KEDELE MAUT 4

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 09 September 2011

Tapi
Ngo Cun ki segera tertawa :
"Maaf bila siauli ingin bertanya sekali lagi, beranikah lo siansu
menjamin bahwa setiap orang yang berada dalam ruangan
sekarang, sama sekali tiada mata-mata pihak partai kupu-kupu yang
turut menyelundup masuk?"
Begitu perkataan tersebut diutarakan, kembali Phu sian sangjin
dibikin tertegun. Tapi dengan cepat dia telah berkata sambil tertawa
: "Ngo ciangbunjin terlalu banyak curiga"
"Apakah disekeliling kuil Leng thian sian wan ini sudah dilakukan
penjagaan istimewa?" kembali Ngo Cun ki bertanya dingin. "Boleh
dibilang amat ketat bagaikan besi baja"
"Bagus sekali" seru Ngo Cun ki kegirangan, "kalau begitu maaf
kalau siauli akan berbicara secara langsung, besar kemungkinan
diantara para hadirin sekarang telah terdapat mata-mata dari
kawan"
suasana menjadi amat gaduh setelah perkataan tersebut
diutarakan, rasa tak tentram pun menyelimuti perasaan setiap
orang. Dengan kening berkerut Phu sian sangjin segera berseru :
"Tanpa bukti yang nyata kita tak boleh sembarangan menuduh,
ketahuilah..."
"siauli bersedia untuk memikul tanggung jawab atas perkataanku
barusan" kata Ngo Cun ki dengan wajah serius, "apabila mata-mata
itu tak berhasil ditemukan, siauli pun bersedia menerima hukuman"
Ketua Tay kek bun, cu giok long segera berseru sambil tertawa :
"siapa tahu mata-matanya justru Ngo ciangbunjin sendiri, sebab
hanya dengan berbuat demikian orang baru menaruh kepercayaan
kepada dirimu" Ngo Cun ki tertawa dingin :
"seperti apa yang kukatakan tadi, pada akhirnya aku bisa
menunjukkan bukti-bukti nyata dan menyuruh mata-mata tersebut
mengaku, namun mata-mata itu sangat tangguh, oleh sebab itu
sebelum rahasianya kubongkar, kita harus mengadakan persiapan
lebih dulu sebaik mungkin"
Phu sian sangjin, Bu wi lojin, Hwesio daging anjing maupun
Pelajar rudin Ho Heng sekalian sama-sama tergerak hatinya setelah

mendengar perkataan tersebut, sorot mata mereka mulai berputar
kesekeliling ruangan, namun tak dapat meyakinkan diri atas
kebenaran dari ucapan Ngo Cun ki tersebut, tentu saja mereka pun
tak bisa menebak siapakah mata-mata itu?
Tentu saja orang yang paling mencurigakan diantara mereka
yang hadir adalah ketiga orang ketua dari partai Kun lun, Tay kek
bun serta Kiu kiong bun karena sebelum hari ini mereka tak pernah
berkenalan dengan para jago yang hadir sekarang.
Namun ketiga orang itu duduk dengan sikap tenang , sikap
mereka pun tak berbeda seperti pendekar sejati golongan lurus.
Phu sian sangjin segera berpikir sebentar, kemudian sahutnya :
"Baiklah"
Maka diapun menurunkan perintah :
"Kumpulkan semua jago dari pelbagai partai serta anak murid
siau limpay untuk mengepung sekeliling gedung ini, jangan biarkan
seorang manusiapun keluar dari sini" Tak lama kemudian semua
persiapan telah selesai diatur. Phu sian sangjin berkata kemudian :
"Ngo ciangbunjin sekarang kau boleh menunjukkan semua fakta
yang ada" Ngo Cun ki tersenyum.
"Kesatu, siauli belum pernah mendengar kalau dalam tata cara
kuno ada keharusan makan buah-buahan lebih dulu sebelum minum
arak. adakah saudara sekalian yang mengetahui hal ini?"
"oooh, rupanya Ngo ciangbunjin mencurigai aku?" ketua Tay kek
bun Cu Giok long segera tertawa dingin.
sertang Phu sian sangjin berseru pula :
"Persoalan semacam ini tak bisa dianggap sebagai bukti, Ngo
ciangbunjin"
"Tentu saja soal ini bukan suatu bukti," sahut Ngo Cun ki sambil
manggut-manggut, "Kedua, disaat Hwesio daging anjing hendak
menegak arak tersebut, apa sebabnya kehendak itu dicegah oleh
ketua Cu? Ketiga, mengapa pula Cu ciangbunjin menghendaki agar
kita semua angkat cawan bersama-sama?" setelah berhenti
sebentar, serunya :
"Keadaan sudah teramat jelas sekarang hal ini disebabkan dalam
arak tersebut telah dicampuri sejenis racun yang amat jahat
sehingga barang siapa meneguknya pasti akan segera mati, itulah
sebabnya mereka minta kepada kita untuk angkat cawan bersamasama."

Jari tangannya segera diayunkan kedepan, segulung desingan
angin tajam pun dengan cepat menyambar salah satu guci arak Pek
hoa siang yang belum sempat dibuka hingga hancur seketika dan
araknya mengalir keluar. "Dan inilah pembuktianku yang terakhir"
seru Ngo Cun ki lantang.
Namun cu Giok long, Hoa bok totiang serta sin Beng tetap duduk
tak berkutik dengan senyum dingin menghiasi bibir mereka,
sementara kedua orang pengawal mereka pun tetap berjaga
dibelakang ketiga orang tersebut.
Tampaklah ketika arak wangi itu meleleh keluar dari guci, segera
muncullah asap berwarna hijau yang mengepul keudara, keadaan
seperti ini membuktikan kalau dalam arak tersebut memang
mengandung racun yang sangat jahat sehingga barang siapa
terkena pasti akan binasa.
suasana didalam ruangan gedung menjadi sangat kacau, dalam
waktu singkat semua orang telah mengepung cu Giok long, Hoa bok
totiang serta sin Beng bediga ditengah arena.
Namun ketiga orang tersebut tetap duduk setenang semula,
seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun disana.
Bahkan keenam pengawal yang berada dibelakang tiga orang
itupun tetap berdiri tak bergerak ditempat semula, sikap tenang dan
mantap yang diperlihatkan orang-orang itu sungguh membuat hati
para jago menjadi kagum. sementara itu Phu sian sangjin telah
berkata :
"Ngo ciangbunjin, maafkan kelancangan ku tadi, rupanya aku
telah salah menuduhmu" Hwesio daging anjing berteriak pula :
"Andaikata li pousat tidak membongkar siasat jahat ini, mungkin
selembar nyawa aku si hwesio sudah habis semenjak tadi"
Dalam pada itu semua pintu dan jendela ruangan telah ditutup
rapat, para jago pun telah mengepung Cu giok long sekalian
ditengah arena, tampaknya suatu pertarungan sengit segera akan
berlangsung. Dengan nada cemas, Ngo Cun ki berseru :
"Berita kita sudah bocor, besar kemungkinan orang-orang dari
Kun lun pay, Tay kek bun serta Kiu kiong bun sudah dihadang pihak
partai kupu-kupu, kalau tidak mengapa mereka menyusup kedalam
tubuh kita? Aku rasa bala bantuan mereka pasti akan segera tiba."
Cu Giok long segera tertawa terbahak-bahak, selanya :
"Haaah.hahhhahhh..kalian tak usah kuatir, selain kami tiada
bantuan lain yang bakal datang."

"Kalau begitu kalian sudah mengakui sebagai anggota partai
kupu-kupu?" tegur Phu sian sangjin marah.
Cu Giok long kembali tersenyum,
"Rahasia kami telah dibongkar budak tersebut, rasanya tidak
mengaku pun tak ada gunanya lagi"
"Hmmm, tak disangka kalian cukup tahu diri, asalkan kalian
bersedia membeberkan keadaan yang sebenarnya, kami pun tak
akan terlalu menyusahkan kalian"
"Apa yang ingin kalian ketahui?" Tanya Cu Giok long sambil
tersenyum.
"Apa maksud tujuan kedatangan kalian kemari?"
Kali ini cu Giok long mendengus :
"Hmmm, pedanyaan semacam ini terlalu berlebihan, dalam buah
li serta arak wangi itu masing-masing telah diberi racun yang
berbeda, asal kalian memakannya, tanggung nyawa kalian pasti
melayang Inilah maksud kedatangan kami"
"Tapi apakah kalian tak akan menemani kami untuk mendahar
buah li serta minum arak wangi itu?" Tanya Phu sian sangjin.
"Itu sih bukan masalah" kata Cu Giok long sambil tertawa. "sebab
sebelum kemari kami telah minum obat penawar racunnya jadi biar
makan atau minum lebih banyak pun tak akan berpengaruh apa-apa
terhadap kami."
"Hmmm, mengapa pula kalian menyaru sebagai ketua Kun lun
pay, Tay kek bun serta Kiu kiong bun?"
"Terus terang saja pihak Kun lun pay, Tay kek bun serta Kiu
kiong bun belum tiba disini, mereka pun tidak terjatuh ketangan
partai kupu-kupu kami."
"Bagus sekali, kalau begitu tapi mengapa kalian begitu bernyali
untuk menyaru sebagai mereka? Apakah kalian tak kuatir para ketua
dari ketiga partai tersebut tiba pada saatnya serta merusak rencana
kalian?"
sambil tertawa Cu Giok long menggelengkan kepalanya berulang
kali, dia berkata :
"Pedanyaan ini benar-benar merupakan suatu masalah yang
menggelikan, kami belum pernah mengenal apa artinya takut, setiap
persoalan kami hadapi menurut situasi dan kondisi, jadi bagaimana
cara mengatasinya pun kami hanya carikan setelah keadaan didepan
mata."
"Dimana sekarang Ui sik kong?" Tanya Phu sian sangjin marah.

"Tentu saja masih berada dibukit Cian san, namun sepak terjang
ciangbunjin kami ini sukar diramalkan dan lagi jejaknya pun tidak
menentu, bisa jadi ia pun sudah bersedia disekeliling tempat ini."
Ucapan mana kontan saja membuat para jago menjadi
terperanjat sekali.
Dengan cepat Phu sian sangjin berusaha untuk menenangkan
hatinya, lalu bertanya lagi
"Apa yang menjadi rencana partai kupu-kupu dengan
kedatangannya ditempat ini?"
"Ketua partai kami telah mengumumkan keseluruh dunia bahwa
dalam sebulan kalian semua harus sudah tiba dibukit Cian san untuk
bersama-sama membicarakan masalah besar."
"Tak nanti ada jago dari dunia persilatan yang sudi mengunjungi
bukit Cian san serta menyembah iblis sebagai pemimpinnya
Ketua partai kami pun sudah tahu kalau tak bakal ada yang
datang kesitu, tapi bila usaha kami pada hari ini berhasil dengan
sukses, maka bagaimana keadaan selanjutnya pasti akan mengalami
perubahan besar"
"sayang sekali usaha kalian gagal total" jengek Phu sian sangjin
sambil tertawa dingin, "mungkin Thian masih melindungi umat
persilatan sehingga tak sampai menderita kehancuran total"
Cu Giok long segera tertawa tergelak :
"Haaahhhahhhhaaahhh..kau jangan terlalu yakin dengan
kemampuan sendiri, ketahuilah bagaimana akhir dari situasi hari ini
masih susah untuk diduga mulai sekarang" Berkilat sepasang mata
Phu sian sangjin setelah mendengar perkataan itu, hardiknya :
"Kalian harus memperhatikan dulu dengan seksama, setiap orang
yang hadir disini sekarang adalah jago-jago kelas satu dari dunia
persilatan, apakah kalian kira dengan kedudukan kalian bediga
sebagai kaki tangan partai kupu-kupu bisa berbuat banyak terhadap
kami."
"Aku sebagai murid Buddha tak ingin melanggar pantangan
membunuh, bila kalian tidak terlalu memaksa."
"Kalau begitu kau tak berniat membunuh kami?" Tanya Cu Giok
long sambil tertawa.
"Kematian bisa dihindari, tapi ilmu silat mesti dipunahkan,
daripada kalian membantu kaum durjana lagi untuk melakukan
kejahatan serta mencelakai umat persilatan"

Lo siansu seru Pelajar rudin Ho Heng tiba-tiba, "mengapa tidak
kau tanyakan kepada mereka, apa kedudukannya didalam partai
kupu-kupu?"
"Aku bisa memberitahukan kepadamu" sambung cu Giok long
cepat, "kami adalah sembilan orang pengawal khusus dari dua belas
pengawal peribadi ketua partai kami ui sik kong"
Phu sian sangjin segera mengalihkan sorot matanya kewajah
enam orang yang masih berdiri dibelakang ketiga orang itu, lalu
bertanya lebih jauh :
"Apakah keenam orang itupun mempunyai kedudukan yang sama
dengan kalian bediga? "
"Ya a, memang begitulah" Cu Giok long membenarkan. Phu sian
sangjin segera membentak :
"Aku tak peduli apakah kedudukan kalian dalam partai kupukupu,
asal kamu semua bersedia menerima usulku, yakni
memunahkan ilmu silat kalian semua, kalian pun boleh segera
meninggalkan bukit Tiong lam san"
"sayang sekali kami tidak terlalu terburu-buru untuk
meninggalkan tempat ini." Kemudian dengan wajah serius dia pun
berkata :
"Kami pun mempunyai usul, apakah kalian bersedia untuk
mempertimbangkannya? "
"Cepat katakan"
cu Giok long tertawa, katanya :
"Bila kalian yang hadir dalam arena sekarang bersedia
memunahkan ilmu silat masing-masing, maka persoalan pada hari ini
akan kami anggap selesai."
Kemudian sambil mengalihkan pandangan kewajah Ngo Cun ki
dia melanjutkan :
"Tapi keadaan bagi budak ini sama sekali berbeda, kami hendak
membawanya pulang dan diserahkan kepada ketua partai kami
untuk dijatuhi hukuman" Phu sian sangjin menjadi gusar sekali,
segera bentaknya :
"Kematian sudah berada diambang pintu, masih berani amat
kalian mengucapkan kata-kata sesumbar."
Lalu setelah berhenti sejenak, bentaknya keras-keras : "Tangkap
mereka semua"

Hiam im totiang, ketua Bu tong pay segera melompat maju
kedepan seraya membentak : "siluman bernyali gede, ayoh cepat
menyerahkan diri untuk dibelenggu"
Tubuhnya segera beranjak cepat kedepan, kelima jarinya
dipentangkan dan langsung mencengkeram bahu cu Giok long.
Tiba-tiba cu Giok long menarik tubuhnya kebelakang, lalu
melepaskan sebuah pukulan kebawah.
Gerak serangan yang dilakukan olehnya ini teramat cepat, baru
saja ancaman dari Hiam im totiang mengena pada sasaran kosong,
tiba bagian tubuhnya tahu-tahu sudah terancam, bahkan jurus
serangan yang dipergunakan lawan pun tangguh sekali.
Mimpi pun Hian im totiang tidak mengira kalau ilmu silat yang
dimiliki Cu Giok long sedemikian lihaynya, tak terlukiskan rasa kaget
yang mencekam perasaannya waktu itu.
Buru-buru dia menjejakkan kakinya keatas tanah melejit setinggi
dua kaki ketengah udara, kemudian berjumpalitan beberapa kali dan
balik kembali ketempat semula.
Baru menyerang telah dipaksa mundur kembali oleh musuhnya,
mau tak mau Hian im totiang menjadi amat jengah hingga paras
mukanya berubah menjadi merah, cepat-cepat dia mencabut
pedangnya .
situasi didalam ruangan tiba-tiba mengalami perubahan yang
sangat besar, setelah berdiam diri sekian lama, akhirnya kesembilan
orang partai kupu-kupu itu bangkit berdiri dan membentuk barisan
sebuah lingkaran dengan punggung menempel pada punggung.
Masing-masing orang meloloskan pula senjata andalan masingmasing,
diantaranya ada yang mempergunakan golok, ada yang
memakai pedang, bahkan ada pula yang memakai sepesang poan
koanpit.
Phu sian sangjin, Hian im totiang, Hwesio daging anjing, Bu wi
lojin, Pelajar rudin Ho Heng serta ketua Hoa san pay Ngo Cun ki
berdiri mengepung diluar lingkaran tersebut.
sementara tiga bersaudara Kim beserta Molim sekalian berempat
dan puluhan pendeta sakti darisiau limpay mengadakan
pengepungan dari lapisan terdepan, jelas suatu pertarungan sengit
akan berlangsung.
setelah saling berhadapan berapa saat, Phu sian sangjin yang
pertama-tama melancarkan serangan paling dulu, dengan senjata
sekopnya dia melepaskan sebuah sapuan kilat.

Kesembilan orang jago dari partai kupu-kupu tidak mandah
diserang dengan begitu saja, serentak mereka menggerakkan
senjata masing-masing untuk menyambut datangnya ancaman
tersebut, maka suatu pedempuran sengitpun segera berkobar.
selama pertarungan berlangsung, ternyata kesembilan jago
daripartai kupu-kupu itu tidak bergeser dari posisinya semula,
mereka bersembilan melalu membentuk satu posisi melingkar yang
dipertahankan secara ketat sekali.
Ditambah pula kepandaian silat yang dimiliki orang-orang itu
amat lihay, jurus serangannya juga amat tangguh, akhirnya yang
terdesak mundur justru para jago dari golongan lurus. Lambat laun
perasaan phu sian sangjin mulai tak tenang, sebab bila keadaan
semacam ini dibiarkan berlangsung terus entah sampai kapan
menang kalah baru bisa ditentukan apalagi ditinjau dari kekuatan
lawan yang begitu tangguh, rasanya mustahil bagi pihaknya untuk
meraih posisi diatas angin. Berpikir sampai disitu, tanpa terasa lagi
dia berteriak keras : "Tahan, tahan dulu"
Mendengar teriakan ini, serentak para jago menarik kembali
serangannya dan melompat mundur kebelakang.
sementara itu paras muka di Hwesio daging anjing sekalian telah
berubah menjadi murung dan sangat masgul, sebab mereka
mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang dimiliki kesembilan
anggota partai kupu-kupu tersebut sangat tangguh. sambil tertawa
terbahak-bahak, Cu Giok long menegur :
"Haaaahhh..haaahhhhhaaaahhhh apakah lo siansu berntat untuk
menerima syarat kami?"
Air muka Phu sian sangjin pada waktu itu sudah berubah menjadi
kaku seperti patung batu, setelah memuji keagungan sang Buddha,
ia berkata :
"sejak dulu hingga sekarnag, kaum lurus tak nanti hidup
berdampingan dengan kaum sesat, mustahil kami akan menerima
syarat kalian"
"Haaahhh.haaahhhh..kalau begitu mari kita selesaikan persoalan
ini melalui suatu pertarungan sengit, kenapa lo siansu tidak
melanjutkan seranganmu?" Phu sian sangjin mendengus dingin.
"Hmmm, kalian hanya mengambil posisi bertahan, sembilan
orang turun tangan bersama memang agak sulit ditembusi, maka
aku hendak mencari akal lebih dulu" sambil mengalihkan sorot

matanya kewajah Ngo Cun ki, ia segera bertanya : "Apakah Ngo
ciangbunjin mempunyai sebuah pendapat?"
"Tempat ini adalah tempat penting bagi pelbagai perguruan besar
untuk mengadakan perundingan rahasia, bila kesembilan manusia
cecunguk yang berhasil menyelinap masuk kemari pun tak bisa kita
tumpas, jelas kejadian ini merupakan suatu aib untuk kita semua,
tapi berbicara sesungguhnya hal ini pun disebabkan kelicikan."
"Benar" phu sian sangjin menganguk. "bila mereka bukan datang
secara berkelompok, betapapun lihaynya ilmu silat yang mereka
miliki, tak nanti sulit bagi kita untuk menumpasnya satu persatu"
"Namun bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terus,"
kata Ngo Cun ki kembali, "hal ini tak akan memberikan keuntungan
bagi mereka, sebab betapapun tangguhnya ilmu silat yang mereka
miliki, rasanya mustahil orang-orang itu bisa bertahan terus menerus
selama sehari semalam tanpa berhenti."
"Hey budak busuk "mendadak Cu Giok long berteriak keras, "aku
hendak menguliti tubuhmu hidup,hidup"
Ngo Cun ki mendengus dingin, kembali ujarnya :
"Hmmm, dilihat dari sikapnya sudah jelas dia mempunyai
pendukung yang lain."
Phu sian sangjin yang mendengarkan pembicaraan ini diam-diam
menjadi amat terkejut, katanya kemudian :
"Kalau begitu mungkin mereka memang mempunyai bala
bantuan yang segera akan sampai disini"
Tiba-tiba Cu Giok long mendongakkan kepalanya dan tertawa
terbahak-bahak :
"Haaahhhh..hahhh.haaaahhhh..terus terang saja kuberitahukan
kepada kalian, tak lama lagi ketua partai kami akan tiba disini"
suasana tegang dengan cepat menyelimuti seluruh ruang kuil itu.
Tiba-tiba Ngo Cun ki berbisik kepada Phu sian sangjin dengan ilmu
menyampaikan suara :
"Dalam posisi semacam ini aku rasa terpaksa meski
menggunakan cara kaum sesat untuk memberesi orang-orang
tersebut"
"Maksudmu?" Tanya Phu sian sangjin.
"partai kami mempunyai sejenis dupa pemabuk yang bernama An
hun hiang, sesungguhnya dupa itu khusus dipakai untuk
mengawetkan jenasah, setelah mayat diolesi dengan dupa itu maka

dalam seratus tahun pun tak bakal rusak, namun dupa ini tak boleh
diendus oleh manusia hidup,"
setelah berhenti sejenak. kembali dia melanjutkan :
"Bagi mereka yang mengendus bau dupa ini, ia akan roboh tak
sadarkan diri bahkan tiada obat penawar yang bisa memunahkan
pengaruh dupa tersebut, akibatnya ia akan jatuh pingsan selama
tiga hari lamanya sebelum secara pelan-pelan akan sadar kembali
dengan sendirinya."
"Keadaan sudah bertambah gawat sekarang, tampaknya terpaksa
kita harus mencobanya.." ujar phu sian sangjin cepat. Tapi setelah
termenung kembali dia berkata : "Kalau memang tak ada obat
penawar bukankah kita semua pun."
"Itulah sebabnya aku minta kepada lo siansu untuk mengabarkan
kepada rekan-rekan kita dengan ilmu menyampaikan suara agar
mereka tutup pernapasan dengan cepat begitu dupa An hun hiang
tersebut kusemburkan kedalam ruangan nanti"
"Baiklah kita bekerja secara terpisah, makin cepat makin baik."
Untuk berapa saat suasana didalam ruangan menjadi hening dan
tak kedengaran sedikitpun suara meski kedua belah pihak masih
saling berhadapan namun tak terjadi pertarungan apa-apa.
sementara itu Ngo Cun ki telah mendekati jendela, agaknya dia
pun sertang memberitahukan rencana tersebut kepada para jago
Hoa san pay yang mendapat tugas menjaga diluar gedung.
Melihat tingkah laku musuhnya, Cu Giok long segera menjengek
sambil tertawa bangga :
"Hmmm, aku lihat gerak gerik mencurigakan, hayo rencana
busuk apakah yang sertang dipersiapkan?"
sambil tertawa si Hwesio daging anjing berkata :
"Ilmu silat yang kalian miliki memang betul-betul amat tangguh,
bila kerjasama kalian dilangsungkan terus, kami sungguh menyerah
dan tak tahu apa yang harus dilakukan lagi, itulah sebabnya kami
hendak mencari jalan lain."
"Wah, tak nyana kau sihwesio cukup bersikap jujur, tapi setelah
kami berani datang kemari, berarti permainan busuk macam apapun
yang hendak kalian perbuat kami tak bakal memikirkannya didalam
hati"
"Bagus sekali kalau begitu" seru si Hwesio daging anjing sambil
tertawa, "kita nantikan saja tanggal mainnya"
Cu Giok long berpikir sebentar, lalu katanya lagi :

"Dalam setengah jam kemudian ketua partai kami pasti sudah
tiba disini, sampai waktunya nanti kalian semua bakal mampus tanpa
liang kubur."
"aku rasa sulit untuk dibicarakan mulai sekarang" jengek si
Pelajar rudin Ho Heng, "apa pula yang dapat diperbuat oleh ketua
partai kalian?"
"Ketua kami memang tak bisa berbuat banyak. namun paling
tidak masih lebih dari cukup untuk menghabisi nyawa kalian semua"
Padahal waktu itu si Hwesio daging anjing mendapat perintah
dari Phu sian sangjin untuk mengajak lawannya bercakap-cakap.
tentu saja tujuannya tak lain adalah untuk mengacau konsentrasi Cu
Giok long sambil menunggu tibanya saat ketua Hoa san pay
melepaskan dupa An hun hiang.
Kembali si Hwesio daging anjing berkata sambil tertawa
terbahak-bahak :
"Haaaahh..haaahhhh.haaahhh.apakah kalian mempunyai pesan
terakhir yang hendak disampaikan?" Cu Giok long tertawa.
"Lucu benar kau si hwesio, siapa bakal mati siapa bakal hidup toh
belum bisa ditentukan mulai sekarang, tidakkah kau merasa bahwa
perkataanmu barusan sangat menggelikan?"
"seandainya aku si hwesio yang mati sudah pasti Buddha maha
pengasih akan menyambut kedatanganku serta mengajak pulang
kesurga loka, sebaliknya kalian yang mampus, sudah pasti iblis
jahanam yang akan menjemput kalian pergi keneraka" Mendadak Cu
Giok long berpaling seraya berkata :
"Bila dugaanku tidak keliru, tampaknya kalian hendak
melemparkan obat beracun terhadap kami"
Ucapan tersebut sangat mengejutkan hati Phu sian sangjin serta
Hwesio daging anjing sekalian, tapi sambil tertawa terkekeh Ngo Cun
ki berkata :
"Kelihatannya diantara dua belas pengawal khusus ketua partai
kupu-kupu, mungkin kau adalah salah satu pengawal kesayangan
majikanmu, sebab kau terlalu cerdik, tebakanmu memang tepat
sekali"
"Aku kuatir usaha kalian itu bakal sia-sia belaka."
"omitohud" tukas Phu sian sangjin cepat, "bagaimana pun juga
toh."
sambil tertawa tergelak Cu Giok long segera menukas :
"Haaahhh.haahhhhaaahhh.rencana kalian memang bagus sekali."

Kemudian sambil berpaling kearah Phu sian sangjin, katanya lebih
lanjut :
"Ketahuilah, kami telah menelan obat penawar dari segala
macam racun, terserah racun apa saja yang bakal kalian pergunakan
aku rasa tak akan berguna sama sekali, lebih baik urungkan saja
niatmu itu"
Mendadak..
Terdengar bunyi yang sangat nyaring disusul runtuhnya atap
ruangan bagaikan hujan gerimis, dalam waktu singkat muncullah
sebuah lubang besar diatas atap ruangan tersebut.
Bersamaan waktunya tersebar pula bubuk berwarna kuning
keseluruh ruangan dan menyelimuti setiap ruang gerak yang ada.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Phu sian sangjin memutar
senjata sekopnya sambil melancarkan serangkaian serangan gencar.
Hwesio daging anjing, Bu wi lojin serta Pelajar rudin Ho Heng
sekalian tak berani berayal, masing-masing mengeluarkan ilmu
simpanannya dan melancarkan serangkaian serangan gencar.
Cu Giok long sekalian bersembilan segera tertawa bergelak.
serentak mereka turun tangan melancarkan serangan gabungan
yang sangat tangguh, bagaikan selapis dinding baja yang amat
tebal, dalam waktu singkat tenaga serangan dari para jago sudah
terbendung sama sekali.
Tapi kejadian tersebut hanya berlangsung dalam waktu singkat,
tahu-tahu pintu dan jendela ruangan dibuka orang disusul kemudian
satu persatu kawanan jago dari dunia persilatan berlompatan keluar
meninggalkan ruangan kuil. Berapa kali keluhan tedahan segera
bergema dari dalam gedung.
Ketika diamati lagi dengan seksama, ternyata Cu Giok long
sekalian bersembilan telah roboh terkapar diatas tanah.
Rupanya Ngo Cun ki telah berpesan kepada anak buahnya agar
segera membuka pintu dan jendela agar rekan-rekan yang lain bisa
berlompatan keluar dari ruangan begitu dupa An hun hiang
disebarkan. Tak lama kemudian Kabut kuning dalam ruangan pelanpelan
membuyar dan para jago pun melangkah masuk kembali
kedalam ruangan.
sambil tertawa terbahak-bahak Hwesio daging anjing berseru :
"Haaahhhaaahh.haaahh. . bagaimana pun juga akal muslihat Ngo
ciangbunjin jauh lebih ampuh, nyatanya kawanan siluman itu pada
roboh tak sadarkan diri"

Tapi Ngo Cun ki tidak merasa bangga dengan hasil kerjanya itu,
malah kepada Phu sian sangjin segera desaknya :
"Tempat ini tak bisa didiami lagi, kita harus segera
meninggalkannya"
"Aaaaai, pihak Tay kek bun sekalian belum lagi sampai ditempat
tujuan, tapi kita sudah tergopoh-gopoh harus pindah tempat,
andaikata mereka"
Belum habis perkataan dari Phu sian sangjin diutarakan, dengan
kening berkerut Ngo Cun ki telah menukas :
"Dalam situasi demikian ini kita tak sempat lagi memikirkan
masalah seperti itu, ketahuilah bahwa perkataan dari beberapa
orang siluman tadi bukan hanya gedak sambal belaka, besar
kemungkinan Ui sik kong bakal sampai disini tak lama kemudian."
"Ya a, nampaknya terpaksa kita mesti berbuat demikian," kata
Phu sian sangjin murung, tetapi setelah memandang sekejap kearah
sembilan orang anggota partai kupu-kupu yang tergeletak diatas
tanah, ia berkata lebih jauh : "Bagaimana dengan beberapa orang
siluman ini?"
"sudah lama aku si hwesio tak pernah melanggar pantangan
membunuh, lebih baik biar aku yang menjagal mereka sampai
tuntas" teriak Hwesio daging anjing cepat.
"Kalau menurut pendapat boanpwee lebih baik kita punahkan
saja ilmu silat yang mereka miliki" ucap Ngo Cun ki dengan kening
berkerut. Phu sian sangjin segera manggut-manggut, katanya
kemudian :
"Ya a, lebih baik kita turuti usul Ngo ciangbunjin saja, punahkan
ilmu silat yang mereka miliki"
"Persoalan ini tak boleh ditunda lagi, kita harus cepat bertindak"
desak Ngo Cun ki.
Sambil berkata kelima jari tangannya segera diayunkan untuk
menotok keatas nadi penting ditubuh cu Giok long. Mendadak.
Pada saat kelima jari tangan Ngo Cun ki hampir menghajar pada
sasarannya, terdengar seseorang membentak dengan suara yang
keras bagaikan geledek : "Tahan"
Bersamaan waktunya terasa segulung desingan angin pukulan
menyambar kedepan dan menghantam tubuh Ngo cun ki sehingga
mencelat ketengah udara. Jeritan kaget seketika bergema memenuhi
seluruh ruangan. "Ui sik kong, ternyata kau betul-betul telah datang"

Ternyata dari atas lubang diatap ruangan telah melayang turun
sesosok bayangan tubuh, orang itu berperawakan kecil lagi ceking,
dia memang tak lain adalah ui sik kong, ketua partai kupu-kupu.
sambil tersenyum terdengar Ui sik kong berkata :
"Phu sian, tempo hari aku telah mengampuni selembar nyawamu,
sudah sepantasnya bila kau tak membalas air susu dengan air tuba,
sekarang mengapa kau justru menghimpun kekuatan dari pelbagai
partai serta menyusun rencana untuk mencelakai kau." Kemudian
setelah berhenti sejenak. terusnya :
"Ketahuilah perbuatanmu tak lebih bagaikan belalang menahan
pedati, mengadu batu dengan telur Hmm, kau hanya mencari
kematian buat diri sendiri"
Merah padam selembar wajah Phu sian sangjin karena jengah,
tapi sambil menggigit ujung bibir, ia segera berkata :
"sejak dulu hingga sekarang, kaum sesat tak nanti bisa
menguasai kaum lurus, biarpun kau sekarang bernasib baik dan
berhasil meraih kemenangan, tapi akhirnya kau toh akan mengalami
nasib tragis yang sama tragisnya dengan nasib leluhurmy Ui Thian it
di tebing hati duka"
Mendadak Hwesio daging anjing tampil kemuka lalu menegur
sambil tertawa dingin : "Bajingan tua Ui, kenal dengan aku?"
"Kenapa?Jadi kau menantangku?" jengek Ui sik kong sambil
tertawa.
"Hmm, aku memang ingin mencoba kehebatan ilmu silat dari
partai kupu-kupu mu."
"Tidakkah kau mendengar dari cerita Phu sian tentang
kemampuanku? Yakinkah kau bisa menandingi diriku?" jengek Ui sik
kong lagi dingin
"Huuuh, bila yang datang hari ini cuma kau seorang, mungkin
kau harus mengakui bahwa nasibmu bakal jelek."
"ooooh .sangat tidak beruntung, aku memang datang seorang
diri" sahut Ui sik kong sambil tersenyum.
sementara itu sekeliling ruangan kuil telah dilapisi kawanan jago
silat yang siap bedempur, mereka terdiri dari jago-jago lihay siau
limpay, Bu tong pay dan Hoa sanpay.
Dari hasil laporan yang diterima dari mereka ternyata diketahui
pula bahwa selain Ui sik kong memang tidak Nampak kehadiran
jago-jago lainnya. sementara itu Hwesio daging anjing telah berseru
:

"Bajingan tua Ui sik kong, mari kita coba sampai dimanakah
keampuhanmu itu"
Dengan cepat Ui sik kong menggeleng.
"Aku tidak biasa dengan system pertarungan semacam ini, kalau
aku mesti bedarung satu lawan satu Huuuh, selain memakan
waktu,juga tak berani sama sekali."
"Lantas pertarungan macam apakah yang kau inginkan?" Tanya
Hwesio daging anjing tertegun.
"Lebih baik kalian maju bersama-sama saja, agar akupun bisa
menghemat banyak waktu dalam pekerjaan menghantar kalian
pulang ke rumah nenek moyang ." Perkataan tersebut benar-benar
sombong dan takabur.
sebagaimana diketahui, jago-jago yang hadir dalam arena
sekarang rata-rata adalah jagoan kelas satu dunia persilatan,
kekuatan yang mereka miliki mana boleh dipandang enteng.
Tapi Phu sian sangjin cukup mengedi, dalam hati kecilnya dia
percaya Ui sik kong memang memiliki kemampuan untuk
menghadapi mereka secara bersama-sama. Tampaknya Hwesio
daging anjing merasa amat tersinggung dengan ucapan tersebut,
dengan penuh amarah dia berteriak :
"Bajingan anjing, sombong amat kau, lihatlah bagaimana caraku
untuk mencabut nyawamu" sambil menggerakkan tubuhnya dia siap
melakukan terkaman maut kedepan. Tiba-tiba.
"Tunggu sebentar" kembali terdengar seorang berteriak keras.
Dari balik lubang diatas atap ruangan, lagi-lagi melayang turun
sesosok bayangan manusia. semua orang merasa terkejut sekali
dengan kehadiran orang itu. Pendatang baru ini memakai kain
kerudung muka sehingga tidak terlihat jelas bagaimanakah raut
mukanya. Hal ini membuat para jago pun tak bisa menduga musuh
atau temankah orang yang barusan datang ini? Tampak Ui sik kong
sendiripun turut tertegun, lalu tegurnya : "siapakah kau?"
Manusia berkerudung itu tertawa sinis, jengeknya :
"siapakah aku tak usah ditanyakan dulu, sebentar kau toh bakal
mengetahui dengan sendirinya"
Lalu kepada Hwesio daging anjing dia berkata :
"Bajingan tua ini memiliki ilmu silat yang sangat dahsyat, apa
yang dikemukakan olehnya tadi memang bukan gedakan sambal
belaka."

Hwesio daging anjing dibikin termangu- mangu oleh ucapan
tersebut, dia segera menegur
"sicu sebenarnya siapakah kau? Kalau toh bersedia membantu
kami, mengapa kau tak muncul dengan wajah aslimu?"
Mendadak Bu wi lojin tampil pula kedepan, serunya dengan nada
terkejut campur girang "Kau...kau adalah"
"Bocah keparat, rupanya kau yang datang" teriak Ui sik kong pula
secara mendadak sambil menghentakkan kakinya keatas tanah.
Tanpa banyak bicara telapak tangannya segera diayunkan
kedepan, melepaskan sebuah pukulan dahsyat ketubuh manusia
berkerudung itu.
Manusia berkerudung itu tertawa nyaring, dia memutar tubuhnya
dengan cekatan meloloskan diri dari ancaman Ui sik kong, kemudian
tangannya merogoh kedalam saku dan mengeluarkan sepasang
gelang surya rembulan.
Ketika serangannya gagal mencapai sasaran tadi, Ui sik kong
sudah merasa terperanjat, apalagi setelah melihat munculnya
sepasang gelang surya rembulan yang amat menyilaukan mata itu,
dia makin terkesiap lagi sehingga paras mukanya berubah hebat.
Terjadinya peristiwa ini benar-benar diluar dugaan siapapun, baik
ketua siau limpay Phu sian sangjin maupun jago-jago lainnya ratarata
sudah tahu kalau Kho Beng telah terjatuh ketangan Ui sik kong
sehingga mengira nasib yang dialaminya tak akan jauh berbeda
seperti nasib Kho Yang ciu sekalian.
Dengan demikian mereka pun tak pernah menyangka kalau
pendatang tersebut adalah Kho Beng, seandainya ada yang
menduga kesitupun mereka tak bisa melegakan hatinya dengan
begitu saja, sebab biarpun luka keracunan yang dialami Kho Beng
telah sembuh, tak mungkin ilmu silatnya mampu menandingi
kehebatan Ui sik kong.
Akan tetapi sekarang orang telah dibuat terbelalak matanya
dengan mulut melongo, mereka dibuat kaget bercampur tercengang
oleh kelincahan Kho Beng dalam menghindari datangnya serangan
tadi, terutama sepasang gelang surya rembulan yang diloloskan dari
sakunya itu.
Dalam pada itu Ui sik kong telah berseru sambil tertawa seram :
"Heeehh.heeehh.heeehhh bocah keparat, masih juga kau tidak
memperlihatkan wajah aslimu?" Dengan cepat Kho Beng melepaskan
kain kerudung hijau yang menutupi wajahnya , sahutnya dingin :

"Aku memang tidak mempunyai kepentingan untuk merahasiakan
identitasku"
Kenyataan yang terbentang didepan mata saat ini seketika
membuat Phu sian sangjin sekalian menjadi tertegun saking
kagetnya, sertangkan Molim, Mokim, Rumang serta Hapukim
berempat yang berdiri disebelah sana segera berteriak bersama :
"Cukong, kau membuat hamba sekalian merasa panik sekali."
Bu wi lojin, Hwesio daging anjing beserta si pelajar rudin Ho
Heng pun merasa sangat kegirangan, namun berada dalam keadaan
seperti ini tak sempat lagi mereka untuk berbicara banyak.
Dengan perasaan terkejut bercampur girang, Hwesio daging
anjing segera berteriak sambil tertawa :
"Hey anak muda, kau berani berebut pasar dengan daganganku?"
Buru-buru Kho Beng merangkap tangannya sambil memberi
hormat, katanya lembut :
"saat ini tidak mungkin bagi boanpwee untuk memberi salam
kepada cianpwee sekalian satu persatu, harap cianpwee sekalian
sudi memaafkan."
"omitohud" seru Phu sian sangjin dengan perasaan gelisah. "Kho
sicu, kau mesti berhati-hati, ilmu silat yang dimiliki bajingan tua Ui
sik kong amat luar biasa, kau.."
Tapi sebelum perkataan itu habis diucapkan, Hwesio daging
anjing telah menarik ujung bajunya seraya berbisik :
"Yang datang tak akan bermaksud baik, yang berniat baik tak
akan datang, aku lihat kemampuan si bocah muda itu agak berbeda
daripada keadaan dimasa silam."
"Tapi toh kami baru berpisah selama beberapa hari." Bantah Phu
sian sangjin dengan kening berkerut, "bagaimana mungkin.."
"Aaaah, biarpun baru berpisah tiga hari, dalam waktu yang begitu
singkat toh bisa terjadi segala-galanya?" kata Hwesio daging anjing
lagi seraya tertawa terkekeh-kekeh. Akhirnya Ui sik kong
mangangguk. "Ya a, perkataan anda memang benar."
sambil mengalihkan perhatiannya ketengah arena, ketua siau
limpay ini segera mundur tiga langkah kebelakang.
sementara itu, Ui sik kong dengan sorot matanya yang tajam
masih juga mengawasi setiap gerak gerik Kho Beng dengan seksama
tanpa berkedip.

sebaliknya kini Kho Beng telah berdiri angkuh ditengah arena,
sepasang gelang surya rembulan yang berada digenggamannya
telah siap melancarkan serangan mematikan, tiba-tiba dia menegur :
"Hey bajingan tua, kenapa kau tidak melancarkan serangan?"
sambil tertawa dingin Ui sik kong menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya :
"Aku telah terjebak didaa m perangkap kalian yang diatur secara
licik, pertarungan semacam ini sudah sama sekali tak berarti bagiku"
"Hmmm, itu kan hanya alasanmu serta usahamu untuk
memfitnah orang lain semaunya sendiri" jengek Kho Beng dingini
"Haaaahhhaaaahhhh..haaahhh.maaf kalau aku akan berbicara
secara berterus terang." Tiba-tiba Bu wi lojin berseru sambil tertawa
tergelak.
Buru-buru Kho Beng berseru :
"Tentunya cianpwee mempunyai suatu pandangan yang adil." Bu
wi lojin mengangguk. kembali katanya sambil tertawa :
"seandainya si tua Ui tidak menyinggung soal perangkap yang
licik, sebetulnya akupun enggan banyak berbicara, tapi setelah dia
mengemukakan hal semacam itu, aku jadi tak tahan untuk
membungkam diri saja."
"siapa kau?" bentak Ui sik kong marah.
"Aku disebut orang Bu wi, selama ini dianggap orang sebagai
salah satu diantara tiga tokoh aneh dunia persilatan, padahal aku
merasa tak berkemampuan semacam itu." Ui sik kong segera
tertawa angkuh.
"Huuuh, dengan kemampuan macam dirimu dianggap sebagai
satu diantara tokoh aneh didunia persilatan, aku lihat daratan
Tionggoan memang benar-benar sudah tak ada orang pandai lagi."
"Kebesaran dan kehebatan ilmu silat dari pelbagai partai di
daratan Tionggoan jauh sekali berbeda dengan kebusukan dan
kelicikan partai kupu-kupu kalian, biarpun sekarang anda berniat
menginjak-injak daratan Tiongoan kami dengan mengandalkan
kelicikan dan keburukan tersebut, akhirnya toh partai anda tak akan
lolos dari kehancuran dan kemusnahan total."
sambil menggigit ujung bibirnya, Ui sik kong segera mendengus :
"siapa bakal menang dan siapa bakal kalah, kenyataan didepan
matalah yang bakal menentukan, apa artinya berbicara kosong
tanpa fakta?"

"Hmmm, mengunggul-unggulkan diri sendiri tanpa ada kenyataan
hanya menimbulkan perasaan geli saja dalam hati kecilku" Berkilat
sepasang mata Bu wi lojin, segera katanya lagi :
"sekarang aku ingin membicarakan pihak manakah yang
sebetulnya paling sering mempergunakan akal busuk untuk
menjebak orang" setelah berhenti sejenak. dengan suara dalam
hardiknya :
"Tujuh belas tahun berselang, siapakah yang telah menyamar
sebagai diriku untuk mengadu domba pihak perkampungan Hui im
ceng dengan pelbagai partai dalam dunia persilatan? Apakah
perbuatan biadab semacam itupun bukan terhitung suatu tipu
muslihat yang amat licik dan keji?"
Merah padam selembar wajah Ui sik kong karena jengah, ia
segera tertawa seram :
"Heeeeeeehh..heeeeehh.heeehhhhh.aku belum pernah
melangkah masuk kedaratan Tionggoa n, jangan lagi menyamar
sebagai dirimu, bahkan siapakah kau si tua Bangka pun sama sekali
tidak kuketahui?"
Bu wi lojin segera tertawa tergelak :
"Haaaaaahh..hahh.haaahh..betul, mungkin saja memang kau
tidak kenal diriku tapi kau tak bisa melepaskan diri dari tuduhan
sebagai dalang atau otak dari semua peristiwa yang telah terjadi,
karena putrimu yang memimpin semua kejadian ini." sesudah
berhenti sejenak, dengan suara berat kembali dia meneruskan :
"Membuang jauh persoalan yang telah silam, mari kita singgung
kembali peristiwa yang terjadi hari ini."
Tiba-tiba Ui sik kong membentak marah :
"Lebih baik tutup bacotmu dan segera menggelinding pergi dari
situ, kejadian apa yang bisa dibicarakan pada hari ini?" Bu wi lojin
tertawa dingin.
"Kau menjadi marah karena tak berani menghadapi kenyataan
yang berada didepan mata."
sambil menunding kearah sembilan orang yang tergeletak diatas
lantai ia meneruskan :
"Bukankah mereka bersembilan adalah anggota partai kupu-kupu
mu?"
"Ya a betul, mereka adalah sembilan diantara dua belas pengawal
pribadiku."
Bu wi lojin kembali tertawa tergelak.

"Haaahhhaaahhhhaahh.asal kau bersedia mengakui saja sudah
bagus, nah, coba kau perhatikan dandanan mereka itu. Hmmm
Bukan saja telah menyamar sebagai ketua partai besar mereka pun
berniat meracuni kami semua dengan arak serta buah li beracun.
Apakah tindakan semacam ini bukan termasuk suatu perbuatan licik
dan keji serta memalukan?"
"Aku tidak mengakui sebagai dalang dari peristiwa tersebut"
bantah Ui sik kong sambil menggeleng.
"Heeeh.heehhheehh jadi kau berniat menyangkal kenyataan ini?"
jengek Bu wi lojin sambil tertawa dingin.
"Aku sama sekali tidak menyangkal, tapi ide semacam ini bukan
timbul dari benakku." setelah memandang sekejap sekitar ruangan,
dia berkata lebih jauh :
"Perintah yang kuberikan kepada mereka adalah menawan hidup,
hidup atau membunuh habis kalian semua, jadi serta mencampuri
arak dengan racun hanya merupakan ide serta prakarsa dari mereka
pribadi, malah untuk perbuatan tersebut akupun berniat
menjatuhkan hukuman kepada mereka."
Mendadak pelajar rudin Ho Heng berseru kepada Bu wi lojin :
"orang ini sangat licik dan berakal busuk. perkataannya tak dapat
dipercaya, apa gunanya anda banyak berbicara lagi dengannya?" Bu
wi lojin tertawa tergelak :
"Haaaahhhaahh.haaaahh perkataan ini memang sangat tepat,
aku tak akan banyak berbicara"
Dalam pada itu Kho Beng telah menggetarkan sepasang gelang
surya rembulannya sambil membentak pula :
"Bajingan tua, tibalah saatnya bagi kita untuk menentukan siapa
yang lebih unggul diantara kita berdua"
Ui sik kong berpaling dan memandang sekejap kearah sembilan
orang anak buahnya yang terkapar diatas tanah, lalu jawabnya
seraya menggeleng :
"setelah ke sembilan orang anak buah kujatuh pecundang
ditangan kalian, maka dalam peristiwa kali ini anggap saja partai
kupu-kupu kami telah menderita sebuah kekalahan besar, pedikaian
diantara kita berdua lebih baik diselesaikan lain waktu saja."
"Jadi kau bersedia mengaku kalah?" jengek Kho Beng sambil
tertawa dingin. Ui sik kong tertawa getir.
"Aku bukan termasuk orang yang tak berani mengakui kekalahan,
apalagi mereka bersembilan masih berada dalam keadaan tak sadar,

biarpun aku enggan mengakui pun terpaksa harus mengakuinya
juga"
"Kalau toh sudah mengaku kalah, berarti kau harus menerima
syarat yang diajukan pelbagai partai besar."
Mendengar ucapan tersebut, Ui sik kong segera tertawa tergelak
:
"Haaahhhaaahh.haaahh.kalau persoalan itu mah tak mungkin
akan kulakukan, aku bisa mengaku kalah hanya disebabkab ke
sembilan anak buahku telah jatuh tak sadarkan diri, tapi kalau aku
harus menanda tangani surat perjanjian dengan para perguruan dan
partai besar dari daratan Tionggoan, Hmmm Hal tersebut
merupakan sebuah lelucon yang amat besar"
"Lantas apa yang kau kehendaki?" desak Kho Beng dengan suara
dingin. Ui sik kong berpikir sebentar, lalu tanyanya :
"Racun apakah yang mengeram ditubuh kesembilan orang itu?
Dan siapa pelakunya?" sambil tertawa dingin Ngo Cun ki segera
menjawab :
"partai Hoa san pay yang telah melakukan hal tersebut, mereka
sudah terkena dupa An hun hiang kami"
"partai Hoa san?" Ui sik kong termenung sebentar, "lantas apa
kedudukanmu didalam partai Hoa san pay?"
"Terus terang saja aku katakan, nonamu adalah seorang ketua
Hoa san pay saat ini" kata Ngo Cun ki tertawa hambar.
Meledaklah gelak tertawa yang amat keras dari bibir Ui sik kong,
serunya :
"Haaahh.haaahh.haaahhh.tak aneh kalau partai besar didaratan
Tionggoan tak bisa berkembang dengan pesat. Hmmm, masa
seorang budak ingusan pun diangkat sebagai ketua Hoa san pay,
sampai dimanakah kemampuan partai besar yang ada, rasanya
tanpa dilihatpun sudah jelas."
Ngo Cun ki sama sekali tidak menjadi gusar malah katanya lagi
sambil tertawa :
"Ketika Hoa Bok lan memimpin pasukan perang, Liang Hong giok
menjebol pertahanan musuh, bukankah mereka pun masih seorang
budak ingusan? Tapi didalam kenyataannya mereka adalah
pahlawan wanita yang mampu melakukan pekerjaan besar, tidakkah
anda merasa bahwa ucapanmu tadi kelewat kasar dan takabur?"
Berkilat sinar tajam dari balik mata Ui sik kong setelah
mendengar perkataan itu, ditatapnya wajah Ngo Cun ki tajam-tajam,

lalu tegurnya sambil mendengus : "An hun hiang termasuk dalam
jenis racun yang mana?" Ngo Cun ki tertawa tawa
"sebetulnya dupa An hun hiang khusus dipakai untuk
mengawetkan jenasah manusia, hanya disebabkan keadaan
terpaksalah kami telah mempergunakannya tadi, padahal dupa
tersebut sama sekali tidak mengandung racun, tapi berhubung bau
harumnya memiliki ciri khas tersendiri maka orang yang
menghirupnya akan akan menderita kebobolan didalam urat
sarafnya, itulah sebabnya mereka baru akan mendusin tiga hari
kemudian tanpa pengobatan apa-apa"
Ui sik kong tertawa paksa.
"Aku tak ingin menyelidiki soal ini lebih jauh, apa mereka
bersembilan bisa diserahkan kembali kepadaku untuk dibawa
pulang?" Mendadak Kho Beng berseru :
"Biarpun bukan aku yang menawan kesembilan orang tersebut,
tapi aku dapat berunding dengan para cianpwee dari partai-partai
besar untuk menjamin keselamatan mereka hingga tiba dibukit Cian
san, namun untuk itu kamipun mempunyai sebuah syarat." sambil
menggigit bibir Ui sik kong berteriak :
"selama hidup belum pernah aku merasa diancam seperti ini, apa
syaratmu itu, ayoh cepat katakan"
"Bebaskan enciku bersama kedua orang dayangnya dan nona
Chin serta Kakek tongkat sakti sekalian"
sambil tertawa Ui sik kong menggelengkan kepalanya berulang
kali, dia berkata :
"Kesembilan orang ini tidak memcunyai nilai strategis setinggi
orang-orang yang kau tuntut itu"
"Jadi kau menolak?" bentak Kho Beng gusar. Ui sik kong tertawa
seram.
"Mereka bersembilan sesungguhnya telah melanggar peraturan
partai kami. Kesatu, mereka berani membangkang perintah dengan
melakukan tugas menurut ide sendiri Kedua, partai kami tidak
memperkenankan anggotanya melakukan pekerjaan yang gagal,
kegagalan mereka berarti kegagalan diri sendiri, karenanya biarpun
aku membawa mereka pulang kemarkas, paling banter orang-orang
itu hanya akan kuhukum mati saja. Tentu saja aku marasa rugi
besar bila dipakai menukar encimu sekalian."

"Lantas apa yang kau kehendaki sekarang?" bentak Kho Beng.
Pelan-pelan Ui sik kong maju dua langkah kedepan, bagaikan
disekelilingnya tak ada orang lain dia berkata :
"Sekarang aku hendak menghukum kesembilan orang anak
buahku lebih dulu menurut partaiku, kemudian kita baru
menyelesaikan persoalan yang lain" Begitu selesai berkata, sepasang
telapak tangannya segera diayunkan bersama kedepan.
Bersambung kejilid 38
Jilid 38
Blaaamm
Ditengah suara benturan yang sangat keras, deruan angin
pukulan yang dihasilkan dari kedua belah tangannya itu sudah
menghantam telak tubuh kesembilan orang tersebut.
Sedemikian hebat dan kuatnya tenaga serangan yang dihasilkan
sehingga daerah seluas dua kaki persegi telah terkurung oleh
desingan angin serangannya ini.
Dalam waktu singkat, Sembilan orang pengawal pribadinya itu
sudah terhajar sampai remuk kepalanya, patah kaki dan tangannya
dan tewas dalam keadaan yang sangat mengerikan. Peristiwa ini
betul-betul berada diluar dugaan siapa pun.
Rupanya Bu wi lojin sekalian berdiri agak jauh dari sana,
sedangkan Kho Beng pun tidak menyangka akan terjadinya peristiwa
ini.
Ketika Ui Sik kong melangkah maju dua tindak kedepan tadi,
sesungguhnya ketua dari partai kupu-kupu ini sudah mencari tempat
atau posisi yang strategis dan menguntungkan, dimana selain dia
bisa melancarkan serangan secara langsung, pun membuat para
hadirin tak akan mampu memberikan pertolongan. Dengan perasaan
geram, Kho Beng segera membentak :
"Bajingan tua, benar- benar perbuatanmu sangat keji dan tidak
berperikemanusiaan"
"Padahal perbuatan inipun termasuk dalam rangka rencana
busuknya," sindir Ngo cun ki kemudian, "rupanya dia takut kalau
salah seorang dari kesembilan orang itu teratuh ketangan kita
sehingga menyebabkan semua rahasianya terbongkar"
Ui sik kong tertawa keras.
"Haaaahh..haaahhhaahh boleh dibilang tindakanku ini merupakan
tindakan tegas karena didesak situasi atau tegasnya saja biarpun
mereka terhitung jago kelas satu dari partai kupu-kupu, namun

dalam situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan, mau tak mau
terpaksa aku harus mengorbankan mereka semua."
Mengawasi mayat yang hancur dan berserakan diatas lantai, Kho
Beng berseru sambil menggigit bibir :
"Bajingan tua Rasa benciku terhadapmu sudah merasuk sampai
ketulang sumsum, kalau bisa aku ingin menghabisi nyawa anjingmu"
Ui sik kong tertawa dingin.
"sekarang memang tiba giliran kita untuk menyelesaikan
persoalan yang ada silahkan saja melancarkan serangan" Ui sik kong
mendengus.
"Hmmm, selamanya aku lebih suka bekerja secara cepat dan
membedakan urutan masalahnya hari ini, aku hanya akan
menyelesaikan pertikaian diantara kita berdua sementara terhadap
partai-partai lainnya, aku hanya akan mngulangi pemberitahuanku
yang terdahulu, yaitu dalam batas waktu satu bulan kalian semua
sudah harus tiba dibukit Cian san, barang siapa melanggar perintah
ini dan tidak sampai ditempat tujuan pada batas waktu terakhir,
kami akan menganggapnya sebagai musuh serta menumpasnya
tanpa belas kasihan lagi." Kho Beng tertawa dingin.
"Lanjutkan kata-katamu, bagaimana kita hendak menyelesaikan
pertikaian ini?"
"setelah kau mengeluarkan sepasang gelang surya rembulanmu,
nampaknya suatu pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi, aku pun
tak ada perkataan lain yang bisa diucapkan selain pernyataanku
untuk mengiringi kehendakmu itu"
"Bagus" seru Kho Beng sambil manggut-manggut,
"bagaimanapun juga hari ini kita harus dapat menentukan siapa
yang lebih unggul diantara kita berdua, hayo cepat kau lancarkan
seranganmu"
Ui sik kong memandang sekejap sekeliling ruangan, lalu
menggelengkan kepalanya.
"Tidak. aku tak ingin bertarung disini, bila kau berani menerima
tantanganku, mari kita tinggalkan bersama tempat ini."
Pelajar Rudin Ho Heng yang mendengar perkataan tersebut
segera berteriak keras : "Hey anak muda, jangan kau termakan oleh
siasat liciknya" Kho Beng berpikir sebentar, kemudian menjawab
"sesungguhnya boanpwee memang ingin menantangnya untuk
beduel satu melawan satu."

"Tidak boleh tidak boleh.." seru pelajar rudin sambil menghela
napas dan menggelengkan kepalanya.
Kho Beng tertawa getir.
"Boanpwee tidak mengemukakan alasan yang sebenarnya secara
terperinci, tapi aku benar-benar mempunyai urusan yang penting
untuk menantangnya berduel satu melawan satu."
Ui sik kong yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa
terbahak-bahak. katanya dengan cepat :
"Tidak kusangka dengan usiamu yang begitu muda ternyata
berani mengambil keputusan dengan tegas, aku merasa amat kagum
sekali"
"Nah itu dia, orang itu sengaja hendak menggunakan siasat licik
untuk memanasi hatimu." Kembali pelajar rudin berteriak. Bu wi lojin
turur berseru pula dengan suara dalam.
"Kelicikan dan kebusukan hati orang ini tak mungkin bisa kau
tandingi, lebih baik..." Namun sebelum perkataan tersebut selesai
diutarakan, Kho Beng telah menukas :
"Walaupun boanpwee tak ingin melanggar permintaan cianpwee
sekalian, namun dalam persoalan hari ini terpaksa aku mesti
membangkang, kuminta cianpwee sekalian sudi memaafkan"
Ui sik kong segera memandang sekejap wajah para jago yang
hadir dalam ruangan lalu katanya sambil tertawa.
"Pertemuan pada hari ini benar-benar merupakan sebuah
pertemuan yang tidak menyenangkan, kuharap dalam pertemuan
kita berikutnya keadaannya bisa jauh lebih baikan, nah, saudara
sekalian selamat tinggal" Habis berkata, dia segera melejit keluar
dari ruangan tersebut.
Tiada orang yang menghalangi, tiada pula yang melakukan
pengejaran, semua orang hanya berdiri termangu menyaksikan
kejadian kepergian tokoh sakti dari partai kupu-kupu itu.
Kho Beng sendiripun tidak banyak bebicara lagi, dia menjura
keempat penjuru lalu bagaikan s eg ulung asap ringan segera
menyusul dibela kang Ui sik kong.
Suasana hening segera mencekam ruangan kuil sampai berapa
saat lamanya. Para jagoan hanya bisa saling berpandangan dengan
mulut melongo.
Akhirnya Phu sian sangjin berseru memuji keagungan sang
Buddha, hanya suara pujian itu yang memecahkan keheningan.

Ketua Hoa sanpay Ngo Cun ki mengerling sekejap wajah para
jago, lalu berkata :
"Peristiwa ini benar-benar sangat aneh, mengapa Kho sauhiap
bersikeras hendak meninggalkan tempat ini dan melangsungkan
pertarungan satu lawan satu dengannya."
sejak Ngo Cun ki berhasil membongkar siasat busuk dari
kesembilan pengawal pribadi Ui sik kong, pandangan semua orang
terhadap gadis muda inipun otomatis turut berubah. "omitohud" kata
Phu sian sangjin, "apakah Ngo ciangbunjin mempunyai suatu
pendapat?"
Dengan kening berkerut, Ngo Cun ki berkata :
"Menurut penuturan losiansu tadi, benarkah Kho sauhiap telah
menderita luka parah dan terjatuh ketangan Ui sik kong?"
"Benar" sahut Phu sian sangjin serius. "Memang demikianlah
kejadiannya, tapi barusan Kho Beng sama sekali tidak berkata apaapa,
aneh, kejadian ini benar-benar sangat aneh dan tidak masuk
akal"
Ngo Cun ki berpikir sebentar, lalu katanya lagi :
"Menurut pandanganku, kemungkinan besar diantara mereka
berdua telah terjadi suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan
orang banyak. bukankah losiansu pernah bilang bahwa ilmu silat
yang dimiliki Ui sik kong telah mencapai tingkatan yang luar biasa?"
Phu sian sangjin manggut-manggut :
"Aku tidak bermaksud meremehkan kekuatan sendiri, juga bukan
berniat mengungguli kemampuan lawan, tapi dalam kenyataannya Ui
sik kong memang luar biasa sehingga menyebabkan Kho Beng harus
kuserahkan kepadanya."
"Tadi, aku rasa losiansupun dapat melihat dengan jelas,
walaupun antara Kho sauhiap dengan Ui sik kong hanya bentrok
satu kali, namun kelihatan jelas kalau posisi mereka tetap berimbang
dan tidak Nampak siapapun lebih lemah dari lawannya."
"Yaa benar, inilah masalah yang membuat aku semakin bingung
dan tidak habis mengerti" Bu wi lojin menghembuskan napas
panjang, mendadak dia menyela :
"Aku pernah mempelajari kitab pusaka Thian goan bu boh
bersama Kho Beng dilembah, ilmu silat yang dimilikinya boleh
dibilang aku paling mengetahui." Buru-buru Ngo Cun ki bertanya :
"Apakah cianpwee berhasil menemukan sesuatu yang janggal?"

Walaupun dia adalah seorang ketua partai besar, namun karena
pengaruh usia yang berbeda banyak maka dia selalu menghormati
Bu wi lojin sebagai seorang locianpwee. Bu wi lojin berkata :
"Walaupun Kho Beng hanya berkelebat dalam sekali pintasan
saja, namun aku dapat melihat dengan jelas bahwa kemampuan
tersebut bukan ilmu yang dipelajarinya semula dan lagi yang
membuat aku semakin tak mengerti adalah..."
Tiba-tiba ia berhenti berbicara dan membungkam, sementara
sepasang matanya dipicing seakan-akan sedang memikirkan suatu
masalah yang sangat pelik, "Apakah cianpwee menemukan sesuatu
yang tak jelas?" Ngo Cun ki segera menyela.
Pelan-pelan Bu wi lojin mendongakkan kepalanya, ditatapnya Ngo
Cun ki sekejap lalu pelan-pelan memandang sekeliling ruangan
setelah itu dia baru melanjutkan :
"Yang membuat diriku tak habis mengerti adalah tentang senjata
andalannya. setahuku, selama ini Kho Beng mempergunakan sebilah
pedang, karena bukan saja dia mengandalkan ilmu pedang Liu im
kiam hoat yang pernah kuwariskan kepadanya. Ilmu silat yang
dipelajarinya dari kitab pusaka Thian goan bu boh pun merupakan
inti sari dari ilmu pedang, tapi kenyataan sekarang ia justru
mengandalkan sepasang gelang surya rembulan sebagai senjata
andalannya."
Termasuk Phu sian sangjin diantaranya dengan cepat mereka
dibuat tertegun, terutama setelah membayangkan kembali bentuk
aneh dari senjata gelang surya rembulan tersebut.
Ditengah keheningan yang mencekam seluruh ruangan,
mendadak pelajar rudin Ho Heng berjalan menghampiri Molim
sekalian berempat yang masih berdiri termangu disudut ruangan,
lalu bentaknya : "Hey, kalian cepat kemari"
Molim mengiakan,lalu bersama Mokim, Ha pukim serta Rumang
berjalan mendekat dengan langkah lebar, serentak mereka berdiri
berjajar dihadapan si pelajar rudin setelah memberi hormat
kepadanya.
"sudah cukup lama kalian mengikuti Kho Beng, pernahkah kalian
berempat melihat dia menggunakan senjata gelang surya
rembulan?" Tanya si pelajar rudin kemudian. "sama sekali tidak
pernah" jawab Rumang cepat.

"Atau mungkin senjata tersebut selalu disimpan dalam
buntalannya sehingga kalian tidak pernah melihatnya?" Kembali
Rumang berseru :
"Jangan lagi buntalannya, bahkan setiap benda miliknya sudah
pernah kami periksa secara diam-diam, namun tak pernah kami
menjumpai sepasang gelang surya rembulan itu"
sebenarnya Molim hendak mencegah Rumang untuk berbicara,
namun jawaban Rumang kelewat cepat sehingga tak sempat untuk
dicegah lagi. sambil menarik muka pelajar rudin segera membentak :
"Mengapa kalian melakukan pemeriksaan atas barangnya secara
diam-diam?"
Rumang jadi tergagap :
"Waktu itu waktu itu kami sedang mencari kitab pusaka Thian
goan bu boh miliknya tapi..." sambil mendengus pelajar rudin segera
membentak : "Mundur sana"
Merah padam selembar wajah Rumang karena jengah, namun dia
tak berani berkata apapun, setelah hormat, bersama Molim
bersaudara dan Hapukim segera mengundurkan diri dari situ.
sambil tersenyum Ngo cun ki segera berkata :
"sekarang keadaannya sudah jelas, ketika Kho sauhiap diculik
oleh Ui sik kong tempo hari, mungkin dia segera direbut lagi oleh
seorang yang lain? Tapi siapakah dia?" tak tahan Hian im totiang,
ketua Bu tong pay itu bertanya. Mula-mula Ngo Cun ki melengak.
tapi menyusul kemudian ia segera tertawa cekikikan.
"Pengetahuan boanpwee tentang tokoh persilatan sangat
terbatas, darimana aku bisa tahu siapa orang itu? Tapi menurut
penilaianku bisa jadi orang tersebut adalah seorang tokoh dunia
persilatan yang berilmu sangat tinggi bahkan senjata andalannya
adalah sepasang gelang surya rembulan."
"Maksud Ngo ciangbunjin ada orang yang telah menolong Kho
Beng, menyembuhkan lukanya serta mewariskan ilmu silat
kepadanya." sela Phu sian sangjin cepat. Ngo Cun ki sebera
mengangguk. "Ya a, memang begitulah menurut dugaan boanpwee"
"omotohud, bukankah hal ini berarti orang yang telah menolong
Kho Beng adalah seorang tokoh silat yang memiliki ilmu silat jauh
diatas Ui sik kong?"
"Kalau dilihat dari keadaannya, memang seharusnya demikian."
Tanpa terasa Phu sian sangjin menggaruk-garukkan kepalanya
yang tidak gatal, gumamnya :

"seorang yang menggunakan sepasang gelang surya rembulan
dan memiliki ilmu silat lebih hebat dari Ui sik kong."
Lama sekali dia termenung, kemudian sambil memandang
sekejap wajah para jago dia melanjutkan :
"Aku benar-benar bodoh, aku betul-betul tak bisa membayangkan
tokoh silat macam apakah itu dan siapakah dia?"
"Mungkin orang itu bukan jagoan dari angkatan sekarang." sela
Bu wi lojin secara tiba-tiba, "aku jadi teringat seseorang."
"Bu wi sicu, siapa yang kau maksudkan itu?" cepat Phu sian
sangjin bertanya.
"Si naga terbang dari See ih, Kongci Cu, hanya dia seorang yang
menggunakan senjata gelang surya rembulan."
"omitohud.mana mungkin hal ini bisa terjadi? Memangnya dia
sudah makan obat panjang umur sehingga dapat hidup sampai
sekarang? Disamping itu Kongci Cu adalah sahabat karib Ui Thian it
pendiri dari partai kupu-kupu. Kenapa dia mesti menolong Kho Beng
dan kenapa pula dia mesti mewariskan gelang surya rembulannya
kepada Kho Beng?" Dengan cepat Bu wi lojin menggelengkan
kepalanya berulang kali, katanya kemudian :
"Dalam dunia ini memang sering kali terjadi peristiwa yang tidak
masuk diakal, bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya,
mungkin hanya Kho Beng sendiri yang bisa menceritakan
dikemudian hari."
Ngo Cun ki segera berpaling kembali kewajah Phu sian sangjin,
lalu berkata :
"aku rasa dalam situasi demikian bukan waktunya bagi kita untuk
membicarakan persoalan tersebut, masih ada masalah lain yang
lebih penting mesti lo siansu putuskan dengan cepat"
"Yaa," Phu sian sangjin manggut-manggut, "sekarang kita sudah
berada dalam keadaan yang amat berbahaya dan amat merikuhkan,
sepantasnya bila persoalan semacam ini kita rundingkan bersamasama,
sebab aku tak berani mengambil keputusan sendiri."
Mungkin dikarenakan bocornya rahasia pertemuan dibukit Tiong
lam san sehingga hampir kecundang musuh, Phu sian sangjin
menjadi kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri didalam
kedudukannya sebagai pemimpin umat persilatan. Bu wi lojin segera
tertawa terbahak-bahak, katanya :
"Lo siansu tak usah terlalu berendah hati, apalagi merasa putus
asa disebabkan suatu kegagalan yang tidak disengaja, yang

terpenting buat kita sekarang adalah menanggulangi situasi yang
sedang kita hadapi."
Hampir bersamaan waktunya ketua Bu tong pay berseru
berbareng :
"Betul, sudah sepantasnya lo siansu tidak menampik kedudukan
tersebut, kita anggap saja musuh yang sedang dihadapi memang
jauh lebih licik dan berbahaya,"
Dalam keadaan demikian, kesatu, Phu sian sangjin merasa
dirinya seperti lagi menunggang dipunggung harimau, kedua, karena
hampir selama seribu tahun terakhir pihak siau limpay selalu
menempati posisi sebagai pemimpin umat persilatan, tentu saja dia
tak ingin menyaksikan pamor serta kedudukan partainya yang selalu
dihormati orang selama ribuan tahun mesti hancur ditangannya?
Tapi, masalah yang dihadapi sekarang memang benar-benar
merupakan suatu masalah yang pelik dan sukar diatasi. Ia sadar
kendatipun tanggung jawab tersebut dialihkan kepundak lain orang
pun, mereka tetap akan merasa pusing dan kebingungan.
Akhirnya Phu sian sangjin pun mengambil suatu keputusan yang
paling berani, paling terpaksa juga paling cerdik, Katanya dengan
suara sangsi :
"Bila kita tinjau dari situasi yang terbentang didepan mata
sekarang, bisa kita duga sendiri, perundingan rahasia yang kita
selenggarakan ini mustahil bisa berlangsung terus."
"Perasaan Lo siansu memang benar" Nao Cun ki yang pertamatama
mengangguk lebih dulu, "untuk mengumpulkan para wakil dari
perguruan dan partai besar dari dunia persilatan untuk mengadakan
perundingan rahasia memang juga tak mungkin bisa
diselenggarakan lagi." Phu sian sangjin menghela napas.
"Aaaai.oleh sebab itu aku berniat mengalahkan posisi kita dari
gelap menjadi terang, kita umumkan secara luas kepada seluruh
dunia persilatan agar mereka yang berhasrat untuk menumpas kaum
iblis dari muka dunia agar datang berkumpul disiau limpay dan
bersama-sama merundingkan cara penanggulangannya."
Tindakan semacam ini jelas merupakan suatu tindakan
menyerempet bahaya, sebab andaikata partai dan jagorjago
persilatan lainnya tak berani mencampuri urusan tersebut, sudah
jelas siau limpay yang akan menjadi sasaran penumpasan yang
nomor satu bagi partai kupu-kupu.

Lagipula biarpun para jago dari pelbagai partai datang memnuhi
seruan tersebut, belum tentu kekuatan mereka mampu menandingi
kekuatan partai kupu-kupu.
seandainya usaha ini mengalami kegagalan, maka yang sudah
dapat dipastikan adalah kemusnahan partai siau limpay ditangan
orang-orang partai kupu-kupu.
oleh sebab itulah keputusan yang diambil Phu sian sangjin saat
ini boleh dibilang merupakan keputusan yang paling berani. Dengan
suara lantang Ngo Cun ki sebera berseru :
"Losiansu bersedia berkorban demi keselamatan seluruh umat
persilatan, siauli merasa kagum sekali dengan keputusan tersebut,
sebagai ketua Hoa sanpay, siauli bersumpah akan mendukung
seluruh keputusan Lo siansu beserta segenap kekuatan yang ada"
"Terima kasih banyak untuk pernyataan Nao Cangbunjin.." bisik
Phu sian sangjin terharu.
Ia segera berpaling seraya berseru : "sute berlima, kalian berada
dimana?"
Lima rasul panca unsur segera tampil kedepan, sahutnya dengan
wajah serius : "Menjumpai ciangbun suheng, kami siap menantikan
perintah"
Dengan suara dalam Phu sian sangjin segera bertanya :
"Bagaimanakah menurut pendapat sute berlima tentang
keputusan yang telah kuambil?" Kim cuncu sebagai pemimpin dari
lima rasul panca unsur segera menyahut dengan cepat :
"omitohud Keputusan dari ciangbun suheng memang tepat sekali,
partai kita sebagai pemimpin dari segenap partai yang ada sudah
sewajarnya menerima seluruh pertanggung jawab ini, apalagi
keselamatan dunia persilatan sudah menjadi tanggung jawab kita
semua, apakah partai kita mesti mencuci tangan sambil berpeluk
tangan saja?" Phu sian sangjin segera manggut-manggut, katanya
kemudian :
"Kalau memang begitu, harap sute berlima segera menggunakan
segenap kekuatan dari partai kita untuk menyebar luaskan berita ini
keseluruh dunia persilatan. Kesatu, segera beritakan keselurh dunia
persilatan tentang kebulatan tekad partai kita untuk menumpas
kaum iblis dari muka bumi serta niat kita untuk menghimpun seluruh
kekuatan dunia persilatan untuk bersama-sama menanggulangi
kesulitan tersebut. Kedua, segera mengirim berita agar pihak kita
mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan

rekan-rekan persilatan. Ketiga, melakukan penghadangan dan
pencegatan ditengah jalan terhadap rekan-rekan persilatan yang
masih berada diperjalanan agar merubah arah perjalanan mereka
langsung menuju kebukit Ciong san."
"Terima perintah" sahut kelima rasul panca unsur itu serentak.
setelah mundur tiga langkah, mereka sebera membalikkan badan
dan berlalu dari situ. Maka para jago pun bangkit berdiri sambil
mempersiapkan diri, sudah jelas mereka hendak berangkat kebukit
siong sanpada malam itujuga. Tiba-tiba Molim mendekati si pelajar
rudin Ho Heng dan berbisik :
"Locianpwee, apakah kaukaujuga akan berangkat kesIau
limpay?"
"Kalau semua orang pergi, tentu saja kita pun harus pergi,"
jawab pelajar rudin sambil tertawa, "kalau tidak. bisa jadi kita akan
ditangkap oleh pihak partai kupu-kupu dan dibunuh tanpa liang
kubur"
Dengan agak ragu Molim berkata :
"Tapi cukong kami telah pergi bersama situa Bangka itu, aku pikir
lebih baik kita pergi membantunya saja"
"Percuma", pelajar rudin menggeleng, "bukan aku sipelajar tak
punya keberanian tapi yang pasti tak seorang pun mampu
membantunya, paling tidak. semua yang hadir dalam ruangan saat
ini bukan tandingan situa Bangka Ui sik kong"
Molim tidak berbicara lagi, padahal disinilah letak kelicikan Molim.
Berbicara tegasnya, ia sama sekali tak ambil peduli terhadap
keselamatan Kho Beng, dengan perkataan tersebut tadi dia
bermaksud merebut rasa simpati sipelajar rudin terhadap mereka.
namun pada saat itu para jago sudah bersiap-siap hendak
berangkat inilah tiba-tiba tiga bersaudara Kim mengurungkan
niatnya, dengan nada serius Kim lotoa berkata :
"Boanpwee sekalian bertiga memutuskan tak akan mengikuti
cianpwee sekalian pergi ke siau limpay, Mengapa kalian bertiga
mengambil keputusan itu?" Tanya Bu wi lojin agak tertegun. Dengan
wajah bersungguh-sungguh Kim lotoa berkata :
"Kami tiga bersaudara dapat menjalin tali persahabatan dengan
Kho sauhiap karena kami merasa kagum atas wataknya. Itulah
sebabnya kami bertekad akan mengikuti dirinya. sekarang Kho
sauhiap telah menantang Ui sik kong untuk melangsungkan duel
satu lawan satu. siapa akan hidup, siapa akan mati pun susah

diketahui. Itulah sebabnya biarpun kami bertiga tak mempunyai
kemampuan untuk membantunya, namun paling tidak kami ingin
tahu bagaimanakah nasib Kho sauhiap selanjutnya"
Mendengar ucapan tersebut, Bu wi lojin segera menghela napas :
"Aaaai, setiap orang memang mempunyai cita-cita yang berbeda
dan tidak bisa dipaksakan, kalau toh kalian bertiga sudah
memutuskan demikian, tentu saja kami puncak dapat terlalu
memaksa."
Kim lotoa segera bertukar pandangan sekejap dengan Kim loji
serta Kim losam lalu sambil menjura katanya lagi :
"Kalau memang begitu, maaf bila boanpwee sekalian akan
berangkat lebih dulu."
Kembali suasana hening mencekam seluruh ruangan. sementara
tiga bersaudara Kim telah beranjak meninggalkan ruangan tersebut
dengan langkah lebar. sampai lama kemudian , Bu wi lojin baru
bergumam sambil menghela napas panjang : "Aaaai.tak nyana,
sungguh tak nyana."
Penolakan Kim bersaudara untuk berangkat ke siau lim si sama
sekali tidak mempengaruhi rencana para jago, dibawah pimpinan
Phu sian sangjin berangkatlah kawanan jago tersebut meningalkan
kuil Leng thian sian wan."
Kuil kuno yang sudah lama terbengkalai itupun pulih kembali
dalam keheningan, yang berbeda adalah disisi kuil bertambah
dengan sebuah gundukan tanah baru. Itulah kuburan dari
kesembilan pengawal pribadi Uisik kong yang tewas ditangan
majikan sendiri
Disaat rombongan jago hendak berangkat meninggalkan tempat
itu. Phu sian sangjin telah menurunkan perintah agar mengubur
jenasah orang-orang tersebut.
ooooooo
Uisik kong berlarian sangat cepat sekali sementara Kho Beng
mengikuti dibelakangnya dengan ketat.
setelah berlarian lebih kurang dua puluh li kemudian sampailah
mereka berdua diatas sebuah tebing kecil, disitu mereka berdua
sama-sama menghentikan langkahnya.
Dengan sinar mata yang hijau menggidikkan hati ui sik kong
mengawasi pemuda kita lekat-lekat, lalu tegurnya sambil tertawa
dingin : "Kho Beng, apakah dia telah mampus?" Kho Beng agak
terperanjat, tapi ia segera bertanya : "siapa yang telah mati?"

"Heeehh.heeehhh..heeehh..siapa lagi? Tentu saja si naga terbang
dari see ih, Kengci Cu?"
Berubah paras muka Kho Beng, tapi sahutnya sambil menggigit
bibir.
"Benar, dia sudah mati darimana kau bisa tahu?"
Ui sik kong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa
terbahak-bahak :
"Haaaahh.haaahh.haaahh..biarpun aku berhasil dikelabui saat itu,
namun setelah kejadian itu aku segera mengerti kalau bajingan tua
itu pasti sudah menderita luka dalam yang mematikan, kalau tidak
dia tak akan mempunyai kesempatan untuk mengungguli diriku."
"Hmmm, guruku adalah sahabat kakekmu almarhum," kata Kho
Beng dingin. "Ini berarti dia telah mati ditanganmu sendiri, apakah
kau tak merasa beriba hati karenanya?"
"Gurumu?" Ui sik kong berseru keheranan, "Apakah dia telah
menerima mu sebagai muridnya menjelang ajalnya tiba?"
"Benar, disaat ajal hampir merenggut nyawa guruku, dia telah
menerimaku sebagai muridnya, tapi kematian guruku bukan
disebabkan oleh seranganmu yang berat itu?"
"Hmmm, lantas apa sebabnya?"
"Kesatu, daya kasiat cairan mestika Giok hu wan ci yang dimakan
guruku telah lewat masa kerjanya. Kedua, guruku telah mewariskan
sisa tenaga dalam yang dimilikinya kepadaku dengan menggunakan
ilmu Kay teng ci hoat."
"Heeehh..heeehhheeehh.klau begitu mujur amat nasibmu,"
jengek Ui sik kong sambil tertawa dingin. "Tapi bayang biarpun kau
berhasil mendapat penemuan aneh, hari ini kau telah bersua
denganku, ini berarti semua penemuan tersebut tak akan berguna
lagi untukmu, apakah kau telah memikirkan hal ini?"
Kho Beng segera menghela napas panjang, katanya :
"Berbicara yang sesungguhnya, ilmu silat yang kumiliki memang
bukan tandinganmu, kepandaian sakti yang dimiliki mendiang
guruku belum tentu dapat berbuat banyak terhadapmu, tapi ada
satu hal yang tak akan kau duga sama sekali"
"Hmmmm, soal apa yang tak kuduga itu?" dengus ui sik kong.
"Bila kukombinasikan ilmu silat dari mendiang guruku dengan
ilmu silat dari kitab pusaka Thian goan bu boh, maka akan timbullah
daya kekuatan yang tak akan kau duga sama sekali."
Ui sik kong jadi tertegun, tapi setelah tertawa dingin serunya :

"sekalipun apa yang kau katakana memang merupakan
kenyataan, namun dengan jangka waktu setengah bulan yang begini
singkat berapa banyakkah yang berhasil kau serap."
"Hmmm, sampai dimanakah kepandaian silat yang berhasil
kuserap dan bergunakah kepandaian tersebut, akan kugunakan
dirimu sebagai kelinci percobaan sekarang juga." Ui sik kong menjadi
teramat gusar, bentaknya :
"Hari ini adalah saat kematian bagimu, aku tak bakal membiarkan
kau tetap hidup terus didunia ini"
Kho Beng tertawa seram :
"Heeehh.heeehh.heeehh.apabila kau benar-benar membunuhku,
mungkin kitab pusaka Thian goan bu boh tak pernah akan terjatuh
kembali ketanganmu, apakah kau sudah tidak menginginkannya
lagi?"
"Kitab pusaka Thian goan bu boh adalah warisan mestika partai
kupu-kupu kami, siapa bilang aku sudah tidak menghendakinya lagi."
Kemudian setelah menatap wajah Kho Beng sekejap dengan
mimik yang menyeramkan, dia berkata lebih jauh
"Tapi hal tersebut adalah persoalan disaat ajalmu sudah hampir
tiba nanti, sebab orang yang akan mati biasanya berbicara jujur,
siapa tahu kalau sampai saatnya nanti kau akan berbicara terus
terang?" Kontan saja Kho Beng tertawa dingin :
"Heeehh..heeeehh.heeehhh.kalau memang begitu kau boleh
sebera turun tangan"
Ui sik kong memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian bentaknya keras-keras :
"Kho Beng coba kau rasakan jurus Guntur menggoncangkan seisi
bumi ini"
Ditengah bentakan keras dengan suatu gerakan yang cepat ia
telah meloloskan ruyung lemasnya dari pinggang dalam waktu
singkat cahaya kuning telah menyelimuti seluruh angkasa bagaikan
sebuah payung raksasa saja dengan cepatnya mengurung kacau
disekitar situ
Kho Beng tidak berdiam diri saja, segera bentaknya pula :
"Coba kau lihat jurus Angin menderu awan menggulung aku ini
segera akan mematahkan seranganmu."
sepasang gelang surya rembulannya serentak digetarkan keatas
menciptakan lapisan cahaya kuning yang menyambar diangkasa.

Dalam waktu singkat, cahaya kuning telah menyeliuti seluruh
angkasa dan menggulung bayangan tubuh kedua orang tersebut.
Tapi peristiwa ini hanya berlangsung dalam sekejap mata,
menyusul lenyapnya cahaya kuning itu, mereka berdua masih tetap
berdiri diposisi semula.
Namun dari perubahan wajah kedua orang itu dapat diketahui
siapakah yang lebih tangguh.
sambil menggigit bibir Ui sik kong berkata : "Kau tidak terluka?"
"Tentu saja tidak" jawab Kho Beng sambil tertawa angkuh,
"bagaimana dengan kau sendiri?"
Ui sik kong tidak menjawab pertanyaan itu, sambil menarik muka
kembali ia menegur : "Jurus serangan apakah yang kau
pergunakan?"
"Bukankah telah kujelaskan tadi,jurus tersebut bernama Angin
menderu Awan menggulung?"
"Jurus Guntur menggoncangkan seisi bumi merupakan jurus yang
paling tangguh, belum pernah ada jurus serangan apapun yang
mampu mematahkannya, hmmm.jurus Angin menderu Awan
menggulungmu itu terhitung gerak serangan macam apa?" sambil
tertawa tergelak. Kho Beng segera menyela :
"Kalau begitu aku perlu memberitahukan kepadamu, walaupun
serangan tadi nampaknya eperti satu jurus, padahal dalam
kenyataannya terdiri dari dua gerakan yang berbeda, atu adalah
gerakan Angin langit menderu-deru dari kitab pusaka Thian goan bu
boh, ementara gerakan yang lain adalah jurus ciptaan mendiang
guruku sendiri yang bernama Awan tertutup surya menghilang,
andaikata kedua jurus serangan itu dipergunakan secara terpisah,
mungkin saja aku telah terluka diujung seranganmu sedari tadi."
Kemudian sambil menatap wajah lawannya dia meneruskan :
"Namun jika kedua jurus itu dikombinasikan menjadi satu,
bukankah segera terwujud kekuatan yang sama sekali tak terduga?"
Ui sik kong segera menghembuskan napas panjang : "Huuuhhaku
benar-benar amat benci"
"Apa yang kau benci?" Kho Beng keheranan.
"Aku benci dengan Kongci Cu, tapi benci pula kepada diri sendiri"
sambil tertawa Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang
kali, ucapnya :
"susah bagiku untuk mencerna makna dari perkataanmu ini."
Dengan penuh kebencian Ui sik kong berseru :

"Aku benci kepada Kongci Cu karena dia tidak cukup setia kawan,
akupun membenci diriku sendiri karena tidak memunahkan ilmu
silatmu sedari dulu"
Kho Beng kembali menggelengkan kepalanya.
"Lambat laun kau bakal memahami bahwa mendiang guruku tak
pernah melakukan tindakan yang menyalahi keluarga Ui kalian,
tentang mengapa kau tidak memunahkan ilmu silatku setelah kau
berhasil merampas diriku dari tangan Phu sian sangjin tempo hari,
hal tersebut adalah menjadi urusanmu sendiri" Kemudian dengan
suara dalam dia melanjutkan :
"Barusan kita baru bertarung satu jurus, aku rasa dalam
gebrakan berikut belum tentu ada yang roboh diantara kita berdua,
nah kau boleh melanjutkan seranganmu lagi."
Tapi Ui sik kong segera menggelengkan kepalanya berulangkali,
ujarnya : "Aku tak ingin bertarung melawan orang yang memiliki
ilmu yang seimbang denganku."
Kho Beng segera tertawa tergelak :
"Biarpun kau sangat licik, namun akupun bukan seorang manusia
bodoh,"
"sebetulnya apa yang hendak kau utarakan, mengapa tidak
disampaikan secara blak-blakan?" bentak Ui sik kong marah.
"sebetulnya sangat sederhana, kau membenciku setengah mati,
boleh dibilang rsa bencimu itu sudah merasuk sampai ketulang
sumsum, jadi tiada alasan bagimu untuk menolak suatu pertarungan
melawanku, tapi hingga sekarang kau enggan bertarung hal ini
hanya dikarenakan sebuah alasan saja.."
"Apa alasannya?" teriak Ui sik kong.
"Karena kau sudah menderita luka dalam, bila pertarungan ini
dilanjutkan maka belum sampai tiga gebrakan kau tentu sudah
roboh terjengkang mencium tanah"
Mula-mula Ui sik kong merasa amat gusar, tapi dengan cepat dia
berhasil menenangkan kembali hatinya, terus terang dia berkata :
"Dugaanmu memang tepat sekali, tapi luka yang kuderita hanya
dikarenakan aku terlalu memandang remeh kekuatanmu, kuakui
bahwa kau adalah musuh tangguh yang pertama pernah kujumpai."
Namun setelah tertawa seram, lanjutnya :
"Kho Beng, apabila kau hendak menyerangku dengan sepenuh
tenaga, mungkin aku benar-benar akan jatuh pecundang
ditanganmu, marilah, inilah kesempatan terbaik bagimu."

Tapi sambil tertawa Kho Beng sebera menggeleng :
"Aku bukan manusia yang senang memanfaatkan kesempatan
disaat orang lain sedang mengalami kesulitan, kalau memang kau
sudah terluka, biar kita sudahi saja pertarungan hari ini sampai disini
saja."
Agaknya ucapan ini sama sekali diluar dugaan Ui sik kong,
serunya dengan cepat . "Aku rasa kau bukan orang yang terlalu
berbelas kasihan kepada lawannya bukan?"
"Ya a benar, disamping aku tak ingin memanfaatkan kesempatan
dikala orang sedang sakit, akupun masih mempunyai alasan yang
lain"
"Hmmm, apa alasanmu yang lain?"
"Kalau begitu kita boleh berbincang-bincang bukan?" Tanya Kho
Beng sambil tertawa. sambil berbicara ia segera mengambil tempat
duduk diatas sebuah batu cadas.
Ui sik kong memutar biji matanya sejenak. namun akhirnya
diapun duduk sambil berkata:
"Bila ingin membicarakan sesuatu, katakanlah sekarang dengan
blak-blakan.. " Kho Beng berpikir sejenak. lalu ujarnya :
"Pertama-tama aku ingin bertanya dulu tentang atu hal, benarkah
kitab pusaka Thian goan bu boh adalah mestika turun temurun dari
partai kupu-kupu kalian?" Agak emosi Ui sik kong menjawab :
"setiap umat persilatan mengetahui akan persoalan ini, aku tak
ingin banyak berbicara lagi."
Kho Beng manggut-manggut, ujarnya kemudian :
"Aku bukannya merasa curiga tapi hanya tak habis mengerti. ilmu
silat yang tercantum dalam kitab pusaka Thian goa bu boh
kebanyakan adalah ilmu pedang, mengapa orang-orang partaimu
justru menjadi kesohor karena senjata panji kupu-kupunya, sedang
anda sendiripun lebih suka mengandalkan ruyung emas." Ui sik kong
tertawa tergelak :
"Haaaahh.haaahh.haaahh..andaikata partai kami hanya
mengandalkan jurus pedang dari kitab pusaka Thia goan bu boh
belaka, mungkin kejayaan dan pengaruh kami didalam dunia
persilatan tak akan seluas dan sebesar ini, apalagi kitab pusaka
tersebut telah lenyap sejak seabad berselang, sisa peninggalan
kepandaian tersebut pun sudah tak lengkap."

"Lantas dari sumber manakah ilmu silat yang diandalkan partai
anda?" Tanya pemuda kita sambil berkerut kening. "Tentu saja dari
kitab pusaka Thian goan bu boh"
Kho Beng berpikir sebentar, dengan cepat ia pun menjadi paham
dengan duduk persoalan yang sebenarnya, katanya kemudian :
"ooooh, rupanya kau menggunakan kepandaian dari kitab pusaka
Thia goa bu boh sebagai dasar dengan mencampurkan kepandaian
lain kedalamnya sehingga tercipta sejenis kepandaian manunggal
yang khusus?"
"Cara tersebut persis seperti apa yang kau lakukan sekarang,"
kata Ui sik kong sambil tertawa seram, "tapi aku percaya jurus
serangan yang berhasil kuciptakanjauh lebih hebat daripada mu."
"Hmmm, itu kan dikarenakan kau kelewat tinggi menilai
kemampuan sendiri," jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.
Dengan geram Ui sik kong berseru :
"selewatnya hari ini bila kita sampai bertemu kembali, saat itulah
aku akan menyuruh kau tahu dengan pasti, siapakah diantara kita
yang lebih tangguh"
Kho Beng tertawa riang.
"selama seabad terakhir ini mendiang guruku sudah menciptakan
beratus-ratus jenis ilmu silat yang tangguh, aku rasa dalam masa
hidupmu sekarang tak nanti kau punya kesempatan lagi untuk
angkat kepala dihadapanku"
Berubah hebat paras muka Ui sik kong setelah mendengar
perkataan itu, namun sambil menggigit bibir ia berseru :
"Kho Beng, kau cukup mengingat satu hal saja, yaitu dalam suatu
pertarungan yang berlangsung, belum tentu menang kalah
ditentukan oleh tangguh tidaknya jurus serangan yang dimiliki, tapi
terpengaruh pula oleh kerja sama dalam bidang lainnya."
Kho Beng tersenyum.
"sejak hari ini kau boleh saja berupaya dengan segala cara untuk
mencelakai aku, tapi yang hendak dibicarakan hari ini bukan lah
masalah tersebut."
"Apa yang hendak kau bicarakan?" Tanya Ui sik kong keheranan.
"Apabila kitab pusaka Thian goan bu boh benar-benra merupakan
benda mestika dari partai kupu-kupu, akupun bersedia untuk
menjelaskan kepada para pemimpin dari partai agar mengembalikan
kitab pusaka tersebut kepada anda." Ui sik kong berpikir sebentar,
lalu serunya : "Aku tak percaya kalau kau memiliki tujuan sebaik ini."

"Ya a, tentu saja kitab tersebut tidak dikembalikan dengan Cuma-
Cuma, aku mempunyai syaratnya."
"Lanjutkan perkataanmu" pinta Ui sik kong sambil memejamkan
matanya.
"Mendiang guruku adalah sobat karib kakekmu almarhum,
bahkan kakekmu pernah melepaskan budi kepada leluhur guruku,
karena pikiran tersebut maka menjelang ajalnya ia telah berpesan
kepadaku agar tetap memelihara keutuhan dari keturunan partai
kupu-kupu."
"omong kosong" teriak Ui sik kong sambil menggigit bibir, "kau
anggap siapakah aku ini? Memangnya aku bisa dipermainkan anak
kecil macam kau ini?" Dengan kening berkerut, Kho Beng berseru
pula dengan marah :
"kau tak perlu membangkitkan amarahku dengan cara demikian,
kau harus menerima kenyataan ini, meski usiaku jauh lebih muda
darimu, tapi dalam tingkat kedudukan masih lebih tinggi darimu,"
lagipula setelah tertawa dingin Lanjutnya :
"Berbicara dari soal ilmu silat, akupun masih jauh lebih tangguh
daripada kepandaianmu" Ui sik kong mendengus dingin
"Hmmm, seandainya aku tidak memandang terlalu enteng
kekuatanmu, siapa menang siapa kalah belum tentu bisa diketahui."
Kho Beng tertawa dingin, tukasnya :
"Lebih baik anda mendengarkan dulu perkataanku hingga selesai,
ketahuilah mendiang guruku adalah manusia yang bertanggung
jawab dan amat setia kawan, ia bisa membedakan mana yang lurus
dan mana yang sesat secara jelas. Ketika beliau merasa tak puas
dengan kebiadaban kakekmu dulu, ia pernah membujuknya secara
baik-baik,"
"Hmmm, justru disinilah letak kemunafikannya" tukas Ui sik kong
sambil mengigit bibir,
"sekarang aku sudah menganggapnya sebagai musuh yang
paling kubenci, cepat atau lambat suatu ketika aku pasti akan
menggali kuburnya dan melecuti mayatnya dengan cambuk" sambil
menghela napas, Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali,
katanya :
"Tampaknya pengorbanan guruku almarhum tak mungkin bisa
memperoleh pengertian darimu, tapi akupun merasa berkewajiban
untuk menjelaskan dulu persoalan ini kepada mu, justru karena
guruku tak ingin melupakan hubungan persahabatannya dimasa lalu,

maka selama seabad lamanya dia tak berhubungan dengan partai
kalian, padahal secara diam-diam setiap saat setiap waktu dia orang
tua selalu memperhatikan sepak terjang kamu semua."
"Hmmm, mungkin saja dia sedang mencari kesempatan untuk
membokong kami " jengek Ui sik kong sambil tertawa dingin
"Kalau toh kitab pusaka Thian goan bu boh merupakan benda
mestika dari partai kupu-kupu, maka setelah aku mendapatkan
pengertian dari para jago pelbagai partai besar, kitab pusaka segera
kuserahkan kembali kepadamu, tapi kaupun harus memenuhi juga
syaratku ini :
Kesatu, partai kupu-kupu harus segera mengundurkan diri dari
daratan Tionggoan dan mulai saat ini tak akan melangkah masuk
kewilayah orang lain lagi, kalianpun tak boleh mengandalkan ilmu
silat untuk menguasai seluruh jagat.
Kedua, segera bebaskan kakek tongkat sakti, nona chin, ciciku
bersama kedua orang dayangnya,
Ketiga, serahkan orang yang telah menyamar sebagai Bu wi lojin
pada tujuh belas tahun berselang, karena orang itulah biang keladi
dari peristiwa berdarah diperkampungan Hui im ceng, sebab dia pula
yang harus bertanggung jawab atas tujuh puluh lembar jiwa
keluarga Kho kami yang terbunuh secara mengenaskan" Ui sik kong
termenung sebentar, lalu sahutnya : "Aku tak ingin menerima
perjanjian semacam ini."
"Hmmm, kalau toh kau tetap tak mau sadar, terpaksa aku harus
menggunakan cara yang lain"
"Apa caramu?"
"Biarpun mendiang guruku berpesan demikian, namun dia orang
tua pun sudah cukup menyelami watak dari keluarga Ui kalian, ia
tahu bahwa kemungkinan seperti ini tak bisa terwujud, Itulah
sebabnya diapun telah berpesan kepadaku, apabila keadaan sudah
terpaksa, aku boleh menumpas partai kupu-kupu sampai keakarakarnya."
Lalu dengan suara dalam ia menambahkan, "maka dari itu aku
berpendapat, bila kau enggan menerima syaratku yang semula dan
keadaan benar-benar sudah terpaksa, aku akan menuruti pesan dari
guruku ini dengan membasmi partai kupu-kupu dari muka bumi,
agar keturunan kalian turut tertumpas habis"
Berubah hebat paras muka Uisik kong, sambil menggigit bibir dia
berseru : "Hal ini sudah berada dalam dugaanku."

Dalam waktu yang relatif singkat ini, paras muka Ui sik kong
beberapa kali berubah, tapi akhirnya dia menghela napas sedih,
katanya :
"Bila hal ini sampai terjadi, riwayat hidup partai kupu-kupu pasti
akan punah sama sekali."
Dengan cepat Kho Beng menggeleng, katanya :
"Aku toh sudah menegaskan tadi, partai kupu-kupu tak bakal
musnah, tapi kalian harus merubah sepak terjang kalian selama ini,
yang terpenting adalah padamkan ambisi kalian untuk menguasai
jagat"
Ui sik kong menghela napas panjang, mendadak katanya :
"Daripada cita-citaku berantakan, toh lebih baik aku mati saja."
"Hmmm, hal itu hanya disebabkan pandangan yang berbeda, bila
setiap partai yang ada didalam dunia persilatan mempunyai ambisi
yang sama untuk menguasai jagat, lantas kapankah dunia persilatan
menjadi aman dan tentram? Yang penting adalah kau dapat
mengendalikan ambisi sendiri"
Lama sekali Ui sik kong termenung tanpa berbicara, akhirnya ia
mendongakkan kepalanya dan tertawa seram :
"Haaaahh.haahhhaaahhh..hari ini aku sudah dipecundangi habishabisan
olehmu, aku merasa tak punya muka lagi untuk hidup
dldunia ini sudahlah.sudahlah.." Mendadak dia mengayunkan telapak
tangan dan dihantamkan keatas ubun-ubun sendiri.
Kho Beng sangat terkejut, cepat-cepat dia melompat kedepan
sambil mencengkeram urat nadinya.
Tapi sayang dia tak tahu kalau perbuatan itu sebenarnya
merupakan siasat licik dari Uisik kong untuk menjebaknya, disaat
kelima jari tangan Kho Beng hendak mencengkeram diatas nadinya
itulah, mendadak ia melepaskan sebuah tendangan keras kedepan.
Tendangan itu dilepaskan Ui sik kong dengan sepenuh tenaga,
lagipula dilancarkan pada saat Kho Beng tidak bersiap sedia sama
sekali, tak ampun lambung pemuda itu terhajar telak.
Duuukkk
Tubuh Kho Beng tertendang sampai mencelat keudara dan
terjatuh pada tiga kaki dari posisi semula.
Ui sik kong tertawa seram, sambil memburu kedepan serunya
kepada Kho Beng sambil tertawa dingin :
"Bukankah sedari tadi aku sudah bilang dalam menghadapi
pertarungan bukan hanya keampuhan jurus yang diandalkan, tapi

tergantung pula pada situasi dan kondisi, tadi kau menyombongkan
diri dihadapanku, katanya ilmu silatmu lebih tangguh daripada
kemampuanku. Tapi sekarang..heeeehh..heeehhh..yang bakal
mampus ditengah bukit bukanlah aku, tapi kau si bocah keparat"
Darah segar menyembur keluar dari mulut, dengan geram
pemuda itu berteriak : "Bajingan tua, akupun menyesal mengapa
tidak memunahkan ilmu silatmu tadi" Ui sik kong tertawa bangga.
"Haaahh.hahhhhhaaahhh..Kho Beng, tahukah kau apa yang
paling kubutuhkan sekarang? Kitab pusaka Thian goan bu boh.tapi
jangan harap tujuanmu ini tercapai."
"Tebakanmu salah besar," seru Ui sik kong sambil tertawa seram,
"bagiku lebih baik tidak mendapatkan kembali kitab pusaka Thian
goan bu boh dari pada membiarkan kau hidup terus didunia ini,
sebab kau sudah menjadi ancaman yang terbesar bagi kesuksesan
cita-cita partai kupu-kupu kami."
Sambil meng kertak gigi Kho Beng membungkam dalam seribu
bahasa, sepasang matanya segera dipejamkan rapat-rapat.
Ia cukup mengetahui sampai dimanakah kekejaman serta
kebuasan bajingan tua itu, ia telah kena bokong hingga terluka
parah, rasanya tak mungkin lagi baginya untuk lolos dari kematian.
sambil tertawa seram Ui sik kong mengangkat telapak tangannya
keatas. Dengan menghimpun tenaga dalamnya sebesar sepuluh
bagian, ia siap menghaar tubuh Kho Beng hingga hancur
berantakan. Mendadak Pada saat telapak tangannya hampir
diayinkan kebawah itulah, terdengar suara desingan tajam bergema
lewat, disusul munculnya sebutir batu kerikil yang menghantam jalan
darah Cun hiat dilengan kanannya.
seketika itu juga Ui sik kong merasakan lengannya menjadi linu
dan kesemutan, jalan darahnya segera tertotok.
Kejadian ini seketika membuatnya tertegun, buru-buru dia
mengerahkan tenaga dalam ditangan kirinya lalu mencoba
membebaskan jalan darahnya yang tertotok itu.
Tapi kenyataan segera membuat hatinya terkejut sekali, siapakah
orang yang memiliki ilmu silat begitu tinggi? Hanya dengan sebutir
kerikil saja jalan darahnya sudah tertotok? Mungkinkah didunia ini
masih terdapat Kho Beng kedua atau Kongci Cu kedua?
Ketika ingatan tersebut masih melintas dalam benaknya, tahutahu
saja sesosok bayangan biru berkelebat lewat dan dihadapan
mukanya telah berdiri seorang kakek berjenggot putih .

"siapa kau?" Ui sik kong segera membentak. Kakek berbaju biru
itu tertawa dingin, dengusnya :
"Aku tak sudi menyebutkan namaku terhadap manusia licik dan
berhati busuk macam kau"
"Kalau begitu lebih baik kau mampus saja" bentak Ui sik kong
dengan marah. sambil berkata dia berusaha meloloskan ruyung
lemas yang melilit dipinggangnya.
Buru-buru kakek berbaju biru itu mengoyangkan tangannya
berulang kali, seraya berseru :
"Lebih baik kau jangan turun tangan, apakah kau tak sadar
bahwa isi perutmu sudah terluka parah?"
Ui sik kong betul-betul sangat terkejut, dengan mata melotot
penuh amarah, teriaknya
"Jadi apa yang terjadi tadi telah kau saksikan semua?" Kakek
berbaju biru itu tertawa tergelak :
"Haaaahh..haaahhh.haaahh..terus terang saja kukatakan, apa
yang telah terjadi tadi memang telah kulihat semua, yaa,
pertunjukkan tersebut memang sangat menarik hati"
"sebenarnya apa maksudmu?" tegur Ui sik kong kemudian sambil
menggigit bibir.
"Menegakkan keadilan dan kebenaran memberantas segala hal
yang tak adil merupakan prinsip hidupku yang terutama."
setelah berhenti sejenak, dengan suara dalam ia berkata lebih
jauh :
"Bila berbicara dari semua sepak terjangmu, maka biar dijatuhi
hukuman mati pun rasanya belum bisa menebus semua
kesalahanmu itu, namun aku betul-betul merasa terharu oleh ucapan
Kho sauhiap tadi, kalau toh dia pun bersedia menyingkirkan masalah
dendam keluarganya untuk mempertahankan generasi penerus
partai kupu-kupu, mengapa aku sekalian harus membunuhmu?"
Tiba-tiba Ui sik kong tertegun :
"Apa maksudmu mengucapkan kata- aku sekalian-?"
"Masa kau tidak memahami arti perkataan tersebut?" Tanya
kakek berbaju biru itu sambil tertawa.
"Maksudmu, kau masih mempunyai teman?" Ui sik kong bertanya
dengan nada menyelidik.
"Memang begitulah maksudku" si kakek berbaju biru itu sebera
mengangguk, "itulah sebabnya kuanjurkan kepadamu agar tidak
membuat rencana yang jahat lagi."

"Hmmm, dimanakah orangnya?" Ui sik kong bertanya.
Mendadak kakek berbaju biru itu menggapai ke belakang sambil
serunya keras-keras : "saudara Kui sam, situa Bangka Ui ingin cepatcepat
bertemu denganmu"
Dari atas sebatang pohon besar yang tumbuh takjauh dari situ
segera terdengar seseorang menjawab dengan suara nyaring :
"Beritahu kepada orang she Ui itu, aku ingin memberi hadiah tiga
macam kepadanya"
Ui sik kong merasa amat terperanjat setelah mendengar
perkataan itu, dengan cepat la mengalihkan pandangan matanya
kemuka.
Terlihatlah bayangan sinar berkelebat lewat, diiringi desingan
suara yang amat tajam tampak sebuah senjata rahasia telah
dibidikkan kearahnya.
Ui sik kong tak berani berayal, cepat-cepat dia mengayunkan pula
telapak tangannya untuk menghalau ancaman tersebut.
Ternyata senjata rahasia itu adalah sebutir batu yang sangat
kecil, sewaktu terkena tenaga serangannya itu segera terpental
kesamping.
"Haaahh.haaahh.haaahhh.sebuah gerak serangan yang amat
bagus" puji kakek yang berada diatas pohon itu sambil tertawa
tergelak.
Menyusul kemudian batu kedua dan ketiga pun meluncur datang
susul menyusul.
Biarpun Ui sik kong merasa terkejut namun diapun sedikit
kegelian, sebab ilmu melepaskan senjata rahasia yang dipergunakan
kakek itu tidak terhitung hebat, maka sebuah pukulan kembali
dilontarkan kedepan.
Bersambung ke jilid 39
Jilid 39
Tenaga pukulannya dengan cepat menyelimuti daerah seluas
berapa kaki, sudah dapat dipastikan kedua butir batu kecil itu sudah
pasti akan terhalau kembali.
Siapa tahu kenyataannya sedikit agak diluar dugaan, biarpun
batu kedua berhasil pula dihalau hingga runtuh ketanah, namun
batu yang terakhir justru memiliki sisa kekuatan yang cukup tangguh
walaupun sudah termakan oleh tenaga serangannya.

Setelah membentuk busur lingkaran, bukan bertambah lemah
kekuatan batu kerikil tadi, malah sebaliknya daya luncur benda itu
makin bertambah cepat lagi. Duuuukk
Tahu-tahu batu kerikil itu sudah menghajar telak jalan darah ci ti
hiat dilengan kanan Ui Sik kong.
Tak terlukiskan rasa kaget Ui Sik kong menghadapi kejadian ini,
cepat-cepat tangan kirinya ditepuk untuk membebaskan kembali
jalan darah sendiri yang tertotok.
Terlihat sesosok bayangan hijau berkelebat lewat, tahu-tahu
seorang Kakek berbaju hijau telah berdiri bersanding dengan Kakek
berbaju biru itu. Kejut dan gusar Ui Sik kong segera menegur :
"Siapa kau?"
Kakek berbaju hijau itu tertawa bergelak :
"Aku merasa amat kagum dengan caramu membebaskan totokan
jalan darah pada tubuh sendiri, itulah sebabnya aku ingin
menyaksikan lebih dari satu kali."
Kemudian sambil berpaling kearah Kakek berbaju biru itu,
kembali dia berkata :
"Kita harus membandingkan gerakan tersebut dengan apa?"
Kakek berbaju biru itu berpikir sebentar, lalu sambil ketawa
tergelak katanya :
"Aku telah menemukannya, gerakan itu rasanya mirip orang yang
tersengat lebah saja."
"Ya betul, tepat sekali" seru Kakek berbaju hijau itu bertepuk
tangan sambil tertawa tergelak, "memang mirip sekali dengan orang
yang tersengat lebah"
Rupanya gerakan Ui sik kong untuk membebaskan diri dari
pengaruh totokan memang amat menggelikan, kesatu karena
perawakan tubuhnya kecil pendek, kedua berhubung rasa tegang
karena jalan darahnya tertotok. maka sambil melompat tangan
kirinya segera mana bok lengan kanan sendiri, begitu kerasnya
tabokan ini sampai jenggotnya ikut bergoncangan.
Tak salah lagi kalau gerakan tersebut dibilang seperti orang yang
tersengat lebah, sebab memang amat menggelikan.
Ui sik kong benar-benar sangat gusar, bentaknya dengan keras :
"Huuuh, sungguh menjengkelkan"
sepasang lengannya segera direntangkan dengan ruyung
ditangan kanan dan serangan kosong disebelah kiri secara terpisah

dia menyerang kedua orang kakek itu pada saat yang hampir
bersamaan.
Agaknya kedua orang kakek itupun cukup mengetahui kelihaian
lawannya, mereka tak berani memandang enteng, cepat-cepat
telapak tangan kanannya diayunkan kedepan untuk menyongsong
datangnya ancaman tersebut, terdengar suara desingan tajam
menderu- deru, pasir dan batu beterbangan diangkasa membuat
suasana disekeliling tempat itu menjadi amat mengerikan.
Namun disaat angin pukulan itu sudah berhembus lewat ternyata
kedua orang kakek itu masih tetap berdiri tegak ditempat semula,
sebaliknya Ui sik kong justru tergetar mundur sejauh dua langkah,
napasnya rada tersengal-sengal.
Dengan cepat dia mengayunkan tuyung lemasnya sambil berseru
dengan penuh kebencian : "sebenarnya siapakah kalian?"
"Eeeeh.eeeehh jangan kelewat emosi" seru si Kakek berbaju hijau
sambil mengoyangkan tangannya berulang kali.
Kakek berbaju biru itu berseru pula sambil tertawa. "jangan lupa,
isi perutmu sudah terluka parah"
Akhirnya Ui sik kong berhasil juga menenangkan kembali hatinya,
namun rasa gusar dan pedih sempat menghiasi wajahnya, sudah
jelas kekalahan secara beruntun yang dideritanya membuat ia
sangat emosi.
Kembali Kakek berbaju biru itu mengejek sambil tertawa.
"Nah, begitu baru benar, selama bukit nan hijau kenapa kau
mesti takut kehabisan kayu bakar? Bila ingin mempertaruhkan
selembar nyawa sendiri, waaahh.bagimu tak akan mendatangkan
manfaat yang besar"
"Cepat katakan siapa kalian dan apa maksud kedatanganmu
berdua?" teriak Ui sik kong sambil menggigit bibir.
Kakek berbaju biru itu mengerling sekejap kearah Kakek berbaju
hijau lalu katanya, "Baiklah, tak ada salahnya kalau kami beritahukan
kepadamu identitas kami, sebenarnya aku bernama Thian cun yang
sedang dia bernama oh Kui sam"
Bagaikan tersengat listrik bertegangan tinggi, Ui sik kong berseru
kaget lalu teriaknya keras-keras :
"Rupanya kalian berdua, jadi kalianpun telah datang kedaratan
Tiongoan?"
"Benar" jawab Thian cun yang gamblang. "Pertama suasana
didaratan Tionggoan cukup ramai, kedua kamipun ingin datang

menghantar diri daripada akhirnya kau mesti bersusah payah datang
mencari kami"
"Jadi kalian ingin mengulangi kembali peristiwa tragis dibawah
tebing hati duka pada seratus tahun berselang?" Dengan cepat
Thian cun yang menggeleng,
"Biarlah dendam kesumat leluhur kita diselesaikan sendiri oleh
leluhur kita itu, kami tak ingin mengulangi kembali tragedy dibukit
hati duka, namun tentu saja hal ini tergantung pada pilihanmu
sendiri"
Ui sik kong memandang sekejap sekeliling arena, lalu serunya
sambil menggigit bibir :
"sejak seabad berselang partai kupu-kupu berusaha hidup sambil
menahan malu, tahukah kau apa tujuannya? Tak lain adalah untuk
balik kembali dari liang kuburan serta membalas dendam atas sakit
hati."
"Mungkin kau pun sudah dapat merasakannya sekarang bahwa
untuk mencapai kedua hal tersebut, paling tidak kalian mesti berlatih
lagi selama seabad" ujar Thian cun yang sambil tertawa.
"Hmmm, bagiku selama hayat masih dikandung badan, aku tetap
akan berupaya mewujudkan kedua harapan tersebut, kalau tidak,
aku lebih suka menghabisi hidup sendiri"
"Huuuh, kalau begitu kau memang ditakdirkan untuk mampus"
jengek Thian cun yang.
"jadi, begitukah tujuan kalian itu?" Ui sik kong menghembuskan
napas panjang. Cepat-cepat Thian cun yang menggoyangkan
tangannya sambil tertawa. Katanya :
"Tidak. buat hari ini, asal kau bersedia meninggalkan Kho Beng
disini, maka kau boleh meninggalkan tempat ini dengan segera"
Dengan pandangan penuh kebencian Ui sik kong mengerling
sekejap kearah Kho Beng yang tergeletak ditanah serta Thian cun
yang dan oh Kui sam, setelah itu serunya : "Kalian tak akan
melarikan diri keujung langit, bukan?"
"Haaahhaaahhhaaahhh.perkataanmu tersebut kurang tepat, buat
apa kami mesti melarikan diri?"
"Tapi mungkin juga begitu," sambung oh Kui sam sambil tertawa
bergelak , "tapi hasil ini tergantung bagaimana kau si tua Bangka,
asal kau bisa bertobat serta kembali kejalan yang benar, otomatis
kami jadi menganggur, daripada diundang sana dipanggil kemari

oleh rekan-rekan persilatan, lebih baik kami kabur saja keujung
langit"
Ui sik kong tak ingin mendengar kata-kata sindiran dari kedua
orang itu lagi, setelah mendengus dingin, dengan membawa luka
dibadan ia segera berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggung Ui sik kong yang menjauh,
tanpa terasa kedua orang itu menghembuskan napas panjang. Lama
kemudian, akhirnya oh Kui sam berkata :
"Mari kita memeriksa dulu bagaimana keadaan luka dari bocah
anak muda she Kho itu"
Mereka berdua segera bersama-sama mendekati Kho Beng.
sementara itu noda darah telah membasahi mulut dan hidung
Kho Beng, tendangan dari Ui sik kong terbukti memang sangat keji
dan mengerikan sekali, kini isi perutnya telah menderita luka yang
sangat parah.
Thian Cun yang yang berjongkok untuk memeriksa keadaan Kho
Beng kemudian tegurnya : "Hey anak muda, apakah kau masih bisa
mendengar suara kami?"
Pelan-pelan Kho Beng membuka sepasang matanya lalu
menjawab lemah : "Cianpwee berdua, terima kasih banyak."
Biarpun suaranya amat lemah, namun setiap patah kata masih
dapat terdengar dengan jelas sekali.
Untuk kesekian kalinya Thian cun yang memeriksa keadaan Kho
Beng dengan seksama, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan
berkata kapada oh Kui sam dengan serius :
"Tenaga dalam yang dimiliki bocah ini benar-benar amat
sempurna, padahal denyut nadinya telah tergetar sehingga berdetak
dengan lemah, kesadarannya pun hampir hilang, tapi kenyataannya
masih bisa bertahan dengan bagus sekali, kalau dilihat dari tenaga
dalam yang dimilikinya paling tidak telah mencapai seratus dua
puluh tahun hasil latihan."
"Waaah kalau begitu kan jauh lebih tangguh dari pada kita
berdua?" bisik oh Kui sam.
"sssst, jangan keras-keras" bisik Thian Cun yang pula, "buka aku
sengaja melemahkan semangat sendiri, kalau dibandingkan kita
berdua, dia memang lebih tangguh, kenyataan berkata demikian"
Mendadak.
Disaat dua orang tersebut sedang berbisik-bisik, tampak dua
sosok bayangan manusia kembali berkelebat datang dengan

kecepatan tinggi, sewaktu bayangan tersebut semakin dekat,
terlihatlah mereka adalah dua orang gadis muda yang tak lain adalah
Beng Gi ciu serta siau wan.
Thian Cun yang nampak gembira sekali, teriaknya :
"ooooh, ternyata keponakan kita telah datang, hey kenapa
kedatanganmu begitu kebetulan?"
Buru-buru Beng Gi ciu memberi hormat kepada dua orang kakek
itu, sahutnya :
"sesungguhnya keponakan memang sedang mencari empek
berdua, tapi selama ini usahaku tak pernah berhasil, dalam
kecewanya aku mendengar Phu sian sangjin sekalian para jago
hendak mengadakan pertemuan dipuncak Giok cin hong dibukitTiong
lam san, maka keponakan pun menyusul kesitu, siapa tahu ternyata
mereka pun telah pergi dari situ, karena nya terpaksa keponakan
meninggalkan tempat itu dan berkeliaran disekitar sini, tadi
keponakan malah sempat mendengar teriakan dari empek berdua."
"Apakah kau mengetahui peristiwa yang barusan terjadi?" Tanya
Thian cun yang kegirangan.
"Keponakan sendiripun kurang jelas, sekarang hendak
kutanyakan persoalan ini kepada empek berdua."
Baru saja Thian cun yang hendak menjawab, mendadak
terdengar siau wan berteriak keras :
"Nona.. celaka Kho kongcu."
Rupanya Thian cun yang dan oh Kui sam telah berdiri dihadapan
Kho Beng sehingga dalam pembicaraan tadi Beng Gi ciu sama sekali
tidak menjumpai kehadiran Kho Beng disitu.
Teriakan kaget dari siau wan membuat Beng Gi ciu menjadi
sangat terperanjat, buru-buru dia menyelinap kedepan.
Betul juga, ia menemukan Kho Beng sudah tergeletak tak
berkutik dengan tubuh penuh berlepotan darah, keadaannya tak
berbeda seperti orang mati.
Tak terlukiskan rasa terperanjat Beng Gi ciu menghadapi kejadian
seperti ini. Tanpa ambil peduli dengan kehadiran Thian Cun yang
serta oh Kui sam lagi, buru-buru dia berjongkok disamping Kho Beng
sambil teriaknya : "Kho kongcu, kenapa kau?"
Tanpa disadari saking paniknya air mata sampaijatuh berceceran
membasahi pipinya.
Thian Cun yang yang melihat kejadian ini, buru-buru menarik
tangan oh Kui sam sambil bisiknya :

"Waaah, kelihatannya keponakan kita ini rada kurang beres"
"Apanya yang kurang beres?" Tanya oh Kui sam agak tertegun.
"Masa tidak kau lihat apa yang sedang diperbuat oleh
nya?Jangan lagi berada dihadapan kita berdua, sekalipun tidak
berada dihadapan kita pun sikap dan tingkah lakunya yang
diperbuatnya sekarang sedikit kelewat batas."
"Betul, memang rada kurang beres," sahut oh Kui sam. Kemudian
seperti baru menyadari akan sesuatu.
setelah memutar biji matanya, dia berkata lagi agak keheranan.
"Padahal keponakan kita ini belum lama datang ke daratan
Tionggoan, mengapa perkembangan salam soal ini berlangsung
begitu cepat.ini namanya apa? orang menyebutnya sebagai..ehmmm
betul, orang menyebutnya sebagai cinta dalam pandangan pertama"
"sssst. .jangan keras-keras" bisik Thian Cun yang sambil menarik
ujung bajunya, "mari kita rundingkan persoalan ini."
Dalam pada itu Beng Gi ciu dan siau wan sedang berjongkok
disisi Kho Beng bertanya ini itu, tentu saja mereka tidak menaruh
perhatian terhadap kedua orang kakek tersebut, atau pada
hakekatnya mereka tidak mendengar apa saja yang dibicarakan
kedua orang tua tersebut.
sebaliknya Thian Cun yang dan oh Kui sam yang telah mundur
dua langkah dan merundingkan masalah itu dengan suara lirih. Kata
oh Kui sam :
"Beng toako sudah berangkat duluan, itu berarti kita dua orang
tua Bangka ini tak bisa berpeluk tangan saja terhadap masalah yang
dihadapi keponakan kita ini"
"Ya a, bocah muda she Kho ini mempunyai pengalaman yang luar
biasa, masih muda tampan lagi, tak heran kalau keponakan kita itu
segera tertarik dan jatuh cinta padanya, coba kau lihat dia masih
juga menangis dengan begitu sedihnya."
Ternyata Beng Gi ciu memang sedang menangis tersedu-sedu
karena terharu menyaksikan keadaan Kho Beng yang mengenaskan.
sambil menghela napas kembali oh Kui sam berkata :
"Aaaai, kalau berbicara sejujurnya, bocah muda itu memang
bagus sekali, bahkan aku sendiripun amat suka kepadanya." Lalu
setelah berhenti sebentar, tambahnya : "Masih berkasiat kah pil sim
mia wan mu itu?" Thian Cun yang segera tertawa.
"Dia kan Cuma menderita luka dalam yang biasa, bukan dilukai
oleh racun jahat atau tenaga pukulan yang aneh, tentu saja obat

tersebut akan berkasiat sekali, kujamin dalam tiga hari lukanya
sudah akan sembuh seperti sedia kala."
"Kalau memang begitu, hayolah cepat kita obati luka itu" sorak
oh Kui sam dengan gembira.
"Tunggu sebentar" tiba-tiba Thian cun yang mencegah, "dibalik
kesemuanya ini masih ada persoalan lain?"
"Masih ada persoalan apa?"
"Persoalan besar sekali, kesatu keponakan kita tampak begitu
mencintainya hingga seakan-akan ia sudah begitu pasrah
kepadanya, tapi apakah bocah muda itupun menyukai keponakan
kita? Hal ini belum ada kepastian secara khusus. Kedua, siapa tahu
bocah muda itu mempunyai kekasih hati lainnya atau mungkin sudah
beristri,"
"lantas bagaimana baiknya?" Dengan kening berkerut, oh Kui
sam berkata :
"Ya a, hal ini memang merupakan sebuah masalah yang pelik,
Beng toako sudah lama meninggal dunia, andaikata kita tak bisa
menyelesaikan persoalan dari keponakan kita dengan sebaikbaiknya,
seratus tahun kemudian dengan muka apakah kita akan
menjumpai Beng toako dialam baka?"
Thian Cun yang berpikir sebentar, kemudian katanya : "Kau tak
perlu kuatir, aku mempunyai ide yang sangat bagus."
"oya? Apa idemu ? cepat katakanlah agar kita dapat
merundingkannya secara baik-baik,"
"Tidak. rahasia langit tak boleh dibocorkan," ujar Thian Cun yang
sambil menggeleng, "pokoknya asal urusan dari keponakan kita
gagal total, minta saja pertanggungan jawab kepadaku"
"oh" Kui sam menatap wajah rekannya sebentar, lalu katanya :
"Baiklah, akan kulihat bagaimana kau menyelesaikan masalah ini
dengan sebaik-baiknya." Maka dengan langkah lebar mereka pun
berjalan menuju kedepan, setelah mendehem, Thian cun yang
segera menegur : "Keponakanku, apakah kau kenal dengannya?"
Merah padam selembar wajah Beng Gi ciu karena jengah, buruburu
ia bangkit berdiri sambil menjawab :
"Ya a, kami memang saling mengenal."
"oya? Aku dengar dia adalah keturunan dari perkampungan Hui
im ceng, masih muda, ganteng lagi. Betul-betul seorang pemuda
yang menarik hati."

Kepala Beng Gi ciu ditundukkan makin rendah, bisiknya lirih :
"Apakah empek berdua dapat menolongnya." oh Kui sam sebera
berteriak keras :
"Tentu saja, Pil si mia wan milik empek Thian mu khusus untuk
mengobati luka dalam,kujamin dalam tiga hari saja luka yang
dideritanya sudah akan sembuh kembali seperti sedia kala."
Mendengar perkataan itu buru-buru Beng Gi ciu berseru kepada
Thian Cun yang.
"empek Thian kumohon kepadamu agar bersedia mengobati
lukanya."
"Heh, aneh betul dirimu ini, mengapa sih kau menaruh perhatian
yang begini besar kepadanya?" tegur Thian cun yang sambil tertawa.
sekali lagi paras muka Beng Gi ciu berubah menjadi merah
padam, agak tergagap dia berkata :
"sebab..sebab dia dalah orang yang berilmu sangat tinggi dan
amat mempunyai perasaan, aku lihat dia adalah pendekar sejati
yang jujur, suka menegakkan keadilan dan merupakan kekuatan
yang tak boleh dianggap enteng dalam usaha menumpas kaum iblis
dari muka bumi." oh Kui sam segera mengacungkan ibu jarinya.
"Waaah.waaahhh keponakan memang benar-benar seorang
wanita luar biasa, tak nyana kau menaruh perhatian yang begitu
besar terhadap keselamatan dunia persilatan, tak kusangka kaupun
menaruh simpati terhadap tokoh hebat seperti ini."
Paras muka Beng Gi ciu berubah semakin merah lagi, kepalanya
tertunduk rendah-rendah dan tak sepatah kata pun sanggup
diucapkan lagi. Thian Cun yang kembali tertawa tergelak :
"Haaahhh.haaahhh.haaahhhh Kui sam jangan banyak berbicara
lagi, cepat lepaskan kantung airmu"
sementara berbicara ia telah merogoh keluar sebuah botol kecil
dari sakunya.
oh Kui sam pun sudah melepaskan kantung airnya dan
diserahkan kepada rekannya itu.
Tanpa ragu-ragu Thian Cun yang membuka penutup botol itu dan
mengeluarkan sebutir pil berwarna merah yang segera dijejalkan
kemulut Kho Beng. Buru-buru oh Kui sam meloloh anak muda
tersebut dengan air. Kemudian sambil tersenyum, Thian Cun yang
berkata lagi :
"Tak jauh dari sini terdapat sebuah rumah penduduk milik
pemburu Lan, dia sangat ramah dengan tamunya, selama inipun

kami sudah dua hari menginap dirumahnya, untuk menyembuhkan
luka dari Kho Beng bagaimana kalau kita berdiam berapa hari lagi
disitu?"
"Terserah empek yang mengatur." Buru-buru Beng Gi ciu
berseru. Lalu sambil berpaling kembali katanya :
"Tapi pantaskah keponakan ikut menginap disitu?"
"Tentu saja" Thian cun yang tertawa, "pemburu Lan punya anak
istri, kau toh bisa menginap bersama mereka."
Dengan cepat oh Kui sam membopong tubuh Kho Beng dan
dibawah petunjuk Thian cun yang sebera berangkat menuju
kebawah tebing sana.
Pemburu Lan memang seorang yang sangat ramah, dia melayani
tamu-tamunya secara ramah dan hangat, untuk keperluan tempat
penginapan malah dia menyisihkan dua buah kmar kosong bagi
tamu-tamunya itu.
sebuah untuk tempat mondok Beng Gi ciu dan siau wan, sedang
yang lain untuk merawat luka yang diderita Kho Beng serta tempat
beristirahat dua orang kakek itu.
Untung Kho Beng memiliki dasar tenaga dalam yang amat
sempurna, dua hari kemudian kesehatan badannya telah pulih
kembali seperti sedia kala, tentu saja dalam jangka waktu sesingkat
ini dia telah menceritakan semua pengalamannya kepada Beng Gi
ciu sekalian. Pada hari ketiga, pagi-pagi sekali selesai duduk
bersemedi, Kho Beng merasakan tubuhnya menjadi amat segar,
tenaga dalamnya pun telah pulih kembali seperti sedia kala, tanpa
terasa dia berdiri dari semedinya, untuk mencari udara segar.
Didalam muka rumah ia menjumpai Thian cun yang berdua
sedang melakukan senam untuk melemaskan otot.
Maka cepat-cepat dia memberi hormat kepada mereka berdua
sambil sapanya : "selamat pagi cianpwee berdua"
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Tanya Thian cun yang sambil
tertawa.
"Boanpwee merasa kesehatan badanku telah pulih kembali
seperti sedia kala, aku jadi tak mengerti bagaimana harus membalas
budi kebaikan atas pertolongan dari cianpwee berdua."
"Haaah..haaahhh.haaahh justru persoalan inilah yang hendak
kami bicarakan," kata oh Kui sam cepat sambil tertawa terkekehkekeh.

Thian Cun yang melirik sekejap ke arah kamar tidur Beng Gi ciu
yang tertutup rapat, lalu setelah tertawa misterius, ajaknya : "Kho
Beng, mari kita berbincang-bincang disana saja."
Dengan dicekam perasaan tak mengerti, Kho Beng mengikuti
kedua orang kakek itu menuju kehalaman belakang.
Halaman belakang rumah adalah sebuah kebun sayur, aneka
bunga tumbuh disekelilingnya membuat suasana disitu terasa tenang
dan nyaman.
Waktu itu hari masih amat pagi, keluarga pemburu Lan belum
ada yang bangun, maka mereka bertiga pun duduk diatas undakundakan
batu.
setelah termenung sejenak dengan wajah tertegun, Thian cun
yang mulai bertanya.
"Kho Beng, selanjutnya apa rencanamu?"
Kho Beng agak tertegun, tetapi segera jawabnya :
"Tentu saja banpwee akan mengiringi cianpwee berdua
membasmi kaum iblis dari muka bumi"
"setelah itu?" desak Thian cun yang. sekali lagi Kho Beng dibuat
tertegun.
"Bila segalanya berjalan lancer dan partai kupu-kupu berhasil
dihancurkan, boanpwee ingin hidup bersama cici ku ditempat yang
sepi, membereskan pusara orang tua ku dan membangun kembali
kejayaan nama keluarga kami."
"setelah semua urusan itu beres?"
Kho Beng tidak habis mengerti, terpaksa katanya agak tergagap.
"Boanpwee akan . Akan membaktikan diri demi kepentingan
dunia persilatan membantu yang lemah dan membasmi yang jahat,
menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan"
"Hmmm, cita-cita yang amat luhur," puji Thian Cun yang sambil
mengacungkan kembali ibu jarinya, "tapi"
oh Kui sam yang tidak sabar, cepat-cepat menukas.
"Kalau pingin bertanya lebih baik tak usah berputar-putar dulu.
Kho Beng, biar aku saja yang bertanya kepadamu, apakah kau tak
mempunyai rencana bagi diri sendiri. Apakah selama hidup kau tak
akan kawin?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Kho Beng merasakan hatinya
bergetar amat keras, sementara paras mukanya berubah menjadi
merah padam.

Pertanyaan yang diajukan oh Kui sam terlalu blak-blakan dan
langsung menuju kesasaran, hal ini membuat anak muda kita
menjadi gelagapan dan tak tahu yang mesti dikatakan.
Akhirnya dengan wajah bersemu merah padam, pemuda itu
menjawab :
"Tentang persoalan ini aku rasa .. aku rasa bukan masalah yang
perlu dibicarakan sekarang kekacauan didalam dunia persilatan
belum lagi mereda, dendam sakit hati belum terbalas, mana berani
boanpwee membicarakan soal perkawinan?"
"Tidak bisa" kata oh Kui sam dengan suara dalam, "perkataanmu
toh hanya alasan yang dibuat-buat dengan maksud untuk mengulur
waktu, tidak bisa kita terima sebagai alasan yang sesungguhnya,
menentramkan dunia persilatan yang sedang kalut dan menuntut
balas sakit hati memang termasuk pekerjaan besar. Tapi belum
tentu orang mesti membujang terus, bila ditemui kesempatan yang
baik dan tepat, apalah salahnya kalau persoalan tersebut
dibicarakan?"
"Betul" dukung Thian Cun yang. "Disaat untuk berbincangbincang
memang tak ada salahnya kalau masalah perkawinan pun di
bicarakan, nah Kho Beng, apakah kau mempunyai rencana dalam hal
ini?"
Cepat-cepat Kho Beng menggeleng.
"Setiap hari boanpwee harus berkelana dari timur kebarat, dari
utara ke selatan, masih hiduppun menjadi tanda Tanya besar, belum
pernah kulewatkan hari-hari dengan tenang, bayangkan saja, mana
mungkin aku sempat memikirkan persoalan seperti ini?"
"Kalau begitu, paling kau belum pernah bertunangan, bukan?"
Tanya oh Kui sam lagi sambil tertawa gembira.
"Tentu saja belum"
Thian cun yang segera berpikir sebentar, lalu katanya :
"Perkawinan adalah suatu kejadian besar dalam kehidupan
manusia, kau harus menerangkan dulu kepada kami, apakah dalam
hati kecilmu mempunyai bayangan seseorang yang kau cintai? Atau
mungkin kau pernah menaruh kesan dalam terhadap seorang
wanita?"
Tanpa disadari Kho Beng segera teringat akan chin sian kun,
paras mukanya seketika berubah makin merah, buru-buru sahutnya
: "Belum belum pernah ada yang kucintai"

"Bagus sekali" sorak Thian cun yang sambil bertepuk tangan,
"kalau begitu biar aku langsung membicarakan soal pokoknya, kau
toh mengerti bahwa keponakan perempuanku Beng Gi ciu adalah
keturunan dari Kim Ka sian pemimpin dari tiga dewa, ia pun
terhitung jagoan yang cukup tangguh didalam dunia persilatan."
oh Kui sam ikut menimbrung tapi segera dicegah Thian cun yang
dengan pelototkan matanya, setelah itu sambil tersenyum dia
berkata lebih lanjut :
"Aku dengar, ia pernah menyelamatkan dirimu dibela kang
lembah bukit Cian san, apakah benar demikian?"
Dengan cepat Kho Beng menyadari apa yang menjadi maksud
kedua orang tua tersebut, ia sadar masalah tersebut memang
sebuah masalah yang amat pelik, tapi setelah mendengar
pertanyaan itu terpaksa dia harus menjawab : "Yaa benar"
"Beruntung sekali kami berdua pun telah menolongmu lagi dari
situa Bangka Ui," kata Thian cun yang sambil tertawa ,"Itu berarti
kau memang sangat berjodoh dengan kami keturunan dari tiga
dewa, bukankah demikian?"
"Boanpwee merasa amat berhutang budi, selama hayat masih
dikandung badan tak akan kulupakan budi kebaikan ini."
"Itu sih tak perlu." Cepat-cepat Thian cun yang menggoyangkan
tangannya berulang kali, "kalau toh kita memang berjodoh, ini
berarti pula segala sesuatunya telah diatur oleh yang kuasa dilangit
karenanya kami berniat mempererat hubungan tersebut, menjadi
lebih akrab lagi."
sesudah berhenti sebentar, tanyanya kemudian : "Bagaimana
pendapatmu tentang keponakan perempuanku ini?"
"Cianpwee" Kho Beng menjadi serba salah .
"Hayo jawab pertanyaanku" seru Thian cun yang sambil menarik
muka. Pelan-pelan Kho Beng mengangguk. katanya :
"Nona Beng adalah keturunan orang termasyur, wajahnya cantik,
kepandaiannya pun tinggi, boleh dibilang dia adalah seorang nona
yang sangat menawan hati. "
Jawaban itu diutarakan dengan perasaan yang sejujurnya.
oh Kui sam yang turut mendengarkan dari samcing menjadi amat
kegirangan sambil mengerakkan tubuhnya yang gemuk pendek. dia
berseru :

"Hey anak muda, aku pingin bertanya kepadamu, seandainya kau
bisa mendapatkan nona seperti itu sebagai istri, tentunya kau
merasa tidak sia-sia bukan hidup didunia ini?"
Kho Beng menundukkan kepalanya semakin rendah lagi :
"Ucapan cianpwee memang benar"
saking gembiranya oh Kui sam segera berteriak : "Nah, anak
muda kami dua orang tua berniat menjodohkan keponakan
perempuan kami itu kepadamu"
Kho Beng menjadi tertegun, meski sejak tadi ia telah menduga
akan hal ini, agak tergagap serunya kemudian : "soal ini . soal ini ..
boanpwee .."
sampai setengah harian lamanya ia tak mampu melanjutkan
perkataannya, namun dia pun tidak mengutarakan keputusannya,
setuju atau tidak.
Thian Cun yang dan oh Kui sam sebera menarik wajah masingmasing,
sambil mendengus oh Kui sam sebera berseru :
"Aku anggap kejadian ini merupakan sebuah berita gembira yang
luar biasa, mungkin kau bisa semaput saking girangnya tapi
kenyataannya, kenapa kau justru tergagap seperti tak mampu
mengemukakan pendapat? Apakah kecantikan dari keponakan kami
ini belum bisa memenuhi harapanmu?"
"Ya a betul, apakah kau menganggapnya tak pantas menjadi
binimu?" sambung Thian cun yang.
Buru-buru Kho Beng menggoyangkan tangannya berulang kali
seraya berseru :
"Harap cianpwee berdua jangan salah paham, kecantikan dan
kepandaian nona Beng menawan hati, lagi pula dia berasal dari
keturunan keluarga termasyur, apa lagi yang kurang begiku? Akan
tetapi.."
"Akan tetapi kenapa?" dengus oh Kui sam. setelah berpikir
sebentar, Kho Beng berkata :
"Boanpwee rasa dalam situasi seperti ini, kita tak seharusnya
membicarakan persoalan macam itu, sebab cici ku masih berada
dalam kesulitan, perkampungan Hui im ceng masih berupa puingpuing
yang berserakan, sedang arwah orang tua kami pun masih
gentayangan di alam baka dengan penasaran, boanpwee ."
"Ya a, aku tahu, ucapan mu memang benar sekali, tapi bukan
merupakan sebuah alasan yang kuat," kata Thian cun yang tertawa.
"Aku mempunyai sebuah usul bagus, bagaimana kalau kita atur dulu

soal ikatan jodoh ini, kemudian setelah dunia persilatan tenang
kembali dan dendam kesumat Hui im ceng sudah dituntut balas,
upacara perkawinan baru diselenggarakan?"
"Betul, cara ini bagus sekali." Sambung oh Kui sam, "bagaimana
kalau kita tentukan demikian saja?"
Dengan kening berkerut Kho Beng sebera berkata :
"Boanpwee Cuma manusia biasa yang tak berkemampuan apaapa,
mungkin juga nona Beng tak akan setuju."
oh Kui sam sebera tertawa terbahak-bahak :
"Haaahh .. haaahhh .. haaahhh .. kau tak usah rikuh, padahal
wajahmu tampan, tubuhmu tegap. berulang kali mendapatkan
penemuan aneh membuat kemampuanmu mencapai tingkatan yang
luar biasa sekali. Kecuali kau, siapa lagi yang pantas menjadi suami
keponakan perempuan kami itu?"
"Ya a benar, kujamin dia pasti setuju," sambung Thian cun yang
sambil tertawa pula.
Kho Beng berpikir sebentar kemudian katanya, "Walaupun orang
tua boanpwee telah tewas namun ciciku masih segar bugar,
boanpwee rasa masalah perkawinanku ini lebih baik dibicarakan dulu
dengannya, apalagi ciciku toh sebagai pengganti orang tua."
Dengan cepat oh Kui sam menarik muka, tegurnya : "Hey bocah
muda, kenapa sih kau berulang kali menolak"
"Kho Beng biar kutanggung masalah tersebut," kata Thian cun
yang tiba-tiba, "bila kami telah bersua dengan cicimu nanti, akan
kusinggung masalah perkawinanmu itu, aku percaya dia tak akan
keberatan."
Mendengar perkataan ini terpaksa Kho Beng berseru :
"Jangankan cianpwee berdua telah melepas budi pertolongan
kepada boanpwee, dilihat dari tingkatan kedudukan cianpwee
berdua pun cici pasti tak akan keberatan."
"Kalau begitu urusan menjadi beres" seru Thian cun yang sambil
bertepuk tangan. "nah, dengarkan baik-baik Kho Beng, dalam soal
perjodohanmu dengan keponakan perempuan kami ini, anggap saja
akulah yang telah memaksamu, setelah cicimu lolos dari bahaya
nanti, akulah yang akan menjelaskan semua persoalan ini
kepadanya."
Kho Beng segera menunduk tanpa berbicara, bukannya dia
merasa keberatan. Berbicara dari kecantikan dan keluwesan Beng Gi

ciu, ia memang seorang calon istri yang sangat ideal malah baginya
bagaikan pucuk dicinta ulam tiba.
Tapi ia pun merasa tidak pantas untuk mengikat tali perkawinan
disaat dendam sakit hatinya belum terbalaskan, encinya pun masih
berada dalam keadaan berbahaya.
Tapi berhubung situasi yang berada didepan mata membuatnya
tak dapat menampik lagi, maka diapun membungkam diri dalam
seribu bahasa. sementara itu oh Kui sam telah memutar biji matanya
sambil berseru : "Beres sudah, mari kita persiapkan hari yang
gembira ini dengan sebaik-baiknya." Kemudian setelah berhenti
sejenak. la melanjutkan dengan gembira.
"sekarang juga aku akan mencari si tua Lan agar dia siapkan
perjamuan untuk kita semua hari ini kita harus merayakan peristiwa
ini dengan sebaik-baiknya."
Tidak sampai perkataannya selesai diucapkan, dengan cepat
kakek itu sudah berlalu dari sana. Dalam keadaan begini Kho Beng
sendiri tak bisa mengatakan bagaimana rasa hatinya sekarang,
disamping rasa gembira terselip pula rasa haru dan sedih. Tentu saja
yang paling menonjol aadalah rasa malu-malu kucingnya.
"Ayolah jalan" kata Thian cun yang sambil tertawa. "Mari kita
pergi kedepan"
Maka mereka berdua pun berjalan kembali kehalaman depan.
Baru saja melangkah keluar dari halaman tampak Beng Gi ciu dan
siau wan sedang berjalan-jalan menghirup udara pagi.
Ketika melihat kedatangan dua orang tersebut, Beng Gi ciu
segera menegur sambil tertawa.
"Empek Thian, sepagi ini kau sudah bangun dari tidurmu?" Thian
Cun yang tertawa terbahak-bahak, sahutnya :
"Haaaa .. haaaahhh ..biasanya orang yang mendapat rejeki
wajahnya selalu cerah, otomatis diapun akan bangun pagi,
keponakanku kau mesti turut bergembira. "
Beng Gi ciu agak tertegun, lalu tanyanya sambil tertawa :
"Apakah empek Thian menjadi kaya?"
"Haaahh . Haaahhh . Harta kekayaan adalah barang sampingan,
apalagi usia empek sudah setua ini, apa artinya harta kekayaan
bagiku? Rejeki yang sudah tak menarik perhatianku lagi"
Beng Gi ciu memutar biji matanya sambil berpikir sebentar,
mendadak serunya keras.

"Aaaah, aku mengerti sekarang, sudah pasti empek telah
menemukan bibi baru"
"Ya a . Ya a a .dugaanmu sudah hampir tepat" kata Thian Cun
yang sambil tertawa misterius.
"Cuma bukan empek yang mendapat bibi baru justru empek telah
mencarikan pasangan yang serasi untukmu."
Kontan saja sepasang pipik Beng Gi ciu berubah menjadi merah
jengah agak tersipu sipu serunya :
"empek, kenapa sih kau gemar menggoda diriku?"
Sambil membalikkan badan ia segera lari masuk kedalam kamar.
Sebaliknya Siau wan kelihatan gembira setengah mati sambil
memandang Kho Beng segera katanya :
"Mungkin Kho kongcu yang bakal menjadi majikan mudaku?"
Thian cun yang sebera mengangguk.
"Yaa, selain dia, siapa lagi yang pantas menjadi pasangan hidup
nonamu itu?"
saking girangnya siau wan sebera berseru
"Kau orang tua memang betul-betul pandai bekerja, kalian pun
sungguh memahami perasaan hati nona kami, kalau begitu siau wan
mesti berterima kasih sangat kepada kau orang tua?"
sambil mengelus jenggotnya, Thian cun yang tertawa bergelak :
"Haaahh . Haaahhh ..haaahhh .tetu saja kau harus berterima
kasih kepadaku, setelah nonamu kawin dengan Kho sauhiap. maka
kau pun pasti akan menemani nonamu, kau tahu apa arti dayang
yang turut majikannya kawin? Berarti kau pun merupakan istri muda
dari Kho sauhiap"
Siau wan menjadi amat tersipu-sipu, serunya gemas : "Kau orang
tua memang nakal, masa aku pun turut digoda?" Cepat-cepat dia
membalikkan badan dan kabur dari situ
Thian cun yang segera tertawa tergelak, ia kelihatan gembira
sekali dengan peristiwa ini.
oh Kui sam memang amat cekatan dalam mempersiapkan segala
sesuatunya, dalam waktu singkat suasana gembira telah meliputi
rumah pemburu Lan. semua orang sibuk berbenah, sibuk menghias
dan mempersiapkan perjamuan untuk upacara pertunangan Beng Gi
ciu dengan Kho Beng nanti.
Akibatnya Kho Beng serta Beng Gi ciu menjadi amat tersipu-sipu,
bahkan gara-gara perkataan Thian Cun yang tadi, siau wan pun

turut merasa jengah sampai tak berani mendongakkan kepalanya
lagi.
Dia percaya perkataan dari Thian Cun yang memang benar,
sudah pasti dirinya akan turut nonanya setelah menikah, ini berarti
dia pasti akan menjadi istri muda Kho Beng.
Hanya Thian Cun yang serta oh Kui sam yang dapat berbicara
sambil tertawa bergelak. bukan saja mereka selalu berteriak
teriakan, tak lupa pula menggoda kedua pasangan sehingga
membuat Kho Beng maupun Beng Gi ciu sekalian tak berani angkat
kepala. Hari itu mereka lewati dalam suasana gembira ria.
Menjelang malam, suasana rumah pemburu Lan baru mulai
hening, Thian Cun yang, oh Kui sam bersama sepasang calon suami
istri ditambah siau wan duduk berkumpul dalam satu ruangan dan
bersama-sama mengadakan perundingan. Pertama-tama Thian Cun
yang yang berbicara lebih dulu, katanya :
"Kini luka yang diderita Kho sauhiap telah sembuh, tentu saja
kurang leluasa buat kita untuk berdiam lebih lama disini, sekarang
kita mesti membicarakan langkah kita berikut"
Kho Beng berpikir sebentar, kemudian ujarnya.
"Dikala boanpwee meninggalkan kuil Leng thian sian wan
dipuncak Giok cing hong bukit Tiong lam san tempo hari sudah pasti
Phu sian sangjin sekalian dicekam perasaan ragu dan tak tenang. Y
a, ketika itu boanpwee terpaksa berbuat demikian karena guruku
almarhum telah berpesan demikian, mau tak mau aku mesti
mengajak bajingan tua she Ui itu untuk mengadakan pertemuan
empat mata serta mengemukakan diat dari mendiang guruku."
"Tindakan semacam ini merupakan suatu tindakan yang ksatria,
perbuatanmu memang benar sekali" seru oh Kui sam nyaring.
"Sebetulnya maksud boanpwee akan kembali lari kekuil Leng
thian sian wan dan memberi penjelasan kepada mereka setelah
tugasku selesai, siapa sangka gara-gara kekhilafanku hampir saja
nyawaku melayang ditangan bajingan she Ui itu, akibatnya . saat ini
mereka semua telah berangkat ke Siau lim si," kata Thian cun yang.
"Malah kudengar surat undangan telah disebar luaskan keseluruh
dunia persilatan untuk mengundang para jago berkumpul di Siau lim
si dan bersama-sama membicarakan cara untuk menanggulangi
peristiwa besar ini, dengan jarak yang begitujauh dari sini
kebukitSiong san, aku pikir tidak cocok kalau kita mesti berangkat
kesitu."

"Tapi boanpwee kuatir kalau hal tersebut sampai menimbulkan
kesalah pahaman umat persilatan kepadaku, akibatnya persoalan
menjadi sulit untuk dijelaskan."
"Soal ini tak perlu kau kuatirkan, paling tidak perkataan dari kami
dua orang tua Bangka masih punya manfaatnya, soal penjelasan
kepada Phu sian sangjin hwesio sekalian, serahkan saja kepadaku,
Cuma sekarang .. Hmmm, padahal apa susahnya?" dengus oh Kui
sam tiba-tiba.
"Asal kita mendatangi bukit Cian san mengobrak-abrik sarangnya,
bukankah semua persoalan menjadi beres?"
Dengan cepat Thian cun yang menggelengkan kepalanya.
"Dis inilah letak masalahnya, kita tak boleh bertindak kelewat
gegabah."
"Memangnya kita harus takut dengan bajingan tua Ui sik kong?"
seru oh Kui sam penasaran.
"Takut sih tentu tak perlu takut, tapi dibalik kesemuanya masih
terdapat berbagai kesulitan."
"Hmmm, apa kesulitannya?"
Thian cun yang berpikir sebentar, kemudian katanya :
"Pertama, Kho Beng telah menyanggupi permintaan si naga
terbang dari see ih Kongci cu untuk memelihara keutuhan dari
keturunan partai kupu-kupu, padahal Ui sik kong hanya mempunyai
seorang anak gadis, paling tidak kita kan tak bisa menumpas mereka
berdua?" Bantah oh Kui sam :
"Padahal asal semua jago andalan partai kupu-kupu dapat kita
sikat habis, dengan sisa mereka ayah dan anak berduaan saja, apa
pula yang bisa mereka kerjakan?"
"aku rasa persoalan tersebut tak akan begitu sederhana, apalagi
Ui sik kong adalah manusia yang amat licik, salah-salah kita sendiri
yang menjadi korban." Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya
:
"selain itu, kakek tongkat sakti beserta kakak Kho sauhiap
sekalian masih berada ditangan bajingan tua Ui Sik kong, bila ia
menyandera orang-orang tersebut dan mengancam dengan nyawa
mereka sebagai taruhannya, lalu apa yang mesti kau perbuat?"
sambil meremas-remas sepasag tangannya, oh Kui sam manggutmanggut
:

"Yaa, bajingan tua itu memang dapat melakukan perbuatan apa
saja, persoalan ini memang sebuah masalah yang amat pelik," Thian
cun yang segera berkata lebih jauh :
"Hingga kini tiga hari sudah lewat, siapa yang tahu permainan
busuk apa lagi yang telah dipersiapkan bajingan tua Ui sik kong.
Biarpun tenaga dalam yang kita miliki masih mampu
mengunggulinya, tapi bila ditambah dengan kelicikan hatinya, sudah
jelas ia merupakan musuh yang amat tangguh untuk kita berdua."
"Ehmmm, kita berdua tak pernah mempunyai akal untuk main
licik-licikan, memang disinilah letak kerugian bagi kita," kata oh Kui
sam sambil menggigit bibir. " Lantas menurut pendapatmu kita tak
boleh menyatroni bukit ciansan?" kemudian setelah menghembuskan
napas panjang, ia berkata lagi :
"Apakah kita mesti pergi ke siau lim si untuk menggabungkan diri
dengan Phu sian lo hwesio serta mengikuti perintahnya?"
"Tentu saja kita tak boleh berbuat begitu, bagaimanapun juga
kita harus mendatangi bukit Cian san, hanya saja kedatangan kita
tak boleh terang-terangan, kita mesti merahasiakan jejak kita dulu."
" dengan kedudukan serta pamor kita didalam dunia persilatan,
masa kita berdua pun mesti mendatangi sarangnya seperti pencuri
yang takut ketahuan?"
dengan wajah serius Thian cun yang berkata :
" Kesemuanya ini salahmu sendiri, kenapa sepanjang hidup
mengasingkan diri terus menerus dipulau Bong lay to? Kalau tak
pernah berkelana dalam dunia persilatan, otomatis kau tak akan
memiliki pengalaman apa-apa. Ketahuilah perbuatan seperti apa pun
bisa saja terjadi dalam dunia persilatan, karena nya seorang
dibutuhkan akal yang panjang untuk dapat mengatasi situasi dan
kondisi setempat, biarpun kita datangi bukit Cian san secara diamdiam,
hal semacam ini bukan berarti akan menurunkan martabat
serta pamor kita." setelah berkerut kening berapa saat, akhirnya oh
Kui sam berkata :
"Baik,lah, terserah pada yang hendak diperbuat, kalau memang
akan didatangi secara diam-diam, mari kita datangi saja secara
diam-diam." Thian cun yang segera berpaling kearah Kho Beng, lalu
ujarnya lagi. "Apakah kau mempunyai pendapat lain?"
"segala sesuatunya boanpwee akan menuruti semua perintah
cianpwee, hanya saja" setelah berhenti sejenak. dengan suara dalam
sambungnya lebih lanjut,

"Dalam perjalanan kita menuju kebukit Cian san kali ini,
boanpwee telah bertekad akan menolong kakek tongkat sakti, nona
Chin serta ciciku sekalian dari sekapan musuh."
"oooh, tentu saja ...." Thian cun yang manggut-manggut.
"Malah jalan pemikiranku lebih hebat lagi, seandainya pukulan
kita dibukit Cian san kali ini berhasil dengan sukses, bisa jadi segala
kerepotan yang dilakukan orang-orang di siau lim si saat ini bakal
sia-sia."
"Tentu saja" sambung oh Kui sam.
" Kalau gebrakan kita berhasil, anggap saja kita memang tidak
menyia-nyiakan nama besar serta kemampuan yang diperjuangkan
leluhur kita dimasa lalu, namun kalau gagal, pamor kita bakal hancur
berantakan."
Kemudian setelah berhenti sebentar, katanya lagi.
" Lantas kapan kita akan berangkat?"
Thian cun yang termenung sebentar lalu katanya :
"Bagaimana kalau besok pagi?"
"Baiklah, besok pagi kita berangkat"
"Kini waktu berangkat telah ditentukan, mari kita rundingkan
kembali bagaimana caranya untuk menempuh perjalanan?"
"Berangkat ya berangkat, memangnya kau ingin naik tandu atau
menunggang keledai?" tanya oh Kui sam keheranan.
Thian cun yang mengerling sekejap kearah rekannya, lalu berkata
:
"Kau jangan salah artikan perkataanku itu, kita kan semuanya
berjumlah lima orang, bukan saja sasarannya menjadi lebih besar,
perjalananpun pasti ditempuh amat lambat, lebih baik kita membagi
diri menjadi dua rombongan saja."
dengan cepat oh Kui sam memahami tujuan rekannya itu,
sahutnya dengan cepat. "Benar, benar, perkataan ini memang
masuk akal" dengan wajah bersemu merah, Beng Gi ciu sebera
berseru :
"Kalau begitu biar aku dan siau wan berada satu rombongan
dengan empek Thian"
"Waaaah ..... tidak bisa, aku tak ingin berada satu rombongan
denganmu ....." tolak Thian cun yang sambil menggelengkan
kepalanya berulang kali. sambil tertawa bergelak, oh Kui sam
berseru pula :

"Hey budak. kami berdua sudah terbiasa menempuh perjalanan
bersama, masa kau ingin memencarkan kami berdua ?"
Air muka Beng Gi ciu berubah makin memerah, kali ini dia
terbungkam dalam seribu bahasa.
Kembali oh Kui sam berkata :
"Biar yang muda berkumpul dengan yang muda, yang tua
berkumpul dengan yang tua, sebab baru namanya cocok dan serasi,
saudara Cun yang, tentunya kau tak merasa keberatan bukan
dengan pembagian ini ?"
"ooooh tentu saja, tentu saja ....." sahut Thian Cun yang sambil
manggut-manggut.
"Kami berdua memang tak bisa dipisahkan satu sama lainnya,
bagaikan kuali dengan tutupnya, tak seorangpun bisa memisahkan
kami berdua ..... nah keponakanku, kau toh berkunjung ke bukit
Ciansan, menurut pendapatmu dimanakah kita akan bersua muka ?"
setelah berpikir sesaat, dengan wajah serba salah, akhirnya Beng
Gi ciu berkata lirih :
"Bagaimana kalau dilembah belakang puncak bukit Cian san ?"
"Bagus kentongan kedua esok malam kita akan bersua lagi
ditempat tersebut."
Keesokan harinya dengan perasaan berat hati keluarga pemburu
Lan melepas keberangkatan jago-jago tersebut hingga tiba didepan
dusun.
setelah menempuh perjalanan lebih kurang setengah li kemudian
didepan situ muncul sebuah persimpangan jalan.
Mendadak Thian cun yang menghentikan langkahnya seraya
berkata : "Kita harus berpisah sekarang "
Tanpa sadar muka Beng Gi ciu dan Kho Beng sekalian berubah
menjadi merah jengah, sebaliknya Thian cun yang dan oh Kui sam
segera tertawa terbahak-bahak. dengan sekali lompatan saja mereka
berdua telah berlalu dari situ.
Lebih kurang empat, lima puluh kaki kemudian kedua orang tua
ini berhenti ditengah sebuah hutan lebat.
dengan kening berkerut oh Kui sam sebera menegur :
"Hey kenapa? Sudah lelah?"
"Auuuuh, kalau baru berjalan berapa langkah sudah merasa lelah,
buat apa aku berkelana terus didalam dunia persilatan ?"
" Lantas mengapa menghentikan perjalanan?" sambil tertawa
Thian cun yang balik bertanya,

"Kau anggap kita akan benar-benar berpisah jalan dengan
mereka ?"
"Lho .... bukankah ede tersebut muncul dari benakmu ?" suara oh
Kui sam keheranan.
" Kenapa kau berubah pikiran lagi sekarang ?"
"Aku bukannya berubah pikiran, tapi mempunyai maksud lain, "
tertawa Thian cun yang nampak misterius.
"Hmmm, tak sedikit akal busukmu, maksud apa lagi yang kau
kandung ?"
" Untuk kepentingan keponakan kita, apalagi mereka harus
menempuh perjalanan bersama kita berdua, sudah bisa diramaikan
tingkah laku mereka bakal kaku sekali, padahal diantara mereka
berdua tentu mempunyai banyak urusan peribadi yang hendak
diutarakan, lalu apa artinya kita bedua menjadi pengganjal mata
yang tak sedap untuk mereka berdua."
"Ya a betul, betul Itulah sebabnya aku menyetujui usulmu tadi
dan menempuh perjalanan secara terpisah, tapi kau ....."
"Membiarkan mereka menempuh perjalanan sendiripun rasanya
tak tega, "sela Thian cun yang, "sebab kita cukup tahu betapa licik
dan kejinya si manusia laknat Ui sik kong. manusia semacam ini bisa
saja melakukan perbuatan macam apapun, andaikata mereka
sampai terjadi apa-apa bukankah kita bakal menyesal sepanjang
masa ?"
"Bagaimana sih kau ini ?" oh Kui sam segera menghentakkan
kakinya keatas tanah. "Mengapa kau menguatirkan yang bukanbukan
? Lantas apa rencanamu selanjutnya?"
"Nah, disinilah letak kehebatan dari usulku tersebut, ibaratnya
sekali timpuk mendapat dua hasil, bukan saja kita tak menjadi
pengganjal mata untuk mereka, kita pun tak usah kuatir mereka
mengalami kejadian yang diluar dugaan." oh Kui sam segera
melototkan matanya bulat-bulat, teriaknya :
"Hey tua bangka, sudah cukup aku dipermainkan habis-habisan,
sudah bisa kutebak, rupanya kau hendak menguntil mereka lagi
secara diam-diam?" Thian Cun yang sebera tertawa berkelak :
"Haaah ..... haaaahh ..... haaahh ..... tuh lihat mereka sudah
pergi jauh, ayo kita cepat menyusulnya."
"Kau betul-betul hebat, tak ubahnya seperti rase tua" puji oh Kui
sam sambil tertawa gembira.

Begitulah, mereka berdua tak membuang waktu lagi, bagaikan
dua gulung hembusan angin puyuh, dengan cepat mereka
berkelebat menuju kedepan.
^ooooooo
Kho Beng merasa amat tak tentram hatinya melihat kepergian
Thian cun yang berdua.
Seandainya diantara mereka tak pernah ada ikatan pertunangan,
menempuh perjalanan bersama bukanlah masalah yang terlalu
merisaukan, tapi setelah adanya ikatan tersebut, ia justru merasa
agak rikuh.
Akan tetapi dila teringat si nona yang cantik jelita bak bidadari
dari kahyangan ini sudah menjadi istrinya yang tercinta, dari hati
kecilnya timbul pula perasaan gembira yang tak terlukiskan dengan
kata-kata.
Akibatnya untuk sesaat dia menjadi termangu-mangu dan berdiri
mematung bagaikan orang bodoh.
Beng Gi ciu yang menyaksikan hal tersebut menjadi amat geli,
tanpa terasa ia tertawa cekikikan.
Suara tertawanya dengan cepat menyadarkan kembali Kho Beng
dari lamunannya, dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu
katanya sambil tertawa rikuh : "Nona, mari kita berangkat"
Beng Gi ciu manggut-manggut dan segera berangkat duluan.
siau wan yang dihari-hari biasa banyak bicara dan lincah,
berhubung benaknya selalu dipenuhi ucapan Thian cun yang yang
mengatakan dia adalah bini muda Kho Beng, akibatnya dayang yang
lincah ini menjadi jarang berbicara dan membungkam terus. selama
ini dia hanya mengikuti disamping Beng Gi ciu tanpa mengucapkan
apapun.
Hampir dalam dua jam berikut, ketiga orang itu tetap berjalan
dengan mulut terbungkam.
Mendekati tengah hari, sinar surya memancar dengan terik diatas
langit, mendadak Beng Gi ciu menghentikan perjalanannya dan
menjatuhkan diri duduk diatas batu dalam hutan.
Melihat itu Kho Beng ikut menghentikan langkahnya, lalu
menegur :
"Nona, apakah kau lelah?"
Tanpa berpaling Beng Gi ciu menjawab :
"Bukan cuma lelah, perutku terasa lapar"
sambil tertawa Kho Beng sebera berkata :

"Tak jauh didepan sana adalah dusun Pit kho ceng, bagaimana
kalau kita beristirahat didusun tersebut?"
"Baiklah"
sikap dan jawaban si nona yang hambar segera menimbulkan
perasaan yang amat tak sedap dalam hati kecil Kho Beng, pikirnya
tanpa sadar :
"Waaaah ..... susah amat melayani gadis keturunan orang
kenamaan ..... sekarang saja sikapnya sudah panas dingin tak
menentu, entah bagaimana sikapnya setelah kawin secara resmi
nanti?"
Tapi bila teringat Beng Gi ciu adalah tuan penolong yang telah
menyelamatkan jiwanya, apalagi ikatan jodoh itupun dilakukan oleh
Thian cun yang serta oh Kui sam, pemuda kita merasa wajib untuk
mengalah berapa bagian kepada gadis tersebut. sementara dia
masih termenung, terdengar Beng Gi ciu menegur lagi dengan dingin
:
"Mengapa secara tiba-tiba kau berubah seperti patung?" Kho
Beng agak tertegun, sahutnya tergagap :
"Maksud nona"
"Hmmm, coba kau lihat tampangmu sewaktu berdiri disitu,
emangnya tidak mirip kayu saja? Kalau memangnya ingin
beristirahat kenapa tidak duduk?"
"Aku tidak lelah" sahut Kho Beng terbata-bata.
Perkataan ini memang sejujurnya sebab bagi pemuda kita
biarpun harus menempuh perjalanan sehari semalampun belum
tentu dia akan merasa lelah.
Padahal Beng Gi ciu sendiripun tidak merasa lelah, hanya
disebabkan rasa tak senangnya maka dia sengaja duduk untuk
mengambek.
Diam-diam Kho Beng menghela napas panjang, sambil
memaksakan diri untuk tertawa katanya kemudian : "Baiklah, biar
akupun duduk"
Maka diapun mengambil tempat duduk disebuah batu yang
berada disisinya.
Waktu itu diatas sebatang pohon, lebih kurang dua puluh kaki
dibelakang ketiga orang itu, Thian Cun yang dan oh Kui sam sedang
bersembunyi disana.

Kalau Thian Cun yang masih tersenyum simpul, maka oh Kui sam
dengan wajah serius berbisik kepada rekannya dengan ilmu
menyampaikan suara : "Aku lihat keadaan sedikit kurang beres"
"Apanya yang tidak beres?" Thian Cun yang balik bertanya
dengan ilmu menyampaikan suara pula.
"Hmmm, matamu belum lamur, telingamu belum tuli, masa kau
masih juga belum tahu."
Bersambung ke jilid 40
Jilid 40
"Kau berani bertaruh denganku?" tiba-tiba Thian cun yang
menantang dengan senyum misterius.
"Bertaruh? Hmmm, kenapa tak berani?"
"Kujamin hubungan mereka akan berubah menjadi amat erat
bagaikan lem, bagaimana kalau kita bertaruh dengan semeja
perjamuan saja?"
"Baik, kita bertaruh ......"
Sambil menunjuk kedepan Thian cun yang berkata :
"Hasil taruhan kita segera akan diketahui siapa pemenangnya,
aku lihat kau pun bakal menjamuku tengah hari nanti."
"Asal aku bisa melihat hubungan mereka erat seperti lem dan
bukan seperti air dan api, biar mesti mentraktir makan dirimu pun
aku kalah dengan hati rela." kata oh Kui sam serius.
Sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang, medadak
tampak Beng Gi Ciu-menghela napas sedih :
Oh Kui sam segera berbisik pula sambil menghela napas :
"coba kau lihat, keadaannya semakin lama semakin bertambah
runyam, bila keponakan kita merasa puas dengan bocah muda she
Kho itu, mengapa setelah ditunangkan ia justru berkeluh kesah?"
"Aaaah, terlalu awal untuk mengatakan demikian, " bantah Thian
cun yang sambil tertawa.
Dalam pada itu Kho Beng telah berpaling sambil bertanya : "Nona
...... mengapa kau berkeluh kesah?"
sekali lagi Beng Gi ciu menghela napas panjang, katanya : "Aku
mengeluh karena nasib ku jelek."
"Nona ...... aku cukup memahami maksudmu ...." kata Kho Beng
gelagapan.
"setelah bertemu dengan Thiam dan oh cianpwee nanti, aku pasti
akan menyelesaikan secara baik-baik, pasti ........"

"Apa yang kau ngaco belokan?" tukas Beng Gi ciu cemas. dengan
wajah serius Kho Beng berkata :
"Sudah pasti lantaran aku tak pantas mendampingi nona, maka
nona baru merasa masgul dan berkeluh kesah, itulah sebabnya ......"
Beng Gi ciu mendengus kembali, tukasnya :
"Apa maksudmu aku pun mengerti, kenapa aku pergunakan katakata
seperti itu untuk menghadapi aku?" Kho Beng tertawa getir.
"Nona, apa yang kau artikan dengan perkataan itu? Dan dimana
letak kesalahan dalam ucapanku ini?" Beng Gi ciu mendengus :
"Hmmm, terus terang kau yang merasa diriku tak pantas menjadi
binimu, kenapa malah mengembalikan perkataan tersebut
kepadaku? Aku tahu kau merasa sungkan untuk menampik
perjodohan ini dihadapan empekku berdua, maka secara sengaja
kau bersikap dingin kepadaku, aku cukup memahami keadaanku
sendiri, biar aku saja yang mengusulkan untuk membataikan ikatan
perkawinan ini."
oh Kui sam yang bersembunyi dua puluh kaki dari tempat
kejadian itu jadi terkejut, pucat pias selembar wajahnya, sambil
menggigit bibir katanya kemudian :
"Waaah ..... waaah ....bakal bubar sungguhan coba lihat,
hubungan mereka seperti air dan api, aku menang taruhan tapi
kemanakah mesti kutaruh mukaku ini bila bertemu kembali dengan
Beng toako dialam baka nanti?"
Namun Thian cun yang masih tetap tenang, malah katanya
sambil tersenyum : "Tak usah keburu panik, pembicaraan diantara
mereka toh belum selesai."
sementara itu paras muka Kho Beng telah berubah hebat, dengan
suara lantang ia sebera berseru :
"Nona, aku tak berani menerima tuduhan mu itu, bila Kho Beng
benar-benar mempunyai pikiran yang seperti apa yang nona
tuduhkan, biarlah Thian mengutukku dan membiarkan aku..."
Belum lagi kata "mampus" sempat diucapkan, Beng Gi ciu telah
melompat maju sambil menutup mulut Kho Beng dengan tangannya.
dengan wajah tertegun Kho Beng menghentikan
pembicaraannya, sedang Beng Gi ciu juga merasakan perbuatannya
kelewat mesra, dengan wajah bersemu merah cepat-cepat dia
mundur kembali.
setelah agak tertegun beberapa saat, Kho Beng kembali berkata :

"Nona, mengapa kau tidak mengijinkan diriku untuk melanjutkan
perkataan tersebut."
" Hanya masalah kecil saja kenapa kau mesti mengangkat
sumpah?" sahut Beng Gi ciu lirih.
"Untuk menunjukkan ketulusan hatiku, kalau tidak mengangkat
sumpah lantas apa yang mesti ku perbuat?"
"Jadi tuduhanku tidak benar?"
"Aku bukan manusia yang lain dibibir lain dihati, bila aku benarbenar
merasa tak puas dengan perkawinan ini, secara langsung
lamaran dari Thian dan oh locianpwee akan kutampik, setelah
kusanggupi berarti sampai matipun pendirianku tak bakal berubah."
Kembali paras muka Beng Gi ciu menjadi merah padam, katanya
kemudian : "jadi ..... kau ..... kau sungguh-sungguh? Bukan lagi
membohongi diriku?"
"seharusnya nona percaya dengan perkataanku?" Kho Beng
berkerut kening.
sekulum senyuman yang manis dan mesra segera tersungging
diujung bibir Beng Gi ciu, kembali ujarnya :
"Kalau memang benar begitu, mengapa sikapmu begitu dingin
dan hambar?"
"Bagaimna mungkin hal ini bisa terjadi? Kalau dibilang bersikap
dingin dan hambar, seharusnya sikap nonalah yang dingin dan
hambar sekali terhadapku"
"Hmmm, kalau berbicara harus tumbuh dari hati kecil yang jujur,"
seru Beng Gi ciu sambil cemberut, "Coba kutanya, kau memanggil
apa kepadaku?"
"Memanggil nona"
Beng Gi ciu segera mendengus dingin :
"Hmmm, tapi apa pula hubungan kita sekarang? Bukankah kau
sengaja bersikap dingin dan menjauh kepadaku?"
dengan cepat Kho Beng memahami arti perkataan gadis itu,
buru-buru ia memukuljidat sendiri sambil berseru :
"Aaaah ..... rupanya memang aku yang bersalah, tapi berhubung
kita belum menikah secara resmi, aku kuatir bersikap kelewat mesra
maka dari itu aku menyebutmu ........"
Tapi setelah berhenti sejenak. buru-buru sambungnya lagi :
"Kalau memang begitu biarlah aku mengganti dengan sebutan
lain, tapi ...... aku mesti memanggilmu apa?"

"Mana kutahu?" seru Beng Gi ciu sambil berpaling kearah lain.
Kho Beng berpikir sebentar, mendadak serunya sambil tertawa :
"Adik Ciu ...... terimalah hormat dari kakandamu"
sambil berkata, ia betul-betul menjura dalam-dalam :
siau wan yang berdiri disamping tak dapat menahan diri lagi dan
segera tertawa cekikikan.
Beng Gi ciu pun berusaha menahan rasa gelinya, sambil
mendengus ia berseru : "Huuuh, usil"
oh Kui sam yang berada dua pulu kaki dari tempat kejadianpun
menjadi sangat gembira, tak kuasa lagi ia berteriak menirukan lagak
suara Kho Beng :
"Adik Ciu ..... terimalah hormat dari kakandamu Haaaahh ......
haaaahh ...... haaaahh"
Gelak tertawanya amat keras bagaikan guntur yang menggelegar
ditengah hari bolong, suaranya sampai menggema beberapa li
jauhnya. Kho Beng menjadi malu sekali, dengan wajah tersipu-sipu
serunya :
"Aduh celaka, rupanya kedua orang tua itu tidak pergi secara
sungguhan, rupanya mereka menguntil dibelakang kita secara diamdiam."
"Jangan perduli mereka, mari kita lari" sahut Beng Gi ciu dengan
wajah merah padam pula seperti kepiting rebus.
Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, Kho Beng merasa
rikuh sekali untuk bersua dengan Thian cun yang serta oh Kui sam,
sehingga dia justru berharap Beng Gi ciu mengusulkan hal itu.
Maka tanpa membuang waktu lagi, cepat-cepat dia beranjak
pergi meninggaikan tempat tersebut.
Beng Gi ciu dan siau wan tak ketinggalan, mereka menyusul pula
dibelakangnya, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka bertiga
sudah lenyap dari pandangan. Thian cun yang segera menarik
tangan oh Kui sam sambil menegur : "Mengapa sih kau tak dapat
menahan diri, coba lihat, mereka kabur karena jengah" oh Kui sam
berusaha menghentikan gelak tawanya, dengan wajah berseri ia
berseru :
"Puas ..... puas .......hatiku benar-benar puas, dengan begitu
akupun tak usah kuatir lagi."
"Tapi kau telah kalah bertaruh, berarti harus mentraktir aku
makan satu meja"

"Jangan lagi cuma semeja, biar sepuluh meja pun aku rela
seratus persen"
Tak lama kemudian sampailah mereka didusun pit keh ceng.
Pit keh ceng adalah sebuah dusun dengan lebih kurang dua ratus
kepala keluarga, tempat itu merupakan persimpangan jalan utara
dan selatan, karenanya banyak pedagang yang berlalu lalang disitu,
suasana amat ramai.
Ketika menyusul kedalam dusun, Thian cun yang berdua
menyaksikan Kho Beng sekalian bertiga telah memasuki sebuah
rumah makan, maka mereka pun mencari tempat duduk dekat
jendela dirumah makan seberang, dari situ mereka dapat mengaasi
pintu depan rumah makan dengan jelas.
dengan perasaan gembira, Thian Cun yang berseru : "sekarang
kita boleh makan minum dengan perasaan lega."
dengan cepat oh Kui sam memesan satu meja penuh hidangan
yang lezat kemudian mereka berdua pun mulai bersantap dengan
lahapnya sambil mengawasi pintu gerbang rumah makan seberang
jalan.
sementara itu Kho Beng sekalian bertiga pun mencari tempat
duduk yang agak longgar diatas loteng, kemudian dengan pikiran
agak ringan tanyanya : "Adik Ciu, apakah kau ingin minum barang
dua cawan arak?" Beng Gi ciu menggeleng.
"Lebih baik pesan saja hidangan seadanya, selesai bersantap kita
harus segera bersantap."
"Hari masih cukup pagi, kenapa kita mesti tergesa-gesa
menempuh perjalanan?"
" Kedua orang tua itu sudah mempermainkan kita, maka kita
harus balas mempermainkan mereka berdua."
Mendengar itu, Kho Beng segera tertawa.
"sudah dapat dipastikan kedua orang cianpwee sedang bersantap
dirumah makan sekitar sini, bila kita menempuh perjalanan dengan
tergesa-gesa sudah pasti mereka tak jadi makan."
"Tidak akan kubuat agar mereka sama sekali tidak dapat
menemukan diri kita lagi" kata Beng Gi ciu cepat.
Buru-buru Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali,
ujarnya :
"Aku rasa hal ini sulit sekali, tak nanti mereka berdua akan
melepaskan kita dengan begitu saja."

"Tak usah kuatir" hibur Beng Gi ciu sambil tertawa, "tanggung
kita akan berhasil"
Kho Beng tidak banyak berbicara lagi, dengan cepat dia memesan
hidangan yang tersedia dalam waktu cepat, begitu selesai bersantap
mereka pun membereskan rekening dan turun kebawah.
Namun ketika Kho Beng hendak melangkah keluar dari rumah
makan itu, mendadak Beng Gi ciu menariknya sambil berbisik :
"Tunggu dulu"
dengan wajah tertegun Kho Beng berkata :
"Bukankah adik Ciu ingin cepat-cepat menempuh perjalanan?
Mengapa kau ....."
"Benar, kita memang akan menempuh perjalanan sekarang
juga," tukas si nona cepat.
"tapi bila kita keluar dengan begitu saja, sudah dapat dipastikan
jejak kita akan mereka ketahui, itu berarti untuk meninggalkan
mereka pun jadi amat sulit, karenanya kita tak boleh keluar lewat
pintu muka."
Kemudian tanpa menunggu Kho Beng berbicara, ia telah
berpaling kearah seorang kacung berusia sepuluhan tahun sambil
tanyanya : "Apakah rumah makan kalian mempunyai pintu
belakang?"
"Pintu belakang?" kacung itu membelalakkan matanya bulatbulat,
dengan wajah tak habis mengerti serunya, "Mengapa kek
koan tidak lewat pintu muka?"
dengan cepat Beng Gi ciu menyerahkan sekeping uang perak
ketangannya sambil menyahut "Kami senang lewat pintu belakang"
Terkejut bercampur girang kacung itu, segera serunya :
"ooooh .....ada, ada ......silahkan kek koan mengikuti hamba"
sambil tersenyum Beng Gi ciu segera mengikuti kacung itu
menuju kebelakang, setelah melalui dua beranda sampailah didepan
sebuah pintu yang menghubungkan tempat itu dengan sebuah
lorong kecil.
Mereka bertiga segera saling berpandangan sambil tersenyum,
kemudian dengan cepat menelusuri lorong kecil itu.
Tak selang berapa saat kemudian, mereka bertiga telah berada
diluar dusun pit keh ceng.
Beng Gi ciu berpaling memandang sekejap kebelakang, kemudian
katanya sambil tertawa : "Empek oh adalah seorang yang jujur, dia
tak akan mempunyai pikiran yang tidak-tidak. sebaliknya empek

Thian meski lebih banyak tipu muslihatnya, namun diapun orang
yang amat jujur, sehingga tak nanti mereka akan menyangka kalau
kita berbuat demikian."
Maka berangkatlah ketiga orang itu menempuh perjalanan
dengan amat cepat.
Mendekati lohor sampailah mereka disebuah tanah yang datar,
sejauh mata memandang hanya pepohonan yang rimbun tumbuh
disana sini, sementara sinar surya sore membiaskan cahaya
berwarna merah.
sambil memandang sekejap sekeliling tempat itu, Kho Beng
berkata dengan kening berkerut :
"Rasanya kita belum pernah sampai ditempat seperti ini, padahal
menurut perhitungan seharusnya bukit Cian san sudah terlihat
didepan mata" siau wan yang selama ini membungkam
membungkam, segera menyela : "Mungkin saja kita sudah tersesat"
Tapi Beng Gi ciu tidak ambil peduli, katanya cepat :
"Arah yang ditempuh tidak salah, sekalipun tersesat rasanya pun
tak bakal terlalu jauh, asal kita mencari penduduk disekitar sini dan
mencari keterangan dari mereka, rasanya sebelum kentongan kedua
nanti kita sudah tiba dibukit Cian san."
Perkataan ini memang ada betulnya juga, namun kemanakah
mereka harus mencari rumah penduduk yang terpencil seperti ini?
Jangan lagi penduduk. orang yang berlalu lalangpun tak nampak
seorang pun.
Namun mereka bertiga masih tetap meneruskan perjalanannya
menuju kedepan.
Setelah berjalan lebih kurang tiga li kedepan, matahari telah
tenggelam sama sekali dilangit barat, kegelapan malam pun lambat
laun mulai menyelimuti seluruh angkasa, pemandangan disekeliling
sepuluh kaki sudah amat sulit untuk terlihat jelas. Mendadak Beng Gi
ciu menunding kedepan dan serunya sambil tertawa : "Coba kalian
lihat, apakah itu?"
"Hah, kuil" sorak siau wan dengan nada gembira.
Kho Beng pun sudah melihatnya dengan jelas, ternyata dibalik
hutan disisi kanan jalan tampak sebuah bangunan kuil berdiri angker
diantara pepohonan. sambil tersenyum, Beng Gi ciu berkata lagi :
"Asal kita minta keterangan dari penghuni kuil tersebut, dengan
cepat jalan menuju kebukit Cian san akan kita temukan."

Tanpa menunggu jawaban lagi, dengan cepat ia meluncur lebih
dulu menuju kehutan tersebut.
Kho Beng dan siau wan sebera menyusul dari belakang dan
bersama-sama menerobos hutan menuju kuil tersebut.
Tapi setelah tiba didepan kuil tadi, mereka baru menemukan
kalau kuil itu cuma sebuah sisa kuil yang sudah lama dtinggalkan
dan terbengkalai, bangunan sebelah muka masih nampak utuh,
namun pintu gerbang sudah roboh sedang papan namapun telah
hilang.
Beng Gi ciu merasa amat kecewa, baru saja mereka bertiga
bermaksud meninggalkan tempat itu, mendadak terdengar suara
rintihan lirih bergema datang dari balik ruangan.
suara tersebut kedengaran aneh sekali, seperti suara tintihan
orang kesakitan, seperti juga dengus napas binatang buas.
Kho Beng memandang sekejap wajah Beng Gi ciu, lalu bisiknya ":
"Mari kita masuk kedalam memeriksa ......."
Beng Gi ciu mengangguk tanpa menjawab, maka dipimpin Kho
Beng berangkatlah mereka bertiga memasuki kuil tersebut.
sarang laba-laba kelihatan tersebar dimana-mana, debu amat
tebal menyelimuti lantas, rumput ilalang tumbuh liar, suasana disana
terasa mengenaskan.
Walaupun gedung utamanya masih tegak berdiri, namun patung
didalam ruangan sudah porak poranda tak utuh, kelihatannya paling
tidak sudah sepuluh tahun kuil tersebut dibiarkan terbengkalai.
Kho Beng mencoba untuk memasang telinga dan memperhatikan
sumber suara aneh itu, dengan cepat ia ketahui suara tadi berasal
dari sebuah ruangan disebelah kanan.
Maka tanpa menunggu persetujuan Beng Gi ciu lagi, ia segera
melangkah masuk kedalam ruangan.
Begitu berada dalam kamar, pemuda kita segera menemukan
sumber suara tersebut. Ternyata disudut ruangan sana berbaring
seorang kakek berusia enam puluh tahunan.
Dalam sekilas pandangan saja, Kho Beng sudah tahu kalau jalan
darah orang itu sudah tertotok.
Kakek itu tak dapat berbicara, tubuhnya tak mampu berkutik,
hanya dari tenggorokannya mengeluarkan suara dengan napas yang
sangat aneh.

Tatkala melihat kedatangan Kho Beng, sepasang biji matanya
segera berputar dan dialihkan kewajah pemuda kita dengan harapan
minta tolong.
Kho Beng kelihatan agak sangsi, sambil berpaling kearah Beng Gi
ciu katanya :
" orang ini pasti telah dianiaya seseorang dan sengaja
ditinggalkan didalam kuil ini, kalau kita tidak menolongnya, mungkin
dia bakal mati kelaparan disini, apakah kita ....." sambil tertawa Beng
Gi ciu sebera menukas.
"Bukan soal besar, lebih baik engkoh Beng memutuskan sendiri,
kenapa mesti bertanya kepadaku?"
Kho Beng tertawa, dengan cepat dia menggetarkan tangannya
melepaskan beberapa desingan serangan, dalam waktu singkat lima
buah jalan darah didepan dada sikakek yang tertotok telah
dibebaskan semua.
Mungkin karena jalan darahnya sudah lama tertotok maka
walaupun sudah dibebaskan kakek itu masih berbaring diatas tanah
dengan napas tersengal-sengal.
Kejadian ini menumbuhkan perasaan iba dalam hati kecil Kho
Beng, tanpa sadar ia berjongkok disisinya dan menempelkan telapak
tangan kanannya diatas jalan darah Ki hay hiat, segulung hawa
murni pun dengan cepat menyusup kedalam tubuh kakek itu.
dengan bantuan tenaga dalam Kho Beng, lambat laun kakek itu
dapat mengatur pernapasan sendiri, air mukanya pun lambat laun
berubah menjadi merah segar, akhirnya dia melompat bangun dan
duduk bersila. dengan perasaan kasihan, Kho Beng bertanya :
"Mengapa jalan darah lotiang ditotok orang sehingga tersekap
disini?" Kakek itu menghela napas panjang :
"Aaaai ..... panjang sekali untuk diceritakan, sejak dibokong
orang sampai kalian temukan kembali, paling tidak aku sudah lima
jam lamanya tersekap dalam kuil ini, andai kata sauhiap tiak
menolong, sudah dapat dipastikan aku bakal mampus disini."
Kemudian setelah berhenti sejenak. tanyanya lagi : "Boleh aku tahu
siapa nama sauhiap?"
"Aku Kho Beng"
"Kho Beng ..... "berubah hebat paras muka kakek itu, agak
tertegun ia menegaskan, "Apakah Kho Beng .... Kho sauhiap
keturunan dari perkampungan Hul im ceng?"
"Yaa benar" Kho Beng mengangguk,

"dari mana lotiang tahu tentang diriku?"
sambil memaksakan diri untuk tertawa, kakek itu berkata :
"Haaahh .....haaahh .....haaaahh ..... dewasa ini Kho sauhiap
sudah menjadi manusia yang paling termashur dalam dunia
persilatan, sebagai anggota persilatan mana mungkin aku tidak
mengenali nama Kho sauhiap?"
" Kakek terlalu memuji ...... tapi siapakah namamu dan mengapa
dicelakai orang ditempat ini?"
"Aku .....aku dari marga Go bernama Pou han ..." sahut kakek itu
agak tergagap.
"Aaaai, sewaktu lewat disini pagi tadi, aku telah bertemu dengan
seorang sobat lama yang mengajakku datang kekuil ini, siapa
sangka disaat aku tidak terlalu memperhatikan, ia telah menotok
jalan darahku"
" Kalau memang orang itu dikenal, mengapa dia membokong
dirimu?" tanya sang pemuda tak habis mengerti.
Kembali kakek itu menghela napas.
"Aaaai ..... inilah yang disebut hati orang susah diduga."
setelah menghela napas panjang, kembali dia melanjutkan :
" Ketika aku masih sering berkelana diwilayah barat laut dulu, aku
pernah dibegal oleh seorang perampok ulung, namun orang itu
bukan tandinganku sehingga dalam pertarungan yang kemudian
terjadi lengan kirinya berhasil kukuntungi."
"Kalau begitu dia seharusnya musuh besarmu, bukan teman
lamamu?" sela Kho Beng. dengan cepat kakek itu menggeleng.
"setelah lengan kirinya berhasi kukutungi, ternyata dia merasa
amat menyesali perbuatannya, dikatakan keluarganya sangat miskin
sehingga tak punya uang untuk memelihara ibunya yang tua, karena
keadaan yang mendesaklah maka dia menjadi begal.
Waktu itu aku merasa terharu mengingat dia berani mengakui
kesalahannya serta bersedia untuk bertobat, lagipula mengingat rasa
baktinya untuk membiayai hidup ibunya yang tua, maka bukan saja
memberi nasihat agar dia mau bertobat, malah kuberi juga bekal
hidup,
Waktu itu dia berlalu dengan rasa terima kasih yang amat sangat.
Itulah sebabnya ketika bersua kembali hari ini, aku sama sekali tidak
menaruh curiga kepadanya, siapa tahu dia justru mempunyai niat
jahat." dengan rasa penasaran, Kho Beng segera berseru : "orang ini
benar-benar bedebah, siapa sih namanya?"

"Ia bernama .....bernama ..... "kembali kakek itu gelagapan.
Berapa saat kemudian, buru-buru dia berkata lebih jauh.
" Waktu itu dia memang sudah menyebutkan namanya, namun
aku tidak terlalu mengingatnya dihati sehingga namanya kulupakan."
"Aaah, itu bukan masalah penting, toh lengan kirinya jelas
terpapas kutung, ciri ini tak susah diketahui, bila kau bersua
dengannya dikemudian hari pasti akan kutuntut keadilan bagi
totiang."
Kakek itu memutar biji matanya beberapa kali, mendadak
katanya lagi sambil menghela napas :
"Budi kebaikan Kho sauhiap tak akan kulupakan untuk
selamanya, tentang soal balas dendam .... aku rasa tak perlu
dirisaukan."
" Kenapa?"
"Aku selalu berprinsip bahwa kita hidup sebagai manusia, tak ada
salahnya untuk mengalah pada orang lain, begaimanapun juga toh
nyawaku tak sampai terenggut, kenapa pula aku mengingat-ingat
masalah tersebut didalam hati?" dengan rasa kagum Kho Beng
sebera berseru :
"Tak nyana kau berjiwa besar dan berhati mulia, aku benar-benar
amat kagum ....."
setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya :
"Apakah lotiang kenal dengan jalanan disekitar tempat ini?"
"Kho sauhiap hendak kemana?" tanya kakek itu cepat.
"Bukit Cian san"
Kakek itu berpikir sebentar, lalu sahutnya :
"Pergilah kearah utara, setelah menempuh perjalanan sejauh
sepuluh li, maka bukit Ciansan akan sebera kelihatan ..... cuma aku
...... aaaaai ...."
Tiba-tiba ia menghembuskan napas panjang dan membungkam.
dengan perasaan keheranan Kho Beng segera bertanya : "Lotiang
apa yang ingin kau sampaikan?"
"Walaupun aku sudah berterima kasih sekali atas pertolongan
dari Kho sauhiap. namun berhubung jalan darahku sudah tertotok
beberapa jam lamanya hingga kondisi badanku lemah sekali, maka
sebelum ajalku mungkin tiba, ingin sekali kutitip pesan akan satu
hal."
"Ooooh, rupanya lotiang ingin meminta bantuan ku untuk
mengerjakan sesuatu? Kalau begitu katakan saja terus terang, asal

Kho Beng mampu melakukannya, tentu akan kukerjakan bagimu."
dengan rasa gembira, kakek itu sebera "Terima kasih banyak Kho
sauhiap. tapi ..... "
Ia melirik sekejap kearah Beng Gi ciu serta siau wan yang berdiri
disamping, kemudian tutup mulut dan tidak berbicara lagi
Kho Beng segera memahami maksudnya, kepada Beng Gi ciu
serunya cepat : "Adikku, tolong menyingkirlah dulu, mungkin kakek
ini ....."
Beng Gi ciu tersenyum, tanpa mengucapkan sepatah katapun
bersama siau wan mereka menyingkir dari sana
Menanti kedua orang itu sudah mengundurkan diri dari ruangan,
sikakek buru-buru berbisik :
" Harap Kho sauhiap tempelkan telingamu kemari ..."
Kho Beng tidak berprasangka jelek. la benar-benar
membungkukkan badan dan menempelkan telinganya didepan mulut
kakek itu.
Tapi disaat Kho Beng sedang menempelkan telinganya itulah,
tiba-tiba kakek itu menghimpun segenap tenaga dalamnya dan
mencengkeram lambung pemuda tersebut dengan lima jari yang
terpentang lebar.
Tenaga dalam yang dimiliki kakek itu benar-benar sangat
tangguh, jangan lagi kelima jari tangan digunakan bersama, satu
jaripun sudah cukup untuk mencabik-cabik perut Kho Beng.
Dalam keadaan seperti ini, biarpun ilmu silat yang dimiliki Kho
Beng sangat hebat, namun oleh karena serangan yang dilancarkan
kakek itu amat mendadak lagipula dari jarak yang begitu dekat,
ditambah pula Kho Beng berada dalam keadaan tidak siap. menanti
ia sadar akan gelagat yang kurang menguntungkan, keadaan sudah
terlambat.
Terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati serta bergema
memecahkan keheningan.
Namun yang terluka ternyata bukan Kho Beng, melainkan si
kakek yang berniat jahat itu.
Diatas telapak tangan kanannya kini telah muncul sebuah lubang
besar sementara disekelilingnya terlihat warna hitam pekat bagaikan
hangus terbakar.
sambil tersenyum simpul Beng Gi ciu dan siau wan segera
menyelinap masuk kedalam ruangan.

sementara itu Kho Beng masih berdiri tertegun saking kagetnya,
peluh dingin jatuh bercucuran membasahi tubuhnya, sambil
memandang kearah Beng Gi ciu, katanya : "Adik Ciu, tak kusangka
kau telah menyelamatkan jiwaku sekali lagi." Beng Gi ciu tertawa.
"Sejak pertama kali tadi aku sudah menaruh curiga kepada tua
bangka celaka ini, sebab kulihat biji matanya berkeliaran aneh, paras
mukanya tak menentu, ditambah lagi pembicaraannya terbata-bata
seprti orang gugup, sudah jelas manusia semacam ini bukan
manusia baik hati, itulah sebabnya sedari tadi aku telah
mengawasinya dengan khusus"
Ternyata walaupun Beng Gi ciu sudah mengundurkan diri dari
kamar, namun secara diam-diam mereka bersembunyi dibalik
jendela sambil mengawasi keadaan dalam ruangan.
Ketika secara tiba-tiba ia menyaksikan kakek itu melancarkan
serangan yang mematikan, secepat kilat pula dia melepaskan sebuah
serangan Tang kim ci yang segera menembusi telapak tangan lawan.
dengan berlubangnya telapak tangan kanannya, kakek itu
meraung-raung kesakitan lalu roboh tak sadarkan diri dengan gemas
Kho Beng menyepak tubuh kakek itu keras-keras, sehingga kakek itu
sadar kembali dari pingsannya.
dengan suara dalam Kho Beng sebera menghentak :
"Antara aku she Kho dengan dirimu toh tak punya ikatan dendam
sakit hati, mengapa setelah kutolong jiwamu, kau malah berniat
menghabisi nyawaku?"
Kakek itu memejamkan matanya sambil menggertak gigi
kencang-kencang, mulutnya membungkam diri dalam seribu bahasa.
Beng Gi ciu berpikir sebentar, kemudian katanya :
"Mungkin saja orang ini adalah anak buah bajingan tua ui sik
kong"
"Buat apa manusia tengik seperti dia dibiarkan hidup terus?
Nona, lebih baik ditusuk saja sampai mampus" bentak siau wan pula
dengan nada benci. dengan cepat Beng Gi ciu menggelengkan
kepalanya, ia berkata :
"seandainya dia benar-benar adalah anak buah bajingan tua ui
sik kong, kita justru manfaatkan dirinya untuk mengorek keterangan
sedikit darinya, kenapa kita mesti biarkan ia mampus secara
mudah."
"Yaa betul, perkataan adik Ciu memang tepat" dukung Kho Beng.
"Kita harus dapat mengorek keterangan dari mulutnya."

Mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang
lelaki telah menerobos masuk kedalam kuil dengan melompati pagar
pekarangan. Kho Beng tertawa dingin ia segera menyambut
datangnya orang tersebut.
Tapi dengan cepat ia dibikin tertegun sebaliknya lelaki itupun
tertegun, kemudian teriaknya keras-keras : "Majikan kecil, kau ....."
Namun setelah sorot matanya memandang sekejap kewajah
Beng Gi ciu dan siau wan, cepat-cepat ia menutup mulut kembali.
Ternyata orang itu adalah si saudagar racun berkaki sakti, Chee
Tay hap. "Chee toako mengapa kau datang kemari?" tegur Kho Beng
cepat. Kemudian sambil menunding kearah Beng Gi ciu katanya lagi
:
"Dia adalah keturunan dari Kim ka sian pemimpin tiga dewa, bila
hendak menyampaikan esuatu, katakan saja berterus terang."
dengan sikap amat menghormat chee Tay hap segera memberi
hormat kepada Beng Gi ciu, katanya :
"Rupanya nona Beng. Maaf .....maaf ...."
"sejak kapan majikan sampai disini? Apakah kau telah melihat si
pedang iblis penutup awan ciu Bu ki yang berhasil kutangkap?"
"Apa? orang ini hasil tawananmu, dia adalah Ciu Bu ki?" seru Kho
Beng dengan perasaan terperanjat. Cepat-cepat chee Tay hap
berkata :
"siunta sakti Thio locianpwee berada ditebing oh llong nia
sepuluh li dari sini, tanpa disangka hamba telah bertemu dengan
bajingan tua ini dan akupun berupaya membekuknya hidup, hidup,
sebab dialah pembunuh yang telah menghabisi nyawa putra Kho Po
koan yang telah menjadi pengganti majikan. oleh sebab itu aku tak
berani bertindak sembarangan, barusan hamba pergi mencari Thio
locianpwee dengan maksud minta petunjuk."
"oooh, dia berada sepuluh li dari sini? apa dia bilang?" tanya Kho
Beng dengan wajah gembira.
dengan kening berkerut chee Tay hap berkata :
"sayang sekali kedatangan hamba terlambat selangkah, ia telah
berangkat ke siau lim si, itulah sebabnya buru-buru aku memburu
kembali kesini." dengan nada amat emosi Kho Beng berkata :
"Ternyata bajingan tua ini adalah Ciu Bu ki, sudah sejak lama aku
berniat akan membalaskan dendam bagi kematian tuan penolong
yang telah menggantikan aku mati, apa lagi diapun sudah

bermaksud mencelakai diriku secara keji. Hmmmm, hari ini dia tak
bisa dilepaskan dengan begitu saja."
selesai berkata dia segera menyelinap masuk kedalam kamar.
Chee Tay hap segera menyusul pula dari belakang, tapi apa yang
kemudian terlihat segera membuat hatinya tertegun.
Kho Beng tak sempat memberi penjelasan lagi, dengan gemas ia
menendang tubuh Ciu Bu ki keras-keras, lalu umpatnya :
"Binatang tua, sekarang apa lagi yang hendak kau katakan?"
Ketika Ciu Bu ki mendongakkan kepalanya dan melihat kehadiran
chee Tay hap. paras mukanya segera berubah hebat. ia berusaha
meronta lalu mengayunkan telapak tangannya keubun-ubun sendiri,
rupanya dia berniat menghabisi nyawa sendiri.
Tapi sayangnya Kho Beng bertindak lebih cepat, segulugn
desingan angin jari tangannya membuat jalan darah cian keng hiat
dibahu kiri dan kananya tersumbat sama sekali.
Berada dalam keadaan seperti ini ciuBu ki segera memejamkan
matanya rapat-rapat dan sambil menggigit bibir tidak berbicara lagi.
dengan penuh amarah Kho Beng membentak :
"Bajingan tua Ciu, pernahkah kau membayangkan bakal
mendapat akhir seperti ini?"
Akhirnya Ciu Bu ki membuka kembali sepasang matanya, dengan
nada setengah merengek pintanya :
"Kumohon ..... Kho sauhiap ..... berilah kematian yang lebih enak
kepadaku?" Kho Beng sebera mendengus dingin.
"Hmmm, apabila kau tidak membohongi diriku habis-habisan
serta berniat mencelakai jiwaku tadi, mungkin saja aku akan
mengabulkan permintaanmu ini, tapi sekarang ...." dengan suara
yang berat dan dalam, sepatah demi sepatah kata dia berkata :
"Aku hendak mempergunakan cara yang paling kejam dan buas
untuk menyiksamu sebelum mencabut nyawa anjingmu"
Chee Tay hap memandang sekejap kearah lubang yang
menembusi telapak tangan kanan ciu Bu ki itu dengan pandangan
tertegun, dia lebih tak mengerti lagi setelah menyaksikan amarah
Kho Beng yang berkobar-kobar, sekalipun dalam hati dia ingin
mengetahui keadaan yang sesungguhnya, namun rasanya rikuh
untuk menanyakan maka niat tersebut akhirnya diurungkan.
Agaknya Kho Beng dapat memahami perasaan chee Tay hap
ketika itu, secara ringkas dia menceritakan peristiwa yang baru saja
terjadi.

Chee Tay hap ikut merasa mendongkol, katanya kemudian
dengan penuh amarah :
"Manusia bedebah yang lebih rendah dari binatang ini memang
tak boleh dibiarkan hidup, aku rasa biarpun disiksa dengan cara
apapun masih terlalu keenakan baginya."
"Menurut chee toako, cara siksaan apakah yang terhitung paling
keji?" chee Tay hap memperhatikan sekejap keadaan kakek itu, lalu
katanya :
"Bila berbicara menurut keadaan yang berada didepan mata, aku
rasa disiksa secara pelan-pelan boleh dianggap sebagai cara siksaan
yang cukup keji"
"Baik" kata Kho Beng sambil mengangguk.
"Mari kita siksa bajingan ini secara pelan-pelan ..... bersediakah
Chee toako membantu aku untuk melaksanakan siksaan ini?"
"Hamba siap melaksanakan perintah" buru-buru Chee Tay hap
menyahut. dengan cepat ia mencengkeram tubuh Ciu Bu ki dan
diseretnya menuju kehalaman luar. ciu Bu ki segera menjerit-jerit
seperti babi yang mau disembelih, jeritnya :
"Kho sauhiap .....kumohon kepadamu sudilah memandang diatas
usiaku yang sudah tua .....berilah ....... berilah kematian yang
secepatnya untukku?"
Kho Beng tertawa dingin :
"Heee ....heeee ....heeehh ....sebetulnya aku orang she Kho
enggan membunuh orang secara sembarangan, lebih-lebih tak
berharap menyiksa orang dengan cara yang demikian keji, tapi
terhadap bajingan tengik seperti kau, terpaksa aku mesti melanggar
kebiasaanku itu"
dengan cara yang kasar chee Tay hap telah menyeret Ciu Bu ki
keluar ruangan lalu mengikatnya diatas sebuah tiang besar,
kemudian dari pinggangnya ia mencabut keluar sebuah pisau belati
dan langsung ditusukkan keatas kakinya. setelah itu bentaknya
keras-keras :
"Tua bangka Ciu, dalam seratus tusukan berikut, bila aku telah
mencabut nyawa anjingmu, kumohon arwahmu dialam baka nanti
tak usah marah kepadaku."
Jeritan ngeri yang memilukan hati pun segera bergema susul
menyusul, suara nyaring keras tapi cukup mendirikan bulu roma
orang ....Kepada Beng Gi ciu, Kho Beng segera berbisik : "Mari kita
menunggu diluar saja"

Beng Gi ciu manggut-manggut, dengan membawa siau wan
bersama-sama keluar dari kuil. sementara itu jeritan ngeri yang
memilukan hati masih bergema susul menyusul. sAmbil
menghembuskan napas panjang Kho Beng segera berkata :
"Adik Ciu, apakah kau menganggap perbuatanku ini kelewat
kejam dan tidak berperikemanusiaan? "
Beng Gi ciu menggelengkan kepalanya berulang kali :
"Tidak Aku cukup memahami perasaanmu sekarang sebab
seandainya aku yang menghadapi masalah seperti dirimu kini
mungkin cara yang kupergUnakan akan jauh lebih kejam lagi."
Paling tidak sudah setengah jam lebih suara jeritan itupun dapat
didengar bahwa Chee Tay hap telah menusuk badannya paling tidak
seratus tusukan keatas, suara jeritan ngeri pun makin lama semakin
melemah dan bertambah lirih.
Akhirnya jerit kesakitan tersebut tak terdengar lagi, tampak chee
Tay hap dengan badan berlepotan darah berjalan keluar dari
halaman kuil dengan langkah lebar. sesudah memberi hormat
kepada Kho Beng katanya : "Hamba telah menyiksanya secara
pelan-pelan hingga akhirnya mampus."
"aku telah merepotkan chee toako saja," ujar Kho Beng sambil
manggut.
"Tahukah chee toako bahwa ciciku telah disekap pihak partai
kupu-kupu diatas bukit Cian san?"
sambil menggigit bibir chee Tay hap mengangguk, katanya cepat
:
" Hamba telah mendengarnya, hanya sayang kemampuan yang
hamba miliki terbatas sekali sehingga tak mungkin bisa menolong
nona untuk lolos dari bahaya, pagi tadi ketika hamba bertemu
dengan unta sakti Thio locianpwee, kami pun sempat membahas
persoalan ini, namun Thio locianpwee merasa dalam persoalan ini
tak boleh mengambil tindakan gegabah karena belum mengetahui
dimanakah majikan muda berada, itulah sebabnya Thio locianpwee
merasa lebih baik kekuil siau lim si serta menghadiri pertemuan
puncak para jago"
"Lantas kemanakah chee toako hendak pergi sekarang?" tanya
Kho Beng kemudian.
"Kemana majikan muda hendak pergi, sudah sepantasnya bila
hamba mengikutimu" sahut chee Tay hap segera.

Tapi dengan cepat Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang
kali, katanya : "Tidak usah, lebih baik kau pun berangkat pergi ke
siau lim si"
"Apakah majikan muda tak akan pergi kesana?"
"Terus terang saja kukatakan kepada Chee toako, saat ini aku
justru hendak berangkat kebukit Cian san"
chee Tay hap menjadi amat terperanjat, serunya gelisah :
"Bukankah bukit Cian san merupakan markas besar partai kupukupu
saat ini? Bila majikan muda berangkat kesana dengan kekuatan
yang begitu minim, bukankah keselamatan jiwamu jadi terancam?"
"Aku sudah beberapa kali mendapat penemuan aneh, ilmu silatku
telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, berbicara menurut
kemampuanku sekarang, rasanya ketua partaikupu-kupu Ui Sik kong
pun sudah bukan tandinganku lagi, apalagi keberangkatanku kesana
kali ini bukan cuma seorang diri ...."
Kejut dan girang chee Tay hap segera berseru :
"Ooooh .... Thian benar-benar maha pengasih, tentunya .....
tentunya majikan muda hendak pergi kesana bersama-sama nona
Beng, bukan?"
"Tapi ..... tapi bolehkah hamba turut serta?" Buru-buru Kho Beng
menjelaskan :
"Selain .... nona Beng, keturunan dari Bu khek sian dan Thian lui
sian yakni Thian serta oh locianpwee pun akan bergabung dengan
diriku disitu, oleh sebab itulah kuanjurkan kepada Chee Tay hap agar
bergabung saja dengan orang-orang Siau lim si"
Hampir menjerit tertahan, Chee Tay hap saking kagetnya, ia
berseru kemudian :
"Ooooh ....jadi ahli waris dari tiga dewa pun telah turun kembali
kedalam dunia persilatan? Waaah ..... ini kan berarti saat
tertumpasnya partai kupu-kupu sudah hampir tiba."
Sesudah memandang sekejap sekeliling tempat itu, kembali
tanyanya : "Lantas mana Thian dan oh locianpwee?"
Kho Beng tertawa :
"Kedua orang tua tersebut tidak berada disini, tapi dia berjanji
akan bertemu dengan kami dibelakang bukit Cian san pada
kentongan kedua malam nanti, karenanya aku harus buru-buru
menyusulnya."

Tampaknya Chee Tay hap pun sudah menyadari bahwa tak
mungkin bagi dirinya untuk turut hadir dalam suasana seperti ini,
maka diapun tidak mendesak agar dirinya diikutsertakan.
setelah memperhatikan sekejap keadaan disana, diapun berkata :
"sekarang sudah hampir mendekati kentonganpertama, padahal
jarak dari sini sampai dibukit Cian san masih lima puluhan li, majikan
muda harus segera berangkat"
setelah menanyakan arah bukit Cian san yang benar, Kho Beng
berkata lagi sambil menghela napas :
"chee toako, kita sampai berjumpa lagi dilain waktu"
"Tunggu sebentar majikan muda" seru Chee Tay hap tiba-tiba
dengan suara cemas. "chee toako masih ada urusan apa lagi?"
" Hamba akan menuruti perintah majikan muda untuk berangkat
ke siau lim si, tapi apa yang mesti kuucapkan kepada mereka setelah
bertemu dengan Thio locianpwee sekalian" Tanpa ragu-ragu Kho
Beng berkata :
"Katakan saja aku bersama Thian dan oh Cianpwee serta .....
nona Beng sekalian telah berangkat kebukit Cian san, mungkin
dalam waktu dekat kami pun akan menyusul ke siau lim si"
"Hamba akan mengingat baik-baik pesan ini" kata Chee Tay hap
kemudian dengan sikap menghormat.
Kho Beng segera menjura :
"Chee toako, baik-baiklah menjaga diri"
Tanpa banyak berbicara lagi, bersama Beng Gi ciu serta siau wan
berangkatlah mereka meninggalkan tempat tersebut.
Memandang bayangan punggung Kho Beng sekalian hingga
pergijauh, Chee Tay hap baru bergumam dengan wajah agak emosi
: "Thian benar-benar maha adil ...... akhirnya ....."
Baru saja dia hendak meningalkan tempat tersebut, mendadak
tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu seorang
kakek berbaju hijau telah muncul dihadapannya tanpa menimbulkan
sedikit suara pun.
dengan perasaan terkejut, Chee Tay hap segera membentak :
"Siapa kau ?"
Kakek berbaju hijau itu tersenyum, jawabnya : "Aku Liong hoa
sinkun"
Baru sekarang chee Tay hap dapat melihat raut wajah kakek
berbaju hijau itu dengan jelas.

Tampak mukanya penuh keriput, seharusnya dia berusia paling
tidak tujuh puluh tahunan keatas, namun rambutnya yang panjang
dan terurai sebahu justru berwarna hitam pekat, bagian bahunya
licin dan bersih, tanpa selembar jenggotpun, ditambah lagi
perawakan tubuhnya pendek lagi ceking sehingga membuat orang
susah untuk menebak laki-laki atau perempuankah orang ini.
Tapi yang paling menonjol adalah sebilah kipas baja yang terselip
diatas bahunya, jelas benda itu merupakan senjata andalannya.
Ketika Chee Tay hap sudah melihat dengan jelas raut wajah
otang itu, diam-diam ia berpikir :
"orang ini bermata tikus, berhidung elang sudah pasti bukan
tampang seorang manusia baik, lebih baik aku jangan
mengusiknya." Berpikir demikian, ia segera berkata sambil tertawa
paksa.
"sayang sekali pengetahuanku amat picik sehingga belum pernah
mendengar nama besar anda ..... maaf, aku tak dapat menemanimu
terlalu lama." Liong hoa sinkun tersenyum, selanya : "Harap cuangcu
tunggu sebentar"
"Anda masih ada petunjuk apa lagi?" tanya Chee Tay hap dengan
perasaan bergetar keras.
Liong hoa sinkun tertawa misterius.
"Bukankah kau yang bernama saudagar racun berkaki sakti Chee
Tay hap?" Chee Tay hap tertegun sebentar, kemudian jawabnya
cepat :
"Yaa betul, aku memang chee Tay hap tapi, dari mana anda bisa
mengetahui namaku?"
Mendadak Liong hoa sinkun melepaskan senjata kipasnya, lalu
sambil digoyangkan pelan-pelan ia berkata lagi sambil tertawa :
" Walaupun aku adalah orang gunung namun hatiku merisaukan
keselamatan umat persilatan, karena itu tak sedikit persoalan dunia
persilatan yang kuketahui"
Biarpun chee Tay hap merasa tak habis mengerti namun diapun
enggan banyak berbicara, dengan cepat-cepat dia menyela : "Anda
betul-betul dewa dari bumi."
Sesudah berhenti sejenak. sengaja dia memperhatikan sejenak
keadaan cuaca lalu berkata lagi :
"Waktu sudah siang, aku benar-benar tak dapat banyak berbicara
lagi denganmu"

"Kalau memang saudara Chee benar-benar begitu repot, tentu
saja aku hanya bisa mengatakan selamat tingal" kata Liong hoa
sinkun sambil tertawa hambar. chee Tay hap segera menjura
kemudian beranjak pergi dari sana.
Namun belum jauh dia melangkah, tiba-tiba saja kepalanya
terasa amat pusing, pandangan matanya berkunang-kunang dan
kakinya terasa lemas, belum sampai lima langkah tubuhnya sudah
roboh terjungkal keatas tanah.
Liong hoa sinkun tertawa terbahak-bahak dengan cepat dia
menghampiri Chee Tay hap sambil tegurnya dengan suara dalam :
"SAudara Chee, kenapa kau? Bukankan kau nampak segar bugar,
kenapa dalam waktu singkat telah roboh terjungkal?"
Chee Tay hap menggigit bibir kencang-kencang sepasang
matanya melotot penuh amarah, sudah jelas dia telah mengerti
bahwa semuanya ini merupakan hasil permainan busuk dari Liong
hoa sinkun.
Namun berada dalam keadaan seperti ini ia tak sanggup
mengucapkan sepatah katapun, akhirnya matanya terpejam rapat
dan ia jatuh tak sadarkan diri
Liong hoa sinkun segera menyimpan kembali kipasnya dan
diselipkan kebelakang bahu, sementara itu terdengar suara desingan
angin tajam berkelebat lewat, tahu-tahu sesosok bayangan manusia
telah muncul kembali ditempat tersebut, orang itu tak lain adalah
ketua partai kupu-kupu, Ui sik kong.
Kepada Liong hoa sinkun segera serunya sambil tertawa gembira
: "Kepandaian sinkun betul-betul luar biasa."
"Ciangbunjin terlalu memuji" sahut Liong hoa sinkun sambil
tertawa bangga. setelah memutar biji mata tikusnya, dia berkata lagi
:
" Hamba dan ciangbunjin harus secepatnya kembali kebukit Cian
san, dalam persoalan ini kita mempersiapkan diri dengan sebaikbaiknya."
"Terserah kepada sinkun bagaimana akan mengatasi persoalan
selanjutnya " kata Ui sik kong.
"Dalam soal kemampuan terus terang saja aku mempunyai
keyakinan yang besar, persoalannya apakah Chee Tay hap bisa
memberikan manfaat bagi kita." Ui sik kong sebera tertawa.
"Biarpun chee Tay hap adalah orang yang kurang suka berbicara,
namun menurut apa yang kuketahui, ia masih dapat merebut

kepercayaan si Unta sakti Thio Ciong lan, sedangkan si bungkun
Thio itu dapat pula merebut kepercayaan si Phu sian sikeledai
gundul itu."
Liong hoa sinkun sebera tertawa tergelak.
"Haaaahh ..... haaahhh .... haahhh .... , asal dapat meraih
kepercayaan dari Phu sian si gundul itu sama artinya menguasai
seluruh umat persilatan didunia ini, nampaknya kawanan jago silat
dari pelbagai partai lain akan segera tertumpas ditangan
ciangbunjin." Mendadak Ui sik kong menukas :
"Tapi aku rasa tindakan kita ini bagaikan melukis harimau tidak
berhasil, andaikata kita bisa memperoleh sebuah benda
kepercayaannya, sudah pasti Thio bungkuk serta Phu Sian si kledai
gundul sekalian akan mempercayainya seratus persen."
Liong hoa sinkun tertawa misterius, mendadak ia mengeluarkan
sebuah benda dari sakunya dan diangsurkan kedepan sambil berkata
:
"Benda ini berhasil kuambil dari leher Kho Beng si bajingan cilik
itu, coba kau periksa apakah bisa kita pakai?"
Ui Sik kong menerimanya serta diperiksa sejenak. kemudian
serunya dengan girang :
"Tampaknya benda ini adalah lencana naga kemala hijau
miliknya, bila kita pergunakan benda ini sebagai tanda pengenal aku
pikir usaha kita pasti akan sukses." sambil mengembalikan benda itu,
ia bertanya lagi dengan nada tak habis mengerti : " Kapankah sinkun
bisa mendapatkan benda itu?"
" Kecuali sewaktu mereka beristirahat di dusun pit keh ceng,
mana aku punya kesempatan?" sahut Liong hoa sinkun sambil
tertawa.
Ui Sik kong semakin terkejut bercampur gembira, ujarnya lagi
cepat :
" Waaah kepandaianmu benar-benar amat hebat, padahal
menurut pengamatanku sendiri, sinkun toh tak pernah
mendekatinya, dengan cara apa kau mencurinya?" Liong hoa sinkun
semakin bangga lagi, dengan cepat dia berkata :
"Terus terang saja ciangbunjin bila hamba berniat mendapatkan
sesuatu dari sakunya, maka asal aku dapat mendekati sampai jarak
satu depa, betapapun rapatnya dia menyembunyikan benda
tersebut, hamba masih tetap dapat memperolehnya bahkan
perbuatanku ini tak pernah meleset.

Ui sik kong menjadi gembira setengah mati, katanya kemudian.
"Bila mempunyai seorang pembantu seperti kau rasanya aku
lebih gembira daripada mempunyai ratusan jago lihai,
kemampuanmu benar-benar luar biasa" Kemudian setelah berhenti
sejenak kembali serunya. "Cepat kau tunjukkan kebolehanmu"
"Hamba turut perintah."
dengan cepat dia mencengkeram tubuh Chee Tay hap kemudian
menampar mukanya sampai belasan kali, tamparan yang begitu
keras itu seketika membuat Chee Tay hap tersadar kembali dari
pingsannya.
Tampak dia menggerakkan matanya dan berseru tertahan
Namun dari balik mata tikus Liong hoa sinkun tahu-tahu telah
memancar keluar dua gulungan cahaya hijau yang mengawasi wajah
Chee Tay hap lekat-lekat, bersamaan waktunya sepasang tangan
dengan kesepuluh jarinya bergerak tiada hentinya dimuka Chee Tay
hap. Suatu kejadian yang amat aneh segera berlangsung.
Chee Tay hap yang semula tersadar kembali dari pingsannya
mendadak jatuh tertegun dan duduk melongo setelah bertemu
dengan sorot mata serta gerakan sepuluh jari tangannya itu, seakanakan
terdapat segulung kekuatan iblis yang tak berujud
membuatnya tak bergerak sama sekali, sorot matanya pun seperti
terhisap oleh cahaya hijau dari balik mata lawan.
sebaliknya Liong hoa sinkun pun sama sekali tidak berkedip. dia
mengawasi terus wajah lawannya lekat-lekat.
Kurang lebih setengah peminuman teh kemudian, dari sakunya
dia baru mengambil keluar sebutir pil berwarna merah dan diamdiam
dijejalkan kemulut Chee Tay hap.
Bagaikan orang terkena hipnotis saja, tanpa sadar dan tanpa
disuruh chee Tay hap membuka mulutnya menelan pil tersebut.
" Chee Tay hap. aku adalah Kho Beng, tahukah kau?" kata Liong
hoa sinkun kemudian dengan nada girang.
Buru-buru Chee Tay hap menjawab :
"Majikan muda, apa yang hendak kauperintahkan?"
"Ingat baik-baik, berita ini sangat penting, kau harus segera
menyampaikan ke siau lim si."
"Baik majikan muda"
"Bila bertemu dengan Phu sian sangjin serta Thio bungkuk
sekalian, sampaikan pesan pentingku ini , katakan aku telah berhasil
mendapat tahu sebuah rencana keji dari Ui sik kong, suruh Phu sian

sangjin dengan membawa segenap jago dari pelbagai partai agar
datang berkumpul diselat Pek hong sia dibukit Hu goa san pada
tanggal tujuh belas bulan ini, aku dan keturunan tiga dewa akan
menyusul disitu menjelang malam tanggal tujuh belas, akan kuajak
mereka untuk berunding suatu masalah besar. Nah, kau masih
ingat?"
"Hamba mengingatnya" sahut Chee Tay hap kaku.
" Entah peristiwa apapun yang kau alami ditengah jalan, jangan
sekalipun kau tunda perjalanan mu, mengerti?"
Bersambung ke jilid 41
Jilid 41
"Hamba mengerti"
Liong hoa sinkun segera menyodorkan lencana naga kemala hijau
itu ketangannya sambil menambahkan :
"Bawalah serta tanda pengenalku ini, bilamana perlu tunjukkan
kepada mereka agar percaya dengan perkataanmu ini."
chee Tay hap menerimanya dan segera disimpan kedalam
sakunya dengan hati-hati sekali, katanya kemudian : "Apakah hamba
boleh pergi?"
"Boleh, kau boleh pergi sekarang" kata Liong hoa sinkun sambil
tertawa.
chee Tay hap segera bangkit berdiri dan menjura dalam-dalam,
katanya :
"Semoga majikan muda menjaga diri baik-baik, hamba hendak
mohon diri lebih dulu"
Dengan langkah lebar dia segera beranjak meninggaikan tempat
tersebut, tak lama kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan mata.
Mengawasi bayangan punggung chee Tay hap yang menjauh, Ui
Sik kong tak dapat menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahakbahak
: "IHaaahh .... haaahh .... haahhh bagus, bagus sekali"
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi : "Mengapa chee
Tay hap bisa menganggap diri sinkun sebagai Kho Beng?"
"Disinilah letak keampuhan ilmu -menguasai sukma menggeser
pikiran- yang kumiliki, walaupun aku yang berada dihadapannya,
namun apa yang terlihat dan apa yang terdengar olehnya justru
wajah serta suara Kho Beng. otomatis dia akan menyebutku sebagai
majikan mudanya."

"Tapi orang yang terkena pengaruh ilmumu itu apakah
mempunyai sikap serta keadaan yang berbeda dengan orang lain?
Atau mungkin lambat laun pikiran serta kesadarannya akan pulih
kembali?" Liong hoa sinkun tertawa :
"seandainya orang yang terkena pengaruh ilmuku adalah Kho
Beng dan bukan chee Tay hap. maka kemungkinan besar ilmu ku tak
akan mendapatkan hasil yang memuaskan, sebab bagi seorang yang
memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan
keatas, dia memiliki mental yang sangat tangguh serta susah
dipengaruhi, berbeda sekali dengan chee Tay hap. justru manusia
sebangsa dialah merupakan sasaran yang paling ideal, mungkin
sampai matipun dia tak akan mengetahui secara pasti akan duduk
persoalan yang sebenarnya pada malam ini." Ui sik kong kembali
bersorak gembira :
"Inilah berkah nasibku yang baik, asal rencana kita berhasil,
maka jago-jago lihai dunia persilatan paling tidak akan menderita
kehancuran sebesar tujuh puluh persen."
"Tapi Ciangbunjin jangan lupa kita masih mempunyai sebuah
rencana yang lain," kata Liong hoa sinkun sambil tertawa.
"Bahwa rencana itu kurasa jauh lebih penting lagi, sebab yang
menjadi sasaran pembantaian kita adalah keturunan dari tiga dewa
serta Kho Beng kakak beradik"
Paras muka ui Sik kong segera berubah menjadi amat serius,
tampak dia menggertak gigi kencang-kencang seraya berseru :
"Rencana kita itu hanya boleh berhasil, tak boleh gagal....., hayo
berangkat"
Tampak dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat dan tak
lama kemudian lenyap dibalik kegelapan sana.
ooooooo
Awan gelap menyelimuti bukit Cian san, angin barat yang
kencang membawa air hujan membuat pemandangan indah disekitar
tempat itu tertutup oleh suasana redup, Malam amat pekat, waktu
sudah menunjukkan kentongan kedua.
Mendadak muncul tiga sosok bayangan manusia dibela kang
lembah puncak bukit Cian san.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang itu amat
sempurna, gerak-gerik mereka enteng dan sama sekali tidak
menimbulkan sedikit suara pun.

Begitu memasuki lembah bukit, dengan cepat mereka menyelinap
kebalik batuan-batuan besar.
Ketiga orang tersebut memang tak lain adalah Kho Beng, Beng Gi
ciu serta siau wan.
saat itu mereka bertiga sama-sama mengenakan jas hujan,
namun di bawah rintikan air hujan keadaan mereka nampak agak
mengenaskan.
Kho Beng nampak mengawasi sekejap sekeliling tempat itu,
meski tidak kelihatan rembulan dan bintang, namun ia dapat
menduga kalau kentongan kedua telah lewat. Maka dengan kening
berkerut, segera katanya kepada Beng Gi ciu :
"sayang waktu itu kita tak sempat berjanji dengan Thian dan oh
locianpwee akan bertemu dibagian yang mana dari lembah ini,
padahal coba kau lihat, lembah ini sangat luas, apalagi ditengah
malam yang hujan, bagaimana mungkin kita dapat saling
berhubungan?"
" Kau tak perlu risau." hibur Beng Gi ciu sambil tertawa,
"sekalipun tempat ini sangat luas, mereka pasti mempunyai cara
untuk menemukan jejak kita, kau tahu kepandaian yang dimiliki
kedua orang tua tersebut sangat luar biasa sekali"
Kho Beng tertawa getir.
"sekarang kentongan kedua sudah lewat, padahal janji mereka
adalah sebelum kentongan kedua, bukankah ...... ..,"
"Dalam hal ini tak dapat salahkan mereka," sela Beng Gi ciu
cepat.
"Tapi kitapun tak bisa disalahkan, mereka tak mengira kalau kita
akan meninggaikan mereka dengan begitu saja, sedang kita pun tak
menyangka kalau gara-gara tersesat dijalan akhirnya bertemu
dengan chee Tay hap"
"Maksud adik Ciu, mungkinkah kedatangan mereka berdua pun
agak terlambat?" tanya Kho Beng.
"Yaa, sudah pasti hal ini akan terjadi."
sesudah tertawa cekikikan, kembali dia melanjutkan :
"Empek oh adalah seorang yang getol minum arak, meskipun
empek Thian selalu bilang kalau minum tak boleh melewati takaran,
namun ia tak pernah mau menuruti nasehat. Aku rasa mereka pasti
tak akan menyangka kita bakal meloloskan diri dari pengamatannya,
sedang mereka pun merasa yakin kita tak akan lolos dari
pandangannya. Maka empek oh tentu akan membujuk empek Thian

agar minum berapa cawan arak lebih banyak. atas kejadian ini maka
paling tidak mereka akan minum selama dua jam lebih. Menanti
mereka menyadari kalau keadaan tak beres, sudah pasti empek
berdua akan mencari kita dimana-mana, akibatnya paling tidak
mereka harus membuang waktu selama satu jam lagi. Nah, coba kau
hitung sendiri, apakah mereka tak bakal datang terlambat?"
"Aku rasa perbuatan kita agak kelewat batas, paling tidak tentu
akan dimarahi oleh mereka berdua." kata Kho Beng dengan kening
berkerut kencang. Beng Gi ciu segera tertawa.
"siapa suruh mereka permainkan kita terlebih dahulu, kenapa
harus takut?"
sementara pembicaraan masih berlangsung, mendadak dari
kejauhan situ nampak bayangan manusia berkelebat lewat. Buruburu
Beng Gi ciu berbisik :
"Itu mereka sudah datang, mari kita mempermainkan mereka
sekali lagi." Tapi dengan cepat Kho Beng menarik tangan Beng Gi ciu
sambil berbisik lirih. "Jangan bertindak gegabah, aku lihat gelagat
sedikit kurang beres."
Beng Gi ciu segera dibuat tertegun pula, ternyata yang datang
hanya seorang, walaupun berada dalam hujan gerimis dan kabut
yang tebal namun dapat terlihat bahwa orang tersebut bukan Thian
Cun yang ataupun oh Kui sam. Dengan suara lirih Kho Beng berbisik
:
"orang itu bukan Thian atau oh locianpwee, biasanya hanya
orang dari partai kupu-kupu yang akan berkeliaran dibelakang
lembah bukit Cian san." Beng Gi ciu mengangguk membenarkan.
"Yaa, hal ini tak mungkin diragukan lagi, perlukah kita bekuk
dirinya?" Kho Beng berpikir sebentar, lalu berkata :
" Lebih baik adik Ciu menunggu disini saja, biar aku yang pergi
membekuknya." Beng Gi ciu segera mengangguk.
Dengan cepat Kho Beng melompat keluar dari tempat
persembunyiannya, bagaikan sukma gentayangan secara diam-diam
dan tanpa menimbulkan sedikit suara pun dia mendekati orang
tersebut.
selisih jarak kedua belah pihak cuma beberapa kaki, maka dalar^
sekali lompatan saja Kho Beng telah mencapai belakang tubuhnya,
dengan cepat telapak tangan kanannya menyambar kedepan dan
langsung mencengkeram bahunya.

Walaupun orang itu bersikap seakan-akan tidak menyadari akan
kehadiran Kho Beng dibelakang tubuhnya, namun dikala kelima jari
tangan Kho Beng hampir menyentuh bahunya tiba-tiba saja dia
menjatuhkan diri berguling kesamping.
Tindakan lawan ini sama sekali diluar dugaan Kho Beng, sebab
ketenangan orang tersebut dalam menghadapi ancaman betul-betul
luar biasa.
sementara dia masih tertegun, orang itu sudah mengayunkan
tangannya kedepan, dua genggam senjata rahasia dengan ilmu -
Hujan bunga memenuhi langit- segera dilontarkan kearahnya.
Dua genggam senjata rahasia berarti jumlahnya mencapai lima,
enam puluh batang, bukan saja bentuknya lembut seperti jarum
bahkan kawasan yang berada dibawah lingkungan ancaman senjata
rahasia pun mencapai dua kaki persegi.
Dalam jarak serangan sedemikian dekatnya, ini betul-betul
merupakan suatu ancaman yang sukar dihindari.
Didalam terperanjatnya buru-buru Kho Beng mengerahkan hawa
kh lekangnya untuk melindungi badan, bersamaan waktunya dia
mendorong sepasang telapak tangannya kedepan. "Triiiing .....
traaaanggg ..... triiingg ...... traaanggg"
senjata rahasia tersebut jatuh berguguran keatas tanah dengan
menimbulkan suara dentingan nyaring. Bersamaan itu pula .....
"Blaaaammm "
orang itupun termakan oleh tenaga dorongan Kho Beng hingga
roboh terjungkal keatas tanah.
Waktu itu Kho Beng sudah bermandi keringat dingin saking
terkejutnya, untung sekali tenaga dalamnya telah mencapai
tingkatan yang amat sempurna, walaupun dia telah menghimpun
hawa khiekangnya secara terburu-buru namun kekuatan yang
terhimpun sudah cukup untuk membendung serangan dari luar.
Biarpun demikian tak urung ujung bajunya tertancap pula oleh
dua batang senjata rahasia, sewaktu diambil dan dilihat ternyata
bentuknya tak jauh berbeda sekali dengan jarum pohon siong,
hanya saja ujungnya yang tajam berwarna biru, hal ini membuktikan
bahwa senjata rahasia tersebut telah dipolesi dengan racun jahat.
Dengan gemas Kho Beng membanting senjata rahasia itu keatas
tanah, kemudian serunya dengan penuh amarah :
"Benar-benar seorang bajingan tengik yang licik dan berhati amat
keji"

sementara itu Beng Gi ciu serta siau wan telah melompat keluar
dari tempat persembunyiannya, dengan penuh rasa cemas dan
gelisah Beng Gi ciu berseru : "Engkoh Beng, kau tidak apa-apa,
bukan?"
"Hmmm, permainan busuk semacam ini belum akan bisa berbuat
banyak terhadapku." jawab Kho Beng sambil tersenyum.
sementara itu orang tadi sudah terkapar diatas tanah dengan
menderita luka dalam yang cukup parah, tenaga getaran yang
terpancar dari balik tangan Kho Beng benar-benar amat tangguh.
Kini orang tersebut berbaring diatas tanah dan tak sanggup
merangkak bangun kembali.
Kho Beng segera maju mendekatinya sambil menendang
tubuhnya hingga terbalik, namun setelah mengamati wajahnya
dengan seksama, seketika pemuda kita dibuat tertegun.
Rupanya orang itu tak lain adalah komandan sin, orang yang
pernah mengawal Kho Beng dari kota Tong sin menuju kekebun Kiok
wan. sambil tertawa dingin, pemuda kita segera mengejek.
"oooh rupanya si pedang geledek sakti sin Cu beng yang
termashur dalam dunia persilatan dan sekarang menjadi pelayan
kaum iblis, kenapa dalam kenyataannya kemampuanmu tak mampu
menahan sebuah gempuranpun?"
sin cu beng memaksakan diri untuk menghembuskan napas
panjang, lalu dengan sedikit terengah katanya :
"Benar-benar lain dulu lain sekarang, jangan kau anggap
kepandaianku yang tak becus, melainkan ilmu silat andalah yang
telah mengalami kemajuan yang sangat pesat." Kho Beng
mendengus dingin.
"Hmmm, persoalan ini lebih baik tak usah disinggung kembali,
aku hanya pingin bertanya kepadamu kenapa kau berniat
mencelakai jiwaku dengan cara yang begitu keji?"
sin Cu beng berpikir sebentar, kemudian menjawab :
"Bila dua pasukan saling bertarung, masing-masing pihak berhak
menggunakan cara apapun untuk mengalahkan musuhnya, bila
menggempurmu tadi berhasil dengan sukses dan aku dapat
membunuh kau, bukankah dihadapan siancu serta ciangbunjin aku
bisa menunaikan sebuah pahala besar?"
"Tapi kau tentunya sudah membayangkan bukan, apa akibatnya
bila gagal total?"
"Anggap saja memang nasibku yang jelek."

"Hmmm, bajingan tengik," umpat Kho Beng dengan marah.
"Tampaknya kau tak akan sadar sampai mati, mengapa sih kau
bersikeras menjadi pembantu kaum iblis dan enggan menyesal?" sin
Cu beng menghela napas panjang.
"Aaaai, aku tak ingin memberi banyak penjelasan, bagaimanapun
juga aku toh sudah kau tawan, berarti selembar nyawaku telah
menjadi milikmu, biar mau dibunuh ataupun dicincang, aku sin Cu
beng tak bakal berkerut kening."
"Ehmmm, kau memang tak malu menjadi seorang lelaki sejati,
sayang kau telah salah memilih majikan"
Kemudian setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan :
"aku tidak berniat menghabisi nyawamu secara sungguhan, asal
kau bersedia memberi keterangan tentang beberapa persoalan
kepadaku, akan kubebaskan komandan sin untuk pergi sekehendak
hatimu"
sambil tertawa getir, sin Cu beng menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya :
"Jangan lagi aku sin Cu beng telah menderita luka, sekalipun
belum terluka pun aku orang she sin tak ada rencana untuk
melarikan diri"
Berbicara sampai disitu, dia segera mengayunkan tangannya dan
dihantamkan keatas ubun-ubun sendiri
Tapi Kho Beng bertindak lebih cepat, dua desingan angin tajam
berkelebat lewat, tahu-tahu jalan darah ciang keng hiat dibahu kiri
kanan sin cu beng telah tertotok secara telak. akibatnya sepasang
lengan itu menjadi lumpuh dan tak berguna lagi. Mendadak Beng Gi
ciu bertanya :
"Apakah aku mempunyai niat untuk mengorek keterangan dari
mulutnya?" Dengan suara dalam sahut Kho Beng :
"Biarpun kedudukan dia ini didalam partai kupu-kupu tidak terlalu
tinggi, namun banyak masalah tak dapat mengelabui dirinya,
padahal sebentar lagi kita akan memasuki daerah berbahaya, tentu
saja paling baik kalau bisa mengorek keterangan dari mulutnya."
"Kalau memang begitu hanya ada satu cara, yaitu menyiksanya
dengan kekerasan, aku percaya asal manusia masih terdiri dari
darah dan daging tak nanti dia tak akan berbicara."
Baru saja Kho Beng hendak menjawab, mendadak terdengar lagi
suara ujung baju yang terhembus angin berkumandang datang.

Beng Gi ciu pun mendengar juga suara desingan tersebut karena
suara tadi berasal dari berapa kaki dibelakang mereka berdua,
sekalipun berada ditengah hujan gerimis, namun suara tersebut
masih tetap terdengar dengan jelas sekali.
Dengan suatu gerakan cepat Kho Beng menotok lima buah jalan
darah penting ditubuh sin cu beng sehingga membuat lawannya
tergeletak bagaikan sesosok mayat kaku, kemudian mereka berdua
bersama siau wan menyembunyikan diri kebalik batu besar. Tak
lama kemudian Terdengar suara langkah yang amatpelan bergema
datang, lalu terlihat ada dua sosok bayangan manusia melayang
turun ditempat tersebut.
Ketika Kho Beng mencoba untuk mengintip dari balik kegelapan,
tersiraplah darah panas dalam dadanya, hawa amarahnya segera
berkobar-kobar dan serasa mau meledak.
Ternyata orang yang baru datang adalah Cun hong Lengcu Jin
cun serta Hoa im Lengcu Li sian soat.
Mereka berdua tidak disertai dayang-dayangnya, gerak gerikpun
amat lincah. sementara itu terdengar Cun hong Lengcu berkata :
"Adikku, mungkin telingamu ada penyakit?"
"Toaci, apabila perhatianmu tidak terpencar sama sekali, sudah
pasti akan kau dengar bahwa dari sini ada orang sedang bercakapcakap."
sahut Li sian soat dengan suara dalam.
"Hmmm, siapa bilang pikiranku terpencar?" dengus Cun hong
Lengcu Jin cun sambil mendengus,
"Kau anggap saat ini adalah saat apa? Mana mungkin aku masih
berkesempatan untuk memikirkan persoalan yang lain."
"Tapi , barusan aku benar-benar tidak mendengar suara apa
saja."
Biarpun berkata demikian, namun tangannya meraba gagang
pedangnya serta mencabutnya keluar dari sarung. Li sian soat
sebera tertawa dingin.
"Hmmmm, tapi jelas kudengar ada orang sedang berbincangbincang."
"Kalau begitu mati kita lakukan penggeledahan, bilamana perlu
kita lepaskan tanda bahaya."
Mendadak Li sian soat berseru dengan suara dalam :
"Toaci, cepat lihat bukankah dia ...... dia adalah komandan sin?"

Ternyata telah menemukan tubuh sin cu beng yang tergeletak
kaku diatas tanah. "Waaah celaka dia sudah mati" jerit Cun hong
Lengcu setengah kaget. "Aku ......,"
" Cepat kita periksa" tukas Li sian soat, "Siapa tahu .....,"
sembari berbicara, mereka berdua segera meluruk kedepan dan
mendekati sin cu beng. setelah diperiksa berapa saat, Li sian soat
berseru :
"Dia belum mati, hanya menderita sedikit luka, agaknya sudah
tertotok jalan darahnya oleh seseorang."
Cun hong Lengcu segera menghembuskan napas panjang,
katanya kemudian :
"Terima kasih langit, terima kasih bumi, cepat diperiksa jalan
darah apa saja yang tertotok. kemudian cepat bebaskan."
Namun sebelum perkataan itu selesai diutarakan, mendadak
terdengar seseorang menyambung nada dingin :
"Lengcu berdua tak usah repot-repot, aku Kho Beng telah
menjaga keselamatannya"
"Haaahh?"
Kedua orang Lengcu itu bersama-sama menjerit kaget lalu
secepat kilat membalikkan badannya.
Tentu saja bayangan tubuh Kho Beng, Beng Gi ciu serta siau wan
segera muncul dihadapan mata kedua orang Lengcu tersebut,
seketika itu juga paras muka kedua orang itu berubah hebat,
tubunya ikut gemetar keras. sambil tertawa dingin, Kho Beng
berkata lebih jauh :
"Malam ini sungguh kebetulan sekali, tak disangka aku bakal
bersua dengan Lengcu berdua."
Cun hong Lengcu mengedipkan matanya berulang kali, tiba-tiba
katanya pula sambil tersenyum,
"Kho kongcu, kami sendiripun tak menyangka kalau malam ini
begini kebetulan. Tempo hari aku Cun hong Lengcu toh cukup baik
melayanimu, mengapa kau bersikeras hendak meninggalkan kami?"
sebaliknya paras muka Li sian soat telah berubah menjadi pucat
pias seperti mayat, mulutnya bungkam dalam seribu bahasa.
Kho Beng hanya tertawa dingin tanpa menjawab, pikirnya :
"Siluman perempuan ini benar-benar tak tahu malu, entah apa
lagi yang hendak diucapkan olehnya?"
Tiba-tiba Cun hong Lengcu maju tiga langkah kedepan dengan
langkah lemah gemulai, kembali katanya sambil tersenyum :

"Kho kongcu, aku harus menyampaikan selamat kepadamu,
kudengar ilmu silatmu telah mencapai tingkatan yang sempurna
hingga ciangbunjin sucouw kami pun hampir bukan tandinganmu
lagi"
"Hmmm, tajam benar pendengaranmu" dengus Kho Beng sinis.
Cun hong Lengcu segera mengalihkan sorot matanya kewajah
Beng Gi ciu berdua, lalu tanyanya lagi.
"Siapa sih kedua orang nona ini?"
Beng Gi ciu mendengus dingin, cepat dia melengos kearah lain.
Kho Beng segera berpikir sebentar, lalu katanya :
"Memberitahukan kepadamu juga tak ada salahnya, dia adalah
keturunan keempat dari Kim ka sian, pemimpin tiga dewa, nona
Beng beserta dayangnya siau wan." Buru-buru Cun hong memberi
hormat.
"ooooh, sudah lama kudengar akan nama besarmu, beruntung
sekali kami kakak beradik dua orang dapat bersua dengan keturunan
tokoh termashur pada malam ini, nona Beng ilmu silatmu tentu amat
tangguh dan terhitung jagoan lihai dari dunia persilatan?" Kho Beng
tertawa dingin.
"Yang lain tak usah disinggung, cukup dengan mengandalkan
ilmu jari Tong Kim cinya, biarpun kalian sudah kabur sejauh lima
puluh kaki, ia masih mampu menciptakan berapa buah lubang luka
ditubuh kalian."
Pucat pias paras muka Cun hong lengcu setelah mendengar
perkataan itu, tapi kembali katanya sambil tertawa merdu.
"Padahal diantara kita tak pernah mempunyai ganjalan apapun,
meski gara-gara kitab pusaka Thian goan bu boh kami pernah
berurusa dengan mu, hal itupun hanya dikarenakan perintah dari
suhu dan sucowku, jadi sesungguhnya diantara kita sendiri tak
pernah ada dendam apapun."
Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali ia berkata :
"Lagipula kitab pusaka Thian goan bu boh sudah terjatuh
ketangan Kho kongcu dan suhu kami gagal untuk mendapatkannya
kembali."
"Tak usah banyak bicara lagi, aku ingin menanyakan dua
persoalan pokok kepada kalian berdua," tukas Kho Beng dengan
suara dalam.

"Aaaah mana, mana, silahkan Kho kongcu mengajukan
pertanyaan, asal kami berdua mengetahuinya, tentu akan kami
terangkan dengan sejelas-jelasnya."
"Asal kalian bersedia mengadakan kerja sama denganku, aku Kho
Beng pun tak bakal mencabut nyawa kalian berdua."
"Bila aku benar-benar sampai berhianat pada perguruan sudah
pasti aku akan berbakti kepada Kho kongcu," kata Cun hong lengcu
sambil tertawa genit.
"Hmmm, dimanakah ciciku sekarang?"
"Ia berada diruang siksa dalam gua pengikat cinta, bahkan kedua
orang dayangnya Bwee hiang dan sin hong pun berada disana, Kho
kongcu mengenai persoalan cicimu itu, kami merasa amat menyesal
tapi sesungguhnya persoalan ini bukan ide kami sendiri tapi atas
perintah dari guru kami, jadi kami cuma melaksanakan perintah, Kho
kongcu kau tak boleh marah kepada kami."
sambil menggigit bibir Kho Beng bertanya lagi : "Siapa saja yang
menjaga ruang siksa itu?"
"Tak ada yang khusus menjaga ruangan itu," sahut Cun hong
lengcu tertawa,
"Asal Kho kongcu dapat menerobos masuk kedalam gua pengikat
cinta dan mengalahkan suhu serta sucouw, sudah pasti cicimu dapat
ditolong keluar."
"Apa yang sedang dilakukan Ui sik kong sekarang?"
"sucouw masih merawat lukanya didalam gua, malah kudengar
luka itu merupakan hasil karya Kho kongcu"
Dengan nada setengah percaya setengah tidak. Kho Beng
bertanya lebih jauh : " Lantas kalian hendak kemana sekarang?" Cun
hong lengcu tertawa terkekeh-kekeh:
"Kami hanya mendapat perintah untuk melakukan perondaan,
padahal tiada persoalan apapun, hanya saja kami tak mengira kalau
Kho kongcu bakal muncul disini." Tiba-tiba Beng Gi ciu menimbrung.
"Engkoh Beng, menurut pendapatku lebih baik tak usah ditanya
lagi."
"Kenapa?"
"Masa kau percaya dengan perkataannya?" tanya si nona sambil
tertawa.
"Aku memang rada curiga"

"Sewaktu berbicara biji mata mereka berkeliaran liar, katakatanya
semau hati sendiri, aku lihat ia sama sekali tak berbicara
secara jujur."
Buru-buru Cun hong lengcu berseru kepada Li sian soat yang
selama ini hanya membungkam :
"Ji moa y, cepat kau perlihatkan lencana untuk mengontrol bukit,
asal kita dapat membuktikan bahwa lencana tersebut asli, aku rasa
persoalan yang lain pun mereka akan percaya dengan sendirinya."
Kho Beng mendengus.
"Hmmm, aku sama sekali tak pingin memeriksa tanda lencana
apa segala."
sementara dia masih berbicara tiba-tiba tampak Li sian soat
mengayunkan tangannya.
Benar juga ditangannya memang menggenggam sebuah benda
dia seperti hendak melemparkan benda itu kearah Kho Beng,
padahal dalam kenyataannya hendak dilemparkan ketengah udara.
Beng Gi ciu mendengus dingin, mendadak dia melancarkan
sebuah serangan dengan jari tangannya.
serangan tersebut tak lain adalah serangan Tong kim ci ilmu
andalan Kim ka sian, bukan saja desingan angin serangannya amat
dahsyat dan lihai, lagipula kecepatan serta ketepatannya sangat
mengagumkan.
Tiba-tiba terdengar jerit mengaduh yang amat memilukan hati, Li
sian soat yang semula bersikap gagah, kini sudah terbungkuk sambil
memegangi pergelangan tangan sendiri.
Ternyata serangan yang dilancarkan Beng Gi ciu saat tadi
dilepaskan tanpa belas kasihan, desingan serangan jari tangan itu
seketika menembusi pergelangan tangan kanannya, sementara
sebatang panah berlubang tujuh terjatuh dihadapannya. sambil
tertawa dingin, Beng Gi ciu segera menjengek : "Inikah lencana
untuk mengontrol bukit?"
Berubah hebat paras muka Cun hong lengcu, tiba-tiba dia
melepaskan dua serangan berantai sambil serunya : "Cepat mundur"
Tanpa memperdulikan lagi rasa sakit pada pergelangan tangan
kanannya, Li sian soat melompat bangun lalu melarikan diri
menyusul dibelakang Cun hong lengcu.
"Hmmm, mau kabur kemana?"jengek Kho Beng dingin. Dengan
sekali lompatan ia segera menyusul kedepan.

Tapi sebelum sampai kabur sejauh dua puluh kaki, mendadak
terdengar cun hong lengcu dan Li sian soat telah berteriak kaget
menyusul roboh terjengkang keatas tanah. suara gelak tertawa yang
keras pun berkumandang memecahkan keheningan.
Mula-mula Kho Beng agak tertegun, namun setelah diperlihatkan
lagi, segera dikenalinya orang yang baru datang ternyata tak lain
adalal Thian cun yang serta oh Kui sam, sedangkan cun hong
Lengcu Jin cun dan Li sian soat sudah terkapar diatas tanah dalam
keadaan tertotok jalan darahnya. Buru-buru Kho Beng memberi
hormat sambil menyapa.
"cianpwee berdua ...."
Dengan penuh amarah dan mendongkol oh Kui sam berkaokkaok.
"Selama hidup belum pernah kami berdua jatuh dipecundangi
orang, tak disangka akhirnya kami dipecundangi juga oleh kalian."
"sudah, sudahlah" tukas Thian cun yang sambil tertawa,
"Sekarang bukan waktunya untuk menghumbar nafsu kerbau, lebih
baik masalah pokok dulu yang dibicarakan." Kemudian kepada Kho
Beng, katanya lagi : "Ada tiga orang sobat yang hendak mencarimu."
"Siapakah mereka?" tanya Kho Beng agak tertegun.
"Aku dengar mereka adalah sahabat karibmu, mungkin kau tak
akan pernah melupakan mereka."
sambil berkata ia segera menggapai kebelakang, sambil berseru :
" Kalian bertiga boleh keluar dari situ"
Diliputi perasaan tak habis mengerti, Kho Beng menengok
kedepan, tapi setelah mengetahui siapa yang datang, ia menjadi
kegirangan setengah mati, rupanya ketiga orang yang dimaksud
adalah Kim bersaudara. Dengan cepat Kim lotoa menjura seraya
menyapa : "Kho sauhiap. kau membuat kami rindu setengah mati"
"sebetulnya siaute sendiripun mempunyai rencana untuk
mengunjungi lembah hati buddha tak lama lagi," kata Kho Beng.
"sungguh tak disangka banyak masalah yang mendadak muncul
didepan mata ..... akibatnya."
Kim loji turut maju kedepan dan berseru sambil memberi hormat.
"Kami dengar Kho sauhiap telah mendapat jodoh, apakah ...."
Berbicara sampai disitu, sorot matanya segera dialihkan kewajah
Beng Gl Ciu
Kontan saja paras muka Beng Gl Ciu berubah merah jengah,
pelan-pelan ia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Adik ciu, cepat menjumpai Kim bersaudara," bisik Kho Beng
kemudian agak tergagap. Terpaksa Beng Gi Ciu memberi hormat
sambil berbisik : "Menjumpai tayhiap bertiga"
Buru-buru tiga bersaudara Kim membalas hormat, setelah
mengucapkan basa-basi, akhirnya Kho Beng pun bertanya.
"Mengapa kalian bertiga tidak mengikuti para jago yang lain pergi
ke Siau lim si?" Kim lotoa menjawab :
"Orang yang paling kukagumi adalah Kho sauhiap sekalipun kami
sadar bahwa kepandaian silat yang kami miliki sangat rendah dan
tak cukup untuk membantu sauhiap. namun dalam situasi kritis dan
gawat seperti ini, rasanya kami tak akan tentram kalau tak dapat
membaktikan diri kepadamu." Kho Beng merasa sangat terharu,
serunya cepat :
"Kesetiaan dan kerelaan saudara sekalian untuk membantuku
dalam perjuangan benar-benar mengharukan hatiku, sampai mati
pun aku tak akan melupakan kebaikan kalian." Buru-buru Kim lotoa
berkata :
"Kho sauhiap. yang penting sekarang adalah menyelesaikan
persoalan pokok lebih dahulu, kami akan mendampingi anda dimana
saja."
"Kalau memang kita sebagai sesama saudara, harap kalian
bertiga jangan bersikap begitu sungkan."
Namun Kim bersaudara tetap mundur tiga langkah dengan sikap
yang menghormat sekali. sampai disini oh Kui sam segera berkata :
"sudah hampir mendekati kentongan ketiga, kita harus
menyelesaikan urusan pokok lebih dulu."
Kemudian sambil berpaling kearah Kho Beng, tanyanya :
"siapakah kedua orang wanita ini? Apakah kau kenal?" Buru-buru
Kho Beng menjawab :
"Mereka adalah kedua orang murid Dewi In un, orang
menyebutnya sebagai dua diantara empat lengcu."
"Bagus sekali, kita memang membutuhkan keterangan dari
mereka," seru oh Kui sam girang.
"Barusan boanpweepun berhasil membekuk seorang lagi dia
adalah seorang komandan dari pasukan Dewi In Un."
"Makin banyak makin bermanfaat, semuanya kita bekuk saja"
seru oh Kui sam sambil tertawa.
Beng Gi ciu sebera menimbrung.

"Didekat tempat ini keponakan mempunyai sebuah gua yang
tersembunyi sekali letaknya,
mari kita berbincang-bincang disana saja."
"Bagus sekali, ayoh kita berangkat sekarang saja"
Maka Kim leji dan Kim losam membopong tubuh Jin cun serta Li
sian soat, sedangkan Kim lotoa membopong sin Cu beng, mereka
bersama-sama berangkat menuju kegua yang dimaksud.
Gua itu lebar lagipula kering, dibandingkan dengan tempat diluar
yang dingin dan basah oleh air hujan, tempat ini terasa jauh lebih
hangat dan nyaman.
Thian Cun yang dan oh Kui sam segera menjatuhkan diri duduk
dilantai, kemudian dengan wajah serius , berkata :
"PErsoalan yang harus kita tanyakan sekarang hanya satu, yaitu
apakah Ui sik kong masih berada didalam gua pengikat cinta?"
Dengan kening berkerut Kho Beng menyela :
"Cianpwee apalah gunanya hanya menanyakan satu persoalan
saja?"
"Biarpun gunanya tidak terlalu besar, paling tidak kita bisa
membuktikan dua hal. PErtama, ui sik kong belum mengincar siau
lim si dan kekuatan intinya masih berada dibukit Ciansan. Kedua, ia
telah membuat persiapan dengan tujuan hendak menumpas kita
dahulu."
"seandainya ui sik kong tidak berada dibukit Cian san?" tanya Kho
Beng setelah berpikir sebentar.
Dengan suara dalam dan berat Thian Cun yang menjawab :
"Keadaan tersebut merupakan suatu berita yang tragis, bila ui sik
kong tak ada disini, hal mana berarti dia telah memindahkan
kekuatan intinya dari sini dan sasaran yang paling besar
kemungkinannya tentu saja para jago yang berkumpul di siau lim si,
bila kita datang terlambat selangkah saja, mungkin pembantaian
berdarah tak mungkin bisa dihindari lagi."
Kho Beng berpikir sebentar, lalu katanya lagi :
"seandainya Uisik kong berada dibukit Ciansanpun, aku rasa
tempat ini pasti telah dilengkapi dengan pelbagai jebakan dan
terdapat ancaman dari pelbagai penjuru."
"satu yang lurus membasmi seratus yang jahat, apa yang mesti
kita takuti?" sambung oh Kui sam.
Thian cun yang segera berseru.

" Cepat kalian tanyakan soal ini kepada mereka." Dengan cepat
tiga bersaudara Kim berkata :
" Untuk urusan sekecil ini, kami bertiga bersedia untuk
melaksanakannya."
Maka Kim lotoa segera mendekati Cun hong Lengcu Jin cun dan
menegurnya keras-keras. "Apakah Ui sik kong berada dibukit Cian
san?"
"Yaa, dia berada dalam gua pengikat cinta" sahut Jin cun dengan
suara lantang.
Jawaban ini kontan saja membuat Kim lotoa berdiri tertegun,
tanpa terasa dia mengalihkan pandangannya kewajah Thian Cun
yang dan oh Kui sam sambil menunggu perintah berikutnya. sambil
tertawa hambar, Thian cun yang berkata :
"Perkataan ini mungkin saja benar, tapi mungkin juga tidak
benar."
"Apakah loya cu tak percaya?" kata Jin cun cepat, "Kalau begitu
mah susah jadinya."
"Masalahnya sekarang bukan percaya atau tidak. tapi harus
mencari buktinya."
"Loya cu menginginkan bukti dalam bentuk apa?"
"Ditengah malam buta begini, kalian berdua hendak kemana?"
" Kami sedang melakukan perondaan, jawaban kami jujur dan
tidak berniat menipu."
Thian cun yang sebera mendengus :
"Bila Ui sik kong berada dibukit cian san, tak ada gunanya ia
menyuruh kalian merondai gunung ini, sebab dia pasti mengerti
dengan jelas, bila kami dua orang tua berniat, dironda atau tidak toh
sama sekali tidak ada faedahnya." Kemudian setelah berhenti
sejenak. dengan suara dalam lanjutnya :
"Kim Lotoa, menurut kalian dengan cara apakah kita baru bisa
memperoleh keterangan yang bisa dipercaya?"
"Paling baik kalau menggunakan jalan siksaan." sahut Kim Lotoa
cepat-cepat. Thian cun yang segera bertepuk tangan seraya berseru
:
"Baiklah, terserah cara apapun kau pergunakan, bagi kami yang
penting adalah jawab yang benar."
"Boanpwee turut perintah"
Dengan cepat dia mencabut keluar sebilah pisau belati dari
pinggangnya, lalu bentaknya kepada Cun hoa lengcu :

" Hari ini aku sudah tidak tertarik kepadamu, biar kucari
keterangan dari mulutmu saja, nah pilihan sendiri, kau hendak
mengaku secara jujur atau menunggu sampai lupa dirimu membuka
suara?"
"Aku toh sudah menjawab, jawabanku jujur semuanya." jerit Jin
cun keras-keras.
"Hmmm, sekalipun kau dapat mengelabui Thian dan oh
locianpwee, katakan dulu sekarang kalian berdua serta sin cu beng
hendak kemana?" Cun hong lengcu menghela napas panjang.
"Kami benar-benar sedang mengadakan perondaan kau
menyuruh aku menjawab apa?" Kim Lotoa segera tertawa dingin.
"Baiklah, mungkin kau sendiri tahu apa yang seharusnya dijawab"
Mendadak pisau belatinya ditusukkan keatas pinggul perempuan
tersebut, tusukannya keras dan tak mengenal belas kasihan.
Jerit kesakitan yang memilukan hati bergema memecahkan
keheningan, saking sakitnya hampir saja Jin cun roboh tak sadarkan
diri
Kalau tadi pergelangan tangan kanan Li Sian soat yang berlubang
hingga darah bercucuran deras, maka sekarang pinggul Jin cunlah
yang menderita pendarahan hebat. sambil menahan sakit yang luar
biasa, Cun hong lengcu berteriak keras : "Kim ..... Kim tayhiap.
mengapa kau harus turun tangan sekeji ini kepadaku?" sambil
tertawa dingin, Kim Lotoa berkata :
"Asal kau bersedia mengaku sejujurnya, tentu saja siksaan badan
tak bakal dihindari." Kemudian sambil berpaling kearah Li sian soat,
tegurnya : "Bagaimana dengan kau?"
sambil berkata, ia menangkap tangan kanan Li sian soat yang
terluka sambil mempersiapkan pisau belatinya yang siap akan
ditusukkan kembali keatas bekas luka tersebut.
Dengan ketakutan Li sian soat menjerit : "Taci, aku ....."
"Kita toh sudah menjawab dengan sejujurnya, bila mereka nekat
tak mau percaya, kitapun tak bisa apa-apa." seru Jin cun keraskeras.
"Jimoay lebih baik kita mati saja, akupun sudah tak mampu
menahan diri lagi." Kim Lotoa sebera mendengus dingin :
"sayang sekali, biar ingin mampus pun kalian tak bakal mampus
semudah ini"

Pisau belatinya segera ditusukkan keatas bekas luka pada
pergelangan tangan kanan Li sian soat, kemudian pisaunya diputarputar
dalam bekas luka tersebut.
Li sian soat menjerit-jerit histeris begitu tersiksanya dia hingga
akhirnya jatuh tak sadarkan diri
sementara itu Kim loji telah siap dengan kantung airnya, begitu
melihat Li sian soat jatuh pingsan, ia segera mengguyurkan air
dingin itu keatas kepalanya sehingga Hee im lengcu ini tersadar
kembali dari pingsannya. Dh wajah pucat pias seperti meyat, dia
berteriak kembali :
"Bila kalian adalah orang-orang gagah, lelaki sejati, mengapa
tidak langsung pergi mencari sucouw atau suhuku? Buat apa kalian
menyiksa perempuan lemah."
Kho Beng seperti tertawa : "Biarpun kalian adalah perempuan"
ujarnya. "Tapi dibawah bimbingan serta pendidikan dari gurumu,
tentu banyak kepandaian jahat yang pernah dipelajari, banyak pula
kejahatan yang telah kalian perbuat, oleh sebab itu sedikit
penderitaan yang diberikan kepada kalian sekarang, sesungguhnya
belum terhitung seberapa."
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh.
"Disamping itu kamipun pasti akan pergi mencari sucouwmu ,
tapi bajingan tua itu terlalu licik dan banyak akal bulusnya, maka itu
sebelum pergi mencarinya, kami harus mengetahui data-datanya
dulu secara lengkap."
Melihat kedua orang gadis itu tetap membungkam dalam seribu
bahasa, Kim Lotoa kembali membentak kepada Jin cun :
"Tampaknya luka tusukanmu tadi tidak terlalu menyakitkan
dirimu?" Buru-buru Jin cun berteriak mengaduh sambil serunya :
"sakit, sakit sekali, aku hampir mampus saking sakitnya." Kim Lotoa
segera tertawa, katanya :
"Padahal apa yang kulakukan barusan baru merupakan suatu
peringatan, perbuatan Kim toaya yang lebih lihay segera akan
menyusul datang."
sembari berkata dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari
sakunya dan menuang sedikit bubuk bewarna merah diujung pisau
belatinya yang tajam.
Melihat kejadian ini, cun hong lengcu segera berteriak dengan
nada kaget bercampur ketakutan.
"Apa...apa yang hendak kau perbuat?"

Kim lotoa tertawa dingin,
"ooooh, bubuk itu hanya bubuk merica biasa saja, tapi yang unik
adalah bila dipoleskan disekitar mulut luka, maka dia akan
memberikan penderitaan serta siksaan yang paling besar bagi orang
itu."
Kemudian dengan suara dalam bentaknya :
"Sekarang aku akan membuktikan dari tubuhmu"
"Jangan, jangan, jangan kau bersikap begitu kejam kepadaku,"
jerit Cun hong lengcu sambil menggigit bibirnya.
"Bersedia tidak berbicara sejujurnya?" jengek Kim lotoa sambil
tertawa dingin. Cun hong lengcu sebera menganguk berulang kali.
"Bersedia, bersedia, perkataan apapun pasti akan kujawab
dengan sejujurnya."
"Nah, katakan sekarang, kalian hendak kemana?" setelah
menghela napas panjang, cun hong lengcu berkata : "Kami hendak
pergi mengudang seseorang."
"siapa yang akan diundang?"
"Pek kut hujin dari Bi sing nia"
Kim lotoa segera mengalihkan pandangan matanya kewajah
Thian cun yang dan oh Kuisam serta Kho Beng sekalian, nampaknya
dia tidak mengenal siapakah Pek kut hujin atau nyonya tulang putih
ini, sehingga menunggu petunjuk selanjutnya dari mereka. Dengan
kening berkerut, Thian cun yang segera bertanya kepada oh Kui
sam.
"Pernahkah kau mendengar nama Pek kut hujin?"
oh Kui sam sebera menggeleng.
"Aku tidak lebih mengerti tentang urusan dunia persilatan
daripada dirimu, kalau kau saja tak tahu masa bisa aku tahu, lebih
baik ditanyakan kepada perempuan bau itu" Tidak menunggu kedua
orang kakek itu berbicara, Kim lotoa telah bertanya, "siapakah Pek
kut hujin itu?"
"Dia adalah istri pertama Liong hoa sinkun" sekali lagi Thian cun
yang dibikin tertegun.
"siapa pula Liong hoa sinkun itu? PErnahkah kalian mendengar
tentang nama orang ini?"
semua orang saling berpandangan tanpa menjawab, hal inim
enandakan kalau mereka semua tidak kenal dengan orang tersebut.
sambil mendengus oh Kui sam sebera menimbrung.

"Aku pikir orang-orang itu pasti bukan manusia yang punya nama
atau paling banter cuma kaum iblis dari golongan sesat."
Tidak menunggu ditanya lagi, Cun hong lengcu sebera
menerangkan lebih jauh.
"Liong hoa sinkun adalah pembantu utama dari sucouw kami,
bahkan sucouw kami pun menghormati sinkun, kedudukannya saat
ini adalah ketua pelindung hukum." Mendengar keterangan tersebut,
Thian Cun yang segera berkata sambil tertawa.
"Kalau begitu kita tak boleh memandang enteng dirinya,
bagaimana dengan Pek kut hujin?"
"Aku dengar Pek kut hujin masih jauh lebih tangguh ketimbang
Liong hoa sinkun, apabila mereka bertiga turun tangan bersama,
siapapun tak akan ditakuti lagi."
"siapa yang kau maksud tiga orang?"
"Tentu saja Liong hoa sinkun, Pek kut hujin serta sucouw kami"
Thian Cun yang termenung sebentar, lalu katanya :
"Aku lihat persoalan ini tak boleh dianggap enteng, rupanya ui sik
kong telah sadar kalau kekuatan sendiri belum cukup untuk
menguasai seluruh jagat, maka dia berusaha menggunakan cara
lain."
"Mungkinkah mereka akan berhasil?" tanya Kho Beng setelah
termenung sebentar.
"Kau adalah contoh yang paling nyata, coba jawablah dengan
mengandalkan kepandaian silat yang kau peroleh dari kitab pusaka
Thian goan bu boh, sanggupkah dirimu untuk mengalahkan ui sik
kong, ketua dari partai kupu-kupu?"
"Memang tak mungkin" buru-buru Kho Beng menjawab. " dengan
mengandalkan ilmu silat peninggalan Kongci Cu?"
"Mendiang guruku mati karena dia telah menderita luka dalam
yang cukup parah disaat sedang bertarung melawan bajingan tua ui
sik kong, coba kalau bukan demikian rasanya tak mungki ........"
Ia merasakan suaranya sesenggukan dan hampir saja
mengucurkan air mata.
"Nah itulah dia hanya mengandalkan ilmu silat dari kitab pusaka
Thian goan bu boh, kau tak mampu menandingi ui sik kong dengan
hanya mengandalkan ilmu silat warisan Kongci Cu pun tak berhasil,
hanya bila dua jenis kepandaian itu digabungkan baru akan terwujud
kekuatan yang luar biasa bukan?"

"Maksud cianpwee, bukan saja mereka bergabung sewaktu
bertempur, bahkan didalam ilmu silat pun ........ ,"
Cepat-cepat Thian Cun yang menggelengkan kepalanya berulang
kali, katanya :
"Ilmu silat mereka belum tentu dapat digabungkan satu dengan
yang lainnya, tapi daya pengaruh yang dihasilkan bila mereka
bertiga bekerja sama, mungkin bisa bikin kepala orang pusing."
Cun hong lengcu yang berada disam^ingnya sebera menimbrung
:
"Bila kalian tak merasa mampu menandingi kemampuannya lagi,
lebih baik bebaskan kami, lalu cepat- cepatlah kabur untuk
menyelamatkan diri"
Thian Cun yang sama sekali tidak menggubris perkataan cun
hong lengcu, setelah tertawa nyaring katanya :
"Ditinjau dari hal ini jelas sudah bajingan tua ui Sik kong memang
berada dibukit Cian san, kita harus berebut waktu sekarang, mari
kita berangkat sekarang"
"cianpwee kau belum berpesan bagaimana dengan mereka"
buru-buru Kim lotoa berseru. Thian cun yang menatap sekejap
wajah Kho Beng, lalu katanya : "Apakah kau mempunyai suatu
pendapat?" Buru-buru Kho Beng berkata :
"Biarpun boanpwee tidak mempunyai pendapat apa-apa, namun
kedua orang siluman wanita ini adalah orang yang menjadi
penyebab bagi penderitaan ciciku, lagipula mereka licik dan banyak
tipu muslihatnya, biar dibunuh pun tak perlu disayangkan."
"Walaupun demikian, tapi tidak cocok kalau kita membunuhnya,
dalam keadaan demikian, lebih baik disekap dulu."
sambil berpaling kearah tiga bersaudara Kim, katanya kemudian :
"Menurut pendapatku, lebih baik kalian bertiga tetap tinggal disini
menjaga ketiga tawanan tersebut, tunggulah sampai kami semua
kembali kemari, kemudian baru pulang bersama-sama . "
sekalipun tiga bersaudara Kim merasa enggan, namun mereka
pun tak berani membangkang perintah Thian Cun yang, oleh sebab
itu sahutnya cepat-cepat : "Boanpwee turut perintah." Kho Beng
segera berkata pula.
" Ketiga orang ini memiliki kepandaian silat yang amat tinggi,
meskipunjalan darahnya sudah tertotok, namun kalian jangan
menganggap enteng dirinya."

"Kho sauhiap tak usah kuatir" Kim lotoa tertawa, "kalau cuma
persoalan seperti itu rasanya kami masih mampu mengatasinya."
sambil berkata ia sebera mengeluarkan seutas tali otot naga dan
berkata kembali :
"Betapapun lihaynya kepandaian silat mereka, aku rasa disaat
jalan darah mereka tidak tertotok pun, tentunya tak mampu untuk
menggetar putus tali ini, bukan?"
Dalam waktu singkat Kim loji dan Kim losam turun tangan pula
untuk mengikat tubuh Cun hong lengcu, Li sian soat serta sin cu
beng.
Kemudian mereka pun menotok jalan darah bisunya, dengan
demikian ketiga orang itupun berubah menjadi kaku, bukan cuma
tak mampu bergerak. berkaok pun tak dapat. oh Kui sam segera
memuji sambil tertawa :
"Caramu ini memang bagus sekali, mari kita berangkat dengan
perasaan lega."
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia segera berangkat lebih dulu
menuju keluar gua.
Hujan yang turun diluar makin deras, udara semakin gelap
sehingga menghalangi pandangan mata semua orang.
secara beruntun Thian cun yang, Kho Beng, Beng Gi ciu serta
siau wan bermunculan dari gua mengikuti dibela kang oh Kui sam,
kemudian dibawah petunjuk Beng Gi ciu mereka langsung berangkat
menuju kepuncak bukit Cian san.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kelima orang itu
merupakan kepandaian yang sangat tangguh, tak selang berapa saat
kemudian mereka telah sampai dipuncak utama seperti sukmasukma
gentayangan.
Kho Beng sudah cukup mengenal daerah sekitar situ, tanpa
terasa timbul perasaan aneh dalam hatinya memandang puncak
gunung yang dicekam kegelapan, pikirnya :
"Aaaa, apakah ciciku masih disekap disini? Lantas bagaimana
keadaannya sekarang, tentu ia sudah disiksa sampai tak karuan lagi
bentuknya."
Kemudian ia pun membayangkan kembali keadaan dari kakek
tongkat sakti, Chin sian kun.
sementara dia masih melamun, mendadak Thian cun yang yang
berjalan didepan menghentikan langkahnya seraya berseru :

"Tunggu dulu" Ketika semua orang mengalihkan pandangan
matanya keatas, terlihatlah puncak bukit itu amat gersang dan
gungul, kecuali deruan angin barat yang amat hebat, kabut hitam
yang menyelimuti atas permukaan tanah serta hujan yang cukup
deras, tak nampak sesosok bayangan manusia pun disekeliling sana,
seolah-olah tempat itu merupakan sebuah bukit yang sepi dan
terpencil.
Mengawasi kesemuanya itu, tanpa terasa Thian Cun yang
menghela napas panjang.
Pertarungan berdarah dibukit hati duka seabad berselang diduga
bisa menyebabkab aman tentramnya dunia persilatan, siapa tahu
seabad kemudian timbul kembali peristiwa yang tragis dalam dunia
persilatan."
sementara dia masih berpikir, terdengar oh Kui sam telah berbisik
disisi telinganya. "Mulut guanya berada disebelah sana, ayoh jalan,
apalagi yang kaupikirkan?" Bagaikan baru mendusin dari impian,
Thian cun yang menyahut : "Jangan tergesa-gesa, kita mesti
meneliti lebih dulu keadaan sekeliling tempat ini." Kemudian sambil
berpaling kearah Kho Beng, katanya lebih jauh :
"Diantara kita semua, hanya kau yang pernah memasuki gua
pengikat cinta, sesungguhnya berapa luas sih kawasan gua ini dan
berapa dalam jarak antara mulut gua kedasar ruangan? Apakah kau
masih mengingatnya secara jelas?" Kho Beng berpikir sebentar,
kemudian jawabnya :
"Jarak dari mulut gua sampai ruangan utama dibawah sana
rasanya lebih kurang sepuluh kaki, ruang gua dibawah situ saling
berhubungan satu dengan lainnya, aku rasa kawanan mereka tak
terhitung kecil, tapi sayang boanpwee belum sempat mengelilingi
semuanya"
Thian Cun yang mengitari sekejap sekeliling tempat dengan sorot
matanya, kemudian berkata :
"Luas puncak bukit ini paling banter hanya lima puluhan kaki
persegi kebawahpun cuma enam, tujuh puluh kaki, kalau dihitung
kembali secara cermat lingkupan mereka tidak termasuk kelewat
besar, lagipula disudut utara sana sudah pasti dinding guanya amat
tipis benar."
oh Kui sam sebera menimbrung.
"Cun yang, mengapa sih pembicaraanmu hari ini kelihatan
mencla mencle seperti orang yang ragu untuk berbicara? Peduli

amat sih besar atau tidaknya kawasan mereka, asal kita sudah
memasukinya toh segala sesuatunya akan terlihat dengan
sendirinya?"
Bersambung ke jilid 42
Jilid 42
"Bukan begitu keadaan yang sebenarnya," ujar Thian cun yang
bersungguh-sungguh
"Ketahuilah, musuh yang sedang kita hadapi sekarang adalah
seorang manusia jahat yang licik dan banyak tipu muslihatnya, sekali
kita bersikap kurang berhati-hati, bisa jadi kita akan terpeleset dan
menderita kekalahan total" Kemudian setelah berhenti sejenak,
terusnya dengan suara dalam :
"Satu hal perlu diingat-ingat, setelah masuk nanti , entah berada
didalam keadaan seperti apa pun, kita tak boleh saling memisahkan
diri."
"Empek Thian, kami akan mengingat baik-baik pesanmu" itu
Beng Gi Ciu berjanji sambil tertawa.
"Selain itu masih ada satu lagi yang perlu diawasi yakni berhatihati
terhadap ilmu pukulan beracun atau ilmu sesat lainnya, apalagi
serangan secara terang-terangan gampang dihindari, tapi serangan
bokongan susah dihadapi , Kho Beng kau saja yang menjadi
pembuka jalan"
Tapi baru berjalan berapa langkah, gelak tertawa yang amat
keras telah bergema memecahkan keheningan, menyusul kemudian
tampak serombongan bayangan manusia bermunculan secara tibatiba,
sebagai pemimpinnya ternyata tak lain adalah Ui Sik kong
sendiri. Terdengar ia berseru setelah tertawa nyaring :
"Walaupun aku sudah menduga bakal kedatangan tamu agung,
namun tidak kusangka kau akan datang dimalam yang hujan dan
dingin seperti sekarang ini."
Kemudian setelah mengawasi sekejap keadaan lawannya, dia
melanjutkan :
"Waaah, kelihatannya kalian sudah basah kuyup semua, mari
silahkan masuk untuk beristirahat sejenak, aku pasti akan
menyambut kedatangan kalian dengan arak hangat." sambil berkata
ia menyingkir kesamping dan mempersilahkan tamunya untuk lewat.
Thian Cun yang yang berdiri didepan sekali untuk menghalangi
rekan-rekannya maju, ketika mendengar perkataan tersebut ia sama
sekali tak bereaksi, hanya ujarnya sambil tertawa dingin :

"Tak usah tergesa-gesa, lebih baik kita berbincang-bincang dulu
disini" Ui sik kong segera tertawa tergelak :
"Haaahh haaahh haaahh .. biarpun ruangan dalam goa kurang
indah dan mewah paling tidak jauh lebih hangat dan nyaman
ketimbang tempat ang basah dan dingin seperti ini, mengapa sih
kalian tak berani masuk?"
Thian Cun yang tertawa dingin : "Aku ingin mengetahui lebih dulu
maksud tujuan anda."
Ui sik kong memperhatikan sekejap keadaan musuh-musuhnya,
kemudian berkata :
"Panglima perang yang pernah kalah bertempur mana berani
bicara besar? Tentu saja kami akan mendengarkan semua perkataan
dari keturunan tiga dewa." Kemudian sambil menunjuk
kebelakangnya, ia melanjutkan :
"Yang ini adalah ketua pelindung hukum partai kami, Liong hoa
sinkun, sedang keempat orang ini adalah empat tiang lo partai kupukupu,
sedangkan sisanya yang lain bukan terhitung orang-orang
yang bisa diandalkan lagi."
"orang-orang itu tiada persoalan yang terlalu serius buat
pandangan kami," tukas Thian cun yang tertawa "Justru yang ingin
kuketahui adalah rencana anda yang selanjutnya."
Ui Sik kong mendengus dingin : "Hmmm, aku tidak mempunyai
perencanaan apa-apa" Thian cun yang segera berpaling kearah Kho
Beng dan serunya : "Bocah muda, lebih baik kau saja yang bedanya
kepadanya."
Kho Beng menyahut dan segera tampil kedepan, bentaknya
kemudian "Ui sik kong kau tak mengira bukan aku bakal datang
pada hari ini?" Ui sik kong tertawa dingin :
"Walaupun perhitunganku belum bisa dibilang tepat seratus
persen, namun sudah kuduga kau bakal datang, hanya sayang
tendanganku tempo hari kelewat enteng, sehingga rasanya kurang
mantap untuk menghantarmu pergi kerumah nenek."
"Hmmm, nampaknya kau tidak menunjukkan sedikit rasa
menyesal pun," tegur Kho Beng gusar, "Apakah sudah kaupikirkan
kembali syarat yang kuajukan?"
"sudah kupertimbangkan, dan aku dapat menerimanya"
"Dapat menerimanya?" Kho Beng jadi tertegun dibuatnya.
Thian cun yang, oh Kui sam, Beng Gi ciu serta siau wan pun turut
tertegun dibuatnya, keadaan tersebut sama sekali tak sesuai dengan

apa yang mereka duga, dengan sikap maupun nada pembicaraan Ui
sik kong, sudah jelas ia tak mempunyai rasa menyesal ataupun
bertaubat, namun mengapa ia justru mengucapkan kata-kata seperti
ini? sebenarnya apakah rencana serta maksud tujuannya?
"Apakah kau berbicara dengan sesungguhnya?" Kho Beng segera
menegur dengan suara dalam.
"Apakah kau tak percaya?" Ui sik kong balik bedanya dengan
suara yang tenang.
"Terus terang saja aku menaruh curiga yang besar terhadapmu,
tapi asal kau benar-benar mempunyai maksud untuk bertobat, aku
akan tetap menuruti pesan mendiang guruku dengan melindungi
kehidupan dari partai kupu-kupu."
Ui sik kong tertawa.
"Waaah, kalau begitu aku amat berterima kasih sekali"
Untuk sesaat lamanya Kho Beng tidak mengerti bagaimana mesti
berbuat, terpaksa dia berpaling kearah Thian cun yang serta oh Kui
sam, sambil berkata : "Harap cianpwee sudi memberi petunjuk"
Thian cun yang tertawa bergelak.
"Haaahh . Haaahh . Haaahh .sesungguhnya gampang sekali,
suruh saja dia membebaskan dulu orang-orang yang disekap dalam
gua pengikat cinta"
Kho Beng manggut-manggut, segera serunya dengan keras:
"Bila anda mempunyai niat yang tulus, harap ciciku dan kedua
dayangnya, kakek tongkat sakti serta nona Chin sekalian segera
dibebaskan dari sekapan"
Ui sik kong segera menjawab sambil tertawa :
"Bila sikap anda sekalian tetap berhati-hati dan penuh perasaan
curiga terhadapku, hal ini menunjukkan bukan aku yang tak
mempunyai niat yang tulus, sebaliknya kalian sendiri ."
Kemudian dengan sinar hijau memancar keluar dari matanya, dia
berkata lebih jauh :
"Dengan kuterima syarat yang kalian ajukan, sudah dapat
kupastikan dunia persilatan akan pulih kembali dalam ketenangan
dan kedamaian, kini aku telah mempersiapkan perjamuan untuk
anda semua, apa salahnya kalau kita berbincang-bincang dulu
sambil minum arak, kemudian aku akan memimpin para jago untuk
kembali ke sin kiang, sedang kalian boleh meninggalkan bukit Cian
san dengan membawa serta kakek tongkat sakti sekalian, bukankah
segala urusanpun akan beres dengan sendirinya?"

sebelum semua orang mengemukakan pendapatnya, tiba-tiba oh
Kui sam menyela : "Perkataannya memang ada betulnya juga, apa
salahnya kalau kita mengganggunya sejenak?"
Ia bukan ingin minum arak tapi merasa bahwa perbuatan
drmikian tak akan menghilangkan pamor.
Thian cun yang segera berkerut kening, katanya dengan suara
dalam :
"Ui sik kong, kau harus tahu, bila kau mempunyai niat jelek atau
sudah merencanakan sesuatu secara licik, maka akibatnya bisa
diluar dugaanmu sama sekali."
"Aku toh mengundang kalian dengan perasaan yang tulus, buat
apa anda justru menaruh banyak curiga?" sahut Ui sik kong sambil
tertawa hambar.
"Moga-moga saja apa yang kau katakan adalah ucapan yang
sejujurnya, demi mati hidupnya partai kupu-kupu, keputusan yang
kau ambil pada malam ini sangat penting, kuharap kau cukup
memahami keadaan tersebut."
Ui sik kong segera tertawa bergelak.
"Haaahh haaahh haaahh bila anda masih saja mencurigai diriku
dengan tuduhan yang bukan-bukan aku pun tak akan menahan
kalian, silahkan saja segera pergi meninggalkan tempat ini."
oh Kui sam tertawa bergelak.
"setelah datang mengapa harus pergi lagi? Bila kami berani
datang tapi tak berani memenuhi undanganmu, apa kata orang
tentang keturunan dari tiga dewa? silahkan membawa jalan"
"Aaai nampaknya oh lohiap memang jauh lebih tegas."
Dengan sinar mata yang licik dia memandang sekejap sekitar
situ, lalu terusnya : "Biar aku segera membawa jalan untuk kalian"
Ia membalikkan badan dan mengajak keempat tiang lo dari partai
kupu-kupu dan ketua pelindung hukumnya Liong hoa sinkun yang
berambut panjang sebahu memasuki pintu gua terlebih dahulu.
Tampaknya pintu gua terpentang lebar-pebar, cahaya lentera
menerangi seluruh sudut ruangan.
sepanjang lorong rahasia, setiap jarak dua kaki, disisi kanan kiri
lorong berdiri sepasang busu bersenjata yang melakukan penjagaan
secara ketat, gaya maupun sikap mereka Nampak perkasa dan
penuh kewibawaan.

sementara itu Ui sik kong berjalan dengan wajah penuh rasa
bangga sepanjang jalan tiada hentinya dia mengelus jenggot
kambingnya sambil menengok kanan kiri
oh Kui sam serta Thian cun yang mengikuti dibelakangnya
dengan senyum dingin menghiasi wajahnya, apalagi sikap Kho Beng
serta Beng Gi ciu, kedua orang muda mudi ini kelihatan acuh tak
acuh, mereka mengikuti dari belakang dengan angkuh.
Tak lama kemudian, tibalah mereka diruangan tengah, sebelum
nya Kho Beng pernah berkunjung kesana, hanya bedanya waktu itu
dia datang dengan perannya sebagai Koan ci Cu, sedang sekarang ia
datang sebagai murid dari Kongci Cu.
Ditengah ruangan telah dipersiapkan sebuah meja perjamuan,
dayang dan pelayan telah siap melayani , namun disekeliling
ruangan tersebut dipenuhi dengan busU berpedang yang melakukan
penjagaan secara ketat.
setibanya didepan meja, Ui sik kong segera mempersilahkan
tamunya untuk mengambil tempat duduk lebih dulu. "silahkan anda
sekalian duduk"
Bersamaan itu pula dia memberi tanda kepada rekan-rekannya
agar duduk pula menurut urutan, tapi semuanya menempati sudut
sebelah kiri, sebab ia sudah melihatnya bahwa dibagian sanalah
merupakan posisi yang paling aman.
Ui sik kong segera tertawa terbahak-bahak , dengan mengajak
Liong hoa sinkun dan keempat tiang lo dari partai kupu-kupu mereka
menempati pos isi sebelah kanan tapi disamping Liong hoa sinkun
Nampak masih ada sebuah tempat berada dalam keadaan kosong.
sambil tersenyum Thian cun yang segera menegur, "Nampaknya
masih ada amu agung lain yang bakal datang?"
sambil tertawa Ui sik kong manggut-manggut :
"Benar, masih ada seorang teman yang belum datang, tapi orang
itupun tak bisa dianggap sebagai tamu."
"Bolehkah aku tahu siapakah orang itu?" Tanya Thian cun yang
sambil tertawa.
Liong hoa sinkun yang duduk disamping Ui sik kong segera
menyahut dengan suara dingin :
"orang itu adalah istriku Pek kut hujin"
"Hujan turun begini deras, malampun sudah semakin larut,
mungkin dia tak bakal datang malam ini?"
Liong hoa sinkun mendengus dingin.

"Hmmm, dia pasti akan datang, cuma soal waktu saja mungkin
agak terlambat."
"Beranikah anda bertaruh denganku?"
Berubah paras muka Liong hoa sinkun setelah mendengar
perkataan itu tegurnya : "Apa maksud perkataanmu ini?"
"Aaah, tidak bermaksud apa-apa, aku hanya mengadu nasib
saja."
Buru-buru Ui sik kong menyela sambil tertawa :
"Aku rasa urusan sepele seperti itu tak perlu dipertaruhkan lagi,
yang penting justru merundingkan masalah besar, biarpun Pek kut
hujin tak bisa datang pada saatnya, toh bukan berarti akan
mengganggu jalannya perundingan diantara kita"
Mendadak Liong hoa sinkun menggebrak meja seraya berseru :
"Tiba-tiba saja aku mencurigai satu hal, sekalipun istriku tak bisa
datang pada saatnya, seharusnya Cun hong lengcu dan Hee im
lengcu sudah balik kembali .aku rasa .." setelah berhenti sejenak,
dengan suara dalam dia melanjutkan,
"Aku rasa hanya sebuah jawaban saja, sudah pasti istriku sudah
mendapat celaka ditangan mereka?"
Buru-buru Ui sik kong menggoyangkan tangannya berulang kali
sambil katanya :
"Tidak mungkin, tidak mungkin"
Menyusul kemudian sambil tertawa tergelak lanjutnya :
"Haaahh . Haaahh haaahh mereka adalah jago-jago lihay yang
menganggap dirinya sebagai pendekar sejati yang berjiwa besar,
tentu saja pendekar sebangsa mereka tak bakal melakukan
perbuatan rendah seperti ini , mereka orang-orang perempuan
sudah terbiasa menunda waktu karena urusan pribadi kaum wanita ,
lebih baik kita membicarakan dulu persoalan yang pokok."
sambil berkata dia segera melemparkan sebuah kerlingan
misterius kewajah Liong hoa sinkun.
Thian cun yang dapat menyaksikan hal ini secara jelas, buru-buru
dia berbisik kepada rekan-rekannya dengan ilmu menyampaikan
suara :
"Keadaan sudah semakin nyata, sudah pasti bajingan tua she Ui
ini mempunyai rencana busuk yang telah dipersiapkan."
Padahal sekalipun tidak disinggung oleh Thian cun yang pun Kho
Beng sekalian sudah dapat melihat jelas, karena tindakan Ui sik kong

yang tidak mengkuatirkan hilangnya Jin Cun dan Li sian soat sudah
cukup untuk membuktikan hal ini.
Ditengah gelak tertawa nyaring, Ui sik kong mengangkat cawan
araknya dan berkata :
"Untuk menunjukkan ketulusan hati kami, silahkan anda sekalian
minum secawan arak terlebih dahulu"
Tunggu sebentar mendadak Kho Beng berseru dengan suara
yang berat dan dalam. Ui sik kong meletakkan kembali cawan
araknya, kemudian menegur dengan kening berkerut :
"apakah Khosauhiap mempunyai suatu petunjuk?"
"Kedudukan Dewi In Un didalam partai kupu-kupu tidak terhitung
rendah, apalagi dia pun sudah banyak membuat jasa didaratan
Tionggoan, mengapa tak Nampak ia turut hadir dalam pertemuan
malam ini?"
Ui sik kong segera tertawa hambar.
"Kaum wanita tidak pantas ikut menyambut tamu, apalagi siauli
merasa kurang enak badan sehingga sudah tertidur sejak sore tadi."
"Hmmm, itu mah Cuma alasan anda saja untuk menutupi
keadaan sebenarnya," jengek Kho Beng sambil tertawa dingin,
"muda-mudi dunia persilatan tidak mementingkan tata cara, apalagi
berbicara dari tingkat kedudukan putrimu, sepantasnya kalau ia turut
menghadiri perjamuan malam ini."
"Tapi bukankah telah kubilang, putriku sedang sakit?" jawab Ui
sik kong sambil tertawa. Kembali Kho Beng tertawa dingin.
"Bagi orang yang belajar silat, penyakit demam tak mungkin bisa
menyerang tubuhnya, apalagi putrimu masih muda, ia tak mungkin
akan terserang sakit, apakah kau tidak merasa bahwa perkataanmu
kelewat keterlaluan?"
Berubah hebat paras muka Ui Sik kong, segera katanya :
"Kuharap anda jangan terlalu menyudutkan posisiku, kenapa kau
bersikeras menyuruh putriku turut hadir didalam pertemuan ini?"
"sebab ada sementara persoalan yang cuma bisa dijawab oleh dia
seorang."
"Persoalan apa?" ui sik kong bertambah gusar.
"Misalnya saja siapa yang telah menyamar sebagai Bu wi lojin
dalam peristiwa berdarah tempo dulu, dan dimanakah kakakku
sekalian disekap? Lebih baik undanglah dia keluar agar semua
persoalan dapat diselesaikan hingga tuntas."

"Kalau hanya persoalan itu mah, aku pun dapat menyelesaikan"
kata Ui sik kong sambil tertawa.
Kho Beng segera berpikir sebentar, lalu katanya :
"Kalau anda memang dapat menyelesaikannya, baiklah, kita pun
tak usah mengganggu putrimu lagi."
sekali lagi Ui sik kong mengangkat cawan araknya sambil berkata
: "Harap kalian menerima penghormatanku dengan secawan arak
ini." Tapi secara tiba-tiba Kho Beng menggebrak meja lagi sambil
berseru : "Tunggu dulu"
Terpaksa Ui sik kong meletakkan kembali cawan araknya, lalu
menegur :
"Kho sauhiap ada petunjuk apalagi, kenapa tidak diungkap saja
seusai aku menghormati secawan arak kepada kalian?" Kho Beng
menggeleng.
"Masih ada sebuah persoalan yang lebih penting dan harus diberi
penyelesaian lebih dulu."
Tampaknya Thian Cun yang sekalian sudah dapat memahami
maksud serta tujuan Kho Beng, tanpa terasa mereka mengangguk
dengan perasaan puas, sebab siapapun tak ada yang tahu apakah
dalam arak tersebut telah dicampuri racun atau tidak.
Andaikata keadaan yang sebenarnya belum diketahui secara pasti
dan gara-gara itu mereka sampai diracuni, bukankah usaha mereka
bakal menderita kegagalan total? Bukan Cuma begitu, bahkan bisa
jadi keselamatan jiwa mereka pun akan terancam?
"silahkan Kho sauhiap utarakan" terdengar Ui sik kong berkata
dengan kuning berkerut.
"Kalau memang anda telah menerima semua syarat yang
kuajukan sebelumnya, kupikir kalian pun harus membebaskan dulu
kakakku sekalian dan kita minum arak bersama-sama untuk
menghilangkan segala kecurigaan dan pertikaian dimasa lalu" Ui sik
kong segera tertawa seram,
"Perkataan Kho sauhiap memang benar tapi harap jangan lupa
bahwa dalam salah satu syaratmu, terdapat pernyataan yang
mengatakan kau hendak mengembalikan benda mestika dari partai
kupu-kupu kami, yaitu kitab pusaka Thian goan bu boh."
"Tentu saja aku akan memenuhi janji itu, aku bukan manusia
yang tak dapat dipercaya kata-katanya."

Ui sik kong segera mengulurkan tangannya kedepan sambil
berseru : "Kalau begitu sauhiap dapat segera menyerahkannya
kepadaku soal ini"
Kho Beng nampak agak tertegun dan tidak menduga sampai
kesitu, selang sesaat kemudian ia baru berkata :
"Jadi kau berniat untuk bertukar syarat dengan kitab pusaka
tersebut?"
sebagaimana diketahui, kitab pusaka Thian goan bu boh memang
tidak berada disakunya tapi disimpan oleh Bu wi lojin disuatu tempat
yang sangat rahasia dalam lembah hati Buddha.
Ui sik kong tertawa dingin.
"semula aku tidak berniat untuk berbuat begini, tapi lantaran Kho
sahiap bersikeras untuk memaksa kami membebaskan kakakmu
sekalian terlebih dahulu, mau tak mau terpaksa akupun harus
mengambil tindakan yang sama."
"Ini namanya mengancam, jelas kau tidak berniat secara tulus,"
seru Kho Beng dengan keras
Pryaaaanggg
Ia membanting cawan araknya keatas tanah.
Ternyata perbuatan Kho Beng dengan membanting cawan arak
kelantaipun mengandung maksud tertentu, dia hendak
menggunakan kesempatan disaat arak tersebut tertumpah dilantai
untuk memeriksa apakah arak tersebut mengandung racun atau
tidak.
Ui sik kong sama sekali tidak menjadi gusar karena ulah
lawannya, malah sambil tertawa hambar ia berkata :
"Bagaimana pun juga anak muda memang berdarah panas, kalau
toh kedua belah pihak bermaksud menyelesaikan persoalan secara
damai, mengapa pula tindakanmu mesti menuruti emosi?"
sambil berkata dia segera mengambil cawan arak yang berada
dihadapan oh Kui sam dan berkata lebih jauh.
"Mungkin anda sekalian mencurigai dalam arak ada racunnya,
biar aku mencicipi secawan lebih dulu"
sembari berkata ia segera meneguk isi cawan arak itu hingga
kering.
Mula-mula Thian cun yang kelihatan agak tertegun, tapi
kemudian serunya sambil tertawa bergelak :
"Haaahh haahh haahh lagi-lagi kau menaruh kesalahpahaman,
jangan lagi arak tersebut tidak beracun, biarpun benar-benar ada

racunnya, apa pula yang mesti kami takuti? Namun bila arak ini
benar-benar beracun, asal anda minum obat penawar sebelumnya,
maka biarpun menghabiskan sepuluh cawan secara beruntun pun
aku rasa tak akan sampai terpengaruh oleh daya kerja racun itu"
Habis berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak. sambil tertawa
dingin Ui sik kong segera berkata :
"Kalau toh anda berkata demikian, akupun tak dapat berbuat lain
kecuali membatalkan perjamuan ini"
Kembali Thian cun yang tertawa bergelak :
"Tujuan kedatangan kami kemari memang bukan untuk minum
arak tapi ingin mengajak anda untuk membicarakan persoalan ini
secara baik-baik, kau harus mengerti, kami sama sekali tidak
mempunyai niat jahat bahkan kami setuju dengan usul Kho Beng
untuk tetap mempertahankan keutuhan dari partai kupu-kupu partai
kupu-kupu."
"aku amat berterima kasih dengan usul kalian itu" kata Ui sik
kong sambil tertawa seram, "tapi kitab pusaka Thian goan bu boh
harus kalian serahkan lebih dulu."
"Asal semua persoalan telah terselesaikan, kujamin hanya
didalam setengah hari saja kitab pusaka Thian goan bu boh sudah
dapat kami serahkan kembali" kata Kho Beng dengan tegas, "kalau
tidak. aku berani menjamin dengan batok kepalaku ini."
"Ditambah pula dengan batok kepala kami berdua," sambung
Thian cun yang dan oh Kui sam serentak.
Ui sik kong segera tertawa.
"Kalau memang kalian telah berkata demikian, tentu saja aku
akan menurut perintah." Kemudian setelah berhenti sejenak.
katanya lagi.
"Begitu kitab cusaka Thian goan bu boh dikembalikan, aku segera
akan menaik diri dari daratan Tionggoan."
"Tapi aku menuntut kepada anda untuk membebaskan dulu
semua tawanan yang ada" desak Kho Beng dengan sorot mata yang
tajam.
Ui sik kong tertawa tenang, bukan menjawab dia malah bedanya
:
"Apakah perjamuan ini masih akan dilanjutkan?"
"Tidak usah" tukas oh Kui sam, "Lebih baik dibubarkan saja"
sambil tertawa hambar Ui sik kong mengulapkan tangannya
seraya berseru :

"Pengawal, bubarkan perjamuan, ganti dengan air teh"
Dalam waktu singkat meja perjamuan telah dibongkar sementara
didepan masing-masing orang dihidangkan secawan air teh. sambil
tertawa misterius, Ui sik kong berkata :
"Bila anda sekalian kuatir dala air teh ada racunnya, tak usahlah
diminum, tapi kuminta janganlah ditolak mentah-mentah, paling
tidak lakukanlah sedikit lagak seakan-akan menerima hidangan
tersebut."
sindiran ini amat tajam dan langsung membuat paras muka Thian
Cun yang berubah menjadi merah padam, namun ia tidak berkata
apa-apa. Kembali Ui sik kong berkata lagi.
"sekarang juga aku akan menyuruh orang untuk mengundang
ang It ciang, Chin sian kun serta kakak perempuan Kho sauhiap agar
bertemu dengan anda sekalian."
"Kalau benar begitu, hal ini menunjukkan ketulusan hati anda,
aku pun pasti akan melaksanakan pesan guruku almarhum untuk
melindungi partai kupu-kupu dari segala ancaman bahaya."
Ui sik kong tertawa dingin, sambil berpaling kearah satu diantara
empat tiang lo partai kupu-kupu, serunya : "Harap Pek tiang lo
melaksanakan perintah ini."
Kakek itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari situ.
Mendadak .
Terasa ada segulung bau aneh yang menyusup masuk kelubang
hidung masing-masing, semua orang segera merasa bahwa bau itu
berasal dari asap dupa yang baru dibakar , sementara asap berbau
harum itu sedang menyebar secara pelan-pelan keseluruh ruangan.
Bagi penciuman orang awam, bau tersebut merupakan bau asap
dupa sesungguhnya, sama sekali tidak ada gejala mencurigakan.
Tapi begitu Thian cun yang mengendusnya, berubah air mukanya
dengan cepat buru-buru peringatnya dengan ilmu menyampaikan
suara :
"Cepat tutup kelima jalan darah penting didepan dada"
Begitu mendengar suara peringatan tersebut, Kho Beng, Beng Gi
ciu dan siau wan sekalian cepat-cepat menutup semua jalan darah
pentingnya.
Terdengar Thian Cun yang pra-pura berbatuk dan menutup
mulutnya dengan ujung baju, padahal ia berbisik lagi dengan ilmu
menyampaikan suaranya :

"Aku telah berhasil menemukan hal-hal aneh, kalian cepat
berlagak seperti orang yang mabuk dan bersikap masa bodoh,
namun ingat jangan sampai kosongkan pikiran, coba kita lihat
permainan apalagi yang bakal mereka pergunakan."
Maka suasana didalam ruangan pun lambat laun tercekam
kembali dalam keheningan.
Tampak Thian cun yang, oh Kui sam, Kho Beng, Beng Gi ciu serta
siau wan duduk kaku bagaikan hwesio tua yang sedang semedi
sementara biji mata masing-masing cun makin lama semakin tak
bergerak lagi.
Ui sik kong yang mengawasi terus perubahan wajah lawanlawannya
itu mulai memunculkan senyuman bangga setelah melihat
kejadian ini.
setengah peminuman teh kembali sudah lewat, tiba-tiba Liong
hoa sinkun bangkit berdiri lalu secara tiba-tiba mengayunkan
kesepuluh jari tangannya dan digetarkan lebih dulu dihadapan Thian
cun yang.
Thian cun yang berlagak seakan-akan sama sekali tidak
merasakan gerakan tersebut, tubuhnya sama sekali tak bergerak.
Dengan suara yang dalam Liong hoa sinkun segera menegur :
"Thian cun yang tatap kesepuluh jari tanganku ini lekat-lekat"
Thian cun yang sama sekali tak bersuara, namun biji matanya
yang sudah tak berputar itu benar-benar berputar mengikuti gerakan
ke sepuluh jari tangan Liong hoa sinkun.
sekilas perasaan girang segera menghiasi wajah Liong hoa
sinkun, lagi-lagi dia menegur dengan suara dalam : "Kenalkah
dengan aku?"
"Kenal" jawaban Thian cun yang bagaikan orang mengigau.
"siapakah aku?" desak Liong hoa sinkun lebih jauh.
"Kau adalah si setan gantung hitam dari istana neraka"
"Haaahh?" tanpa terasa Liong hoa sinkun berseru kaget dan
menghentikan perbuatan dengan wajah tertegun.
Ui sik kong turut melompat bangun dengan wajah tertegun,
segera tanyanya : "Apa yang sebenarnya terjadi"
Liong hoa sinkun tergagap tak mampu menjawab, sinar matanya
pelan-pelan dialihkan dari wajah Thian cun yang keatas wajah siau
wan, lalu seorang demi seorang ditelitinya dengan seksama.
Ia menjumpai wajah orang-orang itu sudah berubah menjadi
orang yang kehilangan pikiran, biji matanya kaku dan lagaknya

seperti orang bodoh, sama sekali tidak ditemukan sesuatu gejala
yang aneh. Karenanya sambil tersenyum, dia berkata :
"Mungkin tenaga dalam mereka kelewat sempurna, biarpun
hamba telah menambah sepuluh kali lipat bahan sian hun liang yang
dibakar, namun kesadaran pikiran mereka tampaknya belum
terpengaruh secara keseluruhan."
"Tapi apa sebabnya ia mengatakan sinkun adalah si setan
gantung hitam dari neraka?" Tanya Uisik kong dengan perasaan tak
habis mengerti. Liong hoa sinkun tertawa jengah, buru-buru
sahutnya :
"Hal ini, mungkin tampang hamba memang kurang sedap
dipandang sehingga, sehingga dia menyebut begitu kepadaku."
"Lantas apa yang mesti kita perbuat dalam langkah berikutnya?"
Tanya Ui sik kong kemudian serius.
Liong hoa sinkun tertawa bergelak :
"Itu mah gampang, biarpun kesadaran mereka masih tertinggal
sebagian namun tenaga dalamnya telah punah, asal jalan darah
mereka kita totok, orang-orang itu akan menurut semua perintah
dan perkataan ciangbunjin"
"Betul juga perkataanmu itu," seru Ui sik kong gembira, "aaaai,
nampaknya makin tua aku semakin pikun."
Dengan suatu gerakan cepat, jari kanannya segera disodorkan
kemuka menotok jalan darah penting, ditubuh Thian cun yang.
Tapi disaat ujung jari tangannya hampir menyentuh diatas dada
lawan ini, mendadak Thian cun yang menggerakkan pergelangan
tangan kanannya, lalu dengan kelima jari tangan yang terpentang
bagaikan kaitan, dia balik mencengkeram pergelangan tangan kanan
Ui sik kong.
Bersamaan waktunya terdengar dia berseru sambil tertawa
terbahak-bahak :
"Bajingan tua, nampaknya kau tak pernah menyangka bukan?"
Tak terlukiskan perasaan kaget Ui sik kong menghadapi kejadian
ini, dengan suara dalam ia segera membentak : "Cepat kabur"
suasana didalam ruangan tengah berubah menjadi kacau, setiap
orang yang hadir dalam arena serentak menghentakkan kakinya
keatas tanah, dari bawah kaki masing-masing pun bermunculan
lubang gua.
Terdengar suara gemerincingan yang nyaring dalam waktu
singkat orang-orang itu sudah lenyap dari pandangan mata.

sementara itu Thian cun yang berhasil mencengkeram
pergelangan tangan kanan Uisik kong kencang-kencang. Hal ini
membuatnya sama sekali kehilangan tenaga untuk melawan,
Rengeknya kemudian sambil tertawa dingin :
"Asal kau, Ui tua sudah ditangkap. sama artinya seluruh partai
kupu-kupu telah kukuasai"
Lalu sambil berpaling kearah Kho Beng sekalian, serunya pula :
"Kalian jangan bergerak secara sembarangan, meskipun alat
rahasia yang melengkapi ruangan ini amat banyak, namun dibagian
tempat ini pasti aman dan tiada ancaman."
sementara itu Ui sik kong telah berseru sabil menggigit bibir
kencang-kencang menahan rasa bencinya.
"seabad berselang, leleuhurku telah tewas ditangan tiga dewa,
apakah malam inipun ." sebelum perkataan itu selesai diutarakan,
Thian cun yang telah mendengus seraya menukas :
"Bila aku membiarkan kau mati secara tenang, sejak pertemuan
yang pertama kali aku sudah membuatmu kehilangan nyawa, buat
apa aku mesti menyuruh kau hidup terus hingga kini."
Lalu dengan suara dalam terusnya :
"Asal kau bersedia menerima syarat dari Kho Beng, akupun tidak
akan menyulitkan dirimu"
sambil menggigit bibir Ui sik kong berkata :
"Dendam sakit hati telah menyusup ketulang sumsumku, selama
ini akupun bertekad hidup untuk membalas dendam atas aib yang
menimpa leluhurku. Hmmm, jangan mimpi kalau aku bakal
menerima syarat-syarat seperti itu."
"Hmm, itu berarti kau mencari kematian buat diri sendiri" kata
Thian cun yang sambil menghela napas.
"Heee . Heehh . Heeehh .." mendadak Ui sik kong tertawa dingin,
"sekalipun aku sedang mencari kematian buat diri sendiri, bukan
berarti kalian mampu membunuh diriku."
"Bajingan tua" bentak Kho Beng dengan suara dalam, "biarpun
aku berniat melaksanakan pesan terakhir dari guruku, namun bila
mana keadaan terpaksa, aku tetap akan merenggut juga selembar
jiwa anjingmu."
sambil menggigit bibir, Ui sik kong mendengus :
"Tua Bangka Thian, bajingan cilik Kho, aku akan mengucapkan
selamat tinggal kepada kalian"

Dengan suatu gerakan yang amat cepat bagaikan sambaran kilat,
tiba-tiba dia mengayunkan tangan kanannya, lalu dengan pukulan
yang mematikan ia menebas lengan kanan sendiri secara mentahmentah.
Menyusul putusnya lengan tersebut terdengar lagi suara
gemerincingan nyaring, ternyata Uisik kong telah membuka lubang
rahasia dan melarikan diri pula dari situ.
siapapun tak ada yang menyangka kalau musuhnya akan berbuat
senekat itu, sebab siapapun tak menyangka kalau Ui sik kong akan
bertindak begitu tabah dengan memapas kutung lengannya sendiri
Tampak percikan darah menyembur dan menodai seluruh
permukaan tanah yang berada dalam genggaman Thian cun yang
saat ini hanyalah tinggal sebuah kutungan lengan belaka.
Dengan gemas Thian cun yang membanting lengan itu keatas
tanah, lalu serunya dengan gemas :
"Baru pertama kali ini kujumpai peristiwa yang sama sekali diluar
dugaanku"
Kini ruangan tersebut tinggal mereka berapa orang, sedang dari
pihak musuh tak kelihatan lagi seorang manusia pun, suasana
tersebut amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Tiba-tiba Ui sik kong berkata,
"sekarang kita sudah terjerumus kedalam keadaan yang amat
berbahaya, Thian tua, apa yang harus kita perbuat sekarang?"
Thian cun yang memperhatikan sekejap keadaan disekeliling
tempat itu, lalu katanya :
"Walau kita berada ditempat yang sangat berbahaya, namun
ruangan ini justru aman sekali, sebab yang ada disini hanya alat
rahasia untuk menyelamatkan diri, tak ada alat rahasia untuk
mencelakai orang."
"Tapi kakek tongkat sakti sekalian justru berada dalam
cengkeraman iblis mereka" sambung Kho Beng.
Dengan cepat Thian cun yang menggeleng, katanya :
"Tidak. sejak aku tiba dalam ruangan ini aku telah memahami
akan hal tersebut, kakakmu sekalian sesungguhnya telah
dipindahkan ketempat yang lain." Lalu setelah berhenti sejenak,
katanya :
"Tapi hal ini memang wajib mereka lakukan sebab betapapun
juga dia toh mesti mempersiapkan langkah terakhir seandainya

benar-benar menderita kekalahan ditangan kita, paling tidak tiga
sandera tersebut masih merupakan senjata yang cukup ampuh."
Cepat-cepat Kho Beng menukas sambil gelengkan kepalanya.
"Persoalan itu lebih baik tak usah dibicarakan dulu, yang penting
apa yang mesti kita perbuat sekarang?"
sambil menatap wajah rekannya, kembali dia melanjutkan :
"Diantara kami semua, kaulah yang paling ahli dan
berpengalaman didalam soal-soal alat rahasia, ayoh cepat ajak kami
meninggaikan tempat ini"
"ooooh tentu saja, sudah sewajarnya bila aku yang menjadi
penunjuk jalan untuk kalian"
Mendadak dengan air mata bercucuran, Kho Beng berkata :
"cianpwee berdua maafkanlah kelancangan boanpwee."
"Utarakan saja terus terang," tukas Thian cun yang segera,
"sebetulnya apa rencanamu?"
"Terlepas apakah enciku sekalian sudah dipindahkan dari sini
atau tidak. boanpwee berniat untuk melakukan pemeriksaan didalam
gua pengikat cinta ini, kemudian baru meninggaikannya dengan
perasaan lega."
Beng Gi ciu segera mendukung :
"Engkoh Beng, aku akan menemanimu"
Thian cun yang segera menghela napas, katanya kemudian :
"Kalau kaupun bersedia menemaninya, untuk apa kami berdua
angkat kaki dari sini? sekalipun empek merasa yakin kalau mereka
telah memindahkan para sandera dari sini, tapi kita memang wajib
untuk menyelidikinya lagi sampai jelas."
"Tunggu dulu" cegah Kho Beng dengan suara dalam , "boanpwee
tak berniat untuk berbuat demikian."
"Lantas apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Thian cun yang agak
tertegun.
"Gua pengikat cinta bukan tempat yang aman, seandainya
cianpwee berdua menjumpai peristiwa yang diluar dugaan dalam
gua ini, berarti keselamatan seluruh umat persilatan pun akan
kehilangan dukungan, oleh sebab itu lebih baik biar boanpwee
seorang yang pergi melakukan pemeriksaan."
Kemudian sambil berpaling kearah Beng Gi ciu, katanya pula :
"Adik Ciu, kaupun harus menuruti perkataanku."
"Kau tak usah berbicara lagi" tukas Beng Gi ciu agak emosi,
"perduli apa pun bakal kau ucapkan, tak nanti akan kukabulkan,

apalagi kau pun tidak mengerti tentang ilmu barisan serta alat-alat
rahasia."
"Aaaah, sekalipun kau mengerti sedikit kukira tak nanti dapat
menandingi pengalaman empek yang jauh lebih banyak" sambung
Thian cun yang sambil tertawa. Kemudian agak emosi, dia
melanjutkan :
"Beng toako bernasib kurang mujur dan mati kelewat muda,
sedang kau adalah satu-satunya keturunan toako, andai kata empek
berdua yang mati masih tak apa, bila kau yang mengalami musibah
.."
"Kebaikan hati empek biar kuterima didalam hati saja" kata Beng
Gi ciu sambil menggeleng, "tapi akupun tak ingin kita menyerempet
bahaya bersama-sama."
"Tak usah banyak bicara lagi" teriak oh Kui sam tiba-tiba. "Kalau
ini dilanjutkan aku situa bisa menangis, Cun yang cepat membuka
jalan"
Thian cun yang tak banyak berbicara lagi, setelah mengawasi
sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia melepaskan sebuah
pukulan.
Blaaaammm
Ketika angin pukulannya menumbuk diatas dinding dengan
menerbitkan suara keras, sebagian dinding batu itu runtuh ketanah.
Ternyata dinding batu itu tebalnya Cuma setengah depa, biarpun
Thian cun yang hanya menggunakan enam bagian tenaga dalamnya,
namun dinding batu tersebut sudah tak mampu untuk menahan ,
seketika muncullah sebuah lubang selebar tujuh depa.
oh Kui sam segera mengayunkan langkah berniat memasuki gua
dibalik dinding yang roboh, namun Thian cun yang segera
menariknya. Dengan sepasang mata melotot besar oh Kui sam
segera berseru :
"Apakah lantaran dinding gua ini kau yang menjebolnya maka
aku tak boleh menerobosinya lebih dulu?"
Thian cun yang segera tertawa.
"Kui sam, usiamu sudah begini besar mengapa sifat
berangasanmu belum juga mereda, tahukah kau bahwa daerah
diluar lubang dinding tersebut adalah kawasan yang sangat
berbahaya? sekalipun tubuhmu terdiri dari baja aslipun, bisa jadi
tubuhmu akan terlumat hingga hancur tak ada wujudnya lagi."
oh Kui sam segera memukul jidat sendiri, seraya berseru :

"Didalam masalah ini aku memang tak mampu menandingimu,
lebih baik kau saja yang membawa jalan"
Tapi Thian cun yang segera menggelengkan kepalanya :
"Aku sendiripun tak sanggup, sebab tempat itu merupakan
sebuah kawasan yang amat berbahaya serta mematikan."
Hmm oh Kui sam segera mendengus, "kalau memang tempat
tersebut merupakan kawasan berbahaya yang mematikan, apa
gunanya kau memukulnya hingga berlubang?" sembari mengawasi
daerah disekeliling tempat itu, Thian cun yang menjawab :
"Aku tak lebih hanya ingin membuktikan kebenaran dari
dugaanku, coba akan kulihat apa betul bangunan ini dibuat menurut
system Pat kwa yang dikombinasikan dengan barisan yang lain lagi."
Menyusul kemudian ia pun melepaskan sebuah pukulan lagi.
Gempuran keras kembali menerbitkan suatu dentuman yang
amat nyaring, lagi-lagi ada sebagian dinding gua yang runtuh.
Akhirnya sambil manggut-manggut, Thian Cun yang berkata :
"Dugaanku memang benar, tempat ini memang dibangun
menurut system Pat kwa dan Ji gi"
"Apakah aku boleh melalui lubang yang kedua ini?" Tanya oh Kui
sam kemudian dengan kening berkerut.
sambil berkata lagi-lagi dia bermaksud menerobos masuk. Cepatcepat
Thian cun yang mencegahnya seraya berseru :
"Tidak boleh, tempat itu merupakan ceng kiong, sama seperti
yang pertama, merupakan kawasan berbahaya yang mematikan"
"Huuuh, lagi-lagi kawasan yang mematikan" seru oh Kui sam
mendongkol, "Kalau memang sudah tahu tempat tersebut
mematikan, apa gunanya dilubangi? Bajingan tua Ui sik kong dan si
banci Liong hoa sinkun sudah kabur dari sini, kenapa kita mesti
membuang waktu lagi dengan percuma?"
Dengan suara dalam Thian cun yang berkata :
"Akupun dapat membayangkan hal tersebut, tapi kau jangan lupa
sekali kita bertindak teledor akibatnya sepanjang masa akan merasa
menyesal, bagaimanapun juga aku mesti bertindak lebih berhatihati,
lagipula sekalipun kita lebih cepat pun, kita tak akan bisa
menyusul si tua Bangka tersebut."
Tiba-tiba oh Kui sam berpaling kearah Kho Beng danBeng Gi ciu
sambil ujarnya : "Apakah kalian berdua tidak mempunyai sesuatu
pendapat?"

Beng Gi ciu memandang sekejap kearah Kho Beng tanpa
menjawab, sedang Kho Beng seegra berkata sambil tertawa :
"Bukankah ada locianpwee berdua disini, tentu saja locianpwee
berdualah yang mengambil keputusan buat kami semua."
"Tidak" memberi kesempatan kepada oh Kui sam buka suara,
Thian cun yang telah berseru lebih dulu :
"Kalau begitu, biar akulah yang menjadi penunjuk jalan bagi kita
semua dengan melakukan pemeriksaan lebih dulu disekeliling tempat
ini." setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dia
berkata lebih jauh :
"Ruangan batu ini merupakan pusat dari seluruh gua pengikat
cinta, tapi justru tempat ini pula yang paling aman, agaknya si
bajingan tua Ui tidak punya rencana untuk menghadapi kita dengan
mempergunakan alat rahasia Karena itu mempersilahkan kita datang
kemari."
"Kalau memang pusatnya terletak disini, bukankah berarti seluruh
kunci utama yang mengendalikan segala perubahan atas alat rahasia
yang berada dalam gua pengikat cinta terletak pula disini?" Tanya
Beng Gi ciu. Thian Cun yang segera menggeleng
"itu sih tidak. menurut pendapatku, letak pusat pengendalian alat
rahasia berada dalam sebuah ruang lain disebelah kiri, namun pusat
pengendalian alat rahaisa mempunyai komposisi yang berbeda satu
dengan lain menurut selera pembuatnya, maka walaupun aku
memahami system konstruksinya, bukan berari dapat menggunakan
pula alat pengendali alat rahasia mereka."
"Aaaah, bicara pulang pergi, bukankah sama halnya dengan kau
sudah angkat tangan, menyerah dan tak punya akal lagi?" teriak oh
Kui sam penasaran.
sambil tertawa Thian cun yang menggelengkan kepalanya
berulang kali, sahutnya :
"Itu sih tidak. biarpun aku tak dapat mempergunakan pusat
pengendalian alat rahasianya, namun untuk masuk keluar sih tak
bakal dapat hambatan, bangunan ditempat ini semuanya terbagi
menjadi dua, satu berunsur dingin dan yang lain panas, pihak yang
berunsur dingin terdiri dari empat kawasan mematikan, sedangkan
pihak yang berunsur panas merupakan kawasan hidup dan aman."
Lagi-lagi sebuah pukulan gencar dilontarkan kedepan.
Kali ini dinding batu itu sama sekali tidak roboh, tapi terbukalah
sebuah pintu rahasia.

oh Kui sam segera bersorak gembira.
"Bagus sekali, kali ini kita boleh memasukinya, bukan?"
"Memasukinya sih boleh saja, tapi biar aku saja yang bertindak
sebagai penunjuk jalan."
sambil berkata ia segera berjalan lebih dulu memasuki pintu
rahasia tersebut.
secara beruntun semua orang mengikuti dibelakangnya
menembusi pintu rahasia tadi.
Dibalik pintu rahasia merupakan sebuah lorong bawah tanah,
dikedua belah sampingnya masing-masing terdapat empat buah
ruangan dengan perlengkapan yang komplit, tapi ada pula yang
kosong tak berisi.
Keempat buah ruangan tersebut segera diperiksa, sehingga
dalam waktu singkat semuanya telah selesai diperiksa.
Diujung lorong situ terdapat sebuah persimpangan jalan, Thian
cun yang dengan cepat mengebaskan ujung bajunya kesebelah
kanan. Lorong sebelah kanan berbentuk setengah lingkaran, pada
jarak lima kaki kemudian terdapat lagi sebuah tikungan menuju
kekanan, disisi lorong terdiri pula dari empat buah ruangan, bentuk
maupun perabotnya tak jauh berbeda seperti ruangan sebelumnya.
Hanya pada empat ruang berikut keadaannya kosong, Cuma
pada ruang terakhir terdapat sebuah rak senjata, tapi diatas rak
tersebut kecuali sebuah tombak yang telah berkarat, sama sekali tak
Nampak senjata taham lainnya. Tak tahan oh Kui sam berseru :
"Tempat ini bagaikan gua yang sama sekali tak berpenghuni,
kalau kita mesti melakukan pemeriksaan dengan cara demikian hasil
apakah yang akan kita peroleh?"
"aku tak lebih hanya berusaha dengan segala kemampuan untuk
melakukan penyelidikan ke setiap tempat yang bisa didatangi di gua
pengikat cinta ini, andaikata tak berhasil menemukan sesuatu, yaa
apa boleh buat lagi."
sambil berkata kakek dari marga Thian ini melanjutkan kembali
perjalanannya kedepan. Beng Gi ciu berpikir sebentar, kemudian
selanya :
"Menurut pendapatku, kemungkinan besar mereka sudah
mempunyai rencana untuk mengundurkan diri dari sini." Dengan
cepat oh Kui sam menggeleng.
"Berada dalam keadaan seperti tadi, dimana bajingan tua Ui sik
kong melarikan diri dengan membawa luka dilengan, tak mungkin ia

mempunyai rencana yang baik, keponakanku, kali ini dugaanmu tak
tepat"
"Aku hanya berbicara mengikuti situasi didala m gua ini," ucap
Beng GI Ciu sambil tertawa, "coba lihat semua barang yang penting
telah mereka pindahkan semua,kalau bukan direncanakan masa
dapat kita temukan dalam keadaan begini?"
"Betul juga perkataan itu," kata Thian Cun yang sambil
menganguk, "Situa Bangka Ui Sik kong memang bukan manusia
sembarangan, nampaknya dia telah melakukan pelbagai pesiapan,
agaknya dia sudah berjaga-jaga bila usahanya kali ini mengalami
kegagalan."
Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam kembali
tambahnya : "Ia benar-benar merupakan musuh yang tangguh buat
kita"
"Empek Thian, selanjutnya kita akan memeriksa kemana?" Tanya
Beng Gi ciu kemudian dengan nada menyelidik.
"Tempat didepan situ adalah posisi Kan kiong, kita lakukan
pemeriksaan lebih lanjut," ujar Thian cun yang sambil mendampingi
kedepan.
"Tampaknya keadaan ditempat itupun tak akan jauh berbeda
dengan tempat disini?"
"Benar Empat kawasan terdiri dari empat tempat yang berbentuk
sama, tentu saja keadaan disetiap tempat tak akan jauh berbeda,
kalau bukan demikian masa bangunan ini disebut mengandung
unsur Pat kwa dan Ji gi?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah
memasuki sebuah lorong yang lain.
Tapi dengan cepat ia menghentikan perjalanannya dengan wajah
tertegun, oh Kui sam, Beng Gi Ciu-serta Kho Beng sekalipun segera
dibuat termangu.
Ternyata dugaan Thian Cun yang telah mengalami perubahan
sama sekali diluar dugaan,
sebelumnya dia mengatakan bentuk bangunan dikedua tempat
tersebut sama satu dengan lainnya, namun setelah menembusi
tempat itu mereka temukan keadaan yang sama sekali berbeda.
Lorong itu Cuma sepanjang berapa kaki dengan ujungnya
merupakan sebuah ruangan batu yang luasnya mencapai dua kaki,
perabot yang berada disitupun tidak terlalu banyak.

setelah sebuah meja besar yang etrletak dibagian tengah, empat
buah kursi besar yang terbuat dari kayu cendana terletak diempat
sudut, sementara pada empat dinding masing-masing tergantung
sebuah lentera minyak. sebaliknya dibawah dinding bagian muka
terletak sebuah patung Buddha yang tingginya dua kali manusia
dewasa. Kening oh Kui sam berkerut, segera ia menegur : "Cun
yang, apa maksud kesemuanya ini?"
Thian Cun yang terbelalak keheranan, gumamnya agak tergagap.
"aneh, aneh, sunguh aneh"
"sebetulnya permainan busuk apa sih?" seru oh Kui sam lagi
bertambah gelisah, "masa kau tak dapat melihatnya?"
"Jangan ribut, jangan ribut dulu" Thian cun yang mengulapkan
tangannya, "keanehaan disini terletak pada patung Buddha tersebut,
mengapa disini bisa dilengkapi dengan sebuah patung Buddha?"
"siapa tahu patung tersebut hanya sebuah tipu muslihat bajingan
tua Ui yang sengaja hendak mengaburkan perhatian kita" sela Beng
Gi ciu.
"Tidak mungkin, sudah pasti bukan begitu maksudnya," kata
Thian cun yang sambil menggeleng. Mendadak.
"Hati-hati locianpwee agaknya dari mulut patung Buddha itu
menyembur keluar segulung asap berwarna hijau"
Buru-buru semua orang mengalihkan perhatiannya kepatung itu,
benar juga, dari mulutnya patung tersebut memang Nampak
menyembur keluar segulung asap berwarna hijau.
Tak lama kemudian asap hijau tersebut telah berubah menjadi
berwarna kuning bahkan dari telinga, mata serta mulutnya
menyembur keluar asap. makin lama semakin tebal dan semakin
banyak.
Dengan perasaan gelisah Beng Gi ciu segera berseru : "sudah
pasti asap beracun"
Mendadak paras muka Thian cun yang berubah hebat, teriaknya
kaget :
"Bukan asap beracun tapi asap belirang, aaah perhitunganku
salah besar, tempat ini buka saja diatur dengan unsure Pat kwa dan
Ji gi bahkan diantaranya disisipkan juga dengan barisan Jit coat tin
yang mematikan." Kemudian dengan suara dalam serunya :
"cepat ikuti diriku untuk mundur dari sini" sambil membalikkan
badan cepat-cepat dia mengundurkan diri dari tempat tersebut.

oh Kui sam tak berani berayal , menyusul dibelakang Thian Cun
yang semua berlarian meninggalkan gua pengikat cinta.
setibanya diluar gua, Thian Cun yang sama sekali tak berhenti
namun dengan mengerahkan ginkangnya dia kabur menuju
kebelakang lembah.
Hingga tiba didasar lembah Thian Cun yang baru menghentikan
larinya sambil menghembuskan napas panjang.
Kemudian menyusul Beng Gi ciu, Kho Beng dan siau wan
sekalian, mereka semua pun segera berkumpul dibalik semak.
Dengan kening berkerut, oh Kui sam segera berseru :
Bersambung ke jilid 43
Jilid 43
"cun yang, aku merasa tindakan kita kali ini amat memalukan,
masa didepan angkatan muda, kita dibuat lari terbirit-birit hanya
karena sebuah patung Buddha, hmmm, kemana kita harus taruh
muka kita sebagai keturunan dari tiga dewa?"
Sambil menghela napas Thian cun yang menggelengkan
kepalanya berulang kali, katanya kemudian : "Yaa, apa boleh buat."
Kemudian menunjuk kepuncak cian san, serunya lagi : "coba
kalian perhatikan kesana..."
Belum habis perkataan tersebut diucapkan tiba-tiba terdengarlah
suara ledakan dahsyat yang amat memekakkan telinga bergema,
memecahkan keheningan disusul pula Nampak semburan api yang
amat mengerikan menyembur keluar dari puncak bukit itu
Menyusul kemudian terjadi lagi ledakan kedua dan ketiga.
Ledakan demi ledakan yang menggelegar diangkasa membuat
seluruh permukaan tanah dimana Kho Beng sekalian berada turut
berguncang amat keras, hampir boleh dibilang tanah turut
berguncang, bumi serasa merekah, seakan-akan hari kiamat telah
tiba.
Bongkahan batu-batu raksasa berguguran disekeliling tempat
persembunyian mereka bagaikan hujan batu, untung beberapa
orang itu sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi
badan, coba kalau tidak niscaya tubuh mereka akan terluka oleh
hujan batu. Sampai lama..Lama kemudian suara dentuman yang
deras itu baru berhenti namun kobaran api dipuncak bukit masih
membara dengan hebatnya, seluruh tanah perbukitan tersebut telah
dilanda oleh lautan api.

sambil menghembuskan napas panjang Thian Cun yang berkata :
"sudahkah kalian lihat sendiri? Rupanya si bajingan tua ui sik
kong telah bertekad akan mengubur kita dalam lautan api. itulah
sebabnya ia berani berbuat yang aneh-aneh, coba kalau kita
melakukan pemeriksaan dulu kebagian gua yang lain, rasanya akan
sulit sekali buat kita untuk meloloskan diri dari musibah ini"
"Darimana empek Thian mengetahui bahwa mereka telah
menanam bahan peledak didalam gua tersebut?" Tanya Beng Gi ciu.
"Masalahnya terletak pada patung Buddha tersebut, ketika kita
memasuki ruangan gua tadi, aku masih mengira bangunan tersebut
memang benar-benar dibangun menurut system pat kwa dan ji gi,
namun tak seharusnya ditempat semacam ini terdapat patung
Buddha nya, kehadiran patung tersebut membuatku bingung dan tak
habis mengerti, hingga timbulnya asap kuning dari patung tersebut
aku baru mendapatkan ilham apa yang sesungguhnya terjadi,
rupanya mereka telah menambahkan barisan Jit coat tin yang
mematikan disana" Kho Beng tak mampu berkata-kata, dia hanya
menghela napas panjang. sesudah tertawa getir, Thian Cun yang
berkata lebih lanjut :
"Ilmu barisan dan silat rahasia merupakan kepandaian andalan
partai kupu-kupu, kenyataannya mereka mampu mengkombinasikan
barisan pat kwa, Ji gi dan Jit coat tin menjadi satu barisan yang
hebat, hal ini benar-benar berada diluar dugaanku"
"Dengan meledaknya bahan peledak tersebut, bukankah seluruh
gua pengikat cinta telah menjadi rata dengan tanah?" sela Beng Gi
ciu. Thian Cun yang menghela napas panjang :
"Aaaai Bukan Cuma gua pengikat cinta yang telah musnah,
semua binatang dan burung yang berada dipuncak bukit itupun
mungkin tak ada yang tersisa sama sekali, aaaai tindakan mereka
benar-benar teramat keji." setelah berhenti sejenak. kembali katanya
kepada Kho Beng :
"Tapi kaupun tak perlu risau ataupun sedih hati, biarpun tindakan
dari ui sik kong kali ini cukup keji namun orangnya amat cerdik, bila
keadaan belum sampai pada posisi yang amat terdesak, tak nanti dia
akan mengorbankan para sandera, oleh sebab itu kaupun tak usah
terlalu mengkuatirkan keselamatan dari cicimu sekalian"
"Benar" sambung Beng Gi ciu, "mari kita segera memeriksa
keadaan dari tiga bersaudara Kim"

sementara itu kobaran api dipuncak bukit sudah makin mereda,
terlihat dengan jelas bagaimana sebagian daricuncak bukit itu sudah
kena diledakkan hingga musnah.
Dengan membawa perasaan yang berat dan dalam semua orang
beranjak meninggaikan tempat tersebut dan kembali ke gua didasar
jurang.
Keadaan medan didasarjurang itu amat berbahaya, batuan cadas
berserakan dimana-mana, ditambah lagi pepohonan yang tumbuh
rimbun membuat keadaan disana amat mengerikan hati.
Disaat semua orang sedang menelusuri pepohonan yang rimbun,
mendadak terdengar gelak tertawa yang menyeramkan bergema
memecahkan keheningan, menyusul kemudian tampak tiga sosok
bayangan manusia menyelinap keluar dari tempat
persembunyiannya.
Dengan perasaan tertegun, serentak Thian cun yang sekalian
menghentikan langkahnya.
Ternyata ke tiga orang itu tak lain adalah ui sik kong yang
bertubuh kecil ceking dan berlengan tunggal beserta Liong hoa
sinkun disebelah kirinya dan disebelah kanannya adalah seorang
perempuan tua yang berbentuk seperti Liong hoa sinkun, berambut
panjang sebahu, memakai baju putih dan berwajah pucat bagaikan
dilumuri semacam kapur, tampangnya tidak mirip manusia, tujuh
bagian justru mirip setan.
semua orang segera mengerti, kemungkinan besar orang itu
adalah istri Liong hoa sinkun yang bernama Pek kut hujin.
Bekas lengan kanan ui sik kong yang kutung kini telah dibalut
dengan kain putih, namun pakaiannya belum diganti, sehingga noda
darah masih kelihatan mengotori seluruh badannya, keadaan dari
ketua partai kupu-kupu ini kelihatan paling mengenaskan. Terdengar
ia berseru sambil tertawa seram.
"Tentunya kalian tidak menyangka bukan, meskipun berulang kali
aku ui sik kong menderita kekalahan, bahkan lengan kananku pun
sudah kutung, namun kesemuanya ini tidak mengurangi semangat
juangku untuk menguasai jagat." Thian cun yang tertawa tergelak.
"Haaahh..haaahh .. haaahh . Tua Bangka Ui, mungkin kau
sendiripun tidak menyangka bukan, bahwa kami semua tak sampai
mampus oleh ledakan bahan peledakmu bahkan masih akan
meneruskan cita-cita kami untuk mengusirmu dari daratan
Tionggoan"

ui sik kong tertawa seram.
"Kejadian ini memang sedikit diluar dugaan namun aku tidak
merasa terlalu kecewa biarpun satu gagal satu kali, toh masih ada
kesempatan dilain saat." Kho Beng segera menyelinap maju
kedepan, tegurnya dingin : "Ayoh katakan, apa yang hendak kau
lakukan sekarang?"
Kemudian setelah memperhatikan sekejap wajah Pek kut hujin,
katanya lebih jauh : "SEtelah mendatangkan bala bantuan, tentunya
kau berniat untuk berkelahi bukan?"
Dengan sikap yang amat tenang Ui sik kong menggelengkan
kepalanya berulang kali, ujarnya :
"Lengan kananku baru kutung, aku tidak berminat sama sekali
untuk melangsungkan pertarungan-"
"Lalu apa tujuanmu?" bentak sang pemuda tak sabar. sambil
tertawa seram Ui sik kong berkata :
"Ada tiga hal yang perlu kubicarakan dihadapan kalian. Pertama,
leluhur kami telah menemui ajalnya dibawah tebing hati Buddha
pada seabad berselang ditangan tiga dewa, maka setelah hidup
memencilkan diri hampir seabad lamanya, partai kupu-kupu tetap
bertekad akan membalas dendam atas sakit hati ini."
Ditatapnya wajah Thian cun yang sekejap dengan sinar matanya
yang hijau menyeramkan, kemudian lanjutnya lebih jauh :
"siapa sangka lengan kananku justru sudah kutung lebih dulu
ditanganmu, maka aku telah bersumpah kepada langit, kecuali
keturunan dari tiga dewa telah kutumpas habis semua, aku tak nanti
akan melupakan sakit hati yang terjadi hari ini."
"Haaahh . Haaahh .. haaahh asal kau berkepandaian untuk
berbuat yang sama, terserah apapun kemauanmu" sahut Thian cun
yang acuh tak acuh. Ui sik kong kembali berkata lebih jauh :
"Kedua, kitab pusaka Thian goan bu boh adalah mestika dari
partai kupu-kupu, terlepas apakah ilmu silat yang tercantum didalam
kitab tersebut bermanfaat atau tidak buat partai kupu-kupu, aku
tetap bertekad akan mendapatkannya kembali." sambil berpaling
kearah Kho Beng, bentaknya :
"Mati hidup kakakmu sekalian masih tetap berada dalam
cengkeramanku, bila kau berniat menyelamatkan jiwa mereka, cara
yang paling tepat adalah selekasnya mengembalikan kitab pusaka
Thian goan bu boh tersebut kepadaku"

"Aku pun tetap bermaksud menyampaikan syarat kmepadamu"
kata Kho Beng dengan suara dalam, "asal kau dapat mewujudkan
apa yang menjadi syaratku itu, kujamin kedua lebar kitab pusaka
Thian goan bu boh itu akan kukembalikan ketangan anda secara
utuh, nah, apakah persoalanmu yang ketiga?"
"Ketiga, aku hendak menyampaikan sebuah berita buruk kepada
kalian semua" seru Ui sik kong sambil tertawa seram.
"Berita buruk apa?" Kho Beng merasa agak tertegun-Ui sik kong
kembali tertawa seram.
"Heehh heehh . Heeehh . seluruh kekuatan inti dari tujuh partai
besar dan para jago kenamaan dari empat penjuru mungkin akan
terkubur untuk selamanya didalam sebuah selat yang sempit garagara
Chee Tay hap telah menyampaikan berita yang salah."
"Hei, dari mana kau bisa tahu tentang chee Tay hap?" seru Kho
Beng agak tercengang, "berita salah apa pula yang disampaikan
olehnya sehingga akan menyebabkan tewasnya para jago dalam
sebuah selat? Mengapa kau tak berani menerangkan persoalan ini
dengan lebih jelas lagi?"
Kembali ui sik kong tertawa seram.
"Heeehhh .heeehh . Heehh .orang menyebut chee Tay hap
sebagai saudagar racun berkaki sakti, hal ini disebabkan ilmu
meringankan tubuhnya yang amat sempurna, oleh sebab itulah aku
sengaja memilih dirinya sebagai penyampai berita, yang lebih
penting lagi adalah hubungannya yang begitu dekat denganmu,
kehadirannya sebagai pembawa berita sudah pasti akan dipercaya
ketua siau lim pay secara utuh dan tanpa curiga"
setelah memandang sekajap wajah musuh-musuhnya dengan
sorot mata yang dingin kembali dia melanjutkan :
"Dia telah menyampaikan berita darimu untuk mengajak para
jago yang berkumpul dikuil siau lim si untuk bersama-sama
berangkat kesebuah selat tertentu, bahkan mereka sudah harus tiba
sebelum tanggal tujuh belas."
"Tanggal tujuh belas? Berarti besok?" Tanya Kho Beng setengah
percaya setengah tidak. ui sik kong tertawa terkekeh-kekeh :
"Betul, namun bila dihitung dengan gerak cepat langkah Chee
Tay hap mungkin saat ini dia telah tiba di siau lim si, kasihan benar
kawanan jago yang menganggap dirinya sebagai pendekar sejati,
mungkin mereka sudah mulai melangkahkan kakinya untuk
berangkat menuju ke pintu kematian"

"Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan?" seru Kho Beng
sambil menggigit bibir. Kembali ui sik kong tertawa tergelak.
"Padahal perkataanku sudah amat jelas, sepantasnya kau bisa
memahami dengan segera berita yang disampaikan chee Tay hap ke
pihak siau lim si tak lain adalah berita yang berasal darimu, tentu
saja yang dimaksud disini adalah aku yang mewakilimu"
"Hmmm, jangan kau bermimpi disiang hari bolong" seru Kho
Beng sambil tertawa dingin, "mana mungkin chee Tay hap bersedia
menuruti perintahmu? Apalagi belum tentu para jago akan
mempercayai perkataannya."
"Chee Tay hap telah terpengaruh oleh ilmu memindah sukma
menggeser hawa dari Liong hoa sinkun, gara-gara pengaruh hipnotis
tersebut telah salah menganggap Liong hoa sinkun sebagai dirimu
Kho Beng. Tentang bagaimana caranya merebut kepercayaan dari
para jago hal ini disebabkan dia membawa tanda pengenalmu."
"Tanda pengenal apa?" Kho Beng semakin tak habis mengerti.
"Mengapa kau tidak memperlakukan pemeriksaan atas dirimu
sendiri. Coba dilihat benda apakah yang telah hilang dari tubuhmu?"
Dengan perasaan tertegun Kho Beng mencoba untuk meneliti
keadaan sendiri, dengan cepat ia menjumpai kalau lencana naga
kemala hijau yang biasanya tergantung dilehernya kini sudah lenyap
tak berbekas, saking tertegunnya dia sampai tak mampu
mengucapkan sepatah kata pun.
sambil tertawa tergelak ui sik kong segera mengejek :
"sudah kau temukan?"
"Kau .. kau maksudkan lencana naga kemala hijau?" Ui sik kong
segera tertawa.
"Kecuali lencana naga kemala hijau tersebut benda apalagi yang
mudah merebut kepercayaan orang? Ketika sibungkuk Thio Ciong
lan menjumpai lencana naga tersebut dia pasti mempercayai kalau
berita tersebut disampaikan orangnya sendiri, asal sibungkuk sudah
percaya maka orang-orang yang lainpun bukan masalah lagi."
"sejak kapan kau mencuri lencana naga kemala hijauku ini?"
teriak Kho Beng dengan gusar.
"Haaahh haahh .. haahh .demi tercapainya tujuanku, cara yang
paling tak halal pun bakal kutempuh, buat apa kau menanyai urusan
sepele seperti itu?" Tiba-tiba oh Kui sam menyela :
"Hey situa Bangka ui, kenapa sih kau suka sekali menyusun cerita
bohong? Cepat katakan apa nama selat itu dan cara apa kau hendak

menipu kewananjago tersebut?" Dengan cepat ui sik kong
menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya :
"Apa nama selat tersebut? Maaf kalau aku tak bisa menjelaskan,
pokoknya ada sekelompok jago yang terdiri dari ratusan orang,
didalamnya termasuk juga sebagian besar inti dari dunia persilatan,
malam ini juga bakal mati secara mengenaskan didalam selat
tersebut"
"Hmmm, aku tahu kau sedang mengigau untuk menipu orang lain
saja" teriak oh Kui sam.
"Hmmm, akupun perlu menjelaskan pula kepada kalian, yang
mendapat tugas untuk menyelesaikan pekerjaan besar ini ialah
putriku Dewi In un serta kedua puluh empat orang pembantunya."
setelah berhenti sejenak, pelan-pelan dia melanjutkan :
"SEandainya kalian cerdik, rasanya tak akan sulit memecahkan
persoalan ini" Mendengar perkataan tersebut, Kho Beng sekalian
menjadi terperanjat sekali dibuatnya. Dengan penuh amarah oh Kui
sam berkata :
"Tua Bangka ui, mungkin kau hendak mengulangi lagi perbuatan
busukmu dengan menggunakan bahan peledak?"
"Haaahh .. haaahh . Haahh .mungkin saja dugaanmu benar,
pokoknya yang menjadi tujuanku adalah membasmi seluruh
kekuatan inti yang berkumpul di siau lim si ini. sampai waktunya
maka tinggal kalian beberapa orang dengan jumlah seminim ini,
mana mungkin kalian mampu menghadapi kami lagi?"
"Bajingan tua, aku lebih suka melanggar pesan guruku almarhum
dari pada membiarkan manusia macam kau tetap hidup didunia ini"
teriak Kho Beng penuh amarah. sambil mengerahkan tenaga
dalamnya, dia melepaskan sebuah pukulan kedepan.
Tampaknya ui sik kong telah mempersiapkan diri secara baikbaik,
dengan cepat dia mengayunkan tangan tunggalnya untuk
menyongsong datangnya ancaman tersebut, sementara Liong hoa
sinkun serta Pek kut hujin tidak tinggal diam, serentak mereka pun
melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Tenaga dalam mereka bertiga segera bergabung menjadi satu
menimbulkan segulung tenaga serangan yang maha dahsyat.
Didalam melepaskan serangannya tadi Kho Beng telah
menggunakan tenaga dalamnya sebesar sembilan bagian.
Blaaammm

Terjadi benturan yang memekakkan telinga ketika kedua gulung
kekuatan tersebut saling bertumbukkan satu sama lainnya.
Kho Beng segera merasakan pergelangan tangannya menjadi linu
dan kesemutan, peredaran darahnya menjadi kurang lancar
sehingga tanpa terasa lagi ia mundur selangkah kebelakang.
Thian Cun yang, oh Kui sam dan Beng Gi ciu sekalian yang
menyaksikan peristiwa itu serentak bergerak maju kemuka dan
melakukan pengepungan dengan posisi setengah lingkaran.
sementara itu Liong hoa sinkun serta Pek kut hujinpun kelihatan
bergoncang keras akibat bentrokan tadi, tiba-tiba saja dari saku
mereka menyembur keluar asap berwarna merah yang menyebar
keangkasa, dalam waktu singkat asap tersebut menyelimuti daerah
seluas berapa kaki dan menyelimuti seluruh tubuh ui sik kong
sekalian.
"Empek berdua hati- hati, mungkin asap itu beracun" teriak Beng
Gi ciu dengan perasaan terkejut.
Thian Cun yang serta oh Kui sam kelihatan agak tertegun,
dengan cepat mereka mundur sejauh dua langkah kebelakang.
Dalam amarahnya oh Kui sam segera menghimpun tenaga
dalamnya dan melontarkan sepasang telapak tangannya kedepan
untuk membuyarkan asap tersebut.
Tenaga pukulannya memang luar biasa sekali, ditengah amukan
angin topan yang menderu- deru, asap tebal berwarna merah tadi
hilang lenyap seketika, namuan bayangan tubuh ui sik kong sekalian
pun sudah lenyap dari pandangan mata. sambil menggertak gigi oh
Kui sam berseru dengan gemas.
"Benar-benar bajingan yang amat licik, nampaknya aku perlu
memapas kutung lengan kirinya juga."
"sudah tak usah mengumpat terus, yang penting kita harus
merundingkan masalah yang pokok" sela Thian cun yang.
Kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya kewajah Kho
Beng serta Beng Gi ciu sekalian, katanya lebih jauh :
"Aku tidak begitu memahami tentang persoalan ini, siapa sih
Chee Tay hap itu?"
setelah menghela napas Kho Beng menjawab :
"Dia adalah orang kepercayaan enciku, andaikata berita ini benarbenar
disampaikan kepihak siau lim si, apalagi sampai dipercayai
oleh para jago disitu, aaai . Akibatnya benar-benar tak bisa
dibayangkan dengan perkataan"

"Yaa, seandainya memang benar ditakdirkan akan terjadi
musibah tersebut tentu saja kita tak bisa banyak berkutik," Thian
cun yang mengangguk tanda membenarkan.
"Apa lagi waktu yang tersedia hanya sehari, rasanya mustahil
bagi kita untuk berangkat ke siau lim si." setelah berhenti sejenak,
kembali katanya :
"Lagipula seandainya bisa disusul kesana bila mereka betul-betul
sudah tertipu dan berangkat keselat tersebut, mungkin disaat kita
tiba disana, mereka telah berangkat pula keselat tadi."
Paras muka Kho Beng berubah menjadi amat serius, saking
sedihnya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Andaikata pula jago yang berkumpul di siau lim si benar-benar
terkena musibah, sekalipun hal ini disebabkan rencana keji dari ui sik
kong namun namanya yang justru dipergunakan, sudah pasti dia
akan menjadi manusia yang paling berdosa didunia ini.
Diam-diam ia menggetarkan gigi kencang-kencang disamping itu
dia pun bertekad akan melenyapkan ui sik kong dari muka bumi.
Akhirnya Thian cun yang yang memecahkan keheningan lebih dulu,
katanya :
"Entah bagaimanapun perubahan situasi yang bakal terjadi kita
harus segera berangkat ke siau lim si."
setelah berhenti sejenak, tambahnya :
"Aku rasa lebih baik kita pergi mencari tiga bersaudara Kim lebih
dahulu" Maka berangkatlah kawanan jago itu menuju ke ^oa didasar
jurang tersebut.
Tak lama kemudian mereka telah sampai dimuka pintu gua,
mendadak Kho Beng mengendus bau amis darah yang sangat
menusuk penciuman, ia menjadi amat terperanjat, teriaknya tanpa
sadar : "Aduh celaka"
Dengan satu kali lompatan cepat dia menerobos masuk lebih dulu
kedalam goa itu. Benar juga suatu pemandangan yang amat tragis
terpapar didepan matanya.
Tiga bersaudara Kim kini sudah roboh terkapar diatas genangan
darah, tampaknya mereka telah dibantai orang secara keji.
sambil menggertak gigi menahan rasa gusar yang meluap. Kho
Beng segera berseru :
"Bajingan tua ui, bila aku tak dapat mencincang tubuhmu hingga
hancur berkeping-keping, aku bersumpah tak akan menjadi
manusia." Tapi Beng Gi ciu segera menarik tangannya seraya

berkata : "Engkoh Beng, mungkin bukan hasil karya dari bajingan
tua she Ui itu" sambil menunjuk kedalam gua dia melanjutkan :
"Coba lihat, mereka pun telah mendapat celaka, dibantai orang
secara kejam"
Ketika Kho Beng mengalihkan pandangannya kedalam gua, betul
juga, ia melihat Cun hong lengcu Jin cun- Hoe im lengcu Li sian soat
serta si gedang geledek sin cu beng telah tewas pula dalam keadaan
yang mengerikan, darah segar berceceran membasahi seluruh lantai
gua.
Mereka tewas dalam keadaan masih terikat, sedang bagian
kepalanya hancur terkena pukulan keras.
sungguh aneh peristiwa ini. Tanpa terasa Kho Beng berseru
keheranan-
Peristiwa ini memang merupakan suatu kejadian yang sangat
aneh, andaikata peristiwa ini merupakan hasil karya dari Ui sik kong
atau orang-orang partai kupu-kupu maka tak mungkin mereka
membantai juga Cun hong lengcu sekalian
Tapi kalau bukan hasil karya dari jago partai kupu-kupu, siapa
yang telah melakukan pembantaian tersebut?
Mendadak terdengar Thian cun yang berseru :
"Tampaknya orang ini belum mati."
Mendengar ucapan tersebut Kho Beng segera berpaling ternyata
yang dimaksud adalah Kim lo sam.
Benar juga dadanya kelihatan masih bergerak naik turun, meski
keadaannya sudah amat lemah.
Cepat-cepat Kho Beng berjongkok disisinya dan menempelkan
telapak tangan kanan keatas jalan darah Ki hay hiat nya, segulung
aliran hawa hangat pun pelan-pelan tersalur masuk kedalam
tubuhnya.
Berkat bantuan hawa murni yang mengalir masuk kedalam
tubuhnya itu, pelan-pelan Kim Losam sadar kembali dari sekaratnya.
Ia membuka matanya lebar-lebar, lalu memaksakan diri untuk
mengeluarkan secercah senyuman, dengan suara yang lemah dan
terputus bisiknya : "Kho .. Kho sauhiap kali kalian tee ..telah kembali
.."
"siapakah yang telah mencelakai kalian semua?" Tanya Kho Beng
dengan perasaan gelisah.

Agaknya Kim Losam tak rela mati dengan begitu saja, ditambah
lukanya tidak mencapai taraf akan mematikan dengan segera, maka
selama ini dia masih dapat mempertahankan hidupnya secara paksa.
Namun setelah berjumpa dengan Kho Beng, semangatnya untuk
mempertahankan hidup pun menjadi kendor sebagian, meski sudah
memperoleh bantuan tenaga dalam dari Kho Beng, namun
keadaannya tak lebih sudah mendekati saat ajal. sambil berusaha
bergelut dengan maut, serunya terbata-bata :
"Perbuatan ini .. di .. dilakukan .. o oleh Kiong . ceng .. san-."
"Kiong Ceng san?" Kho Beng amat terkesiap lalu teriaknya lagi
sambil menggertak gigi, "apakah Liong kiong sincu Kiong Ceng san
dari bukit Kun san?"
Namun Kim Losam telah menghembuskan napasnya yang
terakhir, mati dengan perasaan puas.
Kho Beng segera terjerumus dalam lamunan yang sangat
mendalam.
Diam-diam ia mencoba untuk menganalisa, apa sebabnya Kiong
Ceng san membunuh tiga bersaudara Kim secara keji?
Akhirnya dia berhasil memperoleh suatu pendapat, walaupun
Kiong Ceng san adalah seorang pemimpin diwilayah telaga Tong
ting, sesungguhnya dia merupakan seorang manusia rendah yang
munafik dan berhati sempit.
Tindakan tiga bersaudara Kim yang berpihak kepadanya jelas
menimbulkan rasa tak puas dalam hati kecilnya, sekalipun dia telah
membuat perjanjian dengan para jago dari dunia persilatan untuk
mengadakan gencatan senjata sementara waktu, namun hal ini
nampaknya tidak mengurangi rasa bencinya terhadap dia serta tiga
bersaudara Kim.
Itulah sebabnya ketika berjumpa kembali dengan tiga bersaudara
Kim, segera timbulah napsu membunuhnya sehingga berakibat
tewasnya ketiga orang pendekar sejati ini secara mengenaskan.
sedang mengenai Cun hong lengcu sekalian, kesatu lantaran
mereka adalah anggota partai kupu-kupu, kedua diapun kuatir
orang-orang tersebut bakal membocorkan rahasianya membunuh
tiga bersaudara Kim, maka orang-orang tadi segera dibantai
sekaligus dengan maksud menutup mulut mereka untuk selamanya..
Tapi sama sekali tak terduga olehnya, ternyata Kim Losam tak
sampai tewas seketika, mungkin sukma tiga bersaudara Kim masih
penasaran hingga berniat membalas sakit hati ini.

Menyaksikan kematian tiga bersaudara Kim yang begitu
mengenaskan dalam waktu singkat rasa bencinya terhadap Kiong
ceng san menjadi setingkat lebih mendalam ketimbang rasa
bencinya terhadap Ui sik kong. Diam-diam ia berbisik didalam hati :
"Kiong Ceng san, bila kita bersua kembali lain waktu, saat itulah
merupakan hari ajalmu"
sementara dia masih termenung, terdengar Thian cun yang
berkata :
"Biarcun aku kurang begitu tahu tentang anggota persilatan
didaratan Tionggoan- namun nama Kiong ceng san pernah
kudengar, bukankah dia adalah seorang tua yang berjiwa
pendekar?"
"Tapi diapun seekor binatang buas, seorang manusia munafik
yang berhati jahat, buas dan tak punya rasa perikemanusiaan"
sambung Kho Beng emosi.
Dengan pandangan lembut, Beng Gi ciu mengerling sekejap
kearahnya, kemudian berkata :
"Mungkin dulu kau pernah mempunyai ikatan perselisihan
dengannya, kalau tidak mustahil dia akan membencimu begitu
mendalam."
sambil menggigit bibir Kho Beng berseru :
"Dihadapan jenasah tiga bersaudara Kim, aku bersumpah, apabila
berjumpa lagi dengan bajingan tua tersebut dimasa mendatang, saat
itulah merupakan saat ajalnya, aku tak bakal melepaskan dia dengan
begitu saja."
"Bajingan tua itu terlampau kejam, dia memang pantas untuk
dibantai" Beng Gi ciu mendukung dengan suara lembut. oh Kui sam
turut menghela napas panjang.
"Ya a, walaupun aku dengan mereka bertiga hanya sempat
bertemu satu kali, namun kesanku terhadap mereka memang cukup
baik." Kemudian sambil berpaling kearah Kho Beng, terusnya :
"Aku rasa tiada waktu lagi buat kita untuk mengubur jenasah
mereka, menurut pendapatku lebih baik kita gempur dulu gua
tersebut untuk sementara waktu, bila urusan si tua Bangka Ui sudah
usai, kita baru mengubur jenasahnya secara layak."
"Perkataan locianpwee memang benar" buru-buru Kho Beng
menyahut. Maka dengan perasaan berat semua orang melangkah
keluar dari gua tersebut.

Dengan gerakan cepat Kho Beng menyumbat mulut gua dengan
beberapa buah batu besar, kemudian berangkatlah mereka
meninggalkan bukit Cian san menuju kebukit siong san-
^ooooooo
semenjak ketua siau limpay Phu sian sangjin menyebarkan surat
undangan, berbondong-bondonglah para jago dari pelbagai daerah
berdatangan kesana, termasuk juga para ketua partai besar dengan
membawa serta kawanan jago lihaynya.
Berhubung pengalamannya ketika berada dipuncak Giok cing
hong dibukit Tiong lam san, Phu sian sangjin sekalian tahu bahwa
penjagaan yang diserahkan kepada jago-jago kelas dua dan kelas
tiga tak mungkin akan mengetahui kehadiran kawanan jago lihay
sebangsa Ui sik kong, oleh sebab itu dia segera menghimpun seluruh
kekuatan inti para jago yang terdiri dari lima ratusan orang itu untuk
dilakukan seleksi yang ketat dengan memilih seratus orang
diantaranya.
Dan keseratus orang inilah yang menjadi kekuatan ini dari usaha
untuk menumpas iblis dari muka bumi.
Maka empat penjuru disekeliling kuil siau lim si dilakukan
penjagaan oleh sekawanan jago lihay kelas wahid, bisa dibayangkan
betapa ketatnya penjagaan disekeliling tempat itu.
Baik siang maupun malam semua jago yang berada dalam kuil,
pemimpin golongan dan pemimpin perkumpulan bersama-sama
berkumpul diruang Hongtiang untuk bersiap menghadapi segala
perubahan yang tak terduga. Dengan suara nyaring Phu sian sangjin
berkata :
"selama beberapa hari terakhir ini, berbagai jago dari segala
penjuru telah berdatangan, kalau dihitung kembali rekan-rekan yang
harus hadir pun sebagian besar telah berkumpul tinggal para jago
yang dipimpin oleh Liong kiong sicu dari telaga Tong ting masih
belum ada kabar beritanya."
seorang kakek bertubuh tinggi besar segera menyahut :
"Menurut apa yang kuketahui, Kiong Ceng san baru akan tiba
kemari dua hari lagi, sebab murid utamanya mendadak menghianati
perguruan, Kiong Ceng san hendak menyelesaikan persoalan
pribadinya terlebih dahulu."
Yang berbicara adalah sipedang angin sakti Kongsun Jiang, dia
adalah ketua perkumpulan Tong ting yang menjadi sahabat karib

Kiong ceng san, karenanya dia cukup mengetahui keadaan dari
rekannya itu.
"omitohud" ucap Phu sian sangjin kemudian, "kalau memang
Kiong sicu masih ada urusan pribadi yang mesti diselesaikan dulu
tentu saja aku tak bisa terlalu mendesak."
setelah memperhatikan sekejap wajah para jago yang hadir
dalam ruangan, ia berkata lagi :
"Berbicara dari pengalaman kita dipuncak Giok cing hong dibukit
Tiong lamsan- ui sik kong memiliki Ilmu silat yang luar biasa sekali
lagipula jumlah anak buahnya sangat banyak. aku lihat tujuan kita
untuk menumpas kaum iblis mungkin .."
sambil menghembuskan napas panjang dia segera membungkam
dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya .
Terdengar seseorang menyambung dengan suara yang rendah
dan berat.
"mungkin sekalipun sudah menghimpun segenap kekuatan inti
yang berada dalam dunia persilatan pun tetap masih belum mampu
untuk menghadapi kekuatan partai kupu-kupu." Ternyata yang
berbicara adalah Bu Wi lojinsebenarnya
para hadirin merasa sangat tidak puas dengan
perkataan itu, namun berhubung Bu wi lojin adalah seorang tokoh
silat yang mempunyai nama serta kedudukan yang sangat terhormat
dan terpandang, maka kata-kata tak puas itu segera ditelan kembali.
Dengan kening berkerut kembali Phu sian sangjin berkata :
"Tapi kalau dibilang kita benar-benar tak punya harapan lagi,
lantas apa gunanya saudara sekalian diminta datang berkumpul di
siau lim si ini."
Bu wi lojin tertawa tergelak. katanya :
"Perkataanku belum selesai dikatakan, kesatu, walaupun dalam
soal ilmu silat kita kalah dari partai kupu-kupu, namun jago-jago dari
Tionggoan termasyur sebagai orang yang berbakat dan pintar, siapa
tahu diantara kita akan berhasil mendapatkan sebuah akal cerdik.
Dan kedua, terpaksa kita melimpahkan semua pengharapan atas diri
Kho Beng"
"PErkataan Bu wi sicu memang tepat sekali," kata Phu sian
sangjin dengan suara dalam, "sesungguhnya Kho Beng adalah
seorang yang bisa kita harapkan, karena kudengar ilmu silatnya
telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali."

Pelan-pelan dia memandang sekejap sekeliling tempat itu lalu
lanjutnya segera suara dalam :
"Namun berita yang kudengar agaknya gelagat sedikit kurang
menguntungkan. "
"sebenarnya berita apakah itu?" buru-buru si hwesio daging
anjing bertanya dengan nada gelisah.
Phu sian sangjin menghela napas panjang.
"Aaaai .. sipembawa berita itupun kurang begitu jelas, tapi
katanya Kho Beng sicu telah dihajar oleh ui sik kong hingga
menderita luka parah dan jejaknya tidak diketahui, apa yang berhasil
kuketahui sampai disini saja."
Hwesio daging anjing kembali menghela napas panjang, katanya
kemudian.
"Aaaai . Kalau toh setiap persoalan telah digariskan oleh takdir,
tampaknya kita hanya bisa berusaha dengan segala kemampuan
yang kita miliki."
"omitohud .. bila diantara saudara sekalian mempunyai satu
pendapat silahkan diutarakan keluar untuk dirundingkan bersama,
tujuan kita telah jelas sekarang yakni membasmi pengaruh siluman
dari muka bumi serta menegakkan kembali suasana tentram bagi
seluruh umat persilatan."
Mendadak dari sudut ruangan sana berdiri seorang kakek
bungkuk, katanya dengan lantang :
"Menurut pendapatku, lebih baik kita menyelidiki dulu kebenaran
dari berita tentang Kho Beng tadi, lalu menariknya untuk bergabung
dalam deretan kita untuk bersama-sama menumpas kaum iblis,
sebab aku lihat hanya dia seorang yang mampu menandingi Ui sik
kong."
sewaktu Phu sian sangjin berpaling dia segera mengenali si
pembicara adalah si unta sakti Thio Ciong la n-Maka cepat-cepat
sahutnya :
"Ucapan Thio sicu tepat sekali, terus terang saja aku telah
mengirim banyak sekali mata-mata untuk mencari kabar berita
tentang Kho Beng sicu, hanya kini belum ada kabar beritanya yang
pasti tiba ditanganku."
Baru saja Thio bungkuk hendak mengucapkan sesuatu tiba-tiba
tampak seseorang pendeta tua berjalan masuk kedalam ruang
hongtiong, setelah itu dia memberi hormat kepada Phu sian sangjin
sambil berkata : "Lapor ciangbun susiok "

Pendeta tua itu tak lain adalah Hui beng siansu satu diantara
sepuluh pendeta agung yang bertugas dibidang hokum, untuk
sementara waktu dia bertugas sebagai pembawa berita dari luar
kedalam ruangan-
Buru-buru Phu sian sangjin bertanya : "Ada urusan apa?"
"Ada seorang sicu mengaku bernama Chee Tay hap ingin
bertemu dengan ciangbunjin Chee Tay hap ."
Gumam Phu sian sangjin-"Apakah sudah ditanya asal usulnya?"
sebelum Hui beng siansu sempat menjawab, Thio bungkuk telah
menimbrung dengan cepat.
"aku cukup mengetahui asal usul chee Tay hap ini"
"Kalau memang Thio sicu tahu, dapatkah dijelaskan asal
usulnya?"
Thio bungkuk segera tersenyum, "Dia adalah pembantu Kho yang
ciu."
Phu sian sangjin agak tertegun, serunya kemudian :
"Pembantunya kakak perempuan Kho Beng"
"Benar" Thio bungkuk mengangguk. "orang ini berhati jujur dan
setia kepada majikannya, belum lama berselang dia baru berpisah
denganku, mungkin kedatangannya adalah untuk bergabung dengan
kelompok kita dalam urusan menumpas kaum iblis." setelah berhenti
sejenak. kembali katanya :
"Tapi berbicara menurut ilmu silat, menurut standar yang telah
ditetapkan lo siansu saat ini, dia masih belum berhak untuk
memasuki ruang hongtiong ini"
Phu sian sangjin berpikir sebentar, lalu katanya :
"Kalau begitu ajaklah dia beristirahat dulu, siapkan hidangan
baginya."
Tapi Hui beng siansu segera menggeleng seraya berkata :
"sicu ini bersikeras hendak bertemu dengan ciangbunjin, katanya
ada rahasia penting yang akan disampaikan"
sementara Phu sian sangjin masih ragu-ragu, Thio bungkuk telah
menyela dengan gelisah :
"Chee Tay hap adalah orang jujur, kalau dia mengatakan ada
rahasia besar yang perlu disampaikan, hal ini tak mungkin akan
salah lagi." sembari berkata , ia sudah beranjak dari tempat
duduknya. Cepat-cepat Phu sian sangjin berseru :
"Kalau memang demikian, cepat undanglah dia untuk masuk
keruang hong tiong"

Hui beng siansu segera mengundurkan diri dari ruangan untuk
melaksanakan perintah.
Tak lama kemudian chee Tay hap dengan wajah penuh debu dan
kelihatan letih sekali telah berjalan masuk kedalam ruangan dengan
langkah tergesa-gesa.
segenap jago persilatan yang berada dalam ruangan serentak
mengalihkan pandangan mata nya kewajahnya, dengan keheranan
mereka mengawasi gerak-geriknya, mereka ingin mengetahui
rahasia apakah yang hendak disampaikan.
chee Tay hap menjura lebih dulu kesekeliling ruangan, lalu
kepada Thio bungkuk serunya :
"Majikan muda Kho Beng menyuruh aku menyampaikan kabar,
minta kepada Thio cianpwee agar menyampaikan kepada ketua siau
lim si agar segera mengumpulkan para jago dan berangkat ke selat
Pak hong sia dibukit Hu Gou san"
"Kenapa?" Tanya Thio bungkuk sambil memancarkan sinar tajam
dari balik matanya.
"sebab majikan muda berhasil mendapat kabar kalau Ui sik kong
sekalian akan datang ke selat Pak hong sia."
"Lantas mengapa Kho Beng tidak datang sendiri kemari?" Tanya
Thio bungkuk lebih lanjut dengan perasaan tak habis mengerti. chee
Tay hap nampak tertegun sejenak. setelah itu ujarnya :
"soal ini majikan muda tak menjelaskan tapi ia bilang paling
lambat pada malam hari tanggal tujuh belas kalian harus sudah
berada diselat Pek hong sia."
"Wah, berarti hari ini?" seru Phu sian sangjin agak tercengang.
"Benar, itulah sebabnya aku menempuh perjalanan siang malam
karena kuatir membengkalaikan urusan besar." setelah berpikir
sebentar, kemudian katanya :
"Menurut majikan muda, inilah rencana yang paling bagus untuk
menumpas kaum iblis."
Phu sian sangjin segera termenung tanpa berbicara.
sedangkan Thio bungkuk menegur lagi dengan kening berkerut :
"chee tua, dimanakah kau telah bertemu dengan Kho Beng?
Bukankah dia telah menderita luka parah karena dihajar oleh Ui sik
kong?"
Dengan wajah bimbang chee Tay hap mendongakkan kepalanya,
lalu menjawab :

"Tidak. Ia sama sekali tidak terluka, kami bertemu didalam
sebuah kuil bobrok. malah dia datang bersama keturunan dari Kim
ka sian, nona Beng Gi ciu."
"Jadi kau pun telah bertemu dengan nona Beng?" Tanya Phu sian
sangjin cepat.
"Yaa, selain nona Beng masih ada dayangnya Siau wan, malah
majikan muda telah mengikat tali perkawinan dengan nona Beng"
"Haaahh" Tanpa sadar para jago yang hadir dalam ruangan
berseru tertahan, selain kaget mereka pun merasa kagum.
sekulum senyuman gembira pun segera menghiasi wajah hwesio
daging anjing, pelajar rudin Ho heng serta Bu wi lojin sekalian. Buruburu
phu sian sangjin berkata lagi :
"Tahukah kau apakah nona Beng telah berhasil menemukan
kedua orang empeknya?"
"sudah ditemukan, malah majikan muda berpesan dia bersamasama
para keturunan tiga dewa akan segera menyusul kesana"
Mendengar berita ini para jago menjadi amat gembira.
"omitohud" Phu sian sangjin berseru kemudian-
"dengan bantuan dari keturunan tiga dewa serta Kho Beng
mungkin partai kupu-kupu akan mengalami nasib yang sama tragis
dan seperti seabad berselang, dunia persilatan benar-benar masih
bernasib mujur." setelah berhenti sejenak, terusnya : "Tapi ..
mengenai berita tersebut .."
Ia segera membungkam dan menengok kearah Thio bungkuk
tanpa menguraikan lagi kata-katanya.
Thio bungkuk memahami maksudnya, sambil berpaling ke arah
Chee Tay hap katanya lagi :
"sewaktu menyampaikan pesan tersebut kepadamu, apakah dia
masih berkata sesuatu lagi?"
chee Tay hap berpikir sebentar, lalu menggeleng.
"Rasanya sudah tidak ada"
Tapi setelah berhenti sejenak, tiba-tiba serunya :
"Yaa benar, majikan muda telah menyerahkan sebuah benda
kepadaku, katanya sebagai tanda pengenal .. benda itu tak lain
adalah mestika keluarganya, lencana naga kemala hijau."
sambil berkata dia segera merogoh kedalam sakunya dan
mengeluarkan lencana naga kemala hijau.
Thio bungkuk segera menerima lencana tersebut dan
diperiksanya sebentar, kemudian katanya :

"Yaa benar, benda ini memang milik Kho Beng." Phu sian sangjin
segera bersorak gembira,
"Kalau begitu, berita yang disampaikan olehnya pun sudah pasti
benar, Kho Beng tidak datang ke siau lim si tapi langsung menuju ke
selat Pek hoa sia, mungkin hal ini disebabkan hendak berlomba
dengan waktu, aku yakin dia pasti sedang menghubungi Thian dan
oh sicu."
Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
terusnya lebih jauh :
"Aku rasa lebih baik kita segera bersiap-siap untuk berangkat ke
selat Pek hong sia, entah bagaimanakah pendapat kalian?"
semua orang segera mengangguk tanpa menjawab, hal ini
menunjukkan kalau mereka setuju sekali dengan usul tersebut.
Pada saat Phu sian sangjin hendak menyampaikan perintah
inilah, tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan suara merdu :
"Tunggu sebentar lo siansu"
Ketika semua orang berpaling ternyata orang itu adalah ketua
Hoa san pay yang baru Ngo Cun ki.
semenjak keberhasilan Ngo cun ki membongkar rencana busuk
orang orang dari partai kupu-kupu yang menyamar sebagai ketua
partai besar, para jago persilatan boleh dibilang sudah menaruh
perasaan hormat dan percaya kepadanya. Maka sewaktu mendengar
seruan tersebut, Phu sian sangjin segera bertanya : "Apakah Ngo
ciangbunjin ada sesuatu pendapat?"
"aku rasa persoalan ini agak mencurigakan" kata Ngo Cun ki
dengan nada tenang.
Thio bungkuk nampak agak tertegun, lalu serunya :
"Persoalan apakah yang mencurigakan? chee Tay hap baru
berpisah denganku pada dua hari berselang, selain aku menaruh
kepercayaan penuh kepadanya, lencana naga kemala hijau pun
merupakan benda mestika warisan keluarga Kho, bukan baru satu
kali ini aku sibungkuk melihatnya, mungkin saja lantaran persoalan
ini kelewat penting dan rahasia Kho Beng takut kita tidak
mempercayai perkataannya, maka ia serahkan lencana naga kemala
tersebut kepada chee Tay hap sebagai tanda pengenal."
"Perkataan anda memang benar," Ngo Cun ki tertawa hambar.
"Akupun mengetahui bahwa dalam persoalan ini sembilan puluh
persen merupakan kenyataan."

"Kalau memang demikian, mengapa kau masih menaruh curiga?"
sela Thio bungkuk cepat. Dengan suara dalam, Ngo Cun ki berkata :
"Mungkin saja hal ini disebabkan masalahnya mempengaruhi
akibat yang besar sekali, andaikata rencana inipun merupakan salah
satu rencana busuk dari Ui sik kong, maka bukan saja akibatnya
berpengaruh atas keselamatan dari seluruh dunia persilatan, aku
rasa tanggung jawab sebesar ini tak nanti akan mampu dipikul oleh
siapapun-"
Thio bungkuk segera terbungkam dibuatnya, namun sesaat
kemudian dengan wajah bersemu merah, ia bertanya :
"Lalu apakah yang menjadi pangkal kecurigaan Ngo ciangbunjin?"
Ngo Cun ki tidak langsung menjawab, dia mengalihkan
pandangan matanya kesekeliling tempat itu, kemudian berkata :
"saudara Chee ini pasti lelah sekali, bagaimana kalau
dipersilahkan untuk beristirahat dulu?"
Phu sian sangjin segera memahami maksud hatinya, ia segera
memerintahkan : "Hantar chee sicu beristirahat di ruang tamu"
Dua orang pendeta segera mengiakan dan menemani chee Tay
hap keluar dari ruangan, Chee Tay hap sendiripun menanggapi
dengan senyum ramah, sama sekali tak Nampak perubahan pada
wajahnya.
Memandang hingga bayangan tubuh Chee Tay hap lenyap
daripandangan mata, Ngo Cun ki segera berkata :
"Jarak dari bukit Cian san sampai disini mencapai ribuan li tapi
menurut pembicaraannya tadi seakan-akan baru kemarin malam
berangkat kesini, coba anda bayangkan sendiri dengan jarak yang
begitu-jauh, mampukah dia mencapai tujuan hanya didalam
semalaman suntuk?"
Mendengar perkataan itu, Thio bungkuk segera tertawa, katanya
:
"Biarpun dalam soal ilmu silat kemampuannya amat biasa, namun
ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkatan yang luar
biasa, asal kau tahu julukannya sebagai saudagar beracun berkaki
sakti, maka kau akan tahu kalau perbuatan tersebut sanggup
dilakukan olehnya. Itu sih soal kecil, selain itu .."
Ditatapnya wajah Thio bungkuk lekat-lekat, kemudian serunya :
"Bila ditinjau dari wajah saudara Chee yang jujur, bermata besar
dan alis tebal, hidung mancung dan bibir tebal, semestinya dia
adalah seorang yang amat berperasaan, Thio cianpwee cukup akrab

dengannya, tentu kau bisa menilai sendiri bukan atas kebenaran dari
perkataanku ini."
"Yaa, memang benar perkataan itu" Thio bungkuk berseru sambil
bertepuk tangan. sambil manggut-manggut Ngo Cun ki segera
berkata : "Disinilah letak pangkal kecurigaanku yang terutama."
Thio bungkuk serta ketua siaU limpay jadi tertegun dibuatnya,
setelah mendengar perkataan itu.
Tapi sebelum mereka sempat membuka suara , Ngo Cun ki telah
berkata lebih jauh :
"Sewaktu Chee Tay hap sedang berbicara tadi apalah anda
sekalian telah memperhatikan mimik wajahnya?"
Lalu sambil berpaling kearah Phu sian sangjin katanya lagi
sembari tertawa :
"Maaf kalau aku berbicara kasar, biarpun lo siansu sudah hidup
sepanjang usia didalam kuil namun menurut pendapatku kau masih
belum memiliki ketenangan seperti Chee Tay hap hingga sedikitpun
perubahan emosi tak Nampak."
Begitu perkataan itu diutarakan keluar semua orang pun seperti
memahami akan sesuatu, untuk sesaat mereka saling berpandangan
tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Perkataan Ngo ciangbunjin
memang betul." Kata Phu sian sangjin kemudian-Lalu ..
"Yaa sekarang aku baru merasa kalau ada yang tak beres dibalik
peristiwa ini" sela Hwesio daging anjing pula tak tahan.
"Tapi andaikata hal ini merupakan permainan busuk dari ui sik
kong, tidak seharusnya ia menjatuhkan pilihannya kepada Chee Tay
hap, selain itu mengapa Chee Tay hap bersedia diperalat olehnya?"
"Karena dia terpengaruh oleh ilmu sesat" kata Ngo Cun ki sambil
tertawa. Hwesio daging anjing segera tertawa terbahak-bahak :
"Haaahh haaahhh . Haaahhh . Menurut apa yang kuketahui,
walaupun Ui sik kong berakal licik, namun ia tak mengerti ilmu sesat,
seandainya mengerti, mungkin kita sudah akan merasakan
kelihaiannya sewaktu masih berada di kuil Giok cing hong dibukit
Tiong lam san tempo hari."
"Untuk menggunakan ilmu sesat maka dibutuhkan orang yang
sangat ahli." Kata Ngo Cun ki dengan suara dalam.
"Dia toh bisa mencari orang yang mengerti ilmu tersebut."
Kemudian setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu,
katanya kembali :

"Padahal persoalan ini sangat sederhana, asal kita lakukan
percobaan maka segala persoalan akan menjadi jelas."
"Tapi bagaimana caranya untuk mencoba?"
"silahkan memanggil chee Tay hap agar datang kembali kemari"
Phu sian sangjin merasa agak rikuh, katanya ragu-ragu :
"Baru saja kita memintanya beristirahat dikamar tamu, tapi
sekarang telah mengundangnya kembali, apakah .."
"Yaa apa boleh buat" kata Ngo Cun ki sambil tertawa.
"Toh perkataan yang kita bicarakan barusan tak boleh terdengar
olehnya tapi sekarang kitapun perlu untuk membuktikan dirinya,
kalau tidak diterima kita tak bisa tahu kalau ia sudah terpengaruh
ilmu sesat atau tidak?"
Dengan pandangan minta maaf, Phu sian sangjin memandang
sekejap kearah Thio bungkuk. lalu katanya dengan nada berat hati :
"Coba undang lagi Chee sicu agar datang kemari"
Maka dua orang pendeta pun segera berangkat untuk
melaksanakan perintah tersebut. Tak selang berapa saat kemudian,
chee Tay hap sudah diundang menghadap kembali. Tampak ia
menjura dalam-dalam kepada Phu sian sangjin lalu berkata perlahan
:
"Majikan muda Kho Beng telah berpesan agar losiansu berangkat
secepatnya agar tak sampai melalaikan persoalan besar."
"Yaa, saat ini kami sedang merundingkan persoalan ini bersama
para jago." Kemudian menunjuk kearah Ngo cun ki, katanya lagi :
"Yang ini adalah ketua Hoa sanpay, Ngo lisicu, dia ada berapa
persoalan yang hendak dibicarakan dengan chee sicu"
chee Tay hap menjura kedepan Ngo cun ki, seraya berkata :
"Mohon petunjuk."
"Mana, mana .." ucap Ngo Cun ki sambil tertawa hambar.
Kemudian dengan suara yang lebih lembut dia berkata lagi :
"Aku dengar kau adalah pembantu Kho Yang ciu, enci Kho Beng,
benarkah begitu?"
"Benar, antara Ngo ciangbunjin dan majikan kami ..Kami adalah
sahabat karib"
"ooooh" Chee Tay hap manggut-manggut.
"Katanya Ngo ciangbunjin ada persoalan yang hendak
disampaikan kepadaku?"
Dengan wajah serius Ngo cun ki berkata :

"Aku dan majikanmu mempunyai hubungan yang amat akrab
melebihi saudara sendiri, tapi sungguh tak beruntung dia dia telah
tewas .. sudah tewas"
chee Tay hap kelihatan agak tertegun. "Mengapa aku tak
mendengar kabar tersebut?"
Nada suaranya mendatar dan kedengarannya sangat tenang,
paras mukanya pun sama sekali tak Nampak perubahan apapun.
Ngo Cun ki segera menggelengkan kepalanya berulang kali,
serunya kemudian : "Pertanyaanku telah selesai diutarakan, entah
bagaimana pendapat anda sekalian?"
Thio bungkuk yang melompat bangun terlebih dahulu, sambil
menjura kepada Ngo Cun ki segera ujarnya :
"Andai Ngo ciangbunjin tidak teliti dan bersikap cermat, dunia
persilatan benar-benar tak akan terhindar dari bencana besar,
jelaslah sudah sekarang, Chee Tay hap yang sekarang bukan lagi
Chee Tay hap yang dulu lagi."
Mendadak ia membalikkan badan sambil melakukan
cengkeraman, dia mencengkeram bahu orang itu kencang-kencang..
Chee Tay hap sama sekali tak menyangka kalau Thio bungkuk
bakal melancarkan serangan, ia sama sekali tidak menunjukkan
sikap untuk melawan, begitu bahunya kena dicengkeram seketika itu
juga badannya tak mampu bergerak lagi. Dengan suara dalam Thio
bungkuk segara menegur : "Cepat katakan sebenarnya apa yang
terjadi ?" Dengan wajah tertegun Chee Tay hap menjawab :
"Thio cianpwee, sebenarnya apa kesalahanku, mengapa kau
menyerangku secara tiba-tiba?"
Tanpa banyak bicara Thio bungkuk menampar kepalanya
berulang kali kemudian hardiknya
"Semua berita yang kau sampaikan adalah bohong, sebenarnya
apa yang kaujumpai?" Darah meleleh keluar dari ujung bibir chee
Tay hap akibat tamparan tersebut, namun Ia tak tampak kesakitan
malah katanya dengan suara tergagap :
bersambung ke jilid 44.
Jilid 44
"Aku telah bertemu dengan majikan muda Kho Beng, segala
sesuatunya toh sudah kusampaikan?"
Thio bungkuk menghembuskan napas panjang, serunya sambil
menggigit bibir : "Semua pengakuanmu itu cuma mengaco belo
saja" Tiba-tiba Ngo cun ki berkata :

"Thio Cianpwee tidak usah menyusahkan dirinya lagi, ketahuilah
sebelum kesadaran pikirannya diperoleh kembali, dia tak akan
mampu untuk menerangkan apa-apa."
"Aaaai, percuma aku berkelana sepaniang masa didunia
persilatan," kata Thio bungkuk mengeluh.
"Nyatanya Ngo ciangbunjin masih begitu muda, namun dalam
sekali pandangan saja sudah berhasil membongkar masalah yang
begini pelik." Ketua Siau lim pay Phu sian sangjin berseru pula :
"omitohud, akupun merasa sangat menyesal." Ngo cun ki
tersenyum.
"PAdahal hal tersebut tak terhitung seberapa, mungkin lantaran
kaum wanita jauh lebih teliti ketimbang kaum lelaki."
Buru-buru Thio bungkuk menjura berulang kali, tanyanya dengan
harap cemas : "Dapatkah Ngo ciangbunjin menyadarkan kembali
pikirannya?"
sambil tertawa Ngo Cun ki menggelengkan kepalanya berulang
kali, katanya :
"Aku hanya dapat melihat kalau dia terpengaruh ilmu sesat
namun belum pernah mempelajari pengetahuan tentang ilmu
semacam ini, tentu saja akupun tidak mengerti bagaimana cara
pemecahannya, padahal padahal pengaruh tersebut tak perlu
membingungkan." setelah berhenti sejenak. lanjutnya :
"sebab aku pernah mendengar penjelasan dari seorang cianpwee
yang mengatakan bahwa pengaruh ilmu sesat yang betapapun lihai
daya pengaruhnya tak nanti bisa bertahan sampai satu bulan keatas,
secara otomatis sang korban akan mendapatkan kesadarannya
kembali."
"Tapi tanpa menyadarkan kembali pikirannya, bagaimana
mungkin kita bisa mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya?"
sela Phu sian sangjin.
"sekalipun kita berhasil menyadarkan kembali dirinya pun
percuma, persoalan ini tak mungkin bisa ditelusuri sampai jelas,
paling banter dia hanya bisa mengatakan siapa yang telah
melakukan ilmu sesat tersebut kepadanya, tentang keadaan yang
sebenarnya aku percaya pihak lawan tak akan membocorkan
kepadanya, Karena tujuan mereka adalah memperalat musuh untuk
memancaing kita semua mendatangi selat Pek hong sia." Kemudian
menatap tajam wajah Phu sian sangjin, ia berkata lagi :

"Jarak dari sini kebukit Hu gou san tidak terlalu jauh, apakah lo
siansu cukup memahami daerah sekitar selat Pek hong sia ini?"
Dengan cepat Phu sian sangjin menggeleng.
"Kecuali menghadapi persoalan yang gawat, aku amat jarang
meninggaikan kuil, bahkan banyak tempat disekitar siong san
sendiripun tidak begitu kukuasai, apalagi tempat kawasan lain."
Tapi kemudian dengan suara dalam ia segera berseru :
"Adakah diantara kalian yang menguasai sekali daerah disekitar
selat Pek hong sia?"
Belum habis perkataan tersebut diucapkan seorang pendeta telah
bangkit berdiri dan berkata : "Aku tahu"
Ketika semua orang berpaling ternyata orang itu adalah Kim
Cuncu dari lima rasul panca unsur.
Buru-buru Phu sian sangjin berkata : "Kalau sute memang tahu
cepat katakan" Kim Cuncu berpikir sebentar, lalu ujarnya :
"setahun berselang karena suatu persoalan aku telah menaiki
bukit Hu gou san dan pernah menelusuri selat Pek hong sia
tersebut."
"Tentunya bentuk perbukitan disana amat curam dan berbahaya
sekali?" buru-buru Ngo Cun ki menyela.
"Bukit Hu gou san tidak termasuk gunung yang besar, namun
selat Pek hong sia justru merupakan tempat yang paling berbahaya
yang pernah kujumpai selama ini, jangankan dibukit siong san tak
akan ditemukan tempat seperti itu, biarpun selama hidup aku sudah
sering berkelana dipelbagai bukit kenamaan, namun belum ada
sebuah tempat pun yang bisa dibandingkan dengan selat Pek hong
sia"
semua orang memasang telinga serta memperhatikan dengan
penuh seksama.
Kim Cuncu berkata lebih jauh.
"Mulut selat seperti lorong gua, sebab bukit dikedua sisinya
menjulang tinggi keatas membentuk lingkaran yang mengepung
selat tersebut, dengan begitu selat tadi terjuntai persis diantara bukit
yang mengelilinginya."
"Berapa banyakkah mulut selat yang terdapat disana?" Tanya
Ngo Cun ki dengan kening berkerut.
Dengan cepat Kim Cuncu menggeleng.
"Hanya terdapat sebuah jalan masuk saja, dalam selat itu amat
lembab dan sepanjang hari susah melihat sinar surya, itulah

sebabnya hampir semua permukaan tanahnya ditumbuhi lumut
tebal, meski keadaan sisi dindingnya tak mencapai ketingian puluhan
ribu kaki, namun yang terendahpun diatas ribuan kaki, benar-benar
tempat tersebut merupakan sebuah tempat yang susah dilalu oleh
burung sekalipun." Dengan gemas dan benci Ngo Cun ki segera
berseru : "Tepat betul tempat yang dipilih bajingan tua itu." setelah
berhenti sebentar, ia bertanya lagi :
"Berapa banyak manusia yang dapat tertampung didalam selat
tersebut?" Dengan kening berkerut Kim Cuncu berpikir sebentar,
kemudian jawabnya :
"Paling tidak dapat menampung lima enam ratus orang, lagipula
letaknya amat strategis dan berbahaya, selain lembab suasana pun
gelap. tempat semacam ini ideal sekali untuk menjebak orang."
"Hmm, terlalu berbahaya mematikan lagi." Kata Ngo Cun ki
sambil menggigit bibir.
"Bila sebelum kejadian disekeliling dinding tebing ditanam
sejumlah bahan peledak lalu bukit tersebut diledakkan pada saatnya,
entah berapa persen manusia yang bisa lolos dari musibah itu."
Berubah hebat paras muka Kim Cuncu segera sahutnya :
"Tiada seorangpun yang punya harapan untuk melanjutkan
hidup, apalagi kalau dinding dikedua belah sisinya runtuh sama
sekali, biarpun manusia yang terdiri dari otot kawat tulang baja pun
tak nanti bisa lolos dari selat tersebut dalam keadaan selamat."
Dengan wajah berubah, Phu sian sangjin berseru pula :
"Ngo ciangbunjin, jangan-jangan .. dugaanmu memang benar,.
Rencana tersebut adalah siasat mereka."
Dengan wajah tenang Ngo Cun ki mengangguk katanya :
"Bila menuruti perkataan Kim Cuncu mungkin cara tersebut
memang paling baik, sebab selian selat yang berbahaya seperti ini
memang paling cocok dipakai menggempur musuh dengan bahan
peledak karena dengan gempuran seperti ini, maka betapapun
lihainya ilmu silat yang dimiliki seseorang jangan harap bisa lolos
dari musibah ini."
Berpuluh-puluh pasang mata dari para pemimpin jago yang hadir
dalam ruangan serentak mengalihkan pandangan kagumnya
kewajah Ngo Cun ki, sebab dugaannya memang beralasan sekali.
Buru-buru Phu sian sangjin berkata :
"Perhitungan dari Ngo ciangbunjin nampaknya jauh lebih hebat
daripada perhitungan bajingan tua Ui sik kong."

setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan :
"Hal ini memang merupakan suatu masalah yang pelik." Kata Ngo
Cun ki sambil berkerut kening, untuk sesaat lamanya ia jadi
terbungkam dan tak berkata lagi. Dengan nada menyelidk Phu sian
sangjin berkata lagi :
"Dengan perhitungan Ngo ciangbunjin yang begitu tepat, masa
kau tak punya suatu usul"
"Usul sih ada tapi sulit untuk dilaksanakan" kata Ngo Cun ki
tertawa.
setelah bangkit berdiri dan berjalan bolak-balik berapa kali, ia
berkata lebih jauh :
"Cara yang terbaik tentu saja turun tangan mendahului mereka,
kita bekuk semua orang-orangnya yang telah dipersiapkan disitu
kemudian pada tengah malam pada tanggal tujuh belas kita sulut
sumbu obat peledak tersebut serta meledakkan bukit itu."
"Apa gunanya bukit itu diledakkan?" phu sian sangjin tampak
tak habis mengerti.
"Agar Ui sik kong mengira kita semua ketimpa musibah kemudian
kita bisa menggunakan sedikit akal untuk memancing mereka yang
masuk kedalam selat tersebut dengan rencana yang sama seperti
yang dipersiapkannya kita ledakkan kembali obat peledak yang lain,
atau bisa juga kita bius mereka dengan dupa An hun hiang dari Hoa
sanpay kami, aku yakin dengan demikian mereka pasti akan dapat
kita tumpas semuanya."
sipelajar rudin Ho heng yang selama ini membungkam terus tibatiba
bersorak sambil bertepuk tangan : "sebuah akal yang sangat
bagus." Dengan wajah serius Phu sian sangjin segera berkata :
"Persoalannya yang kita tidak mengetahui berapa banyak jago
yang telah dipersiapkan dan berapa banyak bahan peledak yang
ditanam disekitarnya. Andaikata seorang saja diantara mereka
berhasil meloloskan diri, rasanya akan sulit bagi kita untuk
memancing Ui sik kong masuk perangkap."
setelah menghembuskan napas panjang, kembali katanya :
"Apalagi tugas tersebut amat berat dan masalahnya amat
penting, bajingan tua Ui sik kong pasti akan menngirim jago-jago
pilihannya untuk sembunyi disana,"
"aku rasa Apa yang dikuatirkan , losiansu memang benar" sela
Ngo Cun ki.

"Tapi masalah yang penting adalah soal waktu, mungkin Ui sik
kong kuatir bila waktunya berlarut-larut akan terjadi perubahan yang
tak disangka, maka sedapat mungkin ia mempersingkat waktu yang
tersedia, bila kita hendak bertindak demikian maka sebelum hari
menjadi gelap semua jago-jagonya akan dipersiapkan harus sudah
dapat dibekuk, kalau tidak maka kita tak akan punya waktu lagi."
setelah berhenti sebentar, tambahnya :
"Tentu saja pekerjaan ini bukan suatu pekerjaan yang mudah,
lagi pula kemungkinan untuk berhasil dengan sukses pun tidak
terlalu besar."
Persoalan itu memang suatu masalah yang sangat pelik, bukan
saja mereka harus berangkat saat itu- juga dan paling lambat
menjelang matahari terbenam harus sudah sampai di selat Pek hong
sia bukit Hu goa san, lagi pula mereka harus berhasil menyingkirkan
semua jago musuh yang dipersiapkan disana dalam sekali serangan,
karena satu saja diantara lawan berhasil kabur, semua rencana
mereka pasti akan mengalami kegagalan total. Untuk sesaat suasana
didalam ruangan menjadi hening dan tak seorangpun yang bersuara.
Akhirnya Phu sian sangjin berkata sambil menghela napas.
"sekarang waktu sudah makin larut, kita harus berani mengambil
keputusan dengan cepat Lebih baik diputuskan oleh lo siansu
sendiri" seru para jago hampir bersamaan. "Kalau memang begitu
mari kita berangkat" kata Phu sian sangjin dengan suara dalam.
"seandainya usaha kita memang gagal, yaa . Itu kemauan takdir ."
"Berangkat sih berangkat, tapi kita mesti menyusun barisan dulu
dengan secermatnya." Kata Ngo Cun ki.
"silahkan Ngo ciangbunjin memberi petunjuk"
"bila kita harus berangkat kesana dalam rombongan yang besar,
apalagi dipagi hari yang begini cerah, sudah pasti sepak terjang kita
akan segera diketahui musuh, paling tidak usaha kita akan
mengalami kegagalan total." sesudah memutar biji matanya, ia
melanjutkan :
"oleh sebab itu menurut pendapatku lebih baik kita berangkat
dengan jalan menyaru rombongan pun harus dipecah-pecah dalam
kelompok sekecil mungkin, tapi sebelum itu kita mesti menentukan
dulu posisi masing-masing kelompok hingga dalam bertindak kita
bisa bekerja sama secara diam-diam, serentak dan tanpa
menimbulkan suara, selain daripada itu ditempat-tempat yang
strategis menuju kearah selat mesti ditempatkan jago-jago lihay

yang tugasnya menjaring setiap musuh yang berhasil lolos dari
sergapan, dengan bertindak secara begini kemungkinan besar usaha
kita akan berhasil dengan lebih baik." PErkataan Ngo ciangbunjin
memang amat tepat.
Maka dengan melalui suatu perundingan rahasia yang
dilaksanakan secara kilat, mereka berhasil memutuskan beberapa
hal.
Kesatu, para ketua dari tujuh partai besar bersama Bu wi lojin,
pelajar rudin Ho heng, Hwesio daging anjing, Thio bungkuk serta
sepuluh orang jago lihai lainnya berangkat secara terpencar dengan
jalan menyamar dengan tujuan menyergap jago-jago dari partai
kupu-kupu yang dipersiapkan diselat tersebut.
Kedua, diseleksi oleh pelbagai perguruan maka dihimpun suatu
kelompok kekuatan baru yang terdiri dari enam puluhan orang
bertugas menyebar disekeliling selat Pek hong sia dan menangkap
setiap musuh yang berhasil meloloskan diri atau bertugas
menyampaikan berita.
Ketiga, dengan dipimpin oleh lima rosul panca unsur serta
sepuluh pelindung hukum siau lim si dan memimpin dua rombongan
jago siau lim si yang pandai dalam ilmu barisan Kim kong tin
berangkat menuju dua sudut selat Pek hong sia yang berseberangan
untuk menyikat setiap musuh yang berada disana.
Keempat, sisa jago yang tidak terpilih dalam rombongan
diwajibkan tetap berada di siau lim si untuk menghadapi sergapan
tak terduga dari luar, sebaliknya bila yang datang jago-jago utama
dari partai kupu-kupu maka mereka diwajibkan melarikan diri
tercerai berai untuk mengurangi jumlah korban jiwa yang jatuh.
Begitu keputusan telah diambil, maka dengan dipimpin oleh Phu
sian sangjin serta Ngo Cun ki, berangkatlah kawananjago persilatan
itu meninggalkan kuil.
Tidak sampai setengah peminuman teh kemudian para jago telah
berbondong-bondong berangkat meninggalkan tempat itu.
Tapi begitu keluar dari Siau lim si, kawanan jago tadi segera
menyebarkan diri dan hilangkan jejak masing-masing.
Waktu itu Ngo Cun ki menyamar sebagai seorang gadis dusun
dan menempuh perjalanan bersama si pelajar rudin.
si pelajar rudin sendiri menyamar sebagai tukang obat yang rudin
wajahnya yang memelas memang cocok dengan peranan yang

dibawakan olehnya. Mereka berdua khusus menempuh jalan yang
sepi yang jarang dilalui manusia.
sedang tugas yang dibebankan kepada mereka berdua adalah
menghantam setiap jago partai kupu-kupu yang berada pada
kawasan terdepan dari selat Pek hong sia, entah banyak atau sedikit,
tangguh atau lemah, mereka diwajibkan untuk menyikat mereka
semua sampai ludes.
sambil mengawasi orang dijalanan, kedua orang itu menempuh
perjalanan dengan cepat sekali.
Berbicara soal ilmu meringankan tubuh serta kesempurnaan
dalam ilmu silat tentu saja Ngo Cun titak bisa menandingi si pelajar
rudin, namun si pelajar rudin tidak mempunyai kebiasaan berlomba
dengan kaum wanita maka sedapat mungkin ia selalu membiarkan
Ngo Cun ki berjalan lebih dulu dan sama sekali tak berniat
melampauinya. Tiba-tiba Ngo Cun ki berkata sambil tertawa manis :
"Cianpwee dengan menempuh perjalanan bersamaku tentu kau
merasa tersiksa bukan?"
"Apa maksud perkataanku itu?" seru si pelajar rudin sambil
mendelik, Ngo Cun ki kembali tertawa.
"Ilmu meringankan tubuh yang cianpwee miliki telah mencapai
tingkat kesempurnaan, bila bukan gara-gara aku, mungkin kau
sudah berada puluhan li dari sini"
Diumpak dengan kata-kaTayang manis, si pelajar rudin merasa
kegirangan setengah mati, segera serunya sambil tertawa :
"Baik sewaktu dibukit Tiong lam san maupun selama berada
digunung siong san, kau selalu berhasil menonjolkan diri secara
mantap. aku yakin sehabis peristiwa besar ini, pamor Hoa san pay
kalian bakal melampaui nama besar siau lim pay"
"Aaaah, cianpwee kelewat memuji" buru-buru Ngo Cun ki
berseru.
"Boanpwee tak berani menerima penghormatan sebesar ini, Siauli
sebagai orang muda yang menjabat kedudukan tinggi dalam Hoa
san pay, Cuma berharap bisa memperlihatkan sedikit kemampuan
agar tidak dihina dan ditindas oleh pihak yang kuat, asal keadaan ini
sudah terwujud maka siauli pun sudah merasa puas sekali" si pelajar
rudin tertawa tergelak.
"Kau tak usah merendah lagi, Hoa san pay yang dipimpin seorang
ketua hebat macam dirimu sudah pasti akan melambung tinggi,
kalau dibilang ada orang berani menindas kalian .. aku rasa tak

seorangpun yang akan mempercayainya." Kemudian setelah
berhenti sejenak, tanyanya lagi sambil tertawa :
"Tapi apa sebabnya kau memilih untuk menempuh perjalanan
bersama aku si pelajar rudin?"
"Masa kau orang tua tak bisa mengetahuinya?" Ngo Cun ki
tertawa semakin manis. "Aku si pelajar rudin benar-benar tak dapat
menduganya."
"PErtama karena kau orang tua mempunyai watak yang baik,
mudah bergaul dan tidak suka menunjukkan soknya sebagai seorang
cianpwee, kedua hal inipun merupakan keinginan pribadiku sendiri"
"Apa sih keinginan pribadimu itu?"
"Cianpwee memiliki ilmu silat yang sangat hebat, bila suatu ketika
Hoa san pay menemui kesulitan, boanpwee percaya kau orang tua
pasti tak akan berpeluk tangan saja bukan? Kau tentu akan
mengingat-ingat persahabatan pada hari ini dengan membantu
pihak Hoa san pay kami, bukan?"
Mendengar perkataan ini kembali si pelajar rudin tertawa
bergelak
"Kau memang sangat pandai berbicara, aku si pelajar rudin
benar-benar merasa kagum dan takluk kepadamu"
Dalam waktu singkat dia merasakan hatinya benar-benar sangat
nyaman dan hangat.
Tak selang berapa saat kemudian Ngo Cun ki kembali bertanya :
"Cianpwee apakah kau tinggalkan keempat budak asing itu dikuil
siau lim si?"
si pelajar rudin mengangguk.
"Ilmu silat mereka amat rendah, tak cukup untuk mengikuti
rencana besar ini, karenanya terpaksa harus ditinggal di siau lim si?"
"Maaf, kalau boanpwee banyak mulut, aku rasa keempat orang
itu rada kurang sesuai untuk tinggal disitu?"
"Kenapa?"
"Jiwa mereka sempit, wataknya tak stabil, besar kemungkinan
akan berhianat dimasa depan, apalagi sifat mereka pun buas dan
jahat, tidak mudah bergaul dengan masyarakat."
"Ketajaman mata Ngo ciangbunjin memang sungguh
mengagumkan." Puji si pelajar rudin sambil mengangguk.
"Penglihatanmu memang benar tapi .., apa boleh buat, karena
sesungguhnya keempat orang itu adalah pembantu-pembantu Kho
Beng."

"oooh, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Ngo Cun ki tertegun.
secara tingkas si pelajar rudin segera menceritakan keadaan yang
sebenarnya, sebagai akhir dari cerita tersebut, kedua orang itu saling
berpandangan sambil tertawa terbahak-bahak.
Matahari pelan-pelan bergeser kelangit barat, mereka berdua
sudah mulai memasuki kawasan bukit Hu goa san. Dengan suara
serius Ngo Cun ki segera berkata :
"Dewasa ini kita telah memasuki kawasan Hu goa san, ini berarti
kita pun harus berganti sebutan-"
Kemudian dengan suara yang manis dan lembut, serunya :
"Ayah.."
"Ada apa anakku?"
Kedua orang itu kembali berpandangan sambil tertawa, namun
langkah perjalanan mereka pun segera diperlambat, pelan-pelan
mereka mendekati selat Pek hong sia.
sepenanak nasi kemudian mereka telah sampai didepan mulut
selat tersebut, ternyata sesuai dengan apa yang dilukiskan Kim
Cuncu dari kejauhan sudah terlihat bahwa alat itu mengerikan sekali.
Tatkala mereka berdua masih celingukan, mendadak tampak
seorang pendeta tua yang berkaki korengan, dengan mengenakan
jubah yang amat dekil sedang berjalan pada arah sepuluh kaki
disebelah kanan.
Hampir saja si pelajar rudin tertawa geli melihat tampang
pendeta itu, sebab dia segera mengenalinya sebagai hwesio daging
anjing.
sementara itu-jarak dengan selat Pek hong sia makin dekat,
kedua orang itu mulai memasuki mendaki bukit disisi selat tersebut,
namun mereka mendaki dengan bersusah payah, sengaja berlagak
seolah-olah tidak memiliki ilmu silat. selain itu, Ngo Cun ki berbisik
pula : "Ayah, sulit benar untuk mendaki bukit ini."
"Nak, berhati-hatilah," sahut si pelajar rudin dengan suara parau.
"SEkali kita daki bukit ini, mungkin akan ditemukan jalan menuju
keluar bukit."
"Ayah "kembali Ngo Cun ki mengomel. "Bukankah kau bilang
hapal sekali dengan daerah sekitar sini, kenapa kita bisa tersesat
jadinya?"
si pelajar rudin segera menghela napas panjang :

"Aaaai, aku pernah kemari pada sepuluh tahun berselang,
sekarang sepuluh tahun sudah lewat, bukit ini seperti berubah saja
tak heran kalau kita menjadi tersesat."
"Aku sudah tak sanggup lagi untuk meneruskan perjalanan ."
Keluh Ngo Cun ki dengan kening berkerut.
"Begini saja, bagaimana kalau kita beristirahat dulu sebelum
melanjutkan perjalanan."
"Aku pun lapar ."
"Itu mah bukan masalah, ayah membawa ransum kering, kita
dpat bersantap dulu sambil beristirahat."
Maka dia pun mengeluarkan kantong ransum dari punggungnya
dan mereka berdua mulai bersantap dibukit tersebut. Mendadak .
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang nona
berusia dua puluh tahunan telah melayang turun dihadapan mereka.
Ngo cun ki segera berlagak kaget dan berteriak : "Ayah, ada orang
.."
"Malah kebetulan kalau ada orang," sahut si pelajar rudin sambil
tertawa. "Kita bisa minta petunjuk kepadanya."
Buru-buru dia berpaling kearah gadis berpedang itu dan sapanya
: "Nona, apakah kau tinggal dibukit ini?"
Gadis itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan tersebut,
sebaliknya malah menegur dengan suara dalam. "siapakah kalian?"
si pelajar rudin menghela napas panjang :
"Aaaai, kami hanya seorang pengembara yang hidup terluntalunta,
selama ini kami mencari sesuap nasi dengan menjual obat,
aaai dalam sepuluh hari kadangkala sembilan hari tak bisa makan
hingga kenyang."
"oooh, rupanya kalian adalah penjual obat keliling?" paras muka
gadis tadi kelihatan lebih cerah.
"Yaa benar, kalau nama yang lebih sedap didengar memang si
penjual obat keliling, tapi kalau yang tingin didengar adalah si
peminTa yang terlunta-lunta." sambil tertawa dingin gadis itu
berseru lagi :
"Kalau dilihat keadaanmu yang begitu miskin mungkin ilmu
pengobatanmu terlalu rendah sehingga tak ada yang berani
mengundangmu"
"oooh, tidak mungkin, bukan begitu-jalan ceritanya." Buru-buru si
pelajar rudin menggoyangkan tangannya berulang kali.
"Lantas bagaimana ceritanya?" Tanya nona itu sambil tertawa.

"Yang kupelajari kebanyakan adalah ilmu menyambung tulang
patah atau mengobati luka-luka digigit binatang berbisa dan lain
sebagainya, padahal kebanyakan penderita sakit dikota adalah
muntaber, itulah sebabnya kepandaianku jarang sekali dimanfaatkan
orang."
"Kau dapat menyembuhkan luka akibat digigit ular berbisa?"
gadis itu menegaskan.
"Justru kepandaian semacam inilah merupakan andalanku, baik
digigit ular berbisa maupun binatang berbisa lainnya, asal sudah
kuberi obat pasti akan sembuh dengan cepat."
"Bagus sekali, cepat turut aku"
"Apakah ada orang disengat kelejengking?" Tanya si pelajar rudin
dengan kening berkerut.
"Hmmm, bukan disengat kelejengking tapi digigit ular berbisa."
Tanpa banyak berbicara lagi dia segera menarik kedua orang itu
dan berjalan menuju kedepansepuluh
kaki kemudian mereka sudah mendengar suara orang
sedang merintih, rupanya ada orang yang benar-benar tergeletak
dibalik batuan besar.
si pelajar rudin Ho heng mulai merasa serba salah, sebab dalam
buntalannya sekarang sama sekali tidak membawa bahan obatobatan,
diapun tidak mengerti bagaimana cara mengobati luka bekas
gigitan ular berbisa, Ngo Cun ki dapat menyaksikan kesulitan yang
dihadapi si pelajar rudin Ho heng, sambil tertawa dia segera maju
kedepan lebih dulu. Dengan kening berkerut gadis tadi segera
membentak.
"Hey siapa suruh kau berebut maju? sebetulnya ayahmu yang
akan mengobati atau dirimu?"
"siapa saja bisa melakukan pengobatan," sahut Ngo Cun ki sambil
tertawa.
"Tapi menurut jenis kelamin si penderita maka sepantasnya aku
yang turun tangan sebab dia adalah wanita, ayahku tak senang
mengobati perempuan, aku takut bila dipaksakan maka akhirnya
akan salah obat atau timbul kejadian lain yang kurang enak."
Ternyata orang yang tergeletak diantara batuan memang tak lain
adalah seorang wanita,
"Mengapa begitu?" Tanya si nona keheranan.
Ngo Cun ki mengerling sekejap kearah si pelajar rudin lalu
menjawab sambil tertawa.

"setiap bertemu dengan perempuan, ayahku langsung saja
merasa gugup, maka akibatnya semua ilmu pengobatannya jadi
terlupakan sama sekali, tentu saja hal demikian paling mudah
menimbulkan gejala lain."
"Apakah kau yakin bisa mengobati lukanya itu?" Tanya gadis
tersebut kemudian sambil tertawa.
Ngo Cun ki ikut tertawa lebar,
"Asalkan hanya digigit ular berbisa, kujamin lukanya pasti
sembuh tapi jika isi perutnya menderita penyakit lain, aku tak berani
menjamin."
"ooooh, jangan kuatir, ia sama sekali tidak menderita luka yang
lain, gara-gara kurang cermat tadi tubuhnya terpatuk seekor ular
yang berbisa."
Ngo Cun ki segera berjongkok sambil melakukan pemeriksaan,
tampak olehnya perempuan itu berusia tiga puluh tahunan, kaki
kanannya yang terluka oleh gigitan ular dan berada dalam keadaan
tak sadar, wajahnya pun kelihatan bersemu hitam. Dengan nada
menyelidik Ngo Cun ki segera bertanya : "Apakah disini hanya
terdapat kalian berdua?" Mendadak gadis itu membentak keras :
"Lebih baik kau jangan banyak bertanya, cepat obati luka
tersebut, yang penting toh kami akan memberi uang kepadamu?"
"oooh, tentu saja luka tersebut segera akan sembuh sekali."
Kemudian sambil berpaling ia berkata lebih jauh.
"Aku hendak mengeluarkan racun dari tubuhnya lebih dulu,
bersediakah nona untuk membantu?"
Gadis itu menurut dan segera berjongkok katanya :
"Apa yang mesti kulakukan?"
"Coba tekanlah kedua sisi mulut luka tersebut"
Gadis tersebut sama sekali tidak menaruh curiga, sepasang
tangannya benar-benar diletakkan pada kedua sisi mulut luka
perempuan tersebut, dengan suatu gerakan cepat Ngo Cun ki segera
menotok jalan darahnya.
setelah musuh roboh, si pelajar rudin baru memuji sambil
tersenyum :
"Ngo ciangbunjin, cara kerjamu memang hebat dan cekatan"
Ngo Cun ki celingukan sekejap disekeliling tempat itu, kemudian
katanya :
"Pendengaran serta penglihatan cianpwee sangat lihai, apakah
kau berhasil menjumpai jejak musuh di sekitar sini?"

Dengan cepat si pelajar rudin menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya :
"Paling tidak dalam jarak lima puluh kaki dari sini bisa diketahui
tiada bayangan manusia dari sini bisa diketahui bahwa jago yang
dikirim partai kupu-kupu ketempat ini tidak banyak jumlahnya,"
"heran kenapa mereka Cuma mengirim kaum wanita saja
kemari?" Ngo Cun ki berpikir sebentar, kemudian sahutnya :
"Bisa jadi orang-orang ini adalah anak buah dewi In un, ditinjau
dari situasi bisa disimpulkan juga bahwa pemimpin dari kawanan
jago musuh ditempat ini tak lain adalah Dewi In un."
"Diantara kedua orang wanita tadi, tentunya tak ada yang
bernama Dewi In Un bukan?" Tanya si pelajar rudin dengan kening
berkerut. "Tentu saja tak mungkin ada" sahut Ngo Cun ki tertawa.
"Kalau Dewi In Un yang terpagut ular, tak mungkin kaki tangan
partai kupu-kupu hanya berpeluk tangan belaka dan membiarkan
racun ular bekerja didalam tubuhnya."
setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan :
"Menurut penilaian boanpwee, gadis yang kutotok jalan darahnya
tadi pasti telah melapor kepada Dewi In Un bahwa rekannya
terpagut ular berbisa. Tapi karena Dewi In Un masih berada dibawah
bukit mengatur persiapan, maka ia tidak memberikan pengobatan
sama sekali."
"Benar-benar luar biasa" seru si pelajar rudin sambil
membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Kau Nampak seperti menyaksikan sendiri peristiwa tersebut."
Kembali Ngo Cun ki tersenyum.
"orang yang tergigit ular itu nampaknya sudah tak tertolong lagi,
sebab racun ular telah tersebar luas keseluruh tubuhnya,
berdasarkan keadaan tersebut, paling tidak ia sudah terpagut ular
setengah jam berselang, sedang rekannya sigadis tadi sudah pasti
tak berani berdiam diri saja dan melaporkan kejadian ini kepada
Dewi In Un, tapi kenyataannya setengah jam sudah lewat sedang
Dewi In Un belum datang kemari, dari sini dapat disimpulkan pula
kalau Dewi In Un sudah mengambil keputusan tidak mengurusi
keadaannya lagi."
"Ehmm, masuk diakal, tapi kenapa begitu?" Tanya si pelajar rudin
tak habis mengerti. Ngo Cun ki tertawa dingin.
"Tentu saja hal ini menyangkut soal waktu, kini lohor sudah
menjelang tiba, andai kata Chee Tay hap berhasil menipu para jago

yang berkumpul di siau lim si berarti saat ini mereka sudah akan
berdatangan kemari, tentu saja Dewi In Un tak ingin membocorkan
rahasia mereka gara-gara mengurusi seorang anak buahnya, tentu
saja terpaksa dia harus mengorbankan jiwa anak buahnya itu."
"Ya a, betul-betul, lantas apa yang mesti kita perbuat sekarang?"
"Harap cianpwee perhatikan baik-baik apakah disekeliling sini
masih ada orang, kemudian biar kulakukan pemeriksaan disekitar
sini, jelas sudah kedua orang itu satu kelompok dan mereka
mempunyai tugas tertentu disini."
si pelajar rudin tak banyak berbicara lagi, dengan cepat dia
memasang telinga untuk memeriksa keadaan diseputar sana, dalam
waktu singkat ia sudah mendapatkan kenyataan bahwa disekitar
sana tak ada orang laini
sementara Ngo Cun ki juga mulai melakukan pemeriksaan
disekeliling bukit tadi.
Tak lama kemudian ia menemukan segundukun tanah yang
gembur ditutup dengan rumput liar, sewaktu ditarik rumput tersebut
berguguran semua dan muncullah sebuah sumbu berwarna hijau
yang amat panjang.
si pelajar rudin segera memburu kedepan lalu dengan setengah
rasa gembira dan setengah terkejut ia berseru :
"Ternyata dugaan Ngo ciangbunjin memang tepat sekali."
sesudah menghembuskan napas panjang, kembali katanya :
"Andaikata Ngo cianbunjin tak berhasil membongkar rahasia ini,
mungkin sulit bagi kami semua untuk lolos dari musibah ini."
Ngo Cun ki segera menutup kembali sumbu tadi dengan rumputrumputan,
kemudian setelah berpikir sebentar katanya.
"Entah berapa banyak orang yang ditempatkan disekeliling selat
Pek hong sia ini, terutama kehadiran Dewi In Un disini."
"Aku dengar ilmu silat yang dimiliki Dewi In Un masih sedikit
dibawah kemampuan tua Bangka Uisik kong, ini berarti susah bagi
pihak kita untuk menandingi kemampuannya, bila sampai terjadi
bentrokan kekerasan, akibatnya .."
"Aku rasa paling tidak barisan Kim kong tin dari siau lim pay
masih bermanfaat untuk mengurungnya." sela Ngo Cun ki sambil
tertawa.
"Hmmm, berbicara sejujurnya, aku kurang begitu yakin dengan
kemampuan kawanan hwesio tersebut."

sementara itu Ngo Cun ki sudah selesai memperhatikan sekejap
sekitar sana, katanya tiba-tiba :
"Cianpwee mari kita lanjutkan perjalanan keatas"
Maka mereka berdua pun ebrgerak menuju keatas bukit.
Kali ini mereka sama sekali tidak menyembunyikan jejak tapi
berlagak seperti orang yang tak mengerti ilmu silat, gerak-geriknya
amat payah dan mempergunakan tenaga, sambil menyeka keringat
sambil berjalan, orang akan merasa kasihan melihat cara berjalan
kedua orang tersebut.
Tak lama kemudian terdengar suara orang berbatuk dari balik
batu besar disisi bukit. Kedua orang itu sama-sama tertegun- lalu
Ngo Cun ki berlagak berseru gembira. "Ayah, agaknya disitu ada
orang, mari cepat kita Tanya jalan kepadanya."
"Baiklah, tapi betulkah kau mendengar ada suara manusia?"
"Mungkin saja, telingaku rasanya masih lebih tajam daripada
pendengaran ayah."
"Aaai, dasar sudah tua, telinga dan mata ku makin lama semakin
tak berguna." sambil berkata pelan-pelan mereka berjalan mendekati
batu besar itu.
Namun setibanya dibela kang batu tersebut hampir saja mereka
berdua tertawa karena geli, ternyata orang yang bersembunyi disitu
adalah Bu wi lojin serta ketua Bu tong pay Hiam im totiang.
Kedua orang itu menyamar sebagai pemburu tua yang miskin,
ditangan mereka membawa senjata garpu, sementara disisinya
terkapar dua orang kakek berbaju ungu yang tertotok jalan
darahnya, jelas kedua orang itu adalah anggota partai kupu-kupu.
"Kalian cepat kemari." Bisik Bu wi lojin sambil menggapai. Cepatcepat
si pelajar rudin berjongkok sambil berkata :
"Ancaman bahaya terhadapmu paling besar, kau tahu siapa yang
telah dikirim pihak partai kupu-kupu untuk mengatur perangkap dan
obat peledak ditempat ini"
"Dewi In Un, malah aku sempat bertemu dengannya" Bu wi lojin
manggut-manggut.
"Kau telah bersua dengannya?" Tanya si pelajar rudin terkejut.
Bu wi lojin tertawa.
"Benar, kami saling berpapasan muka namun ia tidak melihat
diriku, sayang aku pun tidak membayangkan sampai kesitu, kalau
tidak. pasti akan kukenakan topeng kulit manusia agar gerak-gerikku
lebih leluasa lagi. "

"Tahukah cianpwee, Dewi In Un menuju kearah mana?" Bu wi
lojin segera menunding kemuka, katanya :
"Tadi ia telah munculkan diri dari jarak sepuluh kaki, aku rasa
jaraknya dari sini pasti tak terlalu jauh."
Dengan kening berkerut ketua Bu tong pay Hiam im totiang
berkata :
"Kawasan sana merupakan tanggung jawab ketua Tay khek kun
sam liu serta ketua Tong ting pang Kongsun Jiang, tapi hingga
sekarang belum ada kabar berita dari mereka, entah bagaimana
keadaannya? Aaai, membuat hati orang menjadi risau saja."
"Baik ada suara atau tidak belum cukup nyata untuk
membuktikan keadaan yang sudah terjadi, apalagi dari pihak
manapun yang berhasil dengan serangannya, tak nanti mereka akan
bersuara, Cuma ." setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan :
"Bila Bu ciangbunjin dan Kongsun pangcu sudah dipecundangi
musuh, sudah pasti Dewi In Un akan melakukan pemeriksaan secara
diam-diam."
Belum habis perkataan itu diucapkan dari kejauhan sana sudah
terdengar suara langkah manusia.
"Cepat bersembunyi." Bu wi lojin segera berseru.
si pelajar rudin dan Ngo Cun ki tak berani berayal, serentak
mereka menyembunyikan diri dibelakang batu.
Tak lama kemudian tampak seorang pelayan berbaju biru
munculkan diri disitu dan berseru kearah balik batu :
"siancu sedang mengadakan pemeriksaan, kalian cepat keluar"
Tanpa menanti jawaban, dia melanjutkan perjalanannya kedepan.
Ngo Cun ki segera berbisik kepada si pelajar rudin : "Dayang itu
tak boleh dibiarkan hidup, cianpwee."
si pelajar rudin mengangguk tanda mengerti, dengan cepat dia
melompat bangun dan menerjang kemuka dengan mengerahkan
ilmu meringankan tubuhnya, dalam waktu sekejap dia telah berhasil
menotok jalan darahnya dan menyeret dayang itu menuju kebalik
semak.
Namun ia sama sekali tidak balik kembali ketempat semula,
sebab Dewi In Un telah munculkan diri disitu.
Tampak perempuan itu berjalan mendekat dengan tergesa-gesa
dikawal oleh dua nenek.
Mungkin keadaan yang gawat, sehingga ia tak sempat melakukan
perubahan untuk mengatasinya, maka Dewi In Un segera

membentak setibanya didepan batu tersebut. "Tan huhoat, ong
huhoat dimana kalian?"
Tiada jawaban dari balik batu namun segulung kabut putih
menyebar luas dari sana. Kebetulan jawaban dari balik batu namun
segulung kabut putih menyebar luas dari sana.
Kebetulan Dewi In Un berdiri berhadapan dengan arah angin
maka dalam waktu singkat kabut putih tersebut telah menyebar luas
selebar dua kaki persegi. Dengan perasaan terkejut Dewi In un
segera berseru : "Cepat menyingkir"
seraya berseru dengan cepat dia melayang mundur sejauh tiga
kaki dari pos isi semula dan melompat kebalik batu besar.
Ternyata gerakan tubuh kedua orang nenek itupun sangat hebat,
hampir bersamaan mereka sama-sama telah melompat pula
kebelakang batu.
Dengan demikian betapapun banyaknya akal muslihat Ngo Cun
ki, ia tak mampu lagi untuk menggunakan siasatnya guna
melumpuhkan lawan- Bersamaan itu- juga dapat disimpulkan bahwa
ketua tay khek bun serta ketua Tong ting pang telah jatuh ketangan
musuh. sementara itu Dewi In Un telah berseru sambil tertawa
seram.
sementara itu si pelajar rudin Ho heng telah menyusul datang
setelah menyaksikan jejak rekannya ketahuan-
"sungguh tak disangka diantara kalian terdapat tokoh yang lihai
sehingga rencana partai kupu-kupu kami bisa dibongkar."
setelah memandang sekejap dengan suara dingin kembali dia
berseru lantang : "Ehmm, Bu wi lojin, Hiam im totiang ..siapakah
bocah perempuan ini?" sambil tertawa dingin Ngo Cun ki berkata :
"Nonamu bernama Ngo Cun ki, kini menjabat sebagai ketua Hoa
san pay."
Rupanya dalam keadaan terdesak tadi ia telah melepaskan
segenggam dupa pemabuk Ang hun hiang, tapi diapun mengerti
bahwa hasilnya tak dapat diharapkan apalagi dalam keadaan yang
sama sekali tak terduga, hal ini membuatnya sedikit rada rikuh.
sambil tertawa dingin Dewi In Un berkata :
"Tak kusangka semua yang hadir disini hari ini adalah jago-jago
kelas satu dari dunia persilatan, pertemuan hari ini pasti akan meriah
sekali." Kemudian sambil menatap wajah Ngo Cun ki lekat-lekat,
terusnya :

"Tapi aku menaruh perhatian yang paling khusus terhadapmu
seorang, aku dengar kau berhasil menggagalkan rencana kami
sewaktu berada di Tiong lam san, kalau begitu peristiwa hari inipun
pasti merupakan usulmu bukan?"
"Benar" Ngo Cun ki tertawa lebar. "Memang akulah yang telah
membuka rencana busuk kalian dan merusak siasat licik ini."
"Hmm, tak nyana kau berani mengakuinya secara jujur."
"Berapa banyak jago yang kau bawa serta hari ini?"
"oooh, banyak sekali, setiap jago yang menganggap dirinya
merupakan bagian dari dunia persilatan hampir semuanya telah
berdatangan kemari, bila kau mulai menyesal sekaranglah saat yang
paling tepat."
Lalu setelah berhenti sebentar, dengan suara dalam ia
melanjutkan :
"Kalau tidak. bila sudah tertawan nanti mungkin sikap kami tak
akan seramah sekarang."
Dewi In un tertawa terkekeh-kekeh :
"Haaahh . Haahhh .. haaahh .kalian anggap kemenangan pasti
berada dipihakmu" Dengan suara dalam Ngo Cun ki berkata :
"sejak dulu hingga kini, pihak sesat pasti akan kalah dan tumpas,
jangan lagi rencana busukmu sudah terbongkar, sekalipun
rencanamu itu belum diketahuipun dibawah keroyokan seluruh umat
persilatan, tak mungkin usaha kalian akan mencapai hasil." Dengan
suara yang menyeramkan Dewi In Un berkata :
"Tujuh partai besar, jago-jago dari empat penjuru maupun
kawanan jago silat kenamaan dari dunia persilatan belum ada
seorang pun yang kupandang sebelah mata, hmmm, akan kulihat
siapa saja yang mampu melawan kekuatan partai kupu-kupu kami?"
si pelajar rudin mendengus dingin.
"Hmmm, lebih baik kau jangan mengibul dulu, ketahuilah dalam
pertemuan diTiong lam san ayahmu sendiri sudah menderita
kekalahan, apalagi Cuma manusia semacam kau. Hmmm, andaikata
umat persilatan belum bersatu padu masih agak mending, tapi sekali
telah bersatu maka tiada manusia sesat didunia ini yang mampu
menanggulanginya" Dewi In Un menjadi amat gusar teriaknya.
"setelah mampus nanti kau bakal tahu akan kelihaian kami, aku
ingin bertanya, apa sih yang kalian andalkan?"

Namun sebelum semua orang menjawab, dia telah melanjutkan
lebih jauh. "Mungkin Kho Beng serta keturunan dari tiga dewa?" Ngo
Cun ki balas mendengus.
"Hmmm, bila partai kupu-kupu belum juga mau sadar dan
kembali kejalan yang benar mungkin kalian akan mengulangi
kembali sejarah seabad berselang."
"Tapi sayang Kho Beng dan keturunan tiga dewa yang kalian
andalkan itu sekarang telah berubah menjadi abu dan entah sudah
tersebar sampai dimana" Jengek Dewi In Un sambil tertawa.
"omong kosong, hal ini tak mungkin terjadi" teriak si pelajar rudin
dengan penuh amarah.
"Tidak percaya pun bukan masalah, karena apa yang kukatakan
sebenarnya merupakan suatu kejadian yang nyata."
sesudah berhenti sejenak, sambil tertawa ia melanjutkan :
"Didalam gua pengikat cinta telah disekap encinya Kho Beng,
kakek tongkat sakti serta Chin sian kun, orang-orang tersebut
merupakan orang yang hendak mereka tolong, maka atas
permintaan Kho Beng, Thian cun yang yang mengetahui seluk beluk
alat rahasia pasti akan mengajak rekan-rekannya pergi kegua
tersebut untuk melakukan operasi pertolongan." sambil tertawa
dingin Ngo Cun ki menyela :
"Kalau memang Thian cun yang cianpwee menguasai ilmu alat
rahasia, sudah pasti ia dapat menghancurkan pertahanan gua
pengikat cinta tanpa mengalami kejadian diluar dugaan."
"Haaah . Haahh .haahh perkataan itu memang benar" kata Dewi
In Un lagi sambil tertawa tergelak.
"Justru kami telah memanfaatkan keadaan tersebut, dengan
diprakarsai Thian cun yang yang mengusai ilmu alat rahasia, mereka
pasti akan berusaha menerobos masuk kedalam gua tersebut, siapa
sangka dalam barisan Pat kwa dan Ji gi kami justru sudah
tambahkan dengan barisan Jit coat tin, nah bayangkan sendiri
siapakah yang mampu keluar lagi dari gua tersebut?"
Diam-diam Ngo Cun ki merasa amat terperanjat, namun diluar ia
sengaja tertawa paksa, katanya :
"sekalipun apa yang kau katakan merupakan kenyataan, namun
ada satu hal belum kau ketahui secara jelas yakni soal hukum langit,
bila Kho Beng serta keturunan dari tiga dewa benar-benar tewas
dibukit Cian san, maka didunia ini tidak berlaku lagi hukum alam"
Dewi In Un agak tertegun, lalu serunya sambil mendengus :

"Mungkin saja disinilah letaknya hukum alam tersebut, paling
tidak bibit penyebab yang ditanam seabad berselang kini harus
menerima buah akibatnya."
Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam dia
menambahkan :
"Masalah tersebut bukan persoalan yang perlu kita bicarakan saat
ini, sekarang yang perlu kita bahas adalah nasib kalian selanjutnya,
Ngo Cun ki, semua orang boleh kulepaskan tapi kau jangan mimpi
bisa lolos dari cengkeramanku." Ngo Cun ki segera tertawa lebar,
jengeknya :
"susah untuk menduga setiap perubahan yang terjadi didunia ini,
sebelum menang kalah diketahui aku rasa terlalu awal bila kau
berkata demikian."
"Jadi kau mengira kalian bisa mengungguli diriku?" jengek Dewi
In Un sambil tertawa dingin,
"Jadi kau anggap pasti menang?" Ngo Cun ki balas mengejek
sambil tertawa.
"Aku rasa persoalan ini perlu kita buktikan dalam kenyataan, Nah
Ngo Cun ki, tahukah kau apa yang hendak kuperbuat terhadap
dirimu?" Ngo Cun ki tertawa terkekeh-kekeh :
"Bila kau berhasil menduduki posisi diatas angin, maka semua
kulit dan daging menjadi milikmu, mau dibunuh dicincang terserah
kepadamu sendiri, sebaliknya bila kau yang menduduki posisi
dibawah angin, tahukah kau apa akibat yang bakal kau rasakan?"
Dewi In Un mendengus :
"Hmmm, apalagi selain sesuai dengan ucapanmu tadi, terserah
apapun yang akan kalian perbuat."
"Lalu dengan cara apa kau hendak menentukan menang kalah
tersebut? Dengan pertarungan kekerasan?"
Dewi In Un tertawa tergelak :
"Haaahh haahh haahhh .dengan cara apapun yang hendak
dilakukan mungkin kalian semua bukan tandinganku."
Kemudian dengan suara dalam ia kembali membentak : "Ngo Cun
ki, aku hendak meringkus dirimu paling dulu"
"aku rasa tak akan segampang yang kau katakan, jelek-jelek
begini aku masih terhitung seorang ketua partai"
Dewi In Un tertawa seram, tiba-tiba bentaknya :

"Nenek penunjang langit dan perata bumi, cepat kalian ringkus
bocah perempuan itu, tapi ingat, jangan dibunuh, aku tak bisa
membiarkan dia mampus dengan begitu saja."
Kedua orang nenek tua itu menyahut dan pelan-pelan berjalan
mendekati Ngo Cun ki, setiap langkah kaki mereka berdua segera
meninggalkan bekas sedalam tiga inci diatas permukaan tanah,
sementara ujung baju mereka pun menggelembung besar, dalam
sekilas pemandangan saja dapat diketahui bahwa mereka adalah
jago-jago berilmu tinggi?
sementara itu Dewi In Un telah mengundurkan diri kesisi arena
dan menyaksikan peristiwa tersebut dengan senyuman dikulum.
si pelajar rudin, Bu wi lojin serta Hian im totiang merasa terkejut
sekali, karena mereka tahu secara pasti bahwa Ngo Cun ki bukan
tandingan dari kedua orang nenek tersebut.
Namun untuk sesaat pun mereka merasa sangsi, haruskah turun
tangan membantu ataukah lebih baik berdiam diri saja?
sebaliknya Ngo Cun ki nampak amat tenang, malah ujarnya
sambil tertawa hambar :
"Terima kasih banyak atas perhatian siancu terhadap diriku,
dengan menganggap diriku sebagai musuh yang utama, Ngo Cun ki
merasa amat berbangga hati tentu saja akan kutemani mereka
untuk bermain beberapa gebrakan lebih dulu."
Kemudian sambil berpaling kearah Bu wi lojin dan si pelajar rudin
sekalian, katanya lagi sambil tertawa :
"Biar aku Ngo Cun ki yang turun tangan pada babak pertama ini,
silahkan cianpwee sekalian mundur sedikit agak jauh."
sementara itu kedua nenek tersebut sudah berada lima depa
dihadapannya, mendadak mereka mengayunkan tangan kanannya
dan serentak mencengkeram bahu nona tersebut.
Ngo Cun ki sadar bahwa kepandaian silat yang dimilikinya bukan
tandingan lawan, maka ia tak menyambut datangnya ancaman
tersebut, dengan cepat ia menarik diri sambil membungkukkan
badan.
Pertarungan semacam inijauh diluar kebiasaan, suatu
pertarungan yang umum, bukan saja dua orang nenek itu menjadi
tertegun semua penonton pun menjadi keheranan setengah mati.
sebab tindakan Ngo Cun ki waktu itu tidak memberi perlawanan
pun sama sekali tidak menghindar kebelakang, hal mana
mendatangkan tanda Tanya besar bagi semua orang.

Nenek penunjang langit dan nenek perata bumi adalah jago kelas
wahid dari partai kupu-kupu, meski mereka agak tertegun
menyaksikan peristiwa ini, namun gerak serangan mereka sama
sekali tidak menjadi lamban seperti juga musuhnya, mereka
merendahkan badannya dan menggunakan jurus yang tak berbeda
langsung mencengkeram sebentar.
Tapi disaat Ngo Cun ki membungkukkan badan inilah, mendadak
sepasang tangannya diayun keatas, dua gulung kabut putih kembali
menyembur kedepan langsung mengancam tubuh nenek penunjang
langit dan nenek perata bumi.
Tak terlukiskan rasa kaget kedua orang nenek tersebut
menghadapi ancaman ini, cepat-cepat telapak tangan kanannya
dikebaskan kebawah melepaskan pukulan yang gencar, sementara
tubuhnya cepat-cepat menyurut mundur kesamping Dewi In Un-
Ngo Cun ki sendiri tertawa dingin, tanpa mengucapkan sepatah
katapun ia berdiri ditempat sambil mengawasi lawannya.
sementara kedua orang nenek tadi telah kembali kesamping Dewi
In Un dengan wajah malu bercampur menyesal.
Gusar dan heran segera menyelimuti perasaan Dewi in Un,
serunya dengan suara geram :
"Hmmm, hanya mengandalkan kepandaian semacam itupun
kalian berdua sudah didesak kembali?"
Rupanya bagi jago lihai yang sedang bertarung, sekalipun pihak
lawan mempergunakan racun atau obat pemabuk. bukan berarti
mereka harus mundur ketakutan apalagi jagoan seperti kedua orang
nenek itu, tidak sepantasnya mereka mundur ketakutan begitu
melihat musuh menyebarkan bubuk berwarna putih. Agak tergagap
nenek perata bumi berkata :
Bersambung ke jilid 45
Jilid 45
"Budak kurang berhati-hati."
"Kau sudah keracunan?" Tanya Dewi In Un terkejut.
Nenek perata bumi menggetarkan bibirnya seperti hendak
mengatakan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang mampu
diucapkan, tiba-tiba badannya menjadi lemas dan robohlah dia
dalam keadaan tak sadarkan diri.
Tak terlukiskan rasa gusar Dewi In Un menghadapi kenyataan
tersebut, sambil menggertak gigi ia segera berpaling kearah nenek
penunjang langit sambil menegur : "Bagaimana dengan kau?"

Berubah hebat paras muka nenek penunjang langit namun sambil
berusaha menahan diri sahutnya :
"Budak pun sudah terkena sari racun tersebut namun masih bisa
mempertahankan diri" Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Ngo cun ki
segera menyela :
"Padahal bukan bubuk racun yang kupergunakan melainkan dupa
pemabuk An hun hiang dari Hoa sanpay kami, bubuk tersebut hanya
menyebabkan orang jatuh pingsan namun tidak sampai merengut
jiwanya."
"Hmm, beginikah cara kerja seorang ketua partai? Apakah kau
tidak merasa malu?" bentak Dewi In Un penuh amarah. Ngo cun ki
tertawa tenang, katanya :
"Segala tindakan yang dilakukan orang kebanyakan tergantung
pada siapa yang di hadapi untuk menghadapi manusia semacam
kalian, aku rasa tindakan seperti ini sudah terhitung cukup bagus."
Kemudian sambil menatap wajah Dewi In Un dengan sorot mata
yang tajam bagaikan sembilu, ia berseru lagi :
"seandainya kami tak berhasil membongkar siasat busuk kalian
itu dan memasuki selat Pek hong sia, entah bagaimanakah akibat
yang bakal kami hadapi? Coba kau berpikir sendiri apakah perbuatan
kalian itu tidak terlalu keji, buas dan memalukan"
Dewi In Un benar-benar amat gusar, dengan cepat dia
mengayunkan tangannya keatas, sebatang panah api segera
meluncur keatas udara dengan menimbulkan suara desingan yang
keras dan memekakkan telinga, suara itu berkumandang hingga
berapa li jauhnya. sambil tertawa dingin Ngo Cun ki segera
mengejek : "Berapa orang sih yang kau bawa?" Dewi In Un tertawa
seram.
"Heehh . Heehh .. heehhh .. terus terang saja kubilang, kami
hanya berjumlah dua puluh empat orang tapi bila dikurangi dengan
orang yang telah kalian celakai secara licik, orang yang masih bisa
dimanfaatkan hanya dua puluhan." Ngo Cun ki kembali tertawa.
"suara panah tersebut bukan hanya mengundang kehadiran
orang-orangmu saja, segenap jago persilatan yang telah tiba disini
pasti berbondong-bondong akan meluruk kemari, bila kalian ingin
menggunakan kekuatan seminim itu untuk menghadapi jago-jago
pilihan dari dunia persilatan, aku rasa siapa bakal kalah sudah
tertera jelas didepan mata."

"Kalau memang begitu kita buktikan saja nanti" bentak Dewi In
Un dengan penuh amarah.
Dengan cepat ia bergerak maju kemuka , sepasang lengannya
secara beruntun menghajar dada Ngo Cun ki.
Agaknya Ngo Cun ki sendiripun cukup mengetahui kelihaian Dewi
In Un, dia tak berani berayal, cepat-cepat tubuhnya menyingkir
kesamping untuk menghindarkan diri, sementara dua pukulan yang
dilontarkan persis menyerempet sisi tenaga pukulan dari Dewi In Un-
Tindakannya itu sudah tentu bukan suatu pertarungan adu
kekerasan, tapi dengan meminjam adu kekerasan, tapi dengan
meminjam tenaga benturan dari kedua gulung kekuatan tersebut,
Ngo Cun ki berjumpalitan ketengah udara membentuk gerakan satu
lingkaran busur kemudian ujung bajunya dikebaskan kedepan
kembali dua gulung kabut putih menyembur kewajah Dewi In Un-
"Heehh heehhh . Heehhh .hanya mengandalkan kepandaian
semacam itupun kau ingin bermain gila denganku?" jengek Dewi In
Un sambil tertawa seram.
sekalipun berkata demikian, toh tak urung badannya mundur
sejauh berapa kaki untuk menghindarkan diri dari serangan kabut
putih tersebut.
Begitu melayang turun keatas tanah Ngo Cun ki segera
menjengek sambil tertawa dingin.
"sekalipun ilmu silatmu cukup hebat, namun bila terendus bau
dupa An hun hiang kau sama saja akan roboh tak sadarkan diri"
Dewi In Un hanya tertawa dingin tanpa berbicara, sebaliknya si
pelajar rudin, Bu wi lojin serta Hian im totiang menjadi kagum sekali
atas kecerdikan Ngo Cun ki.
Walaupun kepandaian silat yang dimiliki gadis itu biasa-biasa saja
namun dengan mengandalkan kecerdikannya biarpun harus
menghadapi musuh tangguh macam Dewi In Un ternyata posisinya
masih tetap diatas angin.
Tapi pada saat itu pula situasi dalam arena telah terjadi
perubahan besar.
Tampak tiga sosok bayangan hitam mendadak meluncur datang
dengan kecepatan tinggi, sekalipun saat itu masih terang benderang
namun kehadiran ketiga orang tersebut ternyata tidak diketahui oleh
siapapun.
Tampak ketiga orang itu mengenakan baju kuning dengan kain
kuning menutupi wajahn sebuah senjata panji kupu-kupu terselip

dipinggang masing-masing. sekalipun tidak Nampak raut wajahnya
namun bisa diketahui bahwa ketiga orang tersebut adalah kakek
berusia tujuh puluh tahunan keatas.
Dewi In Un segera berpaling kearah nenek penunjang langit yang
baru selesai bersemedi, tegurnya : "Bagaimana rasamu sekarang?"
"Aku sudah merasa agak baikan" jawab nenek penunjang langit
cepat. Dewi In Un menjadi gembira segera serunya :
"Kau tak usah mencampuri urusan disini cepat rawat lukamu itu"
"Budak turut perintah"
Ia segera berjongkok disisi nenek perata bumi yang tidak
bergerak lagi.
Dalam pada itu para jago telah mengalihkan perhatiannya
mengawasi ketiga orang kakek berkerudung itu, mereka
membungkam dalam seribu bahasa.
sambil tertawa angkuh, Dewi In Un segera berkata :
"Perlukah kuperkenalkan orang-orang ini kepada kalian semua?
Tidak sedikit anak buah yang dibawa ayahku ketika meninggalkan
markas besar kami di Hay sim san diantaranya terdapat empat tiang
lo, dua belas pengawal pribadi." sambil menunding kearah tiga
manusia berkerudung itu lanjutnya :
"Tapi ketiga orang ini adalah tiga rasul langit yang menjadi
andalan partai kupu-kupu, mereka adalah jago kelas wahid dari
partai kami, begitu sayangnya ayahku kepada mereka, maka ia
menyerahkan ketiga orang andalannya ini kepadaku." Bu wi lojin
mendengus dingin, tukasnya :
"Biarpun partai kupu-kupu mengerahkan segenap kekuatan yang
dimiliki pun tak nanti umat persilatan akan menyerah dengan begitu
saja, pertarungan ini adalah pertarungan untuk melenyapkan kaum
sesat dari muka bumi."
"Hey tua Bangka Bu wi" bentak Dewi In Un gusar.
"sekalipun kau berderet dalam urutan nama tiga manusia aneh
namun dalam pandanganku tak lebih Cuma kaum berandal ingusan,
apalagi ilmu silatmu tak mampu menahan sebuah gempuranku,
sebagai panglima perang yang pernah keok ditanganku, disini masih
belum ada tempat bagimu untuk turut berbicara."
Merah jengah selembar wajah Bu wi lojin dibuatnya, dengan
penuh amarah segera bentaknya :
"Perempuan siluman, sombong benar kau" Dewi In Un
mendengus dinginTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
"Percuma kalau kita hanya bersilat lidah belaka, sebentar lagi
kalian akan menyaksikan pertunjukkan yang menarik" sambil
berpaling segera bentaknya :
"Tiga orang Thian cun, dengarkan baik-baik, orang ini adalah
pemimpin dunia persilatan dewasa ini dan saat inilah waktu yang
tepat bagi kalian untuk mencoba kemampuan yang dimiliki, baik
dibunuh atau ditangkap hidup-hidup. kalian bereskan orang-orang
itu."
"Nona tak usah kuatir, hamba sekalian tak akan mengecewakan
hatimu" sahut ketiga orang kakek itu serentak.
"Bagus sekali" Dewi In Un tertawa bangga.
"Kalian boleh segera turun tangan"
Dengan cepat dia bergerak mundur dari situ.
setelah memberi hormat, ketiga orang Thian cun dari partai
kupu-kupu itu segera bergerak maju kedepan dan mengepung Hian
im totiang, Bu wi lojin serta sipelajar rudin Ho heng, sebaliknya Ngo
Cun ki justru disisikan ketempat lain-Dewi In Un segera menjengek
sambil tertawa dingin :
"Budak Ngo, kau jangan keburu bangga, tak seorangpun diantara
rekan-rekan sekalian yang sanggup menghadapi seluruh jurus
serangan dari tiga orang Thian cun kami, bila mereka telah keok
nanti maka aku baru akan meringkusmu secara pelan-pelan,
pokoknya aku tak akan membiarkan kau mampus dengan begitu
saja."
Walaupun diluarnya Ngo Cun ki masih tertawa dingin dengan
wajah tenang, padahal dalam hati kecilnya ia sudah merasa tegang
sekali.
Dalam waktu singkat Bu wi lojin, Hian im totiang dan si pelajar
rudin Ho Heng masing-masing telah mendapatkan seorang lawan,
sementara ketiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu pun telah
meloloskan senjata panji kupu-kupu dari pinggangnnya.
Dalam waktu singkat bayangan kupu-kupu telah menyelimuti
seluruh angkasa, ditengah deruang angin kencang yang terlihat
didepan mata Cuma tiga gulung bayangan putih saja. Mendadak ..
Terdengar jeritan ngeri bergema memecah keheningan, lalu
tampak bayangan putih memisahkan diri, Ngo Cun ki terkejut sekali.
Ia menjumpai paras muka Hian im totiang pucat bagaikan mayat,
darah segar telah bercucuran dari atas bahunya. Untung saja
manusia berkerudung itu tidak melanjutkan kembali serangannya.

Menyusul kemudian terdengar dua kali dengusan tertahan, secara
beruntun Bu wi lojin serta pelajar rudin Ho Heng pun menderita luka.
Bu wi lojin menderita luka dibagian dada, tangan kanannya
dipakai untuk menutupi lukanya itu, kelihatan sudah basah oleh
darah yang meleleh keluar melalui celah-celah jari tangannya.
sedang si pelajar rudin terluka dibagian pahanya, ia sudah tak
mampu berdiri lagi.
Padahal pertarungan belum lagi mencapai sepuluh gebrakan,
namun tiga orang jago persilatan ini sudah terluka secara beruntun
dan tak mampu melanjutkan serangan lagi.
semenara itu tiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu telah
membalikkan badan memberi hormat kepada Dewi In Un sambil
berkata :
"silahkan siancu memberi petunjuk apakah perlu kita cabut
nyawa mereka semua"
sambil tertawa Dewi In Un mengulapkan tangannya, ia berkata :
"Mereka sudah menjadi burung di dalam sangkar, tunggu saja
sejenak lagi"
Ketiga orang Thian cun itu segera mengiakan dan masing-masing
mundur tiga langkah kebelakang.
Ngo Cun ki merasakan hatinya amat sakit bagaikan diiris-iris
pisau tajam, berada dalam keadaan seperti ini, biarpun dia memiliki
kepandaian yang lebih hebatpun rasanya tak mungkin bisa
dipergunakan lagi. Maka setelah menghela napas panjang, katanya :
"Perempuan siluman In Un, kau yang menang" Dewi In Un tertawa
terkekeh-kekeh :
"Padahal persoalan ini sudah berada dalam dugaan, tiada sesuatu
yang aneh, aku ingin bertanya kepadamu sekarang, kau hendak
menyerahkan diri untuk dibelenggu ataukah kami kirim orang untuk
membekukmu?" Ngo Cun ki segera mendengus dingin :
"Aku adalah ketua Hoa sanpay, bila tak bisa menggungguli
musuh tangguh maka bagianku hanya mati, kalau suruh
menyerahkan diri untuk dibelenggu? HHmmm, tak nanti akan
kulakukan"
"Bagus, kau memang sangat pemberani" kata Dewi In Un sambil
berpaling kearah Hian im totiang sekalian, bentaknya dengan suara
dalam : "Apakah kalian merasa takluk? "
Jawab Bu wi lojin dengan suara lantang :

"Bagi kami kalah ditangan musuh yang lebih tangguh adalah
suatu hal yang lumarh, bisa matipun kami mati dengan meram,
kalau dihitung takluk. Hmmm, jangan harap"
"Haaah . Haahhh .. haahh .. kalau begitu habisilah nyawa kalian
sendiri, aku bersedia menghadiahkan kematian yang utuh kepada
kalian semua." Kembali Bu wi lojin tersenyum :
"Tak usah kau katakan, rasanya hanya jalan begitu yang bisa
kami tempuh sekarang, Cuma ."
"Cuma kenapa?" dengus Dewi In Unsambil
menggigit bibir Bu wi lojin berkata :
"Ada satu hal tidak kupahami dan sebelum mati ingin kuketahui
lebih dulu dengan jelas, sebab kalau tidak mungkin bakal mati tak
terpejam." Dewi In Un tertawa .
"Bisa saja kuberi penjelasan kepadamu agar kau menjadi setan
yang mengetahui keadaan sejelasnya, pokoknya asal pertanyaan
tersebut dapat kujawab, kau tak bakal merasa kecewa, nah
ajukanlah pertanyaanmu?"
setelah termenung sebentar, dengan suara dalam Bu Wi lojin
berkata :
"siapakah yang telah menyaru sebagai diriku tempo hari sehingga
menyebabkan terjadinya peristiwa berdarah di perkampungan HHu
im ceng dengan tujuh puluh lembar jiwa melayang?"
Dewi In Un segera tertawa terkekeh-kekeh :
"Baiklah sekarang urusan telah berkembang jadi begini, boleh
juga kuberitahukan kepadamu, orang yang menyaru sebagai dirimu
waktu itu bernama Liong hoa sinkun, kenalkah kau dengan orang
itu?"
"Apakah Go Liong hoa dari wilayah Biau?" gumam Bu wi lojin.
"Haahh . Haahh haahh tak nyana pengetahuanmu luas sekali,
begitu kusebut segera kau ketahui siapa orangnya."
"setahuku Go Liong hoa bukan anggota partai kupu-kupu." Ucap
Bu wi lojin dengan kening berkerut.
Dewi In Un mengangguk.
"Yaa, memang bukan, tapi dia adalah seorang sobat karib
ayahku, itulah sebabnya ia bersedia membantuku tempo hari, tapi
sekarang ia sudah menjadi kepala pelindung hukum dari partai kupukupu
kami"
"sayang Kho Beng tidak mengetahui soal ini" seru Bu wi lojin
sambil menggigit bibir. Kembali Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh :

"Itu mah tak menjadi soal, bila aku kebetulan lewat dibukit cian
san nanti pasti akan kuutus orang untuk bersembahyang disana dan
memberitahukan masalah ini kepadanya, tapi bukankah sebentar lagi
kaupun akan sampai ke akhirat? Disana kau bisa memberitahukan
soal ini langsung kepada arwahnya. "
Mendadak ..
Tampak belasan sosok bayangan manusia lagi bergerak
mendekat, mereka terdiri dari laki maupun perempuan sambil
memberi hormat kepada Dewi In Un serunya : "Menjumpai siancu"
sambil tertawa Dewi In Un berkata :
"Rencana kita telah diketahui musuh, rasanya kecuali melakukan
pertarungan adu kekerasan tak usah kita menggunakan otak lagi."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, kembali terlihat ada
puluhan sosok bayangan menusia bergerak datang.
Ternyata mereka adalah kawanan jago persilatan yang dipimpin
langsung oleh ketua siau limpay Phu sian sangjin-
Namun situasi yang terbentang didepan mata segera membuat
para jago jadi tertegun-
"omitohud" Phu sian sangjin segera tampil kedepan dan berkata
dtngan wajah serius : "sayang kedatangan kami terlambat
selangkah."
"Cepat atau lambat aku rasa sama saja" Jengek Dewi In Un
sambil tertawa, "hari ini adalah hari kiamat untuk kalian semua."
Phu sian sangjin mengalihkan sorot matanya kewajah Ngo Cun ki,
lalu serunya : "Ngo ciangbunjin .."
sambil tertawa getir, Ngo Cun ki berkata :
"Bila takdir menghendaki demikian mungkin memang saat kaum
iblis untuk menguasai jagat, kita hanya pasrah pada nasib. Tapi
jumlah jagoan dari dunia persilatan puluhan kali lipat lebih banyak
paling tidak kita bisa bertarung sampai titik darah penghabisan-"
"Tak perlu dicoba lagi." Seru Bu wi lojin dengan suara parau.
"satu-satunya jalan saat ini adalah tinggalkan tempat ini
secepatnya, pertahankan sisa kekuatan yang ada sambil menunggu
kesempatan yang lebih baik dikemudian hari." sambil menghela
napas panjang, Ngo Cun ki berkata pula :
"Apa yang dikatakan Buwi cianpwee memang benar, kepandaian
silat yang mereka miliki tak mungkin bisa ditandingi oleh ilmu silat
perguruan kita semua, Bu wi cianpwee sekalian pun sudah
menderita kalah tak sampai sepuluh gebrakan, apalagi saudara

sekalian, aaai tak usah dicoba lagi" sambil tertawa terbahak-bahak
Dewi In Un segera berseru :
"Asal kalian mengaku kalah dan menyerah, kau anggap aku bakal
membebaskan mereka dengan begitu saja?"
"Lantas apa maumu?" teriak Bu wi lojin-Dewi In Un mendengus
dingin :
"saat ini aku tak bakal mencabutjiwamu, sebab Kho Beng telah
mampus, maka aku berniat mendapatkan kembali kedua lembar
kitab pusaka Thian goan bu boh itu dari tanganmu."
Kemudian sambil berpaling kearah Phu sian sangjin, kembali
katanya :
"Aku dengar jumlah kawanan jago persilatan yang telah dihimpun
mencapai berapa ratus orang, mengapa hanya berapa puluh orang
saja yang Nampak disini?" Pelan-pelan Phu sian sangjin memandang
sekejap sekeliling tempat itu, lalu berkata :
"Biarpun jumlah yang hadir saat ini tidak banyak. namun mereka
adalah tokoh-tokoh pilihan, maka asal kau bisa membunuh berapa
puluh orang yang hadir sekarang, sama artinya kau telah membantai
seluruh jago yang ada dirimba persilatan"
Tiba-tiba Bu wi lojin berteriak keras :
"Kalian cepat mundur Apa gunanya mengorbankan diri secara
percuma?"
Namuan perkataan tersebut belum sempat memberikan reaksi,
Dewi In Un telah menurunkan perintahnya, tiga orang Thian cun dari
partai kupu-kupu itu sudah bergerak menyerang para jago.
Maka suatu pertarungan sengitpun kembali berkobar, puluhan
orang jago pilihan dunia persilatan bertarung melawan tiga orang
Thian cun, Dewi In Un serta belasan orang jago lihay dari partai
kupu-kupu.
Dalam waktu singkat seluruh arena telah diliputi oleh deruan
angin pukulan serta bayangan senjata yang berkilauan, suasananya
benar-benar mengerikan. Tak lama kemudian, jerit kesakitan pun
berkumandang saling susul menyusul ..
Ketua Kun lun pay Hoa thian totiang, Thio bungkuk sekalian, lima
enam orang jago persilatan telah menderita luka ringan maupun
berat.
Phu sian sangjin merasakan hatinya terkesiap, "mungkinkah
Thian akan mentakdirkan kaum iblis menguasai jagat serta
melakukan pembantaian secara besar-besaran?"

Begitu pikirannya bercabang, tiba-tiba bahunya terasa sakit
ternyata ia sudah terhajar oleh senjata panji kupu-kupu lawan
hingga separuh badannya menjadi kaku dan lengan kanannya
bagaikan lumpuh.
Didalam terkejutnya dengan jurus Naga kaget palingkan kepaladia
melejit sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula.
Situasi dalam arena bertambah gawat, jagoan yang terluka pun
saling menyusul
sedangkan yang masih bertahan pun sudah mulai keteteran
hebat ..
Disaat yang amat kritis dan berbahaya inilah, tiba-tiba terdengar
seorang membentak keras : "Tahan"
suaranya keras bagaikan Guntur membelah bumi ditengah hari
bolong, seluruh hadirin terperanjat dibuatnya dan tanpa sadar
mengundurkan diri kebelakang.
Untuk sesaat lamanya suasana didalam arena menjadi hening,
pertarungan terhenti untuk sementara waktu dan semua orang
berdiri termangu.
Suatu peristiwa aneh memang telah terjadi dan inilah yang
menyebabkan para jago yang sedang bertarung segera
menghentikan pertarungan sambil mundur kebelakang. Ternyata
suara bentakan yang keras bagaikan Guntur itu berasal dari atas
langit.
Tampak seekor burung rajawali raksasa menukik turun dari atas
udara, diatas punggung rajawali itu duduklah dua orang , seorang
adalah kakek berjanggut putih sedang yang lain adalah Kho Beng.
Disaat rajawali tadi berada dua puluh kaki dari atas permukaan
tanah, Kho Beng segera melompat turun kebawah dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat.
suasana tetap hening, para jago pun tidak bersorak gembira,
namun phu sian sangjin, Bu wi lojin, pelajar rudin serta Thio
bungkuk sekalian diam-diam mengucurkan air mata d engan
perasaan syukur.
Pelan-pelan Kho Beng mengalihkan sorot matanya kewajah Dewi
In Un-
Paras muka Dewi In Un telah berubah hebat, namun ia mencoba
mendengus dingin sambil berseru :
"orang she Kho, tak nyana umurmu diberkahi panjang"

"Hmm, sungguh suatu rencana yang keji, tampaknya kau berniat
membantai segenap jago dari dunia persilatan?" seru Kho Beng
sambil menggertak gigi menahan geram. Kembali Dewi In Un
mendengus dingin :
"Hmm, berbicara menurut keadaan sekarang rencanaku tak akan
berubah, betul ilmu silatmu peroleh kemajuanpesat, namun kau
masih bukan tandingan jago dari partai kupu-kupu kami."
Kho Beng mencoba memperhatikan sekejap Phu sian sangjin, Bu
wi lojin, pelajar rudin dan Thio bungkuk sekalian yang terluka
kemudian dengan kening berkerut ia berpaling kearah Ngo Cun ki
sambil katanya : "Mungkin anda adalah ketua Hoa san pay, bukan?"
sesudah melalui pertarungan yang begitu sengit, rambut Ngo Cun
ki sudah awut-awutan tak rapi, dengan wajah bersemu merah
segera sahutnya : "siauli adalah Ngo Cun ki, sudah lama kudengar
nama besar Kho sauhiap ."
"Tolong urusi para rekan persilatan dan cianpwee yang terluka,
sementara persoalan disini serahkan saja padaku."
"Kho sauhiap tak usah cemas, serahkan saja rekan-rekan semua
kepadaku, tapi kau yang hadapi mereka harus berhati-hati."
Kho Beng manggut-manggut, pelan-pelan dia berpaling kearah
Dewi In Un kemudian bentaknya :
"Biarpun mendiang guruku Kongci cu berpesan agar aku bisa
mempertahankan keturunan dari partai kupu-kupu, namun bilamana
keadaan sudah terpaksa, aku akan tetap membasmi kalian dari
muka bumi" Dewi In Un tertawa tergelak .
"Kho Beng, kau terlalu sombong, jangan kau anggap kami tak
mampu membekukmu" sambil berpaling segera bentaknya : "Cepat
tangkap bajingan ini"
Ketiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu serentak
mengiakan dan mengurung pemuda itu dari tiga arah.
Bu wi lojin yang menyaksikan peristiwa ini segera berteriak keras
: "Hati-hati Kho Beng, ketiga orang itu tidak gampang dihadapi"
"Cianpwee tak usah kuatir," jawab Kho Beng lantang.
Kemudian sambil berpaling kearah tiga orang Thian cun itu,
bentaknya keras-keras : "Tunggu sebentar"
sambil tertawa keras Dewi In Un mengejek :
"Kho Beng, bila kau bersedia minta ampun, mungkin aku akan
mempertimbangkan untuk mengampuni jiwamu."

"Kau salah paham," seru Kho Beng sambil tertawa dingin, "aku
hanya ingin mengetahui identitas mereka bertiga lebih dulu."
"Mereka adalah tiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu,
jagoan kelas wahid dari partai kami."
"Hmm, orang-orang yang bersedia membantu penjahat
melakukan kejahatan tidak boleh dibiarkan hidup terus, sekarang
kalian boleh turun tangan" sambil berkata ia segera meloloskan
pedangnya.
sementara itu, ketiga orang Thian cun pun telah meloloskan
senjata panji kupu-kupu, tampak selapis bayangan kupu-kupu
dengan cepat menyelimuti angkasa, dari dua berubah menjadi
empat dan akhirnya terciptalah beribu-ribu ekor kupu-kupu yang
mengepung Kho Beng dari empat penjuru.
Kawanan jago yang mengikuti jalnny a pertarungan tersebut dari
sisi arena menjadi kecut hatinya setelah melihat keampuhan
lawannya, tanpa terasa mereka mengucurkan keringat dingin saking
gelisahnya.
Terutama sekali Bu wi lojin sekalian yang telah merasakan
kelihayan dari ketiga orang Thian cun tersebut, belum sampai
sepuluh gebrakan pun mereka telah menderita kekalahan, apalagi
Kho Beng hanya seorang diri sekarang, betapapun pesatnya
kemajuan yang dicapai dalam ilmu silatnya, mustahil ia mampu
menghadapi tiga musuhnya itu bersama-sama .
Phu sian sangjin pun tak tega mengikuti jalannya pertarungan, ia
segera memejamkan matanya rapat-rapat.
Dalam pada itu, Kho Beng yang terkepung ditengah arena sama
sekali tidak melakukan gerakan apapun-
Tapi ketika para jago mulai gelisah dan cemas itulah, mendadak
dari balik bayangan kupu-kupu yang menyelimuti angkasa
menyembul keluar segulung cahaya putih yang tajam bagaikan sinar
surya, cahaya tadi menerjang tiga kaki ketengah udara lalu berubah
menjadi segulung hujan pedang yang menyebar kesekeliling arena.
Dalam waktu singkat terlihatlah hawa pedang yang mengerikan
hati menyebar keseluruh arena, dalam lingkaran seluas sepuluh kaki,
hawa pedang serasa membungkus setiap bayangan udara, sedang
bayangan kupu-kupu yang semula menguasai angkasa tahu-tahu
hilang lenyap tak berbekas.
Tak lama kemudian terdengarlah suara benturan senjata yang
memekikkan telinga, lalu tak lama kemudian terdengar lagi tiga kali

jeritan ngeri yang menyayat hati, sementara hawa pedang pun
hilang lenyap tak berbekas.
sambil menghela napas para jago segera mengalihkan
pandangan matanya ketengah arena, bahkan si pelajar rudin Ho
Heng yang terluka dipahanya pun menyempatkan diri untuk
melompat bangun dan sambil menahan rasa sakit melongok kedalam
arena.
Menanti apa yang terjadi telah terpampang jelas didepan mata,
meledaklah tepik sorak yang gegap gempita, sementara rasa tegang
dan cemas hilang lenyap tak berbekas.
Ternyata hanya didalam satu gebrakan saja, ketiga orang Thian
cun yang sangat lihay itu sudah menderita kekalahan total.
seorang diantara mereka terpapas bahunya hingga tubuhnya
terbelah menjadi dua, orang itu tewas seketika, sedangkan dua yang
lain , satu kehilangan kaki yang satu lagi terpapas lengannya.
sementara itu Kho Beng yang berhasil meraih kemenangan masih
berdiri termangu- mangu diarena.
"Ilmu pedang bagus" teriak pelajar rudin sambil bersorak
gembira, .. "tapi kenapa kau?" Bagaikan baru tersadar dari lamunan,
Kho Beng segera menjawab :
"Baru untuk pertama kali ini boanpwee mempergunakan jurus
serangan tersebut, tak nyana kekuatan yang ditimbulkan begitu
hebat."
Dilain pihak paras muka Dewi In Un telah berubah menjadi pucat
seperti mayat, ia tidak ambil peduli terhadap dua orang Thian cun
yang terluka parah itu, sambil menggigit bibir serunya kepada Kho
Beng. "Ilmu silat apa yang kau pergunakan?"
"Inilah ilmu pedang Thian goan hui kiong kiam."
"Ilmu tersebut berasal dari kitab pusaka Thian goan bu boh?"
"separuh benar, separuh tidak."
"Aku tidak memahami arti perkataanmu itu" seru Dewi In Un
sambil menggigit bibir. sambil tertawa dingin Kho Beng berkata :
"Kau tak usah memahami, sebab sejak sekarang sekalipun partai
kupu-kupu masih hidup didunia ini, aku tak akan memperkenankan
kalian melakukan kejahatan lagi didalam dunia persilatan, paling
tidak aku mampu untuk mengendalikan sepak terjang kalian."
"Bila kau sudah mampus" Kho Beng agak tertegun, lalu katanya :
"sekalipun aku mati, pasti ada penerus yang bakal muncul
sebagai pengendali sepak terjang partai kupu-kupu."

setelah berhenti sejenak, kembali katanya:
"tapi aku dapat memberitahukan kepadamu, ilmu Thian goan hui
kiong kiam hoat tersebut berasal dari ilmu sakti yang tercantum
didalam kitab pusaka Thian goan bu boh dikombinasikan dengan
ilmu Hui liong sin kang guruku, dua ilmu yang bergabung jadi satu
menciptakan kepandaian baru maha dahsyat, oleh sebab itu kalian
semua jangan harap mampu mengendalikannya ."
Dewi In Un segera mengawasi sekejap sekeliling tempat itu,
mendadak jeritnya keras : "Cepat mundur"
sambil melompat kedepan, dia berusaha untuk melarikan diri
kebawah puncak bukit.
Namun kawanan jago persilatan yang masih segar cukup banyak
jumlahnya disana, Ngo Cun ki segera berseru :
"Jangan lepaskan seorangpun diantara mereka"
Maka suatu pertarungan sengitp pun segera berkobar kembali.
Dalam pada itu Kho Beng telah melejit keudara dan mengejar
kearah Dewi In Un dengan kecepatan luar biasa.
Tak sampai belasan lompatan kemudian ia telah berhasil
menghadang didepan lawannya.
sadar kalau tak mungkin lolos, Dewi in Un menghembuskan
napas panjang dan segera menghentikan langkahnya. sambil
tertawa dingin Kho Beng berkata :
"saat ini aku telah menguasai ilmu Hui liong singkang guruku,
sekalipun kau dapat kabur sejauh sepuluh lipun, aku masih tetap
mampu untuk menyusulmu"
"Kenapa kau tidak membunuhku?" jerit Dewi In Un-
Kho Beng menggeleng, katanya :
"Kita belum pernah bertarung, mengapa kau tidak berusaha
melakukan perlawanan?"
"Percuma," Dewi In Un menghembuskan napas panjang, "ilmu
silatku tidak lebih hebat bila dibandingkan ketiga orang Thian cun
itu, buat apa aku mesti mencari penyakit buat diri sendiri?"
"Jadi kau berniat menyerah? " jengek Kho Beng sambil tertawa
dingin-Dengan cepat Dewi In Un menggelengkan kepalanya :
"partai kupu-kupu tak akan menyerah dengan begitu saja, paling
tidak masih ada ayahku serta kawanan jago pilihan dari partai kupukupu
kami, biarpun kali ini kau unggul namun bukan berarti kau
berhasil menggungguli kami secara keseluruhan." sambil tertawa
dingin Kho Beng berkata :

"Mungkin kau mesti tahu keadaan ayahmu yang mengenaskan,
lengan kanannya telah kutung dan semangat hidupnya sudah
runtuh, sekalipun dibantu oleh Liong hoa sinkun suami istri, namun
kemampuan mereka sudah amat terbatas sekali, kekuatan seperti itu
tak perlu dirisaukan lagi."
"Kau .. kau bohong" seru Dewi In Un setelah tertegun sejenak.
"sungguh atau bohong tak lama lagi akan kau ketahui sendiri,
aku segan banyak bicara lagi."
Kemudian setelah berhenti sejenak lanjutnya :
"Tapi aku bersedia untuk mengajukan pembicaraan secara blakblakan"
"Katakanlah" ucap Dewi In Un sambil menghela napas.
setelah berpikir sebentar, Kho Beng berkata :
"Aku tak ingin berbuat kelewat batas, apalagi mendiang guruku
pun sudah meninggalkan pesan, maka asalkan kau bersedia untuk
bertobat, aku jamin partai kupu-kupu masih bisa melanjutkan
hidupnya didunia ini."
"Apa syaratmu?" Tanya Dewi In Un sambil menggigit bibir.
"Tentu saja harus membebaskan ciciku, dua orang dayangnya,
kakek tongkat sakti serta nona Chin, dan kedua kau harus
membujuk ayahmu agar mengundurkan diri dari daratan Tionggoan
dan selama hidup tak boleh mempunyai ambisi lagi untuk menguasai
jagat."
"Hanya itu saja?" Tanya Dewi In Un setelah berpikir sejenak.
"selain itu, orang tuaku sekalian tujuh puluh lembar jiwa tak
dibiarkan mati secara sia-saia, kau harus menunjukkan siapa yang
telah menyaru sebagai Bu wi lojin dimasa lalu, aku pun akan
bertanggung jawab untuk mengembalikan kitab pusaka Thian goan
bu boh kepada kalian-"
Dewi In Un tertegun berapa saat tanpa berbicara. Dengan suara
keras Kho Beng segera membentak lagi :
"sesat dan lurus tak mungkin bisa hidup berdampingan, kecuali
kau bersedia menerima syaratku tadi, kalau tidak. partai kupu-kupu
akan musnah untuk selamanya dari muka bumi"
"Apakah semua perkataanmu itu muncul dari hari kecilmu yang
jujur?" Tanya Dewi In Un sambil menggigit bibir.
"Bila anda tak percaya, aku bersedia untuk mengangkat sumpah"
kata Kho Beng serius. Akhirnya Dewi In Un menghembuskan napas
panjang.

"Baiklah, aku bersedia memenuhi tuntutanmu itu."
"Jadi maksud anda .." Kho Beng sangat gembira. Dengan wajah
serius Dewi In Un segera berkata :
"Bila kau tak percaya, akupun bersedia mengangkat sumpah tapi
kau harus mengerti, hingga kini partai kupu-kupu belum menderita
kekalahan total, aku masih mempunyai sandera yang bisa dipakai
untuk mengancammu, akupun mempunyai ayahku sebagai tulang
punggung, seandainya benar-benar terjadi pertarungan, siapa
menang siapa kalah masih susah diramalkan tapi aku ."
setelah menghela napas panjang, agal emosi dia melanjutkan :
"Mungkin aku telah dibuat terharu oleh sikapmu yang
bersungguh-sungguh dan tulus hati"
"Asal anda bisa merasakan hal tersebut, aku merasa berterima
kasih sekali." setelah berpikir sebentar, Dewi In Un berkata lagi :
"Kini encimu sekalian sudah kupindah didalam sebuah gua
dibelakang selat Pek hong sia, didepan gua tumbuh dua batang
pohon siong, kau hendak pergi sendiri ataukah kutemani?" Kho Beng
berpikir sebentar, lalu jawabnya :
"Bagaimana kalau kau berangkat dulu, sedang aku akan segera
menyusul kesana?"
"Begitu percayakah kau kepadaku? Mengapa kau tidak segera
berangkat kesana?" kata Dewi in Un sambil tertawa.
Dengan wajah bersungguh-sungguh, Kho Beng berkata :
"Bila aku tak percaya kepada anda, tak mungkin aku akan
mengajakmu untuk membicarakan persoalan ini, sedang aku .
Bagaimanapun juga aku harus meninggalkan pesan kepada para
jago yang masih bertarung diatas bukit, ketahuilah banyak juga
orang-orangmu yang masih terlibat dalam pertarungan"
"Aaaai . Tak nyana persoalan seperti itu pun mendapat perhatian
yang cukup besar darimu, baiklah, aku akan menunggumu disana"
kata Dewi In Un sambil menghela napas panjang.
Tanpa menanti lagi, ia segera beranjak pergi meninggalkan
tempat itu.
Kho Beng bangkit berdiri, ketika melihat kentongan pertama telah
menjelang tiba, buru-buru dia berangkat menuju keatas puncak
bukit.
Pertarungan dipuncak bukit telah mereda, ternyata kecuali Dewi
In Un serta tiga orang Thian cun, biarpun yang lain terhitung juga
jagoan lihay dari partai kupu-kupu, tapi karena kesatu, Dewi In Un

telah melarikan diri sehingga melemahkan semangat tempur
mereka. Kedua, para jago yang mengerubuti mereka adalah jagojago
kelas satu, maka akhirnya mereka berhasil diringkus semua.
Kedatangan Kho Beng dipuncak bukit segera disambut dengan
gembira oleh para jago. Kho sauhiap Ngo Cun ki segera berseru
dengan cemas, "mana Dewi In Un ?"
"Atas petunjukku dia telah bersedia untuk berdamai dengan kita"
sahut sang pemuda sambil tertawa.
"Damai?" para jago dibuat tertegun dan berseru kaget. sambil
tersenyum Kho Beng berkata :
"Ya a, peristiwa ini memang terpaksa harus di akhiri secara
begini."
secara ringkas diapun menceritakan kembali pesan terakhir dari
gurunya yang harus dilaksanakanselesai
mendengar penuturan itu, Bu wi lojin segera berkata :
"seandainya Kengci cu tidak sadar akan bahaya yang mengancam
dunia persilatan, mungkin kita tak akan lolos dari bencana ini,"
"yaaa . Kalau dibicarakan kembali keputusan seperti ini memang
pantas, tapi apakah Ui sik kong"
"serahkan saja persoalan ini kepada boanpwee, akan boanpwee
selesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya."
"Tahukah kau siapa yang telah menyamar sebagai diriku dulu
sehingga mengakibatkan terjadinya peristiwa berdarah
diperkampungan Hui im ceng?"
"Boanpwee sudah mendengarnya dari Dewi In Un, katanya orang
itu adalah Liong hoa sinkun, boanpwee bersumpah tak akan
melepaskan orang itu" setelah berhenti sejenak. kembali ia berkata :
"Tapi ciciku dengan perannya sebagai kedele maut telah banyak
membantai umat persilatan, apakah .."
"omitohud ." Tukas Phu sian sangjin-
"Dalam peristiwa inipun kesalahan bukan terletak pada dirinya,
sudah sewajarnya bila ia mengambil tindakan untuk membalas
dendam tersebut, untung saja duduk persoalan telah menjadi jelas
sekarang, sakit hati inipun bisa dibereskan sebagaimana mestinya."
Kemudian setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu,
katanya lebih jauh dengan suara dalam :
"serahkan saja penyelesaian masalah ini kepadaku, peristiwa
yang sudah lewat biarkan saja lewat, mulai saat ini setiap orang

yang mempunyai dendam dengan encimu akan diimpaskan dan tak
akan menuntutnya lagi."
"Kalau begitu banyak terima kasih untuk kemurahan hati lo
siansu, terima kasih banyak untuk pengertian rekan- rekan persilatan
semuanya." seru Kho Beng seraya menjura. serentak para jago
berkata :
"seharusnya kami yang minta maaf kepada Kho sauhiap serta
mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya, andaikata
bukan berkat perjuangan sauhiap. mungkin saat ini dunia persilatan
telah menjadi dunia kekuasaan partai kupu-kupu." Mendadak Phu
sian sangjin berkata :
"Bukankah Kho sauhiap berada bersama-sama keturunan dari
tiga dewa?" Kho Beng mengangguk katanya :
"Ketika boanpwee bersama Thian cianpwee sekalian menyatroni
gua pengikat cinta, hampir saja kami tewas oleh ledakan bahan
peledak yang sengaja mereka persiapkan dari situ pula kami
mendapat tahu tentang rencana busuk mereka disini, kebetulan
boanpwee bertemu dengan siang thian eng cianpwee dengan
bantuan rajawalinya kami pergi kesiau lim pay, dari situ kami
mendapat tahu cianpwee sekalian telah berangkat keselat Pek hong
sia, aaaai .. sayang kedatangan ku toh tetap terlambat selangkah,
akibatnya cianpwee sekalian harus menderita luka."
"Haaah haahh haaahhh .. untung saja kami semua tidak
menderita luka yang terlalu parah, peristiwa semacam ini benarbenar
merupakan suatu keuntungan ditengah ketidak beruntungan
tapi dimanakah siang Thian eng itu?"
Ternyata para jago hanya mencurahkan perhatian pada
pertarungan dan melupakan kakek penunggang rajawali tadi, ketika
dicari sekarang, bayangan kakek itu sudah tak Nampak lagi.
sambil tersenyum Kho Beng berkata :
"siang Thian eng adalah seorang tokoh silat yang enggan
mencampuri urusan dunia persilatan, seandainya Thian dan oh
cianpwee tidak memohon secara bersungguh-sungguh mungkin dia
belum tentu mau membantu, karena enggan turut campur dalam
urusan keduniawian tentu saja ia telah pergi dari sini sedari tadi."
Kemudian setelah berhenti sejenak. katanya lagi seraya menjura :
"Boanpwee hendak pergi dulu, harap cianpwee sekalian jangan
marah."

Thio bungkuk yang menderita luka paling ringan segera memburu
kedepan dan berkata sambil tertawa :
"Kho Beng, akhirnya aku berhasil juga menyaksikan hari yang
dinanti-nantikan ini." sambil melelehkan air mata terharu, Kho Beng
berbisik :
"Kesemuanya ini adalah berkat bimbingan serta pendidikan dari
cianpwee dimasa lalu." Thio bungkuk tersenyum .
"Kita tak usah membicarakan soal itu, .. aaaah benar, perguruan
sam boan bun kini semakin merosot pamornya, namun ketua sam
goan bun justru merupakan orang yang telah mmelihara serta
mendidikmu, kau .."
"Boanpwee mengerti" kata Kho Beng cepat-cepat.
"Begitu urusan disini selesai, boanpwee segera akan
menyambanginya sambil mengucapkan perasaan terima kasihku."
Thio bungkuk manggut-manggut, katanya kemudian :
"Chee Tay hap terpengaruh ilmu sesat, karenanya ia disekap
didalam kuil siau lim si untuk sementara waktu, biarlah menanti
kesadaran pikirannya telah pulih kembali, dia baru kembali
keperkampungan Hui im ceng." setelah berhenti sejenak. tambahnya
:
"Kau tentu akan kembali keperkampungan HHui im ceng, bukan?"
"Tentu saja, boanpwee akan membangun kuburan yang lebih
banyak bagi orang tuaku, begitu urusan disini selesai, aku akan
segera kembali keperkampungan Hui im ceng."
"Kalau begitu selesaikan dulu persoalan yang penting, aku si
bungkuk tak akan mengganggumu lagi."
Baru saja Kho Beng hendak berangkat, terdengar Ngo Cun ki
berseru :
"Tunggu sebentar Kho sauhiap. disini terdapat dua puluh empat
orang anggota partai kupu-kupu, apa yang harus kita perbuat
terhadap mereka? Harap Kho sauhiap memberi petunjuk."
"Aku tak berani menerima ucapan tersebut, kalau toh perdamaian
sudah disepakati, aku rasa ."
sambil tertawa Ngo Cun ki segera menyela :
"Ya a, aku sudah mengerti sekarang, Kho sauhiap boleh
berangkat"
Kho Beng agak tertegun, namun ia toh meneruskan kembali
perjalanannya menuju kebelakang selat.

Dari kejauhan Kho Beng dapat melihat diantara dua batang
pohon siong yang lebat terdapat sebuah gua besar, waktu itu Dewi
In Un telah menanti didepan gua. Dengan perasaan girang Kho Beng
segera berseru : "siancu, tak nyana kau adalah orang yang pegang
janji"
Ketika masuk kedalam gua, apa yang terlihat membuat hatinya
terkejut bercampur girang.
Ternyata Kho Yang ciu, Bwee hiang beserta Kekek tongkat sakti
dan Chin sian kun sedang duduk didalam gua itu.
Pertemuan ini benar-benar diliputi perasaan sedih bercampur
gembira, saking tak tahannya Kho Beng segera berpelukan erat
dengan Kho Yang ciu dan menangis kegirangan. "Adikku" gumam
Kho Yang ciu kemudian. "semuanya ini memang kesalahanku.."
"cici, kau jangan berkata begitu, sekarang ."
"Yaa, sekarang keadaan telah beres" kata Kho Yang ciu sambil
menghela napas. "Kau.."
Buru-buru Kho Beng menceritakan pengalamannya selama ini
secara ringkas, sebagai akhir kata ia bilang :
"selain itu, masih ada satu hal lagi yang terpaksa kumohon maaf
dari cici."
"soal apa?" Tanya Kho Yang ciu tertegun.
"Karena didesak terus menerus oleh Thian serta oh cianpwee,
maka siaute telah .. telah mengikat tali perkawinan dengan Beng Gi
ciu"
"Adikku, ini kan berita gembira, untuk bergembira pun cici
merasa tak sempat"
Tapi belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak Chin sian
kun yang berada disisinya telah roboh tak sadarkan diri
Kho Beng jadi terkejut sekali, buru-buru dia menghampiri dan
menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Ki hay hiat nya,
sambil mengerahkan tenaga murninya, dia berseru :
"Nona Chin , nona chin .."
Pelan-pelan chin sian kun mendusin kembali, namun air mata
meleleh keluar membasahi wajahnya, biar begitu dia memaksakan
diri untuk tersenyum, katanya : "Aa a a h, tak apa apa, mungkin aku
kelewat gembira." sambil tertawa getir, Dewi In Un turut berkata
pula : ^
"seharusnya akulah yang bersalah, selama ini berapa waktu
kalian harus hidup dalam sekapan hingga akibatnya badan kalian

menjadi lemah sekali, tapi cairan racun yang mengendap dalam
tubuh cicimu telah hilang lenyap sama sekali."
Ternyata selain kurus kering, orang-orang itu sama sekali tidak
menunjuk gejala sakit.
Kakek tongkat sakti menghela napas panjang, katanya pula :
"Kesengsaraan yang ditentukan oleh takdir tak akan bisa
dihindari oleh siapapun, bayangkan saja diriku ini, enak-enak hidup
ditempat pengasinganku, justru datang kedaratan Tionggoan untuk
merasakan penderitaan seperti ini."
"selama hidup boanpwee tak akan melupakan kebaikan
cianpwee" buru-buru Kho Beng memberi hormat.
Kakek tongkat sakti segera tertawa terbahak-bahak :
"Haaah . Haahh .. haahh itu Cuma urusan kecil, anggap saja aku
sedang melayani semedi menghadap dinding, tapi dengan terjadinya
peristiwa ini aku benar-benar akan mengundurkan diri dari dunia
persilatan untuk selamanya." Mendadak, ..
Bayangan manusia Nampak berkelebat lewat, tahu-tahu Ui sik
kong, Liong hoa sinkun dan Pek kut hujin telah menerjang masuk
kedalam gua. Dengan sepasang mata berapi-api karena gusar Ui sik
kong membentak keras : "Budak busuk Bagus sekali perbuatanmu"
suasana didalam gua seketika berubah menjadi tegang, dibawah
petunjuk Kho Beng, Kho Yang ciu sekalian segera mengundurkan diri
kesudut gua, sebab kondisi badan mereka masih amat lemah dan
hakekatnya tidak memiliki kemampuan untuk melangsungkan
pertempuran sambil menghela napas, Dewi In Un berkata :
"Ayah sekarang sudah tiba saatnya bagi kita untuk membicarakan
persoalan ini dengan pikiran dan hati dingin"
"Apalagi yang bisa dibicarakan saat ini?" seru Ui sik kong dengan
kening berkerut.
"Kau tahu, semua perbuatan yang telah kau lakukan selama ini
hanya menimbulkan kepedihan hatiku saja."
Lengan kirinya kelihatan gemetar keras, mekanya berubah
menjadi hijau kemerah-merahan,jelas kemarahan yang menyelimuti
perasaan Ui sik kong telah mencapai pada puncaknya, tapi seperti
juga karena belum lama sembuh dari lengan kanannya yang kutung.
sementara itu Liong hoa sinkun suami istri hanya berdiri angkuh
didepan gua, mereka tertawa dingin tiada hentinya. Dengan
perasaan sedih Dewi In Un berkata :

"Ayah telah kehilangan sebuah lengan, sementara situasi yang
kita hadapi pun makin lama semakin runyam, buat apa sih kita harus
berambisi menguasai daratan Tionggoan, mengapa kita tidak pulang
saja ke Hay sim san dan melewatkan sisa hidup dalam kedamaian
serta kegembiraan?"
"Anak durhaka" umpat Ui sik kong makin naik darah. "Apakah
kau lupa dengan dendam kesumat leluhurmu dulu"
"Dendam sakit hati leluhur telah terjadi seabad berselang,
padahal asal partai kupu-kupu dapat berdiri tegak didalam dunia
persilatan hal ini sudah lebih dari cukup untuk kita."
"omong kosong" bentak Ui sik kong semakin gusar.
"Aku benar-benar benci kepadamu, .. kau anak durhaka
pantasnya dibunuh sampai mampus"
"Ayah" kembali Dewi In Un mencoba untuk membujuk dengan
suara lembut.
"Kini Kho Beng telah berjanji akan mengembalikan kitab pusaka
Thian goan bu boh kepada kita, menurut pendapatku kalau urusan
bisa disudahi lebih baik disudahi saja, bila kita lanjutkan pertarungan
ini maka kitalah yang bakal memperoleh hasil yang tragis"
sepasang mata Ui Sik kong berkilat-kilat memancarkan sinar
tajam, tiba-tiba menggigit bibir dia tertawa dingin, serunya :
"Heeehh . Heehh . Heehhh .sekarang aku sudah dapat menduga
penyebabnya, rupanya kau sudah terpikat oleh ketampanan wajah
bocah keparat itu bukan? sehingga bersedia membantu pihaknya?
Anak bedebah, anak tak berbakti" Merah padam selembar wajah
Dewi In Un, teriaknya keras-keras :
"Aaah, kau ." Ui sik kong sama sekali tak berbicara lagi, sambil
menggetarkan lengan tunggalnya dia melepaskan sebuah serangan
dasyat kearah Kho Beng.
Liong hoa sinkun serta Pek kut Hujin tidak tinggal diam, serentak
mereka berdua dengan empat telapak tangannya melepaskan empat
gulung tenaga pukulan yang dahsyat.
Desingan angin pukulan yang amat keras kedengaran makin
menusuk pendengaran lagi didalam gua tersebut.
Kho Beng tidak mencoba untuk menghindar, dengan keras lawan
keras ia sambut datangnya serangan itu. Blaaammmm
Ditengah benturan yang sangat keras, kedua belah pihak samasama
tergetar mundur dua langkah kebelakang.

Kho Beng merasakan isi perutnya mengalami goncangan keras,
darah segar segera menyembur keluar dari mulutnya.
sebaliknya Ui sik kong maupun Liong hoa sinkun suami istri
berdiri pula dengan wajah pucat seperti mayat, napas mereka
kedengaran terengah-engah.
Kho Yang ciu maupun chin sian kun segera menjerit kaget,
namun baru saja bangkit berdiri mereka segera tertunduk kembali,
karena mereka benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk
membantu.
setelah menghembuskan napas panjang, sambil menggigit bibir
Kho Beng meloloskan pedangnya dari sarung dalam waktu singkat ia
telah melancarkan tiga buah serangan berantai mengancam tubuh
Liong hoa sinkun maupun Pek kut hujin.
Dalam keadaan demikian , Liong hoa sinkun tak berani berayal ,
ia segera meloloskan kipas bertulang besinya, sedangkan Pek kut
hujin menggunakan sekerat tulang tengkorak kepala sebagai
senjatanya.
Walaupun isi perut Kho Beng telah menderita luka, namun
dengan dasar tenaga dalamnya yang sempurna, ditambah desakan
rasa dendamnya yang berkobar-kobar, pemuda itu memainkan
pedangnya sedemikian rupa sehingga terciptalah rangkaian cahaya
dingin yang menggidikkan hati.
Tiga gebrakan kemudian Liong hoa sinkun serta Pek kut hujin
telah terdesak kesudut gua, nampaknya tidak sampai lima gebrakan
lagi mereka berdua pasti akan menderita kekalahan total.
Mendadak Ui sik kong mengayunkan tangan tunggalnya sambil
melancarkan serangan kembali.
Namun serangan yang dilancarkan kali ini bukan ditujukan
kepada Kho Beng melainkan langsung menyikat tubuh Liong hoa
sinkun.
Mimpi pun Liong hoa sinkun tidak menyangka kalau rekannya
bakal berbalik menyerang tubuhnya, tak ampun lagi tubuhnya
segera terhajar secara telak, diiringi jeritan kesakitan tubuhnya
segera roboh terkapar diatas tanah.
Walaupun Kho Beng merasa peristiwa ini sama sekali diluar
dugaan, namun gerak erangan pedangnya sama sekali tak berhenti,
dia langsung menusuk Pek kut hujin dengan sebuah tusukan kilat.
Kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati, dua orang
suami istri itu sama-sama tergeletak diatas tanah dalam keadaan

terluka parah. sambil menggertak gigi menahan diri Kho Beng
segera berseru :
"Cici inilah orang yang telah menyaru sebagai Bu wi lojin pada
delapan belas tahun berselang, dia pula musuh besar sebenarnya
dari keluarga Kho kita."
Cahaya tajam berkilau berulang kali disusul percikan darah segar
menyembur kemana-mana, tahu-tahu tubuh Liong hoa sinkun suami
istri sudah terpapas pinggangnya putus menjadi empat bagian suatu
kematian yang mengerikan
selesai membunuh musuh besarnya, pelan-pelan Kho Beng
menarik kembali pedangnya lalu sambil berpaling kearah Ui sik kong
tegurnya : "Mengapa secara tiba-tiba kau berubah pendirian?" Ui sik
kong menghembuskan napas panjang. "Aku merasa agak menyesal,
maka .."
Tapi disaat Kho Beng sama sekali tidak siap. suatu gebrakan
secepat sambaran petir, ia langsung menotok jalan darah tam tiong
hiat, ditubuh anak muda tersebut.
Begitu jalan darahnya tertotok. otomatis Kho Beng kehilangan
sama sekali segenap kekuatannya untuk melawan dalam keadaan
begini terpaksa dia hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit
bibir.
Kekek tongkat sakti, Kho Yang ciu dan chin sian kun sekalian
berniat memberi bantuan, namun kesatu, tenaga dalam mereka
belum pulih kembali. Kedua, keadaan tak memberi kesempatan bagi
mereka untuk berbuat demikian, terpaksa mereka Cuma bisa
mengawasi peristiwa tersebut dengan mata terbelalak. sambil
tertawa angkuh, Ui sik kong segera berkata :
"Kho Beng, bila aku tak membunuh Liong hoa sinkun, akhirnya
diapun pasti akan tewas ditanganmu, sebaliknya bila aku
membunuhnya maka akan terciptalah kesempatan baik bagiku untuk
membunuhmu, tentunya keadaan tersebut tidak pernah kau duga
bukan?" sambil menggigit bibir Kho Beng membungkam dalam
seribu bahasa. setelah mengawasi sekejap sekeliling tempat itu,
kembali Ui sik kong membentak :
"Kini lengan kananku telah kutung, putrid kandungku telah
berhianat, tapi masih untung aku dapat membunuhmu hari ini,
hitung-hitung dapat juga kulampiaskan rasa benciku selama ini."
"Ayah, kau harus berpikir tiga kali dulu sebelum berbuat .." teriak
Dewi In Un

"Anak durhaka" teriak Ui sik kong keras-keras.
"Biarpun hanya mengandalkan sebuah lengan tunggal, aku masih
tetap akan malang melintang dikolong langit dan membangun
kerajaanku, akan kubangun kembali partai kupu-kupu untuk
membalaskan sakit hati leluhurku" Kemudian setelah berhenti
sejenak, teriaknya keras-keras : "Kho Beng, kaupun harus segera
berangkat"
Lengan tunggalnya segera diayunkan melepaskan sebuah
pukulan dahsyat kedepan. Blaaammmm Terdengar suara benturan
keras menggema diudara disusul semburan darah segar menodai
seluruh permukaan gua, sesosok tubuh segera toboh terkapar siatas
tanah. Namun yang roboh bukan Kho Beng, sebaliknya adalah Ui sik
kong sendiri. Tampak Dewi In Un memburu kemuka dengan langkah
lebar, teriaknya sambil menangis : "Ayah .. ayah"
Ternyata disaat yang amat kritis itulah Dewi In Un telah
melepaskan sebuah pukulan yang persis menghantam punggung Ui
sik kong.
serangan tersebut dilancarkan dengan menggunakan ilmu Thian
goan eng yang dipelajarinya dari kitab pusaka Thian gian bu boh,
tak heran kalau Ui sik kong tewas seketika itu juga.
sementara itu Kho Beng dibuat termangu- mangu dia sama sekali
tak menyangka kalau Dewi In Un dapat berubah secepat ini, dia
lebih tak menyangka kalau perempuan tersebut akan membunuh
ayahnya sendiri
Untuk beberapa saat dia malah dibikin bingung, harus
menghiburkah atau berpeluk tangan saja?
sementara dia masih merasa serba salah terdengar suara hiruk
pikuk menusia bergema diluar gua disusul munculnya serombongan
manusia.
Ternyata sebagai orang pertama adalah Thian cun yang, oh Kui
sam serta Beng Gi ciu dan siau wan sedang dibelakangnya mengikuti
kawanan jago persilatan yang dipimpin Phu sian sangjin.
Begitu bersua dengan Kho Beng, paras muka Beng Gi ciu yang
pucat pias segera berubah menjadi merah, dengan napas terengahengah,
serunya :
"Engkoh Beng .. kau tidak apa-apa bukan?"
"Masih mendingan-" sahut Kho Beng sambil tertawa getir.
Thian Cun yang segera menimbrung sambil tertawa terbahakbahak.

"Haa haaahh . Haaahh. Rupanya kami berdua sudah ketinggalan
barisan, urusan disini telah selesai semua, kita baru tiba disini, waah
. Bakal menganggur nih."
"siapa bilang menganggur? Paling tidak kita toh mesti merayakan
pesta perkawinan keponakan kita." sambung oh Kui sam sambil
tertawa pula. Merah jengah selembar wajah Beng Gi ciu, segera
omelnya :
"Empek oh, masa dihadapan bagini banyak orangpun kau masih
bergurau, hati-hati kalau aku mengambek lho." Kembali oh Kui sam
tertawa bergelak :
"Baik, baik tak akan menggoda lagi, apakah urusan disini telah
selesai?" sambil berkata dia segera melongok kedalam gua. Tampak
Kakek tongkat sakti berjalan keluar dari gua sambil berseru :
"saudara Cun yang, kita bertemu lagi"
Ternyata antara Kakek tongkat sakti dengan Thian cun yang
memang bersahabat, tak heran kalau pertemuan ini memlibatkan
mereka dalam pembicaraan yang akrab.
sementara itu Kho Beng telah berjalan menuju kehadapan Thio
bungkuk. katanya kemudian
"Thio cianpwee, boanpwee tak akan mencampuri urusan dunia
persilatan lagi saat ini, aku hanya ingin mengajak ciciku untuk
pulang ke Hui im ceng dan bersembahyang dihadapan orang tua
kami."
"Ya a, memang sepantasnya begitu" sahut Thio bungkuk.
"Kini dunia persilatan bakal tentram untuk sementara waktu,
biarlah persoalan selanjutnya diselesaikan orang lain, tapi kau tak
usah gelisah urusan ini dapat diserahkan kepada ketua siau lim pay
Phu sian sangjin, dia pasti akan mengutus orang untuk
menyelesaikannya."
Buru-buru Kho Beng hendak menjawab, Phu sian sangjin telah
menyongsong datang sambil berseru :
"Kho sauhiap tak usah kuatir, aku bisa menyelesaikan segala
sesuatunya bagimu" Mendadak terdengar suara lain berseru pula :
"Kho sauhiap. hampir saja aku tak bisa menyusul kemari untuk
menyampaikan selamat kepada sauhiap"
Ketika Kho Beng berpaling dan mengetahui siapakah orang itu,
kontan saja darah yang mengalir dalam tubuhnya serasa mendidih,
hawa amarah langsung menyelimuti seluruh wajahnya.

Ternyata orang itu adalah Liong kiong sincu Kiong ceng san dari
telaga tong ting. sambil tertawa dingin Kho Beng berkata :
"ooo, . Rupanya Kiong tayhiap. entah karena persoalan apa anda
datang kemari?"
setelah tertawa nyaring, Kiong ceng san berkata :
"selama ini aku selalu merasa tak tentram gara-gara persoalan Li
sam, berkat kemurahan hati sauhiap yang tak akan memperpanjang
persoalan itu, aku makin tak tentram lagi. Maka sewaktu menerima
surat undangan dari Phu sian sangjin aku segera datang kemari
untuk membantumu, sayang undangan tersebut terlambat kuterima
hampir dua hari lamanya, karena itu tak sempat menghadiri
pertemuan di siau lim si meski bagitu aku masih sempat juga datang
kemari untuk menyampaikan selamat kepadamu, memang bila kita
berbicara yang sesungguhnya, Kho sauhiap memang jagoan nomor
wahid dikolong langit."
"Aku tak berani menerima pujian itu." Jengek Kho Beng sambil
tertawa dingin. Kemudian dengan wajah berubah sedingin es, dia
berkata labih jauh :
"Persoalan mengenai Li sam memang tak perlu diungkit lagi tapi
bagaimana dengan persoalan tiga bersaudara Kim? Hmmm, aku tak
bisa membiarkan persoalan ini selesai dengan begitu saja."
Berubah hebat wajah Kiong Ceng san setelah mendengar ucapan
ini, butiran peluh dingin segera bercucuran keluar membasahi
wajahnya, namun dia masih mencoba untuk tertawa paksa, katanya
:
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Kho sauhiap
maksudkan, apa sangkut pautnya antara tiga bersaudara Kim
dengan diriku?"
sementara itu seluruh jago telah mengalihkan perhatiannya ke
wajah Kho Beng, mereka memperhatikan pembicaraannya dengan
Kiong Ceng san secara bersungguh-sungguh, itulah sebabnya
suasana disekitar sana menjadi hening sekali.
Dengan perasaan emosi yang meluap-luap Kho Beng segera
menceritakan kembali peristiwa berdarah didalam gua dibela kang
bukit Cian san-
Mendengar penuturan itu, berubah hebat wajah para jago,
serentak mereka berpaling dan mengawasi Kiong ceng san dengan
penuh amarah.

Menyaksikan keadaan ini, Kiong ceng san segera menghela napas
panjang, tiba-tiba dia mengayunkan tangan untuk menghajar ubunubun
sendiri Blaaammmmm Mayatnya segera roboh terkapar diatas
tanah.
sampai lama sekali Kho Beng berdiri termangu- mang u, akhirnya
ia berpaling kearah pelajar rudin Ho heng dan berkata : "Apakah
cianpwee hendak pergi ke siau lim si?" sambil tertawa pelajar rudin
berkata :
"Tak usah kau katakan lagi, aku sudah memahami maksudmu,
tentu akan kuusir pergi keempat budak asing tersebut, begitu urusan
selesai akupun akan segera berangkat ke Hui im ceng untuk
menikmati arak kegiranganmu. "Kemudian setelah berhenti sejenak^
terusnya :
"Kau tahu, kami telah berunding disaat kau kawin dengan nona
Beng, maka tujuh partai sekalian akan bersama-sama
menyelenggarakan pesta tersebut bagimu, waaah . sampai
waktunya suasana tentu amat gembira."
"Boanpwee tak berani menerimanya ." Buru-buru Kho Beng
berseru dengan wajah bersemu merah.
Dengan wajah tersipu-sipu ia mengundurkan diri dari situ diiringi
gelak tertawa si pelajar rudin.
Kebetulan Kho Yang ciu pun sedang pamitan kepada para jago,
sebenarnya Kho Beng hendak ikut berpamitan tapi teringat akan
Dewi In Un yang masih menangis sedih dia menjadi turut beriba
hati, ia tak tahu apa yang harus dikatakan kepada perempuan itu,
masih ada lagi masalah kitab pusaka Thian goan bu boh.
Tapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu, ternyata masalah pelik
itu telah terselesaikan dengan sendirinya.
Tampak Dewi In Un berjalan mendekat bersama Bu wi lojin yang
belum sembuh dari luka dalamnya, terdengar Bu wi lojin berkata
sambil tertawa tergelak :
"Kho Beng, urusan didunia ini memang demikian tak disangka,
dengan susah payah bahkan mempertaruhkan jiwa kucuri kitab
pusaka Thian goan bu boh tersebut, sampai akhirnya kitab itu harus
kukembalikan sendiri kepada pemiliknya." Buru-buru Kho Beng
menyahut :
"selama ini aku memang banyak ganggu kau orang tua, semoga
siancu bisa baik-baik menjaga diri."

Buru-buru Dewi In Un balas memberi hormat. sambil tertawa
kembali Bu wi lojin berkata :
"Akulah yang menyebabkan terjadinya semua peristiwa ini, sudah
sepantasnya kalau aku juga yang menyelesaikannya, Kho Beng
mungkin aku tak sempat lagi untuk mencicipi arak kegiranganmu,
selesai upacara perkawinan datanglah kebukit siong soat gayku,
aaaai sebab aku sudah tak ingin mencampuri urusan keduniawian
lagi."
sementara Kho Beng masih ragu-ragu Bu wi lojin serta Dewi In
Un telah pergi meninggalkan tempat itu tanpa berpaling lagi.
Lama , lama sekali dia termenung, akhirnya ia baru terkejut
setelah bahunya ditepuk orang secara tiba-tiba.
sewaktu berpaling, tampak cicinya Kho Yang ciu telah berdiri
disitu, sementara dibelakangnya berdiri berjajar Beng Gi ciu, Chin
sian kun, Bwee hiang, sia hong serta siau wan-
Terdengar Kho Yang ciu berkata :
"Mari kita berangkat duluan, toh tak lama kemudian para jago
akan berkumpul lagi diperkampungan Hui im ceng, sekarang kau tak
usah berpamitan dulu dengan mereka setibanya dirumah, pertama
kita harus membereskan dulu kuburan kedua orang tua kita, setelah
itu kita siapkan pesta perkawinanmu."
Belum lagi Kho Beng sempat berbicara, terdengar Kho Yang ciu
berkata lebih jauh :
"Aku telah mengatur segala sesuatunya bagimu, nona Beng dan
nona Chin akan menjadi istrimu bersama-sama, menurut urutan usia
maka mereka akan menempati urutan sesuai dengan umur masingmasing,
adik Beng aku lihat nasibmu memang amat mujur." Kho
Beng menjadi terkejut sekali, segera teriaknya : "Ini, . ini, . "
sambil tertawa Kho Yang ciu berkata lagi :
"Akulah yang mengaturkan segala sesuatunya bagimu, nah kedua
orang iparku saja telah setuju, masa kau masih akan menjual
mahal?"
Sambil berseru ia segera menarik tangannya dan berialu dari situ,
dibelakang mereka menyusul Beng Gi Ciu, Chin sian kun dan
sekalian dayang.
Berapa waktu kemudian, pesta perkawinan pun diselenggarakan
diperkampungan Hui im ceng dengan amat meriah .
Sejak itu Kho Beng hidup penuh kedamaian bersama kedua orang
istrinya. Dan sampai disini pula kisah cerita ini.

TAMAT.__
Anda sedang membaca artikel tentang KEDELE MAUT 4 dan anda bisa menemukan artikel KEDELE MAUT 4 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/kedele-maut-4.html?m=0,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel KEDELE MAUT 4 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link KEDELE MAUT 4 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post KEDELE MAUT 4 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/kedele-maut-4.html?m=0. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar