Cerita Dewasa Panas SIlat : Ang I Nio Cu 2 - KPH

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Minggu, 03 Juni 2012

Cerita Dewasa Panas SIlat : Ang I Nio Cu 1 - KPH lanjutan dari Cerita Dewasa ABG SIlat : Ang I Nio Cu 1 - KPH

“Ha, ha, bagus sekali. Orangnya manis, namanya indah dan suaranya merdu seperti gurunya,” Kam Kin menepuk tangan tiga kali dan dari dalam muncullah tiga orang wanita muda yang cantik-cantik. Mereka ini adalah pelayan-pelayan dari hartawan ini, akan tetapi pakaian mereka sesungguhnya tidak patut bagi para pelayan, lebih pantas kalau mereka ini disebut selir-selir dari Kam Kin.

“Siapkan, kamar yang bersih dan layani Nona Kiang Im Giok ini baik-baik,” katanya kepada mereka. Sambil tertawa-tawa tiga orang perempuan muda itu lalu menggandeng tangan Im Giok dan ditariknya nona cilik ini di dalam gedung. Tadinya Im Giok hendak menolak, akan tetapi Pek Hoa berkata, “Kau pergilah beristirahat, Im Giok. Tak usah sungkan-sungkan, kita berada di rumah sendiri. Besok pagi-pagi kita bertemu kembali di ruang depan ini. Aku ada perundingan penting dengan susiokmu.”

Terpaksa Im Giok ikut dengan tiga orang pelayan itu dan di belakangnya ia mendengar suara ketawa-ketawa dari Pek Hoa dan Kam Kin, dan lapat-lapat ia mendengar lagi sebutan-sebutan mesra dari mulut Kam Kin kepada gurunya.

Di dalam kamarnya Im Giok hampir menangis. Ia kecewa sekali. Makin terbukalah matanya dan biarpun belum berani ia menuduh gurunya sebagai seorang penjahat wanita cabul, akan tetapi kepercayaannya mulai berkurang dan hatinya mulai ragu-ragu. Ia tidak ragu lagi bahwa tuan rumah yang bernama Giam-ong-to Kam Kin ini bukanlah orang baik-baik. Bagaimanakah gurunya bisa bergaul dengannya? Ia tidak dapat tidur sama sekali. Bocah yang baru berusia sepuluh tahun lebih ini mulai merasa sengsara dan gelisah. Ia amat merindukan ibunya, bahkan ia mencoba untuk mengingat-ingat bagaimana bentuk wajah ayahnya. Ketika ayahnya pergi meninggalkan ibunya, ia baru berusia dua tahun dan tak dapat mengingat lagi bagaimana bentuk wajah ayahnya. Ia mulai rindu kepada ibunya, kepada ayahnya, kepada kebebasan! Biarpun Pek Hoa baik terhadapnya, namun ia tidak merasa bebas. Ia harus tunduk dan taat, harus menelan apa saja yang disuguhkan kepadanya. Semua perbuatan gurunya yang sebetulnya ia anggap amat tidak patut dan tidak menyenangkan hatinya, mau tidak mau harus ia terima dan ia anggap baik, atau setidaknya, ia tidak boleh menyatakan pendapatnya.

Seperti biasa, di mana saja Pek Hoa membawanya, ia tidak pernah kekurangan makan. Di rumah gedung dari orang she Kam ini pun ia dilayani dengan baik-baik, bahkan ia disuguhi makanan-makanan lezat dan mewah. Akan tetapi, Im Giok tidak dapat merasai kenikmatan makanan itu, bahkan ia menelan makanan dengan paksa hanya untuk berlaku pantas karena ia sungkan menolak sambutan orang yang demikian baik.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Im Giok sudah siap untuk melanjutkan perjalanan dengan gurunya. Alangkah girangnya ketika pagi itu Pek Hoa sudah datang ke kamarnya dan berkata dengan wajah berseri,

“Im Giok, mari kita berangkat! Kau akan melihat betapa aku memberi hajaran kepada seorang di antara musuh-musuh besarku.”

“Yang mana, Enci?” tanya Im Giok ikut gembira karena hendak menyaksikan pertempuran.

“Hwesio-hwesio dari Siauw-lim-si, Kok Beng Hosiang dan dua orang hwesio muridnya. Kebetulan sekali dia dan muridnya berada di sebuah kelenteng tak jauh dari kota ini.”

Akan tetapi, kegembiraan Im Giok segera lenyap ketika ia melihat Giam-ong-to Kam Kin telah menanti di pekarangan rumah dengan tiga ekor kuda. Jelas bahwa laki-laki ini hendak ikut pergi pula! Pek Hoa bermata tajam dan ia dapat melihat kerutan alis muridnya, maka ia cepat berkata,

“Susiokmu akan ikut membantuku, Im Giok, kau naiki kuda yang putih itu, kelihatannya paling, baik.” Kata-kata terakhir ini diucapkan oleh Pek Hoa untuk menyenangkan hati muridnya.

“Jangan yang itu. Kuda itu masih setengah liar. Lebih baik Im Giok naik yang ini!” Kam Kin cepat berkata sambil menuntun seekor kuda bulu hitam dan didekatkan kepada Im Giok.

Im Giok tidak biasa menunggang kuda. Akan tetapi sebagal murid orang pandai yang sudah memiliki kepandaian lumayan, ia tidak merasa takut dan dengan gerakan ringan ia melompat ke atas punggung kuda hitam itu.

Mereka segera berangkat. Kam Ki dan Pek Hoa menjalankan kuda berdampingan, sedangkan Im Giok menjalankan kuda di belakang mereka. Dengan hati sebal dan muak ia melihat betapa sikap gurunya dan susioknya amat mesra. Di sepanjang jalan kedua orang itu bersendau-gurau dengan sikap mesra. Makin besarlah perasaan tidak suka mendesak di hati Im Giok, rasa tidak suka terhadap orang yang selama ini ia anggap sebagai gurunya.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Pek Hoa kepada Im Giok. Kok Beng Hosiang, tokoh ke tiga dari Siauw-lim-pai, murid ke dua dari Hok Bin Taisu yang dulu ikut pula menyerbu Thian-te Sam-kauwcu bersama suhengnya untuk mengambil kembali kitab yang tercuri, pada waktu itu sedang keluar dari Siauw-lim-si dan berada di sebuah kelenteng yang tidak jauh letaknya menyebarkan Agama Budha di belakang kelenteng lain. Dalam perjalanan ini ia dikawani oleh dua orang muridnya. Hal ini diketahui oleh Kam Kin yang segera memberi tahu kepada Pek Hoa dan siap pula membantunya.

Kam Kin yang berjuluk Giam-ong-to adalah seorang bekas perampok tunggal yang kini sudah mengundurkan diri setelah berhasil mengumpulkan banyak harta kekayaan. Ia kini hidup sebagai seorang hartawan muda yang tidak beristeri, akan tetapi bukan rahasia lagi bahwa ia mempunyai banyak selir dan dia pun terkenal sebagai seorang hartawan mata keranjang yang tidak segan-segan mempergunakan harta dan kepandaiannya untuk merampas anak bini orang lain. Kalau orang tidak merasa takut terhadap pengaruh hartanya, tentu ia akan merasa gentar menghadapi goloknya, karena Kam Kin memang termasuk seorang ahli silat kelas tinggi.

Biarpun Kam Kin bukan murid Thian-te Sam-kauwcu, namun ia memang termasuk adik seperguruan dari Pek Hoa, karena Pek Hoa pernah pula menjadi murid Cheng-jiu Tok-ong (Raja Beracun Berlengan Seribu), seorang tokoh besar rimba persilatan di daerah barat. Sedangkan raja beracun ini adalah guru dari Kam Kin. Hanya bedanya, kalau Kam Kin hanya menerima kepandaian silat dari Cheng-jiu Tok-ong, adalah Pek Hoa melanjutkan pelajaran dan berguru kepada banyak tokoh lain sehingga kepandaian Pek Hoa tentu saja lebih lihai daripada kepandaian Kam Kin.

Semenjak berusia belasan tahun, Pek Hoa memang sudah bejat moralnya. Ketika masih berguru kepada Cheng-jiu Tok-ong, ia sudah jatuh hati kepada Kam Kin yang lebih muda dan memang tampan. Kedua orang ini seperti sampah dengan keranjang, cocok sekali dan sudah lama mempunyai perhubungan yang tidak bersih.

Lewat tengah hari mereka tiba di depan kelenteng yang dimaksudkan. Dengan tenang Pek Hoa melompat turun dari kudanya, diikuti oleh Kam Kin dan Im Giok, kemudian tiga ekor kuda itu diikat pada pohon yang tumbuh di halaman kelenteng.

Sunyi saja di kelenteng itu. Akan tetapi meja depan dipasangi lilin, tanda bahwa ada penghuninya di dalam kelenteng.

“Kok Beng Hosiang, keluarlah untuk menerima binasa!” Pek Hoa berseru keras.

Terdengar suara orang dari dalam kelenteng dan muncullah dua orang hwesio muda. Mereka merangkap kedua tangan di depan dan sebagai tanda penghormatan, lalu seorang di antara mereka bertanya,

“Sam-wi dari manakah dan ada keperluan apa mencari Suhu yang sedang bersembahyang?”

“Kalian ini dua orang keledai gundul murid Kok Beng Hosiang? Bagus, berangkatlah dulu ke neraka untuk mempersiapkan tempat bagi gurumu!” kata Kam Kin yang sudah mencabut goloknya sambil bergerak maju menyerang secara hebat sekali. Im Giok terkejut bukan main, juga merasa penasaran dan ngeri, maka ia cepat melompat mundur dan berdiri di tempat jauh sambil menonton. Hatinya berdebar tidak karuan, dan kembali rasa tidak suka menyerang batinnya, kini bahkan demikian hebat sehingga mulai timbul benci di dalam hatinya kepada Pek Hoa dan Kam Kin.

“Eh, eh, kalu ini perampok atau orang gila?” hwesio muda itu berteriak marah sambil mengejek. Kemudian secepat kilat kedua orang hwesio itu menyerang, yang pertama menendang ke arah sambungan lutut, yang kedua menghantam ke arah lambung. Mereka adalah murid-murid Siauw-lim-pai yang sudah diperkenankan ikut guru mereka merantau, ini menjadi bukti bahwa kepandaian mereka bukan rendah, maka tentu saja mereka tidak mudah dirobohkan oleh serangan golok Kam Kin bahkan dapat membalas dengan serangan yang cukup berbahaya.

Sekali pandang saja Pek Hoa cukup maklum bahwa ia tak perlu membantu sutenya. Tingkat kepandaian sutenya masih lebih tinggi dari dua orang hwesio muda ini. Maka sekali menggerakkan tubuh, ia telah melompat di dekat Im Giok dan menonton jalannya pertempuran.

Im Giok mendongkol bukan main. Ia anggap Pek Hoa dan Kam Kin keterlaluan sekali, datang-datang menyerang dua orang pendeta yang tidak terang apa salahnya. Akan tetapi tentu saja untuk membantu dua orang hwesio itu atau mencela Kam Kin ia tidak berani kepada gurunya. Untuk melampiaskan kemendongkolannya, ia sengaja berkata kepada gurunya,

“Enci Pek Hoa, tidak tahunya julukan Susiok Giam-ong-to kosong belaka. Menghadapi dua orang hwesio bertangan kosong saja ia tidak mampu menjatuhkani”

Mendengar ini, Pek Hoa menjadi merah mukanya. Kata-kata itu biarpun ditujukan untuk mengejek Kam Kin akan tetapi seperti juga menampar mukanya sendiri karena Kam Kin adalah sutenya. Ia memandang lagi ke arah pertempuran dan harus ia akui bahwa kiranya sutenya itu masih agak lama untuk dapat mengalahkan dua orang lawannya. Maka dengan gemas sekali ia melompat mendekati tempat pertempuran, lalu mengayun tangan kiri sambil berseru,

“Sute, lekas robohkan mereka. Untuk apa main-main dengan dua ekor keledai macam ini?”

Gerakan tangan kiri Pek Hoa tadi bukan sembarangan gerakan, melainkan gerakan melepaskan Pek-hoa-ciam yang lihai. Segera dua orang hwesio muda itu terhuyung-huyung dan dua kali golok besar di tangan Kam Kin berkelebat, muncratlah darah dan robohlah dua orang hwesio itu dengan leher terbacok dan nyawa melayang.

“Omitohud...! Siluman wanita Pek Hoa, kau benar-benar keji sekali dan tidak kenal tobat. Datang-datang kau telah membunuh murid-murid pinceng, benar-benar siluman jahat.”

Kata-kata ini disusul dengan keluarnya seorang hwesio gemuk yang memegang senjata rantai panjang. Dahulu dalam pertempuran di lembah Sungai Yalu Cangpo, hwesio ini sudah merasai kelihaian Pek-in-ong, seorang di antara guru-guru Pek Hoa. Maka kali ini ia berlaku hati-hati menghadapi Pek Hoa, maklum bahwa wanita siluman ini lihai sekali, apalagi senjata rahasianya.

Melihat musuhnya sudah berdiri di depannya, tanpa banyak cakap lagi Pek Hoa lalu mencabut siang-kiamnya dan melakukan serangan secepat kilat. Kok Beng Hosiang, hwesio gemuk itu, cepat pula menggerakkan senjata rantainya menangkis. Terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar ketika pedang bertemu dengan rantai. Kemudian terjadilah pertandingan ilmu silat tinggi yang seru.

Im Giok tidak senang sekali melihat Kam Kin tadi membunuh dua orang hwesio muda, kini ia lebih gelisah melihat hwesio tua gemuk bertempur melawan gurunya. Kalau saja para pendeta itu bertempur dengan lain orang, bukan dengan gurunya, kiranya Im Giok akan turun tangan membantu pendeta-pendeta itu. Biarpun baru empat lima tahun ia berlatih silat, namun berkat latihan sungguh-sungguh dan ilmu silat tinggi yang diturunkan oleh Pek Hoa, kepandaian Im Giok sudah lumayan dan nyalinya besar sekali. Kini melihat Kok Beng Hosiang bertempur melawan gurunya... Im Giok dapat menduga bahwa hwesio itu takkan menang.

Pertandingan itu cukup hebat. Sebagai tokoh ke tiga dan Siauw-lim-pai, kepandaian Kok Beng Hosiang tinggi sekali. Tenaga lwee-kangnya sebenarnya masih mengatasi tenaga Pek Hoa, dan ilmu silatnya amat kokoh kiuat dan tangguh dalam pertahanan. Namun ia harus mengaku kalah gesit dan kalah cepat oleh nona itu. Gerakan Pek Hoa cepat sekali, menyambar-nyambar bagaikan seekor burung garuda hingga Kong Beng Hosiang nampak terdesak.

Betapapun juga, jago Siauw-lim-si ini dapat mempertahankan diri sampai lima puluh jurus lebih sebelum pundaknya terserempet ujung pedang kiri Pek Hoa. Gerakan yang dilakukan oleh Pek Hoa dalam penyerangan yang berhasil itu memang hebat sekali, mengandalkan gin-kang yang sudah tinggi. Sebuah serangan Kok Beng Hosiang dengan rantainya yang menyambar pinggang, dapat ia elakkan dengan lompatan indah dan cepat bagaikan burung tebang, kemudian selagi tubuhnya masih berada di udara, nona ini membalikkan tubuh dan sepasang pedangnya menyerang bertubi-tubi dari atas. Kok Beng Hosiang sudah berusaha menangkis, namun ia kalah cepat sehingga pedang kiri Pek Hoa yang menyambar leher masih saja dapat menyerempet pundaknya, darah membasahi jubah pendetanya.

Kok Beng Hosiang terhuyung ke belakang. Sambil tertawa nyaring dan mengejek, Pek Hoa mendesak terus, siap memberi tusukan-tusukan terakhir. Tiba-tiba berkelebat bayangan dan “traang!” pedang Pek Hoa yang sudah menyambar ke arah ulu hati Kok Beng Hosiang bertemu dengan sebatang pedang lain.

“Im Giok....!” Pek Hoa berseru marah sekali ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah muridnya sendiri. Bocah ini melihat gurunya mendesak dan hendak membunuh hwesio tua gemuk, tak dapat menahan perasaannya lagi, mencabut pedang pendek dan menangkis pedang Pek Hoa!

“Enci, untuk apa membunuh seorang pendeta yang suci? Dia sudah kalah terluka, tak perlu didesak terus, Enci.”

“Bocah, kau lancang sekali!” Kam Kin melompat dan sekali bergerak ia telah merampas pedang Im Giok dan menyambar tubuh bocah itu, dipeluk pinggangnya terus dikempit. Im Giok yang tidak menduga sebelumnya tidak berdaya dan terpaksa ia hanya membikin tubuhnya kaku dalam kempitan susioknya yang tertawa-tawa menyebalkan.

Sementara itu, Pek Hoa terus mendesak Kok Beng Hosiang dengan sepasang pedangnya. Kok Beng Hosiang melawan terus, namun dalam beberapa gebrakan saja, kembali ujung pedang Pek Hoa telah melukai lengannya.

“Hwesio keparat, mampuslah kau!” Pek Hoa menggerakkan sepasang pedangnya secara istimewa, menyerang dari kanan kiri dengan gerak tipu Kim-peng-tian-ci (Garuda Emas Mementang Sayap). Kok Beng Hosiang yang sudah terluka mana dapat menjaga serangan yang datang dari kanan kiri dengan hebat ini? Ia tahu bahwa kali ini ia takkan dapat menghindarkan maut lagi, maka ia hanya menarik napas panjang.

“Pek Hoa Pouwsat, kau benar-benar keterlaluan sekali!” terdengar suara bentakan halus dan Pek Hoa mengeluarkan jerit kecil ketika tiba-tiba pedangnya terbentur oleh sesuatu sehingga terpental. Ia cepat melompat ke belakang dan ketika ia memandang, ternyata yang menangkis pedangnya tadi adalah sebatang ranting yang dipegang oleh seorang pengemis yang amat dikenalnya, yakni Han Le! Orang sakti itu tersenyum.

Han Le adalah seorang yang berwajah tampan dan menarik. Walaupun kini rambut dan jenggotnya tidak terpelihara dan pakaiannya seperti seorang jembel, namun setelah berhadapan muda dan memandang penuh perhatian, ternyatalah oleh Pek Hoa Pouwsat bahwa kulit muka itu bersih dan terawat baik-baik, merupakan wajah seorang jantan yang menggerakkan hati wanitanya! Han Le dan Bu Pun Su merupakan dua orang yang paling berbahaya di antara musuh-musuhnya. Kini melihat Han Le berdiri di hadapannya dengan ranting di tangan, bibir tersenyum dan wajah tenang, dua macam pikiran memasuki kepala Pek Hoa Pouwsat. Pertama bahwa Han Le seorang laki-laki yang sudah masak dan menarik hatinya, kedua bahwa akan menguntungkan sekali baginya kalau ia dapat memikat hati musuh besar ini, selain ia dapat memuaskan hatinya, juga ia mendapat jalan untuk membalas dendam!

Dengan senyum yang manis sekali, Pek Hoa Pouwsat menghadapi Han Le, memainkan matanya yang sinarnya dapat membetot hati setiap pria, baru ia berkata,

“Eh, kiranya Han Le Tai-hiap yang muncul. Kebetulan sekali, siauwmoi sudah lama sekali ingin mengunjungimu dan melihat-lihat keadaan Pulau Pek-le-thio!”

Kulit muka di balik cambang itu memerah dan Han Le menekan perasaan hatinya yang berdebar aneh ketika ia melihat sikap Pek Hoa Pouwsat dan mendengar wanita cantik itu menyebut diri sendiri “siauwmoi” (adinda)! Semenjak pertama kali bertemu dengan Pek Hoa Pouwsat, memang diam-diam di dalam hatinya Han Le kagum sekali dan merasa menyesal serta sayang mengapa seorang wanita demikian manis jelita telah tersesat dan menyeleweng jalan hidupnya. Han Le adalah seorang yang tidak mudah tertarik oleh kecantikan wanita, bahkan semenjak muda ia terkenal sebagai seorang pria pembenci wanita. Akan tetapi, kali ini menghadapi Pek Hoa Pouwsat yang segala-galanya serba cocok dengan seleranya, dan amat menarik hatinya, Han Le harus mengerahkan tenaga batinnya untuk menekan perasaan yang tergoncang.

Akan tetapi Han Le dengan pandang mata keren menegurnya,

“Pek Hoa Pouwsat, mengapa kau melukai dan hendak membunuh hwesio Siauw-lim-si ini?”

Pek Hoa mengerling ke arah Kok Beng Hosiang yang masih sibuk mengobati luka-lukanya, lalu tersenyum dan dengan tubuh digerak-gerakkan secara genit dan kepala dimiringkan, ia berkata kepada Han Le,

“Dia ini musuh besarku, mengapa tidak harus kubunuh? Akan tetapi karena Han Le Tai-hiap datang dan melihat muka Tai-hiap, biarlah kali ini siauwmoi mengampuni kepala gundul ini. Kok Beng Hosiang, kau tidak lekas pergi dari sini? Apa menanti sampai aku bergerak lagi? Hayo pergi lekas!”

Kok Beng Hosiang sudah merasa bahwa ia takkan menang menghadapi Pek Hoa Pouwsat. Biarpun kini ia melihat kedatangan Han Le, akan tetapi ia telah dibikin malu dan tidak ada muka untuk berdiam terus di tempat itu.

“Kau telah menghina Siauw-lim-si, nantikan pembalasan kami!” katanya geram, lalu hwesio ini pergi dengan langkah lebar. Akan tetapi ia tidak pergi jauh karena ia mengambil jalan memutar dan dengan sembunyi ia mengintai, ingin menyaksikan bagaimana Han Le memberi hajaran kepada Pek Hoa Pouwsat dan kawan-kawannya. Kok Beng Hosiang diam-diam merasa sakit hati dan mendongkol sekali, maka ingin ia melihat wanita yang membikin malu padanya itu menerima hajaran keras. Akan tetapi, apa yang dilihat oleh hwesio Siauw-lim-si ini membuat sepasang matanya terbelalak lebar, mukanya merah seperti kepiting direbus dan kepalanya yang gundul licin berdenyut-denyut.

Setelah Kok Beng Hosiang pergi, Pek Hoa mendekati Han Le dengan lenggang dibuat-buat, amat menarik hati karena memang wanita ini memiliki bentuk tubuh yang indah menarik.

“Tai-hiap, seperti kukatakan tadi, sudah lama aku mendengar bahwa Pulau Pek-le-to tempat tinggalmu mengandung banyak rahasia, juga amat indah seperti sorga. Bolehkah aku mengunjungimu? Bawalah aku ke sana, Tai-hiap.”

Han Le mengerutkan keningnya. “Pek Hoa Pouwsat, permainan apakah yang kaukeluarkan ini? Kau adalah murid Thian-te Sam-kauwcu dan kau tahu bahwa aku dan suhengku, juga kawan-kawan lain telah...”

Pek Hoa mengangkat kedua lengannya, digoyang-goyang seperti orang mencegah. Dari dalam lengan bajunya keluar keharuman bunga cilan!

“Han-taihiap, harap kau jangan menyebut-nyebut lagi soal itu. Yang sudah lewat, sudahlah. Terhadap seorang gagah seperti Tai-hiap, bagaimana siauwmoi berani menaruh dendam hati? Yang ada di dalam hati siauwmoi bukanlah dendam dan marah, melainkan... kekaguman dan ingin sekali mempererat persahabatan...” Suaranya terdengar demikian merdu dan penuh gaya sehingga wajah Han Le sebentar merah sebentar pucat.

“Jembel busuk, lekas pergi dari sini!” Tiba-tiba Giam-ong-to Kam Kin yang semenjak tadi mendengarkan percakapan itu dan melihat sikap genit sucinya dengan hati sebal dan cemburu, lalu menggerakkan sepasang goloknya menyerang Han Le!

“Sute... jangan...!” Pek Hoa membentak Kam King akan tetapi terlambat karena sepasang golok itu dengan ganasnya telah menyambar tubuh Han Le.

Bentakan ini sebetulnya bukan dikeluarkan karena Pek Hoa khawatir akan keselamatan Han Le, bahkan sebaliknya ia amat khawatir akan keselamatan sutenya. Ia maklum bahwa ilmu kepandaian Han Le jauh lebih tinggi daripada ilmu kepandaian Kam Kin.

Memang betul apa yang dikhawatirkan oleh Pek Hoa Pouwsat itu, karena tidak saja Han Le dapat menghindarkan diri dari serangan sepasang golok Kam Kin, bahkan secara cepat dan tak terduga, rantingnya telah menotok pundak lawannya tanpa dapat dielakkan oleh Kam Kin. Giam-ong-to Kam Kin menjerit dan roboh berkelojotan.

Pek Hoa menghampiri dan sekali menepuk punggung dan leher sutenya, Si Golok Maut itu terbebas dari rasa sakit yang luar biasa! Ia bangkit berdiri dan menyeringai, mukanya merah sekali. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, ia mengambil sepasang golok yang tadi terlempar di atas tanah ketika ia roboh, memasukkan sepasang golok itu di dalam sarung golok, lalu ia melompat ke pinggir, ke dekat Im Giok yang memandang semua itu dengan kagum.

Kam-susiok, mengapa baru sejurus kau mundur lagi?” tanya Im Giok kepada Giam-ong-to dengan nada suara mengejek. Anak ini memang tidak suka kepda Kam Kin, maka kini ia mendapat kesempatan untuk mengejek. Kam Kin memandang kepada bocah itu dengan mata mendelik. Im Giok menahan geli hatinya lalu menengok dan menonton apa yang akan terjadi antara gurunya dan pengemis sakti itu.

“Han-taihiap, kau makin gagah saja, benar-benar siauwmoi kagum dan tunduk. Siauwmoi ulangi lagi keinginan hati siauwmoi untuk pergi berkunjung ke pulaumu, di mana kita dapat saling menukar ilmu dan bercakap-cakap gembira tanpa gangguan orang lain.”

Pek Hoa Pouwsat, kau bicara apakah? Kau dan sutemu telah berlaku kejam, membunuh dua orang hwesio Siauw-lim-si dan menghina seorang tokoh Siauw-lim. Untuk perbuatan jahat ini mana bisa aku mendiamkannya saja?”

Sambil berkata demikian, Han Le sudah menggerakkan ranting di tangannya, mengirim serangan langsung ke arah leher Pek Hoa Pouwsat. Biarpun ia harus mengaku bahwa hatinya amat tertarik, kejantanannya bangkit oleh kecantikan dan kelembutan yang demikian memikat hati, namun kesadaran Han Le masih penuh sehingga ia mengeraskan hati dengan anggapan bahwa wanita cantik menarik yang dihadapinya adalah seorang jahat dan keji dan sebagai seorang pendekar ia harus membasminya.

Pek Hoa Pouwsat mencelat ke belakang, tersenyum manis dan berkata menyindir, “Ayaa, Han-taihiap, galak sekali. Baiklah, mari kita main-main sebentar!” Sambil berkata demikian, Pek Hoa Pouwsat cepat mencabut siang-kiamnya lalu menghadapi Han -Le dengan sikap gagah menarik.

“Awas serangan!” Han Le memusatkan semangatnya dan mulai melakukan penyerangan sungguh-sungguh. Ia maklum bahwa lawannya bukan seorang lemah, karena dahulu ia pernah menghadapi Pek Hoa Pouwsat dan tahu akan kelihaiannya. Akan tetapi, beberapa hari saja berkumpul dengan suhengnya Bu Pun Su, Han Le telah memperoleh kemajuan yang amat banyak. Sehari berkumpul dengan Bu Pun Su dan mendengar nasihat serta penjelasannya dalam hal ilmu silat, sama halnya dengan berlatih satu tahun di bawah pimpinan guru pandai. Oleh karena itu, pertemuan akhir-akhir ini dengah Bu Pun Su membuat Han Le memperoleh kemajuan banyak dalam ilmu silat, dan Bu Pun Su telah membuka matanya untuk melihat kelemahan-kelemahan dan kekeliruan-kekeliruan sendiri.

Oleh nasihat Bu Pun Su ia maklum bahwa orang seperti Pek Hoa Pouwsat mengandalkan kelihaiannya dengan kecepatan, kelincahan, dan siang-kiam-hoat yang tidak terduga gerakannya, mengandalkan gin-kang yang tinggi. Untuk melawan orang seperti ini ia harus berlaku tenang, tidak boleh mencoba untuk mengimbangi kecepatan lawan, sebaliknya berlaku tenang dan mengandalkan lwee-kang membentuk pertahanan yang kuat dan melindungi tubuh dengan hawa pukulan dari rantingnya. Maka ketika Han Le mendapat kesempatan bercakap-cakap dengan suhengnya, ia minta petunjuk untuk menyempurnakan ilmu pedangnya bagian gerakan Jit-in-to-goat (Tujuh Awan Membungkus Bulan), sebuah gerakan ilmu pedangnya yang merupakan benteng pertahanan kuat sekali.

Han Le melakukan gerakan ini dengan tenang dan nampaknya ia tidak banyak bergerak. Kedua kakinya hanya dipentang sedikit, hampir sama dengan kuda-kuda yang disebut Kung-si dengan tubuh agak dibungkukkan seperti dalam kuda-kuda Ci-kung-si. Biarpun kedudukan tubuhnya sederhana saja, akan tetapi kedudukan ini memungkinkan dia untuk menggerakkan rantingnya ke mana.saja sepasang pedang Pek Hoa meluncur. Tanpa banyak mengeluarkan tenaga, Han Le dapat menangkis semua serangan Pek Hoa yang pedang itu susul-menyusul ramai seperti sepasang ular berlumba.

“Han-taihiap, kau benar-benar mengagumkan sekali. Sekarang lihatlah ilmu pedangku yang baru, kaulihat bagus atau tidak!”

Perubahan hebat terjadi pada gerakan pedang Pek Hoa Pouwsat. Biarpun sepasang pedang itu masih melakukan serangan-serangan berbahaya sesuai dengan ilmu silat tinggi, namun gerakan-gerakannya demikian indah dan menarik, tak ubahnya seperti sedang menari saja.

“Indah sekali...!” berkali-kali Im Giok mengeluarkan seruan memuji. Gadis cilik ini tadinya bersikap dingin dan kaku karena Kam Kin berada di dekatnya, akan tetapi sekarang melihat ilmu pedang yang dimainkan oleh gurunya, ia lupa sama sekali akan adanya Kam Kin di situ. Sepasang matanya bercahaya, wajahnya berseri dan tanpa berkedip ia menonton ilmu pedang yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat. Im Giok memang mempunyai darah seni, suka sekali akan keindahan, maka tarian pedang itu benar-benar mempesonakannya.

“Aaiih, memalukan sekali...” kata Kam Kin dan cemburunya makin menghebat. Biarpun ia tidak terkena pengaruh langsung dari ilmu pedang yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat, namun keindahan gerakan pedang, kelemasan gerakan tubuh Pek Hoa, tetap saja terasa olehnya sebagai gerakan-gerakan yang memikat hati, gerakan yang tidak sopan. Pinggang Pek Hoa seakan-akan tidak bertulang, menggeliat-geliat seperti ular, menggerak-gerakkan tubuh bagian bawah, bibir tersenyum manis dan merah membasah, sepasang mata setengah redup dan berkaca-kaca, semua ini ditujukan kepada Han Le.

Pengemis sakti itu masih menggerakkan rantingnya melindungi tubuh dari serangan dua batang pedang yang lihai itu. Akan tetapi ketika Pek Hoa Pouwsat merubah ilmu pedangnya dan mulai dengan ilmu pedang yang seperti tarian indah itu, hati Han Le terguncang hebat. Ia sama sekali tidak tahu bahwa lawannya sedang memainkan ilmu pedang Bi-jin-khai-i, ilmu silat yang sebenarnya merupakan setengah ilmu sihir karena di dalamnya mengandung pengaruh mujijat dari kecantikan wanita untuk merobohkan hati pria. Inilah ilmu silat aneh yang selama ini dilatih secara mendalam oleh Pek Hoa Pouwsat, disediakan untuk merobohkan musuh-musuh besarnya yang tangguh dan kini untuk pertama kalinya, ia pergunakan dalam menghadapi Han Le!

Ilmu silat Bi-jin-khai-i ini memang hebat. Andaikata dimainkan oleh seorang perempuan yang berwajah buruk dan bertubuh tak menarik sekalipun, tetap akan mengeluarkan pengaruh yang dapat merobohkan hati laki-laki. Apalagi sekarang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat yang cantik jelita dan memiliki bentuk tubuh sepenuhnya wanita, tentu saja daya rangsangnya berlipat ganda. Dalam belasan jurus saja, Han Le mulai terkena pengaruhnya. Dalam penglihatan Han Le, sepasang pedang itu tidak lagi mengancamnya, hanya merupakan tari pedang yang amat indah. Tubuh yang berlenggak-lenggok dan menggeliat-geliat itu seakan-akan melambai dan mengajaknya bergembira dan menari. Lebih hebat lagi, makin lama gerakan Pek Hoa dalam mata Han Le makin luar biasa sehingga nampak olehnya benar-benar seperti lawannya yang cantik itu sedang menanggalkan pakaian sedikit demi sedikit! Walaupun tidak sehelai pun pakaian tanggal dari tubuhnya, namun gerakannya menanggalkan pakaian demikian sewajarnya sehingga sebentar saja Han Le jatuh dalam pengaruh Pek Hoa. Pendekar sakti yang selama hidupnya belum pernah berdekatan dengan wanita ini sekarang menjadi lemas seluruh tubuhnya, semangatnya seakan-akah terbang meninggalkan tubuhnya dan pertahanannya menjadi gempur karena caranya bersilat sudah kacau sekali! Demikianiah lihainya ilmu silat Bi-jin-khai-i yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat.

Kalau sekiranya Pek Hoa menghendaki, sekarang dengan lemahnya pertahanan Han Le, dengan mudah ia akan dapat merobohkan dan menewaskan pengemis sakti itu. Akan tetapi Pek Hoa berpikir lain! Wanita ini memang sudah mendengar tentang keadaan Han Le sebagai seorang laki-laki yang selamanya tidak pernah mau berdekatan dengan wanita, terkenal sebagai seorang laki-laki pembenci wanita, hidup seorang diri di Pulau Pek-le-tho dan menjadi sute dari Bu Pun Su. Ini saja sudah menarik hatinya, apalagi ketika ia mendapat kenyataan bahwa Han Le pada dasarnya memiliki wajah yang tampan dan gagah. Maka timbullah hati suka dan ia ingin menjadikan pria pembenci wanita ini sebagai kekasihnya. Tidak saja demikian, juga ia mempunyai niat untuk mempelajari ilmu silat yang lihai dari Han Le. Disamping semua ini, ia pun ingin menarik Han Le di pihaknya untuk membantunya menghancurkan musuh-musuhnya, kemudian setelah usahanya berhasil dan ia sudah merasa bosan, mudah baginya untuk melenyapkan Han Le dari muka bumi ini.

Pek Hoa memperhebat gerakan-gerakannya yang penuh gairah dan pengaruh ajaib. Han Le makin mabuk sehingga akhirnya dengan napas memburu pengemis sakti ini mengeluh,

“Pek Hoa Pouwsat... hentikanlah... aku tidak kuat lagi...”

Pek Hoa tersenyum lebar, gembira dan puas bukan main. Kalau ia mau, dengan sekali tusuk saja akan tembus dada Han Le. Dengan ilmu silatnya yang baru ini, ia akan dapat menjagoi dunia kang-ouw! Tentu saja tidak begitu besar pengaruhnya terhadap lawan wanita namun untuk menghadapi lawan wanita, ia cukup memiliki ilmu silat tinggi. Biar Bu Pun Su sekalipun ia tidak takut menghadapinya!

“Han-taihiap, tidak indahkah tarianku ini...?” tanya Pek Hoa dengan suara berlagu.

“Indah, indah sekali, Pek Hoa Pouwsat. Bukan main indahnya,” jawab Han Le sambil berusaha menggerakkan. ranting karena masih saja sepasang pedang itu menyambar dan mengancam, biarpun digerakkan dengan cara yang amat manis dan sedap dipandang.

“Sukakah kau melihat aku memainkannya?”

“Suka, Pek Hoa Pouwsat, aku suka sekali...”

“Han-taihiap,” suara Pek Hoa Pouwsat makin merdu merayu sambil ia memperhebat gerakan-gerakan tubuhnya secara tidak tahu malu. “Sukakah kau kepadaku...??”

Agak lama Han Le tak dapat menjawab, akan tetapi sepasang matanya tak pernah berkedip menelan semua gerakan tubuh lawan dan ia seperti terkena hikmat, terpesona oleh keindahan dan kecantikan yang telah mencengkeram seluruh semangat dan perasaannya. Kini ia sudah tidak menggerakkan rantingnya lagi, berdiri bagaikan patung dan tidak ingat lagi bahwa ia tengah menghadapi lawan, tengah bertempur.

“Aku suka sekali padamu, Pek Hoa...” akhirnya ia menjawab dengan suara perlahan, seperti bukan suaranya sendiri.

Terdengar suara ketawa Pek Hoa Pouwsat, suara ketawa yang terdengar nyaring dan merdu, penuh kegenitan, akan tetapi bagi yang sadar, suara ketawa ini mengandung sesuatu yang mengerikan. Namun bagi Han Le terdengar merdu menarik. Di lain saat Pek Hoa Pouwsat telah menyimpan sepasang pedangnya, melompat maju dan menggandeng lengan kanan Han Le dengan gaya yang manja dan genit, tersenyum-senyum dan melirik-lirik ke arah wajah pengemis sakti itu, membetotnya dan berkata,

“Kalau begitu, Han-taihiap, marilah kita pergi ke pulaumu!”

Han Le yang sudah berada dalam cengkeraman pengaruh jahat, sudah seperti orang mabuk atau orang bermimpi, hanya menurut saja ketika ia ditarik-tarik oleh Pek Hoa Pouwsat. Pek Hoa berpaling kepada Kam Kin yang memandang semua itu dengan mata melotot marah. Ia penuh dengan hati cemburu, akan tetapi apakah yang dapat ia lakukan? Ia tidak berdaya di depan sucinya atau kekasihnya yang memang lebih lihai daripadanya.

“Sute, kau pulanglah dulu, aku titip murid keponakanmu Im Giok, biar menanti kembaliku di rumahmu.” Kemudian dengan suara ketawa seperti siluman, Pek Hoa Pouwsat yang menggandeng lengan Han Le menarik bekas lawannya itu. Han Le tidak membantah dan keduanya berlari cepat sambil bergandengan!

***

“Tidak! Aku tidak mau ikut, jangan sentuh aku!” Dengan gerakan lincah Im Giok melompat dan mengelak menjauhi Giam-ong-to Kam Kin yang hendak menggandeng tangannya.

Kam Kin menyeringai dan memandang kepada Im Giok selaku seekor kucing memandang tikus. Tadinya ia marah dan jengkel sekali melihat sikap Pek Hoa yang pergi bersama Han Le. Laki-laki mana yang takkan menjadi gemas menyaksikan kekasihnya main gila dengan lelaki lain? Akan tetapi setelah ia memandang Im Giok, kegemasannya lenyap, terganti oleh kegembiraan. Biarpun Im Giok baru berusia sepuluh tahun lebih, namun gadis cilik ini sudah mempunyai kecantikan luar biasa. Ia hampir menyerupai Pek Hoa dan pantaslah kalau ia disebut Pek Hoa kecil atau seorang adik dari Pek Hoa Pouwsat. Dalam pandang mata Kam Kin, Im Giok merupakan seorang calon bidadari, atau seperti sebuah kuncup kembang yang tidak kalah menariknya oleh kecantikan Pek Hoa Pouwsat. Dan bocah mungil ini dititipkan kepadanya! Dengan girang ia lalu mendekati Im Giok dan hendak menggandeng. Akan tetapi siapa kira, bocah itu menolak dan menjauhinya.

“Im Giok, jangan banyak tingkah. Gurumu telah menyerahkan kau dalam rawatanku. Hayo ke sini dan ikut aku pulang!” kata Kam Kin sambil melangkah lebar menghampiri gadis cilik itu.

“Aku tidak mau! Kau pergilah sendiri, aku tidak mau ikut denganmu.” Im Giok membandel.

“Eh, eh, bocah bandel. Kalau kau tidak makin manis kalau membandel, tentu sudah kutempeleng kepalamu. Hayo ke sini, berani kau membantah susiokmu?” Kini Kam Kin melompat dan tangannya diulur untuk menangkap pergelangan tangan Im Giok.

“Tidak, aku tidak punyai susiok seperti engkau. Aku tidak mau ikut!” Im Giok mengelak, kemudian melihat Kam Kin berusaha menangkapnya, ia segera melarikan diri.

“Kurang ajar! Sekecil ini sudah kurani ajar dan keras kepala. Benar-benar calon kuda betina liar! Kuncup mawar berduri! Ke sini kau, Im Giok!” Kam Ki mengejar. Akan tetapi Im Glok mempercepat larinya. Dasar bocah ini memang lincah dan ringan tubuhnya, ditambah lagi oleh latihan gin-kang yang ia terima dari Pek Hoa Pouwsat. Sekarang, perasaan wanitanya memperingatkan bahwa ia menghadapi bahaya besar yang mengancam membuat ia ketakutan, maka larinya cepat seperti rusa muda.

“Im Giok, berhenti kau...!” Kam Kin mulai marah dan mengejar secepatnya. Betapapun juga, ia seorang laki-laki dewasa dan ilmu silatnya sudah tinggi maka tentu saja ia dapat mengejar dan menyusul Im Giok. Hanya kelincahan anak itu yang membuat ia mengkal sekali. Setiap kali ia telah mendekat dan hendak menangkap, anak itu tiba-tiba miringkan tubuh dan mengganti arah sehingga Kam Kin terpaksa harus membalikkan tubuh dan kembali telah tertinggal agak jauh.

Namun Im Giok maklum pula bahwa ia takkan dapat menghindarkan diri lebih lama. Kam Kin telah memiliki ilmu lari cepat yang tak dapat dilawannya. Ia berlari terus dan akhirnya Im Giok memasuki sebuah hutan. Di sini ia lebih leluasa mempermainkan Kam Kin karena hutan ini banyak pohonnya. Dengan cara melompat ke sana ke mari dari balik pohon ini ke pondok itu ia dapat menghindarkan diri.

“Manusia tak tahu malu!” makinya berkali-kali. “Mengapa kau tidak mau membiarkan aku pergi? Kau mau apakah? Cih, tak tahu malu. Namanya saja besar, Giam-ong-to, hemm, tak tahunya seorang laki-laki tiada guna, pengecut dan pengganggu anak kecil!”

Kam Kin makin marah. “Siluman cilik, kautunggu saja dan rasakan kalau kau sudah tertangkap olehku!” Dengan amat bernafsu ia menubruk lagi, akan tetapi kemball ia memeluk batang pohon karena Im Giok telah melompat ke tempat persembunyian lain dengan cekatan seperti seekor kera.

“Awas kau, setan cilik, kulumatkan dagingmu, kugerogoti tulangmu...!” Kam Kin memaki-maki gemas. Akan tetapi ia menjadi girang sekali ketika melihat bahwa Im Giok makin mendekati lapangan terbuka yang tidak ada pohonnya. Adapun Im Giok saking sibuknya dan gugupnya, tidak tahu bahwa di belakangnya adalah lapangan terbuka, tempat yang tidak ada pohon dan berarti ia tak akan dapat menyembunyikan diri seperti kalau berada di hutan yang lebat. Kam Kin memaki-maki, mengancam-ancam dan mengejar terus. Akhirnya, Im Giok memekik kaget ketika ia melompat dari pohon terakhir, ia tiba di padang rumput yang tiada berpohon.

“Ha, ha, ha, kupu-kupu cantik, kau hendak lari ke manakah? Lebih baik kau berlaku manis dan menurut saja pergi dengan susiokmu. Kalau kau menurut dan tidak banyak membantah, aku takkan bersikap kasar kepadamu, Im Giok yang jelita,” kata Kam Kin sambil tertawa lebar.

Im Giok melompat dan melarikan diri lagi. Saking gugupnya kakinya terjerat rumput dan ia roboh terguling. Di belakangnya ia mendengar suara Kam Kin tertawa bergelak. Im Giok dalam terguling itu, kedua tangannya menyambar batu dan kayu kering. Kemudian ia melompat berdiri, tangan kirinya digerakkan dan batu tadi melayang ke arah kepala Kam Kin yang hendak menubruknya.

“Eh, kau berani melawanku!” bentak Kam Kin yang mudah saja mengelak dari sambaran batu. Kemudian ia melangkah maju, tangan kanan digerakkan untuk menangkap.

“Jangan sentuh aku!” Im Giok berteriak keras dan ranting kering yang tadi diambilnya dari atas tanah ketika ia jatuh, cepat ditusukkan ke arah pusar susioknya.

Kam Kin terkejut, cepat mengelak. Biarpun yang menyerangnya hanya seorang gadis cilik yang berusia sepuluh tahun, akan tetapi serangan itu dilakukan menurut ilmu silat tinggi, dan biarpun masih kecil, tenaga Im Giok bukanlah tenaga biasa, melainkan tenaga yang sudah teriatih. Apalagi kalau dilihat bagian yang diserang pun bukan bagian tubuh yang kuat. Setelah mengelak Kam Kin lalu menubruk lagi. Namun sia-sia, Im Giok yang sudah berlatih selama empat tahun tidak membuang waktu sia-sia. Ia telah memiliki dasar ilmu silat tinggi dan telah memiliki gerakan yang otomatis dan lincah sekali. Tubrukan Kam Kin dapat ia hindarkan dengan lom patan ke kiri dan sebagai pembalasan, rantingnya kini meluncur cepat menusuk ke arah mata paman gurunya. Tusukan ke arah mata ini hanya pancingan belaka karena ujung ranting, itu sebelum lawan mengelak, telah meluncur, ke arah jalan darah di leher!

Inilah serangan hebat dan luar biasa bagi seorang anak kecil itu. “Kurang ajar!” Kam Kin membentak marah dan juga kaget karena kalau tangannya tidak cepat-cepat menyampok, hampir saja jalan darah di lehernya terkena totokan ujung ranting, dan hal ini bukan merupakan hal yang tidak berbahaya baginya. Saking marahnya, Kam Kin lalu mengeluarkan kepandaiannya, sepasang tangannya ditekuk merupakan kuku harimau dan ia mengeluarkan ilmu silat Hauw-jiauw-kang. Beberapa kali saja ia bergerak, ranting di tangan Im Giok telah kena disambar dan dibetot terlepas dari pegangan Im Giok. Kemudian ia menubruk lagi, Im Giok mencoba untuk mengelak.

“Breettt!” pakaian Im Giok bagian pundak kiri robek hingga nampak kulit pundak yang putih bersih dan halus. Melihat ini, Kam Kin makin menggila dan sambil tertawa-tawa ia menubruk lagi.

Im Giok menjadi bingung. Hanya dengan menjatuhkan diri dan bergulingan ia dapat menghindarkan tubrukan Kam Kin. Kemudian ia melompat lagi dan berlari secepatnya. Diam-diam ia mengeluh karena sekarang habislah dayanya untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi ia pun mengambil keputusan nekat untuk melawan mati-matian, kalau perlu ia akan melawan dengan dua pasang kaki tangan dan juga giginya.

Setelah mendengar derap kaki pengejarnya sudah dekat sekali di belakangnya sampai-sampai ia mendengar dengus napas Kam Kin, Im Giok memasang kuda-kuda dan membalikkan tubuh, langsung menyerang dengan menonjokkan kedua tangannya ke depan.

“Ha, ha, ha, kau kuda betina liar...” Kam Kin tertawa sambil menggerakkan tangan kiri. Di lain saat, tangan kirinya itu telah memegang erat-erat sepasang pergelangan tangan Im Giok, membuat gadis cilik itu tak dapat berkutik.

Namun Im Giok sudah nekat.

“Lepaskan tanganku!” bentaknya dan kakinya menendang ke arah bawah pusar. Biarpun kakinya kecil, namun sekiranya tendangan ini mengenai sasaran, biarpun Kam Kin berkepandaian tinggi, kiranya Kam Kin akan roboh binasa atau setidaknya pingsan!

Kam Kin cepat menangkap kaki kecil ini dengan tangan kanannya dan di lain saat tubuh Im Giok sudah diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala sambil tertawa terbahak-bahak.

“Ha, ha, ha, burung cilik, coba kulihat kau mau berbuat apa lagi sekarang, ha, ha, ha!”

Tiba-tiba Kam Kin merasa tubuh Im Giok meronta keras atau seperti juga direnggut orang dari tangannya. Ia tidak tahu betul apa yang telah terjadi, akan tetapi tahu-tahu kedua tangannya sudah kosong dan Im Giok sudah lenyap. Ketika ia membalikkan tubuh, ia melihat bocah itu telah berdiri di atas tanah dan di sebelahnya berdiri seorang kakek yang bermata bintang! Sepasang mata kakek ini demikian tajam berpengaruh sehingga Kam Kin merasa gentar juga, maklum bahwa ia menghadapi seorang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, karena ia tidak mengenal siapa adanya kakek ini, Kam Kin memberanikan hatinya dan membentak keras,

“Anjing tua, siapakah kau berani bermain gila di depan Giam-ong-to Kam Kin?”

“Kakek, jangan takut. Nama Giam-ong-to hanya untuk menakut-nakuti belaka, sebetulnya dia pengecut besar!” Im Giok berkata dan nona cilik ini kembali dengan nekat maju menyerang Kam Kin dengan pukulan ke arah lambung.

Dengan mudah Kam Kin menangkis, kini karena ia merasa gemas, tangkisannya keras membuat tubuh Im Giok terhuyung lalu roboh tertelungkup di atas rumput. Namun gadis cilik itu tidak menjadi kapok atau takut, bahkan dengan marah ia bangkit kembali dan menyerang susioknya.

“Bocah edan, apakah kau ingin aku marah dan memukul mampus padamu?” bentak Kam Kin dan kali ini ia kembali dapat menangkap tangan Im Giok.

“Boleh pukul mampus, siapa takut?” bentak Im Giok yang meronta-ronta.

“Lepaskan dia!” tiba-tiba kakek itu membentak keras dan aneh sekali. Biarpun Kam Kin tidak melihat kakek itu bergerak, namun ia merasa tangannya. yang memegang lengan Im Giok menjadi lemas dan gadis cilik itu dapat merenggut diri dan terlepas.

Kam Kin memandang kepada kakek itu dengan mata merah.

“Bangsat tua, kau berani mencampuri urusahku?” Sepasang tangannya bergerak dan tahu-tahu golok besarnya telah berada di tangan dan di lain saat ia telah mengirim serangan hebat ke arah kakek itu. Golok itu dibacokkan ke arah kepala untuk kemudian disusul dengan babatan ke leher. Memang permainan golok dari Kam Kin amat ganas dan kuat, dan tidak terlalu dilebihkan kalau ia mempunyai julukan Golok Maut.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba kakek itu dengan tenang dan cepat menggerakkan tangan kiri, lalu menyentil golok itu dengan jari tangannya. Terdehgar suara “Cring” yang keras dan golok itu menjadi somplak! Sentilan kedua menyusul dan kini golok itu terlempar jauh. Kam Kin tidak kuasa menahan karena seakan-akan golok itu direnggut oleh tangan yang bertenaga raksasa.

“Ini untuk kekurangajaranmu kepadaku, dan ini untuk kekejamanmu terhadap seorang gadis cilik!” kakek itu berkata sambil menggerakkan jari tangannya menyentil.

Kam Kin menjerit kesakitan sambil memegangi kedua telinganya yang daunnya sebelah bawah hancur terkena sentilan jari tangan kakek yang lihai itu. Biarpun luka itu tidak berbahaya sama sekali, akan tetapi sakitnya cukup membuat Kam Kin mengaduh-aduh. Darah mengalir di sepanjang lehernya kanan kiri.

“Setan tua, harap suka memperkenalkan nama. Kelak Giam-ong-to Kam Kin pasti akan membalas penghinaan ini!” Kata Kam Kin sambil menggigit bibir menahan rasa nyeri.

Kakek itu tersenyum duka, mengeleng-geleng kepalanya lalu berkata perlahan, “Untuk mencapai tingkat kosong, kau harus belajar puluhan tahun lagi, dan kalau kau sudah mencapai tingkat itu, aku pun sudah mati. Akan tetapi kalau kau menghendaki, biarlah kau tahu bahwa aku kakek tua bangka ini tidak punya nama juga tidak punya kepandaian. Nah, kaupergilah!”

Tiba-tiba wajah Kam Kin menjadi pucat sekali. Ia melangkah mundur tiga tindak seakan-akan kata-kata itu merupakan pukulan yang menyambar mukanya.

“Bu Pun Su...!” katanya setengah berbisik, kemudian ia lari lintang-pukang tanpa menghiraukan goloknya yang masih menggeletak di atas tanah.

Tiba-tiba Bu Pun Su mengeluarkan suara terkejut dan terheran ketika anak perempuan yang baru saja ditolongnya itu menyerangnya kalang-kabut. Im Giok menyerang dengan nekat, sama nekatnya ketika ia tadi menyerang Kam Kin.

“Eh, eh, bukan laku seorang gagah menyerang orang tanpa memberitahukan sebab-sebabnya. Bocah galak, mengapa kau menyerang aku?” tanya Bu Pun Su tanpa mempedulikan tangan Im Giok yang memukul tubuhnya.

“Karena kau bernama Bu Pun Su dan menurut guruku, Bu Pun Su adalah seorang paling jahat di dunia ini dan harus dibasmi,” jawab Im Giok sambil melompat mundur karena pukulannya yang mengenai tubuh kakek itu seakan-akan mengenai tumpukan kain belaka, membuat terheran dan gentar.

Bu Pun Su mengerutkan kening lalu tertawa. “Gurumu memang betul, siapa sih nama gurumu yang mulia.”

“Guruku adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat,” jawab Im Giok bangga. Ia memang selalu merasa bangga mengaku Pek Hoa sebagai gurunya, bukan hanya bangga karena ilmu kepandaian Pek Hoa yang tinggi, terutama sekali bangga karena Pek Hoa dianggapnya wanita paling cantik di dunia ini dan amat mengagumkan hatinya.

Akan tetapi, kalau biasanya orang-orang lelaki mendengar nama Pek Hoa Pouwsat nampak kagum dan gembira, tidaklah demikian dengan kakek ini. Sepasang matanya yang seperti bintang itu bercahaya dan memandang kepada Im Giok dengan tajam berapi seakan hendak membakarnya.

“Dan kau she Kiang?”

“Betul, aku she Kiang bernama Im Giok,” kata gadis cilik itu kini tiba gilirannya terheran.

“Sungguh tak baik! Kalau kau dipelihara dan diambil murid seekor serigala kiranya takkan begitu buruk. Dan kau bahkan girang dan bangga menjadi muridnya. Benar-benar tanda tak baik bagi keluarga Kiang. Eh, bocah tolol, tidak tahukah kau bahwa kau telah diculik oleh siluman betina yang ganas dan jahat?”

“Enci Pek Hoa bukan siluman betina dan aku suka menjadi muridnya,” Im Giok membantah, biarpun di dalam hatinya ia sudah mulai tak suka kepada gurunya itu semenjak mereka turun gunung dan ia melihat perbuatan-perbuatan yang ganjil dan memalukan dari gurunya.

“Bodoh, tolol! Tak tahukah kau bahwa penculikan terhadapmu ini mengakibatkan matinya ibumu dan gilanya ayahmu?” Bu Pun Su membentak.

Wajah Im Giok seketika menjadi pucat. Sepasang mata yang lebar dan indah bentuknya itu terpentang menatap wajah Bu Pun Su tanpa berkedip, kemudian perlahan-lahan mata itu menjadi basah dan air mata mulai menitik turun.

“Ibu... meninggal?” Anak ini sudah lupa lagi bagaimana bentuk wajah ayahnya yang telah pergi meninggalkan ibunya semenjak ia masih kecil sekali. Selama ia pergi ikut Pek Hoa, yang terbayang di depan matanya hanya wajah ibunya dan ia memang merasa amat rindu kepada ibunya. Kini mendengar bahwa ibunya telah meninggal, tentu saja hatinya seperti diiris-iris dan hanya kemauan dan perasaan yang keras saja yang dapat menahannya sehingga ia tidak menjerit-jerit. Sebaliknya, ia hanya menggigit bibirnya menahan pekik tangis sampai-sampai bibirnya terluka dan berdarah!

Pandangan mata Bu Pun Su agak berubah, kini, ia merasa kagum melihat bocah itu. Tadinya ia mengira bahwa Im Giok tentu akan menangis menjerit-jerit mendengar tentang ibunya meninggal dan ayahnya gila. Perempuan-perempuan cantik biasanya mengandalkan tangisnya. Akan tetapi, sungguh di luar dugaan bahwa gadis cilik ini tidak menangis, bahkan memperlihatkan kekerasan hatinya dengan menggigit bibir sampai berdarah. Baru berusia sepuluh tahun sudah memiliki kekerasan hati seperti itu, benar-benar seorang anak yang berbakat untuk menjadi orang gagah, pikir Bu Pun Su senang. Kakek ini mendengar tentang nasib Kiang Liat, merasa kasihan sekali. Maka, kini melihat puteri Kiang Liat “ada isinya”, ia ikut gembira.

“Kau tidak ingin bertemu dengan ayahmu?”

Kesedihan membuat Im Giok tak dapat berkata-kata sampai beberapa lama. Kemudian ia mengeraskan hati menindas perasaannya, dan bertanya. “Di mana ayah? Mengapa ia menjadi gila dan mengapa ia dahulu meninggalkan ibu?”

Bu Pun Su mengerti bahwa anak ini sudah terkena pengaruh Pek Hoa, dapat dilihat tanda-tandanya dari cara anak ini berpakaian, bersolek dan bergaya ketika bicara, maka ia sengaja hendak menjauhkan hati anak ini dari Pek Hoa.

“Ibumu meninggal adalah karena Pek Hoa telah menculikmu. Di depan ibumu, Pek Hoa mengaku sebagai dewi dan dipercaya penuh oleh ibumu. Tidak tahunya, di balik semua itu, Pek Hoa hendak membalas dendam kepada ayahmu yang membencinya. Sengaja Pek Hoa membawamu untuk membikin duka ibumu. Betul saja, ibumu menjadi sedih, bingung dan akhirnya jatuh sakit lalu meninggal. Ayahmu menjadi gila karena melihat ibumu meninggal.”

Im Giok adalah seorang yang masih kecil, usianya baru sepuluh tahun lebih. Tentu saja ia mudah dibakar hatinya. Mendengar kata-kata Bu Pun Su mukanya yang tadi pucat kini menjadi merah sekali.

“Kalau begitu, Suci Pek Hoa yang membunuh ibuku dan merusak hidup ayahku!”

Diam-diam Bu Pun Su menyesal karena ia telah melakukan suatu perbuatan yang buruk, yakni menanam kebencian dalam hati seorang anak-anak. Akan tetapi ini demi kebaikannya sendiri, pikirnya. Kalau anak ini tidak membenci Pek Hoa, banyak bahayanya kelak ia akan meniru sepak terjang Pek Hoa yang dikaguminya.

“Kau boleh anggap begitu. Akan tetapi ibumu sudah meninggal, tak perlu diributkan lagi. Yang penting adalah ayahmu, karena kalau tidak cepat-cepat kau hibur hatinya, kiraku tak lama lagi ayahmu akan menyusul ibumu.”

Bercucuran air mata dari sepasang mata gadis cilik itu ketika mendengar kata-kata ini. Akan tetapi tetap saja ia tidak memperdengarkan isak tangis.

“Kakek yang baik, harap kau suka membawaku kepada Ayah...”

Kata-kata terhenti dan di lain saat Im Giok telah “terbang”. Pergelangan tangannya dipegang oleh Bu Pun Su dan ketika kakek ini berlari, Im Giok merasa seakan-akan ia telah terbang. Kedua kakinya tidak menginjak tanah, akan tetapi tubuhnya melayang sedemikian cepatnya sehingga ia terpaksa harus menutup kedua matanya. Hanya telinganya saja yang mendengar suara angin dan mukanya terasa dingin tertiup angin. Diam-diam bocah ini merasa kagum dan juga terkejut sekali. Ia tadi memang telah menyaksikan betapa lihainya kakek ini yang dengan mudah mengalahkan Kam Kin. Akan tetapi karena memang ia memandang rendah kepada Kam Kin, kemenangan Bu Pun Su tadi tidak dianggap istimewa. Gurunya sendiri pasti dengan mudah mengalahkan Kam Kin. Akan tetapi berlari cepat seperti ini, benar-benar luar biasa sekali dan gurunya sendiri kiranya tak mungkin dapat menirunya.

***

Di luar kota tembok Liong-san-mui terdapat sebuah kelenteng tua yang sudah lama tak pernah mengebulkan asap hio, tanda bahwa kelenteng itu tidak dipakai orang lagi. Sudah bertahun-tahun kelenteng itu tinggal kosong dan makin lama makin rusak tidak terpelihara. Penghuninya hanya laba-laba yang membuat sarang di setiap sudut, membuat kelenteng itu nampak menyeramkan sekali. Tidak ada orang berani masuk ke dalam, bahkan para jembel yang tidak mempunyai tempat tinggal dan mempergunakan ruang depan kelenteng itu untuk tempat tidur dan berteduh, tidak berani sembarangan masuk ke dalam kelenteng.

Akan tetapi akhir-akhir ini, kurang lebih seminggu sudah, terjadi perubahan besar. Tidak ada lagi jembel yang berani tinggal di situ dan keadaan kelenteng itu tidak kosong lagi. Seorang laki-laki bertubuh gagah dan tampan, berpakaian sebagai seorang pendekar, menjadikan itu tempat tinggalnya. Orang ini gerak-geriknya aneh sekali, wajahnya selalu nampak muram dan berduka, akan tetapi tidak jarang orang mendengar gema suara ketawanya memecah kesunyian tengah malam. Semenjak ia mengusiri semua jembel dari ruang depan kelenteng, kemudian memukul kocar-kacir belasan orang pengemis yang datang hendak merampas kembali tempat berteduh, tidak ada lagi orang berani datang mengganggunya.

“Dia pendekar aneh,” kata seorang yang mengerti ilmu silat, “gerakan-gerakannya menunjukkan bahwa dia seorang ahli silat tinggi. Lihat saja cara ia menyarungkan pedangnya, tentu pedang pusaka.”

“Dia berotak miring,” berbisik orang ke dua, “Pernah di tengah malam aku mendengar dia tertawa bergelak seperti iblis, dan pernah aku mendengar ia menangis tersedu-sedu dan akhirnya memaki-maki.”

“Dia orang aneh, benar-benar pendekar aneh,” demikian akhirnya orang mengambil kesimpulan. Tadinya penduduk Liong-san-mui mengeluarkan sebutan “pendekar aneh” ini dengan nada mengejek dan menertawakan, akan tetapi tiga hari kemudian semenjak orang itu berada di situ, sebutan ini berubah menjadi sebutan yang disertai rasa kagum, segan, dan menghormat. Tak seorang pun berani lagi menganggapnya “berotak miring” betapapun aneh kelakuan orang ini. Hal ini terjadi setelah pendekar aneh yang dianggap gila ini pada suatu malam, seorang diri dan bertangan kosong, telah merobohkan serombongan perampok yang mengganggu kota Liong-san-mui, dan menyerahkan rombongan perampok terdiri dari tujuh belas orang ini kepada yang berwajib!

Tikoan, pembesar yang menerima tawanan perampok itu, menghaturkan terima kasih dan menanyakan nama orang gagah itu. Akan tetapi, benar-benar orang aneh. Dia tidak mengaku bahkan nampak marah-marah ketika berkata,

“Kewajiban Taijin hanya menerima dan menghukum orang-orang jahat itu, habis perkara. Perlu apa tanya-tanya namaku? Aku tidak minta hadiah!” Maka pergilah ia meninggalkan Tikoan yang menjadi bengong akan tetapi tidak berani berbuat apa-apa terhadap orang-orang yang bersikap aneh dan kurang ajar itu. Karena sikap yang kurang ajar ini, maka selanjutnya pada pembesar setempat tidak mau dan sungkan menghubunginya. Akan tetapi betapapun juga, penduduk amat berterima kasih dan menganggapnya sebagai tuan penolong atau pendekar budiman.

Siapakah pendekar aneh itu? Untuk mengenalnya, mari kita melihat ke dalam kelenteng dan mengikuti gerak-geriknya.

Di ruangan yang paling dalam di kelenteng itu, ruangan yang gelap akan tetapi bersih dari sarang laba-laba karena ruangan ini dijadikan kamar tidur dan telah dibersihkan, nampak seorang laki-laki duduk bersila di atas lantai yang telah disapu bersih. Seperti seorang bersamadhi, laki-laki ini duduk bersila menghadapi meja sembahyang yang sudah tua dan sudah amat lama tak pernah dipakai orang. Kalau orang melihatnya dari belakang, tentu mengira bahwa ia sedang bersamadhi, tak bergerak seperti patung. Akan tetapi kalau orang melihat dari depan dan berada dekat dengannya, akan kelihatan jelas bahwa orang biarpun tubuhnya tak bergerak, akan tetapi bibirnya bergerak-gerak dan terdengar ia bercakap-cakap dengan suara perlahan. Dari sepasang mata yang dipejamkan itu bercucuran air mata dan kalau orang mendengar ia seperti bercakap-cakap tanya jawab dengan seorang yang tidak kelihatan, orang tentu akan menganggap ia gila.

“Bi Li, aku memang berdosa besar padamu, isteriku... Aku mengaku sekarang akulah sebenarnya yang membunuhmu, aku yang memaksamu meninggal dunia karena menyiksa hatimu. Aku orang berdosa besar, Bi Li. Kauampunkan suamimu yang hina dan bodoh ini, isteriku…”

Mendengar ucapan dalam bisikan ini, tahulah kita bahwa orang itu bukan lain adalah Jeng-jiu-san Kiang Liat. Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah menerima pukulan hebat dari penuturan Ceng Si bekas pelayan isterinya bahwa sesungguhnya isterinya itu tidak berdosa apa-apa, dan bahwa isterinya meninggal dunia karena menyesal dan berduka ditinggal suaminya, Kiang Liat seperti orang gila. Hatinya penuh penyesalan dan ia merantau ke sana ke mari. Hidupnya hanya bertujuan satu, yakni mencari puterinya yang diculik oleh Pek Hoa Pouwsat. Kalau kiranya Bi Li tidak meninggalkan anak, tentu Kiang Liat sudah membunuh diri untuk menyusul isterinya yang tercinta. Ia tidak mempedulikan lagi keadaan tubuhnya yang menderita pukulan batin dan membuat ia kadang-kadang muntah darah. Akan tetapi ia mulai mengumpulkan uang, dan sesuai dengan wataknya, ia memberantas kejahatan. Tiap kali ia membasmi penjahat, selalu ia merampas milik penjahat itu dan sebentar saja ia telah dapat mengumpulkan harta kekayaan yang besar juga, yang disembunyikan dalam sebuah gua. Selama empat tahun lebih ia merantau, mencari-cari Pek Hoa akan tetapi sia-sia belaka, tak seorang pun di dunia kang-ouw tahu ke mana siluman itu menghilang.

Kiang Liat mengumpulkan uang bukan sekali-kali karena ia ingin hidup bersenang-senang, akan tetapi ia sengaja mengumpulkan harta untuk kelak dipakai menyenangkan hidup Im Giok anaknya.

Bahkan ia mulai pula mengganti pakaiannya yang kotor dengan pakaian bersih dan indah, karena ia ingin kelihatan gagah apabila ia berhasil bertemu dengan puterinya. Setiap malam ia teringat kepada isterinya itu. Keadaan pendekar ini benar-benar amat memilukan hati. Hukuman yang dideritanya akibat kecerobohannya terhadap isterinya, benar-benar amat berat.

Setelah mengeluarkan kata-kata itu sambil memandang ke atas meja, Kiang Liat diam beberapa lama, sikapnya seperti mendengarkan orang bicara kepadanya. Kemudian ia mengangguk-angguk dan berkata,

“Tentu saja, Bi Li. Aku pasti akan mencari Im Giok sampai dapat. Aku akan mengadu nyawa dengan siluman Pek Hoa dan merampas kembali anak kita. Sudah empat tahun aku mencari jejaknya dengan sia-sia, akan tetapi aku tidak putus asa. Sebelum putus nyawaku, aku takkan berhenti berusaha mencari Im Giok.”

Kemudian Kian Liat menarik napas panjang, menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya dan berkata lagi, “Kau tidak percaya kepadaku, Bi Li? Sudah sepantasnya kalau kau tidak mempercaya seorang suami goblok seperti aku, seorang suami buta yang menuduh isterinya yang setia berlaku tidak patut. Memang kau berhak tidak percaya kepadaku, Bi Li isteriku. Akan tetapi, biarlah aku Kiang Liat bersumpah, aku akan mencari Im Giok sampai saat penghabisan. Biarlah rambutku menjadi saksi!” Setelah berkata demikian, Kiang Liat mencabut pedangnya dan berlutut. Dengan tangan kiri dijambaknya rambutnya yang hitam panjang, dan tangan kanan yang memegang pedang bergerak membabat rambutnya sendiri! Putuslah rambut di kepalanya dan kepala itu kini hanya tinggal ditumbuhi rambut pendek saja.

“Ayaaah....,!” Tiba-tiba bayangan merah melayang turun dan ternyata yang melompat turun adalah seorang gadis cilik berpakaian merah sedangkan di belakangnya turun seorang kakek.

Kiang Liat memandang dengan mata bengong, tidak mengenal siapa adanya anak yang menyebut ayah kepadanya itu. Kemudian ketika ia melirik ke arah kakek yang telah berdiri di belakang gadis cilik itu ia terkejut sekali, melempar pedangnya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. Kiang Liat boleh jadi agak gendeng dan miring otaknya apabila ia tenggelam dalam lamunan sendiri dan mengingat akan isterinya, akan tetapi di lain saat ia merupakan seorang manusia biasa yang sadar,

“Teecu tidak tahu akan kedatangan Suhu Bu Pun Su, mohon ampun jika teecu tidak menyambutnya,” katanya penuh hormat dan segan. Memang kalau ada orang di dunia ini yang disegani dan ditakuti oleh Kiang Liat, orang itu tak lain hanya Bu Pun Su dan mungkin juga Han Le.

Bu Pun Su memandang kepada Kiang Liat, sinar matanya penuh belas kasihan.

“Kiang Liat, jangan terlalu jauh dilarutkan oleh lamunan dan kedukaan. Inilah Kiang Im Giok puterimu, sengaja kubawa ke sini agar kau dapat hidup kembali bersama puterimu. Pergunakanlah sisa hidupmu sebaiknya untuk mendidik anakmu ini, Kiang Liat.”

Mendengar ini, dengan muka pucat Kiang Liat menengok ke arah Im Giok. Ayah dan anak berpandangan, dua pasang mata perlahan-lahan mengeluarkan air mata, dua pasang bibir bergerak-gerak dan bergemetar tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata. Kiang Liat mengulurkan dua lengan yang tangannya menggigil, dan Im Giok perlahan melangkah maju.

“Im Giok... kau... anakku...?”

“Ayaah...!”

Di lain saat ayah dan anak itu sudah berpelukan dan bertangisan. Bu Pun Su terbatuk-batuk untuk menenangkan hatinya sendiri yang ikut merasa terharu dan pilu, kemudian setelah membiarkan mereka melepaskan perasaan hati untuk sementara, lalu berkata,

“Sudahlah, tak baik menurutkan perasaan, mendatangkan kelemahan saja. Kiang Liat, anakmu ini berbakat baik dalam ilmu silat, biar aku tinggalkan dua macam ilmu silat untuk kelak kauturukan kepadanya. Akan tetapi kauhati-hatilah, wataknya keras dan aneh, perlu dikendalikan dengan kuat!”

Kiang Liat girang sekali mendengar ini.

“Im Giok, anakku, lekas kau menghaturkan terima kasih kepada Susiok-couw-mu (Paman Kakek Guru).” Kiang Liat menarik tangan Im Giok dan keduanya berlutut di depan kakek sakti itu.

Dengan amat tekun, Kiang Liat mempelajari dua ilmu silat yang diturunkan oleh Bu Pun Su untuk Im Giok. Pertama-tama Bu Pun Su minta supaya Im Giok bersilat menurut apa yang ia pelajari dari Pek Hoa Pouwsat. Bu Pun Su adalah seorang sakti yang memiliki kepandaian aneh dan luar biasa. Sekali saja melihat, ilmu silat apapun juga dapat ia tiru dengan gerakan yang jauh lebih sempurna daripada aselinya! Demikian pula dengan ilmu silat yang dimainkan oleh Im Giok, sekali melihat kakek ini dapat menurunkan ilmu silat yang sama, akan tetapi yang sama sekali bebas dari kelemahan dan kekurangan. Pendeknya, Bu Pun Su memperbaiki dan menyempurnakan ilmu silat yang seperti tarian, yang dipelajari oleh Im Giok dari Pek Hok Pouwsat. Adapun ilmu silat ke dua yang ia turunkan kepada Kiang Liat untuk Im Giok adalah ilmu silat pedang yang disesuaikan pula dengan gerakan dan bakat yang sudah menjadi dasar dari Im Giok. Selain dua macam ilmu silat yang khusus untuk Im Giok ini, juga kepada Kiang Liat kakek ini menurunkan ilmu berlatih lwee-kang dan gin-kang sehingga Kiang Liat merasa bersukur sekali. Sampai dua pekan Bu Pun Su tinggal di kelenteng kuno itu bersama Kiang Liat dan Im Giok dan siang malam mereka tekun menerima pelajaran baru dari kakek sakti itu.

Setelah selesai dan hendak meninggalkan mereka, Bu Pun Su berkata dengan suara sungguh-sungguh.

“Kiang Liat, dan kau juga Im Giok, dengarkan baik-baik. Setelah kalian menerima pelajaran dariku, maka selanjutnya kalian harus menjaga diri baik-baik. Sekali saja aku mendengar kalian menggunakan kepandaian yang kalian pelajari dariku untuk melakukan perbuatan menyeleweng dan sewenang-wenang, aku sendiri akan datang memberi hukuman berat.”

Setelah Bu Pun Su pergi, Kiang Liat memeluk puterinya dan berkata dengan hati gembira.

“Anakku, mari kita pulang ke Sian-koan dan mulai hidup baru. Akan kusediakan rumah gedung untukmu, pakaian-pakaian indah dan jangan kau khawatir, anakku. Aku akan berusaha supaya kau kelak menjadi seorang dara perkasa yang jarang tandingannya, seorang yang hidup penuh kebahagiaan tidak kekurangan sesuatu!”

Im Giok sudah mendengar sumpah ayahnya dari atas genteng, maka ia tidak perlu mendengar janji-janji yang lain. Ia sudah merasa amat kasihan dan terharu melihat nasib ayahnya, dan ia merasa amat bangga karena ternyata ayahnya adalah seorang laki-laki gagah yang patut dibanggakan.

Demikianlah, ayah dan anak itu pulang ke Sian-koan. Dengan uang yang ia simpan, Kiang Liat membangun sebuah gedung baru dengan taman bunga yang luas dan indah, perabot-perabot rumah serba baru, pendeknya ia berusaha untuk membikin senang hati puteri tunggalnya. Im Giok baru berusia hampir sebelas tahun, maka menerima budi kecintaan ayahnya yang berlimpah-limpah ini, mau tidak mau timbul sifat manja dalam hatinya. Memang beginilah, tidak hanya Kiang Liat, banyak orang tua-tua di dunia ini yang keliru menyatakan sayangnya kepada anak sehingga bukan anak menjadi baik sebagaimana yang diharapkan, sebaliknya anak menjadi manja. Untungnya, Im Giok memang sudah mempunyai dasar watak gagah dan baik sehingga sikap ayahnya itu hanya mendatangkan sebuah cacat lagi, yaitu manja dan ingin dituruti segala kehendaknya. Di samping ini lain sifat yang ia warisi dari Pek Hoa Pouwsat adalah sifat pesolek, suka berhias dan berpakaian serba indah dan serba merah, tidak lupa untuk menambah merah pada bibirnya, menambah hitam pada alisnya sehingga setiap saat gadis ini kelihatan seperti seorang bidadari baru turun dari kahyangan!

Akan tetapi harus diakui bahwa Im Giok benar-benar baik sekali bakatnya dalam ilmu silat. Ditambah lagi oleh semangat Kiang Liat yang amat besar. Pendekar ini benar-benar mempunyai cita-cita untuk membuat puterinya menjadi seorang gagah, maka ia amat tekun dan hati-hati memimpin puterinya dalam ilmu silat, maka dapat dibayangkan betapa pesat kemajuan yang diperoleh Im Giok.

Akan tetapi, kadang-kadang Im Giok merasa kesepian. Hidup di dekat Kiang Liat jauh bedanya dengan ketika ia masih bersama dengan Pek Hoa. Betapapun besar sayangnya Kiang Liat kepadanya, akan tetapi ayahnya itu seorang pria, dan Im Giok membutuhkan pergaulan dengan sesama kelamin. Selain ini, Im Giok yang melihat ayahnya masih belum tua dan begitu gagah, diam-diam juga prihatin dan berduka kalau teringat akan ibunya. Banyak buku yang ia baca karena ayahnya menyediakan untuknya dan mengajarnya pula, memberi pelajaran kepada Im Giok bahwa seorang seperti ayahnya itu sudah sepatutnya kalau menikah lagi dengan seorang gadis cantik pengganti ibunya yang telah meninggal.

Sifat Im Giok yang tidak pemalu dan periang itu membuat ia sebentar saja mempunyai banyak kawan di kota Sian-koan. Tidak jarang gadis ini keluar rumah dan mengunjungi tetangga dan biarpun hal ini termasuk kebiasaan yang janggal, namun ayahnya tidak melarangnya. Kiang Liat cukup maklum bahwa puterinya telah memiliki kepandaian yang cukup untuk dipakai menjaga diri, dan selain ini, siapakah yang berani mengganggu puteri Jeng-jiu-sian Kiang Liat?

Setahun kemudian, pada suatu sore, Im Giok pulang dari tetangga bersama seorang gadis yang cantik. Gadis ini pipinya kemerahan, sepasang matanya yang jeli dan kocak kelihatan agak berduka. Namun harus diakui bahwa gadis memiliki sepasang mata yang indah dan bening, seperti sepasang kemala. Usianya kurang lebih enam belas tahun dan tubuhnya sehat dan nampaknya biasa bekerja berat.

Kiang Liat bangkit dari kursinya dan memandang dengan mata terbelalak heran. Dengan malu-malu gadis remaja itu menjura sebagai penghormatan kepada Kiang Liat.

“Im Giok, siapakah nona ini dan mengapa kau membawa dia ke sini?” tanya Kiang Liat dengan nada menegur dalam suaranya.

“Ayah, jangan marah dulu,” kata Im Giok dengan sikap manja, “dia ini adalah sahabat baikku, namanya Kim Lian, Song Kim Lian, rumahnya di sebelah barat itu. Enci Kim Lian, kau duduk dulu di sini, ya! Aku mau bicara dengan Ayah,” Im Giok lalu menghampiri ayahnya, memegang tangan ayahnya itu dan menariknya ke ruangan sebelah dalam.

Dengan kening berkerut Kiang Liat mengikuti puterinya, hatinya tidak enak.

“Kau mau apakah, Im Giok?” tanyanya setelah mereka berada di ruang dalam.

“Ayah, bagaimana ayah lihat Enci Kim Lian itu? Cantik dan matanya seperti mata burung Hong, bukan?”

Kerut di kening Kiang Liat makin mendalam. “Kalau dia cantik dan bermata bagus, habis mengapa?”

“Ayah, aku selalu merasa kesunyian.”

“Kan ada Ayah, ada banyak pelayan.”

“Ayah laki-laki dan para pelayan... ah, mereka selalu bermuka-muka, aku tidak suka. Ayah juga... Ayah juga kesepian, bukan?”

Kiang Liat memegang pundak Im Giok, memandang tajam dan berkata,

“Im Giok, pikiran ganjil apakah yang terkandung dalam kepalamu? Hayo katakan terus terang, jangan berputar-putar.”

Im Giok menarik napas panjang, sukar agaknya untuk bicara. Akhirnya ia memberanikan hatinya, memegang tangan ayahnya dengan sikap manja dan berkata,

“Jangan marah, ya Ayah? Aku bermaksud baik. Sahabatku Kim Lian ini adalah seorang sahabat yang baik, lagi pula dia sudah yatim piatu, kalau saja... kalau saja dia dapat tinggal di sini, aku mempunyai kawan, alangkah baiknya.”

“Menjadi pelayan?” Kiang Liat menjelaskan.

Im Giok cemberut. “Dia sahabatku, bagaimana harus menjadi pelayan? Biarkan saia dia tinggal di sini, serumah dengan kita, Ayah.”

Kembali kening Kiang Liat berkerut. “Ah, Im Giok. Ada-ada saja kau ini. Tak tahukah kau bahwa seorang gadis dewasa seperti dia itu tidak patut sekali kalau tinggal di rumah orang lain, apalagi di rumah seorang duda?”

“Karena itu, alangkah baiknya kalau Ayah... kawin saja dia!” kata Im Giok cepat.

Tangan ayahnya yang tadinya memegang pundak tiba-tiba terlepas dan Kiang Liat terduduk di atas kursi, wajahnya pucat dan matanya melotot memandang kepada Im Giok. Gadis cilik ini kaget sekali dan agak ketakutan, mundur dua langkah.

“Im Giok...“ akhirnya terdengar suara Kiang Liat, lambat dan perlahan, dengan gigi dirapatkan menahan nafsu marah. “Kalau bukan kau yang mengajukan usul macam ini, tentu kupukul mampus sekarang juga! Apa kau sudah gila? Kalau tidak untuk kau aku sudah menyusul ibumu. Untuk apa hidupku di dunia ini melainkan untuk kau? Bagaimana kau bisa menyuruh aku menikah dengan perempuan lain dan mengkhianati ibumu?”

Im Giok menangis dan menubruk ayahnya. Ia berlutut dan menaruh kepala di atas pangkuan ayahnya.

“Ampunkan aku, Ayah. Aku tidak sengaja menyakiti hati Ayah. Aku hanya ingin punya kawan, aku... aku kehilangan Enci Pek Hoa. Ayah...”

Melihat keadaan anaknya, luluh hati Kiang Liat, lenyap marahnya. Ia berpikir sejenak lalu berkata,

“Sudah, diamlah, anakku. Aku bisa memenuhi keinginanmu, akan tetapi bukan menikah. Mengingat bahwa Kim Lian sudah yatim piatu, dan selain engkau aku pun tidak punya murid, dan melihat gerak kakinya tadi cukup tegap dan kuat, biarlah dia menjadi muridku belajar di sini dan mengawanimu. Bagaimana?”

Im Giok hampir bersorak. Ia bangkit berdiri, memeluk ayahnya dan berlari ke ruangan depan. Tak lama kemudian ia sudah datang lagi berlarian sambil menggandeng tangan Kim Lian. Agaknya dia sudah menuturkan kepada sahabatnya itu, karena begitu berhadapan dengan Kiang Liat, Kim Lian lau menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala sambil menyebut,

“Suhu...!” suaranya merdu dan halus.

“Bangunlah! Kau menjadi muridku atas desakan Im Giok. Akan tetapi entah kau suka atau tidak belajar ilmu silat yang kasar,” kata Kiang Liat.

“Ayah... jangan Ayah memandang rendah kepada Enci Kim... eh, kepada Suci (Kakak Seperguruan) Kim Lian. Dalam bermain-main dan selama setahun menjadi kawanku, dia telah banyak dapat meniru gerakan silatku. Suci, coba kauperlihatkan kebisaanmu kepada Ayah.”

“Ah Sumoi, kau membikin aku malu saja...” Kim Lian mengerling dengan muka merah dan senyum dihukum.

Kiang Liat kembali mengerutkan kening melihat lagak yang genit dan menarik hati laki-laki ini. Hem, dalam banyak hal gerak-gerik Kim Lian ini hampir sama dengan anaknya, pikirnya.

“Tak usah malu-malu, kauperlihatkanlah apa yang sudah kaupelajari. Dengan melihat gerakanmu, aku bisa mengira-ira sampai di mana tingkatmu.”

Mendengar perintah suhunya, Kim Lian lalu bersilat seperti apa yang ia lihat dan pelajari dari Im Giok. Dan Kiang Liat tercengang. Benar sekali kata-kata Im Giok. Gadis cantik ini memiliki bakat yang luar biasa, sungguhpun tidak sebesar bakat Im Giok, akan tetapi kelemasan gerak kaki tangannya menunjukkan bahwa Kim Lian mempunyai bakat ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada gadis-gadis biasa. Memang sukar mencari seorang murid wanita dengan bakat seperti ini. Timbullah kegembiraan hati Kiang Liat dan mulai hari itu Kim Lian menjadi murid Jeng-jiu-sian Kiang Liat, belajar ilmu silat bersama Im Giok yang tentu saja sudah amat jauh meninggalkannya. Bahkan dalam latihan sehari-hari, boleh dibilang Kim Lian dilatih oleh Im Giok yang mewakili ayahnya. Kiang Liat masih saja berlaku sungkan dan likat-likat, maka ia hanya memberi contoh dan petunjuk-petunjuk teori saja, sedangkan prakteknya ia serahkan kepada Im Giok untuk mengajar sucinya.

Benar saja, setelah Kim Lian tinggal di rumah gedung itu, Im Giok menjadi gembira sekali. Tidak saja ia menjadi makin giat berlatih ilmu silat, juga ia tekun memperdalam ilmu surat dan bahkan suka belajar menyulam bersama sucinya. Adapun dalam hal mempersolek diri, agaknya Kim Lian merupakan imbangan yang baik bagi Im Giok. Tentu saja Kim Lian tidak secantik Im Giok, karena sesungguhnya sukar mencari seorang gadis secantik Im Giok, akan tetapi pada umumnya Kim Lian juga seorang gadis yang manis dan cantik, lagi pandai beraksi.

Biarpun Kim Lian mulai belajar ilmu silat setelah ia berusia belasan tahun dan telah dewasa, akan tetapi berkat bakatnya yang baik dan terutama sekali oleh karena ia belajar di bawah pimpinan seorang ahli silat kelas tinggi, maka ia pun mewarisi ilmu silat tinggi dan menjadi seorang ahli silat yang pandai. Seperti juga Im Giok, ia memiliki gin-kang yang luar biasa, hanya sedikit saja kalah oleh sumoinya itu, sungguhpun dalam hal lwee-kang ia kalah jauh.

Akan tetapi, diam-diam Kiang Liat merasa amat khawatir kalau ia melihat watak muridnya ini. Sering kali Kim Lian memperhatikan sikap genit dan memikat di depannya, mengingatkan pendekar ini akan sikap Ceng Si dahulu. Kadang-kadang ia membentak dan menegur muridnya ini, yang diterima oleh Kim Lian dengan senyum manis memikat. Beberapa kali Kiang Liat bahkan menyuruh puterinya menegur, dan kalau Im Giok sudah menegur, baru Kim Lian menghentikan aksinya. Memang Kim Lian tidak takut kepada suhunya karena ia merasa lebih leluasa dan dapat menghadapi seorang laki-laki, akan tetapi terhadap Im Giok, ia merasa takut dan segan. Pertama karena ia merasa berhutang budi kepada sumoinya ini. Kalau tidak ada sumoinya yang menariknya ke dalam rumah gedung mewah itu, hidupnya tentu kekurangan dan mungkin sekali terlantar. Ke dua, ia memang tahu bahwa kepandaian sumoinya jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.

“Im Giok, sekarang sucimu telah berusia dua puluh tahun lebih, kiranya sudah cukup lama ia berada di sini dan sudah patut baginya untuk berumah tangga. Bagaimana pikiranmu kalau aku mencarikan seorang suaminya untuknya?” pada suatu hari Kiang Liat berkata demikian kepada Im Giok yang sudah berusia empat belas tahun lebih. Gadis ini sudah cukup dewasa untuk mengerti akan maksud ayahnya. Sering kali Kim Lian memperlihatkan sikap yang memikat di depan ayahnya, maka tentu ayahnya merasa tidak enak sekali. Memang, bagi ayahnya, akan lebih baik kalau Kim Lian keluar dari situ dan menikah dengan seorang pemuda yang baik.

“Baiklah, akan saya sampaikan kepadanya, Ayah,” kata Im Giok yang akhir-akhir ini merasa kasihan dan juga gelisah melihat keadaan ayahnya. Setelah beberapa kali menghadapi godaan Kim Lian, Kiang Liat teringat lagi kepada isterinya dan kepada Ceng Si yang dahulu menggodanya, maka terkenanglah ia akan kebodohannya, akan kekejamannya terhadap isterinya. Kenangan ini membikin kambuh sakit jantungnya, membuatnya pucat dan kadang-kadang batuk-batuk, bahkan sering di tengah malam ia tertawa-tawa dan menangis lagi!

Akan tetapi ketika Im Giok menyampaikan usul ayahnya kepada Kim Lian, sucinya itu memperlihatkan muka berduka, bahkan lalu menghadap Kiang Liat sambil berlutut dan menangis.

“Suhu, teecu mohon supaya Suhu jangan menyuruh teecu pergi dari sini. Teecu rasanya tidak sanggup untuk berpisah dengan Suhu dan Sumoi. Suhu, tentang menikah, teecu sama sekali tidak ada niat, karena selamanya teecu ingin melayani Suhu dan mengawani Sumoi...”

Kata-kata ini biarpun diucapkan dengan suara bersedih dan terputus-putus, akan tetapi bagi pendengaran Kiang Liat hanya bermaksud satu, yakni Kim Lian akan menerima dengan hati terbuka kalau gurunya mau mengambilnya sebagai isteri sehingga gadis ini selamanya akan melayaninya, juga takkan berpisah dari Im Giok! Merah muka Kiang Liat dan ia merasa dadanya sakit. Ia selalu ingat akan kesetiaan mendiang isterinya dan akan kekejiannya memfitnah isterinya, maka ia telah bersumpah untuk membalas isterinya itu dengan kesetiaan selama hidup. Oleh karena ini, setiap godaan seorang wanita membangkitkan penyesalannya kepada diri sendiri dan membuat dadanya terasa sakit.

“Kim Lian, jangan kau mengeluarkan kata-kata seperti itu. Setiap pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan. Kami tentu saja tidak mengusirmu, dan terus terang saja, kehadiranmu di rumah ini banyak mendatangkan kegembiraan Im Giok dan untuk ini aku berterima kasih kepadamu. Akan tetapi tentang menikah, kau sudah berusia dua puluh tahun lebih, sudah lebih dari cukup waktunya untuk berumah tangga sendiri, Kim Lian. Jangan kau khawatir, aku dapat memilihkan seorang calon suami yang baik, percayalah kepadaku karena sebagai guru aku takkan menyesatkan murid sendiri...”

Makin sedih tangis Kim Lian mendengar ini. Ia merangkul Im Giok lalu berkata, “Suhu, apa saja kehendak Suhu pasti teecu taati asal saja teecu jangan disuruh berpisah dengan Suhu dan Sumoi. Tentang menikah... teecu akan menanti Sumoi. Kalau Sumoi sudah menikah , barulah teecu suka menikah pula... ini sudah menjadi sumpah di dalam hati teecu.”

Kiang Liat menjadi mendongkol. Ia dapat menduga bahwa kata-kata itu hanya akal saja, alasan untuk menggagalkan usulnya.

“Hm, perempuan memang aneh. Lain di mulut lain di hati,” pikirnya. “Pada hatinya jelas nampak ia ingin melayani laki-laki, akan tetapi mulutnya bilang tidak mau menikah!” Kemudian dengan suara marah ia berkata,

“Kim Lian, kau yang bersumpah, bukan aku yang memaksa. Kau harus memegang teguh sumpahmu itu, kalau tidak, aku akan marah kepadamu. Aku tidak sudi melihat muridku bermain lidah dan tidak dapat dipegang kata-katanya. Ingat, kau sudah bersumpah takkan menikah sebelum Im Giok menikah. Baik, akan begitulah jadinya!” Setelah berkata demikian, Kiang Liat meninggalkan dua orang gadis itu dan masuk ke dalam kamarnya.

Semenjak saat itu, sikap Kiang Liat makin pendiam. Jarang sekali ia bicara dengan Im Giok. Kepada Kim Lian, ia sama sekali tidak pernah bicara lagi. Akan tetapi anehnya, mulai saat itu ia makin giat melatih dua orang gadis itu. Pagi-pagi sekali ia sudah memaksa mereka bangun, berlatih ilmu silat sampai kedua orang gadis itu hampir tidak kuat lagi. Demikian pun pada siang hari, bahkan sering kali pada malam hari. Pendeknya, Kiang Liat tidak memberi mereka kesempatan untuk bermalas-malasan.

“Seorang wanita harus kuat, baru aman hidupnya,” katanya di depan dua orang gadis itu. “Kalian harus dapat menerima semua kepandaianku sebelum aku lupa lagi.”

Demikianlah, hampir tiga tahun lamanya Kiang Liat menggembleng puterinya dan muridnya. Payah-payah Im Giok dan Kim Lian mengikuti latihan ilni, akan tetapi hasilnya juga luar biasa sekali. Im Giok secara terpisah telah menerima latihan ilmu-ilmu silat yang ditinggalkan oleh Bu Pun Su untuknya, dan ternyata ia memang cocok sekali dengan ilmu silat gubahan Bu Pun Su ini. Gerakannya memang lemas dan indah, sehingga sering kali diam-diam Kiang Liat mengerutkan keningnya karena kalau ia melihat puterinya itu bersilat seperti orang menari dengan mata bersinar-sinar, pipi kemerah-merahan dan bibir tersenyum-senyum, teringatlah ia akan Pek Hoa Pouwsat! Alangkah miripnya anaknya itu dengan Pek Hoa. Benar seperti pernah dikatakan oleh Bi Li isterinya dahulu.

Adapun Kim Lian, selama tiga tahun ini pun memperoleh kemajuan hebat. Tujuh tahun ia menjadi murid Kiang Liat, akan tetapi yang tiga tahun terakhir ini hasilnya jauh melampaui empat tahun pertama. Kepandaian Kim Lian kini sudah dapat direndengkan dengan tingkat orang-orang pandai, bahkan sudah hampir menyusul kepandaian Kiang Liat sendiri. Tentu saja ia masih kalah oleh Im Giok yang ternyata bahkan telah melampaui ayahnya sendiri! Hal ini adalah karena ia mempelajari jimu silat gubahan Bu Pun Su secara mendalam, sedangkan Kiang Liat hanya menghafal saja agar tidak lupa. Apalagi Kiang Liat memang hanya bersilat untuk mengajar, sama sekali tidak pernah ia berlatih untuk kemajuan diri sendiri. Bahkan kalau terlalu lama ia bersilat, dada kirinya terasa sakit sekali. Ia maklum bahwa ia telah mendapat luka di dalam, mendapat penyakit di dalam jantungnya, akan tetapi ia sengaja tidak mau mengobati, tidak mau mencari obat. Tidak jarang ia batuk-batuk darah, akan tetapi semua ini ia sembunyikan dari Im Giok, takut kalau-kalau puterinya akan menjadi gelisah dan berduka karenanya.

***

Pada suatu pagi dan indah di musim Chun (Semi). Matahari muncul di angkasa yang bersih sambil tersenyum gembira, disambut dengan segala kehormatan oleh kicau burung dan mekarnya bunga di dalam hutan. Binatang-binitang hutan pun nampak bergembira di saat seperti itu. Ayam-ayam hutan berkejar-kejaran di atas tanah dan di atas pohon. Kelinci dan tikus melompat ke sana ke mari di antara gerombolan pohon kembang. Kupu-kupu bersayap indah beterbangan dan menari-nari mengelilingi bunga cantik. Seperti kelinci yang tidak takut akan ancaman harimau, kupu-kupu ini pun tidak takut akan ancaman burung-burung. Agaknya di saat seindah itu, binatang-binatang yang paling buas pun merasa enggan untuk mengotori suasana damai dan tenteram dengan pembunuhan kepada sesama mahluk, sungguhpun pembunuhan itu berarti mengisi perut yang kosong dan lapar! Ataukah kebetulan saja harimau-harimau dan burung-burung itu sudah kenyang maka mereka tidak mengganggu kelenci dan kupu-kupu? Mungkin sekali, karena, hanya manusia-manusia saja yang masih temaha dan murka dalam kekenyangannya. Lain mahluk tidak ada yang sekejam manusia.

Tiba-tiba terdengar suara manusia tertawa yang nyaring dan merdu, mula-mula sayup-sampai kemudian makin jelas datang dari jauh memasuki hutan itu. Terdengarnya suara ketawa semerdu itu memang cocok sekali dengan keadaan hutan yang indah dan gembira menyambut munculnya matahari itu. Kemudian tersusul bunyi derap kaki kuda dan suara ketawa-ketawa gadis remaja.

Kalau orang memperhatikan seruan-seruan itu, ia tentu akan merasa heran sekali mengapa mula-mula terdengar suara nyaring baru kemudian terdengar derap kaki kuda bagaimana suara ketawa sedemikian merdu tanda suara ketawa wanita, dapat mengatasi suara derap kaki kuda yang biasanya dapat terdengar sampai jauh? Akan tetapi kalau pendengar tadi seorang ahli silat tinggi, ia akan tahu bahwa suara ketawa tadi dikeluarkan dengan pengerahan tenaga lwee-kang dan penggunaan ilmu yang disebut Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara dari Jarak Jauh).

Kemudian terdengar suara yang bening, merdu dan genit dari seorang gadis remaja, “Sumoi (Adik Perempuan Seperguruan), jangan terlalu cepat! Kaulihat bunga ini, alangkah indahnya...!” Yang bicara ini adalah seorang gadis yang bertubuh agak tinggi langsing, berwajah cantik, sepasang matanya luar biasa sekali dan menjadi bagian yang paling indah dari kecantikannya, mata yang bercahaya, bening dan bagus bentuknya. Ia memakai baju warna kuning, celana sutera biru, ikat pinggangnya merah, tangan kiri memegang kendali kudanya yang berbulu coklat, sedangkan tangan kanan memegang sebatang cambuk pendek. Benar-benar seorang gadis yang selain cantik juga amat gagah sikapnya. Usianya sudah dua puluh tahun lebih, sudah cukup dewasa, laksana buah sudah masak dan sedap dipandang.

Gadis baju kuning ini menghentikan kudanya di depan serumpun pohon kembang di mana terdapat kembang-kembang berwarna putih, kuning, dan merah. Ia tersenyum-senyum memandang bunga-bunga itu dengan kagum, kemudian sekali cambuk di tangannya digerakkan, cambuk itu meluncur ke arah setangkai bunga putih dan di lain saat setangkai bunga putih telah berada di tangan kirinya. Lihai sekali ia mainkan cambuk sehingga cambuk itu dapat memetik kembang demikian tepat dan membawa kembang itu kepadanya tanpa merusak kembang putih, bahkan rontok sedikit pun tidak! Tanda bahwa lwee-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi. Gadis itu tertawa-tawa dan kembali berkata,

“Sumoi, lihat alangkah indahnya bunga-bunga ini!”

Kembali cambuk pendeknya bergerak dan setangkai bunga kuning di lain saat telah berada di tangan kirinya. Ia memandang dan mencium dua tangkai bunga putih dan kuning itu, kemudian ia memandang ke arah bunga merah. Tangan kanan yang memegang cambuk bergerak lagi. Cambuk meluncur ke bawah.

“Tar...!” Sinar merah melayang dengan cepat sekali ke arah cambuk pendek yang terpental melayang ke atas. Gadis itu tertawa pahit sambil menengok ke arah kanan.

“Suci, bunga merah tak boleh sembarang dipetik!” kata dara yang baru datang dan yang menunggang seekor kuda bulu putih.

Kalau orang gagah kagum dan tertarik melihat gadis baju kuning yang cantik manis itu, kini ia akan terpesona dan boleh jadi lupa bernapas kalau ia melihat gadis yang baru datang ini. Ia jauh melebihi gadis baju kuning dalam segala hal, bahkan kiranya akan jauh melampaui mimpi dan lamunan tiap orang pemuda. Cantik jelita sukar menemukan cacat-celanya. Rambutnya hitam sekali, halus panjang, biarpun digelung secara istimewa di atas kepala dengan hiasan-hiasan dari emas permata, masih saja rambut itu kelebihan, memanjang dan bermain-main di atas punggung dan kedua pundaknya. Sepasang alis yang juga hitam kecil memanjang menghias dua buah mata yang indah, dilindungi oleh butu-bulu mata yang melengkung dan panjang. Mata itu memang tidak begitu bercahaya dan indah seperti mata gadis baju kuning, akan tetapi begitu bening dan jelas terisi api kehidupan yang tak pernah padam, membayangkan semangat yang kuat, ketabahan luar biasa, dan kegembiraan hidup yang sehat. Yang paling mengesankan adalah bibirnya yang berbentuk manis sekali, akan tetapi kadang-kadang kulit di bawah bibir, pada lekukan dagu nampak mengeras, tanda bahwa dara ini memiliki hati yang kadang-kadang dapat keras membaja, sungguhpun pada bibirnya dapat diketahui bahwa hati ini pun dapat melembut mesra, hati seorang wanita sejati.

Gadis ini usianya baru tujuh belas tahun paling banyak, namun sinar matanya sudah menunjukkan kematangan jiwa, juga bentuk tubuhnya amat bagus, berisi dan sedang. Tubuh ini tertutup oleh pakaian serba merah, berpotongan indah dan terbuat dari sutera mahal. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terukir indah. Tangan kanannya memegang sebatang cambuk yang berwarna merah pula. Inilah sinar yang tadi menangkis cambuk gadis baju kuning mencegah cambuk gadis kuning itu memetik bunga merah.

“Sumoi, mengapa kau mencegah aku memetik bunga?” tanya gadis baju kuning, keningnya berkerut tanda tak senang hati, akan tetapi sikapnya tetap menghormat seakan-akan ia takut terhadap gadis baju merah yang menjadi adik seperguruannya itu.

“Suci, apakah kau tidak melihat warna bunga itu?”

Nona baju kuning memandang ke arah rumpun bunga, lalu tertawa gembira dan berkata, “Aha, Ang I Niocu (Nona Baju Merah), akhirnya bunga merahmu pun pasti akan dipetik orang!” Ia tertawa lagi dengan sikap genit.

Dara baju merah itu pun tertawa dan menjawab, “Giok-gan Niocu, (Nona Bermata Kemala), tidak boleh sembarangan saja orang memetik bunga merah!”

Keduanya tertawa gembira. Nona baju juning itu melemparkan bunga putih ke arah sumoinya yang tidak mengelak atau menyambut, dan bukan main... bunga itu dengan tepat sekali menancap di atas kepala sebelah kiri, menjadi penghias rambut seolah-olah ditancapnya tangan-tangan. Dari sini saja dapat dibuktikan betapa hebat dan tinggi kepandaian menyambit dari Nona Baju Kuning itu.

“Terima, kasih, Suci. Terima kasih untuk bunga putih ini. Putih artinya suci.”

“Aku lebih suka yang kuning ini,” dan Nona Baju Kuning itu menancapkan bunga kuning di atas rambutnya, menambah kecantikannya.

Siapakah dua orang gadis yang seperti bidadari ini? Dara-dara jelita yang selain cantik remaja menarik hati, juga memiliki kepandaian istimewa? Dara baju merah itu bukan lain adalah Kiang Im Giok yang semenjak ikut Pek Hoa Pouwsat memang suka sekali mengenakan pakaian merah dan oleh orang-orang di kota Sian-koan mendapat sebutan Ang I Niocu. Adapun dara baju kuning itu bukan lain adalah Song Kim Lian, anak yatim piatu yang menjadi murid Kiang Liat. Karena gadis ini memiliki sepasang mata yang luar biasa seperti kemala, maka para pemuda kota Sian-koan menghadiahi julukan Giok Gan Niocu. Bagi para penduduk Sian-koan, sepasang dara ini sudah amat terkenal, terutama sekali bagi para pemudanya. Biarpun Im Giok lebih cantik dan hal ini diakui bahwa semua orang, namun para pemuda di kota Sian-koan lebih guka mendekati Kim Lian, karena tak seorang pun berani main-main terhadap Im Giok yang terkenal amat angkuh dan galak terhadap pria. Dan kalau dua orang gadis ini tidak menghendaki, siapakah berani memaksa dan main-main terhadap mereka semua orang tahu bahwa kepandaian sepasang dara ini amat tinggi, bahkan ada yang berani menyatakan bahwa kepandaian mereka sudah lebih tinggi daripada kepandaian Jing-jiu-sian Kiang Liat sendiri! Akan tetapi Kim Lian tidak seperti Im Giok, dan inilah yang membikin senang dan gembira hati para pemuda-pemuda yang tampan, juga kadang-kadang gadis baju kuning bermata intan ini suka melayani mereka bicara sebentar apabila bertemu di jalan. Oleh karena ini, semua pemuda kota Sian-koan seakan-akan berlumba untuk merebut hati Giok Gan Niocu, sedangkan terhadap Ang I Niocu mereka tidak berani berlagak.

Im Giok memang berwatak keras, terutama menghadapi para pemuda ia sama sekali tidak pernah sudi memberi hati. Ia pernah mengalami perlakuan kasar dan menghina dari Kam Kin, dan hal ini cukup membuat gadis ini memandang rendah kaum pria. Apalagi karena dalam pandangannya, di kota Sian-koan, tidak ada seorang pun pemuda yang patut mendapatkan perhatiannya! Sebaliknya, Kim Lian sering kali mempercakapkan tentang pemuda-pemuda tampan dan pandai di kota Sian-koan yang didengar oleh Im Giok dengan senyum mengejek. Di pihak para pemuda, banyak berlancang mulut menyatakan bahwa Kim Lian adalah kekasihnya.

Telah dituturkan di bagian depan betapa Kiang Liat lebih banyak merendam diri dalam lamunan dan kenangan akan isterinya, dan hubungannya dengan puteri dan isterinya, dan hubungannya dengan puteri dan muridnya hanya apabila ia melatih ilmu silat mereka. Selebihnya, Im Giok dan Kim Lian bertindak sekehendak hati sendiri, pelayan banyak, uang ada, segala lengkap. Akan tetapi, untungnya Im Giok adalah seorang gadis yang pandai mengatur rumah tangga pengganti ayahnya. Bahkan Kim Lian yang wataknya binal dan tidak mau tunduk terhadap siapapun kecuali terhadap gurunya, patuh juga menghadapi Im Giok.

Tidak jarang kedua gadis ini keluar rumah berjalan-jalan atau menunggang kuda kalau keluar kota, untuk pesiar. Bahkan beberapa kali mereka mengunjungi jago-jago silat di kota lain untuk minta petunjuk atau kasarnya untuk menguji kepandaian! Dan setiap kali mereka mengunjungi seorang guru silat, pasti guru silat atau jago silat itu roboh baik oleh Im Giok maupun oleh Kim Lian! Oleh karena inilah maka sebentar saja nama Ang I Niocu terkenal sampai jauh di luar kota.

Pada pagi hari itu, untuk menyambut datangnya musim Chun, dua orang dara ini meninggalkan kota Sian-koan, menunggang kuda berpesiar ke dalam hutah yang indah itu. Hutan ini belum pernah mereka datangi karena letaknya memang jauh kurang lebih lima puluh li dari Sian-koan, terletak di lereng pegunungan yang kaya akan hutan-hutan indah.

Seperti biasa, mereka bergembira-ria, terbawa oleh suasana yang indah dan damai di dalam hutan itu.

“Ayah telah berkata benar,” kata Ang I Niocu sambil duduk di atas kuda dan memandang ke kanan kiri, “indah sekali keadaan hutan ini waktu pagi. Pantas saja Ayah menyuruh kita berangkat sebelum fajar agar dapat pagi-pagi sampai di sini.”

“Suhu memang sudah banyak pengalaman, sudah menjelajah di seluruh pelosok. Aku ingin sekali berkelana seperti yang pernah dilakukan oleh Suhu,” kata Giok Gan Niocu Song Kim Lian.

“Mengapa tidak? Aku pun ingin sekali merantau jauh di propinsi-propinsi lain, Suci. Kalau teringat akan guruku Pek Hoa Pouwsat, aku ingin sekali mencari dia.”

“Kau ingin mencoba kepandaian bekas gurumu sendiri?” tanya Kim Lian.

“Tidak hanya mencoba, bahkan aku harus merobohkannya. Dialah yang menyebabkan ibuku meninggal dunia dan ayahku berduka selalu. Dialah musuh besarku yang harus kubunuh!” kata Im Giok dengan suara gemas, akan tetapi hatinya perih kalau ia teringat betapa ia amat kagum dan cinta kepada gurunya itu.

“Mengapa tidak sekarang saja kau pergi mencarinya? Aku suka membantumu, Sumoi, biarpun kepandaianku tidak ada artinya.”

Im Giok menarik napas panjang. “Tak mungkin. Aku tidak mau pergi meninggalkan Ayah. Aku tidak tega, dia kelihatan selalu bersedih...” Wajahnya yang cantik menjadi muram dengan mendadak, juga Kim Lian mengerutkan sepasang alisnya yang hitam seperti dicat.

Tadi ketika mereka bergembira dan bercakap-cakap, mereka kurang memperhatikan hal lain. Sekarang setelah keduanya berdiam diri telinga mereka menangkap suara yang mencurigakan, sayup sampai terdengar bentakan-bentakan dan derap kaki kuda.

Ang I Niocu Kiang Im Giok mendengar lebih dulu, karena memang telinganya lebih terlatih.

“Suci ada terjadi sesuatu di sebelah timur hutan ini,” katanya.

Kim Lian miringkan kepalanya, penuh perhatian. “Benar, Sumoi. Ada orang berteriak minta tolong. Mari kita ke sana.”

Akan tetapi Im Giok sudah membedal kudanya dan di lain saat kedua orang dara itu telah membalapkan kuda masing-masing menuju ke timur. Mereka seakan berlumba, akan tetapi kalau biasanya mereka berlumba sambil tertawa, kini mereka beriumba dengan kening berkerut dan sikap garang.

Mereka selain berkepandaian silat tinggi, juga ahli menunggang kuda, maka sebentar saja mereka telah tiba di tempat terjadinya peristiwa yang sampai di telinga mereka tadi. Dan apa yang mereka lihat di situ membuat dua orang dara itu menjadi merah mukanya saking marahnya.

Ternyata bahwa serombongan orang yang jumlahnya dua puluh lebih, berpakaian seperti tentara, sedang menghajar dan membunuhi serombongan orang-orang yang membawa buntalan seperti orang-orang sedang mengungsi. Rombongan orang-orang ini terdiri dari lima orang kakek dan tujuh orang muda yang pakaiannya seperti pelajar-pelajar lemah. Keadaan di situ mengerikan sekali. Semua anggauta rombongan pengungsi itu telah menggeletak mandi darah, ada yang masih berkelojotan menghadapi maut. Akan tetapi yang mengagumkan sekali, di situ terdapat seorang pemuda pelajar yang melawan mati-matian. Mulutnya tak pernah mengeluarkan keluhan, sungguhpun tubuhnya sudah penuh luka. Ia menggunakan sebatang tongkat untuk membela diri dan sungguhpun gerakannya menandakan bahwa ia tidak mengerti ilmu silat, namun agaknya ia memiliki keberanian besar sehingga dengan nekat ia masih dapat melawan dan melindungi diri. Akan tetapi tentu saja ia bukan lawan serdadu-sedadu yang terlatih itu, maka ia dibuat permainan, sengaja tidak dibunuh dulu, hanya dipukul sana-sini sambil ditertawakan.

Ada sebagian pula tentara yang mengumpul-ngumpulkan bungkusan yang tadinya dibawa oleh para pengungsi itu, mencari-cari barang berharga.

“Anjing-anjing hina dina!” Terdengar Giok Gan Niocu Song Kim Lian berseru keras dan tubuhnya sudah melayang turun dari kuda. Bagaikan seekor harimau betina ia menerjang dan robohkan dua orang yang tadinya berdiri bengong melihat kedatangan dua orang bidadari ini.

Kim Lian menyambut sebatang pedang yang tadi dipegang oleh dua orang ini dan sekali babat putuslah leher dua orang itu.

Keadaan menjadi geger. Semua serdadu ini memandang dan mereka yang tadinya mengumpul-ngumpulkan barang, kini menerjang Kim Lian.

“Keparat jahanam, kalian harus dibasmi!” Terdengar bentakan halus lain dan nampaklah sinar merah menyambar ke sana ke mari lalu sinar merah ini menerjang mereka yang tengah mempermainkan pemuda itu. Lima orang roboh tak bangun lagi karena mereka menjadi korban pedang di tangan Ang I Niocu Kiang Im Giok!

Pemuda itu entah saking lelahnya, entah saking girangnya mendapat bantuan, atau entah makin kagum dan herannya melihat melihat seorang dara baju merah sedemikian gagah dan cantik jelitanya, tiba-tiba lenyap semua daya dan semangatnya melawan dan lemasiah ia, lalu tertunduk dengan mata bengong.

Im Giok dan Kim Lian mengamuk garang. Dalam beberapa jurus saja belasan orang serdadu menggeletak dalam keadaan luka berat. Yang mengagumkan adalah Im Giok. Pedangnya berkelebatan dan setiap jurus pasti pedang itu merobohkan seorang lawan. Akan tetapi tak pernah Im Giok menewaskan lawannya, hanya merobohkannya saja. Berbeda dengan Im Giok, orang yang roboh oleh pukulan Kim Lian pasti takkan dapat bangun lagi untuk selamanya!

Menghadapi amukan dua orang dara yang datang secara tiba-tiba ini, rombongan tentara itu tidak kuat bertahan lagi. Mulailah mereka yang belum roboh lari pontang-panting dan sebagian pula berteriak-teriak keras,

“Kam-ciangkun...! Tolonglah kami...”

“Suci, sudahlah jangan mengejar mereka,” Im Giok mencegah Kim Lian yang hendak mengejar terus. Kim Lian tak puas, akan tetapi ia tidak membantah dan menghentikan pengejarannya. Ketika dua orang dara ini memandang, ternyata bahwa amukan mereka tadi telah menghasilkan robohnya enam belas orang lawan, yang enam orang tewas dan yang sepuluh terluka. Akan tetapi ketika mereka memperhatikan, ternyata bahwa rombongan pengungsi tadi sebanyak dua belas orang, sebelas orang telah tewas. Hanya pemuda sastrawan yang tabah tadi saja masih hidup, tubuhnya penuh darah akan tetapi luka-lukanya ringan dan ia masih duduk bengong telongong memandang ke arah Im Giok dan Kim Lian.

Melihat betapa semua serdadu dapat dikalahkan oleh dua orang dara yang luar biasa itu, Si Sastrawan muda lalu memaksa diri berdiri, berjalan terhuyung-huyung menghampiri Im Giok dan Kim Lian, kemudian menjura dengan tubuh gemetar saking lemah dan sakit-sakit.

“Ji-wi-lihiap sungguh gagah... sayang kedatangan Ji-wi terlambat sehingga mereka ini...” ia menengok ke arah kawan-kawannya yang menggeletak tak bernyawa lagi, “mereka ini... tak tertolong lagi...” Pemuda itu menjadi pucat dan nampak berduka sekali.

“Akan tetapi kami dapat menolongmu,” kata Kim Lian sambil memandang dengan mata bersinar-sinar. Juga Im Giok baru sekarang melihat betapa tampan dan cakapnya wajah pemuda yang berdiri di depannya itu. Tadi dalam keributan ia tidak memperhatikan, akan tetapi sekarang baru ia melihat dan ia harus mengaku bahwa selamanya belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda yang mempunyai wajah demikian tampan dan menarik hati. Juga tadi ia telah membuktikan bahwa semangatnya besar, tabah dan kini dibuktikannya lagi bahwa pemuda ini berjiwa besar. Dalam keadaan sengsara, ia tidak memikirkan keadaan diri sendiri, bahkan menyayangkan bahwa kawan-kawannya tidak tertolong. Juga bicaranya demikian sopan-santun, lemah-lembut dan ketika bicara, matanya tidak memandang kurang ajar seperti semua laki-laki yang pernah dijumpainya! Hati Im Giok berdebar aneh.

Mendengar kata-kata Kim Lian, pemuda itu menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih.

“Biarpun aku amat berterima kasih kepada Ji-wi-lihiap atas pertolongan yang telah menyelamatkan nyawaku yang tak berharga, akan tetapi apakah artinya seorang seperti aku tertolong kalau mereka ini tewas? Aku seorang yatim piatu tiada guna, lemah dan tak dapat melindungi mereka ini... sebaliknya mereka ini... ah, keluarga mereka menanti, dan alangkah akan hancur hati keluarga mereka kalau tahu akan malapetaka ini...”

Bicara sampai di situ, pemuda itu makin pucat. Ia telah kehilangan banyak darah dan semenjak tadi tubuhnya yang tidak terlatih itu telah terlalu banyak menahan rasa nyeri dari luka-lukanya. Ia mencoba untuk mempertahankan diri, akan tetapi kepalanya pening kedua kakinya lemas dan pandang matanya gelap. Akhirnya ia terguling dan tentu akan roboh kalau Kim Lian tidak cepat-cepat melangkah maju dan memeluknya!

“Suci...!” Im Giok menegur dengan muka berubah merah ketika ia melihat bagaimana sucinya memeluk tubuh seorang pemuda demikian erat dan mesranya. Ia merasa jengah dan juga... panas!

“Sumoi, dia patut dikasihani, dia bersemangat gagah namun lemah...” Kim Lian membela diri sambil tersenyum, kemudian dengan perlahan ia merebahkan pemuda itu di atas tanah.

Im Giok mengambil botol arak dari atas punggung kudanya dan dengan cekatan ia meminumkan sedikit arak pada pemuda yang masih pingsan itu, kemudian setelah memeriksa beberapa luka yang agak banyak mengeluarkan darah, tanpa sungkan-sungkan lagi ia lalu menotok jalan darah untuk menghentikan keluarnya darah. Kim Lian memandang semua ini dengan senyum berarti. Belum pernah selamanya ia melihat sumoinya berlaku demikian sopan dan teliti terhadap seorang pemuda!

“Sumoi, lihat siapa yang datang itu!” tiba-tiba Kim Lian berkata sambil berdiri. Im Giok juga mendengar suara derap kaki berlari mendatangi, maka ia pun cepat melompat berdiri, tak sempat lagi memperhatikan pemuda itu yang telah siuman dan perlahan bangun duduk dengan tubuh masih lemas.

Yang datang adalah sisa dari serdadu yang mereka amuk tadi, kini datang berlari mengiringkan dua orang yang menarik perhatian. Yang seorang adalah laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai seorang komandan tentara, lengkap dengan baju bersisik besi dan golok besar tergantung di pinggang. Orang kedua adalah seorang kakek jangkung dan bungkuk, kepalanya besar sekali akan tetapi tubuhnya kurus kecil, sehingga nampak amat lucu. Akan tetapi ketika melihat cara kakek aneh ini berlari, tahulah Im Giok dan Kim Lian bahwa kakek aneh itulah yang tak boleh dipandang ringan karena terang sekali memiliki kepandaian tinggi.

Kim Lian sama sekali tidak mengenal dua orang ini, apalagi melihat, mendengar pun belum pernah. Akan tetapi, ketika Im Giok melihat laki-laki berpakaian komandan tadi, ia merasa kenal akan tetapi lupa lagi di mana pernah bertemu dengannya. Ketika melihat golok besar yang tergantung di pinggang orang, tiba-tiba teringatlah ia bahwa komandan itu adalah Giam-ong-to Kam Kin, sute dari Pek Hoa Pouwsat!

“Suci, komandan itu adalah Giam-ong-to Kam Kin, kausambutlah kalau mereka bermaksud buruk. Kakek aneh itu bagianku, ia lebih lihai,” kata Im Giok berbisik. Kim Lian tersenyum mengejek. Biarpun ia belum pernah bertemu dengan Kam Kin, namun ia pernah mendengar cerita im Giok tentang Golok Maut ini dan ia memandang rendah.

Memang betul apa yang dikatakan oleh Im Giok tadi, komandan itu adalah Kam Kin yang berjuluk Giam-ong-to Si Golok Maut. Adapun kakek yang aneh itu adalah Cheng-jiu Tok-ong (Raja Racun Tangan Seribu), yakni guru dari Kam Kin, juga pernah menjadi guru Pek Hoa Pouwsat sebelum wanita ini menjadi murid Thian-te Sam-kauwcu. Dia adalah seorang tokoh barat. Dahulu ketika ia masih muda memang Cheng-jiu Tok-ong melakukan banyak perbuatan jahat, akan tetapi karena di Tiongkok terdapat Lima Tokoh Besar, yakni Ang-bin Sin-kai, Jeng-kin-jiu, I Kak Thong Thaisu, Kiu-bwe Coa-li, Hek I Hui-mo, dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai (tokoh-tokoh dalam Pendekar Sakti), maka Cheng-jiu Tok-ong tidak berani muncul di pedalaman Tiongkok. Operasi kejahatannya hanya di perbatasan Tiongkok dan Tibet, atau di perbatasan Bhutan dan India saja. Setelah puluhan tahun ia bersembunyi dan bertapa, sekarang tua-tua ia turun gunung lagi adalah atas hasutan muridnya, Giam-ong-to Kam Kin.

Semenjak masih mudanya, Kam Kin terkenal seorang mata keranjang. Sekarang mendapat laporan dari orang-orangnya bahwa anak buahnya banyak yang tewas dalam tangan dua orang gadis gagah, ia marah sekali. Akan tetapi begitu sampai di tempat itu dan memandang kepada dua orang gadis yang cantik jelita jarang tandingannya, matanya bersinar dan mulutnya menyeringai. Apalagi ketika melihat Im Giok, ia benar-benar merasa kagum bukan main. Selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan seorang dara muda secantik ini. Bahkan Pek Hoa juga tidak secantik ini, pikir Kam Kin. Akan tetapi karena berada bersama gurunya dan juga di depan anak buahnya, ia berkata,

“Ah, inikah dua gadis yang sudah berani mati membunuh tentara?”

Im Giok melangkah maju dan berkata dengan lesung pipit berkembang di kanan kiri mulutnya. “Bagus sekali sejak kapankah Giam-ong-to Kam Kin menjadi komandan tentara? Apakah kedatanganmu ini hendak minta maaf atas kekejaman anak buahmu?”

Kam Kin melengak dan memandang Im Giok penuh perhatian. Ia telah berpisah dari Im Giok semenjak anak ini berusia sepuluh tahun. Tujuh tahun telah lewat dan kini Im Giok telah menjadi seorang gadis dewasa. Akan tetapi dahulu pun ketika berusia sepuluh tahun, Im Giok telah memiliki dasar kecantikan yang mengagumkan. Biarpun kini ibarat bunga ia telah mulai mekar, akan tetapi garis-garis pada mukanya, bentuk mata hidung dan mulutnya tidak berubah dan akhirnya teringatlah Kam Kin.

“Kiang Im Giok! Kaukah ini?”

“Baru terbuka matamu,” kata Im Giok tenang dengan senyum mengejek.

“Kurang ajar! Kau berani bersikap begini terhadap susiokmu sendiri?” Kam Kin membentak. Ia marah sekali karena dihina oleh murid keponakan di depan gurunya dan anak buahnya sehingga untuk sekejap lupalah ia akan kecantikan luar biasa dari murid keponakannya itu.

“Kam Kin, siapakah Nona ini?” tanya Cheng-jiu Tok-ong dengan suaranya yang seperti burung kakatua.

“Suhu, dia ini sebetulnya bukan orang lain, karena dia adalah murid Suci Pek Hoa. Akan tetapi memang wataknya buruk sekali. Biar teecu menghajarnya.” Kemudian ia berpaling lagi kepada Im Giok dan membentak, “Im Giok, andaikata kau tidak menaruh sungkan kepada susiokmu, apakah kau juga tidak menaruh hormat terhadap sucouwmu (kakek gurumu)? Hayo lekas berlutut memberi hormat kepada sucouwmu ini, guru dari Suci Pek Hoa.”

Akan tetapi Im Giok memandang dingin dan menjawab, “Aku tidak mempunyai sucouw seperti ini. Jangan kau mengaco, lekas katakan apa maksud kedatanganmu ini.”

Kam Kin menjadi marah sekali. Ia membanting-banting kaki dan menudingkan telunjuknya ke muka Im Giok. “Bocah tak tahu aturan! Tidak saja kau telah membunuh banyak anggauta tentara, akan tetapi kau juga bersikap kurang ajar kepadaku dan kepada Suhu! Kau benar-benar telah bosan hidup!”

“Monyet bercelana, kau berani menghina sumoiku?” tiba-tiba Kim Lian membentak marah dan ia melangkah maju di depan Im Giok, menghadapi Kam Kin sambil bertolak pinggang. “Mentang-mentang, kau berjuluk “Si Golok Maut”, lalu hendak menjual lagak di sini? Tidak laku, monyet!”

“Gadis liar kurang ajar!” Kam Kin marah sekali.

“Kau yang kurang ajar!” bentak Kim Lian. “Karena itu mulutmu harus ditampar. Lihat, kutampar mulutmu!”

Baru saja kata-kata ini diucapkan, tangan kanan kiri gadis ini bergerak, Kam Kin bingung melihat gerakan ini dan berlaku agak lambat.

“Plak!” tangan kiri Kim Li menampar mulutnya sampai pecah bibirnya dan berdarah.

“Anjing betina, kubunuh kau!” bentak Kam Kin sambil mencabut goloknya.

“Kutempiling kepalamu, awas!” Kim Lian berseru lagi, disusul oleh gerakan kedua tangannya. Lagi-lagi terdengar suara “plak!” dan topi di kepala Kam Kin sampai miring terkena tamparan telapak tangan gadis jenaka itu, Kam Kin merasa kepalanya puyeng dan cepat ia melompat ke belakang menggeleng-geleng kepala untuk mengusir rasa puyeng. Kemudian, sambil mengeluarkan suara keras seperti seekor harimau, ia menyerang Kim Lian dengan golok besarnya.

Tadi Kim Lian berhasil dengan tamparan dan tempilingannya, karena memang gadis ini telah mewarisi ilmu silat dari keluarga Kiang yang amat lihai. Ilmu silat yang selain indah seperti tarian, juga mengandung gerakan yang membingungkan dan tidak terduga-duga. Apalagi setelah ilmu silat itu diperbaiki oleh nasihat-nasihat dan petunjuk Bu Pun Su, kelihaiannya mengagumkan orang. Akan tetapi setelah Kam Kin mencabut golok, Kim Lian tidak berani lagi berlaku main-main. Gerakan golok Kam Kin benar-benar amat berbahaya dan kuat, tidak seharusnya dilawan dengan main-main. Berbeda dengan Im Giok yang sudah bermain pedang, Kim Lian mendapat pelajaran ilmu silat tangan kosong secara lebih mendalam. Gadis ini memang berbakat sekali untuk menggerak-gerakkan tangan kakinya, maka Kiang Liat Si Dewa Tangan Seribu memberi pelajaran ilmu silat tangan kosong secara tekun kepada muridnya ini.

Menghadapi rangsakan golok Kam Kin, gadis ini lalu mengeluarkan ilmu silatnya dan mainkan gerak tipu ilmu silat tangan kosong yang bernama Kong-jiu-sin-i (Tangan Kosong Menyambut Hujan). Kedua lengannya dipentang, demikian pula sepuluh jari tangannya dipentang dan bergerak-gerak seakan-akan orang menari, akan tetapi gerakan sepasang lengan itu demikian lemas dan tak terduga seperti dua ekor ular, sedangkan jari-jari tangan itu masing-masing merupakan alat penotok jalan darah yang amat berbahaya. Beberapa kali dalam gebrakan pertama saja, jalan darah di pergelangan lengan, siku dan pundak kanan Kam Kin hampir saja menjadi korban! Kam Kin terkejut sekali dan ia berlaku hati-hati, maklum bahwa ia menghadapi seorang gadis cantik jelita yang benar-benar lihai.

Pada jurus ke tiga puluh, terdengar Kim Lian menjerit nyaring, “Monyet tua, pergilah!”

Jari-jari tangan kiri Kim Lian menyambar cepat, menangkis serangan golok dengan mendahului kecepatan lawan, menyampok pergelangan tangan kanan Kam Kin yang memegang golok. Pada saat itu juga, jari-jari tangan kanan bergerak menusuk muka dan kaki kiri menyusul cepat menendang lutut!

Kam Kin terkejut sekali karena tidak mengira bahwa lawannya akan secepat itu, berani menyampok pergelangan tangannya, kemudian tiba-tiba jari tangan kanan gadis itu sudah menusuk dan hampir saja matanya menjadi korban. Cepat ia membuang tubuh bagian atas ke belakang untuk menyelamatkan mukanya, akan tetapi segera serangan kaki Kim Lian sudah mengenai sasaran. Kam Kin berseru kesakitan dan tubuhnya terlempar ke belakang, jatuh bergebruk dan merintih-rintih karena sambungan tulang lututnya terlepas!

Anak buahnya cepat menolong dan menggotong ke pinggir. Kim Lian tertawa-tawa mengejek, “Monyet tua, mana golok mautmu?”

“Bocah sombong, pergilah!”

Yang berseru ini adalah kakek tua aneh tadi, sambil melangkah maju mendekati Kim Lian yang masih bertolak pinggang dan tertawa-tawa. Kim Lian maklum akan kelihaian kakek ini, maka cepat ia mengangkat tangan menangkis ketika melihat kakek itu menggerakkan ujung lengan bajunya yang panjang ke arahnya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ujung lengan baju itu bagaikan hidup, tahu-tahu telah membelit lengannya yang menangkis tadi dan sebelum ia sempat mengatur keseimbangan tubuhnya, ia merasa dirinya dibetot! Kim Lian mengerahkan lwee-kang untuk menahan tubuh sambil menarik lengannya akan tetapi tiba-tiba ia berseru, “Celaka...!” dan tubuhnya terhuyung ke belakang dan pasti akan roboh terjengkang kalau saja, Im Giok tidak cepat-cepat menggunakan kaki mencokel kaki Kim Lian sehingga gadis ini tidak jadi roboh, sebaliknya bahkan tercokel dan terangkat ke atas!

Ternyata bahwa Chen-jiu Tok-ong tadi telah mengakali Kim Lian. Ketika melihat gadis itu mengerahkan tenaga menarik lengan, kakek ini cepat merubah tenaganya, kalau tadi membetot sekarang ia mendorong. Tidak heran apabila Kim Lian terjengkang ke belakang, terbawa oleh tenaga betotannya sendiri ditambah tenaga dorongan Tok-ong. Gadis ini marah sekali, mukanya merah dan ia siap hendak menyerang.

“Kakek bangkotan, kau curang!” bentaknya.

“Suci, mundurlah.” Im Giok mencegah dan Kim Lian terpaksa menahan marahnya. Kemudian Im Giok menghadapi Cheng-jiu Tok-ong dan berkata tenang,

“Kalau tidak salah, Locianpwe ini adalah Cheng-jiu Tok-ong, tokoh yang kenamaan. Akan tetapi aku yang muda sungguh merasa heran sekali mengapa Locianpwe mendiamkan saja, bahkan membela Giam-ong-to Kam Kin yang setelah menjadi komandan membiarkan anak buahnya berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat. Aku dan suciku sedang bermain-main di hutan ini dan kami melihat banyak tentara melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang tidak berdosa. Oleh karena itu, tanpa mengetahui bahwa tentara ini adalah anak buah Giam-ong-to Kam Kin, kami membela rakyat dan melakukan pembasmian. Sekarang kedatangan Locianpwe ke sini membawa sisa tentara mempunyai niat apakah?”

“Bocah, kau benar-benar menggemaskan. Kalau kau bukan murid Pek Hoa, agaknya aku akan mengagumi kata-katamu sebagai seorang bocah kau ternyata mempunyai pandangan yang luas dan kata-kata yang teratur baik. Akan tetapi kau adalah murid Pek Hoa, berarti kau adalah cucu muridku. Bagaimana kau berani sekali bersikap begini kurang ajar terhadapku? Andaikata kau sekarang juga menjatuhkan diri berlutut dan minta ampun, belum tentu aku mau memberi ampun. Sikapmu sudah jauh melampaui batas. Mengapa?”

“Locianpwe, jangan salah sangka. Aku yang muda cukup mendapat didikan ayahku, tak nanti berani bersikap kurang ajar tanpa alasan. Pek Hoa Pouwsat bukan guruku yang sesungguhnya karena aku telah diculiknya dari orang tua, oleh karena itu aku pun tak mungkin mengaku kau sebagai sucouw.”

“Suhu, bocah kurang ajar macam ini lebih baik lekas ditangkap saja, dia dan gadis liar satunya itu telah membunuh banyak anggauta tentara, mereka itu pemberontak-pemberontak yang berbahaya!” tiba-tiba Kam Kin berteriak dari tempatnya. Ia telah dirawat oleh anak buahnya, akan tetapi masih belum dapat berdiri, hanya duduk di atas rumput di kelilingi oleh anak buahnya.

“Benar, kau telah melakukan pelanggaran besar-besaran. Lebih baik kau dan sucimu itu menyerah saja untuk kami jadikan tangkapan,” kata Cheng-jiu Tok-ong kepada Im Giok, agaknya segan-segan untuk turun tangan terhadap seorang gadis yang demikian muda. Betapapaun juga, dia adalah seorang tokoh kang-ouw yang besar, seorang dengan kedudukan atau tingkat tinggi, maka ia agak segan dan malu untuk bertanding ilmu melawan seorang yang masih setengah bocah, apalagi wanita pula.

Im Giok mulai panas hatinya. “Cheng-jiu Tok-ong, kalau kau menurut saja akan hasutan Giam-ong-to Kam Kin, terserah. Kami telah melakukan perbuatan yang kami anggap sudah sewajarnya dilakukan oleh pendekar-pendekar pembela rakyat. Kalau kau hendak ikut-ikutan dan mau menangkap kami, silakan, terpaksa aku yang muda berlaku kurang ajar dan melawanmu!” sambil berkata demikian, Im Giok mencabut pedangnya dengan gerakan cepat dan gaya yang indah.

Terdengar Cheng-jiu Tok-ong tertawa geli,

“Bocah, kau benar-benar lucu sekali. Bagaimana kau hendak melawan sucouw-mu sendiri, orang yang menciptakan ilmu silat yang hendak kaumainkan untuk melawanku?”

“Cheng-jiu Tok-ong, awas serangan pedangku!” bentak Im Giok tanpa mau mempedulikan kata-kata kakek itu yang dianggapnya tidak keruan.

Cheng-jiu Tok-ong adalah seorang kakek yang berjuluk Raja Racun Tangan Seribu. Julukan ini saja sudah menunjukkan bahwa ia tentu memiliki ilmu silat yang tinggi dan cepat sehingga seakan akan ia bertangan seribu. Oleh karena itu, dalam menghadapi Im Giok, ia sengaja bertangan kosong. Apalagi kalau Im Giok murid Pek Hoa, bukankah yang akan diperlihatkan juga ilmu silat yang dahulu ia ajarkan kepada Pek Hoa?

Akan tetapi, pada gerakan pertama, Cheng-jiu Tok-ong sudah terkejut sekali dan cepat-cepat ia menggunakan dua ujung lengan bajunya untuk menangkis serangan pedang Im Giok yang gerakannya amat tidak terduga itu. Kakek ini benar-benar amat heran, karena melihat gerakan yang indah itu, memang bocah ini hampir sama dengan Pek Hoa kalau bermain pedang. Akan tetapi, ternyata isi daripada pedang itu jauh berbeda. Bukan main cepat dan kuatnya, bahkan sampokan ujung lengan bajunya tidak dapat membikin gadis itu melepaskan pedangnya. Jurus-jurus berikutnya membuat Cheng-jiu Tok-ong tidak hanya terkejut, akan tetapi juga bingung dan ia terpaksa melompat ke sana ke mari kalau tidak ingin terluka oleh pedang Im Giok yang luar biasa lihainya.

“Ayaaa, kau lihai juga...!” kata kakek itu pada jurus ke sepuluh karena sudah tidak kuat menghadapi Im Giok dengan tangan kosong. Ia melompat cepat ke kanan dengan gin-kang yang luar biasa, kemudian ketika Im Giok mendesaknya, ternyata kakek ini sudah memegang sebatang golok berwarna hitam kehijauan!

“Bocah, lebih baik lekas kau menyerah. Sayang kalau Ceng-tok-to (Golok Racun Hijau) mengambil nyawamu yang masih muda,” kata kakek ini, benar-benar merasa sayang kalau sampai terpaksa ia membunuh gadis yang demikian muda dan cantik jelitanya.

“Tak usah banyak cakap, monyet bangkotan. Kalau ada kepandaian majulah, kau pasti mampus oleh sumoiku!” teriak Kim Lian yang masih gemas kepada kakek itu.

Timbul marah dalam hati Cheng-jiu Tok-ong dan bangkit kembali sifat jahatnya yang dahulu.

“Akan kubunuh dulu sumoimu ini, akan tetapi kau... kau akan kuhadiahkan kepada serdadu-serdadu kasar, siluman cilik!” makinya kepada Kim Lian, kemudian dengan cepat ia menyerang Im Giok dengan goloknya.

Bagi Im Giok, gerakan golok dari kakek itu tidak begitu hebat dan dengan amat mudah ia menangkis dengan pedangnya. Akan tetapi, yang membuat Im Giok terkejut adalah bau busuk yang memuakkan perutnya ketika golok hitam kehijauan itu menyambar. Celaka, pikirnya, golok ini tentu mengandung bisa yang amat jahat. Ia mencoba menetapkan hatinya dan membalas dengah serangan hebat. Memang terbukti bahwa setiap serangan pedangnya membuat Cheng-jiu Tok-ong sibuk dan bingung untuk melindungi tubuh, akan tetapi serangannya makin menjadi lemah. Sebaliknya lawannya makin ganas dan gerakan goloknya makin kuat. Kakek ini jelas sekali berusaha mendekatkan golok dengan muka Im Giok, buktinya ia selalu menyerang kepala dan leher. Hal ini diketahui pula oleh Im Giok dan gadis ini pun mengerti bahwa lawannya sengaja mendekatkan golok dengan hidungnya supaya tercium bau busuk yang mengandung racun!

Biarpun keadaannya makin berbahaya Im Giok yang berdarah muda dan panas itu merasa penasaran. Memang tidak mengherankan, kalau gadis ini penasaran, karena sebetulnya, dalam setiap pertemuan senjata, ternyata bahwa tenaga lwee-kangnya dapat mengimbangi tenaga kakek itu. Dalam hal gin-kang dan kecepatan gerakan tubuh, ia menang jauh dan ilmu pedangnya juga selalu menindih ilmu golok lawan. Akan tetapi, ia kalah pengalaman, kalah gertak dan hatinya sudah bingung sekali ketika bau busuk dari golok itu makin memusingkan kepalanya.

Tiba-tiba terdengar teriakan keras, “Lo-enghiong, harap jangan bunuh dia...! Bunuh saja aku yang tidak berharga, jangan kauganggu kedua Li-hiap yang budiman itu...!” Pemuda sastrawan yang tadinya duduk bengong sambil menonton semua itu, kini tiba-tiba menjadi nekat melihat Im Giok menghadapi kakek yang kelihatannya demikian menyeramkan.

Bagaimana seorang dara sehalus itu akan dapat menang terhadap seorang kakek yang kelihatannya seperti iblis?

Melihat pemuda itu dengan nekat mendatangi seakan-akan hendak menyerbu dan menyerang Cheng-jiu Tok-ong, Kim Lian cepat melompat maju dan sekali jari tangannya digerakkan, pemuda itu roboh terguling dalam keadaan tertotok jalan darahnya.

“Kakek siluman jangan banyak lagak...!” bentaknya kemudian sambil menyerang dengan golok yang dipungutnya di atas tanah, yakni sebuah di antara senjata-senjata para serdadu yang bergeletak di situ.

“Suci, hati-hati...!” Im Giok memperingatkan dengan suara yang amat lemah sehingga ia terkejut sendiri. Mengapa suaranya hampir habis? Ia tidak tahu bahwa ia telah terpengaruh oleh racun yang keluar dari golok lawannya.

Mendengar suara yang aneh dan perlahan sekali dari Im Giok, Kim Lian kaget dan mengerling ke arah sumoinya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Cheng-jiu Tok-ong. Cepat tangan kirinya memukul ke arah dada Kim Lian. Biarpun pukulan itu dilakukan dari samping, namun amat berbahaya. Kim Lian mendengar suara hawa pukulan dahsyat ini cepat miringkan tubuh sambil menangkis. Sepasang lengan bertemu, dan Kim Lian menjerit karena lengannya terasa panas sekali sehingga ia kurang dapat mempertahankan diri dan pukulan lawan masih mampir di pundaknya. Gadis ini merasa pundaknya panas dan rasa nyeri menusuk jantung. Cepat sekali ia menggulingkan tubuhnya dan bergulingan menjauhkan diri dari kakek yang lihai itu. Ketika meraba pundaknya, ia kaget melihat baju di bagian pundak sudah robek dan kulit pundaknya ada tanda merah yang pada bergelangan lengan yang bertemu dengan lengan kakek tadi, telah merah menghitam.

“Celaka, aku terkena racun, Sumoi, kau hati-hatilah...” Setelah berkata demikian, Kim Lian bersila dan mengatur napas, mengempos hawa di dalam tubuh untuk mengusir racun yang mengeram di pundak dan lengannya. Memang inilah cara satu-satunya yang ia pelajari dari suhunya untuk menolak hawa racun itu menjalar makin hebat ke dalam tubuh.

Melihat dan mendengar keadaan sucinya, Im Giok makin bingung dan gugup. Baiknya ilmu pedang gadis ini memang lihai bukan main sehingga biarpun kini hampir tak berani bernapas dan pandang matanya sudah berkunang-kunang, namun pedangnya secara otomatis masih dapat melindungi tubuh dan menangkis setiap serangan golok lawan, bahkan kadang-kadang masih dapat membalas dengan serangan yang bukan tak berbahaya bagi Cheng-jiu Tok-ong.

“Lihai sekali... mengagumkan...!”

Beberapa kali Raja Racun itu memuji akan ketangguhan Im Giok. Namun, tanpa mengenal kasihan ia mendesak terus. Ia tidak mau mempergunakan senjata rahasia beracun lainnya karena melihat dengan golok saja ia sudah dapat mendesak lawannya. Malu tokoh ini untuk mempergunakan seluruh kepandaian hanya untuk menjatuhkan seorang bocah.

Setelah Im Giok terdesak betul-betul tiba-tiba terdengar bentakan halus, “Cheng-jiu Tok-ong, sungguh tak tahu malu engkau! Berani menghina cucu muridku?”

Tiba-tiba tubuh Im Giok terlempar ke samping dalam keadaan bersila! Gadis ini sendiri terheran karena ia tadi hanya merasa tubuhnya ditarik orang lalu dilemparkan jauh dari lawannya, akan tetapi ia terjatuh dalam keadaan bersila dengan pedang masih di tangan. Ketika membuka mata dan melihat siapa orangnya yang telah menolongnya, Im Giok menjadi girang bukan main, meletakkan pedang di atas tanah, lalu bersila meramkan mata mengatur napas untuk mengusir hawa beracun yang tadi telah memasuki lubang hidungnya ketika ia bertempur melawan Cheng-jiu Tok-ong!

Sementara itu, Cheng-jiu Tok-ong heran sekali melihat lawannya tiba-tiba terlempar jauh, kemudian ia melihat seorang laki-laki setengah tua telah berdiri di depannya. Laki-laki ini berpakaian sederhana, sikapnya tenang, rambutnya sudah berwarna dua dan dipinggangnya terselip sebatang suling. Melihat sikapnya. Cheng-jiu Tok-ong menduga bahwa dia ini tentulah seorang tokoh kang-ouw. Karena ia sendiri sudah lama meninggalkan kang-ouw, maka ia tidak berani berlaku sembrono dan berkata membela diri,

“Kau siapakah, sobat? Gadis liar itu adalah cucu muridku sendiri yang hendak kuberi hajaran, mengapa engkau mencampuri urusan kami dan mengapa kau berani mengaku-aku dia sebagai cucu muridmu?”

Orang itu tersenyum tenang, “Raja Racun, pengakuanmu tadi dua kali salah. Kau mengaku gadis ini sebagai cucu muridmu karena kauanggap dia murid Pek Hoa Pouwsat? Kau mimpi, Cheng-jiu Tok-ong. Pertama karena gadis ini bukan murid Pek Hoa Pouwsat, melainkan pernah diculiknya dan dipaksa menjadi muridnya. Ke dua, andaikata benar dia pernah rnenjadi murid Pek Hoa, kau sekarang kiranya sudah tidak patut mengaku guru Pek Hoa Pouwsat. Kepandaian Pek Hoa Pouwsat kiranya sudah jauh melampaui kepandaianmu sendiri, orang tua. Kau sudah baik-baik menyembunyikan diri, menjauhi kepusingan dunia, akan tetapi siapa kira, makin mendekati hari terakhir, kau bahkan makin lemah. Mudah dihasut orang, keluar dari tempat pertapaan yang tenang dan damai, membela orang-orang sesat dan begitu keluar kau sudah hampir saja membunuh dua orang gadis. Alangkah sesat...!”

Cheng-jiu Tok-ong marah sekali. Betapapun juga, dia bukan seorang yang takut digertak. Dahulu di waktu mudanya, hanya terhadap Lima Tokoh Besar saja ia gentar, kalau tokoh-tokoh lainnya ia tidak takuti! Akan tetapi, sebelum ia mengutarakan marahnya, tiba-tiba Kam Kin yang mengenal siapa adanya orang vang baru datang dan menjadi pucat telah berseru keras,

“Suhu, dia itu adalah Bu Pun Su! Dia bukan manusia biasa! Suhu... lari...!” Setelah berkata demikian, Kam Kin mengajak anak buahnya yang pada ketakutan seakan-akan seorang penakut melihat setan di tempat sunyi!

Akan tetapi Cheng-jiu Tok-ong belum lama turun dari gunung, belum pernah ia mendengar nama Bu Pun Su. Oleh karena itu ia tidak takut. Ia menduga bahwa orang ini tentu lihai, maka paling baik mendahuluinya. Sambil membentak keras ia mengayun tangan kiri dan tiba-tiba sinar hijau menyambar ke arah Bu Pun Su.

“Kau lebih patut menjadi ular, selalu bermain-main dengan bisa!” kata Bu Pun Su sambil menyampok dengan tangannya. Sinar hijau itu ternyata adalah jarum-jarum beracun yang secara istimewa dilepaskan oleh Cheng-jiu Tok-ong. Akan tetapi Raja Racun tidak berhenti sampai di situ saja. Begitu menyebar jarumnya, ia telah menubruk maju dan menyerang dengan goloknya, sengaja menyerang ke arah hidung Bu Pun Su!

Bu Pun Su memindahkan kaki miringkan tubuh, lalu berkata,

“Manusia ular, lebih baik kau pergi menyusul muridmu!” Kata-kata ini diucapkan sambil tangannya bergerak. Tangan kiri menyampok golok, hal yang amat luar biasa. Kecuali pendekar sakti ini, kiranya tidak ada orang ke dua yang berani menyampok golok dengan tangan kosong begitu saja, apalagi kalau golok itu mengandung racun berbahaya sekali seperti golok yang dipegang oleh Tok-ong! Sementara itu, secepat kilat sehingga tak terlihat oteh mata, tangan kanannya sudah mencabut suling dan melakukan gerakan menotok ke arah iga lawannya.

Cheng-jiu Tok-ong hanya merasa betapa separuh tubuhnya pegal dan linu-linu. Sebagai seorang tokoh persilatan yang sudah memiliki ilmu silat tinggi, tahulah ia bahwa jalan darahnya telah terkena totokan lawan dan ia telah mendapat luka di dalam biarpun luka itu tidak berat akan tetapi ini menandakan bahwa ia menemui guru dalam ilmu silat! Tanpa banyak cing-cong lagi Cheng-jiu Tok-ong menarik kembali goloknya, lalu berlari, terpincang-pincang menyusul Kam Kin. Kakinya yang kiri terasa kaku sehingga ia harus berlari terpincang-pincang.

Terdengar suara ketawa cekikikan. Bu Pun Su mengerutkan kening dan menengok ke arah gadis yang masih bersila akan tetapi menutupi mulutnya yang mungil sambil tertawa cekikikan, telunjuk menunjuk ke arah Cheng-jiu Tok-ong yang lari terpincang-pincang.

“Monyet bangkotan itu lucu sekali larinya...!” kata Kim Lian, gadis itu yang tadi membuka matanya menyaksikan pertandingan hebat antara Cheng-jiu Tok-ong dan Bu Pun Su. Kim Lian sudah pernah mendengar nama besar Bu Pun Su yang terhitung masih susiok-couwnya sendiri. Tadinya melihat sikap Im Giok dan Kiang Liat yang selalu takut dan menghormat nama Bu Pun Su ia pun merasa takut dan mengira bahwa susiok-couw yang bernama Bu Pun Su itu orangnya tentu amat dahsyat dan menyeramkan. Akan tetapi siapa nyana, sekarang setelah Bu Pun Su muncul, kiranya orangnya hanya sedemikian saja, begitu sederhana, seperti seorang petani biasa saja. Maka lenyaplah rasa takutnya dan gadis ini saking girangnya melihat Cheng-jiu Tok-ong kalah, lalu tertawa-tawa.

“He, kau! Tahan lidahmu yang jahat!” Bu Pun Su menegur marah.

“Suciok-couw, kau tadi telah mengalahkan musuh secara hebat sekali, apakah teecu tidak boleh bergirang?” Kim Lian membantah. Ia melihat wajah Bu Pun Su begitu ramah dan tenang, membayangkan watak yang sabar sekali, maka ia tidak takut.

“Suci, jangan kurang ajar terhadap Susiok-couw!” Tiba-tiba Im Giok menegur sucinya, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Pun Su sambil berkata,

“Susiok-couw, mohon dimaafkan kelancangan Suci Song Kim Lian.”

Bu Pun Su mengangguk-angguk dan diam-diam ia mengeluh ketika melihat Kim Lian berlutut pula sambil matanya mengerling dan bibirnya tersenyum manis.

“Hm, bagaimana Kiang Liat bisa mempunyai seorang murid seperti ini?” katanya di dalam hati. Kemudian katanya dengan suara rendah,

“Hm, ini sucimu? Jadi ayahmu mempunyai murid? Tidak apa dia lancang asal dia tahu diri. Luka di pundak dan lengannya adalah akibat pukulan Ang-tok-jiu (Tangan Racun Merah) dari Tok-ong, siapa terkena pukulan itu dalam tiga hari kalau tidak mati tentu akan cacad seluruh kulitnya, keluar bintik-bintik merah akhirnya menjadi bopeng-bopeng. Dia terancam bahaya hebat masih menertawakan orang lain, sungguh tak tahu diri...”

Alangkah kagetnya Kim Lian mendengar ucapan ini.

“Susiok-couw, tolonglah teecu...” ratapnya sambil membentur-benturkan jidat di atas tanah.

“Aku hanya akan menolong nyawamu, akan tetapi tentang bopeng itu...”

Kim Lian menjerit dan menangis sedih. “Susiok-couw, lebih baik teecu mati saja. Biarlah tak usah diobati, biar teecu mati daripada harus menderita, bopeng seluruh tubuh... alangkah ngerinya...”

“Hanya kalau mukamu jelek kiranya watakmu yang genit ini akan berubah,” kata Bu Pun Su yang dengan suara dingin. “Sikapmu terlalu genit dan berani, kau sungguh memalukan aku yang menjadi susiok-couw!”

Kini baru tahulah Kim Lian mengapa Im Giok dan Kiang Liat takut terhadap Bu Pun Su. Tidak tahunya pendekar ini mempunyai hati yang keras dan suka sekali menghukum anak muridnya. Ketika ia mengangkat muka, hatinya berdebar ketakutan melihat sinar mata Bu Pun Su yang demikian tajamnya menembus dada memeriksa isi hati. Benar-benar manusia aneh. Kim Lian bergidik. Belum pernah ia melihat sinar mata yang begitu berpengaruh!

Im Giok berkata kepada Bu Pun Su dengan suara memohon, “Susiok-couw, Suci memang bersalah. Mohon Susiok-couw sudi memberi ampun. Susiok-couw, seorang gadis yang diandalkan hanyalah kebersihan muka dan hati, biarpun hati bersih kalau muka kotor dan bopeng, bukankah itu berarti hancurnya hidup seorang gadis? Oleh karena itu, mohon Susiok-couw menaruh belas kasihan dan sudi mengobatinya.”

“Lebih baik muka bopeng asal hati bersih, daripada muka cantik hatinya kotor!” kata pula Bu Pun Su, suaranya kini menggeledek, membuat Kim Lian gemetar sambil mendekam di atas tanah.

Im Giok tak berani banyak cakap lagi, hanya melirik ke arah sucinya dengan hati kasihan. Bu Pun Su melihat semua ini, akan tetapi belum sempat ia berkata, pemuda sastrawan yang semenjak tadi sudah sadar dari totokan ringan dan kini menjatuhkan diri berlutut pula, berkata,

“Boanseng Gan Tiauw Ki mohon kepada Lo-enghiong, sudilah menaruh kasihan dan mengobati Li-hiap yang terkena racun. Li-hiap telah melakukan perbuatan gagah berani, kasihanilah kalau sampai menderita hidupnya. Kalau bisa, biarlah boanseng mengoper racun itu dan biar boanseng menjadi cacat untuk membalas budinya.”

Mendengar permintaan pemuda sastrawan yang bersedia menggantikan hukuman yang menimpa diri Song Kim Lian, Bu Pun Su mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada pemuda itu. Akan tetapi, Gan Tiauw Ki menentang pandang mata ini dengan tabah dan tidak takut-takut, karena memang pemuda ini rela untuk membalas budi Kim Lian.

“Hm, kau tidak mengecewakan menjadi seorang terpelajar,” kata Bu Pun Su, pandang matanya melunak. “Baikiah, setelah dua orang memintakan ampun, biar aku sembuhkan dia. Kau maju ke sini!” katanya kepada Kim Lian yang maju dengan sikap takut-takut. Bu Pun Su menggerakkan kedua tangan ke arah pundak dan lengan Kim Lian yang tadi terkena pukulan Cheng-jiu Tok-ong. Terlihat uap putih mengepul dan bergerak menyambar ke arah dua bagian tubuhnya, terutama sekali di bagian yang terluka oleh racun, rasa panas hampir tak dapat ditahannya sampai mukanya menjadi merah sekali dan berpeluh.

Bu Pun Su menarik kembali kedua tangannya. “Sudah sembuh, sudah sembuh...” katanya perlahan.

Kim Lian berlutut menghaturkan terima kasih. Akan tetapi Bu Pun Su mengeluarkan kata-kata ancaman, “Sebagai murid Kiang Liat, kau telah mewarisi kepandaian yang dasarnya datang dari aku. Oleh karena itu, hati-hatilah kau menjaga gerak-gerik dan perbuatanmu. Aku sendiri yang akan menghukum anak murid yang menyeleweng!”

Kemudian Bu Pun Su menoleh kepada Gan Tiauw Ki dan bertanya secara tiba-tiba.

“Bukankah surat kaisar untuk Suma-huciang berada di tanganmu?”

Tiauw Ki sebetulnya kaget bukan main, akan tetapi pemuda ini tidak kelihatan berubah air mukanya, bahkan dengan tabah ia menatap wajah Bu Pun Su.

“Kepada Lo-enghiong yang menjadi susiok-couw dari kedua orang Li-hiap ini, boanseng tentu saja tidak berani membohong. Akan tetapi, mengenai pertanyaan tadi, harap maafkan, boanseng tidak dapat menjawab.”

Kim Lian mengangkat muka, memandang dengan kening berkerut. Alangkah kurang ajarnya pemuda itu, pikirnya marah. Kalau saja ia tidak takut kepada Bu Pun Su, tentu ia telah beri hajaran kepada pemuda itu. Juga Im Giok mengerling ke arah Tiauw Ki dengan pandang mata heran. Akan tetapi, anehnya, Bu Pun Su sendiri tidak menjadi marah, bahkan sebaliknya pendekar sakti ini mengangguk-angguk dengan muka puas.

“Bagus, bagus! Tidak percuma kau menjadi orang kepercayaan Kaisar, Gan-sicu! Tak usah kau takut-takut dan curiga, kau boleh ketahui bahwa mendiang Menteri Lu Pin adalah kakekku.”

Mendengar ini, Gan Tiauw Ki lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Pun Su.

“Mohon Lo-enghiong sudi memaafkan boanseng yang kurang ajar. Memang sesungguhnya boanseng yang menerima tugas itu dan boanseng benar-benar kagum sekali melihat Lo-enghiong yang demikian waspada. Selanjutnya boanseng yang bodoh hanya mengharapkan petunjuk dari Lo-enghiong.”

“Sebetulnya, mana aku tahu tentang urusan ini? Hanya secara kebetulan saja aku mendengar bahwa Kaisar telah mengirim utusan untuk menghubungi Sumahuciang di Tiang-hai. Di antara mereka yang terbunuh oleh tentara Gubernur Lie Kong, hanya kau yang kelihatan paling cerdik dan mempunyai pribadi. Kebetulan pula kau seorang yang selamat, maka aku menduga tentu kau yang menjadi utusan itu.”

“Jadi mereka yang menyerang tadi adalah pasukan dari Gubernur Lie Kong?” tanya pemuda itu dengan muka kaget.

“Apa kaukira Lie Kong demikian bodoh sehingga tidak tahu akan gerak-gerik Kaisar?” Bu Pun Su tertawa, “Bocah she Gan, hanya satu yang belum kaupunyai, yakni pengalaman. Kau tentu tidak pernah menyangka bahwa di antara orang-orang yang kelihatan setia kepada Kaisar, yang setiap hari dekat dengan Kaisar di istana, terdapat kaki tangan pemberontak!”

Kini Gan Tiauw Ki benar-benar terkejut dan mukanya berubah. “Kalau begitu, tugas boanseng masih belum terlepas dari bahaya. Boanseng sendiri tidak takut akan bahaya yang dapat menimpa diri boanseng, akan tetapi surat... boanseng mohon petunjuk dari Lo-enghiong...”

“Kau harus dikawal sampai Tianghai. Im Giok, sekarang tiba saatnya kau mempergunakan kepandaian yang selama ini kaupelajari guna kebaikan. Tugas yang dipegang oleh Gan-siucai bukan kecil dan kaulah yang kutugaskan mengawalnya sampai ke Tiang-hai. Aku sendiri yang akan memberitahukan hal ini kepada ayahmu. Nah, berangkatlah kalian berdua!”

Kiang Im Giok memang takut dan tunduk kepada susiok-couw ini dan pula... tak dapat disangkal lagi bahwa, hatinya berdebar girang tercampur jengah menerima tugas ini. Ia sejak tadi sudah amat tertarik kepada pemuda yang tampan ini, dan sekarang, ia ditugaskan untuk mengawalnya ke Tiang-hai, berarti ia akan melakukan perjalanan sedikitnya tiga hari bersama pemuda itu!

“Teecu mentaati perintah Susiok-couw,” katanya sambil menundukkan mukanya.

“Berangkatlah dan ingat, kalau sampai pemuda ini terbunuh orang, itu masih belum hebat, akan tetapi jagalah baik-baik agar surat yang berada di saku baju dalamnya jangan sampai dicuri orang!”

Im Giok menyatakan baik, lalu menghampiri kudanya. “Suci, biar kudamu dipakai oleh Gan-siucai.”

Kim Lian tersenyum akan tetapi tidak berani mengeluarkan kata-kata sembrono dihadapan Bu Pun Su, maka ia hanya berkata, “Baiklah, Sumoi, memang Gan-siucai habis terluka dan lemah, harus melanjutkan perjalanan naik kuda.”

Gan Tiauw Ki buru-buru berkata,

“Tidak usah, Li-hiap. Mana berani aku mengganggu dan memakai kuda Li-hiap? Habis Li-hiap sendiri mau naik apa? Tak usahlah, biar aku berjalan kaki saja...” Tentu saja Tiauw Ki merasa sungkan untuk memakai kuda Kim Lian, karena biarpun gadis itu seorang pendekar gagah, namun tetap saja Kim Lian adalah seorang wanita. Mana patut seorang laki-laki mengambil kuda seorang gadis dan membiarkan gadis itu berjalan kaki?

Bu Pun Su yang melihat semua ini berkata, “Gan-siucai, tak usah sungkan-sungkan dalam saat seperti ini. Kau pakailah kuda itu dan cepat berangkat!”

Mendengar ini, Gan Tiauw Ki tak berani membantah lagi. Ia menjura kepada Bu Pun Su, lalu kepada Kim Lan. Setelah itu ia lalu menunggangi kuda Kim Lan. Biarpun gerakannya lemah, namun dapat dilihat bahwa dia sudah biasa menunggang kuda. Hal ini melegakan hati Im Giok. Karena kalau pemuda itu tidak biasa menunggang kuda, bisa repot juga di jalan! Setelah Im Giok memberi hormat kepada Bu Pun Su dan berpamit kepada Kim Lian, ia lalu berangkat bersama Tiauw Ki.

Di dalam perjalanan ini, Tiauw Ki secara secara terus terang menuturkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tugasnya kepada pengawalnya yang cantik jelita itu. Penuturan Tiauw Ki singkatnya sebagai berikut.

Semenjak pemberontakan dan perusuh An Lu Shan, She Su Beng dan yang lain-lain dihancurkan dan ibu kota Tiang-an jatuh kembali kepada Kerajaan Tang, keadaan di seluruh negeri sudah tidak seperti biasa lagi. Kembalinya pasukan-pasukan Tang merebut kota raja bukanlah atas kekuatan sendiri, melainkan mendapat bantuan dari suku bangsa-suku bangsa dari utara dan barat, terutama sekali mendapat bantuan dari suku bangsa Uigur yang terkenal kuat dan gagah berani. Setelah pasukan pemberontak dihancurkan, para pembantu ini merasa keenakan tinggal di Tiongkok dan tidak mau keluar lagi, bahkan mereka ini memperebutkan harta benda dan kekuasaan. Negara menjadi kacau balau, keamanan tidak terjamin lagi dan di sana-sini para pembesar hidup seperti raja kecil. Banyak gubernur dari propinsi-propinsi yang berjauhan dari kota raja, mulai tidak taat lagi kepada Kaisar. Bahkan lambat-laun Kaisar hampir hilang pengaruhnya dan seringkali harus menurut apa yang diusulkan oleh para gubernur, yang sesungguhnya bukan merupakan usul lagi akan tetapi lebih mendekati perintah! Kaisar seakan-akan menjadi boneka belaka dan yang berkuasa adalah para pembesar tinggi yang memiliki pasukan-pasukan kuat.

Betapapun juga, sampai sebegitu jauh belum ada pembesar yang berani secara terang-terangan menentang Kaisar, karena masih banyak juga pembesar-pembesar yang setia kepada Kaisar. Sebetulnya kesetiaan ini bukan karena memandang kepada Kaisar, melainkan kepada Kerajaan Tang sendiri. Para pembesar dan juga rakyat memang setia kepada pemerintah Tang dan apapun juga yang menjadi alasan, mereka ini tidak akan membiarkan orang memberontak terhadap pemerintah Tang. Oleh karena itu, Kaisar juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan Kaisar menghubungi pembesar-pembesar yang setia untuk dapat berjaga-jaga terhadap pemberontak yang mungkin timbul.

Gan Tiauw Ki adalah seorang siucai yang baru saja lulus dalam ujian di kota raja. Dia adalah putera seorang janda petani di dusun Lee-siang-chung di Propinsi Hok-kian. Semenjak kecilnya ia memang amat rajin belajar. Waktunya sejak kecil sampai dewasa dihabiskan untuk mempelajari semua buku-buku kuno dan akhirnya dengan mendapat dukungan ibunya yang bangga melihat puteranya, Gan Tiauw Ki berangkat ke kota raja untuk mengikuti ujian yang diadakan setiap tahun.

Selain pandai ilmu kesusastraan, di dalam dada pemuda ini menyala api cinta bangsa dan cinta negara yang besar. Oleh karena itu, dalam menempuh ujian, ia mendapat angka tertinggi sehingga pembesar tua yang menjadi ko-khoa (kepala examinator) kagum sekali. Kemudian setelah pemuda ini ditanya asal-usulnya, jawaban-jawabannya bersemangat sehingga pembesar itu membawanya ke depan Kaisar. Memang Kaisar telah memesan kepada ko-khoa ini supaya mencarikan seorang kepercayaan yang setia, bersemangat, dan pandai.

Demikianiah, setelah diuji dengan pertanyaan-pertanyaan oleh Kaisar yang ingin mengetahui isi hatinya, Gan Tiauw Ki lalu diangkat menjadi utusan Kaisar untuk menghubungi pembesar-pembesar dan gubernur-gubernur di daerah lain yang masih setia kepada Kaisar. Bahkan pemuda ini kadang-kadang mendapat tugas untuk menghubungi gubernur-gubernur yang tidak tunduk kepada Kaisar untuk mencoba membujuknya.

Kali ini, Gan Tiauw Ki mendapat tugas dari Kaisar untuk menyampaikan surat kepada Suma Huciang, seorang berpangkat huciang di kota Tiang-hai. Dalam perjalanan ini, sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Gan Tiauw Ki yang menyamar sebagai pengungsi dan melakukan perjalanan bersama, para pengungsi lain, telah dicegat dan hampir saja menjadi korban keganasan tentara pemberontak yakni tentara di bawah perintah gubernur Liok yang tidak tunduk kepada Kaisar, dan pasukan ini dipimpin oleh Giam-ong-to Kam Kin yang dibantu oleh suhunya, yakni Cheng-jiu Tok-ong.

Demikianlah penuturan Gan Tiauw Ki kepada Im Giok dalam perjalanan mereka ke Tiang-hai. Makin lama mereka bercakap-cakap, makin tertariklah Im Giok kepada pemuda ini. Di lain pihak, Tiauw Ki juga kagum dan tertarik sekali kepada Ang I Niocu sehingga biarpun bibir mereka tak mengeluarkan sepatah kata pun mengenai perasaan hati mereka dan bahkan sinar mata mereka selalu hendak menyembunyikan pancaran rasa hati karena keduanya adalah orang-orang muda yang sopan, namun mereka sama-sama tahu apa yang terkandung dalam hati masing-masing!

***

Kita tunda dulu perjalanan sepasang teruna remaja yang baru pertama kali dibuai asmara ini, dan mari kita menengok keadaan Giok-gan Niocu Song Kim Lian yang ditinggalkan oleh Kiang Im Giok dan berada bersama Bu Pun Su. Kakek ini setelah melihat Im Giok pergi dengan Tiauw Ki, lalu berkata kepadanya dengan suara keren,

“Nah, sekarang kau boleh pulang. Cepat-cepat kau pulang ke rumah gurumu, jangan menyeleweng ke mana-mana!”

Hati Kim Lian tak senang sekali mendengar ucapan kasar ini, karena biarpun ia hanya murid Kiang Liat, namun biasanya ia diperlakukan dengan manis. Akan tetapi ia dapat berbuat apakah? Bahkan untuk menjawab saja dia tidak sempat karena tahu-tahu berkelebat bayangan yang membuat ia terkesiap dan terasa angin menyambar. Ketika ia membuka mata, kakek sakti itu telah lenyap dari situ! Kim Lian menghela napas dan berkata seorang diri,

“Hebat sekali kepandaian Susiok-couw Bu Pun Su, seperti bukan manusia saja.” Ia bergidik kalau mengingat sinar mata yang mengandung ancaman ketika kakek itu memandangnya. Sinar mata itu demikian berpengaruh dan agaknya segala kehendak kakek itu tak mungkin ditentang. Maka ia segera cepat melangkah, kemudian di lain saat ia sudah berlari cepat yang jauh melampaui kepandaian ahli-ahli silat biasa. Bahkan ilmu lari cepatnya sudah mengimbangi kepandaian gurunya sendiri sungguhpun harus ia akui bahwa ia masih kalah kalau dibandingkan dengan kepandaian Im Giok. Ini pun tidak begitu mengherankan karena Im Giok berlatih sejak kecil, sedangkan ia baru belajar ilmu silat setelah dewasa. Kalau tidak demikian halnya, seandainya ia pun berlatih sejak kecil dan sama lamanya dengan Im Giok, belum tentu sumoinya itu akan dapat mengalahkannya. Dalam hal bakat, kecerdikan, dan ketekunan, kiranya Kim Lian tidak kalah oleh Im Giok.

Kali ini Kim Lian benar-benar terheran dan kagum sekali melihat kelihaian susiok-couwnya. Biarpun ia sudah pergunakan ilmu lari cepat yang tak sembarang orang dapat imbangi, ketika ia tiba di rumah gurunya di Sian-koan, ternyata Bu Pun Su telah berada di situ, bercakap-cakap dengan Kiang Liat! Dan begitu datang dengan kulit muka agak merah dan peluh tipis membasahi jidat dan lehernya, Bu Pun Su sudah menegurnya,

“Kau harus banyak berlatih lari, jangan menunggang kuda saja! Ilmu lari cepat Yan-cu-hui-po yang kaulakukan tadi, jauh dari sempurna!”

Kim Lian kaget. Kakek ini berlari lebih dulu, bagaimana bisa tahu tentang ilmu lari cepatnya? Memang benar tadi ia mempergunakan ilmu lari Yan-cu-huipo ajaran suhunya. Melihat suhunya juga bersikap amat hormat kepada Bu Pun Su, Kim Lian lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata,

“Teecu yang bodoh mohon petunjuk Susiok-couw.”

Sikap ini menyenangkan hati Bu Pun Su, maka setelah menarik napas panjang kakek sakti ini berkata,

“Ketahuilah, gurumu ini menerima Yan-cu-hui-po dari pendekar wanita sakti Bun Sui Ceng. Ilmu lari cepat Yan-cu-hui-po (Lari Terbang Burung Walet) ini adalah ciptaan dari tokoh besar wanita Kiu-bwe Coa-li dan merupakan ilmu lari cepat yang tinggi sekali tingkatnya di dunia persilatan. Kau secara kebetulan telah menjadi cucu muridku, karena secara kebetulan pula gurumu ini menjadi murid atau murid keponakanku. Jadi selain mewarisi ilmu-ilmu yang berasal dari aku, kau telah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi warisan keluarga Kiang ditambah pula warisan dari aku dan suteku Han Le. Oleh karena itu, selain kau harus tekun dan rajin agar ilmu-ilmu silat yang bersih dan tinggi itu dapat kaukuasai sebaiknya, juga kau harus selalu menjaga agar kepandaian itu tidak dipergunakan untuk jalan sesat.”

“Teecu akan memperhatikan segala petunjuk Susiok-couw,” jawab Kim Lian dengan suara perlahan.

“Nah, sekarang mundurlah, aku hendak bicara dengan gurumu.”

Kim Lian mengundurkan diri. Hatinya ingin sekall mengetahui apakah gerangan yang hendak dibicarakan oleh guru besar ini dengan gurunya. Akan tetapi tentu saja ia tidak berani mengintai. Dengan kepandaian setinggi itu, susiok-couwnya tentu akan mengetahui kalau diintai orang. Maka Kim Lian tidak berani muncul dan mengaso di dalam kamarnya, lalu membayangkan peristiwa yang baru terjadi. Di dalam hatinya ia merasa iri sekali terhadap Im Giok.

“Dia untung,” pikirnya, “melakukan perjalanan dengan sastrawan muda yang tampan itu. Tentu menyenangkan sekali...“ Gadis ini lalu merebahkan diri, melamun jauh, membayangkan pemuda-pemuda tampan yang pernah dilihatnya, kadang-kadang tersenyum manis seorang diri dan akhirnya ia tertidur!

“Kiang Liat, kulihat anak perempuanmu Im Giok itu mempunyai bakat baik dan semangat besar. Dia boleh diharapkan,” kata Bu Pun Su setelah Kim Lian mengundurkan diri. “Juga muridmu ini bakatnya bagus, aku tidak menyalahkan engkau menurunkan pelajaran kepada seorang yang demikian baik bakatnya. Hanya aku merasa khawatir sekali kalau melihat sifat-sifatnya. Aku tidak hendak mendahului Thian, akan tetapi kelak mungkin sekali muridmu ini akan menimbulkan hal-hal yang mencemarkan nama baik kita. Oleh karena itu, kau harus berhati-hati mengawasi tingkah lakunya dan gerak-geriknya.”

Sebetulnya, Kiang Liat tidak ada nafsu untuk memikirkan hal-hal lain kecuali mengenangkan isterinya yang sampai sekarang seringkali terbayang dan seperti hidup di depan matanya. Sudah sejak lama sekali Kiang Liat seakan-akan menjadi pertapa, menjauhkan urusan dunia dan tidak mempedulikan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Akan tetapi sekarang ia berhadapan dengan Bu Pun Su, orang yang paling disegani di dunia ini, terpaksa ia menjawab,

“Baikiah Supek. Akan teecu perhatikan.”

Bu Pun Su menarik napas panjang. Kakek ini memiliki penglihatan dan pendengaran yang luar biasa tajamnya. Sekali saja mendengar suara Kiang Liat, dapatlah ia menduga apa yang menjadi isi hati Kiang Liat.

“Kiang Liat, tak kusangka batinmu demikian lemah sehingga sampai sekarang kau masih menghukum diri, menyesali perbuatan sendiri secara berlebihan dan menyedihkan sesuatu yang sudah lewat. Perbuatan salah tidak cukup disesalkan dengan jalan menyiksa diri sendiri, akan tetapi bahkan sedapat mungkin harus ditebus dengan perbuatan baik sebanyak mungkin dan membatasi diri sedapatnya agar jangan lagi menyeleweng seperti yang sudah-sudah. Obat hati luka tak dapat kautemukan di dalam kamar. Dengan jalan bersunyi, sakit di hati makin parah. Kau kurang pandai menghibur diri sendiri.”

Kiang Liat menundukkan mukanya dan mengeraskan hatinya agar jangan sampai matanya yang mulai panas itu mengeluarkan air.

“Teecu telah melakukan dosa besar terhadap seorang wanita mulia, bagaimana teecu tidak akan merasa sedih selalu? Rasanya teecu rela dihukum mati untuk menebus dosa.”

Tiba-tiba Bu Pun Su tertawa, suara ketawanya nyaring sehingga biarpun Kiang Liat sudah tahu bahwa supeknya ini mempunyai watak yang aneh sekali, namun tetap saja ia terheran. Keadaannya amat menyedihkan, patutkah ditertawakan?

“Ha, ha, ha, bocah tolol! Manusia di dunia ini siapakah yang takkan mampus? Akan tetapi banyak sekali jalan ke arah kematian dan di antara sekian banyaknya cara untuk mati, kiraku cara mati bersedih di dalam kamar bukanlah cara yang baik, apalagi bagi seorang yang menjunjung tinggi kegagahan. Banyak sekali cara untuk melewati hidup dan untuk menanti datangnya maut yang pasti akan tiba, mengapa memilih cara rendah? Mati ngenes adalah mati yang hina. Kau sudah mempelajari ilmu dan mengutamakan kegagahan, mengapa tidak mencari kematian yang gagah? Mengapa tidak menumpas musuh besar dalam hati sendiri dengan terjun ke dunia ramai dan menumpas kejahatan?”

“Teecu tidak ada semangat, tidak ada nafsu, dan pula, teecu harus berada di rumah untuk mendidik Im Giok dan Kim Lian.”

“Mereka sudah cukup pandai. Kiang Liat, kebetulan sekali aku datang ini untuk memberi tugas kepadamu. Tugas yang penting demi kepentingan negara. Kau tentu senang kalau mati dalam melakukan tugas ini, berarti mati dalam perjuangan selaku seorang patriot, bukan?”

Karena dibakar dengan kata-kata bersemangat, timbul kegembiraan di hati Kiang Liat yang sudah hampir kering.

“Tugas apakah, Supek? Tentu teecu siap sedia menerima perintah Supek.”

“Bagus! Sekarang dengarlah baik-baik.”

Bu Pun Su lalu menceritakan tentang keadaan negara. Betapa banyak gubernur membelakangi pemerintah dan betapa pendatang-pendatang asing yakni suku bangsa-suku bangsa yang dahulu membanntu pemerintah mengusir pemberontakan An Lu Shan sekarang merajalela, dan betapa sukar dan lemahnya kedudukan Kaisar. Di mana-mana timbul gejala pemberontakan, dan di propinsi yang jauh dari kota raja, para pembesar saling bermusuhan karena ada yang pro ada yang kontra pemerintah. Demikian pula orangorang gagah di dunia kang-ouw menjadi goncang kedudukannya. Mereka terpecah belah dan terpengaruh oleh gubernur-gubernur atau pemimpin-pemimpin pemberontak di daerah masing-masing.

Bu Pun Su adalah keturunan keluarga Lu yang semenjak dahulu terkenal sebagai patriot-patriot sejati dan pembesar-pembesar setia kepada negara. Biarpun Bu Pun Su hanyalah putera angkat dari Menteri Lu Pin (baca Pendekar Sakti), namun kiranya semangat dan jiwa kepahlawanan mengalir pula di dalam tubuhnya sehingga kakek sakti ini tidak tega melihat keadaan negara yang demikian kalut.

“Demikianlah, Kiang Liat,” katanya sambil menghela napas. “Negara kalut, perang saudara mengancam, perpecahan antara orang-orang gagah berada di ambang pintu. Kalau sampai semua ini meletus, yang menderita tak lain hanyalah rakyat jelata. Negara kalut, keamanan tidak terjamin, orang-orang jahat muncul merajalela mengacau kehidupan rakyat kecil. Kalau timbul perang, rakyat pula yang menderita, terpukul dari kanan kiri. Apalagi kalau dibayangkan perpecahan yang akan terjadi di antara orang-orang gagah, benar-benar menyedihkan sekali. Oleh karena itu, aku mengambil prakarsa untuk mengadakan pertemuan orang-orang kang-ouw di puncak Bukit Kauw-san. Hendak kuajak mereka ini membela negara dan mencegah timbulnya perang saudara yang pasti takkan pernah ada habisnya, melihat betapa banyaknya orang yang hendak memperebutkan kedudukan dan kekuasaan. Hanya kau dan gurumu Han Le yang kiranya akan dapat membantuku.”

“Bagaimana teecu dapat membantu Supek?” tanya Kiang Liat.

“Ancaman yang paling hebat bagi negara adalah bahaya yang datang dari utara dan barat. Oleh karena itu, untuk membendung pengaruh ini, kita harus menghubungi tokoh-tokoh Kun-lun-pai dan Thian-san di barat, juga tokoh-tokoh Gobi-san di utara. Kau wakililah aku pergi ke Go-bi-pai di utara dan berikan suratku kepada Twi Mo Siansu Ketua Go-bi-pai. Aku sendiri hendak mencari Han Le dan menyuruhnya pergi kepada Thian It Cinjin di Thian-san dan aku pergi ke Kun-lun-pai menemui Keng Thian Siansu.”

Kiang Liat menerima baik perintah ini. Memang ia pun sudah amat rindu akan dunia luar kampungnya. Setelah membuatkan surat untuk Ketua Go-bi-pai Bu Pun Su minta kepada Kiang Liat supaya segera berangkat.

“Kau tak usah menanti datangnya Im Giok karena ia sedang mengantar utusan Kaisar ke Tiang-hai. Kalau dia datang, Kim Lian dapat memberi tahu kepadanya ke mana kau pergi. Pertemuan yang kurencanakan itu akan terjadi tiga bulan lagi, maka kita harus bekerja cepat.”

Maka berangkatlah Kiang Liat, menuju ke utara, ke Go-bi-san yang jauh. Adapun Bu Pun Su setelah meninggalkan pesan kepada Kim Lian supaya berhati-hati menjaga rumah, lalu pergi menuju ke Pulau Pek-le-tho mencari Han Le.

***

Dengan menggunakan kepandaian yang tinggi, beberapa pekan kemudian Bu Pun Su telah tiba di pesisir Pulau Pek-letho. Alangkah kagetnya ketika ia mendaratkan perahu, ia melihat jenazah tiga orang menggeletak di pinggir laut. Dan lebih-lebih terkejut hatinya ketika ia mengenal jenazah-jenazah itu, yakni Bok Beng Hosiang dan Kok Beng Hosiang tokoh-tokoh Siauw-lim-pai dan ketiga Cin Giok Sianjin tokoh Kun-lun-pai! Agaknya belum lama mereka ini tewas, paling lama dua hari.

“Omitohud...!” Bu Pun Su berseru kaget dan cepat ia memeriksa.

“Celaka...!” serunya sambil melompat mundur ketika ia mendapat kenyataan bahwa ketiga orang ini semua mempunyai bekas pukulan ilmu Pek-in Hoat-sut! Ia tahu bahwa di dunia ini yang memiliki ilmu pukulan Pek-in Hoat-sut hanya dia sendiri, sedangkan Han Le juga dapat, akan tetapi hanya beberapa bagian setelah mempelajari gambar-gambar di dalam guha. Ia terkejut sekali karena tahu bahwa tiga orang ini telah bertempur dan terluka oleh Han Le. Terang bahwa mereka ini dirobohkan oleh Han Le, sungguhpun mereka tewas bukan karena pukulan itu, melainkan karena tikaman pedang yang tepat menembus ulu hati mereka.

“Tokoh-tokoh Kun-lun dan Siauw-lim dimusuhi oleh Han Le? Apa artinya ini?” Bu Pun Su menjadi cemas memikirkan sutenya, maka cepat ia berlari ke tengah pulau mencari Han Le.

Han Le tidak berada di dalam gua. Bu Pun Su mencari terus dan akhirnya ia melihat pemandangan yang membuat wajahnya menjadi pucat, hampir saja ia tidak percaya akan penglihatannya sendiri sehingga Bu Pun Su berdiri terpaku, memandang ke arah dua orang yang duduk di bawah pohon. Apa yang dilihatnya?

Han Le sedang rebah telentang di atas rumput, kepalanya terletak di atas pangkuan seorang wanita yang cantik jelita yang dikenalnya sebagai Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat! Sambil menundukkan muka dan membisikkan kata-kata rayuan, Pek Hoa membelai-belai rambut kepala Han Le yang setengah tertidur.

Melihat ini, timbul amarah di dalam hati Bu Pun Su. Juga berbareng terbayanglah di depan matanya peristiwa dahulu ketika ia terjerumus ke dalam perangkap Wi Wi Toanio. Juga dia pernah tergila-gila dan roboh oleh kecantikan wanita, pernah menurutkan nafsu hati dan lupa diri, melakukan hal yang amat rendah memalukan. Akan tetapi, dengan Wi Wi Toanio ia hanya melakukan kebodohan, bukan kejahatan. Ia tidak membunuh siapa-siapa, sedangkan Han Le, tak salah lagi, tentu Pek Hoa siluman wanita yang cantik itu telah membujuk Han Le untuk merobohkan tokoh-tokoh Siauw-lim-pai dan Kun-lun!

“Han-sute...!” Bentakan yang menggeledek ini mengejutkan Han Le dan Pek Hoa. Mereka cepat melompat berdiri dan memandang kepada Bu Pun Su dengan mata terbelalak. Pek Hoa agak pucat akan tetapi bibirnya yang manis tersenyum, sedangkan Han Le merah sekali mukanya, merah sampai ke telinganya.

“Sute, kesesatan apa yang kaulakukan ini?”

Han Le mengangkat muka, tak kuat menatap pandang mata Bu Pun Su dan menundukkan kepalanya lagi. Tiba-tiba terdengar suara ketawa perlahan, suara ketawa yang merdu dan sedap didengar, kemudian Pek Hoa yang tertawa itu melangkah maju menghadapi Bu Pun Su.

“Bu Pun Su, kebetulan sekali kau datang. Mengapa kau tidak mau membawa Wi Wi Toanio ke sini agar kita dua pasang manusia berbahagia mencari kesenangan hidup di pulau ini?”

“Apa katamu?” Bu Pun Su membentak dan mukanya berubah pucat.

Pek Hoa Pouwsat tersenyum, manis sekali sehingga Bu Pun Su diam-diam merasa heran sekali. Kalau diingat, perempuan ini usianya sudah tidak muda lagi, sedikitnya lima puluh tahun. Akan tetapi mengapa cantik jelita seperti gadis berusia dua puluh lebih?

“Bu Pun Su, kau seorang laki-laki, demikian pula Han-ko seorang jantan. Kau bisa jatuh cinta, mengapa Han-ko tidak boleh? Kau pernah tergila-gila kepada Wi Wi Toanio isteri orang lain, mengapa Han-ko tidak boleh jatuh hati kepada aku, seorang yang masih bebas belum bersuami? Kau benar-benar aneh dan di manakah keadilanmu, Bu Pun Su?”

Pendekar sakti itu merasa seakan-akan kepalanya disambar petir. Tak disangkanya bahwa siluman wanita ini sudah mengetahui rahasianya, dan tahulah ia bahwa tentu Wi Wi Toanio yang membuka rahasia ini di depan Pek Hoa. Teguran wanita ini memang tepat dan ia tidak dapat menjawab! Akhirnya Bu Pun Su berpaling kepada Han Le dan berkata dengan suara dingin,

“Han Le, mengapa kau membunuh tokoh-tokoh Siauw-lim-pai dan Kun-lunPai?”

Suara Bu Pun Su mengandung ancaman dan amarah besar, membuat Han Le menjadi pucat dan nampak ia takut sekali,

“Suheng, siauwte... siauwte tidak membunuh mereka...”

“Jangan memutar lidah sesukamu. Han Le. Setidaknya kau yang telah merobohkan mereka!” Bu Pun Su mendesak dan Han Le tak dapat menjawab.

Melihat kekasihnya didesak, Pek Hoa menjawab, “Memang benar, Han-ko yang merobohkan mereka. Akan tetapi akulah yang membunuh mereka. Mereka adalah musuh-musuh besarku dan mereka datang untuk membunuhku, maka Han-ko melindungi dan mengalahkan mereka. Apa salahnya dalam hal ini? Tidak tepatkah orang melindungi kekasihnya yang terancam oleh orang lain? Bu Pun Su, kau mau apakah? Han-ko dan aku hidup bahagia di sini, sebagai suami isteri yang saling mencinta. Apakah kau merasa iri hati? Apakah kau merasa iri melihat Han-ko hidup bahagia sedangkan kau tidak? Kalau kau merasa iri, carilah sendiri seorang kekasih dan bawa ke sini, bukankah itu baik sekali daripada kau datang dan marah-marah seperti ini?”

“Siluman keparat, tutup mulutmu!” Bu Pun Su membentak dan amarahnya meluap. Belum pernah Bu Pun Su semarah itu. Selama ini ia telah dapat menguasai seluruh dirinya lahir batin, akan tetapi sekarang menghadapi kebodohan Han Le yang dipermainkan oleh siluman wanita ini, ia benar-benar lupa diri. Bu Pun Su maklum siapa adanya Pek Hoa Pouwsat dan orang macam apa wanita ini. Jauh lebih cabul dan lebih jahat daripada Wi Wi Toanio, jauh lebih berbahaya. Dan ia tahu pula bahwa Han Le adalah seorang laki-laki teguh iman, seorang laki-laki yang hampir “jadi” karena semenjak muda tidak mau mendekati wanita. Celakanya, sekarang Han Le tergoda dan tergelincir, tidak kuat menghadapi bujuk dan cumbu rayu dari Pek Hoa, siluman wanita yang cantik sekali dan genit. Dan ia tahu pula bahwa hal ini harus dicegah, kalau tidak akan mendatangkan bahaya besar. Han Le berkepandaian tinggi, kalau sudah tercengkeram oleh orang perempuan seperti Pek Hoa, kelak dapat dibujuk untuk membunuh siapa saja yang dibenci oleh Pek Hoa!

“Bu Pun Su, kau mau apakah?” Pek Hoa menantang sambil membusungkan dadanya yang montok.

“Kau harus pergi tinggalkan pulauku ini, lekas!”

“Kau mengusir kami?” tanya Pek Hoa sambil menggandeng tangan Han Le dan menyandarkan kepalanya ke pundak laki-laki itu.

“Aku mengusir kau, perempuan jahat! Lekas pergi dari sini kalau kau tidak ingin melihat aku melemparkanmu ke dalam laut! Han Le tidak boleh ikut!”

Pek Hoa menyandarkan kepala makin dekat dan berbisik di dekat telinga Han Le, “Kau dengar itu kekasihku? Sudah sejak dulu aku bilang bahwa suhengmu ini jahat sekali, akan tetapi kau tidak percaya. Aku bilang bahwa sebetulnya dia tergila-gila dan suka padaku dan ia menjadi benci padaku karena cintanya kutolak, dan kau tidak percaya lagi. Sekarang kau melihat sendiri, bukan? Dia iri hati padamu, iri hati dan cemburu, kau tahu? Dia ingin melihat aku mati daripada jatuh ke dalam tangan orang lain, ingin melihat aku mati dan kau menderita. Kekasihku, ayah anakku, apakah kau akan tinggal diam saja melihat isterimu yang mencintamu dengan seluruh tubuh dan nyawa?” Suaranya makin merayu dan dua titik air mata meloncat keluar dari mata Han Le.

“Pek Hoa, dia... dia suhengku... tak dapat aku melawan Suheng...“ bisiknya.

Pek Hoa menarik dirinya dengan sentakan, sepasang matanya bersinar-sinar, nampaknya marah.

“Aha, jadi kau lebih berat kehilangan suheng daripada kehilangan isteri?”

“Bukan begitu, Pek Hoa... aku... aku tidak berani...”

“Hm, jadi kau takut? Baiklah, Han-ko. Kalau kau takut membantuku, biar aku sendiri mengadu nyawa dengan Bu Pun Su!” Kemudian Pek Hoa melompat maju dan sudah mencabut siang-kiamnya (sepasang pedangnya). “Bu Pun Su, kau benar-benar menghinaku. Kau hendak melemparkan aku ke dalam laut? Boleh kaucoba, laki-laki gagah perkasa tukang menghina wanita!”

Menghadapi Pek Hoa yang berdiri dengan sepasang pedang di tangan dan sikapnya gagah sekali itu, yang menantangnya dengan kulit muka kemerahan menambah kecantikannya, Bu Pun Su menjadi serba salah. Ia tahu sedalam-dalamnya betapa jahatnya perempuan ini, betapa palsu hatinya dan betapa berbahayanya. Kalau dibandingkan dengan mendiang Thian-te Sam-kauwcu guru dari Pek Hoa, kiranya perempuan ini lebih berbahaya. Akan tetapi melemparkan dia begitu saja ke laut? Kiranya takkan mampu ia lakukan.

“Pek Hoa, kuharap kau suka pergi dari sini dengan baik-baik dan tidak melawan. Aku sungguh malu harus melawan wanita.”

Pek Hoa sudah mendengar dari Han Le bahwa Bu Pun Su tak pernah menyerang orang sebelum diserang oleh karena inilah maka tadi ia menahan sabar dan menanti supaya Bu Pun Su menyerang dulu. Sekarang ia sengaja hendak memanaskan hati Bu Pun Su.

“Pengecut! Laki-laki pengecut, kau sebetulnya suka kepadaku, bukan? Maka tidak mau menyerangku. Kau hanya iri hati dan cemburu. Eh, Bu Pun Su, kalau sekarang aku menyatakan bahwa aku suka ikut padamu, dan meninggalkan Han-ko, tentu kau tidak marah lagi, bukan? Akan tetapi aku tidak sudi! Dengar, aku tidak sudi, aku tidak suka padamu, aku benci padamu. Muak perutku melihat mukamu, tahu kau?”

Bu Pun Su tersenyum. Ia tidak mendapat julukan Pendekar Sakti kalau ia tidak tahu akan siasat ini. Dan ia bukan seorang yang gemblengan kalau ia tidak tahan menghadapi serangan batin ini. Tadi untuk sebentar ia menurutkan nafsu amarah karena kecewa melihat kegagalan Han Le menghadapi rayuan wanita. Sekarang ia sudah dapat menguasai diri lagi dan menghadapi siasat lain dari Pek Hoa, ia tenang-tenang dan tersenyum saja.

“Pek Hoa, bagaimana kau bisa bilang aku tergila-gila kepadamu? Hanya laki-laki yang berhati lemah saja yang dapat jatuh cinta kepada seorang perempuan cabul seperti engkau. Kau menggoda aku tidak berhasil, menggoda Kiang Liat dapat kugagalkan, menggoda tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw kau sudah tidak laku karena mereka semua sudah tahu bahwa kau ini seorang siluman yang lebih jahat daripada Tat Ki (siluman wanita dalam dongeng Hong Sin Pong). Maka sekarang kau sengaja menggoda Han-sute. Akan tetapi ini pun hanya untuk sementara, karena tak lama lagi Sute tentu akan insyaf dan tahu bahwa wanita yang dipuja-pujanya itu bukan lain adalah seekor siluman betina...”

“Jahanam lihat pedang!” Dua sinar kemilau dari pedang Pek Hoa menyambar dalam serangan yang dahsyat. Ternyata, ia kalah dalam adu urat-syaraf, karena Bu Pun Su tadi membuatnya marah sekali. Bu Pun Su tersenyum, akan tetapi dia tidak berlaku lambat atau sembrono karena ia tahu betul akan kelihaian ilmu pedang wanita ini. Cepat ia mengelak dan di lain saat keduanya sudah bertempur hebat.

Mula-mula Pek Hoa mengeluarkan ilmu pedangnya berdasarkan kecepatan dan serangan-serangannya semua ditujukan untuk menewaskan lawan. Akan tetapi menghadapi Bu Pun Su, ia ketemu gurunya. Dengan tenang saja Bu Pun Su menghindarkan diri dari setiap serangan lawan dengan totokan-totokan ke arah jalan darah yang kalau mengenai sasaran tentu akan mengakhiri pertempuran itu. Sebentar saja Pek Hoa terdesak hebat oleh kakek sakti itu dan tiba-tiba ia tertawa merdu dan ilmu silatnya berubah. “Ayaaa...!” Bu Pun Su berseru kaget sekali ketika ia menyaksikan ilmu pedang ini. Pek Hoa telah mainkan ilmu pedangnya yang hebat, ilmu pedang Bi-jin-khay-i. Ilmu silat yang mengandung daya sihir ini dapat melumpuhkan setiap orang lawan laki-laki, membuat lawan itu seperti terkena hikmat. Gerakan ilmu silat ini mengandung sifat cabul dan genit, menarik hati laki-laki dan meruntuhkan semangat perlawanannya. Tak heran apabila Bu Pun Su menjadi kaget sekali karena pendekar ini pun merasa dan terpengaruh oleh hawa mujijat yang terkandung dalam gerakan ilmu silat yang dimainkan oleh Pek Hoa.

Pek Hoa gembira melihat hasil ilmunya dan ia memperindah gerakannya untuk merobohkan atau mengalahkan Bu Pun Su. Akan tetapi, kali ini ia kecele. Ia bukan menghadapi manusia sembarangan melainkan seorang manusia gemblengan lahir batin. Bu Pun Su sadar bahwa ia menghadapi ilmu mujijat, maka ia lalu meramkan mata dan menandingi serangan-serangan lawan hanya mengandalkan ketajaman pendengaran saja. Dengan cara meramkan mata, ia tidak usah melihat gerakan tubuh lawan dan tidak terpikat. Disamping itu, kini ia mainkan ilmu silatnya yang ampuh, Pek-in-hoat-sut. Begitu Bu Pun Su mengerahkan sin-kang dan menggerakkan tubuh, dari kedua lengannya mengebul uap putih yang makin lama makin tebal sampai akhirnya seluruh tubuhnya, terutama di bagian ubun-ubun, mengepul uap putih yang menolak semua hawa pukulan dan hawa mujijat dari ilmu pedang lawannya. Setelah merasa diri kuat terlindung oleh Pek-in-hoat-sut, baru Bu Pun Su membuka matanya dan mendesak lawan.

Pek Hoa mengeluh. Harapan untuk berhasil kini buyar pula, bahkan sebaliknya ia terancam hebat oleh hawa pukulan yang beruap putih itu. Ia hanya memutar-mutar pedang sambil main mundur. Akhirnya ia mengeluh,

“Han-ko, apakah kau tega melihat aku mati tanpa membantu?”

Sebetulnya semenjak tadi Han Le sudah menonton petempuran itu dengan hati kebat-kebit tidak keruan. Ia merasa cemas sekali akan keselamatan kekasihnya, dan ingin sekali ia membantu. Akan tetapi ia merasa sungkan terhadap suhengnya. Oleh karena itu ia hanya berdiri dengan kedua tangan dikepalkan erat-erat, keningnya berkerut dan bibirnya digigit, akan tetapi kedua kakinya seperti terpaku pada tempat ia berdiri. Kini melihat Pek Hoa terdesak hebat, hampir-hampir ia tak dapat bertahan lagi.

“Han-ko...!” Pek Hoa menjerit sayu ketika tangan kirinya terserempet tamparan tangan Bu Pun Su. Pedang kirinya terlempar dan tangan menjadi lumpuh. Akan tetapi Pek Hoa masih melawan dengan pedang kanannya, melawan nekat sambil berseru,

“Bu Pun Su, kau tamatkanlah nyawaku. Han-ko tidak mau membantu, apa artinya hidup bagiku?”

“Suheng, sudahlah...!” Han Le tiba-tiba melompat dan pedangnya menyambar di tengah-tengah untuk menghalangi Bu Pun Su menyerang Pek Hoa.

“Han Le, pergi kau jangan ikut-ikut!” bentak Bu Pun Su marah.

“Suheng, jangan melukai dia... aku cinta padanya...” jawab Han Le sambil menghadang di tengah.

“Han-ko, dia bukan suhengmu lagi. Dia manusia kejam. Mari kita bunuh bersama. Lihat, tangan kiriku sudah lumpuh. Balaskan sakit hatiku ini, Han-ko!” Pek Hoa berkata dan ia mulai menyerang Bu Pun Su lagi dengan pedang kanannya. Kini Han Le tidak bicara lagi, melainkan diputarnya pedang di tangannya secara cepat untuk melindungi Pek Hoa dari serangan Bu Pun Su.

Kakek sakti itu menarik napas panjang. “Han Le, kau sudah tersesat jauh. Apa boleh buat, aku lebih rela melihat suteku binasa dalam tanganku daripada melihat dia tersesat dan menjadi seorang jahat!”

Begitu kata-kata ini habis diucapkan, Bu Pun Su mempercepat dan memperkuat gerakannya. Memang bukan hal yang mudah menghadapi keroyokan orang-orang selihai Pek Hoa dan Han Le, yang keduanya selain memiliki ilmu silat tinggi sekali, juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Kalau saja tokoh yang dikeroyok bukannya Bu Pun Su yang sakti, agaknya sukar sekali mengalahkan keroyokan dua orang ini. Dan andaikata Pek Hoa tidak lebih dulu sudah terluka tangan kirinya, agaknya Bu Pun Su juga tidak akan mudah mengalahkan mereka. Apalagi Bu Pu Su merasa gelisah dan kecewa sekali melihat sutenya yang sekarang bertempur secara mati-matian mengeluarkan seluruh kepandaian untuk membela wanita jahat itu!

“Han Le, mundur kau!” berkali-kali Bu Pun Su berseru, akan tetapi Han Le seperti sudah tuli, tidak mendengar seruan ini bahkan memperhebat gerakan pedangnya.

“Bagus, Han-ko, kekasihku. Tikam dia, bunuh jahanam ini!” sebaliknya Pek Hoa berkali-kali membujuknya.

Setelah tiga kali Bu Pun Su memberi peringatan kepada sutenya tanpa ada perhatian, pendekar ini menjadi marah dan membentak,

“Han Le, kalau begitu robohlah kau!” Ia mengirim serangan hebat ke arah sutenya sendiri. Han Le terkejut menghadapi pukulan Pek-in-hoat-sut ini. Ia mencoba untuk menangkis dan miringkan tubuh sambil membalas dengan tusukan pedang. Akan tetapi akibatnya, pedangnya terpental dan ia terguling roboh, tulang pundaknya terlepas sambungannya karena pukulan Pek-in-hoat-sut yang lihai, Han Le meringis kesakitan dan tak dapat bangun pula karena sambungan tulangnya terlepas, juga ia menderita luka di sebelah dalam yang membuat ia tak mungkin bangun lagi.

“Keparat, rasakan pembalasanku!” Pek Hoa menjerit dan pedangnya menyambar ke arah bawah pusar Bu Pun Su.

“Siluman betina, kau harus mampus!” bentak Bu Pun Su yang merasa muak menghadapi serangan yang keji ini. Tangan kirinya bergerak ke bawah menyampok pedang sehingga pedang itu terlepas dari pegangan, kemudian secepat kilat, sebelum Pek Hoa menarik kembali tangan kanannya, Bu Pun Su mendahului dengan ketokan telunjuknya ke arah sambungan tulang siku, Pek Hoa menjerit dan tangan kanannya lumpuh pula seperti tangan kirinya! Namun wanita ini memang sudah nekat. Bagaimana seekor singa betina, ia menerjang maju, kini mempergunakan kedua kakinya, melakukan tendangan bertubi-tubi,

Namun sekali sampok dengan ujung lengan bajunya, Bu Pun Su berhasil membuat ia terguling dan merintih-rintih kesakitan.

“Kalau orang macam kau tidak mati, hanya akan mengacaukan dunia saja!” kata Bu Pun Su sambil melangkah maju, agaknya hendak menewaskan Pek Hoa.

“Suheng, tahan...!” Sambil merangkak dan setengah menggulingkan tubuh, Han Le menghampiri Bu Pun Su, lalu berlutut di depan Bu Pun Su sambil menangis, “Suheng, ampunkan dia, biar dia pergi meninggalkan pulau ini, akan tetapi jangan bunuh dia, Suheng. Kalau Suheng bernafsu hendak membunuh orang, biarlah siauwte saja Suheng bunuh sebagai penebus nyawanya.”

Bu Pun Su serentak kaget. Baru ia sadar bahwa hampir saja ia melakukan pembunuhan dengan mata terbuka. Musuh sudah kalah, tak perlu didesak lagi, pikirnya.

“Dan kau tetap hendak pergi bersama dia?”

Han Le menggeleng kepalanya. “Siauwte sudah mengaku salah. Siauwte terlalu menurutkan nafsu hati dan akhirnya siauwte jatuh cinta. Kini siauwte bersedia menebus dosa, biar siauwte merana di sini, biar siauwte berpisah darinya, siauwte rela. Siauwte takkan meninggalkan pulau ini selamanya.” Kemudian Han Le berpaling kepada Pek Hoa, berkata dengan suara perlahan, “Pek Hoa, selamat berpisah. Pergilah kau meninggalkan pulau ini, meninggalkan aku. Jangan kau kembali lagi selamanya. Kita tak usah bertemu lagi selamanya.”

Sebetulnya, ketika Pek Hoa memikat hati Han Le, niat terutama di dalam hatinya ialah mencari kawan untuk membalaskan dendam kepada musuh-musuhnya. Hal ini pun sudah terlaksana dengan terbunuhnya tiga orang tokoh Kun-lun dan Siauw-lim. Bahkan ia sudah berhasil lebih jauh lagi, yakni ia telah dapat mewarisi sebagian dari ilmu silat Han Le. Yang hebat, hampir saja ia berhasil mengadu-dombakan Han Le melawan Bu Pun Su. Akan tetapi setelah rencananya tidak berhasil dan akibatnya bahkan Han Le dan dia sendiri terluka, dan ternyata Bu Pun Su terlampau kuat baginya, hati Pek Hoa menjadi dingin dan putus harapan. Ia menguatkan diri untuk bangun dan berdiri, mukanya pucat kedua lengannya lumpuh. Ia memandang kepada Bu Pun Su dengan mata penuh kebencian. “Bu Pun Su, banyak aku membenci orang, akan tetapi tidak seperti aku membencimu. Kelak akan tiba saatnya aku membalas penghinaan ini, kalau tidak oleh tanganku sendiri, tentu oleh tangan anakku atau tangan Wi Wi Toanio!” Setelah berkata demikian, ia berpaling kepada Han Le dan berkata,

“Kau jembel busuk, jembel tua, kaukira aku benar-benar mencintamu? Hah, tak tahu diri! Aku menyerahkan diri kepadamu dengan harapan agar kau dapat membalas budi kecintaanku, dapat membalaskan sakit hatiku terhadap musuh-musuh besarku. Tak tahunya, menghadapi orang ini saja kau memperlihatkan ketidakgunaanmu. Hah, kau memualkan perutku!” Setelah berkata demikian, dengan terhuyung Pek Hoa meninggalkan tempat itu menuju ke pantai, makin lama makin jauh merupakan sosok bayangan orang yang putus asa.

“Wanita yang berbahaya sekali. Hmmm, lihai dan berbahaya melebihi setan. Pada akhirnya masih tega menghancurkan hati Han-sute,” katanya perlahan dan tiba-tiba keningnya berkerut ketika ia menoleh dan melihat Han Le pucat sekali dan air mata bercucuran keluar dari sepasang matanya.

“Eh, Han-sute, kau sudah dihina olehnya. Apakah kepergiannya masih bisa menghancurkan hatimu? Di mana sifat jantanmu, Sute?”

Han Le menggeleng-geleng kepalanya. “Suheng, siauwte memang harus dipukul, bahkan sudah sejak dulu siauwte mengerti bahwa dia hanya... mempermainkan siauwte belaka. Namun, siauwte sudah dicengkeram oleh nafsu. Akhir-akhir ini... bagaimana siauwte bisa membencinya? Dia... dia telah mejadi calon ibu anakku...”

Bu Pun Su terkejut sekali, sampai berubah air mukanya. “Apa katamu? Betul-betulkah begitu?”

Han Le mengangguk. “Siauwte tidak sayang kepadanya, melainkan kepada anak yang dikandungnya. Suheng, siauwte sudah bersumpah takkan meninggalkan pulau ini, akan menanti di sini sampai datang maut mencabut nyawa, untuk menebus dosa siauwte. Akan tetapi anak itu... ah, Suheng, kalau sudah terlahir dan berada di bawah asuhan Pek Hoa, akan menjadi apakah? Oleh karena itu, siauwte mohon bantuan Suheng, kalau anak itu terlahir, harap Suheng suka merampasnya dan memberikan kepada orang lain supaya dididik menjadi manusia baik-baik. Jangan sampai keturunan siauwte menambah dosa siauwte membuat siauwte tak dapat mati dengan mata meram.”

Bu Pun Su mengangguk-angguk. Hatinya pilu. Ia sendiri belum pernah merasakan bagaimana perasaan seorang calon ayah. Akan tetapi ia dapat membayangkan betapa hancur hati Han Le pada saat itu.

“Baikiah, Han-sute. Tadinya aku datang untuk minta bantuanmu, akan tetapi melihat keadaanmu sekarang, tak usahlah. Bahkan, setelah terjadi peristiwa antara kau dan tokoh-tokoh Kun-lun dan Siauw-lim, amat tidak baik kalau kau sendiri yang muncul. Biar aku yang akan membereskan hal itu dan menjernihkan keadaan. Kaurawat baik-baik tiga jenazah itu, jangan dibiarkan begitu saja. Biarpun kau takkan meninggalkan pulau ini selamanya, percayalah, aku akan datang sewaktu-waktu menemanimu disini.”

Han Le menghaturkan terima kasih dan tak lama kemudian Bu Pun Su meninggalkan Pulau Pek-le-tho dengan hati penuh iba kepada adik seperguruannya itu. Tak pernah disangkanya bahwa Han Le akan bernasib sedemikian buruk, jauh lebih buruk daripada nasibnya sendiri.

Debu mengebul tinggi ketika dua ekor kuda berlari congklang menuju ke gerbang pintu kota Tiang-hai yang letaknya hanya tinggal beberapa li lagi. Waktu itu musim panas sedang teriknya, jalan-jalan mengering dan debu mengebul tinggi setiap kali jalan itu dilalui kuda atau kendaraan yang ditarik kuda. Pohon-pohon nampak mengering dan sawah ladang kuning kosong. Namun alam di sekitar tempat itu yang sama sekali tidak menimbulkan pemandangan indah, tidak mengurangi seri muka gembira dari dua orang muda yang menunggang kuda. Mereka ini adalah Gan Tiauw Ki dan Kiang Im Giok. Sebagaimana diketahui, Gan Tiauw Ki menuju ke kota Tiang-hai untuk menyampaikan surat dari Kaisar untuk seorang berpangkat huciang bernama keturunan Suma di kota itu, dan untuk melakukan penyelidikan. Adapun Im Giok mendapat tugas dari Bu Pun Su untuk mengawal pemuda ini. Di sepanjang perjalanan, Tiauw Ki memperlihatkan bahwa dia adalah seorang pemuda yang terpelajar tinggi, hafal akan bunyi sajak-sajak gubahan para pujangga jaman dahulu yang berjiwa patriot, hafal akan sejarah, pandai pula membuat sajak-sajak bersemangat dan indah-indah. Selain ini, ia pandai bernyanyi dan meniup suling sehingga beberapa kali di waktu mereka beristitahat, pemuda ini mengeluarkan suling peraknya dan mainkan beberapa lagu. Im Giok tertarik sekali. Lebih suka hatinya terhadap Tiauw Ki melihat sikap pemuda ini amat sopan, biarpun ramah tamah, dan kadang-kadang gembira, namun sikapnya selalu sopan dan menyenangkan, tak pernah memperlihatkan pandang mata kurang ajar atau kata-kata yang tidak sopan. Dalam diri pemuda ini Im Giok melihat orang yang bersemangat, berjiwa patriot dan gagah, jujur, setia dan sopan-santun.

Sebaliknya, baru kali ini selama hidupnya Tiauw Ki bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis seperti Im Giok. Memang pemuda itu sudah banyak pengalaman kota-kota besar, sudah banyak melihat puteri-puteri istana, puteri-puteri bangsawan yang tersohor cantik jelita dan pandai, akan tetapi ia harus akui bahwa baru kali ini hatinya jatuh oleh kecantikan seorang gadis. Tidak saja ia kagum sekali melihat wajah jelita dari Im Giok, juga ia kagum sekali akan kegagahan gadis ini.

Oleh karena kedua pihak saling tertarik dan suka, maka tentu saja perjalanan itu merupakan pengalaman yang amat menyenangkan, tak pernah memperlihatkan pandang mata sayang, tidak memperlihatkan apa yang terkandung dalam hati, namun jauh di lubuk hati, mereka tahu bahwa hidup akan kurang sempurna apabila mereka berpisah.

Makin dekat dengan kota Tiang-hai, makin sering mereka bertemu orang dan makin banyak mereka melihat orang-orang mendatangi Tiang-hai.

“Heran, mereka itu datang ke Tiang-hai ada apakah?” kata Tiauw Ki perlahan ketika melihat serombongan orang berkuda mendahului mereka. Rombongan ini terdiri dari tujuh orang dan melihat pakaian dan sikap mereka, dapat diduga bahwa tujuh orang ini adalah orang-orang berkepandaian tinggi.

“Mereka siapakah?” tanya Im Giok. Gadis ini lebih heran lagi karena ia tahu bahwa tujuh orang itu adalah orang-orang kang-ouw. Bagaimana seorang sastrawan seperti Gan Tiauw Ki dapat mengenal mereka?

“Mereka itu adalah panglima-panglima ternama dari Gubernur Shansi. Mereka menyamar seperti orang-orang biasa dan datang di Tiang-hai, apakah kehendak mereka?” kata Tiauw Ki.

Ketika tidak mendapat jawaban, Tiauw Ki menengok.

“Ada apakah, Nona?” tanyanya ketika Im Giok memandang kepadanya dengan penuh keheranan dan kecurigaan.

“Bagaimana kau dapat mengenal orang-orang seperti itu?” tanya Im Giok.

Tiauw Ki tersenyum merendah. “Apa sukarnya? Badan penyelidik dari istana telah memperlihatkan gambar tokoh-tokoh terpenting dari mereka yang dianggap sebagai orang-orang yang memberontak. Gubernur Shansi dan Honan melopori pemberontakan-pemberontakan atau sikap yang anti Kaisar, maka panglima-panglima ternama dari dua gubernur itu tentu saja sudah kukenal gambarnya. Inilah sebabnya maka aku mengenal mereka tanpa mereka tahu siapa aku.”

Im Giok mengangguk-angguk kagum. “Gan-kongcu, otakmu benar-benar tajam sekali, dapat mengingat semua orang dalam gambar.”

“Bukan aku yang berotak tajam, melainkan tukang lukisnya yang benar-benar pandai. Dengan beberapa coretan saja, ia dapat melukis muka orang demikian tepatnya. Benar-benar aku makin kagum saja kepada pelukis Ong dari istana itu.”

Im Giok lalu bertanya tentang pelukis itu dan mereka bercakap-cakap dengan asyik dan kembali Ang I Niocu Kiang Im Giok mendapat kenyataan bahwa pemuda ini kembali memiliki kepandaian lain yang menarik, yakni melukis. Pemuda ini sendiri seorang pelukis pandai namun ia memuji-muji pelukis Ong Pouw di istana, menandakan bahwa wataknya memang sopan dan suka merendahkan diri sendiri. Tiba-tiba terdengar seruan dari belakang, “Minggir! Minggir!”

Im Giok terkejut. Suara ini terdengar nyaring, disusul oleh suara derap kaki kuda yang berlari cepat. Orang yang dapat mengirim suara mendahului suara derap kaki kuda tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Tiauw Ki tentu saja tidak tahu akan hal ini dan ia hanya berkata,

“Datang orang kasar, baik kita minggir. Jangan sampai terjadi ribut-ribut.” Im Giok maklum bahwa tugas yang amat penting dari Tiauw Ki memang harus dilindungi dan sebaiknya kalau mereka tidak memancing permusuhan sebelum tugas itu selesai. Maka ia pun lalu menggebrak kudanya dan minggirkan kuda untuk memberi jalan kepada serombongan orang berkuda yang mendatangi dengan cepat. Rombongan kali ini adalah orang-orang dengan pakaian indah dan gagah, akan tetapi yang paling menarik adalah orang pertama yang berada di depan. Orang ini masih muda, wajahnya tampan sekali, sikapnya gagah, pakaiannya indah dan mewah. Jelas nampak bahwa ia seorang pesolek besar, dan kudanya pun bukan kuda biasa melainkan kuda pilihan berbulu putih. Ia membalapkan kudanya, sedikitnya seperempat li di depan rombongannya sambil tertawa-tawa.

Kuda yang ditunggangi oleh Im Giok juga kuda pilihan, demikian pula kuda Kim Lian yang ditunggangi oleh Tiauw Ki. Tidak hanya manusia yang suka memilih golongan, kuda pun agaknya mengenal kawan dan mengenal bulu. Mendadak kuda yang ditunggangi oleh Im Giok dan Tiauw Ki mengeluarkan ringkikan keras dan mereka menjadi gembira, kedua kaki depan diangkat tinggi dan mereka melompat di tengah jalan menghadang datangnya kuda putih yang ditunggangi oleh pemuda tampan itu!

Terdengar Tiauw Ki memekik kaget. Ternyata tubuh pemuda ini telah dilemparkan oleh kudanya, ketika kuda itu berdiri diatas dua kaki belakang. Gerakannya demikian kuat dan cepat sehingga Tiauw Ki tak dapat menguasai diri dan terjengkang ke belakang. Tentu tubuhnya akan terbanting di atas batu di jalan kalau saja Im Giok tidak cepat-cepat melompat dan menyambar. Dengan gerakan cekatan dan lincah bagaikan seekor burung terbang, gadis ini hanya kelihatan sebagai bayangan merah dan tahu-tahu Tiauw Ki telah disambar lengannya dan pemuda ini di lain saat sudah berdiri di tengah jalan dan lengannya dipegang oleh Im Giok.

“Bagus sekali!” terdengar suara orang memuji. Pada saat itu, pemuda tampan gagah yang berada di atas kuda putih sudah datang dekat, agaknya hendak menubruk Tiauw Ki dan Im Giok. Im Giok sudah bersiap sedia, sedikit pun tidak khawatir karena ia maklum bahwa jika perlu, dengan mudah ia akan mendorong tubuh kuda putih itu ke samping. Akan tetapi tak perlu turun tangan karena tiba-tiba saja kuda itu berhenti sambil meringkik keras, kedua kaki depan diangkat dan kaki belakangnya merendah hampir berlutut! Im Giok kagum. Penunggang itu telah memperlihatkan kepandalannya, tidak saja kepandaian menunggang kuda, juga kepandaian ilmu lwee-kang yang tinggi sehingga pada saat itu ia dengan cepat dapat membikin berat tubuhnya dan mempergunakan kekuatannya untuk menahan larinya kuda sendiri.

Tiauw Ki yang sudah lenyap kagetnya, berkata sambil merengut,

“Mengapa melarikan kuda cepat-cepat amat? Membikin kuda orang lain kaget setengah mati?”

Pemuda itu memandang sejenak ke arah Tiauw Ki, senyumnya berubah mengejek dan menghina, sinar matanya memandapg rendah seperti seekor harimau memandang anjing buduk. Kalau tadinya Im Giok tertarik dan kagum melihat pemuda tampan dan gagah ini, sekaligus rasa kagum dan sukanya lenyap bagaikan awan tertiup angin badai. Melihat senyum mengejek dan pandang mata yang membayangkan kesombongan besar, penuh penghinaan kepada Tiauw Ki sekaligus hati Im Giok mendongkol dan timbul rasa tidak sukanya kepada pemuda tampan ini. Memang harus diakui bahwa dalam segala hal, pemuda asing ini jauh melebihi Tiauw Ki, lebih tampan, jauh lebih gagah, dan juga pakaiannya lebih indah. Akan tetapi ia tidak mempunyai apa yang dimiliki Tiauw Ki, yakni kepribadian yang menarik, gaya sewajarnya yang penuh kecerdikan, kejujuran, dan kesetiaan.

Pemuda itu tak lama memandang ke arah Tiauw Ki, sebaliknya cepat ia mengalihkan pandang matanya kepada Im Giok. Senyumnya berubah, tidak menyeringai penuh ejekan seperti tadi, akan tetapi senyum penuh madu memikat, senyum yang membuat parasnya makin tampan, dan sepasang matanya berseri penuh kagum dan terpikat.

“Pek-in-ma (Kuda Awan Putih) yang kutunggangi ternyata mengenal keindahan dan kegagahan! Di dunia ini jarang terdapat paduan yang tepat, indah dan gagah. Nona, kau tidak saja memenuhi syarat paduan ini, bahkan melebihi, jauh melebihi sehingga tidak berlebih-lebihan kalau kukatakan bahwa aku Lie Kian Tek selama hidupku baru kali ini melihat paduan yang demikian sempurna!”

Im Giok maklum akan pujian ini, akan tetapi ia berpura-pura tidak mengerti dan berkata,

“Apakah maksud kata-katamu ini?”

Pemuda tampan ini tertawa sambil menoleh kepada kawan-kawannya yang sudah tiba di situ pula. “Cuwi (Tuan-tuan sekalian), berhenti sebentar dan lihatlah, pernahkah kalian melihat seorang yang begini cantik dan gagah?”

Lima orang yang mengawal pemuda ini, kesemuanya orang-orang setengah tua yang berpakaian indah dan bersikap gagah, memandang dan tersenyum. “Memang cantik sekali akan tetapi kegagahan, hmm... banyak sekali orang berlagak gagah akan tetapi tiada guna, seperti gentong kosong dipukul bersuara namun tak berisi,” demikian kata seorang di antara mereka.

Pemuda itu tertawa, nampak giginya yang berbaris rapi dan putih bersih, “Ha, ha, ha, kau betul sekali, Ciang-lopek, akan tetapi kau tidak tahu betapa nona ini tadi dengan gerakan indah dan luar biasa telah menyelamatkan nyawa seorang yang betul-betul tiada gunanya! Eh, Nona, maksud kata-kataku tadi kalau disalin dengan lain kalimat berarti aku kagum sekali melihatmu karena kau benar-benar cantik jelita dan gagah perkasa. Bolehkah aku mengetahui namamu, Nona? Dan kau hendak ke manakah?”

Ujung hidung yang kecil mancung itu bergerak, perlahan sekali dan hanya terlihat oleh orang yang memperhatikan. Dan yang memperhatikan ujung hidung Ang I Niocu ini hanya Tiauw Ki seorang. Pemuda ini cepat mengulur tangan dan menyentuh lengan Im Giok, lalu katanya kepada pemuda tampan itu,

“Tuan, harap jangan mengganggu kami lagi dan hendaknya menjaga tatasusila antara pria dan wanita, pula memberi kebebasan kepada kami sebagai orang-orang yang bertemu di tengah perjalanan. Nona ini tidak bersalah, mengapa diganggu?”

Pemuda itu menengok dan memandang kepada Tiauw Ki dari atas kudanya.

“Hah! Siapa ajak bicara orang macam engkau?”

Im Giok sementara itu sudah dapat menekan perasaannya, maka ia lalu membalas isarat Tiauw Ki dengan sentuhan perlahan pada tangannya, kemudian ia menjawab,

“Cuwi sekalian hendak mengetahui namaku? Aku she Kiang, seorang yang tidak ternama. Aku hendak pergi ke Tiang-hai...”

“Ke Tiang-hai?” pemuda yang mengaku bernama Lie Kian Tek itu memotong, “Kiang-siocia, kebetulan sekali! Aku, Lie Kian Tek bersama kawan-kawanku ini pun hendak pergi ke Tiang-hai. Kau hendak memberi selamat kepada Suma-huciang untuk ulang tahunnya yang ke enam puluh ini, bukan?”

“Ulang tahunnya yang ke enam puluh?” Im Giok merdu. “Ya, benar, begitulah! Akan tetapi aku pergi bersama dia ini, tidak bersama engkau.”

“Ha, ha, alangkah lucu dan janggalnya! Kiang-siocia, kudamu dan kudaku patut jalan berdampingan, kau dan aku pun kiranya patut menjadi sahabat seperjalanan. Dia ini? Hm, biarpun kudanya bagus, akan tetapi ia tidak patut menunggang kudanya itu, buktinya tadi belum apa-apa sudah jatuh dari kudanya. Ha, ha, ha!”

“Tuan Lie, kau akan menjadi tamu dari pamanku, mengapa kau menghina keponakannya?”

“Kau keponakan Suma-huciang?” tanya Lie Kian Tek sambil memandang dengan tajam.

“Aku yang bodoh, memang keponakan luar dari Suma-huciang,” jawab Gan Tiauw Ki dingin.

Pemuda yang mewah itu nampak tercengang dan mukanya berubah. Ia bertukar pandang dengan kawan-kawannya, kemudian ia menjura kepada Tiauw Ki dan berkata, “Maaf, maaf, kami tidak tahu bahwa Tuan adalah keponakan dari Suma-huciang. Sampai bertemu di dalam pesta.”

Setelah berkata demikian, Lie Kian Tek membalapkan kudanya, diikuti oleh lima orang kawannya. Debu mengebul di belakang mereka sehingga Tiauw Ki dan Im Giok harus menutupi mulut dan hidung dengan ujung lengan baju.

“Manusia sombong...!” kata Ang I Niocu Kiang Im Giok.

“Sombong juga sudah sepatutnya karena dia adalah putera Gubernur Lie di Shansi,” jawab Tiauw Ki sambil menghapus debu dari mukanya sehingga kulit mukanya menjadi merah.

“Gan-kongcu...”

“Nona, harap kau jangan menyebut kongcu kepadaku, aku hanya seorang pemuda miskin biasa saja aku malu menerima sebutan ini.”

Im Giok tersenyum manis.

“Habis, aku harus menyebut bagaimana?” tanyanya.

“Biarpun kita baru tiga hari berkenalan, akan tetapi aku merasa seperti sudah seabad mengenalmu,” kata Tiauw Ki.

“Aduh, sudah berapa abadkah usiamu?” Im Giok menggoda.

Tiauw Ki tersenyum. “Sesungguhnya, Nona. Aku merasa seakan-akan sudah mengenalmu lama sekali.”

“Aku pun demikian, Gan-kongcu,” jawab Im Giok jujur. “Agaknya memang watak kita yang cocok.”

“Kita seperti saudara saja,” kata pula Tiauw Ki.

“Memang kau baik sekali.”

“Kalau begitu, mengapa kau tidak menyebut aku twako (kakak besar) saja? Dan aku menyebutmu adik, bukanklah ini lebih tepat dan lebih enak didengarnya?”

Im Giok memandang. Tiauw Ki memandang. Dua pasang mata bertemu pandang, bibir tertutup, hati terbuka mengalirkan rasa yang hanya dapat ditangkap melalui sinar mata.

“Baiklah, Gan… Twako. Eh, ya, aku lupa. Kau tadi mengaku di depan orang she Lie tadi sebagai keponakan Suma-huciang, bukankah kau telah membohong?”

“Memang aku membohong. Nama Suma-huciang amat disegani orang, biarpuh dia itu putera gubernur, tetap saja saja ia tidak berani bersikap kurang ajar terhadap Suma-huciang. Karena itu, melihat dia hendak kurang ajar kepadamu, aku terpaksa membohong untuk menutup mulutnya dan mengusir dia pergi.”

Im Giok tersenyum “Bagaimana nanti kalau dia bercakap-cakap dengan Suma-huciang dan menyebut-nyebutmu?”

“Tidak apa, selain aku tidak takut, juga aku tidak sudi menyebut nama, bagaimana dia bisa bicara tentang orang yang tak bernama?”

“Gan-twako, lain kali kau tak perlu mencoba melindungi aku dengan jalan membahayakan dirimu sendiri. Aku tidak takut akan gangguan she Lie itu, kalau tadi aku mau, hemm... aku dapat membuat dia jungkir balik dari atas kudanya!” kata Im Giok gagah.

“Nona...”

“Lho, kau sendiri yang merubah sebutan, Twako...”

“O, ya! Maaf, begini, Siauw-moi...”

“Kenapa kau menyebutku Siauw-moi (Adik Cilik)? Aku tidak kecil lagi, Twa-ko...”

“Eh ya... Kiang-moi, sebetulnya aku pun percaya dan mengerti bahwa kau tak takut kepadanya. Akan tetapi, orang she Lie itu amat terkenal lihai ilmu silatnya, sedangkan kalau terjadi keributan, hal itu amat tidak baik bagi tugasku.”

Im Giok mengangguk-angguk. “Aku mengerti, Twako, kalau tidak demikian, kalau aku tidak ingat akan tugasmu yang amat penting, apakah kaukira aku masih dapat menahan sabar menghadapi ocehan manusia sombong macam Lie Kian Tek itu?”

Dua orang muda itu melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Tiang-hai. Tak lama kemudian mereka memasuki kota itu, sebuah kota yang besar dan ramai. Setelah mereka memasuki kota, nampak makin banyak orang yang agaknya datang dari luar kota, ada yang berkuda, berkereta, banyak pula yang berjalan kaki. Mata Im Giok yang tajam dapat melihat banyak sekali orang-orang yang kelihatannya berkepandaian tinggi, seperti orang-orang kang-ouw. Akan tetapi karena dia sendiri belum terkenal, ia tidak dikenal orang dan hal ini melegakan hatinya.

“Gan-twako, mengapa kau tidak bilang bahwa Suma-huciang sedang merayakan hari lahirnya yang ke enam puluh tahun?” Im Giok menegur kawannya.

“Aku sendiri pun baru tadi mendengar dari mulut Lie Kian Tek,” jawab Tiauw Ki. “Akan tetapi hal ini lebih baik, aku dapat menghadap Suma-huciang dengan dalih menghaturkan selamat dan menghaturkan barang persembahan tanpa dicurigai orang lain. Agaknya Suma-huciang sengaja mengadakan pesta untuk mengumpulkan orang-orang, dan untuk mengetahui siapa lawan siapa kawan.”

Im Giok memuji kecerdikan Gan Tiauw Ki. “Kalau begitu, kurasa kau akan menghadapi banyak bahaya, Gan-twako. Kulihat orang-orang yang datang di kota ini hampir semua adalah orang-orang kang-ouw, dan di antaranya tentu banyak yang jahat. Ada baiknya kalau aku pun menghadiri pesta itu dan untuk memberi hormat dan selamat pula kepada Suma-huciang. Adapun untuk barang hantaran, biarlah aku memberikan ini.” Im Giok mencabut tusuk kondenya yang terbuat dari emas dihias kemala indah.

Melihat ini Tiauw Ki berubah air mukanya dan kulit mukanya menjadi merah sekali. Im Giok tertegun.

“Eh, Gan-twako, kau kenapakah?” tanyanya.

Muka Tiauw Ki makin merah. “Kiang-moi, alangkah tajamnya pandang matamu. Sedikit saja ada apa-apa terasa dalam hatiku, kau sudah tahu!”

Im Giok tertawa. “Kau pun tajam pandang matamu, Twako. Ketika aku marah dan hendak mendamprat orang she Lie, kau menyentuh tanganku dan melarangku marah-marah.”

“Mudah saja, kulihat ujung hidungmu bergerak-gerak, aku sering kali melihat kau berhal seperti itu kalau merasakan sesuatu, maka aku dapat menyangka bahwa kau tentu akan marah terhadap orang she Lie itu.”

“Begitukah? Apakah ujung hidungku suka bergerak-gerak? Alangkah lucu dan anehnya. Tentu seperti hidung kuda tentu!”

“Ah, tidak Kiang-moi, bahkan lucu dan... dan manis sekali,” kata Tiauw Ki.

“Aah, sudahlah. Kau memang pandai memuji. Kau sendiri pun mudah dilihat. Mukamu merah seperti udang direbus, bagaimana aku tidak tahu bahwa kau memikirkan sesuatu? Lebih baik sekarang kau mengaku, kau sedang berpikir apakah?”

“Tusuk kondemu itu, Kiang-moi. Sayang sekali kalau diberikan kepada Suma-huciang.”

“Ah, ini benda tidak begitu berharga, Twako.”

“Mungkin harganya tidak begitu tinggi, akan tetapi selama ini sudah menghias rambutmu, jadi... jadi... begitulah, amat berharga dalam pandanganku. Karena itu jangan diberikan sebagai hadiah, kalau hendak memberi hadiah, lebih baik kita beli saja di toko emas di kota ini, aku membawa bekal banyak uang Kiang-moi.”

Tiba-tiba muka Im Giok menjadi merah dan gadis ini merasa amat girang.

“Twako, aku sendiri tidak membawa uang. Dan aku tidak mau kalau kau memberikan barang hadiah itu untukku. Aku lebih suka memberikan tusuk konde ini daripada aku harus menyusahkanmu, membeli di toko.”

“Begini saja, Kiang-moi. Kalau kau begitu angkuh dan tidak mau menerima uangku untuk membeli barang tanda mata, bagaimana kalau... kalau... aku tukar saja tusuk kondemu itu? Sebagai gantinya aku membelikan barang hadiah yang jauh lebih mahal harganya untuk diberikan kepada Suma-huciang?”

Kembali dua pasang mata beradu dan keduanya bermerah muka.

“Sesukamulah, bagiku benda ini jatuh di tangan siapa saja pun tidak ada bedanya. Tentu saja… kalau berada di tanganmu lebih baik lagi.”

“Mengapa lebih baik, Kiang-moi?” Tiauw Ki mendesak.

“Mengapa? Aah... kau mendesak dengan pertanyaan yang bukan-bukan.”

“Mengapa, Kiang-moi? Mengapa lebih baik?” kembali pemuda itu mendesak.

“Sstt, lihat, banyak orang memperhatikan kita. Mari kita pergi ke rumah penginapan berganti pakaian, lalu mengunjungi rumah Suma-huciang.”

Keduanya lalu mencari rumah penginapan, menyewa dua kamar, lalu ber kemas. Tak lama kemudian keduanya keluar lagi dengan pakaian sudah ditukar pakaian bersih. Mereka pun mandi lebih dahulu sehingga sepasang orang muda itu nampak bersih dan tampan, benar-benar merupakan pasangan yang amat sedap dipandang. Diantar oleh Tiauw Ki, Im Giok mencari barang hadiah di toko emas dan akhirnya setelah memilih-milih lalu membeli sebuah kotak kuno berukir yang indah sekali dari toko perhiasan. Ia hendak memberikan tusuk kondenya kepada Tiauw Ki, akan tetapi pemuda itu menolak dan mengatakan nanti saja.

Kemudian dua orang muda itu pergi ke gedung pembesar Suma-huciang yang berada di tengah kota. Gedung itu besar dan bentuknya kuno, karena Suma-huciang memang sejak beberapa keturunan telah menjabat pangkat dan berjasa kepada Kaisar. Jadi bukan semata karena kedudukannya Suma-huciang disegani oleh pembesar-pembesar lain, akan tetapi terutama sekali karena nama keluarganya yang semenjak dahulu menjadi tokoh besar yang disayang oleh Kaisar karena setia dan berani mati membela negara.

Ketika mereka tiba di situ, ternyata sudah banyak sekali tamu memenuhi ruangan depan. Keadaan sungguh ramai, dan meriah. Tambur, canang, suling dibunyikan orang, didahului suara biduan pria yang parau dan nyaring. Di ruangan depan sebelah kiri ramai orang bermain judi, di sebelah kanan serombongan orang-orang tua bertanding minum arak sehingga suasana di kanan kiri ruangan itu amat ramai. Hanya di ruang tengah yang luas sekali itu berkumpul orang-orang muda yang duduk mengobrol sambil menghadapi makanan minuman.

Tuan rumah, Suma-huciang yang sudah berusia enam puluh tahun namun nampak masih gagah bermka merah seperti muka Kwan Kong (tokoh Sam Kok yang terkenal), bertubuh tinggi besar, memakai pakaian kebesaran dengan pedang pemberian Kaisar tergantung di pinggang, duduk di ruang sebelah dalam di mana berkumpul tamu-tamu yang dipandang sebagai golongan tinggi dan terhormat. Banyak sekali pelayan hilir mudik mengatur kelancaran pesta itu. Setiap orang tamu yang datang, tentu disambut oleh pelayan yang berpakaian indah, tamu baru ini dibawa masuk dan diantar menghadap Suma-huciang yang duduk di ruang dalam. Tamu ini menghaturkan selamat dan memberi hormat serta memberikan barang hadiah yang dibawanya, kemudian oleh pelayan ia dipersilakan duduk di ruangan yang tepat baginya. Pelayan penyambut ini adalah orang yang berpengalaman luas dan mengenal hampir semua tamu sehingga ia maklum ke mana ia harus membawa tamunya duduk.

Barang-barang sumbangan ditaruh di atas sebuah meja besar panjang yang ditilami sutera merah, diatur berjajar seakan-akan berlomba keindahannya dan kemahalannya. Tamu-tamu wanita yang jumlahnya paling banyak dua puluh lima orang, amat sedikit kalau dibandingkan dengan jumlah tamu pria, duduk di dekat tempat sumbangan. Ada pula beberapa orang tamu wanita yang duduk semeja dengan tamu pria. Tamu wanita seperti ini tentu orang-orang kang-ouw dan ahli silat-ahli silat, mudah dilihat dari gerak-gerik mereka, pakaian, dan pedang mereka. Bagi wanita yang sudah biasa merantau di dunia kang-ouw, tidak ada lagi pantangan hubungan dalam pergaulan dengan kaum pria, sungguhpun hubungan ini amat terbatas oleh tatasusila yang tetap dipegang teguh.

Tiauw Ki dan Im Giok disambut oleh pelayan penyambut yang menjura dengan ramah-tamahnya.

“Selamat datang, Tuan muda dan Nona. Harap Ji-wi (Tuan Berdua) sudi memberitahukan nama dan alamat agar dapat melaporkan kedatangan Ji-wi kepada Taijin.”

“Terima kasih, Lopek. Tolong beritahukan kepada Suma-taijin bahwa keponakannya she Gan dari kota raja datang berkunjung, bersama seorang sahabat, Nona Kiang. Kami datang dari jauh sengaja hendak menghaturkan selamat,” jawab Tiauw Ki dengan suara tenang sewajarnya.

Ketika pelayan itu mendahului mereka menuju ke ruangan dalam, Tiauw Ki berbisik kepada Kiang Im Giok sebagai jawaban atas pandang mata keheranan dari nona ini.

“Agar Suma-taijin mengerti bahwa yang datang tentu seorang yang istimewa dari kota raja.”

Diam-diam Im Giok memuji ketabahan dan kecerdikan pemuda ini mengatur siasat. Setiap meja yang dikelilingi tamu terdiam apabila mereka lewat dekat, kemudian terdengar bisikan-bisikan dan suara ketawa ketika mereka telah lewat, tanda bahwa mereka menjadi pusat perhatian. Baik Tiauw Ki maupun Im Giok maklum bahwa lagi-lagi yang menjadi pusat perhatian para tamu pria ini, tentu Im Giok yang cantik! Akan tetapi gadis itu tidak ambil peduli sama sekali, hanya ketika ia mulai masuk ke ruangan dalam, sepasang matanya bergerak penuh perhatian dan terlihatlah olehnya putera gubernur yang bernama Lie Kian Tek bersama kawan-kawannya berada di dalam ruangan ini. Ruangan ini paling lebar dan luas, di tengah-tengah terdapat sebuah panggung yang menempel di dinding, dihias dengan kain sutera dan langkan-langkan indah. Agaknya akan diadakan pertunjukan di atas panggung, pikir Im Giok yang kemudian memindahkan perhatiannya kepada seorang tua yang berdiri mendengarkan laporan pelayan, kemudian menyambut kedatangan Tiauw Ki dengan wajah berseri dan melambaikan tangan.

“Aha, kiranya Gan-hiantit yang datang! Bagaimana keadaan ayahmu di kota raja? Baik-baik sajakah?”

Im Giok sampai menahan berdebarnya jantung ketika mendengar ini. Apakah benar-benar Tiauw Ki keponakan Suma-huciang, ataukah pembesar tua itu yang ikut-ikutan bermain sandiwara secara cerdik sekali?

“Terima kasih, Paman, terima kasih. Ayah baik-baik saja dan dari jauh menghaturkan selamat atas ulang tahun Paman disertai doa semoga Paman panjang usia dan hidup bahagia. Adapun siauwtit sendiri pun menghaturkan selamat dan membawa sebuah benda tak berharga untuk sekedar sumbangsih dari siauwtit, mohon diterima.” Pemuda itu mengeluarkan bungkusan dari sakunya, bungkusan sutera kuning yang besarnya hanya dua tiga kepalan tangan orang.

Suma-huciang tertawa sambil menerima bungkusan itu. “Aah, kau terlalu sungkan, Gan-hiantit, akan tetapi terima kasih atas kebaikanmu.” Suma-huciang lalu memberikan bungkusan itu kepada seorang pelayan yang memang sudah berdiri di situ dan bertugas menerima barang-barang hadiah, kemudian pelayan itu menaruh bungkusan itu di tengah-tengah meja bersama dengan lain-lain hadiah.

Im Giok yang berpendengaran tajam sekali tiba-tiba merasa aneh. Suara berisik dari orang-orang bercakap-cakap di ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi sejenak, dan ketika ia menyapu ruangan dengan kerling matanya, ia melihat betapa semua orang mengarahkan pandang mata kepada bungkusan itu! Akan tetapi ia mendengar suara Tiauw Ki memperkenalkannya kepada Suma-huciang, maka cepat ia menjura kepada pembesar itu dan berkata,

“Saya yang bodoh kebetulan sekali bertemu dengan Saudara Gan di tengah perjalanan. Mendengar bahwa Suma-taijin merayakan hari ulang tahun ke enam puluh, saya memberanikan diri ikut dengan Saudara Gan dan ikut pula menghaturkan sedikit tanda mata yang tidak berharga,” Ia mengeluarkan bungkusannya, yakni kotak kayu yang indah yang dibelinya dari toko perhiasan. Kembali kotak itu diterima oleh Suma-huciang dan dioperkan kepada pelayannya lalu disimpan di atas meja.

“Terima kasih, Kiang-siocia. Kau sungguh baik sekali. Silakan kalian orang-orang muda memilih tempat duduk yang enak. Maafkan aku tidak dapat melayani lebih lama karena harus menerima tamu-tamu baru yang datang.”

Tiauw Ki dan Im Giok menjura, kemudian mengundurkan diri. Pelayan hendak mempersilakan mereka duduk di ruangan luar, akan tetapi Tiauw Ki berkata,

“Aku ingin duduk di ruangan ini, dekat pamanku.” Pelayan itu tidak berani membantah karena pemuda ini betapapun juga adalah keponakan Suma-huciang dan kiranya seorang keponakan sudah patut disejajarkan dengan “orang-orang besar” di situ. Juga Im Giok sudah memilih tempat di sudut yang masih kosong dan kebetulan sekali, kursi yang ia duduki itu berada tepat di depan panggung yang masih kosong. Tiauw Ki duduk di seberang meja.

“Kaulihat kalau-kalau bungkusan tadi diambil orang,” bisiknya perlahan kepada Im Giok. Nona ini maklum dan mengangguk dengan pandang matanya. Hal ini mudah saja baginya karena memang ia duduk dengan muka menghadap meja besar tempat menaruh barang-barang sumbangan.

Tamu-tamu baru masuk memberi selamat dan barang-barang sumbangan makin banyak, sehingga memenuhi meja. Akhimya habis juga aliran tamu dan tempat-tempat sudah penuh oleh tamu. Hidangan-hidangan lezat dan arak-arak wangi dikeluarkan. Kemudian seorang pengawal dari Suma-huciang angkat bicara mewakili pembesar itu menghaturkan selamat datang dan terima kasih atas kedatangan para tamu, kemudian mengumumkan bahwa untuk menghibur para tamu, akan dimainkan tari-tarian oleh para penari yang sengaja datang dari kota raja sebagai sumbangan dari Kaisar! Pengumuman ini mendapat sambutan gempar dari semua yang hadir, karena hal ini adalah sesuatu yang istimewa. Tidak sembarang orang pernah menonton pertunjukan luar biasa ini, yaitu para penari cantik jelita dari dalam istana!

Suma-huciang menjadi gembira sekali melihat sambutan para tamu maka pembesar tua ini bangkit berdiri, menjura dan berkata,

“Saudara-saudara sekalian, memang hal ini amat menggembirakan. Aku telah menerima karunia besar sekali dari Hongsiang karunia yang amat mengharukan hatiku dan yang selama hidup takkan kulupa. Dalam keadaan seperti ini Hongsiang masih mengingat hambanya yang sudah tua seperti aku, benar-benar hal yang amat menggembirakan dan mengharukan. Alangkah mulia hati Hongsiang.” Suma-huciang menghentikan kata-katanya untuk menahan suaranya yang mulai menggetar saking harunya. Kemudian disambungnya lagi, kini air mukanya berseri.

“Ada kabar baik sekali, Saudara sekalian. Sebelum tari-tarian dari kota raja dirpulai, Lie-kongcu putera dari Paduka Gubernur di Shansi, berkenan memberi hiburan dengan menyumbangkan tarian silat di depan suadara-saudara. Kiranya semua orang sudah mengenal atau mendengar betapa pandainya Lie-kongcu bermain silat. Nah, Lie-kongcu, silakan!” Suma-huciang membungkuk ke arah Lie Kian Tek yang sudah bangkit berdiri disambut tepuk-sorak oleh para hadirin yang berada di situ. Para tamu wanita kini semua memandang ke arah pemuda tampan ini dengan mata bersinar dan bibir tersenyum-senyum.

“Sebetulnya siauwte malu sekali memperlihatkan kebodohan, akan tetapi demi untuk meramaikan pesta Suma-taijin, apa boleh buat!” katanya tersenyum manis dan tiba-tiba sekali ia bergerak tubuhnya melayang naik ke atas panggung! Jarak antara tempat ia berdiri dan panggung ada enam puluh tombak dan ia dapat melompat sedemikian rupa melewati kepala para tamu, benar-benar merupakan demonstrasi gin-kang yang tak boleh dipandang ringan!

Tukang pemukul tambur, canang dan suling sudah siap dan kini terdengar suara musik dipukul gencar. Akan tetapi Lie Kian Tek memberi isarat dengan tangan ke belakang sehingga tiba-tiba suara musik dipukul perlahan sekali.

“Cuwi sekalian, perkenankan siauwte masuk dulu untuk berganti pakaian,” kata pemuda ini dengan lagak dibuat-buat, kemudian ia berlari masuk melalui pintu sutera di dekat rombongan pemain musik.

Para tamu menjadi ribut, berebutan memilih tempat dekat panggung.

“Tamu wanita di depan!” terdengar suara orang. Terpaksa tamu-tamu pria mengalah dan sebentar saja tercium bau harum dan suara berkereseknya pakaian ketika tamu-tamu wanita berlari-lari kecil memilih tempat duduk di depan panggung. Tentu saja otomatis Im Giok terkurung di tengah-tengah.

Sebelum para tamu wanita itu datang Tiauw Ki sudah berbisik,

“Adik Im Giok, aku hendak mendekati Suma-huciang,” dan pemuda ini segera berdiri lalu pergi dari situ ketika para tamu wanita datang di depan panggung. Tidak hanya Tiauw Ki yang meninggalkan tempat itu, juga tamu-tamu pria banyak yang meninggalkan tempat duduknya untuk diberikan kepada tamu-tamu wanita, kecuali beberapa orang laki-laki yang bermuka tebal dan tidak tahu malu, tetap saja duduk di situ bahkan merasa kebetulan sekali! Oleh karena itu, maka kepergian atau kepindahan Tiauw Ki ini tidak menarik perhatian orang.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, dengan kerling matanya Im Giok melihat bahwa Tiauw Ki benar-benar telah dapat duduk di dekat Suma-huciang, bahkan juga di dekat panggung, sebelah kiri panggung di mana orang menyediakan tempat khusus untuk tuan rumah. Sementara menanti munculnya Lie Kian Tek yang jelas sekali pada malam itu menarik hati orang banyak, terutama sekali hati para wanita yang hadir di situ, para penabuh musik membunyikan alat musik masing-masing sehingga keadaan menjadi ramai sekali. Im Giok diam-diam memperhatikan Tiauw Ki dan ia melihat pemuda itu menggerak-gerakkan tangan bercakap-cakap asik sekali dengan Suma-huciang yang nampak mengangguk-angguk. Karena semua orang, atau hampir semua, boleh dibilang sedang mempercakapkan Lie Kian Tek yang menjadi populer itu, tentu orang mengira bahwa Tiauw Ki juga bicara tentang pemuda itu dengan Suma-huciang. Apalagi dalam kebisingan suara tambur dan canang, suara mereka sama sekali tidak dapat terdengar oleh orang lain.

Tak lama kemudian terdengar tepuk tangan ketika Lie Kian Tek muncul dari belakang pintu sutera. Im Giok memandang dan diam-diam gadis ini harus mengaku bahwa Lie Kian Tek kelihatan gagah dan tampan sekali. Dandanan Lie Kidn Tek sebagai seorang pendekar besar jaman dahulu benar-benar pantas sekali untuk wajahnya yang gagah tampan dan potongan tubuhnya yang tegap berisi, Pendeknya, pemuda she Lie itu potongan pendekar benar, pendekar seperti yang seringkali dijadikan kembang mimpi oleh para gadis remaja.

Irama musik berubah setelah pemuda ini muncul, semua orang kini diam dan memandang penuh perhatian ketika Lie Kian Tek memulai pertunjukannya dengan menjura ke arah Suma-huciang, kemudian kepada semua hadirin. Ketika pandangan matanya tertuju ke arah para penonton wanita, ia memberi kedipan mata kepada Im Giok. Gadis ini membuang muka, akan tetapi ia melihat semua wanita muda yang berada di situ tertawa cekakak-cekikik sambil saling cubit, bersikap genit sekali. Im Giok menjadi sebal. Ia tahu, bahwa Lie Kian Tek secara kurang ajar berkedip kepadanya dan para wanita itu masing-masing merasa diajak bermain mata oleh Lie Kian Tek sehingga timbul suasana yang menggelikan dan menjemukan itu.

Musik ditabuh dengan irama lambat dan Lie Kian Tek mulai bersilat. Gerakannya mula-mula lambat dan pedangnya masih tergantung di pinggang. Pemuda ini memang pandai sekali dan berbakat sehingga tiap gerakannya merupakan tarian indah. Kadang-kadang tangannya memegang atau menyambar ujung ikat pinggang berkembang dan bergerak amat gagahnya.

Im Giok secara terus terang harus mengaku bahwa ia amat tertarik dan suka melihat gerak-gerik pemuda itu, juga ilmu silat yang dimainkan itu bukanlah ilmu silat biasa, melainkan ilmu silat yang mengandung dasar tinggi. Namun digerakkan secara lembut-gemulai sedap dipandang. Dasar Im Giok sendiri seorang ahli seni atau seorang seniwati yang suka akan tari-tarian, kini menonton orang bermain silat seperti menari, karuan saja ia tertarik sekali. Ketika Lie Kian Tek kebetulan menghadap ke arah ia duduk, pemuda itu kembali berkedip dan tersenyum kepadanya.

Im Giok mendongkol sekali, mengerutkan kening dan tak terasa tangan kirinya naik ke mulutnya untuk menahan bibirnya yang sudah hendak memaki marah. Akan tetapi ia dapat menekan perasaan mendongkolnya, bahkan dapat memaksa bibirnya tersenyum seakan-akan ia tertarik seperti orang-orang lain dan tidak melihat adanya isarat-isarat kurang ajar dari pemuda itu.

Lie Kian Tek bersilat makin cepat dan tak lama kemudian di atas panggung seperti ada beberapa orang yang bersilat. Gerakannya cepat sekali dan semua itu tambah indah menarik karena diiringi suara musik yang gencar dan ramai. Tepuk tangan menyambut permainannya yang memang indah.

Lie Kian Tek makin bangga. Tiba-tiba ia berseru keras dan orang melihat berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata. Ternyata pemuda itu telah mencabut pedangnya dan kini bersilat pedang dengan gerakan indah dan cepat. Pedang di tangannya berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyelimuti seluruh tubuhnya. Akan tetapi Im Giok yang bermata tajam dapat mengikuti setiap gerakannya dan biarpun ia harus memuji bahwa ilmu pedang pemuda itu cukup baik, akan tetapi tidak begitu lihai kalau dilawan, atau pendeknya ia sanggup untuk menandingi pemuda itu dalam ilmu silat. Tiba-tiba Lie Kian Tek berseru keras dan mengakhiri ilmu pedangnya dengan gerakan menyambit. Inilah gerakan Sin-liong-hian-bow (Naga Sakti Mengulur Ekornya) semacam gerakan yang sukar dilakukan dan biasanya dalam pertempuran hanya dilakukan oleh orang yang sudah amat terdesak atau sudah terluka sehingga gerakan terakhir ialah dengan menimpukkan pedangnya. Pedang di tangan Lie Kian Tek meluncur cepat sekali dan tahu-tahu telah menancap di atas tiang yang berada di depan Suma-huciang, kurang lebih satu kaki di atas kepala pembesar itu!

Tadinya semua orang terkejut karena mengira bahwa pedang itu ditimpukkan ke arah Suma-huciang, akan tetapi segera meledak tepuk tangan memuji ketika Suma-huciang tertawa-tawa sambil bertepuk tangan pula! Tiauw Ki yang duduk di dekat pembesar itu, menjadi pucat dan ia kagum bukan main melihat ketenangan Suma-huciang yang masih dapat bertepuk tangan memuji, padahal tadi mengalami kekagetan yang cukup menegangkan hati. Ia sudah biasa dan memiliki kepandaian silat tinggi pula, akan tetapi Tiauw Ki yang belum melihat kepandaiannya bersangsi apakah pembesar yang sudah tua ini mampu menandingi kepandaian Lie Kian Tek yang muda dan lihai.

“Kepandaian hebat, Lie-kongcu.” Suma-huciang berkata sambil tertawa kepada Lie Kian Tek yang masih membungkuk-bungkuk menerima pujian dan tepuk tangan. “Akan tetapi sayang, timpukanmu kurang keras sehingga pedang hanya menancap setengahnya saja pada tiang kayu. Kalau dipergunakan dalam perang, kiranya takkan dapat menembus baju perang musuh yang terbuat dari besi!” Sambil berkata demikian, pembesar ini berdiri dari kursinya, menggunakan dua buah jari tangan kanan, yakni jari tangan dan telunjuk menjepit pedang yang menancap di tiang itu dan sekali betot pedang itu telah tercabut keluar! Kemudian sambil tertawa ia memuji,

“Pedang bagus! Pedang bagus!” Dan sambil menjura ia mengembalikan pedang itu kepada Lie Kian Tek, lalu duduk kembali di kursinya.

Tepuk tangan riuh menyambut demonstrasi tenaga lwee-kang yang hebat ini. Tiauw Ki memandang dengan melongo dan hampir saja pemuda ini menjulurkan lidahnya saking kagum dan heran. Im Giok tertegun. Tenaga lwee-kang seperti itu tak mudah dilakukan oleh sembarang orang, pikirnya dan ia gembira bahwa pembesar yang menjadi “sahabat” Tiauw Ki itu ternyata bukanlah orang lemah dan kiranya tidak kalah kalau dibandingkan dengan Lie Kian Tek.

Lie Kian Tek mengerutkan kening dan wajahnya yang tampan itu mulai muram. Ia menerima pedangnya dari tangan Suma-huciang, kemudian sambil menyeringai ia berkata, menjura kepada pembesar itu,

“Ah, nama besar Suma-taijin bukanlah nama kosong belaka, membuat siauwte takluk sekali. Hari ini adalah hari gembira dan hari baik, maka untuk menambah meriah suasana, aku sangat mengharap supaya Taijin sudi menunjuk seorang jagoan untuk memperlihatkan kepandaiannya di panggung ini. Selain untuk menambah pengalaman kami orang-orang Shansi, juga untuk sekedar perbandingan kegagahan antara kawan-kawan kita.” Kata-kata ini sesungguhnya bukan semata untuk menyatakan ketidaksenangan hati putera Gubernur ini karena tadi telah menerima celaan dari Suma-huciang, melainkan pada hakekatnya mengandung segi politis yang mendalam. Suma-huciang adalah seorang pembesar yang amat setia kepada Kaisar, dan yang di daerah ini merupakan satu-satunya orang yang disegani oleh para pembesar yang korup dan yang hendak memberontak, karena mereka tahu bahwa Suma-huciang akan merupakan penghalang besar dan akan membela negara dengan nyawa. Dan para pemberontak itu pun tahu bahwa selain diri sendiri lihai. Suma-huciang mendapat dukungan banyak orang pandai di dunia kang-ouw, karena itu sejauh ini para pemberontak belum berani turun tangan mengganggu Suma-huciang.

Adapun Lie Kiang Tek adalah putera Gubernur Shansi, gubernur di samping gubernur Propinsi Honan, merupakan orang terkemuka dan tokoh besar yang anti Kaisar! Tidak mengherankan apabila di dalam hati mereka terkandung rasa permusuhan besar, sungguhpun pada lahirnya kedua pihak belum berani berterang menyatakan kebencian dan permusuhan. Kini mendapatkan kesempatan baik, Lie Kian Tek sengaja mengeluarkan kata-kata untuk memancing keluarnya jago pembela Suma-huciang sehingga di samping untuk mengenal siapa pembela pembesar setia raja ini, juga untuk mengukur sampai di mana kelihaian mereka! Dilihat dari sini, ternyata bahwa Lie Kian Tek bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga cerdik dan licin.

Suma-huciang bukan seorang pembesar kawakan yang sudah banyak pengalaman kalau kalau ia tidak mengerti akan maksud hati putera Gubernur ini. Sambil senyum ia berkata,

“Terima kasih kepada Lie-kongcu yang sudah begitu memperhatikan untuk memeriahkan pestaku ini.” Ia lalu memberi isarat kepada seorang tamu yang berdiri dan menjura kepada Suma-huciang.

Orang ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus, sikapnya tenang dan matanya bersinar tajam. Dia ini adalah seorang piauwsu (pengawal barang) di kota Tiang-hai yang amat terkenal dan juga amat setia kepada Kaisar maka selalu membela Suma-huciang. Setelah memberi hormat kepada Suma-huciang, ia lalu berjalan menghampiri panggung dan dengan gerakan ringan melompat naik, menjura kepada Lie Kian Tek lalu berkata,

“Hamba Chi Liok menerima tugas dari Suma-huciang untuk memenuhi usul Lie-kongcu. Harap saja kebodohan hamba takkan menjadi tertawaan para Enghiong dari Shansi.”

Lie Kian Tek tersenyum mengejek, “Aha, kiranya Chi-piauwsu yang akan menjadi wakil Tiang-hai. Bagus, sudah lama kami ingin menyaksikan kelihaian Chi-piauwsu. Silakan.” Setelah berkata begitu, Lie Kian Tek melepaskan penghias kepala dan melompat turun, memilih tempat duduk tak jauh dari tempat duduk Im Giok, menoleh melirik sambil tersenyum kepada gadis itu, kemudian melepaskan jubah luarnya sehingga kini ia kembali memakai pakaiannya yang tadi sebelum ia bermain di atas panggung. Para wanita melirik-lirik dan senyum-simpul menghujani pemuda itu, kerling memikat menyambar-nyambar ke arahnya! Kian Tek melempar senyum membagi kerling kepada para wanita yang mengaguminya itu lalu duduk dengan sikap angkuh, memandang ke arah panggung.

Sementara itu, musik telah dibunyikan pula dan Chi Liok mulai bersilat tangan kosong. Gerakannya lambat saja dan jauh kalah menarik kalau dibandingkan dengan pertunjukan Lie Kian Tek tadi, maka di sana-sini terdengar suara ejekan. Bahkan di antara para penonton wanita ada yang terkekeh menertawakan. Akan tetapi Im Giok melihat bahwa piauwsu itu adalah seorang ahli lwee-keh yang tak boleh dipandang ringan. Setiap gerak tangan mengandung tenaga lwee-kang yang cukup kuat, sedangkan bhesi kakinya bukan main. Setelah menyelesaikan babak permainan ilmu silat tangan kosong, Chi-piauwsu lalu mengeluarkan senjatanya, yakni sebatang joan-pian (ruyung lemas) yang berwarna hitam. Ia lalu bersilat dengan joan-pian ini. Kembali gerakannya lembut dan perlahan, namun joan-pian itu kadang-kadang mengeluarkan suara mengiuk, tanda bahwa gerakan senjata itu cepat dan mengandung tenaga besar.

Setelah selesai bersilat, Chi-piauwsu menjura kepada penonton dan berkata, ”Aku orang she Chi telah memperlihatkan kebodohan, harap jangan ditertawakan mengingat bahwa aku naik ke panggung ini atas perintah Suma-taijin.” Ia lalu melompat turun dan kembali duduk di tempatnya semula. Lie Kian Tek memberi isarat dengan tangannya kepada seorang bermuka kuning yang tadi ikut mengantar ia datang, yakni seorang di antara lima orang kawannya. Orang bermuka kuning ini mengangguk sambil menyeringai, kemudian berrseru keras,

“Suma-taijin, hamba mohon diberi kesempatan mewakili Shansi!”

Sebelum Suma-huciang menjawab, tubuhnya telah melayang ke atas panggung dengan gerakan indah. Ternyata orang ini datang-datang mendemonstrasikan gin-kang yang lihai.

Suma-huciang tertawa. “Boleh, boleh! Tak usah bertanya lagi, karena memang tiba giliran pihak Shan-si,” jawabnya.

Si Muka Kuning tersenyum lalu menjura kepada penonton, kemudian berkata suaranya lantang tinggi.

“Siauwte bernama Coa Keng, menerima titah Lie-kongcu mewakili Shan-si. Akan tetapi, siauwte bukan seorang yang suka pamer. Ada banyak orang yang suka memamerkan sedikit kepandaian yang tak berarti sebaliknya banyak orang yang tak perlu banyak pamer. Kalau orang berkepandaian seperti Lie-kongcu, patutlah kalau diperlihatkan kepada orang banyak, karena memang indah dan mengagumkan, sedap dipandang. Akan tetapi melihat Saudara Chi Liok tadi bersilat, benar-benar siauwte diam-diam menggeleng kepala. Siauwte tidak mau seperti Saudara Chi Liok, mempertontonkan keburukan dan kebodohan sendiri.”

“Eh, Coa-kauwsu, kau naik ke panggung mau bersilat atau berpidato?” terdengar Chi Liok menegur. Orang-orang tertawa dan kali ini yang ditertawakan adalah Coa Keng sehingga muka yang kuning itu menjadi hijau.

“Chi-piauwsu, bermain silat seorang diri kurang menggembirakan. Untuk membuktikan bahwa kau tadi hanya menjual keburukan dah kebodohan sendiri, silakan kau naik ke sini dan mengawani aku bermain-main sebentar. Tentu akan lebih menggembirakan suasana, bukan? Ataukah, kau... takut?”

Inilah tantangan hebat. Chi Liok mendongkol sekatli, akan tetapi piauwsu ini tidak berani sembarangan bergerak. Sikap Si Muka Kuning itu ia anggap kurang ajar sekali, akan tetapi ia tidak berani bersikap seperti itu di depan Suma-huciang. Maka ia memandang ke arah pembesar ini. Bukan saja Chi Liok tidak berani bersikap kurang ajar, juga ia tahu siapa adanya Lie Kiain Tek dan kawan-kawannya. Ribut dengan mereka berarti memancing kekacauan besar, dan memancing timbulnya pertentangan besar antara mereka yang anti Kaisar dan pihaknya yang pro Kaisar, yang memang sudah lama sekali diam-diam saling membenci.

Suma-huciang sejak tadi sebelum keadaan meruncing, sudah bertukar pikiran dengan Tiauw Ki, bahkan sudah menerima pesanan Kaisar dan para pembesar tinggi di istana. Di antara nasihat-nasihat yang dibawa oleh Tiauw Ki, juga pemuda ini menyampaikan hasrat kaum berkuasa di istana bahwa Suma-huciang diberi tugas untuk memancing sampai di mana tingkat pemberontakan Gubernur Shansi dan Honan terhadap Kaisar dan sampai di mana pula kekuatan mereka. Kini ia menghadapi tantangan, tantangan untuk timbulnya keributan hebat, yang ia tahu sengaja dicetuskan oleh Lie Kian Tek. Agaknya memang pemuda putera gubernur itu datang hanya berdalih memberi selamat, akan tetapi sebetulnya sudah mendapat tugas dari ayahnya. Inilah kesempatan baik, pikir Suma-huciang. Kesempatan untuk menguji dan melihat “isi hati” musuh-musuhnya, tanpa menimbulkan kesan bahwa keributan terjadi karena perasaan pribadi. Maka ia lalu mengangguk kepada Chi Liok.

Piauwsu itu setelah melihat isarat dari Suma-huciang bahwa dia boleh melayani Coa Keng, menjadi gembira sekali. Tidak seperti tadi ketika mendemonstrasikan kepandaian di atas panggung ia bermain lambat-lambatan, kini sekali melompat ia telah melayang ke atas panggung menghadapi Coa Keng! Ia menjura, dibalas oleh Coa Keng. Dua jago berhadapan dan saling mengukur “isi” lawan dengan pandangan mata. Penonton memandang tegang.

“Saudara Coa Keng, betul-betulkah kau mengundang aku naik ke panggung untuk melayanimu bermain silat?” tanya Chi Liok, suaranya masih tenang.

Coa Keng tersenyum mengejek. “Mengapa tidak betul? Untuk meramaikan suasana pesta dan sebagai penghormatan kepada Suma-taijin, sudah sepatutnya kita bermain-main sebentar. Asal saja kau tidak takut, karena dalam permainan silat bersama kita sama-sama maklum bahwa kemungkinan terluka besar sekali, bahwa ada kemungkina terpukul tewas.”

“Ini sebuah tantangan!” Chi Liok menegur, gemas.

“Kau takut?” Coa Keng menggerakkan alis, menghina.

“Orang sombong, kau sajalah yang mempunyai keberanian? Baik, kuterima tantanganmu. Di sini banyak sekali yang melihat betapa kurang ajarnya sikapmu, dan bahkan aku hanya membela diri, membela kepentingan nama taijin, nama daerah dan namaku sendiri. Kaumulailah!”

Coa Keng mengeluarkan suara nyaring dan tiba-tiba dengan suara licik, sambil masih tertawa terus ia mengirim pukulan kilat ke arah lambung Chi Liok!

“Bukk!” tubuh Chi Liok terpental dan hampir saja piauwsu ini roboh kalau ia tidak lekas-lekas berpoksai dan berdiri lagi. Mukanya agak berubah, akan tetapi pukulannya tadi tidak mendatangkan luka dalam yang hebat karena ia keburu mengerahkan lwee-kang ke arah bagian yang akan terpukul.

“Kau curang!” bentaknya.

“Bukankah kau menyuruh aku mulai? Baru sekali pukul saja hampir roboh. Ha, ha, ha!”

“Rasakan ini!” Chi Liok menyerang tiba-tiba sebelum lawannya berhenti tertawa. Pukulannya hampir saja mengenai leher di bagian yang berbahaya kalau saja Coa Keng tidak lekas-lekas miringkan tubuh sehingga yang terpukul hanya pundaknya. Namun ini cukup membuat Coa Keng terhuyung ke samping tiga tindak sambil meringis karena pundaknya terasa sakit sekali.

“Kurang ajar kau!” bentaknya dan di lain saat dua orang ini sudah saling gebuk, saling tendang dan bertanding secara kasar sekali. Sebetulnya ilmu silat mereka juga tidak terlalu rendah akan tetapi oleh karena watak Coa Keng amat kasar, cara berkelahinya juga kasar sehingga mereka itu lebih sering memukul tanpa membahayakan lawan daripada mengirim serangan yang betul-betul membahayakan keselamatan lawan. Pertempuran itu berjalan seru dan bagi orang-orang yang tidak tahu ilmu silat atau yang masih rendah kepandaiannya, memang pertandingan itu nampak ramai dan menegangkan sekali. Akan tetapi bagi orang-orang yang kepandaiannya tinggi, makin lama pertempuran itu nampak makin menjemukan. Akhirnya terdengar suara teriakan sakit dan tubuh Coa Keng terlempar terkena tendangan Chi Liok dan menggelundung keluar dari panggung!

Orang-orang wanita yang tadinya masih menonton dengan muka khawatir mengeluarkan jeritan dan cepat-cepat mereka berbondong pergi meninggalkan panggung untuk duduk di tempat semula, menjauhi panggung. Hanya ada empat orang wanita termasuk Im Giok yang tidak pergi dan karena ini Im Giok dapat menduga bahwa tiga orang wanita di dekatnya itu tentulah orang-orang yang mengerti ilmu silat. Ia melirik dan melihat bahwa mereka ini adalah seorang wanita tua yang memegang tongkat dan rambutnya diikat kain putih, sedangkan yang dua orang adalah gadis-gadis yang berpakaian sederhana akan tetapi cukup manis. Sikap mereka memang bukan orang-orang sembarangan dan Im Giok ingin sekali tahu siapa gerangan mereka bertiga ini.

Sementara itu, di atas panggung terjadi hal lain yang menggemparkan. Begitu tubuh Coa Keng terguling meninggalkan tempat itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depan Chi-piauwsu sudah berdiri seorang kakek. Kakek ini satu kali menggerakkan tangan ke depan, Chi Liok memekik dan terlempar keluar panggung!

“Orang-orang macam ini berani menjual lagak di atas panggung, benar-benar tidak menghormat kepada Suma-taijin, harap disuruh keluar tokoh Tiang-hai yang betul-betul memiliki kepandaian untuk bermain-main dengan aku. Barangkali Taijin sudah lupa lagi, aku adalah Cheng-jiu Tok-ong dari barat dan kini mewakili Shansi.”

Im Glok terkejut bukan main. Tadi ia tidak melihat kakek ini dan tiba-tiba kakek itu naik ke panggung, tentu untuk mengacau. Teringat olehnya bahwa Giam-ong-to Kam Kin, murid kakek ini pun telah menjadi seorang komandan pasukan, tentu pasukan dari Gubernur Shansi! Kalau demikian, tentu Cheng-jiu Tok-ong menjadi kaki tangan Lie Kian Tek.

Mengingat sampai di sini, Im Giok lalu menengok ke arah Kian Tek. Akan tetapi ia tidak melihat pemuda itu dan kursinya kosong. Otomatis Im Giok teringat akan bungkusan yang disumbangkan oleh Tiauw Ki kepada Suma-huciang maka ia menengok ke arah meja tempat menaruh barang-barang sumbangan.

Di lain saat, tubuh Im Giok lenyap, yang tampak hanya bayangan merah yang cepat sekali. Gadis ini tadi melihat Lie Kian Tek berada di dekat meja dan sedang menegur seorang laki-laki yang dengan gerakan cepat sekali mengulur kedua tangan mengambil barang-barang berharga yang kecil-kecil dari atas meja! Kedatangan Im Giok tak terlihat oleh mereka dan tahu-tahu orang laki-laki yang bertubuh kecil pendek itu berseru kaget ketika pundaknya ditotok orang. Akan tetapi ia ternyata lihai bukan main karena masih sempat ia mengelak dan biarpun totokan itu masih mengenai pundaknya, akan tetapi tidak berakibat apa-apa. Im Giok yang menotok kaget dan sama sekali tidak mengira orang itu demikian lihai, maka ia menyerang terus sambil membentak,

“Bangsat kecil, kau hendak mencuri apa?”

Dua kali lm Giok menyerang dan dua kali gagal karena Si Kate Kecil itu dengan amat lincahnya dapat mengelak dan hendak melarikan diri. Akan tetapi tiba-tiba Lie Kian Tek menendangnya sambil berseru,

“Kau hendak lari ke mana?”

Kembali secara mengagumkan, sekali Si Kate itu mengelak dan mencoba untuk lari terus. Dua kali lagi Im Giok berusaha menangkapnya, dan tiga kali Lie Kian Tek sudah mencoba untuk merobohkannya dengan serangan maut, namun semua dapat dielakkan oleh Si Kate itu.

“Copet, kau bikin gara-gara saja, tidak tahu sedang kucari-cari!” tiba-tiba terdengar teguran orang. Mendengar suara ini Si Kate lalu melesat dan tahu-tahu ia telah berada di belakang orang ini dan mencari perlindungan di belakangnya! Ketika Im Giok dan Lie Kian Tek menengok, ternyata orang yang datang ini adalah Suma-ciang!

“Lie-kongcu, apakah kesalahan dia ini maka kauserang dia?” tanya Suma-huciang kepada Lie Kian Tek.

“Aku melihat dia menggeratak di meja dan hendak mencopet barang-barang sumbangan,” kata putera gubernur itu.

Suma-huciang menengok kepada Im Giok, “Dan kau, Nona, mengapa pula kau hendak menangkapnya?”

“Aku melihat dia mengambil barang-barang dari atas meja, Taijin,” jawab In Giok sambil mengerling ke arah Tiauw Ki yang juga menengok dan memandang ke arah mereka dari tempat duduknya di belakang panggung.

Suma-huciang tertawa. “Harap kalian maafkan dia ini. Dia dijuluki Sin-touw-ong (Raja Copet Sakti) dan di Tiang-hai sudah terkenal. Dia nakal akan tetapi tak pernah membawa pergi barang orang lain. Copet, kau mengambil apa saja? Hayo lekas keluarkan!”

Sin-touw-ong yang kate sekali tubuhnya itu tersenyum-senyum gembira seperti seorang pelawak, kemudian ia mengeluarkan banyak sekali benda dari sakunya yang banyak pula.

Benda-benda itu dikeluarkan satu demi satu seperti tukang sulap dan Im Giok sendiri terheran-heran karena sukar dipercaya bagaimana seorang kate seperti itu dapat menyimpan benda sebanyak itu tanpa kelihatan dari luar. Juga, yang membikin ia cemas di antara benda-benda itu tidak terdapat bungkusan sumbangan Tiauw Ki yang ternyata telah lenyap dari atas meja! “Kembalikan barang-barang itu, dan mari kauwakili Tiang-hai di atas panggung, Touw-ong,” kata Suma-huciang yang tidak mempedulikan semua itu dan tidak memperhatikan barang apa yang mungkin hilang.

Sin-touw-ong cepat mengembalikan barang-barang itu di atas meja, kemudian ia berjalan menuju ke panggung bersama Suma-huciang. Im Giok memandang kepada Lie Kian Tek dengan penuh curiga, akan tetapi mukanya menjadi merah ketika ia melihat pemuda itu tengah memandangnya sambil tersenyum penuh arti!

“Nona, kau benar-benar gagah. Kau benar-benar mengagumkan dan dibandingkan dengan engkau, semua wanita yang berada di sini, juga yang berada di mana saja, tidak ada artinya! Nona, pertemuan ini benar-benar dapat dinamakan jodoh. Kau dan aku berjodoh, maukah kau ikut aku keluar dari tempat ini dan kita bercakap-cakap di tempat yang lebih sunyi dan dingin? Hubungan kita perlu dipererat dan....”

“Jahanam, tutup mulutmu!” Im Giok memaki marah dan gadis ini lalu pergi ke tempat duduknya. Mukanya terasa panas sekali dan kedua pipinya merah sekali. Ia mendongkol bukan main. Kalau tidak ingat bahwa dia berada di tempat orang lain dan kalau ia tidak ingat akan tugasnya mengawal Tiauw Ki dan melakukan perintah Susiok-couwnya, tentu ia tadi sudah memukul putera gubernur yang bermulut lancang itu.

Sementara itu, di atas panggung Cheng-jiu Tok-ong sudah berhadapan dengan Sin-touw-ong. Cheng-jiu Tok-ong tertawa bergelak dan berkata lantang,

“Ha, ha, ha, Suma-taijin bagaimanakah ini? Benar-benarkah Taijin mengajukan dia ini ke atas panggung?”

Ketika ia melihat pembesar itu mengangguk sambil tersenyum, Cheng-jiu Tok-ong menjadi marah. Ia merasa terhina sekali karena harus menghadapi seorang demikian tak berarti. Ditatapnya wajah Sin-touw-ong seperti seekor harimau menatap tikus.

“Kau ini manusia tiada guna, benar-benar kau sudah bosan hidup? Kau manusia tidak ternama, tahukah kau dengan siapa kau berhadapan?”

Raja copet yang kate itu cengar-cengir seperti seorang badut. Ia mempunyai bentuk muka yang lucu, tubuhnya pendek kecil matanya lebar dan hidungnya dapat bergerak-gerak. Apalagi berhadapan dengan Cheng-jiu Tok-ong, benar-benar seperti seorang raksasa berhadapan dengan seorang katai.

“Aku memang tidak terkenal, akan tetapi kau... kau ini siapakah?” tanyanya memicingkan mata.

“Setan pendek, dengar baik-baik. Aku adalah Cheng-jiu Tok-ong!”

Si Kate menggerakkan kedua pundaknya. “Aku tidak ternama, kau pun tidak terkenal,” katanya acuh tak acuh.

“Bangsat, aku adalah tokoh besar dari barat. Di dalam dunia kang-ouw, siapakah yang tidak mengenal namaku?” Cheng-jiu Tok-ong membentak.

“Setan besar, kau tidak mengenal namaku, aku pun tidak mengenal namamu, siapa di antara kita yang paling tidak terkenal? Kau bernama Cheng-jiu Tok-ong (Raja Racun Bertangan Seribu), aku berjuluk Sin-touw-ong (Raja Copet Sakti), sungguh kalau dibilang kita ini tidak terkenal, akan tetapi sebetulnya kau dan aku adalah raja-raja besar!”

Meledak suara ketawa para hadirin di situ mendengar kata-kata ini.

“Lo-enghiong, mengapa tidak lekas-lekas ratakan setan pendek itu dengan tana? Injak saja kepalanya, habis perkara!” seorang kawan dari Lie Kian Tek berseru tak sabar lagi melihat jagonya dipermainkan oleh raja copet itu.

“Ya, ya, injaklah! Injaklah!” Sin-touw-ong mengejek dan memasang kuda-kuda rendah sekali di depan Cheng-jiu Tok-ong, seakan-akan mempersiapkan diri untuk diinjak. Kembali terdengar suara orang tertawa riuh, sungguhpun mereka yang sudah mengenal kelihaian Cheng-jiu Tok-ong, merasa khawatir akan keselamatan Si Kate itu.

“Bangsat tukang copet, bersiaplah untuk mampus!” Cheng-jiu Tok-ong yang tidak dapat menahan sabarnya lagi sudah maju menyerang. Serangannya keras dan cepat sekali sehingga Sin-touw-ong terkejut bukan main. Raja copet ini bukan orang biasa. Dia adalah seorang kang-ouw yang sudah berpengalaman dan sebagai seorang maling dan copet, ia memiliki kepandaian istimewa, yakni kepandaian menjaga diri. Ia licin bagaikan belut dan gerakannya lincah, ditambah pula dengan bentuk tubuhnya yang pendek kecil, sukarlah bagi lawan untuk menyerangnya. Tentu saja ia pernah mendengar nama besar Cheng-jiu Tok-ong, akan tetapi ia tidak mengira bahwa serangan lawannya akan sehebat itu.

Cepat raja copet itu mengelak. Akan tetapi Cheng-jiu Tok-ong, seorang tokoh besar persilatan yang sudah lebih berpengalaman, maklum pula apakah yang diandalkan oleh lawannya. Maka ia tidak mau memberi kesempatan dan terus menyerang dengan cepat dan bertubi-tubi. Setiap serangannya merupakan pukulan atau tendangan maut, jangankan baru seorang seperti Sin-touw-ong, biarpun lebih tinggi kepandaiannya takkan kuat menerima pukulan ini.

Im Giok memandang semua ini dengan hati berdebar. Gadis ini pernah bertemu dan bertempur dengan Cheng-jiu Tok-ong, maka ia tahu sampai di mana kelihaian kakek ini. Dan menurut pandangannya, biarpun Si Raja Copet memiliki kegesitan luar biasa dan ilmu silat yang berdasarkan pertahanan dan penjagaan diri, akan tetapi kalau dibandingkan dengan Cheng-jiu Tok-ong, masih jauh sekali.

Ia dapat menduga bahwa Si Kate itu biarpun seorang pencopet, tentulah termasuk orang atau pembela Suma-huciang, jadi masih segolongan dengan pemuda pelajar Tiauw Ki. Pula ia ingin sekali menyelidiki siapakah yang mengambil bungkusan Tiauw Ki yang disumbangkan kepada Suma-huciang karena tadi lenyap dari atas meja. Si Kate itulah yang mengambilnya dan belum mengembalikannya? Ataukah Lie Kian Tek?

Melihat Sin-touw-ong sudah terdesak hebat, Im Giok lalu berlari mendekati panggung melompat ke atas panggung dan sekali ia mengulur tangan, ia telah dapat memegang leher baju Sin-touw-ong dan membawanya lompat ke dekat tempat Suma-huciang. Gerakan ini cepat sekali dan Cheng-jiu Tok-ong yang mengenal gadis itu menjadi berubah air mukanya. Kakek ini merasa sangsi. Kepada gadis itu biarpun ia tahu amat lihai, ia masih belum jeri akan tetapi kalau ia teringat akan Bu Pun Su yang pernah menolong gadis itu, bulu tengkuknya berdiri!

Semua orang menjadi gempar ketika melihat seorang gadis baju merah yang cantik, secara aneh telah menahan Si Raja Copet dan membawanya ke dekat Suma-huciang. Akan tetapi Im Giok tidak mempedulikan semua itu dan kepada Suma-huciang ia berkata, “Taijin, tadi kulihat barang sumbangan dari Gan-twako telah lenyap, mungkin sekali dicuri oleh tukang copet itu!”

Tiauw Ki dan Suma-huciang bertukar pandang, kemudian pembesar itu tersenyum kepada Im Giok.

“Terima kasih, Nona. Kalau Nona tidak maju, kiranya nyawa pencopet ini sudah melayang. Touw-ong, lekas kau haturkan terima kasih kepada penolongmu!”

Sin-touw-ong cengar-cengir, kemudian ia menjura berkali-kali dan di depan Im Glok sambil berkata,

“Nona yang cantik dan gagah perkasa, mataku sungguh buta tidak melihat Bukit Thai-san! Akan tetapi aku tidak kalah terhadap setan beracun itu.”

“Kau tidak kalah? Jangan main-main?” Suma-huciang berkata menegur orangnya.

Si Tukang Copet mengeluarkan sebuah benda dari sakunya yang aneh dan Im Giok terkejut. Ternyata bahwa pencopet ini telah berhasil mencopet golok pusaka dari lawannya, yakni, Cheng-tok-ong (Golok Racun Hijau).

“Inilah buktinya bahwa aku tidak kalah dan ini pula, Nona. Kiranya ini obat penolak racun!” Kembali dirogohnya saku bajunya dan. keluarlah obat bubuk dalam botol tanah.

Im Giok merasa kagum sekali. Biarpun ilmu silatnya belum begitu tinggi akan tetapi dalam hal ilmu mencopet, kiranya orang kate ini sudah patut disebut Raja Copet Sakti!

Sementara itu, di atas panggung, Cheng-jiu Tok-ong berteriak-teriak, “Ha, ha, ha, begitu sajakah jagoan dari Tianghai? Segala tukang copet dan tukang maling! Ha, ha, ha. Hayo, mana lagi jago Tiang-hai? Suma-taijin, apakah pertunjukan silat disudahi sampai di sini saja dengan pengakuan kalah dari pihakmu? Kalau begitu, biarlah kita menikmati pertunjukan tari-tarian dari kota raja. Ha, ha, ha!”

“Hm, manusia itu menghina sekali,” kata Sin-touw-ong.

“Biarlah, lebih baik kita sudahi keributan ini,” usul Tiauw Ki.

Suma-huciang menghela napas. “Kalau saja aku bukannya tuan rumah dan tidak pantas sekali kalau aku sendiri naik ke panggung, aku ingin sekali belajar kenal dengan kepandaian manusia sombong kaki tangan Gubernur Lie itu!”

Sambil berkata demikian, pembesar itu memandang kepada Im Giok. Gadis ini dapat menangkap arti pandang mata Suma-huciang. Kiranya pembesar ini bermata tajam sekali. Sekali saja melihat bagaimana gadis itu menangkap Sin-touw-ong, ia maklum bahwa Im Giok memiliki kepandaian tinggi dan pasti dapat melawan Cheng-jiu Tok-ong. Akan tetapi karena baru saja ia kenal dengan gadis ini, apalagi baru saja gadis ini telah bebaskan Sin-touw-ong dari ancaman bahaya maut di tangan lawannya, ia tidak berani minta kepada Im Giok untuk mewakilinya di atas panggung.

“Taijin, kalau Taijin menghendaki supaya aku mencuci nama Taijin yang dikotori oleh manusia itu, akan kulakukan sekarang juga.”

“Ah, aku akan membikin repot saja, juga tidak enak terhadap Gan-siucai, karena kau dibawa olehnya,” kata pembesar itu.

“Tidak apa, Taijin. Justru karena Gan-twako mempunyai hubungan baik dengan Taijin, maka orang menghina Taijin seperti menghina Gan-twako dan berarti pula menghina aku sendiri,” kata Im Giok yang cepat menghampiri panggung sambil membawa golok rampasan. Lebih dulu dengan amat cepat gadis ini mengoleskan sedikit bubuk rampasan itu di bawah hidungnya dan ia mencium bau wangi sekali.

Dengan gerakan ringan Im Giok melompat ke atas panggung, disambut tepuk sorak para penonton. Dari atas panggung Im Giok melihat muka Lie Kian Tek berubah pucat. Im Giok tidak peduli itu semua dan langsung ia menghadapi Cheng-jiu Tok-ong yang masih ragu-ragu karena mengira gadis ini datang dikawal oleh Bu Pun Su!

“Apa kau datang hendak melanjutkan pertandingan dahulu itu? Asal saja kau berani maju sendiri, jangan bawa-bawa orang tua!” katanya perlahan, hanya terdengar oleh Im Giok.

Gadis itu tersenyum, lalu berkata keras kepada orang banyak, “Si Sombong ini mengira bahwa dia telah menang dalam pertempuran melawan Sin-touw-ong. Padahal, kalau tidak aku datang membawa pergi Sin-touw-ong, kiranya Raja Copet itu kini telah berhasil mencopet isi perutnya tanpa ia mengetahui!”

“Bohong! Omongan apa ini? Dia yang hampir saja mampus!” bantah Cheng-jiu Tok-ong marah.

Kiang Im Giok tersenyum manis dan memperlihatkan golok yang dibawanya dengan mengacungkan senjata itu ke atas agar kelihatan oleh semua orang yang hadir.

“Tok-ong, kaulihat baik-baik, golok siapakah ini? Dan bungkusan obat penawar racun ini, punya siapa pula?”

Cheng-jiu Tok-ong kaget bukan main dan meraba pinggangnya, ternyata golok di pinggang dan bungkusan obat di dalam saku telah lenyap!

“Bagaimana bisa berada di tanganmu?” tanyanya heran dan mukanya berubah merah.

“Siapa lagi kalau bukan Sin-touw-ong yang mengambilnya? Nah, kalau dia menghendaki, apakah dia tidak bisa mengambil nyawamu daripada mengambil dua benda ini dari tubuhmu? Benar-benar kau tidak tahu diri. Apakah masih saja kau tidak mau terima kalah?” Dalam kata-kata ini, Im Giok mengancam, kemudian ia melemparkan golok dan bungkusan obat itu ke atas lantai panggung.

Cheng-jiu Tok-ong ragu-ragu. Ia masih jerih menghadapi Im Giok yang amat lihai ilmu pedangnya, juga ia takut setengah mati kalau memikirkan apakah Bu Pun Su tidak bersembunyi di tempat itu dan akan muncul kalau sampai ia mendesak Im Giok. Kini, secara aneh sekali Si Kate itu telah berhasil mencopet golok dan bungkusan obatnya. Benarkah Si Copet itu yang melakukan hal aneh ini?

Dia tadi sudah mendesak hebat, apa mungkin Si Kate itu sempat mencuri senjatanya? Siapa tahu kalau-kalau ini pun perbuatan Bu Pun Su, kiranya tidak ada hal tak mungkin! Mengingat sampai di sini, Cheng-jiu Tok-ong bergidik dan ia pikir lebih baik mundur sebelum celaka. Sekarang ada kesempatan baik baginya untuk mundur tanpa mendapat malu.

Ia lalu membungkuk, mengambil senjata dan obatnya, lalu berkata sambil menjura, bukan kepada Im Giok melainkan kepada Sin-touw-ong.

“Kepandaian Sin-touw-ong benar-benar lihai sekali membuat orang kagum!” Setelah berkata begitu, Cheng-jiu Tok-ong lalu melompat turun dari panggung.

Im Giok tersenyum puas. Memang ia tidak menghendaki kalau pesta ulang tahun dari Suma-huciang itu berubah menjadi gelanggang pertempuran yang akan mengorbankan nyawa. Baiknya ia dapat mengusir mundur Cheng-jiu Tok-ong hanya dengan kata-kata dan gertakan belaka, tanpa menurunkan tangan keras, karena ia maklum bahwa kalau sampai terjadi pertempuran, walaupun ia takkan kalah, akan tetapi juga bukan hal yang mudah untuk mengalahkan Cheng-jiu Tok-ong!

Gadis ini melompat turun dari panggung dan menghampiri Suma-huciang dan Gan Tiauw Ki. Pembesar itu menyambutnya dengan muka berseri.

“Baiknya ada Lihiap yang mencuci bersih nama kota Tiang-hai yang akan dihina oleh orang lain,” katanya, kemudian pembesar ini berkata dengan suara lantang,

“Terima kasih kepada para enghiong yang sudah menyumbangkan tenaga untuk meramaikan pesta ini. Sekarang tiba giliran para penari yang akan memperlihatkan keindahan tarian mereka!”

Terdengar musik dibunyikan orang dan tak lama kemudian, tujuh orang penari yang cantik jelita muncul di atas panggung, menari-nari dengan gerakan tubuh yang indah gemulai membuat darah orang-orang muda yang hadir di situ tersirap ke muka dan denyut jantung menjadi cepat sekali. Perhatian semua tamu tercurah kepada para penari dari kota raja ini. Hal ini membuat Im Giok leluasa bicara dengan Tiauw Ki.

“Tidak apa, Giok-moi,” kata pemuda itu setelah mendengar akan kekhawatiran gadis itu tentang hilangnya bungkusan barang sumbangan.

“Bungkusan itu kosong tidak terisi apa-apa yang berharga. Surat dari Kaisar yang sesungguhnya tidak berada di situ, akan tetapi kuserahkan kepada Suma-huciang ketika kami bercakapcakap tadi.”

Im Giok menjadi lega dan ia memandang dengan wajah berseri. Ia kagum sekali akan kecerdikan pemuda ini. Dengan demikian, surat rahasia itu tidak terampas oleh orang lain dan ini berarti tugas Im Giok mengawal pemuda dan suratnya berhasil baik. Kini surat sudah berada di tangan Suma-huciang, orang yang berhak, maka sudah tidak ada tugas apa-apa lagi di tempat itu.

“Kalau begitu, tugas kita sudah selesai. Kapan kita meninggalkan tempat ini?” tanyanya.

“Sebetulnya aku sendiri pun tidak suka tinggal terlalu lama di sini,” jawab Tiauw Ki sambil melempar kerling ke arah Lie Kian Tek seakan-akan hendak menyatakan bahwa ketidak-senangan itu disebabkan oleh kehadiran putera gubernur itu. “Akan tetapi, Suma-taijin minta kepadaku untuk bermalam di sini malam ini dan besok hari baru kita meninggalkan tempat ini. Kuharap kau tidak keberatan, Adik Im Giok.”

“Keberatan sih tidak, asal saja malam ini tidak akan terjadi sesuatu atas dirimu,” kata Im Giok mengerutkan kening.

“Giok-moi yang baik, dengan adanya kau di sini, aku takut apakah?” Kata-kata ini disertai senyum dan pandang mata penuh arti, yang hanya dapat dimengerti oleh Im Giok. Tiba-tiba gadis ini merasa jengah, mukanya kemerahan dan untuk sesaat ia tidak berani memandang langsung kepada Tiauw Ki.

“Aku hanya memenuhi perintah Susiok-couw...” katanya kemudian perlahan. Karena takut kalau-kalau keadaan mereka diperhatikan oleh orang lain lalu mengalihkan pandangan mata ke atas panggung di mana para penari sedang memperlihatkan kepandaian mereka dengan indahnya.

Demikianlah, pesta berjalan terus dengan lancar dan kejadian sebelum tari-tarian diadakan agaknya sudah dilupakan orang. Bahkan dari pihak Lie Kian Tek sendiri agaknya tidak ada aksi-aksi selanjutnya.

Setelah tari-tarian berhenti dan diganti dengan biduan-biduan istana yang menyanyikan juga lagu-lagu merdu, berangsur-angsur para tamu mengundurkan diri, berpamit kepada tuan rumah sambil menghaturkan terima kasih. Akhirnya Suma-huciang sendiri yang sudah tua merasa lelah dan minta maaf kepada para tamu yang masih hadir, mengundurkan diri untuk mengaso. Setelah minta maaf kepada tamu-tamu yang tak berapa banyak lagi dan menjura, Suma-huciang lalu mengajak Gan Tiauw Ki masuk ke dalam. Kepada Im Giok ia berkata,

“Nona, kalau Nona hendak mengaso, sebuah kamar sudah tersedia. Silakan.”

Im Giok menjura kepada tiga orang wanita yang masih berada di situ, yakni nenek yang duduk dengan dua orang wanita muda dan nampak bukan orang-orang sembarangan itu. Mereka sejak tadi diam saja maka Im Giok juga tidak mempedulikan mereka dan tidak tahu siapakah gerangan mereka ini.

Ketika tiga orang ini berjalan menuju ke ruangan dalam, mereka melewati tempat duduk Lie Kian Tek dan kawan-kawannya. Pemuda putera gubernur ini nampak tengah bercakap-cakap dengan Cheng-jiu Tok-ong. Suma-huciang berhenti dan menjura.

“Lie-kongcu, maafkan aku tak dapat melayani lebih lama karena terlalu lelah dan hendak mengaso. Kamar untuk Lie-kongcu dan rombongan telah dipersiapkan di penginapan terbesar di kota ini. Silakan Kongcu bersenang-senang menikmati nyanyian di sini dan bilamana Kongcu hendak beristirahat, perintahkan saja kepada pelayan untuk mengeluarkan kendaraan.”

Lie Kian Tek tersenyum dan menjura, akan tetapi matanya melirik ke arah Im Giok.

“Terima kasih, memang sebentar lagi kami hendak beristirahat pula. Selamat tidur, Suma-taijin.”

Suma-huciang yang diiringkan oleh Tiauw Ki dan Im Giok melanjutkan langkahnya menuju ke ruang dalam. Pembesar itu setelah tiba di ruangan yang sunyi ini lalu berkata kepada Tiauw Ki,

“Gan-siucai, tentu kau masih ingat akan semua pesanku, bukan? Ada sedikit pesanku lagi harap disampaikan kepada Hong-siang, yakni bahwa bahaya yang datang dari Shansi tidak begitu besar apabila dibandingkan dengan bahaya yang mengancam dari Honan. Oleh karena itu, terhadap Honan (Propinsi Honan) hendaknya ditaruh perhatian sepenuhnya dan jangan diabaikan.”

Tiauw Ki mengerutkan keningnya dan matanya memandang heran. Sebelum ia mengeluarkan pertanyaan, ia didahului oleh pembesar itu.

“Aku tahu mengapa kau terheran, Gan-siucai. Memang nampaknya keadaan di Honan tenang-tenang saja, akan tetapi percaya sajalah, di dalamnya terdapat pengaruh yang kelak akan membahayakan kedudukan Kaisar. Aku tak dapat bicara panjang lebar lagi, harap kau mengaso dan besok cepat menyampaikan pesanku. Hong-siang akan mengerti apa yang kaumaksudkan.”

Terpaksa Tiauw Ki tidak membantah. Ia menjura dan berkata,

“Baiklah, Taijin, akan saya perhatikan dan sampaikan semua pesan Taijin. Besok pagi-pagi saya dan Kiang-lihiap berangkat. Kalau tidak sampai berpamit, harap Taijin sudi memaafkan.”

Suma-huciang menoleh kepada Im Giok, tersenyum berkata,

“Kau sungguh mengagumkan, Kiang-lihiap. Aku harus berterima kasih kepadamu. Benar-benar kau patut menjadi cucu murid Bu Pun Su seorang sakti yang sejak dulu aku kagumi. Tolong kausampaikan hormatku kepada pendekar sakti itu kalau kau bertemu dengan dia.”

Im Giok menjadi jengah mendengar pujian ini dan cepat memberi hormat. Kemudian pembesar itu memasuki kamarnya dah kedua orang muda itu pun pergi ke kamar masing-masing yang sudah disediakan setelah mereka berjanji akan berangkat besok pagi-pagi pada waktu ayam jantan berkokok.

Malam hari itu Im Giok tak dapat tidur. Gelisah ia di dalam kamarnya. Ada kekhawatiran kalau-kalau terjadi sesuatu pada malam hari itu, sesuatu yang akan menimpa diri Suma-huciang atau Gan Tiauw Ki. Ancaman terhadap diri Suma-huciang masih belum menggelisahkan hatinya, akan tetapi kalau ia ingat bahwa tugas yang dibawa oleh Tiauw Ki bukanlah tugas ringan dan keselamatan anak muda itu selalu terancam, Im Giok menjadi gelisah. Bagaimana kalau ada bahaya mengancam diri pemuda itu? Ia selalu memikirkan Tiauw Ki, setiap saat hanya pemuda inilah yang memenuhi pikirannya, tanpa disengaja bayangan Tiauw Ki selalu tampak di depan matanya, gema suara pemuda itu selalu berdengung di telinganya!

“Aku harus melindunginya, biarpun harus bertaruh nyawa!” pikir gadis yang sedang tergoda asmara ini. Keputusan ini membuat Im Giok tidak berani merebahkan diri. Ia lalu duduk bersila di atas pembaringannya dan beristirahat dengan cara bersamadhi. Menjelang subuh ada ia mendengar suara berkeresekan di atas genteng. Ia membuka mata dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Akan tetapi karena selanjutnya tidak ada suara apa-apa, ia pun tidak mau lancang mengejar keluar, takut kalau-kalau hanya akan menimbulkan keributan belaka. Sayang sekali gadis ini tidak keluar, kalau ia melakukan hal ini, mungkin ia akan mencegah terjadinya hal yang mengerikan!

Tak lama kemudian, terdengar ayam jantan berkokok, saling sambut ramai sekali. Im Giok melompat turun dari pembaringannya, menggantungkan pedang di pinggang, mengikatkan buntalan pakaian di punggung dan siap untuk berangkat. Karena ia tidak tidur, maka ia dapat bersiap-siap dengan cepat, bahkan tanpa menyisir rambutnya yang digelung indah, cukup memperkuat tali dan tusuk rambutnya saja.

Ia mendengar langkah kaki di luar pintunya. Cepat daun pintu kamarnya ia buka dan ternyata Tiauw Ki sudah berdiri di situ, juga sudah siap untuk berangkat. Dua orang pelayan menghampir, mereka dan menjura sambil berkata,

“Selamat pagi, Siauw-ya dan Siocia! Apakah berangkat sekarang?”

“Benar, Lopek. Tolong suruh tukang kuda mengeluarkan kuda kami dan menyediakan di depan.”

“Baik, Siauw-ya,” jawab pelayan-pelayan itu dengan girang sambil menerima dua potong uang perak sebagai hadiah dari Tiauw Ki. Dua orang muda ini lalu berjalan menuju ke luar dari gedung yang besar dan panjang ini.

“Enak tidurkah kau malam tadi, Giok-moi?” tanya Tiauw Ki kepada Im Giok.

“Enak juga. Dan kau?”

“Aku gelisah saja, entah mengapa. Agaknya karena hawa terlalu panas,” jawab Tiauw Ki.

Im Giok teringat akan bunyi di atas genteng. Kamar pemuda ini tidak jauh dari kamar Suma-huciang, maka tanyanya, “Twako, apakah kau tidak ada mendengar apa-apa malam tadi? Kalau kau tidak dapat tidur, tentunya kalau ada apa-apa kau mendengarnya.”

Tiauw Ki menggeleng kepala. “Tadinya aku pun takut kalau-kalau terjadi sesuatu, akan tetapi sukurlah, sampai aku tertidur, aku tidak mendengar apa-apa.”

Diam-diam Im Giok merasa lega, akan tetapi ia tidak puas dan masih curiga. Pemuda ini tidak mengerti ilmu silat, bagaimana ia dapat mendengar suara gerakan penjahat yang tinggi ilmu silatnya? Ia malam tadi mendengar suara yang ia tahu adalah suara kaki orang menginjak dan berjalan di atas genteng, orang yang ilmu gin-kangnya sudah tinggi sekali. Ataukah barangkali pendengarannya salah? Karena selanjutnya tidak ada suara apa-apa, ia tidak menyelidik lebih lanjut.

Sementara itu, pelayan-pelayan tadi sudah membawa kuda mereka ke depan gedung. Maka berangkatlah Tiauw Ki dan Im Giok di pagi hari itu dalam keadaan cuaca masih remang-remang dan segala apa nampak berwarna kelabu.

Sampai lama mereka melarikan kuda berdampingan tanpa mengeluarkan kata-kata. Keduanya muram. Tanpa kata-kata mereka merasakan peristiwa duka yang mereka hadapi, yakni perpisahan. Im Giok sudah selesai tugasnya mengawal pemuda itu menghadap Suma-huciang dan menyampaikan pesanan Kaisar. Karenanya ia harus memisahkan diri. Tidak selayaknya seorang gadis seperti dia terus-terusan melakukan perjalanan bersama seorang pemuda tanpa ada alasan yang kuat. Kini ia harus pulang ke Sian-koan, sedangkan Tiauw Ki tentunya hendak ke kota raja. Terpaksa harus berpisah. Tidak ada alasan untuk melakukan perjalanan bersama karena berbeda tujuan.

Tanpa berkata-kata keduanya maklum bahwa perjalanan mereka bersama hanya akan sampai di sungai kecil yang berada kurang lebih lima belas li di depan, di mana terdapat jalan simpangan dan di sana keduanya akan berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing. Makin dekat dengan sungai itu, otomatis keduanya memperlambat larinya kuda sehingga di lain saat kuda mereka hanya berjalan saja!

“Adik Im Giok, kau selanjutnya akan ke manakah?” Tiauw Ki bertanya, sebuah pertanyaan yang aneh dan lucu karena keduanya sudah sama-sama mengetahui ke mana gadis itu akan pergi kalau tidak pulang ke rumah ayahnya di Sian-koan!

Pertanyaan ini saja sudah membayangkan keadaan hati pemuda itu, dan Im Giok maklum pula akan hal ini. Memang cinta kasih itu aneh sekali. Biarpun pemuda dan gadisnya sama-sama selama hidupnya belum pernah mengalami buaian asmara dan baru sekali itu mengalami perasaan yang amat aneh ini, namun keduanya seakan-akan sudah berpengalaman, keduanya sudah dapat menangkap maksud hati masing-masing hanya dengan rasa. Kerling mata mengandung seribu bahasa mesra, senyum tipis membayangkan perasaan hati berdebar, gerak-gerik mengisyaratkan suara hati. Demikianlah tajamnya seorang yang menghadapi pujaan hatinya, seakan-akan antara keduanya sudah ada kontak yang timbul oleh getaran-getaran perasaan.

Sungguhpun Im Giok maklum mengapa pemuda itu masih juga bertanya ke mana ia hendak pergi, ia menjawab juga perlahan sambil menundukkan muka,

“Aku hendak pulang ke Siang-koan. Dan kau... ke manakah, Twako?”

“Tentu ke kota raja... tugasku belum selesai. Sayang...”

Lama tidak terdengar mereka berkata-kata dan sunyi di pagi hari yang indah itu. Matahari belum kelihatan, akan tetapi cahayanya sudah mengusir kabut fajar dan menggugah alam yang terlelap dalam mimpi. Yang terdengar hanya suara kicau burung, diseling derap kaki dua ekor kuda yang berjalan perlahan di atas jalan berbatu.

“Mengapa sayang, Twako?” Im Giok sudah membolak-balik pertanyaan ini beberapa kali di dalam hati sebelum ia mengeluarkan melalui bibirnya. Hatinya berdebar menanti jawab, seperti seorang penjahat menanti pengucapan hukuman oleh hakim.

“Sayang karena... karena terpaksa kita harus berpisah.” Suara pemuda itu menggetar dan tiba-tiba Im Giok menjadi merah mukanya, merah sampai ke telinganya. Mengingat akan keadaan dirinya, tiba-tiba Im Giok mengerahkan tenaga batinnya untuk mengusir perasaan malu dan jengah yang luar biasa ini, kemudian ketabahannya yang luar biasa dapat membuat ia menguasai dirinya lagi. Ia tersenyum dan dengan wajah ayu memandang Tiauw Ki.

“Twako, kau ini aneh. Ada waktu bertemu pasti ada waktu berpisah. Bukankah ada kata-kata para cerdik pandai jaman dahulu bahwa bertemu itu artinya terpisah? Atau jelasnya bahwa pertemuan adalah awal perpisahan?”

Tiauw Ki yang tiba-tiba menjadi lemas melihat senyum yang demikian manisnya, wajah yang berseri dan mata bersinar-sinar sehingga membuat baginya seakan-akan matahari sudah muncul setinggi-tingginya, menjadi seperti orang linglung.

“Mengapa demikian?” Pertanyaan ini tidak karuan juntrungnya, padahal sebagai seorang sastrawan, sudah tentu pemuda ini hafal akan semua filsafat kuno, tidak kalah oleh Im Giok. Akan tetapi pada saat itu, otaknya seakan-akan tertutup dan ia tidak sadar apa-apa, yang ada hanyalah wajah yang luar biasa cantik jelitanya dari gadis yang berada di sampingnya.

Melihat betapa pemuda itu duduk di atas kudanya sambil memandang bengong kepadanya seperti orang kena sihir, Im Giok tersenyum makin lebar.

“Mengapa? Eh, Gan-twako, tentu saja pertemuan adalah awal perpisahan, karena kalau tidak bertemu lebih dulu, bagaimana bisa berpisah?”

Jawaban yang merupakan kelakar ini membikin sadar Tiauw Ki dari lamunan. Ia menarik napas panjang dan berkata,

“Tepat sekali kata-katamu, Giok-moi. Dan inilah yang menyakitkan hatiku. Bagiku... berat sekali perpisahan ini. Kalau boleh aku ingin membuang jauh-jauh ucapan kuno itu, ingin kuganti...”

Im Giok mengangkat alisnya dan memandang lucu. “Ehm, kau ingin menyaingi para pujangga kuno dan merubah kata-kata mereka?”

“Ya, khusus tentang pertemuan itulah. Dengar aku merubahnya, dan ini terutama sekali untuk kita berdua, Adikku. Pertemuan bukan awal perpisahan, akan tetapi pertemuan adalah awal persatuan abadi. Bagaimana kau pikir, bukankah ini lebih tepat dan lebih baik?”

Im Giok menutup mulutnya menahan ketawa, kemudian melarikan kudanya.

“Ada-ada saja kau ini, Twako,” katanya seperti marah. Akan tetapi suara ketawanya berlawanan dengan kata-kata yang seperti marah ini, maka Tiauw Ki juga membalapkan kudanya mengejar.

“Adik Im Giok, tunggu...! Kita takkan berpisah selamanya!” Tiauw Ki berani berteriak menyatakan perasaan hatinya ini saking gembiranya. Akan tetapi Im Giok yang timbul kembali rasa malu dan jengah, tidak mau menghentikan kudanya.

Karena kuda dibalapkan, sebentar saja tahu-tahu telah tiba di sungai yang melintang di depan. Im Giok tersentak kaget dan menghentikan kudanya dengan tiba-tiba. Melihat sungai itu ia tersadar bahwa semua tadi bukan main-main, melainkan sungguh-sungguh perpisahan telah berada di depan mata! Dan ia pun menjadi berduka. Alisnya berkerut, kegembiraanaya lenyap sama sekali. Ia telah merasai kebahagiaan luar biasa di dalam hatinya selama dekat dengan Tiauw Ki. Sekarang perpisahan dengan pemuda itu mendukakan hatinya.

“Giok-moi...!” Tiauw Ki juga sudah tiba di situ dan pemuda ini melompat turun dari kudanya. “Giok-moi, harap jangan tergesa-gesa. Begitu girangkah hatimu untuk meninggalkan aku maka kau tergesa-gesa?”

Im Giok melompat turun dari kudanya pula dan berkata, “Twako, jangan kau berkata begitu...” Dalam suaranya kini terkandung sedu-sedan.

“Marilah kita pergunakan saat terakhir ini untuk bercakap-cakap dan memberi kesempatan kepada kuda kita beristirahat,” kata Tiauw Ki yang membawa kudanya ke pinggir sungai di mana terdapat rumput yang hijau dan gemuk. Im Giok meniru perbuatannya dan setelah dua ekor kuda itu makan rumput dengan lahapnya, mereka lalu mencari tempat duduk. Kebetulan sekali tidak jauh dari situ, di pinggir sungai kecil terdapat sebatang pohon yang teduh dan di bawah pohon tetdapat batu-batu sungai yang besar dan bersih licin. Kesitulah kedua orang ini berjalan perlahan.

Tiauw Ki duduk di atas sebuah batu besar, merenung ke arah air sungai. Im Giok juga duduk di atas batu tak jauh dari tempat pemuda itu duduk, bermain-main dengan ujung daun pepohonan yang tumbuh di dekatnya.

“Adik Giok, rasa-rasanya janggal dan aneh sekali kalau kita harus berpisah di sini. Benar-benar heran sekali, bagiku terasa seakan-akan kita sudah berkumpul selamanya, sudah semenjak kecil, semenjak lahir... Giok-moi, benar-benar berat untukku harus berpisah darimu, tak sampai hatiku...”

“Habis, bagaimana, Twako. Kita harus mengambil jalan masing-masing. Kau ke kota raja dan aku pulang ke Sian-koan.”

“Memang seharusnya demikian. Akan tetapi... ah, rasanya aku sedikitpun juga tidak ada keinginan sama sekali untuk pergi ke kota raja. Kalau saja kau dapat pergi bersamaku ke kota raja atau aku pergi bersamamu ke Sian-koan...”

Im Giok melirik, mukanya merah dan hatinya berdebar senang.

“Mana boleh begitu, Gan-ko? Kau mempunyai tugas penting. Apa sih sukarnya? Kau ke kota raja dan setelah selesai tugasmu, bukankah kau dapat mengunjungi aku di Sian-koan?”

Di dalam kata-kata ini terkandung sindiran yang dalam, seakan-akan Im Giok menyatakan bahwa ia akan menanti kedatangan pemuda itu di Sian-koan! Tiauw Ki yang cerdik dapat mengerti arti yang terkandung dalam kata-kata ini, maka saking girang dan perasaannya, ia menangkap kedua tangan gadis itu.

“Giok-moi…” suaranya gemetar.

Selama hidupnya baru kali ini Im Giok merasai sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Menurut kata hatinya, ingin ia menarik kembali kedua tangannya yang dipegang oleh jari-jari yangan yang gemetar dari pemuda itu, akan tetapi ia tidak kuasa menarik tangannya seakan-akan telah hilang semua tenaganya! Ia hanya menundukkan muka dan bibirnya tersenyum malu.

“Giok-moi, betulkah kau akan menerimaku kalau aku sewaktu-waktu datang ke Sian-koan!” suara Tiauw Ki perlahan dan halus penuh perasaan.

“Mengapa tidak?” Im Giok hanya menjawab singkat karena ia sendiri takut untuk bicara terlalu panjang, mendengar betapa suaranya sendiri gemetar!

“Tidak… tidak ada halangannya kalau… kalau aku…” Tiauw Ki tak dapat melanjutkan kata-katanya.

“Ada apakah, Gan-twako? Lanjutkanlah, mengapa begitu sukar?”

Tiauw Ki makin gagap menerima teguran ini. Ia mengigit bibirnya menenangkan hatinya lalu berkata nekad, “Bagaimana kalau kelak aku datang ke Sian-koan... dan...”

“Dan apa...!”

“Aku... aku hendak... meminangmu!” Lega hatinya setelah kata-kata yang mengganjal di kerongkongannya ini akhirnya terlepas juga.

Im Giok sejak tadi sudah menduga, akan tetapi setelah kata-kata itu diucapkan, mukanya yang cantik itu menjadi merah sekali, membuat sepasang pipinya kemerahan seperti buah tho masak, membikin ia nampak makin cantik jelita. Memang jarang ada gadis secantik Im Giok, apalagi kalau yang memandangnya seorang yang jatuh hati kepadanya, ia seperti bidadari dari kahyangan saja!

“Bagaimana, Giok-moi...?” tanya Tiauw Ki.

Im Giok mengerling dengan sudut matanya kepada pemuda itu, bibirnya yang manis tersenyum malu, lalu ia menundukkan muka kembali sambil berkata lirih, “Entahlah...”

Tiauw Ki menjadi makin berani melihat sikap gadis itu. Ia menggenggam kedua tangan yang kecil halus itu dengan erat dan menarik Im Giok mendekat. Karena gadis itu duduk di atas batu yang lebih rendah, maka setelah ditarik ia bersandar kepada paha Tiauw Ki.

“Giok-moi, bagaimana? Apakah kau keberatan kalau kelak kupinang?”

Bukan main malunya Im Giok dan ia tidak dapat membuka mulut menjawab. Sambil tersenyum-senyum malu dan matanya ditundukkan, ia hanya menjawab dengan gelengan kepala perlahan.

Tiauw Ki merasa diayun di sorga ke tujuh. Ingin ia melompat turun dari atas batu dan menari-nari kegirangan atau ingin ia mengangkat tubuh Im Giok dalam pondongannya dan diputar-putar. Akan tetapi sebagai seorang pemuda terpelajar yang sopan ia tidak berani melakukan hal ini. Sebagai seorang pemuda yang tahu akan arti kesopanan dan kesusilaan, Tiauw Ki hanya memandang kepada wajah kekasihnya dengan mata bersinar, wajah berseri dan penuh kasih sayang.

“Terima kasih, Moi-moi, terima kasih. Akan tetapi, bagaimana kalau saudara-saudaramu tidak suka kepadaku dan tidak mau menerima?” Di dalam ucapan ini terkandung suara yang penuh kecemasan, maka Im Giok cepat mengangkat muka dan berkata tegas,

“Aku tidak mempunyai saudara kandung. Aku anak tunggal. Yang ada hanya suciku Giok-gan Niocu Song Kim Lian!”

Tiauw Ki tersenyum lega, lalu tertawa kecil. “Ah, sucimu itu benar-benar seorang gadis yang gagah perkasa dan berhati mulia, biarpun agak galak. Akan tetapi tentu saja tidak melawan kau baik dalam hal kegagahan, kemuliaan maupun kecantikan.”

Im Giok hanya melempar senyum menghadiahi pujian kekasihnya ini.

“Akan tetapi, bagaimana kalau... kalau ayah bundamu tidak suka kepadaku? Ayahmu seorang gagah, tentu dia tidak suka mempunyai calon mantu seorang pemuda sekolah yang lemah....!” Kembali dalam suara pemuda itu terkandung kekhawatiran besar.

“Ibuku sudah tidak ada, dan Ayah... dia amat sayang kepadaku, tak mungkin Ayah membiarkan aku kecewa dan berduka.” Im Giok mengambil tusuk kondenya dan memberikan benda itu kepada Tiauw Ki dengan suara halus, “Koko, inilah tusuk kondeku, harap kausimpan baik-baik.”

Tiauw Ki menerima benda itu dan menekannya di dada, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang. “Terima kasih, Moi-moi. Benda ini selamanya takkan berpisah dariku, akan kuanggap sebagai penggantimu. Dengan adanya tusuk kondemu ini, Moi-moi, akan terhibur hatinya. Hanya menyesal sekali, aku adalah seorang yang bodoh dan miskin, tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk diberikan kepadamu kecuali ini...” Pemuda itu mengeluarkan sebuah kipas yang tidak begitu baik dari dalam saku bajunya. Sudah menjadi kebiasaan para siucai untuk selalu menyimpan kipas di sakunya.

“Kipas ini tadinya masih kosong, Moi-moi, seperti kosongnya hatiku. Sekarang kipas ini tidak seharusnya dibiarkan kosong seperti juga hatiku yang kini sudah penuh...” Sambil berkata demikian, dari dalam saku bajunya, pemuda itu “menyulap” keluar sebatang pit dan arang tintanya. Diambilnya sedikit air dari sungai untuk membasahi arang tinta dan di atas batu itu ia menulis huruf-huruf indah di atas kipasnya yang putih bersih. Im Giok hanya memandang saja semua yang dilakukan oleh kekasihnya ini dengan bibir tersenyum dan hati bungah. Dengan hati berdebar Im Giok membaca tulisan yang indah gayanya itu :

Tusuk konde dan kipas
menjadi saksi
bertemunya dua hati
di bawah pohon, di tepi sungai…
semoga cinta kasih kita
kekal abadi takkan berpisah,
sehidup semati…

Tiauw Ki memberikan kipas itu kepada Im Giok yang menerimanya dengan wajah berseri.

“Aduh indahnya tulisanmu, Koko...” katanya.

Akan tetapi Tiauw Ki hanya menatap wajahnya, nampaknya berduka.

“Kau mengapa, Twako?”

“Sayang pertemuan seindah ini diputuskan oleh perpisahan...” kata Tiauw Ki sambil memegang pundak gadis itu ditariknya sehingga kembali Im Giok bersandar kepadanya.

“Hanya untuk sementara waktu, Koko. Bukankah kau segera akan ke Sian-koan setelah tugasmu selesai? Aku selalu menantimu di sana, Koko...”

Kata-kata ini terdengar begitu manis dan merdu oleh Tiauw Ki sehingga saking terharunya kedua mata pemuda itu sampai basah. Didekapnya kepala gadis itu ke dadanya lebih erat lagi dan sampai lama mereka tak bergerak, tenggelam ke dalam lautan madu asmara. Biarpun keduanya diam tak bergerak, biarpun suasana di sekitar mereka sunyi senyap, namun suara daun pohon tertiup angin dan air sungai mengalir bagi mereka seperti suara musik mengiringi nyanyian surga yang amat merdu. Pohon, daun, batu apa saja yang nampak di sekeliling mereka seakan-akan tertawa-tawa dan ikut beriang gembira. Tiauw Ki dan Im Giok bagaikan mabuk oleh buaian ombak perasaan yang paling indah di antara segala macam perasaan, namun keduanya masih sadar sepenuhnya dan ingat akan kesopanan dan kesetiaan.

Sungguh mengagumkan mereka ini, tauladan bagi muda-mudi beradab. Mereka pun diombang-ambingkan oleh ombak asmara yang memabukkan, namun, mereka pantang melakukan pelanggaran dan mereka teguh bagaikan karang di pantai samudra. Apapun juga yang terjadi, mereka berpegang kepada semboyan nenek moyang mereka, yang bagaimanapun juga, ATURAN (Lee) di atas segala apa! Kesopanan dan kesusilaan termasuk dalam Lee ini dan karenanya mereka tetap sadar dan menjaga jangan sampai mengecewakan hati kekasihnya dengan pelanggaran tatasusila yang mereka junjung tinggi!

Dalam keadaan bagaikan setengah pulas itu, ternyata kelihaian Im Giok tidak berkurang. Pendengarannya memang amat tajam sehingga Tiauw Ki menjadi terheran ketika tiba-tiba Im Giok renggutkan kepalanya yang tadinya bersandar pada dadanya sambil berkata,

“Koko, ada penunggang kuda datang...”

Tiauw Ki memperhatikan dan sampai lama setelah suara itu makin mendekat baru ia mendengar derap kaki kuda.

“Ada tiga orang penunggang kuda,” kata pula Im Giok yang sudah dapat membedakan suara itu sebelum orang-orangnya kelihatan, siap karena mengira bahwa yang datang ini tentulah pihak musuh yang selalu mengancam keselamatan Tiauw Ki. Akan tetapi setelah tiga orang penunggang kuda itu muncul, ia bernapas lega. Mereka itu ternyata adalah tiga orang wanita yang membalapkan kuda dan membuktikan bahwa ketiganya adalah ahli-ahli penunggang kuda yang mahir. Apalagi ketika tiba di dekat Tiauw Ki dan Im Giok, ketiga orang penunggang kuda itu dapat menghentikan kuda mereka dengan serentak, hal ini lebih-lebih membuktikan bahwa mereka bertiga memiliki lwee-kang yang cukup kuat.

Setelah mereka dekat, barulah Im Giok dan Tiauw Ki melihat dan mengenal mereka sebagai tiga orang wanita yang malam tadi ikut hadir dalam pesta di rumah Suma-huciang, yakni wanita nenek yang kepalanya diikat kain putih dan memegang tongkat bersama dua orang gadis manis yang sikapnya galak. Kini dua orang gadis itu memandang kepada Tiauw Ki kemudian kepada Im Giok dengan pandang mata terbelalak membenci.

Pada saat itu, Im Giok sedang berada dalam keadaan gembira dan bahagia, maka tentu saja muka cemberut dari dua orang gadis itu tidak terlihat olehnya. Sebaliknya, dengan senyum manis ia lalu menjura kepada mereka sambil berkata,

“Selamat bertemu di tempat ini! Apakah Sam-wi baru pulang dari rumah Suma-taijin?”

Nenek itu menjawab cepat-cepat,

“Kau bermalam di rumah Suma-taijin. Kami bermalam di rumah penginapan.”

Im Giok menggerakkan alis agak heran melihat sikap ini, akan tetapi tetap tersenyum dan melanjutkan katanya dengan ramah,

“Ah, maaf. Maksudku, tentu Sam-wi baru meninggalkan Tiang-hai dan hendak ke manakah?”

Tiba-tiba seorang di antara dua gadis itu, yang ada tahi lalatnya di dagu, membentak,

“Siapa sudi bicara dengan segala perempuan gila lelaki!”

Tiauw Ki menjadi pucat saking marahnya, dan Im Giok menjadi merah mukanya. Sepasang matanya yang indah itu kini menyambar bagaikan cahaya kilat ke arah gadis itu, dan suaranya tetap halus dan ramah, akan tetapi di dalam suara ini terkandung sesuatu yang dingin dan tajam menembus jantung.

“Cici yang baik, kau bilang apa?”

“Aku bilang kau perempuan cabul, gila lelaki!” Gadis bertahi lalat dagunya itu membentak lagi sambil mengangkat hidungnya, mengejek.

Im Giok masih tersenyum lebar.

“Alasannya?”

“Dari semula kau datang, kau sudah berdua dengan pemuda ini, sungguh memalukan. Kemudian kau bermanis-manis dengan Suma-huciang dan kau mencoba pula untuk memikat hati Lie-kongcu. Menyebalkan sekali!”

Im Giok memang cerdik luar biasa. Dari ucapan ini saja ia sudah dapat menerka apa yang menyebabkan gadis ini marah-marah seperti kemasukan setan. Senyumnya makin lebar dan sinar matanya berseri.

“Ah, Cici yang baik, kau memutarbalikkan kenyataan. Jelas sekali kulihat bahwa kaulah yang tergila-gila kepada Lie-kongcu yang tidak memperhatikan tahi lalatmu yang menjijikkan itu, kau jadi marah-marah kepadaku!”

Mendengar ini, wajah gadis itu menjadi pucat dan sebentar berubah merah. Mulutnya terbuka, matanya terbelalak saking marahnya ia sampai tidak kuasa mengeluarkan kata-kata. Akhirnya dapat juga ia mengeluarkan suara. Diangkatnya cambuknya ke atas, dipukulkan kepala Im Giok didahului makiannya,

“Perempuan rendah, kau berani sekali memaki aku? Tidak tahu dengan siapa kau berhadapan?”

“Hei, jangan pukul dulu!” Im Giok membentak, suaranya demikian berpengaruh sehingga wanita bertahi lalat itu kaget dan otomatis cambuk yang sudah diangkat itu tidak dipukulkan! “Teruskan dulu keteranganmu, sebenarnya siapakah kalian ini yang bersikap tengik?”

Wanita itu menahan marahnya dan sengaja memperkenalkan nama dengan maksud agar Im Giok menjadi ketakutan. “Buka telingamu lebar-lebar, kami berdua adalah Kim-jiauw-siang-eng Kwan Ci-moi (Kakak Beradik Kwan yang Berjuluk Sepasang Garuda Berkuku Emas)! Dan dia itu adalah ibu kami Koai-tung Toanio. Siapa tidak mengenal kami dari Kong-thong-pai?”

Im Giok merasa geli sekali melihat gadis yang dogol dan otak-otakan ini, akan tetapi ia mengangkat kedua mata seakan-akan orang terkejut dan ketakutan.

“Aduh... tak tahunya aku berhadapan dengan tiga orang sakti dari Kong-thong-pai...” kata Im Giok.

“'Ji Kim, jangan menyombong!” tegur nenek yang mengerti bahwa Im Giok hanya pura-pura saja ketakutan, sebetulnya sikap gadis baju merah itu adalah ejekan belaka.

“Hayo lekas berlutut dan minta ampun kepadaku!” gadis bertahi lalat yang bernama Kwan Ji Kim itu membentak, masih belum mengerti bahwa Im Giok hanya pura-pura takut saja.

“Kau datang-datang memaki orang dan bersikap sombong, bagaimana aku harus berlutut? Jangankan kau baru Garuda berkuku emas, biarpun tahi lalatmu berubah emas aku tetap tak sudi berlutut!” jawab Im Giok, kini tidak berpurap-pura lagi.

Ji Kim marah sekali dan kini cambuk kudanya diayun cepat menghantam kepala Im Giok. Akan tetapi, Ang I Niocu Kiang Im Giok hanya miringkan tubuh dan secepat kilat tangan kirinya menyambar, dan di lain saat cambuk itu telah berpindah ke tangannya. Sambil tersenyum Im Giok mempergunakan cambuk itu menghajar kedua kaki depan kuda yang ditunggangi oleh Kwan Ji Kim sehingga kuda itu roboh bertekuk lutut dan Kwan Ji Kim terpaksa melompat untuk menjaga diri jatuh terjungkal!

“Kudamu lebih tahu adat!” Im Giok mengejek. “Tahu akan kesalahan nonanya sehingga mintakan maaf kepadaku.”

Kwan Ji Kim marah bukan main. Dicabutnya pedang yang tergantung di pinggangnya, lalu diserangnya Im Giok dengan sengit. Namun, melihat gerakan nona ini, Im Giok hanya tersenyum dingin. Dengan gerakan indah sekali, tubuhnya melenggok ke kiri dan tangannya menyambar ke arah pipi lawan.

“Plakk...!” Pipi gadis bertahi lalat itu kena ditampar sehingga ia terhuyung-huyung ke belakang setelah mengeluarkan jerit kesakitan. Setelah dapat menguasai keseimbangan badan dan berdiri tegak lagi, ternyata pipi kanan Kwan Ji Kim telah bengkak menggembung sehingga muka yang manis itu kini menjadi lucu dan jelek!

“Setan betina, kau berani menyakiti adikku!” Gadis ke dua melompat turun dari kuda dengan pedang terhunus pula. Gerakan pedang ini jauh lebih cepat daripada Kwan Ji Kim dan tusukan pedangnya lebih kuat lagi. Namun ia bukan lawan Im Giok, karena dengan amat mudahnya Im Giok dapat menghindarkan diri dari tusukan pedang itu. Tiba-tiba Im Giok merasa ada sambaran angin dingin dari kanan. Cepat ia melompat ke belakang dan sebatang tongkat menyambar dengan dahsyatnya.

Im Giok maklum bahwa nenek yang memegang tongkat itu berkepandaian tinggi dan merupakan lawan berat, maka cepat ia pun mencabut pedangnya sambil berkata,

“Koai-tung Toanio! Kalau kau betul-betul seorang tokoh kang-ouw yang mengerti aturan dan seorang ibu yang baik, mengapa kau tidak menegur anak-anakmu yang kurang ajar sebaliknya bahkan ikut-ikut menyerangku? Ada permusuhan apakah di antara kita maka kalian begini mendesak padaku?”

Nenek itu menyeringai, kemudian berkata, suaranya tinggi serak,

“Kemarin kau begitu sombong memamerkan kepandaian dan aku tidak sempat membuktikan. Sekarang ingin aku melihat sampai di mana kelihaianmu, jangan kau hanya berani menghina anakku yang bodoh. Majulah!”

Im Giok mengerti bahwa nenek ini bukan hanya ingin menjajal kepandaiannya, akan tetapi kalau tidak membela anaknya yang sudah ia tampar tadi, tentu tersembunyi maksud lain. Ia pun tidak sudi memperlihatkan kelemahannya. Setelah orang menantangnya, ia harus melayani dan memperlihatkan kepandaiannya. Apalagi di situ ada Tiauw Ki yang menyaksikan. Dicabutnya pedangnya dan dengan tenang ia berdiri memandang kepada tiga orang lawannya.

“Kalian hendak mencari perkara? Boleh, Ang I Niocu Kiang Im Giok bukan seorang pengecut dan tak pernah menolak tantangan.”

Im Giok menanti serangan, tidak mau ia mendahului bergerak karena memang ia tidak mempunyai permusuhan dengan tiga orang ini. Koai-tung Toanio mengeluarkan seruan keras dan tongkatnya diputar bagaikan kitiran cepatnya, lalu diterjangnya gadis baju merah yang berdiri tenang di hadapannya. Anaknya yang sulung, Kwan Twa Kim, juga maju menyerang dengan pedangnya.

Sekilas pandang saja tahulah Im Giok bahwa kepandaian nenek itu memang lihai, jauh lebih lihai daripada puterinya, maka menghadapi pengeroyokan dua orang ini, ia harus lebih dulu mengalahkan yang lemah agar seluruh perhatiannya dapat dicurahkan kemudian kepada yang kuat. Maka pedangnya segera bergerak, merupakan tarian indah dan dengan halus gerakannya itu terbagi dua, yakni bersifat lembek apabila menghadapi serangan tongkat Koai-tung Toanio, akan tetapi keras dan kuat menghadapi Kwan Twa Kim. Siasatnya ini berhasil baik sekali karena Kwan Twa Kim sebentar saja terdesak hebat, sedangkan tongkat Koai-tung Toanio belum juga dapat mendesaknya, bahkan beberapa kali tongkat di tangan nenek itu apabila bertemu dengan pedang Im Giok, terbetot dan “diselewengkan” sehingga membentur pedang anaknya sendiri! Beberapa jurus kemudian, terdengar suara keras dan pedang di tangan Kwan Twa Kim terlempar, disusul pekik kesakitan dari gadis ini. Ternyata bahwa lengan kanannya keserempet pedang dan mengeluarkan darah.

“Twa Kim, mundur kau...!” ibunya berkata marah dan memperhebat gerakan tongkatnya, menyerang Im Giok dengan mati-matian.

“Toanio, kita tidak bermusuhan, mengapa kau begini nekat?” Im Giok menegur, hatinya tak senang melihat sikap nenek yang terlalu mendesak ini.

“Tutup mulut dan lihat tongkatku!” bentak Koai-tung Toanio yang dari penasaran menjadi marah sekali mengapa begitu lama belum juga ia dapat mengalahkan gadis muda ini.

Timbul kemarahan Im Giok. Tadinya ia tidak suka merobohkan nenek ini yang tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengannya. Seorang tokoh kang-ouw amat menjaga nama besarnya dan tahu bahwa kalau nenek itu sampai kalah olehnya, hal ini merupakan penghinaan besar bagi nenek yang keras hati ini. Tadinya ia mengharapkan nenek ini akan melihat gelagat dan mundur sendiri setelah menyaksikan kelihaiannya, tidak tahunya nenek ini bahkan berlaku nekad dan menyerang mati-matian.

“Kau tidak boleh diberi hati!” Im Giok mencela dan kini tiba-tiba gerakan pedangnya berubah. Pedangnya menyambar-nyambar dalam gerakan yang amat indah dan halus. Namun di dalam kehalusan ini tersembunyi gerakan-gerakan menyerahg yang maha dahsyat. Inilah Sian-li Kiam-hoat atau ilmu pedang bidadari yahg indah dilihat namun berbahaya sekali dilawan.

Koai-tung Toanio tidak mau menyerah kalah begitu saja. Biarpun ia terkesiap juga menyaksikan ilmu pedang yang aneh ini, namun ia memutar tongkat makin cepat dan mengerahkan segala kepandaian untuk rnengalahkan lawan. Betapapun juga ia berusaha, tetap saja sinar pedang yang sukar diduga perubahannya itu, makin lama makin mendesak sinar tongkatnya dan makin lama ia makin merasa terkurung oleh sinar pedang yang bergulung-gulung dan yang membuat pandangan matanya berkunang.

“Pergilah!” terdengar seruan Im Giok. Tangan kirinya dengan gerakan cepat telah berhasil mencengkeram tongkat lawannya dan kalau ia mau, pedangnya dapat ditusukkan. Akan tetapi Im Giok tidak bermaksud membunuh lawannya, maka sebagai gantinya pedang, ia hanya menendang.

Tubuh Koai-tung Toanio terlempar dan tongkatnya terampas. Namun nenek ini memang tinggi kepandaiannya. Biarpun ia sudah terluka oleh tendangan itu dan tubuhnya terlempar, ia masih dapat menjaga diri sehingga jatuhnya berdiri! Ia memandang kepada Im Giok dengan mata melotot marah. Kemudian ia melompat ke atas kudanya, diikuti oleh dua,orang puterinya.

“Toanio, ini tongkatmu ketinggalan!” Im Giok tertawa sambil melontarkan tongkat itu ke arah Koai-tung Toanio. Tanpa menoleh, nenek itu menghantam, tongkatnya sendiri dengan tangan kanan. Terdengar bunyi keras dan tongkat itu patah menjadi dua, meluncur ke bawah dan menancap di atas tanah!

Im Giok menarik napas panjang. “Kepandaiannya tinggi dan mengagumkan, sayang wataknya tidak patut sekali.” Tiauw Ki menghampiri Im Giok dan memegang lengannya.

“Moi-moi, bukan main hebatnya engkau ini. Benar-benar aku kagum sekali melihatmu dan makin terasalah olehku betapa tiada gunanya aku ini. Aku seorang laki-laki yang lemah, sedangkan kau... ah, kau benar-benar seorang bidadari yang sakti...”

“Husshhh, Twako. Ada pasukan berkuda datang!” Suara Im Giok terdengar agar khawatir ketika mengucapkan kata-kata ini dan merenggut lengannya terlepas dari pegangan Tiauw Ki.

Pemuda itu menoleh dan benar saja, debu mengepul tinggi mengiringkan pasukan berkuda yang datang dengan cepat. Setelah dekat, Im Giok dan Tiauw Ki saling pandang dengan muka berubah melihat bahwa pasukan berkuda terdiri dari empat puluh orang lebih itu dipimpin oleh Lie Kian Tek, Cheng-jiu Tok-ong, juga banyak terdapat perwira-perwira pembantu Suma-huciang, di antaranya terlihat juga Sin-touw-ong Si Raja Copet. Mereka semua kelihatan marah dan kini mereka telah berhadapan dengan Im Giok dan Tiauw Ki.

“Pembunuh keji, menyerahlah agar kami tak usah menggunakan kekerasan!” kata Lie Kian Tek sambil mencabut pedangnya.

“Eh, tikus, kau memaki siapakah?” Im Giok membentak dengan marah. Ia masih merasa benci kepada kongcu yang ceriwis ini.

Lie Kian Tek tertawa bergelak dan menengok kepada kawan-kawannya.

“Lihat, pandai benar perempuan ini bermain sandiwara, seakan-akan ia suci bersih dan tidak tahu apa-apa. Ha, ha, ha!” kemudian ia memandang kepada Tiauw Ki dan berkata, “Pengkhianat pengecut! Kau mengaku sebagai keponakan Suma-huciang, tidak tahunya kau adalah penjahat besar yang datang dengan niat buruk. Kau tidak lekas menyerah dan mengakui dosamu?”

Tiauw Ki mengerutkan kening dan bertanya,

“Kedosaan apakah yang telah kuperbuat?” dan terhadap Sin-touw-ong Siauw Hap, Raja Copet yang kate itu ia bertanya, “Siauw-sicu, sebetulnya ada apakah maka kau juga datang menyusulku? Apakah ada pesanan sesuatu dari Suma taijin?”

Si Kate yang sudah dikenal sebagai pembantu setia dari Suma-huciang itu, nampak bingung menghadapi Tiauw Ki dan Im Giok. Kemudian ia berkata dengan suara duka, “Suma-taijin telah meninggal dunia, kami telah mendapatkan beliau rebah di lantai kamarnya dengan leher putus!”

“Apa katamu...??” Tiauw Ki meniadi pucat mukanya dan juga Im Giok terkejut bukan main.

Terdengar suara ketawa dingin dari Lie Kian Tek. “Gan Tiauw Ki penjahat besar, jangan kau berpura-pura kaget. Kami bukan anak-anak kecil dan kami sudah tahu bahwa pembunuhan atas diri Suma-taijin adalah perbuatanmu dengan pengawaimu yang cantik. Semua tamu malam tadi pulang atau kembali ke rumah penginapan, hanya kau dan pengawamu saja yang bermalam di rumah Suma-taijin. Ada pula yang bermalam akan tetapi di bagian lain, tidak seperti kalian yang bermalam di dekat kamar Suma-taijin di bawah satu wuwungan! Dan pula, kalau tamu lain masih ada pagi hari ini, kau dan pengawalmu tanpa pamit telah minggat pergi. Bukti-bukti sudah jelas apakah kau masih hendak menyangkal?”

“Bohong! Fitnah belaka!” Tiauw Ki memaki marah. “Siapa percaya akan tuduhan dusta ini? Aku dan nona ini sama sekali tidak tahu-menahu tentang pembunuhan itu dan kami malam tadi pun sudah berpamit kepada Suma-taijin!”

Lie Kian Tek tertawa bergelak. “Tidak ada pembunuh mengaku telah membunuh orang seperti juga tidak ada maling mengaku telah mencuri barang. Hayo tangkap orang ini, kita harus menyeretnya ke pengadilan!”

Pasukan itu, didahului oleh Cheng-jiu Tok-ong, bergerak menyerang. Gerakan Cheng-jiu Tok-ong cepat sekali dan sekali kakek ini melompat turun dari kudanya menubruk, di lain saat Tiauw Ki sudah diringkusnya dan sebuah totokan membuat pemuda itu lemas tidak berdaya lagi.

“Lepaskan dia!” Im Giok berseru marah sekali melihat perlakuan orang terhadap kekasihnya. Ia menerjang dan menyerang Cheng-jiu Tok-ong.

Kakek ini cepat menggerakkan tangan menangkis sambil mencabut goloknya yang bersinar hijau. Juga orang-orang lain telah mencabut senjata, sedangkan Lie Kian Tek berteriak,

“Perempuan pemberontak, kaulah yang membunuh Suma-taijin!” Kata-kata ini membuat Im Giok marah sekali dan dilain saat ia telah dikurung oleh banyak orang.

“Nona, lebih baik kau menyerah!” kata Sin-touw-ong Siauw Hap yang merasa sayang sekali kalau sampai gadis ini terluka. Sebetulnya Raja Copet ini pun meragukan bahwa Im Giok telah membunuh Suma-huciang, akan tetapi bukti-buktinya memang memberatkan Tiauw Ki dan Im Giok sehingga sebagai alat negara ia pun harus ikut bantu menangkap pembunuh Suma-huciang.

Im Giok mengamuk. Gadis ini maklum bahwa setelah terjatuh ke dalam tangan orang seperti Lie Kian Tek, keselamatan Tiauw Ki terancam bahaya besar maka ia hendak menolong pemuda kekasihnya itu dengan kekerasan. Sebentar saja ia dikurung hebat sekali oleh Cheng-jiu Tok-ong, Sin-touw-ong dan perwira-perwira lain yang cukup tinggi kepandaiannya. Namun Im Giok tidak gentar. Untuk menolong Tiauw Ki, ia rela mengorbankan nyawa. Lebih baik mati bersama daripada membiarkan kekasihnya dibikin celaka orang.

Akan tetapi keadaan lawan terlampau berat. Menghadapi seorang Cheng-jiu Tok-ong saja masih sukar ia mengalahkan, apalagi dikeroyok oleh belasan orang. Memang, selain Cheng-jiu Tok-ong dan Sin-touw-ong, yang lain-lain hanya menyerang dari jarak jauh dan tidak berani terlalu mendekat, akan tetapi cara ini bahkan melelahkan Im Giok. Gadis ini tidak dapat merobohkan mereka yang mengeroyoknya dari jarak jauh, sedangkan untuk mengerahkan kepandaian melayani Cheng-jiu Tok-ong dan Sin-touw-ong, ia selalu diganggu oleh para pengeroyok yang menyerangnya dari jauh dari kanan kiri dan belakang.

“Giok-moi, menyerah saja, Giok-moi. Kita tidak berdosa, biar mereka membawa kita ke pengadilan!” Tiauw Ki berseru kepada Im Giok karena pemuda ini merasa gelisah sekali melihat kekasihnya dikeroyok oleh banyak orang dan terdesak hebat.

Mendengar ini, Im Giok pikir betul juga. Belum tiba saatnya melakukan pertempuran mati-matian. Mereka hanya disangka menjadi pembunuh dan di depan pengadilan mereka dapat menyangkal. Kalau nanti mereka tetap saja difitnah dan tidak ada jalan keluar lagi, barulah ia akan mempergunakan pedangnya. Maka cepat ia melompat keluar kalangan pertempuran dan membentak,

“Aku akan menyerah dengan syarat bahwa Gan-twako dan aku diberi kebebasan ikut ke tempat pengadilan. Aku tidak sudi dijadikan tawanan dan diikat!”

“Enak saja kau bicara!” Cheng-jiu Tok-ong membentak dan hendak menyerang lagi, akan tetapi Lie Kian Tek berkata,

“Locianpwe, biar kita menerima syaratnya!” Mendengar ini, Cheng-jiu Tok-ong membatalkan niatnya dan memandang dengan muka merah. Lie Kian Tek lalu menghadapi Im Giok dan berkata,

“Kami menerima syaratmu. Mari kau ikut dengan kami. Aku berjanji bahwa kalian berdua akan diperiksa dengan adil.” Sambil berkata demikian, Lie Kian Tek tersenyum ramah kepada Im Giok, berusaha mengambil hati gadis ini dengan wajahnya yang tampan dan sikapnya yang manis. Akan tetapi Im Giok sama sekali tidak tertarik.

“Lebih dulu bebaskan Gan-twako!” katanya sambil menunjuk ke arah Tiauw Ki yang lemas terduduk di atas tanah. Pemuda ini sudah tertotok dan biarpun dapat bicara, namun tak mampu menggerakkan kaki tangannya!

“Locianpwe, harap bebaskan dia!” kata Lie Kian Tek kepada Cheng-jiu Tok-ong. Kakek ini nampak ragu-ragu, maka Im Giok lalu melompat maju menghampiri Tiauw Ki dan sekali menepuk punggung pemuda itu, Tiauw Ki terbebas dari pengaruh totokan dan dengan bantuan Im Giok dapat berdiri lagi. Wajahnya merah sekali karena diam-diam pemuda ini menyesal mengapa ia begitu lemah. Ia memandang kepada Im Giok dan biarpun mulutnya tidak berkata sesuatu, sinar matanya menyatakan bahwa ia akan menyelamatkan mereka berdua apabila mereka dihadapkan ke depan pengadilan. Hal ini Im Giok maklum pula karena ia pun tahu bahwa pemuda ini adalah kepercayaan Kaisar dan tentu saja mempunyai pengaruh terhadap para hakim.

Lie Kian Tek berkata kepada Sin-touw-ong dan beberapa orang perwira yang datang dari Tiang-hai untuk pulang saja dan memberi laporan kepada para pembesar di Tiang-hai bahwa dua orang pembunuh sudah menyerah.

“Aku hendak membawa mereka ke kota raja,” kata Lie Kian Tek. “Urusan membunuh Suma-huciang adalah urusan besar dan karenanya mereka harus diadili di kota raja!”

Karena kalah pengaruh dan kalah kedudukan, Sin-touw-ong dan para perwira menurut saja. Mereka lalu kembali ke Tiang-hai seperti yang diperintahkan oleh Lie Kian Tek bersama Cheng-jiu Tok-ong dan anak buahnya lalu membawa Im Giok dan Tiauw Ki melanjutkan perjalanan. Tiauw Ki dan Im Giok menunggang kuda di tengah-tengah rombongan sehingga mereka seakan-akan dikurung terus.

Wajah Tiauw Ki nampak berseri dan beberapa kali ia memandang kepada Im Giok sambil tersenyum geli. Im Giok membalas senyumnya. Gadis ini juga merasa geli akan ketololan Lie Kian Tek. Tiauw Ki datang dari kota raja dan menjadi kepercayaan Kaisar. Sekarang pemuda ini ditangkap dan hendak dihadapkan di depan pengadilan di kota raja! Ini sama halnya dengan menangkap seekor ikan dari kolam untuk dilepaskan di sungai besar!

Oleh karena inilah maka Im Giok juga tidak peduli ketika ia dikurung rapat-rapat dan memang sukar kalau sekaligus para pengurung itu menyerangnya. Juga ia tidak peduli ketika kurang lebih lima li kemudian, di persimpangan jalan muncul serombongan pasukan terdiri darl lima puluh orang lebih yang temyata adalah anak buah dari Lie Kian Tek pula dan yang kini menggabungkan diri menjadi barisan besar.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di persimpangan jalan lagi dan Lie Kian Tek memimpin pasukannya membelok ke kiri, Tiauw Ki berseru keras,

“Hee! Mengapa ke kiri? Jalan ke kota raja adalah terus ke utara!”

Tiba-tiba pasukan itu bergerak dan lebih dari lima puluh batang tombak panjang ditodongkan ke arah Im Giok! Terdengar Lie Kian Tek tertawa bergelak.

“Gan Tiauw Ki, kalau kau ingin selamat, keluarkan surat dari Suma-huciang untuk Kaisar dan berikan kepadaku!” kata putera gubemur itu.

Im Giok terkejut. Ia kini dapat menduga kesemuanya. Tak salah lagi bahwa Suma-huciang tentu dibunuh oleh kaki tangan orang she Lie ini dan kini teringatlah ia akan tiga orang wanita yang telah bertempur dengannya tadi. Besar sekali kemungkinannya bahwa tiga orang wanita itulah yang membunuh Suma-huciang dan mereka itu tentu kaki tangan orang she Lie ini pula. Kemudian Lie Kian Tek sengaja menuduh Gan Tiauw Ki dan dia sehingga para perwira di Tiang-hai dapat ditipunya dan diajak menangkap Tiauw Ki. Kemudian putera gubemur yang amat licin itu sengaja menyuruh Sin-touw-ong dan lain perwira dari Tiang-hai untuk kembali ke Tiang-hai dan memberi tahu bahwa dia hendak mengantar Tiauw Ki ke kota raja untuk diadili! Hemm, kalau dilihat begini, ternyata bukan Lie Kian Tek yang bodoh, melainkan Tiauw Ki dan dia yang mudah ditipu dan sebaliknya orang she Lie itu ternyata cerdik dan penuh siasat!

Im Giok mencabut pedangnya, akan tetapi segera belasan ujung tombak yang runcing telah menempel di tubuhnya dari kanan kiri dan depan belakang, demikian pula tubuh Tiauw Ki telah ditodong oleh belasan mata tombak!

Kembali terdengar Lie Kian Tek tertawa terbahak-bahak.

“Ha-ha-ha, Nona manis! Sebelum kau bergerak, kau dan sahabatmu ini akan menjadi mayat. Gan Tiauw Ki, lekas kau menjawab, pesanan apa yang kaudapat dari Suma-huciang untuk Kaisar!”

Sudah gatal-gatal mulut Tiauw Ki untuk mengumpat caci putera gurbernur itu. Ia tidak takut mati dalam menunaikan tugasnya. Akan tetapi pemuda ini menengok ke arah Im Giok dan gemetarlah seluruh tubuhnya.

“Lie Kian Tek, kaubebaskan dulu Nona itu. Biarkan dia pergi dari sini. Dia tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan kita dan dia bersamaku hanya kebetulan saja. Bebaskan dia dan aku akan mengaku semuanya kepadamu.”

“Bebaskan dia? Ha-ha, kaukira aku begitu bodoh? Kalau dia dibebaskan tentu dia akan menimbulkan keributan lagi.”

“Tidak! Aku yang tanggung dia tidak akan menimbulkan keributan,” kata Tiauw Ki cepat-cepat dan pemuda ini menoleh kepada Im Giok sambil berkata, “Giok-moi, kuminta dengan sangat agar kau jangan mencampuri urusanku dan lebih baik kau segera pulang ke tempatmu sendiri.”

Im Giok menjadi pucat mukanya. Ia merasa menyesal dan kecewa sekali melihat betapa pemuda pujaan hatinya kini tiba-tiba menjadi begitu lemah, mudah saja hendak mengaku seakan-akan sudah takut akan kematian. Pemuda macam ini tidak patut menjadi kekasihnya dan ia merasa kecewa bukan main. Dua titik air mata membasahi matanya dan sudah akan menetes turun kalau saja tidak lekas-lekas ia mengerahkan tenaga batinnya untuk menekan perasaan.

“Jadi kau hendak mengaku semuanya? Hemm, baiklah, antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi...” katanya dengan suara sayu sambil memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang. Hatinya sakit bukan main. Ia bersiap-sedia mengorbankan nyawa untuk melindungi kekasihnya ini yang menunaikan tugas penting dan mulia. Tidak tahunya sekarang kekasihnya menggigil menghadapi ancaman tombak!

“Lie Kian Tek, bebaskan dia!” kata Tiauw Ki kepada putera gubemur itu tanpa mempedulikan sikap Im- Giok.

Lie Kian Tek ragu-ragu. Ia tergila-gila kepada Im Giok dan mengaku di dalam hatinya bahwa ia jatuh cinta kepada gadis baju merah itu yang memiliki kecantikan begitu luar biasa sehingga baginya baru pertama kali ini selama hidupnya ia bertemu dengan gadis sejelita ini. Akan tetapi, ia pun perlu sekali memancing keterangan dari mulut Tiauw Ki tentang pesanan Suma-huciang.

“Lie Kian Tek, kalau kau tidak mau membebaskannya, jangan harap kau dapat mendengar pengakuanku!” kata pula Gan Tiauw Ki kepada Lie Kian Tek.

Tiba-tiba Im Giok menjadi marah dan ia memandang kepada Tiauw Ki dengan mata berapi.

“Orang she Gan! Kaukira aku takut mati? Tidak perlu keselamatanku ditebus oleh pengakuanmu! Kalau aku mau pergi, siapa berani menghalangiku?” Sambil berkata demikian, Im Giok menggerakkan kepala kudanya, menerjang para pengepungnya sehingga para anggauta pasukan itu cepat-cepat minggir. Mereka ini semua merasa lega bahwa Lie Kian Tek tidak memberi aba-aba sesuatu, karena semua pengepung, kecuali Cheng-jiu Tok-ong, merasa kagum dan sayang sekali kalau mereka harus turun tangan melukai gadis yang demikian cantik jelita. Ketika tadi mereka diharuskan menodongkan mata tombak kepada gadis itu, mereka merasa seolah-olah bersiap untuk disuruh merusak setangkai bunga yang amat cantik dan indah dipandang, bunga yang harum menimbulkan kasih sayang.

Sebaliknya, Im Giok merasa makin mendongkol karena Lie Kian Tek ternyata diam saja. Ia sengaja berlaku begini untuk memancing supaya Lie Kian Tek mengeluarkan aba-aba menangkapnya dan ia akan mengamuk mati-matian. Memang Im Giok maklum bahwa seorang diri saja tidak mungkin ia dapat menang menghadapi Cheng-jiu Tok-ong yang dibantu oleh lima puluh orang perajuritnya. Akan tetapi untuk melindungi dan membela Tiauw Ki, ia siap mengorbankan nyawanya. Kemendongkolannya terutama sekali dikarenakan sikap Tiauw Ki yang seakan-akan hendak menolongnya dengan jalan menjadi pengkhianat! Memang sikap ini dapat dilakukan oleh seorang pemuda yang amat mencintanya, akan tetapi oleh Im Giok dianggap bukan perbuatan seorang gagah. Membela kekasih boleh dengan taruhan nyawa, akan tetapi sama sekali tidak boleh mempertaruhkan kesetian terhadap negara dan mempertaruhkan nama kehormatan! Kalau Tiauw Ki hendak menolongnya dengan jalan berkhianat, itu baginya bukan pertolongan, melainkan penghinaan besar! Sebagai seorang kepercayaan Kaisar, seorang pemuda yang berjiwa patriot, seharusnya Tiauw Ki mengerti baik akan hal ini. Maka dengan hati marah dan mendongkol Im Giok lalu membalapkan kuda meninggalkan tempat itu!

Untuk sejenak Tiauw Ki memandang ke arah bayangan merah di atas kuda itu dengan muka pucat dan wajah muram. Akan tetapi setelah Im Giok tidak kelihatan lagi bayangannya, wajahnya menjadi tenang dan pemuda ini kelihatannya lega dan puas. Tadinya ia memang merasa sakit hati sekali melihat betapa Im Giok marah kepadanya, akan tetapi setelah gadis itu pergi hatinya terhibur.

Biarlah, pikirnya, apapun juga yang menimpaku, asal dia itu selamat. Ia lalu memandang kepada Lie Kian Tek dengan mata bersinar dan mulut tersenyum mengejek.

“Gan Tiauw Ki, dia telah kami bebaskan. Hayo kau lekas membuat pengakuanmu!” kata putera gubemur itu. Ia ingin Tiauw Ki menjawab cepat-cepat karena masih ada harapan di dalam hatinya untuk nanti mengejar dan menawan bunga cantik itu!

Sebaliknya dari menjawab cepat-cepat, Tiauw Ki tertawa bergelak.

“Lie Kian Tek, kau telah menyuruh orang membunuh Suma-huciang, kemudian kau menangkap aku dan memaksa aku mengaku tentang pesanan Suma-huciang. Benar-benar perbuatanmu ini sudah melewati batas. Apakah kau tidak tahu apakah hukuman seorang pemberontak?”

“Bangsat besar!” Lie Kian Tek memaki dan tangannya menampar sehingga Tiauw Ki yang kena ditampar pipinya hampir saja terguling dari kudanya. “Jangan banyak cakap, kau ingin hidup atau mampus? Kalau ingin hidup, lekas kau mengaku!”

Kembali Tiauw Ki tertawa dan bekas tamparan yang membuat pipinya menjadi matang biru itu tidak dirasakannya.”Pemberontak she Lie, kau kira aku tidak mengetahui akal bulusmu? Biarpun aku mengaku, kau tetap akan membunuhku juga.”

“Jahanam, apakah benar-benar kau tidak mau mengaku? Tadi kau sudah berjanji hendak mengaku kalau aku membebaskan perempuan itu. Aku sudah membebaskannya, kau tidak bisa melanggar janji.”

“Siapa yang melanggar janji? Lie-siauwjin (manusia rendah she Lie), aku seorang laki-laki sejati, tidak biasa melanggar janji. Dengarlah, Suma-huciang berpesan kepadaku agar supaya terhadap manusia macam engkau aku menutup mulut dan jangan mengatakan apa-apa. Nah, begitulah pesannya kepadaku!”

“Keparat, kau menipuku!”

“Kau berani bicara tentang menipu? Kiranya aku hanya mencontoh perbuatanmu, orang she Lie. Kau membunuh Suma-huciang lalu menghasut para perwira Tiang-hai dan menuduhku, kemudian kau menyuruh mereka kembali ke Tiang-hai dan pura-pura hendak membawaku ke kota raja, semua itu bukankah akal busuk dan tipuan jahat? Aku hanya minta kau membebaskan Kiang-siocia agar supaya ia selamat dari tanganmu yang kotor dan jahat! Kau mau apa? Mau membunuhku? Bunuhlah, memangnya aku takut mampus? Mau siksa? Hayo, kau boteh lakukan apa saja. Pendeknya yang nyata, Kiang-siocia selamat dan rahasia Suma-huciang dengan Kaisar juga selamat!”

Bukan main marahnya Lie Kian Tek. Tangannya yang memegang cambuk kuda diayun. Terdengar ledakan keras dan Tiauw Ki terguling dari kudanya. Ketika ia merayap bangun, jidat dan lehernya terdapat bekas cambukan, merah biru dan mengalirkan darah. Akan tetapi pemuda ini masih tetap tersenyum, matanya bersinar--sinar dan ia berdiri tegak menanti datangnya siksaan selanjutnya yang akan mengantar nyawanya ke tempat asal. Sedikit pun ia tidak mengeluh dan sedikit pun tidak takut.

“Jahanam she Gan, kau masih tidak mau mengaku!” Lie Kian Tek melompat turun dari kuda, diikuti oleh para pembantunya. Kini pasukan itu mengundurkan kuda-kuda yang berada di situ dan duduk menonton mengelilingi Tiauw Ki merupakan lingkaran yang lebar.

Tiauw Ki hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Lie Kian Tek menggulung lengan baju sebelah kanan dan menggenggam erat-erat gagang cambuknya.

“Kau mau mengaku atau tidak?” sekali lagi putera gubemur ini membentak Tiauw Ki yang berdiri di depannya hanya menggeleng kepala sambil tersenyum tabah. Lie Kian Tek mengangkat dan mengayun cambuknya.

“Tar! Tar! Tar!” Tiga kali bertubi-tubi cambuk itu mengenai muka Tiauw Ki dan darah muncrat dari bibir dan hidung pemuda she Gan itu, namun ia masih berdiri tegak dan sedikit pun tidak mengeluh.

“Jahanam, kau masih keras kepala?” Sekali lagi Kie Kian Tek mengayun cambuknya, kini ke arah mata Tiauw Ki. Tiauw Ki terhuyung dan sepasang matanya tak dapat dibuka lagi, pelupuk matanya menjadi bengkak! Lie Kian Tek terus memukul, bahkan kini tangan kirinya ikut meninju, maka robohlah Tiauw Ki. Biarpun menggeliat-geliat saking sakitnya, tidak sedikit pun pemuda ini mengeluh dan masih mencoba untuk berdiri. Akan tetapi ia jatuh lagi dan menunjang tubuh dengan kedua lengannya yang ditahan pada tanah. Pukulan cambuk masih menghujani tubuhnya dan pakaiannya bagian atas sudah robek dan hancur. Nampak kulit punggung dan dadanya yang putih dan kini darah memenuhi kulit itu, membasahi pakaiannya yang compang-camping.

Akhirnya Lie Kian Tek menghentikan siksaannya. Diam-diam ia merasa ngeri juga melihat kekerasan hati Gan Tiauw Ki. Ia merasa lelah dan melempar cambuknya.

“Bedebah, benar-benar menggemaskan!” gerutunya. “Cheng-jiu Tok-ong Locianpwe, harap kau gantikan aku memaksa jahanam ini mengaku. Periksa dulu semua isi sakunya!”

Cheng-jiu Tok-ong melangkah maju dan cepat mengeluarkan semua isi saku pakaian Tiauw Ki. Akan tetapi ia tidak mendapatkan sesuatu yang penting. Isi saku pemuda lni hanya dua buah kitab sajak beberapa helai kertas dan alat tulis dan akhirnya dari saku baju bagian dalam dikeluarkannya sebuah tusuk konde perak.

“Kembalikan itu kepadaku!” Tiauw Ki berseru marah sambil mengulur tangan hendak merampas tusuk konde itu, benda keramat pemberian Im Giok. Akan tetapi mana dapat ia merampas benda yang berada di tangan Cheng-jiu Tok-ong? Sekali saja kakek itu menggerakkan tangan, Tiauw Ki telah didorong roboh dan benda ltu diberikan kepada Lie Kian Tek yang menerimanya sambil tersenyum mengejek,

“Hemm, agaknya kau punya kekasih, ya? Bagus, apakah kau tidak ingin hidup untuk dapat bertemu dengan kekasihmu itu?” Sambil berkata demikian, Kian Tek menekuk-nekuk tusuk konde dan agaknya hendak ia patahkan.

Terdengar gerengan marah dan tahu-tahu Tiauw Ki sudah menubruknya dan dengan nekad merampas kembali tusuk konde itu! Saking nekadnya, ia lupa akan segala dan kekuatannya bertambah. Hal ini tidak disangka oleh Lie Klan Tek dan kawan-kawannya sehingga Tiauw Ki yang lemah itu berhasil merampas kembali tusuk konde pemberian Im Giok.

“Kau boleh merampas segala yang ada padaku, akan tetapi benda ini hanya akan berpisah denganku bersama nyawaku!” kata Tiauw Ki sambil memegang tusuk konde itu dengan kedua tangannya dan menekannya di dekat dada kiri. Melihat kelakukan pemuda ini, Lie Kian Tek tertawa terbahak-bahak.

“Locianpwe, kaulah yang memaksa dia bicara. Kau tentu ada akal yang baik!” katanya.

Cheng-jiu Tok-ong menyeringai sambil menghampiri Tiauw Ki. Kakek ini mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan ternyata bahwa yang dikeluarkannya itu seekor ular berwarna hitam! Ular itu menggeliat-geliat diantara jari-jari tangannya dan lidah berwama kemerahan terjulur keluar masuk.

“Orang she Gan, sekali aku melepas ular ini dan menggigitmu kau akan mengalami rasa nyeri yang tak pernah dialami orang lain. Tubuhmu akan sakit-sakit semua selama sehari penuh dan kau akan menderita sepenuhnya karena kau takkan pingsan atau mati sebelum sehari penuh. Maka lebih baik kau mengaku, rahasia apakah yang harus kau sampaikan kepada Kaisar. Kau hanya mengaku saja, tak seorang pun akan melihat atau mendengar pengakuanmu ini. Apa sih sukarnya?”

“Siluman tua, aku tidak takut mati! Sejak semula aku tidak takut akan ancaman kalian dan tadi aku bersikap lemah hanya untuk memberi kesempatan kepada Giok-moi menjauhkan diri. Setelah dia selamat, keberanianku lebih besar lagi. Kau mau siksa, mau bunuh, mau apa pun, sesukamulah, aku tetap pada pendirianku. Aku seorang laki-laki dan kematian hanya berarti kebebasan daripada berdekatan dengan siluman-siluman macam kalian ini!”

Wajah Cheng-jiu Tok-ong menjadi merah dan ia marah sekali.

“Kau memang tidak boleh dikasihani. Rasakanlah hukumanku!”

Akan tetapi pada saat itu, terdengar beberapa orang menjerit dan dua orang perajurit roboh ketika bayangan merah berkelebat menerjang lingkaran itu. Bayangan merah ini dengan gerakan luar biasa cepatnya telah tiba di dalam lingkaran dan sinar pedang yang berkilauan menyerang Cheng-jiu Tok-ong. Kakek ini terkejut dan dalam gugupnya ia menangkis dengan ular hitam tadi.

“Crak!” Tubuh ular itu terbabat putus dan Cheng-jiu Tok-ong berseru marah.

“Ang I Niocu, kau berani datang lagi?”

Memang, yang datang itu adalah Im Giok. Dengan cepat gadis ini lalu melompat ke dekat Tiauw Ki dan berlutut. Air matanya mengucur deras ketika ia melihat keadaan pemuda itu yang memandangnya dengan bibir tersenyum.

“Koko...” katanya perlahan.

“Giok-moi, mengapa kau kembali...?”

“Koko, aku akan mencarikan kebebasan untuk kita berdua, kalau tidak... kita akan mati bersama.” Im Giok merangkul leher pemuda yang sudah berlepotan darah itu dan Tiauw Ki mengeluarkan suara sedu sedan yang ditahan-tahannya. Ia terharu bukan main dan berbisik,

“Terima kasih, Moi-moi, hati-hatilah…”

Im Giok melepaskan pelukannya, lalu mendukung tubuh kekasihnya yang sudah lemas itu, disandarkannya di batang pohon yang tumbuh di situ. Semua orang melihat gerakan gadis ini dengan senjata siap-siap di tangan. Ada pula yang terharu menyaksikan adegan ini. Kemudian Im Giok berdiri, pedang melintang di dada, mata berapi-api dan ia berkata,

“Sudah kulihat dan kudengar semua semenjak tadi. Lie Kian Tek, kau ternyata seorang pengkhianat dan pemberontak yang berhati buas laksana srigala. Kau bebaskan Gan-twako, atau aku akan membuka jalan darah! Andaikata gagal usahaku, aku dan Gan-twako akan mati bersama di tempat ini, akan tetapi kiraku tidak sedikit orang-orangmu akan menghadap Giam-kun (Malaikat Maut) lebih dulu sebelum aku roboh!”

Memang, tadi setelah dengan hati gemas dan mendongkol Im Giok meninggalkan Tiauw Ki bersama pasukan Lie Kian Tek, di tengah jalan Im Giok merasa tidak enak hati dan menyesal. Ia sudah menyerahkan hatinya kepada Tiauw Ki dan ia sudah percaya betul akan sifat jantan dalam diri kekasihnya itu. Mengapa tiba-tia Kiauw Ti berubah menjadi seorang pengecut? Mengapa Tiauw Ki tidak percaya kepadanya dan apakah artinya mati kalau tidak mati berdua? Mengapa Tiauw Ki menyuruhnya dan membiarkannya pergi dan mengalah hendak membuka rahasia, hendak menjadi seorang pengkhianat?

“Tak mungkin! Tak mungkin dia mau berbuat itu,” pikir Im Giok dan ia menghentikan larinya kuda. Setelah berpikir sejenak ia lalu melompat turun dari kudanya, menambatkan kendali kuda itu pada sebatang pohon dan berlarilah Im Giok ke tempat tadi. Ia mempergunakan ilmu lari cepat dengan kepandaiannya yang luar biasa ia dapat mendekati pasukan itu sambil bersembunyi dan menyelinap diantara pohon-pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu. Ia sempat menyaksikan Tiauw Ki disiksa dan sempat mendengarkan kata-kata Tiauw Ki, melihat pula betapa kekasihnya dengan nekat merampas kembali tusuk konde pemberiannya. Melihat semua ini, Im Giok tak dapat menahan mengalirnya air matanya. Tepat seperti yang diduganya, Tiauw Ki tadi hanya menipu Lie Kian Tek untuk kesempatan kepadanya menyelamatkan diri. Pemuda itu sama sekali bukan seorang pengecut dan sama sekali bukan pengkhianat, bahkan telah membuktikan bahwa dia seorang yang berani mati, seorang gagah dan yang mencintanya sampai di saat terakhir!

Demikianlah, Im Giok lalu menghunus pedang dan menerjang masuk, dan kini ia menghadapi Lie Kian Tek dan pasukannya dengan sikap tenang dan gagah. Ia tidak takut apa-apa karena maklum bahwa andaikata ia gagal, ia akan mati bersama kekasihnya!

“Kepung dan tangkap dia! Boleh lukai jangan bunuh!” Lie Kian Tek berseru dan serentak Im Giok dikepung, didahului oleh Cheng-jiu Tok-ong yang menyerang dengan golok hijaunya.

Sekali lagi Im Giok mengamuk. Tubuhnya berkelebat merupakan bayangan merah, pedangnya menyambar-nyambar lebih dahsyat daripada amukannya yang sudah-sudah karena sekarang selain hati gadis ini amat sakit melihat kekasihnya tersiksa, juga ia nekad untuk mati bersama kekasihnya, para pengeroyoknya menjadi kewalahan. Terlena sedikit saja atau terlalu dekat sedikit saja, pasti pedang di tangan Im Giok mendapatkan mangsa dan roboh seorang pengeroyok. Mereka mengepung dari jauh dan Lie Kian Tek memberi aba-aba. Maka dikeluarkan orang tombak-tombak panjang dan jaring lebar. Dengan dua macam senjata yang biasanya dipergunakan untuk menangkap harimau atau lain binatang buas ini, Im Giok kini dikepung! Timbul kegembiraan para perajurit itu dan seperti kalau mereka menangkap harimau, kini mereka bersorak-sorak dan mendesak Im Giok dengan tombak-tombak panjang dan jaring yang amat kuat itu.

Lie Kian Tek memang suka sekali memburu binatang, bukan dibunuh melainkan ditangkap hidup-hidup, maka tiap kali pergi dengan pasukannya selalu anak buahnya tidak lupa membawa alat-alat menangkap binatang buas ini, yaitu jaring dan tombak-tombak panjang.

Menghadapi serangan istimewa ini, Im Giok menjadi marah sekali, juga amat bingung. Ia mengamuk seperti singa betina, pedangnya menyambar-nyambar dan banyak tombak telah dapat ia patahkan dengan pedangnya. Akan tetapi pihak pengeroyok terlalu banyak dan Im Giok merasa gugup juga menghadapi pengeroyok yang bersorak-sorak itu, maka setelah melawan mati-matian, akhirnya ia tidak dapat mengelak lagi ketika jaring yang lebar dan kuat dilempar dan menimpanya dari atas. Bagaimana ia dapat mengelak kalau di depan belakang dan kanan kirl belasan tombak menghadangnya? Ia membabat dengan pedangnya, akan tetapi jala atau jaring kedua kembali menimpa sehingga gadis itu kini benar-benar seperti seekor singa betina tertangkap! Ketika Im Giok meronta terdengar suara kain robek dan terkejutlah gadis ini ketika mendapat kenyataan bahwa di sebelah dalam jaring ini dipasangi kaitan-kaitan kecil dari baja sehingga kalau ia berani meronta, tentu pakaiannya akan robek semua dan juga kulitnya akan terkait dan luka-luka. Oleh karena itu, ia terpaksa tidak berani bergerak dan memasang kuda-kuda setengah duduk, di atas tanah, di dalam jaring-jaring itu.

Para perajurit bersorak-sorak gembira sekali. Terdengar suara Lie Kian Tek tertawa terbahak-bahak.

“Keluarkan dia dan ikat kaki tangannya!” perintahnya dan suaranya terdengar gembira sekali.

Akan tetapi perintah ini hanya mudah diucapkan, sebaliknya amat sukar dilaksanakan. Tadinya para perajurit yang ingin sekali memegang dan membelenggu gadis jelita itu, berebut maju. Celaka bagi mereka, lima orang menjerit roboh dan tak dapat bangun lagi. Seorang roboh ditendang, seorang terpukul oleh tangan kiri dan tiga orang tertusuk pedang! Biarpun berada di dalam jaring, namun Im Giok masih tetap lihai dan sukar didekati.

Melihat ini, Cheng-jiu Tok-ong marah sekali. Ia melompat maju dan secepat kilat tangannya bergerak mengirim totokan ke arah jalan darah di punggung Ang I Niocu Kiang Im Giok. Ia mengira bahwa kalau diserang dari belakang, gadis yang berada di dalam jaring itu tentu sukar mengelak lagi. Akan tetapi, akibatnya dia sendiri yang memekik kesakitan dan telapak tangannya terluka mengeluarkan darah. Dalam keadaan terjepit seperti itu, hanya dengan mendengarkan suara angin pukulan, Ang I Niocu dapat menyusupkan pedangnya dari bawah lengan kiri dan menyambut totokan lawan itu dengan ujung pedang! Karuan saja telapak tangan Cheng-jiu Tok-ong menjadi terluka dan kakek ini berjingkrak-jingkrak saking marahnya. Ia lupa akan pesan Lie Kian Tek agar gadis itu jangan dibunuh. Dalam kemarahannya, Cheng-jiu Tok-ong mencabut golok hijaunya yang beracun dan mengayun golok itu ke arah tubuh Ang I Niocu!

“Traaang...!” Golok di tangan Cheng-jiu Tok-ong terpental kembali dan hampir saja terlepas dari tangannya, membuat kakek ini melompat mundur dengan kaget sekali. Pada saat itu, seorang nenek tua yang entah darimana datangnya dan yang tadi telah menangkis golok Cheng-jiu Tok-ong dengan sepasang pedang yang berkilauan tajamnya, kini membabat jaring yang menutupi tubuh Im Giok. Gadis ini sendiri pun dengan bersemangat mengerjakan pedangnya, membabat dari dalam sehingga sebentar saja jaring itu rusak dan ia dapat melompat keluar. Di beberapa bagian tubuhnya terluka oleh kaitan, akan tetapi Im Giok tidak mempedulikannya.

Baik Im Giok, maupun Cheng-jiu Tok-ong dan semua orang yang berada di situ tidak mengenal siapakah gerangan nenek yang memegang sepasang pedang ini. Wajahnya keriputan, rambutnya sudah putih semua, namun gerakan-gerakannya masih amat gesit dan lincah.

“Serbu...! Bunuh siluman ini!” Lie Kian Tek berseru keras. Akan tetapi ia cepat mengangkat pedangnya ketika tiba-tiba nenek itu menyambar dan menyerangnya dengan pedang kiri, sedangkan pedang kanan merobohkan dua orang perajurit yang menghalang di jalan! Lie Kian Tek menangkis, tangannya tergetar dan pedangnya terlempar! Sinar putih meluncur ke arah lehernya dan putera gubemur ini sudah meramkan mata.

Baiknya Cheng-jiu Tok-ong cepat datang menolong. Ditusuknya lambung nenek itu dengan golok hijaunya sehingga nenek itu terpaksa menarik kembali serangannya kepada Lie Kian Tek, kemudian menghadapi Cheng-jiu Tok-ong. Mereka segera bertempur dengan hebat.

Adapun Im Giok kini sudah dikepung lagi, para perajurit sekarang maklum bahwa kalau tidak dibunuh, nona baju merah yang cantik jelita ini amat berbahaya, apalagi sekarang tiba bantuan seorang nenek yang seperti setan. Mereka beramai mengeroyok, yang pandai maju di depan, yang kurang pandai hanya membantu di belakang dengan tombak atau toya panjang. Im Giok memutar pedangnya, kini ia menyerang dengan ganas dan sebentar saja lima orang pengeroyok roboh bergelimpangan. Karena Cheng-jiu Tok-ang tidak dapat ikut mengeroyok, tentu saja bagi Im Giok para pengeroyok itu merupakan makanan lunak! Apalagi gadis ini merasa sakit hati dan marah sekali telah menerima hinaan, sekarang pembalasan yang ia lakukan benarbenar hebat dan membuat para pengeroyoknya kalang kabut.

Pertempuran antara nenek itu melawan Cheng-jiu Tok-ong yang dibantu oleh enam orang perwira juga dahsyat sekali. Kepandaian nenek itu tinggi bukan main, sepasang pedangnya menyambar-nyambar amat ganasnya. Telah banyak orang yang roboh olehnya dan perwira-perwira yang membantu Cheng-jiu Tok-ong sudah beberapa kali berganti orang.

Diam-diam Cheng-jiu Tok-ong terkejut sekali ketika memperhatikan permainan pedang nenek ini. Ia mengenal gerakan-gerakan ilmu pedang itu akan tetapi kalau ia melihat wajah yang keriputan ini, ia menjadi ragu-ragu.

“Tahan! Twanio, siapakah kau dan mengapa kau memusuhi kami?” Chengjiu Tok-ong berseru.

Terdengar nenek itu tertawa dan orang menjadi terheran-heran mendengar suara ketawanya, begitu merdu seperti suara ketawa seorang gadis belasan tahun!

“Cheng-jiu Tok-ong, kau telah menjadi kaki tangan pemberontak dan berani sekali menghina muridku. Benar-benar keterlaluan!” Seperti juga suara ketawanya, kata-katanya ini diucapkan dengan suara yang merdu sekali!

Mendengar suara ini, Cheng-jiu Tok-ong dan Ang I Niocu hampir berbareng berseru,

“Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat...”

Nenek yang berambut putih dan berwajah keriputan itu sekali lagi tertawa merdu, nadanya mengejek.

“Pek Hoa... mengapa kau menyerangku? Dia itu muridmu, akan tetapi mengapa berani sekali melawanku? Biarpun demikian, kalau kau menghendaki, aku bisa mengampunkan dia. Mari kita bicara baik-baik, Pek Hoa...”

Akan tetapi Pek Hoa Pouwsat atau nenek buruk itu hanya tertawa terkekeh-kekeh dan tiba-tiba sepasang pedangnya bergerak secara aneh sekali! Gerakan ini disusul oleh seruan kaget dari para pengeroyoknya dan dalam beberapa gebrakan saja empat orang pengeroyoknya telah roboh dan tewas!

Cheng-jiu Tok-ong kaget setengah mati, apalagi ketika ia menyaksikan sepasang pedang dari bekas muridnya ini yang benar-benar luar biasa sekali, gerakannya demikian indah dan halus, dan nenek yang tubuhnya masih nampak langsing itu bergerak-gerak seperti orang menari secara amat menggairahkan! Biarpun hal ini nampak lucu karena nenek itu tua, namun tetap saja masih mendatangkan pengaruh yang luar biasa terhadap para pengeroyoknya. Inilah ilmu pedang ciptaan Pek Hoa Pouwsat yang disebut ilmu pedang Bi-jin-khai-i, ilmu pedang yang mengandung kekuatan sihir dan bahkan sudah berhasil merobohkan pendekar sakti seperti Han Le!

Juga Im Giok terheran-heran. Tidak salah lagi pendengarannyag suara itu adalah suara bekas gurunya, Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat. Akan tetapi dahulu Pek Hoa Pouwsat adalah seorang wanita yahg amat cantik jelita seperti bidadari, mengapa sekarang menjadi nenek-nenek tua sekali yang buruk? Betapapun juga, kedatangan nenek yang membantunya ini dan melihat kelihaiannya, hati Im Giok menjadi besar dan pedangnya menjadi sinar bergulung-gulung seperti naga mengamuk. Untuk mengimbangi keindahan permainan sepasang pedang Pek Hoa Pouwsat, Ang I Niocu lalu mainkan limu pedangnya yang seperti tarian indah, akan tetapi kehebatannya luar biasa sekali sehingga tiap kali berkelebat tentu ada lawan yang roboh!

Betapapun juga sepak terjang Im Giok, masih belum ada artinya kalau dibandingkan dengan Pek Hoa Pouwsat. Nenek ini benar-benar mengerikan sekali sepak terjangnya. Kalau pedang kanan atau kiri di tangannya berkelebat, bukan satu orang yang roboh, sedikitnya ada tiga orang roboh tak bemyawa lagi. Sebentar saja di tempat itu berubah menjadi tempat yang mengerikan di mana mayat bertumpuk-tumpuk dan darah membanjir.

Cheng-jiu Tok-ong makin terdesak hebat oleh sepasang pedang bekas muridnya sendiri itu. Ngeri ia memikirkan betapa ia terancam bahaya maut di tangan bekas muridnya sendiri. Terbayanglah semua peristiwa yang terjadi dahulu ketika Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat masih menjadi muridnya. Pek Hoa adalah seorang anak perempuan yatim-piatu, karena ayah bundanya yang menjadi kepala penyamun telah tewas di dalam tangan Cheng-jiu Tok-ong. Melihat bocah perempuan yang berkulit halus putih dan berbibir merah itu, Cheng-jiu Tok-ong tertarik lalu membawanya pulang dan bocah berusia tujuh tahun ini diambil menjadi muridnya. Pek Hoa menjadi dewasa dalam asuhan orang yang berwatak bejat, bahkan Cheng-jiu Tok-ong tidak malu, untuk mempermainkan muridnya sendiri sehingga semenjak kecil Pek Hoa sudah diajar segala macam perbuatan buruk dan tak tahu malu. Akhimya Pek Hoa meninggalkannya dan kemudian ia mendengar bahwa bekas murid, juga bekas kekasihnya itu telah menjadi murid Thian-te Sam-kauwcu dan memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.

Sekarang, teringat akan ini semua, Cheng-jiu Tok-ong mengeluarkan keringat dingin. Sangat boleh jadi bahwa Pek Hoa yang kini sudah kenyang akan pengalaman di dunia kang-ouw, dapat menduga bahwa dialah yang telah membunuh ayah bunda dari Pek Hoa. Boleh jadi sekali bekas muridnya ini sekarang datang untuk membalas dendam! Teringat akan hal ini, Cheng-jiu Tok-ong lalu berlaku nekad dan diam-diam ia mengeluarkan jarum-jarumnya yang beracun, juga mengeluarkan Cheng-tok-see (Pasir Hijau Beracun). Ia maklum bahwa ia tidak akan mendapat ampun dan pula tidak mungkin baginya untuk melepaskan diri lagi. Maka ketika kembali Pek Hoa Pouwsat merobohkan empat orang kawannya sehingga yang lain-lain menjadi gentar dan menjauhkan diri, Cheng-jiu Tok-ong mempergunakan kesempatan selagi Pek Hoa mencabut pedangnya dari tubuh lawan yang dirobohkan, segera menyerang bertubi-tubi. Jarum dan pasir beracun disambitkannya dan semua ini dibarengi dengar serangan golok Cheng-tok-to secara nekad dan mati-matian.

Pek Hoa Pouwsat terkejut juga menghadapi serangan ini. Ia berhasil menangkis golok dan mengelak ke kiri, terus menusukkan pedangnya yang tepat mengenai ulu hati bekas gurunya. Akan tetapi tiga batang jarum juga tepat mengenai leher, pundak, dan dadanya! Tiga batang jarum ini adalah Cheng-tok-ciam dan Pek Hoa tahu bahwa nyawanya takkan tertolong lagi. Ia membiarkan jarum-jarum ini menelusup memasuki dagingnya dan sambil tertawa terkekeh-kekeh melihat gurunya berkelojotan lalu tewas, ia mengamuk terus!

Di lain pihak, Im Giok dalam amukannya melihat Lie Kian Tek berlari mendekati Tiauw Ki dengan pedang terangka tinggi. Gadis ini maklum akan maksud putera gubemur ini, tentu hendak membunuh kekasihnya yang masih duduk tak berdaya karena luka-lukanya. Cepat ia melompat bagaikan terbang dan tepat sekali datangnya ini. Terlambat sedikit saja tentu kekasihnya tak dapat ditolong pula. Dengan gemas ia menangkis sambil mengerahkan tenaga. Terdengar suara keras dan pedang di tangan Lie Kian Tek terbabat putus dan di lain saat tubuh putera gubernur itu terlempar jauh terkena tendangan kaki Im Giok! Im Giok masih marah dan hendak mengejar tubuh Lie Kian Tek yang sudah pingsan itu untuk dibunuhnya, akan tetapi ia dihadang oleh belasan orang perwira sehinggi ia mengamuk lagi.

Para perajurit dan perwira-perwiranya melihat betapa Lie Kian Tek sudah terluka hebat dan Cheng-jiu Tok-ong sudah tewas, menjadi lenyap semangat mereka. Apalagi sudah terlalu banyak kawan mereka yang tewas. Maka sambil membawa tubuh Lie Kian Tek yang pingsan, mereka lalu melarikan diri di atas kuda dan membalapkan kuda tunggangan mereka!

Im Giok sudah terlalu lelah untuk mengejar mereka. Sebaliknya, ia melihat Pek Hoa Pouwsat mengeluh, melepaskan sepasang pedangnya dan terhuyung-huyung mau roboh. Cepat Im Giok melompat dan memeluk wanita itu. Melihat betapa Pek Hoa telah menjadi seorang wanita yang mukanya tua dan buruk seperti iblis, dan melihat pula betapa bekas gurunya ini sekarang menderita luka berat dalam usahanya menolong nyawanya, hati Im Giok menjadi terharu sekali dan semua kebencian yang timbul di hatinya terhadap bekas guru ini lenyap, terganti oleh kasih sayang yang hangat seperti yang dulu terkandung di hatinya terhadap bekas guru ini.

“Enci Pek Hoa...” bisiknya sambil memondong tubuh bekas gurunya itu, dibawa ke tempat yang bersih dari tumpukan mayat. Tiauw Ki menguatkan tubuh dan setengah merangkak ia pun menghampiri tempat itu.

Pek Hoa Pouwsat membuka matanya dan terlihatlah oleh Im Giok bahwa nenek ini benar-benar Pek Hoa Pouwsat gurunya. Sepasang mata yang bersinar-sinar dan bening bagus itu memang mata Pek Hoa. Tidak ada wanita kedua yang memiliki mata sebagus mata Pek Hoa, demikian pikir Im Giok. Ketika pandang matanya melihat luka di leher, pundak, dan dada yang mengeluarkan darah hijau, Im Giok menahan isak.

“Enci Pek Hoa...!” bisiknya lagi.

Pek Hoa tersenyum dan terbukalah mulutnya yang ompong. Im Giok bergidik. Dahulu gigi Pek Hoa bukan main indahnya, berderet rapi dan putih bersih laksana mutiara.

“Im Giok, anak baik, kau makin cantik saja...” Kemudian ia muntahkan darah yang wamanya hijau pula.

“Im Giok..., aku... aku takkan lama lagi dapat bertahan... kau cantik, sayang sekali kalau lenyap kecantikanmu... kau pergilah ke Pek-tiauw-san (Gunung Rajawali Putih) carilah telur Pek-tiauw... campur dengan obat ini... kau minum setengah tahun sekali... selama hidup kau akan tinggal muda dan cantik...”

Pek Hoa menghentikan kata-katanya dan tangannya mengeluarkan sebuah bungkusan, kemudian ia tertawa ha-ha-hi-hi, nampaknya geli dan seperti ada sesuatu yang lucu, tertawa terus akan tetapi suara ketawanya makin lama makin lemah sehingga akhirnya terhenti sama sekali!

“Enci Pek Hoa, kau mati karena aku... terima kasih...” bisik Im Giok di dekat telinga bekas gurunya dan tak tertahan pula dua titik air mata menetes di kedua pipinya. Sayang sekali Im Giok tidak sempat mendengar tentang pengalaman Pek Hoa, tidak tahu tentang riwayatnya sehingga ia menyimpan obat pemberian bekas gurunya itu tanpa ragu-ragu lagi. Kalau saja ia tahu... kiranya ia akan membuang obat itu jauh-jauh dengan ngeri hati.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, setelah dikalahkan oleh Bu Pun Su dan terusir dari Pulau Pek-le-tho, Pek Hoa-Pouwsat pergi dengan hati perih sekali. Ia tidak berdaya menghadapi Bu Pun Su kakek sakti itu dan betapapun sakit hatinya, ia tak dapat berbuat apa apa. Yang lebih menyakitkan hatinya adalah karena ia telah mengandung. Ia mendekati dan menggoda Han Le bukan sekali-kali karena ia mencinta pengemis Sakti itu. Tadinya ia bermaksud menundukkan Han Le agar cita-citanya membalas dendam tercapai, agar ia mendapat pembantu yang lihai. Memang ia berhasil karena bukankah ia telah berhasil menewaskan Bok Beng Hosiang dan Kok Beng Hosiang dua orang tokoh Siauw-lim-pai, juga menewaskan Cin Giok Sianjin tokoh Kun-lun-pai atas bantuan Han Le! Sayang sekali bahwa biarpun bantuan dari Han Le, tetap saja ia tidak mampu mengalahkan Bu Pun Su yang amat lihai itu. Dan semua itu dibelinya dengan penghinaan hebat. Tadinya ia hendak mengganggu Han Le, tidak tahunya ada juga rasa kasih sayang di dalam lubuk hatinya terhadap Han Le, apalagi ia telah mengandung! Dan kini ia terusir dari pulau itu, terpisah dari Han Le dan sama sekali tidak dapat membalas dendamnya.

Bukan main marah dan kecewanya hati Pek Hoa. Ia bersembunyi di dalam hutan lebat, menanti saat kelahiran anak yang dikandungnya. Wanita ini memang berhati keras dan merupakan seorang yang luar biasa sekali. Tanpa bantuan siapa-siapa, berkat lwee-kangnya yang tinggi dan kepandaiannya yang sudah sampai di tingkat puncak, ia dapat melahirkan anak yang dikandungnya dengan selamat. Akan tetapi apa yang terjadi? Setelah anaknya terlahir, terjadi perubahan hebat pada dirinya! Kulitnya mengeriput, rambutnya yang hitam panjang berubah menjadi putih, sebaliknya kulitnya yang putih menjadi hitam dan tubuhnya menjadi kurus kering!

Pek Hoa Pouwsat semenjak kecil mengutamakan kecantikan dan untuk menjaga kecantikannya ia bahkan setengah tahun sekali makan telur Pek-tiauw yang dicarinya dengan susah payah. Dengan obat ini ia memang tidak pemah tenjadi tua dan selalu tetap cantik dan muda. Sekarang ia berubah menjadi demikian tua dan buruk, tentu saja hal ini merupakan pukulan yang hebat sekali baginya. Ia tidak mengira sama sekali bahwa khasiat obat itu akan musnah bahkan menjadi sebaliknya, merusak semua kecantikannya apabila ia mempunyai anak! Kini baru ia tahu dan saking marah dan sedihnya, Pek Hoa Pouwsat seperti orang gila lalu membanting mati anaknya sendiri! Kemudian ia lalu berlari-lari seperti orang gila, merantau ke sana ke mari sampai akhimya ia bertemu dengan Im Giok yang dikeroyok oleh Cheng-jiu Tok-ong dan orang-orangnya. Melihat Cheng-jiu Tok-ong, timbullah kenang-kenangan lama yang membuat hatinya sakit, maka ia mengambil keputusan untuk membunuh bekas gurunya ini. Juga melihat Im Giok yang cantik jelita, Pek Hoa tersenyum seorang diri dan berkata,

“Dia harus menggantikan aku..., ha-ha, anak Kiang Liat harus merasai seperti aku pula...”

Demikianlah, Pek Hoa Pouwsat lalu menyerbu dan berhasil membunuh Cheng-jiu Tok-ong juga berhasil memberikan obatnya kepada Im Giok. Biarpun untuk tercapainya dua maksud ini dia harus mengorbankan nyawanya.

Setelah Pek Hoa Pouwsat meninggal, Im Giok lalu menghampiri kekasihnya. Keduanya berpelukan dan keduanya mengeluarkan air mata.

“Aduh, Giok-moi, sama sekali aku tidak mengira bahwa kita dapat bertemu dalam keadaan hidup,” kata Tiauw Ki.

Im Giok meraba muka Tiauw Ki yang penuh luka-luka kecil akibat cambukan Lie Kian Tek, menjamah luka-luka itu dengan jari-jarinya yang halus, penuh kasih sayang.

“Kasihan sekali kau, Koko... kau maafkan aku yang telah meninggalkanmu seorang diri...”

“Tidak ada yang harus dimaafkan, adikku sayang. Aku memang sengaja membikin kau marah dan pergi, agar kau selamat...”

“Aku tahu, Koko, aku mengerti... alangkah besarnya kasih sayangmu kepadaku.”

“Aku mencintamu lebih dari mencinta jiwaku sendiri, Giok-moi...“

Setelah keharuan mereka mereda, Tiauw Ki bertanya,

“Nenek yang menolong kita itu, siapakah dia?”

“Dahulu, di waktu kecil, dia pemah menjadi guruku. Tadinya dia yang berjalan sesat, akan tetapi selalu aku tahu bahwa di dalam hatinya, ia amat sayang kepadaku. Dan ternyata benar...” Suara Im Giok menjadi lambat penuh keharuan. “Dia mengorbankan nyawa untukku... Aku harus merawat jenazahnya baik-baik, Twako. Dia harus dikubur baik-baik...”

Tiauw Ki menyetujui dan sibuklah mereka menggali lubang untuk mengubur mayat Pek Hoa Pouwsat.

“Bagaimana dengan mereka itu? Sudah sepatutnya mereka itu dikubur juga, bukankah mereka manusia?” Tiauw Ki menuding ke arah tumpukan mayat yang berserakan di sana-sini dan suaranya gemetar. Ngeri ia melihat mayat manusia yang jumlahnya dua puluh orang lebih itu. Benar-benar hebat amukan Ang I Niocu dan Pek Hoa Pouwsat.

Im Giok memandang dan menarik napas panjang. “Tak mungkin, Koko. Bagaimana kita berdua dapat mengubur mayat sebanyak itu? Apalagi tanpa ada alat untuk menggali lubang.”

“Akan tetapi hatiku tidak menginginkan mereka itu ditinggalkan begitu saja menjadi makanan binatang buas...” Tiauw Ki membantah.

“Jangan khawatir, Koko. Penduduk di sekitar tempat ini tentu akan mengurusnya. Pula, mereka itu adalah anggauta pasukan dari Lie Kian Tek, tentu kawan-kawan mereka akan datang kembali untuk mengurus mayat mereka. Dan lagi, kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Kalau mereka datang lagi membawa bala bantuan, celakalah kita. Aku sudah kehabisan tenaga dan tak mungkin dapat melawan lagi...”

Kebetulan sekali mereka masih dapat menemukan dua ekor kuda yang tadinya lari kacau-balau, maka cepat mereka menunggang kuda ini dan melarikan kuda menuju ke utara, ke kota raja. Di tengah perjalanan, Tiauw Ki berkata,

“Giok-moi, aku ingin sekali lekas-lekas menyelesaikan tugasku dan bersamamu pergi ke Sian-koan menemui ayahmu. Kalau... kau sudah menjadi isteriku, kau harus membuang jauh-jauh pedangmu dan selanjutnya kita hidup dalam damai dan tenteram. Aku tidak bisa membiarkan isteriku merenggut nyawa manusia sedemikian banyaknya...!”

Im Giok tersenyum. Hatinya membantah, karena dalam hal pertempuran, membunuh atau terbunuh adalah hal biasa. Akan tetapi ia tidak mau membantah dengan mulut karena maklum bahwa kekasihnya yang lemah itu baru saia terlepas dari bahaya maut dan baru mengalami sesuatu yang benar-benar menakutkan. Perjalanan dilakukan cepat dan ketika mereka lewat di sebuah kota, Im Giok membeli obat di toko obat untuk mengobati luka-luka kecil pada tubuh Tiauw Ki.

***

Kiang Liat yang melakukan perjalanan ke Go-bi-san untuk menyampaikan surat dari Bu Pun Su kepada Ketua Go-bi-pai tidak mengalami rintangan dan sampai di puncak gunung itu dengan selamat. Ia menghadap ciangbunjin dari Go-bi-pai, yakni Twi Mo Siansu, seorang kakek berusia tujuh puluh tahun lebih dan sikapnya halus, tubuhnya tinggi kurus dan alisnya putih semua. Kakek ini setelah membaca surat dari Bu Pun- Su, mengangguk dan tersenyum.

“Bu Pun Su benar-benar mengagumkan sekali. Sudah tua masih berhati muda, bergelora dan bersemangat. Jatuh-bangunnya sebuah kerajaan berada di tangan Thian Yang Maha Kuasa, orang-orang seperti kita ini mau bisa apakah?”

Mendengar kata-kata ini, di dalam hatinya Kiang Liat tidak setuju sama sekali. Alangkah lemah dan pikunnya ketua Go-bi-pai ini, pikirnya. Akan tetapi tentu saja ia tidak berani bilang apa-apa, hanya mendengarkan lebih lanjut. Juga para murid Go-bi-pai yang berada di situ, yang jumlahnya belasan orang, tidak ada yang mongeluarkan suara.

Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dan mengandung tenaga.

“Maafkan teecu, Susiok. Teecu sudah berani berlancang mulut dan ikut-ikutan bicara dalam urusan yang sama sekali teecu tidak berhak mencampuri. Akan tetapi, sungguhpun teecu tunduk dan setuju akan kata-kata Susiok tadi bahwa apapun yang diusahakan oleh manusia, akhimya keputusan berada di tangan Thian, namun, sebagai manusia yang berakal budi, apalagi yang menjunjung tinggi keadilan dan kegagahan seperti kita, teecu rasa sudah sepatutnya kalau kita berusaha demi keadilan dan kebajikan. Adapun akibat dan keputusannya, memang terserah kepada Thian Yang Maha Kuasa. Maafkan kalau pendapat teecu keliru dan selanjutnya mohon petunjuk, Susiok.”

Semua orang memandang kepada pembicara ini, juga Kiang Liat. Ia melihat bahwa yang bicara itu adalah seorang pemuda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan gagah, patut sekali menjadi seorang pendekar. Pakaiannya indah, pedangnya tergantung di pinggang, alisnya hitam dan matanya berapi-api. Usianya paling banyak dua puluh lima tahun. Kalau Kiang Liat memandang dengan kagum dan tertarik kepada pemuda ini, adalah lain-lain murid Go-bi-pai yang berada di situ memandang dengan muka merah dan ada yang khawatir. Mereka menduga bahwa Twi Mo Siansu pasti akan marah sekali, karena sudah merupakan peraturan perguruan di situ bahwa para anak murid tidak sekali-kali boleh mencampuri percakapan antara guru besar ini dengan tamu yang datang. Apalagi untuk urusan yang besar dan yang belum dimengerti oleh para anak murid. Akan tetapi pemuda ini telah berlancang mulut, tidak saja mencampuri percakapan, bahkan terang-terangan berani mencela pendirian Twi Mo Siansu!

Suasana menjadi sunyi dan tadinya Twi Mo Siansu menjadi merah mukanya, sepasang mata yang masih amat tajam berpengaruh itu memandang kepada pemuda gagah itu dengan marah. Akan tetapi ketika bertemu dengan wajah yang tampan terbuka, mata yang berani menentangnya penuh pengertian itu, wajah kakek ini melembut kembali dan ia tersenyum.

“Bagus sekali, Liem Sun Hauw. Biarpun pendirianmu itu pikiran orang muda jalan dan tidak sejalan dengan pikiranku, akan tetapi aku setuju sekali! Kau murid Go-bi-pai dari luar kuil, tentu tidak tahu akan peraturan di dalam kuil, maka kelancanganmu itu kumaafkan. Sayang Suheng telah meninggal, kalau tidak tentu ia akan bangga sekali mendengar ucapan muridnya di depanku.” Kakek ini lalu tertawa dengan girang.

“Harap maafkan, Susiok. Sesungguhnya teecu tadi telah lancang tanpa dipikir dulu, harap banyak maaf.”

“Tidak apa, tidak apa. Bahkan kebetulan sekali. Aku sedang berpikir-pikir siapa gerangan orangnya yang dapat mewakili aku. Sudah kukatakan tadi bahwa biarpun tidak sejalan dengan pikiranku, aku setuju sekali dengan pendirianmu. Karena itu aku pun setuju dengan pendapat Bu Pun Su. Pendekar Sakti itu minta bantuanku agar supaya kita dari Go-bi-pai ikut mengamati-amati kalau-kalau ada pihak penyerang mendatangi dari utara, karena menurut pendapat Bu Pun Su, negara berada dalam bahaya dan ancaman musuh berbagai pihak. Hal ini dapat dilakukan oleh semua anak murid yang berada di sini melakukan penjagaan di sepanjang tapal batas sebagai pengawas. Akan tetapi tentang permintaan ke dua dari Bu Pun Su agar supaya aku turun gunung dan menghubungi kawan-kawan untuk memperkokoh persatuan dan melenyapkan pertikaian antara kawan sendiri, sungguh tak dapat kulakukan. Kaulah, Sun Hauw, kau yang harus mewakili aku turun gunung!”

“Teecu siap sedia menjalankan perintah Susiok. Mohon nasihat dan petunjuk selanjutnya agar teecu dapat melakukan tugas dengan baik,” jawab pemuda itu dengan suara tegas dan bersemangat.

“Kau hubungi semua tokoh besar dunia kang-ouw dan katakan bahwa aku sendiri sudah menyatakan setuju sekali akan pendapat Bu Pun Su bahwa pada saat seperti ini kita semua harus bersatu. Jangan sampai ada perpecahan diantara kita dan kalau misalnya ada, urusan itu harus dibereskan secara damai. Persatuan harus ditujukan untuk melindungi negara dan rakyat dari bahaya. Apabila benar-benar terjadi perang, tentu muncul banyak manusia jahat dan perlu sekali kita melindungi rakyat jelata dari penindasan mereka ini. Sampaikanlah salamku kepada mereka dan pertama-tama lebih tepat kalau kau pergi ke Bu-tong-san mengingat bahwa partai Bu-tong-pai pada waktu ini sedang ada urusan percekcokan dengan Kim-san-pai. Katakan kepada Lo Beng Hosiang ciangbunjin dari Bu-tong-pai bahwa kalau dia mau mengadakan pertemuan damai dengan pihak Kim-san-pai, boleh mempergunakan kuil kita di Go-bi-san sini.”

“Teecu sudah ingat akan semua pesan Susiok dan akan mentaati,” kata Sun Hauw, pemuda gagah itu.

Tiba-tiba seorang di antara para anak murid Go-bi-pai yang duduk di situ, berdiri dan berkata dengan suara lantang,

“Maaf, Suhu. Teecu merasa kurang puas dengan diangkatnya Liem-sute sebagai wakil Suhu. Hal ini menyangkut nama baik partai kita, maka teecu merasa ragu-ragu apakah kelak nama baik partai kita tidak akan terancam bahaya. Liem-sute baru saja datang di Go-bi-pai, baru tiga hari dan hanya menurut pengakuannya sendiri Suhu tahu bahwa dia adalah murid Thian Mo Siansu Supek. Bagaimana kalau dia itu sebenamya bukan murid Supek? Sungguhpun andaikata dia itu benar-benar murid Supek, masih belum boleh dia dianggap sebagai anak murid Go-bi-pai, mengingat bahwa antara Suhu dan Supek...”

“Cukup!” Twi Mo Siansu membentak dan murid yang bicara tadi, seorang tosu pula berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, tak berani melanjutkan kata-katanya dan duduk kembali. “Tek Sin, aku mengerti akan maksud kata-katamu. Kita telah menerima tugas untuk menjadi tukang menggalang persatuan, bagaimana kita masih ingat akan perpecahan sendiri? Tidak, bagaimanapun juga, murid Suheng adalah murid Go-bi-pai pula. Keraguanmu tentang kemampuan Sun Hauw, memang tepat. Baiklah kau kuserahi tugas mengujinya apakah benar dia itu anak murid Go-bi-pai, dan apakah kiranya dia sudah cukup kuat untuk melakukan tugas mewakili aku.”

Tek Sin Tojin terkejut. Tak disangkanya bahwa ucapannya tadi membuat suhunya marah dan ia kini diharuskan menguji Liem Sun Hauw! Tek Sin Tojin adalah murid pertama dari Twi Mo Sian-su dan tadi mendengar tugas mewakili suhunya diberikan kepada pemuda itu, tentu saja ia merasa tidak senang. Sekarang, ada jalan baginya untuk memperlihatkan bahwa pandangannya tepat dan bahwa gurunya telah berlaku keliru menyerahkan tugas sepenting itu kepada seorang pemuda seperti Liem Sun Hauw yang baru saja datang dan mengaku sebagai murid Thian Mo Siansu.

“Teecu tidak berani menolak perintah Suhu,” katanya sambil berdiri, lalu katanya kepada Liem Sun Hauw. “Liem-sute, kau sudah mendengar sendiri perintah Suhu bahwa pinto harus mengujimu. Oleh karena itu, marilah kita pergi ke lian-bu-thia (tempat berlatih silat).”

Liem Sun Hauw tersenyum dan menjura kepada tosu yang tubuhnya tinggi besar ini. “Twa-suheng, siauwte mana berani menolak? Hanya mengharap belas kasihan Suheng dan jangan berlaku terlalu keras kepada siauwte yang masih hijau.” Sambil berkata demikian, Liem Sun Hauw lalu bersiap mengikuti Tek Sin Tojin pergi ke lian-bu-thia.

“Tidak usah ke lian-bu-thia, di ruangan inipun cukup lebar kalau hanya untuk menguji kepandaian saja, Tek Sin, kau coba kepandaian Sun Hauw ini di sini saja,” kata Twi Mo Siansu. Semua anak murid Go-bi-pai lalu mengundurkan diri berdiri di pinggir untuk memberi tempat yang lega bagi dua orang yang hendak mengadu kepandaian itu. Juga Kiang Liat yang sebagai tamu tidak berani turut bicara lalu minggir. Ia melihat Tek Sin Tojin sebagai seorang tosu tinggi besar yang jelas sekali bertenaga kuat dan dari pandang mata tosu ini ia dapat mengetahui bahwa Tek Sin Tojin mempunyai lwee-kang dan kepandaian yang tinggi. Maka diam-diam ia mengkhawatirkan keadaan pemuda tampan itu. Kiang Liat yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa Tek Sin Tojin merasa iri hati kepada Sun Hauw dan dalam ujian silat ini tentu saja tosu itu berusaha untuk membikin malu dan merobohkan Sun Hauw.

Liem Sun Hauw menanggalkan jubah luarnya dan kini ia berpakaian ringkas, menambah kegagahannya karena nampak bentuk tubuhnya yang bidang dan tegap. Ia berdiri di tengah ruangan menghadapi Tek Sin Tojin dengan tubuh direndahkan dan kepala ditundukkan, tanda menghormat kepada saudara tua.

“Liem-sute, pinto lihat ada pokiam (pedang pusaka) tergantung di pinggangmu. Dalam ujian ini, apakah kau hendak mempergunakan pedang?”

Liem Sun Hauw menjura. “Siauwte serahkan pada kebijaksanaan Suheng saja, bagaimana cara Suheng hendak menguji, siauwte siap mentaati perintah.”

“Hemm, kalau begitu cabut pedangmu. Biar aku menghadapi pedangmu dengan tangan kosong saja.”

Liem Sun Hauw patuh. Ia menghunus pedangnya dan nampak sinar putih berkilauan, tanda bahwa pedang itu adalah pedang yang baik. Ia memutar pedangnya dengan gerakan indah dan cepat, tahu-tahu pedang itu kini telah dipegang di bagian pucuknya dan gagangnya disodorkan ke arah Tek Sin Tojin, tangan kiri dibuka terpentang di depan dada. Melihat ini, Kiang Liat tahu bahwa biarpun kelihatannya aneh sekali memegang ujung pedang secara terbalik, namun gerakan ini bukanlah gerakan sembarangan dan tentu saja mempunyai arti tertentu.

“Ketika Suhu memberikan gin-kiam (pedang perak) ini kepada siauwte, Suhu berpesan siauwte jangan sekali-kali menggunakan pedang ini untuk menghina orang dan melawan bertangan kosong dalam pibu,” kata pemuda itu dengan sikap hormat.

Twi Mo Siansu mengangguk-angguk girang. “Ah kiranya Suheng masih ingat akan pesan Sucouw, masih ingat untuk mengajarkan peraturan ini kepada muridnya.”

Memang Go-bi-pai terkenal keras dengan peraturan-peraturannya. Di antaranya, seorang anak murid sama sekali tidak boleh memamerkan ilmu pedangnya, juga tidak boleh menghadapi lawan dalam pibu (pertandingan persahabatan) yang bertangan kosong dengan pedang. Kalau terjadi lawan itu bertangan kosong menantang, ia harus menyerahkan pedang itu dengan sikap dan gerakan tertentu sebagaimana yang dilakukan oleh Sun Hauw ini. Tadi memang Tek Sin Tojin menguji apakah pemuda ini mengerti akan peraturan ini dan ternyata Sun Hauw mengerti baik!

“Kau memberikan pedangmu kepadaku? Baik, kuterima dan awas terhadap caraku mengembalikannya!” kata Tek Sin Tojin. Tangan kanannya menyambar dan di lain saat pedang itu telah berpindah ke dalam tangannya, tosu tinggi besar itu lalu membuat gerakan melompat ke belakang, berjungkir balik tiga kali, kemudian pada jungkiran terakhir, ia menggerakkan tangannya dan pedang itu meluncur seperti anak panah menyambar ke arah dada Liem Sun Hauw!

Pemuda itu cepat meloloskan sarung pedangnya dan dengan gerakan indah namun cepat sekali ia menyambut pedang yang meluncur ke dadanya itu dengan sarung pedang dan... tepat sekali pedang itu masuk ke dalam sarungnya, mengeluarkan suara keras! Indah sekali gerakan dua orang itu. Tek Sin Tojin melakukan gerakan menyambit yang merupakan jurus terakhir dari ilmu pedang Go-bi-pai, yakni gerakan yang digebut Sin-liong kian-hwe (Naga Sakti Mengulur Ekor) yang dimaksudkan untuk dipergunakan pada saat terakhir atau pada saat sudah amat terdesak oleh lawan yang lebih tangguh. Timpukan pedang yang tidak terduga-duga ini akan dapat menolong diri, kalau tidak berhasil merobohkan lawan, sedikitnya memberi kesempatan untuk melarikan atau menjauhkan diri! Adapun Sun Hauw yang sudah menduga lebih dulu, telah meloloskan sarung pedangnya dan cepat memperlihatkan kelihaiannya sebagai anak murid Go-bi-pai, melakukan jurus ilmu silat yang disebut Sin-liong siu-cu (Naga Sakti Menyambut Mustikanya). Memang, dari gerakan ini saja sudah dapat dilihat bahwa Sun Hauw benar-benar seorang anak murid Go-bi-pai yang jempol.

Adapun Kiang Liat yang juga seorang ahli pedang terkemuka, melihat petunjukan ilmu pedang ini, diam-diam merasa kagum sekali. Ia sudah tahu bahwa Go-bi-pai memang cabang yang memiliki ilmu pedang indah dan aneh-aneh, maka menyaksikan demonstrasi tadi, ia merasa gembira dan memuji,

“Bagus sekali!” Ia tidak tahu bahwa memang di dalam ilmu pedang cabang Go-bi-pai terdapat pelajaran terakhir, yakni bersilat dengan sarung pedang. Hal ini dipelajari untuk menjaga kalau-kalau pedang terampas lawan, maka biarpun dengan sarung pedang, masih dapat anak murid Go-bi-pai melakukan perlawanan hebat.

Sementara itu, sekarang Tek Sin Tojin dan Liem Sun Hauw sudah mulai bertempur dengan tangan kosong. Gerakan mereka cepat dan indah, setiap pukulan ditangkis atau dielakkan dengan tepat dan cepat. Dilihat sepintas lalu, mereka seakan-akan dua orang anak murid Gobi-pai sedang berlatih silat, akan tetapi sesungguhnya bukan demikian, karena Tek Sin Tojin mendesak dan menyerang dengan sungguh-sungguh.

Sekali saja Liem Sun Hauw meleset dalam menangkis atau mengelak, ia akan terpukul dan mendapat luka di dalam tubuh yang tidak ringan! Akan tetapi ternyata Liem Sun Hauw hafal akan semua jurus serangannya sehingga pemuda ini dapat menangkis atau mengelak dengan tepat, serta melakukan serangan balasan sebagaimana mestinya dalam jurus dan gerak yang dilakukannya menghadapi suhengnya ini.

Kalau tadi melihat demonstrasi ilmu pedang Kiang Liat merasa kagum, sekarang melihat ilmu silat tangan kosong yang diperlihatkan, ia tidak merasa heran atau kagum. Ilmu silat itu memang cepat dan indah lagi kuat gerakannya, akan tetapi tidak terlalu hebat dan Kiang Liat merasa bahwa ilmu silatnya sendiri, ilmu silat keturunan keluarga Kiang atau ilmu silat yang ia dapat dari Han Le dan Bu Pun Su, tidak usah kalah menghadapi ilmu silat yang dimainkan oleh kedua orang itu.

Lima puluh jurus telah lewat dan belum juga Tek Sin Tojin dapat mendesak sutenya, apalagi mengalahkannya! Tiba-tiba tosu itu merubah gerakannya dan kagetlah Liem Sun Hauw. Biarpun ia sudah menerima latihan ilmu-ilmu silat Go-bi-pai, tapi baru kali ini ia melihat ilmu silat yang sekarang dimainkan oleh Tek Sin Tojin. Ilmu silat ini hebat sekali dan gerakannya seperti seorang kakek tua memberi pelajaran menulis dengan telunjuknya. Sebentar saja Liem Sun Hauw terdesak.

Akan tetapi pemuda ini mengeluarkan seruan keras dan ia pun merubah gerakannya. Kini Twi Mo Siansu sendiri sampai mengeluarkan seruan kaget ketika melihat ilmu silat yang cepat sekali gerakannya akan tetapi sama sekali bukan ilmu silat dari Go-bi-pai! Tadinya ia sudah hendak menegur murid kepala karena mengeluarkan ilmu silat “simpanan”. Ilmu silat yang sekarang dimainkan oleh Tek Sin Tojin adalah ilmu silat Go-bi-pai yang khusus diajarkan kepada murid kepala yang dicalonkan menjadi ketua apabila ketua yang sekarang meninggal dunia, maka tidak sembarangan dikeluarkan. Bahkan Thian Mo Siansu sendiri pun tidak pernah diberi pelajaran ilmu silat ini maka tentu saja Liem Sun Hauw tidak mengenalnya. Akan tetapi Twi Mo Siansu yang merasa senang melihat kegagalan Sun Hauw, tadinya ingin sekali tahu sampai berapa lama Sun Hauw dapat mempertahankan diri. Alangkah kagetnya ketika ia melihat pemuda itu mengeluarkan ilmu silat yang luar biasa dan yang agaknya dapat menandingi ilmu silat simpanan Go-bi-pai itu!

“Tahan! Tek Sin dan Sun Hauw, cukuplah ujian ini!” seru Twi Mo Siansu. Ia khawatir kalau-kalau sampai terjadi korban dan ia merasa malu kalau sampai akhirnya Tek Sin Tojin kalah, apalagi di situ terdapat seorang tamu. “Tek Sin, bagaimana pendapatmu? Sudah puaskah kau?”

Tek Sin Tojin adalah seorang jujur. Ia cepat berlutut di depan suhunya dan berkata, “Dalam hal ilmu silat Go-bi-pai, Liem-sute sudah memperlihatkan bahwa dia benar-benar anak murid Go-bi-pai dan tidak kalah oleh teecu sendiri. Bahkan agaknya Liem-sute sudah mempelajari ilmu silat-ilmu silat lain yang lebih hebat!” Kata-kata ini mengandung sindiran bahwa sebagai murid Go-bi-pai, tidak selayaknya Sun Hauw menjadi murid partai lain tanpa seijin Ketua Go-bi-pai.

“Liem Sun Hauw, apakah kau menjadi murid dari partai lain?” tanya Twi Mo Siansu dengan suara keren.

Sun Hauw berlutut, “Teecu hanya menjadi murid Suhu Twi Mo Siansu, tidak menjadi murid partai lain.”

“Sute, jangan kau bohong! Kalau menjadi murid partai lain, lebih baik mengaku saja, mungkin Suhu masih dapat mempertimbangkan!” tegur Tek Sin Tojin.

“Mana siauwte berani membohong di depan Susiok, Suheng?”

“Ilmu silatmu dalam jurus-jurus terakhir bukan ilmu silat Go-bi-pai! Apakah kau hendak menyangkal?”

“Memang bukan ilmu silat Go-bi-pai, akan tetapi siauwte menerima pelajaran ilmu silat itu dari Suhu pula, dan Suhu katanya menerima ilmu silat itu dari seorang tokoh yang sakti bernama Hok Peng Taisu di Hong-lun-san.”

Twi Mo Siansu terkejut mendengar nama ini. Nama itu adalah nama seorang di antara tokoh-tokoh terkemuka yang dianggap sebagai tokoh-tokoh sakti di samping Bu Pun Su dan Han Le.

“Sun Hauw, mengapa kau tadi mengeluarkan ilmu silat itu? Apakah kau hendak memamerkannya dan menganggap bahwa ilmu silat itu lebih unggul daripada ilmu silat Go-bi-pai?”

“Tidak sekali-kali teecu berani beranggapan demikian, Susiok. Tadi teecu tiba-tiba menghadapi serangan jurus-jurus ilmu silat yang sama sekali tidak teecu kenal, yang hebat dan membingungkan teecu. Karena merasa bahwa tidak ada jurus ilmu silat Go-bi-pai yang teecu kenal dapat menghadapi serangan Suheng itu, terpaksa teecu mengeluarkan ilmu silat lain itu... harap Susiok sudi memaafkan.”

Twi Mo Siansu menarik napas panjang. “Sudahlah. Di dunia ini memang banyak sekali ilmu silat tinggi, mana bisa Go-bi-pai berani mengangkat dada mengagulkan kepandaian sendiri? Hanya pesanku, Sun Hauw, apabila kau mengeluarkan ilmu silat yang tadi, kau sekali-kali tidak boleh mengaku sebagai anak murid Gobi-pai! Pantangan besar bagi murid Go-bi-pai untuk mengandalkan penjagaan diri bukan dengan ilmu silat Go-bi-pai.”

”Teecu mentaati perintah Susiok,” kata Sun Hauw.

Twi Mo Siansu berpaling kepada Kiang Liat. “Sicu, sampaikan kepada sahabat baik Bu Pun Su bahwa permintaannya sudah kuterima dan kusetujui. Tentang penjagaan di bagian utara, aku berianji akan mengerahkan anak murid Go-bi-pai. Dan tentang usaha mempersatukan sahabat-sahabat segolongan, kaulihat murid Liem Sun Hauw mewakili aku dan akan berusaha mendamaikan urusan antara Kim-san-pai dan partai Bu-tong-pai.”

“Terima kasih, Locianpwe. Setelah saya melihat sikap saudara muda Liem ini, saya merasa kagum dan tertarik. Oleh karena perjalanan menuju Bu-tong-san sejalan dengan perjalanan saya, maka ingin sekali saya menemani Saudara Liem di perjalanan,” kata Kiang Liat.

Setelah membuat persiapan dan minta diri dari Twi Mo Siansu, maka berangkatlah Kiang Liat dan Liem Sun Hauw turun gunung. Mereka merupakan dua orang jantan yang sama-sama gagah perkasa, hampir seimbang kokoh kekar bentuk tubuhnya, sama-sama tampan dan gagah, hanya bedanya, Kiang Liat sudah setengah tua, rambutnya sebagian sudah putih dan mukanya sudah berjenggot berkumis, sedangkan Liem Sun Hauw masih muda, mukanya masih halus. Kiang Liat sengaja mengerahkan ilmu lari cepat dan Liem Sun Hauw yang muda tahu bahwa dirinya di”jajal” oleh utusan Bu Pun Su ini. Sudah lama Liem Sun Hauw mendengar nama besar Bu Pun Su yang dipuja-puja oleh mendiang suhunya, Thian Mo Siansu, maka sekarang ia girang sekali dapat berkenalan dengan seorang yang masih ada hubungan dengan Bu Pun Su. Melihat dirinya diuji, ia pun mengerahkan gin-kang dan berlari secepat terbang mengimbangi kecepatan Kiang Liat. Mereka menuruni Gunung Go-bi-san, melompati jurang dan melalui jalan yang sukar dengan enak saja seperti orang berlari-lari di atas tanah rata.

Kiang Liat pernah menerima latihan ilmu lari cepat Yan-cu-hui-po dari pendekar wanita sakti Bun Sui Ceng, maka dalam ilmu lari cepat, ia sudah mencapai tingkat tinggi. Oleh karena ini, biarpun Liem Sun Hauw juga lihai, masih pemuda ini kalah setingkat. Namun Kiang Liat juga tidak bermaksud membikin malu pemuda itu dan sengaja mengurangi kecepatannya agar mereka dapat jalan berendeng. Setelah bercakap-cakap, keduanya makin merasa cocok, Liem Sun Hauw yang tahu bahwa ilmu lari cepat orang tua ini masih melampauinya, merasa kagum. Ia makin merasa suka karena Kiang Liat ternyata tidak meninggalkannya dan tidak memamerkan kemenangannya.

Tiba-tiba di sebuah tikungan jalan, mereka melihat seorang tosu gemuk pendek berdiri menghadang di tengah jalan. Mereka menghentikan perjalanan dan setelah dekat, Liem Sun Hauw mengenal tosu ini sebagai murid ke dua dari Twi Mo Siansu. Melihat sikap tosu yang bermuka kuning dan bertubuh gemuk pendek ini, diam-diam Sun Hauw merasa tak enak hati.

“Agaknya Suheng ada keperluan penting maka menanti siauwte di sini,” kata Sun Hauw sambil memberi hormat.

“Memang ada keperluan penting sekali,” kata tosu itu, suaranya tinggi dan menggetar. Mendengar suara ini dan melihat muka yang kekuningan dan pucat itu, diam-diam Kiang Liat terkejut karena maklum bahwa tosu yang kelihatannya tidak seberapa ini ternyata adalah seorang seorang ahli lwee-keh yang memiliki tenaga lwee-kang tinggi. “Barangkali kau belum tahu, pinto adalah Tek Le Tojin, murid kedua dari Ciangbunjin (ketua) Gobi-pai.”

Melihat sikap ini, Sun Hauw merasa mendongkol sekali. Sikap ini menunjukkan seakan-akan dia tidak dianggap sebagai murid Go-bi-pai, melainkan dianggap sebagai tamu. “Siauwte sudah mengerti, sekarang apakah kehendak Ji-suheng?”

“Kau dipercaya oleh Suhu memikul tugas yang berat. Tadi sudah pinto saksikan kepandaianmu, akan tetapi sayang, Suhu buru-buru menahan. Oleh karena tugasmu penting sekali, pinto masih merasa penasaran dan hendak meyakinkan apakah betul-betul kau akan sanggup melakukan tugas itu karena kalau kiranya kau tidak patut menjadi wakil Suhu, masih belum terlambat kau mengembalikan tugas itu kepada Suhu.”

“Apa maksud Suheng?” tanya Sun Hauw tak senang.

“Menguji apakah betul-betul kau patut menjadi wakil Suhu!” jawab Tek Le Tojin tegas.

Mendengar ucapan tosu muka kuning yang bertubuh pendek gemuk itu, Liem Sun Hauw mengerutkan kening, hatinya tidak senang sekali.

“Suheng Tek Le Tojin, mengapa Suheng melakukan ini? Bukankah Suheng sendiri tadi sudah menyaksikan bahwa Susiok telah memberi kekuasaan kepada siauwte untuk melakukan tugas ini?”

Tek Le Tojin tersenyum menyeringai. “Suhu selalu bersikap lemah dan pemurah. Akan tetapi kali ini pinto benar-benar meragukan apakah kepercayaan Suhu kepadamu bijaksana. Kau bocah kemarin sore yang belum tahu akan seluk beluk dunia kang-ouw, bagaimanakah kau dapat menyelesaikan tugas dengan baik? Apalagi kalau diingat bahwa tugas ini amat pentingnya, yakni menjadi pendamai antara dua partai besar, Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Pinto sendiri yang sudah banyak makan garam dunia masih ragu-ragu, apakah pinto akan berhasil menunaikan tugas itu, apalagi seorang bocah macam engkau. Hemmm, apakah yang kauandalkan? Maka majulah, pinto hendak mencobamu agar hati pinto tenteram kalau kau pergi. Bagimu mungkin nama besar Go-bi-pai tidak ada artinya, namun bagi pinto dan para anak murid Go-bi-pai amat besar artinya dan harus dijaga baik-baik, kalau perlu bahkan dibela dengan taruhan nyawa!”

Sun Hauw merasa mendongkol. Ia dapat memaklumi dan dapat pula mengagumi sifat tosu yang jujur ini, yang meragukan keputusan Ketua Go-bi-pai sekali-kali bukan untuk menghinanya atau untuk membandel terhadap keputusan Twi Mo Siansu, melainkan untuk menjaga nama baik Go-bi-pai yang kini mengutus seorang anak murid yang bukan langsung belajar di Go-bi-san. Pendeknya, tosu ini tidak percaya akan kepandaiannya. Kali ini aku harus memperlihatkan kepandaianku. Pikir pemuda ini dengan hati gemas.

“Baikiah, Suheng. Kau adalah saudara tua, maka aku sebagai saudara muda mana berani membantah kehendakmu? Biarlah Kiang-lo-enghiong ini menjadi saksi bahwa ujian kepandaian ini adalah kehendakmu dan sama sekali bukan aku yang menghendaki. Maka kalau sampai Susiok marah, aku tidak mau memikul tanggung jawabnya.”

“Baik, baik, biarlah Sicu ini menjadi saksi. Nah, Liem-sute kau bersiaplah!” Sambil berkata demikian, Tek Le Tojin memasang kuda-kuda menghadapi Liem Sun Hauw. Kuda-kudanya biasa saja, kuda-kuda ilmu silat Go-bi-pai, akan tetapi kelihatan kokoh kuat seakan-akan kedua kakinya telah berakar ke dalam tanah.

Melihat pasangan kuda-kuda ini, didalam hatinya Sun Hauw tertawa geli. Bagaimana sih tosu ini? Sudah disaksikan oleh Twi Mo Siansu sendiri ketika ia dicoba oleh murid kepala Go-bi-pai, ia dapat melayani Tek Sin Tojin dengan baik. Sekarang murid kedua ini hendak mengujinya lagi dengan ilmu silat serupa. Mungkinkah murid kedua lebih pandai daripada murid pertama?

“Baiklah, Suheng. Siauwte menanti pelajaran dari Suheng!” kata Sun Hauw sambil memasang kuda-kuda pula menghadapi tosu itu.

Tek Lojin mulai menyerang sambil berseru, “Awas serangan!” dan tangannya memukul ke arah dada Sun Hauw. Pemuda ini dengan tenang lalu memindahkan kaki sambil menangkis. Akan tetapi ia kaget sekali ketika lengannya beradu dengan lengan tosu itu, karena ia merasa lengannya menjadi linu dan sakit, bahkan tenaga serangan ini demikian kerasnya sampai-sampai tubuhnya mendoyong! Ah, sekarang tahulah dia. Ji-suhengnya ini adalah seorang yang memiliki lwee-kang tinggi sekali, mugkin lebih kuat daripada Tek Sin Tojin. Sun Hauw berlaku awas dan kini tidak berani lagi ia menerima pukulan suhengnya dengan tangkisan langsung, sebaliknya ia mengandalkan kelincahan untuk mengelak dan balas menyerang. Ia memang lebih lincah, selain tubuhnya memang lebih baik bentuknya, juga pemuda ini menerima latihan gin-kang istimewa dari mendiang gurunya.

Akan tetapi lagi-lagi ia terkejut sekali karena kini setiap pukulan tangan Tek Le Tojin, biarpun tidak mengenai tubuhnya, sudah mendatangkan angin pukulan yang panas dan dahsyat! Ia tidak tahu bahwa tingkat ilmu lwee-kang dari Tek Le Tojin sudah amat tinggi dan bahwa tosu ini telah memahami ilmu pukulan berdasarkan lwee-kang tinggi yang disebut Pek-lek-ciang (Si Tangan Kilat).

Biarpun ilmu silat yang dimainkan adalah ilmu silat Go-bi-pai, namun dalam tiap pukulan Tek Le Tojin mempergunakan tenaga Pek-lek-ciang dalam usahanya mengalahkan Sun Hauw.

Sun Hauw benar-benar terdesak hebat. Dalam hal menguji dirinya, ternyata Tek Le Tojin ini bahkan lebih kejam daripada Tek Sin Tojin, karena Tek Le Tojin mendesak terus dengan pukulan-pukulan yang mengandung hawa panas dan kiranya kalau mengenai tepat pada sasarannya akan mendatangkan akibat hebat!

Karena tidak tahan menghadapi serangan dengan pukulan Pek-lek-ciang, Sun Hauw berseru keras dan kembali ia mengeluarkan ilmu pukulan yang ia pelajari dari mendiang suhunya, yakni ilmu pukulan dari Hok Peng Taisu! Benar saja, baru tiga jurus ia melawan dengan ilmu silat ini, ia dapat membuyarkan desakan Tek Le Tojin.

“Bocah lancang! Kau sudah lupa akan pesan Suhu dan kembali berani mempergunakan ilmu silat iblis ini?” bentak Tek Le Tojin!

“Suheng yang mulai lebih dulu!” bantah Sun Hauw. “Mengapa Suheng mempergunakan hawa pukulan yang panas itu? Di dalam ilmu silat Go-bi-pai tidak terdapat pukulan macam itu!”

“Begitu? Baik, kautahanlah pukulanku dengan ilmu iblismu itu!” Setelah membentak begini, Tek Le Tojin lalu memukul dengan penggunaan tenaga sepenuhnya sehingga Sun Hauw cepat-cepat harus mempergunakan kelincahan untuk mengelak. Kemudian dengan luar biasa cepatnya dan tidak kalah hebat, ia membalas dengan serangan-serangannya yang tidak dikenal gerakannya oleh Tek Le Tojin sehingga tosu ini menjadi kelabakan. Dalam marahnya, ketika kedua tangan Sun Hauw memukul dengan sepasang lengan dilonjorkan lurus ke muka, Tek Le Tojin lalu menyambut pukulan itu dengan telapak tangannya.

“Plak!” Dua pasang telapak tangan bertemu dan Sun Hauw tidak kuasa menarik kembali sepasang tangannya! Ia terkejut sekali dan mencoba untuk membetot kedua tangannya, namun sia-sia belaka. Sepasang telapak tangan Tek Le Tojin seakan-akan menyedot tangannya membuat kedua tangan Sun Hauw menjadi menempel dan perlahan-lahan Sun Hauw merasa betapa hawa panas mengalir dari kedua tangan suhengnya itu menyerang ke dadanya melalui sepasang lengannya! Ia makin terkejut dan gelisah karena sebagai seorang ahli silat tinggi maklumlah pemuda ini bahwa suhengnya sedang menyerangnya dengan tenaga lwee-kang yang tinggi, menyerang secara keji karena serangan ini kalau sampai melukai jantungnya berarti mengantar ia menghadap Giam-lo-ong (Raja Maut)! Untuk melepaskan diri tak mungkin, maka Sun Hauw lalu mengerahkan seluruh lwee-kangnya untuk melawan serangan ini. Baiknya ia pun sudah mendapat latihan lwee-kang dari mendiang suhunya dan biarpun tingkatnya masih kalah banyak dalam hal tenaga lwee-kang oleh suhengnya ini, akan tetapi setidaknya tenaganya dapat menolak kembali serangan itu dan dapat ia mempertahankan diri untuk sementara waktu. Ia hanya mengharapkan saja bahwa tosu ini takkan berlaku kejam dan akan menyudahi serangannya yang keji.

Akan tetapi harapannya ternyata kosong belakang. Tek Le Tojin tidak mengurangi serangannya, bahkan mengerahkan tenaga Pek-lek-ciang untuk rnencelakai pemuda itu. Bahkan untuk memamerkan keunggulannya dalam mengadu tenaga lwee-kang itu, ia masih membuka mulut menyindir,

“Hemm, begini sajakah orang yang hendak mewakili Go-bi-pai? Benar-benar mengecewakan dan memalukan sekali!” Diperhebat tenaganya sehingga kini muka Sun Hauw sudah penuh keringat dan kedua lengan tangannya sudah mulai gemetar!

“Sungguh mengherankan sikap tokoh Go-bi-pai!” Tiba-tiba terdengar suara menggeledek dan Sun Hauw merasa pundaknya ditepuk orang dari belakang. Seketika itu juga, tenaga yang dahsyat melalui sepasang lengannya menyerang Tek Le Tojin sehingga tosu itu merasa kedua lengannya kesemutan dan otomatis tempelannya lenyap tenaganya. Sun Hau, mempergunakan tangan sambil melompat ke belakang. Ia terhuyung-huyung dan tentu akan roboh saking lemasnya kaial saja tidak ada Kiang Liat yang cepat menahan punggungnya.

Tek Lek Tojin memandang Kiang Liat dengan sepasang mata terbuka lebar dan mulut tersenyum masam.

“Sudah menerima pelajaran dari Kiang-sicu, sungguh mengagumkan...!” Memang, yang membantu Sun Hauw tadi bukan lain adalah Kiang Liat karena pendekar ini tidak tega melihat pemuda itu diancam bahaya maut oleh tangan suhengnya sendiri. Ia merasa penasaran, dan biarpun urusan itu bukan urusannya melainkan urusan antara dua orang murid Go-bi-pai, akan tetapi ia tidak bisa membiarkan pemuda itu terbunuh begitu saja.

Setelah berkata demikian sambil menjura kepada Kiang Liat, tosu gemuk pendek itu lalu berlari naik ke puncak lagi dengan cepat.

“Sungguh berbahaya...” Sun Hauw berkata sambil menarik napas panjang, “Baiknya ada Kiang-lo-enghiong yang menolongku, kalau tidak, entah bagaimana jadinya dengan nasibku. Terima kasih banyak, Kiang-lo-enghiong.”

“Sudahlah, aku tidak bisa membiarkan dia berbuat kejam begitu saja. Dia seorang jujur dan pandai, sayang sekali terlalu keras. Pantas saja Twi Mo Siansu memilih Tek Sin Tojin sebagai calon pengganti ketua, padahal Tek Le Tojin lebih berbakat untuk menjadi seorang ahli silat tinggi.”

Karena baru saja Sun Hauw harus mengerahkan seluruh tenaga lwee-kangnya dan tekanan Tek Le Tojin sudah menyerang hebat, maka ia perlu beristirahat untuk memulihkan kekuatannya. Kiang Liat mengajaknya beristirahat di bawah pohon dan sambil beristirahat mereka bercakap-cakap. Kiang Liat makin suka kepada pemuda ini, sebaliknya Liem Sur Hauw makin menghormat karena kini ia baru ia tahu betul bahwa utusan Bu Pun Su ini adalah seorang berkepandaian tinggi.

“Agaknya Suheng Tek Le Tojin, seperti juga Suheng Tek Sin To tidak senang kepadaku karena aku murid Thian Mo Siansu. Dalam hal ini terdapat hal tertentu,” Sun Hauw bercerita, “Dahulu Suhuku, Thian Mo Siansu, menjadi ketua dari Go-bi-pai dibantu oleh Susiok Twi Mo Siansu. Peraturan dari partai Go-bi-pai amat keras dan ketinggalan jaman, maka anak murid Go-bi-pai menjadi kaku-kaku dan cara hidupnya melebihi pendeta-pendeta yang selama hidupnya dikeram di dalam kuil. Suhuku tidak menyetujui peraturan-peraturan ini dan setelah ia menjadi ciangbunjin, sedikit demi sedikit ia hendak merubahnya. Pendeknya ia hendak menjadi pencipta aliran baru untuk menyesuaikan keadaan partai dengan kemajuan jaman. Akan tetapi, Susiok Twi Mo Siansu adalah seorang penganut aliran lama dalam peraturan Go-bi-pai yang amat kukuh sehingga mulailah terjadi bentrokan paham antara Suhu dan Susiok.

Perubahan yang hendak dilakukan oleh Suhu antara lain bahwa Suhu hendak memperkembangkan ilmu silat Go-bi-pai ke dunia ramai agar ilmu dari Go-bi-pai tidak hanya dimiliki oleh para pendeta saja, akan tetapi dapat dipergunakan oleh orang-orang untuk membasmi kejahatan di dunia kang-ouw. Hal ini ditentang keras oleh Susiok yang mengkhawatirkan kalau-kalau ilmu silat partai Go-bi-pai akan terjatuh ke dalam tangan orang jahat dan akhirnya orang itu akan merusak nama baik Go-bi-pai. Pendirian Susiok ini disokong oleh hampir semua tosu di dalam kuil.”

Kiang Liat mengangguk-angguk. “Dua macam pendirian, namun keduanya memiliki kebenaran masing-masing. Suhumu benar karena apakah artinya para guru besar Go-bi-pai dahulu susah payah menciptakan ilmu-ilmu yang tinggi kalau hanya disimpan di dalam kuil dan tidak dipergunakan untuk kebaikan umat manusia? Sebaliknya, susiokmu juga benar karena memang bahaya yang dikhawatirkan itu mungkin sekali terjadi. Akan tetapi, sebetulnya perbedaan faham dapat dipecahkan dengan jalan tengah, misalnya, biarpun boleh menerima murid dari luar, akan tetapi dilakukan pemilihan yang keras dan setiap murid diharuskan belajar di puncak Go-bi-san.”

“Sayang dahulu tidak ada Lo-enghio yang memberi nasihat kepada Suhu dan Susiok. Akan tetapi, pertikaian itu pun tidak berlarut-larut karena Suhu yang amat sayang kepada Susiok, lalu meninggalkan Go-bi-san dan menyerahkan kedudukannya kepada Susiok. Suhu sendiri lalu turun gunung merantau dan menerima beberapa orang murid di dalam perantauannya, di antaranya aku sendiri menjadi muridnya yang terakhir sampai Suhu meninggal di kampungku.”

“Di manakah kampungmu?”

“Kampungku Pek-kan-mui terletak di Propinsi Shansi, di lembah Sungai Huang-ho. Suhu tinggal di sana sampai tujuh tahun. Aku muridnya tunggal dan terakhir. Bahkan Suhu tinggalnya juga di rumahku, di mana aku tinggal berdua dengan Ayah yang sudah menjadi duda. Ibuku sudah meninggal dunia semenjak aku berusia lima tahun. Kemudian karena sakit dan sudah amat tua, Suhu meninggal dunia dan berpesan agar supaya aku naik ke Go-bi-san dan memperkenalkan diri kepada Susiok serta memberi tahu tentang kematian Suhu.”

Kiang Liat tertarik sekali mendengar penuturan Sun Hauw. Apalagi ketika mendengar keadaan pemuda ini yang tidak mempunyai ibu lagi. Diam-diam ia membandingkan keadaan pemuda ini dengan keadaan puterinya. Timbul rasa sayang dan suka di dalam hatinya kepada pemuda ini dan timbul keinginan hatinya untuk mengambil Sun Hauw sebagai mantunya, dijodohkan dengan Kiang Im Giok. Sebaliknya, Sun Hauw yang merasa kagum sekali kepada Kiang Liat, juga ingin mengetahui keadaan rumah tangga Kiang Liat lebih jelas.

“Kalau aku boleh bertanya, Lo-enghiong tinggal di manakah dan sebenamya Lo-enghiong yang lihai ini murid siapakah?”

Kiang Liat tersenyum. “Aku ahli waris ilmu silat keluarga Kiang dan selain itu, juga aku pemah menjadi murid Suhu Han Le, juga pernah menerima pelajaran dari pendekar wanita sakti Bun Sui Ceng dan Supek Bu Pun Su pemah pula memberi pelajaran kepadaku.”

“Aduh, pantas saja Lo-enghiong begini lihai...” Sun Hauw berseru kagum dan menjura memberi hormat. “Harap maafkan kalau siauwte tadi berlaku kurang hormat.”

“Hushh, mengapa banyak sungkan-sungkan? Apa sih artinya kepandaian? Betapapun tinggi Gunung Thai-san, masih ada langit yang berada di atasnya! Betapapun pandainya seseorang, pasti ada yang lebih pandai daripadanya. Kita sudah menjadi sahabat apa perlunya berlaku sheji (sungkan)?”

“Terima kasih atas kepercayaan Lo-enghiong kepadaku yang muda dan bodoh. Di manakah Lo-enghiong tinggal? Siapa tahu kelak kalau ada waktu, aku akan datang berkunjung.”

“Rumahku di Sian-koan dan di sana aku hanya tinggal berdua dengan puteri tunggalku, ibunya sudah meninggal dunia semenjak anakku masih kecil sekali...” Kiang Liat menarik napas panjang dan meramkan mata karena teringat akan isterinya yang tercinta.

“Ahhh aku ikut menyesal sekali akan nasibmu yang malang, Lo-enghiong...” cepat-cepat Sun Hauw menghibur melihat keadaan Kiang Liat.

Pendekar ini membuka kedua mata, bibimya memaksa tersenyum akan tetapi kedua matanya basah. “'Terima kasih, kau baik sekali, Liem-sicu.”

“Namaku Sun Hauw, harap Lo-enghiong jangan sungkan-sungkan menyebut namaku dan menganggap aku sebagai sahabat baik atau keluarga sendiri. Sungguh tidak enak mendengar Lo-enghiong bersungkan dan menyebutku Liem-sicu!”

“Baiklah Sun Hauw, kau memang seorang pemuda yang baik. Mudah-mudahan saja hidupmu bahagia, jangan seperti aku...”

Melihat betapa Kiang Liat kembali akan terbenam dalam kesedihan, Sun Hauw yang pandai membawa diri itu berkata, dengan maksud menghibur Kiang Liat, membawa orang tua itu kepada kenangan yang menggembirakan. “Loenghiong, kau begini gagah perkasa, sudah tentu puterimu juga memiliki kepandaian tinggi, bukan?”

Maksud Sun Hauw berhasil. Kini setelah teringat akan puterinya, berserilah lagi wajah Kiang Liat, matanya bersinar-sinar gembira. Bukan hanya dapat membikin Kiang Liat untuk sementara melupakan isterinya yang sudah meninggal, bahkan pertanyaan ini menimbulkan kembali niatnya semula, yakni memungut mantu pemuda yang tampan dan gagah lagi menyenangkan hati ini.

“Kaumaksudkan puteriku Im Giok? Ha, ha, orang sudah memberi julukan padanya Ang I Niocu! Salahnya sendiri, dia sejak kecil suka memakai pakaian serba merah sih. Kepandaiannya? Ah, dia memang beruntung, Supek Bu Pun Su sendiri berkenan memberi beberapa ilmu silat yang luar biasa kepadanya. Tentang kepandaiannya pada waktu ini kalau mau diukur, tingkatnya malah lebih tinggi daripada tingkat kepandaianku!”

Diam-diam Sun Hauw terkejut. Bukan main! Kepandaian Kiang Liat sudah begini hebat, dan sekarang Kiang Liat sendiri mengaku bahwa kepandaian puterinya yang bemama Ang I Niocu Kiang Im Giok itu lebih tinggi lagi?

“Lo-enghiong benar-benar berbahagia dan keluarga Lo-enghiong adalah keluarga gagah perkasa. Benar-benar membuat siauwte tunduk dan kagum,” kata Sun Hauw.

“Sun Hauw, kau sendiri apakah sudah menikah?”

Ditanya tentang ini secara tiba-tiba, pemuda itu membuka lebar-lebar matanya, kemudian mukanya berubah merah dan ia menggeleng kepala.

“Belum Lo-enghiong.” “Hemm, usiamu kurasa sudah lebih dua puluh dan sudah sepatutnya kalau sudah mempunyai jodoh.”

“Siauwte berusia dua puluh dua tahun, akan tetapi siauwte yang miskin ini mana berani menyeret anak orang lain dalam jurang kesengsaraan dan kemiskinan?”

Jawaban ini menyenangkan hati Kiang Liat.

“Kata-katamu itu mencerminkan watakmu yang baik, Sun Hauw. Sebagai seorang gagah harus berani bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Akan tetapi ucapanmu itu tidak betul. Bukan kemiskinan yang mendatangkan kesengsaraan dalam perjodohan, melainkan ketidakrukunan atau ketidakcocokan keadaan dan watak. Sudah lama sekali aku mencari-cari calon jodoh puteraku, akan tetapi karena aku takut kalau-kalau wataknya tidak cocok, maka sampai sekarang aku masih belum menemukan orangnya. Anakku memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi, tentu ia mengutamakan kegagahan seperti semua keluarga kami.

Selain ini, tentang muka, hmmm… bagiku, di muka bumi ini, kecuali mendiang ibunya, tidak ada wanita yang secantik dia! Sun Hauw, aku Kiang Liat paling suka bicara terus terang. Sampai sekarang belum pernah aku bertemu dengan seorang pemuda yang patut menjadi jodoh Im Giok. Dan sekarang aku bertemu dengan engkau. Aku suka sifat-sifatmu, aku melihat kau seorang pemuda yang cukup tinggi ilmu silatmu, bakatmu baik, dan kau mengutamakan kegagahan pula. Kau tampan dan gagah, kiranya pantas sekali menjadi calon jodoh puteriku.”

Mendengar kata-kata ini bukan main bingung dan jengahnya pemuda itu. Mukanya menjadi merah seperti udang direbus dan ia hanya tersenyum malu-malu dan tidak berani langsung menatap wajah Kiang Liat.

“Bagaimana, anak muda? Bersediakah kau menjadi calon suami puteriku?” Didesak begini, Sun Hauw tak dapat menjawab, hanya memandang ragu dan bingung. Akhimya dapat juga ia menjawab,

“Maaf, Lo-enghiong. Urusan ini datangnya begini tiba-tiba sehingga aku tak tahu bagaimana harus menjawab. Kiranya perlu dipikirkan lebih masak dan sekembaliku dari Bu-tong-san aku akan singgah di Sian-koan dan memberi jawaban keputusan.”

Kiang Liat mengangguk-angguk gembira. “Baiklah, tentu saja demikian! Asal ada kesanggupan darimu, hatiku sudah puas. Memang, syarat dalam perjodohan bukan hanya tergantung dari persamaan watak, akan tetapi juga kecocokan hati! Aku tahu keadaan hati orang-orang muda jaman sekarang. Dan tentu saja kau belum puas mendengar kata-kataku kalau kau belum melihat sendiri orangnya. Ha, ha, ha! Baiklah, Sun Hauw, aku menunggu kedatanganmu secepat mungkin dan aku berani bertaruh potong kepala bahwa sekali kau melihat Im Giok, kau takkan dapat tidur nyenyak lagi. Ha, ha, ha!”

“Aku yang bodoh menghaturkan banyak-banyak terima kasih atas budi kecintaan dari Lo-enghiong yang dilimpahkan kepadaku. Semoga Thian menjaga sehingga aku kelak tidak akan mengecewakan hati Lo-enghiong yang berbudi mulia, dan selama nyawa di kandung badan, aku takkan melupakan Lo-enghiong. Aku bersumpah untuk datang ke Sian-koan setelah selesai tugas yang diserahkan kepadaku.”

Demikianlah, dengan hati girang dan penuh harapan, Kiang Liat berpisah dari Sun Hauw. Ia menuju pulang ke Sian-koan, sedangkan Sun Hauw melanjutkan perjalanannya ke Bu-tong-san.

***

Giok-gan Niocu Song Kim Lian semenjak kecilnya memang sudah memiliki sifat-sifat kurang baik dari seorang gadis, yakni centil genit dan kadang-kadang bersifat cabul. Di dalam hatinya ia boleh dibilang gila lelaki dan pikirannya penuh oleh bayangan pemuda-pemuda tampan. Selama ia tinggal bersama gurunya dan sumoinya, ia masih tak dapat berbuat sesuka hatinya karena takut kepada gurunya, juga takut dan segan kepada Kiang Im Glok. Akan tetapi, setelah gurunya dan sumoinya pergi dalam waktu berbareng, yakni Im Giok pergi mengantar Gan Tiauw Ki ke Tiang-hai sedangkan Kiang Liat oleh Bu Pun Su disuruh ke Go-bi-san, keadaan Song Kim Lian laksana kuda betina liar tidak dipasangi kendali lagi! Ia bersuka-suka dan bermain-main dengan para pemuda kota Siang-koan yang boleh dibilang semua memujanya karena dia memang cantik jelita lagi genit. Setiap hari Kim Lian bersama serombongan pemuda tampan yang kerjanya hanya hilir mudik menjual tampang, pemuda-pemuda anak orang kaya yang tidak mempunyai pekerjaan apa-apa kecuali mengatur pakaian dan merawat muka seperti perempuan, pergi berpesiar sambil bergurau gembira. Penduduk-penduduk tua di Sian-koan menggeleng kepala menyaksikan kejanggalan ini, akan tetapi siapakah berani menegur Giok-gan Niocu Song Kim Lian yang selain memiliki kepandaian tinggi juga menjadi murid Jeng-jiu-sian Kiang Liat, pendekar besar di Sian-koan?

Perjalanan Im Giok dan Kiang Liat memakan waktu lama. Hal ini diketahui baik oleh Kim Lian dan karenanya membuat ia menjadi makin berani dan binal. Gadis yang merasa tidak ada orang yang akan berani menegurnya ini bahkan menjadi demikian binal sampai-sampai pada suatu hari ia mengundang belasan orang pemuda pemogoran untuk datang di taman bunga gedung gurunya untuk berpesta dan bergembira! Para pelayan di rumah gedung keluarga Kiang tentu saja tidak ada yang berani menegur, bahkan mereka ikut bergembira. Para pemuda itu menikmati hidangan dan arak, dan puncak kegembiraan itu adalah ketika dengan pakaian yang ringkas mencetak bentuk tubuhnya yang menggairahkan, Kim Lian keluar dan bermain silat pedang di tengah-tengah taman. Dengan gerakan-gerakan indah dan tubuhnya yang lincah, Kim Lian sengaja berpamer, tidak saja memamerkan ilmu pedangnya, akan tetapi terutama sekali memamerkan kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya kepada belasan pasang mata yang memandang dengan kagum sehingga beberapa di antaranya hampir copot dan melompat keluar dari kepala!

Tepuk tangan riuh-rendah dan sorak-sorai gembira setiap kali terdengar menyambut setiap jurus atau gerakan yang dianggap indah. Kim Lian sengaja tidak mau bersilat dengan gerak cepat, melainkan bersilat perlahan-lahan dan lambat-lambatan agar setiap gerakannya dapat “dinikmati” oleh pandang mata kawan-kawannya.

Selagi para pemuda itu ketawa-tawa dan bertepuk tangan memuji Kim Lian yang sedang bersilat dengan bibir merah tersenyum-senyum manis dan mata jeli, melirik-lirik genit, tiba-tiba berkelebat bayangan merah yang tidak terlihat oleh para pemuda itu, akan tetapi terlihat oleh mata Kim Lian yang terlatih. Seketika wajah Kim Lian memucat dan gerakan silatnya berhenti.

“Suci...!!” Setelah terdengar suara ini, barulah semua pemuda yang berada di situ menengok dan memandang ke belakang dan di situ berdiri seorang gadis berpakaian merah, gadis cantik jelita yang sudah lama menjadi idaman para pemuda itu, yang sudah lama pula menjadikan mereka merindu, akan tetapi tidak berani menyatakan karena Ang I Niocu Kiang Im Giok bukan gadis sebangsa Kim Lian. Dengan adanya Im Giok, kecantikan Kim Lian yang tadi dikagumi menjadi layu.

“Pergi kalian orang-orang tak beradab!” bentak Im Giok sambil menghunus pedang menggertak rombongan pemuda itu.

Maka pergilah mereka seorang demi seorang dengan kepala tunduk dan kaki menggigil, bagaikan anjing-anjing diusir dan diancam dengan pecut. Kalau saja mereka itu berekor tentu masing-masing menyembunyikan ekor di bawah kaki belakang. Para pelayan juga bubar ketakutan, mengerjakan pekerjaan masing-masing.

“Sumoi... kau sudah datang? Ah, mereka itu... eh, aku... aku kesepian setelah kau dan Suhu pergi, maka hendak mengadakan sedikit pesta...”

“Mengapa mendatangkan orang-orang lelaki melulu? Suci, kau benar-benar keterlaluan. Kalau tidak merubah sifat macam ini, aku khawatir sekali kelak kau akan terjerumus...”

“Mereka... mereka itu mengagumiku, mengagumi ilmu pedangku, mengagumi kepribadianku dan, aku... aku senang sekali mereka kagumi. Apa salahnya itu, Sumoi” Kim Lian mencoba membantah.

Im Giok menghela napas, kehabisan akal. Memang ia sudah tahu akan sifat kakak seperguruannya ini yang agak “mata keranjang”.

“Sudahlah, masih baik aku yang mendapatkan kau mengundang mereka itu ke sini. Kalau Ayah yang datang tidak saja kau mendapat marah besar, mungkin mereka itu akan ditampar seorang demi seorang.”

“Hi-hi-hi, aku ingin melihat muka mereka kalau ditampar oleh Suhu. Tentu sekali tampar menjadi bengkak seperti semangka,” kata Kim Lian genit. “Sebetulnya aku pun tidak suka dengan pemuda-pemuda lemah seperti mereka. Akan tetapi dimanakah mencari pemuda gagah seperti Suhu di waktu muda? Karena tidak ada yang demikian, mereka itu untuk kawan pun... bolehlah...”

“Cukup! Suci, mengapa bicaramu seperti itu? Sudah, aku tidak sudi mendengar lagi. Lekas kau berganti pakalan yahg pantas dan membantu aku melayani tamu yang kini sudah duduk di ruang tamu.”

“Siapa?” tanya Kim Lian terheran.

Wajah Im Giok berubah merah. Baiknya waktu itu hari sudah mulai gelap sehingga warna kemerahan yang menjalar kedua pipinya itu tidak kelihatan oleh Kim Lian.

“Dia adalah Gan-siucai.”

“Ooo, diakah? Yang kauantarkan ke Tiang-hai? Yang dulu kita tolong dari tangan perampok?”

Im Giok mengangguk. “Benar, dia datang mengunjungi kita untuk bertemu dengan Ayah dan menghaturkan terima kasih atas pertolongan Susiok-couw Bu Pun Su. Lekas kau berganti pakaian.”

“Apa Suhu belum pulang juga?” tanya Kim Lian.

“Kalau dia tidak berada di sini tentu berarti belum pulang, aku baru saja datang, mana aku bisa tahu?” jawab Im Giok yang masih mendongkol melihat kelakuan sucinya yang ditinggal seorang diri di rumah. Ia akan perlahan-lahan membicarakan tentang sikap sucinya ini dengan ayahnya, karena kalau dibiarkan saja, bisa berbahaya nasib hidup sucinya ini.

Setelah Kim Lian muncul lagi, Im Giok makin mendongkol saja. Sucinya benar-benar terlalu. Sekarang menghadapi Tiauw Ki, sucinya telah berganti pakaian indah dan baru, mukanya dibedaki tebal dan bibir serta pipinya dimerah-merah! Dengan gerakan genit menarik Kim Lian memberi hormat kepada Tiauw Ki yang juga sudah berdiri dan memberi hormat, lalu Kim Lian berkata dengan suara halus merdu,

“Ah, kiranya Gan-siucai yang menjadi tamu agung! Gan-siucai, apakah kau masih ingat kepadaku?”

Tiauw Ki tersenyum “Tentu saja Lihiap. Bagaimana aku bisa lupa kepada Lihiap yang pernah menolong nyawaku!”

Kim Lian mengeluarkan suara ketawa, “Ah, bisa saja kau, Gan-siucai. Bukan kau yang harus berkata demikian, sebaliknya akulah yang masih berterima kasih kepadamu. Kau telah memperlihatkan pembelaan besar sekali kepadaku di hadapan Susiok-cow Bu Pun Su. Budimu itu yang demikian besarnya, sampai mati pun aku Song Kim Lian takkan dapat melupakannya!” Sambil berkata demikian, ia tersenyum dan pandang matanya menyambar dalam kerling yang penuh arti. Memang sepasang mata gadis ini amat indah dan tajam, maka aksinya ini tentu amat menarik hati, karena keindahan matanya maka ia diberi julukan Giok-gan Niocu (Nona bermata Kemala).

Melihat sikap Kim Lian ini, diam-diam Tiauw Ki merasa kurang senang dan tidak enak hati, akan tetapi pemuda ini lalu merendahkan diri dengan sikap sopan. Kemudian ia berkata kepada Im Giok,

“Karena Kiang-lo-enghiong belum pulang, biarlah aku pergi dulu dan aku akan menanti kedatangannya di rumah penginapan. Mudah-mudahan saja ia akan datang tak lama lagi.”

Im Giok juga mendongkol melihat sikap sucinya, maka memang lebih baik kalau kekasihnya itu lekas-lekas pergi dari depan Kim Lian. Maka katanya,

“Baikiah Gan-ko. Rumah penginapan Liok-nam di ujung barat kota adalah rumah penginapan terbesar dan baik, harap kau bermalam di sana. Nanti kalau Ayah sudah pulang, tentu akan kuberi kabar kepadamu.”

Tiauw Ki memberi hormat lalu meninggalkan gedung keluarga Kiang. Setelah pemuda itu pergi, Kim Lian lalu memegang tangan Im Giok.

“Eh, Sumoi yang manis. Agaknya ada apa-apanya antara dia dan kau!” Wajah Im Giok menjadi merah sekali.

“Jangan main-main, Suci. Betapapun juga, aku dan dia tetap menjaga kesopanan.”

“Aha, jadi benar ada apa-apanya? Nah, aku dapat membayangkan... aduh, aku tahu, aku dapat menduga... hi-hi-hi-hi...!”

“Suci, jangan sembarangan bicara! Apa yang kau tahu? Apa yang kaubayangkan dan kauduga?”

“Ah, begitu mesra, adduuuhhh...” Kim Lian menggoda sambil menaruh kedua tangan di kanan kiri pipinya.

“Suci, jangan bikin aku marah. Jangan kau menduga yang bukan-bukan! Aku bukan perempuan macam itu. Apa yang kauduga?”

“Sumoi, apa salahnya kalau kau suka dia yang tampan dan dia suka kau yang cantik?”

“Kau menyangka keliru!”

“Yang betul bagaimanakah?” Kim Lian memancing.

“Takkan kuceritakan padamu!” Im Giok berpura-pura marah.

“Ah, begitu? Adikku yang baik, kalau begitu aku tetap menduga yang bukan-bukan. Kalau kau tak bercerita terus terang kepadaku, bagaimana aku dapat menghentikan dugaanku sendiri? Hmmm, dapat kubayangkan betapa mesranya...” kembali Kim Lian menggoda.

“Suci Kim Lian, jangan kau main-main. Dia datang mau bertemu dengan Ayah untuk... meminangku. Ini sungguh-sungguh bukan main-main!”

“Aaaahh... begitukah?” Kim Lian memeluk sumoinya. “Adikku yang manis, kau harus menceritakan pengalamanmu kepadaku bagaimana kau sampai mengikatkan diri dan begitu mudah menjatuhkan pilihan?”

Keduanya memasuki kamar dan di dalam kamar itu dua orang gadis ini bicara kasak-kusuk. Im Giok menceritakan pengalaman-pengalamannya dengan Tiauw Ki yang penuh bahaya.

“Dia seorang berbudi mulia, Suci. Sudah terbukti berkati-kali cinta kasihnya yang besar kepada diriku, dan sudah beberapa kali ia rela mengorbankan keselamatannya demi untuk menolongku. Kurasa di dunia ini tidak ada orang ke dua sebaik dia.”

Terdengar isak tangis dan Kim Lian memeluk adiknya sambil menangis.

“Eh, Suci, mengapa kau menangis?” tanya Im Giok terheran sambil memegang pundak sucinya.

“Adikku... aku girang sekali... akan tetapi, apakah kau tidak terlalu tergesa-gesa? Kalau kau... menikah dan pergi, bagaimana dengan diriku? Sumoinya sudah menikah dan sucinya belum, apa akan kata orang...?”

Tahulah kini Im Giok mengapa Kim Lian menangis.

“Suci, apa salahnya hal itu? Kita bukan saudara kandung, dan hubungan kita hanyalah sumoi dan suci dari keluarga lain. Siapa yang lebih dulu keluar pintu tidak merupakan halangan apa-apa.” Ia menghibur dan diam-diam di dalam hatinya berdebar karena ia sendiri masih belum dapat menentukan apakah ayahnya akan menerima pinangan Tiauw Ki.

Anehnya, semenjak Im Giok datang, Kim Lian selalu kelihatan tidak gembira, bahkan setiap hari ia keluar tanpa mengajak Im Giok, menunggang kuda seorang diri. Tadinya Im Giok menaruh curiga dan diam-diam ia mengikuti sucinya, akan tetapi temyata setelah Im Giok pulang, Kim Lian tidak berani main gila lagi dan kepergiannya hanya untuk menunggang kuda keluar kota dan kembali lagi, hanya untuk memuaskan keinginannya dan ketenangannya menunggang kuda. Akan tetapi diam-diam Im Giok mengerti bahwa sucinya itu tidak senang hati, mungkin sekali iri hati karena hubungannya dengan Tiauw Ki. Akan tetapi apakah yang dapat ia lakukan.

Setiap hari Im Giok menyuruh seorang pelayan pergi ke rumah penginapan Liok-nam, mengantar makanan atau apa saja kepada Tiauw Ki. Padahal, ini hanya untuk alasan saja, sebenamya ia ingin mendengar dari pelayannya bahwa keadaan pemuda itu baik-baik saja, dan terutama sekali bahwa kekasihnya itu masih berada di rumah penginapan Liok-nam!

Pada hari ke lima, menjelang senja, ia mendengar suara ayahnya di luar rumah. Cepat Im Giok berlari keluar dan benar saja, ia melihat ayahnya sudah pulang dan agaknya bertemu di tengah jalan dengan Kim Lian, karena pulangnya bersama sucinya itu. Wajah Kiang Liat muram sekali dan begitu mereka memasuki ruangan dalam dan di mana tidak ada pelayan hadir, Kiang Liat memandang kepada puterinya dan bertanya,

“Im Giok, apa sih artinya hubunganmu yang gila-gilaan dengan manusia kutu buku she Gan itu?” Suaranya menyatakan bahwa orang tua itu menahan-nahan kemarahannya.

Im Giok kaget sekali dan menoleh kepada Kim Lian, pandangan matanya tajam menusuk. Kim Lian tersenyum dan berkata kepadanya,

“Benar, Sumoi. Sudah tak tahan lagi hatiku dan aku menceritakan kabar girang itu kepada Suhu tadi...”

“Kabar girang...?? Gila betul! Kim Lian, keluarlah kau, biar aku bicara sendiri dengan Im Giok!” kata Kiang Liat makin marah mendengar kata-kata ini Kim Lian membungkuk dan berkata,

“Baiklah, Suhu.” Kemudian ia keluar dari kamar itu dan dari pinggir Im Giok dapat melihat bayangan senyum di sudut bibir sucinya.

Setelah Kim Lian pergi, Kiang Liat menjatuhkan diri di atas kursi dan berkatalah dia, suaranya kini agak sabar,

“Coba kauberi penjelasan, Im Giok. Kuharap saja cerita Kim Lian tadi tidak betul adanya. Benarkah kau mempunyai hubungan dengan seorang siucai she Gan dan yang kini datang untuk melamarmu?”

Muka Im Giok sebentar pucat sebentar merah. Macam-macam perasaan teraduk-aduk dalam hati dan pikirannya. Akan tetapi ia segera dapat menetapkan hatinya dan berkatalah ia dengan suara tenang,

“Ayah, harap kau suka tenangkan hati dan bersabar. Hal ini ada ceritanya panjang lebar.”

“Tidak peduli aku akan cerita panjang lebar, pendeknya apakah benar kau ada hubungan dengan kutu buku terkutuk yang bisanya cuma membaca menulis dan menjual tampang itu?”

Mata Im Giok menjadi merah. Ia tahu bahwa kadang-kadang ayahnya juga suka marah-marah seperti itu, akan tetapi belum pemah terhadap dia ayahnya marah-marah tanpa alasan. Sebaliknya dia sejak kecil dibawa oleh Pek Hoa Pouwsat dan setelah kembali bersama ayahnya, ia dimanja secara luar biasa oleh ayahnya, maka ia pun agak berani membantah ayahnya.

“Ayah, bagaimana kau bisa memaki-maki orang yang sama sekali tidak pernah kaulihat dan kenal?” kini gadis itu membantah marah. Biasanya kalau sudah melihat puterinya berdiri menentangnya dengan alis terangkat, mata berapi dan dada dibusungkan ini, hati Kiang Liat menjadi lemah. Alangkah besar persamaan wajah Kiang Im Giok dengan Song Bi Li, isterinya! Dan biasanya kalau Im Giok sudah menentang dan marah, Kiang Liat selalu mengalah dan menuruti kehendak gadis itu. Akan tetapi sekarang tidak demikian, Kiang Liat bahkan berkata keras,

“Tak usah dilihat, tak usah dikenal! Laki-laki kutu buku dan cacing tinta tidak ada yang baik, semua berhati palsu bermulut manis tak dapat dipercaya! Jangan kau dekat-dekat dengan dia!”

“Akan tetapi, Ayah. Gan-siucai bukan orang macam itu. Dan aku bahkan diberi tugas oleh Susiok-couw untuk mengantarnya ke Tiang-hai!”

Kiang Liat tertegun. Dia sudah mendengar dari Bu Pun Su ketika kakek sakti itu datang mengunjunginya bahwa Im Giok memang diberi tugas mengawal utusan Kaisar ke Tiang-hai? Jadi utusan Kaisar itu pemuda inikah?”

“Hemmm, mana ada utusan Kaisar kutu buku yang lemah?” ia berkata kepada Im Giok, agak tak percaya.

“Ayah terlalu mengandalkan kepandaian menggerakkan pedang! Sebetulnya di antara para penggerak pensil juga tidak kurang terdapat orang-orang berjiwa kesatria dan bersemangat api! Gan-siucai betul-betul utusan Kaisar biarpun dia memang tidak mengerti ilmu silat sama sekali. Akan tetapi jiwanya besar, Ayah.” Melihat ayahnya diam saja, Im Giok lalu menuturkan pengalaman-pengalamannya ketika ia mengantar Gan Tiauw Ki ke Tiang-hai lalu ke kota raja. Dituturkan semua pengalamannya itu dengan singkat dan terutama sekali ia menonjolkan sikap kekasihnya yang gagah berani dalam membelanya.

Kiang Liat tidak kelihatan tertarik. Ia hanya beberapa kali menggeleng kepala, bahkan memberi komentar tidak puas setelah penuturan puterinya selesai. “Kalau dia bukan kutu buku, kalau dia seorang yang berkepandaian tinggi, tak mungkin kau sampai dihina orang, tak mungkin kau menghadapi ancaman bahaya besar. Dan sekarang dia datang hendak melamarmu?”

Im Giok menundukkan mukanya, lalu menjawab lirih. “Demikianlah kehendaknya.”

“Tidak bisa! Kausuruh saja pelayan memberi tahu dia bahwa dia boleh lekas-lekas pulang dan jangan sekali-kali berani datang lagi ke sini!”

Im Giok mendengar kata-kata ini menjadi pucat. “Ayaaaahhh...!” serunya, setengah marah setengah terkejut.

Ayahnya menggeleng-geleng kepalanya. “Tidak bisa, kau sudah mempunyai calon suami. Kau sudah kujodohkan dengan seorang pemuda yang gagah perkasa, murid terpandai dari Go-bi-pai yang bernama Liem Sun Hauw. Dia gagah perkasa, berkepandaian tinggi, berwajah tampan, pendeknya tidak kalah oleh ayahmu di waktu muda. Dia patut menjadi suamimu, sama rupawan, sama perkasa. Apa itu kutu buku yang lemah terkena angin sedikit saja jatuh sakit? Tidak...!”

Makin lama sepasang mata Im Giok makin berapi-api ketika ia mendengarkan kata-kata ayahnya.

“Tidak...!” katanya keras sekali sambil membanting kakinya ke atas lantai, dan saking kerasnya gadis ini mengerahkan tenaga, lantai itu sampai hancur dan kakinya melesak ke dalam. “Sekali lagi tidak! Aku tidak sudi menikah dengan dia!”

“Im Giok…!”

“Aku yang hendak menikah, bukan Ayah! Kalau Ayah memaksa, aku akan lari, minggat bersama Gan-siucai!” Setelah berkata demikian, sambil terisak menangis Im Giok lari memasuki kamarnya di mana ia membanting tubuhnya di atas pembaringan, menyembunyikan muka di bawah bantal dan menangis tersedu-sedu.

Kiang Liat berdiri tak bergerak seperti patung, mukanya pucat dan matanya memandang ke arah pintu kamar anaknya tak berkedip. Kata-kata lari minggat meninggalkannya amat menusuk hatinya dan mendatangkan rasa sakit bukan main. Lalu menimbulkan rasa takut dan khawatir kalau-kalau anaknya benar akan pergi meninggalkannya.

Dengan langkah terhuyung-huyung ia pergi ke kamar anaknya, memasuki kamar itu dan hampir saja ia terguling kalau tidak cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut di tengah kamar, dekat pembaringan anaknya.

Pikirannya tidak karuan rasanya, matanya dipejamkan dan di dalam otak ia merasa segala sesuatu terputar-putar. Jantungnya berdenyut-denyut keras amat nyeri dan telinganya penuh oleh suara seperti angin badai mengamuk. Bibimya bergerak-gerak dan terdengar kata-katanya seperti mabuk,

“Jangan tinggalkan aku... jangan tinggalkan aku seorang diri...!”

Im Giok sudah duduk di atas pembaringan dengan muka pucat. Tangisnya dalam sekejap berhenti dan kini ia memandang kepada ayahnya. Tadinya ia tidak tahu apa artinya sikap ayahnya seperti ini, akan tetapi akhimya ia mengerti.

Selama ini ayahnya memang bersikap aneh dan kadang-kadang mendekati sikap gila, menangis dan tertawa seorang diri di dalam kamar. Kadang-kadang memanggii-manggil nama ibunya. Dan sekarang, ayahnya bersikap seperti ini karena dia hendak meninggalkan ayahnya!

“Ayaah...” Im Giok menubruk dan menangis di dada ayahnya “Ayaah, tidak… aku tidak akan meninggalkanmu, Ayah…”

Dua titik air mata turun membasahi pipi Kiang Liat ketika ia membuka matanya. Didekapnya kepala anaknya itu pada dadanya erat-erat, seperti orang merasa takut kalau-kalau mustikanya dirampas orang.

“Im Giok, anakku sayang benar-benar kau tidak akan meninggalkan aku...” tanyanya dengan suara berbisik.

Im Giok terisak menahan tangisnya. “Tidak Ayah, asal saja Ayah jangan memaksa aku menikah dengan Liem Sun Hauw murid Go-bi-pai itu...”

Kiang Liat menarik napas panjang, lalu menarik anaknya berdiri. Dipandangnya wajah anaknya dan bentuk tubuhnya, lalu ia menghela napas lagi.

“Im Giok, kau serupa benar dengan ibumu... Aku tidak rela memberikan engkau kepada orang yang tidak pantas menjadi suamimu...”

“Tapi aku tidak mau menikah dengan anak Go-bi itu, Ayah,” kata Im Giok manja.

Kiang Liat tersenyum pahit. “Dan kau masih suka kepada cacing buku itu?”

Im Giok tidak berani menjawab, hanya menundukkan muka. Kembali Kiang Liat menarik napas panjang, lalu menjauhkan diri dari anaknya dan berkata perlahan,

“Sebagai ayah aku harus menjaga agar kelak kau hidup bahagia, anakku. Baiklah, akan kulihat bagaimana macamnya kutu buku itu...” Ia lalu keluar dari kamar meninggalkan Im Giok yang duduk melamun di atas pembaringannya. Diam-diam gadis ini berdoa mudah-mudahan ayahnya akan suka melihat Tiauw Ki dan ia percaya bahwa kekasihnya itu akan cukup pandai membawa diri di hadapan ayahnya sehingga menimbulkan rasa suka dalam hati ayahnya.

Sekarang ayahnya masih belum tenang, maka Im Giok tidak berani memberi kabar kepada Tiauw Ki, karena ia pikir betum tepat waktunya bagi pemuda itu untuk menemui ayahnya. Malam itu Kiang Liat terdengar mendengkur di dalam kamarnya dan hati Im Giok menjadi lega.

Pada keesokan harinya, Kiang Liat memanggil Im Giok dan berkata-kata, “Im Giok, aku hendak pergi ke rumah penginapan Liok-nam.”

“Apakah tidak sebaiknya dia kuundang ke mari, Ayah?” tanya Im Giok.

“Tak usah. Kalau ia datang berarti dia akan meminang dan aku tidak ingin mengecewakan hatimu. Lebih baik kulihat lebih dulu sebelum mengambil keputusan.”

Kalau menurutkan kehendak hatinya, ingin sekali Im Giok ikut pergi dengan ayahnya. Akan tetapi kesopanan melarangnya, karena sungguh tidak patut kalau ia ikut ayahnya mengunjungi Tiauw Ki di rumah penginapan. Terpaksa ia menanti di rumah dengan hati berdebar dan ia merasa kecewa tidak melihat Kim Lian, karena kalau ada sucinya itu tentu ada kawannya bercakap-cakap untuk menekan berdebarnya hatinya.

Dengan langkah lebar Kiang Liat menuju ke rumah penginapan Liok-nam yang berada di ujung kota sebelah barat. Semalam suntuk Kiang Liat tidak bisa tidur nyenyak. Dengkurnya itu bukan tanda bahwa tidurnya enak, bahkan sebaliknya. Dengkurnya bukan dengkur sewajarnya dan dahulu ketika baru-baru ia kehilangan isterinya dan pergi merantau mencari Im Giok yang diculik orang, setiap malam ia mendengkur seperti itu. Boleh dibilang bahwa dengkur itu adalah tanda bahwa penyakitnya yang lama kambuh pula. Ia seperti orang mabuk dan sinar matanya juga sudah berbeda dengan biasanya. Hal ini adalah karena ia merasa kecewa dan bingung sekali menghadapi persoalan puterinya, soal perjodohan yang sama sekali tidak mencocoki hatinya.

“Dia harus kuusir jauh-jauh, kuancam agar jangan berani menemui anakku lagi!” Pikiran inilah yang semalam tadi memenuhi otaknya dan kini Kiang Liat berjalan cepat tanpa menghiraukan orang-orang yang sudah kenal dengannya dan yang memberi salam di sepanjang jalan.

Setelah tiba di penginapan Liok-nam Kiang Liat disambut oleh seorang pelayan. Kiang Liat sudah terlalu amat terkenal maka sekali pandang saja pelayan itu mengenalnya. Dengan ramah tamah dan penuh hormat, pelayan itu menyambut dan menjura,

“Selamat pagi, Kiang-taihiap. Sepagi ini Tai-hiap sudah mengunjungi penginapan kami, sungguh sebuah penghormatan besar sekali. Apakah yang dapat kami lakukan untuk Tai-hiap?”

“Apakah di sini ada seorang tamu bernama Gan Tiauw Ki?”

Pelayan itu mengerutkan kening, menempelkan telunjuk pada ujung hidungnya selaku orang mengumpulkan ingatan. Kemudian ia menurunkan telunjuknya dan tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang tidak rata, kuning-kuning kehitaman.

“Ah, ada... ada... Tai-hiap. Tentu yang kaumaksudkan Gan-siucai yang muda dan tampan wajahnya.”

“Ya, lekas kaupanggil dia keluar menemuiku.”

“Baik, silakan Tai-hiap menanti di kamar tamu,” kata pelayan itu sambil mempersilakan pendekar itu duduk di ruangan depan. Kiang Liat mengambil tempat duduk karena ia merasa kedua kakinya gemetar dan dada kirinya sakit menghadapi ketegangan ini. Macam apakah pemuda sastrawan yang telah memikat hati puterinya?

Sementara itu, pelayan mengetuk pintu kamar Tiauw Ki. Begitu pintu itu dibuka, pelayan itu cepat memberi hormat dan berkata dengan muka menjilat,

“Ah Gan-kongcu mengapa tidak sejak dulu memberitahu bahwa Kongcu adalah sahabat baik atau sanak dari Kiang-taihiap? Kalau kami tahu tentu kami akan memberi kamar yang lebih baik. Harap Kongcu maafkan apabila selama ini kami melakukan kesalahan atau berlaku kurang hormat karena sungguh mati kami tidak mengira bahwa Kongcu adalah kerabat Kiang-taihiap.”

“Eh, Lopek. Apakah kau pagi-pagi buta mengetuk pintu kamarku hanya untuk menyatakan ini saja?” Tiauw Ki berkata agak kurang senang karena dari kata-katanya saja sudah menunjukkan jelas bahwa pelayan ini bukan orang yang berwatak baik, melainkan seorang penjilat yang menjemukan.

“Mana hamba berani begitu kurang ajar memanggil Kongcu kalau tidak ada peristiwa amat penting?” Pelayan itu tertawa dan kulit-kulit di pinggir kedua matanya ikut tertawa. “Kongcu didatangi oleh seorang tamu agung.”

“Siapa dia?” Tiauw Ki bertanya penuh gairah karena memang sudah lama ia mengharapkan kedatangan pelayan dari Im Giok yang membawa berita bahwa ayah gadis itu sudah pulang.

“Masa Kongcu tidak bisa menduga siapa?” tanya pelayan itu dengan sikap mengajak berkelakar untuk menyenangkan hati tamunya.

“Dari keluarga Kiang?” tanya Tiauw Ki tak sabar lagi. Pelayan itu tertawa dan mengeluarkan jempolnya. “Kongcu menebak jitu, benar-benar cerdas sekali!”

“Suruh dia lekas ke sini!” seru Tiauw Ki.

Pelayan itu melenggong. “Suruh ke sini? Dia...”

Mendengar suara dan melihat sikap pelayan ini, Tiauw Ki terkejut dan cepat bertanya, “Bukankah dia itu seorang pelayan dari rumah keluarga Kiang?”

“Ah, bukan... bukan...! Dia adalah Kiang-taihiap sendiri, yang minta supaya Kongcu keluar. Dia menanti di ruangan tamu di depan!”

Kalau ada petir menyambarnya, belum tentu Tiauw Ki akan sekaget itu. Kiang Liat ayah Im Giok sendiri datang mengunjunginya? Benar-benar ia hampir tak dapat mempercayai kata-kata pelayan ini.

“Harap Kongcu cepat menyambutnya, aku takut kalau-kalau Kiang-taihiap marah kepadaku apabila Kongcu terlambat,” kata pelayan itu yang cepat pergi lagi ke depan.

Tiauw Ki yang ditinggal sendiri merasa tubuhnya panas dingin. Ia sudah sejak tadi bangun, akan tetapi belum sempat bertukar pakaian karena memang tidak mempunyai maksud pergi ke mana-mana. Untuk menghadap ayah kekasihnya dalam pakaian kumal seperti itu, ia merasa malu. Maka cepat-cepat ia berganti pakaian yang paling baru dan menyisir rambutnya. Kemudian tergesa-gesa ia keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu. Hatinya berdebar ketika ia melihat seorang laki-laki setengah tua bertubuh tinggi tegap dan berwajah keren duduk di atas bangku dalam kamar tamu itu.

Ia cepat-cepat maju menjura dengan amat hormat dan berkata,

“Mohon dimaafkan banyak-banyak bahwa boanpwe telah membuat Tai-hiap menanti sampai lama.”

Kiang Liat perlahan-lahan berdiri dan memandang dengan mata terbelalak dan kening berkerut. Mulutnya pun terbuka perlahan. Ia mengangkat tangan ke atas dan menggosok-gosok kedua matanya seakan-akan tidak percaya kepada penglihatannya sendiri. Akan tetapi setelah ia memandang lagi, penglihatannya tidak berubah. Tak salah lagi, pemuda sastrawan yang halus dan lemah-lembut yang kini memberi hormat kepadanya, bukan lain adalah Cia Sun! Cia Sun sastrawan yang dulu mempermainkan isterinya dan yang telah dibunuhnya! Baik wajah maupun bentuk badan dan gerak-geriknya pemuda sastrawan di hadapannya sekarang ini tidak ada bedanya dengan mendiang Cia Sun.

“Kau... Cia Sun...” tak terasa lagi Kiang Liat berkata perlahan, dadanya berdebar dan jantungnya terasa sakit.

Tiauw Ki memandang heran. “Boan-pwe adalah Gan Tiauw Ki...”

“Jadi kau yang diantar oleh anakku Im Giok ke Tiang-hai?”

“Betul, Tai-hiap”

“Dan kau... kau yang hendak meminang anakku sebagai calon jodohmu...?” Suara Kiang Liat setengah berbisik dan sepasang matanya memandang dengan cara yang menakutkan sekali.

Tiauw Ki memandang dengan hati berdebar gelisah. Kemudian ia dapat menetapkan hatinya dan berkata dengan suara tegas,

“Kalau Tai-hiap tidak menolak, memang boanpwe mohon persetujuan Tai-hiap untuk meminang tangan Adik Kiang Im Giok...”

“Kau...? Kau Cia Sun jahanam keparat telah menjelma pula di dunia ini untuk mengganggu kepadaku? Kau masih belum puas dengan kematian isteriku dan hancurnya hidupku? Kau bahkan masih hendak merusak hidup anakku?” Sambil berkata demikian, Kiang Liat berjalan maju menghampiri Tiauw Ki perlahan-lahan, sikapnya mengancam dan menyeramkan.

Tiauw Ki melangkah mundur, “Kiang-taihiap, apa artinya kata-katamu itu? Boanpwe adalah Gan Tiauw Ki dan boanpwe tidak kenal siapa itu Cia Sun...”

“Jahanam! Biarpun kau memakai nama siapapun juga, aku selamanya akan mengenal macam mukamu. Kau boleh pianhoa (berganti muka) seribu kali, aku Kiang Liat akan tetap mengenalmu dan membunuhmu!”

Setelah berkata demikian, sambil mengeluarkan suara keras Kiang Liat menubruk maju, kedua tangannya bergerak cepat bertubi-tubi memukut dada dan kepala Tiauw Ki.

Kasihan sekali nasib pemuda ini. Dia seorang sastrawan yang bertubuh lemah. Seorang jagoan sekalipun belum tentu akan dapat menghindarkan diri dari serangan Kiang Liat itu, apalagi seorang pemuda lemah seperti Tiauw Ki. Ia tak berdaya sama sekali dan sekali terkena pukulan pada dada dan kepalanya, ia hanya dapat mengeluarkan keluhan lemah dan tubuhnya terlempar ke belakang, menumbuk dinding dan roboh tak berkutik lagi. Nyawanya telah melayang berbareng dengan keluhannya tadi!

“Ha, ha, ha, anjing Cia Sun! Anjing macam engkau ini hendak melamar puteriku? Ha, ha, ha!” Sambil tertawa-tawa lebar di sepanjang jalan, Kiang Liat berjalan pulang.

Para pelayan kaget dan gemparlah keadaan di rumah penginapan itu. Sebentar saja ruangan tamu itu telah dikerumuni banyak orang untuk melihat pemuda sastrawan yang rebah tak bernyawa di atas lantai.

Di antara para penonton ini terdapat gadis menerobos masuk. Orang-orang memberi jalan ketika melihat bahwa gadis ini bukan lain adalah Giok-gan Niocu Song Kim Lian.

Kim Lian hanya memandang sebentar dan mukanya berubah. Kemudian ia cepat berlari-lari pulang, napasnya terengah-engah. Langsung ia berlari memasuki kamar Im Giok di mana gadis itu tengah bersisir menghadapi cermin.

“Su-moi, celaka besar...!” Kim Lian memeluk adik seperguruannya dan menangis terisak-isak.

Im Giok biasanya memiliki watak yang tenang dan tabah, akan tetapi akhir-akhir ini setelah bertengkar dengan ayahnya mengenai kekasihnya, ia menjadi gampang gugup. Mukanya berubah pucat melihat keadaan sucinya itu, maka tanyanya tak sabar lagi,

“Suci, apakah yang terjadi?”

Akan tetapi Kim Lian hanya menangis terisak-isak sehingga Im Giok hilang sabar. Digoyang-goyangnya dua pundak Kim Lian.

“Apa yang terjadi?”

“Celaka... Sumoi... Gan-siucai... oleh Suhu...”

“Apa? Gan-siucai mengapa? Bagaimana Ayah...?” Im Giok mendesak, wajahnya pucat, jantungnya berdebar keras.

“Suhu telah membunuh Gan-siucai di rumah penginapan...”

Im Giok mengeluarkan suara menjerit, akan tetapi cepat didekapnya mulutnya sendiri, lalu bagaikan kilat ia melompat keluar dan berlari seperti gila menuju ke rumah penginapan Liok-nam.

Ruangan depan atau ruangan tamu dari rumah penginapan Liok-nam masih dikerumuni orang ketika Im Giok tiba di situ.

“Minggir...!” Serunya dan kedua tangannya membuka jalan sehingga empat orang laki-laki terpelanting ke kanan kiri. Im Giok terus menerjang masuk dan ia berdiri terpaku di atas lantai ketika ia melihat tubuh kekasihnya menggeletak miring di dekat dinding ruangan itu. Dengan isak tertahan ia menghampiri, berlutut dan sekali raba saja tahulah ia bahwa kekasihnya telah tewas, kepalanya retak dan tulang dadanya patah-patah.

“Gan-ko...” Bisiknya. Dipejamkannya kedua matanya dan ditahannya napasnya karena pukulan hebat sekali mengguncangkan jantungnya. Kalau tidak kuat-kuat ia menahan tentu Im Giok sudah roboh pingsan! Sampai lama ia berlutut sambil memejamkan mata, kemudian setelah kepalanya yang pening menjadi sembuh kembali, ia membuka matanya. Bagaikan hujan gerimis, air matanya bertitik turun, menetes melalui pipi dan dagu dan ada yang jatuh bertitik di atas muka Tiauw Ki. Dilihat sekelebatan, dengan air mata di atas pipi, mayat pemuda itu seperti ikut menangis.

“Koko...” kembali Im Giok berbisik. Makin deras turunnya air matanya ketika ia teringat betapa besar cinta kasih pemuda ini kepadanya, dan kini dalam menghadapi keputusan perjodohan mereka, pemuda ini telah terbunuh oleh ayahnya.

“Ayah...!” Im Giok menahan isaknya ketika ia teringat kepada ayahnya. Tubuhnya berkelebat dan kembali tiga orang pemuda terguling roboh ketika gadis itu mendesak keluar dengan cepat lalu berlari-lari menuju ke rumah gedungnya. Tanpa mempedulikan kepada Kim Lian dan para pelayan yang memandangnya dengan mata terbelalak, Im Giok berlari terus menuju kamar ayahnya.

Pintu kamar ayahnya terpentang lebar-lebar dan Im Giok melompat ke ambang pintu, berdiri di situ dengan kedua kaki terpentang lebar dan mata berapi-api memandang ke dalam. Ia melihat ayahnya sedang duduk di atas kursinya dan memegang pedang terhunus yang dipukul-pukulkan ke atas meja!

“Ayah...!” Suara Im Giok terdengar nyaring, penuh sesal dan nafsu amarah.

Ayahnya memandang. Dua pasang mata berpandangan, dua pasang mata yang sama tajam, sama berapi-api pandangannya.

Sunyi di situ. Hanya terdengar ketukan-ketukan pedang pada meja, makin lama makin melambat.

“Kau mau apa??” akhirnya terdengar suara Kiang Liat, lambat-lambat dan setengah digumam, seakan-akan lidah dan bibirnya sukar digerakkan.

“Ayah, mengapa kau membunuh Gan-siucai?” Suara Im Giok nyaring tinggi dan tergetar.

Kiang Liat diam saja untuk beberapa saat, kemudian secara tiba-tiba ia bangkit berdiri, membacokkan pedangnya ke arah meja yang menjadi terbelah dengan mudah dan roboh menimbulkan suara berisik.

“Ha, ha, ha, ha, memang kubunuh mampus anjing itu! Ha, ha, betapa mudahnya, sekali pukul saja jahanam keparat pemakan tinta itu mampus!”

“Ayaahhh...!” Im Giok tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Tangan kanannya digerakkan dan tahu-tahu pedangnya telah ia cabut dan tangan yang memegang pedang menggigil. “Kau... kau pengecut besar! Kau... kau membunuh dia yang tidak berdosa. Kau manusia tidak tahu malu, membunuh orang yang kau tahu tak dapat melawan, seorang yang tidak mempunyai kepandaian ilmu silat. Kau pengecut!” Bagaikan gila Im Giok memaki-maki ayahnya sendiri.

Untuk sejenak ayahnya memandang kepadanya dengan mata terbelalak, kemudian mulut pendekar itu meringis, seakan-akan ia merasa sakit yang hebat sekali. Mukanya menjadi pucat sekali. Kemudian ia membuka matanya dan mata itu sekarang berputaran amat mengerikan. Dari bibirnya keluar busa dan ia tertawa kembali terbahak-bahak.

“Ha, ha, ha, cacing buku yang busuk itu hendak menikah dengan puteriku? Ha, ha, ha, menjadi tukang membersihkan lantai kamarnya saja masih terlalu rendah. Ha, dia patut mampus, anjing Cia Sun harus mampus biarpun beberapa ratus kali dia menjelma. Puteriku harus menjadi isteri Liem Sun Hauw pemuda gagah perkasa...”

“Tidak sudi! Kau manusia keji, kau dan Liem Sun Hauw itu harus masuk neraka!”

Mendengar makian ini, Kiang Liat menjadi marah sekali. Dalam pandangan matanya, yang berdiri di depannya itu sudah bukan anaknya lagi, melainkan seorang yang berani menentangnya.

“Kau hendak membunuh aku dan Sun Hauw? Ha, ha, ha, bocah lancang, kaulah yang akan mampus lebih dulu!” Sambil berkata demikian, Kiang Liat menyerang puterinya sendiri.

Im Giok pada saat itu juga sudah seperti orang kemasukan iblis dan sudah tidak ingat apa-apa lagi, tahunya hanya marah dan duka teraduk menjadi satu dalam hatinya. Melihat ayahnya menyerangnya, ia pun cepat menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Maka terjadilah pertempuran yang hebat di dalam kamar itu antara ayah dan anak gadisnya sendiri! Kepandaian mereka berimbang, bahkan Im Giok kini telah memperoleh kemajuan pesat sehingga ia bahkan melampaui ayahnya. Hal ini adalah karena ilmu-ilmu silat yang diturunkan oleh Bu Pun Su kepada Im Giok melalui Kiang Liat, oleh Kiang Liat hanya dipelajari teorinya saja, akan tetapi tidak berani ia melatih diri dengan ilmu itu. Maka tentu saja Im Giok yang dapat memetik sari pelajaran ilmu silat tinggi dari Bu Pun Su itu, sedangkan Kiang Liat hanya tahu “kulitnya” belaka. Maka makin lama pedang Im Giok mendesak makin hebat, gulungan sinar pedangnya makin menekan gulungan sinar pedang ayahnya.

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan terdengar pekik, “Im Giok!”

Akan tetapi dua orang yang sedang bertempur ini seakan-akan tidak mendengar pekik ini dan melanjutkan pertempuran mereka dengan hebat dan mati-matian.

“Im Giok...!” Orang itu yang bukan lain Kim Lian adanya, mengeluarkan suara jeritan lagi, dan kali ini ia menerjang masuk ke dalam gelanggang pertempuran dengan nekad. Pedangnya menangkis gulungan pedang Im Giok dan terkejutlah ia karena ia terpental ke belakang.

“Im Giok... Sumoi... apakah kau sudah gila melawan ayahmu sendiri...?” Kim Lian menegur dengan suara nyaring.

Tangkisan dan jeritan ini membuyarkan permainan pedang Im Giok dan ayahnya yang tadinya sudah saling menempel. Apalagi seruan ini membuat Im Giok sadar dari keadaannya seperti kemasukan iblis tadi, akan tetapi masih belum melenyapkan kemarahan dan nafsu membunuhnya. Ia melompat mundur dan masih memasang kuda-kuda dengan tangan kiri terbuka jari-jarinya menengadah ke atas dan tangan kanan memegang pedang di depan dada, dalam sikap hendak menusuk.

Adapun Kiang Liat juga berdiri memasang kuda-kuda seperti patung, tangan kiri menempel di dada kiri dan tangan kanan memegang pedang melintang di dada. Wajahnya meringis seperti orang kesakitan dan hidungnya kembang kempis.

“Sumoi, kau gila! Bagaimana kau menyerang ayahmu sendiri? Lepaskan pedangmu!” teriak Kim Lian, akan tetapi Im Giok seperti dalam mimpi, tidak mau melepaskan pedang dan memandang ke depan dengan mata terbelalak marah.

“Sumoi, lepaskan pedang! Kalau tidak terpaksa aku akan menyerangmu, aku harus membantu Suhu!” teriak pula Kim Lian dengan suara keras sambil melangkah maju dengan pedang di tangan. Ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah kalau dibandingkan dengan sumoinya, akan tetapi dalam keadaan seperti ini ia harus berani membantu suhunya.

Ketika Im Giok tetap tidak bergerak, Kim Lian bergerak menyerang sambil berkata, “Kau membandel? Baik, lihat serangan pedangku!”

“Traangg...!” Pedang di tangan Kim Lian terlepas dari pegangan dan gadis itu berseru kaget.

“Kim Lian, pergi kau! Jangan ikut-ikut!” Kiang Liat membentak setelah menangkis pedang muridnya sehingga terlepas. Dengan wajah kecewa dan juga gelisah Kim Lian terpaksa mengundurkan diri keluar dari kamar itu.

Sementara, tadi ketika menangkis pedang muridnya, Kiang Liat telah sadar kembali dari keadaan gilanya sehingga mukanya menjadi biasa, bahkan nampak ia berduka bukan main. Sepasang matanya memandang sayu dan mulai membasah dengan air mata, bibirnya bergerak gemetar seperti menahan isak tangis. Melihat ini, Im Giok tiba-tiba sadar dan teringat betapa kurang ajarnya kelakuan melawan ayahnya ini. Ia bahkan terkejut sekali mengapa ia sampai bisa menyerang ayahnya seperti itu. Melihat ayahnya seperti orang hendak menangis, runtuhlah hatinya dan ia tidak berani memandang lebih lama lagi. Ia berdiri seperti patung dan memejamkan matanya, air matanya bercucuran bagaikan hujan.

“Ayah... aku berdosa... kaubunuhlah aku... Ayah, jangan kepalang tanggung, tusuk dadaku... biar aku ikut kekasihku.” Im Giok melepaskan pedangnya yang jatuh berkerontangan di atas lantai, lalu ia melangkah maju sambil meramkan mata, memasang dada untuk ditusuk pedang.

“Gan-koko... kautunggulah aku...” bisiknya sayu.

Akan tetapi tusukan yang dinanti-nantinya tak kunjung tiba. Bahkan terdengar keluhan panjang, disusul oleh suara muntah-muntah dan robohnya tubuh yang berat di atas lantai. Im Giok membuka matanya dan… ayahnya telah menggeletak, dan dari mulutnya mengalir darah yang dimuntahkannya tadi.

“Ayaaaahhh...!” jerit Im Giok menubruk dan memeluk tubuh ayahnya. Diangkat kepala ayahnya yang sudah lemas itu dan dipangkunya, tidak peduli betapa darah yang dimuntahkan oleh ayahnya tadi menodai pakaiannya. Diraba-rabanya jidat ayahnya kemudian dadanya…

“Ayaaaahhh…!” Dunia serasa gelap kamar itu seperti terputar-putar dan Im Giok roboh pingsan di dekat ayahnya yang ternyata telah putus nyawanya. Karena tekanan batin yang luar biasa, Kiang Liat yang semenjak ditinggal mati isterinya telah menderita sakit jantung, tak kuat menahan, jantungnya pecah dan ia meninggal dunia di saat itu juga.

Kim Lian datang berlari-lari dan menubruk Im Giok sambil menangis. Diperiksanya keadaan Kiang Liat dan ia pun memanggil-manggil dengan suara mengharukan.

“Suhuuu...!” Kim Lian benar-benar berduka kali ini. Di dalam hatinya ia memang memuja suhunya dan menganggap suhunya sebagai pengganti orang tuanya. Bahkan lebih dari itu, dahulu pernah ia mengagumi suhunya dan “ada hati” kepadanya. Sekarang melihat keadaan suhunya yang meninggal dunia secara demikian menyedihkan, bagaimana hatinya tidak merasa hancur?

Setelah puas menangisi Kiang Liat dan semua pelayan datang bertangisan pula, Kim Lian lalu menubruk dan memeluki sumoinya. Ia amat sayang kepada Im Giok yang semenjak kecil menjadi saudara seperguruan, kawan bermain-main dan dianggap sebagai adik kandungnya sendiri. Kini ia hanya hidup berdua dengan Im Giok, tak berayah tak beribu, tidak berhandai taulan pula. Dengan hati hancur Kim Lian memondong tubuh adik seperguruannya, dibawa ke kamarnya dengan langkah sempoyongan.

Setelah siuman dari pingsannya dan mendapatkan dirinya berada di dalam pelukan Kim Lian di atas pembaringang, Im Giok teringat akan semua yang terjadi dan cepat ia bangkit duduk dan bertanya,

“Ayah…? Bagaimana…?”

Kim lian tidak dapat menjawab, bahkan tangisnya makin menjadi sambil memeluk pundak Im Giok. Im Giok seketika menjadi ingat akan semuanya dan ia melompat turun dari atas pembaringan.

“Ayaaaahhh!”

Akan tetapi Kim Lian cepat memeluknya dan sambil menciuminya berkata, “Adikku… adikku sayang… tenangkanlah hatimu, ayahmu sudah… meninggalkan kita dan sekarang sedang dirawat. Tenanglah Sumoi, tenanglah, pergunakan kekuatan batinmu…”

Im Giok memejamkan matanya. Ia teringat bahwa bukan laku seorang gagah untuk kalap terhadap desakan hati, maka ia lalu mengatur napasnya dan kedua orang gadis dengan berdiri saling berpelukan untuk beberapa diam tak bergerak. Akhirnya Im Giok berkata lemah,

“Suci, aku harus dekat dengan jenazahnya…”

Kim Lian mengangguk dan dengan masih saling peluk dua orang gadis ini lalu berjalan ke ruangan tengah di mana jenazah Kiang Liat sedang dirawat. Mereka duduk berlutut memandang dengan wajah pucat, mata sayu dan kadang-kadang air mata menggelinding keluar. Sampai jenazah dimasukkan peti mati, Im Giok dan Kim Lian tidak meninggalkan tempat itu, bahkan malamnya mereka tidak mau pergi dari situ, biarpun dibujuk-bujuk oleh para pelayan dan tetangga yang datang melayat. Lewat tengah malam, setelah para penjaga mengundurkan diri dan sebagian yang bertugas menjaga duduk di ruangan luar, di dalam ruangan jenazah itu hanya tinggal Im Giok dan Kim Lian berdua! Mereka duduk di dekat peti mati, menjaga agar hio tidak padam, demikian pun api lilin, dan kemudian terdengar mereka berbisik-bisik,

“Suci, sekarang aku tahu...”

Kim Lian memandang kepadanya, matanya bertanya,

”Aku tahu mengapa Ayah membunuhnya.” Air matanya mengucur deras dan cepat-cepat ia mempergunakan saputangan untuk menyusut air matanya.

“Mengapa, Sumoi?”

“Aku ingat akan riwayat ibuku dahulu. Kematian Ibu yang membuat Ayah seperti menjadi gila itu adalah karena perbuatan seorang siucai bernama Cia Sun. Karena itu Ayah membenci para siucai dan kiranya... kiranya wajah Gan-siucai hampir serupa dengan wajah Cia Sun.” Im Giok menutupi mukanya dengan kedua tangannya.

Kim Lian tidak berkata apa-apa, karena ia tidak tahu bagaimana harus menghibur adik seperguruannya. Ia tahu betapa hebat derita batin yang menimpa perasaan hati sumoinya.

“Aku berdosa besar terhadap Ayah... dahulu sering kali Ayah batuk-batuk dan sering kali dadanya terasa sakit... tentu Ayah telah menderita penyakit jantung semenjak kehilangan ibu. Dan tadi... ah...” Im Giok kembali menutupi mukanya seperti orang merasa ngeri membayangkan kejadian tadi pagi, “biarpun ayah meninggal karena penyakit itu, akan tetapi sebenarnya aku yang membunuhnya... Ayah, ampunkan anakmu yang berdosa, Ayah...” Im Giok lalu berlutut dan memeluk peti mati ayahnya, menangis tersedu-sedu.

Kim Lian memeluknya dan menariknya. “Sudahlah, Sumoi, segala kejadian sudah ditentukan oleh Thian.”

Im Giok mengangguk-angguk dan mengerahkan tenaga untuk menenteramkan hatinya yang berguncang keras.

“Aku berdosa kepada Ayah... akan tetapi Ayah... Ayah juga berdosa terhadap Gan-koko... kasihan sekali Gan-koko yang tidak mempunyai kesalahan apa-apa. Dibunuh dalam keadaan penasaran. Ahhh, Suci, tolong kau menyuruh seorang pelayan untuk mengirim hio dan lilin secukupnya, kirimkan ke rumah penginapan Liok-nam. Biar arwah Gan-ko tahu betapa aku menderita karena kematiannya...”

Kim Lian mengangguk dan perlahan meninggalkan sumoinya untuk melakukan permintaan sumoinya itu. Adapun Im Giok sepeninggal Kim Lian lalu berlutut di depan peti mati ayahnya dan diam tak bergerak seperti patung. Hanya bayangannya saja yang bergerak-gerak karena api lilin bergerak perlahan tertiup angin, yang dapat menerobos masuk ke dalam ruangan itu.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Dewasa Panas SIlat : Ang I Nio Cu 2 - KPH dan anda bisa menemukan artikel Cerita Dewasa Panas SIlat : Ang I Nio Cu 2 - KPH ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/06/cerita-dewasa-panas-silat-ang-i-nio-cu.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Dewasa Panas SIlat : Ang I Nio Cu 2 - KPH ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Dewasa Panas SIlat : Ang I Nio Cu 2 - KPH sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Dewasa Panas SIlat : Ang I Nio Cu 2 - KPH with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/06/cerita-dewasa-panas-silat-ang-i-nio-cu.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar