Suara tangis dan tawa itu berselang-seling seperti berlumba, dan makin Sin Liong mengingat ibunya, makin hebatlah tangisnya dan makin keras pula suara ketawa Gak Song Kam yang merasa terhibur oleh kedukaan anak yang dianggapnya musuh besar atau setidaknya keluarga dari musuh besarnya ini.

“Ha-ha-ha, sekarang menangislah engkau, menangis terus sampai arwahmu akan menjadi setan yang menangis. Ha-ha-ha!” Gak Song Kam menepuk punggung Sin Liong membebaskan totokannya sehingga anak itu dapat bergerak lagi. Kemudian sambil tertawa-tawa, ketua Jeng-hwa-pang itu lalu melemparkan tubuh Sin Liong ke dalam lubang sumur!

“Bukk!” Tubuh Sin Liong terbanting ke atas tanah yang agak lembek dan Sin Liong terguling-guling sampai tubuhnya membentur dinding sumur. Anak ini terlentang, pakaiannya berlepotan tanah lumpur. Terdengar suara tertawa dan Sin Liong yang terlentang itu melihat kepala dan wajah yang menyeramkan dari Gak Song Kam di atas lubang sumur. Kakek itu menjenguk ke bawah sambil tertawa.

Tiba-tiba hidung Sin Liong mencium bau yang harum bercampur amis dan mendengar suara mendesis. Dia terkejut, teringat akan ular-ular merah tadi dan cepat dia meloncat bangun dan berdiri. Akan tetapi pada saat itu, dia merasa betisnya digigit dari bawah.

“Aduhh...!” Dia berseru kaget dan merasa betapa betisnya nyeri dan ada rasa “cess” seperti terkena sesuatu yang amat dingin, akan tetapi rasa dingin yang menyusup sampai ke tulang sumsum dan mendatangkan kenyerian hebat. Saking nyerinya, seketika dia terjatuh dan meraba betis kirinya yang tergigit itu, tangannya mencengkeram seekor ular kecil, besarnya hanya seperti ibu jari kakinya dan panjangnya hanya beberapa jengkal. Akan tetapi tubuh ular yang membelit kakinya itu ketika dia mencengkeram, ternyata lemas dan ketika dia renggutkan terlepas dari kakinya, ternyata ular itu telah mati!

“Cesss...! Aduhhh!” Kini tiba-tiba pahanya tergigit sesuatu dan rasa dingin menyusup tulang membuatnya menggigil. Seperti tadi, tangannya yang telah melempar bangkai ular merah itu menangkap ular yang menggigit paha kanannya, dan sungguh aneh! Kembali dia hanya menangkap ular merah yang telah mati lemas, sungguhpun bangkai ular itu masih hangat, tubuh ular itu masih berkelojotan sedikit. Di bawah sinar bulan purnama yang hanya sedikit memasuki sumur kering itu, dia melihat ular kedua yang kulitnya belang-belang merah itu, akan tetapi kembali ada ular yang telah menggigit lengan kirinya. Sebelum dia menangkap ular ini, ada lagi yang menggigit pinggang dan ada yang menggigit pundaknya. Rasa dingin yang amat hebat membuat Sin Liong terguling lagi dan mengaduh-aduh, kedua tangannya mencengkeram ke sana-sini dan seperti dua ekor ular yang pertama, juga tiga ekor ular merah itu telah mati begitu menggigit tubuhnya. Sin Liong merintih-rintih, rasa dingin membuat seluruh tubuhnya menggigil. Dia tidak lagi memperdulikan suara ketawa di atas, suara Gak Song Kam yang menikmati pemandangan remang-remang di bawah itu, di mana dia hanya melihat anak itu jatuh bangun dan mengaduh-aduh. Dia mengira bahwa tentu anak itu sedang dikeroyok oleh lima ekor ular yang dipeliharanya di dalam lubang itu. Dan dia membuka mata lebar-lebar, ingin sekali melihat anak itu ditelan oleh ular hutan besar yang juga berada di dalam lubang, ular yang tidak beracun akan tetapi besarnya sepaha manusia dan tentu akan senang sekali melihat anak itu, atau mayatnya ditelan perlahan-lahan oleh ular besar ini.

Kalau saja Gak Song Kam dapat melihat dengan jelas, tentu dia akan terkejut setengah mati melihat betapa lima ekor ular merah itu telah mati seketika begitu menggigit tubuh Sin Liong! Hal ini terjadi karena kebetulan saja. Seperti telah kita ketahui, di dalam tubuh Sin Liong mengeram racun Hui-tok-san, yaitu racun yang amat hebat, yang akan membunuh anak itu sedikit demi sedikit. Racun Hui-tok-san ini sifatnya panas dan jahat bukan main. Sebaliknya, racun ular merah yang sama jahat dan berbahaya, justeru mempunyai sifat yang sebaliknya. Racun ular merah jenis yang dipelihara oleh ketua Jeng-hwa-pang itu mempunyai sifat dingin dan sekali racun ini memasuki jalan darah manusia, dalam waktu sebentar saja manusia itu tentu akan mati. Akan tetapi, darah Sin Liong sudah diracuni oleh Hui-tok-san, maka begitu ular-ular itu menggigit, mereka bertemu dengan lawan hebat, maka seketika ular-ular itu mati, tidak kuat menghadapi hawa panas yang menyerang dari dalam tubuh Sin Liong.

Kini Sin Liong yang tersiksa hebat sekali. Biarpun lima ekor ular meran itu telah mati, akan tetapi di dalam tubuhnya masih terjadi perang yang amat hebat dan menimbulkan penderitaan yang sukar dilukiskan. Seluruh tubuhnya sakit-sakit, sebentar seperti akan terbakar, kemudian berganti berubah dingin seperti membeku, seluruh kulit tubuhnya seperti ditusuk-tusuk, dan dari dalam seperti ada ribuan ekor semut yang menggigitnya! Tanpa disadarinya, dia mengeluh dan jatuh bergulingan di atas dasar sumur yang berlumpur, tidak ingat dan tidak mendengar lagi akan suara ketawa dari atas sumur.

Memang agaknya belum waktunya bagi Sin Liong untuk tewas. Dua macam racun yang menguasai tubuhnya itu justeru memiliki sifat yang berlawanan, dan keduanya adalah racun-racun yang paling ganas di dunia ini. Kalau racun ular merah itu yang telah memasuki tubuhnya lebih banyak atau kurang sedikit saja, nyawanya tidak akan tertolong lagi! Akan tetapi yang memasuki tubuhnya justeru tepat sekali, berimbang dengan racun Hui-tok-san, sehingga perimbangan yang tepat ini membuat dua macam racun itu saling serang dan akhirnya keduanya mati sendiri atau kehilangan dayanya, menjadi punah atau luntur sehingga tanpa disadari oleh anak itu kini Sin Liong terbebas dari ancaman maut. Racun Hui-tok-san yang oleh Kim Hong Liu-nio dimasukkan ke dalam tubuhnya dan yang akan membunuhnya dalam waktu enam bulan, kini telah buyar dan punah, sebaliknya racun lima ekor ular merah itupun kehilangan dayanya karena punah oleh Hui-tok-san!

Akan tetapi, rasa nyeri akibat perang yang terjadi di dalam tubuhnya antara racun ular-ular merah dan Hui-tok-san, benar-benar amat menyiksa sehingga dalam keadaan setengah sadar Sin Liong bergulingan dan mengeluh. Dan pada saat itu, terdengar suara mendesis-desis dan seekor ular yang besar dan panjangnya ada tiga meter, meninggalkan akar besar di mana dia melingkar di dinding sumur itu dan bergerak turun menghampiri Sin Liong yang masih bergulingan! Tubuh anak itu memang kuat sekali berkat bertahun-tahun digembleng oleh kehidupan liar bersama monyet-monyet di atas pohon. Maka, setelah dua macam racun itu mulai kehilangan kekuatan masing-masing karena saling memunahkan, dia mulai sadar dan telah bangkit berdiri dan terhuyung, lalu bersandar pada dinding sumur. Dia membuka matanya dan pada saat itu dia melihat dua cahaya kecil mencorong, yaitu mata dari seekor ular besar yang telah berada di depannya, kepalanya tergantung ke bawah, lidahnya menjilat-jilat keluar! Sin Liong terkejut bukan main, terkejut, ngeri, juga marah karena tubuhnya tersiksa oleh rasa nyeri yang hebat. Semua perasaan ini mendorong keluar nalurinya dan dia mengeluarkan pekik dahsyat, bukan pekik manusia lagi melainkan pekik seekor kera muda yang sedang marah. Kemudian, terdorong oleh keliaran ini, dia bukannya menjauhkan diri dari kepala ular besar itu, melainkan sebaliknya malah. Dia menubruk maju dan mencengkeram leher ular itu! Ular itu mendesis dan membuka mulut akan tetapi dengan seluruh kekuatan Sin Liong mencekik leher ular. Ular itu lalu membelitkan tubuhnya, membelit-belit pinggang dan leher Sin Liong. Anak ini tentu saja tidak mampu bertahan dan dia terguling, tubuhnya terbelit-belit ular itu dan terasa betapa lehernya tercekik. Karena marah, Sin Liong lalu menggereng, membuka mulutnya dan menggigit leher ular itu. Digerogotinya leher ular itu sekuat tenaga, penuh keganasan dan kemarahan dan dia segera merasa darah segar yang panas memasuki mulutnya. Akan tetapi dia tidak perduli dan menggigit terus, menggigit terus! Ular itu besar dan kuat sekali. Seorang laki-laki dewasa sekalipun tidak akan mungkin dapat melawan tenaga lilitannya, apalagi Sin Liong. Kalau saja dia tidak berlaku nekat dan menggigit leher ular itu, tentu lehernya sendiri sudah patah dililit oleh ular itu. Karena gigitannya itulah, maka ular itu merasa kesakitan dan meronta, membuat lilitannya tidak teratur, tidak sampai mematahkan tulang leher atau punggung Sin Liong, akan tetapi tentu saja makin menyiksa anak itu.

Ketika mendengar suara pekik dahsyat yang keluar dari mulut Sin Liong tadi, Gak Song Kam terkejut bukan main, akan tetapi juga merasa gembira. Dalam diri setiap orang manusia memang terdapat semacam nafsu yang buas ini, yaitu rangsangan yang menimbulkan ketegangan yang nikmat apabila menyaksikan suatu siksaan atau kekejaman berlangsung menimpa diri lain orang atau lain mahluk. Nafsu yang mungkin diwarisi dari binatang inilah yang membuat manusia suka sekali nonton adu tinju, adu jengkerik, adu ayam, dan bunuh-membunuh, baik antar manusia maupun antar mahluk hidup. Nafsu yang dikenal dengan sebutan sadisme ini menguasai orang-orang yang lemah batinnya, orang-orang yang menonjolkan iba diri sehingga dia akan merasa senang melihat orang lain atau mahluk lain lebih menderita daripada dirinya sendiri. Nafsu inilah yang menimbulkan segala macam perbuatan keji dan kejam di antara manusia.

Gak Song Kam yang mendengar pekik itu mengira bahwa tentu penyiksaan atas diri anak di dalam lubang sumur itu sudah mencapai puncaknya dan dia tidak ingin kehilangan kesempatan menyaksikan pemandangan yang dianggapnya menegangkan dan menyenangkan itu. Maka cepat dia lalu membuat api, membakar sebongkok kayu kering sebagai obor, lalu dengan penerangan itu dia membantu sinar bulan menerangi ke dalam lubang sumur untuk menonton.

Akan tetapi, selagi dia menjenguk ke dalam lubang dan menggunakan tangan kiri menutupi sinar obor yang terlalu menyilaukan pandangannya, tiba-tiba terdengar pekik-pekik seperti tadi, kini banyak dan berulang-ulang. Bekas ketua Jeng-hwa-pang itu terkejut bukan main karena mendengar pekik-pekik itu bukan keluar dari lubang sumur, melainkan dari belakangnya. Cepat dia membalikkan tubuh memandang dan mengangkat obornya dan hampir dia sendiri berteriak saking kagetnya. Tempat itu penuh dengan monyet-monyet besar yang menyeringai marah, memperlihatkan gigi-gigi bertaring dan mata kecil-kecil yang tajam dan liar! Sebetulnya, yang datang berloncatan dari atas pohon-pohon itu hanya ada belasan ekor monyet besar saja, akan tetapi karena cuaca remang-remang dan pekik dahsyat yang keluar dari kerongkongan rombongan monyet itu saling sahut, berloncatan dari segala penjuru, sedangkan hati Gak Song Kam terkejut bukan main, maka dia merasa seolah-olah yang muncul ada ratusan ekor monyet! Dalam keadaan biasa, tentu saja orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini tidak takut menghadapi rombongan monyet-monyet itu. Akan tetapi pada saat itu, Gak Song Kam adalah seorang pelarian yang baru saja meloloskan diri dari ancaman maut, maka melihat munculnya “ratusan” ekor monyet besar itu, seketika timbul dugaannya bahwa hal ini tentulah merupakan siasat dari Kim Hong Liu-nio, wanita iblis itu. Maka, tanpa berpikir dua kali, dia lalu membuang obornya dan melarikan diri dari tempat itu dengan cepat sebelum wanita yang ditakutinya itu muncul!

Sin Liong merasa betapa darah bercucuran dari leher ular yang digerogotinya itu, membasahi seluruh mukanya dan membikin pedih kedua matanya. Akan tetapi dia nekat, terus menggigit dan tidak mau melepaskan leher ular itu. Lilitan tubuh ular pada lehernya makin mencekik dan dia tidak bernapas lagi, kepalanya terasa seperti mau meledak, hidungnya yang tadi mencium bau amis kini mencium bau hangus.

Sin Liong tidak tahu lagi betapa pada saat itu, beberapa ekor monyet besar berloncatan, masuk ke dalam lubang sumur dan seekor monyet betina besar menggereng, merenggut tubuh yang melilit tubuhnya itu dengan penuh kemarahan, dan menggigit kepala ular itu. Beberapa ekor monyet membantu dan akhirnya tubuh ular itu mereka robek-robek. Kemudian, monyet betina besar itumengeluarkan suara menguik-nguik seperti menangis melihat tubuh Sin Liong yang terlentang pingsan, dipondongnya tubuh itu dan dibawanya merayap naik bersama teman-temannya. Tak lama kemudian, belasan ekor monyet itu menghilang di antara daun-daun pohon. Mula-mula pohon-pohon di sekitar tempat itu berkerosakan, dan cabang-cabangnya bergoyang-goyang, akan tetapi tak lama kemudian keadaan menjadi sunyi dan rombongan monyet itu telah pergi jauh.

Tidak sampai sepuluh hari lamanya, Sin Liong sudah sembuh kembali dari luka-lukanya. Dia dirawat oleh monyet betina yang menjadi induknya ketika dia masih bayi, dan beberapa hari kemudian, dia telah dapat bergerak bebas dengan para monyet, berkejaran di pohon-pohon, mencari buah-buahan dan hidup bersama mereka dengan bebas. Sin Liong sama sekali tidak merasa canggung hidup di antara binatang-binatang ini, bahkan dia merasa mendapatkan kembali dunianya yang amat dicintanya. Begitu bebas, begitu wajar, begitu sehat! Selama beberapa hari saja hidup di antara monyet-monyet itu, di dalam hutan lebat, dia telah melupakan semua kedukaannya, lupa akan kematian ibu kandungnya, lupa akan orang-orang yang tadinya dianggap musuh besarnya, lupa akan dendamnya dan dia benar-benar hidup dengan wajar dan bahagia. Tidak pernah ada persoalan atau masalah yang timbul dari pikiran, yang ada hanyalah soal-soal yang wajar seperti perut lapar, tubuh lelah, panasnya matahari, dinginnya hawa malam, hujan, bahaya-bahaya yang muncul dari alam, dan segala masalah yang langsung dihadapinya dan langsung diatasinya pula. Tidak ada masalah yang timbul dari pikiran, seperti dalam kehidupan masyarakat manusia, yang berisi kecewa, iri, benci, dendam, dan sebagainya yang kesemuanya menuntun kepada penderitaan dan kedukaan hidup.

Tak dapat disangkal pula bahwa manusia merupakan makluk yang paling pandai di antara semua makluk hidup dan sudah telah memperoleh kemajuan yang amat hebat dalam soal kebendaan, soal jasmaniah, soal lahiriah. Kemajuan-kenajuan pesat yang mentakjubkan telah dicapai oleh manusia dengan segala keajaiban tehnik. Akan tetapi, sungguh sayang, kemajuan jasmaniah ini tidak disertai kemajuan rohaniah, kemajuan lahiriah tidak diimbangi kemajuan batiniah. Bahkan sebaliknya malah! Justeru kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam bidang lahiriah ini seolah-olah menjadi penghambat kemajuan batiniah, bahkan telah membuat manusia mundur dalam bidang rohani. Kalau kita bandingkan betapa beberapa ratus tahun yang lalu manusia masih mempergunakan gerobak yang ditarik kuda dan kini manusia mempergunakan kendaraan-kendaraan bermesin yang hebat-hebat, bahkan dapat terbang dengan kecepatan melebihi suara, jelaslah bahwa manusia telah memperoleh kemajuan yang amat hebat di bidang kebendaan di banding lahiriah. Akan tetapi, kalau kita bandingkan pula keadaan batiniah manusia ketika masih berkendaraan gerobak dengan batin manusia sekarang, jelas pula nampak bahwa di bidang ini kita mengalami kemunduran hebat! Kejahatan makin merajalela. Permusuhan antara manusia makin menghebat. Perang makin mengganas. Bunuh-membunuh makin menguasai seluruh negara di bagian dunia manapun juga. Mengapa demikian? Apakah justeru kemajuan lahiriah itu yang menyeret manusia mundur dalam bidang batiniah? Apakah kemajuan di bidang kebendaan itu telah mendatangkan kebahagiaan kepada manusia? Kita dapat membuka mata melihat kenyataan dan jawabannya jelas: Tidak! Kemajuan di bidang kebendaan jelas tidak mendatangkan kebahagiaan. Bukan berarti bahwa kita tidak semestinya maju dalam bidang kebendaan. Sama sekali tidak! Akan tetapi kita tidak pernah mau meneliti dan menyelidiki tentang kehidupan batiniah kita. Kita terlampau dibuai oleh kemajuan lahir yang kesemuanya ditujukan kepada pencapaian kesenangan yang sebanyak dan sebesar mungkin! Kita lupa bahwa makin dikejar, kesenangan itu makin mencengkeram kita, makin membuat kita haus. Nafsu tak pernah dapat dipuaskan, karena sekali dituruti, akan terus menyeret kita untuk mendapatkan yang lebih banyak dan lebih besar lagi. Dan justeru pengejaran kesenangan inilah yang menjerumuskan kita ke dalam segala bentuk kejahatan!

Seluruh kehidupan kita telah dikuasai dan dipengaruhi oleh hasrat yang satu, yaitu ingin senang! Hasrat ingin senang ini sampai-sampai menyelinap ke dalam soal-soal yang kita namakan bidang rohaniah, sehingga sebagian besar dari kita memasuki suatu agama, suatu partai, suatu golongan, suatu kelompok kebatinan, hanya terdorong oleh hasrat INGIN SENANG inilah! Marilah kita membuka mata meneliti dan mengamati diri sendiri. Tidaklah di balik semua usaha kerohanian kita itu tersembunyi hasrat itu yang terselubung? Hasrat ingin menjadi orang baik, ingin bebas, ingin menjadi saleh, yang kesemuanya merupakan bentuk terselubung dari hasrat INGIN SENANG. Dan selama terdapat pamrih ingin senang, berarti semua tindakan yang berpamrih mementingkan diri sendiri sudah pasti akan mendatangkan konflik. Karena itulah muncullah agamaKu, negaraKu, partaiKu, keluargaKu, kelompokKu, TuhanKu, dan selanjutnya yang semuanya hanya berdasarkan kepada kesenanganKu, oleh karena itu kalau kesenanganku sampai diganggut aku menjadi marah, benci, dan siap untuk membunuh atau dibunuh! Perang!

Ingin senang! Apakah hidup ini lalu harus menjauhi kesenangan, menolak kesenangan lalu hidup bertapa di gunung-gunung, di guha-guha, atau mengasingkan diri di biara-biara. Sama sekali tidak demikian! Kita lupa bahwa menjauhi kesenangan seperti itu, bertapa dan sebagainya, pada hakekatnya juga masih MENCARI KESENANGAN dalam bentuk lain, menginginkan kesenangan yang kita anggap lebih luhur! Segala macam bentuk pencarian, segala bentuk daya upaya, pada hakekatnya terdorong oleh rasa ingin senang itu, bukan? Baik kesenangan itu kita tingkat-tingkatkan sebagai kesenangan rendah, sedang atau tinggi atau luhur, tetap saja pada dasarnya kita ingin senang! Dan selama ada KEINGINAN untuk senang, maka sudah pasti timbul konflik, timbul pertentangan, karena keinginan yang dihalangi menimbulkan marah dan kebencian, keinginan yang tidak tercapai menimbulkan kekecewaan dan kedukaan, sebaliknya keinginan yang tercapai tidak akan mendatangkan kepuasan abadi, melainkan mendatangkan kepuasan sesaat saja yang kemudian ditelan oleh keinginan yang lebih besar lagi.

Kesenangan bukanlah hal yang jahat atau buruk. Manusia hidup berhak untuk senang! Kita mempunyai panca indra yang dapat merasakan kesenangan itu, dapat menikmati apa yang dinamakan kesenangan itu sehingga mata kita dapat menikmati keindahan setangkai bunga, telinga kita dapat menikmati kicau burung, hidung kita dapat menikmati keharuman bunga, mulut kita dapat menikmati asin, manis, gurih, dan sebagainya lagi. Anugerah sudah berlimpah! Akan tetapi, segala kesenangan yang sebenarnya bukan kesenangan, melainkan kebahagiaan hidup ini, akan berubah menjadi kesenangan yang ingin kita ulang-ulangi, ingin kita peroleh sebanyak dan sebesar mungkin kalau kita MENYIMPAN pengalaman yang nikmat itu ke dalam ingatan! Maka lahirlah keinginan untuk senang, dan muncullah pengejaran kesenangan! Semua ini dapat kita sadari sepenuhnya kalau kita waspada dan mau mengamati diri sendiri setiap saat tanpa penilaian, tanpa usaha mengubah, hanya mengamati saja penuh pengertian, penuh kewaspadaan, yaitu diri sendiri mengamati diri sendiri.

Sin Liong mengalami kebahagiaan karena hidup di antara para monyet itu, dia hidup saat demi saat, tidak lagi dibuai oleh pikiran yang mengingat-ingat dan mengenangkan segala hal yang telah lalu maupun yang akan datang. Kalau lapar mencari makanan dan makan. Kalau lelah beristirahat, kalau mengantuk tidur, kalau kepanasan atau kehujanan berteduh, habis perkara! Yang ada hanya tantangan-tantangan hidup yang muncul seketika dan ditanggulangi seketika pula. Tidak ada pikiran mengkhawatirkan masa depan dan tidak ada pikiran menyesali masa lalu.

Memang amat mengherankan kalau pada suatu pagi orang melihat seorang anak laki-laki yang tampan berkejaran dengan sekelompok monyet, berayun-ayun dan berloncatan tinggi sekali di puncak-puncak pohon dengan amat cekatan, ikut pula mengeluarkan suara teriakan-teriakan seperti monyet dan kadang-kadang melayang dari dahan yang tinggi ke dahan yang lebih rendah dengan luncuran tubuh yang menimbulkan rasa ngeri.

Tubuhnya sudah sembuh sama sekali dari pengaruh racun, sungguhpun hal ini sama sekali tidak disadarinya. Dan tidak tahu bahwa racun Hui-tok-san yang dimasukkan ke dalam tubuhnya oleh Kim Hong Liu-nio itu kini telah lenyap dan musnah oleh racun gigitan ular-ular merah dan bahwa dia telah bebas dari ancaman maut. Namun, Sin Liong sudah tidak memperdulikan lagi akan hal itu. Pagi hari itu dia berloncatan dengan penuh kegembiraan, menuju ke bagian hutan di mana terdapat pohon-pohon yang berbuah.

Tiba-tiba terdengar pekik ketakutan dari seekor monyet, jauh di depan. Suara itu demikian mengejutkan bagi rombongan monyet itu dan juga bagi Sin Liong sehingga mereka semua seketika berhenti bergerak dan semua dahan-dahan pohon yang tadinya bergoyang-goyang, mendadak berhenti sama sekali, suara mereka yang tadinya ramai dan gembira itupun berhenti. Suasana menjadi sunyi dan para monyet itu kelihatan ketakutan, bahkan ada yang menggigil dan memeluk dahan pohon seperti ingin berlindung.

Kembali terdengar pekik dahsyat itu, dan para monyet makin ketakutan. Akan tetapi tiba-tiba Sin Liong mengeluarkan pekik dari kerongkongannya dan dia sudah meloncat dengan gerakan cepat sekali, berloncatan dari pohon ke pohon sambil memekik-mekik. Melihat ini, timbul kembali keberanian para monyet itu dan merekapun bergerak cepat mengejar Sin Liong sambil memekik-mekik.

Biarpun semua binatang, termasuk monyet, tidak pandai bicara seperti manusia yang telah mengembangkan ilmu bercakap-cakap sehingga menjadi amat luas dan lengkap, sehingga setiap benda telah diberi nama atau kata tertentu, namun binatang-binatang itupun mempunyai cara saling berhubungan melalui suara. Oleh karena itu, setiap suara yang dikeluarkan oleh binatang apapun, sudah tentu mempunyai maksud tertentu bagi jenis mereka. Demikian pula dengan suara-suara pekik monyet, suara itu mempunyai makna-makna tertentu dan karena sejak kecil sering kali bergaul dengan monyet-monyet, maka Sin Liong dapat menangkap makna dari suara-suara monyet itu. Ketika tadi mereka mendengar pekik mengerikan dari seekor monyet, mereka maklum bahwa ada seekor monyet yang berada dalam ketakutan hebat, menghadapi bahaya besar, kemudian pekik-pekik selanjutnya memberi tahu kepada mereka bahwa monyet itu sedang berhadapan dengan musuh besar mereka yang amat ganas dan berbahaya, yaitu harimau!

Harimau merupakan raja hutan yang amat ditakuti oleh para monyet itu, karena sudah sering kali harimau menerkam dan membunuh seekor di antara mereka. Kalau mereka sedang bergerombol dalam jumlah banyak, harimau-harimau itu tidak berani menyerang. Akan tetapi begitu ada monyet yang terpencil sendirian, kalau bertemu harimau, tentu akan menjadi korban dan mangsanya. Maka, begitu mendengar pekik itu, tentu saja para monyet tadi menjadi ketakutan. Akan tetapi, tentu saja Sin Liong berbeda dengan mereka. Anak ini sudah sering kali ditolong dan dlselamatkan oleh monyet-monyet itu, dan sebagai manusia yang memiliki daya ingatan kuat, tentu saja hal-hal ini membuat dia merasa berhutang budi dan timbul kesetiakawanan besar di dalam hati anak manusia ini. Maka, begitu rasa kaget dan ngerinya mereda, dia teringat bahwa ada seekor monyet terancam bahaya, maka dia melupakan segala rasa takutnya dan cepat lari menuju ke tempat itu. Dan para monyet itu agaknya baru sadar bahwa mereka berjumlah banyak dan tidak usah takut menghadapi musuh besar itu, maka merekapun cepat mengejar dan mengikuti Sin Liong.

Sin Liong sudah meloncat turun dan benar saja, di depan terdapat seekor monyet besar yang sedang diserang oleh harimau. Monyet itu sudah luka-luka, akan tetapi dia melawan dengan nekat, berloncatan ke sana-sini dan berusaha untuk balas menggigit. Melihat ini, Sin Liong marah sekali, dia mengeluarkan suara gerengan keras dan meloncat ke depan, langsung menerjang harimau itu dengan penuh keberanian, menggunakan kakinya menendang ke arah perut harimau dan tangannya menyambar ke arah ekor harimau yang panjang.

“Bukkk!” Biarpun tendangan itu cukup keras, namun mengenai perut harimau seperti mengenai sekarung beras saja. Kaki anak itu membalik, akan tetapi Sin Liong sudah berhasil memegang ekor binatang itu dan membetotnya. Harimau itu meraung, melepaskan monyet yang tadi sudah diterkamnya, lalu membalik, berusaha untuk mencakar manusia cilik yang memegangi ekornya. Akan tetapi Sin Liong cukup cerdik, dia memegangi ekor harimau itu dengan kedua tangan sekuat tenaga, tidak mau melepaskannya dan kadang-kadang kakinya menendang-nendang sekenanya, mengenai pantat dan kedua kaki belakang harimau yang menjadi makin marah. Harimau itu meraung-raung, menggereng-gereng, akan tetapi Sin Liong juga memekik-mekik nyaring.

Suara yang hiruk-pikuk itu agaknya menarik perhatian harimau lain. Dari balik semak-semak muncul seekor harimau lain yang menggereng dan dengan loncatan tinggi, harimau ke dua ini menubruk dan menerkam Sin Liong dari belakang!

“Aughhh...!” Sin Liong berteriak kaget sekali, kedua pundaknya kena dicakar, bajunya robek dan kulitnya pecah-pecah. Akan tetapi dengan sigap dia lalu membalikkan tubuhnya, dan menyusup ke bawah sehingga terlepas dari terkaman itu. Sin Liong telah menerjangnya dengan tendangan-tendangan dan pukulan secara membabi-buta. Akan tetapi, tentu saja tendangan dan pukulannya tidak dapat merobohkan harimau yang buas dan kuat itu. Kembali Sin Liong menjadi korban cakaran-cakaran kuku harimau sehingga bajunya makin robek-robek tidak karuan, berikut kulitnya sehingga pakaiannya mulai berlumuran darah.

Baiknya, pada saat itu, rombongan monyet telah tiba dan mereka berloncatan turun. Kini jumlah mereka bertambah banyak karena tadi monyet-monyet lain yang sedang berada di lain tempat, mendengar suara-suara itu dan merekapun berdatangan. Melihat di bawah ada dua ekor harimau yang sedang menyerang Sin Liong dan seekor monyet lain yang sudah
luka-luka parah, mereka mengeluarkan suara gerengan dan berloncatan turun, lalu mulailah terjadi pengeroyokan terhadap dua ekor harimau itu. Dua ekor binatang buas ini sudah menjadi ketakutan melihat munculnya begitu banyak monyet, maka ketika mereka diterkam dan dikeroyok, mereka meraung-raung, mencakar ke sana-sini, menggigit sana-sini, akan tetapi akhirnya kedua ekor binatang buas itu terpaksa melarikan diri sambil menggeram marah karena musuh terlampau banyak bagi mereka yang memang sudah merasa ketakutan
ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru , cersil terbaru, Cerita Dewasa, Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 1 cerita mandarin,Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Terbaru,Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 1 Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 1
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 1 dan anda bisa menemukan artikel Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 1 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cersil-kho-ping-hoo-pendekar-lembah.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 1 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 1 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cersil-kho-ping-hoo-pendekar-lembah.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

poker mengatakan...

poker online terpercaya
poker online
Agen Domino
Agen Poker
Kumpulan Poker
bandar poker
Judi Poker
Judi online terpercaya

Posting Komentar