Cersil : Pendekar negeri Tayli 1

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 23 September 2011

PENDEKAR-PENDEKAR NEGERI
TAYLI
== TIAN LONG BA BU ==
-YIN YONG-

Saduran Gan KL
Jilid 01-68


Jilid 1

Sinar hijau berkelebat, sebatang pedang Jing-kongkiam
menusuk cepat ke pundak kiri seorang laki-laki
setengah umur.
Belum lagi serangan itu mengenai sasaran,
penyerang itu sudah menggeser ke samping dan
menyerang pula ke leher kanan laki-laki itu.

Waktu laki-laki setengah umur itu menegakkan
pedangnya, "trang", terbenturlah kedua pedang dan
menerbitkan suara nyaring, menyusul sinar pedang
gemerlapan pula, dalam sekejap kedua orang itu sudah
saling gebrak beberapa jurus lagi.

Mendadak pedang laki-laki setengah umur tadi
menebas sekuatnya ke atas kepala pemuda yang
memakai pedang Jing-kong-kiam, namun sedikit
mengegos ke samping, pemuda itu balas menusuk paha
lawan.

Serang-menyerang kedua orang itu berlangsung
cepat lagi tepat, setiap jurus seakan-akan mengadu jiwa.

Di sudut Lian-bu-thia atau ruang berlatih silat itu
berduduk seorang tua berumur antara setengah abad
lebih, sambil mengelus jenggotnya yang panjang, dia
kelihatan sangat senang. Pada kedua sampingnya berdiri
lebih 20 orang anak murid laki-laki dan perempuan,
semuanya asyik mengikuti pertarungan sengit kedua
orang tadi dengan penuh perhatian.

Di samping sana berduduk belasan tamu undangan,
mereka pun memusatkan perhatian mengikuti
pertandingan di tengah kalangan dengan mata tak
berkedip.

Sementara itu sudah lebih 70 jurus pertandingan lakilaki
setengah umur melawan si pemuda tadi. Serang-




menyerang makin lama makin sengit dan berbahaya, tapi
tetap belum tampak siapa akan menang atau kalah.

Sekonyong-konyong pedang lelaki setengah umur itu
menebas sekuatnya, agaknya terlalu keras
menggunakan tenaga sehingga tubuhnya kehilangan
imbangan dan sedikit terhuyung. Tampak itu, tiba-tiba
seorang pemuda berbaju putih di antara tetamu tadi
mengikik geli, segera ia sadar kelakuannya yang tak
pada tempatnya itu, cepat ia dekap mulut sendiri.

Dan pada saat itulah mendadak si pemuda yang
menggunakan Jing-kong-kiam tadi memukul dengan
telapak tangan kiri ke punggung laki-laki setengah umur.

Karena lelaki itu lagi sempoyongan, ia terus miringkan
tubuh ke depan, berbareng pedang berputar dengan
cepat sambil membentak, "Kena!"

Kontan kaki kiri lawan kena ditusuknya.

Pemuda itu sempoyongan, untung pedangnya sempat
dipakai menahan ke tanah, ia tegakkan tubuh dan
bermaksud bertempur lagi. Namun lelaki setengah umur
itu sudah mengembalikan pedang ke sarungnya, katanya
dengan tertawa, "Maaf, Tu-sute, lukamu tidak parah,
bukan?"

Dengan muka pucat pemuda she Tu itu menjawab
sambil menggigit bibir, "Terima kasih atas kemurahan
hati Kiong-suheng!"

Kesudahan pertandingan itu rupanya membuat si
kakek berjenggot tadi bertambah senang, dengan






tersenyum ia berkata, "Sampai babak ini, Tang-cong
(sekte timur) kami sudah menang tiga kali, tampaknya
'Kiam-oh-kiong' (istana danau pedang) ini masih boleh
dihuni lima tahun lagi oleh Tang-cong. Sin-sumoay,
apakah kita perlu bertanding lagi?"

Seorang To-koh atau imam perempuan, yang duduk
di pojok barat sana menjawab dengan penasaran, "Ya,
Co-suheng ternyata pintar mendidik murid. Tapi selama
lima tahun ini entah sampai di mana peyakinan Cosuheng
sendiri terhadap 'Bu-liang-giok-bik'."

Tiba-tiba kakek berjenggot itu memelotot, "Apakah
Sumoay sudah lupa pada peraturan golongan kita?"

Teguran itu membuat si To-koh menjadi bungkam, ia
mendengus sekali dan tidak bicara lagi.

Kiranya kakek berjenggot itu bernama Co Cu-bok,
dalam dunia Kangouw terkenal dengan julukan "It-kiamtin-
thian-lam" atau sebatang pedang menjagoi kolong
langit selatan. Ia adalah Ciangbunjin atau ketua "Buliang-
kiam" sekte timur. Sedang imam perempuan tadi
bergelar Siang-jing dengan julukan "Hun-kong-ciok-eng"
atau menembus sinar menangkap bayangan, ia adalah
ketua Bu-liang-kiam sekte barat.

Bu-liang-kiam sebenarnya terbagi dalam Tang-cong,
Lam-cong dan Se-cong, atau sekte timur, selatan dan
barat. Tapi sudah lama sekte selatan terpencil lemah,
sebaliknya sekte timur dan barat banyak timbul tunas
baru.






Sejak Bu-liang-kiam berdiri pada akhir dinasti Tong,
lalu terbagi menjadi tiga sekte pada permulaan dinasti
Song, seterusnya setiap lima tahun sekali anak murid
dari ketiga sekte itu harus berkumpul di "Kiam-oh-kiong"
untuk mengukur kekuatan, sekte mana yang menang,
berhak untuk mendiami istana itu selama lima tahun, lalu
bertanding lagi pada tahun keenam yang akan datang.
Sekte mana yang akan memenangkan tiga babak dalam
pertandingan lima babak, dianggap menang.

Maka selama jangka waktu lima tahun itu, yang kalah
semakin giat melatih diri agar bisa merebut kemenangan
dalam pertandingan yang akan datang, sebaliknya yang
menang juga tidak berani lengah. Tapi selama berpuluh
tahun itu, sekte selatan tidak pernah menang, sedangkan
sekte timur dan barat masing-masing saling bergantian
keluar sebagai juara.

Sampai pada tangan Co Cu-bok dan Sin Siang-jin,
Tang-cong sudah menang dua kali dalam pertandingan
lima tahunan itu, sebaliknya sekte barat baru sekali
menang. Pertandingan laki-laki setengah umur she Kiong
melawan pemuda she Tu tadi adalah babak keempat
dalam pertandingan kali ini. Dengan kemenangan lakilaki
she Kiong itu, sekte timur sudah menang tiga babak
dari empat babak, maka babak kelima tidak perlu lagi
dilanjutkan.

Nama Bu-liang-kiam sudah lama termasyhur di dunia
Kangouw, ditambah lagi patuh pada peraturan
pertandingan lima tahunan di antara golongan sendiri,
maka ilmu pedang mereka makin lama semakin bagus.






Karena sibuk "perang saudara" itulah maka jarang
mereka bertengkar dengan orang luar, tokoh-tokoh
mereka kebanyakan hidup aman tenteram dan adem
ayem sampai hari tua, jarang terbinasa karena bunuhmembunuh
dalam permusuhan dengan orang luar. Pula
sekte timur dan barat itu memandang pertandingan lima
tahunan itu besar sangkut-pautnya dengan kehormatan
sekte masing-masing, maka pada waktu mengajar murid,
sang guru mencurahkan perhatian sepenuhnya,
sebaliknya si murid giat berlatih siang malam tanpa kenal
lelah, sehingga banyak jurus ilmu pedang baru yang
diciptakan oleh setiap angkatan.

Di antara orang-orang yang duduk di sudut barat itu,
kecuali Siang-jing, masih banyak pula tamu tokoh Bu-lim
(dunia persilatan) terkemuka yang diundang oleh kedua
sekte itu untuk hadir sebagai saksi dan juri.

Di antara kedelapan orang saksi yang hadir itu,
semuanya jago-jago persilatan terkemuka di daerah
Hunlam. Hanya si pemuda baju putih tadi yang sama
sekali tidak terkenal dan dikenal, tapi justru ia tertawa geli
ketika melihat lelaki she Kiong rada sempoyongan.

Pemuda berbaju putih itu ikut hadir bersama jago silat
tua dari Hunlam selatan, Be Ngo-tek. Sebagai saudagar
teh yang kaya raya, Be Ngo-tek terkenal bertangan
sangat terbuka, setiap orang persilatan yang sedang
dirundung nasib malang dan datang minta bantuannya,
pasti dia melayani dengan segala senang hati. Sebab
itulah pergaulannya dengan orang Bu-lim sangat luas,
sebaliknya tentang ilmu silatnya tiada sesuatu yang luar
biasa.






Ketika hadir dan mendengar Be Ngo-tek
memperkenalkan pemuda baju putih itu she Toan, Co
Cu-bok tidak menaruh perhatian apa-apa, sebab Toan
adalah nama keluarga kerajaan Tayli di daerah Hunlam
yang sangat umum, ia menduga pemuda she Toan tentu
adalah murid Be Ngo-tek, padahal ilmu silat kakek she
Be itu hanya biasa saja, muridnya tentu juga tidak sulit
untuk diukur. Maka ia hanya menyambut mereka ke
tempat duduk yang sudah disediakan. Siapa duga
pemuda itu berani menertawai anak murid Co Cu-bok
ketika menggunakan jurus pancingan tadi.

Dalam pada itu karena sudah menang tiga kali di
antara empat babak pertandingan, kemenangan sekte
timur sudah pasti, maka beberapa tokoh yang menjadi
juri, seperti murid tertua dari Tiam-jong-pay, Liu Ci-hi,
Leng-siau-cu, imam dari kuil Giok-cin-koan di Ay-lo-san,
Kah-yap Siansu dari Tay-kak-si dan Be Ngo-tek,
beramai-ramai sama mengucapkan selamat pada Co Cubok.


Dengan tertawa senang Co Cu-bok berkata, "Empat
murid yang diajukan Sin-sumoay tahun ini, ilmu
pedangnya ternyata boleh juga, lebih-lebih babak
keempat ini, kemenangan kami boleh dikatakan sangat
kebetulan. Sungguh Tu-sutit yang masih muda ini
tidaklah terbatas hari depannya, bukan mustahil lima
tahun yang akan datang sekte timur dan barat kita akan
bertukar tempat, Hahaha!"

Begitulah habis terbahak-bahak, mendadak lirikan
matanya mengarah pada pemuda she Toan, lalu berkata
pula, "Tadi muridku yang tak becus itu menggunakan tipu
pancingan untuk mengalahkan lawan, tapi saudara ini






tampaknya merasa tidak sepaham. Kita adalah orang
sendiri, jika Toan-heng ada minat, marilah silakan turun
kalangan memberi petunjuk sejurus-dua? Nama Be-goko
mengguncangkan Tin-lam (Hunlam selatan), di bawah
panglima pandai tiada prajurit lemah, tentu anak
muridnya tidak boleh dipandang enteng."

Muka Be Ngo-tek menjadi merah, cepat sahutnya,
"Harap Co-hiante jangan salah mengerti. Toan-heng ini
bukanlah muridku. Apalagi dengan sedikit kepandaian
'cakar-kucing' yang kumiliki ini mana ada harganya
menjadi guru orang, harap Co-hante jangan bergurau.
Kedatangan Toan-heng ini ke sini hanya secara
kebetulan saja ingin ikut menyaksikan keramaian, karena
mendengar akan diadakan pertandingan di antara kedua
sekte golonganmu, maka tanpa pikir aku telah
mengajaknya kemari."

Mendengar pemuda she Toan itu tiada hubungan
apa-apa dengan Be Ngo-tek, Co Cu-bok pikir kebetulan
malah, sebab kalau dia muridnya, betapa merasa
sungkan.

"Orang macam apa aku Co Cu-bok ini sehingga ada
orang berani terang-terangan menertawai Bu-liang-kiam
di dalam Kiam-oh-kiong sini?" Karena berpikir demikian,
dengan tertawa dingin Co Cu-bok berkata pula, "O,
kiranya demikian. Mohon tanya siapakah nama Toanheng
yang terhormat, entah murid orang kosen dari
mana?"

"Cayhe bernama Ki, satu huruf melulu, tidak pernah
mengangkat guru juga tidak pernah belajar silat," sahut
pemuda she Toan itu. "Karena geli melihat orang






sempoyongan akan jatuh, entah dia pura-pura atau
sungguhan, aku jadi tertawa."

Mendengar jawaban yang kurang sopan itu, sedikit
pun tiada rasa hormat, Co Cu-bok bertambah
mendongkol, katanya, "Apanya yang menggelikan?"

"Kalau seorang berdiri baik-baik, tentu tidak lucu. Tapi
kalau seorang akan jatuh, tampaknya menjadi lucu dan
menggelikan," sahut Toan Ki dengan acuh tak acuh
sambil mengebas kipas lempitnya.

Dengan kedudukan Co Cu-bok sebagai seorang
ketua suatu aliran persilatan terkemuka, tentu saja hati
merasa panas oleh cara bicara si pemuda yang semakin
kurang ajar itu. Tapi biarpun Co Cu-bok berwatak
angkuh, namun orangnya sangat hati-hati, tidak gegabah
bertindak, maka ia pun tidak lantas marah-marah,
katanya pada Be Ngo-tek, "Be-goko, apakah Toan-heng
ini adalah sahabat baikmu?"

Be Ngo-tek adalah seorang kawakan Kangouw,
sudah tentu ia paham apa maksud pertanyaan itu, terang
jago Bu-liang-kiam itu sudah ambil keputusan akan
memberi hajaran pada Toan Ki. Padahal ia sendiri juga
baru kenal pemuda itu.

Sebagai seorang yang bertangan terbuka, ketika
Toan Ki mohon ikut serta, tanpa pikir ia membawanya.
Kini melihat gelagatnya, sekali turun tangan, Co Cu-bok
pasti tidak sungkan-sungkan lagi. Seorang pemuda baikbaik,
sayang kalau mesti mengalami aniaya demikian itu.






Maka cepat katanya, "Aku dan Toan-heng meski
bukan sobat kental, tapi kami datang bersama,
tampaknya tertawa Toan-heng tadi pun tidak disengaja.
Baiknya begini saja, memangnya perutku sudah
keroncongan, harap Co-hiante lekas keluarkan hidangan,
biar kami menyuguhkan padamu tiga cawan. Hari baik
yang harus gembira ini, untuk apa Co-hiante mesti
urusan dengan seorang muda?"

"Jika Toan-heng bukan sobat baik Be-goko, itulah
lebih baik," ujar Co Cu-bok. "Betapa pun aku perlakukan
dia, takkan dianggap membikin malu pada Be-goko. Nah,
Jin-kiat, tadi kau ditertawai orang, majulah dan minta
pelajaran padanya!"

Laki-laki setengah umur yang bernama Kiong Jin-kiat
itu memang sangat mengharapkan perintah sang guru
itu, segera saja ia lolos pedang dan maju ke tengah, ia
memberi hormat pada Toan Ki sambil berkata, "Marilah,
sobat Toan, silakan!"

"Hm, bagus! Bolehlah kau mulai, kau berlatih, aku
melihat!" ucap Toan Ki.

"Hah, apa ... apa katamu?" teriak Kiong Jin-kiat
dengan gusar sehingga wajahnya merah padam.

"Kau membawa pedang, tentunya akan main pedang,
bukan?" sahut Toan Ki. "Maka bolehlah mulai, biar kami
sama menonton."

"Tapi guruku suruh kau pun maju ke sini, mari kita
coba-coba bertanding," teriak Jin-kiat.

10




Toan Ki goyang-goyang kepala sambil tiada berhenti
mengebas kipasnya, sahutnya, "Gurumu adalah gurumu,
gurumu bukan guruku. Gurumu boleh menyuruhmu,
gurumu tak boleh menyuruh aku. Gurumu suruh kau
bertanding pedang dengan orang dan sudah kau lakukan
tadi. Gurumu suruh aku coba-coba bertanding dengan
kau, pertama aku tidak bisa, kedua aku takut kalah,
ketiga takut sakit, keempat takut mati, maka aku tidak
mau bertanding. Sekali aku bilang tidak, tetap tidak."

Mendengar jawaban yang serba"gurumu" yang
membingungkan itu, banyak di antara hadirin menjadi
tertawa geli, termasuk pula beberapa murid perempuan
Sin Siang-jing, maka suasana yang tadinya angker
tegang seketika buyar sirna menjadi santai.

Keruan Kiong Jin-kiat tambah murka, dengan langkah
lebar ia mendekati Toan Ki, ia tuding dada pemuda itu
dengan ujung pedangnya dan membentak, "Apa kau
benar-benar tidak bisa atau hanya pura-pura tolol dan
berlagak pilon?"

Walaupun menghadapi ancaman pedang yang bila
sedikit disorong ke depan pasti dadanya akan tembus,
namun sedikit pun Toan Ki tidak gentar, sahutnya, "Aku
pura-pura, tapi memang juga benar-benar tidak bisa."

"Kau berani main gila ke Kiam-oh-kiong sini, apa
barangkali sudah bosan hidup?" semprot Kiong Jin-kiat.
"Kau sebenarnya anak murid siapa? Siapa yang
menyuruhmu mengacau ke sini? Kalau tidak mengaku
terus terang, jangan menyesal bila pedang tuanmu ini
tidak kenal ampun."

11




Toan Ki tetap acuh tak acuh, ia menguap sambil
mengulet kemalasan, lalu sahutnya, "Bu-liang-kiam
sangat terkenal di Kangouw, asal aku tetap diam saja,
rasanya tidak nanti kau bunuh aku di depan para
Locianpwe sekian banyak ini."

Mendadak Kiong Jin-kiat simpan pedangnya, tapi
tangan lain tiba-tiba menempeleng, "plok", dengan tepat
pipi Toan Ki kena digampar sekali.

Toan Ki sedikit miringkan kepalanya, namun tak dapat
menghindar, seketika mukanya yang putih bersih itu
merah bengap dan timbul cap lima jari.

Kejadian ini membikin hadirin sangat terkejut. Semula
melihat sikap Toan Ki yang acuh tak acuh tanpa gentar
itu, mereka menyangka pemuda itu pasti memiliki ilmu
silat mahatinggi, maka berani meremehkan lawan. Siapa
duga tempelengan Kiong Jin-kiat yang sepele itu tak bisa
dihindarnya, tampaknya pemuda ini memang betul sedikit
pun tak bisa ilmu silat.

Ini sungguh luar biasa!

Umumnya orang hanya mendengar cerita tentang
jago silat kosen sengaja pura-pura bodoh untuk
menggoda lawan, tapi tidak mungkin seorang yang tidak
mahir ilmu silat berani main gila.

Bagi Kiong Jin-kiat sendiri yang secara mudah
berhasil menempeleng orang, seketika ia rada terkesima
juga. Tapi segera ia jambret dada baju Toan Ki serta
diangkat ke atas sambil membentak, "Tadinya kukira

12




seorang tokoh yang tak dikenal, siapa tahu tak becus
begini!"

Terus saja ia banting tubuh orang ke tanah.

"Bluk", Toan Ki terbanting keras ke lantai, kepala
membentur kaki meja hingga benjut.

Be Ngo-tek merasa tidak tega, cepat ia
membangunkan pemuda itu dan berkata, "Kiranya Laute
(saudara) memang tak bisa ilmu silat, lantas untuk apa
ikut ke sini?"

Toan Ki meraba-raba batok kepalanya yang benjut itu,
sahutnya dengan tertawa, "Memangnya aku melulu
datang untuk menonton keramaian. Kulihat ilmu pedang
Bu-liang-kiam paling-paling juga cuma begini saja, sang
guru dan si murid berjiwa kerdil pula, tampaknya juga
takkan mampu lebih maju lagi daripada ini. Biarlah aku
pergi saja."

Tiba-tiba seorang murid Co Cu-bok yang lain
melompat maju mengadang di depan Toan Ki, katanya,
"Jika engkau tidak mahir ilmu silat, lantas mau pergi
mencawat ekor begini saja memang bolehlah. Tapi
kenapa kau mengolok-olok ilmu pedang kami hanya
biasa saja dan paling-paling hanya sekian? Sekarang
kuberi dua jalan padamu dan boleh kau pilih. Pertama
boleh coba-coba ilmu pedang kami yang hanya begini
saja ini, atau kau menyembah delapan kali kepada
guruku dan mengaku omonganmu sendiri cuma 'kentut'
belaka!"

13




"O, kau kentut? Kenapa tidak bau?" sahut Toan Ki
dengan tertawa.

Murid muda itu menjadi gusar, segera bogem
mentahnya menjotos ke hidung Toan Ki. Pukulan ini
sangat keras, tampaknya hidung Toan Ki pasti akan
bocor dan keluar kecapnya. Tak terduga baru kepalan
sampai setengah jalan, tiba-tiba dari udara menyambar
tiba sesuatu dan melilit di pergelangan tangan murid
muda itu.

Benda itu lemas-lemas dingin dan licin, begitu melilit,
terus bergerak merambat.

Keruan pemuda itu terkejut dan cepat menarik
tangannya, waktu diperiksa, ternyata yang melilit di
tangannya itu adalah seekor ular Jik-lian-coa atau ular
rantai merah yang berwarna belang-bonteng
menyeramkan, panjangnya kira-kira 30 senti.

Dalam kagetnya, pemuda itu menjerit sambil
mengipas-kipaskan tangannya dengan maksud
melepaskan lilitan ular kecil itu, tapi binatang itu semakin
erat melilit di tangannya tak mau lepas.

Mendadak Kiong Jin-kiat juga berteriak, "Ular, ular!"

Wajahnya tampak berubah hebat sambil tangan
menggagap ke dalam baju sendiri, lalu meraba leher,
punggung dan ketiak, tapi tiada sesuatu yang kena
dipegangnya, saking gugupnya sampai Jin-kiat
berjingkrak-jingkrak, buru-buru ia lepas baju sendiri.

14




Datangnya perubahan ini sungguh sangat mendadak,
selagi semua orang terkesiap dan heran, tiba-tiba
terdengar di atas kepala mereka ada suara orang
mengikik sekali.

Waktu semua orang mendongak, buset, ternyata di
atas belandar rumah duduk seorang anak dara jelita,
kedua tangannya penuh memegang bermacam ular.

Dara jelita itu berusia antara 16-17 tahun, berbaju
hijau, wajah cantik, tersenyum menggiurkan. Pada
tangannya sedikitnya memegangi belasan ekor ular yang
kecil dan macam-macam warnanya, hijau, merah, hitam,
belang dan warna lain, jelas semuanya adalah ular
berbisa. Tapi dara cilik itu memegangi ular-ular berbisa
itu bagai barang mainan belaka, sedikit pun tidak jeri.
Bahkan beberapa ular di antaranya merayap ke muka
dan pipinya bagai seorang anak lagi dimanjakan sang ibu
yang penuh kasih sayang.

Semua orang hanya sekilas menengok saja, segera
terdengar Kiong Jin-kiat dan Sutenya menjerit-jerit, maka
cepat mereka berpaling memandang kedua orang itu.
Sebaliknya Toan Ki lantas mendongak dan memandang
si dara cilik itu dengan terkesima.

Gadis itu duduk di atas belandar sambil kedua
kakinya berayun-ayun bagai anak kecil. Melihat dia,
entah dari mana datangnya lantas timbul rasa suka
dalam hati Toan Ki, katanya segera, "Nona, apakah
engkau yang menolong aku?"

"Ya," sahut dara cilik itu. "Orang jahat itu memukulmu,
kenapa tidak kau balas hantam dia?"

15




"Aku tidak bisa membalas ...." baru sekian Toan Ki
menjawab, mendadak terdengar teriakan tertahan orang
banyak.

Waktu Toan Ki berpaling, terlihat Co Cu-bok sudah
menghunus pedang, mata pedang tampak bernoda
darah, sedang ular Jik-lian-coa tadi sudah terkutung
menjadi dua di lantai, terang kena ditebas mati oleh
pedang Co Cu-bok itu.

Sementara itu baju atas Kiong Jin-kiat sudah terlepas
semua, dengan setengah telanjang ia masih berjingkrakjingkrak
kelabakan, seekor ular hijau kecil tampak
merayap kian kemari di punggungnya, ia ulur tangan ke
belakang hendak menangkap, tapi beberapa kali
dilakukannya tetap tak berhasil.

"Jangan bergerak, Jin-kiat!" bentak Co Cu-bok.

Selagi Jin-kiat merandek, tiba-tiba sinar perak
berkelebat, ular hijau itu sudah tertebas menjadi dua
potong. Gerakan Co Cu-bok itu secepat kilat hingga
semua orang tidak tahu jelas cara bagaimana ia turun
tangan, tahu-tahu ular hijau itu terkutung jatuh ke lantai,
sebaliknya punggung Kiong Jin-kiat sedikit pun tidak
cedera. Betapa jitu dan cepat permainan pedang Co Cubok
itu, seketika bersoraklah orang memuji.

"Hm, hanya membunuh seekor ular kecil, kenapa
mesti heran?" jengek Toan Ki.

Sedang dara cilik di atas belandar lantas berteriakteriak,
"Hai, si kakek jenggot, kenapa kau binasakan dua

16




ekor ularku? Aku tidak mau sungkan lagi padamu
sekarang!"

"He, kau anak perempuan siapa, untuk apa datang ke
sini?" tegur Co Cu-bok dengan gusar.

Diam-diam ia sangat heran, bilakah gadis cilik ini
berada di atas belandar? Padahal di tengah ruangan
besar ini terdapat sekian banyak tokoh terkemuka,
masakah tiada seorang pun yang tahu, sekalipun semua
orang tadi lagi asyik mengikuti pertandingan Tang-cong
dan Se-cong, tapi mustahil tidak mengetahui kalau di
atas kepala mereka lagi mengintip seseorang. Kalau
kejadian ini tersiar di dunia Kangouw, lantas muka "Buliang-
kiam" akan ditaruh ke mana?

Gadis cilik itu tidak menjawab pertanyaan Co Cu-bok,
kedua kakinya masih bergerak-gerak ke muka dan ke
belakang, tampak sepatunya bersulam bunga kuning
kecil, ujung sepatu dihias sebuah bola merah terbuat dari
benang wool, itulah dandanan anak perempuan kecil
yang lazim.

Maka kembali Co Cu-bok berkata, "Lekas melompat
turun kemari!"

"Jangan!" tiba-tiba Toan Ki berseru. "Begitu tinggi,
kalau melompat turun, apa tidak terbanting? Lekas
ambilkan tangga!"

Mendengar itu, banyak orang tertawa geli lagi.
Beberapa murid wanita dari Se-cong sama berpikir,
"Orang ini tampak cakap dan ganteng, tapi ternyata
seorang dogol. Kalau gadis cilik itu mampu naik ke atas

17




belandar tanpa diketahui jago silat sebanyak ini, dengan
sendirinya ilmu silatnya pasti sangat tinggi, masakan
untuk turun diperlukan tangga, kan lelucon yang tidak
lucu?"

Sementara itu terdengar si gadis kecil sedang
menjawab, "Harus kau ganti dulu kedua ularku, baru aku
mau turun bicara padamu."

"Hanya dua ekor ular saja, kenapa dibuat pikiran, di
mana-mana dapat kutangkap dua ular seperti ini," ujar
Co Cu-bok.

Nyata diam-diam ia sudah jeri terhadap gadis cilik itu.
Gadis semuda itu telah berani bermain ular berbisa, tak
pelak lagi di belakang si gadis tentu masih ada guru atau
orang tua yang sangat lihai, maka nada bicaranya
sedapat mungkin mengalah pada si gadis.

Dengan tertawa gadis itu mendebat, "Omong sih
gampang, cobalah kau tangkap dulu ekor ular seperti
itu."

"Lekas melompat turun!" kembali Co Cu-bok
mendesak.

"Tidak mau!" sahut si gadis.

"Jika tetap bandel, segera kuseret turun," ujar Co Cubok.


Gadis itu terkikik-kikik, jawabnya, "Boleh kau coba
menarik, kalau kena, anggap kau pintar!"

18




Sungguh serbarunyam Co Cu-bok menghadapi
seorang gadis cilik nakal seperti itu, katanya pada Siangjing,
"Sumoay, harap kau suruh seorang murid
perempuan naik ke atas untuk menyeretnya turun."

"Anak murid Se-cong tiada yang memiliki Ginkang
setinggi itu," sahut Siang-jing.

Co Cu-bok menjadi kurang senang, selagi hendak
buka suara pula, tiba-tiba terdengar si dara cilik berseru,
"He, tidak mau kau ganti ularku, ya? Nih, kuperlihatkan
sesuatu yang lihai, biar kalian tahu rasa!"

Segera dari bajunya ia merogoh keluar sesuatu benda
yang mirip seutas rantai emas dan disambitkan ke arah
Kiong Jin-kiat.

Jin Kiat menyangka tentunya semacam Am-gi atau
senjata rahasia yang aneh, maka tidak berani
menangkapnya dengan tangan, melainkan melompat
hendak menghindar. Tak terduga rantai emas itu adalah
seekor ular emas yang kecil.

Ular kecil itu sangat gesit gerak-geriknya, sekali
hinggap di punggung Kiong Jin-kiat, terus saja merayap
ke dada, ke muka, ke leher dan ke perut dengan cepat
luar biasa.

"Bagus, bagus! Ular emas ini sungguh sangat
menarik!" seru Toan Ki sambil tertawa senang.

Ular emas kecil itu merayap makin cepat, hingga
antero badan Kiong Jin-kiat seakan-akan kemilauan oleh

19




cahaya emas dan membikin pandangan semua orang
menjadi silau.

Mendadak Leng-siau-cu, itu imam dari Giok-cin-koan
di Ay-lo-san, teringat sesuatu, dalam kejutnya ia berseru,
"Bukankah ini Kim-leng-cu dari 'Uh-hiat-su-leng'?"

"Numpang tanya, To-heng, permainan apakah 'Uhhiat-
su-leng' itu?" tanya Be Ngo-tek.

Air muka Leng-siau-cu berubah, sahutnya, "Di sini
bukan tempat bicara, kelak saja kita omong-omong lagi."

Lalu ia mendongak dan berkata pada gadis cilik di
atas belandar sembari memberi hormat, "Terimalah
hormat Leng-siau-cu, nona!"

Meski tangannya penuh memegang macam-macam
ular, namun dara cilik itu masih sempat merogoh saku
dan mengambil sebiji kuaci dan dimasukkan ke mulut, ia
hanya tersenyum kepada Leng-siau-cu tanpa menjawab.

Leng-siau-cu berpaling kepada Co Cu-bok, katanya,
"Kionghi atas kemenangan yang dicapai pihak Co-heng
dalam pertandingan tadi, karena masih ada sesuatu
urusan, maafkan kumohon diri dulu!"

Dan tanpa menunggu jawaban Co Cu-bok, buru-buru
ia bertindak keluar, ketika lewat di samping Kiong Jinkiat,
ia menyingkir jauh-jauh dengan rasa ketakutan.

Co Cu-bok tidak urus sikap orang itu karena lagi
mencurahkan perhatian pada ular emas tadi, sebaliknya
Be Ngo-tek merasa sangat heran, pikirnya, "Ilmu golok

20




dari Giok-cin-koan terhitung salah satu kepandaian khas
dalam dunia persilatan di Hunlam, biasanya Leng-siau-cu
pun angkuh terhadap orang, kenapa terhadap ular emas
ini ia menjadi ketakutan? Terhadap nona cilik itu pun ia
sangat menghormat, entah apa sebabnya?"

Tiba-tiba terdengar gadis cilik tadi bersuit beberapa
kali, mendadak ular emas merayap ke muka Kiong Jinkiat,
cepat Jin-kiat menangkap dengan kedua tangannya,
tapi ular emas itu teramat cepat, badan ular saja tak bisa
disentuh tangan Kiong Jin-kiat. Keruan ia tambah
kelabakan dan menangkap serabutan, namun tetap
menangkap angin.

Segera Co Cu-bok melangkah maju, pedang
menusuk cepat, tatkala itu ular emas lagi merayap ke
atas mata kiri Kiong Jin-kiat, karena diserang, sekali
badan ular berkeloget, dapatlah menghindar. Sebaliknya
ujung pedang Co Cu-bok pun berhenti di depan kelopak
mata sang murid.

Walaupun serangan itu tidak mengenai sasaran, tapi
para penonton sama merasa kagum.

Bayangkan saja, asal ujung pedang setengah senti
lebih maju, pasti biji mata Kiong Jin-kiat sudah dibutakan.

Diam-diam Sin Siang-jing membatin, "Ilmu pedang
Co-suheng ternyata sudah sedemikian saktinya, aku
harus mengaku bukan tandingannya, terutama jurus
'Kim-ciam-toh-kiap' (jarum emas menolak baju) barusan,
terang aku tak bisa mengungguli dia."

21




Sementara itu Co Cu-bok telah menyerang pula
empat kali beruntun, tapi ular emas itu seperti punya
mata di punggungnya, setiap kali dapat menyelamatkan
diri.

"Hai, kakek jenggot, ilmu pedangmu bagus juga!" seru
si dara cilik. Tiba-tiba ia bersuit lagi, cepat ular emas itu
merayap ke bawah terus menghilang.

Selagi Co Cu-bok tertegun kehilangan sasaran, tahutahu
Kiong Jin-kiat sibuk meraba paha sambil
berjingkrak-jingkrak, ternyata ular emas itu telah
menerobos ke dalam celananya.

"Hahahaha!" Toan Ki tertawa geli. "Tontonan hari ini
benar-benar sangat menyenangkan, hahaha!"

Dalam pada itu Kiong Jin-kiat telah melepaskan
celana hingga tertampak kedua pahanya yang penuh
berbulu lebat. Namun dara cilik itu memang masih
kekanak-kanakan, sama sekali ia tidak kenal urusan
lelaki dan perempuan, bahkan ia terus berseru, "Kau
terlalu jahat, suka menganiaya orang, biarkan kau
telanjang bulat. Coba malu atau tidak!"

Habis berkata, ia bersuit lagi.

Ular emas itu benar-benar sangat penurut, sekali
mengegos terus menyusup pula, kali ini lebih lucu lagi,
celana dalam Kiong Jin-kiat yang diterobos.

Keruan Kiong Jin-kiat semakin kelabakan. Sudah
tentu, bagaimanapun ia tak dapat lepas celana dalam di

22




hadapan orang banyak. Ia menjerit sekali terus berlari
keluar.

Tapi celaka tiga belas, baru berlari sampai di ambang
pintu, mendadak dari luar juga menyerobot masuk
seseorang, karena tak sempat mengerem "bluk", kedua
orang itu saling tumbuk dengan keras.

Tabrakan ini benar-benar sangat keras, tapi Kiong
Jin-kiat hanya terpental mundur beberapa tindak,
sebaliknya orang dari luar itu terus jatuh terjengkang ke
lantai.

"He, Yong-sute!" seru Co Cu-bok kaget.

Melihat siapa yang telah ditabrak olehnya, cepat
Kiong Jin-kiat maju membangunkannya, rupanya ia lupa
bahwa si ular emas masih mengeram di dalam celana.
Maka baru saja orang itu ditarik bangun, begitu merasa si
ular merayap di dalam celana, kembali ia menjerit sambil
berusaha hendak menangkap ular nakal itu, dan karena
pegangan terlepas, orang yang sudah dibangunkan itu
terbanting roboh pula.

Tentu saja kejadian lucu itu sangat menggelikan si
dara cilik di atas belandar, setelah puas mengikik tawa,
akhirnya ia berkata, "Rasanya sudah cukup kau dihajar!"

Segera ia bersuit lagi sekali, ular emas kecil itu lantas
merayap keluar dari celana dalam Kiong Jin-kiat terus
merayap ke atas dinding tembok dengan kecepatan luar
biasa, lalu kembali ke pangkuan si gadis.

23




Untuk kedua kalinya dapatlah Kiong Jin-kiat
membangunkan orang tadi sambil berseru kaget, "Yongsusiok,
ken ... kenapa engkau?"

Waktu Co Cu-bok memburu maju, ia lihat kedua mata
orang itu mendelik beringas, wajahnya penuh rasa gusar
dan dendam, tapi napasnya sudah putus. Kejut Co Cubok
tak terkatakan, lekas ia berusaha menolong, namun
tak berdaya lagi.

Kiranya orang itu bernama Yong Goan-kui, Sute atau
adik seperguruan Co Cu-bok. Meski ilmu silatnya lebih
rendah daripada sang Suheng, namun jauh di atas Kiong
Jin-kiat. Maka aneh sekali bahwa tabrakan tadi tak bisa
dihindarkannya, bahkan sekali tabrak roboh binasa.

Co Cu-bok tahu sebelum tabrakan tentu sang Sute
sudah terluka parah, maka cepat ia membuka baju Yong
Goan-kui untuk diperiksa. Begitu baju terbuka, segera
tertampak di dada Yong Goan-kui jelas tertulis sebaris
huruf, "Tengah malam ini Sin-long-pang akan membasmi
Bu-liang-kiam!"

Huruf-huruf hitam yang dekuk melekat di daging itu
bukan ditulis dengan tinta, juga bukan ukiran benda
tajam. Setelah ditegasi, Co Cu-bok menjadi gusar, ia
angkat pedangnya hingga berbunyi mendenging,
teriaknya dengan murka, "Hm, lihatlah apakah Sin-longpang
yang akan membasmi Bu-liang-kiam atau Bu-liangkiam
yang akan memusnahkan Sin-long-pang? Sakit hati
ini tidak kubalas, kusumpah tak mau hidup lagi!"

Kiranya huruf-huruf yang terdapat di dada Yong
Goan-kui itu ditulis dengan semacam obat racun, daging

24




yang terkena racun lantas membusuk dan dekuk ke
dalam.

Waktu Co Cu-bok periksa tubuh Yong Goan-kui pula,
ternyata tiada tanda luka lain. Segera ia membentak,
"Jin-ho, Jin-kiat, melihat keluar sana!"

Karena kejadian itu, seketika suasana dalam ruangan
besar itu menjadi gempar, semua orang tidak urus lagi
pada Toan Ki dan dara cilik di atas belandar itu, tapi
beramai-ramai merubung jenazahnya Yong Goan-kui
serta mempercakapkan peristiwa ini.

"Makin lama perbuatan Sin-long-pang makin tidak
pantas," kata Be Ngo-tek setelah berpikir sejenak. "Cohiante,
entah sebab apa mereka bermusuhan dengan
golonganmu?"

Karena berduka atas matinya sang Sute, Co Cu-bok
menjawab dengan terguguk-guguk, "Itu ... itu disebabkan
urusan mencari obat. Musim rontok tahun yang lalu,
empat Hiangcu (hulubalang) dari Sin-long-pang datang
ke Kiam-oh-kiong sini dan permisi akan mencari
semacam obat di belakang gunung kami ini. Soal
memetik obat sebenarnya urusan kecil, Sin-long-pang
memang hidup dari memetik obat dan menjual jamu.
Biasanya tiada banyak berhubungan dengan golongan
kami, tapi juga tiada permusuhan apa-apa. Namun Begoko
tentu tahu, belakang gunung ini tidak sembarangan
boleh didatangi orang luar, jangankan Sin-long-pang,
sekalipun para sobat kental juga dilarang pesiar ke sana,
ini adalah peraturan turun-temurun dari leluhur kami,
dengan sendirinya kami tidak berani melanggarnya.
Padahal urusan ini pun tidak jadi soal ...."

25




Sampai di sini, tiba-tiba dari luar melangkah masuk
seorang dengan tindakan perlahan dan lesu.

Aneh, Leng-siau-cu dari Giok-cin-koan yang terburuburu
pergi karena takut pada ular emas tadi kini telah
kembali.

Imam itu tunduk kepala dan lesu, mukanya terdapat
sejalur luka, kopiah di atas kepalanya juga sudah lenyap,
rambut terurai kusut, terang baru saja dia telah dihajar
orang.

"Leng-siau Toheng, ken ... kenapa kau?" tanya Co
Cu-bok kaget.

Dengan gemas Leng-siau-cu menjawab, "Sungguh
belum pernah kulihat manusia sewenang-wenang seperti
ini, katanya tidak boleh pergi dari sini dan ... dan aku
sendirian tak ... tak mampu melawan mereka yang
banyak, maka ...."

"Apakah engkau bergebrak dengan orang Sin-longpang?"
tanya Co Cu-bok.

"Ya, siapa lagi kalau bukan mereka?" sahut Lengsiau-
cu penasaran. "Mereka telah menduduki jalan-jalan
penting di sekitar gunung, katanya sebelum esok pagi,
siapa pun dilarang turun gunung."

Dalam pada itu si dara cilik di atas belandar tadi
masih asyik menyisil kuaci sambil mengayun kedua
kakinya ke depan dan ke belakang. Tiba-tiba ia
sambitkan kulit kuaci ke batok kepala Toan Ki dan

26




berkata dengan tertawa, "He, kau kepingin makan kuaci
tidak? Marilah naik ke sini!"

"Tidak ada tangga, aku tak sanggup naik ke situ,"
sahut Toan Ki.

"Itu gampang," ujar si gadis. Terus saja ia lepaskan
seutas tali panjang warna hijau pupus dari pinggangnya,
katanya pula, "Pegang erat tali ini, biar kukerek kau ke
atas."

"Badanku cukup berat, mana mampu kau kerek
diriku?" ujar Toan Ki.

"Boleh coba, paling-paling kau akan mati terbanting,"
sahut si gadis dengan tertawa.

Melihat tali itu tergantung di depan hidungnya, tanpa
pikir Toan Ki terus memegangnya. Di luar dugaan, apa
yang terpegang itu terasa basah-basah dingin, bahkan
terasa kelogat-keloget bisa bergerak. Waktu ditegasi ...
astaga!

Benda yang tadinya disangka tali pinggang itu
ternyata adalah seutas tali hidup alias ular, cuma badan
ular itu sangat panjang dan kecil, atas dan bawah sama
besarnya, sepintas pandang orang pasti tak menyangka
kalau itu adalah ular hidup. Keruan Toan Ki kaget dan
cepat lepas tangan.

Dara cilik itu mengikik geli, katanya, "Ini adalah Jingleng-
cu, lebih lihai daripada Thi-soa-coa (ular kawat
besi), biarpun ditebas dengan pedang juga takkan putus.
Ayo, lekas pegang yang erat!"

27




Toan Ki tabahkan hati dan kerahkan seluruh
keberanian buat pegang badan ular tadi, ia merasa
badan ular itu rada kasap dan tidak terlalu licin.

"Pegang yang erat!" seru si gadis sambil mengangkat
ke atas dengan perlahan hingga tubuh Toan Ki terapung
di atas tanah. Hanya beberapa kali tarikan saja, gadis itu
sudah mengerek Toan Ki ke atas belandar.

Toan Ki menjadi kagum dan takut-takut pula melihat
gadis cilik itu mengikat Jing-leng-cu ke pinggangnya
hingga mirip benar seutas tali pinggang, tanyanya,
"Apakah ularmu tidak menggigit orang?"

"Kalau kusuruh dia menggigit, tentu dia menggigit,
kalau tak kusuruh, dia takkan menggigit, jangan takut,"
sahut gadis itu.

"Apakah kau yang piara ular-ular ini, sudah jinak ya?"
tanya Toan Ki lagi.

"Ya, coba memegangnya," kata si gadis sambil
mengangsurkan seekor ular kecil padanya.

Tentu saja Toan Ki kelabakan, serunya gugup, "He,
jangan, jangan! Aku tidak mau."

Ia menggoyang-goyang tangannya sembari
menggeser tubuh ke belakang, dan karena duduknya
kurang tepat, hampir saja ia terjungkal ke bawah
belandar.

28




Untung si gadis keburu menjambret kuduknya dan
menariknya ke samping lagi, katanya dengan tertawa,
"Apakah engkau benar tak mahir ilmu silat? Sungguh
aneh!"

"Kenapa aneh?" tanya Toan Ki.

"Engkau tak bisa ilmu silat, tapi berani datang ke sini
seorang diri, tentu saja kau akan dianiaya oleh mereka
yang jahat itu," ujar si gadis. "Sebenarnya untuk apa kau
datang ke sini?"

Melihat sikap ramah si gadis, meski baru kenal, tapi
menganggapnya seperti sobat lama, maka selagi Toan Ki
hendak menceritakan maksud kedatangannya, tiba-tiba
terdengar suara langkah orang, dari luar berlari masuk
dua orang. Kiranya adalah Kam Jin-ho dan Kiong Jin-kiat
berdua.

Waktu itu Kiong Jin-kiat sudah mengenakan kembali
celananya, hanya bagian atas masih telanjang.

Sikap kedua murid Bu-liang-kiam itu tampak rada
takut, mereka mendekati Co Cu-bok dan melapor, "Suhu,
orang Sin-long-pang telah berkumpul di atas gunung
depan, jalan-jalan penting telah dijaga, kita dilarang turun
gunung. Karena jumlah musuh lebih banyak, sebelum
mendapat perintah Suhu, kami tidak berani sembarang
turun tangan."

"Ehm, ada berapa banyak mereka?" tanya Cu-bok.

"Kira-kira 70 sampai 80 orang," sahut Jin-ho.

29




"Hm, hanya sejumlah itu lantas ingin membasmi Buliang-
kiam? Rasanya takkan semudah itu!" jengek Co
Cu-bok.

Baru selesai ucapannya, tiba-tiba terdengar suara
mendengung di udara, dari luar terbidik masuk sebatang
panah bersuara. Tanpa pikir Kiong Jin-kiat tangkap
tangkai panah itu sebelum jatuh ke tanah. Ternyata di
atas panah terikat sepucuk surat. Jelas kelihatan pada
sampul surat itu tertulis, "Ditujukan untuk Co Cu-bok."

Waktu Jin-kiat menyerahkan surat itu pada sang guru,
Cu-bok menjadi gusar membaca tulisan pada sampul
yang kurang hormat itu, katanya, "Coba membukanya!"

Jin-kiat mengiakan dan merobek sampul surat itu.

Saat itulah, si dara cilik membisiki Toan Ki, "Orang
jahat yang menjotos engkau itu segera akan mampus!"

"Sebab apa?" tanya Toan Ki terheran-heran.

"Di atas panah dan surat itu beracun semua," sahut si
gadis.

"Masakah begitu lihai?" ujar Toan Ki.

Sementara itu terdengar Jin-kiat membaca isi surat
yang telah dibukanya itu, "Sin-long-pang
memberitahukan pada Co ...." ia merandek karena tidak
berani menyebut nama sang guru, lalu melanjutkan, "...
kalian diberi tempo dalam satu jam, seluruhnya harus
keluar dari Kiam-oh-kiong, masing-masing mengutungi
tangan kanan sendiri. Kalau tidak, sebentar seantero isi

30




istanamu, tua-muda, besar-kecil, ayam dan anjing pun
tak terkecuali dari kematian."

"Hm, Sin-long-pang itu macam apa, begitu besar
mulutnya!" jengek Liu Cu-hi, itu jago dari Tiam-jong-pay.

Sekonyong-konyong terdengar suara gedebukan,
tahu-tahu Kiong Jin-kiat roboh terjungkal.

Saat itu Kam Jin-ho masih berdiri di samping sang
Sute, ia berteriak kaget, "Sute!"

Segera ia bermaksud membangunkan saudara
seperguruannya itu.

Namun Co Cu-bok keburu menyela maju, ia dorong
Jin-ho ke samping sambil membentak, "Jangan sentuh
tubuhnya! Mungkin beracun."

Benar juga, muka Kiong Jin-kiat tampak berkerutkerut
kejang, tangan yang memegang surat tadi dalam
sekejap saja sudah berubah hitam hangus, sekali kedua
kakinya berkelejet, putuslah napasnya.

Tiada satu jam lamanya, beruntun Bu-liang-kiam
sekte timur sudah kematian dua jago pilihannya. Keruan
para tokoh silat yang hadir di situ sama terkesiap.

"Apakah kau pun orang Sin-long-pang?" tiba-tiba
Toan Ki tanya si dara cilik dengan perlahan.

"Hus, jangan kau sembarangan omong!" semprot si
gadis.

31




"Habis, dari mana kau tahu panah dan surat itu
beracun?" tanya Toan Ki.

Gadis itu tertawa, sahutnya, "Cara memberi racun itu
terlalu kasar, lamat-lamat di atas panah dan surat itu
kelihatan ada selapis sinar fosfor. Caranya ini hanya bisa
mencelakai orang yang goblok saja."

Ucapan terakhir si gadis itu sengaja dibikin keras
sehingga dapat didengar oleh semua orang di dalam
ruangan.

Segera Co Cu-bok memeriksa panah dan surat tadi,
tapi tak terlihat sesuatu. Waktu diawasi dari samping,
benar juga lamat-lamat kelihatan gemerdepnya sinar
fosfor.

"Siapakah she dan nama nona yang mulia?" segera
Cu-bok tanya si gadis.

"She dan namaku yang mulia tak bisa kukatakan
padamu, itu artinya rahasia tak boleh dibongkar," sahut si
gadis.

Dalam keadaan tertimpa malang, mendengar pula
ucapan si gadis yang menggoda itu, sedapatnya Co Cubok
menahan perasaannya dan coba tanya pula, "Jika
begitu, siapakah ayahmu dan siapa gurumu? Dapatkah
memberi tahu."

"Haha, jangan kira aku bisa kau tipu," sahut si gadis
dengan tertawa. "Kalau kukatakan siapa ayahku, tentu
kau tahu aku she apa dan mudahlah menyelidiki namaku

32




yang mulia. Tentang guruku ialah ibuku, nama ibuku
lebih-lebih tak boleh kuberi tahukan pada orang luar."

Diam-diam Co Cu-bok mengingat-ingat siapakah
gerangan tokoh persilatan di Hunlam yang suka piara
ular. Tapi seketika ia pun tak ingat, sebab daerah
Hunlam yang terkenal banyak pegunungan dan hutan
belukar, di mana-mana banyak terdapat ular, begitu pula
orang yang piara ular.

Segera Be Ngo-tek tanya Leng-siau-cu, "Leng-toheng,
tadi kau sebut 'Uh-hiat-su-leng' segala, apakah itu
artinya?"

"Apa? Ah, kapan aku berkata demikian? Entahlah aku
tidak tahu," sahut Leng-siau-cu.

Sebagai seorang kawakan Kangouw, maka tahulah
Be Ngo-tek pasti Leng-siau-cu sangat jeri terhadap 'Uhhiat-
su-leng' yang disebutnya itu, sudah terang tadi
tercetus dari mulutnya istilah itu, tapi kini tidak mengaku,
tentu ada udang dibalik batu. Maka ia pun tidak tanya
lebih jauh.

Dalam pada itu Co Cu-bok berkata pula terhadap si
gadis, "Jika nona tidak sudi memberi tahu, ya sudahlah.
Silakan turun saja untuk berunding, Sin-long-pang
melarang setiap orang turun gunung, tentu kau pun akan
dibunuh mereka."

"Hah, tidak nanti mereka berani membunuhku," sahut
si gadis tertawa, "mereka hanya membunuh orang Buliang-
kiam. Justru ketika mendengar berita itu sengaja
kudatang kemari untuk menonton pembunuhan. Hai,

33




kakek jenggot, ilmu pedang kalian lumayan juga, tapi
tidak bisa menggunakan racun, pasti bukan tandingan
Sin-long-pang!"

Apa yang dikatakan si gadis itu tepat mengenai titik
kelemahan golongan "Bu-liang-kiam." Kalau saling
gebrak dengan kepandaian sejati, Kungfu Tang-cong dan
Se-cong dari Bu-liang-kiam, serta delapan jago
terkemuka yang diundang datang sebagai juri itu, betapa
pun takkan gentar terhadap Sin-long-pang, tapi kalau
bicara tentang menggunakan racun dan
menawarkannya, semuanya memang tidak becus.

Diam-diam Co Cu-bok mendongkol mendengar
ucapan si gadis bahwa kedatangannya itu ingin
menonton pembunuhan, seakan-akan makin banyak
orang Bu-liang-kiam yang mati terbunuh, akan membuat
hatinya semakin senang.

Maka ia menjengek sekali, lalu bertanya pula, "Berita
apakah yang didengar nona di tengah jalan?"

Sebagai seorang ketua suatu aliran persilatan
terkemuka, dia sudah biasa memerintah, maka
ucapannya itu seakan-akan mengharuskan si gadis lekas
menjawabnya.

Tak terduga, tiba-tiba dara cilik itu berkata, "Eh, kau
suka makan kuaci tidak?"

Keruan Co Cu-bok semakin panas hatinya, coba
kalau tidak lagi menghadapi musuh besar di luar sana,
tentu sejak tadi ia sudah memberi hajaran pada anak

34




dara itu, sedapatnya ia menahan gusar, sahutnya, "Tidak
suka!"

"Kuaci apakah itu?" mendadak Toan Ki menimbrung.
"Apakah digoreng dengan bawang? Atau gorengan Ngohiang?
Atau bumbu vanili? Tampaknya enak juga."

"Aneh, masa begitu banyak juga cara menggoreng
kuaci?" sahut si gadis. "Aku tidak tahu kuaci ini digoreng
dengan bumbu apa. Yang terang, ibuku menggoreng
kuaci ini dengan empedu ular. Kalau sering makan akan
membikin mata terang dan otak tajam. Kau mau
mencicipi?"

Habis berkata, terus saja ia meraup segenggam dan
ditaruh di tangan Toan Ki.

Mendengar kuaci gorengan empedu ular, rasa hati
Toan Ki menjadi mual.

"Kalau tidak biasa, memang rasanya sedikit pahit,"
ujar si gadis lagi. "Padahal enak dan gurih sekali."

Merasa tidak enak untuk menolak maksud baik si
gadis, Toan Ki coba-coba menyisil sebiji kuaci itu, begitu
menempel bibir, rasanya memang sedikit pahit, tapi
sesudah disisil dan dikunyah, eh, rasanya benar gurih
dan lezat, berbau harum pula. Terus saja ia menyisil
kuaci itu tanpa berhenti.

Kulit kuaci satu per satu ia taruh di atas belandar,
sebaliknya dara cilik itu tidak peduli, ia semburkan kulit
kuaci sekenanya, keruan kulit kuaci itu beterbangan di

35




atas kepala para jago silat itu hingga mereka sibuk
menghindar sambil berkerut kening.

Maka Co Cu-bok bertanya lagi, "Berita apakah yang
didengar nona di tengah jalan? Jika sudi memberi tahu,
Cayhe pasti sangat berterima kasih."

"Kudengar orang Sin-long-pang bicara tentang 'Buliang-
giok-bik' segala. Permainan macam apakah itu?"
kata si gadis.

Co Cu-bok terkesiap mendengar itu, segera ia
menjawab, "Bu-liang-giok-bik? Apakah maksudnya ada
sesuatu Giok-bik (batu jade mestika) di Bu-liang-san sini?
Hal ini tidak pernah kudengar. Apakah engkau pernah
mendengarnya, Siang-jing Sumoay?"

Belum lagi Siang-jing menjawab, cepat si gadis
memotong, "Sudah tentu ia pun tidak pernah mendengar!
Hm, tak perlu kalian main sandiwara. Kalau tidak mau
bicara, terus terang saja bilang tidak. Huh, siapa yang
ingin tahu?"

Co Cu-bok serbarunyam, diam-diam ia mengakui
kelihaian dara cilik itu. Segera ia berkata pula, "Ah,
ingatlah aku sekarang! Apa yang dimaksudkan Sin-longpang
itu mungkin adalah Keng-bin-ciok (batu bermuka
cermin) yang terdapat di puncak tertinggi dari Bu-liangsan
ini. Batu itu halus dan licin bagai kaca, maka orang
mengatakannya sebagai batu mestika. Padahal hanya
sepotong batu biasa yang putih dan licin saja."

"Jika begitu, kenapa tadi tidak kau katakan terus
terang?" ujar si gadis. "Lalu cara bagaimana kalian ikat

36




permusuhan dengan Sin-long-pang? Sebab apa mereka
hendak membasmi Bu-liang-kiam kalian hingga ayam
dan anjing pun tak terkecuali?"

Sungguh konyol, pikir Co Cu-bok. Sebagai tuan
rumah, masakah dia yang ditanyai seorang gadis cilik
bagai terdakwa di pengadilan saja. Tapi karena ingin
tahu berita apa yang didengar orang di tengah jalan, mau
tak mau ia harus menjawab lebih dulu. Maka katanya,
"Harap nona turun dahulu, nanti kuterangkan dengan
jelas."

"Menerangkan dengan jelas kukira tidak perlu," sahut
si gadis sambil kedua kakinya membuai ke depan dan ke
belakang, "toh apa yang kau katakan meski ada yang
benar, tapi juga banyak yang dusta, paling-paling aku
hanya percaya tiga bagian saja. Maka bolehlah kau
bicara sesukamu."

"Begini," tutur Co Cu-bok kewalahan, "tahun yang
lalu, Sin-long-pang kutolak cari bahan obat di belakang
gunung kami ini, tapi diam-diam mereka datang mencuri
dan dipergoki oleh Suteku Yong Goan-kui bersama
beberapa anak muridku. Ketika ditegur, mereka
menjawab, 'Di sini toh bukan istana raja atau taman
kaisar, kenapa orang luar dilarang kemari, memangnya
Bu-liang-san sudah dikontrak oleh Bu-liang-kiam kalian?'
Karena percekcokan mulut itu, akhirnya saling gebrak,
tanpa ampun Yong-sute telah membunuh dua orang
mereka. Waktu itu tiada seorang pun yang tahu bahwa
satu di antara korban itu adalah putra tunggal Sikongpangcu
dari Sin-long-pang. Maka permusuhan itu tak
dapat dihindarkan lagi. Belakangan terjadi saling tempur

37




pula di tepi sungai Lanjong dan kedua pihak jatuh korban
beberapa jiwa."

"O, kiranya begitu," ujar si gadis. "Daun obat apakah
yang mereka petik?"

"Itulah kurang terang," sahut Cu-bok.

"Hm, apa benar kurang terang?" jengek si gadis.
"Bukankah bahan obat yang hendak mereka petik itu
adalah rumput Tulah. Maka mereka mengatakan akan
membabat habis rumput Tulah di Bu-liang-san ini sampai
akar-akarnya, sebatang pun takkan ditinggalkan."

"Kiranya nona lebih jelas daripadaku," kata Cu-bok.

Tiba-tiba gadis itu memegang lengan kanan Toan Ki
sambil berkata, "Marilah kita turun!"

Berbareng ia melompat ke bawah.

Keruan Toan Ki menjerit kaget, namun tubuhnya
sudah terapung di udara. Syukurlah gadis itu dapat
membawanya ke tanah dengan enteng tanpa kurang apa
pun sembari tetap memegangi lengan kanannya. Kata
gadis itu pula, "Marilah kita keluar sana, coba lihat
berapa banyak orang Sin-long-pang yang datang."

"Nanti dulu," cepat Co Cu-bok melangkah maju, "apa
yang kutanya tadi, nona kan belum menjawab?"

"Buat apa kuberi tahukan padamu? Pula aku kan tidak
berjanji akan menjelaskan?" sahut si gadis.

38




Cu-bok pikir memang benar orang tidak pernah
berjanji akan menjawab pertanyaannya tadi. Tapi mana
boleh orang keluar-masuk sesukanya di rumahnya ini?
Walaupun saat itu Bu-liang-kiam sedang menghadapi
musuh di depan rumah, namun dengan watak Co Cu-bok
yang tinggi hati itu, tidak rela rasanya dipermainkan
seorang nona cilik tanpa bisa berbuat apa-apa. Maka
begitu mengadang di depan si gadis dan Toan Ki,
katanya pula, "Kalian keluar begini saja, kalau terjadi
apa-apa, Bu-liang-kiam kami tentu merasa tidak enak."

"Kenapa kau khawatir?" sahut si gadis dengan
tersenyum. "Aku toh bukan tamu undanganmu, kau pun
tidak kenal she dan namaku yang mulia. Jika aku
terbunuh oleh orang Sin-long-pang, ayah-bundaku juga
takkan menyalahkan kalian."

Habis berkata, ia tarik Toan Ki terus melangkah
keluar.

"Berhenti dulu, nona!" cepat Cu-bok merintangi, tahutahu
tangannya sudah menghunus pedang.

"Eh, apa kau ingin berkelahi?" tanya si gadis.

"Cayhe ingin berkenalan dengan ilmu silat nona agar
kelak dapat dipertanggungjawabkan kalau berjumpa
dengan ayah-ibumu," kata Cu-bok sambil melintangkan
pedang.

"Wah, kakek jenggot ini akan membunuh aku,
bagaimana baiknya menurut pendapatmu?" tanya si
gadis pada Toan Ki.

39




"Terserah padamu," sahut Toan Ki sembari mengipas.

"Apabila aku terbunuh, lantas bagaimana baiknya?"

"Ada rezeki kita rasakan bersama, ada malang kita
tanggung berbareng. Kuaci kita makan bersama, pedang
kita terima serentak!"

"Bagus, ucapanmu ini sangat tegas," ujar si gadis.
"Engkau sangat baik, tidak percuma perkenalan kita ini.
Marilah pergi!"

Segera ia tarik Toan Ki keluar, terhadap senjata Co
Cu-bok yang kemilauan itu seakan-akan tak
dihiraukannya.

Tanpa bicara lagi Cu-bok geraki pedang terus
menusuk bahu kiri si gadis. Ia tidak bermaksud melukai
orang, tujuannya cuma untuk merintangi kepergian kedua
muda-mudi itu.

Mendadak tangan si gadis menarik pinggang, tahutahu
seutas tali hijau menyambar ke pergelangan Co Cubok.


Dalam kagetnya cepat Cu-bok menarik kembali
tangannya, tak terduga tali hijau itu adalah benda hidup,
datangnya juga cepat luar biasa, tangan Cu-bok terasa
sakit kena digigit sekali oleh Jing-leng-cu. "Trang",
pedang jatuh ke lantai.

Habis menggigit musuh, cepat Jing-leng-cu merayap
ke tanah, beberapa kali mengesot, pedang yang jatuh itu

40




telah dililitnya, terdengarlah suara "pletak" beberapa kali,
pedang panjang itu patah menjadi beberapa bagian.

Ternyata Jing-leng-cu itu adalah semacam ular aneh
yang sangat lihai, kulitnya keras melebihi baja, ditambah
lagi dalam asuhan ayah-bunda si gadis dalam waktu
panjang, maka berubahlah semacam senjata hidup yang
sangat hebat.

Kalau bicara tentang ilmu silat sejati, terang si gadis
yang berusia kira-kira 16-17 tahun itu bukan tandingan
Co Cu-bok. Tapi "senjata hidup" si gadis terlalu aneh dan
gesit, Co Cu-bok diserang dalam keadaan tidak berjagajaga
hingga pedangnya jatuh dan terlilit patah.

Biasanya Bu-liang-kiam memandang pedang mereka
sebagai jiwa sendiri, kalau senjata itu kena dipatahkan
atau direbut musuh, itu berarti ludeslah seluruh modal
mereka. Meski gebrakan tadi sangat di luar dugaan dan
tak bisa dianggap kalah bertanding, tapi dengan
kedudukan Co Cu-bok sebagai seorang ketua suatu
aliran persilatan, ia tidak boleh ngotot merintangi orang
lagi. Ia memegang pergelangan tangan sendiri dengan
erat, khawatir racun ular menjalar ke dalam tubuh.

"Kalau ingin jiwa selamat, lekas kau menggodok tiga
mangkuk besar air rumput Tulah dan diminum sekaligus,
dalam waktu dua jam, harus merebah di ranjang, sedikit
pun tidak boleh bergerak," demikian kata si gadis. Dan
sesudah keluar, dengan tertawa ia berkata pada Toan Ki
dengan perlahan, "Jing-leng-cu ini sebenarnya tak
berbisa, tapi kakek jenggot itu pasti ketakutan setengah
mati. Ilmu silat si tua itu sangat tinggi, kalau dia
mengejar, aku tak mampu melawannya."

41




Sungguh kagum sekali Toan Ki, katanya, "Aku tidak
bisa ilmu silat, makanya dianiaya orang!"

Sembari berkata, ia raba-raba pipi sendiri yang masih
sakit pedas. Lalu menyambung pula, "Apabila aku pun
mempunyai Jing-leng-cu seperti ini, tentu aku tidak takut
lagi pada segala macam manusia jahat. Nona baik,
bilakah kau mau menangkapkan seekor juga untukku?"

"Untuk menangkap seekor lagi cukup sulit," sahut si
gadis. "Sayang ular ini bukan milikku, kalau punyaku,
tentu akan kuhadiahkan padamu. Ini adalah milik
Encekku (paman), kubawanya buat main-main, setelah
pulang nanti harus kukembalikan padanya."

"Eh, she dan namamu yang mulia tak mau kau
katakan kepada kakek jenggot, tentunya tidak keberatan
diperkenalkan padaku, bukan?" tanya Toan Ki.

"She dan nama yang mulia apa segala?" sahut si
gadis dengan tertawa. "Aku she Ciong, ayah-ibuku
memanggil aku 'Ling-ji' (anak Ling). Marilah kita duduk di
lereng bukit situ, katakan, untuk apa kau datang ke Buliang-
san sini?"

Kedua muda-mudi itu lalu menuju ke lereng bukit di
sebelah barat-laut sana, sembari berjalan Toan Ki sambil
berkata, "Aku mengeluyur sendiri dari rumah dan
terluntang-lantung ke mana-mana. Ketika tiba di kota
Bohni, aku kehabisan sangu, aku datang ke rumah orang
yang bernama Be Ngo-tek itu untuk makan gratis.
Belakangan kudengar dia hendak ke Bu-liang-san sini,
karena iseng, aku lantas minta ikut kemari."

42




Ciong Ling manggut-manggut, tanyanya pula, "Sebab
apa kau larikan diri dari rumah?"

"Ayah-ibu suruh aku belajar silat, aku tidak mau.
Mereka mendesak terus, aku lantas minggat."

Dengan mata terbelalak heran, Ciong Ling
mengamat-amati Toan Ki, katanya kemudian, "Sebab
apa engkau tidak mau belajar silat? Takut menderita?"

"Masa aku takut menderita?" sahut Toan Ki. "Telah
kupikir pergi-datang dan tetap tidak paham. Kemudian
bertengkar pula dengan Empekku. Aku dipersalahkan
oleh ayah dan disuruh minta maaf pada Empek, tapi aku
enggan karena merasa tak salah, lantaran itu ibu
bertengkar juga dengan ayah ...."

"Ibumu tentu simpati pada pihakmu, bukan?" tanya
Ciong Ling.

"Ya," sahut Toan Ki.

Ciong Ling menghela napas, katanya, "Ibuku juga
begitu terhadapku."

Ia termenung sejenak memandang ke arah barat, lalu
tanya lagi, "Soal apa yang kau pikirkan dan merasa tidak
paham?"

"Sejak kecil aku sudah ditahbiskan ke dalam agama
Buddha," tutur Toan Ki. "Ayah telah mengundang
seorang guru memberi pelajaran membaca Su-si-ngokeng
(empat buku dan lima kitab) dan menggubah syair.

43




Mengundang pula seorang paderi saleh mengajar agama
padaku. Selama belasan tahun yang kupelajari melulu
hal larangan membunuh, pantang gusar, harus welas
asih dan macam-macam lagi. Ketika tiba-tiba ayah suruh
aku belajar silat, belajar cara memukul dan membunuh
orang, tentu saja aku merasa enggan. Ayah menuduh
aku membangkang perintah orang tua, Empek berdebat
sehari semalam denganku, dan aku tetap tidak tunduk."

"Lantas Empekmu marah-marah dan tinggal pergi,
bukan?"

"Empekku tidak marah-marah dan tinggal pergi, tapi
jarinya menutuk dua kali di badanku, seketika badanku
terasa seakan-akan digigit beratus ribu semut serta
serupa beribu lintah lagi mengisap darahku. Kata Empek,
'Enak tidak perasaan begini? Aku adalah pamanmu,
sebentar tentu akan lepaskan Hiat-to yang kututuk, tapi
kalau musuh yang menutukmu, tentu kau akan dibikin
mati tidak hidup pun tidak. Dan kau boleh coba
membunuh diri.' Sudah tentu aku tak dapat bunuh diri,
pula aku takkan bunuh diri, cukup hidup senang, buat
apa bunuh diri?"

Semula Ciong Ling termangu-mangu mendengarkan,
tiba-tiba ia berseru keras, "Hah, Empekmu mahir ilmu
Tiam-hiat? Bukankah ia menggunakan sebuah jari dan
menutuk sesuatu tempat di tubuhmu, dan engkau lantas
tak bisa berkutik?"

"Benar, kenapa mesti heran?" ujar Toan Ki.

Kejut dan heran meliputi perasaan Ciong Ling,
sahutnya, "Kau bilang kepandaian itu tidak

44




mengherankan? Padahal setiap orang Bu-lim, asal

mendapatkan ajaran sedikit ilmu Tiam-hiat, biarkan kau
suruh dia menjura seribu kali juga dia mau. Tapi kau
sendiri justru tidak mau belajar, ini sungguh aneh luar
biasa."

"Kulihat ilmu Tiam-hiat itu pun tiada sesuatu yang
hebat," sahut Toan Ki.

Ciong Ling menghela napas, katanya, "Kata-katamu
ini jangan lagi kau ucapkan, lebih-lebih jangan sampai
diketahui oleh orang lain."

"Sebab apa?" tanya Toan Ki terheran-heran.

"Kalau kau tidak mahir ilmu silat, tentu banyak urusan
Kangouw yang belum kau ketahui," sahut si gadis. "Ilmu
Tiam-hiat keluarga Toan kalian tiada bandingannya di
kolong langit ini, yaitu disebut 'It-yang-ci'. Setiap orang
persilatan pasti mengiler bila mendengar nama ilmu itu,
mungkin tak bisa tidur sebulan-dua bulan
mengaguminya. Apabila ada yang tahu ayah dan
pamanmu mahir ilmu itu, boleh jadi ada orang jahat akan
menculik kau dan minta ayahmu atau pamanmu menukar
dirimu dengan kitab pelajaran It-yang-ci itu. Jika terjadi
demikian, lantas bagaimana?"

"Jika benar terjadi, menurut watak pamanku yang
keras itu, pasti dia akan melabrak si penculik itu."

"Makanya," kata Ciong Ling, "berkelahi tanpa tujuan
dengan keluarga Toan kalian tentu orang tidak berani.
Tetapi untuk kitab pelajaran It-yang-ci, segala apa
mungkin terjadi. Apalagi kalau kau jatuh di tangan orang,

45




urusan tentu akan sulit diselesaikan. Maka begini saja
baiknya, selanjutnya kau jangan mengaku she Toan."

"Aku tidak she Toan, lalu she apa?" ujar Toan Ki.
"Padahal orang she Toan beratus ribu banyaknya di
daerah Hunlam ini, belum tentu setiap orangnya mahir
ilmu Tiam-hiat."

"Sementara ini boleh kau pakai she sama dengan
aku," ujar si gadis.

"Baik juga," sahut Toan Ki tertawa. "Dan engkau
harus panggil aku Toako. Berapa umurmu?"

"Enam belas," sahut Ciong Ling. "Dan kau?"

"Aku lebih tua tiga tahun daripadamu," sahut Toan Ki.

Ciong Ling memungut sehelai daun kering, sambil
merobek daun itu sedikit demi sedikit, tiba-tiba ia goyang
kepala.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya si pemuda.

"Aku tetap tak percaya bahwa engkau tidak mau
belajar It-yang-ci," sahut Ciong Ling. "Kau sengaja dusta,
bukan?"

Toan Ki tertawa, katanya, "Kau pandang It-yang-ci
sedemikian hebatnya, memangnya ilmu itu bisa bikin
perut menjadi kenyang? Aku justru anggap Kim-leng-cu
dan Jing-leng-cu milikmu ini jauh lebih berguna."

46




"Kuharap mudah-mudahan aku bisa menukar
beberapa ular ini dengan ilmu kepandaian keluargamu
itu." ujar si gadis. "Cuma sayang, engkau tak bisa Ityang-
ci, sebaliknya ular-ular ini pun bukan punyaku."

"Gadis sekecil dirimu ini, kenapa yang kau pikir melulu
urusan berkelahi dan membunuh orang saja?"

"Kau benar-benar tidak tahu atau sengaja berlagak
dungu?"

"Apa maksudmu?" tanya Toan Ki bingung.

"Lihatlah itu!" kata si gadis sambil menunjuk ke arah
timur.

Menurut arah yang ditunjuk, Toan Ki melihat di
pinggang gunung arah timur itu mengepul belasan
gumpal asap hijau, ia tidak paham apa maksud si gadis.

"Coba, meski kau tidak ingin memukul atau
membunuh orang, tapi orang lain justru akan menghajar
dan membunuhmu," kata Ciong Ling pula, "lalu apa kau
rela dibinasakan orang? Asap hijau itu adalah tanda
orang Sin-long-pang lagi menggodok racun untuk
melayani Bu-liang-kiam nanti. Kuharap semoga diamdiam
kita dapat mengeluyur pergi dari sini agar tidak ikut
tersangkut."

Toan Ki kebas-kebas kipasnya dan merasa kurang
tepat ucapan si gadis, katanya, "Cara perkelahian orang
Kangouw seperti ini makin lama makin tidak pantas.
Orang Bu-liang-kiam telah membunuh putra Sikongpangcu
dari Sin-long-pang, tapi kini itu Yong Goan-kui

47




juga sudah dibinasakan mereka. Bahkan ditambah

dengan Kiong Jin-kiat yang menempeleng aku itu. Balasmembalas,
seharusnya sudah selesai. Seumpama masih
ada sesuatu yang tidak adil, seharusnya melapor pada
pembesar negeri dan minta diberi keputusan secara
bijaksana, mana boleh bertindak dan menjadi hakim
sendiri sesukanya? Memangnya negeri Tayli kita ini
dianggap sudah tidak punya undang-undang lagi?"

"Ck, ck, ck!" mulut Ciong Ling berkecek-kecek,
"mendengar ucapanmu ini seakan-akan kau ini tuan
besar atau bangsawan yang berkuasa. Bagi rakyat jelata
kita justru tidak urus segala tetek bengek itu."

Ia menengadah, lalu tuding ke arah barat-daya dan
berkata pula, "Sebentar kalau hari sudah gelap diamdiam
kita mengeluyur pergi dari situ, tentu orang Sin-
long-pang takkan pergoki kita."

"Tidak!" seru Toan Ki mendadak. "Aku harus
menemui Pangcu mereka untuk memberi petuah dan
ceramah padanya, tidak boleh mereka sembarangan
membunuh orang."

Ciong Ling merasa kasihan pada pemuda yang polos
ketolol-tololan itu, katanya, "Toan-heng, engkau ini
benar-benar tidak kenal tebalnya bumi dan tingginya
langit. Pangcu dari Sin-long-pang itu, Sikong Hian,
orangnya kejam dan ganas, suka main racun, berbeda
daripada orang Bu-liang-kiam. Maka lebih baik kita
jangan cari perkara, lekas pergi dari sini saja."

48




"Tidak, urusan ini aku harus ikut campur, jika kau
takut, bolehlah kau tunggu aku di sini," sembari berkata,
terus saja Toan Ki melangkah ke arah timur.

Ciong Ling memandangi kepergian pemuda itu,
setelah beberapa tombak jauhnya, mendadak ia
memelesat maju mengejar, ia jambret pundak Toan Ki,
menyusul kaki menjegal, pemuda itu disengkelit ke
depan.

Waktu tiba-tiba mendengar suara tindakan orang dari
belakang, selagi Toan Ki hendak menoleh, tahu-tahu
pundak dicengkeram orang, bahkan kaki keserimpet dan
tubuh terus terjerungup terbanting ke depan. Keruan
hidungnya mencium tanah dan bocor, keluar kecapnya.

Dengan meringis Toan Ki merangkak bangun, dan
demi mengetahui orang yang menghajarnya itu adalah
Ciong Ling, ia menjadi gusar, katanya, "Kenapa kau
begini nakal, apa tidak sakit orang kau banting?"

"Aku hanya ingin mencoba lagi apakah engkau hanya
pura-pura atau sungguh-sungguh tak mahir ilmu silat,"
sahut Ciong Ling. "Maksudku adalah demi kebaikanmu."

Ketika Toan Ki mengusap hidungnya, tangannya
lantas berlepotan darah, bahkan darah terus menetes
hingga dadanya merah dan kuyup. Sebenarnya lukanya
sangat enteng, tapi melihat sekian banyak darah
mengalir, terus saja ia berkaok-kaok, "Aduh, aduuuh!"

Ciong Ling menjadi rada khawatir, cepat ia keluarkan
saputangan hendak mengelap darah orang. Tapi Toan Ki
kadung mendongkol, tanpa pikir ia mendorong dan

49




berkata, "Tidak perlu kau ambil hatiku, aku tak mau
gubris padamu lagi."

Karena tak mahir ilmu silat, maka cara mendorong
Toan Ki hanya sekenanya saja, siapa tahu justru
menyentuh dada si gadis. Keruan Ciong Ling kaget,
tanpa pikir dan dengan sendirinya ia pegang tangan si
pemuda, sekali ditarik terus disengkelit dengan gaya
judo, kembali Toan Ki terbanting pula, batok kepala
belakang terbentur batu, seketika jatuh semaput.

Melihat pemuda itu menggeletak tak berkutik, Ciong
Ling membentaknya, "Ayo lekas bangun, aku ingin bicara
padamu!"

Tapi ia lantas gugup ketika melihat Toan Ki tetap tak
bergerak, ia berjongkok dan memeriksa, ia lihat kedua
mata anak muda itu mendelik, napasnya lemah,
orangnya sudah kelengar. Lekas-lekas ia memijat Jintiong-
hiat bagian atas bibir serta mengurut dada si
pemuda.

Selang agak lama, perlahan barulah Toan Ki siuman.
Ia merasa dirinya bersandar di tempat yang empuk,
hidungnya mengendus bau wangi pula, ia membuka
mata dan melihat sepasang mata-bola Ciong Ling yang
jeli bening itu lagi memandangnya dengan rasa khawatir.

Melihat Toan Ki sudah siuman, Ciong Ling menghela
napas lega, "Ah, syukurlah engkau tidak mati."

Melihat dirinya bersandar di pangkuan si gadis, tanpa
merasa hati Toan Ki terguncang, tapi segera terasa batok

50




kepala belakang masih kesakitan, kembali ia berkaokkaok
sakit.

Ciong Ling terkejut oleh kelakuan Toan Ki itu,
"Kenapa?" tanyanya.

"Aku ... aku kesakitan!" sahut Toan Ki.

"Hanya sakit, kan tidak mati, kenapa berkaok-kaok?"

"Jika mati, masakah bisa berkaok-kaok?"

Ciong Ling mengikik tawa, ia merasa salah tanya. Ia
coba angkat kepala Toan Ki, ternyata di bagian belakang
benjol sebesar telur ayam, cuma tidak mengeluarkan
darah, namun sakitnya tentu tidak kepalang. Maka
katanya setengah mengomel, "Habis, siapa suruh kau
berlaku rendah. Apabila orang lain, mungkin kontan
sudah kubunuh, tapi kau hanya terbanting saja, masih
murah bagimu."

Toan Ki bangun duduk, tanyanya dengan heran, "Aku
berbuat ren ... rendah bagaimana? Kapan terjadi? Inilah
fitnah belaka!"

Dasar perasaan gadis remaja seperti Ciong Ling yang
baru mulai bersemi, terhadap urusan laki-perempuan
baru taraf paham tak-paham, ia menjadi jengah oleh
sangkalan Toan Ki itu, katanya dengan wajah merah,
"Tak dapat kukatakan, pendek kata kau yang salah,
siapa suruh kau mendorong ... mendorong sini."

51




Baru sekarang Toan Ki paham duduknya perkara, ia
merasa kikuk, ingin dia jelaskan, tapi sukar
mengucapkannya.

Maka Ciong Ling berkata lagi, "Syukur akhirnya kau
siuman, bikin aku khawatir saja."

"Tadi di Kiam-oh-kiong, kalau kau tidak menolong
aku, pasti aku akan dipersen dua kali tempelengan lebih
banyak. Kini kau membanting dua kali diriku, biarlah
kuanggap kelop, siapa pun tidak utang. Agaknya
memang sudah suratan nasibku, tak bisa terhindar dari
malapetaka ini."

"Demikian ucapanmu, jadi kau gusar padaku?" tanya
si gadis.

"Memangnya orang sudah dipukul harus memuji dan
berterima kasih pula padamu?" sahut Toan Ki.

"Ya, sudahlah, selanjutnya aku takkan pukul kau lagi,"
kata Ciong Ling dengan menyesal sambil memegang
tangan si pemuda. "Sekarang kau tidak marah lagi,
bukan?"

"Tidak, kecuali kalau aku pun balas memukulmu dua
kali," ujar Toan Ki.

Ciong Ling tidak lantas menjawab, ia merasa enggan
dipukul orang. Tapi demi tampak pemuda itu hendak
tinggal pergi lagi dengan marah, cepat ia tegakkan leher
dan berkata, "Baiklah, boleh kau pukul aku dua kali. Tapi
... tapi jangan keras-keras, ya!"

52




"Tidak bisa," kata Toan Ki. "Kalau tidak keras, mana
bisa dianggap membalas dendam. Maka pukulanku
sudah pasti sangat keras. Jika kau tidak tahan, lebih baik
jangan."

Ciong Ling menghela napas, ia pejamkan mata dan
berkata lirih, "Baiklah! Tapi ... tapi sesudah memukul,
engkau jangan marah lagi!"

Namun sesudah ditunggu dan tunggu lagi, tangan
Toan Ki masih belum juga terasa memukulnya. Waktu
membuka mata, ia lihat pemuda itu lagi memandang
kesima padanya dengan wajah tertawa bukan-tertawa
padanya. Ia menjadi heran, tanyanya, "He, kenapa kau
tidak memukul?"

Tiba-tiba Toan Ki menyelentik perlahan dua kali di pipi
Ciong Ling, katanya, "Hanya dua kali selentikan saja dan
impas."

Ciong Ling tertawa manis, serunya, "Memang aku
sudah tahu engkau orang baik"

Untuk sekian lamanya Toan Ki kesengsem
menghadapi gadis jelita yang hanya belasan senti di
depannya itu, makin dipandang makin cantik, bau harum
gadis sayup-sayup menyusup hidungnya, berat nian
untuk meninggalkannya pergi. Akhirnya ia berkata,
"Sudahlah, sekarang sakit hatiku sudah terbalas, kini aku
hendak pergi mencari Sikong Hian dari Sin-long-pang
itu."

Bab 2

53




"Jangan bodoh!" cepat Ciong Ling mencegah.
"Urusan orang Kangouw sedikit pun engkau tidak paham,
kalau sampai bikin sirik orang, aku takkan mampu
menolongmu."

"Jangan khawatir bagiku" sahut Toan Ki. "Kau tunggu
saja di sini, sebentar aku akan kembali."

Habis berkata, dengan langkah lebar ia terus
bertindak ke arah asap tebal sana.

Ciong Ling berteriak mencegahnya lagi, dan Toan Ki
tetap tidak menurut.

Setelah tertegun sejenak, mendadak gadis itu
berseru, "Baiklah, engkau pernah menyatakan 'kuaci kita
makan bersama, pedang kita terima serentak', biar kuikut
bersamamu!"

Segera ia berlari menyusul Toan Ki dan berjalan
berjajar dengan dia.

Tidak lama, dari depan tertampak memapak dua
orang lelaki berbaju kuning. Seorang di antaranya yang
lebih tua lantas membentak, "Siapa kalian? Mau apa
datang ke sini?"

Dari jauh Toan Ki dapat melihat kedua orang itu sama
memanggul sebuah kantong obat dan membawa golok
lebar-pendek, segera sahutnya, "Cayhe bernama Toan
Ki, ada urusan penting mohon bertemu dengan Sikongpangcu
kalian."

"Urusan apa?" tanya lelaki tua tadi.

54




"Setelah bertemu dengan Pangcu kalian, dengan
sendirinya akan kututurkan," kata Toan Ki.

"Saudara tergolong aliran mana, siapa gerangan
gurumu?" tanya pula lelaki tua itu.

"Aku tidak termasuk sesuatu golongan dan aliran."
sahut Toan Ki. "Guruku bernama Bing Sut-seng, beliau
khusus mempelajari Koh-bun-siang-si, dalam hal ilmu
Kong-yang, dia juga mahir."

Kiranya guru yang dia maksudkan adalah guru yang
mengajarkan dia membaca dan menulis. Tapi bagi
pendengaran lelaki tua itu, istilah "Koh-bun-siang-si"
(sastra kuno dan kitab baru) dan "Kong Yang" (cerita
tentang kambing jantan) disangkanya dua macam ilmu
silat yang sakti. Apalagi melihat Toan Ki mengipas-kipas
dengan sikap dingin, seakan-akan seorang yang memiliki
ilmu kosen. Maka ia tidak berani sembrono lagi,
walaupun tidak pernah mendengar ada seorang jago silat
bernama Bing Sut-seng, tapi orang menegaskan mahir
dalam macam-macam ilmu, tentunya bukan membual
belaka. Cepat ia berkata, "Jika demikian, harap Toansiauhiap
tunggu sebentar, akan kulaporkan Pangcu."

Habis itu, buru-buru ia tinggal pergi ke balik lereng
gunung sana.

"Kau bohongi dia tentang Kong-yang dan Bo-yang
(kambing jantan dan kambing betina) segala, ilmu
macam apakah itu?" tanya Ciong Ling. "Sebentar jika
Sikong Hian hendak mengujimu, mungkin sukar bagimu
menjawabnya."

55




"Seluruh isi Kong-yang-toan (kitab cerita tentang
kambing jantan) sudah kubaca hingga hafal, kalau
Sikong Hian mengujiku, tidak nanti aku kewalahan,"
sahut Toan Ki.

Ciong Ling terbelalak bingung oleh jawaban yang tak
keruan juntrungannya. Sudah tentu ia tidak tahu bahwa
Kong-yang-toan itu adalah nama kitab sastra karya
Kong-yang Ko di zaman Chun-chiu.

Sementara itu tertampak lelaki tua tadi telah kembali
dengan muka masam, katanya pada Toan Ki, "Tadi kau
sembarangan mengoceh apa, sekarang Pangcu
memanggilmu."

Melihat gelagatnya, agaknya dia telah didamprat oleh
sang Pangcu, Sikong Hian.

Toan Ki mengangguk dan ikut di belakang orang.

"Mari kutunjukkan jalan," kata lelaki tua itu sembari
menarik tangan Toan Ki. Setelah berjalan beberapa
tindak, perlahan ia kerahkan tenaga di tangan.

Keruan Toan Ki kesakitan, sambil merintih tertahan ia
berkaok, "Aduh! Perlahan sedikit!"

Akan tetapi genggaman lelaki tua itu semakin
kencang hingga mirip tanggam kuatnya. Saking tak
tahan, akhirnya Toan Ki menjerit kesakitan.

Kiranya ketika lelaki itu menyampaikan tentang "Kohbun-
siang-si" dan "Kong-yang-toan" yang dikatakan Toan

56




Ki tadi, ia telah didamprat sang Pangcu. Karena
mendongkol, ia sengaja hendak mengukur ilmu silat
Toan Ki. Di luar dugaan, baru sedikit meremas, pemuda
itu sudah gembar-gembor kesakitan.

Segera ia bermaksud meremas patah beberapa
tulang jari orang, tapi mendadak pergelangan tangan
sendiri terasa "nyes" dingin seperti dibelit oleh sesuatu.
"Krek", tahu-tahu tulang pergelangan tangannya patah.

Saking sakitnya, lelaki tua itu cepat memeriksa tangan
sendiri, tapi tidak tampak sesuatu benda apa pun. Sudah
tentu ia tidak tahu bahwa diam-diam Ciong Ling yang
telah membantu Toan Ki dengan melepaskan Jing-lengcu
untuk mematahkan tulang tangannya, sebaliknya ia
menyangka dari tangan Toan Ki yang telah timbul
semacam tenaga getaran lihai. Dalam dongkolnya, timbul
juga rasa jerinya, ia pikir Lwekang orang ini sedemikian
hebatnya, kalau dirinya tidak kenal gelagat, boleh jadi
akan lebih celaka lagi nanti.

Meski menanggung rasa sakit luar biasa hingga
keringat dingin menetes dari jidatnya sebesar kedelai,
namun lelaki itu masih berlagak kuat, sedikit pun tidak
merintih sakit, tetap bertindak dengan langkah lebar
seakan-akan tidak terjadi sesuatu.

"Engkau ini sungguh orang kasar," Toan Ki
mengomel, "orang berjabatan tangan kan tidak perlu
menggunakan tenaga sebesar itu, kukira engkau tidak
bermaksud baik."

57




Lelaki itu tidak menggubrisnya, ia percepat
langkahnya dan membelok ke balik lereng sana.

Waktu Ciong Ling memandang, ia lihat di tengah
gundukan batu padas sana berduduk lebih 20 orang. Ia
sadar telah masuk ke sarang harimau, maka ia pun cepat
menyusul rapat di belakang Toan Ki.

Setelah dekat, Toan Ki melihat di tengah gerombolan
orang itu berduduk seorang kakek kurus kecil di atas
batu padas yang paling tinggi, berjenggot macam
kambing tua, sikapnya sangat angkuh. Pantas lelaki tadi
didamprat ketika melaporkan ucapan Toan Ki tentang
"cerita si kambing jantan" segala, sebab ternyata kakek
kurus kecil itu berjenggot ala kambing.

Toan Ki tahu pasti kakek inilah Pangcu Sin-long-pang,
Sikong Hian. Segera ia memberi hormat dan berkata,
"Sikong-pangcu, terimalah hormatku, Toan Ki."

Sikong Hian hanya sedikit membungkukkan badan,
tapi tidak berbangkit, tanyanya, "Ada urusan apa saudara
datang ke sini?"

"Kabarnya kalian ada permusuhan dengan Bu-liangkiam,"
tutur Toan Ki. "Cayhe sendiri hari ini telah
menyaksikan kematian dua orang Bu-liang-kiam secara
mengenaskan, karena tidak tega, maka sengaja datang
kemari untuk memberi jasa baik. Hendaklah diketahui
bahwa permusuhan lebih baik dilenyapkan daripada
diperpanjang. Apalagi bunuh-membunuh dan berkelahi
juga melanggar undang-undang negara, kalau diketahui
pembesar setempat, pasti sama-sama tidak enak. Maka
sudilah Sikong-pangcu membatalkan maksud kurang

58




baik ini sebelum terlambat dan lekas-lekas pergi dari sini,
jangan mencari perkara lagi kepada Bu-liang-kiam."

Dengan sikap dingin dan tak acuh Sikong Hian
mendengarkan cerita Toan Ki itu tanpa komentar, ia
hanya meliriknya.

Maka Toan Ki berkata lagi, "Apa yang kukatakan ini
timbul dari maksud baikku, harap Pangcu suka pikirkan
dengan baik."

Masih dengan sikap aneh Sikong Hian memandangi
pemuda itu, mendadak ia terbahak-bahak, katanya,
"Siapakah kau bocah ini berani bergurau dengan
tuanmu? Siapa yang suruh kau ke sini?"

"Siapa yang suruh aku ke sini?" Toan Ki menegas.
"Sudah tentu aku sendiri!"

"Hm," jengek Sikong Hian mendongkol. "Selama
berpuluh tahun aku berkelana di Kangouw dan belum
pernah kulihat seorang bocah bernyali sebesar kau ini
hingga berani main gila padaku. A Toh, tangkap kedua
bocah ini."

Segera seorang laki-laki tegap mengiakan dan
melompat maju hendak mencengkeram lengan Toan Ki.

"Eeh, jangan!" seru Ciong Ling cepat. "Sikongpangcu.
Toan-siangkong ini menasihati engkau dengan
maksud baik, jika tidak mau menurut boleh terserah,
kenapa main kekerasan?"

59




Lalu ia berpaling pada Toan Ki dan berkata, "Toanheng,
jika Sin-long-pang tidak mau mendengar
nasihatmu, kita juga tidak perlu ikut campur urusan orang
lain. Marilah pergi!"

Akan tetapi lelaki tegap tadi sudah memegangi kedua
tangan Toan Ki terus ditelikung ke belakang sambil
menunggu perintah sang Pangcu lebih jauh. Keruan
Toan Ki meringis kesakitan.

Maka Sikong Hian berkata pula dengan dingin, "Hm,
Sin-long-pang justru tidak suka orang lain ikut campur
urusannya, kalian berdua bocah ini anak siapa, masa
boleh pergi datang sesukamu, ha? Pasti di balik layar
ada sesuatu yang mencurigakan. A Hong, tawan sekalian
anak perempuan itu!"

Kembali seorang laki-laki kekar lain mengiakan terus
hendak menangkap Ciong Ling.

Namun sedikit mengegos mundur, Ciong Ling berkata
pula, "Sikong-pangcu, jangan kira aku takut padamu.
Soalnya ayahku melarang aku bikin onar di luaran, maka
aku tidak suka cari perkara. Lekas suruh orangmu
melepaskan Toan-heng itu, jangan kau paksa aku turun
tangan, akibatnya pasti tidak enak."

"Hahaha, anak perempuan omong besar," Sikong
Hian terbahak-bahak. "A Hong, lekas kerjakan!"

Kembali lelaki bernama A Hong mengiakan terus
mencengkeram lengan Ciong Ling. Di luar dugaan,
sekonyong-konyong telapak tangan kiri si gadis
memotong ke kuduk A Hong. Cepat A Hong menunduk,

60




namun celakalah dia, tahu-tahu kepalan kanan Ciong
Ling secepat kilat menggenjot dari bawah ke atas, "plok",
janggutnya tepat kena dipukul, tanpa ampun lagi tubuh A
Hong segede kerbau itu mencelat dan jatuh terjengkang
serta tak bisa berkutik.

"Ehm, tampaknya anak perempuan ini boleh juga,"
ujar Sikong Hian tawar, "tapi kalau hendak main gila
dengan Sin-long-pang, rasanya belum cukup memadai."

Segera ia mengedipi seorang tua kurus tinggi di
sampingnya.

Orang tua itu tinggi lencir mirip galah bambu, tanpa
suara tahu-tahu ia sudah berada di depan Ciong Ling.

Lucu juga tampaknya kedua seteru itu, yang satu
teramat tinggi, yang lain pendek, selisih kedua orang
hampir setengah badan.

Segera kakek itu ulur kesepuluh jarinya yang mirip
cakar burung terus mencengkeram pundak Ciong Ling.

Melihat serangan lawan cukup lihai, cepat Ciong Ling
berkelit ke samping, jari kakek itu menyambar lewat di
samping pipinya hingga terasa angin serangan itu sangat
keras, diam-diam gadis itu terperanjat, serunya cepat,
"Sikong-pangcu, lekas kau perintahkan orangmu
berhenti. Bila tidak, jangan salahkan aku turun tangan
keji, kelak kalau aku diomeli ayah-ibu, kau pun tidak
terlepas dari tanggung jawab."

61




Sedang Ciong Ling berkata, sementara itu si kakek
jangkung beruntun sudah menyerang tiga kali lagi, tapi
selalu dapat dihindarkan si gadis pada saat berbahaya.

"Tangkap dia!" bentak Sikong Hian tanpa peduli
teriakan Ciong Ling.

Segera si kakek jangkung menyerang pula, tangan
kanan pura-pura menghantam, tahu-tahu tangan kiri
mencengkeram lengan Ciong Ling.

Gadis itu menjerit kaget, saking kesakitan hingga
wajahnya pucat. Namun mendadak si gadis ayun tangan
kiri ke depan, tiba-tiba selarik sinar emas menyambar,
kakek jangkung itu hanya mendengus tertahan sekali
terus melepaskan lengan Ciong Ling dan jatuh duduk di
tanah. Kiranya Kim-leng-cu secepat kilat telah menggigit
sekali punggung tangan lawan, lalu melompat kembali ke
tangan Ciong Ling.

Lekas seorang laki-laki setengah umur berjubah
panjang di samping Sikong Hian membangunkan si
kakek jangkung, ia merasa sekujur badan sang kawan itu
menggigil hebat, punggung tangan tampak bersemu
hitam dan menjalar ke bagian tubuh yang lain dengan
cepat.

Kembali Ciong Ling bersuit, Kim-leng-cu melejit ke
muka lelaki yang menawan Toan Ki. Cepat orang itu
hendak menangkis dengan tangan, tapi kebetulan bagi
Kim-leng-cu, terus saja dipagutnya tangan itu.

62




Ilmu silat lelaki itu jauh di bawah si kakek jangkung,
keruan ia lebih-lebih tak tahan, seketika ia meringkal di
lantai bagai cacing sambil merintih-rintih.

Segera Ciong Ling menarik Toan Ki dan diajak pergi,
bisiknya, "Kita sudah bikin onar, lekas lari!"

Orang-orang yang berada di sekitar Sikong Hian itu
adalah gembong-gembong Sin-long-pang semua, selama
hidup mereka berusaha mencari obat dan menjual jamu,
maka segala macam ular atau lebah berbisa pernah
dilihatnya, tapi Kim-leng-cu yang bisa melayang pergi
datang secepat kilat dan berbisa jahat itu, tiada seorang
pun di antara mereka yang kenal jenis ular apakah itu.

Dalam kagetnya, tanpa merasa Sikong Hian berseru,
"He, apakah 'Uh-hiat-su-leng'? Lekas tangkap bocah
perempuan itu, jangan sampai lolos!"

Segera empat lelaki di sampingnya melompat maju
dan mengepung dari beberapa penjuru. Namun sekali
bersuit, Ciong Ling sudah lolos Jing-leng-cu yang melilit
di pinggangnya itu, sekali sabet, ia tahan dua musuh
yang menubruk maju. Berbareng Kim-leng-cu telah
dilepaskan hingga berturut-turut keempat lelaki itu kena
dipagutnya. Cukup sekali gigit saja, setiap orang itu
lantas terkapar, ada yang berkelejetan, ada pula yang
meringkal bagai cacing.

Melihat ular kecil itu terlalu lihai, namun jago-jago Sin-
long-pang itu tiada yang berani mundur di hadapan sang
Pangcu, kembali 7-8 orang memburu maju pula sambil
membentak-bentak.

63




"Jika ingin selamat, hendaklah jangan maju," seru
Ciong Ling. "Siapa pun yang kena tergigit Kim-leng-cu
ini, tiada obat penolongnya."

Jago-jago Sin-long-pang itu bersenjata semua, ada
yang membawa golok, ada yang memakai cangkul
pendek dan lain-lain, mereka berharap dengan senjata
itu dapat menahan serangan ular emas lawan.

Namun ular kecil itu teramat gesit, lebih cepat
daripada segala macam senjata rahasia, setiap kali asal
senjata lawan menyerang, cukup sekali tolak ekornya di
atas senjata lawan, tahu-tahu ia sudah melejit ke depan
dan dapat menggigit musuh. Maka dalam sekejap saja,
kembali beberapa orang roboh terjungkal pula.

Sikong Hian tak dapat tinggal diam lagi, ia gulung
lengan baju dan cepat mengeluarkan sebotol obat air, ia
tuang obat itu dan gosok-gosok telapak tangan dan
lengannya, lalu melompat ke depan Ciong Ling dan Toan
Ki sambil membentak, "Berhenti!"

Sekonyong-konyong Kim-leng-cu melejit lagi dari
tangan Ciong Ling hendak menggigit batang hidung
Sikong Hian. Cepat Pangcu Sin-long-pang itu angkat
tangannya ke atas dengan rada mengirik sendiri, sebab
ia tidak tahu apakah obat ular ciptaan sendiri itu manjur
tidak untuk menghadapi ular emas yang gesit dan lihai
luar biasa itu, jika tidak manjur, bukan saja nama baiknya
selama ini akan hanyut, bahkan Sin-long-pang sejak itu
pun akan ludes.

Untung baginya, baru saja Kim-leng-cu pentang mulut
hendak pagut tangannya, mendadak binatang itu

64




menikung di atas udara, ekornya menutul telapak tangan
Sikong Hian, terus melompat kembali ke tangan Ciong
Ling.

Girang Sikong Hian tak terkira, terus saja tangan
kirinya memukul, saking hebat angin pukulannya itu, pula
tak sempat berkelit, Ciong Ling tergetar sempoyongan,
hampir saja terjungkal. Bahkan angin pukulan itu masih
terus menyambar ke belakang hingga Toan Ki ikut
tergetar dan roboh terjengkang.

Ciong Ling terkejut, berulang-ulang ia bersuit
mendesak Kim-leng-cu menyerang musuh.

Kembali ular emas itu memelesat ke depan, namun
obat yang terpoles di tangan Sikong Hian itu justru
adalah obat jitu anti Kim-leng-cu, binatang itu tidak berani
sembarangan memagut lagi, jika hendak menggigit muka
atau bagian bawah badan, segera Sikong Hian mainkan
kedua telapak tangannya sedemikian cepatnya hingga
air pun tak bisa tembus.

Segera Ciong Ling putar Jing-leng-cu mengeroyoknya
dari samping. Karena tidak tahu Jing-leng-cu itu tak
berbisa, Sikong Hian menjadi waswas, ia menjaga diri
dengan rapat sambil membentak-bentak memberi
perintah kepada begundalnya.

Maka tertampaklah berpuluh orang anggota Sin-longpang
mengepung maju, setiap orang membawa
segebung rumput obat yang dinyalakan, asap rumput itu
mengepul tebal sekali.

65




Baru saja Toan Ki merangkak bangun dari jatuhnya
tadi, begitu mencium bau asap rumput itu, seketika ia
roboh dan pingsan pula. Lamat-lamat ia lihat Ciong Ling
juga mulai sempoyongan menyusul gadis itu pun
terjungkal.

Segera dua anggota Sin-long-pang menubruk maju
hendak meringkus Ciong Ling, tapi Kim-leng-cu dan Jingleng-
cu teramat setia membela sang majikan, segera
dipagutnya pula kedua orang itu. Kontan yang satu
meringkal keracunan bagai ebi dan yang lain tulang kaki
patah kena dibelit oleh Jing-leng-cu yang keras bagai
kawat baja itu.

Seketika itu jago-jago Sin-long-pang menjadi jeri,
beramai-ramai mereka merubung kedua muda-mudi
yang menggeletak di tanah itu dan tidak berani
sembarangan turun tangan.

Cepat Sikong Hian berseru, "Bakar kunyit di sebelah
timur, di sebelah selatan dibakar Sia-hio (semacam bibit
wangi dari musang), semua orang menyingkir dari baratlaut!"


Segera anak buahnya mengikuti perintah itu,
biasanya segala macam bekal obat-obatan selalu
tersedia dalam Sin-long-pang, obat yang dibakar itu
baunya sangat keras, begitu dibakar, seketika
menyiarkan asap tebal yang berbau menusuk hidung dan
tertiup ke arah Ciong Ling.

Tak terduga, meski di bawah embusan asap yang
merupakan obat anti mereka, namun Kim-leng-cu dan
Jing-leng-cu masih tetap lincah dan gesit, dalam sekejap

66




saja lagi-lagi beberapa orang Sin-long-pang digigit roboh
lagi.

Sikong Hian berkerut kening, cepat ia mendapat akal,
serunya, "Lekas gali tanah dan uruk anak perempuan ini
hidup-hidup bersama ular-ularnya."

Gegaman sebangsa cangkul dan sebagainya selalu
tersedia di tangan anak buah Sin-long-pang, cepat saja
mereka menggali tanah dan diuruk ke atas tubuh Ciong
Ling.

Waktu itu pikiran sehat Toan Ki masih belum lenyap
sama sekali, ia pikir sebab musabab dari segala peristiwa
itu berpangkal atas dirinya, kalau Ciong Ling mengalami
nasib mati dikubur hidup-hidup, rasanya dirinya juga tak
bisa hidup sendiri. Maka sekuatnya ia melompat ke atas
tubuh si gadis dan merangkulnya sambil berseru,
"Bagaimanapun biarlah kita gugur bersama!"

Menyusul ia merasa batu pasir beterbangan
menjatuhi badannya.

Mendengar kata-kata "bagaimanapun biarlah kita
gugur bersama" itu, hati Sikong Hian ikut tergerak, ia lihat
di sekitarnya menggeletak lebih 20 anak buahnya,
beberapa di antaranya bahkan adalah tokoh penting,
termasuk pula dua orang Sutenya, jika anak perempuan
ini dibunuh untuk melampiaskan rasa gusar sendiri,
namun racun ular emas itu terlalu lihai, tanpa obat
penawar si gadis, tentu sukar menolong jiwa orangorangnya
itu. Maka cepat katanya, "Biarkan jiwa kedua
bocah itu tetap hidup, jangan uruk bagian kepala
mereka!"

67




Ciong Ling sendiri lemas tak bertenaga, ia merasa
badan tertindih Toan Ki dan makin lama makin berat,
keduanya sama-sama tak bisa berkutik. Maka dalam
sekejap saja, badan kedua muda-mudi itu bersama Kimleng-
cu dan Jing-leng-cu sudah terpendam di bawah
tanah, hanya kepala mereka yang menongol keluar.

"Anak perempuan, coba katakan sekarang, ingin mati
atau hidup?" tanya Sikong Hian dengan nada dingin.

"Sudah tentu ingin hidup," sahut Ciong Ling. "Jika aku
dan Toan-heng tewas, kalian rasanya juga takkan bisa
hidup."

"Baik," ujar Sikong Hian, "lekas serahkan obat
penawar racun ular, lantas kuampuni jiwamu."

"Tidak, hanya jiwaku saja tidak cukup, harus jiwa kami
berdua," kata Ciong Ling.

"Baiklah boleh kuampuni jiwa kalian berdua," sahut
Sikong Hian. "Nah, mana obat penawarnya?"

"Aku tidak membawa obat penawar," kata si gadis.
"Racun Kim-leng-cu ini hanya ayahku saja yang bisa
mengobatinya. Bukankah sudah kukatakan padamu,
jangan kau paksakan aku turun tangan, sebab ayah pasti
akan marah padaku dan bagimu juga tiada gunanya."

"Bocah cilik, dalam keadaan begini masih berani
membual!" sahut Sikong Hian bengis, "kalau kakek
kadung murka, bisa kutinggalkan kau di sini hingga mati
kelaparan."

68




"Eh, apa yang kukatakan adalah sesungguhnya,
kenapa engkau tidak percaya," kata Ciong Ling. "Ai,
pendek kata, urusan sudah kadung runyam, mungkin
ayah tak dapat dibohongi, lantas bagaimana baiknya?"

"Siapa nama ayahmu?" tanya Sikong Hian.

"Usiamu sudah tua, kenapa engkau tidak kenal
aturan?" sahut si gadis. "Nama ayahku mana boleh
sembarangan kukatakan padamu?"

Sungguh kewalahan Sikong Hian, meski berpuluh
tahun dia malang melintang di dunia Kangouw, tapi
menghadapi dua bocah seperti Ciong Ling dan Toan Ki,
ia benar-benar tak berdaya. Dengan gemas ia berkata
pula, "Ambilkan api, biar kubakar dulu rambut anak
perempuan ini, coba lihat dia mau mengaku atau tidak."

Segera anak buahnya mengangsurkan sebuah obor,
Sikong Hian terus mendekati Ciong Ling dengan
memegang obor itu.

Keruan Ciong Ling ketakutan melihat wajah orang
yang bengis itu, ia berteriak-teriak, "Hei, jangan!
Memangnya tidak sakit rambut dibakar? Kenapa tidak
coba kau bakar jenggotmu sendiri saja?"

"Sudah tentu kutahu sakit, buat apa kubakar jenggot
sendiri?" sahut Sikong Hian dengan tertawa ejek. Terus
saja ia angkat obor dan diabat-abitkan di depan hidung
Ciong Ling, keruan gadis itu menjerit takut.

69




Cepat Toan Ki memeluk tubuh si gadis lebih kencang
sambil berseru, "He, jenggot kambing, urusan ini
berpangkal kesalahanku, biar rambutku saja boleh kau
bakar!"

"Jangan, kau pun akan merasa sakit!" ujar Ciong Ling.

"Jika kau takut sakit, lekas keluarkan obat
penawarnya untuk menolong saudara kami itu," desak
Sikong Hian.

"Engkau ini orang tua, tapi bodoh melebihi kerbau,"
sahut Ciong Ling. "Sejak tadi sudah kukatakan bahwa
hanya ayahku yang bisa menyembuhkan keracunan Kimleng-
cu, bahkan ibuku pun tidak bisa. Memangnya kau
sangka mudah mengobatinya?"

Mendengar sekitarnya berisik dengan suara merintih
orang yang digigit Kim-leng-cu tadi, Sikong Hian
menduga pasti racun ular ini sangat menyakitkan, bila
tidak, anak buahnya yang tergolong laki-laki gagah itu,
biasanya biarpun sebelah kaki atau tangan dikutungi
orang juga tidak sudi merengek sedikit pun. Tapi kini
meski sudah minum obat penawar racun ular buatan
sendiri, namun toh masih merintih tidak tahan, terang
obat ular yang biasanya sangat mujarab itu pun tidak
berguna, dalam putus asanya, Sikong Hian terus
memelototi Ciong Ling sambil membentak, "Siapa
bapakmu, lekas katakan namanya!"

"Apa benar engkau ingin tahu, kau tidak takut
mendengarnya?" tanya si gadis.

70




Mendadak hati Sikong Hian tergerak, ia jajarkan
istilah "Uh-hiat-su-leng" dengan nama seorang, pikirnya,
"Apa mungkin 'Uh-hiat-su-leng' ini adalah piaraan orang
ini? Jika orang ini belum mati, dan selama ini dia hanya
mengasingkan diri, hanya pura-pura mati saja, lalu aku
mengungkat namanya, kelak dia pasti akan bikin repot
padaku."

Sekilas Ciong Ling melihat wajah Sikong Hian
menampilkan rasa jeri, ia sangat senang, segera katanya
pula, "Makanya lekas kau lepaskan kami, supaya ayahku
tidak bikin susah padamu."

Secepat kilat benak Sikong Hian timbul beberapa
pikiran, "Bila kulepaskan dia, dan ayahnya benar adalah
orang yang kuduga, setelah nona ini ditanya, pasti dia
akan tahu aku telah dapat meraba rahasianya, lalu jiwaku
pasti takkan dibiarkan hidup oleh orang itu? Tentu dia
akan membunuh diriku untuk menutupi rahasianya. Tapi
kalau kini kubunuh anak perempuan ini, para saudara
yang menderita ini pun susah dipertahankan jiwanya.
Hm, sekali sudah berbuat, kepalang bila tidak kuteruskan
sampai titik terakhir!"

Setelah ambil keputusan, diam-diam tangan kirinya
terus mengerahkan tenaga dan menghantam kepala
Ciong Ling.

Melihat sikap orang mendadak berubah, segera Ciong
Ling tahu gelagat jelek, ketika melihat pula tangan orang
memukul, cepat ia berteriak, "Hai, tahan, jangan pukul
dulu!"

71




Namun Sikong Hian tidak ambil peduli lagi, pukulan
tetap diteruskan, tapi baru saja hampir menyentuh kepala
si gadis, sekonyong-konyong bagian kuduk terasa sakit
seperti digigit sesuatu, karena itu, walaupun pukulannya
itu tetap mengenai kepala Ciong Ling, namun tenaga
sudah lenyap di tengah jalan hingga mirip mengusap
rambut si gadis saja.

Kejut Sikong Hian tak terkira, cepat ia tarik napas
panjang untuk melindungi jantungnya, tangan lain
melepaskan obor terus berputar ke belakang leher untuk
menangkap tapi celaka, lagi-lagi punggung tangan terasa
digigit.

Kiranya sesudah Kim-leng-cu terpendam dalam
tanah, diam-diam ia telah menyusup keluar, dan pada
saat Sikong Hian tidak menduga-duga mendadak
binatang itu menyerang. Keruan Sikong Hian sangat
cemas dan khawatir, cepat ia duduk bersila di tanah dan
mengerahkan tenaga dalam untuk mengusir racun.

Segera anak buahnya menyekop tanah dan
menguruk lagi ke atas Kim-leng-cu, namun binatang itu
sempat melejit dan menggigit roboh seorang lagi, dalam
kegelapan tampak sinar emas gemerlap beberapa kali,
tahu-tahu dia sudah lari ke dalam semak-semak rumput.

Lekas anak buah Sikong Hian mengambilkan obat
ular untuk sang Pangcu, setelah luar-dalam memakai
obat, mulut sang Pangcu dijejal pula sebatang Jin-som
untuk memperkuat tenaganya. Berbareng Sikong Hian
pun mengerahkan Lwekang untuk melawan racun ular,
tapi tiada seberapa lama, ia lemas tak tahan, terpaksa ia
ambil keputusan kilat, ia lolos sebatang golok pendek

72




terus menebas lengan kanan sendiri hingga kutung.
Namun tengkuknya yang juga digigit ular itu kan tak
mungkin kepala mesti ikut dipenggal juga.

Melihat keadaan sang Pangcu yang luar biasa itu,
anak buah Sin-long-pang sama ngeri, lekas mereka
membubuhi lengan Sikong Hian dengan obat luka,
namun darah mengucur bagai sumber air, begitu obat
dibubuhkan, segera diterjang buyar oleh air darah. Cepat
seorang anak buah sobek lengan baju sendiri untuk
membalut lengan kutung sang Pangcu, dengan demikian
lambat laun darah dapat dihentikan.

Melihat itu, muka Ciong Ling pun pucat ngeri, ia tidak
berani bersuara lagi.

"Apakah ular emas tadi adalah Kim-leng-cu dari Uhhiat-
su-leng?" tiba-tiba Sikong Hian tanya dengan suara
geram.

"Ya," sahut Ciong Ling.

"Kalau kena digigit, setelah linu pegal tujuh hari baru
korban akan mati, betul tidak?" tanya Sikong Hian pula.

Kembali si gadis mengiakan.

"Seret anak muda itu," perintah Sikong Hian pada
anak buahnya.

Beramai-ramai anggota Sin-long-pang terus menyeret
Toan Ki dari bawah gundukan tanah.

73




"He, he, urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan dia,
jangan bikin susah padanya!" cepat Ciong Ling berteriak
sambil meronta-ronta hendak melompat bangun.

Namun anak buah Sin-long-pang itu cepat menguruk
pasir batu pula ke tempat yang luang bekas Toan Ki tadi
hingga Ciong Ling tak bisa berkutik. Saking khawatir
mengira Toan Ki akan dibunuh, gadis itu menangis
tergerung-gerung.

Sebenarnya Toan Ki pun ketakutan, tapi sedapatnya
ia tenangkan diri, katanya dengan tersenyum, "Nona
Ciong, seorang jantan sejati pandang kematian bagai
pulang ke rumah, kita tidak boleh takut di hadapan
kawanan orang jahat ini."

"Aku bukan jantan sejati, maka aku tidak mau
pandang kematian seperti pulang ke rumah," sahut Ciong
Ling.

Mendadak Sikong Hian memberi perintah, "Beri
minum bocah ini dengan Toan-jiong-san, pakai takaran
untuk tujuh hari lamanya."

Segera anak buahnya mengeluarkan sebotol obat
bubuk merah dan mencekoki Toan Ki dengan paksa.

Keruan Ciong Ling khawatir setengah mati, ia
berteriak-teriak, "He, he, itu racun, jangan mau minum!"

Ketika mendengar nama "Toan-jiong-san" atau obat
bubuk perantas usus, segera Toan Ki tahu racun itu
sangat lihai, tapi dirinya sudah jatuh di bawah
cengkeraman orang, tidak minum terang tidak mungkin,

74




maka dengan ikhlas ia telan obat bubuk itu, malahan
mulutnya sengaja berkecek-kecek, lalu katanya dengan
tertawa, "Ehm, manis juga rasanya. Eh, Sikong-pangcu,
apakah kau pun akan minum barang setengah botol?"

Sikong Hian menjengek gusar tanpa menjawab,
sebaliknya Ciong Ling yang sedang menangis itu
mendadak tertawa geli, tapi lantas menangis lagi.

"Toan-jiong-san ini baru akan bekerja sesudah tujuh
hari nanti hingga usus dan perutnya akan hancur," kata
Sikong Hian kemudian. "Maka selama tujuh hari ini
hendaknya lekas kau pergi mengambilkan obat penawar
racun ular itu, bila tugas ini kau lakukan dengan baik,
nanti aku pun memberi obat penawar racun padamu."

"Sulit," sahut Ciong Ling. "Racun Kim-leng-cu itu
hanya bisa dipunahkan dengan Lwekang khas ayahku
sendiri, selamanya tidak ada obat penawar."

"Jika begitu, suruh ayahmu datang ke sini untuk
menolongmu," kata Sikong Hian.

"Enak saja kau bicara," sahut si gadis, "tak mungkin
ayahku sembarangan keluar rumah. Sudah pasti dia
takkan keluar selangkah pun dari lembah gunung kami."

Sikong Hian dapat memercayai apa yang dikatakan
Ciong Ling itu, seketika ia menjadi ragu-ragu.

"Paling baik begini saja," tiba-tiba Toan Ki mengusul,
"kita beramai-ramai pergi ke rumah nona Ciong dan
mohon orang tuanya menyembuhkan racun ular, cara
demikian bukankah lebih cepat dan tepat."

75




"Tidak, tidak boleh jadi!" kata Ciong Ling. "Ayahku
pernah menyatakan, tak peduli siapa pun juga, asal
menginjak setindak ke dalam lembah kami, orang itu
harus dibinasakan."

Sementara itu luka gigitan ular di belakang leher
Sikong Hian terasa makin pegal dan gatal, dengan gusar
ia berteriak, "Aku tak peduli tetek bengek itu, kalau kau
tidak mengundang ayahmu kemari, biarlah kita gugur
bersama."

Ciong Ling pikir sejenak, lalu katanya, "Kau lepaskan
aku dulu, biar kutulis sepucuk surat kepada ayah untuk
memohon kedatangannya. Tapi harus kau suruh seorang
yang tidak takut mati untuk menyampaikan surat pada
beliau."

"Bukankah bocah she Toan ini bisa kusuruh ke sana,
buat apa suruh orang lain?" kata Sikong Hian gemas.

"Ai, engkau benar-benar pelupa." ujar si gadis.
"Bukankah sudah kukatakan, barang siapa berani
menginjak selangkah saja ke lembah kami dia akan
binasa. Dan aku tidak ingin Toan-heng ini mati, tahu
tidak?"

"Jika dia takut mati, apa anak buahku tidak takut
mati?" sahut Sikong Hian. "Sudah, sudah, tak perlu pergi,
biarlah kita lihat saja, aku mati kemudian atau dia
mampus duluan."

Kembali Ciong Ling menangis tergerung-gerung lagi,
serunya, "Kau kakek jenggot kambing ini sungguh tidak

76




tahu malu, hanya pandai menghina seorang nona cilik!
Perbuatanmu ini apakah terhitung seorang kesatria sejati
kalau diketahui orang Kangouw?"

Namun Sikong Hian tidak menggubrisnya, ia
mengerahkan Lwekang sendiri untuk melawan bisa ular.

"Biarlah aku berangkat saja", kata Toan Ki tiba-tiba.
"Nona Ciong, jika ayahmu tahu kedatanganku ke sana
adalah untuk memohon dia datang ke sini menolongmu,
kuyakin beliau pasti takkan mengapa-apakan diriku."

Tiba-tiba Ciong Ling mengunjuk girang, katanya, "Ah,
aku mendapat akal. Begini, jangan kau katakan pada
ayahku di mana aku berada. Tapi setelah kau bawa
beliau ke sini, segera kau melarikan diri, kalau tidak,
tentu celaka!"

"Ehm, bagus juga akalmu ini," ujar Toan Ki sambil
manggut-manggut.

Lalu Ciong Ling berkata pula pada Sikong Hian, "He,
jenggot kambing, begitu kembali nanti Toan-heng harus
segera melarikan diri, lalu cara bagaimana engkau akan
memberi obat penawar racun padanya?"

Sikong Hian menunjuk sepotong batu besar jauh di
barat-laut sana dan berkata, "Aku akan suruh orang
menunggu di sana dengan obat penawar, begitu Toankongcu
ini lari sampai di sana bisa segera mendapatkan
obatnya."

77




Ia berharap Toan Ki berhasil mengundang ayah Ciong
Ling untuk menolong jiwanya, maka panggilannya
kepada Toan Ki sekarang berubah menjadi terhormat.

Segera Sikong Hian memberi perintah agar anak
buahnya menggali keluar Ciong Ling, tapi sebagai
gantinya kedua tangan si gadis dibelenggu. Dalam pada
itu tampak Jing-leng-cu masih kelogat-keloget di dalam
tanah, sedang ular kecil lainnya sudah mati terpendam.

"Kau belenggu kedua tanganku, cara bagaimana aku
bisa menulis surat?" kata Ciong Ling kemudian.

"Kau dara cilik ini terlalu licin, kau bilang hendak
menulis surat, jangan-jangan akan main gila lagi," ujar
Sikong Hian. "Tak perlu pakai surat segala, berikan
sepotong barang milikmu kepada Toan-kongcu sebagai
tanda pengenal untuk ayahmu."

"Kebetulan," sahut Ciong Ling tertawa. "Aku memang
tidak suka tulis-menulis. Lalu benda apakah yang berada
padaku? Ah, biarlah Jing-leng-cu saja kau bawa kepada
ayahku, Toan-heng."

"He, jang ... jangan," seru Toan Ki cepat. "Dia takkan
turut perintahku, kalau di tengah jalan aku digigitnya, kan
celaka!"

"Jangan khawatir." ujar Ciong Ling tersenyum. "Dalam
saku bajuku ada sebuah kotak kemala kecil, harap kau
keluarkannya."

Segera Toan Ki masukkan tangan ke saku si nona,
tapi baru tangan menyentuh baju, cepat ia tarik kembali

78




tangannya. Ia merasa perbuatannya kurang sopan, masa
tangan seorang pemuda gerayangan di dalam baju
seorang gadis.

Namun Ciong Ling tidak pikir sampai di situ, desaknya
malah, "Ayo, kenapa tidak lekas mengambil? Di saku
sebelah kiri!"

Toan Ki pikir urusan sudah telanjur runyam, keadaan
sangat mendesak, nona cilik ini pun masih kekanakkanakan,
sedikit pun tiada rasa perbedaan antara lelaki
perempuan, maka aku pun tidak perlu pikir yang tidaktidak.


Segera ia merogoh saku si gadis dan mengeluarkan
sepotong benda bundar yang keras dan hangat-hangat.

"Di dalam kotak kemala itu terdapat benda anti Kimleng-
cu dan Jing-leng-cu," kata Ciong Ling. "Jika Jingleng-
cu tidak menurut perintah, boleh kau ayun-ayun
kotak kemala itu di atas kepalanya, dengan sendirinya
dia tak berani main gila lagi."

Toan Ki menurut, ia angkat kotak kemala di depan
kepala Jing-leng-cu, maka terdengarlah suara mendesis
aneh beberapa kali di dalam kotak itu, seketika Jing-lengcu
sangat ketakutan hingga mengkeret badannya.

Senang sekali Toan Ki melihat itu, "Benda apakah di
dalam kotak ini? Biar kumelihatnya!"

Segera ia hendak membuka tutup kotak itu.

79




Namun Ciong Ling keburu mencegah, "He, jangan!
Tutup kotak sekali-kali tak boleh dibuka!"

"Sebab apa?" tanya Toan Ki.

Ciong Ling melirik sekejap ke arah Sikong Hian, lalu
berkata, "Ini rahasia, tidak boleh didengar orang luar.
Nanti kalau sudah kembali akan kuberi tahukan
padamu."

"Baiklah," kata Toan Ki, sebelah tangan memegang
kotak kemala, tangan lain melepaskan Jing-leng-cu dari
pinggang Ciong Ling dan diikat di pinggang sendiri.

Ternyata Jing-leng-cu membiarkan dirinya diperbuat
sesukanya oleh Toan Ki, sedikit pun tidak berani
membangkang. Keruan pemuda itu sangat senang,
katanya, "Hah, ular ini menarik juga!"

"Bila dia lapar, dia akan mencari makan sendiri, tak
perlu khawatir baginya," kata Ciong Ling pula, "dan bila
kau bersuit begini, dia akan menggigit orang, kalau kau
mendesis begini, dia lantas kembali ke tanganmu."

Sembari berkata, ia bersuit memberi contoh.

Dengan rasa tertarik, Toan Ki menirukan ajaran si
gadis.

Sebaliknya Sikong Hian tidak sabar, ia pikir anak
muda ini benar-benar kurang ajar, sudah dekat ajal,
masih main ular segala, segera ia membentak, "Lekas
pergi dan cepat kembali! Jiwa semua orang tinggal
beberapa hari saja, jika ada alangan dalam perjalanan

80




tentu jiwa masing-masing akan melayang. Nona Ciong,
dari sini ke tempat tinggalmu makan waktu berapa
lama?"

"Kalau cepat, dua hari bisa sampai, pergi-pulang
empat hari pun sudah cukup," sahut Ciong Ling.

Sikong Hian rada lega oleh jawaban itu, ia mendesak
pula, "Baiklah, lekas berangkat, lekas!"

"Tapi belum kuberi tahu jalannya kepada Toan-heng,
harap kalian menyingkir dari sini, siapa pun dilarang
mendengarkan," kata si gadis.

Segera Sikong Hian memberi tanda hingga anak
buahnya sama menyingkir pergi.

"Kau pun menyingkir," kata Ciong Ling pada Sikong
Hian.

Diam-diam Sikong Hian geregetan, katanya dalam
hati, "Kurang ajar! Kelak bila lukaku sudah sembuh,
kalau tidak kubalas permainkan kau, percumalah aku
menjadi manusia."

Segera ia berbangkit dan menyingkir pergi juga.

"Toan-heng," kata Ciong Ling kemudian sambil
menghela napas lega, "baru saja kita berkenalan, kini
sudah harus berpisah."

"Tidak apa, paling lama pergi-pulang cuma empat
hari," sahut Toan Ki tertawa.

81




Sepasang mata bola Ciong Ling termangu
memandangi anak muda itu, katanya, "Setiba di sana,
harap menemui ibuku lebih dulu untuk menceritakan
duduk perkaranya dan biar ibuku yang bicara kepada
ayahku. Dengan demikian urusan akan lebih mudah
diselesaikan."

Lalu ia gunakan ujung kaki untuk menggores-gores
tanah, untuk menjelaskan jalan ke rumah tinggalnya itu.

Kiranya tempat tinggal Ciong Ling itu terletak di
sebuah lembah di tepi barat sungai Lanjong. Meski
jaraknya tidak jauh, tapi tempatnya tersembunyi dan
sukar ditempuh, kalau tidak diberi petunjuk, orang luar
tak nanti menemukannya.

Namun daya ingat Toan Ki sangat baik, apa yang
ditunjukkan Ciong Ling biarpun menikung ke sana dan
membelok ke sini secara membingungkan, tapi sekali
dengar ia lantas ingat.

Setelah Ciong Ling selesai menguraikan, segera
katanya, "Baiklah, sekarang aku akan berangkat!"

Terus saja ia putar tubuh dan bertindak pergi.

Tapi baru pemuda itu berjalan belasan tindak, tibatiba
Ciong Ling teringat sesuatu, serunya, "Hei, kembali!"

"Ada apa?" tanya Toan Ki sambil memutar balik.

"Paling baik engkau jangan mengaku she Toan, lebihlebih
jangan bilang ayahmu mahir menggunakan It-yang-

82




ci," pesan si gadis. "Sebab ... sebab mungkin sekali akan
menimbulkan prasangka ayahku."

"Baiklah," sahut Toan Ki tertawa. Ia pikir nona ini
meski masih sangat muda, tapi pikirannya ternyata amat
teliti. Segera ia bertindak pergi sembari bernyanyi-nyanyi
kecil.

Tatkala itu hari sudah gelap, sang dewi malam sudah
menongol di tengah cakrawala, di bawah cahaya bulan
Toan Ki terus menuju ke barat. Meski dia tak bisa ilmu
silat, tapi usianya muda, tenaganya kuat, jalannya cukup
cepat.

Setelah belasan li jauhnya, ia sudah melintas sampai
di belakang gunung Bu-liang-san. Ia dengar suara
gemerciknya air, di depan ada sebuah sungai kecil,
karena merasa haus, Toan Ki menuju ke tepi sungai itu,
ia lihat air sungai sangat bening, segera ia gunakan
tangan untuk meraup air. Tapi belum lagi mulutnya
mengecup air, tiba-tiba ia dengar suara orang tertawa
dingin di belakang.

Dalam kejutnya cepat Toan Ki berpaling, maka
tertampaklah gemerdepnya senjata tajam, ujung pedang
sudah mengancam di dadanya. Waktu mendongak, ia
lihat seorang tersenyum mengejek, kiranya Kam Jin-ho
dari Bu-liang-kiam.

"Eh, kiranya kau, bikin kaget aku saja," kata Toan Ki
berlagak tertawa. "Sudah malam begini, ada apa Kamheng
berada di sini?"

83




"Atas perintah guruku, aku justru lagi menunggumu di
sini," sahut Kam Jin-ho. "Maka silakan Toan-heng ikut ke
Kiam-oh-kiong untuk bicara sebentar."

"Urusan apakah? Harap tunda sampai lain hari saja,"
ujar Toan Ki. "Hari ini aku ada urusan penting dan perlu
lekas berangkat."

"Tidak, betapa pun harap Toan-heng ke sana," kata
Jin-ho. "Bila tidak, aku pasti akan didamprat oleh
guruku."

Melihat wajah orang mengunjuk tanda kurang beres,
hati Toan Ki tergerak, lamat-lamat ia dapat menebak apa
maksud orang, pikirnya, "Celaka, mungkin dia sengaja
hendak menahan aku agar penolong yang diundang
tidak bisa datang, dengan demikian orang Sin-long-pang
akan terbinasa dan Bu-liang-kiam mereka tidak khawatir
lagi terhadap musuh utama itu."

Segera ia tanya pula, "Dari mana Kam-heng
mengetahui aku akan datang ke sini?"

"Hm," jengek Jin-ho. "Perembukanmu dengan nona
Ciong terhadap Sin-long-pang sudah kudengar dan lihat
semuanya. Bu-liang-kiam tiada dendam permusuhan
apa-apa denganmu, engkau pasti takkan dibikin susah.
Yang diharap sukalah kau mampir barang beberapa hari
ke tempat kami, kemudian engkau akan dibebaskan."

"Mampir beberapa hari?" Toan Ki menegas. "Kan bisa
celaka, padahal aku telah minum Toan-jiong-san pihak
Sin-long-pang, kalau racunnya bekerja lantas
bagaimana?"

84




"Boleh jadi setelah minum sedikit obat urus-urus,
perutmu takkan sakit lagi," kata Kam Jin-ho tertawa.

Diam-diam Toan Ki khawatir, seketika ia pun tiada
akal untuk meloloskan diri. Kalau ikut pergi ke Kiam-ohkiong,
mungkin dirinya akan menjadi korban, bahkan
Ciong Ling, Sikong Hian dan lain-lain juga akan binasa.

Dalam pada itu ujung pedang Kam Jin-ho sudah
mengancam di dada Toan Ki hingga terasa sakit.

"Ayo, ikut! Mau atau tidak mau harus ikut ke sana!"
kata murid Bu-liang-kiam itu.

"Dengan demikian, bukankah kalian sengaja hendak
membunuh aku?" kata Toan Ki.

"Jika sudah berani berkelana di Kangouw, jiwa harus
berani dibuat taruhan," ujar Jin-ho tertawa. "Orang
penakut macammu ini sungguh terlalu."

Habis berkata, "sret", mendadak pedang terus
mengiris ke bawah hingga baju Toan Ki terobek
sepanjang puluhan senti.

Kam Jin-ho ini tidak malu sebagai murid pilihan Buliang-
kiam, biarpun baju Toan Ki terobek disayat, namun
badan sedikit pun tidak terluka. Maka tertampaklah perut
Toan Ki yang putih itu, cepat pemuda itu memegangi
bajunya yang kedodoran.

"Eh, putih juga, seperti perempuan," goda Jin-ho
dengan tertawa. Mendadak ia berubah bengis,

85




bentaknya, "Ayo, lekas jalan, jangan bikin tuanmu
kehilangan sabar, sekaligus bisa kusayat mukamu
hingga berpuluh jalur merah!"

Terpaksa, Toan Ki menurut, ia pikir nanti di tengah
jalan harus mencari akal untuk meloloskan diri.

Segera ia betulkan bajunya, lalu katanya, "Jika
sebelumnya kutahu Bu-liang-kiam kalian begini jahat,
tentu aku tidak sudi ikut campur urusan kalian ini, biar
kalian sekaligus diracun mampus oleh Sin-long-pang."

"Kau mengomel apa?" bentak Jin-ho. "Bu-liang-kiam
kami adalah Eng-hiong-hohan (kesatria dan gagah)
semua, masakan jeri terhadap kawanan Sin-long-pang
yang tak kenal malu itu."

"Sret", kembali pedangnya menggores baju di
punggung Toan Ki, ketika sampai pinggang, terdengar
suara "krek", goresan pedang itu teralang sesuatu.

Mendadak barulah Toan Ki ingat bahwa di
pinggangnya terlilit Jing-leng-cu, ia merasa dirinya terlalu
goblok, kenapa sejak tadi tidak minta bantuan binatang
itu? Segera ia bersuit menirukan Ciong Ling.

Begitu kepala Jing-leng-cu menegak, terus saja ia
memagut ke muka Kam Jin-ho. Keruan jago Bu-liangkiam
itu kaget, cepat ia menyurut mundur. Sekali pagut
tidak kena, Jing-leng-cu membalik ke bawah hendak
melilit lengan Jin-ho.

86




Betapa lihainya ular hijau ini sudah dikenal Jin-ho,
bahkan pedang gurunya pernah dililit patah. Maka cepat
ia melompat berkelit pula.

Untung baginya, sebab Toan Ki belum pandai
mengendalikan Jing-leng-cu, ia tidak melepaskan
binatang itu dari pinggangnya, tapi terus bersuit
memerintah untuk menyerang musuh, maka sebagian
besar badan Jing-leng-cu masih melilit di pinggang,
sebab itulah serangannya terbatas hingga dua kali
memagut dapat dihindarkan Kam Jin-ho.

Melihat Kam Jin-ho melompat mundur, Toan Ki pikir
inilah kesempatan baik, cepat ia angkat langkah seribu,
ia berlari-lari ke arah barat.

"Hai, berhenti!" bentak Jin-ho sambil menguber. "Aku
membawa obat anti ular, ular hijau itu tidak berani
menggigit aku, tak mungkin kau bisa lolos!"

Walaupun begitu katanya, namun ia pun tidak berani
mendesak terlalu dekat.

Dasar Toan Ki, belum sampai satu li jauhnya,
napasnya sudah megap-megap.

Sebaliknya Kam Jin-ho sangat cekatan larinya, ia
mendapatkan sepotong tangkai kayu pula dan digunakan
memukul punggung Toan Ki.

Dalam gugupnya tiba-tiba timbul juga kecerdasan
Toan Ki, cepat ia lepaskan Jing-leng-cu dari pinggang
sambil bersuit, sekuatnya ia ayun ular itu ke belakang.

87




Dengan demikian Kam Jin-ho menjadi jeri dan tertinggal
lebih jauh.

Pikir jago Bu-liang-kiam itu, "Kau anak sekolahan ini
sedikit pun tak bisa ilmu silat, asal aku terus mengintil di
belakangmu, tiada sejam, tentu kau akan mati lelah."

Maka uber-menguber itu terus berlangsung menuju ke
arah barat.

Tiada lama kemudian, napas Toan Ki benar-benar
terasa hampir putus, jantung memukul keras seakanakan
meledak. Pikirnya, "Jika aku tertawan dia, jiwa nona
Ciong pasti akan ikut menjadi korban."

Karena gugupnya ia tak bisa pilih jalan lagi, yang ia
tuju selalu rimba lebat hutan belukar, ke sanalah dia
menyusup terus.

Setelah menguber sebentar pula, mendadak Jin-ho
dengar suara gemerujuknya air yang gemuruh. Tergerak
pikirannya, waktu mendongak, ia lihat diarah barat-laut
sana terdapat sebuah air terjun raksasa dengan airnya
yang dituang ke bawah bagai sungai gantung.

Cepat Jin-ho berhenti sambil berteriak, "Hei, di depan
adalah tempat larangan golongan kami, jika kau berani
maju lagi hingga melanggar larangan, pasti kau akan
mati tak terkubur!"

Bukannya Toan Ki berhenti, sebaliknya ia sangat
girang dan berlari ke depan malah, pikirnya, Jika di sana
adalah tempat larangan Bu-liang-kiam, tentu dia sendiri

88




tidak berani mengejar pula. Jiwaku memang lagi
terancam, takut apa?"

"Hai, lekas berhenti!" kembali Jin-ho berteriak. "Apa
kau tidak pikirkan nyawamu lagi?"

"Aku justru ingin nyawaku, maka aku lari ...." baru
sekian jawaban Toan Ki, sekonyong-konyong kakinya
terasa menginjak tempat kosong. Ia tidak mahir ilmu silat,
pula sedang berlari, tentu saja ia tidak bisa menahan diri,
langsung tubuhnya anjlok ke bawah.

"Haya!" teriak Toan Ki kaget, namun badannya sudah
terjerumus ke bawah jurang yang berpuluh tombak
dalamnya.

Waktu Jin-ho memburu sampai di tepi jurang, yang
terlihat hanya kabut tebal, apa yang terjadi di bawah
jurang sedikit pun tidak terlihat. Ia menduga Toan Ki pasti
akan terbanting hancur lebur, sedangkan tempat di mana
dia berdiri adalah tempat terlarang golongan sendiri,
maka ia tidak berani lama-lama di situ, cepat ia putar
balik melaporkan kepada sang guru.

Sementara itu tubuh Toan Ki yang terapung di udara
itu, kedua tangannya meraup ke sana-sini dengan
harapan bisa menangkap sesuatu untuk menahan daya
turunnya.

Kebetulan juga mendadak Jing-leng-cu yang masih
dipegang olehnya itu dapat melilit pada suatu dahan
pohon Siong yang tumbuh di dinding tebing. Beberapa

89




kali badan ular itu membelit dengan kencang dan kuat di
atas dahan itu.

Ketika mendadak Toan Ki merasa daya turunnya
berhenti, hampir saja ia tidak kuat memegang Jing-lengcu
dan hampir pula terberosot ke bawah. Untung Jingleng-
cu cukup cerdik, cepat ekornya melilit beberapa kali
di pergelangan tangan Toan Ki. Maka menjeritlah
mendadak anak muda itu kesakitan.

Kiranya daya turunnya tadi sangat keras, sekali
ditahan oleh ekor Jing-leng-cu secara mendadak,
seketika lengan kanannya keseleo alias terkilir.

Badan Jing-leng-cu ternyata sangat keras dan kuat
luar biasa, meski dibuat gantungan Toan Ki yang
bobotnya ratusan kati itu sambil membuai-buai, namun
masih bisa bertahan dengan baik.

Waktu Toan Ki memandang ke bawah, ia lihat awan
terapung mengambang di udara jurang, betapa
dalamnya jurang itu tidak terlihat. Untuk mendaki ke atas,
terang tidak mungkin, apalagi tangannya keseleo, tenaga
habis.

Pada saat itulah, badannya yang terayun terasa
menempel dinding tebing, cepat ia ulur tangan kiri untuk
meraih pangkal dahan, segera kakinya mendapatkan
tempat berpijak pula, baru sekarang ia merasa lega dan
tenang.

Ketika jurang itu diamat-amati, ia lihat di tengah
jurang merekah sebuah celah panjang, di tengah celah
itu banyak terdapat sebangsa batu pasir, kalau mau,

90




mungkin juga bisa dibuat jalan merambat turun ke bawah
dengan perlahan.

Setelah mengaso sebentar, Toan Ki merasa
serbarunyam kalau tinggal di situ, kalau tidak bisa naik ke
atas, terpaksa turun ke bawah jurang untuk mencari jalan
keluar lain.

Meski dia hanya seorang sekolahan, namun
mempunyai semangat banteng. Ia pikir jiwanya toh sisa
temuan, kalau akhirnya mesti melayang lagi, biarlah. Mati
ya mati, seorang laki-laki kenapa takut mati?

Segera ia bersuit pula, lalu mendesis-desis sebagai
tanda kembalinya Jing-leng-cu.

Mendengar suara suitan, Jing-leng-cu lantas melepas
belitannya di atas dahan dan kembali ke tangan Toan Ki.
Maka badan binatang itu diikat pula pada dahan tempat
berpijak, kemudian sambil memegangi badan ular, ia
merosot ke bawah.

Setelah dekat ujung ekor ular, kakinya memperoleh
tempat berpijak lagi, lalu menarik kembali Jing-leng-cu
untuk dipakai tali memberosot ke bawah pula dan begitu
seterusnya. Untung bagian bawah jurang itu tidak terlalu
curam, akhirnya ia tidak perlu bantuan Jing-leng-cu
sudah dapat turun ke bawah.

Ia dengar suara gemuruh air makin lama makin keras,
ia menjadi khawatir lagi, "Jika di bawah sana ada arus air
yang dahsyat, celakalah aku."

91




Ia merasa butiran air sudah berhamburan dan
menciprat mukanya, begitu besar butiran air itu hingga
menimbulkan rasa sakit pedas.

Akhirnya sampailah dia di dasar jurang. Waktu
memandang ke depan, tanpa tertahan Toan Ki bersorak
memuji. Ternyata di tebing kiri sana ada sebuah air terjun
raksasa yang menuangkan airnya yang jernih ke sebuah
danau besar, begitu luas danau itu hingga tidak kelihatan
tepi sebelah sana.

Walaupun dituangi air terjun sekeras itu, namun air
danau itu tidak menjadi penuh, tentu ada saluran yang
membuang air itu ke tempat lain.

Tempat air terjun menggerujuk itu airnya bergulunggulung,
tapi belasan tombak di luar air terjun itu, air
danau tenang bening bagai kaca.

Toan Ki terkesima oleh pemandangan alam yang
menakjubkan itu. Karena itu ia sampai lupa pada sakit
lengannya yang keseleo itu.

Ketika kemudian ia sadar akan rasa sakit itu, segera
ia gulung lengan baju dan berkata pada ruas tulang yang
keseleo itu, "Wahai, ruas tulang, jika kudapat
membetulkanmu, tentu takkan sakit lagi. Tapi kalau salah
sambung biarlah terserah nasib, lebih kesakitan juga
masa bodoh."

Ia kertak gigi dan menarik sekuatnya lengan yang
terkilir itu. "Krek", eh, tulang yang keseleo itu dapat
diluruskan kembali, walaupun rasa sakitnya tidak

92




kepalang, tapi lengan itu kini dapat bergerak dengan
bebas lagi.

Toan Ki sangat girang, walaupun sudah menderita
setengah harian, namun dasar semangat banteng, ia
penuh gairah. Ia meraba Jing-leng-cu dan berkata,
"Wahai, Jing-leng-cu, hari ini kalau kau tidak
menyelamatkan jiwaku, tentu sejak tadi tuanmu ini sudah
naik ke surga. Maka kelak pasti akan kusuruh tuan
putrimu memiaramu terlebih baik."

Ia mendekati tepi danau dan meraup air untuk
diminum, terasa airnya segar dan rada-rada manis pula.

Setelah tenangkan diri, Toan Ki pikir, "Urusan hari ini
sudah sangat mendesak, aku harus lekas mencari jalan
keluar, jangan-jangan Kam Jin-ho itu sebentar akan
menyusul ke sini, kan bisa celaka."

Segera ia menyusur tepi danau untuk mencari jalan.

Danau itu ternyata berbentuk lonjong, sebagian besar
teraling-aling oleh semak-semak tetumbuhan. Toan Ki
mengitar kira-kira tiga li jauhnya, ia lihat tebing curam di
sekeliling sana terlebih terjal, hanya tebing yang dia turun
tadi lebih mendingan, suasana sunyi senyap, jangankan
jejak manusia, jejak binatang pun tidak tampak, hanya
kicau burung terkadang terdengar.

Karena itu, Toan Ki sedih lagi, ia pikir tak jadi soal
dirinya mati kelaparan di situ, tapi jiwa nona Ciong
bagaimana jadinya? Ia duduk di tepi danau dengan rasa
cemas dan gelisah, sedikit pun tak berdaya.

93




Kemudian ia pikir, "Boleh jadi jalanku terlalu buru-buru
hingga tidak memerhatikan kalau ada sesuatu jalan kecil
yang teraling semak-semak atau tertutup batu-batu
gunung?"

Karena itu ia bangkit pula, dengan riang sambil
bernyanyi-nyanyi kecil ia menyusuri tepi danau lagi untuk
mencari jalan keluar.

Kali ini ia telah periksa setiap semak pohon di tepi
danau, namun di balik semak-semak itu adalah batu
karang melulu yang menempel di dinding jurang yang
menjulang tinggi ke langit. Jangankan jalan keluar,
bahkan liang ular atau lubang jangkrik pun tidak tampak
sesuatu.

Makin lama makin perlahan nyanyi Toan Ki,
perasaannya semakin lama semakin tertekan. Ketika
berputar kembali sampai di depan air terjun tadi, kakinya
sudah lemas, ia mendomprok ke tanah.

Dalam putus asa, timbul khayalannya, "Bila aku bisa
menjadi seekor ikan, aku akan menyusur air terjun itu
dan berenang ke atas jurang sana."

Sambil berpikir sinar matanya terus mengikuti
jalannya air terjun itu dari bawah ke atas. Ia lihat di
sebelah kanan air terjun itu mencuat sepotong batu putih
gilap bagai kemala. Melihat gelagatnya, boleh jadi air
terjun itu pada masa dahulu jauh lebih besar lagi
daripada sekarang ini, Entah sudah mengalami
gerujukan berapa lama hingga dinding batu itu tergosok
rata licin bagai kaca. Kemudian air terjun berubah kecil
dan dinding batu sehalus kaca itu pun kelihatan.

94




Tiba-tiba Toan Ki ingat kata-kata Sin Siang-jing
sehabis bertanding di Kiam-oh-kiong, ia telah menyindir
ketua sekte timur Bu-liang-kiam, Co Cu-bok,
menanyakan selama lima tahun itu apakah sudah banyak
meyakinkan pelajaran dinding kemala. Karena itu, Co
Cu-bok rada gusar dan menegur sang Sumoay apakah
sudah lupa pada pantangan perguruan sendiri, akhirnya
Siang-jing bungkam.

Teringat pula olehnya sebabnya Bu-liang-kiam
bermusuhan dengan Sin-long-pang adalah karena Sin-
long-pang minta mencari obat ke belakang gunung ini.
Lereng gunung Bu-liang-san ini penuh dengan hutan
belukar, kalau cuma mencari sedikit bahan obat saja apa
alangannya?

Dasar otak Toan Ki sangat cerdas, mendadak timbul
rasa curiganya. Segera ia menyelami setiap pembicaraan
yang pernah didengarnya setelah datang di Kiam-ohkiong
itu, maka teringatlah ketika Ciong Ling bertanya
tentang "Bu-liang-giok-bik" apa segala pada Co Cu-bok,
seketika ketua Bu-liang-kiam itu tercengang dan purapura
tidak tahu, sebaliknya Ciong Ling terus menyindir
atas sikap orang itu.

Tampaknya apa yang dimaksudkan "Giok-bik" itu
adalah dinding gunung kemala dan bukan "Giok-bik" dari
batu kemala. Sekarang di hadapannya terdapat suatu
dinding gunung yang putih gilap bagai kemala, pula
terletak di belakang gunung Bu-liang-san, terang dinding
tebing gunung ini banyak hubungannya dengan apa yang
terjadi hari ini.

95




Menyusul teringat pula ketika dirinya terjerumus ke
dalam jurang tadi, berulang-ulang Kam Jin-ho
membentaknya agar berhenti, katanya tempat itu adalah
tempat Bu-liang-kiam yang terlarang didatangi siapa pun
juga.

Maka pikirnya pula, "Ketika aku ikut Be Ngo-tek ke
Kiam-oh-kiong, pernah kutanya sebab apa ketiga sekte
Bu-liang-kiam itu setiap lima tahun harus saling
bertanding sekali dan yang menang berhak menghuni
Kiam-oh-kiong selama lima tahun? Namun jago tua she
Be itu hanya garuk-garuk kepala dan menyatakan itu
adalah rahasia golongan Bu-liang-kiam, orang luar tidak
mengetahuinya."

Ia coba menganalisis apa yang telah dilihat dan
didengarnya itu, ia menduga di atas Giok-bik itu tentu
terukir semacam rahasia pelajaran ilmu pedang yang
ditetapkan oleh leluhur Bu-liang-kiam, bahwa sekte mana
yang menang dalam pertandingan boleh tinggal di situ
untuk mempelajari ilmu pedang itu selama lima tahun.

Berpikir sampai di sini, ia bertambah yakin akan
rekaannya itu.

Sejak kecil Toan Ki sangat dipengaruhi oleh ajaran
agama Buddha, ia benci terhadap ilmu silat. Ia minggat
dari rumah juga disebabkan tidak mau belajar silat. Tapi
setelah beruntun-runtun dianiaya, dihina dan diracun
orang, yang berbuat itu semuanya adalah orang
persilatan pula, maka bencinya terhadap ilmu silat makin
mendalam.

96




Maka demi ingat dinding kemala itu ada sangkutpautnya
dengan ilmu silat, segera ia melengos tidak sudi
memandangnya lagi. Pikirnya, "Sebabnya orang suka
berkelahi dan bunuh-membunuh di dunia ini, semuanya
gara-gara ilmu silat masing-masing. Apabila di atas
dinding kemala itu terukir ilmu silat yang tiada
tandingannya di seluruh kolong langit, itu berarti akan
membawa bencana lebih hebat bagi manusia, akibatnya
tentu jauh lebih celaka daripada Kim-leng-cu, Toan-jiongsan
dan sebagainya."

Ia pikir sambil berjalan terus, namun akhirnya rasa
ingin tahunya lebih kuat daripada segala pikiran lain, ia
pikir pula, "Rahasia ilmu silat yang tertera di atas dinding
kemala itu pasti sangat susah diyakinkan, bila tidak,
rasanya Co Cu-bok dan saudara-saudara
seperguruannya tidak perlu bersusah payah
mempelajarinya selama lima tahun dan ternyata tidak
banyak hasilnya. Aku justru ingin tahu macam apakah
ilmu silat yang aneh itu?"

Segera ia menengadah pula, ia lihat dinding itu halus
gilap seperti kaca, dari mana bisa terukir sesuatu rahasia
ilmu pedang atau ilmu silat lain? Ia coba mengincar dari
samping dan mengamati dari depan pula, namun tetap
tiada sesuatu yang menarik, pikirnya pula, "Apa yang
dikatakan orang kuno belum tentu sungguh-sungguh.
Boleh jadi leluhur Bu-liang-kiam sengaja membohongi
anak murid mereka agar bisa lebih giat berlatih. Atau
mungkin juga dugaanku yang salah?"

Setelah memandang sekian lama pula, ia merasa letih
dan lapar. Tanpa pikir lagi ia rebahkan diri dan tertidur.
Ketika mendusin esok paginya, perutnya semakin

97




keroncongan, tapi di tengah lembah itu tiada sesuatu
makanan, buah-buahan pun tidak tampak.

Sampai tengah hari, saking lapar Toan Ki terus petik
beberapa bunga hutan sekadar tangsel perut. Walaupun
pahit getir rasanya bunga itu, terpaksa ia telan mentahmentah.


Setelah beberapa jam lagi, sang surya sudah doyong
ke barat, ia lihat di angkasa danau timbul selarik
bianglala yang indah permai. Ia tahu di mana ada air
terjun, pantulan sinar matahari sering menimbulkan
bayangan bianglala yang berwarna-warni. Menghadapi
pemandangan permai itu, ia merasa tidak penasaran
biarpun harus terkubur di lembah gunung itu. Setelah
termenung-menung agak lama, akhirnya ia rebah dan
terpulas lagi.

Tidurnya itu nyenyak benar, ketika mendusin,
waktunya sudah tengah malam. Ia lihat sang dewi malam
sedang memancarkan cahaya yang tenang lembut.
Ketika mendongak memandang ke dinding batu sana, ia
lihat di dinding itu jelas terlukis dua benda.

Toan Ki terkesiap, ia kucek-kucek mata dan
memandangnya lebih jelas, kiranya kedua benda itu
hanya bayangan saja. Yang satu berbentuk melengkung
mirip pelangi yang dilihatnya siang tadi, yang lain adalah
bayangan sebatang pedang.

Bayangan pedang itu sangat terang, baik batang
pedang, tangkainya, ujungnya, semuanya mirip benar.

98




Setelah pikir sejenak, Toan Ki menarik kesimpulan di
depan dinding batu itu pasti ada sebatang pedang,
karena sinar bulan yang menyorot miring itu, maka
bayangan pedang tercetak di atas dinding itu.

Ia lihat ujung bayangan pedang itu menunjuk ke
pucuk bayangan benda melengkung itu. Waktu ditegasi,
Toan Ki merasa bayangan itu makin mirip pelangi. Tidak
lama, awan tipis yang menutupi sang dewi malam itu
tertiup buyar oleh angin hingga bayangan hitam itu
tampak lebih jelas lagi. Dari bayangan hitam benda
melengkung itu ternyata timbul jalur aneka warna persis
seperti warna-warni bianglala.

Toan Ki semakin heran, pikirnya, "Kenapa di tengah
bayangan bisa timbul warna-warni?"

Ketika pandangannya beralih ke arah yang
berlawanan dengan dinding batu itu, ia lihat di dinding
tebing curam sana lamat-lamat ada sinar berwarna yang
bergoyang-goyang.

Seketika ia menjadi sadar, kiranya di dinding situ ada
terjepit sebatang pedang, di samping itu ada sepotong
batu mestika yang mengeluarkan cahaya pelangi.

Batu permata memangnya mempunyai tujuh warna,
maka sinar bulan telah memindahkan pantulan warnawarni
itu ke dinding batu sana. Pantas begitu indah
menarik. Cuma sayang, tempat di mana terdapat bendabenda
mestika itu berpuluh tombak tingginya, betapa pun
sukar dicapai untuk dilihat dari dekat.

99




Belum lama ia menikmati pemandangan indah itu,
sang bulan sudah berpindah hingga bayangan itu mulai
menipis dan akhirnya lenyap tinggal dinding batu yang
tetap halus licin itu.

Tanpa sengaja Toan Ki dapat menemukan rahasia itu,
ia pikir, "Kiranya rahasia di atas dinding kemala Bu-liangsan
ini beginilah adanya. Kalau tidak kebetulan tergelincir
ke sini, belum tentu aku bisa melihat bayangan tadi,
sedangkan sinar bulan yang menyorot ke atas dinding
itu, dalam setahun hanya ada kesempatan beberapa hari
saja. Sebaliknya orang-orang Bu-liang-kiam yang
sengaja hendak mencari rahasia itu, kebanyakan pasti
datang pada waktu siang hari untuk mengamati dinding
batu itu secara bodoh, bisa jadi mereka malah menggali
dan membongkar batu pegunungan di atas sana untuk
mencari rahasia yang tidak pernah diketemukan itu.
Sudah tentu hasilnya tetap nihil."

Berpikir sampai di sini, ia tertawa geli sendiri, "Hihi,
seumpama aku memperoleh pedang serta benda
mestika yang mengeluarkan cahaya warna-warni itu,
bagiku paling-paling hanya mendapatkan dua macam
mainan yang menarik saja, perlu apa mesti banyak
pikiran untuk itu? Bukankah aku terlalu goblok?"

Setelah termangu-mangu sejenak, kemudian ia
tertidur lagi.

Dalam tidurnya itu, sekonyong-konyong ia melonjak
bangun, katanya dalam hati, "He, ujung pedang itu
menunjuk ke puncak pelangi bagian bawah, janganjangan
di balik itu ada rahasianya lagi? Padahal untuk
menjepit pedang dan batu mestika itu ke dinding tebing

100




tidaklah mudah dilakukan, bukan saja diperlukan ilmu
silat yang tinggi, bahkan harus ada orang mengereknya
dengan tali yang panjang. Dan kalau secara susah payah
berbuat begitu, di dalamnya pasti mengandung maksud
tertentu, apakah artinya rahasianya terletak di ujung
pelangi! Kalau dilihat dari kedua bayangan itu, kecuali
kesimpulan ini, terang tiada arti lain lagi. Tapi ujung
pelangi itu yang satu mengarah ke langit, ujung yang lain
sebaliknya menunjuk ke tengah danau, biarpun di
dalamnya terkandung rahasia mahabesar juga susah
untuk memperolehnya."

Begitulah Toan Ki termangu-mangu sampai lama,
akhirnya ia berpendapat, "Cahaya pelangi setiap waktu
berubah-ubah, mungkin tempat yang ditunjuk bayangan
pedang itu besok akan berlainan."

Esok paginya, karena memikirkan munculnya pelangi,
ia menjadi lupa lapar. Akhirnya tiba juga sang malam.
Selarik pelangi panjang tampak menghias langit pula.
Tapi begitu melihat, Toan Ki menjadi kecewa. Ternyata
kedua ujung pelangi itu sedikit pun tiada ubahnya seperti
kemarin, yang sebelah mengarah ke langit, ujung lain
menurun ke tengah danau.

Toan Ki coba mendekati tepi danau, suara gemuruh
air terjun itu membuat telinga seakan-akan pekak, hanya
sekejap saja baju sudah basah kuyup oleh cipratan air
terjun. Ia lihat di tengah danau terdapat suatu pusaran air
yang sedang berputar dengan keras sekali. Karena
didekati, pelangi tadi lantas tidak kelihatan lagi.

Waktu Toan Ki hitung-hitung, sudah hari ketiga sejak
ia jatuh ke dalam jurang. Lewat empat hari lagi,

101




seumpama tidak mati kelaparan, kalau racun Toan-jiongsan
di dalam perut mulai bekerja, sekalipun dia tidak
sampai mati, tentu kawanan Sin-long-pang akan
membunuh Ciong Ling.

Ke sana ke sini juga mati, tidakkah lebih baik terjun ke
tengah pusaran air saja untuk melihat apakah ada
sesuatu di dasar danau itu. Karena menghadapi jalan
buntu, terpaksa mati-matian mencari selamat, kedua, dia
memang bersemangat banteng, sekali ingin berbuat,
segera dilaksanakannya.

Karena itu, tanpa pikir lagi terus saja ia terjun ke
tengah pusaran air itu. Seketika tubuhnya digulung oleh
suatu tenaga mahadahsyat terus berputar ke bawah.
Lekas ia tutup pernapasannya, sebaliknya pasang mata
lebar-lebar, ia lihat sekitarnya hanya air buram belaka, ia
terhanyut ke dasar danau oleh arus air yang keras
berasal dari air terjun di atas itu.

Toan Ki hanya sekadar bisa berenang saja, terhanyut
di tengah arus air yang keras itu, ia tak bisa menguasai
diri lagi, tubuhnya berputar-putar dan sebentar saja ia
sudah megap-megap kemasukan air, seketika pikirannya
samar-samar, hanya merasa terhanyut terus oleh arus air
dan entah berapa jauhnya.

Sekonyong-konyong tubuh terasa dilemparkan oleh
tenaga pusaran ke atas permukaan air. Ketika Toan Ki
menggeraki tangannya serabutan, untung dapat
menangkap seutas akar rotan, cepat saja ia pegang
kencang-kencang.

102




Setelah tenangkan diri sejenak, ia membuka mata
dan melihat sekitarnya gelap gulita. Ia coba ulur kaki
kanan ke depan dan terasa masih menginjak tanah,
segera kaki yang lain ikut melangkah maju, tapi kedua
tangan masih tidak berani melepaskan pegangannya
pada akar rotan tadi.

Setelah belasan tindak jauhnya, ia merasa air hanya
sebatas betis kaki, arus air pun tidak terlalu keras lagi,
segera ia lepaskan rotan tadi dan berdiri tegak.

Tapi mendadak "blang", batok kepalanya kebentur
sesuatu yang menonjol, saking kesakitan hampir saja ia
jatuh kelengar. Diam-diam ia memaki diri sendiri yang
kurang hati-hati. Waktu meraba ke atas, benda itu terasa
dingin keras, kiranya batu padas.

Setelah berpikir sejenak, Toan Ki tahu dirinya tadi
telah terbawa ke dasar danau oleh pusaran air yang
dahsyat, tapi arus air itu ada jalan buangannya, maka
dirinya ikut terbawa pula sampai di tempat buangan air
itu.

Meski keadaannya sekarang banyak celaka daripada
selamatnya, namun selama masih ada harapan, ia
pantang menyerah, segera ia merangkak maju mengikuti
lorong buangan air itu. Ia dengar suara gemerujuknya air
terkadang cepat dan terkadang lambat mengalir di kanan
kirinya.

Setelah merangkak sebentar, lorong itu makin
melebar hingga akhirnya dapatlah ia berdiri sambil
membungkuk. Ia berjalan terus, akhirnya dapatlah ia
berjalan dengan tegak. Cuma sering ia menginjak lubang

103




di bawah air hingga mendadak badan terendam air
sebatas pinggang. Lain saat di atas kepala tiba-tiba
menonjol batu padas hingga hampir kepalanya benjut
lagi kebentur. Untung kedua tangannya terjulur ke depan
sebagai pembuka jalan, kalau tidak entah berapa kali
kepalanya akan bertambah telur ayam.

Setelah berjalan lagi, tiba-tiba Toan Ki teringat pada
Jing-leng-cu, ia coba meraba pinggang, syukurlah
binatang itu masih melilit di situ tanpa kurang apa-apa. Ia
merasa pengalamannya hari ini benar-benar merupakan
pengalaman aneh selama hidup yang susah diperoleh
orang lain.

Sudah turun-temurun ahli waris Bu-liang-kiam suka
termangu-mangu memandangi dinding batu itu, tapi
sekali-kali tidak mereka sangka bahwa orang harus terjun
ke dalam jurang, di situlah mereka akan menemukan apa
yang diharapkan itu pada malam hari di bawah sinar
bulan purnama.

Namun seumpama sudah melihat bayangan pedang
dan batu mestika di dinding itu, kalau tiada punya
semangat berani mati, rasanya juga takkan berani
melompat ke tengah pusaran air yang berarus dahsyat
itu.

Semakin dipikir, semakin senang hati Toan Ki. Tanpa
tertahan lagi ia terbahak-bahak, lalu ia bergumam sendiri,
"Wahai, Toan Ki! Jika hari ini jiwamu jadi melayang, itu
berarti tamatlah riwayatmu. Tapi kalau beruntung bisa
keluar dengan selamat, bolehlah kau mengejek Co Cubok
dan murid-muridnya yang sombong tapi tak becus
itu."

104




Habis berkata, ia terbahak-bahak pula dengan keras.

Tak tersangka, mendadak di sebelah kanan sana juga
ada orang menirukan tertawanya yang terbahak-bahak
itu. Keruan Toan Ki kaget, ia berhenti tertawa, segera
suara tawa itu pun lenyap.

"Siapa itu?" seru Toan Ki.

"Siapa itu?" terdengar pula suara serupa di sana.

"Kau setan atau manusia?" teriak Toan Ki lagi.

"Kau setan atau manusia?" suara itu tetap
menirukannya.

Setelah tertegun sejenak, akhirnya Toan Ki sadar dan
tertawa geli sendiri, gerutunya, "Kurang ajar, kiranya
adalah kumandang suaraku sendiri."

Tapi segera timbul curiganya lagi, "Hanya lembah
gunung atau sebuah ruangan besar yang dapat
menimbulkan kumandang suara. Jika begitu, di sebelah
kanan sana tentu ada suatu tempat yang luas. Haha, jika
bukannya aku kegirangan hingga terbahak-bahak tawa,
tentu aku takkan tahu di sini masih ada suatu tempat lain
lagi."

Bab 3

Begitulah ia terus berteriak-teriak sambil menuju ke
tempat datangnya suara itu. Tiada lama ia merasa

105




berada di suatu tempat yang luang, tangannya tidak
meraba sesuatu lagi.

Tiba-tiba kehilangan sentuhan, Toan Ki merasa takut
malah. Setindak demi setindak ia maju terus, kaki
merasa tidak mendapat rintangan apa-apa lagi.
Sekonyong-konyong tangan menyentuh sesuatu yang
dingin. Begitu tersenggol, benda itu terus menerbitkan
suara nyaring “cring”, ketika diraba lagi lebih teliti, kiranya
sebuah gembok besar.

Kalau ada gembok dengan sendirinya ada pintu.

Maka cepat Toan Ki meraba-raba pula, benar juga
dari atas ke bawah ada belasan paku pintu yang besarbesar.
Dalam kejut dan girangnya ia heran pula kenapa
di tempat seperti ini ada penghuninya?

Segera ia angkat gembok tadi mengetuk pintu
beberapa kali. Tapi sampai lama tiada jawaban apa-apa
dari dalam. Kembali ia ketuk-ketuk dan tetap tiada suara
sahutan. Maka ia coba dorong pintu itu.

Pintu itu sangat antap seperti terbuat dari baja. Tapi
tidak dipalang dari dalam, maka perlahan Toan Ki
mendorong dan segera pintu itu terbuka. Dengan suara
lantang Toan Ki lantas berseru, “Cayhe Toan Ki secara
sembrono telah masuk ke sini, mohon tuan rumah suka
memaafkan.”

Ia berhenti sejenak dan tidak mendengar sesuatu
suara di dalam, lalu ia melangkah masuk.

106




Meski waktu itu ia sudah berada di dalam pintu, tapi
biarpun matanya melotot hingga biji mata seakan-akan
melompat keluar tetap tidak melihat sesuatu benda,
hanya hidungnya merasakan bau di sini tidak selembap
seperti di lorong air tadi. Ia berjalan terus ke depan,
mendadak “blang”, sungguh sial, kembali batok
kepalanya kebentur sesuatu.

Syukur ia berjalan perlahan, maka benturan itu tidak
terlalu sakit. Waktu diraba, kiranya di situ ada sebuah
pintu pula. Perlahan Toan Ki mendorongnya hingga
terbuka, tapi di dalam tetap gelap gulita.

Dan begitulah seterusnya, beruntun-runtun Toan Ki
telah melalui enam buah pintu. Ketika memasuki pintu
keenam itu, mendadak pandangannya terbeliak terang,
kontan jantung Toan Ki ikut memukul, serunya di dalam
hati, “Ah, akhirnya dapatlah kukeluar dengan selamat!”

Waktu ia perhatikan, kiranya tempat itu adalah
sebuah kamar batu berbentuk bulat, sinar terang itu
tembus dari sudut kiri sana, cuma agak remang-remang,
seperti bukan cahaya matahari. Ia coba mendekati
lubang yang tembus sinar itu, tiba-tiba dilihatnya ada
seekor udang besar berenang lewat. Ia sangat heran, ia
maju lebih dekat, terlihat pula beberapa ekor ikan
berwarna-warni sedang berenang di luar sana dengan
bebasnya. Ketika diawasi lagi, kiranya lubang jendela itu
terbuat dari sepotong batu kristal yang dipasang di
dinding itu, besarnya kira-kira sama dengan baskom dan
sinar tembus dari kaca yang berjumlah tiga buah itu.

Toan Ki coba mengintip keluar melalui kaca itu, ia
lihat di luar sana warna air hijau kebiruan bergerak-gerak

107




tak pernah berhenti, banyak jenis ikan dan udang
berenang kian kemari dengan bebasnya.

Maka pahamlah Toan Ki bahwa tempat dirinya berada
ini pasti berada di dasar air, kalau bukan di dasar danau,
tentu di dasar sungai.

Rupanya pembangun rumah ini dahulu telah banyak
mengorbankan jerih payah tenaga dan pikiran baru dapat
menarik cahaya air itu ke dalam ruangan, dan ketiga
potong batu kaca itu jelas adalah batu mestika yang tiada
tara nilainya.

Ketika berpaling, Toan Ki melihat di tengah kamar
batu itu terdapat sebuah meja batu, di depan meja ada
bangku, di atas meja tertaruh sebuah cermin perunggu.
Di samping cermin terdapat sebangsa sisir, tusuk kundai
dan sebagainya. Agaknya bekas kamar kaum wanita.

Cermin perunggu itu tepinya sudah berlumut, di atas
meja juga banyak debunya, entah sudah berapa lama
tiada orang menginjak kamar ini.

Melihat keadaan itu, seketika Toan Ki terkesima
malah, pikirnya, “Lama berselang, tentu ada seorang
wanita tinggal kesepian di sini. Entah sebab apa hingga
dia begitu sedih hingga meninggalkan pergaulan ramai
untuk mengasingkan diri di sini.”

Setelah termangu-mangu sejenak, ia periksa pula
kamar itu, ia lihat di sekitar dinding kamar penuh
terpasang cermin perunggu, sekadar dihitung saja sudah
lebih dari 30 buah. Toan Ki makin heran, pikirnya,
“Tampaknya wanita yang tinggal di sini ini pasti cantik

108




tiada bandingannya, maka setiap hari senantiasa
bercermin, suasana begini sungguh memesona.”

Ia mondar-mandir di dalam kamar itu, sebentar
berkecek-kecek kagum, lain saat menghela napas
gegetun, ia kasihan pada wanita cantik yang belum
pernah dikenalnya itu.

Selang agak lama, mendadak ia teringat, “Haya,
celaka! Aku hanya memikirkan urusan orang lain tapi
lupa pada kepentingan sendiri. Kalau di sini pun tiada
jalan keluar, lalu bagaimana nasibku?”

Waktu ia periksa sekitar kamar, terang sekali tiada
jalan tembus lain lagi, dalam keadaan putus asa, ia
duduk di atas bangku batu sambil mengomel diri sendiri,
“Aku Toan Ki sungguh seorang lelaki dungu, kalau mati
di sini hanya bikin kotor tempat si cantik saja. Kalau mau
mati, sepantasnya mati di lorong sana. Eh, sebelum ajal,
biarlah kulihat wajahku sendiri ini macam apa?”

Segera ia gunakan lengan baju untuk menggosok
cermin perunggu di atas meja itu hingga gilap, lalu ia
duduk di bangku untuk mengaca, tapi letak cermin agak
jauh hingga mukanya kurang jelas, maka ia bermaksud
menggeser cermin itu lebih dekat.

Tak tersangka cermin itu ternyata menempel erat di
atas meja batu, sekali cermin itu ditarik, seketika bangku
yang diduduki itu terasa bergoyang.

Dalam kagetnya Toan Ki sangat girang, cepat ia
berbangkit dan menarik cermin itu lebih kuat, maka
terdengarlah suara keriang-keriut, bangku batu mulai

109




bergeser hingga tertampak sebuah lubang di bawahnya.
Ketika dipandang, di bawah lubang itu terdapat undakundakan
batu yang menurun ke bawah.

“Terima kasih kepada langit dan bumi, akhirnya aku
Toan Ki mendapatkan jalan keluar,” seru Toan Ki
kegirangan. Terus saja ia turun ke bawah mengikuti
undak-undakan batu itu.

Kira-kira belasan undakan, kemudian membelok ke
atas, berlingkar-lingkar, makin jauh makin tinggi, setelah
menikung beberapa kali lagi, akhirnya pandangan Toan
Ki terbeliak terang, tapi mendadak ia menjerit kaget pula
ketika tahu-tahu di depannya berdiri seorang wanita
cantik berpakaian putri istana dengan pedang terhunus
lagi mengancam dadanya.

Sekilas Toan Ki merasa wanita ini cantik luar biasa
dan sukar dilukiskan, selama hidupnya belum pernah
melihat wanita ayu seperti ini. Saking kejutnya sampai
mulut Toan Ki ternganga.

Selang agak lama, ia lihat wanita ini tetap tidak
bergerak sedikit pun, ketika diawasi ia lihat wanita itu
meski cantik dan agung, tapi bukan manusia hidup.

Waktu diperhatikan lagi barulah ia tahu orang hanya
sebuah patung yade putih saja. Cuma patung ini
besarnya seperti manusia biasa, baju sutera putih yang
dipakai juga bisa bergerak-gerak, yang lebih aneh adalah
biji matanya seakan-akan bersinar hidup.

Saking terpesona Toan Ki sendiri tidak menyadari
sudah berapa lama ia memandang patung itu, akhirnya ia

110




pun tahu biji mata patung itu adalah buatan dari batu
permata hitam. Dan sebabnya patung itu mirip benar
dengan manusia hidup adalah karena biji matanya yang
bersinar yang terbuat dari batu permata itu. Bahkan
muka patung jelita yang terukir dari batu kemala putih ini
pun bersemu merah hingga tiada ubahnya seperti
manusia hidup.

Ketika Toan Ki miringkan kepala memandang patung
itu, ia lihat sorot mata patung itu pun ikut mengerling ke
sana seakan-akan hidup, keruan Toan Ki terkejut, ia
coba memandangnya dari arah lain lagi, dan sorot mata
patung itu pun mengerling mengikuti arahnya, dari sudut
mana dia memandang, sorot mata patung juga selalu
memandang kepadanya, perasaan yang terkandung
dalam sinar mata patung itu pun sukar diraba, seperti
girang, seakan-akan sedih, entah suka, entah marah,
seperti kemalu-maluan, tapi juga seperti lagi murung.

Toan Ki terkesima sejenak, ia kemudian membungkuk
tubuh memberi hormat, katanya, “Enci Dewi, hari ini Toan
Ki beruntung dapat bertemu dengan engkau, sungguh
mati pun aku tidak menyesal. Enci Dewi tinggal seorang
diri di sini, apakah tidak merasa kesepian?”

Aneh bin ajaib, sorot mata patung itu seakan-akan
berubah lain, agaknya dapat menerima apa yang
diucapkan Toan Ki itu. Sebaliknya pemuda itu sendiri
seakan-akan kesurupan setan saja, pandangannya tidak
pernah lagi meninggalkan patung kemala itu. Katanya
pula, “Enci Dewi, entah siapakah namamu?”

Segera ia pikir barangkali di sekitar sini dapat
ditemukan sesuatu catatan. Ia coba memandang

111




seputarnya, tapi baru beberapa kejap, tak tahan lagi ia
memandang patung itu lagi.

Kini barulah ia tahu bahwa rambut patung itu adalah
rambut manusia tulen, gelung yang agak mengendur ke
bawah seakan-akan tersampir di pundak, di atas
gelungan terdapat sebuah tusuk kundai kemala
berhiaskan dua butir mutiara mestika sebesar jari yang
bersinar mengilat.

Ia lihat di sekitar dinding ruangan penuh terhias
macam-macam batu permata hingga menyilaukan mata.
Di dinding sebelah barat sana jelas tertampak ada
delapan huruf yang dibentuk dari batu intan kecil. Arti dari
kedelapan huruf itu adalah, “Rahasia Bu-liang dapat
ditemukan dengan membuka baju.”

Toan Ki terperanjat, gumamnya sendiri, “Membuka
baju Enci Dewi? Mana boleh jadi!”

Walaupun patung itu bukan manusia hidup, tapi sekali
pandang Toan Ki sudah kesengsem, sedikit pun ia tidak
berani berlaku kurang ajar. Pikirnya, “Memangnya aku
tidak ingin tahu segala rahasia apa, umpama ingin juga
tidak berani berbuat sembrono terhadap Enci Dewi.
Untung sebelum ini tiada orang lain mendatangi tempat
ini lebih dulu, kalau tidak, wanita cantik tiada
bandingannya ini bukankah akan dibikin kotor oleh
segala manusia rendah? Ehm, paling baik aku harus
hilangkan huruf-huruf itu agar kelak bila ada orang lain
datang ke sini tidak akan bikin kotor patung cantik ini.”

Ia lihat di pojok kamar sana banyak tertumpuk cermin
perunggu, sedikitnya ada ratusan buah. Segera ia

112




mengambilnya sebuah dan dipakai menggempur batu
permata yang membentuk kedelapan huruf tadi. Khawatir
masih ada bekasnya, Toan Ki gosok-gosok pula lubanglubang
kecil bekas gigitan batu permata itu hingga rata
benar.

Selesai itu, Toan Ki merasa sudah berjasa bagi
“patung dewi” itu, betapa senangnya sukar dikatakan.

Kembali di depan patung itu, ia termangu-mangu lagi
seperti orang linglung, bahkan hidungnya seakan-akan
mencium bau wangi. Dari suka timbul rasa hormatnya,
dari hormat ia menjadi kesengsem. Mendadak ia
berteriak, “Enci Dewi, jika engkau bisa hidup dan bicara
sepatah saja padaku, biarpun aku harus mati seratus
kali, bahkan seribu kali bagimu, aku rela dan senang tak
terhingga.”

Tiba-tiba ia berlutut dan menyembah pada patung
dewi. Dan karena berlututnya inilah baru ia tahu bahwa di
depan patung itu memang terdapat dua buah kasuran
tikar seperti disediakan untuk orang bersembahyang.
Tikar yang dipakai berlutut Toan Ki itu agak besar, di
dekat kaki patung masih ada sebuah kasur tikar yang
lebih kecil, agaknya disediakan bila yang sembahyang
menjura dengan manggutkan kepala ke lantai.

Ketika Toan Ki mulai menyembah, ia lihat di tepi
kedua sepatu patung itu seperti tersulam tulisan.

Ketika diperhatikan, ia dapat membaca tulisan di tepi
sepatu kiri berbunyi, “Menjura seribu kali, turut segala
perintahku.”

113




Dan di tepi sepatu kanan bertulis, “Pasti mengalami
malapetaka, badan celaka nama musnah.”

Tulisan-tulisan yang masing-masing terdiri dari
delapan huruf itu kecil bagai lalat, sepatu patung itu
berwarna hijau tua, kalau tidak menyembah pasti tak
mengetahui di bawah situ ada tulisannya. Sekalipun
dapat melihatnya, orang biasa bila membaca kata-kata,
“Menjura seribu kali, turut segala perintahku”, tentu akan
merasa enggan, bagi yang berwatak keras dan tinggi
hati, boleh jadi patung itu akan didepak.

Apalagi tulisan yang berbunyi, “Pasti mengalami
malapetaka, badan celaka nama musnah”, lebih-lebih
membikin siapa pun marah bila membacanya.

Tapi kini Toan Ki sudah kesengsem benar-benar
terhadap patung dewi itu, ia merasa menjura seribu kali
juga pantas, malahan kalau bisa menjadi pesuruh sang
dewi, itulah melebihi harapannya. Sedang mengenai
bakal mengalami malapetaka, badan celaka dan nama
musnah demi sang dewi, betapa pun ia rela.

Sebenarnya kalau orang biasa, bila melihat tulisan itu,
andaikan tidak marah, paling-paling juga tertawa dan
anggap sepele saja. Tapi dasar Toan Ki sudah
kesengsem bagai orang linglung, ia benar-benar terus
menjura, sekali, dua kali, tiga kali ... empat belas, lima
belas ... dua puluh ... tiga puluh ....

Sambil mulutnya menghitung, dengan sangat khidmat
ia menjura tiada hentinya.

114




Kira-kira menjura lebih 500 kali, Toan Ki merasa kaki
sakit, boyok pegal, leher cengeng. Tapi demi sang dewi,
betapa pun harus bertahan sampai titik penghabisan, ia
sudah bertekad menjura sampai selesai 1.000 kali.

Sampai lebih 800 kali, tiba-tiba kasur kecil yang dibuat
ganjal anggukan kepala itu perlahan ambles ke bawah.
Setiap kali kepalanya mengangguk, kasur kecil itu lantas
ambles lagi sedikit.

Setelah berpuluh kali menjura pula, tiba-tiba dilihatnya
tempat yang ambles itu menongol tiga buah ujung panah
yang mengarah miring ke atas dan tepat mengincar
batok kepalanya. Lamat-lamat tertampak ujung panah itu
gemerlapan, batang panah terpasang pegas.

Setelah berpikir sejenak, segera Toan Ki paham
persoalannya. Katanya di dalam hati, “Wah, hampir
celaka! Kiranya di bawah situ ada perangkapnya berupa
panah beracun. Untung aku menjura dengan
menghormat sungguh-sungguh sehingga kasur itu
ambles perlahan dan panah berbisa itu tidak menjeplak
keluar. Jika aku berlaku kasar dan mendepak-depak
kasuran itu, sekali alat perangkap terguncang, panah
berbisa itu mungkin sudah menancap di perutku. Biarlah
kuhabiskan menjura seribu kali, ingin kulihat ada
perubahan apa lagi.”

Segera ia menjura pula dan selesaikan jumlah 1.000
kali itu. Ketika mendongak, ia lihat tempat yang ambles
tadi terdapat sepotong pelat baja, di atasnya ada ukiran
tulisan, segera Toan Ki ambil pelat baja itu dan
membacanya, “Karena kau sudah menjura seribu kali,
kini kau telah menjadi muridku. Nasibmu selanjutnya

115




akan sangat mengenaskan. Ilmu silat golongan kita yang
tiada bandingannya di kolong langit ini berada di dalam
kamar batu, harap dipelajari dengan tenang.”

Sungguh kecewa Toan Ki. Justru karena tak mau
belajar silat, maka ia minggat dari rumah. Dengan
sendirinya sekarang ia pun tidak ingin belajar ilmu silat
tiada bandingan di kolong langit apa segala.

Dengan hati-hati ia kembalikan pelat baja tadi ke
tempatnya. Ketika berdiri lagi, ia merasa kaki kemeng
kaku seluruhnya, hampir saja ia jatuh terguling.

Setelah termangu-mangu sejenak, kemudian ia
memberi hormat pula dan berkata, “Enci Dewi, aku tidak
mau menjadi muridmu, ilmu silatmu yang tiada
bandingan di kolong langit pun aku tidak mau belajar.
Hari ini aku masih ada urusan penting, sementara ini
kumohon diri. Nanti kalau nona Ciong sudah
kuselamatkan, tentu aku akan datang kemari untuk
berkumpul lagi dengan Enci Dewi.”

Dengan perasaan berat ia melangkah keluar kamar
batu itu. Ia lihat undak-undakan batu di luar kamar miring
ke atas, ia melangkah naik dengan ragu-ragu, beberapa
kali ia ingin menoleh ke belakang untuk memandang
patung cantik itu, syukur imannya cukup teguh, akhirnya
ia bisa mengekang diri.

Kira-kira ratusan undakan ke atas, ia sudah
membelok tiga kali, lamat-lamat terdengar suara
gemuruh air. Setelah beratus undakan lagi, suara air
semakin keras seakan-akan memekak telinga, lalu

116




tertampak ada cahaya menembus masuk dari depan
sana.

Toan Ki percepat langkahnya hingga tibalah di ujung
terakhir undak-undakan batu itu. Ternyata di situ ada
sebuah lubang yang cukup untuk dilalui tubuh manusia.
Ia coba melongok keluar dengan kepala menongol lebih
dulu, tapi ia menjadi kaget.

Di luar sana arus mendebur-debur, gulung-gemulung
dengan hebatnya, ternyata sebuah sungai besar. Kedua
tepi sungai penuh tebing curam, batu padas sungsang
timbul di sana-sini, Toan Ki yakin tempat ini pasti lembah
sungai Lanjong.

Kejut dan girang rasa hati Toan Ki. Cepat ia
merangkak keluar dari lubang gua itu. Ternyata tempat
dirinya berada ini kira-kira belasan tombak tingginya di
atas permukaan sungai, biarpun air sungai naik pasang
melanda juga takkan mencapai mulut gua ini.

Tapi untuk bisa mencapai daratan, ia perlu juga
merayap melalui tebing-tebing curam. Namun berkat
bantuan Jing-leng-cu, walaupun dengan susah payah,
akhirnya dapatlah Toan Ki sampai di tempat yang aman.
Ia ingat baik-baik keadaan sekitar tempat ini agar kelak
bila urusannya beres, ia ingin datang lagi ke tempat yang
maharahasia ini.

Ia melanjutkan perjalanan dengan menyusur tepi
sungai yang penuh batu karang, setelah beberapa li
jauhnya, Toan Ki melihat sebuah pohon Tho yang lagi
berbuah, memangnya sudah sangat lapar, segera Toan
Ki panjat ke atas pohon dan petik buah Tho itu untuk

117




tangsel perut. Habis makan, semangatnya dapat
dipulihkan.

Setelah belasan li lagi, akhirnya sampailah di suatu
jalan kecil. Ia maju terus mengikuti jalan kecil itu. Ketika
hampir magrib baru ia menemukan, “jembatan rantai
besi” yang melintang terapung di antara kedua tepi
sungai. Ia lihat di atas batu ujung jembatan gantung itu
terukir tiga huruf “Sian-jin-toh” atau jembatan orang bajik.

Melihat nama jembatan itu, kembali Toan Ki
bergirang, memang itulah jembatan yang dicari sesuai
dengan petunjuk Ciong Ling. Terus saja ia menyeberangi
jembatan.

Jembatan itu terdiri dari empat utas rantai besi yang
sambung-menyambung, dua utas bagian bawah diberi
papan kayu untuk jalan, dua utas yang lain dipakai
pegangan orang menyeberang.

Begitu Toan Ki menginjak jembatan gantung itu,
segera rantai jembatan bergontai-gontai. Sampai di
tengah sungai, guncangan jembatan itu semakin hebat.
Sekilas pandang ke bawah, air sungai tampak
mengombak dan berdebur dengan hebatnya, bila
terpeleset jatuh ke bawah, betapa pun pandai berenang
rasanya juga takkan mampu melawan ombak yang luar
biasa itu.

Toan Ki tak berani menengok lagi ke bawah, ia
pandang lurus ke depan, dengan berdebar-debar
setindak demi setindak ia merambat ke ujung sana.

118




Ia duduk mengaso sejenak di tepi jembatan,
kemudian baru melanjutkan perjalanan menurut petunjuk
yang pemberian Ciong Ling itu.

Menurut Ciong Ling, lembah pegunungan
kediamannya itu bernama “Ban-jiat-kok” atau lembah
berlaksa maut. Jalan masuknya adalah sebuah kuburan.

Setelah berliku-liku melintasi bukit dan menyusur
rimba, ketika sampai di tempat kuburan yang dicari itu,
hari sudah remang-remang gelap.

Ia hitung dari kiri ke kanan dan mendapatkan kuburan
nomor tujuh, ia lihat di depan kuburan itu terdapat
sepotong batu nisan yang bertuliskan “Kuburan Ban Siu
Toan.”

Toan Ki tercengang, pikirnya: “Aneh benar nama ini?
Kenapa bernama ‘Siu Toan’ (dendam pada Toan)?”

Waktu Ciong Ling memberitahukan tempat tinggalnya,
gadis itu menjelaskan kalau mesti mencari kuburan
ketujuh dihitung dari kiri, tapi tidak menerangkan apa
yang tertulis pada batu nisan.

Kini melihat nama “Ban Siu Toan” yang aneh itu, Toan
Ki menjadi ragu. Ia lihat sekitarnya sunyi senyap penuh
kuburan, hanya terkadang terdengar suara keresek daun
pohon yang bergerak terembus angin senja.

Toan Ki tak berani ayal, segera ia menurut petunjuk
Ciong Ling dan menarik batu nisan tadi ke kiri, menyusul
menarik lagi dua kali ke kanan dan kembali sekali pula ke
kiri. Habis itu ia mendepak tiga kali ke tengah-tengah

119




tulisan pada batu nisan itu. Tulisan yang tepat

didepaknya itu adalah huruf “Toan”, yaitu nama keluarga
Toan Ki sendiri. Diam-diam ia geli sendiri, bila orang lain,
tidak sudi mendepak huruf yang menjadi nama keluarga
sendiri itu.

Dalam pada itu tiba-tiba dua potong batu di samping
kuburan itu mendadak bergerak hingga tertampak
sebuah lubang masuk.

Toan Ki coba melongok ke dalam, tapi keadaan gelap
gulita, ia tabahkan diri dan melangkah masuk lubang itu,
sambil tangan meraba-raba dan membelok suatu
tikungan, akhirnya ia melihat di depan sana ada setitik
sinar pelita. Segera ia mendekatinya, tapi ia menjadi
kaget, ternyata di samping pelita itu terdapat sebuah peti
mati.

Sesuai petunjuk Ciong Ling, Toan Ki lantas tiup
padam pelita itu hingga keadaan menjadi gelap pekat.
Selang tak lama terdengar suara keriang-keriut beberapa
kali, tutup peti mati tadi terbuka sendiri, lalu terdengar
suara seorang wanita sedang menegur, “Apakah Siocia
yang datang?”

“Cayhe bernama Toan Ki,” cepat Toan Ki menyahut,
“atas permintaan nona Ciong, kuingin bertemu dengan
Kokcu (pemilik lembah).”

Terdengar wanita itu bersuara heran, rupanya agak
terkejut atas kedatangan Toan Ki, katanya, “Ja ... jadi kau
orang luar? Dan di manakah Siocia kami?”

120




“Nona Ciong terancam bahaya, Cayhe membawa
berita kemari,” sahut Toan Ki.

“Tunggu sebentar, biar kulaporkan pada Hujin
(nyonya),” kata wanita itu.

Toan Ki menyatakan baik, ia pikir kebetulan,
memangnya nona Ciong suruh aku menemui ibunya
lebih dulu, tampaknya urusan ini memberi harapan
bagus.

Setelah agak lama berdiri menunggu dalam
kegelapan, akhirnya Toan Ki mendengar suara tindakan
orang mendatangi, terdengar suara wanita itu berkata
padanya, “Hujin menyilakan tuan tamu masuk!”

“Aku tidak bisa melihat,” kata Toan Ki, “terlalu gelap!”

Tiba-tiba terasa sebuah tangan terjulur menarik
tangan kanannya dan melangkah masuk ke dalam peti
mati, lalu menurun melalui undak-undakan batu.

Setelah beberapa ratus tindak, mendadak
pandangannya menjadi terang. Rupanya Toan Ki telah
dibawa ke suatu tempat yang penuh tumbuh-tumbuhan
bunga. Wanita itu lepaskan tangan Toan Ki yang
digandengnya dan berkata, “Tuan tamu silakan ikut
padaku.”

Di bawah sinar bulan, Toan Ki melihat wanita itu
berusia antara 14-15 tahun, berdandan pelayan, mungkin
adalah dayang yang melayani Ciong Ling.

Maka Toan Ki coba bertanya, “Siapakah nama Cici?”

121




“Sssstt!” pelayan itu mendesis sambil menoleh dan
menggoyang-goyang tangan tanda jangan bersuara.

Melihat wajah pelayan itu menampilkan rasa takut,
maka Toan Ki tidak tanya lebih lanjut.

Dayang itu membawa Toan Ki menyusur rimba dan
menuju ke kiri melalui suatu jalan kecil. Sampai di depan
sebuah rumah genting, perlahan pelayan itu mengetok
pintu tiga kali, dengan perlahan daun pintu lantas
terpentang.

Pelayan itu memberi tanda, Toan Ki disilakan masuk
dahulu, ia sendiri berdiri ke samping pintu.

Waktu Toan Ki melangkah ke dalam, ia lihat di situ
adalah sebuah ruangan tamu, di atas meja tersulut
sebatang lilin besar hingga jelas kelihatan perabotan
dalam ruangan itu sangat indah, di atas dinding
tergantung beberapa lukisan, dekorasi dalam ruangan
tamu yang tidak terlalu luas itu ternyata sangat serasi.

Sesudah Toan Ki ambil tempat duduk, pelayan tadi
menyuguhkan teh, katanya, “Silakan Kongcu minum,
sebentar Hujin akan keluar!”

Sehabis Toan Ki minum, terdengarlah suara tindakan
orang perlahan, dari dalam muncul seorang nyonya
berbaju sutera hijau muda, usianya sekitar 40-an tahun,
wajahnya putih ayu dan rada mirip dengan Ciong Ling.

Menduga tentu inilah ibu Ciong Ling, cepat Toan Ki
berbangkit dan memberi hormat, katanya, “Wansing

122




(saya yang muda) Toan Ki menyampaikan salam pada
Pekbo (bibi).”

Mendengar itu, nyonya Ciong rada tercengang,
dengan sikap yang anggun ia membalas hormat orang.
Ketika Toan Ki mendongak hingga mukanya kelihatan
jelas, mendadak air muka Ciong-hujin berubah hebat
sambil terhuyung-huyung mundur dua tindak, katanya
dengan tergegap, “Kau ... kau ....”

“Ada apa Pekbo?” tanya Toan Ki heran.

“Kau ... kau juga she Toan?” Ciong-hujin menegas.

Barulah sekarang Toan Ki ingat pada pesan Ciong
Ling yang pernah minta agar dia jangan mengaku she
Toan. Tapi ia pikir orang she Toan di dunia ini sangat
banyak, melulu daerah Hunlam saja tidak kurang beratus
ribu lelaki she Toan, belum tentu setiap orang she Toan
mahir ilmu It-yang-ci, sebab itulah ia tidak perhatikan
pesan gadis itu.

Kini demi tampak wajah Ciong-hujin yang terkejut itu,
baru Toan Ki paham apa yang dikatakan Ciong Ling itu
sebenarnya mengandung maksud mendalam. Tapi
urusan sudah terlambat, terpaksa ia menjawab, “Ya,
Wansing she Toan.”

“Kongcu berasal dari mana? Dan siapakah nama
orang tua Kongcu?” tanya nyonya Ciong lagi.

Toan Ki pikir sekarang harus berdusta agar asal
usulku tak diketahui, maka jawabnya, “Wansing berasal

123




dari Li-an-hu di daerah Kanglam, ayah bernama Toan
Liong.”

Ciong-hujin menghela napas lega oleh jawaban itu,
setelah tenangkan diri, katanya pula, “Silakan Kongcu
duduk.”
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil : Pendekar negeri Tayli 1 dan anda bisa menemukan artikel Cersil : Pendekar negeri Tayli 1 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/cersil-pendekar-negeri-tayli-1.html?m=0,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil : Pendekar negeri Tayli 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil : Pendekar negeri Tayli 1 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil : Pendekar negeri Tayli 1 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/cersil-pendekar-negeri-tayli-1.html?m=0. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar