ISTANA KUMALA PUTIH 1

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Senin, 05 September 2011

ISTANA KUMALA PUTIH
Karya: O.P.A

Jilid 01
Di daerah pegunungan Tiang Pek San daerah San See
selatan, ada terdapat sebuah rimba lebat, rimba itu ada begitu
luas di sekitarnya dikitari oleh puncak-puncak gunung yang
menjulang tinggi ke langit. Saking lebatnya rimba itu, membuat
keadaan di situ sangat gelap, sunyi dan menyeramkan.
Didalam rimba tersebut ada terdapat sebuah istana yang
sangat misterius, istana itu dinamakan ISTANA KUMALA
PUTIH.
Anehnya didalam rimba persilatan, siapa saja tidak perduli
ia adalah tokoh atau jago ternama di kalangan Kangouw, kalau
berbicara tentang istana itu, lantas pada ketakutan setengah mati. selama beberapa ratus tahun
lamanya, banyak jago-jago dari berbagai golongan, baik dari kalangan hitam maupun putih. semua
kepingin tahu rahasianya istana Kumala putih tersebut. tapi selama itu, tidak ada seorangpun yang
berhasil membuka tabir yang menutupi rahasia istana dalam rimba tersebut, sebabnya, begitu
mereka masuk ke dalam rimba, lantas tidak terdengar lagi kabar ceritanya.
Maka Istana Kumala Putih itu tetap merupakan satu rahasia bagi dunia persilatan. Dan rimba
itu merupakan tempat keramat yang ditakuti oleh setiap orang. Suatu malam di musim dingin, salju
turun sangat lebat, angin meniup kencang.
Pada saat itu, di depan batu nisan salah satu kuburan, ada seorang anak laki-laki tanggung
berusia kira-kira 15 tahun, sedang mendekam di tanah, dia tidak menangis, juga tidak mengeluh,
dia cuma berdoa "Ciok Yaya, aku tidak bisa menunggui kau lagi, aku mengawani kau sudah 3
tahun lamanya, untuk sementara aku cuma bisa mengawani kau sekian waktu saja, karena
keluarga Ciok tidak mengijinkan aku tinggal lebih lama lagi, aku harus pergi! kemana saja aku
pergi, aku mohon roh Yaya di alam baka, seperti juga dimasa hidup, tetap menyayangi diriku!
melindungi aku! ..... Ciok Yaya, aku hendak pergi, harap kau juga suka melindungi adik Bwee Ki
Peng, karena ia juga patut dikasihani seperti juga aku! Ia sudah tidak berayah, juga tidak beribu!
....Ciok Yaya.....!"
Anak laki-laki itu, she Kim namanya Houw, sejak ia mengerti urusan, terus dibesarkan dibawah
perlindungannya Ciok Yaya, ia tidak berayah, juga tidak beribu, tapi Ciok Yaya sayang sekali
padanya. Ia bukannya tidak mempunyai ayah bunda, cuma, terhadap asal usulnya sendiri ia agak
gelap! Ia juga sudah pernah menanyakan kepada Ciok Yaya, tapi Ciok Yaya belum pernah mau
menceritakan asal usulnya. Sungguh tidak beruntung, Ciok yaya telah meninggal dunia dikala ia
baru berumur 11 tahun. Kematiannya Ciok yaya, merupakan suatu pukulan yang hebat bagi dia,
masa Ciok yaya masih hidup, ia boleh dibilang sangat dimanja dan bahkan lebih disayang dari
pada cucunya Ciok yaya sendiri
Setelah Ciok yaya meninggal dunia, ia bukan saja sudah kehilangan orang yang menyayang
padanya, bahkan kedudukannya lebih buruk dari pada anaknya seorang budak. Sudah 3 tahun itu,
entah berapa banyak siksaan dan hinaan yang sudah ia terima. Terutama Ciok Liang boleh dikata
sangat benci sekali padanya, karena dianggapnya telah merebut kasih sayang Ciok yaya. Dimasa
Ciok yaya masih hidup, Ciok Liang tidak berani terhadap Kim Houw, tapi sekarang Ciok yaya
sudah tiada, maka ia selalu mencari alasan untuk menyiksa Kim Houw. Begitu mendapat alasan,
ia lantas menghajar dengan rotan. Tiada heran akhirnya Kim Houw tidak tahan lagi, ia harus
meninggalkan Ciok.....

Pada saat sedang hujan salju lebat dan angin meniup keras Kim Houw diam-diam
mengunjungi kuburannya Ciok yaya untuk berpamitan. Di badannya cuma mengenakan selembar
pakaian tipis yang sudah rombeng, tapi tahan berlutut di atas salju, sedikitpun tidak kelihatan
menggigil, apakah disebabkan karena badannya yang kuat tidak takut hawa dingin? Bukan, itu
adalah disebabkan karena kesengsaraan dalam hatinya ada lebih hebat beberapa puluh kali
daripada dinginnya salju dan angin sehina ia melupakan itu semua.
Tiba-tiba dari belakang gundukan tanah yang sudah tertiup salju lebat, muncul seorang gadis
berusia kira-kira hampir sebaya dengan Kim Houw, kalian kerudung warna merah darah yang
sangat besar telah menutupi hampir seluruh kepala dan tubuhnya, hanya wajahnya yang
berpotongan seperti buah apel yang kelihatan saat itu tampak merah pucat karena tiupan angin
dingin.
Gadis cilik itu begitu muncul lantas berseru "Houw-jie aku tahu kau pasti ada di sini........!"
Kim Houw nampaknya terperanjat, mendadak ia angkat kepala, ketika sudah melihat tegas
siapa yang berkata padanya, wajahnya segera berubah, agaknya ia benci sekali terhadap si gadis,
sama sekali tidak mau ambil pusing, si gadis menghampiri, "Houw-jie, apakah Liang kembali
memukul kau?" tanyanya.
Gadis itu agaknya dapat memahami perasaan Kim Houw, ia tahu kalau kini Kim Houw sedang
ngadat kecuali yaya dimasa masih hidupnya, yang bisa mengubah adatnya.
Si gadis dengan tenang berdiri di sisinya Kim Houw yang sudah seperti kaku, sungguh heran
mengapa ia justru menyukai bocah yang adatnya keras, angkuh dan sedikitpun tidak mengerti ilmu
silat seperti Kim Houw ini? ia ingat, bagaimana ketika ayahnya mengantar ia ke Bwee Kee Cung,
rumahnya keluarga Ciok, kothionya, untuk belajar ilmu silat, namanya saja belajar silat tapi
sebetulnya supaya ia lebih dekat, dengan Liang Piauwkonya......!
Sungguh aneh bin ajaib, piauwkonya yang disebut Liang itu mempunyai potongan tubuh dan
wajah yang menarik, gagah ganteng, juga mempunyai ayah yang namanya sangat terkenal di
dunia persilatan, tapi ia tidak menyukai padanya.
Sebaliknya, terhadap Kim Houw, itu bocah miskin angkuh dan tidak mengerti ilmu silat, justru
ia sukai, dia sendiri juga tidak tahu apa sebabnya. Selagi ia masih berdiri dengan bingung
memikirkan soal tersebut, Kim Houw sudah berdiri, mungkin karena terlalu lama berlutut, kedua
lututnya sudah kaku kedinginan, sehingga badannya sempoyongan.
Suatu kekuatan tenaga tiba-tiba dari samping menerjang dirinya yang mau roboh, Kim Houw
tahu, itu ada tangannya si gadis yang sedang menunjang dirinya, ia lantas memutar tubuhnya
dengan mendadak, dan berkata dengan suara kasar.
"Jangan kau sentuh diriku, aku benci kalian orang-orang keluarga Ciok !"
Gadis cilik itu kerutkan alisnya, tapi sebentar saja sudah balik seperti biasa, ia nampak tidak
gusar sebaliknya malah ketawa seraya berkata :
"Houw-jie, betulkah kau benci orang-orangnya keluarga Ciok ? Termasuk Touw Peng Peng?"
Perkataan "Touw Peng Peng" itu diucapkan lebih tandas, agaknya sengaja memperingatkan
kepada Kim Houw bahwa ia seorang she Touw bukan she Ciok, orang she Ciok yang berdosa
terhadap kau, tapi orang Touw tidak,
Di luar dugaannya, Kim Houw cuma menyahut "Ng!" lantas diam.

Gadis cilik yang menyebut dirinya Touw Peng Peng itu bercekat hatinya, suatu pikiran
bagaikan kilat terlintas dalam otaknya : benar! aku justru menyukai adatnya yang keras itu.
"Baiklah! Taruh kata aku juga kau hitung orangnya keluarga Ciok, yah sudah, tapi kau
sekarang berlutut di depan keluarga Ciok apa perlunya? Kau ...... " demikian kata Touw Peng
Peng sambil tersenyum manis.
"Kecuali Ciok yaya ...." dengan cepat Kim Houw mengoreksi ucapannya sendiri.
"Tidak patut kalau Ciok yaya juga dibenci, karena Ciok yaya melindunginya sehingga dewasa,
budi Ciok yaya baginya ada sebesar gunung, meski Ciok Yaya tidak memberi pelajaran ilmu silat
padanya, tapi memberi pelajaran ilmu surat sudah cukup dalam.
Touw Peng Peng tetap berdiri sambil tersenyum, tiba-tiba ia ulur jarinya menotok, Kim Houw
mendadak merasakan gelap matanya dan lantas hilang ingatannya.
Dengan gesit ia pondong Kim Houw dikembalikan ke pondok si pemuda.
Entah sudah berapa lama telah berlalu Kim Houw mendusin dari pingsannya, belum sampai
membuka mata, ia sudah rasakan kalau dirinya telah rebah di atas pembaringan yang terdiri dari
rumput kering, ternyata ia sudah berada di pondoknya.
Dirinya dipeluk oleh seorang yang sedang menangis sesenggukan. Isak tangisnya itu sungguh
luar biasa mengharukan Kim Houw terkejut, ia ingat kembali apa yang telah terjadi pada waktu
tengah malam di hadapan kuburan Ciok yaya, tapi ia tidak mau percaya bahwa yang menangis
memeluk dirinya itu adalah Touw Peng Peng, karena Touw Peng Peng selamanya belum pernah
menangis.
Mendadak ia pentang lebar matanya, wanita yang mendekam di atas dadanya itu agaknya
sudah merasa Kim Houw sudah sadar dan baru saja menengok ke arahnya, segera 2 pasang
mata saling bentrok, dua duanya lantas berseru kaget: Peng Moay ...... "
"Houw-ko ......... ,!"
"Peng-moy, kau kenapa .....?" tanya Kim Houw .... apakah ia kembali di belakang kediaman
keluarga Ciok, di rumah gubuk pendek reyot ?
"Houw-ko, tadi malam aku dengar kau telah dipukuli oleh Ciok siauya... eh bukan... itu buaya
keparat, aku sakit hati benar, entah bagaimana keadaanmu, hatiku sangat cemas. Hari ini satu
hari aku tidak lihat kau keluar, diwaktu senja, aku minta tolong empek tua yang menjaga pintu di
taman belakang untuk memberikan aku masuk. Siapa nyana keadaanmu telah begitu rupa,
sehingga membuat aku kaget setengah mati, aku dorong dan ku panggil-panggil, tapi kau tidak
menjawab, maka aku lantas menangis.... Houw-ko ....," Kim Houw mengawasi si gadis, lama baru
bisa menyahut : "Peng-moay, kemarin malam aku sebetulnya hendak berlalu dari Bwee-Kwee
Cung, karena aku sudah tidak tahan menderita lebih lama lagi, tapi sekarang setelah melihat kau,
aku tidak tega meninggalkan kau lagi, sebabnya ialah kau patut dikasihani daripada aku, aku
harus tetap tinggal di sini untuk menjagamu aku hanya menyesal dan gemas mengapa mereka
tidak mau mengajarkan aku ilmu silat."
Gadis yang disebut Peng-moay ini bernama Bwee Kee Peng, usianya sebaya dengan Kim
Houw dan Touw Peng Peng. Ayahnya sebetulnya adalah cungcu dari Cwee Kee Cung itu,
namanya terkenal di kalangan kang-ouw, ia merupakan salah satu pendekar ternama di rimba
persilatan, Bwee Seng, bergelar Kiam Seng atau malaikat berpedang, ibunya bernama Lui Sie,
puteri tunggal Lui Kong yang namanya juga menggetarkan jagat di kalangan hitam pada masa itu.

Siapa nyana, tahun kedua setelah Bwee Kee Peng dilahirkan, ayah bundanya telah
menghilang, hingga akhirnya tidak ada kabar ceritanya.
Bwee Kee Peng hidup bersama neneknya dengan harta dan rumah rumah peninggalan orang
tuanya, beberapa tahun lamanya mengharap pulangnya mereka apa lacur ketika Bwee Kee Peng
berusia 6 tahun, telah terjadi kebakaran besar di rumahnya semua barang peninggalan orang
tuanya habis dimakan api.
Tinggal Bwee Kee Peng dan neneknya yang satu masih bocah yang belum mengerti apa-apa,
sedang yang lain, sudah lanjut usianya, dalam dunia yang sifatnya kejam ini, siapa yang mau
ulurkan tangannya untuk memberi pertolongan ?
Terpaksa hidup mereka sebisa-bisanya asal tidak mati kelaparan.
Dari neneknya, Bwee Kee Peng tentu saja tahu kedudukan ayah bundanya di dunia kang-ouw,
dan kini, begitu mendengar Kim Houw hendak berlalu, namun tidak tega meninggalkan padanya,
segera berkata : "Houw -ko, kau harus pergi, tidak seharusnya kau memikirkan diriku, semoga kau
diluaran bisa menemukan guru silat yang pandai dan nanti pulang dengan bekal kepandaian ilmu
silat yang berarti, untuk menghajar itu semua anjing-anjing buduk yang tidak mempunyai
kemanusiaan. Sekalipun juga aku minta kau mencari keterangan perihal ayah bundaku, ayahku
bernama Bwee Seng, gelarnya Kiam Seng atau malaikat pedang, ibuku gelarnya San Hoa sian Lie
atau dewi penyebar bunga, kau tentunya tidak bisa lupa bukan ? Untuk kepentinganmu sendiri dan
juga untuk aku, apa yang masih buat pikiran? Sementara mengenai diriku Bwee Peng, asal kau
percaya, kau boleh pergi dengan hati lapang!"
Bicara sampai di situ, dari jauh tiba-tiba terdengar suara orang berjalan mendatangi, Kim Houw
terkejut lalu meminta supaya Bwee Peng lekas pergi, katanya : "Peng moay lekas pergi, urusanku
besok pagi kita bicarakan lagi, kalau sampai diketahui orangnya keluarga Ciok, kau tentu di
dampratnya!"
Sehabis berkata ia lantas dorong Bwee Peng keluar pintu.
Baru saja Bwee Peng berjalan, di luar pintu ada berkelebat satu bayangan hitam, bayangan itu
mengenakan pakaian ringkas warna hitam, ikat kepalanya juga hitam, Kim Houw belum pernah
melihatnya, maka ia lantas menegur : "Siapa ?"
Bayangan hitam itu berkelebat, tahu-tahu sudah berada di depan Kim Houw, lalu menarik kain
hitam yang menutupi wajahnya, segera tampak wajahnya yang bundar seperti buah apel, ternyata
ia bukan lain Touw Peng Peng adanya.
"Hou-jie, lekas ikut aku," kata si nona tergesa-gesa, "Liang piau-ko barusan berkata kepada
kothia, bahwa ia akan mencelakakan dirimu untuk kepentingannya di kemudian hari. Baik kau
lekas berlalu dari sini. Aku sebetulnya tidak ingin kau pergi, tapi sekarang keadaannya memaksa
kau harus angkat kaki dari tempat ini......"
Sehabis berkata, ia lantas sambar tangan Kim Houw diajak lari ke luar pintu.
Baru saja ia tiba di depan pintu kamar, Touw Peng Peng tiba-tiba merandek dan berkata
dengan suara kaget: "Celaka, Liang piauw-ko sudah datang, sekarang bagaimana baiknya ?"
"Memangnya kenapa ?" kata Kim Houw gusar, "Paling banter mati, apa kau kira Kim Houw ada
seorang yang takut mati ? Biar saja mereka datang !"

Touw Peng Peng kenal baik adatnya Kim Houw jika pada saat itu ia ladeni, terang ada satu
perbuatan yang gelo, oleh karena cintanya yang besar dan untuk kepentingan jiwa orang yang
dicintainya, maka ia tidak ambil pusing perkataan Kim Houw yang ketus, sebenarnya Touw Peng
Peng pun seorang perempuan berhati keras, apa yang ingin diperbuat, ia lantas bertindak, tidak
seorangpun yang dapat merintangi.
Si nona bertindak cepat, pintu ia palang dari dalam kemudian membuka daun jendela dan
akhirnya ia totok dirinya Kim Houw, sehingga menjadi lemas. Mengapa ia menotok Kim Houw
karena supaya Kim Houw melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa ia tidak membohongi
padanya, dan ia mau Kim Houw segera mengerti jangan hanya ingin mati saja untuk menghadapi
mereka.
Touw Peng Peng lalu panggul Kim Houw dan lompat ke luar dari jendela, tapi belum berdiri
tegak di atas payon rumah, pintu rumah yang sudah reyot itu terdengar di gedor orang dengan
keras.
Jangan pandang Touw Peng Peng Cuma satu gadis cilik yang badannya kecil langsing, meski
dengan menggendong Kim Houw, ia masih bisa lari bagaikan terbang dan sebentar saja sudah
berada jauh.
Tapi baru saja keluar dari Bwe Kee Cung, ia dengar suara ribut-ribut orang mengejar. Dalam
cemasnya ia lantas robah tujuannya. Ia lari menuju ke belakang gunung-gunungan di belakang
Bwee Kee Cung.
Sebentar saja ia sudah berada ditengah-tengah gunung, tapi tatkala ia menoleh kebawah,
lantas dilihatnya ada beberapa bayangan orang sedang mengejar, nampaknya mereka itu ilmu
mengentengi tubuhnya masih di atas dirinya sendiri.
Dalam keadaan yang sangat penting itu, tiba-tiba ia mendapatkan satu akal, ia lari setengah
merayap memutar ke belakang gunung.
Setelah mana, tiba-tiba terdengar suara aneh beberapa kali saling sahut-sahutan, Touw Peng
Peng lalu letakkan Kim Houw dan melepaskan totokannya, dengan suara keren dan sungguhsungguh
ia berkata: "Houw-jie, keadaan ini kau sudah lihat sendiri, juga sudah dengar semuanya,
jangan kau berlagak gagah-gagahan! Sekarang, untuk sementara waktu kau harus sembunyikan
dirimu di belakang batu besar ini, tunggu setelah aku pancing mereka berlalu dari sini, kau boleh
masuk ke dalam gunung dan sembunyi diantara batu-batu itu kira-kira tiga atau lima hari lamanya,
baru berdaya melarikan diri." Ia lalu menyerahkan satu bungkusan kecil kepada Kim Houw. "Ini
sedikit bekal makanan kering yang aku sudah sediakan untuk keperluanmu di perjalanan, barang
kali cukup tiga-lima hari! Kalau aku berhasil memancing mereka pergi, aku nanti akan datang
menemui kau lagi!"
Sehabis meninggalkan pesannya, ia lantas lompat melesat sejauh tiga tombak.
Entah bagaimana perasaan dalam hati Kim Houw pada saat itu, mungkin ia sendiri juga ia
tidak dapat mengatakan. Nona Peng Peng itu biasanya memang baik sekali padanya, tapi ia jemu
terhadap nona cilik itu, namun hari ini keadaannya ada berlainan, apa yang dilakukan oleh Peng
Peng, semata-mata hanya untuk menolong jiwanya.
Kini, Peng Peng sudah berlalu dari depan matanya, ia memandang bayangannya, sampai
ucapan terima kasih saja belum sempat dikeluarkan. Tapi entah kenapa disengaja atau kebetulan,
tatkala Kim Houw sedang mengawasi padanya dengan perasaan bingung, Touw Peng Peng tibatiba
merandek dan menoleh kepadanya, bahkan dengan jari tangannya ia memberikan petunjuk,
supaya lekas menyembunyikan dirinya.

Kim Houw mengangguk, dalam hati merasa tidak enak. Selagi ia hendak mengucapkan terima
kasihnya, tiba-tiba terdengar suitan yang amat nyaring, berbareng dengan itu, Kim Houw buruburu
sembunyikan diri di belakang batu.
Serentetan suara suitan makin lama makin jauh dan akhirnya tidak kedengaran lagi, Kim Houw
lantas kabur ke dalam gunung. Sejak kanak-kanak ia belum pernah berlatih ilmu silat, di bawah
pengawasan Ciok yaya, ia boleh dibilang terlalu dimanja. Keadaannya lebih senang daripada
beberapa anak-anak keluarga beruang, cuma badannya lemah, apa mau kali ini ia harus
melarikan diri demi menyelamatkan jiwanya, entah dari mana datangnya kekuatan, sekaligus ia
bisa berlari sampai di atas gunung. Semalaman suntuk ia lari, dua buah gunung ia sudah lalui, kini
tibalah di tepi sungai kecil di suatu lembah, keadaan Kim Houw waktu itu sangat mengenaskan
sekali, lapar dahaga dan letih, sekujur badannya dirasakan lemas, ia sudah tidak kuat lagi, hingga
harus duduk numprah di tanah.
Tiba-tiba ia ingat bungkusan pemberian Touw Peng Peng yang diikat di pinggangnya, buruburu
ia buka bungkusan itu kecuali makanan kering masih ada dua potong uang emas dan uang
receh. Ini semua tidak mengherankan, apa yang aneh ialah terdapat sebilah pedang pendek
berukuran kira-kira tujuh dim dan sepotong baju semacam kaus kutang, warnanya hitam jengat.
Setelah kenyang makan, Kim Houw baru memeriksa pedang pendek itu, begitu dikeluarkan
dari serangkanya, senjata itu memancarkan warna warni yang luar biasa.
Kim Houw hendak mencoba betapa tajamnya pedang pendek itu, dengan sepenuh tenaga ia
tabaskan pada sebuah pohon sebesar mangkok, siapa nyana karena menggunakan tenaga
keliwat besar, badannya lantas ngusruk dan nyelonong terus, apakah sebabnya? Ini karena
tajamnya pedang itu, pohon yang sebesar mangkok itu telah tertabas tanpa terasa, sehingga Kim
Houw tidak mampu mencegah nyelonongnya badan sendiri.
Pohon besar itu lantas rubuh seketika itu juga.
Kim Houw girang sekali, kiranya itu adalah sebilah pedang mestika. Maka dengan sangat hatihati
ia selipkan pedang itu di pinggangnya, pikirnya, pedang itu bisa digunakan untuk menjaga
keselamatannya.
Angin gunung saat itu meniup santer, Kim Houw merasa kedinginan. Karena badannya sudah
basah dengan keringat, membuat baju rombeng Kim Houw seolah-olah habis direndam air, hingga
ketika tertiup angin, rasa dingin dirasakan seperti merasap ke dalam tulang sumsum.
Tatkala melihat baju warna hitam yang seperti kaus. Kim Houw lalu membuka baju luarnya dan
pakai baju kaus hitam itu dibagian dalam. Baru saja baju menempel di badannya, dada dan
gegernya dirasakan ada yang hangat yang menyusuri seluruh badannya, sehingga tidak
merasakan dingin lagi.
Kim Houw mulai curiga, mungkinkah itu baju wasiat ? Mengapa Peng Peng memberi kedua
barang wasiat itu kepadanya ?
Saat itu cuaca sudah mulai terang, Kim Houw mencari tempat yang agak teduh untuk
merebahkan dirinya.
Begitu mendusin, ternyata matahari sudah mendoyong ke barat dan burung-burung sudah
pulang ke sarangnya.
Kim Houw dahar lagi sampai kenyang betul, baru melanjutkan perjalanan ke dalam gunung.
Dalam gunung itu sebetulnya masih ada jalanan kecil, tapi jalanan itu sering terputus, meski
demikian, untuk menghindarkan pengejaran, Kim Houw memilih jalan kecil itu juga.

Di suatu jalanan, di dekat satu pohon besar dan sebuah papan yang tertulis : "Dilarang lewat!"
Kalau disiang hari, Kim Houw tentunya bisa melihat papan larangan itu dan mungkin tidak
berani berjalan terus, apa mau justru ia jalan diwaktu malam, malah berjalan terus dengan
cepatnya.
Baru saja menikung di suatu jalanan di depan matanya terbentang rimba yang lebat, rimba itu
mungkin belum pernah didatangi oleh manusia, karena tampaknya begitu lebat dan seram, pohonpohon
besar terdapat dimana-mana.
Kali ini Kim Houw dapat lihat sebaris tulisan yang memancarkan sinar berkeredepan di atas
sebuah pohon besar, tulisan itu terdiri dari dua puluh huruf, yang artinya sebagai berikut :
"Istana Kumala Putih di gunung Thay-Pek, bisa pergi tidak bisa kembali, kalau bukan orang
yang berkepentingan, silahkan segera balik kembali."
Dua puluh huruf yang berkeredepan itu benar-benar mengejutkan Kim Houw, ia tahu benar
bahwa jalanan itu ada buntu, tapi di dalam gunung belukar itu, siapa tahu jalanan mana yang
lapang atau yang buntu,
Tiba-tiba ia mendengar suara orang yang sedang memaki-maki. Suara itu Kim Houw kenal
betul ada suara Souw Cuan Hui, murid ketiga dari Ciok Goan Hong, ayahnya Ciok Liang.
Souw Cuan Hui lebih tua empat-lima tahun daripada Kim Houw, ia benci sekali kepada Kim
Houw, karena Kim Houw pernah pergoki perbuatannya yang hendak memperkosa seorang wanita
muda dan perbuatannya itu diberitahukan kepada Ciok Goan Hong, sehingga Souw Cuan Hui
didamprat dan dihajar habis-habisan oleh gurunya. Kalau tidak karena biasanya ia pandai
bermuka-muka, perbuatannya itu mungkin mengakibatkan ia dibikin musnah kepandaiannya atau
diusir dari perguruan maka terhadap Kim Houw, Souw Cuan Hui bencinya setengah mati, sabansaban
ia mencari kesempatan untuk membalas sakit hatinya itu.
Kali ini, guna mencari Kim Houw sampai dapat ditemukan, meski semua orang pada pulang
hanya ia seorang yang berdaya mencarinya. Ia bertekad untuk mendapatkan Kim Houw ia takkan
merasa puas kalau belum membinasakan dirinya itu anak tanggung.
Ia tahu Kim Houw tidak mengerti ilmu silat, ia pikir, asal diketemukan jejaknya, Kim Houw pasti
tidak lolos dari tangannya.
Di depan rimba keramat yang dalamnya ada Istana Kumala Putih itu. Souw Cuan Hui sedang
mundar-mandir di bawah pohon besar. Seperti dijelaskan di sebelah atas, istana yang disebut
Istana Kumala Putih itu sejak beberapa ratus tahun lamanya masih tetap merupakan suatu rahasia
besar dalam rimba persilatan. Banyak orang yang pada pergi mencari tahu tapi tidak bisa keluar
lagi dari rimba keramat itu, membikin orang tidak habis mengerti, hingga rahasia itu tetap tinggal
rahasia gelap.
Kini Kim Houw berada dalam keadaan terjepit, bagaimana tidak ketakutan mendengar suara
Souw Cuan Hui ?
Huruf yang berkeredepan di depan matanya itu menarik perhatiannya, pikirnya daripada mati
konyol lebih baik masuk ke dalam rimba, mungkin masih ada harapan untuk hidup.
Begitulah, ia lantas angkat kaki dan hendak lari ke dalam rimba. Tapi baru saja bergerak,
gusarnya sudah didengar oleh Souw Cuan Hui. Begitu ada suara Kim Houw hendak kabur sambil

berseru lantas mengejar, namun yang dikejar sudah masuk ke dalam rimba. Karena ia sendiri
tidak berani memasuki rimba yang dipandang sangat keramat itu, lalu melepaskan senjata rahasia.
Senjata rahasianya itu semacam burung walet yang terbikin dari besi, waktu dilancarkan tidak
kedengaran suaranya, tapi kalau mengenakan sasarannya, bagian mulut senjata yang berbentuk
burung walet itu lantas mengeluarkan sebuah jarum beracun, siapa terkena tidak bisa di tolong lagi
jiwanya, ini adalah senjata rahasia tunggal ciptaan Ciok Goan Hong.
Souw Cuan Hui yang melihat dengan mata kepala sendiri Kim Houw memasuki rimba keramat
itu, meski sudah tahu benar bahwa Kim Houw pasti mati di dalam rimba itu, tapi toh dia masih
berlaku kejam menyerang dengan senjata rahasianya.
Suara "pluk" terdengar nyaring, senjata rahasia itu mengenai tepat digegernya Kim Houw,
badan Kim Houw kelihatan sempoyongan tapi sebentar kemudian sudah lenyap di dalam rimba
Souw Cuan Hui yang telah menyaksikan kejadian itu dengan tegas, dalam hati merasa girang, ia
lantas balik untuk mengabarkan kepada gurunya.
Souw Cuan Hui tiba di Bwee Kee Ceng, kedapatan Touw Peng Peng sedang ribut mulut
dengan Ciok Liang, ia tidak perduli lantas saja menimbrung dengan girang serta bangga ia berkata
: "Sutee, aku ada membawa kabar baik."
Ciok Liang yang sedang kewalahan menghadapi saudara misannya itu, menampak
kedatangan Souw Cuan Hui, seolah-olah menemukan pertolongan, maka buru-buru hentikan
pertengkaran dan menanya: "Kabar baik apa ? Apakah kau sudah membinasakan si bocah Kim
Houw itu ?"
"Membinasakan sih belum, cuma saja aku sudah berhasil menimpuk padanya dengan senjata
rahasia "si burung walet ..............!"
Suara "plak" tiba-tiba terdengar nyaring satu tamparan telak mampir di pipi Souw Cuan Hui,
sehingga kepalanya puyeng, mata berkunang kunang. Karena tidak tahu apa sebabnya, maka ia
lalu menanya : "Nona Peng, mengapa kau pukul aku ?"
"Mengapa kau menggunakan senjata rahasia "Siburung walet" untuk menyerang satu bocah
yang tidak mengerti ilmu silat?" jawab Touw Peng peng dengan gemesnya.
Tamparan Touw Peng Peng tadi ternyata keras sekali, ujung mulut Souw Cuan Hui nampak
mengalirkan darah, tapi ia takut kepada nona itu, cuma kerutkan keningnya sambil mengusapusap
bekas yang ditampar tadi.
"Sebetulnya andaikata kau tidak menggunakan senjata rahasia menyerang, dia juga akan
binasa, karena ia sudah lari masuk ke dalam rimba keramat yang ditakuti oleh semua orang-orang
dunia rimba persilatan!" katanya mendongkol.
Mendengar keterangan itu, sekujur badan Touw Peng Peng gemetar, dengan suara keras ia
menanya : "Apa ? apa di belakang gunung itu ada rimba keramat yang didalamnya ada Istana
Kumala Putih ? Mengapa aku datang sudah beberapa tahun di sini tidak pernah dengar kalian
mengatakan ? Adakah kalian sengaja menyembunyikan ?
"Peng Moay," Ciok Liang membuka mulut ini bukan kami hendak merahasiakan terhadap kau,
sebetulnya ayah yang pesan tidak boleh menceritakan aku pikir siapa yang berani melanggar
pesannya ...?"

Tidak menunggu keterangan Ciok Liang, Touw Peng Peng sudah lari masuk ke dalam kamar.
Tapi baru saja melangkah beberapa tindak tiba-tiba terdengar suaranya Ciok Liang yang berkata
kepada Souw Cuan Hui : "Souw-suko, aku justru tidak takut senjata rahasia itu kau percaya tidak
?"
"Sudah tentu! Siapa tidak tahu bahwa keluarga Ciok mempunyai warisan baju wasiat Hay-sikua?"
Touw Peng-peng tertarik oleh pembicaraan mereka, terutama tentang baju wasiat, maka ia
lantas perlahankan tindakannya dan pasang kuping, tapi Ciok Liang seperti sengaja hendak
mempermainkan padanya, ia lantas bungkam.
Touw Peng Peng adalah gadis yang suka dengan hal-hal yang aneh, kalau ia belum tahu
betul, takkan merasa puas, meski dalam hati sedang memikirkan jiwanya Kim Houw, tapi ia ingin
tahu apa yang dinamakan baju wasiat tadi. Ia putar tubuhnya dan menghampiri Ciok Liang.
"Liang piau-ko, apakah itu baju wasiat "Hay-si-kua"?" ia menanya sambil unjukkan ketawanya
yang manis.
Ciok Liang menampak Peng Peng tertawa, hatinya lemas seketika, maka lantas menjawab
dengan cepat: "Hay-si-kua adalah binatang laut, panjangnya 5 cun, bentuknya bulan seperti
bumbung, badannya lemas tapi ulet...."
"Oh! Aku kira benda wasiat apa?" memotong Peng Peng sudah tidak sabaran.
"Peng-moay, ucapanku belum selesai, Hay-si-kua adalah wasiat keturunan keluarga Ciok, apa
kau kira barang sembarangan? Kau tidak percaya, aku tunjukkan kau. "Hay-si-kua" adalah
sepotong baju serupa kaus kutang, tapi khasiatnya luar biasa, ia dapat melindungi badan dari
serangan segala senjata tajam atau segala pedang dan golok pusaka"
Touw Peng Peng dibikin terkejut oleh keterangan Ciok Liang itu.
"Betulkah ada barang begitu aneh? Kalau begitu kau lekas ambil untuk aku saksikan!"
"Baik! kau tunggu saja di sini. Souw suheng kau juga tunggu sebentar, aku akan tunjukkan kau
sekalian" kata Ciok Liang sambil ketawa puas.
Touw Peng Peng dan Souw Cuan Hui menunggu sekian lamanya, belum juga nampak Ciok
Liang muncul, tiba-tiba mereka dengar suara ribut-ribut di dalam kamar. Peng Peng buru-buru lari
masuk, ia segera dapat lihat Ciok Liang sedang berlutut di depan ayahnya dengan badan
menggigil dan wajah pucat seperti mayat, Goan Hong sendiri wajahnya juga pucat, nampak amat
gusar.
Peng-peng tidak tahu apa yang telah terjadi, biasanya ia sangat disayang oleh Ciok Goan
Hong, maka ia berani menghampiri dan menanya sambil memegang lengan Ciok Goan Hong:
"Kothio! Apa yang telah terjadi sampai kau begitu gusar?"
Kalau di waktu biasa, Ciok Goan Hong biar bagaimana marah, asal menampak bakal menantu
kecil ini, hawa amarahnya lantas lenyap sebagian, tapi kali ini tidak demikian, ia hanya
memandang Peng Peng sejenak, lantas memaki dengan suara keras: "Bangsat cilik ini, betul-betul
akan bikin aku mati berdiri, ia telah hilangkan baju wasiat Hay-si-kua milik keturunan keluarga
Ciok, coba kau pikir keterlaluan apa tidak?"
Mendengar keterangan itu, hampir saja Touw Peng Peng lompat karena hilangnya baju wasiat
itu mungkin ada perbuatannya sendiri, soalnya ketika ia dengar Ciok Liang hendak mencelakakan
jiwa Kim Houw ia buru-buru memberitahukan kepada Kim Houw supaya lekas kabur. Tatkala ia

berjalan melalui kamarnya Ciok Liang, dengan tiba-tiba ia ingat baju Kim Houw yang tipis dan
sudah rombeng, kalau ia kabur, dalam keadaan udara buruk dan dingin seperti ini, sekalipun tidak
mati kelaparan, mungkin Kim Houw juga mati kedinginan.
Justru bajunya sendiri tidak dapat dipakai oleh Kim Houw, ia ingat badannya Ciok Liang hampir
sama dengan Kim Houw, maka ia lantas masuk ke kamar Ciok Liang untuk mengambil sepotong
baju.
Apa mau di kamar itu tidak ada sepotongpun pakaian yang agak tebal yang mampu menahan
hawa dingin, dalam keadaan mendesak ia telah membuka koper Ciok Liang.
Kala itu keadaan kamar gelap, tangan Touw Peng Peng dapat meraba benda halus lemas dan
hangat, ternyata adalah baju kaus, maka tanpa melihat lagi ia lantas bawa kabur.
Kini ketika dengar kabar baju wasiat keluarga Ciok telah hilang, mengapa ia tidak terkejut?
Tiba-tiba Ciok Liang yang berlutut di depan ayahnya berkata dengan suara gemetar: "Ayah,
dalam rumah kita tentunya ada maling dalam. Baju itu sebetulnya selalu anak pakai, tapi setelah
bulan yang lalu, karena di bawah ketiak anak sakit bisul, maka tidak bisa pakai dan lalu disimpan,
masakan hanya dalam waktu setengah bulan saja lantas hilang....?"
"Plakkk!" tangan Ciok Goan Hong mampir di pipi Ciok Liang lalu disusul dengan tendangan
kaki, hingga Ciok Liang berjumpalitan di tanah.
Touw Peng Peng pada saat itu diam-diam sudah menyingkir, ia bukan takut atau menyesal
karena kesalahan tangan sudah ambil baju wasiat keluarga Ciok, hanya sangat gelisah akan
keselamatan jiwa Kim Houw. Perginya Kim Houw ke dalam rimba keramat itu, boleh dikata
disebabkan karena ia yang menganjurkan supaya Kim Houw melarikan diri, meski ada baju wasiat
untuk melindungi diri hingga tidak takut senjata rahasianya Souw Cuan Hui, tapi Istana Kumala
Putih itu adalah istana keramat yang menakutkan. Tidak dinyana Kim Houw berani masuk ke situ,
ia juga tidak menduga bahwa istana yang menggetarkan dunia Kang-ouw itu ternyata dekat
tempat kediamannya sendiri!
Hati Touw Peng Peng sangat tidak tentram.
Malam itu, sesosok bayangan hitam keluar dari Bwee Kee Cung, bayangan itu meski kecil
langsing, tapi gerakannya gesit sekali, sebentar saja sudah berada di kaki gunung.
Bayangan itu adalah Touw Peng Peng, ia berdandan ringkas, belakang punggungnya
menggemblok sebilah pedang panjang, pinggangnya diikati satu buntelan, agaknya akan
melakukan perjalanan jauh tapi ketika berhenti di bawah kaki gunung, tiba-tiba matanya dapat
melihat seorang tua baju putih sedang duduk di bawah sebuah pohon besar. Orang tua itu
ternyata adalah Ciok Goan Hong yang sedang mengawasi gerak-geriknya dengan sorot mata
tajam, lama baru kedengaran suaranya menghela napas panjang, kemudian berkata: "Peng Peng,
aku tahu dalam berapa hari ini hatimu agak risau, bukankah kau hendak pergi? Mari! aku antar
kau pulang ke Kanglam, aku juga sudah lama tidak mengunjungi Kanglam sekalian hendak
menjumpai beberapa sahabat dari dunia Kangouw...."
"Tidak" jawab Peng Peng cemas. Ia cuma mengeluarkan perkataan itu saja lantas bungkam.
Dengan alasan apa ia menolak? Tak ada! Seorang gadis yang baru mangkat dewasa, apa yang
berani ia ucapkan di hadapan bakal mertuanya?
"Kothio!" terdorong oleh perasaan hatinya yang menggelora akhirnya ia buka mulut juga:
"Mengapa Istana Kumala Putih dalam rimba keramat itu begitu ditakuti orang.....?"

"Peng Peng" Ciok Goan Hong tiba-tiba membentak keras: "Aku tidak ijinkan kau omong
sembarangan!"
Peng Peng belum pernah melihat Kothionya marah demikian rupa, sekalipun ketika sedang
kehilangan baju wasiatnya juga tidak murka seperti sekarang ketika mendengar disebutnya Istana
Kumala Putih.
Tapi apa yang ia bisa buat? kabur? tidak mungkin lagi.
Ia cuma bisa bersedih dalam hati dan menangis.
Akhirnya ia mengikuti Ciok Goan Hong meninggalkan Bwee Kee Cun dan untuk sementara
Bwee Kee Cung boleh merasa tentram.
Ketika Kim Houw lari masuk ke dalam rimba keramat itu dan diserang dengan senjata rahasia
oleh Souw Cuan Hui, meski piau itu mengenai tepat punggungnya, ternyata ia tidak merasakan
apa-apa.
Disaat itu badannya sempoyongan karena kakinya kebetulan menginjak batu kerikil, tapi Souw
Cuan Hui anggap ia kena serangan senjata rahasianya padahal Kim Houw sedikitpun tidak terluka.
Namun begitu tiba didalam rimba, macam-macam kesengsaraan telah menimpa dirinya.
Dalam rimba itu meski ada jalanan kecil berliku-liku, tapi keadaannya ada begitu gelap, terutama
tanahnya yang lembab dan licin, kalau tidak hati-hati bisa terpeleset.
Apa yang menakutkan dalam rimba itu adalah suara angin yang menderu-deru dan dibarengi
suara binatang-binatang liar dalam rimba, membuat siapa yang mendengar pada berdiri bulu
tengkuknya.
Untung Kim Houw bernyali besar, lagi pula karena Kim Houw memakai baju wasiat pemberian
Touw Peng-peng, masa sedikitpun tidak merasa dingin.
Tiba-tiba ia merasa bajunya seperti ditarik orang. Kejadian yang datangnya secara tiba-tiba
dan tanpa suara itu, betapapun besarnya nyali Kim Houw, juga ketakutan setengah mati. Ia tidak
tahu siapa yang menarik, orang atau setan? Memedi ataukah binatang? Tiba-tiba ia memutar
tubuhnya, "sret" bajunya yang sudah rombeng ditambah satu lubang besar lagi.
"Siapa" akhirnya Kim Houw besarkan nyalinya membentak dengan suara keras. Bentaknya itu
tidak mendapat jawaban apa-apa, ini membuat Kim Houw semakin ketakutan, dalam
ketakutannya, ia segera menghunus pedang pendeknya.
Begitu pedang pendek keluar dari sarungnya, lantas memancarkan sinar yang gemerlapan dan
keadaan disekitar ia berdiri lantas nampak terang. Bukan main girangnya.
Ia sesalkan diri sendiri mengapa tidak ingat pedang pendeknya itu dari tadi.
Kim Houw memeriksa apa yang telah terjadi pada dirinya, ternyata hanya pohon berduri yang
menyangkut bajunya, hingga diam-diam merasa geli sendiri.
Dengan adanya penerangan dari sinar pedang pendek itu, dia bisa berjalan lebih leluasa tapi
akar-akar pohon yang tumbuh malang melintang dan jalanan kecil berliku-liku seolah-olah tidak
kelihatan ujung pangkalnya.

Entah berapa lama dan jauh ia berjalan, kalau perutnya terasa lapar ia makan rangsum
keringnya, kalau letih, ia duduk mengaso sebentar, cuma pedang pusaka di tangannya
sebentarpun tidak pernah terlepas dari pegangannya.
Akhirnya rangsum keringnya bawaannya sudah habis, Kim Houw mulai gelisah, berbareng
dengan itu, hidungnya dapat endus bau amis. Pengalaman dimasa kanak-kanak telah
mengisikkan padanya, bau amis itu adalah ular yang sedang keluar mencari makan, benar saja
segera ia melihat berekor-ekor ular pada tonjolkan kepalanya, mulutnya pada menganga, tapi tidak
ada satu yang berani mendekati dirinya.
Selanjutnya, di belakang lerotan ular, ia lihat sepasang lampu mencorong dengan sinarnya
yang hijau. Dalam rimba lebat yang terkenal keramat itu, tanpa pikir Kim Houw juga tahu bahwa
benda-benda seperti lampu itu adalah sepasang mata binatang buas.
Pada saat itu, sekalipun tidak takut ia akhirnya menjerit juga, ini bukan barang mainan maka ia
lantas angkat kaki dan kabur sekencang-kencangnya.
Entah sudah berapa lama berlari, matanya tiba-tiba melihat titik putih, Kim Houw lalu
menghampiri, tapi apa yang dilihat olehnya, hampir saja membuat ia jatuh pingsan.
Apa sebetulnya yang terjadi? titik putih itu ternyata adalah duri yang membuat robek bajunya!
Sedang yang dilihat Kim Houw adalah kapas bajunya yang menyangkut di atas duri tersebut,
bagaimana Kim Houw tidak kaget, karena perjalanan yang dilakukannya demikian jauh dan entah
sudah berapa lamanya itu ternyata hanya berputar-putar di situ-situ juga.
Kim Houw bingung, entah berapa lama ia berdiam dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia
dikejutkan oleh suara yang mengharukan, mungkin suaranya binatang monyet sedang menangis.
Ia menoleh, itu ular dan mata binatang buas masih tetap mengikuti di belakangnya, tapi ia tidak
merasa takut lagi, pikirnya lebih baik kalian telan diriku, aku tahu aku sudah tidak bisa keluar dari
sini lagi.
Meski Kim Houw sudah agak putus asa, tapi kakinya tetap berjalan, ia menggunakan
penerangan sinar pedang untuk mencari jalan sangat hati-hati, tidak berani lari-larian lagi.
Akhirnya dalam keadaan lapar dan letih, Kim Houw rubuh pingsan.
Entah berapa lama sang waktu telah berlalu, Kim Houw tiba-tiba merasakan badannya
bergerak, pahanya seperti tertusuk duri, begitu membuka matanya ia dapatkan dirinya sedang
didorong oleh seekor orang hutan besar. Lantaran kaget ketakutan, kembali ia jatuh pingsan.
Lama sekali ia dalam keadaan tidak ingat orang, tiba-tiba ia rasakan barang cair manis dan
hangat perlahan-lahan mengalir ke dalam mulutnya. Ia tidak tahu barang apa itu, cuma menelan
saja, karena barang cair itu kecuali manis juga sangat harum baunya.
Perlahan-lahan ia membuka matanya, dan dapatkan dirinya berada dalam pelukan seekor
orang hutan besar, barang cair manis yang masuk di tenggorokannya itu ternyata air susu orang
hutan betina yang sedang memeluki dirinya.
Dalam hati Kim Houw mengerti bahwa orang hutan itu mau menyusui dirinya, dan tidak
bermaksud jahat, tapi ketika melihat muka orang hutan yang menyeramkan, hampir saja ia
pingsan lagi.

Dalam keadaan lapar dan letih, air susu itu merupakan minuman yang lezat bagi Kim Houw,
maka ia mengisap dengan bernapsu sekali. Perbuatan Kim Houw itu agaknya menyenangkan hati
si orang hutan, dengan tangannya yang besar menepuk-nepuk gegernya Kim Houw.
Perlakuan orang hutan itu penuh welas asih, tidak beda dengan tingkah laku seorang ibu
terhadap anaknya. Kim Houw sejak kanak-kanak belum pernah merasai kasih sayangnya ibu,
perbuatan orang hutan itu membikin tergerak hatinya, ia seolah-olah sedang berada di pangkuan
ibunya sendiri.
Setelah menyusu sepuas hati, Kim houw mendadak berhenti, ia dongakkan kepalanya
mengawasi dengan air mata mengembeng. Sekarang ia tidak takut lagi memandang orang hutan
yang sangat menakutkan itu, bahkan memeluk erat-erat sambil menangis terisak-isak.
Orang hutan besar yang berbulu panjang itu agaknya mengerti perasaan hati Kim Houw, ia
membiarkannya menangis sepuas-puasnya, malah mengusap-usap kepala Kim Houw dengan
penuh kasih sayang.
Setelah menangis sepuas-puasnya, Kim Houw lalu melepaskan tangannya dan berkata
kepada si orang hutan:
"Aku akan bicara, apa kau dapat mengerti maksudku?"
Begitu Kim Houw membuka mulut, orang hutan itu agaknya sangat girang, ia menepuk-nepuk
dengan keras lalu anggukan kepalanya, untuk menunjukkan bahwa ia dapat memahami maksud
perkataan Kim Houw.
Kim Houw sangat girang, lalu meneruskan berkata: "Bolehkah kau antar aku keluar dari rimba
ini?"
Di luar dugaan, perkataan Kim Houw itu telah mengejutkan si orang hutan, yang lantas berlutut
di tanah sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang besar, sepasang matanya yang merah
laksana api menunjukkan sikap minta dikasihani.
Kim Houw tidak mengerti apa maksudnya, maka lantas meraung: "Siapa yang melarang orang
tidak boleh keluar dari rimba ini?"
Orang hutan itu ulur tangannya sambil menunjuk-nunjuk ke langit, kemudian ke dalam rimba.
Kali ini Kim Houw mengerti, orang hutan itu menunjuk ke dalam rimba, pasti ada rahasia apaapa,
maka lantas berkata: "Kalau begitu, bolehkah kau antar aku masuk ke dalam rimba?"
Orang hutan itu kali ini tidak kelihatan bersedih lagi, bahkan tampak begitu girang, sampai
lompat-lompatan setinggi satu tumbak. Tapi sewaktu turun di belakang Kim Houw, ia berteriakteriak
dan wajahnya menunjukkan ketakutan.
Kim Houw menoleh, kiranya pedang pendek yang memancarkan sinar berkeredepan yang
membuat si orang hutan ketakutan, ia lantas pungut pedangnya itu.
Kalau tadi ia bisa melihat dengan tegas wajahnya si orang hutan, tapi kini setelah ia memungut
pedangnya, orang hutan itu lantas lompat menyingkir dan mulutnya cecuwitan, agaknya takut
benar terhadap pedang pendek itu.

Kim Houw adalah anak yang cerdas, segala gerak-gerik orang hutan itu dapat ia pahami
maksudnya, maka lantas berkata: "Kalau tidak ada sinarnya pedang pusaka ini, aku tidak bisa
berjalan!"
Tapi orang hutan itu masih tetap berdiri jauh-jauh sambil berteriak-teriak, ia goyangkan
tangannya.
Kim Houw terpaksa memasukkan pedang ke dalam sarungnya, begitu pedang itu masuk ke
dalam sarungnya, sinar terang lantas lenyap, keadaan dalam rimba kembali gelap seperti semula.
Tiba-tiba Kim Houw merasa dirinya seperti berada di punggungnya orang hutan tadi yang lalu
dibawa pergi dengan cepat sekali.
Orang hutan itu mempunyai kaki dan tangan sangat panjang, ia bisa lari bagaikan terbang,
sebentar saja sudah melalui beberapa puluh tumbak jauhnya. Kim Houw yang digendong di atas
punggungnya, seolah-olah terbang di atas awan, kedua telinganya cuma dengar suara
menderunya angin, saking takutnya ia peluk leher orang hutan itu erat-erat, kedua matanya
dipejamkan, sebetulnya meski tidak dipejamkan ia juga tidak bisa melihat apa-apa karena
gelapnya keadaan di situ.
Tiba-tiba orang hutan itu hentikan larinya, Kim Houw membuka matanya, ternyata ia masih
belum keluar dari dalam rimba, cuma sudah kelihatan sedikit sinar terang, hawa udaranya juga
sedikit bersih.
Kim Houw turun dari gendongan orang hutan lantas lari keluar rimba, tapi tiba-tiba terdengar
suara si orang hutan, Kim Houw lalu hentikan tindakannya. Ia lihat orang hutan itu agaknya
menunjukkan perasaan berat untuk berpisah dengannya.
Hati Kim Houw tergerak benar-benar, ia lalu lari balik dan memeluk dirinya orang hutan sambil
menangis sedih.
Lama baru Kim Houw berdiri dengan perlahan seraya berkata: "Aku bisa datang lagi untuk
menengok kau!". Sehabis berkata, ia berjalan sambil saban-saban menoleh ke luar rimba.
Lama ia tidak melihat sinar matahari, begitu lihat, bukan main rasa girangnya.
Saat itu udara terang, matahari sedang teriknya, tapi di mata Kim Houw matahari itu
tampaknya segar dan hangat.
Mendadak ia dengar suara siulan nyaring melengking memecahkan kesunyian dalam rimba,
segera di depan Kim Houw telah muncul seorang wanita yang pipinya telah keriputan.
Badan nenek itu cuma mengenakan sepotong pakaian tipis, bahkan sudah robek tidak keruan,
hanya di belakang punggungnya ada menggemblok sebilah pedang panjang. Matanya
memancarkan sinar tajam, rupanya ia mempunyai kekuatan tenaga dalam yang cukup sempurna,
dengan sikap dan wajahnya yang dingin si nenek mengawasi Kim Houw sejenak, lalu berkata:
"Kau si bocah cilik, apa baru masuk dari luar rimba?"
Kim Houw yang dipandang oleh si nenek dengan sorot matanya yang tajam, membuat sekujur
badannya dirasakan tidak enak.
"Benar, aku telah kesasar jalan di dalam rimba, adalah itu orang hutan besar yang antar aku
kemari!" jawabnya.

"Orang hutan besar?" Si nenek mengawasi Kim Houw dengan sorot mata terheran-heran, "Apa
kau tidak menemukan bahaya? Nampaknya kau tidak mengerti ilmu silat!"
Selagi Kim Houw hendak menjawab, kembali tampak berkelebatannya beberapa bayangan
orang di kanan kirinya si nenek. Berbareng sudah muncul tujuh-delapan orang laki-laki dan
perempuan yang usianya sudah lanjut semua. Di antara mereka ada seorang hwesio juga ada
paderi wanita. Keadaannya sama dengan si nenek tadi, pakaian yang menempel di badan masingmasing
sudah pada sobek tidak karuan, hingga keadaannya mirip seperti pengemis. Mereka itu
ada yang membawa senjata tajam, tapi juga ada yang bertangan kosong, namun tidak ada
satupun yang kelihatannya takut hawa dingin. Sikap mereka nampaknya gagah-gagah, hanya
wajahnya sangat menyeramkan.
Kim Houw belum pernah berhadapan dengan orang dunia Kangouw serupa itu, tapi ia tidak
takut. Dalam suasana tegang yang menyeramkan itu, tiba-tiba dipecahkan oleh suara "Ting Tang".
Kim Houw menoleh, ia lihat seorang tua berambut putih dengan mendatangi membawa empat
buah pelor baja sebesar kepalan tangan tengah diadu-adukan satu sama lain sehingga
mengeluarkan suara tadi.
Kim Houw baru saja dikejutkan oleh pemandangan aneh itu, atau benda tersebut sudah
melayang menyerang padanya, justru jarak antara ia dengan orang tua itu hanya satu tumbak
lebih sedikit, sekalipun orang yang pandai ilmu silat, juga masih susah untuk berkelit, apalagi
seorang bocah yang tidak mengerti ilmu silat seperti Kim Houw.
Pelor baja itu nampaknya segera akan mengenai dadanya.
Tiba-tiba berkelebat sinar perak, ujung pedang tepat menyambut pelor baja tersebut di depan
dada Kim Houw, hingga pelor itu meluncur jatuh.
"Bang!" serangan yang kedua segera menyusul tepat mengarah dada Kim Houw sampai Kim
Houw jungkir balik di tanah. Segera terdengar suara yang aneh dari si orang tua: "Lie Cit Nio, apa
kau tidak tahu bahwa aku Cu-no-sin-tan (si tangan pelor sakti) To Pa Thian dengan empat buah
peluru di sepasang tanganku belum pernah meleset....?"
"To Pa Thian, kau ini si tua bangka, apa tidak tahu bahwa ia adalah bocah yang tidak tahu
apa-apa dan tidak mengerti ilmu silat? Ia dengan kau toh tidak mempunyai permusuhan apa-apa,
mengapa kau turun tangan begitu ganas? Kalau berani kau boleh coba-coba dengan aku Li Cit
Nio, aku tanggung pelurumu akan berobah peluru lempung yang tidak ada gunanya."
"Li Cit Nio, kali ini kau dibikin kabur matamu, kau kira ia tidak mengerti ilmu silat, sebetulnya ia
mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, bahkan amat licin, kalau tidak karena gara-garanya
bocah ini, aku tidak akan kemari, kalau belum berhasil membunuhnya, hatiku masih sangat
penasaran"
"To Pa Thian, kau benar-benar tidak tahu malu, sudah kena dikibuli oleh anak kecil, toh masih
ada muka buat menceritakan... apa perlunya kau masih menjadi ketua partai persilatan, aku
sendiri masih merasa malu!"
"Li Cit Nio, kau jangan jumawa, ada satu hari nanti kau akan mengalami kesukaran sendiri...."
Belum habis ucapan To Pa Thian, tiba-tiba terdengar suara sorak sorai riuh, apa yang telah
terjadi? Kiranya Kim Houw diserang oleh To Pa Thian dengan peluru, setelah jungkir balik lantas
berbangkit lagi, hal ini benar-benar membuat To Pa Thian sendiri sampai bingung terlongonglongong.
Empat buah peluru bajanya sudah pernah menggetarkan dunia Kang-ouw, membuat
namanya terkenal, karena pelurunya begitu keluar dari tangannya belum pernah meleset,

kekuatannya juga sangat hebat, siapa yang kena, perutnya akan dibikin bolong hingga sukar
mendapat pertolongan.
Bocah cilik itu meski tinggi ilmu silatnya, juga tidak mungkin tidak terluka barang sedikit?
Bagaimana ia tidak kaget? Hanya satu hal, sekarang mendapat alasan untuk mengejek Lie Cit
Nio, maka lantas berkata: "Lie Cit Nio, apa kau tidak salah kata? Kau ini yang dinamakan seorang
yang sudi gawe"
Wanita yang disebut Lie Cit Nio itu, pada saat mana juga terheran-heran. Ia selamanya
anggap belum pernah salah melihat orang, kalau dilihat dari luarnya bocah itu sama sekali tidak
mengerti ilmu silat, namun bagaimana tahan serangan pelurunya To Pa Thian yang namanya
sudah menggetarkan dunia Kang-ouw, ini benar-benar aneh!
Tapi kenyataannya memang begitu, Kim Houw memang benar-benar tidak berlaku bahkan
masih memandang To Pa Thian dengan mata melotot, kemudian ia membentak dengan suara
keras: "Aku dengan kau tidak mempunyai permusuhan apa-apa, mengapa bertemu lantas
menyerang aku dengan peluru?"
Dibentak secara kasar oleh Kim How, To Pa Thian lantas gusar: "Bocah busuk, masih mau
berlagak, kau berani kata tidak ada permusuhan dengan aku?" katanya.
Tiba-tiba terdengar suara orang nyaring seperti genta, sembari dibarengi dengan ucapannya
yang mengandung ejekan: "Lau To, hari ini kau kesandung batu!"
Wajah To Pa Thian seperti kepiting direbus, dengan gemas ia berkata kepada Kim Houw: "Aku
tidak mempunyai tempo untuk adu mulut dengan kau, kuhajar dulu nanti kita bicara lagi", belum
rapat mulutnya, tangan kanannya sudah bergerak menjambret Kim Houw.
Lie Cit Nio tiba-tiba lintangkan pedangnya sambil berkata: "Ia adalah aku yang menemukan,
aku berhak mengatakan apa yang aku suka, siapa hendak menganiaya lebih dulu harus mampu
melewati aku dulu!"
To Pa Thian tidak menduga bahwa Lie Cit Nio benar-benar hendak menghalangi maksudnya,
hatinya panas seketika, maka lantas menyerang Lie Cit Nio dengan bengis sekali.
Lie Cit Nio ketawa dingin, dengan satu gerakan "Burung garuda pentang sayap," ia putar
pedang pusakanya, tangannya bergerak mengarah biji mata, pedangnya menikam perut,
gerakannya dilakukan sangat cepat bagaikan kilat, sehingga To Pa Thian terpaksa harus tarik
kembali serangannya.
"Berkelahi ya berkelahi, apa aku kira aku takuti kau...?" demikian katanya gusar.
Dalam sekejap saja, To Pa Thian sudah melancarkan tiga jurus serangan, tapi Lie Cit Nio
sejuruspun tidak mencoba untuk mengelakkan. Kepandaian dan adatnya nyonya tua ini, justru
termasuk golongan keras, ia tidak pernah mengerti apa artinya mundur atau berkelit, dengan cara
balas menyerang ia menghentikan serangan lawannya, hampir berbareng dalam saat itu juga
sudah balas menyerang tiga jurus.
Bertempur secara demikian, memang jarang tertampak di dalam dunia persilatan, juga sangat
berbahaya karena setiap jurus serangan bisa mengakibatkan hancur kedua-duanya.
Kim Houw yang berdiri di samping telah dibikin terperangah oleh keadaan yang hebat itu, dulu
ketika masih di Bwee Kee Cung, ia juga pernah menyaksikan Touw Peng Peng melatih silat
dengan piau-ko nya tapi mana ada begini hebat?

Selagi menonton dengan asyiknya, seorang wanita setengah umur berparas cantik tapi
pakaiannya juga rombeng seperti yang lain-lainnya, muncul dari rombongan orang banyak dan
mendekati Kim Houw.
"Adik kecil, kau datang dari mana? Apa kau tahu di dunia Kang-ouw selama belakangan ini
pernah terjadi apa-apa? Dan apa maksudmu datang kemari?"
Kim Houw sejak tadi tidak pernah lihat wanita cantik itu, maka begitu melihat, ia langsung
tercengang wajahnya wanita ini agaknya sudah pernah dilihat, tapi entah dimana? Terutama
suaranya yang lemah lembut, benar-benar memikat hatinya, sampai pertanyaan wanita tadi ia
seolah-olah tidak mendengarnya... makin lama Kim Houw mengawasi, makin mirip dengan orang
yang pernah dikenal, akhirnya ia beranikan diri untuk menanyanya: "Numpang tanya, apakah
cianpwee..."
Baru separuh bicara matanya telah dapat lihat wajah dingin kaku dari wanita cantik itu, ia
tercekat, maka tidak berani melanjutkan pertanyaannya.
Wanita itu yang sebetulnya sedang mendengarkan pertanyaan Kim Houw, tapi mendadak Kim
Houw urungkan maksudnya, lalu menanya: "Kau hendak tanya apa? Tanyalah saja, di sini tidak
ada seorangpun bisa mencelakakan dirimu!"
Keterangan wanita itu menambah keberanian Kim Houw.
"Apakah cianpwe adalah... San Hua Sian Lie...?" demikian tanyanya.
"Betul!" jawab wanita cantik itu, lalu memeluk Kim Houw, dengan air mata berlinang-linang ia
menanya: "Adik kecil, kau siapa? Mencari aku ada urusan apa?"
Kim Houw tidak nyana dapat menemukan ibu kekasihnya dengan demikian mudahnya, ia
lantas melepaskan diri dari pelukan wanita cantik itu, kemudian berlutut di depannya, di
belakangnya tiba-tiba terdengar orang berkata: "Tiada ada gunanya, ternyata cuma binatang yang
bisa angguk-anggukkan kepala saja."
Kim Houw tidak mau ambil pusing jengekan itu, dengan girang ia berkata kepada San Hua
Sian Lie: "Namaku Kim Houw, aku datang dari Bwee Kee Cung, nona Peng Peng pernah pesan
aku supaya mencarikan ayah bundanya yang sudah sepuluh tahun lebih tidak ada kabar
beritanya...."
"Apa?" San Hua Sian Lie berseru kaget, "mencari ayah bundanya?"
"Benar, ayah bundanya, ayah bernama Bwee Seng gelarnya pedang malaikat, ibunya..."
Jilid 02
"OH! TUHAN" San Hua Sian Lie berseru dan air matanya segera mengalir deras. Ia mengeluh
sambil menangis: "Seng-ko, kau... kau benar-benar terlalu kejam. Oleh karena ayah aku telah
memasuki Istana Kumala Putih ini, kau... kau ternyata juga begitu tega meninggalkan anak
perempuan kita satu-satunya, sepuluh tahun lebih... ah! Ini bagaimana orang bisa percaya?"
Tiba-tiba terdengar suara orang berseru, suara seperti geledek, sampai Kim Houw hampir
melompat jauh.
"Bocah tolol, mau apa menangis? Apa itu juga ada harganya untuk ditangisi." demikian
terdengar suara orang tadi yang berada di belakangnya Kim Houw.

Di luar dugaan, San Hua Sian Lie bukan saja terus menangis tidak hentinya, malahan lari ke
belakang Kim Houw. Tatkala Kim Houw menengok, di belakangnya ada seorang tua berbadan
tinggi besar seolah-olah raksasa, San Hua Sian Lie yang berada di dalam pelukannya, kepalanya
cuma mencapai di dadanya, ia masih terus menangis, seolah-olah sedang mengigau ia berkata
dengan terisak-isak: "Ayah! Cucu perempuanmu yang patut dikasihani!"
To Pa Thian sejak Kim Houw menyebutkan namanya juga lantas hentikan pertempurannya
dengan Lie Cit Nio, ia mengerti sekarang telah salah lihat, bocah ini memang benar bukan Siaw
Pek Sin yang pada tiga tahun berselang pernah menipunya...
Sebuah bangunan istana sangat mentereng yang dibangun menurut keadaannya gununggunung,
berdiri dengan megahnya. Istana itu dibuat dari bahan yang hampir seluruhnya dari batu
kumala, tidak ada sedikitpun yang menggunakan kayu atau bahan lainnya, juga dibikin dari batu
kumala.
Batu-batu kumala itu sedikitpun tidak ada cacatnya agaknya seperti batu khusus keluaran
gunung Tiang Pek San itu.
Kim Houw mengikuti San Hua Sian Lie dan Lie Cit Nio, berjalan menuju istana yang megah itu,
di depan pintu istana ia dapat lihat papan nama dan tiga kata yang terbikin dari batu kumala juga:
Istana Batu Kumala.
Kim Houw meski kenal apa artinya istana itu tapi tidak tahu bahwa tiga kata itu ada berapa
misteriusnya bagi dunia persilatan. Tatkala berada di dalam istana, di segala pelosok ia bisa lihat
batu-batu mutiara yang warna warni menghiasi istana tersebut.
Dalam istana itu juga agak istimewa, di ruangan depan kecuali satu ruangan yang sangat luas,
masih terdapat banyak kamar-kamar yang agaknya khusus disediakan untuk orang menginap, tapi
keadaan ruangan dibagian belakang ada berlainan, gelap dan menyeramkan maka tidak tahu ada
yang tahu berapa dalam dan luasnya.
Orang-orang yang berpakaian rombeng dan tadinya mengitari Kim Houw, masing-masing pada
masuk ke kamarnya, tidak ada satu pun yang berani masuk kebagian belakang, menampak
keadaan demikian, Kim Houw berkata: "Bibi Bwe, bagian belakang mengapa keadaannya begitu
gelap dan tidak ada yang tinggal?"
San Hua Sian Lie mengawasi Kim Houw sejenak, akhirnya gelengkan kepala dan menjawab:
"Inilah bagian yang misterius dari istana ini, sepuluh tahun berselang, ketika itu aku juga
mempunyai perasaan seperti kau, mengapa tidak ada orang yang berdiam di bagian belakang ini?
Menurut keterangan mereka, ruang bagian belakang ini terlalu lembab dan dingin, orang tidak
tahan berdiam lama di situ, aku tidak percaya, malam itu diam-diam aku mencuri masuk ke situ,
siapa nyana baru berjalan kira-kira tiga tumbak jauhnya, darah sekujur badanku seolah-olah
seperti beku, badanku dirasakan seperti kaku kedinginan, sekalipun yang mempunyai kekuatan
tenaga dalam cukup sempurna, juga tidak dapat menahan dinginnya yang sangat meresap ke
tulang-tulang. Untung ayah lantas menggunakan tambang untuk menarik aku keluar dari situ,
sehingga terhindar dari kematian."
Kalau hanya soal dingin saja, bagi Kim Houw sudah tidak asing lagi, karena ia tahu betul apa
artinya kedinginan. Di Bwee Kee Cung, sudah melewati tiga kali musim dingin hanya dengan
selembar pakaian tipis dan sudah rombeng, ada kalanya ia tidak bisa tidur beberapa malam
karena kedinginan.
"Sudah tahu kalau tidak berhasil menemukan rahasianya istana ini, mengapa banyak orang itu
masih harus berdiam di sini, tidak mau keluar?" Apakah masih ada rahasianya lagi atau
menantikan munculnya keajaiban?" menanya Kim Houw pula.

"Ah!" San Hua Sian Lie menghela napas, "di sini termasuk aku sendiri, semuanya ada dua
orang, kecuali aku yang berkepandaian paling rendah, yang lainnya kebanyakan tokoh-tokoh
terkenal atau ketua partai persilatan yang pada kira-kira tiga puluh tahun berselang merupakan
jago-jago yang kenamaan di dunia Kangouw. Apa kau kira mereka tidak ingin keluar dan mandah
kelaparan dan kedinginan di sini?"
"Tapi, siapa yang bisa melangkah keluar setapak saja dari daerah kira-kira beberapa puluh li di
seputaran istana ini? Di sini seolah-olah cuma ada jalan masuk, tapi tidak ada jalan keluar! Mereka
sudah memeras otak, membuang waktu beberapa puluh tahun lamanya, toh masih tetap tidak bisa
keluar dari tempat berbahaya ini."
"Dengan kampak memotong-motong kayunya, dengan tanda kode, dengan akal apa saja
sudah pernah digunakan, tapi akhirnya sia-sia saja. Dengan api, pohon-pohon besar itu tidak
mempan dibakar, dengan kampak, pohon-pohon itu terlalu besar untuk dapat dirubuhkan begitu
gampang, dengan kode, lebih celaka lagi, asal kau membiluk, tanda itu lantas kelihatan dimanamana,
entah dewa atau setan ataukah itu orang hutan busuk yang berbuat!"
Kim Houw yang tadinya mendengarkan dengan asyik, tatkala San Hua Sian Lie maki orang
hutan busuk, hatinya merasa tertusuk, masih untuk wanita itu adalah ibunya Bwee Peng, kalau lain
orang mungkin sudah diajak bertengkar.
Kim Houw lantas berdiam, tapi San Hua Sian Lie masih meneruskan kisahnya:
"Di sini, setiap orang adalah tokoh terkemuka dari dunia Kang-ouw, oleh karena itu ingin
menyelidiki rahasia terbesar dari dunia Kangouw, maka mereka memasuki Istana Kumala Putih
ini."
"Siapa tahu, masuk gampang, tapi keluar sudah kau lihat, itu hwesio berbadan besar dan
berwajah kuning, ia adalah Kim Lo Han yang bergelar Paderi Gagu dari gereja Hoan Kak Sie di
gunung Kie Lian san. Entah sudah berapa tahun lamanya dia berdiam di sini, mungkin sudah lebih
dari empat puluh tahun, karena itu Lato Kiesu dari An-leng yang berbadan kecil pendek, datang di
sini sudah empat puluh tahun lamanya, tapi Kim Lo Han sudah lebih dulu berdiam di sini."
"Paderi gagu Kim Lo Han itu bukan benar-benar gagu, ia cuma tidak sembarangan membuka
mulut, dalam satu tahun mungkin tidak dapat dengar sekali ia bicara."
"Selain mereka berdua, masih ada Lie Cit nio dan si peluru sakti To Pa thian serta Imam palsu
yang lagaknya seperti orang gila, Imam palsu ini yang paling nakal, ia paling suka menggoda
orang, tapi hatinya paling baik."
"Kau lihat, itu wanita yang duduk di ujung sana, ia adalah Kim Coa Nio-nio. tongkat kepala ular
di tangannya dalamnya kosong terisi oleh seekor ular emas kecil, kalau dilepaskan untuk melukai
orang, cepatnya bagaikan kilat. Ular emas itu sangat berbisa, kalau sudah melukai orang tidak ada
obatnya. Kim coa Nio-nio itu seorang yang berada di tengah-tengah antara kejahatan dan
kebaikan, perbuatannya selalu menurut kehendak hatinya."
"Masih ada lagi si Kacung baju merah, usianya sudah ada delapan puluh tahun, tapi tingginya
hampir sama dengan kau, kesukaannya memakai baju berwarna merah ....!"
Bicara sampai di sini si Kacung baju merah tampak baru keluar dari kamarnya, dengan wajah
dingin memandang San Hoa sian Lie dan Kim Houw sejenak, lantas keluar dari istana.

Kim Houw menampak si Kacung baju merah itu wajahnya mirip kanak-kanak, tingginya benarbenar
hampir sama dengan ia sendiri, cuma sepasang matanya yang dingin. Bajunya yang merah
sekarang sudah hampir berobah menjadi putih, bahkan sudah banyak lobangnya.
San Hoa Sian Li menyambung pula: "Hari ini yang belum kelihatan hanya sepasang manusia
kukoay dari daerah luar, mereka berdua bulan ini mendapat tugas untuk mencari makanan ...."
baru bicara sampai di sini, dari luar terdengar suara sorak girang, dua manusia hitam bagaikan
baru bara, sambil memikul seekor kijang yang sudah dipanggang, kelihatan berjalan masuk
dengan lenggang kangkung.
Dua orang ini bentuk wajahnya sangat luar biasa, matanya lebar hidungnya gepeng, giginya
yang putih panjang pada menonjol keluar, usianya sudah enam puluh tahun ke atas. Mereka
letakkan hidangan yang berupa seekor kijang itu di atas sebuah meja batu, kemudian berkata: "Lie
Cit Nio, hari ini adalah kau yang keluar! Ada kabar apa?"
Ia menunggu sekian lama, tidak mendapat jawaban sudah tahu kalau tidak ada hasil apa-apa.
Terdengar suaranya si Imam palsu yang gila-gilaan: "Hari ini ada arak, hari ini kita mabukmabukan
....!"
"Hai, Imam palsu! Kau jangan mengoceh arak-arak saja, tenggorokanku sudah merasa gatal,
aku nanti potong badanmu dan hirup darahmu mungkin baru bisa puas, aku yakin dalam darahmu
pasti masih ada rasa araknya!"
Itulah suara Lui Kong, ayahnya San Hua Sian Lie, tapi si Imam palsu tidak mau menyerah
mentah-mentah, ia lantas menjawab dengan perkataan yang jail:
"Lui Kong, minum saja air kencingku ! Dalam air kencingku ini masih ada rasa arak
peninggalan sepuluh tahun berselang, kalau kau tidak percaya boleh coba-coba aku tidak
mendustai kau !"
Lui Kong mendongkol, dengan cepat menerjang padanya, tapi si Imam palsu itu ternyata
bergerak lebih gesit. Begitu melihat serangan Lui Kong hampir sampai, ia sudah memutar
tubuhnya, sebentar saja sudah tidak kelihatan bayangannya ....
Malam itu Kim Houw yang sedang tidur nyenyak didalam kamar, tiba-tiba terdengar suara
orang hutan berbunyi, suara orang hutan bagi yang lainnya sudah merupakan barang biasa, tidak
ada apa-apanya yang aneh, tapi Kim Houw yang mendengarkan itu hatinya berdebar-debar, ia
buru-buru bangun dan keluar dari istana. Begitu keluar dari pintu istana lantas lari dengan
cepatnya, menuju ke arah datangnya suara itu.
Suara itu makin lama makin dekat, tapi Kim Houw ternyata sudah melalui banyak jalan yang
berliku-liku, begitu tiba di pinggir rimba, napasnya sudah tersengal-sengal.
Setelah mengaso sebentar, ia meneruskan perjalanannya untuk mencari suara tadi, di satu
tikungan sebuah pohon besar ia lihat Lie Cit nio memegang pedang pusakanya sedang bertempur
sengit dengan seekor orang hutan betina. Orang hutan betina itu, biar bagaimana adalah seekor
binatang, tapi masih bukan tandingannya Lie cit Nio. Cuma karena kulit dan bulunya yang tebal,
golok atau pedang biasa saja tidak mudah melukainya, saat itu kelihatan ia menyerang lawannya
dengan hebat sedikitpun tidak kelihatan jeri, Kim Houw diam-diam merasa heran.
Tiba-tiba ia lihat di sebuah pohon di belakangnya Lie Cit Nio, ada seekor orang hutan kecil
yang terikat di situ, sampai di sini, Kim Houw baru sadar, kiranya orang hutan betina itu karena
hendak membela anaknya sampai mati-matian.

"Orang hutan busuk, kali ini aku tidak gampang-gampang lepaskan anakmu, kecuali kalau kau
mau antar kita orang keluar dari rimba ini, kalau tidak aku akan bunuh mati padanya persis seperti
orang hutan yang tua itu .....!" demikian Lie cit Nio berkata kepada si orang hutan.
Orang hutan betina itu menjerit-jerit, suaranya sangat mengenaskan, agaknya seperti meratap
supaya Lie cit Nio tidak berbuat kejam. Kim Houw yang mendengar suara itu hatinya merasa tidak
tega, diam-diam ia memutar ke belakang Lie Cit nio, dengan mendadak menghunus pedang
pusakanya, lalu memotong tali-tali yang digunakan untuk mengikat si orang hutan kecil.
Tapi tatkala ia menghunus pedang pendeknya, sinarnya yang terang benderang telah
mengejutkan Lie Cit Nio dan orang hutan betina, orang hutan betina itu tadinya mengira Kim Houw
hendak membunuh anaknya, dengan suaranya yang aneh, menubruk ke arah Kim Houw,
sebaliknya Lie Cit Nio dibikin kesima oleh pemandangan itu.
Selagi Lie Cit Nio masih dalam keadaan kesima, orang hutan betina itu sudah menghilang ke
dalam rimba sembari menggendong anaknya. Lie Cit nio sambil ketawa dingin mengawasi Kim
Houw, bocah cilik yang tadinya ia anggap tidak mengerti ilmu silat sama sekali, maka seketika itu
lantas menjadi gusar, lalu berkata dengan suara bengis: "Hm! Aku kira siapa yang berani
membebaskan tawananku, kiranya kau si telur busuk kecil! Kalau begitu ucapannya To Pa Thian
sedikitpun tidak salah, kau ternyata adalah orang yang begitu macam, aku lihat di tanganmu ada
memegang pusaka Ngo Heng Kiam, tentunya kau keturunan Tiong ciu Khek, aku si nenek tua
benar-benar harus mengorek biji mataku sendiri, tidak dapat mengenali orang, telur busuk, kita
tidak usah membangkit-bangkit urusan tadi pagi, sekarang aku ingin coba berapa tinggi
kepandaianmu, berani membebaskan tawananku?"
Kim Houw membebaskan anak orang hutan, hanya karena ia pernah ditolong jiwanya oleh
orang hutan betina, untuk membalas budinya orang hutan, makanya berani berbuat begitu nekad,
tapi ia tidak nyana dan tidak pikirkan apa akibatnya atas perbuatannya itu. Kini setelah ditegor
secara bengis oleh Lie Cit Nio, ia baru sadar, tidak mampu menjawab, ia juga tidak tahu siapa itu
orang yang disebut Tiong Ciu Khek oleh Lie Cit Nio, dan tatkala Lie Cit Nio menantang dirinya, ia
semakin tidak berdaya, sehingga berdiri kesima.
"Bagus! Usiamu yang masih begitu muda kau pandai jual lagak To Pa Thian katakan
kepandaianmu lihai sekali, sebaliknya aku ingin coba-coba, sampai dimana sebetulnya
kepandaianmu? Kalau kau tidak mau turun tangan lebih dulu jagalah seranganku!" kata Lie Cit Nio
dengan suara dingin.
Ia benar-benar putar pedangnya, dengan pelahan ambil gerakan menikam tepat dibatas alis
lawannya, inilah pembukaan ilmu pedang Lie Cit Nio yang dinamakan "It Bie Kiam" gerakannya itu
tampaknya lambat sekali sebetulnya mengandung banyak perobahan, asal lawannya bergerak,
tidak perlu hendak berkelit atau menangkis, ilmu pedang itu menyerang secara bertubi-tubi, terus
mengikuti jejak sang lawan.
Tapi, kali ini salah hitung, ia kira Kim Houw mempunyai kepandaian tinggi sekali, maka begitu
bergerak lantas membuka serangannya "It Bie Kiam"
Di luar dugaannya, begitu nampak ujung pedang sudah dekat depan dada Kim Houw, bocah
itu masih berdiri mendelong, sedikitpun tidak bergerak, dengan demikian maka ilmu pedang "It Bie
Kiam" Lie Cit Nio sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Lie Cit Nio lalu berpikir: "Tidak perduli kau pura-pura atau benar-benar, kuberikan hajaran dulu
habis perkara!"
Begitu berpikir, ia lantas bergerak, "Sret!" ujung pedang menggurat dada Kim Houw, sampai
baju kapasnya yang tipis robek dan kapasnya berhamburan keluar. Serangannya Lie Cit Nio
sudah diperhitungkan baik-baik tapi lagi-lagi telah terjadi hal-hal yang luar biasa di luar dugaannya.

Ia sudah anggap kali ini dada Kim Houw akan menyemburkan darah, tapi kenyataannya tidak
demikian! Kejadian ini mengejutkan, apakah sang bocah siluman yang menjelma? demikian ia
tanya kepada diri sendiri.
Selagi masih terbenam dalam kebingungan di belakangnya tiba-tiba terdengar suara ketawa
mengejek, Lie Cit Nio segera menoleh, di belakangnya berdiri si kacung baju merah yang tingginya
hampir sama dengan Kim Houw.
Lie Cit Nio membalas dengan ketawa dingin, kemudian berkata: "Manusia yang tidak mirip
dengan potongan manusia! apa yang kau ketawai?"
"Lie Cit Nio, kau yang usianya sudah begitu lanjut, ternyata juga berpikiran seperti anak-anak,
kau seorang yang namanya sudah cukup terkenal, perlu apa masih menghina satu bocah, apakah
tidak malu terhadap dirimu sendiri?" demikian ujar si kacung baju merah itu.
"Oh ya, Tiong Ciu Khek dengan kau rasanya masih ada sedikit hubungan sekarang aku tidak
cari orang dari tingkatan muda aku akan cari saja kau, apa kau berani bertanding denganku?"
Selagi si Kacung baju merah hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara orang ketawa besar,
kemudian disusul oleh munculnya bayangan orang, segera ternyata adalah si Imam palsu yang
kelakuannya gila-gilaan.
Begitu tiba Imam palsu itu lantas mulai mengoceh: "Aku kata, Lie Cit Nio, semua orang toh
sudah mendekati ajalnya, apa yang perlu diributi? kalau kita tidak bercekcok, di jalanan ke akhirat
nanti mungkin masih ada sobat untuk dijadikan kawan, perlu apa harus mencari tambahan
musuh...?"
"Manusia gila" dengan gusar Lie Cit Nio memotong, "kau tak usah memaki orang secara putarputaran,
kalau kau kepingin mati lekaslah bunuh diri sendiri, aku meski sudah tua, tapi masih ingin
mempertahankan jiwaku sampai aku bisa keluar dari Istama Kumala Putih ini, untuk melihat-lihat
keadaan dunia beberapa tahun lagi!"
"Ahaaa!" si Imam palsu cengar-cengir "Lie Cit Nio, aku si Imam palsu benar-benar kepingin
mati, tapi anehnya tidak mau mati-mati juga, Cit Nio, berbuatlah sedikit kebajikan, tusuklah aku
sampai mati!"
Lie Cit Nio diejek demikian rupa oleh si Imam palsu, sampai rasanya mau menangis. Pada
saat itu tiba-tiba terdengar suara: "ting, ting, ting", Lie Cit Nio berseru: "Enci Kim Coa! Enci Kim
Coa...!"
Kim Coa Nio-nio mengikuti arahnya suara masuk ke dalam rimba.
"Adik Cit, kau jangan ladeni orang gila, mari kita pergi, ada suatu hari, pasti akan rasakan Kimjie-
ku." setelah berkata dari dalam rimba.
Baru saja kedua wanita itu berlalu, Imam palsu juga berjalan keluar setelah lebih dulu tertawa
terbahak-bahak.
Kim Houw yang menyaksikan orang-orang itu meski bersama-sama berada dalam Istana
Kumala Putih, tapi agaknya tidak akur satu sama lain, maka dalam hati merasa sangat heran, tibatiba
terdengar suara si Kacung baju merah berkata: "Kim Houw, Tiong Ciu Khek masih pernah apa
dengan kau?"

Lagi-lagi Tiong Ciu Khek, Kim Houw sama sekali tidak kenal dengan orang yang dimaksudkan.
Ia lihat wajahnya Kacung baju merah itu sudah tidak begitu dingin kecut seperti biasanya, maka
lantas menjawab: "Cianpwee, aku tidak kenal Tiong Ciu Khek, namanya saja baru hari ini aku
dengar?"
"Kau tidak kenal Tiong Ciu Khek?" tanya si Kacung baju merah dengan wajah heran, "Kalau
begitu pedang Ngo heng Kiam di tanganmu itu kau dapatkan dari mana?"
"Ini pemberian dari satu nona, namanya Touw Peng Peng!"
"Ahaaa! nona Touw Peng Peng itu barang kali cucu perempuan Tiong Ciu Khek, Touw pao-ko,
cuma sejak 20 tahun lebih berselang, Touw lou-ko sudah pindah ke kanglam bagaimana kau bisa
kenal dengan cucu perempuannya?"
Dengan ringkas Kim Houw menuturkan bagaimana Touw Peng Peng bisa berada di Bwee Kee
Cung, si kacung baju merah itu kini baru percaya, lalu ajak Kim Houw pulang ke Istana Kumala
Putih.
Dalam beberapa hari saja, Kim Houw sudah kenal dengan semua penghuni dalam Istana
Kumala Putih itu, malah kadang-kadang suka turun tangan mengadu kekuatan. Yang paling ribut
adalah antara Lie Cit Nio dengan To Pa Thian, sedang si Imam palsu yang gila-gilaan itu hampir
setiap ada orang cekcok selalu ada bagiannya, cuma mulutnya saja yang kelewat jail, jika benar
hendak berkelahi, cuma beberapa gebrakan saja ia sudah kabur.
Diantara orang-orang itu, cuma paderi gagu Kim Lo Han yang tidak ada suaranya, setiap hari
duduk bersemedi sambil pejamkan mata, segala urusan sama sekali tidak mau tahu. Kim Houw
pernah dengan ia bicara sepatah saja.
Hari itu, Kim Houw menyatakan kepada San Hua Sian Lie, bahwa ia sedikitpun tidak mengerti
ilmu silat ia ingin angkat San Hua Sian Li sebagai guru supaya suka memberi pelajaran ilmu silat
padanya, agar bisa digunakan untuk melawan musuh dan menjaga diri, siapa nyana
permintaannya itu telah membuat San Hua Sian Lie tak senang, katanya: "Selama belum bisa
keluar dari Istana Kumala Putih dengan rimbanya yang keramat itu, siapapun tidak ada yang
mempunyai kegembiraan untuk membicarakan soal ilmu silat, juga tidak mempunyai kesempatan
untuk memberi pelajaran kepada orang lain, apa kau tidak tahu, selama beberapa hari ini, siapa
yang menanyakan kau mengerti ilmu silat atau tidak? Toh tidak! Ini berarti, kau mengerti ilmu silat
atau tidak di dalam Istana Kumala Putih ini tidak berarti apa-apa, untuk sementara lebih baik
jangan ungkat-ungkit soal ini lagi...!"
Sejak pembicaraan itu, Kim Houw telah menemukan kesepian, San Hua Sian Lie tidak mau
bicara dengannya lagi, begitu pula yang lain-lainnya, ini benar-benar mengenaskan, ia tidak
mengira bahwa akibat dari pembicaraannya itu ada begitu hebat. Yang paling celaka dengan
beruntun selama tiga hari, satu orang pun tidak ada yang ajak bicara padanya.
Dalam hati Kim Houw merasa gemas, ia kira karena mengaku dirinya tidak mengerti ilmu silat,
maka telah dihina oleh mereka, malam itu, Kim Houw sudah tidak sanggup memikul penderitaan
batinnya lagi, ia hendak pergi mencari si orang hutan yang pernah menolong dirinya, meski di
dalam musim dingin tapi Kim Houw tidak takut.
Pada saat hendak meninggalkan istana itu, tiba-tiba ia ingat istana bagian belakang, yang
menurut kabar bisa membikin orang mati beku, ia ingat sejak mengenakan baju wasiat pemberian
Touw Peng Peng, ia mencoba memasuki ruangan itu, asal sendiri waspada, begitu menampak
adanya bahaya lantas bisa undurkan diri, Ia percaya tidak nanti bisa celaka di situ, sebetulnya
andaikata benar-benar ia haru binasa di situ apa yang dibuat keberatan, ia toh hanya seorang diri,
tiada sanak tiada kadang.

Karena berpikir demikian, Kim Houw lantas putar tubuhnya dan berjalan masuk ke ruangan
belakang, baru berjalan kira-kira satu tumbak lebih, dengan tidak disengaja ia menoleh ke
belakang, menampak sebelas orang itu dengan sepasang matanya pada ditujukan pada dirinya,
tapi tidak ada satupun yang berani membuka suara.
Kim Houw berjalan sudah cukup jauh, tetap tidak merasakan apa-apa, hatinya mulai besar,
pikirnya bukankah kalian tidak berani masuk? Sekarang coba lihat aku!
Berjalan lagi kira-kira empat-lima tumbak di dalam tetap gelap gulita, tiba-tiba terdengar suara
orang menjerit. Ia lalu menoleh, tidak jauh di belakangnya ada jatuh menggeletak di tanah
tubuhnya si Kacung baju merah yang tinggi badannya hampir sama dengan dirinya sendiri, sedang
badannya masih kelihatan menggigil hebat, sepasang matanya memandang dengan sorot mata
minta dikasihani.
Kim Houw terperanjat, mengapa ia sendiri sedikitpun tidak merasa dingin.
Untuk menolong si Kacung baju merah, Kim Houw buru-buru balik dan pondong dirinya yang
masih seperti anak-anak itu, pada saat mana sepuluh orang terkemuka dari rimba persilatan yang
masih berada di depan ruangan, semua pada mengawasi padanya dengan sorot mata terheranheran,
karena siapapun tahu kalau Kim Houw sedikitpun tidak mengerti ilmu silat, apalagi ilmu
khikangnya atau lwekang, sungguh tidak habis dipikir, entah dengan ilmu apa ia mampu menahan
serangan hawa yang begitu dinging?
Setelah letakkan si Kacung baju merah, Kim Houw balik lagi, bahkan makin jalan makin jauh
dan makin dalam.
Akhirnya toh, bayangan Kim Houw lenyap dari pandangan.
Tokoh-tokoh rimba persilatan itu pada terheran-heran, terperanjat, karena mereka pernah
menetapkan suatu peraturan, siapa yang berhasil mendapatkan rahasianya Istana Kumala Putih
bagian belakang ini, mereka akan akui padanya sebagai Tuannya Istana Kumala Putih ini, dan jika
bisa menolong mereka keluar dari Istana itu, mereka akan menurunkan pelajaran atau kepandaian
masing-masing kepadanya dan akan dijunjung sebagai majikannya untuk selama-lamanya...
Kim Houw telah berhasil masuk ke dalam Istana Kumala Putih bagian belakang dengan
membawa pedang pendeknya yang bisa memancarkan sinar terang, ia dapat memeriksa segala
keadaan dalam istana itu.
Ia sedikitpun tidak merasa dingin, ia sendiri tidak tahu bahwa baju wasiat yang dipakainya
adalah baju wasiat "Hay-si-kua" pusaka keturunan keluarga Ciok. "Hay-si-kua" nama sejenis
binatang dalam air, ukuran badannya biasanya cuma kira-kira lima dim, tapi "Hay-si-kua" ini
panjangnya ada satu kaki enam dim, bulat seperti sebuah drum, "Hay-si-kua" yang sudah jadi
semacam siluman, seribu tahun berselang, oleh seorang paderi sakti telah dipancing keluar dari
bawah es, kemudian dibunuh dan dibeset kulitnya untuk dibikin baju kaus.
Baju kaus "Hay-si-kua" ini, entah sejak kapan jatuh di tangannya keluarga Ciok sehingga
menjadi pusaka turun temurun, Ciok Goan Hong cuma tahu bahwa baju itu lemas seperti baja,
tidak mempan senjata tajam, kalau dipakai dibadan di musim dingin merasa hangat, tapi kalau di
musim panas mempunyai khasiat seperti di atas, juga tidak takut panasnya api.
Kim Houw yang tanpa disengaja telah mendapatkan baju wasiat itu boleh dikata memang
jodoh, juga boleh dikata memang peruntungannya atau kemauan Tuhan, sehingga saat itu, ia
masih belum tahu bahwa baju wasiatnya itu masih beberapa kali menghindarkan dirinya dari
bahaya kematian.

Pada saat itu, dengan tangan membawa pedang pendek, Kim Houw sudah memasuki
kebagian tengah dari ruangan belakang Istana Kumala Putih itu, ia mendapat kenyataan bahwa
keadaan ruangan belakang ini tidak berbeda dengan ruangan depan, hanya kamarnya yang cuma
ada empat buah, bahkan luar biasa luasnya, dalam kamar semuanya diperlengkapi dengan tempat
tidur, kursi meja dan lain-lainnya, kursi mejanya merupakan barang-barang yang jarang terlihat
didalam dunia.
Apa yang mengherankan ialah dalam ruangan yang begitu luas, tidak bisa didapatkan
sedikitpun benda yang bersinar. Kim Houw coba merabah-rabah kasur dan kelambu, ternyata
dingin seperti besi, ia coba tekan ternyata barang-barang itu pun dilapisi dengan benda yang tipis,
yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia.
Di ruangan belakang, Kim Houw telah dikejutkan oleh mayat manusia yang menggeletak di
tanah, mayat-mayat itu keadaannya masih seperti orang hidup, seolah-olah baru meninggal belum
lama, melihat keadaan demikian, meski hatinya agak merasa takut, tapi badannya tidak
merasakan perobahan apa-apa.
Setelah melalui ruangan belakang, angin dingin telah meniup, meski tidak begitu kencang, ia
rasakan mukanya dingin sekali.
Kini Kim Houw baru merasakan hawa dingin, tapi ia tidak tahu, kalau ia tidak mengenakan baju
wasiat "Hay-si-kua" yang melindungi badannya, sekalipun ia keturunan dewa, hanya angin itu saja
sudah cukup untuk merobah dirinya menjadi manusia es.
Ia baru saja keluar dari ruangan belakang lantas merasa bahwa dirinya sudah memasuki
sebuah goa, sebuah goa yang besar dan luas, sekitarnya merupakan dinding putih, dalam goa itu
masih ada satu istana kecil.
Istana itu kunamakan Istana "Kong Han Kiong", dalam hati Kim Houw diam-diam merasa geli,
didalam goa mana ada Istana Kong Han Cu?
Di sini, karena seputarnya nampak putih, hingga tidak memerlukan penerangan sinar pedang
pendeknya lagi, maka ia lantas simpan kembali senjata ini. Siapa tahu baru saja pedang itu
dimasukkan dalam sarungnya, dalam goa lantas timbul suatu pemandangan ajaib.
Pintu masuk istana Kong Han Kiong itu bentuknya seperti bundar dan telah mengeluarkan
sinar perak yang indah sekali. Di atas dinding ada sinar bintang berkelap-kelip, dan apa yang aneh
ialah di bawahnya pintu bundar itu telah menyemburkan halimun tipis, seolah-olah awan di langit,
keadaan itu membuat Kim Houw kesima, ia sangsi apakah dirinya sedang berada di planit
rembulan ?
Disaat itu, Kim Houw tiba-tiba ingat dirinya Bwee Peng, karena si nona ini tidak pernah berkata
padanya bahwa ia telah melamun pergi ke rembulan, maka ia pikir betapa girangnya kalau Bwee
Peng berada juga bersama ia saat itu.
Lain bayangan tiba-tiba berkelebat di otaknya, itu adalah bayangan Touw Peng Peng. Ia
berpikir lagi: "Aku benar-benar merasa tidak enak terhadap nona Peng Peng, tidak nyana ia begitu
baik memperlakukan aku. Bukan saja sudah menolong jiwaku, bahkan ia sudah memberikan aku
benda-benda wasiat yang tidak ternilai harganya ini."
Entah berapa lama sang tempo sudah berlalu, Kim Houw baru sadar dari lamunannya. Ia
merasakan tangan dan kakinya sudah menginjak halimun tipis tadi, terus berjalan masuk ke dalam
istana Kong Han Kiong.

Setelah berada di dalam istana itu, matanya terbelalak karena pemandangan yang terbentang
di depan matanya, yaitu lima buah peti mati yang berbaris ditengah-tengah ruangan. Peti mati itu
bukan terbikin dari kayu biasa melainkan dari bahan putih seperti kaca, di dalam peti terbaring
jenazah seorang laki-laki, yang lainnya semua orang perempuan semua mengenakan pakaian
model kuno.
Kim Houw memeriksa satu persatu, makin melihat makin heran, karena diwajahnya setiap
jenazah semua menunjukkan senyuman, seolah-olah mereka tengah tidur nyenyak, mana mirip
dengan orang yang sudah mati beberapa ratus atau mungkin beberapa ribu tahun lamanya ?
Selanjutnya, Kim Houw memeriksa lagi keadaan dalam istana itu, ia menemukan banyak batu
permata yang jarang ada di dalam dunia, satu kekayaan yang mungkin tidak ada bandingannya,
tapi ia tidak tertarik dan tidak mau ambil sebutir pun. Waktu ia hendak berlalu matanya dapat lihat
di atas meja sembahyang ada satu ikat pinggang yang terbikin dari bahan sutra putih, di satu
ujung ada terikat sebutir mutiara hitam, dilain ujung ada sebuah batu giok persegi. Kim Houw
berpikir: "Aku sudah masuk kemari, tidak bisa balik kembali dengan tangan kosong jika aku
kembali dengan tangan hampa, mereka tentunya tidak akan percaya bila aku ceritakan
pengalaman ini."
Ia lalu menghampiri dan menjura di depan nya lima peti mati yang terbikin dari bahan kaca itu
sembari berkata: "Boanpwe Kim Houw, kedatangan Boanpwe kemari bukan karena harta, tapi
sebaliknya boanpwe juga tidak bisa kembali dengan tangan kosong, maka Boanpwe agak lancang
tangan, mohon Cianpwe menghadiahkan sebuah ikat pinggang ini sebagai tanda peringatan!"
Baru saja dia tutup mulutnya, dalam goa itu terdengar suara berkumandang, "Sebagai
peringatan."
Kim Houw girang, ia lantas ambil ikat pinggang itu dan dilibatkan pada pinggangnya sendiri,
lalu menjura lagi dan berlalu.
Kim Houw tadi sudah coba menyentuh banyak benda yang ada di situ, semua umumnya keras
dingin seperti besi, tapi heran ikat pinggang itu ternyata masih tetap lemas, juga tidak ada rasa
dingin.
Sekeluarnya dari Istana Kong Han Kiong, Kim Houw kembali lagi ke dalam goa bagian
belakang Istana, tapi goa itu ternyata adalah goa buntu. Cuma dari bawahnya goa, ada beberapa
lobang kecil yang menembus siliran angin. Hingga Kim houw sampai menggigil dan lantas lari
keluar.
San Hua sian Lie dan sebelas tokoh dunia persilatan lainnya, dengan mata tidak terkesiap
menjaga di pintu masuk dari istana bagian belakang, sampai pun Hay Lam siang Koay yang
bertugas mencari barang makanan juga tidak mau berlalu. Tapi mereka tidak usah menunggu
lama, hanya menunggu satu hari saja akhirnya mereka telah mendapat lihat setitik sinar sedang
bergerak.
Si Kacung baju merah dan Kim Coa Nio-nio telah berteriak dengan berbareng karena mata
mereka yang paling tajam.
"Astaga! bocah itu benar-benar ada pelindungnya, ia ternyata tidak binasa .....!"
"Hai dia malah membawa barang apa itu? Aaaa ..... agaknya seperti satu guci arak!"
"Apa? Guci arak?" si Imam palsu dan Lui Kong berseru berbareng.

Memang benar seguci arak, entah dari mana datangnya kekuatan. Kim Houw tatkala hendak
berlalu dari goa itu ia bisa memanggul seguci arak, dengan sempoyongan keluar dari Istana
belakang.
Belum tiba di pintu Istana depan, Imam palsu sudah tidak sabar, dengan loncat ia menyerbu
guci arak yang dipanggul oleh Kim Houw. karena ia menggunakan tenaga terlalu kuat, membuat
Kim Houw sempoyongan hampir jatuh terlentang di lantai. Tapi Kim Houw tidak gusar, karena ia
akan menjelaskan rahasianya dalam istana rimba itu, yang sudah lama merupakan suatu teka-teki
bagi mereka.
Kecuali si Imam palsu dan Lui Kong yang repot membuka guci arak untuk segera diminum,
yang lainnya pada mengerumuni Kim Houw minta ia menceritakan keadaannya Istana belakang
itu.
Baru saja Kim Houw hendak mulai, Imam palsu tiba-tiba berseru: "Bocah cilik, bagaimana
semua menjadi es?"
"Aku lupa memberitahukan kepadamu di dalam istana itu semua barang seperti es, kalau kau
gunakan api untuk menggarang mungkin akan jadi arak yang harum, tapi aku tidak berani
menjamin, karena arak itu bukan aku yang bikin !"
Selanjutnya Kim Houw lalu menceritakan dengan jelas apa yang ia lihat dan dengar dalam
istana itu, ketika ia bercerita kebagian masuk dalam Istana Kong Han Kiong, si hwesio gagu (Ah
ceng) yang sepanjang tahun belum pernah buka mulut, tiba-tiba telah membuka mulutnya dan
berkata dengan suaranya yang nyaring seperti genta: "Kim Lo Ah Ceng dari gereja Hoat Kak Sie di
gunung Kie Lian-san menjumpai majikan baru dari Istana Kumala Putih!" sehabis berkata, ia lantas
berlutut di hadapannya Kim Houw.
Perbuatan Kim Lo Han ini telah membuat semua orang pada terheran-heran.
Sebetulnya cerita Kim Houw tadi masih sebagian orang yang merasa sangsi akan
kebenarannya tapi dengan kelakuannya Kim Lo Han itu, tidak seorang yang berani tidak percaya.
Dengan tidak resmi si paderi gagu itu merupakan kepala dari rombongan sebelas orang itu,
sebabnya karena ia merupakan orang yang paling lama berdiam di Istana Kumala Putih itu.
Orang-orang yang lebih dulu masuk dari ia, setelah binasa adalah paderi gagu itu yang mengurusi
jenazahnya, jumlahnya paling sedikit sudah sepuluh orang, kini Kim Lo han telah berlutut, inilah
peraturan yang ia sendiri telah tetapkan, siapa yang berani tidak mentaati?
Maka sekejap saja, semua orang sudah lantas pada berlutut, suara tiancu, tiancu atau
majikan, majikan ! terdengar riuh, hingga membuat Kim Houw kelabakan.
Akhirnya, ia juga mengikuti orang banyak turut berlutut untuk membalas hormat, sesudah itu,
ia lantas menarik tangan San hua Sian Lie untuk menanyakan sebab musababnya.
San Hua Sian Lie ceritakan padanya bahwa peraturan itu telah ditetapkan oleh semua orang
yang ada di Istana Kumala Putih, bagi siapa yang berhasil memasuki Istana bagian belakang,
semua akan menjunjung padanya sebagai majikan Istana Kumala Putih ini ....
Selanjutnya, San Hua Sian Lie itu berkata: "Cuma, Tiancu setelah berhasil menduduki kursi
kerajaan dalam istana Kumala Putih ini, harus mempunyai kewibawaan sebagai majikan juga
harus bisa memecahkan segala kesulitan yang dialami oleh orang-orang bawahannya. Kalau kau
dapat membawa keluar kami semua dari rimba keramat yang mengarungi Istana ini, bukan saja

kami akan mengajarkan semua kepandaian yang kami punyai malah seumur hidup kami akan
menghamba kepadamu".
Baru saja San Hua sian Lie habis berkata, disana Kim Lo Han sudah membuka mulut untuk
kedua kalinya: "Lima puluh tahun berselang, ada seorang locianpwe yang masuk ke dalam istana
itu di belakang Istana itu ada sebuah istana lagi yang bernama Istana "Kong Han Kiong." Ia hanya
lihat tiga huruf "Kong Han Kiong" saja, segera sudah tidak tahan oleh dinginnya hawa yang
menghembus dari situ dan lantas keluar lagi, ketika berada di Istana yang kedua, locianpwe itu
keadaannya sudah berbahaya sekali. Oleh sebab itu maka tadi ketika Tiancu menyebut Kong Han
Kiong, aku Kim Lo Han lantas berani memastikan kalau keteranganmu itu tidak salah. Aku masih
ingat benar tentang Istana Kong Han Kiong itu, tapi aku belum pernah mengatakan kepada siapa
pun juga!"
Semua orang setelah mendengarkan keterangan Kim Lo Han, baru kelihatannya tunduk benarbenar.
Selanjutnya, Kim Houw lalu menuturkan segala apa yang pernah diketemukan dan disaksikan
dalam Istana "Kong Han Kiong" itu, akhirnya, ia membuka ikat pinggang sutra yang dapat dia
ambil dari dalam Istana itu dan diperlihatkan kepada mereka.
"Ini adalah ikat pinggang yang mungkin paling tidak berharga diantara begitu banyak barangbarang
berharga ......" demikian katanya.
"Tidak! Tiancu, kau salah terka!" kata Lao toa dari Siang Koay yang kebetulan jatuh gilirannya
untuk memeriksa benda itu, "Ikat pinggang ini, nampaknya meski tidak ada apa-apanya yang
aneh, tapi sebetulnya benda yang terbuat dari urat ular yang dinamakan Teng Coa, sejenis ular
yang cuma bisa didapatkan di dasar laut. Urat ini adanya di bagian bawah tenggorokan oleh
karena urat ular itu setiap seratus tahun cuma tumbuh satu dim, maka ikat pinggang yang terdiri
dari uratnya Teng Coa yang berusia beberapa ribu tahun tuanya ..... Oleh karena ular Teng coa itu
juga dianggap sebagai sejenis dengan naga, maka ada orang yang menamakan "Liong Kin" atau
urat naga. Tiancu jangan pandang rendah padanya, kelak jika ilmu silat Tiancu berhasil
mendapatkan kemajuan, Tiancu nanti akan tahu sendiri betapa faedahnya urat naga ini bagi
Tiancu. Tadi Tiancu mengatakan benda yang paling tidak berharga diantara begitu banyak barangbarang
berharga, sebaliknya aku akan mengatakan bahwa tumpukan barang permata, seperti
gunung tingginya juga tidak bisa menandingi harganya ikat pinggang ini."
Saat itu, ikat pinggang tersebut sudah berada di tangannya seorang Kie-su, ia adalah seorang
terkaya di daerah Koan-goa, barang permata apa saja yang ia belum pernah lihat? Tapi ketika ia
mendengar keterangannya siang Koay yang begitu pandang tinggi ikat pinggang yang terbikin dari
urat naga ini, lantas ia memeriksa dengan teliti sekali. Oleh karena saking telitinya, sampai ia
menemukan lain benda yang tadinya tidak diperhatikan oleh yang lainnya.
"Bak-tah! (nyali hitam ....) diantara kalian siapa yang pernah liat Bak-tah?" demikian ia berseru
kaget dan menanya kepada yang lainnya.
Siapa yang pernah lihat Bak-tah? Orang-orang yang ada di situ kecuali Kim Houw, hampir
semuanya adalah orang yang sudah berusia tujuh-delapan puluh tahunan, sekalipun belum
pernah melihat, tapi semuanya sudah pernah dengar. Bak-tah, adalah nyalinya ular hitam yang
dinamakan Thie-bak, ular ini langka sekali di dunia, apalagi nyalinya, hampir semua kekuatan ular
tersebut berpusat pada nyalinya. Ular Thie-bak ini sangat licin dan nekad, begitu merasa dirinya
dalam bahaya dan sukar lolos, segera ia bikin hancur nyalinya sendiri hingga binasa.
Seandainya bisa mengeluarkan nyalinya ular Thie-bak itu, kapan tertiup angin, nyali itu lantas
beku dan berubah menjadi keras laksana baja, yang tidak dapat dibelah dengan pisau, batu, golok

atau barang tajam lainnya. Khasiatnya nyali ular ini dapat menolak segala penyakit berbisa, tidak
perduli racun jenis apa saja di dalam dunia jika menggunakan nyali ular itu direndam air segelas,
dalam waktu satu jam lebih, racunnya pasti terbasmi habis.
"Apa itu nyali Bak-tah segala? Aku justru tidak percaya, coba lantas bisa ketahuan!" Kim Coa
Nio-nio tiba-tiba berseru.
Sang Kie-su meski dikejutkan oleh penemuannya tentang nyali ular Bak-tah itu, namun juga
cuma berdasarkan atas pengalaman dan pendengarannya saja, sehingga tidak mempunyai
pegangan yang pasti tentang kebenarannya. Karena tahu bahwa dalam gagang tongkatnya Kim
Coa Nio-nio itu ada tersimpan ular emas sangat berbisa, ia juga kepingin membuktikan sendiri,
maka ia lantas buru-buru serahkan ikat pinggang urat naga itu kepadanya.
Kim Coa Nio-nio menyambuti, tapi nampaknya acuh tak acuh, lantas barang itu diletakkan di
atas kepala tongkatnya, tangan kanannya membuka pesawat rahasianya, kepala tongkat kelihatan
terbuka sedikit, mulutnya Kim Coa Nio-nio kelihatan meniup-niup.
Tidak antara lama, di kepala tongkat itu tiba-tiba kelihatan muncul kepalanya seekor ular emas
sebesar jari tangan, lidahnya yang halus seperti jarum tampak bergoyang-goyang tak berhenti.
Tatkala dapat lihat nyali ular Thi-bak diujung ikat pinggang urat naga, ular itu segera melesat
keluar, badannya panjangnya cuma tujuh-delapan dim, dengan kencangnya melibat ikat pinggang
tersebut, sedang kepalanya menghadap ke arah nyali hitam itu dan lidahnya tidak berhentihentinya
menjilati, girangnya seolah-olah menemui makanan yang tak tersangka-sangka.
Menyaksikan kejadian itu, Kim Coa nio-nio terperanjat, ia buru-buru tarik kembali ular emasnya
ke dalam tongkatnya, karena ular emas itu paling suka nyalinya ular thie-bak, tapi ia juga
musuhnya yang paling berbahaya jika ular emas itu dibiarkan menjilat terus setengah jam saja, ia
segera tamat riwayatnya.
Kim Coa Nio-nio serahkan kembali ikat pinggang mujizat itu kepada Kie-su sambil anggukan
kepalanya suatu tanda bahwa benda itu memang benar nyalinya ular Thie-bak.
Dengan kesaksian Kim Coa Nio-nio ini, semua orang kembali dibikin tercengang, kecuali Kim
Houw yang tidak mengerti apa-apa, ia cuma tahu bahwa "urat naga" itu bisa digunakan untuk
senjata menjaga diri, maka ia suka padanya. Tentang khasiatnya nyali ular Thie-bak itu, ia tidak
tahu, akhirnya adalah San Hua Sian Lie yang memberitahukan padanya, ia baru mengerti apa
sebabnya semua orang itu pada merasa terheran-heran terhadap barang kecil hitam itu.
Hari sudah malam, arak yang sudah dipanasi oleh si Imam palsu dan Lui Kong juga sudah
panas, seluruh ruangan Istana Kumala Putih itu kini telah penuh dengan harumnya arak. Sekejap
saja, si Imam Palsu dan Lui Kong sudah mabok tidak ingat daratan, yang lainnya minum tidak
banyak, cuma Kim Lo Han dan Kim Houw yang tidak minum.
Malam itu, dengan diam-diam si Kacung baju merah ajak Kim Houw keluar, di tepi sungai
mereka duduk. Si kacung baju merah kembali minta Kim Houw perlihatkan ikat pinggang "urat
naga" nya.
"Ikat pinggang ini merupakan benda mustika semuanya, kalau mataku belum lamur, baru giok
persegi itu rasanya lebih berharga dari pada "urat baga" dan "nyali ular Thiebak", tunggu aku
buktikan dulu," demikian katanya, lalu menyelupkan batu giok itu ke dalam air sungai. Begitu batu
giok itu terendam di air sungai, lantas memancarkan sinarnya yang putih terang luar biasa
indahnya, sampai dasar sungai juga kelihatan terang.

"Nyata mataku masih belum lamur, Tiancu, apakah kau dapat lihat, dibalik bayangan batu giok
itu ada terdapat tulisan beberapa huruf kecil? Coba kau lihat dengan teliti... Itu huruf-huruf kecil
seperti jarum, apa kau dapat lihat?"
Kim Houw pandang dengan seksama, tulisan itu merupakan huruf-huruf kecil seperti kepala
jarum, bunyinya ternyata seperti berikut: "Langit dan bumi menetapkan permulaan, benda
menciptakan Im dan Yang, kalau otak jernih dan terang, darah dan kekuatan senantiasa
terpelihara..."
"Aaa! Aku lihat! Aku sudah lihat!" berseru Kim Houw.
Si Kacung baju merah juga merasa girang Kim Houw dapat lihat huruf-huruf itu.
"Bagus kau sudah lihat huruf-huruf itu, kau harus bisa ingat baik-baik dan hapalkan sampai
matang." demikian pesannya.
Buat soal lain, mungkin Kim Houw masih ragu-ragu tapi tentang menghapalkan tulisan,
baginya sangat mudah sekali, beberapa puluh huruf itu sekejapan sudah masuk semua diotaknya.
Si Kacung baju merah serahkan kembali ikat pinggang mujizat itu kepada Kim Houw.
"Sepanjang apa yang aku tahu, batu giok ini namanya Han Bun Giok dan beberapa puluh
huruf kecil itu ada mengandung pengertian tentang ilmu tenaga dalam yang luar biasa tingginya,
namanya Han Bun Ciaw-khi. Aku tanggung dalam waktu tiga tahun ilmu tenaga dalammu Han Bun
Ciaw-khi dapat menandingi separuh dari orang-orang yang ada di dalam Istana ini. Untuk
membalas budimu yang menolong jiwaku tempo hari, aku akan ajarkan ilmu itu kepadamu, asal
kau belajar dengan betul. Cuma kau harus melatih terus, tidak boleh berhenti," kata si Kacung baju
merah, dan kemudian menjelaskan bagaimana caranya mempelajari ilmu tenaga dalam yang
dimaksudkan itu.
Selanjutnya, ia mengajarkan Kim Houw caranya bersemedi, dengan tidak bosan-bosannya ia
memberi petunjuk sampai dibagian sekecil-kecilnya.
Akhirnya, si Kacung baju merah itu berkata: "Sungguh kebetulan adalah kau yang mempelajari
Ilmu Han Bun Ciaw-khi ini, sebab kalau orang tidak mempunyai kekuatan untuk menahan hawa
dingin, sekalipun hendak belajar juga tidak mungkin bisa. Sejak hari ini, paling baik setiap pagi dan
sore kau pergi kebagian belakang dari Istana Kumala Putih ini, kau harus mencari tempat yang
paling dingin hawanya, duduk dan memilih ilmumu menurut petunjukku, hasilnya akan berlipat
ganda."
Sehabis berkata, si Kacung baju merah itu berlalu meninggalkan Kim Houw sendiri di tepi
sungai.
Kim Houw mencoba sendiri rendam batu gioknya ke dalam air, tapi kali ini ternyata sudah tidak
memancarkan sinarnya lagi, begitu pula hurufnya tidak kelihatan sama sekali, hingga Kim Houw
diam-diam merasa heran.
Ia tidak tahu bahwa batu giok tadi dapat mengeluarkan sinar terang, adalah di Kacung baju
merah yang menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, untuk memaksa batu giok itu
memancarkan sinar.
Si Kacung baju merah dimasa anak-anak pernah mendengar penuturan dari sucounya, hingga
ia mengerti rahasianya supaya batu giok itu dapat memancarkan sinarnya. Kalau bukan karena

kebetulan si Kacung baju merah mengerti rahasianya itu, ilmu Han Bun Ciaw-khi mungkin akan
lenyap dari muka bumi untuk selama-lamanya.
Perbuatan Kim Houw tadi hanya ketarik oleh pikiran yang kepingin tahu saja, setelah
mengetahui bahwa batu giok itu sudah tidak bisa memancarkan sinarnya lagi, ia lantas simpan
kembali. Ia bersyukur karena beberapa huruf kecil yang terdapat dalam batu giok itu sudah
dihafalkan seluruhnya.
Tepat pada saat itu, di belakangnya terdengar suara berkeresekan, Kim Houw menoleh, ia
melihat orang hutan kecil yang beberapa hari lalu pernah ia tolong jiwanya, tengah menggapaigapaikan
tangan ke arahnya. Ia lalu menghampiri, selagi hendak menanya apa yang telah terjadi,
orang hutan kecil itu agaknya sudah tidak sabaran, dengan agak gelisah ia menarik tangan Kim
Houw diajak masuk ke dalam rimba.
Kim Houw dibikin bingung oleh kelakuan orang hutan kecil itu, tapi menampak sikapnya yang
begitu gelisah ia membiarkan dirinya dituntun.
Kim Houw diajak berputar-putar didalam rimba, sampai kepalanya merasa pusing, tapi
binatang kecil itu masih belum mau berhenti.
Berjalan kira-kira setengah jam lagi, tiba-tiba Kim Houw melihat orang hutan betina itu rebah di
bawah sebuah pohon besar. Wajahnya pucat, napasnya memburu, sekujur badannya gemetaran,
ia kaget, lantas menghampiri.
Kim Houw yang tidak mengerti apa-apa, mana bisa memberikan pertolongan? Ia cuma dapat
lihat kedua matanya binatang itu membelalak, oleh karena tidak bisa bicara, ditanya pun percuma.
Selagi kebingungan, ia lihat matanya orang hutan betina itu mengawasi ikat pinggang mujijat di
pinggangnya, Kim Houw segera mengerti apa maksudnya. Buru-buru ia membuka ikat
pinggangnya, orang hutan betina itu matanya dialihkan kepada orang hutan kecil, gerakan mana
dapat dimengerti oleh Kim Houw segera ia menyerahkan ikat pinggangnya kepada anak orang
hutan itu.
Si kecil setelah menyambuti ikat pinggangnya Kim Houw, di bawah ibunya, akhirnya berhasil
memasukkan nyali ular Thio-bak yang ada di ujung ikat pinggang ke dalam mulut ibunya.
Nyali ular itu begitu masuk ke dalam mulut, binatang itu segera pejamkan kedua matanya,
cuma sekejap saja, napasnya sudah mulai kelihatan reda, liwat lagi sejenak, badannya tidak
gemetaran lagi! Kini Kim Houw baru mengerti bahwa orang hutan itu pasti terkena racun jahat.
Binatang itu tiba-tiba lompat bangun dengan kedua tangannya ia letakkan ikat pinggang itu
diatas kepalanya, lalu berlutut di depan Kim Houw sambil cecuitan, Kim Houw membimbing
bangun padanya, tapi mana bisa bergerak?
Kim Houw anggap binatang itu tentunya merasa berterima kasih kepada ikat pinggangnya
yang mujijat itu, tapi ia juga heran, bagaimana binatang itu bisa tahu kalau Bak-tha bisa
menghilangkan racun?
"Apakah kau terkena racun?" tanya Kim Houw sambil ambil ikat pinggangnya.
Orang hutan itu berbangkit dan ajak Kim Houw ke satu lembah yang curam, di sana terdapat
sebuah goa, di mulutnya goa itu penuh kabut asap, hingga tidak bisa dilihat bagaimana keadaan
dalam goa itu.

Kim Houw diajak menuju ke goa tersebut tapi masih terpisah masih sejauh tak kira-kira berapa
tumbak jauhnya, orang hutan itu tidak berani maju lagi, cuma menuding mulut goa sambil cecuitan.
Kim Houw ternyata bernyali besar, tanpa pikir panjang lagi lantas masuk dengan sendirian.
Terpisah dari mulut goa kira-kira dua tumbak jauhnya, tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget,
dari atas melayang turun sesosok bayangan orang yang merintangi majunya Kim Houw, orang itu
ternyata Kim Coa Nio-nio.
"Tiancu lekas mundur," kata Kim Coa Nio-nio dengan paras kuatir. "Dalam goa ini ada
binatang kalajengking besar yang sangat berbisa, orang hutan itu baru kena hawa racunnya saja
sudah hampir binasa. Kalau saja terkena diantuk, Bak-cha Tiancu meski adalah barang mustika
yang bisa memusnahkan segala macam racun, mungkin juga sudah tidak keburu menolong.
Sudah banyak tahun aku belum berhasil menyingkirkan binatang berbisa itu."
Kim Coa Nio-nio yang Kim Houw kenal sebagai seorang yang sudah bisa main-main dengan
ular beracun, dan toh masih kelihatan begitu takut, dalam hati mengerti kalau dalam goa itu benarbenar
ada binatang sangat beracun, maka lantas hendak balik mencari orang hutan tadi, tapi si
orang hutan bersama anaknya melihat Kim Coa Nio-nio sudah lari jauh-jauh.
Dengan sangat hati-hati Kim Coa Nio-nio melindungi Kim Houw, matanya memandang ke arah
goa yang dipenuhi kabut tebal, lewat sejenak, ia baru berkata kepada Kim Houw: "Tiancu, menurut
yang aku tahu, binatang kalajengking itu masih belum jadi, barangkali masih memerlukan waktu
beberapa puluh tahun lagi, baru berani berbuat jahat. Tapi dalam goa yang didiami oleh binatang
berbisa itu, pasti ada benda mustikanya yang luar biasa, kalau tidak, tidak nantinya binatang itu
memilih tempat yang berada di lembah curam ini."
Melihat Kim Coa Nio-nio berkata begitu sungguh-sungguh, Kim Houw lalu menjawab sambil
tertawa: "Kim Coa Nio-nio, di istana Kong Han Kiong, benda mustika ada bertumpuk-tumpuk
seperti gunung, segala barang permata, mutiara luar biasa menakjubkan dan tidak ternilai
harganya. Kau inginkan apa? Sembarang waktu aku bisa bawa kau kesana, barangkali apa yang
kau dapat sebutkan namanya, di sana juga ada."
Kim Coa Nio-nio tahu kalau Kim Houw salah faham.
"Kau karena usiamu masih kelewat muda, pengalamanmu dalam dunia Kang-ouw masih
kurang. Benda mustika yang kau katakan tadi bagi kita orang yang mempunyai kepandaian ilmu
silat sama sekali tidak dipandang dimata. Mustika yang ku maksudkan, adalah barang mustika
yang diciptakan oleh kekuatan hawanya alam. Untuk orang-orang yang meyakinkan ilmu silat,
barang mustika itu ada banyak faedahnya. Binatang kalajengking menunggu barang pusaka dari
alam itu bukan tidak ada maksudnya, karena kalau barang mustika itu sudah "matang" betul-betul,
ditelan olehnya bisa menambah kecepatannya supaya lekas "jadi" dan lalu keluar untuk
mengganas. Cuma kita masih belum tahu benda mustika apa sebetulnya yang ada didalam goa
itu? Jika dilihat kabut tebal dimulut goa yang selama beberapa hari ini tertampak nyata, orang
hutan itu mungkin juga tahu, maka ia ingin menyerbu ke dalam goa untuk merampas, sayang tidak
berhasil, bahkan dirinya sendiri yang terluka kena racun."
Baru pertama kali ini Kim Houw mendengar namanya barang mustika dari alam, ia tak tahu
apa artinya barang demikian. Ia tidak menanyakan lebih jauh, bersama Kim Coa Nio-nio ia balik ke
dalam istana.
Mereka berdua baru berjalan beberapa tindak dari pintu istana mendadak terdengar suara
saling bentak amat riuh. Kadang-kadang diselingi dengan suara beradunya senjata tajam.
sehingga mereka terkejut.

Kim Coa Nio-nio tahu bahwa Kim Houw tak mengerti ilmu mengentengkan tubuh, maka ia
lantas kempit sang bocah dan dibawa kabur laksana terbang. Sebentar saja mereka sudah sampai
di dalam istana.
Pada saat itu, di depan pintu istana ada tiga pasang orang sedang bertempur. Satu pemuda
seperti anak sekolah yang berwajah putih bersih, berusia kira-kira delapan belas tahun, wajahnya
mirip dengan Kim Houw, tangannya memegang sebilah pedang yang diperlengkapi dengan
gaetan, sedang bertempur sengit dengan To Pa Thian. Sikapnya tenang, gerakannya cepat
bagaikan mengalirnya air dan jalannya awan.
Orang kedua adalah satu lelaki berbadan pendek kate, berusia kira-kira empat puluh tahun
lebih. Meski orangnya pendek kate, tapi potongannya rapi, ia tengah bertanding dengan Lie Cit
Nio.
Pasangan ketiga yang mengejutkan dan mendebarkan hati Kim Houw, apa sebabnya? Kiranya
orang itu adalah Ciok Goan Hong, jenggotnya yang putih dengan baju panjangnya yang berwarna
putih pula tengah beterbangan, tampak matanya melotot, wajahnya merah padam, agaknya
sedang kalap.
Ternyata tandingan Ciok Goan Hong ini adalah si Imam palsu, yang lakunya seperti orang
setengah gila. Caranya berkelahi tidak mirip dengan orang tengah berkelahi, tapi lebih pantas
kalau dikatakan sedang mempermainkan lawannya, sampai Ciok Goan Hong merasakan dadanya
seperti mau meledak.
"Imam busuk, kepandaian tanganmu aku orang tua sudah mengenal baik, sekarang kita adu
senjata tajam untuk menentukan siapa yang lebih unggul!" tiba-tiba Ciok Goan Hong berseru dan
segera menghunus pedangnya.
Si Imam palsu menampak Ciok Goan Hong mendadak menghunus pedangnya dan menantang
itu pedang, lantas menyahut dengan ejekannya: "Imam palsu seumur hidupnya belum pernah
menggunakan senjata tajam, dengan senjata apa aku dapat bertanding dengan kau?"
Ia tundukkan kepala seperti sedang berpikir keras, tapi juga seperti tengah mencari senjata
apa yang cocok untuk dipakai.
Tiba-tiba menampak Kim Coa Nio-nio berdiri disamping dengan Kim Houw, ikat pinggang Kim
Houw tengah mengeluarkan sinar dan benda itu telah menarik perhatiannya.
"Baiklah! Imam palsu sekarang hendak menggunakan ikat pinggangnya saja, untuk main-main
dengan kau bocah cilik yang baru datang ke istana ini!" demikian katanya sembari membuka ikat
pinggangnya.
Jilid 03
CIOK GOAN HONG, adalah seorang tua yang sudah berusia lima puluh empat tahun, tapi
telah dipanggil bocah cilik oleh Imam palsu benar-benar keterlaluan. Tidak heran kalau Ciok Goan
Hong kalap, lantas berseru keras, ia membabat dengan pedangnya.
Si Imam palsu geser sedikit badannya, sudah berhasil menyingkirkan serangan lawan. Baru
saja ia hendak menggunakan ikat pinggangnya untuk melibat pedang lawannya, tiba-tiba
dirasakan sangat ringan sekali, karena ikat pinggang yang nampaknya masih utuh itu, sebenarnya
sudah lapuk, tidak tahan diayun oleh si Imam palsu dengan kekuatan tenaga dalamnya yang
begitu hebat. Ikat pinggang itu kecuali bagian yang dipegang olehnya, yang lainnya sudah hancur
beterbangan di udara.

Si Imam palsu ketawa terpingkal-pingkal sedang Ciok Goan Hong tampak menjadi terkesima.
Ia tidak tahu kalau ikat pinggangnya si Imam palsu sudah rapuh dianggapnya orang sengaja
hendak menunjukkan kekuatan tenaga dalamnya, supaya ia tahu gelagat dan mundur teratur.
Sesungguhnya orang she Ciok juga terkejut, karena barang yang lemas seperti ikat pinggang dari
kain itu tidak gampang patah apalagi hancur berkeping-keping itu, jika orang yang
menggunakannya tidak mempunyai kekuatan tenaga dalam yang luar biasa. Ia yakin dirinya
sendiri tidak mempunyai lwekang semacam itu.
Belum hilang kagetnya, mendadak ada angin kuat menyambar ke arah dadanya. Dalam
kagetnya, ia lalu menangkis dengan pedangnya, suara "Trang" terdengar nyaring, tangan Ciok
Goan Hong merasa kesemutan, pedangnya hampir terbang ke udara.
Disamping tercengang, Ciok Goan Hong merasakan lengan kanannya sakit, pedangnya lantas
terlepas dari tangannya. Tapi belum sampai senjata itu tiba di tanah, lengan kiri Ciok Goan Hong
tiba-tiba kelihatan sedikit memutar, untuk menyambuti pedangnya yang terlepas dari cekalan
tangan kanannya. Ia memandang ke sekitarnya dengan sorot mata gusar, untuk mencari tahu
siapa orangnya yang membokongnya.
Ketika matanya melihat Kim Houw sedang berdiri di sisi seorang nenek yang tangannya
memegang satu tongkat berkepala ular, kembali dia dibikin heran, diam-diam berpikir: bocah ini
ternyata belum binasa!
Dengan tiba-tiba Ciok Goan Hong gerakkan badannya, melompat ke depan Kim Hoow.
"Kim Houw! Apa kau masih kenali aku?" bentak Ciok Goan Hong.
"Paman Ciok!" Kim Houw memberi hormat. "Houw-ji selamanya tidak akan melupakan budi
kebaikan keluarga Ciok terhadap diri Houw-ji!"
"Kau kata tidak melupakan budi kebaikan keluarga Ciok, hmm! Mengapa kau menganjuri Touw
Peng Peng berlaku kurang ajar kepada anakku?"
Kegagalan Ciok Goan Hong, bagi Kim Houw dahulu sudah merupakan soal biasa. Tapi kali ini
adalah lain, Meski ia masih merasakan sedikit takut, tapi ia yang dilahirkan dengan sifat tidak kenal
takut, maka berontaklah hatinya.
"Paman Ciok, mengapa paman menuduhku secara membabi buta?" ia menambah.
"Baik! Sekarang aku tanya padamu, tahukah bahwa Touw Peng Peng itu adalah bakal
menantuku?"
"Hal ini aku tidak tahu!" Kim Houw agak terkejut.
"Apa? Kau berani mengatakan tidak tahu?" geramnya. "Kalau begitu kau memang sengaja
hendak pungkiri dan tidak mau mengakui dosamu! Betul tidak?"
Melihat Ciok Goan Hong menuduh secara sewenang-wenang, Kim Houw mulai gusar, tapi
tidak berani umbar kemarahannya.
"Paman Ciok, Ciok yaya dimasa hidupnya telah perlakukan aku begitu baik, budinya bagiku
adalah seperti lautan dalamnya, bagaimana aku berani membohongi kau."
"Oleh karena kau sudah berbuat salah, sudah tentu tidak berani akui kalau kau tahu. Sekarang
aku hendak tanya lagi, apakah menganjurkan Peng Peng mencuri baju wasiat keluarga Ciok yang
dinamakan Hay-si-kua!? coba, kau jawab!"

Mendengar pertanyaan itu, Kim Houw kagetnya bukan main.
"Hal ini aku lebih tidak tahu, bagaimana aku bisa berbuat yang begitu rendah?" jawabnya.
Ciok Goan Hong gusar bukan main, ia ulur tangannya hendak mencengkeram kepala Kim
Houw.
"Binatang, semua kau tidak mau mengakui, lihat aku nanti bikin mampus kau!" bentaknya.
Mendadak berkelebat bayangan tongkat dan Kim Coa Nio-nio sudah menghadang di depan
Kim Houw.
"Kau siapa? Berani berlaku banyak lagak di dalam Istana Kumala Putih? Melihat gerakanmu,
kau bukan orang dari golongan sembarangan, apakah kau tidak tahu di sini ada istana yang
berada di dalam rimba keramat?" Kim Coa Nio-nio menegur dengan pedas.
Ciok Goan Hong ketika menyaksikan tongkat si nenek melintang di depannya, ia merasakan
seolah-olah ada kekuatan tenaga yang tersembunyi, mendorong mundur padanya. Bukan main
terkejutnya, segera menginsyafi bahwa nenek di depan matanya itu mempunyai kekuatan tenaga
dalam yang tidak dapat dijajaki.
"Bocah cilik ini telah mencuri barang wasiat keturunan kami, sudah sewajarnya kalau aku
minta kembali kepadanya!" kata Ciok Goan Hong.
"Menangkap maling harus ada buktinya, kau bisa membuktikan?" Kau tidak boleh menuduh
orang secara sembarangan!" Kim Coa Nio-nio tertawa mengejek.
"Aku adalah seorang yang mempunyai kedudukan tinggi di rimba persilatan, kalau tidak
percaya aku boleh geledah badannya, bakal menantu sendiri yang mengatakan, apa masih salah?
Ciok Goan Hong gusar.
Mendengar jawaban itu Kim Houw terperanjat. Kalau benar-benar Touw Peng Peng yang
mengatakan, mungkin baju kaus yang diberikan Touw Peng Peng itu adalah benda wasiat
keluarga Ciok. Sebagai seorang yang tidak mengerti bahayanya dunia Kang-ouw, ia buru-buru
membuka baju luarnya yang sudah rombeng, hingga kelihatan baju kausnya.
"Paman Ciok, apa yang kau katakan baju wasiat itu adalah baju kaus ini?" ia menanya seraya
memperlihatkan kaus yang dipakainya.
Melihat baju wasiat itu, Ciok Goan Hong lantas ketawa terbahak-bahak.
"Bagus ! Sekarang orang dan barang buktinya sudah ditemukan, apa kau masih mau mungkir?
katanya.
Mendengar itu, Kim Houw tidak merasa ragu lagi. Ia buru-buru membuka baju luarnya sembari
membuka mulutnya terus mendumel, "Aku tidak tahu baju kaus ini adalah wasiat keluarga Ciok.
Kalau benar kepunyaan paman, sekarang aku kembalikan padamu, tapi perlu aku jelaskan, bahwa
baju ini adalah pemberian Touw Peng Peng, bukan aku yang mencuri, dan aku juga tidak
menyuruh nona Peng Peng berbuat kejahatan semacam ini."
Kim Coa Nio-nio dan semua yang berada di situ, tidak nyana Kim Houw ada begitu jujur, maka
dalam hati pada merasa cemas. Seketika itu mereka tidak mendapat suatu pikiran yang baik untuk
memecahkan soal tersebut, tapi kini mereka baru tahu bahwa Kim Houw tidak mempan senjata

tajam atau senjata rahasia, kiranya adalah menggunakan baju wasiat itu yang melindungi
badannya.
Pada saat itu Kim Houw sudah membuka baju luarnya. Selagi hendak membuka baju kausnya,
pundaknya tiba-tiba dirasakan seperti ditekan orang dengan kekuatan tenaga yang luar biasa
besarnya, Kim Houw tidak mampu mempertahankan, sehingga duduk numprah di lantai.
Pundaknya tidak sakit, tapi pantatnya yang dirasakan nyeri, ia menoleh dengan mata melotot.
Ternyata orang yang menekan dirinya itu si pemuda sekolahan yang wajahnya mirip benar dengan
dirinya sendiri, siapa telah mengawasi padanya dengan senyumnya yang sangat simpatik, oleh
karenanya maka amarahnya Kim Houw lenyap seketika.
"Adik kecil, siapa namamu ? Kau berasal dari mana?" tanya si pemuda anak sekolahan
sembari membimbing bangun Kim Houw.
Anak muda sekolahan itu meski pernah membuat dirinya jatuh terduduk sampai pantatnya
sakit, tapi karena sikapnya ramah dan manis budi bahasanya, bagi telinganya pertanyaan itu
sungguh enak sekali. Selama beberapa hari ini, tidak pernah ada orang yang menanyakan dirinya
begitu manis didengarnya, maka ia lantas menjawab dengan gembira: "Siaote bernama Kim
Houw, tapi menyesal tak dapat menjelaskan asal usulku sendiri."
Pemuda sekolahan itu wajahnya menunjukkan sedikit perobahan, pada saat mana kembali
terdengar suaranya Ciok Goan Hong: "Pek Siaohiap, dalam hal ini untuk sementara harap kau
jangan turut campur tangan ...."
Pemuda sekolahan itu begitu cepat pula pulihnya, mendengar ucapan Ciok Goan hong lantas
tersenyum
"Ciok Taihiap," katanya, "kau sudah lupa? Sebelum kita masuk ke istana ini, kita bertiga
pernah bertanding untuk mengambil suatu keputusan, siapa yang kalah harus dengar kata atau
turut perintah yang menang! Aku yang rendah memenangkan sejurus dari taihiap, apa sekarang
kau hendak mungkir janji? Aku minta kau lepaskan urusan ini untuk sementara, sudikah kau ?"
"Ini urusan pribadiku. Pek Siaohiap ...." belum habis ucapan Ciok Goan Hong, anak muda itu
kelihatannya tidak senang. Ciok Goan Hong segera mundur setengah tindak, agaknya jeri benar
terhadap anak muda itu.
Orang-orang yang berada disitu merasa heran menyaksikan kejadian tersebut. Ciok Goan
Hong yang kelihatannya begitu garang, mengapa begitu takut dan hormat sekali terhadap anak
muda yang masih ingusan? Mereka segera menduga bahwa anak muda itu tentu mempunyai
kepandaian lebih atas daripada Ciok Goan Hong.
Mendadak Kim Houw lolos dari bawah tangannya si anak muda. Ia maju bertindak dua langkah
dan berkata: "Siapa kepingin segala baju wasiatmu, ini kukembalikan padamu !"
Kembali ia hendak membuka baju kausnya, tapi si anak muda sekolahan itu kembali menepuk
pundaknya dan berkata: "adik kecil jangan perdulikan dia, lekas pakai baju luarmu."
"Aaa-ya ! Bwee So-so, kau juga ada di sini? Bagaimana Bwee toako ? Banyak tahun kita tidak
bertemu, apa ia ada baik?" tiba-tiba terdengar suaranya Ciok Goan Hong.
Ditegur secara mendadak oleh Ciok Goan hong, san Hua Sian Lie matanya lantas merah,
hampir saja mengeluarkan air mata.
"Terima kasih atas perhatian Coiok toako ... dia ... dia ... aku tidak tahu dia ada dimana?"
jawabnya terputus-putus.

"Bagaimana sih ? Apa Bwee toako, tidak bersama-sama dengan kau? Kalau begitu kemana
dia larinya ?" tiba-tiba matanya berputaran, "Bwee soso, itu keponakan perempuanku si Bwee
Peng, aaa... kalau aku katakan sungguh mengenaskan."
Mendengar ucapannya itu san Hua Sian Lie semakin sedih kelihatannya.
"Sedikit banyak aku sudah mengetahui, itu adalah ia sendiri bernasib buruk !" kata San Hua
Sian Lie sembari menangis.
"Bwee soso, aku tidak tahu harus kukatakan atau tidak, cuma biar bagaimana akhirnya kau toh
harus tahu juga. Anak cantik seperti bidadari itu, sebetulnya terlalu kasihan ..... " kata Ciok Goan
Hong sambil melirik Kim Houw.
Kim Houw mengerti bahwa ucapan Ciok Goan hong itu ada udang dibalik batu. Dalam hati
merasa cemas. Meski ia dengan Bwee Peng tahun ini baru sama-sama berusia lima belas tahun,
tapi Bwee Peng agaknya lebih besar, nampaknya sudah seperti gadis dewasa, seperti kembang
yang lagi mekar. Mereka berdua kenal sejak masih kanak-kanak, maka masih sayangnya boleh
dikata sudah dipupuk sejak masih kanak-kanak itu.
Paman Ciok, maksudmu apa hendak mengatakan bahwa telah terjadi apa-apa dengan adik
Peng ?" Kim Houw menanya.
"Hm, kau bocah ini kembali hendak berlagak tolol. Perbuatan yang kau lakukan sendiri,
apakah masih tidak tahu ? Dalam usia begini muda, sungguh pintar kau main gila !?" kata Ciok
Goan hong melototkan matanya.
Jawaban itu membuat Kim Houw melongo.
San Hua Sian Lie hatinya makin gelisah, air matanya mengalir semakin deras.
"Ciok toako, apa sebetulnya yang telah terjadi? Coba ceritakan padaku." katanya.
Ciok Goan Hong pura-pura berpikir lama, baru menjawab : "Aku tahu bocah ini tidak berani
cerita terus terang padamu, kau tahu apa sebabnya ia lari masuk ke dalam Istana Kumala Putih ini
? Bocah ini seharusnya dicincang, baru dapat melampiaskan sakit hatiku !"
San Hua Sian Lie nampak semakin tidak mengerti omongan Ciok Goan hong.
"Dia kata kau hendak mengejar dan membunuhnya sehingga dia masuk ke istana ini !" kata
San Hua Sian Lie.
"Memang tidak salah ! Adalah aku yang suruh orang membunuh mati padanya, tapi tahukah
kau apa sebabnya ?" kata Ciok Goan Hong, matanya menyapu ke arah semua orang. Ia lihat
semua tengah mendengarkan ocehannya, tidak terkecuali Kim Houw.
Ia tahu bahwa ia sudah berhasil mempengaruhi perhatian semua orang, maka pura-pura
batuk-batuk, wajahnya menunjukkan rasa sedih dan berkata pula sambil menuding Kim Houw: "Itu
hari, keponakanku Bwee Peng sedang bermain di taman belakang, bocah ini juga tinggal di taman
belakang, entah dengan akal apa, ia telah berhasil memancing Bwee Peng ke dalam kamarnya.
Kalau aku sedang di atas loteng aku dapat lihat mereka dengan tegas, tadinya aku anggap
mereka toh masih anak-anak, tidak nanti berani berbuat yang tidak senonoh, maka tidak begitu
ambil perhatian. Siapa nyana, sampai gelap aku dengar suara tangis yang memilukan, ketika aku
melongok ke bawah kebetulan kulihat Bwe Peng keluar dari kamarnya bocah ini sembari

menangis sesenggukan nampaknya ia hendak pulang ke rumahnya. Sampai saat itu aku masih
belum tahu atau terpikir persoalannya yang begitu hebat. Pada keesokan harinya, aku telah
dikabarkan bahwa Bwe Peng telah membunuh diri sendiri, aku kaget, segera mengunjungi
rumahnya, aku lihat Bwe Peng benar-benar sudah binasa dengan jalan menggantung diri...."
Kim Houw menggigil mendengar Ciok Goan mengarang cerita bohong.
"Kau bohong, kau dusta, Peng moay tidak mati, tidak mati...." ia menjerit-jerit seperti kalap.
Baru saja ia menerjang, tiba-tiba ditarik oleh pemuda she Pek itu dan di ajak duduk di lantai.
"Adik Hong, kau tenang dulu," katanya membujuk. "Jangan bikin ribut, tunggu dia bicara habis
dulu, baru bertindak !".
Ciong Goan memperdengarkan suara ketawa mengejek.
"Hm ! Buat apa aku membohong ? Hanya orang bersalah saja merasa ketakutan. Kau bocah
telah mengeram satu hari anak gadis orang, apakah itu betul coba kau jawab!".
"Betul aku pernah berduaan" jawab Kim Houw dengan keras, "tetapi bukan berarti......"
"Nah, ini kau sendiri mengaku! Aku toh tidak omong kosong bukan?. Kedua , aku lihat dia
menangis, sesudah petang hari ini baru meninggalkan kamarmu ini juga bukan bohong bukan?"
Ciok Goan Hong tidak menantikan Kim Houw bicara habis ia potong-potong serta menghujani
pertanyaan. Kim Houw seorang jujur, tidak mengerti apa artinya licik, ia tampak menganggukanggukkan
kepalannya.
"Itu juga ada, cuma oleh karena aku...."
Ciong Giok Hong bergelak-gelak kembali memberikan waktu buat Kim Houw membela diri.
"Kau sudah mengaku semuanya, apa masih mau mengatakan aku orang omong kosong?
Esok harinya ketika kematian Bwe Peng tersiar, ternyata disebabkan karena diperkosa
kehormatannya olehmu, bagaimana susah aku tidak gusar dan ingin segera bunuh mati padamu !
Mana aku bisa membiarkan orang rendah macam kau berdiam di rumahku lebih lama lagi?"
Ciok Goan Hong nampaknya begitu napsu, agaknya yang diceritakan seperti terjadi
sesungguhnya, sehingga semua tokoh-tokoh rimba persilatan itu mulai percaya dan pada
mengawasi Kim Houw dengan mata tidak puas.
Tiba-tiba terdengar suara geramnya Kim Houw yang melompat dari duduknya sembari
membentak dengan suara keras : "Kau bohong kau memfitnah orang, kau....kau..."
"Blug !" kepalan San Hua Sie Lie bersarang di badan Kim Houw, hingga bocah cilik itu
terlempar satu tombak lebih jauhnya. Untung badannya memakai baju wasiat, meski kena di hajar,
tidak terluka. Ia juga tidak bermaksud melarikan diri, maka begitu bangun lantas menyeruduk lagi
kepada Ciok Goan Hong. Ciok Goan Hong tetap berdiri dengan tenang, wajahnya menunjukkan
sipat kekejaman dan kelicikannya.
"Buk !" kali ini kakinya San Hoa Sian Lie yang menendang, kembali Kim Houw dibikin
jumpalitan seperti orang yang sedang main akrobat. jatuh berat, tetapi Kim Houw dengan
menahan rasa sakitnya, coba merangkak bangun lagi.

"Bila Bwek , kau bunuh aku saja ! Aku tidak nanti takut mati......!"
Perkataan "mati" baru saja keluar dari mulutnya tiba-tiba ia ingat perkataan Touw Peng Peng:
"kematian ada yang di pandang enteng seperti bulu ayam, tetapi ada yang dipandang serta
gunung Thaysan, sekali-kali jangan mengandalkan atau mengumbar keberanianmu....." begitu
ingat dia lantas angkat kaki dan kabur.
Tapi, ia tidak pernah belajar ilmu lari cepat. Di hadapan para tokoh rimba persilatan begitu
banyak bagaimana ia bisa lolos ? Belum berapa tindak pantatnya kembali kena tendang. Kali ini
ternyata berat sekali, sampai badannya meluncur ke dalam rimba. Diwaktu jatuh, sekujur
badannya dirasakan sakit, kepalanya pusing, matanya gelap dan akhirnya tidak ingat apa-apa lagi
Dikala mendusin, ia dapatkan dirinya tidur di dalam sebuah goa yang gelap. Tetapi Kim Houw
masih bisa membedakan keadaan di situ, hanya belum bisa bangun karena saking keras jatuhnya
tadi, otot-otot dan tulang pada sakit. Kalau ingat perkataan Ciok Goan Hong darahnya mendidih,
tetapi sekarang apa daya ? Ia sendiri sedikitpun tidak mengerti ilmu silat !
Mengingat akan Bwe Peng, hatinya tiba-tiba merasa sedih, ia menjerit dan katannya pada diri
sendiri : "Peng-moay, benarkah kau sudah mati ? Itu paman Ciok yang terkutuk, ia mungkin
menjumpai kau ! Kau toh pernah mengatakan sendiri bahwa kau hendak menunggu sampai aku
kembali.....!"
Belum puas ia mengoceh sendiri, dari luar goa tampak dua bayangan, satu tinggi dan satu
pendek. Ketika Kim Houw menegasi ternyata adalah orang utan betina ada membawa buahan dan
waktu ia lihat Kim Houw sudah mendusin, lantas letakkan buah-buahannya dan berlutut di
depannya, kemudian bersoja sampai dua kali. Kim Houw diam-diam merasa heran. Pikirnya tempo
hari kau bersoja kepadaku, karena aku menolong jiwaku, mengapa kau menjura kepadaku?
"Mengapa kau bersoja kepadaku?" demikian ia menanyanya.
Orang hutan itu menunjuk ikat pinggang "urat naga" di pinggangnya Kim Houw sambil
bercuitan.
Kim Houw mengerti bahwa yang di sujuti tadi ternyata ikat pinggang "urat naga" bekas
kepunyaan majikan yang lama.
Selanjutnya orang hutan itu lantas menyerahkan buah-buahan kepada Kim Houw.
Menyaksikan buah-buahan yang merah dan hijau segar itu, Kim Houw melupakan rasa sakitnya
hendak mengambil, tetapi baru saja mengangkat tangannya, lantas dirasakan amat sakit sehingga
ia menjerit.
Orang hutan itu menampak Kim Houw menjerit hebat lalu lari keluar. Tidak lama balik sembari
membawa biji buah merah sebesar lengkeng dan lantas dimasukkan ke dalam mulut, tanpa
dikunyah sudah lantas masuk ke dalam perut, rasanya harum segar manis.
"Ini buah apa, mengapa rasanya begini enak?" tanya Kim Houw girang.
Sehabis menanya, ia merasa geli sendiri, bagaimana seekor binatang yang tidak bicara harus
menjawab pertanyaan?
Tapi, rasa ingin makan lagi membuat ia berkata pula : "Buah ini enak sekali apa kau bisa
ambilkan lagi untuk beberapa biji saja?"
Orang hutan itu mula-mula agak keberatan dan gelengkan kepalanya, tetapi kemudian
mengangguk, sambil menggandeng tangan orang hutan kecil ia lantas keluar dari goa.

Kim Houw menampak orang hutan itu menerima baik perintahnya, dianggapnya, akan segera
balik kembali. Tidak nyana lama ia menunggu belum juga kelihatan mereka kembali, tiba-tiba ia
lantas mengantuk dan lantas tidur pulas.
Waktu ia mendusin lagi, dalam goa itu berubah terang. Kini ia tahu bahwa goa itu sebenarnya
tidak gelap, hanya diwaktu ia datang justru diwaktu malam. Ia melihat orang hutan dan anaknya
telah berlutut di sampingnya, tidak berkutik barang sedikit.
"Apa artinya ini?" tanya Kim Houw.
Wajah orang hutan nampak muram, kepalanya digoyang-goyangkan, Kim Houw tiba-tiba ingat
kalau semalam mereka disuruh menceritakan buah lagi, rupanya tak berhasil, maka mereka
berlaku demikian, takut dipersalahkan.
"Apakah tidak berhasil mendapatkan buah kecil lagi? itu toh bukan soal apa-apa bangunlah!
Aku tak akan salahkan kau !" kata Kim Houw.
Tanpa disengaja, ia kibaskan tangannya, heran semua rasa sakitnya mendadak hilang, Kim
Houw girang bukan main dan lantas duduk, ternyata rasa sakitnya sudah lenyap semua. Diamdiam
ia berpikir: mungkin ini adalah khasiatnya buah merah kecil itu, pantas susah dicari.
Kim Houw kini dapat kenyataan bahwa goa itu keadaannya sangat luas. Ada beberapa bagian
yang terbikin oleh tangan manusia, ia mulai memeriksa dengan teliti. Tiba-tiba ia menemukan di
salah satu dinding yang licin, ada terukir sebuah peta yang tidak utuh dengan di tengah-tengahnya
terdapat garisan pecahan.
Garisan pecahan itu mendadak terbuka, lalu kelihatan sebuah pintu sempit mengeluarkan bau
harum. Kim Houw dalam hati merasa heran dan menanya bagaimana membukanya pintu itu.
Tatkala menoleh, ia dapatkan orang hutan itu tangannya baru saja melepaskan satu gelang
besi. Ia menduga bahwa gelang besi itu tentu adalah kunci rahasia pintu tersebut. Kalau orang
hutan betina dapat membuka, pasti kamar goa itu bekas kamar majikannya.
Tanpa ragu-ragu Kim Houw lantas masuk ke dalam kamar batu itu, yang ternyata merupakan
gudang kitab yang terdiri dari batu seluruhnya. Didalamnya tercatat segala macam kitab. Kim
Houw sangat girang ia pikir majikan istana Kumala Putih itu dulunya tentu seorang yang pandai
ilmu surat dan silat. Dipandang dari koleksi bukunya itu saja, kalau dibaca dengan sendirian setiap
hari, mungkin tidak habis dalam waktu delapan atau sepuluh tahun.
Kim Houw sejak anak-anak sudah mendapat pelajaran ilmu surat, ingatannya juga sangat baik.
Pada saat itu didalam keadaan sulit, tiba-tiba menemukan kamar buku demikian, membuat ia
segan keluar. Ia mengambil sejilid buku untuk dibaca, isinya ternyata sangat dalam sekali.
Kim Houw mempunyai semacam sifat makin tidak mengerti makin kepingin dipelajari, makin
dalam artinya, semakin tebal keinginannya untuk meyakinkan. Ia coba membaca sejenak, dan
merasa bingung sendiri, seolah-olah perlu di mulai dari permulaannya.
Kim Houw memeriksa keadaan kamar itu makin teliti, akhirnya menemukan bahwa di atas rak
buku-buku ada tertulis banyak huruf yang merupakan susunan alfa betis dan urutan nomornya
serta jenis buku-buku itu
Mata Kim Houw tiba-tiba terbelalak lebar kapan ia memeriksa sampai rak yang penghabisan,
ia telah dapat sejilid buku yang berkalimat "PIE KIM SIN KUN" (ilmu pedang rahasia dan ilmu
sakti), serta sejilid lagi berjudul "KING KANG AM KHI" (ilmu mengentengi tubuh dan senjata

rahasia). Bukan main girangnya Kim Houw, ia buru-buru keluarkan dua buku itu dari raknya.
Dalam buku itu selain teorinya ditulis dengan jelas, juga di berikan penjelasan prakteknya dengan
rupa-rupa lukisan.
Tidak ayal lagi Kim Houw lantas membaca dan mempelajari ilmu silat menurut petunjuk dari
dalam buku itu. Pelajaran yang dimulai yang cetek sampai kebagian yang dalam-dalam. Entah
kebetulan atau karena ditakdirkan akan menjadi tokoh yang namanya cemerlang dan
menggetarkan rimba persilatan, pokoknya Kim Houw secara aneh sudah memasuki kamar buku
yang terbikin dari batu itu dan dapat mempelajari isi buku ilmu silat tinggi yang di tinggalkan oleh
seorang aneh luar biasa di jaman dulu.
Buku-buku itu disimpan dalam kamar batu itu sedikitnya sudah ratusan tahun, tapi tidak ada
yang robek atau yang rusak, itu disebabkan batu dalam kamar itu kering sekali. Apalagi ada
bebauan harum yang entah dari mana keluarnya, bau harum itu agaknya seperti khusus ditaruh di
situ untuk mengusir kutu-kutu buku.
Menyaksikan itu semua, Kim Houw dalam hati lantas berpikir: pantas di istana bagian belakang
itu kecuali barang pertama dan batu giok, tidak terdapat apa-apa lagi, kiranya ada mempunyai
tempat simpanan lain.
Musim dingin telah lewat, datanglah musim semi lalu disusul dengan musim panas. Tapi
musim panas itu dengan cepat juga sudah berlalu.
Dan kini gilirannya musim rontok yang datang.
Kim Houw di dalam kamar batu itu, sudah satu tahun lamanya tanpa ia rasakan, kakinya tidak
pernah melangkah keluar dari goa. Makan minumnya disediakan oleh dua orang hutan itu yang
setia, selama satu tahun itu, semua buku yang ada di rak bagian buku peperangan dan ilmu silat,
sudah ia pelajari sampai hafal betul-betul. Bukan saja dapat menghapalkan bahkan ia sudah
pandai mainkan kepalanya dan mainkan pedang, setiap hari dalam waktu tertentu ia berlatih
dengan kedua orang hutan itu.
Mula-mula Kim Houw selalu terdesak sejauh tiga empat jurus saja, tapi tiga bulan kemudian,
Kim Houw sudah dapat mengimbangi kepandaiannya orang hutan betina itu. Dan setengah tahun
kemudian, orang hutan betina itu tidak dapat mampu melawan Kim Houw sampai tiga puluh jurus.
Lewat beberapa bulan lagi, orang hutan betina dengan anaknya mengerubuti Kim Houw,
belum sampai sepuluh jurus mereka sudah dikalahkan oleh Kim Houw.
Dari hasilnya latihan dengan orang hutan betina, Kim Houw dapat mengukur sendiri betapa
majunya ilmu silatnya selama satu tahun itu. Ia pernah menyaksikan pertempuran sengit antara
orang hutan itu dengan Lie Cit Nio. Pad kala itu orang hutan betina berkelahi mati-matian karena
hendak membela jiwa anaknya dan Lie Cit Nio cuma mampu melawan dalam keadaan seri
meskipun ia bersenjata pedang. Mungkin Lie Cit Nio ada mengandung lain maksud, sehingga tidak
mau melukai padanya, tapi biar bagaimana kalau saja pertempuran dilakukan dengan tangan
kosong, mungkin orang hutan betina itu bisa bertahan lebih lama lagi.
Selama satu tahun itu sudah tentu Kim Houw juga tidak lupa melatih ilmu "Han-bun-cao-khie"
menurut petunjuknya si Kacung baju merah. Cuma dalam ilmu ini saja, ia selalu merasakan kurang
puas, oleh karena ia bisa mengalahkan orang hutan itu, semata-mata cuma mengandalkan
kecepatan dan kecerdikannya, Kalau mau dikatakan hendak ada kekuatan tenaga sudah tentu
orang hutan itu lebih unggul daripadanya, ia tahu ini adalah karena lweekangnya (tenaga dalam)
masih kurang sempurna.

Hari itu, malam sudah meliputi jagat, Kim Houw masih tekun melatih ilmunya "Han-bun-caokhie",
tiba-tiba terdengar suara meraungnya orang hutan. Ia terkejut, dengan cepat melompat
keluar dari goa. Terlihat olehnya sinar api merah membara di malam hari yang gelap itu tampak
lebih marong. Pikirnya; ini mungkin perbuatan para locianpwe yang di dalam Istana Kumala Putih,
yang ingin membakar istana berikut rimbanya supaya mereka bisa bebas keluar.
Dalam hal ini, ia merasa tidak enak untuk merintangi, karena siapakah yang mau dikurung
terus menerus di dalam rimba? Orangnya tidak kepingin bebas?
Tapi, api yang berkobar keras itu ternyata cuma sekejap saja, lantas padam, dalam hati Kim
Houw lantas timbul pikiran: sekalipun mempunyai ilmu silat yang bisa menjagoi jagat, tapi, jika bisa
keluar dari rimba ini, juga percuma saja.
Kim Houw tiba-tiba ingat bahwa setiap buku yang pernah ia baca, di halaman pertama selalu
dibubuhi catatan kalajengking beracun melindungi rimba, belajar juga tidak ada gunanya. Ia tahu
ini adalah maksudnya majikan Istana Kumala Putih itu yang menulis sebagai peringatan supaya
orang jangan belajar ilmu silatnya. Mula-mula Kim houw tidak ambil perhatian terhadap tulisan
atau catatan itu, tapi kini kalau diingat-ingat memang ada mengandung arti dalam.
Kim Houw mulai berpikir tentang kalajengking berbisa itu, kemudian dihubungkan dengan
perkataan kalajengking berbisa melindungi rimba. Mengapa Kalajengking itu setiap hari karena
dirinya didalam goa, apakah betul sedang melindungi serupa pusaka yang diartikan pusaka alam
oleh Kim Coa nio-nio.
Karena ingat ucapannya Kim Coa Nio-nio itu, ia lalu bersiul panjang.
Dari jauh segera muncul si orang hutan besar dan kecil yang lompat-lompatan menghampiri
Kim Houw.
"Dahulu kau telah dibikin luka oleh kabutnya binatang kalajengking berbisa, dimana adanya
binatang itu? Sekarang kau antar aku kesana. Aku akan berusaha menyingkirkan binatang yang
berbahaya itu, sekalian menuntut balas buat kau." kata Kim Houw kepada si orang hutan betina.
Orang hutan itu mendengar perkataan Kim Houw hendak menyingkirkan kalajengking berbisa,
lantas berjingkrak-jingkrak kegirangan, dengan cepat ia ajak Kim Houw kesana.
Kim Houw yang setiap hari melatih ilmu mengentengi tubuh didalam goa, tidak tahu sampai
dimana kemajuannya. Kini setelah berlari-lari di rimba terbuka dan coba berlomba dengan orang
hutan, baru tahu kalau ilmu mengentengi tubuhnya tidak di bawah orang hutan yang mempunyai
kepandaian lari cepat karena pembawaan alam.
Tiba di tebing lebar yang curam, kedua orang hutan itu berdiri jauh-jauh, tidak berani datang
dekat. Selagi Kim Houw hendak lompat maju untuk memeriksa, orang hutan betina itu tiba-tiba
mencekal lengannya, mulutnya cecowetan tidak berhenti-henti, tangannya menuding-nuding ikat
pinggang "urat naga" dan pedang pusaka. Rupanya ia menyuruh supaya Kim houw menggunakan
barang-barang pusakanya tersebut. Kim Houw tersenyum, ia lantas melakukan seperti apa yang
dikehendaki oleh orang hutan itu.
Kim houw menghunus pedang pendeknya, diantara sinar terang pedangnya itu, ia telah dapat
kenyataan bahwa kabut dimulut goa itu ternyata lebih gelap daripada yang dilihatnya dulu, kabut
putih itu seolah-olah berbentuk benda yang menutupi mulut goa.
Kim Houw setelah menghunus pedangnya, kemudian membuka ikat pinggangnya sedang Baktha
ia isap dalam mulutnya. Ia tahu bahwa nyali hitam itu bisa menolak hawa racun dan kabut
beracun itu sukar menyerang badannya kalau ia isap bak-tha dalam mulutnya.

Apa yang ia pikir memang benar, tapi ia masih lupa, bahwa racunnya kalajengking itu ternyata
sudah memenuhi hampir seluruh pelosok dalam goa itu, sudah lihat ada asap tebal menyembur. Ia
lalu menahan napas dan siap menerjang masuk.
Tiba-tiba matanya dirasakan gatal, air mata mengucur keluar tanpa tertahan. Kim Houw
terkejut, dan oleh karena kagetnya ini napasnya lantas buyar, tiba-tiba badannya sempoyongan,
dadanya merasa mual, matanya gelap, hampir saja ia jatuh rubuh.
Kim Houw insyaf kalajengking itu sangat lihay, maka lantas buru-buru lompat mundur jauhjauh.
Kapan kakinya menginjak tanah, dirasakan lemas sekali dan ia lantas duduk numprah di
tanah.
Sampai di situ Kim Houw baru kaget benar-benar untung ada Bak-tha yang melindungi dirinya,
hingga sebentar saja tenaga dan kesehatannya sudah pulih kembali.
Tetapi pada saat ia berbangkit hidung Kim Houw tiba-tiba mengendus bau harum. Tatkala
mendongak, ia melihat orang hutan betina itu, bersama anaknya sedang membakar serupa rumput
yang mengeluarkan bau harum.
Kim Houw tidak mengerti maksudnya. Dia lihat orang hutan itu menggapai padanya, segera ia
lompat menghampiri dan menanya: "Ada apa?" Ia sudah cukup bergaul dengan orang hutan
betina itu, sudah dapat memahami segala gerak-gerik tangan orang hutan itu bila sedang
mengerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri sekian lamanya, ia lantas menanyakan: "Apa kau
mau kata bahwa kalajengking itu hendak kau pancing keluar dengan rumput itu" mengangguk
berulang-ulang, kemudian memberi tanda dengan gerakan tangannya lagi.
"Aaa! Kau maksudkan bahwa Bak-tha ini tidak seharusnya aku isap dalam mulut, semestinya
menggerakkan ikat pinggang "urat naga" untuk membikin buyar kabut beracun itu, supaya aku
tidak terkena racun, betul tidak?"
Orang hutan itu kembali mengangguk, lantas menumpuk rumput lagi di atas api unggun,
kemudian baru ia ajak anaknya menyingkir jauh-jauh ke atas sebuah pohon besar dan mengintai
dengan matanya yang sipit merah.
Kim Houw tahu bahwa orang hutan itu dahulunya pernah kena serangannya racun kabut yang
sangat berbisa, agaknya sudah merasa jeri.
Dalam waktu sekejap saja, api unggun itu sudah marong betul, bau harum mengepul mengikuti
aliran masuk ke mulut goa, tiba-tiba kabut tebal di mulut goa itu lantas mulai buyar dan masuk ke
dalam. Sebentar saja keadaan sudah bersih, bau harum itu terus masuk ke dalam goa. Sampai di
situ Kim houw baru mengerti kalau binatang kalajengking itu senang dengan rumput harum itu.
Lewat lagi sejenak, rumput itu sudah hampir terbakar habis, harumnya juga mulai berkurang
tapi kalajengkingnya masih tetap belum mau keluar dari goa, pikir Kim Houw : binatang itu licin
sekali.
Akhirnya, rumput itu sudah terbakar habis benar-benar, harumnya juga lenyap, Kim houw
memandang ke arah goa, nampak mulut goa itu perlahan-lahan diliputi lagi oleh kabut tebal. Ia
memanggil orang hutan, tidak lama kedua orang hutan itu sudah membawa lagi setumpuk rumput.
Tidak antara lama, api unggun menyala lagi! Harumnya tersebar pula! Kabut tebal dimulut goa
sekali lagi tersapu bersih.

Kim Houw pikir, binatang tadi tidak keluar, kali ini rasanya juga tidak mau keluar. Tahun yang
lalu, dirinya sedikit pun tidak mengerti ilmu silat berani memasuki goa yang berbahaya itu. Tapi
kenapa sekarang justru selama setahun ini ia sudah mengerti ilmu silat cukup tinggi, sebaliknya
malah menjadi penakut?
Diam-diam ia maki dirinya sendiri yang tidak ada gunanya. Begitulah, keberaniannya
mendadak telah timbul seketika. Dengan tangan kanan memegang ikat pinggang dan tangan kiri
memegang pedang, sekali lompat ia terus masuk ke dalam goa.
Dengan sangat hati-hati sekali ia menyusuri goa itu, baru berjalan kira-kira satu tombak lebih,
lantas dapat lihat sepasang sinar hijau dari matanya binatang itu. Kemudian menampak lebih
tegas bentuknya itu binatang kalajengking berbisa, ternyata badannya memanjang ada sebesar
baskom, 4 pasang kakinya dikedua sisi badannya menunjang tanah, bagian depan ada 2 sapit
besar, bagian belakang ekornya merupakan gaetan panjang.
Binatang itu rupa-rupanya sudah mengetahui ada orang menyatroni dirinya. Dengan ditunjang
oleh 8 kakinya, badannya sebentar naik sebentar turun, ekornya yang seperti gaetan itu berputarputar,
rupanya sedang pasang aksi untuk melayani musuhnya.
Kim Houw setelah mendapat lihat dengan tegas bentuk binatang berbisa itu, dalam hati
merasa jerih. Karena binatang kalajengking umumnya tidak sampai setengah dim panjangnya,
sedang binatang yang ada di depannya hanya badan bagian depannya saja sudah lebih dari satu
kaki, kalau diukur seluruhnya dengan bagian ekor, mungkin lebih dari tiga kaki panjangnya.
Saat itu, binatang beracun itu menunjukkan gerakan hendak menyerang. Kim Houw
memegang erat-erat kedua senjatanya, ia maju dengan perlahan. Mendadak matanya melihat
pada bagian bawah badan binatang itu ada benda serupa tumbuhan rumput yang tumbuh di atas
batu besar, sedang pada batu besar itu ada terdapat banyak guratan seperti lukisan peta.
Hati Kim Houw melonjak kegirangan. Ia lantas ingat catatan "kalajengking berbisa melindungi
rimba" yang terdapat dalam lembar pertama di setiap buku pelajaran ilmu silat, mungkinkah baru
ini adalah petanya rimba keramat ini? Demikian ia bertanya dalam hari kecilnya sendiri.
Selagi Kim Houw memandang dengan kesima, kabut tebal sekonyong-konyong menyembur ke
depan mukanya, sampai ia terperanjat hampir lompat mundur, ia buru-buru putar ikat pinggang
"urat naga" nya. Heran, ikat pinggang mukjijat itu begitu bergerak membuat kabut tebal lantas
buyar, nyali hitam (Bak tha) seperti mengeluarkan sinar terang, hingga kabut berbisa itu tidak
mampu mendekati dirinya. Dengan demikian hati Kim Houw mulai mantap, ia maju semakin dekat.
Sang kalajengking agaknya mengerti bahwa kabut beracunnya tidak mampu melukai
lawannya. Dengan mengeluarkan suara aneh, badannya mendadak berobah menjadi panjang dan
besar luar biasa, sapitnya sebentar ditarik masuk, Sungguh mengerikan sebab sapit itu saja
panjangnya sudah beberapa kaki.
Kim Houw lantas merandek, karena perobahan bentuk binatang itu benar-benar menakutkan.
Diantara berkeredepannya sinar hijau seluruh badannya seperti diliputi oleh hawa beracun yang
tidak kelihatan bentuknya. Tapi tatkala mata Kim Houw bersentuhan dengan gambar seperti peta
tadi, nyalinya besar lagi.
Untuk menolong dirinya para locianpwe yang sudah dikeram sekian lama dalam Istana Kumala
Putih ini, untuk kebersihan dan kebebasan dirinya sendiri, ia rela kalau meski binasa di bawah
kakinya binatang luar biasa itu.

Sehabis berpikir demikian, Kim Houw lalu bersiul panjang. Suaranya berkumandang didalam
goa. Binatang berbisa itu agaknya mengerti dirinya terancam, dengan mendadak ia lompat dan
menerkam Kim Houw.
Kim Houw tidak duga binatang itu bergerak lebih dulu, dengan cepat ia lantas geser dirinya,
pedang pendeknya dengan kecepatan bagaikan kilat menusuk ke arah perut binatang itu.
Serangan itu dilakukan dengan menempuh bahaya besar, untuk mengenai sasaran dengan tepat.
Binatang itu merasa kesakitan, ekornya yang seperti gaetan panjang menyabet dada Kim Houw.
Suatu serangan di luar dugaan Kim Houw tidak heran kalau dengan letak mengenai dadanya. Ia
tidak kita bahwa ekor kalajengking itu merupakan suatu senjata yang sangat berbahaya, karena
mengetahui bahwa ekor binatang itu sangat berbisa, maka ia lantas buru-buru lompat mundur.
Kim Houw memikirkan dadanya yang bekas diserang, ternyata tidak ada perobahan apa-apa.
Ia segera mengerti bahwa khasiatnya baju wasiat yang menolong jiwanya. Ia jadi ingat dirinya
Touw Peng Peng, beberapa kali ia menemukan bahaya selalu lolos karena dilindungi oleh baju
wasiat itu, kelak entah bagaimana ia harus membalas budinya nona itu?
Sang kalajengking kembali menyemburkan kabutnya yang berbisa bahkan nampaknya kali ini
lebih hebat. Kim Houw buru-buru putar ikat pinggangnya yang mukjijat, tapi celaka ia tidak bisa
dibandingkan dengan kejadian semula, karena kini sudah tertutup jalan keluarnya oleh kabut tebal.
Keadaan Kim Houw benar-benar sangat berbahaya sekali, ikat pinggangnya putar semakin
gencar, tapi tidak berhasil menghalau kabut yang sangat tebal itu. Ia tahu dirinya dalam keadaan
sangat berbahaya, jika tidak lekas bertindak dengan tepat, sudah tak ada harapan bisa keluar lagi.
Celaka kabut itu makin lama makin tebal, sampai ia tidak bisa mengenali kedudukannya sendiri.
Binatang berbisa itu juga sudah menghilang entah kemana.
Kim Houw selama belajar silat sendiri, baru pertama ini digunakan untuk bertempur benarbenar,
maka ia telah kehilangan ketenangannya. Sebentar kemudian, ia rasakan kepalanya
pusing, kakinya lemas, lalu jatuh duduk.
Melihat lawannya rubuh, binatang berbisa itu perlahan-lahan mendekati Kim Houw, kalau saja
ia berhasil mencapai tujuannya tamatlah riwayatnya Kim Houw.
Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, Kim Houw tiba-tiba ingat pedang pendeknya.
Barusan sudah berhasil mengenakan perutnya, binatang itu sedikitnya juga sudah terluka. Kini
melihat binatang itu sudah mendekati dirinya dengan mendadak ia ayun tangannya, sinar pedang
berkelebat menyilaukan mata dan ujungnya lantas menancap dimata sang kalajengking.
Binatang itu setelah keluarkan rintihan dan berkelejetan sebentar, lantas tidak berkutik lagi.
Sampai di situ Kim Houw baru bisa bernapas lega, tapi kabut tebal itu sudah menyerang
dengan hebat membuatnya tidak tahan lagi dan jatuh rubuh tidak ingat orang.
Entah sudah berapa lama telah berlalu tiba-tiba ia disadarkan oleh bau harum yang menusuk
ke dalam hidungnya, ia lantas bangkit dan sadar perlahan-lahan. Cuma oleh karena matanya
terangsang oleh kabut beracun untuk sementara tidak bisa melek.
Dalam kebingungan, Kim Houw meraba-raba mencari Bak tha dan ikat pinggangnya, untuk
mengusir racun dari badannya. Ia meraba-raba setengah harian, ikat pinggangnya tidak
diketemukan, ia hanya dapatkan benda bundar, dianggapnya itu adalah Bak tha, maka dengan
tidak pikir lagi lantas dimasukkan ke dalam mulutnya.
Tapi benda bundar itu ternyata bukan Bak tha, benda itu mirip dengan buah kecil merah yang
diberikan oleh orang hutan betina ketika ia dalam keadaan tidak sadar. Benda itu ternyata besar

sekali, tapi begitu masuk dalam mulut lantas lumer dan sebentar saja sudah masuk ke dalam
perutnya.
"Bukan main girangnya Kim Houw, karena dalam waktu sekejap itu, otaknya sudah terang
seperti biasa, mata juga sudah tidak melek. Tapi apa yang mengherankan selama sedetik itu,
dalam perutnya seperti ada apa-apa yang rasanya seperti mau mendobrak keluar.
Kim Houw terperanjat, ia buru-buru duduk bersemedi menggunakan ilmunya "Han-bun-coakhi"
untuk menindas, tapi makin ditindas makin kuat dan makin keras perlawanan dalam perutnya
itu.
Dalam keheranannya Kim Houw tiba-tiba ingat dalam ilmu "Han-bun-coa-khi", ada serupa
kekuatan yang bisa digunakan untuk menarik kekuatan dalam (lwekang), maka ia lantas
menggunakannya untuk menyalurkan hawa dingin dalam perutnya dengan "Han-bun-coa-khi" ke
dalam badan sendiri.
Satu harian setelah ia bertekun bersemedi secara demikian, tulang-tulang dan otot-otot sekujur
badannya tiba-tiba berkerotokan, hawa panas dalam perutnya sudah lenyap, tapi badannya
dirasakan amat letih, tanpa dirasa ia sudah tidur kepulesan.
Entah berapa lama telah berlalu, Kim Houw tiba-tiba seperti merasa ada orang sedang
memeriksa jalan pernapasannya. Ia kaget dan lantas melompat bangun, karena saking bernafsu
melompat badannya sampai membentur dinding atas.
Ia lihat Kim Coa Nio-nio tengah berdiri di depannya, tangannya memegang pedang pendeknya
yang bersinar sedang mengawasi padanya dengan roman heran.
"Tiancu", kata Kim Coa Nio-nio satu tahun tidak bertemu, banyak perobahan telah terjadi pada
diri Tiancu. Aku si nenek sudah bertahun-tahun menginginkan binatang berbisa itu, namun selalu
tidak berhasil mendekatinya, tidak nyata sekarang tiancu telah berhasil membunuh mati padanya,
tiancu bolehlah binatang berbisa ini tiancu berikan kepada aku si nenek tua?"
Kim Houw mendapat kenyataan bahwa Kim Coa Nio-nio ini agaknya tidak percaya ucapan
Ciok Goan Hong yang pandang rendah dirinya, dalam hari diam-diam merasa girang maka lantas
buru-buru menjawab: "Kim Coa Nio-nio, ambillah kalau kau mau, binatang itu bagi aku juga tidak
ada gunanya."
Mendengar ucapan Kim Houw, Kim Coa Nio-nio seolah-olah merasa muda dua puluh tahun
lagi, sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan ia menyeret bangkainya kalajengking berbisa keluar
dari goa! Baru saja hendak keluar, ia lalu ingat bahwa pedang Kim Houw masih dalam tangannya,
maka ia lantas taruh di atas kepalanya dan balik lagi untuk mengembalikan kepada pemiliknya.
"Kau pakai saja!" kata Kim Houw.
"Senjata semacam ini, tidak cocok buat aku." jawab si nenek yang lantas menyerahkan dan
kemudian berlalu.
Sekarang Kim Houw mulai memeriksa gambar peta di atas batu, ternyata juga tidak utuh,
keadaannya sama dengan gambar yang terdapat di kamar buku dalam goa.
Tiba-tiba timbul satu pikiran, kalau kedua gambar ini dijadikan satu, apa mungkin jadi sebuah
peta yang utuh? Mengingat sampai di situ, ia lantas mengamat-amati dan mengingat gambar itu di
otaknya, ia memeriksa lagi keadaan di sekitarnya, tapi kecuali gambar peta tidak ada apa-apa lagi.

Baru saja Kim Houw keluar dari dalam goa sudah disambut dengan gembira oleh kedua orang
hutan yang selalu menunggu dari jauh.
Kedua orang hutan itu nampaknya sangat setia terhadap Kim Houw. Melihat bocah itu keluar
dengan selamat, girangnya bukan main, mereka berjingkrak-jingkrak sambil menuding ke tebing
lembah. Kapan Kim Houw menengok ia lihat Kim Coa Nio-nio juga sudah lihat Kim Houw, ia lantas
berkata sambil melemparkan satu kantong kecil: "Tiancu, benda ini seharusnya menjadi
kepunyaanmu!"
Kim Houw menyambuti dengan tangan tatkala ia buka, kantong itu ternyata berisi beberapa
butir mutiara hitam sebesar kacang hijau.
"Tiancu, itu dada mutiara binatang berbisa ini, kalau dipakai untuk senjata rahasia, akan
merupakan salah satu senjata mukjijat dalam rimba persilatan," menerangkan Kim Coa Nio-nio.
"Terima kasih" katanya.
Dalam hati Kim Houw diam-diam berpikir: ini boleh juga, senjata tajam dan senjata rahasia
semua sudah ada, asal bisa keluar dari Istana Kumala Putih ini, untuk mendapat nama di dunia
Kang-ouw, rasanya tidak sukar!
Bersama kedua kawannya orang hutan itu, Kim Houw mengerahkan ilmu mengentengi tubuh
balik ke dalam goanya.
Suatu keajaiban telah terjadi, hampir saja Kim Houw tidak percaya pada dirinya sendiri, karena
dengan seenaknya saja ia melompat, tahu-tahu sudah mencapai jarak puluhan tombak jauhnya.
Sekarang ia baru tahu bahwa buah keras yang ia makan selagi dalam keadaan setengah sadar,
tentunya itu benda wasiat alam yang dikatakan oleh Kim Coa Nio-nio.
Sekembalinya ke dalam goa, Kim Houw mulai mencoba mengaturkan gambar peta yang
diingat-ingat dalam otaknya dengan gambar peta di atas dinding, satu gambar peta yang utuh
lantas terlukis di atas dinding. Kim Houw sangat girang, ia kuatir bisa lupa, maka lantas
menggunakan jarinya perlahan-lahan menggurat di atas batu.
Akhirnya gambar peta yang tidak utuh itu kini merupakan satu peta yang sempurna. Sehabis
melukis di atas batu, Kim Houw tidak lantas hapus, karena sebagai orang jujur ia pikir di kemudian
hari jika ada siapa yang terkurung dalam Istana Kumala Putih, asal mendapat lihat gambar peta ini
pasti bisa keluar dari rimba.
Setelah dapatkan petunjuknya jalan keluar Kim Houw lantas bersiap-siap hendak
meninggalkan rimba keramat itu. Ia telah utarakan maksudnya kepada dua orang hutan kawannya.
Mereka pada heran, agaknya tidak mau percaya tapi kemudian mengutarakan perasaan berat
ditinggalkan oleh Kim Houw.
Kim Houw juga merasakan bahwa selama satu tahun ini baik sekali hubungannya dengan
kedua orang hutan itu, terutama disebabkan dalam perhubungan persahabatan mereka ada
terselip hutang budi karena masing-masing pernah tertolong jiwanya.
Kim Houw juga bukan orang yang tidak berperasaan maka akhirnya ia berjanji, sekalipun
sudah keluar dari rimba itu, tapi sekali-kali ia pasti akan datang menyambangi mereka.
Dua orang hutan itu nampaknya sangat girang, Kim Houw lalu ambil selamat berpisah dengan
mereka.

Diwaktu subuh, Kim Houw sudah tiba di depan Istana Kumal Putih maksudnya mengunjungi
istana itu, ia ingin mengajak semua orang orang tua dari kalangan rimba persilatan untuk
meninggalkan istana itu.
Siapa nyana, orang yang pertama ia ketemukan ialah Lui Kong. Orang tua itu adatnya
berangasan, begitu lihat Kim Houw, ia lantas menyerang dengan tangannya yang kuat sembari
berseru: "Kuhajar mampus kau binatang cilik!"
Di luar dugaan, bocah itu tahu-tahu sudah menghilang dari depan matanya, hingga diam-diam
ia merasa heran.
Lui Kong pada beberapa tahun berselang namanya sudah terkenal di kalangan rimba
persilatan, ia adalah salah seorang yang dianggap sebagai iblis di golongan hitam. Oleh karena
adatnya terlalu berangasan, orang telah percaya padanya hingga ia masuk ke dalam Istana
Kumala Putih.
Tapi, sekalipun ia seorang yang sudah terkenal namanya, belum pernah mengalami kejadian
serupa itu, dengan cara bagaimana Kim Houw menghilang dari depan matanya, mengapa ia
sedikitpun tidak tahu?
Tiba-tiba di dalam istana terdengar suara ricuh, Lui Kong menoleh, ia dapatkan Kim Houw
yang barusan menghilang dari depan matanya, ternyata sudah berada di dalam. Hal ini membuat
Lui Kong tidak habis pikir.
Dari dalam istana itu disusul suara bentakan dan makian San Hua Sian Lie, kadang-kadang
diselingi dengan helaan napas.
"Bocah itu apa betul tidak apa-apa, katanya malah mendapat pelajaran ilmu silat luar biasa.."
demikian Lui Kong menanya pada diri sendiri.
Lui Kong sudah kalap benar dan lantas lompat masuk, tapi Kim Houw diam-diam sudah
melalui banyak orang dan menyelusup keruangan dalam.
Tiba di ruangan belakang, lalu ia memasuki istana Kong Han Kiong dan bersujut di depan peti
jenasah yang berada ditengah-tengah. Sehabis bersujut ia berbangkit dengan perlahan, tepat
pada saat ia sedang berdiri, matanya tiba-tiba dapat lihat sebaris huruf kecil-kecil di ujung kepala
peti mati yang terbikin dari kaca itu. Huruf itu kecil sekali. Kalau tidak diperhatikan bentukbentuknya
niscaya tidak akan kelihatan.
Huruf itu bunyinya: KUBURAN KAUW JIN KIESU, Majikan Istana Kumala Putih.
Kim Houw girang menemukan tulisan itu karena kalau tidak, ia selamanya tidak akan
mengetahui nama gurunya, ini akan merupakan suatu penyesalan baginya.
Akhirnya Kim Houw balik lagi ke istana Kong Han Kiong, tempat yang merupakan sumbernya
hawa dingin. Di sini ia lantas duduk bersila, ia ingat waktu pertama kali datang ke situ, meski
memakai baju wasiat yang melindungi dirinya, masih tidak tahan serangannya angin dingin yang
meniup di situ sehingga badannya menggigil. Kini, kecuali dilindungi baju wasiat, iapun
berkepandaian ilmu silat, bahkan lwekang (tenaga dalam) dan gwakangnya (tenaga luarnya) juga
sudah cukup sempurna, maka sedikitpun ia tidak merasakan dingin.
Maksudnya ia duduk bersila, adalah menurut pesannya si Kacung baju merah, yang
mengajarkan ia ilmu "Han-bun-coa-khi". Jika ilmu itu dilatih ditempat ini, hasilnya berlipat ganda.

Tapi kali ini ia tidak merasakan ada perobahan apa-apa atas dirinya, pikirnya mungkin disebabkan
karena baju wasiat, jika dibuka baju wasiatnya entah bagaimana perasaannya.
Ia sudah akan mencoba-coba, tapi baru saja hendak membuka baju luarnya, dari istana bagian
depan terdengar suara jeritan orang. Kim Houw terkejut, ia buru-buru lompat keluar. Segera
dilihatnya bahwa orang-orang itu sedang berkumpul di dalam istana, ditengah-tengah ruangan
tampak dua orang sedang bertempur, satu diantaranya adalah Lie Cit Nio. Nyonya ini tengah
mengucurkan airmata, tapi wajahnya kelihatan sedang gusar sekali.
Orang yang menjadi lawannya adalah itu anak sekolahan yang mukanya mirip dengan dirinya
sendiri. Kim Houw diam-diam merasa heran, apa sebabnya dua orang itu bertempur begitu hebat
dan sengit?
Tiba-tiba ia lihat bekas tanda darah berketel-ketel di lantai, dilain sudut ia menampak To Pa
Thian sudah kutung sebelah lengannya, tengah diberi pertolongan oleh Kim Coa Nio-nio dan si
Kacung baju merah.
Bukan main kagetnya Kim Houw, tidak nyana bahwa urusan telah berobah begitu hebat.
Terhadap anak sekolah berwajah putih itu Kim Houw mempunyai kesan baik. Menyaksikan
permainan pedangnya si anak muda, dapat dinilai lebih tinggi dari Lie Cit Nio. Tapi Lie Cit Nio tidak
tahu diri, ia terus ngotot hendak melukai si anak muda, untuk menuntut balas To Pa Thian.
Munculnya Kim Houw, agaknya tidak ada orang yang perhatikan padanya. Ia tahu bahwa
pemuda wajah putih itu tidak ada maksud turun tangan jahat terhadap Lie Cit Nio, sebab kalau ia
mau, dalam tiga jurus saja Lie Cit Nio pasti sudah terluka.
Ia tidak mengharap anak muda itu tanpa sebab melukai banyak orang sehingga menambah
musuh, maka diam-diam ia mengambil beberapa mutiara hitam siap memberi pertolongan apabila
Lie Cit Nio dalam bahaya.
Pada saat itu, anak sekolahan itu tiba-tiba berkata: Lie cianpwe, aku sudah mengalah terus
menerus. Kalau cianpwe masih tetap mendesak, jangan sesalkan kalau aku nanti turun tangan
kejam!"
Baru habis berkata, Lie Cit Nio tiba-tiba membentak dengan suara keras, pedangnya tiba-tiba
berobah dengan beruntun menyerang tiga kali. Serangannya ini dilancarkan demikian dahsyat,
telah membuat si anak muda terpaksa mundur sampai tujuh-delapan tumbak.
"Omong saja gede, ada serangan ini saja kau tidak mau menyambuti!" seru Lie Cit Nio
mengejek.
Anak muda sekolah itu tiba-tiba tersenyum dengan perlahan ia maju menghampiri.
Pedang di tangannya mendadak menjadi dingin, sebentar saja hawa dingin ini memenuhi
ruangan istana. Dalam sekejap ia sudah melancarkan serangan berantai yang membuat Lu Cit Nio
kelabakan. Serangan terakhir pemuda anak sekolah itu merupakan suatu lompatan ke atas
bersama pedangnya, kemudian menukik terus menukik.
Gerakan ini adalah suatu serangan yang paling berbahaya, ujung pedangnya bergetar,
sinarnya yang berkeredepan seperti air hujan yang turun dari langit, sekujur badan si pemuda
terkurung dalam hujan dari ujung pedangnya.
Jilid 04

Karena serangan ini begitu hebat dan cepat, siapapun tahu Lie Cit Nio sedang menghadapi
bahaya besar. Diantara suara jeritan kaget, mendadak suara "trang" pedangnya si anak muda
tampak sudah terlepas dan terbang dari tangannya.
Dalam kagetnya setengah mati, Lie Cit Nio coba melihat-lihat di sekitarnya, rupanya dia
mencari siapa orangnya yang sudah menolong dirinya, ia lihat si hwesio gagu Kim Lo Han sedang
mengawasi sambil tersenyum, ia mengira adalah hwesio ini yang menolong padanya, maka lantas
maju untuk menghaturkan terima kasih
Kim Lo Han angkat lengan jubahnya, ia tidak menolak tapi juga tidak menerima hanya tetap
tersenyum, sampai Lie Cit Nio merasa jengah sendiri.
Dilain pihak, anak sekolah berwajah putih itu nampaknya semakin pucat. Ia lalu memungut
pedangnya yang terlepas dari tangannya, kemudian menoleh ke arah Kim Houw dengan mata
melotot. Ia lihat Kim Houw tengah berdiri berendeng dengan si Imam palsu dan si Kacung baju
merah, hingga ia sukar menduga siapa orangnya yang mempunyai kepandaian begitu tinggi !
Serangan si anak muda tadi, adalah serangan yang paling berbahaya dan juga merupakan
ilmu simpanan dari golongannya. Serangan yang paling dahsyat dari dua belas jurus ilmu pedang
"Eng Suan Kiam" atau ilmu pedang burung elang berputaran, namanya "Buan-hong-cut-souw"
laba-laba keluar dari sarangnya. Ujung pedang dibikin menggetar sehingga menimbulkan sinar
berkeredepan seperti hujan, sukar ditangkis, tapi toh ada orang yang menyerang dengan senjata
rahasianya dengan tepat bahkan pedangnya sampai terlepas dari pegangannya. Betapa hebat
ketajaman matanya dan kekuatan tenaga dalam orang itu sukar diukur, demikian pikirnya si anak
muda.
Si Imam palsu yang biasanya suka gila-gilaan, sedang si Kacung baju merah yang roman dan
sikapnya selalu dingin kecut, adalah dua orang yang paling sukar diduga kepandaiannya. Pada
saat itu, tiba-tiba ia melihat Kim Houw menghampiri mereka, sebelum sampai sudah mengucapkan
kata-kata: "Engko itu bagus sekali ilmu pedangnya, terutama gerakannya yang terakhir sungguh
luar biasa bagusnya, siaute sungguh sangat kagum betul!"
Wajahnya si anak muda semakin kecut, sebab ia tidak nyana sama sekali kalau Kim houw
dapat mengenali gerakan ilmu pedangnya. Tapi meski wajahnya cepat berobah, pulihnya juga
cepat. Seketika itu ia lantas menghampiri dan menyekal tangan Kim Houw, sambil tersenyum ia
berkata: "Adik kecil, kau ternyata dapat mengenali ilmu pedangku, benar-benar pandai."
Selagi bicara sembari ketawa-ketawa, satu tangannya sudah diulur sampai menyentuh dada
orang entah apa sebabnya ia urungkan maksudnya. Tangan yang lain lalu menepuk-nepuk
pundak Kim Houw, rupanya ia mendadak ingat bahwa bocah itu tak dapat dilukai karena memakai
baju wasiat yang melindungi dirinya.
Selanjutnya, pemuda itu tidak berkata apa-apa lagi, terus berjalan keluar istana.
Kim Houw merasakan bahwa pemuda itu sangat misterius. Ketarik oleh perasaan herannya,
lantas menanya kepada si Iman palsu: "To-ya mereka mengapa tadi berkelahi?"
Dengan wajah sungguh-sungguh si Iman palsu itu menarik Kim Houw ke samping. "Mereka
bertengkar urusan kebakaran tadi malam. Tidak ada apa yang luar biasa, sebaliknya adalah kau
yang harus hati-hati.
Pemuda seperti anak sekolah itu diluarnya saja manis tapi hatinya jahat dan kejam. Agaknya
dengan kau ada ganjalan apa-apa, maka berurusan gerak tangannya itu adalah gerak itu yang
dinamakan "Sam-im-ciu", tidak kepalang tanggung ganasnya, ia dapat melukai orang, sedang
yang dilukai tidak merasa apa-apa. Selanjutnya lebih baik kau jangan bergaul terlalu rapat
dengannya!" katanya dengan suara perlahan.

Imam palsu ini biasanya seperti orang gila, setiap hari gawenya cuma senda gurau dan
tertawa-tawa tidak hentinya. Kini mendadak telah berobah kebiasaannya dan berkata dengan
sikap sungguh-sungguh. Sampai Kim Houw terheran-heran. Ilmu pukulan Sam-im-ciu itu ia juga
tahu merupakan ilmu pukulan yang sangat lihay, karena dalam pelajaran silat Kauw Jin Kisu,
segala ilmu silat dan pukulan yang tergolong paling lihay, tidak perduli dari cabang mana, yang
telah ditulis terang serta diberikan penjelasan sejelas-jelasnya.
"To-ya, apakah kau pernah dengar Kauw Jin Kisu?" tanyanya dengan suara perlahan.
Imam palsu itu berpikir agak lama, akhirnya menyahuti sambil geleng kepala: "Belum pernah
dengar, mengapa kau tanyakan tentang dia?"
"Kauw Jun Kisu adalah majikan dari Istana Kumala Putih ini!"
"Aaaa!" Imam palsu ini terperanjat, ia tarik tangan Kim Hauw pergi menghampiri Kim Lo Han.
Selagi si Imam palsu hendak membuka mulut, Kim Lo Han sudah memberi hormat kepada Kim
Hauw serta berkata: "Selamat Tiancu, kau telah berhasil mendapat pelajaran ilmu silat yang
sangat luar biasa di kolong dunia ini!"
Kim Hauw buru-buru membalas hormat dan berkata: "Boanpwe cuma mendapatkan sedikit
pelajaran yang tidak berarti, bagaimana bisa dipandang pelajaran luar biasa, selanjutnya boanpwe
masih mengharapkan petunjuk dari Lohan-ya"
Kim Lo Han tertawa tergelak-gelak. Hari ini Kim Lo Han sudah buka mulut benar-benar ada
bicara juga ada ketawanya, hingga semua orang pada mengerubung padanya.
"Dalam usia masih begini muda, tiancu sudah mengerti apa artinya merendah diri, di kemudian
hari pasti akan menjadi orang besar." berkata Kim Lo Han gembira sekali. "Mengenai Kauw Jin
Kisu, orang menyebut padanya Kui Kiecu (setan cerdik), ia merupakan seorang yang sangat luar
biasa pandai di dalam dunia. Kabarnya ia adalah teturunan dari seorang wanita yang kawin
dengan ular, pintarnya luar biasa, pengertiannya sangat tajam, ia adalah satu jago yang terkuat
pada jamannya lima ratus tahun berselang. Hanya sayang ia mempunyai suatu cacat buruk, ialah
doyan perempuan lagi wanita biasa yang tak mengerti ilmu silat atau yang ilmu silatnya belum
cukup tinggi, kalau bertemu dengan dia pasti hanya mengantarkan jiwa saja."
"Tapi itu adalah pembawaan alam. Untuk mengobati penyakitnya itu, ia pernah pergi ke Tibet
dan mengangkat ketua dari agama Lhama baju merah sebagai guru, untuk melatih mensucikan
diri. Tapi ternyata ia tidak berhasil, paling akhir ketua agama Lhama itu ajak padanya ke utara,
kabarnya pergi ke suatu tempat yang setiap tahun tertutup salju, mungkin bisa menyembuhkan
penyakit histerisnya itu.
"Kesudahannya, kepergiannya itu tidak ada kabar ceritanya. Tidak nyana kalau Istana Kumala
Putih ini adalah buatannya, pantas dibagian belakang begitu dingin. Kepandaian ilmu silatnya
memang benar-benar luar biasa dan tiada tandingannya, setiap gerak pukulan yang ia gunakan
sangat berlainan dengan kebanyakan orang. Sekarang Tiancu telah dapatkan ilmu
kepandaiannya, bukankah ini merupakan suatu kepandaian yang luar biasa?"
Kim Houw dan si Iman palsu pada terperanjat, karena mereka tadi bicara pelahan ketika
menanyakan tentang dirinya Kauw Jin Kisu. Tiada nyana hwesio yang dikiranya gagu ini telah
dapat dengar semuanya, malah belum sampai ditanyakan, ia sudah memberi penjelasan
semuanya, hingga dapat ditarik kesimpulan bahwa hati hweesio itu kini sedang gembira sekali.

Pada saat itu, pemuda yang mirip dengan anak sekolah tadi sudah balik dari luar, sambil
menarik tangan Kim Houw ia berkata: "Adik Houw, aku hendak membicarakan soal pribadi dengan
kau!"
Kim Houw adalah anak yang beradat keras tapi jujur. Melihat pemuda seperti anak sekolah itu
bicaranya begitu sungguh-sungguh, ditambah lagi ketika baru pertama kali berteriak padanya
sudah menunjukkan sikap yang manis luar biasa terhadap dirinya, maka tanpa ragu-ragu ia lantas
mengikuti padanya keluar dari Istana Kumala Putih itu, apa yang tadi dipesan oleh Imam palsu, ia
telah lupakan semuanya.
Begitu keluar dari istana, ucapan pertama yang dikeluarkan oleh si pemuda adalah teguran
"Kim Houw, tahukah kau bahwa kita ini adalah saudara kandung?" katanya.
Kim Houw memang sudah mencurigai bahwa anak muda ini ada hubungan apa-apa dengan
dirinya, karena kedua orang itu mirip satu sama lain. Mengingat ia sendiri begitu gelap terhadap
asal usulnya, kini setelah mendengar perkataan anak muda itu, bagaimana hatinya tidak mau
girang?
"Kalau begitu kau adalah kakakku? Oh, koko, bolehkah kau ceritakan semua urusan rumah
tangga kita kepadaku? Kasihan sampai ayah bunda sendiri aku juga belum pernah lihat asal-usul
dari mana diriku juga tidak tahu katanya kegirangan.
"Adikku keluarga kita sesungguhnya pernah mengalami suatu tragedi yang sangat hebat tapi
di sini bukan tempatnya untuk kita bicara, kalau kau suka dengar, mari ikutlah aku," kata pemuda
itu sambil menengok ke belakang, seolah-olah takut diketahui orang. Setelah berkata ia sudah
lantas lompat melesat sejauh delapan tombak.
Ilmu mengentengi tubuh Kim Houw kini tidak di bawahnya si pemuda. Sudah tentu dengan
mudah saja dapat menyusul. Tiba-tiba ia menoleh dan menjura dalam-dalam menghadap
sebatang pohon dan berkata: "To-ya dan empek baju merah jangan kuatir! Kita hendak
membicarakan soal rumah tangga, terima kasih atas perhatian empek berdua, Kim Houw sudah
bisa menjaga diri sendiri!"
Sehabis berkata, tidak tahu dengan gerakan apa ia lakukan tubuhnya sudah melesat jauh
menyusul si pemuda yang jalan duluan.
Memang sebenarnya di belakang pohon besar tadi ada bersembunyi si Imam palsu engan si
Kacung baju merah, mereka berdua kuatirkan diri Kim Houw dianiaya oleh pemuda seperti anak
sekolah itu, maka diam-diam telah membuntuti Kim Houw dan pemuda itu tahu dirinya dikuntit,
maka dia telah membuka rahasia perhubungannya antara mereka berdua, maksudnya ialah
supaya orang lain tidak mencampuri mereka membicarakan urusan rumah tangga.
Imam palsu dan si kacung baju merah itu merupakan tokoh-tokoh ternama seta mempunyai
kedudukan tinggi, sudah tentu tidak mencuri dengar orang lain membicarakan soal rumah tinggal
sendiri. Lagian setelah mengetahui bahwa kepandaian ilmu meringankan tubuh Kim Houw
memang benar sudah mencapai tingkat yang sempurna, mereka anggap tidak perlu membuntuti
terus.
Kim Houw karena barusan bicara dengan Imam palsu dan Kacung baju merah, hingga agak
sedikit terlambat, sedang pemuda yang mengaku sebagai kakaknya itu sudah berada sejauh
sepuluh tombak lebih. Ketika Kim Houw berhasil mengejar padanya, Istana Kumala Putih sudah di
belakangnya.

Kim Houw cepat lihat pemuda itu mendadak hentikan tindakannya. Ternyata dihalangi
perjalanan oleh kedua orang hutan. Dia melihat keadaan sekitarnya, ternyata sudah didekat goa
tempat ia melihat ilmu silat, ia kuatir dua orang hutan itu nanti menimbulkan onar, maka buru-buru
mencegah dan berkata kepada pemuda iut; "Koko, aku ada mempunyai tempat yang sangat
rahasia, mari ikut aku!" ia lantas menggandeng tangan si pemuda, masuk ke dalam goa.
Di dalam goa, pertama-tama yang dilihat oleh pemuda itu adalah gambar patkwa yang aneh
yang ada diding goa, maka lantas menanya kepada Kim Houw: "Adik, apa gambar patkwa ini
gambar petunjuk keluar dari rimba ini!"
Kim Houw yang tidak mempunyai syak wasangka tanpa ragu-ragu menjawab: "Koko, gambar
ini belum lengkap, kau lihat di sini masih ada gambar patkwa lagi, dengan menurut petunjuk yang
ada dalam gambar patkwa ini kita bisa keluar dari rimba. Ini ada dua lukisan yang aku sudah
gabung menjadi satu, dengan adanya lukisan peta ini, semua orang yang ada di Istana Kumala
Putih akan bisa bebas merdeka lagi." Sehabis bicara ia ketawa, hatinya sangat gembira.
Anak muda ini memeriksa dengan teliti, tiba-tiba mencium dengan hidungnya. Kim Houw
mengira ia mengendus bau harum yang muncul dari kamar buku yang sangat aku rahasiakan, tapi
baru saja ia memanggil; "Koko..." tiba-tiba sudah mendengar si pemuda berkata: "Adik goa ini
kurang bersih, ada bau hawa apa-apa yang kurang enak, mari kita keluar saja! Aku ada tempat
yang bagus, disana ada terdapat air terjun, suaranya keras, sekalipun kita bicara nyaring tidak
takut ada orang yang mencuri dengar."
Tanpa menunggu Kim Houw setuju atau tidak, tahu-tahu dia sudah melesat keluar.
Kim Houw merasa agak heran, ia yang berdiam dalam goa ini hampir setahun lamanya belum
pernah dapat mengendus hawa busuk, mengapa sang kakak itu baru masuk lantas mengatakan
begitu? Dalam hatinya cuma berpikir mungkin sang kakak itu suka kebersihan, hawa itu mungkin
keluar dari badannya orang hutan. Maka juga tidak pikir panjang lagi, lantas menyusul si pemuda
tadi ke sebuah puncak gunung.
Di atas puncak gunung itu benar ada terdapat air terjun yang airnya mengalir ke bawah jurang.
Kelihatannya seperti air terjun biasa yang lainnya, tapi suara tumpahan airnya menimbulkan suara
berisik sekali.
Si pemuda itu duduk di atas sebuah batu di tepinya air terjun. Baru saja duduk, lantas
menghela napas panjang, agaknya mempunyai kedudukan yang tidak bisa dilampiaskan.
Menyaksikan keadaan anak muda itu, Kim Houw lantas melompat menanya: "Koko, bukankah
rumah tangga kita mengalami malapetaka, bagaimana ayah dan ibu..."
"Sebelum aku mendapat bukti yang nyata bahwa kau benar saudaraku, aku tidak berani
sembarangan omong, sebab aku sendiri adalah seorang she Pek, sedang kau she Kim. Aku ingat
ibu pernah mengatakan bahwa ketika kau dilahirkan, di belakang punggungmu ada terdapat tiga
titik hitam yang merupakan gambar tiga ujung. Selain daripada itu, juga ada tanda lorengnya
macan, boleh kau perlihatkan kepada engkomu? demikian kata si pemuda.
Kim Houw setelah mendengarkan keterangan engkonya itu, lantas berseru kaget dan lalu
menubruk kepada engkonya sembari memanggil-manggil: "Engko, kau adalah engko kandungku
sedikitpun tidak salah, kedua rupa tanda itu memang benar ada, betul ada..."
Dalam kegirangannya, Kim Houw melupakan segala apa. Ia buru-buru membuka bajunya yang
butut, begitu pula baju wasiatnya seraya berkata: "Engko! Kau lihat..." ia berkata sambil
menunjukkan gegernya.

Pemuda yang mengaku she Pek itu lantas tersenyum, wajahnya yang memang sudah cakap,
senyumnya itu menambah ketampanan dan kegagahannya.
"Adik aku sudah lihat tanda loreng macan, ini benar-benar luar biasa, tapi dimana tanda titik
hitam?" ia coba meraba-raba digegernya Kim Houw.
Kim Houw sebetulnya cuma dengar dari Ciok yaya tentang tanda-tanda di atas dirinya itu
hingga ia sendiri juga tidak tahu dimana letak sebetulnya tanda titik hitam itu?"
Selagi masih berpikir, tiba-tiba sang engko itu berseru: "Aaah...! Mengapa di dalam air terjun
ini bisa terdapat ikan begitu besar?"
Kali ini Kim Houw benar-benar dibikin bingung oleh ucapannya sang engko itu, bagaimana
orang sedang mencari tanda di badannya orang, matanya bisa memperhatikan keadaan di dalam
air terjun? tapi meski dalam hati Kim Houw merasa heran, tidak urung menoleh juga ke arah air
terjun.
Tiba-tiba ia merasakan suatu kekuatan tenaga yang tersembunyi yang begitu hebat
mendorong ke punggungnya dalam keadaan ia tidak bersiaga, badan Kim Houw lantas melayang
seperti layangan putus dan terjun ke bawah jurang air terjun.
Waktu dirinya mendekati air terjun, Kim Houw sebenarnya hendak mengerahkan ilmunya Hanbun-
cao-khi, untuk menahan laju badannya yang melayang turun. Siapa nyana tatkala badannya
diterjang oleh kekuatan air terjun, hawa dingin lantas menyerang tubuhnya, hingga ilmunya belum
sampai dikerahkan badannya sudah meluncur turun ke dalam jurang tersebut. Lapat-lapat ia
mendengar suara pemuda she Pek itu yang mengumpat sendirian :" Anak busuk......di dalam
jurang kau boleh menemukan ibumu yang hina itu....!"
Satu jam kemudian, setelah terjadinya peristiwa yang mengenaskan tersebut, dibagian
belakang dari Istana Kumala Putih sudah dimasuki oleh seseorang. Orang itu adalah seorang
pemuda yang berwajah putih bersih dengan dandanan seperti anak sekolah, dia adalah pemuda
she Pek yang licik dan kejam itu.
Sudah satu tahun anak muda itu berdiam didalam Istana Kumala Putih, tapi belum pernah
masuk kebagian belakang, karena dalam hal-hal yang belum aman benar-benar, selamanya ia
tidak berani melakukannya.
Tapi kali ini, ia telah masuk. Ia menyampaikan kepada yang lain bahwa ia hendak coba-coba
saja dulu, oleh karena ia sudah menemukan jalan keluar dari rimba keramat. Dan sebelum
meninggalkan rimba ini, ia mau mencoba-coba dulu untuk memasuki ruangan belakang itu.
Ia menunjukkan sikap ketakutan, sebelum ia masuk ia berlagak melatih lwekangnya dulu, lalu
setindak demi setindak masuk ke dalam.
Ruangan belakang Istana Kumala Putih itu keadaannya memang gelap seram. anak muda licik
itu ketika berada didalam ruangan seperti juga seorang buta tapi setelah melalui jalanan yang
gelap itu dari istana Kong Han Kiong, barulah ia mendapat sedikit penerangan, hingga matanya
bisa melihat barang-barang apa saja yang terdapat di situ.
Kapan ketika ia kembali keluar, keadaannya membuat mata orang banyak terbelalak. Sekujur
badan pemuda itu penuh dengan permata yang tidak ternilai harganya, dikedua tangannya masih
menggenggam barang wasiat beraneka warna, begitu tiba di ruangan depan, ia lantas menggelar
semua barang berharga itu di atas tanah.

Semua orang yang melihat benda-benda itu kebanyakan pada ternganga mulutnya. Orangorang
itu adalah kawanan berandal, okpa yang kaya raya, entah berapa banyak barang permata
yang sudah dipunyai atau pernah dilihat. Tapi tidak ada yang begitu bagus seperti barang permata
yang dibawa keluar oleh anak muda itu. ia tidak heran semuanya pada merasa terheran-heran.
Anak muda ini setelah berantaki barang permata dari tangan dan badannya di tanah, lalu
membuka rencengan mutiara yang dikalungkan pada lehernya, juga dari sakunya mengeluarkan
batu giok, yang semuanya merupakan benda yang jarang ada di dunia.
Pemuda itu mundar-mandir sampai tiga empat kali ke ruang belakang, akhirnya berkata
seorang diri: "Ah! Begitu banyaknya bagaimana aku bisa membawa keluar semua?"
Akhirnya pemuda itu menemukan satu akal. Lima buah peti mati yang terbikin dari kaca itu
dibawa keluar semua, jenazah yang ada didalam diangkutnya keluar diganti isinya dengan barang
permata. Tapi lima buah peti itu ternyata masih tidak cukup untuk mengisi barang-barang permata
itu, hingga pemuda itu menghela napas dan berkata sendirian: "Betul-betul terlalu banyak, diambil
tidak habis-habisnya."
Pada saat itu, banyak orang pada mengawasi padanya dengan sorot mata bertanya, karena
menurut keterangan Kim Houw peti mati kaca itu didalamnya terdapat jenazah majikan dari istana
ini, tidak nyana pemuda she Pek ini mempunyai nyali yang begitu besar dan amat serakah, sampai
peti mati itu juga ikut diambilnya.
Pemuda she Pek itu setelah meletakkan barang-barangnya, lantas berkata dengan suara
nyaring :" Tuan-tuan dan Locianpwe semuanya jangan kaget, barang ini bukan untuk aku seorang
yang serakahi, tapi untuk semua orang. Cianpwe sekalian sudah sepuluh tahun lebih
meninggalkan rumah tangga dan terkurung dalam Istana Kumala Putih ini, maka amatlah pantas
jika membawa sedikit oleh-oleh keluar sebagai tanda mata. Cuma......., aku dengar Cianpwe
sekalian pernah keluarkan perkataan bahwa siapa yang bisa masuk ke istana belakang, ia akan
diangkat sebagai majikan Istana Kumala Putih ini, dan siapa yang bisa membawa keluar barang di
ruangan belakang itu, Cianpwe sekalian akan menjadi hamba dari orang itu selamalamanya........
perkataan ini, apakah kini masih berlaku?"
Sehabis berkata ia sengaja tersenyum dan menyapu wajah setiap orang yang ada di situ.
"Percuma saja kau menjadi orang dunia persilatan, apakah kau tidak tahu bahwa orang-orang
rimba persilatan itu selamanya mengutamakan kepercayaan, dan memegang teguh janjinya?
Maka perkataan itu bukan saja baru beberapa puluh tahun, sekalipun seratus tahun kemudian juga
masih berlaku!" berkata Lie Cit Nio.
Pemuda she Pek itu tersenyum simpul, dengan tindakan perlahan-lahan ia berjalan menuju ke
tengah ruangan. "Kalau benar ucapan itu masih berlaku, aku Pek Liong Po yang bergelar Siao Pek
Sin (Dewa Putih Kecil), kini sudah bisa keluar dengan selamat dari istana ruang belakang ini,
tetapi mengapa tidak ada satu orangpun yang menjungjung aku sebagai majikannya." demikian
katanya.
Ucapan pemuda yang mengaku bernama Pek Liong Po dengan gelar Siao Pek sin itu telah
mengejutkan semua orang yang ada di situ, tapi perkataannya itu memang mengandung
kebenaran, bukan semacam paksaan. Tiba-tiba terdengar suara si Imam Palsu :" Siao Pek sin,
kau apakan majikan kecil kami?"
"Kim Houw adalah adikku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa berlaku jahat padanya?
Karena kepandaiannya masih kurang sempurna, aku suruh ia berlatih lagi selama lima tahun
lamanya, baru nanti turun gunung mencari aku lagi, apakah sebagai kakaknya aku melakukan
kesalahan?" jawab Siao Pek Sin sambil tertawa.

Jawaban ini membuat si Imam Palsu bungkam, maka akhirnya semua orang itu pada berlutut
dan bersujud kepada majikan baru ini. Dalam rombongan itu cuma seorang yang tidak mau
berlutut, orang itu diam-diam telah berlalu meninggalkan istana ketika banyak orang sedang
berlutut, bahkan ia berlalu akan tidak balik lagi ke dalam Istana Kumala Putih itu. Siapa orang itu?
Dia adalah si Hwesio Gagu Kim Lo Han! Hampir sepuluh hari lamanya orang-orang mencarinya
namun tidak dapat menemukan bayangannya, akhirnya Siao Pek Sin tidak bisa menunggu lagi,
maka ia lantas mengajak semua orang keluar dari rimba keramat itu sambil membawa barangbarang
permatanya berikut lima buah peti mati yang sudah dipenuhi oleh permata-permata yang
berharga.
Dengan adanya Siao Pek Sin sebagai pembuka jalan sambil mengikuti petunjuk peta itu, dan
setelah menempuh perjalanan berliku-liku selama tiga hari tiga malam, akhirnya mereka dapat
meninggalkan tempat yang sudah beberapa ratus tahun dipandang sebagai tempat yang sangat
keramat itu.
Di tahun berikutnya, di atas gunung Kua cong San yang mempunyai pemandangan alam yang
sangat permai, kembali muncul Istana Kumala Putih. Sebuah istana yang sangat megah, cuma
tidak ada rimbanya yang penuh rahasia. Majikan istana itu adalah Siao Pek Sin yang usianya baru
mencapai sembilan belas tahun.
Tapi sejak munculnya Istana Kumala Putih itu, di dunia Kangouw lantas timbul malapetaka
hebat. Sebabnya ialah Majikan Istana Kemala Putih yang pernah menjadi penghuni dari Istana
Kemala Putih didalam rimba keramat, mendatangi setiap golongan atau partai-partai persilatan
dan meminta ketua dan murid-murid mereka untuk tunduk padanya. Dia ingin menjagoi dunia
persilatan dan ingin menduduki kursi singgasana didalam rimba persilatan.
Dalam hal ini, kecuali tokoh-tokoh dunia Kangouw yang pernah bersumpah didalam Istana
Kumala Putih, siapakah yang sudi menurut padanya?
Maka timbullah pertempuran hebat, darah mengalir membasahi daerah selatan dan utara
sungai Tiangkang.
Dalam Istana kumala Putih di atas gunung Kua-cong-san. Pada suatu hari telah kedatangan
seorang tamu wanita yang baru berusia kira-kira tujuh belas tahun. Nona ini parasnya sangat
cantik, alisnya lentik, mulutnya kecil mungil, hidungnya mancung, ditambah dengan dandanan baju
ringkasnya yang berwarna merah, membuat siapa saja yang melihat pasti akan terpesona.
Kedatangan nona itu diantar oleh penjaga dari istana tersebut, oleh karena ia menyatakan
hendak bertemu dengan Majikan Istana Kumala Putih, Siao Pek Sin.
Begitu Nona itu tiba di puncak gunung, dari dalam istana sudah keluar perintah untuk
mempersilahkan supaya nona itu masuk.
Si Jelita agaknya tidak merasa takut sedikitpun terhadap istana itu, dengan cepat ia masuk ke
istana, lantas iapun dibikin tercengang dengan isi istana tersebut.
Istana itu kecuali pintu depannya, tidak ada daun jendelanya sama sekali, tapi hawa udara
cukup banyak. Apa yang membuat orang heran, adalah batu-batu permata yang menghiasi pilarpilar
tiang. Hampir semua warna ada. Orang yang masuk ke dalam istana itu seolah-olah sedang
memasuki istana kerajaan permata.
Nona itu tiba di pertengahan ruang istana, matanya segera dapat melihat seorang pemuda
berwajah putih seperti anak sekolahan, usianya kira-kira baru sembilan belas tahun. Dikedua

sisinya tampak sepuluh orang lebih yang usianya sudah lanjut semua, pemandangan ini membuat
ia terheran-heran.
Sebetulnya, peristiwa Siao Pek Sin yang berhasil menemukan jalan keluar dari rimba keramat
dan kemudian memimpin para jago persilatan itu, sudah menggegerkan dunia Kangouw. Dalam
hati kecil nona itu, Siao Pek Sin itu adalah seorang kakek-kakek yang usianya sudah lanjut sekali.
Di sepanjang jalan, malah ia diam-diam geli, mengapa orang tua yang memimpin para jago
persilatan di Istana Kumala Putih itu mempunyai gelar seperti anak-anak.
Siapa mengira Siao Pek Sin yang dikiranya seorang kakek ternyata masih muda belia, pandai
mengendalikan dan memimpin para jago tua yang usianya hampir tiga kali usianya sendiri itu.
Tatkala si nona mengamati lebih teliti lagi wajah Siao Pek Sin, hatinya bergoncang keras.
Alisnya yang panjang, matanya yang lebar dan tajam serta bersinar, hidungnya mancung, bibirnya
serta sujen dikedua pipinya yang sangat menggiurkan setiap wanita, mengapa mirip benar dengan
kekasihnya?
Cuma sang kekasih itu usianya hampir sebaya dengan dirinya sendiri, perawakannya juga
tidak begitu tinggi, tapi mengapa parasnya begitu mirip?
Tiba-tiba ada orang yang memanggil namanya, sehingga si nona hampir melompat saking
kagetnya.
"Peng Peng, apa perlumu datang kemari? Apa perlunya kau mencari Tiancu? tanya orang itu.
Nona baju merah itu memang bukan lain adalah Touw Peng Peng adanya. Ia tidak nyana
bahwa didalam istana ini ada orang yang kenal padanya. Tatkala ia mencari siapa orang yang
menegurnya, ia melihat diantara orang tua yang berdiri di sisi Siao Pek sin ternyata adalah Ciok
Goan Hong.
"Kho-thio, kau ada di sini!" tanyanya heran.
"Ng! Kho-thio mu memang di sini!" Wajah Ciok Goan hong tampak diliputi perasaan duka,"
Peng Peng mari ke sini dan beri hormat kepada Tiancu kami." Sehabis berkata ia lantas berpaling
kepada Siao Pek sin :" Tiancu, ia adalah she Touw dan namanya Peng Peng, nona ini calon
menantuku.........!"
"Kho-thio!" potong Peng Peng dengan wajah merah, "Engko Liang dan aku......"
"Ciok-ya, ia nona yang cantik sekali, bukan?" Siao Pek sin memandang Ciok Goan Hong
sejenak, memutuskan ucapan Peng Peng, "Nona Touw! Kau mencari aku ada urusan apa? Asal
bisa menolong pasti aku bersedia untuk menolong kau!"
Touw Peng Peng berpikir sejenak, lama tidak bisa menjawab. Dalam hatinya agak bersangsi,
setelah hening sekian lamanya, ia baru menjawab sambil kertakkan giginya :" Aku ingin minta
keterangan tentang diri seseorang, dia juga pernah masuk ke dalam Istana Kumala Putih ini. Tapi
tidak tahu ia sekarang masih hidup atau sudah binasa, dan dimana dirinya, ikut keluar atau tidak,
ia adalah seorang she......."
Tiba-tiba suaranya dipotong dengan sebuah suara yang keras :" Peng Peng......."
"Ciok-ya, kau jangan bikin takut padanya, biarlah dia bicara terus, aku ingin tahu siapa yang
begitu berharga untuk dipikirkan olehnya?" Berkata Siao Pek sin sambil tersenyum.

Taow Peng Peng sebetulnya sudah mau menutup mulutnya karena barusan sudah dibentak
oleh Ciok Goan Hong, tapi kini setelah mendengar ucapan Siao Pek Sin, seketika itu nyalinya
lantas besar, maka ia berkata lagi, "Orang yang aku ingin cari keterangannya adalah Kim Houw..."
Nama Kim Houw ketika masuk dalam telinganya Siao Pek Sin ia seolah-olah dipagut ular,
hampir saja Siao Pek Sin lompat dari tempat duduknya. Wajahnya lantas berobah seketika, tapi
sebentar saja sudah pulih kembali, perobahan itu terjadi dalam tempo sekejap saja, siapapun tidak
ada yang perhatikan.
"Oh, ya! Aku lupa kau malah mencuri baju wasiat Hay-sie-kua untuk dia, betul tidak...?"
katanya sambil tersenyum.
"Tidak!" Peng Peng memotong ucapannya, "aku tidak sengaja mencuri, aku pernah
memberitahukan hal ini kepada Kho-thio, aku lakukan itu dengan tidak sengaja!"
Siao Pek Sin tertawa tergelak-gelak: "Biar bagaimana, adalah kau yang memberikan padanya,
betul tidak? Sekarang, biarlah aku berikan padamu. Kim Houw masih hidup cuma dia tidak keluar,
sebab kepandaiannya, belum cukup sempurna. Mungkin tidak lama lagi dia akan keluar mencari
aku, bahkan aku boleh beritahukan terus terang padamu aku ini adalah kakak kandungnya Kim
Houw!" katanya.
"Aaaa!" Peng Peng berseru kaget, "Pantas parasnya mirip benar!"
Tiba-tiba dalam ruangan besar yang begitu luar itu terdengar suaranya orang tertawa dingin.
Suara itu ada demikian halus, tapi berputaran di ruangan dan masuk telinga setiap orang yang ada
di situ, begitu dingin seram kedengarannya, hingga membuat setiap yang mendengar pada berdiri
bulu romanya.
Suara orang tertawa dingin itu telah merobah keadaan dalam istana itu. Berbareng dengan itu
juga menggoyangkan hatinya para locianpwe yang sekarang mengabdi kepada Siao Pek Sin.
Mendadak terdengar suara orang membentak: "Siapa yang berani menyusup ke dalam Istana
Kumala Putih ini, apakah sudah bosan hidup....?"
Suara bentakan itu keluar dari mulutnya seorang yang berdiri pertama di baris kiri Siao Pek
sin, ia adalah pamannya Siao Pek Sin bernama Pek Kao. Kecuali ayahnya Siao Pek Sin: Pek
Liong Yaya, adalah si paman ini kepandaiannya terhitung paling tinggi. Kedatangan sang paman
adalah undangan Siao Pek Sin yang minta untuk membantu pekerjaan dalam istana itu.
Tapi, belum menutup mulutnya habis, suara benda yang enteng sekali menyambar lidahnya.
Meski benda itu enteng, tapi kekuatannya cukup hebat, Pek Kao diam-diam terkejut, cepat ia
muntahkan, ternyata itu kulitnya bak-pao. Sungguh hebat kepandaian tamu tidak diundang itu,
pikirnya.
Orang-orang yang berada di situ semuanya merupakan tokoh-tokoh terkemuka di dunia
kangouw. Tatkala Pek Kao kena diserang secara menggelap, siapapun sudah lantas dapat tahu
berkelebatnya bayangan putih secepat kilat, tapi tidak ada seorangpun yang tahu darimana
datangnya bayangan itu.
Dalam Istana Kumala Putih itu tidak ada jendelanya, kecuali dua penglari dan beberapa batang
tiang. Boleh dibilang sudah tidak ada tempat untuk orang menyembunyikan diri.
Pek Kao yang terhina begitu rupa, meski tahu bahwa orang yang jail tangan itu ada seorang
yang berkepandaian luar biasa tingginya, ia penasaran sekali, maka ia lantas gerakkan badannya
melesat ke atas penglari dan mulutnya membentak: "Kawanan tikus dari mana main sembunyisembunyi
saja, tidak berani unjukkan diri. Kalau mempunyai nyali boleh keluar untuk coba-coba...."

Ucapannya dipotong oleh suatu tekanan yang luar biasa hebatnya menyambar dari muka. Pek
Kao terperanjat, justru badannya sedang ada di udara, ia tidak berdaya menyambuti dengan
kekuatan tangannya. Namun ia juga tidak mau menyerah mentah-mentah, sambil keluarkan
bentakan kedua tangannya lantas mendorong ke atas, sayang serangannya ini hanya
mengenakan tiang, sampai seluruh ruangan menggetar, batu dan pasir dari atas pada
berhamburan. Kapan Pek Kao sudah berada di bawah lagi, ia cuma bisa mengawasi apa yang
telah terjadi dengan mulut menganga.
Ternyata tenaga yang menindih padanya tadi, begitu lihat Pek Kao menyambut dengan
sepenuh kekuatannya lantas ditarik dengan mendadak sehingga tangan Pek Kao menbentur tiang.
Keadaan itu membuat Pek Kao terpesona dan tidak berani unjuk kesombongan lagi.
Betapapun tebal kulit mukanya. Ia insyaf bahwa kekuatan orang yang sembunyi itu jauh lebih
tinggi dari pada dirinya sendiri.
Pada saat itu, ada dua orang kelihatan berbareng lompat naik ke atas penglari. Mereka adalah
Kim Coa Nio-nio dan si Kacung baju merah. Dua orang ini setelah berada di atas, matanya
mencari kesana kemari, tapi satu bayangan setan pun tidak kelihatan. Mereka menganggap Pek
Kao ketakutan oleh bayangannya sendiri, sebab dari atas tiang itu terlihat semua orang yang
berada di ruangan.
Setelah terjadinya hal itu, semua orang pada diam memutar otak menduga-duga. Mereka tidak
tahu orang yang sembunyi itu apa manusia atau setan. Ada suatu hal yang luar biasa, jika
bayangan itu manusia biasa, masakah mempunyai kepandaian setinggi demikian hingga datang
dan perginya tidak satu manusiapun yang dapat lihat ?
Tiba-tiba Siao Pek sin ketawa bergelak-gelak, ia kelihatannya tenang sekali: "Sahabat yang
tidak mau unjukkan diri, perlu apa musti dipaksa ? Mari kita ke ruangan belakang, di sana sudah
disediakan sedikit hidangan dan minuman untuk menyambut kedatangan nona Touw." Bicara
sampai di sini ia menoleh dan berkata kepada Ciok Goan hong : "Ciok-ya, apa Lie Cit nio Locianpwe
sudah kembali?"
"Cit Nio masih belum kembali, mungkin dalam satu dua hari ini !" jawab ciok Goan Hong.
"Harap Ciok-ya bersama Cek-ie (dimaksudkan si Kacung baju merah) pergi menyambut
padanya !"
"Baik Tiancu, sekarang juga kami hendak pergi, cuma ...." jawabnya sambil memutar tubuh.
Siao Pek Sin mengawasi Touw Peng Peng: "Ciok-ya." katanya sambil tersenyum, "tentang
nona Touw aku mampu menjaganya. Kau tidak usah kuatir, kalau memang ia mau menjadi
menantunya keluarga Ciok, tentu tidak bisa kabur ! Kau mungkin juga bisa kembali dalam satu dua
hari ini saja, bukan ?" Ciok Goan hong mengangguk dan lantas berlalu.
Ruangan belakang istana ada sepuluh kali lipat lebih luas dari pada ruangan depan. Dikedua
sisinya dibangun kamar-kamar mengitari sebuah taman yang luas, ditengah-tengah ada tanah
lapangan yang luasnya ada beberapa bouw, seperti taman tapi juga boleh dikata seperti tempat
melatih ilmu silat. Kecuali pohon-pohon tinggi besar yang mengitari bagian ini, masih terdapat
kolam air mancur, dimana ada dipelihara ikan-ikan emas yang jumlahnya ada ribuan ekor.
Pada waktu itu, hari sudah jauh malam, rembulan telah memancarkan sinar yang terang
benderang.

Di tepinya kolam ikan tampak duduk sepasang pemuda-pemudi. Yang pria cukup tampan,
sedang yang wanita cantik molek. Nampaknya yang pria tengah bicara tidak putus-putusnya,
sedang wanitanya terus ketawa terpingkal-pingkal. Kelakuan mereka agak mirip dengan sepasang
kekasih.
"Nona Touw, bolehkah aku panggil kau Peng Peng saja ?" kedengaran sang lelaki bicara.
"Sudah tentu boleh! Sebab kau adalah kakaknya Houw-ji!"
Sepasang muda mudi itu adalah Siao Pek Sin dan Touw Peng Peng.
"Peng Peng, mengapa kau selalu suka menyebut nama Houw-ji saja?" tanya Siao Pek Sin.
Kembali Peng Peng tertawa geli, "Sebab aku suka padanya, aku suka kepada Houw-ji!"
jawabnya secara terus terang.
Siao Pek Sin dalam hati merasa kaget, ia tidak menyangka nona ini begitu berani dan
demikian tebal mukanya. Dengan tanpa tedeng aling-aling ia menyatakan isi hatinya. Dapat
dibayangkan bahwa si nona adalah seorang gadis yang polos.
"Peng Peng, bukankah kau calon menantunya Ciok Goan Hong? Bagaimana boleh.....?" kata
Siao Peng Sin dengan perasaan tidak senang.
"Mengapa tidak boleh?" memotong Touw Peng Peng. "Aku dengan Engko Liang sudah putus,
sebab sejak semula memang aku tidak suka padanya!"
Siao Pek Sin yang dalam hal menghadapi berbagai kejadian didalam rimba persilatan selalu
mempunyai daya untuk menundukkannya, tapi sekarang menghadapi nona Touw Peng Peng ini
sama sekali mati kutu.
"Kalau kau tidak suka padanya, juga tidak seharusnya kau di hadapanku selalu menyebutnyebut
nama Houw-ji!" akhirnya ia dapat berkata juga.
Kembali Peng Peng memperdengarkan suara tawanya yang amat geli. "Aku hanya hendak
mengingatkan kau, yang aku sukai adalah Houw-ji, harap kau jangan berpikir yang bukanbukan......."
demikian katanya dengan berani.
Jawaban itu membuat Siao Pek Sin seolah-olah disambar geledek, sampai kepalanya
dirasakan pengang, lama ia tidak bisa membuka mulutnya. Ia tidak menyangka nona Touw Peng
Peng ini demikian lihay bicara, ia benar-benar bukan tandingannya. Ia mampu menghadapi jago
yang mana saja dari rimba persilatan, tapi di hadapan nona ini, ia terpaksa mengaku kalah.
Siao Pek Sin mendadak mendapat suatu akal untuk menjajaki isi hati si gadis. "Peng Peng aku
akan memberitahukan padamu suatu berita yang sangat tidak enak!" katanya.
Touw Peng Peng terkejut, ia tidak tahu ada berita apalagi akan keluar dari mulutnya sianak
muda itu. Buru-buru ia mendesak "Siao Pek Sin, lekas kau katakan, berita apa yang tidak enak
itu?"
Siao Pek Sin matanya jelalatan. Setelah mengetahui tidak ada satu orangpun yang berada
disitu, baru ia menjawab :" Peng Peng, berita ini buat kau benar-benar bisa dikatakan tidak enak,
ini adalah mengenai adikku, yaitu orang yang kau cintai, Houw-ji.....dia......dia......"

"Dia kenapa?" Touw Peng Peng nampaknya sudah tidak sabar lagi.
"Dia......dia telah binasa!" Siao Pek Sin pura-pura bersedih. "Houw-ji, dia sedikitpun tidak
mengerti ilmu silat, tapi dia adalah anak yang tidak kenal apa artinya takut, akhirnya telah binasa
digigit oleh kalajengking berbisa!"
Siao Pek Sin sehabis memutarkan, melihat Touw Peng Peng lama tidak bergerak. Tatkala ia
melirik, nona itu ternyata sudah semaput setelah mendengarkan ceritanya tadi. Ia tampak seperti
orang yang linglung, duduk menjublek seolah-olah sebuah patung.
Siao Pek Sin girang, ia anggap inilah saatnya yang paling baik untuk menodai diri Peng Peng.
Karena keadaannya yang linglung, pasti Peng Peng tidak berdaya sama sekali.
Baru saja Siao Pek Sin meraba-raba Peng Peng dari belakang, tiba-tiba ia merasakan seperti
ada senjata rahasia yang menyambar.
Siao Pek Sin buru-buru berkelit ke samping, senjata rahasia itu dengan perlahan-lahan
mengenai jalan darah Leng-thay-hiat di belakang badan Peng Peng, sehingga Peng Peng terkejut
seolah-olah baru sadar dari mimpinya, seketika itu ia lantas menangis sesenggukkan.
Siao Pek sin dibikin terheran-heran oleh kelihaian orang yang menyerang dengan senjata
rahasia itu. Kepandaiannya yang demikian, benar-benar merupakan suatu kepandaian yang luar
biasa. mungkin sukar dipercaya kebenarannya, sebab bagaimana senjata rahasia itu bisa
mengenai jalan darah begitu tepat dalam jarak yang begitu jauh. Terutama ketika senjata itu baru
terlepas dari tangan, meluncurnya begitu kuat, sampai siao Pek sin tidak berani menyambuti, tapi
setelah mengenai tubuh belakang Peng Peng, kekuatannya lantas musnah dan Peng Peng
tersadar dari lamunannya.
Dengan cepat Siao Pek Sin membalikkan badan, tapi di belakangnya cuma nampak bayangan
pohon yang terkena sinar rembulan, dimana ada bayangan orang?
"Orang kuat darimana yang datang? Sudah berani menyatroni Istana kumala Putih, mengapa
main sembunyi....?" demikian katanya dengan gemas.
Sebagai jawaban hanya terdengar suara orang ketawa dingin menyeramkan. Mungkin orang
tidak akan percaya kalau itu suara manusia.
Berhenti suara ketawanya, lantas disusul oleh kata-katanya yang tidak kalah seramnya :" Siao
Pek Sin, aku mana menyayangi jiwa seorang berhati binatang seperti kau ini? aku bicara dengan
kau saja rasanya begitu malu, cuma aku harus memberikan kepadamu nona Peng Peng......"
suaranya berobah dalam tapi kuat kedengarannya, seperti dari tempat beberapa puluh tombak
jauhnya. Sepatah demi sepatah tegas, hingga Siao Pek sin mengetahui kalau orang itu bukan
orang sembarangan. Tapi ia masih belum percaya kalau dirinya tidak mampu membuka kedok
orang yang bersembunyi itu, dalam sekejap tubuhnya berkelebat dan melesat ke arah datangnya
suara tadi.
Tadi kedengarannya sangat jelas bahwa suara itu berasal dari sebuah pohon yang lebat, dan
selagi suara itu masih berkumandang ia sudah melesat ke pohon tersebut, tapi ia tertipu, karena
suara itu sudah menghilang dan pindah ke sebelah kiri yang jauhnya kira-kira beberapa tombak.
Suara itu terus berkumandang di telinganya.....
"Dilarang kau mengganggu seujung rambutnya saja! Kalau kau berpikiran yang bukan-bukan
terhadap dirinya, hati-hatilah setiap saat aku bisa mengambil jiwa anjingmu!" demikian kata-kata
itu yang terdengar sangat jelas.

Siao Pek Sin bukan kepalang kagetnya, "Aku kira siapa, ternyata cuma seorang pengecut
yang hanya bisa menggertak orang saja! Aku tidak percaya kalau tidak dapat memaksa kau untuk
unjukkan diri......." belum habis ia berkata, ia sudah melompat dengan cepat ke atas sebatang
pohon besar.
Gerakan itu dibarengi dengan gerakkan serangannya, tak lama kemudian terdengar suara
gemuruh runtuhnya sebatang pohon. Dari atas pohon itu segera melompat keluar seseorang, Siao
Pek Sin pun tertawa puas, tapi baru saja hendak mengucapkan kata-kata, lantas terdengar suara
orang yang baru muncul tersebut: "Tiancu, aku adalah Ciok Goan Hong!"
"Ciok-ya mengapa berani melanggar perintah Tiancu......?" kata Siao Pek Sin dengan wajah
yang berobah seketika.
"Harap Tiancu jangan salah paham, Cit Nio sudah menyambut nyonya besar, sekarang
sedang dalam perjalanan ke atas gunung. Saya hanya hendak menyampaikan berita ini terlebih
dahulu kepada Tiancu, juga barusan saja tiba disini."
"Urusan anda begini kebetulan, sampai aku salah faham. Sekarang Ciok-ya siarkan kilat. Cari
tahu siapa yang mendapat giliran menjaga hari ini, mengapa sampai tidak diketahui
kedatangannya orang luar?"
Ciok Goan Hong undurkan diri setelah menerima titah. Siao Pek Sin segera menoleh mencari
Peng Peng, tapi Peng Peng sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Ini membuat ia tambah heran
lagi, nyata barusan karena hatinya keliwat tegang, sampai tidak tahu sejak kapan si nona itu telah
berlalu dari sampingnya.
Tapi pada saat itu ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memikirkan soal si nona sebab
ibunya telah sampai !
"Di depan Istana Kumala Putih berdiri berderet barisan obor, hingga istana itu keadaannya
seperti siang hari. Siao Pek Sin memimpin tokoh-tokoh terkemuka dari rimba persilatan, semua
berdiri menanti di mulut pintu. Tidak antara lama, tertampak kedatangannya sebuah tandu kecil
mungil yang tengah digotong dan dibawa lari keatas gunung laksana terbang.
Siao Pek sin segera menyambut dan membuka kain yang menutupi tandu, ia lihat di dalam
tandu duduk seorang wanita setengah tua, wajahnya tirus, tapi kelihatannya sangat agung.
"Ibu dalam perjalanan tentu terlalu letih !" kata Siao Pek sin.
Wanita itu ketawa, ia turun dari atas tandunya seraya berkata : "Sin-ji, ibumu tidak apa-apa,
cuma Lie Cianpwe ini yang benar-benar letih sekali, kau wakili ibumu untuk mengucapkan terima
kasih padanya."
Siao Pek Sin menurut dan lalu menghadapi Lie Cit Nio dan si Kacung baju merah yang berdiri
di belakang tandu : "Jiwie terlalu cape, atas perintah ibu, Siao Pek Sin disini memberi hormat.
Silahkan jiwie mengaso di kamar belakang!" demikian katanya.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan si Kacung baju merah: "Siapa intip-intip di sini...?"
mulutnya belum ditutup, orangnya sudah lompat melesat. Tapi, selagi badannya masih ditengah
udara, lantas seorang wanita muda baju merah yang cantik sekali parasnya muncul dari belakang
batu besar.
Ketika Siao Pek Sin menampak siapa orangnya lantas berseru: "Peng Peng, mengapa kau
sembunyi disitu ....?"

Touw Peng Peng cuma tersenyum, lalu menghampiri dan memberi hormat kepada ibunya Siao
Pek Sin sembari memanggil dengan suara perlahan : "Bibi ..."
Nyonya setengah tua itu mengawasi Peng Peng, lalu menanya kepada Siao Pek Sin :
"Mendengar panggilan kau kepada nona ini begitu mesra, Sin-ji siapa nona ini?"
Siao Pek sin melongok tidak dapat menjawab, ia tidak mengerti sikapnya Peng Peng, karena
barusan ia menangis begitu sedihnya sekarang tampaknya seperti tidak ada kejadian apa-apa.
Karena memikirkan soal ini, sampai tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya.
Akhirnya Touw Peng Peng sendiri yang buka suara untuk memperkenalkan dirinya : "Bibi, aku
bernama Touw Peng Peng, adalah sahabatnya Houw-ji ..."
"Siapa itu Houw-ji ?" tanya ibunya Siao Pek Sin, sambil menatap wajah anaknya seolah-olah
menantikan jawabannya.
Siao Pek Sin gugup.
"Itu," jawabnya, "soal ini nanti anakmu memberi keterangan dengan jelas kepadamu, sekarang
masih banyak orang yang ingin melihat ibu ! Hari juga sudah dekat pagi, seharusnya mengaso
dulu !"
Setelah satu sama lain pada memberi hormat, lalu bersama-sama masuk ke dalam istana.
Hanya ada seorang yang tetap berdiri di depan pintu, siapa orang itu ? Ia adalah Touw Peng
Peng.
Ia telah dibikin kaget oleh pertanyaan ibu Siao Pek Sin!
"Siapa itu Houw-jie ?" pertanyaan itu terus berputaran dalam otak Touw Peng Peng.
Siao Pek Sin adalah kakak sekandungnya Houw-ji, ibunya Siao Pek Sin juga seharusnya ibu
Houw-ji, tapi bagaimana ada seorang ibu tidak mengenali anaknya sendiri ? pikirnya.
Pikiran itu terus mengaduk dalam otaknya Peng Peng. Barusan karena mendengar kabar
tentang kematiannya Houw-ji, saking kagetnya sampai tidak ingat dirinya sendiri. Ia sadar oleh
senjata rahasia seorang tidak dikenal dan lalu menangis tersedu-sedu setelah hilang linglungnya.
Selama dalam keadaan duka, segala perbuatan Siao Pek Sin sama sekali ia tidak tahu. Jauhjauh
ia melakukan perjalanan menuju Kua-cong-san, sebetulnya sudah tidak mengharap dapat
kabar menyenangkan tentang diri Kim Houw. sebabnya ialah Kim Houw tidak mengerti ilmu silat,
tapi ia berani memasuki Istana kumala Putih yang ditengah-tengah rimba keramat, yang ditakuti
oleh semua orang gagah di dunia Kangouw, sudah tentu banyak bahayanya daripada selamat.
Siapa nyana, Siao Pek Sin di hadapan orang banyak telah memberitahukan padanya bahwa
Kim Houw tidak mati, malahan masih melatih ilmu silat didalam rimba, bagaimana Peng Peng tidak
menjadi girang ? Oleh karena itu, iapun sudah ambil keputusan hendak berdiam terus di Istana
Kumala Putih itu untuk menunggu kedatangan Kim Houw.
Tapi, kemudian Siao Pek Sin tiba-tiba memberitahukan padanya lagi tentang kematian Kim
Houw, bagaimana Peng Peng tidak bersedih hati ?
Dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia merasa seperti ada benda enteng disedapkan dalam
tangannya, ia periksa ternyata selembar daun.

Peng Peng menengok kesana sini, Siao Pek Sin tampak sedang marah-marah sendiri seperti
orang gila di satu tempat beberapa puluh tumbak jauhnya dari dirinya. Mengetahui di depan dan di
belakangnya tidak ada orang lain lagi, maka ia lantas lihat dengan teliti daun yang digenggam
dalam tangannya itu.
Mendadak terlihat olehnya sebaris huruf kecil di atas daun itu, di bawah terangnya sinar
rembulan ia dapat kenyataan bahwa huruf-huruf kecil itu dicacah dengan jarum, bunyinya ialah
"Houw-ji dalam keadaan sehat," Hal ini benar-benar aneh.
"Belum mati!" "Terkena racun" "Dalam keadaan sehat !" Semua merupakan suatu teka-teki
entah mana yang boleh dipercaya ? Tapi bagi orang yang suka optimistis, selamanya suka
memikirkan ke jurusan yang baik saja sedang bagi orang yang pesimistis sebaliknya suka
memikirkan ke jurusan yang buruk saja. Sifat Touw Peng Peng termasuk yang disebut pertama
maka ia percaya ke jurusan yang baik, ia percaya Kim Houw belum mati.
Tiba-tiba ia bengong sendirian memikirkan itu semua, ia melihat Ko-thionya yang muncul
secara mendadak, maka ia lantas sembunyikan diri dan kemudian berlalu dengan diam-diam.
Tiba-tiba di depan matanya Peng Peng berkelebat satu bayangan orang. Bayangan itu
merupakan bayangannya seorang yang berbadan tegap, di atas kepalanya ada memancarkan
sinar emas. Larinya bagaikan terbang, sebentar saja sudah berada di suatu tempat beberapa
tombak jauhnya.
Selama di dalam Istana Kumala Putih ini Touw Peng Peng belum pernah lihat seorang pun
yang badannya begitu tegap. Ketika melihat bayangan orang itu melompat ke luar dari istana, ia
juga menyusul segera.
Ia lihat orang itu yang diatasnya ada sinar emas ternyata belum pergi jauh, agaknya memang
bermaksud menunggunya, maka Peng Peng lantas lari menghampiri.
Ketika ia sudah berada dekat sekali, Peng Peng baru dapat tahu kalau orang itu adalah
seorang hwesio yang kepalanya gundul kelimis. Sinar emas yang berkeredepan di atas kepalanya
ternyata sebuah kotak emas kecil. Saat itu si hwesio sudah berhenti dan menoleh, ia turunkan
kotak emas itu dari atas kepalanya dan diserahkan kepada Peng Peng serunya berkata: "Ini
adalah pesan Kim Houw supaya aku menyerahkannya kepadamu..."
Mendengar ucapan hwesio itu. Peng Peng tertegun, lalu menjerit: "Kim Houw...?"
"Benar! Kim Houw! Aku tidak suka bicara, setelah kau lihat isinya kotak tentu akan mengerti
sendiri! Lohap adalah Ah-ceng Kim Lo Han."
Mendengar keterangan Kim Lo Han, Peng Peng lalu menyambuti kotak itu. Tatkala ia buka,
isinya ternyata sepucuk surat. Begitu lihat tulisan di atas sampul, Peng Peng segera kenali
tulisannya Kim Hauw, maka lantas buka dan baca isinya yang berbunyi sebagai berikut: "Peng
Peng, Budi kebaikanmu terhadapku, seumur hidupku aku juga tidak bisa membalas habis, cuma
hanya untuk sementara aku minta supaya kau suka memaafkan yang aku belum bisa menemui
kau, karena masih ada persoalan yang sangat besar, yang harus ku bereskan sendiri. Peng Peng,
setelah kita berpisah apakah kau pernah lihat adik Bwee Peng? Itu nona yang kau sering kasihani,
sering kau bantu dan tidak mengijinkan orang lain menghina padanya?"
Membaca sampai di sini dalam hari Peng Peng timbul rasa cemburu, karena ia tahu bahwa
Kim Houw selalu memperhatikan adik Peng-nya itu, si nona cilik yang cantik dan lemah lembut
serta tidak seperti dirinya yang berandalan beradat keras!

Tapi tatkala ia membaca seterusnya, hatinya goncang dan kedua tangannya gemetar! Hampir
saja surat yang dipegangnya jatuh, ternyata bunyinya adalah:
"Peng Peng, tahukah kau? Adik Peng sudah binasa, benar-benar sudah binasa... Dia seperti
setangkai bunga cempaka di dalam rimba yang sedang mekarnya, tapi belum terbuka, sudah
dipetik oleh satu tangan setan yang jahat, akhirnya layu dan rontok! Di dalam Istana Kumala Putih,
aku telah bertemu dengan ibunya adik Peng. Koh-tio mu telah memberitahukan padaku, bahwa
adik Peng telah binasa, aku selalu tidak mau percaya, karena dia telah berjanji hendak menantikan
kedatanganku. Ketika itu Koh-tio mu telah menimpakan segala dosanya di atas pundakku hingga
aku telah dihajar oleh ibunya adik Peng, sungguh membuatku penasaran! Tapi, aku tidak
menggerutu, juga tidak membenci dia, karena aku tahu, asal aku masih ada umur bisa keluar dari
Istana Kumala Putih, aku pasti dapat membongkar perkara itu.
Siapa nyana, selanjutnya aku telah dianiaya orang, sebab-sebabnya aku dianiaya sampai
sekarang masih menjadi teka-teki. Untung Tuhan Maha Adil, aku tidak mati, malahan berhasil
melatih ilmu silat dan berhasil pula keluar dari dalam rimba yang keramat itu.
Sayang ketika aku tiba di Bwee Kee Cung dan mencari tahu keadaan adik Peng, telah
mendapat kabar bahwa dia betul sudah binasa dengan jalan menggantung diri. Aku telah
menemukan suatu malam pada hari ketiga setelah aku berlalu, adik Peng, dia... telah dianiayai
hebat, penjahatnya bahkan memberitahukan padanya, bahwa aku Kim Houw sudah binasa. Adik
Peng rupanya pikir, dengan matinya aku Kim houw musnahlah semua pengharapannya, maka dia
telah menempuh jalan pendek. Kasihan......
Aku telah ambil putusan hendak menuntut balas untuk Bwee Peng, sebab tidak bisa tinggal
diam atas kematiannya yang membuat penasaran itu.
Aku pikir harus pergi ke Bwee Kee Cung.
Karena cuma keluarga Ciok yang mengerti ilmu silat dan aku curigai kematian adik Bwee Peng
karena gara-garanya.
Siapa nyana, keluarga Ciok ternyata sudah pindah ke Ciat Kang khabarnya pada setahun yang
lalu. dalam keadaan apa boleh buat, aku menyusup ke Ciat Kang.
Di tengah jalan aku pernah lihat kau. Justru melihat kau, membuat aku jadi terkenang kepada
dirinya adik Bwe Peng. Peng Peng, kau juga ada seorang yang terhitung menyukai adik Bwee
Peng, apakah kau tidak bisa keluarkan sedikit tenaga untuknya ? Tolong bantu cari tahu itu
manusia yang berhati binatang, bagaimana bisa menganiaya seorang wanita yang begitu lemah?
Siapa dia ? Aku tidak bisa melepaskan dia, aku akan mengorek isi hatinya, akan kulihat
nyalinya, apakah bedanya dengan manusia biasa ?
Apakah darahnya ada begitu dingin ?
Mengenai dirimu, Peng Peng, bahwa Siao Pek Sin kakak kandungku atau bukan nanti setelah
bertemu dengan ibunya baru bisa ketahuan semuanya.
Cuma kau harus berhati-hati, sebab Siao Pek Sin itu hatinya lebih jahat dan lebih berbisa dari
pada ular yang paling jahat dan paling berbisa. Berikut ini aku lampirkan sepotong baju yang
terbikin dari bulunya binatang monyet berbulu emas, khasiatnya masih jauh bedanya dengan baju
wasiat Hay-sie-kua, tapi tokh ada lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.
Baju wasiat Hay-sie-kua diperdayai orang dan belum bisa direbut kembali. Aku percaya dalam
beberapa hari ini pasti kau dapat khabar.

Jilid 05
Dan kalau barang itu kembali di tanganku, aku nanti minta kau kembalikan kepada Ciok-ya
pemiliknya.
Hinaan yang aku terima hebat sekali, aku akan membereskan itu satu persatu dengan cara
menggelap, aku tidak bisa membiarkan hal ini membikin noda nama baikku.
Akhirnya aku doakan kau supaya selalu bahagia.
KIM HOUW.
Surat yang bunyinya panjang sekali itu sangat menggirangkan hatinya Peng Peng, tapi juga
mengejutkan. Girang, karena mendapat kepastian bahwa Kim Houw masih hidup, malahan akan
segera bertemu, terkejut karena dalam tempo 2 tahun saja, Kim Houw sudah berhasil mempunyai
ilmu silat yang demikian tinggi, disamping itu, juga kematiannya Bwee Peng.
Berulang-ulang ia membaca surat itu, baru disimpan. Kemudian baju bulu dari monyet bulu
emas hadiah dari Kim Houw juga dipakai dengan perasaan bangga dan girang.
Pada saat itu, tiba-tiba ia sadar bahwa hwesio berbadan tegap itu entah sejak kapan sudah
berlalu dari depan matanya. Berbareng di istana terdengar suara ramai orang menyambut
kedatangan ibunya Siao Pek Sin.
- ooo O ooo -
Dalam sebuah kamar besar yang dihias sangat mewah. Seorang ibu dengan anaknya sedang
mengadakan pembicaraan yang agaknya sangat serius. Mereka adalah majikan Istana Kumala
Putih Siao Pek Sin dengan ibunya.
Pada saat itu, Siao Pek Sin tiba-tiba bangkit dan berkata: "Ibu ! mengasolah ! ibu barusan
melakukan perjalanan jauh, tentunya lelah ......."
Si Ibu sebaliknya menarik anaknya, hingga duduk lagi. "Sin-ji, kau jangan kesusu pergi dulu
kau beritahukan kepada ibumu dulu, siapa itu Houw-ji?" tanya ibunya.
Siao Pek Sin berpikir sejenak, baru menjawab: "Ibu ! Houw-ji adalah anak yang belakang
tubuhnya ada gambar guratan macan dan tiga buah tanda hitam !".
"Oh ! Dia adalah anaknya itu budak hina, bukankah kau sudah mengatakan bahwa dia sudah
kecemplung ke dalam air terjun yang tingginya ada ribuan tombak? Mengapa masih mempunyai
kawan yang mencari padanya?"
"Ibu !" wajah sang anak mengunjuk kecemasan. "Aku tadinya mengira dia sudah mati!
Tapi....tapi ...!"
Sang ibu mengusap-usap kepala anaknya. "Sin-ji itu adalah kau sendiri yang melakukan apa
perlunya bersangsi ?."
Sang anak gelengkan kepala. "Anak tidak curiga kalau tidak karena urusan hari ini terjadinya
terlalu mengherankan, luar biasa anehnya. Houw-ji itu terlalu banyak pengalaman gaibnya, maka
aku kuatir ...."

"Apa yang perlu ditakuti ? Apakah dengan kepandaian ilmu silatmu, ditambah lagi dengan
bantuannya itu jago-jago dari rimba persilatan, masih takut cuma menghadapi satu bocah saja ?
Kalau dihitung-hitung, dia masih lebih muda dua setengah tahun dari pada kau."
"Ibu !" Siao Pek Sin berpikir-pikir sejenak. "Ayah sebetulnya ...."
Sang ibu lantas memotong: "Sin-ji ! Aku tokh sudah aku katakan, sekali-kali jangan kau sebutsebut
tentang dia lagi, selamanya aku tidak akan memberitahukan hal-hal yang mengenai dirinya,
urusan sudah tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita orang."
Menampaknya sang ibu gusar, Siao Pek Sin merasa takut. Namun ia tetap masih ingin tahu,
apa sebabnya sang ibu itu begitu benci kepada ayahnya ? Ia beranikan diri menanya : "Ibu ! anak
ingin tahu, ayah ......"
Si ibu wajahnya berobah seketika.
"Aku tidak ijinkan kau tanya lagi," jawabnya dengan gusar. "Aku sudah kata bahwa selamanya
aku tidak akan memberitahukan padamu Dia mati atau hidup, atau tidak akan beritahukan
padamu, ini suatu penghinaan bagi Pek-liong-po, juga bagi Ceng-kee-cee. Di Pek-liong-po ada
Pek Leng dan di Ceng-kee-cee muncul satu Ceng Kim Jie, Pui ! Perempuan hina, aku tidak
beritahukan padamu, tidak!"
Si ibu makin lama makin gusar, suaranya juga makin keras, dan akhirnya menjerit-jerit seperti
orang kalap serta menangis di pembaringan !
Siao Pek Sin buru-buru menghampiri dan coba menghibur : "Ibu... ibu ....!
Si ibu mendorong anaknya, lantas bergulingan di pembaringan. Rambutnya terurai, bajunya
awut-awutan, tapi mulutnya terus mengoceh tidak henti-hentinya: "Aku tidak bisa beritahukan
padamu, tidak, tidak, itu perempuan hina .... " menjerit jerit sembari menangis.
Tepat pada saat itu, dari luar pintu berkelebat masuk satu bayangan orang, potongan
badannya gagah sekali, kepalanya memakai tudung persegi, mengenakan baju panjang
dandanannya mirip dengan anak sekolah.
Siao Pek Sin ketika melihat anak muda itu, bukan main kagetnya, tanpa sadar mulutnya lantas
berteriak : "Houw-ji .... kau ...."
Orang yang baru datang itu memang betul Kim Houw. Setahun tidak kelihatan, ia sekarang
sudah merupakan seorang pemuda yang tinggi langsing, bahkan semakin gagah kelihatannya,
dengan tenang menghampiri Siao Pek Sin, lalu berkata sambil tertawa: "Aku benar Houw-ji. Belum
mati, juga tidak akan mati !"
Saat itu ibunya Siao Pek Sin masih bergulingan sembari berteriak-teriak : "Aku tidak
beritahukan padamu, itu perempuan hina ...."
"Tidak beritahukan padanya, beritahukanlah padaku !" Kim Houw mengelak. "Siapa
perempuan hina itu ? Apakah Ceng Kim Ce ? Siapa itu Ceng Kim Ce ?"
Suara Kim Houw tidak keras, tapi nyaring mengandung pengaruh begitu besar.
Ibu Siao Pek Sin dikejutkan oleh suaranya itu. Ia membalikkan badan dan lantas lompat
bangun, matanya dibuka lebar-lebar. Di depannya tampak berdiri seorang muda yang mirip benar

dengan anaknya sendiri, hanya agak gagahan sedikit dari pada anaknya. Ia lantas menanya
dengan suara gugup : "Kau ....kau .....!"
Kim Houw berdiri tegak. "Aku adalah Houw-ji ! Hari ini ingin minta kau ...." jawabnya. Tapi baru
berkata sampai di sini tiba-tiba berhenti dan menoleh, kemudian membentak dengan suara keren:
"Siao Pek Sin, kau jangan main gila. Sebelum urusan menjadi beres aku tidak akan mencelakakan
dirimu, begitu pula setelah urusan menjadi terang, aku juga ....."
Siao Pek Sin sebetulnya bergerak perlahan-lahan, menuju ke dinding. Mendengar bentakan
Kim Houw, lantas bersiul panjang, kemudian menerjang pada Kim Houw.
Ketika Siao Pek Sin baru bergerak ibunya sudah mengikat rambutnya dengan kain hijau,
kemudian mencabut pedangnya yang berkilauan dan berseru: "Hm ! Benar saja belum mati, kalau
begitu biarlah aku yang membunuh kau dengan tanganku sendiri, ini membuat aku tambah girang,
Sin-ji kau mundur !"
Padahal Siao Pek Sin sudah tidak perlu mundur lagi, karena serangan tangannya Kim Houw
sudah membuat ia terpental membentur dinding kamar.
Ibunya Siao Pek Sin sambil keluarkan seruan keras, badannya melesat, pedang di tangannya
terus menikam dan membabat, selalu mengarah bagian terpenting di tubuh Kim Houw.
Anak muda gagah yang sedang bertempur itu apakah betul Kim Houw ? Memang betul, ia
adalah Kim Houw. Tapi bagaimana ia tidak mati ?
Didalam rimba keramat di gunung Tiang Pek San, di bawahnya itu ada air terjun yang sangat
curam, sebetulnya ada sebuah danau yang sangat dalam. Ketika Kim Houw didorong oleh Siao
Pek Sin dan terjerumus ke jurang, terus terdampar oleh air terjun dan jatuh ke dalam danau.
Jika itu terjadi pada orang biasa, sekalipun mengerti ilmu silat, pasti sudah hancur tubuhnya
dan jiwanya melayang seketika.
Kim Houw sendiri, kalau itu terjadi pada beberapa hari berselang, juga akan binasa.
Sudah maunya takdir, kebetulan ia habis menyingkirkan kalajengking berbisa, lalu kesalahan
makan buah batu yang susah terdapat didalam dunia.
Buah batu itu tumbuh dari dalam batu tapi lemas dan licin. Khasiatnya kecuali dapat
menambah kekuatan tenaga badan sendiri, juga bisa membuat semua otot-otot serta tulang-tulang
menjadi keras dan ulet melebihi batu atau besi.
Tapi, jatuh dari tempat yang demikian tingginya meskipun badan Kim Houw tidak sampai
hancur karena khasiatnya buah batu itu, namun otaknya tidak tahan getaran air terjun, maka
begitu jatuh ia lantas pingsan.
Danau di bawah air terjun itu, kecuali bagian yang kejatuhan air, yang terus masuk ke dalam,
bagian sekitarnya malah muncrat ke atas. Maka seketika bahan Kim Houw terdampar ke bawah,
setelah tiba di permukaan air danau, lantas tergulung naik ke atas.
Selain dari pada itu, ketika Kim Houw diajak Siao Pek Sin, kedua binatang orang hutan itu
tidak terpisah jauh dari mereka. Begitu melihat Kim Houw didorong orang ke dalam jurang kedua
orang hutan itu lantas lompat turun dari tebing tinggi. Kebetulan Kim Houw baru saja timbul dari
dalam air, dengan demikian dapat ditolong oleh kedua binatang yang setia itu.

Untung ketika Kim Houw didorong oleh Siao Pek Sin, ia sudah menutup jalan pernapasannya
hingga tidak sampai minum banyak air. Meski demikian, pingsannya lama juga hingga kedua
orang hutan itu kelihatan sangat cemas.
Selagi kedua orang hutan itu dalam kebingungan tiba-tiba melihat sesosok bayangan orang
yang meluncur turun dari atas, menghampiri mereka. Orang hutan betina berteriak nyaring
seakan-akan mencegah kedatangan orang itu.
Orang yang muncul tiba-tiba itu adalah seorang hwesio yang kepalanya gundul kelimis.
Badannya tegap, ketika menghadapi Kim Houw yang masih menggeletak di tanah, jauh-jauh
sudah memberi hormat, kemudian dengan tindakan perlahan menghampiri. Wajahnya tampak
heran sekali, agaknya tidak memperdulikan reaksi kedua orang hutan itu.
Orang hutan betina yang menyaksikan tingkah laku orang yang datang itu agaknya mengerti
orang itu bukan orang jahat yang membahayakan Kim Houw, dengan sendirinya undurkan diri
bersama anaknya.
Hwesio itu bukan lain si hwesio gagu Kim Lo Han.
Dulu, ketika ia lihat Kim Houw sama sekali tidak mengerti ilmu silat, ternyata bisa masuk ke
dalam istana bagian belakang, serta masuk ke dalam istana Kong-han-kiong, ia lantas tahu bahwa
dibadan bocah itu ada mempunyai benda wasiat yang melindungi dirinya. Ia juga menginsyafi pasti
ada kekuatan gaib yang menuntun anak itu, karena sebagai bocah yang tidak mempunyai
kepandaian ilmu silat sama sekali, tapi bisa memasuki rimba yang terkenal keramat itu, malah bisa
masuk ke dalam istana yang selamanya sukar diinjak oleh manusia, mungkin ia akan menjadi
majikan dari Istana Kumala Putih untuk hari kemudian.
Kim Lo han dimasa mudanya sudah menggetarkan rimba persilatan empat puluh tahun
lamanya, ia berdiam dalam Istana Kumala Putih untuk memperdalam ilmu silatnya, dapat
dibayangkan sendiri sampai dimana tingginya kepandaian hwesio itu. Ia dijuluki hwesio gagu,
sebetulnya dia tidak suka bicara sembarangan, ia hanya buka mulut bicara kalau sangat perlu
saja. Justru karena ia jarang bicara, maka ia dapat berpikir lebih banyak dari pada yang lainnya.
Sejak Kim Houw tiba di Istana Kumala Putih, semua apa yang terjadi atas dirinya, telah dapat
dilihat dan dipikir olehnya dengan tenang. Terutama ketika Kim Houw baru keluar dari istana
belakang, yang mengatakan dalam istana itu ada banyak barang pusaka, tapi Kim Houw tidak
membawa keluar apa-apa, kecuali ikat pinggang dan seguci arak yang di pondong secara susah
payah, membuktikan bahwa perbuatan Kim Houw ini menunjukkan jiwanya yang besar, tidak
serakah dan setia kawan. Perbuatan Kim Houw ini benar-benar telah menggerakkan hati Kim Lo
Han.
Selanjutnya ketika Kim Houw tahu bahwa baju wasiat yang ia pakai adalah barang kepunyaan
keluarga Ciok, ia lantas buka dan mau dikembalikan kepada pemiliknya, semua ini bagi Kim Lo
Han merupakan suatu bukti untuk menghargai kepribadiannya Kim Houw.
Sebaliknya Siao Pek Sin yang keluar dari istana belakang mengangkut banyak benda pusaka
yang jarang dilihat oleh manusia. Kim Lo Han tambah bisa membedakan betapa rendahnya
perbuatan si orang she Pek itu. Mulai saat itu, ia telah menduga Kim Houw pasti akan mengalami
kesukaran. Ketika orang banyak pada bersujut memberi hormat kepada Siao Pek Sin, dan selagi
Siao Pek Sin merasa bangga dan kegirangan, Kim Lo Han diam-diam meninggalkan Istana
Kumala Putih mencari Kim Houw.
Ia mencari ubek-ubekan didalam hutan rimba yang keramat itu, akhirnya ia dapat menemukan
Kim Houw telah dirubungi dua orang hutan badannya basah kuyup, menggeletak tidak jauh dari

jatuhnya air terjun yang sangat curam, Kim Lohan segera mengerti duduk perkaranya. Tapi ketika
memeriksa jalan pernafasan Kim Houw, ia telah melongo.
Nafas Kim Houw berjalan seperti biasa, begitu pula urat nadinya sedikitpun tidak ada tandatandanya
yang menunjukkan ada terluka, namun Kim Houw masih berada dalam keadaan
pingsan.
Kim Lo han terus berpikir, akhirnya telah diketemukan sebab musababnya, kiranya hanya
otaknya terguncang.
Kim Lohan lalu menggunakan ilmunya yang tinggi Kim-kong cao-kang, kedua telapak
tangannya ditempelkan dikedua pelipis Kim Houw, perlahan-lahan ia menggosok.
Lewat kira-kira dua jam, Kim Houw kelihatan perlahan-lahan membuka matanya. Tapi cuma
membuka sebentar, lantas dipejamkan lagi.
Kim Lohan girang, ia tahu bahwa ilmunya berguna bagi pengobatan secara demikian hanya
memerlukan waktu agak lama.
Kalau Kim Lohan merasa girang, adalah kedua binatang orang hutan itu tidak kalah girangnya.
Mereka kelihatan lompat-lompat, sedang yang kecil sembari menarik-narik tangan Kim Lohan,
mulutnya tidak berhenti-hentinya cecuitan. Kim Lohan agaknya mengerti maksud kedua binatang
itu. Ia lantas angguk-anggukkan kepala.
Selanjutnya, Kim Lohan lantas gendong Kim Houw, mengikuti di belakang kedua orang hutan
itu sampai didalam goanya.
Setiap hari tiga kali Kim Lohan menggunakan ilmunya Kim kong coa kang mengobati Kim
Houw. Lihat sepuluh hari lebih, Kim Houw baru mendusin betul. Tapi keadaannya masih seperti
orang linglung, semua kejadian yang lalu ia tidak ingat sama sekali, hanya kepandaian ilmu
silatnya yang tetap tidak berubah.
Hari itu, Kim Lohan ajak Kim Houw balik ke Istana Kumala Putih, tepat pada satu hari dimuka
Siao Pek sin sudah keluar rimba bersama-sama orang yang pernah tinggal didalam Istana Kumala
Putih.
Itu ada baiknya bagi Kim Houw, karena dalam keadaan sunyi, ada lebih baik untuk melatih
ilmu silatnya. Pikir Kim Lohan, setelah Kim Houw sudah sadar betul-betul nanti baru diajak keluar
rimba membuat perhitungan. Kim Lohan juga ajak kedua orang hutan itu tinggal bersama-sama
dan suruh mencarikan makanan bagi Kim Houw.
Musim semi telah berlalu, diganti oleh musim kemarau.
Hari itu Kim Houw sehabis melatih ilmu silatnya, badannya merasa panas. Dengan seorang diri
ia pergi ke sungai untuk mandi, tapi karena hawanya panas sekali, ia terus merendam dirinya dan
berenang kesana kemari.
Selagi berenang bersenang-senang, tiba-tiba dengar suara gerujukan air terjun, ia berenang
terus untuk mencari tahu darimana jatuhnya air itu. Suara itu makin lama makin keras
kedengarannya!
Akhirnya ia menemukan air terjun dari puncaknya gunung, ia lantas mendarat dan mendaki.
Sampai di puncaknya, di atas sebuah batu besar ia menemukan ikat pinggang berwarna batu giok

dan sebilah pedang pendek. Kim Houw pungut kedua benda itu, ia buat main sekian lama sembari
duduk-duduk di atas batu.
Kedua benda itu memang kepunyaan Kim Houw yang ditinggalkan di dekat batu besar, Siao
Pek Sin tidak tahu bahwa kedua benda itu adalah barang pusaka, tidak perhatikan kalau Kim
Houw letakkan di atas batu, ia hanya perhatikan baju wasiatnya saja, maka kesudahannya kedua
barang itu tidak dibawa.
Tak dinyana bahwa kedua benda itu akan diketemukan kembali oleh Kim Houw, bahkan
membuka kembali ingatan Kim Houw.
Tiba-tiba Kim Houw terjun dari atas mengikuti air tumpah. Selama setengah tahun itu meski
ingatannya hilang semua, tapi kepandaian imu silatnya bertambah dan buat batu yang kesalahan
dimakan itu juga memperlihatkan khasiatnya yang luar biasa.
Bagi Kim Houw yang sengaja terjun mengikuti air tumpah itu tidak merupakan apa-apa, bukan
saja tidak pingsan, malahan lompat-lompatan dengan gesit.
Sejak hilang ingatannya, belum pernah ia membuka mulut untuk bicara. Tapi setelah terjun
mengikuti air tumpah, ia lantas bersiul panjang. Suaranya ternyata begitu nyaring mengaung, lama
masih berkumandang di dalam lembah! Setelah merasa puas, ia lalu kembali ke istana dalam
keadaan basah.
Di dalam Istana Kumala Putih, Kim Lo Han sedang duduk bersemedi, tiba-tiba dengar suara
siulan begitu nyaring, dalam terperanjat ia lantas lompat bangun dan lari ke depan pintu, pikirnya,
siapa lagi orang-orang dari rimba persilatan yang masuk ke istana ini.
Kim Lo Han berdiri belum lama, tiba-tiba melihatnya satu bayangan putih sudah lewat di
sampingnya. "Lo Han-ya, kau" demikian tegur bayangan orang itu sudah masuk meleset ke istana.
Kim Lo Han yang menyaksikan gerakan itu gesitnya luar biasa, diam-diam merasa heran dan
bertanya pada diri sendiri: siapakah gerangan orang ini? Mengapa ilmu mengentengi tubuhnya
demikian sempurna? Istana ini benar-benar kembali kedatangan orang pandai luar biasa lagi.
Tapi ketika ia menoleh dan mengawasi ke dalam istana, di sana ternyata berdiri Kim Houw
dengan pakaian yang basah kuyup, ia lantas berdiri ke sana.
"Lo Han-ya, apa artinya ini? Kemana mereka semua? Dimana Cek Ie-ya (si Kacung baju
merah) dan Kee To-ya (Si Imam palsu)....?" Kim Houw tiba-tiba menanya.
Kim Lo Han sangat girang, tapi kegirangannya tidak diperlihatkan di luar: "Mereka sudah
keluar rimba semua!" demikian jawabnya.
"Sudah keluar semua?" Kim Houw terkejut. "Lo Han-ya, dan kau mengapa tidak turut keluar?"
Kim Lo Han lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi di dalam istana setelah Kim Houw
dianiaya oleh Siao Pek Sin serta bagaimana ia dapat menolongi dirinya, akhirnya Kim Lo Han
berkata: "Sekarang sudah! Asal kau sudah sembuh benar, kita juga boleh keluar dari sini!"
Kim Houw ketika mendengar keterangan Kim Lo Han bahwa hwesio tua itu pernah menolongi
jiwanya, buru-buru ia berlutut di depannya sampai Kim Lo Han kelabakan.
"Kau adalah majikan istana ini, juga akan menjadi majikanku seumur hidup. Meski aku
sekarang juga sudah tahu jalannya keluar dari rimba ini, tapi kalau bukan kau yang menemukan,
aku tentu akan diam di sini seumur hidupku" demikian kata Kim Lo Han.

Kim Houw tidak mau dihamba oleh Kim Lo Han, akhirnya kedua orang telah menjadi kawan
karib, Kim Houw membahasakan Kim Lo Han Lo Han-ya dan Kim Lo Han bahasakan padanya
Houw-ji (anak Houw).
Untuk sementara Kim Houw masih belum mau keluar dari rimba, ia mau melatih ilmu Han-buncao-
khie didalam istana Khong Han Kiong yang hawanya sangat dingin. Oleh karenanya kedua
orang itu berdiam lagi setengah tahun dalam istana itu.
Lain tahunnya, ketika salju sedang turun lebat, Kim Houw dan Kim Lo Han keluar dari rimba
keramat itu.
Sudah tentu, dari dalam istana Khong Han Kiong, Kim Houw juga mengambil sedikit barang
oleh-oleh untuk adik Peng-nya. Itu adalah sepotong baju yang terbikin dari bulu monyet emas dan
sebilah pedang emas yang sangat tajam untuk Peng peng. Ia berpikir, adik Peng-nya tidak
mengerti ilmu silat, kalau memakai baju wasiat itu, dapat menjaga diri jangan sampai terluka,
sedang Peng Peng yang mengerti ilmu silat, pedang itu adalah hadiah yang paling tepat.
Semua barang-barang itu telah ditinggal oleh Siao Pek Sin karena dianggap kurang berharga.
Kim Houw begitu keluar dari dalam rimba, kewajiban pertama yang dilakukan olehnya adalah
menengok Bwee Peng, hal ini, dalam suratnya Kim Houw kepada Peng Peng sudah pernah ditulis
dengan jelas, maka di sini tidak perlu diceritakan lagi. Kim Houw telah menemukan kuburannya
Bwee Peng. ia menangis sedih sekali dan bersumpah pasti hendak menuntut balas untuk Bwee
Peng. Kemudian ia mendatangi Istana Kumala Putih yang didirikan oleh Siao Pek Sin.
Selama itu Kim Lo Han terus tidak berpisah dengan dia. Hwesio tua itu sudah mengambil
keputusan tidak akan berpisah untuk selama lamanya dengan Kim Houw.
Semua kejadian yang timbul diwaktu magrib dalam istana di gunung Kun-cong-san, adalah
perbuatannya Kim Lo Han dan Kim Houw. Mereka sama sekali masuk ke dalam istana, mereka
hanya berada di atas genteng di luar istana, satu di kanan satu di kiri, tapi perbuatannya itu sudah
cukup membikin panik semua orang yang ada didalam istana.
Selama Kim Houw tidak melihat San Hua Sian Li dan si Imam palsu, ia heran, mengapa dari
orang-orang yang dulu bebas menjadi penghuni Istana Kumala Putih didalam rimba keramat,
cuma dua orang itu yang tidak ada, justru kedua orang itu yang merupakan orang-orang yang
dibuat pikiran oleh Kim Houw.
Sudah tentu Kim Houw juga kangen pada Kim Coa-nio-nio dan si kacung baju merah cuma
karena sudah melihat, kangennya itu lantas hilang.
Urusannya sendiri telah demikian mendesaknya, sehingga ia tidak sempat memikirkan soal
yang lain, Ilmu ginkang Kim Houw, pada saat itu sudah mencapai taraf paling sempurna, ia
sembunyikan diri di atas genteng siapapun jangan harap bisa lihat padanya.
Ia dengar pembicaraan antara Siao Pek Sin dengan ibunya, Ia sekarang mengerti bahwa ibu
yang melahirkan dirinya mungkin itu wanita yang dikatakan ibu Siao Pek Sin sebagai perempuan
hina. Ceng Kim Cu.
Sedang ayahnya mungkin adalah Pek Lin, barang kali ia sendiri dengan Siao Pek Sin saudara
satu ayah tapi berlainan ibu. Ceng Kim Cu mungkin juga ada hubungannya dengan ibunya Siao
Pek Sin sebab mereka sama-sama merupakan orang-orang dari Ceng Kee-cee.

Karena ibunya Siao Pek Sin sudah kalap betul-betul, sehingga memaki maki kalang kabut
maka Kim Houw sudah tidak dapat menahan sabarnya lagi dan akhirnya unjukkan dirinya.
Tidak nyana ibunya Siao Pek Sin demikian bencinya terhadap dirinya, pedangnya terus
mencecar bagian-bagian yang berbahaya, karena Kim Houw anggap nyonya itu tingkatan tua,
sengaja ia tidak mau melawan hanya dengan berputar putar ia menghindarkan diri dari setiap
serangan, maka meski serangannya ibu Siao Pek Sin demikian cepat dan ganas sedikitpun tidak
mampu menyentuh dirinya.
Sebentar saja pertempuran itu sudah berjalan dua puluh jurus lebih, Ibunya Siao Pek Sin
makin lama makin gemes, serangannya juga makin gencar dan ganas. Kim Houw masih tetap
berputaran, sama sekali tidak balas menyerang.
Siao Pek Sin saat itu sudah berdiri di bawah dinding, tapi tidak berani ambil tindakan apa-apa
sebab ibunya dengan Kim Houw bertarung begitu rapat. Nampaknya Kim Houw sama sekali tidak
mengeluarkan tenaga sedang ibunya sudah tersengal-sengal napasnya. Sebagai anaknya,
bagaimana ia dapat membiarkan ibunya dihina begitu rupa?
Maka ia juga lantas menghunus pedang panjangnya, turut mengerubuti Kim Houw.
Pedang pusaka Siao Pek Sin baru saja dipegang dalam tangannya, tiba-tiba terdengar suara
tertawa dingin Kim Houw, kemudian disusul oleh suara bentakannya: "Lepas Tangan!"
Ujung pedang lantas terjepit antara kedua jari tangan Kim Houw, tidak tahu dengan cara
bagaimana bergeraknya, tiba-tiba Siau Pek Sin merasakan suatu kekuatan tenaga yang
menyerang melalui ujung pedang. Tadinya Siao Pek Sin hendak memberi perlawanan dengan
kekuatan tenaga dalamnya, supaya bisa memberi bantuan.
Siapa Nyana, Siao Pek Sin baru saja mengerahkan tenaganya, tiba-tiba tangannya dirasakan
sakit, pedangnya tidak dapat dikuasai lagi, hingga akhirnya direbut oleh Kim Houw.
Kim Houw setelah berhasil merebut pedang Siao Pek Sin, lalu diputar dan tepat menghalangi
majunya Pek Kao yang saat itu hendak menerjang masuk dari luar.
Kim Houw tahu bahwa siulan Siao Pek Sin tadi tentunya akan mengejutkan orang lain. Ia pikir,
dalam waktu pendek tentu tidak akan berhasil mengorek keterangan, apa pula setelah
kedatangannya itu diketahui orang, sudah tentu ia tidak bisa berdiam lama-lama lagi.
Ia lantas bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu, Ia toh sudah mendapat dengar tentang
Pek Liong-po dan Ceng-kee-cee, dari kedua tempat itu rasanya tidak sukar untuk mendapatkan
keterangan.
Tapi, selagi ia hendak berlalu, dari luar telah muncul tiga orang berbareng, mereka adalah
Pek-Kao-nya, Cek Ie-ya dan Ciok Goan Hong.
Cek-Ie-ya dan Ciok Goan Hong sudah tentu mengenali Kim Houw. Mereka merasa heran,
katanya Kim Houw adik kandung Sioa Pek Sin dan ibunya Siao Pek Sin seharusnya juga ibunya
Kim Houw, tapi mengapa ibu dan anak itu bertempur demikian sengit. apakah Kim Houw sudah
tidak mengenali budi ibunya lagi?
Pek Kao tidak kenal Kim Houw, ia cuma tahu bahwa anak muda itu parasnya mirip benar
dengan Siao Pek Sin, maka seketika itu juga tercengang.
Tiba-tiba terdengan Siao Pek Sin berkata:

"Paman paman, kalian harap tangkap bocah ini. Ia berani menyelundup kemari hendak
melakukan pembunuhan terhadap kami, maksudnya hendak merebut kedudukan majikan Istana
Kumala Putih ini, bahkan hendak menganiaya ibunya sendiri.
Karena mendengar keterangan Siao Pek Sin itu, tiga orang itu marah sekali. Pek Kao dalam
hati mengerti sendiri, ia adalah pamannya Siao Pek Sin, bagaimana tidak tahu persoalan dalam
rumah tangganya keluarga Siao Pek Sin? Maka ia lantas maju paling depan, dengan memutar
senjata pecutnya Kao Theng-pian yang sudah beberapa puluh tahun membuat ia terkenal turut
menyerbu menyerang Kim Houw.
Kim Houw tadi hanya mengalah terhadap ibunya Siao Pek Sin, maka ia tidak turun tangan.
Tapi kini setelah mendengar ucapan Siao Pek Sin yang memutar balik duduk perkaranya,
bagaimanapun ia tidak bisa bersabar lagi. Hanya pada saat itu sudah tentu ia tidak bisa
membantah ucapan Siao Pek Sin, begitu lihat Pek Kao maju menyerang, ia lantas keluarkan
kepandaiannya. Di bawah serangan dua macam senjata dan berkelebatnya sinar hijau dan putih,
tiba-tiba terdengar suara "Plak, plak" dua kali, sinar pedang dan bayangan pecut tiba-tiba hilang
lenyap. Ibunya Siao Pek Sin dan Pek Kao kedua-duanya terlempar jatuh sampai membentur
dinding kamar. Sedang Kim Houw dengan tangan kiri memegang pecut dan tangan kanan
memegang pedang, berdiri tegak ditengah ruangan sambil tertawa dingin.
Mendadak benda-benda berhamburan menyambar ke arah Kim Houw tapi ia masih berdiri
tegak ditempatnya, hanya pedang di tangannya tampak berputaran laksana kitiran. Dalam tempo
sekejap saja, benda-benda berkeredepan itu sudah tersampok jatuh di tanah seluruhnya.
Benda-benda berkeredepan itu ternyata menyambar dari pesawat rahasia yang dipasang
didalam dinding oleh Siao Pek Sin. Benda-benda itu merupakan senjata rahasia yang sangat lihai,
karena selain jumlahnya banyak, tenaga serangannya juga hebat. Siapa nyana senjata ampuh itu
telah dipecahkan dengan mudah sekali oleh Kim Houw, tidak heran kalau orang-orang yang
menyaksikan pada kagum dan melotot ternganga.
Tiba-tiba terdengar ejekan Ciok Goan Hong: "Sekalipun memiliki ilmu silat yang sudah tak ada
tandingannya dalam dunia, selamanya kau tidak akan mendapat penghargaan orang. Di atas
namamu Kim Houw telah penuh noda, sekalipun kau menyebur ke dalam laut juga tidak bisa
mencuci bersih nodamu, kecuali nona Bwe Peng hidup kembali...."
Kim Houw merasa sangat gusar. Ia sejak kecil mengasihani dan mencintai Bwee Peng, siapa
nyana Bwee Peng mengalami nasib sedemikian buruk, malahan noda itu dilimpahkan keatas
dirinya.
Memang bagi Bwee Peng, apa gunanya Kim Houw mempunyai kepandaian tinggi tidak ada
bandingannya, karena rohnya Bwee Peng yang mati penasaran biar bagaimanapun toh tidak bisa
hidup kembali.
Dengan menahan kesedihannya Kim houw menjawab: "Sekarang aku tidak akan berbantahan
dengan kalian, aku yakin, pasti pada suatu hari peristiwa ini akan dapat dibikin terang. aku akan
menggunakan segenap jiwa ragaku untuk menuntut balas atas kematian adik Peng, dengan
darahku akan mencuci noda di atas namaku."
Setelah berkata, setindak demi setindak Kim Houw berjalan keluar.
tiba-tiba terdengar suara ibu Siao Pek sin yang sangat nyaring: "Aku mau membunuhnya! Dia
telah merampas suamiku, dia telah merampas kekasihku, dia telah merampas kebahagiaanku
untuk selama-lamanya........oh!"

Kim houw terus berjalan tanpa menoleh. Sementara Cek Ie-ya dan Ciok Goan Hong cuma bisa
mengawasi dengan mendelu. Saat itu di luar kamar sudah berdiri banyak orang, diantara mereka
ada sepasang manusia aneh dari Lam-hay, Kim Coa Nio-nio dan lainnya. Pendeknya, semua
orang bekas penghuni Istana Kumala Putih dirimba keramat telah datang dengan lengkap.
San Hua Sian Li berdiri menggelendot di dada ayahnya, ia sedang menangis dengan sedih,
barangkali semua kejadian barusan telah dilihat dan didengar semua olehnya.
Kee To-ya (Imam Palsu) juga ada, tapi agaknya masih belum sadar dari mabuknya. Ia ini
terhadap majikan istana Siao Pek Sin selalu masih merasa sangsi. Setelah keluar dari Istana
Kumala Putih didalam rimba keramat, semua sepak terjang Siao Pek Sin selalu
mengecewakannya, hanya untuk mentaati sumpahnya saja sehingga ia tidak mau pergi begitu
saja. Oleh karena itu setiap hari ia terus mabuk mabukan.
Justru Kim Houw sedang melangkah meninggalkan tempat itu dalam remang-remang
dilihatnya si Imam Palsu.
"Astaga! Siao-tiancu, si anak baik" katanya," Kau juga sudah keluar, ha ha ha ha! Sungguh
hebat kepandaianmu! Mari sambuti serangan toayamu, serangan toayamu ini dinamakan Sinliong-
cut-hay (Naga sakti keluar dari laut)........."
Dengan mendadak ia buktikan serangannya, tapi badannya sempoyongan, agaknya kepalanya
berat dan kakinya enteng, hingga tidak bisa berdiri tetap namun sambaran angin serangannya
hebat dan luar biasa.
Kim Houw tahu ia sedang mabuk, sudah tentu ia tidak mau meladeni. Ia hanya berkelit
menghindarkan serangan, kemudian memutar ke belakang badan si Imam palsu, sambil
mengulurkan tangannya ia hendak membimbingnya.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan :" Anak busuk, kau berani ganggu dia!" kata-kata ini
dibarengi oleh kekuatan angin yang dahsyat.
Kim Houw tidak usah menoleh, sudah tahu kalau yang datang adalah senjata peluru dari To
Pa thian. Ia yang pernah mendengar kehebatan senjata To Pa Thian, sekarang ingin mencoba
senjata itu sebetulnya sampai dimana kekuatannya.
Ia menantikan sampai angin yang kuat itu mendekati dirinya, baru memutar tubuhnya dengan
tiba-tiba dan telunjuk jarinya menyentil peluru tersebut.
Serangan dengan telunjuk jari ini, adalah ilmu pelajaran Kouw jin Kiesu yang disebut Ciok-ciekang.
Kekuatan dari sentilan jari itu luar biasa hebatnya. Kim Houw pikir hendak menguji kekuatan
jarinya itu, mana lebih hebat dibandingkan dengan kekuatan peluru dari To Pa Thian.
Siapa nyana, begitu jari itu menyentuh peluru, tiba-tiba terdengar suara "tar" yang amat
nyaring, kemudian disusul oleh melesatnya beberapa puluh peluru kecil yang meledak dari induk
peluru To Pa Thian.
Kim Houw terkejut, kiranya peluru yang dinamakan Cu-bo-cin-tan atau peluru sakti induk dan
anaknya itu, didalamnya tersimpan peluru-peluru kecil.
Kim Houw buru-buru melesat ke atas sampai beberapa tombak tingginya. Semua orang yang
sudah pernah melihat kepandaiannya, tahu kalau senjata peluru itu tidak akan mampu melukai
dirinya. Tapi justru Kee To-ya yang masih dalam keadaan mabuk terancam bahaya, bagaimana
bisa ia menghindarkan serangan peluru itu?

Semua orang berseru kaget mendengar suara "tar" dari pecahnya peluru To Pa Thian.
Terlebih-lebih pemiliknya sendiri, ia turun tangan bermaksud hendak menolong Kee To-ya, tidak
tahunya malah mau mencelakakannya.
Namun apa yang terjadi kemudian benar-benar mengejutkan semua orang, beberapa puluh
butir peluru kecil itu semuanya telah terpukul jatuh di tanah, sedang Kee To-ya sendiri sudah tidak
kelihatan batang hidungnya.
Sampai di sini, semua orang baru ingat bahwa ketika Kim Houw lompat melesat ke atas, Kee
To-ya juga dijambretnya sekalian, maka semua mata lantas ditujukan ke arah dimana Kim Houw
tadi mendarat turun.
Di sana, di suatu tempat yang di sinari rembulan telah tergeletak Kee To-ya yang masih tidur
mendengkur dan belum sadar dari mabuknya. Sedang Kim Houw sendiri entah kemana perginya.
Kim Houw meninggalkan sekian banyak orang yang terheran-heran dan pergi menemui Kim Lo
Han, tiba-tiba didengarnya suara orang memanggil namanya: "Houw-ji! Houw-ji!"
Ia terkejut, karena suara itu dikenalinya sebagai suara Touw Peng Peng. Untuk sementara ia
masih belum ingin bertemu dengan si nona, namun nampaknya si nona khusus menungguinya di
sini. Kalau ia tidak meladeni sama sekali dan berlalu begitu saja entah bagaimana sedihnya Touw
Peng Peng nanti. Maka akhirnya ia menunggu.
Kim Houw pikir, meski ia sendiri tidak menyukainya, tapi biar bagaimanapun si nona itu pernah
melepas budi padanya. Kalau tidak ada pedang Ngo heng-kiam dan baju wasiat pemberian nona
itu, bagaimana ia bisa seperti sekarang ini? Mungkin kini sudah tinggal tulang-tulangnya saja
didalam rimba keramat itu.
Belum habis ia melamun, sudah terlihat berkelebatnya bayangan merah. Di depannya tampak
berdiri seorang nona cantik bagaikan bidadari, nona itu ketawa manis terhadap dirinya.
"Houw-ji, dua tahun tidak bertemu, rupanya kau sudah tidak mengenali aku lagi!" demikian
seru si nona.
Ya, hanya dua tahun ia sendiri sudah besar, Peng Peng juga sudah besar, malah lebih cantik
daripada dulu, tidak lagi seperti anak-anak yang nakal.
Hanya sifat si nona yang polos masih tidak berubah. Dari pembicaraan dan ketawanya, masih
tetap tidak kenal sudah atau sedih.
Tiba-tiba Peng Peng memonyongkan mulutnya." Houw-ji, kau kenapa?" ia menegasi Kim
Houw.
Kim Houw baru merasa kalau sikapnya agak berubah, maka buru-buru ia menjawab :" Nona
Touw......" Ia seolah-olah baru sadar dari lamunannya.
"Apa? Aku tidak mengizinkan kau memanggil aku begitu lagi!" memotong Peng Peng dengan
cepat sedang alisnya tampak berdiri.
Kim Houw tercengang "Nona Peng Peng........." katanya gelagapan.
Touw Peng Peng memelototkan matanya, agaknya gusar. Tapi ia seperti mendadak ingat
sesuatu. Apakah yang diingatnya? Ia ingat apa sebabnya Kim Houw agak takut padanya, tidak lain
karena Bwee Peng mempunyai sifat yang lemah lembut dan menyayangi Kim Houw. Sekarang ia
mengerti, kalau mau merebut hatinya Kim Houw, agar ia mau berbalik mencintai dirinya. ia harus

bisa berlaku lemah lembut seperti Bwee Peng. Maka ia lantas pejamkan matanya yang melotot
kemudian mengucurkan air matanya hingga meleleh dikedua pipinya.
"Houw-ji, benarkah kau begitu asing terhadapku?" tanyanya.
Kim Houw sudah bersedia untuk didamprat oleh Peng Peng, sekalipun Peng Peng memukul
dan memakinya, buat ia tidak berarti apa-apa, sebab Peng Peng pernah menanam budi pada
dirinya.
Tapi Peng Peng mendadak berubah sifatnya, ini bukan saja mengherankannya bahkan
membuatnya gelagapan.
"Peng Peng! Maafkan aku!" demikian katanya.
Seruan Kim Houw itu ternyata lebih manjur dari pada segala obat, di wajah Peng Peng lantas
tersungging senyuman yang menawan hati.
"Apa yang harus dimaafkan? Kalau sejak tadi kau bersikap seperti itu, bukankah lebih baik?"
katanya.
Kim Houw tidak nyana bahwa perubahan nona itu sedemikian cepatnya.
"Peng Peng, kenapa mesti begitu? Kau tahu hatiku, sejak awal sudah......."
Tanpa menunggu Kim Houw bicara sampai habis Peng Peng sudah nyeletuk: "Kau jangan
perdulikan aku, asal aku suka, aku senang sudah cukup. aku tidak bisa memikirkan terlalu banyak.
Houw-ji, sekarang kau hendak kemana? Apakah hendak meninggalkan tempat ini?"
"Aku bersiap hendak melakukan perjalanan jauh!"
Ia menyatakan demikian, supaya Peng Peng jangan ikut. Siapa sangka, Peng Peng sedikitpun
tidak menanyakan berapa jauhnya, malah berkata: "Kalau begitu mari kita berangkat! Aku juga
ikut!"
Kim Houw tercengang agak lama, lalu berkata :" Peng Peng, untuk apa kau ikut?"
"Aku tidak mempunyai urusan apa-apa! aku cuma ingin ikut kau, kau ke timur aku ikut kau ke
timur dan jika kau ke barat akupun ikut ke barat."
"Ah! Peng Peng, urusanku ini adalah urusan besar bukannya main-main. Kau pulang saja
dulu, setelah urusanku selesai, nanti kutengok kau lagi!"
"Nanti apa kau hanya menengok aku saja? Tidak! aku seorang diri meninggalkan rumah,
dengan menempuh perjalanan yang begini jauh untuk mencarimu. Apa maksudnya? Untung
Tuhan masih kasihan padaku, akhirnya dapat bertemu dengan mu, tidak sangka kau......."
Peng Peng meski seorang gadis yang adatnya keras, tapi dalam kedukaannya ia juga bisa
bersedih. Ketika bicara sampai di situ, ia tidak mampu menahan rasa sedih dalam hatinya, hingga
akhirnya menangis, air matanya sampai membasahi kedua pipinya.
Kim Houw dimasa kanak-kanak ketika masih sering bergaul dengan Bwee Peng, justru paling
takut kalau Bwee Peng menangis. Dan kini, ketika mendengar suara tangisan Peng Peng, ia juga

merasa takut. Maka lantas buru-buru ia membujuk: "Peng Peng! Peng Peng! Harap kau jangan
menangis, aku terima baik permintaanmu, cuma aku harap........"
Air mata wanita adalah senjata, siapapun tidak akan membantah filsafat ini, tapi kekuatan cinta
juga dapat mempengaruhi apapun juga tidak dapat disangkal lagi. coba lihat, karena cinta
membuat Peng Peng rela melakukan perjalanan sangat jauh dengan seorang diri saja, maksudnya
ialah cuma ingin mencari tahu tentang mati hidupnya sang kekasih.
Kini, dalam kesedihan tangisnya, hanya mendengar sepatah janji Kim Houw saja, ia lantas dari
menangis berubah menjadi tertawa: "Houw-ji, kau tidak usah kuatirkan diriku, aku mempunyai
seekor kuda hebat yang setiap harinya bisa menempuh perjalanan ribuan lie, kau tunggulah di sini,
aku akan segera kembali."
Belum habis perkataannya, bayangannya sudah melesat masuk ke dalam istana.
Houw-ji cuma bisa menggeleng-geleng kepala, terhadap nona yang berandalan ini, Kim Houw
benar-benar tidak berdaya.
Rembulan terang, udara jernih, malam sudah menjelang pagi.
Kim Houw masih berdiri ditempat semula, kepalanya mendongak memandang rembulan yang
sudah mulai mendoyong ke arah barat. Pikirannya kalut, sebentar muncul bayangannya Peng
Peng dengan tingkah lakunya yang berandalan, suara ketawanya yang seperti tidak mengenal apa
artinya kesedihan. Ia anggap tuhan tidak adil, yang satu begitu mengenaskan, yang lain ada
sangat gembira.
Tiba-tiba terdengar suara orang menegur: "Houw-ji, kau kenapa?"
Kim Houw terperanjat, ia cepat menoleh. Di belakangnya ternyata telah berdiri Kim Lo Han.
Dengan wajah kemalu-maluan ia menjawab :" Lo Han-ya! Houw-ji tidak kenapa-napa!"
"Houw-ji, aku berada di belakangmu sudah setengah harian, kau sama sekali tidak
menyadarinya. Ini sebelumnya belum pernah terjadi, keadaanmu seperti orang bingung....ah! Aku
bukan seorang yang suka mencampuri urusan orang lain cuma buat kau ada pengecualian. Kau
agaknya seperti sedang menantikan orang ! Tapi, apa sebabnya sampai sekarang ia masih belum
datang ?"
Ucapan Kim Lo Han ini telah menyadarkan Kim Houw. Memang benar, sudah dua jam lebih
lamanya ia menunggu, mengapa Peng Peng masih belum balik ? Kalau dilihat dari sikap Peng
Peng tadi yang tergesa-gesa, tidak semestinya ia sampai sekarang belum muncul. Apakah
masuknya keistana telah diketahui oleh Siao Pek Sin, sehingga tertangkap.
Memikir sampai di situ, dengan tidak di rasa Kim Houw lantas mengucurkan keringat dingin.
"Lo Han-ya, tolong kau tunggu aku di sini sebentar, aku akan masuk ke istana untuk
menyelidik !"
Tanpa menunggu jawaban Kim Lo Han cepat ia sudah gerakkan tubuhnya melesat ke istana.
Tapi setelah ia berputaran sejenak di istana, dalam hati lantas bercekat. Ternyata dalam istana
itu keadaannya sepi sunyi, satu bayangan manusia saja tidak kelihatan, sekali pun si Imam palsu
yang suka mabuk-mabukan juga tidak nampak mata hidungnya.

Bagian depan Istana Kumala Putih cuma merupakan satu ruangan yang luas. Diwaktu malam
memang tidak ada orang. Kim Houw masuk terus, siapa nyana ditengah-tengah ruangan di atas
kursi singgasana, tengah duduk seorang tua, yang bukan lain adalah Pek Kao-ya dari Pek-liongpo.
Begitu melihat Kim Houw, orang tua itu lantas berkata dengan suara nyaring : "Aku adalah Pek
Kao, adik Pek Liong-ya dari Pek liong-po, juga menjadi pamannya Pek Sin. Kini telah mendapat
titah Tiancu, hari ini untuk sementara mewakili menjalankan tugasnya Tiancu."
Bicara sampai di situ, ia lantas turun dari tempat duduknya dan menghampiri Kim Houw
sembari menjura memberi hormat.
"Siau-hiap ini malam-malam masuk kemari sebetulnya ada urusan apa, harap suka memberi
penjelasan !." demikian katanya.
Pek Kao dengan sikap dan caranya memperkenalkan dirinya, sudah tentu ada maksudnya,
bagaimana Kim Houw tidak tahu ? Tapi karena Pek Kao masih pamannya Siao Pek Sin. Ia tidak
berani berlaku sembarangan. Mesti masih belum mengetahui jelas asal usul diri sendiri, tapi dalam
keadaan demikian Pek Kao-ya ada begitu sopan dan memakai aturan, maka Kim Houw lantas
buru-buru membalas hormat seraya berkata : "Tolong tanya, Tiancu sekarang ada dimana ?"
Dengan tenang Pek Kao mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan diangsurkan kepada
Kim Houw seraya berkata : "Tiancu sudah pergi ke Se-cuan. Waktu mau berangkat ia ada
meninggalkan surat ini harap Siau-hiap baca sendiri. Semua hal sudah dijelaskan dalam surat,
maaf, aku tidak bisa mengawani Siau-hiap terlalu lama !"
Sehabis berkata Pek Kao lantas keluar dari ruangan.
Kim Houw tahu tidak ada gunanya menahan, maka ia biarkan orang tua itu berlalu lantas
membuka dan baca bunyi surat itu :
"Kim Houw! Kau dengan aku adalah musuh turunan. Atas perintah ibu, kalau kau belum
binasa, aku belum mau sudah. Nona Peng Peng sudah ikut aku dalam perjalanan ke Su-coan
meski ia tidak suka, tapi, di bawah paksaan orang banyak, bagaimana ia bisa lari ? Tidak senang
mau apa lagi ?
Kim Houw ! Apa kau cinta kepadanya ? Dia memang pantas disebut seorang cantik seperti
bidadari ! Benarkah kau cinta dia ? Dia memang seorang anak dara yang sangat menarik !
Kami akan melakukan perjalanan yang jauh, kudanya yang bagus itu sangat kebetulan bagi
kami. Tujuan kami yang terakhir adalah Ceng-kee-cee di bukit Teng lay san. kalau kau sudah
sampai dibukit itu dapat menanya kepada siapa saja, tidak ada seorangpun yang tidak tahu.
Sukakah kau kunjungi Ceng-kee-cee, untuk Peng-Peng?
Nanti tanggal lima bulan lima diwaktu lohor, Ceng-kee-cee akan mengadakan acara
sembahyang besar. Barang-barang yang dipakai untuk upacara itu ialah kerbau hidup, tapi tahun
ini mungkin akan diganti dengan manusia hidup, malahan yang akan dikorbankan adalah satu
nona manis !
Kalau sebelum tanggal lima bulan lima lohor kau tidak muncul harap kau jangan sesalkan aku
nona Peng Peng akan digunakan untuk sajian hidup dalam upacara sembahyang itu !

Bagaimana? Untuk dirinya nona Peng Peng segeralah datang ! Kami menantikan
kedatanganmu dengan segala hormat, mudah-mudahan kau tidak mendapat halangan apa-apa
didalam perjalanan."
Siao Pek sin.
Surat itu yang bunyinya agak panjang, meski ditulis secara lunak, tapi setiap perkataan
merupakan suatu tusukan dalam hati Kim Houw.
Cintakah Kim Houw kepada Peng Peng ? la sendiri juga tidak tahu. Tapi nyatanya setelah
membaca surat itu, ia lantas berlalu dari istana dan menemui Kim Lo Han diajak ke Se-cuan.
Di sepanjang jalan ia selalu mencari keterangan, maksudnya ialah apa bisa ketemukan
sebelum tiba di Su-coan, berarti mengurangi penderitaannya Peng Peng.
Tapi, jalanan yang menjurus ke Su-coan ada banyak sekali, mereka tidak tahu harus ambil
jalan yang mana.
Turun dari gunung Kua-coan-san, melalui beberapa desa, malam itu mereka telah tiba di kota
Yu-liang-shia.
Kim Houw hendak menanyakan keterangan kepada orang-orang di kota, tapi belum membuka
mulut, Kim Lo Han sudah mencegah.
"Houw-ji kau jangan sebutkan jumlahnya mereka, kalau mereka jalan berpencaran, bagaimana
? Kau tanya, saja satu atau dua diantaranya !" demikian kata Kim Lo Han.
Mendengar keterangan itu. Kim Houw diam-diam kagum kepada Kim Lo Han. Tidak lama ia
lantas menanya kepada salah satu orang yang sedang berjalan: "Paman, numpang tanya apa kau
pernah melihat seorang nona baju merah yang menunggang seekor kuda kecil bulu merah lewat di
sini ? Nona itu mungkin masih membawa beberapa pengiringnya......"
Apa lacur orang yang ditanya itu justru si Thio Sam yang terkenal doyan mengobrol. Ia
seorang pengangguran, kerjanya cuma mengobrol yang bukan-bukan supaya dapat sedikit
minuman atau hidangan kalau menemukan tetamu yang royal. Ketika menampak Kim Houw yang
berdandan seperti anak sekolah dan menanyakan dirinya satu nona, pikirannya lantas bekerja
cepat, dan mulutnya lantas menjawab tanpa dipikir lagi ; "Aa ! ada ! ya ada nona begituan......"
Kim Houw sangat girang.
"Dimana Mereka berjalan menjurus kemana"
"Oh! seperti ya.... tapi juga seperti akan......"
Kim Houw semakin gelisah tapi Kim Lo han yang mesti tidak suka bicara, tapi mengerti banyak
urusan. Melihat tingkah lakunya Thio Sam ia lantas mengerti. Lalu mengeluarkan sedikit yang
recehan, diserahkan dalam tangan Kim Houw, serta memberi isyarat dengan matanya, hingga Kim
Houw lantas mengerti maksudnya.
"Paman ini sedikit uang untuk minum teh!" kata Kim Houw sembari berikan uangnya kepada
Thio Sam.

Thio Sam melihat persenan begitu besar hatinya girang, tapi bicaranya masih sengaja diputarputar.
"Siangkong, bukannya aku tidak mau omong terus terang, sebetulnya aku ada sedikit kuatir,
karena pengikutnya nona baju merah itu hampir semuanya pada membawa senjata tajam. Coba
pikir, kalau perbuatanku ini diketahui, bukankah jiwaku nanti akan melayang... oh, ya siangkong,
satu diantara orang-orang itu parasnya cakap seperti Siangkong..."
Mendengar perkataannya, Kim Houw tidak banyak rewel lantas memberikan uang lagi
padanya, kali ini ia memberikan lima tahil yang perak. Tapi Thio Sam rupa-rupanya masih
menginginkan lebih banyak lagi, ia ajak Kim Houw kesalahan yang kecil. kemudian mulai
keterangannya yang disusun rapi: "Ah! nona baju merah itu sungguh kasihan, sekujur badannya
diikat seperti lepat mulutnya juga disumpal..." padahal semuanya itu keterangannya Thio Sam
sendiri karena ia sengaja mengulur waktu. Tidak nyana Kim Houw tidak mau mengerti dengan
mendadak ia jepit tangan Thio Sam dengan kedua jari, hingga si orang she Thio itu menjerit-jerit
kesakitan.
Kim Houw tidak perdulikan padanya, ia bukan saja merasa cemas dirinya Peng Peng juga
merasa gemas terhadap Thio Sam yang begitu rendah, maka bukan saja lantas kendorkan
cekelannya bahkan semakin keras.
"Siangkong, ampun... ampun.. aku nanti omong terus terang...!" demikian Thio Sam terus
meratap minta diampuni.
"Aku cuma tanya kau, kemana mereka pergi? Jalanan mana yang diambil?" kata Kim Houw
gusar.
Thio Sam kesakitan setengah mati, sampai hampir terkencing-kencing, terpaksa ia menjawab
sekena-kenanya: "Mereka ambil jalan air kabarnya akan ke Tong-lo terus ke Hang-ciu, mungkin
akan pesiar ke telaga See ouw..... aduh.... aku Thio Sam...."
Kim Houw lantas lepaskan tangannya, karena maksudnya cuma mau tahu mereka menuju ke
mana. Siapa tahu jawaban Thio Sam telah mengatakan mereka ambil jalan air, hingga terpaksa
Kim Houw menoleh kepada Kim Lo Han maksudnya hendak menanyakan pikirannya, tapi Kim Lo
Han tidak menjawab, ia hanya gelengkan kepala, maka dua orang itu lantas keluar dari gang dan
masuk ke rumah makan.
Setelah menangsal perut, Kim Houw menanya kepada Kim Lo Han: "Lo Han-ya, apa tidak baik
kalau kita kejar terus? Meski agaknya tidak masuk di akal, tapi ini hanya jalan satu-satunya untuk
mengikuti mereka, kalau perahunya berjalan tidak ada halangan, esok pagi-paginya rasanya bisa
menyandak, kau pikir benar tidak?"
Kim Lo Han hanya manggut-manggut saja, maka mereka berdua lantas pergi ke tepi sungai
untuk mencari perahu. Setiap kali menemukan perahu, Kim Houw lantas keluarkan ginkangnya
melayang ke atas perahu untuk pergi memeriksa, setelah mendapat kepastian bukan orang yang
dicari ia tinggalkan lagi.
Oleh karena itu, maka perjalanannya agak lambat. Meski demikian, satu malam itu juga sudah
melalui ratusan lie dan pada esok paginya sudah memasuki kota Lan-ko.
Kalau di waktu malam dua orang itu bisa mengeluarkan ginkangnya untuk lari cepat serta bisa
berbuat sesukanya, tapi di waktu siang hari mereka tidak dapat berbuat seperti itu, maka terpaksa
menyewa satu perahu kecil untuk melanjutkan perjalanan mencari Peng Peng.

Diwaktu petang, perahu itu sudah tiba di Kian-tek, keduanya lantas meninggalkan perahu
untuk masuk ke kota. Karena perutnya sudah pada keroncongan, mereka lantas mencari rumah
makan untuk tangsal perut.
Ketika itu keadaan dalam rumah makan sedang ramainya, hampir tidak ada tempat kosong.
Tapi ketika mereka baru saja melangkah ke pintu, lantas sudah banyak orang yang pada menoleh
ke arahnya. Sebentar saja, di sana sini ramai kasak-kusuk sambil memandang mereka dan apa
yang mengherankan, ketika orang-orang itu setelah mengawasi mereka berdua, lantas pada diam
tidak berani membuka mulut lagi.
Sebentar saja, rumah makan yang begitu ramainya berubah menjadi sunyi, sampai semua
pelayan dan tukang masak juga pada berhenti melakukan tugasnya.
Hal ini, bukan saja membuat heran, sekalipun Kim Lo Han yang sudah banyak pengalaman
juga tidak mengerti apa sebabnya.
Dua orang itu berdiri diambang pintu, mundur salah, majupun salah, maka terpaksa berdiri
terus menyaksikan gerakan mereka.
Tiba-tiba kasir rumah makan itu maju menghampiri Kim Lo Han dan Kim Houw, sembari
memberi hormat ia berkata dengan suara ketakutan: "Hut-ya rumah makan kami terlalu kecil, tidak
ada arak dan hidangan yang enak untuk melayani Hut-ya, harap Hut-ya suka maafkan, tua bangka
di sini minta maaf sebanyak-banyaknya!" sehabis berkata orang itu segera hendak berlutut.
Kim Lo Han buru-buru memimpin bangun padanya, berkata dengan suara yang lembut: "Sicu
tidak punya kesalahan, sekarang marilah kita pergi saja."
Perkataan dan perbuatan Kim Lo Han itu rupa-rupanya membikin heran semua orang yang
ada di situ, Kim Lo Han memberi isyarat kepada Kim Houw, lantas meninggalkan rumah makan
tersebut.
Tidak nyana, dalam waktu sekejap itu, di depan pintu juga sudah berkerumun banyak orang.
Dari sikap dan wajah orang-orang itu semuanya menandakan keheranan, kembali mereka dibikin
melengak.
Bersambung ke Jilid 6
Jilid 06
Orang banyak ada di luar pintu itu, sedikitpun tidak berani mengeluarkan suara, keadaan sama
dengan orang-orang yang berada didalam. Tapi ketika Kim Houw dan Kim LO Han berjalan keluar,
orang banyak itu lantas pada minggir untuk memberi jalan
Kim Lo Han dan Kim Houw lantas menduga ada apa-apa, mereka tahu bahwa kejadian itu
pasti ada sebab-sebabnya, maka tidak berani berdiam lama-lama di situ dan terus berlalu cepat.
Dengan cepat mereka sudah melewati dua tikungan karena mengetahui masih ada banyak
orang yang memperhatikan mereka, maka tidak berani menoleh sama sekali. Setelah
meninggalkan tempat ramai, baru pada kerahkan ilmunya untuk menyingkir kesalah satu rumah
penduduk.
Tiba-tiba terdengar suara riuh di sana sini: "Hut ya sudah terbang ke langit!" kemudian disusul
oleh bentakan keras: "Mau apa kamu ribut-ribut tidak karuan? Apa sudah tidak kepingin hidup?"

Karena mendengar suara bentakan itu. Orang ramai itu lantas bubaran, suasana juga lantas
sirap !
Kim Houw mengawasi Kim Lo Han, hwesio tua itu tampak kerutkan alisnya.
Kim LO Han kali ini berobah kebiasaannya, ia lantas berkata: "kalau tidak ada angin, sudah
tentu tidak timbul ombak segala kejadian tentu ada sebabnya. Ini bukan suatu soal yang kebetulan
saja didalamnya pasti ada apa apanya. Melihat sikapnya orang-orang yang demikian ketakutan,
mungkin telah terjadi suatu kejahatan besar dalam kota ini. Aku si hwesio tua kalau tidak tahu ya
sudah, tapi sekarang setelah mengetahui, bagaimana aku bisa tinggal diam? Mereka tadi berteriak
terbang ke langit? Menghilang? Semua itu merupakan tipu muslihat saja yang cuma bisa
mengakali rakyat yang bocah."
Kim Houw jarang dengan Kim Lo Han mengucapkan begitu banyak perkataan, maka ia lantas
mengetahui bahwa hwesio tua itu sedang gusar. Sebagai seorang yang beribadat yang sudah
mencapai kesempurnaannya, dan toh masih bisa gusar, bisa diduga bahwa soal itu tentu bukan
soal remeh.
"Melihat keadaan hari ini, rasanya kau tidak baik untuk unjukkan diri secara terang-terangan,
sekarang biarlah aku pergi menyelidiki" kata Kim Houw
Kim Lo Han lantas mencari tempat untuk sembunyikan diri, sedang Kim Houw balik lagi ke
dalam kota untuk mencari keterangan .
Baru saja Kim Houw keluar dari mulut gang, sudah dengar suara riuh dan tambur. Orangorang
itu pada berseru: "Dewa penyebar rejeki telah datang! Minggir! Minggir!"
Kim Houw mendongak, dari jauh mendatangi sebuah joli besar. Di atas joli duduk seorang
anak muda cakap dengan dandanannya yang sangat mewah, pinggangnya menyoren pedang
emas. Dia sebetulnya bukan duduk tapi berdiri di atas joli, membiarkan dirinya digoyang-goyang di
atas joli, tapi berdirinya mantap, sikapnya gagah sekali.
Tatkala Kim Houw sudah lihat tegas wajahnya, dalam hati merasa kaget, ternyata anak muda
yang berdiri di atas joli tersebut adalah anaknya Ciok Goan Hong, Ciok Liang!
Dalam hati Kim Houw merasa heran, mengapa Ciok Liang bisa berada di sini dan menjadi
dewa penyebar rejeki segala ? Meski dalam hati merasa heran tapi ia juga girang, sebab ia
memang sedang mencari pemuda itu, untuk menanyai tentang kematian Bwee Peng, keluarga
Ciok tidak terlepas dari kecurigaan dan Ciok Liang merupakan seorang yang paling dicurigai oleh
Kim Houw.
Ia kuatir dirinya nanti di kenal oleh Ciok Liang, maka buru-buru dengan tangannya menutupi
wajahnya dan masuk ke dalam rombongan orang banyak, maksudnya setelah joli Ciok Liang
berlalu, ia akan mengikuti dari jauh.
Siapa nyana setelah joli Ciok Liang berlalu, di belakangnya masih ada lagi lain joli besar yang
dipikul delapan orang, tetapi joli ini tirainya diturunkan, entah siapa yang berada didalamnya?
Dikedua sisi joli tersebut ada puluhan orang laki-laki berbadan besar yang mengawal, setiap
orang di pinggangnya pada menyoren golok atau pedang.
Diantara riuhnya suara orang banyak itu Kim Houw tiba-tiba dengar suara tangis seorang
wanita. Ia coba pasang kupingnya, dan dapat kepastian bahwa suara tangisan itu datang dari
dalam joli. Selagi berada dalam keheran-heranan, kembali dengar pembicaraan seorang laki-laki

itu berkata dengan suara rendah kepada kawannya: "Tukang perahu benar-benar kurang ajar,
hampir saja ketinggalan waktu, aku sudah kepingin bunuh mati saja padanya."
"Siau-ong, kau bicara hati-hati sedikit!" menasehati kawannya.
"Takut apa? Sudah sampai di tempat sendiri takuti siapa lagi?"
"Kau jangan salahkan orang, dari Liong-yu Ie Kian-tek, mau dikata dekat tidak dekat jauh juga
tidak. Orang telah melakukan perjalanan siang malam tanpa mengaso, sudah boleh dibilang
hampir menjual jiwanya....."
Sampai di sini, kedua orang yang sedang bicara itu mendadak berhenti. Kim Houw hatinya
berdebaran. Mungkinkah wanita dalam joli itu si nona baju merah seperti apa yang dikatakan oleh
Thio sam ?
Tidak perduli betul atau tidak, ikuti saja dulu habis perkara. Begitu pikir Kim Houw. Maka lantas
mengikuti orang di belakang joli itu.
Tidak antara lama, rombongan itu sudah sampai keluar kota dan sesampai di sini, sudah tidak
ada orang yang berani mengikuti lagi, cuma Kim Houw seorang yang masih mengukuti dari jauh.
Malam itu, langit gelap. Hanya bintang-bintang saja yang masih menyinari bumi, sedang
rombongan orang yang memikul joli itu satupun tidak ada yang memasang obor, suara dan
gembreng sudah tidak dibunyikan lagi. Ciok Liang juga sudah duduk, tidak berdiri dengan sikap
yang gagah seperti tadi siang. Joli itu jalannya lebih cepat dari pada siang harinya.
Kim Houw coba mengamat-amati gerak kaki orang-orang itu, meski jalannya cepat tapi dimata
Kim Houw, kecepatan itu tiada artinya.
Dengan tiba-tiba, suara tangisan kembali terdengar, dan kali ini ratapannya nampak
memilukan hati.
Mendadak Kim Houw ingat, bahwa Peng Peng kabarnya hendak dinikahkan dengan Ciok
Liang. Mengingat ini, makin besar dugaannya pasti wajah nona baju merah dalam joli itu adalah
Peng Peng.
Meski Kim Houw tidak cinta Peng Peng, tapi pada saat itu hatinya mendadak timbul suatu
perasaan jelas, entah hati yang dinamakan cemburu atau bukan ia sendiri juga tidak mengerti
pikirannya hanya ingin segera dapat tahu siapa nona baju merah itu.
Begitu berpikir ia lantas bertindak. Tidak kesulitan bagaimana ia bergerak. Tahu-tahu sesosok
bayangan putih sudah melesat bagaikan anak panah ke arah joli.
Orang-orang yang sedang enak lari-lari tiba-tiba dikejutkan oleh berkelebatnya bayangan putih,
kemudian joli kedua seperti tersingkap sebentar oleh angin keras dan bayangan putih itu sudah
lenyap lagi !
Orang-orang yang mengawal di samping dan belakang joli pada ketakutan. Kecuali bayangan
putih dan bergerak sebentar tirai joli itu, tidak terjadi peristiwa apa-apa lagi.
Justru mereka belum hilang kagetnya, kembali terlihat berkelebatnya bayangan putih tadi. Kali
ini tirai joli tersingkap tinggi, barang dengan itu nona dalam joli terdengar menjerit ketakutan !
Sekarang, biar bagaimana tidak bisa ditinggal diam lagi, maka seorang diantaranya yang
berhati tabah membentak keras: "Siapa yang berani main gila di sini?"

Berbareng dengan bentakan itu, dari belakangnya lantas meluncur sebatang panah bersuara,
kemudian disusul mengaungnya anak panah sinar panah.
Dari dalam rimba yang tidak jauh dari situ,, saling susul melompat keluar tiga orang dengan
gerakan gesit sekali. Sekejap saja mereka sudah merasa diantara rombongan orang-orang itu.
Seorang diantara orang badannya kurus tinggi menegur: "ada kejadian apa ?"
Orang yang membentak dengan suara keras tadi lantas menceritakan apa yang mereka telah
lihat. Orang tinggi kurus itu ketika mendengar tangisan dalam joli masih ada lantas tahu tidak
terjadi apa-apa dengan orang didalam joli. Meski dalam hati merasa kaget dan heran, tapi
mulutnya mentertawakan "Kalau sudah tidak apa-apa, lekas masuk! Hui-ya sedang menanti !"
Maka, dua joli lantas diangkat lagi dan dibawa lari ke dalam rimba.
Ciok Liang yang duduk dalam joli pertama, lagaknya seperti raja, segala kejadian demikian
agaknya tidak perlu ia turut capaikan hati.
Apa yang terjadi dengan joli kedua itu, adalah perbuatan Kim Houw.
Ketika untuk pertama kali ia menyingkap tirai joli, memang dapat lihat adanya seorang nona
yang memakai baju merah dan nona itu memang benar diikat kaki tangannya cuma kepalanya
tertutup oleh kain merah, maka Kim Houw tidak dapat melihat wajahnya. Terpaksa dia balik
dengan perasaan kecewa karena masih penasaran, ia telah bertindak lagi. Kali ini Kim Houw
menggunakan ilmu jari tangan Tan-cie-kang untuk menyingkap kain merah yang mengerudungi
wajah si nona hingga nona itu menjerit kaget. Mendengar suara jeritan itu Kim Houw tidak usah
melihat wajah si nona baju merah itu bukan Peng Peng. Ia merasa girang, tapi ia juga merasa
kecewa.
Girang karena nona itu ternyata bukan Peng Peng, dengan demikian tidak mungkin Peng Peng
bisa dinikahkan dengan Ciok Liang. Kecewa, karena nona itu bukan Peng Peng yang sedang ia
kejar siang malam tanpa mengaso.
Karena sudah terang bukan Peng Peng, Kim Houw tidak punya alasan untuk membikin ribut,
maka ia lantas sembunyikan diri. Setelah orang-orang itu masuk ke dalam rimba ia baru muncul
lagi.
Tempat berdiri Kim Houw terpisah kira-kira tiga puluh tombak lebih dari rimba, tapi ia sangsi
akan mengejar terus, sebab barusan ketika orang-orang itu melepaskan anak panah dari rimba
lantas muncul tiga orang, hingga dapat diduga bahwa dalam rimba itu pasti ada pasukan
tersembunyi, mungkin suatu perkumpulan rahasia semacam Pang-hwee.
Selagi Kim Houw memikirkan cara untuk memasuki rimba itu, supaya tidak diketahui oleh
penghuni rimba, dari samping kiri rimba tiba-tiba ada api berkobar, rupa-rupanya seperti ada orang
yang sengaja hendak membakar rimba tersebut.
Sekejap saja, dalam rimba lantas terdengar suara riuh. Kim Houw pikir, ini adalah saatnya
yang paling bagus untuk masuk ke rimba......
Rimba itu meski banyak pohon, tetapi daunnya agak jarang, maka meski dengan sinarnya
bintang yang kelap-kelip di langit saja juga sudah cukup untuk menerangi ke dalam rimba. Kuatir
dirinya diketahui orang, ia tidak berani berjalan di atas tanah, hanya lompat-lompat seperti monyet
diantara cabang-cabang pohon, terus menyusup kebagian dalamnya.
-ooo000oooKoleksi
Kang Zusi
Setelah berada didalam, Kim Houw baru mengetahui bahwa di situ ternyata ada sebuah
kelenteng besar dengan pekarangan yang Ditengah-tengah pintu ada papan merknya yang tertulis
dengan huruf besar: "HOAT HOA SIE".
Dilihat dari bentuk bangunan yang masih baru pula begitu huruf emasnya yang bersinar, Kim
Houw segera menduga bahwa kelenteng itu tentunya belum lama didirikan.
Melihat bahan-bahan bangunan yang digunakan sehingga merupakan satu bangunan yang
megah, kelenteng itu pasti dibangun dengan uang yang tidak sedikit jumlahnya.
Pada saat itu, pintu kelenteng telah terbuka lebar, orang yang mondar-mandir nampak tidak
hentinya, tapi jumlah hwesio kepala gundul sebaliknya sedikit sekali, hanya kadang-kadang saja
bisa terlihat beberapa hwesio kecil.
Api berkobar disamping rimba, mungkin sudah dapat dipadamkan. Orang yang mundar mandir
di pintu kelenteng juga mulai sedikit, suara riuh tadi juga sudah mulai siap.
Kim Houw menantikan kesempatan baik lompat masuk ke dalam kelenteng melalui tembok
belakang. Ia menduga pasti bahwa kelenteng ini tentunya bukan tempat beribadat yang
sebenarnya, hanya digunakan sebagai samaran untuk suatu perbuatan jahat !
Tempat dimana Kim Houw turun, adalah disamping gunung-gunung menyembunyikan diri
sejenak, ia melihat tidak ada gerakan apa-apa, lalu mengerahkan ilmunya mengentengi tubuh
yang luar biasa, terbang melesat ke ruang belakang.
Genteng atas ruangan belakang ini dilapisi dengan kapur putih, maka diwaktu malam juga bisa
kelihatan nyata. Kim Houw kebetulan menggunakan pakaian putih, maka tempat itu merupakan
suatu tempat persembunyian yang paling tepat baginya.
Kim Houw coba geser sedikit satu genteng untuk melihat keadaan dalamnya, ternyata dalam
ruangan belakang itu lampunya menyala besar, hingga keadaannya terang benderang seperti
siang hari, Ditengah-tengah ruangan ada tempat duduk piranti bersemedi, diatasnya duduk
seorang hwesio tua kira-kira berusia enam puluh tahun, dengan bentuk badan yang besar tegap
serta wajah yang kereng. Ia memakai baju paderi warna merah tua, tangannya memang
serenceng tasbih, dikedua sisinya berdiri delapan hwesio kecil yang baru berusia kira-kira dua
belas tahun lima belas tahun.
Ketika Kim Houw melihat wajahnya hwesio itu, dalam hati merasa kaget, karena wajah si
hwesio sangat mirip benar dengan Kim Lo Han, cuma badannya agak gemuk sedikit sedang Kim
Lo Han sedikit lebih tinggi dari padanya, kalau bukan orang yang sudah kenal betul, dalam
sekelebat susah mengenali atau membedakan yang mana Kim Lo Han.
Tiba-tiba hwesio itu menanya dengan suara perlahan: "Guat Sim, sudah jam berapa?"
Suara itu perlahan dan halus sekali, tapi Kim Houw yang berada jauh di atas genteng masih
dapat dengar tegas, bisa dibayangkan betapa tingginya kekuatan tenaga dalam hwesio itu.
Kim Houw terkejut! Kalau dibanding Lwekang hwesio ini, mungkin tidak di bawah si imam
palsu atau tokoh-tokoh lainnya dalam Istana Kumala Putih di rimba keramat.
"Suhu sudah jam sepuluh!" terdengar si hwesio kecil menjawab.
Hwee shio kerutkan alis yang tebal.

Tepat pada saat itu joli yang dinaiki oleh Ciok Liang baru saja tiba. Ciok Liang dengan
dandanannya yang sangat mewah masuk ke ruangan menghampiri si hwesio dan nampaknya ia
tidak takut, tidak juga merasa hormat. Dengan suara nyaring ia berkata: "Suhu, muridmu bawa
pulang satu nona cantik, dia adalah yang pada delapan belas tahun yang lalu lahirnya bersama
dengan hari lahirku. Suhu! Lekas berikan pelajaran ilmu Bie-im tay-hoat kepadaku!"
Kim Houw kaget mendengar itu, bukan main kagetnya. Murid menemui guru dengan cara yang
tidak memakai adat, ini saja sudah jarang tertampak, apalagi minta pelajaran ilmu yang sangat
jahat dan ganas itu!
Ilmu Bie-im-tay-hoat membutuhkan sari kekuatan seorang gadis remaja, dengan
menggunakan ilmu yang menyesatkan gadis yang dijadikan korban. Sari maniknya disedot untuk
menambahkan tenaga si laki, tapi syaratnya sangat berat. Pertama, si gadis harus seorang yang
lahir bebarengan tanggal dan jamnya sama dengan si lelaki.
Kedua gadis harus masih remaja benar-benar dan setelah sari kekuatan si gadis tersedot
habis, gadis itu segera binasa. Ketika waktu mengambil sari kekuatan wanita itu harus dilakukan
pada waktu yang tepat, hari, bulan dan jamnya menurut yang sudah digariskan, malam itu jatuh
malam yang paling gelap dalam tahun itu.
Tiga syarat itu, satupun tidak boleh di abaikan kalau tidak akan gagal.
Pelajaran ilmu jahat itu, dalam bukunya Kouw-jin Kiesu juga ada tulis, maka Kim Houw tahu.
Bagaimana ia tidak terkejut, karena ilmu demikian jarang sekali orang yang mempelajarinya.
Tetapi masih ada lagi kejadian yang mengherankan dan mengejutkan Kim Houw.
Ciok Liang sehabis berkata, lantas berjalan ke sisinya si hwesio, ia lalu tekuk lututnya, tetapi
bukannya berlutut, melainkan merebahkan badannya ke dalam pelukan si hwesio.
Hwesio itu nampaknya girang sekali, mulutnya perdengarkan ketawanya yang bergelak-gelak.
Ciok Liang agaknya terlalu dimanja oleh gurunya, dengan tangannya yang besar segede kipas,
hwesio itu mengusap-usap wajahnya Ciok Liang.
"Muridku yang baik, waktu masih belum sampai! Bagaimana kau tergesa-gesa demikian rupa?
Tentang ilmu Bie-im-tay-hoat aku sudah berjanji padamu, tidak nanti aku mungkir janjiku, perlu apa
kau begitu kesusu......"
Ciok Liang cuma berkata "ng... ng" saja sembari melendot di dada sang guru, lagaknya sangat
aleman sekali.
Kim Houw yang menyaksikan tingkah laku Ciok Liang yang sangat memalukan itu, hatinya
merasa panas. Selagi hendak melompat turun untuk menghajar mereka, mendadak ia berbalik
pikirannya, sebab ia lantas ingat bahwa bagaimanapun mereka tidak akan lolos dari kemana.
Terdengar hwesio itu kembali ketawa dan berkata: "Sudahlah! aku terima baik permintaanmu,
cuma aku harus lihat dulu gadis itu, cantik atau tidak untuk menjadi muridku?"
"Suhu, ia sangat galak! Dalam perjalanan, ia disenggol saja tidak mau. Sesudah diikat kaki
tangannya, aku hendak menciumnya hampir saja kena digigit" kata Ciok Liang.
Si hwesio mengiringkan kupingnya untuk dengar kentongan, kemudian berkata: "Muridku nanti
sudah jam satu tengah malam, kau boleh lakukan!"

"Suhu ia sangat galak bagaimana? Aku tidak suka kalau diikat atau ditotok jalan darahnya
karena dengan demikian seperti tidur dengan seorang mati, sedikitpun tidak ada artinya" kata Ciok
Liang sambil lompat duduk.
Hwesio itu rupanya sangat geli suara tertawanya semakin nyaring, lama sekali baru bisa
berkata: "Muridku yang baik, rupanya dalam soal wanita kau mempunyai banyak pengalaman,
apakah kau pernah mencuri anak gadis orang? Beritahukan kepada suhumu, apakah gadis itu
pandai silat?"
"Gadis itu tidak pandai silat. Tapi, aku masih ingat dia melawan hebat sekali, maka aku lantas
totok jalan darahnya, dia lantas seperti orang mati, mana aku bisa gembira? Maka aku lantas buka
totokannya. Aku membiarkan dia meronta-ronta hebat, lebih hebat lebih menyenangkan.
Sebabnya, biar bagaimana ia adalah perempuan lemah, sebentar saja sudah kehabisan tenaga,
maka akhirnya dia membiarkan dirinya aku perbuat sesukaku! Kejadian itu di kampung halamanku
pada dua tahun berselang."
Baru saja bicara sampai di situ, hwesio itu tiba-tiba kebutkan lengan bajunya seraya
membentak: "siapa berani main gila didalam gereja Hoat-hoa-sie? Bukan lekas keluar untuk
menerima kematian?"
Suara pekikan hebat telah terdengar, kemudian disusul oleh berkelebatnya satu bayangan
putih. Sekejap saja di ruangan itu sudah muncul seorang anak muda berbadan tegap dan
berpakaian putih, hanya wajahnya yang tampan penuh dengan kedukaan dan air mata. Dengan
suara yang gemas dan di ucapkan sepatah demi sepatah, pemuda itu berkata: "Ciok Liang, aku
ingin tanya kepada kau ini, satu manusia yang lebih rendah dari binatang, adik Peng dengan kau
ada permusuhan apa? mengapa kau perlakukan begitu rupa? Hari ini, aku hendak menagih
hutang darahmu kepada Adik Peng!"
Ciok Liang masih belum sempat menjawab, di luar tiba-tiba terdengar jeritan ngeri, kemudian
disusul oleh suara ketawa panjang dan nyaring. Segera dalam ruangan itu tambah seorang tua
berusia kira-kira lima puluh tahun. jenggotnya panjang, dengan pedang Ceng-kong kiam orang tua
itu menuding si hwesio sembari berkata: "Hoat-hut, kau juga tidak dengar-dengar dulu, apakah
gadisnya aku seorang she Pao, juga boleh kau buat permainan? Lekas bebaskan anak
perempuanku, kalau tidak, bunuh! aku nanti suruh kau rasakan sendiri tajamnya pedang Cengkong-
kiam ku ini!"
Sebetulnya saat itu Kim Houw sudah hampir turun tangan menghajar Ciok Liang, tidak nyana
maksudnya digagalkan oleh munculnya orang tua itu.
Oleh karena kedatangan orang tua itu hendak minta anaknya yang di rampas oleh Ciok Liang,
maka Kim Houw terpaksa mengalah dan urungkan serangannya terhadap Ciok Liang.
Si hwesio sedikitpun tidak keder, sembari ketawa bergelak-gelak ia berkata: "Oh! itu anak
perempuan yang di ketemukan oleh muridku, kiranya adalah anak perempuanmu. Kalau begitu
benar-benar aku keterlaluan. Tapi menurut paras keterangan muridku, anak perempuanmu itu
parasnya cantik sekali, kalau aku tahu lebih dulu, mungkin aku si hwesio tidak akan perdulikan
perjalanan jauh, datang sendiri ke kota Liong-yu, untuk aku pakai sendiri bukankah
menggembirakan?"
Orang tua she Pao itu gusarnya bukan main, tanpa banyak bicara lagi, ia lantas menyerang si
hwesio dengan pedangnya.
Si hwesio sangat jumawa itu telah berani berlaku begitu sombong terhadap lawannya, sudah
tentu bukan orang sembarangan. Maka ujung pedang sudah dekat di dadanya. ia lantas egoskan
diri sembari menggulung pedang orang she Pao dengan lengan bajunya.

Kemudian si hwesio lantas berkata sembari tertawa: "Pao Sie Jin kau juga seorang yang
terkenal di dunia kangouw, mengapa begitu tidak mengenal selatan, berani-berani kau unjuk diri
lagi di gereja Hoat Hoa Sie? Apa kau kira aku si hwesio boleh kau perlakukan sembarangan?"
Selain ucapan itu, lengan jubahnya lantas di kebutkan! Poa Sie Jin rasakan lengannya sakit
sekali, pedang panjangnya lantas melayang ke udara dan terus menancap di atas penglari.
Baru segebrak saja Poa Sie Jin sudah tidak berdaya, kecuali merasa sangat malu, orangnya
cuma berdiri kesima ditengah ruangan, sedang si hwesio lalu perdengarkan suara ketawanya yang
panjang.
Tetapi belum habis tertawanya, dari luar terdengar suara yang amat nyaring:
"Tang.....Lo....Han!"
Baru saja dengar di sebut namanya saja, hwesio itu lantas berhenti ketawa, matanya mendelik
segede jengkol, mengawasi ke arah pintu dengan tidak berkedip.
Di depan ada puluhan orang yang menjaga saat itu tiba-tiba bergerak menjadi dua rombongan,
tampak Kim Lo Han dengan tindakan yang mantap, setindak demi setindak berjalan masuk.
Si hwesio tiba-tiba terperanjat badannya gemetar dengan suara terputus-putus ia berkata:
"Kim......Lo....toa.....Heng?.......kau...kau...tidak..?"
Kim Lo Han menyebut dengan suara dingin: "Siang-siang aku sudah menduga yang
menimbulkan urusan adalah kau, tapi aku masih berharap bukan kau, tidak hanya betul-betul
adalah kau! Kalau siang-siang aku sudah mengetahui kau yang timbulkan keji benar-benar aku
lebih suka binasa didalam Istana Kumala Putih, supaya tidak lihat kawanan yang rusak nama baik
Budha seperti kau ini kau.. kau ....lekas kau bikin mampus habis riwayatmu sendiri! Kau berani
menggunakan nama suhu untuk mendirikan gereja, ini sudah suatu perbuatan dosa yang sangat
besar beberapa puluh tahun lamanya, aku tidak meneruskan latihanku, sehingga hari ini masih
belum mencapai puncak kesempurnaannya, aku tidak ada muka untuk menemui suhu dialam
baka, tidak nyana di kelenteng Hoat Hoa Sie, telah muncul seorang pengrusak nama baik Budha
seperti kau ini...."
Bicara sampai di situ. Kim Lo Han rupanya terlalu menahan gusar sedang hatinya berkasihan
kepada adik seperguruannya, mulutnya menyemburkan darah hidup keadaannya sungguh sangat
mengharukan sekali.
Tidak dinyana, Tang Lo Han sebaliknya bukan saja sudah tidak perdulikan hubungan
persaudaraan malah tertawa bergelak-gelak sambil berkata: "Kim Lo Han ! Toa suheng apa kau
belum berhasil dalam hatimu? Kalau diingat, lalu dengan ilmu Kim-kong-ceng-khie bagaimana kau
telah menjagoi di gereja Hoat-kak-sie di gunung Kie Lian San? Tapi sekarang, aku sutemu,
sebaliknya sudah berhasil melatih ilmu itu sampai ke puncak kesempurnaannya, apakah kau tidak
percaya? Kalau tidak percaya kau boleh coba-coba sambuti seranganku. Dengan menggunakan
lima persen dari kekuatan tenaga saja, pasti aku bisa suruh kau menyusul suhu di akhirat.
Pada empat puluh tahun berselang, di dalam gereja Hoat-kak-sie di gunung Kie Lian San, Kim
Lo Han merupakan satu paderi beribadat yang terkenal budiman dan gagah perkasa. Diantara
orang-orang dalam tingkatannya, bukan saja ia terhitung orang yang paling kuat dan
berkepandaian ilmu silat paling tinggi, juga orang yang tingkatan lebih atas dari padanya, sebagian
banyak yang tidak mampu menandinginya.
Sayang, karena sepatah kata suhunya sebelum menutup mata, ia telah mensia-siakan
kepandaian untuk seumur hidupnya.

Diwaktu hendak menutup mata, Suhunya pernah berkata: "Usiaku, sampai di sini sudah
mencapai akhirnya. Hanya, dalam seumur hidupku, ada satu penyesalan, yang membuat aku mati
tidak meram, soal itu adalah Istana Kumala Putih di gunung Tiang Pek San yang sebegitu jauh
masih belum dapat kesempatan untuk memasukinya. Bukan Suhumu takut masuk ke situ, tapi
disebabkan Suhumu setelah menjabat ketua gereja Hoat-kak-sie tidak berani bertindak
sembarangan, supaya tidak menodakan namanya. Hari ini aku sudah tidak tahan bisa tahan,
mudah-mudahan kalian bisa melanjutkan cita-citaku ini, supaya aku nanti bisa merasa puas dialam
baka"
Sebetulnya, kedudukan ketua Hoat-kak-sie dan Ciang-bun-jin partainya, akan diserahkan
kepada Kim Lo Han. Tapi, oleh karena Kim Lo Han hendak mewujudkan cita-cita gurunya, setelah
mengubur jenasah gurunya. Kim Lo Han lantas meninggalkan gereja Hoat-kak-sie. Dalam
suratnya ia pernah meninggalkan pesan, apabila dalam waktu dua tahun ia masih belum kembali,
harap ji-sutenya Gin Lo Han menjabat Ciang-bun-jin dan ia sendiri lantas masuk ke dalam Istana
Kumala Putih di rimba keramat.
Setelah berada didalam Istana Kumala Putih, ia telah menyaksikan tokoh-tokoh kangouw telah
mati satu persatu didalam istana, maka hatinya lantas mulai dingin, ambekannya juga mulai
lenyap!
Tidak dinyana, dihari tuanya ia masih bisa keluar dari istana itu, maka terhadap Kim Houw ia
bukan main merasa amat berterima kasih.
Lebih tidak dinyana bahwa daerah Kanglam ini ia telah menemukan Sutenya, Tang lo Han,
yang pada masa mudanya paling tiada menaati peraturan. Justru raut mukanya adalah mirip
dengannya maka sang Sute ini sering menyusahkan dirinya.
Dan sekarang, ternyata sang sute itu berani menantang dirinya. Kalau bukan karena Kim Lo
Han telah mengatakan bahwa selama empat puluh tahun ia alpakan latihannya ilmunya, Tang Lo
Han sebetulnya tidak berani berlaku sembarangan terhadap Suhengnya ini. Sebab dimasa
mudanya, Suheng itu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada dirinya.
Dulu Hoat-hoa siansu ada memungut tiga murid, cuma dalam beberapa tahun saja ia sudah
dapat lihat bahwa Tang Lo Han bukan seorang murid baik, maka segala ilmu simpanannya hanya
diturunkan kepada kedua murid lainnya, ialah Kim Lo Han dan Gin Lo Han. melihat lihat dan
kelakuan sang murid Hoat-hoa siansu meramalkan bahwa Tang Lo Han kelak kemudian hari pasti
akan membawa bencana bagi Hoat-kak-sie.
Ketika Hoat-hoa siansu wafat, dan Kim Lo Han memasuki Istana Kumala Putih, didalam rimba
keramat, dalam gereja cuma tinggal Gin Lo Han dan Tang Lo Han dua orang.
Tang Lo Han yang mengandung maksud jahat, dengan kelakuan dan perkataan manis ia
berhasil menipu suhengnya yang berhati jujur, hingga dapat juga mempelajari ilmu kepandaian
gurunya yang dinamakan Kim-kong-can-khie. Dalam tempo kira-kira tiga puluh tahun saja sudah
berhasil mendapatkan pelajaran itu seluruhnya, hingga kekuatannya berimbang dengan Gin Lo
Han.
Sesudah mempunyai kekuatan yang dibuat andalan. Tang Lo Han mulai berlaku menurut
kemauan sang hati ia berserikat dengan kawanan buaya di kalangan Kangouw, dari situ ia juga
dapat mempelajari beberapa rupa kepandaian kejahatan.
Perbuatannya itu telah menimbulkan amarahnya Gin Lo Han, dalam gusarnya ia lantas usul
keluar Tang Lo Han dari perguruan.

Bagi Tang Lo Han, pengusiran tidak menjadi soal, maka ia lantas kabur ke Kang-lam.
Sungguh suatu hal yang sangat kebetulan di Kanglam ia telah ketemu dengan Ciok Liang yang
karena ketakutan disebabkan dosanya telah meninggalkan rumah tangganya dan kabur ke
Kanglam.
Ciok Liang sebetulnya ada bersama-sama dengan Souw Coan Hui, murid ayahnya. Tapi Souw
Coan Hui telah lenyap tanpa bekas di waktu tengah malam ketika melakukan perbuatan tak
senonoh terhadap satu wanita cantik, maka Ciok Liang melanjutkan perjalanannya seorang diri,
dengan cara kebetulan ia berjumpa dengan Tang Lo Han.
Dengan mendemonstrasikan beberapa kepandaiannya yang luar biasa, Tang Lo Han sudah
dapat menaklukkan hati Ciok Liang, maka keduanya lantas menjadi akrab. Ciok Liang minta diajari
kepandaiannya, sudah tentu ia harus ambil-ambil hatinya si hwesio, untuk mana ia harus
korbankan segala-galanya.
Mereka lalu menetap di kota Kian-tek. Dengan sedikit muslihat saja, Tang Lo Han sudah dapat
memperdayai penduduk yang bodoh, mereka pandang padanya sebagai Budha hidup.
Hari itu, didalam gereja Hoat-hoa-sie Tang Lo Han juga tidak kira bakal bertemu dengan Toasuhengnya
yang paling ditakuti pada beberapa puluh tahun berselang.
Tapi, ketika mendengar keterangan Suhengnya bahwa ia telah melalaikan kepandaiannya,
diam-diam ia merasa girang, maka akhirnya, sekalipun tidak bisa merebut kemenangan untuk
melarikan diri saja, dengan mengandalkan pesawat-pesawat rahasia yang di pasang dalam gereja
itu biasanya masih mudah.
Saat itu, Kim Lohan bukan saja sudah muntahkan darah, tetapi juga mengucurkan air mata
karena sedihnya, "Lolap sekalipun harus mengorbankan jiwa, juga akan berdaya untuk membasmi
kau, manusia macam binatang!" demikian katanya sengit.
Mendengar itu. Tang Lo Han tertawa bergelak-gelak: "Marilah pertempuran antara saudara
dalam seperguruan, biar bagaimana toh tak dapat dielakkan....."
Belum menutup mulutnya. Tang Lo Han sudah membuka serangannya.
Serangan yang dielakkan dengan tiba-tiba kekuatan hebat sekali, suara samberan angin saja
sampai terdengar jauh.
Dalam keadaan gusar dan cemas, Kim Lo Han hatinya sudah kalut. Ia bersedih karena
perbuatan durhaka dari Sutenya itu
Ia lebih sedih kebodohan sendiri. sebab ilmu Kim-kong-cou-khie itu kalau sudah dilatih sampai
di puncaknya, bukan main hebatnya, segala apa dapat dihancurkan dengan segera. Ia tahu benar,
jika sang Sute itu sudah melatih mencapai kesempurnaannya, meski ia sendiri menyambuti
dengan secara nekad, akhirnya pasti binasa atau setidaknya terluka parah.
Tapi dalam keadaan demikian, ia tidak boleh tidak menerima tantangan Sutenya, maka
terpaksa ia sodorkan tangannya, untuk menyambuti serangan Tang Lo Han.
Tiba-tiba terdengar suara menjerit "Aduh" Tang Lo Han mengepal-kepal kedua tangannya
badannya agak gemetar.

Saat itu terdengar suara ketawanya Kim Houw yang muncul dari samping.
"Tang Lo Han! Seranganmu ini ternyata tidak tahan satu jari tanganku, apa masih ada muka
menganggap dirimu sebagai jago, orang kuat atau segala apa lagi?" katanya.
Munculnya Kim Houw dengan tiba-tiba membikin kaget Tang Lo Han, bukan karena apa,
sebab sejak semula Tang lo Han sudah anggap sepi kepada bocah itu! Dan sekarang tidak
dinyana bahwa bocah yang tidak di pandang mata ternyata mempunyai kekuatan yang sangat
hebat, bukan saja sudah memunahkan ilmu Kim-kong-cau-khie bahkan kekuatan Lwekang Kim
Houw yang mulus sudah menembus telapak tangannya, sampai hwesio itu badannya menggigil,
bagaimana ia tidak jadi terkejut dan terheran-heran?
Tapi biar bagaimana ia masih belum mau percaya bahwa serangan jari tangan itu keluar dari
tangan si bocah. Namun dalam ruangan itu hanya ada tiga orang, Pao Sie Jin seorang bekas
pecundangnya Kim Lo Han Suhengnya, sedang Hoat-kak-sie di Kie-lian-san tidak mempunyai
kepandaian semacam itu, Siapa lagi kalau bukan bocah itu?
Akhirnya Tang Lo Han tertawa dingin, kemudian berkata dengan setengah mengejek: "Bocah!
Apa kau sedang bicara?"
Kim Houw tertawa maju mendekati. "Hwesio, baik-baik kendalikan mulutmu! Apa kau benar
tidak dengar aku sedang bicara?" demikian katanya.
Waktu dengar hwesio itu panggil bocah kepadanya, Kim Houw sebetulnya hendak balas
memaki, tapi mengingat itu Sutenya Kim Lo Han, maka ia lantas urungkan niatnya.
"Houw-ji, untuk Lo Han-ya dan kebaikannya penduduk di sini, kau singkirkan padanya! Dia
kelewat jahat dan licik, sekali-kali jangan kasih lolos. Kalau tidak, di kemudian hari sukar untuk
mencari kembali padanya." tiba-tiba Kim Lo Han berbicara.
Kim Houw tetapkan hatinya, ia berpaling kepada Kim Lo Han, sembari senyum ia menjawab:
"Lo Han-ya kau tak usah kuatir, ia tidak akan lolos dari tanganku!"
Belum habis ucapan Kim Houw, tiba-tiba merasakan suatu kekuatan tenaga yang sangat hebat
menyambar ke arah dadanya!
Diserang dengan cara tiba-tiba itu, asal ia mau sedikit mengegos, sebetulnya bisa
menghindarkan serangan lawan, tapi, Kim Lo Han dan Pao Sie Jin yang berdiri di belakang
dirinya, pasti akan dibikin terluka oleh serangan Kim-kong-cu-khie itu
Maka, tanpa banyak pikir lagi, Kim Houw lantas menyambuti dengan satu tangan. Ia
menggunakan ilmunya yang paling luar biasa didalam di dunia Han-bun-can-khie.
Ilmu Han Bun Cau Khie ini adalah ilmu gabungan tenaga keras dan lemas. Kalau keras,
tenaga itu kerasnya tidak ada bandingannya, kalau lemas, lemasnya melebihi air. Kim Houw
dalam gugupnya cuma mampu keluarkan tiga bagian kekuatan tenaganya yang lemas.
Tapi, meski hanya dengan tiga bagian ternyata sudah mampu memunahkan serangan Tang Lo
Han yang hebatnya luar biasa itu.
Tang Lo Han mendadak ketawa bergelak -gelak. "Aku kata, kau si bocah sekalipun belajar
ilmu silat sejak dilahirkan oleh ibumu, misalnya bakatmu memang baik serta ditambah dengan
latihan beberapa tahun tidak mungkin berani menyambuti seranganku. Kau rupanya dapat sedikit
pelajaran ilmu hitam atau ilmu setan. Apakah kau benar-benar berani menyambuti seranganku
sampai tiga kali? hanya tiga kali saja, pasti aku kirim kau untuk menemui leluhurmu di akhirat!"

Kim Houw sudah ambil keputusan untuk bikin hwesio ini takluk benar-benar.
"Hwesio, jangan kata cuma tiga kali sekalipun tiga puluh kali aku juga tidak gentar!" katanya.
"Bocah busuk, jangan sombong, sambutlah seranganku!" dengan gemas Tang Lo Han segera
melonjorkan tangannya.
Tang lo Han selamanya menggunakan kekuatan yang sipatnya keras, serangannya itu juga
tidak terlepas dari kekerasan.
Kim Houw dengan tenaga menyambuti sesuatu kekuatan tenaga yang tidak kelihatan telah
meluncur dari tangannya kedua Lwekang saling bertemu, setelah perdengarkan suara "Bleder"
angin kuat lantas berterbangan ke empat penjuru.
Kedua pihak sama kuatnya, masing-masing belum perlihatkan perobahan apa-apa.
"Cuma saja, sambuti seranganku yang kedua!" kata si hwesio sambil ketawa bergelak-gelak.
Tiba-tiba sepasang mata mendelik, alisnya berdiri, kini ia mendorong dengan telapak
tangannya. Serangan itu nampaknya dilakukan dengan kekuatan sepenuhnya, sebentar terdengar
angin menderu-deru, seolah-olah gelombang arus hebat yang datang menggulung-gulung ke arah
Kim Houw. Dalam hati kecilnya Tang Lo Han sudah membayangkan, kali ini Kim Houw pasti akan
hancur lebur berkeping-keping.
Kim Lo Han yang berdiri disamping, ketika melihat kekuatan dahsyat itu diam-diam juga
terkejut. Memang, ilmu Kim-kong-cao-kie itu adalah ilmu kepandaian Tang Lo Han yang paling
dibanggakan, Kim Lo Han sendiri juga merasa tidak sanggup menandingi Sutenya itu.
Tapi, Kim Houw nampaknya masih tenang-tenang saja, seperti ketika menghadapi serangan
pertama. Ia sodorkan tangannya dengan tenang, tapi kali ini berlainan dengan duluan, karena
suatu kekuatan yang tersembunyi telah berputaran di udara, seolah-olah hendak membikin padam
obor api yang menyala keras. Sebentar saja, kedua kekuatan dari tangan itu sudah saling bertemu
lagi.
Suara "Blang" yang amat keras terdengar anginnya yang hebat telah membikin padam lilin
yang menerangi ruangan.
"Tang Lo Han, masih ada satu kali lagi!" kata Kim Houw dingin.
Tang Lo Han menampak Kim Houw ternyata sama sekali tidak bergeming menghadapi
serangan yang terhadap itu, dalam hati merasa tidak habis mengerti. Tidak usah dikatakan lagi
betapa terkejutnya.
Ia lalu tarik kedua tangannya dengan bergelak-gelak dan berkata: "Bocah, kau benar-benar
mempunyai ilmu gaib. Sekarang begini saja, serangan ketiga kita hapuskan saja, mari kita
mengadu kekuatan Lwekang, bagaimana? Bocah ! Beranikah kau?"
Kim Houw mengerti, dalam segala ucapannya Tang Lo Han yang licik, sebetulnya hendak
membikin panas hatinya, tapi Kim Houw ingin membikin hwesio ini takluk benar-benar, maka
sekalipun di tantang untuk bertanding saja, ia juga tidak ingin menolak.
Namun, kali ini mendengar tantangan Tang Lo Han, jadi sangat melengak keheranan.

Barusan mengadu kekuatan telapak tangan, bukankah mengadu kekuatan Lwekang? Jika
Lweekangnya kurang sempurna telapak tangan tidak nanti mampu mengeluarkan angin kuat, bagi
semua orang yang mengerti ilmu silat sudah tentu mengetahui ini.
Dan kini, Tang Lo Han setelah dua kali mengadu kekuatan telapak tangan, sudah tahu kalau ia
tidak mampu menandingi kekuatan lawannya, namun ia berani majukan usul untuk mengadu
kekuatan tenaga Lwekang, ini bukan berarti mencari jalan mampus sendiri?
Hakekatnya di dunia mana ada orang begitu tolol? Kim Houw mengatakan Tang Lo Han licik,
terang tentunya tantangan itu ada mengandung akal busuk, Kim Houw seorang yang mempunyai
kepandaian ilmu silat dan kekuatan Lwekang yang luar biasa, meski tahu Tang Lo Han main gila ia
juga tidak takut. Maka lantas menyahut: "Hwesio, Lo Han-ya tadi mengatakan suruh kau mati.
Tuhan juga tidak mengijinkan kau hidup lebih lama lagi. Kau ingin bertanding dengan cara apa
saja aku bersedia, terserah padamu, aku pasti melayani!"
Tang Lo Han memperlihatkan tertawanya yang seram, tanpa banyak bicara lagi tangan kirinya
lalu disodorkan dengan perlahan! Kim Houw menggunakan tangan kanan menyambuti.
Selagi kedua telapak tangan hamper beradu satu sama lain, mendadak mata Kim Houw yang
tajam melihat cincin yang bersinar.
Sinar hitam pada jari manisnya tangan kiri Tang Lo Han.
Kim Houw terkesiap, ia menduga pasti pada cincin itu telah ada racunnya.
Tepat pada saat Kim Houw sangsi untuk mengurungkan serangannya, tangan Tang Lo Han
sudah menempel ditangan Kim Houw.
Setelah kedua tangan saling menempel Kim Houw lantas merasa jari tangannya kesemutan.
Dalam kagetnya buru-buru ia mengerahkan khikangnya menutup jalan darah tangan kanannya,
untuk menjaga jangan sampai racunnya menjalar. Berbarengan dengan itu sepasang matanya
lantas bernyala-nyala memandang Tang Lo Han.
Kalau Kim Houw terkejut, Tang Lo Han sendiri tidak kalah terkejutnya melihat Kim Houw
tenang-tenang saja, cincin itu bernama Lo-sat-kim-hoan, terbikin dari emas hitam dikasi dengan
batu giok. Ditengah-tengah batu giok ada emas tusuk konde yang menonjol sedikit dari permukaan
batu dan di atas emas ini ada racun yang berbisa. Kalau cincin itu menempel pada kulit manusia,
tanpa ampun lagi orang yang kena di tempel itu lantas binasa seketika juga.
Cincin berbisa itu Tang Lo Han dapatkan dari seorang Lhama Tibet. Entah beberapa banyak
jiwa yang melayang sudah kena racunnya benda celaka itu dan Tang Lo Han menggunakan itu
belum pernah mengalami kegagalan. Heran hati terhadap Kim Houw, mengapa cincin itu tidak
memperlihatkan khasiatnya? Tang Lo Han tahu kekuatan Lweekangnya masih kalah daripada
lawannya, tapi ia menantang adu kekuatan lwekang, maksudnya ialah hendak menggunakan
cincinnya yang beracun itu untuk menghabiskan jiwa lawannya. Melihat maksudnya gagal lalu ia
merobah haluan.
Ia lalu keluarkan serenceng tasbih yang terbikin dari batu giok, kira-kira tiga kaki panjangnya.
Sekali mengayun tangannya, tasbih itu meluncur mengarah jalan darah Kian-kie-hiat Kim Houw.
Gerakan Tang Lo Han yang pengecut ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa. Tapi Kim
Houw yang sudah sangat gusar karena kecurangan lawan, telah mengambil keputusan tidak
memberi hati lagi, ia bergerak lebih cepat hingga tasbih itu terbang membalik dengan cepat sekali.

Berbareng dengan itu, jari tangan Kim Houw yang menggunakan Cao-kie-sin-kangnya telah
menyerang dada Tang Lo Han, hingga hwesio berbadan gemuk itu lantas terbang terpental sejauh
kira-kira tiga tombak dan apa hancur justru tiang batu yang menyambuti tubuhnya.
Kekuatan serangan Kim Houw hampir-hampir membuat orang tidak percaya, karena palang
batu yang besarnya sepelukan tangan orang itu dibentur tubuh Tang Lo Han menjadi hancur dan
gereja itu tergoncang. Dari sini bisa dibayangkan betapa gusarnya Kim Houw terhadap Tang Lo
Han.
Tang Lo Han yang sudah terkena serangan boleh dibilang jiwanya setengah melayang,
ditambah kebentur lagi dengan tiang batu, makin tidak ada harapan untuk hidup lagi.
Tidak nyana selagi badannya membentur tiang, tasbihnya yang terbang membalik karena
serangan pembalasan Kim Houw tadi, dengan tepat mengenai batok kepalanya yang kelimis
hingga kepalanya menjadi hancur berantakan.
Kim Lo Han menjerit, bagaikan terbang cepatnya ia menghampiri. Biar bagaimana mereka
berdua pernah menjadi saudara seperguruan, meski Tang Lo Han harus menerima kebinasaan
karena dosanya tidak urung Kim Lo Han keluarkan air matanya juga.
"Sute!.....Sute!....." demikian ia meratap sesenggukan.
Kim Houw lantas menubruk sembari berkata: "Lo Han-ya maafkan aku! aku sudah tidak bisa
menahan sabar......."
"Houw-ji aku tidak salahkan kau!" jawab Kim Lo Han masih menangis.
Tiba-tiba Kim Houw memutar tubuhnya dan membentak: "Ciok Liang! Jangan bergerak!"
Ciok Liang menyaksikan Kim Houw bagaimana telah membinasakan gurunya. Sungguh ia
tidak nyana, anak yang sering ia pukul dan hina dalam waktu dua tahun saja sudah mempunyai
kepandaian begitu tinggi maka sejak tadi ia sudah dibikin kesima. Tadinya ia masih mengharapkan
cincin Lo-sat-kim-hoan dari gurunya bisa membinasakan jiwanya Kim Houw, siapa kira tidak
memenuhi pengharapannya, bahkan gurunya sendiri yang melayang jiwanya. Kini ketika melihat
Kim Houw sedang menghibur Kim Lo Han ia anggap itu suatu kesempatan baik untuk mengangkat
kaki.
Tidak nyana perbuatannya itu masih diketahui juga oleh Kim Houw. Tapi, karena saat itu ia
sudah melangkah keluar pintu gereja, sudah tentu tidak perduli akan panggilan Kim Houw, bahkan
percepat gerakannya dan buru-buru melesat keluar.
Tiba-tiba depan matanya berkelebat bayangan putih. Ciok Liang segera mengerti apa
akibatnya, mendadak gegernya dirasakan seperti dipegang oleh suatu tenaga yang kuat,
kemudian badannya terangkat naik. Telinganya dengar ucapan Kim Houw: "Ciok Liang, apa kau
masih pikirkan hendak mabur? Kalau tidak bunuh mati kau, rasanya tidak dapat melampiaskan
rasa sakit hatiku...."
Ciok Liang yang sudah diangkat tinggi-tinggi badannya oleh Kim Houw, semangatnya sudah
terbang melayang. Tapi ia seorang yang licik dan banyak akalnya, dalam keadaan genting seperti
ini ia masih bisa memikirkan akalnya untuk meloloskan diri. Dengan badannya menggigil dan
wajah ketakutan, ia berkata dengan suara yang mengharukan: "Houw-ji, aku ingat ketika kau
masih di Bwee-kee-cung, rasanya aku cuma dua kali saja memukul kau, apakah dosa itu harus
kutebus dengan kematian?"

"Binatang, apa kau kira aku masih mengingati kau pernah memukul dua kali pada diriku?
Sekarang aku hendak tanya padamu, tentang kematian adik Peng, kau tokh sudah katakan sendiri
itu masih kau anggap mati penasaran?"
Ciok Liang pura-pura menjerit kaget: "Houw-ji! Oh, Houw-ji! ini adalah suatu kenistaan yang
sangat hebat, kau lepaskan aku dulu, biarlah nanti kuceritakan padamu dengan jelas. Kau pikir
waktu itu aku baru berusia kira-kira 16 tahun..."
Bersambung ke jilid 7
Jilid 07
Mendengar itu, Kim Houw mengira dalam peristiwa itu mungkin masih ada sebab-sebabnya,
lalu dengan gemas lemparkan dirinya Ciok Liang.
Pada saat itu mendadak terdengar suara gemuruh dan getaran hebat, lalu disusul dengan
berhamburannya batu-batu dan pasir serta debu. Tanah bergoncang hebat, hingga mengejutkan
Kim Houw dan Ciok Liang.
Kim Houw yang masih merasa kaget, tiba-tiba matanya dirasakan gelap, kepalanya pusing dan
akhirnya jatuh pingsan ...
Pingsannya Kim Houw secara mendadak, benar-benar di luar dugaan Ciok Liang. Ia masih
kuatirkan kalau Kim Houw berlagak, tidak berani berlalu secara sembarangan. Ia berdiam diri
untuk menunggu kalau-kalau ada perubahan.
Pada saat itu suara gemuruh sudah berhenti. Seluruh gereja Hoat-hoa-sie dalam waktu
sekejap telah ambruk. Dalam hati Ciok Liang tahu siapa orangnya yang telah membuka pesawat
rahasia sehingga menyebabkan runtuhnya gereja itu, tapi ia sudah tidak mempunyai waktu untuk
memikirkan itu lagi!
Apa yang harus dibikin sekarang ialah bagaimana caranya bisa lolos dari situ. Tiba-tiba ingat
dirinya Kim Houw yang masih menggeletak di tanah tanpa bergerak, ia lalu menghantam pipi
untuk menegaskan.
Kiranya Kim Houw sudah kena racun jahat dari cincin Tong Lo Han, sebelah telapak
tangannya sudah menjadi hitam.
Ciok Liang sangat girang, pikirannya apa artinya mempunyai kepandaian tinggi, akhirnya tokh
tidak lolos dari kematian! Ia mencabut pedangnya dan berkata kepada KIm Houw yang tidak bisa
melanggar: "Houw-ji! Houw-ji! berangkatlah ke akhirat untuk mengawani yayaku! kalau ada waktu
sekalian kau cari kekasihmu Bwee Peng! Cuma sayang dia sudah bukan perawan suci lagi! Harap
kau jangan salahkan aku bertindak kejam, aku cuma menjalankan tugas saja, supaya kau bisa
lekas bertemu dengan kekasihmu!"
Baru saja habis mengucapkan perkataan, Ciok Liang lantas tunjukkan ujung pedangnya
kepada Kim Houw.
Tapi mendadak terdengar suara "Trang!". Pedang di tangan Ciok Liang telah dibikin terbang
oleh sebuah senjata rahasia yang luar biasa kecilnya.
Kemudian disusul oleh munculnya seorang Hwesio yang berbadan tegap, dilihat sekelebatan.
Ciok Liang masih mengira bahwa Hwesio itu suhunya yang hidup lagi, tapi setelah dipandang
dengan teliti, ternyata ia Kim Lo Han suhengnya Tang Lo Han.

Ciok Liang kakinya lantas lemas seketika, tapi betapapun juga jiwa adalah penting. Ketika
menampak Kim Lo Han matanya cuma mengawasi keadaannya Kim Houw, ia buru-buru
mengambil langkah seribu.
Baru saja Ciok Liang kabur di belakang Kim Lo Han kembali muncul bayangan merah dan
bayangan hijau, mereka adalah Pao Sue Jin dan anaknya Pao Siao Kiao yang baru habis ditolongi
keluar dari kurungan Tang Lo Han almarhum.
Dua orang itu ketika melihat tangan Kim Houw hitam sebelah, dalam hati merasa heran dan
cemas. Kim Houw telah berhasil membunuh mati Tang Lo Han, ini bukan saja telah menyingkirkan
bahaya bagi penduduk kota Kian-Lek tapi juga merupakan tuan penolongnya ayah beranak itu.
Kim Lo Han telah membuka ikat pinggang urat naga di pinggang Kim Houw, dengan benda itu,
pusaka ajaib Bak-tha yang diikat di pinggang itu, ia gosokkan ke titik hitam di telapak tangan Kim
Houw.
Titik hitam itu adalah tempat dimana tersentuh dengan cincin emas Tang Lo Han, untung Kim
Houw pernah makan obat batu, kulit dagingnya seolah-olah sudah menjadi kebal sehingga tidak
terluka atau mengeluarkan darah, kalau tidak niscaya siang-siang sudah hilang jiwanya!
Bak-tha itu memang benda ajaib, baru saja digosokkan, warna hitam itu lantas lenyap seketika,
cuma sebentar saja, lengan Kim Houw sudah sembuh seperti sedia kala.
Lewat lagi sejenak, Kim Houw perlahan-lahan membuka matanya, kemudian dengan secara
tiba-tiba ia lompat bangun. Matanya jelalatan seolah-olah sedang mencari apa-apa, lalu berkata
dengan suara cemas, "Lo-Han-ya, dimana itu binatang Ciok Liang?"
"Houw-ji, dia sudah pergi. Biar bagaimanapun kebaikan dan kejahatan akhirnya tentu ada
buktinya, dia tidak akan bisa lolos!" jawab Kim Lo Han sembari serahkan kembali ikat pinggang
urat naga itu kepada Kim Houw.
"Tidak! Tidak! Aku harus kejar padanya, aku mau bunuh dia untuk membalas sakit hati adik
Bwee Peng!"
"Houw-ji, kau dengar omonganku, untuk sementara kau tidak boleh membunuh mati dia. Untuk
nama baikmu, untuk mencuci noda pada dirimu, kau harus suruh dia mengakui dosanya di
hadapan orang-orang rimba persilatan. Dengan demikian kau bermuka terang, sebab nodamu
sudah tercuci bersih. Kalau tidak, meski kau sudah membalas sakit hatinya nona Bwee Peng,
tetap di mata orang-orang rimba persilatan kau adalah seorang berdosa mesum. Nona Bwee Peng
yang ada di dunia bakapun tidak bisa tenteram, dan pasti dia merasa cemas atas perbuatanmu."
Kim Houw tundukkan kepala.
"Lagi pula," meneruskan Kim Lo Han, "waktu ini bukanlah keselamatan Nona Peng Peng ada
lebih penting daripada urusan ini? Tanggal lima bulan lima cuma tinggal satu bulan lagi. Andaikata
tidak bisa menolong padanya di tengah jalan, juga harus dapat tiba di Ceng-kee-cee tepat pada
waktunya."
Kim Houw mendengar kata-kata Kim Lo Han yang sangat beralasan itu terpaksa menurut.
Kini Pao Sie Jin dan putrinya baru mendapat kesempatan untuk menyatakan terima kasih
mereka kepada tuan penolongnya.

Kuil Hoat-hoa-sie sudah hancur! Tang Lo Han sudah binasa, sisa orang kuil itu kabur
semuanya!
Kim Lo Han dan Kim Houw kembali melanjutkan perjalanannya ke barat.
Pao Sie Jin dan putrinya yang mendengar Kim Lo Han dan Kim Houw hendak pergi menolong
orang, segera menawarkan tenaganya untuk membantu, tapi ditampik oleh Kim Houw dengan
manis. Di sepanjang jalan, Kim Houw tidak perlu mencari keterangan lagi, mereka hanya
mengerahkan kepandaian masing-masing untuk mengejar waktu.
Dalam beberapa hari, mereka sudah melewati propinsi Anhui, masuk propinsi Hunlam. Karena
jalanan agak datar, mereka bisa berjalan lebih cepat.
Hari itu, mereka tiba di suatu kota kecil waktu lohor. karena selama beberapa hari tidak dapat
mengaso dengan baik, maka mereka lantas mencari rumah penginapan untuk bermalam.
Sehabis bersantap malam, dua orang itu tidur dalam satu kamar.
Kira-kira jam dua tengah malam, Kim Houw baru saja habis semedi, telinganya tiba-tiba
mendengar suara ribut-ribut! Suara itu datangnya dari jauh, terpisah dengan rumah penginapan
kira-kira masih tiga halaman rumah.
"Di kampung kita Lie-kee-cip, bagaimana dapat membiarkan orang berlaku sewenang-wenang
demikian rupa? Kuda yang tidak ada pemiliknya dan dibawa oleh si pincang Ji-koay-cu, dengan
hak apa mereka datang meminta secara paksa? Bahkan berani melukai orang segala, "terdengar
suara seorang berkata.
"Ji-ya, itu adalah seekor kuda pilihan, siapa yang tidak suka? Dari jauh aku sudah dapat
melihat, warnanya merah tua dan badannya kekar, aku lantas tahu kalau ia kuda yang bisa lari
ribuan li!" terdengar seorang lain menyahut.
Kuda yang tidak ada pemiliknya, warnanya yang merah tua dan bisa lari ribuan lie! Kim Houw
ketika mendengar itu hatinya bercekat. Dalam kota bagaimana ada kuda tidak ada pemiliknya?
Warnanya merah tua? Apakah itu bukannya kuda Peng-peng?
Berpikir sampai di situ, Kim Houw lantas pasang kuping.
"Kalau betul kuda pilihan, terlebih-lebih tidak boleh mereka ambil seenaknya. Si Bungkuk
sudah balik belum ? Bagaimana dengan luka si Pincang?" demikian Kim Houw mendengar
seseorang berkata.
"Si Bungkuk masih belum pulang, luka si Pincang yang tidak seberapa berat, dalam waktu
setengah bulan mungkin bisa sembuh. Cuma urusan ini memang sangat membikin panas hati
orang, sayang Toa-ya tidak ada di rumah!"
"Toa-ya tidak di rumah, Ji-ya kita juga tidak takut kepada siapapun juga!"
"Aaaa! si Bungkuk sudah pulang!"
"Ji-ya ! Ji-ya ! Coba tengok, di sana itu di Kho-san-tiam telah terbit kebakaran ! Apinya besar
benar!"
Setelah serentetan suara orang bicara itu, lalu disusul oleh suara ribut-ribut.

Kim Houw membuka matanya lebar-lebar, sedangkan Kim Lo Han matanya jelalatan seperti
kucing malam. Kim Houw menduga Kim Lo Han tentunya juga sudah mendengar suara
pembicaraan itu.
"Lo Han-ya! Apa baik kita pergi menengok? Ada kemungkinan kuda itu kepunyaan nona Peng
Peng!" kata Kim Houw.
Kim Lo Han mengangguk, keduanya lantas meloncat keluar dari jendela.
Setelah melewati dua wuwungan rumah, Kim Houw segera melihat di salah satu pekarangan
rumah berdiri tiga orang laki-laki. Yang satu kira-kira berusia empat puluh tahun, badannya kekar,
sebelah kanannya seorang lebih muda, usianya kira-kira tiga puluh tahun, badannya kurus kering,
sebelah kirinya seorang pemuda yang usianya baru kira-kira delapan belas tahun, badannya tinggi
kurus. Begitu melihat, Kim Houw segera bisa menduga bahwa orang yang berdiri di tengah-tengah
tentunya yang mereka panggil Ji-ya.
Kim Houw memberi isyarat kepada Kim Lo Han, lalu meluncur turun dari belakang ketiga orang
itu. Ia sengaja berjalan dengan berat, si orang setengah umur itu tiba-tiba membalikkan badannya
dan membentak, "Siapa!?"
Kim Houw segera maju untuk memberi hormat seraya berkata, "Aku yang rendah adalah orang
pelancongan yang kebetulan lewat di sini, serta ingin meminta sedikit keterangan kepada Ji-ya!"
Kim Houw memang seorang pemuda tampan, ditambah sikapnya yang menghormat dan
tingkah lakunya yang sopan santun, sudah tentu menimbulkan kesan baik bagi mereka.
Orang setengah umur itu segera memberi hormat seraya menjawab," Aku yang rendah Lie Jie
Liong, siangkong ingin menanya apa?"
"Lie Ji-ya. Khabarnya di tempat Jie-ya ada seekor kuda merah yang telah dirampas oleh apa
yang dinamakan keluarga Ouw, entah tuan mana yang pernah melihat kuda itu?"
Laki-laki kurus kering itu segera menjawab," Aku yang pernah melihat, kuda ini berbulu merah
seperti bara seluruhnya. Bentuk badannya tidak besar, tapi gesit sekali. Si Pincang ketika
menangkap itu malah kena ditendang hingga terluka!"
Mendengar keterangan itu, Kim Houw hampir melompat karena kegirangan. Nyata sudah
delapan puluh persen mirip dengan kuda Peng Peng.
"Numpang tanya, kuda merah itu sekarang ada di mana?" tanyanya.
"Digelandang oleh si orang she Ouw dari Kho-san-tiam. Nah itulah di sana yang sedang
kebakaran hebat..."
Tiba-tiba anak muda tinggi kurus itu memotong, "Tidak! Sekarang sudah tidak ada di sana lagi!
Khabarnya tadi di waktu lohor, tempat itu telah kedatangan seorang pemuda cakap, dengan
membawa kakek-kakek brewokan mencari kabar tentang kuda merah kecil itu.
Keluarga Ouw karena anggap kuda itu sesungguhnya bagus sekali, tidak mau menyerahkan,
lalu berkelahi dengan mereka berdua. Tapi kesudahannya, tiga jagoan dari keluarga Ouw semua
telah dipukul sampai terluka oleh kakek brewokan itu, kudanya juga digelandang pergi. Ketika
hendak berlalu, pemuda cakap itu karena gusar atas sikap yang membangkang dari keluarga
Ouw, lantas membakar gedungnya...!"

Sampai di situ, Kim Houw anggap sudah tidak perlu membuang waktu, maka lantas buru-buru
mengucapkan terima kasih kepada mereka, kemudian melesat ke atas tembok. Kim Houw berjalan
di atas atap rumah orang dengan pikiran ingin lekas menolong Peng Peng.
Perbuatan Kim Houw itu, telah membuat ketiga orang tadi memandang kesima!
Kim Houw di atas atap rumah lalu menggapai Kim Lo Han, dengan cepat kabur menuju ke
tempat kebakaran. Ia sudah menduga pasti bahwa pemuda cakap itu Siao Pek Sin, tapi siapa itu
kakek brewokan, ia sendiri masih belum dapat memikirkan.
Setiba di Ko-san-tiam, rumah keluarga Ouw sudah musnah diamuk si jago merah. Kim Houw
menghampiri seorang tua yang tengah menonton bekas kebakaran, lalu menanya, "Kakek, tolong
tanya, keluarga Ouw kemana perginya semua?"
Kakek itu mengamat-amati sejenak kepada Kim Houw, lalu menunjuk ke arah satu rumah.
Setelah mengucapkan terima kasih, Kim Houw lalu berjalan ke rumah yang ditunjuk oleh orang tua
tadi.
Baru saja tiba di depan pintu, lantas seperti mendapat firasat bahwa dalam rumah itu luar
biasa sunyinya, tapi pintunya terbuka lebar-lebar. Tanpa ragu-ragu lagi, Kim Houw lantas bertindak
masuk!
Di ruangan dalam rumah itu ada beberapa laki-laki yang sedang merundingkan apa-apa.
Baru saja melangkahkan kakinya, ia tiba-tiba disambut oleh sambaran angin yang amat kuat
serta bentakan keras, "Aku akan adu jiwa dengan kau!"
Kim Houw tidak menyingkir atau berkelit, dengan jari tangannya ia menjepit golok yang tadi
membabat padanya, kemudian tangan kirinya juga menyusul untuk merampas senjata pecut yang
menyerang pinggangnya.
"Tuan-tuan jangan salah mengerti, aku adalah..." Kim Houw belum keburu menjelaskan sudah
dibentak dan dicaci oleh penyerang tadi.
"Kau adalah binatang yang sangat kejam! Kau sudah pergi mengapa balik lagi kembali ? Dan
apa maksudmu ? Kalau kau mau bunuh kami, bunuhlah ! Aku tidak sanggup melawan kau, tidak
bisa bilang apa-apa, pasti ada orang yang akan menuntut balas bagi kami !"
Kim Houw bergerak cepat saja kedua rupa senjata si penyerang itu sudah pindah di
tangannya, lalu dilemparkan di tanah. Heran, senjata itu ketika menyentuh tanah lantas menancap
dalam hampir tidak kelihatan.
Ketika Kim Houw itu telah membikin kaget semua orang yang ada di ruangan.
"Tuan-tuan, aku harap tuan-tuan jangan salah mengerti. Aku cuma ingin menanyakan satu hal,
lantas pergi!"
Tidak perlu diragukan lagi, Kim Houw sudah tahu bahwa pada lohor itu adalah Siao Pek Sin
yang datang ke mari sebab mereka sudah kesalahan anggap bahwa dirinya adalah Siao Pek Sin,
ini adalah suatu bukti yang nyata!
Tapi orang-orang itu agaknya tidak mau dengar keterangan Kim Houw, juga kelihatannya
sudah nekad benar-benar. Sudah tahu kalau kepandaian Kim Houw jauh lebih tinggi daripada

mereka, dan toh mereka masih mencoba mengeroyok secara mati-matian, golok, pedang dan
rupa-rupa senjata pada menyerang Kim Houw. Tapi mereka hanya melihat berkelebatnya
bayangan putih sudah menghilang dari depan mata mereka. Kemana Kim Houw? Sudah pergi!
Tahu bahwa dari mereka tidak akan dapatkan keterangan apa-apa, sebab orang-orang itu
bencinya terhadap Siao Pek Sin sudah meresap sampai ke dalam tulang, hingga tidak
memberikan kesempatan sama sekali bagi Kim Houw untuk menjelaskan duduknya perkara. Dia
juga lantas menginsyafi, asal mencari terus ke barat tidak nanti tidak bisa diketemukan orang yang
sedang dikejar.
Saat itu sudah jam tiga menjelang pagi. Kim Houw yang jalannya laksana terbang, ternyata
tidak menemukan apa-apa yang mencurigakan, sebaliknya malah terpisah jauh dengan Kim Lo
Han. Waktu terang tanah, ia tiba di tepi danau. Beberapa buah perahu penangkap ikan sudah
mulai dengan pekerjaannya.
Kim Houw yang habis melakukan perjalanan semalam suntuk, meski badannya tidak letih tapi
perutnya sudah lapar. Ketika melihat tidak jauh dari danau itu ada beberapa kedai, lalu hendak
menghampiri.
Baru saja bertindak beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara berbenger. Kim Houw lantas
hentikan tindakannya untuk memasang telinga.
Tidak antara lama, ia sudah dengar tindakan kaki kuda. Tapi ketika kuda itu sudah berada
dekat, ternyata bukan itu kuda yang sedang dicari. Kuda itu ternyata berbulu hitam, bentuknya
lebih tinggi daripada kudanya Peng Peng.
Karena kuda itu gagah dan kuat, Kim Houw agaknya tertarik, hingga beberapa kali menoleh
untuk mengawasi. Siapa tahu, ketika kuda itu berada dekat pada dirinya, tiba-tiba terdengar suara
"tar", suara dan bayangan pecut lalu berkelebat di muka Kim Houw. Tapi Kim Houw sedikitpun
tidak bergerak, seolah-olah seorang tuli atau buta.
Suara ketawa cekikikan lantas menyusul, tapi sebentar lantas berhenti sendiri. Kembali suara
berbengernya kuda dan kuda hitam itu mendadak berdiri, kini Kim Houw baru dapat lihat, ternyata
orang yang duduk di atas pelana ternyata nona berparas cantik.
Kuda itu berhenti di depannya Kim Houw lalu tundukkan kepalanya. Ia tidak tahu mengapa
nona itu mainkan pecutnya di depan mukanya, ia juga tidak mengerti apa sebabnya nona itu mau
menghampiri padanya?
Tiba-tiba ia merasa seperti ada angin keras menyambar. Kim Houw buru-buru mengelak,
dengan tepat ia menghindarkan serangan pecut si nona. Ketika ia dongakkan kepalanya, ia lihat
nona itu wajahnya mengunjukkan perasaan keheran-heranan.
Kim Houw sangat mendongkol, maka lantas menegur, "Aku yang rendah dengan nona belum
saling mengenal, juga tidak pernah bermusuhan mengapa nona mempermainkan aku?"
"Aku tadinya mengira kau adalah satu patung hidup," jawab si nona. "Tapi ternyata seorang
gagah dari rimba persilatan. Mari sambuti lagi pecut nonamu!" si nona tersenyum. Kembali ia ayun
pecutnya, menyabet dengan hebat.
Ilmu silatnya sudah luar biasa, sudah tentu tidak pandang mata segala serangan pecut
demikian, cuma nona itu rupa-rupanya juga agak sedikit keterlaluan, dengan tanpa sebab ia
memecuti orang yang belum dikenal.

Kim Houw sengaja hendak memberi sedikit pelajaran padanya, ia paham bahwa nona-nona
semacam ini kebanyakan mau menang sendiri, maka sebaiknya berlagak gila untuk
mempermainkannya.
Selagi berpikir begitu, pecut si nona sudah menyambar lagi. Kim Houw buru-buru melindungi
kepalanya dengan kedua tangan, ia berkelit kesana kemari sambil menjerit-jerit.
Kelakuannya yang seperti orang gila itu benar-benar membuat si nona tertawa geli, tapi
pecutnya ternyata tidak mau berhenti. Ia terus menyambuki dengan hebat.
Tapi betapapun cepat dan hebatnya si nona memecut, dengan cara yang aneh sedikitpun tidak
dapat menyentuh baju Kim Houw. Dan yang lebih mengherankan, Kim Houw tidak lari, hanya
berputar-putar disekitar kuda.
Lama-kelamaan si nona tidak nampak tertawa lagi. Kim Houw juga merasa sudah cukup
mempermainkannya. Dengan masih menjerit-jerit, Kim Houw lari menuju kekedai yang tidak jauh
dari danau.
Si nona tiba-tiba perdengarkan suaranya, lalu loncat turun dari kudanya dan terus mengejar
Kim Houw, mulutnya tidak henti-hentinya memaki: "Budak busuk! Kau berani melukai kudaku!"
Kim Houw selama di Istana Kumala Putih sudah mempelajari banyak hal. Dalam kamar
bukunya Kauw Jin Kiesu, juga ada pelajaran tentang bagaimana mengendalikan kuda binal,
semua itu sudah dipelajari oleh Kim Houw.
Tadi ketika ia berputar-putar disekitar kuda, diam-diam ia sudah menotok ke empat kakinya.
Jadi meskipun kuda itu bisa meringkik, tapi kakinya tidak bisa bergerak.
Oleh karena itu, bagaimana mungkin si nona tidak menjadi gusar? Namun ia ternyata tidak
berhasil mengejar Kim Houw. Sedang Kim Houw sendiri yang sedang mempermainkannya, tetap
mempertahankan jaraknya yang tidak jauh dengan si nona, hingga nona itu merasa kewalahan
sendiri.
Dalam keadaan demikian, si nona meski sudah mengerti kalau ia telah bertemu dengan
seorang yang berkepandaian tinggi, tapi dalam hatinya masih penasaran dan tidak percaya, sebab
Kim Houw sama sekali belum menunjukkan kepandaiannya yang tulen, kecuali sepasang kakinya
yang bisa lari laksana terbang.
Mereka uber-uberan secara demikian, hingga akhirnya telah sampai ke sebuah pasar kecil. Si
nona berhenti, Kim Houw sendiri anggap sudah cukup, ia tidak mau berbuat keterlaluan.
Pada saat itu, Kim Houw juga sudah merasa lapar perutnya, ia lalu masuk ke sebuah kedai
nasi. Oleh karena masih pagi, keadaan kedai itu masih sepi, seorang tamu saja masih belum
tampak, sedang pelayannya juga entah sembunyi kemana.
Oleh karena dalam pasar kecil itu cuma ada sebuah kedai nasi itu saja, Kim Houw setelah
berdiri sebentar, terpaksa masuk juga sembari memanggil :" Pelayan!........."
Dari dalam keluar seorang pelayan muda yang berkepala botak, sembari pelototkan matanya
dan berkata: "Masih pagi begini, masa kau sudah kelaparan? apa perlumu ribut-ribut tidak keruan
?"
Sambutan si pelayan itu benar-benar di luar dugaan Kim Houw, ia tidak menyangka seorang
yang membuka rumah makan, bersikap begitu galak terhadap tamunya. Tapi karena perutnya
sudah lapar, terpaksa ia menahan sabar.

"Engko cilik, aku sudah berjalan semalam suntuk, sebetulnya sudah sangat lapar benar, harap
sediakan apa saja yang bisa di dahar?" demikian jawabnya rendah.
Siapa nyana, pelayan botak itu menyilahkan duduk sajapun tidak, lantas menyahut :" Jalan
semalam suntuk? Apa di rumahmu ada orang yang mati? Tapi, kau toh mempunyai mata, apa kau
tidak melihat di dapurku yang masih belum ada hidangan...?"
Pelayan botak ini, benar-benar bukan macamnya orang dagang. Ia lebih mirip dikatakan
sebangsa berandal di atas gunung. Dengan sikapnya yang kurang ajar itu, sekalipun orang yang
bagaimana sabarnya juga bisa gusar.
Kim Houw sendiri makin mendengar ucapannya, makin merasa mendongkol, dengan tiba-tiba
ia menyentil dengan jarinya, hingga si botak yang belum habis ucapannya, lantas menjerit
kesakitan. Selanjutnya dengan tangan kiri memegang jari jempol tangan kanannya, dan mata
mendelik seolah-olah hendak menyerang lawannya, tapi tidak tahu siapa lawannya. Ia cuma
berkaok kaok sendiri seperti orang gila.
"Botak! lagi-lagi kau mencari setori dengan tamu!" suara itu kasar dan berat, kemudian disusul
dengan munculnya dari dalam seorang tua gemuk berusia kira-kira lima puluh tahun.
Si botak begitu mendengar ucapan orang tua itu, segera mengerti bahwa dirinya sudah
dipermainkan oleh Kim Houw, maka ia lantas mengeluarkan kepalanya dan menghantam dada
Kim Houw, sambil mulutnya membentak: " Bocah! Kau berani permainkan aku si botak ?"
Orang tua gemuk itu ketika mengetahui si botak sudah turun tangan, buru-buru mencegah
sambil membentak :" Botak! Kau tidak boleh bikin onar!"
Tapi ucapan orang tua itu baru keluar dari mulutnya, kepala si botak sudah bersarang di dada
Kim Houw".
Tiba-tiba terdengar suara jeritan "aduh", Kim Houw yang dihantam masih kelihatan tenangtenang
saja, sebaliknya si botak yang menghantam sudah bergulingan kesakitan dan menjerit-jerit.
Ternyata ketika ia menghantam dada Kim Houw dengan kepalanya, seolah-olah kepalanya
membentur batu keras yang dingin, kepalanya dirasakan sakit dan dingin.
Pada saat itu, si orang tua gemuk itu berubah wajahnya. Kim Houw sendiri mukanya masih
berlepotan tanah karena bergulingan di tanah ketika mempermainkan si nona penunggang kuda.
Kalau si botak tadi berani berlaku kurang ajar juga karena tidak memandang romannya Kim Houw
yang kucel dan kotor itu.
Kini si orang tua gemuk itu sudah tahu benar kalau Kim Houw mempunyai kepandaian tinggi,
juga tidak nyana setinggi demikian rupa. Si botak itu adalah muridnya, meski bentuknya jelek tapi
tenaganya luar biasa. Bagi orang biasa, kalau kena dipukul sekali saja olehnya, sekalipun tidak
lantas mampus, sedikitnya juga akan terluka berat.
Tidak nyana Kim Houw yang dihantam dadanya begitu keras, sebaliknya malah si botak
sendiri yang bergulingan kesakitan, sedang Kim Houw sendiri tidak merasakan apa-apa,
bagaimana si orang tua itu tidak merasa terkejut dan heran?
Pada saat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang menerjang masuk kedai nasi, lantas
menghajar Kim Houw dengan pecutnya. Tidak usah lihat, Kim Houw segera mengetahui bahwa
yang menghajar padanya itu adalah si nona cantik yang naik kuda hitam.

Ia cepat mengegos, kemudian berputaran disekitar dirinya si orang tua gemuk, sedang
mulutnya lantas berkata sembari menyoja : "nona yang baik, harap maafkan aku yang sudah
berlaku kasar... "
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, lekas sembuhkan kudaku... !" jawab si nona dengan alis
berdiri.
"Kuda nona adalah kuda pilihan yang sangat bagus tidak perlu disembuhkan sudah bisa
sembuh sendiri, kau lihat itu bukankah kuda nona yang datang?" kata Kim Houw sambil
tersenyum.
Benar saja, pada saat itu telinganya si nona sudah dengar suara kaki kuda yang menghampiri
padanya. Kiranya tadi Kim Houw menotok tidak berat, maka kuda hitam itu tidak lama sudah
sembuh sendirinya.
Dengan ringan si nona menghampiri kudanya, lalu cemplak binatang itu dan ketika mau
berlalu, beberapa kali ia menoleh dan tinggalkan senyuman yang menggiurkan.
Kim Houw sedikitpun tidak ketarik oleh kecantikan si nona. Bwee Peng yang ia cintai dan
kasihi telah meninggal dunia, membuat hatinya kosong. Diluar dugaannya, kini nona Peng Peng
telah menempati hatinya yang kosong itu. Ia dapat kenyataan Peng Peng yang beradat keras dan
berandalan telah mencintainya dengan segenap hatinya dan telah melepas budi besar atas
dirinya.
Si orang tua gemuk itu tiba-tiba ketawa terbahak bahak dan berkata: "Siangkong! bagus!
bagus! benar! benar... Botak! lekas suruh orang sediakan mie untuk Siangkong ini. Masak mie
tidak mengeluarkan banyak waktu biar Siangkong bisa lekas dahar dan melanjutkan
perjalanannya"
Perkataan bagus! bagus! dan benar! benar dari orang tua itu telah membikin bingung Kim
Houw. Dia tidak mengerti apa yang diartikan bagus dan apa yang diartikan benar?
Cuma perkataan yang terakhir dari si orang tua, membuat Kim Houw sungguh merasa
berterima kasih, sebab pada waktu itu perutnya benar-benar dirasakan sangat lapar.
"Siangkong! silahkan duduk di sini, aku si orang tua bernama Tan Eng, bolehkah kiranya aku
mendapat tahu nama siangkong yang mulia ?"
Melihat orang tua itu sikapnya sangat menghormat, Kim Houw buru-buru membalasnya: "Aku
bernama Kim Houw, seorang bodoh, harap Cianpwe suka memberi petunjuk yang berharga!"
jawabnya.
"Siangkong terlalu merendah, seorang kepandaian tinggi seperti siangkong ini, sekalipun
orang gagah di dunia Kangouw, juga cuma segini saja..."
Pada saat itu, si botak sudah membawa sepoci teh, untuk tamunya.
Kim Houw melihat tangan kanannya si botak melurus ke bawah, hanya menggunakan tangan
kiri untuk melayani, ia tahu kalau rasa sakitnya tentu masih hebat, dalam hati merasa kasihan,
maka lantas berkata : "Saudara kecil ini, lain kali jangan terlalu gegabah! mari, aku urut tanganmu
!"

"Ini muridku, kecuali mulutnya yang jahil orangnya masih terhitung jujur... botak, lekas ucapkan
terima kasih" kata Tan Eng.
Si botak lantas mengucapkan terima kasih kepada Kim Houw.
Kim Houw tidak berkata apa-apa lagi, lalu menarik tangan si botak, dengan telapak tangannya
ia letakkan di lengan si botak, kemudian mengurut dengan perlahan.
Tangan si botak yang sebetulnya sudah bengkak, dan sakitnya bukan kepalang, kini telah
diurut oleh Kim Houw, sebentar saja bengkaknya lantas lenyap, begitu pula rasa sakitnya.
Di situ si botak baru takluk benar-benar kepada Kim Houw.
"Kim Houw Siangkong! tahukah kau siapa nona tadi ?" Tan Eng menanya tiba tiba.
Mendengar itu, Kim Houw kerutkan alis dan berpikir: perduli amat siapa dia ?
Orang tua itu kembali tertawa terbahak bahak: "Nona itu, adalah si iblis cantik yang terkenal
namanya Kie Yong Yong, penduduk kampung Pek-Cui-ouw. Meski adatnya telengas dan suka
membunuh orang secara serampangan tapi masih terhitung bukan orang jahat benar-benar... "
Bicara sampai di situ. Tang Eng memandang Kim Houw. Saat itu Kim Houw sudah
membersihkan wajahnya yang kotor dengan handuk basah yang diberikan oleh so botak. Dalam
hatinya berpikir: orang tua ini benar-benar aneh, nona itu baik atau jahat apa hubungannya
denganku? Aku tidak minta keterangannya juga tidak minta dia menjadi comblang.
Si botak sudah menyediakan semangkok besar mie, Tan Eng menyilahkan tetamunya dahar.
Kim Houw yang sudah kelaparan benar-benar mie semangkok besar itu sekejap saja sudah
disikat habis. Baru saja ia meletakkan sumpitnya, kembali dengar suara kaki kuda, diam-diam
pasang kupingnya untuk perhatikan kemana larinya kuda itu.
Suara itu datangnya dari barat, Kim Houw berpikir, nona Kie tadi menuju ke barat dengan
sikapnya yang tergesa-gesa, seperti ada urusan yang penting, tidak mungkin ia begitu cepat telah
kembali lagi, apakah itu bukan kuda merah yang ditunggangi oleh Siao Pek Sin?
Tengah ia menduga-duga, sang kuda telah muncul di depannya, namun ternyata yang datang
adalah kuda hitam besar tinggi. Kim Houw kecewa berbareng dengan itu ia juga merasa heran
mengapa nona Kie itu balik kembali begitu cepat.
Kuda hitam sudah berhenti di depan kedai, si nona lantas turun , lalu memanggil-manggil
dengan suara nyaring: "Botak, botak ! bawa kudaku ke belakang."
Setelah menyerahkan kudanya kepada si botak, ia lantas masuk ke dalam kedai. Tan Eng lalu
menyambut dengan hormat serta menyilahkan si nona duduk.
"Paman Tan! Kau baik?" Kata Kie Yong Yong, dengan tidak malu-malu lagi lantas duduk
ditempat yang barusan diduduki Tan Eng, yaitu menghadap Kim Houw.
Tan Eng lantas masuk ke dalam untuk menyiapkan pesanan si nona.
Kim Houw yang sudah merasa kenyang, lantas merogoh sakunya untuk mengambil uang guna
membayar harga mie yang dimakannya dan hendak melanjutkan kembali perjalanannya lagi, tapi
ketika baru merogoh saku, wajah si nona tiba-tiba berubah.

"Kau sudah mau berangkat?" katanya.
Kim Houw tercengang. Pikirnya mengapa aku tidak pergi, apa lantaran kau aku musti tinggal di
sini? Hm! meskipun kau mempunyai gelar si iblis cantik, belum tentu dapat berbuat sesuatu
terhadap aku.
Meski dalam hati Kim Houw berpikir demikian tapi mulutnya masih menjawab :" Aku masih ada
urusan penting, tidak bisa....."
"Urusan penting?" Kie Yong Yong memotong sambil tertawa dingin, "Kalau benar kau ada
urusan penting mengapa masih ada kesempatan menggoda aku, sehingga menelantarkan
urusanku? Sekarang aku jalan saja sampai tidak bisa!"
Mendengar perkataan itu, Kim Houw diam-diam merasa geli. "Ini benar-benar mencari setori
dengan tidak keruan, terang-terangan dia yang membuat onar, sebaliknya mengatakan aku yang
menggoda dirinya," kata Kim Houw dalam hati.
Tapi terhadap ucapan si nona yang terakhir Kim Houw juga merasa heran, maka ia lantas
berkata : "Nona, aku benar-benar ada urusan penting. Kalau nona tidak sengaja akan main-main
denganku, harap nona suka bicara terus terang, ucapanmu yang terakhir tadi aku benar-benar
tidak mengerti!"
Kie Yong Yong yang semula agak masgul, mendengar perkataan Kim Houw mendadak
menjadi gembira. Sambil tampilkan senyumannya yang manis, ia berkata: "Kau mau suruh aku
bicara terus terang tidak susah, aku cuma minta kau duduk menunggu sebentar, untuk temani aku
makan mie. Setelah aku selesai dahar, mungkin kau akan dapat saksikan sendiri apa yang akan
terjadi. Sesudah itu, tak usah aku katakan, kau juga akan tahu sendiri!"
Nona ini benar-benar sangat ku-koay(aneh), pikir Kim Houw, tidak lapar tapi mau makan mie,
bahkan suruh orang bikin yang istimewa dan suruh aku menunggui dia. Masih bisa naik kuda
sebaliknya tidak bisa jalan...
Tiba-tiba Kie Yong Yong berkata dengan suara perlahan: "Sudah datang! sudah datang benarbenar
cepat sepasang kaki dibandingkan dua pasang kudaku, ternyata terlambat tidak seberapa."
Kie Yong Yong mulutnya berkata, matanya terus mengawasi Kim Houw dengan sikap seperti
seorang yang hendak minta pertolongan.
Kim Houw bercekat. Ucap nona ini betul-betul bukan cuma omong kosong belaka, memang
akan timbul kejadian!.
oo000oo
Di depan pintu mendadak muncul empat orang laki-laki tegap dengan dandanannya yang
seragam berpakaian ringkas dan ikat kepala warna hijau. Dengan tindakan gagah mereka masuk
ke dalam kedai.
"Pelayan! Pelayan! Sediakan hidangan arak yang bagus, kita..." mendadak berhenti ketika
melihat di situ ada duduk nona Kie. Satu diantaranya ketawa terbahak-bahak dan berkata kepada
si nona: "Nona Kie, kau sungguh senang!"
Setelah berkata demikian, orang itu lantas memandang Kim Houw, dengan tolak pinggang
mereka berempat ambil sikap mengepung kepada Kim Houw.

Kie Yong Yong tiba-tiba berkata kepada Kim Houw: "Apa kau mau mengerti?"
Kim Houw acuh tak acuh menghadapi empat laki-laki itu. Ia sudah dapat tahu, bahwa nona Kie
itu bukan jeri karena mereka. Dilihat dari sikap dan gerakan kaki empat orang itu, sekalipun
ditambah empat lagi juga masih bukan tandingan nona Kie.
Mendadak tangan salah satu orang itu telah menekan pundaknya Kim Houw, mulutnya
membentak: "Bocah, kau benar-benar telah makan nyali macan berani-berani duduk bersamasama
nona Kie? Kiranya kau sudah bosan hidup lagi, bukan lekas enyah dari sini...."
Belum habis ucapannya, mungkin karena sudah terlanjur mengeluarkan tenaga, ia sudah
angkat naik tubuhnya Kim Houw. Tiba-tiba terdengar Kim Houw berteriak "aduh!" kaki dan
tangannya berontak-rontak.
Berbareng dengan teriakan Kim Houw orang itu juga menjerit, bahkan lebih keras suaranya.
Ketika Kim Houw jatuh, orang itu juga jatuh duduk di tanah. Mulutnya menjerit-jerit seperti babi
disembelih.
Tiga kawannya menampak keadaan demikian, semua pada melongo heran, mereka tidak tahu
apa sebabnya.
Di luar pintu tiba-tiba ada orang ketawa dingin.
"Makhluk tidak berguna, mundur!" bentaknya.
Orang yang jatuh menjerit-jerit tadi lalu disingkirkan ke samping oleh ketiga kawannya, mereka
tampak berlaku sangat hormat sekali terhadap orang yang baru datang.
Kim Houw menoleh ke depan pintu kelihatan ada berdiri dua orang tua. Usianya kira-kira
sudah lima puluh tahun, berpakaian baju panjang warna hijau. Yang satu wajahnya agak merah
tapi yang satunya lagi kehitam-hitaman.
Orang yang wajahnya merah itu pelipisnya agak menonjol, matanya bersinar. Bagai mata
seorang ahli, lantas bisa ketahui bahwa orang tua itu seorang pandai yang mempunyai kekuatan
lwekang dan gwakang sangat hebat.
Sedang orang tua yang wajahnya kehitam-hitaman itu matanya boleh dikata hampir rapat.
Terkadang ia membuka matanya yang sipit itu kelihatannya sinar yang tajam. Kedua tangannya
selalu dimasukkan dalam tangan bajunya, seperti seorang yang kedinginan.
Kim Houw yang berkepandaian tinggi sudah tentu juga bernyali besar. Ia sama sekali tidak
kenal apa artinya takut. Saat itu masih berlagak gila sambil menjerit: "Aduh, aduh. Kau benarbenar
kelewat galak..."
Orang tua berwajah merah itu keluarkan suara di hidung.
"Orang yang berkepandaian tinggi, perlu apa harus berlagak gila?" katanya. "Harap saja kau
tidak menghalangi urusan kita orang-orang dari Ceng-hong-kauw. Apa lagi Ceng-hong-kauw cu
sudah masuk rombongan Istana Kumala Putih. Tentang nama Istana Kumala Putih, tidak mungkin
rasanya kalau kau tuan belum pernah dengar?"

Orang tua itu pertama-tama menyebutkan namanya Ceng-hong-kauw, kemudian menyebut
nama Istana Kumala Putih, maksudnya ialah untuk menakuti Kim Houw, karena ia kuatir bahwa
anak muda itu muridnya seorang pandai, jika bertindak salah, mungkin menimbulkan kerewelan.
Tidak dinyana Kim Houw setelah mendengar disebutnya nama Istana Kumala Putih, hawa
amarahnya lantas meluap, wajahnya berobah seketika. Dengan suara dingin ia menyahut: "Istana
Kumala Putih! Hmm! apa itu Istana Kumala Putih? Lain orang boleh takut padanya, tapi aku Kim
Houw tidak!"
Nama Istana Kumala Putih, selama setahun ini sudah menggetarkan dunia Kangouw dan
menjagoi daerah Tionggoan. Barang siapa yang tidak puas terhadap sepak terjangnya golongan
Istana Kumala Putih, pasti dimusnahkan. Yang telah dibasmi habis-habisan golongan Sao-ouw
dari gunung Lae-san. Sao-cung dari telaga Thay-ouw dan Sun-kee-cung dari San-tung selatan.
Nama-nama tersebut selama beberapa puluh tahun sudah sangat terkenal dalam rimba persilatan,
dan toh tidak luput dari kemusnahan.!
Oleh sebab itu selama setahun ini, nama Istana Kumala Putih dari gunung Kua cong san telah
merupakan partai yang paling ditakuti dalam rimba persilatan. Asal menyebut namanya saja,
sudah membikin orang ketakutan setengah mati!
Ceng hong kauw, sebetulnya termasuk golongan orang-orang jahat, sejak ketua Ceng hong
kauw menggabungkan diri pada golongan Istana Kumala Putih, Ceng hong kauw semakin galak
sepak terjangnya.
Kini, sungguh tidak dinyana ternyata masih ada orang yang berani menghina nama Istana
Kumala Putih bahkan tidak memandang mata sama sekali, bagaimana kalau mereka tidak
terheran-heran dan gusar?
Orang tua berwajah merah itu seorang licik, menampak Kim Houw berani omong besar sudah
tentu bukan orang sembarangan. Maka dalam hatinya lantas terpikir, kalau tidak terpaksa apa
perlunya mencari setori dengannya.
Karena berpikir demikian, maka ia lantas berkata: "Tuan tidak pandang mata kepada golongan
Istana Kumala Putih, sudah tentu ada orangnya sendiri yang akan bikin perhitungan dengan tuan.
Hari ini segala apa yang akan terjadi dalam golongan kita, harap tuan tidak turut campur tangan,
sebaliknya mengambil jalan sendiri-sendiri."
"Perasaan setia kawan setiap orang harus ada. Memberi bantuan terhadap perlakuan tidak
adil, sudah menjadi keharusan bagi manusia. Buat orang-orang dunia persilatan yang mempunyai
kepribadian luhur, perbuatan demikian dipandang sebagai kewajiban utama. Aku bukan hendak
turut campur tangan, aku hanya kepingin tahu saja..." jawab Kim Houw dingin.
Baru bicara sampai di situ, Kim Houw mendadak menoleh dan berkata menghadap jendela di
belakang gegernya: "Kalau benar orang-orang seperjalanan, perlu apa mengintip-intip? Apa takut
diketahui orang?"
Dari situ terdengar suara ketawa, kemudian melompat masuk seorang tua kurus kering yang
juga berusia kurang lebih lima puluh tahun. Begitu masuk ke dalam ruangan, segera terbang
menerjang Kim Houw, mulutnya keluarkan suara bengis: "Benarkah kau ingin tahu? Coba-coba
sambuti dulu seranganku si Hui thian Leng kauw (si Monyet cerdik yang bisa terbang), aku lihat
kau pantas atau tidak untuk campur tahu urusan kita?"
Kini Kim Houw baru tahu apa sebabnya nona Kie barusan mengatakan tidak dapat ia pergi.
Dilihat kekuatannya ketiga orang tua itu agaknya masih diatasnya si nona.

Sekarang ia tidak perlu berlagak gila lagi. Dengan cepat ia gerakkan badannya memunahkan
serangan Hui thian Leng kauw yang amat dahsyat.
Serangan Hui thian Leng kauw tadi dilakukan dengan kecepatan luar biasa, bahkan bergerak
sebelum memberi peringatan. Tidak dinyana ia cuma menghadapi berkelebatnya satu bayangan
putih, sedan orang yang diserang sudah tidak kelihatan.
Hui thian Leng kauw sama sekali tidak tahu dengan cara bagaimana anak muda itu bisa
terlolos dari serangannya jatuh ditempat kosong, baru tahu kalau ia tengah menghadapi orang
kuat. Ia buru-buru memutar tubuhnya, tapi sudah tidak keburu, tahu-tahu pantatnya sudah kena
ditendang sehingga tubuhnya terbang berjumpalitan. Ketika turun di tanah kedua kakinya masih
bisa berdiri tegak tidak sampai jatuh!
Itu berkata Kim Houw yang masih merasa kasihan padanya. Karena pikirnya ia dengan orangorang
itu tidak mempunyai permusuhan apa-apa, apa perlunya harus melukai dirinya? Sudah
cukup kalau diberi sedikit peringatan saja!
Ia belah berpikir demikian, tapi buat yang lain tidak. Hui thian Leng kauw juga terhitung salah
satu orang kuat dalam golongan Leng hong kau, dalam dunia Kangouw juga ada sedikit nama,
bagaimanapun tidak mau mengerti belum satu jurus saja sudah kena ditendang oleh lawannya
yang masih begitu muda? Dimana ditaruh mukanya untuk selanjutnya? Bagaimana ia sanggup
menelan kehinaan itu?
Ia pikir bocah itu mungkin cuma unggul dalam ilmu mengentengi tubuh, kepandaiannya belum
tentu menandingi dirinya. Terpikir demikian, Hui thian Leng kauw nyalinya besar lagi, untuk kedua
kalinya melakukan serangan!
Orang tua itu mendapat gelar Hui-thian Leng-kauow, atau monyet cerdik yang pandai terbang,
ilmunya mengentengi tubuh sudah tentu cukup sempurna, namun ia telah mengatakan kepandaian
lain orang ternyata lebih tinggi dari padanya, jauh sekali?
Suara "pok" terdengar nyaring, pantat Hui-thian Leng-kauow kembali kena ditendang,
badannya terbang ke udara sembari jumpalitan. Tapi, kali ini kakinya tidak dengar kata lagi, ia
tidak mau berdiri dengan baik!.
"Buluk! badannya terjatuh di tanah dengan kaki di atas. Entah karena jatuhnya terlalu berat,
atau ia merasa tidak ada muka menemui orang? Ketika jatuh duduk di tanah, ia kelihatan tidak
bangun lagi.
Kie Yong Yong yang menyaksikan pertunjukan itu, ketawa terpingkal-pingkal, suaranya
cekikikan sampai terdengar jauh!
Di pintu dalam, si botak tiba-tiba tongolkan kepalanya dengan sikap seperti orang ketakutan!
"Botak, apa mie yang ku pesan sudah selesai? Lekas bawa keluar! aku sudah lapar!" teriak si
nona.
Terhadap orang-orang dari Ceng-hong kau ini, si botak rupanya takut sekali. Ketika ia
membawa keluar semangkok mienya, badannya gemetaran, sampai kuah mienya pada
berceceran di tanah.
Masih terpisah kira-kira lima kaki dari Kie Yong Yong, orang tua berwajah merah itu
menyampok dengan lengan bajunya, kekuatan dari anginnya telah membikin mangkok mie
terbang ke arah Kim Houw.

Si botak terkejut, ia lantas lari masuk lagi.
Tapi heran sekali, mangkok mie itu baru saja terbang mumbul, tiba-tiba disambar oleh angin
keras, dengan keadaan tidak bergoyang meluncur turun ke mejanya Kie Yong Yong.
Kekuatan yang tidak kelihatan itu, telah membikin kaget semua orang yang ada di situ, karena
kekuatan demikian, kalau bukan seorang yang sudah tinggi sekali kekuatan lweekangnya, tidak
nanti bisa melakukannya.
"Hai! Kau makan sedikit mau tidak...?"
Tiba-tiba Kie Yong Yong menanya Kim Houw. Sedang matanya terus memandang, sehingga
anak muda itu merasa jengah dan merah wajahnya. Dalam hati berpikir, nona ini rupanya lebih kukoay
dan lebih berandalan dari pada Peng Peng. Dalam keadaan ini seperti ini, dia masih bisa
bersenda gurau!"
"Ya! barusan kau sudah makan, mangkoknya saja masih belum dibersihkan! Kalau begitu
makan saja paha ayam ini!" kata pula si nona, sembari menjepit sepotong paha ayam dengan
sumpitnya dan sodorkan kepada Kim Houw.
Kalau dilihat dari tingkah lakunya ini ada lebih mirip dengan tingkah lakunya sepasang merpati
yang sedang bercumbu-cumbuan, bukannya sedang menghadapi bahaya dikepung oleh musuhmusuhnya.
Kebinalannya nona Kie, benar-benar membuat Kim Houw kewalahan. Paha ayam yang
disodorkan olehnya, Kim Houw mau menyambuti merasa malu, tidak disambuti merasa salah!
Nona Kie rupa-rupanya merasa mendongkol, dengan mendadak paha ayam berikut sumpitnya
dilemparkan keluar jendela, kemudian mie berikut mangkoknya juga ia buang keluar.
"Kau tidak mau makan, tadi kau buang saja bukan ada lebih baik, mengapa kau sodorkan di
depanku? Kalau kau tidak suka makan aku juga tidak, jadi sama-sama tidak makan habis
perkara!" kata Kim Houw.
Dari luar pekarangan belakang tiba-tiba terdengar suara nyaring: "Budak, rasanya kau sendiri
juga tidak berani makan."
Kie Yong Yong sebetulnya sedang cemberut, kini lantas ketawa cekikikan.
"Akal muslihat bajingan semacam ini, apa kau pikir bisa mengelabui mataku? Hendak
meracuni aku masih terlalu pagi bung! Apa kau kira aku benar-benar takut makan? Kalau tadi dia
berani makan paha ayam yang kuberikan, aku makan lantas untuk diperlihatkan kepada kalian".
Kim Houw terperanjat, kalau begitu, dalam mie tadi ada racunnya. Dalam hatinya sebetulnya
hendak menyesalkan kelakuannya nona ini yang sangat berandalan, tidak tahunya ia membuang
mie itu ada maksudnya. Tapi ucapan terakhir dari si nona, ia benar-benar tidak mengerti.
Bersambung ke jilid 8
Jilid 08
Ia tahu benar bahwa makanan itu ada racunnya, mengapa suruh ia makan? Dan kini malah
mengatakan, kalau ia makan paha ayamnya, si nona juga akan dahar mienya; apa maksudnya ini?

Baru saja nona Kie menutup mulutnya, dari belakang tiba-tiba muncul seorang tua tinggi besar.
Begitu muncul, orang tua itu lantas menyeret dirinya Hui-thian Leng Kauw sembari berkata, "Tidak
ada gunanya, apa dengan duduk saja di tanah perkara bisa beres?"
Pada saat itu, semua orang tiba-tiba dengar suara orang yang sedang menghirup kuah mie
serta suara mulut bercakap-cakap. Suara itu keluar dari luar jendela, agaknya orang itu sedang
menikmati makanan yang lezat.
Kali ini Kim Houw kaget benar-benar! Siapa itu orang yang berada di luar jendela? Mengapa ia
sendiri tidak tahu? Dapat diduga bahwa orang itu ilmunya mengentengi tubuh sudah mencapai
tingkat puncaknya.
Pantas mangkok mie tadi ketika dilemparkan keluar tidak ada suaranya jatuh di tanah, kalau
begitu ada orang yang menyambuti.
Kim Houw ingat bahwa mie itu ada racunnya, kalau dimakan, bukankah orang itu nanti akan
binasa? Tapi siapa orang itu, baik atau jahat? Ia sendiri masih belum tahu.
Ia lalu tongolkan kepalanya keluar jendela, segera dapat dilihat di bawah daun jendela ada
seorang pengemis tua yang wajahnya kotor dan rambut sudah putih serta awut-awutan. Mangkok
mie itu ternyata berada dalam tangannya, sedang dimakan dengan lahapnya, sedang di
tangannya nampak memegang paha yang sedang digerogoti.
Kim Houw menyaksikan kejadian itu, dalam hatinya merasa cemas. Meski ia seorang
pengemis, tapi toh masih harus disayangi jiwanya. Maka buru-buru berkata, "Lo Pek, mie itu ada
racunnya..."
Pengemis tua itu menjawab tanpa menoleh, "Kalau tidak ada racunnya belum tentu aku mau
makan! Sudah tentu setengah abad aku hidup sengsara di dunia, mati ada lebih baik. Cepat mati
cepat naik ke surga, lebih lekas mati lekas bebas!"
Kim Houw merasa pilu, "Lopek, aku di sini ada obat pemunah racun, masuklah ke dalam!"
Pengemis itu dongakkan kepalanya, ia memandang lama kepada Kim Houw. Rambutnya yang
awut-awutan hampir separuh menutupi wajahnya, hingga Kim Houw tidak dapat melihat dengan
tegas wajah yang sebenarnya.
Tapi, dalam hati Kim Houw tiba-tiba tercekat, karena sepasang matanya pengemis itu ternyata
memancarkan sorot mata tajam. Kim Houw baru insyaf bahwa ia sedang berhadapan dengan
seorang luar biasa!
Tiba-tiba dari mulutnya pengemis itu meluncur benda putih dengan kecepatan bagaikan kilat
menyambar pada kedua biji mata Kim Houw.
Bukan kepalang kagetnya Kim Houw, dengan cepat ia lantas ayun tangannya, benda putih tadi
segera berada dalam tangannya. Tapi meski ia berhasil menyambuti benda putih itu, tangannya
sendiri juga masih terasa sakit.
Tatkala ia periksa, benda putih itu ternyata cuma dua potong tulang ayam.
Kim Houw diam-diam merasa kaget, ia tidak nyana bahwa pengemis tua itu ada mempunyai
kepandaian begitu tinggi, bahkan mungkin masih lebih tinggi setingkat dari pada Tang Lo Han.

Tiba-tiba ia dengar suara jeritan nona Kie. Kim Houw dengan cepat balik ke dalam ruangan.
Urat nadi tangan nona Kie sudah kena dicekal oleh orang tua tinggi besar yang baru keluar dari
belakang, sedang tangan lainnya mengancam jalan darah Leng-tai-hiat di belakang si nona.
"Bocah, kalau kau berani bergerak sedikit saja, aku lantas antar dia ke akhirat," demikian
orang tua itu berkata sambil ketawa mengejek pada Kim Houw. Kim Houw terkejut tak dapat
melindungi dirinya si nona.
"Hai, lekas tolong aku! Kalau aku tadi tahu kau tidak mau menolong diriku, sebaiknya aku
makan saja mie yang ada racunnya itu. Mungkin tidak akan mengalami hinaan begini rupa," si
nona tiba-tiba berkata dengan nyaring.
Kim Houw merasa seperti dipagut ular, tiba-tiba ia ingat dua potong tulang halus yang
dilontarkan oleh pengemis tua tadi. Ia mau menggunakan dua potong tulang yang masih berada
dalam tangannya untuk menyerang dengan tiba-tiba.
Ketika tangannya Kim Houw mengayun, segera dengar "Ouw", lalu disusul melesatnya suatu
bayangan putih, dengan kecepatan tinggi bagaikan kilat sudah berada dalam pelukannya sendiri.
Hal ini benar di luar dugaannya.
Untuk menghadapi orang-orang dunia rimba persilatan yang betapapun tinggi kepandaiannya,
Kim Houw belum pernah merasa takut atau jeri, tapi menghadapi nona Kie yang jatuhkan diri
dalam pelukannya, membuat kelabakan dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Buat ia, kecuali Bwee Peng, ketika pada saat hendak ditinggalkan, pernah menangis dalam
pelukannya melihat ia terluka, sehabis itu belum pernah ia disentuh oleh kaum wanita. Apa mau
nona Kie dengan tidak malu-malu lagi, di hadapannya begitu banyak orang ia rebahkan kepalanya
pada badannya, bagaimana Kim Houw tidak merasa jauh dan berdebar hatinya?
Suara benturan mendadak terdengar saling menyusul, empat orang itu menerjang Kim Houw
dengan berbareng.
Kim Houw meski menyanggupi nona Kie untuk memberi pertolongan, tapi dalam keadaan
demikian, sudah tentu ia tidak dapat mengelakkan lagi. Mendadak ia ayun satu tangannya,
melancarkan ilmunya Han-bun-cao-khie, yang sangat ampuh. Gelombang hawa dingin itu
meluncur dan merupakan tembok dinding yang sangat kokoh, menghalangi majunya empat orang
itu.
Kemudian Kim Houw dorong perlahan dada si nona, maksudnya ialah supaya nona itu
menyingkir dan ia bisa leluasa menghadapi empat musuhnya.
Tidak nyana tangannya telah mendorong bagian yang empuk lunak dan membal. Ia kira nona
itu mempunyai ilmu lwekang yang sangat tinggi, sehingga dapat membuat dirinya begitu lunak dan
licin. Untuk mencoba ada berapa tinggi kepandaian si nona, dengan tidak banyak pikir, Kim Houw
ulur lagi tangannya mendorong.
Tiba-tiba Kim Houw ingat sesuatu yang tidak beres, dalam kagetnya, ia lantas tarik kembali
tangannya. Kim Houw salah alamat mau mendorong dada kena dorong benda empuk lunak dan
membal... buah dada si nona.
Pada saat itu, selembar wajah si nona berubah menjadi merah, dengan tidak berkata apa-apa,
sudah lepaskan dirinya dari pelukan Kim Houw dan memutar berdiri di belakang anak muda itu.

Tepat pada saat itu juga empat orang tua dari golongan Ceng-hong-kauw itu sudah menerjang
lagi dengan berbareng. Kim Houw tidak bermaksud untuk melukai lawannya, maka tidak
digunakan sepenuhnya ilmu Han-bun-cao-khie yang ia anggap kelewat lihay.
Ketika menampak ke empat lawannya itu ternyata sangat bandel, ia lalu menggunakan tipu
pukulannya yang dinamakan burung kepinis terbang berputaran, yang terdiri dari delapan belas
jurus dan yang dianggap paling lunak dari semua ilmu yang pernah dipelajarinya untuk melayani
orang tua itu.
Tapi di matanya empat orang tua itu, tipu-tipu pukulan Kim Houw itu hampir setiap jurus
merupakan tipu-tipu serangan yang aneh dan luar biasa. Empat orang tua itu meski bukan tokoh
nomor satu dari golongan Ceng-hong-kauw, tapi dalam tingkatan kedua termasuk orang-orang
yang kuat. Namun bagaimanapun mereka berusaha dan mengeluarkan semua kemampuannya,
semua serangannya sedikitpun tidak menyentuh ujung baju Kim Houw.
Sekejap saja pertempuran sudah berjalan kira-kira sepuluh jurus lebih. Kim Houw tetap
gunakan tipu pukulan itu-itu saja, tidak berganti. Ia hanya bermaksud supaya empat orang itu
mengerti sendiri kelemahannya dan lantas mundur.
Tapi mendadak orang tua tinggi besar itu bersiul, mereka segera mundur dengan berbareng,
kemudian disusul dengan tertebarnya bayangan tanda hitam diikuti bau amis, mengurung kepala
Kim Houw.
Kim Houw ketika nampak bayangan hitam dan hidungnya mencium bau amis, segera
mengetahui bahwa benda itu ada racunnya, dalam hati lantas merasa gusar.
"Bangsat kejam, aku tidak akan ampuni kau lagi," bentak Kim Houw.
Diam-diam ia kerahkan ilmu Han-bun-cao-khie, lalu mendorong tangannya ia pukul balik benda
hitam itu.
Tanda hitam beracun itu telah dilontarkan oleh orang tua tinggi besar, mampu menggunakan
senjatanya yang istimewa serupa itu sudah tentu mengerti caranya untuk menghindarkan jika
diserang. Ketika menampak senjatanya dipukul balik, ia lantas menyingkirkan dirinya untuk
mengelakkan serangan berbalik itu.
Tiba-tiba di depan matanya ada berkelebatan bayangan putih.
Ia masih belum tahu benda putih apa itu, tiba-tiba matanya dibikin kesima oleh sinar
berkilauan, kemudian disusul rasa dingin di kedua daun telinganya serta rasa kesakitan. Ia baru
mau angkat tangan kanannya, tapi rasa sakit telah dirasakan menusuk ulu hatinya, hingga
matanya menjadi gelap dan tidak ingat lagi apa yang telah terjadi.
Kim Houw tidak ada maksud untuk membunuh itu orang tua, ia hanya mengambil daun telinga
dan lima jari tangannya, supaya di kemudian hari ia tidak ada muka lagi untuk ketemu orang serta
tidak bisa menggunakan senjata yang beracun itu untuk melukai orang.
Kim Houw telah menggunakan Ngo-heng-kiam pemberian Peng Peng untuk memapas daun
kuping dan memotong jari tangan orang tua itu. Karena semuanya itu dilakukan dengan kecepatan
yang luar biasa, tiga kawannya masih belum tahu apa sebetulnya yang telah terjadi tahu-tahu
orang tua itu sudah rubuh di tanah dalam keadaan pingsan!
Dari luar jendela tiba-tiba lompat masuk salah satu bayangan orang. Semua orang pada dibikin
kaget oleh munculnya orang itu. Ia ternyata adalah pengemis tua yang barusan makan mie
beracun di bawah jendela.

Matanya yang tajam pengemis tua itu dengan tidak berkedip memandang pedang pendek di
tangan Kim Houw, kemudian menanya dengan suara setengah membentak, "Bocah cilik, Tiong
Ciu Khek pernah apa dengan kau?"
Kim Houw meski sudah tahu bahwa pengemis tua itu ada seorang luar biasa, tapi dalam
hatinya tidak puas dengan segala sepak terjangnya pengemis itu, karena dengan tanpa sebab
pengemis itu telah menyerang matanya dengan tulang ayam, kalau ia tidak mempunyai
kepandaian tinggi, bukankah kini matanya sudah menjadi buta?
Sekalipun tulang ayam itu ia sendiri juga gunakan untuk menolong nona Kie dari bahaya, tapi
hanya suatu hal yang kebetulan saja. Ia tidak merasa berhutang budi terhadap pengemis itu. Kini
pengemis tua itu telah menanya asal usulnya dengan secara demikian kasar. Kim Houw yang
paling tidak suka dengan perlakuan kasar, meski sudah tahu pengemis itu berkepandaian tinggi
tapi ia tidak takut. Maka ia lalu menyahut, "Tiong Ciu Khek pernah apa dengan aku? Kau tidak
usah perduli."
"Anak busuk, kau berani tidak pandang mata kepadaku? Lihat wasiatku."
Kata-kata si pengemis tua disusul dengan suara pekiknya yang aneh, kemudian
menggerakkan tangannya, dari situ segera meluncur dengan cepat sebuah benda kuning.
Kim Houw lalu menyambuti benda kuning itu dengan tangannya, tatkala ia periksa, ternyata itu
sepatu rumputnya si pengemis yang kotor dan bau.
Kim Houw gusar, ia lalu ayun tangannya, sepatu busuk itu dikirim kembali kepada
penyerangnya.
Pengemis tua itu ketawa terbahak-bahak, orang tidak tahu dengan cara bagaimana ia
bergerak, tahu-tahu badannya sudah melesat ke atas, dengan kakinya dilonjorkan, tepat sekali
sepatu itu sudah berada di kakinya lagi.
"Sepatu saktiku ini, sekalipun kau mempunyai banyak emas juga tidak mampu beli. Orang lain
susah untuk mendapatkan, tapi kau tidak sudi, nyata kau ada anak kemarin sore yang baru
muncul... maka tidak kenal barang..." demikian mulutnya mengoceh tidak hentinya.
Kim Houw sejak meninggalkan Istana Kumala Putih di rimba keramat, baru pertama kali ini
dipermainkan oleh orang. Meski hati merasa mendongkol, tapi ketika mendengar perkataan si
pengemis tua yang seperti sudah miring otaknya, ia lantas tidak mau ambil pusing.
Sejak munculnya si pengemis tua itu, orang-orang dari Ceng-hong-kauw sudah pada kabur,
Kim Houw juga tidak merintangi perginya mereka.
"Akhirnya ada orang yang kenal barang juga, aku kata sepatu sakti masa benar-benar sudah
tidak ada gunanya...?" si pengemis itu tiba-tiba berkata sambil tertawa.
Mau tidak mau hati Kim Houw merasa curiga juga. Betulkah sepatu butut itu ada riwayatnya
sendiri? Pada saat itu, dari ruangan belakang telah muncul satu orang dan ketika berada di
ruangan tengah, segera berlutut di depannya pengemis tua itu.
Kim Houw yang menyaksikan hal itu, dalam hatinya merasa heran, terutama setelah
mengetahui bahwa orang itu ternyata Tan Eng sendiri.

Sambil meletakkan sepatu butut di atas kepalanya, Tan Eng berlutut di tanah. Badannya lurus,
matanya mengawasi tanah, wajahnya pucat pasi, sedikitpun tidak berani bergerak. Kemudian si
botak juga turut berlutut di belakang gurunya.
Kim Houw merasa terheran-heran. Melihat gerakannya Tan Eng ada begitu gesit waktu dari
ruangan belakang, tentunya ia bukan orang sembarangan. Kalau dibanding dengan empat orang
tua dari golongan Ceng-hong-kauw tadi rupanya Tan Eng masih lebih unggul. Herannya terhadap
si pengemis tua jorok itu, sebaliknya ia begitu takut dan hormat sekali. Dalam hal itu pasti ada
sebabnya.
"Aa... ya... ya...! paman gemuk ini kau... kau kenapa?" si pengemis berlagak kaget, sambil
mundur berulang-ulang.
Si gemuk Tan Eng masih tetap berlutut tidak bergerak, mendadak dari sakunya mengeluarkan
satu pisau pendek, sembari acungkan pisau ini di atas dada sendiri, ia berkata dengan suara
terharu, "Tan Eng tahu dosa sendiri yang terlalu besar hingga tidak dapat ampunan dari Hu
Pangcu. Hanya Tan Eng ada mempunyai seorang murid si botak ini rasanya masih boleh dididik.
Kalau Hu Pangcu masih mengingat sedikit pahala Tan Eng di masa yang lampau dan sudi
mendidik muridku ini, roh Tan Eng di alam baka tidak nanti melupakan budi yang besar ini."
Sampai di sini, si pengemis itu tidak berlagak lagi. Tiba-tiba ia keluarkan bentakan keras,
rambutnya yang putih pada berdiri, sehingga kelihatan wajah yang merah segar seperti anak bayi.
Matanya memancarkan sinar yang tajam.
Kim Houw terperanjat, ia tidak nyana bahwa pengemis tua itu ilmunya demikian tinggi, benarbenar
sukar dipercaya.
Jika dirinya tidak kesalahan makan buah batu yang merupakan barang wasiat dalam kalangan
rimba persilatan, untuk mendapatkan kepandaian ilmu seperti si pengemis tua itu, entah harus
makan berapa puluh tahun latihan baru dapat dicapai.
Pengemis tua itu setelah keluarkan bentakan, lama sekali baru berkata, "Hm! Hm.. kau
ternyata masih mengenali aku. Lantaran kau, melihat aku tidak lantas berusaha kabur, maka
kuberikan kau mati dalam keadaan utuh...!"
Kata-kata pengemis tua itu sangat dingin bengis tapi berwibawa, sampai Kim Houw yang
mendengarnya juga merasa kagum.
Si pengemis belum lagi sempat melanjutkan perkataannya, Kie Yong Yong mendadak menarik
tangan Kim Houw, "Hai! Maukah kau menolong dia? Paman Tan ada seorang baik!" demikian
katanya.
"Ini adalah urusan dalam partai mereka sendiri. Orang luar tidak boleh campur tangan
sembarangan. Apa lagi atas kemauan sendiri!" jawab Kim Houw sambil kerutkan alisnya.
"Tapi mengapa kau mau tolong aku? Aku juga orangnya Ceng-hong-kauw yang tersangkut
urusan dalam partai!" kata pula si nona sambil monyongkan mulutnya.
"Toh kau sendiri yang minta! Apa aku...!" Kim Houw terkejut.
Saat itu, si pengemis sedang membentak, "Semua urusan sudah diselesaikan atau belum?
Pergilah!"

Tan Eng masih bisa unjukkan senyumannya, lalu letakkan pisaunya. Lebih dulu ia manggutmanggut
tiga kali kepada si pengemis, kemudian mengawasi si botak yang berlutut di sampingnya.
Lalu mengambil pisaunya lagi. Pada saat itu nona Kie sudah berteriak memanggil-manggil
padanya, "Paman Tan...!"
Tapi Tan Eng tidak menggubris, ia angkat tangan kanannya, pisaunya ditujukan kepadanya,
siap untuk segera ditubleskan.
Mendadak si botak menubruk gurunya, kedua tangannya memeluk lengan suhunya. Mulutnya
memanggil dengan suara pilu, "Suhu... suhu..."
Tan Eng kibaskan lengannya, air matanya mengalir deras. Tapi ia masih tidak urungkan
niatnya, dengan satu tangan ia mendorong si botak sehingga terpental jauh sedang pisau di
tangannya masih tetap ditujukan kepada dadanya.
Dalam keadaan begitu kritis, tiba-tiba sebuah benda kuning menyamber dengan cepat lalu
disusul dengan suara "trang", pisau Tan Eng terpental jatuh jauh sekali, tapi lengan Tan Eng
sendiri terbentur oleh benda kuning itu sampai jatuh bergulingan.
Pisau kecil meski sudah jatuh di tanah tapi ujungnya sudah mengenakan sedikit dada Tan
Eng, maka dari luka itu lantas mengeluarkan darah.
Tan Eng sama sekali tidak perdulikan luka di dadanya, ia cepat merayap bangun. Dengan
kedua tangannya ia menjemput sepatu butut yang barusan memukul lengannya sehingga terguling
dengan sikap yang hormat sekali ia menghampiri si pengemis tua, ketika berada di depannya ia
lalu letakkan sepatu itu di tanah.
Tiba-tiba si pengemis tua itu berkata, "Hukuman mati boleh dibebaskan, tapi hukuman hidup
tidak. Di pucuk gunung Thai-san, kau harus bertapa menghadap tembok sepuluh tahun lamanya,
kemudian pergi ke gunung Biauw-san untuk mencari bahan obat-obatan. Kalau kau berlaku salah
sudah tidak dapat ampunan lagi! Lekas bangun, mengucapkan terima kasih kepada tuan
penolongmu."
Tan Eng bingung, kepada siapa ia harus mengucapkan terima kasihnya? Ia ingat barusan
nona Kie memanggil kepadanya dua kali, mungkin karena itu ia terhindar dari kematian. Maka ia
lantas menyatakan terima kasihnya kepada nona Kie! Tidak nyana nona Kie lantas ketawa geli
dan menyingkir ke belakang Kim Houw.
Tan Eng segera ingat bahwa suara "trang" tadi dengan sepatu butut adalah dua soal, maka
seketika itu lantas insyaf bahwa orang yang benar-benar telah menolong jiwanya adalah Kim
Houw. Ia pun segera mengucapkan terima kasih kepada anak muda itu.
Kim Houw sudah kata tidak akan turut campur tangan, tapi mengapa ia turun tangan juga? Ada
sebabnya. Mata Kim Houw terus mengawasi segala gerak-gerik si pengemis. Ketika menyaksikan
kegagahannya Tan Eng yang anggap kematian bukan soal apa-apa, si pengemis tua itu ruparupanya
mulai lemas hatinya. Biar bagaimana Tan Eng pernah menjadi salah satu tokoh terkenal
dalam golongan Sepatu Rumput, yang pada beberapa puluh tahun berselang namanya pernah
menggetarkan dunia rimba persilatan. Cuma lantaran peraturan-peraturan yang terlalu keras
dalam partai tersebut serta tidak sembarangan menerima anggota, pada beberapa tahun
belakangan ini tidak nampak kemajuan dan sudah tersusul terkenalnya oleh partai Ceng-hongkauw.
Itu kejadian pada sepuluh tahun berselang, si gemuk Tan Eng melanggar suatu perkara kecil
saja dan apa mau perkara itu menjadi suatu kesalahan paham yang sangat hebat, hingga
menimbulkan insiden dan dengan salah satu tokoh kuat dari partai lain. Dalam gusarnya Tan Eng
lantas sembunyikan dirinya, sepuluh tahun lebih tidak pernah unjukan muka di dunia Kangouw.

Perbuatan Tan Eng itu, serupa dosanya dengan melarikan diri dari partainya, maka hanya
dalam setahun ia merasa menyesal atas perbuatannya cuma menuruti panasnya hati. Tengah ia
hendak kembali kepada partainya untuk menebus dosanya, ia telah menemukan seorang anak
yang terlunta-lunta, anak itu adalah si botak.
Mungkin karena sudah berjodoh, begitu melihat si botak, Tan Eng lantas saja merasa kasihan
dan tidak bisa berpisah begitu saja. Maka akhirnya ia bawa bocah itu menetap di tepi danau Pekcui-
ouw.
Tidak dinyana, sepuluh tahun kemudian pengemis tua itu dapat menemukan dirinya di danau
itu!
Pengemis tua itu adalah wakil ketua partai Sepatu Rumput. Anggotanya banyak terdiri dari
macam-macam golongan manusia tersebar luas di kalangan Kangouw. Ketuanya adalah si Sepatu
Dewa Cu Su.
Cu Su suka mengembara, hingga tidak ketentuan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, maka
segala pekerjaan dalam partai, semua telah jatuh di pundaknya wakil ketua, ialah si Sepatu Sakti
Tok Kai (pengemis beracun). Nama ini didapatkan karena sepasang sepatu di kakinya di kala
menghadapi musuh bisa digunakan sebagai senjata yang berterbangan mengarah sasarannya,
seperti juga ada dewa yang membantu. Kedua, sejak masih kanak-kanak ia sudah menjadi
pengemis. Di masa kanak-kanak dengan tidak sengaja ia telah makan buah Tok-liong-tho,
semacam buah ajaib yang bisa memunahkan dan kebal segala racun, maka perutnya baik
badannya tidak takut segala racun, hingga akhirnya mendapat gelar Sin-hoi-tok-kai yang berarti
pengemis beracun dengan sepatu saktinya.
Tok Kai yang timbul rasa kasihannya terhadap Tan Eng, sepatu di kakinya lantas terbang, tapi
ketika sepatunya terlepas dari kakinya ternyata sudah agak terlambat. Sedangkan Kim Houw yang
sejak tadi diam-diam memperhatikan si pengemis tua itu, ketika mengetahui si pengemis hendak
memberi pertolongan, segera mengambil senjata rahasianya Tok-kiat-cu dan segera mendahului
gerakan si pengemis, senjatanya membentur pisau kecil di tangan Tan Eng pada waktunya yang
sangat tepat.
Si botak sudah membawa obat luka diberikan kepada gurunya.
Pengemis beracun itu lantas menghampiri Kim Houw, kepada ia menanya, "Bocah, siapa
gurumu?"
Kim Houw merasakan bahwa perkataan si pengemis itu masih agak kasar, ia sebetulnya ingin
tidak menjawab. Untuk menghormati sikapnya barusan yang telah turun tangan merebut jiwa Tan
Eng dari bahaya maut, terpaksa ia menjawab, "Suhuku sudah lama wafat, sebagai murid ada
pantangan menyebut nama gurunya secara sembarangan. Maka harap dimaafkan kalau aku tidak
bisa memberitahukan nama Suhu!"
Tok Kai gusar, dengan cepat ulur tangannya menjambret Kim Houw.
"Apa? Sudah wafat? Kau ada Tiong Ciu Khek punya...," katanya sengit.
Kim Houw adalah seorang yang mempunyai kepandaian luar biasa, bagaimana ia bisa
disergap begitu mudah oleh si pengemis? Ia hanya menggeser sedikit, orangnya sudah melesat
jauh. Meski bisa loloskan diri, namun dalam hati merasa mendongkol. "Suhu sudah wafat ada
hubungannya apa dengan kau? Siapa adanya Tiong Ciu Khek? Aku sendiripun tidak tahu,"
katanya.

Si pengemis beracun ini sudah tahu kalau anak muda di depannya itu adalah seorang luar
biasa. Tadi karena dalam keadaan cemas, ia sudah lupakan dirinya sendiri sehingga menjambret
secara sembarangan, sudah tentu tidak berhasil. Namun, setelah mendengar jawaban Kim Houw,
ia sendiri juga melongo.
"Tiong Ciu Khek kau tidak tahu? Kalau begitu darimana kau dapatkan itu pedang Ngo-hengkiam?"
kata si pengemis setelah berpikir.
Kini Kim Houw baru mengerti duduk perkaranya. Kiranya adalah itu pedang pendek yang
menjadi gara-gara.
"Tentang pedang Ngo-heng-kiam ini, sudah tentu ada asal usulnya, aku hanya tidak mengerti,
ada hubungan apa sebetulnya Locianpwe dengan pedang ini? Kawan? Atau lawan...?"
"Anak busuk, urusan yang aku si pengemis beracun tanyakan, kau masih berani tawar
menawar, hari ini kalau kau tidak diberi hajaran, kau benar-benar tidak kenal tingginya langit dan
tebalnya bumi!" si pengemis membentak dengan sengit, lalu dorongkan tangannya menyerang
Kim Houw.
Kim Houw belum kenal siapa adanya pengemis bobrokan itu, tapi selama satu bagian, ia telah
dihadapkan dengan rupa-rupa kejadian yang ganjil, setelah bentrokan dengan orang-orang Cenghong-
kauw, kini ia tidak mau tanam bibit permusuhan dengan pengemis itu lagi.
Maka, Kim Houw menantikan setelah serangan si pengemis itu sudah hampir mengena
dadanya, ia baru keluarkan ilmunya mengentengi tubuh seolah-olah daun kering, maka ketika
terdorong oleh serangan anginnya si pengemis tua siang-siang sudah melesat melalui lubang
jendela, kira-kira sejauh delapan tumbak baru ia menginjak tanah. Kembali ia gerakkan badannya
sebentar saja sudah menghilang. Hanya suaranya saja masih kedengaran.
"Pedang Ngo-heng-kiam ada barang pemberian dari salah satu sahabat, yang kini berada di
Ceng kee-cee di Sicuan. Sin-hoi Tok-kai kalau kau mempunyai nyali, kau boleh susul aku. Asal
sudah sampai di Ceng kee-cee, kau nanti mengerti sendiri..."
Tidak menunggu sampai habis, Tok Kai sudah menjambret dirinya si botak, dengan cepat
mengejar Kim Houw setelah memesan Tan Eng. "Tan Eng, kau harus taati perintahku, kalau kau
berani melanggar, akibatnya kau akan rasakan sendiri! Si botak mengikuti aku, sudah tentu aku
atau sendiri, tidak usah kau kuatirkan!"
Dengan berlalunya Kim Houw dan Tok Kai, Kie Yong Yong merasa cemas. Ia segera bersuit,
sebentar kuda hitamnya sudah lari keluar dari belakang.
Nona Kie lantas cemplak dan kaburkan kudanya untuk menyusul mereka.
* * *
Selat Bu hiap merupakan selat yang paling berbahaya di sungai Tiang-kang. Di situ ada
terdapat gunung Bu-san dengan dua belas puncaknya yang berdiri berderet-deret.
Hari ini di puncak Sin-lie-hong, salah satu dari dua belas puncak gunung Cu-san, ada
kedatangan seekor kuda tinggi besar berwarna hitam. Di atas kuda itu duduk seorang nona yang
wajahnya cantik menarik, namun nampak muram.

Hari itu sudah lewat tengah hari, si nona nampaknya sudah sangat letih, begitu pula kuda
tunggangannya, nyata ia habis melalui perjalanan amat jauh.
Nona itu adalah nona Kie Yong Yong. Kala itu ia sedang melakukan perjalanan ke barat.
Sudah tentu maksudnya ialah mengejar Kim Houw.
Tapi, berhari-hari ia tanpa mengaso, ternyata tidak melihat bayangan Kim Houw, sekalipun si
pengemis tua itu, ia juga tidak dapat diketemukan.
Kuda hitam itu mendadak berhenti, Kie Yong Yong mendongak, di atas bukit kira-kira tegap
wajah mereka memperlihatkan ketawanya yang aneh!
"Seekor kuda yang bagus sekali! Aku Ma Lao Liok mau kudanya!" tiba-tiba seorang berwajah
hitam yang berdiri di kiri berkata.
"Hah! Satu nona yang cantik sekali. Aku Ong Lao Cit mau orangnya!" kata orang berwajah
putih bersih yang berdiri di kanan.
"Kudanya bagus, orangnya juga cantik. Aku Ouw Lao Pat mau semuanya!"
Tiga laki-laki itu pada ngoceh semua semaunya, mereka anggap seolah-olah si nona sebagai
barang rebutan. Kie Yong Yong yang mendengarkan sejak tadi amarahnya lantas meluap. Ia
majukan kudanya, dengan tidak banyak rewel lalu ayun pecutnya menyambuk ketiga laki-laki
ceriwis itu, hingga sebentar saja mereka masing-masing telah peroleh tanda di mukanya bekas
cambuk jalan-jalan, dari situ darah mengalir keluar tiada hentinya.
Ketiga laki-laki itu dalam gugupnya masih belum mengetahui dari mana datangnya pecut.
Setelah terluka baru tahu kalau itu adalah perbuatannya si nona. Dalam kaget dan gusarnya,
mereka lantas pada mencabut golok masing-masing untuk membabat kaki kuda dan orangnya.
Tapi, mereka tidak nyana kalau hari itu telah bertemu dengan si iblis cantik Kie Yong Yong,
yang terkenal gagah, kejam dan ganas. Sudah tentu mereka tidak berdaya sama sekali. Ketika
golok mereka baru saja hendak membabat, sudah disambar dengan cepat oleh pecut, bukan saja
goloknya lantas terlepas, tangannya juga lantas kesemutan.
Menyusul mana, "tar, tar," berbunyi tak hentinya, seolah-olah bunyi petasan, dan setiap kali si
nona menyambuk, pasti melukai tiga orang dengan berbareng.
Hari itu Kie Yong Yong menunjukkan tingkah lakunya yang luar biasa. Kalau pada waktu
biasanya menghadapi manusia yang demikian ceriwis, dengan tanpa ampun lagi satu persatu
ditabas batang lehernya.
Tapi hari itu ia tidak berbuat demikian. Seolah-olah lakunya orang mendendam sakit hati, ia
menggunakan tiga orang itu sebagai sasaran untuk melampiaskan sakit hatinya. Dengan duduk di
atas kudanya, ia mencambuk dengan pecutnya berulang-ulang, sampai ketiga laki-laki itu
wajahnya berlumuran darah dan badannya bergulingan di tanah. Tapi si iblis cantik masih belum
puas kelihatannya.
Tiba-tiba di belakangnya terdengar suara orang berkata sambil tertawa terbahak-bahak,
"Bagus, bagus, bagus sekali cukup buas, cukup ganas! Itu baru pantas menjadi hujin nyonya
kepala berandalku!"
Berbareng dengan itu, dari rimba sebelah kiri telah muncul sepuluh laki-laki tegap, mereka lalu
mengurung Kie Yong Yong dengan golok dan pedang terhunus, seolah-olah sedang menghadapi
musuh tangguh.

Kemudian dari dalam rimba kembali muncul tiga orang laki-laki. Di tengah-tengah ada seorang
yang berusia kira-kira tiga puluh tahun dan mempunyai potongan badan kekar gagah dan
wajahnya tampan. Di sebelah kanan kirinya diiringi oleh dua orang tua pendek kate.
Kie Yong Yong menyaksikan keadaan demikian dalam hati agak keder. Ia sendiri meski tidak
perlu takuti itu semua golok dan pedang, tapi kuda tunggangannya tentu tidak berdaya
mengelakkan itu semua senjata tajam.
Laki-laki tampan itu tiba-tiba berjalan menghampiri nona, dengan laku sangat hormat ia
menjura seraya berkata, "Numpang tanya nama nona yang terhormat, aku yang rendah adalah
Leng In. Oleh sahabat-sahabat rimba persilatan, telah diberi gelar Sin Tiauw. Leng In mempunyai
kediaman yang nyaman di atas puncak gunung Sin-lie-hong ini, sudikah nona turun kuda untuk
beristirahat sebentar di kediaman Leng In?"
Leng In sangat sopan budi bahasanya, dengan kata-katanya yang duluan tertawa terbahakbahak
seperti ada dua orang!
Kie Yong Yong menampak Leng In menghampiri dalam hati diam-diam sudah merasa girang
karena menangkap berandal harus menangkap kepalanya. Asal Sin tiauw Leng In tertangkap,
betapapun ganas anak buahnya tidak usah ditakuti lagi.
Ketika menampak Leng In menanya dengan sopan, ia lantas anggap itu ada kesempatan
paling baik untuk membekuk padanya. Maka ia lantas buru-buru turun dari kudanya, lebih dulu ia
tersenyum kepadanya Leng In, kemudian baru menjawab, "Siauw moay, Kie Yong Yong! Orangorang
pada menamakan iblis cantik..."
Lega dan senyuman telah membikin lemas Leng In, maka belum semua habis ucapan Kie
Yong Yong, Leng In memotong, "Ouw...! Kiranya nona adalah yang mendapat gelar iblis cantik
dan yang namanya menggetarkan daerah Inhui? Aku Leng In sudah lama sangat mengagumi..."
Melihat orang she Leng itu terus bicara sambil bungkukkan badannya, nona Kie anggap inilah
kesempatan paling baik, maka ia lantas bertindak dengan jari tangannya ia menotok jalan darah
Kian-kie-hiat Leng In.
Di luar dugaannya, sebelum jarinya mengenai sasarannya, Leng In sudah egoskan badannya
dengan gesit. Sembari ketawa terbahak-bahak ia lompat mundur satu tombak lebih. Kegesitannya
orang she Leng itu benar-benar mengejutkan si nona.
"Iblis cantik, percuma saja semua usahamu! Lebih baik ikut aku naik gunung jadi isteriku, ada
jauh lebih baik daripada keluyuran. Malah aku jamin kau akan menikmati hidup bahagia," kata
Leng In.
Kie Yong Yong tahu, dengan gagalnya gerakannya tadi, sudah tidak ada gunanya untuk bicara
banyak-banyak. Sekarang ia ingin coba kepandaiannya ilmu silat, untuk menundukkan padanya
mungkin masih bisa terlolos dari situ. Maka tanpa banyak bicara lagi, ia lantas menghunus
pedangnya dan berkata, "Leng Cecu, kalau kau bisa menangkan pedang di tangan nonamu, baru
kita boleh berunding lagi, kalau tidak, seumur hidupmu ini jangan kau pikirkan yang bukan-bukan
lagi!"
"Apa susahnya? Dalam sepuluh jurus kalau aku tidak dapat paksa nona lepaskan pedang di
tanganmu, aku Leng In dengan lantas bebaskan nona untuk berlalu dari sini!" jawab Leng In
sambil ketawa terbahak-bahak.

Baru saja Leng In menutup mulutnya, tiba-tiba terdengar suara orang berjalan kaki naik ke
puncak gunung. Suara tindakan kaki itu membuat Leng In sangat kaget, sebaliknya Kie Yong Yong
lantas berseru dengan girang, "Kongkong pengemis, kongkong pengemis! Ayo kemari!"
Kie Yong Yong tadi mengira si pengemis itu Tok Kai yang datang, karena jika benar ia, meski
baru saja sekali bertemu muka, ia masih percaya si pengemis tua itu masih mau turun tangan
memberi bantuan padanya. Siapa nyana pengemis yang baru datang itu ternyata bukan Tok Kai,
sebaliknya ada seorang bertubuh tinggi, hingga hatinya merasa kecewa!
Saat itu si pengemis sudah datang dekat. Ia seperti buta matanya, hingga tidak melihat
kawanan berandalan itu pada berdiri berbaris dengan senjata terhunus, malah memaksa masuk ke
dalam kalangan.
"Pengemis busuk, kau mau cari mampus!" seorang berandalan tiba-tiba berseru, sambil ayun
goloknya menyerang bengis.
Si pengemis berteriak-teriak sembari mendekap kepalanya dengan kedua tangan, langkah
kakinya sempoyongan agaknya seperti orang ketakutan, tapi dengan cepat telah menghindarkan
serangan golok berandal tadi, entah dengan jalan bagaimana tahu-tahu sudah berada di tengahtengah
kalangan.
Itu suara teriak, itu gerak-gerik waktu menghindarkan serangannya kawanan berandalan dan
itu gerak kakinya yang sempoyongan, Kie Yong Yong agaknya sudah pernah dengar dan lihat, tapi
entah di mana, dalam otaknya saat itu belum dapat ingat siapa orangnya.
Leng In yang menyaksikan semua itu, wajahnya lantas berobah seketika, sambil ketawa dingin
ia menegur, "Orang pandai dari mana yang telah mengunjungi kediaman kami? Maafkan Leng In
terlambat menyambut, harap supaya suka menunjukkan wajahmu yang asli!"
Pengemis itu jalan pincang-pincang, menghampiri sampai suatu jarak tidak jauh dari Kie Yong
Yong dan Leng In. Kelakuannya macam orang yang matanya rusak. Setiap orang ia pandang
sekian lamanya, seolah-olah tidak dengar pertanyaan Leng In.
Akhirnya mana si pengemis itu memandang Kie Yong Yong. Kali ini ia mengawasi lebih lama
dari kepala sampai ke kaki, kembali dari kaki balik ke kepala.
Karena pengemis itu tidak menggubris pertanyaannya, Leng In merasa tidak senang.
Ditambah lagi dengan tingkah lakunya si pengemis yang ceriwis, membikin Leng In tidak tahan
lebih lama.
"Manusia keparat, apakah kau sengaja hendak mencari setori? Aku Sin-tiauw Leng In, apa kau
kira boleh kau permainkan begitu saja? Mari, mari! Kita coba hari ini aku juga akan gempur kau!"
bentaknya sengit.
Tidak nyana, pengemis itu seolah-olah tuli, sedikitpun tidak mengunjuk reaksi apa-apa atas
bentaknya Leng In, matanya masih tetap mengawasi nona Kie seperti lakunya orang yang baru
kenal wajah perempuan.
Kalau biasanya Kie Yong Yong yang diperlakukan demikian, ia pasti sudah naik darah. Tapi
hari ini, meski perlakuan pengemis itu agak melewati batas kesopanan, tapi karena si pengemis itu
dapat membikin Leng In gusar, ia anggap mungkin sebentar ia bisa membebaskan dirinya dari
kesulitan. Maka, bukan saja tidak marah malah ia tunjukkan ketawanya serta sikapnya yang
memikat hati, membiarkan dirinya dipandang sepuas-puasnya oleh si pengemis. Namun dalam
hati tengah mencari akal bagaimana supaya ia bisa meloloskan diri dari situ.

Si pengemis itu lagaknya semakin ceriwis. Rupanya sudah tergiur benar-benar, tangannya
menggaruk-garuk kepalanya hingga rambutnya semakin awut-awutan.
Leng In yang sudah panas hatinya, sembari keluarkan bentakan keras ia melesat ke atas,
seolah-olah burung rajawali yang hendak menerkam mangsanya, ia menyerang si pengemis yang
dianggapnya amat kurang ajar itu.
Sin-tiauw Leng In di waktu masih kanak-kanak mendapat didikan dari seseorang aneh, setelah
dewasa telah mewarisi kepandaiannya ilmu silat yang luar biasa terutama ilmu silat sembilan jurus
gerakan burung garuda yang paling hebat. Namanya sudah menggetarkan dunia Kangouw, oleh
karena ilmu silatnya gerakan garuda itu, maka ia dapat gelaran Sin-tiauw atau garuda sakti.
Biasanya kalau tidak menemukan lawan yang terlalu tinggi kepandaiannya, ia tidak menggunakan
ilmu silatnya yang ampuh itu. Sebabnya ialah ilmu silat tersebut terlalu ganas, begitu gerak pasti
melukai orang.
Tapi hari itu, begitu bergerak ia lantas menggunakan tipu serangannya yang paling ganas itu.
Gerak pembukaan yang dilakukan secara melesat terbang dan kemudian turun menerkam, ada
merupakan serangan yang paling berbahaya dari serangan lain-lainnya. Asal sudah turun
menerkam, dalam jarak sekitar delapan tumbak persegi, jangan harap lawannya bisa terlolos dari
serangannya.
Di luar dugaan si pengemis itu seolah-olah tidak tahu bahaya, hingga nona Kie sendiri yang
menyaksikan dari samping, hatinya berdebar-debar. Ia sangsi apakah pengemis itu memang
berlagak gila atau benar-benar tidak mengerti ilmu silat?
Tengah nona Kie itu masih bersangsi, serangan tangan Leng In sudah mengancam batok
kepala si pengemis.
Pengemis aneh itu seperti dikejutkan oleh apa-apa, kembali berteriak-teriak sembari
mendekap kepalanya dengan kedua tangannya. Tapi kali ini ia tidak sempoyongan lagi, ia seolaholah
tersambar angin dari serangannya tangan Leng In, yang lantas jatuh terpelanting ke tanah.
Setelah si pengemis rubuh, Leng In tidak mengejar, sebaliknya melesat mumbul lagi ke atas
dan untuk kedua kalinya ia menerkam si pengemis yang menggeletak di tanah.
Kie Yong Yong yang belum muncul lama di dunia Kangouw, maka ia tidak dikenal namanya si
Garuda sakti, lebih tidak tahu lagi serangannya yang berbahaya itu. Ketika menyaksikan si
pengemis jatuh terluka, dalam hati merasa tidak tega. Kini ketika mengetahui Leng In masih
hendak melakukan serangan lagi, kalau dibiarkan saja si pengemis itu pasti akan binasa.
Dalam gugupnya, ia tidak memikir atau mengukur kekuatannya sendiri lagi, dengan tiba-tiba ia
angkat pedangnya, sambil menerjang iapun membentak, "Lihat pedang..."
Tapi pedang belum mengenakan sasarannya, tangannya sudah dirasakan kesemutan, dan
pedangnya terbang di udara, sedang di belakang gegernya terkena tendangan kaki yang hebat,
seketika itu kepalanya lantas dirasakan berputaran, matanya gelap, mulutnya menyemburkan
darah segar.
Tapi, dalam keadaan setengah sadar, ia seperti melihat ketika dirinya tengah kena tendangan
dan akan rubuh, si pengemis itu seolah-olah seekor binatang kalong raksasa, dari tanah terbang
mendorong dirinya sehingga ia terpental tinggi ke udara, kemudian disambar oleh tangan yang
kuat dan turun persis pada pelana kuda tunggangannya si nona. Sekali kedut lesnya, kuda itu
segera angkat kaki kabur.
Kawanan begal lalu menggunakan panah menyerang hingga anak panah terbang
berhamburan seperti air hujan, si pengemis dengan obat-abitkan karung ke bawah dan ke atas,

berhasil melindungi dirinya dan si nona serta kuda tunggangannya. Sekejap saja ia berhasil sudah
menerobos keluar dari kepungan.
Kuda hitam itu memang kuda jempolan, meski badannya masih letih, tapi dalam keadaan
hendak menolong jiwa majikannya ia dapat lari lebih kencang dari biasanya.
Tapi jalanan gunung tidak rata, si iblis cantik yang dikocok keras di atas kuda, kemudian lantas
tidak ingat orang.
Entah berapa lama telah berlalu, Kie Yong Yong dalam keadaan pingsan tiba-tiba merasakan
barang dingin masuk ke tenggorokannya. Kapan ia membuka matanya lantas mengetahui bahwa
dirinya dalam pelukan si pengemis. Melihat badan dan pakaian yang kotor, hati si nona merasa
malu.
Tapi, bagaimanapun orang yang di luarnya sangat jorok itu adalah tuan penolongnya. Meski
pada waktu baru bertemu kelakuannya amat ceriwis, seperti lakunya buaya perempuan, namun
kini nyata tidak demikian. Tangan yang memondong dirinya, seolah-olah takut menyentuh terlalu
kencang, hingga hati si nona mulai sedikit lega.
Tapi baru saja mulai tenang, tiba-tiba tangan si pengemis yang kotor itu telah meraba
dadanya, dalam kagetnya hampir saja si nona pingsan lagi.
Siapa nyana, tangan itu baru saja menempel di dadanya, lantas merasakan ada hawa hangat
mengalir melalui tangan itu terus ke dalam dadanya dan rasa nyeri di dalam dada perlahan-lahan
mulai lenyap!
Setengah jam kemudian, rasa sakitnya sudah lenyap sama sekali. Saat itu, hawa hangat
dalam tangan tiba-tiba berobah menjadi dingin. Kie Yong Yong merasa kedinginan sebentar, tapi
kemudian lantas dirasakan segar.
Kie Yong Yong girang, dalam hatinya berpikir, pengemis ini meski miskin tapi kepandaiannya
tidak dapat diukur betapa tingginya. Oleh karena rambutnya menutupi wajahnya, ia tidak dapat
melihat bagaimana macamnya orang miskin yang aneh itu.
Ketarik oleh perasaan ingin tahu, ia lalu tidak perdulikan keadaan dirinya yang baru saja pulih
kesehatannya, dengan menggunakan seluruh kekuatannya yang ada, ia meniup rambut si
pengemis.
Perbuatan itu adalah di luar dugaan si pengemis, maka seketika itu juga lantas dikenali wajah
aslinya.
"... Kiranya kau....!" Teriak Kie Yong Yong dengan penuh kegirangan setelah mengenali siapa
adanya tuan penolongnya itu.
Dan seketika itu juga lantas jatuhkan dirinya ke dalam pelukan si pengemis, tangannya
memeluk kencang pinggang, seolah-olah kuatir kalau-kalau tuan penolongnya itu akan
meninggalkan dirinya.
Kini ia tidak merasa jijik lagi terhadap badan dan pakaiannya yang kotor, seluruh wajahnya
disesapkan dalam dada si pengemis dengan sikapnya yang sangat aleman.
Siapa sebetulnya si pengemis itu? Dia bukan lain adalah Kim Houw yang menyaru.

Mengapa Kim Houw menyaru sebagai pengemis? Apa sebabnya?
Sejak meninggalkan kedai nasi di tepi danau Pek-kui-pouw Kim Houw lalu kerahkan ilmu
mengentengi tubuh kabur ke barat.
Ia tahu bahwa si pengemis tua Tok Kai, pasti akan menyusul ke Ceng-kee-cee, maka ia terus
kabur tanpa mengaso, sesudah berjalan kira-kira ratusan lie, ia baru kendorkan kakinya.
Selama beberapa hari itu, Kim Houw tidak menemukan Kim Lo Han, juga tidak lihat si
pengemis tua ada mengejar padanya, begitu pula bayangan Siao Pek Sin.
Tapi ada satu soal yang membuat Kim Houw sakit kepala. Itu adalah pada setiap pintu kota,
selalu menemukan gambarnya sendiri yang dipancang tinggi dengan diberi keterangan
kedosaannya serta hadiah yang akan diberikan bagi siapa yang bisa membekuk padanya.
Kim Houw tidak mengerti duduk perkara, tapi setelah mencari keterangan ia segera mengerti.
Kembali itu adalah perbuatan Siao Pek Sin yang hendak mencelakakan dirinya.
Sebab Siao Pek Sin mengetahui bahwa Kim Houw pasti mengejar di belakangnya, maka
setiap tiba di satu kota, pasti mengganggu wanita-wanita muda, setelah dicemarkan
kehormatannya, wanita-wanita itu lantas dibunuh mati. Dan sesudah melakukan perbuatan
durhaka itu, ia sengaja tinggalkan namanya Kim Houw di atas tembok kamar.
Kim Houw tahu, bahwa Siao Pek Sin berbuat demikian maksudnya ialah supaya
membangkitkan marahnya rakyat serta orang-orang gagah di rimba persilatan terhadap dirinya,
supaya ia tidak bisa tancap kaki di dunia Kangouw.
Sudah dua kali Kim Houw hampir tertangkap oleh polisi, hanya berkat kepandaiannya ia bisa
meloloskan diri dari cengkeramannya polisi. Walaupun bagaimana ia susah untuk membantah,
karena wajahnya memang mirip benar dengan Siao Pek Sin.
Di bawah keadaan demikian, terpaksa Kim Houw menyaru. Oleh karena belum mempunyai
pengalaman menyaru, ia hanya ingat dirinya Tok Kai, maka selanjutnya lantas menyaru sebagai
pengemis.
Setelah wajahnya berobah, benar saja tidak mengalami kesulitan lagi. Apa lagi, karena hampir
seluruh wajahnya tertutup rambut, siapapun tidak dapat mengenali. Ia pikir dengan keadaan
demikian ada lebih mudah memasuki Ceng-kee-cee.
Hari itu, ia kebetulan berada di puncak gunung Sin-lie-hong untuk menangkap binatang guna
tangsal perut, tiba-tiba dengar suara jeritan-jeritan keras, itu adalah suaranya ketiga kawanan
berandal yang dicambuki oleh Kie Yong Yong.
Ketika ia memburu ke tempat kejadian, ternyata keadaannya sudah lain. Kini ia telah
menyaksikan nona Kie yang sedang terkurung oleh kawanan penjahat.
Begitu lihat dirinya si nona, hati Kim Houw tercekat. Ia tidak pulang? Dan mengapa dia berada
di sini? Tanyanya pada diri sendiri.
Tapi ketika ia lihat Leng In dengan banyak anak buahnya mengurung seorang wanita, hatinya
panas, maka dalam keadaan yang sangat kritis, ia lantas unjukkan diri dengan lagaknya seperti
orang gila.

Ia sebetulnya hendak permainkan dirinya Leng In, kemudian diberi peringatan keras. Tidak
nyana nona Kie berani turun tangan memberi bantuan, sehingga akhirnya membikin luka diri
sendiri.
Kini, setelah dirinya dikenali nona Kie, ia tidak bisa singkirkan dirinya lagi. Tapi sikap yang
menggairahkan dari si nona, membuat ia merasa ripuh.
"Nona Kie! Kau... kau..." demikian yang ia hanya mampu katakan.
"Aku tidak mau kau banyak bicara... eh, mengapa kau tahu kalau aku she Kie?" katanya Kie
Yong Yong yang lantas mengawasi wajahnya Kim Houw.
Kim Houw merasa jengah, "Paman Tan memberitahukan padaku!"
Kie Yong Yong ketawa manis, "Apa paman Tan juga memberitahukan bahwa aku ini
mempunyai gelar si iblis cantik?... ia pasti juga beritahukan padamu, bahwa namaku adalah Yong
Yong, betul tidak? Mengapa kau tidak panggil namaku Yong Yong saja? Tidak... tidak benar,
nampaknya aku lebih tua daripadamu, kau harus panggil aku enci Yong...! Benar! Kau panggil enci
Yong saja padaku, panggillah, mengapa tidak mau?"
Suaranya Kie Yong Yong itu ada begitu empuk merdu, sikapnya masih kekanak-kanakan.
Sebentar saja sikap kikuk dan malu lantas lenyap, pada saat itu Kim Houw juga lantas timbul
pikirannya yang seperti kanak-kanak.
"Tidak! Aku lebih tua dari kau, aku cuma mau panggil kau adik dan kau harus panggil aku
engko!"
"Tidak! Aku lebih tua darimu, aku lebih tua, tahun ini usiaku delapan belas tahun empat bulan
sepuluh hari, aku pasti lebih tua dari kau!"
Kim Houw sebetulnya belum berusia, oleh karena ia kepingin menjadi engko, terpaksa
membual, "Tahun ini aku masuk usia delapan belas enam bulan, cuma kurang dua hari saja, aku
seharusnya menjadi engkomu!" demikian katanya.
Nona Kie cekikikan. "Aaaa! Kau nakal! Kau tertipu olehku. Baiklah kau menjadi engkoku! Hei!
Aku..."
Kim Houw pura-pura gusar, "Terhadap engko bagaimana hei, hei! Apa artinya itu?"
Kie Yong Yong merasa jengah, kembali kepalanya disesapkan dalam dada Kim Houw. "Aku
tidak perduli! Kau toh tidak memberitahukan namamu!"
"Namaku Kim Houw! Kau harus ingat baik-baik."
"Engko Houw...!" Agaknya merasa jengah, kepalanya ditundukkan. Telinganya mendengar
suara Kim Houw yang memanggil padanya, "Adik Yong!" suara itu enak sekali didengarnya, begitu
manis, begitu meresap, hingga seketika itu hatinya merasa sangat gembira.
"Engko Houw, kau jalan begitu jauh, apa perlunya kau hendak pergi ke Ceng-kee-cee?" si
nona menanya.
Kim Houw sebetulnya hanya ketarik oleh sikap dan lagaknya Kie Yong Yong yang seperti
kanak-kanak, hingga menimbulkan rasa sukanya. Ia sendiri yang baru berangkat dewasa, namun

hati kanak-kanaknya masih ada, maka ia bisa bersenda gurau seperti lagaknya anak-anaknya.
Kini setelah mendengar pertanyaan nona Kie, lalu ingat dirinya Peng Peng yang masih berada
dalam kesulitan. Hatinya seketika itu seperti dipagut ular, lama sekali baru bisa menjawab,
"Kepergianku adalah untuk menolong jiwa satu orang...!"
Terkejutnya Kim Houw agaknya sudah dirasakan oleh Kie Yong Yong. Belum sampai Kim
Houw memberikan penjelasannya si nona sudah mendahului menghibur, "Engko Houw, apa
pertanyaanku ada salah? Hatimu nampak berduka!"
Menyaksikan kelakuan Kie Yong Yong, Kim Houw mengerti bahwa nona itu mulai perhatikan
dirinya, maka rasa simpatinya terhadap si nona semakin besar. Dengan tanpa sadar ia lantas
peluk erat-erat dirinya si nona.
"Adik Yong, pertanyaanmu tidak salah, adalah aku sendiri yang tiba-tiba ingat sesuatu hal
yang segera mendukakan hatiku!" demikian kata Kim Houw.
Kie Yong Yong juga memeluk lebih erat dirinya Kim Houw.
"Dahulu adatku keras, juga jahat. Tapi dengan mendadak aku telah menemukan bahwa diriku
banyak berubah, berubah menjadi demikian lemah tidak bertenaga. Aku merasa seolah-olah harus
mempunyai senderan, baru ada keberanian untuk hidup. Dimasa yang lampau, aku merasa bahwa
dalam segala hal aku lebih unggul dari orang lain kupandang rendah di bawah kakiku. Tapi hari ini,
aku telah berubah begitu rupa aku meragukan kekuatanku, aku menyangsikan diriku sendiri. Aku
merasa aku demikian kecil dan patut dikasihani, seolah-olah sebutir pasir yang selalu diinjak-injak
oleh kaki... engko Houw, dapatkah kau memberitahukan padaku, apa sebabnya?"
Dalam soal demikian Kim Houw juga tidak jelas apa sebabnya, lagi siapa suruh menjadi
kakaknya Kie Yong Yong? Sebagai seorang kakak, sudah tentu lebih banyak mengetahui daripada
adiknya, sudah tentu harus mampu menjawab pertanyaan adiknya?
Kim Houw terpaksa putar otak, untuk memikirkan bagaimana harus menjawab pertanyaan
adiknya. Mendadak ia ingat bukunya Kao-ji-kiesu, di dalam ada tertulis suatu perkataan yang
berbunyi "Kosong tidak ada suatu apa-apa", maka ia lantas menjawab, "Baik Yong moay, mungkin
dahulu karena hatimu kosong, sedang..."
Mendadak ia merasa bahwa perkataannya itu ada penyakitnya, serta betapa hebat akibat yang
ditimbulkan oleh perkataan itu, maka ia tidak melanjutkan...
Tidak nyana si nona lantas tepuk tangannya dan berkata dengan suara girang, "Engko Houw
benar! Benar sekali! Aku pun merasa demikian! Kau benar-benar hebat, apa saja kau lebih hebat
dari aku, aku... aku..."
Karena kegirangan si nona agaknya sudah lupa daratan, ia peluk dan ciumi Kim Houw begitu
rupa, sampai Kim Houw kelabakan...
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin, kedua orang itu kaget lantas menengok. Di
belakang pohon besar sejarak kira-kira sepuluh tumbak jauhnya telah muncul seorang Hwesio
yang kepalanya klimis dan badan tegap.
Kim Houw begitu melihat siapa adanya lantas berseru, "Lo Han ya! Lo Han-ya!"
Hwesio itu memang benar adanya Kim Lo-han, tapi ia tidak menyahut panggilan Kim Houw,
sebaliknya membentak dengan ketus, "Siapa ada kau punya Lo Han ya? Aku mengaku dulu
mataku telah buta!"

Kim Houw bukan main kagetnya, ia lalu mendorong tubuhnya Kie Yong Yong ke samping, lalu
tanyanya pula, "Lo Han-ya, kau kenapa?"
Kim Lo Han ketawa bergelak-gelak, tapi tertawanya itu penuh rasa duka.
"Ah-ceng Kim Lo Han, dulu pernah bersumpah akan mengikuti kau seumur hidupnya. Sungguh
tidak nyana bahwa kau adalah manusia yang tidak lebih sebagai manusia berhati binatang dan
gemar paras cantik.
bersambung ke jilid 9
Jilid 09
"Hari ini, Kim Lo Han akan menghadiahkan jiwanya, mudah-mudahan kau anggap aku sebagai
pelajaran hingga suka merubah semua kesalahanmu yang sudah-sudah. Rohnya Kim Lo Han di
alam baka masih bisa tersenyum. Kalau kau masih tetap dengan kelakuanmu yang tidak senonoh
nanti di kalangan rimba persilatan sudah tentu ada ksatria yang akan turun tangan, sudah pasti
tidak dapat mengampuni perbuatanmu...."
Sehabis mengucapkan kata-katanya, Kim Lo Han ayun tangannya hendak memukul batok
sendiri!
Kim Houw sama sekali tidak menduga Kim Lo Han akan berbuat demikian dan sedikitpun tidak
mau memberi kesempatan untuk memberi kesempatan baginya untuk memberi penjelasan.
Keduanya terpisah agak jauh, betapapun gesitnya Kim Houw, terang tidak keburu memberi
pertolongan.
Selagi Kim Houw berada dalam keadaan kaget, tiba-tiba terlihat bayangan kuning meluncur ke
jurusan pelipis Kim Lo Han.
Tangan Kim Lo Han sudah hampir menepok batok kepalanya, sedang bayangan kuning itu
juga hampir berbareng mengenakan pelipisnya.
Hakekatnya Kim Lo Han yang sudah bertekad hendak membunuh diri, tidak seharusnya ambil
pusing hal-hal lainnya. Siapa nyana, tiba-tiba dimiringkan dengan cepat menyambar benda kuning
itu yang hendak menyerang pelipisnya.
Ketika benda itu berada dalam tangannya bau busuk lantas menyambar hidungnya. Kim Lo
Han terkejut, dengan mata terbuka lebar ia mengawasi benda itu, ternyata bukan lain adalah
sepatu rumput yang sudah dekil.
Kim Lo Han setelah melihat itu, sedikitpun tidak merasa takut, sebaliknya malah gunakan lain
tangannya untuk menghitung kupingnya sepatu, "Satu, dua, tiga... empat, lima, enam... tujuh,
delapan, sembilan."
Tiba-tiba Kim Lo Han berseru, "Pengemis onta? Kau masih belum mati?!"
Saat itu terdengar suara orang ketawa terbahak-bahak, dari atas pohon lompat turun
bayangan orang, ternyata mereka adalah Sin hoa Tok-kai atau pengemis beracun sepatu sakti dan
si botak, bekas muridnya Tan Eng.
"Hwesio, kau mencari mati," kata Sin hoa Tok Kai. "Tidak suka ikut dia, ikut aku saja. Aku
pengemis tua baru saja memungut seorang murid kecil, selama beberapa hari ini kelihatannya
muridku ini boleh juga. Seumur hidupku aku tidak mempunyai murid, kini telah menerima seorang

yang kepalanya botak, ditambah lagi seorang murid Hwesio, sungguh kebetulan merupakan
pasangan."
Kim Lo Han dengan Sin hoa Tok Kai pada empat puluh tahun berselang, sudah mempunyai
hubungan erat. Ketika Kim Lo Han masuk ke istana Kumala putih di gunung Tiang Pek San, tidak
memberitahukan pengemis tua itu. Karena puluhan tahun belum pernah bertemu lagi dengan Kim
Lo Han, pengemis tua mengira ia sudah meninggal dunia.
Kini mereka berdua saling bertemu lagi, bagaimana tidak menjadi kegirangan? Meski usia
mereka sudah sama-sama tua, tapi kegembiraannya tidak kalah dengan anak muda.
Ketika Kim Lo Han dapat kenyataan bahwa pengemis itu memang betul sahabat karibnya pada
empat puluh tahun berselang, telah melupakan segalanya. Ia memeluk si pengemis tua, lalu
menangis seperti anak kecil.
Si pengemis tua yang tadinya masih ketawa-tawa, kini juga mengucurkan air mata, hingga
keduanya saling berpelukan sembari menangis.
Kim Houw ketika menampak berkelebatnya benda kuning sudah mengetahui bahwa benda itu
kepunyaan si pengemis beracun. Karena si pengemis itu telah menggagalkan niatnya Kim Lo Han
untuk membunuh diri, maka ia merasa sangat berterima kasih.
Saat itu melihat dua orang itu menangis dengan sedihnya, ia sendiri juga turut merasa sedih.
Mengingat dirinya terlunta-lunta, mengingat hari depannya yang gelap, mengingat Bwee Peng,
mengingat Peng Peng... air matanya dengan tidak terasa juga telah mengalir turun.
Hanya si botak yang tidak menangis, ia berjalan menghampiri si iblis wanita cantik dan
menanya, "Nona Kie! Kim siangkong kenapa berobah demikian?"
Nona juga tidak menangis, bukan saja tidak menangis, malah hatinya merasa terbuka.
Kedukaannya selama beberapa hari ini telah lenyap seketika.
"Aku sendiri juga tidak tahu mengapa dia berobah demikian, cuma ini bagi aku tidak ada
bedanya! Asal dia suka aku, segala penyaruan jelek atau cakap, buat aku tidak menjadi soal!"
jawab nona Kie.
Si botak yang mendengar jawaban itu, sebaliknya menjadi semakin bingung.
Tiba-tiba suara kuda berbenger terus-terusan, sehingga mengejutkan si pengemis tua dan Kim
Lo Han, begitu pula Kim Houw tidak terkecuali.
Seperti baru sadar dari mimpinya, Kim Houw lompat menubruk Kim Lo Han sembari berkata,
"Lo Han-ya, Lo Han-ya, kau..."
"Hai, aku si pengemis tua tahun ini benar-benar mujur, belum pernah aku mau menerima
murid, tapi sekalinya terima lantas beruntun pada datang. Aku kata kau pengemis kecil, tadi kau
masih belum memberi hormat kepada suhumu!" Sin hoa Tok Kai mengoceh sambil ketawa-tawa.
Kim Houw benar-benar ingin memberi hormat sambil berlutut di depan Sin thia Tok Kai, untuk
mengucapkan terima kasihnya karena ia sudah menolong jiwanya Kim Lo Han. Tapi Kim Houw
tidak mau membahasakan suhu, sebab ia sudah angkat Kao Jin Kiesu sebagai gurunya.

Walaupun Kao Jin Kiesu sudah lama wafat, dan upacara pengangkatan guru itu hanya
semacam formalitas saja, tapi dalam hati Kim Houw tetap tidak boleh melanggar tata tertib dalam
perguruan. Jadi, ini bukan berarti dia tidak pandang si pengemis tua atau karena anggap
kepandaian sendiri ada lebih unggul daripada Sin hoa Tok Kai.
Ia anggap budinya sang suhu ada begitu besar sekali terhadap dirinya. Kamar buku Kao Jin
Kiesu selama dua tahun telah memberikan banyak pengertian ilmu silat yang tidak ada taranya,
semua itu tidak dapat dibeli dengan harta benda dunia yang berapa besarnyapun.
Maka, Kim Houw berlagak pilon dan anggap perkataan si pengemis tua itu sebagai lelucon
saja. Sebaliknya ia menarik tangan Kim Lo Han, mulutnya menyerocos. "Lo Han-ya! Lo Han-ya!
Biar bagaimana kau harus dengar keteranganku dulu, kau harus percaya aku, percaya
kepribadianku! Houw-ji bukan seorang rendah yang gampang lupa daratan!"
Kim Lo Han kembali pada kebiasaannya yang tidak banyak bicara. Lama sekali baru menyahut
dengan suara dingin, "Percaya kau? Dengan apa kau suruh percaya kau? Emas tulen tidak usah
takut api, kalau kau tidak berbuat apa-apa yang melanggar hati nuranimu, perlu apa kau harus
menyaru begitu rupa?"
Ucapan Kim Lo Han ini memang ada benarnya, terutama malam itu ia telah saksikan sendiri,
Kim Houw tengah memeluk seorang wanita cantik serta bersenda gurau sedemikian akrabnya,
seolah-olah sudah melupakan tugasnya menolong Peng Peng. Sedang Bwee Peng yang sudah
mati, tak usah dikata lagi.
Kim Houw tahu, kesan jelek Kim Lo Han atas dirinya sudah mendalam sekali, tidak mungkin
dapat dibikin mengerti hanya oleh sepatah dua patah saja, maka ia lalu menuturkan semua
pengalamannya sejak mereka berpisah dalam perjalanannya mengejar Peng Peng. Dari mulai
bertemunya dengan Kie Yong Yong dan Tok Kai sehingga tibanya di puncak gunung Sin lie hong
serta apa sebabnya ia menyaru sebagai pengemis dan kemudian menolong nona Kie.
Kim Lo Han setelah mendengarkan semua penuturan itu belum sampai ia menyahut, si
pengemis tua itu sudah mendahului berkata dengan suaranya yang aneh. "Apa kau kata, dengan
kepandaian lari aku si pengemis beracun, masakah tidak mampu mengejar kau? Kiranya kau
sudah berubah rupa? Hei, pengemis cilik masih kurang sepasang sepatu rumput!"
Kemudian pengemis tua itu pun menceritakan duduk persoalannya. Ia kata, semula ia juga
merasa heran apa benar Kim Houw adalah seorang anak muda yang gemar paras cantik? Ia
pernah bersumpah pada diri sendiri, ia belum merasa puas kalau belum dapat membinasakan
padanya.
Tapi, dalam perjalanannya mengejar dilakukan siang malam, meski sudah tiga kota dilalui, tapi
hasilnya nihil. Ia mulai sangsi, sekalipun Kim Houw mempunyai kemampuan ilmu lari seperti
terbang, tidak nanti demikian cepat, ia mulai mengadakan penyelidikan lagi. Ternyata peristiwa
mesum itu telah terjadi pada tiga hari yang berselang, sedang pada saat itu ia dengan Kim Houw
masih berada di tepi danau Thai-pek-ouw. Dari situ ia menarik kesimpulan, pasti ada orang lain
yang hendak memfitnah Kim Houw. Cuma ia tidak tahu, apa maksud dan tujuannya orang itu
hendak memfitnah diri Kim Houw?
Kim Lo Han tadi mendengar keterangan Kim Houw, sebetulnya percaya tujuh bagian. Kini
mendengar pula keterangan si pengemis tua yang merupakan pembelaan terhadap Kim Houw,
sekalipun tidak mau percaya seratus persen juga harus ia percaya.
Ia mulai menyesal atas perbuatannya sendiri yang sangat ceroboh, seandainya tidak keburu
ditolong oleh sahabatnya itu, tentu ia mati konyol.

Setelah semua urusan menjadi jelas, Kim Lo Han lantas perkenalkan Kim Houw kepada si
pengemis tua, yang ternyata adalah wakil ketua dari partai Sepatu Rumput.
Sin hoa Tok Kai meski wujudnya pengemis yang nampaknya sangat jorok, tapi dalam
kalangan Kangouw hampir tidak ada orang yang tidak kenal padanya. Pada empat puluh tahun
berselang, bersama-sama Kim Lo Han namanya sudah menggetarkan dunia Kangouw.
Kim Houw sangat girang, ia juga perkenalkan nona Kie kepada dua orang tua itu. Ia katakan
bahwa nona itu adalah adiknya yang baru dikenalnya, nona Kie juga tidak membantah.
Akhirnya mereka mulai membicarakan persoalan di gunung Teng lay-san dan Ceng kee cee,
Kim Lo Han suruh Kim Houw berpakaian seperti biasa, tapi Kim Houw menyatakan pendapatnya
bahwa dengan berdandan demikian ada lebih leluasa dalam perjalanan. Kim Lo Han akhirnya
tidak keberatan.
Sin hua Tok Kai mengetahui bahwa orang yang hendak ditolong itu adalah nona Peng Peng
yang menghadiahkan pedang Ngo-heng-kiam kepada Kim Houw, bukan kepalang kagetnya, lalu
menghendaki supaya segera berangkat. Sebaliknya ia merasa ragu-ragu ketika mendengar bahwa
orang yang menculik Peng Peng itu adalah Siao Pek Sin dari Istana Kumala Putih.
Namun setelah mendengar keterangan Kim Lo Han bahwa kaburnya Siao Pek Sin ke gunung
Teng-lay-san ialah untuk menyingkir dari Kim Houw dan Kim Lo Han, pengemis tua itu lantas
pentang lebar matanya, lama ia mengawasi Kim Houw.
Kim Lo Han mendadak menepok pundak kawannya sembari berkata, "Houw-ji juga pernah
unjukkan kepandaiannya di depan matamu, apa kau masih belum percaya? Kim Lo Han
selamanya jarang buka mulut, hal ini tentu kau sudah tahu, apa lagi untuk memuji orang namun
buat Houw-ji aku kecualikan. Pengemis tua, kalau kau berani mengganggu dia kau nanti akan
dapat rasakan sendiri akibatnya."
Sin hoa Tok Kai ketawa terbahak-bahak. Ia bukan tidak percaya, karena di tepi danau Thaipek-
ouw ia sudah saksikan sendiri bagaimana gesit dan luar biasa gerakan Kim Houw. Tapi
kecuali ini, Kim Houw belum unjukkan kepandaian lainnya, maka tidak heran tadi si pengemis
merasa ragu-ragu.
Lagi pula, pengemis tua itu masih merasa sangsi, Kim Houw seorang yang masih begitu muda
usianya, betapapun tinggi kepandaiannya, masakah sudah mencapai puncaknya.
Tapi setelah mendengar pujian Kim Lo Han, mau tidak mau ia terpaksa percaya. Karena Kim
Lo Han yang mendapat gelaran Hwesio gagu, belum pernah sembarangan membuka mulut,
apalagi berdusta.
Semula, mereka hendak berjalan berbarengan, tapi si pengemis tua tidak suka jalan bersama
sama dengan Kie Yong Yong. Maka akhirnya dipecah menjadi dua rombongan. Satu rombongan
Kim Houw dengan Kie Yong Yong, lain rombongan Kim Lo Han bersama Sin hoa Tok Kai dan si
botak.
Kim Houw dan Kie Yong Yong menunggang seekor kuda. Kie Yong Yong pakaiannya merah
menyolok, sedang Kim Houw berpakaian pengemis. Tidak heran mereka sepanjang jalan sangat
menarik perhatian orang.
Dalam perjalanan Kim Houw anggap Kie Yong Yong sebagai adiknya sendiri. Ia sangat
sayang, sangat open, tapi sedikitpun tidak mempunyai pikiran yang bukan-bukan. Kecuali kalau
mereka menunggang kuda bersama-sama, waktu mengaso atau menginap dalam rumah

penginapan mereka selalu tidur pisah. Ada kalanya kalau kemalaman di tengah hutan, Kim Houw
cuma duduk semedi, Kie Yong Yong tidur di sampingnya.
Kie Yong Yong, yang mendapat gelar iblis cantik, adatnya selalu keras, juga suka membawa
maunya sendiri. Tidak nyana setelah bertemu dengan Kim Houw lantas berubah lemah lembut,
sangat jinak. Bagi orang yang sudah kenal tabiatnya dan sifatnya nona itu benar-benar tidak mau
percaya.
Hari itu, mereka masuk ke kota Pek-coa. Karena hari sudah petang, lalu mencari sebuah
penginapan. Kim Houw meski dandanannya seperti pengemis, tapi dengan adanya Kie Yong Yong
disampingnya membuat orang lain tidak berani pandang rendah padanya.
Seperti biasa mereka berdua sehabis mandi dan makan, lantas pada masuk tidur dalam kamar
masing-masing.
Suatu kejadian yang agak ganjil telah dialami oleh Kim Houw. Malam itu tidak seperti biasanya
ia tidak bisa tidur enak, perasaannya tidak karuan.
Kim Houw diam-diam merasa heran, ini adalah untuk pertama kalinya ia merasakan demikian
sejak ia mengerti ilmu silat. Apakah itu adalah suatu firasat tidak baik?
Kim Houw hatinya ruwet, pikirannya kalut. Sebab kota itu letaknya sudah dekat gunung Ceng
lay san, ia kuatir akan terjadinya apa-apa yang tidak diingini, maka lantas buru-buru bersemedi
untuk menenangkan perasaannya, ia tidak ingin tidur lagi.
Tidak nyana begitu ia bangun duduk, bukan kepalang kagetnya. Karena bukan cuma kusut
pikiran dan ruwet hatinya saja, tapi sekujur badan dan tulang-tulangnya juga dirasakan lemas dan
tidak bertenaga.
Kim Houw terperanjat, sekarang ia mengerti dirinya telah masuk perangkap kawanan penjahat.
Tapi Kim Houw kepandaiannya sudah mencapai di puncaknya. Obat tidur biasa tidak mempan
terhadap dirinya. Buat orang lain, tentunya sudah rubuh pulas sejak tadi!
Dalam kagetnya, Kim Houw buru-buru mengerahkan Khiekangnya untuk mengusir racun obat
pulas itu. Saat itu, telinganya tiba-tiba menangkap suara bergeraknya pakaian yang tertiup angin.
Dari gerak suaranya, Kim Houw mengetahui bahwa orang itu ada mempunyai kepandaian tinggi,
bukan penjahat biasa. Ia semakin kaget, buru-buru ia kerahkan seluruh kepandaiannya, supaya
lekas pulih kekuatannya.
Suara orang itu sebentar saja sudah berada di atas genteng dan mendadak berhenti bergerak.
Kim Houw menduga-duga dan pasang telinga, ia tidak tahu apa maksudnya orang itu? Tapi heran,
orang itu setelah berada di atas genteng lantas tidak kedengaran suaranya lagi.
Sebentar kemudian, Kim Houw mengeluarkan keringat bau busuk. Tenaganya lantas pulih
kembali seperti biasa. Dengan cepat ia melompat keluar dari jendela untuk melihat apa yang
terjadi di atas genteng.
Setibanya di luar ia merasa terheran heran karena terkecuali suara bajunya yang tertiup angin,
orang itu tidak terdengar suara gerakan kakinya.
Mendadak ia dengar suara rintihan, terlalu samar-samar seperti suara orang mengigo, dan apa
yang mengejutkan suara itu justeru datangnya dari kamar Kie Yong Yong!

Apa yang telah terjadi dengan dirinya Kie Yong Yong?
Nona itu setelah masuk dalam kamarnya, baru saja rebahkan diri, sudah lantas jatuh pulas.
Dalam mimpinya ia seperti rebah terlentang di atas rumput bersama-sama Kim Houw, laki-laki
yang dicintainya. Mendadak Kim Houw balikkan tubuhnya, lalu memeluk dirinya dengan kencang
dan pipinya dihujani ciuman.
Ia merasa sekujur badannya seperti kena setrum listrik, ketika tangan Kim Houw mulai bermain
di seluruh anggota badannya. Ia jengah pakaiannya diloloskan, tapi tidak berani melawan. Ia
terlalu cinta Kim Houw, ia bersedia mengorbankan segala-galanya kepada anak muda itu, baik
badannya maupun kesuciannya.
Tiba-tiba langit gelap, angin menderu, sebatang anak panah telah menyambar dan menancap
pada dadanya, ia merasa kesakitan lalu tergugahlah ia dari mimpinya.
Belum sempat membuka matanya, ia merasakan dirinya ada orang tindih. Dalam kagetnya
lantas ia membuka mata, dan... yang menindih dirinya ternyata adalah laki-laki dalam impiannya.
Malu-malu ia menutupi matanya dengan tangannya. Laki-laki itu adalah pria idamannya
sendiri, maka bukan saja ia tidak mempunyai tenaga melawan, memang ia tidak mau melawan.
Sebaliknya malah kuatir ditinggalkan begitu saja oleh pemuda pujaannya itu.
Tiba-tiba ia dengar suara pintu diketok dengan keras.
"Adik Yong! Adik Yong! Kau kenapa?"
Kie Yong Yong pada saat itu masih dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, terhadap
suara ketokan pintu dan suara panggilan, sama sekali tidak dengar. Tapi orang yang berada di
atas dirinya, sebaliknya lantas lompat bangun dan melesat keluar dari jendela.
Kie Yong Yong terperanjat, ia lantas menjerit. Pintu tertendang terpetang. Kekasihnya muncul
lagi dari pintu yang terbuka.
Kim Houw begitu berada dalam kamar lantas menghampiri pembaringan.
"Adik Yong! Kau tidak kenapa-napa?"
Pertanyaan itu tidak dijawab, sebaliknya Kie Yong Yong sudah memeluk padanya dengan
penuh kasih, bisiknya, "Engko Houw! Engko Houw! Aku mau kau, aku mau kau..."
Tiba-tiba Kim Houw seperti menyentuh badannya si nona yang halus, ia kaget dan terheranheran,
"Adik Yong, apa yang telah terjadi? Lekas jawab!" katanya.
Kie Yong Yong memeluk erat Kim Houw, jawabnya, "Engko Houw, aku mau! Kau mau!"
Kim Houw semakin bingung. Ia lalu mendorong dan pandang wajahnya Kie Yong Yong, nona
itu keadaannya seperti orang yang sedang mabuk. Kim Houw mengira Kie Yong Yong cuma kena
pengaruh obat pulas, maka buru-buru menotok jalan darahnya. Ia lalu letakkan lagi di atas
pembaringan.
Kie Yong Yong dalam keadaan separuh telanjang, dengan sehelai selimut Kim Houw tutup
tubuh si nona, kemudian dia sendiri duduk di pinggir pembaringan, menjaga kalau-kalau ada
kejadian tidak diingini.

Ketika Kie Yong Yong mendusin, cuaca sudah terang. Ia lihat Kim Houw duduk di pinggir
pembaringan, sambil memandangnya. Wajahnya si nona merah seketika mengingat
pengalamannya semalam. Ia lantas menari tangan Kim Houw, ditempelkan di pipinya dengan
mesra, katanya perlahan, "Engko Houw, aku sudah bukan adikmu lagi...!"
Kim Houw tercengang, "Adik Yong, kau kenapa? Apa kau merasa sebel mempunyai engko
semacam aku?"
Kie Yong Yong ketawa, ia mencubit Kim Houw perlahan.
"Kau seperti mengerti banyak urusan, mengapa dalam soal ini kau tidak mengerti? Apakah kau
sengaja berlagak pilon? Semalaman kau..." bicara sampai di sini wajahnya mendadak dirasakan
panas membara.
"Tadi malam... kenapa?" memotong Kim Houw.
Tiba-tiba ia ingat sesuatu, ia telah menyaksikan si nona dalam keadaan separuh telanjang,
apakah lantaran itu si nona mengucapkan kata-kata demikian?
Kie Yong Yong kepal tangannya, lalu memukul Kim Houw perlahan.
"Kau sungguh nakal! Kau masih pura-pura tidak mengerti, lantaran tadi malam... ah aku tidak
mau menceritakan lagi! Tidak! Pendeknya, kau sendiri yang tahu, aku tidak bisa menjadi adikmu,
melainkan menjadi..."
"Jadi apa?" memotong Kim Houw.
Kepala si nona disesapkan di bantal, ia tidak dapat lihat perubahan wajah anak muda itu. Ia
menganggap Kim Houw menggoda dirinya, maka angkat kepalanya menghadapi si anak muda.
"Kau nakal! Kau nakal! Aku tidak mau!" katanya dengan kelakuan manja.
Kim Houw tercekat hatinya dan menjadi curiga.
"Adik Yong, kau harus terus terang padaku, apa sebenarnya yang telah terjadi?" katanya
dengan suara sungguh-sungguh.
Kie Yong Yong menampak sikapnya Kim Houw begitu sungguh-sungguh, tidak seperti sedang
bergurau, dalam hati merasa heran. Tapi ia masih mengira Kim Houw belum memahami
maksudnya, maka buru-buru ia berkata lagi, "Engko Houw, dalam urusan ini dalam hatimu tentu
mengerti sendiri, tidak perlu aku menjelaskan lagi. Aku hanya akan beritahukan padamu, aku tidak
bisa jadi adikmu lagi, aku akan menjadi isterimu!"
Kim Houw kaget seperti disambar petir mendengar perkataan itu.
"Tidak... tidak... kau tidak bisa...," katanya dengan gugup.
Kie Yong Yong wajahnya berobah mendengar jawabah Kim Houw.
"Apa...? Tidak... tidak.... Kau berani mengatakan tidak?"
Si nona pucat pasi, Kim Houw menghadapi teka-teki.

"Adik Yong, kau dengar dulu perkataanku! Aku cuma bisa anggap kau sebagai adikku..."
Belum habis ucapannya, Kie Yong Yong sudah berbalik membelakangi Kim Houw, tangannya
menarik selimut untuk menutupi kepalanya, tidak bersuara juga tidak bergerak!
Kim Houw gelisah, ia tidak mengerti sikap si nona, mengapa mendadak keluarkan perkataan
menjadi isterinya? Kematiannya Bwee Peng sudah membikin dingin hati Kim Houw, sedang untuk
menghadapi Peng Peng yang mencintai dirinya saja, sudah cukup membikin pusing kepala. Tidak
nyana kini kembali muncul dirinya si nona yang sifatnya lebih berandalan dengan terang-terangan
telah menyediakan diri untuk menjadi isterinya.
Menghadapi Kie Yong Yong yang tidur menghadap ke dalam sembari menutup kepalanya
dengan selimut, Kim Houw juga tidak tahu bagaimana ia harus berbuat?
Pagi sore, satu hari telah lewat. Kie Yong Yong masih tetap dalam keadaannya demikian. Kim
Houw ajak ia makan tidak mau, suruh ia bangun ia juga tidak mau perdulikan, kalau ditanya apa
sebabnya ia tidak menjawab.
Dalam keadaan demikian, Kim Houw juga tidak berdaya sama sekali. Ia sendiri bukan saja
seharian tidak kepingin makan, bahkan untuk berkisar saja dari si nona tak dapat ia lakukan
karena hatinya merasa kuatir.
Sore berganti malam, rembulan sudah unjukkan dirinya.
Kim Houw satu hari tidak makan, baginya tidak jadi soal.
Tapi, buat Kie Yong Yong yang terus rebahkan diri dalam keadaan tidak berkutik seperti
bangkai benar-benar membuat kuatir hati Kim Houw.
"Tong tong tong!", tiga kali suara kentongan telah memecahkan suara sunyi, suatu tanda
malam telah larut.
Kie Yong Yong masih tetap dalam keadaan tidak bergerak, sedang Kim Houw duduk terpekur
di pinggir pembaringan.
Mendadak kupingnya dengar suara orang jalan malam. Dalam kagetnya, Kim Houw ingat
kejadian semalam. Pikirnya kalau dapat menangkap orang ini, sudah pasti tahu ia akan duduk
perkaranya.
Ia segera melompat melesat dari jendela. Di bawah sinar rembulan, ia dapat lihat
berkelebatnya bayangan orang yang lari menuju barat. Ia lalu keluarkan ilmunya lari pesat
mengejar bayangan tadi.
Tidak jauh di luar kota, bayangan itu mulai kecandak oleh Kim Houw. Mendadak bayangan
orang itu balikkan badannya dan berkata, "Sungguh ilmu lari pesat yang luar biasa!"
Kim Houw terperanjat, gerakan orang itu gesit sekali, mungkin tidak di bawah dirinya sendiri. Ia
melihat orang itu, ternyata adalah bayangan tadi yang dikejarnya, mungkin ia sengaja berbuat
demikian untuk menggoda Kim Houw. Tiba-tiba orang itu badannya bergerak kembali sudah kabur
sejauh beberapa puluh tumbak.
Masih belum hilang rasa kagetnya Kim Houw, telinganya kembali dengar suara orang itu, "Apa
kau mampu mengejar aku?"
Kim Houw diam-diam merasa geli, masakah kau bisa lolos? Demikian pikirnya.

Kim Houw meski otaknya bekerja, tapi kakinya tidak tinggal diam, ia mengejar terus.
Kim Houw mengerahkan seluruh kepandaiannya, dalam sekejap saja sudah hampir
mencandak pula orang itu.
Saat itu tiba-tiba terdengar suara terbahak-bahak dan bayangan orang itu mendadak hilang...
Kiranya kepandaiannya lari pesat orang itu, memang terpaut tidak jauh dengan Kim Houw, tapi
ia ada sangat licik. Ia sengaja perdengarkan suara tertawanya untuk mengalihkan Kim Houw dari
balik sebuah batu besar, dari situ maksudnya akan menyingkir lagi.
Menampak bayangan orang itu hilang secara mendadak, Kim Houw juga merasa agak heran
seandainya orang itu tetap sembunyi tidak bergerak di balik batu mungkin Kim Houw tidak dapat
menduga perbuatannya. Tapi oleh karena ia bergerak hendak berlalu lagi, maka serta gerak
badannya bagaimana bisa lolos dari telinga Kim Houw? Sewaktu Kim Houw mengetahui orang itu
ternyata sudah berada sepuluh tumbak jauhnya.
Kim Houw merasa heran dipermainkan lantas menjadi gusar. Kalau hari ini aku tidak mampu
mengejar kau, percuma saja aku dilatih ilmu silat di Istana Kumala Putih selama dua tahun oleh
Kauw Jin Kiesu? demikian pikir Kim Houw.
Tapi orang itu licik sekali. Ilmu larinya pesat dan mengentengi tubuh meski tidak dapat
menandingi Kim Houw, namun setiap kali hampir kecandak, ia selalu menggunakan akal licik
untuk meloloskan diri.
Berkali-kali ia berbuat demikian, akal bulusnya akhirnya diketahui oleh Kim Houw hingga sibuk.
Tapi waktunya sudah terbuang kira-kira satu jam lebih dengan percuma.
Pada akhirnya Kim Houw menggunakan tipu yang paling hebat dari pelajaran Kauw Jin Kiesu,
telah berhasil memegat jalan larinya orang tersebut.
Tiga kali ia coba mau meloloskan diri, tapi sia-sia semua usahanya maka ia lantas menghela
nafas panjang, tiba-tiba ia berkata, "Ombak sungai Tiangkang yang belakang mendorong yang
depan, orang baru menggantikan orang lama, Lohu seumur hidup belum pernah menyerah kepada
siapapun juga, tapi hari ini terhadap mengentengi tubuhmu, benar-benar merasa takluk. Hanya
Lohu masih ingin mencoba kepandaianmu yang sebenarnya, diteliti dari ilmu mengentengi tubuh
yang sangat luar biasa dan daya tahanmu sangat kuat begitu lama, dalam hal ilmu lwekang
rasanya Lohu tidak perlu menguji lagi, sekarang marilah kita coba mengadu kepandaian
menggunakan senjata tajam! Harap kau suka keluarkan semua kepandaianmu supaya Lohu
merasa takluk benar-benar!"
Sehabis mengucapkan perkataannya, orang itu lalu menghunus pedang panjangnya yang
bersinar berkilauan.
Di situ Kim Houw baru dapat lihat dengan tegas wajahnya orang itu, ternyata adalah seorang
dari pertengahan umur berbadan seperti anak sekolah, wajah putih bersih dan badannya nampak
seperti seorang lemah. Kalau tidak menyaksikan sendiri, mungkin orang susah percaya bahwa
seorang lemah demikian ada mempunyai kepandaian ilmu silat begitu tinggi.
Apa yang lebih mengherankan, ialah cara bicara orang ini, nampaknya usianya belum cukup
setengah abad, tapi dalam pembicaraan selalu menyebut dirinya sendiri Lohu atau orang tua,
entah apa sebabnya ia mengaku dirinya tua.

Kim Houw sejak kanak-kanak sudah diempos pelajaran ilmu surat oleh Ciok-ya-ya nya, maka
paling menghormat terhadap orang terpelajar. Karena melihat dandanan orang itu seperti anak
sekolah, maka lantas buru-buru bungkukkan diri memberi hormat seraya berkata, "Senjata tajam
tidak ada matanya, salah tangan bisa melukai orang, Siauseng hanya ingin menanyakan suatu
saja..."
Orang itu ketawa bergelak-gelak, "Bagus benar kau menyebut dirimu sendiri Siauseng! Bocah,
apa kau anggap dirimu sudah cukup dewasa? Tahukah kau berapa usia Lohu tahun ini? Kalau aku
beritahukan, mungkin kau bisa kaget, lebih baik aku tidak beritahu saja. Sementara mengenai
senjata tajam tidak bermata, hal ini kau boleh tak usah kuatir. Pedangku ini adalah sepuluh kali
lipat lebih lihay daripada orang yang mempunyai mata. Kalau aku menghendaki melukai cuma
satu dim saja pada kulitmu, dia tidak berani melukai kau lebih dari itu. Tapi kau boleh tak usah
takut, pedangku ini tanpa sebab tidak akan menghirup darah orang, sedikitpun tidak akan melukai
orang baik yang tidak bermusuhan dengan aku," demikian katanya.
Mendengar ucapannya yang agak jumawa, Kim Houw agak mendongkol, tapi ia masih coba
menahan sabar.
"Barusan Siauseng berlaku kurang ajar telah mengejar Tuan, sebetulnya ada sebabnya.
Siauseng disini minta maaf sebanyak-banyaknya, harap Tuan..."
Belum lampias Kim Houw bicara, terputus oleh ketawa bergelak-gelak orang itu. "Bocah,
mengapa kau begitu tolol, sedikitpun tidak mempunyai ambekan besar seperti anak muda?"
Kim Houw meras jengah, ia sebetulnya tidak suka gerakkan senjata dengan tanpa alasan.
Begitu melihat orang itu nampaknya seperti kutu buku ia sudah tahu kalau kesalahan mengejar,
tapi sudah menyandak, kalau tidak menanya, dalam hati masih merasa penasaran.
"Aku yang rendah hanya ingin menanyakan satu hal saja, tadi malam..."
Orang itu tiba-tiba menggeram hebat, suaranya sampai membikin kaget binatang-binatang
atau burung-burung dalam rimba, kemudian disusul dengan bentakannya pula yang hebat. "Aku
lihat kepandaianmu ilmu silat tidak lemah, tidak nyana nyalimu begitu kecil seperti tikus. Lohu ingin
mencoba kepandaianmu, ini berarti Lohu ada pandang mukamu. Tapi kau jangan coba-coba jual
harga dan menganggap dirimu luar biasa. Pedang panjangku ini, sudah tiga puluh tahun tidak
pernah keluar dari sarungnya, malam ini sudah keluar sarung kau tidak sudi bertanding, dipaksa
harus bertanding dan kalau mau bertanding tidak usah banyak rewel. Tentang soal lainnya
sehabis bertanding boleh bicara lagi. Bocah, kau tidak perlu takut, Lohu tidak nanti melukai
dirimu."
Kim Houw gusar mendengar kata-katanya yang memandang rendah.
"Aku hanya tidak suka bermusuhan tanpa alasan," katanya. "Apa kau kira aku bernyali kecil?
Kau kata sudah tiga puluh tahun belum pernah menggunakan pedangmu, tapi aku sejak dilahirkan
belum pernah menggunakan senjata tajam untuk menghadapi musuh. Apa kau kira aku benarbenar
takut kau?"
Ia segera mengeluarkan senjatanya yang luar biasa, yaitu pecut Bak-tha Liong-kin. Tangannya
begitu bergerak, pecut itu lantas mengeluarkan sinar hitam gemerlapan.
Orang itu menampak senjata Kim Houw yang istimewa, nampaknya sangat girang, kembali
perdengarkan ketawanya yang bergelak-gelak, lalu berkata, "Senjata Bak-tha Liong-kin yang
bagus sekali. Lohu malam ini benar-benar baru membuka mata, juga perhitungan ternyata tidak
meleset. Pedangku yang tiga puluh tahun lamanya tidak pernah keluar dari sarungnya, malam ini
ternyata ada harganya untuk dikeluarkan! Benar-benar berharga..."

Berulang-ulang orang itu mengucapkan perkataannya yang berharga, sampai Kim Houw
merasa jemu.
"Senjata wasiatku ini," kata Kim Houw dingin, "baru pertama kali ini aku akan coba gunakan.
Kau anggap berharga, tapi buat aku belum tentu ada harganya untuk melayani senjatamu itu.
Bagaimana? Mau bertanding, lekaslah. Aku masih ada lain urusan, tidak mempunyai waktu untuk
mengobrol dengan kau!"
Orang itu kembali ingin ketawa, tapi tidak jadi ketawa.
"Baik! Aku tidak akan menyia-nyiakan waktumu. Bocah! Lihat pedang!"
"Ser!" cepat sekali ujung pedang sudah mengancam dada Kim Houw, tapi Kim Houw diam
tidak bergerak, hanya mundur sedikit sudah dapat mengelakkan serangan.
Orang itu tersenyum, dengan tidak merobah gerakannya ia tetap mengarah dada Kim Houw.
Dari serangannya yang pertama, Kim Houw dapat merasakan bahwa serangan itu biasa saja,
tidak ada apa-apanya yang mengherankan. Nampaknya orang itu cuma mulutnya saja yang besar.
Tidak disangka bahwa serangannya yang kedua pun sama saja. Kim Houw menyesal telah
mengeluarkan senjata wasiatnya, kalau lawan cuma demikian saja, dengan mengandal sepasang
tangan kosong, rasanya juga sudah cukup melayani.
Maka ia kembali egoskan badannya mundur selangkah. Dalam pikirannya, dengan beruntun
mengelakkan diri sampai dua kali, tentu ada maksudnya. Pertama, orang itu anggap diri sendiri
terlalu tinggi, ia selalu menyebut dirinya Lohu, Lohu, dengan alasan menghormati orang tua, sudah
sepatutnya kalau mengalah dulu. Kedua, setelah tiga kali, jika masih tidak ada gerakan yang luar
biasa, Kim Houw bersedia menarik kembali senjatanya, dengan tangan kosong ia hendak
melayani lawannya. Karena dengan kepandaian begitu saja, sebetulnya tidak ada harganya
dilawan dengan menggunakan senjata wasiat seperti pecut Bak-tha Liong-kin nya.
Sesudah serangannya yang ketiga, orang itu masih tetap tersenyum, gerakannya pun tidak
berobah, masih tetap hendak menikam dada orang.
Melihat keadaan demikian, Kim Houw agaknya sangat kecewa, ia tidak nyana bahwa orang itu
pandai membuat seperti serupa itu...
Tapi belum lenyap pikirannya itu dan selagi hendak mundur lagi, dengan tiba-tiba pedang itu
seperti menggetar, pedang itu telah berubah menjadi sinar beraneka warna, mengurung sekujur
badan Kim Houw.
Bukan cuma begitu saja, lebih cepat Kim Houw bergerak mundur, pedang itu lebih cepat pula
gerakannya. Dengan beruntun mengeluarkan suara "ser, ser" baju panjang Kim Houw bagian
bawah, kanan dan kiri sudah kena disontek beberapa tempat, sehingga terdapat puluhan lobang.
Dengan demikian Kim Houw bukan saja terkejut dan terheran-heran, bahkan mengeluarkan
keringat dingin. Orang itu benar-benar tidak berlaku ganas, kalau tidak badannya sudah banyak
berlobang atau jiwapun lantas melayang. Dengan demikian ia mengalami apa yang disebut mati
konyol.

Kim Houw tidak berani berlaku ayal lagi, pandangannya terhadap orang itu juga lantas
berobah. Ia angkat pecutnya, kedudukan nampaknya terbuka lebar. Dengan sikap yang hormat, ia
berkata, "Locianpwe, silahkan mulai!"
Orang itu nampak kedudukan Kim Houw terbuka dalam hati juga merasa heran. Tiba-tiba ia
bersiul nyaring, dengan tidak banyak bicara ia putar pedangnya menyerang Kim Houw.
Kim Houw juga perdengarkan suara pekikannya yang nyaring, dalam malam sunyi seperti itu,
suara itu mengalun lama sekali. Ia lalu menggunakan ilmu pecutnya Hiang-houw-wie-pian dari
Kauw Jin Kiesu, untuk melayani pedang orang itu.
Ilmu pecut itu yang paling lihay dan hanya terdiri dari tiga stel, ke satu ialah Hiang-mo-sin-pian,
tiga stel ilmu pecut itu, setiap stel cuma dua puluh empat jurus, tapi tiap stel mempunyai hubungan
satu sama lain. Perobahan setiap geraknya luar biasa indahnya.
Diantara tiga stel ilmu pecut itu, Hiang-mo-sin-pian adalah yang paling hebat. Begitu diputar
pecut itu seperti bersinar. Bak-tha hanya merupakan seutas tali, jangan harap ada orang dapat
lihat dengan tegas dimana Bak-tha dan dimana Liong-kin.
Kedua ialah Hiang liong lie-pian dan akhirnya Hian houw wie-pian, tapi Hiang houw wie pian itu
meski terhitung yang paling lemah, gerakannya hebat dan orang biasa dalam rimba persilatan jika
mampu melayani sepuluh jurus sudah boleh dianggap orang gagah kelas satu dalam kalangan
Kangouw. Jika mampu melayani sampai dua puluh empat jurus dan belum keteter, orang tersebut
terhitung orang yang mempunyai kepandaian ilmu silat istimewa.
Dan kini, orang itu bukan saja sudah melayani ilmu pecutnya dua puluh empat jurus, bahkan
masih mampu melancarkan serangan pembalasan, sedikitpun tidak menunjukkan kelemahannya.
Tapi itu bukan berarti ilmu pecut yang kurang hebat, karena Kim Houw tidak menggunakan tenaga
sepenuhnya. Sebabnya ialah orang itu tadi pernah memberi kelonggaran padanya, sehingga ujung
pedangnya tidak melukai dirinya, maka setidak-tidaknya ia harus memberi muka padanya.
Orang itu bukan saja tinggi ilmu silatnya, pengetahuannya juga luas. Bagaimana tidak mengerti
maksudnya Kim Houw? Tapi ia tidak suka menerima budi, sebaliknya malah gusar.
"Bocah busuk! Apa kau tidak pandang mata pada Lohumu? Kau berani tidak menggunakan
tenaga sepenuhnya, hati-hati nanti badanmu kuberikan beberapa puluh lobang lagi!" demikian
bentaknya dengan suara keras.
Ucapan orang itu memang sangat pedas, Kim Houw tidak. Biar bagaimana orang itu sudah
melepas budi duluan, ia toh harus menghargai budi itu. Untuk menuruti kehendak orang itu
terpaksa Kim Houw keluarkan tenaga sepenuhnya.
Dengan perobahan itu, benar saja ilmu pecut Hiang houw wie pian nampak kehebatannya,
sebentar saja dua puluh empat jurus sudah dimainkan habis. Orang itu meski masih mampu
menyambuti sampai habis, tapi sudah setengah payah. Namun ia masih belum puas.
"Bak tha Liong kin, aku kira bagaimana hebatnya, tidak tahunya cuma begitu saja. Sekalipun
kau kerahkan seluruh kekuatanmu juga belum mampu menjatuhkan Lohu," ejeknya.
Kali ini Kim Houw sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Ia hendak pertahankan
kewibawaannya, senjatanya itu sudah didapatkannya pada beberapa ratus tahun berselang oleh
gurunya Kauw Jin Kiesu.

Kim Houw lalu keluarkan seruan hebat, ilmu pecutnya tiba-tiba berobah, kini ia melancarkan
ilmu pecutnya Hiang liong li pian, bahkan begitu bergerak ia tidak mau memberi hati lagi. Setiap
gerakan ada begitu cepat, setiap serangannya ada begitu lihay, namun ia masih bisa
mengendalikan, di saat genting ia turun tangan masih bisa kira-kira.
Dengan demikian orang itu kini telah merasa kewalahan menghadapi serangan Kim Houw.
Tadi waktu Kim Houw menggunakan ilmu pecut Hiang houw wie pian, pecut dan pedang
belum pernah beradu atau bersentuhan, tapi sekarang pedang panjangnya orang itu kadangkadang
karena hendak menolong kedudukannya yang berbahaya terpaksa digunakan untuk
menangkis pecut Kim Houw. Selama dua puluh empat jurus, tidak kurang dari lima kali kedua
senjata itu saling bentur.
Dengan pedang Cang hong kiam saja, jika hendak memapas pecut wasiat Kim Houw itu
berarti hanya impian kosong. Orang itu tiba-tiba menghela nafas dalam dalam dan mengeluh
sendiri, "Ah! Jika pedang Ngo heng kiam ada di sampingku, pasti bisa memapas pecut Liong kin
ini menjadi beberapa potong, sedang ilmu pecut si bocah yang begitu hebat juga tidak bisa
berbuat apa-apa terhadap diriku!"
Pecut Bak-tha Liong-kin itu adalah senjata wasiat yang tidak ada duanya dalam dunia. Segala
macam senjata tajam jangan harap bisa merusaknya. Keuletannya hampir-hampir membuat orang
susah percaya. Orang itu dapat mengenali senjata Liong kin itu, bagaimana tidak mengerti
keistimewaannya? Ucapannya itu hanya untuk menutupi rasa malunya saja.
Tadi, ketika Kim Houw mendengar orang itu menyebut pedang Ngo heng kiam, dalam hati
merasa kaget. Ia buru-buru tarik kembali senjatanya dan lompat mundur seraya berkata, "Mohon
tanya nama Locianpwe yang terhormat?"
Siapa adanya orang itu? Ia bernama Touw Hoa orang dari Tiong Ciu. Tahun ini usianya sudah
delapan puluh tahun. Oleh karena di waktu kanak-kanak pernah minum darah semacam binatang
belut yang sangat ajaib membikin wajahnya awet muda. Maka meski usianya sudah delapan puluh
tahun, tapi tampaknya seperti yang baru berusia empat puluh tahun.
Di masa muda Touw Hoa pernah mendapat didikan ilmu silat dari seorang gaib, hingga
mempunyai kepandaian ilmu silat yang amat tinggi. Tenaga lweekangnya, karena khasiat darah
belut itu, makin tua usianya makin tinggi kekuatannya. Dengan pedang Ceng-hong-kiamnya itu, ia
dapat mainkan demikian bagusnya. Ilmu pedangnya ialah Cu-liong-kiam, yang setiap serangannya
ada begitu aneh dan luar biasa dahsyatnya.
Siapa sebetulnya Touw Hoa itu? Ia adalah kakeknya Peng Peng, Tiong Ciu Khek!
Tiong Ciu Khek Touw Hoa ketika melihat Kim Houw mundur secara mendadak, masih mengira
bahwa anak muda itu sudah tidak sanggup melawan, tapi ternyata bukan, ia hanya menanyakan
namanya, maka dalam hati merasa amat heran.
"Lohu Tiong Ciu Khek Touw Hoa, bocah apa kau kenal aku?" demikian tanyanya.
Mendengar jawaban itu Kim Houw lantas mengetahui bahwa dugaannya tidak salah, maka
lantas buru-buru menarik kembali senjatanya, sekali lagi ia memberi hormat seraya berkata,
"Boanpwe Kim Houw, di sini ada serupa barang Cianpwee pasti kenal!"
Kim Houw belum sampai keluarkan pedang Ngo heng kiam nya, Tiong Ciu Khek sudah tertawa
tergelak-gelak.
"Bocah, kau anggap Lohu terlalu kecil. Barang aneh apa saja di dalam dunia ini yang Lohu
belum pernah lihat? Kecuali..."

Belum habis ia berkata dalam suasana gelap itu matanya tiba-tiba dibikin silau oleh sinar
pedang Kim Houw. Tiong Ciu Khek lalu menanya, "Kau siapa? Lekas jawab! Dari Ceng kee cee?
Istana Kumala Putih atau Pek-liong po?"
Diberondong pertanyaan demikian banyak, Kim Houw hanya menggelengkan kepala.
"Semua bukan! Aku adalah kawannya Peng Peng, pedang ini pemberian Peng Peng!"
Tiong Ciu Khek kerutkan alisnya, "Kau panggil dia Peng Peng? Pedang Ngo heng kiam ini dia
yang berikan padamu? Mengapa dia berikan padamu?"
Kembali Kim Houw dihujani tiga pertanyaan beruntun.
Mengenai pertanyaan yang pertama, Kim Houw lantas merah wajahnya, pertanyaan kedua ia
hanya anggukkan kepala, sedang pertanyaan yang ketiga, ia sendiri tidak tahu apa sebabnya
Peng Peng memberikan padanya pedang wasiat yang sangat berharga itu?
"Kau hendak kemana?" tanya pula Tiong Ciu Khek.
"Boanpwe pada sebelum tanggal lima bulan lima harus tiba di Ceng kee cee, menolong nona
Peng Peng, sebab dia..." jawab Kim Houw muram.
Tapi Tiong Ciu Khek lantas ulapkan tangannya mencegah Kim Houw melanjutkan
keterangannya.
"Hal ini aku tahu, aku sekarang juga sedang dalam perjalanan menuju ke Ceng kee cee.
Mereka begitu berani berlaku kurang ajar terhadap cucu perempuanku, bagaimana aku enak peluk
tangan? Kalau aku tidak dapat mengubrak-abrik Ceng kee cee, aku Tiong Ciu Khek selanjutnya
akan menghapus nama dari dunia Kangouw!" katanya orang tuaitu dengan wajah gusar.
Melihat orang tua itu begitu sengit, Kim Houw buru-buru membelokkan persoalannya.
"Di depan masih ada Sin hoa Tok Kai Locianpwe yang menantikan!" katanya dengan hormat.
Tiong Ciu Khek sebetulnya sedang murka, tapi ketika mendengar keterangan Kim Houw tadi,
mendadak wajahnya kelihatan girang.
"Sin hoa Tok Kai si pengemis tua, adalah seorang berhati mulia," katanya. "Sudah lama tidak
berjumpa, ini benar-benar ada suatu kabar baik. Bocah! Kau tadi menanyakan soal tadi malam,
soal apa itu sebetulnya? Sedang tadi malam aku masih berada beberapa lie jauhnya dari sini..."
Kim Houw tahu semua terjadi karena salah paham, maka lantas buru-buru menjawab, "Itu
adalah kesalah pahaman, harap Locianpwe suka memberi maaf. Boanpwe masih ada sedikit
urusan di kota Pek coan shia, harap Cianpwe jalan dulu nanti Boanpwe segera menyusul!"
Setelah Tiong Ciu Khek sudah tidak kelihatan, Kim Houw baru balik ke kota, dia langsung
masuk ke kamar Kie Yong Yong.
Di atas pembaringan ternyata sudah kosong, entah kemana perginya Kie Yong Yong. Dalam
kagetnya, Kim Houw mencari ubek-ubekan, tapi hasilnya nihil.
Ia lalu masuk ke kamarnya sendiri, di atas meja ia dapatkan sehelai kertas yang penuh tulisan.
Kim Houw buru-buru jumput dan baca.

"Engko Houw! Aku tidak sesalkan langit, tidak sesalkan bumi, aku cuma sesalkan diriku sendiri
yang bernasib malang. Dulu suhu pernah mengatakan padaku, "Meski parasmu cantik bagaikan
bunga mawar, sayang nasibmu tipis seperti kertas. Harus hati-hati terhadap godaan hati muda".
Ketika aku yakin sifatku sendiri yang keras serta kepandaian yang kupunyai, mana mungkin
terjadi? Maka ramalan suhu itu siang-siang sudah kulupakan.
Tidak disangka-sangka aku bisa bertemu dengan kau, engko Houw. Aku cuma bisa sebut
padamu demikian, sebab kau tidak cinta padaku, sebaliknya aku tergila-gila sendiri padamu!
Meski aku mengatakan tidak menyesalkan kepada langit dan bumi, tapi dalam hatiku merasa
gemas. Kau tidak seharusnya setelah merusak kehormatanku lantas tidak mau ambil diriku
sebagai isteri. Cobalah raba hatimu sendiri, bagaimana perasaanmu terhadap Tuhan? Terhadap
adik Yong mu? Terhadap liangsim mu?"
Tulisan Kie Yong Yong sebagian sukar dibaca, mungkin ditulis dalam keadaan kalut. Membaca
sampai disitu Kim Houw hatinya merasa perih, seolah-olah ditusuk oleh jarum. Dan karena
gusarnya, otot-otonya sampai kelihatan menonjol keluar.
Selanjutnya, di bagian belakang seluruhnya ditulis dengan ucapan-ucapan:
"Engko Houw, aku benci padamu! Untuk sakit hati ini, aku hendak menuntut!"
Tulisan itu ditulis berulang-ulang, tidak ada perkataan lainnya.
Kertas tulisnya masih ada tanda-tanda basah, rupanya karena tetesan air mata. Nyata bahwa
si nona benar-benar sudah hancur luluh perasaan hatinya. Bagaimana dukanya pada sat ia
menulis surat itu?
Kim Houw tidak sanggup membaca lagi, ia simpan surat itu dalam sakunya, lalu lari ke stal
kuda, kuda hitam itu ternyata juga sudah tidak ada. Ia tahu, Kie Yong Yong telah pergi
meninggalkan padanya dengan hati hancur serta penasaran.
"Itu adalah aku, aku yang mencelakakan dirinya!" demikian pikirnya dalam hati kecil Kim Houw.
Berpikir demikian ia ingin mengejar, tapi kemana? Tidak ada tujuan, kemana harus mencari
jejaknya?
Akhirnya, ia ingat siapa orangnya yang melakukan itu kejahatan. Ia kembali ke kamarnya
lantas memanggil pelayan.
Seorang pelayan muncul dengan lakunya yang congkak.
"Siangkong! Mau apa? Mau air untuk cuci muka, atau air teh? Air di dapur masih belum panas,
belum bisa cuci muka, begitu pula air teh. Harap Siangkong sabar sebentar..." demikian ia
nyerocos sendiri.
Seorang pelayan rumah penginapan bagaimana bisa bersikap demikian congkak terhadap
tetamunya? Itu hanya disebabkan pakaian Kim Houw yang kotor sehingga tidak pandang mata
sama sekali.
Pelayan itu sebenarnya masih hendak bicara lagi, tiba-tiba menampak wajah Kim Houw
berubah pucat, matanya bersorot gusar, sehingga ia merasa ketakutan sendiri.

Kim Houw tutup pintu kamar lebih dulu, baru setindak demi setindak menghampiri si pelayan.
"Siapa yang mencampuri obat pulas dalam makanan dan minumanku? Lekas jawab!"
bentaknya.
Di luar dugaan, pelayan tadi mendengar pertanyaan itu lantas menjadi gusar. "Hei! Siangkong!
Kalau kau tidak mempunyai uang uutuk membayar sewa kamar, bicara secara baik. Buat uang
tidak seberapa, masakah kita hendak bikin rewel? Perlu apa mencari alasan yang bukan-bukan,
untuk memfitnah orang?" demikian jawabnya.
Kim Houw ketawa dingin, "plak!" sepotong uang emas seberat sepuluh tahil dilemparkan di
atas meja dan menancap dalam sekali.
"Matamu buta, kau lihat asli atau bukan? Aku hanya ingin menanya satu hal, kau harus
menjawab terus terang, jangan sekali kali kau berani main gila dengan aku, atau kau nanti mencari
susah sendiri!" kata Kim Houw.
Pelayan itu ketika matanya melihat uang emas, sikapnya lantas berobah.
"Siangkong...!, kau salah paham, cobalah kau katakan!"
Kim Houw menanya pula dengan mata melotot, "Masih tetap juga, siapa yang suruh kalian
menaruh obat pulas dalam makanan kita?"
Pelayan itu nampak berpikir sejenak, tapi tidak mampu menjawab.
Melihat keadaan demikian, Kim Houw mengerti jika tidak menggunakan kekerasan, jangan
harap bisa dapat keterangan yang sebenarnya. Maka dengan cepat ia lantas menyambar tangan
pelayan itu.
Kim Houw menekan dengan keras, sampai pelayan itu kesakitan hingga jejeritan. "Aduh...
aduh... ini bukan urusanku, ini bukan urusanku... Siangkong, tanganku hampir patah, berbuatlah
kebaikan pada sesama manusia!"
Kim Houw lepaskan tangannya, lalu berkata, "Lekas jawab! Siapa yang menyuruh kalian?"
Pelayan itu usap-usap tangannya yang sakit, setelah merintih sekian lamanya, baru menjawab,
"Itulah... seorang yang mengaku dirinya Kim Houw, yang menyuruh kami berbuat demikian. Setiap
kali bayarannya seratus tail perak, tapi itu tidak ada hubungannya dengan pelayan, itu urusan
kasir..."
Mendengar keterangan itu, hati Kim Houw hampir meledak. Ia lalu mencari kasir yang lantas
menyapa dengan wajah berseri-seri. "Oh, kiranya Kim siangkong berdiam di sini, harap maafkan
aku terlambat menyambut! Kami juga sudah mengutus orang untuk memberitahukan kepada Kim
siangkong..."
Kim Houw sebetulnya ingin hajar mampus si kasir, namun ia pikir itu bukan tindakan yang
sempurna. Ia mengerti bahwa perbuatan mencampuri obat pulas dan mencemarkan kehormatan
Kie Yong Yong dilakukan oleh Siao Pek Sin!
Sekarang kecuali menangkap biang keladinya ialah Siao Pek Sin, maka dari gusar akhirnya ia
hanya menasehati kasir, supaya lain kali jangan temaha pada uang, melakukan perbuatan yang
mencelakakan orang.
Setelah membayar sewa kamar, Kim Houw lantas meninggalkan rumah penginapan itu.

Bayangan Kie Yong Yong masih berputaran dalam otak Kim Houw, namun terdesak oleh
bayangan Peng Peng yang mengorek hatinya lebih dalam. Terutama tanggal lima bulan lima
sudah berada di depan matanya. Meski Kim Lo Han, Tok Kai dan Touw Hoa sudah menuju dalam
perjalanan ke gunung Teng-lay-san, tapi apabila ia sendiri tidak turut ambil bagian, mungkin akan
menimbulkan keruwetan.
Tanpa banyak pikir, Kim Houw lantas meninggalkan kota Pek-coan, terus menuju ke gunung
Teng lay san.
Tingginya gunung itu ada enam ribu meter dari permukaan laut, rimbanya lebat. Binatang buas
dan ular berbisa terdapat di mana-mana. Bagian yang tertinggi dan terdalam dari gunung tersebut,
setiap tahun tertutup salju hingga jarang didatangi manusia atau binatang.
Ceng kee cee letaknya di persimpangan sungai Tiangkang, di atasnya sungai hitam persis di
tengah-tengah puncak gunung Teng lay san yang paling tinggi. Di tengah-tengah antara kedua
puncak gunung yang menjulang tinggi ada sebuah lembah yang tanahnya datar, dimana ada
terdapat sebuah danau kecil yang bernama Ceng-ouw. Dan benteng Ceng kee cee ini telah
dibangun di sekitar danau itu. Lembah datar itu dikurung oleh puncak gunung di sekitarnya, maka
jauh dari gangguan angin puyuh atau hujan salju lebat. Hampir selamanya hawanya sejuk seperti
di musim semi. Terutama danau Ceng ouw itu, airnya bening sekali, boleh dipakai untuk minum.
Penduduk Ceng kee cee yang jumlahnya ratusan, selamanya mengandalkan air danau itu untuk
makan dan minumnya.
Hari itu Kim Houw sudah memasuki daerah pegunungan Teng lai san. Oleh karena hatinya
cemas, ia berjalan sekenanya, maka akhirnya nyasar di dalam gunung.
Karena gunung itu banyak puncaknya dan jarang manusianya, maka ia tidak dapat
menanyakan kepada siapapun juga.
Tiba-tiba di salah satu mulut lembah, ia segera dengar suara senjata beradu. Kim Houw
sangat girang, pikirnya asal di situ ada manusia pasti bisa diminta keterangannya. Maka ia lalu
kerahkan ilmu lari pesat menuju ke lembah tadi.
Dari jauh Kim Houw dapat lihat ada dua buah rumah bambu, halaman di depan rumah itu ada
satu bayangan hitam di tengah berputaran dengan cepat. Dalam tangannya memegang serupa
senjata yang sangat aneh bentuknya. Senjata itu sedang diputar kencang sekali, sebentar
kemudian bayangan itu tiba-tiba rebahkan dirinya di tanah dan kemudian membalikkan tubuhnya,
seperti luka binatang badak yang mengintai rembulan, kemudian meloncat tinggi dan ulur
lengannya yang panjang, geraknya itu gesit sekali.
Kim Houw mengawasi dengan seksama baru dapat lihat dengan nyata. Kiranya itu adalah
seorang anak muda tampan yang sebaya dengan dirinya. Ia merasa heran, di dalam hutan belukar
seperti ini, entah apa orang yang berkepandaian tinggi darimana yang mengasingkan diri di sini
dan mengajari murid-muridnya?
Mendadak dari atas sebuah pohon besar riuh suara daun yang berterbangan. Menyaksikan
keanehan itu, Kim Houw semakin heran karena sebagai seorang yang sudah mempunyai
pandangan sangat tajam, ternyata ia masih tidak mengenali senjata rahasia apa yang digunakan,
hanya melihat berkelebatnya sinar lantas daun-daun pohon berterbangan seperti rontok dari
tangkainya.
bersambung ke jilid 10
Jilid 10

Kim Houw lantas berpikir senjata itu pasti ada semacam senjata beracun Bwee-hoa-ciam yang
terdapat dalam buku pelajaran silat Kauw-jin Kiesu.
Cuma saja, jarum Bwee-hoa-ciam ada senjata yang ringan, sedang pemuda itu terpisah jauh
dengan pohon besar itu masih bisa membikin rontok daun-daun pohon tersebut, maka ketajaman
matanya dan kekuatan tenaganya mungkin sudah dapat dibandingkan dengan tokoh-tokoh kelas
satu di kalangan kangouw.
Mendadak pemuda itu hentikan gerakannya, lalu menjura ke arah Kim Houw.
Perbuatan anak muda itu kemba1i membuat kaget Kim Houw, dengan ilmu mengentengi tubuh
yang sudah mencapai puncak kesempurnaannya, ditempat jauh kira-kira sepuluh tombak, ternyata
masih dapat diketahui oleh si pemuda, maka lweekangnya anak muda itu, benar-benar sudah
tinggi sekali.
Belum hilang rasa kagetnya, Kim Houw tiba-tiba lihat pula satu bayangan orang terbang ke
dalam kalangan. Ia adalah seorang tua berjenggot panjang, wajahnya merah, pakaiannya rapi.
Setelah ketawa bergelak- gelak Orang tua itu berkata: "Bagus! Benar- benar sudah cukup
memuaskan, jeri payah suhumu selama setahun ini ternyata tidak percuma.
Cuma didalam lembah ini telah kemasukan seseorang. dia itu entah kawan atau lawan, masih
belum diketahui. Coba kau timpuk dengan batu supaya dia keluar!" .
Percuma saja Kim Hauw sembunyi lagi karena dirinya sudah diketahui orang, lagi pula ia juga
memang tidak ingin sembunyi terus.
Kemudian ia perdengarkan suara ketawa yang panjang, lalu lompat turun dari atas pohon.
Jauh-jauh Kim Houw sudah memberi hormat kepada orang tua dan anak muda tadi seraya
berkata: "Boanpwe telah kesasar jalan sehingga kesalahan masuk ke tempat kediaman Cianpwe
harap Cianpwe suka maafkan!"
Apa mau, baru saja Kim Houw menutup mulut. Si anak muda sudah membentak dengan suara
keras, lalu menyerang dengan senjata rahasianya yang berkeredepan.
Kim Houw terperanjat, cepat melesat tinggi secara mudah sekali menghindarkan serangan itu.
Meski dapat menghindarkan serangan secara mendadak itu, tidak urung dalam hati ia merasa
heran.
Tapi pengalamannya selama beberapa hari ini, ia sudah dapat meraba-raba sebabmusababnya,
semua perlakuan orang-orang yang dikemukakannya, sudah pasti adalah perbuatan
Siao Pek Sin.
Kim Houw masih belum berdiri tegak, tiba-tiba si orang tua sudah berada di depan matanya
dan membentak: "Apa kau Siao Pek Sin, Tiancu dari Istana Kumala Putih ?"
Dengar pertanyaan ini, Kim Houw segera mengerti duduk perkaranya. Kembali gara-gara Siao
Pek Sin, cepat ia memberi penjelasan. "Boanpwe bernama Kim Houw memang mirip dengan Siao
Pek Sin, tapi bukan Siao Pek Sin harap cianpwe tidak sampai salah alamat."
Tiba-tiba muridnya nyeletuk: "Tidak... Tidak dia adalah Siao Pek Sin. Bukan parasnya saja
yang sama, suaranya juga mirip. Cu Pek-ya, kau harus menuntut balas untukku dan untuk yaya,
sekali kali jangan kena dikelabui.

"Cu Hoa, benarkah kau tidak salah lihat ?" tanya si orang tua.
"Cu Pek-ya, sudah tidak salah lagi. Sekalipun dia sudah berobah menjadi abu, aku juga kenal.
Dia adalah mempunyai banyak pembantu barangkali sebentar akan tiba Cu Pek-ya .....!"
Orang tua itu mengurut-urut jenggotnya yang panjang.
"Cu Hoa, kau tidak usah kuatir, ada aku si Sepatu Dewa Cu Su di sini, rasanya tidak mungkin
dia bisa lolos dari tanganku."
Kim Houw terkejut. Julukan "Sepatu Dewa" rasanya sudah pernah ia dengar, tapi entah
dimana ia sudah tidak ingat lagi.
Orang tua yang menyebut dirinya Cu Su dengan julukannya si Sepatu Dewa, bukan lain
adalah ketua dari Partai Sepatu Rumput.
Setahun yang lalu ketika ia lewat di daerah Shoatang selatan mengunjungi sahabat karibnya
Sun Put Wie alias naga terbang di atas rumput, kebetulan menghadapi peristiwa darah di
perkampungan sun-kee-cung, yang ditimbulkan oleh Siao Pek Sin bersama kawan-kawannya. Sun
Put Wie dan seluruh keluarga telah mati terbunuh, kecuali cucunya, Sun Cu Hoa. Ia dengan cerdik
menyembunyikan diri di belakang suatu papan merek hingga terhindar dari malapetaka, meskipun
demikian ia mengalami penderitaan batin yang sangat hebat.
Setelah Sie Pek Sin berlalu, Cu Su baru tiba ia hanya terlambat sedikit saja. Ia berduka dan
tidak bisa berbuat lain daripada bawa Sun Cu Hoa ke gunung Teng-lai-san, untuk digembleng
dalam ilmu silat dan di elakang hari dapat menuntut balas kepada musuhnya.
Tidak disangka, dengan tidak disengaja Kim Houw telah kesasar jalan sampai di lembah
kediamannya mereka. Sun Cu Hoa anggap Kim Houw sebagai Siao Pek Sin, musuh besarnya,
bagaimana dia mau mengerti. Diam-diam Kim Houw sesalkan, kenapa mempunyai wajah mirip
dengan Siao Pek Sin dan tidak melanjutkan penyamarannya sebagai orang gembel (pengemis).
"Siao Pek Sin," kata Cu Su dingin, "Kaburnya di dalam Istana Kumala Putih, semua tokoh
rimba persilatan dan ketua pelbagai partai persilatan, masing-masing telah menurunkan
kepandaiannya kepadamu, bolehkah kau unjukkan beberapa rupa saja kepada aku si orang
pegunungan yang tidak mau memasuki istana keramat itu ?
Aku ingin coba-coba apakah aku mampu menyambuti atau tidak, supaya aku juga bisa
mengukur tenagaku apakah ada harganya untuk menjadi guru silat atau tidak ?"
Kim Houw mendengar perkataan orang tua itu, dalam hati merasa mendongkol, gemas
terhadap Siao Pek Sin membuat (Kim Houw) yang wajahnya mirip dengan manusia berhati
binatang itu telah terlibat dalam banyak kesulitan.
"Harap Cianpwe sudi percaya keteranganku, aku sebetulnya bukan Siao Pek Sin, bahkan aku
sekarang tengah mencari..."
Ia sebetulnya ingin memberi penjelasan kepada mereka dan ajak mereka sama-sama ke
Ceng-kee-cee, supaya duduk perkara menjadi terang kalau Siao Pek Sin sudah dibekuk. Siapa
tahu, Cu Su justru tidak memberikan kesempatan kepadanya, dengan suara keras ia sudah
memotong perkataan Kim Houw: Apa? Apa aku si Sepatu Dewa Cu Su masih tidak ada harganya
bertanding dengan kau?"

Kim Houw mengerti percuma saja ia memberi keterangan. Tiba-tiba timbul pikiran untuk
menggunakan caranya yang pernah dilakukan terhadap si pengemis tua Tok Kai, ajak Cu Su turut
ke Ceng-kee-cee.
Siapa nyana, si orang tua itu seolah-olah mengerti maksud hatinya, sebelum Kim Houw bisa
bergerak lebih dulu, menghadang perjalanannya.
"Kalau kau tidak mau unjukkan kepandaianmu untuk diperlihatkan padaku, jangan harap kau
bisa keluar dari lembah ini dengan mudah. Tidak percaya? Kau boleh coba!" demikian katanya.
Kim Houw menyaksikan gerak badan si orang tua yang demikian gesit, rupanya tidak di
bawahnya sendiri, dalam hati juga merasa kaget. Ia tahu ia harus unjukkan kepandaiannya baru
dapat membikin takluk orang tua itu.
"Cianpwe paksa Boanpwe unjukkan kejelekan, Boanpwe terpaksa menurut, silahkan Cianpwe
membuka serangan lebih dulu!" katanya dengan sikap hormat.
Menurut kelaziman, Cu Su seharusnya siang-siang sudah turun tangan untuk menuntut balas
sakit hati sahabatnya, tapi karena ia mengingat bahwa Siao Pek Sin dalam usianya begitu muda
mampu menduduki kedudukan Tiancu di Istana Kumala Putih, sudah tentu bukan sembarangan.
Khabarnya Siao Pek Sin juga dapat pelajaran rupa-rupa dari tokoh-tokoh rimba persilatan yang
tadinya terkurung dalam Istana keramat itu, lebih-lebih tidak boleh di pandang ringan.
Apalagi ia ingat bahwa dalam pertempuran antara tokoh terkuat, perlu sekali segala
ketenangan pikiran. Dikuatirkan jika sedikit saja tidak bisa mengendalikan hawa amarahnya,
mudah ia tergelincir. Jika sampai demikian halnya, bukan saja tidak berhasil menuntut balas sakit
hati untuk sahabat karibnya, jiwanya sendiri ada soal kecil, tapi keturunan satu-satunya dari
keluarga Sun, mungkin tidak lolos dari kematian.
Maka terpaksa ia menindas perasaan sendiri, dan paksa Kim Houw turun tangan. Siapa tahu
Kim Houw bukan Siao Pek Sin, hingga ia tidak turun tangan tanpa sebab. Akhirnya Cu Su
terpaksa turun tangan lebih dulu menyerang Kim Houw.
Kim Houw melihat serangan Cu Su demikian dahsyat, kekuatan anginnya saja sampai
menderu-deru, ia mengerti kalau orang tua ini sangat lihay.
Ia tidak berani berlaku ayal, dengan cepat ia menyambuti dengan ilmunya Han-bun-cao-khie.
Suara beradunya dua kekuatan tenaga telah terdengar nyaring seperti guntur. Pasir dan debu
pada beterbangan. Sun Cu Hoa yang berdiri sejauh kira-kira tiga tombak terpaksa mundur kira-kira
satu tombak lebih, karena terdampar oleh angin pukulan mereka.
Serangan Cu Su tadi, meski dilakukan dengan tenaga sepenuhnya, tapi setelah kedua tangan
saling beradu, ia juga merasa kaget, sebab kekuatan telapak tangan lawannya yang masih muda
itu dirasakan keras bercampur lunak, bahkan seperti dapat digunakan menurut kemauan hatinya.
Meski kekuatannya sendiri ditambah seratus persen, mungkin masih belum mampu membikin
bergerak kaki lawan.
Si Sepatu Dewa Cu Su adalah ketua dari partai Sepatu Rumput, bagaimana ia tidak mengerti
gelagat ?
Cu Su heran, lawannya lebih tinggi lweekangnya, tapi tidak mengakibatkan apa-apa atas
dirinya, maka ia segera mengerti kalau pihak lawan itu sengaja tidak turun tangan jahat. Sekalipun
demikian, ia masih penasaran melepaskan keinginannya untuk menuntut balas bagi sahabatnya.

Tapi dalam hatinya mulai kuatirkan Sun Cu Hoa. Sebab anak muda ini benar-benar adalah
Siao Pek Sin, sakit hati Sun Cu Hoa biar bagaimana sukar untuk dibalas. Ia mengerti sekalipun
melatih diri lagi sampai beberapa puluh tahun, jangan harap dapat menangkan lawannya yang
berkepandaian hebat itu.
Cu Su umpatkan perasaan kedernya.
"Bagus!" katanya. "Tidak kecewa kau menjadi Tiancu dari Istana Kumala Putih. Mari kita cobacoba
lagi dua jurus!" berbareng ia menggunakan lengan bajunya untuk menyerang Kim Houw.
Melihat Cu Su masih ngotot, Kim Houw tidak bisa berbuat lain, terpaksa ia melayani orang tua
itu.
Sebentar saja, dua orang itu sudah bertempur sepuluh jurus lebih.
Ilmu silat Kao-jih Kiesu dari Istana Kumala Putih, pada seratus tahun berselang sudah lama
menjagoi di dunia persilatan. Ia malang melintang di dunia belum pernah menemukan tandingan.
Bagaimana Cu Su dapat melayani kepandaian Kim Houw, satu-satunya orang yang mendapat
warisan sejati kepandaian ilmu silat itu ?
Kim How ada seorang sopan, meskipun ia didesak terus-terusan oleh Cu Su, tidak pernah
mengeluarkan kata-kata jahat atau kotor memaki pada lawan dan ia tidak mau menggunakan
tangan kejam.
Dalam pertempuran, senjata lengan baju Cu Su seolah-olah terhalang oleh kekuatan gaib,
tidak bisa digunakan seperti biasanya. Mendadak orang tua itu lompat mundur dan berkata kepada
muridnya : "Cu Hoa, ambilkan senjataku!"
Kim Houw mendengar itu, buru-buru berkata: "Cianpwe, harap jangan menggunakan senjata
aku ..... "
"Apa aku harus menerima kematian dengan konyol? Lihat, kawanmu sudah datang semua,"
Cu Su memotong ucapannya Kim Houw.
Berbareng dengan ucapannya orang tua itu dari atas pohon melayang dua orang, Kim Houw
girang, karena dua orang itu adalah Kim Lo Han dan To Kai.
Dengan kedatangan dua orang ini, semua urusan gampang dibereskan, pikir Kim Houw.
To Kai begitu menginjak tanah, lantas memberi hormat kepada Cu Su dan berkata : "Pangcu
selama kita berpisah apa ada baik ? Pengemis tua selalu memikirkan dirimu, sahabat ini adalah
Kim Lo Han dari gereja Hoat-kak-sie di gunung Lie-lian-san, pangcu tentunya juga sudah pernah
dengar !"
Selanjutnya ia berpaling kepada Kim Lo Han.
"Toa Ha-siang, ini adalah Pangcu dari partai kita sepatu rumput," Tok Kai perkenalkan
ketuanya.
Cu Su heran, ia tidak nyana si pengemis tua Tok Kai juga datang ke tempat
persembunyiannya. Diam-diam ia merasa jengah, terpaksa ia menemui dan memberi hormat
kepada Kim Lo Han.

Setelah masing-masing menceritakan persoalannya, baru tahu kalau Kim Houw memang
bukan Siao Pek Sin.
Selanjutnya Tiong Ciu Khek Touw Hoa bersama si botak juga sampai di situ.
Tiong Ciu Khek pada satu hari di muka telah bertemu dengan Tok Kai. Dalam perjalanannya di
gunung itu, mereka juga ada kesasar dan secara tidak sengaja pada menuju ke lembah itu.
Diantara mereka, hanya Sun Cu Hoa yang tetap tidak mau percaya. Ia anggap Kim Houw
dengan Siao Pek Sin sekalipun mirip satu sama lain, tidaklah sampai begitu mirip seolah-olah
pinang dibelah dua. Ia sejak kanak-kanak mempunyai sepasang mata yang tajam, ketajamannya
melebihi manusia biasa.
Sepatu Dewa Cu Su setelah mendengar keterangan Tok Kai, sudah tentu lantas percaya, ia
segera ajak para tamunya masuk ke dalam gubuknya.
Gubuknya meski kecil tapi cukup perabot rumah tangganya. Sebentar kemudian Cu Hoa
sudah mencari hidangan dan dua guci arak untuk tetamunya.
Orang-orang itu sembari makan dan minum membicarakan rencananya untuk memasuki Ceng
kee-cee !
Cu Su yang mendengar mereka hendak masuk ke Ceng kee-cee, lantas berkata: "Ji-tee kau
mempunyai kedudukan sebagai Hu-pangcu (wakil ketua) dari partai Sepatu Rumput, apa masih
belum mengetahui jalan ke Ceng-kee-cee itu ada sangat berbahaya ? Apa kau masih tidak tahu
kalau dua Iblis tua suami-istri dari Ceng-kee-cee itu sangat lihay? Dengan cara demikian masuk ke
Ceng-kee cee, bukan saja tidak dapat menolong orang yang kau maksudkan tepat pada waktunya,
bahkan mungkin kau akan korbankan jiwamu di sana."
Tok Ki ketawa terbahak-bahak.
"Pangcu, kemana keberanian dan kegagahanmu diwaktu muda mengapa sekarang sudah
musnah semua? Lo ceng mo (Iblis tua) suami istri meski mempunyai kepandaian ilmu silat tinggi
luar biasa, tapi itu hanya menurut desas-desus saja, aku masih belum menyaksikan dengan mata
sendiri. Untuk menolong cucu perempuan Touw-lauko, sekalipun harus mengorbankan jiwa, aku
tidak merasa sayang," demikian jawabnya.
Cu Su kerutkan alisnya.
"Adatmu itu, sampai sekarang masih belum berubah. Kau selalu tidak mau mengalah kepada
siapa juga!"
Tok Kai masih tetap ketawa bergelak-gelak.
"Bagaimana harus mengalah? Lo ceng-mo dengan kedudukannya yang strategis, paling
bantar cuma terkenal karena racunnya, apakah Sin Hoa Tok Kai ada seorang yang takut racun?
Semua racun di dalam dunia, paling berbisa ialah Ho teng ang, racun seperti racun ular, kelabang
atau kalajengking apa artinya? Kim siauhiap ada Bak Tha yang selalu mendampingi badannya dan
segala racun yang bagaimana bisa juga dapat ditolong olehnya!"
"Mengetahui keadaan sendiri dan mengetahui keadaan lawan. Baru bisa mendapat
kemenangan dalam segala pertempuran. Ada suatu pepatah berkata: sebelum pikirkan
kemenangannya, lebih dulu pikirkanlah kekalahannya. Dalam segala hal harus mempunyai

rencana yang sempurna, sekali turun tangan, jangan sampai gagal," Cu Su menyatakan
pendapatnya.
Ucapan ini, tidak bisa dibantah oleh Tok Kai, semua orang juga anggap itu memang benar.
Si botak yang duduk di dekat pintu, tiba-tiba berbangkit, badannya lantas lemas dan rubuh di
tanah.
Semua orang menyaksikan itu pada terperanjat. Sebabnya, seorang yang tanpa sebab, tibatiba
diserang penyakit, penyakit itu tentunya keras dan berbahaya.
Su Cu Hoa yang duduk di sisinya si botak juga mendadak menjerit kaget, tapi baru saja
hendak mengatakan sesuatu, lantas berbangkis dan kemudian juga rubuh di tanah.
Dengan demikian, semua orang segera menyadari adanya bahaya, Tiong Ciu Khek pertamatama
yang membuka pintu hendak menerjang keluar, tapi ketika pintu terbuka, segumpal asap
lantas menyerbu masuk. Tiong Ciu Khek yang pertama menjadi korban, ia berbangkis beberapa
kali, lantas rubuh di tanah.
Perubahan yang terjadi secara mendadak sudah tentu mengejutkan semua orang, apalagi
asap tebal masuk bergulung-gulung, hingga keadaan menjadi gelap!
Sin Hua Tok Kai berseru dengan nyaring "Dalam asap ada racunnya, lekas tutup jalan
pernapasan."
Berbareng ia lantas menerjang keluar. Ia tidak kuatirkan dirinya sendiri, karena tidak takut
racun segala racun tidak mempan padanya. Tapi begitu keluar dari gubuk, mulutnya lantas
ternganga, matanya terbuka lebar!
Seluruh lembah telah diliputi oleh kabut asap tebal, mata manusia tidak dapat melihat benda
dalam jarak satu tombak. Apalagi asap itu nampaknya makin banyak dan makin tebal. Justru
lembah itu merupakan lembah yang tertutup dari empat penjuru, maka asap itu terus berkumpul
disitu-situ juga.
Tok Kai buru-buru balik ke dalam gubuk segera menampak Cu Su dan Kim Lo Han sedang
duduk bersemedi. Dengan jalan demikian meski tidak sampai dibikin celaka oleh asap beracun itu,
tapi keadaannya tidak beda banyak dengan Tiong Ciu Khek yang benar-benar kena asap beracun,
yang kini sedang menggeletak di tanah tidak ingat orang.
Diantara mereka kecuali ia sendiri, adalah Kim Houw yang kelihatan tidak apa-apa. Apa
sebabnya bocah itu dapat menahan serangan asap beracun? Apakah dia juga tidak takut racun?
Ketika itu Kim Houw tengah repot lari kesana kemari, Bak-tha nya di rendam dalam arak,
setiap orang ia beri minum arak rendaman Bak-tha itu secawan.
Tapi begitu mendusin baru saja membuka matanya, lantas pingsan kembali. Sebab selama
dalam keadaan demikian, mereka tidak menutup jalan pernapasannya!
Tok Kai memandang Kim Houw sejenak, lalu berkata: "Siauhiap, jangan membuang waktu,
percuma saja. Dengan melihat keadaanmu mungkin kau juga tidak takut asap beracun ini. Kita
sekarang harus mencari daya upaya menerjang keluar dari kepungan asap beracun ini lebih dulu,
atau berdaya menyerang orang-orang yang akan menyerbu kemari, untuk menyelamatkan diri kita
semua."

Memang benar Kim Houw tidak takut asap beracun itu, sebab buah batu yang ia makan dalam
goa justru matang di bawah asap racun binatang kalajengking beracun.
Tok Kai geleng-gelengkan kepala: "Menahan musuh dan menolong kawan, sama pentingnya.
Melihat keadaan sekarang, dua soal ini tidak dapat dilakukan berbareng. Apakah kita baik
menyerang keluar dulu, untuk mencegah bertambah asap beracun, kemudian kita menolong
mereka dengan perlahan-lahan," kata Tok Kai.
"Keluar menyerang musuh cuma bisa dilakukan oleh seorang saja, karena seorang lagi harus
menunggu untuk melindungi rumah ini dan bokongan musuh. Melindungi rumah ada berat, keluar
menyerang musuh agak ringan. Biarlah Kim Houw pilih yang ringan saja, harap cianpwe menjaga
rumah, bagaimana ?" kata Kim Houw.
Tok Kai tadi pernah menyaksikan pertempuran antara Kim Houw dengan Cu Su, tipu-tipu
pukulan yang digunakan oleh Kim Houw, meskipun nampaknya kurang ganas, tapi
kedahsyatannya benar-benar sangat mengagumkan. Maka terhadap anak muda itu ia diam-diam
juga sangat kagum.
Kini mendengar perkataannya, terang sebetulnya Kim Houw sendiri yang hendak memikul
tugas berat, tapi diputar balik dan ini hanya bermaksud hendak memberi muka kepada orang yang
tingkatannya lebih tua, maka Tok Kai diam-diam merasa tambah suka terhadap kepribadiannya
Kim Houw.
"Baiklah, aku si pengemis tua bisa jaga rumah, tapi kau sendiri juga harus hati-hati. Untuk
kepentingan nasib kita bersama, untuk sementara jangan pergi jauh-jauh, juga tidak perlu terlalu
murah hati terhadap musuh. Dalam keadaan demikian, kalau bukan dia yang mati pasti kita yang
mampus. Kau boleh kira-kira sendiri dan sekarang pergilah! Jika ada bahaya lekas memberi
tanda!"
"Terima kasih atas nasehat Cianpwe," kata Kim Houw sambil memberi hormat.
"Apa pakai Cianpwe-cianpwe segala, kedengarannya sangat menjemukan, lekaslah pergi."
Dengan tidak banyak bicara, Kim Houw sudah melesat keluar.
Saat itu di luar pintu asap nampak makin tebal, tapi mata Kim Houw yang sangat tajam masih
dapat melihat dengan tegas keadaan jarak tiga tombak jauhnya.
Ia berdiri sejenak untuk memeriksa keadaan, ia lihat asap itu masuk dari mulut lembah, maka
segera mengetahui bahwa musuh-musuhnya itu tentu di mulut lembah ia lantas bergerak menuju
ke arah itu.
Baru berjalan kira-kira sepuluh tombak lebih jauhnya, tiba-tiba ia disambut oleh beberapa
puluh batang anak panah, yang melesat dengan cepat ke arah dirinya.
Begitu dengar suara menyambarnya anak panah, Kim Houw segera mengetahui datangnya
bahaya, maka ia lantas keluarkan senjata Ngo-heng-kiamnya dan pecutnya Bak-tha Liong Kin.
Masing-masing digenggam di tangan kanan dan kirinya.
Ketika beberapa puluh batang anak panah sudah datang dekat, Kim Houw putar kedua
tangannya.

Begitu cepat datangnya anak panah begitu cepat pula dikirim kembali oleh Kim Houw, hingga
sebentar saja sudah lenyap.
Setelah serangan anak panah itu berhenti Kim Houw lompat maju, sekejap saja kembali ia
sudah berada sejauh beberapa puluh tombak.
Tiba-tiba ia dengar suara bentakan orang, beberapa butir Gin bong gemerlapan menyambar
padanya.
Senjata rahasia Gin-bong itu sangat kecil dan halus bentuknya, datangnya cepat bagikan kilat
menyambar, tapi kedua senjata pusaka Kim Houw diputar demikian rupa rapatnya hingga tetesan
airpun tidak menembus.
TIba-tiba ia melesat setinggi delapan tombak, matanya mendadak terang, hawa duara
dirasakan segar. Kim Houw merasa girang, ia lalu menduga bahwa asap beracun itu ternyata tidak
dapat mumbul ke atas, paling tinggi mungkin cuma lima tombak saja.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang ketawa bergelak-gelak, kemudian disusul
dengan ucapannya: "Binatang cilik, kau ternyata tidak takut asap beracun! Sekarang kau kasih kau
rasakan lihaynya bom api.
Kim Houw segera melayang turun, karena suara itu ia kenali adalah suara Siao Pek Sin
sendiri. Baru saja kaki Kim Houw menginjak tanah, ia sudah lompat melesat ke atas lagi, menuju
ke dinding lembah dari mana datangnya suara tadi. Mata Kim Houw lantas mencari diantara
dinding lembah itu.
Apakah ia salah dengar? Sedikitpun tidak, tapi Kim Houw tidak melihat bayangan seorangpun
juga. Entah dimana sembunyinya Siao Pek Sin.
Peletikan lelatu api tiba-tiba meluncur dari atas kepalanya, kemudian disusul oleh suara
ledakan keras. Kim Houw tundukkan kepala untuk melihat apa yang telah terjadi, di bawah kakinya
ternyata sudah mengepul asap tebal kemudian berobah tiba-tiba menjadi bara yang mengeluarkan
sinar hijau. Api itu ternyata sudah membakar kakinya.
Bukan main kagetnya Kim Houw. Ia lalu berdaya menahan lajunya badan sendiri yang
melayang turun dengan cepatnya, sepatunya yang rombeng ia lepaskan dari kakinya, dengan
meminjam kekuatan di atas sepatunya yang terlepas ini, ia melesat lagi ke atas kira-kira dua
tombak tingginya, kemudian dengan gaya miring ia melesat lagi beberapa tombak jauhnya.
Dengan demikian ia lolos dari bahaya.
Tidak nyana, baru saja badannya meluncur turun, disampingnya kembali terdengar suara
ledakan api yang bersinar hijau itu kembali menyala. Betapapun tinggi kepandaian Kim Houw, oleh
karena badannya masih belum berdiri tegak, hendak menyingkir dari bahaya itu juga tidak keburu.
Sebentar saja, di atas badan Kim Houw sudah terbakar oleh api yang sangat mujijat itu Kim
Houw buru-buru melompat lagi, tapi begitu badannya bergerak, api yang membakar di badannya
lantaran kena asap telah menyala makin hebat.
Saat itu Kim Houw bukan cuma kaget, tapi juga bingung. Cepat ia jatuhkan dirinya bergulingan
di tanah, barulah api dapat dibikin padam. Hanya pakaiannya dan rambutnya yang awut-awutan
terbakar sedikit sedang kulitnya tidak terluka.
Sampai pada saat itu Kim Houw masih belum menyadari, bahwa dirinya selama setengah
tahun melatih ilmu Han Bun Cao Kie di istana Kumala Putih, membuat darah dagingnya
mempunyai daya tahan hawa dingin dan tidak takut hawa dingin dan hawa panas. Maka ketika ia

dikurung oleh api dari bom peledak itu, kulitnya sedikitpun tidak terluka atau hangus. Kalau orang
lain, mungkin sudah pada melepuh kesakitan.
Hal lain yang menguntungkan dirinya ialah sifatnya itu api sendiri, mesti hebat panasnya, tapi
menyalanya sangat perlahan. Mungkin ini disebabkan asap tebal, kurang hawa udara dan kurang
angin.
Baru saja Kim Houw lolos dari bahaya kebakar, tiba-tiba ia merasa di belakangnya ada
samberan angin, cepat ia putar balik dirinya, suatu benda putih berkelebat di depan matanya dan
hampir menyentuh dadanya, gerakannya cepat sekali, Kim Houw tidak banyak pikir menghunus
pedang Ngo-heng-kiamnya untuk memapas benda putih itu, ternyata ada sebilah pedang tajam.
Senjata pecut ditangan kanannya juga ia gunakan untuk balas menyerang ke arah dada si
penyerang tadi Ngo-heng-kiam adalah pedang pusaka yang tajamnya luar biasa, maka sama
sekali sudah tidak memberikan kesempatan lawannya untuk menarik kembali serangan
pedangnya. Pedang pusaka itu begitu membentur pedang lawan lantas terpapas menjadi dua
potong. Serangan pecut Kim Houw boleh dikata dilakukan dengan berbareng. Dia benci kepada
lawanannya yang sangat telengas itu, tidak sepatutnya membokong dengan cara demikian
rendah. Maka ia turun tangan agak berat.
Sekali Kim Houw niat melukai lawannya sukar bagi lawan dapat menyingkir dari tangannya.
Segera terdengar suara merintih, kemudian disusul rubuhnya tubuh lawannya.
Kim Houw masih belum sempat lihat tegas siapa lawannya yang terluka itu, di belakangnya
mendengar ada suara orang yang membentak, sedang samberan anginnya sudah sampai di
gegernya. Dalam keadaan gelap, karena asap tadi, Kim Houw cuma bisa berkelit, ke depan,
kemudian lompat melesat sejauh tiga tombak.
Tapi, selagi badannya belum memutar balik angin serangan sang lawan sudah sampai. Kim
Houw ingat perkataan Tok Kai: "Kalau bukan dia yang mati adalah kita yang mampus." Didesak
demikian rupa, sudah tidak ada jalan lain baginya kecuali turun tangan kejam. Maka ia lantas
membalik dengan mendadak dan menyerang dengan pecutnya.
Suara jeritan ngeri terdengar, lalu disusul oleh rubuhnya badan lawannya. Kim Houw coba
tenangkan pikirannya, ia lihat bahwa dua orang yang rubuh itu ternyata tidak bergerak lagi, hatinya
tiba-tiba merasa duka. Ini bukan karena mengasihi lawannya yang bernasib malang itu, tapi
karena untuk pertama kalinya ia melukai orang begitu berat, sejak ia muncul di dunia kangouw.
Ketika ia menghampiri serta mengetahui tegas wajahnya dua orang yang terluka itu, keringat
dingin lantas mengucur, matanya terbelalak dan hatinya hancur luluh! Dua orang yang menjadi
korban senjatanya itu adalah Lie Cit Nio dan To Pa Thian yang dulu pernah bersama-sama
menjadi penghuni Istana Kumala Putih.
Kepandaian Lie Cit Nio pernah ia saksikan sekalipun tidak dapat menandingi senjata pecutnya
Bak-tha Liong-kin, rasanya tidak mungkin hanya dalam satu jurus saja sudah rubuh di tangannya.
To Pa Thian lebih-lebih membuat orang tidak habis pikir. Senjata istimewa yang sudah lama
terkenal dalam kalangan Kangouw, Cu Bo in tan, ternyata tidak digunakan, sebaliknya
menggunakan tangan kosong untuk menyerang, apa yang lebih aneh, seorang tokoh rimba
persilatan yang sudah kawakan, maka ada demikian tolol sampai menjaga serangan membalik
lawannya saja tidak mengerti.
Saat itu Kim Houw bukan saja terperanjat tapi juga merasa heran.... Ia lalu berjongkok dan
memeriksa luka kedua orang itu. Satu luka di depan dada, satu lagi luka di bawah ketiaknya.

Semua merupakan luka-luka yang bisa membahayakan jiwanya, nampaknya sudah tidak ada
harapan hidup lagi.
Lie Cit Nio dan To Pa Thian meski sudah tidak bisa bergerak, tapi masih belum putus jiwanya.
Mereka membuka lebar matanya mengawasinya Kim Houw sambil tersenyum puas. Dari mulut
masing-masing mengeluarkan sebutir obat pil.
"Kim-tiancu, kaulah adalah Tiancu istana Kumala Putih yang tulen. Kami tidak mendapat
kesempatan untuk menyaksikan kau duduk di atas kursi singgasana Istana Kumala Putih, sungguh
adalah suatu penyesalan yang besar, sekarang demi mati di dalam tanganmu kami rela dan
merasa puas. Semoga kau lekas berhasil menumpas itu binatang she Pek serumah tangga dan
duduk di kursi singgasana dalam Istana Kumala Putih. Kim-tiancu, kau jangan berduka, kami yang
tidak sudi membantu kejahatan tapi tidak mempunyai hak untuk mengambil keputusan sendiri
terpaksa meminjam tanganmu untuk mengembalikan kebebasan kami, maka tak usah kau
bersusah hati....."
Dengan susah payah Lie Cit Nio telah mengucapkan perkataannya. Napasnya memburu.
"Dua butir obat pil ini dapat memusnahkan racun, asap beracun. Lekas ambil untuk menolong
jiwa kawan-kawanmu! Kematian buat kami adalah lebih baik daripada hidup terkekang. Harap
tenangkan pikiranmu, semoga Tuhan melindungi kau, Tiancu."
Saat itu pipi Kim Houw sudah basah dengan air mata. Banyak kata-kata yang diucapkan, tapi
tidak mampu dikeluarkan dari mulutnya. Hatinya pedih, mulutnya terkancing.
Mendadak ia ingat dirinya Peng Peng, lantas menanya : "Tahukah Jiwie, dimana nona Peng
Peng sekarang berada."
Lie Cit Nio dan To Pa Thian, karena lukanya mengucurkan banyak darah, saat itu keadaannya
sudah seperti pelita yang sudah kering minyaknya. Lama sekali mereka baru membuka mulut, Kim
Houw cuma menangkap satu kata saja :"........Pek......"
"........Pek....."
Pek? Hanya satu kata Pek. Ia coba menanya lagi, tapi keduanya sudah pejamkan mata dan
menarik napas yang penghabisan.
Kim Houw makin sedih, air matanya mengucur makin deras. Pada saat itu, segumpal api telah
menyambar dengan pesat. Kim Houw yang sudah tahu lihaynya api itu, ia tidak berani gegabah
lagi. Dua orang sudah binasa, ia tolong lagi juga tidak berguna. Terpaksa ia mengambil dua butir
obat pilnya dan lantas terbang melesat. Baru saja Kim Houw menyingkir. Suara peletok telah
terdengar, sebentar saja jenasahnya Lie Cit Nio dan To Pa Thian sudah terbakar habis. Kim Houw
berlutut dari jauh, memberi hormat yang terakhir kalinya kepada sahabatnya yang tidak beruntung
lagi.
Dua butir obat itu, sedikitnya dapat menolong dua kawannya sudah ada empat orang untuk
menolong lagi tiga orang lebih mudah.
Baru saja Kim Houw bangkit, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras yang menusuk
telinganya. Kim Houw segera kenali itu adalah suaranya si pengemis tua. Ia terkejut, buru-buru
meninggalkan tempat itu lari balik ke gubuknya Cu Su.
Sebentar saja ia sudah tiba. Rumah yang terbuat dari bahan bambu itu ternyata sudah
terbakar oleh api ajaib itu, sebelah pintunya sudah terbakar habis.

Melihat keadaan demikian, Kim Houw hampir terbang semangatnya. Ia tidak perdulikan
dahsyatnya api hijau itu, lalu lompat menerjang ke dalam gubuk. Belum sempat ia tancap kakinya,
setengah dari gubuk bambu itu ternyata sudah rubuh, mau menimpah dirinya Tiong Ciu Khek, Sun
Cu Hoa dan si botak yang sedang pingsan.
To Kai baru mau menyingkirkan Kim Lo Han dan Cu Su masih belum keburu menyingkirkan
ketiga orang itu, gubuknya sudah roboh, baiknya pada saat itu Kim Houw kebetulan menerobos
masuk.
Tapi ketika Kim Houw mengambil dua butir pil dari mulut Lie Cit Nio dan To Pa Thia, ia simpan
dalam saku dan pedangnya Ngo Heng kiam dimasukkan dalam sarungnya. Kini nampak gubuk
bambu itu rubuh dan mau menimpa Tiong Ciu Khek bertiga dengan tanpa banyak pikir lagi ia
lantas ayun tangan kirinya mengeluarkan serangan Han Bun-cao-khie yang ampuh, hingga gubuk
yang sedang rubuh itu dibikin terbang balik, sedang pecut Bak-tha Liong-kin ditangan kanannya
diputar untuk membasmi api yang beterbangan di tanah.
Ilmu Han-bun-cao-khie Kim Houw merupakan suatu ilmu pukulan yang paling dahsyat dalam
dunia persilatan, apalagi ia kerahkan tenaganya seratus persen. Maaf bukan saja gubuk itu yang
sedang rubuh itu sudah dibikin terbang, sebagian yang belum rubuh juga terguncang keras.
Ini betul-betul di luar dugaan Kim Houw.
"Kakek Pengemis, lekas bawa orang-orang keluar gubuk!" teriak Kim Houw pada Tok Kai.
Ia sendiri lantas menyambar ketiga orang itu untuk di bawa keluar dari gubuk yang hendak
runtuh itu.
Si pengemis tua bisa bertindak cepat juga, dengan satu tangan satu orang, ia kempit Kim Lo
Han dan Cu Su keluar dari gubuk. Mereka baru saja keluar, gubuk itu sudah ambruk seluruhnya.
Dalam keadaan sangat berbahaya seperti itu, si pengemis tua ternyata masih bisa berkelakar.
"Haha, kakek pengemis, sebutan ini sungguh bagus sekali. Pengemis tua yang seumur
hidupnya belum pernah mempunyai mantu perempuan, sebaliknya sudah menjadi kakek.
Mempunyai cucu yang begitu tinggi kepandaiannya kakek ini benar-benar boleh merasa bangga!"
katanya sambil ketawa.
Kim Houw tidak mau ambil pusing, ia keluarkan dua butir obat pilnya, tapi tidak tahu harus
diberikan kepada siapa ?
Selagi masih bingung si pengemis tua sudah menghampiri dan berkata : "Apakah ini obat
pemusnah asap beracun ?"
"Benar, cuma tidak tahu harus siapa yang harus ditolong lebih dulu ?"
Si pengemis tua lalu menyambuti dua butir obat pil itu, ia endus-endus di hidungnya kemudian
berkata: "Dalam segala hal kita harus bisa timbang mana yang berat dan mana yang ringan. Dua
bocah cilik ini tidak guna dibikin mendusin. Tiong Ciu Khek Touw-toako terserang racun paling
hebat, setelah dibikin mendusin mungkin belum mampu melindungi dirinya. Hanya Pangcu kami
dengan Kim Lo Han, sehingga masih belum terkena racun, setelah mendusin bisa melawan
musuh dan juga bisa menolong orang. Kau anggap usulku ini bagaimana ?"
Pertanyaan si pengemis tua yang terakhir belum mendapat jawaban, dua butir pil itu sudah
dijejalkan dalam mulutnya Cu Su dan Kim Houw mengangguk sebagai tanda setuju usulnya itu, Cu
Su dan Kim Lo Han sudah pada mendusin.

Cu Su dan Kim Lo Han setelah mendusin tidak perlu membuka mulut, sudah tahu apa yang
menyaksikan dengan hati panas. Tapi dengan cepat sudah panggul dirinya Sun Cu Hoa.
Kim Houw selagi hendak menggendong si botak, Kim Lo Han sudah lompat menghampiri serta
berkata: "Houw-ji kau membuka jalan bocah ini biarlah aku yang bawa!"
Kim Houw semula tidak ingin Kim Lo Han menggendong anak muda, tapi kemudian
menganggap membuka jalan adalah satu tugas yang lebih penting, terpaksa serahkan si botak
kepada Kim Lo Han ia sendiri lantas tampil lebih dulu menerjang keluar.
Belum jauh orang-orang itu keluar dari tempat yang sangat berbahaya itu, di belakang
gegernya terdengar suara peletak-peletok dengan beruntun. Di depan lembah juga terdengar
suara dentuman hebat.
Kim Houw yang sudah merasakan lihaynya senjata meledak itu dalam hati merasa kalut, tibatiba
terdengar suara Cu Su berkata. "Kim-siauhiap, mari ikut aku!"
Kim Houw lantas balik kembali, Cu Su sudah menerjang keluar dari samping.
Kim Houw tahu bahwa Cu Su sudah lama berdiam di lembah tersebut, sudah tentu tahu baik
keadaan di sekitarnya, maka lantas lari mengikuti di belakangnya.
Cu Su mungkin karena asap terlalu tebal, matanya tidak bisa melihat jauh. Di tebing sebelah
kiri lembah ia mencari jalan agak lama, baru diketemukan suatu lembah yang agak rendah.
Ia menghampiri sebuah batu besar, lalu mendorong dengan kuat ketika batu itu tergeser, di
belakangnya terdapat pintu goa.
Mendadak disamping batu terdengar suara ledakan, api hijau lantas berkobar hebat Kim Houw
yang berada paling dekat, tapi ia menyingkir paling cepat hingga badannya tidak sampai terbakar.
Tidak demikian dengan Kim Lo Han dan si pengemis tua, dua orang ini keadaannya sangat
mengenaskan, sebentar saja pakaiannya dan si botak yang digendongnya di gegernya semua
sudah terbakar!
Masih untung bagi mereka, saat itu pintu goa tertampak jelas, maka Kim Lo Han dan Tok Kai
segera melompat masuk. Kim Lo Han letakkan si botak, lalu bergulingan di tanah hingga padam
apinya, begitu pula dengan Tok Kai.
Kim Houw dan Cu Su menolong Tiong Ciu Khek dan si botak Sun Cu Hoa dari kebakaran,
sekalipun setelah apinya padam, Kim Lo Han dan To Kai bukan saja bajunya habis terbakar
kulitnya juga pada melepuh. Si pengemis lagi lucu, separuh rambutnya terbakar habis.
Tiong Ciu Khek dan si botak lukanya jug tidak ringan, kalau Kim Lo Han dan Tok Kai pada luka
di bagian dadanya, Tiong Ciu Khek dan si botak terluka dibagian gegerkan. Semua kulit pada
melepuh.
Luka terkena senjata tajam mudah diobati tapi tidak demikian dengan luka terbakar. Luka itu
tidak memerlukan pil atau obat dalam, hanya memerlukan waktu sedikit lama, baru bisa sembuh.
Goa itu, mulutnya cuma setinggi orang berdiri, tapi di dalamnya sangat luas, ternyata itu
adalah gudang tempat Cu Sun menyimpan barang makanan. Didalam tidak ada penerangan, tapi
entah darimana masuknya angin. Dengan demikian maka asap beracun itu tidak bisa masuk,
sedang asap yang berada dalam goa, lantas lenyap tertiup angin.

Cu Su lalu menggunakan obat pil untuk menolong orang-orang yang pingsan. Tiong Ciu Khek
begitu mendusin lantas melompat bangun tapi karena badannya bergerak, luka-luka melepuh di
badannya lantas pecah, hingga menimbulkan rasa sakit yang tak terkira. Sekalipun ia mempunyai
kepandaian tinggi, juga harus kerutkan alis menahan rasa sakit.
Si pengemis yang lukanya paling berat, tapi ia sifatnya selalu gembira. Dalam keadaan
demikian, ia masih bisa bersenda gurau. Melihat sikapnya Tiong Ciu Khek yang gelisah, lantas ia
tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: "Touw-lauko! Tenanglah sedikit, hari ini kita semua
mengalami hari naas. Belum mendekat Geng-kee-cee, semua sudah menjadi anjing buduk, bulu
dan kulitnya saja sudah tidak utuh lagi!"
Tiong Ciu Khek angkat tangannya hendak menghunus pedangnya, tapi alisnya lantas
dikerutkan, mungkin lukanya pecah lagi, sehingga menimbulkan rasa sakit.
"Ceng-kee-cee! Iblis tua kalau aku tidak mampu mengubrak-abrik seranganmu, nama Tiong
Ciu Khek selanjutnya boleh dihapus dari dunia Kangouw!"
"Ah! Pengemis tua yang begini tua", katanya kali ini tawanya getir. Masih harus merasakan
siksaan begini rupa! Touw-lauko tentang kau tak usah bicara lagi, dalam dunia Kangouw
selamanya akan tercantum namamu. Cuma belum tentu kau berhasil menerjang ke luar aku si
pengemis tua tidak usah dikata lagi. Sekarang lihat cucuku ini saja..... Ah! Kau jangan bikin repot
pengemis tua saja, orang-orang dari Istana Kumala Putih diantaranya siapa yang kau mampu
menandingi? Imam Palsu ? Kacung Baju Merah? Kim Coa Nio-nio atau Lui Kong ?"
Pengemis itu mengoceh sendirian, seolah-olah lupa akan rasa sakitnya, sampai Tiong Ciu
Khek merasa mendongkol. Tapi itu memang sebenarnya, Tiong Ciu Khek diam-diam juga
mengakui.
Si Kacung baju merah usianya lebih muda dua tahun dari dirinya, dengan siapa ia mempunyai
hubungan yang akrab, meski belum pernah mengadu tenaga, tapi dalam hati sudah merasa ia
bukan tandingan si Kacung Baju Merah.
Sementara itu, yang lain-lainnya seperti Imam Palsu, Kim Coa Nio-nio, Lui-kong dan masih
ada lagi sepasang manusia aneh dari Hay-Lam, semua tidak boleh dianggap remeh. Meski belum
tentu jatuh ditangan mereka, tapi kalau bertanding satu lawan satu, terhadap satu saja diantara
mereka belum tentu bisa merebut kemenangan.
Kemudian, si pengemis lalu menceritakan apa yang telah terjadi barusan ketika Tiong Ciu
Khek dalam pingsan.
Pada saat itu, Kim Houw duduk dengan tenang seorang diri, apa yang diucapkan oleh si
pengemis tua sepatah katapun tidak masuk ke telinganya. Apa yang dipikirkan ialah soal dimana
adanya Peng-peng sekarang ?
Keterangan Lie Cit Nio dan To Pa Thian yang cuma menyebutkan "Pek" saja, sudah cukup
membikin pusing kepalanya. Ia heran mengapa mereka tidak mengatakan "Ceng" sebaliknya
mengatakan "Pek?" apa mereka maksudkan bahwa Peng Peng sudah dibikin celaka oleh Siao
Pek Sin?
Dengan seorang diri ia duduk termenung pikirannya bekerja keras. Tok Kai menggodanya
sebagai cucunya, dia juga tidak dengar. Pikirannya cuma memikirkan Peng Peng serta Kie Yong
Yong yang dicemarkan oleh Siao Pek Sin, tapi kemudian ditimpahkan kedosaannya kepada
dirinya.

Tiba-tiba pundak kirinya di tepok orang, tepokan itu demikian berat. Kalau Kim Houw tidak
cepat bergerak dan pundaknya agak menggeser setengah dim pundak itu tentu sudah hancur
tulang-tulangnya.
Kim Houw masih belum lihat siapa orangnya, cuma hatinya merasa heran. Ketika ia berpaling,
di belakangnya berdiri Sun Cu Hoa yang nampaknya tidak hiraukan lukanya. Kim Houw merasa
heran, apakah ia masih belum hilang salah mengertinya?
"Cu Pek-ya sedang menanya kau ? Apa kau sudah tuli ?...." kata Sun Cu Hoa.
Belum habis ucapan Sun Cu Hoa, Cu Su sudah membentak padanya: "Cu Hoa ! Kau berani
berlaku kurang ajar terhadap siauhiap?"
Dengan air mata berlinang ia tundukkan kepala.
"Cu Pek-ya kesanku terhadap dia kelewat jelek sekali. Siapa suruh dia mempunyai wajah yang
mirip sekali dengan musuh turunanku Siao Pek Sin ? Aku tidak tahan, aku kepingin makan
dagingnya, hirup darahnya..." Cu Hoa seperti kalap.
"Cu Hoa, kau berani melanggar perintahku?...." Cu Su memotong dengan bentakan.
Sun Cu Hoa lalu berlutut di depan Cu Su air matanya mengalir deras.
Kim Houw menyaksikan keadaan demikian lalu berkata kepada Cu Su: "Cu-cianpwe jangan
kau salahkan dia. Kita harus sesalkan perbuatan Siao Pek Sin yang menggemaskan. Aku juga
benci terhadap diri sendiri mengapa aku mempunyai bentuk rupa yang mirip padanya. Aku
sebetulnya ingin menggores wajahku dengan pedang supaya gampang dikenali."
Kim Houw pimpin bangun Sun Cu Hoa tidak nyana anak muda itu keras adatnya,
bagaimanapun dibujuk, ia tidak mau meladeni ketika Kim Houw bimbing lagi, Sun Cu Hoa balikkan
badan, tangannya menyerang dada Kim Houw.
Perobahan yang terjadi secara mendadak, sungguh tidak dinyana oleh Kim Houw, tapi sebagai
seorang yang mempunyai kepandaian luar biasa, serangan itu tidak berarti apa-apa baginya.
Kim Houw sengaja tidak mau berkelit ia antapi dirinya diserang, agaknya membiarkan Sun Cu
Hoa untuk melampiaskan kebenciannya yang dilimpahkan pada dirinya.
Tapi tidak demikian dengan Cu Su, orang tua itu gusar sekali karena Sun Cu Hoa tidak dengar
perkataannya. Ia menggunakan lengan bajunya untuk menghajar Sun Cu Hoa, mulutnya
membentak: "Binatang, dia adalah tuan penolong kau dan aku. Kau seorang murid tidak dengar
kata suhunya lagi merupakan seorang yang tidak berbudi, kebaikan dibalas dengan kejahatan,
buat apa kau menjadi orang ?"
Lengan bajunya lantas meluncur menyerang lengan kiri Sun Cu Hoa.
Sun Cu Hoa agaknya tidak ambil pusing sedikitpun tidak menggeser dari tempatnya.
Serangan Cu Su tidak boleh dipandang ringan kalau itu mengenai lengan Cu Hoa, lengan itu
pasti patah.

Kim Houw tiba-tiba melesat dari samping, ia tidak menyentuh Sun Cu Hoa lagi, tapi
menggunakan jari tangannya menotok lengan baju Cu Su, sehingga Sun Cu Hoa terhindar dari
malapetaka. Kemudian berkata kepada Cu Su.
"Cu-cianpwe, harap jangan salahkan dia. Dia sebetulnya tidak bersalah. Orang yang telah
mengalami bencana rumah tangganya, bagaimana tidak berduka? Bagaimana tidak benci ? Aku
dapat memahami perasaannya, aku tidak akan sesalkan dia......"
Baru berkata sampai ke situ, tiba-tiba terdengar suara guntur, tanah sampai tergoncangkan
dalam goa keadaannya mendadak gelap gulita. Kim Houw yang bisa melihat dalam keadaan gelap
seperti diwaktu siang hari lantas tujukan ke pintu goa, pintu itu ternyata tertutup oleh sebuah batu
besar.
Mulut goa tidak seberapa besar, sudah tentu orang tidak dapat melihat batu itu ada seberapa
besarnya ? Tapi dilihat dari jatuhnya dan suaranya yang seperti guntur serta tanah yang masuk di
pintu goa, besarnya batu itu sudah dapat dibayangkan sendiri berapa besarnya.
Kim Houw buru-buru mendekati pintu goa, dengan kedua tangannya ia mencoba mendorong,
tapi ternyata tidak bergeming. Ia terkejut buru-buru menggunakan ilmunya Han-bun-cao-khie,
lantas mendorong lagi.
Tenaga yang keluar dari ilmunya Han-bun-cao-khie itu, hebatnya tidak terlukiskan. Tapi batu
itu hanya tergoyang sedikit, Kim Houw sudah merasa lega. Sebab jika masih bisa bergerak,
tandanya masih bisa disingkirkan. Maka ia lalu mengerahkan lagi tenaganya, kembali mendorong.
Kali ini batu besar itu benar-benar tergeser satu lobang yang cukup untuk meloloskan diri
seorang telah terlihat.
Tapi, ilmu silat Han-bun-cao-khie itu paling banyak meminta kekuatan tenaga dalam. Kim
Houw telah membikin batu besar itu berkisar telah menggunakan tenaga lebih dari separuhnya.
Dalam kepungan musuh ia tidak berani sembarangan menggunakan tenaga separuhnya, sebab
seandainya Siao Pek Sin dan kawan-kawannya muncul dengan mendadak, di sini semua pada
terluka, jika yang ketinggalan kehabisan tenaga bukankah akan menerima kematian tanpa bisa
berdaya ?
Memikir sampai di situ, Kim Houw lalu hentikan gerakannya dan duduk mengaso. Siapa nyana,
belum sampai meninggalkan pintu goa, tiba-tiba terdengar suara "Bang!" batu besar itu menggetar
hebat disusul oleh goncangan amat dahsyat. Kim Houw yang sudah kehilangan separuh
tenaganya dan selagi tidak berjaga-jaga, tubuhnya lantas terpental. Ketika tiba di tanah mulutnya
mengeluarkan darah, kepalanya berputaran, matanya gelap, kemudian tidak ingat orang lagi.
Di luar goa suara gemuruh menggelindingnya batu-batu besar telah membikin pekak telinga.
Ternyata dari atas puncak gunung kembali ada sebuah batu raksasa telah menggelinding dan
membentur batu besar yang menutup pintu goa. Dua buah batu yang beratnya ribuan kati saling
bentur, sudah tentu menerbitkan goncangan hebat. Kim Houw sekalipun tidak terluka juga tidak
tahan, apalagi sekarang kehilangan separuh tenaganya.
Kawan-kawan yang lainnya meski pada terluka, tapi keadaannya masih sadar. Melihat
keadaan demikian, semua pada terperanjat, apalagi ketika menyaksikan Kim Houw
menyemburkan banyak darah dari mulutnya serta berada dalam keadaan pingsan.
Satu-satunya orang yang tidak terluka adalah Cu Su. Ia nampaknya paling bingung, maka
lantas buru-buru berkata kepada Sutenya : "Jite ! Lekas keluarkan pilmu !"

"Pangcu, pilku baru saja habis, sekarang bagaimana ?" jawab Tok Kai dengan wajah suram.
Mendengar keterangan itu, Cu Su wajahnya pucat seketika. Ia sendiri selamanya tidak pernah
membawa-bawa obat. Obat pilnya Tok-kai sebetulnya sangat mujarab, tapi kini telah habis. Apa
daya ?
Tiba-tiba ia ingat dirinya Kim Lo Han dan Tiong Ciu Khek, maka lantas menanyakan pada
mereka. Siapa nyana Kim Lo Han dan Tiong Ciu Khek, adatnya sama ia sendiri dibadannya belum
pernah tersedia obat-obatan maka terpaksa gelengkan kepala sebagai jawabnya. Semua agaknya
sudah tidak berdaya sama sekali.
Pada saat itu di luar tiba-tiba terdengar suara "sis..sis" yang semakin lama semakin dekat.
Bau amis masuk ke dalam goa. Cu Su sudah lama tinggal di situ agaknya tahu sedang
menghadapi apa, maka lantas berseru : "Ular....ular....beracun...
Orang-orang dalam goa meski semua pada melepuh terbakar tapi lukanya tidak berat.
Si pengemis tua mendengar adanya ular, tanpa hiraukan rasa sakit di lukanya, dengan cepat
lantas lompat bangun.
"Ular ? Di sini ada kakek moyangnya ular, takut apa ? Mari ikut aku !" demikian katanya.
Tok Kai saja berjalan di mulut goa, suara "sis, sis" terdengar makin dekat. Tiba-tiba dilihatnya
kepala ular nyelusup masuk dari pintu goa, semua merupakan ular-ular aneh yang tidak diketahui
namanya ia lantas berseru kaget . "Aaaa, celaka nenek moyangnya ular juga harus menyerah
kepada cucu-cucunya! Lihat, semua ular yang aneh bentuknya ini, belum pernah aku si pengemis
tua melihatnya..."
Selagi mereka berada dalam keadaan sangat berbahaya, tiba-tiba terdengar suara bunyi
burung menyeramkan, suara itu berlainan dengan burung-burung lainnya nyaring dan tajam,
sehingga memekakkan telinga.
Tapi suara burung itu justru telah membuat ular-ular yang sedang bergerak maju itu pada
berhenti bergerak. Tok Kai menyaksikan keadaan demikian terheran-heran.
"Ini burung apa ? Mengapa aku si pengemis tua belum pernah lihat ? Bagaimana ia bisa
membikin ular-ular aneh itu tidak berani bergerak ? Benar-benar sangat mengherankan !"
demikian katanya.
Barusan ketika Tok Kai menyaksikan ular-ular yang bentuknya aneh itu, meski di mulutnya
mengatakan tidak jeri, tapi dalam hatinya merasa bergidik, sebabnya ialah suatu jenis ular ada
mempunyai sifat dan keganasannya sendiri-sendiri. Jika tidak mengetahui sifat dan
keganasannya, agak sukar orang menangkapnya kadang-kadang orang yang hendak
menangkapnya kena digigit.
Kini suara burung itu membuat takut ular-ular itu, sampai seorang yang banyak
pengetahuannya tentang ular seperti Tok-Kai merasa sangat heran. Ia lalu memungut sebuah batu
kecil, dengan segera ia menimpuk ke badannya ular.
Ular yang kena ditimpuk nampaknya kesakitan dan berlompatan. Tapi heran, begitu tiba di
tanah masih tetap tidak berani bergerak.
Seekor burung tiba-tiba terbang berputaran di atasnya ular-ular itu. Bentuknya seperti burung
gagak, bulunya juga hitam, tapi mengkilap lebih bagus dari pada burung gagak.

Meski sekujur badannya hitam jengat, tapi patuk dan kukunya putih bersih, sepasang matanya
bersinar kuning emas. Suaranya menakutkan bagi siapa yang mendengarnya, begitu berpengaruh
suaranya yang aneh itu hingga kawanan ular pada ketakutan.
Burung itu terbang turun tidak hinggap di tanah, tapi terbang rendah berputaran dengan
patuknya yang putih telah menggurat setiap perut ular.
Sang burung rupanya tidak bermaksud menyapok daging ular itu. Hanya untuk main-main
saja. Kalau melihat ular-ular pada berkelojotan, tampaknya ia sangat gembira.
Ular-ular itu mati dalam keadaan perutnya terbelah, sang burung masih tetap berputaran masih
tetap menggurat-gurat perut ular yang masih tersisa, sedang senang ia bermain. Mendadak ke
arahnya menyamber benda bersinar kuning emas. Burung itu perdengarkan suaranya yang seram
lalu terbang mumbul setinggi sepuluh tumbak, lebih, lalu berputaran tidak terbang pergi.
Ia jeri menghadapi sinar kuning itu, tapi rupanya masih penasaran tidak mau menyerah
mentah-mentah.
Sinar emas itu ternyata adalah ular emas yang dilepaskan dari tongkat Kim Coa Nio-nio. Ular
emas itu badannya cuma lima atau tujuh cun panjangnya, meski badannya bentuknya kecil, tapi
kecil-kecil cabe rawit. Gerakannya gesit ketika menyambar cepatnya bagaikan kilat.
Saat itu, si ular emas dongakkan kepalanya, matanya mencorong tajam terus mengawasi
burung hitam yang berada di udara. Lidahnya yang merah bergerak-gerak mengikuti gerakan sang
burung kecil cabe rawit. Gerakannya gesit tapi ketiga menyambar cepatnya bagaikan kilat.
Saat itu, si ular emas dongakkan kepalanya, matanya mencorong tajam terus mengawasi
burung hitam yang berada di udara, lidahnya yang merah bergerak-gerak mengikuti gerakan sang
burung.
Bersambung ke jilid 11
Jilid 11
Lama juga burung dan ular itu dalam keadaan demikian. Ular yang berada ditanah agaknya
tenang tidak takut apa-apa. Sebaliknya bagi burung hitam itu nampaknya makin lama makin
gelisah. Ia bersembunyi terus, suaranya makin nyaring makin menyeramkan.
Ular-ular yang masih hidup, pada ketakutan terhadap suara burung itu, mereka pada diam di
tanah dan kemudian pada terlentang menghadap ke atas.
Mendadak burung hitam yang sedang melayang layang menukik ke bawah dengan kecepatan
luar biasa menerkam ular emas yang dari tadi menunggu serangan musuh.
Ular emas itu ada merupakan rajanya ular, ia bukan saja tidak menyingkir, bahkan menyambuti
serangan sang musuh.
Burung hitam itupun merupakan burung ajaib, ia berhasil mematuk sang ular, tapi karena
badan ular itu lemas licin, sekalipun golok dan pedang pusaka masih belum tentu mempan atas
dirinya, betapapun kerasnya patuk burung itu jangan harap bisa melukainya.
Sebaliknya ular emas juga berhasil menggigit beberapa lembar bulu lawannya. Untung hanya
kena bulunya saja, jika badannya yang kena tergigit, sekalipun merupakan burung ajaib, mungkin
ia tidak akan mampu mempertahankan jiwanya.

Pertempuran aneh itu dalam segebrakan telah berlalu. Sang burung terbang tinggi lagi ke
angkasa dan ular emas kembali berjaga jaga di tanah. Mendadak ada suara seruling berbunyi,
suara seruling itu demikian merdu, sehingga menggetarkan perasaan.
Burung hitam ketika mendengar suara seruling lalu terbang menghilang, sedang ular emas
juga lantas berlalu.
Pertempuran antara dua jenis binatang yang aneh dan mendebarkan hati itu, telah membuat
Tok Kai berdiri melongo. Setelah pertempuran itu selesai. Tok Kai baru ingat, kiranya kedua
binatang itu masing-masing ada majikannya.
Di luar gua tiba-tiba terdengar suara bentakan: "Siapa yang melepaskan ular melukai burungku
?"
Suara itu girang dan halus, seperti suara anak-anak. Ketika Tok Kai melongok keluar, asap
beracun ternyata sudah buyar, di luar gua ada berdiri seorang anak laki-laki tanggung berusia kirakira
tiga belas tahun. Anak itu berpakaian serba hijau, di tangannya memegang seruling batu
kumala.
Wajahnya putih bersih seperti batu giok, bibirnya merah, giginya putih, parasnya sungguh
cakap.
Pertanyaan anak lelaki tadi belum mendapat jawaban, dari belakang sebuah batu besar
muncul Kim Koa Nio-nio yang rambutnya sudah putih seluruhnya.
Melihat sikap anak laki-laki baju hijau itu yang sangat tidak sopan, Kim Coa Nio-nio sangat
mendongkol. Tapi setelah menyaksikan sendiri wajah si bocah yang cakap, hatinya lunak.
"Adik kecil, ular itu sangat berbisa, kau harus hati-hati!" demikian katanya Kim Coa Nio-nio
sambil tersenyum.
Meski wajahnya cakap, tapi adatnya anak itu sangat jelek. Diberi nasehat secara baik,
jawabannya sangat kasar.
"Apa berbisa tidak berbisa, siapa yang menanyaimu tentang ini ? aku cuma tanya siapa yang
melepaskan ular melukai burungku ? aku hendak bikin perhitungan padanya !"
Kim Coa Nio-nio dijawab secara kasar demikian, lunaknya berubah lagu menjadi amat gusar.
"Ular aku yang melepaskannya, burungmu... "
Belum habis ucapan Kim Coa Nio-nio, anak itu sudah memotong dengan suaranya yang
garing nyaring : "Kau yang lepas ? Lekas ganti kerugianku"
Kim Coa Nio-nio merasa geli. dasar anak-anak, pikirnya.
"Cuma kerusakan sedikit bulunya saja, dengan apa aku musti ganti kau ?"
"Dengan apa musti ganti ? Dengan jiwamu! Nenek pengemis, serahkan jiwamu !" kata anak itu
dengan suara galak.
Tanpa memberi peringatan pula, dengan kecepatan bagaikan kilat ia gunakan serulingnya
menotok dada Kim Coa Nio-nio.

Kim Coa Nio-nio mendengar ucapan si bocah yang terlalu kurang ajar, dalam hati memang
sudah gusar. Cuma karena mengingat dirinya adalah seorang tua dan namanya terkenal di dunia
Kangouw, bagaimana harus meladeni segala anak-anak. Kini ia diserang, lantas berkelit dan
membentak : "Bocah kurang ajar siap suhumu ?"
Tidak berhasil dengan terjangannya, sekali lagi si bocah menyerang. Ia tidak mengerti
keharusan antara tua dan muda, mendengar Kim Coa Nio-nio menanyakan gurunya. Lantas
menjawab sambil tertawa dingin: "Kau seorang nenek seperti pengemis, mau tahu guruku ? Kalau
kau mampu menyambuti seruling batu giokku, sudah tentu guruku bisa mencari kau untuk
membuat perhitungan"
Disebut nenek pengemis, Kim Coa Nio-nio sangat mendongkol. Maka ketika melihat si bocah
menerjang tanpa malu-malu lagi ia lantas ayun tangan kirinya menyampok seruling sedang tangan
kanannya berbareng menotok dada si bocah.
Kim Coa Nio-nio sudah puluhan tahun terkenal di rimba persilatan, mana mau melayani
seorang bocah yang masih bau pupuk bawang. Bocah yang baru berusia belasan tahun
betapapun tinggi ilmu silatnya, bagaimana mau menandingi si nyonya tua ?
Dalam segebrakan saja anak itu sudah terdesak mundur. Tapi, ia masih penasaran, sembari
memekik, kembali menerjang dengan serulingnya.
Kim Coa Nio-jio jadi sengit, dengan tongkatnya ia menahan serangan seruling, dengan tangan
kosong ia menghantam pundak kanan si bocah. Ia cuma bermaksud hendak memberi peringatan
dan sedikit rasa kepada bocah yang bandel itu.
Ia hanya menggunakan lima puluh persen, apa mau ketika tangannya menyentuh si bocah,
melihat wajah yang cukup menarik, hatinya si nenek merasa kasihan.
Mengingat ini, ia kurangi tenaga pukulannya menjadi dua puluh persen, cukup membuat si
bocah terpental terbang satu tombak lebih.
Memang si bocah rupanya sangat bandel, badannya di udara berjumpalitan, dan ketika jatuh di
tanah ia bisa berdiri dengan tegak, anehnya, bukan saja tidak marah, bahkan ketawa bergelakgelak.
Ia menghampiri Kim Coa Nio-nio menjura dan berkata: "Locianpwe, terima kasih atas
pelajaranmu, boanpwe di sini memberi hormat!"
Kelakuan anak itu sebaliknya membikin bingung Kim Coa Nio-nio. Ia tidak mengerti apa
maksudnya ia berbuat demikian !
Mendadak anak itu berseru kaget: "Locianpwe ! Locianpwe ! Lihat apa itu ?"
Kim Coa Nio-nio yang tengah kebingungan, dibikin kaget oleh seruan bocah nakal itu dengan
cepat berpaling dan mengawasi tempat yang ditunjuk oleh si bocah. Tapi, tidak ada apa-apa di
situ, hal ini membuat ia terheran-heran !
Mendadak telinganya menangkap suara halus dari bergeraknya per, hingga dalam hati merasa
kaget. Dengan cepat ia gerakan badannya, tapi sudah kasep, di beberapa bagian badannya
merasa sakit seperti dicocok jarum halus.
Kim Coa Nio-nio benar-benar murka, mendadak ia memutar tubuhnya, tapi baru saja hendak
bergerak, kedua pahanya sudah lemas dan sakit, hingga jatuh rubuh ditanah. Sedang telinganya
mendengar perkataan-perkataan mengejek dari bocah tadi, "Nenek pengemis, aku tadi katakan
kau harus mengganti jiwa bukan? Apa kau kira masih bisa kabur ? Maaf aku antar kan jalan !

Cuma kau harus kenali aku dulu, namaku Teng Peng Jin kalau kau sampai di akhirat jangan
sampai kesalahan mendakwa orang "
Serulingnya bocah nakal itu dalamnya ternyata diperlengkapi dengan per. Dikedua ujung nya
disembunyikan jarum Bwee hoa-ciam yang sangat halus, tapi sangat berbisa. Jarum itu jika
menancap pada badan orang, dalam waktu dua belas jam orang itu pasti binasa.
Si bocah mengetahui kalau dirinya tidak mampu menandingi si nenek, maka ia harus
menggunakan akal. Ia berhasil menipu Kim Coa Nio-nio dan kemudian melepaskan jarum Bweeboa-
ciamnya.
Kim Coa Nio-nio yang terkena jarum Bwee hoa-ciam, meski tidak binasa seketika badannya
sedikitpun tidak bisa bergerak, kecuali sepasang matanya yang masih di pentang lebar.
Nampaknya ia akan binasa di tangannya bocah yang masih bau pupuk itu.
Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba ada benda kuning melayang di udara, satu menyambar
seruling, satunya lagi mengenakan paha Peng Jin. Seruling terlepas dari tangannya. sedang Peng
Jin, sendiri terpental sejauh tujuh delapan tombak.
Peng Jin begitu jatuh lantas bangun lagi. Ketika ia mengawasi di depan Kim Coa Nio-nio,
berdiri seorang pengemis tua yang wajahnya kotor dan rambutnya putih awut-awutan, di bawah
kakinya sepasang sepatu rumput yang sudah butut.
Peng Jin meski usianya masih muda, ia bukan bocah sembarangan. Ternyata ketika melihat
sepatu rumput ia lantas tahu dengan siapa ia berhadapan.
"Paman ini bukankah Sin-hoa Tok Kai Locianpwe?" tanyanya.
"Kau, kenali aku Sin-hoa Tok Kai, masa tidak kenali Kim Coa Nio-nio?" benlak Tok Kai.
"Kenapa tidak kenal? Kedatanganku justru mencari dia, apa kau kira aku kesalahan alamat?
Tapi soal ini baik kita jangan bicarakan lagi, lain hari saja kita bikin perhitungan sekalian. Kalau
kau betul Sin-hoa Tok Kai, memang mau apa? Aku juga tidak takuti kau?" Peng Jin kata dengan
lagak seperti orang gede, kemudian memungut serulingnya dan lantas berlalu!
Tok Kai seperti juga Kim Coa Nio-nio ia tidak berdaya menghadapi Peng Jin yang sangat
nakal. Biar bagaimana mereka merupakan tokoh-tokoh terkemuka di kalangan Kangouw,
bagaimana mau meladeni segala anak-anak? Apalagi, ia harus pentingkan menolong jiwa orang
lebih dulu.
Kim Coa Nio-nio masih menggeletak di tanah dalam keadaan tak berdaya Tok Kai sudah tahu
bahwa Kim Coa Nio-nio jiwanya terancam bahaya, untuk ketika munculnya bocah baju hijau tadi,
asap beracun sudah mulai buyar, di atas gunung, juga sudah tidak ada batu besar lagi yang
mengancam. Kecuali Kim Coa Nio-nio, seorangpun sudah tidak kelihatan bayangannya.
Tok Kai pondong Kim Coa Nio-nio masuk ke dalam goa. Kecuali sepasang mata yang masih
bisa memandang, sekujur badannya Kim Coa Nio-nio boleh dibilang sudah hampir kaku.
Ketika nampak munculnya Tok Kai, dari kelopak matanya segera mengucur deras air matanya.
Tapi sejenak kemudian, air mata itu sudah lenyap, sedikitpun tidak ketinggalan.
Tok Kai setelah meletakkan Kim Coa Nio nio, lantas mencari apa-apa dalam kantong
bawaannya Kim Coa Nio-nio. Terhadap wanita tua itu, Tok Kai agaknya sudah kenal betul.

Sebentar kemudian. Tok Kai sudah menemukan dua botol kecil, dari dalam botol itu Tok Kai
mengeluarkan dua butir obat pil dan diberikan kepada Cu Su sembari berkata : "Pangcu, lekas
berikan kepada Kim-siauhiap supaya ditelan, ini ada obat yang sangat mujarap."
Setelah menyerahkan obat, dari lain botol ia menuangkan sedikit obat cair, tengah hendak
dituangkan dalam mulutnya Kim Coa Nio-nio, tiba-tiba ia mendengar helaan napas nyonya tua itu.
"Pengemis tua, sia-sia saja perbuatanmu ini ! Apa kau masih belum ingat siapa bocah baju
hijau itu ?" demikian katanya.
Tok Kai kelihatan berpikir sejenak, tiba-tiba berseru kaget: "Kim Coa ! Maksudmu, apakah
bocah itu adalah keturunannya Hu-thian Go-kong (kelabang Terbang) Tang Kie Liang ?"
Kim Coa Nio-nio mengucapkan perkataannya tadi menggunakan tenaga yang masih ada kini
masa ia masih mempunyai tenaga lagi untuk menjawab Tok Kai ? Ia hanya anggukkan kepala
sebagai jawabannya.
"Ini......sekarang bagaimana ? Racun si Kelabang Terbang sangat luar biasa, kalau bukan obat
pemunah dari padanya, jangan harap bisa menyembuhkan. Waktu dua belas jam, sekejap saja
sudah sampai, ini... ini....." berkata Tok Kai dengan cemas.
Mendadak ia lompat bangun.
Baru saja Tok Kai hendak berlalu, tiba-tiba ada benda menyambar ke arah mereka. Tok Kai
tidak tahu benda apa yang menyambar padanya. ia lantas sambut dengan tangannya.
Baru hendak periksa barang itu, mendadak ia dengar Kim Coa Nio-nio bisa mengeluarkan
suara berseru: "Berikan aku ! Berikan aku !"
Itu adalah pecut Bak tha Liong kin ! Benda ini namanya sudah menggetar dunia. Kim Lo Han
kenal, Tiong Ciu Khek kenal, Tok Kai tentu saja juga kenal. Melihat benda pusaka sangat berharga
itu, girangnya ia bukan main, ia segera letakkan ke dalam mulut Kim Coa Nio-nio.
Bak-tha Liong-kin berada di pinggangnya Kim Houw, ia bisa melemparkan benda itu kepada
Tok Kai, itu menandakan ia sudah mendusin. Dua butir obat pil dari Kim Coa Nio-nio, meski
banyak faedahnya bagi dirinya, tapi tidak begitu cepat dapat ditelan karena mulutnya terus-terusan
memuntahkan darah.
Adalah jasa Kim Lo Han dan Cu Su, yang menotok jalan darah Kim Houw, supaya mulutnya
tidak menyemburkan darah terus menerus. Ditambah lagi dengan penyaluran lwekang dari kedua
orang jago tadi, maka dua butir pil obat tadi dapat ditelan oleh Kim Houw dan sebentar kemudian
ia lantas mendusin.
Kim Houw duduk bersemedi untuk memulihkan kekuatan tenaganya. Sebentar saja, di atas
kepalanya sudah kelihatan asap mengepul.
Si botak yang berada tidak jauh dengan Kim Houw, ketika menyaksikan diatas kepala Kim
Houw mengepul asap, ia mengira dalam tubuh Kim Houw tentu panas seperti bara. Pikirnya jika
tubuhnya begitu panas, perlu apa ia bersemedi? Apa yang harus diobati?
Ia coba ulur tangannya, maksudnya hendak memegang tubuh Kim Houw, sampai dimana
panasnya itu. Tidak disangka, baru saja tangannya hampir menyentuh tubuh itu...... angin dingin
mendadak menyambar, sampai sekujur badannya dirasakan menggigil. Dalam kagetnya si botak

buru-buru menarik kembali tangannya. Dalam hati diam-diam ia merasa heran, ilmu apa
sebetulnya itu? Mengapa bisa menghembuskan angin dingin?
Makin heran, ia makin ingin mencari tahu sebab-sebabnya. Ia ulur tangannya kembali, dan
dengan perlahan menyentuh tubuh Kim Houw.
Ini benar-benar merupakan pengalaman tidak enak bagi si botak. Ia bukan saja sudah
kedinginan setengah mati, tapi badannya juga lantas menggigil tiada hentinya. Sebab yang ia
sentuh, bukan seperti apa yang ia duga yaitu seperti bara, sebaliknya seperti menyentuh es yang
luar biasa dinginnya.
"Ou! celaka! Kim-siangkong...ia...ia..." demikian ia berteriak.
Semua orang dikagetkan oleh teriakannya terutama Tok Kai. Sebab, ia yang memberikan obat
pil, ia kuatirkan karena makan obat pilnya lantas terjadi hal tidak enak atas diri Kim Houw. Jika
demikian halnya, maka dosanya itu sekalipun ia menyembur ke laut juga tidak dapat menebusnya.
Tapi ketika semua orang menoleh ke arah Kim Houw, di atas kepala Kim Houw asap
mengepul semakin tebal. Tok Kai lalu pelototi si botak.
"Anak tolol, kau tahu apa? Ini adalah Coa-kie-sin-kang. Kau sekarang boleh buka matamu
supaya lain kali tidak terheran-heran lagi hingga membuat aku malu!" ia memaki muridnya.
Tapi si botak masih belum mengerti.
"Suhu, badannya lebih dingin daripada es!" katanya kepada suhunya.
Keterangan ini membuat semua orang merasa heran kecuali Kim Lo Han.
"Itu juga bukan apa-apa. Yang ia latih memang ilmu demikian. Di bagian belakang dalam
Istana Kumala Putih, keadaannya lebih dingin dari tempat yang sedang turun salju. Orang yang
mempunyai kepandaian seperti aku cuma bisa masuk kira-kira dua tombak lebih ke dalam situ,
sudah menggigil tiada hentinya. Kalau mau masuk lebih dalam lagi bisa mati kedinginan di situ
juga. Tapi dia sejak melatih ilmunya Han-bun-cao-khie, ia bisa keluar masuk di situ tanpa
halangan" demikian Kim Lo Han memberikan keterangannya.
Kim Lo Han mengakhiri keterangannya Kim Houw sudah selesai semedinya. Ia membuka
mata. Dari mulutnya kembali mengeluarkan darah hidup, ia lalu menghela napas panjang.
"Masih untung jiwaku tertolong! Barusan siapakah yang memberikan obat mujarabnya? Tuan
penolong yang besar sekali budinya, aku harus mengucapkan terima kasih padanya."
Kim Coa Nio-nio mendadak menghampiri, dengan kedua tangan menjunjung tinggi-tinggi
Baktha Liong kin ia lantas berlutut di depannya Kim Houw.
"Kim tiancu tidak perlu menyatakan terima kasih, akulah seharusnya yang mengucapkan
terima kasih padamu!" demikian ia berkata.
Melihat Kim Coa Nio-nio berlutut di depannya, Kim Houw kelabakan, ia tidak berani menerima
kehormatan begitu besar, maka buru-buru pimpin bangun si nyonya tua seraya berkata: "Cianpwe
jangan berlaku demikian, perbuatan kau jangan ulangi lagi. Sebaliknya aku ingin minta sedikit
keterangan darimu, nona Peng Peng sekarang berada dimana? Apakah ia berada di Ceng Kee
cee?

Lama Kim Coa Nio-nio kerutkan alisnya, baru menjawab: "Soal ini aku si nenek juga tidak tahu,
sebab kami masuk ke Su cuan secara berpencaran dan kemudian baru melihat bayangan nona
Peng Peng. Tertarik oleh ular-ular aneh, aku memasuki lembah ini, tidak nyana di sini akan
bertemu dengan sahabatku juga dengan musuhku pada beberapa tahun berselang. Hui thian Go
kong Teng Kie Liang memelihara burung hitam dengan patuk dan kuku putih, ternyata khusus
hendak menghadapi aku si Kim Coa Nio-nio."
Kim Houw dengan nyonya tua itu juga tidak tahu dimana adanya Peng Peng, dalam hati
tambah curiga. Ia heran, apakah setelah Peng Peng sampai di Ceng kee cee lantas dikurung?
Tanggal lima bulan hanya tinggal lima hari saja. Hatinya mulai gelisah
"Botak, coba keluar sebentar, bagaimana keadaan sekarang? Kalau bisa jalan kita harus
segera berlalu dari sini!" katanya Kim Houw pada si botak.
"Kim-siangkong, kakiku ini semua melepuh kebakar, aku..." jawab si botak sedih.
Kim Coa nio-nio mendadak keluarkan satu botol kecil, diberikan pada si botak sembari berkata:
"Ini obat khusus untuk menyembuhkan luka kebakar. Kau olesin sedikit saja, pasti sembuh. Kau
tidak perlu keluar lagi, semua orang sudah pergi, sebabnya dari Ceng-kee-cee tiba-tiba menerima
tanda bahaya. Mereka telah mengirim keluar semua orang-orangnya untuk mencelakakan musuh,
tidak menduga sarangnya sendiri dimasuki musuh, Cuma tidak tahu siapa orangnya?"
"Bagaimana dengan badanmu yang terkena senjata rahasia tadi...?" Tok Kai menanya kepada
Kim Coa nio-nio.
Kim Coa nio-nio pentang jari tangannya, dari dalam telapak tangannya dikeluarkan beberapa
puluh jarum yang halus seperti bulu kerbau. Setiap jarum bagian kepalanya ada titik hitam.
"Tuan-tuan yang ada di sini, terhadap si Kelabang Terbang Teng Kie Liang, barangkali semua
sudah pernah dengar namanya! Kalian lihat ini adalah senjata rahasia tunggal kepunyaan keluarga
Teng itu, namanya Hui-ie-ciam, selanjutnya kalau bertemu padanya harus waspada. Aku si nenek
hari ini telah terguling di tangan satu bocah cilik yang masih bau pupuk, hitung-hitung sebagai
pelajaran bagiku yang kelewat lemah. Bocah itu kelak akan lebih lihay dan lebih ganas daripada
bapaknya, Teng Kie Liang. Parasnya tampan tapi hatinya kejam ia bisa membunuh orang tanpa
berkedip. Benar-benar orang akan percaya bahwa satu bocah yang begitu tampan wajahnya,
ternyata mempunyai hati begitu ganas melebihi serigala. Ini benar-benar seperti pepatah: "Kacang
tidak meninggalkan lanjaran. Sedikitpun tidak salah". demikian Kim Coa Nio-nio memberi
keterangan.
Ia lalu mengambil tongkatnya dan ngeloyor ke luar goa. Semua orang yang ada di dalam goa
pada luka terbakar dan ia sendirian orang wanitanya, sekalipun sudah lanjut usianya, rupanya ia
masih merasa jengah tinggal berkumpul dengan mereka.
Belum lama ia menunggu di luar goa, orang-orang yang berada dalam goa sudah pada keluar.
Kim Houw yang terluka di dalam karena getaran batu besar, begitu keluar goa lantas
mengukur-ukur besarnya batu yang menggetarkan padanya Benar-benar luar biasa, beratnya
sedikitnya juga ada puluhan ribu kati, pantas tadi getarannya terasa begitu hebat.
Tampak hari sudah dekat petang. Bangkai ular berserakan di sana sini mengeluarkan bau
busuk, cepat-cepat mereka meninggalkan tempat itu.
Mereka pilih sebagai tempat untuk melewatkan sang malam, sebidang tanah lapangan yang
terdapat di mulut lembah. Si botak dan Sun Cu Hoa ditugaskan untuk mencari barang hidangan,
yang lainnya pad duduk bersila untuk merundingkan cara menyerbu Ceng-kee-cee.

Kim Hoa Nio-nio yang pernah masuk ke Ceng-kee-cee ialah bertindak sebagai penunjuk jalan
hingga serang penjahat itu lebih mudah dicapai.
Ceng-kee-cee letaknya di suatu daratan tinggi di tengah-tengah puncak gunung Teng-lai-san
yang paling tinggi. Selain duduknya sangat strategis di situ hawanya juga sejuk, hampir setiap
tahun dilewati seperti musim semi.
Tapi hari itu, tanggal lima bulan lima, ada merupakan hari sembahyang yang dilakukan setiap
tahun sekali di Cengkee-cee. Tempat itu tidak memperlihatkan suasananya yang indah permai,
kabut tipis meliputi seluruh Ceng-kee-cee hingga kelihatannya sebagai suatu tempat yang penuh
rahasia.
Kim Coa Nio-nio memimpin Kim Houw dan kawan-kawannya tiba di lembah Ceng-kee-cee.
Pertama mereka merasa heran dengan adanya kabut tipis yang meliputi seluruh lembah,
kemudian disusul oleh pemandangan batu-batu yang ditumpuk-tumpuk secara aneh, seperti
gambar barisan.
Tok Kai yang berada di belakangnya Kim Coa Nio-nio menanya: "Kim Coa, apa yang dilakukan
oleh si iblis tua Ceng mo ini?"
"Aku sendiri juga tidak tahu. Pada beberapa hari berselang di sini tidak ada segala begituan!"
jawab Kim Coa Nio-nio sembari pimpin kawan kawannya memasuki barisan batu.
Semua orang pada waspada terhadap kabut asap dan barisan batu itu. Berjalan tidak lama,
gundukan batu itu rasanya makin lama makin kalut dan makin banyak, seolah-olah bentuknya Pat
Kua tin.
Kim Coa Nio-nio meski ada satu tokoh terkenal dalam kalangan Kangouw, tapi ternyata
sesuatu tin (barisan) ia tidak paham, ia berputar-putar memimpin kawan-kawannya, lama sekali
masih belum berhasil memasuki lembah.
"Tidak perduli barisan apa yang dibentuk oleh si iblis tua itu akan ubrak-abrik dulu tumpukan
batu ini, habis perkara!" demikian katanya Tok Kai sengit.
Lalu menyapu semua tumpukan batu itu dengan kakinya, sehingga pada berhamburan.
Tok Kai ketawa bergelak-gelak. Belum lenyap suara ketawanya, tiba-tiba terdengar ketawa
dingin yang menyeramkan, disusul oleh suara bentakan nyaring: "Bocah dari mana berani mati
merusak barisan batuku?"
Suaranya begitu tajam melengking, seperti suara iblis. Orang pada terkejut, mereka mencari
kesana ke sini, tapi dalam kabut tipis itu ternyata tidak dilihat bayangan orang.
"Apa di situ ada kakek iblis dan nenek iblis yang datang? Permainan apa yang kalian lakukan?
Mengapa tidak berani ketemu orang?" bentak Tiong Ciu Khek.
Baru habis ucapannya Tiong Ciu Khek, di depan matanya tiba-tiba nampak terang. Di bawah
sebuah batu cadas, tertampak nenek yang parasnya kuning keriputan dan badannya kurus kering.
Nenek itu tangannya membawa sebatang tongkat, di rambutnya tersunting setangkai bunga warna
kuning, dandanannya tak keruan macam, benar-benar seperti kuntilanak. Wajahnya yang kempot
keriputan, kelihatannya seperti gusar tapi juga seperti sedang tertawa. Sekalipun orang-orang
gagah dan bernyali besar, juga akan merasa jeri melihatnya.

Dengan tongkat ditangan, nenek itu berjalan sempoyongan di dalam barisan batu. Sepasang
matanya berputaran mengawasi wajah setiap orang. Ketika menatap wajah Kim Houw, nenek itu
memandang agak lama, kemudian lalu memandang Tiong Ciu Khek.
Lama sekali baru kedengaran ia membuka mulut: "Kau bocah ini siapa namamu? Beraniberani
kau memandang enteng Ceng-kee-cee? Siapa gurumu?"
Tiong Ciu Khek orang golongan tua dari rimba persilatan, sejak kapan pernah dipandang
rendah orang? Nenek itu telah memanggil padanya bocah, bahkan berani menanyakan gurunya
maka seketika itu lantas naik darahnya.
"Iblis tua, kau berani pandang rendah aku Tiong Ciu Khek...?" jawabnya gusar.
Belum sampai habis ucapannya Tiong Ciu Khek, sudah dipotong oleh si nenek sembari
perdengarkan suara ketawanya yang seram: "Bocah tidak tahu adat, kau bernai-berani mengaku
namanya Tiong Ciu Khek untuk bikin onar di sini, aku nanti suruh kau mampus tidak keruan
tempatnya."
Tiong Ciu Khek sudah lama namanya terkenal di dunia Kangouw, tapi oleh karena nenek itu
sudah beberapa tahun mengasingkan diri, maka belum pernah bertemu. Ia tidak nyana bahwa
orang yang namanya menggetarkan jagat itu ternyata masih begitu muda paling banter usianya
baru empat puluh tahun, juga nampaknya seperti anak sekolah yang lemah. Maka ia katakan
Tiong Ciu Khek mengaku-ngaku saja nama orang yang tersohor.
Tiong Ciu Khek makin gusar.
"Jangan kau anggap bahwa Ceng-kee-cee itu sebagai tempat yang keramat?" bentaknya
keras dan menghunus pedangnya. "Buat apa aku Tiong Ciu Khek harus mengaku-ngaku nama
orang lain? Biarlah kau nanti belajar kenal dengan ilmu pedang Tiong Ciu Khek yang membuat
namanya terkenal..."
Si nenek matanya mendelik, tapi masih bisa unjukkan ketawanya yang ngejek.
"Hm! Kau bocah kemarin sore juga berani bertempur dengan aku? Aku juga nanti suruh kau
membuka mata..."
Belum habis ucapannya si nenek, pedang Tiong Ciu Khek sudah mengancam dirinya.
Serangan pedangnya Tiong Ciu Khek itu sangat mantap tapi agak ganas, lantas si nenek mengerti
bahwa orang yang dianggap bocah itu ternyata lihay. Ia tidak berani memandang ringan lagi.
Badannya agak dimiringkan tongkatnya menyampok tumpukan batu disamping badannya,
sehingga batu-batu itu lantas berhamburan terbang melalui badan dan atas kepala Tiong Ciu
Khek.
Batu-batu itu tidak ada yang mengenakan dirinya Tiong Ciu Khek, tapi ketika batu-batu itu
pada berbenturan di udara, pecahnya pada muncrat menyambar Tiong Ciu Khek.
Tiong Ciu Khek gusar, pedang Ceng hong kiam berkelebat di udara, dengan cepat
menggunakan tipu serangannya yang luar biasa anehnya mengarah mata, hidung, mulut dan
telinga serta beberapa bagian jalan darah di dada si nenek.
Si nenek dengan menggetarkan tangan, tongkatnya menindih hebat, gerakannya itu cepat dan
gesit. Jika Tiong Ciu Khek tidak tarik kembali pedangnya serta membalikan dirinya pasti
senjatanya dibikin terlepas dari tangannya.

Tiong Ciu Khek merasa kaget dan gusar, sambil memutar ia menyerang dengan pedang,
melancarkan ilmu pedangnya Cu-liong-kiam yang membuatnya terkenal. Ilmu pedang itu luar
biasa cepat dan anehnya.
"Kau bisa lolos dari bawah tongkatku boleh dikata sudah beruntung, apa masih mau jual lagi?"
kata si nenek tertawa mengejek.
Tiong Ciu Khek yang sudah gusar terus menyerang dengan ganas, sebentar saja sudah
sembilan belas jurus lebih. Meski setiap serangannya demikian hebat dan ganas, tapi dapat
dipecahkan oleh si nenek.
"Hmm! Mempunyai ilmu pedang demikian untuk dewasa ini, boleh terhitung tokoh kelas satu.
Cuma rasanya belum cukup kuat untuk berlaku sesukanya di Ceng-kee-cee!" mengejek si nenek.
Selama mengucapkan perkataannya itu, tongkat si nenek telah balas menyerang dengan
beruntun, sehingga Tiong Ciu Khek terdesak. Setelah mengitari beberapa gundukan batu, lamalama
pedangnya tidak bisa bergerak menurut kemauan hatinya!.
Mendadak dua benda kuning terbang melayang dengan menyerang belakang geger si nenek.
Tapi nenek itu di belakangnya seperti ada matanya, dengan tanpa menoleh, ia balikkan tangannya
untuk menyambuti benda kuning itu.
Ketika dua benda kuning itu berada dalam tangannya, si nenek agak tercengang. Sebab
benda kuning itu ternyata sangat lemas, tapi kekuatan serangannya ada demikian hebat hingga
hampir terlepas dari tangannya.
Ia kaget bercampur gusar, dengan hebat ia mendesak mundur Tiong Ciu Khek, kemudian
memeriksa apa sebetulnya benda kuning tadi, ternyata itu cuma sepasang sepatu rumput butut.
Dalam hari bercekat, kemudian matanya menyapu, setelah perdengarkan pekikannya yang tajam
dan seram, baru berkata: "Aku kira siapa, ternyata ada Pangcu dan Hu-pangcu dari partai Sepatu
Rumput yang namanya menggetarkan Kanglam dan Kangpak yang datang berkunjung. Maafkan
aku Oey Hoa Kui-bo karena sudah lamur maka menyambut terlambat"
Sin Hoa Tok Kai ketawa bergelak-gelak. "Aku si pengemis tua sudah menduga kalau kau, tapi
aku tidak tahu kau mempunyai hubungan apa dengan Cen-Kee-cee perbuatan kali ini agak
keterlaluan...."
Tidak menunggu habis ucapannya Tok Kai, Oey Hoa Kui-bo sudah memotong.
"Partai Sepatu Rumput meski namanya menggetarkan dunia Kangouw, tapi masih belum
cukup untuk membuat takut Oey Hoa Kui-bo. Urusanku si nenek rasanya masih belum waktunya
untuk kau turut campur tahu."
Setelah mengucap demikian, ia lantas remas-remas sepatu rumput itu sehingga hancur
menjadi berkeping-keping, kemudian dilemparkan ke tanah.
Tok Kai ketawa bergelak-gelak, dari dalam sakunya kembali mengeluarkan sepasang sepatu
rumput yang juga butut dan kotor, lalu dimasukkan pada kakinya.
Pada saat itu, Tiong Ciu Khek dengan pedang yang berkilauan kembali menyerang Oey Hoa
Kui-bo. Kali ini Tiong Ciu Khek yang berhasil merebut posisi yang agak baik, pedang dapat
dimainkan begitu rapat, sehingga sukar ditembus.

Oey Hoa Kui-bo coba balas menyerang berulang ulang, masih belum berhasil pukul mundur
Tiong Ciu Khek. Ia merasa malu dan gusar, kembali perdengarkan pekikannya yang nyaring dan
menyeramkan.
Setelah suara pekikan itu berhenti, dari sekitar gundukan batu telah muncul beberapa puluh
wanita yang masing-masing pada membawa bendera kecil segi tiga. Bendera-bendera kecil itu
setiap kali dikebutkan, lantas timbul angin dingin.
Sebentar saja keadaan disekitarnya lantas berubah dari dalam barisan batu.
"Kalau telah mengandalkan kekuatan menyerang Ceng-kee-cee, kalau lebih dulu mampu
menembus barisanku Im-hong Pat-kua-tin ini, sudah tentu aku bisa mengijinkan kalian masuk
Ceng-kee-cee. Tapi kalau tidak mampu... hm..."
Belum selesai ia berkata, Kim Houw sudah memotong: "Im-hong Pat-kua-tin berarti apa?
Sedang Istana Kumala Putih bersama rimbanya yang keramat toh masih belum mampu
menyulitkan aku!"
Berbareng, ia lantas mengeluarkan pedang Ngo heng-kiam yang memancarkan sinar
berkilauan beraneka warna, hingga sekejap saja sinar pedangnya itu telah menerangi keadaan
dalam barisan batu yang gelap gulita itu.
Dengan pedang pusaka ditangan, Kim Houw telah membuka jalan lebih dulu, ia menerobos ke
kanan dan ke kiri dalam gundukkan batu-batu itu.
Rimba keramat di gunung Tiang-pek-san telah mengurung banyak tokoh-tokoh rimba
persilatan bertahun-tahun lamanya, tapi Kim Houw dengan dua potong gambar peta yang tidak
utuh, telah berhasil keluar dari rimba tersebut. Gundukan batu yang begitu kecil, apa artinya bagi
dia?
Sebentar Kim Houw bersama kawannya lari berputaran dalam barisan batu, mendadak di
depan muncul cahaya terang. Justru Kim Houw tengah hendak melompat keluar dari dalam
barisan batu, tiba-tiba merasakan samberan angin kuat menyambar di atas kepalanya. Dalam
keadaan kritis seperti itu, Kim Houw tidak pikir akan berkelit, sebaliknya telah menyambuti
serangan itu dengan ilmu Han-bun-coa-khie disertai kekuatan penuh.
Suara keras terdengar hebat, Kim Houw berhenti sejenak, tapi masih bisa lompat keluar dari
barisan batu. Berbareng dengan itu, dari tengah udara telah melayang jatuh sesosok tubuh yang
barusan terkena serangannya Kim Houw. Orang itu bukan lain dari pada San-hoa-sian-li, ibunya
Bwee Peng.
Kim Houw sangat terperanjat. Ia sungguh tidak nyana bahwa San-hoa-sian-li yang telah
menyerang dirinya. Dengan cepat ia berjongkok untuk memeriksa keadaannya, tapi ternyata
sudah payah sekali. Dengan air mata berlinangan San-hoa-sian-li memandang Kim Houw lama
sekali baru membuka tangan kanannya, ditengah-tengah telapak tangannya ternyata ada tiga titik
hitam.
Kim Houw yang tidak mengerti sebab-sebabnya, lantas menanya dengan cemas: "Bibi Bwee...
bibi Bwee... kau... kau..."
Belum sampai melampiaskan omongannya kembali sambaran angin keras datang menyerang.
Kim Houw kuatir akan melukai orang lagi, kali ini ia tidak berani menyambuti dengan ilmu yang
ampuh. Dengan gerakan sangat gesit ia melompat untuk menghindarkan serangan tersebut.
Ketika ia berpaling, orang yang menyerang padanya itu ternyata adalah Lui Kong, ayahnya Sunhoa-
sian-li.

"Lao Lui Kong, apa artinya ini?" tiba-tiba Kim Coa Nio-nio berseru.
Lui Kong tidak berkata apa-apa, ia lalu memondong putrinya yang menggeletak di tanah. Tapi
keadaan Sun-hoa-sian-li sudah sangat payah, tidak lama ia berada dalam pondongan, jiwanya
sudah melayang menyusul putrinya di alam baka.
Dengan mata mendelik Lui Kong mengawasi Kim Houw.
"Bocah, bagus perbuatanmu!" katanya gemas. "Kau turunkan tangan begitu kejam, sehingga
mencelakakan jiwa anakku. Kau sudah mencelakakan jiwa cucu perempuanku, dan ini anakku!
Aku Lui Kong tidak nanti mau mengerti, tunggulah saja aku akan minta kau ganti jiwa mereka!"
Sehabis berkata, ia lantas lompat melalui orang banyak, keluar dari barisan batu.
Kim Houw berdiri bengong kesima.
Ia benar telah melukai diri Sun-hoa-sian-li, tapi itu bukan disengaja. Kematiannya Bwee Peng
sudah cukup memilukan hatinya, apa mau orang lain masih menimpakan dosanya di atas
pundaknya.
"Dalam telapak tangannya Sun-hoa-sian-li ada tiga titik hitam, ini suatu tanda bahwa ia sudah
terkena serangan tangan jahat San-im-ciu, pantas saja kalau ia nekad menghabiskan jiwanya
sendiri. Orang yang terkena Sam-im-ciu, setiap tengah hari dan tengah malam, harus merasakan
penderitaan sakit yang luar biasa, cuma tidak seharusnya ia meminjam tangan Kim-tiancu. Lui
Kong pada beberapa puluh tahun berselang adalah seorang iblis, dan jika ia kembali muncul lagi,
tidak dapat dibayangkan bagaimana sepak terjangnya nanti." demikian tiba-tiba Kim Coa Nio-nio
berkata.
Kim Houw tadi tidak mengerti apa maksudnya San Hoa Sian-li memperlihatkan telapak
tangannya pada dirinya, kini setelah mendengar keterangan Kim Coa Nio-nio, ia baru mengerti.
Mengenai ilmu serangan Sam-im-ciu ini, dalam buku Kao-jin Kiesu telah ditulis dengan jelas.
Pada saat itu, semua orang sudah keluar dari barisan batu.
Suara kentongan tiba-tiba terdengar amat riuh, lalu disusul oleh suara tambur yang amat
nyaring. Kim Houw memandang keadaan di sekitarnya, sekarang mereka berada ditengah-tengah
antara dua buah gunung, sedang di depannya terhalang oleh sebuah rimba yang lebat.
"Rimba itu tidak terlalu dalam dan jauh. Setelah melalui rimba itu lantas dapat kita lihat danau
Siao-ceng-ouw ditengah-tengah Ceng-kee-cee. Cuma, dalam rimba itu dipelihara binatang labalaba
beracun yang besar dan banyak jumlahnya dan bukan main lihainya. Harap kalian suka
waspada terutama dua bocah ini...." berkata Kim Coa Nio-nio sambil menunjuk pada si botak dan
Sun Cu-hoa.
"Manusia masih tidak ditakuti, masa takut pada binatang kecil?" kata Tok Kai sambil tertawa
tergelak-gelak.
"Sekarang sudah dekat waktunya Ceng-kee-cee melakukan upacara sembahyang, kalau kau
telantarkan urusan penting ini, aku mau lihat, apa kau si pengemis busuk nanti merasa enak hati
terhadap kawan-kawan?" Kim Coa Nio-nio pelototi Tok Kai.
"Aku justru tidak percaya segala ilmu jahat demikian, lihat aku yang buka jalan bagi kalian!"
jawab Tok Kai yang masih tetap tertawa besar.

Tiba-tiba Cu Su turut bicara :" Kim Coa Nio-nio kau lupa binatang laba-laba beracun demikian
kecil, bagaimana bisa melukai dirinya? Kim Coa Nio-nio harap kau tenang dan pimpin perjalanan
kita!"
Kim Houw maju menghampiri si botak dan Sun Cu Hoa.
"Cu-cianpwe", katanya pada Cu Su, "Si botak biarlah aku yang melihat-lihat, sebaiknya kita
lekas berangkat!"
Kim Houw tidak menyebut Sun Cu Hoa bukan karena Sun Cu Hoa mampu melindungi dirinya
sendiri dari serangan laba-laba beracun itu, ini disebabkan Sun Cu Hoa beradat keras dan rasa
benci terhadap dirinya masih belum lenyap sama sekali. Ia tidak suka menyakiti hati anak muda itu
lagi, maka sengaja tidak menyebut namanya.
Sun Cu Hoa dengar Kim Houw cuma hendak melindungi si botak, meski dimulutnya tidak
mengatakan apa-apa, tapi tubuhnya sudah lompat melesat mengikuti jejak Kim Coa Nio-nio masuk
ke dalam rimba.
Kim Houw tidak enak mengikuti jejak Sun Cu Hoa, lalu memberi isyarat kepada Kim Lo Han. Ia
ini lantas mengerti maksud Kim Houw, dan dengan tanpa bicara ia lantas mengikuti di belakang
Sun Cu Hoa.
"Kim-siauhiap harap jangan kecil hati, bocah itu sangat keterlaluan......" Cu Su berkata sambil
menghela napas.
Kim Houw cepat menghiburnya :" Tidak apa-apa," katanya, "Cu-cianpwee boleh legakan hati,
aku pasti berusaha untuk melenyapkan perasaan benci dan kesalah-pahamannya terhadap
diriku!"
Tidak lama kemudian mereka sudah mulai memasuki rimba yang banyak terdapat laba-laba
beracunnya itu.
Kim Houw menggandeng tangan si botak, tiba-tiba terdengar suara mengaung yang amat
nyaring. Ia hendak hentikan langkahnya dan tidak jalan terus, sebaiknya ambil jalan mengitar di
bawah kaki gunung. Oleh karena larinya yang pesat, meski di tangannya menggandeng si botak,
ia tidak usah takut ketinggalan kawan-kawannya. Siapa tahu begitu keluar dari rimba, apa yang
telah dilihat di depan matanya......?"
Di depan ramai suara kentongan, tambur dan gembreng, tapi kawan-kawannya tidak satupun
yang kelihatan muncul dari dalam rimba. Buat Kim Houw, saat ini sudah tidak mempunyai waktu
untuk menyelidiki keadaan kawan-kawannya didalam rimba, seluruh perhatiannya telah ketarik
oleh seorang nona baju merah yang terikat di atas undakan batu yang tingginya beberapa tombak.
Nona itu berdiri membelakanginya.
Di atas batu undakan itu juga duduk sepasang suami istri yang sudah lanjut usianya, diujung
empat penjuru batu undakan itu terdapat dua pasang muda-mudi dengan pakaian seragam
ringkas. Tangan mereka memegang pedang panjang, kantong piauw menempel dibadan masingmasing.
Nona baju merah itu diikat pada sebuah tiang ditengah-tengah batu undakan dan di depannya
berdiri ibunya Siao Pek Sin, Ceng Niocu. Sedang tangannya tampak memegang sebilah pisau
kecil yang berkilauan, sepasang matanya mengawasi langit seolah-olah sedang menantikan
waktu.

Disekitar batu undakan, telah dikurung oleh ratusan laki-laki yang berbadan kekar, tangan
mereka membawa tombak atau golok. Tempat tersebut boleh dikatakan telah dikurung sangat
rapat. Nampaknya mereka berdiri dengan tidak teratur, tapi nyatanya disiplin.
Kim Houw cuma dapat melihat punggung nona itu, namun ia sudah dapat memastikan bahwa
nona baju merah itu tentu Peng Peng. Sayang, tempat dimana ia berdiri berada jauh sekali
terpisahnya dengan batu undakan itu. Seandainya ia hendak lompat menerjang, sukar untuk
mencapai tujuannya. Mau tidak mau ia harus melalui rintangan sekawanan orang-orang yang
menjaga di sekitarnya, barulah ia bisa mencapai batu undakan itu.
Pada saat mana tiba-tiba terdengar suara bunyi burung yang menyeramkan, suara itu agak
lain dari burung biasa. Tapi Kim Houw pernah mendengar suara burung itu, cuma belum pernah
melihat rupanya.
Ketika ia mendongakkan kepalanya, ia melihat seekor burung hitam dengan patuk dan
kukunya yang putih, sedang beterbangan sambil berbunyi di atas batu undakan. Karena suaranya
yang aneh, kadang-kadang tinggi melengking dan kadang-kadang rendah, semua orang pada
tujukan perhatiannya pada burung itu.
Si nenek yang duduk di atas batu undakan itu tiba-tiba gerakkan tongkatnya, sebuah senjata
rahasia yang warnanya hitam jengat telah meluncur ke atas menyerang burung aneh itu. Tapi si
burung aneh ketika melihat dirinya diserang dengan senjata rahasia, bukan saja tidak takut bahkan
menukik ke bawah, sambil miringkan sayapnya, hendak menyambuti senjata rahasia tadi dengan
sayapnya.
Senjata si nenek yang sedang meluncur dengan kerasnya itu, sebentar saja sudah dibikin
jatuh oleh sayapnya.
Burung itu lantas mengeluarkan pula suaranya yang aneh, agaknya sedang membanggakan
hasil pekerjaannya. Ia terbang berputaran lagi kemudian lantas menukik ke tengah batu undakan.
Terpisah kira-kira satu tombak lebih tingginya, nenek itu kembali gerakkan tongkatnya, dengan
beruntun melancarkan serangan senjata rahasianya ke arah burung itu.
Rupanya burung itu sudah terdidik dan terlatih dengan baik, sehingga terhadap serangan
senjata rahasia itu sedikitpun ia tidak takut.
Maka ia menunggu hingga senjata rahasia itu dekat, barulah menerjang dengan kedua
sayapnya yang terpentang lebar, kemudian badannya berbalik sehingga senjata-senjata rahasia
itu terbang melewati bawah perutnya, berbarengan dengan itu, burung tersebut dengan kecepatan
seperti peluru menyambar kepala Ceng Niocu.
Siapapun tidak akan menduga bahwa burung yang begitu kecil berani menyerang manusia.
Ceng Niocu dalam gugupnya cuma bisa mengangkat tangannya sambil ayunkan pisau kecilnya.
Tapi baru saja bergerak, mulutnya sudah menjerit, pisaunya terlepas dan tangannya mendekap
kedua matanya sambil berjongkok di atas batu undakan.
Sepasang mata Ceng Niocu ternyata sudah dipatuk oleh burung aneh itu, sehingga menjadi
buta. Di atas batu undakan itu seketika terjadi kekalutan. Senjata-senjata rahasia yang bermacammacam
bentuknya beterbangan menyerang burung aneh itu.
Sang burung bisa menukik begitu cepat, naiknya juga gesit. Orang-orang cuma melihat
bergerak sayapnya saja, tahu-tahu ia sudah melesat ke angkasa.

Orang-orang di atas dan di bawah batu undakan itu, semua telah dibikin kalang kabut oleh
seekor burung kecil. Kim Houw yang menyaksikan dari jauh, dalam hati lantas berpikir, ini adalah
kesempatan yang paling baik, kalau tidak lekas bertindak, menunggu kapan lagi?
Ia berpaling pada si botak dan berkata: "Botak, kau di sini menunggu suhumu....."
Belum selesai memberikan pesannya, di atas batu undakan itu kelihatan semakin kalut, suara
makian dan bentakan silih berganti, maka Kim Houw lantas berpaling kearah undakan.
Ternyata ada orang yang turun tangan lebih dulu dari padanya. Sedang si burung aneh
sebentar naik tinggi, sebentar menukik ke bawah, ternyata ia juga sedang melakukan
pertempuran.
Kim Houw semula mengira itu adalah kawanan Kim Coa Nio-nio yang memimpin kawankawannya
dan melakukan penyerangan dari samping, tapi ketika ia mengawasi, ternyata tidak ada
seorangpun yang dikenalinya.
Yang lebih mengherankan adalah si nona baju merah yang tadinya diikat pada tiang, sekarang
sudah lenyap, hingga membuat ia menjadi gugup.
"Kim-siangkong di sana, itu dia!" tiba-tiba si botak berseru sambil menunjuk ke satu arah.
Kim Houw tunjukkan matanya ke arah yang ditunjukkan si botak. Dilihatnya ada seorang bocah
berpakaian hijau sedang menggendong si nona baju merah, sedang lari menuju ke atas gunung.
Di belakangnya ada seorang wanita setengah tua yang mengikuti sambil memutar senjata seruling
batu giok, untuk menangkis serangan orang-orang yang mengejar.
Kim Houw heran. Kalau dilihat kenyataannya orang-orang itu seperti sedang menolong si nona
baju merah, tapi juga mirip dengan perbuatan orang yang sedang melakukan perampokan.
Menolong ataukah merampok? Kim Houw masih belum jelas.
Ia sudah tidak ada tempo lagi untuk memikirkan persoalan itu, ia tidak dapat membiarkan Peng
Peng dibawa pergi di depan matanya. Setelah meninggalkan pesan lagi pada si botak, tubuhnya
melesat mengejar orang-orang yang membawa kabur si nona.
Sebentar saja, seolah-olah seekor burung garuda terbang, Kim Houw sudah melayang ke
bawah puncak gunung. Pada saat itu, si anak baju hijau dengan menggendong si nona baju
merah, sudah menghilang ke belakang puncak gunung.
Kim Houw mengawasi wanita setengah tua itu, yang sedang memutar seruling di tangannya
seperti ular perak. Ilmu silatnya tinggi sekali, dengan senjata serulingnya ia hajar semua orang
yang mengejar sampai kalang kabut.
Kim Houw tidak ingin terlibat dalam pertempuran itu, tapi seandainya terpaksa, tentunya ia
akan membantu pihak wanita itu. Melihat nyonya itu sudah lebih dari cukup untuk memukul
mundur orang-orang yang mengejar, maka pikirnya ia hendak berlalu melewati samping si nyonya.
Siapa sangka baru saja badannya bergerak, tiba-tiba ia melihat nyonya itu sudah menghadang
di depannya.

"Siao Pek Sin, kau harus mengerti! Jika kau benar-benar tidak mau berhenti, jangan sesalkan
aku Hui-ie-ciam turun tangan dengan kejam. Kau harus pikir-pikir dulu, apakah kau mampu
menyambuti jarum Hui-ie-ciam ku atau tidak?" demikian bentaknya.
Kim Houw tahu nyonya itu sudah salah mengerti lagi terhadap dirinya, tapi ia tidak mempunyai
waktu untuk memberi penjelasan.
"Tolong tanya, mengapa kalian merampas diri nona baju merah itu?" Ia menanya.
Si nyonya alisnya berdiri, menjawab dengan suara bengis: "Kita merampas? Hmm! Kau
ternyata lancang mulut. Sekarang aku hendak menanya hak, Ceng-kee-cee setiap tahun
melakukan upacara sembahyangan menggunakan binatang kerbau, mengapa tahun ini
menggunakan manusia? Jawablah!"
Apa yang harus dijawab? Bagaimana ia harus menjawab? Ia tidak tahu orang-orang
sebetulnya ada hubungan apa dengan Peng Peng? Ia memberi hormat kepada si nyonya dan
menanya: "Numpang tanya, siapa sebenarnya Cianpwe? Ada hubungan apa dengan nona yang
ditolongnya?"
Tapi nyonya itu ketika melihat Kim Houw memberi hormat padanya, buru-buru mundur
beberapa tindak.
"Jangan pura-pura merendah," katanya, "Aku ada seorang yang tidak gampang menyerah baik
dengan kelakuan keras atau lunak. Apa hubungan aku dengan si nona, apa kau juga berhak untuk
menanya?"
Jawaban wanita itu telah membikin pusing kepala Kim Houw, ia tidak mengerti apa yang
dimaksudkan oleh si nyonya, hanya kata-katanya yang terakhir yang ia dapat tangkap artinya.
Kim Houw tidak berani menjawab sembarangan, karena belum memahami maksud orang.
"Cianpwe, sebab aku dengan nona baju merah itu ada mempunyai hubungan baik, aku ingin
bertemu padanya, untuk bicara sepatah dua patah saja. Harap Cianpwe suka memberi ijin padaku!
Hanya sepatah dua patah saja."
"Wanita itu mendengar keterangan Kim Houw bahwa pemuda itu dengan nona baju merah
mempunyai hubungan baik, mendadak tambah gusar.
"Apa? Kau dengan nona itu mempunyai hubungan baik? Kau bajingan!" dengan kalap si
nyonya menotok dada Kim Houw.
Kim Houw makin bingung, sadarnya tidak ingin ia meladeni dan hendak meninggalkan
padanya, untuk mengejar cianpwe. Tapi, ucapan terakhir dari wanita itu telah membikin meluap
darahnya.
Menampak wanita itu menotok padanya sengaja ia tidak mengegos atau berkelit, malah ulur
tangannya untuk merampas seruling orang. Kegesitan gerak tangannya Kim Houw, masa itu
dalam dunia Kangouw sudah tidak ada tandingannya. Wanita masih belum tahu tegas bagaimana
Kim Houw bergerak, tahu-tahu senjatanya sudah pindah tangan.
Wanita itu mendadak tertawa dingin dan berkata: "Ini adalah kau sendiri yang mencari
mampus, jangan kau sesalkan aku nyonya Teng."
Berbareng itu, suara berbunyi. Kim Houw terkejut, cepat ia lemparkan itu memuntahkan
segumpal jarum perak tersebut di tanah.

Kim Houw jadi ketika berhasil merampas senjata si nyonya sebetulnya bisa menggunakan
ilmunya Han-bun-cao-khi! Untuk membikin remuk seruling itu. Apa mau mendadak ingat jika
nyonya itu benar ada mempunyai hubungan apa-apa dengan Peng Peng, tidak enak baginya
kalau sampai berbuat dosa lagi. Untuk Peng Peng saja, ia sudah kesalahan melukai banyak
orang. Kematian ibunya Bwe Peng, ada merupakan suatu kemenyesalan besar yang sukar
dilupakan olehnya.
Justru karena keragu-raguannya itu, hampir saja membuat dirinya celaka.
Kim Houw mendongkol sekali, dengan cepat tangannya mendorong. Ia hanya menggunakan
lima puluh persen ilmunya Han bun-coa-kie, namun sudah cukup bagi lawannya.
Menampak senjata rahasianya jarum Hui-ciam tidak bisa melukai dirinya si anak muda, dalam
hari si nyonya diam-diam merasa heran, kemudian melihat Kim Houw keluarkan tangannya
dengan tangan kosong. Ia anggap Kim Houw meski tinggi ilmu silatnya, tapi lweekangnya belum
tentu dapat menandingi dirinya. Maka, tanpa ragu-ragu lagi, ia lantas pasang tangannya untuk
menyambuti serangan tangan Kim Houw.
Ketika kekuatan tangan kedua pihak benturkan, si nyonya baru merasa kaget. Lwekang anak
muda itu ternyata lebih kuat dari apa yang ia duga semula, mengalir terus tidak putusnya, bahkan
mengandung hawa dingin yang luar biasa.
Dalam kagetnya, si nyonya hendak menarik kembali tangannya dan segera mundur teratur,
tapi ternyata sudah terlambat.
Suara "Bluk!" terdengar nyaring, badannya si nyonya dibikin terpental dua tombak lebih
jauhnya.
Ketika jatuh di tanah, badannya menggigil kedinginan tidak bisa berbangkit lagi.
Mendadak terdengar suara pekikan nyaring melengking dan seram ! Kim Houw terperanjat,
entah siapa orangnya yang mempunyai lwekang demikian? Kim Houw tanpa dirinya sendiri.
Belum sempat berpaling, di depannya muncul seorang laki-laki setengah tua yang mempunyai
wajah cakap ganteng. Matanya memandang Kim Houw dengan tidak berkedip, kemudian sambil
unjukkan senyuman riang gembira berkata pada Kim Houw: "Adik kecil, sungguh hebat
kepandaianmu! Tidak kecewa kau menjadi tiancu dari istana Kumala Putih !"
Kim Houw tadi melihat si nona berbaju merah digendong si bocah memutar ke belakang
puncak gunung, kini ternyata sudah tidak kelihatan bayangannya.
Kuatir akan terjadi apa-apa lagi, maka ketika mendengar ucapan laki-laki setengah tua tadi
yang nampaknya tidak mengandung maksud permusuhan, lantas menjawab secara sopan:
"Bolehkah aku tahu mana tuan yang terhormat. Aku yang rendah bukan Siao Pek Sin, Tiancu dari
Istana Kumala Putih, melainkan seorang kecil yang tidak terkenal bernama Kim Houw."
Mendengar keterangan Kim Houw bahwa dirinya bukan Siao Pek Sin, wajah orang tua itu
mendadak berubah pucat pasi, alisnya berdiri, senyumnya lantas lenyap tanpa meninggalkan
bekas.
"Anak busuk! Kau bukannya Sioa Pek Sin? mengapa berani mati turut campur dalam urusan
lain orang?" demikian orang tua itu membentak.

Kim Houw yang menyaksikan laki-laki cakap itu begitu mudah berubah sikapnya, diam-diam
merasa heran. Mengapa seorang yang nampaknya ramah tamah dalam sekejap saja bisa berubah
demikian bengis dan jahat.
Selagi masih terbenam dalam keheranan, orang itu sudah melancarkan serangan aneh, tidak
menimbulkan suara apa-apa, juga tidak kelihatan ada sambaran anginnya, seolah-olah serangan
kosong yang tidak bertenaga.
Tapi, Kim Houw yang sudah mempelajari kitab Kao-jin selama dua tahun, sudah lantas
mengenali bahwa serangan yang dilontarkan oleh orang itu adalah ilmu serangan bu-hong peklek-
ciang atau tangan geledek tidak berangin.
Pukulan Bu-hong Pek-lek-ciang ini ada sangat ganas. Oleh karena tidak menimbulkan angin
atau suara apa-apa, orang yang diserang tidak tahu dan tidak menduga kalau serangan itu ada
hebat. Sesudah mengenakan sasarannya, kekuatan lweekangnya lantas timbul dengan
mendadak. Seolah-olah sambaran geledek. Kapan orang yang diserang mengetahui dan hendak
melawan dengan kekuatannya, saat itu sudah terlambat.
Karena Kim Houw kenal sifatnya serang geledek ini, maka ia tidak takut. Apa lagi ilmunya Hanbun-
cao-kwie sudah dapat digunakan menurut kehendak hatinya, ilmu bu-hong Pek-lek-ciang
baginya tidak berarti apa-apa.
Kim Houw nampaknya enak-enakan saja, ia seperti acuh tak acuh, seolah-olah tidak pandang
mata atas serangan itu.
Laki-laki itu menggeram hebat, serangan geledek yang terdengar menggelegar tapi Kim Houw
masih tetap berdiri di tempatnya, bergerak pun tidak , sebaliknya laki-laki itu sendiri yang terpental
mundur sampai dua-tiga tindak.
"Anak busuk! kiranya kau juga mengerti ilmu gaib. Mari, mari, sambuti seranganku sekali lagi.
Memang kalau kau tidak dikasih rasa sedikit kelihaianku, kau anggap aku benar-benar tidak punya
guna!" kata orang itu yang segera menggosok kedua tangannya, sebentar saja telapak tangannya
kelihatan merah membara.
Kim Houw terkejut, ia kenali itu adalah ilmu Tok-see-siang atau tangan pasir beracun, yang
hampir sama dengan ilmu Sam-im cu, tapi ia lebih lihay dan lebih ganas.
Kim Houw diam-diam merasa geli, sebab ilmu Han-bun-cao-khie, justru merupakan senjata
yang paling ampuh untuk memunahkan panasnya ilmu itu. Tapi untuk mempermainkan laki-laki
sombong itu, Kim Houw hanya miringkan sedikit badannya, ia berlagak unjukkan kelemahannya,
sebaliknya telah melakukan serangannya Han-bun-cao-khie dari samping.
Tapi belum sampai serangannya berwujud, orang itu tiba-tiba ketawa bergelak gelak.
"Kim-siauhiap." katanya. "Kepandaian ilmu silatmu benar-benar sangat lihay, aku si orang tua
sungguh kagum. Hanya aku merasa sedikit heran, apa sebabnya Kim-siauhiap keluarkan tenaga
membantu Ceng-kee-cee memusuhi keluarga Teng ?"
Kim Houw sebetulnya sudah siap melancarkan serangannya, tapi ketika mendengar pihak
lawannya ketawa dan bicara padanya, ia buru-buru tarik kembali serangannya, lawannya
membarengi menyerang hebat, hingga Kim Houw terpaksa mundur satu tombak.
Kim Houw tidak menduga bahwa orang itu ada begitu licik dan jahat. Kalau bukan karena Hanbun-
cao-khie ilmu yang paling ampuh untuk menundukkan ilmunya Tok-see-ciang, Kim Houw pasti
sudah rubuh terluka atau binasa.

Orang itu mengira serangannya pasti dapat melukai Kim Houw, tapi tidak tahunya pemuda itu
cuma terpental mundur saja beberapa tindak dan tidak terluka apa-apa. dalam hatinya diam-diam
merasa sangat heran.
Ia menoleh dan mengawasi si nyonya yang jatuh pingsan, yang kini ternyata sudah siluman
kembali. Sedang pada saat itu ditengah lapangan Ceng kee-cee sudah terjadi pertempuran kalang
kabut.
Ia melihat gelagat tidak menguntungkan lalu timbul pikiran hendak menyingkir.
"Bocah, aku Teng Goan Piauw sudah menerima pelajaranmu, lain waktu kita bertemu lagi",
demikian ia berkata kepada Kim Houw, kemudian menghampiri istrinya.
Mereka sambil bergandengan tangan menghilang di atas puncak gunung.
Bersambung jilid 12
Jilid 12
Dengan kepandaiannya untuk mengejar mereka bukan soal apa-apa, tapi untuk kepentingan
Peng Peng, Kim Houw pikir tidak perlu meladeni segala manusia begituan. Maka ia sengaja
mengejar dengan tindakan perlahan. Ia kuatir sedikit terlambat, Peng Peng entah sudah dibawa
kemana oleh anak baju hijau tadi. Dan untuk mengetahui dimana beradanya Peng Peng, terpaksa
ia menguntit mereka berdua.
Dari jarak agak jauh Kim Houw terus mengikuti Teng Goan Piaw dengan istrinya. Setelah
melalui dua bukit, di depan matanya terbentang rimba yang sangat liar dan gelap, seolah-olah
tidak pernah didatangi oleh manusia.
Rimba lebat Kim Houw sudah lihat banyak. Rimba keramat di gunung Tian-pek-san begitu
terkenal di dunia rimba persilatan, bagaimana sekarang ia takuti rimba begituan? Ketika ia lihat
dua orang itu masuk ke dalam rimba, ia juga ikut menyusup dari samping.
Karena kuatir dipergoki oleh mereka, Kim Houw mengikuti jejak mereka dengan mereka
sangat hati-hati sekali.
Mendadak ia mendengar suara jeritan ngeri. Dalam rimba begitu gelap. Meski Kim Houw
mempunyai pandangan tajam, tapi oleh karena terhalang oleh pepohonan, ia tidak bisa melihat
jauh.
Belum lenyap suara jeritan tadi, sudah disusul oleh suara ketawa yang amat seram.
Kim Houw adalah seorang yang mempunyai kepandaian tinggi dan bernyali besar, tapi ketika
mendengar suara ketawa yang menyeramkan itu, hatinya bergoncang juga.
Terhalang oleh suara-suara tadi, kini Kim Houw telah kehilangan bayangannya suami istri tadi.
Ia coba menyelidiki dengan telinganya, juga sia-sia saja.
Tiba-tiba ia menjadi kaget ketika menginsyafi dirinya mungkin masuk dalam jebakan suami istri
itu.
Belum lenyap kesangsiannya, suara ketawa yang menyeramkan itu terdengar pula.

Tapi untuk kepentingannya Peng Peng, sekalipun Kim Houw tahu di depan matanya
menghalang banyak rintangan yang sangat berbahaya, ia masih keraskan kepala untuk menerjang
masuk.
Dari jauh tiba-tiba ia dapat lihat sinar seperti sinar binatang kunang-kunang. Ia lalu maju
menghampiri ternyata itu ada sebuah papan batu besar yang diatasnya ada ditaburi butiran batu
permata warna hijau dan perak, sinar tadi adalah batu-batu itu yang memancarkannya.
Ditengah-tengah batu itu ada terdapat tiga huruf Im Hong Ciong, dikedua sisinya ada delapan
huruf HUD HOAT BU PIN SIN KANG KAI SEE. Yang maksudnya, "Pengetahuan Buddha tidak
terbatas, kepandaian ilmu meliputi jagat.
Kim Houw merasa geli, sungguh suatu kenyataan yang sombong. Hari itu kalau tidak karena
hendak menolong jiwa Peng Peng, ia pasti hendak menguji kepandaian orang itu orang yang
menjadi majikan "IM HONG CIONG" ini.
Tiba-tiba ia mendengar pula suara ketawa seram itu, Kim Houw mendongkol dan amat gusar.
Ia memandang batu-batu permata yang memancarkan sinar hijau itu, di dalam suasana gelap
seperti itu, sinar itu tampaknya semakin menyolok.
Kim Houw lalu berpikir: "Kalau aku bikin rusak batumu ini, pasti kau akan keluar untuk
tunjukkan dirimu."
Begitu berpikir, ia lantas bertindak. Dengan satu tangan ia menghajar batu itu tapi heran, ia
tidak dengar suara hancurnya batu, sebaliknya suara per yang mengaung.
Kim Houw pentang matanya, batu itu ternyata sudah rubuh ke belakang, tapi tidak kelihatan
bayangannya, mungkin di bawahnya batu itu ada dipasangi pesawat rahasia.
Kim Houw tersenyum. Pikirnya, tidak mempunyai kesempatan untuk melayani segala batu
begitupun. Siapa nyana, baru saja ia memutar tubuhnya, di belakangnya memancar sinar yang
seperti kunang-kunang tadi.
Kemudian disusul oleh suara ketawa dingin, seolah-olah sedang mentertawakan Kim Houw
yang tidak mampu melayani sebuah batu saja, dan toh masih berani memasuki rimba.
Kim Houw gusar, lalu ia keluarkan senjatanya yang istimewa Bak-tha Liong-kin untuk
membabat batu itu. Senjata itu merupakan senjata ampuh dan luar biasa. Jangan kata cuma
sebuah batu, sekalipun besi atau baja, di bawah serangan Kim Houw yang sedang gusar, mungkin
juga bisa hancur lebur.
Tapi selagi senjata itu hampir mengenai sasarannya, mendadak batu itu seperti merekah dan
batu permata yang menghiasinya berbareng keluar menyambar, seolah-olah bintang yang jatuh
berhamburan dari langit, mengurung diri Kim Houw.
Serangan yang secara mendadak itu, apalagi menyambarnya begitu cepat dan jaraknya pun
begitu dekat jika mengenakan sasarannya niscaya si korban akan ditembusi banyak lobang.
Kim Houw urung menghancurkan batu, sebaliknya lompat melesat setinggi tiga tombak.
Saking cepat gerakannya, bajunya banyak robek keserempet cabang pohon yang ada di
belakangnya.
Baru saja Kim Houw meluncur turun, kembali terdengar suara ketawa dingin menyeramkan,
bahkan kali ini disusul oleh suara orang, katanya: "Bangsat cilik dari mana berani-berani mencuri
batu permataku? Im-hong-ciong selama beberapa puluh tahun hanya bisa dimasuki tanpa bisa

keluar lagi. Kau bersedia menyerah? Atau antarkan jiwa? Di sini tidak ada seorang pun yang bisa
keluar dalam keadaan hidup. Kau boleh pikir...!"
"Siau-yaya sudah berani memasuki rimba," kata Kim Houw dingin, "sudah tentu tidak
memikirkan untuk keluar. Kalau kau mempunyai nyali boleh unjukkan diri untuk kita bertanding!
Dengan menggunakan akal, muslihat seperti ini, apakah kau masih menganggap dirimu seorang
yang gagah?"
"Kau! kau benar-benar sombong! Apa lantaran senjata rahasia tidak mampu melukai kau,
lantas kau anggap dirimu adalah seorang jago tanpa tandingan? Kini kau benar-benar telah masuk
ke dalam neraka! Baiklah, aku nanti antarkan kau menghadap raja akhirat!"
Suara itu dibarengi oleh meniupnya angin dingin yang keluar dari depan batu besar itu, lalu
muncul seorang imam tua berbadan kate kecil. Di belakang punggungnya menggemblok sebilah
pedang panjang, tangannya membawa kebutan (hud-tin). Pakaiannya cukup rapi, cuma sayang
sedikit wajahnya terlalu jelek, panjang tirus, sepasang matanya besar dan bundar, persis seperti
monyet.
Kim Houw ketika menyaksikan wajah yang aneh dari si imam tua, dalam hati sudah kepingin
ketawa. Baru Kim Houw hendak membuka mulutnya, si imam sudah pelototkan matanya, kebutan
di tangannya bergerak cepat menotok padanya.
Kebutan biasanya terbuat dari bulu kuda, lemas dan ulet, orang yang menggunakan senjata
semacam itu harus mempunyai kekuatan lwekang yang sudah cukup sempurna, barulah bisa
menggunakan menurut kemauan hati. Tapi kebutan imam itu, ketika diputar mengeluarkan suara
menderu hebat, bisa diduga tentu bukan terbuat dari bulu kuda biasa.
Kim Houw melihat si imam sudah mengeluarkan senjata, bahkan sudah melakukan serangan
tanpa memberi peringatan terlebih dahulu. Ia mengerti kalau si imam itu tentu seorang yang
ganas. Maka ia tidak berani menyambut dengan tangan kosong, sebaliknya ia menyapu dengan
senjata Bak-tha Liong-kin nya.
Liong-kin dan kebutan, keduanya merupakan senjata lemas dan ulet, begitu bentrok lantas
saling melibat sehingga untuk sementara sukar untuk dipisahkan.
Si imam lalu mengeluarkan suara tawa dingin, cepat sekali ia menghunus pedang panjangnya
dan menikam Kim Houw.
Menurut semestinya, Kim Houw yang mempunyai kekuatan lwekang luar biasa serta ilmu Hanbun-
cao-khie, asal ilmunya itu disalurkan pada senjata Liong-kinnya, si imam pasti tidak akan
tahan dan senjatanya akan terlepas dari tangannya.
Tapi imam tua itu sudah mendahului menghunus pedangnya dan menikam, Kim Houw belum
sempat mengeluarkan ilmunya, atas tekanan si imam, Kim Houw segera memiringkan sedikit
badannya, lalu dengan cepat iapun mengeluarkan pedang pendeknya Ngo-heng-kiam untuk
membabat pedang panjang si imam.
Si imam begitu melihat pedang Ngo-heng-kiam, bukan kepalang kagetnya. Ia buru-buru
menarik kembali pedangnya, tapi kebutannya yang terlibat kencang oleh senjata Liong-kin tidak
ampun lagi lantas terpapas kutung.
Senjata kebutan imam itu terbuat dari bulu binatang monyet berbulu emas dan rambut
manusia, bagi pedang biasa jangan harap dapat memapas kutung. Dengan senjata kebutannya

itu, si imam entah sudah menjatuhkan berapa banyak jago-jago dalam dunia Kangouw. Tapi hari
ini, telah ketemu batunya dan rusak ditangan seorang bocah saja.
Si imam tidak menduga bahwa Kim Houw yang sedang mempertahankan kedudukannya
masih bisa memapas senjatanya. Ia cemas karena kehilangan senjata yang paling disayanginya
itu.
Tidak heran kalau ia semakin gusar dan gemas terhadap Kim Houw.
"Hari ini, kalau aku tidak bisa mencincang tubuhmu menjadi beberapa potong, betul-betul tidak
akan terlampiaskan kegusaran Toyamu!" katanya dengan kertak gigi.
Tangannya kelihatan digetarkan, ujung pedangnya lantas menggetar seolah-olah kembang
yang sedang mekar dan mengancam dada Kim Houw.
Kim Houw kelitkan tubuhnya. "Kalau aku menggunakan senjata untuk melukai dirimu, kau pasti
masih penasaran, biarlah aku...." belum habis perkataan Kim Houw, si imam bersiul nyaring.
Meski orangnya kecil dan kurus kering, tapi suaranya sangat nyaring, sehingga menggema
jauh.
"Bangsat cilik, kau berlagak jumawa! Kalau tidak menggunakan senjata pusaka, siang-siang
kau sudah enyah dari sini," kata si imam.
Kim Houw tertawa tergelak-gelak, lalu menyimpan kembali pedang Ngo-heng-kiam nya.
"Tua bangka! Dengan Bak-tha Liong-kin ini saja kalau aku tidak mampu bikin kau terjungkal di
tanganku, selanjutnya aku tidak mau menduduki kedudukan Tiancu di Istana Kumala Putih lagi,"
demikian jawab Kim Houw.
Si imam cuma ganda tertawa dan tidak berkata apa-apa lagi. Terus ia membuka serangan
dengan ujung pedangnya yang mencecar Kim Houw laksana jatuhnya air hujan.
Ceceran dengan pedang ini, kadang-kadang diselingi dengan serangan telapak tangannya
yang tidak mengeluarkan suara, sehingga sukar dijaga.
Kim Houw mengeluarkan ilmu mengentengkan tubuhnya yang luar biasa, ia berkelit diantara
sambaran ujung pedang. Ia ingin melihat ilmu pedang golongan apa yang digunakan oleh imam
tua itu.
Ketika imam itu menggunakan serangan tangan kosong. Kim Houw mengenalinya sebagai
ilmu serangan Bu-hong Pek-lek-ciang. Tidak salah lagi, sepasang suami istri tadi pasti ada
hubungannya dengan imam tua ini.
Tanpa banyak rewel lagi Kim Houw lantas keluarkan ilmu Hiang-liong-lie-pian. Hanya dalam
tiga-lima jurus saja, serangan pedang si imam tua sudah dibikin kalang kabut tidak karuan.
Si imam tua yang berdiam didalam rimba dan setiap hari melatih kepandaian ilmu silatnya
seorang diri, tidak seharusnya hanya dalam tiga jurus saja sudah dibikin kucar-kacir oleh serangan
Kim Houw.
Sebabnya adalah waktu Kim Houw melancarkan ilmu pecutnya Hiang-liong-lie-pian, Kim Houw
sengaja membiarkan si imam melancarkan serangan Bu-hong Pek-lek-ciang. Si imam ini

menganggap ilmu Bu-hong Pek-lek-ciang ini merupakan ilmu silat paling ampuh di dunia, maka ia
telah menyerang Kim Houw sebanyak dua kali, tapi ia tidak menyangka kalau Kim Houw sudah
siap dan hanya memancingnya saja.
Kim Houw yang telah menguasai ilmu Han-bun-cau-khie yang ampuh tiada taranya, dan sudah
dilatihnya dengan matang, maka asal sudah siap begitu ada tekanan dari luar otomatis ilmu itu
menunjukkan kedahsyatannya.
Serangan yang pertama, jarak si imam dengan Kim Houw belum cukup dekat, meski
menggunakan tenaga sepenuhnya, juga tidak dapat melukai lawan. Iapun tidak tahu, bahwa dalam
diri Kim Houw tersembunyi ilmu yang sangat lihai.
Serangan yang kedua, Kim Houw memberi kesempatan, jarak si imam dengan dirinya sudah
cukup dekat. Si imam sudah bertekad bulat hendak merubuhkan Kim Houw dengan serangan
yang dilancarkannya, namun suatu kekuatan serangan membalik yang luar biasa hebatnya telah
membuat sekujur badannya bergetar. Akhirnya ia tidak mampu mempertahankan kedudukannya,
ia limbung dan sebelah tangannya dirasakan sakit seperti patah.
Karena lengannya terluka, maka ilmu pedangnya menjadi kalut. Ia mengerti telah terjebak oleh
akalnya Kim Houw, tapi menyesalpun sudah terlambat.
Ilmu pecut Kim Houw, suatu ilmu pecut paling dahsyat masa itu. Sekali dilancarkan, terus
menerus menekan lawannya, jangan harap terlolos dari tangannya.
Untung Kim Houw bukan seorang yang berhati kejam, ia hanya merasa panas hatinya oleh
ucapan tekebur dari si imam tua yang dahsyat itu dan sekedar untuk memberi pelajaran kepada si
imam tua itu.
Dari ilmunya Bu-hong Pek-lek-ciang, Kim Houw tahu imam tentu ada hubungannya dengan
suami istri yang ia kuntit, maka ia ingin mendengar dari mulutnya si imam tentang diri Peng Peng.
Saat itu si imam sudah mulai keteter, ia hanya bisa terus mundur dan sukar melayani serangan
Kim Houw.
Kim Houw juga tidak terlalu mendesak, ia ingin menjauhi pertempuran, maka ia lalu bertanya :"
Tua bangka! Kau ingin mati, tapi aku justru tidak menginginkan jiwamu. Aku masuk rimba ini
karena ingin mencari seseorang, kalau kau mau menjawab pertanyaanku, aku bersedia minta
maaf kepadamu, bagaimana?"
Ucapan Kim Houw yang terakhir ini sudah sangat merendah. Namun ucapan "Tua bangka"
diawal ucapannya malah membuat si imam makin mendongkol.
"Bangsat cilik, kalau kau mempunyai kepandaian kau boleh bunuh aku. Aku tidak kuatir nanti
tidak ada orang untuk menuntut balas bagiku, apa perlunya kau mengucapkan perkataan yang
tidak ada gunanya itu? jangan kata cuma minta maaf, sekalipun kau mau menjadi cucuku, aku
juga tidak sudi terima," si imam umbar kekesalannya.
Kemudian si imam mengerang dan menerjang dengan pedangnya dengan kalap.
Perbuatannya itu tidak bedanya dengan orang yang hendak mengadu jiwa. Mungkin hari ia
terlalu sakit hati, hingga ia berniat mati bersama dengan musuhnya.
Kim Houw yang menyaksikan perbuatan nekat tersebut, dalam hati tidak setuju. Ia lalu
memutar tubuhnya mengelakkan serangan. Karena ia anggap dengan imam tua itu ia tidak
mempunyai ganjalan atau permusuhan. Tidak perlu ia menghendaki jiwanya, terlebih-lebih tidak
ada gunanya membiarkan dirinya terluka bersama-sama.

Tapi, selagi Kim Houw memutar tubuh, dari belakangnya tiba-tiba terdengar suara "ser, ser,
ser," kiranya ada sambaran senjata-senjata rahasia yang sangat halus. Dalam kagetnya, Kim
Houw lantas melompat melesat ke tengah udara. Di luar dugaannya, seolah-olah mempunyai
mata, senjata rahasia itu terus mengejar dirinya. Kim Houw terpaksa meluncur lurus dan ketika
kakinya menginjak tanah ia lalu memutar senjatanya Bak-tha Liong-kin untuk melindungi diri.
Diam-diam Kim Houw mengawasi, siapa orang yang melancarkan serangan senjata rahasia
tadi.
Di suatu tempat sejarak kira-kira tiga tombak jauhnya, berdirilah Teng Goan Piauw yang
wajahnya cakap dan si bocah baju hijau. Bocah itu tengah mengawasi dirinya dengan tertawa
nyengir. Di tangannya masih membawa seruling batu kumala, kedua tangannya agaknya sedang
repot mengisi senjata rahasia ke dalam serulingnya.
Kim Houw segera mengerti, kedatangan kedua orang itu pasti karena mendengar siulan si
imam tua tadi. Tapi ia tidak takut, sebaliknya dengan munculnya si bocah baju hijau itu, tentunya
Peng Peng berada tidak jauh dari situ.
Tiba-tiba Teng Coan Piauw bertanya sambil tertawa dingin.
"Saudara memasuki Im-hong-ciong ini apa perlunya? Apa hanya ingin pesiar saja? Melihat
kepandaian ilmu silatmu, gurumu pasti salah seorang pandai dari tingkatan Locianpwe. Apakah
gurumu tidak pernah memberitahukan tentang Im-hong-ciong ini, yang menembus ke akhirat?"
Kata-kata itu meski diucapkan dengan ketawa dingin, tapi nada suaranya masih lunak, maka
Kim Houw juga menjawab dengan suara lunak, katanya: "Kedatanganku kemari, hanya untuk
mengejar seseorang. Kalau kalian mau mengizinkan aku menemui orang itu, agar aku bisa bicara
sepatah dua patah kata, aku nanti segera berlalu dari sini. Tapi, jangan sekali-kali kalian hendak
menipu aku, sebab dia kenal aku dan aku juga kenal dia. Hanya mendengar suaranya saja aku
sudah dapat mengenalinya."
"Apa kedatanganmu ini hanya mengejar seorang saja? Siapa orangnya yang kau kejar itu?
Katakanlah!"
"Orang yang ingin aku temui adalah si nona baju merah yang oleh saudara kecil ini digendong
dari Ceng-kee-cee!"
"Apa? Kau ingin menemuinya? dia kenal kau? Kau juga mengenalinya? Oh! Kalian...."
"Ya! Orang yang ingin aku temui adalah dia. Kita sejak beberapa tahun berselang sudah saling
kenal. kali ini aku dengan menempuh perjalanan sangat jauh, perlunya hanya hendak menolong
dia," Kim Houw memotong.
Coan Piauw melihat sikap Kim Houw serta kata-katanya yang penuh rasa duka, dalam hati
diam-diam merasa heran dan kaget.
"Baiklah, kalau kau ingin ketemui dia, mari ikut aku!" katanya.
Setelah berkata ia lalu menggandeng tangannya si bocah baju hijau dan berlalu.
Kim Houw berpaling pada si imam tua, hendak mengatakan sepatah dua patah permintaan
maaf, tapi imam itu ternyata sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Terpaksa ia mengikuti di
belakangnya Goan Piauw dan si bocah.

Mereka berjalan cepat sekali, sebentar saja sudah tiba di salah satu puncak gunung.
Betapapun cepatnya mereka berjalan, mereka tidak mampu meninggalkan Kim Houw yang
menguntil dengan waspada, kuatir mereka berdua kabur.
Selama itu, si bocah acap kali berpaling dan mengawasi Kim Houw dengan sorot mata kejam.
Kim Houw tercekat, dalam hati diam-diam berpikir, apa sebabnya mereka memusuhi aku? Aku
hanya ingin menemui Peng Peng, apa salahnya? Ada hubungan apa Peng Peng dengan mereka?
Serentetan pertanyaan ini belum terjawab. Goan Piauw dan si bocah berhenti melangkah, Kim
Houw mengawasi, kiranya pada tempat dimana mereka berdiri terdapat sebuah goa.
Di depan mulut goa itu keadaannya sama dengan apa yang Kim Houw pernah saksikan di
depan rimba ketika ia tiba, ialah tiga huruf "Im-hong-ciong" dengan di sisinya ada dua baris huruf
yang agak kecil.
Belum lagi Kim Houw mengajukan pertanyaan, dari dalam goa tiba-tiba terdengar suara isak
tangis, hingga Kim Houw terperanjat.
Kim Houw tidak tahu betapa lihainya tempat yang dinamakan Im-hong-ciong ini, hanya dari
mulutnya Goan Piauw ia dengar bahwa goa ini bisa menembus ke akhirat.
Keadaannya menyeramkan, hingga Kim Houw ragu-ragu kelihatannya.
Tiba-tiba ia dengar suara laki-laki yang penuh dengan kebencian: "Bagaimana? Takut? Orang
yang hendak kau temui ada didalamnya."
Lantas ia ajak si bocah baju hijau berlalu dari situ.
Kim Houw berpikir, meski ia tahu bahwa tempat ini mudah dimasuki tapi sukar untuk
keluarnya, ia sudah tiba di situ, biar bagaimanapun ia harus masuk ke dalam. Ia toh tidak bisa
membiarkan Peng Peng berdiam sendiri dalam goa itu. Apalagi keadaan dalam goa itu toh belum
tentu begitu menyeramkan seperti apa yang dikatakan oleh laki-laki itu tadi.
Mungkin juga Peng Peng hanya hendak menguji hatinya. Meski Peng Peng belum menjadi
istrinya, tapi si nona sudah banyak melepas budi pada dirinya, hal mana tak boleh diabaikan
begitu saja.
Berpikir sampai di situ, suara isak tangis dari dalam goa itu terdengar pula, seolah-olah
mendesak dirinya supaya lekas masuk ke dalam. Tanpa banyak pikir lagi, Kim Houw lantas lompat
masuk.
Goa itu tidak luas, memutar dua kali putaran dan membelok lagi beberapa putaran masih itu-itu
juga. Cuma sekarang ia sudah dapat merasakan angin dingin yang menghembus dari dalam goa
itu.
Berjalan kira-kira beberapa tombak lagi, di atas dinding goa itu terlihat beberapa buah kamar
yang terbuat dari batu, pada setiap kamar terdapat beberapa buah patung malaikat yang berkuasa
di akhirat. Patung-patung itu terbuat dari batu tapi tampaknya seperti orang hidup.
Kim Houw bernyali besar, tapi waktu pertama menyaksikan pemandangan di situ rada kaget
juga. Setelah mengetahui bahwa patung-patung itu cuma terbuat dari batu ia merasa geli sendiri.

Di salah satu tikungan, keadaannya tiba-tiba menjadi terang benderang. Kiranya di situ
terdapat ruangan yang luas. Ditengah-tengah ruangan ada sebuah patung Giam Lo ong (raja
akhirat). Di depan patung ada sebuah meja yang cukup lebar, diatasnya ada sebuah tempat abu
sembahyang. Dan ada api yang sedang menyala, entah apa yang sedang dimasak dalam kuali itu.
Justru api yang berkobar inilah yang membuat keadaan dalam ruangan itu menjadi terang
benderang.
Kim Houw segera pasang matanya, untuk mencari suara tangisan tadi, karena ruangan itu
dianggapnya sudah merupakan titik akhir dari gua tersebut. Seandainya Peng Peng berada
didalam ruangan ini, tentu tidak bisa keluar.
Benar saja, Kim Houw tidak kecele. Disamping kuali besar itu yang apinya sedang berkobarkobar.
Ia melihat si nona baju merah sedang berjongkok dan menangis sambil menutupi mukanya
dengan kedua tangannya. Melihat keadaan itu, Kim Houw segera melompat maju dan berseru :"
Peng Peng! Peng Peng! Oh, kau banyak menderita!"
Nona baju merah itu tiba-tiba dongakkan kepalanya, Kim Houw melihat wajahnya sudah basah
dengan air mata. Tapi begitu melihatnya, Kim Houw lantas mengenali bahwa nona baju merah itu
bukanlah Peng Peng yang telah ia kejar siang dan malam.
Kim Houw berdiri bengong dengan hati cemas. Apa artinya ini?
Pada saat itu, berturut-turut terdengar suara ledakan hebat, seolah-olah gunung meletus,
hingga dalam goa itu terasa bergoncang hebat. Kim Houw yang sedang berdiri, lantas bisa tancap
kakinya dengan kuat, sehingga tidak sampai rubuh. Tapi, wanita baju merah yang sedang
berjongkok itu, telah terpental dan menggelinding ke dalam api yang sedang menyala.
Melihat keadaan demikian, bukan main kagetnya Kim Houw. Meski si nona bukan Peng Peng,
tapi biar bagaimanapun nona itu tidak mempunyai kesalahan apa-apa. Kim Houw yang berhati
mulia, tidak dapat berpeluk tangan begitu saja.
Dalam keadaan demikian. Kim Houw sudah tidak perlu memikirkan peraturan yang membatasi
hubungan pria dan wanita. Dengan cepat ia lompat, kemudian menyambar pinggang si nona. Baju
lengan si nona sudah pada terbakar, Kim Houw dengan cepat memadamkan apinya. Untung
belum sampai membakar kulit, namun cukup membuat nona itu pingsan.
Getaran tanah itu akhirnya berhenti sendiri. Kim Houw letakkan si nona ke tanah dan
memeriksa pernapasannya, ternyata ia masih bernapas, maka Kim Houw diam saja sendiri dan
duduk termenung memikirkan persoalannya, tapi berpikir sampai setengah harian ia masih belum
mengerti duduk perkaranya.
Nona baju merah itu perlahan-lahan telah siuman kembali, begitu ia membuka mata ia lantas
menangis lagi.
"Nona sudikah kau menjawab pertanyaanku?" tanya Kim Houw.
Si nona mendadak berhenti menangis, sepasang matanya menatap mata Kim Houw dengan
tidak berkedip.
"Kau telah mencelakakan diriku sampai begini rupa, masih mau tanya apa lagi? Apa yang
harus aku jawab?" jawab nona itu dan kemudian ia menangis lagi.
Mendengar jawaban demikian, Kim Houw tercengang. Bagaimana ia dituduh mencelakakan
diri si nona?

"Nona harap kau jangan menangis." kata Kim Houw, "Kita harus jelaskan duduk perkaranya.
Kau beri tahu dulu kesulitanmu, nanti kita pikirkan untuk mencari jalan keluarnya. Menangis apa
gunanya? Kalau kau masih terus menangis, terpaksa aku tinggal kau pergi."
Si nona akhirnya hentikan tangisannya.
"Hm! Kau pikir hendak pergi, kau mimpi!" si nona tertawa dingin.
Kim Houw tidak mengerti. Pikirnya, mengapa tidak bisa pergi? apa kau tahu aku masih banyak
urusan yang belum diselesaikan? Siapa yang sudi menungguimu terus di sini?
Meski dalam hatinya berpikir demikian, tapi mulutnya tidak mengucapkan.
"Aku sebetulnya bisa keluar, hanya lantaran kau dengan tanpa sebab telah mengejar aku
terus-terusan, untuk selanjutnya aku sudah tidak ada harapan bisa keluar lagi!" jawab si nona
sambil mengusap air matanya.
"Nona aku bukannya tanpa sebab mengejar dirimu, hanya aku kesalahan mengejar orang.
Orang yang aku kejar sebetulnya..."
"Oh, kiranya yang kau kejar adalah si "dia" , aku hanya menjadi penggantinya saja."
Kim Houw mengerti yang dimaksudkan si "dia" oleh si nona adalah Peng Peng, maka buruburu
ia bertanya: "Nona! Nona! Si "dia" yang kau sebut tadi sekarang berada dimana? Bolehkah
kau memberitahukannya padaku? Ia sungguh harus dikasihani, aku mesti segera menolongnya!"
Melihat Kim Houw mengucapkan kata-katanya itu dengan sungguh-sungguh dan nampaknya
begitu gelisah, hati si nona lantas tergerak. Ia monyongkan mulutnya, lalu menjawab :" Tentu saja
kau kasihan padanya, karena dia adalah kekasihmu. Hanya aku yang karena kau kejar-kejar,
sehingga menimbulkan kesalah-pahaman dari keluargaku dan harus menjalani siksaan seumur
hidup, sedikitpun kau tidak menaruh perhatian, kau tanyakanlah kepada orang lain!"
Kim Houw tambah cemas mendengar jawaban si nona.
"Nona bagaimana kau katakan aku telah mencelakaimu? Cobalah ceritakan!"
Si nona nampaknya mulai lega pikirannya, ia dapat bicara dengan suara yang lunak: "Tahukah
kau aku she apa? dan bernama siapa?"
Kim Houw gelengkan kepalanya.
Wajah si nona tiba-tiba menjadi merah kemalu-maluan, ia berkata pula dengan suara perlahan:
"Aku bernama Teng Ceng Ceng, Teng Goan Piauw adalah ayahku, imam tua itu adalah sute ayah
julukannya Leng Liong Cu. Ibuku bernama Kong sun-toanio, dan aku masih mempunyai seorang
adik laki-laki yang bernama Teng Peng Jin, kita berlima tinggal didalam Im-hong-ciong ini......"
Kim Houw ketika mendengar Im-hong-ciong lalu ingat batu permata warna hijau yang dipakai
untuk namanya tempat tersebut, maka ia lantas bertanya: "Nona, siapakah majikan yang
sebenarnya dari Im-hong-ciong ini?"
"Majikan yang sebenarnya? Siapa yang berani mengaku-ngaku menjadi majikan dari Im-hongciong?"
jawab si nona.
Kim Houw mengerti bahwa si nona salah paham, maka ia lantas menjelaskan: "Bukan itu yang
aku maksudkan, memang benar siapa orangnya yang berani mengaku-ngaku. Aku hanya merasa,

orang-orang yang aku temukan, semuanya masih belum pantas menjadi majikan tempat ini. Entah
ucapanku ini salah atau tidak?"
Teng Ceng Ceng tersenyum, agaknya sangat mengagumi kata-kata anak muda itu. Ia lalu
cerita, bagaimana sampai ia dijadikan gantinya Peng Peng. "Perkataanmu sedikitpun tidak salah.
Majikan dari Im-hong-ciong adalah kakekku Teng Kie Liang. Dulu dalam dunia Kangouw ada
empat raja iblis, mereka itu masing-masing bergelar Hong, Ie, Lui dan Tian. Kakekku adalah Hong
Mo-ong. Kali ini kakekku sedang keluar mencari sahabatnya yang belum kembali. Kalau kakekku
sudah ada, aku tidak akan sampai menerima penderitaan seperti ini."
"Pada suatu hari aku sedang berburu seekor anak kijang, aku telah keluar dari Im-hong-ciong,
kebetulan berpapasan dengan seorang wanita cantik setengah tua. Aku melihat dia, dia juga
mengawasiku. Kemudian aku baru tahu bahwa wanita itu bernama Ceng Nio-cu."
"Aku tahu bahwa wanita itu orang Ceng-kee-cee, meski merupakan tetangga Im-hong-ciong,
dilarang sekali membuat perhubungan, juga tidak pernah mempunyai ganjalan apa-apa."
"Siapa sangka selagi aku tidak ambil perhatian, dia lantas menotok jalan darahku dan
kemudian menangkap aku. Aku tidak habis pikir, apa sebabnya Ceng Nio-cu menangkapku?"
"Setelah dia membawaku ke Ceng-kee-cee, aku baru tahu kiranya ada seorang nona yang
namanya Peng Peng yang hendak digunakan korban upacara sembahyang kepada dewa-dewa
tidak jadi dibawa ke Ceng-kee-cee, tapi dikirim ke Pek-liong-po, karena Siao Pek Sin mengubah
rencananya ditengah jalan."
"Untuk keperluan menggantikan kedudukannya si nona, Ceng Nio-cu lantas menangkapku dan
merias diriku seperti nona Peng Peng, maksudnya ialah hendak menipu orang-orang yang hendak
menolong nona itu."
"Akhirnya orang-orang yang mau menolong tidak datang, malah ayah, ibu, susiok dan adikku
telah berhasil merebut kembali diriku dari tangan mereka."
"Tapi, peraturan dalam rumah tanggaku sangat keras, dengan adanya kau mengejar terus
terusan, keadaanku lantas sangat menyedihkan, ditambah lagi kau pernah berkata tidak karuan di
hadapan mereka, sehingga membuat mereka gusar."
"Ayah dan ibu yang ingin mendapat bukti bahwa aku tidak berdosa, lantas suruh aku masuk ke
ruangan ini untuk menyatakan penyesalan. Tidak disangka kau masih mengejar sampai di sini
juga. Sekarang, kita berdua sudah tamat......"
Kim Houw terkejut :" Mengapa? Mengapa tamat?"
Teng Ceng Ceng melirik Kim Houw sejenak. "Kau benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak
tahu?"
"Apa perlunya aku pura-pura tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu!"
Teng Ceng Ceng menghela napas, "Namanya Im-hong-ciong meski belum cukup untuk
menggetarkan dunia, tapi sudah cukup membuat keder atau kuncup nyali orang-orang dunia
persilatan. Didalamnya terdapat perlengkapan alat rahasia yang sangat lihai. Barusan suara
ledakan dan getaran, juga merupakan alat rahasia yang paling lihai di Im-hong-ciong ini, namanya
Kui-to Kui-bun-koan. Dari mulut goa sampai di sini, ada sembilan buah pintu batu besar yang jatuh
menutupi jalanan, sekarang kalau mau keluar dari dalam goa sudah sangat sukar sekali, bukankah

berarti riwayat kita tamat di goa ini? Sekalipun tidak mati kedinginan, juga akan mampus
kelaparan!"
Mendengar itu, Kim Houw wajahnya berubah seketika. Dengan cepat ia putar tubuhnya, baru
saja tiba dimulut tikungan, ia telah terhalang oleh sebuah pintu batu yang sangat besar dan licin,
bukan seperti batu biasa.
Kim Houw lalu menghajar dengan tangannya, meski ia sudah menggunakan delapan puluh
persen tenaganya tapi pintu itu tidak bergerak sedikitpun.
Bukan kepalang kagetnya Kim Houw, ia tidak sangka bahwa tindakannya yang terlalu
gegabah, bukan saja sudah mencelakakan dirinya sendiri, tapi juga akan mencelakakan orang
lain. Kalau benar-benar ia tidak bisa keluar dari dalam goa ini, hal itu akan menjadikan suatu
penyesalan seumur hidupnya.
Kim Houw mendadak keluarkan senjata Bak-tha Liong-kin dan Ngo-heng-kiam, ia gunakan
berbareng untuk menggempur pintu yang kokoh kekar itu.
Di bawah gempuran senjata pusaka itu, nampak bubuk batu pada berhamburan. tapi setelah
Kim houw memeriksa dengan teliti, bekas yang digempur Bak-tha Liong-kin hanya berlobang
sebesar kepalan tangan, sedang bekas pedang Ngo-heng-kiam meski amblas ke dalam, tapi batu
sukar dibikin bergerak.
Untuk kepentingan supaya bisa lekas keluar dari gua itu, kini setelah mendapatkan sedikit
harapan, Kim Houw tidak pikirkan lagi apa artinya susah. Ia menggunakan pedang lebih dahulu
dengan tenaga sepenuhnya, ia membuat lingkaran kecil di atas batu lalu digempur dengan
menggunakan Bak-tha Liong-kin.
Sedikit demi sedikit batu itu telah digempur hancur. tapi, ada berapa tebalnya pintu batu itu, ia
sendiri juga tidak tahu. Pedang Ngo-heng-kiam yang tidak cukup satu kaki panjangnya, ia harus
menggunakan waktu berapa lama baru bisa menembusi pintu itu, masih merupakan suatu
pertanyaan besar.
Tiba-tiba ia dengar suara Teng Ceng Ceng yang berkata padanya: "Kau akan buang-buang
tenaga secara percuma saja! Pintu batu itu tebalnya satu tombak lebih, meski kau mempunyai
pedang dan senjata pusaka, dalam waktu satu hari juga tidak mampu menembusi pintu itu"
Kim Houw tidak mau ambil pusing, ia terus menggempur dengan senjatanya.
"Apa kita harus menantikan kematian kita di sini sambil berpeluk tangan?" demikian
jawabannya.
Kim Houw mendadak ingat, pintu besi itu sukar ditembus. Tapi batu cadas dipinggirannya,
tentu tidak begitu keras seperti pintu itu.
Ia lalu menghentikan gerakannya, senjatanya dialihkan tujuannya, kini ia menggempur
pinggirnya.
Di luar dugaan Kim Houw, batu cadas itu ternyata empuk sekali? melihat keadaan demikian,
semangat Kim Houw bertambah besar, maka ia lantas berpaling dan berkata kepada nona Teng.
"Kali ini kau boleh lega, dalam satu hari saja, aku nanti akan tembusi pintu batu semuanya, imhong-
ciong ternyata cuma begitu saja."

Tepi Ceng Ceng sedikitpun tidak menunjukkan sikap girang, sebaliknya malah mengeluarkan
tawa dingin.
"Kau terlalu pandang enteng Im-hong-ciong. aku sudah berkeputusan mati dalam goa ini,
cepat atau lambat sama saja. untuk sementara aku tidak perlu beritahukan padamu, biar kau tahu
sendiri saja," berkata Teng Ceng Ceng dan segera berjalan menuju ke ruangan.
Kim Houw tidak mau perduli, sebelum mendapat tahu keadaan sebenarnya, biar
bagaimanapun ia tidak mau melepaskan keinginannya untuk keluar dari situ. Maka, ia terus
melancarkan rencananya.
Sebentar saja, ia sudah menggempur sampai tujuh-delapan kaki dalamnya.
Sedang ia menyingkirkan hancuran batu, tiba-tiba dibagian bawah dirasakannya agak basah,
lalu diikuti oleh mengalirnya air yang keluar dari sela-sela lubang.
Kim Houw terkejut, pikirnya: jika dalam goa ini terdapat simpanan air, maka bagian yang
berlubang itu pasti akan menimbulkan bencana yang hebat.
Belum lenyap pikirannya itu, dinding di sebelahnya telah terbelah, dari dalam menyemburlah
air laksana bendungan bobol. Kim Houw yang tidak sempat menyingkir langsung terseret sampai
jauh.
Air itu dengan cepat mengalir ke seluruh ruangan, Kim Houw yang menyaksikan keadaan
demikian cuma bisa memandang dengan mulut ternganga.
Sekejap saja, air itu sudah memenuhi seluruh ruangan dan sedikit demi sedikit mulai naik
tinggi.
Teng Ceng Ceng menghampiri Kim Houw. "Bagaimana?" kata si nona dingin.
"Apa kau kira Im-hong-ciong begitu gampang untuk kau gempur? Cuma saja, lekas mati
rasanya lebih baik daripada tersiksa karena kelaparan atau direndam air!"
Kim Houw telah dibikin kaget oleh sikap si nona yang memandang kematian begitu sepi. Tapi
ia sendiri masih belum kepingin mati, apalagi mati secara konyol. Ia harus berusaha keluar dari
goa neraka ini.
Tapi air masuk makin deras, sebentar saja sudah naik sampai sebatas lutut.
Air dan api, sama-sama merupakan bencana alam yang menakutkan dan tidak kenal kasihan.
Kim Houw yang terkurung air didalam goa Im-hong-ciong, meski ia seorang yang bernyali
besar dan berkepandaian tinggi, tidak urung juga merasa putus asa, apalagi ketika melihat air itu
makin meluap tidak kenal batas. Air itu mula-mula cuma merendam kakinya, kemudian sampai
batas lutut, lalu naik ke pinggang dan terus mencapai dada....
Tiba-tiba Teng Ceng Ceng menjerit dan melompat dari dalam air sedang kedua tangannya
memeluk Kim Houw.
"Hai,.........aku takut, aku takut.........." ia berkata dengan gugup.
"Kejadian sudah begini rupa, apa yang mesti ditakuti? Apakah kau pandai berenang?"

"Apa kau kira aku takut mati? Cuma dinginnya air ini yang aku tidak tahan. Tentang berenang?
Akukan wanita, bagaimana mengerti permainan itu," jawabnya menggigil.
Kim Houw melihat wajah si nona yang pucat pasi dan menggigil semakin keras, ia mengerti
bahwa ucapan Teng Ceng Ceng barusan memang ada benarnya. maka ia lantas mendekap
kencang si nona, tangannya diam-diam menyalurkan lwekang kedalam tubuh Ceng Ceng.
"Nona tidak mengerti berenang tidak apa-apa, sudah cukup asalkan menutup pernapasan,
supaya air tidak masuk ke perutmu. Kejadian sudah begini rupa, kita terpaksa serahkan nasib kita
ditangan Tuhan Yang Maha Kuasa," Kim Houw menghibur.
Ceng Ceng menjatuhkan dirinya ke dada Kim Houw yang kekar dan bidang, ia cuma bisa
mengangguk.
Pada saat itu, air sudah naik sebatas leher, Kim Houw dengan menggendong si nona meloncat
ke atas meja sembahyang. Teng Ceng Ceng melepaskan dirinya dari pelukan Kim Houw,
kemudian berseru: "Apa? aku benar-benar bodoh, mengapa aku tidak memikirkan ada meja batu,
tempat abu sembahyang, patung besar.....,sekalipun air naik tinggi lagi juga tidak bisa membuat
aku mati. Juga tidak sampai kedinginan begini rupa!"
Meski suara Ceng Ceng cukup nyaring, tapi sepatahpun tidak masuk ke dalam telinga Kim
Houw. Hatinya sedang risau, ia tidak seperti Ceng Ceng yang masih kekanak-kanakan, sebentar
mengatakan tidak takut mati tapi tak lama kemudian menunjukkan ketakutannya.
Kematian memang kadang-kadang boleh dianggap ringan seperti ringannya bulu, tetapi
kadang-kadang harus dipandang berat laksana gunung. Apakah Kim Houw benar-benar seorang
yang takut mati? Ia hanya tidak sudi mati konyol seperti sekarang ini.
Semut saja masih sayang jiwanya, apalagi manusia?
Kim Houw kini memeras otaknya yang cerdas untuk mencari jalan keluar dari dalam bahaya
yang tengah mengancam jiwanya.
Pikirnya air adalah benda cair yang gampang menyusup kemana-mana, asal ada sedikit
lubang saja tentu bisa mengalir keluar.
Tapi, air itu justru seperti air bah yang mengalir dari sungai yang bobol bendungannya, terus
mengalir tanpa henti.
Dalam goa itu sebetulnya ada sinar terang lampu lilin, tapi sejak air masuk ke dalam ruangan
itu, semua api padam hingga keadaan dalam goa menjadi gelap gulita. Kim Houw mempunyai
kepandaian untuk tetap dapat melihat dalam keadaan gelap sehingga ia tidak merasa takut.
Namun tidak demikian halnya dengan Ceng Ceng. Meski ia sudah lepaskan diri dari pelukan Kim
Houw, tapi ia masih memerlukan bantuan anak muda itu barulah bisa lompat naik.
Dari atas meja batu mereka pindah ke atas tempat abu sembahyang, lalu loncat lagi ke pundak
patung dan ke atas kepalanya. Tapi air terus naik tidak putus-putusnya, mereka sudah tidak
mempunyai jalan mundur lagi.
Ceng Ceng mulai ketakutan, Kim Houw mulai tidak tenang. Dalam ruangan goa yang begitu
luas sudah tergenangi air seluruhnya.

Tiba-tiba Kim Houw ingat soal gua ini, jika tidak ada lubang udara, bagaimana air bisa mengalir
begitu deras? Dan kini setelah air menggenangi hampir sampai bagian atas, Kim Houw menduga
pasti terdapat lubang udara dibagian atas, tapi nampaknya air masih bergerak terus.
Dengan matanya yang tajam ia mulai memeriksa keadaan sebelah atas, Pertama-tama ia
memperhatikan apakah di situ terdapat sesuatu yang janggal?
Bagian atas sudah diperiksa semuanya, tapi tidak ditemukannya bagian yang mencurigakan.
Sesaat sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, di atas dinding yang terdiri dari
batu cadas yang tidak rata, tiba-tiba ia melihat gambar seperti peta, sayang gambar itu tidak utuh
keadaannya, sebagian besar bahkan sudah terendam air.
Saat itu air sudah memenuhi seluruh goa.
Patung besar juga sudah terendam. Kim Houw dan Ceng Ceng yang berdiri di atas patung itu,
kakinya juga sudah ikut terendam.
Kim Houw yang berdiri di kepala patung, terpisah dengan atap goa cuma kira-kira delapan kaki
tingginya. Terdesak oleh keinginan untuk tetap hidup, Kim Houw tiba-tiba melesat ke atas, ujung
jarinya ditancapkan ke atas batu pada atap gua itu.
Pikirnya, mungkin jika ia tidak terpisah cukup jauh dari atap gua maka akan bisa menemukan
lubang udara, sebab kalau berada dekat dirinya tentu sudah diketahuinya sejak tadi. Maka ia
lantas mengambil tindakan tiba-tiba itu. Tidak disangka, baru saja tangannya menancap dalam
dinding gua, tiba-tiba terdengar jeritan Ceng Ceng : "Hei! Hei! Kau jangan tinggalkan aku
sendirian......."
Kasihan Ceng Ceng, hingga saat ini, ia masih belum tahu nama Kim Houw, maka ia cuma bisa
berteriak "Hei! Hei! saja untuk memanggil Kim Houw. Tidak nyana belum habis ucapannya, tibatiba
terdengar suara orang yang kecemplung dalam air. Ia tidak perlu lihat dan memang ia juga
tidak bisa melihat, sebab keadaannya gelap gulita. Ia hanya dapat mengira bahwa yang jatuh
kecemplung itu pastilah Kim Houw. Maka ia lantas berseru memanggil :" Hei! Hei! Kau kenapa?"
Tapi di luar dugaan, Kim Houw tahu-tahu sudah berada disampingnya lagi, badannya basah
kuyup, tapi ia tidak dapat melihat dengan nyata.
Ceng Ceng agaknya kelewat kaget sehingga dengan tanpa malu-malu lagi ia lantas ulur
tangannya merangkul Kim Houw, mulutnya masih mengoceh sendirian: "Benar-benar
mengagetkan aku!"
Mendadak ia dengar suara Kim Houw: "Lepaskan tanganmu! Jangan ribut-ribut, kau lihat kita
sekarang tertolong!"
Ceng Ceng yang mendengar kata-kata Kim Houw agak ketus, merasa tidak puas, percuma
saja perhatiannya atas anak muda tadi. Pikirnya, meski sampai pada saat itu antara mereka masih
belum ada perasaan suka, namun dalam keadaan bahaya sudah selayaknya kalau saling
memperhatikan nasib kawannya. Mengapa Kim Houw bersikap begitu ketus?
Tapi ketika mendengar kata-kata Kim Houw terakhir, bahwa mereka akan tertolong, dalam
hatinya kegirangan. Segera ia lepaskan pegangannya.
Kiranya pada atap gua itu ada sebuah lubang, itu adalah bekas jatuhnya sepotong batu cadas.

Tadi, ketika jari tangan Kim Houw menusuk batu cadas itu, maksudnya ialah untuk mendapat
pegangan supaya badannya tidak jatuh, hingga bisa memeriksa keadaan pada atap gua tersebut.
Suara jeritan Ceng Ceng telah mengejutkan badannya.
Dari atas ia menoleh ke bawah dengan tiba-tiba tapi Kim Houw lantas mengerti duduk perkara,
meluncur turun bersama potongan batu. Setelah kecebur dalam air, Kim Houw segera loncat naik
lagi dan kembali ke sampingnya Ceng Ceng.
Dalam kejadian sepintas lalu itu, ia dapat kenyataan bahwa pada tempat bekas pegangannya
tadi ternyata ada satu lubang, bahkan ada sedikit sinar terang muncul dari situ.
Kim Houw yang sudah pernah melihat banyak macamnya barang pusaka, mendengar
perkataan Teng Ceng Ceng yang menyebutkan adanya goa rahasia, segera membayangkan
adanya benda-benda pusaka yang tersimpan didalam goa rahasia itu. Tapi benda-benda pusaka
baginya tidak menarik, yang penting baginya ialah lekas-lekas dapat keluar dari dalam goa neraka
itu.
Mendadak ia dengar suara gemuruh, kemudian disusul oleh suara seperti guntur yang
berbunyi tidak henti-hentinya.
Pada saat itu juga, air yang menggenang dalam goa itu tiba-tiba lantas surut dengan cepat.
Teng Ceng Ceng meski tidak dapat melihat, tapi bisa merasakan. Dalam kegirangannya ia lantas
menarik tangan Kim Houw sambil berseru : "Aaa, air sudah surut ! air sudah surut !"
"Memang betul air sudah surut ! Ini benar-benar aneh, mengapa tanpa sebab air bisa surut
sendiri? Bahkan begitu cepat surutnya !" jawab Kim Houw sambil ketawa getir.
Sebentar saja, air sudah turun sampai di bawah patung, kemudian dibawah meja!
Mendadak mata Kim Houw yang tajam telah lihat sebuah batu dalam tempat abu sembahyang,
pada mana terdapat tanda lima jari tangan dengan nyata. Kim Houw terkejut, tiba-tiba terbuka
pikirannya: Mungkinkah dalam tempat abu sembahyang ini ada tersimpan pesawat rahasia ?
Air sudah surut dan bagaimana surutnya bisa begitu cepat? Kiranya di empat penjuru goa
telah muncul empat pintu, air itu keluar dengan cepat melalui pintu itu.
Karena air sudah surut, Kim Houw tidak usah memikirkan untuk keluar menoblos ke atas.
Apalagi tempat simpanan barang pusaka lain orang, lebih-lebih tidak dimasuki. Meskipun tempat ia
sendiri yang menemukan, tapi barang disitu bukan haknya, ia sama sekali tidak memikirkan.
Ketika ia sembari menggandeng tangan Teng Ceng Ceng lompat turun dari atas patung, pada
pintu sebelah timur tiba-tiba ada sinar terang, dari situ muncul seorang tua muka merah yang
masuk ke dalam goa dengan ngerobok air.
Melihat orang tua itu, Teng Ceng Ceng segera tinggalkan Kim Houw lari menghampiri sambil
berseru : "Yaya! Yaya!" ia mau menubruk orang tua itu.
Tapi belum sampai Teng Ceng Ceng menubruknya, orang tua itu sudah menggeram dengan
suaranya yang seperti mengguntur. Teng Ceng Ceng terperanjat, lalu hentikan kakinya dan lantas
berlutut dihadapannya.
"Yaya! Ini bukan salahku, aku tidak pernah melakukan suatu perbuatan yang membikin noda
nama baik keluarga Teng!" demikian ia meratap.

Orang tua muka merah yang dipanggil "Yaya." oleh Teng Ceng Ceng, bukan lain adalah Huithian
Go-kang Teng Kie Liang, majikan dari Im-hong-ciong.
"Siapa yang berani memecahkan pesawatku dalam Im-hong-ciong ?" bentak orang tua
"Boanpwe Kim Houw, lantaran hendak menolong jiwa orang, dalam tergesa-gesa telah
kesalahan masuk kedalam Im-hong-ciong. Dan kemudian dengan tidak sengaja telah kesalahan
menyentuh pesawat dalam goa. Semua itu telah terjadi secara kebetulan, kalau tidak, pesawat
rahasia dalam goa yang begitu hebat, jangankan cuma satu Kim Houw, sekalipun ada sepuluh
Kim Houw, juga tidak bisa berbuat apa-apa. Maka boanpwe mohon Locianpwe supaya suka
memberi maaf sebanyak-banyaknya."
Kim Houw mengucapkan kata-katanya dengan sikap yang sangat hormat dan merendah
sekali, terutama ketika mengatakan hebatnya pesawat rahasia dalam goa. Maka hawa amarah
orang tua mendadak seketika itu telah lumer, tapi suaranya masih galak.
"Kabarnya Kim-siauhiap mempunyai banyak kepandaian ilmu silat yang luar biasa." katanya.
"Tinggi sekali kekuatan tenaga lwekangnya dan tidak memandang mata kepada semua orang dari
Im-hong-ciong, serta kemudian merusak papan batu Im-hong-ciong, apakah semua ini ada benar
?"
Menampak orang tua itu gusarnya belum lenyap betul, Kim Houw lantas menjawab dengan
sikapnya yang rendah: "Soal inipun bukan disengaja, itu hanya kesalahan paham. Kalau
locianpwe mau percaya, harap locianpwe beri petunjuk kepada boanpwe jalan keluar dari goa ini,
karena boanpwe masih ada urusan penting yang hendak dilakukan. Menolong orang seumpama
menolong kebakaran...."
Hui-thian Go-kang tiba-tiba buka lebar matanya. "Menolong orang? Apakah kau ada satu jalan
dengan rombongan si pengemis tua Tok-kai? Mereka sekarang mungkin sudah binasa semua!
Masih ada satu hwesio berbadan tinggi tegap, si Sepatu Dewa Cu Su dan Kim Coa Nio-nio si
nenek tua..... barangkali juga tidak terlolos dari bencana kematian."
Kim Houw tiba-tiba membentak dengan keras: "Apa kau kata?"
Teng Kie Liang tertawa terbahak-bahak.
"Aku Teng Kie Liang sungguh tidak nyana kalau demikian mudah telah dapat menuntut balas
permusuhan yang sudah berlangsung beberapa puluh tahun lamanya!"
Kim Houw yang mendengar jawaban orang tidak ada hubungannya dengan pertanyaannya,
lalu gerakkan badannya, memutar melalui dirinya si orang tua, maksudnya hendak keluar melalui
belakang Hui-thian Go-kang. Sebab orang tua itu masuk dari pintu tersebut, sudah tentu ada jalan
untuk keluar, pikirnya.
Hui-thian Go-kang tiba-tiba tarik mundur dirinya persis seperti menutupi pintu jalan.
"Kemana?" bentaknya.
Kemana ? Sungguh suatu pertanyaan yang amat aneh. Kemana lagi kalau bukannya keluar.
"Sampai disini saja dulu, boanpwe hendak minta diri !" jawab Kim Houw.
"Enak benar kau bicara. Kau sudah berani memasuki Im-hong-ciong, kalau tidak unjukkan
sedikit kepandaianmu, apa kau kira bisa keluar dengan gampang ? Lagi pula Teng Ceng Ceng ini

sudah cukup kau bikin susah, apa kau hendak tinggalkan begitu saja?" kata Hui-thian Go-kang
dengan suara dingin.
Mula-mula Kim Houw masih tenang saja, tapi perkataan Teng Kie Liang yang terakhir
membuat ia terperanjat. Wajahnya merah padam, hatinya berdebaran. Mereka telah timpahkan
semua kesalahan di atas pundaknya.
Kenyataannya, memang Kim Houw tidak bisa angkat pundak begitu saja. Teng Ceng Ceng
yang terbawa-bawa olehnya, kalau ia tidak salah faham, anggap nona itu ada Peng Peng,
sehingga dikejar terus-terusan. Tidak nanti sampai Teng Ceng Ceng dipersalahkan oleh ayah, ibu
dan yayanya.
Teng Ceng Ceng saat itu masih berlutut dalam ketakutan, sepatahpun tidak berani keluar
perkataannya, tapi ketika mendengar ucapan yayanya itu, ia lantas menangis dengan amat
sedihnya.
Kim Houw mendengar suara tangisan diam-diam mengeluh. Segala apa ia tidak takut, hanya
suara tangisan wanita yang membuat ia lemas.
Tapi otaknya tiba-tiba teringat pada Kim Lo Han dan kawan-kawannya. Menurut
keterangannya Hui-thian Go-kang mereka sudah meninggal semuanya. Tapi Kim Houw tidak mau
percaya bahwa keterangan itu benar, mungkin mereka percaya bahwa keterangan itu mereka
dalam kesulitan atau bahaya, seharusnya segera ditolong.
Kenapa oleh karena tangisan seorang wanita saja ia melupakan kawan-kawannya dalam
bahaya begitu saja, maka tangisan Ceng-ceng ia lantas anggap sepi.....
Hui-thian Go kang berkata lagi padanya sambil ketawa dingin: "Sekarang aku hendak uji
kepandaian ilmu silatmu dulu, hal yang lain nanti kita bicarakan lagi. Aku hendak lihat kau
sebetulnya mempunyai kepandaian sampai dimana sehingga berani menggempur batu Im-hongciongku?"
Tanpa beri peringatan lagi, ia lantas ulur tangan menyambar diri Kim Houw.
Sampai di situ, Kim Houw anggap sudah tidak perlu sungkan - sungkan lagi. Apa gunanya
banyak bicara? Kalau tidak unjukkan sedikit kepandaiannya, barang kali benar-benar ia tidak bisa
keluar dari goa itu. Ketika disambar oleh Hui-thian Go-kang dengan tiba-tiba dengan gesit ia
mengegos menghindarkan cekalan tangan si orang tua.
"Cianpwe benar-benar hendak menguji boanpwe, terpaksa boanpwe meringis, tapi boanpwe
tidak berani berlaku lancang, biarlah boanpwe mengalah tiga jurus...." kata Kim Houw.
Belum menutup mulut, Hui-thian Go-kang kembali sudah menyerang dengan hebatnya.
Melihat sambarannya tadi mengenakan tempat kosong, ia sudah tidak mau mengerti, apalagi kini
dengar Kim Houw memberikan kelonggaran tiga jurus kepadanya, hatinya semakin panas! Diamdiam
hatinya mengutuk bocah busuk, kau berani tidak pandang mata padaku?
Dalam tiga jurus, kalau aku tidak mampu paksa kau turun tangan, kedudukan majikan Imhong-
ciong ini terpaksa aku serahkan padamu!
Masih untung, Hui-thian Go-kang tidak berani sombongkan dirinya, hanya di dalam hatinya
saja ia berkata. Kalau pikirannya itu ia keluarkan dari mulutnya, entah kemana ia hendak taruh
mukanya?

Sebab, Kim Houw bukan saja sudah memberi kelonggaran padanya sampai tiga jurus, malah
terhadap semua serangannya si kakek selama dalam tiga jurus itu, ia belum pernah
menghindarkan diri sampai lebih dari satu tombak. Jangan kata Hui-thian Go-kang mampu paksa
padanya turun tangan, sedangkan segala gerakan dan caranya menghindarkan diri dari si anak
muda itu, ia masih belum dapat tahu ilmu sialt Kim Houw sebetulnya dari golongan mana.
Seliwatnya tiga jurus, Kim Houw lantas membuka mulut: "Kini boanpwe terpaksa hendak
berlaku kurang ajar!"
Hui-thian Go-kang diam-diam mengeluh, tapi mulutnya masih menyahut: "Hanya
mengandalkan ilmu mengentengi tubuh saja belum dapat dianggap kepandaian yang sejati,
sekarang coba kau sambuti serangan tanganku!"
Dengan demikian, Hui-thian Go-kang telah berhasil mendahului Kim Houw melakukan
serangannya. Dari ilmunya mengentengi tubuh, Teng Kie Liang tahu bahwa Kim Houw benarbenar
mempunyai kepandaian, maka ia tidak berani memandang ringan lagi!
Kini Kim Houw tidak perlu malu-malu lagi, ia lantas ulur tangannya menyambuti serangan Huithian
Go-kang, hanya ia tidak menggunakan kekuatan tangannya, kemudian ia akan melayani
menurut kekuatan yang digunakan oleh Hui-thian Go-kang, sebab pikirnya dengan orang tua itu ia
tidak mempunyai permusuhan apa-apa.
Siapa tahu selagi tangan kedua pihak hendak saling menempel, Hui-thian Go-kang tiba-tiba
ulur tangan kirinya menotok jalan darah Kie-bun-hiat di ketiak kanan Kim Houw.
Kie-bun-hiat merupakan salah satu jalan darah terpenting dalam anggota badan manusia,
kalau kena tertotok, tubuh lantas lemas seketika dan tidak ampun lagi lantas rubuh. Melihat
perbuatan orang tua itu, Kim Houw diam-diam mengutuk perbuatan yang sangat licik itu.
Kim Houw mempunyai ilmu Han-bun-cao-khie yang tidak ada taranya, bagaimana ia takut
segala ilmu totokan demikian? Si orang tua itu ternyata berani berbuat demikian tidak tahu malu,
maka ia juga tidak perlu merendahkan diri lagi. Dengan cepat ia tambah kekuatan di tangannya,
seolah-olah tidak mau ambil pusing, totokannya Teng Kie Liang.
Tiba-tiba Teng Kie Liang merasakan daging bagian yang ditotok olehnya seperti melesak ke
dalam kemudian membal dengan mendadak, hingga kekuatan dari jari tangannya meleset keluar.
Ia belum pernah menemukan kejadian yang demikian itu, tidak heran kalau ia amat kaget.
Sampai di sini Hui-thian Go-kang geleng kepala dan akui anak muda itu tulen mempunyai
kepandaian yang tidak ada taranya, sampai ia bisa menutup seluruh jalan darah di anggota
badannya menurut kehendak hatinya, mana bisa ia menjatuhkannya?
Maka ia lantas ketawa bergelak-gelak dan berkata: "Sudah! Benar-benar memang hebat, kita
tidak perlu bertanding lagi. Sekarang tiba gilirannya untuk membicarakan soalnya kamu berdua!
Teng Ceng-ceng si budak ini, oleh karena gara-gara kau telah mengalami banyak penderitaan,
sekarang aku hendak jodohkan padamu!"
Kim Houw masih belum dengar jelas Ceng Ceng sudah berseru, kemudian lompat menubruk
kakeknya.
"Yaya! Yaya! Ceng ji tidak Ceng ji tidak!"
Hanya itu saja yang ia mampu ucapkan kepalanya lalu direbahkan di dadanya Hui-thian Gokang.
Hui-thian Go-kang ketawa sambil mengelus-elus rambut cucunya.

Bersambung ke jilid 13
Jilid 13
"Jangan ribut-ribut, anak laki maupun perempuan kalau sudah dewasa seharusnya kawin! Kau
lihat, orang pilihan yayamu toh tidak jelek? Bukannya lekas berlutut di depan yayamu?"
Orang tua itu belum paham maksud cucunya, maka ia masih bisa berkata-kata sambil ketawatawa.
Kim Houw sekarang baru mengerti, bukan kepalang rasa kagetnya, tapi bukan cuma kaget
saja, iapun merasa gusar.
Pikirnya, kematian adik Bwee Peng yang kucintai masih belum mampu aku menuntut balas
sedang Peng Peng yang berada dalam bahaya sampai kini masih belum dapat diketahui dimana
adanya, bagaimana bisa sembarangan kawin dengan nona ini?
Ia faham, bahwa di dalam keadaan demikian, makin banyak bicara semakin ruwet, maka ada
baiknya kalau ia cepat-cepat bisa keluar dari situ. Jika sudah meninggalkan goa itu pasti mereka
tidak akan tebalkan muka untuk memaksa ia kawin.
Tanpa ayal lagi, Kim Houw lantas lompat melesat. Maksudnya dengan melalui kedua orang itu,
menerobos keluar dari pintu mana si orang tua tadi masuk.
Siapa tahu Hui-thian Go-kang ada seorang licin, ketika tadi Kim Houw tengah memikirkan daya
upaya untuk keluar, ia agaknya sudah dapat menduga maksud si anak muda. Maka sebelum Kim
Houw berhasil meloloskan dirinya, ia sudah ayun tangannya, segera terdengar suara gemuruh di
empat penjuru dan pintu-pintu yang terdiri dari batu-batu besar itu lantas menutup semua.
Hui-thian Go-kang tertawa bergelak-gelak.
"Kau sudah bikin susah diri cucuku," ia kata. "Apa dengan kabur begitu saja sudah habis
perkara? Kalau tidak terima baik perkawinan ini, jangan harap kau bisa keluar dari Soa-im-hongciong!"
"Dimana ada aturan mengawinkan cucu perempuan dengan cara paksa demikian rupa? Dalam
hal ini benar-benar aku tidak mau terima baik. Apa itu Im-hong-ciong? Benarkah mampu
mengurung aku? Lihat saja!"
Berbareng Kim Houw sudah melesat tinggi, tancapkan jarinya kelobang pada atap tadi, sambil
bergelantungan ia berkata: "Locianpwe, di sini masih ada jalan keluar!" ia ketawa gelak-gelak dan
hendak molos melalui lubang itu.
Hui-thian Go-kang terkejut. Adanya goa rahasia dalam Im hong-ciong itu sudah lama ia tahu,
namun beberapa puluh tahun lamanya ia menyelidiki secara diam-diam masih belum bisa
menemukannya. Dan kini, dengan tidak sengaja telah ditemukan oleh Kim Houw, bagaimana ia
tidak girang? Maka ia lantas berseru memanggil Kim Houw.
"Kim siauhiap! Kim siauhiap! Harap kau suka turun dulu, aku nanti pasti antar kau keluar dari
dalam goa ini, aku si tua bangka belum pernah mengingkari janji..."
Ia dorong ke pinggir diri Teng Ceng Ceng dengan cepat ia berjalan menuju ke depan meja
besar, di bawah kaki tempat abu sembahyang ia memutar suatu alat dengan kuat!
Sebentar lalu terdengar suara menggesernya empat pintu batu yang semula tertutup kini telah
terbuka dengan perlahan-lahan, kiranya tempat abu sembahyang yang terbuat dari batu itu adalah
pesawat rahasia pembuka pintu goa itu.

Kim Houw tahu, goa rahasia itu pasti ada tempat simpanan benda pusaka yang seperti Teng
Ceng Ceng ucapkan tadi. Bagi Kim Houw sedikitpun tidak mempunyai keinginan untuk merampas
barang-barang pusaka itu, keinginan satu-satunya ialah lekas-lekas keluar dari dalam goa.
Setelah mengetahui pintu terbuka pula, ia juga tidak perlu keluar melalui lubang tersebut. Lagi
pula, dari sini ke mulut goa paling jauh barangkali cuma ada kira-kira beberapa tombak, sekejap
saja sudah bisa keluar dari dalam goa, hingga tidak perlu takut si kakek akan laku curang. Ia
lantas lepaskan tangannya melayang turun.
"Untuk haturkan terima kasihku kepada locianpwe yang telah sudi membebaskan diriku dari
dalam goa ini, aku beritahukan keistimewaannya dalam goa. Di atas goa ada terdapat sebuah
gambar lingkaran besar, rupa-rupanya seperti gambar peta rahasia, jika kita mau periksa dengan
teliti, mungkin akan mendapatkan suatu penemuan baru!" demikian Kim Houw berkata setelah
berhadapan pula dengan Hui-thian Go kang.
Mendengar keterangan itu, Hui-thian Go kang terkejut. Ia mendongak ke atas, lama sekali ia
mencari cari, baru dapat melihat tanda-tanda seperti apa yang Kim Houw katakan.
Mungkin karena rasa terima kasih yang timbul dalam hatinya, orang tua itu lantas memberi
hormat sembari menjura dalam-dalam.
"Kim-siauhiap!" katanya, "Kali ini kalau benar-benar bisa menemukan barang peninggalan
leluhur kami, semua ini adalah jasa siauhiap, di kemudian hari pasti kami tidak bisa melupakan
budi ini. Kini siauhiap hendak keluar gua, tidak semudah yang siauhiap kira, karena dimulut gua
masih terdapat banyak rintangan. Biarlah aku nanti panggilkan burung piaraanku untuk mengantar
siauhiap keluar, agar tidak mendapat banyak kesulitan!"
Setelah itu ia lantas bersuit nyaring.
Tak lama kemudian seekor burung berbulu hitam dengan patuknya yang putih laksana perak
terbang masuk ke dalam gua.
Begitu tiba didalam gua, burung itu mengeluarkan suaranya lantas hinggap diatas lengan Huithian
Go-kong yang disodorkan.
"Tiauw-ji, kau antar Kim-siauhiap ini keluar gua. Beritahukan kepada mereka supaya jangan
berlaku tidak sopan terhadap Kim-siauhiap. Kau antar Kim Siauhiap sampai keluar dari rimba
barulah kembali," berkata Hui-thian Go-kang kepada burungnya sambil menunjuk Kim Houw.
Burung itu seperti paham maksud majikannya, ia anggukkan kepalanya berulang-ulang. Lalu ia
berbunyi dan terbang berputaran di atas kepala Kim Houw.
Dengan adanya burung hitam sebagai penunjuk jalan, maka Kim Houw tidak perlu repot. Ia
haturkan terima kasih kepada Hui-thian Go-kang, kemudian mengikuti burung itu keluar dari gua.
Sepanjang jalan, burung itu mengeluarkan suara kwak, kwak,...seolah-olah sedang memberi
perintah menyampaikan pesan majikannya.
Dengan demikian Kim Houw telah berhasil keluar dari dalam gua dan rimba yang
memusingkan kepalanya itu tanpa rintangan.

Keluar dari rimba gelap itu, Kim Houw lari ke belakang gunung Ceng-kee-cee. Dari puncak
gunung memandang ke dalam Ceng-kee-cee, ia dapat melihat orang-orang sedang sibuk
melakukan persiapan untuk makan malam.
Kim Houw mendongak melihat keadaan cuaca, ia terkurung dalam gua Im-hong-ciong ternyata
sudah satu hari satu malam. Melihat mengepulnya asap dapur, ia baru ingat kalau perutnya telah
kosong, dan rasa lapar mulai menggangu pikirannya.
Tapi, lapar adalah masalah kecil, sedang nasib Kim Lo Han dan kawan-kawannya adalah
masalah yang besar. Sekalipun hebat rasa laparnya, ia juga harus mencari tahu dulu keadaan
kawan-kawannya itu, kemana perginya, entah masih hidup ataukah benar sudah menemukan
bahaya?
Tiba-tiba ia tampar kepalanya sendiri, ia sesalkan dirinya mengapa tadi berlaku alpa, sehingga
tidak menanyakan dengan jelas kepada Hui-thian Go-kang, Teng Kie Liang. Jika dilihat dari sikap
orang tua itu terhadap dirinya yang begitu hormat, ia percaya pasti orang tua itu mau menjelaskan
keadaan sebenarnya.
Sekarang kalau mau kembali lagi ke dalam gua, waktunya sudah terlambat. Keadaan dalam
Ceng-kee-cee nampaknya tenang-tenang saja, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Jika
dibandingkan dengan keadaannya satu hari berselang, perbedaan itu antara langit dan bumi.
Sekalipun demikian, Kim Houw tidak bisa pergi begitu saja, sedikitnya ia harus mencari
keterangan lebih dahulu. Maka ia lantas turun dari atas puncak dan masuk ke Ceng-kee-cee. Ia
tiba di depan sebuah rumah batu.
Ia lalu melompat ke dalam rumah itu dan ternyata didalamnya tidak ada orang, hanya terdapat
anak-anak yang sedang main pedang-pedangan dengan pedang dan golok kayu.
"Adik kecil, apa ayah ibumu ada dirumah?" tanya Kim Houw sambil tertawa.
Dua anak itu lantas berhenti bermain, mungkin karena takut terhadap Kim Houw yang masih
asing bagi mereka, maka bukannya menjawab, sebaliknya malah menangis dan lari masuk ke
dalam rumah.
Dari dalam segera terdengar suara wanita, entah apa yang dikatakannya, Kim Houw sama
sekali tidak mengerti. diam-diam ia mengeluh, karena bahasanya tidak dimengerti, bagaimana bisa
minta keterangan padanya?
Pada saat itu, seorang wanita sambil menggandeng tangan kedua anaknya keluar dari dalam,
tapi ketika melihat Kim Houw, seperti juga anaknya iapun menjerit dan masuk lagi kedalam.
Suara jeritan itu segera menimbulkan kepanikan para tetangganya, semua pada keluar dari
rumah masing-masing, cuma sayang orang-orang itu semuanya terdiri dari kaum wanita, hingga
Kim Houw kikuk untuk bicara.
Kim Houw merasa serba salah, apalagi wanita itu lantas pada kasak-kusuk entah apa yang
dibicarakan? Kim Houw sepatahpun tidak mengerti.
Untungnya dari sebuah rumah batu muncullah seorang laki-laki tua yang sudah bungkuk,
dengan membawa tongkat orang tua itu berjalan menghampiri Kim Houw.
Melihat kedatangan orang tua itu, Kim Houw sangat girang, ia buru-buru menyambut dan
memberi hormat sambil bertanya: "Lopek, apa kau mengerti perkataanku?"

Orang tua itu geleng-gelengkan kepalanya. Kim Houw mendelu, ternyata si kakek juga
rupanya tidak mengerti bahasanya. Percuma saja ia menanya.
Tiba-tiba orang tua itu bertanya: "Kau ini datang ada keperluan apa? Aku seorang yang sudah
buta lagi tuli, bicaralah sedikit keras! Kau darimana dan hendak kemana?"
Mendengar ucapan si kakek, Kim Houw girang, kiranya tadi ia tidak mendengar perkataannya,
maka hanya gelengkan kepalanya saja.
"Lopek, aku hendak mencari orang! Numpang tanya......." kata Kim Houw dengan suara keras.
Tapi belum habis ucapannya, kakek itu sudah berkata dengan suaranya yang nyaring :" Apa?
Siapa mencuri barangmu? Si An Peng toh sudah lama binasa, kau cari saja di akhirat! Sehabis
berkata kakek itu lantas pergi.
Kim Houw tidak berdaya, ia buru-buru menarik tangannya dan berkata pula: "Lopek, kau salah
mengerti, aku cuma ingin tanya."
Tapi orang tua itu masih kurang jelas menangkap pertanyaannya, terpaksa Kim Houw bicara
lebih keras: "Lopek, perkataanku tadi kau belum dengar jelas, aku hendak tanya orang-orang yang
kemarin bertempur di sini, sekarang pada kemana? dan dimana Lo ceecu?"
Orang tua itu kini baru bisa mendengar jelas, maka lantas menjawab :" Ha! Kiranya kau
mencari Lo ceecu kami? Dia kemarin bertempur satu harian, petangnya baru mengajak orangorangnya
pergi ke lembah! Tapi entah apa yang dilakukan di sana, sehingga sekarang masih
belum kembali!" sehabis memberi keterangannya, ia lantas menunjuk ke arah selatan yang
dimaksudkan mungkin adalah lembah yang disebut kakek tadi.
Kim Houw setelah mengetahui sedikit duduk perkaranya, lantas mengucapkan terima kasih
kepada orang tua itu, kemudian menuju ke lembah yang ditunjuk si kakek.
"Engko kecil, kalau kau hendak berangkat sekarang, belum sampai di sana sudah keburu
gelap!" berkata si kakek sambil menghela napas.
Kim Houw cuma ganda tertawa, kemudian menghilang dari depannya.
Sekejap saja Kim Houw sudah melalui dua puncak gunung, tapi tidak mendapat apa-apa.
Diam-diam ia mulai heran, apakah si kakek tadi berlagak tuli untuk menipu dirinya?
Dengan perasaan curiga ia kembali melalui dua puncak gunung lagi, masih tetap tidak
mendapat kabar apa-apa. Sekarang cuaca sudah mulai gelap, perutnya keroncongan. Oleh
karena itu ia pikir hendak menangkap binatang kelinci untuk tangsal perut, tapi ia tidak membawa
bekal batu api, maka urungkan maksudnya dan terpaksa mencari buah-buahan untuk mengisi
perutnya.
Pada saat itu, di atas pohon ia dapat melihat gambar kepala tengkorak manusia sebesar
kepalan tangan, mulutnya menggigit sebatang anak panah sedang ujung anak panahnya
menunjuk ke arah yang justru sedang ia tuju.
Melihat gambar tengkorak itu, Kim Houw terkejut. Karena gambar itu masih baru, entah
golongan orang Kangouw mana yang menggunakan tanda demikian.

Dengan adanya penemuannya ini, Kim Houw tidak mau membuang-buang waktu lagi, maka
dengan cepat ia melanjutkan perjalanannya.
Belum sampai melewati satu puncak, kembali ia menemukan dua gambar tengkorak itu, ujung
anak panahnya tetap menunjuk ke selatan.
Tengah ia berlari, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki yang amat riuh, agaknya ada
banyak orang yang lari menuju ke arahnya. Dari gerak kaki mereka, Kim Houw segera tahu bahwa
rombongan itu ternyata kepandaiannya biasa saja. Diam-diam ia merasa heran, darimana
datangnya begitu banyak orang ke hutan belukar ini?
Tak lama kemudian, dari sebuah tikungan puncak gunung datanglah beberapa ratus laki-laki,
Kim Houw melihat mereka, segera mengetahui bahwa orang-orang itu adalah orang-orang Cengkee-
cee, maka ia lantas menghadang ditengah jalan untuk merintangi mereka.
"Tuan-tuan, numpang tanya, Lo ceecu dari Ceng-kee-cee sekarang ada dimana?" ia tanya
dengan suara nyaring.
Rombongan anak buah Ceng-kee-cee itu lantas berhenti, dari dalam rombongan itu lalu keluar
seorang laki-laki berusia kira-kira empat puluh tahun, lama ia menatap Kim Houw, barulah ia
bertanya :" Tuan siapa? Ada urusan apa mencari Lo ceecu?"
Kim Houw diawasi sekian lamanya oleh laki-laki tadi, lantas melirik kepada dirinya sendiri. Saat
itu ia baru tahu kalau dirinya benar-benar sudah tidak keruan pakaiannya, baju panjangnya sudah
robek tidak keruan.
Semula ia memang menyaru sebagai pengemis, tapi sejak berjalan bersama dengan Kie Yong
Yong, karung goni dipunggungnya sudah dibuang, rambutnya juga tidak awut-awutan lagi, begitu
pula sepatu bututnya, hanya baju panjangnya yang belum ditukar.
Sekarang, meski sepatunya tidak butut lagi, rambutnya sudah rapi, tapi pakaiannya tidak
karuan macamnya, lebih buruk keadaannya daripada selagi ia menyamar sebagai pengemis.
Atas pertanyaan laki-laki itu, ia lantas menjawab: "Aku yang rendah bernama Kim Houw,
karena ada urusan penting, maka hendak mencari Lo ceecu...."
Sayang belum habis ucapannya, laki-laki itu sudah keluarkan bentakan: "Kura-kura...." yang
tidak dimengerti oleh Kim Houw.
Tapi sekejap saja rombongan itu lantas mengeluarkan suara gemuruh, dan masing-masing
mengeluarkan senjatanya, bahkan ada beberapa orang dari samping mengambil sikap mengurung
Kim Houw.
Laki-laki itu setelah memberikan perintahnya sekian lama, barulah berkata kepada Kim Houw:
"Kiranya tuan adalah Kim Houw si biang keladi yang namanya begitu terkenal, ha ha, ke surga kau
tidak mau pergi, sebaliknya hendak masuk ke neraka! Lo ceecu tidak berhasil menemukan kau
dan sekarang kau terjatuh ke tangan kami. Saudara-saudara, bentuk barisan untuk mengurung
dia, sekali-kali jangan kasih dia lolos, supaya Lo ceecu juga tahu bahwa kita juga mempunyai
kepandaian yang berarti!"
Sehabis berkata, orang itu juga mengeluarkan senjata pecutnya, lalu acungkan ke atas yang
disambut suara gemuruh dari segala penjuru.
Menyaksikan kelakuan orang-orang itu, Kim Houw merasa geli dalam hatinya. Meski jumlah
mereka banyak, tapi apa gunanya?

Ia berlagak bodoh dalam kepungan mereka, seolah-olah tidak mengerti kalau dirinya sedang
berada dalam bahaya.
Laki-laki tadi tiba-tiba berseru pula, beberapa puluh orang yang sedang mengepung Kim Houw
segera bergerak semuanya, mereka berputar-putar mengelilingi Kim Houw, makin lama
putarannya makin cepat.
Kim Houw yang berdiri tegak ditengah lingkaran mereka itu, sedikitpun ia tidak bergeser dari
tempatnya, sedang dalam hatinya diam-diam berpikir: kalau dari orang-orang ini masih belum
dapat informasi dimana adanya Kim Lo Han dan kawan-kawannya, benar-benar repot!
Orang-orang yang lari berputaran itu, gerak kakinya benar-benar lihai, sebentar saja sudah
tidak kelihatan bayangannya. Cuma, sebegitu jauh masih belum mengambil tindakan apa-apa
terhadap Kim Houw.
Anak muda itu masih tetap berdiri seperti patung, meskipun di sekitarnya begitu ribut namun
tidak mempengaruhi pikirannya. Jika orang lain, mungkin sudah dibikin senewen oleh gerakan
mereka yang seperti orang gila itu.
Lewat lagi sekian lamanya, orang-orang itu masih tetap mengitari korbannya, tapi masih tetap
belum turun tangan, sebaliknya Kim Houw dapat memeriksa satu-persatu keadaan orang-orang
tersebut. Kini ia sudah dapat melihat bahwa mereka sudah pada mandi keringat, hingga diamdiam
hatinya merasa girang. Pikirnya, dengan bergerak secara demikian, mereka akhirnya tentu
akan lelah sendiri.
Gerakan semacam ini ini dinamai Kui-goan-in salah satu gerakan barisan Ceng-kee-cee yang
khusus untuk menghadapi musuh-musuh yang berkepandaian terlalu tinggi. Yang ditugaskan
melakukan serangan terdiri dari enam belas orang, terbagi menjadi empat rombongan, tiap
orangnya membawa sebilah golok dan gerakan mereka pun serupa. Seolah-olah lari berantai,
mereka mengurung musuhnya sambil berlarian mengitari. jika musuh yang dikurung coba balas
menyerang kepada salah seorang saja, yang lain akan segera maju menyerang dengan serentak.
Kalau bukan mereka yang menghentikan serangannya, si korban yang diserang akhirnya tentu
kehabisan tenaga dan binasa.
Oleh karena mereka terpecah menjadi empat rombongan, setiap empat orang melakukan
pertempuran secara bergiliran, sehingga mereka mempunyai banyak waktu untuk istirahat, sedang
lawannya harus memberi perlawanan terus dari awal sampai akhir. Kalau bukan orang-orang
gagah yang berkepandaian tinggi, dari sepuluh orang ada sembilan orang yang terbinasa atau
terluka oleh barisan tersebut.
Tapi barisan Kui-goan-tin ini juga ada cacatnya, yaitu karena barisan ini selalu berada dalam
keadaan bergerak dan tidak mampu melakukan serangan jika tidak diserang.
Oleh karena Kim Houw tidak pandang mata pada mereka, ia tidak mau turun tangan lebih dulu.
Dengan sendirinya tanpa disengaja ia telah melumpuhkan daya serang barisan tersebut.
Pada saat itu, beberapa puluh orang yang lari berputaran perlahan-lahan mulai kendor
gerakannya. Orang yang jadi kepala dan berdiri disamping, tidak henti-hentinya acungkan
pecutnya dan berteriak-teriak.
Salah seorang yang berbadan pendek kecil diantara enam belas orang itu, tiba-tiba menabas
pundak Kim Houw dengan goloknya, serangannya itu demikian kuat dan gesit.
Siapa nyana perbuatannya itu justru telah berakibat kocar-kacirnya barisan itu.

Kim Houw sudah mengetahui ciri-ciri dari barisan tersebut. Orang-orang itu setelah berlari-lari
sekian lama, akhirnya tampak tanda-tanda kelelahannya, kalau dibiarkan mereka itu lari terus
menerus, pasti mereka akan rubuh satu persatu.
Mengingat nasib anak-anak dan kaum wanita yang ditinggalkan oleh mereka di Ceng-kee-cee,
dalam hati Kim Houw merasa tidak tega. Selagi dalam keragu-raguan, seorang yang pendek kecil
telah melakukan serangan, namun Kim Houw hanya berkelit dengan mudah. Beberapa gebrakan
saja, cukup membuat keadaan berobah terbalik. Puluhan orang itu tampak pada berdiri tanpa
bergerak dalam keadaan yang sangat aneh. Kecuali sepasang matanya yang masih bisa berkedip,
bagian tubuh lainnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Ternyata mereka semua sudah kena totok oleh Kim Houw. Hanya sang kepalanya saja yang
masih tetap bebas.
Karena Kim Houw anggap orang itu merupakan kepala rombongan, mungkin lebih baik dan
lebih banyak tahu rahasia Ceng-kee-cee daripada yang lainnya, maka ia ingin mengorek
keterangan tentang keadaan kawan-kawannya.
Tepat pada saat Kim Houw selesai menotok mereka, orang itu sudah datang menghampiri lalu
berlutut di hadapan Kim Houw, seraya meratap:
"Kim Siauhiap, aku mohon belas kasihan siauhiap dan suka mengampuni kesalahanku. aku
Ceng Phwee sangat menyesal, benar-benar punya mata tapi buta, tidak kenal siauhiap seorang
yang gagah. Ceng Phwee disini minta maaf padamu, jika kau anggap aku salah, sekalipun kau
bunuh mati aku juga tidak sesalkan kau, aku hanya minta supaya kau suka membebaskan
mereka, karena beberapa ratus jiwa dalam Ceng-kee-cee penghidupannya masih mengandalkan
dari mereka........."
Belum habis ucapan Ceng Phwee, Kim Houw sudah ulurkan tangannya mengangkat tinggi
kepada orang yang mengaku bernama Ceng Phwee ini.
Apa sebabnya Ceng Phwee yang semula begitu sombong mendadak bersikap begitu
menghormat? Sebagai anak buah Lo ceecu dari Ceng-kee-cee, Ceng Phwee sebetulnya juga
bukanlah seorang yang lemah. Senjata pecutnya sudah pernah menjatuhkan beberapa jago di
kalangan Kangouw.
Tapi ia telah dibikin terkesima dan kagum dengan ilmu mengentengkan tubuh yang
diperlihatkan Kim Houw. Ia belum pernah menemukan orang gagah yang mempunyai kepandaian
yang demikian hebat. Terutama kepandaian Kim Houw menotok orang-orangnya tadi benar-benar
merupakan kepandaian ilmu silat yang sudah tiada taranya.
Karena orang-orang yang tertotok sudah tidak bisa bergerak semuanya, ia yang bertindak
sebagai pemimpin rombongan, bagaimana tidak cemas?
Lagi pula dalam hutan belukar seperti ini, kepada siapa lagi ia akan minta bantuan.
Dalam keadaan demikian terpaksa ia harus tebalkan muka, untuk minta tolong kepada Kim
Houw. Di kemudian hari apabila Lo ceecu sesalkan perbuatannya, ia juga tidak mau ambil pusing.
Yang penting adalah jiwa kawan-kawannya.
Kim Houw meski berlaku galak, tapi jawabannya ternyata lunak.
"Aku juga tidak ada niat membuat susah kalian, kau tidak usah kuatir. Asal kau menjawab
terus terang semua pertanyaanku, aku tidak akan mencelakakan diri mereka, tapi kalau kau berani
berdusta, kau nanti akan rasakan sendiri akibatnya!" demikian jawabnya.

Mendengar jawaban Kim Houw, Ceng Phwee buru-buru berlutut lagi.
"Tuhan Allah yang Maha Esa, para dewa yang kebetulan lewat di sini, harap suka menjadi
saksi, aku Ceng Phwee akan menjawab dengan sejujurnya, atas semua pertanyaan yang akan
diajukan oleh Kim siauhiap. Jika ada sepatah saja yang bohong, biarlah Ceng Phwee mati binasa
di bawah hujan golok, sehingga tidak bisa kembali ke Ceng-kee-cee," demikian
Ceng Phwee melakukan sumpah berat. Sekali lagi ia manggut-manggut di hadapan Kim Houw
kemudian berkata pula: "Kim-siauhiap, sekarang tentunya siauhiap boleh percaya kepada Ceng
Phwee?"
"Baiklah, sekarang aku hendak tanya, kemana perginya Lo Ceecu?"
"Ke Pek-liong-po!" jawabnya.
Pek-liong-po? Pikir Kim Houw, mungkin benar, Ceng Ceng juga mengatakan bahwa Peng
Peng dibawa ke Pek-liong-po. Pantasan Lie Cie Nio dan To Pa Thian ketika hendak menutup mata
pernah mengucapkan kata-kata Pek.....Pek.....Pek saja, kiranya yang dimaksud adalah Pek-liongpo.
"Tahukah kau, bahwa kemarin sebelum Ceng-kee-cee melakukan upacara sembahyang, dan
setelah nona baju merah dibawa kabur, kemudian datang lagi rombongan orang-orang, sekarang
dimana orang-orang itu?" tanya pula Kim Houw.
"Kemudian keluarga Teng dari Im-hong-ciong telah datang ke Ceng-kee-cee membikin ribut,
Lo Ceecu karena takut kepada Teng kie Liang dari keluarga Teng, tidak berani menahan si nona
baju merah. Sebetulnya ia sendiri juga tidak tahu kalau nona itu dari keluarga Teng, kalau tahu,
sudah tentu siang-siang sudah diantar pulang. Orang-orang yang kemudian datang ke Ceng-keecee,
aku melihat ada seorang pengemis tua, dua orang tua yang usianya kira-kira lima puluh tahun
ke atas, seorang hwesio yang tubuhnya tinggi besar dan seorang nenek yang rambutnya sudah
putih semua. Selain itu masih ada lagi seorang muda yang kepalanya botak, tapi tenaganya besar
bukan main serta seorang pemuda yang amat galak.
Orang-orang itu begitu tiba di Ceng-kee-cee, lantas menerjang ke tangga batu dan bicara
dengan Lo Ceecu. Kala itu aku berdiri agak jauh, hingga tidak dapat mendengar jelas pembicaraan
mereka, aku hanya tahu belum bicara beberapa lama lantas saling hantam!"
Ceng Phwee tadi meski tidak menyebutkan namanya, hanya melukiskan bentuknya, tapi Kim
Houw sudah tahu siapa yang dilukiskan oleh Ceng Phwee. Pengemis tua itu adalah Sin-hua dan
Tok-kai, kedua orang tua itu adalah Cu Su dan Tiong Ciu Khek, nenek rambut putih itu adalah Kim
Coa Nio-nio sedang kedua anak muda itu bukan lain adalah si botak dan Sun Cu Hoa.
Mereka bisa masuk ke Ceng-kee-cee, kalau begitu mereka tidak mengalami gangguan dari
serangan laba-laba beracun didalam rimba, lalu ia bertanya lagi: "Setelah bertempur, bagaimana
kesudahannya?"
"Lo Ceecu kita tinggi sekali kepandaiannya, terutama istrinya ceecu. Tapi rombongan itu
ternyata juga bukan orang-orang sembarangan. Seorang tua yang wajahnya merah bertempur
dengan Lo Ceecu setengah harian, masih belum ketahuan siapa yang menang dan siapa yang
kalah, kemudian aku dengar bahwa orang yang wajahnya merah itu adalah ketua partai sepatu
rumput Cu Su."
"Nyonya Lo ceecu kami juga bertempur dengan si pengemis, tapi ia bukan tandingan Nyonya
Lo Ceecu, setelah seratus jurus lebih, pengemis tua itu lantas mulai keteteran. Tapi sepasang

sepatu bututnya, ternyata lebih lihai daripada senjata pasir hitam nyonya Lo Ceecu, sehingga
akhirnya tidak ada yang menang dan yang kalah."
"Pasangan lainnya ialah adik perempuan nyonya Lo Ceecu kami, Cey-hua Kui-bo dengan si
nenek berambut putih, mereka juga lawan berimbang."
"Pada akhirnya, Lo Ceecu sudah memuncak amarahnya, maka lantas memancing mereka
kedalam lembah Hui-hun-kok. Dalam gunung ini sebetulnya masih ada lagi sebuah lembah ular,
tapi sayang ular yang jumlahnya puluhan ribu itu, pada suatu hari telah digiring oleh seorang
penjinak ular, entah kemana."
"Lembah Hui-hun-kok juga cukup lihai, lembahnya sempit, kedua tebingnya tinggi sekali,
sehingga menutupi mulut lembah. Jika batu besar digelindingkan ke bawah, sekalipun dewa juga
sukar untuk meloloskan diri."
Di satu bagian dari lembah tersebut terdapat tangga, jika orang-orang fihak sendiri sudah naik
ke atas, tangga itu lantas diangkat, ketika orang-orang dari pihak lawan tiba ditempat tersebut,
sudah tidak keburu naik tangga itu.
Selagi Lo Ceecu memancing mereka ke lembah tersebut, mulut lembah baru saja tertutup
dengan batu, tepat pada saat itu, Hui-thian Go-kang Teng Kie Liang telah tiba. Ia sebetulnya
hendak mencari setori dengan Lo Ceecu, tapi ketika menyaksikan didalam lembah ada begitu
banyak orang, ia lantas tertawa terbahak-bahak. Bukan saja tidak mencari setori dengan Lo
Ceecu, malah membantu pihaknya, dengan menggunakan batu-batu besar yang berada didalam
lembah itu, orang-orang itu terpaksa melompat kesana-sini untuk menghindarkan diri dari
kematian.
"Tidak lama setelah Hui-thian Go-kang berlalu, orang-orang didalam lembah tiba-tiba
menghilang. Sedangkan Lo Ceecu sendiri setelah meninggalkan beberapa orang untuk menutup
jalan keluar lembah tersebut, ia juga ajak kami pulang."
"Siapa sangka, dalam perjalanan pulang, kami berpapasan dengan orang-orang itu lagi.
Mereka bukan saja tidak terluka, bahkan lebih dulu dari kami keluar dari lembah, akhirnya timbul
lagi pertempuran hebat."
"Untung senjata rahasia pasir hitam nyonya Lo Ceecu sangat lihai, dengan beruntun telah
melukai tiga orang lawannya, oleh karena itu maka orang-orang tersebut lantas mundur, sedang
dipihak kami Ceng Cu Nio-nio dan Hey Hoa Kui-bo juga dilukai oleh seekor ular emas yang lihai
sekali."
"Pada saat itu, orang-orang dari Pek-liong-po juga tiba, Lo Ceecu lantas suruh kita pulang dan
selanjutnya bagaimana, aku Ceng Phwee sudah tidak tahu lagi!"
Kim Houw yang mendengarkan cerita Ceng Phwee, sebentar-sebentar harus menghapus
keringat dingin ketika mendengar nyonya Lo Ceecu telah berhasil melukai tiga orang, perasaannya
semakin cemas, maka ia segera bertanya: "Tiga orang yang terluka ditangan nyonya Lo Ceecu itu
siapa? senjata pasir hitam itu bagaimana digunakannya? apakah ada racunnya?"
Ceng Phwee dipegang dengan kencang oleh Kim Houw, sehingga merasakan sakit setengah
mati. Maka dengan suara merintih ia minta diampuni. Setelah Kim Houw mengendorkan
tangannya, ia lalu menjawab :" Siapa tiga orang yang terluka itu, aku hanya dengar kabar saja,
tapi tidak melihat sendiri. Tentang rahasia pasir hitam, dia terbuat dari pasir hitam khusus dari
Teng-lay-san, namanya saja pasir tapi sebetulnya sebesar batu kerikil. Sebab dalam satu
genggaman dapat lebih dari satu maka dinamakan pasir. Pasir hitam telah diberi racun oleh Ceecu

hujin, bukan saja beracun bahkan luar biasa bekerjanya racun itu. Orang yang terkena senjata
tersebut dalam satu minggu, kalau tidak dapat obat pemunahnya yang khusus untuk racun itu,
akan segera binasa dalam keadaan hancur luluh daging dan kulitnya!"
Kim Houw tidak perlu bertanya lagi, ia lantas bebaskan mereka semuanya dari totokan,
akhirnya baru ia menanyakan perjalanan ke Pek-liong-po.
"Pek-liong-po tidak jauh dari kota Ceng-thia-san"
Kalau kau sudah sampai dikota Ceng-shia-san, tanya saja kepada penduduk disitu, tidak ada
seorangpun yang tidak tahu," kata Ceng Phwee.
Kim Houw haturkan terima kasih dan berlalu dengan tergesa-gesa. Ia tidak tahu siapa tiga
orang yang terluka itu, namun biar bagaimana orang-orang itu terluka karena membelanya, maka
dalam hati ia merasa sangat cemas.
Terutama ketika ia dengar bahwa senjata itu sangat berbisa, hatinya semakin gelisah, terluka
untuk ia, sudah membikin ia merasa tidak enak, apalagi jika sampai terjadi apa apa, bagaimana
besar kedudukannya dan merasa berdosa.
Saat itu, hari sudah gelap. Kim Houw dua hari dua malam tidak dapat mengaso dengan baik,
maka sudah mulai merasa letih, tapi ia masih terus lari menuju ke tujuannya.
Menjelang pagi, Kim Houw sudah tiba di mulut gunung. Meski ia mempunyai kepandaian dan
kekuatan melebihi manusia biasa, tapi selama dua hari dua malam tidak tidur dan mengaso, kini ia
benar-benar sudah mulai tidak tahan! Lantas ia mencari sebuah batu besar yang agak rata, untuk
duduk mengaso, memulihkan kembali tenaganya.
Tapi belum sempat duduk, matanya kembali dapat lihat lukisan tengkorak itu, merasa
menyesal kenapa barusan tidak menanya kepada Ceng Phwee, ia percaya Ceng Phwee pasti bisa
memberi jawaban yang memuaskan.
Kim Houw lantas mulai duduk untuk semedi guna memulihkan kekuatannya.
Ketika ia membuka matanya, dua jam telah berlalu. Matahari sudah mulai naik tinggi. Sehabis
melakukan semedi, Kim Houw nampak semangatnya pulih kembali.
Selagi hendak berbangkit, tiba-tiba menyambar senjata rahasia yang datang dari jurusan arah
belakang. Senjata rahasia itu datang cepat sekali, kekuatannya juga hebat.
Kim Houw terkejut, ia tidak berani menyambuti dengan tangannya, ia lompat melesat ke atas,
setelah berada di tengah udara, ia jumpalitan dan turun kembali.
Ketika ia melesat ke atas, telah dengar suara ledakan hebat, batu besar bekas tempat
duduknya tadi ternyata sudah meledak dan terbakar. Kim Houw kesima, untung ia tadi tidak
menyambuti dengan tangannya, kalau tidak tangan itu tentu sudah terbakar.
"Kawanan manusia terkutuk darimana berani berlaku begitu pengecut? Kalau kau ada satu
laki-laki, lekas unjukkan diri!" teriak Kim Houw.
Tiba-tiba terdengar orang tertawa bergelak-gelak, dari atas sebuah pohon telah melayang
turun satu orang yang tidak mirip dengan manusia, lebih mirip dikatakan bara arang yang menyala.
Tampak ia menggelinding di depan Kim Houw lalu berhenti sendiri, tapi nyatanya benar
manusia yang berbentuk bundar pendek dan gemuk, hingga mirip dengan satu balon.

Yang lebih aneh ialah, orang bulat cebol itu sekujur badannya mengenakan pakaian warna
merah darah, pada kedua pahanya yang pendek kasar, kelihatan beberapa lingkaran warna
merah, maka kalau berjalan atau melesat ke atas nampaknya seperti bara!
Kim Houw tadinya mengira ada sebuah bola api yang menggelinding, siapa tahu kalau ia
adalah manusia. Karena merasa geli, hampir saja ia ketawa.
Orang cebol itu begitu berada di depan Kim Houw, lantas membentak dengan suaranya yang
bengis: "Anak busuk, kiranya kau sudah bosan hidup! Hwee-tok Sin-kun (dewa api) hendak
bercanda dengan kau, mengapa kau berani berlaku kurang ajar? Hari ini kalau aku tidak beri
hajaran padamu, tentunya kau tidak akan tahu bahwa aku Hwee-tok Sin-kun ini orang apa?"
Sehabis mengucapkan perkataannya itu, Hwee-tok Sin-kun lalu ayun tangannya, kembali ada
senjata rahasia yang berwarna merah membara meluncur dari tangannya. Kali ini nampaknya
lebih hebat dan lebih pesat meluncurnya daripada yang duluan.
Nama Hwee-tok Sin-kun, Kim Houw belum pernah dengar, ia juga tidak tahu sampai dimana
lihainya orang yang bentuknya aneh itu. Tapi terhadap senjata rahasianya yang berupa api itu ia
tidak takut.
"Hanya mengandalkan senjata rahasiamu yang tidak berarti ini, kau hendak melukai
siauyamu? Kau benar-benar mengimpi." demikian ia berkata.
Tepat pada saat itu, senjata rahasianya si cebol itu sudah tiba di depan Kim Houw, ia tahu
hanya sekali sentuh senjata apinya akan meledak, tapi ia masih coba ulur tangannya untuk
menyentil.
Suara "Tak" terdengar nyaring, senjata itu lantas melesat ke udara dan meledak.
Kim Houw sendiri setelah menyentil senjata itu dengan jarinya, sudah lompat mundur jauhjauh.
Hwee-tok Sin-kun kembali perdengarkan suara ketawanya.
"Anak busuk, kiranya kau tidak takut. Coba sekali lagi!" katanya.
"Ser" senjata rahasia yang merah membara kembali meluncur dari tangannya.
Melihat itu, Kim Houw gusar dengan tiba-tiba. Ia anggap orang cebol jelek itu sungguh bandel
sekali, maka tanpa menunggu datangnya senjata tadi, ia sudah lompat melesat untuk memapak!,
selain menggunakan jari tangan untuk menyentil senjata rahasia si cebol, ia juga menggunakan
tangan kirinya untuk mengipasi, hingga api yang menyala hebat itu lantas tertiup balik. Hwee-tok
Sin-kun dengan tersipu-sipu lari mundur sendiri.
Hwee-tok Sin-kun meski lari mundur terbirit tapi ia masih bisa ketawa sembari ubat-abitkan
kedua tangannya. Beberapa puluh butir senjata berwarna merah membara segera berterbangan
ke depan, belakang kanan kiri badan Kim Houw. Dalam waktu sekejap saja, suara ledakan
terdengar berulang ulang, api berkobar keras mengurung diri Kim Houw.
Pada saat itu, dari bawah gunung terdengar suara nyaring: "Lau Sin-kun, jangan lepaskan
adanya, memang betul bocah itu!"

"Lau Leng kauw, aku Sin kun siang-siang memang sudah tahu kalau dia, kau tak usah kuatir,
ada aku Sin kun di sini, kiranya dia tidak bisa lari lagi!" jawab Hwee-tok Sin-kun sambil ketawa.
Sementara itu, kedua tangannya cepat mengambil senjatanya yang luar biasa itu dari dalam
kantong besar yang ada disampingnya yang saban-saban dilemparkan ke arah Kim Houw, hingga
api terus berkobar mengurung diri anak muda itu.
Pada saat mana, seluruh tubuh Kim Houw sudah terkurung oleh api yang berkobar keras
sampai bayangannya saja juga tidak kelihatan. Hwee-tok Sin kun dengan bangga berpaling
mengawasi Lau Leng-kau yang sedang naik ke atas bukit.
"Kalian berempat mengapa baru sekarang tiba, mana lagi tiga orang yang lainnya?" demikian
tanyanya.
Orang yang dipanggil Lau Leng kau itu ternyata adalah Hui-thian Leng-kau dari Ceng-hongkau.
Dengan kecepatan bagaikan kilat Hui-thian Leng kauw, sudah berada di depan Hwee-tok Sin
kun.
"Aaaa! mengapa kau bakar mata padanya? Kalau dia binasa, nona Kie tak dapat kita temukan
lagi. Jika Kaucu gusar, siapa yang harus memikul tanggung jawab ini?" Demikian katanya.
"Apa kau kata? Hal itu aku tidak mau tahu. Aku hanya mendapat perintah untuk menghadapi
dia, tapi tidak dijelaskan harus ditangkap hidup-hidup tidak boleh dibunuh mati. Tentang urusan
mencari nona Kie bukan urusanku. Hwee-to Sin-kun tidak membunuh mati orang, bagaimana bisa
mendapat julukan "Tok" jawab Hwee-tok Sin-kun.
"Sin-kun, aku mohon padamu, lekaslah padamkan apinya! Mungkin masih ada sedikit harapan,
untuk mendapatkan keterangannya. Kalau tidak, di dunia yang luas ini, kemana kita harus mencari
nona Kie?"
"Lau Leng kau, bagaimana sih anggapanmu tentang peluru api Hwee-tok Sin kun? Kalau tidak
padam sendiri, siapa saja jangan harap bisa memadamkan. Bocah itu barangkali sudah takdirnya
mati di tanganku."
Hui-thian Leng-kau tidak bisa berbuar apa-apa, dalam hari lantas berpikir: "Baiklah kalau aku
sudah melihat bangkainya, aku nanti limpahkan segala tanggung jawabnya di atas pundaknya.
Tiba-tiba dari bawah gunung terdengar pula suara orang yang memanggil-manggil, mereka itu
adalah tiga orang tua yang pernah mengejar nona Kie di tepi danau Thai-pek-ouw. Tiga orang tua
itu tiba di tengah bukit, segera menuju ke arah api berkobar.
Pada saat itu, dalam gumpalan api berkobar, tiba-tiba terlihat sinar hijau yang menaik tinggi ke
angkasa, Hwee-tok Sin-kun terperanjat, ia heran bagaimana bocah itu tidak mati terbakar?
Belum hilang rasa kagetnya sinar hijau itu mendadak meluas, satu bayangan orang melesat
keluar dari sinar tersebut dan meluncur setinggi sepuluh tombak, baru melayang turun.
Orang itu bukan lain daripada Kim Houw sendiri. Peluru apinya Hwee-tok Sin-kun, memang
tidak berdaya terhadap dirinya, kalau ia manda dibakar, itu disebabkan hendak mencoba-coba
sampai dimana kekuatannya ilmunya Han-bun-cao-khie, apa juga tidak takut api?
Begitu dicoba, benar saja bahwa ilmunya Han-bun-cao-khie sedikitpun tidak takut api-apinya
Hwee-tok Sin-kun meski lihai, tapi tidak berdaya mendekati badannya. Pada saat itu, ia dengar
pembicaraan antara Hwee-tok Sin-kun dengan Hui-thian Leng kauw, hingga ia mengetahui bahwa
Hwee-tok Sin-kun ternyata ada orangnya Ceng Hong-kau.

Sehabis mendengarkan pembicaraan mereka Kim Houw lalu mengerahkan ilmunya Han-buncao-
khie, ia ayun tangannya ke atas, api yang sedang berkobar hebat itu lantas mendadak pudar
dan ia melesat ke luar dari dalam api.
Setelah berada di tanah, Kim Houw lalu berkata kepada mereka: "Aku kira siapa, tidak tahunya
orang-orang Ceng-hong kauw. Kau Hwee-tok Sin-kun sudah membakar diriku setengah harian,
kalau aku tidak membalas melakukan apa-apa, bukankah itu suatu perbuatan kurang sopan?"
Mendengar itu, Hwee-tok Sin-kun terkejut, tapi wajahnya masih bisa ketawa.
"Anak busuk, kau ternyata mengerti ilmu gaib untuk membereskan kau," demikian katanya.
Kalau ia mengeluarkan sebuah kaca besar menghadap pada matahari, maksudnya dengan
menggunakan sinar matahari, ia soroti matanya Kim How, kemudian baru menyerang.
Tapi maksudnya itu belum tercapai tiba-tiba angin keras telah menyambar mukanya.
Kiranya Hwee-tok Sin-kun ini selanjutnya peluru apinya yang sudah membuat ia terkenal
kepandaian ilmu silat dan lweekangnya juga tidak lemah. Oleh karena ia berada di sebelah barat,
meski sinar matahari, sudah menyoroti kacanya, tapi ia juga seperti kesilauan.
Ketika ia merasa ada sambaran angin, dengan cepat lantas meloncat untuk menghindarkan
serangan.
Tapi Kim Houw siap sedia, ia tidak memberikan kesempatan Hwee-tok Sin-kun untuk
menyelamatkan diri.
Segera terdengar beberapa suara ledakan, asap mengebul tinggi dan api berkobar dengan
mendadak. Hwee-tok Sin-kun menjerit-jerit, lalu bergulingan di tanah bajunya pada hancur
terbakar.
Ternyata, Kim Houw telah membalas serangan senjata si cebol sendri, karena Kim Houw
merasa gemas dengan sikapnya yang jumawa. Tapi ketika ia ayun tangannya, ia tidak menyerang
diri orang, sebaliknya menyerang dua kantong besar yang selalu dibawa-bawa oleh Hwee-tok Sinkun,
yang ternyata isinya adalah senjata yang bisa meledak.
Hwee-tok Sin-kun sama sekali tidak menduga kalau Kim Houw hendak berbuat demikian.
Sebentar saja, api sudah membakar sekujur badannya. Masih beruntung, Hwee-tok Sin-kun
mengerti caranya menghadapi api, ia lantas membuka semua bajunya dan dilemparkan jauh-jauh,
kalau tidak, badannya sudah hangus terbakar.
Sekalipun demikian, tidak urung badannya sudah pada melepuh tidak karuan macam,
terutama sepasang tangannya yang sudah merah membara dan mengucurkan banyak darah.
Empat orang tua yang baru tiba saja, telah berdiri dengan kesima menyaksikan itu semua.
Menampak Hwee-to Sin-kun menggeletak di tanah dalam keadaan luka parah. Mereka tidak bisa
berdaya sama sekali, terpaksa menggotong si korban berlalu meninggalkan Kim Houw.
oo000oo
Dari sebelah selatan Kim Houw turun gunung, ia bisa lari lebih cepat, tapi semalaman ia
mengejar masih belum juga menemukan jejaknya Kim Lo Han dan kawan-kawannya. Hatinya

merasa cemas. Sedangkan dari fihak Pek liong po, khabarnya sudah ada orang menyambut Lo
Ceng mo, apakah dengan tambahnya bantuan itu mereka berbalik mengejar Kim Lo Han dan
kawannya?
Memikir demikian, Kim Houw merasa lebih cemas dan kakinya lari semakin pesat.
Menjelang tengah hari, awan gelap menutupi langit, kemudian disusul oleh turunnya hujan,
bahkan makin lama hujan makin bertambah besar.
Kim Houw yang sudah lari setengah harian, meski belum mandi keringat, tapi dalam harinya
merasa amat masgul. Dengan adanya hujan itu, ia merasakan hawa yang sejuk. Ia lantas buka
baju luarnya, hanya tinggal baju dalamnya dan celana pendeknya saja, berlari-larian di bawah
hujan lebat.
Tiba-tiba Kim Houw ingat sesuatu. Berlari-larian secara demikian, jika berpapasan dengan
rombongannya Kim Lo Han bagaimana ia bisa melihat, karena pemandangannya tentu terhalang
oleh air hujan.
Ia lantas kendorkan kakinya.
Tepat pada saat itu, di depan matanya tiba-tiba terbentang sebuah rimba, lapat-lapat
tertampak ujung sebuah dinding tembok warna merah. Pikirnya dalam rimba ini pasti ada sebuah
kuil. Lebih baik ia meneduh di sana dulu nanti setelah hujan berhenti baru melanjutkan
perjalanannya lagi.
Ia lalu bertindak masuk ke dalam rimba. Benar saja dalam rimba itu ada sebuah kuil.
Kuil itu sangat mengenaskan, tampaknya di sana-sini sudah pada hancur, sebagian malah
sudah rubuh. Pintu kuil separuhnya sudah rusak dan menggeletak di tanah.
Baru saja Kim Houw hendak melangkah ke dalam, di atasnya pintu kuil yang menggeletak tadi,
kembali terlihat lukisan tengkorak manusia dengan anak panahnya. Entah tanda gambarnya partai
atau perkumpulan persilatan mana itu yang ia jumpai berkali-kali. Sampai di atas pintu kuil yang
sudah rusak juga terdapat gambar demikian. Kalau mau dikatakan itu ada gambar baru tanda dari
partai Ceng-hong-kauw, tadi ketika melihatnya tidak menunjukkan perobahan apa-apa. Apa yang
lebih mengherankan, mengapa orang-orang dari Ceng-hong kauw itu juga mengejar dan mencari
dirinya?
Otaknya memikir, kakinya sudah melangkah masuk.
Di belakang meja sembahyang, tiba-tiba tampak sinar api, Kim Houw pikir ternyata sudah ada
lain orang yang mendahului masuk ke dalam kuil. Sebaliknya apa tidak mungkin itu rombongan
Kim Lo Han yang sedang meneduh?
Kim Houw menjadi tidak sabaran, dengan cepat ia lompat masuk ke ruang belakang yang ada
sinar api tadi.
Api masih tetap menyala, tapi tidak keliahtan satu manusiapun.
Kim Houw tercekat. Melihat keadaannya api yang sedang menyala itu, kalau orang
menyalakan sedang pergi, mungkin perginya belum begitu lama.

Ia berlaku sangat hati-hati, ia pasang mata dan telinganya, untuk mendapatkan kepastian
apakah ada orang yang sembunyi dalam kuil ini?
Sayang hujan terlalu besar, suara jatuhnya air hujan di atas genteng sangat berisik, hingga
kalau benar ada orang sembunyi di situ, tidak gampang-gampang Kim Houw dapat tahu.
Ia menanti sekian lama, masih tidak terdapat gerakan apa-apa, hingga ia mau menduga
bahwa orang yang menyalakan api tadi sudah berlalu benar-benar. Sebab jika masih ada, melihat
kedatangannya orang tentu ia akan menegor.
Kalau benar sudah berlalu ia tidak perlu memikirkan lagi. Dari sudut tembok ia memilih
beberapa batang kayu kering dan dilemparkan ke dalam api, bajunya dibuka dan dipanggang di
atas api supaya lekas kering.
Tiba-tiba terdengar suara tertawanya seorang wanita. Suara itu seperti dari bawah datangnya,
hingga Kim Houw terkejut dan hampir saja ia lompat.
Belum hilang rasa kagetnya, belakang gegernya tiba-tiba dirasakan dingin.
Dengan cepat ia memutar tubuhnya, tapi tidak kelihatan seorangpun di situ, Kim Houw
bertambah heran, maka lantas keluarkan bentakannya: "Siluman dari mana..."
Baru mengucapkan demikian, di belakangnya kembali terdengar suara ketawanya wanita yang
tadi ia dengar, Kim Houw kembali memutarkan tubuhnya secepat kilat tapi heran tidak kelihatan
orangnya!
Kim Houw benar-benar merasa bingung, mungkinkah ada siluman? Sebab kalau memang
manusia biasa, tidak mungkin mempunyai kepandaian ilmu mengentengi tubuh demikian tinggi.
Karena sebagai seorang yang sudah mempunyai ilmu mengentengi tubuh luar biasa ia sudah bisa
mengukur kepandaian orang sampai dimana tingginya.
Pada saat itu, ada sambaran angin dari atas tiang penglari. Kim Houw berkelit, tapi segera
menduga bahwa orang yang permainkan dirinya itu ada di atas tiang!
Kim Houw gerakkan kakinya, sebentar saja sudah melesat ke atas. Ketika ia berada di atas,
matanya lantas dapat dilihat seorang wanita berparas cantik dalam keadaan setengah telanjang
tengah rebah terlentang di atas penglari, mengawasi padanya dengan senyuman yang
menggiurkan.
Kali ini Kim Houw bukannya kaget, tapi takut. Wajahnya merah seketika, hatinya berdebar
keras. Ia buru-buru melompat turun dan keluar.
Sesosok bayangan tiba-tiba sudah menghadang di depannya, sepasang matanya yang jelas
genit terus mengawasi padanya sambil tersenyum, badannya mengeluarkan bau harum yang
sangat luar biasa.
Kim Houw dengan hati berdebaran terpaksa hentikan tindakan kakinya, ia tahu bahwa wanita
di depannya itu ada si wanita cantik yang barusan rebah di atas penglari. Ia tidak berani
memandangnya, buru-buru pejamkan matanya.
Tapi, justru ia menutup matanya ia jadi tidak bisa lari lagi.
Tiba-tiba ia merasakan si wanita itu mendekati, badannya bau harum pada tubuhnya dirasakan
lebih keras menusuk hidungnya. Kim Houw egoskan dirinya, mundur beberapa langkah.

Tiba-tiba pikirannya ditujukan kepada siluman, apa mungkin ini adalah siluman yang hendak
menguji kekuatan batinnya? Karena bau harum itu ada sangat aneh, apa yang dapat mengendus
semangatnya seolah-olah lantas terbang, tulang-tulangnya lepas, perasaannya bergolak dan nafsu
birahinya kontan berkobar.
Mengingat itu, lantas ia buru-buru duduk bersemedi untuk mengheningkan cipta.
Wanita cantik itu tiba-tiba mendekati Kim Houw dengan tangan yang halus mengusap wajah
dan badannya Kim Houw yang kekar.
Kim Houw tetap bersemedi, tidak perdulikan segala gerak geriknya orang yang menggerayangi
dirinya.
Wanita itu tiba-tiba tertawa nyaring, lalu berkata.
"Adik kecil, kau toh bukan hwesio perlu apa bersemedi?"
Kim Houw seolah-olah tidak dengar, ia tetap tidak mau ambil pusing. Perlahan lahan
pikirannya mulai tenang kembali.
"Menurut apa yang aku tahu, pendeta yang beribadat tinggi dan kuat imannya, telinganya tidak
menghiraukan segala suara yang didengarnya, matanya tidak dapat disesatkan oleh segala aneka
warna. Kau tidak berani membuka mata memandang aku, nyata masih belum terhitung seorang
yang berilmu tinggi !" kata pula wanita itu.
Kim Houw terkejut, ia tambah curiga bahwa wanita itu betul ada setan atau siluman, oleh
karena dalam kitab pelajaran ilmu silat Kao-jin Kiesu juga ada disebut tentang segala pengetahuan
setan, maka ia ingin mencoba sampai dimana kekuatan batinnya sendiri.
Ia membuka matanya, tapi tidak berani memandang langsung, melainkan memandang ke arah
hidungnya sendiri.
Wanita cantik itu menampak Kim Houw seolah-olah tidak melihat kecantikan dirinya, dalam
hatinya juga merasa heran. Tiba-tiba ia bersiul perlahan, kemudian menyanyi dan menari
sendirian. Ia telah keluarkan segala kemampuannya untuk memikat hatinya Kim Houw. Kim Houw
meski tidak memperhatikan dengan matanya, tapi telinganya masih tetap bebas untuk menangkap
segala suara. Apalagi suara nyanyian yang mengandung rayuan ini merupakan pendengaran
asing yang selama hidupnya belum pernah mendengar.
Disamping itu, usia muda juga merupakan suatu faktor, darah muda, sebagaimana lazimnya,
mudah tergoda, begitulah keadaannya Kim Houw pada saat itu.
Wanita cantik itu agaknya sudah mengetahui perobahan Kim Houw, ia beraksi semakin
hebat......!
Mata Kim Houw seolah dibikin silo oleh pemandangan luar biasa di depan matanya, pikirannya
mulai tergoncang. Ia mengawasi setiap gerakan wanita cantik itu dengan bernapsu. Akhirnya, Kim
Houw tidak tahan godaan hati dia rubuh !
Seperti dituntun oleh kekuatan gaib, Kim Houw perlahan-lahan bangkit menghampiri dan
merangkul wanita cantik itu. Siapa merasa girang usahanya telah berhasil, sambil ketawa manis ia
balas memeluk.

Sejenak kemudian wanita cantik itu tiba-tiba menjerit, seolah-olah lakunya ikan yang ingin
terlepas dari jaring, ia berontak loloskan diri dari pelukan Kim Houw.
Kim Houw yang sedang berkobar napsunya, mana mau membiarkan wanita cantik itu terlepas,
dengan cepat ia menjambret dan berhasil menyambar tangannya.
Tapi, ketika tangan wanita itu berada dalam cekalannya, Kim Houw terperanjat, karena tangan
itu dirasakan dingin seperti es. Berbareng dengan itu, hawa napsunya yang tengah berkobar juga
seperti terguyur air dingin, dengan sendirinya telah padam.
Tiba-tiba ia dengar wanita cantik itu mengoceh sendirian : "Aku Khu Leng Lie mengapa hatiku
begitu kecil ? Apa yang harus ditakuti ? Kita bersenang-senang dulu habis perkara. Bocah ini
nampaknya mempunyai kekuatan tenaga yang hebat sekali apalagi kelihatannya masih perjaka
tulen. Mungkin dalam satu malam saja, sudah cukup untuk menambah kekuatan lwekang. Maka
tidak perlu aku takuti itu setan tua lagi !"
Ocehan si wanita cantik itu telah dapat didengar dengan jelas oleh Kim Houw. Dalam keadaan
sudah sadar, Kim Houw segera mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh wanita cantik itu. Ia
tahu bahwa yang disebut bocah oleh wanita itu adalah dirinya, maka ia lantas menjadi gusar.
"Perempuan cabul, kiranya kau hendak mengganggu diriku ? Kau jangan mengimpi !" bentak
Kim Houw.
Wanita cantik yang menyebut dirinya Khu Leng Lie, tidak menjadi gusar, sebaliknya ia ganda
Kim Houw dengan senyumannya yang sangat menggiurkan.
"Aha, adik yang manis, aku sebetulnya sayang pada dirimu ! Banyak orang yang
menginginkan diriku, tapi tidak satu yang berhasil mendekati aku !" jawabnya.
"Perempuan tidak tahu malu, siapa ada adikmu yang manis?"
"Aha? galak benar kau! Benarkah kau tidak mengerti kebaikan orang? Adikku yang manis,
barangkali kau belum pernah rasakan manisnya madu penghidupan, pantas kalau kau tidak
memikirkan! Mari, aku ajak kau menikmati kebahagiaan......"
Perempuan itu kembali unjukkan kegenitannya, air mukanya mengobral senyuman.
Kim Houw meski sedang gusar, tapi masih tidak berani menatap wajahnya wanita genit itu. Ia
lalu hendak meninggalkan padanya. Baru saja memutar tubuhnya, tiba-tiba melihat badannya Khu
Leng Lie gemetaran lalu berkata dengan suaranya bergemetar pula: "Bagus! Kiranya rohmu belum
buyar, terus saja mengikuti jejakku, aku nanti bikin rusak kau dulu !"
Sehabis berkata, dengan kecepatan kilat ia menerjang ke dinding kuil yang sudah hampir
rubuh itu.
Kim Houw yang memperhatikan setiap gerak gerik wanita genit itu, segera dapat lihat suatu
pandangan yang mengejutkan !
Apakah sebetulnya ? Kiranya di atas dinding tembok itu, ternyata telah tertampak jelas gambar
tengkorak manusia yang menggigit sebatang anak panah. Gambar itu sama benar dengan apa
yang pernah dilihat oleh Kim Houw barusan dan dua hari berselang.
Terjangan wanita ternyata sangat hebat, dinding tembok hampir rubuh itu kontan berantakan,
sampai seluruh dinding di ruangan belakang kuil menggetar hampir rubuh.

Kim Houw tercengang, ia tidak perdulikan hujan dan angin lagi, segera lompat keluar ke
pekarangan, ketika air hujan menimpa diri dan kepalanya, sekujur badannya dirasakan dingin,
hingga semakin sadar keadaannya.
Baru saja ia berdiri tegak, Khu Leng Lie sudah lompat menyusul padanya, tapi kali ini seluruh
badannya sudah dibungkus dengan kain tebal.
Dua orang baru saja berhadapan di bawah hujan lebat, lantas terdengar suara gemuruh,
ternyata kuil yang sudah tua usianya itu kini telah rubuh.
Kim Houw tadinya menduga Khu Leng Lie adalah perempuan cabul, tapi ketika menyaksikan
dengan tangan kosong ia telah merobohkan kuil tua itu, ia baru tahu kalau wanita itu ternyata juga
adalah seorang pandai dari kalangan rimba persilatan.
Tapi, berbareng dengan itu, ia juga merasa heran, mengapa Khu Leng Lie ketika melihat
lukisan tengkorak dan anak panah itu sekujur badannya lantas gemetar? Apakah tanda tengkorak
itu ada pertandanya seorang yang sangat lihay sekali?
Untuk menyelidiki persoalan gambar-gambar tengkorak dan anak panah itu, Kim Houw lantas
anggukkan kepala kepada wanita genit itu, maksudnya menyambut.
"Nona, mari aku ajak kau melihat sesuatu benda." ia berkata.
Suaranya ramah, agaknya seperti sudah menyerah. Khu Leng Lie dalam hati merasa girang, ia
balas dengan senyuman yang manis.
"Tidak, aku jauh lebih tua daripada usiamu. Kau harus menghormati aku, kau harus panggil
aku enci!" demikian jawabnya.
Kim Houw tidak nyana bahwa nona itu ada begitu nakal, sudah dapat hati, ingin ambil ampela!
Maka seketika itu ia jadi kemek-mek.
"Aiya! Mengapa kau tidak mau panggil? Encimu toh sangat sayangi kau!" tegur Khu Leng Lie
ketawa.
Kim Houw tetap merasa tidak enak membuka mulut memanggil enci. Sebaliknya ia berjalan ke
pintu kuil, kemudian mengambil pintu kuil yang telah rubuh, sambil menunjuk pada gambar
tengkorak ia berkata: "Kau tengok apa ini?"
Khu Leng Lie senyumannya lenyap seketika, dengan wajah pucat ia berkata: "Kau sebetulnya
siapa? Lekas jawab!"
Kim Houw tercengang. "Aku adalah aku, apa yang harus aku jawab?"
Mendengar itu, Khu Leng Lie ketawa dingin. Tadi ketika ia tersenyum manis, wajahnya sangat
menggiurkan, tapi kini ketika ketawa dingin, wajahnya itu kelihatan menakutkan.
"Binatang cilik, setan tua tidak ada, siapa yang nyonyamu takuti?" demikian katanya, lalu
menerjang Kim Houw dengan sengit.
Kelakuan yang tidak diduga-duga ini, sebaliknya membuat Kim Houw terheran-heran.
Bersambung ke jilid 14
Jilid 14

Kim Houw ulur tangannya, sebuah pintu kuil ia dorong ke arah Khu Leng Lie, badannya juga
melayang melesat keluar dari pintu kuil. Tapi kakinya belum sampai menginjak tanah, telinganya
kembali sudah dengar suara benda rubuh.
Kim Houw berpaling, ternyata pintu kuil tadi sudah dibikin hancur berantakan oleh serangan
tangan Khu Leng Lie.
Kim Houw terperanjat, sebab pintu kuil kebanyakan terbikin dari papan yang kuat,
kepandaiannya sendiri Han-bun-cao kie, mungkin juga cuma begitu saja. Kalau begitu kekuatan
wanita itu, bukankah berimbang dengan kekuatannya sendiri?
Tapi sebetulnya tidak demikian. Kim Houw tidak insyaf bahwa pintu kuil itu sudah tua usianya,
entah sudah berapa lamanya kuil itu sudah tua usianya, entah sudah berapa lamanya kuil itu
didirikan ? Dan sekarang kuil dan temboknya sudah rubuh, bagaimana papannya juga sudah lapuk
?
Baru saja Kim Houw lompat keluar dari kuil Khu Leng Lie sudah mengintil. Kepandaiannya
mengentengi tubuh wanita itu, kembali membuat heran Kim Houw.
Ia lantas kerahkan tenaganya, lalu dorong tangannya dengan secara mendadak. Serangan
Kim Houw itu menggunakan Han-bun-cao-kie, tapi baru saja serangannya meluncur, Khu Leng Lie
sudah menghilang.
Ditempat sejauh kira-kira tiga tombak, tiba-tiba terdengar ketawanya.
"Entah dapat berapa banyak pelajaran dari tangannya setan tua, kau berani-berani menyerang
aku ? Apa setan tua tidak memberitahukan padamu tentang adatku yang aneh ?" demikian ia
berkata.
Kim Houw menampak ia mengejar, tapi tidak berani melancarkan serangan. Ia tidak mengerti
apa maksudnya? Malahan agaknya ia berani tidak pandang mata kekuatannya Han-bun-cao-khie.
Terdengar pula ucapan si wanita cantik yang sebentar-sebentar menyebut setan tua, entah
siapa yang dimaksudkan dengan setan tua itu. Maka ia lalu menanya.
"Aku dan nona tidak ada permusuhan apa-apa, juga bukan karena kau datang kemari. Apa
maksud perkataanmu ini? Aku tidak mengerti. Nona selamat tinggal, sekarang aku hendak pergi!"
"Kau ingin pergi?" Khu Leng Lie tiba-tiba membentak dengan suara bengis. "Kau benar-benar
usaha mengotori tangan nyonyamu!"
Mendengar itu. Kim Houw sudah mengerti bahwa kesalahan faham wanita itu sudah semakin
dalam. Ia juga tidak ingin menjelaskan duduk perkaranya, sebab adatnya Khu Leng Lie terlalu
aneh, sekalipun menjelaskan sampai lidahnya kering, Khu Leng Lie tidak mau percaya !
Maka Kim Houw lantas tutup rapat-rapat mulutnya dan berlalu. Pikirnya : Sekalipun
kepandaianmu lebih tinggi sepuluh kali dari aku, aku juga tidak perlu takuti kau, juga tidak nanti
akan tundukkan kepala di depanmu. Apalagi, kita belum menguji tenaga, perlu apa kau berlaku
begitu galak ?
Baru saja Kim Houw bergerak, Khu Leng Lie sudah merintangi jalannya.
"Hm! Ini ada kau sendiri yang cari mampus, jangan kau sesalkan diriku!" katanya.

Pada saat itu, Khu Leng Lie sudah basah kuyup sekujur badannya, sehabis keluarkan
ucapannya itu, lantas ulur tangan dan pentang lima jarinya.
Jari tangan itu dipentang seperti gaetan, agak melekuk ke dalam. Kembali Kim Houw merasa
heran, karena gerakannya itu adalah gerak tipu silat Tai-ing-jiauw-lek, tapi ilmu silat itu amat sukar,
meski dilatih keras sampai tiga puluh atau lima puluh tahun, belum tentu tampak hasilnya.
Juga, ilmu silat itu meminta banyak makan tenaga, maka yang mempelajarinya, kebanyakan
kaum pria. Ia tidak nyana bahwa Khu Leng Lie yang usianya masih begitu muda, juga pandai ilmu
silat Tai-ing-jiauw-lek.
Sebelumnya, ketika Khu Leng Lie dengan tangan kosong telah merobohkan dinding kuil, Kim
Houw sudah saksikan dengan mata kepala sendiri, ia sudah dapat meraba-raba sampai dimana
kekuatannya wanita ini, maka kini Khu Leng Lie melancarkan serangannya Tai-ing-jiauw-lek, ia
lantas tidak berani memandang ringan.
Dengan cepat ia egoskan diri menghindar serangan Khu Leng Lie, kemudian dengan
membalikkan diri ia balas menyerang belakang pundak si nona. Maksudnya ialah hendak
menggunakan serangan.
Untuk menghentikan serangannya Khu Leng Lie. Sebab, dalam pelajarannya Kao-jin Kiesu,
meski banyak jenisnya ilmu silat yang tercantum di situ, tetapi tidak ada satu yang mengutamakan
taktik bertahan. Uraiannya itu sangat aneh, demikian bunyinya: "Sesuatu ilmu silat, umumnya ada
yang mempunyai taktik menyerang dan bertahan. Diwaktu menyerang, harus pula tidak
melupakan bertahan. Tetapi taktik menyerang tetap merupakan ilmu silat yang paling kuat. Aku
tidak mau terus bertahan dan mandah diserang, maka dalam kitab pelajaranku juga tidak ada yang
mengutamakan pelajaran untuk mempertahankan diri dari serangan musuh."
Saat itu, Khu Leng Lie juga mulai heran. Sejak ia bertemu dengan Kim Houw, hatinya sudah
terpikat oleh kegagahan dan ketampanan wajah Kim Houw, maka tidak memperhatikan hal
lainnya.
Kini, Kim Houw dalam gerakannya mengegoskan serangannya dan caranya balas menyerang
serta kegesitan geraknya, ternyata begitu hebat. Khu Leng Lie merasa amat kagum.
Tapi ia masih menganggap, bahwa Kim Houw sekalipun pernah melatih ilmu silat yang
betapapun tingginya mungkin masih sangat terbatas karena umurnya masih muda. Maka dengan
tidak ragu-ragu secepat kilat lantas ayun kedua tangannya, satu digunakan untuk mencakar satu
lagi untuk menotok.
Sampai d isini kita tunda dulu jalannya pertempuran Khu Leng Lie dan Kim Houw marilah kita
cari tahu siapa Khu Leng Lie si wanita cantik genit itu.
Khu Leng Lie ada satu anak yang lahir dan berhubung tidak sah, maka begitu lahir di dunia,
lantas dibuang kehutan belukar. Sangat kebetulan sekali, dalam rimba itu ada sepasang orang
hutan yang baru saja kematian anaknya. Yang betina mendengar suara tangisan perempuan,
lantas ditolong dan disusui dengan air susunya sendiri.
Bayi perempuan itu telah mengikuti sepasang orang utan itu selama empat belas tahun
lamanya. Pada suatu hari, seorang aneh dalam dunia kangouw yang bernama Khu Teng lewat di
situ, dan kebetulan melihatnya. Ketika menyaksikan cara ia bergerak, lari dan melompat yang
laksana terbang serta tenaganya yang begitu kuat, ia anggap suatu barang gaib dalam dunia
persilatan, maka lantas di pungut murid dan dididik olehnya. didalam hutan itu Khu Teng
mendirikan tempat tinggal, anak perempuan itu lalu diberi nama Khu Leng Lie.

Saat itu Khu Teng usianya sudah lima puluh tahun lebih, tapi ia belum kawin. Dengan Khu
Leng Lie yang dianggapnya sebagai murid mereka tinggal bersama-sama dalam satu gubuk
selama tiga tahun. Kalau siang makan bersama, malam juga tidur dalam satu tempat tidur, seperti
layaknya ayah dan anak.
Tiga tahun lamanya Khu Leng lie mengikuti Khu Teng, ia sudah pandai bicara dan melakukan
segala pekerjaan. Meski usianya masih muda, tapi bentuk tubuhnya sudah seperti orang dewasa,
parasnya juga cantik luar biasa.
Pada suatu hari, Khu Teng keluar rumah untuk belanja kebutuhan sehari-hari, tapi sampai
malam belum pulang, sehingga Khu Leng Lie merasa cemas. Tapi ia tidak menunggu dirumah
melainkan keluar untuk mencari.
Ditengah jalan ia telah berpapasan dengan seorang laki-laki setengah tua. Laki-laki itu cakap
tapi gemar paras cantik. Melihat Khu Leng Lie malam-malam berkeliaran sendirian ditengah hutan,
langsung timbul pikiran jahatnya.
Khu Leng Lie mengikuti Khu Teng baru tiga tahun dan urusan dunia yang baru dikenal sedikit
sekali, tapi begitu tergoda oleh laki-laki cakap itu dengan cepat timbul reaksinya. Sebagai anak liar
ia tidak mengerti tata kesopanan. Ia cuma menuruti hati remajanya, hawa nafsunya. Begitulah
malam itu kehormatannya telah dirusak oleh laki-laki yang tak dikenal itu.
Diluar dugaan, selagi keduanya terbenam dalam kesenangan, laki-laki itu tiba-tiba telah
meninggal dunia.
Khu Leng Lie terperanjat, tapi ketika ia dongakkan kepala dengan tidak sengaja, ia telah
melihat sosok bayangan orang yang berdiri membelakanginya.
Ia lantas bangkit dan menghampiri bayangan tersebut yang ternyata suhunya sendiri, Khu
Teng. Maka ia lantas berseru :" Suhu! Suhu! Kau tengok dia........."
Khu Teng menghela napas perlahan dan menjawab: "Aku tahu, kau urus dirimu dan pulang
dulu, aku akan lemparkan bangkainya ke dalam hutan untuk santapan srigala!"
Khu Leng Lie tidak tahu artinya malu juga tidak kenal takut. Setelah rapikan pakaian dan
rambutnya ia lantas lari pulang.
Tapi sejak hari itu, Khu Teng berubah sikapnya, tidak gembira seperti biasanya. Mengajar ilmu
silat kepada Khu Leng Lie tampak tidak bersemangat lagi.
Khu Leng Lie agaknya juga menyadari perubahan sikap gurunya, suatu hari ia menggelendot
dibadan Khu Leng, dengan sikap manja ia bertanya: "Suhu, apa kau tidak senang? atau kau
kurang enak badan?"
Kelakuan Khu Leng Lie itu memang merupakan kebiasaannya, setiap kali kalau gurunya
sedang sendirian dengan aleman ia suka gelendoti gurunya seperti tingkah anak kecil yang manja.
Setiap kali Khu Teng suka pondong dirinya serta cium-cium jidatnya, tanpa ada reaksi apapun. Hal
demikian telah dilakukan sejak Khu Leng Lie di pungut dari hutan oleh jago tua itu.
Tapi kali ini lain, ketika Khu Leng Lie berada dalam pelukannya, Khu Teng merasakan hatinya
terguncang, badannya gemetar dan ia tidak berani memondong lagi. Hanya sepasang matanya
yang memandang tidak berkedip kepada Khu Leng Lie.
Khu Leng Lie merasa heran, untuk menggirangkan hati suhunya, maka ia lalu merangkul leher
Khu Teng, dan dengan sangat manja ia memanggil-manggil :" Suhu! Suhu! Apa kau sudah tidak
sayang lagi pada Leng Lie?"

Sambil bertanya Khu Leng Lie terus duduk di pangkuannya.
Tiba-tiba Khu Teng pentang tangannya, rupanya ia hendak memondong Leng Lie, tapi
mendadak ia seperti ingat sesuatu sehingga ia tidak jadi memondong, sebaliknya ia malah
mendorong badan Leng Lie dengan perlahan sambil menghela napas panjang dan berkata: "Leng
Lie, aku tidak apa-apa, pergilah kau ke dapur dan siapkan makanan."
Sang murid mengerlingkan matanya dan berlalu dari hadapan suhunya.
Khu Leng Lie yang dilahirkan dari hubungan gelap, sudah merupakan bibit durhaka, apalagi ia
dibesarkan oleh air susu binatang, hingga menjadikan ia seorang yang sifatnya kurang normal. ia
tidak mengerti apa-apa soal hubungan antara pria dan wanita. Tapi sejak kehormatannya dirusak
oleh laki-laki tidak dikenal itu, terjadilah perubahan pada dirinya.
Hawa nafsunya sangat tinggi, belakangan ini ia menggelendoti dan duduk di pangkuan
suhunya ada maksudnya, ia mengharapkan suhunya nanti berbuat atas dirinya seperti yang
dilakukan laki-laki yang tidak dikenal tempo hari.
Khu Teng usianya sudah lebih dari setengah abad, masih tetap perjaka, namun betapapun
teguh imannya, akhirnya ia tidak tahan juga menghadapi godaan muridnya dan terjadilah
hubungan yang memalukan antara guru merangkap ayah angkat dengan murid atau anak
angkatnya sendiri....
Buat Khu Leng lie yang memang setengah liar masih tidak mengapa, tapi Khu Teng yang
sebegitu jauh dapat mempertahankan kedudukannya sebagai perjaka, sesungguhnya harus dibuat
menyesal.
Sejak malam itu, hingga selanjutnya mereka telah merupakan suami istri, ya suami istri yang
ganjil dalam segala-galanya. Perbuatan mereka tidak kenal batas, tidak heran baru kira-kira satu
tahun, keadaan Khu Teng sudah loyo.
Khu Leng Lie merasa kurang puas menghadapi keadaan Khu Teng, terpaksa Khu Teng
menggunakan obat kuat. Ia adalah seorang kangouw kenamaan, mengerti juga ilmu obat-obatan,
selain daripada itu ia juga masih mempunyai kitab wasiat yang bernama Ban-po Khie-sie, yang
didalamnya memuat segala rupa pengetahuan.
Khu Leng Lie otaknya cerdas, disamping belajar ilmu silat, ia juga mendapat pelajaran ilmu
surat. Dalam waktu tiga tahun, ia sudah dapat membaca dan memahami maksudnya. Kalau Khu
Teng sedang keluar mencari obat-obatan, ia suka mencuri baca kitab wasiat Khu Teng. Dari situ ia
mendapat pengetahuan caranya untuk menghisap hawa kaum lelaki guna membikin perempuan
awet muda. Sebagai seorang yang bermoral bejat, Leng Lie sudah tentu tidak perduli akibat dan
bahayanya perbuatan tersebut.
Sejak hari itu, ia lantas coba praktekkan dan buktikan ajaran-ajaran yang ia dapatkan dari kitab
tersebut. Sang suhu yang dijadikan percobaan memang sudah mulai lemah keadaannya, sudah
tentu ia tidak tahan hingga akhirnya melayanglah jiwanya.
Setelah Khu Teng binasa, khu Leng Lie baru tahu bahayanya, namun orangnya sudah mati,
menyesal juga tiada gunanya. Ia juga tidak mengerti bagaimana orang yang mati harus dikubur,
maka ia biarkan jenazahnya Khu Teng menggeletak begitu saja, sedang ia sendiri lalu membawa
barang-barang peninggalan Khu Teng balik lagi ketempat tiggalnya orang utan yang pernah
membesarkan dirinya.

Didalam guanya orang utan itu, Khu Leng Lie setiap hari membaca Ban-po Khie-sie yang
mengandung bermacam-macam pelajaran. Hanya diwaktu malam, perasaannya selalu merasa
gelisah. Dalam keadaan demikian maka akhirnya ia telah melakukan hubungan tidak senonoh
dengan orang utan jantan. Orang utan ini meskipun seekor binatang, tapi tidak urung binasa juga
kehabisan tenaga.
Melihat pasangannya binasa, si betina menjadi murka. Tapi mengingat kepandaian ilmu silat
Khu Leng Lie tinggi sekali, orang utan itu tidak berani mendekat padanya. Ia tahu Leng Lie suka
membaca kitab Ban-po Khie-sie, maka dianggapnya kitab itu tentu benda kesukaan Leng Lie,
orang utan itu lantas mencuri kitab tersebut, kemudian melarikan diri.
Leng Lie sangat marah, ia mencari ke segala penjuru tempat itu, tapi sia-sia saja, entah
kemana orang utan betina itu bersama kitabnya Ban-po Khie-sie.
Tidak lama kemudian, di kalangan kangouw lantas muncul seorang wanita aneh. Orangnya
masih muda, parasnya cantik tapi pakaiannya hanya selembar kain yang menutup seluruh
tubuhnya.
Ia mempunyai kepandaian ilmu silat tinggi sekali, karena parasnya cantik seperti bidadari dan
kelakuannya yang genit, maka mudah saja baginya memikat kaum lelaki, siapa saja yang mau
pada dirinya ia tidak menolaknya. Tapi, jika tidak memuaskan hatinya, malam itu juga sudah
dibikin tamat riwayatnya. Kalau yang bisa memuaskannya, paling lama juga tahan sepuluh hari
atau setengah bulan, dan akhirnya pun mengalami nasib yang sama.
Wanita itu adalah Khu Leng Lie. Dunia kangouw telah dibuat gempar oleh kejadian-kejadian
ini. Ada orang-orang gagah dari golongan muda yang ingin mencoba-coba memberantasnya,
meski perbuatannya itu berarti pertaruhan jiwa. Tapi tetap ada yang berlaku nekat sehingga
akhirnya tidak pulang kembali ke rumahnya.
Perbuatan Khu Leng Lie itu akhirnya menimbulkan gusar diantara tokoh-tokoh kuat dari dunia
persilatan. Mereka pada berusaha hendak menangkap dan membinasakannya.
Tapi, ilmu silat Khu Leng lie memang hebat, segala macam guru-guru silat biasa saja, tiga
puluh orang belum tentu mampu menghadapinya. Sekalipun tokoh kelas satu di dunia kangouw,
juga tidak mudah mengalahkan dirinya.
Kemudian tersiar kabar bahwa Kiam-kun Sam-lo atau tiga orang tua Kiam-kun yang sangat
terkenal hendak keluar mencari dirinya. Entah apa sebabnya wanita itu lalu menghilang, bahkan
empat puluh tahun lamanya sudah tidak kedengaran lagi kabar beritanya.
Kini Khu Leng Lie sudah berusia lebih dari enam puluh tahun, tapi kelihatannya masih seperti
wanita muda yang baru berusia dua puluh tahun, sedikitpun tidak kelihatan tuanya.
Selama empat puluh tahun itu benarkah ia menghilang? tidak, ia hanya meninggalkan daerah
Tionggoan dan pergi ke Kwan-gwa. Cuma di daerah itu ia bisa mengendalikan dirinya, ia tidak
berlaku sembarangan lagi. Ia juga sudah pandai memilih, hanya laki-laki yang ia suka yang baru ia
pikat, juga tidak lantas dibinasakan. Baru setelah ia benar-benar merasa bosan, lalu ia hisap habis
tenaganya.
Tapi ia juga tidak membinasakan para korbannya itu, ia berikan sang korban sedikit kekuatan
lalu dilepaskannya. Laki-laki yang bagaimanapun gagahnya, setelah pulang, lantas menjadi
seorang laki-laki yang kurus kering dan tidak bertenaga.

Kali ini, ia kembali dari Kwan-gwa, karena mendadak ia mendengar kabar bahwa kitabnya
Ban-po Khie-sie khabarnya muncul di daerah selatan. Kitab itu peninggalan Khu Teng, ia anggap
juga kepunyaannya. Maka ia lantas berangkat ke selatan untuk mencari kitabnya tersebut. Tidak
nyana ditengah jalan ia dibikin basah kuyup oleh hujan yang turun sangat lebat dan tidak hentihentinya,
maka ia lantas berteduh di kuil tersebut.
Tidak disangka, ketika ia sedang mengeringkan pakaiannya di perapian, Kim Houw juga ikut
berteduh di kuil tersebut.
Ilmu mengentengkan tubuh Khu Leng lie boleh dikatakan berasal dari alam, karena sejak bayi
ia di asuh oleh orang utan. kemudian ia mendapat didikan ilmu silat dari Khu Teng, kemajuannya
semakin pesat, ditambah lagi latihannya selama beberapa puluh tahun ini, maka kepandaian ilmu
silatnya tidak boleh dianggap ringan.
Ketika ia melihat wajah Kim Houw yang tampan, usianya yang masih muda belia serta
badannya yang kokoh kekar, seketika itu juga timbul sukanya, maka dengan ilmu gaibnya ia coba
memikat diri anak muda itu.
Siapa nyana dalam keadaan genting, ia telah dikejutkan oleh munculnya gambar tengkorak
manusia dengan anak panah.
Semula ia masih mengira bahwa setan tua itu sengaja mengirim seorang anak muda yang
tampan untuk memancing dirinya, maka dalam hatinya sudah ingin membinasakan Kim Houw
saja.
Diluar dugaan kepandaian ilmu silat anak muda itu jauh lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri.
Kalau tidak karena Kim Houw menganggap ia adalah seorang yang pandai luar biasa dan terus
menyerang dengan tidak ragu-ragu, mungkin dalam beberapa gebrakan saja, Leng Lie sudah
terjungkal ditangan anak muda itu.
Khu Leng Lie terus melakukan serangan dengan hebat, tapi menyaksikan Kim Houw dengan
mudah saja menghindarkan setiap serangannya, dalam hati merasa sangat gemas. Tapi
berbareng dengan itu, ia juga lantas dapat kenyataan bahwa anak muda itu agaknya bukan anak
muridnya si setan tua, sebab semua gerakannya jauh berlainan dengan ilmu silat si setan tua.
Dengan demikian, maka ia lantas hentikan serangannya, kembali dengan senyumannya yang
menggiurkan hati, ia berkata :" Adik kecil, barusan aku benar-benar salah paham! Sekarang kita
tak usah berkelahi, lebih baik kau menikmati nyanyian dan tarianku saja!"
Sehabis berkata, benar-benar ia lantas menyanyi dan menari di bawah hujan lebat itu.
Kim Houw tidak mau ambil perhatian. Ia hendak pejamkan matanya, tapi sudah tidak keburu
lagi. Juga rasanya amat sukar seolah-olah ada yang mengganjal kelopak matanya.
Sebentar saja Kim Houw kembali dibuat silau oleh gerakan-gerakan Leng Lie, hingga
pikirannya terguncang hebat.
Hujan lebat telah berhenti, matahari muncul dari balik awan, menyinari bumi yang sudah basah
kuyup tersiram air hujan.
Di sebuah puncak bukit yang tidak terlalu tinggi, ada sepasang muda-mudi. Si pemuda
meletakkan kepalanya di atas pangkuan si pemudi, agaknya ia sedang tidur nyenyak. Tingkah laku
si pemuda nampak begitu mesra, mereka seakan-akan seperti sepasang merpati.
Hanya mereka itu seperti pasangan dewa yang turun dari kahyangan, tidak mirip dengan
manusia biasa.

Mengapa? Sebab sepasang muda mudi itu, meski saat itu ada ditengah siang hari bolong,
keduanya dalam keadaan setengah telanjang, tidak mengenakan pakaian luar, agaknya sudah
tidak kenal apa artinya malu? Apa artinya kesopanan?
Siapakah mereka? Mereka bukan lain adalah Kim Houw dan Leng lie.
Pembaca tentu merasa heran, sebab apa Kim Houw jadi main gila begitu? Kewajibannya
masih belum selesai, bagaimana ia bisa mempunyai kesempatan bersenang-senang dengan
wanita cantik.
Kenapa sebetulnya dia? Mari kita lihat duduk perkaranya.
Kim Houw karena terkena pengaruh gaib dari Leng Lie, sebentar saja telah gelap pikirannya,
hatinya terguncang, sepasang matanya tidak bisa dipejamkan lagi.
Apa yang dilihatnya hanya tubuh Leng Lie yang putih montok, dan yang didengarnya hanya
suara nyanyian Leng Lie yang amat merdu.
Jatuhnya hujan lebat, gemuruhnya suara geluduk, berkelebatnya kilat yang menakutkan,
semua tidak menyadarkan Kim Houw kembali ke pikirannya yang sehat. Ia seperti dalam keadaan
linglung, tidak ingat lagi siapa dirinya.
Kim Houw terjatuh di bawah pengaruh Khu Leng Lie.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara halilintar, sebuah pohon telah disamber rubuh, tepat
menimpa kearah Kim Houw.
Anak muda ini yang dikiranya sudah mabuk sekalipun di ancam pedang tajam, ia juga tidak
akan menyingkir, apalagi cuma rubuhnya sebuah pohon saja!
Pohon itu besar sekali, sekalipun Kim Houw mempunyai kekuatan luar biasa, mungkin akan
remuk badannya jika ketimpa.
Tapi Kim Houw seolah-olah tidak tahu bahaya mengancam, hanya Khu Leng Lie yang
mengerti.
Sembari menjerit lantas sendiri loncat mundur.
Tapi dengan perbuatannya itU, Kim Houw lantas seolah-olah lukanya orang kalap mengejar
Khu Leng Lie.
Meskipun Kim Houw mempunyai kekuatan dan ketangkasan luar biasa, tapi biar bagaimana
sudah agak terlambat setindak, maka akhirnya terpukul hebat oleh dahan pohon yang besar yang
roboh itu.
Meski jiwanya tidak melayang seketika, tapi lukanya tidak ringan, karena tubuhnya terpental
sampai beberapa tumbak jauhnya dan ketika terjatuh kepalanya membentur tanah, sehingga ia
tidak ingat orang!
Pemuda yang meletakkan kepalanya di atas pangkuan si wanita cantik, adalah Kim Houw.
Hanya, ia bukannya terbenam dalam lamunan yang muluk, melainkan dalam keadaan pingsan,
hingga saat itu sudah hampir satu hari satu malam lamanya, namun belum kelihatan ia mendusin.

Tapi kemudian ia mendusin dengan mendadak. Ia membuka matanya perlahan-lahan, ia
merasa silau oleh sinar matahari, lalu kucek-kucek matanya sekian lamanya, baru bisa melek.
Ia terkejut dapatkan dirinya dalam keadaan setengah telanjang. Lebih kagetnya ketika
mengetahui kepalanya rebah di pahanya orang, ketika ia tegasi ternyata ada satu wanita cantik,
tengah tertawa manis memandang dirinya.
"Adik kecil, kau sudah mendusin?" tanya si cantik.
Kim Houw belum sempat menjawab, sekilas sudah dapat dilihatnya si cantik juga dalam
keadaan setengah telanjang seperti dirinya sendiri.
Segera ia melompat bangun dan menanya: "Kau siapa...?"
Siapa? Siapa lagi kalau bukan Khu Leng Lie, tapi Kim Houw sudah tidak ingat semua kejadian.
Baru menanya demikian, Kim Houw tiba-tiba ingat keadaannya sendiri, hingga tidak perdulikan
lagi siapa adanya si cantik, lantas saja buru-buru lari turun dari bukit!
Di belakangnya ia dengar suara Khu Leng Lie yang memanggil-manggil: "Adik kecil, kau
mengapa begitu tidak punya perasaan? Aku telah menolong jiwamu, menggadangi kau satu hari
satu malam lamanya, mengapa kau tidak mengucapkan terima kasih kepadaku, bahkan, oh..."
Kim Houw meski sedang lari bagaikan terbang, semua perkataan Khu Leng Lie ia masih bisa
dengar dengan jelas, maka ia mengetahui bahwa wanita itu sedang mengejar padanya.
Oleh karena keadaannya sendiri yang kurang sopan, Kim Houw tidak berani berhenti.
Pada suatu tikungan, Kim Houw berhasil sembunyikan dirinya dalam sebuah pohon besar
yang daunnya lebat.
Tidak lama kemudian, satu bayangan putih kelihatan melesat dihadapannya.
Setelah bayangan putih itu lewat, Kim Houw mulai agak tenang. Tapi kesulitan lainnya segera
menyusul karena akibat kecelakaan, gara-gara pohon besar yang disambar petir, penyakit
lamanya telah kambuh kembali. Sekali lagi ia berada dalam keadaan linglung, ia sudah hilang
ingatannya, segala-galanya lupa.
Tapi kali ini keadaannya ada mengenaskan! Dulu, ketika ia dapat penyakit demikian sedang
berada dalam Istana Kumala Putih di gunung Tiang-pek-san, ada orang hutan yang merawat
dirinya, ada Kim Lo Han yang memberi obat padanya, tapi di sini tiada siapapun juga!
Untung ia masih mengenal malu, kalau perasaan malunya sudah tidak ada, benar-benar
baginya ada sangat celaka!
Ia murung saja, siapa dirinya, ia tidak tahu, apa yang diucapkan oleh Khu Leng Lie
menambahkan kebingungannya. Ia pukul-pukul kepalanya sendiri sampai matanya berkunangkunang,
tapi masih belum mendapatkan jawaban apa-apa, bahkan makin kepala itu dipukul, ia
makin linglung.
Di atas pohon ia sembunyi sekian lama, ketika mengetahui Khu Leng Lie tidak balik lagi, ia lalu
turun dengan diam-diam dan balik lagi ke atas bukit untuk mengingat-ingat dirinya.
Bukit itu sebelum Kim Houw linglung, sama sekali belum pernah ia datangi, kemana ia harus
mencari jalan?

Namun tidak sia-sia ia naik ke bukit itu, karena di atas bukit itu, ia telah menemukan
pakaiannya. Selain daripada itu, ia juga menemukan kembali senjata wasiat Bah-tha Liong-kim
dan pedang Ngo-heng-kiam! Khu Leng Lie cuma mengopeni dirinya Kim Houw saja, hingga tidak
perhatikan yang lainnya, maka semua wasiat itu masih ketinggalan di situ.
Kim Houw girang menemukan pakaiannya sendiri sekalipun sudah tidak karuan macamnya.
Sebaliknya ketika melihat Bak-tha Liong-kim dan pedang Ngo-heng-kiam, ia terperanjat.
Pikirannya ia pernah lihat dua senjata itu tapi dimana, entahlah. Ia coba mengingat-ingat tapi
sia-sia saja tidak menemukan jawaban.
Dengan membawa kedua senjatanya Kim HOW turun ke bawah bukit lagi. Tapi ia sekarang
sudah tidak mempunyai ingatan lagi, tak mempunyai tujuan dalam dunia yang lebar ini, tidak tahu
kemana harus pergi.
Masih untung, dia tidak berjalan ke jalanan yang menuju ke dalam jurang. Sekalipun ia tidak
tahu harus pergi ke kota Ceng-shia, namun ia berjalan menuju ke timur.
Sepanjang jalan, Kim Houw hanya mencari binatang-binatang kecil atau memetik buah-buahan
untuk tangsal perutnya. Sisa waktunya ia gunakan untuk mengingat-ingat, siapa sebetulnya ia?
Mengapa dirinya sendiri ia sudah tidak dapat kenali?
Tapi setiap kali memikir, kepalanya malah menjadi pusing kalau sudah begitu, lantas guyur
kepalanya dengan air dingin untuk memulihkan ketenangannya, ia lakukan berulang-ulang, tapi
sia-sia saja. Dapat dibayangkan sampai dimana jengkelnya ia pada kala itu.
Pada suatu hari, ia tiba di sebuah kota. Seperti biasa, ia berjalan tanpa tujuan, ketika tiba di
depan sebuah rumah makan, bau harum barang hidangan dari rumah makan telah membuat rasa
laparnya menjadi-jadi. Sehingga ia berdiri melongo di depan pintu sekian lamanya.
Mendadak pundaknya ada orang yang menepuk, Kim Houw berpaling seorang laki-laki gendut
pertengahan umur sedang mengawasi padanya sembari ketawa. Ketawa toh tidak bermaksud
jahat, maka ia juga balas ketawa!
"Tuan ada punya tempo? Bolehkah kita omong-omong sebentar? Biarlah siaute yang menjadi
tuan rumah." orang laki-laki gendut itu. Dan tanpa menunggu jawabannya, si gendut sudah tarik
tangan Kim Houw diajak masuk ke rumah makan.
Kim Houw memang sudah lapar, maka ia juga tidak malu-malu lagi. "Tanpa pikir orang itu, ada
orang baik atau jahat, ia ikut saja dan manda dirinya ditarik. Suruh ia duduk, suruh ia makan, ia
juga makan dengan lahapnya !
Laki-laki gemuk itu nampaknya sangat royal, ketika menampak Kim Houw dahar dengan
sangat bernapsu, berulang-ulang minta ditambah hidangan.
Ia biarkan Kim Houw menyikat makanan sehingga berhenti sendiri kekenyangan.
Sampai disitu, si gemuk baru majukan pertanyaannya : "Numpang tanya tuan siapa namanya?
Asal dari mana?"
Celaka!. Hidangannya sudah disikat habis menanyakan namanya toh bukan suatu perbuatan
yang tidak layak. Tapi siapa sebetulnya ia, Kim Houw sendiri tidak ingat, bagaimana harus
menjawab!

Seketika itu wajahnya lantas merah, Kim Houw tidak bisa menjawab.
"Apa tuan kurang leluasa memberi nama? tidak halangan. Sebutkan saja shemu! Kita toh
sudah bersahabat, sudah seharusnya mengetahui nama masing-masing. betul tidak?" kata pula
orang itu sambil ketawa.
Sebutkan shenya saja? Tapi she apa sebetulnya? Hati Kim Houw berdebaran, bukan karena
takut tapi merasa tidak kenal.
Sebab terhadap satu sahabatnya yang baru dikenal, bagaimana kita mengatakan bahwa she
dan namanya sendiri tidak tahu? Bahkan itu adalah lelucon besar?
Maka ia lantas putar Otak, ia hendak mencari she sembarangan saja, tapi she apa sebaiknya?
Ia sendiri juga tidak bisa memilih!
She Tio, she cian, she Sun, Lie, Ciu, The ataukah Ong....? Mana yang lebih baik?.
Akhirnya ia pilih satu yang tersebut pertama, ialah she Tio! she ini baik dalam anggapannya
Kim Houw maka ia lantas menyebut: "Aku yang rendah ada seorang she Tio. Tuan sendiri siapa
namanya?"
Laki-laki gemuk itu lantas tertawa bergelak-gelak.
"Aku yang rendah adalah she Cian, dalam urutan keluarga aku jatuh nomor dua, maka
sahabat-sahabat pada manggil aku Cian Lo ji. Tuan she Thio, ternyata masih berada di atasku,
benar-benar hebat. Biasanya aku suka menganggap bahwa she-ku itu termasuk paling atas
diantara begitu banyak she, sehingga aku kadang-kadang merasa bangga sendiri. Tapi hari ini di
depan tuan, aku tidak biasa banggakan diri lagi!" demikian si gemuk menjawab Cian Lo-ji itu,
agaknya doyan mengobrol. Apa saja ia katakan, rupanya seperti yang mengerti banyak urusan,
namun sebetulnya tidak ada kebecusannya. Bicara tentang kepandaian ilmu silat, Cian Lo-jie
lantas sombongkan dirinya, ia berkata dengan satu tiupan saja ia bisa bikin orang jumpalitan
sampai tiga kali. Itu masih belum terhitung apa apa, ilmu sedotnya adalah lebih hebat lagi, sekali
sedot orang yang berada di suatu tempat tiga tumbak lebih jauhnya lantas bisa tersedot tubuhnya!
Kim Houw mendengarkan dengan perasaan kagum. Ia kagum karena si gemuk agaknya
mengerti banyak urusan dan semua bisa!
Tapi ketika si gemuk membicarakan. soal ilmu silat, perhatian Kim Houw lantas berkurang, itu
bukannya ia tidak percaya perkataan Ciau Lo jie, ia cuma merasa bahwa kecuali kepandaian ilmu
silatnya yang masih belum dilupakan, hal yang lainnya semua sudah lenyap dari ingatannya!
Ilmu silatnya itu sudah cukup membuatnya pusing kepala, dari ilmu silatnya itu ia hendak
mengingat-ingat kembali segala kejadian yang sudah lalu, tapi sia sia. Akhirnya ia merasa jemu
terhadap kepandaiannya sendiri!
Ia pikir, segalanya sudah tidak ingat lagi, alangkah baiknya jika ilmu silatnya juga terlupa sama
sekali.
Cian Lo-jie agaknya mengerti kalau Kim Houw kurang gembira, lalu mencoba menghibur
dengan rupa rupa akal. Dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebutir batu permata yang besar
sekali. lalu diletakkan di depan Kim Houw sembari berkata: "Tio Lo tee kau lihat batu permata ini
tidak jelek bukan?"
Kim Houw sudah banyak lihat barang permata yang berharga, tapi semua itu tidak menarik
hatinya, maka terhadap barang permata Cia Lo-ji ia tidak pandang mata.

Cuma karena sinarnya yang gemerlapan, masih boleh juga, tapi Kim Houw tidak menyatakan
pendapatnya, hanya anggukan kepala saja. Tidak nyana bahwa barang permata itu justru telah
mengembalikan sedikit ingatannya, ia ingat-ingat seperti pernah melihat barang permata begituan,
entah dimana!
Cin Lo ji melihat Kim Houw menganggukkan kepala, lantas ambil kembali batu permatanya,
kemudian ditekan dengan dua jarinya dan batu itu lantas hancur berkeping-keping.
Menyaksikan kejadian itu. bukan main kagetnya Kim Houw. la anggap bahwa si gemuk ini
benar-benar lihay, batu permata yang lebih keras daripada besi atau baja ternyata bisa
dihancurkan demikian mudah.
Cian Lo-ji ketawa gelak-gelak, agaknya sangat bangga atas perbuatannya tadi.
"Ho Lo-tee !" katanya tiba-tiba. "Aku ada sedikit pertanyaan, entah boleh kuucapkan atau
tidak?"
"Cian Ji-ko hendak menanya, apa salahnya?" jawab Kim Houw.
Cian Lo-ji berpikir sejenak, baru berkata: "Sebetulnya pertanyaanku juga bukan bermaksud
menghina, hanya aku lihat kau bukan orang jahat, mengapa pakaianmu begitu mesum, entah apa
sebabnya? Kau dari mana hendak kemana?"
Kim Houw lihat-lihat pakaiannya sendiri, memang tidak keruan macamnya. Tapi ia juga
merupakan suatu hal yang memusingkan dirinya, karena ia sendiri juga tidak tahu apa sebabnya
bisa jadi begitu rupa?"
Dari mana? Hendak kemana? Semakin tidak tahu. Maka ia cuma bisa memandang melongo
memandang Cian Loji.
Nampak Kim Houw lama tidak bisa menjawab dan hanya memandang dengan bengong Cian
Lo ji berkata pula: "Apa ada kau lihat yang sukar diutarakan? Kalau begitu sudah saja. Jika kau
sudi ikut aku, aku pasti bisa mencarikan kau suatu pekerjaan yang baik untukmu, bahkan aku
dapat merawat baik-baik diri kau. Mengapa wajahmu mirip benar dengan adikku yang telah
menghilang dari sampingku"
Dalam pembicaraannya Cian Lo-ji agaknya menaruh banyak perhatian atas dirinya Kim Houw,
sehingga Kim Houw mulai tergerak hatinya. Pikirnya, mungkin aku adalah adiknya, tapi ia betulbetul
tidak ingat ada mempunyai kakak seperti si gemuk ini!
Karena ia tidak mempunyai tujuan yang tertentu, pikirnya apa salahnya kalau ikut dia!
Cian Lo-ji membayar rekening makanya ia ajak Kim Houw pergi ke toko pakaian. Ia membeli
dua potong baju panjang, sepatu, kaus kaki, dan pakaian dliam.
Barang-barang yang ia beli meski barang bekas dipakai, tapi cocok untuk badan Kim Houw.
Sekarang Kim Houw berubah gagah dan cakap.
Cian Lo-ji benar-benar memperlakukan Kim HouW seperti adiknya sendiri, segala-galanya ia
perhatikan benar-benar.
Entah kebetulan atau sengaja, Cian Lo-ji telah ajak Kim Houw menuju ke selatan. Dua hari
kemudian, sudah tiba di kota Liong Khe, yang letaknya dekat dengan kota Ceng-shia.

Ketika dua orang itu tengah enak-enak berjalan, tiba-tiba ditegor orang. "Aha! Cian-jiko, lama
tidak ketemu, apa kau ada baik?"
Cian Lo-ji berpaling, lantas ketawa dan menjawab: "Kukira siapa, kiranya Siauw-siaucu. Aku
jika seorang bernasib jelek, bagaimana bisa senang? Mungkin adikku ini mempunyai roman
gagah, di kemudian hari tentu akan hidup senang, barangkali aku nanti akan mengandal
padanya!"
Cian Lo-ji berkata sambil menunjuk Kim Houw yang dikatakan adiknya. Tapi orang she Sauw
itu begitu melihat Kim Houw, badannya lantas gemetar, hampir saja ia menjerit dan kabur.
Cian Lo-ji cepat menjambret padanya.
"Kau kenapa? Apakah kau sudah gila? Mengapa mau lari?" tegurnya.
Apa sebabnya orang she Sauw itu begitu lihat Kim Houw lantas kabur! kiranya dia itu adalah
murid kepala Ciok Goan Hong, Souw Coan Hui. Dulu, ketika Kim Houw didesak masuk ke dalam
Istana Kumala Putih di dalam rimba keramat, Souw Coan Hui pernah menguntit dan menimpuk
dirinya dengan senjata piaw.
Souw Coan Hui yang selalu bergelandangan di dunia Kangouw, sudah tentu dapat dengar
dengar segala urusan yang menyangkut diri Kim Houw. Musuh lama telah bertemu muka,
bagaimana ia tidak ketakutan?
Ketika dijambret oleh Cian Lo-ji, benar-benar ia sudah terbang semangatnya, tapi mendadak
seperti menemukan apa-apa pada diri Kim Houw, yang saat itu tidak bergerak atau bicara, hingga
ia anggap mungkin Kim Houw sudah melupakan dirinya. Oleh karena itu, maka hatinya mulai
tenang.
"Cian Jiko, kau kenapa? Di tengah jalan raya kau tarik-tarik badan orang, apa maksudmu ini?
Aku tadi karena ingat suatu hal penting, terpaksa hendak pergi. Dan kalau kau memerlukan diriku,
apa boleh buat. Apakah kau hendak suruh aku minum dua cawan arak? Tidak apa, biarlah aku
urungkan maksudku!" demikian Coan Hui berkata.
"Namaku toh Cian Gan Khai, kau tahu bukan? Hari ini karena ada barang dagangan besar,
baru memerlukan kau. Tidak apa kalau kau ingin minum dua cawan arak, cuma sekali ini jangan
coba main gila, sudah tenggak arak lantas kabur..." kata Cian Lo-ji sambil ketawa terbahak-bahak.
Souw Goan Hui tidak mengerti apa maksudnya she Cian itu, lalu melirik pada Kim Houw
sejenak, ia dapat kenyataan bahwa Kim Houw keadaannya seperti orang linglung, beda
keadaannya dengan masih waktu kanak-kanak. Apa yang tersiar di kalangan Kangouw makin jauh
bedanya. Maka diam-diam ia lantas berpikir. Apakah dia bukan Kim Houw? Rasanya tidak
mungkin! Apa Lo-ji menggunakan obat membikin ia bingung?
Pikirannya kerja keras, sedang mulutnya menyahut: "Cian Jiko, kau dengan aku sudah seperti
saudara saja, masa perlu merendah! Kalau kau ada urusan apa-apa, bicaralah terus terang! Asal
tenagaku mampu lakukan, tidak nanti menolak permintaanmu, tidak usah putar-putar
pembicaraanmu..."
"Kalau urusan ini nanti berhasil, aku tidak akan merugikan kau. Apa yang kau ingin bicarakan
justru mengenai Tio Le-te ini!" kata Cia Lo-ji sambil menunjuk Kim Houw.
Soan Coan Hui diam-diam merasa heran. Mengapa Kim Houw mendadak berobah menjadi
orang she Tio? Ia lalu berlagak tidak kenal pada Kim Houw, ia anggukan kepala, sebagai tanda

belajar kenal. Kim Houw melihat Souw Coan Hui mengangguk kepadanya ia juga balas dengan
anggukan kepala. Ia seperti belum pernah kenal Souw Coan Hui.
Menepuk keadaan demikian, Souw Coan Hui makin tenang.
Cian Lo-ji menarik tangan Souw Coan Hui, lalu bicara bisik-bisik di telinganya: "tolol, jangan
kesusu makan saja paling penting urus perkara yang perlu dulu. Tio Lo-teko ini, dia betul she Tio
bukan, mungkin dia sendiri juga tidak tahu. Sebab aku berada bersama-sama dengannya
beberapa hari lamanya, aku sering lihat dia pukuli kepalanya sendiri, menanyakan dirinya sendiri
siapa. Coba kau pikir di dunia mana ada orang yang tidak kenal dirinya sendiri? Namun
kepandaian silatnya hebat sekali. Maksudku memikat dia, sebab dalam badannya ada membawabawa
dua rupa benda wasiat yang harganya dapat digunakan untuk membeli sebuah kota!
Dengan menggunakan sedikit uang, aku dapat menempel dia. Aku sebetulnya hendak mencuri
secara diam-diam, tapi jangan kau anggap dia tolol. Sungguhpun kelihatannya tolol, tidak
gampang-gampang di disentaknya. Akhirnya, aku coba menggunakan obat tidur, siapa tahu obat
tidur ternyata tidak mempan terhadap dirinya. Dia cuma duduk bersemedi sebentar, lantas
sadarkan dirinya lagi. Aku benar-benar kewalahan menghadapi dia.
"Aku sebetulnya merasa penasaran, biar bagaimana aku harus dapat garuk sedikit keuntungan
daripada dirinya, baru merasa puas! Eh, Souw, otakmu sangat cerdas, cobalah carikan akal! Kalau
kita berhasil memiliki barang-barang wasiatnya, kita nanti jadikan uang dan bagi dua, bagaimana
kau pikir?"
Souw Coan Hui mendengar keterangan Cian Lo-jie bahwa di badannya anak muda itu ada
membawa-bawa benda wasiat dan kepandaiannya sangat tinggi, pikirnya benar-benar dia mirip
dengan Kim Houw yang ramai dibicarakan di kalangan Kangouw. Tapi mengapa keadaan dia
seperti orang linglung?
Ia pura-pura menengok dan memanggil "Kim Houw!"
Kim Houw mendengar suara itu, sekujur badannya tergetar, seketika itu ia seperti kaget, lalu
menanya: "Saudara Souw ini, kau panggil siapa? Aku rasanya pernah kenal nama dan suara
saudara ini, tapi entah dimana? Coba kau panggil sekali lagi!"
Mendengar perkataan Kim Houw, Souw Coan Hui tahu bahwa dugaannya tidak keliru. Pemuda
itu adalah Kim Houw, sudah tidak bisa salah lagi. Tapi mengapa ia bisa hilang ingatannya? Ia
benar-benar aneh!
Souw Coan Hui adalah seorang licik dan berbahaya, sudah tentu tidak mau mengembalikan
ingatan Kim Houw.
"Yang aku panggil adalah Keng Go, nama ini siapa yang belum pernah dengar?" jawabnya,
lalu berkata kepada Cian Lo-ji: "Cian-jiko, bukan aku tekebur, aku tanggung kau bisa dapat untung
besar! Kau tunggu di sini sebentar, aku segera kembali!"
Sehabis berkata, dengan jalan separuh melompat ia lari keluar.
Setengah jam kemudian, Souw Coan Hui sudah balik kembali, diikuti oleh seseorang berbaju
putih, ia ini adalah suhunya Souw Coan Hui. Ciok Goan Hong.
Ciok Goan Hong ketika melihat Kim Houw dalam hari terkejut. Ketika Kim Houw hilang
ingatannya di Istana Kumala Putih, siapapun tidak tahu maka siapa kira kalau kali ini telah kambuh
kembali?

Ciok Goan Hong mendapat kabar dari Souw Coan Hui, semula ia tidak dapat percaya, tapi
setelah menyaksikan sendiri, mau tidak mau ia harus percaya. Ia memang kenal dengan Cian Loji,
maka sengaja ia menggoda: "Cian Lo ji dimana barang permatamu dari beling itu? Coba kau
demonstrasikan sekali lagi untuk aku lihat!"
Ciok-ya kau jangan ketawai aku, muslihatku ini mana aku berani pertunjukkan di hadapanmu?"
jawab Cian Lo ji sambil membungkukkan badan.
Kim Houw benar-benar sudah tidak mengenali Ciok Goan Hong, ia minum sendiri seenaknya.
Apa yang dibicarakan oleh mereka bertiga, ia tidak mau ambil pusing, sekalipun dengar ia juga
tidak mengerti.
Akhirnya mereka berempat tiba di satu pekarangan gedung di luar kota. Di sini adalah pos
pertama untuk jaringan mata-mata yang dipasang oleh Pek-liong-po.
Di tempat itu Kim Houw mendapat perlakuan luar biasa mewahnya.
Malam itu Kim Houw sedang tidur layap-layap, pintu telah terbuka, dari luar masuk seorang
pemuda cakap. Kim Houw ketika dapat lihat pemuda itu, lantas lompat bangun dari tempat tidur
dan menanya: "Kau... kau siapa?"
Orang itu tidak perdulikan pertanyaan Kim Houw, segera memeluk dirinya sambil bercucuran
air mata berkata: "Adik, oh adikku. Bertahun-tahun aku mencari kau, kemana saja kau pergi?"
Orang itu memang benar saudara Kim Houw, Siao Pek Sin.
Kim Houw melihat Siao Pek Sin agaknya sedikit tersadar, sebabnya ialah kebenciannya yang
sangat mendalam terhadap dirinya Siao Pek sin, sehingga kesan buruknya juga sangat
menggores di otaknya. Tapi begitu dipeluk oleh Sin Pek Sin, ingatannya itu lantas buyar lagi!
Dalam keadaan linglung, ia juga balas memeluk Siao Pek Sin. Karena memang wajahnya
mereka seperti pinang dibelah dua. Kim Houw tidak meragukan lagi, keterangan Siao Pek Sin
siapa berlagak menanya ke barat ke timur, seolah-olah sangat sayang terhadap saudara kecilnya
itu.
Pertanyaan Siao Pek Sin itu semuanya adalah kosong, bagaimana Kim Houw bisa menjawab?
Akhirnya Siao Pek Sin beritahukan kepada Kim Houw, bahwa Gian Lo hi itu seorang petani
ulung sekarang sudah digebah olehnya, selanjutnya mereka dua saudara tidak akan berpisah lagi!
Sesudah terang tanah, Siao Pek Sin mengajak Kim HOUw meninggalkan kota Liong-khe. Hari
itu Kim Houw benar-benar tidak melihat Cian Lo-ji lagi.
Mereka menunggang kuda belum sampai dua jam, sudah memasuki Pek-liong-po, yang
terpisah tidak jauh dengan kota Ceng-shia.
Tiba di Pek-liong-po, Kim Houw diperkenalkan pada semua orang-orang Siao Pek Sin.
Sehabis mandi, tukar pakaian dan makan, Siao Pek Sin lalu dorong Kim Houw ke dalam satu
kamar yang mirip dengan tahanan.
"Disini ada sahabatmu dimasa kanak-kanak Touw Peng Peng, ia sedang menantikan
kedatanganmu sampai seperti orang gila!" kata Siao Pek Sin.

Kim Houw baru saja masuk pintu, sudah disambut oleh... sambitan sebuah benda yang
diarahkan ke mukanya, Kim Houw lantas berkelit ke samping, "Prang!" Kim Houw dengar suara
barang beling jatuh pecah di tanah, ternyata itu adalah pot kembang besar yang jatuh hancur
berantakan!
Telinganya kemudian dengar suara bentakan keras: "Kau... iblis, binatang! Kau berani
datang?"
Kim Houw tercengang, lalu menengok ke arah datangnya suara. Seorang wanita muda dengan
rambutnya yang awut-awutan tidak karuan serta wajahnya yang mesum, telah mengawasi dirinya
dengan mata beringas!
Kim Houw yang sudah terpengaruh oleh lagu-lagu Siao Pek Sin, sudah anggap semua yang
ditunjuk dan dikatakan oleh Siao Pek Sin adalah benar. Sebab Siao Pek Sin sudah memberikan
pakaian untuknya yang begitu cocok benar dengan dirinya, membuat ia percaya bahwa semua
pakaian itu adalah kepunyaannya sendiri.
Ia juga percaya bahwa wanita muda itu adalah Touw Peng Peng, kawannya dimasa kanakkanak.
Tapi sedikitpun tidak mempunyai kesan terhadap wanita itu, ia terpaksa mendekati setindak
demi setindak.
"Siao Pek Sin, tahukah kau, sekalipun aku binasa juga tidak sudi kau hina!" tiba-tiba wanita itu
berteriak.
Kim Houw dia dapat lihat di tangannya wanita muda itu memegang sebilah pisau belati yang
sedang ditujukan ke dadanya sendiri, maka lantas ia buru-buru berkata: "Peng Peng, aku bukan
Siao Pek Sin, aku bernama Pek Leng Ji! Apa kau sudah lupa?" kata Kim Houw dalam keadaan
linglung.
Pek Leng Ji adalah nama pemberian Siao Pek Sin. Kim Houw mengira nona itu setelah
mendengar namanya, pasti kaget dan melepaskan pisau belati di tangannya.
Siapa nyana, belum habis ia bicara, nona itu sudah ketakutan seperti orang gila, lalu
memotong pembicaraannya: "Tidak ada gunanya kau memutar otak, segala akal bangsat
begituan, apa kau kira bisa mengelabui mataku? Terus terang, sekalipun mulutmu sendiri
mengatakan bahwa kau adalah Kim Houw, aku juga tidak percaya!"
Tepat pada saat itu Siao Pek Sin muncul di depan pintu.
"Peng Peng, coba kau lihat aku siapa? Sekarang kau boleh bandingkan sendiri. Tentunya kau
mau percaya lekas sambut kekasihmu!" demikian ia berkata.
Dengan munculnya dua orang dengan berbareng, Peng Peng yang tidak mau percaya
terpaksa juga harus putar otaknya! Benarkah orang di depannya itu adalah Kim Houw? Mengapa
ia sebut namanya sendiri Pek Leng-JI?
Wanita muda itu benar Peng Peng, sejak ia tertawan banyak penderitaan telah dialami, untung
ada Ciok Goan Hong yang mau mengopeni, sehingga jiwanya masih belum melayang kelain
dunia.
Kini setelah melihat Kim Houw, ia kesima. Roman Siao Pek Sin serupa benar dengan Kim
Houw. Kalau muncul sendirian, sampai mampus iapun tidak mau percaya.

Peng Peng mendadak ingat pedang Ngo-heng-kiamnya yang ia berikan kepada Kim Houw,
maka lantas berkata: "Kalau benar kau orang yang selalu kupikiri, kau harus ingat bahwa aku
pernah memberikan kau sebilah pedang!"
Pedang! Meski ia sudah tidak ingat dari mana asal usulnya itu pedang, tapi di badannya
memang benar ada sebilah pedang. Ia lalu hunus pedang Ngo-heng-kiamnya, yang lantas
memancarkan sinarnya yang berkilauan.
Peng Peng menghela napas, pisau di tangannya lantas terlepas dan jatuh di tanah. Berbareng
dengan itu, ia juga lantas merasa badannya lemas dan rubuh di tanah. Kemudian menangis
dengan sedihnya seraya berkata: "Houw-ji. Houw-ji! Kau benar-benar telah datang! Misalnya
sudah tidak dapat melihat aku lagi!"
Kim Houw terkejut, ia lompat dan memeluk diri Peng Peng sembari memanggil: "Peng Peng!
Peng Peng..."
Ia memanggil dua kali, lantas merandek. Sebab hal itu rasanya ganjil. Siang dan malam
otaknya selalu memikirkan Peng Peng, ketika memanggil dua kali, dalam otaknya agaknya timbul
kesadaran, dalam keadaan linglung, ia seperti benar-benar pernah kenal dengan nama itu.
Tapi, karena Peng Peng lantas jatuh pingsan, dan Kim Houw harus buru-buru memberikan
pertolongan, dengan terhalangnya keadaan itu, kesadarannya lenyap dari otaknya.
Semua kejadian itu lantas disaksikan dengan jelas oleh Siau Pek Sin. Ia lalu perlihatkan
ketawa iblisnya dan berlalu.
Peng Peng yang berada dalam pelukan Kim Houw, perlahan-lahan mendusin, ketika melihat
keadaan Kim Houw seperti orang linglung ia lalu berkata : "Houw-ji, akhirnya kau datang juga......"
Tidak menunggu habis perkataan Peng Peng, Kim Houw lantas memotong : "Peng Peng,
mengapa kau memanggilku Houw Ji ?"
Peng Peng bingung, ia tidak bisa menjawab. Kemudian ia tundukkan kepalanya, ia merasa
jengah. Jika wajahnya tidak mesum, dikedua pipinya yang putih mungkin dapat terlihat rona
merah.
Tiba-tiba ia berkata dengan suara perlahan: "Engko Houw....." setelah memanggil, kepalanya
menunduk semakin rendah.
Tapi Kim Houw ternyata masih bingung, "Tidak ! Mengapa kau panggil aku Houw...." tanyanya.
Peng Peng hatinya berdebaran, ia kira Kim Houw menghendaki supaya ia penggil lebih mesra
padanya.
Tiba-tiba ia dengar suara Kim Houw pula : "Peng Peng, kau salah mengerti, aku heran
mengapa kau panggil aku Houw ? Sebab namaku adalah Pek Leng-jie, apakah dalam hal ini ....."
Peng Peng mendongak, ia telah dapat melihat wajah Kim Houw selain murung, juga seperti
bingung.
"Apa kau bukan bernama Kim Houw ? Mengapa kau ganti nama menjadi Pek Leng-jie ?" tanya
si nona.

"Kim Houw ! Kim Houw ! Kim Houw ..."
Kim Houw berulang-ulang menyebut namanya sendiri. Nama itu rasanya pernah didengar,
pernah dikenal, tapi entah dimana ? ia sudah tidak ingat lagi !
Akhirnya, ia memukul-mukul kepalanya sendiri, makin lama makin bernapsu oleh karenanya
menjadi makin linglung!
Peng Peng segera cegah perbuatan Kim Houw itu lebih jauh, "Houw-ji kenapa kau? Apa betul
sedikitpun sudah tidak ingat apa-apa lagi?"
Kim Houw gelengkan kepala, "Aku benar-benar tidak ingat semua. Sebetulnya juga bukan
tidak ingat, melainkan seperti belum pernah terjadi seperti bayi yang baru dilahirkan, segala tidak
tahu."
Peng Peng geleng-gelengkan kepalanya lalu duduk disampingnya :
"Baiklah." katanya. "Aku peringatkan kau. Dahulu, dengan seorang diri kau telah memasuki
sebuah rimba keramat di gunung Tiang-pek-san yang sangat ditakuti oleh orang-orang gagah
rimba persilatan, kau telah masuk ke Istana Kumala Putih......"
"Istana Kumala Putih ?" Kim Houw menyebut nama itu, otaknya mendengung.
Peng Peng melihat ia seperti masih bisa mengingat, lantas berkata: "Benar ! Istana Kumala
Putih."
"Istana Kumala Putih !" Kim Houw mengulang nama itu. "Kemudian bagaimana ?"
Kemudian bagaimana ? Ia sendiri juga tidak tahu. Hakekatnya terhadap urusan Kim Houw
selama dua tahun itu, apa yang ia ketahui hanya sedikit sekali, boleh dikata tidak berarti sama
sekali. Maka ia lantas menyahut "Houw-ji biarlah kau linglung untuk sementara. Aku nanti coba
mencari jalan untuk menyembuhkan kau. Cuma kau harus hati-hati, harus dengar perkataanku.
Sebab engkomu itu, Siao Pek Sin, dia adalah musuh besarmu !"
Kim Houw melengak. Ia mengawasi Peng Peng sekian lama.
"Peng Peng, benarkah ucapanmu ini? Aku tidak percaya! Ini tidak mungkin. Diantara saudara,
bagaimana jadi musuh besar?"
Peng Peng belum sampai menjawab, tiba-tiba terdengar orang ketawa yang kemudian disusul
dengan ucapannya: "Nona Houw, usahamu ini benar-benar percuma saja! Bagaimana kau dapat
merenggangkan persaudaraan kita? Adik Leng, mari kita minum arak, biarlah nona Peng Peng
berhias diri dulu!"
Orang yang bicara itu adalah Siao Pek Sin. Tapi hanya terdengar suaranya, tidak kelihatan
orangnya.
Belum sampai Kim Houw menjawab, sudah didahului oleh Peng Peng: "Tidak! Houw-jie kau
jangan tinggalkan aku, jangan! Aku berhias diri, kau harus tunggu diluar. Sebab aku takut.
Sebelum bertemu kau, aku seorang pemberani, apa juga tiada yang kutakuti. Tapi setelah bertemu
denganmu, keberanianku hilang semua. Aku yakin, jika kau meninggalkan aku..
Bicara sampai disitu, Peng Peng telah rubuh...
Peng Peng ternyata dalam keadaan sakit, badannya terlalu lemah.

Dengan sangat hati-hati Kim Houw memondong Peng Peng, berkata perlahan: "Baiklah aku
terima permintaanmu, aku tidak akan meninggalkan kau. Cuma selanjutnya kau tidak boleh lagi
menjeleki nama engko."
Mendengar itu hati Peng Peng seperti diiris-iris, air mata mengucur deras, tapi mulutnya
seperti terkancing.
Pintu terbuka, dari luar masuk dua pelayan wanita dan dua pesuruh. Kim Houw lalu keluar dari
kamar, tapi ia tidak berlalu jauh, benar-benar ia menjaga di luar pintu.
Siao Pek Sin tiba-tiba muncul disampingnya, ia lantas ketawa kepada Kim Houw dan berkata:
"Adik Leng, mari kita pergi minum arak!"
"Engko, Peng Peng sedang sakit keras!" jawab Kim Houw sambil gelengkan kepala.
"Aaa ia benar-benar telah sakit, itu adalah waktu yang tidak baik, dalam rumah kita ada ruparupa
obat ajaib yang sangat manjur. Kau tunggu dulu, aku nanti ambilkan untuk mu!" Siao Pek Sin
pura-pura bersusah hati.
Baru saja Siao Pek Sin berlalu, sebuah benda jenis senjata rahasia menyambar ke arah Kim
Houw. Sambil miringkan badannya berkelit, Kim Houw ulur tangannya menyambut senjata rahasia
itu.
Bersambung ke jilid 15
Jilid 15
Senjata itu tergenggam, tapi Kim Houw merasa tangannya agak sakit. Ia terperanjat kagum
atas yang melancarkan serangan tadi, ini ia juga heran, mengapa orang dalam Pek-liong-po berani
melakukan serangan menggelap terhadap dirinya.
Senjata rahasia itu nampaknya bukan senjata rahasia biasa yang terdiri dari besi atau paku. Ia
lantas buka tangannya, ternyata cuma sehelai kertas dan sebuah batu kecil saja. Pada kertas itu
ada tulisannya yang berbunyi: "Kau sungguhan atau pura-pura? Kalau sungguhan kau diam, tapi
kalau pura-pura harus lekas pergi. Dalam segala hal yang paling penting harus berlaku hati-hati."
Kim Houw tidak mengerti apa maksudnya tulisan itu. Apakah sungguh-sungguh ? Atau hanya
pura-pura ? Sedikitpun ia tidak mengerti. Ia diam-diam merasa geli atas surat peringatan itu.
Dalam hati kecilnya ia berkata : "Aku harus hati-hati apa ? Sepatutnya yang hati-hati, kau
kawanan manusia rendah yang melakukan serangan menggelap !"
Dengan acuh tak acuh Kim Houw merobek-robek surat itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh
berkelebatnya satu bayangan merah. Ia ingin mengejar tapi takut dipanggil oleh Peng peng,
terpaksa ia urungkan maksudnya.
Tepat pada saat itu, suara orang ketawa terdengar dari sudut lain. Kim Houw berpaling.
Seorang imam miskin dengan tangan kanan memegang potongan daging ayam dan tangan kiri
membawa sepoci arak, berjalan mendatangi dengan badan sempoyongan.
Kim Houw terkejut. Bagaimana Pek-liong-po bisa ada manusia begitu ?
Tiba-tiba terdengar suara nyanyian imam miskin yang tengah mabuk itu : "Dunia keruh,
manusia pada mabuk, hanya aku sendiri yang sadar....."

Menyanyi sampai di situ, ia lalu tenggak araknya dan gerogoti daging ayamnya. Ketika berada
di depan Kim Houw, mendadak seperti orang yang baru lihat, ia buka lebar matanya. Mulutnya
seperti hendak mengatakan sesuatu, namun terhalang oleh daging ayam dan arak yang
memenuhi mulutnya, tampak buru-buru ia hendak menelannya. Apa mau daging ayam yang
terburu-buru ditelan telah mengganjal di tenggorokannya !
Ia coba keluarkan kembali, apa mau, lantas menyembur keluar semua.
Semburan itu demikian kerasnya, bahkan tepat menyembur muka Kim Houw. Karena tidak
menduga adanya kejadian demikian, meski mukanya tidak tersembur, namun pakaiannya Kim
Houw sudah basah dengan arak.
Kim Houw kerutkan alisnya. Ia tidak tahu imam miskin ini tetamu Pek-liong-po atau bukan, ia
tidak berani berlaku kurang ajar, hanya matanya melototi si imam konyol.
Imam miskin itu repot dengan sendirian, mulutnya tidak henti-hentinya mengoceh : "Ah celaka,
celaka dua belas ! Mari, mari kubersihkan pakaianmu !"
Berbareng dengan itu paha ayam dijejalkan ke mulutnya, sedang tangannya hendak
digunakan untuk membersihkan pakaian Kim Houw.
Karena tangannya begitu mesum, sudah tentu Kim Houw tidak sudi diraba, sembari menyingkir
ia berkata padanya : "Toya harap tahu diri sedikit, aku bukannya orang yang boleh dipermainkan !"
Imam miskin itu delikkan matanya, tiba-tiba keluarkan paha ayamnya dan lantas dongakkan
kepala ketawa bergelak-gelak.
Belum lenyap suara ketawanya, terdengar suara Siao Pek Sin yang menegor: "Kee Toya kau
mabuk lagi, lekas pergi mengaso !"
Imam miskin itu memang benar adalah si imam palsu dari Istana Kumala Putih. Ditegur oleh
Siao Pek Sin, ia ketawa.
"Tiancu, kau benar-benar lihay !" katanya. "Kim Houw akhirnya dapat kau taklukkan ! Dengan
adanya dia, kedudukanmu didalam Istana Kumala Putih benar-benar akan menjadi bertambah
kuat !"
Mendengar itu, Siao Pek Sin wajahnya berubah seketika.
"Kee Toya, kau kembali mengoceh tidak keruan, bukan lekas enyah !" demikian ia membentak
dengan angkuhnya.
Imam palsu benar saja lekas berlalu !
Setelah si Imam palsu berlalu jauh, Siao Pek Sin baru berkata sendirian : "Sungguh
menyebalkan ! Setiap hari kerjanya cuma mabuk-mabukan, berlagak gila, mengoceh tidak keruan
!"
Kim Houw juga anggap ia benar-benar seperti orang gila, tapi ia tidak tahu siapa dan
bagaimana kedudukannya Imam palsu itu. Ia cuma menampak imam itu sangat hormat dan takut
sekali terhadap Siao Pek Sin, dalam hati merasa heran, namun ia tidak enak untuk menanyakan
kepada Siao Pek Sin.
Sembari menyerahkan satu botol batu kumala dan satu kotak yang terbuat dari batu kumala
juga, Siao Pek Sin berkata : "Adik Leng, dalam botol ini isinya obat, sedang kotak batu ini isinya

adalah obat kuat jin-som. Obat dapat menyembuhkan penyakit, sedang Jin-som dapat
menguatkan badan. Nona Peng Peng mungkin badannya lemas, bukan karena penyakit keras.
Dengan adanya dua macam obat ini, ku tanggung dalam beberapa hari pasti sembuh, kau boleh
tidak usah kuatir apa-apa!"
Sehabis berkata lantas ia berlalu meninggalkan Kim Houw.
Kim Houw menyambut kedua rupa barang itu sambil berpikir, "Mengapa Peng Peng suruh aku
hati-hati terhadap dia ? Dia begitu baik memperlakukan aku, kalau aku harus waspada
terhadapnya, bukankah kebaikan orang dibalas dengan kejahatan ? Aku tidak boleh turut
perkataannya Peng Peng, oleh karena seorang perempuan, sampai mengakibatkan putusnya
hubungan persaudaraan, sungguh tidak ada harganya !"
Pada saat itu, dua pelayan wanita itu sudah keluar, mereka tersenyum dan anggukkan kepala
kepada si anak muda linglung.
Kim Houw melangkah masuk, Peng Peng sudah tidur di pembaringan. Sedang dua pesuruh
wanita tengah membersihkan barang-barang yang hancur berserakan didalam kamar !
Peng Peng sehabis berhias, kelihatan lagi kecantikannya yang sangat menggiurkan.
Kim Houw baru lihat sepintas lalu, matanya sudah kesima. Bukan karena dibikin mabuk oleh
kecantikan Peng Peng, melainkan roman muka si nona rasa-rasanya ia sudah pernah lihat, entah
dimana ia sudah tidak ingat lagi ! Matanya terus mengawasi si nona dengan otak berputar.
Peng Peng yang dipandang demikian rupa oleh Kim Houw, wajahnya merah seketika.
"Kau lihat apa? Apa wajah ada tumbuh kembang!" demikian tegurnya.
Kim Houw terkejut, segera lenyap lagi ingatannya.
Peng Peng mungkin benar-benar terlalu lemah keadaannya, sehabis berhias, tumbuh
kelemahan badannya yang tengah sakit, cuma berkata sebentar saja napasnya sudah memburu.
Kim Houw buru-buru menghampiri dan berkata :" Peng Peng aku ada obat, kau boleh makan
dua butir, kemudian makan Jin-som, badanmu tentu akan lekas pulih kesehatannya!"
Peng Peng meski dalam keadaan sakit, tapi masih tetap bersemangat.
"Houw-ji, itu obat apa? Kau dapat dari mana?" tanyanya.
Kim Houw tercengang.
"Obat apa ? Aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya percaya bahwa obat ini benar-benar obat
yang paling mujarab dari keluarga kita. Karena obat dari keluarga kita, sudah tentu tidak perlu
dijawab dari mana datangnya !" demikian jawabnya.
"Tidak, yang aku tanyakan padamu ialah siapa yang memberikan kau obat ini ?" kata si nona
pula sambil menggelengkan kepala.
Kim Houw tidak suka membohong, maka ia paling benci orang berdusta.

"Adalah engko Sin yang memberikan padaku. Kau tak usah kuatir, kalau kau tak percaya
biarlah aku makan dulu, supaya kau bisa lihat !" jawabnya.
Selagi hendak membuka botol, Peng Peng sudah mencegah.
"Jangan terburu napsu dulu, ini bukan soal percaya atau tidak percayanya. Jiwa manusia ada
berharga, bagaimana boleh dibuat permainan? Di sini ada dua pesuruh, boleh coba kepadanya,
berikanlah mereka masing-masing dua butir, bagaimana ?"
Menampak Peng Peng demikian sungguh-sungguh, Kim Houw lalu mengeluarkan empat butir
pil diberikan kepada dua orang pesuruh di situ. Sungguh aneh, kedua pesuruh ketika melihat obat
itu lantas pada berebutan, seolah-olah diberi barang hadiah yang berharga.
Lewat beberapa lama, dua pesuruh itu dengan keadaan badan masih tetap segar bugar
melakukan pekerjaannya, sedikitpun tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Menyaksikan itu Kim
Houw agak tenang hatinya. Peng Peng terpaksa menelan dua butir.
Selanjutnya, Kim Houw serahkan kotak batu kumala itu kepada dua pesuruh, menyuruh
mereka membuat air untuk Peng Peng minum. Ketika Peng Peng hendak minum, lebih dulu ia
suruh kedua pesuruh itu mencicipi dulu !
Kelakuannya itu membuat Kim Houw kurang senang. Peng Peng tahu bahwa Kim Houw
benar-benar sudah melupakan kejadian yang telah lalu, maka ia tidak sesalkan dirinya. Ia hanya
bersikap hati-hati sendiri.
Obat itu ternyata sangat manjur, Peng Peng rasakan perlahan-lahan penyakitnya lenyap. Esok
sorenya Peng Peng sudah mulai sembuh seluruhnya. Justeru setelah sembuh dari sakitnya, Peng
Peng hatinya bertambah kuatir. Ia sangat kuatir tentang keadaan Kim Houw yang sudah hilang
semua ingatannya, sekarang ia harus waspada terhadap jiwa dua orang, jiwanya sendiri dan jiwa
Kim Houw.
Kim Houw patuhi janjinya, sedikitpun tidak berani meninggalkan Peng Peng. Kalau Peng Peng
tidur, ia menjaga disampingnya sembari bersemedi, mengatur pernapasannya untuk memulihkan
tenaganya.
Pada suatu malam udara bersih, bulan terang. Kim Houw yang tengah bersemedi, telah
dikejutkan oleh suara larinya orang ditengah malam. Kim Houw heran siapa orang yang tengah
malam-malam begini berani memasuki Pek-liong-po ?
Ia lihat Peng Peng tengah tidur nyenyak, lantas ia pusatkan perhatiannya yuntuk
mendengarkan suara orang lari tadi.
Tidak lama, ia segera dengar ramai suara bentakan. Kim Houw terkejut, lalu lompat keluar dari
jendela.
Setelah berada di atas genteng, ia melihat berkelebatnya beberapa bayangan manusia yang
maju menyerang dari beberapa jurusan. Kim Houw pasang matanya, ia lihat diantara mereka ada
Siao Pek Sin dengan baju putih yang sangat menyolok tengah bertempur, dengan tanpa ragu-ragu
lagi, lantas ia lari menuju ke tempat pertempuran.
Orang yang sedang bertempur dengan Siao Pek Sin, ternyata wakil ketua dari partai Sepatu
Rumput, si pengemis beracun Sin-hoa Tok-kai.
Tok Kai sudah dua kali pernah bertempur dengan Siao Pek Sin, tapi dua-dua kalinya kena
dikalahkan oleh Siao Pek Sin !

Soal malam ini entah apa sebabnya, Siao Pek Sin telah dibikin repot oleh Tok Kai. Sehingga
berulang-ulang didesak mundur, Tok Kai sendiri juga merasa terheran-heran !
Kim Houw menyaksikan saudaranya terdesak lantas berseru:" Lengko jangan kuatir, nanti adik
Lengmu yang menandingi dia!"
Ia berkata demikian, orangnya masih berada di suatu jarak kira-kira tiga jauhnya, tapi dapat
mengirim serangan tangan ke arah Tok Kai.
Tok Kai mendengar anak muda itu mengaku sebagai adiknya Siao Pek Sin, ia tidak ambil
perhatian. Tapi ketika ia merasakan hebatnya serangan anak muda itu, sudah tidak keburu untuk
menyingkirkan diri, maka serangan angin yang begitu hebat telah membuat diri Tok Kai terpental
sampai dua tumbak jauhnya.
Masih untung Tok Kai mempunyai ilmu mengentengi tubuh luar biasa, dengan kepandaiannya
itu, ia dapat menolong dirinya sehingga tidak sampai terluka, Namun kemana ia harus taruh
mukanya ?
Ini adalah suatu penghinaan yang sangat besar. Maka dengan cepatnya lantas cabut
senjatanya berupa sebatang gala bambu kecil.
"Anak busuk, kau mengerti juga ilmu gaib mari coba-coba sambuti senjataku ini." demikian Tok
Kai keluarkan bentakan.
Senjata gala bambu Tok Kai itu, sebetulnya dibuat khusus untuk menghadapi Siao Pek Sin,
dapat diduga bahwa dalam senjata tersebut tentunya ada mengandung suatu ilmu serangan yang
luar biasa.
Tapi, Kim Houw bukannya Siao Pek Sin, betapapun lihaynya senjata Tok Kai ada sukar untuk
melukai dirinya. Sebaliknya setelah Tok Kai mainkan senjata istimewanya itu, Kim Houw juga tidak
mudah memenangkan pertempuran itu.
Kim Houw agaknya bermaksud akan memperlihatkan kepandaiannya kepada Siao Pek Sin, ia
keluarkan semua kepandaiannya.
Sambil keluarkan siulan nyaring dan panjang, Kim Houw loloskan senjatanya yang istimewa
Bak-tha Liong-kin begitu keluar, senjata itu lantas mengeluarkan sinarnya yang berkilauan, terus
hendak melibat senjata Tok Kai.
Siapa nyana dengan munculnya senjata luar biasa itu, Tok Kai lantas terperanjat dan lekaslekas
mundur, sedang mulutnya berteriak : "Kim-siauhiap ! Kau....?"
Berbareng dengan suara teriakan Tok Kai dari segala penjuru Kim Houw dengar pula suara
yang memanggil namanya.
"Kim-siauhiap......"
"Kim-siauhiap.....!"
"Houw-ji......!"
"Houw-ji....!"

Mendengar suara itu, Kim Houw sekujur badannya gemetaran. Pengemis sakti Tok Kai
memanggilnya Kim-siauhiap, ia sedikitpun tidak mempunyai perasaan, tapi begitu ramai orang
memanggil, ia terkejut !
Dalam hatinya lalu berpikir : "Benarkah aku bernama Kim Houw ? Kalau bukan, bagaimana
sebetulnya Kim Houw itu...?"
Selagi masih bingung memikirkan dirinya disamping Tok Kai telah muncul empat orang dengan
berbareng. Mereka itu si sepatu dewa Cu Su, Tiong-ciu-khek Touw Hoa, Kim Lo Han, Kim Coa
Nio-nio.
Tapi semuanya asing bagi Kim Houw. Hanya hwesio tinggi besar yang kepalanya gundul
kelimis, yang ia rasakan sudah pernah kenal, tapi tidak tahu namanya.
Ia dengar hwesio kepala gundul itu berkata kepadanya : "Houw-ji ! Kau...."
Hwesio itu cuma berkata demikian saja, karena melihat mata Kim Houw yang nampak layu,
dalam hatinya terperanjat. Sebab hanya Kim Lo Han yang tahu penyakit Kim Houw dulu. Maka ia
tidak dapat melanjutkan kata-katanya, hanya berseru : "Aaaa !", lantas tutup mulut.
Kawan-kawannya segera menanya : "Bagaimana sebetulnya ?"
"Ini adalah......!" Kim Lo Han gelengkan kepala serta menghela napas.
Siao Pek Sin tidak memberikan kesempatan kepada Kim Lo Han bicara, segera berseru keras
: "Adik Leng ! Kedatangan mereka adalah untuk merampas nona Touw."
Tiong Ciu Khek Touw Hoa menggeram.
"Bagaimana? Kalau kau ada seorang laki-laki sejati kau boleh tawan dia selamanya !" seru
Kim Houw gusar, karena gusarnya itu, semua ingatannya yang hampir terkumpul, kini buyar lagi.
Sambil putar senjata, ia berkata : "Siapa yang menghendaki nona Peng Peng, tanya dulu kepada
senjataku ini, pasti mendapat jawaban memuaskan !"
Kim Lo Han dengan suara sedih memohon kepada Tiong Ciu Khek : "Touw-heng, sudah ada
dia yang melindungi nona Peng Peng, aku percaya nona Peng Peng tidak sampai mengalami
bahaya.
Sementara mengenai hal-hal selanjutnya sebaiknya kita pulang dulu berunding lebih jauh !"
Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut, kemudian disusul munculnya api dengan
asap mengebul ke udara.
Siao Pek Sin segera berteriak: "Aaaa! Celaka, adik Leng mari lekas kita pergi melihat!"
Kim Houw buru-buru berpaling, api berkobar justru di kamar Peng Peng. Dalam kagetnya Kim
Houw lantas meninggalkan Kim Lo Han dan kawan-kawannya bagaikan burung terbang ia terbang
melesat ke arah tempat kebakaran !
Meskipun Kim Houw sudah lupa segala kejadian yang lampau, tapi melihat perhatian Peng
Peng selama dua hari berada dalam satu kamar, ditujukan padanya dengan mesra, membuat Kim
Houw ingin membalas dengan cintanya yang murni pula!

Kini, kamar Peng Peng telah terbakar, apakah Peng Peng dapat menghindarkan diri dari
bahaya api, meski ia sudah sembuh dari sakitnya, masih merupakan suatu pertanyaan ! Kim Houw
belum tahu sampai dimana kepandaian si nona itu.
Kim Houw tiba ditempat kebakaran, seluruh kamar sudah dikurung api yang berkobar hebat.
Karena besarnya api sudah tidak mungkin lagi untuk dapat dipadamkan dalam waktu singkat.
Kim Houw kebingungan, tanpa menghiraukan segalanya, ia hendak lompat menerjang
kedalam api.
Kim Houw mengeluarkan ilmu yang dapat melindungi dirinya sendiri yaitu Han-bun-cao-kie, api
Hwee-tok Sin-kin masih tidak dapat melukai dirinya, apalagi api biasa ? Tapi, sekalipun ia tidak
takut, sebaliknya orang lain merasa takut!
Satu tangan orang dengan kecepatan luar biasa sebelum Kim Houw bergerak, sudah berhasil
menyambar lengannya. Sambil memegang erat lengan Kim Houw, orang itu bukan lain adalah
Siao Pek Sin sendiri, berkata kepadanya, "Adik Leng, aku tidak menghendaki kau menempuh
bahaya. Tahukah kau bahwa orang lain terlalu mencintai dirimu, aku yang menjadi engkohmu
sudah tentu tidak mau kehilangan kau. Jangan kau...."
Tidak menunggu bicara habis, Kim Houw sudah memotong. "Engkoh, lepaskan tanganku, aku
tidak takut api, api tidak bisa melukai diriku !"
Tapi Siao Pek Sin mencekal semakin erat "Adik Leng, kau jangan mendustai aku, api dan air
tidak mengenal kasihan, tidak boleh dibuat permainan !"
Kim Houw yang dipegang erat-erat, terpaksa mau menggunakan tenaganya untuk mengibas,
supaya Siao Pek Sin mencelat, tapi ia tidak bisa berbuat demikian karena meski ia mencintai Peng
Peng, tapi juga harus menghormati Siao Pek Sin, Akhirnya ia cuma bisa memohon sembari
meratap : "Engkoh, percayalah aku, aku tidak takut api !" Tapi Siao Pek Sin tetap tidak mau
melepaskan cekalannya.
Tiba-tiba dibelakangnya terdengar suara orang ketawa dingin, kedengarannya begitu seram !
Kim Houw menoleh, tapi tidak melihat bayangan seseorangpun juga.
Pada saat itu, kamar itu telah rubuh !
Kim Houw berseru seperti orang kalap : "Peng Peng ! Peng Peng !"
Suaranya begitu keras dan nyaring, tapi tidak mendapat jawaban. Entah Peng Peng sudah lari
atau tidak ? Ia masih belum dapat memastikan. Sampai di situ, Kim Houw sudah tidak dapat
menahan sabar lagi, ia ingin menerjang ke dalam.
Kebetulan saat itu Siao Pek Sin sudah melepaskan tangannya, dengan tidak ayal lagi Kim
Houw lantas menerjang masuk ke dalam gumpalan api.
Orang-orang yang menyaksikan perbuatan Kim Houw itu semuanya menjerit kaget !
Tapi, Kim Houw setelah berada di dalam api, lama belum muncul lagi, akhirnya dinding-dinding
rumah sudah pada rubuh. Sungguh aneh, berkobarnya api itu seperti dikendalikan oleh tenaga
gaib, kecuali kamar tidur Peng Peng, bagian yang lainnya tidak ada yang kerembet terbakar.

Paling akhir, kamar bekas tinggal Peng Peng itu sudah rata menjadi tumpukan puing dan api
juga sudah padam. Tapi orang heran tidak melihat bayangan Kim Houw.
Di sebuah pelataran yang masih ada sedikit apinya, kelihatan sesosok bayangan orang seperti
terbungkus oleh sinar hijau, ia adalah Kim Houw.
Tangannya memondong seorang yang sudah menjadi bangkai, pakaian sudah habis terbakar,
wajahnya sudah sukar dikenali. Tapi dari potongan badannya, kecuali Peng Peng, tidak ada yang
mirip seperti itu lagi.
Kim Houw wajahnya murung, air matanya mengalir deras, nampaknya sangat duka.
Meski ingatannya sudah hilang, tapi akal budinya masih ada. Ia pikir : Api ini datangnya sangat
mendadak, perbuatan tangan jahat, tapi entah perbuatan siapa ? Mungkinkah perbuatan Siao Pek
Sin yang ditakuti oleh Peng Peng.
Belum lenyap pikiran, Siao Pek Sin sudah berada disampingnya. Si jahat ini pura-pura
bersedih dengan air mata buaya bercucuran ia berkata: "Sungguh kejam. orang anak dara yang
begini cantik manis, mengapa mengalami nasib yang begitu mengenaskan ? Kalau itu perbuatan
orang, aku segera membeset kulitnya dan memakan dagingnya......"
Ucapan Siao Pek Sin itu, sepatahpun tidak ada yang masuk ke dalam telinga Kim Houw. Ia
masih berpikir keras: "Peng Peng yang sudah pulih kesehatannya, mengapa ketika melihat api
berkobar membakar kamarnya tidak berdaya untuk melarikan diri ?"
Pada saat itu di belakangnya kembali terdengar suaranya orang ketawa dingin yang bersifat
mengejek. Dengan cepat Kim Houw berpaling ternyata tidak ada siapa-siapa.
Suara ketawa itu ia sudah alami dua kali, membuat orang yang sedang kacau pikirannya
bertambah gelisah.
Jenazah Peng Peng yang terbakar hangus tidak karuan macamnya telah dikubur dengan
upacara besar-besaran oleh Siao Pek Sin.
Kim Houw merasa sangat berduka, hubungannya dengan Peng Peng meski baru dua hari, tapi
sudah sedemikian eratnya. Terutama dari pihak Peng Peng, perlakuannya yang begitu manis dan
mesra, hingga Kim Houw anggap ia benar-benar sahabat karibnya sebelum hilang semua
ingatannya.
Sebab begitu bertemu Peng Peng lantas menyebut tentang pedang pendek, kalau bukan
sahabat karibnya sebelum ia hilang ingatan, bagaimana ia bisa tahu kalau dirinya mempunyai
pedang pendek? Bahkan menurut katanya pedang itu adalah pedang pemberiannya.
Dari sinilah hingga kesan Kim Houw terhadap dirinya sangat mendalam.
Oleh karena itu ia berduka! Dengan perasaan gusar ia hendak menuntut balas kematian
sahabat karibnya itu. Dengan kepandaian ilmu silatnya yang demikian tinggi, masa tidak mampu
melindungi jiwa sahabat yang dikasihinya. Sungguh menyedihkan pikirnya.
Ia mencari keterangan kepada Siao Pek Sin, namun tidak memuaskan hatinya. Siao Pek Sin
menjawab sekenanya, seolah-olah tidak suka Kim Houw menempuh bahaya seorang diri.

Kim Houw tidak mau mengerti, ia berkeras hendak mengusut dan menuntut balas. Tapi
sebelum ia mencari keterangan kepada orang lain, pada malam sehabis menguburkan jenazah
Peng Peng, orang lain sudah mencari dirinya.
Kentongan baru berbunyi dua kali. Suasana malam yang mestinya sunyi, mendadak ramai riuh
dengan suara jeritan, tangisan dan bentakan.
Kim Houw yang masih belum tidur, lantas membuka jendela dan melompat keluar. Pek Liong
po ramai dengan suara gembreng dan di beberapa tempat telah terbit kebakaran.
Kim Houw gusar, katanya kepada dirinya sendiri dengan gemas :" Bangsat! Hari ini kalau aku
tidak bikin habis jiwanya, belum puas rasa hatiku. Kalu belum berhasil memotes kepalamu, Peng
Peng di alam baka tentu tidak akan tentram rohnya !"
Dengan mata menyala Kim Houw lari menghampiri orang banyak berkumpul.
Dalam keadaan kalap, maka kakinya sudah seperti burung terbang, sekejap saja Kim Houw
sudah berada diantara orang banyak.
Ia berpapasan dengan seorang yang dandanannya seperti anak sekolah, wajahnya putih
bersih, nampaknya seperti seorang setengah tua yang berusia kira kira empat puluh tahun, dia itu
adalah Tiong-ciu-khek !
Tapi begitu bertemu muka dengan Kim Houw, Tiong-ciu-khek telah lenyap semua sifatnya
yang kelihatan alim, diganti dengan rasa duka serta gusar. Sembari memutar pedang Ceng-hongkiamnya
ia menerjang Kim Houw dengan secara kalap !
Kim Houw yang juga sedang dalam keadaan gusar, sudah tentu tidak membiarkan dirinya
diperlakukan demikian kasar. Tangan kanan mainkan ilmu silat warisan Kao-jin Kiesu yang luar
biasa, secara aneh ia dapat menyingkirkan serangan pedang Tiong-ciu-khek. Tangan kirinya
menyerang dada lawan. Karena ingin mempercepat jalannya pertempuran, ia menggunakan
ilmunya Han-bun-cao-khie dalam serangannya itu.
Serangan Kim Houw itu bukan saja hebat, tapi juga cepatnya laksana kilat menyambar. Jika
serangan itu mengena dengan tepat, jiwa Tiong-ciu-khek pasti akan melayang seketika !
Untung belum mengenai sasarannya, mendadak Kim Houw dengar Tiong-ciu-khek berseru
dengan suaranya yang memilukan hati: "Pulangkan Peng Peng ku ! Kembalikan jiwa cucuku !"
Seruan itu membuat Kim Houw terperanjat mendengar disebutnya nama Peng Peng, ia lantas
rem serangannya, kemudian dengar pula bahwa Peng Peng itu adalah cucunya, maka Kim Houw
lantas urungkan maksudnya hendak menamatkan jiwanya orang tua itu.
Pikirnya : Kiranya dia adalah kakeknya Peng Peng, kedatangannya ini mungkin juga hendak
menuntut balas cucunya, sayang dia salah alamat.
Ia buru-buru lompat mundur, sambil memberi hormat ia berkata: "Cianpwe siapa ? Boanpwe
adalah Pek Leng-ji sahabat nona Touw !"
Tiong-ciu-khek sudah kalap benar-benar, sambil berseru keras, kembali menerjang dengan
pedangnya.
"Tunggu dulu !" seru Kim Houw sambil berkelit. "Kau aneh, cianpwe, kenapa begini kalap ?"

"Kau adalah manusia tidak kenal budi, seorang busuk yang tidak mempunyai liangsim. Aku
kepingin membelah hidup-hidup badanmu dan hirup darahmu ! Kapan Peng Peng memperlakukan
tidak baik terhadap dirimu ? Untuk kau dia telah menempuh perjalanan ribuan li, untuk kau dia
telah menderita lahir dan batin. Tidak nyana akhirnya dia binasa dalam tanganmu. Kau.... kau....
apakah kau masih terhitung manusia ? Kau adalah binatang...."
Kegusaran Tiong-ciu-khek meluap-luap, sayang semua serangannya dapat dipunahkan Kim
Houw dengan mudah.
Tiong-ciu-khek sudah tahu kepandaian Kim Houw, tahu ia bukan tandingannya anak muda itu,
namun ia masih terus menyerang seperti orang edan !
Kim Houw meski sudah hilang ingatannya, tapi liangsimnya msih belum. Menampak Tiong-ciukhek
menyerang secara membabi buta, ia mengerti bahwa orang tua ini berlaku nekad terdorong
oleh kedukaan atas kematian cucunya. Oleh sebab itu, Kim Houw tidak mau melayani sungguhsungguh.
Dari perkataannya Tiong-ciu-khek, terang seperti menuduh padanya bahwa Peng Peng binasa
dalam tangannya. Ia curiga dalam hal ini tentu ada terselip kesalahan paham. Maka ia berkelit
berulang-ulang, tidak balas menyerang. Tapi ia tidak mau meninggalkan Tiong-ciu-khek, karena ia
ingin mencari tahu orang tua ini sebab musababnya kesalahan paham itu, ia tidak mau Peng Peng
binasa secara penasaran.
Tiong-ciu-khek jengkel bukan main melihat serangannya selalu tidak berhasil, ia lantas
mengambil keputusan pendek hendak menggorok leher sendiri. Sebelumnya, ia masih memakimaki
dulu Kim Houw: "Tiong-ciu-khek seorang gagah yang pernah malang melintang tidak
menemukan tandingan, tidak nyana ia tergelincir dalam tangan seorang bocah yang tidak berbudi.
Baiklah ! Dimasa hidupku aku tidak bisa geragoti dagingmu, setelah binasa aku nanti akan menjadi
setan penasaran yang selalu mengejar-ngejar kau....."
Kim Houw sadar bahwa orang tua itu hendak menghabiskan jiwanya sendiri, ia tidak ingin
membiarkan Tiong-ciu-khek mati secara demikian.
Sebelum Tiong-ciu-khek bertindak, Kim Houw mendadak maju hendak menghalangi
maksudnya orang tua itu.
Mendadak, baru ia ulur tangannya, hendak menotok jalan darahnya Tiok-tie-hiat Tiong-ciukhek,
tiba-tiba diserang oleh sambaran angin kuat dari samping. Berbareng dengan itu telinganya
dengar suara bentakan keras: "Houw-ji apa kau benar-benar sudah kehilangan akal budimu?"
Sambaran angin itu tidak mudah mengenakan Kim Houw, kalau ia berkelit. Cuma kalau ia
berkelit terhindar dari serangan, jiwa Tiong-ciu-khek segera melayang karena tiada yang
mencegah perbuatan nekadnya.
Maka, dengan tanpa banyak pikiran, Kim Houw lantas kerahkan ilmunya Han-bun-cao-khie,
bersedia menyambuti serangan gelap itu. Berbareng, jari tangannya langsung diulur, menotok
jalan darah Tiok-tie-hiat Tiong-ciu-khek.
Berbareng dengan jarinya mengenakan jalan darah Tiong-tie-hiat, Kim Houw sendiri badannya
terpental tiga tumbak lebih jauhnya, akibat serangan menggelap tadi !
Serangan itu ternyata begitu hebat karena Kim Houw yang terpental dua-tiga tumbak baru saja
berhasil menegakkan dirinya.

Tiba-tiba terdengar seruan: "Aaai......" bukan suara Tiong Ciu Khek, juga bukan suara Kim
Houw, melainkan suara orang yang menyerang dirinya tadi.
Kim Houw setelah berdiri tegak, lalu mengatur pernapasannya sejenak. Ia lalu tahu bahwa
keadaan dalam dadanya tidak apa-apa, hanya lengan kirinya saja yang dirasakan agak ngilu, hal
ini ia tidak ambil pusing. Mengingat orang yang menyerang dirinya tadi juga memanggil dirinya
Houw-ji, lantas ia dongakkan kepala untuk mengamat-amati siapa orang itu.
Begitu melihat, hati Kim Houw tercekat, kiranya orang itu adalah seorang hweesio yang
berbadan tinggi besar.
Kemarin dulu, Kim Houw pernah melihat hwesio tinggi besar ini, tapi karena kebingungan
akibat terbakarnya kamar Peng Peng, sebentar saja ia sudah lupa.
Kini untuk kedua kalinya ia bertemu lagi, ingatannya timbul pula, rasanya ia pernah melihatnya,
tapi biar bagaimana ia berusaha untuk mengumpulkan ingatannya, ternyata ia masih tidak ingat
juga.
Hwesio berbadan tinggi besar itu sudah tentu adalah Kim Lo Han. Ketika ia mengetahui bahwa
perbuatan Kim Houw tadi, sebetulnya adalah hendak menolong jiwa Tiong Ciu Khek, bukan
hendak mencelakakan orang tua tersebut, seperti yang ia duga semula, dalam hati diam-diam ia
merasa menyesal. Melihat Kim Houw mengawasinya tanpa berkedip, ia lalu berkata :
"Houw-ji, Kim Lo Han telah kesalahan tangan, semoga tidak melukai dirimu!"
Kim Houw mendengar disebutnya nama Kim Lo Han kembali terkejut, dalam hatinya terus
menerus ia menyebut nama itu: "Kim Lo Han! Kim Lo Han!"
Karena hatinya sibuk memikirkan, mulutnya telah lupa untuk menjawab. Hal mana dianggap
oleh Kim Lo Han, bahwa Kim Houw setelah kehilangan ingatan, lantas berubah menjadi kejam dan
sombong sifatnya, maka ia tidak mau menegur lagi, lalu ia ajak Tiong Ciu Khek berlalu dari situ.
Tapi sebelum ia mengangkat kaki, sesosok bayangan putih sudah melayang dari atas,
merintangi perjalanan Kim Lo Han.
"Haha! apa kalian masih pikir bisa berlalu dari sini? Jangan harap! Hari ini kalian bisa datang,
tapi tidak bisa pergi!"
Kim Lo Han melirik, segera mengenali bayangan tersebut, Siao Pek Sin. Kalau itu adalah Siao
Pek Sin pada dua tahun yang lalu, Kim Lo Han masih tidak pandang mata padanya, tapi Siao Pek
Sin pada dua tahun belakangan ini sudah lain keadaannya.
Selama dua tahun ini, Siao Pek Sin telah menduduki kursi Tiancu di Istana Kumala Putih, serta
mendapat warisan bermacam-macam ilmu silat dari berbagai cabang persilatan.
Kemajuan pelajarannya sudah jauh dibandingkan Siao Pek Sin yang dulu.
Kalau Kim Lo Han hanya seorang diri, ia tidak takuti dia, atau jika Siao Pek Sin sendirian Kim
Lo Han juga tidak begitu jeri. Sekalipun Siao Pek Sin sudah maju pesat ilmu silatnya, Kim Lo Han
juga tidak akan mengeluh demikian rupa.
Tapi kini disampingnya ada Tiong Ciu Khek yang sudah seperti setengah gila, masih ada lagi
Kim Houw yang sudah lupa ingatan dan berpihak pada lawan. Bagaimana Kim Lo Han tidak
mengeluh.

Diluar dugaan, baru saja Siao Pek Sin menutup mulutnya, Kim Houw sudah maju didepannya
dan berkata kepada Siao Pek Sin :" Engkoh, orang tua ini adalah kakeknya Peng Peng,
lepaskanlah ia pergi!"
Wajah Siao Pek Sin yang dingin kaku, begitu melihat Kim Houw lantas tersenyum berseri-seri,
kemudian berkata :" Adik Leng, kau telah tertipu! Orang ini usianya kelihatan baru kira-kira lima
puluh tahun, mana bisa jadi kakeknya Peng Peng? Nona Peng Peng tahun ini umurnya sudah
delapan belas tahun, kakeknya paling sedikit sudah berusia enam atau tujuh puluh tahun!"
Mendengar keterangan itu, Kim Houw lantas sadar, ia pikir dirinya benar-benar sangat bodoh.
"Hm! Kalian ternyata hendak main gila didepanku, pura-pura hendak bunuh diri, aku kesal
pada diriku sendiri, karena hendak menolong jiwamu sampai aku mandah diserang orang.
Sekarang tidak perlu banyak bicara, tinggalkan jiwamu!" katanya dengan nada tawar.
Karena kegusarannya itu, ingatannya yang barusan timbul samar-samar terhadap diri Kim Lo
Han telah terlupa lagi.
Siao Pek Sin agaknya menginginkan Kim Houw benar-benar gusar, maka ia lantas memanasmanasi
:" Adik Leng, hari ini biar bagaimanapun kita tidak boleh melepaskan mereka begitu saja.
Bukan hanya karena nona Peng Peng, malam inipun mereka benar-benar hendak melakukan
kejahatan lagi terhadap rumah kita. Coba lihat, jumlah mereka tidak sedikit, bukan saja sudah
merusak gedung Pek Liong Po, kedua paman kita juga telah terluka ditangan mereka, dan
sekarang masih belum ketahuan nasibnya."
Ucapan Siao Pek Sin ini benar-benar hebat pengaruhnya, karena Kim Houw yang
mendengarnya menjadi memuncak amarahnya. Dengan tindakan perlahan-lahan ia menghampiri
Kim Lo Han. Kemudian membentak dengan suara keras :" Benarkah itu? Apa kalian menghendaki
aku turun tangan benar-benar?"
Kim Lo Han lantas balas membentak: "Houw-ji! kau....."
Kau apa? Kim Lo Han tidak dapat melanjutkan lagi. Dalam gusarnya ia cuma mampu
mengucapkan demikian saja, tapi kemudian ia insyaf bahwa Kim Houw sedang kehilangan
ingatannya, alasan apa pun tidak ada gunanya.
Karena kepandaian Kim Houw yang sudah mencapai tingkat tertinggi, maka hendak lolos dari
tangannya benar-benar tidak mudah. Kim Lo Han terpaksa mundur sambil membimbing diri Tiong
Ciu Khek, mereka hanya menanti.
Kim Houw setindak demi setindak menghampiri mereka, tangannya sudah terangkat dengan
perlahan. Tiba-tiba suara aneh membelah kesunyian diangkasa, suara itu sangat menusuk telinga,
tajam dan melengking, seolah-olah bukan suara manusia. Semua orang lantas pada melihat ke
arah datangnya suara tersebut.
Sinar api berwarna biru terlihat diangkasa terus meluncur ke langit. Ditengah-tengah sinar
apinya, tampak sebatang anak panah sepanjang lima kaki lebih. Ditengah-tengah anak panah
terdapat tengkorak! Sedang api warna biru itu asalnya dari anak panah tersebut. Benda ini entah
terbuat dari apa, sinarnya sangat menyilaukan mata.
Anak panah itu muncul demikian mendadak, suaranya yang aneh mengejutkan semua orang.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan Siao Pek Sin: "Aaaaa...anak panah tengkorak!"

Kim Lo Han juga berseru, namun suaranya amat perlahan. Iblis itu ternyata masih belum mati.
Kini dia muncul lagi! Entah berapa banyak orang-orang rimba persilatan yang akan menjadi
korban keganasannya? Dan entah berapa banyak orang-orang dari golongan baik yang akan
binasa di tangannya?
Kim Houw meski sudah hilang ingatannya, tapi ikut dikejutkan oleh munculnya anak panah
tengkorak itu. Sebab kala itu mendadak ia seperti ingat pernah melihat tanda anak panah yang
ada tengkorak kepala manusia itu.
Saat itu, dari jauh tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri.
Siao Pek Sin terperanjat, lalu menarik tangan Kim houw. "Adik Leng, mari kita pergi!"
Tanpa hiraukan yang lainnya, Siao Pek Sin sudah menarik tangan Kim Houw, lari menuju ke
arah darimana datangnya suara jeritan tadi.
Ketika mereka tiba ditempat tersebut, kecuali mendapatkan dua mayat manusia, apapun
sudah tidak dapat ditemukan lagi, meski badannya tidak terdapat luka, tapi wajahnya sudah rusak,
kepalanya hancur luluh, otaknya berceceran di tanah!
Dari sebelah timur kembali terdengar suara jeritan, Kim Houw dengan tidak menunggu
perintah Siao Pek Sin lagi, sudah lompat melesat kesana.
Ketika tiba ditempat tersebut, di atas tanah kembali terdapat dua mayat manusia yang
keadaannya serupa dengan yang sebelumnya. Hanya jika yang duluan itu Kim Houw tidak kenal,
sedangkan yang belakangan ini ia kenali dari pakaiannya dan jenggotnya yang putih, mereka
adalah paman-pamannya Siao Pek Sin.
Menyaksikan keadaan demikian, bukan kepalang gusarnya Kim Houw. Siapakah orangnya
yang berani main gila begitu rupa? Berbareng dengan itu, ia juga merasa heran, sudah berada
didalam Pek Liong Po dan empat pamannya itupun merupakan orang-orang gagah diwaktu itu,
kenapa mereka begitu mudah menjadi korban?
Kim Houw sudah tidak mendengar suara jeritan lagi, tapi ia mendengar suara menderunya
angin, sekali lagi Kim houw melesat ke arah suara itu.
Kim Houw melihat di sebuah tanah lapang di depan ruang pertemuan Pek Liong Po, saat itu
ada tiga orang tua yang usianya sudah tujuh puluh tahun kurang lebih, bersama-sama dua laki-laki
berusia kira-kira lima puluh tahun, mereka berlima dengan menggunakan senjata pedang panjang,
tengah mengerubuti seorang tua berbadan kurus kering dan jangkung.
Melihat ketiga orang tua itu dalam kalangan pertempuran, Kim Houw terperanjat. Ternyata Pek
Liong-ya sudah turun tangan sendiri menghadapi musuh yang sangat ganas itu.
Kim Houw berdiri memandang orang tua kurus kering itu.
Di bawah sampokan angin santer, jenggotnya orang tua yang sudah putih itu berkibar-kibar,
badannya sungguh kurus, nampaknya cuma tulang dibungkus dengan kulit. Tapi kaki tangannya
nampak panjang luar biasa. Ia mengenakan pakaian panjang berwarna kelabu, wajahnya yang
hitam nampak sedikit pucat, terang ia seorang yang sudah lama tidak melihat sinar matahari. Tapi
sepasang matanya sungguh menakutkan, bagi orang yang baru pertama melihat, tentunya akan
menganggap dia adalah iblis yang keluar dari kuburan.

Orang tua itu meski badannya kurus kering, tapi tenaganya amat kuat. Tangannya memegang
gendewa panjang, kalau diputar, gendewa itu mengeluarkan angin menderu-deru, kalau
menyambar kulit terasa pedas.
Terutama tempat anak panah yang menggemblok di belakangnya, dan apa yang lebih
menakutkan, adalah serenceng tengkorak kepala manusia yang segede kelapa yang dilibatkan di
pinggangnya !
Kepala-kepala tengkorak itu diikat satu persatu merupakan serencengan benda yang
menakutkan. Kepala-kepala itu semuanya menghadap ke muka, dibariskan demikian rapihnya,
tapi juga sangat menyeramkan.
Baru saja Kim Houw mengamat-amati, tiba-tiba ia dengar suara orang tua itu: "Sudahlah! Aku
sudah cukup kenal barisan Cit-ciak-tin yang namanya terkenal di seluruh jagad meski aku belum
menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tapi Ngo-houw-tin sebaliknya kurang cukup
kekuatannya. Aku sudah tidak mempunyai kegembiraan lagi untuk main-main, waspadalah....."
Berbareng dengan ucapannya, ia lantas menekan gendewa di tangannya, lalu disusul dengan
suara melesatnya anak panah, selanjutnya lalu terdengar dua kali suara jeritan yang mengerikan,
dua laki-laki yang berusia lima puluh tahun itu sudah rubuh menggeletak di tanah, kepalanya
hancur dan otaknya berantakan.
Kim Houw terperanjat, tanpa ayal lagi ia lantas menghunus pedangnya Ngo-heng-kiam dan
Bak-tha Liong-kin sambil memekik nyaring ia menerjang ke arah orang tua itu.
Gerakan Kim Houw itu ternyata tepat pada saatnya, karena senjatanya Bak-tha Liong-kin telah
berhasil mengelakkan gendewa orang tua yang sudah hampir menyambar kepala Pek liong ya,
dengan demikian Pek liong ya telah tertolong olehnya.
Orang tua kurus kering itu ketika gendewanya tersampok oleh senjata Kim Houw, lalu
membentak dengan suara keras "Siapa yang berani menghalang-halangi aku Kouw louw Sin Ciam
menuntut balas ?"
Ah ! Orang tua yang menyebut dirinya Kouw louw Sin Ciam ini ternyata hendak menuntut balas
dendam.
"Siapa ? Aku hanya satu Siaupwe dari Pek liong po." jawab Kim Houw ketawa.
Kouw louw Sin Ciam dengan heran mengamat-amati diri Kim Houw, yang usianya masih muda
belia, ternyata mempunyai kekuatan memunahkan serangan gendewanya yang kekuatannya luar
biasa hebatnya itu.
"Huh ! Kau barangkali Tiancu dari Istana Kumala Putih yang baru muncul di dunia Kangouw,
tapi namanya sudah menggetarkan jagat ? Khabarnya sepak terjangnya terlalu ganas, aku
sekarang kepingin mencoba-coba, kepandaian apa sebetulnya yang kau punyai sehingga
membuat kau berani berlaku begitu biadab."
Pada saat itu, Kim Houw sedang berdiri berhadapan dengan Kouw louw Sin Ciam, ia telah
dapat melihat dengan tegas wajah orang tua itu, yang ternyata tidak banyak bedanya dengan
tengkorak hidup.
Kedua matanya segede biji jengkol, biji matanya yang hitamnya lebih banyak daripada yang
putih, mata itu masuk ke dalam, seolah lubang goa. Tulang pipinya menonjol, giginya yang kuning

juga kelihatan menonjol keluar, gigi itu begitu besar dan panjang, sungguh wajah itu benar-benar
mirip dengan namanya yang berarti panah tengkorak sakti (Kouw louw Sin Ciam).
Yang paling aneh adalah bentuk telinganya, daun telinga itu begitu panjang dan lebar, kalau
bergerak nampak bergoyang-goyang seperti telinga babi. Dari sini bisa dilihat bahwa orang tua itu
mempunyai pendengaran tajam.
Mendengar orang tua itu menganggap dirinya adalah Tiancu dari Istana Kumala Putih Siao
Pek Sin, Kim Houw lalu tertawa dan berkata: "Tiancu dari Istana Kumala Putih adalah kakakku,
kau masih belum ada mempunyai kehormatan untuk menemuinya. Kalau kau mampu
mengalahkan aku, Tiancu dari Istana Kumala Putih sudah tentu akan muncul untuk mengusir kau.
Kalau sampai aku saja masih belum mampu menangkan, apa perlunya dia harus turun tangan
sendiri. Bukankah kau hendak mengadu kekuatan ? Silahkan maju, di sini aku sedang menantikan
kau."
Kouw louw Sin Ciam namanya menggetarkan jagat. Orang-orang dari segala golongan baru
mendengar namanya saja sudah kuncup nyalinya. Sekalipun Pek-liong-po yang namanya terkenal
di daerah Su-cu tengah, tapi begitu menampak munculnya orang tua itu juga sudah hilang
semangatnya.
Sudah beberapa puluh tahun lamanya Kouw-louw Sin Ciam namanya menggetarkan jagat.
Orang-orang dari Pek-liong-po. Tujuh saudara dari Pek-liong-po juga tidak mempunyai nyali begitu
besar mencari setori dengannya.
Persoalannya adalah gara-garanya seorang murid tidak sah dari Kouw-louw Sin Ciam yang
baru mendapat sedikit pelajaran ilmu silatnya Kouw louw Sin Ciam, telah menggunakan nama
suhunya diluaran melakukan perbuatan yang tidak patut, ketika ia berani mengganggu Pek-liongpo,
murid durhaka itu akhirnya dibinasakan oleh Pek-liong ya.
Entah bagaimana, berita kematian muridnya yang belum sah itu telah sampai ke telinganya
Kauw low Sin Ciam, meski murid itu belum dianggap sah tapi karena membawa-bawa nama
baiknya Kouw low Sin Cian, maka orang aneh itu akhirnya mencari onar ke Pek liong po.
Sebagai seorang Kangouw terkenal, sudah tentu Kouw-low Sin Cian juga dapat dengar beritaberita
mengenai Istana Kumala Putih, ia juga tahu orang-orang dalam Istana Kumala Putih pada
lihay, Tapi, sebagai seorang jago tentu tidak takut kepada mereka.
Siapa saja dengan namanya lantas menyingkir jauh-jauh. Orang yang berhadapan dengannya,
jarang yang tidak gemetar apa lagi membentak atau turun tangan padanya. Begitu besar pengaruh
orang aneh yang dinamakan Kouw lo Sin Ciam itu.
Tapi kali ini ia dibikin terheran-heran Kim Houw bukan saja tidak gemetar di depannya, bahkan
berani membentak bentak nampaknya lebih galak dan lebih jumawa dari pada Pek Liong-ya
sendiri.
Kouw-low Sin Cian lantas perdengarkan Suara ketawa dinginnya yang seram serta berkata:
"Kurang ajar, anak yang masih bau pupuk bawang, ternyata berani tidak pandang mata pada
orang. Kalau kaU bukan Siao Pek Sin, aku akan memberi kesempatan tiga jurus dibawa senjata
gendewa pusaka ini! Aku......."
Belum sampai menjelaskan perkataan selanjutnya, Kim Houw juga sudah mengajak padanya
dengan nada yang tidak kurang pedasnya: "Aku tidak berani mengatakan tiga jurus, tapi dalam
tiga puluh jurus, aku pasti bisa membinasakan kau tanpa mengeluh!"

Selama hidupnya, Kouw-low Sin Ciam cuma tahu mengejek orang lain, tidak pernah diejek
orang lain. Mendengar perkataan Kim Houw yang penuh ejekan ini, sudah tentu lantas murka,
Maka ia lantas keluarkan pekikannya panjang dan nyaring serta lama tidak terputus-putus.
Suara pekikan itu mula-mula enak sekali kedengarannya, tapi sebentar saja suara itu seolah
menyusup ke dalam daging, hingga sekujur badan dirasakan dingin, bulu roma pada berdiri, badan
lantas menggigil!
Orang yang berada di kalangan pertempuran kecuali Kim Houw, semua pada merasakan
pengaruhnya, bahkan makin lama makin hebat dan akibatnya tidak dapat mempertahankan diri
lagi. Seperempat jam saja lagi Kouw-low Sin Ciam tidak hentikan suaranya itu, semua orang itu
pasti akan binasa kedinginan satu persatu!.
Ilmu Kouw-low Sin Ciam yang dinamakan Kouwlow lm-kang itu, kalau dikatakan lihay,
memang begitulah kira-kira. la pertama mengeluarkan suara yang enak didengar oleh telinga,
hingga orang-orang yang mendengarnya tidak berjaga-jaga, tapi setelah merasakan adanya
perobahan, sudah tidak keburu mengadakan perlawanan..."
Ilmu yang ada pada diri Kim Houw, justru dari latihannya dalam gedung es yang paling dingin,
bagaimana ia bisa takut dingin? Karena segala hawa dingin di dunia, sudah tidak ada yang lebih
dingin daripada dinginnya hawa didalam ruangan belakang Istana Kumala Putih.
Oleh karena Kim Houw tidak terpengaruh, ia tidak tahu lihaynya ilmu tersebut. Ia cuma merasa
heran mengapa Kouw-louw Sin Ciam begitu lama perdengarkan pekikannya!
Mendadak ia dengar dibelakangnya ada suara jeritan suara orang, Kim Houw la]u berpaling.
Tapi ia belum tahu siapa orangnya yang menjerit tadi, ia hanya lihat Pek-liong-ya bertiga saudara,
Sudah duduk di tanah untuk bersemedi, sedang badannya gemetaran dan wajahnya pucat pasi.
Kim Houw menyaksikan keadaan demikian baru terkejut, maka ia segera keluarkan
pekikannya jurus untuk melawan.
Menghadapi perlawanan Kim Houw, Kouw louw Sin-ciam coba hendak perhebat suaranya, tapi
hasilnya nihil, hingga akhirnya ia hentikan sendiri pekikannya.
Sampai di situ, Kouw-low-Sian Ciam mau merasa terperanjat dan terheran-heran juga. sebab
suara pekikan Kim Houw tadi hanya dapat dilakukan oleh seorang yang lweekangnya sudah
sempurna betul. Kim Houw yang sudah mampu menundukkan suaranya, bagaimana ia tidak
terperanjat. Apalagi, ini baru adiknya saja, entah bagaimana kepandaian Tiancu Siau Pek Sin
sendiri?
Kouw-low Sin Ciam meski sudah dibikin kesima oleh kekuatan dan kepandaian lawanya yang
masih muda belia itu, tapi, ia masih mempunyai serupa ilmu yang dinamakan Hian-giok Pe-kiong,
ialah senjata gendewanya yang ia anggap senjata paling ampuh.
"Bagus, bagus! Sekarang aku hendak main-main dengan gendewa pusakaku." kata orang itu
sambil ketawa dingin.
Lawan tampak sudah agak lunak, namun Kim Houw masih belum sudah begitu saja.
"Bagaimana Apa hendak main-main hanya tiga jurus saja?" tanya mengejek.
Kouw-low Sia Ciam tidak menyangka Kim Houw terus melunjak, dalam hati segera merasa
gusar.

"Jangan banyak rewel, kau sambuti seranganku!" bentaknya.
Suara menderu lantas nyaring, gendewa gendewa panjang itu lantas membawa setengah
lingkaran, segera sebatang anak panah lantas terbang melesat!
"Satu jurus!" Kim Houw ketawa tergelak gelak, sembari egoskan dirinya.
Kim Houw tadi menyebutkan satu jurus, entah mengejek lawannya atau untuk keperluan diri
sendiri. Tapi belum sampai berdiri benar, gendewa lawannya terus mengikuti seolah-olah
bayangan. Bahkan mengandung kekuatan yang sangat hebat, menyerang pinggangnya.
Kim Houw terkejut. Ia anggap gerakannya sendiri sudah cukup gesit, siapa nyana lawannya
berlaku lebih gesit. Karenanya maka sudah tidak keburu untuk berkelit lagi, untung senjata Bak-ya
Liong-kiannya sudah terhunus, maka ia lantas menggunakan senjatanya ini untuk menyambuti!
Siapa nyana, selagi senjata lawannya belum beradu dengan senjatanya sendiri, kembali
dirasakan ada sambaran angin yang berbau amis, menindih dari atas. Ketika ia melirik satu tangan
yang kurus panjang dan hitam, sudah berada di atas batok kepalanya!
Kali ini, Kim Houw terkejut benar-benar. Dengan cepat ia angkat tangan kirinya, pedang Ngoheng
kiamnya dilintangkan untuk memapas tangan musuhnya.
Kouw-low Sian Ciam ketawa dingin dengan cepat mundur tiga tumbak lebih.
Kim Houw kembali dibikin tercengang! Kalau pedang Ngo-heng-kiamnya tidak mengenakan
sasarannya itu memang sudah diduga olehnya. Tapi, Bak-tha Liong-kin mengapa tidak manyentuh
gendewa Kouw low Sin Ciam?
Dengan demikian maka Kim Houw kini tidak berani pandang ringan lawannya itu lagi. Kauwsok
Sin Ciam sudah menggetarkan dunia Kangouw sudah tentu bukan sembarangan terutama
gerakannya yang telah diunjukan tadi hampir saja Kim Houw, celaka di bawah senjata gendewa
dan tangannya yang luar biasa panjangnya itu.
Kim Kim Houw tidak berani mengejek lagi, buru-buru tenangkan pikiran untuk menghadapi
lawan yang cukup tangguh itu.
Tapi, kalau Kim Houw dibikin terkejut, Kouw-Lou Sin Ciam tidak kalah terheran-heran. Karena
serangannya yang ia lancarkan tadi dinamakan Oh-liong Tham-jiuw atau naga hitam ulur kukunya,
adalah merupakan salah satu serangannya yang paling lihay dalam ilmu gendewanya. Oleh
karena ia mengetahui bahwa kekuatan tenaga dalam lawannya lebih tinggi dari padanya, maka
begitu turun tangan lantas menggunakan tipu serangannya yang paling lihay!
Ilmu gendewanya Kouw-low Sin Ciam benar-benar luar biasa anehnya. Kalau ia sengaja tidak
mau mengambil jiwa lawannya, sang lawan masih bisa terhindar dari keganasannya, kalau ia mau
jiwa lawannya, jarang orang yang bisa lolos dari tangannya!
Hari ini dalam keadaan mendadak dan tidak menduga sama sekali, Kim Houw mampu
menghindarkan dirinya dari serangan maut, bagaimana Kouw-low Sin Ciam tidak terperanjat dan
terheran-heran?
Meskipun Kim Houw menggunakan senjata Bak-tha-kin, satu senjata pusaka yang sukar dicari
tandingannya, tapi jika itu terjadi pada orang lain, ia yakin tidak begitu mudah buat menghindarkan
diri dari serangan gendewanya atau cengkeramannya!

Ia tidak tahu bahwa gerakan Kim Houw tidak cepat tepat sekali pada saatnya. Gerak itu
membuat lawannya tidak berdaya untuk merobah serangannya yang mematikan!
Sebab kalau mau berbuat nekad, senjatanya atau tangannya pasti akan beradu dengan
senjata Liong-kin atau pedang Ngo-heng-kiam.
Kouw-low Sin Ciam meski dikejutkan oleh kepandaian ilmu silat Kim Houw, tapi baru satu jurus
biar bagaimana ia masih merasa penasaran, apalagi dalam satu jurus itu bukan ia yang berada di
atas angin bagaimana ia mengerti?
Apa yang membuat ia tambah panas ialah sebagai seorang yang sudah berusia demikian
tinggi, banyak pengalaman, dan merupakan satu jago yang namanya sudah menggetarkan dunia
Kangouw serta sudah beberapa puluh tahun mengasingkan diri untuk melatih diri, kini dengan
hanya satu jurus saja sudah hampir rubuh ditangan seorang bocah yang masih bau pupuk
bawang. Jika hal ini nanti tersiar di kalangan Kangouw, bagaimana ada muka untuk menemui
orang?
Maka dengan tanpa banyak bicara, Kouw-low Sin Ciam lantas angkat gendewanya, kembali
melakukan serangannya ke arah kepala Kim Houw.
Kali ini Kim Houw tidak berkelit lagi karena perbuatannya tadi hampir membikin nyawanya
celaka. Ia hendak menggunakan taktik menyerang untuk menghentikan serangan lawannya.
Sebelum gendewa lawannya sampai, senjata Bak-tha Liong-kinnya sudah menyambuti senjata
musuhnya.
Kedua kekuatan tenaga saling beradu lantas menimbulkan angin hebat.
Pek-liong-ya bertiga yang sedang duduk bersemedi sampai tidak mampu pertahankan diri dari
sambaran angin tersebut, sehingga pada lompat bangun dan mundur ke samping.
Sebentar saja kedua orang itu sudah bertempur sepuluh jurus lebih. Nampaknya sama-sama
kuatnya, maka pertempuran itu merupakan suatu pertempuran hebat yang jarang tampak dalam
dunia persilatan.
Selagi pertempuran berjalan seru, dari jauh tiba-tiba terdengar suara ketawa seorang wanita
hingga mengejutkan kedua orang yang sedang bertempur ini.
Apa sebab Kouw-low Sin Ciam terkejut? Baik kita tunda sebentar. Di sini kita hendak bicarakan
Kim Houw lebih dulu.
Ketika Kim Houw mendengar suara ketawa itu, dalam otaknya lantas mendengung. Sebab
suara ketawa yang genit itu kembali telah menggetarkan dan menyadarkan sedikit perasaan
dalam otaknya yang sudah linglung.
Suara ketawa itu datangnya demikian cepat, mula-mula terdengar nampaknya dari jarak yang
sangat jauh, tapi belum lenyap suara ketawa itu, di atas tembok pekarangan sudah kelihatan
seorang wanita setengah telanjang dengan kerudung kain sembari mengunjukan ketawanya yang
menggiurkan hati.
Wanita yang baru muncul itu pembaca tentunya sudah kenal baik, ia adalah wanita genit Khu
Leng Lie yang menyebabkan Kim Houw kehilangan ingatannya!

Khu Leng Lie baru saja berdiri, belum melihat tegas bagaimana keadaan dalam medan
pertempuran itu, matanya tiba-tiba melihat gendewa panjang, seolah-olah tikus melihat kucing
segera ia mau kabur balik.
Tapi, sebelum memutar tubuhnya, matanya kembali dapat lihat senjata Bak-tha Liong-kin Kim
Houw. Dari senjata itu ia lantas melirik kepada pemiliknya, siapa bukan lain ada si pemuda tampan
Kim Houw !
Ia sudah tahu kegagahan Kim Houw, maka ia tidak jadi pergi. Wajahnya Kim Houw yang cakap
serta badannya yang kuat kekar, sudah memikat hatinya, maka ia berat untuk meninggalkan
tempat itu meskipun hatinya merasa jerih pada gendewa panjang tadi.
Ia lalu berdiri menonton pertempuran. Ia merasa heran sekali, bahkan Kim Houw mampu
menandingi si iblis tua yang sudah tidak ada tandingannya didalam dunia. Disamping itu rasa
sukanya kepada Kim Houw juga berlipat ganda. Kepandaian ilmu silat Kim Houw yang demikian
tinggi, sungguh-sungguh di luar dugaannya sama sekali. Ia girang dengan adanya Kim Houw yang
menghadapi iblis tua itu, ia sudah tidak perlu takuti padanya lagi!
Kiranya ketika Khu Leng Lie kabur ke daerah Kwan-gwa, kebetulan kala itu Kouw-low Sin
Ciam juga berada di sana. Diantara begitu banyak laki-laki yang pernah dipermainkan dan
kemudian celaka di tangannya, ada terdapat murid Kouw-low Sin Ciam.
Akhirnya, hal itu telah diketahui oleh Kouw-low Sin Ciam, siapa perlu mencari. Khu Leng Lie
tidak mampu menandingi Kouw-low Sin Ciam, maka akhirnya tertawan oleh iblis tua itu. Kemudian
karena Kouw-low Sin Ciam ketarik oleh kecantikannya, maka Khu Leng Lie dijadikan isterinya.
Tapi, Leng Lie merupakan seorang wanita cantik laksana bidadari sedangkan Kouw-low Sin
Ciam wajah jelek seperti tengkorak hidup sudah tentu Khu Leng Lie tidak menyukainya. Maka ia
lantas keluarkan kepandaiannya menghisap sari kekuatan Kouw-low Sin Ciam, supaya orang tua
itu segera binasa.
Kalau usahanya itu berhasil, Khu Leng Lie juga terhitung seorang yang melakukan kebaikan
terhadap masyarakat, telah menyingkirkan satu iblis dari rimba persilatan !
Apa mau, Kouw-low Sin Ciam juga paham ilmu demikian, hingga Khu Leng Lie tidak dapat
berbuat apa-apa terhadap dirinya.
(Bersambung ke jilid : 16)
Jilid 16
Akhirnya Khu Leng Lie mencari daya upaya untuk melarikan diri. Tapi, karena Khouw-low Sinciam
mempunyai kecerdikan luar biasa, maksud Khu Leng Lie untuk sementara telah dibikin gagal
olehnya.
Satu kali, dengan alasan mencari buku kitabnya yang dibawa kabur orang hutan betina, ia
dapat lolos juga dari tangannya Kouw-louw Sin Ciam. Tidak nyana Kouw-louw Sin Ciam terus
mencari dirinya, seolah-olah membayangi dirinya, dan kali ini kembali muncul di Pek liong-po..."
Kala itu Khu Leng Lie hatinya merasa girang benar-benar, ia benar-benar mengharap supaya
Kim Houw dapat mengalahkan Kouw-low Sin Ciam lebih baik pula kalau dapat dibinasakan sekali,
habis perkara.
Tapi, beberapa puluh jurus telah berlalu, pertempuran terus berlangsung dengan sengitnya,
kekuatan kedua pihak agak berimbang.

Khu Leng Lie lalu memikirkan daya upaya untuk membantu Kim Houw. Ia seorang yang
berhati ganas kejam, setelah berpikir sejenak, lalu mendapat akal keji. Dengan cepat ia melayang
turun ke dalam kalangan pertempuran, sambil bersiul nyaring ia berkata kepada Kouw-low Sin
Ciam: "Iblis tua! mari aku bantu kau!".
Belum selesai ucapannya, ia lantas menyerang Kim Houw dengan hebat.
Dalam rimba persilatan, bagi orang gagah yang berkepandaian tinggi, ada merupakan suatu
pantangan apabila dalam pertempuran dibantu orang luar, apalagi seorang gagah seperti Kouwlow
Sin Ciam itu menghadapi seorang bocah saja harus perlu bantuan tenaga bagaimana
kemudian hari bisa tancap kaki di dunia Kangouw lagi.
Apalagi pada saat itu ia juga belum terkalahkan oleh lawannya. Maka ia lantas membentak
dengan suara keras:" Manusia hina, lekas pergi, siapa sudi kau bantu?".
"Iblis tua! Kau tidak suka aku bantu, biarlah aku bantu padanya!" sahut Khu Leng Lie sambil
ketawa cekikikan. Berbareng, ia berbalik menghajar Kouw-low Sin Ciam.
Tadi ketika ia menyerang Kim Houw, sebetulnya cuma pura-pura saja, maka hanya
menggunakan satu atau dua bagian saja kekuatannya, tapi kali ini lain ia menggunakan tenaga
sepenuhnya dalam melakukan serangannya.
Ia ingin menggunakan kesempatan selagi Kouw-low Sin Ciam pusatkan tenaganya untuk
menghadapi Kim Houw, sekali pukul tentu dapat membinasakannya.
Karena perbuatan itu dilakukan dengan mendadak, betapapun tinggi kepandaian ilmu silat
Kouw-low Sin Ciam, juga tidak mampu menghadapi kedua musuh kuat seperti Kim Houw dan Khu
Leng Lie. nampaknya jiwa orang tua itu segera dapat binasa ditangan istrinya sendiri...
Mendadak Kim Houw tarik mundur dirinya dan serangannya, untuk memberi jalan hidup bagi
Kouw-low Sin Ciam. Tapi, sedikitpun orang aneh itu tidak menduga Kim Houw akan berbuat
demikian, ketika ia mengetahui, ternyata sudah terlambat, belakang punggungnya sudah dihajar
dengan telak oleh Khu Leng Lie.
Badannya sempoyongan, matanya berkunang-kunang setelah perdengarkan geraman hebat,
ia lantas kabur.
Kouw-low Sin Ciam ternyata sudah terluka parah, sehingga tidak berani bertempur terus. Tapi,
dengan lolosnya ia kali ini, di kemudian hari telah menimbulkan banyak kerewelan.
"Ah, kau benar-benar seorang tolol, dengan maksud baik aku memberi bantuan padamu,
supaya bisa menyingkirkan jiwanya manusia iblis itu, mengapa kau berikan jalan hidup padanya?
Untuk selanjutnya jangan harap kau bisa lewatkan hari-hari dengan tenang, dia bisa berlaku
seperti roh manusia yang mati penasaran, setiap kau lengah sedikit saja, dia lantas lepaskan anak
panahnya kepadamu!" demikian kata Khu Leng Lie. Perkataannya yang paling akhir, sengaja ia
ucapkan begitu tandas, sehingga Kim Houw merasa kaget juga. Ini bukan berarti Kim Houw takut
Kouw-low Sin Ciam, ia hanya dibikin kaget oleh Khu Leng Lie.
Khu Leng Lie melihat Kim Houw agaknya takut benar-benar kepada Kouw-low Sin Ciam lantas
ketawa cekikikan sambil menghampiri dengan tindakan perlahan ia berkata: "Sebetulnya kau juga
tak perlu takut padanya, asal kau mau menungkuli aku setiap hari dan malam, sudah tentu aku
mempunyai daya untuk menyingkirkannya. Kalau kau mau menuruti nasehatku, aku tanggung
belum sampai setengah bulan, kita bisa mengambil jiwanya!".
Mendengar keterangan itu, Kim Houw diam-diam merasa geli, karena sejak kanak-kanak, ia
belum pernah kenal apa artinya takut. Hanya ia tidak mau bentrok dengan wanita cantik dan genit

ini. Ini bukan berarti Kim Houw tertarik akan kecantikannya, melainkan ingin mendapatkan kembali
ingatannya. Sebabnya ialah, ketika Kim Houw tersadar dari pingsannya, orang yang pertama kali
ia lihat adalah wanita cantik dan genit ini.
Dengan lagaknya yang genit dan manja, Leng Lie mendekati Kim Houw. Bau harum dari
badannya telah membuat Kim Houw lemas dan hatinya tercekat.
Pek Liong-ya bertiga mendadak bangkit dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
Leng lie seolah-olah tidak melihat dan tidak mendengar mereka, ia tersenyum manis kepada
Kim Houw, kemudian berkata kepadanya dengan suara yang merdu: "Adik kecil, apa yang kau
pikirkan? Mengapa kau tidak mau bicara?"
Kim Houw saat itu sedang tenggelam dalam lamunannya, karena terpengaruh oleh bau harum
dari tubuh Leng lie tadi, semangatnya seperti melayang-layang, tapi perginya Pek Liong-ya bertiga
dari situ justru telah mengembalikan kesadarannya.
Ketika melihat Leng Lie semakin dekat, buru-buru ia kerahkan ilmu Han Bun Cao Kie, untuk
menenangkan pikirannya. Lama sekali barulah ia menyahut: "Enci, ada suatu hal yang ingin aku
tanyakan padamu!"
Leng lie agaknya girang sekali mendengar kata-kata pemuda yang dirindukannya itu.
"Ya, begitu baru benar!" jawabnya. "Seharusnya sedari tadi kau sudah panggil aku enci, aku
tadinya masih mengira kau seorang yang berhati baja, tidak tahunya juga terbuat dari darah dan
daging. Kau ingin menanyakan soal apa? Katakan saja, kalau encimu tahu, sudah tentu akan
memberi penjelasan padamu."
Mendengar jawaban terus terang itu, Kim Houw sebaliknya merasa curiga. Ia melihat keadaan
sekitarnya, meski tahu bahwa di situ sudah tidak ada orang lain lagi, tapi ia masih belum buka
mulut.
Melihat Kim Houw masih bersangsi, Leng Lie menganggap ia tengah memikirkan persoalan
mengenai perhubungan antara wanita dan pria, karena merasa malu lalu tidak berani
mengeluarkan kata-kata.
"Adik kecil," katanya, "Kalau merasa malu untuk mengatakannya, marilah kita mencari tempat
untuk bicara! Disini aku sendiri juga merasa kurang tentram."
Kim Houw pikir, itu memang betul. Mengapa tidak mau mencari tempat yang sunyi, agar bisa
bicara dan menanyakan lebih jelas. Ia masih mengharap wanita ini dapat mengembalikan
ingatannya yang hilang.
"Baiklah, mari kita berangkat!" jawabnya singkat.
Melihat Kim Houw menjawab tanpa ragu-ragu, Leng Lie menganggap dugaannya sendiri tidak
meleset. Hatinya girang bukan kepalang, ketawanya sampai semakin manis.
Kim Houw mengajak ia pergi ke sebuah rimba di luar rimba Pek Liong Po.
Begitu tiba ditempat sunyi, Leng Lie lantas menubruk hendak memeluk Kim Houw.

Tidak disangka, ia tidak melihat Kim Houw bergerak, tapi nyatanya pemuda itu sudah tidak
kelihatan bayangannya, Leng Lie yang menubruk tempat kosong, hampir saja jatuh.
Ia merasa heran, entah apa maksudnya Kim Houw ini?
Mendadak di belakangnya terasa ada sambaran angin, Leng Lie lantas segera berkelit, ketika
ia berpaling ternyata Kim Houw yang hendak menyerang dirinya.
Leng Lie semakin heran, mengapa Kim Houw menyerang dirinya?
Tiba-tiba ia melihat Kim Houw tertawa dan berkata: "Kau menubruk aku satu kali, aku juga
hendak menubruk kau satu kali, dengan demikian kita impas, enciku yang baik....."
Kiranya Kim Houw sedang main-main dengannya, maka tidak kepalang girangnya Leng Lie, ia
menyesal tadi telah menghindar. Kalau tidak, bukankah ia sekarang sudah berada dalam pelukan
Kim Houw? maka tidak menunggu Kim Houw menjelaskan maksudnya, ia sudah memotong :
"Adik kecil, tak usah kau ucapkan lagi, mari."
Ia ucapkan perkataannya dengan nada dibuat-buat sangat manja, juga sangat menggiurkan!
Dan tanpa menanti jawaban Kim Houw lagi, kembali ia menubruk dan memeluk erat-erat diri si
anak muda.
Kali ini Kim Houw tidak menyingkir lagi, bahkan pentang kedua tangannya, menyambuti diri
Leng Lie. Perbuatan Kim Houw itu entah benar-benar terpengaruh oleh hawa nafsu atau ada
maksud yang lain?
Begitu berada dalam pelukan Kim Houw, Leng lie lantas unjukkan sikap genit, ia keluarkan
seluruh kepandaiannya untuk memikat hati Kim Houw.
Apa mau dikata, selagi ia dalam keadaan lupa daratan, tiba-tiba ia merasa tubuhnya tergetar,
lalu kakinya lemas dan jatuh merosot dari pelukan Kim Houw, dan tergeletak di tanah.
Ternyata ia sudah ditotok jalan darahnya oleh Kim Houw.
Setelah menotok Leng Lie, Kim Houw lantas berjongkok dan bertanya padanya: "Enci, aku
bukan tidak mau berdekatan denganmu, cuma sejak aku mendusin dalam pelukanmu tempo hari,
segala kejadian yang terdahulu, aku sudah lupa semua. Apakah kau bisa beritahukan padaku,
siapakah sebetulnya aku ini? Dengan cara bagaimana aku bisa kenal dengan enci? Harap kau
suka jelaskan padaku. Jika aku dapat kembalikan semua ingatanku, aku pasti tidak akan
melupakan budimu ini."
Leng lie yang tertotok jalan darahnya, kecuali badannya yang sedikitpun tidak bisa bergerak,
bagian lainnya masih tetap sepeti biasa.
Tadi ketika ditotok, dalam hati sebetulnya merasa kaget dan gusar, ia heran atas perbuatan
Kim Houw yang sangat aneh itu. Karena belum pernah ada seorang laki-laki yang melihat dirinya
tanpa tergila-gila.
Hanya Kim Houw yang selalu menjauhi dirinya, seolah-olah menghadapi siluman.
Ia heran pula, mengapa Kim Houw berbuat demikian pada dirinya. Dengan Kim Houw ia tidak
mempunyai permusuhan apapun, jadi tidak ada alasan Kim Houw untuk mencelakakan dirinya.
kalau ia tidak suka berdekatan dengannya, tinggalkan saja, bukankah sudah habis perkara?

Kini setelah mendengar ucapan Kim Houw, Leng Lie baru mengerti, bukan saja lantas lenyap
rasa gusarnya, malah tersenyum menggiurkan.
"Aku kira urusan penting apa? Kiranya cuma soal begitu. Sebetulnya itu juga tidak menjadi
soal. Menurut pikiranku, kalau kau lupakan segala urusanmu yang sudah lalu, bukankah lebih
baik? Mulai hari ini kita boleh memulai kehidupan baru, pergi kesuatu pulau yang tidak ada
manusianya, disana kita bisa menikmati kehidupan seperti didalam surga, bukankah lebih
nikmat?" demikian katanya.
Kim Houw mendengar perkatan Leng Lie yang melantur tidak karuan, hatinya jadi mendongkol.
"Enci, kau jangan mengucapkan perkataan demikian, aku ingin kau menjelaskan padaku,
siapa sebetulnya aku ini?" ia mendesak.
Leng Lie sendiri juga tidak tahu siapa sebetulnya Kim Houw.
Tempo hari ketika ia berada dalam satu kuil tua didalam rimba untuk berteduh karena hujan
lebat, Kim Houw hanya mengenalkan dirinya sendiri sebagai Kim Houw, tapi Leng Lie pada saat
itu sedang mabuk pikirannya, bagaimana dapat ingat hal yang lainnya?
Tidak nyana kini Kim Houw terus menanyakan padanya soal itu saja. Sebab Kim Houw tahu
sebelum hilang ingatannya, pasti ia pernah bersama-sama dengan Leng Lie, ini suatu bukti bahwa
Leng Lie juga merupakan seorang sahabatnya sebelum ia kehilangan ingatannya. Asal Leng Lie
mau memberitahukan ia bahwa dia itu siapa, Kim Houw pasti percaya.
Siapa sangka, Leng Lie sendiri juga tidak tahu siapa adanya Kim Houw.
Dalam hatinya Leng Lie berpikir, tidak perduli siapa adanya dia, aku tipu saja dulu dirinya. Ia
lantas pura-pura kaget dan menyahut: "Astaga! Apa kau benar-benar sudah lupa? Kau anak
goblok! kau adalah adikku. Apa kau tidak dengar kalau aku panggil kau adik? Bukankah kau
panggil aku enci? Adik tolol, bukan lekas bebaskan totokan encimu!"
Kim Houw tercengang. Lagi-lagi adik. Mengapa begitu banyak orang yang mengakui dirinya
adalah adik? Sudah dua laki-laki yang mengaku sebagai engkonya dan kini kembali ada orang
yang mengaku sebagi encinya. Ini benar-benar membuat pusing kepalanya.
Ia tahu bahwa dari Leng Lie juga tidak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan, hatinya
mulai dingin lagi.
Pada saat itu dari luar rimba tiba-tiba terdengar suara Siao Pek Sin yang memanggil :" Adik
Leng! Adik Leng! Kau ada dimana?"
Kim Houw terkejut, dengan cepat ia menjawab :" Aku disini!"
Baru habis ucapannya, tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang, tapi dengan cepat sudah
menghilang. Gerakan bayangan itu demikian gesitnya, dalam rimba yang gelap yang cuma
mendapat penerangan rembulan, kalau bukan matanya Kim Houw yang tajam luar biasa, pasti
tidak dapat melihat.
Selama beberapa hari ini, di Pek Liong Po terjadi beberapa peristiwa, kebakaran yang sangat
misterius, kematian Peng Peng yang secara aneh, terlukanya dua paman dari Pek Liong Po dan
entah berapa banyak lagi orang-orang Pek Liong Po yang terluka.

Karena pikirannya itu, Kim Houw mendadak gusar. Ia pikir, daripada menantikan kedatangan
musuh yang menyerang lebih dulu, lebih baik ia obrak abrik dulu serangannya. Ia kepingin tahu
ada permusuhan apa sebetulnya diantara mereka? kalau nyata ada permusuhan besar, bertempur
saja secara laki-laki, bukankah lebih memuaskan?
Setelah berpikir demikian, ia lantas melesat mengejar bayangan tadi dan meninggalkan Leng
Lie begitu saja!
"Hai! Adik kecil! mengapa kau belum membebaskan aku dari totokan....." berseru Leng Lie.
Tapi Kim Houw sudah berada disuatu tempat kira-kira sepuluh tombak jauhnya, namun
bayangan tadi juga tidak kelihatan kemana perginya.
Setelah tidak berhasil mengejar bayangan tadi, Kim Houw lantas ingat Leng Lie lagi.
Seorang wanita cantik seperti bidadari, menggeletak didalam rimba jangan kata kalau bertemu
dengan orang jahat, kalau ada binatang buas bagaimana? Bukankah ia akan binasa secara
konyol?
Karena memikirkan nasibnya Leng lie, Kim Houw hendak kembali lagi.
Tidak tahunya baru saja bergerak, tiba-tiba terdengar suara Leng Lie: "Ya! Begitu baru adikku
yang baik, aku tadinya kira kau benar-benar hendak meninggalkan aku begitu saja!
"Enci, kau kenapa?"
Itu adalah Siao Pek Sin!
Kim Houw lantas mengerti bahwa Leng Lie salah anggap Siao Pek Sin sebagai dirinya.
Pikirnya sudah ada engkohnya yang akan membebaskan totokan, tidak perlu aku datang lagi
padanya, lebih baik aku cari bayangan orang tadi!
Kembali terdengar suara Leng Lie: "Eh, mengapa kau berubah, barusan kau berlaku tolol
seperti patung, kenapa sekarang begini bernafsu? Biar bagaimana kau harus bebaskan dulu aku
dari totokan, baru ada kesenangan."
Segala perkataan Leng Lie itu, tidak dapat dimengerti oleh Kim Houw, ia hanya merasa heran.
Pikirnya: Satu pihak adalah engkohku, dilain pihak enciku. Dari pembicaraan mereka, mungkin aku
bisa dapat sesuatu yang dapat mengembalikan ingatanku.
Diam-diam ia memasang telinga untuk menangkap pembicaraan mereka.
Kembali ia dengar pula suara Leng Lie: "Ya, begitu baru adikku yang baik....."
Setelah itu, ia tidak mendengar apa-apa lagi. Kim Houw merasa heran, mengapa mendadak
tidak kedengaran pembicaraan mereka?
Dengan hati-hati ia pergi melihat, tapi apa yang dilihat? Jelas itu adalah suatu perbuatan yang
sangat memalukan! Seketika itu juga darahnya meluap. Darimana ia bisa mempunyai engko yang
seperti binatang itu? Darimana ia mempunyai enci yang tidak kenal malu itu? Demikian pikirnya
dalam hati.

Ia telah mengambil keputusan: andaikata betul mereka adalah engko dan encinya, ia juga tidak
mau kenal lagi!
Dengan diam-diam ia menghilang ke dalam rimba, saat itu pikirannya bukan cuma gusar saja
tapi juga cemas dan duka.
Tentang Leng Lie betul adalah encinya atau bukan, ia tidak perduli. Tapi Siao Pek Sin ia sudah
anggap adalah engkonya sendiri. Dan sekarang, setelah dalam hati tidak mau kenal lagi dengan
mereka, ia juga merasa tidak perlu pulang lagi ke Pek Liong Po!
Maka Kim Houw kembali harus melakukan perjalanan yang tidak tentu tujuannya.
Beberapa puluh lie perjalanan sudah ditempuhnya, dan hari sudah mulai terang.
Tiba-tiba, dari jauh ia mendengar suara orang menyanyi:".....orang di dunia pada mabuk,
hanya aku yang masih sadar....."
Kim Houw terkejut, ia hentikan langkahnya, ia ingat nyanyian itu pernah dinyanyikan oleh si
imam palsu dari Pek Liong Po yang tingkah lakunya seperti orang sinting. Maka lantas timbul
pertanyaan dalam hatinya: mengapa si Imam palsu ini mendadak bisa muncul disini?
Kembali ia mendengar suara nyanyian yang merdu mengalun, seperti suara seorang wanita.
"Jalannya waktu laksana air mengalir, membawa hanyut daun merah yang sudah luntur
warnanya!
Angin musim rontok bagaikan anak panah, memanah jatuh kembang kuning nan indah!...."
Mula-mula suaranya kedengaran manis dan merdu, tapi kemudian berubah menjadi sedih
memilukan hati, dan akhirnya terdengar suara isak tangis yang sangat memilukan hati!
Kim Houw yang mendengar suara tangisan itu, dalam hati terkejut, karena suara itu rada-rada
mirip dengan suara tangisan Peng Peng. Tapi Peng Peng toh sudah binasa terbakar, bagaimana
ia bisa muncul di sini?
Tidak perduli Peng Peng atau bukan, Kim Houw tetap ingin tahu siapa adanya orang itu. Maka
ia lantas lompat melesat ke arah suara itu.
Ia meninggalkan jalan raya, melalui sebuah bukit. Di belakang bukit itu ia menemukan sebuah
kuil.
Dari jauh Kim Houw sudah dapat melihat seorang laki-laki dan seorang wanita, berjalan
perlahan menuju ke kuil. Laki-laki yang jalan di sebelah depan adalah si Imam palsu, sedikitpun
tidak salah. Sedang wanita yang jalan di belakangnya adalah Peng Peng, juga ia kenali dan tidak
akan keliru.
Apa yang terlihat telah membuat Kim Houw terkesima! Kalau tadi ia tidak percaya kepada
telinganya sendiri, sekarang matanya sendiri juga hampir tidak ia percayai lagi.
Tapi, percaya atau tidak, memang benar bahwa wanita itu adalah Peng Peng, sedikitpun tidak
salah, bahkan baju yang dipakainya juga adalah baju yang dipakai sebelum terjadinya kebakaran
di kamarnya.
Kim Houw mengucek-ngucek matanya, tidak salah lagi. itu memang Peng Peng adanya. Tapi
ketika ia memikirkan si Imam palsu yang jalan di depannya, ia mulai bimbang. Apakah si Imam

setengah edan itu benar-benar bisa membuat orang yang sudah hangus, hidup kembali? Kalau
tidak, bagaimana Peng Peng yang sudah mati terbakar bisa hidup lagi?
Tidak perduli bagaimana, ia harus buktikan sendiri kebenarannya. Maka ia lantas bersiul
nyaring kemudian terbang melesat ke arah kuil tersebut.
Siulan nyaring Kim Houw, telah mengejutkan si Imam palsu dan Peng Peng.
Apakah wanita itu benar-benar Peng Peng? Memang benar, ia adalah Peng Peng! Tapi
bagaimana ia masih hidup dan muncul disitu? Mari kita ceritakan duduk perkaranya!
Sejak Peng Peng tertawan Siao Pek Sin, sepanjang jalan meski ada Ciok Goan Hong yang
mengawasi, disamping itu masih ada lagi si Imam palsu, Kacung baju merah dan La to Kiesu
bertiga yang diam-diam melindungi keselamatannya.
Sejak Siao Pek Sin mengangkat dirinya sebagai Tiancu dari Istana Kumala Putih, meski
mereka pernah bersumpah, siapa saja yang mampu membawa mereka keluar dari istana di rimba
keramat itu, selain mereka hendak menurunkan kepandaian masing-masing, juga menyediakan
diri masing-masing untuk mengabdi seumur hidup.
Siapa nyana bahwa Siao Pek Sin telah menggunakan kesempatan baik untuk menjagoi di
dunia kangouw, ingin membuat dirinya sebagai orang yang teragung didalam rimba persilatan. Hal
ini telah menimbulkan reaksi hebat bagi mereka. Pertama, adalah dua manusia kukoay dari
daerah luar yang setelah menurunkan kepandaian masing-masing lantas meninggalkan Siao Pek
Sin tanpa pamit, kembali ke tempat kediaman mereka semula, yaitu ke pulau Wan Yu To di Tong
Hay.
Perginya satu dua orang bagi Siao Pek Sin tidak menjadi soal. Ia tetap dengan sepak
terjangnya sendiri, sedikitpun tidak ada kekuatiran. Tapi, munculnya Kim Houw secara tiba-tiba,
telah membuat Siao Pek Sin ketakutan!
Sebabnya ialah: Kim Houw adalah satu-satunya orang yang bisa membuka rahasia Siao Pek
sin yang telah mencelakakan diri Kim Houw dan merebut kedudukan Tiancu dari Istana Kumala
Putih. Maka, tidak menunggu sampai Kim Houw muncul dimuka umum, dengan licin ia telah
menarik diri bersama orang-orangnya meninggalkan Istana Kumala Putih.
Selagi hendak meninggalkan sarangnya, ia telah berpapasan dengan Peng Peng yang hendak
mengambil kudanya. Dengan akal yang licik ia bisa menawan Peng Peng, lalu dibawa kabur
sekalian, ia hendak menggunakan Peng Peng untuk memancing Kim Houw.
Kala itu si Imam palsu dan yang lain, meski dalam hati merasa kurang senang atas perbuatan
Siao Pek Sin, tapi belum mau mengambil keputusan untuk meninggalkannya. Mereka mengikuti
perjalanan Siao Pek Sin. Disepanjang perjalanan Siao Pek Sin dengan mengaku dirinya sebagai
Kim Houw telah melakukan perbuatan merampok dan memperkosa para wanita-wanita baik, hal
ini telah membangkitkan perasaan gusar mereka, hingga timbullah pikiran untuk meninggalkan
Siao Pek Sin!
Tadinya Siao Pek Sin mengira, dengan perbuatannya itu, ia dapat membuat rusak nama baik
Kim Houw, hingga tidak dapat menancapkan kaki dikalangan kangouw. Siapa nyana akal kejinya
itu, ternyata merupakan kesalahan besar, bukan saja sudah tidak berhasil mencelakakan diri
orang lain, sebaliknya telah mencelakakan diri sendiri.

Itulah sebabnya sampai kejadian Lie Cit Nio dan To Pa Thian habiskan jiwanya sendiri. Mereka
tidak mau mengingkari janji mereka sendiri, tapi juga tidak sudi diperalat oleh Siao Pek Sin
melakukan kejahatan. Kecuali mati, sudah tidak ada jalan lain bagi mereka!
Selanjutnya Kim Coa Nio-nio berontak, San Hua Sian-lie binasa, Lui Kong ayahnya San Hua
Sian-lie karena gusar dan duka, juga telah berlalu tanpa pamit!
Semua kejadian yang timbul saling susul menyusul itu, baru membuat Siao Pek Sin kuatir.
Orang-orangnya satu persatu telah menyingkir, ada yang habiskan jiwa sendiri, ada yang pergi
tanpa pamit, hingga kekuatan Siao Pek Sin nampak mulai berkurang.
Dalam keadaan tidak berdaya, akhirnya Siao Pek Sin coba berlaku manis seberapa bisa
terhadap orang-orangnya yang masih tinggal, diantaranya masih terdapat si Imam palsu, Kacung
baju merah dan La to Kiesu. Sebabnya ketiga orang ini bukan saja tidak mau mengurusi segala
urusan tetek bengek, bahkan sampai hari itu, mereka belum menurunkan kepandaian sedikitpun
kepada Siao Pek Sin. Tindakan kedua ialah, Siao Pek Sin dapat membujuk si iblis tua Lo Ceng
Mo, dan dengan kekuatan Ceng Kee Cee dan Pek Liong Po mereka hendak kembali ke Istana
Kumala Putih.
Tidak disangka, Lo Ceng Mo dalam perjalanannya ke Pek Liong Po, setelah bertempur dengan
Kim Lo Han dan kawan-kawannya, telah menemukan tanda-tanda yang ditinggalkan oleh Kouw
Low Sian Ciam, yang membuat hatinya jerih dan segera lari pulang ke sarangnya.
Pek Liong Po pernah membinasakan murid Kouw Low Sin Ciam, ini telah diketahui dengan
baik oleh Lo Ceng Mo. Munculnya Kouw Low Sin Ciam, pikirnya sudah tentu hendak membikin
perhitungan dengan orang-orang Pek Liong Po.
Lo Ceng Mo tidak takut Kim Houw dan yang lainnya, hanya terhadap iblis yang membunuh
orang tanpa berkedip itu, ia takut seperti ketemu dengan iblis sungguhan.
Dengan demikian, kekuatan Siao Pek Sin lantas berkurang. Namun, saat itu Kim Houw telah
kambuh kembali penyakit lamanya, yang tidak dapat mengingat segala kejadian yang sudah lalu
dan terjatuh ditangan Siao Pek Sin. Untuk kepentingannya melawan Kouw Low Sin Ciam, Siao
Pek Sin terpaksa berlaku baik terhadap Kim Houw.
Gangguan yang ditimbulkan Kim Lo Han dan kawan-kawannya, yang dilakukan berulang kali,
sedikitpun tidak dipandang mata oleh Siao Pek Sin. ia hendak menyimpan tenaganya untuk
menghadapi Kouw Low Sin ciam.
Tapi perkataan Peng Peng kepada Kim Houw: "Aku akan berusaha keras supaya kau
mendapatkan kembali semua ingatanmu!" telah membuat Siao Pek Sin pusing kepala.
Karena ucapannya itu, Siao Pek Sin anggap perlu untuk menyingkirkan Peng Peng. Pertama
untuk menutup jalan bagi Kim Houw untuk mendapatkan kembali ingatannya, supaya Kim Houw
tetap dapat diperalatnya untuk selama-lamanya.
Kedua, menimbulkan kesalah pahaman dan kekeliruan antara Kim Houw dengan pihak Kim Lo
Han, sehingga kedua pihak saling hantam sendiri.
Siapa sangka, rencana Siao Pek Sin itu, meski dapat mengelabui mata orang lain, tapi tidak
bisa mengelabui mata si Imam palsu bertiga yang setiap saat melindungi jiwa Peng Peng, dan
dengan menggunakan kesempatan itu, mereka dapat menolong jiwa Peng Peng dan keluar dari
sarang macan.

Maka, pada saat yang kritis, si Imam palsu bertiga lantas bertindak, mereka kemudian
menjebloskan pelayan wanita yang ditugaskan untuk membakar kamar Peng Peng, sedang Peng
Peng sendiri dibawa kabur ke tempat aman!
Dasar Siao Pek Sin lagi sial, ia malah bertemu dengan Khu Leng Lie dan melakukan
perbuatan binatangnya, hingga membuat Kim Houw cemas dan gusar serta meninggalkannya.
Dikala si Imam palsu dan Peng Peng mendengar suara siulan, lantas menengok, dan ketika
mengetahui bahwa suara itu adalah suara Kim Houw, Peng Peng lantas lari menyambut sambil
berseru :" Houw-ji! Houw-ji!"
Kim Houw dengan cepat menghentikan langkah kakinya, baru saja berhenti, Peng Peng sudah
berada dalam pelukannya dan memeluk dirinya dengan erat.
"Houw-ji, apa kau sudah kembali ingatanmu?" tanyanya.
Kim Houw tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya ia mengangkat wajah si nona dan
dipandanginya sekian lama. Wajah Peng Peng nampak merah segar, jelas kesehatannya tidak
terganggu, maka segera ia mengetahui bahwa dalam hal ini pasti ada rahasianya.
"Peng Peng, kau baik-baik saja?" tanyanya.
Peng Peng juga tidak menjawab, ia malah balik bertanya, "Aku tanya kau, mengapa kau tidak
menjawab? Apakah kau sudah mengetahui semua kejadian ini?"
Kim Houw gelengkan kepalanya.
Melihat Kim Houw geleng kepala, Peng Peng lalu menghela napas, "Kau belum pulih kembali
ingatanmu, mengapa seorang diri kau berani kabur kemari?"
Mendengar pertanyaan demikian, Kim Houw lalu ingat perbuatan mesum antara Siao Pek Sin
dengan Khu Leng lie, maka seketika itu wajahnya lantas berubah merah, mulutnya seperti
terkancing tidak dapat menjawab.
"Tidak perduli bagaimana, sekarang kau sudah keluar dari Pek Liong Po, jadi tidak perlu balik
kembali kesana!"
"Kau tak usah kuatir! Aku tidak akan kembali lagi! Selamanya tidak akan kembali lagi ke Pek
Liong Po!"
Mendengar jawaban Kim Houw, Peng Peng sangat girang. "Aaa! Kalau begitu baik
sekali.....cuma tentang ingatanmu....."
Mendadak terdengar suaranya si Imam palsu, "Jangan kesusu, lihat si Budha hidup telah
datang!"
Kim Houw dan Peng Peng menengok berbareng, diatas puncak gunung yang berderet-deret,
dari jauh tampak beberapa bayangan orang yang lari laksana terbang.
"Siapa itu Budha hidup yang dimaksudkan Toya ini?" tanya Kim Houw.
"Jangan panggil aku Toya, aku ini adalah si Toya palsu. Kau hendak menanyakan tentang
Budha hidup? Kuberitahukan padamu, kau juga tidak akan tahu? Untuk sementara biarlah kau

berada dalam kegelapan dahulu. Karena dalam keadaanmu seperti sekarang ini, sekalipun kau
bertemu dengannya juga masih belum mengenalinya1" kata si Imam palsu sambil tertawa
tergelak-gelak.
Kim Houw tidak bisa berbuat lain, ia merasa agak jengkel, lalu berkata kepada Peng Peng.
"Peng Peng, kau suka ikut aku pergi?"
Peng Peng tercengang, ia melirik kepada Kim Houw sejenak.
"Pergi? Kemana hendak pergi?" tanya si nona.
Kim Houw meniru lagaknya si Imam palsu. menjawab sambil tertawa tergelak-gelak :
"Didalam dunia yang lebar ini. Masakan tidak ada tempat untuk aku tinggal?"
"Houw-ji, apa kau tidak ingin mendapatkan kembali ingatanmu? Apakah kau ingin terus
linglung seumur hidupmu?" tanya Peng Peng.
Kim Houw tercengang, "Siapa bilang aku tidak ingin? Aku hendak menjelajahi dunia untuk
mencari tabib yang pandai, yang dapat menyembuhkan penyakitku!"
"Baik! Aku mau ikut kau. Tapi harap kau suka tunggu aku sebentar, aku hendak ketemu
Yayaku sebentar. Sebentar lagi ia akan datang, kemudian aku akan ikut kau pergi, tidak perduli
kemana saja, aku selalu mengikutimu!"
Kim Houw mendengar Peng Peng menyebut yayanya, segera teringat dengan orang setengah
tua yang mengaku sebagai kakeknya Peng Peng.
Tak lama kemudian, beberapa bayangan orang itu sudah berada semakin dekat. Kim Houw
melirik mereka, ia dapat melihat orang yang jalan dimuka sebagai pengantar adalah si Kacung
baju merah yang bentuk badannya pendek kate seperti anak-anak, sedang yang mengikuti di
belakangnya adalah seorang hwesio, hati Kim Houw lantas berdebaran!
"Kim Lo Han! Kim Lo Han! Kim Lo Han!" berulang-ulang ia menyebut nama itu, tapi nama itu
sama juga dengan nama Kim Houw yang teringat hanya samar-samar, ia tidak dapat
menyelaminya.
Sebentar saja, orang-orang itu sudah tiba di depan kuil.
Mereka itu kecuali si Kacung baju merah, tidak lebih, tidak kurang adalah tujuh orang yang
masuk ke Ceng Kee Cee digunung Teng Lay San. Kim Lo Han, Cu Su bersama muridnya, Tok Kai
bersama muridnya, Tiong Ciu Khek dan Kim Coa Nio Nio!
Kim Lo Han dan teman-temannya ketika melihat Kim Houw berada di situ, semua pada
tercengang.
Oleh karena wajah Kim Houw mirip benar dengan wajah Siao Pek Sin, sampai mereka sukar
untuk membedakan anak muda itu Kim Houw atau Siao Pek Sin?
Dua tahun lalu, Kim Houw masih belum dewasa, bentuk badannya agak pendek dari Siao Pek
Sin maka mudah dikenali. Tapi sekarang, keduanya sama tingginya, sama-sama cakap dan
gagahnya, kalau belum mendapatkan bukti, siapa berani percaya? Sekalipun Kim Houw sendiri
yang mengatakan, mereka juga belum tentu mau percaya. Bukankah Siao Pek Sin juga bisa
mengatakan dirinya adalah Kim Houw?

Kim Houw tadinya menganggap orang-orang itu memandang dirinya karena pernah bertempur
dengan mereka, hingga menganggap dirinya musuh, ia lantas berkata pada Peng Peng: "Peng
Peng, aku akan jalan dulu, aku akan tunggu kau diatas bukit sana!"
Baru saja Peng Peng hendak anggukkan kepala, tiba-tiba terdengar suara si Imam palsu
berkata: "Apa perlunya berbuat begitu? Semua toh sahabat lama, tidak ada halangan untuk saling
bertemu, mungkin ini ada baiknya bagi penyembuhan penyakitmu. Mereka tidak percaya kau, tapi
aku percaya bahwa kau benar adalah Kim Houw. Biarlah aku nanti yang menjelaskan duduk
perkaranya!"
Sehabis berkata, si Imam palsu lantas berseru: "Budha hidup, apa sebab Kim Siauhiap bisa
jadi begini, seharusnya kau tahu, kenapa kau juga bingung terlongong-longong?"
Kim Lo Han masih belum percaya penuh bahwa pemuda itu adalah Kim Houw, untuk
membuktikan ia betul Kim Houw atau bukan, maka ia lantas menjawab: "Kee Tojin, bagaimana
kau dapat memastikan siapa adanya dia?"
"Mereka berdua meski mirip satu sama lain, tapi tabiatnya berlainan. Siao Pek Sin licik dan
banyak akalnya, tidak seperti dia yang jujur, terutama linglung, bagaimana bisa dibikin-bikin?"
Kim Houw yang mendengar si imam palsu mengatakan mereka semua adalah sahabat lama,
bukan lagi engko atau encinya, hatinya tergerak juga. Pikirnya kalau benar mereka adalah
sahabat-sahabatnya, kita beromong-omong mungkin ada baiknya bagi diriku! pikirnya.
Mengingat ketika baru pertama kali bertemu dengan Peng Peng, nona itu pernah suruh ia
keluarkan pedangnya! Pikirnya, aku mempunyai dua macam senjata, semuanya merupakan
senjata yang cocok dengan hatiku, mungkin ini adalah senjata yang dahulu aku pergunakan.
Untuk mendapat kepercayaan orang-orang yang dikatakan sebagai sahabat-sahabat itu, Kim
Houw segera keluarkan senjata Bak Tha Liong Kin nya, berbareng dengan itu, ia lantas bersiul
nyaring, kemudian memainkan ilmu silatnya yang paling ia banggakan, Leng In San Hoat.
Belum sejurus ia mainkan ilmu silatnya itu, Kim Lo Han sudah berseru girang dan dengan
suara nyaring: "Houw-ji! Houw-ji!"
Sebab ilmu silat itu bukan saja sukar dilatih, tapi juga hebat serangannya. Oleh karena terlalu
seringnya Kim Houw melatih ilmu silatnya itu dan Kim Lo Han juga paling sering menyaksikan
latihan Kim Houw dengan ilmu silatnya, maka ia lantas mengenalinya dan tidak menganggap palsu
lagi.
Kim Houw yang dipanggil namanya, malah tidak berani menyahut, Kim Houw itu apakah
namanya sendiri atau bukan, ia sendiri masih belum tahu.
Setelah Kim Lo han dapat mengenali Kim Houw, orang-orang itu lantas anggukan kepala untuk
memberi hormat, Kim Houw juga membalas hormat sambil anggukkan kepalanya.
Mereka beramai-ramai lantas masuk ke dalam kuil. Kuil itu meski masih berbentuk kuil, tapi
didalamnya sudah tidak ada tempat sembahyang atau patungnya. Cuma dalam kuil itu
keadaannya bersih sekali, sudah tentu itu adalah pekerjaan si Imam palsu dan Peng Peng.
Begitu berada didalam kuil, si Imam palsu lantas berkata :" Dulu ketika pinto beribadat di sini,
orang-orang yang datang bersembahyang ramai sekali. Tapi sekarang setelah beberapa puluh
tahun pinto tinggalkan, keadaannya lain sekali. Maka kedatangan tuan-tuan di sini, pinto tidak
dapat menyuguhi apa-apa, harap supaya dimaafkan."

Ternyata kuil tersebut dulu adalah tempatnya si Imam palsu menjalankan ibadat, juga
merupakan tempat kediamannya. Kim Houw ketika melihat papan mereknya, huruf emasnya
ternyata sudah pada rontok, cuma samar-samar masih dapat dibaca : HAN PEK CIN KOAN.
Kim Houw lalu berpikir : sebutan si Imam palsu saja, sudah cukup aneh, dan sekarang nama
kuilnya lebih aneh lagi. Di bawah huruf HAN PEK, perlu ditambah huruf CIN? Apa ada HAN PEK
palsu?
Oleh karena dalam kuil tidak ada meja, orang-orang itu lantas pada duduk di bawah.
Pada saat itu Tiong Ciu Khek sudah duduk bersama-sama Peng Peng sambil mengobrol.
Setelah semua sudah berkumpul, Kim Lo Han lalu berkata kepada Kim Houw: "Houw-ji, aku
Kim Lo Han adalah satu-satunya orang yang mengetahui urusanmu. Dulu ketika masih berada di
Istana Kumala Putih di gunung Tiang Pek San, kau juga pernah mendapat penyakit begini.
Kemudian dengan menggunakan ilmuku Kim Kong Cao Khie, dalam tempo setengah tahun lebih,
penyakitmu baru sembuh. Selanjutnya, kita bersama-sama turun gunung, sama-sama membikin
onar di Istana Kumala Putih di gunung Kua Cong San! Sama-sama......"
Kim Lo Han selanjutnya menjelaskan semua hal yang telah mereka alami, sehingga
berpencaran di Ceng Kee Cee, akhirnya ia berkata "Bagaimana kau bisa kehilangan ingatanmu
lagi, kami tidak tahu. Sungguh sayang sedikitpun kau tidak ingat pula akan kejadian-kejadian
lampau, maka untuk menyembuhkan penyakitmu ini, paling sedikit kau harus menggunakan waktu
setengah tahun."
Kim Houw yang mendengarkan penuturan Kim Lo Han, dalam hati merasa kaget bercampur
girang, sedang otaknya dirasakan nyeri.
Ia terkejut karena dulu ternyata ia juga sudah pernah mendapatkan penyakit demikian, dan
bergirang karena penyakit itu bukan penyakit yang sudah tidak dapat disembuhkan, hanya dalam
waktu setengah tahun sudah bisa sembuh. Ia juga heran, ternyata sudah mengalami begitu
banyak kejadian.
Semua kejadian itu, Kim Houw hanya ingat samar-samar, biar bagaimana sudah tidak teringat
lagi.
"Hud-ya, aku bukannya tidak kenal sama sekali, cuma samar-samar seperti pernah melihat,
seperti pernah ada kejadian serupa itu, tapi juga seperti tidak, entah bagaimana persoalannya,"
berkata Kim Houw.
"Kalau begitu, kali ini kau masih belum hilang sama sekali ingatanmu. Hanya dengan ilmu Cit
Cu Kang sudah bisa disembuhkan!" kata Kim Lo Han.
Kim Houw sangat girang, "Numpang tanya Hud-ya, apa artinya ilmu Cit Cu Kang itu?"
"Cit Cu Kang adalah serupa ilmu kekuatan lwekang yang harus disalurkan terus menerus
selama tujuh hari terhitung mulai dari jam satu tengah malam. Jelasnya, ialah harus diobati terus
menerus tidak boleh terputus setengah jalan selama tujuh hari, lantas bisa sembuh!"
Ia mendadak kerutkan alisnya, "Cuma ilmu Cit Cu Kang ini meski tercapai hasilnya lebih cepat
daripada ilmu lainnya, tapi bahayanya juga besar. Maka harus mencari suatu tempat yang sepi
sunyi ditengah-tengah gunung dan yang tidak pernah didatangi manusia, barulah dapat
digunakan. Sebab selama menjalankan ilmu ini, sama sekali tidak boleh terganggu atau
dikagetkan. Apabila terganggu, sang pasien bukan saja bertambah berat penyakitnya, sedang
yang mengobatinyapun akan lenyap semua tenaga lweekangnya."

Mendengar itu, Kim Houw lantas berkata: "Hud-ya, kau tadi bukankah pernah berkata bahwa
di Istana Kumala Putih di gunung Tiang Pek San tidak ada orang yang tinggal lagi? Kalau begitu,
kita balik saja kesana, bukankah bebas dari gangguan manusia?"
"Houw-ji, gunung Tiang Pek San adanya di propinsi San See, terpisah dari sini ribuan li
jauhnya," kata Kim Lo Han sambil gelengkan kepalanya.
Kim Houw pikir, ribuan li apa artinya? Cuma, karena minta pertolongan orang, ia merasa tidak
enak membuka mulut. Ia tidak tahu dalam hati Kim Lo Han sangat gelisah.
Kalau tadi ia berkata demikian, ialah karena sudah tidak ada waktu lagi, melakukan perjalanan
begitu jauh.
Tiba-tiba terdengar suara si Imam palsu berkata: "Eh, hwesio bangkotan! Kau ini benar-benar
keterlaluan, mengapa kau tidak minta tolong kepadaku Han Pek Cin Koan. Buat apa cari tempat
jauh-jauh atau pulang ke Istana Kumala Putih? Di tempatku ini saja, aku tanggung cukup aman,
ditambah lagi dengan bantuan begini banyak orang yang melindungi kalian, sekalipun langit runtuh
juga dapat kita tahan."
Mendengar perkataan si Imam palsu itu, Kim Houw sangat girang.
"Kee Tojin, saat ini bukan waktunya kau untuk bergurau lagi," kata Kim Lo Han.
Si Imam palsu tertawa tergelak-gelak.
Aku si Imam palsu meski edan, tapi belum pernah main gila terhadap kau si hwesio gagu, apa
kau tidak percaya? mari, mari sekarang juga aku ajak kau lihat!"
Sehabis bicara, si Imam palsu lantas bangkit berjalan mengitari ruangan belakang, di sebuah
kamar tumpukan kayu kering, si Imam palsu itu lantas berhenti dan berpaling, lalu berkata kepada
yang lainnya.
"Di sini adalah kamar tempat menyimpan kayu kering, sebagai orang-orang terkenal namanya
di rimba persilatan, apakah kalian dapat melihat dimana adanya kunci rahasia didalam kamar ini?"
Kim Houw memandang keadaan sekitar kamar itu, ia lihat dikedua sudut sudah penuh dengan
tumpukan kayu kering, di sudut yang lain terdapat sebuah batu gilingan beras.
Di atas batu gilingan itu sudah penuh debu, sedang kayu yang digunakan untuk menggiling
juga sudah patah dan di sandarkan di dinding. Kecuali itu, tembok-tembok dinding dalam kamar itu
sudah pada retak, di sana sini terdapat runtuhannya.
Kalau bukan si Imam palsu yang mengatakan bahwa kamar itu ada kamar rahasianya,
mungkin Kim Lo Han dan kawan-kawannya walaupun dari tokoh-tokoh terkenal dengan
kepandaian ilmu silatnya yang tinggi, juga tidak akan menyangka bahwa didalam kamar ini ada
rahasianya.
Kini, setelah si Imam palsu memberitahu karena dalam kamar itu isinya cuma kayu kering dan
batu gilingan, dimana adanya kunci rahasia. Kecuali dalam tumpukan kayu dan batu penggilingan,
sudah tidak ada tempatnya lagi.

Namun, tidak ada seorangpun yang berani mengatakan, rahasianya sangat sederhana sekali
perlu apa harus ditebak lagi! Siapa sangka ketika melihat tidak ada yang buka mulut, si Imam
palsu lalu ajak mereka ke kamar sebelahnya!
Kamar sebelahnya itu juga merupakan kamar tumpukan kayu dan keadaannya serupa dengan
kamar yang tadi.
Dengan demikian, orang-orang itu harus memeriksa dengan teliti. Sebab kedua kamar itu, biar
bagaimanapun hanya satu yang memiliki rahasia, tidak kedua-duanya!
"Sudah periksa jelas? Dimana kamar rahasianya? tanya si Imam palsu sambil tertawa.
Orang-orang itu meski terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka di dunia persilatan, tapi dalam hal ini
tidak berani sembarangan membuka mulut, karena kuatir apabila kesalahan akan merendahkan
derajatnya.
Si Imam palsu sengaja berlaku demikian supaya Kim Lo Han mengerti bahwa sembunyi
didalam kamar ini sangat aman dan boleh tidak usah kuatir apa-apa.
Ketika melihat orang-orang itu tidak ada yang membuka mulut, si Imam palsu lantas berjalan
menghampiri batu penggilingan. Ia putar tiga kali batu gilingan tersebut, lalu dibalik dan diputar lagi
tiga kali.
Lalu terdengar suara berkeresekan, di dinding tembok lalu terbuka sebuah pintu. Sebelum
pintu itu terbuka, di dinding tembok itu cuma merupakan dinding tembok yang sudah sedikitpun
tidak kelihatan apa-apanya yang aneh. Ternyata retak-retakan dan tanda basah itu adalah buatan
belaka.
Ketika semua orang melongok ke dalam, di situ terdapat sebuah kamar batu kira-kira satu
tombak luasnya. Dalam kamar itu keadaannya sangat bersih dan kering, tidak terdapat hawa
basah, terang ada lubang hawanya. Semua orang yang menyaksikan itu pada berseru kagum!
"Bagaimana? Aku si Imam palsu toh tidak omong kosong?" katanya sambil tertawa.
"Bagus! Kamar ini sungguh tepat untuk maksud kita Houw-ji, mari sekarang kita mulai. Cuma,
kami minta bantuan saudara-saudara untuk melindungi keselamatan kami, begitu pula makan
kami setiap harinya." kata Kim Lo Han girang.
"Hal ini kau tak usah kuatir. Aku tanggung jawab sepenuhnya!" jawab si Imam palsu.
Dari rombongan orang itu tiba-tiba terdengar suara Peng Peng: "Houw-ji!"
Kim Houw melihat Peng-peng sudah basah air mata, buru-buru berkata: "Peng-peng, hanya
tujuh hari kemudian, aku percaya tidak akan berpisah lagi dengan kau. Baik-baik kau ikut yayamu,
jika belum sembuh penyakitku, sukar untuk aku menjadi orang!"
Peng peng yang sudah menangis sedih, tidak dapat membuka mulutnya. Ia hanya
mengangguk sebagai jawabannya!
Segera, Kim Lo Han dan Kim Houw berdua lantas masuk ke dalam kamar batu. Si Imam
kembali memutar batu penggilingannya, untuk menutup pintunya.
Satu hari.....

Dua hari berlalu......
Tiga hari....
Tiga hari telah dilewatkan dengan aman, sedikitpun tidak ada kejadian apa-apa.
Selama tiga hari itu, Kim Houw di bawah pengobatan Kim Lo Han dengan ilmunya Kim-kong
cao-khie, siapa sebentar mendusin dan sebentar tertidur.
Tapi waktu mendusinnya agak sedikit, waktu tidur agak banyak. Kalau sedang mendusin Kim
Houw juga seperti melamun, tidak ingat segala urusan.
Hari keempat, pagi-pagi benar. si Botak sehabis melatih silat pagi-pagi, keluar mengambil air.
Tiba-tiba melihat di atas pintu ada goresan gambar kepala tengkorak sebesar kepalan tangan, di
mulutnya menggigit sebatang anak panah.
Si Botak tidak mengenal tanda apa itu. Buru-buru memanggil sun cu hoa yang sedang melatih
silat.
"Saudara Cu hoa! kau lihat ini, permainan apa?" Sun cu hoa yang sedang berlatih, tadinya
tidak mau ambil pusing. Tapi mengingat selama perjalanan berkawan rapat dengan Si Botak,
meski Si Botak bentuknya jelek tapi hati nya baik, Sun hoa terpaksa hentikan latihannya, untuk
melihat apa sebetulnya yang terjadi yang di lihat yang di lihat Si Botak.
Tapi Sun Cu Hoa juga tidak tau apa-apa, meski sudah melihat juga percuma. Cuma saja ia
ada lebih cerdik daripada Si Botak, ia tau gambar itu tentu tidak bermaksud baik.
Dengan cepat ia lari ke dalam, kala itu didalam ruangan ada terdapat suhunya berlima tengah
duduk bersemedi. Sun cu hoa melihat suhunya juga masih bersemedi melatih ilmunya, sudah
tentu tidak berani menggangu, ia berdiri sembari ulurkan kedua tangannya!
Tiba-tiba terdengar Cu su berkata: "Cu hoa bukan ke depan melatih silat, apa perlunya datang
kemari ?" Lebih dulu mengucapkan selamat pagi kepada Suhunya, kemudian berkata: "Tecu
barusan dapat melihat didepan pintu ada lukisan gambarnya sebuah kepala tengkorak ..."
Ucapan Sun cu hoa itu telah mengejutkan yang lain-lainnya yang sedang bersemedi, mereka
pada lompat bangun dan menanyakan dengan kaget: "Apa katamu?" Sun Hoa menyaksikan reaksi
mereka merasa heran dan kaget, ia segera mengetahui bahwa hal itu belum pernah terjadi, tentu
penting. Karena selama mengikuti gurunya, belum pernah kelima orang tua itu menunjukkan kaget
demikian rupa, apalagi baru hanya dengar kepala tengkorak saja.
Terutama suhunya sendiri yang selamanya bersikap tenang, tidak pernah tergopoh-gopoh atau
gelisah, tapi mendengar keterangannya tadi ternyata lain dari kebiasaannya. "Di atas pintu ada
gambar tengkorak manusia yang mulutnya menggigit sebatang anak panah!" Cu hoa menjelaskan.
Belum habis perkataan Sun cu hoa. Lima orang tua di depannya sudah bergerak cepat
laksana angin, sebentar saja sudah menghilang di depan matanya. Sun cu hoa bertambah heran,
ia buru-buru mengejar ke depan. sedikitpun tidak salah, orang tua itu semuanya berdiri di depan
pintu, matanya memandang gambar kepala tengkorak yang di lukis di atas pintu. Sun cu hoa
berdiri jauh-jauh, ia mengawasi tingkah laku setiap orang itu. Suhunya sendiri wajahnya merah,
saat itu kelihatan merah padam.
Sedangkan si pengemis sakti seperti anak-anak sebentar pucat sebentar merah, nampaknya
sangat tegang. Wajah tiong-ciu-khek yang putih bersih.nampaknya semakin putih seperti orang
baru sembuh sakit. Dan si Kacung merah ? sikapnya tidak ketentuan saat itu, susah dibilang,
kaget atau jeri?

Tiba-tiba ia dengar Kim Coa Nio-Nio berkata: "Menurut kebiasaan iblis tua itu, kepala
tengkorak itu kalau menggigit anak panah makin dekat pada bagian kepalanya, kedatangannya
semakin cepat. Melihat keadaannya anak panah ini, siang atau malam iblis tua itu pasti datang.
Sekarang, satu-satunya jalan melawan musuh yang ganas itu, ialah kita semuanya harus
bersatu padu dan menggunakan seluruh kekuatan tenaga untuk menahan kedatangannya, lalu
aku diam-diam melepaskan ular emasku menyerang dirinya. Kecuali ular emas ini, aku percaya
tidak ada cara lain untuk menundukkan dia!"
"Entah apa maksudnya ia datang kemari ?" kata Cu su Iblis tua itu tidak mempunyai tujuan
yang tertentu. Dimana ada orang gagah dari rimba persilatan, di situ ia muncul, lalu terbitkan huruhara.
Kalau mandah terhina olehnya, ia dapat mengampuni jiwa orang itu, kalau tidak suka di hina,
ia lalu binasakan!" jawab kim Coa Nio-Nio.
Baru Cu Su hendak menyahut, tiba-tiba terdengar suara Si Botak: " Suhu! suhu lihat bidadari!
Bidadari!"
Semua orang menengok ke arah yang di tunjuk Si Botak, ternyata seorang wanita muda yang
cantik yang melayang turun dari atas bukit. Semua orang kembali pada terkejut, mengapa wanita
siluman yang sudah lama tidak kedengaran namanya ini muncul kembali?
Melihat kedatangan wanita cantik itu. Orang-orang itu, kelihatannya lebih takut daripada Kow
Low sin ciam. Dengan cepat mereka pada lari ke dalam kuil, hanya tertinggal Kim coa nio-nio
seorang.
Betulkah mereka takut padanya? Tidak! mereka hanya tidak sudi melihat dandanannya yang
tidak patut!
Wanita yang baru datang itu adalah Khu Leng Lie. Setelah melakukan perbuatan mesum
dirimba Pek-Liong-Po dengan Siao Pek Sin, Khu Leng Lie merasa puas.
Ia tidak tahu Siao Pek Sin bukan Kim Houw, tapi Siao Pek Sin tahu kalau sedang menjalankan
peran sebagai Kim Houw. Sebab ia telah saksikan sendiri Kim Houw bersama Khu Leng Lie
pernah muncul bersama di Pek-Liong-Po.
Sehabis melakukan perbuatan durhaka itu, Siao Pek Sin kembali ingat Kim Houw. Ia lantas
mencari dan memanggil-manggil, tapi Kim Houw sudah pergi jauh!
Siao Pek Sin anggap Kim Houw sudah pulang sendirian ke Pek-liong-po maka lantas ajak Khu
Leng Lie pulang. Tapi di Pek-liong-po juga tidak menemukan bayangan Kim Houw. Siao Pek Sin
menunggu lagi satu hari, masih tidak kelihatan Kim Houw pulang, ia baru merasa gelisah!
Berbareng dengan itu, Pek-liong-ya setelah mengetahui bahwa wanita cantik yang dibawa
pulang oleh Siao Pek Sin adalah Khu Leng Lie yang namanya menggegerkan jagat, ia lantas
marah-marah dan mendamprat Siao Pek Sin.
Tapi Siao Pek Sin sudah mabuk oleh kecantikan Khu Leng Lie, tidak mau percaya Khu Leng
Lie adalah wanita genit yang namanya sangat tersohor itu. Disamping itu orang-orang di Pek-liongpo
juga makin lama makin sedikit, hingga ia merasa agak masgul.
Dengan alasan hendak mencari Kim Houw ia bersama Khu Leng Lie pergi meninggalkan Pekliong-
po.

Tidak nyana, dengan tidak sengaja mereka telah tiba di kuil Han-pek-cin-koan.
Ilmu lari cepat Siao Pek Sin jauh lebih rendah daripada Khu Leng Lie. Maka ketika Khu Leng
Lie keluarkan kepandaiannya lari pesat, sebentar saja Siao Pek Sin sudah ketinggalan jauh sekali.
Anda sedang membaca artikel tentang ISTANA KUMALA PUTIH 1 dan anda bisa menemukan artikel ISTANA KUMALA PUTIH 1 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/istana-kumala-putih-1.html?m=0,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel ISTANA KUMALA PUTIH 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link ISTANA KUMALA PUTIH 1 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post ISTANA KUMALA PUTIH 1 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/istana-kumala-putih-1.html?m=0. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar