Tampilkan postingan dengan label cerita asmara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita asmara. Tampilkan semua postingan

Cerita Dewasa SMA Silat : Hokeng Koenloen 12

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 30 April 2014

Description: Cerita Dewasa SMA Silat : Hokeng Koenloen 12 Rating: 4.5 Reviewer: Unknown - ItemReviewed: Cerita Dewasa SMA Silat : Hokeng Koenloen 12
Jilid 12
“Surat ini disampaikan kepada Liong Cie Teng dan Liong Cie Khie untuk di sampaikan terlebih jauh kepada ayah dan anak she Pau di Tin-pa!
Sepuluh tahun telah berselang, tetapi selama itu belum pernah aku lupa akan sakit hati dari ayahku yang binasa terbunuh.
Dahulu ketika aku masih berusia sangat muda, tenagaku lemah, aku telah mesti terima berbagai penghinaan-pun hampir-hampir jiwaku melayang. Ketika itu aku bersakit hati sangat, namun aku tidak bisa berbuat suatu apa.
Kini aku telah masuk usia dewasa, aku telah berhasil mewariskan ilmu silat Sejati dari guruku, aku percaya sekarang aku akan sanggup musnahkan kau sekalian manusia jahat dari kalangan kangou, buat singkirkan ancaman bencana besar bagi rakyat ramai, sekalian membalaskan sakit hatiku selama dua-belas tahun.
Aku telah mesti sangat menderita, karena ayahku binasa, ibuku mesti menikah pula, hingga aku mesti berpisah dari ibu dan adikku. Aku-pun mesti bersengsara kelaparan dan kedinginan, aku telah mengalami ancaman golok dan cambuk. Ini adalah suatu permusuhan sangat besar.
Maka itu didalam kalangan Kun Lun Pay, kecuali dua-tiga orang, semuanya adalah musuh-musuhku.
Hari ini juga aku akan berangkat ke Barat, paling dulu ke Cie-yang, kemudian ke Tin-pa. Dengan ini sengaja aku peringatkan kepada kau sekalian supaya siap-sedia, berjaga-jaga.
Hormatnya,
Kang Siau Hoo.
Tampangnya si jago tua jadi berubah-ubah pucat dan merah padam, terang ia sangat gusar bercampur kuatir. Selama itu ia berdiam saja.
Juga semua murid Kun Lun Pay berdiam, tetapi nyata mereka sangat murka.
Kie Kong Kiat ada soren pedang dipinggangnya, ia hunus senjatanya itu dan menggebrak meja, hingga terdengarlah satu suara nyaring yang mengejutkan orang banyak.
“Cu-wie jangan takut!“ berkata ia dengan jumawa. “Kang Siau Hoo itu orang macam apa? Biar, tidak usah dia sampai di Cie-yang, aku nanti papaki dia ditengah jalan di Selatan! Aku tanggung dengan tiga bacokan aku nanti binasakan padanya!”
Pau Cie In hampirkan Liong Cie Khie.
“Siapakah yang sampaikan surat ini?” ia tanya saudara itu.
“Pembawa surat itu ada saudagar obat-obatan yang hendak pergi ke Hoolam,” Cie Khie jawab. “Menurut katanya dia ketemu Kang Siau Hoo sendiri di Sin-yang. Dia bilang, namanya Kang Siau Hoo ada menggetarkan Kanglam dan Kangpak, bahwa pedangnya dan ilmunya menotok jalan darah sudah tidak ada yang sanggup tandingi. Hoa-Chio Bang Jie dan Siangyang, Say Ui Tiong Lau Khong dan Sinyang, Sin pian Lou Pek Hiong dari Siangcay, semua telah rubuh ditangannya. Katanya Kang Siau Hoo hendak paling dulu menuju ke Utara akan tempur Thay Bu Siansu dari Siong San, akan lawan Kho Keng Kui dari Kayhong, akan tandingi juga Kie Kong Kiat, kemudian barulah ia akan terus pergi ke Tong-kwan, untuk nanti mutar ke Cieyang dan Tin-pa.”
Mendengar itu, Kie Kong Kiat jadi bertambah-tambah gusar.
“Hm, hm!“ ia perdengarkan suaranya. “Oh, Kang Siau Hoo telah ketahui juga namaku? Bagus, inilah bagus! Kalau dia benar niat datang ke Kwantiong, itu ada terlebih baik lagi, aku jadi tidak usah pengi jauh-jauh akan cari padanya, disini aku nanti ajar dia kenal dengan pedangku!“
Sehabisnya kata begitu, Kie Kong Kiat menoleh pada tunangannya, yang ia awasi dengan roman jumawa.
Tampang mukanya Ah Loan, si bakal isteri, ada biru dan merah-padam, hingga tidak bisa dipastikan dia ada dalam kemurkaan atau berduka, sekian lama dia diam saja, hanya kemudian, dia tolak cawan araknya dan berbangkit, akan terus tinggalkan meja perjamuan, masuk kedalam.
Selagi awasi cucunya itu bertindak masuk, dimatanya Pau Loo-kausu berbayang kejadian dahulu, pada sepuluh tahun yang lalu, pada suatu malam yang bersalju, tempo Siau Hoo bawa-bawa golok untuk membalas sakit hati, bagaimana setelah ia beri keterangan, bagaimana sesudah timpahkan ke salahan pada persaudaraan Liong sebagai pembunuhnya Cie Seng, barulah Siau Hoo mau pergi.
Tetapi Ah Loan segera menyusul keluar, hingga kedua bocah itu bertempur diatas salju. Pertempuran itu ada menggembirakan jago tua ini. Sejak itu, Siau Hoo telah diberi tinggal dirumahnya. Selama itu pun, pernah satu kali ia memikir untuk nikahkan Siau Hoo kepada Ah Loan. Ketika itu-pun ia sudah menyesal akan perbuatannya. Siapa nyana, permusuhan tidak menjadi habis, sekarang musuh itu muncul pula. Maka pastilah, lagi sedikit waktu, satu pertempuran besar dan hebat akan terjadi.
“Apakah Kie Kong Kiat sanggup lawan Kang Siau Hoo?” demikian jago tua ini bersangsi. Karena kesangsiannya itu, ia jadi sangat berduka. Tubuhnya seperti bergemetar.
Cie Tiong lihat roman gurunya menguatirkan, ia segera pimpin gurunya itu.
Sekejab saja perjamuan itu jadi kalut.
Digotong oleh murid-muridnya, jago tua itu diletaki diatas pembaringan dimana ia rebah bagaikan mayat, hingga orang bingung, repot coba menyadarkannya. Selang sekian lama baru ia ingat akan dirinya, ia coba kuatkan hati akan perlihatkan sikap gagah.
Sebenarnya Kang Siau Hoo itu tak usab dibuat takut,” kata ia kemudian. “Kalau dia datang, aku ÿang nanti sambut padanya. Paling banyak aku akan binasa, setelah aku mati, habislah permusuhan. Satu hal aku hendak pesan padamu sekalian, dalam hidupnya orang tidak boleh tanam bibit permusuhan, dalam segala perbuatan jangan suka melewati batas. Siapa keterlaluan, dia akan menyesal sesudah kasep. Aku sudah tua, kau semua sebaliknya masih muda, maka ingatlah wanti-wanti pesanku ini. Ingatlah dalam segala apa, berlakulah sabar!”
Kemudian orang tua ini menoleh pada Kie Kong Kiat.
“Aku sudah serahkan cucuku kepadamu, dengan begitu kau terhitung keluarga Pau juga,” Lata ia. “Kau juga mesti ingat. Umpama Kang Siau Hoo datang sebelumnya aku menutup mata, akulah yang mesti ketemui dia, aku larang kau campur tahu! Bila dia datang sesudah aku mati, barulah kau boleh menemui dia. Tetapi walau-pun demikian, lebih dahulu kau mesti bicara kepadanya dengan hormat, untuk cari daya pemecahan untuk habiskan permusuhan, bila tidak ada jalan lain, barulah kau terpaksa angkat senjata. Sekali-pun demikian, selagi bertempur kau juga mesti mengenal batas! ...”
Tapi Kie Kong Kiat ada panas.
“Loo-ya-cu, mengapa kau jadi begini berkuatir?“ kata ia. “Berapakah kepandaiannya Kang Siau Hoo itu? Apakah gurunya sanggup tandingi Siok Tiong Liong dan engkongku Liong Bun Hiap?”
Mendengar itu, Pau Cin Hai mengehela napas, lalu ia bersenyum meringis.
“Hian-sunsay, kan merantau belum cukup lama, kau belum tahu ... “ kata kongco ini. “Pada empat-puluh tahun yung lampau, sekalipun Liong Bun hiap dun Siok Tiong Liong dapat julukan Lau Pak Jie Ciat, tetapi seumur hidupnya Liong Bun Hiap tidak berani seberangi Suagai Tiang Kang dan Siok Tiong Liong tidak berani melintasi selat Sam Kiap. Kenapa begitu? Orang yang ketahui sebabnya ini ada sangat sedikit. Sebenarnya, diluar Jie Ciat, masih ada It Kie, satu yang gagah luar biasa. Bugeenya kiehiap ini, tinggi sukar dibade, hingga dia dapat permainkan Liong Bun Hiap dan Siok Tiong Liong. Tatkala itu aku sedang mudanya, bugeeku ada terlebih liehay daripada sekarang ini, akan tetapi tempo aku ketemu It Kie digunung Tong Pek San ... Ah, sudahlah, baik aku tidak usah tuturkan lebih jauh, aku menceriterakannya-pun kau niscaya tidak akan mau percaya. Aku Pau Kun Lun telah malang-melintang disuatu jaman, akan tetapi ditangan dia itu, aku masih tak mirip-miripnya dengan seekor semutpun...”
Kong Kiat heran hingga ia awasi kongco itu dengan mata terbuka lebar.
“Apakah dia itu gurunya Kang Siau Hoo?” ia menegasi.
Guru silat yang tua itu kerutkan dahi.
“Umpana Kang Siau Hoo berguru pada lain orang mustahil selama belasan tahun aku jadi begini,” ia jawab.
Kat Cie Kiang juga lantas ceriterakan hanya pada sepuluh tahun yang lalu ketika ia ketemui gurunya Kang Siau Hoo itu dipegunungan Cin Nia.
Kie Kong Kiat masih bersangsi, ia tetap mendongkol. Ia coba berpikir, akhirnya ia bersenyum ewah.
“Baiklah Lo-ya-cu jangan terlalu pikirkan ini,” kemudian ia menghibur. “Aku masih ada punya daya-upaya. Besok Looya cu ajak Ah Loan pindah kelain tempat untuk sedikit hari saja. ini bukan berarti Loo-ya-cu mesti singkirkan diri. Kau sudah berusia lanjut, tidak ada harganya untuk kau layani segala bocah, dengan bawa pedang aku nanti pergi ke Timur akan papaki Kang Siau Hoo itu. Biarlah kita berdua yang adu kepandaian!“
Cie Kiang sekalian anggap daya ini ada sempurna, mana mereka lantas membujuki gurunyu supaya suka menurut.
Pau Cin Hui dapat dibujuk, dan itu besoknya, dengan ajak cucunya ia berangkat ke Taysan-kwan, ketempatnya Lou Cie Tiong, sedang Kie Kong Kiat, yang sikapnya agung-agungan, lantas ajak Chio Cie Yau dan Lau Cie Wan pergi ke Timur, untuk papaki Kang Siau Hoo.
Bab 09
WAKTU ITU ada dipermulaan musim panas. Diluar Han-kok-kwan, ditanah datar. diantara sawah ladang gandum yang luas beribu lie sebagai tak ada batasnya, ada melintang sebuah sungai mirip dengan seekor naga yang sedang menghembuskan awan-kabut. Sementara itu, dibukit Tiong-gak Siong San, segala apa ada tenang dan permai, disitu ada rimba-rimba dengan selokan-selokannya. Disini orang seperti pisahkan diri dan dunia yang panas-terik. Di kaki gunung ini ada tinggal satu keluarga pegunungan di dalan mana kebetulan ada menumpang satu tamu.
Tamu itu bukan lain dripada itu orang yang mengacau di See-an, yang dengan sendiran saja mengacau kaum Kun Lun Pay, hanya apa mau dia telah ketemu Kie Kong Kiat, hingga selagi layani orang she Kie itu dan Ah Loan, ia alpa dan kena dilukai. Karena ini, ia meningkir ke Han-kok-kwan.
Lie Hong Kiat ada dari satu keluarga tani di Lam-kiong. Ia ada seorang dengan pikiran merdeka, selain yakinkan ilmu surat, ia-pun pelajari ilmu silat. Dalam ilmu surat ia tidak mengutamakan karang-mengarang, ia hanya perhatikan pada syair-syair dan nyanyian, maka itu ia tidak bisa turut dalam ujian untuk menempuh pangkat. Dalam ilmu silit ia gemar akan pedang, dan tangan kosong, juga ilmu loncat tinggi dan lari keras, juga lari diatas genteng, karena ini, kembali ia tidak bisa turut dalam ujian ketentaraan dimana yang diutamakan adalah kekuatan tenaga, menggunakan golok besar. Demikianlah, meski-pun ia ada bun bu coan cay, namun dua-dua pintu kepangkatan tertutup baginya, hingga dalam umur duapuluh, ia melainkan bisa merantau.
Tidak demikian dengan adiknya yang bernama Lie Hong Keng, ia rajin usahakan sawah dan ladangnya, yang ada beberapa bahu, ia bisa dirikan rumah tangga dengan kecukupan dan tenteram. Adik ini lebih muda satu tahun usianya.
Guru dan siapa Hong Kiat dapat didikan silat dan syair ada satu too-su atau imam yang usianya sudah kira-kira delapanpuluh tahun, yang sebut dirinya Liong San Toojin. Imam ini hidup dalam pengembaraan, tapi dikuil Lu Sian Kok di Ham-tan ia perah tinggal. Sampai dua tahun, adalah diwaktu itu ia angkat Hong Kiat jadi muridnya. Ketika kemudian guru ini berangkat ke Pakkhia, ia panggil muridnya, hingga berdua mereka tinggal lagi bersama setengah tahun lamanya. Dan gurunya ini Lie Hong Kiat dapat tahu hal-hal kefaedahannya Tiam-hiat-hoat, ilmu menotok jalan darah. Kemudan guru ini suruh munidnya coba pergi merantau untuk cari pengalaman. Disaat perpisahan barulah Liong San Toojin tuturkan siapa dirinya sebenarnya.
Kiranya guru ini adalah satu dari Lam Pak Jie Liong atau Lam Pak Jie Ciat yang namanya termasyhur dikalangan kangou, yalah Siok Tiong Liong, si Naga Sucoan. Dia-pun telah perkenalkan dua orang kepada muridnya ini, yang satu adalah Tiat-nou Thio Hiong, si Panah Besi, piausu kesohor di Siang-ciu, Kanglam, dan kim-lian Pou-sat Thay Bu Siansu dan Siong San di Hoolam. Dua orang ini ialah bekas sebawahan dari Siok Tiong Liong, mereka jadi kaki-tangan yang berharga selama Naga Sucoan merantau dan menjagoi dikalangan kangou, buat lakukan banyak kebaikan, akan tindas orang-orang jahat.
Setelah perpisahan dari gurunya di Pakkhia, Lie Hong Kiat lantas menuju ke Siang San dimana ia ketemui Thay Bu Sian-su, kemudian baru ia pergi ke Kang-lam dan tinggal untuk sekian hari pada Tiat-nou Thio hong, yang masih tetap buka pautiam. Dan ini barulah ia pesiar kebanyak tempat akan lakukan rupa-rupa kebaikan seperti pesan gurunya, akan tinggalkan syairnya ditempat-tempat yang terkenal yang ia pergikan, hingga namanya lantas jadi kesohor. Dari Kanglam ia telah pergi ke Wie-sui, See-an, akan sambangi tempat-tempat ternama dari jaman Han dan Tong, akan tetapi sesampainya di Thay Gan Tah, dia ketemu Ah Loan dan Kat Siau Kong yang sembrono dan jail, maka terjadilah berbagai kesulitan, sehingga akhirnya dia dikepung berdua oleh Kie Kong Kiat dan Ah Loan. Kalau pertempuran itu satu sama satu, kesudahannya pasti ada lain. Ia terluka pada lengan kanan, luka itu tidak hebat, tetapi ia kena dikalahkan, ia mendongkol, ia jadi malu berdiam lebih lama di Kwan-tiong, dengan tahan lukanya yang terus mengucurkan darah, dengan naik kuda putihnya ia terus meninggalkan Wie-sui, ia keluar dan Tongkwan, beruntun beberapa hari ia tidak mau singgah atau berisirahat, maka ketika akhiraya ia sampai di kaki gunung Siong San, baru saja ia turun dari kudanya, terus ia rubuh, tak dapat ia bangkit pula. Syukur ia dapat diketemukan oleh Thay Bu Siansu, yang tiaggal dikuil Pek Siong Sie.
Thay Bu Siansu ada punya obat luka yang mustajab, yang dinamai “Kim Kong Keng Seng San”, Hong Kiat lantas diobati obat itu, belum setengah bulan ia sudah sembuh. Ia nyatakan hendak turun gunung, untuk cari Kie Kong Kiat menuntut balas.
“Baik kau jangan pergi pula,” Thay Bu Siansu menasehatkan, malah dia-pun umpatkan pedang dan pauhoknya Hong Kiat, “Kie Kong Kiat ada cucunya Liong Bu Hiap, pasti sekali ia telah dapatkan segala tipu silat yang liehay dari engkongnya itu.
Kau sendiri cuma belajar dua tahun lebih dari Siok Tiong Liong, tidak heran jikalau ilmu pedangmu ada terlebih rendah. Lagi-pun disana Kie Kong Kiat banyak kawan, kalau kau pergi pula, pasti kau sukar rebut kemenangan. Paling benar kau tinggal terus disini, kau boleh pahamkan terlebih jauh ilmu pedangmu, kau bersababat kepada beberapa orang jujur, kemudian baru kau cari pula Kong Kiat untuk piebu. Buat ini tempomu masih banyak, kau tidak akan terlambat.”
Lie Hong Kiat suka dengar nasehat itu, selanjutnya ia tinggal di Pek Siong Sie.
Di Siong San ada banyak rumah suci, Siau Lim Sie adalah berhala yang paling besar, pendetanya juga paling banyak. Kuil yang paling ramai dikunjungi penganut-penganut adalah Thian Cee Bio, di tengah-tengah. Sebaliknya Pek Siong Sie ada kuil paling kecil dan paling jarang dapat kunjungan. Sebab dari ini adalah Pek Siong Sie berdiri disatu puncak tertinggi, hingga tidak sembarang orang yang berani naik demikian tinggi untuk bersujut. Dengan tandu kecil juga orang masih sukar mendaki puncak itu.
Thay Bu Siansu sendiri-pun jikalau tidak ada keperluannya, tidak sembarangan turun dari puncaknya itu. Ia atau murid-muridnya, tidak pernah turun guntung buat minta amal, meski-pun demikian, Pek Siong Sie ada cukup segalanya, untuk penghidupannya semua pendeta disitu. Lie Hong Kiat merasa aneh atas penghasilannya kuil itu. Ia tidak percaya pembilangannya Thay Bu Siansu, bahwa penghasilannya melulu dari penjualan obat-obatan saja. karena obat bubuk Kim Kong Keng Seng San ada sangat “disayang” oleh imam itu. bukan saja dia lihat Thay Bu tidak mau menjualnya,-pun kalau bukan kepada sahabat kekal, obat itu tidak sembarang diberikan. Maka ia sangka imam ini ada imam yang sucikan diri setengah jalan, sesudah dapat kumpul harta besar, boleh jadi dia disebabkan dia ketemu musuh yang liehay dan ketika dikalahkan lantas dia telah tanam satu permusuhan hebat, atau dia telah lakukan suatu pelanggaran undang-undang negara, hingga dia lari ke “pintu suci” untuk umpatkan diri. Disinipun, dipuncak gunung yang tinggi, kecuali sahabat-sahabat paling rapat yang kunjungi dia kadang-kadang dia tampik menemui sembarang tamu. Cuma, mengenai ini Lie Hong Kiat tidak ingin tanya apa-apa pada imam itu. Ia sendiri-pun diperlakukan baik sekali.
Setiap hari Hong Kiat tinggal nganggur diatas puncak, ia sedot harumnya bunga atau mendengari ocehannya burung, ia duduk bercokol membaca kitab atau melatih diri dengan pedangnya. Ia merasakan hidup tenang dan tentram. Atau kalau ia suka, ia turun gunung.
Pada suatu hari ia merasa iseng, ia turun dari puncak, ia datangi sebuah kampung. Disini ada sebuah kali Beng Kim Kian, dan kampung itu letaknya di Timur kali itu, yang terdapat banyak batu, airnya mengalir tak putusnya memukuli semua batu yang menerbitkan suara berisik, seperti suaranya kim. Disitu Hong Kiat ada titipkan kuda putihnya pada satu penduduk yang hidup dari penjualan kayu bakar. Namanya Tiat-keng-pong Ou Jie Ceng si Pundak Besi. Ia pergi pada tukang kayu ini, ia ambil kudanya, ia balap sendirinya di kaki gunung. Ia lari mundar mandir sampai ia lelah sendirinya, sedang matahani mulal naik. Waktu itu barangkali sudah jam tujuh atau delapan, jalanan mulai ramai dengan kuda, kereta dan orang.
Hari ini ada Gou-gwee Cee-it, maka sedari pagi-pagi penduduk dari tempat-tempat berdekatan pada datang untuk bersujut di Thian Cee Bio. Yang teramai adalah dihari ke lima, Cee-gou, ramainya luar biasa, melebihi hari pasar.
Hong Kiat kuatir kena tabrak orang, ia pinggirkan kudanya. Dari situ ia awasi orang banyak, lelaki dan perempuan, tua dan muda dan anak-anak dengan aneka warna pakaiannya, terutama nona-nona dan nyonya-nyonya muda yang berpakalan mewah. Ia bukannya satu gong-kongcu tapi melihat pemandangan itu, ia jadi ingat syair indah yang ia sering baca, maka dengan sendirinya, duduk diatas kudanya, ia membuat sebaris ayair, beginilah bunyinya :
“Disana tusuk konde indah dengan pakaian merah hijau belang.
Diatas gunung memandang awan permai terbang melayang-layang.
Diatas kuda terbanglah semangatnya seorang gagah perantauan.
Sedang pedang tajam tak dapat selesaikan ruwetnya perselisihan.”
Garis pertarna dari syairnya itu, Hong Kiat artikan orang-orang perempuan dengan dandanan indah. Ia merasa puas dengan syair-nya itu. Ia sedang kesengsam sendiri ketika ia dengar datangnya suara kelenengan dari jurusan Timur, lalu tertampak seekor kuda lari mendatangi, suara kelenengan itu adalah dari kuda itu, suaranya seperti berlagu Penunggangnya kuda itu adalah satu pemuda umur dua puluh lebih, alisnya panjang, matanya besar, romannya cakap dan gagah, karena dia-pun ada punya tubuh tiuggi dan kekar. Di kepalanya ada satu tudung lebar, yang diikatkan dua potong pita hitam dan panjang sebagal tali pengikat, bajunya dan celananya biru, sepatunya caueh (sepatu rumput). Dilihat macannya, dia ada seperti datang dari Kanglam. Yang terutama tarik perhatiannya Hong Kiat adalah pauhok ringan dan pedang dipelana, pedang mana memain tak berhentinya, menerbitkan suara saling sahutan dengan kelenengan.
“Pasti dia bukan orang yang hendak bersujut keatas gunung, dia mesti ada orang yang sedang lakukan perjalanan,” Hong Kiat berpikir. “Tapi ia datangi gunung, ia hendak cari siapa?“
Sekali-pun ia memikir demikian, Hong Kiat toh tidak ikuti orang itu, yang telah lewati padanya akan ikuti orang ramai. Sesudah mendekati tengahari, baru ia kembali ke Beng Kim Kian, ke rumahnya Ou Jie Ceng. Waktu ia tuntun kudanya masuk kepekarangan yang terpagar, ia lihat tukang kayu itu sedang makan phia.
Orang she Ou ini berumur dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun, tubuh dan mukanya semua hitam seperti arang saja, hingga kepalanya mirip dengan sebuah bola besi, karena ia tidak pakai baju, kelihatanlah tubuhnya yang kekar dan kuat daging dan urat-urat pada berjendol besar dan tidak rata. Kulitnya yang hitam itu seperti berminyak, mengkilap seperti cat saja keringatnya.
“Saudara Lie, mari dahar sama-sama!“ mengundang tukang kayu yang sedang caplok phia yang hitam itu. “Lihat phia buatan ibu lezat sekali!”
“Terima kasih, aku dahar dikuil saja,” Hong Kiat menampik.
“Barang makanan dikuil tak selezat seperti kepunyaanku,” Ou Jie Ceng mendesak. “Mari dahar, saudara Lie, didalam masih ada lagi!“ ia lantas tunjuk pikulan kayunya didalam pekarangan itu. Itu ada kayu yang baru dikampak dari atas gunung, beratnya ada seratus lima puluh atau enam puluh katie cuma pundak besinya yang kuat pikul itu. Ia tambahkan: “Kalau aku jual itu, aku akan dapat dua renceng uang, untuk aku dapat beli beberapa kati daging, dan daging itu ada untuk suguhi ibu, untuk undang kau dahar juga!”
Lie Hong Kiat tertawa untuk kemanisan budinya orang itu.
“Jangan kau belikan daging untuk aku!” katanya, “Baiklah, aku dahar phiamu saja.”
Ia lantas tambat kudanya, ia mauk kedalam rumah dari mana ada mengepul asap.
Ibunya Jie Ceng ada seorang lumpuh, nyonya tua itu numprah saja diatas pembaringannya kong, atau pembaringan tanah. Di depan pembaringan ada ditaruh perapian kecil untuk ia mematangi phia dan lainnya untuk anaknya. Kamar itu kotor, phia-pun kasar buatannya, akan tetapi karena Hong Kiat lapar dan malas pergi belanja dilain tempat, ia jemput sepotong phia dan dimakannya bersama Jie Ceng sambil mereka bercakap-cakap.
Menurut si tukang kayu, sekarang pekerjaan memotong kayu sudah tidak ada artinya. Pepohonan didalam rimba diatas gunung kebanyakan sudah ada pemiliknya, kalau bukannya pendeta dari bio, tentu hartawan dari kaki gunung. Siapa ambil kayu dengan sembarangan, dia bisa didamprat dan dipukuli.
“Aku sebenarnya niat pergi kekota buat cari lain pekerjaan, hanya sayang aku tidak dapat tinggalkan ibuku,” Jie Ceng nyatakan akhirnya.
“Ibumu tidak bisa jalan, senantiasa dia memerlukan rawatanmu, memang kau tidak boleh kerja dikota,” Hong Kiat bilang. “Baik kau tetap potong kayu saja. Umpama kau kekurangan uang, kau boleh datang padaku, nanti aku beri pinjam padamu ... ”
“Oh. saudara Lie, jangan kau pinjamkan uang padaku!” Jie Ceng kata seraya goyang-goyang tangannya. “Kalau kau beri pinjam, selainnya aku tidak mampu bayar, juga diwaktu malam, aku tidak bisa jadi tidur, aku pasti akan ingat itu selalu!”
Lie Hong Kiat tertawa. Ia suka akan tukang kayu yang jujur dan polos ini.
Cuma dahar sebelah phia, pemuda ini sudah tidak lapar lagi, dan selama mengaso itu, keringatnya-pun sudah kering pula.
Jie Ceng sehabisnya dahar, sudah lantas pergi pelihara kuda tamunya ini.
Waktu sudah lewat tengah hari.
“Jie Ceng, aku bendak pergi sekarang,” kata Hong Kiat pada si tukang kayu. “Sampai besok ya!”
“Baiklah, saudara Lie!”
Hong Kiat lantas keluar dari pekarangan, ia keluar dari kampung itu, dengan mengikuti kali, ditepi mana ia berjalan, kupingnya senantiasa dengar suara ngericiknya air yang seperti suara tetabuhan kim. Di depan kali-pun ada banyak batu, yang saling susun, yang bertumpuk merupakan bukit, sedang dari pepohonan suaranya angin jadi saling sahutan dengan suaranya air.
Ketarik hatinya pemuda tukang syair ini berhentikan tindakannya, berdiri ditepi kali, matanya memandang awan diatas bukit. Timbullah niatnya untuk membuat syair pula. Tapi, selagi memandang kebawah, ia tampak disebelah kanannya ada sebuah batu melintang menyeberangi kali, terus kesatu jalanan gunung, yang banyak tikunganuya. Ia duga disana mesti ada pemandangan alam yang indah, maka batallah ia membuat syair.
“Sudah sekian lama aku tinggal disini, kenapa aku tidak tahu adanya jalanan ini?” kata ia dalam batinya. Ia terus jalan diatas jembatan batu itu, akan pergi ke jalanan gunung itu. Belum lama, ia lihat reruntuknya sepasang sepatu rumput. Lagi sedikit jauh ia-pun tampak kotoran manusia. Maka ia percaya, ini ada jalanan biasa dilalui manusia. Ia mendaki terus.
Disebelah atas, pohon-pohon cemara halangi sinar panas dari matahari. burung berterbangan pergi datang perdengarkan suaranya.
“Kenapa aku mesti pergi kedunia ramai akan perebutkan nama dan harta? Kenapa aku mesti turun gunung pula akan membalas kepada Kie Kong Kiat?” tiba-tiba pemuda ini ngelamun. “Guna apa melayani orang orang Kun Lun Pay itu? Bukankah terlebih baik aku berdiam disini dengan mendirikan sebuah gubuk, akan icipi keberuntungan bukit dan rimba?”
Hong Kiat jalan terus, pikirnya masih ngelamun. Kemudian ia sampai dijalan yang terlebih sempit, tetapi disitu burung-burung terdapat terlebih banyak. Ia sedang jalan terus dengan mendengari suara burung, tatkala tiba-tiba ia dengar tangisannya dari seorang perempuan. Ia heran, lantas merandek.
Tangisan itu seniakin dekat dan semakin nyata. Sekarang suara tadi semakin berisik tangisan itu terdengar lebih keras, tercampur dengan cacian juga.
Segera Lie Hong Kiat memburu, maka sekarang ia lihat dan atas bukit ada berlari-lari seorang perempuan, pakaiannya rombeng, rambutnya awut-awutan.
“Tolong! Tolong, ada orang jahat!” -pun segera terdengar jeritannya itu.
Disebelah belakangnya perempuan ini ada berlari-lari seorang lelaki umur kira-kira empatpuluh, mukanya kuning, pakaiannya mewah. Dia agaknya tidak lihat pemuda kita, ia menguber terus, sekarang terdengar suaranya: “Eh, perempuan tidak tahu diri! Toaya sayang padamu, tapi kau justeru bertingkah! Toaya hendak angkat kau supaya kau beruntung.”
Orang ini hampir menyandak, ia sudah ulur kedua tangannya akan merangkul tetapi perempuan itu lari lebih keras, hanya apa celaka, karena berlompat, ia terus rubuh dengan perdengarkan jeritannya yang mengerikan.
Menampak demikian, Hong Kiat jadi gusar, ia lompat maju akan jambak lelaki itu, yang ia tegur: “He, kau hendak buat apa? Kenapa kau ganggu perempuan yang lemah ini?“
Lelaki itu jadi gusar.
“Da ada isteriku, kau tidak berhak mencampurinya.”
Tapi ucapan itu belum habis dikeluarkan, kepalannya Hong Kiat sudah melayang, hingga diantara satu suara keras, orang itu rubuh terguling, terus pingsan.
Hong Kiat tidak perdulkan orang itu, ia lari kepada perempuan itu yang ia terus beri bangun.
Perempuan itu berumur tujuh atau delapan-belas tahun, sekarang kelihatan nyata romannya yang elok, meski-pun pakaiannya jelek dan rambutnya kusut, mukanya penuh air mata.
Lekas-lekas Hong Kiat lepaskan kedua tangannya, karena ia merasa yang ia sudah berlaku lancang.
“Kau jangan takut,” ia lantas kata. “Pergi kau lanjutkan perjalananmu.”
Nona itu berdarah didahinya, darahnya nyampur jadi satu dengan air matanya. Ia masih seguk-seguk dengan tidak kata apa-apa ia lantas bertindak kembali keatas bukit.
“Eh, buat apa kau naik,” tanya Hong Kiat, yang mencegat. Apa kau memang tinggal diatas gunung pula?“
Nona itu geleng kepala, ia masih menangis.
“Disana ada nayaku yang kelinggalan ... “ sahutnya.
“Mari aku antar kau,” kata Lie Hong Kiat.
Justeru itu lelaki tadi telah sadar akan dirinya, ia gulingkan tubuh untuk berbangkit, tapi berbareng dengan itu, sebelah tangannya meraba tubuhnya dari mana ia keluarkan satu golok pendek, dengan apa ia timpuk pemuda kita.
Si nona menjerit melibat samberan golok seperti piau saja.
Tapi Lie Hong Kiat yang lihat serangan itu segera menyambutinya.
“Apakah kau masih punyakan lain golok terbang?“ tanya ia dengan mengejek.
Orang itu mengawasi dengan bengis, ia keluarkan pula goloknya, sekali ini ia menenimpuk dengan dua hui-too, golok terbang, saling susul.
Hong Kiat ulur kedua tangannya, akan samber dua-dua huitoo itu.
Menampak ini barulah lelaki itu kaget dan ketakutan.
“Kurang ajar!“ Hong Kiat berseru, karena ia-pun gusar. Berbareng dengan itu, sedangkan huitoo diberi melayang, yang dengan jitu mengenai pipi kirinya orang itu yang tak sempat berkelit, hingga dia ke luarkan jenitan tertahan. Darah lantas muncrat dan lukanya, ia jadi takut bukan main, ia cabut goloknya itu, terus ia lari. Ia lari baru beberapa tindak, tiba-tiba ada sepotong batu yang melayang turun dari atas, menimpa mukanya, hingga lagi sekali dia menjerit, tubuhnya rubuh terguling, kembali ia pingsan.
Lie Hong Kiat jadi heran, ia angkat kepalanya untuk melihat.
Dari atas ada terdengar suara orang terawa gelak-gelak, lantas orang itu muncul bersama kudanya, yang dituntun turun. Dia adalah pemuda yang tadi Hong Kiat lihat dijalan besar.
Orang itu menghampiri sambil angkat tangannya memberi hormat pada pemuda kita.
“Sababat, apakah jalan ini terus kebawah bukit?“ ia tanya sembari tertawa. “Apa dengan tuntun kuda aku bisa turun terus kebawah?”
Hong Kiat membalas hormat.
“Jalanan disini ada terlalu sempit, menuntun kuda-pun sukar,” jawab ia. “Sahabat, aku lihat kau datang dari arah Timur, kenapa kau tidak ambil kembali jalananmu yang tadi?”
“Tapi orang hunjukan aku jalanan ini,” sahut orang itu. “Katanya dari sini bisa sampai disebuah kampung di depan gunung dimana ada kuil Pek Siong Sie. Aku hendak pergi kesana untuk cari satu orang yang tinggal dibawahan Pek Siong Sie ... ”
Hong Kiat heran. Ia tahu Pek Siong Sie tidak punya bangunan lainnya, sedang depan gunung adalah arah Utara, letaknya jauh sekali dari tempat dinana mereka berada. Maka ia pecaya, orang ini sudah ditunjukan jalanan yang keliru.
“Kau hendak cari siapa, sahabat?“ ia lantas tanya.
“Aku hendak cari Kim Lian Pou-sat Thay Bu Siansu dari Pek Siong Sie,” sahut orang itu.
“Kalau begitu kebetulan,” Hong Kiat bilang. “Thay Bu Siansu adalah sahabatku, kau boleh turut aku menernui dia. Tapi tunggu sebentar, aku hendak selesaikan dahulu urusan ini ... “
Pemuda itu tertawa.
“Baiklah?“ jawab ia.
Lie Hong Kiat lantas antar si nona keatas dimana nona itu dapat cari nayanya yang termuat rupa-rupa sayur yang baru dapat dipetiknya.
Melihat pakaian dan isi naya itu, Hong Kiat percaya nona ini ada seorang miskin, ia jadi merasa kasihan.
“Lain kali jangan kau mendaki pula bukit ini,” ia beri nasihat. “Atau kalau kau pergi juga, ambillah jalan besar. Di sini ada sangat sepi, kalau kau ketemu orang jahat, kau bisa celaka!“
Sambil meleleh air mata, nona itu terima baik nasihat itu.
“Coba tanya dimana dia tinggal, lebih baik dia diantar pulang,” kata sianak muda yang menuntun kuda.
Hong Kiat menurut, ia tanya nona itu.
“Aku tinggal disana,” si nona menunjuk dengan tangannya kebawah gunung. Nyata ia menuajuk kali Kim Beng Kian.
“Akupun datang dari sana,” Hong Kiat bilang. “Mari aku antar kau.” Kemudian ia menoleh pada si anak muda, seraya tambahkan: “Sahabat, tolong kau tunggu di sini sebentar saja, aku akan segera kembali!“
Pemuda itu manggut-manggut.
“Baiklah!“ katanya.
Hong Kiat ambil nayanya si nona, siapa ia antar turun. Tapi si nona sukar jalannya karena kakinya yang kecil, tadi-pun ia telah jatuh terguling. Jalanan pun mudun dan tidak rata, Hong Kiat jadi tidak sabaran, tidak perdulikan lagi lam lie siu sin put cin, ia cekal lengannya nona itu. Dengan begitu mereka jadi bisa jalan cepat, hingga sebentar kemudian mereka sudah seberangi jembatan batu, sampai dimuka kampung. Disini Hong Kiat serahkan nayanya si nona.
“Ingat, lain kali jangan kau sembarang mendaki gunung pula!“ ia menasihati pula.
Nona itu berjanji, ia mengucap terima kasih.
Sampai disitu, Hong Kiat lari balik, ia sampai kepada pemuda tadi justeru si muka kuning sudah sadar, dia sedang dipegang dan ditanyai oleh pemuda itu. Ia menghampiri, ia berikan dua gablokan.
“Kau bukannya muda lagi, kenapa kau ganggu satu nona?“ ia menegur. “Kau seperti binatang saja! Lekas pergi! Kau muesti anbil jalanan lain, jangan turun disini!“
Orang itu tidak berani buka suara, sembari tunduk ia ngeloyor pergi, keadaannya mirip anjing terluka.
Hong Kiat awasi orang pergi, baru ia menoleh pada jago muda kita.
“Sahabat, apakah she dan namamu yang mulia?” ia tanya seraya ia mengasi hormat.
Pemuda itu balas horrnat itu.
“Aku Kang Siau Hoo.”
Hong Kiat melengak mendengar nama ini. Ia ingat ia seperti pernah dengar orang sebut-sebut nama itu. Tapi segera ia mengucap: “Sudah lama aku dengar namamu itu! Saudara datang dari mana?”
“Aku datang dari Hie-ciu, aku sengaja hendak menemui Thay Bu Siansu,” sahut pemuda itu, yalah Kang Siau Hoo kita. “Tadi aku telah sampai di Pek Siong Sie, tapi satu hwee-shio disana bilang, Thay Bu Siansu baru pergi kuil lainnya dikampung di depan gunung dan aku ditunjukkan jalanan kesini, kebetulan sekali aku lihat lauhia sedang ajar adat pada manusia binatang itu. Kau pandai, lauhia, aku kagum padamu. Apa aku boleh ketahui she dan nama lauhia?“
Lie Hong Kiat perkenalkan dirinya yang sebenarnya.
Pemuda kita nampaknya terperanjat, lantas ia hunjuk roman girang.
“Oh, kiranya kau Lie Hong Kiat, murid terpandai dari Siok Tiong Liong!“ kata ia sambil berseru. “Selama di Kanglam aku telah dengar halmu, lauhia, yang telah lakukan banyak perbuatan mulia!“
“Kau terlalu memuji, sudara Kang!“ sahut Hong Kiat sambil tertawa.
“Saudara Lie,” kata Siau Hoo kemudian, “kau kenal baik Thay Bu Siansu, tolong antar aku padanya. Ada satu sahabatku di Hie-ciu yang telah terluka, lukanya tidak parah tetapi luka itu bengkak dan bernanah, aku dengar Thay Bu Siansu apa punya obat bubuk Kim Kong Keng Seng San yang sangat mujarab, aku pikir untuk minta sedikit guna tolongi sahabatku itu.”
“Memang, Kim Kong Keng Seng San ada manjur sekali,” Hong Kiat bilang. “Baru pada bulan yang lain aku-pun terluka, dengan pakai obat bubuk itu sekarang aku sudah sembuh betul. Hanya Thay Bu Siansu ada sangat sayangi obatnya itu, tidak sembarang orang ia berikan, hendak dibeli-pun dia tidak mau jualkan. Aku nanti coba membicarakannya, aku harap dia suka membaginya padamu.”
Kang Siau Hoo manggut.
“Sahabatku itu juga orang kangou,” ia beri tahu. “Dahulu Thay Bu Siansu ada seorang kangou juga, baru belakangan ia sucikan diri, maka sebagai orang suci, seharusnya dia berhati lebih mulia pula. Apakah artinya sedikit obat untuk tolong sesamanya?“
Keduanya lantas berjalan naik, Siau Hoo tuntun kudanya. Mereka jalan sambil terus pasang omong Hong Kiat tanya orang punya asal usul, tetapi Siau Hoo tidak mau berikan keterangan apa juga, melainkan sambil tertawa manis ia kata :
“Aku ada sebatang kara, aku merantau seorang diri. Bugee-pun aku mengerti tidak seberapa, melainkan cukup untuk jaga diri tidak sampai terhina orang. Sekarang ini aku datang dari Kanglam, di Hie-ciu aku ketemu sahabatku yang terluka itu, karena itu aku datang kemari cari Thay Bu Siansu. Kalau nanti aku sudah antarkan obat pada sahabat itu di Hie-ciu, aku hendak pergi ke Kwan-tiong akan ketemui beberapa kenalan.”
“Ke Kwan-tiong?” Hong Kiat mengulangi, dengan ia merasa heran. “Saudara Kang, sahabat-sahabatmu di Kwaa-tiong itu berusaha apa?”
“Mereka itu bekerja dalam kalangan pautiam,” Siau Hoo menjawab.
“Piautiam di Kwan-tiong kebanyakan ada kepunyaan orang-orang Kun Lun Pay,” Hong Kiat bilang. “Apakah mereka itu ada sahabat-sahabat kekalmu, saudara Kang?”
“Aku kenal mereka tetapi tidak bergaul rapat.” Siau Hoo beritahu.
Mendengar itu, sikapnya Hong Kiat jadi berubah. Ia mau percaya pemuda she Kang ini termasuk golongannya Kun Lun Pay. Ia menjadi tidak gembira.
“Kun Lun Pay terdiri dan manuSia-sia licik!” ia lantas kata, seraya tertawa dingin. “Mereka cuma kosen karena mengandalkan jumlah yang banyak. Paling belakang ini disana ada Kie Kong Kiat, cucunya Liong Bun Hiap, yang silat pedangnya bisa dibilang tinggi juga. Dia sekarang bantui Kun Lun Pay. Oleh Kat Cie Kiang dan Lou Cie Tiong semua, dia diperlakukan sebagai malaikat saja!”
Kang Siau Hoo kelihatannya terperanjat mendengar namanya Kie Kong Kiat.
“Cucunya Liong Bun Hap?” ia menegas.
“Ya, orang bilang dia ada cucunya Liong Bun Hiap,” Hong Kiat ulangkan. “Aku percaya orang tidak mendusta. Dalam ilmu pedangnya, ada beberapa tipunya yang liehay. Usianya Kong Kiat berimbang dengan usia kita. Hanya ada sangat memalukan, sebagai satu hiap-kek muda-belia, dia telah bantu kaum Kun Lun Pay!”
“Saudara Lie pernahkah kau bertempur dengan dia itu?“ Siau Hoo tanya.
“Ya, untuk beberapa jurus,” sahut Hong kiat sesudah bersangsi sebentar. “Aku malu buat berurusan terlebih jauh kepadanya itu.”
Mereka bicara terus sampai dipuncak paling tinggi dimana kuda tak dapat dituntun terlebih jauh.
“Tambat saja kudamu disini, tidak nanti ada yang curi,” Hong Kiat kata.
Siau Hoo tambat kudanya pada sebuah pohon cemara, ia turunkan pauhoknya yang ringan dan pedangnya, ia gendol itu dibebokongnya. Ia lantas ikuti Hong Kiat, mereka naik melapay antara akar-akar pohon, hingga keduanya mirip dengan dua ekor kunyuk. Untuk kedua kalinya, Kang Siau Hoo sampai pula di Pek Siong Sie yang senantiasa seperti tertutup awan atau kabut.
Hong Kiat ajak Siau Hoo ke kamarnya sendiri.
“Kau tunggu sbeiar,” kata ia pada sababat baru ini, setelah mana, ia pergi cari Thay Bu Siansu dikamarnya.
Pendeta dari Pek Siong Sie sedang balik-balik lembaran kitabnya.
“Tadi ada seorang bernama Kang Siau Hoo datang cari kau buat minta oba .t.. kau tahu tidak?” Hong Kiat tanya pendeta itu. “Sekarang dia datang pula.”
Dengan segera Thay Bu perlihatkan roman tidak senang pada mukanya yang bersemu sedikit kuning.
“Eh, kenapa dia datang pula?” dia kata. “Memang tadi dia datang unuk minta Obat. Obat bubukki Kim Kong Keng Seng San disediakan melulu untuk orang-orang dalam kuilku umpama ada yang jatuh selagi mereka turun-naik gunung. Mana itu bisa diberikan pada orang-orang kangou? Mereka itu, sesudah sembuh, nanti saling bertempur pula atau lakukan kejahatan!”
“Baiklah beri dia sedikit, supaya dia lantas pergi,” Hong Kiat beri pikiran, “Kelihatannya dia ada dari golongan Kun Lun Pay tetapi dia datang dari tempat yang jauh, itulah perjalanan tidak gampang ... “
Mendengar disebutnya Kun Lun Pay, Thay Bu geleng-geleng kepalanya.
“Semakin orang Kun Lun Pay semakin aku tak sudi mengasikannya!” kata pendeta ini. “Ringkasnya, obatku itu aku tak sudi berikan pada orang kangou! Kau-pun kalau aku tidak kenal baik, lukamu bekas pedang aku tidak akan obati!”
“Kalau begitu, aku suruh dia pergi saja?” Hong Kiat bilang.
“Bilang saja aku sedang pesiar, entah kapan kembalinya?” Thay Bu kata. “Bilang bahwa kau tidak tahu obat dimana disimpannya.”
“Tak usah kita bilang demikan, kata saja obat sudah habis,” Hong Kiat usulkan.
Thay Bu Siansu manggut.
“Begitu-pun baik,” katanya. “Obatku memang tinggal sedikit.”
Hong Kiat lantas balik pada sahabatnya.
Kang Siau Hoo telah menantikan sekian lama, ia sudah mulai jadi tidak sabaran ia mulai bercuriga. Ia lihat pedangnya Hong Kiat digantung ditembok dan di atas meja ada beberapa jilid buku, ia duga orang she Lie itu ada bun bu coan cay.
“Saudara Kang,” kata Hong Kiat, “datangmu tidak kebetulan. Obatnya Thay Bu Siansu sudah habis.”
Siau Hoo bersangsi.
“Obat sudah habis?” kata ia. “Tapi, bolehkah aku pinjam surat obatnya? Aku nanti turun gunung akan belikan dua bungkus saja, lantas surat obat itu aku kembalikan. Aku Kang Siau Hoo berani sumpah, aku tidak nanti salin surat obat itu untuk disiarkan pada orang banyak! Aku melainkan hendak tolongi sahabatku itu!”
“Saudara Kang, baiklah kau pergi saja,” Hong Kiat berpikiran. “Diempat penjuru dunia toh ada terdapat tabib-tabib ternama! Carilah tabib, agar luka sahabatmu itu tidak terlambat diobatinya. Thay Bu Siansu juga dapat obatnya dari lain orang.”
Air mukanya Kang Siau Hoo berubah dengan segera.
“Aku tidak percaya!” kata ia, yang lantas goyang-goyang tangannya. “Saudara Lie, aku bukan minta obat darimu. obat juga tidak ada ditanganmu, kau sendiri bukan orangnya kuil ini, kau tidak bersangkut paut! Biar aku cari sendiri si hweeshio.”
Sambil kata begitu Siau Hoo tolak tubuhnya Hong Kiat, ia bertindak keluar kamar.
Hong Kiat terkejut atas tolakan itu, karena ia merasakan tenaga yang besar luar biasa.
Siau Hoo sudah lari kedalam bio mana ia lantas berteriak-teriak: “Thay Bu, jangan kau sembunyikan diri! Mari keluar bicara kepadaku! Kau toh dulunya ada orang kangou juga! Sahabatku itu terluka, memandang sesama orang kangou, kau harus keluarkan obatmu itu, kau toh sudah jadi pendeta, sebagai seorang suci, kau mesti welas-asih, kau mesti murah-hati! Dengan simpan saja obatmu itu, kau tidak bakal jadi Buddha, tetapi dengan berikan aku sedikit obatmu, kau bisa tolong jiwanya sahabatku, terutama dia tidak usah terlalu menderita!”
Hong Kiat lari keluar akan memburu. ia mencoba cegah sahabat baru ini.
“Saudara Kang ... “ katanya, “aku yang ajak kau kemari, dengan kau buat banyak berisik, aku malu ... “
“Orang she Lie, kau jangan perdulikan aku! ini bukannya urusanmu! Sebelum aku ketemu kau, aku sudah datang kekuil ini, disini orang telah dustakan aku! Aku cari Thay Bu bukan untuk berkelahi, aku hendak bicara dengan cenglie. Eh, Thay Bu Hweeshio, kau keluar!”
Siau Hoo-pun banting-bantingkan kakinya.
Dari dalam segera keluar satu pendeta muka kuning yang tubuhnya tinggi-besar.
“Apakah kau Thay Bu sendiri?” Siau Hoo segera menegur.
Pendeta itu nampaknya murka.
“Kenapa kau buat berisik disini?” menegur ia. “Aku ada punya obat tetapi aku tak bisa berikan itu pada orang kangou!”
Mendengar itu Siau Hoo menoleh pada Hong Kiat.
“Dengar, dia punya obat! Kau bantu dia mendusta!” ia kata. Tap ia maju dua tindak pada Thay Bu Hweeshio. “Kau jangan gusar dulu!” ia kata pada pendeta itu, “Aku Kang Siau Hoo tidak suka berkelahi. Aku hanya mau bilang, ada tidak tepat buat kau cela orang kangou! Mustahil kau sendiri dulunya bukan orang kangou?”
“Benar aku ada orang kangou, tetapi aku bekerja untuk kebaikan orang banyak!” Thay Bu jawab “Sekarang ini di antara orang-orang kangou kebanyakan ada manusia-sia jahat dan cabul, jikalau aku berikan obatku dan dia sembuh, dia akan lakukan pula berbagai kejahatan!”
Kang Siau Hoo mendongkol hingga ia banting-banting kaki.
“Bagaimana kau bisa mempersamakan semua orang!” ia berseru. Ia maju, tangannya digeraki. “Jikalau kau tidak berikan obat padaku, aku tidak mau berlalu dari sini! Ya, aku nanti ganggu kesucianmu!“
Thay Bu Siansu bersenyum menghina, dengan tiba-tiba tangannya menyamber kepada pemuda kita.
Kang Siau Hoo tidak menangkis atau berkelit, sebaliknya ia tunggu kepalan orang hampir sampai, segera ia samber lengannya orang itu.
“Oho, kau Kim Lian Pou-sat, dewi bermuka emas, hendak tempur aku?” ia kata setelah mana, ia membetot kesamping.
Thay Bu ada punya tubuh kekar sebagai besi, akan tetapi kuda-kudanya (bhesinya) telah tergempur, tubuhnya ikut terpelanting kesamping sampai beberapa tindak.
Hong Kiat lihat itu segera maju akan menghalangi pendeta itu.
“Suhu, kau jangan layani dia,” ia beri nasihat. “Kalau kau sampai rubuh, itulah tidak ada harganya!”
Tetapi pendeta itu ada sangat gusar.
“Biar aku rubuh ditangannya, obatku tak dapat aku berikan padanya!” kata ia dalam sengitnya. Ia lantas buka jubahnya, ia loncat pada pemuda kita seraya kirim pukulannya dengan dua-dua kepalannya.
Sekarang Kang Siau Hoo-pun maju berikan perlawanan, maka disitu keduanya jadi bertempur. Pemuda itu tidak keder sedikit-pun akan kepalan lawan yang keras laksana besi.
Kim Lian Pou-sat Thay Ba Siansu adalah tangan kanan dari Siok Tiong Liong, sekarang ini dia ada salah satu orang gagah yang kesohor untuk propinsi Hoolam. Ia bertubuh besar, kedua tangannya panjang tenaganya besar luar biasa. siapa terkena atau terlanggar itu. dia mesti rubuh.
Disebelah ini, Kang Siau Hoo ada punya kegesitan luar biasa, sama sekali tidak jerih untuk orang punya tubuh atau tenaga besar itu.
Hong Kiat saksikan pertempuran sampai sepuluh jurus lebih, lantas sambil goyang-goyang tangannya ia berseru : “Sudah, sudah, jangan berkelahi lebih jauh!“
Kang Siau Hoo cuma kehendaki obat, maka ketika ia dengar teriakan itu, ia lantas saja mundur, untuk tidak menyerang lagi.
Tapi Thay bu sudah sangat gusar, ia tak perdulikan cegahan, selagi orang mundur, ia lompat maju menyerang.
Melihat demikian, Siau Hoo jadi sangat mendongkol. Ia angkat tangan kanannya menangkis, berbaeng tangan kirinya turut maju, setelah mana, satu suara “Duk!” yang keras terdengar, tubuhnya si pendeta yang besar dan kuat terpental mundur.
Syukur Hong Kiat lantas maju menjaganya, kalau tidak tak ampun lagi pendeta ini mesti rubuh terguling.
Siau Hoo lompat kesamping, napasnya tidak sengal-sengal.
“Apakah kau masih inginkan hajaran? Lekas serahkan obat padaku!” ia kata.
Thay Bu Siansu berdiri dengan muka pucat, hingga warna mukanya jadi terlebih kuning. Ia mengawasi dengan tajam, dari kepala sampai di kaki.
“Siapa yang ajarkan kau bugee?” ia tanya.
“Kau tidak perlu tanyakan itu!” Siau Hoo jawab, “Sudah sepuluh tahun aku belajar silat tetapi aku toh masih tidak ke tahui she dan namanya guruku!”
Sebelum Thay Bu kata apa-apa, Hong Kiat nyelak pula. Ia telah saksikan ilmu silat yang luar biasa dari pemuda kita, yang buat ia kagum dan heran.
“Sudah jangan bertempur pula, ia kata, “Kelihatannya bugee saudara Kang bukan dari Kun Lun Pay, mestinya itu ada dan golongan Lwee-kee ...”
“Kun Lun Pay?“ Siau Hoo memotong. “Orang-orang Kun Lun Pay adalah musuhku semua! Sepuluh tahun aku belajar silat, perlunya itu ada untuk binasakan mereka itu!”
Kemudian ia hadapi Thay Bu : “Hweeshio, kita tidak bermusuhan satu pada lain, kalau tadi kau bicara dengan pantas padaku dan berikan sedikit obatmu, pasti aku sekali tidak sudi layani kau berkelahi. Aku bukannya seorang yang tidak kenal aturan! Sekarang mari lekas berikan obatmu!“
Mukanya Thay Bu berubah-ubah pula, dadanya turun naik, ia berdiam sebentar, lantas ia manggut.
“Baik, aku nanti berikan obatku!“ kata ia dengan sengit bahna penasarannya. Ia bertindak masuk dengan tindakan lebar, cepat sekali ia keluar pula dengan empat lima bungkus obat yang ia lemparkan ketanah, ia mengawasi Siau Hoo dengan sepasang matanya bersinar tajam. Ia kata, “Inilah semua obatku, aku serahkan semuanya padamu! Terserah padamu, kau boleh kasihkan pada siapa kau suka! Sekarang kau lihat ini ... “ dan tangan kirinya pendetaitu perlihatkan selembar kertas: “Ini adalah surat obatnya! Tanpa surat obat ini aku sendiri juga tidak mampu buat obat ini! Sekarang aku habiskan semua dari akar-akarnya! Aku adalah orang suci sejati, aku bukannya tukang buatkan obat pada segala orang kangou!” Setelah kata begitu dengan sengit ia robek hancur yoh-thoa itu. Lalu ia tambahkan pula: “Nah, kau ambil obat itu, lekas kau pergi! Anggap saja bugeemu ada liehay!“
Air mukanya Siau Hoo-pun merah padam, tetapi kelihatan ia bisa kendalikan diri.
“Aku tidak inginkan demikian banyak, sebungkus-pun sudah cukup!‘ ia bilang. “Selebihnya kau boleh sebar itu diantara sampokannya angin!”
Setelah berkata begitu, ia jemput satu bungkus, terus ia pergi kekamarnya Lie Hong Kiat buat ambil pauhok dan pedangnya, lalu terus ia keluar dan pekarangan kuil.
Thay Bu Siansu ngeloyor kedalam kamarnya, ia menarik napas panjang pendek
Lie Hong Kiat benahkan sisa obat itu, segera ia pergi kekamarnya akan ambil pedangnya, kemudian ia lari keluar, akan susul Kang Siau Hoo, siapa ia lihat sudah tungang kuda hitamnya sedang lari turun. Ia berteriak-teriak memanggil dan mengejar, tapi ia tidak berhasil. Maka ia segera lari kearah kali, ia memotong jalan akan pergi ke rumahnya Ou Jie Ceng buat ambil kudanya. Jie Ceng sedang pergi kekota menjual kayunya, ia belum balik. Hong Kiat samber kudanya buat kabur kearah Timur. Ia niat coba susul Siau Hoo. Ia belum keluar dari kampungnya, tiba-tiba dari belakang sebuah pohon murbei yang besar dimana ada temboknya gempur, muncul satu nona. Ia lantas kenali nona itu adalah nona yang tadi ia tolongi, tapi sekarang si nona sudah cuci bersih mukanya, sekali-pun dia masih pakai pakaiannya yang rombeng, toh kelihatan nyata keelokannya. Nona itu nyender ditembok, ia mengawasi pemuda ini, kelihatannya ia sangat bersyukur. Tapi Hong Kiat ada punya urusan, ia tidak sempat memandang nona itu, ia kabur terus dengan kudanya. Dengan cepat ia lewati distrik Teng-hong, ia kabur terus kearah Timur, sampai duapuluh lie lebih. Disini barulah ia dapat susul kuda hitam itu.
“Saudara Kang Siau Hoo! Tunggu!“ ia berteriak dengan tangannya menggape-gape.
Kang Siau Hoo dengar teriakan itu, ia tahan kudanya, ia lantas berpaling kebelakang.
Kudanya Hong Kiat segera menyandak, selagi mereka terpisah baru tiga tumbak, Lie Hong Kiat sudah rangkap kedua tangannya.
“Saudara Kang, aku susul kau untuk haturkan maaf,” berkata ia. “Tadi dikuil aku bukannya bantu Thay Bu untuk dustakan kau, dia kata obat tidak hendak diberikan, aku jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Lain dari itu, aku tadinya sangka kau ada orang Kun Lun Pay, aku jadi tidak perdulikan padamu, tetapi sekarang aku dapat kenyataan bugeemu bukan ada pelajaran Kun Lun Pay, kau justru mesti ada muridnya orang pandai!“
Selagi begitu kuda putih sudah lantas datang dekat sekali.
Siau Hoo juga membalas hormat.
“Saudara Lie, kau terlalu seejie,” kata ia. “Namamu baik, -pun di Kanglam aku telah mendengarnya, maka itu siang-siang aku telah ketahui siapa adanya kau, sedang tadi aku beruntung bisa saksikan kepandaianmu. Sebenarnya aku berniat bicara banyak kepadamu, sayang sahabatku di Hia-ciu itu mesti lekas ditolong, maka aku perlu lekas kembali padanya. Juga setelah itu aku perlu segera pergi ke Kwan-tiong. Aku kira tidak sampai sepuluh hari, aku akan datang pula kemari, itu waktu barulah kita ikat persahabatan yang mendalam. Dikemudian hari kau akan ketahui, saudara Lie, aku Kang Siau Hoo paling gemar bergaul.”
Hong Kiat girang dengan pengutaraan itu.
“Kalau nanti kau datang pula saudara Kang, jangan kau cari diatas gunung!” ia pesan, “dengan begitu kau bisa singkirkan bentrokan pula dengan Thay Bu Siansu. Ditepi kali Kim Beng Kian, didalam kampung ada rumahnya tukang kayu bernama Ou Jie Ceng, kau suruhlah dia cari aku, nanti kita bisa bertemu pula.”
“Baik, baik,” Siau Hoo kata sambil memberi hormat. “Nah, saudara Lie, sampai ketemu pula!”
Lantas pemuda ini larikan kuda menuju ke Hie-ciu. Ia kagumi Hong Kiat, tapi kapan ia ingat Thay Bu Siansu, yang namanya kesohrn tapi bugeenya “tak berarti”, ia tertawa sendirinya. Toh Thay Bu Siansu kesohor sekali di Selatan dan Utara!
Kita sudah tahu bagaimana Siau Hoo telah bermula ketemu bakal gurunya di Cu-ngo-tin, dalam rumah makan, dan di Cin Nia selagi ia rubuh ditangannya Kat Cie Kiang beramai, gurunya telah tolong ia. Disini ia diterima jadi murid.
Dari Cin Nia orang tua itu ajak Siau Hoo lewati Tiang-an (See-an) dan Han-kok kwan, masuk ke Hoolam dan An-hui, lalu paling belakag ia diajak seberangi sungai Tiang Kang akan pergi kegunung Kiu Hoa San di Te-ciu. Ternyata empe itu tinggal dipuncak gunung itu, ditempat yang paling sunyi. Disitu dia dirikan sebuah gubuk dengan beberapa bahu sawah-ladang dimana-pun dia bercocok tanam. Untuk itu, dia pakai satu bujang gagu. Karena bujang itu gagu dan sang guru tetap tidak mau beritahukan namanya, Siau Hoo terus tidak tahu she dan nama gurunya itu, sedang untuk menanya melit-melit, ia tidak berani. Ia hanya tahu gurunya ada berkepandaian tinggi.
Empe itu perlakuan muridnya dengan baik, tetapi tentang ilmu silat, ia tidak berikan perlatihannya, maka itu, ditahun pertama Siau Hoo, yang tenaganya besar, lebih banyak bekerja di sawah atau kebun. Ia diperintah cari kayu atau tanam teh, ia diperintah angkut batu, hingga dalam satu tahun ia sudah kumpulkan batu umpama tumpukan bukit batunya kecil dan besar.
“Ah, tumpukan batu ini terlalu makan tempat,” kata sang guru kemudian. “Baik kau singkirkan ini, kau harus dapat singkirkan selama sepuluh hari.”
Itulah hebat, karena batu telah dikumpul satu tahun, sekarang mesti disingkirkan dalam tempo cuma sepuluh hari! Tapi Siau Hoo tidak menampik, sekarang tenaganya telah jadi besar sekali dan terlatih, sekali-pun batu beratnya seratus kati lebih, dengan gampang ia bisa pondong itu. Malah karena bekerja terus siang dan malam, tumpukan itu bisa disingkirkan dalam tempo tujuh hari, semua dibuang keselokan gunung!
Melihat kesudahan itu, empe itu jadi sangat girang, maka mulialah ia didik muridnya dalam ilmu lompat tinggi dan lompat jauh, ia juga ajarkan ilmu surat. Adalah di tahun kedua munid ini baru mulai diberikan pelajaran ilmu silat, beberapa jurus saja, supaya bisa dipahamkan dengan sungguh-sungguh.
Ditahun ketiga, guru itu turun gunung. Selama ini Siau Hoo jadi belajar seorang diri saja. Pelajarannya baru beberapa rupa tapi sangat sulit, hingga ia mesti belajar luar biasa rajin. Selang dua bulan baru ia insyaf pentingnya pelajaran itu, yang ada beda dari pada pelajaran Kun Lun Pay yang ia dapatkan dari Ma Cie Hian. Seorang diri ia yakinkan terus, hingga ia peroleh kesempurnaan dari beberapa jurus itu.
Selang satu tahun, si guru pulang dengan membawa sebilah pedang yang berat, pedang yang diberikan pada muridnya serta beberapa jilid kitab, yang menuturkan tentang llmu pedang atau kiam-hoat. Murid itu dipesan, siang mesti baca kitab, supaya lekas paham, malamnya mesti pelajaran pedangnya.
Siau Hoo tidak sia-siakan pesan gurunya. Belum satu bulan ia sudah bisa baca diluar kepala beberapa buku itu, yang terus diambil pulang oleh gurunya. Maka selanjutnya, ia belajar menurut ingatan otaknya yang tajam dan kuat. Siang malam ia belajar dengan giat.
Selama itu, sang guru sering berpergian, pergi dan pulangnya tak ketentuan, tetapi kapan ia pulang, ia didik muridnya dan tunjukkan bagian-bagian yang keliru untuk diperbaikinya.
Selain itu Siau Hoo masih gunai ketikanya akan belajar berenang dan selulup dikali kecil hingga pandai.
Baru ditahun ke tujuh, Siau Hoo sudah merasa bahwa ilmu pedangnya sudah melebihi kepandaiannya Long Tiong Hiap dan Pau Kun Lun.
Selama tahun ke delapan dan ke sembilan, sang guru tidak pergi ke mana-mana, maka ia bisa gunakan temponya akan didik muridnya ini, antaranya Khie-kang dan Tiam-hiat-hoat, juga lain-lainnya. Pelajaran surat-pun Siau Hoo tidak diberi alpakan, hingga ia-pun jadi pandai surat.
More about → Cerita Dewasa SMA Silat : Hokeng Koenloen 12

Cerita Dewasa Silat : Kisah Membunuh Naga (To Liong To/Bu Kie) 1

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung

Description: Cerita Dewasa Silat : Kisah Membunuh Naga (To Liong To/Bu Kie) 1 Rating: 4.5 Reviewer: Unknown - ItemReviewed: Cerita Dewasa Silat : Kisah Membunuh Naga (To Liong To/Bu Kie) 1
Cerita Dewasa Silat : Kisah Membunuh Naga (To Liong To/Bu Kie) 1

Jilid 1

MUSIM semi gembira-ria,
Setiap peringatan Han-sit,
Bunga Lee-hoa mekar semua.
Sutera putih licin,
Bau harum bertebaran,
Pohon2 bagaikan giok,
Tertutup salju berhamburan.
Malam yang sunyi,
Sinar yang mengambang,
Cahaya, yang dingin.
Diantara bumi dan langit,
Sinar perak menyelimuti semesta a1am.
Ah, dia bagaikan Dewi dari gunung Kouwsia,
Bakatnya cerdas dan suci,
Wataknya agung dan murni.
Laksaan sari bunga besar kecil tak ketentuan,
Tapi siapa berani mengatakan, dia tak
berendeng dengan bunga2 kenamaan?
Jiwanya gagah,
Kepintarannya berlimpah2,
Sesudah rontok, semua sama.
Maka itu, dia pulang kekeraton langit'
Guna melihat keindahan nan ABADI.

Sajak diatas sajak "Bu siok liam" (Cita2 hidup bebas dari segala keduniawian), adalah buah kalam seorang ahli silat ternama dijaman Lan-song (kerajaan Song Selatan). Orang itu she Khu bernama Cie Kie (Kee) bergelar Tiang cun cu, salah seorang dari Coan cin Cin Cit cu (Tujah Cu dari agama Coan cin kauw)

Dalam sajak itu Khu Cie Kie bicara tentang bunga Leehoa. Tapi sebenarnya, dalam melukiskan keagangan bunga Leehoa, is ingin memberi pujian kepada seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian serba putih. la membandingkan wanita itu seperti "Dewi dari gunung Kouw sia, bakatnya cerdas dan suci, wataknya agung dan murni." Ia memujinya sebagai manusia yang "jiwanya gagah kepintarannya ber-limpah2."

Siapakah wanita yang mendapat pujian sedemikian tinggi dari seorang, beribadat yang berilmu itu ?

Ia adalah Siauw Liong Lie, seorang jago betina partai Kouw bok pay (partai Kuburan tua). Ia suka mengenakan pakaian serba putih, sehingga se-olah2 pohon giok yang tertutup salju Dengan sifat2nya yang bersih dingin is se-akan2 sinar rembulan yang menyelimuti semesta alam dengan sinarnya yg teduh dan dingin.

Waktu masih berdiam di Ciong Lan Sam Siauw Liong Lie pernah jadi tetangga Kho Cie Kie dan sesudah melihat gadis itu yang elok luar biasa. Cie Kie segera menulis sajak "Bu siok-liam" untuk memujinya.

Tapi sekarang Kho Cie Kie sudah lama meninggal dunia, sedang Siauw Liong Lie pun sudah menikah dengan Sintiauw Tayhiap Yo Ko.

Akan tetapi, pada suatu hari, dijalanan gunung Siauw sit san, di propinsi Holam, terlihat seorang gadis remaja yang sedang berjalan sambil menundukkan kepada dan menghafal sajak "Bu siokliam."

Gadis itu, yang berusia kira-kira delapan belas tahun dam mengenakan pakaian warna kuning menunggang seekor keledai kurus. Perlahan-lahan binatang itu mendaki jalanan gunung yang sempit. Sambil termenung2 diatas tunggangannya, sinona berkata dalam hatinya. "Ya ! Memang juga, hanialah seorang seperti Liong Cie-cie yang pantas menjadi isteri dia."

"Dia" adalah Sintiauw Tayhiap Yo Ko.

Keledai berjalan terus, perlahan-lahan.

Si nona menghela papas dan berkata dengan suara perlahan. "Berkumpul gembira, berpisahan menderita......"

Gadis tersebut, yang berpakaian sederhana dan yang pada pinggangnya tergantung sebatang pedang pendek, berjalan dengan paras muka tenang, sehingga dengan muka sekelebatan saja, orang bisa menebak, bahwa ia adalah seorang yang sadah biasa berkelana dalam dunia Kang-ouw. Ia berada dalam usia remaja, usia riang gembira. Menurut akuran biasa, dalam usia belasan, pemuda atau pemudi tak mengenal apa yang dinamakan penderitaan atau kedukaan. Akan tetapi, nona itu berada di luar dari ukuran biasa. Pada paras mukanya yang cantik bagaikan sekuntum bunga mawar, terlihat sinar yang guram. Alisnya berkerut, seolah-olah serupa pikiran berat sedang menindih hati iya.

Nona itu she Kwee bernama siang, puteri ke dua dari Tayhiap Kwee Ceng dan Liehiap Oey Yong. Dalam dunia Rimba Persilatan, ia di juluki sebagai "Siauw-tong-sia" (si Sesat kecil dari Timur). Dengan seekor keledai dan sebatang pedang, ia berkelana untuk menghilangkan kedukaan. Tapi diluar dugaan semakin jauh ia berkelana mendaki gunung2 yang indah dan sunyi semakin besar kedukaannya.

Jalan kecil itu, dibuat atas perintah Kaizar Kocong dari kerajaan Tong, untuk memudahkan lalu lintas kekuil Siau-lim-sie.

Sesudah berjalan beberapa lama, Kwee Siang melihat lima buah air terjun di gunung seberang dan dibelakang sebuah tikungan, apat2 terlihat tembok dap genteng dari se buah kuil yang besar luar biasa.

Sambil mengawasi bangunan2 yang berderet, si nona berkata dalam hatinya. "Semenjak dulu Siauw lim sie dikenal sebagai pusat pelajaran ilmu silat. Tapi mengapa, selama dua kali diadakan pertandingan di puncak gunung Hwa-san, diantara lima jago utama tidak terdapat orang yang berkepandaian Cukup tinggi? Atau apakah, karena sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi, mereka sung kan mencampuri segala pergaulan di dalam dunia?"

Sambil berpikir, ia mendekati kuil itu.

Ia turun dari tunggangannya dan menuju ke pintu kelenteng. Ia melewati pohon2 itu yang berdiri sejumlah pay batu yang sebagian besar sudah rusak, sehingga hurup2nya tak dapat dibaca lagi.

Si nona menghela napas. "Ah ! Huruf2 yang terpahat di pay batu sudah hampir tak terbaca karena lamanya tempo, tapi mengapa, huruf2 yang terukir dalam hatiku, semakin lama jadi semakin tegas ?" katanya di dalam hati.

Dalam saat, ia berpapasan dengan sebuah pay batu yang sangat besar dengan hurufnya yang masih dapat di baca. Pay itu ternyata hadiah Kaizar Tong-thay-tong sebagai pujian untuk jasa-jasanya para pendeta Siauw-lim-Sie

Menurut catatan sejarah, pada waktu masih jadi Raja muda Cin-ong, Tong-thay-cong pernah membawa tentara untuk menghukum Ong Sie Oen. Dalam peperangan itu, bajak pendeta siauw-lim-sie memberi bantuan dan yang paling terkenal berjumlah tiga belas orang. Antara mereka itu, hanya seorang she Tham yang suka menerima pangkat jenderal sedang yang lainnya, sesudan peperangan selesai, lantas meminta diri. Tong-thay-cong tak dapat menahan mereka dan sebagai pernyataan terima kasih kepada setiap orang, ia menghadiahkan satu jubah pertapaan yang sangat indah.

"Pada jaman antara kerajaan Su dan Tong ilmu silat Siau Lim sie sudah tersohor dikolong langit," kata Kwee Siang di dalam hati.

"Selama beberapa ratus tahun, ilmu silat itu tentu sudah memperoleh banyak kemajuan. tahu berapa banyak orang yang berilmu bersembunyi dalam kuil yang besar ini?"

Selagi dia melamun dibelakang pohon, tiba2 terdengar suara berkerincingnya rantai besi, disusul dengan suara seseorang yang sedang menghafal Hud keng (Kitab Suci agama Budha. ). Antara perkataan2 yang di hafal ia menangkap kata2 seperti berikut.

"... Dari cinta timbul ke jengkelan, dari cinta timbul ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, ia terbebas dari kejengkelan dan ketakutan."

Jantung si nona memukul keras. Ia bengong mengulangi kata2 itu. "Dari cinta timbul ke jengkelan dan ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, ia terbebas dari kejengkelan dan ketakutan."

Dilain saat, suara kerincingan rantai besi dan suara pembacaan Kitab Suci sudah jadi semakin jauh.

"Aku mesti tanya dia," kata si nona dalam hati. "Aku mesti tanya, bagaimana seseorang bisa menyingkir dari cinta, bisa terbebas dari kejengkelan dan ketakutan". Buru-buru ia mengikat tali les keledai disatu pohon dan lalu mengubar kearah suara itu.

Ternyata, dibelakang pohon2 terdapat satu jalan kecil yang menanjak keatas dari seorang pendeta yang memikul dua tahang besar sedang naik ditanjakan itu.

Dengan cepat Kwee Siang mengudak dan waktu berada dalam jarak belasan tombak dari si pendeta, tiba2 terkesiap. la mendapat kenyataan, bahwa yang dipikulnya sepasang tabang besi yang tiga kali lipat lebih besar dari tahang biasa. Yang mengejutkan ialah, dileher, di tangan dan dikaki sipendeta dilibatikan rantai besi yang besar, sehingga menimbulkan suara berkerincingan. Berat kedua tahang besi itu ratusan kati dan ditambah dengan air dapat dibayangkan betapa beratnya.

".. Toah hweeshio (pendeta besar) "teriak si nona. "Berhenti dulu ! Aku ingin bertanya."

Si pendeta menengok, mereka saling memandang. Pendeta itu ternyata Kak-wan yang pada tiga tahun berselang pernah bertemu Kwee Siang di puncak ganung Hwa-san.

Si Nona tahu, biarpun pendeta itu agak tolol, ia memiliki Lweekang yang sangat tinggi, yang tak kalah dari siapapun juga. "Ah! Kukira siapa," katanya. "Tak tahunya Kak kwan Taysu. Mengapa kau jadi begini ?"

Kak kwan manggut kan kepalanya sambil tersenyum dan merangkapkan kedua tangannya, tapi ia tak menjawab pertanyaan si nona. Lalu ia memutar badan dan berjalan pula

"Kak Wan Taysu !" teriak Kwee Siang. "Apakah tidak mengenal aku ? Aku Kwee Siang!"

Kak wan kembali menengok, ia tertawa dan memanggut2kan kepala, tapi kakinya bertindak terus.
"Siapa yang mengikat kau dengan rantai?" tanya sinona. "Siapa yang menghina kau?"

Sambil berjalan terus Kak wan menggoyang2 tangan kirinya dibelakang kepala, sebagai isyarat supaya sinona jangan terlalu melit.

Kwee Siang jadi semakin heran. Mana ia bisa puas dengan begitu saja? Ia segera mengudak untuk mencegat pendeta yang aneh itu, tapi diluar dugaan, sesudah mengubar beberapa lama, Kak wan yang dilibat rantai dan memikul tahang, masih tetap berada disebelah depan. sinona jadi jengkel. Ia mengempos semangat dan mengudak dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Bagaikan seekor walet tubuhnya yang langsing melesat kedepan dan satu tangannya coba menjambret sebuah tahang.

Menurut perhitungan, jambretan itu tak akan melesat. Tapi diluar dugaan, tangan Kwee Siang jatuh di tempat kosong, hanya kacek dua dim dari tahang itu.

"Toahweeshio ! Lihay benar kau !" teriaknya. "Lihatlah! Biar bagaimanapun juga aku akan menyandak kau."

Jalanan semakin menanjak,kebelakang gunung. Dengan tenang Kak Wan percepat tindakannya, sehingga berkerincingnya rantai jadi semakin ramai. Si ubar dengan sekuat tenaga, nafasnya tersengal2, tapi ia terpisah kurang lebih setombak dari pendeta ltu. Ia kagumi bukan main dan berkata dalam hatinya : "Diatas gunung Hwa-san, ayah dan ibu pernah mengatakan, bahwa hweeshio ini memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Waktu itu aka masih percaya. Sekarang baru terbukti, perkataan ayah dan ibu adalah benar."

Tak lama kemudian merekapun tiba didepan sebuah rumah kecil dan Kak Waa sagera pergi kebelakang dam menuang air kedua tahang itu kedalam sumur. Kwee siang jadi lebih heran. "Toa hweeshio, apa kau sudah gila? " tanyanya. "Mengapa kau menuang air kedalam sumur?"

Paras muka sipendeta tetap tenang. Ia hanya tersenyum.

Mendadak Kwee siang tertawa nyaring. " Ah! Kutahu sekarang," katanya. "Kau sedang melatih ilmu silat bukan ?"

Kak Wan kembali meng-geleng2kan kepala.

Sinona jadi mendongkol. "Kau seorang gagu, barusan aku mendengar kau menghafal Kitab Suci." katanya. "Mengapa kau tak mau menjawab pertanyaanku ?"

Si pendeta merangkap kedua tangannya, Sedang dilihat dari paras mukanya, ia seperti ingin meminta maaf. Tapi ia tetap membungkam dan sesudah mengangkat kedua tahangnya, ia lalu turun di jalanan tadi.

Kwee siang melongok sumur itu. Ia hanya melihat air yang bening dan merasakan hawa yang dingin. Tiada apapun yang luar biasa.

Ia berdiri bengong dan hati bimbang mengawasi bayangan Kak wan yang semakin lama jadi semakin jauh. Sesudah menguber mati matian, ia merasa letih dan lalu duduk dipinggir sumur sambii memandang keadaan diseputarnya. Ia berada di tempat yang lebih tinggi dari pada kuil Siauw liem sie. Di pandang dari jauh kuil itu, angker dan indah. Ia mendongak dan memandang puncak. yang menjulang kelangit dan berderet2 bagaikan sekosol, sedang di bawah puncak2 itu terdapat awan putih yang mengambang kian kemari. Di lain saat, sayu sayu kupingnya mendengar suara lonceng di kuil yang dibawa keatas olen tiupan angin. Dalam keadaan begitu, ia merasa berada di suatu tempat suci yang jauh dari keduniawian.

"Kemana perginya murid si pendeta itu?" tanyanya di dalam hati. "Kalau dia sendiri tak mau bicara, biar kucari itu." Perlahan lahan ia turun gunung untuk mencari Thio Kun Po, murid Kak wan.

Sesudah berjalan beberapa lama, ia kembali mendengar suara berkerincingnya rantai besi dan jauh-jauh Kak wan kelihatan mendatangi sambil memikul dua tahang besinya. Kwee siang baru baru melompat dan menyembunyikan diri di belakang pohon. "Biarlah aku intip padanya." pikirnya, "Permainan gila apa yang tengah dilakukannya?"

Tak lama kemudian, Kak wan sudah tiba di tempat bersembunyinya. Kwee Siang yg mendapat kenyataan, bahwa sambil berjalan pendeta itu membaca sejilid buku dengan penuh perhatian. Mendadak ia melompat dan berteriak. " Toah wee shio, buku apa yang di baca olehmu ?"

"Aduh ! Kaget benar aku !" teriak sipendeta tanpa merasa. "Nakal sungguh kau!"

Si nona tertawa geli. "Toa hwee shio, mengapa tadi kau berlagak gagu ?" tanyanya dengan dada mangejek,

Muka pendeta itu lantas saja berubah pucat, seperti orang ketakutan. Ia menegok ke Kiri kanan dan menggoyang-goyangkan tangannya.

"Apa yang di takuti olehmu ?" tanya pula Kwee Siang dengan perasaan heran.

Sebelum Kak wan keburu menjawab, dari dalam hutan mendadak muncul dua orang pendeta yang mengenakan jubah kuning. "Kak wan!" bentak sipendeta yang jalan didepan. "Hm! Kau berani bicara dan melanggar larangan kami ? Hm! Kau berani bicara dengan seorang luar. Apa pula demang seorang wanita. Sekarang kau harus menghadap pada tetua Kayloet tong (dewan per udang-undangan dari kalangan Buddha)."

Kak wan kelihatan berduka. Ia menunduk dan mengguk, akan kemudian berjalan mengikuti dibelakang kedua pendeta itu.

Kwee Siang lantas saja naik darahnya "Hai ! Dikolong langit mama ada aturan tak boleh bicara ?" bentaknya. "Aku bicara dengan Tay su itu, karena aku mengenalnya. Ada sangkut paut apakan dengan kau berdua ?"

Pendeta yang bertubuh jangkung melotot matanya. "Semenjak ribuan tahun, seorang wanita belum pernah dipermisikan masuk kedalam daerah Siauw lim sie." katanya. "Lebih baik nona cepat-capat turun gunung supaya tidak menghadapi kesukaran."

Sinona jadi semakin gusar. "Eh, kalau wanita masuk disini, mau apa kau?" bentaknya." Apa perempuan tak sama dengan lelaki? Mengapa kamu menyusahkan Kak wan Taysu? Sesudah mengikatnya dengan rantai besi, kau mengeluarkan larangan gila-gila."

Si jangkung mengeluarkan suara dihidung "Kaizar sendiri tak pernah mencampuri urusan dalam kuil kami," katanya dengan suara tawar.

"Nona tak usah banyak bicara."

Kwee Siang berjingkrak. "Kutahu Kak wan Taysu seorang baik dan karena ia seorang baik, kau berani menghinanya," katanya. "Huh-huh! Dimana adanya Thian beng Siansu, Bu sek Hweeshio dan Bu Siang Hweeshio? Panggil mereka? Aku mau menanyakan urusan gila ini!"

Kedua pendeta itu terkejut. Harus diketahui, bahwa Thian beng Siansu adalah Hongthio atau kepala dari kuil Siauw lim sie, sedang Bu sek Siansu pemimpin Lo-han-tong Pan Bu siang Siansu pemimpin Tak mo tong dengan kedudukan yang sangat tinggi, mereke dihormat oleh segenap pendeta yang belum pernah berani menyebutkan Hoat nia (nama sesudah jadi pendeta) mereka dan biasa menggunakan panggilan "Loo hong thio" "Lo han tong Co-su" atau "Tat mo tong Cocoa. " Maka itu, tidaklah heran jika mereka kaget tercampur gusar waktu mendengar sinona menyebut nama ketiga, pemimpin dengan suara kasar.

Hoat mia pendeta yang bertubuh jangkung itu, adalah Hong bang, muria kepala Co cu (pemimpin) Kay Loet tang. Atas perintah cu cu, bersama Hong yan, adik seperguruannya ia menilik gerak-gerik Kak kwan. "Lie sie cue (nona) !" bentaknya sambil menahan amarah. "Jika kau terus berlaku kurang sopan di tempat yang suci ini, Siauwceng tak akan berlaku sangkan lagi."

"Kau kira aku takut ?" Kwee Siang balas membentak. "Lekas buka rantai yang meli- bat Kak wan Taysu. Jika tidak, aku akan cari Thian beng Loo hwaeshio untuk berurusan lebih jauh."

Bagaimana siauw tong sia Kwee Siang bisa berada di gunung Siaw sit san ?

Sesudah berpisah dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie dipuncak Hwa san, tiga tahun lamanya ia tak pernah menerima warta tentang kedua sahabat itu. Karena berkuatir, ia segera minta permisi dari kedua orang tuanya untuk pesiar keberbagai tempat, dengan tujuan mendengar berita tentang Yo Ko. la bukan terlalu ingin bertemu muka dengan kedua suami isteri itu. Ia sudah merasa puas jika bisa mendengar warta tentang sepak terjang mereka. Tapi semenjak berpisah, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tak pernah muncul dalam dunia Kangouw. Tiada orang tahu dimana mereka menyembunyikan diri. Sesudah berkelana disebagian besar wilayah Tiong go an, dari utara keselatan, dari timur kebarat, belum pernah Kwee Siang nendengar disebut-sebutnya, nama "Sintiauw Tayhiap Yo Ko."

"Waktu tiba dipropinsi Holam, dia ingat dulu Yo Ko pernah mengatakan bahwa ia kenal Hong thio dari, kuil Siauw Lim sie. Mengingat begitu dalam hatinya muncul harapan, kalau Thian beng SianSu mengetahui segala sesuatu mengenai Yo Ko. la lalu mendaki Siauw sit san, tapi tak dinyana, begita tiba ia bertemu dengan kejadian mengheran kan.

Melihat dipinggang Kwee Siang tergantung sebatang pedang pendek, Hong beng dan Hoang yan jadi semakin gusar. "Tinggal kan pedangmu disini dan lekas pergi dari gunung!" bentak Hoang yang dengan mata melotot.

Mendengar perintah itu, kegusaran sinona jadi bertambah2. Ia membuka ikatan tali pedang dari pinggangnya dan sambil menggusarkannya dengan kedua tangan ia berkata seraya tertawa dingin.

"Baiklah, aku menurut perintah!"

Semenjak kecil Hongyan sudah mencucikan diri dikuil Siauw Lim sie. Selama belasan tahun, ia selalu mendengar bahwa Siauw lim sie adalah pusat dari ilmu silat dan siapapun juga, biarpun ahli silat yang berkepandaian paling tinggi, tak akan berani melewati pintu kuil dengan membawa senjata. Sekarang walaupun Kwee Siang masih belum masuk dipintu, tapi ia sudah berada dalam lingkungan Siauw lim. Dengan usianya yang masih begitu muda, apa pula ia hanya seorang wanita, dapat dimengerti jika Hong Yang tidak mempandang sebelah mata kepada Kwee Siang. Begitu ia mengangsurkan senjatanya, si pendata menafsirkan, bahwa nona itu sudah menyerah dengan ketakutan. Dengan paras muka ber seri2 sambil mengebas tangan-jubah yang menutupi kedua tangannya; ia segera menelonjorkan tangan untuk menjemput pedang Si nona.

Tapi baru saja lima jarinya menyentuh sarung pedang, lengannya bergetaran, seperti kena arus kilat. Ia merasakan semacam tenaga yang sangat besar menerobos keluar dari pedang itu dan mendorongnya dengan hebat, sehingga tak ampun lagi ia roboh terguling dan terus menggelinding kebawah tanjakan. Sesudah tergelincir belasan tombak, untuk juga ia berhasil menjemput satu pohon kecil di pinggir jalanan dan dapat menolong dirinya,

Darah Hong beng mendidih; paras mukanya merah padam. "Perempuan celaka!" bentaknya,

"Kau rupanya sudah makan nyali singa, sehingga berani unjuk keganasan di Siauw Lim sie." Sambil mencaci, ia menghantam dengan kedua tangannya.

Melihat gerakan orang, Kwee Siang tahu, bahwa kepandaian pendeta itu banyak lebih tinggi daripada kawannya yang barusan terguling. Dengan capat ia mengangkat pedangnya yang masih berada di dalam sarung dan menotok pundak Hong bang bagaikan kilat, si pendeta mengegos, sambil coba menjambret sarung pedang.

"Jangan berkelahi! Jangan berkelahi!" teriak Kak wan dengan suara bingung.

Jembretan Hong beng ternyata berhasil, tapi baru saja ia mau membetot sarung pedang, lengannya mendadak kesemutan dan ia mengeluarkan teriakan tertahan.

"Celaka!" Hampir berbaring, Kwee Siang menyapu dengan kakinya dan tubuh Hong beng tergelincir ke bawah, ia menderita lebih hebat dari pada Hong yang dan baru berhenti sesudah menggelinding duapuluh tombak lebih dengan badan dan muka berlepotan darah.

Peristiwa itu membuat sinona agak menyesal.

"Ah! Aku naik ke Siauw Lim sie untuk mendengar2 warta tentang Yo Toako," pikirnya. "Siapa nyana, aku kebentrok dengan mereka."

Melihat Kak wan berdiri di pinggir jalan dengan paras muka berduga, ia segera menghunus pedang dan membacok rantai yang melibat kaki pendeta itu. Biarpun bukan pedang mustika, senjata Kwee Siang bukan senjata sembarangan. Dengan berkerincingan, tiga rantai sudah putus terbacok.

"Jangan! Jangan !" si pendeta coba mencegah.

"Mengapa jangan ?" tanyanya. Ia mengawasi Hong beng dan Hong yang yang sedang berlari-lari dan berkata pula. "Dua hweshio jahat itu tentu mau melapor. Mari kita mabur. "Mana muridmu, si orang she Thio ? Kita ajak dia lari ber sama-sama."

Kak wan meng geleng2kan kepala dan mengawasi si nona dengan sorot mata berterima kasih.

Tiba-tiba Kwee Siang mendengar suara orang dibelakangnya. "Terima kasih untuk kebaikan nona. Aku berada di sini."

Si nona menengok dan melihat di belakang nya berdiri seorang pemuda yang berusia kurang lebih tujuh belas tahun, dengan alis tebal, mata besar dan badan tinggi besar, tapi paras mukanya masih ke-kanak-kanakkan la segera mengenali bahwa pemuda itu bukan lain dari pada Thio Kun Po, yang pernah bertemu di puncak gunung Hwa-san. Tubuh anak itu sudah banyak lebih tinggi, tapi mukanya tidak banyak berubah.

Kwee Siang girang. "Dua hwe-shio jahat itu telah menghinakan gurumu," katanya. Mari kita kabur"

"Mereka sebenarnya tidak menghinakan Su-hu." kata Kun Po.

"Tidak menghinakan", menegas si nona. "Mereka melibatkan rantai di kaki tangan gurumu dan melarang gurumu bicara. Apa itu tidak menghina?" Kak-wan tertawa getir. Ia kembali menggelengkan kepala sambil menuding kebawah sebagai nasehat supaya Kwee Siang buru-buru kabur sendiran.

Tapi Siauw tong-sia Kwee Siang adalah manusia yang memiliki sifat-sifat kesatria. Ia yakin bahwa di kuil Siauw Lim-sie terdapat ahli-ahli silat yang tak terhitung berapa banyaknya. Tapi melihat keganjilan, ia tak bisa berpeluk tangan. Melihat Kak wan Kun Po ayal-ayalan ia jadi bingung karena kuatir keburu di cegat. "Lekas! Kalau mau bicara, boleh bicara dibawah gunung. katanya sambil menyeret tangan pak gurunya dan murid itu. Tapi baru saja ia mengeluarkan perkataan itu dari bawah tanjakan sudah muncul tujuh delapan pendeta yang masing2 bersenjata toya Cee bie kun.

"Perempuan dari mana berani mengganas di Siauw lim sie?" teriak satu antaranya.

"Suheng jangan kurang ajar," kata Kun Po. "la adalah ..."

"Jangan menyebutkan namaku!", memotong Kwee Siang. Ia mengerti bahwa ia sudah menerbitkan keonaran yang mungkin tak bisa dibereskan lagi dengan jalan damai.

Sebagai jago betina bertanggung jawab sepenuhnya atas perbuatannya sendiri, ia sungkan meyeret2 kedua orang tuanya. Maka itu ia lalu menambahkan dengan suara perlahan: "Mari kita kabur. Tapi kau jangan se kali menyebut nama kedua orang tuaku atau lain-lain sahabat".

Se-konyong2, terdengar suara bentakan dan diatas gunung kembali muncul tujuh delapan pendeta.

Melihat jalanan didepan dan dibelakang sudah tercegat, Kwee Siang jadi mendongkol. "Semua gara2mu berdua yang seperti nenek2 sedikitpun tak punya semangat laki2. Bilang sekarang. Mau pergi atau tidak ?"

Kun Po berpaling kepada gurunya seraya berkata: "Suhu inilah kebaikan budi dari Kwee Kouwnio . . . " Sesaat itu, dibawah tanjakan kembali muncul empat pendeta yang berjubah warna kuning, Mereka tidak bersenjata, tapi selagi mendaki tanjakan, gerakan mereka gesit dan cepat luar biasa. Diam2 Kwee Siang mengakui, bahwa mereka adalah orang2 yang berkepandaian tinggi.

Sekarang sinona mengerti, bahwa ia tak kan dapat melarikan diri lagi. Ia segera ber diri tegak dengan sikap angkuh, siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Begitu datang dekat, pendeta yang berjalan paling depan segera berteriak dengan suara nyaring: "Atas perintah tetua Lo-han-Tong, kau harus meninggalkan senjatamu. Sesudah itu, kau harus pergi ke Pendopo Lip swat teng dikaki gunung untuk memberi penjelasan dan mendengar keputusan kami."

Kwee Siang tertawa dingin. "Ah! Lagak hweeshio2 Siauw Lim sie sungguh tak berbeda dengan pembesar2 negeri," katanya dengan nada mengejek. "Bolenkah aku mendapat tahu, apa para Toa hweeshio menjadi pembesar dari kerajaan Song atau menjadi pembesar dari kaizar Mongol ?"

Pada waktu itu, daerah disebelah utara sungai Hway sui sudah jatuh kedalam tangan tentara Mongol dan Siauw sit san dengan Siauw lim sienya justeru berada diwilayah kekuasaaan Mongol.

Sampai sebegitu jauh, karena bertahun-tahun repot menyerang kota Siangyang, maka bala tentara Mongol masih belum sempat memperhatikan soal2 lain, sehingga sampai sebegitu juga, Siauw lim sie masih belum diganggu.

Mendengar perkataan Kwee Siang yang sangat tajam, paras muka pendeta itu lantas saja berubah merah. Ia merasa, bahwa perkataannya memang tidak pantas, karena dengan berkata begitu, Siauw lim sie se olah-olah mau jadi hakim sendiri terhadap orang luar. Maka itu, sambil merangkap kedua tangannya, ia segera berkata pula dengan suara manis. "Ada urusan apa Lie sie cu datang berkunjung kekuil kami? Memohon kau suka meninggalkan senjata dan pergi kependopo Lip swat teng untuk sekedar minum teh dan beromong-omong."

Kwee Siang mengeluarkan suara dihidung,

"Huh! Kau orang melarang aku masuk kekuil mu, apa dalam kuilmu terdapat mustika yang menjadi ternoda karena dilihat olehku?" katanya sambil melirik Thio Kun Po dan berkata pula dengan suara perlahan. " Kau mau ikut tidak?"

Pemuda itu menggelengkan kepala dan moyongkan mulut kearah Kak wan, sebagai tanda, bahwa ia mau menetap disamping gurunya.

"Baiklah," kata sinona dengan suara nyaring

"Aku tak campur lagi." Ia mengangkat kaki dan turun ditanjakan itu.

Sijubah kuning yang pertama lantas minggir kesamping, tapi yang kedua dan yang ketiga merintang sambil mengangkat tangan mereka.

"Tunggu dulu," kata salah seorang. "Tinggalkan dulu senjatamu."

"Kami tak akan menahan senjata Lie sie cu dalam tempo lama," kati si jubah kuning yang pertama. "Begitu lekas Lie cu sudah turun gunung, kami akan segera mengembalikannya. peraturan ini adalah peraturan Siauw lim sie sudah dipertahankan selama ribuan tahun, sehingga kami meminta Lie sie cu suka memaaf kannya."

Mendengar permintaan yang sopan itu, sinona bimbang. " Jika membantah, aku tentu mesti bertempur dan seorang diri, bagaimana bisa melawan jumlah mereka yang begitu besar?" Pikirnya. "Tapi, kalau aku meninggalkan senjata, aku seperti juga menghilangkan muka ayah, ibu, kakek ciecie, Toako dan Liong Cie cie."

Sebelum ia mengambil keputusan, tiba2 satu bayangan kuning berkelebat, disusul dengan bentakan. "Kau bukan saja membawa senjata, tapi juga sudah melakukan orang. Semenjak dulu, belum pernah ada manusia yang berani berbuat begitu." Hampir berbareng, lima jeriji menyambar sarung pedang Kwee Siang.

Jika dia tidak diserang, sesudah memikir masak-masak, mungkin sekali si nona akan menyerahkan senjatanya. Harus diketahui, bahwa sifat gadis itu berbeda dengan Kwee Hu, kakaknya. Walaupun gagah, ia tidak sembrono. Melihat keadaan yang merugikan dirinya, ia bisa menahan sabar untuk kembali lagi dikemudian hari dengan membawa, bala-bantuan.

Tapi usaha si pendeta untuk merebut pedangnya, sudah meniadakan segala mungkinan perdamaian. Mana bisa ia menyerahkan senjatanya dengan begitu saja?

Ilmu Kin na Chioe hoat (ilmu menangkap menyengkeram) pendeta itu memang sangat lihay. Sekali menjambret, ia berhasil menyengkeram sarung pedang. Dalam keadaan terdesak, Kwee Siang mencekal gagang pedang dan membetotnya. "Sret!", pedang tercabut dan mengeluarkan sinar menyilau, kan mata.

Hampir berbareng si pendeta berteriak, karena lima jarinya terpapas putus. Dalam kesakitan, ia menotok muka si nona dengan sarung pedang yang dicekal dalam tangan kanannya. Kwee Siang memapaki dan "trang!", sarung pedang itu jadi dua potong. Pendeta itu tidak bisa menyerang lagi dan dengan paras muka pucat ia lalu melompat mundur. Kawan2nya jadi gusar bukan main, dengan serentak mereka memutar toya dan maju mengepung.

"Ah, hari ini aku pasti tak bisa meloloskan diri tanpa melukakan banyak orang," kata Kwee Siang dalam hatinya. Sambil mencekal pedangnya erat2, ia segera menerjang dengan Lok-eng Kiam-hoat.

Lok-eng Kiam-hoat yang digubah Oey Yok Su dari ilmu pukulan Lok-eng Cianghwat, merupakan salah satu kepandaian istimewa dari pulau Tho hoa dan tidak kalah lihapnya dari pada Giok siauw Kiam hoat. Begitu menerjang, pedang si nona menyambar2 bagaikan kilat dan dalam sekejap dua orang pendeta sudah terluka. Akan tetapi, ia berada diatas angin hanya untuk sementara waktu dan tidak lama kemudian, keadaannya mulai terjepit, karena semakin lama jumlah pengepung jadi semakin besar.

Sesudah bertempur beberapa puluh jurus, Kwee Siang hanya bisa membela diri, tanpa mampu menyerang pula. Sebenarnya dalam keadaannya yang terdesak, seperti itu para pendeta sebenarnya bisa segera merobohkannya. Akan tetapi, sebab Siauw lim sie mengutamakan belas kasihan, mereka merasa tak tega untuk melakukannya. Tujuhan mereka hanialah untuk merebut senjata sinona dan kemudian mengusirnya dari sit san.

Tapi merebut pedang bukan pekerjaan mudah dan sesudah lewat lagi puluhan jurus, Kwee Siang masih dapat mempertahankan senjatanya. Semakin lama para pendeta itu jadi semakin heran. Mereka merasa pasti, bahwa gadis kecil ita adalah puteri atau murid seorang ahli silat kenamaan dan oleh karena nya, mereka lebih2 tidak berani melukakan nya, sebab hal itu bisa berbuntut panjang.

Maka itu, sambil mengepung, salah seorang buru-buru pergi kekuil dan melaporkan kepada Bu sek Siansu, pemimpin Loo han tong.

Tak lama kemudian, seorang pendeta tua yang bertubuh jangkung kurus mendekati gelanggang pertempuran dan lalu menonton sambil tersenyum. Dua orang pendeta segera melompat keluar dari gelanggang dan bicara bisik-bisik dengan pendeta tua itu.

Sementara itu, Kiam hoat sinona sudah kulihat.

"Hai! Kau semua benar-benar tak mangenal malu !" teriaknya. "Kau orang mengugulkan Siauw lim sie sebagai pusat pelajaran ilmu silat, tapi tak tahunya, puluhan Toa hweeshio menarik keuntungan dengan jalan mengerubuti."

"Berhenti!" membentak sipendeta tua bukan lain dari pada Bu sek Siansu, sambil bersenyum. Mendengar perintah itu dengan serentak semua pendeta melompat keluar dari gelanggang dan berdiri dipinggiran.

"Nona," menegur Bu sek dengan suara sabar.

"Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama nona yang mulia. Siapa nama orang tuamu dan siapa gurumu ? Ada urusan apa nona datang berkunjung ke kuil kami ?"

"Hari ini aku sudah mengacau hebat dan jika diketahui ayah ibu dan Toakoko, mereka tentu akan mengomel," kata Kwee Siang dalam hatinya. Memikir begitu, ia lantas saja mengeluarkan suara dihidung. "Tak mung kin aku memberitahukan namaku," jawabnya. "Aku mendaki gunungmu karena ketarik dengan pemandangannya yang sangat indah dan sama sekali tidak mengandung maksud apapun juga. Tapi siapa nyana, Siauw lan-sie lebih angker dari pada keraton kaizar. Tak keruan-ruan, kau ingin merampas senjataku. Taysu, aka ingin tanya. Apakah aku pernah menginjak pintu kuilmu?' Ia berdiam sejenak sambil mengawasi Bu sek dan kemudian berkata pula. "Dulu, pada wakta Tat-Mo Couw su menurunkan ilmu silat, kurasa tujuannya yang terutama adalah supaya para pendata memiliki tubuh yang kuat supaya dapat menjalankan tugas2 keagamaan se-baik2nya. Tapi ternyata semakin lama nama Sauw lim sie semakin terkenal, ilmu silatnya jadi semakin tinggi dan kebiasaan mengeroyoknyapun jadi semakin kesohor! Baiklah, Toa hweeshio, jika kau mau merebut juga senjataku, ambillah! Tapi, kecuali kau membinasakan aku, kejadian ini pasti akan diketahui oleh semua orang dalam Rimba persilatan."

Mendengar perkataan sinona yang sangat tajam itu. Bu Sek tergugu. Untuk sejenak ia mengawasi si nona dengan mulut ternganga dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata.

"Aku sendiri takut kejadian ini diketahui orang, tapi dia rupanya lebih takut lagi." kata Kwee Siang dalam hatinya. Memang juga puluhan pendeta mengerubuti seorang wanita bukan kejadian yang boleh dibuat bangga." Ia segera melontarkan pedangnya dan bertindak untuk turun gunung.

Bu sek maju setindak sambil mengebas dengan lengan dan pedang itu lantas saja tergulung lengan jubah. Seraya mencekal senjata itu yang bernoda darah dengan kedua tangannya ia berkata: "Jika nona enggan menjawab pertanyaanku, biarlah aku mengembalikan saja senjata ini dan dengan segala kehormatan aku mengantar nona turun dari gunung ini."

Kwee Siang tertawa. "Toa-hweeshio adalah seorang yang mengerti urusan dan boleh di buat contoh oleh pendeta2 disini." ia memuji sambil mengulur tangan untuk menyambuti. Tapi begitu lekas jerijinya menyentuh gagang pedang, ia terkesiap.

Ternyata, dari telapakan tangan Bu-sek keluar semacam tenaga menyedot sehingga pedang itu tak dapat diangkat. Tiga kali Kwee Siang mengempos semangat dan mengerahkan Lwekang, tapi ia belum juga bisa berhasil.

"Eh. Toahweesio, kau sengaja memperlihatkan kepandaianmu, ha?" tanyanya dengan mendongkol.

Mendadak, bagaikan kilat tangannya menyambar dan mengebut jalanan darah Thian-teng-hiat dan Kie-koet-hiat di leher Bu-sek, yang jadi kaget bukan main dan buru-buru melompat kebelakang.

Pada detik ia terkejut dan Lweekangnya jadi agak kendor, si nona membetot dan berhasil merebut pulang senjatanya.

"Sungguh indah Lan hoa Hud hiat Chioe (Ilmu Bunga anggrek mengebut jalanan darah )!" memuji Bu sek. "Nona, masih pernah apakah kau dengan majikan pulau Tho hoa?"

"Majikan pulau Tho hoa?" ia menegas seraya tertawa "Dia dikenal sebagai Loo-tong sia ( si Sesat Tua dari Timur )."

Tong sia Oey Yok Su, pemilik Tho hoa, adalah kakek Kwee Siang. Orang tua yang adat nya aneh sering memanggil cucu perempuan nya sebagai "Siauw-tong-sia" yang lalu membalas dengan menggunakan istilah "Loo-tong-sia". Sebaliknya dari jengkel, sang kakek jadi girang dan menerima baik panggilan si cucu nakal. begitu mendengar jawaban Kwee Siang, Bu-sek sendiri segera menarik ke simpulan bahwa sinona tak punya hubungan rapat dengan orang tua itu. Jika masih tersangkut keluarga, ia tentu tak akan mengeluarkan kata-kata yang agak kurang ajar.

Memikir begitu, hati Bu-sek jadi lebih lega.

Diwaktu masih muda, Bu-sek Siang-su pernah menjagoi di kalangan Rimba Hijau. Maka itu, biarpun ia sudah menjadi orang beribadat puluhan tahun lamanya, sifat-sifat Jagoannya masih belum hilang. Semakin Kwee Siang menolak untuk memberitahukan nama gurunya dan asal-usulnya, semakin besar hasratnya untuk menyelidiki. la tertawa ter bahak-bahak seraya berkata. "Nona kecil mari kita main-main sedikit untuk menjajal mata si pendeta tua. Coba kita lihat, apakah dalam sepuluh jurus, aku bisa atau tidak menerka asal usul ilmu silatmu ?"

"Bagaimana jika kau tak mampu ?" tanya si nona.

Bu-sek kembali tertawa terbahak-bahak. "Jika kau bisa melayani aku dalam sepuluh jurus dan aku masih belum bisa menebak asal-usul ilmu silatmu, aku akan turut segala kemauanmu." jawabnya.

"Dengan Tay-su itu dulu aku pernah bertemu muka dan sekarang aku ingin meminta apa-apa untuknya," kata Kwee siang sambil menunjuk Kak wan. "Kalau dalam sepuluh jurus kau masih belum bisa menebak siapa guruku aku minta kau suka meluluskan permohonanku untuk tidak menyukarkan Tay-su itu lagi.

Bu-sek merasa sangat heran. Sepanjang pengetahuannya, selama sepuluh tahun mengurus kitab-kitab di Cong-keng-kok ( perpustakaan.) Kak wan belum pernah berhubungan dengan orang luar. Bagaimana ia bisa mangenal sinona? Maka itu, sambil mengawasi Kwee Siang dengan sorot mata tajam, ia berkata. "Kami belum pernah berniat untuk sengaja menyakitinya. Jika melanggar, setiap pendeta dalam kuil ini, tak perduli siapapun juga, diharuskan mendapat hukuman. Maka dari itu, adalah kurang tepat jika nona menggunakan istilah menyusahkan."

"Hm!" kata Kwee Siang seraya tertawa dingin. "Biar apapun yang dikatakan olehmu, kau tetap seorang yang pandai putar putar omongan.?

Bu sek mengangkat kedua tangannya seraya berkata. "Baiklah. Aku luluskan permintaanmu ! Jika loohap kalah, biarlah aku mewakili Kak wan Sutee memikul tiga ribu seratus delapan pikul air. Nona kecil, hati2 aku akan segera menyerang."

Diam2 Kwee Siang menentukan siasat.

"Pendeta ini pasti memiliki kepandaian tinggi dan jika dibiarkan ia menyerang lebih dulu, aku mesti mengeluarkan ilmu silat ayah dan ibu untuk membela diri." pikirnya. "Paling benar aku mendului dan mengirim sepuluh serangan aneh beruntun-runtun."

Bu sek habis mengucapkan perkataannya Kwee Siang segera menikam dengan pukulan Ban-cie cian-hong dari Lok eng Kiam hoat. Dengan pukulan itu, ujung pedang menggetar tak hentinya, sehingga musuh sukar menebak arah serangannya. Bu sek yang tahu lihaynya pukulan tersebut, tidak berani menyambut secara berhadapan dan buru-buru melompat.

"Awas,sekarang kedua!" teriak si nona seraya memutar senjatanya dan lalu menikam dari bawah keatas dengan tipu Thin sin to hian (Malaikat langit jungkir balik) dari Coan cia Kiam boat.

"Thin sin to hian!" seru Bee sek.

"Belum tentu benar," kata si nona sambil me nyengir.

Begitu mengegos, Bu sek membalik tangan kanannya dan lima jerijinya yang dipentang menyambar kearah muka Kwee Siang. Sinona terkejut karena ia sama sekali tak menduga, bahwa pendeta itu bisa mengirim serangan membalas secara begitu cepat. Dalam keadaan terdesak, ia menggonyangkan pedangnya berapa kali dan menyambut dengan Ok kian lum Louw (Anjing jahat mencepat jalan) dari Tah kauw Pang hoat (ilmu tongkat memukul anjing).

Harus diketahui, bahwa diwaktu kecil, nona Kwee bersahabat rapat dengan mendiang Louw Yoe Kak, Pangca dari Kaypang (Partai pengamis). Mereka sering makan minum ber sama2, bersenda gurau dan tempo2 atas desakan sinona , mereka berlatih. Meskipun dalam Kaypang terdapat peraturan, bahwa Tah kauw Pang hoat hanya boleh diturunkan kepada seorang pangcu, tapi lama2 berkat pergaulannya dengan orangtua itu maka Kwee Siaug bisa berhasil untuk mencari beberapa pukulan dari ilmu silat tongkat yang luar biasa itu. Jika diingat, bahwa bekas pangcu Oey Yong sekarang Yek lu Chi, adalah suami kakak perempuannya, maka sinona sebe narnya mempunyai kesempatan luas untuk melihat latihan-latihan Tah kauw Pang hoat. Maka itu walaupun tak mengerti intisari dari pada ilmu silat tersebut, dalam keadaan terjepit, ia masih bisa menggunakannya untuk menolong diri.

Bu sek kaget bukan main sebab pada saat lima jarinya hampir menyeatuh pergelangan tangan sinona, mendadak sehelai sinar putih berkelebat dan pedang menyambar dari arah yang sebenarnya tak mungkia dilakukan, sehingga hampir-hampir jerijinya terbabat putus. Untung juga, pada detik terakhir ia masih keburu melompat kebelakang. Tapi meskipun begitu, tak urung lengan jubahya tergores ujung pedang dan menjadi robek. Paras muka Bu sek lantas saja berubah pucat dan keringat dingin mengucur dari dahinya.

Kwee Siang berbunga hatinya. "Taysu apa kau tahu ilmu pedang apa itu?" tanyanya sambil menyengir.

Dalam dunia memang tidak terdapat Kim-boat yang serupa itu. Sesudah mencuri Tah kauw Pang hoat, dengan otaknya yang sangat cerdas, sinona megubah pukulan Kiam hoat berdasarkan ilmu tongkat itu, sehingga dengan demikian, ia telah membuat seorang pendeta Siauw limsie yang berilmu tinggi, tak bisa menjawab pertanyaannya. "Ha! Jika aku bisa menyerang lagi dengan beberapapu kulan Tah kauw Pang hoat, pendeta tua ini pasti akan dapat dirobohkan katanya di dalam hati. "Sungguh sayang, aku hanya memiliki satu pukulan yang semengga-mengganya ini."

Sebelum sang lawan sempat bergerak, Kwee siang sudah mendului lagi dan menotol baberapa kali bagian bawah Bu sek dengan ujung pedang. Kali ini ia menyerang Leng po wie po (Leng po bertindak dengan ayunya), yaitu salah satu pukulan dari Giok lie Kiam hoat yang didapat dari Siauw Liong lie.

Sebagaimana diketahui, Giok lie Kiam hoat ilmu pedang gubahan Lim Tiauw Eng dan setiap pukulannya mempunyai gerakan Leng po wie go jadi lebih menyolok karena dilakukan oleh nona Kwee yang cantik dan ayu. Dengan perasaan kagum, para pendeta mengawasi serangan itu sambil menahan napas.

Harus dike tahui, bahwa Tat mo Kiam boat, Lo han Kiam boat dan lain2 ilmu pedang dari Siauw lim sie mengutarakan "kekerasan", sedang Giok lie Kiam boat, yang jarang terlihat dalam Rimba Persilatan justru berbeda dengan silat Siauw lim pay. Begitu sinona meyerang dengan Leng-po we-po, seperti pendeta lainnya Bu sek pun mengawasi dengan rasa kagum dan heran. Seumur hidup, belum pernah ia menyaksikan ilmu pedang yang seindah itu dan cepat-cepat ia meloncat ke samping dengan harapan sinona akan mengulangi serangannya.

Dalam saat, Kwae Siang kembali mengubah cara bersilatnya. la sekarang berlari ketimur dan kebarat sambil membabat berulang dengan pedangnya. Thio Kun Po yang menonton dipinggir jalan mengawasi serangansi nona dengan mata membelalak dan tiba2 ia mengeluarkan teriakan : "Ah!" Ternyata, yang digunakan Kwee Siang adalah pukulan Su tong Pat ta (Empat menembus Delapan meyampaikan), yaitu ilmu silat yang pada tiga tahun berselang telah diturunkan oleh Yo Ko kepada Kun Po. Waktu itu Kwee Siang kebetulan dapat melihatnya dan sekarang lalu menggunakan untuk menghadapi Bu sek.

Su thong Pat-ta yang dulu diajar Yo Ko ialah Canghoat ilmu silat tangan kosong. Dengan mengubahnya menjadi Kiam hoat (ilmu pedang), pengaruh ilmu itu jadi banyak berkurang, sehingga jika dulu Thio Kun Po berhasil mengalahkan In Kek See, sekarang Kwee Siang tidak bisa berbuat banyak terhadap Bu sek.

Dengan be-runtun2 KWee Siang sudah menyerang lima kali, tapi Bu sek masih juga belum bisa meraba asal usul ilmu silat sinona. Diwaktu muda ia malang melintang dalam dunia Kangouw dan, mempunyai pengalaman yang sangat luas. Semenjak mengetuai Lo-han tong pada belasen tahun berselang, ia telah menggunakan seluruh temponya untuk menyelidiki ilmu silat barbagai partai dau membandingkannya dengan ilmu Siauw lim-sie. Ia menggodok semua pengalamannya dan pendapatnya itu untuk menyempurnakan ilmu partainya. Maka itu, ia selalu percaya penuh bahwa dengan sekali melihat, ia sudah bisa tahu asal usul ilmu silat setiap ahli. Tapi di luar dugaan, hari ini ia "ketemu batunya". Kakek, ayah-ibu paman2, kakak2 Kwee Siang rata2 adalah ahli2 silat nomor satu pada jaman itu. Dalam menghadapi serangan yang bermacam2 coraknya, kapandaian Bu-sek masih lebih dari cukup untuk membela diri. Tapi untuk mengetahui siapa guru sinona, ia masih belum bisa me-raba2.

"Jika aku membiarkan ia menyerang lebih dulu, jangankan dalam sepuluh jurus, sedangkan se ratus jurus sekalipun, belum tentu aku bisa menebak asal usul ilmu silatnya," pikir Boa sek.
"'Jalan satu2 nya adalah menyerang dengan hebat, supaya ia terpaksa mengeluarkan imu silatnya yang asli guna monolong diri" Memikir begitu cepat bagaikan kilat , ia mengepos kekiri dan menghantam dengan pukulan Song Koan kun, dengan merapatKan kedua tangannya dan sepulun jarinya ditekuk bagai kan ceker. Melihat sambaran yang sangat dahsyat, Kwee Siang tidak berani menyambut kekerasan, dengan kekerasan. Dengan membungkuk sedikit dan dengan saatu gerakan yang sangat indah dan lincah, ia berhasil meloloskan diri dari bawah kedua tangan lawan. Tipu itu adalah tipu yang pernah digunakan Eng Kouw waktu bertempur dengan Yo Ko di Ban Hoa Kok (lembah laksaan bunga).

"Bagus, sungguh bagus gerakanmu!" memuji Bu sek "sambutlah lagi satu seranganku." Ia membuat sebuah lingkaran dengan tangan kirinya, sedang sikut kanan ditaruh didada dengan telapakan tangan menghadap keatas. Itu lah pukulan Oei eng loh kee (Burung kuning hinggap dicagak) dari Siauw lim kun. Sebagai seorang tetua Siauw lim sie, biarpun paham dengan ilmu silat berbagai partai, tapi dalam setiap pertempuran, ia selalu harus menggunakan ilmu partai sendiri yang paling asli.

Kwee Siang kaget sebab begitu lekas Bu sek membuat lingkaran ditengah udara ia lantas saja merasakan tindihan semacam tenaga yang sangat kuat. Buru-buru membalik pedang dan dengan gagang pedang, ia menotok jalanan darah Wan-koet-hiat, Yang kok hiat dan Yang loo hiat di pergelangan tangan si pendeta. Ilmu molok itu adalah It yang cie yang ia belajar dari Bu Sioe Bun. Sebenarnya pelajarannya masih sangat cetek dan belum bisa digunakan untuk melukakan musuh. Tapi gerakan menotok tiga jalanan darah itu adalah salah satu pukulan yang paling lihay dari It yang cie. Maka itu, begitu melihat gerakan tangan si nona, Bu sek kaget tak kepalang dan cepat-cepat ia menarik pulang serangannya. Andaikata ia menyerang terus dan tertotok pergelangan tangannya, ia pasti tak akan terluka, sebab totokan itu tidak di sertai dengan Lwekang It yang cie yg disegani orang. Tapi sebagai orang yang berpengalaman, Bu sek sungkan mempertaruhkan nama besarnya dalam satu pukulan itu.

Kwee Siang tertawa nyaring. "Toahweeshie kau ternyata mengenal ilmuku yang sangat lihay," katanya seraya menyengir.

Bu sek tidak menyambut, ia hanya mangeluarkan suara "Hm" dan lalu menyerang dengan pukulan Tan-hong-tiauw-yang (Angin dan matahari). Dengan pukulan itu, kedua tangannya terpentang lebar dan terangkat tinggi, sehingga si nona sukar menggunakan It-yang cie lagi. Tapi Kwee Siang tak kehabisan modal. Dengan cepat ia menyilangkan kedua telapak tangannya dan balas menyerang deugan Biauw-chioe-kong-kong (Tangan yang lihay ke lihatan kosong), yaitu jurus ketujuh puluh dua dari Kong beng kun, gubahan Loo hoan tong. Ciu Pek Tong Kong beng kun adalah ilmu yang belum pernah tersiar didunia maka untuk sekian kalinya, Bu sek ter-heran2. Dengan cepat ia berkelit kesamping dan hampir berbareng mengirim pukulan Pi na hoa cit seng (Tujuh bintang). Bagaikan arus kilat, tahu2 tangannya sudah menyentuh telapakan tangan si nona, yang jika tidak melawan dengan menggerakkan Lwekang, tulang tangannya pasti akan patah.

Kwee Siang mengerti, bahwa tangannya sudah ada dibawah kekuasaan lawan, tapi hati nya masih penasaran. Jangan kegirangan dulu kau! Belum tentu bisa mematah tulang tanganku," katanya di dalam hati. Ia segera mengempos semangat melawan tenaga si pendeta dengan Cat-po-san-chioe ( Kipas-besi ) . llmu ini yang merupakan ilmu simpanan dari Tiat-Ciang-kang (ilmu tangan besi) adalah satu ilmu "keras" yang paling ditakuti dalam Rimba Persilatan.

Sebagai seorang ahli, Bu sek tentu saja mangenal ilmu itu dan jantungnya memukul keras. Ia jadi serba salah. Jika ia menggunakan kekerasaan sinona bisa terluka berat dan ia sama sekali tidak bermaksud untuk mencelakai gadis itu. Disamping itu untuk berterus terang, ia memang merasa agak segan terhadap Tiat-ciang-kang. Sesudah memikir sejenak, ia segera menarik pulang tangannya.

Sekali lagi, si nakal tertawa nyaring. " Awas! Pukulan yang ke sepuluh. Apa kau masih belum bisa menebak partaiku ?" teriaknya. Sambil berteriak begitu, ia mengebas keatas dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menyambar kejanggut Bu-sek. Tanpa merasa, semua pendeta mengeluarkan seruan tertahan, sebab pukulan itu, yang diberi nama Kouw hay hui tauw ( Memutar kepala di laut kesengsaraan ) adalah salah situ pukulan Kin na chioe hoat ( Ilmu menangkap dan menyengkeram), dari Siauw lin pay sendiri.

Tapi Kouw hay hui tauw agak berlainan dengan Kim na chioe hoat lain cabang, karena biasanya hanya di gunakan pada saat berbahaya untuk menolong jiwa. Dengan pukulan itu, tangan kiri sipenyerang menolak kepala musuh, sedang tangan kanan menyambar leher, sehingga jika berhasil, leher musuh bisa patah, setidaknya terluka berat.

Melihat sinakal berani menggunakan pukulan tersebut di hadapannya, seolah seorang sasterawan mengugulkan diri di hadapan Nabi Khong Cu. Bu sek jadi geli dalam hatinya. Selama puluhan tahun, ia sudah melatih pukulan tersebut sehingga setiap gerakanya sudah terjadi secara wajar. Secepat kilat, ia miringkan badan dan menggeser maju kakinya, sedang tangan kirinya menyambar kebawah ketiak si nona dan tangan kanannya mencekal belakang lutut Kwee Siang.

Pukulan itu yang diberi nama Sia can tiauw hay (Mengempit gunung melompati lautan) merupakan pukulan tunggal untuk memunahkan Kouw hay hui-tauw.

Si nona kaget tak kepalang dan tahu2 ke dua kakinya sudah terangkat naik dari muka bumi. Sebenarnya dengan menggunakan sikut, ia masih bisa menyikut lawan. Tapi sebab gerakan Bu sek cepat luar biasa, sebelum sempat bergerak, ia sudah tak berdaya.Dengan demikian, putri Kwee Ceng telah dikalahkan.

Selagi kedua tangannya mencekal sinona, mendadak Bu sek terkesiap. "Celaka !" ia mengeluh. "Aku hanya memperoleh kemenangan dalam pertempuran, tapi masih belum tahu siapa gurunya dan apa nama partainya."

Kwee Siang memberontak sekuat tenaga. "Lepaskan aku!" teriaknya. "Cring!" serupa benda jatuh dari saku sinona.

"Toahweeshio, apa benar2 kau tak mau melepaskan diriku ?" serunya dengan suara ke takutan.

Bu sek Siansu adalah seorang berlibat yang berilmu tinggi dan yang mencintai segenap makhluk Tuhan. Maka itu, mendengar suara sinona cilik, ia lantas saja tertawa ter bahak2.

"Nona kecil, loolap sudah berusia lanjut dan pantas menjadi kakekmu," katanya seraya tersenyum. "Apa kau masih perlu merasa takut ?" Sehabis berkata begitu, dengan menggunakan tenaga yang diperhitungkan, ia melontarkan tubuh sinona kira2 dua tombak jauhnya dan kedua kaki Kwee Siang hinggap dimuka bumi tanpa kurang suatu apa.

Sebagai ksatria yang tak akan menjilat ludah sendiri. Bu sek segera manggutkan kepalanya untuk mengaku kalah. Selagi kepalanya mengangguk, tiba-tiba ia melihat serupa benda hitam diatas tanah dan benda itu adalah sepasang Lohan (pendeta yang berilmu tinggi) yang terbuat daripada besi.

"Toahweeshio, apa kau mengaku kalah ?" tanya Kwee Siang.

Bu sek mengangkat mukanya yang berseri-seri dan seraya tertawa girang, ia menjawab.

"Bagaimana aku bisa kalah dari seorang bocah cilik? Aka tahu, ayahmu adalah Tay hiap Kwee Ceng, ibumu Liehiap Oey Yong dan majikan pulau Thoa hoa adalah kakekmu. Ayahandamu memiliki kepandaian yang beraneka ragam, karena ia pernah berguru dengan Kanglam Citkoay, dengan Kioe-cie sin-kay, tokoh-tokoh Coancien pay dan lain lain partai lagi. Kwee Jie kaouwnio, kau adalah putrinya pendekar kelas satu pada jaman ini sehingga tidaklah heran, jika kau memiliki kepandaian luar biasa."

Kwee Siang kemekmek, ia tak pernah mimpi akan mendengar jawaban begitu.

Melihat paras bingung dimuka sinakal, sambil tertawa geli Bu sek membungkuk dan menjemput dua Lo han besi itu.

"Kwee Jie kouwnio, aku si pendeta tua tak boleh mendustai seorang bocah cilik," katanya. "Aku bernasil menebak asal usulmu karena melihat sepasang Lo Han besi ini. Apa Yo Tayhiap baik ?"

"Apa kau pernah berjumpa dengan Toako dan Liong cici?" ia balas menanya. "Aku datang kemari justru untuk mendengar-dengar tentang mereka. Kau mungkin belum tahu, bahwa toakoku dan Liong sudah merangkap menjadi suami istri."

Bu sek mengangguk beberapa kali, "Pada beberapa tahn yang lalu, Yo Tayhiap pernah datang berkunjung kekuil kami untuk beberapa hari dan aku merasa sangat cocok dengannya," menerangkan si tua. "Belakangan kami mendengar, bahwa ia membinasakan kaizar Mongol diluar kota Siangyang, sehingga namanya menggetarkan seluruh dunia. Waktu menerima warta itu, kami semua merasa girang bukan main. Tapi sekarang kami tak tahu, dimana ia berada. Ah. Kalau begitu ia sudah menikah. Aku berani memastikan, bahwa istrinya adalah seorang wanita yang bun bu song coan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu perang)."

Kwee Siang berdiri bengong dan mengawasi ketempat jauh. Ia menghela napas seraya berkata dengan suara perlahan. "Kalau begitu, kalian pun tak tahu dimana mereka berada. Siapa yang bisa memberi keterangan?"

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula, "Sekarang baru kutahu, kau adalah Bu sek Siansu. Tak heran. Jika kau memiliki memiliki begitu tinggi. Hmm! Aku belum menghaturkan terima kasih untuk hadiah ulang tahunku. Sekarang belum terlambat. Biarlah hari ini saja aku menghaturkan banyak terima kasin kepadamu."

Sipendeta tertawa. "Orang sering mengata kan, bahwa tanpa berkelahi tidak bisa menjadi sahabat," katanya. "Bagi kita berdua, Kata-kata itu sungguh tepat sekali. Eh, kalau kau bertemu dengan Yo Tayhiap, kuharap kau jangan memberitahukan bahwa aku si tua telan menghina seorang wanita muda,"

Kedua mata sinona memandang puncak2 gunung yang tertutup awan, "Sampai kapan. ... sampai kapan baru akan bisa bertemu dengannya" katanya.

Sebagaimana diketahui, pada waktu Kwee Siang merayakan hari ulang tahunnya yang keenam belas, Yo Ko telah mengundang jago jago Rimba persilatan untuk berkumpul di kota Siang yang, guna memberi selamat panjang umur. Pada hari itu, dengan memandang muka Yo Ko, ahli-ahli silat dari "jalanan hitam" dan "jalanan putih" telah berkumpul di Siangyang. Bu sek yang kebetulan sedang repot tak bisa datang berkunjung dan hanya mengirim seorang wakil untuk memberi selamat dan menyampaikan barang antaran, Dan barang antaran yang dikirimnya bukan lain sepasang Lo han besi itu dipasang alat alat dan jika alat2 tersebut diputar, anak2an itu segera menjalankan satu pukulan Lo han kun. Yang membuatnya adalah seorang pendeta aneh yang pada satu abad berselang pernah bertempat tinggal dikuil Siauw lim sie. Kwee Siang yang masih ke kanak2an merasa sangat ketarik dengan mainan yang selalu di bawa2nya di dalam saku. Pukulan Kauw hay hui tauw yang barusan digunakannya, sebenarnya telah didapat oleh si nona dari kedua Lo han besi itu. Tak dinyana, karena gara2 itu juga hari ini asal usulnya telah ditebak jitu oleh Bu sek Siansu.

"Berhubung dengan peraturan yang turun tumurun, aku merasa menyesal tak bisa mengundang Kwee Jie-kouwnio datang berkunjung kekuil kami," kata Bu sek. "Aku percaya kau tak akan jadi kecil hati."

"Tak apa2," kata sinona dengan masgul. "Ada yang aku hendak tanyakan."

Sambil menunjuk Kak wan, pendeta tua itu berkata pula. "Tentang Suteeku itu, aku akan menerangkan kepadamu perlahan-lahan. Begini saja. "Si tua akan menemani kau turun gunung dan kita cari sebuah rumah makan, supaya aku bisa menjadi tuan rumah untuk minum beberapa cawan arak. Bagaimana pikiranmu?"

Mendengar kata2 itu, semua pendeta kaget tercampur heran. Bu sek Siansu adalah seorang yang mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam Siauw lim sie. Bahwa ia sudah berlaku begitu hormat terhadap seorang gadis remaja, adalah suatu kejadian luar biasa.

"Taysu, janganlah kau berlaku begitu sungkan," kata sinona de ngan perasaan jengah." Aku menyesal bahwa barusan dengan semberono aku sudah melakukan perbuatan sangat tak pantas terhadap beberapa Sueheng. Aku memohon Taysu sudi menyampaikan maafku kepada mereka. Biarlah kita berpisahan disini saja dan dilain hari, kita pasti akan bertemu pula." Sehabis berkata begitu, ia segera memberi hormat, lalu memutar dapan dan mulai bertindak turun dari tanjakan itu.

"Nona kecil, mengapa kau menolak tawaranku yang diajukan dengan setulus hati?" kata Bu sek sambil tertawa. "Beberapa tahun berselang, karena sedang repot, aku tak bisa menghadiri pesta hari ulang tahunmu, sehingga sampai sekarang hatiku masih merasa tak enak. Kalau hari ini aku tidak mengatarkan kau sampai 30 li, aku seperti juga tidak mengenal peraturan untuk melayani tamu terhormat."

Mendengar kata2 itu yang tulus iklas dan juga karena merasa senang dengan cara2 si tua yang polos, Kwee Siang segera berpaling dan berkata sambil bersenyum."Marilah."

Dengan berendeng pundak mereka turun dari tanjakan itu dan tak lama kemudian, tibalah mereka dipendopo Lip swat teng. Tiba2 mereka mendengar suara tindakan kaki dan waktu menengok, mereka melihat, bahwa orang yang membuntuti adalah Thio Koan Po. " Saudara Thio," menegur Kwee Siang." Apakah kau juga ingin mengatarkan tamu?"

Paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah. "Benar!" jawabnya.

"Pada saat itulah, se-konyong2 dari jauh mereka melihat seorang pendeta bertindak keluar dari pintu kuil dan kemudian lari turun sekeras kerasnya dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Alis Bu sek berkerut. "Ada apa begitu ter-buru-buru ?" tanyanya.

Begitu berhadapan dengan Bu sek, pendeta itu memberi hormat dan lalu bicara bisik2. Paras muka si tua laatas saja berubah. "Apa benar ada kejadian begitu?" teriaknya.

"Loo hong-thio (pemimpin kuil) mengudang Sioe-co (kepala bagian) untuk berdamai." jawabnya.

Melihat paras muka Bu-sek. Kwee Siang mengerti, bahwa Siauw-lim-sie sedang menghadapi urusan sulit. Maka itu, ia lantas saja berkata: "Loo-sian-su, dalam persahabatan yang paling penting adalah kecintaan hati. Segala adat istiadat tiada sangkut pautnya dengan persahabatan. Jika Loo-sian-su mempunyai urusan, uruslah saja. Di lain hari, kita masih mempunyai banyak kesempatan untuk makan minum sepuas hati."

"Tak heran Yo Tay hiap begitu menghormatimu," memuji Bu sek. "Kau benar2 seorang gagah, seorang jago betina. Aku merasa girang bisa bersahabatan dengan seorang seperti kau."

Kwee Siang bersenyum deagan paras muka ke-merah2 an dan sesudah mereka saling memberi hormat, si pendeta tua segera kembali kekuil Siauw-lim-sie.

Sinona lalu meneruskan perjalanannya dengan dibuntuti Thio Kun Po dari belakang. Pemuda itu tak berani berjalan berendeng, ia mengikuti dalam jarak lima-enam tindak.

"Saudara Thio, mengapa mereka menghinakan gurumu ?" tanya nona Kwee sambil menengok kebelakang. "Dengan memiliki kepandaian begitu tinggi, gurumu sebenarnya boleh tak usah takuti mareka."

Kun Po mempercepat tindakannya. "Mereka bukan sengaja menghina Suhu," jawabnya. "Peraturan di dalam kuil selalu dipegang keras sehingga siapapun juga membuat pelanggaran, tak akan terluput dari hukuman."

Kwee Siang jadi heran. "Gurumu adalah seorang kesatria dan dalam dunia jarang terdapat manusia yang hatinya begitu mulia," katanya. "Kedosaan apakah yang telah di perbuatnya ?"

Pemuda itu menghela napas panjang. "Latar belakang kejadian ini sebetulnya sudah di ketahui nona," jawabnya. "Yang menjadi gara-gara adalah kitab Leng-keh-keng."

"Ah ! Kitab yang dicuri Siauw Siang Cu dan In Kek See ?" menegas si nona.

"Benar," jawabnya. "Hari itu, waktu berada di puncak Hwa-san, atas petunjuk Yo Tay hiap, aku telah menggeledah badan kedua orang. Sesudah turun gunung, mereka tak kelihatan mata hidungnya lagi. Dengan apa boleh buat, Suhu dan aku segera kembali kekuil dan melaporkan kepada Sioe co dari Kay-loet-ton. Leng keh keng adalah kitab yg di tulis oleh Tatmo Couwsu sendiri dan merupakan salah sebuah barang berharga dalam Siauw-lim-sie. Maka itu dapatlah dimengerti, jika Suhu tak bisa terlolos dari hukuman.

"Gurumu dihukum tak boleh bicara ?" tanya pula si nona.

"Ya, menurut peraturan yang sudah turun temurun," sahutnya. Menurut peraturan itu, seorang yang dihukum harus memikul air dengan kaki tangan dilibat rantai dan tak boleh bicara".

"Menurut katanya para tetua hukuman memikul air malahan ada baiknya untuk yang terhukum. Dengan membungkam, ia mendapat kemajuan dalam latihan rokhani dan dengan memikul air tangannya akan bertambah besar."

Si nona tertawa geli. "Kalau begitu, gurumu sebetulnya bukan menjalani hukuman, tapi sedang melatih badan." katanya. "Ah ! Memang aku yang terlalu rewel dan suka mencampuri urusan orang lain."

"Bukan, bukan begitu," kata Kun Po dengan cepat, "Untuk kebaikan nona, Suhu merasa sangat berterima kasih dan tak akan melupakannya."

Kwee Siang menghela nafas. "Lain orang sudah melupakan aku sama sekali," katanya di dalam hati.

Sesaat itu, tiba2 terdengar suara bunyi keledai yang sedang makan rumput di dalam hutan. "Saudara Thio, tak usah kaum engantar lebih jauh lagi." katanya sambil bersiul dan tunggangannya segera menghampiri.

Kun Po mengawasi dengan sorot mata duka. Ia kelihatannya merasa berat untuk berpisahan, tapi ia tak mengeluarkan sepatah kata,

Kwee Siang yang dapat membaca jalan pikiraannya, segera merogoh saku dan mengeluarkan sepasang Lo han besi. "Kau ambilah ini" katanya seraya mengangsurkannya.

Kun Po terkejut, ia tak berani menyambutinya. "Ini . ini . ." katanya terputus-putus.

"Aku berikan ini kepadamu," kata si nona , "Kau ambil lah."

Pemuda itn tergugu: "Aku . . aku .."

SiNona segera memasukkan sepasang han besi itu kedalam saku Kun Po dan kemudian melompat naik keatas punggung keledai.

Tapi, sebelum ia berangkat, diatas tanjakan se konyong2 terdengar teriak: "Kwee
Jie-kouwnio! Tahan!" Si nona menengok dan melihat Bu Sek Siansu sedang mendatangi dengan ber-lari2.

"Pendeta tua itu ternyata kukuh sekali," pikirnya. "Perlu apa ia mengatarkan aku?"

Begitu berhadapan dengan sinona, Bu Sek segera berkata pada Kun Po: "Lekas kau kembali kekuil. Kau tak boleh berkeliaran lagi di gunung ini."

Pemuda itu mengangguk sambil melirik sinona, ia segera mendaki tanjakan.

Sesudah Kun Po berada jauh. Bu sek segera mengeluarkan selembar kertas dari dalam lengan jubahnya dan berkata: "Kwee Jie-kauw nio, apa kau kenal tulisan siapa ini ?"

Sinona menyambuti dan membaca dua baris huruf yang tertulis diatasnya. "Sepuluh hari kemudian, Kun-leon Sam seng (Tiga nabi gunung Kun-lun san) akan datang berkunjung ke Siauw lim-sie untuk meminta pelajaran,"

"Siapa Kun lun Sam seng ?" tanya sinona "Suaranya sombong sekali!"

"Kalau begitu nona pun tak mengenal mereka katanya." Situa berdiri bengong. "Urusan ini benar benar mengherankan," katanya dengan suara perlahan.

"Mengapa mengherankan ?" tanya Kwee Siang.

"Biarpun baru pernah bertemu, aku menganggap nona sebagai seorang sahabat lama dan aku bersedia untuk menerangkan se-jelas2nya kata Bu-sek. "Apa nona tahu dari mana datangnya kertas ini ?"

"Diantarkan oleh suruhan Koe-lun Sam-seng." Jawabnya.

"Jika disampaikan oleh seorang suruhan, kami tentu tak menjadi heran." kata siPendeta.

"Orang sering mengatakan, bahwa pohon yang tinggi selalu mengundang serangan angin. Dan sudah sejak lama, selama beberapa ratus tahun, Siauw lim sie dikenal sebagai sumber pelajaran ilmu silat dan oleh karena demikian, banyak sekali ahli silat datang berkunjung untuk menjajal kepandaian kami. Hal ini adalah hal yang lumrah. Dipihak kami, setiap kali orang menantang, kami selalu coba membujuknya, supaya ia membatalkan niatan itu. Sedapat mungkin, kami coba mengelakkan pertandingan. Kami sungkan merebut kemenangan. Orang2 yang masih suka berkelahi, mana boleh jadi murid Budha

More about → Cerita Dewasa Silat : Kisah Membunuh Naga (To Liong To/Bu Kie) 1