Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 2

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 08 Mei 2012

Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 2

Sin Liong duduk dengan lemas. Seperti beberapa ekor monyet lain, diapun menderita luka-luka dan pakaiannya robek-robek. Dengan bantuan induk monyet besar, dapat juga dia memanjat pohon dan beristirahat di atas pohon, dirawat lagi oleh induk monyet besar dengan penuh kasih sayang, sedangkan monyet-monyet lain yang luka-luka dapat merawat diri sendiri.

Demikianlah, untuk ke sekian kalinya, kembali Sin Liong hidup di antara monyet-monyet. Karena dia sudah pernah digembleng ilmu silat oleh ibunya, maka kini dia dapat menilai gerakan-gerakan para monyet itu yang amat cekatan dan gesit, dan mulailah dia dapat mengambil intisari dari gerakan-gerakan itu untuk dipakai berlatih ilmu silat yang pernah dipelajarinya. Mungkin karena anak ini dibesarkan dalam asuhan monyet, bahkan dihidupkan oleh air susu monyet, maka Sin Liong lebih dapat menangkap naluri monyet-monyet itu sehingga tanpa disadarinya sendiri, dia telah menciptakan ilmu silat monyet yang lebih mendekati aslinya daripada ilmu silat monyet yang telah ada dalam partai-partai persilatan besar. Dia dapat bergerak dengan kecepatan laksana monyet aseli, cara mengelak, cara meloncat, ketajaman pandang mata dan telinga, kecekatan kaki tangan.

Dan yang lebih dari semua itu, dia kini hidup bebas dan berbahagia karena dia tidak lagi mengenal persoalan-persoalan yang selalu memenuhi kehidupan manusia. Satu-satunya urusan baginya, seperti monyet-monyet lain, hanyalah menjaga dan memelihara diri, tubuh yang dimilikinya itu, dari ancaman luar, dan di dalam hubungan antara mereka dia memperoleh kebahagiaan. Kini dia tidak hanya dapat mengerti, bahkan dapat merasakan mengapa seluruh binatang di dalam hutan, kalau sudah bergerombol, menjadi demikian gembiranya, mengapa burung-burung berkicau indah di pagi hari, kupu-kupu beterbangan berkejaran di antara kembang-kembang, kijang dan
kelinci berloncat-loncatan lucu. Mereka semua itu dapat bergembira, dapat hidup berbahagia, karena selain tubuh mereka sehat dan terasa enak, juga mereka tidak dibebani pikiran yang menimbulkan kekhawatiran, penyesalan, kebencian, iri hati, pengejaran bayangan kesenangan dan sebagainya lagi.

Kita tinggalkan dulu Sin Liong dalam dunianya yang menyenangkan itu, dan mari kita tengok keadaan para penghuni Istana Lembah Naga. Seperti kita ketahui, keluarga Kui Hok Boan mengalami malapetaka besar ketika isterinya dari orang she Kui ini tewas di tangan Kim Hong Liu-nio secara mengerikan. Biarpun hatinya merasa cemburu dan marah ketika mendengar kenyataan bahwa isterinya pernah bermain cinta dengan pendekar Cia Bun Houw sehingga kemudian melahirkan Sin Liong yang disangkanya benar ditemukan oleh isterinya itu, namun hati orang she Kui ini berduka sekali oleh kematian Liong Si Kwi. Dia sudah jatuh cinta kepada isterinya yang tangan kirinya buntung itu.

Sebelum dia menikah dengan Si Kwi, Hok Boan adalah seorang petualang asmara yang belum pernah jatuh cinta. Semua perbuatannya terhadap wanita manapun hanya terdorong oleh nafsu berahi belaka. Oleh karena itu banyak wanita yang dia tinggalkan begitu saja setelah dia merasa puas kemudian menjadi bosan, dan di antara wanita itu terdapat dua orang wanita yang melahirkan keturunannya, yaitu dua orang anak laki-laki yang dibawanya ke Lembah Naga dan diakuinya sebagai keponakan. Dia belum pernah jatuh cinta dan hanya ketika dia bertemu dengan Liong Si Kwi maka dia benar-benar jatuh cinta. Setelah dia menikah dengan Si Kwi dan mempunyai anak perempuan kembar itu, dia merasa betapa hidupnya telah aman tenteram dan makmur. Keadaan ini menjinakkan sifat binalnya dan dia dapat hidup sebagai seorang laki-laki terhormat, sebagai seorang suami dan seorang ayah baik-baik. Akan tetapi, siapa menduga akan datangnya malapetaka sehebat itu! Isterinya tewas dalam tangan Kim Hong Liu-nio, seorang iblis betina yang amat lihai dan sampai bagaimanapun dia takkan mungkin melawannya. Kini dia kehilangan isteri yang dicintanya dan kembali dia hidup sebatangkara, malah kini dibebani dengan empat orang anak tanpa ibu!

Kedukaan kehilangan isterinya itu agaknya tidak akan menjadi terlalu berat bagi Hok Boan yang tentu akan dapat menghibur hatinya dan menghilangkan kesepiannya dengan mencari wanita lain yang dapat melayaninya. Apalagi sekarang dia merupakan seorang yang kaya dan terhormat, maka kiranya akan banyak gadis baik-baik yang cukup cantik untuk menjadi isterinya dengan senang hati. Akan tetapi yang membuat Hok Boan bingung adalah perintah yang datang dari raja liar Sabutai melalui utusannya yang mengerikan, Kim Hong Liu-nio, bahwa dalam waktu enam bulan dia harus pergi meninggalkan Lembah Naga! Inilah yang membuatnya menjadi agak bingung. Tentu saja dia dapat mengungsi ke selatan dengan membawa empat orang anaknya dan hartanya, akan tetapi dia tahu bahwa di selatan terdapat banyak musuh-musuhnya dan tentu kehidupannya akan berubah sama sekali, akan lenyaplah semua ketenteraman hidup yang selama ini dinikmatinya di dalam Lembah Naga.

Ikatan selalu menimbulkan duka. Kita hidup terbelenggu ketat oleh ikatan-ikatan sehingga merupakan hal yang teramat sukar untuk dapat bebas. Kita terikat dan menyamakan diri atau menyatukan diri dengah isteri atau suami kita, dengan keluarga kita, kekayaan kita, kesenangan-kesenangan kita, nama kita, negara kita dan sebagainya. Dan sudah pasti bahwa kalau sewaktu-waktu kita harus berpisah dari semua itu, timbullah duka. Bagaimanakah terjadinya ikatan itu? Mengapa kita suka sekali untuk mengikatkan diri secara sadar maupun tidak kepada semua itu?

Ikatan timbul apabila kita menikmati suatu kesenangan dan menyimpan kesenangan itu di dalam ingatan, lalu ingin seterusnya memiliki kesenangan itu. Kita mengalami kesenangan dalam hubungan dengan suami atau isteri, dengan keluarga, dengan kekayaan dan sebagainya sehingga kita ingin memiliki mereka itu untuk selamanya, tidak mau terpisah lagi. Padahal, tiada yang kekal di dunia ini dan perpisahan pasti tiba, dan timbullah rasa takut, kekhawatiran akan kehilangan, kemudian timbullah duka kalau kehilangan. Timbul pula rasa takut akan kematian, yaitu perpisahan terakhir di mana kita harus melepaskan semua yang telah mengikut kita itu!

Dapatkah kita hidup dengan mempunyai segala sesuatu secara lahiriah saja akan tetapi tidak memiliki sesuatu secara batiniah? Punyaku, suara lahiriah. Akan tetapi batin tidak memiliki apa-apa, bebas dan memberi kepada yang menjadi punya kita itu, tidak terikat. Bukan berarti acuh tak acuh, sebaliknya malah. Cinta kasih akan menjadi kotor dan palsu kalau disertai ikatan memiliki ini, karena ikatan ini timbul dari kesenangan yang kita dapat dari orang atau barang yang kita cinta itu! Ikatan berarti bahwa kita hanya ingin memperalat yang kita cinta itu demi kesenangan kita sendiri. Ikatan timbul dari pengejaran kesenangan dan seperti kita ketahui bersama, pengejaran kesenangan menimbulkan konflik, permusuhan, kekecewaan, kebosanan kebencian dan sebagainya. Kalau sudah tidak ada lagi keinginan mengejar kesenangan, maka baru ada kemungkinan batin bebas dari ikatan! Dan kalau batin bebas dari ikatan, baru nampak sinar cinta kasih yang sejati.

Kui Hok Boan mulai berkemas, mengumpulkan harta bendanya yang sekiranya dapat dibawanya. Diapun mulai memberi tahu kepada semua penghuni di sekitar daerah Lembah Naga akan perintah pengosongan tempat itu dalam waktu enam bulan dari Raja Sabutai. Para petani menjadi bingung, akan tetapi mereka tidak segelisah Hok Boan. Mereka, para petani itu, adalah orang-orang miskin yang hidup sederhana. Kesederhanaan hidup membentuk watak mereka menjadi sederhana pula, keinginan merekapun sederhana. Mereka sudah biasa hidup serba kekurangan, maka perintah untuk pergi meninggalkan daerah Lembah Naga itu tidak amat menggelisahkan hati mereka. Tanpa tergesa-gesa, mulailah para penghuni itu mencari-cari tempat lain untuk pindah. Yang penting bagi mereka hayalah tanah-tanah yang subur karena di mana ada tanah subur, mereka tidak khawatir untuk hidup. Dan tanah subur memang tidak banyak di utara, akan tetapi juga ada hal yang menguntungkan, yaitu bahwa tanah-tanah di utara itu masih belum dikuasai oleh pemilik-pemilik perorangan, masih merupakan tanah liar tak bertuan, sungguhpun merupakan daerah kekuasaan Raja Sabutai.

Pada sore hari itu, selagi Kui Hok Boan bercakap-cakap dengan beberapa orang tetangga yang datang untuk membicarakan perintah pengosongan Lembah Naga, empat orang anak itu berada di dalam taman. Mereka itu, Lan Lan, Lin Lin, Siong Bu dan Beng Sin, juga bercakap-cakap akan tetapi yang mereka bicarakan adalah urusan kematian ibu kandung dua orang anak kembar itu dan terculiknya Sin Liong.

“Aku bersumpah kelak akan membunuh wanita iblis itu!” Lan Lan berkata sambil mengepal tinjunya.

“Aku juga!” kata Lin Lin sambil menghapus air matanya karena kematian ibunya selalu memancing keluarnya air matanya kalau teringat olehnya.

Hening sejenak. Lan Lan dan Lin Lin menahan isak, sedangkan dua orang anak laki-laki yang melihat keadaan mereka itupun merasa berduka. Akhirnya Siong Bu berkata, “Jangan khawatir, Lan-moi dan Lin-moi, kelak aku akan membantu kalian. Aku akan memperdalam ilmu silatku dan kelak aku akan menghadapi iblis betina itu!” kata Siong Bu penuh semangat.

“Kasihan sekali Sin Liong,” Beng Sin berkata pula. “Entah bagaimana nasibnya di tangan iblis itu.”

Disebutnya nama Sin Liong membuat empat orang anak itu kembali termenung. Tak mereka sangka bahwa Sin Liong ternyata adalah anak kandung dari ibu Lan Lan dan Lin Lin! Jadi “anak monyet” itu adalah saudara tiri kedua orang anak perempuan ini, saudara tiri seibu!

Siong Bu yang dulu sering kali memusuhi Sin Liong karena iri hati, menarik napas panjang dan dia berkata, “Sin Liong benar-benar seorang yang gagah berani. Aku kagum sekali kepadanya.”

“Dan dia putera pendekar sakti Cia Bun Houw yang menurut cerita bibi merupakan pendekar nomor satu saat ini di dalam dunia!” kata Beng Sin.

Kembali mereka diam dan tiba-tiba mereka berempat menengok ke kiri karena mendengar suara langkah kaki. Mereka terkejut sekali melihat seorang kakek tinggi besar sudah berdiri di situ, entah dari mana datangnya. Kakek ini tubuhnya tinggi besar, kelihatan kuat sekali, pakaiannya sederhana, sepatunya juga tua berdebu, kain penutup kepalanya berwarna hitam, mukanya penuh cambang bauk sehingga kelihatan gagah menyeramkan. Akan tetapi, suara laki-laki itu lembut ketika dia memandang kepada empat orang anak itu dan bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang mempunyai ayah bernama Kui Hok Boan?”

Siong Bu hendak mencegah, akan tetapi sudah terlambat, karena Lan Lan dan Lin Lin sudah menjawab, hampir berbareng, “Kui Hok Boan adalah ayah kami berdua!”

Kini Siong Bu cepat bertanya, “Siapakah lopek ini dan kalau ingin bertemu dengan paman Kui Hok Boan, silakan masuk melalui pintu depan. Saya akan memberitahukan kepada paman bahwa lopok datang...”

“Heiii...!” Beng Sin berseru kaget ketika tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak dan kedua langannya yang besar itu telah menyambar ke depan dan tahu-tahu tubuh Lan Lan dan Lin Lin telah ditangkapnya. “Kalian ikut bersamaku!” katanya kepada dua orang anak perempuan yang menjadi kaget setengah mati dan tidak keburu mengelak itu.

“Lepaskan mereka!” Siong Bu membentak dan menyerang kakek itu. Kakek yang mengempit tubuh dua orang anak perempuan itu mendengus, kakinya yang besar dan panjang melayang ke depan, menyambut serangan Siong Bu. Anak ini terkejut, berusaha untuk mengelak, akan tetapi dia kalah cepat dan tubuhnya sudah terkena tendangan sehingga terlempar ke belakang dan terbanting keras!

“Kau jahat...!” Beng Sin berseru dan juga menyerbu, akan tetapi tendangan ke dua membuat tubuhnya yang gendut itu terguling-guling.

“Lepaskan aku...!”

“Ayah, tolonggg...!” Lan Lan dan Lin Lin menjerit keras sekali. Kakek itu terkejut dan cepat melepaskan mereka, menotok jalan darah mereka membuat kedua orang anak itu tidak mampu bergerak lagi, kemudian menyambar tubuh mereka, mengempit di kedua lengannya dan membawanya lari cepat sekali.

Melihat ini, Siong Bu dan Beng Sin berteriak-teriak dan berusaha mengejar. “Paman...! Tolong cepat...! Lan-moi dan Lin-moi diculik orang...!” Demikian mereka berteriak-teriak.

Kui Hok Boan yang sedang berada di dalam bersama beberapa orang penduduk dusun yang menjadi tamunya, terkejut bukan main mendengar teriakan-teriakan ini. Dia cepat menyambar pedangnya dan melompat ke dalam taman.

“Apa yang terjadi? Mana Lan Lan dan Lin Lin?” teriaknya melihat kedua orang anak laki-laki itu menangis.

“Dilarikan orang... ke sana...” Siong Bu menjawab.

“Seorang kakek brewok... dia menculik mereka...” Beng Sin juga berkata dan mukanya yang bulat itu mewek-mewek.

Hok Boan tidak membuang waktu lagi, cepat dia lari keluar dari dalam taman, melakukan pengejaran. Akan tetapi dia sudah tidak melihat bayangan orang itu. Sampai cuaca menjadi gelap, dia tidak berhasil menemukan jejak orang yang menculik kedua orang anaknya, maka tentu saja hatinya menjadi gelisah bukan main. Dia lalu cepat kembali ke Lembah Naga, mengumpulkan semua anak buahnya dan bersama anak buahnya, kembali dia memasuki hutan, mencari-cari anaknya yang diculik orang. Dua puluh orang lebih itu membawa obor di tangan, diangkatnya tinggi-tinggi dan berteriak-teriak memanggil-manggil nama Lan Lan dan Lin Lin, akan tetapi sampai semalam suntuk mereka mencari, mereka tidak berhasil menemukan jejak penculik yang melarikan dua orang anak perempuan itu. Tentu saja hati Hok Boan menjadi gelisah bukan main dan dia terus mencari.

Siapakah sesungguhnya kakek gagah yang menculik dua orang anak perempuan itu? Dia adalah scorang guru silat yang bernama Ciam Lok yang tinggal di kota Ceng-tek sebelah utara kota raja. Nama Ciam Lok sebagai guru silat telah terkenal juga di daerah itu dan Ciam-kauwsu ini dipercaya para pembesar untuk mendidik anak mereka dengan ilmu silat. Sebagai seorang tokoh di dunia persilatan, tentu saja Ciam-kauwsu terkenal pula di antara orang-orang kang-ouw, bahkan pergaulannya luas sekali, baik dengan fihak orang kang-ouw maupun liok-lim, kaum golongan sesat maupun golongan bersih.

Tidaklah aneh Ciam-kauwsu menjadi kenalan baik dari Kui Hok Boan ketika Hok Boan merantau dan sampai di kota Ceng-tek. Ciam-kauwsu suka kepada orang muda yang selain lihai ilmu silatnya, juga ahli dalam hal kesusasteraan itu. Memang Hok Boan merupakan seorang pemuda yang pandai bergaul dan pandai pula mengambil hati. Karena dia memang memiliki pengetahuan yang luas dalam ilmu silat, maka Ciam-kauwsu amat suka bercakap-cakap dengan dia sehingga lambat laun pemuda itu menjadi sahabat baiknya. Sering kali Hok Boan bermalam di rumah guru silat itu dan tidak asing pula dengan keluarga Ciam-kauwsu.

Ciam-kauwsu mempunyai seorang anak gadis yang bernama Ciam Sui Nio, seorang gadis yang cukup manis dan tentu saja kemanisan wajah gadis ini tidak terlepas begitu saja dari pandang mata Hok Boan yang mata keranjang itu. Dan Hok Boan dengan amat mudah menundukkan hati gadis itu seperti dia telah menundukkan hati ayah dan ibu gadis itu. Tidak aneh lagi kalau akhirnya terjadi hubungan cinta antara dia dan Sui Nio dan hal ini tidak ditentang oleh keluarga Ciam karena memang Ciam-kauwsu menaruh harapan menarik Hok Boan sebagai mantunya.

Akan tetapi, keluarga ini tidak tahu bahwa pemuda yang menarik hati mereka itu adalah seorang pemuda bengal, seorang pria yang memandang semua wanita sebagai bahan menyenangkan hatinya belaka. Bujuk rayu dan pikatan Hok Boan mengena, akhirnya gadis itu lupa diri dan jatuh ke dalam pelukannya, mau saja diperbuat apapun oleh pemuda yang telah menjatuhkan hatinya itu.

Dan hasilnya sungguh hebat bagi keluarga Ciam. Beberapa bulan kemudian, Sui Nio mengandung dan Hok Boan pergi tanpa diketahui lagi jejaknya! Tentu saja keluarga Ciam menjadi geger. Ciam-kauwsu cepat mencari Hok Boan, tidak ada seorangpun yang mengetahui ke mana perginya pemuda petualang asmara itu. Sampai tiga hari lamanya Ciam-kauwsu pergi mencari pemuda itu tanpa hasil dan ketika dia pulang, dapat dibayangkan betapa kaget hatinya melihat betapa puterinya itu telah tewas karena menggantung diri! Puterinya telah menebus aib yang menimpa keluarga Ciam itu dengan nyawanya!

Ciam-kauwsu berduka sekali dan di dalam hatinya tumbuh dendam yang hebat terhadap Hok Boan. Dia maklum bahwa dalam hal ilmu silat, biarpun belum tentu dia kalah oleh pemuda she Kui itu, namun juga tidak akan mudah baginya untuk mengalahkannya. Akan tetapi, dia tetap selalu melakukan penyelidikan untuk dapat menemukan tempat persembunyian pemuda itu dan akan ditantangnya untuk mengadu nyawa. Namun, pemuda itu lenyap seperti ditelan bumi dan tidak meninggalkan jejak sama sekali.

Setelah dia hampir lupa akan dendamnya karena sudah belasan tahun tidak pernah mendengar berita tentang Hok Boan, dia menganggap pemuda itu tentu telah mati, tiba-tiba saja dia mendengar berita bahwa musuh besarnya itu kini telah hidup makmur di Lembah Naga, di luar Tembok Besar, sebagai seorang yang kaya raya, memiliki istana kuno, mempunyai isteri cantik dan mempunyai pula anak. Dendam yang hampir padam itu bernyala kembali, luka di hati yang sudah mulai sembuh oleh waktu itu berdarah kembali dan akhirnya Ciam Lok berangkat meninggalkan rumahnya, menuju ke utara, ke Lembah Naga.

Demikianlah, ketika dia melihat anak-anak di taman, kemudian mendengar bahwa dua orang gadis cilik kembar itu adalah anak-anak dari musuh besarnya, timbul akalnya untuk membalas dengan cara yang sama, yaitu dia hendak menculik anak-anak dari Hok Boan itu agar musuhnya itu dapat merasakan penderitaan hati seorang ayah yang kehilangan anaknya. Diculiknya dua orang anak itu dan dibawanya lari memasuki hutan.

Ciam-kauwsu mendengar akan pengejaran terhadap dirinya. Dia berada di daerah kekuasaan musuh. Dia adalah seorang yang cerdik. Dia tahu kalau dia melawan dengan kekerasan, kalau hanya menghadapi Hok Boan seorang, belum tentu dia kalah. Akan tetapi kalau dia dikeroyok, belum tentu dia menang, bahkan mungkin sukar untuk meloloskan diri dan dia tidak akan berhasil membalas dendam. Oleh karena itu, dia segera menyelinap dan tidak melanjutkan larinya ke selatan, melainkan membelok ke timur memasuki hutan yang lebih besar untuk menghindarkan diri dari musuh-musuhnya yang mengejar ke selatan. Dia ingin membalas dendam kepada musuh-musuhnya dengan cara yang sama, yaitu memisahkan orang itu dari anak-anaknya!

Semalam itu, Ciam-kauwsu menghentikan larinya, bersembunyi di dalam hutan. Dia melihat dari jauh betapa banyak sekali orang membawa obor mencari-cari. Dia menyumbat mulut dua orang anak itu dengan saputangan dan menotok tubuh mereka sehingga mereka berdua tidak mampu bergerak. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah melanjutkan larinya, mengempit tubuh dua orang anak perempuan itu, terus ke timur.

Tubuhnya sudah terasa lelah akan tetapi hatinya lega karena dia tidak lagi melihat ada orang yang mengejarnya. Akan tetapi, ketika dia melewati daerah yang penuh dengan pohon-pohon tinggi, tiba-tiba terdengar pekik dahsyat dari atas pohon dan ketika dia menoleh, pada saat itu ada bayangan menyambar dari atas pohon, bayangan seorang anak laki-laki kecil yang pakaiannya compang-camping, rambutnya panjang dikelabang secara kasar. Anak ini meloncat seperti seekor kera saja cepat dan sigapnya, dari atas dahan pohon dan langsung menerkam punggung Ciam-kauwsu!

“Ehhh...!” Ciam-kauwsu yang sedang lari mengempit tubuh dua orang anak perempuan itu, tidak sempat mengelak dan tahu-tahu anak laki-laki itu telah menerkam punggungnya dan memiting leher guru silat itu dengan lengan kanan, kemudian dia menggigit tengkuk Ciam-kauwsu! Siapakah anak laki-laki yang liar itu? Dia bukan lain adalah Sin Liong!

Seperti telah kita ketahui, anak ini terhindar dari bahaya maut, tertolong oleh induk monyet besar yang menjadi pengasuhnya sejak dia masih bayi bersama gerombolan monyet-monyet itu. Pakaiannya sudah compang-camping, bahkan pembungkus kepalanya telah robek-robek sehingga dia membiarkan rambutnya terurai dan kadang-kadang dia menguncir rambutnya agar gerakannya menjadi leluasa. Dia hidup seperti binatang liar, seperti kera-kera itu, namun karena pikirannya menjadi bebas dan hening, dia bahkan mengalami hidup yang amat berbahagia.

Pada pagi hari itu, Sin Liong masih tidur ketika ada seekor monyet muda yang mengguncang-guncangnya. Dia terbangun, menggeliat dan menguap. Monyet itu mengeluarkan suara mencicit dan menuding-nuding ke bawah. Sin Liong maklum bahwa tentu ada sesuatu yang aneh dan tidak beres, maka dia lalu mengikuti monyet itu yang membawanya berloncatan dari dahan ke dahan. Akhirnya, Sin Liong melihat laki-laki brewok yang mengempit dua orang anak perempuan itu. Hampir saja dia berteriak karena dia mengenal dua orang anak perempuan itu yang bukan lain adalah Lan Lan dan Lin Lin!

Melihat dua orang anak perempuan itu, seolah-olah Sin Liong terseret ke dalam dunia lain, dunia lama yang sudah hampir dilupakannya dan dia tertegun sejenak. Hampir saja dia lari pergi karena hatinya merasa enggan untuk kembali ke dunia lama itu. Akan tetapi dia tidak mampu mengusir bayangan Lan Lan dan Lin Lin, dua orang anak perempuan yang selalu bersikap manis kepadanya! Akhirnya, rasa kasihan kepada dua orang anak perempuan itulah yang menang dan dia lalu mengikuti laki-laki itu dari atas. Kemudian, setelah memperhitungkannya dengan tepat, melihat bahwa laki-laki itu tentu tidak mempunyai niat yang baik terhadap Lan Lan dan Lin Lin yang kelihatan tidak mampu bergerak itu, dia lalu meloncat, menerkam punggung kakek itu, dan langsung menggigit tengkuknya!

“IHHH...!” Kakek itu terkejut sekali dan cepat dia membuang tubuh dua orang anak perempuan itu untuk melawan anak kecil yang liar dan ganas ini. Tengkuknya terasa sakit juga digigit oleh anak itu. Tubuh Lan Lan dan Lin Lin terlempar ke kanan kiri sampai bergulingan akan tetapi karena terbanting itu, sumbatan mulut mereka terlepas dan tubuh mereka dapat bergerak lagi karena ternyata pengaruh totokan itu telah habis.

Lin Lin lalu merangkak mendekati kakaknya. Mereka menangis dan mengurut-urut kaki dan tangan sendiri yang terasa kaku, sambil memandang ke arah Sin Liong yang masih menggigit tengkuk kakek itu. Tadinya, mereka tidak mengenal anak yang menolong mereka itu, akan tetapi tiba-tiba Lin Lin berseru, “Sin Liong...!” maka keduanya lupa akan keadaan diri sendiri yang masih belum dapat bergerak dengan leluasa. Melihat Sin Liong masih merangkul kakek itu dari belakang dan menggigit tengkuk, Lan Lin dan Lin Lin lalu meloncat bangun, terhuyung akan tetapi mereka berdua dengan marah sudah menyerang kakek itu dengan pukulan-pukulan tangan mereka yang kecil untuk membantu Sin Liong.

“Duk! Dukkk!” Dua orang anak perempuan itu terlempar oleh tendangan-tendangan Ciam-kauwau yang tidak bermaksud membunuh, kemudian dia menggoyang-goyangkan tubuhnya. Akan tetapi anak laki-laki yang menggigit tengkuknya itu tidak terlepas, bahkan dari kerongkongannya keluar suara gerengan monyet marah! Diam-diam Ciam-kauwsu bergidik juga. Bagaimana tiba-tiba muncul anak liar ini, pikirnya dan tangannya merenggut ke belakang, berhasil menjambak rambut Sin Liong dam memegang lengan anak itu, lalu dia mengerahkan tenaganya. Tentu saja Sin Liong kalah tenaga dan dia dapat diangkat lalu dibanting oleh kakek itu.

“Bresss!” Tubuh Sin Liong bergulingan dan kepalanya menjadi pening. Akan tetapi dia cepat bangun kembali, menggoyang-goyang kepala mengusir kepeningan, lalu sambil mengeluarkan pekik dahsyat dia sudah menerjang lagi, kini dengan pukulan-pukulan aneh seperti gerakan seekor monyet lincah!

“Anak liar, pergilah!” Ciam-kauwsu menghantam dari samping, menampar ke arah pundak anak itu dengan maksud merobohkannya dan menakutkannya.

“Wuuut!” Pukulan itu luput karena dengan mudahnya dielakkan oleh anak itu! Ciam-kauwsu terkejut dan penasaran, cepat dia maju lagi menyerang dengan tendangan kakinya. Kembali anak itu mengelak dan tendangan itu luput, bahkan Sin Liong kini mulai mainkan limu silat aneh yang dilatihnya selama ini dengan mengambil inti sari dari gerakan monyet-monyet itu. Gerakan monyet tentu saja tidak teratur, hanya menurutkan naluri, perasaan dan ketajaman atau kepekaan tubuh sehingga membuat monyet-monyet itu dapat bergerak dengan amat cekatan. Akan tetapi Sin Liong telah mengambil inti dari gerakan-gerakan itu untuk dijadikan dasar dari gerakan silat, seperti yang pernah dia pelajari dari ibunya, maka gerakan Sin Liong bukan liar dan tidak teratur seperti gerakan monyet. Dia meloncat, mengelak sambil menyerang, dan membalas dengan pukulan seperti pukulan manusia, mencakar seperti monyet, dan juga menendang.

Ketika beberapa kali tamparan dan tendangannya luput, bahkan anak itu dapat membalas dengan serangan yang aneh, kakek itu menjadi makin heran dan terkejut. “Kau anak liar, pergilah jangan mencampuri urusanku!” bentaknya berkali-kali. Kakek Ciam ini bukan seorang yang berhati kejam. Dia tidak ingin membunuh anak liar yang tidak dikenalnya itu. Dan kalau dia berhati kejam, tentu sudah dibunuhnya dua orang anak perempuan kembar yang menjadi anak musuh besarnya itu. Tidak, dia tidak tega membunuh orang apalagi membunuh anak-anak. Dia hanya ingin memisahkan dua orang anak itu dari Kui Hok Boan, membalas dengan mendatangkan kedukaan dan kehilangan kepada musuh besarnya itu. Kalau bertemu Hok Boan, mungkin saja dendamnya membuat dia akan sampai hati membunuh musuh itu, kalau dia dapat tentu saja. Akan tetapi membunuh anak-anak yang tidak bersalah apa-apa, sungguh tak dapat dia lakukan.

Kini menghadapi serangan anak kecil yang gerakannya aneh, liar namun cekatan sekali itu, Ciam-kauwsu menjadi marah akan tetapi dia membujuk anak ini agar tidak mencampuri urusannya. Namun Sin Liong tentu saja sama sekali tidak ada niat untuk mundur. Dia harus membela dan melindungi Lan Lan dan Lin Lin dengan nyawanya! Dua orang anak perempuan itu amat baik kepadanya, merupakan sahabat-sahabatnya yang manis budi, bahkan tidak begitu saja sekarang. Dua orang anak perempuan itu adalah adik-adiknya sendiri! Adik seibu berlainan ayah!

“Grrrr...!” Sin Liong menggereng dan menerjang lagi sambil mengeluarkan teriakan yang memberi isyarat memanggil kawan-kawannya!

Ciam-kauwsu marah, dia membiarkan pundaknya dicengkeram oleh anak itu, lalu membarengi dengan tamparan dari samping.

“Brettt... plakkk!” Baju Ciam-kauwsu di pundak robek oleh cengkeraman tangan Sin Liong, akan tetapi anak itu kena ditampar pipinya sehingga terpelanting! Kembali Sin Liong kepalanya pening, akan tetapi dia sudah meloncat lagi dan pada saat itu terdengar gerengan-gerengan menyeramkan dan belasan ekor monyet berloncatan turun dari atas pohon, dipimpin oleh seekor biang monyet yang besar, yaitu monyet betina tua yang memandang Sin Liong sebagai anaknya! Monyet betina inilah yang mendahului teman-temannya menubruk kakek Ciam dengan ganasnya ketika melihat betapa “anaknya” itu ditampar sampai terpelanting tadi.

“Ehhh...!” Kakek Ciam terkejut bukan main melihat datangnya banyak monyet besar, apalagi ketika seekor induk monyet telah menyerangnya. Dia maklum bahwa terdapat keanehan pada diri anak liar itu, yang ternyata kini dibantu oleh monyet-monyet besar dan dia melihat adanya bahaya. Maka cepat kakek itu mencabut pedangnya, mengelak dari terkaman induk monyet sambil menusukkan pedang dari samping.

“Crotttt...!” Pedang itu mengenai lambung induk monyet sampai tembus, ketika dicabut, darah muncrat dan induk monyet itu terguling roboh sambil mengeluarkan suara yang memilukan.

Melihat monyet betina yang disayangnya itu roboh tertusuk pedang, Sin Liong menggereng dan menyerang lagi, dibantu oleh monyet-monyet lain, sedangkan Lan Lan dan Lin Lin menjadi ngeri melihat datangnya banyak monyet. Mereka menjadi ngeri dan ketakutan, tidak berani ikut membantu melainkan mundur dan saling peluk dengan tubuh menggigil di bawah pohon.

“Lan Lan...!” Lin Lin...!”

Dua orang anak perempuan itu terkejut dan wajah mereka berseri, air mata mereka seketika mengalir turun. Itulah suara ayah mereka! Dan memang benar. Tak jauh dari situ, Kui Hok Boan bersama belasan orang anak buahnya datang mencari anak-anaknya itu, setelah semalam suntuk mereka mencari tanpa hasil. Suara Hok Boan sampai menjadi parau karena semalam suntuk dia terus-menerus memanggil.

“Ayahhhh...!” Lan Lan dan Lin Lin menjerit-jerit. “Ayah, cepat ke sinilah...!”

Kakek Ciam terkejut bukan main. Tadinya timbul hati tidak tega untuk membunuhi semua monyet itu, dan mendengar suara dua orang anak itu yang memanggil ayah mereka, hatinya menjadi gelisah. Kalau Kui Hok Boan datang bersama orang-orangnya dan di sini masih ada monyet-monyet ini yang mengeroyoknya dengan nekat dan buas, dia dapat celaka! Dia mengeluh, karena usahanya untuk membalas dendam dengan menculik dan memisahkan dua orang anak perempuan itu dari samping Hok Boan ternyata gagal. Dia lalu mengeluh dan meloncat ke belakang, cepat dia melarikan diri sambil membawa pedangnya, menyusup di antara semak-semak belukar!

Sin Liong dan monyet-monyet lain mengejar, meninggalkan Lan Lan dan Lin Lin. Monyet betina tua itu merintih dan melihat ini, Lan Lan dan Lin Lin cepat menghampiri dan berlutut di dekat tubuh monyet betina itu dengan perasaan kasihan. Mereka tadi melihat betapa monyet ini membantu Sin Liong dan terkena tusukan pedang. Monyet itu bergerak perlahan dan merintih sambil memegangi lambungnya yang tertembus pedang dan mengucurkan darah.

“Lan-ji! Lin-ji!” Hok Boan berteriak dan meloncat ke tempat itu dengan pedang di tangan. Melihat kedua orang anaknya berlutut dekat seekor monyet besar, dia cepat menendang.

“Desss...!” Tubuh monyet betina yang sudah terluka parah itu terlempar, terbanting dan nyawanyapun melayang.

“Ayahh...! Kenapa kau menendang dia...?” Lan Lan menjerit.

“Ayah, monyet itu tewas karena menolong kami...!” Lin Lin juga berteriak.

Hok Boan yang masih marah karena kegelisahan yang hampir membuatnya gila selama semalam itu terbelalak. “Apa...? Apa maksudmu...?”

Akan tetapi saking girangnya melihat ayah mereka telah datang, dua orang anak itu menubruk ayah mereka sambil menangis. Hok Boan memeluk kedua orang anaknya, hatinya juga penuh rasa gembira yang amat besar.

“Lan-ji, Lin-ji, ceritakan, apa yang terjadi...?” tanyanya dan pada saat itu muncul pula Siong Bu, Beng Sin, dan para anak buah Kui Hok Boan yang ikut mencari sampai semalam suntuk dan dilanjutkan pagi ini. Siong Bu dan Beng Sin juga merasa girang sekali melihat betapa dua orang sumoi mereka itu telah ditemukan dalam keadaan selamat.

“Ayah, kami diculik kakek brewok... sampai di sini... muncul... Liong-ko (kakak Liong) yang menyerang penculik itu...” kata Lan Lan yang semenjak kematian ibunya dan tahu bahwa Sin Liong adalah putera ibunya, tidak ragu-ragu lagi menyebut Sin Liong dengan sebutan koko (kakak).

“Liong-koko kalah dan dibantu oleh monyet-monyet, akan tetapi monyet tua itu... dia terkena tusukan pedang si penculik...” sambung Lin Lin.

“Sin Liong...?” Hok Boan terkejut bukan main dan juga merasa girang mendengar bahwa Sin Liong yang tadinya diculik oleh wanita iblis itu ternyata masih hidup, bahkan telah menolong kedua orang anaknya. Dan lebih terkejut lagi hatinya mendengar bahwa monyet itu yang ditendangnya tadi, ternyata adalah seekor monyet yang telah membantu Sin Liong pula melawan penculik itu.

“Sekarang di mana Sin Liong?” tanya Hok Boan berusaha menutupi rasa tidak enak hatinya karena dia telah menendang monyet tua yang telah terluka tadi, monyet yang telah menolong anak-anaknya.

“Tadi dia mengejar si penculik brewok, agaknya bersama monyet-monyet itu,” kata Lan Lan.

“Itu dia...!” tiba-tiba Beng Sin berseru sambil menuding. Semua orang menengok dan benar saja, tanpa ada yang melihat kedatangannya, kini tahu-tahu Sin Liong sudah berada di situ, berlutut dan memeluki tubuh monyet betina yang telah tewas itu.

“Sin Liong...!” Siong Bu berseru.

“Sin Liong...!” Hok Boan juga memanggil.

“Liong-koko...!” Lan Lan dan Lin Lin berseru dan mereka semua menghampiri anak itu.

Kui Hok Boan memandang penuh perhatian dan diam-diam dia merasa kasihan juga kepada anak ini. Pakaiannya compang-camping, mukanya matang biru bekas pukulan penculik, dan kini biarpun anak itu tidak menangis sesenggukan, akan tetapi dia memeluk tubuh monyet itu, jari-jari tangannya mengusap dan membelai kepala dan muka yang penuh bulu, matanya basah dengan air mata.

Siong Bu, Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin berlutut di sekeliling Sin Liong. Lan Lan menyentuh lengan Sin Liong dan berkata lirih, “Liong-ko, dia suda mati...”

Tangan yang mengusap-usap kepala monyet itu berhenti, dua titik air mata menggelinding turun disusul oleh dua titik lagi dan terdengar berkata lirih, seperti bisikan kepada diri sendiri, “Dia... dia ibuku...”

Kui Hok Boan yang sudah menghampiri tempat itu, terkejut mendengar kata-kata ini. “Sin Liong, ibumu telah...” Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena dia teringat akan isterinya yang tercinta itu, maka lehernya seperti dicekik rasanya.

Sin Liong menggangguk. “Saya mengerti, ibu kandung saya telah tewas oleh iblis betina itu, akan tetapi dia ini... dialah yang menyusui dan merawat saya ketika saya masih kecil...” Sin Liong menggunakan ujung lengan bajunya untuk mengusap dua titik air matanya tadi.

“Ke mana larinya penculik itu, Sin Liong? Biar aku mengejar dan menghajarnya!” Hok Boan teringat kepada penculik itu.

“Dia telah pergi jauh tidak dapat dikejar lagi..., sekarang saya hendak mengubur dia...” Sin Liong lalu menggunakan tangannya untuk membongkar batu-batu dan tanah, agaknya dengan kedua tangannya, tanpa minta bantuan siapapun, anak ini hendak menggali sebuah lubang di tanah untuk mengubur bangkai monyet itu!

Melihat ini, Hok Boan cepat menyuruh anak buahnya untuk membantu Sin Liong, menggali sebuah lubang dan dikuburkanlah bangkai monyet itu oleh Sin Liong. Sebelum menurunkan bangkai monyet itu ke dalam lubang, Sin Liong mencium muka monyet betina itu dan dengan menggigit bibir menahan tangis, anak ini talu mengubur bangkai itu dan dibantu oleh empat orang anak lain, lubang itu lalu diuruk.

Hok Boan lalu mengajak Sin Liong pulang ke istana tua di Lembah Naga. Sin Liong menurut tanpa banyak cakap. Di sepanjang jalan, Hok Boan hanya mendengarkan dua orang anaknya menceritakan pengalaman mereka ketika diculik, kemudian mendengarkan Lan Lan dan Lin Lin, dibantu pula oleh dua orang anak laki-laki itu, mendesak dan bertanya kepada Sin Liong bagaimana dia dapat lolos dari tangan iblis betina itu. Hok Boan sendiri tidak banyak bertanya karena hati orang ini masih diliputi rasa menyesal dan duka atas terjadinya peristiwa yang susul menyusul ini, yang menimpa dirinya dan keluarganya. Sama sekali dia tidak ingat lagi betapa tadi dia telah menendang monyet betina yang sudah terluka itu! Memang begitulah watak seorang yang selalu mementingkan diri sendiri belaka. Yang diperhatikan selalu hanyalah kepahitan-kepahitan yang menimpa dirinya, yang diprihatinkan hanyalah kesusahan yang diderita oleh diri sendiri dan keluarganya. Orang seperti ini sama sekali tidak pernah mau melihat penderitaan orang lain, sehingga hatinya menjadi kejam. Yang dicari hanya hal-hal yang dapat menyenangkan diri sendiri dan keluarganya, maka dalam mengusahakan kesenangan dan keselamatan bagi diri sendiri dan keluarganya, dia tidak segan-segan untuk melakukan apa saja, kalau perlu menyusahkan orang lain dengan perbuatan-perbuatannya yang kejam. Akan tetapi, jelaslah bahwa orang yang selalu mengejar kesenangan untuk diri sendiri itu adalah orang yang hidupnya selalu kecewa dan sengsara. Karena orang demikian itu selalu merasa kasihan kepada diri sendiri, selalu mengeluh, selalu menganggap bahwa di dunia ini dia seoranglah yang paling celaka, paling sengsara, paling patut dikasihani. Dengan demikian, menghadapi halangan sedikit saja dalam hidup, dia akan merasa sengsara sekali! Patut dikasihani orang seperti itu, karena dia belum mengerti, belum sadar bahwa sesungguhnya dia telah dicengkeram oleh batinnya sendiri, oleh pikirannya sendiri, dikuasai dan dipermainkan oleh nafsu-nafsunya sendiri yang timbul dari permainan pikiran.

Sin Liong tidak mau banyak bercerita. Ketika didesak-desak oleh empat orang anak itu, dia hanya mengatakan, bahwa ketika dia dibawa pergi oleh Kim Hong Liu-nio, di tengah jalan wanita itu dihadang oleh orang-orang Jeng-hwa-pang.

Mendengar disebutnya Jeng-hwa-pang, muka Kui Hok Boan berubah dan jantungnya berdebar tegang dan takut. “Jeng-hwa-pang...?” katanya mengulang nama itu dengan suara agak gemetar. “Benarkah Jeng-hwa-pang yang menghadangnya, Sin Liong?” Dia mendekat dan pertanyaannya itu terdengar lirih, seolah-olah dia merasa takut untuk membicarakan perkumpulan itu dengan suara keras, dan beberapa kali menengok ke kanan dan kiri dengan sikap jerih. Melihat ini, empat orang anak itupun menjadi gelisah.

“Saya tidak tahu pasti, paman...”

“Sin Liong, engkau adalah anak kandung istriku, maka berarti engkau anakku pula, sungguhpun anak tiri. Aku adalah ayahmu, tidak semestinya kau menyebut paman.” kata Hok Boan.

Sin Liong menunduk dan tidak menjawab.

“Ayah, siapakah perkumpulan Jeng-hwa-pang itu?” tiba-tiba Lan Lan bertanya kepada ayahnya. Kembali sasterawan itu kelihatan gelisah.

“Sudahlah, nanti saja di rumah kuceritakan. Hayo kita cepat pulang!” Dia lalu mengajak anak-anak itu dan para anak buahnya untuk mempercepat perjalanan pulang ke Istana Lembah Naga.

Setelah tiba di rumah, barulah Hok Boan kembali bertanya kepada Sin Liong tentang Jeng-hwa-pang. Sebagai scorang yang sudah banyak merantau sebelum dia menetap di Istana Lembah Naga, tentu saja dia sudah mendengar tentang Jeng-hwa-pang, sebuah perkumpulan yang amat ditakuti orang karena perkumpulan itu merupakan perkumpulan orang-orang yang amat kejam dan pandai menggunakan segala macam racun yang mengerikan.

Sin Liong masih pendiam dan tidak banyak bercerita. Dia hanya menceritakan betapa wanita iblis yang menculiknya itu di tengah jalan dikeroyok oleh orang-orang Jeng-hwa-pang, dan betapa dia lalu dilarikan oleh ketua Jeng-hwa-pang, meninggalkan anggauta-anggautanya yang dihajar oleh iblis betina itu.

“Jeng-hwa-pang juga tidak mampu mengalahkan dia?” Hok Boan berkata dengan muka berubah pucat dan dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukan main lihainya wanita itu...!”

Sin Liong tidak mau menceritakan betapa sute dari wanita itu, yang masih kecil, hanya selisih satu dua tahun saja dengan dia, telah mengalahkan pembantu-pembantu utama dari ketua Jeng-hwa-pang! Kalau diceritakannya, tentu orang ini akan makin terheran-heran lagi, pikirnya. Kini nampaklah olehnya betapa kepandaian suami dari ibu kandungnya itu, juga kepandaian dari mendiang ibunya, yang tadinya dianggap amat hebat dan lihai, kiranya tidak ada artinya sama sekali kalau dibandingkan dengan kepandaian ketua Jeng-hwa-pang, apalagi kalau dibandingkan dengan kepandaian Kim Hong Liu-nio dan sutenya. Ternyata di luar Istana Lembah Naga ini terdapat banyak sekali orang pandai! Hal ini membuat dia makin ingin untuk keluar, untuk mencari ayahnya, untuk menyaksikan sendiri betapa lihai ayahnya yang oleh ibunya dianggap sebagai pendekar nomor satu di dunia ini! Ingin dia melihat ayahnya mengalahkan orang seperti iblis betina Kim Hong Liu-nio itu.

“Lalu apa yang terjadi denganmu ketika kau dilarikan ketua Jeng-hwa-pang, Liong-ko?” tanya Lin Lin yang seperti anak-anak lain, tertarik bukan main mendengar pengalaman Sin Liong yang amat menyeramkan itu.

Aku dilempar ke dalam lubang penuh ular...”

“Ihh...!” Lan Lan dan Lin Lin menjerit ngeri.

“Kau dilempar ke dalam lubang ular dan kau tidak apa-apa?” tanya Beng Sin, matanya yang lebar itu makin membesar, mulutnya melongo.

“Aku digigit ular-ular itu, akan tetapi aku diselamatkan oleh...” Sampai di sini, Sin Liong menunduk dan kembali dia harus menggunakan ujung lengan bajunya yang robek-robek dan kotor untuk menghapus dua titik air matanya.

Lin Lin dapat menduga. “Monyet betina itu yang menolongmu, Liong-ko?”

Sin Liong mengangguk. “Dia dan teman-teman lain..., aku penuh luka dan dirawat sampai sembuh. Lalu tadi aku melihat kalian dilarikan penculik itu...”

Sejak tadi Siong Bu hanya mendengarkan saja, kini dia berkata, “Ah, engkau hebat sekali, Sin Liong!” katanya penuh kagum dan juga mengandung iri karena kini dalam pandang mata Lan Lan dan Lin Lin, tentu Sin Liong merupakan seorang yang amat gagah perkasa dan hebat.

Betapapun hatinya tetap saja mengandung rasa tidak suka kepada anak itu, akan tetapi karena anak itu telah menyelamatkan Lan Lan dan Lin Lin, karena andaikata tidak ada Sin Liong dan monyet-monyet itu yang menyerang si penculik, kiranya dia dan anak buahnya tidak akan mampu menyusul penculik itu, Hok Boan lalu cepat memberi pakaian dan sepatu baru kepada Sin Liong dan bersikap manis kepada anak ini.

Akan tetapi, Sin Liong sudah tidak mempunyai semangat dan minat sama sekali untuk tinggal lebih lama di istana itu. Setelah ibunya tidak ada, apalagi setelah kini induk monyet yang disayangnya itupun tewas pula, tidak ada apa-apa lagi yang menahannya di tempat itu. Benar bahwa dia akan merasa kehilangan kalau berpisah dari Lan Lan dan Lin Lin, akan tetapi ikatan ini tidak cukup kuat untuk menahannya. Demikianlah, pada suatu hari, pagi-pagi sekali, tanpa diketahui siapapun juga, dan tanpa membawa apa-apa kecuali pakaian yang menempel di tubuhnya, Sin Liong meninggalkan Istana Lembah Naga. Dia tidak tahu betapa Siong Bu menaruh perhatian kepadanya semenjak Sin Liong kembali, dan anak ini melihat akan kepergian Sin Liong maka dia cepat-cepat memberi tahu kepada pamannya!

Sin Liong berjalan seorang diri melalui padang rumput, menuju ke dalam hutan di sebelah selatan Lembah Naga. Belum pernah dia memasuki hutan sebelah selatan itu, karena selama tinggal di situ, dia selalu hanya bermain-main di dalam hutan-hutan yang dihuni oleh monyet-monyet yang menjadi teman-temannya, yaitu hutan di timur dan utara. Dan biasanya, dia bermain-main ke selatan hanya sampai Padang Bangkai yang kini telah menjadi pedusunan. Akan tetapi karena kini dia mengambil keputusan untuk merantau jauh ke selatan, untuk menyeberangi Tembok Besar dan mencari ayahnya yang kabarnya berada di selatan sebagai seorang pendekar besar, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menuju ke selatan.

Akan tetapi baru saja dia tiba di tepi hutan, mendadak terdengar suara orang memanggil namanya. Dia menoleh dan dilihatnya Kui Hok Boan dan Siong Bu berlari cepat mengejarnya. Dia mengerutkan alisnya dan berdiri tegak dengan sikap tenang. Siapapun juga tidak boleh melarang dia pergi, pikirnya dan pikiran ini membuat anak itu memandang dengan sinar mata penuh membayangkan kekerasan hatinya.

Tentu Siong Bu, anak yang selalu jahat kepadanya itu yang memberi tahu pamannya, pikir Sin Liong, maka ketika mereka berdua sudah tiba di depannya, langsung saja dia menegur, “Siong Bu, perlu apa engkau memberitahukan paman tentang kepergianku?”

Mendengar teguran ini, Siong Bu bertolak pinggang dan berkata, “Sin Liong, engkau sungguh menyangka yang bukan-bukan. Aku memberi tahu paman demi kebaikanmu, karena aku khawatir engkau akan mengalami bencana lagi kalau engkau pergi!” Wajah Siong Bu memperlihatkan penasaran karena “maksud baiknya” dianggap keliru oleh Sin Liong.

Sementara itu, Kui Hok Boan mengerutkan alisnya dan berkata kepada Sin Liong, “Anak baik, mengapa engkau hendak pergi, lagi? Hendak kemanakah engkau? Ketahuilah bahwa setelah ibumu tidak ada, akulah yang bertanggungjawab terhadap dirimu, dan aku akan merasa menyesal sekali kalau terjadi sesuatu terhadap dirimu.”

Sin Liong masih teringat akan semua perlakuan orang tua ini terhadap dirinya, maka kini dengan sinar mata tajam penuh penasaran dia berkata kepada orang tua itu, “Paman, apakah paman melarangku pergi untuk diajak kembali dan dihajar seperti tempo hari?”

Mendengar itu, wajah sasterawan itu berubah dan dia kelihatan berduka dan menyesal sekali. Dia menarik napas panjang dan berkata, “Agaknya benar kata-kata Siong Bu bahwa engkau terlalu keras hati dan terlalu penuh prasangka kepada orang lain, Sin Liong. Memang aku pernah bersikap keras kepadamu, akan tetapi hal itu ditujukan untuk kebaikanmu. Engkau terlalu liar, maka aku hanya ingin menjinakkanmu agar engkau tidak sampai menyeleweng. Akan tetapi, yahh... katakanlah bahwa kami semua telah banyak bersalah kepadamu, banyak menduga secara keliru. Biarlah di sini aku minta maaf akan segala kesalahan yang sudah-sudah kepadamu, Sin Liong.” Orang tua itu berkata dengan sungguh-sungguh karena dia teringat kepada isterinya, teringat akan penderitaan isterinya dan dan betapa dia merasa kehilangan benar-benar setelah isterinya meninggal dunia. Setidaknya, Sin Liong adalah anak kandung isterinya yang tercinta itu, maka dia ingin berbaik dengan anak ini, demi kenangan terhadap isterinya.

“Liong-ji, anakku... marilah kita pulang, nak. Percayalah, aku sendiri yang akan menjagamu agar jangan ada lagi orang atau siapa saja yang akan menghinamu. Aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu seperti juga kepada semua saudaramu.”

Sin Liong adalah seorang anak yang mempunyai watak aneh sekali, berbeda dengan anak-anak lain. Semenjak kecil dia tidak merasakan kasih sayang orang tua, bahkan mendiang ibunya juga karena tidak ingin rahasianya diketahui orang, tidak memperlihatkan kasih sayangnya kepadanya. Oleh karena haus akan kasih sayang orang tua dan orang lain itulah maka dia dapat bergaul dengan mesra bersama monyet-monyet itu. Dan keadaan sekelilingnya membentuk wataknya menjadi aneh. Semua kepahitan hidup yang dideritanya semenjak kecil, maka wataknya kadang-kadang dapat menjadi keras, dan kadang-kadang menjadi amat perasa dan mudah terharu. Kalau dia ditekan, dia akan melawan dan memberontak tanpa mengenal takut. Akan tetapi kalau orang bersikap manis dan halus kepadanya, dia menjadi terharu sekali dan kini menghadapi Kui Hok Boan yang bersikap manis kepadanya, lupalah dia akan segala perbuatan orang tua itu yang sudah-sudah kepada dirinya dan dia segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan sasterawan itu dan memejamkan mata untuk menahan tangisnya, akan tetapi tetap saja Sin Liong menangis! Kalau dia ditekan, betapapun hebatnya derita yang dirasakannya, biarpun dia diancam oleh siksa dan kematian, dia tidak sudi mengeluh atau bersambat. Akan tetapi begitu hatinya terharu, dia tidak dapat mencegah tangisnya dan kini air matanya yang sudah lama ditahan-tahannya itu bercucuran dan dia menangis terisak!

“Sudahlah, Sin Liong, jangan menangis,” kata Kui Hok Boan dengan sikap terharu, sedangkan Siong Bu juga berdiri dengan bengong. Belum pernah dia melihat Sin Liong menangis, bahkan ketika dihajarpun anak ini tidak pernah menangis! Dia masih bertolak pinggang, akan tetapi lenyap semua penasaran dan dia kini terheran-heran.

“Paman... selama ini sayalah yang selalu menyusahkan hati paman saja. Harap paman sudi memaafkan semua kesalahan saya. Kalau saya tinggal di istana, tidak lain saya pasti akan mendatangkan lebih banyak onar dan penyesalan hati paman saja. Oleh karena itu, saya sudah mengambil keputusan pasti untuk pergi mencari ayah kandung saya, paman.”

“Akan tetapi, mana mungkin kau dapat mencarinya sampai jumpa, Sin Liong? Ke manakah engkau hendak mencarinya?”

“Menurut penuturan ibu dahulu, ayah berada di selatan, di sebelah sana Tembok Besar, saya akan menyusul ke sana, paman.”

Diam-diam Hok Boan kagum juga akan keberanian anak ini, dan akan kekerasan hatinya yang luar biasa sehingga biarpun sudah ditegurnya, tetap saja sampai kini menyebutnya dengan panggilan paman. Dia sendiri setelah diusir oleh Raja Sabutai, merasa ngeri untuk pergi ke selatan, akan tetapi anak ini hendak mencari ayahnya ke selatan biarpun dia belum tahu di mana adanya ayahnya itu. Seolah-olah “selatan” itu hanya dekat saja, asal sudah melampaui Tembok Besar sudah sampai dan akan bertemu dengan orang yang dicarinya.

“Sin Liong, kaukira daerah selatan itu kecil saja dan mudah kaujelajahi? Ketahuilah, bahwa daerah selatan, di sebelah dalam Tembok Besar itu amat luasnya, biar engkau menjelajahi sampai selama hidupmu belum akan dapat kaudatangi semua! Dan kau tidak tahu di mana kau hendak mencari? Marilah kau ikut bersama kami pulang ke rumah, dan kelak aku akan membantumu mencari-cari keterangan perihal ayah kandungmu itu.”

“Tidak, paman. Saya akan pergi sekarang juga mencari ayah sampai jumpa. Biar sampai mati sekalipun, sebelum dapat jumpa saya tidak akan berhenti mencarinya!”

Kui Hok Boan sudah tahu bahwa anak ini memiliki watak yang luar biasa kerasnya, tidak mungkin ditentang karena andaikata dapat dibujuknya pulang juga, tentu pada suatu hari akan pergi juga tanpa pamit. Tidak mungkin baginya untuk terus-menerus menjaga anak ini dan mencegahnya pergi. Dia sendiri menghadapi kesibukan harus pindah dari Istana Lembah Naga sebelum enam bulan. “Kalau kau tidak dapat kutahan, Sin Liong, akupun tidak dapat menahan dan mencegahmu. Siong Bu, cepat ambil pakaian yang baik-baik, buntal dan ambilkan uang di dalam kamarku. Di laci meja terdapat sekantung uang perak, bawa ke sini. Cepat!”

Siong Bu cepat berlari kembali ke istana, sedangkan Kui Hok Boan lalu memberi nasihat kepada Sin Liong agar berhati-hati melakukan perjalanan ke selatan. “Di sana banyak terdapat orang jahat yang amat pandai, Sin Liong. Lebih baik engkau tidak secara terang-terangan mengaku sebagai putera pendekar Cia Bun Houw, karena pengakuanmu itu hanya akan mendatangkan bencana dan bahaya. Dan juga sebaiknya kau tidak menyebut namaku. Ketahuilah, seperti juga pendekar Cia Bun Houw, akupun mempunyai banyak musuh di selatan, maka menyebut namanya atau namaku akan memancing bahaya kalau sampai terdengar oleh mereka yang memusuhi ayah kandungmu atau aku.”

Sin Liong mendengarkan penuh perhatian tanpa bantahan di dalam hatinya karena sekali ini dia merasa betapa orang tua itu memberi nasihat dengan setulusnya hati. Dan diapun dapat merasakan kebenaran ucapan itu, karena baru sekali saja dia mengaku sebagai putera Cia Bun Houw, nyawanya hampir melayang dalam tangan Kim Hong Liu-nio!

Tak lama kemudian datanglah Siong Bu berlari-lari dan anak ini membawa sebuntalan pakaian dan sekantung uang. Kui Hok Boan lalu menyerahkan buntalan pakaian dan kantung uang itu kepada Sin Liong, sedangkan Siong Bu sendiri tadi membawa pisaunya yang amat disayang, yaitu pisau belati berbentuk golok kecil yang amat tajam dan selama ini dibanggakan.

“Aku tidak dapat memberi apa-apa kecuali pisauku ini, Sin Liong.”

Sin Liong menerima buntalan, kantung uang dan pisau itu dengan terharu sekali.

“Akan tetapi... engkau suka sekali kepada pisaumu ini, Siong Bu...”

Siong Bu tersenyum. “Karena itulah maka kuberikan kepadamu, Sin Liong. Sebagai tanda... persahabatan, maukah kau menerimanya?”

“Terima kasih... terima kasih...!” Dan sejak saat dia menerima buntalan dan pisau itu, maka lenyaplah seluruh rasa tak senang di dalam hatinya terhadap Kui Hok Boan dan Siong Bu, lenyaplah seluruh anggapan bahwa mereka itu jahat kepadanya, bahkan kini berganti dengan anggapan bahwa mereka itu baik sekali kepadanya!

Tidak anehlah apa yang dirasakan oleh hati Sin Liong itu. Demikianlah adanya kita semua ini! Kita sudah terbiasa sejak kecil untuk terombang-ambing di antara pendapat yang menjadi hasil dari PENILAIAN. Kita memandang segala sesuatu dengan penilaian, maka muncullah pendapat baik dan buruk, baik dan jahat, dan sebagainya. Segala macam kebalikan-kebalikan di dunia ini mempermainkan kita, membentuk pendapat-pendapat yang tidak lain hanya akan mendatangkan konflik saja dalam batin. Penilailan ini selalu tentu didasari oleh pengukuran atau pertimbangan yang merupakan kesibukan yang bersumber kepada kepentingan diri pribadi. Kita mengukur sesuatu, atau seseorang, dengan dasar menguntungkan atau merugikan diri kita sendiri. Kalau menguntungkan lahir atau batin, kalau menyenangkan hati, maka keluarlah pendapat kita bahwa orang itu adalah baik! Sebaliknya kalau merugikan lahir atau batin, kalau tidak menyenangkan hati, maka pendapat kita terhadap orang itu tentu buruk! Jadi jelaslah bahwa baik ataupun buruk itu hanya merupakan pendapat yang didasari oleh kepentingan si aku yang ingin memperoleh kesenangan selalu! Dan sudah jelas pula bahwa pendapat demikian ini adalah palsu dan tidak benar! Pendapat ini hanya merupakan penilaian yang bertiraikan kepentingan pribadi kita, dan tentu hanya akan mendatangkan pertentangan batin belaka. Betapapun jahat seseorang menurut pendapat umum, kalau dia itu baik kepada kita, menyenangkan kita, maka kita akan menganggap dia itu baik! Sebaliknya, dunia boleh menganggap seseorang itu amat baik, akan tetapi kalau dia tidak baik kepada kita, kalau dia tidak menyenangkan kita, maka tak mungkin kita menganggapnya baik, dan kita pasti akan menganggap dia jahat! Begitulah kenyataannya! Maka dapatkah kita memandang segala sesuatu tanpa penilaian? Memandang segala sesuatu, memandang orang lain, seperti apa adanya, seperti keadaannya yang sesungguhnya tanpa menilai yang didasarkan menyenangkan kita atau tidak?

Karena hanya dengan memandang sesuatu seperti itu sajalah yang membebaskan kita dari penilaian, dan setelah kita terbebas dari penilaian, maka kita bebas pula dari rasa suka atau tidak suka. Seni memandang seperti ini merupakan seni tersendiri yang hanya nampaknya saja sukar akan tetapi tidaklah sukar apabila kita memiliki perhatian sepenuhnya dan kalau kita sadar benar-benar bahwa sudah semestinya terjadi perubahan dalam kehidupan kita yang banyak sengsaranya daripada bahagianya ini.

Sin Liong lalu berpamit meninggalkan Kui Hok Boan dan Kwan Siong Bu yang masih memandang kepada anak yang berjalan pergi itu dengan penuh kagum dan khawatir. Anak itu masih terlalu kecil untuk menempuh hidup yang penuh bahaya di sebelah dalam Tembok Besar.

Ketika Sin Liong memasuki hutan di luar Tembok Besar, tiba-tiba dari jauh dia mendengar suara pertempuran. Suara teriakan-teriakan orang berkelahi itu diseling dengan suara berdencingnya senjata yang beradu. Sin Liong merasa tertarik, akan tetapi dia cukup berhati-hati mengingat akan nasihat pamannya agar dia tidak suka mencampuri urusan orang orang lain, apalagi urusan orang-orang kang-ouw. Betapapun juga, karena hatinya tertarik sekali, dia tidak mungkin pergi begitu saja tanpa menonton! Memang pada dasarnya, anak ini suka sekali menyaksikan kegagahan, dan paling suka melihat orang mengadu kepandaian dengan ilmu silat. Maka dia lalu mengikatkan buntalannya di pundak dan cepat dia meloncat ke atas, menyambar cabang pohon paling rendah kemudian bagaikan seekor monyet saja dia memanjat dan berloncatan naik dari cabang ke cabang, berayun-ayun dari pohon ke pohon menuju ke tempat terjadinya perkelahian itu. Biarpun dia bersepatu, namun dia tidak kehilangan kegesitannya, sungguhpun tentu saja kakinya yang terbungkus sepatu itu dirasakannya amat mengganggu gerakannya di atas pohon-pohon di antara cabang-cabang dan daun-daun.

Akhirnya, tibalah dia di tempat pertempuran itu dan dia duduk di atas cabang pohon. Karena tepat seperti dugaannya, pertempuran itu dilakukan oleh orang-orang yang menggunakan golok dan pedang, dan dilakukan dengan gerakan silat yang amat cepat dan indah, maka hatinya tertarik sekali dan duduklah dia di cabang pohon yang dekat agar dia dapat menonton dengan enak. Saking tertariknya, Sin Liong tidak tahu bahwa ada bayangan-bayangan lain di atas pohon-pohon yang berayun-ayun dan mendekati tempat itu. Dia tidak tahu bahwa ada beberapa ekor monyet besar yang mengenalnya dan monyet-monyet ini lalu bersama kawan-kawan mereka datang mendekati anak itu.

Sin Liong amat tertarik menonton pertempuran itu. Seorang laki-laki berusia kira-kira lima puluh tahun, bertubuh tinggi agak kurus namun kelihatan gagah sekali, wajah tampan membayangkan kegagahan dan keramahan, sedang mainkan pedangnya dengan cepat untuk menahan pengeroyokan tiga orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan yang mengeroyoknya dengan menggunakan golok besar.

Tiga orang tinggi besar itu memiliki gerakan yang liar dan ganas, golok mereka menyerang dengan dahsyat dari tiga jurusan dan kedudukan mereka selalu segi tiga ketika mengepung kakek berpedang itu. Tadinya Sin Liong masih mengingat akan nasihat pamannya dan tidak hendak mencampuri, hanya ingin menonton saja. Akan tetapi tiba-tiba dia teringat bahwa tiga orang itu adalah anggauta-anggauta Jeng-hwa-pang! Hal ini dapat dikenalinya bukan hanya karena pakaian mereka yang tak berlengan itu, akan tetapi juga dia mengenal seorang di antara mereka yang berkumis pendek kaku tanpa jenggot. Maka begitu dia mengenal tiga orang itu sebagai orang-orang Jeng-hwa-pang, teringatlah dia akan ketua Jeng-hwa-pang yang jahat bukan main, yang pernah menyiksannya dan melemparkannya ke dalam lubang yang penuh ular. Maka seketika hatinya sudah berfihak kepada kakek berpedang itu yang tidak dikenalnya akan tetapi yang memiliki wajah yang gagah dan menyenangkan hatinya.

Apalagi ketika dia melihat betapa kakek itu makin lama makin terdesak hebat, dia makin berfihak kepada kakek itu. Dan penglihatannya memang tidak keliru. Seorang yang berkumis pendek kaku itu memang seorang anggauta Jeng-hwa-pang tingkat atas yang pernah dilihatnya. Ternyata bahwa ada pula anggauta Jeng-hwa-pang yang dapat lolos dari tangan maut Kim Hong Liu-nio dan dua orang yang lain itu adalah tokoh-tokoh Jeng-hwa-pang yang baru datang. Mereka tidak ikut dalam rombongan Gak Song Kam, yaitu pangcu (ketua) dari
Jeng-hwa-pang, dan mereka itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi karena mereka bertiga ini menerima latihan langsung dari pangcu mereka sehingga tingkat mereka tidaklah lebih rendah daripada tingkat Heng-san Ngo-houw yang menjadi pembantu-pembantu pangcu dari Jeng-hwa-pang itu. Ketika Sin Liong melihat dengan lebih teliti, maka tahulah dia bahwa kakek berpedang itu telah terluka di betis kirinya. Pantas saja gerakannya menjadi kaku dan tidak leluasa. Biarpun demikian, tetap saja pedangnya dapat menangkis tiga batang pedang yang menyerangnya seperti hujan itu.

Sin Liong tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Kalau tidak dibantu, kakek gagah itu akhirnya pasti akan roboh, pikirnya. Dia lupa akan keadaan dirinya sebagai seorang anak-anak yang belum memiliki kepandaian berarti. Terdorong oleh rasa penasaran dan kasihan kepada kakek itu, tiba-tiba Sin Liong meloncat turun dan membentak nyaring.

“Tiga orang mengeroyok satu orang, sungguh pengecut!” Dan diapun sudah menerjang maju dan menyerang ke arah dada dan perut seorang di antara para pengeroyok itu seperti seekor kera marah! Orang itu terkejut, akan tetapi melihat bahwa yang menerjangnya hanyalah seorang anak kecil, dia tertawa mengejek, melompat ke kiri dan pedangnya menyambar ke arah leher Sin Liong.

“Singgg...!” Dan orang itu terkejut karena sambaran pedangnya luput! Boleh jadi Sin Liong belum memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi jelas bahwa dia telah memiliki ketangkasan yang luar biasa, kegesitan seekor monyet, kecepatan yang wajar dan yang hanya dapat dikuasai karena kebiasaan, bukan karena latihan. Juga dia memiliki naluri perasaan yang tajam sekali, maka hal inilah yang menjadikan kelebihan dari Sin Liong daripada orang-orang lain, dan membuat dia dengan mudah mengelak dari sambaran golok itu. Dan pada saat itu, tidak kurang dari sepuluh ekor monyet-monyet besar sudah berloncatan turun dan dengan mengeluarkan gerengan dan suara riuh rendah, mereka ikut menyerbu dan mengeroyok secara membabi buta dan ngawur. Mereka itu menyerang empat orang itu, termasuk kakek berpedang. Hanya Sin Liong saja yang tidak mereka keroyok! Tentu saja monyet-monyet itu tidak tahu siapa musuh Sin Liong yang sebenarnya!

Melihat munculnya bocah aneh itu dan sekawanan monyet, tiga orang yang sejak tadi belum juga mampu mengalahkan kakek yang gagah perkasa itu menjadi jerih, mereka lalu bersuit nyaring dan meloncat pergi, terus melarikan diri secepatnya dari tempat itu.

Melihat betapa kini monyet-monyet itu hendak mengeroyok si kakek gagah, Sin Liong cepat mengeluarkan bunyi pekik monyet yang nyaring dan monyet-monyet itu segera mundur, hanya masih memandang ke arah kakek berpedang dengah mata marah dan memperlihatkan taring. Kakek itu yang juga terkejut, kini dengan pedang di tangan memandang kepada Sin Liong penuh keheranan.

Sin Liong segera berkata, “Paman, setelah mereka pergi, harap paman cepat meninggalkan tempat ini sebelum mereka itu datang kembali.”

Kakek itu memandang dengan bengong. “Jadi kau... dan monyet-monyet itu... kalian telah menolongku tadi...?” tanyanya, masih bingung karena heran bagaimana di dalam hutan dapat muncul seorang bocah tampan yang berani mati membantunya bersama sekawanan monyet liar itu.

“Maafkan, mereka itu tadi tidak tahu aturan, tidak mengenal mana kawan mana lawan. Melihat paman dikeroyok, aku melupakan kebodohan sendiri dan membantu.”

Laki-laki itu makin heran. Anak hutan yang berkawan dengan monyet-monyet ini pandai membawa diri, sikapnya halus dan sopan pula! Sungguh ajaib!

“Anak baik, aku berterima kasih sekali kepadamu. Engkau siapakah? Apakah tinggal di sini?”

Sin Liong menggeleng kepalanya. “Saya tidak mempunyai tempat tinggat, paman, tempat tinggal saya di dalam hutan, di atas pohon-pohon bersama monyet-monyet itu.”

“Ah...? Dan engkau membawa buntalan pakaian, agaknya hendak pergi?”

“Benar, paman. Saya hendak pergi menyeberang Tembok Besar...”

“Kau? Seorang diri pula? Anak baik, siapa namamu?”

“Nama saya Sin Liong...” dia tidak mau menyebutken shenya.

“Nama keluargamu?” Kakek itu mendesak.

Sin Liong menggeleng kepala. “Saya tidak tahu.”

“Ayah ibumu?”

“Tidak ada...”

“Luar biasa sekali! Sin Liong, ketahuilah bahwa aku adalah seorang piauwsu, bernama Na Ceng Han, tinggal di Propinsi Ho-pei, sebelah selatan kota raja. Aku datang ke tempat ini dalam perjalananku menuju ke kaki Pegunungan Khing-an-san mencari seorang sahabatku bernama Bhe Coan, seorang pandai besi. Akan tetapi ternyata sahabatku itu telah tewas dibunuh orang! Maka aku hendak kembali dan setibanya di hutan ini bertemu dengan tiga orang jahat yang tanpa sebab lalu menyerangku tadi. Untung ada engkau yang menolongku. Sin Liong, anak baik yang aneh sekali. Jangan kau takut kepadaku, ceritakanlah saja terus terang, siapakah orang tuamu dan ke mana engkau hendak pergi?”

Sin Liong mengerutkan alisnya dan menatap wajah kakek itu. Na-piauwsu atau Na Ceng Han terkejut bukan main. Anak itu memiliki sinar mata yang tajam luar biasa, menyambar seperti kilat ketika memandang kepadanya! Memang Sin Liong merasa tidak senang ketika didesak seperti itu.

“Paman Na, di antara kita tidak ada urusan apa-apa. Setelah tiga orang itu pergi, harap paman suka pergi saja.”

“Jangan marah, Sin Liong. Aku bertanya karena merasa heran sekali di tempat seperti ini bertemu dengan seorang anak seperti engkau. Engkau mengaku tidak ada ayah bunda, sebatangkara dan tidak ada tempat tinggal, akan tetapi pakaianmu baik dan engkau membawa buntalan pakaian...”

“Saya dapatkan dari orang-orang dusun yang memberi kepada saya,” jawab Sin Liong secara, singkat.

“Benarkah kau sebatangkara dan hendak ke selatan?”

“Paman, saya tidak biasa membohong!”

“Bagus! Kalau begitu, marilah kau ikut bersamaku ke selatan, anak baik.”

“Akan tetapi, saya tidak mau terikat kepada paman...”

Tiba-tiba Na Ceng Han tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, engkau seorang anak berjiwa gagah, akan tetapi agaknya belum tahu siapa orang yang boleh dipercaya dan siapa tidak. Aku selamanya tidak mau mengikat orang, anakku. Marilah!” Dia membalik dan hendak berjalan, akan tetapi mengeluh dan hampir saja jatuh terguling kalau Sin Liong tidak cepat menangkap tangan kakek itu.

“Paman, engkau terluka!”

“Ah, keparat itu...!” Na Ceng Han memaki dan cepat dia duduk di atas tanah dan merobek celananya di bagian betis kiri. Di situ nampak tanda membiru dan lapat-lapat masih nampak ujung sebatang jarum yang menancap sampai dalam.

“Celaka! Engkau telah terkena jarum rahasia yang beracun, paman!”

Sekali pandang saja Na Ceng Han memang sudah menduga bahwa jarum yang mengenai betisnya itu beracun, akan tetapi dia heran bagaimana anak itu bisa tahu. Tanpa berkata apa-apa dia lalu mencabut pedangnya yang tadi telah disarungkan dan hendak membuka kulit betis yang terluka itu dengan pedang.

“Paman, pergunakanlah ini saja!” Sin Liong segera mengeluarkan pisaunya, pemberian Siong Bu karena menggunakan pedang yang panjang itu untuk membedah betis tentu saja amat canggung.

“Terima kasih, kau baik sekali!” kata Na Ceng Han dan dia menerima pisau yang baru dan mengkilap tajam tanpa karat sedikitpun itu, lalu tanpa ragu-ragu lagi kakek ini merobek kulit betis yang terluka dengan pisau itu. Sin Liong memandang dan diam-diam anak ini juga kagum sekali akan kegagahan kakek itu yang berkejappun tidak ketika pisau itu ditusukkan ke dalam dagingnya dan merobeknya, membukanya sampai darah menguncur keluar. Dan memang benar dugaan Sin Liong, darah yang keluar itu berwarna agak kehijauan!

“Darahnya harus disedot keluar, paman,” kata pula Sin Liong dan karena agaknya tidak mungkin bagi orang itu untuk menyedot sendiri betisnya, maka dia melanjutkan dengan cepat, “Biar kulakukan itu, paman!”

Na Ceng Han terkejut bukan main dan hendak mencegah, akan tetapi anak itu telah memegang betisnya dan tanpa ragu-ragu telah menempelkan mulutnya pada betis yang terluka lalu menyedotnya kuat-kuat. Sin Liong meludahkan darah yang disedotnya, lalu menyedot lagi sampai berulang lima kali dan baru setelah yang keluar berwarna merah, dia berhenti menyedot. Na Ceng Han lalu memegang pundak anak itu yang membersihkan mulutnya dengan ujung lengan bajunya. Dia terharu bukan main. Anak ini tidak dikenalnya sama sekali, baru saja bertemu telah menyelamatkan nyawanya dan dengan nekat membantu dia mengundurkan para perampok lihai tadi, dan kini, dengan suka rela anak ini telah menyedot racun dari luka di betisnya! Bukan main anak ini! Kedua mata orang tua itu menjadi basah karena hampir dia tidak percaya bahwa dia bertemu dengan seorang anak seperti ini.

“Sin Liong, apa yang kaulakukan ini takkan dapat kulupakan selama hidupku!” katanya.

Akan tetapi Sin Liong tidak menjawab, melainkan segera menghampiri monyet-monyet besar dan dengan suara memekik-mekik dia minta kepada para monyet itu untuk mencarikan daun obat luka untuk Na Ceng Han. Kembali Na Ceng Han terbelalak memandang dan melihat para monyet itu berloncatan pergi dan tak lama kemudian datang membawa semacam daun berwarna kecoklatan. Sin Liong lalu mencuci daun-daun itu dengan air jernih yang mengalir tidak jauh dari situ, lalu dia meremas-remas daun-daun itu perlahan sampai daun-daun itu menjadi lunak dan mengeluarkan lendir. Dengan hati-hati dia lalu menutupkan daun-daun itu sampai lima enam tumpuk di atas luka di betis Na Ceng Han, kemudian membalut luka yang ditutupi daun-daun obat itu dengan sehelai saputangan. Na Ceng Han merasa betapa luka yang tadinya panas itu kini menjadi dingin sekali.

“Sin Liong, sungguh engkau seorang anak ajaib sekali! Bagaimana kau dapat berhubungan dengan monyet-monyet itu dan dapat memerintahkan mereka?” tanya Na Ceng Han dengan pandang mata penuh kagum.

“Tidak ada yang aneh, paman. Sejak kecil saya sudah bergaul dengan mereka dan tahu akan cara hidup mereka, bahkan aku pernah luka-luka akibat cakaran dan gigitan harimau, dan mereka itulah yang mengobatiku, menjilati luka-lukaku dan menaruhkan daun obat ini.”

“Bukan main! Dan bagaimana kau tahu bahwa aku terkena jarum beracun? Memang tadi ketika tiga orang lihai itu muncul, mereka menyerangku dengan jarum-jarum dan agaknya ada sebatang yang mengenai betisku. Aku hanya merasa agak kaku di kaki ini akan tetapi tidak sempat memeriksanya karena mereka sudah mengepung dan menyerangku.”

Sin Liong tidak ingin menceritakan keadaan dirinya secara selengkapnya karena dengan demikian dia harus mengaku siapa orang tuanya dan mengaku pula tentang Istana Lembah Naga, maka dia hanya berkata, “Saya dapat menduganya setelah melihat luka itu, karena saya mengenal tiga orang tadi, paman. Mereka itu adalah orang-orang Jeng-hwa-pang dan sudah tentu saja mereka menggunakan racun dalam senjata rahasia mereka.”
Akan tetapi ucapannya itu bahkan amat mengejutkan Na Ceng Han sampai dia terlonjak dan bangkit berdiri, tidak merasakan kenyerian betisnya ketika dia berdiri saking kagetnya. Bahkan, wajahnyapun berubah, persis seperti keadaan Kui Hok Boan ketika untuk pertama kali mendengar disebutnya Jeng-hwa-pang.

“Jeng-hwa-pang...?” Kakek ini bertanya, suara agak menggetar karena ngeri dan jerih. “Mereka... mereka orang-orang Jeng-hwa-pang? Ah, Sin Liong, bagaimana kau bisa tahu?”

“Saya... saya pernah melihat dan mendengar mereka dari atas pohon ketika mereka lewat dan bercakap-cakap, paman.”

“Kalau benar demikian, mari kita cepat pergi dari sini, Sin Liong!”

Sin Liong mengangguk dan pergilah dua orang itu menuju ke selatan. Biarpun agak terpincang, akan tetapi Na Ceng Han tidak lagi merasakan kakinya kaku seperti tadi, maka mereka dapat melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa ke selatan. Sebetulnya kita tidak perlu khawatir dan tergesa-gesa, pikir Sin Liong, karena Jeng-hwa-pang sudah dibasmi oleh Kim Hong Liu-nio, dan mungkin tiga orang tadi hanya sisanya saja. Akan tetapi mulutnya tidak berkata sesuatu dan diam-diam dia merasa bersyukur bahwa dia dapat bertemu dengan kakek ini karena kalau dia harus melakukan perjalanan seorang diri, mungkin dia akan sesat jalan dan akan makan waktu lebih lama untuk melewati Tembok Besar. Sebaliknya Na Ceng Han melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa dan dengan hati diliputi kekhawatiran besar.

Seperti juga lain orang yang sudah banyak merantau dan banyak pengalamannya di dunia kang-ouw, tentu saja Na Ceng Han pernah mendengar nama perkumpulan Jeng-hwa-pang yang amat ditakuti itu, maka ketika mendengar tiga orang penyerangnya tadi adalah orang-orang Jeng-hwa-pang, dia terkejut sekali dan ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu karena takut kalau-kalau orang-orang Jeng-hwa-pang akan mengejarnya. Dia masih merasa heran dan tidak mengerti mengapa secara tiba-tiba orang-orang Jeng-hwa-pang memusuhinya tanpa bertanya-tanya, padahal tiga orang itu tadinya disangkanya hanya perampok-perampok biasa saja. Pantas kepandaian mereka begitu hebat! Dan diam-diam diapun dapat menduga bahwa di dalam diri anak yang berjalan dengan gagahnya di sampingnya itu tentu tersembunyi rahasia yang amat hebat. Tak mungkin ada anak biasa saja seperti Sin Liong ini. Mengakunya hidup sebatangkara di dalam hutan, akan tetapi memiliki pakaian yang cukup baik, mengenal tata susila dan sopan santun seperti anak kota yang terpelajar, dan jelas memiliki kepandaian silat yang aneh, keberanian luar biasa dan pandai memerintah monyet-monyet, mengenal orang-orang Jeng-hwa-pang dan tahu tentang jarum-jarum beracun!

Diam-diam hatinya girang juga bahwa dia bertemu dengan seorang anak seperti ini, apalagi ketika mendapat kenyataan betapa selama melakukan perjalanan dari pagi sampai sore ini anak itu tidak pernah mengeluh, sungguhpun keringatnya telah membasahi seluruh badan dan napasnya agak memburu. Tidak minta minum, tidak mengeluh sama sekali. Benar-benar anak ajaib!

Na Ceng Han adalah seorang piauwsu yang cukup terkenal di kota Kun-ting di Propinsi Ho-pei, sebelah selatan kota raja. Dia bukan saja terkenal sebagai seorang yang pandai ilmu silatnya, akan tetapi terutama sekali terkenal sebagai seorang piauwsu (pengawal barang kiriman) yang amat jujur, setia dan boleh dipercaya. Sudah puluhan tahun Na-piauwsu ini bekerja sebagai piauwsu dan belum pernah barang yang dikawalnya itu tidak sampai di tempatnya dengan selamat. Dia melindungi barang kiriman yang dipercayakan kepadanya dengan taruhan nyawanya. Akan tetapi yang membuatnya selalu berhasil dalam melaksanakan tugasnya adalah karena hubungannya yang amat luas, baik dengan golongan para pendekar, maupun dengan golongan hitam. Dia tidak segan-segan untuk membagi hasil jerih payahnya mengawal barang itu dengan fihak-fihak kaum sesat yang berkuasa di sepanjang jalan sehingga fihak kaum sesat juga merasa segan karena Na-piauwsu ini lihai dan banyak sekali sahabatnya di antara pendekar-pendekar ternama, juga karena Na-piauwsu bersahabat baik dengan banyak tokoh kaum sesat.

Seperti pernah diceriterakan di bagian depan, pandai besi ahli pembuat pedang Bhe Coan yang tinggal di dusun di kaki Pegunungan Khing-an-san, juga termasuk seorang sahabat baik Na Ceng Han. Sebelum Bhe Coan menikah dengan janda Leng Ci yang genit, dia telah kematian isterinya yang melahirkan seorang anak perempuan. Setelah menikah dengan janda genit dan cantik itu, si janda membujuknya untuk menyingkirkan anaknya, maka dia teringat kepada sahabatnya itu dan dia lalu memberikan anaknya perempuan itu kepada Na Ceng Han. Na-piauwsu menerimanya dengan senang, bukan hanya karena Bhe Coan adalah seorang sahabat baiknya, akan tetapi juga karena dia dan isterinya hanya mempunyai seorang anak laki-laki saja dan mereka berdua memang ingin sekali mempunyai seorang anak perempuan.

Pada hari itu, ketika pekerjaannya agak sepi, yang ada hanya barang-barang kiriman yang tidak begitu penting sehingga cukup diantar dan dikawal oleh para pembantunya saja, Na-piauwsu teringat akan sahabat baiknya itu. Dia ingin mengunjunginya, bukan hanya karena sudah merasa rindu dan ingin tahu bagaimana keadaan sahabatnya yang dia tahu amat jujur dan agak bodoh, akan tetapi amat ahli dalam pembuatan pedang itu, akan tetapi juga untuk mengabarkan tentang keadaan Bi Cu, yaitu puteri dari sahabatnya itu, dan untuk minta dibuatkan sebatang pedang yang baik untuk Bi Cu! Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan dukanya ketika dia mendengar bahwa Bhe Coan sahabatnya itu telah tewas bersama isteri barunya, tewas dibunuh orang tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya! Bahkan dia mendengar dari para tetangga betapa banyak orang gagah yang datang untuk memesan pedang, juga terkejut dan marah, ingin tahu siapa pembunuhnya. Akan tetapi sampai sekian lamanya tidak ada yang pernah mengetahuinya karena memang tidak ada orang yang menyaksikan pembunuhan atas diri suami isteri itu.

Demikianlah, dalam perjalanannya pulang dari tempat tinggal sahabatnya, tanpa disangka-sangkanya Na Ceng Han bertemu dengan Sin Liong dan kini dia melakukan perjalanan pulang bersama Sin Liong. Di tengah perjalanan, beberapa kali Na Ceng Han memancing kepada anak itu untuk menceritakan riwayatnya. Akan tetapi Sin Liong lebih banyak tutup mulut daripada bicara dan bagaimanapun didesak, tetap saja Sin Liong mengatakan bahwa namanya Sin Liong dan dia tidak tahu siapa nama ayahnya dan siapa ibunya. Dia mengatakan bahwa sejak kecil dia hidup di antara monyet-monyet yang merawatnya.

“Akan tetapi engkau memiliki gerakan silat yang luar biasa anehnya. Dari siapakah engkau mempelajari itu, Sin Liong?” tanya Na Ceng Han ketika pada suatu malam mereka berhenti melewatkan malam di Tembok Besar.

“Saya hanya ikut-ikut latihan dengan anak-anak dusun, paman dan saya meniru-niru gerakan monyet-monyet kalau berkelahi,” jawab Sin Liong secara singkat. Melihat anak itu memang pendiam sifatnya dan kelihatannya amat keras hati, Na Ceng Han tidak mau mendesak lagi, sungguhpun keterangan itu tidak dipercaya sepenuhnya.

“Maafkan aku kalau aku cerewet, Sin Liong. Akan tetapi aku amat tertarik kepadamu, dan sekarang aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan lagi harap kau suka jawab sejujurnya. Engkau yang hidup di dalam hutan, tanpa sanak kadang tanpa keluarga, mengapa engkau secara tiba-tiba saja hendak pergi ke selatan? Engkau tahu akan sopan santun, agaknya engkau tahu pula baca tulis, siapakah yang mengajarkan itu semua dan dari siapa kau tahu bahwa di sebelah sana Tembok Besar terdapat dunia yang amat luas?”

“Ah, paman. Di dusun banyak juga orang yang pandai baca tulis dan saya ikut-ikut belajar. Tentang maksudku berkunjung ke selatan Tembok Besar... ah, saya ingin meluaskan pengetahuan, paman...” Setelah berkata demikian, Sin Liong menunduk dan jelas nampak dari wajahnya bahwa dia tidak ingin banyak bicara tentang dirinya sendiri lagi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka telah melanjutkan perjalanan mereka, menyeberangi Tembok Besar menuju ke selatan. Jantung Sin Liong berdebar penuh ketegangan ketika dia memasuki dusun pertama dari daerah selatan ini. Betapa jauh bedanya keadaan di selatan dengan di utara. Di sini mulai nampak padat dengan penduduk, dar ingatan bahwa dia makin dekat dengan ayah kandungnya, membuat dia merasa tegang dan gembira. Dia tidak tahu atau belum dapat membayangkan bahwa dunia selatan ini amat luasnya, lebih luas daripada langit yang dapat nampak olehnya, dan betapa mencari satu orang di antara ratusan juta orang bukan merupakan hal yang mudah! Akan tetapi dia mempunyai satu keuntungan, yaitu bahwa yang dicarinya itu bukanlah orang biasa, melainkan seorang pendekar yang namanya pernah menjulang tinggi sekali di dunia kang-ouw pada belasan tahun yang lalu. Bahkan pada waktu itu juga, tidak ada seorangpun kang-ouw yang tidak mengenal nama Cin-ling-pai di mana kakeknya, yaitu ayah dari Cia Bun Houw, menjadi ketuanya!

MELIHAT kegembiraan anak itu, diam-diam Na Ceng Han merasa terharu sekali. Anak ini patut dikasihani, pikirnya. Melakukan perjalanan selama beberapa hari ini bersama Sin Liong, dia makin terkesan dan tertarik oleh anak ini yang benar-benar amat luar biasa. Pendiam, keras hati, tabah, sopan, dan amat cerdik. Apalagi anak ini telah menolongnya, bahkan kini luka di betisnya telah sembuh berkat perawatan Sin Liong yang membawa banyak daun obat untuk mengganti obat di luka itu setiap hari. Na Ceng Han merasa berbutang budi kepada anak ini maka dia mengambil keputusan untuk melakukan apa saja bagi anak ini. Dia lalu mengajak Sin Liong singgah di kota raja, tak lain hanya untuk menyenangkan hati anak ini.

Dan Sin Liong memang senang bukan main. Dia merasa takjub melihat gedung-gedung indah, jembatan-jembatan besar yang indah, taman-taman yang seperti dalam dongeng saja di kota raja! Tiada habisnya dia mengagumi segala apa yang dilihatnya dan dia amat berterima kasih kepada Na Ceng Han.

Akhirnya tibalah mereka di kota Kun-ting. Ternyata rumah Na-piauwau cukup besar, merupakan sebuah gedung yang biarpun tidak amat mewah, akan tetapi cukup bagus karena selama bekerja puluhan tahun sebagai piawsu, Na Ceng Han dapat mengumpulkan kekayaan sekedarnya. Kantor piauw-kiok (perusahaan ekspedisi) yang diberi nania Ui-eng-piauw-kiok. Nama Ui-eng (Garuda Kuning) berasal dari nama julukan ayah dari Na Ceng Han yang kini telah meninggal dunia. Ayah dari Na Ceng Han juga seorang piauwsu dan karena ayahnya itu suka sekali memakai pakaian kuning dan sepak terjangnya seperti seekor garuda, maka dia mendapatkan julukan Garuda Kuning. Maka ketika ayahnya itu membuka piauw-kiok, julukan ini lalu dipakai. Maka terkenallah Ui-eng-piauw-kiok sampai menurun kepada Na Ceng Han. Bendera berlatar belakang merah dengan gambaran seekor garuda kuning amat dikenal oleh seluruh kaum liok-lim dan kang-ouw sehingga baru benderanya itu saja yang berkibar di atas gerobak pengangkut burang yang dikawal oleh Ui-eng-piauw-kiok, sudah merupakan jaminan keamanan gerobak itu.

Kedatangan Na Ceng Han disambut oleh isterinya, seorang wanita yang berusia empat puluh lima tahun, bersikap lemah lembut dan ramah, lalu nampak seorang anak laki-laki sebaya dengan Sin Liong. Anak ini adalah Na Tiong Pek, putera tunggal dari keluarga Na. Dan di belakang Tiong Pek ini muncul seorang perempuan yung manis sekali, yang mengingatkan Sin Liong kepada Lan Lan dan Lin Lin, akan tetapi anak perempuan ini sifatnya lemah lembut dan pendiam, bahkan agak malu-malu tidak seperti Lan Lan dan Lin Lin. Anak perempuan ini berusia kurang lebih dua belas tahun, memandang kepada Sin Liong dengan mata terbuka lebar keheranan. Anak ini adalah Bi Cu, puteri dari Bhe Coan yang sejak bayi dititipkan kepada Na Ceng Han. Bhe Bi Cu tidak diaku anak oleh Na Ceng Han, maka masih memakai she Bhe, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari, anak ini tidak dianggap orang lain oleh suami isteri Na, dianggap anak sendiri, bahkan amat disayang oleh mereka. Betapapun juga, Bhe Bi Cu selalu “tahu diri”, merasa dia bukanlah anak mereka dan hanya seorang yang menumpang hidup! Inilah agaknya yang membuat Bi Cu selalu bersikap pendiam dan malu-malu.

Keluarga Na menyambut Na Ceng Han dengan penuh kegembiraan. Apalagi setelah piauwsu itu mengeluarkan oleh-olehnya. Kain sutera halus untuk isterinya, hiasan rambut dari emas untuk Bi Cu, dan gendewa beserta anak panahnya yang terukir dan dicat indah untuk Tiong Pek. Semua benda ini dibelinya di kota raja dan hanya di kota raja sajalah ada yang menjual benda-benda seindah itu. Tentu saja anak-anak dan isterinya itu gembira sekali dan barulah isterinya bertanya siapa adanya anak laki-laki yang ikut bersama suaminya.

Sejak tadi Sin Liong memandang pertemuan itu dengan hati perih dan pula rasa iri di dalam hatinya. Belum pernah dia mengalami pertemuan seperti itu, begitu asyik dan mesra! Belum pernah dia merasakan betapa akan gembira hatinya kalau menyambut pulangnya seorang ayah yang membawa oleh-oleh! Akan tetapi dia hanya menunduk dan membiarkan ayah dan keluarganya itu bertemu melepaskan rindu tanpa berani mengganggu, bahkan dia mundur di sudut.

“Siapakah anak itu?” tanya nyonya Na dan kini dua orang anak itupun yang tadinya bergembira dengan barang-barang mereka menoleh dan memandang kepada Sin Liong. Karena semua mata kini memandang kepadanya, Sin Liong yang tadinya menunduk kini malah mengangkat mukanya membalas pandang mata mereka dengan tenang. Dia melihat betapa wajah nyonya itu peramah sekali, betapa sepasang mata anak laki-laki itu memandangnya penuh curiga dan anak perempuan yang manis itu memandang kepadanya dengan sepasang mata terbuka lebar, agaknya terheran-heran.

Na Ceng Han tertawa, lalu menghampiri Sin Liong dan menaruh tangannya di atas pundak anak itu dan berkatalah dia kepada keluarganya. “Anak ini bernama Sin Liong dan ketahuilah, kalau tidak ada anak ini, aku sudah tidak akan bertemu lagi dengan kalian, aku tentu telah tewas di utara sana tanpa ada yang mengetahui.”

“Ihh...?” Nyonya Na berseru dengan muka berubah pucat.

“Ahh...!” Bi Cu juga berseru dan matanya makin terbelalak memandang kepada Sin Liong.

“Ayah, apakah yang telah terjadi?” Tiong Pek juga berseru kaget.

Na Ceng Han menarik napas panjang, lalu dengan halus mendorong Sin Liong maju menghampiri keluarganya. “Marilah kuperkenalkan dulu. Sin Liong, dia ini adalah bibimu, dan ini adalah anakku, Na Tiong Pek dan ini adalah keponakanku, Bhe Bi Cu.”

Sin Liong yang sejak kecil sudah diajar sopan santun oleh ibunya, cepat memberi hormat kepada nyonya itu sambil menyebut. “Bibi...”

Nyonya Na cepat mengulurkan tangan memegang pundak anak itu dan berkata, “Anak baik, duduklah.”

Mereka semua duduk mengelilingi meja dan mulailah Na Ceng Han menceritakan pengalamannya ketika dia dihadang oleh tiga orang perampok lihai dan dia sudah terluka kakinya, kemudian betapa Sin Liong muncul bersama rombongan monyet dan menyelamatkannya dari bahaya maut.

“Dia tidak hanya membantuku mengusir tiga orang itu, akan tetapi bersama teman-temannya, rombongan kera itu, dia telah mengobati luka di kakiku sampai sembuh!” Na-piauwsu mengakhiri ceritanya tanpa menyebut-nyebut tentang kematian Bhe Coan.

Nyonya dan dua orang anak itu mendengarkan dengan mata terbuka lebar, penuh perhatian dan penuh keheranan.

“Luar biasa sekali...!” seru nyonya itu sambil memandang kepada Sin Liong. “Seolah-olah Thian sendiri yang mengutus dia turun dari kahyangan untuk menolongmu, suamiku!”

Na Ceng Han tertawa. “Ha-ha, memang tadinya aku sendiripun terheran-heran dan mengira dia seorang dewa sebangsa Lo-cia! Akan tetapi dia seorang manusia biasa yang ingin ke selatan, maka aku membawanya sampai ke sini.”

“Muncul bersama rombongan monyet?” Tiong Pek berseru heran sambil memandang kepada Sin Liong. “Apakah... apakah dia mengenal monyet-monyet itu...?”

“Ha-ha-ha, mengenal mereka? Tiong Pek, sayang kau tidak melihat sendiri betapa dia ini telah memerintahkan monyet-monyet untuk mundur ketika mereka itu salah duga dan hendak mengeroyokku, kemudian betapa dia menyuruh monyet-monyet itu mencarikan daun obat untuk mengobati luka di betisku!”

“Ah...! Benarkah itu? Kalau begitu engkau bisa bercakap-cakap dengan monyet!” Tiong Pek bertanya kepada Sin Liong, sinar matanya penuh kagum dan Sin Liong melihat betapa anak ini memiliki watak yang jujur. Maka dia mengangguk tanpa menjawab.

“Bagus, kau harus ajari aku bicara monyet!” Tiong Pek berseru sambil memegang tangan Sin Liong. “Dan kau boleh memilih benda-benda mainanku, mana yang kausuka boleh kauambil!” Tiong Pek lalu menarik tangan Sin Liong. “Marilah. Sin Liong, mari kita bermain di belakang!”

Sin Liong hanyut oleh kegembiraan anak itu. Anak ini berbeda dengan Siong Bu, dan biarpun tidak selucu Beng Sin, akan tetapi anak ini jujur dan terbuka, tidak seperti Beng Sin yang tidak berani terang-terangan bersikap manis kepadanya. Akan tetapi dia tidak mau bersikap kurang hormat dan dia memandang kepada Na Ceng Han.

Na-piauwsu tersenyum dan mengangguk. “Kau bermainlah bersama Tiong Pek dulu, Sin Liong, aku hendak bicara dengan bibimu dan dengan Bi Cu.”

Maka pergilah Sin Liong, setengah ditarik oleh Tiong Pek, menuju ke ruangan belakang dari rumah yang besar itu. Bi Cu mengikuti mereka dengan pandang matanya. Agaknya diapun ingin bicara dengan Sin Liong, ingin bertanya tentang
kehidupan anak itu yang aneh, yang pandai memerintah monyet-monyet, dan terutama sekali, yang datang dari utara, dari mana diapun datang ketika masih bayi. Akan tetapi sebagai seorang anak perempuan, dia tidak mau menyatakan keinginannya itu, apalagi dia tadi mendengar bahwa pamannya hendak bicara dengan dia. Dia tahu betapa pamannya pergi ke utara untuk mengunjungi ayahnya, yang kabarnya menjadi pandai besi, ahli pembuat pedang di utara sana, maka kini dia ingin mendengar tentang ayahnya itu dari Na-piauwsu.

“Lalu sudahkah kau berjumpa dengan Saudara Bhe Coan?” Na-hujin bertanya. Hatinya sudah merasa tidak enak karena kepergian suaminya ke utara itu adalah untuk mengunjungi sahabat suaminya itu, akan tetapi sejak tadi suaminya tidak pernah bicara tentang orang she Bhe yang menjadi ayah kandung Bi Cu itu. Kini Bi Cu memandang kepada paman dan bibinya, lalu menatap wajah pamannya untuk mendengar tentang orang yang menjadi keluarga terdekat baginya akan tetapi yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya itu karena dia masih bayi ketika berpisah dari ayahnya, sedangkan ibunya telah meninggal dunia ketika melahirkan dia.

Na-piauwsu menarik napas panjang dan memandang kepada Bi Cu dengan penuh perasaan kasihan. Dia mencinta anak ini seperti anaknya sendiri, demikian isterinya mencinta Bi Cu seperti anak sendiri. Biarpun Bi Cu tidak pernah berdekatan dengan ayah kandungnya sehingga tentu saja tidak ada pertalian rasa kasih sayang, akan tetapi menceritakan tentang kematian ayah kandung anak itu dia merasa ragu-ragu dan tidak enak juga. Betapapun, dia tidak boleh merahasiakan hal itu dan harus dia ceritakan kepada Bi Cu.

“Ah, berita tentang saudara Bhe Coan yang kubawa amatlah buruknya...” kembali dia menarik napas panjang “...sudah lama terjadinya, sudah bertahun-tahun, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu... bahkan belum lama setelah Bi Cu berada di sini...”

“Apa yang terjadi dengan dia?” tanya Na-hujin dengan wajah berubah dan dia memandang kepada Bi Cu yang hanya mendengarkan dengan alis berkerut.

“Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, saudara Bhe Coan telah dibunuh orang...”

“Ahhh...!” Nyonya Na menjerit dan melihat Bi Cu memandang suaminya dengan wajah yang tiba-tiba menjadi pucat
sekali, nyonya ini lalu merangkul Bi Cu dan menangislah nyonya Na karena dia merasa kasihan sekali kepada Bi Cu. Akan tetapi, Bi Cu sendiri tidak menangis, hanya memandang dengan muka pucat kepada Na Ceng Han! Anak ini sama sekali tidak merasa berduka! Hal ini tidaklah aneh. Dia tidak pernah melihat wajah ayah kandungnya, hanya tahu bahwa dia mempunyai seorang ayah kandung. Karena tidak pernah bertemu, tentu saja tidak ada ikatan dalam hatinya, tidak ada dia merasa kehilangan ketika mendengar bahwa ayah kandungnya itu meninggal dunia. Memang ada perasaan nyeri mendengar ayah kandungnya dibunuh orang, akan tetapi duka sama sekali tidak dirasakannya.

“Paman, siapakah yang membunuh ayahku?” tanyanya dengan suara lirih.

Na Ceng Han menarik napas panjang. “Dia tewas bersama isterinya, yaitu ibu tirimu, di dalam kamar. Begitulah menurut cerita para tetangganya. Akan tetapi tidak ada seorangpun yang melihat pembunuhnya, tidak ada yang tahu siapa yang membunuh Bhe Coan dan isterinya. Bahkan sebelum aku datang ke sana, selama beberapa tahun ini para pendekar yang datang ke sana untuk memesan pedang, yang telah mengenal baik ayahmu, merasa penasaran dan juga menyelidiki, akan tetapi sampai sekarang agaknya tidak ada orang yang dapat menemukan siapa pembunuh Bhe Coan dan isterinya itu.”

Bi Cu melepaskan rangkulan bibinya. “Aku... aku mau mengaso ke kamarku...” katanya. Paman dan bibinya mengangguk dan memandang kepada anak yang pergi dengan kepala tunduk itu dengan hati kasihan. Mereka merasa kasihan sekali dan merasa makin sayang kepada Bi Cu.

“Kasihan dia...” nyonya itu terisak.

“Baiknya dia tidak sampai terpukul oleh berita ini,” kata Na Ceng Han.

“Sebaiknya dia kita jadikan anak kita saja...”

Isterinya menggeleng dan berkata lirih, “Lebih baik begini. Bukankah kita juga sudah memperlakukan dia tiada bedanya dengan anak sendiri? Biarlah dia menyebut kita paman dan bibi, karena aku... aku mempunyai niat... dia dan Tiong Pek...”

Wajah Na Ceng Han berseri. “Ah, begitukah? Baik sekali pikiran itu, dan aku setuju sepenuhnya!” Suami isteri itu membayangkan betapa akan bahagia mereka kalau Bi Cu kelak menjadi isteri Tiong Pek. Tidak akan keliru lagi pilihan ini karena merekalah yang mendidik Bi Cu sejak kecil! Dan mereka berdua membayangkan betapa mereka akan sayang sekali kepada cucu yang terlahir dari Bi Cu dan Tiong Pek!

Sementara itu, Sin Liong mengagumi main-mainan yang dimiliki oleh Tiong Pek. Anak ini memang amat ramah setelah berkenalan, bahkan Tiong Pek lalu memamerkan ilmu silatnya yang dia latih bersama Bi Cu di bawah pimpinan ayahnya sendiri.

“Kau tahu, Sin Liong. Kepandaian kami adalah kepandaian warisan. Ilmu silat keluarga Na amat terkenal di daerah ini dan ayah sudah turun-temurun menjadi piauwsu. Kelak akupun ingin menjadi seorang piauwsu yang baik. Nama Ui-eng-piauw-kiok telah terkenal semenjak kakek masih hidup!”

Sin Liong memandang kagum ketika melihat Tiong Pek bersilat dengan cekatan sekali. Dia melihat betapa Tiong Pek sungguh tidak kalah dibandingkan dengan Siong Bu atau Beng Sin. Bahkan Tiong Pek yang hendak memamerkan kepandaiannya kepada sahabat barunya ini dapat pula mainkan bermacam-macam senjata! Terutama pedang dapat dia mainkan dengan indah karena memang senjata utama dari keluarga Na adalah sebatang pedang.

“Sin Liong, kau tinggallah saja di sini! Kau menjadi murid ayah dan kita dapat berlatih bersama-sama!”

Sin Liong hanya tersenyum.

“Eh, mana sumoi?”

“Siapakah sumoimu?”

“Tadi engkau sudah melihatnya. Bi Cu adalah sumoiku. Murid ayah hanya dua orang aku sendiri dan Bi Cu.”

“Akan tetapi bukankah dia itu keponakan ayahmu?”

“Hanya keponakan luar belaka, bukan keluarga Na. Dia adalah puteri dari paman Bhe Coan. Ibu kandungnya, adik ayahku, meninggal ketika melahirkan dia. Ayahnya kawin lagi maka dia dirawat oleh ayah dan ibuku sejak bayi. Mari, kita cari dia. Dia harus memperlihatkan ilmu silatnya kepadamu. Wah, dia juga lihai sekali. Dalam hal kecepatan, aku tidak pernah dapat menandinginya!”

Tiong Pek lalu mengajak Sin Liong mencari Bi Cu. Akan tetapi anak itu tidak berada di dalam kamarnya. Ketika mereka mencari ke dalam taman, ternyata Bi Cu menangis di atas bangku yang terpencil di dekat empang ikan. Melihat ini, Tiong Pek terkejut bukan main.

“Sumoi tidak pernah kulihat menangis! Ada apakah?” Dia lalu berlari-lari menghampiri sumoinya, diikuti oleh Sin Liong dari belakang. Di dalam hatinya, Sin Liong merasa kasihan sekali. Dia sudah mendengar dari Na-piauwsu bahwa ayah kandung Bi Cu yang bernama Bhe Coan itu telah dibunuh orang. Agaknya tentu anak yang sudah tidak beribu lagi itu telah mendengar akan kematian ayahnya. Kini Bi Cu sudah tidak lagi mempunyai ayah dan ibu!

Ketika tiba di depan Bi Cu yang menangis sambil menutupi muka dengan kedua tangannya, Tiong Pek cepat duduk di samping sumoinya, memegang lengan sumoinya dan berkata dengan sikap cemas, “Sumoi, ada apakah? Kenapa kau menangis?” Melihat sikap ini Sin Liong berdiri agak jauh dan memandang saja. Dia kini tahu bahwa Tiong Pek adalah seorang anak yang baik dan jelas nampak bahwa Tiong Pek amat sayang kepada sumoinya itu. Hal ini memang tidaklah aneh. Semenjak mereka berdua masih anak-anak yang kecil, keduanya telah bermain bersama-sama dan tentu saja timbul rasa sayang di dalam hati masing-masing.

Bi Cu mengangkat mukanya yang basah air mata. Melihat Tiong Pek yang memandang kepadanya penuh kegelisahan itu, tangisnya makin mengguguk!

“Sumoi, katakanlah, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” tanya Tiong Pek makin gugup dan gelisah.

“Suheng... ibu... ibuku telah mati sejak melahirkan aku... dan sekarang... sekarang ayahku...”

“Ayahmu kenapa?”

“Ayahku telah mati pula dibunuh orang sepuluh tahun yang lalu...” Dan anak perempuan itu menangis makin sedih.

“Ahhh!” Tiong Pek bangkit berdiri, mengepal tinju, matanya berapi-api, akan tetapi dia lalu duduk kembali. “Siapa bilang? Ayah?”

Dara cilik itu mengangguk.

“Siapa yang membunuhnya?”

“Paman... paman juga tidak tahu, tidak ada yang tahu siapa yang membunuh ayahku sepuluh tahun yang lalu...”

“Sudahlah, sumoi, jangan berduka. Hal itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu, akan tetapi percayalah, kelak aku yang akan membantumu mencari siapa pembunuh ayahmu itu!” Tiong Pek bicara penuh semangat sehingga terhibur juga hati Bi Cu. Ketika dilihatnya bahwa Sin Liong juga berada di situ, tangisnya segera terhenti karena dia merasa malu untuk menangis di depan anak yang baru datang ini.

Ketika dibujuk oleh keluarga Na, dan melihat betapa keluarga itu amat baik kepadanya, akhirnya Sin Liong menerima juga untuk tinggal di situ dan mempelajari ilmu silat dari Na Ceng Han.

Na-piauwsu maklum bahwa di dalam diri Sin Liong terdapat rahasia yang luar biasa, dan bahwa anak ini tentu bukan anak sembarangan, maka dia tidak berani menjadi guru anak itu. Dalam bujukannya yang meyakinkan hati Sin Liong sehingga anak itu mau menerima tawarannya, dia berkata, “Sin Liong, ketahuilah bahwa di dunia ini banyak sekaii orang-orang yang amat pandai akan tetapi juga amat jahat. Oleh karena itu, mengandalkan perantauan seorang diri di dunia ramal ini haruslah membawa bekal sedikit ilmu untuk melindungi diri sendiri dari marabahaya. Aku tidak berani menjadi gurumu, akan tetapi berilah kesempatan kepadaku untuk membalas budimu dengan menurunkan sedikit ilmu pembelaan diri kepadamu. Kau mempelajari ilmu dan mengenal keadaan dunia kang-ouw, sehingga satu dua tahun kemudian engkau boleh melanjutkan perantauanmu tanpa meninggalkan rasa khawatir di dalam hati kami.”

Demikianlah, mulai hari itu, Sin Liong tinggal di rumah Na-piauwsu dan setiap hari anak ini dilatih ilmu silat oleh Na Ceng Han, Diam-diam Na Ceng Han terkejut karena ternyata olehnya bahwa anak ini telah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi yang aneh. Tentu saja dia tidak tahu bahwa memang ibu kandung anak ini telah mengajarkan dasar ilmu silat tinggi dan ibu anak ini adalah murid terkasih mendiang Hek I Siankouw, maka tidak mengherankan kalau Sin Liong telah mempelajari dasar-dasar ilmu silat tinggi!

Karena tidak memperoleh banyak kesempatan untuk mempelajari ilmu silat ketika dia tinggal di Istana Lembah Naga, maka ketika dilatih ilmu silat oleh Na Ceng Han, gerakan-gerakannya amat kaku sehingga Tiong Pek dan Bi Cu yang menonton kadang-kadang tertawa. Akan tetapi mereka bukan mentertawakan untuk mengejek, hanya karena geli hati mereka melihat gerakan yang kaku itu. Betapapun, ketika mereka mengadakan latihan bersama, segera nampak jelas oleh Na Ceng Han betapa dalam hal kecepatan, Sin Liong memiliki kecepatan yang wajar dan luar biasa sekali, kecepatan yang didapatkan dari kehidupannya bersama para monyet sehingga Bi Cu yang memiliki bakat baik sekali untuk ilmu gin-kang sehingga tidak dapat ditandingi oleh suhengnya itupun masih kalah cepat dibandingkan dengan Sin Liong yang sudah sejak kecil mengandalkan tenaga untuk melindungi diri di hutan, dengan berayun-ayun, bahkan masih mengatasi Tiong Pek. Dengan demikian, kalau anak ini sudah dilatih ilmu silat dan sudah menguasai ilmu itu, sudah pasti bahwa dia akan lebih cepat dari Bi Cu dan lebih kuat dari Tiong Pek, berarti lebih lihai daripada mereka!

Pergaulannya dengan Tiong Pek dan Bi Cu akrab sekali karena dalam pergaulan itu tidak ada sesuatu yang menghalangi, seperti pergaulannya dengan anak-anak di Istana Lembah Naga. Dan ternyata bahwa Na Ceng Han dan isterinya benar-benar merupakan suami isteri yang berbudi dan ramah sehingga Sin Liong merasa suka sekali kepada keluarga ini dan betah tinggal di rumah mereka. Dia bahkan kadang-kadang ikut rombongan piauwsu mengawal barang, dan hal ini memang atas anjuran Na Ceng Han yang ingin agar anak ini dapat memiliki pandangan luas dan pengalaman sebagal bekal niatnya untuk merantau. Dia dapat menduga bahwa tentu ada sesuatu yang mendorong anak ini untuk merantau, akan tetapi dia tahu bahwa membujuk anak itu untuk mengaku akan percuma belaka, maka diapun tidak pernah bertanya.

Sin Liong berlatih rajin. Dia tidak memanggil suheng atau sumoi kepada Tiong Pek dan Bi Cu, dan juga sebaliknya dua orang anak itu tidak menyebutnya saudara seperguruan. Hal ini memang kehendak dari Na-piauwsu yang tidak berani menerima anak ajaib itu sebagai muridnya. Dia tidak mau mengikat Sin Liong, dan tentu saja kalau anak itu sendiri yang mengangkat dia sebagai guru, maka dia tentu akan menerimanya. Akan tetapi karena dia tidak tahu benar siapa adanya anak itu, maka dia tidak berani mengambil anak itu menjadi muridnya. Dan ternyata agaknya Sin Liong juga tidak mau terikat, maka anak itupun diam saja, tetap memanggil “paman Na” kepada piauwsu itu, walaupun dia berlatih silat dengan amat tekun sehingga dua orang anak itupun terseret dan ikut pula menjadi tekun. Hal ini amat menggirangkan hati Na-piauwsu.

Istana kaisar sedang dalam keadaan prihatin karena Kaisar Ceng Tung sedang menderita sakit keras. Tidak nampak senyum di wajah semua orang yang berada di istana, dari penjaga sampai pelayan dalam istana, dari pengawal sampai para panglima yang keluar masuk untuk menjenguk keadaan kaisar. Semua ahli pengobatan istana dikerahkan, bahkan juga didatangkan ahli-ahli pengobatan dari luar, tidak ketinggalan pula para ahli “mengusir setan” untuk membuat persembahan dan memasang benda-benda yang dinamakan “hu” yang dianggap sebagai tumbal atau jimat penolak bahaya! Namun, penyakit yang diderita oleh kaisar tidak menjadi makin ringan, bahkan makin hari makin berat saja.

Pada suatu hari, ketika kota raja mulai sibuk dengan arus manusia yang berlalu-lalang dan kesibukan para pedagang yang mulai dengan perlombaan mereka mencari untung hari itu, nampak dua orang yang mau tidak mau menarik perhatian banyak orang dari pintu gerbang sebelah utara kota raja. Di antara banyak pintu gerbang kota raja, pintu gerbang sebelah utara merupakan pintu yang terbesar dan dijaga paling kuat. Dua orang ini bukan lain adalah Pangeran Oguthai atau Ceng Han How, putera dari Raja Sabutai yang memasuki kota raja bersama dengan Kim Hong Liu-nio. Tentu saja banyak orang tertarik melihat seorang wanita yang cantik sekali dan berpakaian mewah, tata rambutnya seperti seorang puteri, akan tetapi langkahnya begitu tegap dan tenang seperti langkah seorang ahli silat yang biasa melakukan perantauan. Dan keadaan Ceng Han Houw juga menarik perhatian orang karena pemuda ini bertubuh tinggi tegap, tampan dan halus gerak-geriknya sedangkan sepasang matanya memiliki sinar yang tajam penuh wibawa. Akan tetapi karena banyaknya bermacam-macam orang memasuki kota raja, keadaaan mereka itu tidak menimbulkan kecurigaan, apalagi karena Kim Hong Liu-nio bersikap hati-hati sekali setelah memasuki daerah kota raja yang diketahuinya terdapat banyak orang pandai itu. Dia tidak lagi menonjolkan papan kayu salib yang bertuliskan nama-nama marga musuh besar gurunya seperti biasa, bahkan diapun lebih banyak berdiam dan tidak melayani pandang mata banyak pria yang memandangnya dengan penuh kagum.

Ceng Han Houw tiada hentinya mengagumi keadaan kota raja. Wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar ketika dia menyaksikan jalan-jalan raya yang rata dan bersih, rumah-rumah besar dan istana-istana yang indah dan megah. Diapun merasa sekali betapa sucinya tiba-tiba menjadi “alim” dan pendiam semenjak memasuki wilayah kota raja, padahal sebelum itu, semenjak di penyeberangan Tembok Besar, ketika melalui dusun dan kota, sudah belasan orang menjadi korban sucinya itu yang tidak mau mengampuni setiap orang yang kebetulan memiliki nama keturunan atau marga Cia, Yap dan Tio. Tentu saja perbuatannya itu amat menggemparkan dan sebentar saja nama Kim Hong Liu-nio dikenal orang sebagai nama yang amat ditakuti seperti iblis. Akan tetapi, setelah tiba di perbatasan kota raja, Ceng Han Houw melihat betapa sucinya itu tidak pernah lagi bertanya-tanya orang apakah ada di situ orang-orang yang memiliki tiga macam nama marga itu.

“Suci, benarkah banyak orang lihai di sini?” bisiknya kepada sucinya ketika mereka berjalan di sepanjang jalan raya di kota raja. Pertanyaan itu dia ajukan dengan menggunakan bahasa Mongol.

“Ssttt, jangan bicara yang bukan-bukan, sute,” wanita itu menjawab dalam bahasa Han. “Bicaralah dengan bahasa Han agar tidak menarik perhatian orang, dan mari kita langsung saja pergi ke istana.”

Semenjak dia berusia sepuluh tahun, Han Houw telah mendengar dari ibunya bahwa kaisar yang maha besar di selatan adalah ayah kandungnya! Rahasia ini dibuka oleh ibunya karena dia dianggap sudah cukup besar untuk dapat menyimpan rahasia dan diam-diam Han Houw mempunyai rasa bangga yang amat besar. Ayahnya sendiri di utara adalah seorang raja, akan tetapi kalau dibandingkan dengan kaisar, maka kedudukan ayahnya itu sama sekali tidak ada artinya. Ayahnya hanya menguasai tanah-tanah yang masih liar, dan mempunyai pasukan yang hanya ribuan orang banyaknya, sedangkan menurut buku-buku yang dibacanya, kaisar di selatan adalah seorang yang amat berkuasa, menguasai daerah yang tak terukur luasnya dan orang-orang serta pasukan yang tidak terhitung banyaknya. Bahkan raja-raja kecil yang banyak sekali tunduk kepada kekuasaan kaisar. Dan orang ini adalah ayah kandungnya!

Maka mendengar ucapan sucinya, dia mengerutkan alisnya dan memandang kepada pakaiannya. Pakaiannya memang cukup baik, akan tetapi sudah agak kotor berdebu karena perjalanan terakhir memasuki kota raja. Dan dia tidak ingin menghadap ayahnya yang amat berkuasa itu dalam pakaian kotor!

“Aku harus berganti pakaian lebih dulu, suci.” Ketika dia hendak berangkat, ibunya sendiri yang memesan kepadanya agar kalau menghadap kaisar dia mengenakan pakaian terbaik yang sengaja dipersiapkan oleh ibunya, dan bahkan ibunya mengajarkannya bagaimana dia harus bersopan santun di dalam istana sebagai seorang pangeran putera kaisar!

Kim Hong Liu-nio menoleh dan memandang wajah sutenya. Tidak biasa sutenya ini membantah kata-katanya, karena sutenya menganggap dia seperti guru juga. Biarpun sutenya ini murid dari Hek-hiat Mo-li juga, akan tetapi dialah yang lebih banyak membimbing sutenya ini dalam berlatih ilmu silat.

Han Houw tahu bahwa sucinya memandang kepadanya, maka dia berkata, “Untuk pergi menghadap kaisar, aku harus mengenakan pakaian bersih, demikian pesan ibu kepadaku.”

Kim Hong Liu-nio mengangguk. Dan tahu bahwa betapapun juga, sutenya ini adalah seorang junjungannya yang harus ditaatinya, maka dalam hal-hal tertentu, dia sama sekali tidak boleh dan tidak berani membantah. “Kalau begitu, kita mencari sebuah rumah penginapan lebih dulu,” katanya singkat. Mereka lalu pergi mencari rumah penginapan dan tentu saja amat mudah mencari rumah penginapan di kota raja yang besar dan ramai itu.

Setelah tiba di rumah penginapan dan memesan dua buah kamar besar, Kim Hong Liu-nio mempersilakan Pangeran Oguthai atau Ceng Han Houw untuk mandi dan bertukar pakaian sedangkan dia sendiri juga membersihkan diri dan menukar pakaian yang bersih. Setelah selesai, Han Houw mengajak wanita itu untuk makan dulu.

“Siapa tahu, di istana kita harus menanti sampai lama,” kata Han Houw. “Menurut cerita ibu, di istana kita harus sopan dan sama sekali tidak boleh bergerak, berkata atau berbuat apa saja sebelum diperintah. Kalau di sana kita harus menunggu lama dan perutku lapar tanpa berani minta makan atau pergi mencari makan, wah, bisa kelaparan aku! Mari kita makan dulu sekenyangnya, baru kita pergi menghadap ke istana, suci. Dan menurut ibu, kabarnya di kota raja ini kita bisa makan apapun juga! Bahkan segala macam dagingpun bisa pesan. Kata ayah di sini orang-orangnya pandai sekali masak seperti dewa, bisa menyulap daging-daging ular, buaya, harimau, biruang, dan lain-lain menjadi masakan-masakan sedap. Bahkan kalau mau memesan daging paha burung hong, atau lidah naga laut, kabarnya bisa juga.”

Kim Hong Liu-nio tersenyum mendengar omongan sutenya itu, dan begitu dia tersenyum, lenyaplah sifat dingin menyeramkan dari wanita ini. Sesungguhnya Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang berwajah cantik dan manis sekali, apalagi kalau tersenyum seperti itu, karena selain dia memiliki bentuk bibir yang indah, juga giginya putih dan rapi.

“Sute, di jaman sekarang ini, mana ada segala macam burung hong, naga ataupun kilin? Itu hanya pandainya para pemilik restoran saja. Yang dimaksudkan dengan paha burung hong bukan lain adalah paha burung dara, dan lidah naga adalah lidah ular tertentu yang memang lezat dimasak, kalau yang masaknya pandai. Harimau itu paling-paling daging kucing, dan biruang itu tak salah lagi tentu daging anjing. Tidak salah bahwa memang di sini banyak terdapat ahli masak yang pandai dan memang segala macam daging itu yang enak apanya sih? Tanpa bumbu, mana bisa enak? Yang enak adalah bumbunya!”

Mereka lalu pergi ke sebuah restoran yang besar dan banyak tamunya. Karena Han Houw ingin melihat keadaan di luar restoran di mana terdapat arus lalu lintas yang cukup ramai, maka dia memilih tempat duduk paling pinggir, di sebelah luar menghadapi pintu dan jendela terbuka. Selain di sini, tidak begitu panas karena jauh dari api dapur dan memperoleh hawa langsung dari luar yang terbuka, juga dia dapat melihat-lihat keadaan di luar restoran.

Benar saja, ketika mereka membaca menu masakan, terdapat istilah-istilah masakan yang amat hebat dan muluk-muluk seperti sop jantung harimau, jari kaki biruang masak kecap, goreng otak kilin, masak ca jamur dewa, dan sebagainya sehingga Han Houw tertawa geli membacanya. Sebagai seorang pangeran, tentu saja dia berwatak royal dan dia memesan hampir semua masakan yang namanya aneh-aneh itu sehingga lebih dari dua belas macam masakan! Tentu saja pelayan memandang dengan mata terbelalak melihat betapa hanya dua orang saja memesan masakan sedemikian banyaknya, yang cukup banyak untuk dimakan oleh enam orang!

“Ramai sekali di sini!” kata Han Houw ketika sucinya menuliskan pesanan di atas kertas.

Pelayan yang melayani mereka itu membungkuk-bungkuk. Dari pakaian dua orang tamu ini saja dia dapat menduga bahwa mereka ini tentulah keluarga bangsawan atau hartawan dari luar kota raja yang datang berkunjung ke kota raja, maka dia bersikap menghormat.

“Biasanya jauh lebih ramai lagi, kongcu. Sebetulnya, biasanya pada bulan seperti ini tentu ada pesta di lapangan belakang pasar, di kuil besar dan di jembatan kuning. Akan tetapi semenjak sri baginda kaisar yang mulia menderita sakit, semua pesta untuk sementara dibatalkan...”

“Sri baginda kaisar sakit...?” Han Houw bertanya, terkejut.

“Eh, kongcu belum tahu? Seluruh penduduk kota raja berprihatin karena sakit beliau itu agak berat...” Pelayan lalu menerima catatan pesanan dan tidak berani lagi banyak membicarakan kaisar yang pada waktu itu dianggap sebagai seorang manusia yang setingkat dengan utusan atau wakil Tuhan sehingga tidak boleh banyak disebut-sebut!

Han Houw saling berpandangan dengan sucinya. Kaisar sakit?

“Ah, kalau begitu kita terpaksa menunda sampai beberapa hari,sampai beliau sembuh, sute. Kalau beliau sakit, mana mungkin kita diperbolehkan menghadap?” bisik Kim Hong Liu-nio kepada sutenya.

Han Houw hanya mengangguk, akan tetapi diam-diam hatinya khawatir sekali. Memang ibunya sudah mendengar berita bahwa kaisar sakit, akan tetapi tidak disangkanya bahwa penyakitnya berat sehingga sampai sekarangpun masih sakit sehingga semua penghuni kota rajapun sampai berprihatin dan segala macam pesta ditiadakan!

Berita itu mengurangi kegembiraan Han Houw, sungguhpun dia masih dapat menikmati hidangan masakan yang memang benar-benar lezat dan yang belum pernah dirasakannya itu. Ketika mereka sedang asyik makan minum, tiba-tiba pandang mata Han Houw tertarik oleh tiga orang kakek pengemis yang berpakaian menyolok sekali. Tiga orang kakek itu usianya tentu kurang lebih lima puluh tahun, namun tubuh mereka masih tegap dan sehat kuat. Yang menyolok adalah pakaian mereka, karena tiga orang kakek pengemis itu memakai pakaian tambal-tambalan yang terbuat dari kain-kain berkembang yang beraneka warna! Sehingga dari jauh nampak mereka itu seperti tiga orang yang aneh sekali, pakaian mereka dari baju sampai celana semua berkembang-kembang dan bertotol-totol dengan warna-warna menyolok. Mereka itu dapat dikenal sebagai pengemis-pengemis karena mereka itu memegang tongkat dan tempat makanan dari kayu, sedangkan sepatu mereka berlubang-lubang, juga pakaian yang aneh itu biarpun warnanya menyolok sekali akan tetapi tambal-tambalan! Di punggung mereka nampak tumpukan buntalan, entah buntalan apa, warnanya kuning.

“Suci, orang-orang apakah mereka itu?” tanya Han Houw sambil menunjuk dengan gerakan dagunya.

Kim Hong Liu-nio yang duduknya berhadapan dengan Han Houw, kini menoleh dan sejenak matanya menyambar dan memandang kepada tiga orang kakek yang berjalan mendatangi itu dengan tajam dan penuh perhatian. Diam-diam dia terkejut juga melihat cara tiga orang kakek itu melangkahkan kaki mereka. Begitu ringan dan penuh tenaga! Jelaslah bahwa mereka itu bukan orang-orang sembarangan dan pakaian mereka itu jelas pula merupakan tanda golongan mereka! Dia mengingat-ingat. Mereka itukah yang disebut-sebut sebagai orang-orang Hwa-i Kai-pan (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) yang kabarnya amat berkuasa di daerah kota raja? Agaknya tidak salah lagi. Akan tetapi melihat lima tumpuk buntalan kuning di punggung tiga orang kakek itu, Kim Hong Liu-nio memandang tak acuh karena dia tahu bahwa mereka itu hanyalah tokoh-tokoh tingkat rendahan saja, tingkat lima!

“Sute, jangan perdulikan mereka. Agaknya mereka adalah tokoh-tokoh kai-pang,” bisiknya kepada sutenya.

“Haii, Sam-wi Lo-sin-kai (Tiga Orang Pengemis Tua Sakti)! Sam-wi hendak ke manakah?” tiba-tiba terdengar teriakan orang yang duduk di dalam restoran itu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh tegap yang sedang menghadapi meja penuh masakan bersama tiga orang lain yang juga memandang gembira melihat tiga orang pengemis itu.

“Ah, kiranya Yu-kamsu (guru silat Yu) dari Cin-an dan tiga orang saudara dari Sin-houw-piauw-kiok!” kata seorang di antara tiga kakek pengemis itu sambil berhenti melangkah di depan restoran, di luar jendela di mana empat orang itu duduk.

“Mari silakan duduk makan minum bersama kami!” kata pula guru silat she Yu itu dengan sikap ramah dan gembira, menandakan bahwa mereka itu adalah kenalan-kenalan baiknya.

“Terima kasih, Yu-kauwsu, kami masih harus menyelesaikan urusan penting. Nanti saja kalau sudah selesai urusan kami, kami tergesa-gesa!”

“Ha-ha-ha, kalau begitu biarlah dari sini saja aku menyuguhkan masakan dan arak!” Setelah berkata demikian, sambil tertawa-tawa Yu-kauwsu bersama tiga orang piauwsu yang menjadi temannya itu melempar-lemparkan mangkok yang penuh masakan dan juga seguci arak ke luar jendela, ke arah tiga orang pengemis tua itu!

Han Houw memandang penuh perhatian dan diam-diam juga kagum. Tiga orang kakek itu, benar seperti yang diduga sucinya, adalah tokoh-tokoh yang berkepandalan tinggi. Masing-masing telah menangkap dua buah mangkok masakan yang terbang ke arah mereka, dan kakek pertama malah dapat menerima guci arak dengan sundulan kepalanya sehingga guci itu berdiri tegak di atas kepalanya. Semua ini mereka lakukan dengan cekatan dan tidak ada arak atau kuah masakan yang tumpah. Sambil tertawa-tawa mereka makan masakan itu dari mangkok begitu saja tanpa sumpit, kemudian mereka melempar-lemparkan mangkok kosong ke dalam jendela. Mangkok-mangkok itu berputaran dan kemudian hinggap di atas meja depan kauwsu itu tanpa menimbulkan banyak suara bising, dan tidak pecah! Demikian pula guci arak setelah araknya mereka teguk bergantian sampai habis.

Tiga orang kakek pengemis itu kelihatan girang sekali karena banyak orang menonton demonstrasi mereka dengan penuh kagum. Nama Hwa-i Kai-pang memang sudah amat terkenal dan di manapun mereka berada, tentu akan terjadi sesuatu yang menarik karena mereka itu rata-rata memiliki kepandaian silat yang tinggi.

“Wah, terima kasih, Yu-kauwsu dan sam-wi piauwsu. Dengan suguhan itu, kami tidak perlu lagi minta sumbangan dari para tamu restoran ini, kecuali terhadap seorang tamu yang datang dari tempat jauh.” Mereka mengusap-usap perut mereka, kemudian melangkah maju menghampiri meja Han Houw!

Pangeran dari utara ini, biarpun masih muda, namun dia telah memiliki kepandaian tinggi, maka pertunjukkan tadi biarpun membuatnya kagum, akan tetapi dianggapnya bukanlah ilmu yang aneh. Sedangkan Kim Hong Liu-nio sama sekali tidak memperdulikan mereka, dan ketika tiga orang pengemis itu tiba-tiba berhenti melangkah di depan jendela mereka dan mereka bertiga memandang kepadanya dengan mata tidak pernah berkedip, dengan sinar mata yang tajam dan mengandung kemarahan, Kim Hong Liu-nio masih mengambil sikap tidak perduli!

“Toanio, kasihanilah kami tiga orang pengemis tua...” kata yang seorang.

“Kami bertiga mohon dermaan dari toanio...” sambung yang ke dua.

“Semoga Thian memberkahi kebaikan toanio...” sambung pula yang ke tiga.

Melihat sucinya bersikap tak acuh, Han Houw cepat mengeluarkan tiga keping uang perak dan menyerahkan tiga keping uang itu kepada mereka sambil berkata, “Ini sedikit sumbangan dari kami harap diterima dengan senang.”

Tiga orang kakek pengemis itu menerima tiga keping uang perak itu masing-masing sekeping, akan tetapi mata mereka mendelik dan seorang di antara mereka berkata, “Kongcu menganggap kami ini orang apa maka memberi sumbangan uang perak?” Dan tiba-tiba mereka melemparkan tiga keping uang perak itu di atas meja depan Han How.

“Cep! Cep! Cep!” Tiga keping uang perak itu menancap ke dalam papan meja sampai hampir rata dengan permukaan meja. Tiga orang pengemis tua itu mengira bahwa tentu pemuda cilik yang tanpa disengaja telah menghina tiga orang tokoh tingkat lima dari Hwa-i Kai-pang akan menjadi terkejut, setidaknya tentu akan pucat mukanya karena lontaran uang perak itu saja sudah menunjukkan kehebatan mereka. Akan tetapi, tiga orang kakek pengemis itu saling lirik ketika melihat pemuda yang berpakaian mewah itu sama sekali tidak terkejut, bahkan lalu tersenyum!

“Ah, kiranya sam-wi tidak membutuhkan uang perak lagi. Terpaksa kusimpan kembali!” Setelah berkata demikian, Han Houw menggerakkan tangan kanannya ke arah tiga keping uang perak yang menancap dan berjajar di atas meja itu, menjepit tiga keping uang perak itu di antara jari-jari tangannya, mengerahkan sin-kang dan dengan enak saja dia telah mencabut keluar tiga uang perak itu dan mengantonginya! Kemudian pemuda itu melanjutkan makan tanpa memperdulikan lagi kepada mereka!

“Waspadalah, sute. Di kota raja ini banyak sekali srigala bertopeng domba, dan di depan restoran ini terlalu banyak lalat hijau! Sungguh menjijikkan!” kata Kim Hong Liu-nio.

Merahlah wajah tiga orang kakek itu. Tadi mereka terkejut bukan main menyaksikan betapa anak laki-laki itu begitu mudahnya mencabut uang perak dari atas meja. Maklumlah mereka bahwa anak laki-laki itu lihai sekali. Maka kini mereka tidak lagi mau berpura-pura, dan yang tertua di antara mereka segera berkata. “Toanio, kami mohon sumbangan untuk menyembahyangi arwah seorang pengemis she Tio di kota Huai-lai sebelah utara yang mati beberapa hari yang lalu. Perkabungan dengan sebatang hio saja masih belum mencukupi!”

Diam-diam Kim Hong Liu-nio terkejut. Ah, kiranya pengemis yang dibunuhnya di kota Huai-lai itu juga merupakan anggauta Hwa-i Kai-pang? Akan tetapi mengapa pakaiannya tidak berkembang? Dia tidak tahu bahwa Hwa-i Kai-pang merupakan perkumpulan pengemis yang amat besar kekuasaannya sehingga seluruh pengemis, baik yang berkelompok dalam perkumpulan lain maupun tidak memasuki perkumpulan, semua menganggap Hwa-i Kai-pang sebagai induk perkumpulan yang dapat mereka andalkan untuk membela kaum pengemis, dan sebaliknya Hwa-i Kai-pang juga menganggap seluruh pengemis dari manapun juga sebagai “umat” mereka! Itulah sebabnya ketika pengemis she Tio yang kebetulan bertemu dengan Kim Hong Liu-nio di Huai-lai dan dibunuh oleh wanita ini, maka hal itu terdengar oleh para anggauta Hwa-i Kai-pang dan tiga orang pengemis tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat lima itu segera melakukan pengejaran dan pengintaian sampai ke kota raja.

Kim Hong Liu-nio maklum bahwa dia tidak mungkin dapat menghindarkan diri dari bentrokan. Akan tetapi diapun tidak ingin mendapat gangguan, dan tidak ingin pula mengikat permusuhan dengan Hwa-i Kai-pang, maka diambilnya keputusan untuk menghajar tiga orang kakek pengemis ini tanpa membunuh mereka, sekedar memperingatkan mereka agar tidak main-main dengan dia. Diambilnya sekeping uang emas dari dalam saku bajunya, karena ia bermaksud untuk menyumbang sekeping uang emas, sumbangan yang luar biasa besarnya, untuk membuat para pengemis puas dan tidak mengganggunya lagi.

“Pengemis itu sial karena dia she Tio,” katanya. “Akan tetapi kalau kalian hendak berkabung, biarlah aku menyumbang ini!” Dia lalu melemparkan sekeping uang emas tadi ke arah pengemis tertua.

Pengemis itu menyambar kepingan uang emas itu dengan tangannya, lalu dipandangnya uang emas di atas telapak tangannya sambil menyeringai, “Heh-heh, selembar nyawa dibeli dengan sekeping uang emas! Betapa murahnya engkau menghargai selembar nyawa pengemis, toanio. Tidak, tidak cukup!” Dan pengemis itu mengepalkan tangan, mengerahkan tenaga lalu mengembalikan uang itu dengan melemparkannya ke atas meja di depan Kim Hong Liu-nio. Terdengar suara berdencing dan kepingan uang emas itu kini telah menjadi gepeng!

Kim Hong Liu-nio mengerutkan alisnya. “Tidak cukup? Apa yang kalian kehendaki, orang-orang yang tamak?” tanyanya, mulai kehilangan kesabarannya.

“Jiwa seorang pengemis memang tidak ada harganya, akan tetapi kiranya pantas untuk ditukar dengan sebatang jari tangan pembunuhnya. Serahkan jari telunjuk atau jari tengahmu dan kami akan pergi tanpa banyak tingkah lagi.”

Tentu saja Kim Hong Liu-nio menjadi marah bukan main. Disambarnya uang emas itu dan dia berkata, “Sekali bicara tidak biasa menarik kembali, sekali menyerahkan sumbangan tidak akan diambil kembali. Terimalah sumbangan ini dan pergi!” Dan wanita itu melontarkan kepingan emas kepada si pengemis tua yang cepat menyambutnya karena lontaran itu kuat sekali.

“Crottt... ahhh...!” Pengemis tua itu menyeringai kesakitan ketika telapak tangannya yang menyambut kepingan emas itu ditembusi oleh kepingan emas yang sudah gepeng itu sehingga menembus ke punggung tangannya! Darah mengalir dari telapak dan punggung tangan, sedangkan kepingan uang emas itu terjatuh ke atas tanah!

Dapat dibayangkan betapa nyerinya tangan ditembusi benda seperti itu, akan tetapi pengemis tua itu menahan rasa nyerinya dan memandang kepada Kim Hong Liu-nio dengan melotot. Dua orang pengemis yang lainnya menjadi terkejut dan marah. Mereka lalu menggerakkan tongkat mereka hendak menyerang ke dalam.

Akan tetapi, Kim Hong Liu-nio yang setelah melontarkan uang emas tadi lalu mengambil tim ikan emas dan makan ikan itu dengan enaknya, ketika melihat dua orang pengemis lainnya menggerakkan tongkat, dia sudah menoleh dan mulutnya menghardik, “Tidak lekas pergi?”

Ketika dia membentak itu, dari mulutnya yang kecil meluncur beberapa batang duri ikan emas yang menyambar dengan luar biasa cepatnya ke arah dua orang pengemis yang sedang menggerakkan tongkatnya itu. Dua orang kakek itu terkejut bukan main, dan cepat berusaha untuk mengelak. Akan tetapi, jarak antara mereka dan wanita itu terlalu dekat, dan duri-duri itu merupakan benda ringan yang bergerak cepat bukan main tanpa suara, maka yang nampak hanya sinar berkelebat dan tahu-tahu mereka berdua merasakan wajah mereka sakit bukan main seperti ditusuk jarum, terutama di tepi mata mereka. Ketika mereka meraba, ternyata bahwa beberapa batang duri ikan telah menancap sampai dalam di bawah bola mata, di pipi dan di hidung mereka sehingga terasa nyeri dan tidak dapat dicabut karena sudah masuk semua! Kedua orang kakek itu menggunakan tangan menutupi mata kiri mereka dan darah mulai menetes keluar dari beberapa tempat di wajah mereka yang terkena duri ikan.

Melihat ini, kakek yang tangannya ditembus uang emas itu maklum bahwa wanita itu terlalu lihai bagi mereka. Sejenak dia memandang tajam, kemudian menghela napas, memungut uang emas yang menembus lengannya tadi, memasukkannya di dalam saku, kemudian membalikkan tubuh dan menyentuh tangan seorang temannya dengan tongkat. Teman ini memegang tongkat itu, lalu dia menyentuh teman di belakangnya dengan tongkat. Kakek ke tiga juga memegang tongkat itu dan dengan saling tuntun karena yang dua orang tidak dapat membuka mata, mereka meninggalkan tempat itu dengan berjalan terseok-seok seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu dengan mereka. Tidak banyak orang menyaksikan peristiwa aneh dan hebat ini. Akan tetapi, guru silat dan tiga orang piauwsu yang tadi menyapa kakek-kakek pengemis itu dapat melihat karena selain kebetulan mereka juga duduk di luar, juga mereka sejak tadi memperhatikan tiga orang kakek itu dan agaknya mereka adalah orang-orang yang pandai ilmu silat maka mereka dapat menyaksikan semua itu.

Setelah tiga orang kakek pengemis itu tidak nampak lagi, laki-laki yang berpakaian seperti guru silat itu cepat bangkit dan menghampiri meja Han Houw dan Kim Hong Liu-nio. Sute dan suci ini bersiap-siap akan tetapi bersikap tenang-tenang saja.

“Lihiap, kepandaian lihiap sungguh amat tinggi. Akan tetapi sebaiknya lihiap cepat meninggalkan tempat ini karena mereka tadi adalah tokoh-tokoh ke lima dari Hwa-i Kai-pang dan setelah peristiwa tadi, tentu tokoh-tokoh yang jauh lebih tinggi tingkatnya akan datang. Jumlah mereka banyak sekali, mereka berongaruh besar dan dipimpin oleh orang-orang yang amat pandai, maka kalau lihiap tidak segera pergi, tentu akan menghadapi bencana!”

Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang berhati keras, pemberani, dan tidak biasa dinasihati orang, mendengar kata-kata orang itu, dia mengangkat muka memandang. Orang itu terkejut bukan main menyaksikan wajah cantik itu dingin bukan main dan sepasang mata wanita itu seperti ujung dua batang pedang yang hendak menusuknya, sehingga dia mundur selangkah.

“Kami datang atau pergi sesuka hati kami, tidak ada setanpun yang boleh memaksa atau mencegah kami!”

“Ah, maaf...!” Guru silat itu menjadi merah mukanya.

“Kulihat tadi engkau adalah sahabat-sahabat tiga orang kakek pengemis itu, mengapa sekarang tiba-tiba saja memberi nasihat kepada kami?” Kim Hong Liu-nio bertanya dengan suara yang nadanya menegur atau sebagai alasan akan sikapnya yang ketus tadi.

“Ah, lihiap tidak tahu rupanya. Siapakah yang tidak akan bersikap bersahabat dengan para tokoh Hwa-i Kai-pang? Tadi menyaksikan kelihaian lihiap, maka saya merasa khawatir dan lancang bicara, akan tetapi saya telah cukup banyak bicara dan maafkan kalau saya lancang menasihati lihiap.” Guru silat itu lalu menjura dan kembali ke mejanya. Tak lama kemudian empat orang yang tidak terdengar bicara lagi itu meninggalkan restoran, agaknya mereka berempat merasa jerih setelah tadi guru silat itu menasihati Kim Hong Liu-nio.

Wanita cantik ini tidak memperdulikan mereka. Wataknya memang aneh dan hatinya keras dan dingin sekali, maka sikap guru silat tadipun tidak membuatnya merasa menyesal sama sekali. Dia melanjutkan makan minum seenaknya bersama sutenya sampai mereka selesai.

“Sute, kaulihat betapa banyak bahaya di kota raja dan betapa banyaknya orang pandai. Oleh karena itu, lebih baik kita sekarang juga pergi menghadap ke istana.”

“Akan tetapi, suci, mana bisa... kalau kaisar sedang menderita sakit...”

“Kurasa malah lebih baik lagi, kita dapat menggunakan alasan untuk menengok. Biarpun kaisar, tetap saja seorang manusia dan menengok orang yang sedang sakit adalah perbuatan yang layak, tentu lebih mudah bagi kita untuk memasuki istana.”

Han Houw tidak membantah lagi dan mereka lalu meninggalkan restoran, berkemas lalu berangkatlah mereka menuju ke istana kaisar yang tentu saja dapat mudah mereka cari di kota raja itu.

Gentar juga rasa hati Kim Hong Liu-nio melihat keagungan dan kemegahan istana yang dikurung pagar tembok, dijaga ketat oleh pasukan pengawal yang amat kuat. Dari balik pintu gerbang nampak bangunan istana yang amat besar, megah dan indah, yang membayangkan keindahan, keagungan dan kekuasaan besar itu. Bukan hanya di pintu gerbang istana itu saja yang penuh dengan pasukan penjaga yang bersenjata lengkap dan melakukan penjagaan ketat, akan tetapi juga nampak berkilauannya senjata dan pakaian penjaga yang melakukan penjagaan di atas tembok, dan Kim Hong Liu-nio maklum bahwa makin dalam tentu istana itu makin dijaga dengan ketat oleh pengawal-pengawal yang berkepandaian tinggi. Oleh karena itu, hanya orang gila sajalah kiranya yang akan berani memasuki istana itu tanpa ijin. Betapapun pandainya seseorang, kiranya tidak mungkin akan dapat menembus penjagaan-penjagaan yang amat ketat itu, apalagi kalau diingat bahwa di sebelah dalam lingkungan tembok istana itu tentu terdapat pengawal-pengawal yang amat tinggi ilmu kepandaiannya.

Ketika para penjaga melihat seorang wanita cantik dan seorang pemuda tanggung, keduanya berpakaian mewah dan indah berhenti di pintu gerbang, tentu saja mereka menaruh perhatian dan sebentar saja suci dan sute itu telah dikurung oleh para penjaga! Ketika dengan sikap tenang dan suara halus Kim Hong Liu-nio menyatakan bahwa mereka ingin menghadap kaisar, tentu saja para penjaga itu menjadi curiga sekali dan juga terheran-heran dan dengan keras keinginan itu ditolak.

“Ah, apakah dikira mudah saja hendak pergi menghadap kaisar?” kata kepala penjaga sambil memandang wajah cantik itu dengan tajam dan penuh selidik.

“Jangankan selagi sri baginda kaisar sakit dan tidak boleh diganggu sama sekali, sedangkan andaikata beliau sedang sehat sekalipun, tidak akan mudah memasuki istana menghadap beliau begitu saja tanpa tanda-tanda khusus untuk itu.”

“Kami adalah utusan dari utara, dari Sri Baginda Raja Sabutai!” kata Kim Hong Liu-nio yang mulai merasa tidak sabar.

Semua penjaga tertegun. Mereka tentu saja sudah mendengar nama Raja Sabutai di utara yang pernah menggegerkan kota raja dengan penyerbuan-penyerbuannya itu. Akan tetapi tentu saja merekapun tidak percaya bahwa raja besar yang ditakuti atau pernah ditakuti itu mengirim utusan berupa seorang wanita cantik dan seorang pemuda tanggung!

“Toanio, engkau tentu saja boleh mengaku utusan dari manapun, akan tetapi apa tandanya dan bagaimana kami bisa tahu bahwa kalian adalah utusan raja? Apakah kalian mempunyai kenalan seorang pembesar di kota raja? Hanya dengan perantaraan pembesar yang memang mempunyai kekuasaan saja kami dapat mempercaya.”

“Suci, perlihatkan benda pemberian ibu itu,” tiba-tiba Han Houw berkata dalam bahasa Mongol kepada sucinya. Diapun merasa terhina dan tidak senang. Katanya kaisar adalah ayah kandungnya, jadi dia adalah seorang pangeran, akan tetapi kini penjaga-penjaga biasa saja melarangnya untuk memasuki istana ayah kandungnya!

Kim Hong Liu-nio mengerutkan ailsnya. “Harap kalian suka memanggil komandan pengawal agar kami dapat bicara dengan dia sendiri!”

Ketika itu, kaisar sedang sakit, semua penjaga mengalami suasana yang sunyi dan tertekan karena mereka tidak diperkenankan untuk bergembira seperti biasa. Suasana ini menegangkan dan mencekam hati, membuat mereka menjadi muram dan mudah bercuriga. Akan tetapi melihat pakaian wanita dan pemuda tanggung itu, mereka menduga bahwa dua orang ini tentu bukan orang kang-ouw yang hendak menyelundup sebagai mata-mata atau hendak melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap kaisar. Betapapun juga, mereka tidak kehilangan kewaspadaan dan setelah kini wanita cantik itu minta dihadapkan kepada komandan, seorang di antara mereka segera lari ke sebelah dalam untuk melaporkan kepada komandan jaga yang berada di dalam kantor.

Komandan jaga itu adalah seorang perwira gemuk pendek dan galak, akan tetapi di samping kegalakannya ini, dia juga mempunyai watak mata keranjang. Ketika mendengar laporan bahwa ada seorang wanita cantik yang minta menghadap kaisar, maka dia cepat-cepat menghampiri cermin, mengurut kumisnya dan membereskan pakaiannya, kemudian bergegas keluar menuju ke pintu gerbang di mana dua orang itu masih dikepung oleh anak buahnya.

Cuping hidung perwira gemuk itu kembang-kempis ketika dia melihat bahwa wanita yang datang dan hendak bertemu dengan dia benar-benar adalah seorang wanita yang cantik manis sekali! Dia menyeringai, kemudian dengan suaranya yang sudah biasa menghardik dan membentak bawahannya dia berkata,
“Minggir semua! Biarlah aku memeriksanya!”

Para anak buah pasukan penjaga lalu minggir dan mundur menjauh. Perwira gendut itu menghampiri Kim Hong Liu-nio, matanya yang berminyak itu mengamati wajah wanita itu, kemudian sinar matanya meraba-raba dari atas ke bawah seperti hendak menggerayangi wajah dan tubuh yang padat di balik pakaian yang mewah itu. Menyaksikan sikap ini saja, diam-diam Kim Hong Liu-nio sudah merasa mendongkol bukan main. Akan tetapi dia maklum bahwa di tempat ini dia harus dapat menahan kesabarannya dan tidak boleh menimbulkan keributan. Maka dia segera berkata, “Ciangkun, kami berdua adalah utusan dari utara, dari Raja Sabutai untuk menghadap sri baginda kaisar,”

Perwira itu agaknya baru sadar bahwa wanita itu mengajak dia bicara. Tadi dia memandang seperti orang terpesona karena memang dia tertarik sekali oleh kecantikan wanita itu.

“Apa? Ah, menghadap sri baginda kaisar? Mana bisa, beliau sedang sakit dan...”

“Justeru karena mendengar beliau sakit maka Sri Baginda Raja Sabutai mengutus kami untuk menengok dan melihat keadaan sri baginda kaisar,” jawab Kim Hong Liu-nio cepat-cepat.

Perwira itu berpikir sejenak, lalu berkata, “Hal ini tidak dapat dilakukan secara begitu mudah dan sembarangan. Akan saya laporkan dulu ke dalam, kepada kepala pengawal dan sementara itu kalian harus menanti di dalam kantorku untuk pemeriksaan. Kalian harus diperiksa.”
“Diperiksa?” Kim Hong Liu-nio bertanya.

“Ya, diperiksa kalau-kalau kalian membawa senjata. Aku sendiri yang harus memeriksa, karena setiap orang yang ingin memasuki istana tanpa ada surat ijin atau surat perintah resmi, harus dicurigai dan diperiksa.”

“Akan tetapi, aku tidak membawa senjata dan dia ini... tentu saja dia membawa pedang karena dia adalah seorang pangeran, dia putera Sri Baginda Raja Sabutai!”

Agaknya perwira itu tidak percaya dengan keterangan ini, akan tetapi karena pikirannya sudah membayangkan betapa dia akan “memeriksa” atau menggeledah tubuh wanita ini untuk mencari senjata, padahal tentu saja maksudnya agar memperoleh kesempatan untuk menggerayangi tubuhnya dengan kedua tangannya dan kalau mungkin, siapa tahu, membujuk wanita itu agar suka melayaninya di kamar kantornya, maka dia tidak begitu menaruh perhatian.

“PANGERAN atau bukan, harus diperiksa dulu. Marilah, nona, mari ikut bersamaku ke dalam kantorku untuk digeledah, baru aku akan melaporkan ke dalam apakah kalian dapat diperkenankan masuk ataukah tidak.” Sambil berkata demikian, tanpa ragu-ragu lagi perwira itu lalu mengulurkan tangan hendak menggandeng tangan yang kecil halus berkulit putih itu.

Akan tetapi dia tidak tahu bahwa Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang selama hidupnya belum pernah bermesraan dengan pria, belum pernah disentuh pria, maka melihat dia mengulurkan tangan hendak menggandeng, hampir saja tangannya bergerak membunuh perwira itu dengan sekali pukul. Untung bahwa dia masih teringat dan cepat dia menarik tangannya sehingga pegangan perwita itu luput dan Kim Hong Liu-nio melangkah mundur sambil mengerutkan alisnya.

“Ciangkun, kami adalah orang-orang terhormat yang tidak selayaknya digeledah. Kalau memang engkau hendak melaporkan keadaan kami ke dalam istana, silakan, kami akan menunggu di sini!” kata Kim Hong Liu-nio dengan suara tegas.

“Hemm, tidak bisa! Kalian harus kugeledah. Mari, kalian ikutlah aku memasuki kantorku.”

Melihat sikap keras ini, Kim Hong Liu-nio menjadi makin marah. “Kalau kami tidak sudi digeledah?”

“Hemm, kalau begitu kalian harus ditahan!”

“Bagus! Dengan tuduhan apa pula?”

“Tuduhan bahwa kalian mungkin sekali mata-mata musuh!”

Hampir saja Kini Hong Liu-nio tidak dapat menahan lagi kesabarannya, akan tetapi pada saat itu muncul seorang laki-laki berpakaian panglima yang datang dari dalam istana dengan langkah kaki tergesa-gesa. Panglima ini adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian sebagai panglima yang gagah, sikapnya gagah dengan wajah jantan, sepasang matanya yang lebar itu berpandangan tajam dan jujur, tubuhnya tinggi besar tegap dan kelihatan jelas bahwa dia memiliki tenaga yang besar. Seorang panglima yang benar-benar gagah perkasa, perutnya kecil, dadanya bidang, tidak seperti kebanyakan panglima yang perutnya besar-besar.

Semua orang, termasuk perwira pendek gemuk, cepat bersiap dan memberi hormat kepada panglima yang keluar ini. Panglima itu membalas penghormatan mereka dan ketika dia melihat wanita cantik berpakaian indah dan seorang pemuda tanggung berdiri di situ, dia tercengang. Apalagi ketika dia menatap wajah Han Houw, dia kelihatan terkejut dan cepat dia bertanya, “Apakah yang terjadi di sini? Siapakah adanya nona dan orang muda ini?”

Si perwira tadi cepat menjawab, “Mereka ini adalah orang-orang mencurigakan yang katanya hendak mohon menghadap sri baginda kaisar.”

Panglima itu kelihatan kaget dan kini kembali ia memandang dua orang itu penuh perhatian, sambil dia bertanya
kepada perwira gendut. “Dan kau sudah melaporkannya ke kantor pengawal di dalam?”

“Be... belum...”

“Kenapa belum?” panglima itu menghardik.

“Karena... karena... saya curiga dan hendak menggeledah mereka dulu...”

Panglima itu kelihatan marah. Dia sudah tahu praktek-praktek kotor yang pernah didengarnya dilaksanakan oleh para penjaga pintu gerbang, gangguan-gangguan terhadap wanita cantik, uang-uang sogokan bagi mereka yang ingin masuk, dan sebagainya. Akan tetapi sebelum dia memperlihatkan kemarahannya kepada perwira gendut itu, Kim Hong Liu-nio yang melihat sikap panglima ini segera melangkah maju.

“Ciangkun, kami berdua datang dari utara, saya adalah utusan dari Sri Baginda Sabutai...”

“Ahh...!” Panglima itu terkejut sekali.

“Dan dia ini adalah pangeran dari kerajaan kami.”

Makin kagetlah panglima itu dan cepat dia menjura. “Maafkan kami dan maafkan sikap para penjaga kami,” dia mengerling penuh kemarahan kepada perwira gendut yang melangkah mundur dengan sikap jerih. “Akan tetapi, hendaknya nona memahami peraturan kami bahwa yang hendak memasuki istana harus memiliki tanda pengenal diri yang sah. Nona sebagai utusan tentu saja membawa tanda kuasa atau surat perintah Raja Sabutai sebagai utusan beliau.”

“Ciangkun, kami hanya membawa ini, yang memberikan adalah sang permaisuri dari kerajaan kami sendiri.”

Kim Hong Liu-nio mengeluarkan kotak kecil dan membuka tutupnya dengan sikap hormat. Ketika panglima itu melihat sebuah kalung di dalamnya dan sesampul surat, dia makin terkejut. Tentu saja dia mengenal benda pusaka kerajaan itu, kalung kaisar yang tidak ada ke duanya! Dan pembawa atau pemegang benda pusaka ini berarti telah memperoleh kekuasaan dari sri baginda kaisar sendiri! Maka cepat-cepat dia memberi hormat dan untuk kedua kalinya dia melirik penuh kemarahan kepada perwira gendut yang menjadi pucat mukanya.

“Saya panglima pengawal Lee Siang menghaturkan selamat datang dan mohon maaf sebesarnya atas penyambutan yang tidak layak ini karena kami tidak tahu sebelumnya akan kedatangan paduka. Silakan masuk bersama saya untuk melapor kepada pengawal dalam istana.”

Kim Hong Liu-nio tersenyum dan Ceng Han Houw juga bernapas lega. Dengan muka manis wanita itu menghaturkan terima kasih kepada panglima yang gagah itu, kemudian bersama sutenya dia melangkah masuk diiringkan oleh panglima itu. Panglima itu bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang kepercayaan kaisar karena dia bersama kakaknya yang bernama Lee Cin, sejak muda telah menjadi panglima pengawal Kim-i-wi (Pasukan Pengawal Baju Emas). Dalam usia empat puluh tahun itu, Panglima Lee Siang telah menjadi duda, kematian isterinya tanpa meninggalkan seorangpun anak keturunan. Dan biarpun isterinya telah meninggal lima tahun yang lalu, sampai sekarang dia belum juga mau beristeri lagi.

Kim Hong Liu-nio melihat betapa penjagaan amat ketat, makin ke dalam istana, makin hebat dan kuatlah penjagaannya sehingga sepasukan besar musuhpun akan sukar menembus istana yang dijaga kuat ini. Dia tidak tahu bahwa hal ini berbeda dari biasanya. Dia tidak tahu pula bahwa di dalam istana terjadi ketegangan-ketegangan, bukan hanya karena kaisar menderita penyakit yang agak berat, akan tetapi terutama sekali karena adanya desas-desus bahwa akan timbul pemberontakan di dalam istana! Karena itulah, maka para panglima pengawal, termasuk Lee Siang dan kakaknya, Lee Cin, nampak sibuk selalu mengatur penjagaan untuk mencegah terjadinya desas-desus tentang pemberotakan itu.

Panglima Lee Siang mengajak mereka berhenti sebentar di ruangan dalam yang luas, di mana berkumpul beberapa orang berpakaian panglima yang sudah berusia tua, dan ada pula yang berpakaian sebagai pembesar sipil. Akan tetapi semua menunjukkan bahwa mereka itu adalah pembesar-pembesar tinggi. Kim Hong Liu-nio dan Han Houw hanya berdiri di tempat agak jauh ketika mereka melihat betapa Panglima Lee Siang bercakap-cakap lirih dengan mereka itu, memperlihatkan isi kotak kecil dan mereka itupun kelihatan terkejut dan tegang. Mereka semua memandang kepada Han Houw dan akhirnya Panglima Lee mengajak mereka berdua untuk melanjutkan lagi perjalanan melalui lorong-lorong dan ruangan-ruangan indah, agaknya telah memperoleh persetujuan para pembesar itu.

Ceng Han Houw menjadi kagum bukan main melihat kemewahan dan keindahan di dalam istana ini. Bukan main besarnya istana itu, dan di setiap ruangan terdapat perabot-perabot ruangan yang amat indah dan megah. Di setiap ruangan atau lorong tentu terdapat pengawal-pengawal yang berjaga dengan berdiri tegak dan sikap waspada, dan di sana-sini terdapat pula dayang-dayang istana yang cantik-cantik, sutera-sutera beraneka warna bergantungan di mana-mana dan tidak nampak sedikit pun debu di dalam ruangan-ruangan itu.

Akhirnya tibalah mereka di depan sebuah kamar besar dan kembali di depan kamar ini terdapat sepasukan pengawal yang amat gagah karena pakaian mereka semua terdiri dari baju bersulam benang emas. Inilah pasukan Kim-i-wi yang terkenal, pasukan pengawal pribadi kaisar yang terdiri dari orang-orang yang gagah perkasa. Ketika melihat dua orang ini dikawal oleh panglima mereka sendiri, para pengawal itu cepat memberi hormat dan memberi jalan. Dua orang dayang cantik membukakan pintu dan Panglima Lee mengawal dua orang tamu itu memasuki kamar.

Kamar itu indah sekali dan amat luas. Kaisar nampak rebah terlentang dengan bantal tinggi mengganjal kepala dan punggung, wajahnya pucat akan tetapi sikapnya tenang. Banyak orang berlutut di atas lantai menghadap ke pembaringan sri baginda, terdapat beberapa orang laki-laki tua berpakaian sipil, ada juga yang berpakaian panglima, dan ada pula seorang laki-laki muda berpakaian mewah. Pemuda ini adalah Pangeran Ceng Su Liat, seorang di antara pangeran-pangeran yang ada di kerajaan itu. Juga di dalam kamar besar ini terdapat sembilan orang pengawal yang selalu memegang tombak di tangan, siap untuk melindungi kaisar apabila terjadi sesuatu. Dayang-dayang cantik dan muda berkumpul di sudut, siap melakukan segala perintah kaisar.

Suasana dalam ruangan itu sunyi dan agaknya semua orang tidak berani bergerak karena kaisar sedang beristirahat. Akan tetapi kaisar tidak tidur karena ketika melihat masuknya Kim Hong Liu-nio dan Ceng Han Houw yang dikawal oleh Panglima Lee Siang, sri baginda kaisar mengangkat muka memandang.

Lee Siang lalu mengajak dua orang itu berlutut begitu memasuki pintu, kemudian menggeser kaki mendekat ke pembaringan. Akan tetapi sejak tadi, perhatian kaisar sudah tercurah kepada Han Houw yang beberapa kali mengangkat muka memandang, akan tetapi begitu bertemu dengan pandangan kaisar, dia segera menunduk kembali. Keadaan yang amat angker di dalam kamar itu membuat jantung berdebar tegang juga. Segala sesuatu di dalam kamar itu penuh wibawa yang menakutkan!

“Mohon beribu ampun dari paduka sri baginda kaisar atas kelancangan hamba mengawal masuk dua orang utusan dari Sri Baginda Sabutai yang mohon menghadap,” kata Panglima Lee Siang dengan suara halus agar tidak mengejutkan kaisar.

Akan tetapi kaisar yang sejak tadi memperhatikan Han Houw, menjadi tertarik sekali mendengar disebutnya nama Sabutai, dan kaisar segera miringkan tubuhnya menghadapi Han Houw yang masih berlutut.

“Utusan Sabutai...?”

Kim Hong Liu-nio cepat memberi hormat lalu mengeluarkan kotak itu, mengangkatnya tinggi di atas kepala sambil berkata dengan kepala menunduk. “Hamba Kim Hong Liu-nio diutus oleh yang mulia Permasuri Khamila untuk menghaturkan isi kotak ini kepada paduka yang mulia sri baginda kaisar!”

“Kha... Khamila...?” Kaisar terbelalak dan wajahnya berseri sejenak, kemudian dia mengangguk kepada panglima pengawal lain yang sudah berusia enam puluh tahun dan yang berlutut di dekat pembaringan. Panglima ini adalah panglima pengawal Lee Cin yang setia. Panglima ini lalu menghampiri Kim Hong Liu-nio, menerima kotak itu dan membukanya untuk meneliti bahwa isinya tidak mengandung sesuatu yang membahayakan kaisar. Setelah melihat bahwa kalung dan sampul surat itu tidak mengadung sesuatu dan yang mencurigakan, dia lalu menyerahkan kotak yang sudah dibukanya kepada kaisar. Kaisar mengambil kalung dan sampul surat itu.

Sejenak Kaisar Ceng Tung yang dibantu oleh dua orang dayang duduk dan bersandar dengan bantal di punggung, memandang kalung itu. Wajahnya termenung karena memang kaisar ini terkenang akan Khamila, permaisuri Sabutai yang menjadi kekasihnya, wanita yang sesungguhnya berkenan merampas hatinya dan amat dicintanya. Dia teringat bahwa dia telah memberikan kalung itu kepada Khamila ketika mereka harus saling berpisah. Dibelainya kalung itu di antara jari-jari tangannya, kalung yang dia percaya selama ini tentu telah tergantung di leher yang panjang, berkulit putih halus dan amat dikenalnya itu. Kemudian kaisar teringat bahwa dia tidak berada seorang diri di dalam kamar, maka kalung itupun digenggamnya erat-erat dan dia lalu membuka sampul surat dan dibacanya huruf-huruf tulisan Khamila!

Sri Baginda Kaisar Ceng Tung pujaan hamba!
Perkenankardah hamba memperkenalkan anak Ceng Han Houw kepada paduka, dan sudilah paduka memberkahi anak yang haus akan doa restu dan kasih sayang ayahandanya itu.

Hamba yang rendah,

Khamila


Kaisar Ceng Tung memejamkan matanya dan surat itu terlepas dari jari-jari tangannya, melayang turun ke atas dadanya. Sejenak terbayanglah wajah yang cantik jelita dan lembut, terngiang-ngiang di telinganya suara yang merdu halus itu. Kemudian dia membuka mata dan menoleh, sepasang mata kaisar itu agak basah ketika dia memandang kepada Han Houw.

“Namamu Han Houw...?” tanyanya.

Ceng Han Houw terkejut, cepat dia memberi hormat sampai dahinya membentur lantai.

“Kauangkat mukamu dan pandang padaku!” kata kaisar dengan halus.

Han Houw mengangkat mukanya memandang dan dia melihat wajah seorang yang amat tampan dan pucat, yang memandang kepadanya dengan penuh perasaan haru.

“Majulah ke sini!” perintah kaisar.

Ceng Han Houw merasa takut, akan tetapi dari belakangnya, sucinya berbisik, “Majulah...!”

Dia lalu menggeser kakinya maju menghampiri pembaringan. Kaisar lalu menggerakkan tangannya, menyentuh kepala anak laki-laki yang usianya sudah hampir dewasa itu, kemudian dia mengambil kalung pusaka kerajaan itu dan mengalungkan ke leher Han Houw. Semua orang terkejut melihat ini, karena kalung itu adalah benda yang biasanya hanya dipakai oleh para pangeran sebagai tanda bahwa dia adalah keturunan darah keluarga kaisar!

“Ketahuilah kalian semua yang hadir. Ini adalah Ceng Han Houw, Pangeran Ceng Han Houw, seorang puteraku! Ibunya adalah puteri yang mulia dari utara, hendaknya dia diperlakukan sebagai seorang pangeran, puteraku!”

Semua orang menyatakan setuju dan memberi hormat dengan berlutut. Pada saat itu, dari pintu muncul pula seorang pemuda dan ketika Kim Hong Liu-nio menoleh, dia terkejut bukan main. Pemuda yang baru muncul ini seperti pinang dibelah dua saja kalau dibandingkan dengan sutenya. Wajah mereka begitu mirip!

“Pangeran mahkota datang menghadap sri baginda!” seorang dayang memberitahukan dengan suara halus.

Kaisar mengangkat muka dan Panglima Lee Siang lalu menarik tangan Han Houw agar mundur dan bersama Kim Hong Liu-nio berlutut di pinggir untuk memberi jalan kepada pangeran mahkota yang baru tiba. Pangeran muda ini bukan lain Pangeran Ceng Hwa, yaitu pangeran yang telah dipilih untuk menjadi pangeran mahkota, calon pengganti kaisar! Tentu saja semua orang menghormat calon kaisar ini dan Pangeran Ceng Hwa melangkah maju dengan tenang menghampiri pembaringan ayahnya setelah dia melempar kerling ke kanan kiri dan tersenyum kepada semua orang yang amat dikenalnya dengan baik sebagai orang-orang yang dekat dengan ayahnya itu. Hanya dia agak heran melihat Han Houw dan Kim Hong Liu-nio, akan tetapi dia tidak menyatakan keheranannya dan langsung menghampiri pembaringan ayahnya dan duduk di tepi pembaringan.

“Semoga Thian memberkahi ayahanda kaisar dengan kebahagiaan dan usia panjang sampai selaksa tahun,” kata pangeran itu dengan ucapan yang sungguh-sungguh dan penuh hormat, ucapan yang menjadi kebiasaan atau kesopanan di dalam istana.

Kaisar tersenyum mendengar ini dan dengan tangannya dia menyentuh pundak puteranya yang disayangnya itu seolah-olah menjadi pengganti rasa terima kasihnya.

“Bagaimanakah keadaan paduka? Semoga sudah lebih baik,” kata sang pangeran.

“Aku gembira hari ini!” kata sang kaisar. “Lihat, dia itu adalah saudaramu! Dia adalah Ceng Han Houw, ibunya adalah puteri di utara!”

Ceng Hwa bangkit berdiri dan memandang. Pada saat itu, Han Houw juga mengangkat muka memandang sehingga kini semua orang dapat melihat betapa miripnya dua orang pangeran ini! Agaknya sri baginda sendiri melihat kemiripan ini, maka dia tersenyum lebar dan berseru dengan girang, “Betapa miripnya kalian! Ahh... sungguh mirip seperti kembar...!” Agaknya kegembiraan itu sedemikian besarnya sehingga tidak dapat tertahan oleh jantung yang sudah lemah itu. Sri baginda kaisar terguling dan dari keadaan duduk itu dia terguling.

Cepat Pangeran Mahkota Ceng Hwa merangkul ayahnya dan pada saat itu terjadilah hal-hal luar biasa yang mengejutkan semua orang. Pada saat kaisar terguling dan dipeluk oleh Pangeran Ceng Hwa itu, melompatlah seorang yang berpakaian panglima, berusia lima puluh tahun, dengan muka penuh brewok. Panglima itu berseru, “Sekarang...!” Dan dengan pedang yang sudah dicabutnya dia telah menubruk ke depan, menyerang Pangeran Mahkota Ceng Hwa dengan tusukan pedangnya dari belakang! Semua orang terperanjat dan saking kagetnya sampai tidak mampu berbuat sesuatu. Akan tetapi pada saat itu, Ceng Han Houw sudah berteriak nyaring dan tubuhnya mencelat ke depan, menerjang kepada panglima yang menyerang pangeran mahkota itu!

Dengan tangkisan nekat, Han Houw mengejutkan panglima tua itu sehingga pedangnya menyeleweng dan melukai lengan kiri Han Houw lalu terus meluncur dan melukai pundak kanan pangeran mahkota! Dan pada saat itu, Kim Hong Liu-nio telah bergerak dan nampak sinar merah meluncur dan menyerang panglima itu ketika dia menggerakkan sabuk merahnya!

Pada saat itu, tujuh di antara sembilan orang pengawal pribadi kaisar telah bergerak, tombak mereka berkelebatan dan mereka telah mulai menyerang ke arah pangeran mahkota dan kaisar yang masih berpelukan di atas pembaringan! Akan tetapi Han Houw sudah menerjang dan menyambut mereka dengan pedangnya dan pemuda cilik ini mengamuk hebat, sedangkan di fihak lain Kim Hong Liu-nio sudah mendesak sang panglima pemberontak dengan sabuk merahnya.

Barulah para panglima dan pembesar yang berada di situ menjadi geger dan sadar bahwa telah terjadi pemberontakan. Kiranya pemberontakan yang didesas-desuskan itu, yang kemudian hendak dicegah dengan penjagaan ketat, tidak datang dari luar, melainkan dari dalam, bahkan komplotan pemberontak itu telah berkumpul di dalam kamar kaisar! Panglima Lee Cin dan Lee Siang cepat bergerak pula membantu Han Houw menghadapi tujuh orang pengawal pemberontak. Dengan adanya Kim Hong Liu-nio di situ, bersama juga Han Houw yang biarpun lengan kirinya sudah terluka namun masih mengamuk dan sebentar saja dia telah merobohkan dua orang pengawal pemberontak, maka akhirnya pemberontak itu dapat dihancurkan sebelum menjalar keluar. Dengan sabuk suteranya, Kim Hong Liu-nio berhasil menotok leher dan kedua lengan panglima pemberontak sehingga panglima itu roboh pingsan sedangkan Han Houw yang dibantu oleh dua orang Panglima Lee telah dapat menewaskan tujuh orang pengawal itu.

“Jangan bunuh panglima khianat itu!” kata Panglima Lee Siang kepada Kim Hong Liu-nio maka wanita inipun tidak bergerak untuk membunuhnya. Dia tahu bahwa tentu panglima ini akan dipaksa mengaku siapa penggerak pemberontakan. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar jerit mengerikan dan orang muda yang sejak tadi telah berada di situ, yaitu Pangeran Ceng Su Kiat, telah roboh dengan dada tertusuk pedang pendek yang dipegang oleh tangan kanannya. Kiranya pangeran ini telah membunuh diri di situ setelah melihat betapa usaha pemberontakan itu gagal!

Semua mayat dan panglima yang tertawan itu telah dibawa keluar dengan cepat, dan tempat itu dibersihkan. Akan tetapi sri baginda kaisar minta pindah ke kamar lain mengajak pangeran mahkota yang sudah diobati pundaknya, Han Houw yang juga telah dibalut lengannya, dan ditemani pula oleh Kim Hong Liu-nio, Panglima Lee Siang dan para panglima lain. Di dalam kamar ini sri baginda kaisar dan pangeran mahkota menyatakan kekaguman dan terima kasih mereka kepada Ceng Han Houw dan Kim Hong Liu-nio, karena harus diakui bahwa kalau tidak ada mereka, keadaan pangeran dan kaisar sungguh bisa terancam bahaya maut. Apalagi Pangeran Ceng Hwa, dia tahu betul bahwa serangan tiba-tiba dari panglima tadi tentu akan menewaskannya kalau tidak ada Han Houw yang cepat menangkis dengan mengorbankan lengannya sendiri terluka itu.

Panglima pemberontak yang tentu saja dijatuhi hukuman mati itu sebelum mati telah mengaku bahwa pemberontakan itu diatur oleh Pangeran Ceng Su Liat. Sesungguhnya bukanlah merupakan pemberontakan umum yang besar-besaran, melainkan hanya merupakan niat untuk membunuh pangeran mahkota agar Pangeran Ceng Su Liat memperoleh kesempatan untuk menggantikan pangeran mahkota kalau pangeran ini tewas. Maka tadi ketika melihat sri baginda kaisar terguling karena serangan jantung, panglima pengkhianat itu mengira bahwa sri baginda telah meninggal dunia, maka dia melihat kesempatan baik sekali untuk turun tangan, sesuai dengan perintah Pangeran Ceng Su Liat yang menjanjikan pengampunan bahkan kedudukan tinggi apabila usaha itu berhasil!

Tentu saja Ceng Han Houw dan Kim Hong Liu-nio menjadi orang-orang yang berjasa besar di dalam istana kaisar! Mereka menjadi orang-orang terhormat yang dikagumi, dan karena Ceng Han Houw telah diumumkan oleh kaisar sendiri sebagai pangeran, maka tentu saja dia diterima di mana-mana dengan terhormat dan Kim Hong Liu-nio yang dikenal sebagai pengasuh atau pengawalnya, juga dikagumi orang karena selain cantik jelita dan bersikap agung pendiam, juga semua orang kagum bahwa wanita cantik ini berhasil menundukkan seorang yang demikian terkenal sebagal seorang panglima yang pandai ilmu silat seperti Panglima Boan yang membantu pemberontakan atau pengkhianatan Pangeran Ceng Su Liat itu.

Akan tetapi, peristiwa di dalam kamar kaisar itu membuat penyakit yang diderita kaisar menjadi makin berat. Perbuatan puteranya sendiri yang hampir saja membunuh pangeran mahkota dan dia sendiri, mendatangkan kedukaan hebat sehingga setelah menderita serangan jantung berkali-kali, akhirnya sebulan kemudiang Kaisar Ceng Tung meninggal dunia!

Seluruh istana berkabung, bahkan seluruh rakyat diharuskan untuk berkabung. Setelah ikut hadir dalam pemakaman kaisar dan ikut pula berkabung, Han Houw yang merasa kehilangan ayah kandungnya dan merasa bahwa tidak ada perlunya lagi baginya untuk lebih lama tinggal di istana Kerajaan Beng. Juga sucinya membujuk kepadanya untuk segera berpamit dan kembali ke utara, karena sucinya merasa tidak enak hati selalu kalau teringat akan ancaman orang-orang kang-ouw kepadanya, seperti yang telah terjadi sebelum mereka memasuki istana, yaitu ketika mereka bertemu dengan tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang. Han Houw lalu menghadap Pangeran Ceng Hwa untuk mohon diri pulang ke utara.

Akan tetapi, Pangeran Ceng Hwa yang merasa suka sekali kepada Han Houw, yang biarpun hanya seorang pangeran kelahiran utara, di daerah setengah liar itu, namun ternyata tidak mengecewakan menjadi seorang Pangeran Beng, karena selain pandai ilmu silat, juga pangeran muda ini cukup luas pengetahuannya yang didapatnya dari kitab-kitab yang dipelajarinya di utara, menahannya. Pangeran Ceng Hwa menahan Han Houw agar suka tinggal di kota raja sampai hari penobatannya sebagai kaisar pengganti ayah mereka yang telah meninggal dunia.

“Sebaiknya Kim Hong Liu-nio biar kembali dulu ke utara memberi laporan dan menyampaikan undangan kami kepada Raja Sabutal untuk menghadiri hari penobatan kami sebagai kaisar.” demikian Pangeran Ceng Hwa berkata.

Akhirnya diputuskan bahwa Kim Hong Liu-nio akan kembali dulu ke utara dan Ceng Han Houw untuk sementara tinggal di istana. Kim Hong Liu-nio tidak merasa keberatan karena sutenya itu tentu saja akan terjamin keamanannya berada di dalam istana Kerajaan Beng. Maka berpamitlah dia dan berangkatlah wanita perkasa yang cantik jelita itu keluar dari istana, di mana dia hidup terhormat sampai lebih dari satu bulan lamanya.

***




Kita tinggalkan dulu keadaan Ceng Han Houw yang tinggal di istana, dan Kim Hong Liu-nio yang melakukan perjalanan kembali ke utara, dan mari kita menengok keadaan Sin Liong untuk memperlancar jalannya cerita.

Seperti kita ketahui, Sin Liong kini tinggal di rumah Na-piauwsu, yaitu Na Ceng Han yang gagah perkasa dan ramah sekali itu. Pada waktu itu, tanpa terasa lagi, Sin Liong sudah hampir satu tahun tinggal di dalam rumah keluarga Na. Setiap hari dia berlatih ilmu silat dari Na Ceng Han, bersama-sama dengan Na Tiong Pek dan Bhe Bi Cu. Dia bersahabat akrab sekali dengan dua orang yang disebut sumoi dan suheng itu. Usia Sin Liong kini telah empat belas tahun, sebaya dengan Tiong Pek, sedangkan Bi Cu telah berusia dua belas tahun.

Bi Cu memang manis sekali. Biarpun usianya baru dua belas tahun, namun jelas nampak sudah bahwa dia merupakan seorang dara yang amat manis. Dan Sin Liong dapat melihat betapa Tiong Pek selalu bersikap manis kepada Bi Cu, agak berlebih malah, membuktikan bahwa pemuda tanggung itu agaknya amat suka dan mencinta sumoi mereka! Bahkan kadang-kadang nampak Tiong Pek bermanis-manis muka, membujuk rayu, sehingga kalau melihat hal ini, Sin Liong cepat menjauhkan diri karena dia merasa malu sendiri. Diakuinya bahwa Tiong Pek amat ramah dan baik, akan tetapi dia melihat bahwa sikap Tiong Pek terhadap Bi Cu agaknya terlalu mendesak dan selalu mencoba untuk mengambil hati anak perempuan itu. Dan dia melihat betapa Bi Cu selalu bersikap hormat dan manis kepada Tiong Pek, bahkan demikianlah sikap Bi Cu kepada seisi rumah keluarga Na. Hal ini dimengerti oleh Sin Liong karena tentu dara kecil itu merasa betapa dia adalah seorang yang menumpang hidup di dalam rumah keluarga Na! Diam-diam Sin Liong merasa kasihan kepada anak perempuan ini karena merasa betapa mereka berdua mempunyai nasib yang hampir mirip. Memang benar bahwa dia tidak seperti Bi Cu, hanya ditinggal mati ibu dan masih mempunyai seorang ayah, akan tetapi dia tidak tahu di mana ayahnya berada dan selamanya belum pernah bertemu dengan ayahnya, sehingga dibandingkan dengan Bi Cu yang kematian ayahnya, agaknya tidaklah begitu banyak bedanya.

Pada suatu hari, Sin Liong yang sudah selesai melakukan pekerjaan sehari-hari di rumah itu, ingin sekali berlatih silat dan dia lalu mencari-cari dua orang suheng dan sumoinya itu. Rumah itu nampak kosong karena keluarga wanita sibuk di belakang, di dapur, sedangkan Na-piauwsu sedang pergi ke luar kota untuk mengawal sendiri barang kiriman yang penting. Maka rumah itu kelihatan sunyi.

Sin Liong merasa heran mengapa suheng dan sumoinya itu tidak nampak. Padahal, tadi mereka masih kelihatan di ruangan depan. Dia tidak berani memanggil-manggil, karena takut menimbulkan bising dan mengganggu seorang bibi keluarga yang tidur di kamarnya karena bibi tua ini sedang tidak enak badan. Maka dia terus mencari dan akhirnya dia pergi mencari ke kamar Bi Cu.

Ketika dia tiba di luar kamar itu, dia mendengar sesuatu di dalam kamar. Dia mendekati pintu kamar dan mendengarkan.

“Jangan... suheng...” terdengar Bi Cu berkata lirih dan menahan tangis.

“Sumoi, kenapa kau tidak mau bersikap manis kepadaku? Kurang baik apakan aku kepadamu? Kurang banyakkah budi yang dilimpahkan oleh kami sekeluarga kepadamu?”

Terdengar Bi Cu terisak. “Aku berterima kasih... uh-uhh... aku berterima kasih kepada kalian... tapi... tapi...”

“Aku tidak akan mengganggumu, aku tidak ingin menyakitimu, aku ingin engkau tahu bahwa aku suka sekali kepadamu, sumoi...”

Sin Liong tidak dapat menahan lagi ketegangan hatinya dan dia mendorong pintu kamar itu dengan keras. Dia melihat Tiong Pek memegangi kedua tangan Bi Cu dan hendak memaksa untuk merangkul dara cilik itu, sedangkan Bi Cu kelihatan menolak halus. Mereka bersitegang sampai Bi Cu jatuh berlutut di atas lantai dan Tiong Pek berusaha untuk mendekatkan mukanya, untuk mencium wajah yang manis akan tetapi agak pucat ketakutan itu.

“Tiong Pek!” Sin Liong membentak dan mencengkeram baju pundak Tiong Pek sambil menariknya ke belakang.

Memang Sin Liong tidak pernah menyebut suheng dan sumoi kepada Tiong Pek dan Bi Cu, karena memang dia tidak dianggap sebagai murid oleh Na Ceng Han, sungguhpun dia dilatih ilmu silat dan dia selalu berlatih bersama dengan dua orang anak itu. Mereka bertiga itu seperti teman-teman baik, bukan seperti kakak beradik seperguruan.

Tiong Pek terkejut sekali dan menengok dengan alis berkerut. Dia melepaskan kedua lengan tangan Bi Cu yang tadi dipegangnya, lalu dia menggerakkan tangan kanannya menangkis ke belakang.

“Dukk!” Tangan itu menyampok tangan Sin Liong yang mencengkeram baju pundaknya sehingga terlepas dan bajunya robek. Tiong Pek meloncat bangun dan berdiri dengan muka merah menandakan bahwa dia marah sekali. Akan tetapi Sin Liong juga sudah menentang pandang matanya dengan bengis.

“Sin Liong!” Tiong Pek berseru marah sekali. “Engkau berani lancang mencampuri urusan orang lain? Sungguh tidak tahu malu engkau hendak menghalangi cinta orang? Apakah engkau merasa iri hati?”

Diserang dengan kata-kata seperti itu, tiba-tiba saja muka Sin Liong menjadi merah dan dia menjadi bingung. “Akan tetapi kau... kau...” Sukar baginya untuk melanjutkan karena hatinya masih menilai-nilai apakah artinya perbuatan yang dilakukan Tiong Pek terhadap Bi Cu tadi.

“Aku cinta kepada Bi Cu sumoi, kau mau apa? Aku siap untuk bertanding melawan siapapun juga untuk memperebutkan sumoi! Hayo, apakah kau ingin memperebutkan sumoi dengan aku?” Pemuda tanggung itu mengepal tinju dan siap untuk berkelahi!

Sin Liong menjadi semakin bingung. Kalau tadi dia bersikap kasar terhadap Tiong Pek adalah karena dia melihat seolah-olah Tiong Pek hendak melakukan pemaksaan terhadap Bi Cu, akan tetapi sekarang dia menjadi bingung ketika ditantang dan ditanya apakah dia hendak memperebutkan Bi Cu dengan pemuda itu!

“Ah, siapa yang akan memperebutkan siapa?” katanya masih bingung, akan tetapi dia dapat menekan dan menenangkan perasaannya, lalu memandang kepada Tiong Pek dengan sikap lebih tenang, sungguhpun kemarahannya belum mereda karena dia melihat Bi Cu kini berdiri dengan kepala menunduk dan masih kadang-kadang menahan isak. “Tiong Pek, Bi Cu bukanlah sebuah benda yang boleh diperebutkan siapapun juga. Dalam hal rasa suka... hal itu Bi Cu berhak menentukan sendiri, jangan kau memaksa-maksanya seperti itu.”

“Bi Cu juga cinta kepadaku! Kau mau apa?” Tiong Pek yang masih marah itu menyerang lagi dengan kata-katanya yang penuh tantangan. Dia memang marah sekali karena merasa terganggu. Kalau Sin Liong tidak datang mengganggu, tentu dia sudah dapat mencium Bi Cu, hal yang sudah sering kali direnungkan dan diimpikan itu!

Mendengar ucapan ini, Sin Liong memandang kepada Bi Cu penuh keraguan. Benarkah itu? Kalau Bi Cu benar mencinta Tiong Pek, kenapa tadi bersikap seperti menentang? Dan apa gerangan yang hendak dilakukah oleh Tiong Pek terhadap Bi Cu tadi? Sin Liong sudah berusia empat belas tahun, atau hampir, akan tetapi dia belum tahu benar tentang cinta kasih antara pria dan wanita. Melihat Bi Cu menunduk dan kini mukanya tidak sepucat tadi, bahkan menjadi agak kemerahan, dia lalu melangkah menghampiri.

“Bi Cu, apakah Tiong Pek... eh hendak berlaku jahat kepadamu?” Dia tidak tahu bagaimana harus menanyakan urusan tadi.

Bi Cu mengangkat muka dan ketika dia bertemu pandang dengan Sin Liong, dia cepat menunduk kembali, jari-jari tangannya bermain dengan ujung rambutnya yang panjang terurai, lalu kepalanya digelengkannya sebagai jawaban pertanyaan Sin Liong tadi.

“Dan kau... kau... cinta kepada Tiong Pek?”

Bi Cu menjadi merah sekali mukanya dan kepalanya makin menunduk. Sekali ini dia sama sekali tidak mau menjawab.

“Bagaimana, Bi Cu? Jawablah, apakah kau cinta kepada Tiong Pek?” Sin Liong mendesak.

Dara cilik itu mengangkat muka dengan gugup, memandang kepada Sin Liong sebentar, lalu memandang kepada Tiong Pek, dan menunduk kembali tanpa menjawab, hanya ada dua titik air matanya yang turun mengalir di sepanjang kedua pipinya yang merah.

Melihat ini, kembali timbul rasa kasihan di dalam hati Sin Liong dan teringatlah dia akan percakapan yang didengarnya tadi. Dia kembali menghadapi Tiong Pek dan berkata dengan alis berkerut, “Tiong Pek, sungguh tidak patut sekali kalau engkau hendak menggunakan kekerasan. Apakah kau ingin menjadi penjahat hina? Aku tadi mendengar engkau membujuk dan melihat engkau menggunakan kekerasan. Engkau menonjolkan jasa-jasa dan budi keluargamu yang kaulimpahkan kepada Bi Cu. Apakah itu kebaikan namanya kalau kautonjolkan dan kalau engkau minta imbalan dari pertolongan yang kalian berikan kepada Bi Cu?”

“Sin Liong, kau ini siapa bermulut selancang ini?” Tiong Pek marah sekali dan dia menerjang dengan pukulan ke arah mulut Sin Liong. Akan tetapi Sin Liong cepat mengelak dan ketika Tiong Pek menerjang lagi, dia menangkis dan bersiap untuk melawan.

Akan tetapi, sambil menangis Bi Cu cepat melerai dengan meloncat di tengah-tengah antara mereka, “Jangan berkelahi... ah, harap jangan berkelahi...!”

Tentu saja Sin Liong cepat meloncat mundur, dan Tiong Pek juga tidak mendesak setelah melihat Bi Cu menangis sambil melerai itu. Kedua orang pemuda tanggung itu kini memandang kepada Bi Cu yang menangis sesenggukan di tengah-tengah antara mereka, menutupi muka dengan kedua tangannya. Mereka berdua menjadi bingung.

“Sumoi, jangan menangis, sumoi. Maafkan kalau aku bersalah...” akhirnya terdengar Tiong Pek berkata halus. “Aku tadi hanya ingin menciummu... jahatkah perbuatan itu... padahal aku hanya ingin membuktikan cintaku...?”

Mendengar ucapan itu, diam-diam Sin Liong menjadi jengah dan juga terheran-heran bagaimana Tiong Pek berani bicara terang-terangan seperti itu!

Bi Cu menahan isaknya dan tangisnya agar mereda, kemudian terdengar kata-katanya lirih di antara isaknya, “Aku tidak tahu... aku tidak tahu apa itu cinta! Aku... aku suka kepada suheng karena suheng baik sekali, dan seluruh keluarga suheng baik kepadaku, menganggap aku seperti keluarga sendiri. Aku berhutang budi besar sekali kepada suheng sekeluarga, akan tetapi... aku tidak tahu tentang cinta, dan aku tidak tahu... jahat atau tidak di... dicium, akan tetapi aku takut sekali...”

Diam-diam Sin Liong tersenyum. Biarpun usia mereka berdua ini sebaya dengan dia, Bi Cu berusia dua belas tahun dan Tiong Pek empat belas tahun, namun mereka berdua ini seperti anak-anak yang masih kecil saja! Anak-anak kecil yang ingin memasuki permainan orang-orang dewasa!

“Tiong Pek, kalau engkau tahu bahwa Bi Cu takut, kenapa kau hendak memaksanya? Kalau engkau memang kasihan dan suka kepadanya, tidak mungkin engkau main paksa membikin dia takut dan menangis...”

Tiong Pek menarik napas panjang, kini dia melihat bahwa dia telah benar-benar membuat Bi Cu berduka, takut dan malu. Baru sekarang dia merasa seolah-olah sadar, setelah gairah aneh yang membuat seluruh tubuhnya panas, membuat dia ingin sekali mencium Bi Cu itu kini mendingin dan lenyap. Baru dia tahu bahwa dia memang bersalah.

“Maafkan aku, Bi Cu. Kau benar, Sin Liong, aku memang layak dipukul karena telah membikin sumoi ketakutan dan menangis. Sumoi, sekali lagi,kaumaafkanlah aku.”

Bi Cu menghapus air matanya dan kini baru dia dapat memandang suhengnya itu dengan senyum yang mulai berkembang mengusir kedukaannya. “Tidak mengapa, suheng, kita lupakan saja hal tadi.”

“Seorang yang dapat menyadari kesalahannya sendiri barulah patut disebut orang gagah, Tiong Pek,” kata Sin Liong.

“Ah, benarkah itu?” Tiong Pek berkata girang, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar penuh kenakalan.

“Akan tetapi jangan hal itu membuat engkau keenakan dan setiap kali ingin menjadi orang gagah lalu melakukan kesalahan lebih dulu untuk kemudian disadari!” sambung Sin Liong. Tiong Pek tertawa, Bi Cu juga tertawa dan mereka berbaik kembali. Lenyaplah semua dendam dan kemarahan.

“Eh, kalau kalian berdua benar-benar sudah memaafkan aku, harus kalian buktikan!” tiba-tiba Tiong Pek berkata.

“Buktikan bagaimana?” Sin Liong menuntut dan memandang tajam. Jangan-jangan bocah nakal ini minta bukti aneh-aneh, seperti cium dari Bi Cu misalnya! Kalau begitu dia tentu tidak akan ragu-ragu untuk menjotosnya!

“Buktinya adalah bahwa kalian tidak akan mengatakan sesuatu tentang urusan tadi kepada ayah.”

“Kau tahu bahwa aku tidak akan berkata apa-apa kepada paman, suheng,” kata Bi Cu cepat.

“Akan tetapi aku hanya mau berjanji tidak akan menyampaikan kepada paman Na asal engkaupun berjanji tidak akan mengulangi perbuatan sesat tadi!” kata Sin Liong.

“Sesat? Ah, memang salah akan tetapi jangan namakan itu sesat, Sin Liong. Baikiah, dengarkan kalian. Aku berjanji tidak akan mencoba untuk mencium Bi Cu kecuali kalau memang sumoi Bi Cu mau kucium!”

Tentu saja mendengar janji yang seperti itu, seketika wajah Bi Cu kembali menjadi merah sekali.

“Dasar engkau setan!” Sin Liong menegur sambil tertawa dan Tiong Pek juga tertawa. Bi Cu terpaksa ikut pula tertawa dan ketiga orang anak itu lalu memasuki lian-bu-thia (ruangan berlatih sliat) di mana mereka berlatih silat dengan tekunnya.

***




Wanita cantik itu melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah utara. Para penjaga di pintu gerbang itu cepat berdiri dengan sikap menghormat ketika wanita itu berjalan keluar dari pintu gerbang. Bahkan komandan jaga yang bertubuh tinggi besar itu memberi hormat dan berkata, “Selamat jalan, lihiap!”

Wanita itu bukan lain adalah Kim Hong Liu-nio. Semenjak terjadi peristiwa pemberontakan di dalam istana yang bermaksud membunuh pangeran mahkota dan kaisar dan usaha jahat itu digagalkan oleh Kim Hong Liu-nio dan Ceng Han Houw, wanita ini menjadi seorang tokoh yang terkenal di kota raja, terutama di lingkungan istana dan di antara para pengawal. Oleh karena itu, ketika dia keluar dari pintu gerbang, semua penjaga memberi hormat, bahkan komandan jaga menghaturkan selamat jalan.

Seperti kita ketahui, Kim Hong Liu-nio terpaksa berangkat pulang ke utara seorang diri saja, meninggalkan sutenya di istana karena Pangeran Mahkota Ceng Hwa, calon kaisar, atau juga saudara tiri dari Han Houw, menahan pemuda tanggung itu untuk tidak meninggalkan istana sampai hari penobatannya sebagai kaisar. Maka Kim Hong Liu-nio pulang seorang diri untuk melaporkan semua peristiwa yang dialami oleh sutenya itu kepada Raja Sabutai dan Permaisuri Khamila, dan selain itu juga menyampaikan undangan pangeran mahkota kepada Raja Sabutai untuk menghadiri hari penobatannya sebagai kaisar pengganti ayahnya.

Hati Kim Hong Liu-nio lega karena sutenya itu berada dalam keadaan aman, maka dia melakukan perjalanan cepat, tidak memperdulikan orang-orang yang memandangnya dengan heran. Siapa orangnya tidak akan terheran-heran melihat seorang wanita cantik berjalan sedemikian cepatnya seperti terbang saja? Sebentar saja dia sudah keluar dari pintu gerbang itu diikuti oleh pandang mata semua penjaga sampai bayangannya lenyap.

Akan tetapi ketika dia tiba di padang rumput di sebelah utara pintu gerbang utara kota raja itu, tiba-tiba dia memandang ke depan dengan alis berkerut karena jauh di depannya dia melihat banyak orang sudah berdiri menghadangnya dan dari jauh saja dapat dilihat pakaian mereka yang berkembang-kembang dan tangan mereka yang memegang tongkat dengan punggung memanggul buntalan-buntalan kuning. Orang-orang Hwa-i Kai-pang! Dan setelah agak dekat Kim Hong Liu-nio melihat bahwa di antara mereka terdapat mereka yang memanggul buntalan sedikit saja. Ada dua orang yang memanggul tiga buah buntalan kuning, bahkan ada seorang yang memanggul dua buntalan, berarti bahwa di antara mereka itu ada dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat tiga dan bahkan ada seorang tokoh tingkat dua!

Jantung Kim Hong Liu-nio berdebar tegang. Dia maklum bahwa yang menghadangnya adalah tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat tinggi! Dan selain tiga orang tokoh yang tinggi tingkatnya itu, dia melihat tokoh-tokoh tingkat empat dan lima yang jumlahnya ada tujuh belas orang! Akan tetapi, Kim Hong Liu-nio adalah murid terkasih dari Hek-hiat Mo-li, dan dia sama sekali tidak pernah mengenal arti takut. Dengan sikap tenang penuh kewaspadaan dia berjalan terus dengan cepat tanpa mengurangi pengerahan gin-kangnya dan sebentar saja dia sudah berhadapan dengan belasan orang yang sengaja menghadang memenuhi jalan itu. Terpaksa Kim Hong Liu-nio berhenti dan memandang mereka dengan sinar mata mengejek, tidak memperdulikan pandang mata belasan orang itu yang ditujukan kepadanya dengan penuh kemarahan.

Yang menjadi perhatiah Kim Hong Liu-nio adalah tiga orang kakek di depan itu, yaitu dua orang tokoh tingkat tiga dan seorang yang bertingkat dua, karena dia tidak memandang sebelah mata kepada mereka yang bertingkat empat dan lima.

“Perlahan dulu, nona!” berkata pengemis baju kembang yang memanggul dua buah buntalan kuning di punggungnya. Pengemis ini usianya tentu mendekati enam puluh tahun, tubuhnya kurus kering seperti cecak mati saking kurusnya sehingga tubuh yang tingginya biasa saja itu kelihatan jangkung. Pakaiannya sederhana, akan tetapi bersih dan berpakaian tambal-tambalan dari kain-kain berkembang dan berwarna itu nampak lucu karena banyak merahnya, mungkin menjadi tanda bahwa pemakainya memang mempunyai kesukaan akan warna merah.

“Hemm, kulihat kalian ini tentulah tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang,” jawab Kim Hong Liu-nio sambil mengerling ke arah tiga orang kakek pengemis yang pernah dikalahkannya tempo hari, yaitu mereka yang bertingkat lima. “Apakah kini orang-orang Hwa-i Kai-pang yang tersohor itu telah berubah menjadi segerombolan perampok yang suka menghadang orang lewat di jalan raya?”

Kakek kurus kering itu tersenyum lebar. Biarpun dia marah sekali, akan tetapi kakek ini dapat menguasai kemarahannya dan menghadapi wanita yang dia dengar amat lihai itu dengan tenang. “Andaikata kami menjadi perampok sekalipun, kami tidak akan merampok nyawa orang yang tidak berdosa seperti yang telah kaulakukan kepada seorang pengemis she Tio di kota Huai-lai.”

Kim Hong Liu-nio sudah tahu mengapa para pengemis itu menghadangnya, maka dengan jujur dan penuh keberanian dia berkata, “Memang aku telah membunuh pengemis she Tio itu.”

Mendengar jawaban yang berani itu, para pengemis kelihatan makin marah dan terdengar mereka mengeluarkan suara sehingga keadaan menjadi bising, akan tetapi Kim Hong Liu-nio sama sekali tidak memperdulikan mereka.

“Kenapa?” bentak tokoh kedua Hwa-i Kai-pang. Kakek ini berjuluk Lo-thian Sin-kai(Pengemis Sakti Pengacau Langit). “Setiap orang merasa kasihan kepada seorang pengemis yang hidup serba kekurangan, akan tetapi kenapa engkau membunuh pengemis tidak berdosa itu?”

“Karena dia she Tio! Baik dia pengemis maupun seorang raja, karena dia she Tio, maka berjumpa dengan aku dia harus mati! Dia yang she Tio atau yang she Cia dan yang she Yap!” kata Kim Hong Liu-nio dan dia sudah mengeluarkan papan kayu sallb yang bertuliskan nama keluarga Tio, Yap, dan Cia itu.

“Apa?” Lo-thian Sin-kai terbelalak. “Kau hendak membunuh semua orang yang memiliki she seperti itu? Jadi engkau membunuh pengemis she Tio itu tanpa ada permusuhan pribadi sama sekali?”

“Kenalpun tidak aku kepadanya, hanya aku mendengar dia she Tio maka dia harus mati.”

“Iblis betina keji!” Terdengar bentakan marah dan dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat tiga yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, agaknya sudah tidak dapat menahan kemarahan mereka dan kini mereka berdua sudah menerjang maju, menggerakkan tongkat mereka dari kanan dan kiri menyerang Kim Hong Liu-nio. Yang memaki itu adalah kakek pengemis yang punggungnya agak bongkok.

“Hutang nyawa bayar nyawa!” bentak kakek pengemis ke dua yang mukanya hitam sekali, agaknya hitam karena bekas penyakit karena melihat leher dan tangannya, sebetulnya dia berkulit putih. Kakek bongkok dan kakek muka hitam ini berusia kurang lebih lima puluh tahun dan mereka adalah tokoh-tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang, maka tentu saja mereka memiliki kepandaian silat yang tinggi. Yang punggungnya bongkok itu terkenal dengan julukannya Tiat-ciang Sin-kai (Pengemis Sakti Tangan Besi), sedangkan yang bermuka hitam berjuluk Hek-bin Mo-kai (Pengemis Iblis Muka Hitam). Karena mereka berdua maklum dan mendengar dari tiga orang pengemis tingkat lima betapa lihainya wanita itu, maka mereka maju berbareng dan serentak telah menyerang dengan senjata tongkat mereka.

Melihat cara menyambarnya tongkat-tongkat itu maklumlah Kim Hong Liu-nio bahwa dia menghadapi lawan yang cukup tangguh dan cepat dia menggerakkan tubuhnya mengelak ke belakang. Dua sinar hitam dari tongkat itu menyambar dahsyat di dekat tubuhnya.

“Wuuut! Wuuutt!”

Ujung-ujung tongkat itu sebelum menyentuh tanah, telah ditahan oleh para pemegangnya dan kelihatan ujung tongkat itu menggetar hebat sampai mengeluarkan suara “wrrrrr!” saking kerasnya sambaran itu dan kini ditahan oleh dua orang kakek pengemis. Kemudian tongkat itu menyambar lagi dan Kim Hong Liu-nio sudah didesak dan dihujani serangan bertubi-tubi yang kesemuanya mengandung tenaga kuat sekali.

“Hemm, kalian mencari penyakit!” bentak wanita itu dan begitu kedua tangannya bergerak, nampak sinar merah yang panjang bergulung-gulung dan ternyata wanita ini dengan tenang namun cepat bukan main telah menggerakkan sabuk merahnya dan sambil mengelak dia telah balas menyerang!

“Wirrrr... syuuuuttt... plakk!”

Sabuk merah itu hebat bukan main, menyambar dahsyat menyilaukan mata dan hampir saja leher Hek-bin Mo-kai kena totok. Untung dia dapat menangkis dengan cepat dan kini tongkatnya terlibat ujung sabuk merah yang bergerak seperti ular itu. Selagi Hek-bin Mo-kai bersitegang untuk melepaskan tongkat dari libatan sabuk, Tiat-ciang Sin-kai sudah menghantamkan tongkatnya dari samping ke arah kepala wanita itu.

“Cringgg...!”

Tiat-ciang Sin-kai terkejut bukan main. Tongkatnya yang menghantam kepala itu ditangkis oleh lengan kecil halus yang bergelang kerincing. Anehnya lengan kecil dan gelang-gelang emas kecil itu tidak saja mampu menangkis tongkatnya, malah dia sendiri sampai terhuyung ke belakang saking kuatnya tangkisan itu! Dengan marah dia lalu mengatur keseimbangan tubuhnya dan menubruk lagi, kini tongkatnya menusuk ke arah lambung dari sebelah kanan wanita itu.

Pada saat itu, ujung sabuk merah masih melibat ujung tongkat di tangan Hek-bin Mo-kai dan agaknya Kim Hong Liu-nio tidak akan dapat menghindarkan diri dari tusukan tongkat kakek pengemis bongkok. Akan tetapi tiba-tiba Kim Hong Liu-nio mengeluarkan bentakan nyaring dan bentakan ini disusul teriakan Hek-bin Mo-kai yang tidak dapat menguasai tongkatnya lagi. Tongkatnya yang terlibat itu terbetot sehingga dia tidak mampu mempertahankan ketika tongkatnya itu bergerak ke kiri.

“Takkkkk...!” Keras sekali pertemuan antara tongkat Hek-bin Mo-kai itu yang menangkis tongkat Tiat-ciang Sin-kai yang menusuk tadi sehingga keduanya merasa betapa telapak tangan mereka nyeri dan senjata mereka itu hampir terlepas dari tangan. Keduanya memang memiliki tenaga yang seimbang dan tadi mereka telah mempergunakan seluruh tenaga, yang seorang ingin menarik kembali tongkatnya sedangkan yang ke dua sedang menyerang.

“Wuuuttt...!” Baru saja kedua tongkat itu bertemu tiba-tiba sinar merah menyambar dan tahu-tahu ujung sabuk telah melibat kedua batang tongkat itu dengan eratnya!

“Iblis jahat...!” Tiat-ciang Sin-kai berseru marah dan dia menerjang maju dengan tangan kanannya, mengirim pukulan yang dahsyat. Kakek bongkok ini berjuluk Tiat-ciang (Si Tangan Besi) maka tentu saja dia memiliki tangan gemblengan yang amat hebat, kuat seperti besi dan ketika dia melancarkan pukulan itu tangannya berubah agak kehitaman!

Akan tetapi, melihat datangya pukulan itu, Kim Hong Liu-nio sama sekali tidak mengelak, bahkan dia lalu mengangkat tangan kirinya menerima pukulan itu dengan tangkisan, gerakannya seenaknya saja seolah-olah dia tidak tahu bahwa pukulan itu adalah pukulan ampuh, bukan sembarang pukulan. Melihat ini, giranglah kakek pengemis bongkok itu. Remuk tulang tanganmu sekarang, pikirnya girang, dan dia mengerahkan seluruh tenaga Tiat-ciang-kang ke dalam tangannya itu.

“Desss...!” Hebat sekali pertemuan ke dua tangan itu dan terdengar Tiat-ciang Sin-kai berteriak kesakitan dan tubunya terhuyung ke belakang, dia melepaskan tongkatnya yang masih terlibat menjadi satu dengan tongkat Hek-bin Mo-kai dan pada saat yang sama, Kim Hong Liu-nio membetot sabuknya dengan kuat dan ketika Hek-bin Mo-kai mempertahankan, tiba-tiba dia melepaskan libatan sabuknya sehingga si muka hitam inipun terhuyung seperti temannya! Tiat-ciang Sin-kai menyeringai karena tangan kanannya terasa nyeri bukan main, seperti patah-patah rasa tulang-tulang tangannya. Dia tidak tahu bahwa wanita cantik yang tadi telah melindungi tangannya yang kecil berkulit halus itu dengan sarung tangannya yang istimewa, yaitu sarung tangan halus dengan warna sama dengan kulitnya. Sarung tangan ini dapat dipakai untuk menyambut senjata tajam, apalagi hanya pukulan tangan kosong, biarpun tangan itu sama kerasnya dengan besi!

“Wanita kejam, engkau boleh juga!” Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan si kakek kurus kering, Lo-thian Sin-kai, tokoh tingkat dua dari Hwa-i Kai-pang, telah menerjang dan menyerang Kim Hong Liu-nio dengan tongkatnya. Terdengar suara berdesir-desir dan tongkat yang digerakkan secara istimewa itu telah membentuk lingkaran-lingkaran yang lima buah banyaknya. Itulah Ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat yang amat hebat! Lima lingkaran sinar tongkat itu bergerak-gerak dan dari setiap lingkaran menyambar-nyambar ujung tongkat yang mengeluarkan suara berdesing tanda bahwa tongkat itu yang kelihatan seperti kayu ternyata menyembunyikan benda logam keras di dalamnya dan tenaga yang dipergunakan untuk menggerakkan tongkat itu amat kuatnya!

“Hemm! Kalian behar-benar hendak memusuhi aku? Majulah!” bentak Kim Hong Liu-nio dan menghadapi ilmu tongkat lawan ini, dia sama sekali tidak merasa jerih, bahkan dia gembira sekali.

Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang suka sekali akan ilmu silat. Telah banyak dia mengumpulkan dan mempelajari ilmu-ilmu silat dari semua aliran yang ada di dunia persilatan, dan kalau bertemu dengan suatu ilmu baru yang belum dikenalnya, dia merasa gembira sekali dan ingin mengenal serta mempelajarinya. Maka begitu dia melihat ilmu tongkat dari kakek pengemis kurus kering ini, dia melihat ilmu tongkat yang amat hebat sehingga timbul kegembiraannya dan dia cepat menghadapi ilmu tongkat itu dengan kedua tangan kosong sambil mainkan sabuk merahnya.

Terjadilah kini pertandingan yang amat hebat. Tongkat yang dimainkan oleh Lo-thian Sin-kai memang luar biasa sekali. Ujung tongkat itu nampak menjadi lima buah, seolah-olah kakek kurus itu mainkan lima batang tongkat, dan setiap ujung tongkat membentuk lingkaran-lingkaran yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Sedangkan Kim Hong Liu-nio juga memutar sabuk merahnya sehingga nampak gulungan sinar merah yang amat indah dan kuat menyelimuti dirinya yang menghalau setiap sambaran tongkat. Kadang-kadang wanita perkasa ini menggunakan tangannya untuk menangkis tongkat, karena tangannya telah terlindung oleh sarung tangan mujijat itu, dan kadang-kadang dia membalas dengan serangan kilat, menggunakan ujung sabuknya untuk menotok ke arah jalan darah di tubuh lawan yang berbahaya. Diam-diam kakek pengemis itu terkejut bukan main. Ketika dia mendengar bahwa tiga orang murid keponakannya, tokoh-tokoh tingkat lima dari Hwa-i Kai-pang dikalahkan oleh seorang wanita cantik yang telah membunuh seorang pengemis she Tio di Huai-lai, dia mengira bahwa wanita itu adalah seorang wanita kang-ouw yang hanya memiliki kepandaian lumayan saja. Akan tetapi ketika tadi dia melihat dua orang pengemis tingkat tiga dikalahkan, dia merasa penasaran. Dan kini dia terkejut setelah memperoleh kenyataan betapa lihainya wanita ini.

Selama lima puluh jurus, nampaknya pengemis tua kurus ktu dapat mendesak wanita itu, buktinya, Kim Hong Liu-nio lebih banyak menghindarkan serangan atau menangkis daripada membalas. Karena mengira bahwa jagoan mereka akan menang, maka para pengemis itu hanya menonton saja, mengharapkan dalam waktu singkat wanita itu akan dirobohkan. Padahal, sesungguhnya tidak demikianlah. Kim Hong Liu-nio memang sengaja membiarkan dirinya diserang dan dia hanya mempertahankan diri karena memang dia ingin memancing keluar semua jurus limu tongkat yang menarik hatinya itu. Biarpun dia tidak mungkin dapat menguasai atau menghafal semua gerakan yang dilihatnya dalam pertandingan itu, namun setidaknya dia dapat mengenal ilmu ini dan dapat mengingat inti-intinya yang penting. Setelah lewat lima puluh jurus, dia merasa cukup menonton ilmu tongkat orang, maka kini dia mengeluarkan lengking panjang yang nyaring sekali, kemudian tubuhnya berkelebat cepat dan terjadilah perubahan hebat dalam pertandingan itu!

“Wiirrrr... plak-pkakk!”

“Ahh...!” Lo-thian Sin-kai berseru kaget karena hampir saja ubun-ubun kepalanya kena disambar ujung sabuk yang disusul oleh tamparan tangan kilat ke arah ulu hatinya. Untung dia masih sempat mengelak lalu menangkis berkali-kali. Dia dapat selamat dari ancaman maut akan tetapi dia terhuyung ke belakang dan pada saat itu Kim Hong Liu-nio menerjang maju dan menghujani kakek itu dengan serangan-serangan dahsyat! Baru sekarang tahulah kakek kurus itu bahwa tadi lawannya belum sungguh-sungguh, dan baru sekarang mengeluarkan serangan-serangannya yang dahsyat sehingga repotlah dia memutar tongkatnya untuk membentuk benteng pertahanan melindungi dirinya dari ancaman maut.

Semua pengemis terkejut melihat perubahan ini. Jagoan mereka terdesak hebat dan mundur terus. Melihat ini, Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai berteriak keras dan mereka sudah maju membantu jagoan mereka itu dengan memutar tongkat. Gerakan ini diikuti pula oleh semua pengemis yang sudah mengepung Kim Hong Liu-nio dan mulailah terjadi pengeroyokan yang ketat. Akan tetapi wanita itu tidak menjadi jerih dan sabuk merahnya membentuk gulungan sinar yang lebar dan panjang, bukan hanya untuk menahan semua tongkat yang menyambar dari sekeliilingnya, akan tetapi juga untuk membagi-bagi totokan. Dalam beberapa jurus saja dia sudah merobohkan tiga orang pengemis tingkat lima. Akan tetapi karena dia tidak ingin menanam permusuhan yang hebat dengan perkumpulan pengemis yang besar dan berpengaruh ini, Kim Hong Liu-nio tidak membunuh orang, hanya merobohkan mereka untuk membikin mereka tidak dapat mengeroyoknya lagi dengan totokan-totokan di bagian jalan darah yang tidak mematikan.

Betapapun juga, Kim Hoing Liu-nio mulai terdesak hebat. Para pengeroyoknya terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi, terutama sekali desakan dari Lo-thian Sin-kai yang dibantu Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai, amatlah berbahaya baginya sehingga Kim Hong Liu-nio sudah mengambil keputusan untuk kabur dan melarikan diri saja. Akan tetapi pengemis itu agaknya maklum akan niatnya ini dan pengepungan dilakukan makin rapat, gerakan tongkat-tongkat mereka menutup semua jalan keluar.

Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dari depan dan tak lama kemudian muncullah seorang penunggang kuda. Dia ini seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang perkasa, berpakaian indah, pakaian seorang panglima pengawal Kim-i-wi yang mentereng, dengan bajunya yang disulam benang emas, kepalanya yang memakal topi berhiaskan bulu burung dewata, dengan tanda pangkatnya di dada kiri yang berkilauan. Melihat wanita cantik itu dikepung oleh para pengemis, panglima itu cepat melompat turun dari pelana kudanya dan sambil mengangkat kedua tangan ke atas dia berteriak-teriak, “Tahan senjata...! Hentikan perkelahlan...! Para tokoh Hwa-i Kai-pang dengarkan dulu penjelasanku!”

Lo-thian Sin-kai menoleh dan ketika mengenal panglima itu adalah Lee Siang, Panglima Kim-i-wi yang gagah dan telah
dikenalnya, dia lalu meloncat mundur dan berteriak kepada para temannya untuk menahan senjata. Kim Hong Liu-nio juga mengenal panglima itu, ialah panglima pengawal yang pertama kali menerimanya di istana, bahkan yang mengawalnya sampai menghadap kaisar. Maka diapun menahan gerakannya dan menyimpan kembali sabuk merahnya, lalu mengusap sedikit peluh di dahinya dengan saputangan dan wajahnya menjadi merah ketika dia bertemu pandang dengan panglima yang gagah perkasa itu. Sejak pertemuannya yang pertama dengan Panglima Lee Siang ini, dia memang sudah tertarik dan diam-diam dia mengakui bahwa panglima ini merupakan seorang pria gagah yang pertama kali menarik hatinya dan membuatnya merasa kagum.

“LOCIANPWE Lo-thian Sin-kai, harap locianpwe dan para sahabat dari Hwa-i Kai-pang mengetahui bahwa lihiap Kim Hong Liu-nio ini bukanlah seorang musuh, sebaliknya malah, dia adalah seorang pendekar wanita yang telah berjasa, telah menyelamatkan mendiang sri baginda kaisar dan pangeran mahkota.”

Lo-thian Sin-kai tentu saja tidak akan memandang kepada Panglima Lee Siang kalau saja tidak mengingat bahwa pria ini adalah seorang panglima pasukan pengawal Kim-i-wi yang amat kuat! Tentu saja akan merupakan bunuh diri bagi perkumpulan Hwa-i Kai-pang kalau berani menentang seorang panglima Kim-i-wi seperti panglima gagah ini. Maka dia menjura dan berkata dengan suara halus, “Harap Lee-ciangkun mengetahui bahwa wanita ini telah membunuh seorang di antara anak buah kanni sehingga terpaksa kami menuntut balas.”

Lee Siang terkejut. Dia sudah mendengar akan kesetiakawanan para pengemis, dan dia tahu pula bahwa Hwa-i Kai-pang, adalah perkumpulan pengemis yang paling berpengaruh di daerah kota raja dan mempunyai anggauta yang ribuan orang banyaknya. Dia menoleh kepada Kim Hong Liu-nio dengan pandang mata bertanya.

Kim Hong Liu-nio tersenyum kepada panglima yang dikaguminya itu, “Lee-ciangkun, harap jangan percaya omongan mereka ini. Benar bahwa aku telah membunuh seorang pengemis she Tio di Huai-lai, akan tetapi pengemis itu kukira bukanlah anggauta Hwa-i Kai-pang karena sama sekali tidak memakai pakaian berkembang. Pula, aku membunuh dia sama sekali bukan karena dia pengemis, bukan pula karena dia ada sangkut pautnya dengan Hwa-i Kai-pang atau kai-pang dari manapun juga, melainkan karena urusan pribadi ying tidak ada sangkut pautnya dengan jagoan-jagoan tukang keroyok dari Hwa-i Kai-pang ini.” Kata-kata itu sekaligus merupakan tamparan kepada tokoh Hwa-i Kai-pang sehingga Lo-thian Sin-kai menjadi merah mukanya. Memang memalukan sekali orang-orang seperti mereka ini terpaksa mengeroyok seorang wanita dibantu oleh belasan orang anak buah mereka lagi!

Lee Siang merasakan ketegangan yang timbul dari sikap kedua fihak, maka untuk melenyapkan ketegangan itu dia tertawa. “Nah, para locianpwe dan sahabat dari Hwa-i Kai-pang telah mendengar penjelasan lihiap Kim Hong Liu-nio bahwa lihiap tidak sekali-kali memusuhi Hwa-i Kai-pang dan peristiwa ini hanya timbul karena salah sangka belaka. Mengingat bahwa lihiap ini adalah sahabat pangeran mahkota, bahkan telah berjasa besar, maka aku percaya bahwa Hwa-i Kai-pang suka menghabiskan perkara ini dan tidak menimbulkan keributan yang hanya akan mengacaukan keadaan!” jelas bahwa di dalam ucapan itu terkandung ancaman bagi Hwa-i Kai-pang dan panglima itu berdiri tegak penuh wibawa!

Lo-thian Sin-kai menarik napas panjang. “Biarlah sekali ini kami anggap bahwa Kim Hong tidak bermaksud menghina Hwa-i Kai-pang. Kawan-kawan, hayo kita pergi!” Kakek ini lalu menjura kepada panglima itu.”Lee-ciangkun, maafkan kami dan terima kasih atas peringatanmu.”

Para pengemis itu lalu pergi dari situ meninggalkan Kim Hong Liu-nio yang kini berdiri berhadapan dengan Lee Siang. Sejenak mereka saling berpandangan dan jantung wanita itu berdegup tegang ketika dia melihat jelas betapa sepasang mata dari panglima itu memancarkan sinar penuh kagum kepadanya. Dia sendiri merasa terheran-heran. Bagi dia, sudah biasa melihat sinar mata kaum pria ditujukan kepadanya dengan kagum dan penuh gairah seperti itu, dan biasanya hal ini kadang-kadang mendatangkan rasa muak dan marah di dalam hatinya, akan tetapi entah mengapa dia sendiri tidak mengerti mengapa kini jantungnya girang dan bangga yang aneh menyaksikan betapa sinar mata pria ini begitu penuh kagum ketika memandangnya! Setelah sinar mata mereka saling bertaut dan melekat untuk beberapa lamanya, Kim Hong Liu-nio merasa betapa mukanya menjadi panas dan ada perasaan jengah dan malu yang aneh, yang membuat dia tersipu dan cepat-cepat menutupi perasaan ini dengan senyum manis.

“Ah, kembali Lee-ciangkun yang telah menyelamatkan aku dari keadaan yang tidak enak,” katanya halus, lalu tanpa disadarinya dia menundukkan mukanya, menahan senyum dan dari bawah menyambar sinar matanya dalam kerlingan tajam! Inilah ciri-ciri seorang wanita yang tergerak hatinya oleh seorang pria! Malu-malu, hendak mengelak, hendak menyembunyikan perasaan, akan tetapi tanpa disadarinya senyum dan kerling mata yang menyambar itu mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya! “Ciangkun sudah dua kali menolongku, sebaliknya aku tidak pernah melakukan sesuatu untukmu.”

“Dua kali?” Panglima yang merasa senang dan bangga itu pura-pura bertanya.

Kim Hong Liu-nio mengangkat muka. Kembali mereka berpandangan dan wanita itu tersenyum. Sungguh, andaikata Ceng Han Houw pada saat itu melihat keadaan sucinya ini, dia tentu akan merasa heran bukan main. Selamanya dia melihat sucinya ini sebagai seorang wanita yang dingin dan keras, jarang tersenyum dan kalau tersenyum, maka senyumnya itu itu boleh jadi merupakan tanda maut bagi lawan. Akan tetapi sekarang, seperti seorang dara remaja yang malu-malu, bersikap memikat, matanya bermain-main dan suaranga halus. Pendeknya, terjadi perubahan yang luar biasa anehnya pada diri wanita ini!

“Ah, Lee-ciangkun memang selalu merendahkan diri dan tidak mengingat akan jasa sendiri, sebaliknya mengangkat jasa orang lain sehingga tadi menyebut-nyebut tentang jasaku. Kalau tidak ada ciangkun, mana mungkin aku dan sute dapat memasuki istana? Dan tadi, kalau tidak ada ciangkun, mana aku dapat membebaskan diri sedemikian mudahnya dari pengeroyokan pengemis liar itu?”

Lee Siang tertawa dan memang pria ini amat gagah. Biarpun usianya sudah empat puluh tahun, namun usia ini tidak mengurangi ketampanannya, bahkan membuat dia nampak gagah dan matang, seorang jantan yang menarik hati kaum wanita. “Ha-ha, lihiap terlalu memuji. Tanpa adanya akupun, sudah kulihat betapa tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang itu tidak berdaya menghadapi lihiap. Ah, sudahlah, aku merasa girang kita dapat saling jumpa di sini dan pertemuan ini dapat saling mempererat persahabatan antara kita. Tidak tahu, lihiap hendak pergi ke manakah maka berada di luar pintu gerbang kota raja?”

“Aku hendak meninggalkan kota raja, sudah mendapatkan ijin dari pangeran mahkota, untuk kembali te utara melaporkan segala peristiwa kepada sri baginda raja, juga menyampaikan undangan pangeran mahkota kepada sri baginda agar dapat hadir di hari penobatan pangeran mahkota nanti.”

“Ahh... lihiap hendak kembali ke utara...?” Wajah panglima itu kelihatan kecewa dan terkejut. “Karena melaksanakan tugas selama belasan hari, aku tidak tahu akan hal itu dan sekarang, begitu berjumpa, tahu-tahu lihiap sudah akan pergi. Padahal, mengingat akan persahabatan antara kita, sudah sepatutnya kalau aku menjamu kepergian lihiap untuk menghaturkan selamat jalan. Akan tetapi, kuharap saja masih belum terlambat bagiku untuk mengundang lihiap singgah sebentar ke rumahku untuk menerima secawan dua cawan arak ucapan selamat jalan dariku. Marilah, lihiap, aku mengundang lihiap dengan hormat dan sangat, demi persahabatan kita, untuk singgah sebentar di rumahku. Aku tidak ingin melihat lihiap pergi dan kita saling berpisah tanpa kesan, hanya berpamit di tengah jalan seperti ini!” Pandang mata panglima itu penuh permintaan, penuh keharuan dan penuh kemesraan dan hati yang dingin dan keras dari wanita itu seketika mencair dan dia mengangguk sambil tersenyum! Dengan girang sekali Panglima Lee Siang lalu menuntun kudanya dan pergilah mereka berdua kembali ke selatan, menuju ke pintu gerbang di mana para penjaga menyambut mereka dengan sikap hormat dan juga dengan penuh keheranan mengapa Kim Hong Liu-nio yang baru saja pergi meninggalkan pintu gerbang kini sudah datang kembali, berjalan bersama Panglima Lee yang duda itu dalam keadaan begitu mesra seperti dua orang sahabat lama.

Tak lama kemudian kedua orang ini sudah duduk saling berhadapan di dalam ruangan besar di gedung Panglima Lee. Sebuah meja melintang menghalang di antara mereka, meja yang penuh dengan hidangan masakan-masakan yang masih mengepulkan uap panas dan tercium bau harum arak yang baik. Setelah para pelayan mempersiapkan hidangan-hidangan itu di atas meja, dengan gerak tangannya Panglima Lee Siang lalu memberi isyarat mengusir mereka semua. Kini Lee-ciangkun dan Kim Hong Liu-nio hanya berdua saja di dalam ruangan itu dan Panglima Lee segera menuangkan arak dan mengajak wanita itu minum arak. Tanpa hanyak cakap mereka lalu mulai makan minum. Keduanya merasa canggung! Sungguh amat mengherankan hati mereka sendiri masing-masing mengapa mereka kini tiba-tiba saja menjadi pemalu sekali dan canggung, jantung mereka berdebar seperti dua orang pemuda dan dara remaja saja!

“Silakan minum demi persahabatan kita lihiap!” kata Lee Siang sambil mengangkat cawan araknya yang sudah dipenuhinya bersama cawan tamunya itu. Sambil tersenyum, Kim Hong Liu-nio mengangkat cawan dan meminumnya.

“Kini aku yang minta agar ciangkun suka minum sebagai pernyataan terima kasihku atas pertolongan dua kali itu!” Kim Hong Liu-nio menuangkan arak ke dalam cawan mereka dan sambil tersenyum Lee Siang meminum habis arak itu.

“Dan sekarang aku persilakan lihiap minum sebagai ucapan selamat jalan... ah, tidak! Belum! Jangan lihiap pergi dulu...!” kata panglima itu yang sudah mulai merah mukanya. Biarpun Lee Siang juga seorang gagah yang memiliki kepandaian tidak rendah sebagai seorang Panglima Kim-i-wi, akan tetapi, dalam hal minum arak, dia masih kalah kuat dibandingkan dengan Kim Hong Liu-nio yang memiliki tenaga sin-kang yang sudah mencapai tingkat amat tinggi itu. Tiba-tiba panglima itu nampak berduka begitu teringat bahwa wanita itu sebentar lagi akan pergi meninggalkannya.

“Lihiap, harap jangan pergi sekarang..., harap lihiap menunda keberangkatan itu sampai besok pagi... dan aku mempersilakan lihiap untuk bermalam di sini, dan anggaplah rumah ini sebagai rumah lihiap sendiri...”

Kim Hong Liu-nio memandang tajam, akan tetapi karena dia tidak melihat sikap kurang ajar ketika panglima itu mengeluarkan kata-kata itu, dia tidak jadi marah dan malah tersenyum. Makin heranlah rasa hatinya. Kalau saja yang mengucapkan kata-kata itu pria lain, tentu dia sudah menggerakkan tangan membunuhnya! Akan tetapi aneh, ucapan itu sama sekali tidak membuat dia marah, bahkan sebaliknya, jantungnya berdebar aneh dan ada rasa girang yang amat besar memenuhi hatinya! Dan rasa girang ini membuat mukanya menjadi merah sekali. Dia menjadi gugup dan untuk menyembunyikan perasaannya itu, dia menoleh ke kiri.

“Sunyi sekali di ruangan yang besar ini, ciangkun. Kalau aku boleh mengetahui, mengapa begini sunyi? Di mana keluarga ciangkun? Aku ingin berkenalan dengan mereka.”

“Ahh...!” Dan wajah panglima itu menjadi muram sekali. Sejenak dia menunduk tanpa dapat menjawab.

“Mengapa, ciangkun? Maafkan kalau pertanyaanku tadi menyinggung. Bukan maksudku untuk menyinggung, akan tetapi...”

“Tidak, engkau tidak bersalah, lihiap. Karena engkau tidak tahu. Ketahuilah bahwa aku hanya tinggal seorang diri saja di gedung ini, tentu saja hanya bersama para pengawal dan pelayanku. Tentang keluarga... ah, aku hidup seorang diri, hidup sebagai seorang duda kesepian. Isteriku telah meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan dan semenjak itu, aku hidup dalam dunia yang sepi dan... dan baru sekarang inilah, baru saat ini aku merasa... betapa senangnya hidup...”

“Aihh..., maafkan aku ciangkun.” Kim Hiong Liu-nio berkata dan tidak dapat melanjutklan kata-katanya lagi. Hatinya terharu dan dia merasa makin malu. Kiranya panglima ini adalah seorang duda, tanpa isteri dan tanpa keluarga!

“Kim Hong Liu-nio...!” Tiba-tiba terdengar suara panglima itu, suaranya menggetar dan agak parau, berbeda sekali dengan tadi, dan dalam menyebutkan nama itu, terdapat kemesraan yang mengejutkan. Wanita itu mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertemu menyeberang meja, sampai lama mereka saling pandang seperti hendak menjenguk isi hati masing-masing. Wanita itu tidak menjawab, melainkan memandang dengan penuh penantian, kedua pipinya merah, matanya bersinar-sinar, mulutnya tersenyum malu-malu seolah-olah dia sudah tahu apa yang akan didengarnya dari mulut panglima itu.

“Kim Hong Liu-nio, ketahuilah bahwa aku Lee Siang sejak dahulu suka berterus terang, suka bersikap sebagai laki-laki
sejati dan tidak ingin menyimpan rahasia yang akan mendatangkan derita. Oleh karena itu, sebelumnya, maafkanlah kalau aku terlalu terus terang kepadamu karena aku mengenalmu sebagai seorang wanita perkasa yang tentu juga menghargai kegagahan dan kejujuran...”

“Katakanlah, dan jangan ragu-ragu, ciangkun, akupun suka akan kejujuran...” Hampir wanita itu tidak mengenal suaranya sendiri! Suaranya menjadi gemetar dan agak parau, padahal belum pernah selama hidupnya dia merasakan ketegangan seperti ini. Dan hampir dia tidak berani menatap wajah panglima yang duduk amat dekat di depannya itu, hanya terhalang sebuah meja yang kecil saja, meja yang kini sudah bersih karena mangkok piring telah disingkirkan oleh pelayan. Wajah yang begitu gagah dan tampannya dalam pandang mata Kim Hong Liu-nio, yang membuat jantungnya berdebar tegang dan membuat dia merasa terheran-heran karena seolah-olah dia telah mengenal wajah tampan itu selama hidupnya! Sebaliknya, panglima itu tanpa pernah berkedip menatap wajah yang cantik manis di depannya itu, terutama sekali titik hitam, tahi lalat di dagu bawah bibir itu, membuat wanita itu kelihatan cantik bukan main.

“Liu-nio, aku cinta padamu!” Ucapan itu dikeluarkan dengan ketegasan seorang panglima perang! Demikian tiba-tiba sehingga Kim Hong Liu-nio cepat mengangkat mukanya dan sejenak mereka berpandangan, pandang mata mereka saling melekat dan agaknya sukar untuk dipisahkan lagi.

“Aku cinta padamu, dan perasaan ini timbul semenjak pertama kali aku melihatmu di pintu gerbang istana itu. Tadinya kutahan-tahan, mengingat bahwa aku hanyalah seorang panglima kasar yang sudah duda dan engkau seorang pendekar wanita yang berjasa terhadap sri baginda, akan tetapi makin lama tidak dapat aku menahannya dan kebetulan sekali kita bertemu di luar dinding kota raja. Maka sebelum terlambat, sebelum engkau pergi, kukatakan ini, Liu-nio, bahwa aku cinta padamu!”

Perlahan-lahan Kim Hong Liu-nio tersenyum, lalu menundukkan mukanya, kedua pipinya menjadi merah sekali. Dia merasa betapa hatinya nyaman dan senang sekali, perasaan yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Biasanya, pandang mata pria yang terang-terangan terpesona kepadanya menimbulkan muak dan marah, apalagi kalau sampai ada yang menyatakan cinta dengan kata-kata seperti itu. Tentu akan dibunuhnya, tanpa ampun lagi pria yang berani berlancang mulut mengatakan hal itu kepadanya. Akan tetapi sekali ini, dia merasa diayun ke sorga ke tujuh ketika mendengar pengakuan cinta Panglima Lee Siang.

Tiba-tiba seluruh tubuh Kim Hong Liu-nio terasa panas dingin dan kakinya menggigil ketika dia merasa betapa tangan kanannya yang tadi berada di atas meja telah dipegang oleh sebuah tangan yang besar dan kuat hangat. Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang selain masih perawan, juga selama hidupnya belum pernah dia berdekatan dengan seorang pria, apalagi sampai dipegang tangannya dengan cara yang demikian mesra dan penuh perasaan! Dia mengangkat mukanya. Akan tetapi begitu bertemu pandang dengan sepasang mata Lee Siang yang memandangnya dengan penuh perasaan, dia lalu membuang muka dengan malu, akan tetapi dia tidak menarik tangan kanannya yang digenggam oleh panglima itu.

“Liu-nio kau... sudilah kiranya engkau minum secawan arak ini...” suara panglima itu gemetar dan juga jari-jari tangannya yang menggenggam tangan kecil wanita itu mengeluarkan getaran-getaran yang terasa sampai ke dalam lubuk hati Kim Hong Liu-nio.

Wanita ini menjadi gugup dan malu bukan main, dia tidak berani memandang, tidak berani bicara, hanya menggunakan tangan kirinya untuk menolak cawan yang disodorkan kepadanya.

“Liu-nio, aku tahu betapa lancangnya mulutku dan betapa sukarnya bagi seorang wanita terhormat seperti engkau menjawab pertanyaanku. Maka, biarlah arak dalam cawan ini sebagai lambang cintaku kepadamu, kuhaturkan kepadamu. Kalau engkau menerima cintaku, terima dan minumlah arak ini, kalau engkau menolak berarti engkau menolak cintaku.”

“Aihhh...!” Kim Hong Liu-nio terkejut mendengar itu dan dia menjadi serba salah. Diangkatnya mukanya memandang dan begitu melihat pandang mata panglima itu, dia tahu bahwa dia tidak akan mampu menolaknya! Dia tahu bahwa seluruh jasmaninya, seluruh hatinya, condong kepada panglima itu dan seolah-olah menanti dan rindu akan cinta kasih Panglima Lee Siang! Maka dengan tangan gemetar diterimanya cawan itu lalu sekali tenggak kosonglah cawan itu.

“Kekasihku...!” Lee Siang berseru girang bukan main dan dia cepat bangkit berdiri, memutari meja dan di lain saat dia telah menarik tubuh Kim Hong Liu-nio, ditariknya berdiri, dipeluknya dan seperti ada besi sembrani yang menarik keduanya, tiba-tiba saja mereka telah berciuman!

“Ohhh... ciangkun...!” Kim Hong Liu-nio terisak ketika ciuman itu dilepaskan dan dia lalu menyembunyikan mukanya di dada yang bidang tegap itu.

Sambil memeluk dan mendekap kepala itu, Lee Siang berdongak ke atas. “Terima kasih, Liu-nio, terima kasih atas sambutanmu terhadap cintaku! Akan tetapi di sini tidak leluasa, setiap saat pelayanku dapat masuk. Mari kuantar engkau ke kamarmu, sayang. Malam ini engkau bermalam di sini!”

Seperti orang yang kehilangan semangat dan seluruh tubuhnya lemas seperti tak bertulang lagi, setengah dipondong Kim Hong Liu-nio membiarkan dirinya dibawa ke dalam sebuah kamar, dan ternyata itu adalah kamar panglima itu sendiri! Lee Siang masih merangkul leher Kim Hong Liu-nio dan hanya menggunakan kakinya untuk menutupkan pintu kamar, lalu dia membawa wanita itu ke atas tempat tidur dan mereka terguling di atas pembaringan dalam keadaan saling merangkul.

“Sayangku, kekasihku,, dewiku...” Lee Siang berbisik-bisik dan memeluk, menciumi, membuat Kim Hong Liu-nio seperti mabok dan lupa segala. Akan tetapi ketika merasakan jari-jari tangan itu di tubuhnya, tiba-tiba dia sadar dan dia memegang lengan panglima itu.

“Jangan...! Lee-ciangkun, jangan...!” Katanya dan tiba-tiba wanita itu terisak! Sungguh luar biasa sekali. Semenjak menjadi murid Hek-hiat Mo-li, belum pernah Kim Hong Liu-nio menangis, dan agaknya merupakan pantangan bagi wanita dingin dan ganas itu untuk menangis, menangis terisak-isak seperti seorang perawan di malam pengantin!

“Maafkan aku, Liu-nio. Kenapakah? Bukankah kita sudah saling mencinta dan besok pagi-pagi akan kuumumkan tentang pertunangan kita, dan kita boleh cepat cepat-cepat mengatur hari pernikahan kita. Ah, Liu-nio, kekasihku, aku menghendaki bukti dari cinta kita, aku tidak ingin gagal...” Kembali panglima itu memeluk dengan penuh kemesraan, akan tetapi Kim Hong Liu-nio menolak dengan halus.

“Ciangkun, kalau kau kasihan kepadaku, jangan...!” rintihnya.

Lee Siang memegang kedua pundak wanita itu, memaksanya menghadapinya dan mereka kini saling memandang, wanita itu masih terisak dan menggunakan saputangan di tangan kiri untuk menutupi mulut dan hidungnya, akan tetapi matanya yang basah kemerahan itu menentang wajah Lee Siang penuh permohonan.

“Kim Hong Liu-nio, katakanlah, engkau tadi telah menerima cintaku, bukankah itu berarti bahwa bukan aku saja yang cinta kepadamu, akan tetapi engkau juga cinta kepadaku, bukan?”

Wanita itu mengangguk dengan gerakan kepala tegas.

“Nah, lalu mengapa pula engkau menolak pencurahan cintaku? Liu-nio, lihatlah baik-baik. Aku bukanlah seorang muda lagi. Usiaku sudah empat puluh tahun dan aku sudah menjadi duda! Dan engkau sendiri, sungguhpun engkau kelihatan seperti seorang dara remaja, akan tetapi aku dapat menduga, bahwa engkaupun bukanlah seorang dara ingusan! Maka apa salahnya perbuatan kita ini kalau kita lakukan dengan dasar cinta dan suka sama suka, apalagi setelah kita besok akan bertunangan dan disusul dengan pernikahan? Liu-nio kekasihku, setelah kita saling cinta, apakah engkau masih tidak percaya kepadaku? Kalau aku berlaku curang dalam hubungan kita ini, apa sukarnya engkau dengan kepandaianmu yang tinggi itu membunuhku setiap waktu? Sayang marilah...” Dan dia sudah merangkul lagi dan menciumi bibir wanita itu. Karena gelora nafsunya sendiri, untuk beberapa lamanya Kim Hong Liu-nio tidak menolak, bukan hanya menyerah, bahkan secara halus diapun menunjukkan perasaannya terhadap panglima itu dengan gerakan bibirnya yang membalas ciuman. Akan tetapi kembali dia menolak ketika panglima itu hendak bertindak lebih jauh.

“Lee-ciangkun, sabarlah dulu dan dengarkan baik-baik kata-kataku. Kalau sekarang aku menyerahkan diri kepadamu, kalau aku menuruti permintaanmu, sekali saja, berarti kau tidak akan melihat aku lagi, ciangkun, berarti aku akan mati...”

“Ehhh...!” Lee Siang terkejut bukan main sehingga tiba-tiba dia melepaskan rangkulannya dan bangkit berdiri, memandang wanita cantik yang masih duduk di atas pembaringan dengan rambut dan pakaian kusut itu. “Apa... apa maksudmu...?” Wajah panglima ini berubah pucat dan pandang matanya gelisah sekali. Ucapan kekasihnya itu benar-benar mengejutkan dan membuatnya cemas sekali.

“Ketahuilah, ciangkun,” kata wanita itu setelah menghapus air matanya dan dia menjadi tenang kembali. “Biarpun usiaku sekarang telah tiga puluh lima tahun, akan tetapi sesungguhnya aku masih seorang... perawan yang belum pernah dijamah seorang pria. Selama hidupku baru sekaranglah aku jatuh cinta kepada seorang pria. Dan kaulihatlah ini, apa yang terdapat di daguku ini?”

Mendengar bahwa wanita ini masih seorang perawan, biarpun begitu cantik jelita dan usianya sudah tiga puluh lima tahun, bahkan baru sekarang jatuh cinta, Lee Siang merasa bangga sekali dan dia mengelus dagu itu. “Aku melihat sebuah titik hitam, sebuah tahi lalat yang membuat engkau kelihatan 1ebih manis, sayang!”

“Akan tetapi titik itu adalah titik tanda maut bagiku, ciangkun!”

“Eh?” Seperti meraba api, tangan yang menjamah dagu itu cepat ditarik kembali. “Kenapa begitu?”

“Ketahuilah, titik ini adalah titik tanda keperawananku dan begitu aku menyerahkan diri seorang pria, titik ini akan lenyap dan akupun akan mati di tangan subo atau di tangan suheng. Aku sudah bersumpah demikian, oleh karena itulah maka betapapun aku... aku juga cinta padamu, namun aku tetap tidak dapat menyerahkan diri kepadamu sebelum terpenuhi sumpahku. Kalau sekali saja kulanggar, biarpun aku bersembunyi di seberang lautan sekalipun, aku tidak akan mampu lolos dari tangan maut subo atau suheng.”

“Ah, sungguh penasaran sekali!” Lee Siang menepuk kepalanya sendiri dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar itu. “Penasaran sekali! Mana di dunia ini ada aturan seperti itu? Mana ada subo dan suheng sekejam itu?”

“Kautunggu sebentar, ciangkun, akan kuambilkan barang buktinya dan kau akan mendengarnya nanti.” Wanita itu cepat keluar dari kamar, mengambil buntalannya yang tadi ditaruh di ruangan di mana mereka makan, kemudian dengan cepat dia sudah kembali ke dalam kamar di mana Lee Siang masih kelihatan penasaran sekali. Kim Hong Liu-nio mengambil kayu papan berbentuk salib itu dan memperlihatkannya kepada Lee Siang.

“Inilah yang menjadi sumpahku.”

Lee Siang menerima kayu papan salib itu dan membaca tiga huruf Cia, Tio, dan Yap, dan melihat banyak coretan-coretan di bawah tiga huruf itu. Dia membalik-balikkan salib itu lalu memandang tidak mengerti. “Apa artinya ini?”

Kim Hong Liu-nio menarik napas panjang dan dia lalu duduk di tepi pembaringan, bersanding dengan Lee Siang dan untuk menguatkan hatinya, dia memegang tangan panglima itu. Mereka duduk berdekatan dan saling berpegang tangan, kemudian wanita itu mulai bercerita.

“Belasan tahun yang lalu, aku adalah seorang dayang di istana Raja Sabutai, dan ketika subo dari Sri Baginda Raja Sabutai terluka dan sakit parah setelah bertanding dengan musuh-musuhnya, aku ditugaskan untuk merawat nenek itu. Agaknya nenek itu suka kepadaku maka aku lalu diambil murid. Aku tentu senang sekali karena nenek itu adalah seorang yang sakti dan memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, apalagi dengan menjadi muridnya berarti aku juga menjadi sumoi dari Sri Baginda Raja Sabutai sendiri.”

“Siapakah nama subomu itu?”

“Namanya Hek-hiat Mo-li...”

“Ahh...! Sudah kudengar nama itu, pernah menggemparkan ketika terjadi peristiwa penawanan kaisar dahulu. Jadi engkau adalah sumoi dari Raja Sabutai sendiri? Hebat!”

“Tidak hebat, ciangkun, karena untuk menjadi murid subo aku harus bersumpah dan sumpah itulah yang kini mengikatku, yang membuat aku terpaksa menolak keinginanmu, bahkan menekan gelora hatiku sendiri.”

Lee Siang merangkul pundaknya dan mencium pipinya. “Aku akan memakluminya, moi-moi, cintaku kepadamu melarang aku untuk membikin susah padamu. Lanjutkan ceritamu, apakah sumpah itu?”

“Aku bersumpah bahwa aku tidak akan menikah sebelum aku membunuh tiga orang musuh dari subo dan membunuh orang-orang yang mempunyai tiga she itu. Setelah aku berhasil membunuh tiga orang musuh besar subo itu barulah aku diperbolehkan menikah. Dan titik hitam di daguku ini adalah buatan subo, sebagai tanda keperawananku. Sekali saja aku menyerahkan diriku kepada seorang pria maka tanda ini hilang dan subo tentu akan membunuhku, bahkan kalau subo sudah tidak ada, suhengku, Raja Sabutai yang telah diserahi tugas mewakili subo dan membunuhku.”

Lee Siang mengangguk-angguk. “Pantas... pantas engkau memaksa diri menolakku tadi, moi-moi. Dan aku tidak bisa menyalahkan engkau. Akan tetapi, siapakah musuh-musuh dari subomu itu? Siapa tahu barangkali aku dapat membantumu sehingga pelaksanaan sumpahmu itu dapat segera terpenuhi.”

“Mereka adalah Cia Bun Houw, Yap Kun Liong dan Tio Sun.”

Seketika wajah panglima itu menjadi pucat. “Ahhh...?” Dia memandang wajah kekasihnya dengan mata terbelalak.

“Kau mengenal mereka?”

“Tentu saja! Siapa yang tidak mengenal nama pendekar-pendekar sakti itu? Cia-taihiap dan Yap-taihiap amat terkenal, tidak ada seorangpun tidak pernah mendengar nama mereka, sedangkan Tio Sung kalau tidak salah, bukankah dia itu putera Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan bekas panglima pengawal di istana?”

Kim Hong Liu-nio mengangguk. “Tahukah engkau di mana mereka tinggal?”

“Cia-taihiap dan Yap-taihiap entah berada di mana, akan tetapi aku tahu di mana tinggalnya Tio Sun. Akan tetapi, moi-moi, bagaimana mungkin engkau dapat melawan mereka itu, terutama Cia-taihiap dan Yap-taihiap? Mereka amat sakti! Bahkan kabarnya mendiang Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, subomu itu sendiri, tidak mampu menandingi Cia Bun Houw taihiap!”

Kim Hong Liu-nio mengangguk dengan tenang. “Akan tetapi subo telah membekali aku dengan ilmu yang khas untuk menghadapi mereka itu, ciangkun.”

“Moi-moi, kenapa engkau masih menyebutku ciangkun?”

Kim Hong Liu-nio yang tadinya sudah bersikap dingin ketika membicarakan musuh-musuhnya, kini tersenyum dan wajahnya menjadi hangat kembali. Dia merangkul panglima itu dan berkata manja, “Koko yang baik, kau bantulah aku. Di mana mereka tinggal? Kalau aku dapat membunuh mereka, tentu tidak ada halangan bagi kita...”

Lee Siang mencium mulut dengan dagu yang bertahi lalat manis itu. Sejenak mereka tenggelam ke dalam keasyikan gelora nafsu mereka, kemudian teringat akan sumpah itu, Lee Siang menarik napas dan melepaskan rangkulannya yang hanya akan menambah gelora gairahnya yang akhirnya toh tidak akan dapat tercurahkan dan hanya akan mendatangkan kekecewaan belaka.

“Di mana adanya Cia-taihiap tidak ada yang tahu, akan tetapi aku dapat menyebar penyelidik-penyelidik, moi-moi. Kalau Tio Sun, tadinya dia tinggal di Yen-tai, di bekas rumah mertuanya, akan tetapi sudah tiga bulan ini dia dan keluarganya pindah ke kota raja.”

“Di sini?” Kim Hong Liu-nio memandang wajah kekasihnya dengan berseri. “Bagus sekali, di mana? Biar aku ke sana sekarang juga.”

“Jangan tergesa-gesa...!”

“Mengapa tidak? Biar berkurang satu tiga orang musuh besar subo itu, tinggal mencari yang dua lagi.”

“Moi-moi, Tio Sun adalah putera dari mendiang Ban-kin-kwi, seorang yang amat tinggi ilmu kepandaiannya dan kabarnya Tio Sun bahkan tidak kalah lihai oleh ayahnya itu. Juga isterinya memiliki kepandaian tinggi. Apa kau merasa yakin bahwa kau akan mampu menandinginya?”

Kim Hong Liu-nio mengangguk.

“Tapi, jangan sekarang. Biar malam ini kau beristirahat di sini, besok saja kau pergi mencari dia.” Lee Siang tetap menahannya. “Moi-moi, kalau kau pergi aku khawatir sekali...” Panglima yang sudah kegilaan itu merangkul lagi. Akan tetapi tiba-tiba Kim Hong Liu-nio mendorongnya agak keras dan sebelum panglima itu lenyap rasa kagetnya, wanita itu telah meloncat ke pintu kamar itu dan mendorongnya terbuka. Akan tetapi tidak nampak siapa-siapa di situ, hanya nampak sebatang hui-to (pisau terbang) yang menancap di pintu kamar itu, masih tergetar dan di bawah pisau itu terdapat sehelai surat. Kim Hong Liu-nio mencabut pisau itu dan membawa pisau dan surat ke dalam kamar kembali.

“Dari... dari mana pisau itu?” tanya Lee Siang.

“Dilemparkan oleh seorang yang berkepandaian tinggi, berikut suratnya,” jawab Kim Hong Liu-nio dengan tenang. Lee Siang adalah seorang panglima pengawal yang juga memiliki kepandaian, maka dia menjadi marah sekali.

“Biar kukejar dia, kusiapkan pengawal-pengawal!”

“Percuma, koko. Dia sudah pergi jauh. Dia telah melemparkan pisau itu dengan tenaga sin-kang yang amat tinggi sehingga pisau itu bisa mencari sasarannya sendiri ke pintu ini, orangnya tentu berada di atas genteng dan sekarang sudah pergi jauh.”

Akan tetapi Lee Siang merasa penasaran. Belum pernah rumahnya ada yang berani ganggu, maka dia lalu berlari keluar, hanya dipandang saja oleh wanita itu sambil tersenyum, Kim Hong Liu-nio tidak mengikuti kekasihnya, hanya membuka kertas berlipat itu yang ternyata adalah sehelai surat.

Tak lama kemudian Lee Siang sudah masuk kembali dengan alis berkerut dan wajah penasaran. “Engkau benar, moi-moi, tidak ada tanda sedikitpun juga. Eh, surat apakah itu?”

Kim Hong Liu-nio sudah membaca surat itu dan dengan tenang dia menyerahkan sehelai surat itu kepada Lee Siang yang segera membacanya di bawah penerangan lampu dalam kamar itu.

Kim Hong Liu-nio,
Kalau dalam waktu tiga hari engkau belum datang ke hutan pertama di sebelah utara pintu gerbang kota raja untuk bertanding satu lawan satu dengan aku, terpaksa aku akan datang mengunjungimu di gedung Lee-ciangkun pada malam ke empat.

Hwa-i Kai-pangcu


“Ahhh...! Sungguh berani dia!” Lee Siang berseru sambil mengepal tinju dan meremas surat itu. “Akan kukerahkan pasukan untuk...”

“Jangan, koko. Lihat, dia menantangku secara gagah untuk bertanding satu lawan satu. Kalau engkau mengerahkan pasukan, bukankah sama halnya dengan aku menjadi takut dan hendak bersembunyi di balik keangkeran pasukanmu? Sungguh mencemarkan namaku kalau begitu, koko.”

“Habis, bagaimana?”

“Besok pagi-pagi aku akan pergi ke hutan untuk membunuhnya!”

“Kaukira siapa dia itu? Ketua kai-pang itu amat lihai!”

“Aku tidak takut.”

Tiba-tiba Lee Siang memandang kekasihnya dengan wajah berseri. “Ah? Kenapa tidak? Dia akan datang ke sini pada malam ke empat. Bagus, kita adu domba mereka dan engkau akan dapat melenyapkan seorang musuh besarmu tanpa menimbulkan keributan.” Dengan girang panglima itu lalu merangkul kekasihnya dan hendak menciumnya.

“Nanti dulu, koko.” Kim Hong Liu-nio mengelak. “Katakan dulu apa maksudmu?”

“Begini, moi-moi,” panglima itu menuntun kekasihnya dan mereka kembali duduk berdampingan di tepi pembaringan. “Aku akan mengundang Tio Sun untuk membantuku. Kukatakan bahwa aku diancam oleh seorang penjahat lihai. Dan kalau pada malam ke empat itu pangcu itu datang, biarlah dia bertanding melawan Tio Sun. Nah, di situ kau turun tangan membunuh musuh subomu itu. Kemudian kita menyiarkan bahwa Tio Sun terbunuh oleh Hwa-i Kai-pang. Bukankan itu baik sekali, berarti sekali tepuk memperoleh dua ekor lalat?”

Kim Hong Liu-nio mengangguk-angguk. “Aih, ternyata engkau hebat dan pandai bersiasat koko.”

Demikianlah, semalam suntuk dua orang laki-laki dan wanita yang sudah lebih dari dewasa ini seperti pengantin baru di dalam kamar itu, hanya mereka tidak melampaui garis yang akan mengakibatkan lenyapnya tahi lalat di dagu wanita itu. Bagaikan api yang diberi umpan, nafsu yang ditahan-tahan akan menjadi makin berkobar ganas. Dan orang yang sudah dicengkeram nafsunya sendiri akan menjadi seperti buta. Lee Siang, seorang panglima pengawal istana yang selalu menjunjung kegagahan, karena cengkeraman nafsunya, kini hanya mempunyai satu tujuan, yaitu menyingkirkan penghalang-penghalang agar dia dapat segera memiliki wanita itu menjadi isterinya, dan dalam usaha menyingkirkan penghalang-penghalang ini tentu saja dia tidak lagi memperhitungkan baik buruknya! Orang yang mabok akan keinginan mengejar sesuatu, mana mungkin ada yang mau memperdulikan baik buruk dari caranya mengejar untuk memperoleh itu?

***




Tio Sun adalah seorang pendekar yang tidak terkenal karena memang pendekar ini tidak pernah menonjolkan dirinya dan semenjak dia menikah dengan isterinya yang tercinta, dia tidak pernah mau mencampuri urusan kang-ouw sehingga namanya tidak begitu menonjoi dan tidak dikenal umum, kecuali hanya oleh orang-orang kang-ouw tertentu saja.

Padahal, Tio Sun adalah seorang pendekar yang lihai sekali. Usianya sudah tiga puluh tiga tahun, melihat pakaiannya yang sederhana dan dia suka dengan warna kuning, orang tidak akan menyangka bahwa dia adalah putera tunggal mendlang Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, jagoan istana yang pernah menjulang tinggi namanya. Tio Sun bukan seorang pria yang tampan, akan tetapi dia memiliki sifat gagah dan jantan, pendiam, halus budi, berhati mulia, bersikap tegas dan jujur. Kedua matanya yang sipit itu seperti orang yang mengantuk selalu, akan tetapi dari balik mata sipit itu bersinar pandang mata yang tajam dan penuh kewaspadaan.

Sudah kurang lebih sebelas tahun pendekar ini menikah dengan Souw Kwi Eng, seorang gadis yang luar biasa cantiknya, yang memiliki kecantikan yang khas, karena Souw Kwi Eng ini seorang gadis peranakan, ibunya pribumi dan ayahnya seorang asing, yaitu seorang berbangsa Portugis yang bernama Yuan De Gama. Souw Kwi Eng ini juga mempunyai nama Portugis, yaitu Maria De Gama.

Para pembaca cerita Si Dewi Maut tentu sudah mengenal baik suami isteri Tio Sun dan Souw Kwi Eng ini, karena keduanya juga merupakan tokoh-tokoh penting dalam cerita Si Dewi Maut itu. Seperti telah diceritakan dalam cerita Dewi Maut, Souw Kwi Eng adalah seorang anak kembar, yaitu dengan saudaranya atau kakaknya yang bernama Souw Kwi Beng alias Ricardo De Gama.

Karena ayah mertuanya adalah seorang pedagang yang kaya, sedangkan dia sendiri sudah sebatangkara, maka setelah menikah, Tio Sun tinggal di kota Yen-tai di pelabuhan Po-hai di mana ayah mertuanya tinggal dan di situ dia membantu pekerjaan ayahnya bersama iparnya, yaitu Souw Kwi Beng. Dia tinggal di Yen-tai dengan tentram dan hidup saling mencinta dengan istrinya, sampai anak tunggal mereka lahir dua tahun setelah mereka menikah. Tentu saja kelahiran Tio Pek Lian, anak perempuan mereka itu, makin membahagiakan suami isteri itu, bahkan anak ini amat disayang oleh kakek dan neneknya, juga oleh pamannya yang tinggal serumah.



Kemudian, setelah Tio Pek Lian berusia sembilan tahun, terjadilah perubahan. Yuan De Gama bersama isterinya, yaitu bekas pendekar wanita Souw Li Hwa yang menjadi murid dari panglima sakti The Hoo yang merasa sudah tua dan rindu kepada tanah airnya di Eropa, lalu mengajak isterinya itu untuk pulang ke Portugis. Semua pekerjaan ditinggalkan kepada Souw Kwi Beng yang tetap tinggal di Yen-tai. Kemudian, perdagangan itu membutuhkan perwakilan di kota raja, maka Tio Sun dan isteri serta puterinya lalu pindah ke kota raja sebagai cabang dari perusahaan iparnya di Yen-tai itu.

Demikianlah, tanpa banyak ribut dan tanpa diketahui orang, Tio Sun pendekar putera mendiang seorang jagoan istana itu kini tinggal di kota raja dengan diam-diam, bersama dengan isterinya dan puterinya yang telah berusia sembilan tahun. Di kota raja Tio Sun membuka toko dan menjual dagangan-dagangan yang didatangkan dari luar negeri oleh iparnya di Yen-tai. Hidupnya cukup tentram dan suami isteri ini mulai mendidik puteri mereka dengan ilmu silat karena selain Tio Sun sendiri adalah seorang pendekar yang pandai, juga isterinya, Souw Kwi Eng, adalah seorang pendekar wanita yang lihai pula. Tentu saja di samping pendidikan ilmu silat, Tio Sun tidak melupakan pendidikan ilmu baca tulis kepada puterinya, sedangkan Souw Kwi Eng juga tidak melupakan untuk memberi pelajaran segala macam kepandaian puteri kepada Pek Lian.

Segala sesuatu berjalan lancar dan keluarga ini sama sekali tidak mengira bahwa perpindahan mereka dari Yen-tai ke kota raja itu diam-diam diketahui oleh para tokoh di istana, termasuk pula Panglima Lee Siang. Betapapun juga, nama mendiang ayah Tio Sun, yaitu Ban-kin-kwi (Iblis Selaksa Kati) Tio Hok Gwan, terlampau terkenal untuk melewatkan putera tunggalnya begitu saja. Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan adalah pembantu yang dipercaya oleh mendiang Panglima Besar The Hoo, maka tentu tentu saja biarpun dia sudah tidak ada, namun puteranya masih diperhatikan oleh para tokoh di istana, sungguhpun pendekar ini tidak diganggu karena dia telah menjadi seorang pedagang.

Baru tiga bulan semenjak Tio Sun pindah ke kota raja, pada suatu pagi muncullah Panglima Lee Siang yang berpakaian seperti penduduk biasa ke rumah pendekar ini. Tio Sun tidak mengenal Lee Siang, maka dia memandang heran ketika tamu itu memperkenalkan diri sebagai panglima pengawal Lee Siang!

Sebagai seorang yang sopan dan ramah, Tio Sun lalu mempersilakan tamunya duduk di ruangan tamu. Setelah saling memberi hormat dan duduk berhadapan, Lee Siang lalu berkata, “Harap Tio-taihiap suka memaafkan saya kalau kedatangan saya ini mengganggu. Saya datang bukan sebagai panglima pengawal istana, melainkan sebagai seorang sahabat yang amat menghormat dan mengagumi mendiang ayah taihiap.”

Tio Sun merasa seperti pernah mengepal wajah itu, maka dia lalu teringat kepada Panglima Lee Cin, juga Panglima Kim-i-kwi dari istana. “Maafkan saya, akan tetapi rasanya saya belum pernah berkenalan dengan ciangkun.”

“Nama saya Lee Siang...”

“Ah, apakah masih ada hubungan dengan Panglima Lee Cin?”

“Lee Cin adalah kakak saya.”

“Ahh...!” Tio Sun tersenyum girang. “Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa saya menerima kunjungan dari Lee-ciangkun. Tidak tahu ada urusan apakah yang membawa ciangkun datang ke tempat kami ini?”

“Sekali lagi maaf, taihiap. Kedatanganku ini hanya mengganggu saja, akan tetapi karena saya sudah merasa putus asa dan gelisah sekali, maka mendengar bahwa taihiap kini tinggal di kota raja, maka saya teringat akan mendiang ayah taihiap yang berjiwa pendekar dan selalu menolong siapa saja yang sedang menghadapi kesukaran. Karena saya sedang terancam bahaya mohon pertolongan taihiap untuk menyelamatkan saya.”

Tio Sun tersenyum tenang, menganggap omongan itu seperti kelakar saja. “Aih, Lee-ciangkun, harap jangan main-main. Ciangkun adalah seorang Panglima Kim-i-wi siapakah yang berani main-main dengan ciangkun? Bagaimana mungkin keselamatan ciangkun terancam bahaya sedangkan ciangkun menguasai pasukan Kim-i-wi yang terkenal kuat?”

Lee Siang menarik napas panjang. “Itulah susahnya, taihiap. Karena saya seorang panglima, maka saya tidak mau membawa-bawa nama Kim-i-wi, karena kalau hal itu diketahui oleh sri baginda kaisar, tentu saya akan mendapat hukuman. Urusan ini adalah urusan pribadi, maka saya datang kepada taihiap juga dengan pakaian preman, sebagai Lee Siang yang pernah mengagumi ayah taihiap dan yang hendak minta tolong kepadamu, bukan sebagai seorang Panglima Kim-i-wi.”

Karena Lee Siang menyebut-nyebut nama mendiang ayahnya, dan mengingat bahwa panglima ini adalah adik dari Panglima Lee Cin yang dikenalnya dan dihormatinya, maka Tio Sun lalu berkata, “Harap ciangkun ceritakan apakah sebenarnya urusan itu? Mungkin tanpa bantuanku juga engkau akan dapat membereskannya.”

“Urusan ini adalah urusan pribadi, yang mula-mulanya timbul dari urusan seorang wanita, taihiap. Karena itulah maka saya tidak berani memberitahukan orang lain, karena malu, dan apalagi kalau harus menggunakan Kim-i-wi! Mungkin taihiap sudah mendengar tentang seorang pangeran putera dari sri baginda kaisar dari utara yang baru saja datang bersama seorang wanita pengawalnya dan yang telah menyelamatkan kaisar dari pengkhianatan, bukan?”

Tio Sun tersenyum. Dia sudah mendengar akan hal itu dan dia tahu pula siapa pangeran itu. Siapa lagi kalau bukan putera Ratu Khamila di utara? Dahulu, bersama Souw Kwi Beng yang belum menjadi iparnya, dia pernah pergi ke utara dan menjadi tamu dari Sabutai, dan dia telah bertemu Ratu Khamila yang minta dia menyampaikan pesan ratu cantik itu setelah menjenguk puteranya, agar diberitakan kepada kaisar bahwa puteranya itu mempunyai tahi lalat merah di sebelah kanan pusarnya (baca cerita Si Dewi Maut). Tentu saja dia sudah menduga bahwa putera Ratu Khamila itu adalah keturunan kaisar ketika kaisar ditawan dahulu. Dan kini, putera kaisar itu sudah hampir dewasa, malah bersama pengawal wanitanya yang kabarnya lihai itu telah menyelamatkan kaisar, ayah kandungnya.

“Saya sudah mendengar tentang itu, Lee-ciangkun.”

Lee Siang menarik napas panjang. Mudah bicara dengan pendekar ini yang pendiam akan tetapi penuh pengertian.

“Nah, wanita itu bernama Kim Hong Liu-nio, pengawal dari sang pangeran. Sebelum menghadap ke istana, Kim Hong Liu-nio telah salah faham dengan Hwa-i Kai-pang sehingga terjadi pertempuran dan fihak Hwa-i Kai-pang kalah. Akan tetapi, fihak Hwa-i Kai-pang tidak menerima kekalahan itu dan ketika Kim Hong Liu-nio hendak keluar kota raja, dia dikepung dan dikeroyok. Untung saya datang dan saya melerai mereka, lalu menyelamatkan Kim Hong Liu-nio ke rumah saya. Dan kami... eh, mungkin taihiap belum mendengar bahwa sudah beberapa lama saya hidup menduda setelah isteri saya meninggal tanpa mempunyai keturunan. Saya dan Kim Hong Liu-nio... eh, kami saling tertarik dan saya bertekad melindunginya dari ancaman Hwa-i Kai-pang.”

Tio Sun mengangguk-angguk. Panglima ini biarpun usianya sudah kurang lebih empat puluh tahun, akan tetapi masih tampan gagah dan duda, berkedudukan baik pula, maka tidaklah mengherankan kalau panglima ini main asmara dengan seorang wanita. “Lalu apa hubungannya semua itu dengan saya, ciangkun?”

“Beberapa hari yang lalu, kami menerima surat ini, dilempar dengan pisau yang menancap di pintu kamar saya.” Lee Siang mengeluarkan sehelai surat itu dan menyerahkannya kepada Tio Sun.

Pendekar itu dengan tenang membacanya. Itu adalah surat tantangan yang ditulis oleh Hwa-i Kai-pangcu dan ditujukan kepada Kim Hong Liu-nio itu. Setelah membaca surat tantangan itu dan maklum bahwa malam nanti adalah malam ke empat yang dimaksudkan itu, Tio Sun mengerutkan alisnya dan memandang wajah panglima itu dengan tajam menyelidik.

“Saya masih belum mengerti apa hubungannya surat tantangan itu dengan saya, Lee-ciangkun.”

“Saya gelisah sekali, taihiap. Saya tidak ingin dia... dia yang saya harapkan menjadi isteri saya... melakukan sesuatu yang menggegerkan kota raja. Dan terutama sekali saya khawatir kalau dia celaka, karena saya mendengar bahwa ketua Hwa-i Kai-pang adalah seorang yang amat lihai.”

“Ciangkun, saya sudah mendengar bahwa Kim Hong Liu-nio, pengawal pangeran dari utara itu berkepandaian tinggi apalagi yang perlu dikhawatirkan?”

“Saya takut kalau-kalau dia celaka dalam pertemuan itu, dan andaikata dia menang dan ketua Hwa-i Kai-pang yang tewas, juga tentu hal itu menimbulkan geger. Maka saya telah mencegah dia pergi keluar kota raja, dan saya lalu teringat kepadamu dan tergesa-gesa saya mohon pertolonganmu, taihiap.”

“Hemm, apakah yang dapat saya lakukan dalam urusan permusuhan pribadi ini?” tanya Tio Sun. Tentu saja dia tidak dapat membantu satu fihak karena dia tidak tahu urusannya. Dia mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang adalah perkumpulan pengemis yang besar dan berpengaruh sekali, dan belum pernah terdengar melakukan kejahatan-kejahatan di kota raja, sungguhpun di kalangan kang-ouw juga tidak mempunyai nama yang harum. Sebaliknya, dia tidak kenal sama sekali kepada wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio itu, dan kalau hanya karena wanita itu adalah kekasih Lee Siang lalu dia membantu wanita itu, sungguh hal ini sama sekali tidak mungkin.

“Begini, taihiap. Saya hanya mohon kepada taihiap sudilah kiranya menerima kedatangan ketua Hwa-i Kai-pang itu dan mendamaikan. Mungkin melihat taihiap, apalagi kalau tahu bahwa taihiap adalah putera mendiang Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, saya percaya bahwa ketua Hwa-i Kai-pang itu mau menyudahi saja urusan permusuhan yang tak berarti itu.”

Tio Sun mengerutkan alisnya, berpikir-pikir. Permintaan itu sudah sepatutnya. Tiba-tiba dia tertarik dan sebagai orang penengah tentu saja dia tidak berkeberatan, akan tetapi sebagai penengah dia harus mengetahui pula apakah yang menimbulkan permusuhan itu. “Mengapa Kim Hong Liu-nio sampai bermusuhan dengan Hwa-i Kai-pang?”

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba ini, Lee Siang agak terkejut juga. Akan tetapi urusan ini memang sebelumnya telah dia rencanakan, maka untuk itu diapun sudah menyediakan jawabannya. Dia menarik napas panjang dan kemudian berkata, “Aahh, sesungguhnya hanya urusan sepele saja, taihiap. Dan bersumber kepada pangeran dari utara itu. Terjadinya di kota Huai-lai ketika Kim Hong Liu-nio mengantarkan Pangeran Ceng Han Houw ke kota raja. Di kota itu, mereka bertemu dengan seorang pengemis kotor yang minta sedekah ketika mereka sedang makan di restoran. Pangeran Ceng Han Houw merasa jijik melihat pengemis yang kakinya luka dan dirubung lalat itu, maka Kim Hong Liunio lalu mengusirnya. Akan tetapi ternyata pengemis itu adalah seorang yang memiliki kepandaian dan dia malah mengeluarkan kata-kata menghina sehingga terjadilah pertempuran antara mereka. Dan engkau tahu, taihiap, jika dua orang yang memiliki ilmu silat sudah bertanding dengan marah, maka tentu seorang di antaranya menjadi korban. Pengemis itu roboh dan tewas. Kim Hong Liu-nio lalu mengajak sang pangeran cepat-cepat ke kota raja, mengira bahwa urusan itu sudah tidak berekor lagi karena pengemis itu tidak memakai pakaian sebagai anggauta Hwa-i Kai-pang. Akan tetapi ternyata ada tiga orang tokoh Hwa-i Kai-pang yang mengejar dan membikin ribut, minta kepada Kim Hong Liu-nio untuk menyerahkan tangannya. Terjadilah lagi pertempuran dan tiga orang pengemis itu dapat diusir. Lalu panjanglah akibatnya sampai wanita itu dikepung di luar kota raja dan saya kebetulan lewat lalu melerai. Nah, itulah sebabnya sehingga kini ketuanya mengirim surat tantangan itu.”



Tio Sun menarik napas panjang. Biasa sudah, urusan orang kang-ouw yang semua didasari keangkuhan, tidak mau saling mengalah, mengandalkan kepandaian, lalu kalau sudah ada yang menjadi korban, timbul dendam dan balas-membalas! Betapa dia sudah bosan dengan semua itu dan karena itu pulalah maka dia dan isterinya, biarpun keduanya merupakan pendekar-pendekar lihai, semenjak menikah sudah mengundurkan diri dan tidak mau mencampuri urusan kang-ouw.

Melihat pendekar itu termenung, Panglima Lee Siang cepat berkata, “Bagaimana, taihiap? Harap taihiap sudi menaruh kasihan kepada kami dan sudi menolong kami.”

“Lee-ciangkun, sebenarnya hal ini tidak ada sangkut-pautnya dengan saya, akan tetapi kalau hanya menjadi orang penengah saja, tentu saya tidak keberatan. Akan tetapi, bagaimana kalau dia, ketua Hwa-i Kai-pang itu, tidak mau didamaikan?”

“Kalau begitu, terserah kepada mereka berdua, hanya saya harap taihiap sudi melindungi saya karena siapa tahu ketua pengemis itu, kalau-kalau mendendam pula kepada saya yang menyelamatkan Kim Hong Liu-nio ketika dikeroyok. Saya tidak mungkin dapat menggunakan pasukan untuk urusan pribadi ini, taihiap. Dan pula... saya minta dengan hormat sudilah kiranya taihiap merahasiakan urusan pribadi saya dengan Kim Hong Liu-nio! Saya tidak ingin didesas-desuskan, sesungguhnya saya mengharapkan dia menjadi calon isteri saya kelak.”

Tio Sun tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, ciangkun.”

Lee Siang cepat bangkit berdiri dan menjura sampai dalam, sehingga Tio Sun juga segera membalasnya. “Terima kasih, Tio-taihiap, terima kasih. Saya harap setelah lewat senja taihiap benar-benar datang ke gedung saya, dan kepada hujin (nyonya) sekalipun, harap taihiap jangan menceritakan urusan pribadi saya itu. Saya malu...”

“Saya mengerti, ciangkun. Nanti begitu malam tiba, saya mengunjungi ciangkun.”

Panglima itu lalu berpamit dengan wajah girang, dan Tio Sun lalu masuk ke dalam rumahnya. Isteri dan puterinya menyambutnya dan Tio Sun lalu memondong puterinya yang sudah berusia sembilan tahun itu. Pek Lian tertawa girang dan isterinya mengomel, “Ih, anak sudah begini besar dipondong, bikin dia tambah manja saja!”

“Ah, Pek Lian tidak manja, ya? Ayah menggendong karena sayang, bukan memanjakan!”

Pek Lian mengangguk-angguk dan mengerling kepada ibunya. “Aku tidak minta dipondong, ibu. Ayah sendiri yang memondongku, apa tidak boleh?”

Dikeroyok dua begini, Souw Kwi Eng atau nyonya Tio Sun itu tersenyum saja, lalu dia bertanya, “Siapa sih orang tadi? Kulihat dia bukan seorang pedagang langganan atau kenalan kita, akan tetapi kalian bicara demikian serius!”

“Oh, dia? Dia adalah Panglima Lee Siang, adik dari Panglima Kwi-i-wi Lee Cin. Masih ingatkah kau kepada Panglima Lee Cin?”

“Ah, Panglima? Kenapa dia berpakaian preman, dan apa pula maksudnya mengunjungi kita?” Kwi Eng bertanya dengan curiga. Selama ini mereka hanya mengurus perdagangan, kenapa ada Panglima Kim-i-wi mengunjungi suaminya dan bicara demikian serius?

Diam-diam Tio Sun memasukkan surat tantangan yang tadi lupa tidak dibawa pergi oleh Lee Siang dan masih digenggamnya itu ke dalam saku bajunya tanpa sepengetahuan isterinya, kemudian sambil duduk memangku Pek Lian dia berkata, “Dia datang minta tolong kepadaku untuk mendamaikan urusan. Dia mempunyai sedikit salah paham dengan ketua Hwa-i Kai-pang dan minta kepadaku untuk mendamaikan urusan itu.”

“Ketua Hwa-i Kai-pang? Ihh, perkumpulan itu tidak berbau harum. Suamiku, urusan apakah yang perlu kaudamaikan itu?”

Tio Sun sudah menduga bahwa tentu isterinya akan mendesak terus, dan tidak ada gunanya bagi dia untuk berbohong. Maka dia lalu menceritakan urusan itu, yaitu betapa ketua Hwa-i Kai-pang merasa tidak senang karena Panglima Lee Siang telah menolong seorang musuh Hwa-i Kai-pang ketika para pengemis di luar pintu gerbang. Dan kini ketua Hwa-i Kai-ipang mengancam, maka Panglima Lee Siang yang tidak ingin menimbulkan keributan lalu minta kepada dia untuk menjadi orang penengah.

“Mengapa justeru kau yang dimintainya tolong? Bukankah dia itu panglima dan banyak mengenal orang pandai di sini?”

“Dia adalah pengagum mendiang ayah. Maklumlah sama-sama panglima pengawal. Kukira tidak ada jahatnya kalau hanya menjadi penengah saja, isteriku. Urusan kecil ini tidak perlu kaukhawatirkan.” hatinya lega karena isterinya tidak tertarik tentang orang yang dikeroyok oleh para pengemis dan yang menjadi biang keladi urusan itu.

Setelah mandi, tukar pakaian dan makan malam, Tio Sun lalu berpamit kepada isterinya dan dengan tenang dia lalu pergi ke rumah gedung Panglima Lee Siang yang mudah saja ditemukannya di antara rumah-rumah para pembesar istana. Rumah itu sunyi saja dan lampu-lampu telah menyambut datangnya malam.

Panglima Lee Siang sendiri menyambut kedatangannya dan agaknya memang panglima itu telah menanti di rumah depan. Dari wajahnya nampak betapa panglima itu sedang gelisah dan begitu menyambut Tio Sun, dia lalu menggandeng tangan pendekar itu dan diajaknya masuk ke dalam, langsung memasuki sebuah ruangan yang agaknya sengaja dikosongkan, dan di situ hanya terdapat sebuah meja dengan dua bangku untuk mereka berdua. Ketika Lee Siang menyuruh pelayan mengeluarkan hidangan, Tio Sun cepat mencegah dengan mengatakan bahwa dia sudah makam malam sebetum berangkat. Panglima Lee Siang lalu menyuruh pelayannya mengambilkan dua cawan dan seguci arak.

“Ah, hati saya lega bukan main, Tio-taihiap!” kata panglima itu sambil menuangkan arak ke dalam cawan dengan tangan gemetar.

Melihat ini, Tio Sun yang bersikap tenang itu tersenyum menghibur,”Tenanglah, ciangkun, mengapa gelisah? Bukankah kita akan menawarkan perdamaian dan bukan hendak menyambut orang dengan kekerasan? Akan tetapi sunyi benar gedungmu ini?”

“Saya sengaja menyuruh para pelayan menyingkir agar percakapan kita nanti tidak sampai terdengar orang. Akan tetapi jangan khawatir, diam-diam saya sudah mempersiapkan pasukan pengawal, kalau-kalau tamu kita nanti menggunakan kekerasan. Akan tetapi talhiap berjanji akan melindungi saya, bukan?”

Tio Sun mengangguk dan menerima cawan arak yang disuguhkan tuan rumah, lalu meminumnya. “Saya kira tidak perlu, karena saya yakin ketua itu tidak akan menggunakan kekerasan kepadamu, ciangkun. Akan tetapi... eh, mana dia wanita pengawal dari utara itu? Bukankah dia yang dicari?”

“Ah, saya suruh dia bersembunyi dulu, taihiap. Kalau melihat dia, salah-salah urusan menjadi panas dan sukar didamaikan. Kalau sudah buntu jalan, barulah dia akan muncul. Sebaiknya tidak mempertemukan dulu dua orang yang saling marah dan mendendam, bukan?”

Tio Sun mengangguk, setuju. Lee Siang yang kelihatan selalu gelisah itu lalu hendak menutupi kegelisahannya dengan membicarakan urusan dahulu, di waktu Tio Sun masih terjun di dunia kang-ouw, bersama-sama dengan pendekar-pendekar sakti seperti Cia Bun Houw, Yap Kun Liong, Yap In Hong, dan yang lain-lain. Secara cerdik dan sepintas lalu seolah-olah tidak sengaja dan hanya ingin mengisi waktu yang menegangkan itu dengan percakapan, Lee Siang mencari keterangan tentang pendekar-pendekar yang lainnya itu. Mula-mula dia menanyakan tentang pendekar tua Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai. Kemudian dia dengan hati-hati menanyaka di mana adanya putera ketua Cin-ling-pai itu, yaitu pendekar Cia Bun Houw dan pendekar Yap Kun Liong!

“Setahu saya, Yap Kun Liong taihiap tinggal di Leng-kok, akan tetapi tentang Cia-taihiap, entah dia berada di mana. Semenjak kembali dari utara, dia menghilang bersama Yap In Hong lihiap, entah mereka berada di mana.”

Diam-diam giranglah hati Lee Siang karena dia sudah mendapat keterangan di mana adanya Yap Kun Liong, seorang di antara musuh-musuh yang harus dibasmi oleh kekasihnya! Dan pada saat itu, Tio Sun menaruh telunjuk di depan bibirnya nambil memasang telinga dan matanya yang sipit itu seperti terpejam, seluruh panca inderanya ditujukan ke atas karena pendengarannya yang terlatih dan lebih tajam daripada pendengaran tuan rumah itu menangkap suara yang tidak wajar.

Wajah Lee Siang menjadi pucat. Jelas bahwa dia kelihatan gelisah sekali! Diam-diam Tio Sun merasa heran mengapa tuan rumah ini, adik dari Panglima Lee Cin yang gagah berani, juga seorang Panglima Kwi-i-wi, ternyata demikian kecil nyalinya! Dan pada saat itu, terdengarlah suata dari atas, suara yang jelas sekali akan tetapi perlahan, seolah-olah orangnya yang bicara itu berada dekat di dalam kamar itu! Seperti setan tidak kelihatan yang bicara! Akan tetapi Tio Sun terkejut karena dia maklum bahwa orang itu telah menggunakan ilmu Coan-im-jip-bit, yaitu ilmu khi-kang, dengan tenaga sakti di dalam pusar telah mendorong keluar suara menjadi getaran yang mampu menempuh jarak jauh biarpun hanya diucapkan dengan lirih!

“Kim Hong Liu-nio, keluarlah dan jangan bersembunyi di balik perlindungan seorang panglima!”

Tio Sun mengerutkan alisnya. Dari suaranya saja sudah dapat diduga bahwa orang yang mengeluarkan suara itu adalah seorang yang tinggi hati, angkuh dan merasa tidak perlu menghormati seorang panglima istana! Bahkan ada nada mengejek di dalam suara itu terhadap Lee-ciangkun tanpa menyebut nama! Akan tetapi dia diam saja, menanti perkembangan lebih lanjut, karena bukankah tugasnya hanya melerai dan menengahi, kalau mungkin mendamaikan kedua fihak yang sedang bersengketa.

TIBA-TIBA terdengar Lee Siang berkata, suaranya cukup nyaring, tidak nampak lagi sisa ketegangan dan kegelisahannya yang tadi, “Apakah yang datang itu adalah Hwa-i Kai-pangcu?” Suaranya nyaring dan sudah pasti terdengar oleh orang yang berada di atas.

Kembali terdengar suara lirih tadi, namun jelas sekali, penuh kewibawaan, “Kami adalah ketua Hwa-i Kai-pang, dan kami datang hanya untuk berurusan dengan wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio!”

Sebelum Tio Sun dapat memikirkan harus berkata apa, kembali Lee Siang sudah berkata nyaring. “Pangcu, harap kau turun saja. Kami sudah menanti di ruangan ini! Marilah kita bicara!” Suara panglima itu kini terdengar keras, tegas dan galak, bahkan seperti orang menantang sehingga Tio Sun kembali merasa heran dan ketika dia mengerling, dia melihat panglima itu sama sekali tidak kelihatan takut lagi! Diam-diam dia merasa geli juga. Tadi sebelum orangnya datang panglima itu kelihatan begitu ketakutan, akan tetapi sekarang setelah orangnya datang dan telah mendemonstrasikan Ilmu Coan-im-jip-bit yang membayangkan kepandaian tinggi, panglima ini malah berkaok-kaok menantang! Sungguh tak tahu diri!

Akan tetapi dia tidak memperhatikan lagi kepada panglima itu karena seluruh perhatiannya dicurahkan untuk menangkap gerakan yang kini terdengar. Angin menyambar dan bagaikan seekor burung saja, berkelebatlah sesosok bayangan orang dan tahu-tahu di dalam ruangan itu telah berdiri seorang kakek. Aneh sekali kakek ini, terutama pakaiannya karena dia memakai pakaian baru yang penuh tambal-tambalan belang-bonteng dan berkembang-kembang, menyolok sekali. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat butut. Pakaiannya yang penuh tambalan itu masih baru, dan memang sengaja ditambal-tambal, juga sepatunya baru. Tubuhnya pendek kecil, rambutnya digelung ke atas dan mukanya seperti muka tikus karena selain kecil sempit juga agak meruncing ke depan, di bagian mulutnya merupakan ujungnya, dan sepasang matanya yang kecil itu tiada hentinya bergerak-gerak. Berbeda dengan tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang lainnya yang menandai tingkat atau kedudukan mereka dalam perkumpulan itu dengan banyaknya buntalan di punggungnya, kakek ini sama sekali tidak menggendong buntalan. Justeru inilah tanda bahwa dia adalah tokoh nomor satu atau ketua dari Hwa-i Kai-pang! Dan seperti semua ketua Hwa-i Kai-pang, setelah menjadi ketua maka dia meninggalkan nama sendiri, dan hanya menggunakan nama Hwa-i Sin-kai (Pengemis Sakti Baju Kembang). Usia kakek ini sudah enam puluh tahun lebih.

Sepasang mata yang liar dan amat tajam sinarnya itu hanya menyapu saja dua orang laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya, karena pandang mata itu mencari-cari di sekeliling ruangan itu, dan tanpa memperdulikan dua orang pria itu, bahkan seolah-olah menganggap mereka itu tidak ada, kakek ini berseru, “Kim Hong Liu-nio, keluarlah untuk mengadu kepandaian!”

Sikap ini memang angkuh sekali, dan diam-diam Tio Sun merasa menyesal mengapa seorang ketua perkumpulan sebesar Hwa-i Kai-pang bersikap demikian congkak. Lee Siang melangkah maju dengan sikap marah.

“Lo-kai (pengemis tua), betapa kurang ajarnya engkau! Rumah ini adalah rumahku, dan kau sama sekali tidak memandang mata kepada tuan rumah!”

Mendengar itu, pengemis tua itu memandang kepada Lee Siang dan alisnya berkerut, sepasang matanya mengeluarkan sinar kilat. “Lee-ciangkun, kami tidak akan datang ke rumah ini kalau engkau tidak menyembunyikan Kim Hong Liu-nio di sini! Kami selamanya tidak pernah ada urusan dengan seorang Panglima Kim-i-wi, maka harap lekas kau suruh wanita iblis itu keluar, dan kami akan menganggap bahwa antara kami dan ciangkun tidak pernah ada urusan apa-apa!”

Lee Siang menjadi marah mendengar ucapan yang terus terang itu. “Kalau aku melarang kalian pengemis-pengemis jahat Hwa-i Kai-pang mengganggu Kim Hong Liu-nio yang menjadi penyelamat kaisar, engkau mau apa?”

Pengemis yang bertubuh pendek kecil itu membusungkan dadanya dan berkata, “Kami selamanya tidak pernah menentang kaisar dan pasukan Kim-i-wi, akan tetapi kalan ciangkun melindungi wanita itu, berarti ciangkun secara pribadi memusuhi kami dan tentu kami tidak akan memandang pangkat ciangkun lagi!”

“Jembel tua busuk, kau sungguh kurang ajar. Kaukira aku takut kepadamu?” Setelah berkata demikian, Lee Siang sudah menerjang maju dengan pedangnya yang memang sudah dia persiapkan lebih dulu! Dengan dahsyat panglima yang bertubuh tinggi tegap ini menyerang dan memang tenaganya besar, sehingga pedangnya berdesing dan mengeluarkan sinar kilat.

“Ciangkun, jangan...!” Tio Sun berseru kaget. Semua itu terjadi demikian cepatnya sehingga dia yang memang berwatak pendiam dan tidak pandai bicara, tidak sempat untuk melerai. Akan tetapi Lee Siang tidak memperdulikan atau tidak mendengar cegahannya itu karena panglima itu sudah menyerang dengan tusukan pedangnya ke arah pengemis tua itu!

“Lee-ciangkun, jangan mencampuri urusan kami!” Pengemis itu membentak dan dengan mudah saja dia menghindarkan tusukan itu dengan miringkan tubuhnya. Akan tetapi Lee Siang sudah menggerakkan pedangnya yang luput menusuk tadi, disabetkan ke samping mengarah leher kakek itu! Dan pada saat itu juga kakinya juga bergerak menendang ke arah pusar lawan.

“Hemm, engkau terlalu sombong dan perlu diberi hajaran!” pengemis tua itu membentak, tongkatnya bergerak menangkis dan kakinya juga diangkat memapaki tendangan itu.



“Tranggg... dukk...!” Tubuh Lee Siang terguling dan pedangnya terlepas dari pegangan. Dia mengaduh dan terpincang karena kakinya yang digares oleh kaki kecil pengemis itu terasa nyeri seperti dipukul dengan linggis besi saja! Akan tetapi, Lee Siang menjadi makin marah dan dia sudah menubruk ke depan, menyerang dengan kedua tangan kosong secara nekat!

Tio Sun maklum bahwa dia harus turun tangan, karena kalau tidak, panglima itu dapat terancam bahaya. Kakek pengemis itu lihai bukan main, dan juga ganas. Ketika Panglima Lee Siang menyerbu, kakek itu sudah menggerakkan tongkatnya, maksudnya hanya akan menotok roboh panglima itu. Akan tetapi Tio Sun mengira lain, menyangka bahwa kakek itu akan menurunkan tangan kejam, maka dia sudah menerjang ke depan dan menggunakan tangan untuk mencengkeram tongkat itu!

“Aihh...!” Hwa-i Sin-kai terkejut menyaksikan gerakan Tio Sun, apalagi dari tangan pendekar ini menyambar hawa yang amat kuat. Kakek pengemis ini menyangka bahwa tentu orang ini adalah pengawal pribadi Lee-ciangkun, maka diapun makin marah. Kiranya panglima ini sudah bersiap untuk menghalanginya menantang Kim Hong Liu-nio dan menerimanya dengan serangan-serangan. Dia sudah marah kepada Lee Siang ketika dilapori anak buahnya betapa Lee Siang telah menyelamatkan Kim Hong Liu-nio di luar pintu gerbang dan kini, melihat sendiri betapa panglima itu menyerangnya, bahkan dibantu oleh seorang pengawal lihai, kemarahannya memuncak dan tanpa bertanya lagi dia sudah menggerakkan tongkat yang akan dicengkeram itu, menariknya kembali dan tidak jadi menyerang Lee Siang melainkan menotok ke arah leher Tio Sun!

“Ahhh...!” Tio Sun terkejut sekali dan juga marah. Totokan ke arah lehernya itu adalah serangan maut yang mengarah nyawa! Betapa ganas dan kejamnya kakek pengemis ini! Dan memang Hwa-i Sin-kai bermaksud membunuh “pengawal” itu sungguhpun dia masih berpikir dua kali untuk melukai Panglima Lee secara parah.

Hwa-i Sin-kai juga terkejut sekali ketika melihat betapa pengawal itu menangkis tongkatnya dengan tangan kosong dan telah membuat tongkatnya menyeleweng dan luput! Inilah hebat, pikirnya! Jarang ada orang dapat menangkis tongkatnya dengan tangan kosong saja! Di lain fihak, Tio Sun juga terkejut karena tangkisannya tadi membuat dia terdorong dan lengannya terasa nyeri bukan main, tanda bahwa kakek itu memang amat lihai.

“Bagus! Pengawal busuk, kau anjing penjilat pembesar, harus mampus!” bentak kakek itu sambil menggerakkan tongkatnya.

“Nanti dulu, pangcu! Aku tidak bermaksud memusuhimu...”

Akan tetapi dari samping, Lee Siang sudah menerjang lagi dengan marah, “Hantam dia, kakek jembel ini memang jahat!”

Melihat Lee Siang kembali terjungkal oleh tendangan kaki pengemis itu, Tio Sun menjadi marah.

“Tar-tar-tar!” Bunyi ledakan ini adalah ujung senjata dari pendekar ini, yaitu sabuk yang digerakkan seperti sebatang pecut dan dimainkan seperti orang memainkan joan-pian, dan tahu-tahu ujung cambuk ini sudah menotok ke arah tengkuk kakek pengemis itu.

“Bagus!” kakek itu berseru kaget dan juga kagum. Dia memang tahu bahwa di kota raja banyak pengawal pandai, akan tetapi tidak disangkanya dia akan bertemu dengan seorang pengawal sepandai ini di gedung Panglima Lee Siang. Tongkatnya cepat diputar menyambut dan dalam belasan jurus saja Tio Sun terdesak hebat! Kiranya kakek yang menjadi ketua Hwa-i Kai-pang itu memang luar biasa lihainya. Ilmu tongkatnya yang disebut Ngo-lian Pang-hoat (Ilmu Tongkat Lima Teratai) sudah mencapai puncaknya sehingga tongkat itu lenyap bentuknya dan berubah menjadi lima gulungan sinar yang makin lama makin lebar, dan dari sinar gulungan itu kadang-kadang mencuat ujung tongkat yang menotok ke arah jalan darah yang berbahaya!

“Hebat...!” Tio Sun berseru kaget setelah baru saja dia terbebas dari totokan amat berbahaya. “Pangcu, tahan dulu...” Dia melompat ke belakang dan mencabut pedangnya. “Aku tidak bermaksud memusuhimu, aku hanya datang untuk menjadi orang penengah!”

“Pengawal busuk, keluarkan kepandaianmu kalau memang kau lihai!” kata kakek pengemis itu yang salah duga melihat Tio Sun mencabut pedang pula di samping sabuknya yang lihai padahal pendekar itu mencabut pedang hanya untuk menjaga diri setelah terdesak hebat oleh tongkat yang amat lihai itu.

Tio Sun menjadi marah juga dan menggerakkan pedang menusuk setelah sabuknya menangkis dan berusaha melibat ujung tongkat.

“Prakkkk!” Tio Sun terkejut bukan main karena kakek itu menggunakan tangan kiri yang telanjang untuk menangkis pedangnya! Memang tadi kakek itu belum mengeluarkan ilmunya yang paling hebat, yaitu Ta-houw-sin-ciang-hoat (Tangan Sakti Pemukul Harimau), dan baru sekarang kakek itu menggunakan tangan saktinya untuk menangkis pedang dan terus memukul dan dari pukulannya itu menyambar angin dingin yang dahsyat.

Tio Sun mengeluarkan suara kaget, mengeluh dan terjengkang roboh dan tidak bergerak lagi! Kakek pengemis itu terkejut bukan main. Dia tadi sudah menduga bahwa Tio Sun tentu bukan pengawal, melainkan seorang sahabat dari panglima itu, maka dia ingin mencoba kepandaiannya dan merobohkan tanpa membunuhnya. Akan tetapi mengapa orang gagah itu kini roboh terjengkang dan tidak berkutik lagi? Dia memandang wajah orang itu dan makin terkejut mendapat kenyataan bahwa benar-benar orang gagah itu telah tewas! Padahal dia tahu benar bahwa pukulannya Ta-houw-sin-ciang-hoat tadi belum mengenai tubuh lawannya, hanya menangkis pedang saja!

“Tangkap pembunuh! Tangkap penjahat!” Tiba-tiba Lee Siang berteriak-teriak dan muncullah belasan orang pengawal dari segenap penjuru dan terutama sekali, secara tiba-tiba ada sinar merah panjang menyambar dan dalam sekali serangan saja ujung sinar merah itu telah melakukan totokan bertubi-tubi sampai tujuh kali ke arah jalan darah maut di sebelah depan tubuh Hwa-i Sin-kai!

Kakek itu terkejut bukan main dan dia terdesak mundur, terpaksa memutar tongkatnya dan setelah menangkis tujuh totokan bertubi-tubi yang amat hebat itu, bahkan yang membuat tangannya tergetar keras, dia memandang dan melihat seorang wanita cantik jelita telah berdiri di depannya sambil memegang sehelai sabuk sutera merah!

“Kau Kim Hong Liu-nio!” bentak kakek itu.

Wanita itu tersenyum, manis sekali. “Dan engkau tua bangka tak tahu diri, datang mengantarkan nyawa!” bentaknya halus dan kembali dia menerjang, kini dengan kedua tangan kosong sambil mengalungkan sabuknya di lehernya, seperti seorang penari yang sedang beraksi melakukan tarian yang amat indah.

“Bedebah kau!” Hwa-i Sin-kai membentak dan tongkatnya menyambar.

“Cring-cring-cringgg...!” Tiga kali tongkat itu bertemu dengan lengan halus yang memakai gelang, dan kakek pengemis itu makin terkejut merasa betapa tangkisan lengan halus itu membuat kedua tangannya sampai kesemutan, tanda bahwa wanita cantik ini benar-benar lihai sekali, cocok dengan laporan para anak buahnya. Pantas semua anak buahnya tidak ada yang sanggup menandingi wanita ini!

“Menyerahlah kau, pembunub kejam!” Lee Siang membentak. “Engkau telah membunuh Tio Sun taihiap, putera dari mendiang Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan. Tangkap dia!”

Bukan main kagetnya Hwa-i Sin-kai mendengar disebutnya nama itu. Terbelalak dia memandang ke arah tubuh yang rebah terlentang tak bergerak dari Tio Sun itu, dan karena terkejut ini, hampir saja lambungnya kena dicengkeram oleh tangan yang halus dari wanita itu. Dia cepat meloncat ke belakang sambil mengelebatkan tongkatnya, dan dengan jantung tegang dia berkata, “Ah, tidak...!” Dan melihat semua pengawal mulai menerjangnya, dia maklum bahwa kalau dia melawan, biarpun belum tentu dia kalah walaupun di situ terdapat wanita yang amat lihai itu, namun dia tentu akan dicap sebagai pemberontak yang berani melawan pasukan pengawal! Maka sambil mengeluh panjang kakek itu lalu meloncat keluar dari ruangan itu, seperti terbang saja melalui atas kepala para pengawal yang mengepungnya, lalu berloncatan ke atas genteng dan melarikan diri dari tempat itu.

Lee Siang memerintahkan orang-orangnya mengejar, namun sia-sia saja karena gerakan pengemis tua itu amat cepat, sebentar saja sudah lenyap dari pandang mata. Dia lalu memeriksa Tio Sun yang ternyata telah tewas! Maka dia lalu menyuruh para pengawal mengantarkan mayat itu pulang ke rumah keluarga Tio, sedangkan dia sendiri mengikuti dari belakang dengan wajah muram.

Dapat dibayangkan betapa terkejut rasa hati Souw Kwi Eng ketika melihat sebuah kereta dikawal oleh sepasukan pengawal berhenti di depan rumahnya, apalagi ketika melihat tamunya siang tadi, yang oleh suaminya dikatakan adalah Panglima Kim-i-wi Lee Siang, tiba-tiba memasuki rumahnya dan menjura di depannya sampai dalam sekali, penuh dengan tanda duka.

“Tio-hujin...” Suara Lee Siang terhenti oleh isak tertahan. “Saya datang membawa berita duka... Tio-taihiap...”

“Ada apa? Apa yang terjadi? Mana suamiku?” Tiba-tiba Souw Kwi Eng bertanya dan matanya yang agak kebiruan itu memandang terbelalak, mencari-cari.

“Dia... dia... telah mati terbunuh orang... jenazahnya kami bawa dalam kereta...”

Terdengar jerit mengerikan dan nyonya muda itu terhuyung, lalu berlari menuju ke kereta, seperti orang gila dia merenggut tirai kereta terbuka dan melihat jenazah suaminya menggeletak tak bergerak di dalam kereta. Souw Kwi Eng kembali menjerit, jerit yang melengking nyaring menyayat hati. Dia menubruk jenazah itu, memeluki suaminya dan menangis tersedu-sedu!

Para pelayan berlarian dengan bingung dan ada yang sudah ikut menangis. Dari dalam rumah keluar Tio Pek Lian berlari-lari karena anak ini mendengar jerit ibunya yang mengejutkan itu. Ketika dia melihat ibunya menangis di kereta yang berhenti di halaman rumah, dia berlari menghampiri ibunya, merangkul ibunya dari belakang, menarik-narik bajunya dan bertanya dengan suara ketakutan.

“Ibu, ada apakah, ibu...? Kenapa ibu menangis?” Dia masih belum dapat melihat jenazah ayahnya karena pintu kereta itu terhalang oleh tubuh ibunya.

Mendengar suara anaknya, Souw Kwi Eng tersentak dan tertahan tangisnya, lalu perlahan dia memutar tubuh memandang anaknya melalui genangan air mata, kemudian dia menubruk anaknya dan merangkulnya. “Pek Lian, anakku... ah, ayahmu... ayahmu...!” Dan kalau saja dia tidak merasa bahwa ada anaknya dalam pelukannya tentu nyonya muda ini sudah roboh pingsan. Semua sudah kelihatan gelap dan berputar, cepat-cepat dia memejamkan mata dan menahan napas, mengerahkan kekuatan batinnya sehingga semuanya menjadi terang kembali.

“Ibu, ada apakah...? Ayah mengapa...?” Lapat-lapat terdengar suara anaknya.

Souw Kwi Eng membuka mata. “Ayahmu? Ah, ayahmu... telah meninggal dunia, anakku...” Dia terisak, lalu membalik, memasuki kereta, dan pada saat itu Lee Siang dan para pengawal mendekati kereta dan hendak mengangkat jenazah itu. Akan tetapi Souw Kwi Eng melarangnya. “Biarkan aku yang mengangkatnya sendiri!”

Tenang sekali wanita itu. Air matanya masih bercucuran, dia masih terisak-isak, akan tetapi dengan tenang dia lalu mengangkat tubuh suaminya yang masih hangat itu, dipondongnya, lalu dia melangkah perlahan-lahan ke dalam rumah, diikuti oleh Pek Lian yang memandang pucat dan matanya terbelalak. Anak ini belum mengerti benar, bagaimanakah kematian itu dan mengapa ayahnya mati. Semua orang memandang dengan sinar mata diliputi keharuan dan kekaguman, jantung mereka seperti ditusuk-tusuk menyaksikan nyonya muda yang cantik itu memondong jenazah suaminya, melangkah satu-satu menuju ke dalam rumah dengan sikap penuh khidmat. Semua orang menundukkan muka ketika jenazah yang dipondongnya itu lewat di depan mereka.

Kwi Eng meletakkan jenazah itu di atas pembaringan di kamar suaminya dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut di dekat pembaringan, memeriksa suaminya. Tidak ada luka di tubuh suaminya, akan tetapi jelas bahwa suaminya telah tewas. Maka dia lalu memeluk dan menangis lagi, tangis mengguguk dan akhirnya nyonya muda ini tidak dapat menahan dirinya lalu terguling roboh pingsan di atas lantai.

Kwi Eng siuman mendengar tangis anaknya yang memanggil-manggilnya. Dia bangkit duduk dan ternyata dia telah diangkat oleh para pelayan di atas pembaringan. Dan ketika dia duduk, dia melihat jenazah suaminya rebah di atas pembaringan yang lain, maka kembali air matanya bercucuran.

“Ibu...!”

“Pek Lian...!” Dia merangkul anaknya dan mendekap kepala anaknya.

“Tio-hujin... kami sungguh menyesal sekali...”

Kwi Eng mengangkat mukanya mcmandang melalui air matanya. Lalu dia memondong puterinya, turun dari pembaringan dan memandang kepada Panglima Lee Siang yang berdiri dengan muka menunduk. Sampai beberapa lamanya Kwi Eng memandang panglima itu, air matanya turun perlahan ke atas sepasang pipinya yang pucat dan suasana dalam kamar itu hening, kecuali suara isak tertahan dari para pelayan yang semua menangis. Kemudian terdengar suara nyonya muda itu, suaranya menggetar dan parau, kadang-kadang tertahan isak. “Sekarang katakanlah, siapa yang membunuh suamiku? Siapa...?” Pertanyaan itu, terutama kata terakhir itu mengandung ancaman hebat, mengandung dendam dan kemarahan yang terasa oleh semua orang hingga semua yang mendengarnya merasa bulu tengkuk mereka maremang.

Dengan muka pucat Lee Siang yang masih menunduk itu menjawab, “Yang membunuhnya adalah ketua dari Hwa-i Kai-pang.”

“Ketua Hwa-i Kai-pang?” Kwi Eng seolah-olah hendak menanamkan nama ini di dalam benaknya, kemudian dia bertanya lagi, perlahan. “Apa yang terjadi? Mengaoa suamiku sampai terbunuh olehnya?” Lalu dia teringat akan cerita suaminya, maka dia menambahkan, “Bukankah suamiku ke sana hanya untuk menjadi orang penengah?”

Lee Siang menarik napas panjang. “Sesungguhnya begitulah. Akan tetapi, ketua Hwa-i Kai-pang itu mendesaknya, mereka bertanding, kami sudah berusaha membantu dengan pasukan pengawal, akan tetapi terlambat. Tio-taihiap... sudah roboh dan tewas, dan... sungguh menyesal sekali kami tidak mampu mencegahnya...”

“Dan ketua Hwa-i Kai-pang itu? Ke mana dia...”

“Dia melarikan diri, kami tidak mampu melawannya, tidak mampu menangkapnya.”

Souw Kwi Eng menghampiri pembaringan suaminya, berlutut, dan menyentuh lengan suaminya. “Tenanglah, aku bersumpah untuk membalas kematianmu!” Lalu dia merangkul dan menangis lagi. Pek Lian juga menghampiri, dengan agak takut-takut memandang jenazah ayahnya, kemudian setelah memandang wajah ayahnya yang biasanya amat mencintanya itu, diapun menubruk ayahnya dan berteriak-teriak, “Ayahhh... ayaaaah...” Dan menangislah anak itu bersamanya.

Setelah mengucapkan keprihatinannya, maafnya dan hiburannya yang sama mekali tidak ada artinya, Panglima Lee Siang lalu berpamit dan meninggalkan rumah itu bersama para pengawalnya, naik kereta yang tadi dipakai untuk mengangkut jenazah Tio Sun.

Semalam itu Souw Kwi Eng dan anaknya menangisi jenazah suaminya, dan para pelayan dan pegawal sibuk mengurus keperluan sembahyang, peti mati dan sebagainya. Juga ada yang cepat-cepat malam itu juga pergi ke kota Yen-tai untuk memberi kabar kepada Souw Kwi Beng, kakak kembar dari nyonya Tio.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Souw Kwi Beng sudah berangkat meninggalkan rumahnya dengan hati penuh kedukaan ketika dia mendengar berita kematian iparnya itu. Dia membalapkan kudanya dan lewat tengah hari tibalah dia di kota raja dan langsung menuju ke rumah adiknya. Kakak beradik kembar ini berangkulan sambil menangis. Kwi Beng sedapat mungkin menghibur adiknya dan keduanya lalu berlutut di depan peti mati Tio Sun. Dia mendengarkan cerita adik kembarnya tentang kematian Tio Sun, sambil memangku keponakannya, Pek Lian yang sudah tidak menangis lagi. Memang hanya anak-anak saja yang mempunyai watak yang wajar, tidak terus menerus dicengkeram oleh suka maupun duka. Suka dan duka bagi anak-anak hanya merupakan peristiwa selewat saja, tidak seperti kita orang-orang dewasa yang paling suka menyimpan suka dan duka di dalam batin sampai berlarut-larut. Pek Lian hanya mulai menangis lagi kalau melihat ibunya, begitu berduka, melihat ibunya menangis. Akan tetapi dia belum begitu merasa kehilangan atas kematian ayahnya, dan memang batin anak-anak lebih bebas daripada batin orang dewasa yang sudah terikat oleh berbagai hal dan benda sehingga kalau sewaktu-waktu ikatan itu dicabut lepas, mendatangkan luka parah di dalam batin.

“Aku akan membantumu, Eng-moi. Aku akan membantumu menghadapi jambel-jembel busuk yang kejam itu!” berkali-kali Kwi Beng menghibur adiknya di depan peti mati adik iparnya.

***




Perkumpulan Hwa-i Kai-pang sebenarnya tidak mempunyai sarang tertentu karena para anggautanya berkeliaran dan tersebar di seluruh daerah kota raja dan seluruh Propinsi Ho-pak. Akan tetapi karena ketuanya yang sekarang, yaitu Hwa-i Sin-kai, memilih sebuah kuil tua di dalam hutan kecil di dekat pintu gerbang sebelah utara kota raja, maka tempat itu boleh dibilang menjadi sarang dari Hwa-i Kai-pang. Hal ini adalah karena para tokoh biasanya berkumpul di tempat tinggal ketuanya, maka hampir setiap hari di kuil tua yang dijadikan tempat tinggal Hwa-i Sin-kai itu ramai dikunjungi tokoh-tokoh dari perkumpulan itu, selain untuk melayani ketua mereka juga untuk membawa laporan-laporan mengenai perkumpulan mereka yang memiliki banyak anggauta yang tersebar luas itu. Tentu saja yang berdatangan ke tempat tinggal ketuanya hanyalah tokoh-tokoh kai-pang yang bertingkat yaitu yang bertingkat lima ke atas.

Setelah terjadi peristiwa permusuhan antara mereka dengan Kim Hong Liu-nio yang berkepanjangan, bahkan yang merambat kepada seorang tokoh Panglima Kim-i-wi, maka para tokoh Hwa-i Kai-pang menjadi khawatir akan serbuan-serbuan, maka mereka mulai melakukan panjagaan den mempergunakan kuil tua di dalam hutan itu sebagai tempat berkumpul dan bertahan.

Hwa-i Sin-kai merasa menyesal dan juga terkejut bukan main setelah terjadinya periatiwa kematian Tio Sun di dalam godung Panglima Lee Siang itu. Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa Tio Sun yang lihai itu adalah putera mendiang Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan seorang panglima jagoan istana yang juga merupakan seorang tokoh besar di dunia kang-ouw. Kalau dia tahu, sudah pasti dia tidak akan melawan orang muda itu sebagai musuh. Dia menyesal mengapa dia tidak lebih dahulu bicara dengan orang muda itu, dan sudah menuruti kemarahan yang ditimbulkan oleh Panglima Lee Siang. Den dia juga merasa heran mangapa orang muda yang segagah itu demiklan mudah tewas, hanya setelah dia mengeluarkan pukulan Ta-houw-sin-ciang, padahal menurut perasaannya, pukulannya itu belum mengenai tubuh lawan! Betapapun juga, ketua Hwa-i Kai-pang ini tidak merasa bersalah! Kalau putera Ban-kin-kwi itu sampai tewas dalam pertandingan melawan dia, maka hal itu adalah karena salahnya sendiri. Mengapa pula pendekar muda itu melindungi Lee Siang, panglima yang telah mencampuri urusan pribadi antara Hwa-i Kai-pang dan iblis betina Kim Hong Liu-nio? Dia sebagai ketua Hwa-i Kai-pang hanys mempunyal permusuhan pribadi dengan Kim Hong Liu-nio yang selain telah membunuh seorang anggauta pengemis juga telah menghina dan melukai beberapa orang tokoh Hwa-i Kai-pang. Maka dia tidak merasa salah kalau sampai dia bentrok dengan orang-orang yang membela atau melindungi iblis betina itu, seperti halnya Lee Siang dan Tio Sun!

Akan tetapi beberapa hari semenjak terjadi peristiwa di rumah gedung Panglima Kim-i-wi itu, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pasukan Kim-i-wi yang menyerbu ke dalam hutan itu seperti yang dikhawatirkan oleh Hwa-i Sin-kai. Yang dikhawatirkan hanyalah campur tangan pemerintah, karena tentu saja kalau harus melawan pasukan pemerintah, Hwa-i Kai-pang tidak akan berdaya banyak, dan adalah berbahaya kalau sampai Hwa-i Kai-pang dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah. Juga mata-mata yang disebar di dalam kota raja oleh Hwa-i Kai-pang memberi laporan bahwa tidak terjadi gerakan apa-apa di fihak pasukan Kim-i-wi. Hal ini melegakan hati ketua Hwa-i Kai-pang.

Akan tetapi suatu pagi, dua orang laki-laki dan wanita muda, yang mengenakan pakaian serba putih, pakaian orang yang sedang berkabung, berjalan dengan tenang dan sedikitpun tidak mengeluarkan suara, memasuki hutan itu. Beberapa orang tokoh Hwa-i Kai-pang yang diam-diam melakukan penjagaan, mengikuti gerak-gerik dua orang ini dengan penuh perhatian.

Keadaan dua orang laki-laki dan wanita itu memang amat menarik hati dan juga mencurigakan. Hanya pakaian dan gerak-gerik mereka saja yang membedakan satu sama lain, yang membuat orang dapat membedakan bahwa mereka adalah seorang pria dan seorang wanita. Akan tetapi selain perbedaan kelamin ini, wajah kedua orang itu benar-benar mirip satu sama lain, bahkan serupa! Wajah yang amat tampan dan amat cantik. Dan rambut mereka yang agak kekuning-kuningan, mata mereka yang agak kebiruan!



Dua orang ini bukan lain adalah Souw Kwi Beng atau Ricardo de Gama dan adik kembarnya, Souw Kwi Eng atau Maria de Gama. Setelah mengurus pemakaman jenazah Tio Sun sampai beres, Kwi Eng lalu menitipkan puterinya pada para pelayan, kemudian dia mengajak kakak kembarnya untuk mencari sarang Hwa-i Kai-pang! Tidaklah sukar bagi mereka untuk menemukan sarang itu di dalam hutan di luar pintu gerbang utara dari kota raja, dan pada pagi hari itu, dengan hati penuh geram kakak beradik kembar ini menuju ke hutan itu dengan hati bulat untuk membalas dendam atas kematian Tio Sun kepada ketua Hwa-i Kai-pang!

Dengan cepat para tokoh pengemis itu memberi laporan kepada ketua mereka akan kedatangan dua orang muda itu, sedangkan Lo-thian Sin-kai, kakek pengemis kurus tokoh tingkat dua dari Hwa-i Kai-pang, cepat menghadang di tengah jalan sebelum kedua orang muda ini tiba di kuil tua. Kakek ini melintangkan tongkatnya di depan tubuhnya, memandang tajam dan segera berkata.

“Maafkan, dua orang muda yang gagah perkasa. Kami dari Hwa-i Kai-pang minta dengan hormat agar ji-wi sudi mengambil jalan lain kalau hendak melewati hutan ini.”

Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng saling pandang, lalu Kwi Beng yang berkata kepada kakek pengemis yang dia tahu adalah tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat dua itu, melihat dari buntalan di atas punggungnya. Lalu Kwi Beng yang mewakili adiknya menjawab, “Memang kami berdua hendak memasuki sarang Hwa-i Kai-pang, mengapa harus mengambil jalan lain?”

Mendengar jawaban ini, Lo-thian Sin-kai mengerutkan alisnya dan tiba-tiba saja tempat itu penuh dengan pengemis-pengemis dari tingkat lima sampai tingkat tiga, ada sepuluh orang banyaknya! Namun, dua orang muda itu tetap tenang saja, biarpun setiap urat syaraf di tubuh mereka sudah menegang dan siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

“Ahh, begitukah?” Tiba-tiba suara kakek kurus itu berubah dan sinar matanya memandang penuh selidik. Dia melihat dua orang laki-laki dan wanita seperti kembar itu memang telah menunjukkan sikap mencurigakan, apalagi melihat betapa keduanya telah siap dengan senjeta pedang di punggung, dan kantong hui-to, yaitu pisau-pisau kecil yang dipergunakan sebagai senjata rahasia, tergantung di pinggangnya masing-masing. Pendeknya, dua orang muda itu jelas memperlihatkan kesiapan orang yang hendak bertarung! Dan pakaian mereka adalah pakaian orang berkabung!

“Siapakah kalian berdua? Dan ada keperluan apakah kalian memasuki sarang Hwa-i Kai-pang?”

Souw Kwi Beng memandang kepada kakek pengemis kurus itu. “Kami melihat bahwa engkau adalah seorang tokoh tingkat dua dari Hwa-i Kai-pang. Ketahuilah bahwa kami datang bukan untuk berurusan dengan Hwa-i Kai-pang, melainkan dengan pancu dari perkumpulan kalian. Maka bawalah kami bertemu dengan dia, karena urusan kami adalah urusan pribadi dengan Hwa-i Kai-pangcu!”

Lo-thian Sin-kai memandang tajam dan menduga-duga siapa gerangan adanya kedua orang kembar ini! “Siapakah kalian berdua? Dan apa keperluan kalian mencari pangcu kami?”

“Tidak akan kuberitahukan kepada siapapun, kecuali ketua Hwa-i Kai-pang si jahanam keparat!” Tiba-tiba Kwi Eng yang sudah tidak sabar lagi itu membentak dengan marah sekali.

“Ahh...!” Lo-thian Sin-kai memandang kepada nyonya muda itu dan kecurigaannya timbul. “Apakah toanio mempunyai hubungan dengan orang she Tio...?”

“Jembel busuk! Orang she Tio yang dibunuh ketua kalian itu adalah suamiku, mengerti? Nah, ketuamu hutang nyawa kepadaku, harus membayarnya sekarang juga!” Sambil berkata demikian, Kwi Eng sudah mencabut pedangnya dengan gerakan cepat sehingga pedang itu mengeluarken sinar berkilauan. “Dan kalau pangcu kalian terlalu pengecut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, aku akan mencarinya sampai dapat!”

“Dan harap kalian para tokoh Hwa-i Kai-pang tidak mencampuri karena urusan ini adalah urusan pribadi!” sambung Kwi Beng yang sudah mencabut pedangnya.

“Orang-orang muda yang tinggi hati! Aku telah berada di sini!” Tiba-tiba terdengar suara halus dan dari jauh muncullah seorang kakek pendek kurus yang mukanya seperti tikus, memegang sebatang tongkat dan kakek ini berjalan seenaknya ke tempat itu. Ternyata sebelum orangnya tiba, suaranya sudah terdengar dengan halus dan jelas. Itulah dia Hwa-i Sin-kai, pangcu dari Hwa-i Kai-pang sendiri.

Kwi Eng dan Kwi Beng memandang kepada kakek yang baru datang ini dan melihat betapa semua tokoh Hwa-i Kai-pang membungkuk dengan hormat lalu mundur, memberi ruang kepada kakek kecil pendek yang baru datang. Maka tahulah Kwi Eng bahwa kakek ini adalah Hwa-i Kai-pangcu, musuh besarnya yang telah membunuh suaminya. Tak terasa lagi dua titik air mata berlinang keluar dari sepasang matanya yang memandang dengan penuh dendam dan kebencian.

“Engkaukah orangnya yang telah membunuh suamiku yang bernama Tio Sun?” Kwi Eng bertanya, suara menggetar dan sepasang matanya berlinang air mata.

Kakek itu menarik napas panjang. Dia menyesal bukan main bahwa urusan kai-pang dengan iblis betina itu ternyata telah merembet sampai jauh. Dari sikap kedua orang ini saja dia sudah tahu bahwa kedua orang ini adalah pendekar-pendekar yang gagah, dan tentu datang terdorong oleh api dendam yang hebat dan hendak mengadu nyawa dengan dia!

“Apakah kami berhadapan dengan Tio-hujin?” tanyanya dengan suara halus.

“Benar, aku adalah isteri dari Tio Sun yang telah kaubunuh tanpa dosa itu. Sekarang kau datang hendak menebus kematian suamiku, kau bersiaplah!”

“Dan orang muda ini siapa?”

“Aku adalah kakak kembar dari adikku ini, dan akupun menyediakan selembar nyawaku untuk membalas dendam ini!”

“Ahh, sungguh aku orang tua merasa menyesal sekali. Akan tetapi tahukah kalian berdua mengapa Tio-taihiap itu sampai tewas? Karena dia membantu Panglima Lee Siang yang di lain fihak membantu iblis betina Kim Hong Liu-nio, musuh pribadi kami. Dan sesungguhnya, aku sendiri tidak mengerti bagaimana Tio-taihiap dapat tewas, padahal pukulan sakti yang kupergunakan belum juga menyentuh tubuhnya!”

Ucapan itu keluar dari hati yang sungguh-sungguh, akan tetapi bagi Kwi Eng dan Kwi Beng terdengar seperti ejekan atas kelemahan mendiang Tio Sun! Memang hati kalau sudah diracuni dendam, adanya hanya benci dan kalau sudah benci, apapun yang diucapkan atau dibuatnya oleh orang yang dibencinya tentu saja selalu salah!

“Keparat keji, tua bangka sombong!” Kwi Eng sudah menerjang ke depan den pedangnya menyerang dengan cepat dan kuat, disusul oleh kakak kembarnya yang juga sudah menyerang dengan pedangnya.

“Ah, terpaksa aku melayani kalian orang-orang muda yang tidak mau berpikir panjang!” ketua Hwa-i Kai-pang itu berkata penuh sesal sambil menggerakkan tongkatnya menangkis dan balas menyerang. Dia sudah kesalahan tangan membunuh Tio Sun dalam suatu pertandingan yang jujur, dan kalau sekarang dia sekalian membunuh isteri pendekar itu dan kakak kembarnya dalam pertandingan yang jujur, bahkan dia membiarkan dirinya dikeroyok maka dia tidak khawatir akan mendapat teguran dan penyesalan dari tokoh-tokoh kang-ouw. Dia dipaksa oleh mereka ini, bukan dia yang mencari permusuhan! Apa boleh buat!

Dua orang kakak beradik kembar itu adalah putera-puteri dari pendekar wanita sakti Souw Li Hwa, akan tetapi mereka berdua itu tidak memiliki bakat yang terlalu baik sehingga kepandaian silatnya tidak menonjol. Sedangkan mendiang Tio Sun saja yang lebih lihai dari isterinya dan adik iparnya masih belum mampu menandingi kakek yang amat lihai ini, apalagi kakak beradik kembar itu! Maka dalam dua puluh jurus lebih saja, pedang mereka telah dibikin terpental oleh kakek sakti itu yang masih merasa segan dan tidak tega untuk membunuh mereka!

Melihat kelihaian kakek itu dan karena pedangnya sudah terpental, dua orang kakak beradik ini maklum bahwa lawan mereka terlalu tangguh, maka sambil berteriak nyaring Kwi Eng lalu mengeluarkan hui-to (pisau terbang) yang menjadi kepandaiannya yang istimewa, dan berkelebatanlah hui-to yang dilepasnya, beterbangan cepat menyambar ke arah tubuh ketua Hwa-i Kai-pang. Melihat ini, Kwi Beng tidak mau tinggal diam dan diapun latu melepaskan pisau-pisau terbangnya.

“Hemmm...!” Hwa-i Sin-kai berseru keras dan tongkatnya diputar sedemikian rupa sehingga tongkat itu berbentuk sinar yang bergulung-gulung sehingga merupakan benteng sinar yang melindungi tubuhnya. Terdengar suara nyaring berkali-kali dan pisau-pisau terbang itu terlempar ke kanan kiri dan kesemuanya runtuh oleh tangkisan sinar tongkat itu. Sampai habis seluruh pisau-pisau di kantung kedua orang kakak beradik itu, namun tidak ada sebatang pisaupun yang mengenai sasaran.

“Kakek iblis, kalau begitu biar aku mengadu nyawa denganmu!” Kwi Eng berseru dengan putus asa dan dia lalu menyerang dengan kedua tangan kosong! Sebetulnya, kakak beradik ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat tinggi, warisan dari Panglima The Hoo melalui ibu mereka, yaitu ilmu It-ci-san, semacam ilmu totok menggunakan sebuah jari tangan yang amat lihai, dan selain itu, juga mereka telah mewarisi ilmu silat tangan kosong Jit-goat Sin-ciang dan telah mengusai penggabungan tenaga Im dan Yang. Akan tetapi, karena bakat mereka tidak terlalu besar, maka mereka hanya mampu menguasai sebagian saja dari ilmu-ilmu ini, maka biarpun kini keduanya menggunakan ilmu-ilmu itu untuk mengeroyok Hwa-i Sin-kai, mereka ini tidak dapat banyak berdaya. Bahkan dalam waktu belasan jurus saja ujung tongkat di tangan kakek itu telah menghajar pinggul Kwi Beng sehingga pemuda ini bergulingan dan menotok pundak kiri Kwi Eng sehingga nyonya muda itupun terguling roboh.

“Iblis tua kejam, kau mampuslah!” Kwi Beng membentak dan tiba-tiba tangan kanannya telah mencabut sebuah pistol peninggalan ayahnya. Memang dia sudah mempersiapkan senjata api ini karena Kwi Beng bukanlah seorang yang bodoh, dan dia sudah menduga bahwa ketua Hwa-i Kai-pang itu tentu seorang yang berilmu tinggi sekali sehingga seorang pendekar seperti kakak iparnya itupun sampai tewas bertanding melawan kakek itu. Maka ketika berangkat, dia sudah mempersiapkan senjata api ini, biarpun ayahnya meninggalkan pesan agar dia jangan sembarangan mempergunakan senjata maut itu kalau tidak terpaksa dan terancam keselamatannya. Sekarang, dia memang agaknya tidak terancam keselamatannya, karena kakek itu agaknya tidak hendak membunuh dia dan adiknya, akan tetapi dia maklum bahwa adiknya tentu akan melawan terus sampai mati. Daripada adiknya yang mati, lebih baik kakek itu!

Dar-darrr...!” Pistol itu meledak dua kali dan robohlah seorang kakek pengemis tingkat tiga dengan pundak dan lengan terluka. Ternyata ketika tadi pemuda itu mencabut pistol, seorang kakek tingkat tiga segera menubruk ke depan pemuda itu sehingga pada saat pistol meledak, yang roboh adalah kakek ini dan bukan Hwa-i Sin-kai. Kakek itu terkejut dan marah, tubuhnya menyambar ke depan dan begitu tongkatnya bergerak pistol di tangan Kwi Beng sudah terlempar jauh dan tangan pemuda itu berdarah! Akan tetapi, Kwi Eng sudah datang menerjang dan Kwi Beng juga bangkit dan terus menerjang lagi dengan nekat. Kakek itu mendengus dan kembali tongkatnya membuat keduanya roboh terguling.

“Orang-orang muda yang tak tahu diri! Kepandaian kalian terlalu rendah untuk berani kurang ajar terhadap kami!” kata Lo-thian Sin-kai. “Lebih baik kalian pergi dan jangan membikin marah pangcu kami!” Para pengemis kelihatan marah melihat betapa kakek pengemis yang kena tembakan tadi terluka parah, namun tidak membahayakan nyawanya.

“Biarlah, mereka ini perlu dihajar sampai tobat!” bentak Hwa-i Sin-kai sambil berdiri menanti dengan muka marah. Dua orang muda itu bangkit lagi, menerjang lagi dan roboh lagi! Sampai tiga empat kali mereka roboh dan kini para tokoh Hwa-i Kai-pang menertawakan mereka. Mereka itu hanya seperti anak kecil yang nakal melawan ketua Hwa-i Kai-pang yang sakti. Kalau ketua itu mau, tentu saja dengan amat mudahnya dia dapat membunuh kedua orang muda itu.

Muka Kwi Eng sudah bengkak terkena tamparan dan mulut Kwi Beng bahkan mengeluarkan darah karena bibirnya pecah, akan tetapi untuk ke sekian kalinya, kedua orang muda yang sudah nekat dan mata gelap itu menyerang lagi.

“Plakk! Dukk!” Kini dua orang kakak beradik itu terjungkal karena tamparan dan hantaman tongkat dari kakek itu ditambah tenaga. Kwi Eng terbanting keras dan kepalanya pening, sedangkan Kwi Beng terpukul tongkat kakinya sehingga ketika dia hangkit berdiri, dia terpincang. Namun mereka berdua masih belum mau sudah. Tekat mereka adalah untuk melawan sampai mati!

Pada saat itu, terdengar suara merdu dan nyaring, suara seorang wanita muda, “Sungguh tidak tahu malu, kakek-kakek tua bangka menghina orang-orang muda mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa!”

Semua orang terkejut dan menengok. Yang bicara itu adalah seorang gadis yang berwajah cantik manis, berpakaian ringkas sederhana, namun wajahnya cerah dan sinar matanya lincah, mulutnya yang manis tersenyum mengejek ketika dia memandang kepada para kakek pengemis tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang itu. Di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang tubuhnya tinggi tegap, wajahnya serius dan agaknya pemuda ini adalah adik dari dara itu. Dara itu tidak remaja lagi, tentu usianya sudah kurang lebih dua puluh lima tahun, sedangkan pemuda itu berusia antara dua puluh tiga tahun. Seperti juga si gadis, pemuda ini berpakaian ringkas sederhana tidak membawa senjata, dan kelihatannya seperti seorang pemuda petani biasa saja, hanya sepasang matanya yang tenang itu mengeluarkan sinar tajam mengejutkan.

Mendengar ucapan gadis itu, seorang tokoh pengemis tingkat tiga menjadi marah. Kakek pengemis tingkat tiga ini tadi secara diam-diam sudah memperhatikan gerakan dua orang yang bertempur melawan ketuanya itu dan dia tahu bahwa tingkat kepandaian kedua orang itu belum begitu tinggi, bahkan dia sendiripun berani menghadapi seorang di antara mereka. Dia merasa penasaran mengapa ketuanya maju sendiri melayani segala macam lawan selemah itu, tidak mewakilkan kepada para tokoh yang lebih rendah tingkatnya. Kini, melihat gadis yang berani mengatakan bahwa mereka mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa, dia menjadi marah sekali, menganggap kata-kata itu menghina. Kini dia memperoleh kesempatan untuk mewakili ketuanyan, mendahului ketuanya itu dia menegur, “Bocah bermulut lancang, mau apa kau buka mulut mencampuri urusan kami?”

Gadis itu tersenyum dan melirik kepada pengemis tingkat tiga ini. “Aku telah mendengar dalam perjalanan bahwa kakek jembel dari Hwa-i Kai-pang ditandai tingkatnya dengan tumpukan buntalan di punggungnya. Agaknya yang lebih banyak tumpukan buntalannya berarti lebih pandai mengemis, dan kau ini mempunyai buntalan tiga. Lumayan juga kepandaianmu mengemis, akan tetapi kalau engkau mengemis kepadaku, aku tidak akan sudi memberi apa-apa karena wajahmu tidak menimbulkan iba seperti pengemis tulen!”

Pengemis tingkat tiga itu marah bukan main. Dia adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, yaitu bukan lain adalah Hek-bin Mo-kai, tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang yang berangasan itu. Dia dihina terang-terangan oleh gadis ini, maka dia menjadi marah sekali. Kulit tubuhnya yang lain, yang biasanya berwarna putih itu menjadi merah, sedangkan mukanya yang hitam menjadi makin hitam ketika dia mengetukkan tongkatnya ke atas tanah. Semua orang memandang tegang, bahkan Kwi Eng dan Kwi Beng yang masih nanar itu juga memandang, tidak tahu siapa adanya wanita dan pria yang datang ini.

“Bocah lancang mulut! Kalau tidak ingat bahwa engkau seorang wanita muda yang lemah tentu kelancangan mulutmu itu akan kautebus mahal sekali!”

Gadis itu ternyata lincah den jenaka sekali. Dia tersenyum manis dan memandang kepada si muka hitam dengan sinar mata berseri-seri. “Ah, kaum pengemis agaknya mengenal harga juga, ya? Berapa mahalkah tebusan kelancanganku? Sebungkus sayuran sisa? Ataukah beberapa keping uang tembaga?”



Bukan hanya Hek-bin Mo-kai yang marah, akan tetapi semua tokoh Hwa-i Kai-pang menjadi marah sekali. Mereka telah berkali-kali mengalami penghinaan wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio itu, bahkan Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai, dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat tiga itu, juga Lo-thian Sin-kai tokoh tingkat dua, telah tidak berhasil mengalahkan seorang wanita muda cantik. Kini muncul seorang wanita muda cantik lain yang datang-datang telah mengejek dan memandang rendah, tentu saja hati mereka menjadi panas sekali. Lebih-lebih Hek-bin Mo-kai yang memang berwatak berangasan. Dia pernah dikalahkan oleh Kim Hong Liu-nio. Kekalahan pahit sekali karena dia sebagai tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang yang tersohor, sampai kalah oleh seorang wanita muda! Sungguh merupakan suatu hal yang membikin merosot kebesaran namanya, bahkan mencemarkan namanya sebagai seorang tokoh. Maka kini, menghadapi seorang wanita muda lagi yang berani bersikap lancang dan memandang rendah, tentu saja dia menjadi marah bukan main.

“Perempuan kurang ajar dan lancang! Apakah kau bosan hidup? Siapakah engkau?” bentaknya.

Akan tetapi gadis cantik itu tersenyum dan melirik ke arah Hwa-i Sin-kai yang sejak tadi hanya berdiri memandang, lalu dia, berkata, “Aku tidak ada waktu untuk bicara dengan segala macam jembel rendahan. Eh, engkau kakek pengemis yang tidak menggendong buntalan, agaknya engkau yang menjadi kepala di sini. Benarkah?”

Melihat sikap gadis itu bicara seperti itu kepada ketua mereka, semua pengemis menjadi makin marah, akan tetapi Hwa-i Sin-kai mengangkat tangan kirinya ke atas dan semua suara bising dari para pengemispun terhenti sama sekali. Suasana menjadi hening dan menegangkan, sedangkan Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng hanya memandang dengan heran.

“Nona, benar dugaanmu bahwa aku adalah pangcu dari Hwa-i Kai-pang. Nona siapakah dan...”

“Pangcu, anggap saja aku dan adikku ini adalah orang-orang yang kebetulan lewat di sini dan menyaksikan perbuatan yang tidak bagus dari Hwa-i Kai-pang! Engkau adalah ketua kai-pang dari perkumpulan pengemis yang sudah tersohor di daerah ini, yang menurut kabar adalah sebuah perkumpulan pengemis terbesar. Akan tetapi melihat betapa seorang pangcu yang besar menghina dua orang muda yang tidak berdaya, sungguh merupakan kenyataan yang sebaliknya, bahwa Hwa-i Kai-pang hanyalah merupakan sekumpulan jembel yang suka meghina orang di belakang layar, akan tetapi di atas panggung pura-pura mohon belas kasihan orang dengan mengemis!”

Kembali terdengar suara berisik ketika para pengemis itu menjadi marah mendengar ucapan ini, akan tetapi pangcu itu mengangkat tangan dan semua pengemis itu menjadi diam. Pangcu ini bukan orang sembarangan dan berbeda dengan para pembantu dan anak buahnya, dia yang berpemandangan tajam dapat mengenal bahwa pemuda dan gadis yang datang ini bukan orang-orang muda sembarangan maka berani bersikap seperti itu. Jangan-jangan mereka ini, seperti juga Kim Hong Liu-nio, adalah orang-orang muda sakti yang diutus oleh Kim Hong Liu-nio untuk mengacau, pikirnya.

“Nona muda, mengambil kesimpulan dan mengeluarkan pendapat atas sesuatu hal yang belum diselidiki lebih dulu keadaannya merupakan tindakan yang amat coroboh. Ketahuilah bahwa dua orang muda ini datang sendiri ke sini untuk menantang dan mengacau. Setelah mercka manantang kami dan aku maju memenuhi permintaan mereka sehingga terjadi pertandingan ini, bagaimana kau bisa mengatakan bahwa kami menghina mereka? Kaulihat sendiri tadi, bukankah mereka berdua yang mengeroyok aku seorang tua?”

Gadis itu agaknya tidak dapat membantah hal ini. Memang tadi dia melihat betapa kakek ini dikeroyok dua, hanya saja tingkat kepandaian dua orang muda itu jauh sekali di bawah tingkat kakek ini sehingga jangankan baru dikeroyok oleh mereka berdua, biar ditambah lagi sepuluh orang yang tingkat kepandaiannya seperti kedua orang muda itupun tak mungkin akan dapat menandingi kakek itu. Maka dia lalu menoleh dan memandang kepada Kwi Eng sambil tersenyum.

“Enci yang baik, mengapa kalian berdua yang belum memiliki kepandaian berani menandingi ketua jembel ini dan mencari celaka sendiri?” Pertanyaan itu lebih menyerupai teguran dan Kwi Beng yang sejak tadi sudah melihat dan mendengarkan dengan hati panas, menjadi makin penasaran. Dalam percakapan itu dia merasa betapa dia dan adiknya amat direndahkan orang, dan diapun memiliki keangkuhan, dia tidak mengharapkan bantuan siapapun juga dalam urusan pribadi ini, apalagi karena dia sama sekali tidak mengenal dara yang cantik dan pemuda yang pendiam itu.

“Kami tidak membutuhkan bantuan siapapun! Hayo, tua bangka kejam, lanjutkan pertempuran kita tadi, kami tidak akan berhenti sebelum nyawa kami putus!” Dan Kwi Beng sudah menyerang lagi dengan nekat, mengirim pukulan dari jurus It-goat Sin-ciang yang cukup dahsyat.

“Wuuuuuttt... plak!” Betapapun dahsyatnya pukulan itu, akan tetapi karena tenaga sin-kangnya jauh di bawah tingkat kakek itu, maka sekali tangkis saja, ketua yang lihai itu kembali membuat tubuh Kwi Beng terguling!

Pemuda yang nekat ini sudah bergerak lagi, kini melakukan penyerangan dengan Ilmu Totok It-ci-san, yaitu kedua tangannya mengeluarkan jari telunjuk untuk menotok jalan darah lawan. Akan tetapi, kembali kakek itu meggerakkan tangan kirinya, menangkis den mendorong dan tubuh Kwi Beng terjungkal, kini terbanting agak keras sehingga ketika bangkit kembali terhuyung-huyung! Melihat ini, Kwi Eng bergerak hendak menerjang, akan tetapi gadis cantik itu sudah memegang lengannya.

“Enci, tidak ada perlunya membunuh diri! Dan orang muda ini benar-benar amat gagah, akan tetapi keberanian yang hanya nekat den membabi-buta, dipakai tanpa perhitungan sudah bukan merupakan kegagahan lagi melainkan merupakan suatu ketololan! Mundurlah kau, orang muda yang berhati baja!”

“Nona, suamiku telah dibunuh mati tanpa kesalahan oleh ketua para jembel ini. Apakah kau menganggapnya tidak benar kalau aku dan kakakku ini mengadu nyawa untuk membalas dendam?” Kwi Eng berusaha melepaskan tangannya yang dipegang, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia merasa betapa lengannya yang dipegang oleh gadis cantik itu sama sekali tidak dapat dia gerakkan, apalagi hendak melepaskan diri dari pegangan itu.

Mendengar ini, sepasang mata gadis cantik itu mengeluarkan sinar berkilat ketika dia memandang kepada Hwa-i Sin-kai, sedangkan pemuda pendiam yang diakuinya sebagai adiknya tadi kinipun memandang kepada kakek pengemis itu dengan alis berkerut.

“Ah, kiranya begitukah? Pangcu, kau tadi mengatakan bahwa dua orang saudara ini datang untuk menantang dan mengacau, akan tetapi engkau sama sekali tidak mengatakan mengapa mereka berbuat demikian. Kalau engkau telah membunuh suami enci ini secara sewenang-wenang, tidak mengherankan kalau mereka kini datang untuk membelas dendam. Dan engkau mengandalkan kepandaian silatmu yang tidak seberapa itu, apakah kau juga ingin membunuh mereka ini?”

Mendengar ucapan yang memandang rendah kepada ketuanya itu, Hek-bin Mo-kai tidak dapat menahan kesabarannya lagi. “Bocah lancang dan kurang ajar, engkau benar-benar bosan hidup! Pangcu, ijinkan aku menghajarnya!” Dan tanpa menanti ijin dari ketuanya, Hek-bin Mo-kai sudah menggerakkan tongkatnya menotok ke arah leher gadis cantik itu dengan kecepatan yang luar biasa sekali sehingga tongkatnya mengeluarkan bunyi mengiuk.

Kwi Beng adalah seorang pemuda yang berwatak gagah. Biarpun keadaan dirinya sudah babak-belur dan luka-luka, namun melihat gadis yang datang untuk membela dia dan adiknya itu diserang secara demikian hebatnya dan dia lihat berada dalam bahaya, maka dia lalu meloncat dan memapaki serangan kakek pengemis bermuka hitam itu untuk melindungi gadis yang diserangnya.

“Wuuuuttt... plakkk... desss!” Kakek bermuka hitam ini terhuyung ke belakang dan hampir saja Kwi Beng terbanting kalau saja lengannya tidak cepat disambar oleh gadis cantik itu. Tadi ketika dia menerjang dan memapaki tongkat yang menyerang gadis itu, dia memang berhasil menangkisnya, akan tetapi tangkisan tangannya itu membuat lengannya terasa nyeri bukan main dan tongkat yang tadinya menyerang gadis itu dan tertangkis, kini membalik dan dengan kemarahan meluap, pengemis bermuka hitam itu meluncurkan ujung tongkatnya menusuk ke arah dada Kwi Beng. Akan tetapi pada saat itu, gadis yang ditolong oleh Kwi Beng menggerakkan tangannya mendormg dan kakek bermuka hitam itu terhuyung ke belakang sedangkan Kwi Beng yang juga terhuyung dan hampir terbanting itu diselamatkan oleh tangan kecil halus yang telah menangkap lengannya.

“Saudara Souw Kwi Beng, tenanglah, dan serahkan jembel-jembel ini kepadaku.” Tiba-tiba gadis itu berkata halus.

Kwi Beng terkejut bukan main dan membelalakkan mata, memandang tajam. Memang tadi dia merasa seperti mengenal gadis ini, akan tetapi dia sudah lupa lagi di mana dan dalam keadaan marah dan sedang berhadapan dengan ketua kai-pang itu, dia tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan gadis ini. Sekarang, setelah dia memandang dengan penuh perhatian, barulah dia teringat.

“Adik Mei Lan...!” katanya meragu, seperti bertanya apakah benar gadis ini adalah Mei Lan, gadis cilik yang pernah dijumpainya sebelas tahun yang lalu, ketika gadis itu berusia empat belas tahun dan ketika itupun gadis ini pernah menolongnya, yaitu ketika dia, Tio Sun dan yang lain-lain sedang berada di Lembah Naga dan tertawan oleh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li beserta anak buah mereka (baca cerita Dewi Maut).

Gadis cantik itu memandang kepadanya, tersenyum dan mengangguk membenarkan. Memang gadis itu adalah Yap Mei Lan, puteri tunggal dari pendekar sakti Yap Kun Liong. Di dalam cerita Dewi Maut telah dituturkan bagaimana Mei Lan sampai berpisah dari ayahnya. Yap Mei Lan adalah puteri tunggal dari Yap Kun Liong bersama isterinya yang bernama Pek Hong Ing. Akan tetapi, sesungguhnya ibu kandung Mei Lan bukanlah Pek Hong Ing, melainkan seorang wanita bernama Liem Hui Sian. Rahasia ini tidak diketahui oleh Mei Lan yang menganggap Pek Hong Ing adalah ibu kandungnya. Pada suatu hari, dalam percekcokan mulut antara Cia Giok Keng, puteri dari ketua Cin-ling-pai, dan Pek Hong Ing, Mei Lan mendengar akan rahasia itu dan larilah dia meninggalkan rumah ibunya itu. Dalam pelariannya karena kecewa dan berduka ini, bertemulah dia dengan kakek sakti Bun Hoat Tosu dan menjadi murid kakek sakti yang sudah tua renta itu. Kemudian, ketika kakek Bun Hoat Tosu meninggal dunia, dia “dioperkan” oleh kakek itu kepada seorang kakek lain yang sakti dan aneh, yaitu Kok Beng Lama sehingga dia menjadi murid Kok Beng Lama yang telah ditinggali ilmu-ilmu oleh Bun Hoat Tosu untuk disampaikan kepada Mei Lan sesuai dengan “taruhan” antara dua orang kakek sakti ini ketika mereka berdua bertanding catur! Demikianlah, Mei Lan lalu menjadi murid Kok Beng Lama bersama pemuda pendiam itu yang bukan lain adalah Lie Seng, putera dari mendiang Lie Kong Tek dan Cia Giok Keng, puteri ketua Cin-ling-pai. Semua ini telah diceritakan dalam cerita Dewi Maut.



Selama sebelas tahun lebih, Mei Lan dan Lie Seng pergi meninggalkan keluarga dan dunia ramai, dibawa oleh Kok Beng Lama ke Pegunungan Himalaya di dunia barat, di mana kedua orang anak ini digembleng oleh kakek sakti itu. Karena mewarisi ilmu-ilmu dari mendiang Bun Hoat Tosu dan Kok Beng Lama, maka kedua orang muda itu kini menjadi orang-orang yang memiliki kepandaian luar biasa sekali, hampir semua kepandaian Kok Beng Lama diwarisi oleh mereka, demikian pula ilmu-ilmu yang paling hebat dari Bun Hoat Tosu telah mereka warisi melalui Kok Beng Lama. Mereka berdua baru saja tiba dari Pegunungan Himalaya karena guru mereka menyatakan bahwa tiba saatnya bagi mereka untuk turun gunung dan mencari keluarga mereka. Dan secara kebetulan, mereka melihat ribut-ribut di dalam hutan itu lalu cepat menghampiri. Tentu saja begitu melihat Kwi Beng, Mei Lan segera teringat kepada pemuda ini. Tidak sukar untuk mengenal Kwi Beng, pemuda yang tampan, gagah dan juga memiliki ciri-ciri khas pada mata dan rambutnya. Maka, tentu saja tanpa diminta, Mei Lan lalu turun tangan membantu Kwi Beng dan Kwi Eng yang belum dikenalnya, akan tetapi melihat persamaan antara wanita ini dengan Kwi Beng, dia dapat menduga bahwa wanita itu tentulah saudara kembar dari Kwi Beng, seperti yang pernah didengarnya dahulu.

Setelah Kwi Beng kini mendapat kenyataan bahwa gadis cantik itu adalah Yap Mei Lan, puteri dari pendekar sakti Yap Kun Liong, tentu saja dia menjadi girang sekali dan tentu saja dia tidak lagi merasa enggan dibantu, karena Yap Mei Lan bukanlah “orang luar”, maka cepat dia berkata, “Adik Mei Lan, jembel tua bangka itu telah membunuh ipuku, suami dari adikku yang bernam Tio Sun!”

“Apa...?” Mei Lan terkejut bukan main. Tentu saja dia masih ingat kepada Tio Sun, pendekar yang gagah perkasa, yang dahulu pernah menyerbu di Lembah Naga bersama Kwi Beng dan juga telah tertawan di Lembah Naga. Jadi, Tio Sun telah menjadi suami adik kembar dari Kwi Beng dan Tio Sun telah terbunuh oleh ketua Hwa-i Kai-pang? Tentu saja berita ini membuatnya terkejut bukan main.

“Pangcu, benarkan apa yang dikatakan oleh sahabatku itu? Bahwa engkau telah membunuh seorang pendekar seperti Tio Sun?” Mei Lan bertanya sambil melangkah maju mendekati ketua Hwa-i Kai-pang itu.

Ketua Hwa-i Kai-pang menegakkan kepalanya dan sambil memandang tajam dia menjewab, “Mendiang Tio-taihiap mencari kematiannya sendiri. Kami bermusuhan dengan seorang iblis betina di rumah Panglima Lee Siang, akan tetapi dia membela iblis betina itu sehingga bentrok dengan kami. Dalam pertempuran antara dia dan kami, dia kalah dan tewas, sama sekali kami tidak bermaksud membunuhnya karena antara dia dan kami tidak ada permusuhan apa-apa.”

Mei Lan mengerutkan alisnya. Dia sudah mendengar berita tentang pengaruh Hwa-i Kai-pang yang tentu saja menjadi agak sewenang-wenang, seperti dimiliki oleh semua golongan yang berpengaruh dan ditakuti. Akan tetapi kalau memang Tio Sun tewas dalam pertandingan yang adil, maka tewas dalam pertandingan merupakan hal yang lumrah bagi seorang pendekar. Betapapun juga, dia sudah mengenal siapa Tio Sun, seorang pendekar gagah perkasa yang budiman, maka andaikata terdapat perselisihan faham antara pendekar itu dengan para pengemis ini, sudah dapat dipastikan bahwa para pengemis inilah yang bersalah. Betapapun juga, dia harus membela Kwi Beng!

Tiba-tiba Lie Seng, pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang sejak tadi diam saja, menyentuh lengan Mei Lan sambil berkatap “Lan-ci, biarkan aku bicara sebentar dengan dia.” Mei Lan memandang heran karena adik seperguruannya ini jarang sekali mau bicara kalau tidak penting, maka kini tentu mempunyai alasan kuat untuk bicara. Dia mengangguk.

LIE SENG yang bersikap tenang sekali itu melangkah maju, memandang kepada kakek yang bertubuh pendek kurus itu, lalu berkata, “Pangcu, aku pernah mendengar banwa pangcu adalah seorang kenalan baik dari ketua Cin-ling-pai. Benarkah itu?”

Sepasang mata pangcu itu terbelalak. “Tentu saja! Bahkan kami telah berbutang budi kepada Cia-locianpwe, pangcu dari Cin-ling-pai. Orang muda, mengapa engkau bertanya demikian?”

“Ketahuilah bahwa aku adalah cucu luar dari ketua Cin-ling-pai.”

“Ahh...!”

“Bukan itu saja, akan tetapi mendiang Tio Sun yang kaubunuh itupun merupakan sahabat baik dari kakekku. Mendiang Tio Sun terkenal sebagai seorang pendekar yang gagah dan budiman, oleh karena itu, sungguh amat mengherankan mengapa engkau, yang mengaku kenal dengan kakekku sampai membunuhnya!”

Kakek itu menarik napas panjang. “Aku sendiri masih bingung memikirkan. Ketika aku menantang wanita iblis itu, yang kutantang tidak muncul, sebaliknya yang muncul adalah Tio-taihiap, dan kami memang bertanding, akan tetapi sebelum aku menyentuhnya, dia telah roboh dan tewas...”

“Jembel sombong! Engkau terlalu menghina suamiku! Suamiku tidak selemah itu!” Kwi Eng berteriak. “Mari kita mengadu nyawa, aku tidak akan berhenti sebelum dapat membalas kematian suamiku!”

Hwa-i Sin-kai adalah seorang pangcu, maka karena sejak tadi orang-orang muda itu menghinanya, dia menjadi marah juga. “Aku sudah bicara, dan bagaimanapun juga, tidak kusangkal bahwa aku telah bertanding melawan Tio Sun dan dia roboh dan tewas dalam pertandingan itu. Sekarang, aku siap mempertanggungjawabkan perbuatanku dan kalau ada yang hendak menuntut balas, tentu saja akan kulayani dengan baik!”

“Bagus!” Mei lan berseru. “Kalau begitu, dengarlah baik-baik, pangcu dari Hwa-i Kai-pang. Aku datang mewakili keluarga Tio untuk menuntut balas. Majulah dan mari kita main-main sebentar, hendak kulihat sampai di mana kelihaian orang yang suka mengandalkan kepandaian untuk menghina dan membunuh orang lain yang tidak berdosa.”

“Kalian bocah-bocah yang sombong dan tidak tahu diri!” Hek-bin Mo-kai yang sejak tadi sudah menahan kemarahannya itu kini membentak dan meloncat ke depan. “Siapa sih yang takut kepada kalian? Jelas bahwa orang she Tio itu bersalah kepada ketua kami dan kalau dia mampus, hal itu adalah kesalahannya sendiri. Kalau kalian mau menuntut balas, atau mau mengikutinya pergi ke neraka, majulah!”

Dengan sikapnya yang galak, pengemis bermuka hitam tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang itu telah berdiri di depan Mei Lan, dengan tongkatnya melintang di depan dadanya, matanya kemerahan dan mukanya makin hitam karena marah. Mei Lan sudah ingin menandinginya, akan tetapi Lie Seng melangkah maju dan berkata, “Suci, biarlah aku menghadapinya.”

Mei Lan mengangguk dan melangkah mundur. Lie Seng lalu mendekati pengemis muka hitam itu dan dengan kedua tangan kosong pemuda ini berdiri seenaknya, sama sekali tidak memasang kuda-kuda seperti orang hendak bertanding. “Mulailah, lo-kai!”

Hek-bin Mo-kai yang sudah marah itu ingin sekali membersihkan mukanya dan menebus kekalahan-kekalahan yang pernah dideritanya, maka kini dia tanpa sungkan-sungkan lagi sudah menggerakkan tongkatnya dan menerjang dengan dahsyatnya, menghantamkan ujung tongkatnya itu ke arah kepala pemuda yang tenang itu. Gerakannya demikian dahsyat sehingga tongkat itu mengeluarkan suara dan angin menyambar ke arah Lie Seng sebelum tongkatnya tiba.

Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng kini sudah berdiri di pinggir sambil menonton dengan hati tegang. Mereka berdua melihat betapa tongkat itu menyambar dahsyat dan kelihatan pemuda itu masih enak-enak saja sampai tongkat sudah menyambar dekat sekali dengan kepalanya.

“Wuuuttt...!” Sedikit saja Lie Seng miringkan kepalanya dan tongkat itu menyambar 1uput. Melihat ini, Hek-bin Mo-kai terkejut. Pemuda ini tenang bukan main dan gerakannya yang hanya sedikit sekali itu, namun cukup berhasil, membuktikan bahwa pemuda itu benar-benar seorang ahli silat tingkat tinggi.

Makin tinggi tingkat ilmu silat seseorang, makin tenanglah gerakannya karena dia tidak lagi mempergunakan kembangan-kembangan gerakan yang tidak ada gunanya, dan setiap gerakannya telah diperhitungkan dengan masak-masak sehingga setiap gerakan selalu mendatangkan hasil.

“Sambutlah ini!” Hek-bin Mo-kai membentak dan kini tongkatnya diputar cepat sehingga lenyaplah bentuk tongkatnya, berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung dan bagaikan ombak samudra, sinar bergulung-gulung ini menyerbu ke arah Lie Seng.

Namun pemuda ini tidak menjadi bingung menghadapi serbuan yang hebat itu. Dia tidak terpengaruh oleh sinar yang bergulung-gulung itu, melainkan memandang tajam dan dia dapat melihat di mana tongkat bersembunyi di dalam serangan itu. Dia tidak memperdulikan bayangan tongkat yang banyak dan membentuk gulungan sinar, melainkan memandang ke arah tongkat yang dapat dia ikuti gerakannya, maka ketika tongkat itu menusuk ke arah lambungnya, dia menggeser kaki dan miringkan tubuh sehingga tongkat lewat di dekat lambungnya, kemudian secepat kilat menyambar, tangan kirinya yang dibuka membacok dari atas ke arah tongkat lawan itu.

“Krakkkk!” Tongkat itu patah menjadi dua potong! Wajah hitam dari Hek-bin Mo-kai menjadi agak pucat, matanya terbelalak memandang tongkat di tangannya yang tinggal sepotong, sedangkan telapak tangannya berdarah! Tak pernah dia dapat membayangkan betapa tongkatnya yang dianggapnya sebagai senjata pusaka itu dapat dipatahkan lawan hanya dengan hantaman telapak tangan miring! Padahal, senjata tajampun tidak akan mampu mematahkannya. Kekagetan dan keheranannya berubah menjadi kemarahan dan sambil mengeluarkan suara gerengan, dia menubruk lagi dengan tongkat sepotong. Tongkat yang menjadi pendek itu menghantam kepala, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar. Serangan maut!

“Plak! Desss... bruuukkk!” Cepat sekali terjadinya hal itu. Serangan kakek muka hitam itu disambut dengan elakan dan tangkisan yang dilanjutkan dengan cengkeraman pada tengkuk kakek itu dan sekali dia membuat gerakan melemparkan, tubuh Hek-bin Mo-kai terlempar sampai jauh, tidak kurang dari sepuluh meter dan terbanting di atas tanah! Semua orang memandang bengong, karena tidak mengira bahwa pemuda itu akan dapat mengalahkan Hek-bin Mo-kai sedemikian mudahnya. Akan tetapi, Hek-bin Mo-kai yang terbanting itu tidak mengalami luka berat, hanya agak nanar saja dan pinggulnya terasa nyeri. Dia cepat meloncat berdiri dengan muka yang makin hitam, dan pada saat temannya, Tiat-ciang Sin-kai, juga tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang, menerjang maju dengan tongkatnya menyerang Lie Seng, dia sendiripun sudah lari menghampiri dan membantu temannya ini mengeroyok Lie Seng!

“Jembel-jembel busuk! Pengecut yang main keroyok!” Kwi Beng memaki-maki melihat betapa Lie Seng yang bertangan kosong itu dikeroyok dua, dan dia sudah maju hendak membantu. Akan tetapi, Mei Lan mencegahnya.

“Biarkan saja, saudara Souw. Sute tidak akan kalah.”

Dan memang apa yang dikatakan oleh Mei Lan ini merupakan kenyataan. Lie Seng masih tetap tenang saja, berdiri tanpa bergerak, bahkan tidak memasang kuda-kuda karena dia berdiri tegak dengan kedua tangan tergantung di kanan kirinya, hanya matanya saja dengan tajam memandang kepada dua orang pengemis tua yang sudah datang menyerangnya dari kanan kiri itu. Tiat-ciang Sin-kai maklum akan kelihaian pemuda yang dengan mudah mengalahkan temannya itu, maka kini dia menyerang dengan tongkatnya di tangan kanan, ditusukkan ke arah dada lawan sedangkan tangan kirinya yang ampuh dan keras seperti besi sehingga dia mendapat julukan Tiat-ciang (Si Tangan Besi), telah menyambar pula dengan pukulan dahsyat ke arah pelipis kanan lawan. Dan pada saat itu pula, Hek-bin Mo-kai yang sudah menyambar sebatang tongkat dari seorang pengemis yang berada di dekatnya, telah menyerang pula sambil menggerakkan tongkatnya dengan jurus dari Ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat. Tongkatnya membentuk lingkaran-lingkaran.

Seperti tadi, Lie Seng hanya bergerak sedikit saja dan serangan Tiat-ciang Sin-kai telah dapat dielakkan, sedangkan serangan si muka hitam itu dibiarkannya saja, hanya setelah dekat, sekali pemuda itu menggerakkan kakinya, dia telah meloncat dan tubuhnya lenyap dari depan kedua orang pengeroyoknya itu! Dua orang kakek pengemis itu terkejut dan karena merasa betapa angin loncatan pemuda tadi menyambar ke arah belakang mereka, keduanya cepat membalikkan tubuh dan benar saja, pemuda itu telah berada di belakang mereka, berdiri tegak dan tenang. Kembali mereka menyerbu dengan gerakan yang lebih dahsyat lagi karena mereka sudah menjadi marah sekali. Akan tetapi sekali ini, Lie Seng tidak mengelak, melainkan dia malah maju memapaki! Dua pasang kaki dan tangannya bergerak secara aneh dan semua orang melihat betapa dua orang kakek pengemis itu terpelanting seperti disambar petir, roboh ke kanan kiri terdorong oleh hawa pukulan dan tendangan yang amat cepat itu!

Melihat ini, Lo-thian Sin-kai, tokoh tingkat dua dari Hwa-i Kai-pang, menjadi marah sekali. “Bocah sombong, sambut ini!” bentaknya dan dia menyerang dengan tangan kirinya yang menampar keras. Tamparan ini bukanlah tamparan biasa, melainkan tamparan yang dilakukan dengan pengerahan sin-kang sehingga mengeluarkan angin keras dan tenaga pukulannya amat ampuh. Melihat ini, Lie Seng tidak mengelak melainkan mengangkat tangan menangkis.

“Dukkk!” Dua lengan bertemu dan Lo-thian Sin-kai mengeluarkan seruan kaget karena kuda-kuda kakinya tergempur, membuat dia hampir terpelanting kalau saja dia tidak cepat menggunakan tongkatnya ditekan di atas tanah sehingga dia dapat memulihkan keseimbangan tubuhnya. Marahlah kakek ini, juga dua orang kakek tingkat tiga itu sudah bangkit kembali. Tanpa banyak cakap lagi, Lo-thian Sin-kai menggerakkan tongkatnya menyerang dengan Ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat, sedangkan Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai juga sudah maju. Kini Lie Seng dikeroyok tiga! Akan tetapi pemuda itu tetap tenang saja dan Mei Lan juga masih menonton sambil tersenyum. Gadis ini berpikir bahwa yang menjadi musuh-musuh dari dua orang saudara kembar she Souw ini adalah Hwa-i Sin-kai pribadi, tidak ada sangkut-pautnya dengan perkumpulan Hwa-i Kai-pang, akan tetapi ternyata kini pangcu itu diam saja dan membiarkan anak buahnya yang turun tangan. Oleh karena itu, dia mengerling ke arah ketua itu yang memandang dengan alis berkerut melihat betapa pembantu-pembantu utamanya jelas bukan tandingan pemuda perkasa itu.

“Seorang gagah selalu mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya, akan tetapi sungguh aneh, seorang pangcu dari perkumpulan besar dan terkenal seperti Hwa-i Kai-pang ternyata berlindung kepada anak buahnya!”

Merahlah wajah ketua Hwa-i Kai-pang mendengar ucapan ini. Memang sejak tadi dia sudah hendak turun tangan sendiri, akan tetapi melihat para pembantunya sudah turun tangan untuk membelanya, dia mendiamkannya saja karena diapun ingin melihat sampai di mana kelihaian dua orang muda yang datang membantu dua orang saudara kembar yang nekat itu. Terkejutlah dia tadi melihat gerakan-gerakan Lie Seng dan selagi dia melihat tiga orang pembantu utamanya mengeroyok pemuda itu, kini gadis cantik yang menjadi suci dari pemuda itu telah menyindirnya. Maka dia lalu melangkah maju.

“Nona, kalau kau hendak mewakili keluarga Tio, majulah. Siapa takut kepadamu?”

Mei Lan tersenyum. “Bagus, sudah kutunggu-tunggu ini, pangcu. Nah, aku sudah siap menghadapi tongkat bututmu. Mulailah!”

“Sambutlah, gadis sombong!” Kakek itu menggerakkan tongkatnya dan terdengar suara mencicit nyaring keluar dari sinar tongkat yang menyambar gadis itu. Mei Lan terkejut juga dan cepat mengelak.

“Trakk!” Batang pohon yang berada di belakang gadis itu patah terkena sambaran hawa pukulan tongkat itu!

Maklumlah Mei Lan bahwa ketua ini benar-benar seorang jagoan yang lihai, maka diapun dengan tenang lalu menghadapinya dengan waspada. Memang Hwa-i Sin-kai, ketua dari perkumpulan pengemis itu sudah marah sekali melihat para pembantunya kalah, maka begitu menyerang, dia telah mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa dan mengerahkan sin-kangnya sehingga sambaran tongkatnya mendatangkan angin pukulan yang amat ganas. Akan tetapi, serangan pertama tadi dapat dihindarkan oleh gadis itu secara mudah saja, maka dia menjadi penasaran dan sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor singa, dia sudah menerjang lagi dengan dahsyat. Dan terjadilah pertandingan yang membuat Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng melongo penuh kekaguman. Gadis cantik itu tiba-tiba saja lenyap tubuhnya dan berubah menjadi bayangan yang sukar diikuti pandang mata, bayangan yang berkelebatan di antara gulungan sinar tongkat kakek itu yang sudah menyerang dengan hebatnya, karena kakek itu mengeluarkan ilmunya Ta-houw-sin-ciang yang mengeluarkan hawa dingin, pukulan-pukulan tangan kiri yang amat ampuh, untuk membantu Ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat yang sudah mencapai tingkat tinggi. Namun, gadis itu seperti bertubuh kapas saja, begitu ringan dan setiap kali disambar tongkat, seolah-olah angin sambaran itu sudah mendorongnya sehingga selalu tongkat itu sendiri tidak dapat mengenai tubuhnya. Dan hebatnya, setiap kali tangan yang kecil dan halus itu menangkis pukulan Ta-houw-sin-ciang yang dingin sekali, nampak uap putih keluar dari pertemuan kedua tangan mereka, dan kakek itu merasa betapa tangan kirinya menjadi panas seperti dibakar! Bukan itu saja, malah kakek itu selalu merasa lengannya tergetar hebat pada setiap pertemuan tangan.

Hwa-i Sin-kai sesungguhnya bukanlah orang sembarangan. Dia memiliki ilmu kepandaian yang sudah amat tinggi tingkatnya, sehingga dia boleh dibilang merupakan seorang datuk ilmu sliat di dunia kang-ouw. Namanya dikenal luas oleh semua jago-jago silat, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam. Ilmu tongkatnya yang disebut Ngo-lian Pang-hoat (Ilmu Tongkat Lima Teratai) amat terkenal dan sukar dilawan, karena kalau dia mainkan ilmu tongkat ini, sama saja dengan lima batang tongkat yang dimainkan oleh lima orang. Lebih lagi ilmu pukulannya yang disebut Ta-houw-sin-ciang itu, diberi nama demikian karena kabarnya dengan sekali pukul saja kakek ini dulu pernah menewaskan seekor harimau yang menjadi pecah kepalanya! Ta-houw-sin-ciang (Ilmu Tangan Sakti Pemukul Harimau) digerakkan dengan sin-kang yang mengandung hawa dingin menusuk tulang, maka lihainya bukan kepalang. Inilah sebabnya, karena merasa bahwa dia adalah seorang cabang atas, seorang datuk persilatan, Hwa-i Sin-kai merasa marah sekali dengan adanya gangguan dari Kim Hong Liu-nio yang berani memusuhi perkumpulannya, seolah-olah berani menentang dirinya.

Akan tetapi, setelah bertanding selama hampir tiga puluh jurus kakek itu menjadi terheran-heran dan kaget setengah mati melihat betapa gadis itu benar-benar luar biasa sekali! Gin-kang dari gadis itu membuat tubuh si gadis ini seperti dapat menghilang saja, bahkan dapat berkelebatan di antara sinar-sinar tongkatnya yang telah mengurung rapat. Dan lebih hebat lagi, gadis itu berani dan kuat menangkis pukulan Ta-houw-sin-ciang! Bukan hanya berani dan kuat, bahkan dapat membuat dia merasakan hawa panas yang luar biasa menyerang lengannya. Padahal seingatnya, belum pernah ada tokoh persilatan yang dapat menghadapi Ta-houw-sin-ciang seperti ini! Diam-diam kakek ini menjadi bingung dan khawatir karena tidak pernah mengira bahwa di dunia persilatan akan muncul seorang gadis yang begini lihai bersama adiknya atau sutenya yang juga lihai bukan main! Dia lalu mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan seluruh kepandaiannya karena bagaimanapun juga, dia tidak boleh kalah oleh seorang gadis muda seperti ini. Kekalahan itu tentu akan menghancurkan nama besarnya.

Biarpun dia dikeroyok tiga orang kakek lihai, namun dibandingkan dengan sucinya, Lie Seng menghadapi lawan yang lebih lunak. Dengan enaknya pemuda ini menghadapi serbuan-serbuan itu seperti seekor kucing mempermainkan tiga ekor tikus. Dia hanya kadang-kadang mendorong dan membuat tiga orang pengeroyoknya terhuyung atau terpelanting, tanpa menjatuhkan tangan keras untuk melukai mereka, apalagi membunuh mereka.

Akan tetapi, begitu dia melihat sucinya sudah bertanding melawan ketua Hwa-i Kai-pang dan mendapat kenyataan betapa kakek itu amat lihai, Lie Seng ingin berjaga-jaga dan kalau perlu melindungi sucinya, maka dia lalu berseru keras, dan gerakannya berubah menjadi cepat bukan main. Pada saat itu, dia baru saja menghindar dari sambaran tongkat Lo-thian Sin-kai yang jauh lebih lihai daripada dua orang kakek pengemis yang lain. Begitu tongkat itu luput, kakek tingkat dua ini sudah menghantam dengan tangan kirinya yang mengandung tenaga sin-kang dahsyat. Akan tetapi Lie Seng yang ingin cepat menyelesaikan pertempuran itup tidak lagi mengelak, melainkan menggerakkan tangannya, dengan sengaja dia memapaki hantaman itu dengan sambutan tangan kanannya.



“Plakkk...!” Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya tubuh Lo-thian Sin-kai terguling dan kakek ini roboh lemas, tidak dapat bangkit kembali karena tubuhnya terasa lumpuh semua.

Dua orang kakek tingkat tiga yang melihat ini menjadi terkejut dan menubruk dari kanan kiri, namun Lie Seng memapaki mereka dengan tamparan-tamparan yang ampuh sehingga dua orang inipun terpelanting dan tidak mampu bangun kembali karena sekali ini Lie Seng mempergunakan tenaga yang agak besar sehingga mereka yang kena ditampar itu roboh pingsan!

Biarpun tubuhnya seperti lumpuh, Lo-thian Sin-kai masih dapat berseru kepada para pengemis lainnya, “Maju semua! Keroyok dia...!” Dan bergeraklah semua anggauta Hwa-i Kai-pang maju menyerbu dan mengeroyok Lie Seng!

“Hemm, kalian benar-benar jahat!” Lie Seng berseru dan pemuda ini lalu mengamuk, merobohkan para pengeroyok dengan tamparan tangan dan tendangan kakinya. Melihat ini, Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng juga tidak mau tinggal diam, mereka ini lalu mengamuk pula, tidak memperdulikan tubuh mereka yang sudah sakit-sakit karena dihajar oleh ketua Hwa-i Kai-pang tadi. Kini mereka dapat melampiaskan kemarahan dan sakit hati mereka kepada anggauta kai-pang itu, bertempur bahu-membahu dengan Lie Seng yang gagah perkasa.

Sementara itu, pertempuran antara Mei Lan dan Hwa-i Sin-kai juga makin hebat. Melihat betapa sutenya dan dua orang saudara kembar itu dikeroyok oleh para anggauta Hwa-i Kai-pang, Mei Lan berkata mengejek, “Jembel-jembel busuk benar-benar tak malu!” Dan diapun lalu menggerakkan tubuhnya dengan cepat sekali dan lenyaplah bentuk tubuh dara ini, berubah menjadi bayangan yang banyak dan yang mengeluarkan angin menyambar-nyambar ke arah kakek ketua kai-pang itu. Inilah Pat-hong Sin-kun, ilmu silat tangan kosong yang amat sakti dari mendiang Bun Hoat Tosu!

Hwa-i Sin-kai terkejut bukan main, mengenal ilmu silat yang amat tinggi dan biarpun dia sudah memutar tongkatnya dengan cepat dan kuat, tetap saja angin menyambar ke arah lehernya dan dia cepat miringkan tubuhnya. “Brettt...!” angin itu masih menyambar leher bajunya yang menjadi robek seketika!

“Uhhh...!” Kakek itu meloncat jauh ke belakang dengan muka pucat. Maklumlah dia bahwa kalau dia melanjutkan pertempuran, akan terjadi pertempuran adu nyawa dengan dara yang ternyata luar biasa lihainya itu. Dia tidak mau memperpanjang urusan dan permusuhan, apalagi tadi dia mendengar bahwa pemuda itu adalah cucu luar dari ketua Cin-ling-pai! Dan kini dia melihat betapa anak buahnya sudah kocar-kacir dan dihajar habis-habisan oleh pemuda perkasa itu yang dibantu oleh sepasang saudara kembar. Dia merasa menyesal sekali dan cepat kakek ini berseru nyaring, “Semua saudara pengemis, mundur!” Dan dia mendahului meloncat dan melarikan diri.

Mendengar seruan ini, para pengemis terkejut. Belum pernah selama mereka menjadi anggauta Hwa-i Kai-pang, ada perintah mundur dari ketua mereka, apalagi melihat ketua mereka melarikan diri. Tentu saja hal ini membuat nyali mereka menjadi kecil dan tanpa diperintah dua kali, para pengemis itu lalu meninggalkan gelanggang pertempuran, melarikan diri sambil menyeret tubuh teman-teman mereka yang terluka atau pingsan. Sebentar saja sunyilah di depan kuil kosong itu, tidak nampak seorangpun pengemis. Banyak pengemis yang roboh oleh amukan Lie Seng, namun tidak seorangpun tewas karena pemuda ini tidak membunuh, hanya merobohkan mereka sehingga ada yang patah tulang, salah urat dan pingsan karena pening.

Setelah semua pengemis pergi, Kwi Eng teringat kepada suaminya dan dia segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil menangis. Melihat keadaan adiknya ini, Kwi Beng cepat menghampiri akan tetapi tiba-tiba pemuda ini terguling roboh dan pingsan!

“Ahh...!” Mei Lan dengan sekali loncatan saja sudah menyambar tubuh pemuda itu sehingga kepala Kwi Beng tidak sampal terbanting. Cepat Mei Lan merebahkan tubuh Kwi Beng dan memeriksa luka-lukanya. Memang keadaan pemuda ini lebih parah daripada adiknya, akan tetapi dengan hati lega Mei Lan mendapat kenyataan bahwa luka-luka itu hanyalah luka-luka luar saja dan tidak ada yang berbahaya bagi keselamatan nyawanya. Diam-diam Mei Lan mengakui bahwa ketua Hwa-i Kai-pang itu bukanlah seorang yang kejam karena kalau memang dikehendakinya tentu dengan mudah kakek itu dapat membunuh dua orang, kakak beradik kembar itu.

Dengan bantuan Lie Seng, Mei Lan lalu mengobati kakak beradik kembar itu dan perlahan-lahan Kwi Beng siluman. Ketika dia melihat dirinya sendiri rebah terlentang dan di dekatnya nampak gadis cantik dan gagah perkasa tadi sedang berlutut, Kwi Beng memandang. Dua pasang mata bertemu, bertaut dan melekat penuh dengan macam perasaan haru. Akhirnya, Mei Lan menundukkan mukanya dan Kwi Beng merasa mukanya agak panas. Dia tidak tahu betapa mukanya menjadi merah sekali dan dia lalu bangkit duduk memegangi kepalanya.

“Bagaimana rasanya kepalamu?” tanya Mei Lan. Gadis ini biasanya lincah jenaka dan tidak pernah sungkan terhadap siapapun, akan tetapi dia sendiri tidak mengerti mengapa kini setelah berhadapan dengan pemuda yang bermata biru dan rambutnya agak menguning keemasan ini, dia merasakan suatu hal yang luar biasa, yang membuatnya merasa agak malu-malu.

“Tidak apa-apa... agak pening sedikit. Agaknya engkau telah menolongku ketika aku roboh pingsan, adik Mei Lan. Ah, seperti baru kemarin saja engkau menolongku, melepaskan aku dari ikatan di Lembah Naga dahulu itu...”

“Kalian berdua sungguh terlalu berani menentang Hwa-i Kai-pang.” Mei Lan menegur. “Pangcu itu lihai sekali. Sebetulnya apakah yang telah terjadi dan bagaimana saaudara Tio Sun sampai tewas di tangan mereka?”

Mendengar pertanyaan ini, Kwi Eng menangis dan Kwi Beng menarik napas panjang berulang kali. Kemudian Kwi Beng yang mewakili adiknya yang tidak mampu bicara karena menangis dan berduka itu, bercerita kepada Lie Seng dan Mei Lan.

“Kami sendiri tidak tahu bagaimana asal mulanya. Iparku itu hanya berpamit kepada isterinya untuk pergi mengunjungi Panglima Kim-i-wi yang bernama Lee Siang, katanya dimintai tolong oleh panglima itu untuk menjadi orang penengah atau pendamai. Akan tetapi, tahu-tahu dia telah diantar pulang oleh panglima itu, sudah tewas dan menurut cerita Panglima Lee, iparku dibunuh oleh pangcu Hwa-i Kai-pang tanpa sebab, diserang setelah iparku berusaha untuk mendamaikan mereka. Demikianlah penuturan dari Panglima Lee Siang.” Kwi Beng berhenti bercerita dan menarik napas panjang, berduka teringat akan kematian iparnya sehingga adiknya yang masih muda telah menjadi janda.

“Lalu kalian mendatangi ketua Hwa-i Kai-pang dan menantangnya?” Mei Lan bertanya.

Kwi Beng mengangguk. “Tentu saja kami berdua tidak mau menerima begitu saja. Sepanjang pengetahuan kami, keluarga kami tidak pernah bermusuhan dengan Hwa-i Kai-pang, dan iparku itu bukannya membela Panglima Lee, melainkan hendak menjadi orang penengah yang mendamaikan. Ketika kami bertemu dengan ketua Hwa-i Kai-pang, dia berkata bahwa dia tidak bermusuhan dengan iparku, tidak sengaja membunuhnya, dan dia bertempur dengan iparku karena iparku hendak melindungi Kim Hong Liu-nio yang dibela oleh Panglima Lee Siang. Dan dia mengatakan bahwa kalau ada yang menuntut balas, dia siap untuk melayani karena dia merasa tidak bersalah.”

Mei Lan mengerutkan alisnya. “Hemm, kurasa dia tidak berbohong.”

Kakak beradik kembar itu mengangkat muka memandang dengan heran. “Tidak berbohong? Jembel tua itu...!” Kwi Eng berseru, penasaran.

Mei Lan pembuat gerakan dengan tangan menyabarkan. “Harap kalian berdua ingat bahwa kalau kakek itu mempunyai niat jahat, tentu kalian berdua sudah dibunuhnya. Apa sukarnya bagi ketua itu yang dibantu oleh anak buahnya? Tidak, dia tidak membunuh kalian, dan ini saja sudah membuktikan bahwa dia tidak bermaksud buruk, tidak berniat memusuhi keluargamu dan karena itu maka kematian saudara Tio Sun perlu diselidiki lebih lanjut lagi. Yang menjadi biang keladi adalah panglima she Lee itu, dan siapakah gerangan wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio, yang dimusuhi oleh ketua Hwa-i Kai-pang itu?”

Kwi Eng menjawab, “Menurut penuturan suamiku yang mendengar dari Panglima Lee, wanita itu adalah seorang yang berjasa besar terhadap kaisar, bahkan penyelamat nyawa kaisar ketika terjadi pemberontakan. Dia adalah utusan dari Raja Sabutai.” Kwi Eng lalu bercerita tentang Kim Hong Liu-nio seperti yang didengarnya dari penuturan suaminya.

“Ahh...!” Mei Lan terkejut sekali mendengar semua itu, lalu dia mengangguk-angguk. “Urusan menjadi makin berbelit. Dan mengapa pula Kim Hong Liu-nio bermusuhan dengan pangcu dari Hwa-i Kai-pang?”

“Kabarnya, wanita itu telah bentrok dengan seorang anggauta Hwa-i Kai-pang sehingga anggauta perkumpulan itu tewas, kemudian dia mengalahkan beberapa orang tokoh Hwa-i Kai-pang sehingga pada suatu hari dia dikepung oleh semua anggauta Hwa-i Kai-pang di luar pintu gerbang di utara. Pada waktu itulah Lee-ciangkun menyelamatkannya,” kata pula Kwi Eng.

“Hemm, urusan dendam-mendendam!” Mei Lan kembali mengangguk-angguk. “Kini kita mengerti bahwa agaknya saudara Tio terlibat dalam urusan dendam pribadi antara pangcu Hwa-i Kai-pang dan Kim Hong Liu-nio. Dia dimintai tolong untuk melerai akan tetapi timbul kesalahfahaman dan terjadi pertempuran sehingga saudara Tio tewas di tangan pangcu itu. Tewas dalam suatu pertempuran yang adil memang menjadi resiko orang gagah, dan sesungguhnya tidak ada yang patut dibuat sakit hati.”

“Akan tetapi, jembel tua itu telah membikin sengsara kehidupan adikku yang kehilangan suaminya dan keponakanku yang kehilangan ayahnya. Bagaimana mungkin kami dapat mendiamkannya saja?” bantah Kwi Beng penasaran. “Dan iparku tewas bukan karena urusan pribadi, melainkan sebagai seorang penengah yang mendamaikan. Bukankah itu menimbulkan penasaran sekali?”

Mei Lan yang merupakan seorang gadis muda berusia dua puluh lima tahun itu menarik napas panjang dan keluarlah kata-kata yang padat dan penuh pengertian, “Penasaran selalu timbul kepada fihak yang merasa dirugikan, akan tetapi orang bijaksana memandang persoalan sebagaimana kenyataannya tanpa dipengaruhi oleh rugi untung bagi dirinya sendiri. Urusan ini menyangkut fihak-fihak yang berpengaruh, Hwa-i Kai-pang adalah sebuah perkumpulan besar yang berpengaruh sekali dan tentu mempunyai banyak sekutunya. Di lain fihak, kalau benar Kim Hong Liu-nio itu adalah utusan Raja Sabutai bahkan penyelamat jiwa kaisar, maka tentu saja diapun memiliki kedudukan yang kuat dan pengaruhnya besar. Maka, jika kalian berdua tidak berkeberatan, marilah kalian ikut bersama kami ke Cin-ling-san. Kami hendak menghadap Cia-locianpwe, kongkong dari sute Lie Seng dan mengingat bahwa Cia-locianpwe mengenal pula ketua Hwa-i Kai-pang, maka tentu nasihat beliau amat berharga untuk dipertimbangkan.”

“Baik, aku setuju. Mari kita ikut pergi ke Cin-ling-san, Eng-moi,” kata Kwi Beng seketika. Dengan cepat seperti tanpa dipikirkannya lagi dia sudah menyetujui, karena memang hatinya membisikkan bahwa dia tidak ingin berpisah dengan gadis cantik yang amat lihai itu, yang sejak tadi telah begitu menarik hatinya! Di lain fihak, setelah mendengar ajakannya sendiri, Mei Lan juga terheran dan bahkan terkejut mengapa dia mengajak kedua orang kembar itu untuk melakukan perjalanan bersamanya ke Cin-ling-san! Mukanya menjadi merah sekali dan diam-diam dia harus mengakui bahwa selamanya belum pernah dia merasakan hal seperti ini, dan dia tahu bahwa dia tidak ingin berjauhan dari pemuda tampan dan gagah yang mengagumkan hatinya itu!

Berangkatlah empat orang muda yang gagah perkasa itu menuju ke Cin-ling-san, dan di dalam perjalanan ini tumbuh perasaan yang mesra di dalam dada Kwi Beng dan Mei Lan. Hal ini tentu saja dimengerti pula oleh Kwi Eng yang diam-diam, dalam kedukaannya kehilangan suami tercinta, merasa girang dan senang sekali kalau kakak kembarnya itu mungkin dapat berjodoh dengan seorang gadis seperti Yap Mei Lan yang demikian gagah perkasa. Lie Seng yang juga sudah cukup dewasa itupun dapat merasakan adanya kemesraan antara sucinya dan pemuda bermata kebiruan dan berambut kekuningan itu, akan tetapi karena dia seorang pendiam yang tentu saja merasa sungkan kepada sucinya, dia pura-pura tidak tahu saja.

***




Ui-eng-piauwkiok dengan tandanya berupa bendera piauwkiok yang dasarnya merah dengan lukisan seekor burung garuda kuning sudah amat terkenal di seluruh Propinsi Ho-pei sebagai perusahaan ekspedisi yang boleh dipercaya. Tentu saja setiap perusahaan apapun dapat maju atau mundur, jatuh atau bangun tergantung dari kebijaksanaan sang pimpinan. Dan dalam hal ini, Na Ceng Han termasuk seorang yang pandai berusaha di samping kejujuran dan kegagahannya yang membuat perusahaan ekspedisinya sampai terkenal dan dipercaya orang. Na-piauwsu memang pandai bergaul dan hubungannya luas sekali dengan para tokoh dunia persilatan, baik dengan golongan pendekar atau golongan putih maupun dengan golongan hitam atau kaum perampok dan bajak. Karena hubungannya yang luas inilah maka barang-barang yang dikawal oleh perusahaannya tidak pernah diganggu penjahat karena hampir semua golongan liok-lim dan kang-ouw merasa enggan untuk mengganggu barang-barang yang dikawal oleh piauwsu yang mereka kenal sebagai seorang yang ringan tangan dan suka membantu itu, selain ini, juga setiap orang pendekar tentu akan membantu kalau mendengar betapa piauwsu ini diganggu orang.

Akan tetapi, biarpun Na Ceng Han tidak pernah memusuhi orang lain, hal itu bukan berarti bahwa tidak ada orang lain yang memusuhinya! Kita ini hidup di dalam dunia di mana masyarakat telah diracuni oleh iri hati! Di segala lapangan nampak jelas iri hati ini yang hampir mengotori setiap orang manusia.

Na Ceng Han tidak terluput dari incaran mata orang lain yang mengandung iri hati seperti itu, bahkan juga mengandung dendam. Yang mengincar dari jauh itu adalah mata Ciok Khun, juga seorang piauwsu yang tinggal di kota Kun-ting itu. Ciok Khun adalah piauwsu yang membuka piauwkiok yang bernama Gin-to-piauwkiok (Perusahaan Ekspedisi Golok Perak). Nama ini diambil dari senjatanya yang terkenal, yaitu sebatang golok dari perak. Bendera piauwkioknya berdasar hitam dengan lukisan sebatang golok putih.

Sudah menjadi penyakit umum di antara manusia untuk saling bersaing di dalam kehidupan. Penyakit ini memang sudah dipupuk sejak kecil. Di waktu manusia masih menjadi kanak-kanakpun para orang tua dan gurunya sudah selalu menekankan agar dia “tidak kalah” dari orang lain, penekanan yang memupuk jiwa persaingan itulah, yang dilakukan oleh kita semua tanpa kita sadari bahwa kita telah menanamkan benih-benih yang menimbulkan sengketa dan kekerasan dalam diri anak-anak kita! Sejak kecil, setiap orang anak telah dirangsang oleh orang tua, guru-guru, dan masyarakat yang menerima hal itu sebagai kehormatan dan kebudayaan, untuk menonjolkan dirinya sendiri, agar tidak kalah oleh siapapun juga. Di dalam kelas saja sudah terdapat penekanan ini berupa angka-angka tertinggi untuk nilai-nilai kepandaian, pujian bagi yang pintar dan celaan-celaan bagi yang bodoh, penghormatan-penghormatan bagi yang kaya dan penghinaan-penghinaan bagi yang miskin, memandang tinggi bagi yang bdrkedudukan tinggi dan memandang rendah kepada yang berkedudukan rendah. Inilah, yang membentuk jiwa seseorang sehingga seperti keadaan kita sekarang ini! Kita bersaing dalam apapun juga. Dalam perdagangan, dalam perusahaan, dalam kedudukan, dalam olah raga, dalam semua kehidupan kita. Persaingan ini, dalam bentuk apapun juga, tidak mungkin tidak menimbulkan kekerasan dan konflik, biarpun dengan seribu macam alasan kita mau memperhalus persaingan dengan tambahan kata “sehat”. Persaingan sehat! Mana mungkin ini? Persaingan itu sendiri adalah sama sekali tidak sehat! Keinginan menonjolkan diri agar “tidak kalah” oleh orang lain ini menimbulkan persaingan, menimbulkan konflik, menimbulkan iri hati. Iri hati timbul karena perbandingan, kalau kita membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain yang lebih pandai, lebih kaya, lebih tinggi kedudukannya, dan segala macam lebih lagi. Hidup akan menjadi sesuatu yang lain sama sekali dari pada sekarang ini kalau tidak ada perbandingan, tidak ada persaingan, tidak ada keinginan menonjolkan diri. Dapatkah kita hidup bebas dari persaingan? Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, kita harus menghayatinya, bukan hanya sekedar memikirkan dan berteori lalu berbantahan dengan kata-kata kosong belaka. Penghayatan dapat dilakukan kalau kita mengenal diri sendiri setiap saat, mengenal iri hati diri sendiri, mengenal keinginan menonjolkan diri sendiri, mengenal kesukaan diri sendiri untuk bersaing dan menang!



Demikianlah, tanpa disadari sendiri oleh Na Ceng Han, diam-diam terdapat seorang yang amat membencinya, bukan hanya terdorong oleh iri hati dan persaingan dalam perusahaan yang sama sifatnya, melainkan juga kebencian yang terdorong oleh dendam dan sakit hati! Ciok Khun ini sebelum menjadi piauwsu, tadinya adalah seorang perampok tunggal. Tentu saja hubungannya dengan para penjahat di dunia liok-lim lebih erat dibandingkan dengan hubungan Na-piauwsu dengan mereka. Dan setelah Ciok Khun menjadi piauwsu, dia melihat kesempatan-kesempatan baik. Bukan hanya dia dapat mengawal barang-barang dengan aman karena tidak akan diganggu teman-temannya, atau, bekas rekan-rekannya, melainkan juga dia dapat bersekongkol dengan para penjahat itu untuk memeras para pengirim barang yang dipercayakan kepadanya!

Beberapa kali sudah terjadi apabila ada kiriman barang-barang berharga yang dikawalnya, Ciok Khun bersekutu dengan teman-temannya dan di tengah jalan teman-temannya itu mengganggu dan merampas barang-barang yang berharga di bawah pengetahuan si pemilik barang sendiri. Kalau sudah begitu, Ciok Khun menawarkan jasa-jasa baiknya dan barang-barang itu tentu akan dapat diambilnya kembali asal si pemilik barang suka “menyogok” para perampok yang dikenalnya itu. Padahal, yang mengatur kesemuanya itu tentu saja adalah Ciok Khun sendiri!

Praktek-praktek pemerasan seperti ini bukan hanya dilakukan oleh orang-orang seperti Ciok Khun yang memang tadinya adalah seorang perampok, melainkan dilakukan oleh kebanyakan orang yang memiliki kedudukan atau juga yang memiliki banyak kesempatan untuk melakukannya. Betapa banyaknya dapat dilihat, semenjak jaman kuno sampai sekarang, orang-orang yang bertugas menjadi penjaga dan pelindung keselamatan, bahkan melakukan pemerasan kepada mereka yang dijaga atau dilindungi keselamatannya! Justeru penjagaan atau perlindungan itulah yang dijadikan sebagai jalan untuk melakukan pemerasan. Keadaan seperti ini sungguh amat mengherankan dan menyedihkan namun kenyataannya memang demikianlah. Dan kesemuanya itu, seperti juga bentuk kemaksiatan atau kejahatan apapun juga, didorong oleh keinginan manusia untuk mencari kesenangan sendiri. Jadi sumbernya adalah pada diri kita sendiri! Kitalah yang harus berubah, bukan keadaannya, bukan sekeliling kita, bukan masyarakat, bukan dunia, melainkan kita sendirilah, masing-masing harus berubah seketika! Tanpa adanya perubahan dalam diri masing-masing jangan mengharapkan keadaan sekeliling atau masyarakat akan dapat berubah. Biarpun diatur bagaimana juga, selama diri kita tidak berubah, maka peraturan itu hanya akan menjadi alat baru untuk saling memperebutkan kesenangan bagi kita sendiri dan karenanya pasti timbul pelbagai bentuk kemaksiatan dan kejahatan baru. Kalau kita sudah berubah, maka akan terjadilah perubahan dalam segala hal. Harta, kedudukan, pendeknya segala macam antar hubungan akan mempunyai arti yang lain sama sekali.

Mengapa Ciok Khun menaruh dendam dan sakit hati terhadap Na-piauwsu? Kalau dia merasa iri hati, hal itu sudah jelas karena dalam hal persaingan pekerjaan sebagai piauwsu, Ciok Khun kalah jauh. Para pedagang besar dan para pembesar lebih suka mengirimkan barang-barang berharga mereka di bawah lindungan bendera Ui-eng-piauwkiok daripada dilindungi oleh bendera Gin-to-piauwkiok. Akan tetapi, dendam dan sakit hati di hati Ciok Khun timbul karena urusan pribadi, yaitu karena pernah Na-piauwsu menentang praktek-prakteknya yang memeras seorang pedagang yang mengirim barangnya di bawah perlindungannya. Na-piauwsu yang menghentikan pemerasan itu dan yang dengan terang-terangan mendatanginya dan menegurnya karena pedagang itu adalah seorang kenalan baik dari Na-piauwsu yang datang menceritakan pemerasan yang ditimpakan kepadanya itu. Ciok Khun tidak berani menentang secara berterang dan pada lahirnya dia menurut, akan tetapi diam-diam timbul ganjalan di dalam hatinya, melahirkan dendam dan setiap hari dia mencari kesempatan untuk dapat membalas kepada Na-piauwsu yang dianggapnya musuh besarnya itu. Hanya karena dia tahu bahwa dalam hal ilmu kepandaian, dia tidak akan mampu menandingi Na-piauwsu, maka dia masih belum turun tangan dan menanti saat sampai bertahun-tahun lamanya.

Kesempatan yang dinanti-nantikan itu akhirnyapun tibalah. Dia berkenalan dengan seorang yang bernama Lu Seng Ok, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang memiliki kepandaian tinggi. Lu Seng Ok ini adalah seorang bekas tokoh Hwa-i Kai-pang yang murtad dan telah dikeluarkan dari Hwa-i Kai-pang karena ketahuan telah melakukan kejahatan dengan jalan minta-minta secara paksa kepada para penghuni sebuah dusun. Hwa-i Kai-pang, biarpun hanya merupakan sebuah perkumpulan pengemis, akan tetapi memiliki peraturan keras terhadap para anggautanya. Mereka dilarang untuk melakukan pencurian atau perampokan, maka perbuatan Lu Seng Ok yang menjadi tokoh tingkat tiga itu dianggap perampokan dan diapun dikeluarkan dari Hwa-i Kai-pang oleh ketua Hwa-i Kai-pang sendiri. Setelah keluar dari perkumpulan itu, tentu saja Lu Seng Ok menjadi seorang penjahat yang suka mempergunakan kekerasan dan ilmu silatnya yang tinggi. Akhirnya, bertemulah Lu Seng Ok dengan Ciok Khun dan menjadi sahabat baik.

Pada suatu malam yang gelap dan sunyi. Hujan turun sejak sore tadi, dan biarpun kini hujan tinggal rintik-rintik kecil, namun hawa yang dingin membuat orang merasa enggan untuk keluar dari pintu, apalagi air hujan membuat jalan di luar rumah menjadi becek dan berlumpur. Toko-toko sudah tutup sejak tadi ketika hujan turun deras karena dibukapun percuma saja, tidak ada pembeli, bahkan jalan-jalan sunyi tidak ada orang lewat.



Hawa udara yang sejuk nyaman membuat orang sore-sore sudah memasuki kamar mereka, dan membuat orang merasa betah tinggal di rumah. Di rumah keluarga Na juga sudah sepi sekali. Na Ceng Han dan isterinya sudah memasuki kamar, bercakap-cakap dan mereka berdua membicarakan tentang diri Sin Liong yang sudah satu setengah tahun berada di rumah mereka. Suami isteri ini merasa suka kepada Sin Liong yang tahu diri dan rajin membantu pekerjaan rumah dan juga rajin sekali berlatih silat dan belajar membaca dan menulis, mendalami kitab-kitab kuno, dan selain kerajinan ini, juga Sin Liong adalah seorang anak yang patuh dan tidak banyak bicara.

Para pembantu rumah tangga, juga para piauwsu yang berada di kantor, semua sudah beristirahat di tempat masing-masing. Bhe Bi Cu sudah tidur di dalam kamarnya, sedangkan Na Tiong Pek, putera tunggal Na-piauwsu, sejak sore tadi memanggil Sin Liong ke dalam kamarnya dan mengajak anak itu bermain catur. Kini, Tiong Pek sudah rebah di atas pembaringan sedangkan Sin Liong masih membaca kitab di kamar Tiong Pek. Suasana amat sunyi dan dari celah-celah jendela kamar itu dapat terdengar hembusan angin malam yang kadang-kadang mengeluarkan bunyi yang menyeramkan, seperti iblis meniup-niup di luar rumah, di antara pohon-pohon yang gelap.
Dan kalau saja pada saat itu ada penghuni rumah keluarga Na yang mengintai keluar, mungkin dia akan dapat melihat keadaan yang menyeramkan di sekitar rumah keluarga Na itu. Beberapa bayangan orang berkelebat cepat dan sebentar saja ada bayangan tujuh orang berada di sekitar tempat itu, menyelinap di antara pohon-pohon dan bayangan-bayangan gelap. Suara angin yang bertiup keras pada daun-daun pohon di luar rumah menyelimuti suara golok seorang di antara mereka yang mencokel daun pintu sehingga terbuka dan bagaikan bayangan-bayangan iblis mereka itu berloncatan masuk dari pintu samping yang telah mereka bongkar. Ternyata bahwa mereka itu adalah tujuh orang laki-laki yang bermuka bengis dan di tangan mereka tampak golok atau pedang yang berkilauan tertimpa sinar api lampu yang tergantung di tempat itu.

Seorang di antara mereka adalah seorang laki-laki yang bermuka bengis, dengan alis tebal dan dia memegang sebatang golok yang berkilauan putih. Inilah Si Golok Perak Ciok Khun sendiri yang memimpin penyerbuan diam-diam itu. Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, mukanya kecil seperti tikus dan orang ini memegang sebatang toya baja yang kelihatan berat sekali, orangnya tinggi kurus dan mukanya seperti tikus dengan sepasang mata yang agak menjuling itu sudah membayangkan adanya watak yang culas dan curang. Orang ini bukan lain adalah Lu Seng Ok, bekas tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang yang murtad dan telah dikeluarkan dari perkumpulan itu. Adapun lima orang lainnya adalah para pembantu Ciok Khun, yaitu para piauwsu dari Gin-to-piauwkiok. Mereka ini ada yang memegang golok, akan tetapi ada pula yang berpedang, sesuai dengan kepandaian masing-masing.

Malam itu memang dipergunakan oleh Ciok Khun untuk melaksanakan niatnya yang sudah ditahan-tahan sampai bertahun-tahun, yaitu melampiaskan dendamnya kepada Na Ceng Han! Dan tentu saja dia dibantu oleh sahabat barunya, yaitu Lu Seng Ok yang diandalkannya untuk dapat menandingi Na-piauwsu yang lihai.

“Lepaskan api sekarang!” bisik Ciok Khun setelah mereka semua berhasil membongkar daun pintu dan menyelinap masuk. Sebelumnya memang telah mereka rencanakan untuk melepaskan api agar mengacaukan keadaan dan memancing keluar Na Ceng Han, juga untuk membuat bingung dan berpencaran para piauwsu yang berada di situ. Dua orang anak buahnya yang bertugas untuk melepas api mengangguk lalu berpencar ke kanan kiri dan mereka lalu mengeluarkan alat-alat untuk menimbulkan kebakaran, yaitu minyak, kain dan api. Sebentar saja terjadilah kebakaran di kanan kiri. Api menjilat-jilat dan asap mengepul tinggi.

“Api...! Kebakaran...!” Terdengar teriakan seorang pelayan yang lebih dulu melihat api.

Kamar Na Ceng Han terbuka dan piauwsu itu dengan mata terbelalak berseru, “Di mana kebakaran?”

Akan tetapi dia segera meloncat kembali ke dalam kamarnya ketika ada sinar senjata berkelebat. Ketika dia meloncat ke dalam dan memandang ternyata yang menyerangnya adalah Ciok Khun yang tadi begitu melihat munculnya musuh besar ini telah menerjang dengan golok peraknya.

“Ah, kiranya engkau, penjahat keji!” bentak Na Ceng Han sambil meloncat ke dekat pembaringan dan menyambar pedangnya. Isterinya yang sudah tidur terkejut dan turun dari pembaringan, mukanya pucat ketika melihat ada dua orang asing di dalam kamarnya.

“Lu-twako, inilah dia orangnya!” kata Ciok Khun kepada laki-laki yang memegang toya. Biasanya, ketika masih menjadi tokoh Hwa-i Kai-pang Lu Seng Ok tentu saja bersenjata sebatang tongkat seperti semua tokoh perkumpulan pengemis itu. Akan tetapi setelah dia dikeluarkan dari Hwa-i Kai-pang dan tidak lagi berpakaian pengemis, tentu saja diapun tidak mau mempergunakan tongkat dan sebagai gantinya dia lalu membeli sebatang toya baja yang kokoh kuat dan berat itu. Mendengar seruan Ciok Khun, Lu Seng Ok sudah menggerakkan toyanya dan berdesirlah angin yang kuat ketika toya itu menyambar ke arah kepala Na Ceng Han!

Na Ceng Han marah sekali. Tak pernah disangkanya bahwa Ciok Khun, kepala dari Gin-to-piauwkiok yang dia tahu adalah bekas perampok dan melakukan pemerasan kepada para pengirim barang itu, akan berani melakukan penyerbuan secara pengecut seperti perampok-perampok. Cepat dia menggerakkan pedangnya menangkis serangan toya dari orang tinggi kurus yang tidak dikenalnya itu.

“Tranggg...!” Bunga api berpijar dan terkejutlah Na Ceng Han karena tangkisan itu membuat pedangnya terpental dan telapak tangannya terasa nyeri. Tahulah dia bahwa orang yang memegang toya ini lihai dan memiliki tenaga yang kuat bukan main.

“Siapakah kau? Mengapa engkau memusuhi aku?” bentaknya dengan heran sambil memandang tajam.

Lu Seng Ok tertawa mengejek. “Orang she Na, siapa adanya aku tidak perlu kauketahui, diberitahukan juga apa artinya karena engkau akan mampus!” toyanya menyambar lagi dengan amat dahsyat sehingga Na Ceng Han cepat meloncat ke belakang, kemudian menggerakkan pedangnya untuk membalas dengan tusukan kilat. Akan tetapi, ternyata pemegang toya itu lihai sekali dan dengan mudah dapat pula mengelak. Terjadilah pertandingan yang amat seru dan hebat antara Na-piauwsu dan bekas tokoh Hwa-i Kai-pang itu. Ciok Khun juga tidak tinggal diam dan dia sudah menerjang maju membantu kawannya mengeroyok Na-piauwsu.

“Ihhh... tolooonggg...!” Nyonya Na berteriak ketika melihat api dari pintu kamarnya dan melihat suaminya dikeroyok dua. Dia teringat kepada puteranya dan kepada Bi Cu maka saking khawatirnya, nyonya ini menjerit-jerit di atas pembaringannya untuk memanggil para pembantu suaminya yang berada di kamar.

Mendengar jeritan ini, Ciok Khun cepat meloncat dan goloknya digerakkan dengan cepat. Melihat ini, Na Ceng Han membentak keras, “Orang she Ciok, jangan ganggu isteriku!”

Namun terlambat sudah. Golok itu sudah membacok. “Crokkk...!” Dada dan leher nyonya itu terobek, darah menyembur keluar dan tubuh nyonya itu roboh menelungkup, dari pinggang ke bawah masih berada di atas pembaringan, akan tetapi dari pinggang ke atas berada di bawah pembaringan, tergantung dan darah membasahi lantai di bawahnya.

“Jahanam keji...!” Na Ceng Han terbelalak melihat isterinya terbunuh dan dia meloncat meninggalkan Lu Seng Ok,
tidak memperdulikan lagi kepada lawan bertoya ini karena saking marahnya, dia hanya melihat Ciok Khun dan pedangnya menyambar. Akan tetapi kemarahannya yang meluap ini mencelakakan dia. Karena dia hanya memandang kepada Ciok Khun, dan tidak memperdulikan lawan yang lebih lihai itu, ketika dia meloncat, toya di tangan Lu Seng Ok menyambar dan menyodok punggungnya.

“Dukkk...!” Tubuh Na Ceng Han yang sedang meloncat dan menyerang Ciok Khun itu terhuyung dan saat itu dipergunakan oleh Ciok Khun untuk membalik dan menggerakkan goloknya yang
baru saja membunuh nyonya Na itu untuk membacok!

Na Ceng Han merasa punggungnya nyeri bukan main dan melihat bacokan golok, dia mencoba untuk miringkan tubuhnya, akan tetapi biarpun dia berhasil mengelak dari bacokan golok itu sebelum dia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, dari belakangnya kembali toya yang berat itu menyambar, kini membabat ke arah kedua kakinya.

Na Ceng Han masih sempat meloncat ke atas, membalikkan tubuh dan pedangnya meluncur untuk membalas serangan musuh. Akan tetapi pada saat itu, golok Ciok Khun membacok dari belakang, sedangkan toya di tangan Lu Seng Ok menyambar dari depan. Na-piauwsu sudah terluka parah di sebelah dalam tubuhnya oleh hantaman toya pada punggungnya tadi, maka gerakannya menjadi kaku dan lambat. Dia dapat menangkis toya, akan tetapi golok Giok Khun mengenai bahu kirinya sampai hampir putus! Dia terguling roboh dan ketika terguling, tangan kanan yang memegang pedang bergerak. Pedang itu meluncur ke arah Lu Seng Ok di depannya. Bekas tokoh Hwa-i Kai-pang ini terkejut dan menangkis dengan toyanya, akan tetapi demikian cepatnya luncuran pedang itu sehingga biarpun tertangkis, masih saja meleset dan mengenai pangkal pahanya, menyerempet merobek celana dan kulit sehingga pangkal paha itu berdarah. Akan tetapi, Ciok Khun sudah meloncat ke depan dan sekali goloknya berkelebat, leher Na-piauwsu terbacok hampir putus. Darah muncrat-muncrat membasahi lantai kamar dan tubuh Na Ceng Han tidak bergerak lagi, tewas seperti juga isterinya yang telah mendahuluinya.

“Keparat...!” Lu Seng Ok mengomel sambil memeriksa luka di pangkal pahanya, akan tetapi hatinya lega karena luka itu tidak hebat.

“Mari kita bantu teman-teman di luar!” kata Ciok Khun dengan wajah berseri. Hatinya lega sekali karena dia telah berhasil membunuh musuh besarnya itu bersama isterinya. Mereka berdua cepat berloncatan keluar.

Ternyata lima orang piauwsu dari Gin-to-piauwkiok sedang bertempur melawan tiga orang anak yang dibantu oleh tujuh orang piauwsu dari Ui-eng-piauwkiok. Ketika para piauwsu dari Ui-eng-piauwkiok melihat munculnya Ciok Khun dan seorang pemegang toya yang lihai, yang dalam beberapa gebrakan saja telah merobohkan dua orang piauwsu Ui-eng-piauwkiok, maka mereka menjadi jerih dan segera melarikan diri! Hanya tiga orang anak itu yang masih terus melawan dengan gigih dan nekat.

Tiga orang anak kecil itu adalah Sin Liong, Na Tiong Pek, dan Bhe Bi Cu. Sin Liong mempergunakan senjata sebatang
toya sedangkan Na Tiong Pek bersenjata pedang, juga Bhe Bi Cu memegang sebatang pedang. Ketika tadi Sin Liong yang masih membaca kitab di dalam kamar Tiong Pek mendengar ribut-ribut, dia cepat berlari keluar dan dia melihat kebakaran-kebakaran itu. Cepat dia menyambar sebatang toya dan membantu para pelayan untuk memadamkan api, memukuli barang-barang yang terbakar agar tidak menjalar naik. Sedangkan Tiong Pek yang juga terkejut karena baru saja akan pulas, cepat berlari ke luar dan dia melihat beberapa orang asing yang berada di halaman belakang. Maka dia lalu menggerakkan pedangnya menyerang. Tak lama kemudian muncul Bi Cu yang segera membantu suhengnya. Akan tetapi, dua orang di antara para piauwsu Gin-to-piauwkiok tentu saja memandang rendah kepada dua orang anak itu dan mereka ini hanya menghadapi mereka dengan tangan kosong sambil mentertawakan. Melihat ini, Bi Cu lalu menjerit minta tolong, maksudnya minta tolong kepada paman Na dan para piauwsu lainnya.

Yang pertama kali muncul adalah Sin Liong! Anak ini mendengar jerit Bi Cu cepat berlari ke ruangan belakang dan segera dia membantu dan menyerang seorang musuh dengan toyanya. Akan tetapi, lima orang pembantu Ciok Khun adalah orang-orang pilihan yang memiliki kepandaian, maka tentu saja Sin Liong bukanlah lawan seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar. Dengan mudah saja Sin Liong ditampar dan ditendang sampai berkali-kali roboh. Akan tetapi anak ini tidak pernah mengenal takut. Dia bangun kembali dan biarpun bajunya sudah robek-robek, dia tetap menyerang terus. Demikian pula dengan Tiong Pek dan Bi Cu yang terus memutar pedang mereka dengan nekat. Akhirnya muncullah tujuh orang piauwsu Ui-eng-piauwkiok dan terjadilah pertempuran kecil yang hebat itu. Sayangnya, para piauwsu ini menjadi jerih melihat munculnya Ciok Khun dan Lu Seng Ok, dan mereka segera melarikan diri untuk minta bantuan dan melaporkan kepada para penjaga keamanan kota.

Tinggal Sin Liong, Tiong Pek, dan Bi Cu yang tidak pernah mau menyerah, apalagi melarikan diri!

Ciok Khun yang sudah berhasil membunuh musuh besarnya, segera berkata, “Mari kita pergi, jangan layani anak-anak!” Dia bersama Lu Seng Ok sudah mendahului meloncat keluar, dan lima orang pembantunya sudah berlarian keluar pula.

“Penjahat-penjahat busuk, kalian hendak lari ke mana?” Sin Liong membentak dan anak ini cepat mengejar, diikuti pula oleh Tiong Pek dan Bi Cu.

Setelah tiba di depan rumah, kembali Sin liong, Tiong Pek, dan Bi Cu menyerang tiga orang di antara mereka yang menjadi marah.

“Kalian ini anak-anak setan, sudah bosan hidupkah?” bentak seorang diantara mereka yang cepat memukul ke arah kepala Sin Liong. Akan tetapi Sin Liong mengelak dan menggerakkan toyanya untuk balas menyerang. Tiong Pek juga meloncat seperti seekor burung garuda, pedangnya digerakkan menusuk seorang di antara mereka pula. Demikian pula Bi Cu juga menyerang seorang musuh.

“Cepat robohkan mereka, jangan main-main. Kita harus lekas pergi!” Ciok Khun berseru karena dia tidak ingin orang-orang melihat bahwa dialah yang menyerbu rumah Na-piauwsu.

“Baik!” kata tiga orang pembantunya yang menghadapi tiga orang anak itu dan kini mereka memperlihatkan kepandaian. Terdengar teriakan bergantian, tiga kali berturut-turut dari tiga orang itu roboh dengan tubuh berkelojotan, lalu diam dan tewas! Ciok Khun dan Lu Seng Ok terkejut setengah mati. Juga tiga orang anak itu terkejut karena mereka sendiri tidak tahu mengapa tiga orang lawan mereka itu tiba-tiba saja roboh dan berkelojotan lalu mati! Bahkan Bi Cu menjadi ngeri melihat bekas lawannya berkelojotan itu, dia melempar pedang dan menutupi kedua mata dengan tangan mengira bahwa pedangnyalah yang membunuh orang itu.

Akan tetapi Lu Seng Ok tadi melihat menyambarnya sinar merah dan tahulah dia bahwa ada orang yang datang membantu fihak tuan rumah. Cepat dia membalik dan benar saja dugaannya. Di situ telah berdiri seorang wanita yang luar biasa cantiknya, seorang wanita yang berdiri tegak sambil tersenyum, sinar lampu di depan rumah yang muram itu hanya menggambarkan garis muka yang manis, yang memiliki sepasang mata jeli dan tajam, dan tangan wanita itu mempermainkan sehelai sabuk merah yang sebagian masih mengikat pinggangnya yang kecil ramping!

Dia tidak mengenal wanita itu, akan tetapi maklum bahwa wanita itu adalah seorang pandai, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu memutar toya bajanya dan menyerang dengan dahsyat. Pada saat itu, Ciok Khun yang melihat betapa dua orang pembantunya tewas, menjadi marah sekali dan diapun segera memutar goloknya menyerang dan mengeroyok.

Akan tetapi, wanita cantik itu dengan tenang-tenang saja menyambut serangan mereka berdua sambil tersenyum dan membentak dengan suara halus, “Kalian dua orang jahat tak tahu malu yang suka menyerang anak-anak kecil layak mampus!” Sambil berkata demikian, tangannya bergerak, sabuk merah berubah menjadi sinar merah menyambar-nyambar dan terdengar pekik mengerikan ketika dua orang penyerang itupun roboh dan tewas! Semua piauwsu dari Gin-to-piauwkiok menjadi terkejut bukan main. Kepala mereka dan pembantu mereka yang lihai itu dalam segebrakan saja roboh dan tewas! Tentu saja nyali mereka terbang dan mereka berusaha untuk melarikan diri, akan tetapi para piauwsu dari Ui-eng-piauwkiok tentu saja tidak membiarkan mereka lari dan sisa tiga orang piauwsu dari Gin-to-piawkiok itu akhirnya roboh dan tewas semua oleh pengeroyokan para anak buah Ui-eng-piauwkiok. Ketika semua orang mencari-cari wanita cantik yang menolong mereka tadi mereka melongo karena wanita itu telah lenyap dan bersama dia lenyap pula Sin Liong! Tiong Pek dan Bi Cu memanggil-manggil Sin Liong, akan tetapi pada waktu mereka berdua masih mencari-cari, terdengarlah jerit-jerit dan tangis di sebelah dalam rumah. Mereka dan para piauwsu yang sudah merasa terheran-heran mengapa Na-piauwsu tidak muncul dalam keributan itu, cepat lari masuk dan dapat dibayangkan betapa
kaget dan ngeri hati mereka ketika melihat bahwa Na-piauwsu dan isterinya ternyata telah tewas dalam keadaan yang amat mengerikan! Tiong Pek dan Bi Cu menubruk mayat-mayat itu sambil menjerit-jerit menangis, dan gegerlah di dalam rumah keluarga Na itu.

Siapakah adanya wanita cantik yang lihai sekali dan yang telah menyelamatkan tiga orang anak dari ancaman maut di tangan para piauwsu Gin-to-piauwkiok itu? Dia bukan lain adalah Kim Hong Liu-nio. Seperti kita ketahui, dengan bantuan Panglima Lee Siang, wanita ini berhasil membunuh Tio Sun, seorang di antara musuh-musuh besar gurunya yang harus dibunuhnya dengan jalan meminjam nama Hwa-i Kai-pangcu.



PADA waktu keluarga Tio bertangis-tangisan dan berkabung, Kim Hong Liu-nio dan Panglima Lee Siang merayakan kemenangan dan hasil siasat mereka itu dengan pesta dalam kamar di mana mereka berdua saling mencurahkan rasa kasih sayang antara mereka. Akan tetapi tetap saja Kim Hong Liu-nio masih bertahan dan tidak mau menyerahkan diri sebelum semua musuhnya terbasmi habis, yaitu tinggal dua orang lagi, Cia Bun Houw dan Yap In Hong. Panglima Lee Siang tidak berani memaksa karena hal itu membahayakan keselamatan wanita yang dicintanya, maka diapun berjanji akan membantu dan menyebar mata-mata untuk menyelidiki di mana adanya dua orang musuh besar itu.

Setelah mencurahkan kasih sayang mereka dengan mesra namun terbatas, dan saling berjanji untuk bersetia sampai kelak terbuka kesempatan bagi mereka untuk menjadi suami isteri, pergilah Kim Hong Liu-nio ke utara untuk melapor kepada Raja Sabutai tentang segala yang dialaminya dan tentang keadaan Pangeran Oguthai atau Ceng Han Houw kepada raja dan permaisuri yang mendengarkan dengan hati gembira. Akan tetapi, Raja Sabutai masih merasa sangsi dan curiga untuk berkunjung ke selatan. Di dalam istana kaisar, satu-satunya orang yang dipercayanya hanyalah Kaisar Ceng Tung seorang, dan kini kaisar itu telah meninggal dunia, maka dia merasa sangsi dan mengkhawatirkan keselamatannya. Juga para menteri pembantunya menasihatkan agar raja ini jangan lengah dan membiarkan dirinya terancam bahaya jika mengunjungi selatan. Oleh karena itu, Raja Sabutai tidak datang menghadiri hari penobatan kaisar baru, yaitu Kaisar Ceng Hwa dan mengutus Kim Hong Liu-nio untuk kembali ke selatan, membawa barang sumbangannya kepada kaisar dan mewakilkan kehadirannya kepada puteranya, pangeran Oguthai.

Sebelum berangkat, Kim Hong Liu-nio menghadap subonya, Hek-hiat Mo-li, menceritakan tentang hasilnya membunuh seorang di antara musuh-musuh itu, yaitu Tio Sun. Nenek tua renta itu terkekeh senang, dia berkata, “Bagus, muridku. Hanya sayang bahwa yang kaubunuh itu adalah orang yang paling lemah di antara musuh-musuhku. Kau harus cepat mencari yang dua orang lagi itu. Dan aku sendiri akan ikut pergi ke selatan, muridku, karena aku sangsi apakah engkau akan mampu menanggulangi mereka.

Giranglah hati Kim Hong Liu-nio karena dengan bantuan subonya, dia merasa yakin akan dapat dengan cepat membunuh dua orang musuh besar yang lain itu sehingga dia akan dapat segera bebas untuk melangsungkan pernikahannya dengan Panglima Lee yang telah menjatuhkan hatinya itu. Maka berangkatlah guru dan murid itu meninggalkan utara. Raja Sabutai ketika mendengar bahwa Hek-hiat Mo-li hendak merantau ke selatan untuk mencari musuh-musuh besarnya, merasa tidak tega karena gurunya itu sudah tua sekali, maka dia lalu mengutus seorang panglima membawa sepasukan pilihan yang mengawal nenek itu secara diam-diam, dengan menyamar. Jumlah pasukan yang membantu nenek ini ada selosin orang-orang pilihan yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi.

Setelah menghadiri perayaan di istana Ketika Kaisar Ceng Hwa dinobatkan sebagai kaisar baru, Kim Hong Liu-nio lalu mulai dengan penyelidikannya mencari musuh-musuh besar gurunya. Subonya sendiri yang sudah tua itu tentu saja tidak ikut mencari hanya menanti di dalam sebuah gedung di kota raja, menanti sampai muridnya berhasil menemukan musuh-musuh besar itu. Dalam usaha mencari jejak musuh-musuhnya ini, Kim Hong Liu-nio dibantu oleh kekasihnya, Panglima Lee Siang yang menyebar kaki tangannya untuk menyelidiki di mana adanya pendekar Cia Bun Houw dan pendekar wanita Yap In Hong.

Demikianlah, pada hari itu, secara kebetulan Kim Hong Liu-nio lewat di kota Kun-ting, di sebelah selatan kota raja dalam penyelidikannya dan dia melihat keributan yang terjadi di dalam rumah keluarga Na-piauwsu. Wanita ini pada hakekatnya bukanlah orang jahat, bahkan dia condong untuk bersikap sebagai pendekar wanita yang tidak suka menyaksikan penindasan. Dia dapat bersikap kejam hanya terhadap musuh-musuhnya, atau musuh-musuh gurunya yang harus dibasminya, sesuai dengan sumpahnya. Maka begitu melihat tiga orang anak kecil diserang oleh orang-orang dari Gin-to-piauwkiok, dia menjadi marah dan segera turun tangan menghajar, bahkan membunuh Ciok Khun, Lu Seng Ok, dan tiga orang anak buah mereka itu.

Kemudian, dalam keributan itu, Kim Hong Liu-nio yang sudah berhasil membunuh Ciok Khun dan Lu Seng Ok, melihat Sin Liong dan wanita ini terkejut bukan main! Anak setan itu masih hidup! Padahal dia telah memasukkan racun Hui-tok-san ke tubuh anak itu. Dan anak itu dahulu telah ditawan oleh ketua Jeng-hwa-pang yang kejam, maka dia menyangka bahwa anak itu tentu telah tewas. Akan tetapi, sekarang dia melihat bocah itu masih segar bugar! Dan anak ini menurut pengakuannya adalah putera Cia Bun Houw, tokoh utama yang menjadi musuh besar subonya. Tentu saja hati wanita itu meniadi girang sekali. Tak disangkanya dia akan bertemu dengan bocah ini yang tentu akan dapat menunjukkan jalan ke tempat musuh besarnya she Cia itu! Maka, dia tidak lagi memperdulikan segala keributan di tempat itu dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah menangkap Sin Liong dan menotok bocah itu sebelum Sin Liong mampu berteriak atau bergerak, kemudian sekali berkelebat lenyaplah wanita itu bersama Sin Liong dari situ!

***




Begitu tubuhnya ditangkap dan dibawa lari seperti terbang, Sin Liong memandang dan tahulah dia bahwa dia terjatuh ke dalam tangan musuh lamanya! Tadi ketika Kim Hong Liu-nio membunuh tiga orang penyerbu rumah keluarga Na, diapun sudah mengenal wanita itu dan saking heran dan terkejutnya dia sampai tidak mampu berkata apa-apa. Kini, melihat dirinya ditawan, dia tidak berusaha meronta karena diapun tahu bahwa dia telah tertotok dan tidak akan mampu membebaskan diri dari cengkeraman wanita yang amat lihai ini. Akan tetapi, sekali ini Sin Liong tidak menjadi marah, bahkan diam-diam dia berterima kasih kepada wanita ini. Dia tahu bahwa tanpa adanya wanita aneh ini, tentu Tiong Pek dan Bi Cu telah tewas, juga dia sendiri. Wanita aneh ini telah menyelamatkan nyawa mereka bertiga, maka kalau sekarang menawannya dan hendak membunuhnya sekalipun, dia tidak akan merasa penasaran!



Cepat bukan main larinya Kim Hong Liu-nio dan dia membawa Sin Liong ke puncak pegunungan yang tandus dan kering, sunyi seperti kuburan. Setelah tiba di atas puncak yang amat sunyi dan panas, Kim Hong Liu-nio melemparkan tubuh Sin Liong ke atas tanah. Sin Liong rebah terlentang tanpa mampu bergerak dan ketika wanita itu menotoknya dan membebaskan dirinya, dia bangkit duduk dan memandang kepada wanita itu dengan mulut tersenyum dan mata berseri lalu dia mengelus-elus bagian tubuhnya yang terasa nyeri karena luka-luka bekas pukulan lawan dalam perkelahian tadi. Melihat anak itu tersenyum kepadanya, Kim Hong Liu-nio mengerutkan alisnya. Senyum anak itu demikian terbuka dan sekiranya dia tidak begitu benci kepada anak ini sebagai putera musuh besarnya, tentu dia tidak ingin mencelakai seorang anak laki-laki seperti ini. Dan sepasang matanya demikian tajam.

“Uhh...!” Kim Hong Liu-nio mengusap peluh di dahinya dan diam-diam dia memaki dirinya sendiri mengapa tiba-tiba saja dia merasa begitu lemah. Dia tidak tahu bahwa setelah dia menjadi korban asmara, setelah dia jatuh cinta terjadi perubahan dalam dirinya dan dia sebenarnya mendambakan kehidupan yang damai dan tenteram, jauh dari kekerasan dan penuh dengan cinta kasih dan kebahagiaan. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk hidup akur dan damai dengan siapapun juga, mengajak senyum dan bergembira kepida siapapun juga.

“Kenapa kau pringas-pringis seperti itu?” bentaknya marah.

Senyum di bibir Sin Liong melebar. “Bibi yang baik, engkau telah menyelamatkan nyawa Tiong Pek dan terutama Bi Cu, maka aku merasa girang sekali dan berterima kasih kepadamu. Ternyata engkau bukanlah iblis betina seperti yang selama ini kukira, melainkan orang yang gagah perkasa dan baik, yang kadang-kadang berpura-pura jahat dan kejam.”

“Hemm, apa maksudmu? Siapa itu Tiong Pek dan Bi Cu?” bentak Kim Hong Liu-nio.

“Tiong Pek dan Bi Cu adalah dua orang anak yang telah kauselamatkan nyawanya tadi, bibi yang baik...”

“Aku bukan bibimu!” bentak wanita itu marah.

“Tentu saja bukan, akan tetapi... ah, agaknya kau tidak suka kusebut bibi? Baiklah, kusebut kau enci juga boleh!”

“Huh, kau anak ceriwis!” bentaknya lagi dan Sin Liong ini diam saja. Sampai lama mereka berdua tidak berkata-kata,
dan wanita itu duduk di atas batu besar, matanya memandang jauh seperti orang melamun. Sin Liong juga memandang ke sana-sini. Keadaan amat sunyi dan tiba-tiba Sin Liong melihat betapa tempat itu penuh dengan burung-burung gagak. Ada yang beterbangan di atas dan ada pula yang hinggap di atas pohon, di atas batu-batu. Bulu mereka yang hitam itu mengkilap tertimpa sinar matahari pagi. Hari itu masih belum siang benar, akan tetapi panas matahari telah menyengat. Dan ternyata telah dilarikan selama semalam suntuk oleh wanita itu, wanita yang luar biasa.

“Luar biasa...!” tanpa disadarinya, kata-kata ini keluar dari mulutnya.

Ucapan itu agaknya menyadarkan Kim Hong Liu-nio dari lamunannya. Dia sendiri tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia banyak melamun. Dia terkejut dan menoleh.

“Apa katamu?” bentaknya.

Sin Liong juga terkejut karena dia sendiri tidak sadar bahwa jalan pikirannya keluar dari mulutnya. “Eh, apa...? Ok, aku hanya ingin tahu apakah yang akan kaulakukan kepadaku, enci? Mengapa kau mengajak aku ke tempat yang sunyi ini?” Tiba-tiba terdengar bunyi burung gagak. Seekor berbunyi, yang lain lalu menjawab dan mereka berkaok-kaok saling bersahutan. Sin Liong merasa serem. Bunyi burung gagak selalu menimbulkan serem di dalam hatinya, mengingatkan dia akan kematian. Kematian? Ibunya telah mati! Ibu kandungnya telah mati dibunuh oleh wanita ini! Dan tiba-tiba saja Sin Liong meloncat dengan penuh kemarahan, langsung saja dia menyerang Kim Hong Liu-nio dengan jurus ilmu silat yang selama ini dipelajarinya dari Na Ceng Han!

Ketika Sin Liong menyerangnya wanita itu masih duduk di atas batu dan dia hanya memandang saja ketika Sin Liong menyerangnya. Setelah anak itu tiba dekat, kaki Kim Hong Liu-nio bergerak.

“Bukkk!” Tubuh Sin Liong terlempar dan terbanting dengan keras sekali, Sin Liong memang sudah menderita luka-luka, dan tubuhnya masih lelah dan sakit-sakit, maka bantingan itu membuat dia seketika merasa pening. Akan tetapi dia sudah bangkit lagi, dan dengan hati terbakar kemarahan karena mengingat betapa wanita ini telah membunuh ibu kandungnya yang tercinta, dia menerjang lagi dengan nekat.

“Iblis betina, kau telah membunuh ibuku!” bentaknya.

Sekali ini, Kim Hong Liu-nio menggerakkan tangannya menotok. “Brukkk!” untuk kedua kalinya tubuh Sin Liong roboh dan sekali ini dia tidak mampu bergerak lagi.

“Aku memang telah membunuh ibumu, dan aku akan segera membunuh ayahmu juga!” Kim Hong Liu-nio menghardik, kini kebenciannya timbul karena diapun seperti Sin Liong sudah teringat bahwa anak ini adalah putera dari musuh besarnya.

Biarpun tubuhnya sudah lumpuh tak mampu bergerak, namun Sin Liong masih dapat bicara. Dengan suara mengejek dia berkata, “Huh, manusia macam engkau ini beraninya hanya menghina yang lemah. Kalau kau bertemu dengan ayah kandungku, dalam sepuluh jurus saja engkau tentu akan mampus!”

Sin Liong memang sengaja mengeluarkan ucapan ini untuk mengejek dan menghina, satu-satunya hal yang mampu dilakukannya untuk melampiaskan kemarahan dan sakit hatinya. Akan tetapi ucapan itu diterima girang oleh Kim Hong Liu-nio.

“Ah, jadi ayahmu berada di sini? Lekas katakan, di mana dia? Kalau kau memberi tahu di mana adanya Cia Bun How, aku akan mengampuni nyawamu!”

Sin Liong adalah seorang anak yang luar biasa sekali. Wataknya keras dan dia tidak pernah mengenal takut. Kalau orang bersikap baik dan halus kepadanya, dia akan menjadi lunak dan tunduk. Akan tetapi kalau ada orang bersikap keras kepadanya, biar dia diancam maut, biar dia disiksa, dia tidak akan sudi tunduk. Maka, mendengar ucapan itu, matanya yang bersinar tajam itu memandang dengan mendelik, dan mulutnya tersenyum mengejek.

“Aku tidak sudi mengatakan!” Padahal, tentu saja dia sendiripun tidak tahu di mana adanya ayah kandungnya itu, akan tetapi dia memang sengaja ingin membikin panas hati wanita pembunuh ibunya ini.

Dan memang Kim Hong Liu-nio menjadi marah sekali. Kini dia yakin bahwa anak itu tentu tahu di mana adanya Cia Bun Houw, dan dia sudah mengambil keputusan untuk memaksa anak ini memberi tahu di mana adanya musuh besarnya itu.

“Katakan di mana Cia Bun Houw!” kembali dia membentak sambil mencengkeram tengkuk Sin Liong.

“Tidak sudi!” anak itu balas membentak.

“Hemm, kau agaknya ingin kusiksa sampai setengah mati!”

“Huh, apa artinya siksaanmu? Dahulupun kau meracuni tubuhku, dan aku tidak takut!”

Ucapan ini mengingatkan Kim Hong Liu-nio dan cepat dia memeriksa tubuh anak itu, meraba pergelangan tangannya dan dadanya. Mata wanita itu terbelalak heran. Anak itu sudah bebas sama sekali dari Hui-tok-san! “Siapa yang mengobatimu? Ayahmu itu?”

Sin Liong yang diangkat ke atas sehingga mukanya berdekatan dengan muka wanita itu, tersenyum mengejek. “Kau tidak akan dapat mengetahui!”

“Bress!” Kim Hong Liu-nio membanting dan untuk ketiga kalinya tubuh Sin Liong terbanting ke atas tanah.

“Hayo katakan, di mana ayahmu itu! Di mana Cia Bun Houw!” kembali dia berteriak-teriak penuh kemarahan.

Sin Liong merasa kepalanya pening dan tubuhnya sakit-sakit tanpa mampu bergerak. Akan tetapi nyalinya tidak pernah berkurang besarnya. Dia memandang wanita itu dan berkata, “Hemmm, kau ternyata lebih curang daripada seekor ular, lebih ganas daripada seekor serigala dan lebih jahat daripada ketua Jeng-hwa-pang atau iblis sekalipun!”

“Hayo katakan di mana ayahmu!”

“Tidak sudi! Kau mau apa?”

“Keparat, hendak kulihat apakah engkau masih tetap akan membandel!” Dengan marah Kim Hong Liu-nio, menyambar tubuh Sin Liong, yang dibawanya kepada sebatang pohon dan dia menggunakan akar pohon untuk mengikatnya pada batang pohon itu, diikat dari kaki sampai ke leher. Setelah itu, dia lalu membebaskan totokan di tubuh anak itu agar Sin Liong merasakan sepenuhnya siksaan itu.

“Kau mau bunuh sekalipun jangan harap aku akan sudi mengaku kepada orang jahat macam engkau!” Sin Liong memanaskan hati wanita itu.

“Aku tidak akan membunuhmu. Kaulihat burung-burung itu? Nah, merekalah yang akan membunuhmu perlahan-lahan, mencabik-cabik dagingmu sedikit demi sedikit. Aku tidak akan pergi jauh, dan kalau kau berteriak memanggilku apabila engkau sudah mengubah sikap kepala batumu itu, tentu aku akan mendengarmu!” Setelah berkata demikian, Kim Hong Liu-nio tersenyum, senyum yang manis sekali, akan tetapi senyum yang membuat Sin Liong bergidik karena anak ini sudah mulai mengenal musuhnya yang dapat melakukan hal yang teramat keji. Dengan sekali berkelebat saja, wanita itu lenyap dari situ, meninggalkan Sin Liong terikat pada batang pohon dengan muka menghadap ke matahari yang sudah mulai naik agak tinggi dan sinarnya yang terik itu sepenuhnya menimpa muka dan tubuh Sin Liong.

“Gaooookkk...!”

Seekor burung gagak hitam melayang turun dan hinggap di atas batu di mana tadi Kim Hong Liu-nio duduk. Burung itu memandang ke arah Sin Liong, kepalanya dimiringkan ke kanan kiri seperti hendak memandang lebih teliti atau mendengarkan sesuatu. Tak lama kemudian, nampak bayangan hitam menyambar turun dari atas dan seekor burung gagak lain telah hinggap di atas tanah, di depan Sin Liong.

Anak itu memandang tajam, heran melihat burung-burung itu berani mendekatinya dan dia belum mengerti apa maksudnya Kim Hong Liu-nio meninggalkannya terikat di situ. Dia tidak tahu bahwa burung-burung ini adalah burung-burung pemakan bangkai yang sudah kelaparan karena sudah lama tidak makan, dan betapa mereka itu sudah tidak sabar menanti adanya bangkai yang boleh mereka makan.

Agaknya burung-burung lain tertarik oleh dua ekor burung yang berkaok-kaok di dekat Sin Liong itu karena kini banyak burung melayang turun dan mengurung tempat di mana Sin Liong diikat pada batang pohon itu. Sin Liong masih belum tahu akan datangnya bahaya mengerikan mengancamnya, bahkan dia memandang tanpa bergerak-gerak. Inilah salahnya. Kalau saja dia bergerak atau mengeluarkan suara, tentu burung-burung itu akan menjadi takut.

Tiba-tiba seekor burung gagak terbang dan hinggap di atas pundak kiri Sin Liong. Anak ini barulah merasa terkejut, apalagi karena kuku-kuku jari kaki burung yang mencengkeram pundaknya itu menembus baju melukai kulitnya.

“Hehhh....!” Dia membentak dan burung itu terbang dengan kaget, akan tetapi segera hinggap di atas tanah karena melihat anak itu tidak dapat bergerak. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan leher Sin Liong. Kini dia memandang dengan mata terbelalak kepada burung-burung yang bergerak-gerak di depannya dan bagi pandang matanya, burung-burung itu seperti berubah menjadi iblis-iblis hitam yang menakutkan.

Kembali ada dua ekor burung terbang atau meloncat dan mereka ini menerkam. Sin Liong membentak lagi dan dua ekor burung itu terbang turun, hanya untuk mengulang kembali perbuatan mereka. Sin Liong membentak-bentak, akan tetapi dua ekor burung yang hinggap di pundak dan lengannya tidak mau pergi bahkan kini mereka mulai mematuk-matuk ke arah mata Sin Liong! Anak itu terkejut dan ngeri, cepat dia memejamkan mata, akan tetapi tidak mampu mengelak karena lehernya tercekik kalau dia menggerakkan kepalanya. Dia mendengus-dengus dan agaknya suaranya inilah yang membuat dua ekor burung itu meragu dan tidak mematuknya, hanya sayap mereka yang bergerak-gerak dan mengibas-ngibas, sedangkan paruh mereka itu mengeluarkan bunyi berkaok yang terdengar nyaring sekali di dekat telinga Sin Liong!

Sin Liong tidak berani membuka matanya dan hanya mendengus-dengus sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri untuk mengusir burung-burung itu. Namun dua ekor burung gagak itu tidak mau pergi, sungguhpun mereka belum menyerang karena mereka masih meragu dan agaknya hendak menanti sampai calon mangsa mereka itu sama sekali tidak mampu bergerak. Sin Liong merasa ngeri bukan main. Baru sekarang dia merasakan kengerian yang mencekiknya, lebih mengerikan daripada ketika dia dilempar ke dalam sumur ular oleh ketua Jeng-hwa-pang. Hampir dia berteriak minta tolong, akan tetapi kalau dia teringat kepada wanita yang membunuh ibunya itu, dia tidak jadi berteriak bahkan dia mengatupkan mulutnya dan mengambil keputusan untuk tidak sudi berteriak sampai mati. Lebih baik mati dicabik-cabik burung-burung ini daripada dia berteriak, mengaku kalah dan tunduk kepada iblis betina itu, demikian tekad hatinya.

Matahari naik makin tinggi. Sinarnya makin panas dan hampir Sin Liong tidak kuat untuk menahannya lagi. Anak ini merasa bahwa kalau sampai dia pingsan dan tidak bergerak, tentu burung-burung ini akan menyerangnya. Maka, biarpun panasnya membuat dia hampir tidak kuat bertahan, kepalanya pening dan matanya yang dipejamkan itu melihat warna merah, lehernya seperti dicekik oleh kehausan, namun dia mempertahankan diri sekuatnya. Dia merasa tubuhnya kering sama sekali, diperas habis airnya yang menguap menjadi peluh.

Dari jauh, Kim Hong Liu-nio mengintai. Wanita ini merasa kagum bukan main. Kembali timbul rasa sayangnya kepada anak itu di balik kebenciannya. Anak itu benar-benar hebat sekali! Selama ini, hanya kepada sutenya sajalah dia kagum dan menganggap sutenya seorang anak laki-laki yang paling hebat. Akan tetapi, melihat sikap Sin Liong, dia benar-benar merasa heran dan kagum dan harus mengakui bahwa anak itu benar-benar luar biasa, lebih hebat daripada sutenya. Akan tetapi, rasa sayang ini diusirnya dengan ingatan bahwa anak itu adalah putera Cia Bun Houw, musuhnya yang terbesar.

“Gaoookkkk...!” Kembali burung yang hinggap di pundak kanan anak itu mengeluarkan bunyi tak sabar lagi. Kim Hong Liu-nio melihat betapa burung itu menggerakkan paruhnya, mematuk ke arah mata kanan yang terpejam itu. Akan tetapi, pada saat itu, ada debu mengebul dari sebelah kanan anak itu
dan ketika dia memandang, ternyata tiga ekor burung yang tadi hinggap di kedua pundak dan lengan, kini telah jatuh dan mati di dekat kaki Sin Liong yang masih memejamkan matanya!

Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main dan cepat dia meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan langsung dia mploncat dan lari ke tempat itu. Juga Sin Liong yang merasa betapa di pundaknya tidak ada lagi burung yang mencengkeramnya, membuka mata dan terheranlah dia melihat bangkai tiga ekor burung di lekat kakinya. Akan tetapi pandang matanya berkunang ketika dia membuka mata, dan dia melihat wanita itu datang berlari-lari. Habislah harapannya dan dia memejamkan matanya kembali. Akan tetapi, Sin Liong terkejut dan merasa heran ketika mendengar suara Kim Hong Liu-nio membentak marah.

“Iblis dari mana yang berani bermain gila dengan Kim Hong Liu-nio?”

Mendengar ini, Sin Liong cepat membuka matanya dan dia mengusir kepeningannya dan bintang-bintang yang menari-nari di depan matanya itu dengan goyangan kepalanya. Akhirnya dia melihat seorang kakek tua berjalan perlahan menuju ke tempat itu. Seperti juga Kim Hong Liu-nio, Sin Liong membuka matanya lebar-lebar dan memandang kakek yang mendatangi itu dengan sinar mata tajam penuh selidik. Sin Liong masih tidak tahu bagaimana burung-burung itu mati secara aneh. Tadinya dia menyangka bahwa Kim Hong Liu-nio yang membunuh binatang-binatang rakus itu, akan tetapi melihat munculnya kakek ini, dia meragu dan hatinya tertarik sekali.

Sebaliknya, Kim Hong Liu-nio juga memandang penuh selidik dan hatinya menduga-duga. Benar kakek inikah yang membunuhi tiga ekor burung gagak secara aneh itu? Dia masih belum tahu bagaimana burung-burung itu mati. Melihat adanya debu mengebul, tentu orang telah mempergunakan pukulan jarak jauh, akan tetapi, burung-burung itu hinggap di tubuh Sin Liong dan memukul mati burung-burung itu dengan hawa pukulan jarak jauh tanpa mengenai anak itu sendiri, sungguh merupakan ilmu yang luar biasa. Dia masih meragu dan memandang tajam penuh selidik.

Kakek itu sudah tua sekali, sedikitnya tentu sudah tujuh puluh lima tahun usianya. Rambutnya yang halus dan terpelihara rapi dan bersih, sudah putih semua dan digelung ke atas dengan rapi, diikat dengan kain kuning yang bersih. Pakaiannya sederhana sekali, seperti pakaian petani, akan tetapi pakaiannya juga bersih. Wajah itu dihias kumis dan jenggot yang halus dan sudah putih pula. Namun, wajah kakek ini masih kelihatan sehat dan segar kemerahan, keriput di pipinya hampir tidak nampak. Wajah yang manis budi dan sabar, akan tetapi sinar matanya membayangkan wibawa dan kekerasan hati seorang pendekar! Kakek ini berpakaian polos, agaknya tidak membawa senjata apapun.

Setelah tiba di tempat itu, kakek yang mendatangi dengan langkah ringan dan perlahan, sejenak memandang kepada Sin Liong, kemudian dia menoleh dan memandang kepada wanita cantik itu. Kim Hong Liu-nio merasa betapa jantungnya berdebar tegang ketika melihat sepasang mata tua itu menyambar ke arahnya dengan ketajaman pandangan yang menyeramkan. Lalu terdengar suara kakek itu, halus dan lembut akan tetapi mengandung teguran dan wibawa.

“Mengganggu orang yang tidak mampu melawan merupakan perbuatan yang pengecut, apalagi menyiksa seorang bocah yang tak dapat melawan merupakan perbuatan keji. Bagaimanakah seorang wanita muda dan cantik seperti engkau ini dapat melakukan perbuatan keji dan pengecut?”

Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang memiliki tingkat kepandaian tinggi dan dia tidak pernah mengenal takut. Biarpun dia dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang yang pandai, namun tentu saja dia sama sekali tidak merasa jerih dan kini mendengar kakek itu mencelanya, tentu saja dia menjadi marah sekali.

“Kakek yang lancang tangan dan lancang mulut! Apakah orang setua engkau ini masih belum tahu bahwa mencampuri urusan orang lain adalah perbuatan hina yang takkan dilakukan oleh seorang kang-ouw?”

“Menyelamatkan siapapun dari perbuatan keji bukanlah berarti mencampuri urusan orang lain, melainkan sudah menjadi tugas setiap orang manusia yang waras. Bahkan andaikata anak ini anak kandungmu sekalipun yang akan kausiksa, pasti aku akan turun tangan menyelamatkannya dan mencegah perbuatanmu yang keji itu.”

Tentu saja Kim Hong Liu-nio menjadi makin marah. Pertama karena kakek itu mengatakan anak itu anak kandungnya! Padahal dia adalah seorang perawan. Dan ke dua, dengan terang-terangan kakek itu menyatakan akan menentangnya!

“Tua bangka yang bosan hidup!” bentaknya marah, mulutnya tersenyum, tanda bahwa kemarahannya sudah mencapai puncaknya dan dia sudah siap untuk membunuh, dengan tenang dia lalu mengenakan sarung tangannya. “Apakah engkau belum mendengar siapa aku? Tentu engkau tidak mengenal Kim Hong Liu-nio maka engkau berani bersikap seperti ini.”

“Hemm, tentu saja aku tahu siapa engkau. Engkau adalah seorang wanita yang sudah berhasil mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi akan tetapi gurumu adalah seorang jahat sehingga tidak mendidik batinmu. Ilmu tinggi yang terjatuh ke tangan seorang yang kejam, hanya akan mendatangkan bencana di dunia ini.”

“Keparat, terimalah ini!” Kim Hong Liu-nio yang sudah marah itu tidak dapat bertahan lagi dan dia sudah mencelat ke depan dengan kecepatan kilat dan melakukan serangan pukulan dengan kedua tangannya. Pukulan maut yang datangnya cepat dan mengeluarkan suara angin bercuitan mengerikan. Karena menduga bahwa lawannya lihai, begitu menyerang Kim Hong Liu-nio telah mengerahkan sin-kangnya dan pukulan itu merupakan pukulan maut yang sukar dilawan!

Akan tetapi, kakek itu malah membalikkan tubuhnya dan dengan kedua tangannya dia membuka ikatan tangan yang membelenggu Sin Liong! Melihat ini, Kim Hong Liu-nio menahan pukulannya dan alisnya berkerut. Demikian hebatkah kakek ini sehingga tidak memandang sebelah mata kepada serangannya? Ketika dia melihat bahwa kakek ini sudah membebaskan ikatan Sin Liong yang segera jatuh terduduk dengan lemas dan anak itu menggosok-gosok kedua pergelangan tangan dan terengah-engah, Kim Hong Liu-nio membentak keras dan sekarang dia benar-benar menyerang ke arah kakek itu dengan pukulan maut yang mengarah pelipis dan ulu hati kakek itu.

Diam-diam kakek itu tersenyum. Ternyata dugaannya tadi agak keliru. Wanita ini tidak memiliki watak curang, buktinya serangan pertama tadi ditundanya ketika dia sedang membuka ikatan anak itu. Akan tetapi dugaannya bahwa wanita ini memiliki ilmu tinggi adalah benar karena melihat serangan itu saja tahulah dia bahwa wanita ini benar-benar lihai sekali. Untuk mencoba kekuatan wanita itu, dia sengaja menggerakkan kedua tangannya menangkis. Dua kali dua pasang tangan bertemu.

“Dukk! Plak!”

Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main. Tubuhnya terdorong mundur oleh tangkisan-tangkisan itu! Di lain fihak, kakek itu makin kagum karena ternyata bahwa serangan wanita ini mampu membuat kedua lengannya tergetar! Maklum bahwa dia kalah kuat dalam hal sin-kang oleh kakek aneh yang tak dikenalnya ini, Kim Hong Liu-nio menjadi penasaran dan marah. Dia mengeluarkan suara melengking panjang dan tiba-tiba tubuhnya sudah menerjang dengan gerakan cepat bukan main yang membuat dia seperti lenyap berubah menjadi bayang-bayang yang luar biasa cepatnya. Kaki tangannya menyerang bertubi-tubi ke arah bagian tubuh berbahaya dari kakek itu, setiap serangan mcrupakan serangan maut!

Sementara itu, kakek yang ternyata amat luar biasa kepandaiannya itu, dengan alis putih berkerut memperhatikan gerakan lawan dan diam-diam diapun merasa terheran-heran karena dia tidak mengenal ilmu silat yang dimainkan oleh wanita itu. Padahal, dia hampir mengenal semua dasar ilmu silat tinggi dari semua partai-partai besar! Akan tetapi, diapun harus mengimbangi kecepatan wanita itu dan selalu dapat menghindarkan diri atau menangkis. Kembali Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main. Kakek petani ini ternyata hebat sekali! Bukan saja dapat menandingi sin-kangnya, bahkan tidak terdesak oleh gin-kangnya! Diam-diam dia lalu mencabut tiga batang hio dan dengan kuku jari tangannya menyentik batu api, muncratlah batu api membakar ujung tiga batang hio itu. Hio-hio ini sebenarnya dia sediakan untuk membunuh musuh-musuh gurunya, seperti yang telah dilakukannya kepada beberapa orang yang telah berhasil dibunuhnya. Akan tetapi menghadapi seorang lawan tangguh seperti kakek ini, dia akan mempergunakannya juga karena senjata hio itu merupakan senjata istimewa pula.

Kakek itu hanya memandang sambil mengelak ke sana-sini ketika wanita itu sambil menyerang mengeluarkan dan menyalakan tiga batang hio. Dia tidak tahu apa artinya dan tertarik sekali, menduga bahwa agaknya wanita ini adalah seorang ahli ilmu hitam yang hendak mempergunakan ilmu sihirnya. Dia tidak takut, melainkan tertarik sekali dan ingin melihat bagaimana wanita itu hendak menggunakan sihir atas dirinya! Akan tetapi, tiba-tiba wanita itu mengeluarkan bentakan nyaring sekali dan kakek itu melihat sinar-sinar keemasan kecil menyambar ke arah tiga jalan darah di tubuhnya! Tahulah dia bahwa hio-hio menyala itu sama sekali bukan dipergunakan untuk main sulap atau sihir, melainkan untuk dipergunakan sebagai senjata rahasia yang menyerangnya! Kakek itu mengeluarkan seruan panjang, tiba-tiba tubuhnya bergerak cepat ke atas dan ketika dia melayang turun kembali, tiga batang hio menyala itu telah disambarnya dan berada di tangannya. Sekali dia melempar, tiga batang hio itu menancap di atas tanah dan asapnya bergulung-gulung kecil ke atas!

Kim Hong Liu-nio terkejut, juga makin penasaran dan marah. Tiba-tiba dia bergerak, didahului oleh sinar merah dan ternyata wanita ini telah menyerang lagi dengan menggunakan sabuk merahnya. Dengan gerakan seperti seekor ular hidup, ujung sabuk merah itu secara bertubi telah menotok ke arah tujuh jalan darah kematian di sebelah depan tubuh kakek itu!

“Hemm, keji...!” kakek itu mencela dan cepat dia menggunakan telapak kanan untuk menangkap ujung sabuk merah. Akan tetapi, begitu melihat lawan hendak menangkap ujung sabuk, Kim Hong Liu-nio menggerakkan tangan dan kini ujung sabuk itu meluncur dan menotok ke arah telapak tangan itu secara langsung, untuk menotok jalan darah antara ibu jari dan telunjuk tangan kanan yang terbuka itu. Akan tetapi, kakek itu agaknya tidak tahu akan serangan ini dan tetap saja membuka tangan hendak menangkap ujung sabuk itu, Kim Hong Liu-nio menjadi girang sekali dan menambah tenaganya ketika ujung sabuk bertemu dengan telapak tangan lawan.

“Plakk...!” Ujung sabuk itu tepat mengenai telapak tangan dan melekat di situ. Tiba-tiba wajah cantik itu birubah pucat, matanya terbelalak lebar memandang kepada kakek itu ketika Kim Hong Liu-nio merasa betapa tenaga sin-kangnya memberobot keluar dari tangannya yang ujungnya menempel pada telapak tangan kakek itu.

“Thi-khi-i-beng...!” Dia berteriak kaget dan membuat gerakan tiba-tiba menarik sabuk merahnya.

“Pratttt...!” Sabuk merah itu terputus di tengah-tengah!

“Ahhh...!” Kakek itu berseru kagum sekali.

Kim Hong Liu-nio masih memandang terbelalak. Dia mengenal Thi-khi-i-beng seperti yang pernah diceritakan oleh subonya. Thi-khi-i-beng adalah ilmu yang aneh, sesuai dengan namanya yang berarti Curi Hawa Pindahkan Nyawa, ilmu itu dapat menyedot hawa sin-kang lawan sampai habis! Untung dia telah mempelajari ilmu untuk melepaskan diri dari sedotan Thi-khi-i-beng yang ampuh itu!

“Siapakah engkau...?” tanyanya, suaranya membayangkan awal kejerihan menghadapi kakek yang hebat itu.

Kakek itu melemparkan sabuk merah yang putus itu ke atas tanah lalu menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara lirih dan seperti orang membaca sajak, “Namaku tidak lebih terkenal daripada sebatang pedang, akan tetapi pedangku adalah pedang kayu yang tidak keras, juga tidak berbau darah kering melainkan harum semerbak. Ah, sampai terpaksa aku menggunakan Thi-khi-i-beng, menandakan bahwa kepandaianmu hebat sekali, nona.”

Kim Hong Liu-nio makin terkejut dan hatinya makin gentar. Dalam kata-kata perkenalan dari kakek itu terkandung kata-kata pedang kayu dan harum. Pedang Kayu Harum, Siang-bhok-kiam! Dia cepat membuat gerakan membungkuk.

“Sudah kuduga...” bisiknya, “kiranya... maafkan saya...” Dan tanpa bicara apa-apa lagi, Kim Hong Liu-nio membalikkan tubuhnya dan melarikan diri dengan cepat seperti terbang.

“Nona, tunggu dulu...!” Kakek itu berseru, akan tetapi Kim Hong Liu-nio menjawab tanpa menoleh.

“Lain kali kita akan saling berjumpa kembali!”

Cia Keng Hong, atau ketua dari Cin-ling-pai, pendekar sakti yang amat terkenal dengan pedang kayu harumnya itu, memandang dan tidak mengejar. Dia merasa kagum sekali karena setelah puluhan tahun tidak bertemu lawan, baru sekarang dia bertemu tanding seorang wanita yang masih muda akan tetapi juga memiliki kepandaian yang tinggi sekali, bahkan dia tidak mengenal dasar ilmu silat yang dimainkan oleh wanita itu!

Para pembaca dari cerita Siang-bhok-kiam, lalu cerita Petualangan Asmara, dan Dewi Maut, tentu tidak asing lagi dengan pendekar sakti Cia Keng Hong ini. Dia adalah seorang pendekar sakti yang namanya terkenal sekali di dunia kang-ouw, sebagai ketua dari Cin-ling-pai di Pegunungan Cin-ling-san, di mana dia hidup bersama isterinya yang tercinta seorang bekas pendekar wanita yang lihai pula.

Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan betapa Cia Keng Hong telah meninggalkan keramaian dunia kang-ouw dan dia yang sudah tua hidup tentram di Pegunungan Cin-ling-san sampai cerita ini terjadi. Pada waktu sekarang, Cia Keng Hong, dalam usia yang sudah tujuh puluh tahun lebih, pendekar sakti ini merasa betapa hidupnya penuh dengan duka. Isterinya, satu-satunya manusia di dunia ini yang paling dicintanya, telah meninggal dunia dua tahun yang lalu, meninggal dunia dalam usia yang sudah cukup tinggi, kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi sayangnya meninggal dalam keadaan duka pula karena kematiannya tidak ditunggui oleh puteranya yang terkasih, yaitu Cia Bun Houw.

Diam-diam di dalam hati pendekar sakti ini timbul penyesalan besar. Dia tidak dapat menyalahkan Bun Houw yang sampai sepuluh tahun lebih lamanya belum pernah pulang itu. Dia sendirilah yang menyebabkannya. Dia yang seolah-olah mengusir puteranya itu karena puteranya itu nekat hendak hidup sebagai suami isteri bersama Yap In Hong, adik dari pendekar Yap Kun Liong. Dia melarang dan tidak setuju, akan tetapi Bun Houw nekat sehingga puteranya itu lalu pergi bersama In Hong dan sampai kini tidak ada kabar ceritanya.

Hiburan satu-satunya bagi Cia Keng Hong setelah isterinya meninggal dunia adalah cucunya yang digemblengnya sejak kecil di Pegunungan Cin-ling-san itu. Cucu perempuan ini bukan lain Lie Ciaw Si, puteri dari Cia Giok Keng dan mendiang Lie Kong Tek. Dengan tekun pendekar sakti itu menurunkan kepandaiannya kepada cucunya ini, dan biarpun Ciauw Si tidak memiliki bakat yang terlalu menonjol, akan tetapi dara ini telah mewarisi banyak ilmu tinggi kakeknya sehingga dia menjadi seorang dara yang hebat juga dan jarang akan ada yang mampu menandinginya.

Betapapun juga, setelah neneknya meninggal, dara yang kini berusia dua puluh tahun itu sering kali melihat kakeknya termenung duka, bahkan sering kali kakeknya itu seperti seorang pikun turun gunung dan merantau di kaki Pegunungan Cin-ling-san, lupa makan lupa tidur dan baru pulang kalau sudah disusul dan dibujuknya. Kemudian Ciauw Si mendengar penuturan ibunya yang masih tinggal di Sin-yang di rumah mendiang suaminya, tentang pamannya, adik ibunya, yaitu Cia Bun Houw dan bahwa kedukaan kakeknya itu disebabkan oleh kepergian Bun Houw yang sampai sekarang tidak pernah ada beritanya itu. Mendengar ini, Ciauw Si yang mencinta kakeknya itu merasa kasihan dan pada suatu pagi pergilah dia meninggalkan Cin-ling-san dengan meninggalkan surat untuk kakeknya, memberi tahu bahwa dia pergi untuk mencari pamannya, Cia Bun Houw!

Akan tetapi, kejadian ini sama sekali tidak menggirangkan hati kakek pendekar itu. Sebaliknya malah. Dia merasa prihatin dan khawatir. Biarpun cucunya itu sudah memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi cucunya adalah seorang wanita muda dan kurang pengalaman, padahal dia tahu betul betapa bahayanya merantau di dunia kang-ouw seorang diri bagi seorang wanita muda. Kekhawatiran ini membuat hatinya tidak tenang, maka kakek inipun lalu turun gunun untuk mencari cucunya!

Demikianlah keadaan singkat dari kakek pendekar Cia Keng Hong yang usianya sudah tujuh puluh lima tahun itu. Dalam perantauannya mencari cucunya itulah secara kebetulan dia melihat Sin Liong yang sedang tersiksa oleh Kim Hong Liu-nio dan dia lalu turun tangan menolongnya. Biasanya, kakek yang sedang merantau ini menyembunyikan diri dan kepandaiannya, dan kalau sekarang dia memperlihatkan kepandaiannya, adalah karena dia terpaksa sekali oleh kelihaian Kim Hong Liu-nio. Kakek itu merasa amat kagum menyaksikan sikap anak yang disiksa itu, dan diam-diam dia memperhatikan, bahkan ketika dia membebaskan belenggu itu jari-jari tangannya mengusap dan dia memperoleh kenyataan bahwa anak itu benar-benar memiliki tulang yang baik sekali.
Kini kakek itu menghampiri Sin Liong yang sudah bangkit berdiri dengan bibir pecah-pecah. Biarpun anak itu lebih patut dikatakan setengah hidup dalam keadaan payah sekali, namun anak itu sudah bangkit berdiri dan memandang kepada kakek itu dengan mata merah, mata yang tadi disiksa oleh panasnya matahari. Setelah kakek itu datang dekat, tiba-tiba Sin Liong tak dapat bertahan lagi dan dia terhuyung dan tentu terguling kalau tidak cepat disambar oleh tangan kakek itu. Sin Liong roboh pingsan, hal yang ditahan-tahannya sejak tadi.
Sin Liong mengecap-ngecap bibirnya yang basah. Dia membuka mata dan melihat bahwa dia sedang rebah di bawah pohon yang teduh sedangkan kakek itu membasahi mukanya dan memberi minum air jernih yang dingin dan nikmat sekali terasa olehnya. Cepat dia bangkit duduk dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. Sin Liong maklum bahwa tanpa adanya kakek ini, dia tentu sudah mati dalam keadaan mengerikan, dirobek-robek dagingnya oleh burung-burung gagak pemakan bangkai! Biarpun tadi kepalanya pening dan pandang matanya berkunang, namun dia masih dapat menyaksikan betapa kakek yang sederhana ini ternyata mampu menandingi Kim Hong Liu-nio, bahkan wanita iblis itu melarikan diri! Maka Sin Liong yang cerdik mengerti bahwa kakek tua renta ini adalah seorang manusia sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

“Saya menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan locianpwe.”

Cia Keng Hong mengurut jenggotnya yang putih dan memandang kepada bocah itu penuh perhatian. Ketika dia merawat Sin Liong dari pingsannya tadi, kembali dia meraba-raba dan makin yakin dia akan bakat yang terpedam dalam diri anak ini.

“Anak yang baik, siapakah namamu?”

“Nama saya Sin Liong...”

Tercengang juga hati kakek itu mendengar nama yang gagah itu. Nama anak ini berarti Naga Sakti! “Engkau she apakah, Sin Liong?”

Sin Liong tahu bahwa dia adalah she Cia. Akan tetapi dia tidak mau membawa-bawa nama ayahnya yang belum pernah dijumpainya itu, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menjawab, “Locianpwe, sejak kecil saya tidak tahu apakah she saya. Saya hanya bernama Sin Liong, tanpa she.”

Cia Keng Hong tercengang, alisnya berkerut. “Kalau begitu, siapakah ayah bundamu?”

Sin Liong menggeleng kepalanva. “Saya hidup sebatangkara, tidak mempunyai ayah dan bunda. Saya bekerja sebagai pelayan dari Na-piauwsu yang tinggal di Kun-ting. Akan tetapi beberapa hari yang lalu Na-piauwsu serumah dibunuh orang-orang yang menjadi musuhnya. Lalu muncul wanita iblis itu yang berbalik membunuhi semua orang yang telah membasmi keluarga Na-piauwsu, akan tetapi wanita itu lalu membawa saya ke sini.”

Kakek itu mengelus jenggotnya yang putih dan alis matanya tetap berkerut. Sungguh aneh cerita anak ini. “Dan mengapa kau dibawanya ke sini dan akan disiksanya sampai mati? Apakah dia memaksamu untuk menceritakan sesuatu?”

Sin Liong menggeleng kepala. “Saya sendiri tidak tahu, locianpwe.”

Cia Keng Hong adalah seorang kakek bijaksana. Dia sudah mengenal seorang anak yang luar biasa dan dia menduga bahwa tentu ada rahasia di balik diri anak ini dan bahwa anak ini sengaja tidak mau menceritakan tentang dirinya. Maka diapun tidak mau mendesak. Hatinya merasa kasihan sekali dan entah mengapa, dia merasa amat tertarik kepada Sin Liong, merasa seolah-olah wajah anak ini tidak asing baginya.

“Sin Liong, setelah keluarga Na itu dibasmi orang, lalu sekarang engkau akan tinggal di mana?” tanyanya.

Sin Liong tidak mampu menjawab, akan tetapi akhirnya dia berkata, “Locianpwe, dunia begini luas, saya tidak merasa khawatir untuk tidak kebagian tempat tinggal. Bukankah di manapun bisa ditinggali, misalnya di hutan ini sekalipun?”

Cia Keng Hong terharu. Anak ini masih wajar, masih polos dan murni, belum dikotori “kebudayaan” dunia di mana setiap orang manusia bergulat untuk memperoleh kemuliaan dan kesenangan, kalau perlu dengan jalan mendorong dan menginjak orang lain. Anak ini agaknya belum membutuhkan apa-apa!

“Sin Liong, apakah engkau suka belajar ilmu silat?”

Sejenak wajah anak itu berseri gembira. “Tentu saja, locianpwe.”

“Bagus! Kalau begitu marilah kau turut bersamaku dan aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu.”

Sin Liong memang sudah merasa kagum dan suka sekali kepada kakek ini. Pelindungnya, Na-piauwsu telah tewas, maka tidak ada tempat lain baginya dan kakek ini ternyata jauh lebih lihai daripada Na-piauwsu, bahkan agaknya lebih lihai atau setidaknya pun tidak kalah oleh Kim Hong Liu-nio! Maka dia lalu berlutut lagi. “Terima kasih atas kebaikan locianpwe.”

Cia Keng Hong membangunkan anak itu dengan wajah berseri. Baru sekarang semenjak dia pergi menyusul dan mencari cucunya, dia merasa girang. “Bangunlah dan mari kita berangkat sekarang juga, Sin Liong. Aku tidak ingin terjadi banyak keributan dan kalau wanita itu kembali lagi, tentu akan terjadi keributan.”

Berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu dan Cia Keng Hong mengambil keputusan untuk kembah ke Cin-ling-san dengan jalan memutar karena dia masih ingin mendengar-dengar dan mencari jejak cucunya yang pergi meninggalkan Cin-ling-san tanpa pamit itu.



Hati Cia Keng Hong makin merasa suka kepada Sin Liong. Di sepanjang perjalanan, anak ini memperlihatkan sikap yang pendiam, tidak cerewet, tidak pernah mengeluh, kuat dan tahan uji, juga amat cerdik. Pernah dia mencobanya dengan mengajaknya berjalan semalam suntuk. Namun Sin Liong tidak pernah mengeluh, sungguhpun ketika berjalan semalam suntuk itu beberapa kali dia terhuyung dan kedua kakinya membengkak, dan ketika diajak berpuasa itu pendengaran telinga kakek pendekar yang amat tajam itu dapat menangkap bunyi perut anak itu berkeruyuk berkali-kali.

Pada suatu hari, tibalah kakek dan anak tanggung ini di sebuah batu karang. Ketika mereka tiba di kaki bukit, dari jauh saja keduanya sudah melihat serombongan orang berjalan terhuyung-huyung dan mereka semua itu luka-luka seperti serombongan pasukan kecil yang baru saja pulang dari medan pertempuran dengan menderita kekalahan. Cia Keng Hong yang tidak ingin mencampuri urusan orang lain, menggandeng tangan Sin Liong hendak diajak mengambil jalan lain karena sekelebatan saja dia tahu bahwa orang-orang itu adalah orang-orang kang-ouw atau orang-orang yang memiliki kepandaian silat dan yang telah luka-luka karena pertempuran. Orang-orang seperti itu tentulah orang-orang yang selalu mengandalkan kepandaian sendiri dan suka mencari permusuhan dan suka mencari kekerasan, maka dia hendak menjauhkan Sin Liong dari mereka.

“Locianpwe...!”

“Ah, agaknya Thian yang menuntun ciangbunjin (ketua) dari Cin-ling-pai ke sini untuk menolong kami...!”

Tiba-tiba belasan orang itu semua menjatuhkan diri berlutut di depan Cia Keng Hong! Tentu saja kakek ini menjadi kaget dan tahulah dia bahwa mereka itu telah mengenalnya sehingga tak mungkin dia menyingkir lagi. Maka diapun memandang kepada mereka penuh perhatian. Akhirnya dia teringat bahwa dia mengenal beberapa orang di antara mereka sebagai pendekar-pendekar yang gagah dan bukanlah kaum kasar, melainkan pendekar-pendekar yang suka menolong orang. Maka dengan sikap halus diapun mendekati dan bertanya kepada mereka.

“Cu-wi sicu (sekalian orang gagah) mengapa menderita luka-luka? Apakah yang telah terjadi?”

Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang pundaknya terluka, bajunya robek dan kulit pundak itu kelihatan biru dan lumpuh sebelah lengannya, segera menjawab, “Di puncak bukit ini terdapat seorang gila yang merampas kambing, kuda, sapi, anjing dan binatang apa saja milik penduduk dusun-dusun di sekitar bukit ini untuk dibunuh dan diganyang mentah-mentah! Orang-orang dusun yang datang kepadanya semua dilukai. Kami yang mendengar ini lalu pergi untuk mengusirnya, akan ternyata orang gila itu lihai dan jahat sekali sehingga kami semuapun kalah dan terluka. Oleh karena itu, demi kepentingan para penghuni dusun di sekitar tempat ini, kami mohon kebijaksanaan dan keadilan locianpwe untuk mengusir orang gila itu dari daerah ini.”

Setelah bercerita, kakek itu bersama teman-temannya segera amat tergesa-gesa bangkit berdiri dan menjura, lalu meninggalkan tempat itu dengan terhuyung dan terpincang-pincang, seolah-olah mereka masih merasa jerih dan khawatir kalau-kalau orang gila itu mengejar mereka! Cia Keng Hong mengerutkan alisnya. Dia tidak tertarik untuk menguruskan orang gila! Berapa banyak sih binatang yang dapat dimakan habis oleh seorang manusia, betapa gilapun dia? Dan biasanya, seorang gila tidak akan mengganggu orang lain kalau tidak lebih dulu diganggu! Mungkin anak-anak penggembala ternak itu yang lebih dulu mengganggu si gila sehingga menjadi marah-marah. Kalau para pendekar itu tidak mendatangi si gila di atas bukit, jelas bahwa si gila itu tidak akan melukai mereka. Dia tidak boleh hanya mendengarkan laporan sefihak lalu membela mereka.

“Sin Liong, mari kita pergi...” Dia menoleh dan pandang mata kakek itu mencari-cari. Sin Liong tidak ada lagi di tempat itu. Tadi anak itu berada di belakangnya ikut mendengarkan, akan tetapi ternyata secara diam-diam anak itu telah pergi!

“Sin Liong...!” Dia berseru memanggil, biarpun seruannya itu tidak keras, akan tetapi karena digerakkan oleh khi-kang, maka gemanya sampai terdengar dari tempat jauh, bahkan terdengar sampai ke puncak bukit batu karang itu!

Sunyi saja tidak ada jawaban dari Sin Liong, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara tertawa “Ha-ha-ha-ha!”

Cia Keng Hong terkejut bukan main. Itu bukanlah suara ketawa biasa, melainkan suara ketawa yang juga mengandung khi-kang amat kuatnya dan suara itu datang dari atas puncak bukit itu. Dia menjadi khawatir dan pendekar sakti yang sudah tua ini cepat mendaki bukit menuju ke puncak. Setelah tiba di puncak, dia melihat hal yang membuat mukanya berubah pucat dan matanya terbelalak. Di atas puncak itu, di atas batu-batu besar yang permukaannya halus, dikelilingi oleh puncak-puncak batu karang lain yang menjulang tinggi, dia melihat Sin Liong duduk bersila, berhadapan dengan seorang kakek tua renta tinggi besar yang kepalanya gundul, kakek yang membuat pendekar sakti ini memandang bengong karena dia mengenal baik kakek itu yang bukan lain adalah Kok Beng Lama!

Para pembaca cerita Petualang Asmara dan cerita Dewi Maut tentu mengenal baik siapa adanya kakek gundul ini. Kok Beng Lama adalah seorang pendeta Lama dari Tibet yang memiliki kesaktian hebat, dan dia pernah menjadi kepala dari para pendeta Lama Jubah Merah di Tibet. Akan tetapi, semenjak puterinya yang bernama Pek Hong Ing, yang menjadi isteri dari pendekar Yap Kun Liong, tewas dibunuh orang (baca cerita Dewi Maut), Kok Beng Lama merasa demikian marah dan dukanya sampai dia menjadi tidak waras, otaknya menjadi agak miring! Kemudian dia dapat sembuh, bahkan dia lalu mewariskan ilmu-ilmunya kepada Lie Seng, cucu dari ketua Cin-ling-pai itu, dan Yap Mei Lan, puteri dari Yap Kun Liong, masih terhitung cucu tirinya sendiri karena Yap Mei Lan bukanlah anak Pek Hong Ing, melainkan anak yang lahir dari hubungan gelap antara Yap Kun Liong dan Lim Hui Sian (baca cerita Petualang Asmara).

Akan tetapi, ketika Lie Seng dan Yap Mei Lan, dua orang muridnya yang terakhir itu sudah tamat belajar dan meninggalkan dia, Kok Beng Lama merasa kesepian dan kumat lagi gilanya, maka dia lalu merantau seperti orang gila dan akhirnya pada hari itu dia berada di atas bukit batu karang, menimbulkan geger dan sampai dia bertemu dengan Cia Keng Hong dan Sin Liong!

Cia Keng Hong memandang bengong ketika melihat kakek gundul itu duduk bersila berhadapan dengan Sin Liong sambil tertawa-tawa dan kedua orang itu ternyata sedang bercakap-cakap dengan asyiknya!

“Kakek yang baik, kenapa kaulukai orang-orang itu?” terdengar Sin Liong bertanya.

Kok Beng Lama meraba-raba kepala dan pundak Sin Liong sambil tertawa. “Ha-ha-ha, mereka itu jahat! Mereka itu hendak menghina seorang tua seperti aku. Mereka datang dengan senjata di tangan. Ha-ha, untung bertemu dengan aku yang masih mengampuni mereka. Manusia memang jahat dan palsu, tidak seperti binatang yang wajar dan lebih baik.”

“Memang binatang lebih baik, kakek,” jawab Sin Liong yang teringat akan monyet-monyet besar yang menjadi teman-temannya.

“Ha-ha, bagus, bagus! Engkau binatang cilik yang baik sekali.”

“Dan engkau seperti monyet tua yang pernah merawatku.”

“Hu-huh-huh, memang aku monyet. Monyet gundul. Dan kau... ehhh, siapa namamu?”

“Sin Liong.”

“Bagus! Kau seekor naga. Bukan ular, naga lain lagi. Kalau ular sih seperti manusia, kadang-kadang licik dan curang. Kalau naga tidak, kau naga cilik yang menyenangkan. Semua orang takut padaku, tapi kau tidak, naga cilik.”

“Aku kasihan kepadamu, kek.”

“Kenapa kasihan, hee, hayo katakan, kenapa kasihan kau, naga cilik?”

“Karena semua orang menghinamu, mengatakan kau gila.”

“Memang aku gila! Apakah kau tidak gila?”

“Aku... aku...” Sin Liong menjadi bingung, akan tetapi dia benar-benar merasa kasihan kepada kakek yang seperti dia ini, yang hidup sebatangkara, maka dia ingin menyenangkan hatinya. “Aku juga gila.”

“Ha-ha-ha, bagus, bagus! Kita berdua orang-orang gila! Persetan dengan mereka yang menganggap diri sendiri tidak gila!” Kakek itu bangkit berdiri, kedua tangannya yang berlengan panjang menyambar tubuh Sin Liong dan melontar-lontarkan tubuh anak itu ke atas sampai tinggi sekali! Sin Liong maklum akan kesaktian kakek itu, maka diapun tidak mau mengeluh, tidak mau memperlihatkan rasa takut.

Cia Keng Hong khawatir kalau-kalau kakek gila itu akan mencelakai Sin Liong, maka sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah meloncat tinggi dan menyambar tubuh Sin Liong ketika untuk ke sekian kalinya dilontarkan ke atas Kok Beng Lama! Setelah menurunkan Sin Liong yang berdiri di belakangnya, Cia Keng Hong kini berdiri berhadapan dengan Kok Beng Lama dan ketua Cin-ling-pai itu menjura dengan hormat.

“Sahabat baik Kok Beng Lama, apakah selama ini engkau baik-baik saja?” Cia Keng Hong berkata.

Kakek gundul itu memandang dengan matanya yang lebar terbelalak, kelihatan dia terkejut dan tercengang, lalu menjura dengan kaku dan berkata, “Aih... kiranya... Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai! Silakan duduk.” Dan kakek gundul inipun lalu duduk bersila di atas batu, dan melihat ini, tentu saja Cia Keng Hong juga duduk bersila, berhadapan dengan kakek Lama dari Tibet itu.

Sin Liong berdiri dan kini dia memandang bengong kepada kakek sakti yang selama ini membawanya melakukan perjalanan itu. Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai? Dia teringat akan pesan ibu kandungnya, Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai adalah kakeknya, ayah dari Cia Bun Houw, ayahnya, ayah kandungnya! Jadi kakek yang menolongnya dari tangan iblis betina Kim Hong Liu-nio ini, yang kemudian membawanya, adalah kakeknya sendiri!

Tiba-tiba Sin Liong yang berdiri bengong itu terkejut melihat perubahan pada wajah si kakek gundul, matanya menjadi merah dan mulutnya yang bersembunyi di balik kumis dan jenggot putih itu menyeringai. Agaknya kakek gundul itu kumat lagi gilanya! Cia Keng Hong juga melihat ini, maka dia cepat-cepat bertanya, suaranya tetap halus, “Kok Beng Lama, di manakah cucuku Lie Seng dan Yap Mei Lan? Kenapa aku tidak melihat mereka?”

Sungguh tidak disangka sama sekali oleh Cia Keng Hong bahwa pertanyaannya itu merupakan minyak bakar disiramkan kepada api kegilaan yang mulai bernyala di dalam otak Kok Beng Lama itu. Kegilaan kakek gundul ini menjadi kumat setelah dua orang muridnya itu pergi karena dia merasa kesepian dan rindu, dan kini kata-kata ketua Cin-ling-pai itu justeru mengingatkan dia kepada dua orang yang dicintanya itu! Maka makin merahlah mata itu, makin melotot dan kini ditujukan kepada Cia Keng Hong penuh kebencian. Tiba-tiba kakek gundul itu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai! Anakku tercinta mati karena puterimu, dan aku masih saja mendidik puteramu mendidik cucumu! Wah, sekarang cucumu juga pergi meninggalkan aku! Aku menderita sengsara dan berduka karena kau, maka kau harus bertanggung jawab sekarang! Ha-ha-ha, aku paling suka mengadu ilmu dan di dunia ini siapa yang dapat menandingi aku kecuali ketua Cin-ling-pai? Hayo, Cia Keng Hong, hari ini kita membuat perhitungan terakhir, ha-ha!”

Cia Keng Hong terkejut sekali dan mengerutkan alisnya. Celaka, pikirnya, kakek gundul ini sudah gila. Tentu saja dia menolak dan mengangkat kedua tangan ke atas, menggoyang-goyangnya. “Jangan, Kok Beng Lama, jangan! Di antara kita tidak terdapat permusuhan, bahkan terikat persahabatan dan persaudaraan yang kekal, bukan?”

“Ha-ha-ha, justeru aku ingin mati dalam tangan seorang yang ternama seperti kau, bukan di tangan segala macam anjing busuk seperti belasan orang tadi. Hayo, sambutlah seranganku ini, Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba kakek gundul itu sambil tertawa lalu menggerakkan kedua tangannya ke depan dan angin pukulan yang amat hebatnya menyambar dahsyat ke depan, menyerang ke arah Cia Keng Hong! Kakek ketua Cin-ling-pai ini memang sudah mengangkat kedua tangan ketika menggoyang-goyang tangan untuk mencegah itu. Melihat serangan yang dapat mencabut nyawanya itu, dia terkejut sekali dan cepat diapun mendorongkan kedua lengannya ke depan untuk menyambut.

Hebat sekali pertemuan dua tenaga sakti itu. Jarak antara tangan kedua orang kakek ini masih ada setengah meter, namun tenaga yang bertemu antara kedua pasang tangan itu sedemikian dahsyatnya sehingga segala sesuatu di sekitar tempat itu seperti tergetar hebat. Bahkan Sin Liong sendiri sampai terpental dan bergulingan ke belakang. Akan tetapi, anak ini sudah cepat bangkit kembali dan berdiri menonton dengan mata terbelalak. Kalau tadinya dia merasa suka kepada Kok Beng Lama dan diam-diam mengasihani kakek itu, kini dia berfihak kepada kakeknya itu. Dia merasa khawatir sekali. Dia tidak tahu apa yang telah dan sedang terjadi, akan tetapi dia dapat menduga bahwa antara kedua orang kakek yang duduk bersila dan meluruskan kedua lengan itu pasti sedang terjadi pertandingan yang amat aneh dan hebat. Dia melihat betapa wajah Kok Beng Lama kelihatan gembira dan mulutnya menyeringai seperti hendak mentertawakan ketua Cin-ling-pai itu, sebaliknya Cia Keng Hong kelihatan prihatin sekali. Dia tahu bahwa kakek gundul itulah yang memaksa kakeknya untuk bertanding.

“Jangan berkelahi...!” Sin Liong berseru. Akan tetapi dua orang kakek itu sama sekali tidak memperdulikannya. Kok Beng Lama yang sedang dilanda kegembiraan besar karena dia dapat mengadakan pertandingan melawan seorang yang amat lihai itu tentu saja sudah melupakan Sin Liong, sebaliknya, biarpun Cia Keng Hong mendengar seruan Sin Liong, akan tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak mungkin dia menghentikhn perlawanannya, karena hal itu berarti bahwa dia akan tewas. Juga membagi perhatian kepada Sin Liong amat membahayakan dirinya. Dia merasa betapa tenaga sakti kakek gundul itu makin lama makin kuat menghimpitnya dan beberapa kali mencoba untuk mendesak tenaga perlawanannya. Oleh karena itu, Cia Keng Hong lalu cepat mengerahkan tenaga mujijat Thi-khi-i-beng!

“HA-HA, Thi-khi-i-beng, ya? Bagus, aku memang ingin merasakan kebehatannya!” Kok Beng Lama berseru sambil tertawa. Hal ini amat mengejutkan hati Cia Keng Hong karena pendekar ini maklum betapa berbahayanya bagi Kok Beng Lama yang berani bicara dalam keadaan mengadu tenaga seperti itu. Ternyata kakek gundul itu sudah tidak lagi memperhitungkan bahaya.

“Kok Beng lama, perlu apa kita bertanding? Hentikanlah!” serunya. Akan tetapi jawaban kakek gundul itu hanya suara tertawa dan desakan tenaga yang lebih kuat lagi. Terpaksa Cia Keng Hong juga mengerahkan tenaganya dan tidak berani bicara lagi karena yang dibadapinya adalah bahaya maut, bukan main-main.

“Hentikan! Jangan berkelahi!” Sin Liong kini melangkah menghampiri dua orang kakek yang sedang mengadu tenaga sakti itu. Melihat ini, Cia Keng Hong merasa khawatir sekali, akan tetapi karena tenaga lawan amat kuat mendesak maka diapun tidak berani membagi perhatian dan diam saja, mencurahkan perhatian dan tenaganya untuk mempertahankan dan melindungi dirinya sendiri.

Karena berkali-kali dia berteriak tanpa diperdulikan orang, dan melihat betapa kini dari kepala dua orang kakek itu mengepul uap putih, Sin Liong menjadi makin khawatir dan dengan nekat dia lalu meloncat ke tengah-tengah antara kedua orang kakek itu untuk memisahkan mereka! Hampir saja Cia Keng Hong berteriak saking kagetnya karena apa yang dilakukan oleh anak itu benar-benar amat berbahaya, akan tetapi dia sendiri tidak mampu menolongnya, karena sedikit saja dia mengurangi tenaganya, dia akan celaka, apalagi menarik tenaganya yang mempertahankan diri itu. Keadaannya seperti seorang yang menggunakan kedua tangan menahan gencatan benda yang amat berat, berkurang sedikit saja tenaganya tentu benda itu akan menggencatnya sampai hancur.

Sin Liong sendiri kaget setengah mati karena begitu dia meloncat masuk, tiba-tiba saja tubuhnya seperti disedot oleh tenaga yang luar biasa kuatnya sehingga dia tertarik dan tiba-tiba saja dia sudah jatuh duduk di antara kedua orang kakek itu, duduknya menghadapi Cia Keng Hong dan membelakangi Kok Beng Lama. Tubuh anak itu tergetar hebat seperti terkena aliran tenaga yang luar biasa. Melihat betapa kedua telapak tangan yang lebar dari Kok Beng Lama menyentuh punggung anak itu, Cia Keng Hong yang tadinya agak menarik kedua tangannya ketika Sin Liong meloncat masuk, kini cepat dia mengulurkan tangannya menempel pada pundak anak itu. Dia merasa betapa tenaga amat dahsyat dari Kok Beng Lama menyerangnya melalui anak itu, maka diapun seperti mempertahankan dan mengimbangi kekuatan itu sehingga tenaga keduanya kini saling bertanding melalui tubuh Sin Liong.

Sin liong merasa tersiksa sekali. Dia sukar untuk bernapas, dan hawa panas dingin bergantian menyerang tubuhnya yang kadang-kadang terdorong ke belakang oleh dua tenaga dahsyat yang saling dorong di depan dan belakangnya itu. Dia tidak ingin membantu siapapun, karena dia kasihan kepada kakek gundul yang gila, akan tetapi dia juga tentu saja bersimpati kepada kakeknya itu. Selain itu, andaikata dia ingin membantu sekalipun, bagaimana mungkin dia dapat membantu? Dia hanya melerai, akan tetapi siapa kira, dia malah terseret dan terhimpit tak dapat terlepas lagi. Sama sekali dia tidak sadar bahwa tanpa diketahuinya, dia telah membantu Kok Beng Lama karena dia duduk berhadapan dengan kakeknya itu! Biarpun Sin Liong tidak mau membantu, akan tetapi di dalam tubuhnya terdapat hawa mujijat yang timbul karena dia pernah keracunan Hui-tok-san yang kemudian dibikin punah oleh racun-racun ular sehingga timbul semacam tenaga mujijat di dalam tubuhnya, tenaga inilah yang serentak bangkit dan melakukan perlawanan ketika tubuhnya dialiri dua tenaga dahsyat itu, dan karena dia duduk menghadap Cia Keng Hong, maka tentu saja perhatiannya ditujukan ke depan dan otomatis tenaga mujijat di dalam tubuhnya itu juga meluncur ke depan! Tanpa disadarinya sendiri, tenaga ini membantu Kok Beng Lama dan menyerang Cia Keng Hong!

Ketika ketua Cin-ling-pai merasa betapa ada tenaga yang amat kuat, seolah-olah tenaga kakek gundul itu menjadi bertambah besar, menyerangnya dan mendorongnya sehingga dia mendoyong ke belakang, dia menjadi terkejut sekali dan cepat dia lalu mengerahkan tenaga Thi-khi-i-beng untuk menyedot. Kini giliran Kok Beng Lama yang terkejut ketika tiba-tiba tenaganya yang amat kuat itu membanjir keluar tanpa dapat diremnya lagi. Cepat dia mengubah tenaganya, mempertahankan dan kini berubahlah sifat pertandingan itu. Kalau tadi kedua orang sakti itu mengerahkan sin-kang untuk saling mendorong dan mengadu kekuatan untuk saling merobohkan, kini Cia Keng Hong menggunakan Thi-khi-i-beng menyedot sedangkan pendeta Lama itu mempertahankan!

Kembali Sin Liong yang menjadi sasaran utama dan yang paling menderita! Anak ini merasa betapa tubuhnya kadang-kadang seperti kosong dan kering tersedot, lalu terisi kembali oleh tenaga dari Kok Beng Lama, seolah-olah dia sebentar mati sebentar hidup kembali, wajahnya sebentar pucat sebentar merah. Dia mengeluh panjang pendek akan tetapi untuk melepaskan diri dia tidak sanggup, biarpun sudah beberapa kali dia berusaha untuk bergerak dan keluar dari dalam himpitan itu. Melihat ini, maklumlah Cia Keng Hong bahwa anak ini terancam bahaya maut. Akan tetapi, kakek sakti inipun memperoleh kenyataan yang amat luar biasa, yaitu bahwa anak itu sama sekali tidaklah asing dengan tenaga sakti! Tahulah dia bahwa tadi tenaga Kok Beng Lama menjadi berlipat ganda karena memperoleh tambahan tenaga dari anak ini! Tahulah kakek ini bahwa Sin Liong benar-benar adalah anak luar biasa, yang mungkin karena sesuatu hal yang tidak disadarinya sendiri oleh anak itu, telah memiliki sin-kang yang aneh. Kalau saja dia bisa mempergunakan sin-kang anak itu untuk membantunya, tentu Kok Beng Lama akan kalah dan anak ini akan selamat. Keselamatan anak inilah yang penting baginya, anak ini masih kecil, masih berhak untuk hidup lebih lama lagi. Sedangkan dia dan Kok Beng Lama adalah dua orang kakek tua renta yang hanya tinggal menghitung hari saja, yang tinggal menanti kematian yang tentu tidak akan lama lagi karena mereka sudah tua. Pikiran untuk menyelamatkan anak inilah yang membuat Cia Keng Hong berbisik-bisik, membuka rahasia pelajaran untuk mengerahkan tenaga di dalam tubuh, membangkitkan tenaga dahsyat dengan Ilmu Thi-khi-i-beng!

Sin Liong sudah berada dalam keadaan antara sadar dan tidak hampir pingsan. Akan tetapi dia adalah seorang anak yang luar biasa, memiliki daya tahan yang besar berkat penderitaan yang terlalu sering dialaminya semenjak dia masih bayi, dan karena pernah hidup bersama monyet-monyet yang tajam sekali perasaan dan peka terhadap segala sesuatu yang terjadi, memiliki naluri halus dan dekat dengan alam, maka biarpun dia dalam keadaan tersiksa, dia dapat mencurahkan perhatian terhadap bisikan-bisikan kakek sakti yang sesungguhnya adalah kakeknya sendiri itu.

Mula-mula pening juga kepala Sin Liong mendengarkan kakek itu menyebut-nyebut hiat-to (jalan darah) yang bermacam-macam itu. Dia tidak tahu di mana adanya ci-kiong-hiat, koan-goan-hiat, thian-ti-hiat dan lain-lain. Akan tetapi ketika dengan teliti dan sabar Cia Keng Hong memberi penjelasan, perlahan-lahan anak itu mulai mengerti dan mulailah dia mengatur pernapasan menurutkan petunjuk kakek itu, menahan napas dan menggerakkan hawa dari pusarnya. Memang Sin Liong memiliki bakat yang amat hebat, dan juga Cia Keng Hong memang hendak menolongnya dan sudah mengambil keputusan untuk mewariskan Thi-khi-i-beng kepada anak ini, maka perlahan-lahan muncullah tenaga sedot dari dalam tubuh anak itu yang makin lama makin kuat!

“Oohhhh...!” Kok Beng Lama terkejut sekali ketika pertahanannya mulai jebol dan perlahan-lahan tenaga sin-kangnya mulal mengalir ketuar melalui kedua telapak tangannya yang masih menempel di punggung Sin Liong! Akan tetapi, karena bocah itu belum dapat menguasai Thi-khi-i-beng secara sempurna, biarpun tubuhnya sudah dapat mengeluarkan daya sedot, akan tetapi dia belum dapat mengalirkan sin-kangnya yang memasuki tubuhnya itu keluar melalui kedua tangan Cia Keng Hong, melainkan berkumpul dengan hawa pusarnya dan berputar-putar di seluruh tubuhnya, makin lama makin cepat putaran itu sehingga menimbulkan daya sedot yang makin kuat!

Terjadilah hal yang amat aneh. Cia Keng Hong juga mengeluh karena kini dia merasa betapa tenaga sin-kangnya sendiripun tersedot masuk ke dalam tubuh Sin Liong melalui kedua tangannya! Kiranya, dia telah mempergunakan seluruh tenaga untuk saling tarik dengan tenaga Kok Beng Lama, maka ketika muncul tenaga baru ke tiga dari Sin Liong yang memiliki daya sedot, dia sendiri tidak berani membagi tenaga untuk bertahan, karena membagi tenaga berarti mengurangi tenaga melawan Kok Beng Lama dan hal itu amatlah berbahaya. Oleh karena itu, kakek ketua Cin-ling-pai ini terpaksa membiarkan tenaganya perlahan-lahan keluar dan mengalir masuk ke dalam tubuh anak yang baru saja diajari ilmu Thi-khi-i-beng itu! Sama halnya dengan senjata makan tuan!

Akan tetapi, yang hebat keadaannya adalah Kok Beng Lama. Kini tenaga sin-kangnya keluar seperti membanjir memesuki tubuh Sin Liong, tidak dapat dibendung atau ditahannya lagi. Cia Keng Hong tidak sadar akan hal ini. Kalau dia tahu tentu dia tidak pertu membiarkan tenaganya sendiri juga tersedot. Maka dia hanya memejamkan mata, membiarkan tenaganya dari sedikit tersedot, sedangkan dia masih mempertahankan perlawanannya terhadap Kok Beng Lama.

Kalau dua orang kakek itu terkejut oleh kenyataan betapa sin-kang mereka tersedot, adalah Sin Liong yang paling repot dan paling tersiksa. Dia merasa betapa tubuhnya seperti sebuah balon karet yang ditiup terus melampaui takaran, dia merasa seolah-olah tubuhnya menggembung besar dan penuh, matanya berkunang, melihat warna merah kuning, napasnya sesak dan setiap kali membuka mata, dia melihat dunia seperti kiamat, seperti kebakaran! Maka dia cepat memejamkan matanya kembali dan diam-diam dia menyesal mengapa dia tadi mempelajari ilmu setan yang diajarkan oleh kakek itu. Untuk menghilangkan ilmu itu sudah tidak mungkin lagi karena tanpa disadarinya sendiri hawa di tubuhnya sudah terus berputar-putar dan terus dibanjiri tenaga dari belakang dan dari depan!

“Auhh... sudah... sudah...!” Berkali-kali Sin Liong mengeluh, akan tetapi dua orang kakek itu tidak mampu berbuat apapun. Kok Beng Lama yang merasa terkejut itu melihat bahwa dia sudah terlambat untuk melepaskan diri, kedua tangannya sudah melekat dan tenaganya sudah terus membanjir keluar! Dia mengira bahwa itulah kehebatan dari tenaga dalam Cia Keng Hong.

“Cia Keng Hong... kau... kejam...!” Dia mengeluh dan terpaksa hanya melihat saja betapa tenaganya makin lama makin habis, seolah-olah tubuhnya yang tua itu mulai dihisap kering, seperti seekor laba-laba menghisap kering semua cairan dari tubuh seekor lalat yang telah tertawan dalam sarangnya.

Akan tetapi, Cia Keng Hong sendiripun tidak tahu akan hal ini. Disangkanya bahwa Kok Beng Lama telah mengetahui rahasia Thi-khi-i-beng dan kini dia malah mulai merasa betapa dia terancam maut di tangan kakek gundul itu. Maka dia terus saja mempertahankan! Kalau saja tidak terjadi kesalahfahaman ini, kiranya dua orang kakek itu akan dapat masing-masing menghentikan sin-kang mereka yang diarahkan keluar, dan dapat terbebas dari sedotan hawa aneh yang berputaran di dalam tubuh anak itu.

“Ouhhhh... Cia Keng Hong... selamatkan anak ini...!” itulah keluhan terakhir dari Kok Beng Lama yang pada saat-saat terakhir telah waras kembali ingatannya dan dia masih dapat meninggalkan pesan agar menyelamatkan bocah yang tadi memperlihatkan sikap ramah kepadanya. Setelah berkata demikian, pendeta Lama ini menarik napas panjang sekali lalu tubuhnya menjadi lunglai kehabisan tenaga.

Setelah pendeta Lama itu kehabisan tenaga, barulah Cia Keng Hong terkejut bukan main. Barulah dia tahu bahwa sejak tadi, tenaganya sendiripun tersedot ke dalam tubuh anak itu, sama sekali bukan untuk menahan serangan Kok Beng Lama! Dan pendeta Lama itu agaknya juga kehabisan tenaga bukan untuk bertanding dengannya, melainkan habis teredot oleh anak itu.

“Aihhhh...!” Ketua Cin-ling-pai itu mengerahkan tenaganya yang tinggal setengahnya itu, membuat gerakan menarik sehingga kedua tangannya dapat terlepas dari kedua pundak Sin Liong. Dia meloncat berdiri dengan tubuh lemas dan bergoyang-goyang, mukanya pucat sekali karena hampir setengah dari tenaganya juga amblas! Dia mengalami luka di dalam tubuhnya, biarpun tidak terlalu berbahaya namun membutuhkan waktu untuk memulihkan kesehatannya. Ketika dia memandang lagi, kini tubuh Kok Beng Lama yang masih duduk bersila ternyata telah tidak bernyawa lagi!

“Celaka...!” keluhnya. “Sin Liong, bangkitlah engkau!”

Sin Liong tadinya bersila, kedua matanya terpejam, mukanya merah sekali dan napasnya kadang-kadang berhenti, kadang-kadang terengah. Mendengar ucapan ini, dia menggerakkan kepalanya dan menengadah, membuka mata. Terkejutlah Cia Keng Hong melihat sepasang mata yang mendorong seperti mata seekor naga sakti dalam dongeng itu! Dan tiba-tiba saja tubuh anak itu meloncat dan... tubuhnya mencelat ke atas dengan cepatnya.

“Aahhhhh... tolong, locianpwe...!”

Ternyata ketika meloncat bangun tadi, otomatis Sin Liong menggunakan tenaganya, akan tetapi dia tidak tahu bahwa pada saat itu, tenaga sin-kangnya yang amat kuatnya memenuhi tubuhnya dan begitu dia menggerakkan syarafsyarafnya, tenaga ini bangkit bekerja dan akibatnya tubuhnya mencelat seperti kilat ke atas tanpa dapat diremnya lagi. Tubuhnya itu mcluncur ke arah sebuah puncak bukit batu karang dan untung baginya bahwa dia sudah biasa berloncatan dan memiliki kesigapan seekor monyet, maka biarpun dia terkejut sekali dan minta tolong, namun kedua tangannya masib dapat menyambar ke depan dan dia dapat berpegang kepada ujung batu karang dan berjungkir balik, tidak sampai terbanting pada batu karang. Dia berdiri di atas batu karang itu dengan mata terbelalak. Tubuhnya masih terasa menggelembung besar, hampir meledak rasanya, dan tubuhnya demikian ringannya seolah-olah hembusan anginpun akan dapat membuat tubuhnya melambung tinggi seperti sebuah balon karet penuh hawa!

Cia Keng Hong memandang ke atasan anak itu. Anak itu telah mengoper semua tenaga sin-kang dari dalam tubuh Kok Beng Lama, yang telah tewas dalam keadaan bersila itu, bahkan, telah menyedot setengah dari tenaganya sendiri! Aneh sekali bagaimana anak itu masih dapat hidup!

“Turunlah, jangan meloncat, berjalan saja dengan hati-hati!” kata Cia Keng Hong.

Akan tetapi pada saat itu Sin Liong sudah merasa demikian tersiksa sehingga dia seperti tidak lagi mendengar suara kakek itu. Siksaan amat hebat dideritanya. Tubuhnya terasa panas semua seolah-olah dia dipanggang di atas api bernyala-nyala. Lebih tersiksa dari pada ketika dia teracun oleh Kinn Hong Liu-nio yang menggunakan Hui-tok-san, bahkan lebih tersiksa daripada ketika dia dijemur dan dikeroyok burung gagak. Panas yang dirasakan sekarang adalah panas dari dalam, dan tiba-tiba saja berubah dingin sampai rasanya seluruh tubuh seperti ditusuki ribuan batang jarum. Isi perutnya seperti diremas-remas, kepala seperti hampir meledak, telinganya terngiang-ngiang, matanya pedas dan perih, pendeknya, seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit sampai hampir tak tertahankannya lagi. Dan celakanya, itulah. Kalau dia tidak tahu, pingsan atau mati, dia akan terbebas dari siksaan. Celakanya dia pingsan tidak matipun tidak dan semua derita itu dapat dirasakannya.

Dia memandang kepada kedua tangannya. Begitu dia memandang tangannya dan jalan pikirannya ditujukan kepada kedua tangan ini, maka otomatis tenaga sakti yang dahsyat mengalir ke arah kedua tangannya dan Sin Liong merasa betapa kedua tangannya itu tergetar hebat dan terasa panas-panas, gatal-gatal dan seolah-olah kedua tangan dengan sepuluh jarinya itu dibakar dalam api, digigiti semut-semut berbisa dan nyerinya bukan kepalang.

“Setan...!” Dia memaki dan dengan kedua tangannya itu dia menghantam batu di sampingnya, kanan kiri.

“Pyarr! Pyarrr...!”

Sin Liong terbelalak memandang pecahan-pecahan batu yang berhamburan disambar oleh kedua tangannya itu. Sejenak dia memandangi kedua tangannya dengan mata terbelalak. Kepalanya menjadi pening dan otomatis kedua tangan itu memegang kepalanya. Aku telah gila, pikirnya. Tak mungkin hanya dengan sekali tampar saja tangannya berhasil menghancurkan batu! Akan tetapi dia teringat betapa kedua tangannya yang tadinya terasa nyeri bukan main itu menjadi berkurang nyerinya ketika dipakai menghantam batu. Maka dia lalu turun dari atas batu karang itu, dan menggunakan kedua tangannya menghantam ke sana-sini, menghantami batu-batu besar yang berserakan di tempat itu. Terdengar suara-suara keras dan batu-batu itu remuk dan pecah berhamburan setiap kali terkena hantaman kedua tangannya. Sin Liong merasa betapa kedua tangan itu makin lama makin enak, tidak nyeri-nyeri lagi seperti tadi, bahkan makin hebat dia mengamuk memukuli batu-batu itu, sesak napasnya berkurang dan pening kepalanya juga mereda. Oleh adanya kenyataan ini, Sin Liong makin mengamuk, makin hebat menggerakkan kedua tangannya, bahkan juga kedua kakinya, untuk memukul dan menendang batu-batu di sekelilingnya. Anehnya, batu-batu hancur dan kaki tangannya tidak merasa nyeri. Dia sendiri keheranan, seperti melihat sulapan saja. Akhirnya, dia kelelahan dan duduk terengah-engah, tenaganya masih terus mendorongnya untuk bergerak, akan tetapi napasnya hampir putus dan di dalam dadanya terdapat hawa yang menggelora dan bergerak-gerak berputaran membuat dia seperti mau berpusing.

Tiba-tiba dia melihat berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu Cia Keng Hong telah berada di depannya. “Kau diamlah, aku akan mencoba mengobatimu,” kata kakek itu dan dia lalu mengulurkan kedua tangannya menempel di kedua pundak Sin Liong sambil mengerahkan tenaga Ilmu Thi-ki-i-beng! Cia Keng Hong maklum apa yang terjadi pada anak ini. Anak ini penuh dehgan hawa sakti dan kelau dibiarkan saja tentu akan hancur atau luka-luka semua isi dadanya, maka dia akan menyedot hawa murni dan kuat itu dengan Thi-khi-i-beng.

“Ahh...!” Cia Keng Hong terkejut dan cepat dia menggerakkan tangannya terlepas dari kedua pundak Sin Liong.
Baru saja kedua tangannya menempel tadi, bukan dia yang menyedot, bahkan dia lagi-lagi tersedot! Dan dia kalah kuat! Celaka, bocah ini tanpa disadarinya memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa sekali dan satu kali diajari Thi-khi-i-beng, tenaga sedotnya itu terus-menerus bekerja!

“Kau jangan melawan, matikan semua gerakan, dan pusatkan pikiranmu, jangan melawan, kendurkan semua, jangan kauingat lagi pelajaran yang kuajarkan kepadamu tadi!” kata Cia Keng Hong.

Sin Liong mengerti dan dia mengangguk-angguk, masih terengah-engah. Kemudian dia merasa betapa tangan kakek itu kembali menempel di pundaknya dan dia mengosongkan pikirannya. Perlahan-lahan, dia merasa betapa hawa yang mengamuk di dalam dadanya itu mulai berkurang. Dan memang dengan Thi-khi-i-beng Cia Keng Hong mulai menyedot kelebihan hawa itu. Akhirnya, setelah dia merasa betapa tenaganya sendiri pulih, kakek itu menghentikan sedotan itu dan melepaskan kedua tangannya. Dia telah sembuh, dan anak itu kini hanya memiliki sin-kang dari Kok Beng Lama yang telah diopernya tanpa disadarinya itu.

“Bagaimana rasanya tubuhmu?” tanya Cia Keng Hong.

Sin Liong mengangguk. “Sudah agak baik... tapi masih mau muntah...” Dia bangkit berdiri dan terhuyung.

“Sin Liong, tahukah engkau apa yang telah terjadi?”

Anak itu menggeleng kepalanya. “Saya melihat locianpwe melakukan pertandingan aneh dengan kakek gundul itu... ah, bagaimana dengan dia?”

“Mari kita turun dan lihat,” kata Cia Keng Hong dan dia dengan hati-hati menggandeng tangan Sin Liong karena anak ini masih terhuyung-huyung dan kalau dibiarkan turun sendiri dari puncak tentu akan terjatuh ke bawah. Setelah tiba di bawah, mereka melihat tubuh Kok Beng Lama masih duduk bersila.

Sin Liong melihat betapa wajah kakek gundul itu aneh sekali, matanya masih terbuka akan tetapi pandang matanya kosong. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang luar biasa pada tubuh tinggi besar yang duduk bersila itu, maka dia bertanya. “Apakah dia tidak... apa-apa?”

Cia Keng Hong menarik napas panjang. “Dia telah tewas...”

Sin Liong terbelalak dan otomatis kakinya bergerak, tahu-tahu tubuhnya sudah “melayang” ke arah kakek gundul itu dan begitu tangannya menyentuh pundak kakek itu, mayat itu tergelimpang.

“Ahhh...!” Sin Liong membalikkan tubuhnya, memandang kepada kakek sakti yang ternyata adalah kakeknya sendiri itu. “Locianpwe... telah... membunuhnya?”

Cia Keng Hong menggeleng kepalanya. “Bukan aku yang membunuhnya.”

“Habis siapa? Mengapa dia mati?”

Kembali kakek itu menarik napas panjang. “Kami berdua tadi sedang mengadu sin-kang, maksudku... dia memaksaku untuk melindungi diriku karena dia menyerangku dengan sin-kang. Lalu kau tiba-tiba masuk di antara kami dan kau terseret. Engkau terancam bahaya maut maka aku mengajarkan Thi-khi-i-beng kepadamu. Dan tanpa kausadari, juga tanpa kusadari, ternyata semua hawa sin-kang di tubuhnya telah berpindah ke dalam tubuhmu, membuat dia tewas...”

Sin Liong menggigil dan kembali dia menoleh, memandang kepada tubuh yang tak bernyawa itu dan tiba-tiba kedua matanya mengalirkan beberapa butir air mata. Kakek gila yang patut dikasihani. Dia yang membunuhnya?

“Lociaripwe mengajarkan saya ilmu iblis untuk membunuhnya!”

Cia Keng Hong menggeleng kepala.

“Dia sendiri yang salah... ah, dalam usia, setua itu kambuh kembali penyakit gilanya... sungguh patut dikasihani...”

“Tapi locitnpwe mengajarkan Ilmu Mencuri Hawa Memindahkan Nyawa! Dan dia mati karena saya! Ah, locianpwe mengajarkan saya menjadi pembunuh orang yang tidak berdosa!”

“Tidak, Sin Liong. Aku mengajarkan Thi-khi-i-beng kepadamu hanya untuk menyelamatkan nyawamu yang tadi terancam bahaya. Kok Beng Lama meninggal dunia karena kesalahannya sendirii dan memang dia sedang kumat gilanya, dan dia sudah tua. Engkau tidak membunuh, apalagi karena hal itu terjadi di luar kesadaranmu, di luar pengetahuanmu.”

“Tapi... tapi dia mati karena saya...” Sin Liong merasa menyesal bukan main, apalagi sekarang tubuhnya masih merasa tidak karuan, masih sakit-sakit dan penuh dengan hawa yang bergerak-gerak mengerikan. Lebih-lebih sekarang setelah dia tahu bahwa yang bergerak-gerak di dalam tubuhnya itu adalah hawa sin-kang dari kakek gundul itu yang telah berpindah ke dalam tubuhnya, dia merasa ngeri dan serem, seolah-olah nyawa kakek gundul itu telah memasuki jasmaninya!

“Sudahlah, Sin Liong. Daripada meributkan hal-hal yang sudah terjadi di luar kesadaranmu, lebih baik kau membantu aku menguburkan jenazah Kok Beng Lama. Kau tidak tahu siapa dia. Dia itu adalah seorang tokoh besar di dunia persilatan. Ilmu kepandaiannya luar biasa sekali sehingga akupun tadi hampir celaka dan kalah olehnya kalau saja engkau tidak masuk di antara kami. Dan dia itu adalah guru dari putera saya sendiri, bahkan guru dari cucu saya sendiri, jadi dia bukanlah musuhku. Hal ini perlu kuberitahukan agar kau tidak salah duga, Sin Liong. Aku sama sekali tidak bermusuh dengannya, apalagi ingin membunuhnya!”

Sin Liong memandang dengan jantung berdebar. Kakek ini adalah ketua Cin-ling-pai, kakek ini adalah kong-kongnya sendiri! Dan kakek gundul tadi adalah guru dari putera kong-kongnya, berarti guru dari ayahnya, ayah kandungnya! Akan tetapi karena masih meragukan kebenaran hal luar biasa ini dia bertanya, “Dia... dia itu guru putera locianpwe, siapakah putera locianpwe itu?”

Pertanyaan itu terdengar sepintas lalu saja, maka tidak menimbulkan kecurigaan dalam hati Cia Keng Hong yang menarik napas panjang lagi. “Ah, puteraku itu bernama Cia Bun Houw...” Lalu kakek itu termenung karena sampai sekarang hatinya masih terluka oleh kepergian Bun Houw yang tiada kabar ceritanya itu.

Mendengar ini, yakinlah hati Sin Liong dan ingin dia memeluk kakeknya ini saking girangnya, akan tetapi dia menahan perasaannya dan berkata, “Akan tetapi, bukankah locianpwe tadi bertanding secara aneh dengan dia?”

“Bukan bertanding, melainkan aku terpaksa membela diri karena dia menyerangku...”

“Kalau dia itu bukan musuh locianpwe, kenapa dia menyerang locianpwe?”

Kakek itu termenung. Memang ada sebabnya dan dia merasa tidak perlu menceritakan kepada anak ini tentang sebab musababnya yang terlampau panjang. Di dalam kisah Dewi Maut diceritakan betapa puteri Kok Beng Lama tewas dan puteri ketua Cin-ling-pai ini yang tertuduh menjadi pembunuhnya sehingga pernah terjadi bentrok antara Kok Beng Lama dan Cin-ling-pai. Kemudian, biarpun ternyata bukan puteri Cin-ling-pai itu yang membunuh, namun kematian itu terjadi sebagai akibat dari percekcokan antara puteri Kok Beng Lama dan puteri ketua Cin-ling-pai. Akan tetapi, hal itu telah diselesaikan oleh kedua fihak, dan hanya kalau Kok Beng Lama kambuh penyakit gilanya maka urusan itu timbul lagi di dalam hatinya. Cia Keng Hong tentu saja merasa tidak perlu menceritakan urusan itu kepada anak kecil yang ditolongnya itu.

“Dia bukan musuhku, akan tetapi dia itu mempunyai penyakit gila yang kadang-kadang kambuh. Dan sekarang, dia sedang kambuh, maka dia menyerangku. Sudahlah, Sin Liong, mari kita menggali kuburan untuk dia.”

Melihat betapa Cia Keng Hong hanya menggunakan sebatang kayu untuk menggali tanah berbatu itu, Sin Liong ikut-ikut dan... betapa heran hatinya ketika dia mampu pula menggunakan sebatang kayu untuk menggali tanah berbatu! Walaupun tidak secepat kakek itu dan dia amat canggung dan beberapa kali kayu itu patah dan harus diganti, namun dia dapat mengerahkan tenaga melalui kayu itu dan menggali tanah yang keras!

Kagum sekali hati Sin Liong melihat betapa kakeknya itu meletakkan sebuah batu besar di depan kuburan sebagai nisan, dan menggunakan jari telunjuknya untuk menggores-gores permukaan batu yang halus dengan huruf-huruf indah yang berbunyi MAKAM KOK BENG LAMA. Diam-diam dia kagum dan juga girang. Kakeknya ternyata adalah seorang yang luar biasa saktinya, juga seorang kakek yang berhati mulia!

Mereka melanjutkan perjalanan dan Cia Keng Hong melihat betapa anak itu diam saja, padahal tubuhnya masih penuh dengan hawa mujijat itu. Anak ini benar-benar hebat, pikirnya. Anak lain tentu akan mengeluh, dan mungkin sekali mengamuk atau melakukan hal-hal aneh, apalagi setelah diketahuinya bahwa ada tenaga hebat di dalam tubuhnya. Dia mengajak Sin Liong mengaso duduk bersila di depannya.

“Sin Liong, engkau tentu merasa bahwa ada sesuatu yang aneh dalam dirimu, bukan?”

Anak itu mengangguk. “Di dalam seluruh tubuh saya ada hawa bergerak-gerak, locianpwe.”

“Dan engkau sudah tahu bukan, apa artinya itu?”

“Locianpwe sudah memberi tahu bahwa tenaga sakti dari mendiang Kok Beng Lama telah pindah ke dalam tubuh saya.”

“Benar, dan engkau telah pula mengetahui rahasia Thi-khi-i-beng. Biarpun kuberikan ilmu itu dalam keadaan darurat, akan tetapi berarti engkau telah mewarisi ilmu itu dariku. Ketahuilah bahwa puteraku sendiri, Cia Bun Houw, tidak mewarisi ilmu ini. Satu-satunya orang yang pernah mempelajarinya adalah Yap Kun Liong. Oleh karena itu, engkau boleh dibilang adalah seorang muridku, Sin Liong.”

Sin Liong menundukkan mukanya. “Terima kasih atas kebaikan locianpwe.”

“Aku tidak memberi kebaikan apa-apa. Hanya engkau harus berjanji. Tidak sembarang orang boleh memiliki Thi-khi-i-beng, dan setelah engkau terlanjur memilikinya, maka engkau harus mengucapkan janji. Kalau tidak, terpaksa aku akan mencabut ilmu itu dengan merusak jalan darahmu, hal ini terpaksa agar kelak engkau tidak mendatangkan malapetaka bagi manusia di dunia.”

“Saya akan berjanji, locianpwe,” jawab Sin Liong dengan alis berkerut. Untung bahwa yang bicara itu adalah Cia Keng Hong, atau lebih tepat lagi untung bahwa Sin Liong tahu bahwa kakek ini adalah kong-kongnya, karena andaikata tidak demikian, dia lebih memilih mati daripada ditekan!

“Kau harus bersumpah dan berjanji bahwa Thi-khi-i-beng tidak akan kaupergunakan untuk membunuh orang, kecuali dalam pembelaan diri, dan juga kau berjanji bahwa engkau tidak akan mengajarkan Thi-khi-i-beng kepada siapapun juga sebelum aku mati, dan kalau terpaksa kauajarkan kepada orang kelak, engkau harus menyuruh dia bersumpah pula untuk mempergunakan demi kebaikan dan kebenaran.”

Sin Liong mengucap janji dan sumpahnya sehingga agak terhibur jugalah hati kakek itu. Setelah Sin Liong mengucapkan janjinya, keadaan menjadi hening dan akhirnya terdengar kakek itu berkata, “Dengan demikian, mulai sekarang engkau adalah muridku. Nah, sekarang perhatikan baik-baik dan dengarkan dengan penuh perhatian. Aku akan mengajarkan pertama-tama agar kau dapat menyimpan dan menyalurkan hawa yang amat dahsyat di dalam tubuhmu itu, karena kalau tidak, tubuhmu yang masih muda dan lemah tidak akan kuat bertahan dan engkau takkan dapat hidup lama.”

Kakek itu lalu mengajarkan cara-cara menghimpun tenaga sakti itu, cara bersamadhi dan mengatur pernapasan. Selama semalam suntuk kakek itu menggembleng sehingga Sin Liong mengerti benar dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sin Liong masih duduk bersamadhi dan dia sudah mulai merasakan betapa tubuhnya tidak begitu hebat lagi menderita kelebihan tenaga sakti itu, sungguhpun gerakannya masih kaku karena dia merasa kadang-kadang hawa itu hendak membawanya terbang ke angkasa, kadang-kadang pula mendatangkan berat yang hampir tak dapat terbawa oleh tubuhnya.

Melihat keadaan anak itu, Cia Keng Hong maklum bahwa betapapun juga, anak ini memerlukan tempat istirahat untuk terus berlatih mengendalikan hawa sakti yang terlalu kuat untuk tubuhnya itu. Maka dia mengambil keputusan untuk cepat pulang saja ke Cin-ling-san, biarpun hatinya masih penasaran dan menyesal bahwa dia belum juga berhasil menemukan Lie Ciauw Si, cucunya yang pergi mencari Bun Houw itu. Dia sendiripun perlu istirahat untuk memulihkan tenaga.

***




Ketika mereka mulai mendaki puncak Cin-ling-san, hati Sin Liong dilanda kegembiraan dan juga keharuan. Kakeknya tidak banyak bercerita tentang Cin-ling-san, maka diapun tidak tahu apakah ayah kandungnya berada di tempat itu, akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya, dan ketika dia tiba di daerah pegunungan ini, merasa betapa tempat ini adalah tempat ayah kandungnya, dia merasa gembira dan terharu. Maka dalam kegembiraannya itu, dia berjalan sambil menoleh ke kanan kiri, memperhatikan setiap keadaan di pegunungan itu.

Dari lereng sudah nampak bangunan di puncak Cin-ling-san, bangunan yang menjadi tempat atau pusat dari Cin-ling-pai. Akan tetapi pagi hari itu sunyi saja di daerah puncak. Memang kini Cin-ling-pai tidaklah seramai dahulu. Apalagi semenjak isterinya meninggal, Cia Keng Hong lalu menyuruh semua anggauta Cin-ling-pai untuk meninggalkan puncak dan para murid atau anggauta Cin-ling-pai lalu tersebar di mana-mana, banyak yang masih tinggal di kaki Pegunungan Cin-ling-pai dan hidup sebagai petani-petani. Cia Keng Hong tadinya hanya tinggal berdua saja bersama cucunya, yaitu Lie Ciauw Si, dilayani oleh dua orang pelayan wanita. Kakek ini dan cucunya sendiri turun tangan di kebun menanam sayur-mayur. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja para murid kadang-kadang naik ke puncak mengunjungi ketua mereka. Ketika Cia Keng Hong dan Sin Liong mendaki puncak, di puncak telah menanti empat orang. Dari jauh Sin Liong melihat bahwa mereka itu adalah dua orang pria dan dua orang wanita yang menanti kedatangannya kakek itu dengan wajah gembira, dan dia melihat betapa kakek itu mengeluarkan seruan tertahan kemudian tubuh kakek itu melesat dengan cepatnya ke atas puncak. Sin Liong juga berlari mengikutinya dan dia melihat betapa kakek itu kini berhadapan dengan mereka berempat, memandang dengan mata terbelalak kepada seorang di antara mereka, seorang laki-laki tampan yang berdiri dengan kepala agak tunduk.

“Kau...? Kau...!” Dan tiba-tiba Cia Keng Hong terhuyung dan jatuh terguling!



Pria tampan gagah berusia tiga puluh tahun lebih itu bukan lain adalah Cia Bun Houw dan wanita cantik jelita di sampingnya yang usianya satu dua tahun lebih muda itu adalah isterinya, Yap In Hong! Adapun pria dan wanita lain yang berada di situ adalah Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng.

Dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan betapa Cia Bun Houw, putera bungsu dari ketua Cin-ling-pai itu, pergi meninggalkan orang tuanya ketika Cia Keng Hong menentang puteranya yang hendak menikah dengan Yap In Hong, karena puteranya itu telah ditunangkan dengan orang lain. Ayah dan anak bersikeras mempertahankan kehendaknya sendiri sehingga akhirnya Bun Houw pergi bersama In Hong dan menjadi suami isteri tanpa perkenan orang tua! Kepergian Bun Houw inilah yang menghancurkan hati Cia Keng Hong dan isterinya, sampai isterinya meninggal dunia karena semenjak kepergian pemuda itu, tidak pernah ada berita lagi.

Ketika Cia Giok Keng, puteri ketua Cin-ling-pai itu, mendengar bahwa puterinya Lie Ciauw Si yang ikut dengan kakeknya di Cin-ling-san untuk belajar silat dan menemani kakeknya, pergi meninggalkan Cin-ling-san untuk pergi mencari pamannya, hatinya menjadi gelisah! Maka dia lalu pergi kepada pendekar Yap Kun Liong, pria yang sesungguhnya dicintanya itu, dan minta pertolongan Yap Kun Liong untuk pergi mencari adiknya, Cia Bun Houw yang telah membuat orang
tuanya berduka itu. Pergilah pendekar Yap Kun Liong dan akhirnya dia berhasil menemukan Cia Bun Houw dan Yap In Hong yang ternyata mengasingkan diri dan tinggal jauh di sebelah selatan. Yap Kun Liong membujuk Cia Bun Houw untuk pulang ke utara menengok ayahnya, dan Bun Houw yang mendengar akan kematian ibunya dan kedukaan hati ayahnya, lalu bersama isterinya ikut dengan Kun Liong pergi ke utara. Mereka berhenti dulu di Sin-yang, kemudian diantar pula oleh Cia Giok Keng, mereka semua pergi ke Cin-ling-san. Setelah tiba di puncak itu, mereka menemukan tempat kosong dan mereka menanti di situ selama dua hari.

Demikianlah, pada pagi hari itu, mereka berempat menyambut kedatangan Cia Keng Hong yang pulang bersama seorang anak laki-laki yang tidak mereka kenal. Akan tetapi, Cia Keng Hong yang baru saja kehilangan tenaga dan masih terluka biarpun sudah mulai sembuh, luka di sebelah dalam sebagai akibat pertandingannya dengan Kok Beng Lama, begitu melihat Bun Houw, jantungnya tergetar hebat. Berbagai macam perasaan mengaduk hatinya. Rasa gembira, rasa terharu, juga rasa marah dan mendongkol bercampur duka teringat akan isterinya, membuat dia tidak dapat menahan lagi dan dia jatuh tergulingg dan pingsan dalam rangkulan Cia Giok Keng yang tadi cepat menubruk dan menyambut tubuh ayahnya yang terguling.

Melihat ini, Sin Liong terbelalak dan marah bukan main. Dia tadi melihat betapa kakek itu memandang kepada laki-laki gagah yang berbaju kuning dan menggerak-gerakkan tangan ke arah laki-laki itu, maka sudah tentu laki-laki itulah yang telah membuat kakeknya roboh dan mungkin mati itu. Kemarahan memenuhi hatinya dan Sin Liong sudah menerjang ke depan sambil berteriak, “Kau manusia jahat...!”

Semua orang terkejut, terutama sekali Cia Bun Houw sendiri yang melihat dirinya diserang oleh anak yang datang bersama ayahnya tadi. Lebih terkejut lagi hati empat pendekar yang berilmu tinggi itu ketika melihat betapa tubuh anak laki-laki tanggung itu bergerak luar biasa cepatnyag dengan gaya seperti seekor harimau menubruk, atau seperti seekor binatang buas lainnya, dan ketika tangan kirinya mencengkeram ke arah leher Bun Houw dan tangan kanannya memukul ke arah dada, ternyata gerakan anak itu mendatangkan hawa pukulan yang luar biasa kuatnya sehingga terdengar angin menyambar dahsyat!

“Ehhh...!” Cia Bun Houw mengelak cepat dan kaget sekali. Tentu saja bagi pendekar ini yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, serangan Sin Liong itu tidak merupakan bahaya, akan tetapi pendekar ini kaget melihat betapa seorang anak kecil yang usianya baru dua belas atau tiga belas tahun ini bisa memiliki tenaga sin-kang sedahsyat itu, juga kecepatan yang luar biasa sungguhpun gerakannya ketika menyerang lebih patut gerakan seekor binatang buas daripada gerakan silat.

Akan tetapi, begitu serangannya luput, Sin Liong sudah membalik lagi dan menyerang lebih dahsyat, menggunakan pukulan dengan pengerahan tenaga seperti yang diajarkan oleh kakeknya sehingga kini dia dapat mengerahkan tenaga yang terkumpul di pusarnya itu. Tenaga dahsyat yang hangat dan hidup mengalir ke dalam lengan sampai ke ujung-ujung jarinya ketika dia memukul dan mengerahkan tenaga. Terdengar suara bercuitan dan kembali Bun Houw terkejut karena angin pukulan dari anak itu benar-benar dahsyat, seperti pukulan seorang ahli sin-kang yang amat kuat! Dengan hati penuh keheranan dan keinginan tahu, pendekar ini laki menggerakkan lengannya menangkis, dengan maksud untuk mengukur sampai di mana kekuatan anak yang luar biasa ini.

“Dukkk! Aihhh...!” Kini Cia Bun dia mengeluarkan teriakan. Siapa yang tidak akan kaget ketika dua lengan itu bertemu, selain dia merasakan kekuatan yang amat dahsyat, yang tidak patut dimiliki oleh seorang bocah berusia dua belas atau tiga belas tahun, juga dia merasa betapa tenaga sin-kangnya tersedot ke luar! Itulah Thi-khi-i-beng! Ataukah lain ilmu iblis yang dapar menyedot sin-kang lawan? Sebagai murid terkasih dari Kok Beng Lama, tentu saja dengan sekali mengerahkan tenaga membetot, lengannya dapat terlepas dari lekatan lengan lawan yang mempunyai daya sedot, dan dia memandang dengan mata terbelalak kepada anak itu.

Akan tetapi, Sin Liong tidak perduli orang terheran-heran. Dia tidak tahu sama sekali bahwa orang itu kagum dan terkejut melihat kehebatan tenaganya, dan dia merasa penasaran mengapa dia belum dapat menghantam orang yang telah membuat kakeknya sampai roboh pingsan itu.

“Orang jahat kau...!” Dia berteriak lagi dan kini kembali dia menubruk, dengan gerakan yang ganas. Bun Houw kembali mengelak dan pada saat itu nampak bayangan berkelebat, jari-jari tangan yang runcing mungil meluncur dan menotok pundak Sin Liong yang luput menyerang lawannya tadi.

“Dukk! Ahh...!” Wanita cantik itu, Yap In Hong, terkejut bukan main. Karena tadinya dia memandang rendah kepada seorang bocah yang disangkanya hanya liar dan ganas, dia tentu saja menotok tanpa mempergunakan tenaga sakti, khawatir kalau sampai membunuh anak itu. Akan tetapi ketika jari tangannya bertemu pundak Sin Liong yang pada saat itu sedang mengerahkan tenaga, In Hong merasa betapa tenaga kasarnya membalik dan jari-jari tangannya terasa nyeri bukan main! Barulah dia tahu mengapa suaminya kelihatan terkejut dan terheran-heran, ragu-ragu, kini dia mengerti bahwa memang bocah ini luar biasa sekali, memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa kuatnya. Maka diapun menjadi marah dan kini tangannya kembali melayang, sekali ini mengandung tenaga sin-kang yang kuat, bahkan dia mempergunakan tenaga Thian-te Sin-ciang yang ampuh.

“Dess...!” Anak itu terpelanting dan roboh dengan tubuh lemas karena jalan darahnya tertotok.

Akan tetapi, Sin Liong yang marah itu merasa betapa tenaga dan hawa aneh di dalam pusarnya bergolak, mendorong-dorong akan tetapi tidak mampu menembus jalan darah yang sudah tertotok. Dia sama sekali tidak menjadi jerih, bahkan matanya melotot memandang kepada Bun Houw dan In Hong yang menghampirinya, memandang penuh kebencian.

“Kalian tunggu saja...” desisnya, “kalau locianpwe Cia Keng Hong sampai mati, aku bersumpah kelak aku akan membunuh kalian berdua manusia-manusia jahat!” Sepasang matanya mencorong seperti naga sakti. “Aku benci kalian! Aku benci kalian...!”

Melihat sinar mata yang penuh nafsu membunuh, seperti mata seekor harimau kelaparan yang marah, diam-diam In Hong bergidik. “Bocah setan ini perlu dihajar!” katanya dan dia sudah mengangkat tangannya untuk menampar.

“Tahan, jangan pukul dia!” Bun Houw berseru menahan isterinya yang menurunkan kembali tangannya sambil menoleh kepada suaminya. Mengapa suaminya melarang dia memukul anak yang mengeluarkan ancaman mengerikan itu?

Melihat pandangan mata isterinya, Bun Houw berkata, “Aku melihat dia tadi menggunakan Thi-khi-i-beng.”

Mendengar ini, In Hong terkejut dan terheran-heran, akan tetapi mereka berdua lalu menghampiri kakek Cia Keng Hong yang sudah mulai siuman.

“Ah, kau datang, kalian datang semua... ah, aku agak lelah...” Akhirnya kakek itu bangkit duduk.

“Ayah, engkau harus beristirahat dulu. Nanti saja kita bicara...” Cia Giok Keng lalu merangkul dan memapah ayahnya, dibantu oleh Bun Houw. Kakek itu tidak mau dipondong dan dengan dipapah oleh kedua orang anaknya, dia melangkah tertatih-tatih memasuki pondoknya.

Cia Keng Hong jatuh sakit! Beberapa kali dia jatuh pingsan dan terserang demam. Bun Houw dan encinya yang memeriksa, mendapat kenyataan bahwa tenaga ayah mereka itu berkurang banyak sekali, menjadi lemah, dan di sebelah dalam tubuh, ayah mereka itu mengalami guncangan hebat dan seperti orang baru sembuh dari luka parah di dalam tubuh. Akan tetapi mereka belum dapat bicara dengan ayah mereka dan dengan penuh ketelitian kedua orang anak itu merawat ayah mereka, dibantu oleh Yap In Hong dan kakaknya, Yap Kun Liong.

Seperti telah diketahui jelas oleh para pembaca cerita Dewi Maut, isteri dari Cia Bun Houw, Yap In Hong, adalah adik kandung pendekar Yap Kun Liong. Dan semenjak Bun Houw dan isterinya ini meninggalkan orang tuanya, belasan tahun yang lalu, kakak dan adik inipun tidak pernah saling jumpa, apalagi karena Kun Liong juga selama ini hanya menyembunyikan diri saja di rumahnya, yaitu di Leng-kok. Biarpun antara Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng terdapat perasaan cinta kasih yang mendalam, duda dan janda ini tidak melanjutkan hubungan itu dengan hubungan jasmani, melainkan hanya saling mencinta saja di dalam hati masing-masing. Maka kini, pertemuan antara mereka semua tentu saja mendatangkan percakapan yang asyik, saling menceritakan keadaan mereka masing-masing. Hanya keadaan kakek ketua Cin-ling-pai itu yang menimbulkan prihatin di hati mereka, dan juga, anak aneh yang datang bersama ketua Cin-ling-pai itu tidak mau banyak membuka mulut, hanya berwajah muram dan ikut pula menjaga kakek yang sedang sakit itu. Yap Kun Liong juga menasihatkan yang lain agar jangan sembarangan terhadap bocah ini, karena diapun menduga bahwa tentu ada rahasia di balik kedatangan bocah ini, dan tentu ada hubungan erat antara bocah itu dan pendekar sakti Cia Keng Hong, apalagi ketika dia mendengar bahwa anak itu agaknya pandai Thi-khi-i-beng.

“Kita tunggu saja sampai Cia-locianpwe sudah sembuh kembali dan menceritakan siapa adanya anak itu,” kata pendekar ini dan yang lain-lain merasa setuju. Anak itu benar-benar amat luar biasa. Kalau ditanya, hanya memandang dengan mata mendelik marah dan memang Sin Liong merasa tidak suka kepada empat orang ini, terutama kepada Cia Bun Houw dan isterinya yang dianggapnya jahat karena telah membuat kakeknya roboh pingsan dan sakit. Dia tidak tahu siapa mereka dan juga tidak ingin tahu, dan diapun tidak suka memperkenalkan diri ketika ditanya. Diapun ingin menanti sampai kakek itu sembuh, baru dia akan mengambil keputusan apakah akan terus tinggal di situ ataukah akan pergi. Hanya terhadap Yap Kun Liong dia tidak begitu dingin dan ketus, karena pendekar yang usianya sudah empat puluh delapan tahun ini bersikap manis budi kepadanya. Bahkan hanya dari Yap Kun Liong saja dia mau menerima makanan. Biarpun dia diberi sebuah kamar, akan tetapi dia tidak mau tidur di kamarnya, sebaliknya dia terus berada di kamar Cia Keng Hong dan di situ dia duduk bersila, bersamadhi seperti yang telah diajarkan oleh kakek itu kepadanya. Dan diapun tidur dalam keadaan bersila. Melihat cara anak itu bersamadhi, makin yakinlah hati empat orang pendekar itu bahwa anak ini pasti memiliki hubungan yang erat dengan ketua Cin-ling-pai.

Ternyata guncangan batin ketika dia melihat wajah puteranya itulah yang membuat Cia Keng Hong jatuh sakit. Ketika dia mengadu ilmu melawan Kok Beng Lama, dia sudah merasa bahwa dia terluka di sebelah dalam tubuhnya, apalagi ketika sebagian dari tenaga sin-kangnya tersedot oleh kekuatan dahsyat yang mengeram di dalam tubuh Sin Liong. Biarpun kemudian dia dapat menyedot kembali tenaga dari tubuh Sin Liong dengan menggunakan Ilmu Thi-khi-i-beng dan dengan demikian selain menyelamatkan Sin Liong juga memulihkan kembali tenaganya, namun luka yang dideritanya belumlah sembuh sama sekali. Maka ketika menerima guncangan hebat dan mendadak dalam perjumpaan yang tak disangka-sangkanya dengan puteranya itu, dia jatuh pingsan dan jantungnya yang sudah tua itu mengalami tekanan berat yang membuat dia jatuh sakit. Baru setelah sepekan dirawat dengan penuh perhatian oleh putera dan puterinya, Cia Keng Hong sembuh dari demam dan ingatannya kembali. Biarpun tubuhnya masih lemah namun dia sudah dapat bangun duduk dan bicara.

Ketika melihat Sin Liong duduk bersila di sudut kamar, Cia Keng Hong tersenyum dan wajahnya berseri. Dia mengangguk-angguk dan berkata kepada Bun Houw dan Giok Keng, “Bantu aku keluar, aku ingin duduk di luar pondok, di tempat terbuka yang sejuk.”

Cia Giok Keng dan Cia Bun Houw lalu memapah ayah mereka itu, membawanya keluar dan di bawah sebatang pohon pek di depan pondok itu memang terdapat sebuah batu halus yang menjadi tempat duduk dan tempat samadhi kakek ini. Di situlah dia duduk bersila dan empat orang pendekar itupun duduk di atas tanah di depannya.

“Sin Liong, kau ke sinilah...” kata kakek itu kepada Sin Liong yang ikut pula keluar dengan sikap sungkan, karena dia merasa bahwa dia adalah seorang pendatang baru yang asing. Namun hatinya lega melihat bahwa ternyata empat orang itu bukanlah musuh kakeknya.

Mendengar ucapan kakek itu, Sin Liong cepat menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut, lalu duduk bersila pula di depan batu besar yang diduduki kakek itu.

Sejenak keadaan di situ sunyi. Udara pagi itu cerah dan hangat oleh sinar matahari pagi. Angin gunung mendatangkan kesejukan di bawah pohon itu dan mereka semua seperti tenggelam dalam keheningan yang maha luas. Cia Keng Hong memandang ke kanan dan alisnya berkerut, hatinya diliputi penuh keharuan dan penyesalan. Melihat puteranya kini telah menjadi seorang pria yang matang, berusia tiga puluh tahun lebih, duduk bersila di dekat Yap In Hong yang memang cantik jelita dan gagah, dia melihat kesalahan yang telah dilakukannya belasan tahun yang lalu. Jelas bahwa puteranya itu saling mencinta dengan wanita itu, mengapa dia dahulu berkeras tidak menyetujui perjodohan mereka? Padahal, mereka itulah yang akan saling berjodoh, yang akan hidup berdua selamanya, mereka berdualah yang akan hidup bersama membagi suka duka bersama-sama. Perjodohan adalah urusan mereka berdualah, dengan hak dan kewajiban mereka berdua sepenuhnya pula. Mengapa dia bercampur tangan, mengapa dia hendak mengatur kehidupan kedua orang itu, ingin menyesuaikan mereka berdua untuk menyenangkan hatinya? Betapa bodohnya dia, dan betapa bodohnya orang-orang tua yang ingin mencampuri urusan perjodohan anak-anak mereka! Memang dahulu dia mempunyai alasan kuat untuk menentang, mengingat betapa Yap In Hong sendiri pernah memutuskan pertunangannya dengan Bun Houw (baca kisah Dewi Maut), dan ke dua betapa Bun Houw telah ditunangkan dengan gadis lain. Namun, segala macam alasan itu sesungguhnya hanyalah untuk mempertahankan pebdiriannya atau kesenangan dirinya pribadi. Kini nampak jelas olehnya dan dia merasa menyesal sekali.

Dan ketika dia menoleh ke kiri, dia melihat si duda, Yap Kun Liong duduk bersanding dengan puterinya, Cia Giok Keng yang sudah menjadi janda, dan hatinyapun tertusuk keharuan bercampur kekaguman. Dua orang itu benar-benar memiliki cinta kasih yang murni, cinta kasih yang sama sekali tidak dikotori oleh nafsu berahi. Betapa mereka saling mencinta, dia dapat merasakannya, namun keduanya tetap bertahan dan hanya berhubungan sebagai sahabat-sahabat yang saling mencinta. Benar-benar mengagumkan dan patut dipuji kedua orang itu! Lalu dia memandang ke depan, kepada Sin Liong. Bocah ini juga mengagumkan! Senanglah hati Cia Keng Hong karena biarpun sejak tadi tidak pernah ada yang bicara sepatah katapun, namun dalam keadaan sehening dan seindah itu, memang kata-kata tidak banyak gunanya lagi.

“Sin Liong, setelah beberapa hari kau berada di sini, apakah engkau sudah mengenal siapakah adanya mereka ini?” Dia menoleh ke kanan dan kiri. Empat orang pendekar itu memandang kepada Sin Liong dan anak itupun menoleh dan memandang kepada mereka dengan wajah yang masih muram. Dia menggeleng kepala.

“Saya belum mengenal mereka, locianpwe,” jawabnya kemudian.

“Ah! Engkau belum mengenal mereka? Lihatlah baik-baik, Sin Liong, yang duduk di sebelah kirimu itu adalah puteraku yang bernama Cia Bun Houw dan isterinya!” Kakek itu berhenti karena tiba-tiba Sin Liong menoleh ke kiri dan sepasang matanya mencorong aneh ketika dia memandang kepada Bun Houw.

Tidak ada seorangpun di antara mereka yang tahu betapa kagetnya hati Sin Liong mendengar perkenalan itu. Jadi laki-laki gagah itu adalah ayah kandungnya! Dan beberapa hari yang lalu dia telah menyerang orang itu sebagai orang yang dibencinya! Kiranya ayah kandungnya, yang oleh mendiang ibu kandungnya dipuji-puji sebagai pendekar sakti itu. Akan tetapi mengapa ayah kandungnya itu duduk di situ bersama wanita cantik yang diperkenalkan sebagai isteri ayahnya itu? Dan wanita itu telah turun tangan menotoknya! Dia kini memandang kepada Yap In Hong dengan pandang mata penuh kebencian. Ketika Bun Houw dan In Hong memandang Sin Liong, mereka melihat sinar mata anak itu dan keduanya terkejut sekali.

“Ihhh...!” In Hong mengeluarkan seruan lirih dan Bun HoUw mengerutkan alisnya.

Cia Keng Hong juga merasa heran melihat sikap Sin Liong itu, maka dia bertanya. “Ada apakah Sin Liong?”

Sin Liong tidak menjawab, hanya memandang kepada Bun Houw dan In Hong dengan sinar mata aneh, dan kini tanpa disadarinya, sepasang mata yang menyinarkan kebencian itu menjadi basah dan dua titik air mata mengalir keluar. Melihat ini, Bun Houw cepat berkata, “Ayah, dia salah sangka terhadap kami berdua. Ketika ayah terkejut dan tak sadarkan diri, dia langsung menyerangku, dan aku heran sekali melihat dia memiliki sin-kang yang luar biasa, bahkan memiliki Thi-khi-i-beng!”

Cia Keng Hong tersenyum dan mengangguk-angguk mengerti. “Ah, kiranya begitukah? Sin Liong, engkau salah duga. Dia bukanlah musuh, dia adalah puteraku. Hayo kau cepat minta maaf, biarpun kau melakukan hal itu tanpa kausadari.”

Sin Liong menunduk, kemudian menghadap kakek itu sambil berkatap “Maafkan saya, locianpwe.” Dia tidak minta maaf kepada Bun Houw, melainkan kepada kakeknya! Memang hati anak ini luar biasa kerasnya. Dia telah bertemu dengan ayah kandungnya, akan tetapi melihat kenyataan pahit betapa ayah kandungnya yang telah meninggalkan ibu kandungnya ini menjadi suami wanita lain, mana mungkin hatinya tidak diliputi kekecewaan dan kebencian?

“Dan yang duduk di sebelah kiri itu adalah puteriku, Sin Liong. Namanya Cia Giok Keng. Sedangkan pria itu adalah Yap Kun Liong, kakak ipar dari puteraku Bun Houw, juga dia dapat dibilang muridku karena hanya dia seorang yang telah mewarisi Thi-khi-i-beng dariku, di samping engkau sendiri, sekarang engkau telah menjadi muridku, maka engkau adalah sute mereka, sute paling kecil.” Kakek itu mengangguk-angguk senang. Hatinya gembira sekali, terutama karena dia dapat melihat puteranya kembali.

“Ayah, siapakah anak ini dan bagaimana asal mulanya sampai dia dapat memiliki sin-kang sedemikian hebatnya, dan telah mewarisi Thi-khi-i-beng pula?” tanya Bun Houw. Betapapun juga, dia merasakan sinar mata benci dari anak itu, oleh karena itu, diapun mempunyai perasaan tidak senang kepada Sin Liong!

“Memang aneh dia, dan banyak pula terjadi hal-hal aneh menimpanya. Pertama-tama, ketahuilah, Bun Houw, bahwa gurumu telah meninggal dunia.”

“Ahhh...!” Bun Houw berseru kaget.

“Ihhh...!” In Hong juga berseru tertahan yang merasa sayang kepada kakek pendeta Lama itu.

“Hemmm...!” Yap Kun Liong juga menahan seruannya karena diapun merasa amat kagum kepada ayah mertuanya itu. Kok Beng Lama adalah ayah mertua pendekar ini, karena mendiang isterinya, Pek Hong In, adalah puteri tunggal dari pendeta Lama itu (baca cerita Petualang Asmara).

“Ayah, apakah yang telah terjadi? Bagaimana suhu sampai meninggal dunia? Apakah dia dibunuh musuh?”

Ayahnya menggeleng kepala. “Dia memang sudah tua dan pikun, Bun Houw, dan agaknya memang sudah tiba saatnya bagi Kok Beng Lama untuk meninggalkan dunia ini. Betapapun juga, kematian itu terjadi karena kesalahannya sendiri.” Dengan singkat ketua Cin-ling-pai itu menceritakan tentang pertemuannya dengan Kok Beng Lama, betapa Kok Beng Lama memaksanya untuk mengadu tenaga sin-kang dan betapa Sin Liong yang mencoba untuk melerai itu tanpa disengaja malah mewarisi seluruh tenaga dari Kok Beng Lama, biarpun hal itu juga hampir saja menewaskannya, dan betapa dia terpaksa membuka rahasia Thi-khi-i-beng kepada anak itu untuk menolongnya. Empat orang pendekar itu mendengarkan dengan penuh keheranan dan kekaguman dan mereka kini memandang kepada Sin Liong dengan sinar mata lain. Memang anak luar biasa, pikir mereka.

“Bagus, kalau begitu engkau adalah suteku, Sin Liong!” Bun Houw berseru dengan girang. “Engkau she apakah?”

Sin Liong sejenak menatap wajah ayah kandungnya itu. Hampir saja dia menitikkan air mata, dan ingin hatinya berteriak bahwa dia adalah putera pendekar itu. Akan tetapi, hatinya memang keras sekali. Melihat ayah kandungnya mempunyai seorang isteri dan meninggalkan ibu kandungnya, dia tidak mau memperkenalkan diri. Hatinya terasa nyeri, lupa dia bahwa ibu kandungnya juga mempunyai suami baru!

“Aku tidak mempunyai she,” jawabnya sambil menunduk.

“Eh, kenapa begitu aneh?” Giok Keng yang biarpun usianya sudah empat puluh tujuh tahun masih cantik dan masih juga keras hatinya itu berseru. “Lalu siapakah nama ayahmu?”

Sin Liong memandang sejenak kepada puteri kakeknya yang sesungguhnya adalah bibinya itu, lalu dia menunduk dan menjawab singkat, “Aku tidak mengenal siapa ayah bundaku.”

Cia Keng Hong tersenyum. “Memang dia aneh. Dia tidak tahu siapa ayah bundanya, dan dia hanya ingat bahwa dia bekerja sebagai kacung pada keluarga Na-piauwsu. Akan tetapi, untuk bertanya tentang asal-usul anak ini kepada keluarga Na-piauwsu juga tidak mungkin karena keluarga Na itu dibunuh oleh musuh-musuhnya. Anak ini dibawa oleh seorang wanita kejam yang bernama Kim Hong Liu-nio, seorang wanita yang benar-benar memiliki kepandaian yang mengejutkan dan entah mengapa wanita iblis itu demikian bencinya kepada Sin Liong sehingga menyiksanya dan aku telah membebaskannya dari tangan wanita itu.”

“Sin Liong, siapakab wanita itu?” tanya Yap Kun Liong yang merasa tertarik karena diapun tidak mengenal tokoh kang-ouw bernama Kim Hong Liu-nio itu. Kalau ada seseorang tokoh sampai dipuji kepandaiannya oleh Cia Keng Hong, su dah pasti bahwa tokoh itu bukan orang sembarangan dan kepandaiannya tidak boleh dibuat main-main.

Sin Liong memang tidak ingin menceritakan banyak-banyak tentang dirinya, akan tetapi karena semua orang memandang kepadanya dan sinar mata mereka menunjukkan bahwa mereka itu ingin sekali mendengar tentang Kim Hong Liu-nio, dia teringat akan tantangannya terhadap Kim Hong Liu-nio dan dengan lantang dia lalu berkata, “Saya tidak mengenalnya. Ketika keluarga Na-piauwsu diserbu musuh dan dibunuh, dia muncul dan dia membunuh semua musuh keluarga Na itu lalu menangkap saya dan membawa saya pergi ke hutan di mana Cia locianpwe menolong saya. Akan tetapi, saya mendengar dia berkata-kata seorang diri bahwa dia akan membunuh semua orang yang she Cia, Yap dan Tio.”

“Ehhh?”

“Ahhh?”

“Heiii...?”

Seruan-seruan itu keluar dari mulut Yap Kun Liong, Cia Giok Keng, Cia Bun Houw dan Yap In Hong. Mereka saling pandang, lalu memandang kembali kepada anak itu. Sin Liong merasa senang melihat mereka terkejut. Kalau benar mereka ini adalah pendekar-pendekar besar, ingin dia melihat wanita iblis yang lihai itu berhadapan dengan mereka.

“Sungguh aneh sekali! Mengapa justeru she-she dari kita yang dimusuhinya?” tanya Cia Bun Houw sambil memandang Yap In Hong.

“DAN she Tio itu bukanlah ada hubungannya dengan Tio Sun twako?” tanya pula Yap In Hong.

“Ahhh, sekarang aku ingat...!” Tiba-tiba kakek ketua Cin-ling-pai itu berkata. “Ya, benar. Tadinya aku merasa heran mengapa aku sampai tidak mengenal dasar ilmu silatnya. Kini, setelah mendengar bahwa dia memusuhi kita dan juga Tio Sun, teringatlah aku. Sudah tentu wanita itu ada hubungannya dengan Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li! Benar, ilmu silatnya memang mempunyai dasar ilmu silat dua orang iblis tua itu!”

“Akan tetapi mereka itu sudah mati!” kata Yap In Hong. “Pek-hiat Mo-ko telah tewas olehmu dan Hek-hiat Mo-li terluka parah olehku.” Dia bicara kepada Bun Houw.

Bun Houw mengangguk-angguk. “Kalau memang ada hubungannya dengan mereka, tentu ada hubungannya dengan Hek-hiat Mo-li. Pek-hiat Mo-ko jelas telah mati, akan tetapi Hek-hiat Mo-li belum tewas biarpun terluka parah akan tetapi dia disalamatkan dengan datangnya Raja Sabutai. Mungkin dia itu murid dari Hek-hiat Mo-li yang masih selalu menaruh dendam kepada kita.” Bun Houw mengerutkan alisnya dan teringatlah akan peristiwa belasan tahun yang lalu ketika dia dan In Hong mengalahkan Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li dalam pertandingan mati-matian.

Cia Keng Hong juga mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya. “Kiranya begitu... ilmunya lihai sekali dan setelah menggunakan Thi-khi-i-beng baru aku berhasil menundukkannya. Akan tetapi dia segera mengenal ilmu itu dan
mengenalku, lalu pergi. Agaknya tentu Hek-hiat Mo-li yang berdiri di belakangnya. Hemmm, musuh sudah mulai keluar dari sarang dan mencari gara-gara, harap kalian suka berhati-hati,” katanya sambil memandang kepada dua pasang pendekar itu.

Empat orang pendekar itu tinggal di Cin-ling-san sampai kakek itu sembuh dari luka-lukanya. Dalam kesempatan itu, Cia Keng Hong secara bergiliran bicara berdua saja dengan dua orang anaknya. Dengan hati terharu dia mendengar dari Bun Houw ketika dia bertanya mengapa puteranya itu belum mempunyai keturunan, dan pengakuan puteranya itu yang bicara dengan nada suara duka mengejutkannya.

“Ayah, sebelum ayah memberi restu kepada kami untuk menikah, mana mungkin kami berdua dapat menjadi suami isteri dan mempunyai anak?”

Cia Keng Hong memandang kepada puteranya dengan mata terbelalak. “Apa katamu? Engkau dan In Hong... kalian... belum menjadi suami isteri?”

Bun Houw mengangkat mukanya memandang kepada ayahnya, sepasang matanya jernih akan tetapi wajahnya agak pucat. “Ayah, kami berdua saling mencinta, saling menghormat, maka bagaimana mungkin kami saling merendahkan dengan jalan melakukan hubungan jina? Biarpun kami telah hidup bersama selama belasan tahun ini, akan tetapi selama ayah masih ada, tanpa perkenan dari ayah atas perjodohan kami, mana berani kami melakukan hubungan yang akan menjadi perjinaan?”

Sepasang mata yang terbelalak memandang itu kini menjadi sayu, bibir tua itu gemetar dan hati pendekar itu seperti ditusuk pedang rasanya. Terbukalah kini matanya dan tahulah dia betapa dahulu dia terlalu menuruti hati, terlalu mempertahankan kehendaknya sendiri sehingga dia mengorbankan puteranya yang menderita karena keangkuhannya. Dia memeluk puteranya, merangkul dan berbisik.

“Houw-ji... kaumaafkan aku... ah, mendiang ibumu benar, aku terlalu keras kepala... aku telah membuatmu hidup menderita, kaumaafkanlah aku, anakku...”

Dua titik air mata membasahi mata pendekar sakti itu, hal yang luar biasa sekali, dan menandakan bahwa hati pendekar itu luar biasa sakitnya, tertindih oleh rasa sesal dan haru.

“Tidak, ayah, sebaliknya akulah yang selama ini merasa berdosa dan membikin susah hati ayah,” jawab Bun Houw lirih.

“Aku yang bodoh, anakku, lupa akan keadaanku sendiri ketika masih muda. Ah, aku seperti buta dan lupa bahwa tak mungkin mengatur hati orang lain, dan aku bangga sekali mendengar betapa murni cinta antara kalian. Bun Houw, lekas kaupanggil In Hong ke sini!”

Bun Houw cepat pergi ke belakang dan tak lama kemudian dia sudah kembali dengan In Hong. Melihat gadis itu, Cia Keng Hong makin terharu. Dia memegang tangan In Hong, memandang tajam dan berkata, “In Hong, kau maafkanlah aku, orang tua tak tahu diri yang kukuh sehingga aku telah membuat kalian berdua menderita. Kalau... kalau kalian masih mau menganggap dan mau menerima, biarlah detik ini aku menyatakan bahwa aku girang sekali kalian saling berjodoh! Kuharap kalian suka menjadi suami isteri dalam arti yang sesungguhnya. Aku... aku... ingin sekali dapat melihat cucuku, putera dari kalian sebelum aku mati...”

“Gak-hu...!” In Hong yang biasa menyebut locianpwe itu kini menyebut “ayah mertua” dan menjatuhkan diri berlutut sambil meneteskan beberapa titik air mata.

Keadaan tiga orang ini sungguh mengharukan, akan tetapi di dalam keharuan ini muncul sinar yang amat membahagiakan mereka bertiga, terutama di dalam hati Bun Houw dan In Hong sehingga dalam pertemuan pandang mata mereka, selain kasih sayang seperti biasanya, terdapat pula sinar yang membayangkan kegirangan dan juga perasaan malu-malu.

Bun Houw juga berlutut di samping isterinya dan berkata, “Kami menghaturkan terima kasih kepada ayah atas kebijaksanaan ayah.”

Ucapan itu malah makin menusuk perasaan Cia Keng Hong, sungguhpun Bun Houw tidak bermaksud demikian. Dengan mata basah pendekar sakti yang sudah tua ini menggunakan kedua tangan meraba kepala putera dan mantunya, seperti hendak memberi berkah. “Ayahmu bersalah, ayahmu terlalu mementingkan perasaan dan keinginan hati sendiri sehingga kalian menderita dan menjadi korban selama belasan tahun. Ah, anak-anakku, hendaknya peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kalian sehingga kelak kalian tidak melakukan kebodohan seperti yang telah kulakukan ini, dan tidak membikin anak-anak kalian menderita...”

Selain mendatangkan kebahagiaan dalam hati dua orang yang saling mencinta itu, menjodohkan mereka sehingga mereka dapet menjadi suami isteri secara sah oleh persetujuan orang tua, dapat menjadi suami isteri dalam arti kata yang sesungguhnya, juga pendekar sakti tua Cia Keng Hong mengadakan pertemuan bertiga saja dengan puterinya, Cia Giok Keng dan Yap Kun Liong. Juga kepada dua orang yang sesungguhnya saling mencinta ini, Cia Keng Hong memberi “lampu hijau”. Antara lain dia berkata dengan nada suara sungguh-sungguh dan yang didengarkan oleh kedua orang itu dengan muka menunduk.

“Aku tahu bahwa kalian berdua saling mencinta, Kun Liong dan Giok Keng. Dan kalian adalah orang-orang bebas, seorang duda dan seorang janda. Oleh karena itu, yakinlah hati kalian bahwa aku akan merasa ikut berbahagia, apabila kalian berdua dapat mengisi kekosongan hidup masing-masing dan menjadi suami isteri. Kalian masih cukup muda untuk menikmati hidup, dan sudah selayaknyalah kalau saling mengisi dan saling menghibur. Nah, legalah kini hatiku, karena aku telah menyatakan isi hatiku. Tentu saja pelaksanaannya terserah kepada kalian berdua.”

Di depan kakek tua renta itu, tentu saja Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng merasa malu untuk menjawab, akan tetapi terdapat sinar lain dalam pandang mata mereka ketika mereka saling bertemu pandang. Dan sinar-sinar mata inipun dapat ditangkap oleh kakek Cia Keng Hong yang membuatnya tersenyum penuh kelegaan hati, seperti kelegaan hati seorang ayah yang melihat anak-anaknya hidup bahagia.

Dua pasang pendekar itu tinggal di puncak Cin-ling-san, merawat Cia Keng Hong sampai kakek pendekar ini sembuh dari sakitnya. Selama beberapa hari itu, ada beberapa orang anggauta Cin-ling-pai yang datang pula untuk menjenguk sehingga terjadilah pertemuan-pertemuan yang menggembirakan. Dalam kesempatan itu, Cia Giok Keng mengusulkan kepada ayahnya apakah tidak sebaiknya kalau Cin-ling-pai dibangun kembali dan memanggil para anggauta yang kini tinggal terpisah-pisah.

Kakek itu menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Tidak, Keng-ji. Tidak ada gunanya sama sekali. Kini nampak benar olehku betapa pendirian sebuah perkumpulan hanya berarti memisahkan diri dari orang-orang lain saja. Sebaiknya kalau kita menganggap dunia manusia adalah anggautanya! Dengan demikian, setiap orang manusia sebagai anggauta perkumpulan besar itu akan selalu menjaga dunia, dan saling setia, saling mencinta antara manusia sebagai rekan hidup. Sebaliknya, mendirikan perkumpulan-perkumpulan terpisah-pisah hanya akan mendatangkan lebih banyak permusuhan dan persaingan belaka. Tidak, biarlah Cin-ling-pai bubar saja, lebih baik begini...!”

Diam-diam Cia Giok Keng dan Cia Bun Houw melihat betapa ayah mereka telah berubah sama sekali. Dahulu, ayah mereka amat mementingkan nama dan kehormatan sehingga ayah mereka itu menentang perjodohan Bun Houw dengan In Hong karena hendak menjaga nama dan kehormatan pula. Sekarang, ayah mereka telah menjadi lunak dan memiliki pandangan yang amat luas dan sama sekali tidak kukuh lagi.

Dua pasang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi itu hampir setiap hari menjenguk makam ibu mereka, nyonya Cia Keng Hong. Pada suatu pagi Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng berdua saja bersembahyang di depan kuburan itu. Setelah selesai bersembahyang, mereka berdua lalu berjalan dan tanpa disadari mereka saling bergandengan tangan menuju ke tepi jurang yang ditumbuhi rumput hijau yang gemuk. Mereka tidak mengucapkan sepatah kata, akan tetapi jari-jari tangan mereka yang saling berpegang itu sudah bicara banyak. Mereka lalu duduk, saling berhadapan di atas rumput hijau di tepi jurang, saling memandang, kemudian Cia Giok Keng menundukkan mukanya ketika dia mulai bicara, seolah-olah dia tidak dapat menatap wajah pria yang dicintanya itu. “Kun Liong, apa yang kaupikirkan?”

Kun Liong memandang wajah yang menunduk itu. Baginya, wanita yang usianya sudah empat puluh tujuh tahun itu masih nampak seperti dulu, seperti ketika masih gadis remaja, masih tetap cantik menarik.

“Giok Keng, agaknya apa yang berada dalam pikiranku tidak jauh bedanya dengan apa yang sedang kaupikirkan. Aku teringat akan pesanan ayahmu.”

Wajah yang memang masih jelas memperlihatkan raut yang cantik itu menjadi agak kemerahan, akan tetapi dengan berani Giok Keng mengangkat mukanya memandang. Kembali dua pasang mata bertemu dan melekat. Memang, di saat seperti itu, kata-kata dari mulut tidak lagi banyak artinya, bahkan terasa janggal dan kaku karena sinar mata lebih lancar menyatakan perasaan hati.

“Lalu, bagaimana pendapatmu?” Giok Keng bertanya, pertanyaan yang hanya untuk memecahkan kesunyian yang mendatangkan rasa kikuk baginya itu karena sesungguhnya, tanpa bertanyapun dia sudah tahu apa yang menjadi isi hati Kun Liong. Mereka berdua memang saling mencinta, dan tidak ada kesenangan yang lebih besar daripada perkenan ayahnya tadi yang bahkan menganjurkan, agar mereka berdua menjadi suami isteri. Membayangkan bahwa mereka berdua akan tinggal serumah, akan selalu hidup berdampingan, akan membagi segala sesuatu yang mereka hadapi, akan bersama-sama menikmati kesenangan, bersama-sama menanggung penderitaan, benar-benar merupakan suatu hal yang amat menghibur dan membahagiakan hati.

“Kau tahu betapa akan bahagia rasa hatiku kalau kita selalu dapat saling berdekatan. Giok Keng, maukah engkau pergi bersamaku ke Leng-kok?”

Giok Keng mengerutkan alisnya, berpikir sejenak lalu berkata, “Sebetulnya, apakah bedanya bagi kita tinggal di Leng-kok atau di rumahku di Sin-yang? Di manapun, asal kita berdua, apa bedanya?”

Yap Kun Liong memegang tangan wanita itu dan menggenggamnya. “Engkau benar, aku meributkan soal-soal yang kecil saja. Kalau engkau lebih suka tinggal di Sin-yang, akupun tidak akan menolak tinggal di sana.”

Melihat betapa pria itu sudah memperlihatkan sikap mengalah. Giok Keng merasa tidak enak hati juga. Seolah-olah dia masih Cia Giok Keng yang dahulu, yang keras hati sehingga kekerasan hatinya itulah yang menggagalkan perjodohannya dengan Kun Liong, dan kekerasan hatinya pula yang mendatangkan atau mengakibatkan segala macam peristiwa hebat (baca Kisah Dewi Maut). Teringat akan ini, dia cepat berkata lagi.

“Tentang di mana kita tinggal, kita lihat saja nanti. Bagiku, ke manapun kau pergi dan tinggal, di situ aku merasa betah dan senang, Kun Liong. Akan tetapi, hatiku merasa tidak enak mendengar akan kepergian Ciauw Si yang mencari Bun Houw dan sampai kini belum pulang. Aku mempunyai keinginan untuk lebih dulu pergi merantau mencari anakku itu sampai dapat. Engkau tentu tahu, Seng-ji dan Ciauw Si sekarang telah menjadi anak-anak yang telah dewasa. Dalam urusan antara kita ini, adalah bijaksana kalau aku lebih dulu memberitahukan kepada mereka. Mengertikah engkau?”

Kun Liong menggenggam tangan itu dia mengangguk. “Tepat sekali. Memang semestinya demikian, Giok Keng. Akupun akan merasa tidak enak kalau mereka tidak diberi tahu lebih dulu. Kalau begitu, aku akan membantumu mencari puterimu itu. Dan bagaimana dengan puteramu?”

“Dia akan pulang kalau sudah tamat belajar dari Kok Beng Lama. Dan kurasa kini memang sudah tiba saatnya dia akan pulang. Kalau begitu, mari kita pergi mencari Ciauw Si besok. Ayah juga sudah sembuh.”

Demikianlah, pada keesokan harinya, Cia Giok Keng dan Yap Kun Liong berpamit kepada kakek Cia Keng Hong untuk pergi mencari Ciauw Si. Kakek itu segera menyatakan persetujuannya. Dan dalam kesempatan ini, Cia Bun Houw dan Yap In Hong juga berpamit untuk kembali ke selatan.

Karena merasa bahwa dia sudah sembuh, hanya tinggal memulihkan tenaganya saja, Cia Keng Hong sama sekali tidak menahan, bahkan diam-diam dia merasa girang karena kepergian kedua pasang anak-anaknya itu disertai dengan pancaran kebahagiaan di wajah mereka! Dia merasa bahagia sekali dan ketika kedua pasang pendekar itu berpamit lalu pergi, dia mengikuti bayangan mereka dengan pancaran sinar mata penuh kebahagiaan. Sin Liong yang duduk bersila di dekatnya juga memandang dengan sinar mata sayu. Tidak seorangpun di antara mereka tahu betapa anak ini menderita tekanan batin yang cukup hebat, melihat ayah kandungnya pergi tanpa menoleh sedikitpun kepadanya, bahkan tanpa mengetahui bahwa dia adalah anak kandungnya! Ingin dia berteriak, ingin dia mengaku sebelum ayahnya pergi akan keadaan dirinya, akan tetapi anak ini duduk bersila dan menggigit bibir untuk menahan dorongan hati yang ingin berteriak itu sampai akhirnya bayangan empat orang itu lenyap di sebuah tikungan.

“Eh, kenapa kau menangis?”

Pertanyaan ini mengejutkan hati Sin Liong. Tanpa disadarinya, ketika tadi dia melawan dorongan hatinya, menggigit bibirnya, ada dua titik air mata meloncat keluar ke atas pipinya.

“Menangis? Apakah saya menangis, locianpwe?” tanyanya sambil menggerakkan tangan mengusap dua titik air mata itu.

Kakek itu tersenyum maklum. Tentu anak ini diam-diam merasa suka kepada kedua putera dan puterinya, dan kini merasa berduka melihat mereka pergi. Kasihan sekali anak ini. Hidup sebatangkara di dunia yang luas dan penuh dengan kekerasan dan kekejaman ini.

“Sin Liong, jangan khawatir. Setelah engkau memiliki sin-kang yang diwariskan oleh Kok Beng Lama kepadamu, setelah engkau memiliki Thi-khi-i-beng, dan dalam waktu dekat aku akan mengajarkan ilmu-ilmu silat tinggi kepadamu, kelak engkau dapat menjaga diri sendiri dan dapat mengembara ke manapun sebagai seorang pendekar, seperti anak-anakku itu.”

Sin Liong tidak menjawab, melainkan segera berlutut di depan kakeknya itu. Dia kagum kepada kakeknya ini, amat menghormatnya, dan amat sayang kepada kakeknya yang dianggap merupakan seorang manusia budiman yang sangat baik kepadanya. “Terima kasih, locianpwe, terima kasih...”

Diam-diam Cia Keng Hong merasa heran mengapa anak ini tidak pernah menyebut suhu kepadanya, akan tetapi karena dia sekarang tidak lagi mau memperdulikan tentang segala macam upacara dan sebutan, dan karena diapun tahu bahwa Sin Liong adalah seorang anak yang aneh sekali, maka diapun tidak pernah menegurnya. Baginya tidak ada bedanya apakah dia akan disebut locianpwe ataukah suhu, karena pendekar sakti yang tua ini mulai terbuka matanya bahwa segala macam upacara dan sopan santun, segala macam sebutan itu hanyalah kosong belaka, seperti kosongnya semua kata-kata yang keluar dari mulut, yang hanya merupakan permainan dari hawa dan angin kosong belaka! Yang penting baginya adalah tindakan, kenyataan, bukan segala macam sebutan dan omongan.



Pendekar sakti Cia Keng Hong memenuhi kata-katanya kepada Sin Liong. Mulai hari itu semenjak kedua orang putera dan puterinya pergi, dia menurunkan ilmu-ilmunya kepada Sin Liong. Ketika dia melatih cucunya, Lie Ciauw Si, dia juga melatih dengan tekun, akan tetapi sekarang, melihat keadaan diri Sin Liong, pendekar ini menjadi kagum dan gembira bukan main. Cucunya perempuan itu hanya memiliki bakat biasa saja dan mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi yang amat sukar itu tidak mudah dikuasai oleh Ciauw Si. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan Sin Liong. Anak ini benar-benar amat luar biasa sekali. Segala macam pelajaran dasar ditelannya dengan mudah, bahkan ketika kakek itu mulai mengajarkan ilmu-ilmu silat tinggi yang rumit, mudah saja bagi Sin Liong untuk menguasainya. Seolah-olah sekali diberi pelajaran setiap teori ilmu silat, semua itu telah melekat di dalam benaknya dan tidak lupa lagi. Dan ketika dia mulai melatih diri, juga di dalam gerakan-gerakannya terkandung bakat yang amat besar, gerakannya tidak kaku dan seolah-olah gaya ilmu silat memang sudah mendarah daging di dalam tubuhnya. Maka semua pelajaran dapat diterimanya dengan lancar.

Cia Keng Hong merasa betapa amat sukar baginya untuk memulihkan tenaganya. Tubuhnya sudah sehat kembali, akan tetapi tenaganya tidak dapat pulih seperti sebelum dia bertanding melawan Kok Beng Lama. Hal ini dianggapnya bahwa usianya sudah sangat tua dan ini pula yang membuat dia tergesa-gesa menurunkan semua ilmu silat tinggi kepada Sin Liong.

“Pelajari dulu kauwkoat (teori silat) sampai kau hafal betul. Melatihnya boleh belakangan, Sin Liong.” Demikianlah kakek itu berkata dan dia lalu mengajarkan teori-teori dari ilmu-ilmu silat yang pernah menggemparkan dunia persilatan, seperti San-in-kun-hoat, Thai-kek-sin-kun, Siang-bhok-kiam-sut dan banyak lagi ilmu-ilmu silat yang sukar dicari bandingnya di dunia persilatan. Dan semua teori ilmu silat yang aneh-aneh itu telah dicatat oleh ingatan dalam otak Sin Liong yang luar biasa cerdasnya.

Dalam waktu kurang lebih setahun lamanya, Sin Liong telah berhasil menghafal semua teori ilmu silat yang banyak macamnya itu, dan selain hafal, juga dia telah diberi petunjuk oleh kakek itu bagaimana untuk melatih ilmu-ilmu itu seorang diri kelak.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Cin-ling-pai sekarang sama sekali tidak sama dengan Cin-ling-pai belasan tahun yang lalu, ketika Cin-ling-pai masih merupakan sebuah perkumpulan besar dengan tokoh-tokohnya yang terkenal sebagai Cap-it Ho-han (Sebelas Pendekar) dari Cin-ling-pai. Akan tetapi semenjak Cap-it Ho-han tewas di tangan musuh-musuh besar Cin-ling-pai, yaitu Ngo-sian Eng-cu (Lima Bayangan Dewa), maka Cin-ling-pai seperti kehilangan pamornya (baca cerita Dewi Maut). Apalagi setelah Cia Keng Hong kehilangan puteranya dan kematian isterinya kakek ini lalu membubarkan Cin-ling-pai sehingga semua anak murid atau anggauta Cin-ling-pai menjadi tersebar ke mana-mana. Betapapun juga, masih ada saja anak murid yang kadang-kadang naik ke Cin-ling-san untuk mengunjungi guru besar mereka itu.

Para anggauta atau lebih tepat lagi bekas anggauta Cin-ling-pai yang datang berkunjung, mengerti bahwa kini guru besar mereka mempunyai murid lagi, seorang pemuda aneh yang pendiam dan serius, yang jarang sekali bicara bahkan tidak menjawab sepenuhnya kalau ditanya. Juga Cia Keng Hong yang mengerti akan keanehan anak itu, tidak mau banyak bicara tentang Sin Liong, hanya samar-samar kakek ini mengatakan bahwa Sin Liong merupakan pewarisnya yang terakhir dan yang paling berbakat!

Pada suatu senja yang cerah dan indah, seperti biasa semenjak dia pulang ke Cin-ling-san bersama Sin Liong, kakek Cia Keng Hong bersamadhi seorang diri di dalam kebun di belakang pondoknya. Bersamadhi setiap matahari timbul dan matahari tenggelam merupakan pekerjaan sehari-hari kakek itu, dan dalam keadaan seperti itu, dia tidak mau diganggu. Oleh karena itu, Sin Liong dan para anggauta Cin-ling-pai tidak ada yang berani mendekati kakek itu kalau kakek Cia Keng Hong sedang berada di kebun. Dan pada senja hari itu, ada belasan orang bekas anggauta Cin-ling-pai yang datang berkunjung. Mereka ini berkumpul di ruangan besar bercakap-cakap, karena Cin-ling-san kini merupakan suatu tempat bertemu dan berkumpul antara mereka dan dalam pertemuan ini tentu saja banyak yang mereka bicarakan. Di antara mereka terdapat beberapa orang bekas anggauta golongan tua yang memiliki kepandaian tinggi karena mereka dahulu adalah tokoh-tokoh tingkat dua, yaitu murid-murid langsung dari mendiang Cap-it Ho-han, yaitu sebelas orang pendekar dari Cin-ling-pai itu.




Sin Liong sendiri yang juga maklum akan kebiasan kakeknya, tidak berani mengganggu dan dia berada di dalam kamarnya untuk melatih pernapasan seperti yang diajarkan oleh kakeknya. Kini, anak berusia empat belas tahun ini sudah dapat menguasai hawa sin-kang yang amat kuat di tubuhnya itu, bahkan tahu cara memeliharanya dengan pengumpulan hawa murni dan mengatur pernapasan. Dia dapat pula menggerakkan hawa sin-kang itu di seluruh tubuhnya sehingga biarpun semua ilmu silat tinggi itu belum dikuasainya, namun dengan tenaganya yang dahsyat dia sudah merupakan seorang pemuda tanggung yang amat tangguh.

Kakek Cia Keng Hong duduk bersila di atas batu bulat di kebunnya, di bawah sebatang pohon yang-liu yang daunnya bergerak-gerak lembut tertiup angin senja. Dia bersamadhi dengan tenang, kedua tangannya bersilang di depan dada. Kakek ini tenggelam di dalam samadhinya, dan biarpun kini kesehatannya sudah pulih kembali, namun tenaganya jauh berkurang dibandingkan dengan dahulu. Diapun sudah tidak berminat lagi untuk memperkuat tubuhnya, hanya memperdalam ketenangan batinnya, menghentikan segala macam gangguan pikiran. Kini tidak ada lagi kedukaan mengganggu batinnya. Dia sudah bertemu kembali dengan puteranya, bahkan telah memberi persetujuan kepada puteranya untuk berjodoh dengan wanita yang dipilihnya. Diapun sudah memberi dorongan kepada puterinya untuk menikmati kehidupan bersama pria yang dicintanya. Dan diapun merasa lega bahwa dia bertemu dengan seorang anak luar biasa seperti Sin Liong sehingga dia dapat menurunkan semua kepandaiannya. Dalam diri Sin Liong dia melihat bakat yang ada pada dirinya sendiri, dan dibandingkan dengan puteranya, Bun Houw, bakat Sin Liong bahkan masih menang setingkat. Maka hatinya sudah puas dan kakek ini merasa sudah siap untuk meninggalkan dunia ini dengan hati tenang dan tenteram. Tidak ada lagi duka dan persoalan yang mengikat batinnya, maka samadhinya demikian mendalam, membuat dia lupa segala.

Kakek itu yang sudah bebas dari kekhawatiran, tidak tahu bahwa pada saat dia tenggelam dalam samadhinya itu tiba-tiba muncul dua orang yang mendaki puncak dan dengan gerakan yang cepat sekali memasuki taman di belakang pondoknya. Mereka adalah seorang wanita yang cantik sekali bersama seorang nenek bermuka hitam yang memegang sebatang tongkat. Mereka itu adalah Kim Hong Liu-nio dan gurunya, Hek-hiat Mo-li!

Seperti telah kita ketahui, wanita cantik jelita ini, telah berhasil menewaskan seorang di antara tiga tokoh utama yang menjadi musuh besar gurunya, yaitu Tio Sun. Sudah berkuranglah sumpahnya dan kini dia tidak perlu lagi mengejar-ngejar dan membunuhi orang-orang she Tio karena orang she Tio yang utama telah berhasil dibunuhnya. Ketika dia sedang menyiksa Sin Liong yang diketahuinya sebagai putera Cia Bun Houw menurut pengakuan anak itu sendiri, dia bertemu dengan pendekar tua Cia Keng Hong dan dia terkejut bukan main menyaksikan kelihaian kakek tua itu. Memang sudah lama dia mendengar tentang ketua Cin-ling-pai itu dari gurunya, akan tetapi Kim Hong Liu-nio yang tadinya terlalu mengandalkan kehebatan ilmu kepandaiannya sendiri, mula-mula memandang rendah. Baru setelah dia bentrok dengan Cia Keng Hong, dia terkejut setengah mati dan merasa jerih, meninggalkan kakek itu dan cepat-cepat dia mencari gurunya yang memang sudah hendak turun tangan sendiri, meninggalkan utara, dan kini Hek-hiat Mo-li sudah berada tidak jauh dari tempat itu. Maka Kim Hong Liu-nio lalu menceritakan kepada gurunya tentang pertemuannya dengan pendekar tua Cia Keng Hong dan mengatakan pula betapa lihainya pendekar tua itu.

Mendengar ini, Hek-hiat Mo-li lalu mengajak muridnya untuk melatih diri dan memperkuat diri sebelum mereka berdua turun tangan. Sampai beberapa bulan lamanya guru dan murid ini melatih diri dan setelah merasa diri mereka benar-benar kuat, keduanya lalu pergi mendaki Bukit Cin-ling-san dan pada senja hari itu mereka memasuki kebun di mana pendekar tua Cia Keng Hong sedang duduk bersamadhi seorang diri.

Ketika Kim Hong Liu-nio yang berjalan di depan dengan langkah ringan sekali itu melihat betapa dari kepala kakek yang sedang duduk bersamadhi itu mengepul uap putih yang tebal, dia terkejut dan tertegun, merasa makin jerih. Akan tetapi tidak demikian dengan Hek-hiat Mo-li. Nenek ini merasa girang sekali melihat uap putih itu dan dia tahu bahwa saat itu musuh besarnya sedang dalam keadaan “kosong”, maka dengan mukanya yang hitam berubah beringas, nenek ini lalu meloncat dan menggerakkan tongkatnya ke arah punggung kakek itu sambil mengerahkan tenaga sin-kang sepenuhnya. Melihat ini, Kim Hong Liu-nio menjadi berani dan diapun meloncat dan dengan tangan kanannya dia memukul pula ke arah tengkuk kakek itu.

“Blukk! Plakkk!” Hantaman tongkat dan tamparan tangan itu tepat mengenai punggung dan tengkuk Cia Keng Hong hampir berbareng akan tetapi kedua orang penyerang gelap itu terkejut setengah mati. Tongkat di tangan Hek-hiat Mo-li patah menjadi dua potong sedangkan Kim Hong Liu-nio merasa betapa telapak tangan kanannya panas dan nyeri bukan main. Mereka terkejut dan meloncat mundur.

Ketika menerima pukulan-pukulan tadi, Cia Keng Hong dalam keadaan samadhi yang amat mendalam, akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang tingkatnya sudah amat tinggi, apalagi karena dia telah menguasai Thi-khi-i-beng dengan sempurna, maka tubuhnya dapat secara otomatis menjaga diri dan begitu pukulan-pukulan itu tiba, tenaga sin-kangnya sudah bergerak dan menolak dan mengejutkan kedua orang lawannya, namun sesungguhnya dia telah menderita luka-luka yang hebat di dalam tubuhnya! Pukulan tongkat dan hantaman tangan guru dan murid tadi hebat bukan main dan takkan dapat tertahan oleh seorang ahli yang bagaimana kuatpun. Jangankan pukulan itu diterima oleh Cia Keng Hong dalam keadaan tidak sadar, bahkan andaikata diterimanya dalam keadaan sadar sekalipun, tentu dia akan terluka hebat. Akan tetapi hal ini tidak diketahui oleh Kim Hong Liu-nio dan gurunya, maka mereka berdua terkejut bukan main. Kim Hong Liu-nio menjadi makin jerih, akan tetapi Hek-hiat Mo-li yang sudah marah bertemu dengan seorang di antara musuh-musuh utamanya itu, kini sudah menerjang maju lagi dengan tongkatnya.



Tubuh Cia Keng Hong yang masih bersila tadi, kini melayang turun dari atas batu dan dengan dorongan-dorongan kedua tangannya, dia membuat guru dan murid itu terhuyung ke belakang. Pendekar tua itu memaksa dirinya untuk menggunakan sin-kang yang hebat, dan hal ini makin membuat luka-lukanya di dalam tubuh menjadi parah. Dia maklum akan hal ini, akan tetapi dia tahu pula bahwa tanpa memamerkan kekuatan sin-kangnya dia tidak akan dapat membikin jerih dua orang lawan tangguh ini, dan untuk mengadu silat, dia merasa bahwa dia tidak akan dapat bertahan lama dengan luka-luka hebat itu. Untuk menambah kekuatannya, Cia Keng Hong mengeluarkan suara melengking dahsyat dan kembali kedua tangannya mendorong ke arah dua orang lawannya dan kembali guru dan murid itu terhuyung ke belakang, biarpun mereka sudah mencoba untuk mempertahankan diri.

Suara melengking itu mengejutkan belasan orang anggauta Cin-ling-pai yang sedang berkunjung dan berkumpul di dalam ruangan besar, juga terdengar pula oleh Sin Liong. Mereka semua menjadi terkejut dan cepat-cepat mereka berlarian menuju ke kebun di belakang. Ketika melihat betapa ketua Cin-ling-pai itu sedang bertanding dan dikeroyok oleh seorang wanita cantik dan seorang nenek tua bermuka hitam, mereka terkejut sekali dan tidak berani sembarangan turun tangan tanpa ada perintah dari guru besar itu. Akan tetapi, selagi belasan orang tokoh Cin-ling-pai itu tertegun dan meragu, tiba-tiba terdengar gerengan seperti suara seekor monyet besar atau seekor harimau marah dan sesosok bayangan berkelebat dan bayangan itu langsung menerjang Kim Hong Liu-nio dengan terkaman dahsyat dan dengan pukulan kedua tangannya.

Semenjak dia kecil, Sin Liong sudah sering kali melihat orang-orang yang disayangnya dibunuh orang tanpa dia mampu membantu atau mencegah kejadian itu. Pertama-tama dia melihat ibu kandungnya dibunuh orang, biang monyet yang memellharanya dibunuh orang, kemudian melihat Na-piawsu dibunuh orang. Kini, melihat kakek yang amat disayangnya itu diserang oleh dua orang ini, apalagi mengenal bahwa seorang di antara mereka yang menyerang kakeknya adalah Kim Hong Liu-nio, wanita yang bukan hanya telah membunuh ibu kandungnya akan tetapi yang sudah sering menyiksanya, dia menjadi marah sekali dan timbullah sifat liarnya. Dia menyerang seperti seekor binatang buas dan kemarahan yang hebat ini mendorong keluar semua tenaga sin-kang yang mengeram di dalam tubuhnya.

Melihat Sin Liong, wanita itu mengenalnya dan tentu saja memandang rendah, bahkan menyambut terjangan Sin Liong itu dengan hantaman tangan kirinya.

“Desss...! Ihhhh...!” Tubuh Kim Hong Liu-nio terlempar dan bergulingan, lalu dia meloncat bangun, mukanya pucat dan matanya terbelalak. Tak disangkanya betapa pertemuan tenaga dengan anak berusia empat belas tahun itu membuat dia terlempar, dan hampir saja dia celaka!

Melihat betapa anak itu berani turun tangan membantu guru besar mereka, para anggauta Cin-ling-pai juga lalu menerjang maju. Sementara itu, nenek Hek-hiat Mo-li yang merasa penasaran karena hantaman tongkatnya tadi tidak menewaskan Cia Keng Hong, kini membentak keras dan tubuhnya melayang ke depan, menyerang Cia Keng Hong. Pendekar ini menanti sampai nenek itu datang dekat, kemudian dengan gerakan istimewa dia menangkis hantaman nenek itu, dan membarengi dengan tamparan tangan kirinya. Itulah gerakan dari jurus Ilmu Silat Thai-kek-sin-kun yang tidak disangka-sangka oleh Hek-hiat Mo-li, maka tanpa dapat dicegah lagi pundaknya kena ditampar sehingga diapun terlempar dan jatuh bergulingan seperti halnya Kim Hong Liu-nio tadi. Akan tetapi baik nenek muka hitam ini maupun Kim Hong Liu-nio, telah memiliki kekebalan yang luar biasa, kekebalan yang bukan hanya dapat menghadapi pukulan kosong bahkan mampu bertahan terhadap pukulan sakti dan pukulan senjata tajam! Kekebalan inilah yang dahulu membuat mendiang kakek Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li amat sukar dilawan dan barulah pendekar Cia Bun Houw berhasil membunuh Pek-hiat Mo-ko dan Yap In Hong berhasil melukai Hek-hiat Mo-li setelah mereka berdua ini mengetahui rahasia kelemahan kakek dan nenek itu (baca cerita Dewi Maut).

Cia Keng Hong sudah mendengar dari puteranya bahwa nenek ini memiliki kelemahan di telapak kakinya, akan tetapi karena dia sendiri sudah terluka hebat, maka tidak mudah baginya untuk menyerang tempat berbahaya lawan ini. Apalagi hantaman-hantaman yang dilakukannya tadi menggunakan sin-kang pula sehingga keadaannya menjadi makin parah dan hampir saja dia tidak kuat berdiri lagi. Hanya dengan paksaan dan pengerahan tenaga terakhir dia masih mampu menghadapi lawan.

Kini para anggauta Cin-ling-pai sudah mengeroyok nenek dan wanita cantik itu, dan Sin Liong yang terutama sekali menerjang dan mendesak Kim Hong Liu-nio yang dibencinya. Melihat betapa kakek Cia Keng Hong benar-benar lihai bukan main, kini ditambah pula oleh orang-orang Cin-ling-pai, nenek dan muridnya itu mulai merasa gentar. Mereka mengamuk dan ada empat orang anggauta Cin-ling-pai yang roboh dan tewas, sedangkan Sin Liong yang baru menguasai teori-teori belaka dari ilmu-ilmu silat tinggi, tentu saja dalam ilmu silat masih kalah jauh dibandingkan dengan Kim Hong Liu-nio sehingga berkali-kali dia kena dihantam sampai bergulingan. Akan tetapi diam-diam Kim Hong Liu-nio bergidik karena bukan saja anak itu tidak sampai tewas atau terluka oleh hantamannya, bahkan sering kali tangannya melekat dan tenaganya tersedot oleh ilmu Thi-khi-i-beng yang amat ditakutinya itu. Kalau saja dia tidak memperoleh latihan khusus dari gurunya untuk melepaskan diri terhadap ilmu mujijat itu, tentu dia sudah kena ditempel dan disedot sampai tehaganya habis oleh anak ini!

Setelah berhasil merobohkan empat orang, Hek-hiat Mo-li maklum bahwa dia dan muridnya takkan berhasil, bahkan kalau tokoh-tokoh lain seperti putera Cin-ling-pai itu, dan wanita perkasa Yap In Hong muncul, juga kakak wanita itu yang bernama Yap Kun Liong tentu dia dan muridnya akan celaka.

“Mari kita pergi!” bentaknya dan sekali meloncat, tubuhnya sudah melayang jauh, pergi dari situ. Melihat ini, Kim Hong Liu-nio juga meloncat pergi menyusul gurunya.

Sin Liong yang marah sekali sudah bergerak hendak mengejar, juga para anggauta Cin-ling-pai, akan tetapi terdengar suara lemah kakek itu mencegah, “Jangan kejar...!”

Sampai lama Sin Liong dan para anak buah Cin-ling-pai berdiri memandang ke arah lenyapnya dua orang musuh itu, kemudian para bekas anggauta Cin-ling-pai itu sibuk merawat mereka yang luka dan tewas dalam pertempuran itu.

“Kong-kong...!” Teriakan itu mengejutkan semua orang. Mereka menengok dan melihat Sin Liong menangis di depan kakek yang telah duduk bersila kembali di atas batu itu. Semua bekas anggauta Cin-ling-pai berlari menghampiri dan terkejut bukan main melihat bahwa guru besar mereka itu ternyata telah tak bernapas lagi! Kiranya setelah mencegah semua orang mengejar musuh-musuh yang amat lihai itu, Cia Keng Hong kembali duduk bersila dan kakek ini melepaskan napas terakhir sambil duduk bersila.

Pukulan-pukulan dua orang lawan yang amat lihai itu tadi telah mengguncangkan jantung dan melukai isi dada dan perutnya. Hanya karena semangatnya yang luar biasa saja kakek tua renta ini tadi masih mampu melawan, bahkan membikin jerih hati musuh-musuhnya. Akan tetapi justeru perlawanannya itu membutuhkan pengerahan tenaga dan dalam keadaan luka hebat dia mengerahkan tenaga, maka hal ini tentu saja membuat luka-lukanya menjadi makin parah dan yang mencabut nyawanya setelah dia duduk bersila.

Sin Liong yang pertama kali melihat keadaan kakek itu, menjerit dan dalam kedukaannya dia sampai lupa diri dan menyebut kakek itu “kong-kong” karena dia memang merasa amat sayang kepada kong-kongnya (kakeknya) itu. Melihat kakeknya mati, dia berteriak lalu menangis mengguguk seperti anak kecil. Belum pernah selamanya dia menangis seperti itu. Akan tetapi hanya sebentar dia menangis dan setelah berhenti menangis, dia hanya diam saja seperti patung, ketika melihat para bekas anak buah Cin-ling-pai sambil menangis lalu mengangkat jenazah itu, bersama empat orang anggauta Cin-ling-pai lainnya, membawanya masuk ke dalam pondok.

Sampai semua jenazah dimasukkan peti dan dijajarkan di ruangan depan dengan peti jenazah bekas ketua Cin-ling-pai itu di depan dan empat buah peti jenazah para anggauta itu di belakang, Sin Liong tidak pernah menangis lagi, juga tidak pernah mengeluarkan sepatahpun kata. Akan tetapi dia hanya duduk bersila di dekat peti jenazah kongkongnya itu, tak pernah makan tak pernah tidur, hanya duduk bersila seperti sebuah arca.

Setiap kali terdengar orang menangis dan berkabung, para keluarga empat orang anggauta Cin-ling-pai itu. Bekas anak buah Cin-ling-pai berbondong-bondong datang dan menangis. Berita secepatnya dikirim melalui dunia kang-ouw dan beberapa hari kemudian berturut-turut datanglah Cia Bun Houw dan Yap In Hong, lalu Yap Mei Lan, Lie Seng, Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng yang datang bersama. Riuh rendah tangis mereka di depan peti mati.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, empat orang muda itu, Yap Mei Lan, Lie Seng, Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng, datang ke Cin-ling-pai uniuk mengabarkan tentang kematian Tio Sun di tangan ketua Hwa-i Kai-pang yang kenal baik dengan ketua Cin-ling-pai, kong-kong dari Lie Seng. Akan tetapi, ketika mereka akhirnya tiba di Cin-ling-san, mereka hanya mendapatkan bahwa ketua Cin-ling-pai telah tewas.

Setelah bertangis-tangisan dan berkabung, Bun Houw dan isterinya bercakap-cakap dengan empat orang itu. Sebenarnya, kalau saja tidak terjadi hal yang menyedihkan berhubung dengan kematian kakek Cia Keng Hong, tentu pertemuan itu akan menggembirakan sekali, Yap Mei Lan adalah keponakan dari In Hong, dan Lie Seng adalah keponakan dari Bun Houw. Bahkar, Souw Kwi Eng pernah ditunangkan dengan Cia Bun Houw (baca Dewi Maut)! Akan tetapi, mereka semua sedang berkabung dalam kedukaan, maka tentu saja tidak ada suasana gembira dalam pertemuan mereka. Hanya In Hong yang merangkul keponakannya yang dia duga tentu sudah memiliki kepandaian hebat setelah digembleng oleh Kok Beng Lama itu.

Tiba-tiba Souw Kwi Eng menangis lagi, kini tangisnya tidak seperti ketika menangis di depan peti mati kakek Cia, bahkan dia menangis dengan penuh kedukaan sehingga mengejutkan Bun Houw dan In Hong. Yap In Hong yang tidak lagi cemburu kepada bekas tunangan suaminya ini karena dia sudah tahu bahwa wanita peranakan barat ini sudah menikah dengan Tio Sun, segera mendekatinya dan memegang pundaknya.

“Adik Kwi Eng, sudahlah, jangan engkau terlalu berduka...!” dia menghibur.

Kwi Eng mengangkat muka memandang dan tiba-tiba dia merangkul leher In Hong dan tangisnya makin mengguguk. Di antara tangisnya In Hong mendengar kata-kata yang membuatnya terbelalak dan terkejut sekali, “...bagaimana... takkan berduka... kalau... kalau suamiku dibunuh orang...?”

Tentu saja bukan hanya In Hong yang terkejut mendengar ini, juga suaminya, Cia Bun Houw kaget bukan main. Mereka tadi melihat betapa nyonya muda yang cantik jelita ini memakai pakaian berkabung, akan tetapi mereka hanya mengira bahwa nyonya muda ini karena sudah mendengar akan kematian kakek Cia yang amat dikaguminya, memang sengaja mengenakan pakaian berkabung. Siapa kira, nyonya muda ini berkabung karena kematian suaminya yang dibunuh orang!

“Siapa yang membunuh Tio-twako? Siapa?” Bun Houw berseru dengan penasaran sekali. Ayahnya baru saja dibunuh orang, dan kini dia mendengar bahwa Tio Sun dibunuh orang pula.

Dengan panjang lebar Souw Kwi Beng mewakili saudara kembarnya, menceritakan tentang kematian Tio Sun di tangan ketua Hwa-i Kai-pang dalam suatu pertempuran gara-gara seorang wanita bernama Kim Hong Liu-nio.

“Iparku itu hanya ingin mendamaikan antara Panglima Lee Siang dan ketua Hwa-i Kai-pang,” demikian dia menutup ceritanya, “akan tetapi siapa kira, ketua Hwa-i Kai-pang mengira bahwa iparku itu membela wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio itu sehingga terjadi pertempuran dan iparku tewas...”

“Kim Hong Liu-nio...?” Bun Houw bangkit berdiri dan mengepal tinjunya. “Kiranya perempuan itu pula yang menjadi gara-gara?” Kini giliran empat orang itu, Yap Mei Lan, Lie Seng, Souw Kwi Eng, dan Souw Kwi Beng yang mendengar betapa kakek Cia juga tewas oleh Kim Hong Liu-nio dan gurunya, Hek-hiat Mo-li!

“Dan semua ini adalah gara-gara bocah itu!” tiba-tiba Bun Houw berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah Sin Liong yang masih duduk seperti arca di dekat peti jenazah dengan muka pucat. Mendengar kata-kata ayah kandungnya yang menuding kepadanya itu, Sin Liong memandang dengan mata terbelalak dan mukanya menjadi pucat. Semua mata kini ditujukan kepadanya.

“Mendiang ayah bentrok dengan Kim Hong Liu-nio karena menolong bocah itu!” Bun Houw berkata penuh penyesalan. “Dan bocah itu pula yang bercerita kepada kami bahwa Kim Hong Liu-nio memusuhi orang-orang she Tio, Yap dan Cia. Sebelum muncul bocah itu kita semua hidup tenteram dan tidak pernah terjadi permusuhan dengan siapapun. Bocah ini benar-benar mendatangkan sial!”

Yap In Hong menyentuh lengan suaminya yang sedang dicekam kedukaan dan kemarahan itu, lalu dia menghampiri Sin Liong dan bertanya, “Sin Liong, menurut keterangan para anggauta Cin-ling-paim nenek itu berwajah hitam. Engkau yang mengenal Kim Hong Liu-nio, tentu engkau tahu pula siapa nenek yang datang bersama wanita itu? Apakah benar dia itu Hek-hiat Mo-li?”

Yap In Hong ini pernah bertanding dengan Hek-hiat Mo-li, bahkan berhasil melukai nenek yang kebal itu karena dia tahu di mana letak kelemahannya. Akan tetapi sebelum dia sempat membunuh nenek iblis itu, keburu datang Raja Sabutai yang menyelamalkan nenek yang juga guru raja itu. Kini dia bertanya kepada Sin Liong, selain untuk memperoleh keyakinan, juga untuk menghentikan suaminya memarahi anak itu.

Sin Liong yang sejak tadi mengalami tekanan batin, merasa berduka sekali, penasaran dan juga marah-marah mendengar ayah kandungnya sendiri memaki dan menyalahkannya, tidak menjawab, bahkan tidak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Yap In Hong itu. Dia hanya bersila sambil menundukkan mukanya, alisnya berkerut, bibirnya dikatupkan keras-keras.

“Kalau dia tidak bisa bicara lagi, biar saja tak usah ditanya!” Bun Houw yang masih merasa marah karena terdorong kedukaan dan penyesalan, berkata lagi. “Tak perlu mendapatkan keterangan anak sial itupun sudah jelaslah bahwa nenek muka hitam itu pasti Hek-hiat Mo-li orangnya. Dan perempuan itu tentu muridnya. Setelah selesai pemakaman jenazah ayah, aku akan mencarinya dan membunuh mereka!”

“Tidak perlu!” Tiba-tiba Sin Liong yang sejak tadi diam saja, kini membentak dengan suara yang amat lantang sehingga mengejutkan semua orang. Seperti sebuah gunung berapi yang sudah ditahan-tahan sekian lamanya dan kini meletus, Sin Liong bangkit berdiri, sepasang matanya mencorong seperti mata naga sakti, kedua tangannya dikepal dan dia berkata, “Akulah yang akan membalas kematian kong-kong! Akulah yang akan mencari musuh-musuh besar itu dan membunuh mereka. Aku tidak mengharapkan bantuan para pendekar. Para pendekar yang hebat-hebat hanya namanya saja pendekar, duduk di tempat tinggi, mabok kemuliaan dan nama besar seolah-olah mereka itu adalah dewa-dewa di sorga, bukan manusia! Padahal, namanya saja pendekar-pendekar mulia, akan tetapi perbuatannya banyak yang rendah dan hina, di balik nama-nama besar itu tersembunyi perbuatan kotor!”

“Bocah lancang mulut...!” Bun Houw membentak akan tetapi isterinya menyentuh lengannya.

“Ssttt...!” kata In Hong berbisik sambil memandang kepada Sin Liong dengan mata penuh kagum dan tertarik. Bocah itu bukan sembarang bocah dan dia melihat sesuatu yang aneh pada mata bocah itu, dan dia merasa seolah-olah dia sudah mengenal anak ini, entah di mana dan kapan.

“Para pendekar merasa bahwa mereka itu orang-orang paling mulia, paling suci, paling terhormat dan paling tinggi, paling hebat! Semua itu hanya untuk menyembunyikan perbuatan-perbuatan mereka yang kotor dan tidak bertanggung jawab! Biarlah aku seorang yang akan membalas dendam, aku yang akan mencari mereka itu dengan taruhan nyawaku, jangan ada yang turut campur!” Setelah mengeluarkan kata-kata sebagai peluapan rasa marah dan penasarannya itu, Sin Liong terisak sekali lalu duduk bersila lagi di dekat peti jenazah, menunduk dan apapun yang akan dilakukan orang kepadanya, jangan harap dia akan mau membuka mulut lagi. Dia sudah menyampaikan isi hatinya yang penuh penasaran. Ketika dia bicara, dia teringat akan ibu kandungnya yang ditinggalkan ayah kandungnya, maka dia bicara tentang perbuatan kotor para pendekar yang dikatakan tidak bertanggung jawab! Tentu saja dia tujukan ucapan itu kepada ayah kandungnya. Dan dia memang menaruh dendam kepada Kim Hong Liu-nio, lebih dari pada mereka semua, karena wanita itu telah membunuh ibu kandungnya di depan matanya, dan membunuh pula kong-kongnya.

Semua orang bengong menyaksikan sikap dan mendengar ucapan Sin Liong itu. Yap In Hong masih memegang lengan suaminya, mencegah suaminya marah-marah, karena amat tidak baik marah-marah di depan peti jenazah ayah mertuanya itu. Pada saat semua orang masih bengong memandang kepada Sin Liong, tiba-tiba terdengar jerit tertahan,

“Ayahhhh...!” Dan berkelebatlah sesosok bayangan orang. Bayangan ini adalah Cia Giok Keng yang begitu tiba di situ terus menjatuhkan diri berlutut di depan mati jenazah ayahnya, memeluki peti dan menangis tersedu-sedu, kemudian dia tentu akan terguling roboh kalau tidak cepat-cepat Yap Kun Liong menyambar tubuh yang pingsan itu. Kembali hujan tangis di tempat itu karena semua orang yang menyaksikan ini mulai menangis lagi. Sin Liong telah dilupakan orang yang tenggelam dalam kedukaan dan keharuan itu.

Ternyata Cia Giok Keng dan Yap Kun Liong yang belum berhasil menemukan Lie Ciauw Si, mendengar berita tentang kematian kakek Cia dari suara di dunia kang-ouw. Mereka cepat-cepat kembali ke Cin-ling-san dan di sepanjang jalan Cia Giok Keng sudah menangis sedih, dihibur oleh Yap Kun Liong. Maka begitu tiba di depan peti jenazah, wanita ini lalu menjerit dan menangis, kemudian roboh pingsan.

Suasana di situ diliputi keharuan dan kedukaan. Cia Giok Keng menangis tersedu-sedu ketika dia telah siuman kembali dan dia berangkulan dengan Cia Bun Houw. Dua orang inilah yang merasa paling terpukul dengan kematian ayah mereka, dan kini pendekar sakti Cia Bun Houw tak dapat lagi menahan tangisnya melihat encinya, apalagi dia teringat betapa dia telah pernah marah dan meninggalkan ayahnya sampai belasan tahun sehingga kematian ibunyapun tidak diketahuinya. Sekarang, baru saja dia pulang dan berbaik kembali dengan ayahnya, merasakan betapa ayahnya sesungguhnya amat mencintanya, baru saja berjumpa satu kali dengan ayahnya, kini ayahnya telah mati dibunuh orang, atau setidaknya, meninggal akibat pertempuran melawan orang lain. Dia mengerti bahwa sebenarnya ayahnya tidaklah langsung dibunuh orang, melainkan bertempur melawan guru dan murid itu dan menurut cerita para anggauta Cin-ling-pai, ayahnya tidak kalah, bahkan membikin jerih musuh-musuh yang melarikan diri. Akan tetapi dia tahu bahwa ayahnya memang telah tua dan lemah, telah banyak berkurang tenaganya sehingga ketika menghadapi dua orang yang tangguh itu, ayahnya terluka dan tewas.

Pada saat itu, di antara para tamu yang mulai berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah dalam peti, muncul orang laki-laki tua yang aneh sekali bentuk tubuhnya. Melihat wajahnya, jelaslah bahwa laki-laki ini sudah tua sekali, seorang kakek yang memang sukar ditaksir berapa usianya, akan tetapi tentu sudah tua sekali karena mukanya yang kurus itu penuh keriput, matanya agak juling dan kepalanya gundul pelontos dan halus kulitnya, hanya ada sedikit rambut kering yang tumbuh di padang tandus, tumbuh di atas kepala, di tengah-tengah menutupi ubun-ubun. Kepalanya besar dan bulat, tapi kurus, dengan dua buah daun telinga yang tebal dan lebar. Alisnya tebal, sudah bercampur uban, bengkak-bengkok di atas sepasang matanya yang juling. Hidungnya pesek dan mulutnya lebar sekali, agaknya memang tidak dapat ditutup baik-baik sehingga balik bibirnya selalu nampak. Gigi bawahnya sudah habis dan gigi atasnya tinggal beberapa buah saja, berderet jarang. Kepala dan wajah itu biarpun amat buruk dan menyeramkan, namun belumlah aneh kalau dibandingkan dengan bentuk tubuhnya dari leher ke bawah. Kakek yang kelihatan sudah tua sekali ini ternyata memiliki bentuk tubuh seperti kanak-kanak yang baru sepuluh tahun usianya! Tubuh itu kecil pendek, dengan dua tangan yang kecil dan dua kaki bersepatu yang kecil pula.

Siapakah adanya kakek aneh itu? Semua orang yang hadir di situ tidak ada yang mengenalnya. Padahal, kakek ini sesungguhnya adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat, yang datang dari barat dan telah lama merantau di dunia utara, di balik tembok besar. Kakek ini bernama Ouwyang Bu Sek!

Di dalam cerita Petualang Asmara, terdapat seorang tokoh yang merupakan datuk kaum sesat yang ditakuti orang dan yang berjuluk Ban-tok Coa-ong (Raja Ular Selaksa Racun) dan datuk ini bernama Ouwyang Kok, seorang datuk dari utara. Datuk ini tewas di tangan Cia Keng Hong.

Kakek cebol aneh ini adalah seorang keponakan dari Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok itu. Dia masih muda ketika mendengar bahwa pamannya telah terbunuh oleh seorang pendekar bernama Cia Keng Hong. Akan tetapi karena putera tunggal pamannya itu yang bernama Ouwyang Bouw juga terbunuh oleh suci dari Pek Hong Ing (mendiang nyonya Yap Kun Liong), maka pamannya itu tidak mempunyai orang lain lagi kecuali dia untuk membalaskan kematiannya. Dia adalah keponakan pamannya itu dan akan kecewalah dia sebagai seorang keturunar keluarga Ouwyang, keluarga yang terkenal sebagai keluarga pandai, kalau dia tidak menuntut balas. Akan tetapi, dia tahu betapa lihainya pendekar Cia Keng Hong, bahkan pendekar ini mempunyai keluarga yang terdiri dari orang-orang lihai. Inilah yang menyebabkan Ouwyang Bu Sek harus menahan diri sampai bertahun-tahun lamanya, bahkan sampai puluhan tahun lamanya karena dia harus memperdalam kepandaiannya lebih dulu. Sampai puluhan tahun lamanya dia merantau ke barat dan mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi dari para pertapa aneh di Pegunungan Himalaya dan di Tibet. Baru setelah dia merasa bahwa kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi daripada tingkat mendiang Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok, dia berani meninggalkan barat sebagai seorang kakek aneh dan pergi ke Cin-ling-san mencari musuh besar keluarga Ouwyang itu.

Akan tetapi, betapa menyesal, kecewa dan juga mendongkol rasa hatinya ketika dia tiba di puncak Cin-ling-san, dia menemukan musuh besarnya itu telah berada di dalam peti mati!



Pada waktu itu, semua keluarga dari bekas ketua Cin-ling-pai sedang berduka dan dibangkitkan kembali kedukaan dan keharuan mereka oleh kedatangan Cia Giok Keng. Mereka sedang bertangisan sehingga tidak ada yang memperhatikan kedatangan kakek cebol itu. Akan tetapi Sin Liong yang sejak tadi memandang ke arah para keluarga yang bertangisan itu, melihat kakek ini di antara para tamu dan dia merasa terkejut dan tertarik sekali. Keanehan bentuk tubuh kakek ini sungguh amat menonjol di antara para tamu sehingga dia diam-diam memperhatikan ketika kakek itu seperti para tamu yang lain menghampiri peti dengan langkah-langkah yang pendek dan lucu.

Akan tetapi, tidak seperti para tamu lain yang memberi penghormatan kepada jenazah dengan hio menyala di tangan, tamu aneh ini hanya berdiri tegak di depan peti jenazah dan tiba-tiba dia mengeluarkan kata-kata yang cukup lantang.

“Cia Keng Hong, engkau sungguh seorang pengecut besar! Setelah susah payah puluhan tahun aku mempelajari ilmu dan kini datang berkunjung, engkau melarikan diri melalui kematian. Huh, kalau tidak merusak tubuhmu dalam peti, hatiku selamanya akan merasa penasaran!”

Mendengar ini, semua orang terkejut dan terutama sekali Cia Bun Houw dan Cia Giok Keng sudah meloncat berdiri dan menengok ke arah tamu aneh itu dengan sinar mata berapi karena marahnya. Akan tetapi, sebelum mereka sempat bergerak, tiba-tiba terdengar suara gerengan aneh seperti seekor binatang buas yang marah, disusul teriakan, “Jangan ganggu jenazah kakekku!”

Penyerangan yang dilakukan oleh Sin Liong menyusul teriakannya itu mengejutkan Ouwyang Bu Sek. Tak disangkanya bahwa anak yang tadi bersila di dekat peti mati, tiba-tiba saja meloncat dan menerkamnya seperti seekor binatang buas. Ouwyang Bu Sek melihat betapa anak itu memiliki tenaga sin-kang yang amat luar biasa, pukulan dalam terkamannya itu mendatangkan angin berdesir menuju arahnya. Dia kagum dan kaget, juga girang menghadapi anak yang mengaku cucu dari musuh besarnya itu. Kalau tidak dapat membalas kepada Cia Keng Hong, kini dapat menangkap cucunya juga sudah baik, pikirnya. Maka dia mendiamkan saja anak itu menyerangnya, kemudian setelah terkaman datang dekat, tiba-tiba dia menggerakkan tangan kirinya menangkap pundak Sin Liong.

“Dess! Desss!” Pukulan kedua tangan Sin Liong itu dengan tepat mengenai tubuh kakek cebol itu, akan tetapi alangkah kagetnya hati Sin Liong ketika merasa betapa kedua pukulannya itu seperti dua buah batu dilempar ke dalam air. Tenaganya amblas dan pukulannya mengenai tubuh yang lunak dan yang membuat tenaga pukulan buyar, dan tahu-tahu dia sudah kena dipegang dan dicengkeram pundaknya. Ketika Sin Liong hendak mengerahkan tenaga dari pusar, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas dan dia tidak mampu bergerak lagi karena kaki tangannya seperti lumpuh, semua jalan darahnya seperti tiba-tiba menjadi kacau dan dia tidak mengerahkan tenaga lagi!

“Jahanam berani engkau mengacau di sini!” Bun Houw sudah membentak dan sambil meloncat dia telah mengirim pukulan jarak jauh ke arah kakek cebol itu.

Melihat ada pukulan jarak jauh yang mengeluarkan suara mencicit seperti itu, Ouwyang Bu Sek terkejut dan kagum. Hebat, pikirnya dan dia menggunakan tangan kirinya mengebit. Dua tenaga sakti bertemu di udara dan biarpun kakek cebol itu berhasil menangkis pukulan Bun Houw, namun dia terkejut karena tangan kirinya tergetar. Pada saat itu, terdengar bunyi lengking nyaring dan Yap In Hong sudah menyerang dari depan. Kembali kakek itu melihat tenaga dahsyat sekali seperti angin puyuh menerjangnya! Diapun cepat menggerakkan tangan kirinya mengebut dan kembali pukulan In Hong yang dilakukan sambil menerjang ke depan itu dapat ditangkisnya, dan juga sekali ini Ouwyang Bu Sek terkejut karena wanita cantik itu memiliki tenaga yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan penyerang pertama.

“0rang tua, siapa engkau dan mengapa engkau berani mengacau di sini?” Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan Ouwyang Bu Sek makin kaget karena tahu-tahu suara itu telah berada di belakangnya dan ketika dia membalik, dia melihat seorang laki-laki gagah berusia kurang dari lima puluh tahun yang gerakannya mendatangkan angin dahayat ketika orang itu mengulurkan tangan menepuk ke arah pundaknya. Ternyata orang inipun lihai bukan main, dapat bergerak tanpa diketahuinya, bahkan gerakan tangannya itu sama sekali tidak mendatangkan angin atau suara ketika menuju ke pundak, tahu-tahu sudah dekat dan mengandung kekuatan dahsyat!

Cepat dia mengelak dan meloncat mundur. Ketika dia melihat mereka itu menghampirinya dari depan dengan langkah-langkah ringan dan pandang mata penuh kemarahan, dia menjadi jerih juga. Bukan main, pikirnya. Keluarga Cia ini memang hebat! Kalau hanya melawan mereka satu demi satu, tentu saja dia tidak akan gentar. Akan tetapi kalau harus menghadapi pengeroyokan orang-orang yang memiliki kepandaian seperti mereka, biarpun dia sudah memiliki kesaktian hebat, dia tahu bahwa akhirnya dia yang akan celaka.

“Ha-ha-ha! Berhenti kalian semua! Kalau tidak, serangan kalian akan mengenai tubuh anak ini!” Dia mengangkat tubuh Sin Liong dan mempergunakan tubuh itu sebagai perisai. Melihat ini, Yap Kun Liong yang tadi merupakan penyerang terakhir, cepat berhenti dan demikian pula para pendekar itu berhenti melangkah. Mereka semua adalah orang-orang yang berjiwa pendekar. Biarpun mereka tidak senang kepada Sin Liong, akan tetapi mereka melihat betapa Sin Liong adalah orang yang pertama kali membela jenazah itu dan mungkin saja kakek cebol itu tadi sudah berhasil merusak jenazah kalau tidak dihalangi dan diserang oleh Sin Liong, maka kini mereka tidak berani turun tangan terhadap kakek itu yang sudah menawan Sin Liong. Kakek cebol itu jelas memiliki kepandaian tinggi, maka kalau mereka nekat menyerang dan kakek itu mempergunakan tubuh Sin Liong sebagai senjata atau perisai, tentu anak itu yang akan kena pukulan.

“Ha-ha-ha, dengarlah baik-baik, kalian keluarga dari Cia Keng Hong! Aku Ouwyang Bu Sek, mewakili keluarga Ouwyang dan kedatanganku tadinya hendak menagih hutang nyawa kepada Cia Keng Hong. Akan tetapi dia sudah mati dan dia menebus dosanya dengan menyerahkan cucunya ini kepadaku. Ha-ha, biarlah aku menerimanya dan hitung-hitung sudah lunas hutangnya kepada keluarga Ouwyang!” Setelah berkata demikian, kakek itu meloncat dan semua orang terkejut karena kakek itu ternyata dapat bergerak cepat bukan main, loncatannya membawanya melayang jauh dan dia lalu melarikan diri sambil membawa Sin Liong.

Yap Kun Liong mengerutkan alisnya. “Ouwyang...? Ah, kiranya keluarga dari dia si jahat itu...!”

Semua orang mendekati pendekar ini.

“Siapakah yang kaumaksudkan, Yap twako?” tanya Bun Houw.

“Dahulu ada musuh besar ayahmu yang bernama Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok, seorang di antara datuk-datuk kaum sesat dari utara. Ouwyang Bu Sek tadi tentu masih keluarganya yang datang untuk membalas dendam,” jawab Yap Kun Liong.

“Dan dia telah membawa pergi Sin Liong!” In Hong berkata dengan suara menyesal.

“KITA tidak mampu mencegahnya,” kata pula Cia Giok Keng penasaran.

“Biarlah aku akan mengejarnya dan merampas kembali anak itu, ibu,” kata Lie Seng dengan penuh semangat.

“Benar kata sute, biarlah aku membantunya. Kami tentu akan dapat merampas kembali anak itu, ayah!” kata Yap Mei Lan kepada ayahnya.

Yap Kun Liong menggeleng kepalanya dan mengerutkan alisnya. “Kukira tidak bijaksana itu. Merampas kembali anak itu dengan kekerasan bahkan mungkin akan membahayakan nyawa anak itu. Kurasa kakek cebol itu tidak akan membunuh anak itu, karena kalau dia berniat demikian, tentu tadi sudah dibunuhnya. Dia hanya ingin mempergunakan Sin Liong tadi sebagai sandera agar dia dapat lari dari sini dan mungkin dia hendak membalas dengan cara menculik anak itu agar kita menjadi berduka. Dia tidak tahu bahwa anak itu bukan keluarga Cia, bukan cucu dari musuh besarnya.”

Semua orang teringat kini betapa tadi Sin Liong berteriak agar kakek itu jangan niengganggu jenazah kong-kongnya, jadi anak itu seolah-olah mengaku sebagai cucu Cia Keng Hong. Kakek cebol itu telah salah mengerti, mengira bahwa Sin Liong adalah cucu ketua Cin-ling-pai!

“Kalau begitu, biarkan sajalah,” kata Bun Houw yang merasa tidak suka kepada anak itu. “Anak itu hanya mendatangkan sial belaka, bahkan urusan sampai berlarut-larut, keluarga kita terperosok ke dalam permusuhan pula, sampai-sampai ayah turun tangan dan menghadapi lawan, semua adalah gara-gara bocah itu. Biarlah, memang dia lebih pantas berdekatan dengan orang-orang macam kakek ibils tadi.”

Semua orang tidak ada yang mau membantah, karena merekapun tidak mengenal siapa sebenarnya Sin Liong, anak yang demikian disayang oleh mendiang Cia Keng Hong sehingga ditarik sebagai muridnya. Mereka semua sama sekali tidak pernah menduga bahwa anak yang bernama Sin Liong itu oleh kakek Cia Keng Hong telah dipilih untuk menjadi ahli warisnya dan telah diberi pelajaran seluruh ilmu yang dimilikinya, walaupun sebagian besar hanya baru dipelajari teorinya saja. Dan tentu saja mereka, terutama Bun Houw, tidak pernah mimpi bahwa anak itu adalah benar-benar cucu dari ayahnya, karena anak itu adalah anak kandungnya!

Kita tinggalkan keluarga yang masih berkabung dan yang sebentar saja sudah melupakan Sin Liong yang diam-diam tidak mereka sukai itu, dan mari kita mengikuti pengalaman Sin Liong yang dilarikan oleh kakek cebol yang amat sakti itu.

Ouwyang Bu Sek tertawa-tawa dengan hati puas. Dia telah memperlihatkan kepada semua keluarga musuhnya, juga kepada para tamu yang terdiri dari orang-orang kang-ouw, bahwa keluarga Ouwyang bukanlah keluarga yang lemah, bahwa keluarga Ouwyang tidak melupakan penghinaan yang ditimpakan orang kepadanya bahwa hari ini keluarga Ouwyang telah membalas sakit hati keluarga itu dengan menculik cucu dari ketua Cin-ling-pai!

Akan tetapi terjadi keanehan dalam perasaan hatinya terhadap Sin Liong. Dia tadi sudah terkejut dan kagum sekali ketika bocah ini menyerangnya. Seorang bocah yang belum dewasa, paling banyak empat belas tahun usianya, sudah memiliki tenaga yang demikian dahsyat. Cucu dari pendekar sakti Cia Keng Hong ini memang tidak memalukan menjadi cucu ketua Cin-ling-pai yang terkenal sekali kelihaiannya itu. Dan yang lebih mengagumkannya lagi adalah sikap anak ini. Sama sekali tidak mengeluh! Sama sekali tidak ketakutan, apalagi menangis! Setiap kali dia melirik dan memandang wajah anak yang dipanggulnya itu, dia melihat sepasang mata yang mencorong seperti mata naga, dan wajah yang sedikitpun tidak kelihatan takut atau khawatir! Ouwyang Bu Sek melarikan diri dengan cepat sekali dan tidak pernah berhenti. Dia hanya berhenti untuk menotok lagi tubuh Sin Liong kalau merasa betapa anak itu sudah mulai dapat bergerak, sehinga anak itu terus menerus dalam keadaan lumpuh.

Setelah hari mulai gelap, baru kakek itu melempar tubuh Sin Liong ke atas tanah yang berumput. Mereka tiba di sebuah hutan yang sunyi. Sejenak kakek cebol itu memandang kepada Sin Liong yang rebah terlentang. Anak itupun memandangnya dengan sinar mata berapi-api.

“Ha-ha-ha, mengapa engkau melotot kepadaku?” Ouwyang Bu Sek bertanya, tertawa untuk menutupi kemendongkolan hatinya. Dia ingin melihat cucu dari musuhnya ini menderita, menangis, atau setidaknya mengeluh. Hal itu amat baik baginya. Dia sudah mengorbankan waktu puluhan tahun lamanya untuk dapat membalas dendam kepada Cia Keng Hong, akan tetapi ternyata setelah dia memiliki kepandaian, musuh besar itu telah mati. Tentu saja dia amat kecewa, dan kalau dia melihat cucu musuhnya ini menderita, hal itu tentu akan memperingan kekecewaannya.

“Kakek cebol, engkau adalah seorang manusia yang berhati iblis, jahat dan kejam. Tentu saja semua orang akan memandang kepadamu dengan penuh kebencian!”

Wajah kakek itu menjadi merah. Dia belum pernah melakukan hal yang kejam, kecuali tentu saja kalau menghadapi musuh! Apalagi jahat, dia malah menentang kejahatan! Maka ucapan itu tentu saja membuat dia marah.

“Bocah bandel, lancang mulut! Kau mau memamerkan keberanianmu kepadaku, ya? Kau sombong, mentang-mentang menjadi cucu Cia Keng Hong kau boleh bersikap kepala batu, ya? Merasa gagah dan tidak takut mati, ya?”

“Aku memang tidak takut mati. Hayo kau bunuh aku, kakek tua bangka yang berhati curang dan pengecut besar, beraninya hanya kepada anak kecil!”

Kakek itu makin marah dan penasaran. Anak ini akan tahu rasa, pikirnya. Dia dihadapkan pada suatu tantangan lain sekarang. Dia harus melihat anak ini ketakutan, menangis dan minta ampun. Baru akan dilepaskannya anak ini.

“Wah, kau benar-benar tidak mengenal takut? Mari kita sama-sama melihatnya! Kalau aku tidak bisa membikin kau menjerit-jerit minta ampun, menangis ketakutan, jangan panggil aku Ouwyang Bu Sek!” Setelah berkata demikian, dia menyambar tubuh Sin Liong dan menyeretnya memasuki hutan itu lebih dalam lagi.

Setelah hari menjadi gelap, kakek itu telah mendaki sebuah puncak bukit yang penuh dengan padang rumput dan alang-alang yang liar dan luas. Sambil terkekeh senang kakek itu lalu membuat salib dari dua batang balok besar, lalu mengikat tangan dan kaki Sin Long pada kayu salib itu.

“Kau tidak mengenal takut? Benar-benar kau tidak mau minta ampun kepadaku?”

Sejenak Sin Liong memandang wajah kakek yang tingginya hanya sampai di dadanya itu, lalu tiba-tiba dia meludah, “Cuhh! Daripada minta ampun kepadamu, lebih baik aku mati seribu kali!”

Ouwyang Bu Sek berjingkrak, berloncatan saking marahnya. Sudah gatal-gatal kedua tangannya hendak menghantam anak itu dan sekali hantam saja tentu Sin Liong akan mati.

“Begitu, ya? Nah, kau boleh mati seribu kali, selaksa kali!” teriak kakek itu dengan marah dan dia lalu meninggalkan Sin Liong yang terbelenggu di atas kayu salib dengan kedua lengan terpentang itu.

Malam itu bulan hanya muncul seperempat bagian saja. Cuaca remang-remang menyeramkan, apalagi ditambah dengan suara angin yang menggerakkan ujung rumpun ilalang dan yang mengeluarkan bunyi mengerikan, seolah-olah semua iblis dan setan berkeliaran di tempat itu.

Malam makin larut dan di langit terdapat banyak awan berarak. Sin Liong menengadah dan memandang ke atas. Awan-awan itu membentuk makluk-makluk aneh dan berarak perlahan-lahan menuju bulan. Kalau awan-awan itu melintasi bulan, maka cuaca menjadi gelap remang-remang dan nampak betapa bayangan bulan sepotong itu seperti berlari cepat di antara awan-awan yang sebentar-sebentar merubah bentuknya. Bukan main indahnya Sin Liong hampir lupa bahwa dia sedang terbelenggu dan berada dalam keadaan tertotok lumpuh. Bahkan ada rasa gembira di dalam hatinya menyaksikan keindahan langit itu! Dan rasa gembira ini bukan hanya karena melihat pemandangan indah itu, melainkan juga oleh perasaan bahwa dia telah berkorban untuk kong-kongnya! Dia tidak percuma menjadi cucu kakeknya yang gagah perkasa itu, dia telah membela nama kakeknya dan biarpun dia akan mati karenanya, dia merasa puas. Akan tetapi kalau dia teringat kepada ayah kandungnya dan semua keluarga kakeknya, dia merasa marah dan benci. Jelas bahwa ayah kandungnya itu benci kepadanya. Dia dilarikan musuh, namun tidak ada seorangpun di antara mereka yang memperdulikannya. Dia juga tidak butuh dengan pertolongan mereka! Keangkuhan dan perasaan tinggi hati ini memenuhi benak dan hati Sin Liong. Tidak, dia tidak membutuhkan mereka!

Tiba-tiba, di antara suara desir angin yang menggerakkan ujung rumpun ilalang di sekelilingnya, terdengar suara aneh. Suara melengking nyaring yang makin lama makin keras, yang datangnya dari arah kanan. Sin Liong tidak mampu bergerak karena terbelenggu dan juga tertotok, akan tetapi dia dapat melirik dan tiba-tiba matanya terbelalak. Dia merasa tengkuknya dingin sekali dan seolah-olah semua bulu tubuhnya bangkit berdiri karena merasa seram. Sin Liong bukan seorang penakut, akan tetapi apa yang dilihatnya membuat dia terkejut dan ngeri. Dia melihat sesosok tubuh tanpa kepala yang berloncat-loncatan di sebelah kanannya dan yang mengeluarkan suara melengking nyaring memekakkan telinga. Setan! Iblis! Tak salah lagi. Mana mungkin ada mahluk lain seperti ini?

Akan tetapi, Sin Liong adalah seorang anak yang memiliki kekuatan luar biasa, dia tabah dan sebentar saja rasa kaget dan ngerinya telah mereda, bahkan kini dia memandang dengan penuh perhatian karena amat tertarik. Dia melihat betapa mahluk itu berkerudung kain putih, tanpa kepala, akan tetapi kedua kakinya kecil bersepatu dan tiba-tiba dia tersenyum, “Kakek cebol tolol! Kaukira aku takut dengan permainanmu ini?”

Mendengar ucapan itu, mahluk aneh itu mengeluarkan seruan kecewa dan sekali berkelebat mahluk itu telah lenyap dan suasana menjadi sunyi kembali. Sin Liong menengadah dan melanjutkan lamunannya. Kakek itu sengaja hendak menakut-nakutinya, pikirnya. Hemm, dia ingin sekali melihat aku ketakutan dan mengeluh, minta-minta ampun. Engkau takkan berhasil! Biar sampai mati aku tidak akan memperlihatkan rasa takut di depanmu. Demikianlah watak Sin Liong, makin ditekan dia, makin melawan dia. Makin dihimpit, makin keras dia menentang. Dia seperti baja keras yang tidak tunduk menghadapi tempaan yang mengandalkan kekerasan.

Tiba-tiba dari sebelah kirinya terdengar suara seperti orang menangis dan merintih. Sin Liong mengerling ke kiri dan dia melihat bayangan sebuah kerangka manusia dengan tengkorak yang menakutkan bergerak-gerak. Kini Sin Liong sudah bebas dari rasa takut. Dia memandang penuh perhatian dan pandang matanya yang amat tajam itu melihat tali-tali halus di antara kerangka itu yang menggerak-gerakkan kaki tangan kerangka itu dan dia tertawa.

“Ha-ha-ha, kakek tolol. Kaukira aku anak kecil yang mudah kautakut-takuti begitu saja? Membuang-buang waktu saja. Kalau kau mau bunuh, lekas bunuh, siapa takut padamu?”

Kerangka manusia itu kembali lenyap, dan Sin Liong melanjutkan renungannya. Memang, rasa takut itu hanya timbul dari bayangan yang dipantulkan oleh pikiran kita sendiri. Kita tidak mungkin dapat takut akan sesuatu yang tidak kita kenal. Kita hanya takut akan sesuatu yang telah kita kenal, baik kita kenal melalui pengalaman kita sendiri, maupun melalui pengalaman lain orang yang kita dengar atau baca dalam buku. Orang yang takut setan tentu pernah mengenal setan itu melalui cerita orang atau dongeng dalam buku. Dia membayangkan setan itu dalam benaknya dan membayangkan betapa akan ngerinya kalau dia bertemu setan itu. Maka terpantullah bayangan-bayangan setan yang menakutkannya ketika dia berada seorang diri di tempat sunyi, dan terjadilah rasa takut. Orang yang tidak pernah mendengar tentang setan takkan mungkin takut terhadap setan. Orang yang tidak pernah mendengar tentang siksa neraka tentu tidak akan takut terhadap neraka. Dan selanjutnya lagi. Jadi rasa takut timbul dari kenangan masa lalu yang dihubungkan dengan kemungkinan masa depan. Kita pernah membaca tentang setan sehingga terbentuk bayangan setan dalam benak kita. Lalu kita khawatir kalau-kalau kita akan diganggu setan, maka timbullah rasa takut. Kita pernah melakukan sesuatu di masa lampau, perbuatan yang tidak patut dan memalukan, dan kita khawatir kalau-kalau di masa depan akan ada orang mengetahui perbuatan itu, maka timbullah rasa takut. Jelaslah bahwa rasa takut timbul kalau kita membayang-bayangkan sesuatu yang tidak enak bagi kita! Dan segala yang dibayangkan itu pastilah sesuatu yang belum atau yang tidak ada! Yang merasa takut akan wabah tentulah dia yang belum terkena penyakit itu, dia membayangkan betapa bahaya dan ngerinya kalau terkena penyakit wabah itu, maka takutlah dia. Kalau dia sudah benar-benar terkena penyakit itu? Tentu saja hilang pula rasa takut terhadap penyakit itu, akan tetapi rasa takut yang berikutnya yaitu takut kalau-kalau akan mati! Dan demikian selanjutnya.

Dengan membuka mata memandang semua ini, timbullah pengertian bahwa yang menyebabkan rasa takut adalah pikiran kita, pikiran yang membayangkan hal yang lalu, yaitu ingatan-ingatan, kemudian membayangkan hal yang mendatang, yang kita kira mungkin akan terjadi menimpa diri kita. Oleh karena itu kalau kita terbebas dari masa lalu, terbebas dari segala macam ingatan masa lalu dan kepercayaan dan ketahyulan yang termasuk hal-hal masa lampau, apakah ada lagi rasa takut di dalam batin kita? Kalau kita tidak mengenangkan soal-soal yang berhubungan dengan setan umpamanya, maka kiranya andaikata ada setan muncul pada suatu waktu di depan kita, tanpa kenangan masa lalu tentang setan, kita akan memandang dan timbullah keinginan tahu untuk menyelidiki, seperti kalau kita tiba-tiba melihat seekor kupu-kupu yang aneh dan belum pernah kita lihat! Hidup penuh dengan rasa takut, kekhawatiran, hampir di semua lapangan. Setelah mengerti akan semua itu, tidak mungkinkah bagi kita untuk hidup tanpa rasa takut sama sekali?

Akhirnya Sin Liong tak dapat menahan kelelahan dan kantuknya. Dia dapat tidur pulas dengan kedua lengan bergantung pada kayu salib itu! Memang luar biasa anak ini, pikir Ouwyang Bu Sek sambil berdiri bertolak pinggang di depan anak itu, memandangi anak yang tidur pulas sambil bergantung pada kayu salib. Anak itu tidur pulas, mendengkur halus dan wajahnya tenang dan cerah, bahkan bibirnya agak tersenyum seolah-olah anak itu sedang mimpi indah!

Rasa kagum dan heran membuat hati tua itu makin penasaran karena dia ingat bahwa anak ini adalah cucu dari musuh besarnya. “Hendak kulihat apakah dia masih dapat bersikap setabah itu kalau benar-benar menghadapi ancaman bahaya maut yang mengerikan,” katanya penasaran dan kakek cebol itu lalu berkelebat pergi.

Salak dan gonggong anjing yang riuh rendah membangunkan Sin Liong. Dia membuka kedua matanya dan menjadi silau oleh sinar matahari. Kiranya matahari telah naik tinggi. Dia cepat memandang ke bawah dan melihat ada empat ekor anjing menyalak-nyalak dan menggonggong-gonggong di sekelilingnya. Bukan anjing, pikirnya, melainkan srigala! Srigala-srigala yang liar dan buas! Kedua matanya terbelalak dan otaknya segera bekerja mencari akal. Dia terancam bahaya! Srigala-srigala itu meraung-raung, dan lidah mereka terjulur keluar, lidah yang basah dan air liurnya berpercikan ke mana-mana, tanda bahwa mereka itu sudah lapar betul dan ingin menikmati daging manusia muda itu!

“Ha-ha-ha, anak bandel. Kalau tidak minta ampun kepadaku, empat ekor srigala itu akan mencabik-cabik kulit dan dagingmu, mengganyangmu hidup-hidup!” Tiba-tiba terdengar suara kakek cebol di sebelah kanannya.

Kehadiran kakek ini seketika mengusir semua kekhawatiran di hati Sin Liong, terganti oleh keangkuhan dan kekerasan hati yang luar biasa. Dia tersenyum. “Anjing-anjingmu ini tidaklah sekejam engkau, kakek iblis. Biar kautambah dengan engkau sendiri yang menyalak-nyalak, aku tidak merasa takut sama sekali!”

“Bocah setan!” Kakek itu berkelebat pergi dengan hati kecewa, dan dari jauh dia mengintai karena dia tidak percaya kalau anak itu benar-benar sedemikian tabahnya sehingga menghadapi kematian yang amat mengerikan dengan sikap begitu tenang saja. Lihat kalau dia sudah digigit srigala, pikirnya.

Sin Liong kembali memandang kepada empat ekor srigala yang mengelilinginya sambil menyalak-nyalak itu. Naluri kebinatangannya timbul seketika dan diapun lalu menyeringai, memperlihatkan gigi seekor monyet muda dan mengeluarkan gerengan dari kerongkongannya. Srigala-srigala itu terkejut dan undur, akan tetapi melihat orang muda itu tidak bergerak menyerang, mereka berani lagi dan mulai mengelilingi lebih dekat.



Aku harus dapat membebaskan diri, pikir Sin Liong. Dia lalu memejamkan kedua matanya dan mengingat-ingat pelajaran yang dia terima dari kakek Cia Keng Hong. Dia sudah menguasal Thi-khi-i-beng, dan dia sudah menghafalkan semua bagian jalan darah di tubuh. Kini dia tertotok oleh kakek cebol itu, dan dia merasa betapa jalan darah utama di punggungnya yang dibikin lumpuh sehingga kaki tangannya tidak mampu bergerak. Dia memutar otak mengingat-ingat jurus Thai-kek-sin-kun dan dengan tenaga sin-kang dari pusar, mulailah dia menyalurkan tenaga itu menurut pelajaran Ilmu Thai-kek-sin-kun yang telah dia hafal di luar kepala. Semua pelajaran yang telah diterimanya dari kakeknya adalah teorinya belaka yang sudah dihafalnya baik-baik dan kini dalam keadaan terhimpit bahaya maut, Sin Liong mulai menyalurkan hawa dari pusar itu sesuai dengan pelajaran itu.

Mula-mula hawa itu macet di sana-sini karena dia berada dalam keadaan tertotok, hawa murni di tubuhnya seperti air mengalir yang berhenti di tempat-tempat saluran yang tersumbat. Akan tetapi, hawa itu berkumpul dan menjadi makin kuat di setiap sumbatan, bagaikan air yang kelihatan lembut namun mengandung kekuatan dahsyat, satu demi satu sumbatan itu jebol dan hawa murni seperti air itu mengalir terus, makin lama makin kuat membobolkan sumbatan-sumbatan akibat totokan itu dan jalan darahnyapun mulai lancar kembali. Perlahan-lahan Sin Liong berhasil membebaskan diri dari totokan yang amat luar biasa dari kakek itu! Hal ini saja sudah merupakan sesuatu yang amat hebat dan tentu akan membuat kakek itu terheran-heran dan terkejut sekali karena jarang ada tokoh persilatan di dunia kang-ouw yang akan mampu membebaskan totokannya dalam waktu sesingkat itu, apalagi hanya seorang anak-anak!

Akan tetapi, pada saat itu, empat ekor anjing srigala tadi sudah mulai menerjangnya! Dengan suara gerengan menyeramkan, mereka menubruk dan ada yang menggigit kaki Sin Liong, ada yang mencakar dadanya sehingga bajunya robek dan kakinya berdarah. Dari jauh, Ouwyang Bu Sek memandang penuh perhatian dan siap untuk turun tangan membunuh empat ekor srigala itu begitu dia mendengar anak itu menjerit, menangis atau mengeluh. Akan tetapi, anak itu sama sekali tidak mengeluarkan suara keluhan! Sebaliknya malah, gigitan srigala pada kakinya itu dibarengi gonggong dan gerengan binatang-binatang itu membangkitkan hawa murni dari dalam pusar Sin Liong. Dia terbelalak dan dari dadanya, melalui kerongkongannya, terdengar lengking yang menyeramkan dan pada saat itu, putuslah semua tali yang mengikat tubuhnya! Itulah tenaga sin-kang yang diwarisinya dari Kok Beng Lama, tumbuh sepenuhnya dan bangkit serentak sehingga sedikit gerakan saja tali-tali itupun putuslah! Dan kini Sin Liong mengamuk!

Srigala yang masih menggigit kakinya itu terlempar ke atas ketika Sin Liong menggerakkan kakinya. Tangan kirinya dikepal dan memukul muka anjing yang menggigit dadanya.

“Prakk!” Tubuh anjing srigala itu terbanting dan kepalanya pecah, dengan rintihan aneh srigala itu menggerak-gerakkan tubuh, berkelojotan dan mati! Anjing yang terlempar tadi terbanting ke atas tanah, akan tetapi dia sudah menerjang lagi bersama dua ekor temannya. Sin Liong mengeluarkan suara gerengan seperti seekor monyet, disambarnya ekor srigala yang terdekat, diangkatnya dan sekali dia membantingkan tubuh srigala itu, terdengar suara “krakk!” dan kepala srigala itu pecah berantakan karena menimpa batu! Dua ekor lagi menubruk dan menggigit Sin Liong, akan tetapi kini tubuh anak itu sudah menjadi kebal dan keras sehingga gigitan itu tidak merobek kulitnya, hanya merobek bajunya. Sin Liong menggunakan kedua tangannya, yang kiri mencekik leher srigala ke tiga sedangkan yang kanan kembali memukul kepala srigala ke empat. Pukulannya itupun membuat pecah kepala srigala, dan saking marahnya, Sin Liong lalu menggunakan mulutnya menggigit leher srigala yang dicengkeramnya dengan tangan kiri. Demikian kuat dia menggigit sehingga robeklah leher srigala itu yang sia-sia saja meronta karena cengkeraman tangan Sin Liong membuat jari-jari tangannya menembus kulit srigala! Setelah puas merobek-robek leher srigala, dia mengangkat tubuh srigala itu dan membantingnya.

“Nguikk!” Srigala terakhir itu berkelojotan dan mati pula.

Dari tempat sembunyinya, Ouwyang Bu Sek terbelalak dan melongo, seperti melihat setan di tengah hari. Akan tetapi, dia melihat anak itu terhuyung, mengeluh dan memegangi kepalanya, lalu terhuyung ke depan dan hampir roboh. Melihat ini, kakek cebol itu cepat melompat dan mulutnya berkata, “Ah, anak luar biasa...!” Dan tepat ketika Sin Liong terguling, dia sudah tiba di situ dan dia menyambut tubuh anak itu sehingga tidak sampai terbanting.

“Anak luar biasa... anak baik... anak ajaib...!” Ouwyang Bu Sek berkali-kali mengeluarkan pujian ini ketika dia memeriksa tubuh Sin Liong dan melihat bahwa tubuh itu hanya luka-luka sedikit, dan di dalam tubuh itu mengandung hawa sin-kang yang luar biasa sekali, yang tarik-menarik secara kuat sehingga anak itu sendiri sampai tidak kuat menahan dan menjadi pingsan. Dia lalu mendukung anak itu dan dibawanya lari cepat meninggalkan tempat itu.

Ouwyang Bu Sek adalah seorang manusia yang berwatak aneh. Tadinya dia memang tidak berniat untuk menculik Sin Liong. Hanya ketika menduga bahwa anak itu adalah cucu musuh besarnya yang telah mati dan melihat betapa di Cin-ling-san terdapat banyak sekali orang sakti yang takkan sanggup dilawannya kalau dikeroyok, maka dia menawan anak itu untuk dipergunakan sebagai perisai agar dia dapat meloloskan diri. Kemudian, diapun tidak mempunyai niat untuk membunuh atau menyiksa anak itu. Hanya melihat kebandelan dan kekerasan hati Sin Liong, dia menjadi penasaran, merasa seperti ditantang dan dia lalu menakut-nakuti anak itu untuk mematahkan kebandelannya. Namun, melihat betapa Sin Liong bahkan dapat membebaskan diri dan membunuh empat ekor srigala, dia merasa terkejut, terheran-heran dan juga kagum sekali. Timbul rasa suka di dalam hatinya, maka dengan rasa sayang dia lalu membawa pergi Sin Liong untuk dirawat.



Sebelum dia mengambil keputusan memberanikan diri pergi ke Cin-ling-san untuk mencari ketua Cin-ling-pai dan membalaskan sakit hati atas kematian pamannya, Ouwyang Bu Sek yang baru turun dari Gunung Himalaya itu berada di selatan sampai hampir tiga tahun. Karena ilmu kepandaiannya memang tinggi sekali, maka sebentar saja dia dikenal oleh semua tokoh kang-ouw di dunia selatan, bahkan dia diakui sebagai seorang di antara datuk-datuk dunia persilatan dan disegani orang. Akan tetapi, kakek ini memang seorang yang amat aneh, dia selalu menjauhkan diri dan tidak mau menerima murid. Akan tetapi hampir semua tokoh besar dunia kang-ouw mengenal kakek cebol ini, dan setiap ada pertemuan-pertemuan penting, pesta-pesta dan sebagainya, tentu kakek cebol ini menerima undangan dan menjadi tamu kehormatan.

Sepak terjang Ouwyang Bu Sek memang aneh dan kadang-kadang mencengangkan orang di dunia kang-ouw. Kakek ini agaknya sudah tidak mau mengenal lagi rasa sungkan dan tidak mau memperdulikan segala petaturan dan sopan santun, akan tetapi ketika terjadi pemilihan bengcu di daerah selatan, kakek ini sempat menghebohkan dunia kang-ouw. Ketika itu, dua tahun yang lalu, di daerah selatan diadakan pemilihan bengcu, yaitu seorang yang dianggap cukup pandai, berwibawa dan cakap untuk menjadi kepala atau pemimpin, dari apa yang dinamakan golongan hitam di selatan. Dan yang mempunyai harapan besar untuk terpilih sebagai bengcu dan wakil-wakilnya adalah tiga orang tokoh besar di selatan yang dikenal sebagai Lam-hai Sam-lo (Tiga Datuk Laut Selatan). Mereka bertiga ini selain terkenal sebagai tokoh-tokoh tua di selatan, juga terkenal memiliki kepandaian tinggi dan juga mempunyai pengaruh yang amat luas, terutama sekali karena seluruh bajak laut di laut selatan adalah anak buah mereka atau setidaknya mengakui mereka sebagai datuk para bajak laut.

Akan tetapi, kesempatan baik dan harapan tiga orang datuk ini hancur oleh munculnya Ouwyang Bu Sek dalam persidangan pemilihan bengcu itu dengan pembongkaran rahasia tiga orang kakek itu yang oleh Ouwyang Bu Sek dinyatakan tidak patut menjadi bengcu karena mereka bertiga itu adalah orang-orang berjiwa cabul dan suka mengeram dara-dara muda untuk perbuatan-perbuatan cabul! Seluruh hadirin tercengang menyaksikan keberanian Ouwyang Bu Sek, akan tetapi karena Ouwyang Bu Sek mengajukan hal itu sebagai fakta-fakta dengan mengajukan pula bukti dan saksi, maka tiga orang datuk itu tidak mampu menyangkal, hanya dengan marah menyatakan bahwa urusan dalam kamar adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan pemilihan bengcu. Betapapun juga, pembongkaran rahasia oleh Ouwyang Bu Sek itu tentu saja menjatuhkan nama mereka dan banyak pemilih yang menarik kembali suara mereka sehingga akhirnya pemilihan bengcu jatuh pada orang lain.

Tentu saja tiga orang datuk ini menaruh dendam yang amat mendalam kepada Ouwyang Bu Sek. Mereka tidak berani menyatakan permusuhan itu secara berterang, karena hal itu akan membuat mereka makin jatuh di dalam mata para tokoh kang-ouw yang memandang tinggi kepada Ouwyang Bu Sek. Bagi dunia kang-ouw di selatan perbuatan Ouwyang Bu Sek membongkar rahasia kecabulan tiga orang Lam-hai Sam-lo itu bukan dianggap sebagai penyerangan pribadi, melainkan sebagai tindakan bijaksana demi pemilihan bengcu yang tepat. Dan memang sesungguhnya Ouwyang Bu Sek tidak memusuhi Sam-lo itu, hanya karena dia seorang yang aneh dan tidak mau memakai banyak peraturan dan sopan santun maka dia berani membongkar rahasia kecabulan mereka di depan umum, bukan dengan niat menghina atau mendatangkan aib, melainkan untuk melihat bahwa bengcu yang dipilih benar-henar tepat.

Kalau tiga orang datuk itu mendendam kepada Ouwyang Bu Sek, sebaliknya kakek cebol ini sama sekali tidak memusuhi mereka, bahkan dia sudah lupa bahwa dia pernah menghalangi mereka menjadi bengcu. Akan tetapi, mengapa Ouwyang Bu Sek selalu menyembunyikan diri di dalam pondok sunyi di puncak Bukit Tai-yun-san di Propinsi Kwan-tung di selatan? Kalau dia tidak merasa bermusuh dengan Lam-hai Sam-lo, mengapa dia harus bersikap seperti orang yang mengasingkan diri atau menyembunyikan diri?

Memang kakek aneh ini menyimpan suatu rahasia besar dan memang dia selalu merasa takut akan sesuatu. Rahasia itu adalah bahwa kepergiannya dari Pegunungan Himalaya adalah sebagai seorang pelarian! Dari sebuah kuil tua sekali di Pegunungan Himalaya, kuil yang disebut Kuil Sanggar Dewa, di mana hampir semua pendeta dan pertapa dari seluruh dunia singgah ke tempat suci itu untuk berdoa, dia melarikan sebuah peti hitam yang terisi pusaka-pusaka yang sudah ratusan tahun usianya, pusaka-pusaka yang merupakan kitab-kitab kuno yang tak pernah dibuka orang, karena selain tulisan-tulisan dalam kitab-kitab itu amat sukar dibaca, juga kitab-kitab itu dianggap sebagai barang keramat dan tidak boleh sembarangan disentuh tangan. Para pendeta dan pertapa mempunyai kepercayaan bahwa kitab-kitab itu adalah peninggalan dari Sang Buddha, oleh karena itu dianggap sebagai benda keramat.

Inilah sebabnya mengapa Ouwyang Bu Sek kini melarikan diri jauh ke selatan dan jarang mencamputi urusan dunia kang-ouw sungguhpun namanya dikenal sebagai seorang datuk yang disegani. Dan di luar tahunya siapapun, dia menyimpan kitab-kitab kuno itu dan dengan penuh ketekunan dia mempelajarinya, mencoba untuk memecahkan rahasia tulisan kuno dalam kitab-kitab itu.

Demikianlah sedikit catatan tentang keadaan kakek cebol luar biasa itu, yang tanpa direncanakan lebih dulu telah menawan Sin Liong dan kemudian karena merasa suka dan kagum, dia membawa Sin Liong yang pingsan untuk pulang ke tempat tinggalnya, di dalam pondok sunyi di puncak Bukit Tai-yun-san, di mana dia merawat dan mengobati Sin Liong yang menderita luka dalam.

Ketika Sin Liong siuman dari pingsannya dan merasa betapa tubuhnya dipondong dan dilarikan dengan sangat cepatnya oleh si kakek cebol, dia merasa heran sekali. Kemudian teringatlah dia betapa dia telah disiksa oleh kakek ini, bahkan diberikan kepada srigala-srigala untuk dikeroyok, maka dia cepat meronta.

“Eh, eh, kau sudah sadar...?” Ouwyang Bu Sek yang merasa betapa tubuh yang dipanggul dan dipondongnya itu meronta, lalu berhenti berlari dan menurunkan tubuh Sin Liong. Pemuda kecil itu turun dan terhuyung-huyung, kepalanya terasa pening sekali. Tentu dia sudah jatuh kalau tidak cepat dipegang tangannya oleh kakek cebol itu.

“Heh, hati-hatilah, engkau masih lemah, tidak boleh mengerahkan tenaga dulu biarpun sudah tidak berbahaya lagi.”

Sin Liong mengerutkan alisnya dan menatap wajah kakek cebol itu, memandang dengan sinar mata penuh perhatian. Teringatlah dia betapa dia dikeroyok srigala-srigala dan setelah berhasil membunuh binatang-binatang itu, dia roboh pingsan. Dia memandang ke sekeliling dan mendapatkan dirinya berada di lereng sebuah gunung. Dia merasa kepalanya masih pening dan dadanya masih terasa nyeri. Mendengar ucapan kakek itu dia bertanya, “Apakah engkau telah menolongku dan mengobatiku?”

Kakek itu terkekeh dan mengangguk. “Kalau tidak begitu dan aku meninggalkan engkau di sana, apa kaukira masih hidup saat ini?”

Sepasang mata Sin Liong memandang dengan sinar mata mencorong, membuat kakek itu makin kagum sekali. “Kau menawanku, menyiksaku, kenapa lalu menolongku? Apa kehendakmu?”

Bukan main, pikir Ouwyang Bu Sek. Bocah ini memang luar biasa sekali, sikapnya penuh wibawa. Benar-benar seorang bocah yang memiliki dasar dan bakat hebat sekali. Akan tetapi diapun berwatak aneh dan biasanya diapun tidak mau tunduk kepada siapapun juga.

“Aku memang mau begitu.”

“Aku tidak membutuhkan pertolonganmu.”

“Akupun tidak perlu engkau minta tolong, aku memang mau menolong.”

“Engkau memusuhi keluarga Cin-ling-pai.”

“Huh, apa kaukira engkau disuka oleh mereka? Engkau agaknya berbakti kepada kong-kongmu, akan tetapi jelas engkau tidak disuka oleh keluarga Cin-ling-pai.”

“Buktinya?”

“Mereka itu tentu sudah mengejarku kalau memang mereka sayang kepadamu. Mereka tidak mengejar, berarti mereka tidak menghiraukan nasibmu.”

Sin Liong menundukkan mukanya, menarik napas panjang dan perasaan hatinya sakit juga. Memang benar, mereka itu, termasuk ayah kandungnya, sama sekali tidak berusaha menolongnya, padahal dia telah membela peti mati kakeknya, ketika hendak diganggu oleh kakek cebol ini. Hatinya menjadi panas. “Betul juga, mereka tidak suka kepadaku,” katanya.

Kakek itu memandang wajah yang menunduk itu dengan mata terbelalak heran. Anak ini makin aneh saja dalam pandang matanya. “Siapakah ayahmu? Apakah ayah bundamu tidak berada di sana dan ikut berkabung?”

Sin Liong mengangkat mukanya yang menjadi agak pucat dan memandang kepada kakek yang wajahnya lucu itu. “Aku tidak punya ayah ibu, tidak punya keluarga, tidak punya siapa-siapa di dunia ini!”

“Eh? Dan kau bilang engkau cucu dari mendiang Cia Keng Hong?”

Sin Liong menggeleng kepalanya. “Dia pernah menolongku dan kusebut kong-kong... beliau satu-satunya orang yang baik kepadaku...”

“Dan beliau sudah meninggal, dan yang lain-lain itu tidak suka kepadamu? Ah, kebetulan sekali!”

“Apa kebetulan?”

“Kau sebatangkara, aku sebatangkara, aku suka kepadamu dan...”

“Dan aku tidak suka padamu!”

“Kenapa?”

“Kau jahat! Kau mengganggu peti jenazah kong-kong.”

“Dia yang mulai lebih dulu. Dia dahulu membunuh pamanku. Aku terlambat datang karena dia sudah mati, maka sedikit mengganggu peti jenazahnya untuk melepaskan rasa mendongkol di hatiku, apa salahnya?”

“Kau jahat, engkau menyiksaku, hampir membunuh.”

“Anak bodoh! Itu hanya untuk mengujimu, karena engkau bandel dan membikin hatiku penasaran.”

“Lalu kau mau apa sekarang?” tanya Sin Liong.

“Mau apa? Mau mengajakmu ke tempatku di puncak Tai-yun-san, tinggal di sana bersamaku, menjadi muridku, menjadi anakku... heh-heh, kita memiliki sifat-sifat yang cocok!”

“Tidak, aku mau pergi saja!”

“Kembali ke Cin-ling-san di mana semua orang tidak suka padamu?”

“Tidak, aku tidak sudi ke Cin-ling-san. Aku akan pergi ke mana saja!”

“Kalau tidak karuan yang kautuju, mengapa tidak bersamaku saja ke selatan? Aku akan mengajarkan ilmu-ilmuku kepadamu.”

Sin Liong memandang dengan sinar mata penuh selidik, lalu berkata dengan nada suara mengejek, “Engkau? Mengajarku? Huh, apa sih kepandaianmu, baru menghadapi orang-orang Cin-ling-pai saja engkau lari terkencing-kencing!”

“Aku? Lari? Hah, bocah tolol, engkau tidak tahu siapa Ouwyang Bu Sek! Kalau aku sudah berhasil menguasai ilmu-ilmu rahasiaku, biar mereka semua itu ditambah seratus orang lagi, takkan mampu melawanku. Sekarangpun, kalau mereka maju satu demi satu, apa kaukira aku kalah?”

“Cin-ling-pai adalah gudang orang-orang sakti, dan mendiang kong-kong merupakan seorang yang luar biasa tinggi ilmunya. Aku pernah dididik oleh kong-kong, sekarang mana bisa aku merendahkan diri menjadi muridmu? Kepandaianmu sampai di mana aku belum tahu.”

Kakek itu mencak-mencak saking marahnya. Lalu dia meloncat ke depan, tangan kanannya menghantam sebatang pohon kayu sebesar tubuh manusia, tangan kirinya menampar sebongkah batu sebesar kerbau di bawah pohon itu. Sin Liong hanya mendengar suara “plak-plak!” akan tetapi pohon dan batu itu sama sekali tidak bergoyang!

Sin Liong hampir tak kuat menahan ketawanya. Dia memandang dengan senyum mengejek. Kakek ini lucu seperti badut, pikirnya. “Uh, hanya sebegitu saja kepandaianmu? Lalatpun tidak akan mati kautampar, dan kau bilang mau mengambil aku sebagai murid?”

“Eh, apa engkau buta? Bocah bodoh, lihatlah baik?baik!” Kakek itu lalu menggunakan tangannya mendorong batu dan batang pohon itu. Sin Liong terbelalak memandang dengan kaget karena ternyata batu itu telah hancur lebur dan batang pohon itu tumbang. Pukulan-pukulan yang kelihatan perlahan dan tidak berakibat apa-apa tadi ternyata telah meremukkan batu dan mematahkan pohon di bagian dalamnya, akan tetapi permukaan batu dan kulit pohon tidak kelihatan pecah. Dia tidak dapat membandingkan siapa yang lebih sakti antara kakeknya dan kakek cebol ini, akan tetapi dia tahu bahwa kakek ini benar-benar lihai sekali. Kalau dia dapat terdidik langsung oleh kakek ini, sungguh merupakan keuntungan baik. Pula, biarpun dia sudah banyak mempelajari ilmu dari mendiang kong-kongnya, namun yang dipelajarinya baru teorinya saja, karena kong-kongnya agaknya sudah dapat menduga bahwa dia akan meninggal dunia tak lama lagi, maka semua ilmunya diturunkan kepada Sin Liong secara tergesa-gesa.

“Bagaimana? Kau masih memandang rendah kepadaku?” Ouwyang Bu Sek bertanya ketika melihat anak itu bengong saja.

“Aku... aku suka belajar silat kepadamu, locianpwe, akan tetapi aku tidak tahu apakah aku mau menjadi muridmu...?”

Mendengar anak itu kini menyebutnya locianpwe, Ouwyang Bu Sek tersenyum dan diapun berkata, “Akupun tidak mudah menerima murid dan selama hidupku belum pernah aku mempunyai murid. Mari kita saling mencoba dulu, seperti orang hendak membeli buah boleh dicoba dulu, kalau cocok baru beli. Kitapun saling coba, kalau cocok, barulah menjadi guru dan murid.”

Sin Liong tidak dapat menolak lagi. Memang dia tidak ingin kembali ke Cin-ling-san setelah kong-kongnya tidak ada, dan ke manakah dia hendak pergi? Keluarga Na Ceng Han telah terbasmi musuh dan dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Na Tiong Pek dan Bhe Bi Cu. Dulu, ketika dia meninggalkan utara, dia masih mempunyai tujuan, yaitu mencari ayah kandungnya di Cin-ling-san. Kini, setelah melihat ayah kandungnya mempunyai isteri lain dan tidak suka kepadanya sungguhpun belum tahu bahwa dia adalah puteranya, maka dia tidak lagi mempunyai tujuan.

“Baik, saya mau ikut locianpwe,” katanya.

Ouwyang Bu Sek girang sekali dan dia cepat menyambar tubuh Sin Liong lalu dibawanya lari lagi seperti terbang cepatnya. Dan karena kakek cebol ini hendak memamerkan kepandaiannya kepada bocah yang agaknya masih belum percaya
kepadanya itu, maka dia mengerahkan seluruh tenaganya dan Sin Liong terpaksa memejamkan mata ketika melihat tubuhnya meluncur seperti terbang di atas tanah, kadang-kadang melewati jurang yang amat curam. Dan diam-diam dia makin kagum kepada kakek yang benar-benar amat sakti ini.

Perjalanan itu memakan waktu cukup lama, sampai hampir satu bulan barulah mereka tiba di puncak Pegunungan Tai-yun-san di selatan itu. Di sepanjang perjalanan, setiap hari Sin Liong dibantu memulihkan kesehatannya oleh Ouwyang Bu Sek, yang menempelkan telapak tangan di dada anak itu dan menyalurkan sin-kangnya mengobati luka di dalam dada Sin Liong. Beberapa kali kakek ini terheran-heran dan merasa takjub ketika dia merasakan sin-kang yang benar luar biasa sekali, yang terkandung dalam tubuh anak itu. Dia tidak tahu bahwa anak itu telah mewarisi sin-kang dari Kok Beng Lama, dan hanya menduga bahwa anak ini memang memiliki bakat yang amat hebat.

Setelah mereka tiba di puncak Pegunungan Tai-yun-san yang sepi, melihat pondok sederhana dan kebun luas di belakang pondok yang menjadi tempat tinggal kakek itu Sin Liong merasa suka sekali. Tempat itu amat indah, hawanya sejuk dan kesunyian tempat itu yang penuh dengan hutan mengingatkan Sin Liong akan Lembah Naga di mana dia terlahir.

Mulailah Sin Liong dengan hidup baru yang penuh keheningan dan ketenteraman di tempat sunyi itu, setiap hari hanya mengurus kebun sayur dan mempelajari ilmu silat yang mulai diajarkan oleh Ouwyang Bu Sek kepadanya. Akan tetapi di samping mempelajari ilmu silat yang aneh dari kakek itu, diam-diam Sin Liong mulai pula melatih diri dengan teori-teori ilmu-i1mu yang pernah dia pelajari dari mendiang kong-kongnya.

Tiga bulan telah lewat dengan aman dan damai di pondok sunyi puncak Bukit Tai-yun-san itu. Akan tetapi pada suatu malam terang bulan, terjadilah hal yang amat mengejutkan hati Sin Liong dan yang seketika mengusir ketenteraman hidup yang telah tiga bulan itu.

Pada waktu itu, bulan purnama menciptakan pemandangan yang amat indah dan hawa yang amat sejuk sehingga Sin Liong merasa sayang untuk meninggalkan itu semua, maka dia tidak mau memasuki kamarnya yang sederhana, melainkan duduk di belakang pondok, di atas batu besar dalam keadaan setengah bersamadhi atau merenung. Tiba-tiba anak itu dikejutkan oleh suara orang bercakap-cakap dan ketika dia mendengar bahwa di antara suara itu terdapat suara Ouwyang Bu Sek, dia cepat meloncat turun dan berindap-indap menuju ke depan pondok dari mana suara-suara itu datang. Dia terheran-heran melihat tiga orang kakek berdiri berhadapan dengan Ouwyang Bu Sek di depan pondok itu, di bawah sinar bulan purnama. Sikap tiga orang kakek itu kaku dan marah, sebaliknya Ouwyang Bu Sek tersenyum ramah.

“Ha-ha-ha, kiranya Lam-hai Sam-lo, tiga iblis penghuni laut selatan yang datang berkunjung. Ha-ha-ha, selamat datang, tiga orang sahabat baik. Agaknya sinar bulan purnama yang mendorong kalian bertiga berkunjung ke pondokku yang buruk!” Ouwyang Bu Sek menyambut mereka sambil tertawa-tawa.

Sin Liong memperhatikan tiga orang kakek yang kelihatan marah itu. Orang pertama adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dengan muka menyeramkan, seperti muka Panglima Tio Hui di jaman Sam Kok, penuh cambang bauk yang membuatnya nampak gagah. Kakek ini dijuluki Hai-liong-ong (Raja Naga Laut) Phang Tek. Kakek ini orangnya pendiam, serius dan ilmu pedangnya amat disegani oleh seluruh dunia kang-ouw di selatan. Hai-liong-ong Phang Tek inilah yang mewarisi kepandaian dari mendiang Lam-hai Sin-ni, seorang di antara datuk-datuk dunia hitam pada waktu puluhan tahun yang lalu (baca cerita Pedang Kayu Harum). Karena dia tidak pandai bicara, maka dalam segala macam pertemuan, dia menyerahkan kesempatan kepada adik kandungnya untuk menjadi wakil pembicara dari Lam-hai Sam-lo (Tiga Kakek Laut Selatan).

Adiknya itu bernama Phang Sun, berjuluk Kim-liong-ong (Raja Naga Emas), berusia enam puluh tahun akan tetapi sungguh tidak patut dia menjadi adik kandung Hai-liong-ong Phang Tek. Kalau kakaknya itu merupakan seorang pria yang tinggi besar dan gagah sekali, sebaliknya Phang Sun ini tubuhnya pendek kecil seperti orang berpenyakitan, kepalanyapun kecil lonjong tidak ditumbuhi rambut tapi matanya tajam sekali. Dia kelihatan aneh, lebih mirip setan daripada manusia karena selain bentuk kepala gundul lonjong dan tubuhnya yang aneh itu, juga dia mempunyai kebisaan janggal, yaitu tidak pernah memakai baju dan sepatu. Tubuh atasnya telanjang, hanya tubuh bawah tertutup celana panjang sampai ke bawah betis, kemudian kedua kakinya itupun telanjang. Pada lengan kirinya yang kecil pendek itu nampak sebuah gelang emas tebal. Akan tetapi, biarpun kakek ini kelihatan aneh dan ringkih, namun sesunggubnya dia lihai bukan main, tidak kalah lihai dibandingkan dengan kakaknya. Dia memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa, di samping kecerdikannya dan juga dia terkenal memiliki kepandaian tentang racun-racun jahat.

Orang ke tiga dari Lam-hai Sam-lo juga memiliki wajah yang mengerikan. Bentuk tubuh dan pakaiannya biasa saja, akan tetapi wajahnya amat buruk mengerikan, dengan hidung pesek sekali, melesak ke dalam dan mulut lebar dengan gigi tidak karuan susunannya, membuat wajahnya itu nampak seperti tengkorak. Akan tetapi, kakek yang usianya juga sudah enam puluh tahun ini memiliki tenaga kasar yang amat kuat, sekuat gajah dan ilmu silatnya juga tinggi sehingga kalau dibandingkan dengan kedua orang rekannya, dia hanya kalah sedikit saja. Namanya Hek-liong-ong (Raja Naga Hitam) Cu Bi Kun.

“Ouwyang Bu Sek, kami bertiga datang bukan untuk beramah-tamah atau mengobrol denganmu!” kata Kim-liong-ong Phang Sun si kecil pendek dengan suaranya yang lantang dan besar, sungguh berlawanan dengan bentuk tubuhnya.

“Aihhh... habis mau apa? Sayang aku tidak memiliki arak wangi dan hidangan sedap maka tidak dapat menyuguhkan apa-apa.”

“Ouwyang Bu Sek, bersiaplah engkau. Kami datang untuk membuat perhitungan denganmu. Marilah kita selesaikan perhitungan di antara kita dengan mengadu kepandaian,” kata pula Phang Sun.

“Wah-wah, ini namanya mengkhianati alam yang begini indah! Tadinya kukira kalian hanya ketularan penyakit umum dari manusia yang tidak dapat menikmati keadaan sehingga orang-orang di tepi laut tidak dapat menikmati lagi keindahan lautan dan pergi mencari keindahan di pegunungan, sebaliknya orang pegunungan sudah bosan dengan keindahan di pegunungan lalu pergi mencari keindahan di tepi lautan. Kiranya kalian datang untuk menantangku berkelahi mati-matian mengotori pemandangan yang begini indah. Dan kalian ingin menyelesaikan perhitungan, padahal aku tidak merasa mempunyai hubungan apa-apa kepada kalian.”

“Ouwyang Bu Sek, tak perlu berpanjang lidah! Dua tahun yang lalu engkau telah menjatuhkan fitnah atas diri kami ketika diadakan pemilihan bengcu. Apakah engkau masih hendak menyangkal hal itu?” bentak Kim-liong-ong marah sedangkan Hek-liong-ong sudah mengepal tinjunya, Hai-long-ong sudah memukul-mukulkan tongkatnya ke atas tanah.

Kembali kakek cebol itu tertawa, kelihatannya tenang-tenang saja melihat betapa mereka itu marah-marah. “Aih-aihh, jadi kiranya hal itukah yang kalian maksudkan? Aku tidak merasa menjatuhkan fitnah. Kawan-kawan, tahukah kalian apa artinya fitnah? Fitnah adalah tuduhan terhadap orang lain tanpa bukti nyata, itulah fitnah. Akan tetapi, aku telah membongkar rahasia kecabulan kalian bertiga dengan bukti-bukti, itu sama sekali bukan fitnah namanya!”

Wajah tiga orang kakek itu menjadi marah sekali dan kemarahan mereka makin berkobar.

“Kau mencampuri urusan pribadi orang lain!” bentak Hai-liong-ong Phang Tek.

“Kau menghina kami di depan orang banyak!” bentak pula Hek-liong-ong Cu Bi Kun.

“Ouwyang Bu Sek, tak perlu banyak cakap. Kami datang untuk membalas penghinaan yang kaulemparkan ke atas kepala kami. Hayo kaulawan kami, kalau tidak berani, lekas berlutut minta ampun, barangkali kami masih hendak mempertimbangkan hukumanmu!” Kim-liong-ong Phang Sun berkata.

“Ha-ha-ha, aku tidak berani? Lam-hai Sam-lo, kalau aku melawan, apamukah yang kalian andalkan untuk dapat menang?”

Mendengar ucapan ini, Hek-liong-ong sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Sebagai seorang datuk yang amat terkenal, biarpun tadi dia sudah meraba-raba gagang goloknya, namun dia tidak mau sembarangan mengeluarkan senjata. Kepandaiannya terlalu tinggi untuk secara sembrono mempergunakan senjata, karena kaki tangannya saja sudah merupakan senjata-senjata maut yang ampuh. Maka sambil menggereng marah dia sudah menubruk maju dan karena kakek raksasa muka hitam ini memang kuat bukan main, begitu dia menjejakkan kakinya di atas tanah untuk landasan menubruk, bumi seperti tergetar dan gerakannya didahului angin yang kuat.

“Wuuuttt... bresss...!” Debu mengepul tinggi ketika kakek raksasa ini menubruk, akan tetapi yang ditubruknya telah lenyap sehingga dia menangkap angin belaka. Demikian cepatnya gerakan Ouwyang Bu Sek, sehingga elakannya itu sampai tidak kelihatan oleh lawannya yang menyerang. Akan tetapi tentu saja nampak oleh Hai-liong-ong Phang Tek yang juga memiliki gin-kang istimewa, maka melihat tubrukan temannya itu luput dan melihat betapa kakek cebol itu menggunakan gin-kangnya yang hebat, diapun lalu berseru keras dan tubuhnya menyambar ke depan seperti kilat cepatnya, lalu kedua tangannya sudah menampar dari kanan kiri dengan gerakan melingkar sehingga gerakan kedua tangan ini sudah menutup semua jalan keluar!

“Bagus!” Ouwyang Bu Sek memuji karena memang serangan orang pertama dari Lam-hai Sam-lo itu hebat bukan main dan dia tidak lagi melihat jalan keluar untuk mengelak sehingga otomatis dia harus memapaki dua tamparan dari kanan kiri dengan tangkisan kedua lengannya yang pendek.

“Dukk! Dukkk!”

Hebat sekali benturan antara dua pasang lengan itu dan akibatnya, tubuh Hai-liong-ong Phang Tek terdorong ke belakang sedangkan kakek cebol itu menertawakannya! Jelas bahwa kakek cebol itu lebih kuat dalam mengadu tenaga sin-kang tadi.

“Hemmm...!” Suara ini keluar dari mulut Kim-liong-ong yang sudah menggerakkan tangan menyerang. Sekali ini, Ouwyang Bu Sek terkejut karena sambaran angin dahsyat yang keluar dari tangan kakek kurus pendek ini ternyata amat kuatnya dan terdengar suara mencicit nyaring.

“Bagus!” Dia memuji lagi dan cepat diapun mendorongkan tangannya menyambut.



“Plakk!” Dua telapak tangan kanan bertemu dan melekat, dari dalam dua telapak tangan itu meluncur tenaga sin-kang yang amat kuat dan kini mereka saling mendorong. Biarpun Kim-liong-ong Phang Sun nampak terdorong ke belakang, namun dia dapat mempertahankan dan Ouwyang Bu Sek maklum bahwa orang ke tiga dari Lam-hai Sam-lo ini memiliki sin-kang yang terkuat di antara mereka bertiga. Dan tiba-tiba dia mengeluarkan seruan aneh ketika merasa betapa telapak tangannya gatal-gatal.

“Ih, kau iblis beracun!” bentaknya dan Ouwyang Bu Sek yang maklum bahwa selain amat kuat sin-kangnya, juga Kim-liong-ong ini ternyata memiliki tangan beracun, mengerahkan tenaganya dan tubuh lawannya itu terpental, telapak tangan mereka terlepas dari lekatan lawan.

Namun, Hai-liong-ong dan Hek-liong-ong sudah menyerang lagi dari kanan kiri, membuat Ouwyang Bu Sek kewalahan juga. Kakek cebol ini masih tertawa-tawa ketika dia menyambut serangan mereka dan gerakannya aneh dan lincah, tubuhnya yang kecil itu menerobos ke sana-sini di antara sambaran tangan dan kaki tiga orang lawannya yang lihai.

Namun, biarpun kakek cebol itu masih tertawa-tawa, sebenarnya dia repot bukan main menghadapi pengeroyokan Lam-hai Sam-lo. Tiga orang kakek ini bukan orang sembarangan melainkan datuk-datuk selatan yang lihai sekali, selain memiliki sin-kang yang amat kuat juga mereka memiliki ilmu-ilmu silat yang aneh. Kalau mereka bertiga tidak mengeluarkan senjata, hal ini adalah karena selain si cebol juga bertangan kosong, juga mereka merasa berada di fihak yang mendesak dan menang. Andaikata mereka itu maju seorang demi seorang, agaknya mereka masih tidak akan mampu menandingi Ouwyang Bu Sek, akan tetapi dengan maju bersama, mereka dapat saling melindungi dan tentu saja keadaan mereka menjadi tiga kali lipat kuatnya, membuat Ouwyang Bu Sek repot sekali dan kakek cebol ini hanya mampu mempertahankan diri, mempergunakan kecepatan gerakannya untuk mengelak ke sana-sini dan kadang-kadang mengandalkan sin-kangnya untuk menangkis. Namun dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk balas menyerang.

Betapapun juga, setelah mempertahankan diri lebih dari seratus jurus, ketika agak terlambat gerakannya, Ouwyang Bu Sek kena dihantam oleh telapak tangan Kim-liong-ong pada pundaknya.

“Desss...!” Biarpun Ouwyang Bu Sek sudah mengerahkan tenaga saktinya sehingga tubuhnya kebal dan hantaman itu tidak sampai melukainya, namun tubuhnya terpelanting dan bergulingan di atas tanah.

Pada saat itu terdengar suara gerengan seperti seekor binatang buas yang marah dan nampak berkelebat sesosok tubuh yang dengan cepatnya menubruk ke arah Kim-liong-ong Phang Sun yang baru saja menghantam Ouwyang Bu Sek. Bayangan ini bukan lain adalah Sin Liong. Pemuda ini tadi hanya menonton karena dia maklum betapa lihainya tiga orang lawan kakek cebol itu. Akan tetapi melihat kakek cebol itu terpukul roboh, dia cepat meloncat dan menerjang kakek kecil aneh itu dan langsung menyerang dengan pukulan-pukulan keras dan totokan-totokan satu jari tangan kirinya. Pemuda ini memang memiliki sin-kang luar biasa, maka tentu saja serangan-serangannya mendatangkan angin yang dahsyat, membuat Kim-liong-ong terkejut dan cepat mengelak.

Ouwyang Bu Sek tertawa girang dan dia sudah meloncat bangun lagi, kini kakek ini mendesak dan melawan pengeroyokan Hai-liong-ong dan Hek-liong-ong sambil tertawa-tawa. Mendengar kakek cebol itu tertawa-tawa, hati Sin Liong merasa lega karena hal itu membuktikan bahwa kakek cebol itu tidak terluka parah, maka dia dapat mencurahkan perhatiannya menghadapi kakek kecil aneh itu.

Kim-liong-ong Phang Sun kini marah bukan main. Kiranya yang menolong musuh mereka itu hanya seorang pemuda cilik dan biarpun dia tahu bahwa pemuda ini memiliki tenaga sakti yang besar dan ilmu silat yang aneh dan tinggi, namun gerakan pemuda ini masih mentah. Maka ketika dia melihat Sin Liong mendesak, dan menghantam, dia sengaja mengerahkan sin-kangnya untuk menangkis lengan pemuda itu dan mematahkannya.

“Plakk...! Aahhhhh...!” Kim-liong-ong berteriak kaget bukan main karena tangannya bertemu dengan lengan seorang pemuda kecil dan tangan itu melekat, kemudian mendadak dia merasa betapa tenaga sin-kang yang dipergunakan untuk menangkis tadi kini memberobot keluar, membanjir meninggalkan tubuhnya melalui tangan, disedot oleh lengan bocah itu! Dia berusaha untuk menarik kembali tangannya sambil mengerahkan sin-kang, akan tetapi celakanya, makin dia mengerahkan sin-kang, makin banyak tenaganya membanjir keluar!

Melihat wajah temannya yang terbelalak matanya dan pucat mukanya itu, Hek-liong-ong terkejut dan menduga bahwa tentu bocah itu melakukan hal aneh dan mungkin memiliki ilmu luar biasa, maka diapun menerjang dan menghantamkan kepalan tangannya ke arah Sin Liong. Pada waktu itu, Sin Liong telah memiliki kewaspadaan dan kegesitan seorang ahli silat tinggi. Kepekaan tubuhnya mulai bangkit setelah dia menerima latihan dari Ouwyang Bu Sek, maka menghadapi hantaman yang mengandung tenaga raksasa yang amat kuat itu, dia tidak menjadi bingung. Dengan miringkan sedikit tubuhnya, dia menghindarkan pukulan langsung, kemudian lengannya menangkis.

“Plakkk!” Dan kini tangan Hek-liong-ong (Raja Naga Hitam) itupun menempel pada lengannya dan tidak dapat ditarik kembali karena tenaganya membanjir keluar seperti yang dialami oleh Kim-liong-ong Phang Sun.

Akan tetapi, kedua orang itu adalah tokoh-tokoh besar dari dunia kang-ouw dan mereka telah memiliki kepandaian yang hebat. Melihat keadaan ini, mereka dapat menduga bahwa bocah aneh itu memiliki tenaga sedot yang luar biasa, dan mereka saling pandang kemudian Kim-liong-ong berkata, “Sute, kita kerahkan tenaga bersama. Satu-dua-tiga...!”

Akan tetapi celaka, makin hebat kedua orang itu mengerahkan tenaga untuk menarik tangan mereka, makin hebat pula tenaga mereka membanjir keluar, seperti air yang terjun ke dalam samudera! Tentu saja wajah mereka menjadi pucat sekali. Dan pada saat itu, Ouwyang Bu Sek menotok ke arah pundak Sin Liong sambil membentak, “Lepaskan!”

Sin Liong terkejut dan otomatis syarafnya bergerak dan tenaga menyedot itupun sudah disimpannya kembali dan dua orang yang tadi melekat kepadanya terlempar beberapa meter ke belakang karena mereka sudah dilontarkan oleh Ouwyang Bu Sek.

Hai-liong-ong Phang Tek terkejut bukan main, mengira bahwa kepandaian Ouwyang Bu Sek memang hebat bukan kepalang. Melihat dua orang temannya sudah terluka dan dirobohkanm dia lalu menjura. “Lain kali kita bertemu kembali,” katanya dan dia lalu menyambar tubuh dua orang temannya yang masih lemas, dan sekali melompat dia sudah menghilang dari tempat itu.

Sejenak Ouwyang Bu Sek berdiri tegak memandang ke arah menghilangnya Lam-hai Sam-lo, kemudian dia menoleh dan menghadapi Sin Liong yang masih berdiri, lalu dia merangkul Sin Liong dan... menangis! Kakek itu menangis seperti anak kecil kehilangan layang-layang yang putus terbawa angin, terisak-isak dan sesenggukan sehingga Sin Liong menjadi bingung sekali.

“Locianpwe, kenapa kau menangis? Kenapa...?” tanyanya berkali-kali dan dia membiarkan saja kakek itu merangkulnya sambil menangis dan dia merasa betapa pundak kirinya di mana kakek itu bersandar telah menjadi basah oleh air mata. Akhirnya, tangis itu mereda dan kakek itu melepaskan rangkulannya, lalu menggunakan ujung baju untuk membuang ingus dengan suara nyaring bukan main.

Akhirnya dapat juga dia bicara. “Ah, tak kusangka bahwa malam ini Ouwyang Bu Sek diselamatkan oleh seorang anak-anak...”

Sin Liong memandang dengan heran, dan tidak menjawab.

“Dan mengingat betapa aku menganggap anak itu sebagai kacung, bahkan selama berbulan-bulan aku tidak tahu dan tidak ingin menanyakan namanya, tidak memperdulikannya dan hanya menurunkan ilmu sekedarnya, tahu-tahu malam ini dia menyelamatkan nyawaku, hati siapa takkan terharu?”

Mendengar ini, Sin Liong baru mengerti dan dia merasa heran dan juga geli. Kakek yang luar biasa lihainya ini seperti anak kecil saja. “Locianpwe, memang nama saya tidak ada harganya untuk diketahui oleh locianpwe.”

Kakek itu melompat dan berjingkrak. “Tidak, siapa bilang tidak berharga? Engkau adalah in-kong (tuan penolong) bagiku. Hayo katakan, siapakah namamu?”

“Nama saya Sin Liong...”

“Hebat! Naga Sakti? Memang hebat dan tepat sekali. Cia Sin Liong!”

Sin Liong terkejut. “Saya... saya... bukan she Cia!”

“Habis she apa?”

“Saya... saya tidak tahu, locianpwe.”

“Justeru karena tidak tahu itu maka engkau she Cia, seperti kong-kongmu...”

“Akan tetapi... saya hanya mengaku-aku saja beliau sebagai kong-kong...”

“Kalau bukan kong-kongmu sendiri, mana mungkin engkau diwarisi Thi-khi-i-beng? Yang kaupergunakan tadi adalah Thi-khi-i-beng, bukan? Hayo kaucoba terima ini!” Cepat bukan main kakek itu sudah menerjang dan menghantam ke arah kepala Sin Liong.

BUKAN MAIN kagetnya Sin Liong melihat pukulan yang cepat dan kuat ini. Otomatis dia menggerakkan lengan ke atas untuk menangkis dan otomatis pula dia mengerahkan tenaga Thi-khi-i-beng yang menjadi lebih kuat karena baru saja dia “minum” tenaga atau hawa sakti dari dua orang kakek itu.

“Plakk!” Telapak tangan kakek itu bertemu dengan lengan Sin Liong dan seketika tenaga sin-kangnya tersedot! Akan tetapi, kakek cebol itu cepat melepaskan sin-kangnya dan ternyata daya lekat itupun lenyap. Memang demikianlah keistimewaan Thi-khi-i-beng. Kalau yang menyerang pemilik Thi-khi-i-beng itu tidak menggunakan tenaga sin-kang, maka dia tidak akan melekat dan tersedot. Akan tetapi begitu tenaga sin-kang tersedot, sukarlah untuk membebaskan diri, karena baik menyerang maupun berusaha menarik tangan tentu dilakukan dengan pengerahan tenaga yang akan makin hebat tersedot saja. Ouwyang Bu Sek yang bertahun-tahun lamanya mempersiapkan diri untuk melawan mendiang Cia Keng Hong, sudah mendengar akan keistimewaan Ilmu Thi-khi-i-beng yang dimiliki pendekar Cin-ling-pai itu, maka dia sudah mempelajari kelemahannya dan sudah tahu bagaimana caranya untuk menghindarkan diri dari Thi-khi-i-beng. Selain melepaskan diri dengan menyimpan sin-kangnya, juga dia dapat menotok bagian yang menyedot itu sehingga urat-urat syaraf di bagian itu tergetar dan saat itu dia dapat menarik anggauta tubuhnya yang melekat.

“Memalukan! Memalukan sekali!” Tiba-tiba kakek itu berkata sambil memandang kepada Sin Liong.

“Apa yang memalukan, locianpwe?”

“Kau!”

“Saya...?”

“Ya, engkau yang memalukan. Pertama-tama, engkau menyebutku locianpwe. Mulai saat ini sebutan itu harus kaubuang jauh-jauh dari benak dan mulutmu. Awas, sekali lagi menyebut, engkau akan menjadi musuhku karena berarti engkau menghinaku, tahu?”

“Eh? Ini... ini... locian...” Sin Liong menghentikan sebutan itu. “Lalu saya harus menyebut apa?”

“Aku adalah suhengmu, mau sebut apa lagi?”

“Suheng?” Sin Liong memandang dengan mata terbelalak bingung. Kakek ini suhengnya? Dengan perhitungan bagaimanakah tahu-tahu kakek ini menjadi suhengnya?

“Ya, sute, aku adalah suhengmu. Kita sama-sama menjadi murid dari Bu Beng Hud-couw di Himalaya!”

“Siapakah Bu Beng Hud-couw (Dewa Tanpa Nama) itu?”

“Nanti kujelaskan. Sekarang, hal ke dua yang memalukan. Yaitu, engkau telah menjadi pencuri yang menemukan kalau menggunakan Thi-khi-i-beng untuk menyedot dan mencuri tenaga sin-kang lawan. Huh, benar-benar memalukan sekali.”

“Tapi, lo... eh, ssuu... heng...” Sukar sekali bagi Sin Liong untuk menyebut suheng kepada kakek itu, akan tetapi dia takut kalau-kalau benar kakek aneh itu akan memusuhinya kalau dia berani menyebut locianpwe lagi. “Aku tidak bermaksud mencuri tenaga orang. Memang demikianlah sifat Thi-khi-i-beng, menyedot tenaga lawan yang menyerang. Adalah kesalahan lawan itu sendiri karena dia menyerang...”

“Alasan dicari-cari! Mendiang Cia Keng Hong sendiri tentu tidak sudi menggunakan ilmu itu untuk mencuri sin-kang orang. Ilmu itu hanya untuk menghindarkan diri dari terluka oleh pukulan orang, bukan untuk mencuri hawa sin-kang. Mulai sekarang, engkau tidak boleh menggunakannya untuk menyedot tenega orang. Huh, seperti perempuan cabul saja!”

Sin Liong melongo, tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh kakek itu dan mengapa dia dimaki seperti perempuan cabul segala! Akan tetapi dia tidak membantah, dan tidak menjawab.

“Aku adalah suhengmu, maka juga mewakili guru kita. Hayo kau ikut bersamaku melakukan upacara pengangkatan guru kepada guru kita Bu Beng Hud-couw di Himalaya!”

Sin Liong tidak membantah pula dan dia lalu mengikuti kakek itu, bukan memasuki pondok melainkan pergi menjauhi pondok ke sebuah lereng bukit! Anak ini merasa terheran-heran. Benarkah kakek ini mempunyai seorang guru yang tinggal di tempat terpisah? Di bawah penerangan sinar bulan purnama, dua orang itu berjalan berdampingan menuruni puncak. Dilihat dari jauh, tentu disangka orang bahwa Sin Liong lebih tua karena kakek itu hanya setinggi pundaknya!

Ketika tiba di lereng yang penuh dengan batu-batu karang dan guha-guha kecil, kakek itu berhenti, sejenak dia berdiri di atas batu memandang ke kanan kiri penuh perhatian. Setelah dia merasa yakin bahwa di situ tidak ada orang lain kecuali mereka berdua, dia lalu mengajak Sin Liong menghampiri sebuah batu sebesar gajah. Dengan hati-hati dia lalu mendorong batu itu sampai bergeser dan ternyata di balik batu besar itu terdapat sebuah guha kecil yang lebarnya hanya satu meter, guha kecil namun gelap karena selain terhalang batu besar juga agaknya dalam sekali.

Kakek itu merangkak masuk dan tak lama kemudian dia sudah keluar lagi membawa sebuah peti hitam yang bentuknya persegi dan ukurannya kurang dari setengah meter. Dengan penuh khidmat diletakkannya peti hitam itu di atas batu, kemudian dia menjatuhkan diri di depan peti itu.

“Sute, cepat kau berlotut memberi hormat,” dia berbisik.

Sin Liong merasa seram karena dia tidak melihat siapa-siapa, akan tetapi dia tidak membantah dan cepat diapun berlutut di samping kakek itu, menghadapi peti hitam. Kakek itu memberi hormat dengan berlutut dan bersoja tiga kali, lalu terdengar dia berkata, “Suhu, teecu membawa sute datang menghadap suhu dan perkenankanlah teecu memperlihatkan ilmu-ilmu pemberian suhu kepada sute.”

Setelah berkata demikian, kakek itu mengeluarkan sebungkus obat bubuk putih dari sakunya. “Cepat kautiru perbuatanku, melumuri muka, leher dan tangan, semua bagian tubuh yang nampak, dengan bubuk putih ini.”

Sin Liong terheran-heran, akan tetapi dia tidak membantah dan dia meniru kakek itu membedaki semua kulitnya yang tidak tertutup pakaian. Hampir dia tertawa melihat betapa wajah kakek itu menjadi putih seperti wajah seorang badut yang hendak berlagak di atas panggung. Akan tetapi dia teringat bahwa tentu wajahnya sendiripun putih seperti itu, maka dia tidak jadi tertawa. Kakek itu sekali lagi memeriksa dan setelah melihat benar bahwa seluruh kulit yang nampak dari anak itu telah tertutup bubuk putih, dia lalu memberi hormat lagi dan kedua tangannya membuka tutup peti.

“Kriyeeettt...!” Peti hitam terbuka tutupnya dan tiba-tiba terdengar suara mendesis nyaring dan nampak berkelebat sinar emas dari dalam peti menyambar keluar. Kiranya sinar emas itu adalah seekor ular berkulit kuning keemasan yang menyambar keluar, lehernya mengembung dan dari mulutnya keluar uap hitam, lidahnya yang merah keluar masuk dan sepasang matanya seperti menyala!

“Kim-coa-ko (saudara ular emas), kami berdua sudah mendapat perkenan suhu untuk memeriksa kitab, harap kau tenang saja.”

Aneh sekali ular yang “berdiri” dengan penuh sikap mengancam itu lalu turun kembali dan melingkar di sudut peti hitam, di mana terdapat setumpuk kitab-kitab yang sudah kuning saking tuanya.

“Lihatlah, sute. Inilah kitab-kitab wasiat, kitab-kitab pusaka yang diturunkan oleh suhu Bu Ben Hud-couw kepada kita. Aku sudah terlalu tua untuk mempelajarinya, hanya baru dapat membacanya saja yang membutuhkan waktu puluhan tahun. Aku tidak mempunyai waktu lagi untuk melatih ilmunya, maka semua penterjemahanku atas kitab-kitab ini akan kuserahkan kepadamu dan engkaulah yang akan dapat melatih diri dan menguasai ilmu-ilmu dari dalam kitab-kitab ini.”

Sin Liong memandang dengan mata terbelalak dan ular itu diam saja ketika Owyang Bu Sek mengambil kitab paling atas lalu membalik-balik lembarannya. Di dalam kitab itu terdapat tulisan-tulisan yang amat sukar dibaca, karena sebagian besar merupakan gambaran-gambaran yang menjadi huruf-huruf kuno. Akan tetapi kitab itu juga mengandung gambar-gambar gerakan orang bersilat. “Aku telah mempergunakan waktu bertahun-tahun untuk menterjemahkannya, sute, dan kini aku sudah kehabisan waktu untuk melatihnya. Pula, orang setua aku, untuk apa sih mempelajari ilmu-ilmu baru? Maka aku mewariskan semua ini kepadamu, sute. Jangan khawatir, aku akan membimbingmu untuk mengerti isi kitab-kitab ini.”

Setelah kakek itu menutupkan kembali peti hitam dan membawanya masuk lagi ke dalam guha, Sin Liong membantu kakek itu mendorong batu besar kembali ke tempat semula, yaitu menutupi guha rahasia itu.

“Lo... suheng, mengapa ular itu ditaruh di dalam peti?” tanyanya.

“Ha-ha, itu akalku. Tadi sudah kumasukkan lima ekor katak ke dalam peti. Ular itu merupakan ular yang paling berbahaya, gigitannya mematikan dan biarpun orang memiliki kepandaian tinggi sekalipun, sekali kena digigitnya, bahayalah nyawanya. Akan tetapi dengan obat bubuk putih ini, dia menjadi jinak.”

“Dan siapakah Bu Beng Hud-couw... guru kita itu, suheng?”

“Sstt, kita menghaturkan terima kasih lebih dulu!” kata kakek itu dan tiba-tiba dia menarik tangan Sin Liong, diajaknya berlutut di luar guha di depan batu dan kakek itu berkata, “Suhu, teecu berdua menghaturkan terima kasih kepada suhu dan mohon suhu sudi membimbing agar sute dapat mempelajari ilmu-ilmu dari suhu dengan lancar dan berhasil.”

Sin Liong hanya meniru saja ketika suhengnya yang aneh itu berlutut dan memberi hormat. Kemudian Ouwyang Bu Sek menarik napas panjang dan kelihatan lega hatinya.

“Ahhh, suhu senang sekali dengan keputusanku ini, sute.”

Sin Liong menengok ke kanan kiri. Tidak ada siapa-siapa di situ sejak tadi kecuali mereka berdua, bagaimana kakek ini bisa bicara tentang suhunya merasa senang dan lain-lain?

“Di manakah suhu, suheng? Aku tidak melihatnya.”

“Heh-heh, mana bisa begitu mudah, sute? Tingkatmu belum sampai ke situ. Kelak kau tentu akan dapat bertemu dengan suhu kita yang mulia.”

“Suheng, harap kau sudi menceritakan kepadaku tentang suhu itu.” Sin Liong merasa tertarik sekali.

Kakek itu menarik napas panjang lalu duduk di atas batu besar. Sin Liong juga duduk di depannya, siap untuk mendengarkan karena dia benar-benar merasa penasaran dan heran mengapa dia tidak mampu melihat orang yang disebut Bu Beng Hud-couw dan yang oleh kakek ini dikatakan sebagai guru mereka.

“Guru kita, yang mulia Bu Beng Hud-couw adalah seorang manusia suci yang sudah mencapai tingkat tinggi, tingkat para dewa dan nabi-nabi,” kakek itu mulai bercerita dengan suara sungguh-sungguh. “Selama lebih dari tiga ratus tahun bellau tinggal di salah satu di antara puncak-puneak Pegunungan Himalaya...”

“Tiga ratus tahun? Sampai sekarang?”

Kakek itu mengangguk. “Ya, sampai sekarang.”

Sepasang mata Sin Liong terbelalak. “Tidak mati?”

Kakek itu tersenyum. “Dikatakan mati, beliau masih memakai jasmaninya, dinamakan hidup, beliau sudah berbeda dari kita. Tapi dia masih hidup, sute, bertempat tinggal di dalam pondok sunyi dan suci di puncak sana. Akan tetapi tidak sembarang manusia dapat menjumpainya, hanya yang sudah memiliki tingkat seperti aku dan sudah ada kontak dengan beliau. Kalau sudah ada kontak, biar di sinipun aku dapat berjumpa dengan beliau, karena sesungguhnya beliau itu dapat datang ke manapun dalam sekejap mata.”

“Bagaimana caranya?”

“Melalul alam pikiran, melalui getaran perasaan.”

Sin Liong makin bingung akan tetapi dia merasa seram dan tidak berani membantah. Dia masih terlampau muda dan terlampau wajar untuk dapat mengerti permainan orang-orang tua seperti yang diceritakan oleh Ouwyang Bu Sek itu. Memang, betapa banyaknya manusia di dunia ini yang suka sekali, bahkan merindukan dan mengejar-ngejar, hal-hal yang bersifat mistik, yang penuh rahasia, pendeknya yang lain daripada yang kita lihat sehari-hari dalam kehidupan kita di dunia ini! Kita manusia pada umumnya menghendaki hal-hal yang aneh, ajaib, yang tidak lumrah, dan semua ini timbul karena kita telah menjadi seperti buta, kita tidak lagi dapat melihat betapa di dalam kehidupan ini, sudah terdapat keajaiban-keajaiban yang amat hebat, sudah terjadi berkah berlimpahan dan kekuasaan cinta kasih memenuhi alam. Kita seperti tidak melihat lagi keindahan dan keajaiban yang terjadi di waktu kita bernapas, di waktu jantung kita berdenyut, di waktu rambut dan kuku kita bertumbuh tanpa terasa, di waktu seluruh anggauta tubuh kita hidup. Kita tidak lagi dapat menikmati atau melihat keajaiban dan cinta kasih yang terkandung dalam sinar matahari, bulan dan bintang, dalam keharuman bunga-bunga, warna-warni yang tertangkap oleh mata, suara-suara yang memasuki telinga, keajaiban dan cinta kasih yang terkandung dalam setiap tarikan napas kita! Kita sudah buta akan semua itu, dibutakan oleh keinginan mengejar segala macam kesenangan, termasuk kesenangan untuk bertemu dengan keajaiban-keajaiban baru dan lain berupa mistik-mistik dan keanehan dan untuk itu kita tidak segan-segan untuk pergi bertapa, menyiksa diri, berpantang, dan sebagainya lagi
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 2 dan anda bisa menemukan artikel Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 2 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cersil-kho-ping-hoo-pendekar-lembah_08.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 2 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil Kho Ping Hoo : Pendekar Lembah Naga 2 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/05/cersil-kho-ping-hoo-pendekar-lembah_08.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar