Cersil China : Golok Halilintar 3

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 07 September 2011

Cersil China : Golok Halilintar 3


926
kecantikannya.
Giok Cu benar-benar tajam lidahnya, dengan tertawa ia
menyahut:
"Wajahmu begitu cantik, bagaimana sampai hati aku
menikammu tiga kali? Biarlah aku menggores mukamu yang
cantik itu tiga kali saja!"
Bukan main mendongkolnya Sie Liu Hwa: Tubuhnya
sampai gemetar menahan luapan amarahnya. Lie Sun Giok
yang menjadi suaminya meledak. "Hey anak muda, Aku nanti
akan ikut serta merobek mulutmu!"
Tetapi Giok Cu tidak bersakit hati. Ia melawan kata-kata
sengit dengan tawa lebar, sebaliknya Cu Hwa tak puas
menyaksikan Nie Sun Giok ikut mencampuri macam
pertaruhan. Katanya sengit:
"Kau hendak membantu isterimu? Akupun ikut serta. Aku
nanti akan menabas hidungmu dan kedua tanghanmu.
Dengan begitu, kau tidak akan bisa memeluk isterimu yang
cantik lagi."
"Bagus, Akupun nanti akan memotong buah dadamu!" kata
Nie Sun Giok dengan panas hati.
Para hadirin yang lain kemudian ikut pula melakukan
pertaruhan, sehingga Pian Cong tojin merasa jemu, serunya
dengan suara nyaring:
"Sudahlah! Sekarang, hei anak muda, mari kita mulai! "
Setelah berkata demikian, ia mendahului menggerakkan
pedangnya. The Sie Ban segera mengikuti. Hebat corak
serangan mereka berdua. Pedang mereka menderu-deru di
arah yang berlawanan! Tata-kerja kaki mereka cepat dan
gesit. Mereka menempati arah-arah bidik tertentu, Dan

927
gerakan pedang mereka saling menyusul dan saling berlipat.
Empat jadi delapan. Delapan jadi enam belas, Enam belas
menjadi tiga puluh dua. Dari tiga puluh dua berubah menjadi
enam puluh empat.
Maka bisa dibayangkan, betapa cepat dan dahsyat ilmu
pedang Liang-gie Kiam-hoat.
Thio Sin Houw mengandal kepada kegesitannya, setiap
serangan digagalkan dengan berkelit menghindar yang cepat
luar biasa. Hal itu membuat hati Pian Cong tojin dan The Sie
Ban penasaran.
Namun mereka tetap berkelahi dengan mantap, walaupun
setiap tikamannya dapat dihindarkan, tetapi mereka mendesak
terus, bahkan makin lama makin cepat sehingga membuat
hadirin kagum luar biasa.
"Pemuda itu memang gesit gerakannya, mungkin benar dia
adik seperguruan atau murid Gin-coa Long-kun." kata Nio Cun
Swie kepada Thia Bu Bok yang duduk disampingnya, Dan
Thia Bu Bok memanggut, Jawabnya:
"Karena usianya masih muda, mungkin sekali ia lambat
laun kalah menghadapi ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat yang
memang hebat. Hm, sungguh sayang! Adalah jarang sekali
seorang pemuda seusia dia memiliki kegesitan dan kecepatan
gerak seperti dia."
Penglihatan Thia Bu Bok hampir mendekati kebenarannya.
waktu itu The Sie Ban menusuk dada Sin Houw, Dan Pian
Cong tojin membarengi mengarah kekiri, Kemudian menikam
lambung kanan Sin Houw dengan tiba-tiba.
Keruan saja kedudukan Sin Houw terjepit, Tak dapat lagi ia
mengelakkan diri, semua jalan mundur tercegat, Akan tetapi
pemuda itu nampak tiada gugup sama sekali. Diluar dugaan,

928
ia mengendapkan diri. Kakinya mendupak, setelah itu ia
membenturkan kepalanya ke perut Pian Cong tojin. Untung, ia
tidak menggunakan tenaganya penuh-penuh, walaupun
demikian, imam itu terpelanting mundur dan hampir saja roboh
terjengkang.
Itulah kejadian yang sama sekali tak terduga, Dalam
terkejutnya, The Sie Ban membabatkan pedangnya untuk
mundur menghindari sampai tiga kali berturut-turut, Tentu saja
hal itu membuat hati The Sie Ban penasaran. Makinya:
<"Binatang! Kau hendaklah ke mana ?" Sebenarnya Sin Houw berkelahi dengan membatasi diri. Kalau mau, Pian-Cong-tojin tadi sudah dapat dirobohkan, tetapi setelah dirinya dimaki sebagai binatang, timbullah rasa marahnya. Pikirnya di dalam hati: "Kalau aku tidak membuat takluk benar-benar, rasanya sulit meyakinkan mereka. Akupun masih ingin mencari kesempatan menghajar ketiga muridnya Jie-suheng yang keterlaluan itu. Mengulur waktu berarti membuang-buang tenaga tiada gunanya. Biarlah kurampungi saja..." Memikir demikian, ia melesat menyambar gelas minumannya. Dua tiga kali ia meneguk. Kemudian melompat kembali ke tengah gelanggang sambil berkata nyaring: "Nah, seranglah aku! Kepandaianmu masih terlalu jauh dibawahku." Bukan main marahnya The Sie Ban direndahkan demikian, Terus saja ia menyerang setengah kalap. Pian Cong to-jin cepat-cepat mencegah. Katanya: "Sutee, jangan sampai kau terjebak tipu muslihatnya. ia sengaja membuatmu marah!" 929 Peringatan Pian Cong tojin, membuat The Sie Ban tersadar. Cepat-cepat ia mengendalikan diri dan mengikuti irama gerak pedang kakaknya seperguruan, ia merangsak dari kiri, Dan kakak seperguruannya memotong dari kanan, namun Sin Houw masih dapat juga lolos, ia melesat keluar gelanggang, dan berkata kepada Giok Cu: "Giok Cu, carikan aku minuman segar ! Tuangkan kedalam cawanku yang kosong itu!" "Baik!" seru Giok Cu gembira. ia tahu, Sin Houw benarbenar hendak memancing amarah lawannya. Maka bukannya ia mengisi cawan, akan tetapi memperhatikan gerakan pemuda itu yang tiba-tiba saja menyambar kursi di sampingnya. "Kau isilah! pedang mereka cukup kulawan dengan kursi ini ! " kata Sin Houw. Benar-benar Sin Houw melawan pedang mereka dengan kursi. setelah melihat Giok Cu mengisi cawan minumannya, ia melemparkan kursi ke depan sehingga membuat lawannya mundur. Kemudian melompat sambil menyambar cawan. sekali teguk, habislah isi cawan itu. Lalu, ia menyambar sepotong paha ayam. Dan sambil menggerogoti paha ayam, ia berkata: "Apakah kalian masih saja tidak percaya, bahwa ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat banyak sekali terdapat lubang kelemahannya? sudah begitu, kepandaian kalian berdua masih berada jauh dibawahku, Bagaimana kalian bisa mengharapkan dapat melukai aku? Kau tak percaya? Biarlah aku melayanimu sambil menggerogoti paha ayam ini !" Tentu saja panas hati The Sie Ban dan Pian Cong tojin, sekarang mereka tidak dapat lagi mengendalikan diri, Masingmasing ingin menancapkan pedang mereka ke tubuh pemuda 930 itu. Maka kacaulah ketentuan jurus Liang-gie Kiam-hoat yang membutuhkan suatu kerja sama rapi. Sin Houw menghindari tiga tikaman mereka. Kemudian melompat keluar gelanggang dan meneguk cawannya yang sudah diisi kembali oleh Giok Cu. setelah itu ia menghadapi mereka kembali sambil mengoceh: "Nah, lihatlah betapa tolol kalian berdua. Apakah kalian tidak tersadar juga, bahwa aku melawanmu dengan tangan kosong belaka? Tak dapatkah kalian berpikir, bagaimana akibatnya bila aku melawanmu dengan pedang pula? Akh, benar-benar kalian tolol! seperti kerbau!" "Apa katamu?" Giok Cu menegas dari luar gelanggang. "Kerbau? He-he mereka benar-benar sepasang kerbau buduk ! " Mendengar perkataan Giok Cu, dada Pian Cong tojin serasa akan meledak. Dengan menggerung, mereka menyerang Sin Houw berbareng, Tapi Sin Houw dapat mengelak dengan mudah sekali. Kata pemuda itu lagi: "Aku adalah utusan dari Gin-coa Long-kun. Tugasku untuk mendamaikan kalian, Ingatlah, bahwa tanah air membutuhkan tenaga kalian, Kenapa kalian bertengkar hanya soal pembalasan dendam perorangan belaka? Kuperingatkan lagi, bahwa kalian sebenarnya kena diperalat dua orang penghianat, sekarang ini, mereka baru mencari akal untuk dapat melarikan diri, Eh, jangan bermimpi ! sebentar aku akan menghajarmu." Berkata demikian, tiba-tiba ia menimpuk The Sie Ban dengan tulang kaki ayam. Kaget The Sie Ban mundur mengelak . Dan pada detik itu pula, Sin Houw menjepit ujung pedang Pian Cong tojin dengan paha ayamnya. pemuda ini mengerahkan tenaga dalamnya. Bentaknya: 931 "Lepaskan!" Berbareng dengan bentakannya, ia menarik, Dan pedang Pian Cong tojin kena ditariknya sampai meliuk kelantai, Pian Cong tojin sendiri terjerunuk ke depan dan berusaha matimatian mempertahankan diri dengan kedua kakinya. Oleh rasa kaget, malu dan putus asa karena tak mampu mempertahankan pedang nya, ia mengambil keputusan terakhir, ia melepaskan pegangannya, kemudian ia membiarkan diri terseret daya tarik Sin Houw sambil melepaskan pukulan geledeknya. Pian Cong tojin sesungguhnya cerdik juga. Akan tetapi Sin Houw tahu menebak jalan pikirannya. Gesit ia menjejakan kedua kakinya. Dan tubuhnya me-lesat tinggi diudara, sambil membawa pedang rampasan. Melihat The Sie Ban maju hendak membantu kakaknya, ia menyambitkan tulang paha ayamnya. Kali ini dia mengerahkan tenaga dalamnya tujuh bagian. Dan kena gempuran tenaga dalamnya, pedang The Sie Ban terpental kesamping. Sin Houw tak sudi sia-siakan kesempatan yang baik itu, Dengan berjumpalitan diudara ia menyambar pedang The Sie Ban sebelum jatuh dilantai hebatnya lagi, kaki kanannya masih juga sempat menendang urat pinggang The Sie Ban sehingga jago itu mendadak saja mati kutu. "Kalian berdua sesungguhnya belum pernah melihat tata kerja ilmu pedang rumah perguruan sendiri yang menjadi kebanggaan leluhur kalian. Nah, sekarang lihatlah! Dengan seorang diri aku dapat melakukan jurus-jurus ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat." seru Sin Houw setelah turun di lantai. Dan dengan dua pedang rampasannya pemuda itu benarbenar melakukan jurus jurus Liang-gie Kiam-hoat, Kedua pedangnya berkelebatan dari kiri dan kanan . Arah bidik dan 932 titik tolaknya bertentangan. Bila yang kanan menyerang, yang kiri mempertahankan diri. Begitulah sebaliknya, Nampaknya kusut akan tetapi sesungguhnya membahayakan kedudukan lawan. itulah jurusjurus ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat yang aseli dan dapat dipertontonkan oleh Sin Houw dengan mahir sekali. Tak mengherankan semua hadirin jadi heran dan takjub menyaksikan kepandaian Sin Houw mempertontonkan kemahirannya melakukan jurus-jurus ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat, itulah suatu kejadian yang tak terbayangkan sebelumnya. Kedua pedang Sin Houw makin lama makin nampak berseliweran, sinarnya berkeredepan kena pantulan sinar lampu dan angin menderu-deru tiada hentinya, setelah enampuluh ampat jurus selesai , terdengarlah seruan pemuda itu dan tiba-tiba saja kedua pedang itu melesat keatas dan menancap dalam pada tiang atap rumah. itulah ilmu timpukan pedang Hoa-san pay yang istimewa. Lauw Tong Seng dulu pernah kagum menyaksikan kemahirannya. Maka tidak mengherankan, semua hadirin kagum bukan kepalang. setelah ia mengundurkan diri dari gelanggang dan duduk kembali diatas kursinya, hadirin bersorak bergemuruh menyatakan rasa kagum, Mereka bertepuktangan, dan dengan terang-terangan-mereka menyatakan pujian. Dan apabila suara bergemuruh itu mulai reda, terdengarlah suara gembira Giok Cu yang diucapkan dengan nyaring: "Ha-ha! Nah, sekarang bakal ada orang memanggil kakek kepadaku." Kiang Yan Bu tergugu karena memang dialah yang telah ikut bertaruh, dengan mengatakan akan memanggil Giok Cu sebagai kakek kalau Sin Houw dapat memenangkan pertandingan tadi! 933 Sementara itu Thia Bu Bok yang juga kalah bertaruh, kemudian tertawa dan berkata: "Sim kouwnio, kau menang! Nah . . . kau bawalah semua emasku." setelah berkata demikian, ia mendorong emasnya ke depan Cu Hwa. Senang hati Cu Hwa melihat kejujuran dan sifat jantan Thia Bu Bok. ia bangun dari kursinya dan memberi hormat, Sahutnya: "Thia susiok, Biarlah aku mewakili susiok memberi hadiah kepada semua hadirin, Apakah susiok rela apabila jumlah nilai pertaruhan kita, kubagi rata kepada para hadirin?" "Semua emasku adalah milikmu. Kau bakar atau kau buang, adalah hakmu." jawab Thia Bu Bok. Cu Hwa manggut hormat. Kemudian berkata nyaring kepada murid-murid dari ayahnya: "Saudara-saudara, diatas meja terdapat setumpuk benda yang bernilai tigaribu keping uang emas, inilah jumlah nilai enam batang emas Thia susiok dan sebuah gelang permataku, Ayah mengundang saudara-saudara sekalian untuk menghadiri pesta pertemuan ini. sayang sekali, ayah tak sempat melayani saudara saudara sekalian dengan baik, Karena itu, emas dan gelang permataku ini esok hari akan kujual. Lalu hasil penjualannya akan kubagi rata kepada saudara-saudara sekalian. siapa saja termasuk anggautaanggauta pengiring para pendekar kenamaan, kuperkenankan mengambil bagiannya." Keputusan Cu Hwa sangat bijaksana. Baik pihak The Sie Ban maupun murid-murid Sim Pek Eng merasa puas. Mereka semua nampak berseri-seri wajahnya hanya Pian Cong tojin dan The Sie Ban yang jadi murung. Mereka mendongkol, 934 karena dikalahkan, Mereka malu, karena tadi sudah terlanjur membuka mulut besar. Sim Pek Eng dapat membaca keadaan hati mereka berdua. Dengan sikap hormat, pendekar tua ini berkata kepada hadirin: "Saudara-saudara sekalian, Diwak-tu muda, adatku memang keras dan berangasan, perangai itulah yang membuat aku kesalahan tangan sampai membunuh kakaknya saudara The Sie Ban. peristiwa itu betapapun juga membuat hatiku menyesal dan malu, sekarang perkenankan aku menyatakan maaf kepada saudara The Sie Ban." ia berhenti sebentar menoleh kepada puterinya. Berkata: "Cu Hwa, kaupun harus berlutut kepada The susiok." Cu Hwa tahu diri, ia mendahului ayahnya berlutut kepada The Sie Ban dan The Sie Ban tak dapat berbuat lain, kecuali menerima dan balas memberi hormat kepada Cu Hwa dan ayahnya. Ia tadi sudah berjanji hendak menyudahi persengketaan, manakala kena di kalahkan. Sebagai seorang ksatria, wajib ia memegang janji. Lagipula bunyi dua helai surat kesaksian menyatakan pula tentang kesalahan kakaknya. Karena itu tiada lagi alasan yang kuat untuk melanjutkan persengketaan itu. pikirnya didalam hati: "Masih beruntung, aku tidak sampai terluka. Lagipula Sim Pek Eng sudi menjura padaku dihadapan umum. inilah suatu penyelesaian terhormat, Apalagi uang aku hendak tuntut?" Tetapi tepat pada saat itu ia seperti melihat bayangan almarhum kakaknya. Tak terasa kedua matanya berkaca-kaca. "Saudara The Sie Ban..." kata Sim Pek Eng dengan manis. "Mengenai pertaruhan itu, biarlah aku yang mewakili dirimu. 935 Besok aku akan mencarikan sebuah gedung untukmu. Atau aku akan membangunkan sebuah gedung baru sebagai pengganti gedungmu untuk kedua utusan tayhiap Gin-coa Long-kun." "Sudahlah." cegah The Sie Ban. "Aku tidak ingin mengingkari perkataan sendiri, Aku seorang laki-laki yang tahu menghargai mulut. Sim tayhiap, maafkanlah aku. Aku datang ke sini sesungguhnya untuk membalaskan dendam kakakku, Karena merasa diri tak ungkulan melawanmu, aku membawa sahabat-sahabat undanganku, sekarang permusuhan ini ku sudahi sampai di sini saja . Besok aku akan pulang ke kampung dan akan menggantungkan pedangku untuk selama-lamanya. Karena itu, biarlah gedungku menjadi milik kedua tuan ini." ia berhenti sebentar menoleh kepada Sin Houw dan Giok Cu. Kemudian menghadap sahabat-sahabatnya. setelah memberi hormat, ia berkata: "Saudara-saudara datang kesi-ni oleh ajakanku, Ternyata aku gagal membalaskan dendam kakakku dan ternyata pula kakakku justru yang bersalah. Maafkan aku dan idzinkan aku membalas budi kalian dikemudian hari. sekarang perkenankan aku menjura terhadap saudara saudara sekalian sebagai pernyataan terima kasihku." Dan The Sie Ban membuktikan perkataannya dengan menjura untuk memberi hormat kepada para hadirin, kemudian berkata lagi kepada Sim Pek Eng: "Kami telah membuat susah tayhiap Sim Pek Eng, sekarang perkenankan kami berangkat, Maafkan segalagalanya." Cepat-cepat Sim Pek Eng membalas hormat, menyahut dengan suara manis: "Sekiranya tidak terjadi peristiwa ini, tak dapat aku 936 bersahabat. Besok pagi aku datang mengunjungi tempat kalian." "Tak usah." ujar The Sie Ban,"Kami berdua akan meninggalkan kota ini, malam ini juga." Mereka berdua memutar tubuhnya. selagi hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba terdengar seruan Giok Cu kepada Sie Liu Hwa: "Hey, bagaimana dengan pertaruhan pedang buntung?" Cu Hwa baru saja berlega hati melihat ayahnya luput dari bahaya maut, Karena itu tidak menghendaki lagi terjadi suatu ketegangan baru, siapa tahu ketegangan itu akan merubah keputusan The Sie Ban, Maka cepat-cepat ia berkata: "Bagaimana kalau kita menyudahi saja urusan kecil itu?" Tetapi Giok Cu mengotot. jawabnya sambil menuding Kiang Yan Bu: "Dia belum memanggil kakek kepada ku. Karena itu persoalan belum boleh dianggap selesai. Coba andaikata jago-jago mereka yang menang, kita masing-masing kebagian tikaman pedang buntung sebelum sempat menyebut kakek tiga kali kepadanya." Didalam hati Cu Hwa membenarkan perkataan Giok Cu. Tetapi ketegangan baru itu, tidak dikehendaki sebaliknya Kiang Yan Bu dan Sie Liu Hwa mendongkol dan penasaran mendengar perkataan Giok Cu. sebab mereka berdualah yang tertusuk kehormatannya. Tiba-tiba saja mereka lompat berbareng ke tengah gelanggang, Tetapi Kiang Yan Bu tidak menghampiri Giok Cu, sasaran rasa mendongkolnya dialamatkan kepada Sin Houw - katanya sambil menuding. 937 "Kau menimpuk pedang tadi dengan gaya aliran Hoa-san pay. Dari mana kau curi ilmu itu? sebenarnya siapa kau? Hayo, bilang!" Nie Sun Kiong yang mendampingi isterinya, ikut pula masuk kegelanggang, Berkata membantu kakak seperguruannya: "Kaupun tadi menggunakan jiirus-jurus Hok-houw ciang, sebenarnya dari mana kau mencuri ilmu kami itu?" Sin Houw sama sekali tak menduga, bahwa akan terjadi suatu ketegangan baru, Dalam hati ia memaki Giok Cu yang membuat gara-gara itu, Namun ia tertawa menghadapi kekasaran mereka. sahutnya: "Mencuri? Mencuri dari mana?" "Kau maling kecil!" maki Sie Liu Hwa kalap. "Kau masih menyangkal?" Sin Houw tertawa sambil menggelengkan kepala. Kemenakan muridnya itu benar-benar galak. Ketika hendak membuka mulutnya, terdengar Kiang Yan Bu tertawa mengejek, Lalu berkata menegas kepadanya: "Kalau tidak mencuri, dari mana-kau kau memperolehnya?" Kembali Sin Houw tertawa. sejenak kemudian menjawab dengan tenang: "Aku tak perlu mencuri . Karena aku murid Hoa-san pay." Mendengar jawaban Sin Houw, rombongan Kiang Yan Bu yang terdiri dari murid-murid aliran Hoa-san pay menjadi heran. Mereka saling pandang mencari pertimbangan Dan 938 pada saat itu Sie Liu Hwa maju selangkah. sambil menuding ia berkata sengit: "Hey, maling kecil! Apakah kau sebenarnya orang gila? Bukankah kau tadi selalu membawa-bawa nama Gin-coa Long-kun? Kenapa sekarang mengaku sebagai murid Hoa-san pay? Ha , ini namanya yang palsu bertemu dengan yang tulen. Kau tahu, dari mana kami bertiga ini? Buka telingamu baikbaik! Kami bertiga adalah murid rumah perguruan Hoa-san pay. Tahu?" Sin Houw tidak bersakit hati di damprat demikian, tetap saja ia bersikap sabar dan tenang. ujarnyas "Seperti kunyatakan tadi, bahwa pendekar besar Lim Ceng Gie adalah ayah dari sahabatku ini. Tentang kalian bertiga sebenarnya sudah kuketahui jauh-jauh sebelumnya. Jadi tegasnya, kita ini adalah sesama aliran dan rumah perguruan." Nie Sun Kiong terhenyak, Rupanya ia bisa berpikir agak sabar. setelah terdiam sejenak, ia berkata hati-hati: "Semua murid kakek guru dan paman guru, kukenal dengan baik, sebenarnya kau muridnya siapa?" "Guruku adalah Bok Jin Ceng," jawab Sin Houw. Mendengar jawaban Sin Houw, mereka bertiga kaget sampai berjingkrak kata Sun Kiong kepada isterinya, untuk minta keyakinan: "Liu Hwa, Dia mengoceh tak keruan, apakah kau pernah mendengar kabar, bahwa kakek guru mempunyai seorang murid lagi?" Sie Liu Hwa sejak tadi sudah tak dapat menahan marah. Mendengar pertanyaan suaminya, ia menjawab sengit: 939 "Kakek guru seperti bermata dewa, mustahil ia mempunyai murid penipu!" Sin Houw tertawa didalam hati dan berpikir: "Murid Jie suheng ini cepat sekali marah. pikirannya cupat pula, Umpama pedangnya masih utuh, pastilah dia segera menikamku." dengan pikiran itu, ia berkata: "Benar, suhu memang bermata dewa, Bahkan Jie suheng Pui Tong Kim sebenarnya sudah harus memiliki mata dewa, Apa sebab dia menerima murid sembarangan saja? Benarbenar aku tak mengerti." Semua hadirin menjadi terkejut mendengar Sin Houw menyebut Jie suheng terhadap tayhiap Pui Tong Kim, Dia dapat menyebut nama pendekar kenamaan itu. Mustahil dia bukan salah seorang anggauta rumah perguruan Hoa-san pay, sebaliknya Kiang Yan Bu bertiga justru tertusuk kehormatannya, karena sipenipu itu menyebut nama gurunya dengan enak saja, Bentak Kiang Yan Bu: "Sebenarnya dari manakah kau memperoleh ilmu rumah perguruan kami?" ia berkata demikian karena mengira, Sin Houw seorang penipu yang hendak mempermainkan mereka bertiga. itulah sebabnya, meskipun agak bisa berpikir tenang, namun tak urung kehilangan kesabarannya juga. "Bukankah sudah kukatakan?" sahut Sin Houw tetap sabar. "Guruku bernama Bok Jin Ceng. Dialah yang disebut pendekar sakti tanpa bayangan." Nie Sun Kiong mengawasi Kiang Yan Bu, kakak seperguruannya itu berdiri tertegun dengan membungkam mulut, Tadi ia menyaksikan sendiri betapa tinggi ilmu kepandaian Sin Houw, Tatkala ia memperkenalkan diri sebagai murid Hoa-san pay, ia setengah percaya. mungkin, Sin Houw adalah muridnya Lauw Tong Seng, paman guru 940 mereka. Tetapi karena Sin Houw mengaku sebagai murid kakek-guru mereka, keraguannya lenyap, pastilah Sin Houw seorang penipu. Kakek gurunya biasa merantau, tak mungkin dalam perantauannya menerima seorang murid yang masih begitu muda, Bagaima-na cara mendidiknya? Jelas tidak masuk akal, maka berkatalah ia mengejek: "Kalau begitu, kau adalah pamanku - bukankah begitu, paman yang baik?" "Jangan menyebut paman kepadaku, Kalau kalian bertiga menyebut diri sebagai keponakanku, akupun sulit menerimanya." sahut Sin Houw tenang. Panas hati Kiang Yan Bu mendengar jawaban itu, Berkata mencoba: "Paman yang baik, tolong berilah kami nasihat, Apakah kami bertiga tadi mencemarkan pamor rumah perguruan sehingga paman mencela guruku menerima murid-murid seperti kami bertiga? Hayo - berilah kami nasihat, Ha-ha ...!" Kiang Yan Bu sengaja tertawa, sehingga para hadirin ada yang ikut tertawa. Mendengar suara rombongan The Sie Ban ikut tertawa, wajah Sin Houw berobah sungguh-sungguh, Katanya dengan suara berwibawa: "Jika Jie suheng Pui Tong Kim atau Sam suheng Sun Ho Liang suami dan isteri berada disini, pastilah mereka akan menampar mulut kalian!" Dan Sin Houw menyebut nama Sam-suheng Sun Ho Liang , suami-isteri, karena mendadak ia teringat dengan perkataan Lauw Tong Seng ketika sesaat mereka hendak berpisah, ToaKANG ZUSI WEBSITE http://cerita-silat.co.cc/ 941 suheng itu mengatakan bahwa sesungguhnya Bok Jin Ceng masih mempunyai dua murid lagi yakni Sun Ho Liang dan isterinya, yang entah karena apa tak pernah disebut-sebut oleh gurunya." Sementara itu Kiang Yan Bu menjadi sangat gusar, ia menghunus pedangnya sambil berseru: "Kau bilang apa? Keparat! jangan bicara sembarangan!" Menyaksikan kejadian itu, Sim Pek Eng sibuk tak keruan. Cepat-cepat ia melerai. Katanya kepada Kiang Yan Bu: "Kiang tayhiap, kuharap kalian jangan marah. Mari kita lanjutkan menikmati hidangan." Dengan perkataannya itu, jelas bahwa Sim Pek Eng juga merasa tidak percaya terhadap keterangan Sin Houw, ia melihat usia mereka terpaut jauh, bagaimana mungkin Sin Houw dapat menjadi paman guru Kiang Yan Bu bertiga? Tetapi hati Kiang Yan Bu sudah terlanjur panas. Tak memperdulikan permintaan Sim Pek Eng, ia membentak lagi kepada Sin Houw: "Bajingan! Meskipun kau berlutut dihadapanku tiga kali, sudah tak terampuni lagi!" sejak tadi Giok Cu mendongkol ketika mendengar berulangkali Kiang Yan Bu memaki Sin Houw. Menuruti panas ha-tinya, ia meledak: "Hey, cucuku Kiang Yan Bu! sebelum kau disembah, harus menyebut diriku kakek dulu!" Sie Liu Hwa ikut menjadi sengit, Tiba-tiba ia menimpuk Sin Houw dengan pedang buntungnya, sambil berteriak sengit: 942 "Coba tangkap! ingin aku menguji kepandaian murid Hoasan pay!" Melibat berkelebatnya pedang buntung, Sin Houw sama sekali tak bergerak dari tempat duduknya. ia menunggu sampai ujung pedang hampir menyentuh dirinya, Tiba-tiba tangan kirinya di tengadahkan, sedang tangan kanannya di angkat tengkurup, Kemudian dengan cepat sekali ia mengadukan kedua tangannya seperti lagi bertepuk. "Plok!" Dan pedang buntung itu kena ditangkapnya, itulah salah satu jurus ilmu sakti Hoa san pay yang diberi nama cengkeraman -burung Rajawali! "Bukankah ini yang dinamakan ilmu cengkeraman burung Rajawali? Cocok atau tidak dengan aslinya?" ia menegas. Kembali Kiang Yan Bu menjadi heran. Juga Nie Sun Kiong. Didalam hati mereka berkata: "Benar, Mengapa pemuda itu dapat melakukannya dengan sempurna? Suhu sendiri belum tentu mampu berbuat demikian!" Sie Liu Hwa heran sampai tertegun, ia merasa diri seperti mati kutu. Tatkala mengalihkan pandang, ia melihat suaminya mendekati pemuda itu dan berkata dengan nada hati-hati: "Memang benar, kau telah menggunakan salah satu ajaran dari golongan kita, Tapi sekarang, aku ingin mencoba kepandaianmu supaya terbuka matamu." "Baiklah!" jawab Sin Houw, "Bila "kau dapat melayani aku sampai lima jurus, kau boleh berkata kepada siapapun juga bahwa aku penipu besar. Setuju?" Mendengar perkataan itu, Kiang Yan Bu bertiga heran berbareng lega hati, Pikir Yan Bu didalam hati, Sin Houw 943 terlalu besar mulut, Mustahil ia dapat merobohkan Sun Kiong dalam lima jurus saja? Dengan pikiran itu ia berkata: "Baiklah! Aku yang menghitung!" Kiang Yan Bu dan Sie Liu Hwa mundur keluar gelanggang, Dan semua hadirin melepaskan pandangnya kearah Sin Houw dan Sun Kiong dengan penuh perhatian. Nie Sun Kiong sendiri tak berani merendahkan Sin Houw. Hatinya penuh kebimbangan. Karena itu ia bersikap hati hati, Katanya: "Bila nanti ternyata masih terdapat kekuranganku, haraplah sudi memberi saran dan nasihat." Perlahan-lahan Sin Houw menghampirinya, setelah bersiaga bertempur, ia berkata: "Jurusku yang pertama adalah Cio-po thian-keng, Kau mengerti, bukan...? Nah, sambutlah." Nie Sun Kiong tercengang mendengar perkataan Sin Houw, ia jadi geli sendiri. Pikirnya, Sin Houw tentu hendak menipu. Dimanakah ada seseorang yang memberitahukan ragam jurusnya sebelum menggempur lawan? Kalau bukan bermaksud menipu? Tipu serangan yang dimaksud akan membidik sasaran atas, pasti Sin Houw akan menyerang bagian bawah. "Baik. Kau seranglah!" sahutnya. Dan Sun Kiong mempersiapkan kedua tangannya hendak melindungi perutnya, dan sin Houw segera berseru: "Hey, mengapa kau tidak percaya?" ia menunda serangannya, dan berseru lagi: "Tangkislah dengan kedua tanganmu! Kau takkan sanggup menyongsong pukulan 944 dengan sebelah tangan!" Nie Sun Kiong terkejut, Sama sekali tak terduga, bahwa Sin Houw benar-benar menyerang dengan jurus Cio-po thiankeng, Masih untung, Sin Houw menunda serangannya. Kalau tidak, hidungnya pasti akan mengeluarkan darah, Teringat akan tenaga dalam Sin Houw yang dahsyat tadi, gugup ia menyusulkan sebelah tangannya. Dengan begitu benarlah perkataan Sin Houw, bahwa ia harus memapak pukulannya dengan dua belah tangannya. "Bres!" tubuhnya tergetar dan mundur selangkah bergoyang. "Bagus!" seru Sin Houw memuji. "Sekaranq, seranganku yang kedua terdiri dari tiga jurus sekaligus yang kugabungkan menjadi satu, jurus Iek-pek Samkoan, Pauw-conn in-ciok dan Kim-kong ci-bwee. Bagaimana kau hendak melawannya?" Tanpa berpikir lagi, Sun Kiong lalu menjawab: "Aku akan memunahkan dengan tiga jurus pula, Jurus Hong-da chiu, Pek-in cut-sie dan Peng-hwa hut-liu." "Dua yang benar. Tapi yang ketiga tidak tepat!" kata Sin Houw seperti seorang guru mengajar muridnya. Memang, sengaja ia berlaku demikian untuk membuat Sun Kiong takluk benar-benar. "Kau tak percaya? Mari kujelaskan, titik penjagaan berada disekitar dada. Tujuannya memunahkan sambil membalas menyerang. Bila lawan akan mengadu tenaga, itulah bagus, Kalau tidak, terpaksalah kau membalas menyerang. untuk menyerang balik, kau harus menarik jari tanganmu dahulu yang sudah terlanjur terbuka menjadi suatu cengkeraman. Kemudian memutar pergelangan untuk kau buat tenaga tolak. 945 Dengan demikian kau meninggalkan sebagian garis pertahananmu, Karena itu, kau takkan sanggup menahan gempuranku yang mengarah jantung." "Kalau begitu, aku akan menggunakan jurus Cian-kin cuite." sahut Nie Sun Kiong. "Ha, itu benar. Kau sambutlah!" Sambil berkata demikian, Sin Houw melancarkan serangannya. Cepat dan gesit sekali. Sun Kiong melakukan pembelaan, ia menjaga tangan kanan lawan, AKan tetapi tangan kanan Sin Houw hanya terangkat sedikit. sedang tangan kirinya tiba-tiba yang menerjang sasaran . seru Sin Houw: "Dalam suatu perkelahian, kau tak boleh terlalu kokoh memegang keharusan jurus-jurus ajaran. semuanya bisa berubah menurut keadaan. pastilah gurumu pernah berpesan demikian." Diperlakukan sebagai kanak-kanak, lambat laut Nie Sun Kiong mendongkol, diam-diam ia mempersiapkan serangan balasan apabila sudah dapat memunahkan tiga jurus serangan itu. Tapi kegesitan gerak Sin Houw di luar perhitungannya. Gesit luar biasa Sin Houw melejit kekiri dengan membuka dadanya. Cepat-cepat Sun Kiong meninju, Tapi mendadak pergelangan tangannya kena ditangkap dan ditarik. Buru-buru ia menahan diri dengan kuda-kuda pada kakinya. Ternyata Sin Houw tidak hanya menarik saja, ia melesat kesamping dan tiba-tiba sudah berada dibelakang punggung. ia menggentpur pantatnya, sebelum Sun Kiong sempat memutar tubuh. Plok, dan kedua kaki Sun Kiong gempur garis pertahanannya, ia terhuyung kedepan, Dan baru bisa membalikkan tubuh setelah berjuang dengan susah payah. 946 "Bagus!" seru Sin Houw gembira. "Sekarang jurusku yang kelima. jurus terakhir. Hati-hatilah, aku hendak menyerang dengan jurus Kie-riu si, salah satu bagian dari ilmu Po-giok kun!" Nie Sun Kiong heran. Bukankah jurus itu tiada faedahnya untuk menghadapi lawan? Karena hanya digunakan untuk permulaan kali sebagai penghormatan kepada lawannya bertanding? jurus itu sama sekali tidak masuk hitungan. Sin Houw rupanya dapat membaca hatinya. Katanya: "Apakah kau sangka jurus itu hanya untuk upacara saja? Apakah kau kira jurus itu tiada faedahnya untuk menghadapi lawan? sebenarnya kau harus dapat meraba apa maksud pendiri aliran Hoa-san pay menciptakan jurus itu. Yakinlah bahwa tiada satu juruspun ciptaan pendiri Hoa-san pay yang tidak dipersiapkan untuk melumpuhkan lawan agar dapat merebut kemenangan. Kau lihat sajalah, kalau tidak percaya!" Setelah berkata demikian, ia mengendapkan tubuhnya dan meliuk seakan-akan busur. Tangan kanannya membuat tinju dan ditekap oleh tangan kirinya. Kemudian membuat gerakan membungkuk hormat. ia maju selangkah dan kedua tangannya menyerang dengan berbareng, semuanya itu dilakukan dengan cepat dan tibatiba. Gugup Nie Sun Kiong mengadakan pembelaan, Tahu-tahu pahanya kena ditinju. Tubuhnya terhuyung mundur dan roboh. Tepat pada saat itu, Sin Houw melompat menyambarnya. ia menjaganya, lalu direbahkan dengan perlahan lahan dan hatihati. Nie Sun Kiong melompat bangun terus saja ia membungkuk hormat dan ia berkata: 947 "Maafkan, susiok. Mataku terlalu lamur sehingga tidak mengenal susiok dengan segera." Cepat-cepat Sin Houw membalas hormatnya . Menjawab: "Mengingat usiamu lebih tua, lebih baik kita saling menyebut kakak-adik saja." "Akh, tak berani aku berbuat demikian . Mungkin susiok memang lebih senang bila kusebut adik, akan tetapi kalau suhu mendengar, apa jadinya..?" sahut Nie Sun Kiong cepat. "Lagi pula ilmu kepandaian susiok benar benar luar biasa dan berada jauh diatas tingkatanku, Lima jurus tadi, benar-benar jurus ilmu Hoa-san pay, susiok telah membuka mataku. Dikemudian hari, aku akan menekuni petunjuk susiok yang sangat berharga itu." Dikemudian hari Nie Sun Kiong benar benar memegang perkataannya. ia berlatih menurut petunjuk Sin Houw dan menjadi seorang pendekar kenamaan yang jarang tandingannya. sampai berusia lanjut, ia menghormati susioknya yang muda belia itu. Pada saat itu Sin Houw hanya bersenyum. Tak dapat ia menolak alasannya Nie Sun Kiong, Memang, kalau gurunya Nie Sun Kiong mendengar betapa sikap muridnya itu terhadap dirinya, bisa-bisa dikutungan kedua lengannya. Kiang Yan Bu dan Sie Liu Hwa kini tak dapat lagi bersangsi, setelah menyaksikan betapa Sin Houw dapat merobohkan Nie Sun Kiong dengan lima jurus - walaupun demikian, Kiang Yan Bu masih yakin akan ketangguhannya sendiri. pikirnya didalam hati: "Aku memang murid tertua dari suhu, akan tetapi ilmu pedangku, kuperoleh dari Sun susiok dan isterinya, Dia tadi selalu melawan musuhnya dengan tangan kosong. Mungkin dia hebat dalam ilmu tangan kosong tapi belum tentu ia mahir dalam ilmu pedang . " 948 Selagi berpikir demikian, Sie Liu Hwa berseru kepadanya: "Kiang suheng, kau belum mencoba ilmu pedangmu." Diam-diam Kiang Yan Bu menjadi girang mendengar pertanyaan itu, Terus saja ia mendekati Sin Houw dan berkata dengan suara angkuh: "Sekarang giliranku, Aku biasa menggunakan pedang, karena itu lawanlah aku dengan pedang juga." "Menurut kabar, kau adalah murid tertua Jie suheng Pui Tong Kim, Tetapi Jie suheng sesungguhnya seorang ahli dalam ilmu silat tangan kosong, sebaliknya kau terkenal dengan pedangmu, Apakah kabar itu tidak benar?" "Benar atau tidak, bukan urusanmu !" sahut Kiang Yan Bu. "Aku memang murid tertua Pui suhu, tetapi ilmu pedangku kuperoleh dari suami-isteri Sun Ho Liang, Kenapa? Apakah aku tidak berhak lagi menyebut diriku sebagai murid Hoa-san pay? Lauw susiok pernah mengajari aku satu dua jurus, apakah aku tidak berhak membawa-bawa nama rumah perguruan Hoa-san pay?" "Akh, sombong benar manusia ini?" pikir Sin Houw, "Sifat dan perangainya jauh berbeda dengan Sun Kiong, Pantas sepak terjangnya keterlaluan. Biarlah kuhajarnya benar-benar, agar di kemudian hari tidak merusak nama baik rumah perguruan Hoa-san pay. Mungkin sekali, dia akan bisa merubah sepak terjangnya setelah kuberi pengalaman pahit . . ." Memperoleh keputusan demikian Sin Houw menyahut dengan menegakkan kepala - katanya: "Untuk mengadu pedang bukan soal sulit, Hanya saja, setelah kau kalah, wajib kau mendengar perkataanku. 949 Barangkali tidak terlalu sedap bagi pendengaranmu." "Sekarang belum ada keputusan siapa yang menang dan kalah, Karena itu terlalu pagi untuk membicarakan urusan kalah dan menang. Buktikan dulu!" sahut Kiang Yan Bu sambil melintangkan pedangnya didepan dadanya dan mengambil tempat disebelah kiri. "Kiang suheng! pedangmu tidak boleh kau angkat terlalu tinggi. Dia adalah paman guru kita!" seru Sun Kiong. Tetapi Kiang Yan Bu tidak menggubris seruan adik seperguruannya itu. ia tahu, peraturan rumah perguruan Hoa san pay, Apabila angkatan muda berlatih pedang dengan angkatan tua, maka pedang angkatan muda tak boleh diangkat terlalu tinggi. sebab gerakan pedang itu sendiri merupakan tata tertib kehormatan. Akan tetapi pada saat ituf ia menganggap Sin Houw bukan paman gurunya, Karena itu, ia telah mengangkat pedangnya tinggi diatas dada, lalu menantang: "Silahkan!" Betapa sabar Sin Houw akhirnya mendongkol juga. Meskipun demikian, ia tidak segera menerima tantangan Kiang Yan Bu, ia menoleh kepada Sim Pek Eng dan berkata: "Sim susiok! Maafkan, aku tadi menyebut susiok dengan saudara. sebab pada saat itu aku memperkenalkan diri sebagai adik seperguruan Gin-coa Long-kun." "Akh, tidak apa-apa. janganlah meributkan soal itu, yang tidak ada artinya untuk dibicarakan." sahut Sim Pek Eng. "Terima kasih, susiok. Sekarang, bolehkah aku meminta pertolongan dari murid susiok untuk membawakan sepuluh batang pedang kemari?" 950 "Mengapa tidak?" sahutnya yang segera memerintahkan muridnya untuk mengambilkan sepuluh batang pedang panjang, Mengingat sin Houw telah menolong jiwa gurunya, sang murid itu sengaja memilihkan pedang-pedang yang istimewa, sepuluh pedang itu kemudian ditempatkan diatas meja,yang berada tak jauh dari Sin Houw. Semua hadirin mengarahkan pandangnya kepada Sin Houw, Mereka merasa heran entah apa maksud pemuda itu yang menghendaki sepuluh batang pedang. Apa dia hendak memilih sebatang diantaranya? Akan tetapi, diluar dugaan, Sin Houw justru memungut pedang buntung Sie Liu Hwa. Kemudian berkata sambil tertawa: "Biarlah aku memakai pedang buntung ini saja." Sudah barang tentu para hadirin tercengang heran. Bagaimana mungkin sebatang pedang buntung dapat melawan pedang Kiang Yan Bu? Banyak diantara mereka menganggap pemuda itu terlalu sombong, sebaliknya, Kiang Yan Bu merasa diri direndahkan, ia gusar bukan kepalang. "Kau benar-benar tak memandang mata padaku. Jika kau nanti mampus, jangan sesalkan aku!" teriak Kiang Yan Bu, ia kini tak dapat menguasai diri lagi. ia memutar pedangnya dan diantara sinar pedangnya yang berkilauan, ia membentak: "Awas!" Kiang Yan Bu benar-benar menikam, Arah bidikannya kepada pundak kanan. Menurut perhitungannya, itulah bagian yang lemah. Sebab Sin Houw hanya dapat menjepit pedangnya. Dengan demikian tak dapat ia bergerak leluasa. Ruangan serambi depan Sim Pek Eng yang terisi lebih dari empat ratus orang, sepi dengan tiba-tiba. Mereka semua membungkam mulut dan memperhatikan gelanggang pertempuran. Mereka melihat, betapa cepat dan dahsyat 951 serangan pedang Kiang Yan Bu yang disertai himpunan tenaga dalam, Tatkala ujung pedangnya hampir mencapai sasaran, sekonyong-konyong Sin Houw menangkis dengan pedang buntungnya, Kedua senjata tajam itu lantas saja saling bentur. Setelah suara nyaring pedang lenyap dari pendengaran, para hadirin terkejut heran. Mereka mendengar suara pedang patah dan runtuh bergelontangan di lantai. Ternyata itu pedang Kiang Yan Bu yang mendadak saja patah menjadi tiga bagian. Mereka bertanya tanya di dalam hati, ilmu tangkisan apa yang digunakan Sin Houw untuk membabat pedang Kiang Yan Bu sampai patah? Selagi hadiri heran, Sin Houw menuding ke meja samping. Berkata: "Jangan khawatir. Aku telah minta kepada Sim susiok agar menyediakan sepuluh batang pedang. Nah, tukarlah pedangmu yang buntung itu, Kau boleh memilih sesuka hatimu." Sekarang barulah hadirin mengerti apa sebab Sin Houw tadi minta sepuluh batang pedang kepada Sim Pek Eng, Dan yang heran dan menyesal, adalah Cu Hwa dan beberapa murid yang mengambil sepuluh batang pedang itu, Kalau tahu tidak bakalan mereka memilihkan pedang yang justru istimewa! Kiang Yan Bu terperanjat berbareng gusar luar biasa. Tanpa membuka mulutnya ia membuang pedang buntungnya, kemudian melompat ke meja sambil menyambar sebilan pedang, setelah itu menerjang Sin Houw dengan tiba-tiba. Otak Sin Houw memang cerdas luar biasa. ia menduga, 952 bahwa Kiang Yan Bu hanya menggertak saja, Karena itu tak ia menangkis atau menghindar. Dan dugaannya tepat benar. Yan Bu benar benar membatalkan sasarannya. Tiba-tiba saja pedangnya ditarik dan ganti menikam perut. Melihat berkelebatnya pedang, Sin Houw segera menangkis dengan mengerahkan tenaga dalamnya. "Tak !" Dan untuk kedua kalinya, pedang Yan bu patah menjadi tiga bagian. Tak mengherankan, Yan Bu menjadi kalap tanpa menunggu perkataan Sin Houw ia telah lompat keluar gelanggang dan menyambar sebilah pedang lagi. Kemudian mengulangi serangannya dengan dahsyat. Akan tetapi, untuk yang ketiga kalinya - pedangnya patah lagi dalam segebra-kan saja. sekarang larutlah sebagian besar kesombongannya. ia berdiri tertegun bagaikan patung yang tak pandai bicara. ia heran dan penasaran. "Hey, setan kecil!" seru Sie Liu Hwa dari luar gelanggang. "Kenapa kau melawan ilmu pedang Kiang suheng dengan ilmu iblis? Apakah ini namanya mengadu kepandaian?" Sin Houw merasa dirinya kena tegur, segera ia melempar pedang buntung ditangannya, Kemudian mengambil dua batang pedang. Yang sebatang diberikan kepada Kiang Yan Bu. ia berpaling kepada pendekar wanita yang garang itu sambil bersenyum, Katanya: "lni bukan ilmu iblis, nyonya.Kau mengaku murid Hoa-san pay. Mengapa tidak mengenal ilmu Kun-thiang kang?" Selagi ia bicara, tiba-tiba Kiang Yan Bu menggunakan kesempatan itu, De-ngan kecepatan kilat, ia menikam punggung Sin Houw, setelah itu baru ia berteriak : "Awas!" 953 Sin Houw tahu kecurangan lawannya - namun ia tak bersakit hati, sambil mengelak ke samping, ia menirukan bunyi teriakannya seraya menggerakkan pedangnya: "Awas!" Kiang Yan Bu menyerang dengan tipu ajaran suami-isteri Sun Ho Liang. Itulah ilmu pedang Cong-eng kim-touw -Garuda menyambar kelinci. Kali ini ia tak sudi membiarkan pedangnya sampai terbentur, ia bergerak secepat angin. Tetapi mendadak ia terkejut bukan main, pantatnya seperti terbentur sebuah benda dingin. Cepat ia memutar pe dang sambil membabat, namun pantatnya masih saja tertempel benda dingin itu, Kali ini ia benar-benar kaget sampai punggungnya berkeringat dingin. untuk membebaskan diri, ia menubruk ke depan sambil menjatuhkan diri. Kemudian melompat tinggi jauh ke depan lagi. Tetapi masih saja pantatnya terasa di-ngin, Dalam sekejapan tadi, ia melihat benda apakah yang terasa dingin di pantatnya. itulah ujung pedang Sin Houw, Keruan saja ia sibuk bukan main, sekali lagi ia menjatuhkan diri sambil bergulingan. Namun ke mana saja ia bergerak, ujung pedang Sin Houw tetap melekat pantatnya. Karena putus asa, ia jadi nekat. pedangnya diputar serabutan sekarang ujung pedang Sin Houw tidak lagi melekat dipantatnya, Tetapi tatkala hendak berdiri, tahu-tahu pedang itu sudah berada di depan dadanya, kalau saja Sin Houw mendorong pedang itu sedikit saja, tamatlah riwayatnya! ia kini benar-benar merasa takut dan bingung, itulah perasaan takut dan bingung untuk yang pertama kalinya di alaminya, selamanya, ia membanggakan diri. 954 Kini ternyata ia mati kutu menghadapi kegesitan Sin Houw yang bisa bergerak cepat, bahkan kecepatan Sin Houw berada diatasnya, Sin Houw memperhatikan wajah keponakan murid itu yang pucat lesi, seluruh tubuhnya bermandikan keringat. Betapapun juga ia jadi iba hati, Bu-kankah memang keponakan muridnya sendiri? Adalah keterlaluan sekali bila dibuat malu dihadapan umum. Maka segera ia menarik pedangnya dan mundur selangkah . "lnilah ilmu pedang Hoa-san pay -yang sejati!" katanya, "Apakah kau belum pernah mempelajarinya?" Kiang Yan Bu lompat bangun sambil mengatur pernapasannya kembali. Kemudian menjawab dengan menundukkan kepala: "ltulah ilmu pedang Hui-kui cici, atau Lalat mengikuti tulang!" "Benar!" kata Sin Houw. "Kau sudah mengenal namanya, pasti sudah pula mempelajarinya." Kiang Yan Bu berusaha menguasai diri. Perlahan-lahan ia menegakkan kepalanya , kemudian menyahut: "Marilah mengadu pedang dengan cara yang wajar, ilmumu terlalu campur aduk!" "Campur aduk bagaimana?" Sin Houw heran. "Yang kupergunakan adalah ilmu pedang Hoa-san pay yang asli. Baiklah, kalau kau belum puas. Lihat, akulah yang kini akan menyerang. Coba kau pertahankan !" Sin Houw benar-benar menyerang perlahan caranya, dan Yan Bu segera menggerakkan pedangnya untuk menangkis - 955 setelah itu dengan suatu kecepatan ia hendak melakukan serangan balasan. Tetapi pada saat itu mendadak saja Sin Houw menekan pedangnya. Cepat-cepat ia menarik pedangnya. Heran! pedangnya seperti melekat kuat sekali. ia jadi sibuk. Melihat Kiang Yan Bu sibuk dalam usaha hendak menarik pedangnya, Sin Houw tersenyum. Dua kali ia memutar pedangnya. Dan pergelangan tangan Yan Bu ikut terputar dua kali pula. sekarang ia menariknya dengan mengerahkan tenaga dalam tujuh bagian, dan pedang Yan Bu kena direnggutnya dan dilemparkan keatas lantai. "Bagaimana? Apakah kau masih mau mencoba lagi?" kata Sin Houw sabar. Rasa penasaran Kiang Yan Bu makin hebat. ia sekarang jadi nekad. Dengan membungkam mulut ia menyambar sebatang pedang lagi dari atas meja, Kemudian menyerang pundak kiri Sin Houw, ia menikam dengan cara yang lain, pedangnya ditusukkan dan ditarik silih berganti dengan cepat, ia sadar, dalam hal mengadu tenaga dalam merasa ia kalah. Sin Houwpun tidak memutar pedangnya lagi, setelah mengelakkan beberapa tikaman, ia menikam dada sibandel itu, itulah serangan yang hebat sekali. Mau tak mau Yan Bu harus menangkis. Trang! Dan untuk kesekian kalinya pedang Yan Bu terlepas dari tangannya. Kali ini sampai mental tinggi ke udara hampir mencapai langit-langit. Kiang Yan Bu semakin kalap, Tak sudi ia menunggu pedangnya turun dari udara. Dengan sekali lompat ia menyambar sebatang pedang baru lagi, Kemu-dian maju lagi hendak menyerang. "Apakah benar-benar kau tak sudi menyerah?" bentak Sin Houw, ia lantas membolang-balingkan pedangnya, mematikan 956 daerah gerak Yan Bu. Dan diancam secara demikian, Yan Bu terpaksa membatalkan maksudnya. Namun masih saja ia mencoba membebaskan diri. ia mengelak sambil menarik tubuhnya ke belakang. Menyaksikan kebandelannya, Sin Houw jadi mendongkol. ia menggertak sambil menyambar kaki sibandel itu. Dan tubuh Kiang Yan Bu terangkat naik lalu roboh terbanting diatas lantai. Kemudian Sin Houw mengancamkan ujung pedangnya pada tenggorokan. Menegas: "Benar-benar kau tak mau menyerah?" Selama hidupnya, belum pernah Kiang Yan Bu terhina seperti itu, ia mendongkol, gusar dan malu bukan main, Karena tak dapat menguasai diri, maka akhirnya ia jatuh pingsan. Sie Liu Hwa lompat ke dalam arena karena melihat kakak seperguruannya rebah tak berkutik, segera ia menyerang kalang-kabutan, sambil berteriak: "Kalau kau bunuh dia, bunuhlah kami berdua juga!" Tergetar hati Sin Houw mendengar teriakan Sie Liu Hwa dan melihat keadaan Kiang Yan Bu yang pucat wajahnya, kedua matanya melotot menatap langit langit. Kedua biji matanya sama sekali tak bergerak . Tubuhnya tak berkutik pula. Benar-benarkah ia mati karena penasarannya? ia lantas membungkuk hendak memeriksa pernapasannya. Pada saat itu, ia melihat berkelebatnya kedua tangan Sie Liu Hwa menyerang dirinya, Tak sudi ia mengelak atau mencoba melawannya. Ia hanya mengerahkan himpunan tenaga dalamnya kuat-kuat, sambil membenturkan baju mustikanya yang tak mempan senjata tajam. "Jangan khawatir! Kakakmu belum mati." kata Sin Houw setelah memeriksa pernapasannya. Tetapi Sie Liu Hwa sudah 957 kalap. Kedua tangannya terus memukul punggung Sin Houw asal jadi saja, setiap kali membal, ia menambah tenaga pukulannya. Keruan saja Nie Sun Kiong yang berada diluar gelanggang terkejut menyaksikan isterinya memukuli paman gurunya. Terus saja ia melompat dan menarik tubuh Sie Liu Hwa. "Lepas! Biarkan aku ikut mati..l" seru pendekar wanita itu, "Eh, lepas bagaimana? Kau tak boleh ikut mati. Bukankah kau adalah isteriku dan aku suamimu? Kau baru boleh mati manakala akulah yang mati!" ujar Nie Sun Kiong melawak. Rupanya dengan cara begitulah ia harus melayani watak isterinya yang angin-anginan itu. Tetapi Sie Liu Hwa tetap membandel . ia menjagangkan kedua kakinya karena tak sudi di tarik. Dan kedua tangannya masih saja memukuli Sin Houw, meskipun agak ringan. Maka terpaksalah Nie Sun Kiong mengerahkan tenaganya untuk menarik mundur. Karena masing-masing saling berkutat, akhirnya mereka jadi saling tarik sendiri. sebenarnya itulah pemandangan yang lucu sekali . Tetapi mengingat tabiat Sie Liu Hwa yang garang dan ganas, tiada seorangpun yang berani tertawa. "Eh, kau bandel sekali !" seru Nie Sun Kiong geram. "Bukankah aku suamiku ?" Giok Cu yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua, perlahan lahan datang mendekati. Berkata menawarkan jasa: "Biarlah kutolong, Akan kugigit pantatnya!" Mendongkol hati sie Liu Hwa mendengar ancaman Giok Cu. Tapi teringat-lah dia, bahwa pemuda itu benci kepadanya. Bagaimana kalau dia benar-benar membuktikan ancamannya. Kalau pantatnya sampai digigit seorang pemuda di depan 958 umum bisa runyam. oleh karena itu, ia segera menjatuhkan diri duduk dilantai, kemudian menangis karena mendongkol. "Hey, kenapa menangis? Bukankah aku belum menggigit pantatmu?" Giok Cu berteriak. Sebenarnya Nie Sun Kiong tersinggung, Betapapun, Sie Liu Hwa adalah isterinya, Bagaimana ia bisa membiarkan pantat isterinya dibicarakan oleh seorang pemuda didepan umum? Tapi mengingat pemuda itu adalah sahabat paman gurunya, terpaksa ia menelan rasa kehormatannya . sekonyong-konyong, diluar dugaan Sie Liu Hwa melompat bangun dan menggempur pundaknya Giok Cu, itulah serangan yang terjadi sangat cepat dan tiba-tiba, Giok Cu tak sempat mengelak atau menangkis. sedang Sin Houw tak mau merintangi, Maka pundak Giok Cu benar-benar kena di pukul. Giok Cu kaget sampai berteriak tertahan, Akan tetapi pada saat itu juga. Sie Liu Hwa memekik tinggi. Kemudian duduk dilantai sambil memijit-mijit kedua tangannya. pekiknya. "Aduh, tanganku! Tanganku!" "Kenapa tanganmu?" tanya suaminya gugup, ia kaget tatkala melihat tangan Sie Liu Hwa bengkak kemerahan, sekejap itu pula tahulah ia, bahwa hal itu telah terjadi akibat kena pantulan ilmu tenaga dalam Sin Houw, Pantas saja Sin Houw tak mau menangkis atau mencoba merintangi ketika Sie Liu Hwa menyerang Giok Cu, sebaliknya rombongan murid murid Sim Pek Eng, mengira bahwa bengkaknya tangan Sie Liu Hwa adalah akibat menyerang Giok Cu. Karena Giok Cu tadi diperkenalkan sebagai putera Lim Beng Cin, mereka percaya bahwa pemuda itu berkepandaian tinggi! Oleh pekik Liu Hwa, maka Kiang Yan Bu tersadar. segera 959 ia berdiri dan memberi hormat kepada Sin Houw, Katanya: "Susiok, Benar-benar aku menyesal, aku seorang keponakan yang tak tahu diri. sekarang sudilah susiok menolong Sie sumoay?" Sikap Sin Houw berbeda dengan tadi, ia bersikap kaku dan berwibawa sama sekali ia tidak mendengarkan permintaan Yan Bu, sahutnya pendek: "Apakah kau menyadari kesalahanmu ?" Tak berani Yan Bu berkeras kepala seperti tadi. ia menundukkan kepala. "Ya, susiok. Aku salah." sahutnya "Aku telah merobek surat kesaksian Sim tayhiap, juga tidak seharusnya aku membantu The sie Ban." Sin Houw menarik napas. Katanya memberi nasihat: "Memang, Aku sangat menyesal, apa sebab kau merobek surat kesaksian itu, Hampir saja kau menimbulkan korban entah berapa puluh orang. Karena itu kau harus bisa berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, Tentang sikapmu membantu The tayhiap, sama sekali tidak salah. itulah perbuatan setia kawan yang sejati . Karena itu, kau bahkan harus dipuji. Hanya saja kau belum tahu kedudukan The tayhiap sebenarnya." Kiang Yan Bu heran, Bertanya: "Bukankah The Sie Ban seorang pendekar yang kenamaan? Apa maksud susiok menyangsikan kejujurannya?" The Sie Ban yang ikut mendengarkan pembicaraan itu, merasa tersinggung . Katanya: 960 "Apakah aku seorang penjahat?" Mendengar seruan The Sie Ban, cepat cepat Sin Houw menjawab: "The tayhiap, janganlah salah paham. Bukan kau yang kami maksudkan." "Lantas siapa?" The Sie Ban menegas . Thio Sin Houw menyapu hadirin dengan pandang matanya yang tajam, Kemudian berhenti kepada Tan Hok Cin dan Khu Cing San yang nampak duduk meringkas diantara para tetamu. Tatkala Sin Houw hendak membuka mulutnya, tiba tiba masuklah beberapa orang muridnya Sim Pek Eng, yang mengiringi dua orang yang berpakaian sebagai orang dusun. Hadirin terkejut memperhatikan mereka. Yang berjalan disebelah kiri, seorang pria berusia kira-kira lima-puluh lima tahun. Dan yang berada disampingnya, seorang wanita sebaya usianya, Dia menggendong seorang anak berumur dua atau tiga tahun. Pandang mereka tajam luar biasa. Dan tiba-tiba saja Sie Liu Hwa melompat bangun dan lari menyongsongnya sambil berseru: "Susiok dan subo!" Nie Sun Kiong dan Kiang Yan Bu ikut menyongsong. Maka sekarang tahulah hadirin, bahwa mereka berdua adalah dua suami-isteri Sun Ho Liang. Sin Houw tak dapat berdiam diri saja. Mendengar seruan Sie Liu Hwa, ia segera mengikuti Kiang Yan Bu dan Nie Sun Kiong menyongsong mereka. Dengan sekilas pandang ia menatap wajah kedua kakak seperguruannya itu. Sun Ho Liang nampak sederhana, sedang sun-sie IKau isterinya berwajah galak. Kesannya tak beda dengan Sie Liu Hwa. Sie Liu Hwa memperlihatkan kedua tangannya kepada Sun-sie seperti hendak mengadu. Tatkala Sin Houw hendak 961 memberi hormat, Sun-sie sedang menundukkan pandang kepada dua tangan Sie Liu Hwa yang bengkak. Kedua alisnya bergerak-gerak,sambil mengurut ia bertanya: "Kenapa?" Itulah pertanyaan yang di harapkan. Terus saja Sie Liu Hwa berputar sambil menuding Sin Houw. Dengan masih menahan rasa mendongkol dan penasaran-nya , ia menjawab: "Subo, dialah orangnya. Dia . mengaku sebagai paman guru, Tapi ia melukai kedua tanganku dan mematahkan pedang pemberian subo." Sin Houw terkejut, jawaban Sie Liu Hwa benar-benar mengandung racun. iapun menyesal apa sebab sampai mematahkan pedang Sie Liu Hwa, Kalau saja ia tahu bahwa pedang itu pemberian kakaknya seperguruan, pastilah tidak akan berbuat begitu, Maka cepat-cepat dia membungkuk hormat sambil berkata mohon maaf: "Sama sekali tak kuketahui bahwa pedang itu pemberianmu. Maafkan kelancangan adikmu .,." "Adik? Adik dari mana?" dengus Sun-sie heran. pendekar wanita itu segera berpaling kepada suaminya. Mereka berdua saling pandang, Kata Sun-sie minta pembenaran: "Khabarnya, memang suhu mempunyai seorang murid muda belia. Apakah dia? Kalau benar dia, kenapa tak tahu diri?" "Belum pernah aku bertemu dengan dia." sahut suaminya pendek. "Hm." dengus Sun-sie. "Meskipun andaikata dia mewarisi seluruh kepandaian guru, mestinya harus sadar dan tahu diri, Bahwasanya ilmu kepandaian itu tiada batasnya, Kalau merasa diri sudah pandai, diatasnya masih ada dewa. 962 Dewapun harus tahu diri pula, bahwa diatasnya masih ada Tuhan, Hm... baru saja memperoleh sekelumit kepandaian, lantas saja menghina yang lemah. pantaskah itu? seumpama Liu Hwa salah bukankah masih ada gurunya? Biarlah dia yang menegur. Kita berdua hanya bi sa memperingatkan saja," "Kiang suheng juga menerima penghinaan, subo." Liu Hwa mengadu. "Apa?" Sun-sie terperanjat sepasang alisnya terbangun "Ha, kami berdualah yang wajib menghajarnya bila ia salah. Kenapa paman gurunya ikut campur ?" Sin Houw merasa diri bersalah lalu menjawab: "Kalau begitu maafkan kelancangan adikmu." "Kau telah mematahkan pedang pemberianku . Artinya kau sama sekali tidak menghargai kakakmu." kata Sun sie sengit. "Andaikata guru sangat sayang, kepadamu, tidak sepatutnya kau lantas berlagak dan sama sekali tidak menghargai kakak seperguruanmu?" Sin Houw bungkam. Dan segenap hadirin jadi tak enak hati, Mereka melihat betapa galak pendekar wanita itu, katakatanya makin lama makin sengit. Tanpa mengusut latar belakangnya, lantas dia menjatuhkan palu hukuman. Sung guh keterlaluan! ***** MURID-MURIDNVA Sim Pek Eng gelisah bukan main. sebaliknya The Sie Ban dan kawan-kawannya, termasuk Kiang Yan Bu, Nie Sun Kiong dan Sie Liu Hwa mendapat angin baru, Mereka kini bisa menegakkan kepalanya kembali. Tak usah menunduk lagi karena merasa malu dan segan. "Subo!" kata Sie Liu Hwa. "Setelah mengaku sebagai 963 paman guru, tiba-tiba diapun datang membawa-bawa nama Gin-coa long-kun." "Gin-coa Long-kun siapa? Lim Beng Cin maksudnya?" potong Sun-sie sengit. "Benar! Dia selalu mengunggulkan, dan atas nama Gin-coa Long-kun pula ia merobohkan Kiang suheng dan Nie suheng." Mendengar perkataan itu, cuping hidung Sun-sie bergerakgerak, suatu tanda, bahwa darahnya meluap. Dan melihat hal itu, sin Houw tetap bersikap sabar dan mengalah. Sebenarnya tanpa disengaja suami-isteri itu datang ke tempat itu, sudah setahun lebih, mereka merantau untuk mencari obat bagi anaknya, itulah anak yang digendong Sunsie. Menurut para ahli, anak itu menderita penyakit dalam sejak didalam kandungan. Terjadi akibat goncangan hebat, tatkala ibunya berkelahi melawan seorang musuh tang-guh, Dan untuk bisa menyembuhkan penyakit itu, mereka harus menemukan sebutir atau dua butir buah mustika yang jarang sekali terdapat didalam dunia. Tetapi sebagai orang tua, mereka tidak mengenal lelah dan putus asa. Dari satu tempat ke tempat lainnya mereka merantau . Tapi selama itu, anak mereka semakin kurus. Tak mengherankan, mereka jadi cemas dan gugup, Menuruti nasihat seorang tua, mereka mendaki gunung Butong menemui Tie-kong tianglo - dan melihat penyakit anak itu, Tie-kong tianglo jadi teringat kepada Sin Houw, Cucumuridnya itupun dahulu menderita penyakit macam demikian, Entah bagaimana khabarnya, Tie-kong tiangloo tidak mendengar lagi. Dalam keadaan lesu suami isteri itu melanjutkan 964 perjalanannya. Kalau Tie-kong Tianglo saja tidak sanggup mengobati, siapa lagi yang dapat menolong? Tatkala memasuki daerah itu mereka mendengar kabar, bahwa muridnya berada ditempatnya The Sie Ban, Teringatlah mereka bahwa muridnya selalu bersama Sie Liu Hwa dan suaminya. Dia-pun banyak sahabatnya, Mungkin sekali dia bisa menolong. Maka berangkatlah mereka mencarinya. Dan demikianlah mereka tiba dirumah sim Pek Eng. Sun-sie memang seorang pendekar yang keras adatnya. Mudah sekali tersinggung hatinya. Apalagi pada waktu itu ia sedang bersedih hati memikirkan anaknya. Mendengar muridnya kena hina, ia bersakit hati. Hinaan itu sendiri seakanakan penghinaan terhadap anaknya yang kurus kering seperti monyet kecil. Tadinya ia masih mau bersabar karena Sin Houw disebut paman guru oleh Liu Hwa, Tetapi setelah mendengar pula bahwa Sin Houw datang dengan membawa-bawa nama Gincoa Long-kun, ia merasa seperti ditantang, seketika itu juga ia berpaling kepada suaminya dan minta keterangan dengan suara sengit: "Coba katakan padaku, apakah Lim Beng Cin masih hidup?" "Menurut khabar, ia sudah meninggal, Tetapi apakah benar demikian, hanya Tuhan yang tahu." jawab suaminya. Pendekar ini masih bisa bersikap tenang, meskipun hatinya berduka. Giok Cu mendongkol menyaksikan Sin Houw ditegur pulang-balik dengan kata-kata kasar. iapun mendengar Sunsie menyinggung-nyinggung nama ayahnya pula, Nada suaranya mengejek dan merendahkan. Keruan saja tak dapat ia menahan diri, Terus saja membentak: 965 "Kau bilang, diatas manusia masih ada dewa, Kenapa kau menghina orang?" "Kau siapa?" Sun-sie membalas membentak dengan gusar. "Dialah anaknya Lim Beng Cin." Sie Liu Hwa memberi keterangan. Mendengar keterangan Liu Hwa, sekonyong-konyong tangan Sun-sie bergerak. Diantara sinar lampu, nampaklah sebuah benda berkeredep menyambar Giok Cu. Kaget Sin Houw menyaksikan hal itu. Hendak ia mencegah, tetapi sudah tidak sempat lagi. Pada saat itu Giok Cu me-mekik, pundak kirinya kena terhajar pa ku Sin-liong teng, walaupun ia sudah mengelak, Oleh rasa kaget, Sin Houw melompat dan memegang pundak Giok Cu. Di lihatnya paku itu membenam dalam di pundak kiri. Giok Cu kesakitan. Tak dapat lagi ia menahan diri . Hendak ia membalas menyerang, Cepat-cepat Sin Houw mencegahnya. Berkata membujuk: "Jangan bergerak. Biar aku menolong dahulu." Dengan dua jarinya, Sin Houw menjepit ujung paku itu. ia mencabut perlahan-lahan, setelah tercabut kira kira tigaperempat bagian, ia mengerahkan tenaga dalamnya. Dan paku itu dapat di-cabutnya, kemudian dilemparkan diatas lantai. Sim Cu Hwa mendekati dengan membawa saputangan. ia menyerahkan saputangan itu kepada Sin Houw. Dengan saputangan itu Sin Houw menyusuti darahnya . setelah bersih Cu Hwa menyerahkan saputangan lagi, dan Sin Houw membalut luka itu. 966 "Dengarlah perkataanku," bisik Sin Houw sambil membalut, "Jangan layani dia." "Kenapa?" Giok Cu bertanya dengan hati penasaran. "Kita berdua harus menghormati merekalah kakak seperguruanku. Karena itu tak dapat aku melawannya." Giok Cu menatap wajah Sin Houw melihat pemuda itu bersungguh sungguh, terpaksalah ia memanggut dengan lesu, Meskipun hatinya mendongkol dan penasaran bukan main, tapi ia terpaksa menahan diri. Sun-sie menunggu sampai Sin Houw selesai membalut luka Giok Cu. sebagai seorang yang termasuk golongan pendekar besar, perlu ia membawa sikapnya demikian. Kemudian berkata dengan mencibirkan bibir: "Aku sendiri belum pernah bertemu dengan pendekar yang menamakan dirinya Gin-coa Long-kun. Kabarnya ia seorang sakti dan berkepandaian sangat tinggi, sampai kemasyurannya menggetarkan jagad. Tetapi, ternyata anaknya tak dapat mengelakkan sambaran pakuku saja, Padahal, aku hanya mencoba-coba, Kalau begitu, apakah Gincoa Long-kun hanya bernama kosong belaka?" Giok Cu melemparkan pandang kepada Sin Houw, Kalau menuruti kata hatinya, ingin ia membalas mendamprat. Tetapi ia sudah berjanji kepada Sin Houw, tidak akan melayani Sunsie. sebaliknya pada saat itu, Sin Houw tertegun seperti kehilangan pegangan. Di dalam hati pemuda itu berpikir: "Sucie benar-benar berada dalam kesalah-pahaman yang hebat, Jika aku bantah, pastilah ia merasa kutentang, Rasa marahnya akan menghebat jadinya. Biarlah aku berdiam diri saja," Rupanya Sun-sie bisa menebak kesulitan Sin Houw, Lalu 967 berkata memutuskan: "Kau membungkam mulut. Apakah karena kau segan berbicara dihadapan hadirin? Atau kau sengaja mengesankan bahwa kau benar-benar anggauta Hoa-san pay sehingga demi menjaga pamor rumah perguruan tak sudi bertengkar dengan kami? Baiklah, tak jauh dari sini terdapat sebuah bangunan rusak. itulah bangunan tangsi kaum penjajah yang telah ditinggalkan Nah, aku harap kau besok hari datang menemui aku menjelang matahari tenggelam, Kami ingin mencoba kepandaianmu, apakah benar-benar kau adalah adik seperguruan kami." Semua orang tahu, meskipun Sun sie seolah-olah sudah setengah mengakui bahwa Sin Houw adalah adik seperguruannya dan walaupun maksudnya hanya untuk mencari keyakinan dengan jalan menguji kepandaian pemuda itu, sebenarnya merupakan tantangan belaka. Tak mengherankan, Sim Pek Eng yang merasa berhutang nyawa terhadap Sin Houw jadi sibuk dan berkhawatir. Cepat-cepat ia berdiri. Dan setelah memberi hormat de ngan merangkapkan kedua tangan didepan dadanya, ia berkata dengan suara rendah : "Kalian berdua adalah sepasang pendekar besar pada zaman ini. Lie hiap termashur sebagai seorang sakti bertangan kilat, maka bukan kepalang girang hati kami atas kedatangan kalian berdua . Mengundang saja, sebenarnya tiada keberanianku Maka .. ," "Hm." Sun-sie memotong dengan mengejek, ia menoleh pada suaminya. Tapi suaminya nampak gelisah karena merasa tak enak sendiri memperoleh penghormatan berlebihlebihan, mengingat usia Sim Pek Eng sebaya dengan usianya sendiri. Bahkan Sim Pek Eng lebih tua kedudukannya sebagai pemimpin laskar pejuang yang menentang kaum penjajah. "Thio siauwhiap datang kesini bukan bertujuan untuk 968 membuat malu murid kalian berdua." Sim Pek Eng mencoba menjelaskan. "Dia datang karena mendengar aku dalam kesulitan dan bermaksud mendamaikan suatu persengkataan, Keti-ga murid kalian mengetahui sendiri dengan jelas. Karena itu, perkenankanlah aku esok pagi menyelenggarakan suatu pesta tersendiri untuk menyambut kedatangan kalian berdua. Juga sebagai pernyataan syukur dan gembira atas bertemunya kalian dengan adik seperguruan" Tetapi Sun-sie tidak merasukkan perkataan Sim Pek Eng didalam pendengarannya . Dia bahkan membuang mukanya - tatkala Sim Pek Eng menyinggung istilah adik seperguruannya, ia seperti diingatkan. Terus saja berkata menegas kepada Sin Houw: "Bagaimana? Kau berani datang?" "Dimanakah aku harus menemui suci dan suheng berdua? Meskipun suci dan suheng hendak melukai aku, takkan berani aku mengelak." sahut Sin Houw. "Hm, siapa yang mengijinkan kau memanggil aku suci?" dengus Sun-sie "Palsu atau tidaknya tentang dirimu, harus kubuktikan dahulu. jangan panggil suci dahulu kepadaku, juga aku melarang kau memanggil suheng terhadap suamiku . Tunggu sampai aku mengujimu dan baru kita membicarakan tengang panggi lan itu, Mari!" Sun-sie menarik tangan Liu Hwa dan mendahului berjalan meninggalkan pesta perjamuan. Baik Sin Houw maupun sim Pek Eng tak berani mencegahnya. Mereka tertegun tatkala mengikuti kepergian mereka dengan pandang matanya. Tibatiba Sin Houw melihat sesuatu yang bergerak diantara hadirin. Tentu saja ia lari melesat sambil berteriak: "Hey, tunggu!" 969 Sejak tadi Sin Houw telah membagi pandang dan perhatiannya kepada Tan Hok Cin dan Khu Cing San yang nampak duduk diantara hadirin, Disampingnya duduk pula seorang berkumis dan bercambang tebal dengan perawakannya yang tinggi besar, Sin Houw belum kenal siapa dia. Tapi melihat keakrabannya, pastilah ia termasuk sekutu mereka berdua. Kesan orang itu gagah, pandangnya berpengaruh Dikemudian hari ia memperkenalkan diri sebagai seorang pendekar golongan Siauw-lim bukan pendeta. Orang mengenalnya dengan nama Lo Han Bok. Selagi Sim Pek Eng memperlihatkan dua helai surat kesaksian, Tan Hok Cin berdua Khu Cing San mulai gelisah. Mereka berdua saling membisik dengan wajah berubah. Kemudian Sin Houw menyinggung tentang kawanan penjahat. syukur suami-isteri Sun Ho Liang datang, sewaktu Sin Houw mengarahkan pandangnya kepada mereka berdua. sekarang yakin-lah mereka, bahwa anak muda itulah sebenarnya yang mencuri surat perintah dan dua helai surat kesaksian kemarin malam, segera mereka berbisik kepada Lo Han Bok agar meninggalkan tempat itu saja. Tetapi Lo Han Bok tak mau bergerak dari tempat duduknya. Katanya memberikan jawaban: "Tunggu sampai saatnya." Mereka berdua menghela napas, namun mereka nampak tunduk. Maka jelaslah , bahwa Lo Han Bok berpengaruh besar terhadap mereka berdua. Dan tatkala menyaksikan betapa Sin Houw menjadi jinak menghadapi suami-isteri Sun Ho Liang, mereka berdua diam-diam ikut bersyukur dan girang. Mereka memuji kebesaran Tuhan, justru pada saat itu, Lo Han Bok berkata: 970 "Sekarang saatnya yang baik, Nan-ti, bila suami-isteri itu meninggalkan tempat, kita bertiga mengikuti seakan-akan pengiringnya, Kalian berdua menyusup diantara rombongan Hoa-san pay. Kukira, Sin Houw takkan berani berbuat apaapa." Tan Hok Cin dan Khu Cing San girang mendengar saran itu, Maka begitu Sun-sie memutar tubuh hendak meninggalkan tempat itu, cepat-cepat mereka berdua hendak mendekati rombongan murid. Dan apabila rombongan murid mulai bergerak hendak mengikuti Sun Ho Liang dan isterinya, cepatcepat mereka mendahului . Akan tetapi pandang mata Sin Houw benar-benar tajam. Gerak-gerik mereka tak luput dari pengamatannya meskipun lagi menghadapi kesulitan. Sebaliknya Sun-sie salah paham, ia mengira Sin Houw hendak mencegah kepergiannya atau merintangi, sebagai seorang pendekar yang merasa berkedudukan tinggi, tak senang ia diperlakukan demikian. semua ucapan dan gerakannya merupakan undang-undang yang tiada batal oleh alasan apapun, Maka bentaknya: "Benar-benar kau manusia busuk tak tahu diri! Kau berani mengganggu aku!" Membentak demikian, ia memutar tubuhnya seraya melayangkan tangannya. Arah sasarannya kepala, itulah salah satu macam serangan yang biasanya tak pernah gagal. ia melatihnya terus menerus selama tigapuluh tahun lebih dengan suaminya. Pernah ia meruntuhkan tujuhbelas ekor burung yang sedang terbang dengan serangannya itu, Bisa di bayangkan betapa cepat dan bahayanya. Hati Sin Houw tercekat. Cepat ia mengelak. Tangan Sunsie lewat diatas pundaknya dan menyerempet selintasan, Meskipun demikian, ia merasa pedas sekali. Insaflah ia, 971 bahwa kakak seperguruan itu benar-benar tinggi ilmu kepandaiannya . sebaliknya, Sun-sie terperanjat heran. ia jadi penasaran. cepat ia membalikkan tangan dan membabat pinggang, Kali ini ia mengerahkan tenaganya . Menghadapi serangan ini, Sin Houw merasa wajib menahan diri, ia menjejakkan kakinya dan melompat mundur melintasi meja dan kursi. Dengan demikian, dua kali berturutturut Sun-sie gagal serangannya. Karena masih menggendong anaknya, tak dapat ia bergerak dengan leluasa. Teringat pula bahwa ia telah memutuskan untuk mengadu kepandaian esok petang, terpaksa ia menelan rasa mendongkol dan penasaran. Dan ia meneruskan berjalan dengan membimbing tangan Liu Hwa. Tan Hok Cin dan Khu Cing San tak sudi kehilangan kesempatan yang bagus itu, juga Lo Han Bok yang berada dibelakangnya, Mereka lantas menerobos keluar rombongan dan lari secepatnya. "Hey, mau lari kemana? Berhenti!" seru Sin Houw, Karena terpaksa melompat mundur untuk menghindarkan serangan Sun-sie, jaraknya kini kian menjauh dari mereka bertiga. Namun Sin Houw tidak mau kehilangan mangsanya. Tak ubah seekor burung, ia terbang melintasi kursi dan meja, Tangannya berkelebat dan menyambar Lo Han Bok, yang segera roboh kena cengkeraman. Dalam pada itu Tan Hok Cin dan Khu Cing San sudah berhasil lolos dari pintu gerbang. waktu itu bulan sipit nampak remang-remang. suasana malam gelap pekat, Benar-benar Tuhan melindungi mereka berdua. Begitu melintasi tirai malam, tubuh mereka tiada nampak lagi. Mereka seperti hilang teraling iblis. Sin Houw tak berani mengejar. ia tahu, mereka berdua termasuk jago yang mempunyai kepandaian tinggi. Kalau 972 tidak, masakan pantas menjadi sahabat Sim Pek Eng yang dihormati dan disegani itu, Dalam malam gelap, mereka bisa menyerang balik. "Biarlah untuk sementara mereka kabur. Aku telah berhasil menangkap seorang kawannya. pastilah aku dapat memperoleh keterangan dari mulutnya." pikir Sin Houw, ia lantas memutar tubuhnya hendak balik kembali memasuki gerbang, sekonyong-konyong ia mendengar suara seseorang berseru padanya: "Hey, sahabat kecil! Baru sepuluh tahun aku tidak bertemu denganmu. Dan kepandaianmu sudah maju begitu pesat! selamat! selamat!" Goncang hati Sin Houw mendengar suara itu, itulah suara yang pernah dikenalnya dan selalu meresap didalam hatinya, segera ia menoleh dan melihat seorang tua mengempit Tan Hok Cin dan Khu Cing San. orang itu berkumis dan berjenggot sudah putih semua, siapa lagi kalau bukan Bok-siang tojin, yang dahulu mewarisi ilmu ringan tubuh kepada Sin Houw. "Suhu!" seru Sin Houw girang. Terus saja ia lari menghampiri dan berlutut. Bok-siang tojin tertawa berkakakan. sahutnya: "Eh, sejak kapan perutmu berubah? Dahulu kau tak sudi menyebutku suhu. Akupun tak sudi kau sebut sebagai gurumu . Kau berlutut pula padaku. Apa-apaan, Hey, coba lihat, siapa dia yang berada dibelakangku!" Sin Houw mengalihkan pandang. ia melihat seorang lakilaki berusia kurang lebih empatpuluh delapan tahun. Rambutnya sudah setengah beruban. wajahnya menceritakan pengalaman yang matang. Dan melihat orang itu, Sin Houw kian menjadi girang. 973 Dialah Thio Hian Cong yang dahulu melindungi mati matian sampai nyaris mengorbankan jiwanya sendiri. cepat ia lari menghampiri dan merangkulnya erat-erat. "Susiok!" serunya penuh haru."Susiok cepat menjadi tua." Thio Hian Cong tertawa senang. ia tidak menjadi tersinggung dengan pertanyaan Sin Houw, Sahutnya: "inilah penanggungan orang yang hidup dalam kancah perjuangan. perhatian hidup terlalu terbagi-bagi." Sin Houw memeluknya kian erat, Keadaannya jauh berbeda dengan Bok-siang tojin, Meskipun usia orang tua itu sudah lanjut, namun raut wajahnya nampak segar bugar. "Tapi susiok tak kurang suatu apa, bukan?" tanya Sin Houw. "Seperti kau lihat, hidungku tetap satu, Tiada yang kurang." sahut Thio Hian Cong. Mereka berdua lalu berjalan bergandengan tangan. Hati mereka berdua terharu tergoncang pertemuan itu, Kalau saja tidak mendengar suara The Sie Ban, mereka tidak akan tersadar. "Hey!" seru jago itu, "Tan Hok Cin dan Khu Cing San adalah tamu undanganku, Kenapa kau perlakukan demikian?" Sin Houw seolah-olah tidak menggubris seruan The Sie Ban. ia menghadap kepada Sim Pek Eng. Kemudian pada hadirin, Memperkenalkan mereka berdua yang baru datang. "lnilah Bok-siang tojin, salah seorang guruku. Dan ini adalah Thio Hian Cong, salah seorang pembantu panglima Lie Hui Houw, Dia seorang ahli ilmu silat tangan kosong, dan dialah guruku yang pertama." 974 Semua hadirin menjadi terkejut mendengar nama Bhoksiang tojin, Nama itu tidak asing bagi mereka, namun jago tua itu tak berketentuan tempat-tinggalnya. ia bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya tak ubah iblis. Namun ilmu kepandaiannya sangat tinggi, termasuk golongan angkatan tua yang sejajar dengan guru mereka semua. Karena itu, serentak mereka memberi hormat. "Sudahlah! jangan menghormati aku seperti malaikat!" kata Bhok-siang to-jin, "Aku adalah manusia yang sebenarnya tidak berguna. Kerjaku hanya makan nasi atau menabuh khim. Sama sekali tiada perhatian terhadap masalah penghidupan yang hanya meruwetkan hati melulu. Tapi pada suatu hari aku mendengar beberapa orang saling membisik hendak menjual jasa terhadap kaum penjajah, Nah, inilah lain! orang boleh jahat, boleh jadi maling, Tapi kalau sampai mau menjual bangsa dan negara kepada orang asing adalah keterlaluan. Maka tak dapat lagi aku tinggal berpeluk tangan. segera aku menyusul kemari, kudengar malam ini, para pejuang kesejahteraan bangsa dan negara sedang berkumpul, Nah, hendak kulaporkan para penghianat itu kemari..." "Siapakah yang berhianat?" The Sie Ban tersinggung. sebab dia merasa sibuk melahirkan suatu persekutuan balas dendam akhir-akhir ini. "Apakah mereka bertiga? Mereka adalah jago-jago kenamaan sejak belasan tahun yang lalu.,." "Benar. Diantaranya, mereka bertiga inilah." jawab Bhoksiang tojin. ***** KAGET DAN HERAN, The Sie Ban mendengar jawaban Bhok-siang tojin, Membela: "Tidak mungkin! Mereka bertiga adalah sahabatku sejak belasan tahun yang lalu, Akh, janganlah memfitnah demikian. 975 Fitnah lebih jahat dari pada pembunuhan!" Bhok-siang tojin tersenyum lebar, sambil membanting Tan Hok Cin dan Khu Cing San diatas lantai, ia menjawab: "Aku adalah orang baik, Belum pernah aku memfitnah orang, mendendam atau mencampuri masalah penghidupan. secara kebetulan sekali, tatkala aku hendak mencuri ayam di kota, kudengar mereka saling membisik. Mereka berada ditangsi tentara penjajah, Dan merencanakan hendak menghancurkan laskar perjuangan Thio Su Seng, Maka kuikuti mereka dan kuperhatikan sepak terjangnya, Kenapa aku memfitnah?" THE SIE BAN adalah seorang pendekar yang kenamaan. ia jadi tersinggung - tanyanya dengan suara tegas: "Apakah lo-cianpwee mempunyai bukti?" Bhok-siang tojin tertawa. jawabnya. "Bukti? Apakah aku perlu mempunyai bukti untukmu? ucapan Bhok-siang tojin sudah menjadi jaminan. Apa yang kukatakan, itulah undang-undang yang berlaku. "Tentu saja, siapapun tak dapat menerima alasan itu." The Sie Ban jadi panas hati. Berkata tak senang: "Apakah alasannya untuk bisa mempercayai setiap patah perkataan lo-cian pwee?" Sekarang Bhok-siang tojin yang merasa tersinggung. ia membentak: "Gurumu sendiri tak berani mengucap demikian terhadapku, Kenapa kau berani begitu?" Sementara itu sin Houw cepat cepat bertindak. ia kenal 976 perangai dan tabiat gurunya, Kalau sampai kalap, akan jadi kacau-balau, segera ia memperlihatkan dua helai surat, dan berkata kepada The Sie Ban: "The tayhiap, tolong kau baca sendiri surat ini, agar hadirin dapat mendengar dan mengadili." Dua kali sudah The Sie Ban dikacaukan oleh lembaran surat, Yang pertama surat kesaksian, dan yang kedua adalah surat ini, yang kini berada di tangannya. Dengan hati berdebar, ia membaca. Dan baru membaca beberapa baris kalimat, ia kaget sampai berjingkrak. itulah surat perintah dari pejabat pemerintah penjajah terhadap Tan Hok Cin dan Khu Cing San. surat perintah untuk mengadu domba para pendekar dan laskar pejuang bangsa agar saling bunuh-membunuh. Dan mereka berdua di bantu oleh seorang kepercayaan pejabat pemerintah penjajah yang bernama Ku Cie Tat. Surat perintah itu diperkuat oleh dua tanda tangan dan dua cap jabatan. Setelah The Sie Ban selesai membaca surat itu, para hadirin gempar. Pian-cong tojin lompat mendekati Lo Han Bok, membentak. "Benarkah kau anak murid Siauw lim pay?" "Benar! Akulah bawahan Ku Cie Tat!" sahut Lo Han Bok yang merasa terpojok dan menjadi nekad. "Kalau begitu, kau pengacau jahanam, Ku Cie Tat sudah lama meninggalkan rumah perguruan. Dia seorang penghianat terkutuk. Kau menyebut namanya. Bagus!" bentak Pian-cong tojin sengit. Tangannya melayang dan Lo Han Bok terhajar pulang pergi sampai kedua pipinya babak belur. "Kau menghajar orang yang tidak berdaya. Apakah tidak malu?" teriak Lo Han Bok. "Aku memang pengikut Ku Cie Tat. 977 Dia memang seorang pendekar yang mengerti kehendak jaman. Kaum pe-ngacau harus dibasmi, karena itu Ku Cie Tat bergabung dengan tentara Monggolia, Bukan sebagai penghianat, tetapi justru hendak mengamankan negara dari kekacauan ..." Belum lagi selesai Lo Han Bok mengucapkan perkataannya, tinju Pian Cong tojin sudah mendarat didadanya . Dan kena pukulan itu, Lo Han Bok roboh tak sadarkan diri. Menyaksikan hal itu,semua hadirin puas. Tetapi Tan Hok Cin dan Khu Cing San terbang semangatnya. Mereka sadar akan bahaya yang mengancam dirinya. Mereka jadi berputus asa. Pian-cong tojin masih hendak memukul lagi untuk membinasakan Lo Han Bok, akan tetapi Sin Houw mencegah: "Biarlah dia memberi keterangan yang lebih jelas lagi tentang mata rantai penghianatannya. Kukira akan sangat berguna bagi kelanjutan perjuangan kita." Thio Sin houw sesungguhnya mempunyai alasan sendiri. Mendengar Lo Han Bok menyebut seorang bernama Ku Cie Tat teringatlah dia kepada pengalamannya, sepuluh tahun yang lalu tatkala dia datang ke rumah perguruan Siauw-lim Sie bersama Tie-kong Tianglo. Dialah dahulu seorang anak yang memiliki-otak sangat cerdas, sampai Tie-kong Tianglo ikut mengaguminya, Kalau sekarang dia dinyatakan sebagai seoranq penghianat, pastilah tidak bekerja seorang diri. ia percaya, bahwa mata rantai penghianatan itu pasti tersebar sangat luas. Saran sin Houw disetujui hadirin. Murid-muridnya Sim Pek Enq lalu menggusur Lo Han Bok ke dalam kamar tahanan, Dan karena sudah larut malam pesta perjamuan ditutup. Dan pada saat itu The Sie Ban 978 mendekati Sim Pek Eng, ia menyesal bukan main atas kebodohannya. Kalau saja Thio Sin Houw tidak mencampuri peristiwa persengketaan itu, pastilah perbuatannya akan menimbulkan bencana besar bagi perjuangan bangsa. Alangkah besar dosanya. Dosa yang tak terampuni lagi. Karena itu, ia minta maaf kepada Sim Pek Eng dan menyatakan terima kasih kepada Sin Houw, Katanya lagi: "Thio hiantee! Rasa terima kasihku tak terhingga. Mataku benar-benar lamur sampai tidak mengerti diriku menjadi kuda tolol. inilah akibatnya kalau bertindak terburu napsu. Yang hanya menuruti gejolak napsu pribadi. Andaikata hiantee tidak membukakan kedua mataku, dosa yang bakal kuderita tiada lagi memperoleh keampunan." "Akh, siapapun akan berbuat demikian dan sesaat karena tidak menyadari. Tayhiap berani mengakui kesalahan itulah suatu bukti, bahwa tayhiap sesungguhnya seorang ksatria. Kalau aku mengetahui siapakah Tan Hok Cin dan Khu Cing San, itulah suatu kebetulan belaka." Sin Houw membesarkan hati, Kemudian ia menceritakan betapa surat perintah itu diperolehnya. Lega hati The Sie Ban mendengar perkataan Sin Houw. segera ia mengajak rombongannya pulang. sementara tetamu-tetamu lainnya bubaran pula, Sim Pek Eng memasukkan Tan Hok Cin dan Khu Cing San ke dalam kamar tahanan, ia berjanji kepada Sin Houw hendak mencari keterangan sebanyak-banyaknya dari mulut mereka berdua. Sekarang sunyi lah suasana serambi rumah Sim Pek Eng, Tuan rumah itu mengajak Thio Hian Cong beristirahat di kamar sebelah, sedang Giok Cu tetap mendampingi Sin Houw yang duduk berbicara dengan Bhok-siang tojin. 979 "Kau bawa saja dia kekamarmu " ujar Bhok-siang tojin kepada Cu Hwa. Sudah tentu wajah Cu Hwa berubah hebat, karena ia disuruh membawa seorang pemuda kedalam kamarnya, Karena tidak berani membantah perintah Bhok-siang tojin, ia hanya berpura-pura tidak mendengar. Bhok-siang tojin tertawa. ia dapat membaca keadaan hati gadis itu dan berkata: "Kouwnio! Diapun seperti kau. Apa kah kau tidak mengetahui?" Giok Cu terbelalak. Masih ia tak percaya. Menoleh kepada Sin Houw dan minta penjelasan: "Apakah dia..." "Ya." Sin Houw mengangguk dengan tertawa, Lalu berkata kepada Giok Cu: "Perananmu sudah cukup, pakaianmu bukankah menyiksamu?" Luka dipundak mengganggu ketegaran Giok Cu, ia nampak letih dan kesakitan, sahutnya malas: "Pakaianku dirumah penginapan. Kalau aku merasa terbelenggu, tinggal membuka penutup kepala ini, Kenapa susah payah?" Sin Houw kenal tabiatnya, Gadis itu tidak boleh dipaksa. Maka ia mengalihkan pembicaraan kepada Bhok-siang tojin: "Bagaimana suhu bisa segera tahu, bahwa dia seorang wanita?" 980 "Namanyapun kukenal juga. Bukankah dia Lim Giok Cu?" sahut Bhok-siang tojin. "Hey! Dari siapa suhu mengetahui namanya?" Sin Houw heran. "Dari mulutmu." jawab Bhok-siang tojin. Sin Houw saling pandang dengan Giok Cu. Tatkala hendak minta keterangan , Bhok-siang tojin berkata: "Sebenarnya sudah lima hari ini aku dan susiokmu mengikutimu dengan diam-diam. Kalau aku lantas mengetahui temanmu berjalan itu, sudahlah pantas. Aku senang, karena ternyata kau seorang ksatria benar. sama sekali tidak mengganggunya. Lagi pula ilmu kepandaianmu maju sangat jauh, Meskipun belum tentu dapat menjajari gurumu, akan tetapi aku sudah bukan tandingmu lagi." "Suhu terlalu memuji." kata Sin Houw dengan muka merah. "Umpama benar, itu adalah berkat ajaran suhu dulu." "Aku membicarakan keadaanmu sekarang, Bukan dulu!" Bhok-siang tojin membantah. Sementara itu Cu Hwa sibuk mengambilkan arak untuk menyuguhi Bhok-siang tojin, sehingga jago tua itu menjadi girang bukan kepalang. Terus saja ia meneguk araknya, lalu bicara terus seakan-akan tak dapat lagi menguasai mulutnya. Akhirnya katanya: "Kalau kau ingin mengetahui persekutuan penghianatan pergilah sekarang juga, Aku sendiri sudah mempunyai kawan berbicara ... cawan-cawan arakku "Sucouw ..." tiba-tiba Giok Cu ikut bicara. 981 "Sucouw?" Bhok-siang tojin membelalakkan matanya. "Kau adalah sahabat muridku, karena itu panggillah aku susiok. Lagipula aku tidak sudi dipanggil sebagai kakek." Giok Cu tertawa, Lucu, guru Sin Houw yang satu ini. Lalu memperbaiki diri. Katanya: "Baiklah, Mulai saat ini aku akan menyebut susiok. Tadi susiok berkata bahwa susiok sudah mengikuti kami berdua selama lima hari yang lalu, Kalau begitu pasti tahu pula sepak terjang-nya kakak seperguruan Sin-ko. Bagaimana pendapat susiok?" "Mereka memang keterlaluan. Maksudku siperempuan itu!" sahut Bhok-siang tojin sambil menyentil cawan araknya. "Biarlah besok aku membantumu." "Tapi sebenarnya tak ingin aku berlawanan dengan mereka." ujar Sin Houw, "Apakah suhu sudi mendamaikan?" "Apa yang kau takutkan?" suara Bhok-siang tojin meninggi. "Hajar saja perempuan galak itu! seumpama gurumu menegurmu, katakan saja bahwa akulah yang memerintahmu." Sin Houw kenal adat Bhok siang tojin yang angin-anginan itu, Tak dapat jago tua itu diajak berbicara berkepanjangan. Tapi mendengar dia sanggup membantu, hatinya terhibur. Dan karena melihat Bhok-siang tojin terbenam dalam minuman keras, Sin Houw mengajak Giok Cu kembali ke tempat penginapan. ***** WAKTU ITU kira-kira pukul tiga menjelang pagi hari, selagi Sin Houw dan Giok Cu berjalan keluar rumah Sim Pek Eng. Mereka berjalan bergandengan, karena malam hari sangat pekat, Dunia agaknya terancam hujan lebat. 982 "Bagaimana? Apakah kita kembali ke rumah penginapan?" Giok Cu menanya. "Hari sudah larut malam. penjaga penginapan mungkin sedang tidur lelap, Bagaimana kalau kita melihat-lihat rumah peninggalan The sie Ban?" Sin Houw usul. "Bagus? Tapi kurasa tidak perlu tergesa-gesa, Bukankah dia berjanji dengan segera hendak meninggalkan rumah kediamannya itu? Lebih baik kita berjalan mengadakan penyelidikan. Bukankah gurumu tadi mengatakan, bahwa bila ingin menyaksikan persekutuan penghianatan sebaiknya kita cepat-cepat berangkat?" Sin Houw seperti diingatkan. Terus saja ia membawa Giok Cu berjalan cepat. Tetapi dimana dia harus pergi? Tiba-tiba teringatlah dia kepada tempat pertemuannya dengan kedua kakak seperguruannya besok petang. "Mari kita meninjau bangunan bekas tangsi penjajah itu, ingin kutahu apa sebab Sucie memilih tempat itu." ajak Sin Houw. Giok Cu manggut, sambil menahan rasa nyerinya, ia mencoba mengikuti Sin Houw yang berjalan cepat. Sebenarnya, rasa kantuk dan lukanya mengganggu ketegaran tubuhnya. Tapi entah apa sebabnya, rasa gairah hidupnya selalu bersedia berada didamping Sin Houw. Rasa enggan sekali, bila berpisah daripadanya. walaupun demikian, luka tetap luka. Lambat laun pundak dan lengannya terasa menjadi kaku juga, Tak dapat lagi ia menggerakkan tangannya dengan 1leluasa. Diam-diam ia mengeluh. Tatkala hendak menyatakan rasa gangguan itu, terdengar Sin Houw berkata: 983 "Giok-moay, sifat sucie menyerupai Sie Liu Hwa. Keduaduanya senang bersenjata pedang, Apakah mereka berdua memang guru dan murid? Menilik Sie Liu Hwa memperoleh pedang dari sucie, mungkin dia muridnya. Bukankah Kiang Yan Bu menyebut sucie sebagai gurunya pula, meskipun dia adalah muridnya Jie suheng ..." Giok Cu tertawa melalui hidungnya, menjawab: "Kau selalu memikirkan mereka dan sama sekali tidak memikirkan diriku." Ditegur demikian, barulah Sin Houw teringat akan luka yang dideritanya, pikirnya: "Aku mempunyai himpunan tenaga sakti pelindung jasmani. sebaliknya dia tidak. Akh, benar-benar aku tak memperhatikan lukanya ..." Memperoleh pikiran demikian, dengan suara minta maaf dia menyahut: "Lukamu tidak begitu membahayakan Giok-moay. Tapi memang lebih baik beristirahat dari pada tidak. Coba kuperiksanya . .." Sin Houw hendak meraih lengannya, Mendadak ia melihat berkelebatnya tiga bayangan melintasi ketinggian. Cepat Sin Houw membawa Giok Cu bersembunyi di balik batu, Kurang lebih berjarak seratus meter, pandang mata Sin Houw mengenali bayangan yang berada di depan. "Hey!" bisiknya terkejut "Itulah Kiang Yan Bu! Dia tadi berangkat bersama rombongannya Sam suheng, kenapa dia berada disini?" "Hentikan mereka!" sahut Giok Cu. "Untuk apa?" "Gurumu tadi mengatakan, bahwa ada persekutuan penghianatan. Kalau ingin mengetahui, kita harus segera 984 berangkat . Dia murid kakakmu yang kedua, tetapi mengapa dia juga menjadi muridnya kakakmu yang ketiga? Hal ini mencurigakan." Dalam hati Sin Houw membenarkan perkataan Giok Cu. Terus saja ia melemparkan pandangnya kepada tiga sosok bayangan yang masih berlari-lari, sekarang ia melihat suatu keanehan karena Kiang Yan Bu seperti dikejar oleh dua orang. siapakah mereka? "Cepat hentikan!" Giok Cu mendesak. Sin Houw percaya kawan seperjalanannya itu sangat cerdas. Pasti ia mempunyai alasan apa sebab memerintahkan menahan Kiang Yan Bu. Maka cepat-cepat ia memungut sebutir batu, kemudian di timpukkan, Tepat timpukannya. Kiang Yan Bu roboh terjungkal, dan dua orang pengejarnya segera menangkapnya, "Kiang Yan Bu, kau bodoh!" bentak laki-laki yang bertubuh sedang. "Hemm!" Kiang Yan Bu menggerendeng, "Ku Cie Tat, kau boleh membunuh aku, tetapi jangan mencoba menghina!" "Siapa yang menghina?" Ku Cie Tat tertawa, "Sejak dahulu aku sudah berusaha membantumu. Tidak hanya untuk merebut kedudukan mulia, tapipun calon isteri yang cantik." Hati Sin Houw tergetar, itulah lagu suara yang paling berkesan didalam hatinya, Suara seorang yang sudah tidak asing lagi baginya, yang dahulu pernah menipu kakek gurunya, Tie-kong Tianglo. Dialah murid Siauw-lim, yang dahulu hanya berupa seorang kacung kecil. Dan dalam detik itu juga, SinHouw teringat kepada pengalamannya yang pahit. Hampir saja ia mati kena tangan jahat seorang pendeta yang bernama Cie 985 kong Taysu! "Agaknya Kiang Yan Bu menghadapi kesukaran," pikirnya didalam hati. Dan ia bermaksud hendak menolongnya. Oleh pikiran itu, tangannya meraba dan mengambil segumpal tanah, Tiba-tiba Giok Cu menyentuh tangannya, Berbisik: "Sabar, Dia menyebut tentang kedudukan dan isteri yang cantik, Apakah kau tidak tertarik?" Sementara itu Kiang Yan Bu seperti mati kutu dihadapan Ku Cie Tat. ia nampak gelisah, Namun keberanian serta sifat bandelnya, tiada sama sekali sehingga Sin Houw heran benar. Apakah dia takut menghadapi dua orang lawan? "Aku salah seorang murid Hoa-san pay, tak boleh aku bergaul dengan orang jahat..." terdengar Kiang Yan Bu memberikan jawaban. Ku Cie Tat tertawa, dan memotong perkataan Kiang Yan Bu: "Mengenai kau murid kaum Hoa-san pay, aku sudah mengetahui sejak dahulu, kenapa? Apakah kau tidak tertarik lagi? Baiklah, kalau begitu calon isteri mu kuambil sendiri. Kau tak perlu lagi berhubungan denganku. Bukankah aku ini orang jahat?" Kiang Yan Bu hendak membuka mulut lagi, tiba-tiba orang yang berada disamping Ku Cie Tat menyambung: "Kau belum memberi laporan kepada kami, lalu berusaha kabur ditengah malam. Apakah kau menghendaki kami membongkar rahasiamu dihadapan kakek gurumu? Kuingin lihat, apakah kau masih berani mengaku sebagai murid HoaKANG ZUSI WEBSITE http://cerita-silat.co.cc/ 986 san pay." Terkejut hati Sin Houw mendengar orang itu menyinggungnyinggung gurunya, Bok Jin Ceng, Apa maksudnya dengan kata-kata membongkar rahasia? ia melihat Kiang Yan Bu gelisah bukan main setelah mendengar ancaman itu. pastilah rahasia yang sangat menententukan, pikir Sin Houw. "Aku bukan kabur, tapi aku tak mau berbicara disini." kata Kiang Yan Bu dengan suara bergetar. "Selamanya aku baik terhadapmu, tapi kau selalu menyusahkan aku. ingat pula kedudukanku, aku berjanggung jawab langsung kepada pemerintah," sahut Ku Cie Tat, Kemudian berkata kepada temannya: "Gochinta, kau jelaskan kepadanya, apa sebab kita mencarinya." Kini tahulah Sin Houw siapa orang itu, Menilik namanya, dia orang Mongolia, Kata Gochinta kepada Kiang Yan Bu: "Siauw ongya sudah berkenan menerimamu, Beliau telah percaya pula kepadamu, sehingga kau diberinya tugas penting, Kau ditugaskan untuk meracuni orang-orang gagah yang sedang berkumpul disini, kenapa tak kau lakukan?" "Tak dapat aku berbuat begitu... selain tidak berdaya, guruku tiba-tiba datang pula." jawab Kiang Yan Bu. "Gurumu! selalu kau menyebut gurumu untuk menyusahkan kami berdua, pada hal guru yang mana lagi?" Ku Cie Tat menggerutu. "Apakah kau hendak membangkang perintah Siauw ongya? Kau tahu sendiri, apa hukumannya terhadap seorang kepercayaannya yang menghianati" "Bunuhlah aku!" tantang Kiang Yan Bu cepat, "Memang aku tak pantas lagi hidup didunia, Aku seorang yang berdosa besar. setiap kali memejamkan mata-ku, bayangan guruku selalu berada didepanku ..." 987 "Berkali-kali kau menyebut guru, Guru yang mana?" potong Ku Cie Tat. "Guruku yang pertama. Pui Tong Kim." sahut Kiang Yan Bu dengan suara menggeletar, "Karena itu, aku akan sangat berterima kasih bila kau mau membunuhku." "Baik!" bentak Gochinta. Orang itu mencabut pedang panjangnya dan menga-yunkan tangannya. "Tahan!" cegah Ku Cie Tat, "Gochinta, bila dia tetap membangkang tak perlu kita sendiri yang membunuhnya biarlah dia mempertanggung jawabkan kesalahannya sendiri. Nah, kita bebaskan saja dia!" "Membebaskan? Lantas, bagaimana kita bertanggung jawab terhadap atasan ...?" seru Gochinta tak mengerti. "Dia membunuh gurunya sendiri, Pui Tong Kim, Dia berdosa terhadap diri sendiri dan rumah perguruannya. pastilah dia akan dibunuh oleh kaumnya sendiri. Apa perlu kita bersusah payah?" Perkataan Ku Cie Tat itu tak ubah halilintar menyambar hati Sin Houw tatkala mengadu kepandaian dengan Kiang Yan Bu, ia melihat kebandalan dan kekurang ajaran keponakan murid itu. walaupun Nie Sun Kiong sudah memperingatkan, namun tetap ngotot. Rupanya dia bermaksud membunuhnya benar-benar dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya - hal itu masih dapat dimengerti, karena terdorong oleh rasa penasaran Akan tetapi bila dia sampai hati pula membunuh gurunya sendiri? Ha! Mimpipun rasanya takkan pernah terjadi!" "Kenapa dia sampai membunuh gurunya?" pikir Sin Houw pada detik itu. Dan kenapa pula Jie suhengnya bisa diKANG ZUSI WEBSITE http://cerita-silat.co.cc/ 988 bunuhnya? walaupun Kiang Yan Bu memiliki ilmu pedang ajaran Sun Ho Liang suami-isteri, rasanya belum cukup sebagai bekal membunuhnya! Mendadak terlintaslah bayangan cerita ibunya Giok Cu, tentang teraniayanya Gin-coa Long-kun. Apakah Jie suhengnya juga kena racun sebelum terbunuh ? "Ku Cie Tat!" kata Kiang Yan Bu, dengan suara gemetar. "Kau sudah bersumpah tidak akan membocorkan rahasia ini, kenapa kau membuka mulut?" Ku Cie Tat tertawa. sahutnya: "Kau hanya ingat sumpahku saja, tetapi lupa kepada sumpah sendiri. Kau bersumpah padaku, bahwa mulai waktu itu kau akan patuh kepadaku. Sekarang, katakan terus terang, kau atau aku yang melanggar sumpah? Kalau kini aku membuka rahasia, adalah didepan orang kita sendiri. Gochinta akan menutup mulut, selama kau tidak membangkang perintahku" "Baik, Tapi betapapun juga aku tak akan mau mengulangi sejarah dengan meracuni orang-orang gagah sebelum membunuhnya. Bukannya takut kepada mereka, tetapi karena aku jelek-jelek orang ksatrya juga, Apalagi kau menghendaki aku membunuh semua orang-orang gagah, termasuk kakek guru dan guruku. Tak dapat aku berbuat demikian." sahut Kiang Yan Bu. Mendengar perkataan Kiang Yan Bu, benarlah dugaan Sin Houw, Kakak seperguruannya mati terbunuh oleh racun dan dibunuh setelah punah tenaganya. Pada saat itu, ia mendengar Ku Cie Tat tertawa lagi, Kata orang itu: "Kiang toako, siapakah yang tidak mengetahui bahwa kau seorang ksatrya, bukannya aku memerintahkan kau 989 membunuh mereka dengan racuh jahat. Aku hanya menghendaki supaya mereka lumpuh kemudian kita tangkap. Sekarang, marilah kita rundingkan ditempat kediaman Ong-ya. Disana, kawan-kawan telah berkumpul." "Kenapa kesana?" tanya Kiang Yan Bu heran. "Kau hendak bertemu dengan Cie Lan gadismu itu, atau tidak?" sahut Ku Cie Tat menyertai tawa lagi. "Baik, mari kita pergi ..." kata Kiang Yan Bu. "Sebenarnya, bagaimana Cie Lan sampai bisa berada dalam tanganmu ?" "ltulah berkat pertolongan Gochin-ta." jawab Ku Cie Tat. ia berpaling kepada Gochinta dan mengejapkan matanya. "Ha, baru kali ini aku memberitahukan kepadamu. Dia seorang perwira yang besar kekuasaannya, Meskipun begitu, dia bersedia mengalah terhadapku. selagi dia makan minum disebuah kedai arak, ia melihat tiga orang yang menarik perhatiannya. setelah diselidiki, ternyata mereka merupakan orang-orang yang ada harganya untuk diambil. Gochinta membiarkan yang tua tak terusik, Tetapi yang dua orang ... haha- ha! Tetapi kau tak usah cemas. Legakan hatimu karena calon isterimu yang cantik, kami perlakukan sebagai tamu terhormat." Sin Houw mengeluh. Tiga orang yang disebutkan itu, siapa lagi kalau bukan Lauw Tong Seng, Cie Lan dan Ciu San Bin? Teringat akan perbekalan laskar perjuangan, ia jadi sibuk. pikirnya : "Dengan susah-payah, Toa suheng merebut uang perbekelan kembali dari pihak Cio-liang pay, sekarang Ciu San Bin tertawan. Jangan-jangan perbekalan itu ada padanya. Jika sampai kena dirampas oleh pihak penjajah, kesulitannya untuk merampas kembali sepuluh kali lipat jadinya . . ." Memperoleh pikiran demikian, segera ia menajamkan 990 telinganya. ia yakin kakak seperguruannya itu tidak bakal tinggal diam, Apalagi bila perbekalan itu sampai dirampas. Dia pasti bersedia mengorbankan jiwanya. Tetapi - baik Cie Tat maupun Gochinta, tidak menyinggung lagi soal penangkapan itu. Keruan saja ia jadi bingung. "Kiang toako!" kata Cie Tat sambil menyarungkan pedangnya, "Bila kau sudah berhasil melumpuhkah orangorang gagah itu, kau akan menambah kekuatan kita, Apalagi kalau pihak Hoa-san pay sudah dapat kukuasai. Hem, kita tinggal menggertak saja kepada pihak penjajah, untuk minta sebidang tanah sebagai imbalan kita!" Ku Cie Tat menyudahi perkataannya dengan mengajak Kiang Yan Bu dan Go-chinta untuk meninggalkan tempat itu. Kini Sin Houw mengetahui apa sebab keponakan muridnya itu bersedia jadi pembantu ku Cie Tat. Kecuali tergila-gila terhadap Cie Lan, dia merasa berdosa karena telah membunuh gurunya sendiri. Benar-benar manusia pengecut dan berbahaya! Sin Houw belum pernah bertemu dengan Jie suhengnya, akan tetapi ia merasa diri wajib menuntut ba-las, Dan tiba-tiba saja ia bergerak hendak mengejar silaknat itu. Giok Cu agaknya sudah dapat menebak hatinya. Cepat menyanggah: "Jangan! Kau tak akan dapat berbuat seorang diri. Kalau kau dapat mengetahui penghianatannya, hanyalah karena kebetulan saja. Dapatkah kau memaksa gurumu dan semua saudara seperguruanmu mempercayai laporanmu? Kedudukanmu pada saat ini tidak menguntungkan, Kedua kakak seperguruanmu curiga padamu. Bila mereka mendengar matinya susiok Pui Tong Kim lewat mulutmu justru kaulah yang mula-mula akan ditangkapnya. Sebab, siapapun tak akan percaya, Pui susiok mati ditangan muridnya . Akupun tidak, seumpama aku salah 991 seorang murid gurumu. Apa arti kepandaian Kiang Yan Bu, bila dibandingkan dengan gurunya? Apalagi jika kau membunuh Kiang Yan Bu pula. Karena itu, paling tidak, kita harus mencari saksi dan saksi itu kecuali kedua kakak seperguruanku yang mencurigaimu, setidaknya seorang pendekar tua seperti Bhok-siang Tojin." Sin Houw tersadar dari tidur lelap, Tak dapat ia membantah pendapat Giok Cu. Bahkan diam-diam ia heran apa sebab kali ini Giok Cu bisa berbicara begitu panjang dan matang. Perlahan-lahan ia memperhatikan wajahnya, kemudian berkata terharu: "Benar, Hatiku kusut sehingga pikiranku tidak bekerja, Coba katakan padaku , apakah yang harus kulakukan?" Giok Cu tersenyum, sahutnya: "Mereka akan berunding di tempat kaum penjajah. Kalau kau ingin mengetahui corak persekutuan itu lebih luas lagi, barangkatlah sekarang. Aku sendiri akan mencoba mencari saksi." "Siapa?" "Bhok-siang Tojin dan Sim susiok. Tapi awas! Kalau kau ingin melihat Cie Lan, jangan tinggalkan aku!" sahut gadis manja itu. Sin Houw terbawa geli, selagi ia hendak membuka mulut, Giok Cu berkata lagi: "Kau cukup meninggalkan tanda-tanda tertentu disepanjang jalan. Dan aku akan segera menyusulmu." Giok Cu tidak menunggu persetujuan Sin Houw. setelah berkata demikian, ia pergi. Sin Houw tertegun. Aneh, perasaannya. Dahulu, ia dapat pergi atau berpisah tanpa 992 kesan, Sekarang, begitu gadis itu meninggalkannya, ia merasa seperti kehilangan. Dengan pandang kosong ia mengikuti kepergian Giok Cu sampai bayangannya hilang di gelap malam . Sin Houw kemudian memilih arah yang diambil oleh Ku Cie Tat bertiga. Baru saja ia sampai di perbatasan kota, tiba-tiba muncullah seseorang dari gerombolan rumput, Orang itu muncul sambil menarik goloknya. Cepat Sin Houw melompat, Bagaikan anak panah, tubuhnya berkelebat melewatinya, Orang itu heran, apakah ia salah melihat? Bukankah tadi dilihatnya sesosok tubuh berkelebat mendatanginya. Kenapa tiba-tiba lenyap? Hampir satu jam Sin Houw berlari kesana-kemari, tetapi masih belum memperoleh petunjuk. Tiba-tiba ia melihat sebuah bangunan yang menarik perhatiannya. Bangunan itu nampak berdiri sangat tinggi dan dilindungi pagar tembok yang sangat kuat, Dan melihat bangunan itu, Sin Houw berpikir: "Apakah ini yang digunakan sebagai tempatnya Siau ongya?" Samar-samar ia melihat sinar api, Dan melihat sinar api itu, ia menjadi yakin bahwa bangunan itu yang dikatakan Cie Tat sebagai tempat pertemuan. Selagi ia berpikir, tiba-tiba melesatlah sesosok bayangan keluar dari sebuah jendela. Gerakan orang itu cepat luar biasa. Dan dalam sekejab mata saja lenyap dikegelapan malam, sekiranya bukan Sin Houw yang bermata tajam, berkelebatnya bayangan itu tak akan dapat tertangkap oleh penglihatan. Tak usah dikatakan lagi, bahwa orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Dengan hati bertanya-tanya, Sin Houw lari 993 mendekati bangunan itu. Setibanya disamping bangunan, dengan menjejakkan kakinya Sin Houw melesat keatas tembok pagar. Tiba-tiba hatinya tergetar. ia mendengar suara orang yang sangat dikenalnya. itulah suara Ceng Go, salah seorang anggauta Cio-liang pay yang berangasan. Dia bicara dengan Gochinta dibawah rindang sebatang pohon. Kata Ceng Go: "Cie Tat benar-benar seorang yang tak tahu diri. Dia bukan wakil pemerintah penjajah, bukan pula ketua aliran. Tapi lagaknya seperti seorang pembesar. Malam sudah mendekati pagi, kenapa kita harus berkumpul lagi?" Gochinta mendeham, Lalu menjawab: "Tetapi betapapun juga, dia seorang yang tinggi akalnya. oleh petunjuknya aku dapat membekuk dua orang penting. Yang perempuan dibawanya ke Sun-hin, dan yang laki-laki disekap disini." "Hm ... apanya yang hebat?" dengus Ceng Go. "Anak tolol itu pernah kami tangkap ditempat kami." Girang hati Sin Houw mendengar pembicaraan itu, siapa lagi yang dibicarakan kalau bukan Cie Lan dan Ciu San Bin. Hati-hati ia mendekati jendela dan mengintai kedalam, Ternyata pertemuan itu dilangsungkan di sebuah pendopo dalam yang tertutup oleh suatu bangunan tinggi. Ceng Go dan Gochinta mencampurkan diri diantara hadirin yang berjumlah kira-kira enampuluh orang, seorang Mongolia berpakaian militer, duduk di sebuah kursi. Cie Tat yang berdiri di depannya berkata nyaring: "Kiang toako sudah sadar kembali. Dia adalah murid tertua aliran Hoa-san pay angkatan kedua. Bila situa Bok Jin Ceng, kurasa dialah yang bakal menggantikan kedudukannya." 994 "Dan gurunya?" tanya orang Mongolia itu. "Bukankah gurunya sudah mati?" "Oh, ya, Ha-ha-ha!" orang Mongolia itu tertawa. "Bukankah dia mati karena racun?" "Benar, itulah berkat jasanya dia ... Ong-ya." kata Cie Tat, sekarang tahulah Sin Houw, bahwa orang Mongolia itulah yang disebut-sebut sebagai Ong-ya. Kiang Yan Bu nampak mendongkol mendengar pembicaraan itu, ia mengerlingkan matanya kepada Cie Tat, Kata-nya dengan suara terpaksa: "Hal itu karena demi membalas budi saudara Cie Tat, Aku sangat kagum dan rela mengabdi padanya." Ku Cie Tat tertawa menang. Katanya: "Kiang toako! Semua yang hadir disini, adalah temanteman sendiri. Toa-ko tak perlu segan lagi. Katakanlah secara terus terang." ia berhenti, kemudian berkata kepada orang Mongolia, "Gadis tawanan kita yang bernama Cie Lan, sebenarnya merupakan kekasihnya Kiang toako. Mereka berdua telah berjanji kelak akan hidup sebagai suami isteri. Diluar dugaan gadis itu kemudian jatuh hati kepada seorang pemuda lain yang bernama Thio Sin Houw ... eh, bukankah begitu, Dia dirampas oleh pemuda itu !" "Dimana?" tanya Ong-ya itu. "Menurut kabar, mereka berdua pernah berkenalan tatkala masih kanak-kanak, Kemudian mereka bertemu kembali dirumah keluarga Cio-liang pay. salah seorang anggauta 995 keluarga Cio liang pay hadir disini, Dia bersedia menjadi saksi." kata Cie Tati "Ha, itulah dia ... teman seperjuangan kita yang baru, saudara Ceng Go." Ceng Go yang berdiri disamping Gochinta, manggutkan kepalanya. Dan melihat anggukan Ceng Go, si Ong-ya nampak puas. ia mengalihkan pandangnya lagi kepada Cie Tat yang belum selesai bicara. Kata pemuda itu: "Karena marah, Kiang toako minta bantuanku, Aku bersumpah hendak memberikan bantuan, Dan rupanya Tuhan membantu maksud kita yang baik, secara kebetulan, dia bisa kita tangkap bersama si tolol." Mendongkol Sin Houw mendengar perkataan Cie Tat, Jelas sekali banyak bohongnya, Akan tetapi hadirin seperti kena sihirnya, Mereka menelan saja semua perkataannya. Orang Mongolia itu tertawa, lalu berkata: "Aku tidak bisa menyalahkan atau mencela kelemahan saudara Kiang, sejak dahulu orang bersedia mati demi calon isterinya yang cantik jelita, Bila mereka berdua kelak terangkat jodohnya, siapapun akan merasa iri hati ..." Ku Cie Tat ikut tertawa, lalu ia berkata lagi: "Gadis itu kami tangkap dengan si tolol. Kabarnya dia murid paman guru Kiang toako yang bernama Lauw Tong Seng yang bersahabat erat dengan si pemberontak Thio Su Seng, Bahkan menurut kata saudara Ceng Go, dia pula yang membawa perbekalan laskar pemberontak!" Orang Mongolia itu seperti merasa diingatkan. segera memberi perintah: "Coba bawa masuk tawanan itu!" 996 Jantung Sin Houw berdetak keras. ia memutuskan hendak menolong pemuda itu, bila dia terancam bahaya, segera ia merangkak mendekati ruang pertemuan itu, Hampir berbareng dengan gerakannya, empat orang menggusur seorang tahanan dari dalam kamar sebelah. Dialah Ciu San Bin, Tangannya terikat, Meskipun demikian, nampak gagah dan tak kenal takut, Tatkala lewat didepan Ku Cie Tat, ia membuka mulutnya dan menyemburkan ludah, Cie Tat mengelak, tangannya melayang menampar pipi. Plok! Tak dapat San Bin menghindar. seketika itu juga pipinya membiru. "Binatang! Kau berlututlah dide-pan Ong-ya!" bentak tentara yang mengawalnya. Ciu San Bin memang seorang pemuda yang bandel dan berani. Sama sekali ia tak mau berlutut. Bahkan dengan tibatiba ia menyemburkan ludahnya, Karena jaraknya sangat dekat, ong-ya tak dapat mengelakkan. Kepalanya yang botak dihinggapi sebuah gumpalan ludah Ciu San Bin. Ku Cie Tat mendongkol bukan main, sekali lompat ia mengayunkan kakinya, Dan pemuda itu roboh terjungkal dilantai. "Bangsat! Apakah kau benar-benar sudah bosan hidup?" makinya. Ciu San Bin lompat bangun. Garang ia membalas membentak: "Hm! Kau kira aku takut mati? Kau boleh membunuh aku sekarang juga, tapi jangan harap kau bisa mengorek mulutku Ku Cie Tat bisa menahan diri. Melihat Ong-ya menyusuti ludah Ciu San Bin, perlu ia menaikkan derajat atasan itu dihadapan hadirin. Katanya nyaring dan gagah: 997 "Ong-ya! pemuda ini memang luar biasa. Kepandaiannya melebihi keempat murid Bok Jin Ceng, Karena itu, tidak boleh kita menganggap rendah padanya." "Betulkah itu?" Ong-ya atau Raja muda Mongolia itu menyahut cepat, wajahnya yang suram agak menjadi jernih. "Bagaimana dengan gurunya sendiri? Apa dia lebih unggul?" "Murid Bok Jin Ceng ada beberapa orang, kecuali Thio Sin Houw, kalah dalam hal apa saja. Maka betapa penting arti dia, tak usah kita jelaskan lagi." Ceng Go dan Gochinta tercengang mendengar keterangan Cie Tat tentang kepandaian Ciu San Bin. sebab kedua-duanya pernah menyaksikan kepandaian murid Lauw Tong Seng itu, Tapi tak lama kemudian tahulah mereka, apa sebab Ku Cie Tat mengangkat-angkat kepandaian Ciu San Bin. Maksudnya untuk menolong muka Ong-ya yang kena ludah. "Oh, jadi dia muridnya Lauw Tong Seng? siapa namanya?" Ong-ya minta keterangan. "Ciu San Bin." jawab Cie Tat. "Jadi, dia kemenakan murid berandal Thio Sin Houw? Bagus! Benar-benar besar jasamu." Ong-ya menghadiahkan pujian dengan tertawa lebar. "Petang tadi, Thio Sin Houw meruntuhkan nama para jago secara beruntun. Mereka lantas menyatakan bersedia berada dibawah perintahnya. sekarang kita dapat membekuk salah seorang kemenakannya, Maka dapatlah dia kita jadikan semacam sandera, agar Thio Sin Houw menjadi jinak." Tercengang Sin Houw mendengarnya. Mereka bisa menyebut dan membawa-bawa namanya 998 begitu lancar. Agaknya mereka sudah agak lama mengenal namanya. Mungkin sekali, namanya sudah dibuat pembicaraan mereka. "Binatang!" maki San Bin, "Kau jangan bermimpi yang bukan-bukan! Pamanku itu hanya tunduk kepada kakekguruku. Dia seorang yang gagah perkasa - biarpun kalian maju berbareng, belum pantas menandingi sepatunya saja ..." Ceng Go yang pernah merasakan ketangguhan Sin Houw, merah padam wajahnya. Tetapi Cie Tat yang pandai berpikir, tertawa terbahak-bahak. Katanya: "Ciu San Bin! Kau memuji paman-gurumu terlalu tinggi. Karena itu, aku ingin sekali kami bertemu dan berkenalan Kebetulan sekali, kau sekarang berada disini, Biarlah malam ini, kau ku sekap disini, Aku tanggung, paman gurumu itu akan datang menolongmu. Dan pada saat itu, kami semua muncul. Aku ingin tahu, dia dapat berbuat apa?" San Bin marah bukan main, itulah suatu perbuatan licik dan terkutuk. ia lalu berseru: "Kalian seperti kura-kura, yang hanya berani memperlihatkan punggungnya tetapi menyembunyikan kepalanya kalau kalian menganggap diri seorang pendekar, tantanglah pamanku itu secara berhadapan!" Ku Cie Tat tidak bersakit hati kena dimaki, ia bahkan tertawa lagi, Katanya: "Akh, ternyata kau sayang kepada paman gurumu itu, Agaknya harganya melebihi perbekalan laskar yang kau bawa, bukankah kau yang membawa perbekalan itu?" Ciu San Bin terkesiap. ia merasa terjebak. Namun ia tak merasa gentar. setelah berdiam diri sejenak, ia menjawab: 999 "Benar. Memang aku yang membawa perbekalan itu!" "Ha, bagus! sekarang, dimana perbekalan laskar itu?" "Apakah kalian benar-benar menghendaki perbekalan itu?" Ciu San Bin menegaskan. ia sekarang hendak menggunakan kecerdikannya, dengan berpura-pura akan menunjukkan dimana uang perbekalan itu berada. Akan tetapi Cie Tat bukanlah tandingannya dalam hal mengadu kepandaian maupun kecerdasan. ia seperti dapat membaca pikiran San Bin, sahutnya: "Memang benar kami membutuhkan uang perbekalan itu. jumlahnya cukup lumayan untuk menguburmu. Bukankah uang perbekalan itu telah kau telan?" San Bin tertegun. Didalam hati ia mengutuk kalang-kabut, Dasar wataknya keras hati, ia lantas mengikuti jebakan Cie Tat, Katanya: "Benar, Uang perbekalan itu memang sudah kutelan. Lihatlah, perutku menjadi gendut!" "Oh, begitu?" Cie Tat tertawa. "Kalau begitu, biarlah kuperiksanya isi perutmu. Dengan begitu, aku dapat membuktikan kepada hadirin, bahwa perkataanmu tidak dusta!" Cie Tat tidak hanya menggertak. Benar-benar ia hendak membuktikan perkataannya, ia menghunus pedangnya dan diancamkan ke perut San Bin, Katanya: "Coba, katakan sekali lagi bahwa uang perbekalan itu berada didalam perutmu ! " "Kau tak percaya? Buktikanlah,.!" jawab San Bin berani. 1000 "Bukankah sudah kukatakan, bahwa kau boleh membunuhku dimana saja dan kapan saja. Tapi jangan harap dapat mengorek mulutku!" Setelah berkata demikian, San Bin menyemburkan ludahnya, Tetapi Cie Tat bisa mengelakkan semburan itu. Kali ini hatinya panas. Terus saja ia bergerak hendak menikam perut San Bin, sekonyong-konyong melesatlah sesosok bayangan kedalam ruangan pertemuan itu sambil membentak: "lnilah Thio Sin Houw!" Ku Cie Tat memutar tubuhnya. Tangan kirinya menyambar kearah leher tapi dengan gerakan yang sangat indah, bayangan itu dapat mengelak. Ternyata bayangan itu seorang pemuda berwajah tampan, dengan mengenakan pakaian serba ringkas dan tutup kepala warna hijau. Sin Houw tersirap darahnya. segera ia mengenali siapa pemuda itu, Dialah Giok Cu yang menyamar sebagai seorang pemuda. Begitu cepat ia datang, pikirnya, oleh perasaan girang dan syukur, ia sampai berseru tertahan. untunglah pada saat itu, ruang pertemuan jadi sibuk. Semua hadirin lagi bersiaga bertempur. Mereka yang hadir pada pertemuan itu, belum mengenal Giok Cu. Kecuali Ceng Go dan Kiang Yan Bu. Mereka berdua mempunyai dendamnya masing masing, Kiang Yan Bu mendongkol karena Giok Cu adalah teman Sin Houw yang ikut menertawakan kekalahannya. Dan Ceng Go berdendam hati karena gadis itu anak musuh besarnya. Karena gara-garanya, keluarga Cio-liang pay sampai mengalami kekalahan. Karena itu, mereka berdua segera bergerak hendak maju, Tatkala itu terdengar Cie Tat membentak: "Sebenarnya siapa kau? pastilah kau bukannya Thio Sin Houw!" 1001 "Aku Thio Sin Houw, murid kelima Bok Jin Ceng." jawab Giok Cu, "Mengapa kau menangkap kemenakan muridku? Bebaskan dia! Dalam segala halnya, aku yang bertanggung jawab!" Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tawa melalui hidung, Dialah Ceng Go. Kata jago yang berangasan itu: "Anak haram! Kau bisa mengelabuhi orang, tetapi mataku belum lamur, Mungkin sekali hadirin belum pernah melihat dan mengenal Thio Sin Houw, tetapi kau tahu sendiri bukan? Aku telah mengenal iblis itu dengan baik." ia kemudian berpaling kepada 0ng-ya. Berkata seperti mengadu: "Ong-ya! sebenarnya dia seorang perempuan. Dialah keponakanku. Namanya Giok Cu, Tatkala meninggalkan rumah, ia berangkat bersama-sama dengan Thio Sin Houw dan Lauw Tong Seng, Karena itu, kita harus bersiap siaga!" Mendengar laporan Ceng Go, Ong-ya segera berteriak nyaring: "Gochinta! Bawa beberapa orang berjaga-jaga diluar gedung, Hajar setiap musuh yang hendak mencoba masuk!" Gochinta memberi hormat, Dalam sekejap mata terdengarlah teriakan anak buahnya yang bersiap-siap menyambut kedatangan musuh. Menyaksikan hal itu wajah Giok Cu berubah. segera ia bertepuk tangan memberi tanda sandi, dan melompatlah dua orang melewati pagar tembok. Merekalah Sim Pek Eng dan Thio Hian Cong. "Tangkap mereka!" perintah Ku Cie Tat. Empat orang tentara segera menerjang. Akan tetapi mereka bukan tandingan Sim Pek Eng berdua. Dalam tiga jurus saja, mereka semua sudah terluka parah. Gochinta 1002 cepat-cepat membantu dengan pedang panjang ditangan, Tetapi Thio Hian Cong yang berada di samping Sim Pek Eng melepaskan pukulan. Itulah pukulan Hok-houw ciang yang dahulu Sin Houw pernah belajar, seketika itu juga Gochinta terpental mundur. Ceng Go tentu saja tak tinggal diam, Begitu melihat Gochinta terpental mundul dalam satu gebrakan saja, segera ia melesat ke gelenggang dan menghantam Sim Pek Eng dengan pukulan yang menerbitkan deru angin dahsyat. Thia Sin Houw segera mengenal pukulan yang lihay itu, Diam-diam hatinya cemas. Sim Pek Eng tak berani ayal lagi. Cepat-cepat ia mengerahkan ilmu saktinya, Maka begitu keduanya saling bentur, baik Ceng Go maupun Sim Pek Eng terhuyung satu langkah. Ceng Go terkejut, suatu hawa yang sangat dingin menembus urat pergelangan dan menusuk sampai ke ketiak, sebaliknya Sim Pek Eng kena terserang hawa panas, sehingga darahnya bergolak dalam rongga dadanya. Ia terperanjat dan menentang lawannya dengan pandang tajam, sekilas pandang, ia melihat betapa pucat wajah Ceng Go. Biji matanya menjadi merah. itulah suatu tanda bahwa lawan itu sedang menderita hebat. Menyaksikan hal itu, diamdiam ia bergirang hati. Segera ia mengambil keputusan untuk mendahului menyerang. ia maju selangkah dan menghantam lagi. Tenaga sambarannya bergelombang memenuhi empat penjuru. Dengan demikian, tak dapat Ceng Go mengelak. Mau tak mau ia harus membendung gelombang pukulan itu dengan ilmu saktinya sendiri. 1003 Disudut lain, Thio Hian Cong sedang menghadapi keroyokan Gochinta dan anak buahnya yang bernama Muchxnka, Ke duanya bersenjata pedang panjang, karena itu Thio Hian Cong terpaksa pula, melawan mereka dengan pedangnya. Meski dikepung dua orang, dia nampak tangguh dan dapat berkelahi dengan tabah. Dengan rasa cemas, Ku Cie Tat mengikuti pertempuran Ceng Go dengan Sim Pek Eng, sebagai salah seorang anggauta Cio-liang pay, Ceng Go memiliki tenaga pukulan yang dahsyat luar biasa. Jago itu sudah terkenal namanya sejak puluhan tahun yang lalu, Kenapa kali ini ia tak dapat bertahan menghadapi adu tenaga dengan lawannya? Napasnya sudah mulai memburu, keadaannya nampak payah sekali. Cie Tat kenal watak dan perangai keluarga Cioliang pay. Biasanya tak sudi memperoleh bantuan. Tetapi dia sedang menghadapi kekalahan, apakah akan dibiarkan saja? Ku Cie Tat kemudian mencabut pedangnya dan menyerang Sim Pek Eng, Hebat jurus serangannya. Begitu pedangnya berkelebat, Sim Pek Eng terpaksa melompat mundur. Dan Ceng Go dapat bernapas lega, Mereka berdua kemudian mendesak Sim Pek Eng dengan hebatnya. Setelah Sim Pek Eng dan Thio Hian Cong turun tangan, sebenarnya Giok Cu ingin segera melarikan diri, Tetapi ia kena dipegat Kiang Yan Bu yang menyerang dengan pedangnya. Dalam mengadu ilmu pedang, Giok Cu bukan lawan Kiang Yan Bu? Dalam keadaan terdesak, gadis itu melepaskan pukulan-pukulan aneh yang diperolehnya dari kitab warisan ayahnya. Ia mempelajari pukulan pukulan itu apabila sedang beristirahat manakala kurang jelas, ia memperoleh keterangan dari Sin Houw, walaupun belum pernah berlatih dengan sungguh hati, namun pukulan-pukulan ayahnya memang aneh sifatnya dan dahsyat luar biasa. 1004 Bagaikan kilat ia melepaskan tiga pukulan berantai, itulah pukulan-pukulan yang dicangkok ayahnya dari sari ilmu pedang berbagai aliran yang di gabung menjadi satu. Kiang Yan Bu terperanjat bukan kepalang, oleh kaget, hampir-hampir dia tak dapat menangkis. Untung, ia memiliki gerakan yang cepat luar biasa dengan menjejakkan kakinya, ia melompat mundur. Kemudian melesat maju dari samping sambil menyandarkan pedangnya. Ong-ya yang selama itu memperhatikan jalannya pertempuran ikut menarik pedangnya, Melihat Kiang Yan Bu terdesak mundur, ia segera melompat membantu, Dengan demikian Giok Cu kena dikepung dua lawan! Semuanya itu tak lepas dari pengamatan Sin Houw, segera ia hendak menolong Giok Cu. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara Bhok-siang Tojin yang muncul diatas pagar tembok. sambil mulutnya menggeragoti paha ayam, orang tua itu berteriak nyaring: "Hey! Kau mundur saja, inilah pertempuran antara laki-laki dan laki laki, kau sendiri nanti saja bertempur dengan Sin Houw!" jelas teriak suaranya ditujukan kepada Giok Cu, dan Giok Cu memberikan jawaban: "Baik! Manusia ini mengaku jadi murid Hoa-san pay. Tetapi nyatanya ia menjadi budaknya bangsa asing, Karena itu, meskipun aku seorang perempuan, ingin menghajarnya. Kau tolonglah me-wakilkan aku!" Pembicaraan mereka itu sudah tentu tidak lepas dari pendengaran Ong-ya yang segera memerintahkan pasukannya untuk mencegat gerakan maju Bhok-siang Tojin yang masih bercokol diatas pagar dinding. 1005 Akan tetapi Bhok-siang Tojin bukan manusia lumrah. Kepandaiannya setaraf dengan Bok Jin Ceng, selagi pasukannya Ong-ya bersiaga dibawah pagar dinding, tiba-tiba ia menimpukkan tulang paha ayamnya. Hebat akibatnya. Meskipun hanya tulang paha ayam, akan tetapi disertai tenaga dalam. Dan dengan suara mengaung, tulang itu menyambar kearah Ong-ya! Orang Mongolia itu seperti terpaku, tatkala melihat tulang paha ayam mengarah padanya. Tapi karena belum takdirnya mati, seseorang mengulurkan tangan untuk menolongnya. itulah Cie Tat. Jago muda ini memang memiliki rasa tajam dan kecerdikan yang mengagumkan. Begitu mendengar pembicaraan Giok Cu dan Bhok-siang Tojin, ia sudah dapat menduga. Meskipun yang menjadi sasaran adalah sang Ong-ya, akan tetapi dapat bergerak cepat, ia mendorong dengan menggunakan sedikit tenaganya, dan kena tenaga dorongnya, Ong-ya itu terpental mundur kebelakang. Dan tepat pada saat itu, tulang paha ayam Bhok-siang Tojin menghantam tempat bekas Ong ya itu berdiri. Dan bagaikan kejapan kilat, Bhok-siang Tojin tahu-tahu sudah berada didepan Cie Tat, Betapa cepatnya ia mampu bergerak, sukar dilukiskan lagi. Keadaan menjadi kalut, dan kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Giok Cu, Gadis itu lantas saja kabur ke pekarangan, ia dikejar Kiang Yan Bu dan Gochinta. Giok Cu sudah hampir mencapai tujuan, tatkala tiba-tiba kakinya kena sambar tiga batang pedang. Hatinya seakanakan terbang, dan seluruh tubuhnya menjadi dingin. Ia tergencet dari belakang dan dari depan. Dengan mati-matian, 1006 ia berhasil mengelakkan dua pedang yang menyambar dari depan. Tetapi yang dari belakang tepat sekali menghantam kakinya. untunglah, pedang yang menghantam kakinya itu bukan bagian yang tajam. itulah gerakan pedang yang membalik setelah luput dari sasaran. walaupun demikian karena yang menghantam memiliki himpunan tenaga dalam kuat luar biasa, ia roboh ditanah. Orang yang merobohkan Giok Cu adalah Kiang Yan Bu. Dalam keadaan kalut tak sudi ia melepaskan mangsanya. Melihat Giok Cu hendak kabur, ia melompat mengejar. Tatkala itu Gochinta dan Muchinka menghadang. itulah kesempatan yang bagus sekali. Begitu Giok Cu sibuk menangkis kedua pedang lawannya, ia menikam dari belakang. sasarannya ternyata dapat dihindari. Namun dengan kecepatan kilat, ia menarik pedangnya kembali dan bagian tumpulnya menghantam kaki Giok Cu. setelah itu maju selangkah dan membalikkan pedangnya. Karena berniat hendak menangkap gadis itu hidup-hidup, ia menghantarkan hulu pedangnya . Pada saat itu tiba-tiba pedang Gochinta berkelebat menangkis gagang pedang Kiang Yan Bu. Dan berbareng dengan itu, nampaklah sesosok bayangan melesat keluar dari dinding pagar dengan kecepatan yang sukar dilukiskan. Kiang Yan Bu berpaling kepada Gochinta, dan membentak dengan suara marah: "Mengapa kau membiarkan dia kabur dan menangkis pedangku?" "Menangkis?" Gochinta melotot. "Bukankah kau yang memukul balik gagang pedangku? 1007 Kenapa...?" "Jangan bergurau! Ayo, kejar!" Mereka segera memburu keluar. Di samping pintu gerbang, mereka bertemu dengan seorang tentara yang patah kakinya sehingga tak dapat berdiri lagi. segera mereka menghampiri dan berta-nyalah Gochinta: "Mana dia?" "Siapa?" tentara itu terbelalak. "Perempuan tadi, yang lari melintasi pagar tembok." "Perempuan yang mana? Kami tidak melihat seorang manusiapun." tentara itu heran. Gochinta gusar bukan main, ia membentak: "Apa kau buta? Kalau kau tidak bertemu dengan manusia, kenapa kakimu patah? Setan kau! Jelas sekali perempuan itu melintasi pagar tembok. Kenapa matamu tak melihat?" Seorang tentara lain datang menghampiri, lalu membangunkan rekannya. "Tay-ya, yang melompat melintasi pagar tembok adalah temanku ini, Aku ikut jadi saksinya, bahwa tiada seorang lain yang lari keluar tangsi ini ..." kata tentara yang baru datang. "Kenapa kau melompati pagar?" Gochinta menanya lagi, berobah sabar. Dengan gugup dan menahan rasa sakit, tentara itu menjawab: "Aku ... aku ... kena ditangkap... dan dilemparkan keluar." 1008 "Siapa yang melemparkan?" "Entah, Tadi Tay-ya membicarakan, tentang perempuan. Kalau dia yang lari keluar, maka dia pula yang telah melemparkan diriku sehingga kakiku patah." Tak dapat Gochinta mengumbar rasa marahnya. Dia menghadapi suatu kenyataan Tentara itu patah sebelah kakinya, pasti bukan akibat dipatahkan dengan tangannya sendiri. Teringat akan teguran Kiang Yan Bu, ia menoleh kepada jago muda itu dan bertanya minta keterangan: "Mengapa kau tadi memukul pedangku? Apa maksudmu? jangan kau coba mempermainkan kami!" Kiang Yan Bu meluap darahnya. Namun karena merasa diri berada dibawah perintah, ia menahan darahnya yang bergolak, jawabnya: "Sebenarnya bukan aku yang memukul pedangmu. Tapi justru kaulah yang menangkis pedangku ketika aku hendak memukul kepala perempuan itu." "Omong kosong!" bentak Gochinta. "Apa perlu aku memukul gagang pedangmu...?" sejak tadi Gochinta berkesan kurang baik terhadap Kiang Yan Bu. Kalau saja Cie Tat tadi tidak mencegahnya, ujung pedangnya sudah menikam perutnya jago muda dari Hoa-san pay itu. Oleh karena itu, ia menyudahi perkataannya dengan membabatkan pedangnya dengan sungguh-sungguh. Kiang Yan Bu segera menangkis tanpa segan-segan lagi, Begitu kedua pedang itu saling bentur, mereka berdua mundur selangkah. Kiang Yan Bu terkejut, tangannya tergetar dan panas. Sama sekali tak diduganya bahwa orang Mongolia 1009 itu,mempunyai himpunan tenaga dalam yang kuat, Bahkan lebih unggul dari tenaganya sendiri. sebaliknya Gochinta tak kurang pula rasa terkejutnya. Lengannya mendadak terasa pegal, pikirnya didalam hati: "Pantaslah Cie Tat mengharapkan tenaga bantuannya, Dia memiliki tenaga yang luar biasa hebatnya." Setelah berpikir demikian, ia membentak kalap: "Kau berani melawanku? sebenarnya kau hendak membantu kami atau seorang mata-mata?" Gochinta hendak mengulangi serangannya. Tiba-tiba sesosok bayangan menangkis pedangnya. Gochinta menoleh. Dan melihat Cie Tat berada di depannya sambil berkata: "Gochinta! Sabar dulu!" "Ha, Cie Tat! Coba adili peristiwa ini!" teriak Gochinta. Cie Tat mengalihkan pembicaraan. Bertanya: "Ke mana larinya perempuan tadi?" "Ha, justru itulah soalnya." sahut Gochinta, "Dialah yang melepaskan." "Aku?" bentak Kiang Yan Bu. "Apa keuntunganku melepaskan dia?" Selagi mereka bertengkar, Bhok-siang Tojin, Sim Pek Eng dan Thio Hian Cong sudah tiada nampak batang hidungnya lagi, Melihat Giok Cu terbebas dari kepungan tentara, mereka bertiga jadi berlega hati, sambil tertawa mereka menyerang secara mengamuk dengan sepenuh tenaga. Setelah itu dengan berbareng mereka keluar pagar tembok. Dan sebentar saja tubuh mereka lenyap dari penglihatan. 1010 YANG MENOLONG Giok Cu dari ancaman bahaya adalah Thio Sin Houw, sejak tadi, pemuda ini memperhatikan pertempuran antara Giok Cu dan para pengepungnya dengan rasa cemas. Menuruti kata hati, ingin ia segera muncul dan melabrak kaki-tanqan kaum penjajah itu, akan tetapi suatu perhitungan lain menusuk benaknya. "Cie Lan dan Giok Cu benar-benar dalam bahaya," pikirnya, "Mereka terancam kehormatan dirinya. Mereka bahkan akan dirusak dahulu kehormatannya, sebelum dibinasakan..." Oleh pikiran itu, segera ia melesat turun dan mendorong pedang Gochinta agar memukul gagang pedang Kiang Yan Bu. Tenaga saktinya pada waktu itu sudah mencapai tingkat yang tinggi luar biasa, sehingga dapat digunakan sesuka hatinya. sifatnya halus dan dahsyat. Kiang Yan Bu dan Gochinta yang berkepandaian tinggi sampai dapat di kelabuhi tanpa merasa, setelah pedang mereka saling bentur, masing-masing saling menuduh dan menyalahkan. Sin Houw tidak sia-siakan kesempatan itu, sebelum para penjaga sadar akan bahaya, cepat luar biasa ia menyambar seorang tentara dan dilemparkan keluar pagar tembok. Dia sendiri lantas melesat keluar pintu gerbang dengan menggendong Giok Cu. Setelah berada ditengah perjalanan, barulah ia menurunkan dan membiarkan Giok Cu berlari-lari disebelah depannya sampai ke tempat penginapan. Sin Houw kemudian meninggalkan Giok Cu, karena ia bermaksud menolong Cie Lan yang katanya ditahan di Sunhin. Perjalanannya mengarah ke barat, tak lama kemudian ia 1011 menemukan tanda-tanda jejak sepatu, Niscaya bekas jejak tentara penjajah. Tatkala tiba di Sun-hin, fajar hari telah menyingsing. "Pasti Cie Lan berada dalam penjagaan kuat," pikirnya didalam hati, setelah makan pagi, segera ia mencari tempat yang disebutkan Cie Tat, Ternyata merupakan sebuah gedung milik seorang hartawan. Mungkin sekali pemiliknya ditangkap atau diancam demikian rupa, sehingga terpaksa menyerahkan kediamannya yang serba mewah. Dengan sekali pukul saja, daun pintu gedung itu terbang dan menimpa dua jambangan emas yang hancur berderai. Hati Sin Houw pagi itu memang sedang mendidih. ia merasa dipermainkan dan jijik terhadap Kiang Yan Bu yang mengaku telah membunuh gurunya sendiri. Walaupun belum pernah berjumpa dengan Jie-suhengnya, akan tetapi sebagai salah seorang adik seperguruannya sudah sewajarnya wajib menuntut balas, Alangkah keji murid hianat itu, Karena itu, ia bertekad hendak mengadu kepandaian serta melampiaskan hawa marahnya, bagaimana akibatnya ia tak memperdulikan lagi. Dengan langkah lebar ia berteriak keras-keras: "Hei orang-orang jahanam! suruhlah Cie Tat dan Kiang Yan Bu keluar menemui aku!" Tiba-tiba belasan orang datang berlarian dari dalam sebuah kamar. Ketika itu hari masih terlalu pagi. Kebanyakan diantara mereka masih menikmati tidurnya. Tahu-tahu mereka terkejut, tatkala mendengar hancurnya pintu dan dua jambangan ikan, Dengan serentak mereka keluar. Melihat datangnya Sin Houw, segera mereka bersiaga." "Siapa kau?" bentak mereka. 1012 Sin Houw tak sudi membuang waktu lagi, ia mendorongkan tenaga saktinya dan bagaikan rumput kering, belasan orang itu terpental membentur dinding dan jendela. Kemudian Sin Houw lompat menghampiri pintu tengah. Dan begitu pintu tengah itu hancur berderai, nampaklah Cie Tat dan Kiang Yan Bu sedang makan minum dengan gembira. Ku Cie Tat dan Kiang Yan Bu sebenarnya mendengar suara ribut di serambi depan. Mereka memerintahkan Ceng Go untuk menyelidiki, tetapi Sin Houw sudah tiba didepan mereka. Dengan sekali sambar, Sin Houw melemparkan Ceng Go yang hendak mencapai pintu tengah ke dalam. Cie Tat cepat melompat sambil membentangkan kedua tangannya. Tangkapannya tepat. Meskipun demikian ia terhuyung beberapa langkah. Dan menyaksikan hal itu, tokohtokoh Rimba persilatan yang hadir menjadi terkejut, Mereka tahu, Ceng Go bukan orang sembarangan, sedang Cie Tat adalah pemimpin mereka. Namun dalam satu gebrakan saja sudahlah jelas siapa yang lebih unggul diantara mereka. Tetapi Sin Houw terkejut juga, ia sudah menggunakan hampir seluruh himpunan tenaga dalamnya. Namun mereka berdua bisa mempertahankan diri tak kurang suatu apa, itulah suatu tanda bahwa kesaktian Cie Tat tidak boleh dipandang ringan, selagi terkejut, Sin Houw girang pula, ia melihat Cie Lan dari jauh, duduk disebelah kiri Kiang Yan Bu, sejenak ia tertegun melihat Cie Lan. sebaliknya Cie Lan berseru girang sekali: "Sin koko!" Dengan serentak, Cie Lan bangkit dari tempat duduknya. Tiba-tiba ia merasakan gemetaran dan roboh di atas kursinya kembali. Tahulah Sin Houw, bahwa Cie Lan kena siksa tertentu. 1013 Dengan hati panas ia lompat hendak menolong. Tiba-tiba punggungnya terasa kena pukulan Kiang Yan Bu dan Gochinta yang dilontarkan dengan berbareng. Tetapi Sin Houw tidak menghiraukan. Kesaktiannya cukup kuat menahan pukulan mereka. Tangannya terus menyambar, dan sebentar saja Cie Lan sudah berada dalam pelukannya. Dengan menjejakkan kakinya, ia membawa Cie Lan terbang melintasi meja perjamuan. Tentu saja anak buah Cie Tat tidak tinggal diam, Dengan serentak mereka bergerak mengepung. Tetapi Sin Houw tidak sudi memberi kesempatan. Dengan sebelah tangannya menggempur sambil lompat mundur. "Cie Lan, apakah kau bisa bergerak?" bisiknya. "Kedua kakiku terasa lumpuh." jawab gadis itu. Teringatlah Sin Houw kepada sepak terjang gadis itu tatkala dahulu melawan pihak Cio-liang pay. sekarang ia nampak tak berdaya. Maka tak usah dijelaskan lagi, bahwa ia lumpuh akibat siksa Cie Tat dan kawan-kawannya. "Biarlah kakimu kupijat." kata Sin Houw, "Apakah kau sudi kupanggul di-atas pundakku?" Belum lagi gadis itu menjawab paras muka Sin Houw terasa panas sendiri . Meskipun bermaksud baik, tetapi sangat tidak sedap dipandang mata, Apa lagi dihadapan orang banyak. Maka ia mengurungkan niatnya. Bisiknya: "Sebentar lagi aku akan melompat mundur. carilah pegangan kuat-kuat agar tidak terlempar. Apakah kedua tanganmu dapat bergerak dengan bebas?" "Dapat." sahut gadis itu, 1014 Lega hati Sin Houw, Tanpa siasia-kan waktu, ia mendorongkan tenaga sak-tinya, Lalu pada saat itu pula, ia berjungkir balik tinggi diudara dan melesat keluar pintu. seperti kelelawar ia terbang melintas. Tatkala anak buahnya Cie Tat memburu dengan berteriak, tubuhnya lenyap dari penglihatan. Dengan berlari-larian kencang Sin Houw memanggul Cie Lan, Kira-kira menjelang tengah hari, ia sudah berada di penginapan. Tatkala memasuki kamarnya Giok Cu, gadis itu tiada nampak batang hidungnya. Setelah merebahkan Cie Lan diatas ranjang, Sin Houw menemukan sepucuk surat dari Giok Cu. Ternyata isinya hanya coretan yang mirip peta penunjuk. Dibawahnya terdapat suatu keterangan: "Telah kuselidiki rumah ini, Kutemukan peta ini, Aslinya ada padaku. Kalau tetap pada rencana semula - susullah aku, Kalau hatimu berada pada kekasihmu itu, jangan mencoba menemui aku lagi." Sin Houw terpaksa tersenyum pahit dan entah apa sebabnya, hatinya tiba tiba terasa sakit dan iba. Pikirnya: "Latar belakang penculikan Cie Lan rasanya tidak sederhana, Kalau aku jadi terlibat, akan sia-siakan harapannya Giok Cu. Cie Lan memang temanku sejak kanakkanak. ibunya sangat baik kepadaku, dan akupun berhutang budi. . sebaliknya, Giok Cu adalah puteri tunggal Gin-coa Long-kun. seumpama tidak mewarisi kepandaian ayahnya, jiwaku sudah lama melayang. Dia kini menjadi anak yatim pula, Akh, tak boleh aku membiarkan dia pergi seorang diri." Memperoleh pikiran demikian, per-lahan-lahan ia memasukkan surat Giok Cu kedalam sakunya. Kemudian bergegas ia menjenguk Cie Lan yang masih saja belum dapat bergerak. 1015 Sin Houw memeriksanya. setelah bermenung sejenak, berkatalah ia kepada gadis itu: "Lan-moay, di kota ini ada sahabatku. Bagaimana kalau kau kuserahkan kepadanya?" Cie Lan manggut menyetujui. Dan Sin Houw kemudian membawa gadis itu ke rumah Sim Pek Eng, setelah itu segera ia menyusul kepergiannya Giok Cu. ***** DUA HARI dua malam Thio Sin Houw melakukan perjalanan. Dan pada hari ke tiga sampailah ia disebuah telaga yang jernih airnya, segera ia berhenti dan duduk diatas batu yang mencongak ditebingnya. udara kala itu biru jernih - matahari bersinar cerah namun tidak menyakiti tubuh karena tertahan lapisan hawa gunung yang sejuk. Sekarang, ia merasa agak lelah maka ia mencari suatu keteduhan dan membaringkan diri diatas rumput yang hijau muda, Tak terasa ia tertidur dan tatkala menyenakkan mata, matahari sudah condong kebarat, sekarang ia merasa lapar dan dahaga. Dilayangkan pandangnya mencari sebuah kedai, Tetapi dusun itu terlalu miskin, sama sekali tiada terdapat seorang penduduk yang berjualan, Bahkan penduduknya seperti bersembunyi didalam rumahnya masing-masing. "Aneh," pikir Sin Houw di dalam hati, "Dusun ini seperti berada dalam keadaan perang. sunyi sepi. Terlalu sunyi, malah." Ia berjalan lagi sampai melalui dua petak sawah, masih saja ia belum melihat seorang penduduk yang dapat di ajaknya berbicara. Leher dan perutnya mulai mengganggu. ia 1016 layangkan matanya kekanan dan kekiri, siapa tahu, mungkin diantara rumah penduduk yang terlindung oleh kerindangan pohon pohon terselip sebuah kedai penjual minuman. Syukurlah setelah melampaui sepetak sawah lagi, samarsamar nampaklah sebuah kedai yang berada ditepi jalan, Kedai itu berbentuk seperti paseban seorang pegawai istana, Atapnya dari jerami kering dan dindingnya terbuat dari bambu ian setengah papan. Penunggu seorang wanita tua berumur kira-kira tujuh puluh tahun. Dan melihat semuanya, legalah hati Sin Houw. Sin Houw segera singgah. Di depan halaman terdapat sebuah pasu air, dan ia mencuci mukanya. Dan terdengarlah perempuan tua itu berteriak ke dalam rumah: "Kouw-kouw, ada tamuuuu ...!" Dari dalam rumah muncul seorang gadis kira-kira berusia tujuh belas tahun. ia datang dengan membawa sebuah nampan berisi air teh berikut penganan yang seakan-akan sudah disediakan jauh sebelumnya. Dan dengan tersenyum pendek, ia meletakkannya didepan meja Sin Houw. Sin Houw memperhatikan gadis itu. Dia tidak begitu cantik, akan tetapi serasi dan lembut. Pakaian yang dikenakan dari bahan kasar. Berbaju merah dan rambutnya dikuncir dua. Kulitnya putih halus. jelaslah sudah, bahwa dia bukan keturunan seorang penduduk asli, Paling tidak ia berdarah bangsawan. Apalagi gerak-geriknya lembut dan sopan . Setelah menyajikan hidangan itu, dia kembali masuk ke dalam, Diam-diam Sin Houw melongokkan matanya. Ternyata gadis itu sedang duduk menyulam sepunting bunga. Teringat akan kemungkinan gadis itu anak keturunan bangsawan, maka Sin Houw mencoba mengajak berbicara dengan nenek penunggu kedai. Kemudian bertanya: 1017 "Sebenarnya bagaimana aku harus memanggilmu, naynay?" Nenek itu tertawa, Menjawab: "Aku tidak mempunyai nama, orang-orang kampung menyebutku naynay, Nah, panggil saja aku nenek tua." Sebagai seorang yang berpengalaman, tahulah Sin Houw bahwa nenek itu tak senang memperkenalkan namanya. segera ia mengalihkan pembicaraan dan sama sekali tak menyinggung lagi soal nama. Selagi demikian, datanglah ampat orang menunggang kuda. Mereka bertubuh kasar. Gerak-geriknya seperti bajingan murahan. Dengan berbareng mereka lompat dari atas kudanya, dan langsung mendekati si nenek. Kata seorang yang bertubuh kekar: "Hey, nenek! Apakah kau kemarin melihat ada seorang gadis menunggang kuda lewat disini?" Nenek itu memiringkan kepalanya, menyahut: "Kau berkata apa?" Orang itu nampak mendongkol. Lalu membentak: "Aku bertanya padamu, apakah kau kemarin melihat seorang gadis menunggang kuda lewat disini?" Nenek itu tertawa geli sambil ia menggelengkan kepalanya. Dan sin Houw terkesiap hatinya. pikirnya : "Apakah bukan Giok Cu yang dimaksud ?" Memperoleh dugaan demikian, Sin Houw memperhatikan 1018 mereka berampat, Melihat dandanannya seperti anak buahnya The Sie Ban, Mengapa mereka mengejar Giok Cu? "Bagaimana? Kau lihat tidak?" bentak orang itu. Nenek itu masih saja tertawa, jawabnya : "Telingaku memang aneh. Kalau di ajak bicara perlahan, bisa mendengar, Tetapi kalau mendengar suara kasar malah buntu." Sin Houw tahu, bahwa nenek itu hanya berpura-pura tuli, Maka tahu pula dia, bahwa nenek itu menggenggam suatu rahasia. sebaliknya empat orang itu jadi tidak sabar lagi. Kata yang bertubuh besar: "Gadis itu merampok rumah kami" ia membongkar sumur, kemudian minggat. setelah kami periksa sumur itu, belasan batang panah beracun terlontar dari dalam, Dua orang teman kami mati sekaligus . Karena itu kami datang hendak menangkapnya. Taruhkata kau tuli, pasti matamu dapat melihatnya." Tetapi nenek itu masih saja tertawa, Dan orang bertubuh kekar itu kehilangan kesabarannya. Tiba-tiba saja ia maju dan hendak menghantam nenek itu, Menyaksikan hal itu, Sin Houw tidak tinggal diam. ia melompat dan meng-halangkan tangannya, suatu benturan tak dapat dihindarkan lagi, dan orang itu mundur sempoyongan dengan mata terbelalak. "Siapa kau?" bentaknya. "Nenek itu kurang pendengarannya, kenapa kau hendak main pukul?" Sin Houw balas membentak. "Lagi pula bagaimana kalian tahu, bahwa gadis yang kalian cari itu lewat disini?" 1019 "Gadis itu meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan kemana dia hendak pergi. Karena itu kami mengejarnya." sahut orang bertubuh kekar itu. Tapi karena tadi merasakan kehebatan tenaga Sin Houw, ia lantas membalik tubuh. Dengan suatu isyarat mata, ia mengajak ketiga temannya meninggalkan kedai minum itu. "Hey!" tiba-tiba si nenek tua itu memanggil. "Kau tadi bertanya apa? sudah kukatakan, telingaku ini aneh, Ka-lau diajak bicara keras, tidak mendengar. Terlalu perlahan, juga tuli. sebaliknya kalau sedang, pandai ia mengangkat tiap patah perkataanmu. Coba ulangi pertanyaanmu dan berbicaralah dengan suara sedang," Orang bertubuh kekar itu membalikkan badannya. Berkata dengan suara sedang: "Kami mencari seorang gadis menunggang kuda. Apakah kau melihat dia lewat disini?" "Oh, gadis cantik menunggang kuda ,,.?" ulang nenek itu, "Benar, Kemarin kulihat dia pada waktu begini. Dia malahan singgah disini, Dia berpesan padaku, bila ada yang mencarinya diharapkan menyusul ke telaga Thay-ouw." Hati Sin Houw tergetar. Tiada lagi ia bersangi bahwa gadis itu pasti Giok Cu. ia meninggalkan pesan untuk dirinya, Dan orang bertubuh kekar itu lantas melompat keatas pelana kudanya, Kemudian dengan berderap, ia membawa ketiga temannya mengarah ke timur. "Kouw-kouw, catat!" seru si nenek kepada gadis yang sedang menyulam. "Sudah, Nih, lihat!" sahut gadis itu sambil memperlihatkan sulamannya, Ternyata jumlah bunga sulamannya sudah tujuh. siapa yang dua orang lagi? pikir Sin Houw. 1020 Pemuda itu menjadi sibuk sendiri. Dalam hatinya ia merasa heran. pastilah gadis dan nenek itu bukan sembarang orang. Akan tetapi ia tidak takut, ia percaya pada kepandaiannya sendiri. Andaikata mereka berdua musuh dalam selimut yang akan merugikan dirinya, rasanya ia tak perlu gentar menghadapinya. "Sebenarnya siapakah gadis yang dicarinya itu?" ia mulai bertanya. Nenek tua itu tertawa ramah. sahutnya : "Anak muda! Kau seorang baik hati, biarlah aku memberi keterangan kepadamu . Gadis itu tidak memperkenalkan namanya. ia cantik, tapi sepak terjangnya kejam, Kemarin ia melukai dua orang tamu." "Salahnya sendiri." sambung gadis itu, "Mereka mengganggu, Malahan tidak tahu diri. Merekalah yang mencoba mengganggu, dan gadis itu lalu menghajarnya. Hebat caranya. Dengan sekali gerak, kedua musuhnya kena dilukai. Kemudian berkata: Kalau masih ingin menuntut balas, carilah aku disekitar telaga Thay-ouw!" Heran Sin Houw mendengar keterangan gadis itu, pikirnya: "Giok Cu hendak membongkar harta karun atas petunjuk peta ayahnya. seharusnya dilakukan dengan diam-diam, tapi apa sebab ia justru menghendaki agar diikuti orang?" Sin Houw mencoba memahami, tetapi tetap tak mengerti maksudnya, ia tahu, Giok Cu jauh berpengalaman dalam masalah hidup liar dari pada dirinya. Ia pun cerdik pula, Gerakgeriknya sulit diduga dan seringkali mengandung maksud yang dalam. "Baiklah, nek, Akupun akan segera pergi." akhirnya ia berkata. 1021 Nenek itu memanggut. ia mengerlingkan matanya kedalam, Sin Houw mengikuti pandang nenek itu dengan diam-diam, sekarang jumlah bunga itu menjadi delapan. Tahulah dia, bahwa dirinya sudah tercatat pula. Ia lantas berangkat. setelah meninggalkan dusun itu, segera ia berlari mengarah ke timur. Memang, dalam perjalanan jarak jauh, menunggang kuda lebih menguntungkan. Tetapi kuda tidak dapat diajak menerobos atau memotong jalan melewati jurang atau hutan belantara yang padat. Sebaliknya, Thio Sin Houw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, dapat dengan leluasa memotong arah perjalanan, Dengan ilmu saktinya, dapat ia melompati jurang dan mendaki bukit dengan cepat. ia tak merasa canggung, karena sudah biasa hidup di atas gunung, dan sebentar saja telaga Thayouw sudah nampak didepan matanya. Ia beristirahat sejenak ditepi telaga memperhatikan pemandangan sekitarnya. Pada waktu itu telaga Thay ouw masih tertutup rimbun belukar. Disana sini masih terdapat gugusan gugusan air yang liar sehingga, kesannya menyeramkan. Hutan padat memagarinya, dan sekali-kali terdengar aum binatang buas yang mencari mangsa. Sin Houw kemudian membuat sebuah rakit. setelah selesai, ia naik diatas rakitnya dan mengayuhnya tak ubah sebuah perahu, Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang gemerlap tergantung di atas sebatang pohon, Apa itu? Bergegas dia membawa rakitnya menepi dan diperhatikannya. Ternyata sebuah kunci terbuat dari emas murni! "Kunci apakah ini?" pikir Sin Houw heran. Setelah diteliti dan diciumnya, ia kaget karena mengenali bau Giok Cu, segera ia yakin gadis itu niscaya tak jauh dari 1022 tempat itu pula. Tatkala hendak melangkahkan kaki-nya, ia melihat suatu coretan di atas sebuah batu: Di telaga Thay-ouw. Di atas gunung Bu-tong Dengan kunci emas Mencari harta leluhur..." Sin Houw menjadi kian heran, Jelas Giok Cu sengaja memancing kedatangan orang, Entah apa maksudnya. Tak usah disangsikan lagi, bahwa harta karun itu berada diatas gunung, Akan tetapi dimana letaknya? Gunung Bu tong termasuk gunung raksasa. Bukankah dirinya tak ubah sebatang jarum diatas permukaan laut? Sin Houw kemudian naik kerakitnya lagi, Dalam hal ini, ia tak boleh gegabah . pasti ada liku-likunya yang pelik . siapa tahu, kalau dirinya sedang diintai seseorang! Hawa gunung luar biasa dinginnya. untunglah, tadi ia membekal pengenan dari kedai si nenek. Dan sambil makan penganan, ia memperhatikan alam sekitarnya. Ketika matahari sepenggalah tingginya, ia mendarat dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Tak lama kemudian tibalah ia disebuah ketinggian. Dengan berlari-lari ia mendaki bukit itu, Begitu tiba diatasnya, ia heran . Dibawah sana tergelar petak sawah yang indah. Nampak pula taman bunga yang teratur. Harumnya semerbak. "Milik siapakah sawah dan taman bunga itu?" ia menebak didalam hati, "Apakah seorang petapa?" Ia menuruni bukit, sambil berjalan ia mencoba memikirkan, 1023 sampai kemudian ia bertemu dengan seorang tua. Orang tua itu sudah tua usianya, Rambut dan jenggotnya telah memutih. Dandanannya mirip seorang petani, tetapi wajah dan pandang matanya jernih. Maka tahulah Sin Houw, bahwa orang itu niscaya memiliki kepandaian sakti. "Apakah siauw-ya datang untuk ber-pesiar?" tanya orang tua itu yang tidak secara langsung memberikan keterangan . "Benar." sahut Sin Houw singkat. "Gunung Bu-tong san adalah gunung bersejarah sejak dahulu kala, Tidak akan selesai jika hanya dikagumi. Juga sawah ladangnya indah permai, takkan dapat menghilangkan duka cita, Kecuali bila siauw-ya berada di gunung ini beberapa hari lamanya." kata orang tua itu dengan ramah. Sin Houw merasakan keramahan itu, Nampaknya dia sopan pula, Maka tanyanya dengan hormat: "Bolehkah aku mengetahui nama lo-cianpwee?" "Akh, namaku tak ada artinya. Lebih baik kita saling mengengkau, Dengan demikian, perasaan kita jadi lebih bebas, dan pergaulan kita akan jadi akrab." Sin Houw menyetujui saran itu jawabnya: "Benar." "Selama hidupku, aku berdiam di atas gunung ini." kata orang tua itu, "Dusun tempat kediamanku disebut orang Kamsie cun. Bila siauw-ya hendak menginap beberapa hari di gunung ini, silahkan menginap di rumahku." "Kau baik sekali, lo-cianpwee. Te-rima kasih. Hanya saja, aku khawatir akan menganggu lo-cianpwee." 1024 Orang tua itu tertawa lebar, sahutnya: "Kenapa siauw-ya berkata begitu? inilah peristiwa yang sederhana saja, Siauw-ya datang ke sini untuk berpesiar, kebetulan sekali aku mempunyai sebuah gubuk. Lalu, siauwya berkenan menginap di gubukku, Bila cocok, kita berdua akan jadi sahabat. Bila tidak, siauw-ya dapat pergi dengan bebas merdeka. Apakah yang mengganggu diriku?" Sin Houw heran dan girang mendengar perkataan orang tua itu, Tak usah disangsikan lagi, bahwa ia seorang terpelajar atau berpendidikan. Maka segera ia menghampiri dan membungkuk hormat, ia merasa puas dapat berkenalan dengan dia. Memang, didalam hatinya ia bermaksud mencari seseorang yang dapat menemani atau memberi petunjuk yang berharga dalam pencarian harta warisan Gin-coa Long-kun, Syukurlah, bila bisa memberi kabar tentang beradanya Giok Cu. Orang tua itu menunjuk ke arah lereng gunung, sambil berkata: "Desa Kam-sie cun terletak dilereng gunung itu. Disana tidak terdapat sesuatu yang berharga, kecuali sayur-mayur dan sekedar ikan kering, Bila siauw-ya hendak berpesiar, silahkan dahulu. sebentar malam hendaklah kau singgah di gubukku, Kami akan berusaha menyediakan ikan segar dan minuman hangat. Mungkin sekali kita dapat bicara berkepanjangan." "Terima kasih." sahut Sin Houw, yang kemudian mendaki gunung, Kelakuannya seperti benar-benar sedang pesiar, tetapi sesungguhnya ia selalu memasang mata. Sampai tengah hari ia berjalan kadang-kadang melihat seorang petani sedang menggarap sawah dan beberapa orang penebang pohon. Ketika matahari telah tenggelam, 1025 segera ia kembali ke rumah orang tua itu hendak menetapi janji. Ternyata rumah orang tua itu seperti rumah seorang kepala kampung, serambi depannya lebar dan luas. Berpagar batu dan berpintu gerbang. Begitu tiba didepan pintu gerbang, seorang gadis yang cantik luar biasa membuka pintu. Pandang matanya bersinar tajam, Kulit wajahnya putih halus, dan perawakan tubuhnya padat semampai. Sin Houw hendak membuka mulutnya atau gadis itu telah mendahului. Dia tertawa manis sekali sambil berkata: "Apakah siauw-ya yang datang ke mari untuk berpesiar? Ayahku telah membicarakannya tadi ..." Sin Houw mengucapkan terima kasih, lalu mengikuti gadis itu masuk kedalam. pekarangan rumah yang dilaluinya, penuh bunga aneka warna yang semerbak harumnya, Bila pemilik rumah tidak berpendidikan, mustahil dapat mengatur taman yang seindah itu, Rasanya tidak kalah dengan taman bunga di kota besar. Ayah gadis itu ternyata sudah menunggu diserambi depan dengan tertawa ramah. Diatas meja benar-benar telah tersedia beberapa guci tempat arak dan beberapa mangkok makanan. "Bagaimana kesan siauw-ya tentang telaga Thay-ouw kami?" "Benar hebat dan agung." jawab Sin Houw dengan sesungguhnya. "Keindahannya lebih menarik dari telaga Cuiouw." "Apakah siauw-ya pernah melihat telaga Cui-ouw juga?" "Secara kebetulan aku lewat dan berkesempatan menikmati keindahannya," ujar Sin Houw, dan orang tua itu 1026 tertawa lebar. Katanya: "Hanya sayang sekali. seseorang jarang sekali dapat menghargai keindahan gunung dan telaganya, Mereka lebih tertarik kepada jabatan tinggi dan logam yang berwarna kuning. sayang, bukan?" Mendengar perkataan itu, Sin Houw terperanjat pikirnya didalam hati: "la menyebut logam kuning. Bukankah emas yang dimaksud? Apakah ia sudah dapat menduga maksud kedatanganku ke sini? Akh, aku terlalu curiga ..." Memperoleh pertimbangan demikian, hatinya jadi tenteram kembali. Tatkala tuan rumah mempersilahkan meneguk minuman keras, ia dapat melayani dengan baik dan wajar. Kemudian bicara tentang kesenian, kebudayaan dan lain sebagainya. Dengan demikian mereka berbicara seperti dua sahabat yang akrab. Hanya saja masing-masing tidak menanyakan nama dan asal usul masing-masing, seakanakan suatu pantangan. Setelah meneguk beberapa cawan arak, orang tua itu nampak menjadi pusing. Dengan tertawa mohon maaf. Katanya: "Tenagaku tidaklah sekuat seperti dulu, kepalaku sudah pusing. Perkenankan aku mendahului beristirahat pemandangan sekitar dusun ini sangat indah diwaktu bulan purnama, Bila siauw-ya ingin menikmati, silahkan." Sin Houw mengucap terima kasih. Dan tatkala orang tua itu mengundurkan diri, anak gadisnya segera mengantarkan Sin Houw ke kamarnya untuk beristirahat. Tengah malam Sin Houw siuman dan mendekati jendela, Bulan nampak bersinar terang, hatinya tertarik. segera ia 1027 mengerubungi dirinya dengan pakaian tebal, kemudian keluar halaman mereguk keindahan malam. Ia mendengar desah gelombang telaga Thay-ouw, lalu berjalan mendaki bukit dan berdiri dekat batu telaga yang kena pantulan sinar bulan. Selagi ia tertawan keindahan telaga itu, tiba-tiba ia mendengar suara seorang gadis bersenandung, segera Sin Houw mendekati. Tatkala berada didepannya sekira lima langkah, berkatalah gadis itu: "Apakah siauw-ya bercita-cita hendak menghancurkan angkara murka?" "Tak tahulah aku," sahut Sin Houw. "Tapi kukira, bila lakilaki itu sudah menjatuhkan pilihannya, tidak akan mengundurkan diri, Kata pepatah, lebih baik hidup satu hari menjadi harimau dari pada satu tahun menjadi kambing sembelih." Gadis itu tertawa dingin, lalu ia berkata lagi: "Siauw-ya datang kemari hendak mencari harta, bukan? janganlah bermimpi yang bukan-bukan!" Dan secara tiba-tiba gadis itu menghunus pedang pendek yang bersinar hijau, kemudian menikam Sin Houw dengan gerakan cepat luar biasa. sudah barang tentu Sin Houw kaget bukan main, ia mengelak cepat pula, menegas: "Hey, kenapa...?" Gadis itu tidak menyahut. ia menikam, Kali ini sangat gesit, Karena bersungguh-sungguh, tak berani Sin Houw semberono. segera ia mengimbangi dengan gesit pula, hanya saja ia tidak melakukan perlawanan. setiap kali ditikam, ia melompat mundur. Karena itu ia terdesak sampai berada 1028 ditengah kubu batu. "Tahan! Berilah aku kesempatan bicara. Dengarkan dulu ..." Belum lagi ia menyelesaikan perkataannya, muncullah beberapa orang dari balik batu, Diantara mereka nampak orang tua pemilik rumah. ia bersenjata Tiat-kauw, gaitan besi. Tatkala lompat keatas batu, dengan ganas ia menyerang Sin Houw. "Lo-cianpwee!" seru Sin Houw, "Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa sikapmu mendadak berubah?" "Hm!" dengus orang tua itu, "Apakah kau tidak merasa sendiri? Mulanya kusangka kau tamu terhormat. Tak tahunya kau seorang penjahat yang gila harta !" Karena dirinya telah terkepung oleh sekian banyaknya lawan, maka terpaksa ia mengadakan perlawanan. Dengan sekali hunus, pedang Gin-coa kiam berkelebat, dan dua senjata lawan ter-kutung dengan mudah. Sudah barang tentu para pengepungnya terperanjat, sehingga mundur tergesa-gesa . syukur, Sin Houw tidak mengejar, serunya: "Tahan!" "Apa yang harus ditahan?" orang tua itu berteriak. "Walaupun kau memiliki pedang mustika, tetapi kami sudah mengurungmu. Percayalah, tidak akan dapat kau berbuat banyak." Sin Houw biasa bergaul dengan orang-orang tua yang aneh tabiatnya seperti gurunya sendiri, dan Bhok siang tojin, selamanya ia menghormati dengan hati tulus. Juga kali ini. Meskipun di serang bertubi-tubi, tak mau ia membalas atau mendesaknya. Arah sasarannya kepada orang lain. 1029 Akan tetapi gerakan mereka gesit dan aneh luar biasa. Kalau diserang ia mundur. Dan yang lain menggantikan. Tegasnya, mereka menyerang dan mundur dengan bergantian.Merekapun tidak sudi membiarkan senjatanya kena bentur pedang mustika Sin Houw yang tajam luar biasa, Karena itu, lambat laun Sin Houw mendongkol juga. Sekarang ia memperhatikan kesepuluh lawannya, Kecuali orang tua dan gadis itu, kepandaian kedelapan orang lainnya tidaklah seberapa. Hanya karena mereka maju mundur dengan bergantian, tidak pernah seorangpun kena dilukai. "Coba, kuarahkan seorang saja ingin kutahu, bagaimana cara mereka mempertahankan diri." pikir Sin Houw. Memperoleh pikiran itu, Sin Houw segera mendesak seorang lawan yang segera berlari-larian sekeliling batu, Lalu lenyap, sebagai gantinya, gadis anaknya pemilik rumah menyerang dengan pedang pendeknya, selagi Sin Houw menghadapi gadis itu dengan ragu-ragu, ia diserang dari belakang dan samping cepat ia mendesak dan menyerang gadis itu dengan gesit. Mereka semua menghilang dibalik batu, sebagai gantinya adalah orang tua pemilik rumah. Sin Houw segera memperhatikan dan mencari keyakinan mengenai cara bertempur para pengepungnya. setelah yakin benar, segera ia bersiul nyaring, pedangnya berkelebat ke berbagai penjuru, sekali bergerak, sasarannya tiga tempat, dan mereka lantas saja menjadi gempar dan terkejut. Sebenarnya, bila mau Sin Houw dapat merobohkan mereka dengan mudah. Akan tetapi ia tak sampai hati melukai mereka. Tujuannya kini hanya hendak menerobos keluar dari kepungan, ujung pedangnya bergerak tiada hentinya. Dan ia menyerang tiga sasaran sekaligus malahan pada suatu kali, ia menyerang tujuh sasaran dengan berantai. 1030 seketika itu juga, garis pertahanan mereka kacau balau. Sin Houw sengaja mengarah kepada gadis itu, Dengan gesit ia memburu, setiap kali memunahkan serangan yang lain, sebentar saja gadis itu terdesak sampai dipintu luar. ia memekik ketakutan Dan mendengar pekiknya, Sin Houw menghentikan serangannya. itulah suatu kesalahan besar bagi Sin Houw, Hal itu diketahuinya benar. Sebab ia takut melukai gadis itu, justru pada saat itu bumi yang diinjaknya amblas. Gadis itu membarengi dengan pekikan tinggi. Sin Houw kaget, ia kaget karena tubuhnya tercebur kedalam lubang. iapun tertegun sejenak mendengar pekikan gadis itu untuk yang kedua kalinya Kenapa? Pada detik itu, ia membagi perhatian. Kepada bumi yang diinjak dan gadis itu, Tahu-tahu tubuhnya telah terbanting masuk ke dalam lubang. sekarang barulah ia teringat untuk menolong dirinya sendiri. Tetapi telah terlambat, walaupun mempunyai kepandaian tinggi, tetapi karena gerakannya terhenti, membuat dirinya kehilangan pegangan, Tak keburu lagi, ia menolong dirinya sendiri. Satu-satunya perbuatan yang dapat dilakukannya, hanyalah mencoba menghambat lajunya, ia kemudian berjungkir balik, Tatkala kedua kakinya meraba dasar tanah, ternyata lembab seperti berlumpur. Tahulah ia kini, bahwa dirinya jatuh kedalam sumur yang sangat dalam, sumur itu gelap gelita sehingga penglihatannya tak dapat melihat kedua tangannya, Teringatlah dia, bahwa di dalam sakunya tersimpan sebuah batu letikan. Maka ia 1031 menyalakannya. Dan dengan bantuan letikan batu api itu, dapatlah ia melihat sekelilingnya. Ia merobek lengan bajunya dan membakarnya. Api lantas menyala. Tapi baunya sangat tajam serta nyaris menyesakkan napas. Selintasan, ia melihat betapa dalam dasar sumur yang di injaknya. Tiada harapan untuk dapat merayap keatas. Dasar tanahnya pun tidak rata. Untunglah, didepan matanya terlihat sebuah lubang. Karena mempunyai penerangan istimewa, ia lantas memasuki terusan itu. Ternyata sebuah terowongan mirip lorong dibawah tanah. selangkah demi selangkah ia maju, akhirnya tibalah dia kepada dinding batu buntu. Sin Houw menghela napas panjang, Tak disangkanya, bahwa disinilah ajalnya sampai. semua orang memang harus mati, tetapi ia akan mati kecewa karena tersekap didalam lubang sumur di-atas gunung Bu-tong! ***** PENUTUP TETAPI Thio Sin Houw bukan seorang pemuda yang mudah putus asa, sejak kanak-kanak ia pernah mengalami penderitaan hebat melebihi manusia lainnya. Begitu ia berputus asa, bangkitlah rasa marahnya, Hal itu terjadi, karena ia merasa dipermainkan nasib. Menurut nasihat orang-orang tua, ia wajib berhati mulia, sekarang ia korban dari kemuliaan hatinya sendiri. Andaikata tadi ia tidak mengenal rasa iba terhadap gadis itu, tidakkan mungkin ia sampai terperosok kedalam sumur ! Tiba-tiba ia menghantam dinding yang menghalang didepannya. Kena hantamannya, dinding itu tergetar dan 1032 nampak bergerak-gerak. Melihat hal itu sepercik harapan timbul didalam hatinya. "Apakah ini dinding buatan?" serunya didalam hati. Oleh harapan itu segera ia bekerja, sekarang ia tidak menggunakan tinjunya. Akan tetapi pedang Gin-coa kiam yang tajam luar biasa. ia membongkar dan mengorek-ngorek, Dinding itu gempur sedikit demi sedikit dan meluruk kebawah. Sekarang ia yakin, dinding sumur itu benar-benar dinding buatan. Tambalan dan lapisannya selalu bergerak gerak. Maka harapannya kian menjadi besar, segera ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. lalu dilepaskan dengan dibarengi teriakan nyaring. inilah yang pertama kalinya, ia menggunakan seluruh himpunan tenaga saktinya, yang meledak bagaikan dinamit. Dinding sumur itu ambruk dan ternyata berlubang mirip terowongan. Tanpa sangsi lagi Sin Houw masuk. sebentar saja sampailah ia di dalam ruang lain, Hatinya tergetar dan heran tatkala kedua matanya menjadi silau. Ia memejamkan matanya sejenak. Kemudian menyenakkan dengan perlahan lahan beberapa saat lamanya ia membuat penelitian Diperhatikan apa yang membuat matanya menjadi silau, setelah memperoleh penglihatan tegas, ia gembira bukan kepalang. Disana terdapat sebuah terowongan, dan cahaya itu datang dari terowongan tersebut. Bergegas ia memasuki terowongan itu yang tidak begitu panjang bila dibandingkan dengan terowongan yang telah dilaluinya, Tapi kembali lagi ia tiba pada dinding pembatas. ia memperhatikan sebentar. samar-samar ia melihat bentuk dinding itu seperti pintu. Pintu itu terbuat dari batu pualam yang termashur liat, 1033 Tajam senjata biasanya tak dapat merusaknya, Biasanya batu pualam berwarna hijau, Tapi pintu itu berwarna putih. Dengan demikian, termasuk batu pualam yang jarang terdapat didunia, Melihat bentuknya sangat luar biasa, maka harganya tidak ternilai. Sin Houw menyimpan pedang Gin-coa koam, Hati-hati ia meraba pintu pualam itu, Halus dan licin. ia meraba sampai akhirnya ditemukan lubang kunci. Melihat lubang kunci itu, harapannya menjadi besar. Teringatlah dia kepada kunci emas. Dengan berdoa ia mengeluarkan kunci emas dari dalam sakunya. Hati-hati ia memasukkannya. Ternyata tepat sekali. Dan dengan bersorak gembira didalam hati, ia memutar. Klik! Pintu didorongnya terbuka, Dan begitu terbuka kedua matanya benar benar silau, Meskipun belum dapat melihat dengan tegas, namun hatinya sudah dapat menebak. itulah harta karun, Harta warisan yang ditemukan Gin-coa Long-kun! Segera ia masuk dan menutup pintu nya kembali. Kemudian, ia menyimpan kuncinya hati-hati didalam sakunya. sekarang ia membuka matanya lebar-lebar, Akh, benar! Didepannya terlihat timbunan permata dan emas tak ubah sebagai bukit. Meskipun ruang itu sebenarnya gelap gelita, tetapi bersinar terang benderang oleh pantulan cahayanya. seketika itu juga, ia tertegun. Thio Sin Houw menghampiri dan mengaduknya. Tiba-tiba tangannya menyentuh suatu benda panjang, tatkala ditarik, ternyata sebatang golok yang tajam luar biasa, Samar-samar ia melihat ukiran huruf yang berbunyi: "SUN LUI TO". (Sun-lui to = Pedang Halilintar). 1034 Membaca bunyi huruf-huruf itu ia menjadi terkejut, namun kemudian tersenyum, Pengukir huruf ini terlalu rendah menilai budi manusia. Benarkah kehidupan manusia ini berada dalam pengaruh harta benda semata? Tetapi tatkala memutar-mutar hulunya, penutupnya terlepas. Golok itu ternyata berlubang seperti serubung, ia melongoknya dan menemukan segulung kulit kambing. Segera ia membebernya. Ternyata sebuah peta. Peta itu melukiskan tempat tempat dan gunung-gunung dengan jelas. Terdapat pula sungai-sungai dan letak tanah. Dan dibawahnya terdapat petunjuk-petunjuknya, bagaimana cara mempertahankan dan menyerang. Teringatlah Sin Houw, bahwa itulah peta peninggalan pahlawan Gak Hui. Tiba-tiba ia heran sendiri, apa sebab benda itu berada diantara tumpukan harta terpendam yang ditemukan oleh Gin-coa Longkun? Tatkala pandang matanya sampai disudut peta, terukirlah huruf-huruf nama pahlawan bangsa itu. ia jadi bingung sendiri. Tiba-tiba teringatlah dia kepada ayah bundanya, Bukankah keluarganya hancur akibat perebutan golok itu? Tak terasa ia mengucurkan air mata. "Entah sudah berapa jiwa korban untuk memperoleh golok ini, Dan peta itu, apakah kegunaannya?" Ketika Sin Houw mengalihkan pandang, maka tiba-tiba ia menjadi terkejut, Ternyata pintu yang tadi ditutupnya kini terkancing rapat. ia mendekati dan meraba-raba, memasukkan kunci emasnya. Ternyata lubang kunci tidak cocok, sekarang tahulah dia, bahwa pintu itu mempunyai dua lubang kunci. Kunci dari luar dan kunci dari dalam, itulah suatu hal yang takpernah terlintas dalam pikirannya. 1035 "Aduh, celaka!" ia mengeluh, Kali ini ia mengeluh hebat, Sebab pintu itu tak dapat digempurnya seperti pintu batu tadi. Didalam ruang memang tersedia permata, emas dan perak. Tetapi tiada sebutir beras dan seteguk air. Apakah gunanya harta benda itu semua? Kini ia merasa terancam bahaya kelaparan dan dahaga. Bila perut kosong dan tenggorokan kering, akan merupakan suatu siksa yang hebat luar biasa. Dalam kesedihan dan kepiluannya, ia jadi berputus asa. Katanya: "Akh, ternyata aku ditakdirkan mati di gunung Bu-tong. Di gunung Bu tong ini ayahku terdidik, Di gunung Bu-tong ini pula ayah bunda dan seklain saudaraku mati dengan hati penasaran. Di gunung Bu-tong ini, aku menderita luka parah. Sekarang, akupun bakal mati di gunung Bu-tong juga, Mati ditengah harta benda dan sebatang golok pembawa bencana!" Menghadapi ancaman maut, secara naluriah Sin Houw lantas berteriak-teriak, Harapannya, semoga suaranya terdengar dari luar goa, sepuluh lima belas kali ia berteriak, sehingga telinganya terasa tuli akibat pantulan suaranya sendiri. Namun hasilnya sia-sia. Akhirnya ia duduk bersimpuh didepan pintu pualam itu. Katanya kepada dirinya sendiri: "Kata orang, seseorang dapat bertahan seminggu dengan perut kosong tetapi aku sudah berlatih semedhi. Ba-rangkali masih dapat bertahan sampai sepuluh hari, selama sepuluh hari itu, biarlah aku berusaha mencari jalan keluar . Siapa tahu...?" Tentu saja perkataannya itu lebih condong kepada katakata hiburan untuk diri sendiri, walaupun demikian, hatinya agak tenteram, ia lantas bangkit dan berjalan perlahan-lahan menghampiri timbunan harta. Pada saat itu berbagai kenangan berkelebat di benaknya. Kepada kakek guru dan 1036 paman gurunya yang sayang kepadanya, dan kepada lain sebagainya. Dan yang terakhir Giok Cu. "Akh, Giok Cu. Tiada harapan kita akan dapat bertemu kembali..." keluhnya. Boleh dikatakan belum lama berselang ia berkenalan dengan Giok Cu. Dalam kebanyakan hal, ia selalu berselisih pendapat, Dia berhati keras dan bengis, Akan tetapi kadangkadang menjadi lemah lembut. Teringat akan nasibnya yang sama dengan dirinya, ia jadi tertarik. Malah merasa diri senasib sepenanggungan. Sekarang dia bakal hidup sebatang kara benar. Tiada ayah bunda, dan tiada saudara. Mungkin sekali ia akan berusaha mencarimu, tetapi dimanakah dia akan mencari diriku?" pikirnya lagi. justru ia berpikir demikian, teringatlah dia kepada gadis puteri pemilik rumah. Sifat gadis itu lain lagi. Dia seorang yang lemah lembut, akan tetapi berani bertanggung jawab. pikirnya lagi didalam hati: "Bila kedua sifat itu bergabung menjadi satu, aku akan mempunyai seorang gadis yang sempurna wataknya, apalagi bila ditambah dengan sifat-sifat Cie Lan. Barangkali di dunia ini tiada bandingnya ***** Terkurung didalam goa itu, perasaan Sin Houw tergoncang sehingga bersifat liar. ia jadi mengada-ada, sadar akan hal itu, ia mencoba mengatasi. Digerayanginya golok Halilintar yang berada di tangannya. Tiba-tiba ia menyentuh sebongkah lembaran kulit lagi. Kali ini sudah tersulam rapi, sehingga berbentuk sebuah kitab. "Hey, kitab apakah ini?" ia tertarik. 1037 Ia hendak membalik-balik lembarannya. Tiba-tiba ia tertarik kepada setumpuk kertas minyak. setelah dibaca ternyata meriwayatkan perjalanan dan perjuangan pahlawan Gak Hui. Tentu saja, ia tak merasa berkepentingan. sebab isinya hanya urusan peperangan. Kemudian ia menekuni kitab itu judulnya: Rahasia ilmu Kiuim Cin-keng... ia membalik-balik lembarannya yang pertama. Kemudian membacanya, Begini-lah bunyi tulisan itu: "Hidup ini bergerak. Rasa itu tenteram. Angan-angan itu kebijaksanaan, Budi seumpama aliran, dan pekerti merupakan saluran." "Apakah artinya ini?" ia berpikir, ia seolah-olah pernah menyentuh pengertian demikian. Maka ia membaca terus. Lambat-laun ia tertarik. setelah selesai, ia menarik napas dalam. Berkata kepada diri sendiri: "Akh, barulah kini aku mengenal diriku sendiri, Dibandingkan dengan penulis kitab ini, diriku tak lebih dari pada cahaya kunang-kunang," Tertarik oleh tulisan itu, ia mengulangi membaca lagi. sedikit demi sedikit ia mencoba mendalami dan memahami. Ternyata isinya melingkupi seluruh ilmu jasmani dan ilmu sakti, Keruan saja ia girang bukan kepalang. serunya didalam hati: "Bila aku memahami isi kitab ini, maka aku akan mengerti dan mengetahui seluruh inti ilmu-ilmu sakti dari berbagai aliran di dunia ini..." Sekarang, samar-samar ia mulai mengerti apa sebab tokoh-tokoh sakti memperebutkan golok Halilintar itu ternyata isinya luar biasa dahsyat dan luas. semua sarwa sakti yang 1038 terdapat di dunia ini terhirup dan tercakup didalamnya. Tetapi tiba-tiba teringatlah dia, bahwa dirinya kini terkurung di dalam sebuah goa yang dindingnya tak dapat tertembus oleh senjata tajam apapun juga, semangatnya jadi runtuh. Namun Sin Houw seperti sudah terlatih. semasa kanak-kanak ia senantiasa terancam bahaya maut. Didalam rasa putus harapan, masih bisa ia tertawa, Maka kali inipun begitu juga. walaupun tiada gambaran dan pegangan bagaimana caranya dapat keluar dari kurungan goa, perasaannya menyuruhnya agar membaca dan menekuni kitab tersebut. Katanya kepada dirinya sendiri: "Dahulu aku hidup dengan tak setahuku. Mengapa sekarang aku harus memikirkan cara matiku?" Ibarat pelita yang hendak padam karena kehabisan minyak, tiba-tiba ia memperoleh percikan minyak, seketika itu juga, dia jadi acuh tak acuh terhadap dirinya sendiri seperti dahulu semasa kanak-kanak. ia lantas membaca dan membaca. Mula-mula rasa lapar dan dahaga mengganggu dirinya. Lambat-laun perasaan itu menipis dan menipis, Tahu tahu ia tertidur nyenyak sekali. Tatkala terbangun, tak tahulah ia sudah berapa jam tertidur demikian. Bukit permata yang didepannya tetap menyala terang benderang seperti tadi. "Sekarang aku akan mencoba berlatih mengikuti petunjukpetunjuk kitab ini." katanya kepada diri sendiri. Ia lantas membaca bagian pekerti yang mengutamakan tenaga himpunan. setelah menarik napas panjang, ia mendekati dinding goa, Kemudian tenaga himpunan itu dilepaskan. Diluar dugaan, dinding batu itu rontok beberapa bongkah. Menyaksikan hal itu, ia jadi gembira. 1039 "Tenaga bertambah. Tapi aku masih merasakan suatu kekurangan. Apakah aku harus bergerak dengan hati tenteram?" pikirnya. Memperoleh pikiran demikian, segera ia melakukan, Dipusatkan seluruh tenaganya. Kemudian dilepaskan dengan hati tenang, Dan hasilnya sungguh diluar dugaan. Dinding yang terbuat dari batu pualam itu rompal sebagian. Puas hati pemuda itu, ia yakin bila rahasia pengendapan itu sudah dapat dikuasai, pasti akan dapat merobohkan batu pualam itu, Akan tetapi hebatnya adalah soal rasa dahaga. Dengan mengeluarkan tenaga dalamnya, keringatnya terhisap keluar. ia jadi merasa dahaga sehingga tenggorokannya terasa kering, Menahan rasa lapar, rasanya ia masih sanggup untuk satu dua hari lagi. Tetapi menahan rasa dahaga kesulitannya sekian kali lipat. Memang, menurut pengalaman, seseorang dapat menahan lapar sampai seminggu lamanya. Kemudian baru mati, sebaliknya orang tak dapat menahan rasa dahaga lebih dari tiga hari. ia akan mati dengan tiba-tiba, sekarang ia mencoba menahan rasa lapar dan dahaga hebatnya tak terkatakan. Untuk sekedar melupakan, ia kembali menekuni kitabnya, kemudian tertidur dengan tak setahunya, Tatkala terbangun, kembali ia menghafal, Dan pada saat itu ia dapat membaca bunyi kitab itu diluar kepala, pikirnya didalam hati: " ilmu sakti warisan Gin-coa Long-kun sudah hebat luar biasa. Tetapi bila dibandingkan dengan isi kitab ini, rasanya hanya sebesar biji asam, sayang... walaupun hebat luar biasa, tak dapat aku memperlihatkannya kepada para ahli. Selagi berpikir demikian, tiba-tiba telinganya yang kini menjadi tajam luar biasa menangkap bunyi. terlalu perlahan bunyi itu, setelah diperhatikan, rasanya seperti seseorang 1040 sedang menggali tanah diluar dinding. "Siapa di luar?" ia berseru gembira. ia yakin, orang itu pasti mendengar suaranya, mengingat dirinya pun dapat menangkap suara dari luar, Hal itu berkat dinding pualam yang telah rompal sebagian. Tetapi ia lupa, bahwa pendengaran orang itu kini berbeda dengan pendengarannya, meskipun telinga seorang pendekar. "Siapa diluar?" ia mengulang seruannya . Tetap saja tiada jawaban. sekarang ia yakin benar, bahwa orang itu sedang membongkar dinding bagian luar, Dengan bernapsu ia mengerahkan tenaganya dan menggempur pintu, Kali ini pintu batu pualam sama sekali tak bergeming, Bahkan tangannya menjadi sakit dan nyeri. "Akh, ya ..." ia menyadari kesalahannya , "Aku terlalu bernapsu sehingga hanya bersumber pada kekuatan jasmaniah, sebaliknya kalau aku berlaku tenang, sumbernya berada pada HIDUP yang tak terbatas. ia hendak mengulangi, akan tetapi takut kehilangan tenaga terlalu banyak maka ia mencoba berseru untuk yang ketiga kalinya. Tetapi tetap saja hening tak terjawab. Sampai disini selesai sudah kisah Thio Sin Houw dalam judul GOLOK HALILINTAR. Bagi para pembaca yang ingin mengetahui kisah selanjutnya pemuda yang perkasa itu, nantikanlah cerita berikutnya. TAMAT
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil China : Golok Halilintar 3 dan anda bisa menemukan artikel Cersil China : Golok Halilintar 3 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/cersil-china-golok-halilintar-3.html?m=0,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil China : Golok Halilintar 3 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil China : Golok Halilintar 3 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil China : Golok Halilintar 3 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/cersil-china-golok-halilintar-3.html?m=0. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar