Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 7

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 07 Desember 2011

"Di saat kulihat Si-hun-mo-li roboh tak sadarkan diri nanti,
aku pasti akan melemparkan kitab pusaka itu ke depan."
"Aku akan menghitung sampai angka sepuluh, saat itu Sihun-
mo li pasti sudah roboh tak sadarkan diri!"
Demi menyelamatkan selembar jiwa Thay-kun, Bong Thiangak
telah mengambil keputusan hendak mengingkari janjinya
dengan Biau-kosiu. Biarpun saat ini kitab pusaka Kui-hok-khiliok
diserahkan kepada lawan, namun ia yakin masih memiliki
kemampuan untuk merebutnya kembali.
Sebaliknya bila Si-hun-mo-li kabur lagi, usahanya
menyelamatkan jiwa perempuan itu akan menemui kesulitan
yang lebih banyak lagi.
Itulah sebabnya Bong Thian-gak mengambil keputusan
akan mengingkari janji terhadap Biau-kosiu.
Tiba-tiba sepasang mata orang berbaju hijau itu
memancarkan cahaya dingin kehijau-hijauan, pelan-pelan dia
mulai memanggil, "Si-hun-mo-li!"

945
Panggilan itu penuh diliputi nada menyeramkan, aneh dan
menggidikkan.
Ketika mendengar suara yang menggidikkan itu, pelanpelan
Si-hun-mo-li membalik badan, namun ketika sinar
matanya saling bentur dengan sorot mata orang berbaju hijau
itu, ia nampak seperti tersengat lebah.
Seketika itu juga sukma dan pikirannya seolah-olah terbetot
oleh pandangan mata itu, dia berdiri melongo seperti sebuah
patung.
Sementara itu orang berbaju hijau sudah menghitung
dengan cara melengking tapi lambat, "Satu ... dua ... tiga ...
empat...."
Pada saat itulah dari balik kuburan tiba-tiba muncul
seseorang yang menerjang ke punggung orang berbaju hijau
dengan kecepatan tinggi.
Dengan sorot mata Bong Thian-gak yang amat tajam, ia
sudah melihat dengan jelas bahwa orang yang baru saja
muncul itu bukan lain adalah perempuan berbaju hijau yang
menyerahkan kitab pusaka Kui-hok khi-liok kepadanya itu.
Kemunculannya yang sangat mendadak ini segera
menggetarkan perasaan Bong Thian-gak, ia tahu persoalan
bakal runyam.
Belum habis ingatan itu, suara orang berbaju hijau yang
sedang menghitung itu pun terhenti secara mendadak.
Kemudian secepat kilat dia membalik badan seraya
melancarkan bacokan kilat ke depan.
Angin pukulan yang kuat dan tajam secara telak
menghantam tubuh perempuan berbaju hijau itu.
Jerit kesakitan bergema, tubuh perempuan berbaju hijau
itu segera terlempar bagaikan layang-layang yang putus
benang.

946
Dengan cepat Bong Thian-gak melejit ke udara dan
melayang turun di hadapan perempuan berbaju hijau itu.
Sementara itu paras muka perempuan berbaju hijau itu
sudah berubah pucat-pias seperti mayat, darah segar muntah
dari mulutnya.
Dengan cepat Bong Thian-gak membimbing bangun,
kemudian menempelkan telapak tangannya di atas jalan darah
Mi-bun-hiat di punggungnya.
Segulung hawa panas segera menyusup ke tubuh
perempuan itu melalui jalan darah Mi-bun-hiat, hawa darah
bergolak dengan kuat dalam tubuhnya, perempuan itu pun
segera berkata, "Bong-siangkong, kau tak boleh menyerahkan
kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepada orang lain, kau tak
boleh mengingkari janjimu terhadap Biau-kosiu."
"Ai, harap kau sudi memaafkan aku," ujar Bong Thian-gak
sambil menghela napas panjang.
Saat itu Bong Thian-gak benar-benar menyesal dan tidak
keruan rasanya.
Perempuan berbaju hijau itu memandang sekejap ke
arahnya, kemudian dengan air mata bercucuran katanya,
"Bong-siangkong, kemungkinan besar aku akan segera mati.
Sebelum ajalku tiba, aku minta kau bersedia menyanggupi
keinginanku, kau harus melindungi kitab Kui-hok-khi-liok itu
hingga diserahkan terhadap Biau-kosiu. Apabila kau tak
mampu menyerahkan kepadanya, tolong hancurkan dan
musnahkan kitab itu."
Paras muka perempuan berbaju hijau itu pucat-pias seperti
mayat, dari balik matanya memancar sinar permohonan,
ditatapnya wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Dia hendak menanti jawaban Bong Thian-gak, sebab dia
tahu asalkan pemuda yang berada di hadapannya sudah

947
menganggukkan kepala memberikan persetujuan, biar langit
ambruk pun, pendiriannya tak pernah akan berubah.
Tapi Bong Thian-gak masih tetap termenung dan sama
sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sebab perasaan dan pikirannya saat ini sangat kalut, dia
tak bisa mengambil keputusan dengan segera, bagaimana pun
menyelamatkan
Thay-kun merupakan harapannya yang terbesar. Sekarang
dia telah mendapat kesempatan baik yang tak mungkin bisa
dijumpai lagi di kemudian hari. Apakah dia harus melepaskan
kesempatan yang sangat baik itu begitu saja?
Melihat pemuda itu hanya membungkam tanpa menjawab,
perempuan berbaju hijau itu menjadi sangat kecewa, air
matanya segera bercucuran membasahi wajahnya.
Diiringi jeritan yang memilukan, perempuan berbaju hijau
itu sekali lagi memuntahkan darah segar, tiba-tiba saja dia
tewas dalam keadaan penuh kecewa.
Tak terlukiskan rasa terkejut Bong Thian-gak, sementara
dia masih tertegun, tiba-tiba dari belakang tubuhnya
terdengar orang berbaju hijau itu berkata dengan dingin, "Dia
bukan mati karena mendongkol kepadamu. Ketahuilah, barang
siapa sudah termakan oleh pukulanku, maka dia tak akan
mampu hidup lebih seperempat jam."
Pelan-pelan Bong Thian-gak membalikkan badan dan
menatap orang itu lekat-lekat, kemudian ujarnya, "Tenaga
pukulan yang kau miliki memang benar-benar amat dahsyat
dan tajam, tapi yakinkah kau bahwa seranganmu pasti dapat
menghabisi nyawaku?"
"Sebelum mendapatkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu,
aku tak nanti turun tangan melukaimu."
"Sekarang aku sudah berubah pikiran," ucap Bong Thiangak
dengan suara dingin. "Aku tak jadi menyerahkan kitab

948
pusaka itu kepadamu, akan kulindungi kitab Kui-hok-khi-liok
ini hingga saat penyerahan nanti."
Orang itu tertawa seram mendengar perkataan itu, "Bagus
sekali, kau mencari jalan kematian bagi dirimu sendiri."
Mendadak Bong Thian-gak melolos Pek-hiat-kiam,
kemudian berkata, "Apabila kau bermaksud mencabut
nyawaku, maka tak ada salahnya kau mencoba menerima
beberapa buah tusukanku ini."
Pemuda itu melompat ke muka dan melepaskan sebuah
tusukan kilat.
Sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata segera
berkelebat ke depan.
Orang itu sama sekali tidak menggeser badan
menghindarkan diri, sebaliknya Si-hun-mo-li yang berada di
sisinya bagaikan sesosok arwah gentayangan telah
menyelinap ke depan dan menghadang di hadapan orang itu,
sementara telapak tangannya yang putih bersih ditolakkan ke
muka menghantam mata pedang itu.
Sebenarnya Bong Thian-gak bisa saja berganti jurus
dengan membacok pergelangan tangannya, namun ia sama
sekali tidak berbuat demikian. Menghadapi ancaman itu, dia
menarik balik pedangnya.
Si-hun-mo-li sama sekali tidak memberi kesempatan
kepada lawan untuk banyak bertindak, kembali tubuhnya
berkelebat maju dan menerjang sisi kiri Bong Thian-gak,
sementara telapak tangannya yang lain segera dihantamkan
ke bahu kiri anak muda itu.
Sejak bertemu Si-hun-mo-li, ilmu silat yang dimiliki Bong
Thian-gak seolah-olah mengalami kemunduran yang amat
pesat. Dalam keadaan demikian, seharusnya ia dapat
menggerakkan pedangnya untuk melepaskan tusukan, namun

949
ia tidak berbuat demikian, tubuhnya malah melompat mundur
untuk menghindarkan diri dari ancaman itu.
Siapa tahu pada saat itulah telapak tangan kiri Si-hun-mo-li
telah diayun ke depan dan membacok tubuh Bong Thian-gak
dengan mempergunakan Soh-li-jian-yang-sin-kang.
Cahaya tajam yang berwarna merah darah segera
menyambar, pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang yang maha
dahsyat bagaikan putaran roda kereta langsung menggulung
ke muka.
Bong Thian-gak segera membentak, mendadak Pek-hiatkiam
diputar kencang menciptakan kabut pedang yang tebal,
bukannya mundur dia malah maju.
Ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan ilmu
pukulan yang maha dahsyat dan amat termasyhur dalam Bulim.
Mimpi pun orang berbaju hijau itu tak mengira permainan
kabut pedang yang diciptakan Bong Thian-gak itu mampu
mementalkan sergapan tenaga Sinkang itu.
Benar-benar di luar dugaannya, serangan maut yang begitu
tajam dan dahsyat dari Soh-li-jian-yang-sin-kang berhasil
dipunahkan begitu saja oleh putaran hawa pedang Bong
Thian-gak.
Sebaliknya tubuh Bong Thian-gak sendiri berputar ke
hadapan Si-hun-mo-li dengan kecepatan luar biasa, lalu kaki
kanan Bong Thian-gak diayunkan ke muka dan menendang
jalan darah kaku di pinggang Si-hun-mo-li.
Tendangan yang dilancarkan olehnya itu benar-benar
dilepaskan secara jitu dan manis, diikuti jeritan tertahan,
tubuh Si-hun-mo-li segera roboh terjungkal ke atas tanah.
Pada saat itulah Bong Thian-gak membuang Pek-hiat-kiam,
lalu mementang kelima jari tangannya, dia cengkeram urat
nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li.

950
Bong Thian-gak tahu ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang
yang dimiliki Si-hun-mo-li terletak pada tangan kirinya, oleh
sebab itu ia langsung mencengkeram bagian vital itu dengan
harapan dapat mengendalikan gerak-gerik perempuan itu.
Sejak Bong Thian-gak memutar pedang sambil mendesak
maju hingga dia merobohkan Si-hun-mo-li dengan tendangan,
beberapa gerakan itu dilakukan dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat dan dilakukan secara beruntun.
Menanti orang berbaju hijau tahu Si-hun-mo-li tak mungkin
mampu menghadapi serangan Bong Thian-gak, urat nadi
pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li sudah berhasil
dicengkeraman Bong Thian-gak.
Orang berbaju hijau itu mendengus penuh amarah, dari
kejauhan dia lepaskan bacokan maut ke tubuh pemuda itu.
Tapi Bong Thian-gak dengan membopong tubuh Si-hunmo-
li malah melompati dua buah kuburan besar untuk
menghindarkan diri.
Ketika tenaga pukulan yang dilancarkan orang berbaju
hijau itu menghantam batu nisan, terjadilah suara ledakan
yang amat keras disusul robohnya batu nisan dan debu pasir
beterbangan ke udara.
Gagal dengan serangan mautnya, orang itu bagaikan
sukma gentayangan mendesak maju, sewaktu berada di muka
Bong Thian-gak, kembali tangan kanannya diayunkan siap
melepaskan pukulan maut lagi.
Padahal Bong Thian-gak baru saja berhasil berdiri tegak
ketika musuh telah berdiri di hadapannya, gerakan tubuh yang
sedemikian cepatnya ini membuat anak muda itu tertegun.
Sambil tertawa dingin, orang berbaju hijau itu berkata,
"Asal kau berani menggerakkan tubuhmu, tenaga pukulan
yang telah kuhimpun ini secepat kilat akan menghajar
tubuhmu."

951
Waktu itu tangan Bong Thian-gak sedang mencengkeram
urat nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li. Ketika
mendengar ancaman itu, ia segera tertawa dingin sambil
ujarnya, "Tenaga pukulanmu itu mungkin akan menghajar Sihun-
mo-li."
Agaknya rahasia hati orang berbaju hijau itu berhasil
ditebak Bong Thian-gak secara tepat. Ia segera berpikir
beberapa saat, setelah itu baru ujarnya dengan suara dingin,
"Apa yang ingin kau lakukan terhadap dirinya?"
"Mencabut nyawanya."
"Bila dia mati, kau pun jangan harap bisa hidup lebih lama,"
ancam orang berbaju hijau itu segera.
"Betul, itulah sebabnya tak ada salahnya bila kita bertukar
syarat."
"Apa syaratmu?"
Bong Thian-gak berpikir sejenak, kemudian katanya dengan
wajah bersungguh-sungguh, "Harap kau segera mundur dari
sini! Aku tak akan mengganggu keselamatan jiwanya."
"Sekarang segenap tenaga pukulanku telah terhimpun di
telapak tangan, sesungguhnya yang mendapat ancaman
bukan aku, melainkan kau," ucap orang berbaju hijau itu
dengan nada menyeramkan.
"Aku tahu. Meski tenaga pukulanmu amat tajam dan
menakutkan, namun belum tentu dapat melukaiku."
"Setiap kali melepas pukulan, belum pernah pukulanku
meleset."
"Bukankah ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang Si-hunmo-
li pun belum pernah meleset, tapi terbukti sudah bahwa ia
tak mampu melukai aku."
Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.

952
"Hm, aku memang tidak mengerti apa sebabnya kabut
pedang yang kau ciptakan tadi bisa mematahkan ancaman
Soh-li-jian-yang-sin-kang yang begitu hebat."
"Karena sebenarnya aku telah berhasil melatih semacam
ilmu sakti yang dapat menandingi pengaruh Soh-li-jian-yangsin-
kang itu," kata Bong Thian-gak sambil tersenyum.
Tampaknya orang itu seperti berhasil menebak, dengan
terkejut ia segera bertanya, "Apakah tenaga sakti yang kau
pergunakan barusan adalah Tat-mo-khi-kang?"
Bong Thian-gak manggut-manggut, "Ya benar, memang
Tat-mo-khi-kang. Itulah sebabnya berani aku katakan tadi,
bahwa tenaga seranganmu belum tentu dapat melukai diriku."
"Sekalipun mempelajari Tat-mo-khi-kang, bukan berarti
sudah tiada tandingan di kolong langit?"
"Tapi paling tidak kan aku sanggup menerima serangan
mautmu tanpa kuatir terancam keselamatan jiwaku."
"Sekarang aku tidak ingin lagi melancarkan serangan lebih
dahulu kepadamu, lebih baik kita saling bertahan pada posisi
demikian saja!"
Yang paling menjengkelkan dan membingungkan Bong
Thian-gak sekarang adalah dia tidak memiliki tangan kanan
sehingga sama sekali tak mampu mengeluarkan pil Hui-hunwan
itu dan dicekokkan ke mulut Si-hun-mo-li.
Kabut malam sudah makin menyelimuti angkasa,
sementara sang surya sudah tenggelam ke langit barat, tanah
pekuburan itu mulai dicekam kegelapan.
Mendadak dari balik tanah pekuburan berkumandang suara
orang bicara, "Apabila keadaan saling bertahan semacam ini
berlangsung lebih lama, akhirnya Jian-ciat-suseng akan
menderita kekalahan sebelum pertarungan dimulai."
Mendengar perkataan itu, hati Bong Thian-gak bergetar.

953
"Siapa di situ?" bentak orang berbaju hijau itu dingin.
Dari balik sebuah kuburan besar muncul seorang berjubah
panjang warna hitam, lengan kanan orang itu sudah kutung
sementara sebilah golok panjang tersoreng di pinggangnya.
Berjumpa dengan manusia berlengan tunggal itu, Bong
Thian-gak terkejut bercampur girang, segera pekiknya dalam
hati, "Ah, tenyata Liu khi. Andaikata ia bersedia membantuku,
niscaya keselamatan jiwa Thay-kun akan terjamin."
Kemunculan Liu Khi tentu saja memberi harapan baru yang
amat besar bagi Bong Thian-gak, tapi pada saat itu pula tibatiba
Bong Thian-gak merasa kepalanya sangat pening.
"Aduh celaka," pekik Bong Thian-gak dalam hati.
Dengan cepat ia menyambar tubuh Si-hun-mo-li, kemudian
sekuat tenaga melompat ke depan dimana Liu Khi berada.
Baru saja Bong Thian-gak menggerakkan tubuh, jurus
serangan orang berbaju hijau yang telah disiapkan sedari tadi
dilontarkan ke muka.
Suara dengusan tertahan segera memecah keheningan.
Tubuh Bong Thian-gak dan Si-hun-mo-li mencelat ke
belakang.
Tenaga yang dilontarkan oleh orang berbaju hijau itu
hampir saja membuyarkan tenaga Tat-mo-khi-kang yang
dihimpun Bong Thian-gak.
Dalam keadaan setengah sadar, dengan cepat Bong Thiangak
melepas cengkeramannya pada urat nadi pergelangan
tangan kiri Si-hun-mo-li, kemudian tangannya merogoh ke
dalam saku mengeluarkan pil Hui-hun-wan dan sekali lompat
dia sudah menindih di atas tubuh Si-hun-mo-li, ia jejalkan pil
Hui-hun-wan itu ke dalam mulut perempuan itu.

954
Pada saat itulah Bong Thian-gak merasa tengkuknya amat
dingin, sebuah cengkeraman maut yang sangat kuat bagaikan
jepitan baja telah mencengkeram tengkuknya.
Menyusul suara bentakan menggema, "Hek-mo-ong,
terimalah bacokanku ini!"
Liu Khi tahu-tahu telah melepas goloknya dengan
kecepatan luar biasa.
Di antara berkelebatnya cahaya putih mata golok itu, orang
itu segera melompat mundur untuk menghindarkan diri.
Begitu musuh mundur, Liu Khi menyarungkan kembali
goloknya, lalu berseru dengan terkejut, "Agaknya kau mampu
juga menghindarkan diri dari bacokan golokku ini?"
"Hm, benar-benar permainan golok yang luar biasa
cepatnya," jengek orang berbaju hijau itu dengan suara dingin
dan menyeramkan. "Hampir saja lenganku terpapas kutung
oleh sambaran golokmu itu."
Di bawah sinar bintang dan rembulan yang remangremang,
orang berbaju hijau itu telah kehilangan sebagian
ujung baju tangan kirinya.
Liu Khi tertawa dingin setelah mengamati lawannya itu,
kembali ia menegur dengan suara ketus, "Engkau adalah Hekmo-
ong?"
"Hm! Atas dasar apa kau menuduh aku sebagai Hek-moong?"
balas orang berbaju hijau itu dengan suara tak kalah
seram.
Kembali Liu Khi tertawa seram, "Hm, aku sudah tiga hari
menguntit dirimu, aku pun telah meneliti semua mayat yang
tewas di tanganmu, semuanya mati dengan isi perut hancur,
hanya sayang tidak kujumpai lambang tengkorak hitam yang
khas itu."

955
"Liu Khi, sejak tadi aku telah mengetahui kau mengikuti
diriku," kata orang berbaju hijau itu.
Liu Khi tertawa dingin.
"Oleh sebab itulah kedelapan belas orang anak buahmu
sekarang telah berubah menjadi setan-setan tanpa kepala."
"Kecepatan permainan golokmu benar-benar di luar
dugaanku."
"Ketajaman pukulan tangan kosongmu pun tak di bawah
permainan golok saktiku."
"Apa maksudmu?"
"Ilmu silat Jian-ciat-suseng yang sekarang menggeletak di
tanah ttu belum tentu di bawah kita, dengan ketajaman ilmu
pukulanmu ternyata kau sanggup menghajarnya secara telak.
Bukankah ketajaman Ilmu pukulanmu benar-benar membikin
hati orang bergidik?"
Sementara itu Bong Thian-gak yang menggeletak di atas
tanah merasakan seluruh tubuhnya lemas, tulang-belulangnya
seperti sudah terlepas, namun dia tidak jatuh pingsan, dengan
demikian semua pembicaraan Liu Khi dan orang berbaju hijau
itu dapat didengar semua olehnya dengan jelas.
Diam-diam Bong Thian-gak merasa amat terkejut, segera
pikirnya, "Betulkah orang berbaju hijau itu adalah Hek-moong?"
Bong Thian-gak segera teringat bagaimana orang itu
melancarkan serangan yang tepat mengenai perempuan
berbaju hijau tadi, kecepatan serta kehebatan serangannya
memang sungguh mengerikan.
Perempuan berbaju hijau itu bukan termasuk seorang
lemah, namun nyatanya orang itu sanggup menghajarnya
hingga tewas dalam satu gebrakan saja. Benar-benar
menggidikkan.

956
Apabila Liu Khi harus berduel melawan orang berbaju hijau
itu, dapatkah Liu Khi meraih kemenangan?
Bong Thian-gak berharap kemampuan Liu Khi sanggup
menahan mang berbaju hijau itu hingga tenaga dalamnya
pulih atau kalau tidak, ia bersama Thay-kun pasti akan
menemui bencana besar.
Sementara itu Thay-kun sejak dicekoki pil Hui-hun-wan
masih tetap tidak sadarkan diri, keadaannya tak ubahnya
sesosok mayat, sama sekali tidak bergerak, tubuhnya masih
tertindih Bong Thian-gak.
Tiba-tiba terdengar orang berbaju hijau itu menegur
dengan suara menyeramkan, "Liu Khi, apa yang hendak kau
lakukan sekarang?"
"Pertama-tama, aku ingin bertanya kepadamu, benarkah
kau adalah Hek-mo-ong?" tanya Liu Khi sambil tertawa dingin.
"Jika aku adalah Hek-mo-ong, hari ini aku datang
mengenakan topeng kulit manusia, kau tak akan mengenali
juga raut wajah asliku."
"Itulah sebabnya aku ingin bertanya kepadamu dan kau
harus memberikan ketegasan dalam jawabanmu, ya atau
tidak."
"Aku tak dapat memberikan jawaban yang meyakinkan
padamu."
Liu Khi tertawa dingin tiada hentinya, "Seandainya golok
yang berada dalam genggamanku ini berhasil
mengunggulimu?"
"Aku ingin balik bertanya kepadamu, ada urusan apa kau
mencari Hek-mo-ong?"
Untuk kesekian kalinya Liu Khi tertawa dingin, "Mungkin
kau sudah mengetahui rahasiaku."

957
"Tentu saja tahu, di dunia persilatan terdapat seorang
pembunuh yang kerjanya khusus membunuh orang
berdasarkan order, dia adalah orang misterius dan tak
membedakan antara yang sesat dan lurus. Asal ada orang
memberi uang kepadanya, dia akan membunuh siapa pun
seperti yang diinginkan si pemesan."
Liu Khi tertawa terbahak-bahak serunya, "Tentunya orang
yang kerjanya membunuh berdasarkan order ini adalah Liu
Khi, bukan?"
"Benar, memang Liu Khi."
Bong Thian-gak terkejut serta ingin tahu.
Dia ingin tahu, karena selama ini belum pernah terdengar
olehnya di dunia persilatan terdapat pekerjaan membunuh
berdasarkan order seperti apa yang dikatakannya itu.
Dia terkejut karena sama sekali tidak menyangka Liu Khi
adalah orang yang mempunyai pekerjaan membunuh
berdasarkan order itu.
Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng pernah berkata kepada
Bong Thian-gak, "Aku mencurigai Liu Khi...."
Sesungguhnya Bong Thian-gak merasa kurang puas
terhadap kecurigaan Tio Tian-seng itu, namun sekarang dia
harus mengakui akan ketajaman mata, kematangan
pengetahuan serta pengalaman Tio Tian-aeng, rupanya dia
telah mengetahui rahasia Liu Khi itu.
Sambil tertawa Liu Khi berkata, "Benar-benar sangat hebat,
padahal sedikit umat di Kangouw saat ini yang mengetahui
rahasiaku."
"Sekali lagi aku ingin bertanya kepadamu, apakah ada
orang yang telah membayar tinggi kepadamu untuk
membunuh Hek-mo-ong?"
"Benar, Liu Khi telah menerima order itu," Liu Khi tertawa.

958
"Hek-mo-ong adalah seorang yang luar biasa. Entah berapa
besar harga yang telah dibayarkan kepadamu?"
"Untuk membunuh Hek-mo-ong, harganya tak dapat
ditentukan dengan emas, intan atau permata lainnya."
Orang berbaju hijau tertawa dingin, katanya lebih jauh,
"Dapatkah kau memberitahu kepadaku siapa yang
mengundangmu?"
"Apakah kau tidak tahu bahwa persoalan semacam ini tak
dapat diutarakan?" seru Liu Khi sambil tertawa terbahakbahak.
Mendadak orang berbaju hijau itu memasukkan tangannya
ke dalam saku, bersamaan lengan tunggal Liu Khi telah
memegang pula gagang golok yang tersoreng di pinggangnya,
kemudian bentaknya, "Kau jangan mencoba melepas racun,
sebelum datang kemari Liu Khi telah menelan pil anti bisa
yang bisa menawarkan berbagai macam pengaruh racun."
Tangan kiri orang berbaju hijau itu masih tetap berada di
dalam saku, tak bergerak, katanya dingin, "Aku memang
sudah tahu Liu Khi kebal terhadap aneka serangan racun,
tentu saja aku tak akan berbuat nebodoh ini dengan
melepaskan racun terhadapmu."
Liu Khi tertawa dingin.
"Bila tangan kirimu meninggalkan saku, maka golokku akan
terlolos pula dari sarung!" ancamnya.
Tiba-tiba orang berbaju hijau itu memandang sekejap
bintang yang bertebaran di angkasa, kemudian katanya pelan,
"Liu Khi, aku ingin mengundangmu untuk membunuh orang.
Bersediakah kau menerima orderku ini?"
"Sebelum Liu Khi menerima order, terlebih dulu harus
kuketahui persoalan macam apakah itu, karenanya kau harus
mengatakannya lebih dulu kepadaku siapa yang hendak kau
bunuh?"

959
"Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng!" jawab orang berbaju
hijau itu dengan suara hambar.
Liu Khi termenung beberapa saat, setelah itu baru berkata,
"Sulit untuk membunuh Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng,
rasanya kesulitan itu tidak di bawah Hek-mo-ong sendiri."
"Bagaimana pun juga kau adalah wakil ketua Kay-pang.
Boleh dibilang siang malam kalian bergaul, kesempatanmu
untuk membunuh amat banyak."
Liu Khi tertawa dingin, "Lantas berapa hendak kau bayar?"
"Aku akan membantumu merebut kursi ketua Kay-pang
ditambah emas murni dan mutiara sepuluh laksa tahil."
"Apakah kau tak sanggup membayar lebih mahal lagi?"
jengek Liu Khi sambil tertawa dingin.
Orang berbaju hijau memandang sekejap ke arahnya,
kemudian baru sahutnya, "Untuk membunuh Tio Tian-seng,
balas jasa apakah yang kau kehendaki? Silakan kau utarakan
sendiri."
Dengan muka sungguh-sungguh Liu Khi berkata, "Aku
minta kitab pusaka Kui-hok-khi-liok Mi-tiong-bun."
Sekali lagi Bong Thian-gak terkejut mendengar ucapannya
itu, segera pikirnya, "Sebetulnya kitab pusaka macam apakah
Kui-hok-khi-liok yang berada dalam sakuku sekarang?
Mengapa mereka berusaha mendapatkannya?"
Dalam pada itu orang berbaju hijau telah berkata pula
dengan suara hambar, "Bila kau mendapatkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu, maka jangan harap kau bisa meloloskan
diri dari pengejaran segenap jago Mi-tiong-bun. Mengapa kau
mencari kesulitan bagi diri sendiri?"
Liu Khi tertawa misterius, "Bukankah kau sendiri pun sudah
menyadari bila merebut kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu,
maka kau akan dikejar segenap jago lihai yang dikirim MiTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
960
tiong-bun, tapi mengapa kau sendiri pun berusaha
mendapatkannya?"
"Sekarang aku mengajakmu membicarakan soal transaksi.
Maaf, permintaanmu tidak dapat kuterima."
"Kalau begitu malam ini kita harus melangsungkan duel
yang seru. Bilamana kau menganggap hal ini perlu, silakan
saja segera turun tangan!"
"Aku tidak dapat membiarkan kau merampas kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok, tentu saja barang harus diserahkan sendiri
sebagai tanda jadi."
"Mengapa hingga sekarang kau belum juga turun tangan?"
kata orang berbaju hijau itu.
"Aku sedang menunggu kesempatan baik."
"Selama hidup kau tak akan mendapatkan kesempatan baik
itu!"
"Siapa bilang tidak?"
Tahu-tahu Liu Khi melolos golok.
Gerakannya sewaktu melolos golok cepat sekali, seperti
sambaran petir, dalam keadaan begitu tak mungkin orang
dapat meloloskan diri.
Mata golok secara langsung menyambar lambung orang
berbaju hijau itu, serangannya gencar, dahsyat dan sangat
mengerikan.
Tangan kiri si orang berbaju hijau yang selama ini
disembunyikan di balik saku segera disapukan pula ke depan
dengan kecepatan tinggi, ia sambut datangnya ancaman golok
Liu Khi dengan kekerasan.
Tetapi mungkinkah ada orang di dunia yang sanggup
menerima bacokan golok dengan sabetan tangan kosong?
Suara benturan keras memecah keheningan.

961
Tubuh Liu Khi seperti seekor bangau abu-abu langsung
berkelebat menuju ke arah kiri.
Desingan angin tajam menderu, segulung angin pukulan
yang amat kuat segera menyambar lewat dasar kaki Liu Khi.
Pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu
sama-sama dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran
kilat, tahu-tahu Liu Khi melayang turun, goloknya juga telah
disarungkan kembali.
Sebaliknya orang berbaju hijau dengan tangan kosong
masih tetap berdiri tegak di tempat.
Dari sorot mata kedua orang itu, mereka sama-sama
terperanjat oleh ketangguhan lawan. Tanpa berkedip, mereka
saling pandang.
Tiba-tiba Liu Khi berkata, "Senjata tajam apakah yang telah
kau gunakan untuk menyambut bacokan golokku tadi?"
"Hanya sebuah sarung tangan!" jawab orang berbaju hijau
dingin.
"Sebuah sarung tangan?" Liu Khi bertanya keheranan.
"Ketajaman golokku tak akan bisa dibendung oleh senjata
tajam macam apa pun di dunia ini, aku pikir sarung tanganmu
itu tentu sudah robek bukan?"
"Betul, memang agak robek sedikit, itulah sebabnya kau
dapat mengundurkan diri secara aman."
Liu Khi tertawa, "Seandainya kau berusaha mencengkeram
mata golokku tadi, maka telapak tanganmu itu mungkin akan
terpisah dengan tubuhmu."
"Liu Khi, kau sudah terkena pukulanku yang sangat lihai,"
kata orang berbaju hijau itu dingin.
Paras muka Liu Khi segera berubah hebat, katanya,
"Tenaga pukulanmu itu sama sekali tak pernah mengenai
tubuhku."

962
"Dalam kedua serangan yang aku lancarkan tadi, satu
berwujud dan yang satu tak berwujud, kau dapat meloloskan
diri dari serangan tangan kananku yang berwujud, tapi ketika
kau melayang turun tadi, pukulanku yang tak berwujud telah
menghajar tubuhmu secara telak, tenaga serangan ini aku
lancarkan melalui tangan kiri, apabila kau tak percaya silakan
saja mengatur pernapasanmu, rasakan sendiri apakah jalan
darah Hian-koan-hiat di belakang pinggangmu terasa linu dan
sakit atau tidak?"
Liu Khi termenung sejenak, "Sungguh amat lihai, ternyata
aku memang benar-benar sudah termakan oleh serangan
gelapmu, namun sayang kekuatannya tidak dapat membuatku
terluka."
"Untuk sementara waktu aku masih belum ingin
melukaimu, aku hanya berniat mendemonstrasikan
kemampuanku yang lihai ini agar kau tidak terlampau
sombong dan takabur."
Liu Khi mendengus dingin, "Hm! Bersiaplah menyambut
serangan bacokanku yang kedua."
"Tunggu sebentar," tiba-tiba orang berbaju hijau itu
membentak.
"Apalagi yang hendak kau katakan?"
"Bila kita bertarung sekali lagi, rasanya salah seorang di
antara kita akan terluka, kau tidak punya keyakinan untuk bisa
mengungguliku, demikian pula aku. Buat apa mesti bersikeras
meneruskan pertarungan yang sama sekali tak ada gunanya
ini?".
Liu Khi tersenyum, "Tapi aku tak bisa membiarkan kau
merampas, kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu dengan
gampang."
"Kalau kau menginginkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu,
biarlah aku mengalah saja?"

963
Seusai berkata, mendadak orang berbaju hijau itu
mengerahkan Ginkang dan segera berlalu dari situ.
Tampaknya Liu Khi sama sekali tidak menyangka orang
berbaju hijau itu akan meninggalkan arena begitu saja, dia
berdiri lama di tempat dengan wajah termangu-mangu,
setelah tidak berhasil menemukan sesuatu gejala aneh, dia
pun bergumam seorang diri, "Benarkah dia rela meninggalkan
kitab pusaka Kui-hok-khi-liok begitu saja, hm ...."
Namun dalam waktu singkat di atas tanah pekuburan itu
telah muncul kembali si orang berbaju hijau yang misterius
tadi.
Orang berbaju hijau itu memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak serta Liu Khi, kemudian tertawa dingin penuh
kelicikan dan perasaan bangga.
"Jian-ciat-suseng betul-betul jago muda persilatan,
nyatanya si pembunuh bayaran pun tak dapat menghabisi
nyawamu, sungguh mengagumkan."
Seusai berkata, kembali dia tertawa dingin tiada hentinya
dengan suara menyeramkan.
"Sebenarnya siapakah kau?" tegur Bong Thian-gak dengan
nada suara dalam.
Berhubung orang berbaju hijau itu mengenakan topeng
kulit manusia, maka tidak nampak perubahan wajahnya, dia
balik bertanya, "Dan menurut dugaanmu, siapakah aku?"
"Hek-mo-ong," sahut Bong Thian-gak setelah tertegun
sejenak.
Orang berbaju hijau itu tertawa dingin, "Atas dasar apa kau
menuduhku sebagai Hek-mo-ong?"
Bong Thian-gak tertegun dan tak dapat menjawab
pertanyaan itu.

964
Tiba-tiba Liu Khi menimbrung sambil tertawa dingin,
"Walaupun kau bukan Hek-mo-ong, namun termasuk salah
seorang yang dicurigai nebagai Hek-mo-ong."
"Berapa banyak jago lihai dalam Kangouw yang dicurigai
sebagai Hek-mo-ong?" tanya orang berbaju hijau itu.
"Ada beberapa orang yang dicurigai, rasanya tak usah
ditanyakan tapi kepadaku, kau sendiri jauh lebih jelas daripada
siapa pun?"
"Kalau begitu, kau pun sudah tahu siapa diriku?" ucap
orang itu dengan suara mengerikan.
"Ya, aku dapat menebak enam bagian."
"Kalau begitu, coba katakan siapakah diriku?"
Liu Khi termenung beberapa saat, kemudian sambil tertawa
terbahak-bahak, "Kau adalah si tabib sakti Gi Jian-cau."
Hati Bong Thian-gak bergetar keras, pikirnya, "Pesan
terakhir Keng-tim Suthay memintaku membunuh Gi Jian-cau,
mungkinkah Hek-mo-ong adalah jelmaan Gi Jian-cau?"
Sementara itu orang berbaju hijau itu sudah bertanya lagi
dengan suara hambar, "Liu Khi, sudah pernahkah kau
berjumpa dengan si tabib sakti Gi Jian-cau?"
"Delapan belas tahun berselang, kami pernah berjumpa
satu kali," jawab Liu Khi sambil tertawa.
"Apakah kau masih ingat raut wajahnya?"
Kembali Liu Khi tertawa, "Sekalipun tubuhnya hancur
menjadi abu, aku masih tetap dapat mengenalinya."
Tiba-tiba orang berbaju hijau itu melepas topeng kulit
manusia yang melekat di wajahnya sehingga muncul wajahnya
di hadapan Bong Thian-gak serta Liu Khi.

965
Begitu menjumpai paras muka orang itu, Bong Thian-gak
segera berseru kaget, "Bukankah kau adalah Pat-kiam-huihiang
Tan Sam-cing?"
Orang berbaju hijau itu sama sekali tidak menggubris
perkataan Bong Thian-gak, dengan suara dingin dan kaku
kembali dia bertanya' kepada Liu Khi, "Coba kau tatap lagi
wajahku dengan seksama, benarkah aku adalah Gi Jian-cau."
Selesai berkata, dia mengenakan kembali topeng kulit
manusia itu.
Liu Khi termangu-mangu, kemudian ucapnya sambil
menghela napas, "Ai, tidak kusangka dugaanku meleset."
"Liu Khi," kata orang berbaju hijau dengan suara dingin,
"bila sekarang kutuduh kaulah Hek-mo-ong, apa yang hendak
kau katakan?"
Liu Khi tertawa terbahak-bahak, "Apabila kau pernah
berjumpa dengan bayangan iblis Hek-mo-ong, maka kau tidak
akan menaruh curiga kepadaku."
"Apa maksudmu?"
"Karena Hek-mo-ong bukan seorang berlengan tunggal."
Tiba-tiba orang berbaju hijau itu mengalihkan sorot
matanya ke wajah Bong Thian-gak, katanya, "Sekarang aku
telah memperlihatkan raut wajah asliku, Si-hun-mo-li juga
telah menelan pil Hui-hun-wan, tentunya kau dapat
menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku saat
ini bukan?"
Tak terlukiskan rasa kaget dan tercengang Bong Thian-gak,
tanpa terasa ia berkata, "Darimana Tan-locianpwe bisa tahu
dia telah menelan pil Hui-hun-wan?"
"Si-hun-mo-li sudah sekian lama kehilangan kesadaran dan
kejernihan otaknya, keadaannya tak ubahnya patung kayu
yang menurut saja perintah orang, tapi kenyataan sekarang

966
dia dapat tertidur begitu nyenyak dan tak mau menuruti
perintah orang lagi. Jelas dia telah diberi pil Hui-hun-wan."
"Tan-locianpwe," kembali Bong Thian-gak bertanya dengan
nada tak mengerti, "ada suatu hal yang tidak kupahami,
bagaimana caramu menemukan Si-hun-mo-li, apakah kau pun
sudah bergabung dengan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau?"
Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Si-hun-mo-li tidak lebih cuma boneka, asal seseorang
memahami ilmu pengendali sukma, maka ia dapat memerintah
sekehendak hati kepada perempuan ini. Mengapa harus jadi
anak buah Cong-kaucu lebih dulu baru memberi perintah
kepadanya?"
Bong Thian-gak menggeleng kepala, ia berkata, "Gerakgerik
Tan-locianpwe benar-benar membuat aku bingung dan
tidak mengerti."
Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Ingin kutanya padamu, sebenarnya kau ingin
menyelamatkan Jiwa Si-hun-mo-li ataukah tetap
mempertahankan kitab Kui-hok-khi-liok itu?"
"Bila aku punya cukup kemampuan, keduanya kuhendaki."
"Kalau begitu jangan salahkan bila aku turun tangan keji
padamu."
"Tunggu sebentar," teriak Bong Thian-gak. "Boanpwe
ingin menanyakan satu hal lagi kepada Locianpwe."
"Persoalan apa? Cepat katakan."
"Boanpwe ingin tahu sebetulnya Locianpwe musuh atau
sahabat?"
"Hm, musuh atau sahabat, kaulah yang menetapkan
sendiri."

967
Kembali Bong Thian-gak menghela napas sedih, katanya
lagi, "Sungguh tidak kusangka, bersusah payah Tio Tian-seng
memancing kau muncul kembali dalam Kangouw, nyatanya
perbuatan ini tak lebih cuma memancing harimau turun
gunung."
"Aku tidak punya waktu untuk diam terus," tukas orang
berbaju hijau itu dingin. "Sekarang aku telah menghimpun
kekuatan di telapak tangan kananku yang telah siap
kuhantamkan ke tubuh Si-hun-mo-li yang masih tertidur
nyenyak di atas tanah. Apabila kau masih belum juga
menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku,
terpaksa aku harus memusnahkan jiwanya lebih dulu sebelum
membunuhmu."
Bong Thian-gak menghela napas, "Baiklah, akan
kuserahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadamu."
Bong Thian-gak segera merogoh sakunya dan siap
mengeluarkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu.
Tiba-tiba dari kejauhan sana terdengar suara bentakan
nyaring, "Tunggu dulu, dia bukan Pat-kiam-hui-hiang Tan
Sam-cing."
Sesosok bayangan yang ramping dan tinggi semampai
bagaikan burung walet yang lincah mendekat dengan
kecepatan luar biasa.
Di bawah cahaya bintang dan rembulan terlihat orang itu
adalah gadis yang cantik, dia bukan lain adalah Biau-kosiu.
Bong Thian-gak memandang sekejap ke arahnya, lalu
tanyanya, "Atas dasar apa nona mengatakan dia bukan Patkiam-
hui-hiang Tan Sam-cing?"
Sementara itu si orang berbaju hijau telah menegur sambil
tertawa dingin, "Kaukah si perempuan siluman rase dari
wilayah Biau?"

968
Biau-kosiu tertawa merdu, "Pat-kiam-hui-hiang Tan Samcing
yang asli telah tiba!"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, di tanah
pekuburan itu telah muncul pula seorang Tosu berjenggot
hitam.
Dengan seksama Bong Thian-gak mengawasi Tosu itu
beberapa saat, ia tertegun dengan wajah melongo, sebab
Tosu yang berada di hadapannya sekarang memang tak lain
adalah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang pernah
dijumpainya di kuil Sam-cing-koan tempo hari.
Tapi bukankah raut wajah asli si orang berbaju hijau tadi
pun mirip Tan Sam-cing?
Dalam pada itu Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing hanya
berdiri di kejauhan, tegurnya dengan suara lantang,
"Sebenarnya siapakah kau? Mengapa memakai nama dan
dandanan Pinto buat membohongi orang?"
Orang berbaju hijau itu tertawa dingin, "Pat-kiam-hui-hiang
Tan Sam-cing belum pernah memasuki kuil Sam-cing-koan,
justru aku yang hendak bertanya kepadamu, mengapa kau
mencatut nama dan wajahku untuk menipu orang?"
Bong Thian-gak tertawa seraya menimbrung, "Kau bukan
saja telah mencatut nama dan dandanan orang, bahkan wajah
pun kau catut. Benar-benar menggelikan, untung aku sudah
mengenali Tan Sam-cing Totiang lebih dulu sehingga dapat
kubedakan mana yang asli dan yang gadungan."
"Jian-ciat-suseng," kata orang berbaju hijau itu dengan
suara menyeramkan, "sejak kapan kau kenal Tan Sam-cing?"
"Sejak kemarin."
"Dimana?"
"Dalam kuil Sam-cing-koan."

969
"Sebelum kau bertemu Tan Sam-cing, kenalkah kau dengan
orang yang bernama Tan Sam-cing?"
"Aku hanya tahu kau adalah manusia keparat yang
mencatut nama orang. Kenapa aku mesti banyak bicara
denganmu?"
Mencorong hawa membunuh dari balik mata orang berbaju
hijau itu, katanya, "Satu-satunya lambang Tan Sam-cing
adalah kehebatan ilmu Pat-kiam-hui-hiang, Jian-ciat-suseng,
apakah kau tak ingin melihatnya?"
"Mengapa tidak?" jawab Bong Thian-gak sambil tersenyum.
"Di dalam ujung bajuku terdapat delapan bilah pedang
terbang, bila dilepaskan, kepala manusia tentu akan
bergelindingan, selama ini belum pernah ada orang yang
sanggup meloloskan diri."
"Biarpun harus mempertaruhkan nyawa, pasti akan kuiringi
kemauanmu itu," jawab Bong Thian-gak cepat.
Mendadak terdengar Liu Khi membentak keras, "Tunggu
sebentar, Bong-laute."
Bong Thian-gak masih tetap duduk bersila di atas tanah,
dia memandang sekejap ke arah Liu Khi, kemudian tanyanya,
"Ada urusan apa, Liu-sianseng?"
Liu Khi tertawa, "Bong-laute, siapakah di antara mereka
berdua adalah Tan Sam-cing yang asli, apa pula hubungannya
dengan kita? Jika ingin dibuktikan siapa yang palsu, biar saja
urusan itu diselesaikan mereka sendiri."
Mendengar ucapan itu, hati Bong Thian-gak bergetar keras,
segera pikirnya, "Betul juga apa yang diucapkan Liu Khi.
Mengapa aku begini bodoh mencampuri urusan orang?"
Tiba-tiba terdengar orang berbaju hijau itu menjengek,
"Jian-ciat-suseng, apakah kau hendak menarik kembali
tantanganmu itu?"

970
"Ya, bisa saja kutarik kembali," jawab Bong Thian-gak.
Tiba-tiba terdengar Biau-kosiu mendengus sambil mengejek
hina, "Huh, tak punya semangat. Kalau begitu aku telah salah
menilai dirimu."
Merah padam wajah Bong Thian-gak, ia segera
terbungkam. Sam-cing Totiang yang berada di sisinya cepat
menimbrung pula sambil tertawa dingin, "Nona Biau, cepat
kau minta kembali kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu dari
tangannya, Jian-ciat-suseng bukan seorang yang dapat
dipercaya lagi."
Tiba-tiba Bong Thian-gak tertawa keras, kemudian katanya,
"Nona Biau, dengar baik-baik. Aku bersedia memenuhi
permintaanmu pergi mengambilkan kitab pusaka Kui-hok-khiliok
ini lantaran aku ingin membalas budi kebaikanmu
beberapa hari berselang. Sekarang harap kau terima kembali
kitab pusaka Kui-hok-khi-liok secepatnya, sehingga aku tak
berhutang apa-apa lagi kepadamu."
Lantas Bong Thian-gak merogoh sakunya dan
mengeluarkan bungkusan kain hijau yang berisi kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok.
Tiba-tiba seseorang berkelebat, tahu-tahu orang berbaju
hijau itu sudah mendesak maju dan menghadang di depan
Bong Thian-gak, kemudian bentaknya, "Barang siapa berani
maju untuk menerima kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, dia harus
merasakan dulu pedang terbangku."
"Benarkah di balik ujung bajumu itu tersimpan pedang
terbang?" tanya Bong Thian-gak tertegun.
Orang berbaju hijau itu melirik ke arah Bong Thian-gak,
jawabnya, "Apakah kau masih belum percaya aku adalah Patkiam-
hui-hiang?"
Bong Thian-gak tersenyum.

971
"Dunia persilatan yang penuh tipu-daya yang licik dan
berbahaya, memang sulit bagi orang untuk mempercayai."
"Bila begitu aku perlu beritahukan kepada kalian, Tosu di
hadapan kalian sebetulnya adalah Hek-mo-ong."
Sam-cing Totiang tergelak, "Ngaco-belo, Pinto sudah
puluhan tahun mengasingkan diri dari keramaian dunia,
sungguh tak disangka kemunculanku kembali ke dunia
Kangouw ternyata harus bertemu orang edan yang mencatut
namaku."
Dengan suara mengerikan orang berbaju hijau itu tertawa
dingin tiada hentinya, ia berkata, "Oh, jadi kau mengaku
sebagai Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing. Tentunya kau pun
pandai mempergunakan pedang terbang bukan?"
"Tentu saja dapat," jengek Sam-cing Totiang.
"Ilmu pedang terbang Tan Sam-cing amat termasyhur di
kolong langit, aku tidak percaya kau sanggup mempelajari
ilmu silat yang amat tangguh ini."
Sambil berkata orang itu menggetarkan ujung baju kirinya.
Sejalur cahaya putih bagaikan sambaran petir segera
meluncur kemuka.
Cahaya putih itu langsung melesat ke udara dan
menyambar Sam-cing Totiang yang berdiri di hadapannya.
Sam-cing Totiang segera melompat ke belakang, di tengah
udara ia mengebaskan pula ujung bajunya sehingga muncul
pula cahaya putih menyongsong datangnya sambaran cahaya
putih orang berbaju hijau itu.
Suara benturan nyaring berkumandang, kedua jalur cahaya
putih saling tumbuk, setelah berputar satu lingkaran, kedua
jalur cahaya putih itu terbang kembali ke dalam genggaman
orang berbaju hijau serta Sam-cing Totiang.

972
Demonstrasi ilmu pedang terbang yang sangat hebat dan
luar biasa ini membuat para jago membuka mata lebar-lebar.
Dengan jelas Bong Thian-gak melihat senjata dalam
genggaman orang berbaju hijau adalah pedang kecil setipis
daun yang panjangnya hanya tiga inci.
Sebaliknya senjata dalam genggaman Sam-cing Totiang
berupa sebilah pedang kecil yang memancarkan cahaya putih.
Sambil tertawa dingin orang berbaju hijau itu segera
berkata, "Kepandaianmu memang amat sempurna, tak nyana
kau mampu memukul mundur pedang terbangku."
Sam-cing Totiang tertawa, "Aku pun tidak mengira kau
benar-benar telah melatih ilmu pedang terbang."
"Mengapa kau tidak ingin mencoba ketujuh pedang yang
lain?" tantang orang berbaju hijau itu dingin.
"Berapa pun jumlah pedang terbang yang kau miliki,
silakan saja digunakan semua."
"Silakan kau maju ke depan untuk mencoba kepandaianku
ini."
"Mengapa bukan kau saja yang maju?"
"Hm, kau anggap aku tak mampu?"
Kali ini orang berbaju hijau itu menerjang ke depan
bagaikan burung rajawali sakti.
Baru saja tubuhnya menerjang ke muka, cahaya putih
secara beruntun meluncur ke depan menimbulkan desingan
tajam.
Sam-cing Totiang melejit ke tengah udara, dari tangannya
nampak pula cahaya putih berkelebat ke depan dengan
kecepatan tinggi.
Di tengah dentingan nyaring, terdengar suara orang
mendengus tertahan.

973
Dari tengah udara tampak sesosok bayangan roboh ke atas
tanah, ternyata orang itu adalah Sam-cing Totiang.
Pada saat bersamaan orang berbaju hijau itu melayang
turun ke sisi Bong Thian-gak.
Ternyata bahu kiri Sam-cing Totiang telah tertancap
pedang kecil, waktu pedang itu dicabut, darah kental segera
memercik membasahi seluruh rubuhnya.
Paras muka orang berbaju hijau yang tertutup topeng kulit
manusia sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa pun,
malah ujarnya, "Hek-mo-ong, ilmu pedang terbangmu masih
kalah setingkat. Hm, sebenarnya kau dapat melepas paku
tengkorakmu tadi untuk merenggut nyawaku, mengapa kau
tidak berbuat demikian?"
Paras muka Sam-cing Totiang berubah hijau membesi,
sesudah tertawa dingin ia berkata, "Aku tidak mengerti apa
maksudmu?"
"Kau seharusnya mengakui dirimu sebagai Hek-mo-ong,
bukan Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing."
Sam-cing Totiang kembali tertawa seram, "Bila aku benarbenar
Hek-mo-ong, maka sulit bagimu untuk hidup lewat tiga
hari lagi."
"Bila kau berharap bisa mendapatkan kitab pusaka Kui-hokkhi-
liok malam ini, maka kau harus memperlihatkan wujud
aslimu sebagai Hek-mo-ong, dan melangsungkan pertarungan
berdarah. Siapa tahu hal ini akan membuatmu berhasil
mendapatkan kitab itu?"
Sementara dia berbicara, tiba-tiba Biau-kosiu berjalan
menuju ke belakang punggung Bong Thian-gak, kemudian
tangannya berkelebat ke depan menyambar kitab pusaka Kuihok-
khi-liok dalam genggaman anak muda itu.

974
Orang berbaju hijau segera membentak, "Jian-ciat-suseng,
jangan kau serahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu
kepadanya."
Kembali orang berbaju hijau mengebaskan ujung bajunya,
sebilah pedang segera melesat ke udara dan langsung
menyambar pergelangan tangan Biau-kosiu.
Sesungguhnya sedari tadi Bong Thian-gak memang sudah
berniat mengembalikan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu
kepada Biau-kosiu, bukan saja ia tidak berusaha menghindar,
malahan tangan tunggalnya didorong ke depan dan dengan
cepat menarik kitab pusaka itu.
Menyusul ia memutar pergelangan tangannya, lalu menjepit
pedang kecil yang menyambar datang itu dengan jepitan jari
tengah dan telunjuknya.
Ketika melepas pedang kecil tadi, orang berbaju hijau
menerjang pula ke depan, telapak tangan kanannya langsung
menghantam Biau-kosiu.
Setelah berhasil mendapatkan kitab pusaka Kui-hok-khiliok,
dengan cekatan Biau-kosiu melompat mundur, gerakan
tubuh nona itu benar-benar cepat, sekalipun jurus serangan
yang digunakan orang berbaju hijau itu amat cepat dan luar
biasa, akan tetapi ancaman itu segera mengenai tempat
kosong.
Orang berbaju hijau mendengus dingin, "Hm, mau kabur
kemana kau?"
Berbareng dia meluncur ke depan melakukan pengejaran.
Bong Thian-gak cukup tahu betapa lihainya kepandaian
silat orang berbaju hijau, karena kuatir Biau-kosiu tidak
berhasil meloloskan diri dari pengejaran, maka segera
teriaknya, "Silakan kau menerima kembali pedang kecilmu!"

975
Bong Thian-gak segera menyambitkan pedang kecil yang
dijepit jari tangannya itu ke arah lawan dengan kekuatan luar
biasa.
Mau tak mau orang berbaju hijau harus menghentikan
langkah untuk membalikkan badan dan menyambut
datangnya serangan pedang kecil itu.
Lantaran terhadang sejenak itulah untuk kedua kalinya
Biau-kosiu melejit ke udara, dalam waktu singkat dia telah
berada di kejauhan.
Orang itu sangat mendongkol, sambil mendengus dingin
katanya, "Jian-ciat-suseng, aku benar-benar sangat
membencimu. Suatu ketika aku akan mencincang tubuhmu
hingga hancur guna melampiaskan rasa benciku ini."
Setelah berteriak penuh amarah, dia menjelit ke udara
melakukan pengejaran.
Dalam waktu singkat bayangan tubuh Biau-kosiu dan orang
berbaju hijau lenyap dari pandangan.
Sementara itu Sam-cing Totiang yang berdiri di hadapan
mereka memandang sekejap ke arah Liu Khi dan Bong Thiangak,
kemudian setelah tertawa dingin dia pun membalikkan
badan dan beranjak pergi dari situ.
Suasana di tanah pekuburan kembali hening, Bong Thiangak
serta Liu Khi duduk bersila di atas tanah dan mengatur
pernapasan.
Beberapa saat kemudian terdengar Liu Khi berkata, "Bonglaute,
dapatkah kau menunjukkan siapa di antara mereka
berdua adalah Tan Sam-cing yang asli?"
"Tentu saja Totiang itu, dialah Pat-kiam-hui-hiang Tan
Sam-cing yang asli," jawab Bong Thian-gak dengan suara
lantang.
Liu Khi menggeleng berulang kali.

976
"Dugaan Bong-laute keliru besar, padahal orang berbaju
hijau itulah Tan Sam-cing yang asli."
"Sewaktu masih berada di dalam kuil Sam-cing-koan, aku
pernah berjumpa Tan Sam-cing Locianpwe. Sam-cing Totiang
adalah ketua Sam-cing-koan, yang nama aslinya adalah Patkiam-
hui-hiang Tan Sam-cing!"
Sekali lagi Liu Khi menghela napas panjang, "Andaikata
Tojin itu adalah Pat-kiam-hui-hiang yang asli, maka ilmu
pedang terbangnya tak nanti lebih lemah daripada
kemampuan orang berbaju hijau itu. Dari pertarungan ilmu
pedang terbang yang barusan mereka lakukan, terbukti
kepandaian silat Tojin itu masih kalah setengah tingkat."
"Liu-sianseng, pernahkah kau berjumpa Tan Sam-cing?"
"Aku rasa di kolong langit dewasa ini, hanya Tio Tian-seng
seorang yang pernah berjumpa Tan Sam-cing. Oleh sebab itu,
hanya dia seorang yang mengetahui siapakah Pat-kiam-huihiang
Tan Sam-cing yang sebenarnya."
"Kita kan bisa mencari Tio-pangcu untuk memecahkan
teka-teki ini."
"Apakah Bong-laute mengetahui Tio Tian-seng berada
dimana sekarang?" tanya Liu Khi sambil tersenyum.
"Tio-pangcu berada di rumah penginapan Ban-heng di
dalam kota Lok-yang."
Tiba-tiba Liu Khi menghela napas panjang, katanya, "Bonglaute,
aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan padamu,
pernahkah Tio Tian-seng menyinggung persoalan yang
menyangkut diriku?"
Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya, Bong
Thian-gak berpikir, "Apakah aku harus berkata terus terang
kepadanya bahwa Tio Tian-seng telah menaruh curiga
kepadanya?"

977
Bong Thian-gak pun menggeleng kepala seraya berkata,
"Tidak pernah ... cuma aku rasa sikap Liu Khi terhadap Tio
Tian-seng Pangcu seperti kurang terbuka dan jujur."
Liu Khi tertawa dingin, "Bong-laute, tahukah kau di dunia
persilatan dewasa ini terdapat beberapa orang yang dulunya
pernah saling sebut sebagai saudara dan bergaul sangat
akrab, tapi lantaran sebuah teka-teki, mereka justru saling
bermusuhan dan adu kepintaran."
"Lantaran teka-teki apakah itu?"
Liu Khi menghela napas sedih, "Ai, soal teka-teki itu
sebenarnya menyangkut nama baik beberapa tokoh yang
amat termasyhur, oleh sebab itu siapa saja tidak ingin
mengungkap teka-teki itu secara terbuka, namun setiap orang
justru berdaya upaya dengan segenap kemampuan untuk
mencari jawaban teka-teki itu."
"Oh, dengan cara apakah kalian hendak mencari?"
"Asalkan kita berhasil menemukan jejak Hek-mo-ong, maka
teka-teki itu akan terungkap dengan sendirinya."
Bong Thian-gak mengerut dahi, kemudian bertanya lagi,
"Apakah Liu-sianseng juga belum berhasil menemukan jejak
Hek-mo-ong?"
Liu Khi menggeleng.
"Belum! Namun aku sudah menyelidiki setiap orang yang
aku curigai sebagai Hek-mo-ong."
"Dapatkah Liu-sianseng mengungkapkan siapa saja yang
kau curigai sebagai Hek-mo-ong?"
"Boleh saja."
"Kalau begitu harap kau suka bicara!"

978
Liu Khi menarik napas panjang, kemudian katanya, "Dari
mereka yang aku curigai termasuk juga mereka yang telah
mati, semuanya berjumlah sembilan orang."
Bong Thian-gak tertegun, diam-diam pikirnya, "Sam-cing
Totiang dan Tio Tian-seng, keduanya mengatakan ada empat
orang yang patut dicurigai, sedangkah Liu Khi mengatakan
ada sembilan. Sebenarnya siapa saja kesembilan orang itu?"
Liu Khi berhenti sejenak, kemudian sambungnya, "Yang
sudah menjadi almarhum ada tiga orang ... mereka adalah
pendeta sakti dari Siau-lim-pay Ku-lo Hwesio, Thi-ciang-kankun-
hoan Oh Ciong-hu serta ketua perguruan Mi-tiong-bun,
Kui-kok Sianseng."
Begitu mendengar ketiga nama itu, paras muka Bong
Thian-gak berubah hebat, katanya, "Berdasar apa Liusianseng
mencurigai mereka?"
Liu Khi menghela napas panjang, kemudian katanya, "Aku
tahu Ku-lo Hwesio dan Oh Ciong-hu adalah mendiang gurumu,
tapi kau pun harus tahu, aku tidak bermaksud menodai nama
baik mereka. Ai, aku mencurigai mereka bertiga sebagai Hekmo-
ong, bukan asal mencurigai saja, tapi berdasarkan bukti
dan data-data yang berhasil kukumpulkan."
"Dapatkah Liu-sianseng menjelaskan bukti-bukti yang
berhasil kau kumpulkan itu?"
Liu Khi tertawa dingin, "Apabila kuungkap bukti-bukti yang
berhasil kukumpulkan itu, maka hal ini akan semakin
menjatuhkan nama baik mereka ke lembah kenistaan."
"Bila Liu-sianseng tidak mengungkapkan buktinya, mana
kau boleh menuduh dan menodai nama baik seseorang begitu
saja? Biarpun Ku-lo Hwesio dan Oh Bengcu telah meninggal
dunia, namun kebajikan dan kebaikan yang pernah mereka
perbuat selama hidup dulu, bukanlah bisa diputar-balikkan
oleh sembarang orang dengan seenaknya sendiri."

979
Paras muka Liu Khi berubah hebat, katanya pula, "Bonglaute,
tahukah kau, badai pembunuhan yang melanda dunia
persilatan selama enam puluh tahun terakhir ini disebabkan
apa?"
"Silakan Liu-sianseng memberi keterangan."
"Singkatnya saja, biang-keladi kekacauan dan malapetaka
ini sesungguhnya seorang wanita."
"Seorang wanita?" tanya Bong Thian-gak terkejut.
"Siapakah dia?"
"Dia tak lain adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau yang
sedang merajalela saat ini."
"Dia?" Bong Thian-gak semakin terperanjat. "Bukankah
dia…”
Bong Thian-gak seakan-akan telah memahami suatu
persoalan. Dan persoalan itu seperti pula apa yang dikatakan
Liu Khi, bilamana diterangkan sejelas-jelasnya, maka hal itu
akan merugikan dan menodai nama baik banyak jago-jago
persilatan.
Liu Khi menengok sekejap ke arah Bong Thian-gak,
kemudian katanya pula, "Semasa hidupnya dulu, Ku-lo
Hwesio, Oh Ciong-hu serta Kui-kok Sianseng mempunyai
hubungan gelap dengan perempuan itu, bahkan luar biasa
mesranya. Itulah sebabnya apa yang kukatakan bukan cuma
isapan jempol."
Bong Thian-gak sangat terkejut, juga bingung dan tidak
habis mengerti.
Sebenarnya perempuan macam apakah Cong-kaucu Putgwa-
cin-kau ini?
Dengan cara apakah dia telah membuat dunia Kangouw
menjadi kalut dan tidak tenang?

980
Bagaimana pula ia membuat para orang gagah
mengorbankan jiwa baginya dan ribut karena dirinya?
Walaupun pada saat ini banyak persoalan yang ingin
ditanyakan Bong Thian-gak, akan tetapi dia tak berani
mengutarakan, maka setelah termenung lama sekali, akhirnya
dia bertanya, "Selain ketiga orang itu. siapakah keenam orang
lainnya?"
"Dari keenam orang itu, dua di antaranya sampai sekarang
masih belum diketahui nasib dan mati hidupnya."
"Siapakah kedua orang itu?"
"Song-ciu suami-istri."
Bong Thian-gak berkerut kening, "Song-ciu suami-istri?
Belum pernah kudengar nama orang ini."
Liu Khi segera tersenyum, "Sesungguhnya Song-ciu suamiistri
memang amat jarang melakukan perjalanan dalam
Kangouw. Tapi sejak puluhan tahun berselang, Song-ciu
suami-istri adalah dua orang jago lihai yang tidak boleh
dianggap enteng."
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Tatkala Mo-kiam-sinkun
Tio Tian-seng merajai kolong langit, dia berhasil
mencantumkan nama besarnya dalam urutan sepuluh orang
jago paling tangguh waktu itu, Song-ciu suami-istri pun
tercantum namanya di antara kesepuluh orang jago lihai ini."
"Siapa sajakah kesepuluh jago lihai itu?" tanya Bong Thiangak.
"Kesepuluh jago itu adalah Kui-kok Sianseng ketua
perguruan Mi-tiong-bun, Liong Oh-im, Ku-lo Hwesio, Oh
Ciong-hu, Song-ciu suami-istri, Gi Jian-cau, Tan Sam-cing,
perempuan paling cantik di daerah Kanglam Ho Lan-hiang dan
aku Liu Khi."

981
Tiba-tiba Bong Thian-gak berseru tertahan, kemudian
tanyanya, "Perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam Ho
Lan-hiang? Apakah dia adalah kakak sepeguruan mendiang
guruku Oh Ciong-hu?"
Liu Khi memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak,
kemudian sahutnya, "Benar, Ho Lan-hiang memang berasal
satu perguruan dengan Oh Ciong-hu."
"Tahukah Liu-sianseng akan jejaknya saat ini?" tanya Bong
Thian-gak lagi.
Liu Khi termenung, jawabnya, "Tentu saja aku tahu jelas
jejaknya, namun aku pun telah berjanji kepadanya takkan
membocorkan rahasia ini. Jadi harap Bong-laute sudi
memaafkan."
Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak, gumamnya
lirih, "Ya, aku tahu sekarang ... aku sudah tahu siapakah
orang itu."
Paras muka Liu Khi berubah pula, serentak dia melompat
bangun dari atas tanah, katanya, "Apakah Bong-laute masih
ada perkataan lain yang hendak ditanyakan kepadaku? Kalau
tidak ada, untuk sementara, waktu aku hendak mohon diri
lebih dahulu."
Bong Thian-gak menghela napas sedih, kemudian katanya,
"Harap Liu-sianseng sudi menerangkan padaku, siapa empat
orang lainnya?"
"Keempat orang itu adalah Tan Sam-cing, Tio Tian-seng, Gi
Jian-cau serta Liong Oh-im."
"Tahukah Liu-sianseng di antara mereka yang dicurigai,
siapakah di antaranya yang paling dicurigai?"
Liu Khi menghela napas panjang, "Ai, setiap orang
mempunyai kemungkinan sebagai Hek-mo-ong, di antara
mereka pun setiap saat akan mencurigai diriku pula."

982
"Bukankah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau mengetahui
siapakah Hek-mo-ong? Mengapa kalian tidak mencarinya dan
ditanyakan saja kepada perempuan itu?" kata Bong Thian-gak
sambil menghela napas panjang pula.
Liu Khi menggeleng, "Dia sendiri pun tidak mengetahui
siapakah Hek-mo-ong."
"Liu-sianseng tak berbohong?"
Liu Khi tertawa, "Masih ingatkah Bong-laute akan perkataan
si orang berbaju hijau yang mengatakan aku adalah seorang
pembunuh bayaran?"
Bong Thian-gak tertegun, kemudian menjawab, "Ya,
pekerjaan Liu-sianseng memang mengerikan. Entah siapa
orang yang mengundangmu untuk membunuh Hek-mo-ong?"
"Orang itu tidak lain adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau,"
jawab Liu Khi tersenyum.
Sekali lagi Bong Thian-gak dibuat tertegun, ujarnya, "Liusianseng,
apa yang kau bicarakan pada malam ini sungguh
membuat orang semakin kebingungan."
"Dendam kesumat yang berkobar dalam Bu-lim dewasa ini
pada hakikatnya memang merupakan persoalan yang sangat
rumit dan tidak dapat dipahami orang begitu saja. Barang
siapa di antara jago persilatan yang melibatkan diri dalam
kancah budi dan dendam itu, maka keadaannya tak ubahnya
seperti sukma gentayangan tanpa tujuan atau boneka tanpa
nyawa."
Sampai di situ mendadak perkataannya terhenti, dengan
wajah diliputi perasaan kaget dan ngeri, katanya, "Bong-laute,
pembicaraan kita hari ini hanya sampai di sini saja, sampai
jumpa lain kesempatan."
Selesai berkata, Liu Khi membalikkan tubuh dan beranjak
pergi dengan kecepatan tinggi.

983
Sebenarnya Bong Thian-gak hendak menahan kepergian
Liu Khi, dia ingin menanyakan berbagai masalah yang masih
tidak dipahami olehnya, akan tetapi gerakan Liu Khi benarbenar
cepat sekali, hanya dengan beberapa kali lompatan saja
bayangannya sudah lenyap dari pandangan mata.
Bong Thian-gak memandang sekeliling tempat itu, tanah
pekuburan terasa sepi.
Di tempat yang begitu hening dan menyeramkan itu, selain
dia serta Thay-kun yang masih berbaring di atas tanah tertidur
pulas, tiada manusia ketiga yang berada di situ.
Pelan-pelan Bong Thian-gak berdiri, kemudian berjalan
menuju ke sisi Si-hun-mo-li, kemudian setelah menghela
napas sedih, dia pun duduk bersila di sampingnya.
Walaupun Si-hun-mo-li telah menelan pil Hui-hun-wan,
namun Bong Thian-gak masih tetap menguatirkan apakah
perempuan itu dapat sadar atau tidak?
Malam begitu kelam, namun Bong Thian-gak dengan
pandangan kuatir masih saja mengamati wajah Thay-kun
tanpa berkedip, dia benar-benar merasa sangat resah dan
bingung.
Dari berbagai bukti yang berhasil dikumpulkan, Bong Thiangak
telah berhasil menebak siapa gerangan Cong-kaucu Putgwa-
cin-kau.
Orang itu besar kemungkinan adalah perempuan paling
cantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang adanya.
Namun Bong Thian-gak masih tetap tidak mengerti tentang
budi dendam dan perselisihan yang berlangsung selama ini,
sesungguhnya siapakah yang menjadi dalang peristiwa itu? Ho
Lan-hiang? Atau Hek-mo-ong? Siapa pula Hek-mo-ong?
Dari ucapan Liu Khi tadi, Tio Tian-seng termasuk juga
kesepuluh orang yang kemungkinan adalah Hek-mo-ong.

984
Mendadak suara rintih yang lirih memotong jalan pikiran
Bong Thian-gak yang bergelombang tidak menentu itu.
Dengan perasaan tegang Bong Thian-gak segera
mengalihkan sorot matanya ke depan.
Dia lihat mata Si-hun-mo-li yang terpejam mulai bergerakgerak,
kemudian terbuka lebar.
Kejut dan gembira Bong Thian-gak, segera ia berseru,
"Thay-kun ...Thay-kun”
Setelah membuka mata, paras muka Si-hun-mo-li diliputi
perasaan bingung dan bimbang. Pelan-pelan dia menekuk
pinggang dan duduk, sementara sorot matanya dialihkan
memandang sekeliling tempat itu, akhirnya berhenti di depan
Bong Thian-gak dan mengamatinya lekat-lekat.
Bong Thian-gak kembali berseru, "Thay-kun ... Thay-kun!
Sudah sadarkah perasaan dan pikiranmu?"
Paras muka Si-hun-mo-li kelihatan begitu tenang dan
hambar, sulit rasanya membedakan apakah dia sedang
gembira, gusar, sedih atau senang.
Dengan pandangan tenang dia mengawasi wajah Bong
Thian-gak tanpa berkedip, sementara mulut tetap
membungkam.
Bong Thian-gak yang menyaksikan mimik wajah
perempuan itu, dalam hati membatin, "Ya benar, untuk
beberapa saat lamanya kesadaran dan kejernihan pikirannya
belum dapat dipulihkan secara keseluruhan."
Berpikir demikian, dengan suara rendah Bong Thian-gak
berseru, "Thay-kun masih kenalkah kau pada diriku? Aku ...
aku adalah Bong Thian-gak."
Paras muka Si-hun-mo-li nampak agak berubah, akhirnya
muncul juga kata-katanya yang pertama, "Mengapa aku bisa
berada di sini? Kaukah yang telah menolongku?"

985
Bong Thian-gak benar-benar merasa gembira, sambil
melompat kegirangan, serunya, "Thay-kun, kau benar-benar
telah pulih."
Sambil berkata, tanpa terasa pemuda itu maju ke muka dan
berusaha memeluk gadis itu.
Belum sempat ia memeluk perempuan itu, Si-hun-mo-li
telah merentang tangan dan menangkis lengan pemuda itu,
kemudian tegurnya dengan dingin, "Aku harap kau sedikit
sopan, aku tidak kenal padamu!"
Bong Thian-gak terbahak-bahak, "Benar, kau tidak
mengenal aku, tapi tentunya kenal orang yang bernama Ko
Hong bukan."
Kemudian Bong Thian-gak berjalan menuju ke sebuah
kuburan dan membungkukkan badan untuk memungut Pekhiat-
kiam yang disampuk mencelat oleh orang berbaju hijau
tadi.
Kemudian dia membalikkan badan berjalan ke hadapan Sihun-
mo-li, pelan-pelan ujarnya, "Thay-kun, mungkin kau pun
bisa mengenali pedang ini?"
Tiga tahun enam-tujuh bulan, meski tidak terhitung
panjang, namun bukan waktu yang teramat singkat pula.
Selama itu dia selalu hidup dalam suasana terpengaruh pikiran
dan kesadarannya, selama ini seperti mayat berjalan yang
tidak berpikiran, perasaan dan sukma.
Dalam ingatan Thay-kun, dia hanya tahu pada tiga tahun
berselang dirinya jatuh ke tangan Cong-kaucu Put-gwa-cinkau,
sedang mengenai perbuatan yang telah dilakukannya
sejak menjadi Si-hun-mo-li dia sama sekali tidak
mengetahuinya.
Dia bagaikan baru mendusin dari impian panjang dan
tidurnya kali ini mencapai tiga tahun tujuh bulan.

986
Setelah mendusin dari tidurnya, segala kejadian sebelum ia
tertidur segera teringat kembali, sudah barang tentu Pek-hiatkiam
pun sangat dikenal Thay-kun.
Pedang itu dibuat olehnya bersama Keng-tim Suthay
dengan membuang waktu selama satu tahun dan bahan obat
yang tak terhitung jumlahnya. Pedang itu merupakan tanda
kepercayaan Hiat-kiam-bun ... Pek-hiat-kiam. Mengapa
pedang itu bisa jatuh ke tangan pemuda berlengan tunggal
ini?
Thay-kun mengerut dahi sambil secara diam-diam
menghimpun tenaga dalam ke dalam telapak tangan, tegurnya
dengan suara dingin, "Pedang itu adalah Pek-hiat-kiam,
darimana kau peroleh senjata itu?"
Melihat perempuan itu dapat menyebut pedang itu, Bong
Thian-gak segera tahu perempuan itu telah memperoleh
kembali pikiran serta kesadarannya, maka dengan penuh
gembira dia berseru, "Thay-kun, aku adalah Ko Hong!"
"Ko Hong?"
Nama itu berputar tiada hentinya dalam benak perempuan
itu, bayangan tubuh, nada suara, Thay-kun begitu
mengenalnya.
Namun dalam pikiran Thay-kun, orang bernama Ko Hong
sudah meninggal dunia.
Lagi pula raut wajah Bong Thian-gak sekarang sama sekali
tidak mirip dengan wajah Ko Hong di masa lalu.
Oleh sebab itu muncul sinar bimbang dari balik mata Thaykun,
ia menggeleng kepala, kemudian berkata, "Kau bukan Ko
Hong, Ko Hong telah mati."
"Benar, diriku yang sekarang bukan Ko Hong, aku adalah
Bong Thian-gak," seru pemuda itu penuh emosi. "Oh Thaykun,
tahukah kau sejak menelan pil penghilang sukma, kau

987
telah kehilangan pikiran dan kesadaranmu selama tiga tahun
tujuh bulan."
Paras muka Thay-kun berubah hebat, serunya tertahan,
"Kau mengatakan aku telah menelan pil pelenyap sukma?"
Bagaikan orang menggigau, dia bergumam, "Benar, aku
memang menyaksikan Suhu memasukkan pil pelenyap sukma
ke mulutku."
Kemudian setelah menghela napas sedih, Thay-kun kembali
bertanya, "Siapakah kau? Mengapa kau menyelamatkan aku?"
Kembali Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Thay-kun, masih ingatkah kau peristiwa pada tiga tahun
berselang, ketika kau bersama Ko Hong pergi ke kaki bukit
Cui-im-hong di luar kota Lok-yang untuk mencari si tabib sakti
Gi Jian-cau?"
"Aku adalah Ko Hong, nama itu adalah nama samaranku.
Pada waktu itu raut wajahku telah kuubah dengan obat
penyaru muka, sebab itu saat ini kau tak kenal aku lagi,
namun kau bisa memeriksa diriku dari sorot mata dan bentuk
tubuhku. Coba pandanglah, apakah mirip dengan Ko Hong di
masa lalu?"
Sejak tadi Thay-kun mengawasi Bong Thian-gak dari atas
kepala hingga ujung kaki, dia seakan sedang mengumpulkan
kembali kenangannya di masa lalu.
Akhirnya perempuan itu menghela napas sedih, lalu
berkata, "Kau telah kehilangan sebuah lenganmu, nada
suaramu juga berubah lebih tua."
Ketika berbicara sampai di sini, air mata yang sudah
mengembeng sejak tadi segera jatuh bercucuran membasahi
pipinya yang halus.
Dengan suara lirih Bong Thian-gak berkata, "Sumoay,
sudah kau kenali diriku?"

988
"Oh, Suheng," sahut Thay-kun sedih.
Ia segera menubruk ke dalam pelukan Bong Thian-gak dan
menangis tersedu-sedu.
Dengan lengan tunggalnya Bong Thian-gak merangkul
perempuan itu, kemudian bisiknya, "Thay-kun, menangislah
sepuas hatimu. Selama tiga tahun tujuh bulan sudah banyak
persoalan yang kita alami."
"Oh Suheng, aku bukan sedih, aku merasa gembira, tak
kusangka kau masih hidup. Ketika Cong-kaucu mengatakan
kau sudah mati, waktu itu hatiku benar-benar hancur-lebur
karena sedih."
"Ya, tiga tahun berselang aku memang nyaris mati konyol,
hampir saja aku tak bisa hidup lagi," Bong Thian-gak
menghela napas sedih.
Mendadak Thay-kun menghentikan isak-tangisnya,
kemudian bertanya, "Dengan cara apakah kau berhasil
selamat, bersediakah kau memberitahukan segala sesuatunya
kepadaku?"
"Tentu saja aku akan menceritakan semua itu kepadamu.
Mari kita duduk dulu sebelum bicara!"
Kedua orang itu segera duduk berjajar di atas pagar
pekarangan tanah pekuburan itu. Di situlah Bong Thian-gak
mengisahkan semua penderitaan dan pengalaman yang
dialaminya selama tiga tahun tujuh bulan ini.
Kemudian ia menceritakan pula semua perubahan yang
telah menimpa dunia persilatan selama ini.
Sebab dia tahu Thay-kun tentu merasa amat asing
terhadap situasi tiga tahun terakhir ini.
Ketika selesai mendengar penuturan itu, dengan sedih dan
murung Thay-kun menghela napas panjang, katanya
kemudian, "Semua itu benar-benar seperti alam impian, tapi

989
setelah mendusin, segala sesuatunya hanya tinggal kesedihan
dan kemurungan. Ai, dunia begini luas, kemana aku harus
pergi selanjutnya?"
Entah apa yang sedang dirasakan olehnya, nada suaranya
begitu sedih sehingga membuat siapa pun merasa pedih
setelah mendengar ucapannya.
Bong Thian-gak memeluk pinggang perempuan itu, lalu
bisiknya, "Thay-kun, aku pasti akan membantu., selamanya
akan membantumu menciptakan karya besar dalam Bu-lim."
Thay-kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak, lalu dengan air mata bercucuran ia berkata sedih,
"Ambisiku untuk menjagoi dunia Kangouw kini sudah lenyap,
dalam hati sekarang aku sudah tidak memiliki ambisi semacam
itu."
Hati Bong Thian-gak bergetar keras, katanya, "Thay-kun,
sekarang kau sudah memperoleh kebebasan, sepantasnya kau
sambut kebebasan ini dengan hati gembira. Mengapa kau..”
Thay-kun tertawa pedih, ujarnya, "Suheng, aku ingin
memberitahu satu hal padamu, Thay-kun adalah seorang
perempuan. Baginya yang terpenting adalah kesucian, dia
berharap dapat mempersembahkan kesuciannya untuk orang
yang dicintainya."
"Tapi sekarang dia telah menjadi seorang ternoda, semua
harapan telah musnah. Apakah dia masih dapat bergembira?"
Bong Thian-gak tertegun, tanyanya, "Kau telah
menemukan kekasih?"
Thay-kun tertawa sedih.
"Sejak empat tahun berselang, aku telah menemukan
orang yang kucintai, namun belum pernah kukatakan cinta
kepadanya, aku akan tetap selamanya mencintai dirinya."

990
Tiba-tiba Bong Thian-gak bangkit, wajahnya tampak
menderita, sementara sorot matanya dialihkan ke angkasa dan
memandang jauh.
Pada saat itu dalam hati dia pun sedang membatin,
"Ternyata orang yang dicintai Thay-kun selama ini bukan aku.
Ai ... tak kusangka aku telah mencintainya selama empat
tahun tanpa balas, aku hanya bertepuk sebelah tangan."
Saat itu Bong Thian-gak benar-benar merasa sedih, kesal
dan murung.
Baru sekarang dia benar-benar menyadari bahwa ia
memang sangat mencintai Thay-kun.
Setelah tertegun beberapa saat, Bong Thian-gak baru
membalikkan badan kemudian setelah tertawa sedih dia
berkata, "Sumoay, orang yang merasa sedih di kolong langit
bukan hanya kau seorang, aku pun seorang yang diliputi
kesedihan."
"Persoalan apakah yang membuat kau merasa bersedih?"
tanya Thay-kun lirih.
Bong Thian-gak menggeleng sambil menghela napas
panjang, "Ai, tidak usah dibicarakan lagi."
"Apakah Bong-suheng juga dibuat murung oleh persoalan
cinta? Song Leng-hui adalah seorang gadis suci dan bersih, dia
telah mempersembahkan kesucian tubuhnya untukmu. Apakah
kau masih merasa kurang puas?"
Hati Bong Thian-gak bergidik, diam-diam batinnya, "Ya,
benar, mengapa aku harus menyia-nyiakan kemurnian cinta
Song Leng-hui."
Tapi hubungan antara laki perempuan memang kadang
begitu aneh. Empat tahun berselang Bong Thian-gak
mengintip tubuh Thay-kun yang tidur telanjang, sejak itu pula
ia tak dapat menghapus bayangan Thay-kun yang menawan
hati dari dalam benaknya, sekalipun semasa dia berada di

991
gunung yang terpencil, belum pernah dapat melupakan Thaykun.
Hanya saja perasaan itu disembunyikan di dasar hatinya.
Tujuan utama Bong Thian-gak adalah ingin mengetahui
nasib Thay-kun, selama beberapa bulan terakhir ini dia pun
selalu berdaya-upaya mendapatkan pil Hui-hun-wan serta
menyelamatkan Thay-kun dari keadaan yang menyengsarakan
dirinya.
Thay-kun yang pintar sudah barang tentu mengetahui
rahasia hati Bong Thian-gak.
Padahal secara diam-diam dia pun sangat mencintai Bong
Thian-gak, rasa cintanya melebihi segala-galanya.
Akan tetapi Thay-kun memiliki watak yang lain daripada
yang lain, sejak diketahuinya Bong Thian-gak telah
memperoleh cinta Song Leng-hui di pegunungan terpencil, dia
sudah berhasrat menyerahkan cintanya kepada orang lain.
Apalagi dia pun tahu sepasang tangannya telah berlumuran
darah, dia sudah banyak melakukan kejahatan dan dosa.
Mungkinkah baginya untuk mengenyam hidup bahagia
bersama Bong Thian-gak?
Sementara itu terdengar Bong Thian-gak bergumam, "Song
Leng-hui adalah istriku, selama hidup aku tak akan melupakan
dirinya. Namun mungkinkah aku bisa melupakan kekasihku
yang kucintai sejak dahulu?"
"Ai, cinta memang sesuatu yang aneh, membuat orang tak
bisa menduga dan memahaminya."
"Siapa kekasihmu yang pertama?" tiba-tiba Thay-kun
bertanya dengan suara hambar.
Bong Thian-gak melirik sekejap ke arahnya, lalu
menggeleng kepala sambil menghela napas, "Mencintai orang,
namun tidak dicintai oleh orangnya. Kejadian macam ini paling

992
memedihkan hati, sebaliknya mengucapkan nama dari orang
yang kucintai justru lebih memedihkan hati. Thay-kun, harap
kau jangan mendesakku."
"Bong-suheng," kata Thay-kun dengan air mata
bercucuran, "kita adalah orang senasib sependeritaan, namun
rasa sedihku mungkin jauh melebihi dirimu."
"Benar, aku memang lebih beruntung daripada dirimu,"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Bong-suheng, untuk sementara waktu lebih baik kita
jangan membicarakan persoalan pribadi."
Bong Thian-gak mengangguk. "Kita tak usah membicarakan
cinta muda-mudi lagi, sekarang akan kuceritakan semua
pengalamanku selama beberapa hari ini."
Secara ringkas Bong Thian-gak mengisahkan
pengalamannya selama beberapa hari ini, bagaimana dia dan
Mo-kiam-sin-kun pergi ke Sam-cing-koan hingga akhirnya
terjadi peristiwa di pekuburan ini.
Thay-kun mengerut dahi, tanyanya dengan wajah serius,
"Bong-suheng, kau bilang telah menerima kartu kematian
tengkorak hitam dari Hek-mo-ong?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Benar, di dalam kartu maut itu telah tercantum dengan
jelas hari kematianku akan jatuh bulan delapan tanggal
delapan tengah hari."
Paras muka Thay-kun segera berubah, katanya dengan
suara dalam, "Kalau Hek-mo-ong berani menyebar kartu
undangan mautnya untuk Tio Tian-seng, agaknya dia sudah
bersiap untuk melangsungkan pertarungan melawan sepuluh
jago persilatan."

993
Bong Thian-gak menengok sekejap ke arah Thay-kun,
kemudian tanyanya, "Apakah kau pun mengetahui persoalan
ini?"
Thay-kun mengangguk.
"Ya, sejak dahulu aku sudah tahu Hek-mo-ong, hanya tidak
diketahui siapakah orang itu?"
"Menurut Liu Khi, tampaknya Hek-mo-ong adalah seorang
di antara sepuluh jago persilatan?"
Thay-kun manggut-manggut.
"Benar."
"Menurutku, di antara kesepuluh jago itu, Gi Jian-cau paling
besar kemungkinannya sebagai Hek-mo-ong. Thay-kun, kau
pernah tahu Gi Jian-cau? Sesungguhnya manusia macam
apakah dia?"
Thay-kun termenung beberapa saat, kemudian berkata,
"Kenapa Bong-suheng mencurigai Gi Jian-cau sebagai Hekmo-
ong?"
Bong Thian-gak menghela napas, katanya pula, "Dari
kematian yang menimpa Keng-tim Suthay, Gi Jian-cau sudah
pasti bukan seorang baik. Kalau tidak, tak mungkin Keng-tim
Suthay mencuri sebutir pil Hui-hun-wan miliknya dan secara
diam-diam disembunyikan di dalam Hud-timnya."
Thay-kun manggut-manggut.
"Dugaanmu memang benar, sejak dulu pun aku menaruh
curiga kepada Gi Jian-cau. Cuma saat ini kita tidak perlu
menduga-duga siapa gerangan Hek-mo-ong, yang penting
dimanakah dia berada sekarang."
"Apalagi setelah kudengar penuturan tentang orang
berbaju hijau serta Sam-cing Totiang tadi, bisa jadi salah
seorang di antara mereka adalah Hek-mo-ong."

994
"Ah, memangnya salah seorang di antara mereka adalah
Hek-mo-ong? Tapi yang mana?"
"Bisa jadi Sam-cing Totiang, cuma apa yang kukatakan
hanya dugaan belaka. Bila dugaan ini benar, maka kau dan
Tio Tian-seng sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong."
Berubah paras muka Bong Thian-gak, katanya, "Darimana
kau bisa berkata demikian?"
Thay-kun menghela napas, "Sewaktu berada di dalam
lorong gua Sam-cing-koan, kalian pernah berada cukup lama
bersama Sam-cing Totiang. Andaikata orang itu adalah Hekmo-
ong, berarti kau dan Tio Tian-seng tak akan lolos dari
serangan gelapnya."
"Tio Tian-seng kenal Tan Sam-cing. Seandainya Sam-cing
Totiang adalah Tan Sam-cing gadungan, aku pikir Tio Tianseng
tak akan berhasil mengenali dirinya."
"Kita harus secepatnya menemukan Tio Tian-seng," kata
Thay-kun kemudian dengan suara dalam. "Teka-teki ini mesti
dibikin jelas lebih dahulu, andaikata kalian berdua benar-benar
sudah terkena serangan gelap mereka, maka kita harus
berusaha secepatnya mencari pertolongan guna
menyembuhkan luka kalian itu."
Bong Thian-gak memandang sekejap keadaan cuaca,
kemudian katanya, "Malam kembali akan berakhir. Berarti
batas waktu yang ditentukan Hek-mo-ong dalam kartu
undangannya tinggal dua malam lagi, mari kita berangkat!"
Bersama Thay-kun, berangkatlah dia meninggalkan
pekuburan itu.
Kabut tebal masih menyelimuti permukaan bumi, sejauh
mata memandang hanya warna putih.
Mendadak segulung angin berhembus, lalu terendus bau
bunga anggrek yang menyebar kemana-mana.

995
Paras muka Bong Thian-gak dan Thay-kun segera berubah
hebat, serentak kedua orang itu menghentikan langkah,
kemudian memeriksa keadaan sekeliling tempat itu.
Akhirnya mereka melihat tiga sosok bayangan yang berdiri
di situ, tampaknya mereka sudah cukup lama menanti di sana.
Dengan wajah kaget dan ngeri Thay-kun memandang
sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu bisiknya dengan suara
gemetar, "Mereka adalah Cong-kaucu, Ji-kaucu serta
komandan pasukan pengawal nomor satu Sim Tiong-kiu."
Bong Thian-gak tertawa dingin, jengeknya, "Aku memang
sudah dapat melihatnya."
Dalam pada itu jarak bayangan itu dengan mereka masih
ada tujuh tombak lebih, namun kedua belah pihak sama-sama
berdiri tak bergerak, kabut putih yang menyelimuti sekitar
sana seakan-akan bertindak sebagai penyekat yang
memisahkan kedua rombongan itu.
Mendadak terdengar Bong Thian-gak membentak, "Ho Lanhiang,
serahkan nyawa anjingmu!"
Cahaya pedang berwarna merah secepat kilat membelah
angkasa, menembus lapisan kabut tebal dan membabat tubuh
orang yang berdiri di tengah.
Ilmu pedang Bong Thian-gak sudah lama termasyhur.
Setiap kali senjatanya dilolos dari sarungnya, belum pernah
ada orang yang mampu menghadang ataupun
membendungnya.
Cahaya pedang berkelebat, bayangan orang segera
menghindar ke samping.
Sekalipun serangan pedang yang dilancarkan Bong Thiangak
ini mengenai tempat kosong, namun sudah cukup
menggetarkan sukma ketiga orang musuh tangguhnya itu.

996
Ternyata separoh baju yang dikenakan orang di tengah
sudah terpapas robek dan melayang turun dari udara.
Dengan gerakan cepat Thay-kun menyerobot pula ke sisi
tubuh Bong Thian-gak, dengan demikian selisih jarak antara
kedua orang itu tinggal tiga tombak saja. Mereka pun sudah
dapat melihat raut wajah masing-masing dengan jelas.
Betul juga, ketiga orang di hadapan mereka adalah Ji-kaucu
yang berdandan sebagai sastrawan berbaju hijau, si kakek
berbaju hitam berlengan tunggal Sim Tiong-kiu serta seorang
perempuan cantik yang berdandan anggun tapi bersikap
tengik, dia adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Saat itu wajah Cong-kaucu diliputi penuh kesiap-siagaan,
katanya dengan suara dingin, "Anak Kun, kau telah
membocorkan namaku di hadapannya!"
"Tidak," sahut Thay-kun sambil tertawa seram. "Sekalipun
aku hendak membunuhmu, tak nanti kusebutkan nama baumu
itu."
Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, kembali dia menegur
dengan suara rendah, "Jian-ciat-suseng, siapakah yang telah
memberitahukan namaku kepadamu?"
Bong Thian-gak tertawa sinis.
"Hm, ternyata kau benar-benar perempuan tercantik dari
Kanglam Ho Lan-hiang. Padahal entah berapa banyak jago
persilatan yang sudah mengetahui nama serta asal-usulmu itu,
hanya saja tak seorang pun di antara mereka yang berani
mengutarakannya. Aku benar-benar tidak mengerti, dengan
cara apakah kau berhasil menguasai mereka hingga mulut
mereka tetap membungkam?"
Cong-kaucu tertegun, kemudian setelah terkekeh-kekeh,
katanya, "Jian-ciat-suseng, tahukah kau apa yang akan
menimpa dirimu setelah mengetahui nama serta asal-usulku?"

997
"Semua kelicikan dan kekejianmu sudah cukup banyak
yang kualami," kata Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.
"Namun tak satu pun di antaranya yang sanggup merenggut
nyawaku, agaknya kau telah kehabisan akal."
Cong-kaucu tersenyum, "Jian-ciat-suseng, sudah tiga
empat puluh tahun lamanya aku tak pernah bertarung
melawan orang. Nampaknya hari ini aku harus melakukan
pembunuhan."
Bong Thian-gak tertegun.
Sementara dia masih melongo, Cong-kaucu telah
membentak, "Sastrawan cacat, sambutlah pukulanku ini!"
Telapak tangannya segera diayun ke depan dengan
gerakan yang enteng dan seenaknya.
Sekali lagi Bong Thian-gak menggerakkan Pek-hiat-kiam
untuk menyongsong datangnya ancaman itu dengan sebuah
bacokan kilat.
Tapi ketika jurus serangan Bong Thian-gak itu membacok
sampai di tengah jalan, tiba-tiba saja cahaya pedang yang
berkilauan lenyap, nampak sekujur tubuh Bong Thian-gak
gemetar keras dan Pek-hiat-kiam yang digunakan untuk
melancarkan serangan terjatuh ke atas tanah.
Thay-kun terperanjat sekali, buru-buru serunya, "Bongsuheng,
kenapa kau?"
Dengan paras muka pucat-pias, Bong Thian-gak berkata
dengan suara gemetar, "Aku sudah terkena pukulannya. Kau
... cepat kau melarikan diri."
Baru saja perkataan itu selesai diutarakan, sepasang kaki
Bong Thian-gak sudah lemas, kemudian dia roboh terjungkal.
Mimpi pun Thay-kun tidak menyangka Bong Thian-gak
bakal menderita kekalahan dalam satu gebrakan saja.
Kekalahan semacam ini benar-benar aneh dan sama sekali di

998
luar dugaan siapa pun, mungkin ilmu silat Cong-kaucu telah
mencapai tingkatan yang luar biasa hingga tiada orang yang
mampu menandinginya?
Agaknya Cong-kaucu sendiri pun merasa di luar dugaan,
dipandangnya Bong Thian-gak dengan sorot mata tenang, tapi
agak termangu.
Tiba-tiba sekilas hawa napsu membunuh mencorong dari
balik mata Thay Kun. Ditatapnya Cong-kaucu sekejap,
kemudian tanyanya hambar, "Cong-kaucu, kau telah
melukainya dengan mempergunakan ilmu silat apa?"
Cong-kaucu tertawa hambar, "Budak liar, rupanya kau telah
memperoleh kembali sukmamu. Hm, hal ini membuktikan si
tabib sakti telah berhasil membuat pil Hui-hun-wan."
Thay-kun tertawa dingin.
"Tenaga pukulan yang dimiliki Cong-kaucu luar biasa lihai.
Namun ingin kuketahui, apakah sanggup menandingi ilmu
pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang?"
Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Budak liar, sejak kecil
kupelihara dirimu hingga dewasa, sama sekali tidak kusangka
kau akan mengkhianatiku. Tempo hari aku masih memandang
dirimu melakukan dosa pertama sehingga tak menghukum
mati dirimu, tapi kali ini jangan harap kau bisa hidup terus."
Selesai berkata, dia lantas mengulap tangan kiri dan
membentak dengan nada serius, "Komandan Sim, Ji-kaucu,
kalian berdua turun tangan bersama menghukum mati
pengkhianat ini."
Sejak tadi Sim Tiong-kiu serta Ji-kaucu sudah bersiap
melancarkan serangan. Ketika mendengar perkataan itu,
serentak mereka mendesak Thay-kun dari sisi kiri dan kanan.
Thay-kun sudah tahu kelihaian Sim Tiong-kiu serta Jikaucu,
cepat dia mengayun tangan kiri melepaskan serangan,
mempergunakan ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang.

999
Namun sasaran penyerangannya adalah Sim Tiong-kiu.
Ketiga orang ini boleh dibilang sama-sama sudah mengetahui
taraf kepandaian masing-masing. Sebab itulah tatkala Thaykun
baru saja melancarkan serangan, Sim Tiong-kiu telah
melompat menghindarkan diri.
Pada saat bersamaan serangan pedang Ji-kaucu yang
gencar dan dahsyat telah dilepaskan pula mengancam dada
Thay-kun.
Bagi jago silat berilmu tinggi yang melangsungkan
pertarungan, menang kalah seringkali ditentukan dalam
sekejap mata. Bicara kepandaian silat yang dimiliki Thay-kun,
untuk menghadapi kerubutan dua jago lihai ini, rasanya tiada
harapan baginya meraih kemenangan.
Thay-kun pun sudah menduga akan serangan pedang Jikaucu
itu, maka dari itu saat telapak tangan kirinya
melancarkan bacokan tadi, tubuhnya ikut pula bergeser ke
arah lain, otomatis serangan pedang Ji-kaucu mengenai
sasaran kosong.
Tampaknya orang yang jadi sasaran utama dalam serangan
maut Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu ini bukanlah Thay-kun, maka
di saat Thay-kun menghindar ke samping, mereka menerjang
ke arah Bong Thian-gak yang masih duduk bersila di atas
tanah.
Thay-kun menjadi amat terperanjat, buru-buru teriaknya,
"Jangan kalian lukai dirinya."
Namun sebelum ia sempat melancarkan terkaman, Congkaucu
yang berdiri di dekatnya telah berseru dengan suara
menyeramkan, "Lebih baik kalian berdua kembali ke akhirat!"
Bersama dengan selesainya perkataan ini, telapak tangan
Cong-kaucu secepat kilat langsung menghantam punggung
Thay-kun.

1000
Dalam situasi yang amat kritis inilah tiba-tiba dari balik
kabut, terdengar suara seseorang berseru dengan nada aneh,
"Berhenti semua!"
Entah mengapa hati Sim Tiong-kiu, Ji-kaucu dan Congkaucu
bergetar keras. Bagaikan tersengat listrik, tahu-tahu
lengan mereka jadi lemas tak bertenaga.
Pada detik inilah Thay-kun segera melompat ke samping
tubuh Bong Thian-gak.
Suasana di padang rumput terasa hening dan sepi, kecuali
kabut tebal menyelimuti angkasa, sekeliling tempat itu tidak
nampak sesosok bayangan pun.
Namun Cong-kaucu dan Sim Tiong-kiu justru menunjukkan
sikap terperanjat dan ngeri.
Tiba-tiba terdengar Cong-kaucu berseru dengan suara lirih,
"Hekmo-ong kah di situ?"
Dari balik kabut tebal kembali bergema suara aneh,
"Kecuali Hek-mo-ong, apakah di kolong langit ini masih ada
orang kedua yang mampu mempergunakan ilmu pukulan
cahaya petir?"
Sampai mati pun Bong Thian-gak dan Thay-kun tidak
menyangka nyawa mereka telah ditolong Hek-mo-ong yang
misterius itu.
Mengapa dia menyelamatkan mereka berdua?
Ilmu pukulan macam apa pula pukulan cahaya petir itu?
Mengapa dapat mempengaruhi ketiga jago lihai itu hingga
mereka seperti tersengat listrik dan kehilangan kekuatan?
Bong Thian-gak dan Thay-kun mulai memperhatikan sekitar
tempat itu dengan seksama, akan tetapi tak sesosok bayangan
pun yang nampak, terpaksa mereka hanya menanti perubahan
selanjutnya dengan tenang.

1001
Tiba-tiba Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, lalu berseru
keras, "Kalau memang Hek-mo-ong, kenapa kau malah
menghalangi niat kami membunuh kedua orang itu?"
"Sastrawan cacat telah menerima kartu kematian tengkorak
hitam, berarti jiwanya hanya bisa dicabut oleh Hek-mo-ong
sendiri. Siapa pun dilarang mencelakai jiwanya, apakah Congkaucu
tidak mengetahui kebiasaan ini?"
"Bagaimana pula dengan budak liar itu?" kembali Congkaucu
bertanya.
"Tiga tahun berselang aku telah menurunkan perintah agar
untuk sementara waktu tidak mencelakai jiwa Thay-kun,
apakah Cong-kaucu telah melupakannya?"
Thay-kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak dengan wajah tidak mengerti dan penuh tanda
tanya, dia tidak mengetahui apa sebabnya Hek-mo-ong
membiarkan dia tetap hidup?
Cong-kaucu berkata pula, "Aku benar-benar tidak mengerti,
apa sebabnya Hek-mo-ong menghendaki Thay-kun tetap
hidup?"
"Sebab aku belum selesai menyelidiki asal-usul Thay-kun,"
jawab Hek-mo-ong dengan suara perlahan.
Thay-kun terkesiap, buru-buru dia bertanya, "Hek-mo-ong,
mau apa kau menyelidiki asal-usulku?"
Namun suara aneh dan misterius itu tidak bergema lagi.
Untuk beberapa saat suasana terasa begitu sepi, hening dan
tak terdengar sedikit suara pun, sudah jelas Hek-mo-ong tidak
mau memberitahu.
"Hek-mo-ong, apakah kau sudah pergi?" Cong-kaucu
segera menegur.
"Belum!" suara aneh tadi kembali bergema.

1002
"Lantas petunjuk apakah yang hendak Hek-mo-ong
tinggalkan?"
"Benarkah Cong-kaucu telah mengundang seorang
pembunuh bayaran untuk membinasakan diriku?"
Bong Thian-gak yang mendengar perkataannya itu diamdiam
lantas berpikir, "Lihai benar Hek-mo-ong, darimana bisa
mengetahui hal itu? Entah bagaimana pula jawaban Congkaucu?"
Terdengar Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, lalu
katanya, "Bukan hanya seorang pembunuh bayaran saja,
hampir setiap jago lihai di dunia ini ingin membunuhmu."
"Tapi dalam Kangouw hanya seorang saja yang benarbenar
bekerja sebagai pembunuh bayaran dan orang itu
adalah Liu Khi."
"Kalau Hek-mo-ong sudah tahu Liu Khi adalah pembunuh
bayaran, mengapa kau tidak turun tangan lebih dulu
menyingkirkan dirinya?" jengek Cong-kaucu sambil tertawa
mengejek.
"Aku tidak ingin termakan siasat meminjam golok
membunuh orangmu itu."
"Di kolong langit dewasa ini hanya Liu Khi seorang yang
tidak pernah melakukan hubungan denganmu."
"Tapi Liu Khi juga termasuk orang yang paling kau takuti
bukan?" ejek perempuan itu sambil tertawa lagi.
Kali ini Hek-mo-ong termenung beberapa saat, kemudian
baru berkata, "Sekarang kuperintahkan kalian bertiga agar
mengundurkan diri selekasnya dari sini."
"Apabila aku tidak menuruti perintahmu itu?"
"Cong-kaucu harus menuruti perkataanku ini!"

1003
Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Masih ingatkah Hekmo-
ong dengan perjanjian kita? Batas waktunya sudah lewat
beberapa hari berselang, rasanya aku pun tidak usah menuruti
perintahmu lagi."
"Hingga detik ini belum ada seorang pun di antara kalian
yang mampu mematahkan serangan ilmu pukulan cahaya
petirku. Lebih baik kau turuti saja perkataanku ini," kata Hekmo-
ong dengan suara dingin.
"Benar, aku memang harus menuruti perkataanmu. Tapi
kau pun harus ingat, suatu ketika Hek-mo-ong pasti akan
mampus di bawah telapak tanganku."
Tampaknya Hek-mo-ong sudah mulai kehabisan sabar,
setengah mengancam dia berseru, "Bila kalian berdiam lebih
lama lagi di sini, jangan salahkan bila aku lepaskan serangan
pukulan cahaya petirku."
Baru selesai ia berkata, Cong-kaucu telah mengulap tangan
kiri, lalu membalikkan badan dan mundur dari situ.
Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu dengan sikap tegang bagaikan
menghadapi musuh tangguh, pelan-pelan mengantar Congkaucu
mengundurkan diri dari sana.
Dalam waktu singkat bayangan mereka sudah lenyap dari
pandangan mata.
Tiba-tiba saja suasana di padang rumput itu berubah
menjadi hening, sepi, tak terdengar sedikit suara pun.
Thay Kun menunggu sampai lama sekali, ketika tidak
mendengar lagi suara Hek-mo-ong, ia segera menegur, "Hekmo-
ong, apakah kau telah pergi?"
Tiba-tiba suara menyeramkan berkumandang, terdengar
orang itu menjawab halus, "Belum."
Hati Bong Thian-gak maupun Thay-kun bergetar, dengan
cepat mereka berpaling.

1004
Di belakang mereka tiba-tiba muncul seseorang bagaikan
sukma gentayangan.
Setelah ragu sejenak, Thay-kun segera bertanya, "Apakah
sejak tadi kau berdiri di situ?"
"Benar, selama ini aku berdiri di sini."
"Tapi mengapa kami tidak menemukan bayangan tubuhmu
tadi?" tanya Thay-kun lagi dengan kening berkerut.
"Sekalipun aku berdiri di hadapanmu, belum tentu kalian
melihatku."
"Memangnya kau bisa ilmu melenyapkan diri?"
"Bukan ilmu melenyapkan diri, melainkan ilmu pembingung
pandangan."
"Apa itu ilmu pembingung pandangan? Dapatkah kau
jelaskan kepada kami?"
"Oh, ini merupakan rahasiaku, aku tidak dapat
menerangkan kepadamu."
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas sedih, lalu katanya,
"Aku lihat sikapmu terhadap kami berdua sama sekali tidak
bermusuhan, apakah kau bersedia maju beberapa langkah lagi
agar kami bisa berbincang-bincang dengan lebih akrab?"
"Maaf, aku tak bisa menuruti permintaanmu."
Thay-kun berkata, "Ai, aku dengar kau sedang menyelidiki
asal-usulku, apakah kau telah berhasil mendapat sedikit
keterangan?"
Hek-mo-ong termenung sebentar, kemudian sahutnya, "Ya,
aku telah berhasil mendapatkan sedikit keterangan."
"Keterangan apa? Bersediakah kau menerangkan
kepadaku?"

1005
"Kau adalah bayi buangan yang ditemukan seorang lelaki
setengah umur penangkap ikan di tepi jembatan Kiu-ci-kiau,
pantai timur telaga Se-oh pada tiga puluh tahun berselang.
Baru diasuh dua bulan nelayan itu tewas di tangan Congkaucu,
kemudian oleh Nyo Li-beng kau dibawa pulang, tapi
akhirnya kau terjatuh ke tangan Cong-kaucu."
"Ai, tentang kejadian itu Keng-tim Suthay Nyo Li-beng
pernah menceritakan kepadaku," kata Thay-kun sambil
menghela napas sedih.
Hek-mo-ong termenung beberapa saat, katanya lagi,
"Walau demikian bukan pekerjaan mudah untuk menyelidiki
peristiwa itu, asalkan sudah kudapat sedikit keterangan, pasti
aku akan berhasil menyelidiki asal-usulmu itu."
"Apa maksudmu?"
"Jika waktu, tempat dan orangnya sudah ditemukan, maka
hasil penyelidikanku ini tak akan jauh lagi."
Tanyanya, "Tampaknya kau sudah mengetahui siapakah
orang yang membuang bayi itu?"
"Tentu saja tahu."
"Siapakah dia?"
"Untuk sementara waktu tidak dapat kukatakan
kepadamu."
Thay-kun merasa kecewa, setelah menghela napas
katanya, "Kalau kau sudah mengetahui siapakah orang yang
telah membuang bayi itu, mungkin hanya kau yang
mengetahui asal-usulku?"
"Aku tahu kau sangat ingin mengetahui asal-usulmu, tapi
kau terpaksa harus menunggu lagi. Suatu ketika aku pasti
membeberkan hasil penyelidikanku kepadamu."
Thay-kun menggeleng kepala, ujarnya, "Aku tak ingin
mengetahui asal-usulku lagi."

1006
"Mengapa?"
"Aku kuatir bila sudah tahu hal ini akan menambah luka
dalam hatiku."
Kembali Hek-mo-ong termenung dan membungkam.
Lama kemudian baru dia berkata, "Jian-ciat-suseng sudah
terkena serangan gelapku. Sebenarnya hawa racun itu baru
bekerja pada tanggal delapan bulan delapan nanti, tapi
berhubung dia baru saja mengerahkan tenaga untuk
menyerang Cong-kaucu, maka hawa racunnya telah menyusup
sampai di tulang Liong-wi-kut sehingga mengakibatkan
separoh tubuh bagian atas menjadi lumpuh. Sekarang akan
kuberikan sebutir pil kepadanya, asalkan dia telah menelan pil
ini kemudian mengatur pernapasan, niscaya luka itu akan
sembuh dengan sendirinya." Selesai berkata, dia lantas
menyentilkan jari tangannya ke depan. Sebutir pil berikut
pembungkusnya terjatuh di depan kaki Thay-kun.
Dengan cepat Thay-kun memungut pil itu, kemudian
bertanya, "Apabila dia sudah menelan pil ini, apakah tanggal
delapan bulan m delapan nanti ia masih tetap akan mati?"
"Kalau memang begitu aku lebih suka membiarkan dia mati
lebih awal daripada kuberikan pil itu kepadanya."
"Apakah kau hendak memaksa aku menarik kembali kartu
kematian tengkorak hitamku?"
"Jian-ciat-suseng sama sekali tidak punya ikatan dendam
sakit hati denganmu. Mengapa kau harus mengeluarkan kartu
kematianmu untuk merenggut nyawanya?"
"Kecuali Jian-ciat-suseng bersedia mengundurkan diri dari
keramaian dan mengasingkan diri. Kalau tidak, dia tak akan
terlepas dari kematian."
Thay-kun kembali menghela napas sedih, "Ai, setelah
menempuh perjalanan selama puluhan tahun dalam dunia

1007
persilatan, sesungguhnya kami pun tiada niat untuk berdiam
lebih lama lagi. Apa salahnya kami mengundurkan diri?"
"Apalagi aku tahu Bong Thian-gak sudah bosan berkelana
di dunia persilatan. Sesungguhnya dia muncul kembali hanya
ingin membalas dendam bagi Thay-kun, tapi kini Thay-kun
hidup segar-bugar. Sudah barang tentu dia pun tiada
kepentingan dalam dunia persilatan lagi."
Hek-mo-ong manggut-manggut, katanya kemudian dengan
suara pelan, "Jian-ciat-suseng, sekarang kau didampingi
perempuan yang begini cantik. Apabila hidup mengasingkan
diri di tempat terpencil menikmati kebahagian hidup,
bukankah hal ini diharapkan banyak orang? Asal kau bersedia
mengundurkan diri, aku pun berjanji tidak akan menyusahkan
kalian lagi. Bagaimana pendapat kalian?"
Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Thay-kun,
kemudian tanyanya, "Dapatkah perkataannya dipercaya?"
"Hek-mo-ong sudah tiga-empat puluh tahun bercokol dalam
Kangouw, tapi umat persilatan cuma tahu dia adalah seorang
misterius yang menakutkan. Apakah perkataannya dapat
dipercaya, aku sendiri pun tidak yakin."
"Tetapi ada satu hal yang membuat aku menaruh curiga,
mengapa dia meminta kepada kita mengundurkan diri dari
dunia persilatan?"
Mendadak terdengar Hek-mo-ong tertawa dingin dengan
suara seram, katanya, "Sekarang aku sudah tiada waktu
bercokol lebih lama di sini, bilamana kalian memastikan
mengundurkan diri dari dunia persilatan, maka sebelum
tengah malam bulan delapan tanggal delapan, kalian harus
sudah mengundurkan diri dari kota Lok-yang."
Begitu selesai berkata, Hek-mo-ong segera menggerakkan
tubuh, hayangan orang itu segera mengundurkan diri dari
balik kabut tebal.

1008
Thay-kun menghela napas sedih, kemudian katanya, "Hari
ini seandainya dia tak datang menyelamatkan kita, mungkin
kita akan mengalami nasib tragis di tangan Cong-kaucu seperti
tempo hari."
"Menurutku Hek-mo-ong berbuat begitu karena ingin
menolong dirimu, bisa jadi dia mempunyai hubungan dengan
dirimu," kata Bong Thian-gak hambar.
Thay-kun menggeleng, "Tapi aku sama sekali tidak
mengenal dirinya."
"'Bila dugaanku tidak keliru, bisa jadi asal-usulnya
mempunyai hubungan erat denganmu."
"Suheng," kata Thay-kun dengan sedih. "Kita tak usah
membahas hal ini lagi. Ayo cepat kau telan pil itu agar lukamu
segera sembuh."
Sambil berkata Thay-kun sudah mengelupas kulit
pembungkus obat itu, ternyata isinya adalah sebutir pil
bewarna putih bagaikan mutiara, baunya harum semerbak.
Setelah menghela napas panjang, Bong Thian-gak berkata,
"Hingga sekarang aku masih tetap menaruh prasangka, aku
kuatir pil itu bukan pil penawar racun, melainkan obat racun
yang lambat kerjanya."
"Apa maksudmu?"
"Aku tak percaya sudah terkena serangan gelap Hek-moong."
"Ah, benar juga perkataanmu," Thay-kun berseru tertahan.
"Tapi bagaimana pula dengan luka yang kau derita saat ini?"
Bong Thian-gak menggeleng kepala, "Aku sendiri pun tidak
tahu, mengapa secara tiba-tiba separoh tubuhku bisa
lumpuh."
"Berjaga-jaga atas niat busuk musuh memang tak boleh tak
ada, apalagi sikap bersahabat Hek-mo-ong terhadap kita pun

1009
di luar dugaan, kalau begitu jangan kau telan dulu pil itu untuk
sementara waktu."
"Sekarang Mo-kiam-sin-kun masih di rumah penginapan
Ban-heng. Bila aku sudah terkena serangan gelap Hek-moong,
maka Tio Tian-seng pasti mengalami pula hal yang sama,
mari kita tanyakan dulu persoalan ini kepadanya sebelum
mengambil keputusan."
"Betul," Thay-kun manggut-manggut. "Mari kubimbing
kau."
"Ai, terpaksa aku harus merepotkan Sumoay."
Dengan lengan kanan merangkul pinggang Bong Thiangak,
Thay-kun mengajak pemuda itu menuju ke dalam kota.
Pagi itu kabut luar biasa tebalnya, sejauh mata memandang
hanya warna putih yang menyelimuti seluruh jagat, rumput
dan pepohonan di hadapan mereka pun susah terlihat.
Dengan memapah tubuh Bong Thian-gak, akhirnya Thaykun
berhasil mengajak pemuda itu ke rumah penginapan Banheng.
Waktu itu fajar baru menyingsing, kabut pagi belum
menghilang, mereka segera masuk dengan melompati pagar
dan menuju ke kamar.
Tiba-tiba seseorang berkelebat dengan kecepatan bagaikan
kilat, menghadang di hadapan Bong Thian-gak serta Thaykun.
Sekilas pandang Bong Thian-gak mengenali orang di
hadapannya, Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng, tanpa terasa
serunya lirih, "Tio-pangcu!"
Sekilas perasaan tercengang dan tidak habis mengerti
segera menghiasi wajah Mo-kiam-sin-kun, segera tanyanya,
"Bukankah dia adalah Si-hun-mo-li?"

1010
"Benar, memang dia, tapi ia sudah kembali kejernihan
otaknya, kini ia sudah bukan Si-hun-mo-li yang menakutkan
lagi."
"Bagaimana keadaanmu, Bong-laute?" Tio Tian-seng
kembali bertanya dengan penuh perhatian.
"Tio-pangcu," kata Thay-kun cepat, "tempat ini bukan
tempat yang cocok untuk berbincang-bincang, apakah di
dalam ada orang lain?"
"Cepat masuk," seru Mo-kiam-sin-kun.
Mereka bertiga segera masuk ke dalam, Tio Tian-seng
menyulut lentera, sedang Thay-kun membimbing Bong Thiangak
ke bangku.
Setelah melirik sekejap ke arah Tio Tian-seng, Bong Thiangak
berkata, "Walaupun hanya semalam saja Boanpwe
meninggalkan Tio-pangcu, namun pengalaman yang kuhadapi
sungguh luar biasa."
Secara ringkas Bong Thian-gak menceritakan semua
pengalaman yang dialaminya selama semalam kepada Tio
Tian-seng.
Selesai mendengar cerita itu, dengan kening berkerut Tio
Tian-seng berkata, "Apakah kau telah menelan pil itu?"
"Belum," pemuda itu menggeleng.
Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, aku sendiri
pun telah menerima sebutir pil dari Hek-mo-ong."
Sambil berkata, dia mengeluarkan sebutir pil berwarna
putih bagaikan mutiara dari dalam sakunya.
Dengan cepat Thay-kun mengeluarkan pula pil yang
diterimanya tadi, ternyata bentuk kedua pil itu serupa,
semuanya menyiarkan bau harum semerbak.

1011
Dengan tidak mengerti Bong Thian-gak bertanya,
"Bagaimana ceritanya hingga Hek-mo-ong memberikan pil itu
kepadamu?"
Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, Hek-mo-ong
telah memerintahkan seorang pelayan rumah penginapan
untuk mengantar pil itu kepadaku dengan pesan agar aku
mengundurkan diri dari dunia persilatan, katanya
pengundurkan diri ini merupakan syarat bagi keselamatan
jiwaku."
"Lantas pil itu merupakan obat penawar racun? Ataukah
obat racun?"
"Aku telah melakukan pemeriksaan terhadap pil itu,
nyatanya pil ini sama sekali tak mengandung racun."
"Kalau memang bukan obat racun, mengapa Tio-pangcu
tidak menelannya?" tanya Bong Thian-gak keheranan.
"Sebab aku pun tidak percaya sudah terkena serangan
gelap Hek-mo-ong, selain itu aku pun beranggapan andaikata
pil itu baru ditelan sebelum bekerjanya racun itu, hal ini pun
belum terhitung terlalu terlambat"
"Seandainya kita benar-benar terkena serangan gelapnya,
maka teka-teki siapakah Hek-mo-ong pun segera akan
terbongkar."
"Bong-laute, apakah kau menduga Tan Sam-cing adalah
Hek-mo-ong?" pelan-pelan Tio Tian-seng bertanya.
"Kecuali di saat kita berada dalam Sam-cing-koan tempo
hari, aku benar-benar tak bisa membayangkan sejak kapan
dan dimanakah kita terkena serangan gelap Hek-mo-ong."
"Masih ingatkah Bong-laute dengan gigitan nyamuk
penghancur darah tempo hari?" tanya Tio Tian-seng.
"Bukankah racun nyamuk penghancur darah telah
dipunahkan obat penawar racun pemberian Biau-kosiu?"

1012
"Yang menjadi persoalan sekarang adalah siapakah yang
telah melepas nyamuk penghancur darah itu?"
"Orang itu tentu Biau-kosiu!"
"Atas dasar apakah kau dapat membuktikan perbuatan ini
hasil karyanya?"
"Aku tak bisa membuktikan," Bong Thian-gak menggeleng.
"Tapi kita kan bisa mencari Biau-kosiu dan menanyakan hal ini
secara langsung kepadanya."
Mendadak dari luar halaman rumah terdengar seorang
berkata dengan suara merdu, "Jian-ciat-suseng, persoalan apa
yang hendak kau tanyakan kepadaku?"
Bersama dengan bergemanya pertanyaan itu, di depan
pintu telah muncul seorang nona berbaju hijau yang cantik
jelita, orang itu bukan lain adalah gadis Biau yang misterius
dan licik itu, Biau-kosiu.
Begitu bertemu nona itu, Bong Thian-gak segera berkata
dengan suara lantang, "Silakan duduk nona Biau, maafkan
badanku kurang sehat sehingga tidak dapat menyambut
kedatanganmu."
Dengan langkah lemah-gemulai, Biau-kosiu berjalan masuk
ke dalam ruangan, kemudian setelah memandang sekejap
wajah semua orang, dia duduk dan tertawa terkekeh-kekeh.
"Jian-ciat-suseng memang orang yang sangat hebat,"
serunya, "Terbukti kau sanggup merebut pil Hui-hun-wan."
Tio Tian-seng terkejut, segera tanyanya, "Ya, betul! Aku
lupa menanyakan hal ini. Bong-laute, bagaimana ceritanya
hingga kau bisa mendapatkan pil Hui-hun-wan."
Bong Thian-gak sendiri pun terkejut, segera pikirnya,
"Haruskah kuceritakan pengalamanku ketika mendapatkan pil
Hui-hun-wan?"

1013
Sementara dia masih berpikir, tiba-tiba Thay-kun telah
menyela sambil tertawa geli, "Apakah kalian menganggap
pulihnya kesadaran otakku ini dikarenakan aku telah menelan
pil Hui-hun-wan buatan si tabib sakti?"
Bong Thian-gak tertegun, kembali dia berpikir, "Kenapa
Thay-kun menyangkal dia telah menelan pil Hui-hun-wan."
Biau-kosiu melirik sekejap ke arah Thay-kun, kemudian
setelah tertawa dingin jengeknya, "Benarkah kau tidak
menelan pil Hui-hun-wan? Hm, aku kurang percaya."
Thay-kun tersenyum, "Apakah aku sudah menelan pil Huihun-
wan atau tidak, apa hubungannya dengan dirimu?"
"Aku harus tahu siapakah yang telah memberi pil Hui-hunwan
itu kepadamu?" ucap Biau-kosiu dengan suara dingin.
"Bukan pemberian Bong Thian-gak, bukan juga si tabib
sakti."
"Lantas siapa?" desak Biau-kosiu lebih jauh.
"Boleh saja kuberitahu hal ini kepadamu, tapi ada syarat
yang harus kau penuhi lebih dulu, kau harus memberitahukan
dulu kepadaku maksudmu menanyakan hal ini."
Sekarang Bong Thian-gak baru mengerti, rupanya Thaykun
menyangkal telah menelan pil Hui-hun-wan, sebab dia
merasa perkataan Biau-kosiu sangat mencurigakan.
Biau-kosiu berkerut kening, katanya, "Hui-hun-wan
merupakan benda mustika, semua orang ingin
memperolehnya."
"Kalau begitu, kau juga berharap mendapatkan pil Hui-hunwan
itu?"
"Aku telah memberitahukan maksudku, sekarang kau harus
memberitahukan pula kepadaku siapa yang memberikan pil
Hui-hun-wan kepadamu."

1014
"Keng-tim Suthay Nyo Li-beng."
"Dimana ia sekarang?" desak Biau-kosiu.
"Dia telah meninggal," Thay-kun menghela napas panjang.
Biau-kosiu mengerut dahi, ujarnya, "Kau benar-benar
ngaco-belo. Bila kau tidak mengatakan dimanakah dia
sekarang, aku tak akan bersikap sungkan lagi kepadamu."
Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas sedih, selanya,
"Nona Biau, Keng-tim Suthay memang sudah meninggal. Tiopangcu
telah memeriksa jenazahnya."
Mo-kiam-sin-kun yang berada di depan cepat
menambahkan pula dengan suara dalam, "Keng-tim Suthay
tewas di dalam gua Kiu-thian-tong di bawah kuil Sam-cingkoan.
Siapa yang telah mencelakainya hingga kini masih
merupakan teka-teki."
Mendadak hawa membunuh menyelimuti wajah Biau-kosiu,
mendadak dia melepaskan pukulan dahsyat ke dada Thay-kun.
Menghadapi datangnya ancaman itu, Thay-kun tersenyum,
telapak tangannya dibalik untuk memusnahkan serangan itu,
kemudian katanya, "Di antara kita tiada dendam ataupun sakit
hati, mengapa kau melancarkan serangan keji kepadaku?"
"Bila aku tidak berusaha membunuhmu sekarang, maka
tiga tahun kemudian kau akan menjadi jago paling tangguh di
dunia persilatan," kata Biau-kosiu dingin.
Sembari berkata, Biau-kosiu melejit ke tengah udara lalu
dengan suatu gerakan aneh tapi sakti, dia melancarkan tiga
serangan berantai.
Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng yang menyaksikan
gerakan serangannya kontan berubah wajahnya, baru
sekarang mereka tahu gadis suku Biau ini sesungguhnya
memiliki ilmu silat yang amat lihai dan dia merupakan tokoh
sakti yang amat tangguh dan tidak boleh dianggap enteng,

1015
sudah barang tentu Thay-kun sendiri bukan seorang lemah,
tampak dia menggerakkan pinggangnya dengan lemahgemulai,
tahu-tahu semua ancaman berhasil dihindari.
Sambil tertawa ringan, katanya, "Bagaimana penjelasanmu
atas perkataan yang telah kau ucapkan tadi? Apakah sebutir
pil Hui-hun-wan saja dapat menciptakan diriku menjadi
manusia super?"
Setelah melepaskan ketiga serangan dahsyat itu, mendadak
Biau-kosiu menarik kembali serangannya sambil mundur
selangkah, katanya tertawa dingin, "Ilmu silatmu lumayan
juga, beranikah kau menyambut seranganku lagi?"
Bong Thian-gak cukup mengerti bahwa Biau-kosiu tentu
akan menyiapkan serangan yang lebih dahsyat lagi dalam
serangannya nanti, tepat ia berseru, "Nona Biau, harap jangan
menyerang dulu, ada persoalan yang hendak kubicarakan
kepadamu."
Sedang Tio Tian-seng dengan suara berat berkata pula,
"Harap nona jangan melancarkan serangan lebih dulu, ada
suatu persoalan ingin kutanyakan kepadamu."
"Apakah kau ingin menanyakan masalah nyamuk
penghancur darah itu?" tukas Biau-kosiu.
"Benar, kami ingin tahu siapakah orang yang telah
melepaskan nyamuk penghancur darah itu untuk mencelakai
kami?"
"Aku."
"Jika kau, kami pun dapat merasa lega."
Biau-kosiu tertawa dingin, kembali berkata, "Tahukah
kalian, siapa yang telah meminta bantuan kepadaku untuk
melepaskan nyamuk penghancur darah guna mencelakai
kalian?"
"Siapa?" tanya Bong Thian-gak tanpa terasa.

1016
"Hek-mo-ong. Obat penawar racun yang kuberikan kepada
kalian sebagai penawar racun nyamuk penghancur darah itu
pun merupakan pemberian Hek-mo-ong yang meminta
kepadaku untuk disampaikan kepada kalian. Oleh sebab itu
kalian berdua sebenarnya sudah terkena serangan gelap Hekmo-
ong, mati hidup kalian telah berada pada
cengkeramannya."
Paras muka Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng menjadi
pucat-pias.
Thay-kun tersenyum, katanya, "Rupanya kau punya
hubungan cukup intim dengan Hek-mo-ong, sebenarnya
siapakah Hek-mo-ong?"
"Tentu saja aku tahu siapa dia, tapi aku takkan
memberitahukan kepada kalian."
Thay-kun segera tertawa dingin, "Padahal aku juga tahu
kau pun tidak mengetahui siapakah Hek-mo-ong, seandainya
tahu, sudah pasti dia Hek-mo-ong gadungan."
Biau-kosiu tersenyum, segera tanyanya, "Darimana kau
bisa tahu kalau dia adalah gadungan?"
"Sebab aku sudah mengetahui sejak tadi bahwa apa yang
kau ucapkan semua pada hari ini cuma perkataan bohong
belaka."
"Bohong juga boleh, tidak bohong pun boleh juga,
pokoknya yang pasti kalian bertiga sudah tidak jauh dari
kematian."
Mendadak Bong Thian-gak berkata dengan suara dingin,
"Mati bukanlah suatu kejadian yang menakutkan, biarpun
manusia hidup seratus tahun lagi juga akhirnya akan mati
juga."
Biau-kosiu berpaling dan memandang sekejap ke arahnya,
lalu berkata, "Bila kau percaya padaku, aku pun dapat
menyelamatkan jiwa, kalian dari kematian."

1017
"Syarat apa yang hendak kau ajukan kepada kami?" tanya
Thay-kun sambil tertawa merdu.
Biau-kosiu tertawa dingin, katanya, "Menyelamatkan jiwa
orang bagaikan mempunyai orang tua baru, aku tidak bisa
menyelamatkan jiwa seseorang begitu saja."
"Apa yang kau inginkan, utarakan saja!"
"Aku hanya berharap kalian membantuku membunuh Liong
Oh-im."
"Soal itu kami dapat menerimanya, tapi sekarang separoh
badan Jian-ciat-suseng lumpuh. Pertama-tama, kau harus
mengobati dirinya lebih dulu."
"Separoh badannya lumpuh, hal ini dikarenakan ada hawa
murninya yang menyumbat sebagian jalan darahnya, asalkan
sebuah pukulan menghantam persis di atas jalan darah Wiliong-
hiat, dia akan sembuh seperti sediakala."
Sembari berkata, tiba-tiba Biau-kosiu melepaskan
tendangan kilat persis menghajar badan Bong Thian-gak,
akibatnya tubuh anak muda itu mencelat ke belakang.
Ketika terjatuh ke atas tanah, Bong Thian-gak telah
memperoleh kesegaran kembali, keempat anggota badannya
dapat digerakkan bebas seperti sediakala.
"Suheng apakah kau telah sembuh?" Thay-kun segera
bertanya.
Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ya, aku telah
sembuh, namun aku harus pergi membunuh orang."
Terhadap kemampuan Biau-kosiu dalam mengobati
seseorang, baik Thay-kun maupun Tio Tian-seng merasa
terkejut bercampur keheranan, sebenarnya mereka mengira
Biau-kosiu hanya bicara secara ngawur tanpa bukti nyata,
siapa pun tak menyangka tendangannya ternyata berhasil
membebaskan Bong Thian-gak dari ancaman kelumpuhan.

1018
Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian berkata,
"Tidak kusangka ilmu pertabiban nona begitu hebat, sungguh
membuat orang kagum, tapi tolong tanya apakah di dalam
tubuh kami benar-benar sudah terkena serangan gelap Hekmo-
ong? Harap nona sudi memberi petunjuk."
Biau-kosiu tertawa ringan, "Tentu saja kalian terkena
serangan gelap Hek-mo-ong, cuma saja sebelum batas waktu
yang ditetapkan dalam kartu kematian tiba, kalian tidak bakal
menemui ajal."
Bong Thian-gak bertanya, "Tolong tanya nona Biau,
dimanakah Liong Oh-im sekarang?"
"Malam nanti Liong Oh-im bakal muncul di sekitar jembatan
Lok-yang-kian. Kalian boleh menyergapnya di situ. Ingat!
Dalam tubuh kalian masih mengidap racun jahat dan hanya
aku seorang yang mampu mengobatinya, harap kalian jangan
menggunakan nyawa sendiri sebagai taruhan. Nah, aku pergi
dulu!"
"Tunggu sebentar!" buru-buru Thay-kun berseru melihat
Biau-kosiu akan pergi.
"Kau masih ada urusan apa lagi?"
"Liong Oh-im bukan jago silat biasa, seandainya kami tidak
berhasil membunuhnya?"
"Bila tak mampu melukainya, kalianlah yang akan terluka,
tentu saja dia bukan seorang lemah."
"Masih ada satu hal lagi, benarkah kau memiliki
kemampuan memunahkan racun yang mengeram dalam tubuh
mereka?"
Biau-kosiu tertawa dingin, segera dia berkata, "Mau
percaya atau tidak terserah kepada kalian, nah aku pergi
dulu."

1019
Dengan cepat ia beranjak keluar dari ruangan itu dan pergi
meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal nona itu, Tio Tian-seng berkata, "Ombak
belakang sungai Tiang-kang mendorong ombak di depannya,
orang baru akan menggantikan orang lama. Ai, aku memang
sudah tua."
Teringat kembali kegagahannya semasa masih menjagoi
dunia persilatan di masa lampau, Mo-kiam-sin-kun Tio Tianseng
menghela napas sedih dengan wajah masgul.
Thay-kun tersenyum dan berkata, "Tio-pangcu, mengapa
kau menghela napas? Dalam dunia persilatan dewasa ini cuma
beberapa gelintir manusia saja yang mampu menandingi
permainan pedang iblismu?"
Sekali lagi Tio Tian-seng menghela napas sedih, "Aku
menjadi malu sendiri setelah menyaksikan kalian angkatan
muda ternyata rata-rata memiliki kepandaian silat yang amat
lihai."
"Ai, andaikata To Siau-hou dan Han Siau-liong tidak terluka,
aku pun tidak akan merasa diriku sebatangkara."
"Tio-pangcu, aku dan Thay-kun berdiri di pihakmu,
selanjutnya bila kau membutuhkan bantuan kami, kami pasti
akan membantumu sekuat tenaga," timbrung Bong Thian-gak.
Tio Tian-seng tertawa tergelak, "Setelah mendengar
perkataan Bong-laute ini, semangatku kembali berkobar."
Bong Thian-gak bertanya, "Tio-pangcu, Boanpwe merasa
bingung terhadap situasi kalut yang melanda dunia persilatan
dewasa ini, aku benar-benar tak mengerti tujuan Hek-mo-ong
merencanakan segala siasat liciknya menteror dunia
persilatan?"
Mendapat pertanyaan ini, Tio Tian-seng menghela napas
panjang,

1020
"Bong-laute, agaknya Liu Khi telah membocorkan sedikit
hal yang sebenarnya kepadamu. Ai, hingga sekarang belum
ada seorang pun yang mengetahui siapa gerangan Hek-moong."
"Menurut Liu Khi, Tio-pangcu pun kemungkinan besar
adalah Hek-mo-ong. Bagaimana pendapat Tio-pangcu
sendiri?"
Tio Tian-seng manggut-manggut sambil menghela napas
panjang, "Benar, kemungkinan besar aku pun terhitung Hekmo-
ong, cuma Hek-mo-ong gadungan."
Sampai di sini dia berhenti sejenak, kemudian sambungnya,
"Mengenai sepuluh jago yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong,
hal ini bersumber pada peristiwa yang telah terjadi tiga puluh
tahun berselang."
Mendadak paras mukanya berubah hebat, kemudian
bentaknya dengan suara dingin, "Siapa berada di luar?
Mengapa mesti sembunyi-sembunyi dan mencurigakan?"
Belum habis dia berkata, seseorang sudah menyelinap dari
luar pintu, Liu Khi telah masuk ke dalam ruangan sambil
tertawa tergelak.
"Sejak kapan Tio-pangcu datang ke Lok-yang?" sapanya.
Kemunculan Liu Khi membuat hati Bong Thian-gak
tergerak, pikirnya, "Mungkinkah di antara mereka akan terjadi
bentrok?"
Sementara itu Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng telah
menjawab dengan serius, "Setelah aku menerima surat
pemberitahuan lewat pos merpati yang menerangkan To Siauhou
dan Han Siau-liong terluka serta jiwanya terancam
bahaya, aku segera datang ke Lok-yang, maksudku hendak
mencari tabib sakti Gi Jian-cau untuk mengobati luka Liong-ji
dan Hou-ji."

1021
"Apakah Pangcu telah berhasil menemukan Gi Jian-cau?"
tanya l.in Khi.
"Belum berhasil kutemukan."
"Aku telah menemukan Gi Jian-cau."
Ucapannya ini segera menggetarkan hati setiap orang.
Bong Thian-gak yang pertama-tama berseru terlebih
dahulu, "Dimanakah tabib sakti Gi Jiau-cau sekarang?"
Pelan-pelan Liu Khi berjalan ke sisi Bong Thian-gak dan
duduk di situ, kemudian baru sahutnya, "Dia berada di Lokyang."
"Di Lok-yang bagian mana?" sela Thay-kun.
Liu Khi memandang sekejap ke arahnya, lalu tersenyum,
katanya, "Rupanya kau telah memperoleh kembali
kesadaranmu."
Semua orang ingin secepatnya mengetahui tempat
persembunyian Gi Jian-cau, siapa tahu Liu Khi justru jual
mahal dengan mengalihkan pembicaraan ke soal lain, tentu
saja hal itu membuat semua orang gemas.
Setelah tersenyum manis, jawab Thay-kun, "Terima kasih
banyak atas perhatian Liu-cianpwe. Di samping itu, mohon
kepada Liu-cianpwe agar selekasnya memberitahukan kepada
kami tempat persembunyian Gi Jian-cau."
Liu Khi tersenyum.
"Apabila aku memberitahukan tempat persembunyian tabib
sakti Gi Jian-cau kepada kalian, maka hari ini kalian tak akan
bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."
Sambil berkata, sepasang matanya mengawasi Tio Tianseng
tanpa berkedip.
Bong Thian-gak yang menyaksikan hal ini diam-diam
berpikir kembali, "Mungkinkah Liu Khi akan melancarkan

1022
serangan di saat musuh tak menyerang? Seandainya dia
melancarkan serangan, dapatkah Tio Tian-seng melepaskan
diri dari bacokan itu?"
Sementara itu Thay-kun dengan wajah berubah hebat
berpaling dan memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng.
Tampak wajah Tio Tian-seng amat serius, jawabnya
dengan suara berat, "Liu Khi, konon kau adalah seorang
pembunuh bayaran?"
"Bukankah soal ini telah lama Pangcu ketahui?" sahut Liu
Khi sambil tersenyum.
"Tapi tahukah kau, mengapa selama ini aku berlagak pilon
seolah-olah tidak tahu," kembali Tio Tian-seng berkata.
Liu Khi tertawa dingin.
"Pangcu pernah tiga kali ingin menghadapiku dengan
kekerasan, namun setiap kali niatmu itu kau urungkan."
"Kau pun sudah tiga kali bermaksud membunuhku," kata
Tio Tian-seng pula dengan hambar.
"Yang seorang adalah anak buah yang tidak bisa dipercaya,
sedangkan yang seorang lagi adalah atasan yang tidak setia.
Tampaknya kita berdua memang setali tiga uang, sama-sama
bobroknya."
Bong Thian-gak menghela napas sedih, katanya, "Liutayhiap
dan Tio-pangcu, apakah bersedia mendengar nasehat
Boanpwe? Dunia persilatan saat ini sedang dicekam teror
kaum iblis, apabila kalian berdua saling percaya dan bekerja
sama dengan baik, aku pikir nama Kay-pang tentu akan lebih
termasyhur."
Liu Khi melirik sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian
katanya, "Ada satu persoalan aku pun ingin memberitahukan
kepadamu, jangan sekali-kali mau diperalat orang lain."

1023
"Diperalat siapa?" tanya Bong Thian-gak dengan wajah
tidak habis mengerti.
"Oleh Hek-mo-ong."
"Hek-mo-ong hendak memperalat kami? Apa tujuannya?"
"Memperalat kau dan Thay-kun untuk membunuh Liong
Oh-im."
Bong Thian-gak menjerit kaget, "Maksudmu Biau-kosiu
adalah Hek-mo-ong?"
Liu Khi menggeleng kepala.
"Bukan, dia bukan Hek-mo-ong, dia kuku garuda Hek-moong
yang diandalkan."
"Benarkah perkataanmu itu?" tanya Bong Thian-gak agak
tertegun.
"Aku tidak berbohong."
Thay-kun yang selama ini membungkam, segera menyela
sambil tertawa ramah, "Tampaknya apa yang telah kami
bicarakan dengan Biau-kosiu barusan telah kau dengar semua.
Kalau memang begitu, mungkin kau pun sudah tahu bahwa
kami telah menyanggupi untuk membunuh orang dan hal ini
terpaksa kami terima karena keadaan terpaksa."
Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh kembali Liu
Khi berkata, "Apabila kalian bersedia mempercayai diriku,
malam ini jangan kalian datangi jembatan Lok-yang-kian."
"Apakah Liu-tayhiap sudah tahu Suhengku telah menerima
kartu undangan kematian Hek-mo-ong?" kata Thay-kun sambil
tersenyum.
"Dia sudah terkena racun jahat dan kemungkinan besar
racun itu akan bekerja setiap saat."

1024
Liu Khi tersenyum sambil berpikir sejenak, lalu berkata,
"Bilamana duaanku tidak salah, saat ini Bong Thian-gak masih
belum terkena serangan beracun Hek-mo-ong."
"Tapi dia pun ada kemungkinan keracunan, bukan?" tanya
Thay-kun sambil tersenyum.
Tiba-tiba Liu Khi menghela napas panjang, "Benar, dia pun
ada kemungkinan terkena racun."
"Apabila Liu-tayhiap dapat mengundang Gi Jian-cau
melakukan pemeriksaan baginya, maka kita akan segera dapat
membuktikan apakah dalam tubuhnya sudah keracunan atau
belum."
Mendengar perkataan itu, Liu Khi berkata, "Ai, sayang
sekali si tabib sakti Gi Jian-cau telah meninggal dunia."
"Dia sudah mati?" tanya Bong Thian-gak dengan terkejut.
Dalam pikiran Bong Thian-gak, di Kangouw orang yang
paling, besar kemungkinannya sebagai Hek-mo-ong adalah Gi
Jian-cau.
Tapi Gi Jian-cau telah mati, mau tak mau hal itu
membuatnya setengah percaya.
Setelah menghela napas, kembali Liu Khi berkata, "Dia mati
dalam keadaan amat mengerikan. Bilamana kalian tidak
percaya, aku bersedia mengajak kalian melihat jenazahnya."
"Andaikata dia bukan Hek-mo-ong, mengapa dia meninggal
surat yang menyuruhku membunuhnya?" terdengar Bong
Thian-gak bergumam. "Benar-benar aneh, sungguh membuat
orang bimbang di tidak mengerti."
Yang dimaksud Bong Thian-gak tentu saja Keng-tim
Suthay.
"Sewaktu berada di dalam gua Mi-hun-kiu-thian-tong di
baw kuil Sam-cing-koan, dia melihat tulisan di kaki Keng-tim

1025
Suthay yang telah menjadi mayat, ’Tabib sakti Gi Jian-cau
harus dibunuh'. Ini pesan yang ditinggalkan olehnya."
Oleh karena hal ini Bong Thian-gak selalu mencurigai tabib
itu kemungkinan besar dia adalah Hek-mo-ong yang misterius
itu.
Thay-kun ikut menghela napas, katanya, "Berita kematian
Gi Jian cau benar-benar membuat orang tidak percaya. Ai,
semasa hidupnya, dia orang tua paling baik terhadapku,
setelah dia mati sekarang, aku harus pergi menyambangi
jenazahnya."
Thay-kun minta kepada Liu Khi agar mengajak mereka
menjeng jenazah Gi Jian-cau.
Liu Khi manggut-manggut menyetujui.
"Kalau memang begitu, harap kalian mengikuti diriku."
Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru, "Bong-laute, aku rasa lebih
baik kalian jangan pergi ke sana."
"Kenapa?" tanya pemuda itu keheranan.
Dengan suara dalam dan berat, Tio Tian-seng berkata,
"Orang yang sudah mati tak akan bisa hidup kembali,
kepergian kalian ke sana tak ada gunanya."
Thay-kun kembali menghela napas.
"Tabib sakti Gi Jian-cau tercantum namanya sebagai salah
satu di milara sepuluh jago lihai persilatan, ilmu silat yang
dimilikinya sangat lihai. Boanpwe benar-benar tidak percaya
dia orang tua telah tertimpa musibah."
"Oh Ciong-hu juga memiliki kepandaian silat tangguh, tapi
kenyataan dia juga mati terbunuh," kata Tio Tian-seng dengan
suara sangat hambar.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Bong Thian-gak,
segera tanyanya, "Tio-pangcu, tampaknya lamat-lamat kau
telah mengetahui siapakah pembunuh guruku dulu?"

1026
"Kemungkinan besar orang itu adalah Hek-mo-ong."
Tiba-tiba Liu Khi menyela sambil tertawa dingin,
"Sebenarnya kalian berdua bersedia ikut aku atau tidak? Kalau
tidak, aku akan segera mohon diri."
"Silakan Liu-tayhiap menjadi petunjuk jalan!" jawab Thaykun
dengan segera.
Sembari berkata, dia lantas mengikuti Liu Khi beranjak
keluar dari ruangan itu.
Terpaksa Bong Thian-gak menjura kepada Tio Tian-seng
seraya berkata, "Tio-pangcu, Boanpwe akan pergi sejenak."
Selesai berkata, dia pun membalikkan badan dan beranjak
pergi pula dari situ.
Kini tinggal Tio Tian-seng seorang yang duduk dalam
ruangan, dingin wajah tanpa emosi ia bergumam, "Mungkin
kalian tak akan kembali lagi."
Sementara itu Liu Khi telah mengajak Bong Thian-gak dan
Thay-Itiin meninggalkan rumah penginapan Ban-heng dan
berangkat menuju keluar kota,
Saat itu fajar baru saja menyingsing, orang yang berlalulalang
di jalanan pun masih sedikit, mereka berlarian menuju
ke kota bagian barat.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Liu Khi menghentikan
langkah, lalu tanyanya, "Sudah berapa lama kalian berdua
bergaul dengan Tio Tian-seng?"
"Apa maksud Liu-tayhiap menanyakan hal ini?" tanya Bong
Thian-gak berkerut kening.
Liu Khi melirik sekejap ke arahnya, tanyanya lagi,
"Bagaimanakah pendapat kalian tentang watak serta tabiat Tio
Tian-seng?" .

1027
Bong Thian-gak dapat menangkap di balik kata-kata Liu Khi
ada maksud mengadu domba, maka sahutnya dengan
hambar, "Tio-pangcu bukanlah orang yang susah didekati
seperti apa yang diduga orang."
"Tentunya Liu-tayhiap lebih memahami watak serta tabiat
Tio-pangcu daripada orang lain, bukan?" Thay-kun menyela
sambil tertawa merdu.
Liu Khi menghela napas panjang.
"Sudah sepuluh tahun lamanya aku menyelundup dalam
Kay-pang, tapi hingga kini aku masih belum dapat meraba
secara jelas watak serta tabiat Tio Tian-seng sesungguhnya."
Bong Thian-gak tertegun, tanyanya lebih jauh, "Apakah
maksud Liu-tayhiap menyelundup ke Kay-pang untuk
menyelidiki watak serta tabiat Tio Tian-seng?"
"Benar," Liu Khi menghela napas panjang. "Sebenarnya aku
ingin menyelidiki peristiwa berdarah itu."
"Peristiwa berdarah yang mana? Apakah Liu-tayhiap
bersedia menjelaskan?" tanya Thay-kun sambil tersenyum.
Liu Khi berjalan menuju keluar kota yang sepi, sambil
berjalan ujarnya, "Peristiwa berdarah ini terjadi tiga puluh
tahun berselang!"
Sampai di situ tiba-tiba dia menghela napas panjang,
kemudian mengalihkan pembicaraan ke soal lain.
"Peristiwa berdarah ini menyangkut situasi dunia persilatan
serta nama baik jago kenamaan. Sebelum duduknya persoalan
menjadi jelas dan terang, aku tidak berani bicara dulu secara
sembarangan."
Bong Thian-gak merasa kecewa atas jawaban itu, katanya,
"Entah sampai kapan teki-teki itu baru bisa terjawab?"
"Hek-mo-ong telah menampakkan diri di kota Lok-yang,
berarti duduknya persoalan akan segera tertungkap."

1028
"Lagi-lagi Hek-mo-ong. Ai, sebenarnya manusia macam
apakah dia?"
"Liu-tayhiap, entah jenazah Gi Jian-cau berada dimana?"
Thay-kun menyela.
"Dalam Ban-jian-bong, tiga li di luar kota sebelah barat."
"Ban-jian-bong (kuburan selaksa orang)? Bukankah tempat
itu merupakan tempat penitipan jenazah orang dari luar kota?"
"Setelah Gi Jian-cau tewas, jenazahnya telah dimasukkan
ke dalam peti mati dan dikirim ke Ban-jian-bong untuk
sementara waktu."
Mendadak Thay-kun bertanya, "Apakah Liu Khi kenal wajah
asli si tabib sakti?"
Liu Khi menghela napas panjang.
"Aku justru mengajak nona mendatangi Ban-jian-bong,
karena aku berharap kau bisa mengenali wajah korban,
apakah benar tabib sakti atau bukan, sebab aku tahu di
kolong langit ini hanya kau serta Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau
dan Keng-tim Suthay yang mengenali wajah asli Gi Jian-cau."
"Ah, kalau begitu kedatangan Liu-tayhiap ke rumah
penginapan Ban-heng adalah untuk mencari diriku?" Thay-kun
berseru pelan.
"Masih ada satu alasan lagi, yaitu mengajak kalian
meninggalkan Tio Tian-seng sejauh-jauhnya."
"Mengapa?" tanya Bong Thian-gak heran.
"Sebab Tio Tian-seng dicurigai sebagai Hek-mo-ong."
Mendengar itu, Bong Thian-gak tersenyum.
"Bukankah Liu-tayhiap sendiri dicurigai sebagai Hek-moong?"

1029
"Benar, kemarin malam aku sudah bilang di antara sepuluh
jago lihai persilatan, hampir semuanya dicurigai sebagai Hekmo-
ong, kini aku sengaja mengajak kalian untuk mengenali
jenazah Gi Jian-cau karena aku ingin kepastian apakah salah
seorang yang dicurigai telah hilang. Bila demikian, lambat-laun
kita akan mendekati pembunuh yang sebenarnya, siapakah
Hek-mo-ong yang sebenarnya."
"Dari sepuluh orang jago lihai persilatan, entah sudah
berapa orang yang dapat Liu-tayhiap buktikan bukan Hek-moong?"
tiba-tiba Thay-kun bertanya.
"Sudah ada lima orang."
"Siapa saja kelima orang itu?"
"Ku-lo Sinceng, Oh Ciong-hu, Kui-kok Sianseng serta Songciu
suami-istri."
"Bila termasuk kau dan Gi Jian-cau, bukankah berarti sudah
ada tujuh orang?"
Liu Khi manggut-manggut.
"Benar, yang tersisa tinggal tiga orang saja yaitu Tio Tianseng,
Tan Sam-cing serta Liong Oh-im."
Thay-kun memandang sekejap hutan bambu di depan situ,
lalu katanya, "Kita sudah sampai di Ban-jian-bong."
Bong Thian-gak memandang sekeliling tempat itu. Tampak
sebuah hutan bambu, di balik hutan bambu nan hijau secara
lamat-lamat kelihatan pekarangan.
Liu Khi mendatangi lebih dulu pekarangan pertama, lalu
berhenti. Tanyanya kemudian sambil berpaling, "Apakah kalian
pernah datang kemari?"
"Ban-jian-bong merupakan tempat termasyhur, aku sudah
tiga kali berkunjung kemari."

1030
Saat itu tampaknya Bong Thian-gak terkesima oleh
pemandangan yang terbentang di hadapannya. Dengan mata
mendelong, dia mengawasi peti-peti mati yang berjajar di
bawah pohon bambu itu tanpa mengucapkan sepatah kata
pun.
Ternyata tempat penitipan peti mati adalah di bawah pohon
bambu di halaman yang luas itu.
Sejauh mata memandang, sekeliling halaman pertama
penuh ditumbuhi pepohonan bambu yang hijau. Peti-peti mati
bercat merah terletak di bawah pohon bambu yang rindang
itu, jumlahnya mencapai ratusan buah sehingga
mendatangkan suasana seram dan menggidikkan.
Ban-jian-bong terdiri dari tujuh belas halaman, apakah
semua dipergunakan untuk menyimpan peti mati? Lantas
berapa mayat yang tersimpan di situ?
Liu Khi memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak,
kemudian katanya, "Bong-siauhiap belum pernah mendatangi
Ban-jian-bong, kuharap kau jangan sembarangan bergerak
daripada akhirnya tersesat dan tak tahu jalan pulang."
Liu Khi mengajak kedua orang itu berjalan menuju ke
dalam halaman pertama.
Ternyata dari tujuh belas halaman Ban-jian-bong itu, setiap
halaman dijaga dan diurus oleh delapan belas pendeta.
Setelah memasuki halaman pertama, Liu Khi
mengemukakan maksud kedatangannya kepada Hwesio
penerima tamu, selanjutnya mereka diajak menuju ke
halaman kesembilan.
Hwesio yang mengepalai halaman itu adalah Hwesio
berjubah kuning yang gemuk, berusia empat puluh tahun dan
membawa sebuah tasbih di lehernya.

1031
Tampaknya Hwesio itu sangat mengenal Liu Khi, ketika
melihat kedatangan jago ini, dia segera memberi hormat
seraya menyapa, "Liu-sicu, sepagi ini kau telah datang?"
Liu Khi manggut-manggut membalas hormat, jawabnya,
"Aku membawa sobat dari sang jenazah yang hendak
menyambangi. Harap Taysu sudi mempersiapkan hio, lilin dan
uang pengorbanan bagi kami."
"Silakan Sicu bertiga duduk dulu, Pinceng akan menyuruh
orang menyiapkannya."
Ruang tengah itu merupakan ruang terima tamu. Liu Khi,
Bong Thian-gak serta Thay-kun terpaksa duduk menanti.
Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, Hwesio gemuk
berjubah kuning itu sudah muncul kembali sambil membawa
dua orang Hwesio muda berjubah kuning yang membawa
keranjang kecil, katanya, "Maaf bila menanti lama, Pinceng
mengutus kedua muridku ini untuk melayani kalian."
Bong Thian-gak mengerti isi keranjang yang dibawa kedua
Hwesio itu tentu uang pengorbanan, hio, lilin dan alat
sembahyang lainnya.
Dari dalam sakunya Liu Khi mengeluarkan sedikit uang
perak yang diserahkan kepada Hwesio gemuk itu sambil
ujarnya, "Harap Siau-suhu berdua sudi membuka jalan."
"Terima kasih banyak atas derma Liu-sicu," Hwesio gemuk
itu menerima uang tadi sambil mengucapkan terima kasih.
Dalam pada itu kedua orang Hwesio muda tadi telah
mengajak Liu Khi bertiga keluar dari ruang tamu dan
memasuki hutan bambu yang penuh dengan deretan peti mati
itu.
Pagi hari sudah lewat, matahari bersinar cerah di angkasa,
namun suasana di balik hutan bambu dalam Ban-jian-bong ini
tampak remang-remang, seperti suasana senja, sepanjang
tahun seakan-akan tak pernah tersorot matahari.

1032
Bong Thian-gak mengikut di belakang kedua Hwesio itu
dengan ketat, setelah melewati jalanan kecil yang
membentang di balik hutan bambu itu, akhirnya kedua Hwesio
itu berhenti di depan sebuah gundukan tanah.
Dengan ketajaman mata Bong Thian-gak, sekilas pandang
saja dia telah melihat di depan gundukan tanah itu terdapat
sebuah batu nisan yang berukirkan beberapa tulisan: "Tempat
bersemayam Gi Jian-cau".
Tanpa terasa Thay-kun bertanya, "Siapa yang telah
mengukir tulisan di atas batu nisan itu?"
Setelah menghela napas, sahut Liu Khi, "Orang yang
menitipkan jenazah itu berpesan kepada petugas di sini agar
mengukir huruf itu di atas batu nisannya."
Sementara mereka sedang berbicara, kedua Hwesio muda
itu sudah bekerja sama menggeser batu nisan itu ke samping,
ternyata di balik gundukan tanah itu merupakan sebuah gua,
sebuah peti mati berwarna merah tampak membujur di dalam
gua itu.
Thay-kun berseru tertahan, "Suhu berdua, harap letakkan
saja hio dan alat sembahyang itu ke atas tanah. Di sini sudah
tak ada urusan kalian, satu jam kemudian kalian boleh
mengajak kami berlalu dari sini."
Kedua Hwesio itu segera melaksanakan seperti yang
diminta Thay-kun, setelah meletakkan keranjang kecil itu,
mereka pun segera mengundurkan diri.
Pada saat itulah Thay-kun mengeluarkan alat sembahyang,
katanya, "Liu-tayhiap, dimana kau bisa tahu jenazah Gi Jiancau
disimpan di tempat ini?"
Liu Khi menghela napas panjang, "Ai, aku berhasil
mendapatkan keterangan ini dari mulut seorang anak buah
Hek-mo-ong yang kusiksa."
"Mana orang itu sekarang?" kembali Thay-kun bertanya.

1033
"Sudah mati karena keracunan hebat."
"Kalau begitu Liu-tayhiap pernah datang kemari satu kali?"
Sekali lagi Liu Khi mengangguk.
"Benar, kemarin aku sudah datang kemari dan memeriksa
pula keadaan jenazah dalam peti mati itu."
"Bagaimanakah bentuk jenazah itu?"
"Rambutnya awut-awutan, tujuh lubang indranya berdarah
dan dia mati dengan wajah menyeramkan, di atas dada
jenazahnya tertera cap tengkorak."
"Apakah Liu-tayhiap dapat menduga sudah berapa lamakah
matinya?"
Pertanyaan itu disambut Liu Khi dengan suara helaan napas
panjang.
"Ai, seluruh tubuhnya penuh darah, kulit badannya tidak
utuh, nampaknya seperti mati belum lama."
Tapi sampai di situ, dia menggeleng kepala sembari
berkata, "Sungguh aneh, bila darah mengalir keluar dari tubuh
seseorang, maka seperempat jam kemudian warna darah akan
berubah menjadi tua, tapi miran darah itu nampak merah
segar, seakan-akan baru saja mengucur keluar."
Thay-kun berkerut kening, lalu tanyanya, "Ketika kau buka
peti itu npnkah terendus sesuatu bau yang harum?"
"Benar," Liu Khi mengangguk, "memang terendus bau
harum semerbak. Darimana kau bisa tahu?"
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas panjang, kemudian
katanya, "Jadi dalam peti telah diletakkan obat anti busuk, bau
harum yang terendus olehmu ketika membuka penutup peti
mati tak lain adalah bau obat anti busuk itu."
"Bagaimana kalau kubuka sekali lagi peti mati itu?"
"Coba bukalah sekali lagi!"

1034
I .iu Khi segera menarik tali peti mati dan menyeret peti itu
hingga keluar dari gua, kemudian pelan-pelan dibukanya
penutup peti mati.
Tampak sesosok mayat yang menyeringai seram dan dari
ketujuh liihiing indranya mengucurkan darah membujur di
dalam peti mati.
Begitu penutup peti mati dibuka, terendus bau harum
semerbak yang sangat aneh.
Dengan memberanikan diri Thay-kun mendekati peti mati
itu dan mengamati jenazah itu dengan seksama sampai lama,
lama sekali tidak nampak bergerak ataupun bicara.
Liu Khi yang menyaksikan keadaan gadis itu, segera
bertanya, "Apakah jenazah itu adalah Gi jian-cau?"
Thay-kun menghela napas panjang, "Ai, paras mukanya
telah berubah sama sekali, sulit bagiku untuk mengenalinya."
Mendadak pada saat itulah berkumandang suara
gemerutukan yang aneh sekali.
Dengan sorot matanya tajam Bong Thian-gak berpaling ke
arah berasalnya suara aneh itu. Di bawah pohon bambu
tampak sebuah penutup peti mati sedang bergerak secara
keras.
Suara aneh itu tak lain adalah suara bergeseknya penutup
peti mati.
Peristiwa ini kontan membuat beberapa orang itu menarik
napas, untung di arena terdapat tiga orang, lagi pula
semuanya jago lihai yang sudah berpengalaman luas dalam
menghadapi pertarungan. Coba kalau tidak, niscaya nyali
mereka akan pecah dan melarikan diri terbirit-birit.
Setelah bergetar empat kali, ternyata penutup peti itu tak
bergetar lagi, bahkan suasana di sekeliling tempat itu dicekam
keheningan.

1035
Mendadak Liu Khi tertawa dingin, kemudian bentaknya,
"Siapa yang bersembunyi di dalam peti mati? Bila tidak segera
keluar, aku akan menyuruh kau mampus dalam peti mati itu!"
Paras muka Thay-kun saat itupun berubah menjadi amat
serius, pelan-pelan ujarnya, "Liu-tayhiap, rasanya kita sudah
terkepung oleh musuh."
"Apa maksudmu?"
"Rasanya suasana di sekeliling tempat ini agak aneh."
"Aku pun mempunyai perasaan yang aneh," kata Bong
Thian-ga pula dengan kening berkerut.
Liu Khi segera tersenyum, kemudian katanya, "Peduli setan
ata dedemit, bila Liu Khi, Jian-ciat-suseng dan Si-hun-mo-Ii
telah bekerja sama, situasi macam apa pun masih sanggup
kita hadapi."
Memang dewasa ini belum ada seorang pun yang mampu
menghadapi serangan gabungan mereka bertiga.
Pada saat itulah dari balik hutan bambu di kejauhan sana
tiba-tiba berkumandang lagi suara gesekan yang amat ramai,
suara langkah kaki menginjak daun.
Suara itu seakan datang dari empat penjuru yang kian
mendekat.
Sekarang Liu Khi, Bong Thian-gak dan Thay-kun baru
mengerti dengan pasti bahwa musuh benar-benar telah
mengurung tempat itu.
Anehnya biarpun suara langkah kaki menginjak daun
bergema tiada hentinya, namun tidak nampak seorang musuh
pun yang muncul.
Liu Khi tiba-tiba tergelak, hardiknya, "Siapakah kalian?
Cepat tunjukkan diri, kalian tak usah mempertunjukkan
permainan semacam itu lagi, kami semua tak akan percaya
segala permainan sesat."

1036
Ketika ucapan itu selesai diucapkan, suara gemerisik
langkah manusia yang menginjak daun pun segera berhenti.
Tapi sebagai gantinya, suara gemerutuk papan penutup
peti yang semula terhenti itu kini mulai bergesek lagi.
Bersamaan dengan menggemanya suara aneh dari peti
mati, mendadak Bong Thian-gak menyaksikan ada begitu
banyak peti mati yang berlompatan kian kemari serta
menimbulkan suara benturan yang keras.
Bong Thian-gak bertiga terkesiap dengan perasaan seram,
bulu kuduk mereka berdiri.
Untung peristiwa semacam ini terjadi di siang hari, coba di
tengah malam, situasinya pasti akan lebih menakutkan dan
menggidikkan.
Paras muka Liu Khi sama sekali tak berubah, sorot matanya
yang tajam mengawasi tutup peti mati yang berlompatan itu
satu per satu, kemudian katanya, "Semuanya berjumlah tiga
belas peti yang berisi sukma gentayangan."
Liu Khi menerjang ke sisi peti mati yang bergetar dan
paling dekat dengan dirinya.
Gerak tubuhnya cepat luar biasa, namun gerakan goloknya
ternyata jauh lebih cepat lagi.
Tampak cahaya golok berkelebat, golok kilatnya yang
semula iiuiniIi tergantung di pinggang tahu-tahu sudah
menusuk ke dalam peti mati yang sedang melompat-lompat
itu.
Tentu saja peti mati itu tidak melompat-lompat lagi, namun
tidak terdengar pula sedikit suara pun, baik dengusan tertahan
maupun jeritan ngeri.
Liu Khi bergerak cepat, goloknya menyambar kian kemari
bagai cahaya petir.

1037
Secara beruntun golok mautnya telah melancarkan tujuh
tusukan beruntun ke arah tujuh peti mati.
Mendadak terdengar suara tertawa aneh yang keras
bagaikan lolong serigala bergema dari balik peti mati,
menyusul peti-peti mati itu bergerak cepat berputar di
angkasa.
Kemudian tampak enam sosok orang aneh bertubuh kaku
seperti mayat hidup bersama-sama muncul dari balik peti mati
tadi.
Liu Khi segera tertawa tergelak penuh rasa bangga,
katanya, "Mengapa kalian tidak bersembunyi terus di dalam
peti mati itu?"
Sementara berbicara, Liu Khi telah menyarungkan kembali
golok saktinya itu ke dalam sarungnya, kemudian orangnya
juga mundur ke samping Bong Thian-gak serta Thay-kun.
Sementara itu Thay-kun yang menyaksikan permainan
golok Liu Khi yang begitu dahsyat diam-diam merasa terkejut
juga, tanpa terasa pujnya, "Liu-tayhiap, permainan golokmu
memang benar-benar sangat dahsyat dan tiada taranya di
dunia ini. Golokmu ibarat permainan maut yang membuat
setan-setan ketakutan."
Liu Khi tersenyum, sambil berpaling ke arah Bong Thiangak
dia berkata, "Bong-laute, keenam orang ini kuserahkan
kepadamu untuk mencoba kemampuan ilmu pedangmu."
Bong Thian-gak mengernyitkan alis, lalu sahutnya, "Apabila
mereka bukan datang mencari gara-gara pada kita, buat apa
mesti kita lakukan pembunuhan yang sama sekali tak berarti?"
"Cukup dilihat dari dandanan mereka yang tiga bagian tidak
mirip manusia, sudah jelas mereka itu bukan orang baik-baik,
apalagi yang mesti kau sayangkan? Tak usah berbelas kasihan
lagi."

1038
Sementara pembicaraan belum selesai, tubuh Liu Khi telah
melayang kembali ke tengah udara.
Keenam sosok orang aneh bagaikan mayat itu mendadak
berteriak bersama, mereka mengayunkan lengannya
menyambar peti-peti mati kosong dan secara ganas dan buas
diayunkan ke tubuh Lui-khi dengan kekuatan luar biasa.
Bong Thian-gak serta Thay-kun yang menyaksikan kejadian
itu menjadi terkejut sekali, mereka sama sekali tidak mengira
keenam orang aneh sepert mayat hidup itu mempunyai
kekuatan yang begitu dahsyat sehingga peti mati kosong itu
dipergunakan sebagai senjata.
Sementara itu enam buah peti mati kosong yang beratnya
ratusan kati sudah diayunkan bersama-sama ke tubuh Liu Khi.
Dengan cara apakah Liu Khi akan menghadapi ancaman
seperti ini?
Liu Khi yang menyaksikan kejadian itu segera
memelototkan mata bulat-bulat, kemudian diiringi pekikan
nyaring, dia keluarkan seluruh kepandaian ilmu golok saktinya
yang maha hebat itu.
Tampak golok panjangnya yang semula tersoreng di
pinggang meluncur keluar dengan kecepatan luar biasa,
kemudian menciptakan selapis kabut cahaya golok di tengah
udara. Ketika keenam peti mati yang maha dahsyat itu
menyambar datang seperti gunung Thay-san yang menindih
kepala, tahu-tahu saja peti mati yang mengerikan itu seperti
berubah menjadi enam buah kayu rongsok yang sudah lapuk,
seketika hancur berantakan menjadi kepingan kecil yang
berserakan dimana-mana.
Bersamaan itu juga cahaya golok berkelebat seperti cahaya
kilat. Cahaya putih dan bayangan darah segera berhamburan
menjadi satu.

1039
Keenam sosok orang aneh menyeramkan kini sudah
berguguran ke atas tanah dengan bermandikan darah, mereka
telah menjadi setan di ujung golok Liu Khi.
Setelah Liu Khi mengeluarkan ilmu sakti simpanannya
untuk membunuh keenam orang aneh tadi dan di saat dia
hendak membesut darah dari ujung goloknya untuk
disarungkan kembali, tiba-tiba dari kejauhan sana
berkumandang seruan seseorang yang bernada aneh.
"Liu Khi, hingga sekarang aku baru dapat menyaksikan
jurus seranganmu yang maha sakti itu, benar-benar ilmu golok
cahaya darah yang mengerikan. Liu Khi, setelah kau
pertunjukkan ilmu simpananmu itu, berarti saat kematianmu
sudah tidak jauh lagi."
Berubah hebat paras muka Liu Khi mendengar ucapan itu,
dengan suara dalam dia segera membentak, "Apakah kau
adalah Hek-mo-ong?"
Bagi Bong Thian-gak serta Thay-kun, mereka sudah
mengenal suara orang aneh dan tidak terlihat wajahnya itu.
Suara itu kalau bukan suara Hek-mo-ong, lantas suara
siapa lagi?
Tampak Liu Khi mengunjuk sikap tegang, bagaikan sedang
menghadapi musuh tangguh saja, goloknya digenggam dalam
lengan tunggalnya dan diangkat ke udara, sementara sorot
matanya yang tajam mengawasi empat penjuru dengan sinar
mata berkilat.
Bong Thian-gak maupun Thay-kun sama-sama menggeser
tubuh pula untuk mengambil posisi yang lebih menguntungkan
dalam menghadapi serangan lawan. Untuk beberapa saat
suasana di arena j menjadi tegang dan sangat mengerikan.
Setelah hening sekian lama, akhirnya suara aneh tadi
kembali terdengar, "Betul, aku adalah Hek-mo-ong. Sudah
sejak dulu aku ingin turun tangan terhadap Liu Khi, tapi aku

1040
tak dapat mengetahui jurus-jurus golokmu yang lihai itu, maka
selama ini pula aku belum melancarkan serangan mautku
terhadap dirimu. Tapi hari ini di bawah pancingan keenam
anak buahku yang membacok dan melemparkan peti mati
kosongnya kepadamu, kau telah mempergunakan jurus
terakhi ilmu golok kilatmu. Liu Khi, sekarang kau sudah
kehabisan bahan simpanan lagi."
Liu Khi tertawa dingin, ujarnya dengan sinis, "Hek-mo-ong,
kalau kau yakin dapat menghindari serangan golok mautku
itu, mengapa tidak segera bertarung melawanku?"
Gelak tertawa Hek-mo-ong yang amat keras dan nyaring itu
segera terhenti, kemudian dia berkata ketus, "Di sisimu masih
ada Jia ciat-suseng serta Thay-kun. Bila aku muncul untuk
berduel denganmu aku percaya masih belum mampu
membunuh kalian bertiga. Itulah sebabnya aku belum ingin
turun tangan sementara waktu ini."
Tiba-tiba Bong Thian-gak menghardik dengan suara keras,
"Hek mo-ong, apakah kau yang telah membunuh si tabib sakti
Gi Jian-cau?"
"Di atas dadanya sudah tertera lambang tengkorak, apakah
orang lain memiliki senjata dan ilmu silat seperti itu?"
"Benarkah sang korban itu adalah Gi Jian-cau?" tanya Bong
Thian-gak tertawa dingin.
Pertanyaan yang diucapkan mendadak dan di luar dugaan
ini kontan membuat Hek-mo-ong tertegun. Setelah termenung
beberapa saat, dia baru menyahut, "Tentu saja si tabib sakti
asli."
"Aku tidak percaya orang itu adalah si tabib sakti yang asli,
mana mungkin orang itu bisa kau bunuh dengan cara begitu
gampang."

1041
"Dia sudah mampus dan tergeletak di dalam peti mati
selama beberapa hari. Walau tidak percaya, kau harus
mempercayainya juga."
Tiba-tiba Thay-kun tertawa nyaring, kemudian berkata,
"Hek-mo-ong aku sudah berhasil menemukan tempat
persembunyianmu."
Baru saja Thay-kun menyelesaikan kata-katanya, Liu Khi
yang berada di sisinya sudah berteriak nyaring, kemudian
tubuhnya melejit ke lengah udara dan langsung meluncur ke
arah hutan bambu yang terletak tak jauh dari tempat itu.
Thay-kun terkejut, segera teriaknya, "Suheng, kau dan aku
harus segera membantu Liu-tayhiap."
Sambil berteriak, dia menerjang ke muka lebih dahulu,
Bong Thian-gak segera melolos pedang dan menyusul pula
dari belakang.
Terdengar suara yang amat gaduh, sambaran golok
panjang Liu Khi telah membabat dan merobohkan sejumlah
pohon bambu yang tumbuh di sekitar sana.
Padahal bambu hijau yang tumbuh di situ rata-rata
berukuran besar, namun sekali tebas, ternyata dia sanggup
memotong tujuh-delapan batang, betapa tajam dan luar
biasanya serangan golok itu.
Ternyata bacokan maut Liu Khi sama sekali tidak meleset.
Dari balik robohnya pepohonan bambu yang berserakan
kemana-mana, terlihat pancaran darah segar menyembur.
Dengan gerakan tubuh yang sangat ringan Liu Khi
melayang luriin di atas pohon bambu yang baru saja
ditebasnya itu, menyusul Bong Thian-gak dan Thay-kun turut
melayang turun pula.
Mata mereka ditujukan ke arah sesosok mayat tanpa kepala
yang terjepit di antara delapan batang bambu.

1042
Sementara dalam hati timbul suatu pertanyaan yang sama,
"Benarkah Hek-mo-ong telah mampus?"
Sebab mereka tidak percaya Hek-mo-ong bakal terbunuh
dengan cara begitu gampang.
Semburan darah segar yang memancar dari tubuh mayat
tanpa kepala itu sudah berhenti.
Mendadak Liu Khi menperdengarkan suara tawa yang keras
dan penuh perasaan bangga, "Mampus, akhirnya Hek-mo-ong
mampus."
Siapa tahu belum habis dia berseru, suara aneh dan
menyeramkan tadi kembali bergema, "Liu Khi, aku belum
mati. Orang yang kau bunuh itu tidak lebih hanya seorang
pembantuku saja, tak dapat disangkal permainan golokmu
memang hebat sekali, tapi kali ini kau lagi-lagi telah
membocorkan beberapa jurus ilmu golokmu yang hebat,
sekarang kau semakin kehabisan simpanan."
Beberapa patah kata itu segera membuat paras muka Liu
Khi berubah hebat, dengan penuh amarah dia segera
membentak, "Hek-mo-ong, ayo keluar dan kita bertarung lima
ratus gebrakan, kalau kau tak berani berarti kau dilahirkan
oleh pelacur busuk."
"Liu Khi, dengarkan baik-baik," Hek-mo-ong dengan suara
menyeramkan segera berseru.
"Untuk membunuh seseorang, aku tidak usah turun tangan
sendiri. Bukankah kau pun sering menggunakan siasat
meminjam golok membunuh orang untuk melaksanakan
niatmu?"
"Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng, cepat atau lambat pasti
akan kucari dirimu untuk membuat perhitungan."
Suara tertawanya yang latah, penuh kebanggaan dan
mengerikan itu makin menjauh sebelum akhirnya lenyap di
kejauhan sana.

1043
Hek-mo-ong muncul tanpa bayangan, pergi pun tanpa
jejak, tahu-tahu suaranya sudah lenyap.
Mendadak terdengar Thay-kun menjerit kaget, "Lihat,
mayat bersama peti-peti mati itu lenyap."
Bong Thian-gak, Thay-kun dan Liu Khi serentak melompat
naik ke atas gundukan tanah.
Tampak gua-gua di situ sudah kosong, peti mati berikut
jenazah si tabib sakti pun sudah hilang.
Sambil menghela napas, Thay-kun berkata, "Dengan
lenyapnya jenazah itu, semakin tiada orang percaya bahwa si
korban adalah si tabib sakti."
"Peti mati berikut jenazahnya termasuk benda yang berat
sekali, aku yakin mereka pergi belum jauh. Ayo kita kejar
sambil melakukan penggeledahan di sekitar tempat ini," seru
Bong Thian-gak.
Liu Khi yang mendengar ucapan itu segera menghela
napas, k.itanya, "Daerah ini merupakan tumbuhan bambu
hijau, peti mati berserakan dimana-mana. Andaikata mereka
memindahkan jenazah itu ke dalam peti yang lain, Kemanakah
kita harus menemukan kembali?"
"Benar," sahut Thay-kun pula. "Ban-jian-bong merupakan
tempat penyimpanan peti mati, bagaimana mungkin kita dapat
menemukan kembali jenazah itu?"
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, pihak musuh mampu memindahkan peti mati berikut
jenazahnya dalam waktu singkat tanpa menimbulkan suara
sedikit pun, kemampuan mereka sungguh membuat orang
merasa kagum."
Tiba-tiba Thay-kun berseru, "Dari lenyapnya jenazah si
tabib sakti, tampaknya Gi Jian-cau yang sesungguhnya belum
tewas."

1044
"Tapi di atas dadanya jelas tertera lambang tengkorak, hal
ini membuktikan bahwa korban benar-benar mati di tangan
Hek-mo-ong," seru Liu Khi.
Thay-kun segera tersenyum.
"Kalau memang Hek-mo-ong membunuh si tabib sakti,
maka dia tak nanti akan mengukir nama Gi Jian-cau secara
jelas di atas batu nisannya."
"Oh, jadi maksud nona, jenazah itu bukan korban
pembunuhan Hek-mo-ong?" tanya Liu Khi kemudian.
"Sudah pasti bukan, apabila jenazah itu korban
pembunuhan Hek-mo-ong, maka hari ini Hek-mo-ong tidak
akan bersusah-payah datang kemari dan melarikan jenazah
berikut peti matinya."
"Lantas menurut pendapat nona, siapakah korban itu?"
"Sesosok jenazah tidak dikenal."
"Lantas dia mati di tangan siapa?" tanya Liu Khi lebih jauh.
"Tentu saja pembunuh yang telah mencelakai orang itu
adalah si tabib sakti sendiri."
Tatkala Bong Thian-gak selesai mendengar pembicaraan
kedua orang itu, dia segera menjadi paham, ujarnya
kemudian, "Betul, sudah pasti pembunuhnya adalah si tabib
sakti, dia sengaja menciptakan jenazah palsu itu untuk menipu
orang, dengan tujuan agar semua umat persilatan mengira dia
telah mati."
"Ai, masuk akal," Liu Khi menghela napas. "Dewasa ini
orang yang sedang mencari Gi Jian-cau memang bukan Hekmo-
ong seorang."
"Aku rasa, besar kemungkinan si tabib sakti adalah Hekmo-
ong," tiba-tiba Bong Thian-gak berseru.

1045
"Aku rasa Gi Jian-cau pasti bukan Hek-mo-ong," ucap Thaykun.
"Ya, betul," seru Liu Khi pula. "Kemungkinan si tabib sakti
adalah Hek-mo-ong memang kecil sekali."
Sesudah menghela napas sedih, Thay-kun berkata lebih
jauh, "Berdasarkan dugaanku, bisa jadi Gi Jian-cau sedang
mengasingkan diri di tengah kuburan Ban-jian-bong ini."
"Darimana Sumoay bisa tahu Gi Jian-cau berdiam di tempat
ini?"
Sesudah menghela napas lagi, Thay-kun baru berkata,
"Ban-jian-bong yang dikelilingi hutan bambu ini penuh dengan
peti-peti mati, kuburan serta liang-liang gua. Andaikata aku
sedang menghindarkan diri dari pengejaran seorang musuh
tangguh, maka aku pun pasti akan memilih kuburan Ban-jianbong
ini sebagai tempat persembunyianku."
"Jalan pikiran nona benar-benar amat cermat dan teliti,"
puji Liu Khi tanpa terasa. "Sudah sejak tadi aku menduga Gi
Jian-cau ada kemungkinan bersembunyi di dalam tanah
pekuburan ini. Itulah sebabnya secara rahasia aku sudah
empat kali datang ke sini."
Mendadak Thay-kun melirik sekejap ke arah Liu Khi,
kemudian tanyanya lagi, "Liu-tayhiap, bersediakah kau
memberi penjelasan kepada kami, apa sebabnya kau mencari
si tabib sakti itu?"
Liu Khi termenung dan berpikir sebentar, kemudian
sahutnya, "Aku pernah menerima permohonan seorang untuk
membunuh Hek-mo-ong. Selama tiga puluh tahunan ini, aku
tak pernah berhasil menyingkap siapa gerangan orang yang
bernama Hek-mo-ong, tugas itu pun secara otomatis belum
berhasil, aku mendapat kabar bahwa Gi Jian-cau paling tidak
mengetahui rahasia Hek-mo-ong. Itulah sebabnya aku
mengambil keputusan untuk mencari si tabib sakti dan
memaksanya mengungkap teka-teki asal-usul Hek-mo-ong."

1046
"Liu-tayhiap, apakah langganan yang memberi pesanan
kepadamu adalah Ho Lan-hiang?" tanya Bong Thian-gak
dengan kening berkerut.
Liu Khi segera tersenyum, "Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau
memang pernah juga meminta kepadaku untuk membunuh
Hek-mo-ong, namun dia bukanlah si pemesan pada tiga puluh
tahun berselang."
"Bersediakah Liu-tayhiap memberitahu siapakah orang
yang telah memberi order kepadamu itu?" tanya Thay-kun
pula.
"Sekalipun kuungkap nama orang ini, rasanya belum tentu
kalian mengenalnya."
"Sebutkan saja namanya!"
Sesudah menghela napas panjang, Liu Khi baru berkata,
"Dia adalah Thio Kim-ciok."
"Ah! Hartawan kaya Thio Kim-ciok” Thay-kun berseru
kaget. "Kau maksudkan orang itu adalah saudagar paling kaya
di kolong langit Thio Kim-ciok?"
Dengan terkejut Liu Khi manggut-manggut.
"Nona, usiamu masih begitu muda, darimana kau bisa tahu
Thio Kim-ciok?"
"Dalam kalangan masyarakat kota saat ini, masih sering
orang membicarakan si manusia kaya-raya dari Kanglam Thio
Kim-ciok. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya?"
"Ya betul, semasa aku masih kecil dulu pun seringkah
kudengar orang membicarakan Thio Kim-ciok," sambung Bong
Thian-gak pula.
Liu Khi berkata, "Selain Thio Kim ciok adalah seorang
saudagar yang kaya-raya, apakah kalian masih mengetahui
soal lain tentang dirinya?"

1047
"Aku dengar dia berjiwa ksatria, setia kawan dan suka
menolong sesama."
Liu Khi menghela napas panjang, "Ai, biarlah secara ringkas
kuceritakan sedikit riwayat Thio Kim-ciok."
"Tiga puluh tahun berselang kekayaan Thio Kim-ciok
berlimpah, dia suka bergaul dan berhubungan dengan orang
macam apa pun.
"Sedemikian kaya, berjiwa sosial dan gemar bersahabat
hingga hampir setiap orang yang berada di dunia persilatan
mengenal atau paling tidak mendengar nama besarnya. Baik
golongan putih atau hitam, lurus atau sesat, hampir tak
seorang pun yang tiada hubungan dengannya, bahkan dengan
golongan pembesar pun dia mempunyai hubungan bagaikan
saudara sendiri.
"Pada waktu itu Thio Kim-ciok hampir menjadi penguasa
tujuh propinsi di wilayah Kanglam. Setiap katanya dapat
mengakibatkan keonaran ataupun perubahan situasi, tapi
dengan sepatah katanya pula dia dapat menenangkan gejolak
betapa pun besarnya, ia berwibawa dan berkuasa sehingga
hampir semua orang tunduk kepada perkataannya."
Bong Thian-gak manggut-manggut, katanya, "Ya, tentang
hal itu aku pun pernah mendengarnya."
Liu Khi berhenti sejenak, kemudian terusnya, "Napsu
manusia memang kadangkala tak pernah puas. Dari
kekuasaan dan pengaruh Thio Kim-ciok waktu itu, seharusnya
dia sudah merasa puas dan tidak mempunyai permohonan lain
lagi.
"Tetapi siapa tahu Thio Kim-ciok justru memiliki ambisi lain
daripada yang lain, pada usianya yang ketiga puluh delapan
ternyata dia ingin belajar ilmu silat serta mencari ilmu awet
muda."

1048
"Bila dia ingin belajar silat untuk menjaga kondisi badan
tetap sehat dan muda, jalan pikiran ini adalah benar dan
tepat. Mengapa kau katakan salah?" tanya Bong Thian-gak
dengan kening berkerut.
"Justru gara-gara ingin belajar ilmu silat inilah berakibat
bencana yang mengenaskan bagi Thio Kim-ciok sendiri."
"Apa maksudmu?"
Kembali Liu Khi menghela napas panjang, "Di saat Thio
Kim-ciok mengumpulkan jago-jago silat yang ada di kolong
langit untuk mengajar ilmu silat kepadanya, dia telah
berjumpa Ho Lan-hiang dan menjadi suami istri."
"Ah, sama sekali tak kusangka Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau
adalah istri Thio Kim-ciok," seru Bong Thian-gak.
Liu Khi memandang sekejap ke arah Thay-kun dan Bong
Thian-gak, kemudian melanjutkan, "Bukan saja Ho Lan-hiang
telah menjadi istri Thio Kim-ciok, bahkan dia pun telah
menjadi guru silatnya.
"Tapi yang membuat orang merasa kaget dan keheranan
adalah Thio Kim-ciok sebagai seorang yang telah berusia tiga
puluh delapan tahun dan mulai belajar ilmu silat ternyata
mampu memperoleh kemajuan yang amat pesat. Dengan
kecerdasannya yang luar biasa serta bakatnya yang bagus,
tidak sampai tiga bulan saja separoh bagian ilmu silat Ho Lanhiang
telah berhasil dipelajarinya semua.
"Agaknya Thio Kim-ciok pun sadar, dengan ilmu silat yang
dimiliki Ho Lan-hiang seorang, tak mungkin bisa memuaskan
napsunya untuk belajar ilmu silat, maka dia pun secara luas
mulai mengundang jago-jago silat lainnya.
"Dengan nama besar Thio Kim-ciok, sudah barang tentu
tidak sulit untuk memperoleh guru-guru silat pandai dan
termasyhur.

1049
"Tidak sampai setengah tahun kemudian dia telah berhasil
mengundang seratusan jago lihai persilatan yang terdiri dari
golongan putih maupun hitam, lurus maupun sesat, untuk
menjadi guru silatnya.
"Waktu itu dari seratusan jago lihai, terdapat sepuluh orang
jago lihai paling termasyhur. Mereka adalah Ku-lo Sinceng, Oh
Ciong-hu, Song-ciu suami-istri, Kui-kok Sianseng, Liong Oh-im,
Gi Jian-cau, Tio Tian-seng, Tan Sam-cing serta aku."
Semakin mendengar, Bong Thian-gak dan Thay-kun
semakin kaget dan heran, mimpi pun mereka tidak
menyangka Thio Kim-ciok memiliki kemampuan begitu hebat
hingga mampu mengundang jago-jago lihai dari berbagai
perguruan dan partai untuk memberi didikan Ilmu silat
kepadanya.
Setelah menghela napas, Bong Thian-gak bertanya, "Thio
Kim-ciok sanggup mengundang sepuluh jago persilatan untuk
menjadi gurunya, ditambah Thio Kim-ciok memiliki bakat dan
kecerdasan yang hebat, kalau begitu kehebatan ilmu silat
yang dimiliki Thio Kim-ciok sudah pasti sangat luar biasa dan
mengejutkan."
"Benar," sahut Liu Khi sambil menghela napas panjang,
"Hanya dalam tiga tahun yang teramat singkat, Thio Kim-ciok
berhasil mengubah dirinya dari seorang sastrawan lemah
menjadi seorang jago silat berilmu sangat tinggi. Ai, justru
karena kepesatan ilmu silat yang berhasil diraih olehnya inilah
maka bencana besar telah diundang pula kehadirannya."
"Bencana besar apakah itu?" tanya Bong Thian-gak.
"Bencana pembunuhan atas dirinya sendiri."
"Siapa yang telah membunuhnya?" tanya Bong Thian-gak
semakin terkejut lagi.
"Hek-mo-ong."

1050
"Dapatkah Liu-tayhiap memberi penjelasan yang lebih
seksama peristiwa terbunuhnya Thio Kim-ciok?" Liu Khi
manggut-manggut.
"Baik akan kukatakan, di saat kalian selesai mendengar
kisahku nanti, siapa tahu kalian dapat membantuku menduga
siapa gerangan Hek-mo-ong."
Setelah menelan air liur, Liu Khi berkata lebih jauh, "Suatu
senja pada tiga puluh tiga tahun berselang, aku mendapat
undangan Thio Kim-ciok dan buru-buru dari Soat-say
berangkat ke Gak-yang di Ou-lam untuk memenuhi
undangannya yang diselenggarakan di Sui-tiong-lau keluarga
Thio."
"Kebun keluarga Thio adalah kebun indah yang berada di
dalam gedung keluarga Thio yang khusus dibangun di atas
telaga dengan jembatan batu sebagai penghubungnya, selain
bangunannya megah dan kokoh, dibangun dengan bahan
bangunan yang paling baik dan indah, mungkin hanya
saudagar kaya-raya macam Thio Kim-ciok yang mampu
membangun kebun dengan pagoda air sedemikian indahnya."
"Di tengah kebun terdapat pagoda air yang semuanya
bertingkat tujuh, biasanya Thio Kim-ciok menempatkan
seratus delapan orang jago lihai yang khusus diundangnya
untuk mengawal tempat itu, kecuali para pengawalnya serta
Thio Kim-ciok suami-istri, dayang dan pelayan
kepercayaannya, orang lain dilarang memasuki tempat itu
secara sembarangan sebelum mendapat izin darinya."
"Apakah Liu-tayhiap dapat masuk keluar secara bebas
dalam pagoda air itu?" tanya Thay-kun.
Liu Khi segera tersenyum.
"Sepuluh Suhu Thio Kim-ciok tentu saja dapat memasuki
pagoda itu secara leluasa."

1051
"Ketika senja itu Liu-tayhiap sampai di pagoda air, apakah
di tempat itu sudah terjadi sesuatu peristiwa?"
"Benar," Liu Khi mengangguk. "Thio Kim-ciok bersama
seratus delapan orang pengawal, dayang dan pelayannya
yang semuanya berjumlah seratus delapan puluh tujuh orang
laki-perempuan telah mati dibantai. Di atas dada mereka
dijumpai lambang tengkorak, sedang di sisi mayat Thio Kimdok
tertera empat huruf besar berwarna merah darah
bertuliskan, 'Dibunuh Hek-mo-ong'."
"Benar-benar perbuatan yang sangat keji, buas dan tak
berperikemanusiaan," bisik Thay-kun sambil menghela napas.
"Bagaimana dengan Ho Lan-hiang?" tiba-tiba Bong Thiangak
bertanya. "Sewaktu terjadi peristiwa itu, apakah dia sudah
tidak berada di dalam pagoda lagi?"
"Sewaktu aku sampai di pagoda air itu, bukan saja Ho Lanhiang
berada di pagoda air itu, malah kesepuluh Suhu Thio
Kim-ciok pun ada di situ."
"Mereka tiba di pagoda air setelah terjadinya peristiwa
berdarah ataukah sebelumnya?"
Liu Khi menghela napas panjang.
"Ai, tentu saja semua mengatakan tiba di tempat itu
setelah terjadinya peristiwa berdarah itu."
"Siapakah yang hadir paling dulu di situ?" tanya Bong
Thian-gak dengan kening berkerut.
"Yang datang paling dulu lima orang, mereka adalah Ku-lo
Hwesio, Oh Ciong-hu dan Song-ciu suami-istri."
"Masih kurang seorang lagi, siapakah dia?" sela Bong
Thian-gak dengan cepat.
"Orang itu adalah Ho Lan-hiang, rupanya Ho Lan-hiang
bersama Ku-lo Hwesio berdua telah berangkat ke kuil Siau-limsi
sejak setengah bulan berselang untuk menghadiri upacara

1052
pengunduran diri Tay-goan Hwesio dari Siau-lim-pay. Ketika
upacara itu telah usai, mereka baru bersama-sama kembali ke
pagoda air dalam gedung keluarga Thio. Oleh karena itu Ho
Lian-hiang lolos dari kecurigaan membunuh suami sendiri."
"Bagaimana dengan Kui-kok Sianseng, Giok-gan-suseng,
tabib sakti dan Tio Tian-seng berempat. Bagaimana ceritanya
sampai muncul pula di pagoda air itu?"
"Keempat orang itu secara beruntun datang ke pagoda air
menyusul tibanya Ku-lo Hwesio berlima dan Kui-kok Sianseng
sekalian berempat juga baru pulang dari Siau-lim-si di Ho-Iam,
jadi mereka bersembilan dapat saling membuktikan mereka
bukan pembunuhnya."
"Bagaimana dengan Tan Sam-cing?" tanya Thay-kun.
"Tan Sam-cing baru muncul di kebun keluarga Thio
keesokan harinya setelah kehadiranku di pagoda air itu."
"Wah, kalau begitu, Liu-tayhiap dan Pat-kiam-hui-hiang
berdua menjadi orang yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong,
pembunuh Thio Kim-ciok?"
"Betul, waktu itu aku dan Tan Sam-cing telah memperoleh
pemeriksaan yang seksama dari semua orang."
"Ada satu hal ingin kutanyakan kepada Liu-tayhiap,
bukankah Liu-tayhiap pernah bilang bahwa Thio Kim-ciok
pernah mengundangmu untuk membunuh Hek-mo-ong?
Bagaimana pula ceritanya?"
Liu Khi menghela napas panjang.
"Ai, sebelum Thio Kim-ciok meninggal dibunuh, dia seperti
sudah tahu ada firasat jelek atas nasibnya, tiga bulan
menjelang terjadinya pembantaian itu, secara pribadi Thio
Kim-ciok telah mengundangku untuk mengerjakan suatu
tugas, yaitu melakukan penyelidikan atas Ku-lo Hwesio, Oh
Ciong-hu, Kui-kok Sianseng, beserta istrinya Ho Lan-hiang,
untuk mengetahui siapakah di antara mereka adalah Hek-moTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
1053
ong, kemudian secara rahasia pula berencana membinasakan
dirinya."
"Oh, maka itu hingga sekarang Liu-tayhiap selalu
menganggap Hek-mo-ong adalah salah seorang di antara Ho
Lan-hiang, Ku-lo Hwesio, Oh ciong-hu dan sekalian sepuluh
orang lainnya?" kata Thay-kun kemudian.
Dengan suara berat dan dalam Liu Khi berkata, "Thio Kimciok
adalah seorang berjiwa besar, berhati mulia dan suka
menolong orang. Sepanjang hidupnya dia hanya tahu melepas
budi dan tak pernah mempunyai ikatan dendam atau sakit hati
dengan orang, sekalipun gembong iblis yang membunuh
orang tanpa berkedip atau iblis yang berhati keji pun merasa
berhutang budi kepada Thio Kim-ciok, apalagi kesepuluh Suhu
Thio Kim-ciok adalah jago-jago silat paling hebat di dunia ini,
siapa pula yang berani mengusik, apalagi mencelakainya?"
"Lantas mengapa Hek-mo-ong hendak membunuhnya?"
tanya Bong Thian-gak kemudian.
"Terbunuhnya Thio Kim-ciok sangat berkaitan dengan
kemajuan Ilmu silatnya yang pesat, orang kuatir dia akan
menjadi jago silat yang llmu tandingannya di kolong langit di
masa mendatang sehingga mengacaukan ketenteraman umat
persilatan dan menciptakan badai pembunuhan dimanamana."
"Ya, memang sangat beralasan," gumam Thay-kun lirih.
"Bila arung kaya-raya dan memiliki ilmu silat yang dahsyat,
ditambah pula memiliki hubungan yang sangat akrab dengan
berbagai ragam manusia, Jika tindak-tanduknya tak beres dan
menyeleweng dari jalur kebenaran, maka akhirnya orang itu
akan menjadi seorang pemimpin yang lalim. Yang kecil paling
berakibat kekalutan di suatu wilayah, tapi kalau sampai besar
dapat mengakibatkan pertumpahan darah dimana-mana dan
menciptakan neraka bagi umat persilatan."

1054
"Sebab itulah dalam kasus terbunuhnya Thio Kim-ciok,
kesepuluh gurunya tak bisa lolos dari kecurigaan sebagai
pembunuhnya."
Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu berkata,
"Ku-lo Hwesio dan Oh Ciong-hu adalah orang berjiwa luhur,
apakah mereka nun dapat melakukan perbuatan kejam dan
tidak berperi-kemanusiaan itu?"
Liu Khi tertawa rawan.
"Aku menaruh curiga kepada mereka, hal ini karena
kesimpulan yang berhasil kuhimpun setelah melalui
penyelidikan dan penelitian yang amat seksama terhadap
berbagai persoalan dan kejadian, bukan aku menuduh mereka
secara sewenang-wenang."
"Atas dasar persoalan dan kejadian apakah itu? Dapatkah
Liu-tayhiap memberi penjelasan kepadaku?" ucap Thay-kun.
Dengan suara dalam Liu Khi berkata, "Ho Lan-hiang adalah
perempuan jalang yang gemar merayu dan memikat kaum
pria untuk memenuhi napsu birahinya. Aku rasa tentang
wataknya yang buruk ini tentunya kalian sudah pernah
mendengar bukan?"
"Maksud Liu-tayhiap, antara dia dengan kesepuluh guru
Thio kim ciok pun pernah terjalin hubungan gelap?"
"Sesungguhnya peristiwa ini merupakan kejadian yang
paling buruk dan memalukan bagi umat persilatan," kata Liu
Khi emosi, "karena itu sebelum duduknya persoalan berhasil
kuselidiki sampai tuntas, aku tak ingin bicara secara
sembarangan."
"Selain persoalan ini, apakah masih ada hal-hal lain yang
patut dicurigai?"
"Masih ada satu hal lagi, setelah terjadinya peristiwa
pembunuhan atas Thio Kim-ciok, bagi penegak keadilan dan
kebenaran di dunia persilatan, sudah sepantasnya mereka

1055
melakukan penyelidikan terhadap pelaku pembunuhan itu
serta berusaha melenyapkannya dari muka bumi, tapi
kenyataan justru manusia seperti Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu
dan lain-lainnya berusaha keras merahasiakan peristiwa
berdarah itu."
"Waktu itu semua orang setuju melakukan penyelidikan
atas pelaku pembunuhan itu secara rahasia dan menyetujui
pula untuk tidak menyiarkan berita kematian Thio Kim-ciok,
sebaliknya mereka justru mengarang cerita bohong yang
mengatakan Thio kim-ciok sedang pergi ke suatu tempat
terpencil untuk memperdalam ilmu panjang umur."
Ketika Thay-kun dan Bong Thian-gak selesai mendengar
rahasia persilatan ini, timbul perasaan bingung dan tidak habis
mengerti dalam hatinya. Mungkinkah kematian Thio Kim-ciok
disebabkan perbuatan yang direncanakan Ku-lo Hwesio
sekalian?
Mendadak Thay-kun bertanya, "Bagaimana dengan jenazah
Thio Kim-ciok? Apakah sudah dikuburkan?"
"Keseratus delapan puluh tujuh mayat itu telah
ditenggelamkan ke dasar telaga oleh Ho Lan-hiang serta
sepuluh jago persilatan."
Thay-kun termenung lagi beberapa saat, kemudian baru
katanya, "Berdasarkan penuturan Liu-tayhiap ini, rupanya kau
menaruh curiga bahwa Ku-lo Hwesio sekalian telah
membunuh Thio Kim-ciok dengan mencatut nama Hek-moong,
tetapi ada satu hal yang membuatku merasa tidak
mengerti, kenapa pula Hek-mo-ong hendak mencelakai jiwa
Ku-lo Hwesio sekalian?"
"Aku rasa nama Hek-mo-ong yang dipergunakan dahulu
hanya nama kosong saja tanpa ada orang yang sebenarnya,
tapi Hek-mo-ong yang muncul dalam dunia persilatan saat ini
justru terdapat orangnya."

1056
Liu Khi melirik sekejap ke arah nona itu, baru ujarnya,
"Tentang persoalan ini pun aku telah berhasil mendapatkan
satu kesimpulan yang tepat. Aku rasa kemungkinan besar
orang yang mengaku sebagai Hek mo-ong sekarang berniat
membunuh semua orang yang mengetahui peristiwa berdarah
yang menimpa Thio Kim-ciok itu."
Tiba-tiba Thay-kun tersenyum.
"Hek-mo-ong yang berada dalam pikiran Tio Tian-seng dan
Ho Lian-hiang sekalian sudah pasti adalah Liu-tayhiap."
"Apa maksudmu?" tanya Liu Khi dengan wajah berubah.
"Tujuan Hek-mo-ong membunuh Ku-lo Hwesio dan Oh
Ciong-hu sekalian adalah hendak membalas dendam bagi
kematian Thio Kim-ciok, padahal sewaktu Thio Kim-ciok
terbunuh, hanya Liu-tayhiap dan Tan Sam-cing berdua yang
tidak pergi ke kuil Siau-lim-si di Ho-lam, oleh sebab itu
menurut anggapan Tio Tian-seng sekalian, Hek-mo-ong yang
muncul saat ini merupakan penyaruan satu di antara kalian
berdua."
"Benar," kata Liu Khi dengan suara dalam. "Selang tiga
puluh tahun terakhir ini, setiap waktu aku selalu berusaha
membalas dendam bagi kematian Thio Kim-ciok."
"Sebetulnya Liu-tayhiap adalah Hek-mo-ong atau bukan?"
desak Thay-kun lebih lanjut dengan suara merdu.
Liu Khi tertawa rawan. "Dan menurut anggapan kalian,
benarkah aku adalah Hek-mo-ong?" ia balik bertanya.
Thay-kun tersenyum.
"Tampaknya antara Liu-tayhiap dan Thio Kim-ciok
mempunyai hubungan persahabatan yang istimewa,
kematiannya yang tragis tentu membuatmu sakit hati dan
rasanya hanya kau yang berusaha membalas dendam bagi
kematiannya."

1057
Liu Khi tertawa getir, "Dugaan kalian keliru besar, aku
bukan Hek-mo-ong."
Tiba-tiba Bong Thian-gak menyela dari samping,
"Seandainya Liu-tayhiap bukan Hek-mo-ong, orang itu sudah
pasti adalah Pat-kiam-hui-Hiang."
Liu Khi menggeleng kepala.
"Hek-mo-ong yang merajalela saat ini bukan Tan Samcing."
"Lantas siapakah dia?"
"Tio Tian-seng atau mungkin juga Gi Jian-cau."
Mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara berat
dan serius, "Liu Khi, kau anggap aku adalah Hek-mo-ong yang
merajalela saat ini?"
Di tengah pembicaraan itu, dari balik hutan bambu sana
pelanpelan berjalan keluar seorang kakek berjenggot panjang,
sebilah pedang antik tersoreng di punggungnya dan ia
berjalan mendekat.
Bong Thian-gak segera berpaling, ujarnya, "Tio-pangcu,
sejak kapan kau tiba di sini?"
Ternyata orang yang baru saja muncul adalah Mo-kiam-sinkun
Tio Tian-seng.
Liu Khi tertawa, katanya, "Tio Tian-seng, akhirnya kau
muncul juga dengan membawa pedang iblismu itu."
Tio Tian-seng baru menghentikan langkah setelah tiba di
hadapan lawan, pelan-pelan ia berkata, "Bila pedang iblis
terlolos dari sarungnya, ia pasti akan menghirup darah
manusia. Sudah tiga puluh tahun aku tidak pernah melolos
pedangku ini, tapi hari ini demi membalas dendam kematian
kedua orang muridku, mau tak mau terpaksa aku mesti
membawa pedang andalanku ini."

1058
Ketika Bong Thian-gak dan Thay-kun mendengar perkataan
Tio Tian-seng itu, tiba-tiba saja mereka teringat beberapa
patah kata yang diucapkan Hek-mo-ong sebelum pergi
setengah jam berselang.
Akhirnya Tio Tian-seng muncul juga.
Benar seperti apa yang dikatakan Hek-mo-ong tadi, dia
datang mencari Liu Khi untuk membuat perhitungan. Tapi
perhitungan apakah itu?
Liu Khi tertawa dingin, kemudian berkata, "Kemunculanmu
yang tiba-tiba ini membuat aku semakin percaya bahwa
kaulah Hek-mo-ong."
"Liu Khi, bersiap-siaplah menyambut seranganku," hardik
Tio Tian-seng sambil menarik muka.
Mendadak Bong Thian-gak maju ke depan dan berdiri di
antara kedua orang itu, kemudian serunya lantang, "Tiopangcu,
harap jangan mengumbar amarah dulu
Belum selesai dia berkata, dengan suara dingin Tio Tianseng
telah menukas, "Bong-laute, nona Thay-kun, kuminta
kalian mengundurkan diri dari dunia persilatan dan jangan
mencampuri urusan budi dan dendam Thio Kim-ciok ini."
"Kematian Thio Kim-ciok telah menimbulkan kekalutan dan
keonaran dalam Kangouw. Sudah banyak jago persilatan yang
tewas ataupun cedera karena persoalan ini, tahukah kalian
bahwa perselisihan yang terjadi di antara kalian berdua saat
inipun hanya merupakan sebagian dari siasat busuk orang,"
kata Bong Thian-gak dengan suara lantang.
"Kau maksudkan terjerat dalam siasat busuk siapa?" tanya
Tio Tian-seng.
"Ho Lan-hiang! Kau tahu, dia ingin menyaksikan sepuluh
tokoh persilatan saling gontok dan bunuh, dengan dia sebagai
nelayan beruntung yang tinggal mengumpulkan hasilnya?"

1059
Tio Tian-seng tertawa dingin, "Kau tahu apa? Liu Khi adalah
Hek-mo-ong, dia bersama Ho Lan-hiang berkomplot hendak
mencelakai sepuluh tokoh persilatan dan kini di antara
kesepuluh tokoh persilatan itu, Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu,
Kui-kok Sianseng telah tewas, Song-cui suami-istri pun sudah
lama lenyap, kemungkinan besar mereka pun sudah tertimpa
musibah, saat ini sasaran yang berikut adalah diriku. Aku tahu
rencana ini sudah dipersiapkan Liu Khi dan Ho Lan-hiang lama
sekali, berhubung tiada keyakinan untuk berhasil, maka
selama ini pula dia tak berani turun tangan terhadapku dan
itulah sebabnya Liu Khi turun tangan lebih dulu untuk
menghilangkan kedua orang pembantu utamaku, To Siau-hou
dan Han Siau-liong."
Bong Thian-gak terkejut, dia segera berpaling ke arah Liu
Khi sambil bertanya, "Benarkah kau telah membunuh To Siauhou
dan Han Siau-liong?"
Liu Khi tertawa dingin.
"Tio Tian-seng adalah Hek-mo-ong. Untuk membasmi
kekuatan dan daya pengaruhnya, aku terpaksa harus
membunuh kedua orang itu beserta kedua puluh empat jago
pengikutnya."
Bong Thian-gak segera menghela napas panjang, katanya
kembali, "Liu-tayhiap, kau keliru besar. Tio-pangcu sudah pasti
bukan Hek-mo-ong."
Liu Khi tertawa dingin.
"Sudah lama aku menyusup ke dalam Kay-pang. Aku pun
sudah banyak mengetahui segala perbuatan dan tingkah-laku
Tio Tian-seng, sekalipun dia benar-benar bukan Hek-mo-ong,
namun dia turut serta dalam komplotan pembunuhan atas diri
Thio Kim-ciok. Bagaimana pun juga aku harus membalas sakit
hati ini."

1060
"Apa yang dikatakan Tio Tian-seng tadi memang benar,
lebih baik kau bersama Thay-kun tidak usah ikut terseret ke
dalam persoalan ini."
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas sedih, ucapnya,
"Suheng, mari kita segera mengundurkan diri, kedua orang itu
secara diam-diam telah menghimpun tenaga dalam dan
hampir mencapai puncaknya. Bila mereka melepas serangan,
kita pasti akan terkena gelombang serangan itu."
Dalam pada itu Bong Thian-gak sendiri sadar bahwa
permusuhan mereka sudah kelewat mendalam sehingga
masalahnya tak mungkin bisa diselesaikan tanpa
dilangsungkannya pertarungan mati hidup. Karena itu setelah
menghembuskan napas ia pun segera mengundurkan diri dan
menonton jalannya pertarungan dari sisi arena.
Kini Tio Tian-seng dan Liu Khi telah berdiri berhadapan,
masing-masing pihak telah menghimpun tenaga dalam,
bersiap melepaskan serangan mematikan.
Dan kini hawa murni yang dihimpun kedua belah pihak
makin mencapai puncaknya.
Mendadak Tio Tian-seng menggerakkan tangan kanan dan
pelan-pelan menggenggam gagang pedang yang tersoreng di
pinggangnya.
Biasanya Liu Khi selalu mencabut golok dengan kecepatan
luar biasa, tapi reaksinya kali ini justru berlawanan, gerakan
tangannya dilakukan sangat lambat, lebih lambat daripada
gerakan Tio Tian-seng.
Pedang iblis Tio Tian-seng memancarkan cahaya kehijauhijauan.
Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap saja.
Gerakan yang semula sangat lamban, kini telah berubah
menjadi cepat sekali.

1061
Pedang sakti di tangan Tio Tian-seng bagaikan seekor naga
sakti keluar dari air dan menusuk ke dada lawan.
Sebaliknya golok sakti Liu Khi dari bawah menusuk ke atas
sambil melepaskan bacokan.
Tubuh mereka baru saja meninggalkan tanah, kedua belah
pihak sudah saling bentrok.
Terdengar dua kali dentingan nyaring, golok dan pedang
sudah saling bersimpangan.
Dalam bentrokan pertama, kedua belah pihak bertarung
seimbang.
Di saat masing-masing membalikkan badan, bentrokan
kedua kembali berlangsung.
Cahaya golok dan bayangan pedang sudah menyelimuti
seluruh tubuh kedua orang itu sehingga orang lain sulit
menyaksikan jurus-jurus serangan dan langkah tubuh yang
mereka gunakan.
Bong Thian-gak dan Thay-kun yang berdiri di samping
merasakan segulung hawa dingin yang menyayat badan,
membuat kedua orang itu merasa terkejut dan buru-buru
menggeser badan menjauhi arena.
Dalam waktu singkat tanah pekuburan yang menyeramkan
dan menggidikkan itu berubah menjadi ajang pertempuran
yang amat seru.
Daun-daun bambu di sekeliling tempat itu berubah seperti
bunga-bunga salju yang berguguran di atas tanah, betapa
hebatnya pertarungan yang sedang berlangsung itu.
Sejak umat persilatan memilih sepuluh tokoh silat terhebat
pada empat puluh empat tahun berselang, belum pernah
kesepuluh tokoh silat itu saling tempur.

1062
Pertarungan antara Tio Tian-seng dan Liu Khi saat ini
merupakan pertempuran sengit pertama yang terjadi antara
sesama sepuluh tokoh persilatan.
Lantas siapa di antara kesepuluh tokoh silat itu yang
sebetulnya memiliki ilmu silat paling hebat?
Mungkin saja orang itu Tio Tian-seng atau Liu Khi.
Konon di masa lampau Tio Tian-seng pernah menderita
kekalahan di tangan Oh Ciong-hu, namun baik Oh Ciong-hu
maupun Ku-lo Hwesio yang bertindak sebagai saksi tahu
bahwa pukulan itu memang sengaja dibiarkan mengenai
tubuh Tio Tian-seng karena berniat mengalah.
Sebab apabila Tio Tian-seng berhasil mengungguli Oh
Ciong-hu waktu itu, maka Tio Tian-seng harus menerima
tantangan Ku-lo Hwesio dan apabila kejadian ini berlangsung,
niscaya Tio Tian-seng menderita kekalahan total.
Oleh sebab itu Tio Tian-seng berlagak kalah agar jiwanya
dapat pula diselamatkan dari musibah.
Thay-kun serta Bong Thian-gak yang menyaksikan jalannya
pertarungan diam-diam terkejut, pikirnya, "Sungguh tak
disangka, ilmu silat kedua orang ini jauh lebih hebat dari apa
yang diduga semula."
Pada saat itulah, mendadak Thay-kun teringat sesuatu,
dengan suara merdu ia lantas berkata, "Bong-suheng, aku
sudah tahu siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya."
"Siapakah dia?"
"Orang itu bukan Tio Tian-seng, bukan juga Liu Khi."
Bong Thian-gak masih mengawasi jalannya pertarungan di
arena dengan mata tak berkedip. Ketika mendengar perkataan
itu, dia segera berpaling, tapi dengan cepat pemuda itu
berseru tertahan.

1063
Ternyata di saat dia berpaling, Bong Thian-gak
menyaksikan di belakang Thay-kun telah berdiri seorang
berbaju hijau.
Orang berbaju hijau itu tidak lain adalah orang berbaju
hijau berwajah pucat yang dijumpai di tanah pekuburan tadi.
Waktu itu pedang pendek dalam genggaman orang itu
sedang ditempelkan di punggung Thay-kun.
Setelah menghela napas sedih, ujar Thay-kun, "Hek-moong
kah kau?"
Dengan wajah tanpa emosi, orang berbaju hijau itu tertawa
dingin, sahutnya, "Rezeki masuk dari mulut, bencana keluar
dari bibir. Bila kau menginginkan keselamatan jiwamu, lebih
baik kurangi kata-kata yang yang tak berguna."
Melihat pedang pendek orang ditempelkan di punggung
Thay-kun, Bong Thian-gak benar-benar tak berani bergerak
sembarangan. Dengan cemas ia menegur, "Apa yang hendak
kau lakukan terhadap dirinya?"
Sementara itu mata orang berbaju hijau yang mengerikan
itu sedang mengawasi jalannya pertarungan antara Tio Tianseng
melawan Liu Khi. Mendengar pertanyaan itu, dia segera
menjawab dengan hambar, "Kemungkinan besar aku akan
membunuhnya."
Sambil tertawa Thay-kun berseru, "Dari tangan Ho Lanhiang,
kau telah menolong jiwaku hingga secara kebetulan
aku bertemu dengan Jian-ciat-suseng dan tubuh Si-hun-mo-li
berubah menjadi diriku yang sebenarnya, masakah kau benarbenar
akan membunuhku?"
"Boleh saja bila kau tidak menginginkan kematian, cukup
kau tunjukkan kepadaku, siapakah di antara mereka berdua
adalah Hek-mo-ong?" kata orang berbaju hijau itu hambar.
"Kedua orang itu sama-sama bukan Hek-mo-ong."

1064
"Boleh saja bila kau enggan mengatakan kepadaku, maka
aku pun terpaksa harus menunggu sampai pertarungan
mereka selesai dan kedua belah pihak sama-sama terluka
parah, lalu aku binasakan mereka berdua."
"Bukankah keadaan semacam inilah yang paling kau
sukai?"
Orang berbaju hiaju itu termenung beberapa saat, lalu dia
berkata, "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, mengapa
kau tidak berpaling melihat siapakah diriku?"
"Tak usah dilihat lagi, kau adalah Hek-mo-ong."
Orang berbaju hijau itu kelihatan seperti tertegun, lalu
katanya, "Darimana kau bisa mengatakan aku adalah Hek-moong?"
Thay-kun tersenyum.
"Apabila Tio Tian-seng dan Liu Khi adalah Hek-mo-ong,
maka Tan Sam-cing pun merupakan Hek-mo-ong pula."
Sekali lagi orang berbaju hijau terkejut, katanya,
"Bagaimana kau bisa tahu aku adalah Tan Sam-cing?"
"Setelah mendengar penuturan Jian-ciat-suseng waktu
berada di tanah pekuburan, aku segera mengetahui bahwa
kau adalah Tan Sam-cing."
"Sungguh hebat kau si budak ingusan, apakah kau
berharap aku turun tangan mencegah kedua orang yang
sedang bertarung itu?"
"Aku tahu, selama ini dalam hatimu selalu beranggapan
bahwa Tio Tian-seng dan Liu Khi adalah Hek-mo-ong, oleh
sebab itu kau lebih suka membiarkan kedua orang itu saling
gontok dan bunuh daripada mencegah pertarungan mereka."
"Tapi aku pun perlu memberitahu kepadamu, kalau Tan
Sam-cing bukan Hek-mo-ong, maka Tio Tian-seng serta Liu
Khi pun bukan Hek-mo-ong."

1065
"Oleh sebab itulah aku ingin kau beritahukan kepadaku,
siapakah Hek-mo-ong sesungguhnya?"
"Saat ini aku belum dapat memberitahukan kepadamu."
"Mengapa?"
"Sebab Hek-mo-ong asli berada di sekitar sini. Bila
kuucapkan, niscaya tak seorang pun di antara kita yang akan
berhasil lolos dari ancaman mautnya."
Bong Thian-gak yang mendengarkan dari samping menjadi
bingung dan tak habis mengerti, dia tidak tahu permainan
apakah yang dilakukan Thay-kun saat ini.
Sesudah tertawa dingin, orang berbaju hijau itu berkata,
"Budak setan, kau tak usah ngaco-belo tak keruan, aku tak
percaya dengan permainan semacam itu."
Thay-kun menghela napas panjang, "Bong-suheng,
berusahalah kau menghentikan pertarungan kedua orang itu."
Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Sekarang Tio Tian-seng dan Liu Khi masing-masing sudah
mengerahkan segenap kekuatan, sekalipun ilmu silat yang
dimiliki Jian-ciat-suseng lebih hebat, belum tentu mampu
menghentikan pertarungan mereka."
Thay-kun tersenyum, "Asal Jian-ciat-suseng mengeluarkan
ilmu auman singanya dengan menuduh kau sebagai Hek-moong,
maka kedua orang itu pasti akan segera menghentikan
pertarungan."
Tiba-tiba orang berbaju hijau itu membentak, "Jian-ciatsuseng,
bila kau berani, maka pedang pendekku ini segera
akan menembus dadanya. Mau percaya atau tidak itu
terserah."
Bong Thian-gak menghela napas panjang.

1066
"Sekalipun Tio Tian-seng dan Liu Khi bertarung sampai
mampus, hal itu sama sekali tak ada kaitannya denganku, tapi
terhadap Thay-kun, aku tak akan membiarkan siapa pun
melukai seujung rambutnya."
"Kalau memang begitu, kau jangan bertindak
sembarangan. Tonton saja pertarungan itu dengan tenang di
sisi arena," perintah orang berbaju hijau itu dingin.
"Bila kau berbuat demikian, akhirnya pasti akan menyesal,"
kata Thay-kun lagi.
Dalam pada itu pertarungan yang berlangsung telah
mencapai tingkat yang kritis dan tegang.
Mendadak terdengar dua kali pekikan panjang yang keras
dan melengking.
Baik Tio Tian-seng maupun Liu Khi telah menggunakan
senjata tajamnya untuk melakukan terkaman di tengah udara.
Di tengah suara benturan nyaring, golok dan pedang itu
sudah saling bentur.
Tapi dalam bentrokan kali ini, karena kedua orang itu
sama-sama mempergunakan segenap kekuatan, pergelangan
tangan mereka menjadi kaku dan linu, tak mampu menahan
getaran tenaga dalam lawan, senjata mereka segera terlepas
dari genggaman dan mencelat ke tengah udara.
Golok dan pedang itu bagaikan dua gulung cahaya perak
meluncur ke tengah udara, dari kejauhan orang akan melihat
senjata itu saling kejar di udara seperti dewa yang
melepaskan pedang terbang saja.
Sementara pedang di tangan kanan Tio Tian-seng terlepas
dari genggaman, dia segera membentak dan telapak tangan
kirinya melepaskan bacokan secepat kilat.
Serangan itu dilancarkan cukup keji.

1067
Padahal Liu Khi hanya mempunyai sebuah lengan saja,
ketika goloknya terlepas dari cengkeraman tangan kirinya, tak
mungkin lagi baginya untuk segera merubah gerakan dengan
melepaskan pukulan, bagaimana pun juga ia tetap terlambat
selangkah.
Dengusan tertahan segera bergema, dada kanan Liu Khi
terkena pukulan hingga tubuhnya mencelat ke belakang.
Tapi pada saat inilah Liu Khi segera memperlihatkan
kepandaian silat yang maha sakti. Di saat tubuhnya mencelat
terkena pukulan, kakinya segera menghentak ke udara dan
melepaskan juga tendangan kilat yang persis menghantam
belakang pinggang sebelah kanan Tio Tian-seng.
Kedua orang itu mencelat ke udara, kemudian terbanting
keras di atas tanah.
Sudah cukup lama mereka berdua tertahan di tengah
udara, hawa murni yang mereka himpun pun sudah
membuyar. Oleh karena itu bantingan itu cukup berat dan
keras, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa.
Bagaimana pun juga kedua orang ini merupakan jago kelas
satu yang memiliki ilmu silat sangat hebat, daya tahan yang
mereka miliki pun mengagumkan.
Walaupun isi perut mereka sudah menderita luka yang
cukup parah, namun mereka masih mampu menghimpun sisa
tenaga dalam untuk merebut posisi yang lebih
menguntungkan serta mempersiapkan serangan terakhir.
Dua pekikan nyaring berkumandang di tengah udara.
Masing-masing pihak segera melompat bangun dari atas
tanah dan menyambar senjata mereka yang terlepas, lalu
serentak melepaskan bacokan kilat ke depan.
Dalam bentrokan kali ini, bergemalah suara dan dentingan
yang amat lembut.

1068
Sekali lagi tampak bayangan orang berpisah, lalu kedua
belah pihak sama-sama terjungkal ke atas tanah dan tidak
mampu berdiri kembali.
Liu Khi segera memuntahkan darah segar dan senjatanya
terlepas dari pegangan.
Sebaliknya Tio Tian-seng meski masih tetap menggenggam
pedang iblis yang bercahaya hijau di tangan kanannya, namun
sepasang kakinya tidak mau menuruti perintahnya lagi, pelanpelan
ia terduduk di atas tanah.
Dalam pertarungan kali ini, kedua belah pihak sama-sama
bertarung dengan mengerahkan segenap tenaga dalam,
sekarang sudah tak sanggup lagi melepaskan sejurus atau
setengah gerakan lagi.
Jangankan bertarung, tenaga untuk bicara pun sudah tak
ada, napas mereka sekarang tersengal-sengal seperti kerbau,
peluh pun jatuh bercucuran.
Sinar mata mereka sudah makin memudar, namun masih
tetap mengawasi gerak-gerik lawan dengan pandangan mata
penuh curiga.
Seakan-akan mereka sedang berkata, "Aku tak percaya kau
masih memiliki tenaga untuk bangkit lebih dulu dan
melancarkan serangan kembali."
Pada saat inilah tampak bayangan orang berkelebat ke
tengah-tengah antara Tio Tian-seng dan Liu Khi, kemudian
bagaikan sukma gentayangan saja seorang berbaju hijau
berwajah dingin telah berdiri di sana.
Ketika melihat kehadiran orang itu dengan pedang
terhunus, Liu Khi dan Tio Tian-seng baru mendusin dari
impian mereka, sadarlah mereka akan kerawanan dan
keseriusan situasi yang mereka hadapi.

1069
Dalam pada itu Bong Thian-gak telah melolos pedang pula,
bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tidak
diinginkan.
Pikirnya, "Bila orang berbaju hijau ini berani melakukan
tindakan melukai Liu Khi dan Tio Tian-seng, maka Pek-hiatkiam
ini segera akan melancarkan serangan kilat dari belakang
punggungnya."
Tampaknya orang berbaju hijau itupun sudah merasa pula
gerakan Bong Thian-gak yang telah mempersiapkan diri
melancarkan serangan.
Pelan-pelan ia membalikkan badan dan menengok sekejap
ke arah Hong Thian-gak, lalu ujarnya dingin, "Kau akan
melancarkan serangan dengan pedangmu itu?"
"Bila pedangmu itu kau tusukkan ke tubuh mereka, maka
pedang ini pun akan menusuk punggungmu pada saat
bersamaan."
"Tampaknya kau memang senang mencampuri urusan
orang lain," jengek orang berbaju hijau itu dengan tertawa
dingin.
"Mengambil tindakan di saat orang sedang lemah bukan
tindakan seorang lelaki sejati."
Orang itu tertawa dingin lagi, "Seandainya aku ingin
menghabisi nyawa mereka, mungkin sekarang juga mereka
sudah tergeletak menjadi mayat."
"Kalau kau tidak berniat membinasakan mereka, harap
segera berdiri di sisi arena," perintah Bong Thian-gak.
"Jian-ciat-suseng, tahukah kau siapa aku?" tegur orang
berbaju hijau itu dingin.
"Kau menyebut dirimu sebagai Tan Sam-cing, padahal
sewaktu aku berada bersamanya, dia tak lebih hanya seorang
Tosu."

1070
Sementara itu paras Tio Tian-seng telah berubah hebat, ia
segera menegur, "Kau benar-benar Tan Sam-cing?"
"Tio Tian-seng," kata orang itu, "perlukah kulepas topeng
kulit manusia yang kukenakan ini agar kau dapat melihat
wajah asliku?"
Kulit muka Tio Tian-seng mengejang keras, sahutnya
sambil tertawa getir, "Sekarang aku sudah tak bertenaga lagi,
aku tak mampu menerima sebuah seranganmu."
"Tio Tian-seng, aku ingin bertanya kepadamu, haruskah
aku turun tangan hari ini?" orang berbaju hijau bertanya
dengan nada keras.
Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, kalau kau ingin
turun tangan, lakukanlah segera!"
Orang berbaju hijau itu berpaling dan memandang sekejap
ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya, "Tapi dia pasti
akan menghalangiku untuk turun tangan."
Tiba-tiba Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian
katanya, "Bong-laute, persoalan ini sebetulnya merupakan
penyelesaian antara diriku dengannya sebagai masalah
pribadi, aku harap Bong-laute tak usah mencampurinya."
Bong Thian-gak maupun Thay-kun merasa sangat
keheranan mendengar pembicaraan kedua orang itu,
"Mengapa Tio Tian-seng rela menyerahkan jiwanya setelah
bertemu orang berbaju hijau? Sebenarnya perselisihan apakah
yang terjalin antara mereka berdua?"
Tiba-tiba Thay-kun berkata sambil tertawa merdu,
"Kuanjurkan kepada saudara, lebih baik jangan membunuh Tio
Tian-seng."
"Kenapa?"
"Bila dia mati, maka kalian akan semakin sulit menghadapi
Hek-mo-ong!"

1071
"Kemungkinan besar Tio Tian-seng adalah Hek-mo-ong."
"Bila demikian pendapatmu, dugaanmu itu keliru besar. Tio
Tian-seng bukanlah Hek-mo-ong, Liu Khi serta kau pun bukan
pula."
"Asalkan kau dapat menebak siapa Hek-mo-ong, maka aku
tak akan melukai mereka."
"Hek-mo-ong adalah Tan Sam-cing gadungan yaitu Samcing
Totiang dari kuil Sam-cing-koan."
Mendengar perkataan itu, baik Bong Thian-gak maupun
para jago lainnya serentak berseru dalam hati, "Diakah Hekmo-
ong?"
Orang berbaju hijau itu kelihatan ragu-ragu, dia segera
bertanya, "Darimana kau bisa tahu dia adalah Hek-mo-ong?"
Thay-kun segera tersenyum.
"Kalau kau adalah Tan Sam-cing yang asli, maka apa
sebabnya pula kau mencatut namamu? Dalam hal ini kita
sudah dapat menduga di balik semua ini pasti terselip suatu
rencana keji."
Mendadak orang berbaju hijau itu seperti teringat sesuatu,
dia sogera menjerit kaget, "Jangan-jangan dia?"
Menyusul dia menggeleng, kembali katanya, "Hal ini tak
mungkin terjadi, sudah pasti bukan dia."
"Kadangkala sesuatu persoalan yang tak mungkin,
seringkah justru dapat berubah menjadi kenyataan," kata
Thay-kun dengan suara merdu.
Orang berbaju hijau tertegun, tanyanya, "Tahukah kau
siapa yang kumaksud sebagai si dia itu?"
"Tentu saja tahu, kecuali kau telah salah menduga."

1072
Mendadak orang berbaju hijau berjalan ke hadapan Thaykun,
ujarnya lirih, "Menurut pendapatmu, siapakah Hek-moong
yang sebenarnya?"
"Aku kuatir jika nama itu kuucapkan, aku segera akan
dibunuh orang."
"Tapi jika kau enggan bicara, Hek-mo-ong yakin kau sudah
tahu rahasianya, maka dia pun dapat membunuhmu untuk
menghilangkan jejak."
Thay-kun menghela napas panjang.
"Benar, dia dapat membunuhku untuk menghilangkan
jejak. Posisiku sekarang bicara mati tidak bicara pun mati. Ai,
itulah sebabnya aku telah mengambil keputusan untuk
mengutarakan soal ini kepada kalian."
Baru saja dia berkata, mendadak dari tengah udara
berkumandang suara pembicaraan seseorang dengan suara
rendah dan berat, "Thay-kun, apabila kau masih
menginginkan nyawamu, lebih baik jangan kau sebutkan."
Mendengar seruan yang muncul secara tiba-tiba, serentak
sorot mata semua orang dialihkan ke empat penjuru untuk
melakukan pemeriksaan.
"Hek-mo-ong, inilah suara Hek-mo-ong, dia benar-benar
bagaikan setan gentayangan hanya terdengar suaranya tak
nampak bayangannya."
Bong Thian-gak berkata, "Selama ini Hek-mo-ong selalu
berbicara dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara
Jian-li-hwe-ing (suara gema seribu li) yang dipancarkan dari
kejauhan, sehingga membuat orang lain sulit menentukan dari
arah manakah suara itu."
Sudah barang tentu semua jago yang hadir mengetahui
bahwa di dunia persilatan terdapat ilmu Jian-li-hwe-ing itu.

1073
Mendadak Liu Khi berkata, "Menurut yang kuketahui, orang
yang pandai mempergunakan ilmu Jian-li-hwe-ing adalah Kuikok
Sianseng dari Mi-tiong-bun. Jangan-jangan perbuatan itu
dilakukan oleh orang-orang Mi-tiong-bun?"
Tiba-tiba Thay-kun tertawa cekikikan dan berseru, "Hekmo-
ong, aku tahu kau tak bakal mencelakai diriku, sekarang
aku ingin mengajak kau melakukan tawar-menawar. Aku
harap kau suka menyerahkan obat penawar racun agar ditelan
oleh Tio Tian-seng serta Bong Thian-gak."
Mendengar perkataan itu, Tio Tian-seng dan Bong Thiangak
amat terkesiap.
Dengan kening berkerut Bong Thian-gak berseru, "Sumoay,
benarkah aku sudah terkena racun dari Hek-mo-ong?"
"Benar," jawab Thay-kun dengan wajah serius. "Kau dan
Tio-pangcu sudah menelan pil beracun berdaya kerja lambat
dari Hek-mo-ong."
Paras muka Bong Thian-gak segera berubah hebat,
katanya, "Sejak kapan Hek-mo-ong memberi pil beracun
kepada kami?"
"Bukankah kau dan Tio-pangcu pernah menelan pil
pemberian Biau-kosiu?"
"Ah!" Bong Thian-gak berseru tertahan. "Kalau begitu Biaukosiu..”
"Biau-kosiu adalah salah seorang pembantu utama Hekmo-
ong," sambung Thay-kun pelan-pelan.
Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak yang mendengar
perkataan itu menjadi tertegun.
Sementara itu dari tengah udara terdengar kembali suara
Hek-mo-ong, "Budak ingusan, kau benar-benar sangat lihai.
Sebenarnya aku masih tidak percaya kau dapat mengetahui
asal-usulku sejelasnya."

1074
"Sekarang tentunya sudah percaya bukan?" seru Thay-kun.
"Aku masih tetap tidak percaya," suara Hek-mo-ong masih
terdengar dingin dan menyeramkan.
"Mau percaya atau tidak, bagiku bukan persoalan penting.
Kau harus menyerahkan obat penawar racun itu sebagai
imbalan aku pun tak akan mengungkap asal-usulmu yang
sebenarnya kepada orang lain. Di samping itu, aku dan Bong
Thian-gak pun bersedia memenuhi permintaanmu untuk
segera mengundurkan diri dari dunia persilatan."
Baru saja Thay-kun menyelesaikan perkataannya, pedang
pendek orang berbaju hijau itu sudah ditempelkan di atas
dadanya.
Thay-kun sama sekali tak menyangka orang berbaju hijau
bakal berbuat demikian, ia menjadi tertegun dan segera
bertanya, "Mau apa kau?"
"Aku akan memaksamu mengutarakan asal-usul Hek-moong,"
kala orang berbaju hijau sambil tertawa dingin tiada
hentinya.
Tiba-tiba Bong Thian-gak beranjak dari tempatnya dan
pelan-pelan mendekati orang itu.
Mendadak terdengar orang baju hijau itu membentak, "Bila
kau berani maju selangkah lagi, aku segera akan
menusuknya."
Terpaksa Bong Thian-gak menghentikan langkah, katanya
sambil lertawa dingin, "Kau benar-benar manusia rendah
berjiwa pengecut dan terkutuk."
"Seringkah memanfaatkan kesempatan di saat lawan
sedang lemah merupakan tindakan yang paling tepat," kata
orang berbaju hijau dingin.

1075
"Tan-locianpwe," kata Thay-kun sambil tertawa, "tindakan
yang kau ambil sekarang hanya akan mendatangkan
keburukan dan tiada keuntungan bagimu."
Orang berbaju hijau tertawa dingin, "Bila kubunuh dirimu,
maka Tio Tian-seng dan Jian-ciat-suseng bakal mati juga.
Apakah hal semacam ini tidak akan menguntungkan bagiku?"
"Tan-locianpwe, tahukah kau mengapa Hek-mo-ong tak
berani menampilkan diri? Dia takut kita bekerja sama
menghadapinya."
"Tapi jika kau membunuhku sekarang, maka kau pun
jangan harap bisa lolos dari hutan bambu Ban-jian-bong ini
dalam keadaan selamat."
"Masih ada satu hal lagi aku beritahukan kepadamu,
tusukan pedangmu itu belum tentu bisa membunuhku.
Sekalipun kau bisa membunuhku, di saat kau belummencabut
pedangmu dari tubuhku, kau sendiri pun akan mati
terbunuh di ujung pedang Suhengku."
Sesudah mendengar itu, orang berbaju hijau nampak agak
ragu-ragu, tiba-tiba ia menarik pedangnya dan berkata dingin,
"Aku tidak percaya Hek-mo-ong akan menerima syarat yang
kau ajukan itu."
Dalam pada itu Bong Thian-gak telah menggeser tubuh
secepat kilat ke sisi Thay-kun dan berdiri penuh siap siaga
dengan senjata terhunus, tiba-tiba Thay-kun berkata lagi
dengan merendahkan suara, "Betul, belum tentu Hek-mo-ong
akan menerima syarat yang kuajukan."
"Tapi aku pun akan memberitahukan satu hal kepada
kalian, Hek-mo-ong cukup mengerti bahwa di antara kalian
bertiga sebenarnya terjalin hubungan permusuhan dan
dendam kesumat yang tak bisa diselesaikan dengan sepatah
dua patah kata. Oleh sebab itu dia selalu menggunakan tipumuslihat
dan tipu-daya untuk mengadu-domba kalian agar
saling gontok dan bunuh."

1076
"Apabila kalian bertiga benar-benar saling gontok, maka
secara sadar kalian terkena rencana keji Hek-mo-ong."
"Lantas mengapa Hek-mo-ong menggunakan siasat
mengadu domba dan sebaliknya tidak berusaha melenyapkan
kalian secara terang-terangan, hal ini disebabkan karena Hekmo-
ong tahu kalian memiliki kepandaian silat hebat, ia pun
sadar bahwa ilmu pukulan tengkorak mautnya belum tentu
akan membinasakan kalian dalam satu gebrakan."
"Oleh sebab itu ia berusaha memancing kalian berjumpa di
Ban jian-bong agar kalian bertiga saling bertarung, sedang dia
bersembunyi di samping menonton, mengamati jurus-jurus
serangan yang kali miliki serta berusaha mencari
pemecahannya."
Tio Tian-seng, Liu Khi dan Tan Sam-cing yang mendeng
perkataan itu diam-diam berpikir, "Benar juga, mengapa Hekmo-
ong tidak mau menyerang kami secara terang-terangan?"
Sesudah berhenti sejenak Thay-kun kembali melanjutkan
ka katanya, "Di samping itu masih ada alasan lain, bisa jadi
Hek-mo-o adalah seorang gila ilmu silat, di saat dia belum
berhasil mempelajari ilmu silat yang dimiliki seseorang, maka
dia tak akan membinasakan korbannya."
"Oleh sebab itu bilamana kalian bertiga berusaha
menghindar dari serangan Hek-mo-ong yang mematikan,
paling baik jika kalian kurangi kesempatan memperlihatkan
jurus serangan yang kalian andalkan."
"Tapi siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya?" tiba-tiba Liu
bertanya.
Thay-kun menengok sekejap ke arahnya, lalu bertanya,
"Siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya? Cepat atau lambat
kalian pasti akan mengetahui dengan sendirinya. Bila
kuutarakan kepada kalian sekarang, maka aku yakin tak
seorang pun di antara kalian yang mau percaya dengan

1077
perkataanku. Ini merupakan suatu kenyataan, itulah sebabnya
untuk sementara waktu aku belum ingin mengungkapkan."
Atas perkataan Thay-kun itu, Liu Khi, Tio Tian-seng dan
Tan Sam-ring bertiga merasa sangsi.
Sambil tertawa dingin Tan Sam-cing berkata,
"Pembahasanmu barusan sungguh membuat orang merasa
tidak percaya."
"Bila kalian tak mau percaya, aku sendiri pun tak dapat
berbuat apa-apa," kata Thay-kun sambil menghela napas.
"Namun kuanjurkan kepada kalian agar secepatnya
meninggalkan tempat ini, sebab tetap bercokol di tempat ini
merupakan tindakan yang berbahaya."
Sampai di sini gadis itu segera berpaling ke arah Bong
Thian-gak sambil berkata, "Bong-suheng, mari kita pergi saja!"
Baru saja Thay-kun membalikkan badan, dilihatnya
selembar kain putih diikat pada sebuah dahan bambu di
hadapannya.
Baru saja kain putih itu digantungkan, kebetulan pula Thaykun
menyaksikan sesosok bayangan hijau sedang berkelebat
dan lenyap di balik pepohonan sebelah depan sana.
Dalam pada itu Tio Tian-seng, Liu Khi dan Bong Thian-gak
pun sudah melihat kain putih itu.
Orang berbaju hijau mendengus dingin, secepat kilat
menerjang ke depan menembus hutan bambu dan mengejar
ke arah bayangan hijau ladi melenyapkan diri.
Thay-kun terkejut sekali, segera teriaknya, "Tan-locianpwe,
jangan dikejar
Tan Sam-cing yang termasyhur karena Ginkangnya sudah
lenyap dari pandangan mata.

1078
Dengan cemas Thay-kun segera berseru, "Tio-pangcu, Liutayhiap,
apakah tenaga dalam yang kalian miliki telah pulih?
Mari cepat tengok ke depan sana."
Ternyata pada saat itu Tio Tian-seng dan Liu Khi telah
bangkit semua.
Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayat hati dari
seorang wanita berkumandang datang dari kejauhan.
Menyusul terdengar pula Tan Sam-cing berteriak penuh
amarah, "Hek-mo-ong...."
Hanya suara bentakan itu saja yang terdengar, untuk
kemudian suasana di sekeliling tempat itu kembali hening.
Bong Thian-gak, Thay-kun, Tio Tian-seng dan Liu Khi
secepat kilat menyusul pula ke depan.
Mendadak mereka lihat di bawah hutan bambu, di depan
sebuah peti mati bobrok, duduk seorang perempuan berambut
panjang berbaju hijau, dadanya ditembus sebilah pedang
pendek sampai ke punggung, darah segar masih bercucuran
dengan derasnya membasahi pakaian serta dedaunan kering
yang berserakan di atas tanah.
Pedang pendek itu tepat menembus jantungnya,
perempuan itu sudah mampus, namun matanya melotot
besar, mengawasi seorang yang berada di hadapannya.
Orang yang berada di mukanya itu tentu saja pembunuh
yang telah menghabisi nyawanya... Tan Sam-cing.
Namun Tan Sam-cing sendiri memejamkan mata, noda
darah masih membasahi ujung bibirnya, dia sedang duduk
bersila di atas tanah tanpa bergerak.
Perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba ini membuat
para jago terperanjat.

1079
Bong Thian-gak yang pertama-tama menerjang ke hadapan
Tan Sam-cing sambil menegur, "Tan-locianpwe... Tanlocianpwe...”
Pelan-pelan Tan Sam-cing membuka mata dan memandang
pemuda itu sekejap, kemudian dipejamkan kembali tanpa
mengucapkan sepatah kata pun.
Tiba-tiba terdengar Tio Tian-seng berkata dengan suara
dalam "Bong-laute, jangan kau usik dirinya. Dia sedang
bersemedi mengobati luka yang dideritanya."
Sementara itu Liu Khi sedang memandang kain putih yang
tergantung di batang bambu, ternyata di atas kain itu tertera
beberapa huruf besar warna merah darah.
Tulisan disertai pula lambang tengkorak besar:
"Undangan kematian tengkorak.”
"Mengundang dengan sangat kematian Liu Khi pada bulan
delapan tanggal tujuh tengah malam tepat".
Liu Khi yang menyaksikan tulisan itu segera mendengus
dingin dan siap melompat ke atas untuk menyambarnya.
Tapi Thay-kun segera berseru keras, "Liu-tayhiap jangan
bertindak sembarangan daripada terjebak perangkap keji
pihak lawan."
Permainan setan Hek-mo-ong memang sudah
menggetarkan hati siapa saja, kendatipun Liu Khi merasa
gusar, namun setelah melihat Tan Sam-cing menderita luka
parah, sedikit banyak hatinya dibuat keder juga.
Sementara itu Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak pun
sudah menyaksikan pula tulisan yang tertera di atas kain putih
itu.
Sambil menghela napas panjang, Thay-kun berkata,
"Akhirnya Hek-mo-ong mengirim juga kartu kematian untuk
Liu-tayhiap."

1080
Sambil tertawa dingin Liu Khi berkata, "Bulan delapan
tanggal tujuh, akan kubuktikan dengan cara bagaimana dia
hendak menghabisi nyawaku."
"Setiap kali Hek-mo-ong mengirim kartu kematian, dia
sudah berhasil menelusuri semua ilmu silat orang itu dan
mempunyai keyakinan untuk dapat merenggut nyawa
musuhnya," kata Thay-kun sambil menghela napas panjang.
"Ai, seandainya Liu-tayhiap tidak melangsungkan pertarungan
sengit melawan Tio-pangcu hari ini, aku rasa belum tentu Hekmo-
ong akan memberikan kartu kematian kepadamu."
Tio Tian-seng menghela napas panjang, ucapnya, "Agaknya
nona sudah mempunyai keterangan yang jelas tentang segala
sesuatu yang menyangkut Hek-mo-ong?"
"Asal-usul Hek-mo-ong pun baru hari ini berhasil kuraba
sedikit demi sedikit."
Mendadak Bong Thian-gak berkata sambil tertawa, "Hekmo-
ong telah mengirim kartu kematian kepadaku serta Tiopangcu
dan Liu-tayhiap. Seandainya mulai sekarang kita
bertiga selalu berkumpul, tiga hari mendatang akan kulihat
dengan cara apakah Hek-mo-ong akan membunuh kita."
"Bong-suheng dan Tio-pangcu sudah terkena obat beracun
dari Hek-mo-ong!" kata Thay-kun sambil menghela napas.
"Asal waktunya sudah sampai, maka racun itu akan mulai
bekerja menggerogoti tubuh kalian. Dalam hal ini Hek-mo-ong
tak perlu menampakkan diri untuk mencelakai kalian!"
Selesai mendengar penjelasan Thay-kun, paras muka Bong
Thian-gak dan Tio Tian-seng segera berubah hebat, mereka
membungkam.
Dari perubahan wajah kedua orang itu, Thay-kun
mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan, sambil
tersenyum manis ujarnya, "Kalian tak usah kuatir, aku tak
akan membiarkan kalian tewas dalam keadaan mengerikan."

1081
"Apakah nona telah menemukan cara untuk membebaskan
kami dari pengaruh racun itu?" tanya Tio Tian-seng cepat.
"Asalkan kalian berdua tak menelan pil mustika yang
dihadiahkan Hek-mo-ong kepada kalian, aku yakin daya kerja
racun yang mengeram dalam tubuh kalian tak akan
merenggut nyawa."
"Apakah pil itu pun merupakan obat racun?" tanya Bong
Thian-gak segera.
"Bukan obat racun, tapi pil itu justru dapat membangkitkan
daya kerja racun yang telah kalian telan sebelumnya dan
membaurnya kedua pil itu akan menyebabkan kematian yang
mengenaskan."
"Thay-kun, darimana kau bisa mengetahui sedemikian
jelasnya?"
"Orang yang paling pandai, paling sempurna dalam
pembuatan obat di dunia saat ini adalah tabib sakti Ci Jiancau,
padahal ilmu menggunakan racun yang dipakai Hek-moong
untuk mencelakai orang dipelajarinya dari Ci Jian-cau,
sedangkan aku sendiri pun pernah mempelajari cara yang
sama dari Gi Jian-cau pribadi, sudah barang tentu aku
mengetahui jelas teknik yang dipakai Hek-mo-ong."
"Nona, aku merasa kurang mengerti," kata Tio Tian-seng
dengan kening berkerut. "Pil mustika yang diberikan Hek-moong
kepadamu, kau katakan sebagai obat yang akan
memancing bekerjanya racun keji yang sudah mengeram
dalam tubuhku, tapi darimana pula Hek-mo-ong bisa tahu
kami bakal menelan pil yang dia berikan kepada kami?"
"Di sinilah letak kunci semua peristiwa itu, tatkala Hek-moong
memberikan pil yang kedua itu kepada kalian, dia tentu
berkata kepada kalian bahwa obat itu adalah pemunah racun,
sudah barang tentu kalian tak bakal mempercayai
perkataannya begitu saja serta tak akan kalian telan pil itu."

1082
"Akan tetapi bila batas waktu kerjanya racun di dalam
tubuh kalian sudah tiba dan kalian merasakan penderitaan
serta siksaan yang luar biasa di dalam tubuh kalian, pada
waktu itu kalian tentu akan salah mengira bahwa racun itu
benar-benar sudah bekerja dan kalian pun pasti akan teringat
pada obat penawar racun palsu, yang sesungguhnya akan
menjadi alat membunuh sebenarnya bagi keselamatan kalian
berdua."
"Akibatnya kalian benar-benar akan terkecoh dan mendapat
serangan racun yang jauh lebih keji sehingga akibatnya tewas
dalam keadaan mengerikan."
Tio Tian-seng segera menjadi paham, katanya sambil
menghela napas panjang, "Benar-benar teknik meracuni yang
hebat. Seandainya nona tidak memberi penjelasan, siapa pun
pasti tak akan berhasil lolos dari serangan semacam itu."
Thay-kun segera menghela napas panjang.
"Seandainya aku tidak berhasil mengetahui asal-usul Hekmo-
ong hari ini, aku pun tak teringat cara meracuni orang
yang biasa digunakan Gi Jian-cau."
"Apakah Hek-mo-ong adalah Gi Jian-cau?" tanya Bong
Thian-gak kemudian dengan perasaan tergerak.
Thay-kun memandang sekejap ke arahnya, lalu
menggeleng, katanya, "Bukan, Gi Jian-cau bukanlah Hek-moong.
Bila waktunya tiba, tentu akan kuberitahukan rahasia ini
kepada kalian."
Setelah mendengarkan penjelasan Thay-kun, Tio Tian-seng
dan Bong Thian-gak pun secara lamat-lamat merasa
keselamatan jiwanya tidak begitu terancam lagi, tanpa terasa
semangatnya segera berkobar.
Hanya Liu Khi seorang yang masih tetap mengerut dahi
dengan perasaan berat.

1083
Thay-kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Liu
Khi, kemudian ujarnya, "Aku tak tahu dengan cara apa Hekmo-
ong hendak mecelakai Liu-tayhiap, sehingga sulit juga
bagiku memikirkan sesuatu cara untuk mengunggulinya, aku
rasa jalan yang terbaik adalah Liu-tayhiap jangan
meninggalkan kami untuk sementara waktu. Aku pikir asal kita
mau bekerja sama meningkatkan kewaspadaan masingmasing,
biarpun Hek-mo-ong lebih licik tak nanti bisa berbuat
banyak."
Sementara itu para jago merasa kagum atas kecerdikan
dan ketelitian Thay-kun dalam menghadapi persoalan serius,
kendati Tio Tian-seng dan Liu Khi merupakan orang-orang
angkuh dan berjiwa tinggi, namun terhadap tindakan yang
diambil Thay-kun sekarang ternyata menurut dan sama sekali
tidak membantah.
Pada saat itulah mendadak Tan Sam-cing memuntahkan
darah segar sebanyak tiga kali.
Tapi sesudah itu Tan Sam-cing sudah dapat bicara lagi,
katanya, "Oh, sungguh berbahaya. Hampir saja nyawaku
hilang percuma!"
Dengan cepat Thay-kun segera memburu ke depan, lalu
tanyanya dengan merdu, "Apakah Tan-locianpwe sudah
bertempur dengan Hek-mo-ong?"
Tiba-tiba Tan Sam-cing melepas topeng kulit manusia yang
dikenakan olehnya dan membesut noda darah dari ujung
bibirnya, kemudian sahutnya pelan, "Ya, kami sudah saling
bertarung."
"Dapatkah Tan-locianpwe menjelaskan situasi pertarungan
yang telah kau alami tadi?"
Tan Sam-cing termenung beberapa saat, kemudian
sahutnya, "Hek-mo-ong benar-benar manusia licik dan berhati
busuk. Ai, tatkala aku sedang mengejar nona berbaju hijau
tadi, mendadak dari balik peti mati berkelebat seseorang

1084
secepat kilat, lalu bergema suara jeritan ngeri yang
memilukan, ternyata dada si nona berbaju hijau itu sudah
ditusuk pedang oleh orang itu hingga tembus ke punggung."
"Tindakan yang sama sekali di luar dugaan ini kontan
membuat perhatianku bercabang, pada saat inilah dengan
gerakan cepat orang itu melepaskan pukulan ke hulu hatiku,
sedemikian cepat gerakan ini membuat aku teringat akan Hekmo-
ong. Aku pun segera membentak gusar dan
mempergunakan jurus seranganku yang paling tangguh untuk
melancarkan serangan balasan menimpukkan pedang pendek
itu ke depan."
"Aku tidak tahu apakah seranganku itu berhasil menghaj
musuh, sebab dada kiriku terasa sakit sekali, hampir
membuatku jatuh pingsan, sementara darah segar muncrat
dari mulutku."
"Tatkala aku berusaha memusatkan perhatian untuk
melihat jelas raut wajahnya, bayangan iblis itu sudah hilang
lenyap tak berbekas, malahan pedang pendekku turut hilang."
Ketika selesai mendengarkan penuturan itu, pelan-pelan
Thay-kun berkata, "Nona berbaju hijau itu sudah ketahuan
jejaknya sehingga mustahil baginya untuk menghilangkan
jejak. Itulah sebabnya Hek-mo-ong segera bertindak
membunuh dirinya, tapi tindakan Hek-mo-ong pun di luar
dugaan sehingga tidak heran perhatian Tan-locianpwe menjadi
bercabang, akibatnya jurus pedang Tan-locianpwe yang paling
lihai pun tak sanggup membendung pukulan tengkorak Hekmo-
ong."
"Tapi dengan serangannya itu sudah berhasil
menggagalkan jurus pedang Tio-locianpwe yang terhebat,
maka aku duga dalam serangan ilmu tengkorak yang
dilancarkan Hek-mo-ong untuk kedua kalinya, kemungkinan
besar Tan-locianpwe tidak akan mampu melawan lagi."

1085
Beberapa patah kata Thay-kun segera mendatangkan
perasaan tak puas bagi Tan Sam-cing, dia tertawa dingin
sambil katanya, "Serangan pedangku cepat dan dahsyat. Aku
tidak percaya Hek-mo-ong dapat memahami kelihaian jurus
pedang itu dalam sekilas pandang saja. Hm, bukankah Hekmo-
ong sendiri pun sudah terkena serangan pedangku?"
"Betul, Hek-mo-ong pun terkena tusukan Tan-locianpwe,
bahkan tertusuk sangat dalam sehingga pedangmu tidak
terjatuh ke tanah melainkan dibawa lari Hek-mo-ong, namun
bagian tubuh yang terkena tusukan itu sudah pasti bukan
bagian yang mematikan, karena serangan itu tidak berhasil
merobohkan Hek-mo-ong, kendati demikian aku percaya
kesombongan dan kejumawaan Hek-mo-ong pasti akan
berkurang setelah mengalami peristiwa ini."
Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang mendengar
perkataan itu juga gembira, segera katanya, "Pembahasan
nona benar-benar sangat teliti dan jitu. Sungguh membuat
hati orang menjadi sangat kagum."
Thay-kun berpaling sekejap ke arahnya, kemudian katanya
sambil tersenyum, "Tapi mengenai perkataan Tan-locianpwe
yang mengatakan bahwa bentrokan itu berlangsung sangat
cepat dan belum tentu Hek-mo-ini dapat memahami rahasia
seranganmu, aku rasa Locianpwe tidak boleh bertindak
kelewat gegabah."
"Perlu kau ketahui, Hek-mo-ong mempunyai ketajaman
mata luar biasa, dia pun mempunyai daya kemampuan
melebihi siapa pun, itulah sebabnya dia dapat mempelajari
segenap ilmu silat dari berbagai partai dan perguruan."
Tan Sam-cing tertawa terbahak-bahak, "Di kolong langit ini,
rasanya hanya seorang saja yang memiliki kemampuan seperti
apa yang kau lukiskan barusan, orang itu adalah Thio Kimciok."

1086
Mendadak Tan Sam-cing seperti teringat persoalan yang
amat mengerikan, dengan wajah berubah hebat dia segera
menghentikan perkataannya, matanya terbelalak lebar dan
mulutnya agak melongo.
Tampaknya semua jago yang hadir di arena pun seakanakan
teringat persoalan yang maha besar, serentak mereka
berseru kaget dan mengalihkan sinar matanya ke wajah Thaykun.
"Apakah kalian teringat akan dia?" tanya Thay-kun kembali
sambil tersenyum.
"Mungkinkah Hek-mo-ong adalah dia?" tanya Liu Khi agak
emosi.
"Betul, dia adalah Thio Kim-ciok."
Ucapan itu benar-benar membuat hati setiap orang
bergetar keras.
Dengan suara dalam Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng
berseru, "Thio Kim-ciok sudah mati tiga puluh tahun lalu,
bagaimana mungkin bisa bangkit dari liang kubur? Apakah
nona sedang bergurau?"
"Sekarang aku ingin bertanya dengan Locianpwe,
pernahkah kau mewariskan ilmu pedang terbangmu kepada
seseorang? Kalau pernah, siapakah orang itu?"
"Hanya Thio Kim-ciok yang pernah mendapat warisan ilmu
pedang itu," jawab Tan Sam-cing.
"Sewaktu kau berjumpa Sam-cing Totiang dari kuil Samcing-
koan yang menyaru sebagai dirimu di tanah pekuburan
luar kota tempo hari, bukankah dia telah menggunakan pula
ilmu pedang Pat-kiam-hui-hiang? Bukankah jurus serangannya
persis ilmu pedang andalanmu itu?"
"Benar, caranya persis sama, hanya kurang sempurna
saja," jawab Tan Sam-cing dengan suara keras.

1087
"Sekarang aku mau menanyakannya satu hal yang sama,
semua pembicaraan yang dilakukan Hek-mo-ong
mempergunakan ilmu Jian-li-hwe-ing, padahal orang yang
pandai mempergunakan ilmu itu di kolong langit hanya Kuikok
Sianseng seorang. Kecuali diwariskan kepada Thio Kimciok,
pernahkah Kui-kok Sianseng mewariskan kepandaian itu
kepada orang lain?"
"Selain itu, Hek-mo-ong juga pandai dalam ilmu racun,
selain tabib sakti Gi Jian-cau, siapa lagi yang bisa
mempergunakan ilmu itu lebih sempurna darinya? Kemudian
ilmu menyaru muka Hek-mo-ong berasal dari Song-ciu."
"Dengan berbagai kepandaian sakti yang dimiliki Hek-moong,
coba bayangkan, kecuali Thio Kim-ciok, siapa lagi yang
mampu mempelajari begitu banyak ilmu sakti sekaligus?"
Pelan-pelan Thay-kun mengawasi wajah orang itu, lalu
lanjutnya, "Sejak dulu hingga sekarang, bila ada seorang
ganas dan buas melakukan perbuatan terkutuk yang
merugikan orang banyak, maka orang itu pasti mempunyai
maksud tujuan tertentu."
"Hek-mo-ong menantang perang terhadap sepuluh tokoh
sakti persilatan, sebenarnya apa maksudnya?"
"Apakah dia hendak menguasai dunia persilatan, menjadi
pemimpin umat persilatan?"
"Tentu saja tidak."
"Dia hendak membalas dendam."
"Karena sepuluh tokoh persilatan menyeleweng dengan
istrinya, berbuat mesum dengan bininya, selain itu membunuh
pula ratusan anak buahnya, maka dia harus membalas
dendam, membunuh kesepuluh jago persilatan itu."
Perkataan Thay-kun ini segera membuat orang terbelalak
dengan mulut melongo, perasaan ngeri segera timbul dalam
hati, membuat bulu kuduk berdiri.

1088
Semua fakta dan bukti sudah di depan mata, semua itu
dapat diterima dengan akal sehat. Selain Thio Kim-ciok,
rasanya memang tiada orang kedua yang kemungkinan besar
menjadi Hek-mo-ong.
Tapi Thio Kim-ciok sudah mati tiga puluh tahun lalu,
mayatnya telah tenggelam di dasar telaga. Bagaimana
mungkin dia bisa hidup kembali?
Oleh karena itulah Tio Tian-seng, Liu Khi serta Tan Samcing
tidak percaya kalau Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok.
Setelah mneghela napas, Tio Tian-seng berkata, "Meskipun
apa yang diduga nona masuk akal, akan tetapi Thio Kim-ciok
sudah mati, jenazahnya sudah tenggelam di dasar telaga dan
hal ini merupakan kenyataan. Orang yang sudah mati
masakah bias hidup kembali? Hal ini benar-benar sukar
diterima akal sehat."
"Dengan cara bagaimana Thio Kim-ciok hidup kembali
memang sama sekali tidak kuketahui," pelan-pelan Thay-kun
berkata. "Namun aku tahu, bangkitnya Thio Kim-ciok sudah
pasti mempunyai hubungan sangat erat dengan Gi Jian-cau."
"Apabila kalian ingin membuktikan benarkah Hek-mo-ong
adalah Thio Kim-ciok, aku rasa bila si tabib sakti dapat
ditemukan, maka semua duduk persoalan akan menjadi jelas."
"Bukankah menurut nona Thay-kun, Gi Jian-cau
bersembunyi di dalam Ban-jian-bong ini?"
"Benar," Thay-kun mengangguk. "Gi Jian-cau berada di
Ban-jian-bong."
"Kalau begitu untuk menyingkap tabir peristiwa ini,
bagaimana pun juga kita harus mencari si tabib sakti sampai
ketemu," ujar Liu Khi.
Thay-kun memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian
ujarnya, "Sekarang baru mendekati tengah hari, mari kita
berpencar melakukan pemeriksaan, bilamana salah seorang di

1089
antara kita menemukan jejak musuh atau menemukan Gi Jiancau,
gunakanlah tiga kali pekikan panjang sebagai tanda
untuk berkumpul. Ingat, bagaimana pun juga kita harus
menghindari pertarungan secara kekerasan. Sebelum matahari
terbenam nanti, kita berkumpul kembali di pintu masuk Banjian-
bong sebelah timur."
Mimpi pun Tio Tian-seng, Liu Khi serta Tan Sam-cing tidak
menyangka hari ini harus menuruti perintah seorang bocah
perempuan. Sekalipun dalam hati segera timbul perasaan tak
enak, namun mereka melaksanakan juga perintah itu tanpa
membantah.
Maka berangkatlah Tio Tian-seng, Tan Sam-cing dan Liu
Khi menuju ke arah timur, barat dan selatan.
Sedangkan Bong Thian-gak dan Thay-kun berangkat
menuju ke arah utara.
Ban-jian-bong memang pekuburan yang amat
menyeramkan, gua-gua gelap, liang-liang merekah dan peti
mati berserakan dimana-mana membuat suasana di tempat itu
benar-benar amat menggidikkan.
Baru saja Bong Thian-gak dan Thay-kun berangkat,
mendadak mereka menyaksikan di bawah kerumunan
pepohonan yang rindang berdiri tiga orang Hwesio berbaju
kuning.
Dengan ketajaman mata Thay-kun, sekilas pandang saja ia
segera mengenali Hwesio setengah umur yang bertubuh
gemuk itu adalah Hwesio yang bertanggung-jawab pada
pekuburan halaman sembilan.
Dia berdiri di situ dengan tangan memegang tasbih, tangan
kanan disilangkan di depan dada, sepasang matanya
terpejam, wajahnya kelihatan kereng dan serius.
Di sebelah kiri kanannya masing-masing berdiri Hwesio
jangkung dan pendek, keduanya bertubuh ceking tinggal kulit

1090
pembungkus tulang. Kedua orang itu pun memegang tasbih,
hanya sorot mata mereka yang tajam mengawasi wajah Thaykun
dan Bong Thian-gak.
Hati Bong Thian-gak bergetar keras, diam-diam pikirnya,
"Dari sorot mata ketiga Hwesio itu, jelas sudah bahwa mereka
adalah jago persilatan berilmu tinggi, sungguh tak disangka
para Hwesio yang berjaga di Ban-jian-bong memiliki
kepandaian silat begitu hebat."
Sementara dia masih termenung, Hwesio setengah umur
itu sudah membuka mata dan menegur dengan suara lantang,
"Omitohud, Sicu berdua hendak pergi kemana?"
Sambil tertawa Thay-kun menjawab, "Sejak pagi tadi, aku
sudah merasa bahwa Taysu berbeda dengan kebanyakan
orang, ternyata dugaanku memang benar, nyatanya Taysu
adalah seorang jago silat berilmu tinggi!"
"Omitohud!" kembali Hwesio itu berkata, "Ban-jian-bong ini
merupakan pekuburan yang diperuntukkan bagi mereka yang
telah mati untuk beristirahat tenang. Karena itu Pinceng
menganjurkan kepada Sicu berdua agar jangan menimbulkan
pembunuhan dalam Ban-jian-bong."
"Ah, ucapan Taysu terlalu serius," Thay-kun tersenyum.
"Kami hanya ingin mencari seorang sahabat lama di Ban-jianbong
ini. Bila Taysu bersedia memberi petunjuk, tentu kami
akan menemukannya dengan cepat."
Mendadak mencorong sinar tajam dari mata Hwesio gemuk
itu, katanya kemudian, "Apabila kalian berdua enggan
menuruti nasehatku dan secepatnya meninggalkan Ban-jianbong,
maka dalam Ban-jian-bong ini kemungkinan besar akan
bertambah lagi dengan dua liang kubur baru."
"Bukan hanya dua liang kubur baru yang akan bertambah
di Ban-jian-bong ini," jengek Thay-kun tertawa dingin.

1091
Sementara itu kedua Hwesio ceking yang berdiri di
belakang Hwesio gemuk itu sudah menunjukkan wajah gusar
dan hawa napsu membunuh yang berkobar-kobar.
Dengan suara dingin Hwesio gemuk itu menegur, "Li-sicu
telah membuat onar di sini. Apakah perbuatan itu tidak
keterlaluan?"
Tiba-tiba paras Thay-kun berubah menjadi dingin, lalu
katanya ketus, "Oh, rupanya Taysu sekalian sudah
mengetahui peristiwa yang terjadi di tanah pekuburan ini?
Kalau begitu Taysu sudah mengetahui asal-usul kami bukan?
Apabila Taysu seorang pintar, maka secepatnya beritahukan
kepada Gi Jian-cau, katakan kalau ada seorang rekannya yang
bernama Thay-kun datang berkunjung."
Berubah paras Hwesio gemuk itu, katanya, "Perkataan Lisicu
, tiada ujung pangkalnya, sungguh membuat orang tidak
habis mengerti."
Kembali Thay-kun tertawa dingin.
"Taysu harap dengarkan baik-baik, persembunyian Gi Jiancau
di Ban-jian-bong sudah bukan rahasia lagi. Sekalipun kami
tak mencarinya, pihak Hek-mo-ong pasti akan mencarinya dan
membinasakannya."
"Hari ini kami sengaja mencari Gi Jian-cau hendak
mengajaknya merundingkan bagaimana cara menghadapi
Hek-mo-ong. Nah, semua sudah kuutarakan, harap Taysu
mengambil keputusan secepatnya."
Dengan paras muka berubah hebat Hwesio gemuk itu
membentak, "Apabila kalian tidak segera mengundurkan diri
dari Ban-jian-bong, jangan salahkan bila Pinceng bertindak
keji."
Bong Thian-gak yang selama ini hanya berdiam di samping,
berkata sambil tertawa dingin, "Sebenarnya jurus tangguh

1092
macam apakah yang kau miliki? Tak ada salahnya kau
gunakan di hadapanku."
Sambil berkata pemuda itu segera maju ke muka dan
menghadang di depan Thay-kun.
Hwesio gemuk itu benar-benar gusar, dengan suara
menggele dia membentak, "Bagi mereka yang tak mau sadar,
hanya jalan kematian yang paling cocok baginya. Sute berdua
kalian mundur dulu."
Begitu diberi perintah, kedua Hwesio itu segera
membalikkan badan dan mundur ke belakang.
"Berhenti!" Bong Thian-gak segera membentak.
Dengan gerakan sangat cepat dia menerjang ke depan.
Pada saat Bong Thian-gak menggerakkan tubuh, ketiga
Hwesio itu melejit ke tengah udara, lalu memisahkan diri.
Thay-kun yang berada di belakang dan menyaksikan
peristiwa itu segera mengerti bahwa ketiga Hwesio itu sama
sekali tidak bermaksud melarikan diri, maka dia segera
berseru dengan suara merdu, "Hati-hati, mereka membalikkan
badan sambil melancarkan serangan balasan."
Belum selesai dia berkata, benar juga tampak Hwesio
gemuk itu membalikkan badan, kemudian berkata dengan
suara dingin, "Sayang keadaan sudah terlambat."
Sambil bicara dia mengayunkan tangan ke depan.
Sebiji tasbih yang berada di tangan kirinya sudah
disambitkan ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Berbareng kedua Hwesio jangkung dan pendek yang
memisahkan diri tadi, masing-masing membidikkan pula sebiji
tasbih ke arah Bong Thian-gak.

1093
Dengan kepandaian silat Bong Thian-gak, sudah barang
tentu serangan senjata rahasia biasa tak nanti bias melukai
dirinya.
Thay-kun yang berdiri di sisi arena dapat menyaksikan
peristiwa itu dengan jelas, dia lihat ketiga biji tasbih itu bukan
tertuju ke arah Bong Thian-gak, sebaliknya ditujukan ke satu
titik yang sama untuk saling bertumbukan satu sama lain.
Dengan cepat Thay-kun menyadari bahwa di balik semua
itu tentu ada sesuatu yang tidak beres, cepat dia membentak,
"Bong-suheng cepat mundur, tampaknya senjata rahasia itu
ada sesuatu yang tidak beres!"
Belum selesai dia berkata, ketiga biji tasbih yang meluncur
dari tiga arah yang berbeda itu sudah saling tumbuk.
Suatu ledakan keras segera berkumandang.
Rupanya ketiga biji tasbih kecil itu telah berubah menjadi
tiga buah letusan api yang meledak bersama di hadapan Bong
Thian-gak.
Jilatan api yang sangat besar segera menyebar bersamaan
dengan gulungan angin berpusing yang menderu.
Jerit kesakitan bergema, tahu-tahu tubuh Bong Thian-gak
sudah terpental.
Thay-kun dapat menyaksikan kejadian itu dengan jelas,
tubuh Bong Thian-gak sudah bermandikan darah dan
tergeletak di atas tanah.
Sambil menjerit kaget, Thay-kun segera menerjang ke
muka sambil berkata, "Bong-suheng!"
Sementara ketiga Hwesio itu sudah menerjang kembali,
tampak dalam genggaman mereka masing-masing membawa
sebiji tasbih.
Sudah jelas bukan tasbih biasa, melainkan peluru api Lenghwe-
tan. .

1094
Bong Thian-gak masih tergeletak di atas tanah, tapi saat itu
dia j berpekik panjang seraya berseru keras, "Sumoay, aku
belum mati. Kau cepatlah mundur, peluru Leng-hwe-tan itu
sangat lihai."
Dalam pada itu Bong Thian-gak telah melolos Pek-hiat-kiam
dan melompat bangun dari atas tanah, kemudian langsung
menyongsong datangnya Hwesio gemuk itu.
Peluru Leng-hwe-tan ketiga Hwesio itu kembali meluncur ke
depan dengan kecepatan luar biasa.
Namun gerakan pedang Bong Thian-gak pun tak kalah
cepatnya. Tampak cahaya pedang berkelebat bagaikan cahaya
bianglala, angin tajam pun membelah angkasa.
Tak sempat mengeluarkan jeritannya lagi, pinggang Hwesio
gemuk itu terbabat kutung menjadi dua bagian.
Pada saat bersamaan terjadi kembali ledakan keras, ketiga
biji Leng-hwe-tan kembali meletus di belakang Bong Thiangak.
,
Ketika berhasil membinasakan Hwesio gemuk itu, Bong
Thian-gak dengan tubuh menempel di atas tanah segera
berputar ke arah lain, sekali lagi terdengar pekikan nyaring
menggema, tahu-tahu cahaya pedang menyambar ke arah
Hwesio bertubuh jangkung.
Ketika melihat Hwesio gemuk tewas di ujung pedang Bong
Thian-gak, kedua Hwesio jangkung dan cebol sudah dibuat
ketakutan dan masing-masing melompat mundur. Berbareng
satu dari timur dan yang lain dari barat, mereka bersamasama
menyambitkan kembali dua biji leng-hwe-tan ke arah
Bong Thian-gak.
Sudah barang tentu Bong Thian-gak bukan pemuda bodoh
yang cuma berdiri mematung di tempat. Oleh sebab itu di saat
Leng-hwe-tan meledak di belakang tubuhnya, sudah tak
mampu untuk melukai dirinya lagi.

1095
Ketika ledakan menggelegar, pedang Bong Thian-gak
menyambar pula ke leher si Hwesio jangkung.
Suara jeritan ngeri bergema kembali, percikan darah segar
pun menyembur kemana-mana.
Menyaksikan gelagat tidak menguntungkan, Hwesio pendek
segera membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit
masuk ke balik hutan bambu.
Dari jarak jauh Bong Thian-gak menyambitkan Pek-hiatkiam
ke depan.
Cahaya pedang memercik di angkasa dan meluncur dengan
kecepatan luar biasa.
Jeritan ngeri yang memilukan sekali lagi bergema di
angkasa.
Si Hwesio bertubuh pendek tahu-tahu sudah tertusuk
pedang dan tewas di balik hutan bambu.
Setelah berhasil membunuh ketiga Hwesio secara beruntun,
Bong Thlnn-gak ikut roboh terjengkang ke atas tanah.
Walaupun dalam usahanya membunuh ketiga Hwesio tadi
ia telah menggunakan beberapa macam kepandaian yang
berbeda, namun berhubung gerakannya dilakukan dalam
kecepatan luar biasa dan lagi diselesaikan dalam satu
gebrakan saja, hal itu membuat Thay-kun sendiri pun tak
sempat memberikan bantuan kepadanya.
Thay-kun segera menerjang ke muka dan membangunkan
tubuh Bong Thian-gak.
Terdengar si anak muda itu merintih pelan, "Sumoay, di
balik peluru api itu tersimpan jarum lembut, kini dadaku telah
terkena jarum yang amat lembut itu. Aku ... mungkin aku
sudah tak tertolong lagi
Memandang dadanya yang basah oleh darah dan
keadaannya begitu mengerikan, air mata Thay-kun bercucuran

1096
dengan derasnya, sehingga membasahi wajah Bong Thiangak,
ujarnya sambil menahan isak tangis, "Suheng, bila jarum
lembut itu beracun, mana mungkin jiwamu tertolong."
Bong Thian-gak tertawa getir, "Sekalipun jarum-jarum
lembut itu tidak beracun, namun jarum itu amat lembut.
Apabila tertusuk ke dalam nadi, maka jarum tadi akan
mengalir masuk mengikuti gerakan darah. Dalam keadaan
begini, sekalipun ada dewa yang turun dari kahyangan pun
belum tentu jiwaku dapat diselamatkan."
"Ai, sungguh tidak kusangka, biji tasbih ketiga Hwesio itu
tersimpan peluru api yang berisi jarum lembut begitu beracun.
Senjata rahasia semacam ini biasanya berasal dari keluarga
Tong di propinsi Sucwan."
"Suheng, kau tak usah banyak bicara lagi," tukas Thay-kun
dengan air mata bercucuran. "Bila aku bisa mendapatkan
sepotong besi sembrani sekarang, jiwamu tentu akan
tertolong."
Bong Thian-gak menggeleng kepala sambil menghela
napas, "Aku tahu jiwaku sudah tak akan tertolong lagi, ai...."
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia
melanjutkan, "Sumoay, mumpung aku saat ini masih dapat
berbicara, aku ingin sekali memberitahukan satu hal
kepadamu."
Waktu itu pikiran Thay-kun sudah amat kalut, sambil
menahan isak tangis dia berkata, "Suheng, soal apa yang
hendak kau beritahukan kepadaku, cepatlah kau utarakan!"
"Aku ingin berkata kepadamu, aku cinta padamu," bisik
Bong Thian-gak sambil tertawa rawan.
"Suheng, tahukah kau bahwa aku pun selalu mencintaimu?"
kata Thay-kun kemudian.
Hati Bong Thian-gak bergetar keras, dengan gembira
serunya, "Kau ... kau tidak membohongi aku?"

1097
"Tidak, aku tak membohongimu, orang yang diam-diam
kucintai itu tak lain adalah kau, tapi berhubung kau sudah
mendapatkan Song Leng-hui, maka aku ... aku sengaja
berbohong kepadamu."
Tiba-tiba Bong Thian-gak berteriak, "Aku tidak boleh mati,
aku ... aku ingin hidup lebih lama."
Mendengar kata-kata itu, mendadak Thay-kun menangis
tersedu-sedu.
Sebab pada saat itu dia menyaksikan kekasih hatinya
sedang terancam kematian, cakar maut yang hendak
merenggut nyawanya dan dia ternyata tak mampu berbuat
apa-apa.
"Oh Thian, apa yang harus kulakukan untuk
menyelamatkan jiwanya?"
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang amat kaku
dan mengerikan.
Rasa sedih yang kelewat batas membuat Thay-kun
kehilangan perasaannya. Dia seakan-akan sama sekali tidak
mendengar suara lerlawa dingin itu, padahal sekalipun
mendengar juga dia tak akan memalingkan kepala.
Sekarang dia hanya tahu memeluk kekasihnya,
memeluknya dengan kencang.
Sebaliknya Bong Thian-gak segera melihat empat sosok
bayangan telah muncul di sisi tubuhnya.
Mereka terdiri dari seorang nenek berambut putih,
perempuan dan lelaki kekar bermata tunggal serta seorang
gadis cantik jelita dan genit.
Tanpa terasa Bong Thian-gak berseru kaget, "Ah, Biaukosiu!"
Setelah mendengar suara seruan Bong Thian-gak, Thaykun
baru sadar dari impiannya, dia segera memandang

1098
keempat orang itu sekejap, lalu pelan-pelan berkata, "Cepat
amat kedatangan kalian. Bila kau ingin membunuh kami,
sekarang tak usah banyak waktu dan tenaga lagi."
Biau-kosiu tertawa dingin, tanyanya, "Bukankah dia sudah
terkena jarum beracun ekor lebah dari peluru api?"
Mendengar pertanyaan itu, Thay-kun segera menghela
napas sedih, "Ai, sungguh tak disangka jarum ekor lebah itu
mengandung racun jahat."
Sesudah menghela napas panjang, dia menghentikan katakatanya
dan tidak berbicara lebih jauh.
Dengan suara dingin Biau-kosiu berkata, "Setiap orang
yang sudah terluka jarum beracun ekor lebah keluarga Tong,
maka dalam tiga jam, racun jahat itu akan menyerang
jantung. Bila keadaan sudah begini, biar ada obat dewa pun
jangan harap bisa menyelamatkan jiwanya."
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Thay-kun,
segera tanyanya penuh harapan, "Jadi kau dapat
menolongnya?"
Sekali lagi Biau-kosiu tertawa dingin.
"Aku hanya dapat mengeluarkan jarum beracun dari
tubuhnya, namun tidak mampu menyembuhkan luka beracun
dalam tubuhnya."
Mendengar sampai di situ, dengan nada memohon Thaykun
berkata, "Biau-kosiu, kumohon kepadamu, tolonglah dia
dan sembuhkan luka yang dia derita. Apa pun syarat yang kau
ajukan, pasti aku akan menyetujui."
Biau-kosiu tertawa dingin.
"Racun yang terkandung pada jarum ekor lebah keluarga
Tong di propinsi Sucwan bukanlah racun sembarang racun.
Sekalipun aku berhasil mengeluarkan jarum beracun itu dari

1099
dalam tubuhnya, sulit juga baginya untuk mempertahankan
hidup."
"Padahal dia sudah terkena racun jahat dari Hek-mo-ong,
cepat atau lambat dia pasti akan mati juga."
Thay-kun menangis terisak.
"Nona Biau, aku tahu kau sanggup menyelamatkan
jiwanya, apalagi racun Hek-mo-ong pun disampaikan
kepadanya melalui tanganmu. Sekalipun Hek-mo-ong
membenci seluruh jago lihai yang ada di dunia persilatan, tapi
Jian-ciat-suseng sama sekali tak punya jalinan dendam atau
pun sakit hati apa pun dengannya. Apakah kalian benar-benar
hendak membinasakan dirinya?"
Berubah paras muka Biau-kosiu, dengan suara dingin ia
berkata, "Darimana kau tahu racun dari Hek-mo-ong diterima
olehnya melalui tanganku?"
"Karena kau adalah anak buah Hek-mo-ong."
"Kau seorang yang sangat pintar dan bisa menduga semua
persoalan secara tepat dan pasti. Tapi dugaanmu kali ini
keliru, aku sama sekali bukan anak buah Hek-mo-ong."
Thay-kun tertawa rawan, "Apabila kau bukan anak buah
Hek-mo-ong, maka aku pun merasa lega."
"Tidak usah banyak bicara lagi," tukas Biau-kosiu dengan
suara dingin. "Bila berniat menyelamatkan jiwanya, satusatunya
jalan adalah menemukan Gi Jian-cau. Biarpun
membawa besi sembrani, keselamatan jiwanya masih tetap
terancam."
Selesai berkata, Biau-kosiu segera merogoh ke dalam
sakunya dan mengeluarkan sepotong besi berwarna hitam
yang segera dilontarkan kehadapan Thay-kun, katanya lagi,
"Untuk sementara waktu kupinjamkan besi sembrani padamu.
Silakan kau turun tangan mengisap jarum-jarum beracun itu
dari mulut lukanya!"

1100
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar nenek berambut putih
itu menimbrung, "Anak Siu, mengapa kau harus
membantunya?"
Biau-kosiu menghela napas, sahutnya, "Nenek, aku merasa
berhutang budi padanya karena dia telah membantuku
merebut kembali kitab pusaka Kui-kok-khi-liok, jadi aku
merasa wajib membantunya."
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi, "Nenek,
mari kita pergi."
Selesai berkata Biau-kosiu bersama nenek berambut putih,
lelaki dan perempuan kekar bermata tunggal membalikkan
badan dan segera berlalu dari situ.
Thay-kun memungut besi sembrani itu sambil mengawasi
bayangan tubuh keempat orang itu berlalu dari sana.
Memandang bayangan punggung mereka yang memasuki
hutan bambu, dia menggeleng kepala sambil bergumam,
"Sungguh tak nyana dia akan meminjamkan besi sembrani,
ai..”
Sejak kedatangan Biau-kosiu, Bong Thian-gak memejamkan
mata. Saat itu tiba-tiba dia berkata sambil menghela napas,
"Tindak-tanduknya yang sebentar bermusuhan dan
bersahabat ini sungguh membuat orang merasa bingung dan
tak habis mengerti. Ai! Sumoay, kau tak usah bersusah payah
lagi, sekalipun jarum-jarum beracun itu berhasil kau luap,
namun sari racunnya telah menyusup ke dalam tubuhku
dengan mengikuti aliran darah, akhirnya aku bakal tewas
juga."
"Suheng, kau tak boleh mati," kata Thay-kun dengan
lembut. "Kita tentu akan berhasil menemukan Gi Jian-cau.
Sekarang berbaringlah dahulu dengan tenang, biar kucoba
mengisap keluar jarum-jarum beracun itu dengan besi
sembrani ini."

1101
Selesai berkata dia segera membaringkan tubuh Bong
Thian-gak fce alas tanah, kemudian turun tangan melepas
pakaian bagian atasnya.
Tampak pada dada sebelah kiri dekat puting susu, kulit
daging berdarah, bahkan di beberapa tempat terbakar hangus.
Sekarang noda darah itu sudah mengering, karena itu
Thay-kun harus bersusah-payah membersihkan noda darah
mengering itu, membiarkan darah segar meleleh kembali.
Kemudian Thay-kun menempelkan besi sembrani di tangan
kanannya itu ke atas mulut luka. Ketika diangkat kembali,
pada ujung besi sembrani itu sudah menempel tujuh batang
jarum yang amat lembut, jarum-jarum lembut itu tak lain
adalah jarum ekor lebah yang berwarna hitam pekat.
Dengan cepat Thay-kun mencabut jarum-jarum ekor lebah
itu dari atas besi sembrani, kemudian mencari lagi di sekitar
mulut luka itu.
Lebih kurang sepeminuman teh, seluruhnya Thay-kun
berhasil mengangkat tiga belas batang jarum beracun.
Sambil menghela napas Thay-kun berkata, "Meskipun
jarum ini sangat lembut dan kecil, untung kekuatannya tak
seberapa besar hingga tak mampu menembus badan lebih
dalam lagi. Jika jarum beracun itu sampai memasuki nadi
darah, wah, apa jadinya."
Tiba-tiba Bong Thian-gak melompat bangun dan duduk,
lalu katanya sambil tertawa getir, "Racun jahat jarum itu
sudah telanjur memasuki aliran darah, cepat atau lambat
akhirnya aku bakal mati juga."
Thay-kun segera membersihkan besi sembrani itu dari noda
darah, lalu disimpan kembali ke dalam sakunya. Setelah itu dia
bertanya dengan lembut, "Bagaimana rasanya sekarang?"
"Mulut luka itu masih terasa panas, agaknya sudah
menunjukkan gejala keracunan."

1102
"Mari kubimbing kau pergi dari sini, kita harus secepatnya
mencari si tabib sakti."
"Tidak ada gunanya," sahut Bong Thian-gak sambil
menggeleng. "Kini aku hanya berharap kau bisa menemaniku
selama tiga jam. Berilah kesempatan padaku untuk bicara
padamu."
"Suheng, aku tak bisa hidup tanpa kau, seandainya kau
mati, maka aku pun tak ingin hidup seorang diri, oleh sebab
itu kau harus hidup," kata Thay-kun dengan suara amat
lembut
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Semutpun ingin hidup, apalagi manusia. Ai, tapi empat
samudra begini luas, dimanakah si tabib sakti berada? Ai,
sekalipun dia benar-benar bersembunyi dalam Ban-jian-bong
ini, kemanakah kita harus pergi mencarinya? Sekalipun
berhasil ditemukan, belum tentu ia bersedia menyelamatkan
jiwaku."
"Tiga jam adalah waktu yang singkat dan segera akan
lewat dalam sekejap, lagi pula mungkin aku akan jatuh
pingsan tak lama lagi."
"Suheng, sekarang aku mendapatkan firasat yang
mengatakan si tabib sakti berada tak jauh dari sini,
secepatnya kita akan berhasil menemukan dirinya."
Bong Thian-gak mengerut dahi, kemudian berkata,
"Sungguh aneh, sewaktu aku bertarung melawan ketiga
Hwesio tadi, aku sudah menperdengarkan tiga kali suara
pekikan panjang. Mengapa hingga sekarang belum tampak
juga Tio Tian-seng sekalian datang kemari?"
"Dalam keadaan begini aku tak mempunyai hasrat dan niat
lagi memikirkan persoalan itu. Suheng, apakah kau ingin
menyerah begitu saja menerima kematian?"

1103
Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, baiklah! Aku
akan mengikutimu mencarinya."
Selesai berkata, di bawah bimbingan Thay-kun dengan
perlahan-lahan pemuda itu berdiri.
Siapa tahu baru saja ia berdiri, sekujur tubuhnya segera
gemetar keras.
"Aduh," keluhnya pelan, paras mukanya segera berubah
pucat-pasi, bibirnya menghijau dan kulit badannya mengejang
keras, wajahnya mencerminkan penderitaan luar biasa.
Dengan terkejut Thay-kun segera bertanya, "Suheng,
mengapa kau?"
"Aku, mungkin aku sudah tak jauh dari kematian," bisik
Bong Thian-gak dengan suara gemetar. "Dadaku terasa sakit,
kepalaku terasa amat pening."
Thay-kun merentangkan tangan memeluk tubuh pemuda
itu, katanya, "Suheng, bagaimana kalau kubopong dirimu
menuju ke bawah pohon yang rindang di depan sana?"
Dengan membopong tubuh anak muda itu, Thay-kun tiba di
bawah pohon rindang, di atas gundukan tanah berumput, di
situlah mereka duduk.
Bong Thian-gak berbaring dalam pelukannya dengan wajah
pucatpasi, seluruh badannya mengejang keras, agaknya
penderitaan dan siksaan yang dialaminya bukannya
berkurang, malah sebaliknya semakin bertambah.
Akhirnya pemuda itu mulai merintih, "Oh Sumoay, sekarang
anggota badanku sakit dan linu, sekujur badanku seperti
hancur."
"Ah!" Thay-kun menjerit kaget. "Mungkin racun jarum ekor
lebah itu telah memancing bekerjanya racun Hek-mo-ong
sebelum waktunya."

1104
"Bila dua macam racun itu bekerja pada saat bersamaan,
sudah dapat dipastikan aku akan mati secara mengenaskan.
Oh, Thay-kun, aku ingin menyampaikan beberapa persoalan
kepadamu."
"Setelah aku mati nanti, tolong bawalah jenazahku ini ke
sebuah lembah terpencil di puncak Cui-im-hong di bukit Bongsan
dan kuburkanlah aku di situ, istriku Song Leng-hui
berdiam di situ."
"Kedua, tolonglah Oh Cian-giok, putri Oh Ciong-hu, dari
sekapan musuh, dia telah ditangkap oleh Ho Lan-hiang, Congkaucu
Put-gwa-cin-kau dan entah disekap dimana?"
Perkataan Bong Thian-gak itu diutarakan dengan suara
lirih, seolah-olah merupakan pesan terakhir menjelang ajal,
begitu pilu dan pedih suaranya sehingga membuat suasana
tercekam dalam suasana penuh haru.
Dengan air mata bercucuran dan suara tersengguk
menahan isak-tangis, Thay-kun berseru, "Oh Suheng, kau tak
boleh mati, kau tak akan mati. Kau harus mengobarkan
semangatmu untuk hidup terus, bukankah beberapa kali kau
bisa lolos dari ancaman bahaya maut? Bukankah dua kali kau
bisa mempertahankan hidupmu? Mengapa kau tidak mampu
untuk ketiga kalinya?"
"Aku rasa kali ini belum tentu aku beruntung. Aii, sekarang
aku rela mati, karena selama ini aku bertekad untuk hidup
terus demi membalas dendam bagi kematian guruku, Oh
Ciong-hu, sekarang aku sudah tahu Oh Ciong-hu telah tewas
di tangan Hek-mo-ong dan mereka saling bunuh karena
perselisihan berantai, rasanya aku tak usah melibatkan diri lagi
dalam pertentangan itu."
"Thay-kun, sesungguhnya aku adalah anak buangan yang
tak berayah dan beribu. Sejak dua puluh tahun berselang, aku
seharusnya sudah mati kelaparan, mati kedinginan ... dan kini

1105
aku sudah bisa hidup selama dua puluh tahun lagi, aku sudah
cukup puas, aku pun tak menyesal untuk mati sekarang."
"Thay-kun, kau tak usah bersedih, kehidupan manusia di
dunia ini ibarat sebuah impian, tiada orang yang tetap
berkumpul dan tak pernah berpisah. Aku ... aku akan
menunggumu di alam baka."
Sampai di situ, suara Bong Thian-gak makin lirih dan kecil,
akhirnya dia tak sadarkan diri.
Menyaksikan itu, Thay-kun berteriak, "Suheng ... Suheng!"
Cepat ia memeriksa napasnya, ternyata napas pemuda itu
semakin lemah. Ketika diperiksa denyut nadinya, detak
jantung pemuda itupun belum berhenti, ia segera tahu
pemuda itu belum mati, dia hanya jatuh pingsan saja.
Karenanya Thay-kun merasa hatinya sedikit lega.
Pikirnya kemudian, "Bagaimana pun juga aku harus berhasil
menemukan si tabib sakti, sebab di kolong langit ini hanya dia
seorang yang mampu menolong Bong Thian-gak."
Kemudian ia pun berpikir lebih jauh, "Bong Thian-gak
sudah terkena jarum ekor lebah keluarga Tong yang
termasyhur karena keganasannya, seharusnya racun jahat itu
baru akan mulai menyerang ke jantung setelah tiga jam, tapi
sekarang racun itu sudah membangkitkan racun Hek-mo-ong
yang telah mengeram dalam tubuhnya, diserang oleh dua
racun pada saat yang bersamaan. Entah berapa lama Bong
Thian-gak dapat mempertahankan hidup?"
Mendadak tampak bayangan orang berkelebat, Thay-kun
segera menyaksikan dari berbagai arah bermunculan dua
puluhan Hwesio berbaju kuning.
Kawanan Hwesio itu sama sekali tidak mirip tampang
seorang Hwesio, bukan saja wajah mereka gemuk dan penuh
daging, matanya memancarkan pula sinar kebuasan yang

1106
mengerikan, masing-masing menggenggam senjata tajam
menyerupai tombak pendek.
Tatkala kawanan Hwesio itu menjumpai jenazah ketiga
Hwesio lain yang tergeletak di atas tanah, sekilas perasaan
kaget dan ngeri segera menghiasi wajah mereka, langsung
mereka menghentikan langkah.
Sebaliknya Thay-kun yang melihat kawanan Hwesio itu
segera berpikir, "Untuk menemukan si tabib sakti, rasanya
hanya bisa dicari dari mulut mereka."
Menurut pendapat Thay-kun, kawanan Hwesio ini
seharusnya tak dipengaruhi jago persilatan dan apabila Gi
Jian-cau benar bersembunyi di tempat ini, maka kepandaian
silat yang dimiliki orang-orang itu pasti merupakan didikan Gi
Jian-cau, otomatis kepandaian silat yang dibina olehnya ini
secara khusus hendak digunakan untuk menghadapi Hek-moong
yang hendak mencari balas kepadanya.
Saat inipun Thay-kun juga sudah tahu kawanan Hwesio itu
tidak lebih hanya jago-jago kelas tiga. Itulah sebabnya,
sewaktu mereka saksikan ketiga sosok mayat Hwesio yang
dibunuh Bong Thian-gak tadi, timbul perasaan takut dalam
hati. Sebab ketiga orang yang terbunuh itu merupakan jago
lihai kelas satu dalam Ban-jian-bong.
Kawanan Hwesio bermuka bengis itu tampak ragu-ragu
sejenak, tiba-tiba mereka menyerbu ke depan.
Sudah jelas di sekitar tempat itu tak tampak orang lain,
kecuali dua orang di hadapannya, padahal yang lelaki sudah
terluka parah sedang yang perempuan tidak perlu ditakuti.
Itulah sebabnya nyali mereka semakin bertambah besar.
"Berhenti!" Thay-kun membentak nyaring.
Kawanan Hwesio yang mengurung menjadi terkejut dan
serentak menghentikan langkah.

1107
Waktu itu Thay-kun telah membaringkan Bong Thian-gak di
atas tanah berumput dan dia berdiri di depan gundukan tanah
itu dengan wajah memancarkan sinar kewibawaan yang
membuat hati orang bergidik, sorot matanya yang tajam
mengawasi kawanan Hwesio itu tanpa berkedip.
Dalam waktu singkat kawanan Hwesio itu dapat merasakan
bahwa perempuan cantik bak bidadari dari kahyangan di
hadapan mereka ini bukanlah perempuan lemah, sebaliknya
justru merupakani harimau ganas dan menakutkan.
Seorang Hwesio bermuka hitam dan agak gemuk,
tampaknya merupakan pemimpin gerombolan itu tertawa licik,
kemudian dengan suara parau dia berkata, "Bocah
perempuan, kau tak usah mencari kematian, kau cukup
menjawab beberapa buah pertanyaan yang kuajukan, tak
nanti aku menyusahkan dirimu."
"Aku pun hendak mengajukan beberapa pertanyaan
kepadamu, usul kau pun bersedia menjawab beberapa buah
pertanyaanku, tentu k.ilian bisa hidup terus. Kalau tidak, hm,
kalian akan mati konyol di sini."
Selesai berkata Thay-kun segera mengayun telapak tangan
kirinya ke depan dan melepaskan sebuah pukulan.
Tanpa menimbulkan sedikit suara pun tahu-tahu tiga
Hwesio berbaju kuning yang berdiri di sebelah utara sudah
roboh terjengkang ke ulas tanah dan tewas oleh pukulan Sohli-
jian-yang-sin-kang yang sangat lihai.
Tiba-tiba hati Thay-kun bergetar keras melihat ketiga orang
Hwesio itu roboh binasa, pikirnya, "Heran, mengapa tenaga
dalamku bisa tumbuh begitu tangguhnya? Padahal jaraknya
cukup jauh, namun kenyataan seranganku berhasil merenggut
nyawa mereka sekaligus. Hal Ini benar-benar tak terduga."
Thay-kun benar-benar diliputi perasaan kaget dan gembira,
padahal dia hanya bermaksud melepas pukulan untuk
menggetar mundur para Hwesio itu agar mereka takut dan

1108
mundur teratur. Siapa sangka pukulan itu ternyata
mengandung tenaga begitu dahsyat hingga mencabut nyawa
lawan.
Tenaga dalamnya sekarang telah meningkat dua kali lipat
daripada sebelumnya
"Ah! Ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang telah berhasil mencapai
ke tingkat sepuluh."
"Aku ... aku sudah mampu membunuh Cong-kaucu Putgwa-
cin-kau."
Mendadak Thay-kun mengayun tangannya dan sekali lagi
melancarkan pukulan maut.
Tanpa disertai desingan angin pukulan sedikit pun, tahutahu
tujuh Hwesio yang berada di sebelah selatan roboh
bergelimpangan tanpa nyawa lagi.
Suara bentakan dan teriakan panik segera berkumandang,
kawanan Hwesio itu segera membalikkan badan dan melarikan
diri terbirit-birit, malah saking takutnya ada di antara mereka
yang terkencing-kencing.
"Mau kabur kemana?" bentak Thay-kun
Dengan gerakan tubuh ringan dia berkelebat maju, lalu
tangan kanannya menyambar dan mencengkeram baju bagian
belakang si Hwesio gemuk itu.
Perawakan Hwesio gemuk jauh lebih berat daripada rekanrekannya.
Mesti begitu ketika bajunya kena dicengkeram, dia
segera berhenti dan tidak sanggup beranjak barang setengah
langkah pun.
Saking takutnya, kontan dia berkaok-kaok, "Dewi yang
mulia, ampunilah nyawaku, ampunilah jiwaku ini!"
Thay-kun tertawa dingin, mendadak ia membanting
tubuhnya ke atas tanah, bentaknya, "Boleh saja kuampuni

1109
jiwamu, cuma kau mesti menjawab beberapa pertanyaanku
secara baik."
Pelan-pelan Hwesio itu merangkak bangun, ia merasakan
suasana di sekeliling tempat itu sunyi-senyap, rekan-rekannya
sudah mampus atau melarikan diri, kini tinggal dia seorang
yang berada di situ ditemani rekan-rekannya yang telah
menjadi mayat.
Dengan perasaan sangat takut, Hwesio itu berlutut di atas
tanah dan menganggukkan kepala berulang kali seraya
berkata, "Apa yang ingin dewi tanyakan, tentu akan kujawab,
aku takkan berbohong."
"Siapakah nama pemimpin kalian? Ayo jawab secepatnya,"
tanya Thay-kun segera.
"Pemimpin kami adalah Hongtiang ruang ketujuh kuburan
ini, Ci-kim-kong Hwesio."
"Lalu siapakah ketiga orang Hwesio itu?" tanya Thay-kun
dengan kening berkerut.
"Apakah dewi tanyakan ketiga Hwesio bertasbih itu?
Mereka adalah Hwesio yang bertugas di tanah pekuburan ini,
bersama Ci-kim-kong Hwesio, mereka disebut sepuluh orang
Toa-kim-kong."
"Bagaimanakah tampang Ci-kim-kong Hwesio?" kembali
Thay-kun bertanya.
Sebelum perkataan itu selesai diutarakan, tiba-tiba
terdengar suara menyeramkan berkumandang.
"Hud-ya telah datang. Bagaimanakah tampang mukaku
boleh perhatikan sendiri dengan jelas."
Tiba-tiba terdengar jeritan lengking yang memilukan,
rupanya jeritan seperti babi disembelih itu berasal dari si
Hwesio bermuka hitam.

1110
Tampak Hwesio bermuka hitam itu bergulingan di atas
tanah beberapa kali sebelum akhirnya sama sekali tidak
berkutik lagi.
Dengan ketajaman mata Thay-kun, sekilas pandang saja ia
sudah melihat di atas tengkuk Hwesio bermuka hitam itu
tertancap sebatang anak panah kecil.
Anak panah itu meluncur tanpa menimbulkan sedikit suara
pun dan tepat menghajar belakang kepala si Hwesio bermuka
hitam itu secara telak, nyata orang yang melepaskan anak
panah itu memiliki kepandaian silat luar biasa.
Pelan-pelan Thay-kun memandang ke depan.
Entah sedari kapan di hadapannya telah muncul tujuh
Hwesio berperawakan tinggi pendek tak menentu, namun di
tangan kiri masing-masing memegang tasbih yang sama.
Tak salah lagi biji tasbih itu tentulah Leng-hwe-tan yang
berisi jarum beracun ekor lebah.
Di antara ketujuh Hwesio itu, berdiri Hwesio tinggi besar
berjenggot hitam sepanjang dada dan berwajah merah,
mungkin orang Inilah yang menjadi pimpinan pasukan
keamanan Ban-jian-bong, Ci-kim-kong Hwesio.
Sambil tertawa dingin, Thay-kun segera bertanya, "Kaukah
yang bernama Ci-kim-kong Hwesio?"
Hwesio itu tertawa licik, "Betul, Hud-ya orangnya."
Semula Thay-kun mengira nama Ci-kim-kong Hwesio
adalah nama samaran Gi Jian-cau, sekarang dia merasa
kecewa mendengar jawaban itu, katanya kemudian dengan
suara dingin, "Kedatanganmu nangat tepat, ada satu
persoalan ingin kutanyakan kepadamu."
"Apakah kau ingin bertanya kepadaku, dimanakah Gi Jiancau
berada?" ujar Ci-kim-kong Hwesio dengan suara
menyeramkan.

1111
Thay-kun dibuat tertegun.
"Darimana kau bisa tahu?"
"Barusan, sudah ada tiga orang yang mengajukan
pertanyaan yang sama kepadaku."
"Apakah kau sudah memberitahukan kepada mereka?" Cikim-
kong Hwesio tertawa bangga.
"Sebenarnya Hud-ya ingin mengajak mereka pergi
menjumpai Gi Jian-cau, tapi sayang ketiga orang itu sudah tak
mampu bergerak lagi, oleh sebab itu Hud-ya pun tidak jadi
membawa mereka."
Thay-kun menjadi terkejut sekali mendengar perkataan itu,
dia segera bertanya, "Jadi kalian telah melukai mereka
bertiga?"
Dengan bangga Ci-kim-kong Hwesio tertawa terbahak,
"Baik Mo-kiam-sin-kun maupun Liu Khi dan Pat-kiam-huihiang,
semuanya tak ada yang lolos, mereka sudah terluka."
Berada dalam suasana dan keadaan seperti ini, mau tak
mau Thay-kun harus membuat penilaian baru terhadap
kepandaian silat Ci-kim-kong Hwesio.
Kepandaian silat Tio Tian-seng bertiga sudah terhitung
sangat tangguh dan hebat, bagaimana mungkin mereka dapat
dilukai secara mudah?
Tapi kenyataan Ci-kim-kong Hwesio sanggup melukai
mereka bertiga, terbukti betapa lihainya kepandaian silat
orang ini.
"Apakah mereka bertiga terluka oleh Leng-hwe-tan?" tanya
Thay-kun.
"Benar, mereka memang terluka oleh Leng-hwe-tan dalam
biji tasbih ini," jawaban Ci-kim-kong Hwesio terdengar amat
dingin dan menyeramkan.

1112
Thay-kun segera tersenyum.
"Kalau begitu Tio Tian-seng bertiga terluka karena
memandang enteng kemampuanmu, bukan karena kau bisa
mengungguli mereka dengan mengandalkan kepandaian
sejati. Sekalipun peluru Leng-hwe-tan sangat lihai, tapi
bukankah sudah kau saksikan sendiri, ketiga Hwesio yang
membawa Leng-hwe-tan pun tak berhasil meloloskan diri dari
kematian."
Paras muka Ci-kim-kong Hwesio berubah hebat, segera
ujarnya dingin, "Jadi ketiga Kim-kong Hwesio itu tewas di
tanganmu?"
"Bukan, mereka mati dibunuh oleh Jian-ciat-suseng."
Sambil menarik muka Ci-kim-kong Hwesio kembali berkata,
"Kalau memang bukan mati di tanganmu, Hud-ya pun tak
ingin menyusahkan dirimu. Segera kau boleh meninggalkan
Ban-jian-bong!"
Thay-kun tersenyum.
"Sebelum bertemu Gi Jian-cau, aku tak akan
mengundurkan diri dari Ban-jian-bong begitu saja."
"Bila kau tak segera mengundurkkan diri dari Ban-jianbong,
maka hanya jalan kematian yang akan kau hadapi."
Ketika Thay-kun menyaksikan keenam Hwesio lainnya telah
bersiap melancarkan serangan, mendadak ia berseru, "Tunggu
dulu!"
"Apakah kau hendak mengundurkan diri dari Ban-jianbong?"
"Aku tidak ingin melukai orang terlalu banyak," kata Thaykun
dengan suara dingin. "Aku tak lebih hanya ingin bertemu
Gi Jian-cau serta memohon kepadanya untuk menyelamatkan
jiwa Jian-ciat-suseng, soal lain aku tidak mengharapkan apaapa."

1113
"Hud-ya pun tidak mengharapkan apa-apa darimu, aku
hanya berharap kau suka mengundurkan diri dari Ban-jianbong
dengan segera."
"Percayakah kau, sebelum kalian sempat melepaskan Lenghwe-
tan yang pertama, aku sanggup membinasakan kalian
semua?" kata Thay-kun.
Tiba-tiba Ci-kim-kong Hwesio membentak, "Bunga salju
terbang di angkasa!"
Sebagai seorang jago persilatan yang berpengalaman luas,
Thay-kun segera tahu pihak lawan sedang menurunkan
perintah untuk melancarkan serangan. Setelah mendengar
suara bentakan itu, maka dia pun segera membentak dan
mengayunkan telapak tangan kirinya melepaskan sebuah
pukulan.
Segulung tenaga pukulan yang sangat kuat dan
mengandung tenaga Soh-li-jian-yang-sin-kang segera
meluncur ke depan secepat kilat dan menerjang seorang Kimkong
Hwesio yang berdiri di sudut paling kiri.
Serangan itu segera meluncur ke muka tanpa menimbulkan
sedikit suara, tahu-tahu saja Kim-kong Hwesio itu roboh
terjungkal, kemudian tanpa menimbulkan suara keluhan apa
pun, dia terkulai dan tak pernah merangkak bangun kembali.
Ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Thay-kun yang
maha dahsyat itu dengan cepat mengejutkan semua Kim-kong
Hwesio lain. Dengan begitu dia tak punya kesempatan lagi
melukai Hwesio kedua.
Tiga dengungan keras yang memekakkan telinga
berkumandang, lalu secepat kilat menyelimuti seluruh arena
pertarungan itu.
Ternyata keenam Kim-kong Hwesio itu telah melepaskan
biji tasbihnya secara beruntun ke angkasa dengan ilmu
melepaskan senjata rahasia yang khusus.

1114
Dalam waktu singkat biji-biji tasbih itu menari-nari di
angkasa seperti bunga salju beterbangan di udara.
Dalam waktu singkat seluruh badan Thay-kun sudah
terjerumus ke dalam lautan api, dia seperti seekor burung
dalam sangkar yang dibikin ketakutan, terbang ke sana
kemari, namun selalu gagal melepaskan diri dari kepungan.
Thay-kun benar-benar terkejut setelah menghadapi
kejadian ini, dia bukannya takut terluka di tangan musuh, tapi
dia kuatir Bong Thian-gak yang masih tak sadarkan diri itu
akan terluka lagi oleh serangan Leng-hwe-tan lawan.
Baru saja pikirannya bercabang, tiba-tiba dua biji Lenghwe-
tan sudah saling tumbuk di hadapannya dan
menimbulkan ledakan yang keras.
Ibarat daun berguguran dari atas ranting, Thay-kun segera
bergulingan di atas tanah.
Biarpun gerakannya ini berhasil menyelamatkannya dari
ancaman j tiga puluh jarum beracun ekor lebah, namun gagal
menghindari sergapan bara api, dalam waktu singkat
pakaiannya sudah terbakar hangus.
Biji tasbih berpeluru Leng-hwe-tan itu memang benar-benar
senjata rahasia yang tiada taranya, apalagi dipancarkan oleh
enam Kim-kong Hwesio pada saat bersamaan, kekuatannya
luar biasa.
Kobaran api yang membumbung tinggi ke angkasa serta
kilatan guntur yang menggelegar membuat Thay-kun seperti
sasaran yang diincar setiap orang, pada hakikatnya sama
sekali tidak tersisa sedikit kemampuan pun untuk melancarkan
serangan balasan.
Mendadak dari luar lingkaran kepungan, terdengar Ci-kimkong
Hwesio membentak.

1115
Tahu-tahu Hwesio itu sudah mendesak maju, tangan
kanannya segera diayunkan ke muka dan sebatang anak
panah segera meluncur ke depan bagai sambaran kilat.
Tahu-tahu senjata itu sudah mengancam dada Thay-kun.
Di bawah serangan Leng-hwe-tan yang menimbulkan
kobaran api dan asap tebal ini, siapa saja pasti akan
merasakan kepala pening dan mata berkunang-kunang,
pikiran kalut dan perasaan kacau-balau tak keruan. Dalam
keadaan demikian, siapa pun pasti tak akan mampu
menghindarkan diri dari serangan anak panah yang demikian
cepatnya.
Dalam anggapan Ci-kim-kong Hwesio, Thay-kun sudah
pasti akan terkena sasaran anak panahnya pula.
Seringkah kenyataan memang berada di luar dugaan siapa
saja, sementara Thay-kun menjerit kaget, dia telah membalik
pergelangan tangan kanannya menangkap anak panah itu,
lalu balik menyambitkan ke depan.
Jeritan ngeri yang menyayat hati seperti jeritan babi
disembelih segera berkumandang.
Seorang Kim-kong Hwesio yang kebetulan berdiri di
hadapannya terkena sambitan anak panah itu tepat pada
matanya hingga roboh binasa.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 7 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 7 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-terbaik-pendekar-cacat-7.html?m=0,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 7 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 7 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 7 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-terbaik-pendekar-cacat-7.html?m=0. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar